Sebilah Pedang Mustika 2

Eps 2 Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen

Baca online Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen

Cersil Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen.

Sebenanya keterangan nyonya In masih belum lengkap, ada satu bagian yang ia sembunyikan, Memang benar In Bu Yang suaminya itu, ingin memiliki kitab ilmu pedang ayahnya itu, tetapi bukanlah dia yang mencurinya, hanya nyonya In sendiri yang mengambilnya secara diam2, Ketika itu belum lama mereka menikah, Nyonya In sangat menyintai suaminya tanpa ia mengetahui sifat si suami, maka itu apa juga yang suaminya minta ia lakukan, ia melakukannya, Demikian sudah terjadi, Sebelumnya, ia tak memikir apa yang bakal terjadi kemudian.

Pada dua puluh tahun berselang, Bouw Poo Cu sebagai gadis remaja lagi menanti lamaran, Dan Cio Thian Tok dan In Bu Yang itu adalah orang2 muda dari tingkatan lebih muda dari pada Bouw Tok It, ayahnya si nona.

Berdua mereka sering datang berkunjung, Tok It sama menghargai mereka berdua, Hanya ketika itu Bu Yang sudah menikah, Thian Tok belum karena itu Poo Cu lebih banyak bergaul dengan sipemuda she Cio, Kemudian isterinya Bu Yang terbinasa dimedan perang disungai Tiangkang, ketika ia pulang, ia menunjuki ketekunannya, Ia pernah menikah, tahulah ia bagaimana harus melayani seorang wanita, Pula ia masih muda, wajahnya tampan, ilmu silatnya sempurna, sikapnya halus, maka bukan saja Tok It senang padanya, Poo Cu sendiri kemudian jatuh hati terhadapnya, maka akhirnya si nona meninggalkan Thian Tok, menikah sama siduda.

Sesudah Poo Cu membantu suaminya mencuri kitab pedang ayahnya itu, ia turut buron kegunung Holan-san ini, Di-tahun2 pertama, mereka hidup rukun dan manis, Mereka seperti tengah berbulan madu, baru kemudian, Poo Cu ingat juga keluarganya, Lalu dengan lewatnya sang waktu, ia merasakan cinta suaminya terhadapnya mulai berkurang, bahkan itu seperti disengaja di-buat2nya, Dilain pihak, suami itu nyata sekali selalu mengingat almarhum isterinya, Tentu saja Poo Cu menjadi bersusah hati, hingga kesehatannya jadin terganggu, Semenjak itu, ia jadi ingat Thian Tok yang ia lepaskan itu, Baru sekarang ia menginsafinya, cintanya Thian Tok cinta sejati, melebihi cintanya Bu Yang, Tapi sekarang, sang ketika telah hilang lenyap.

Tentu sekali Thian Tok tidak mengetahui perubahan cinta nyonya In ini, ia menyangka orang tetap menyintai dia, bahwa kalau juga Poo Cu menikah dengan Bu Yang, itu disebabkan kaburnya ia keluar negeri untuk melindungi putera mahkota, junjungannya yang muda, Ia menyesal waktu ia mendapat khabar Poo Cu sudah menikah dengan In Bu Yang.

Sambil menangis segugukan, Nyonya In melanjutkan keterangannya;

"Atas lenyapnya kitab ilmu pedang itu, ayahku tidak membuat banyak berisik, Ia tidak mau diketahui oleh orang luar atas kejadian yang terjadi didalam keluarganya, ia tidak pernah menunjukkan kemurkaannya, Oleh karena itu, putuslah hubungan diantara ayah dan puterinya, Belakangan ayah mendapat tahu, bahwa kami tinggal menyendiri disini, tapi ia tidak pernah mengirim orang untuk menanyakan tentang aku, Akulah anaknya satu2nya, tetapi aku, bukannya aku ingat budi orang tua, yang merawat dan memelihara aku semenjak bayi, aku justeru membantu suamiku mencuri kitabnya, kitab yang sangat dirahasiakan, Ayah berduka karenanya, tidak sampai dua tahun, ia meninggal dunia yang fana ini, Sungguh menyedihkan, kami ayah dan anak tak pernah bertemu pula, Sekarang ini kakak sepupuku, yang menggantikan ayah menjadi ketua Butong Pay, juga telah menutup mata, Inilah untuk pertama kali aku melihat ada orang luar datang kesini..."

Hian Ki menduga yang dimaksudkan si nyonya ialah Siangkoan Thian Ya utusannya Bouw It Siok, Karena itu, ia ingat pula Thian Ya itu, Bagaimana dengan sahabat itu?

Ia meng-harap2 si nyonya menyebutkannya pula pemuda itu, tetapi harapannya sia-sia.

Nyonya Bu Yang menghela napas, baru ia berkata pula;

"Setelah berselang delapan belas tahun, berhasil sudah Bu Yang mempelajari ilmu pedangnya, tetapi meski demikian, kitab pedang itu dia masih tidak mau mengembalikannya, dia cuma mengutamakan diri sendiri untuk menjadi ahli pedang nomor satu, tidak pernah dia memikirkan aku lagi, Maka aku khawatir sekali, seumur hidupku, tidak nanti aku mendapat maaf dari keluargaku, Ya, akulah yang bersalah, Delapan belas tahun aku menderita, tidak ada seorang juga, kepada siapa dapat aku melampiaskan penyesalanku ini, Setiap hari Bu Yang memaksa aku minum obat, Tapi, mana penyakitku dapat sembuh hanya denan obat saja? Sebenarnya pun, dengan memaksa aku minum obat itu, hanya untuk ia perlihatkan kepada puterinya, Setiap waktu, setiap saat, dia tetap memikirkan isterinya yang pertama, dia sangka aku tidak mengetahuinya!"

Mendengar keluhannya si nyona, yang mencurahkan penasaran dan penyesalannya, hati Thian Tok seperti ter-iris2.

"Poo Cu! Poo Cu!"

Katanya tiba2 sambil menubruk, Poo Cu menolak tangan orang.

"Thian Tok, kau pergilah, lekas,"

Katanya.

"Kalau Bu Yang pulang dan dia melihat sikap kita ini, mungkin dia bakal membunuhmu!"

Thian Tok memperdengarkan suara tidak nyata, ia mundur pula, Tapi tetap ia tidak mau berlalu.

"Benar kau tidak takut terhadapnya, tetapi dia...dia..."

Perkataan nyonya ini berhenti tiba2, Sebenarnya ia hendak mengatakan.

"Siapa juga yang terbinasa diantara kalian bedua, semuanya itu juga akan membuat aku berduka,"

Kata2 itu tidak dapat diucapkan.

"Setelah bertemu dengan kau, sebenarnya sudah puas hatiku,"

Berkata Thian Tok.

"Sebenarnya aku dapat segera berlalu, tapi tak boleh kulakukan, aku ingin bertemu dengan Bu Yang,"

"Ah! Kau benar2 mencari Bu Yang?"

Si nyonya menegasi.

"Ya, untuk mencari kau, juga mencari Bu Yang,"

Jawab Thian Tok seraya menarik keluar dompet sulamnya, Ia menghela napas ketika ia menambahkan.

"Baiklah kita jangan lagi menimbulkan segala kejadian yang sudah2, tetapi dompet ini hendak aku mengembalikannya padamu, Penghidupan manusia benar seperti kata2nya pepatah, dalam kehidupan manusia, delapan atau sembilan keinginan kita, biasa tak tercapai, Saudara Bu Yang gagah dan pintar, dialah seorang jago, baiklah kau maklum saja."

Poo Cu menerima kembali dompetitu, lalu ia berdiam, air matanya turun tak hentinya, Didalam hatinya ia berkata.

"Kalau Bu Yang ada sebaik kau ini, pastilah aku tidak akan menderita..."

Thian Tok menghibur orang untuk melupakan semua kejadian yang lampau, akan tetapi ia sendiri tidak dapat melupakannya, Setelah terdiam sejenak, ia berkata pula dengan perlahan;

"Sudah delapan belas tahun aku tidak bertemu dengan saudara Bu Yang, entah bagaimana pikirannya sekarang, Biar bagaimana, ingin aku bertemu dengannya."

"Ya, aku pun belum menanyakan kau bagaimana keadaanmu semenjak delapan belas tahun yang lalu,"

Berkata nyonya In.

"Sekalipun kau tidak menanyakan, aku sendiri ingin menceritakannya,"

Menjawab Thian Tok.

"Ketika tahun itu Sri Baginda kalah perang di Tiangkang, dan ia tertawan hingga menerima kematiannya, dengan melindungi putera mahkota, aku menyingkir ke Mongolia, Syukur sekali, disana kami diterima dengan baik oleh satu kepala suku bangsa, Itulah suku Tartar dan pemimpinnya itu ialah Arudai, Dialah satu pemimpin yang ber-cita2 besar, kami diterima dan kamipun membantu padanya, Belum ada sepuluh tahun, dia dapat menaklukkan suku2 lain disekitarnya, maka setelah itu dia dapat mendirikan negaranya yaitu negara Watzu, Pada tiga tahun yang baru lalu Arudai wafat, ia digantikan oleh puteranya yaitu Toto Puhwa, Karena Toto Puhwa masih berusia muda, ia dididik oleh pamannya yaitu Tohuan yang mengangkat dirinya menjadi Thaysu, Guru Agung, Dua2 Toto Puhwa dan Tohuan itu ber-cita2 besar dan pintar, mereka bukan sembarang orang, dalam beberapa tahun saja mereka telah berhasil mengatur angkatan perangnya, yang sekarang semakin maju, Kelihatannya untuk mempersatukan seluruh Mongolia tinggal menunggu waktunya saja."

Diam sebentar.

"Walaupun Mongolia terpisah jauh dari sini,"

Berkata Thian Tok pula.

"Aku khawatir, setelah Tohuan berhasil mempersatukannya, ada kemungkinannya ia ada sangkutannya dengan bangsa Han kita, Baiklah, maka akan aku memberitahukan kau kenapa malam ini aku datang kemari."

Nyonya In mengangguk, ia memasang telinganya.

"Setelah tiba di Mongolia, almarhum putera mahkota telah mendapat seorang putera,"

Thian Tok menjelaskan lebih jauh.

"Putera itu diberi nama Cong Ciu, sekarang ia sudah berumur tujuh belas tahun, Ia bersamaan usia dengan Khan besar Toto Puhwa itu, Oleh karena putera mahkota menutup mata diperantauan, aku terus melindungi puteranya itu, Ia pintar dan besar pula cita2nya, lebih bersemangat dari pada almarhum ayahnya,Kami.., sebab aku tidak sendirian, membantu dan mendidik dia dalam ilmu surat dam ilmu silat, dengan otaknya yang tajam, sekali diajari saja, ia lantas mengerti, Diam2 aku bergirang sekali bahwa yang Sri Baginda almarhum mempunyai keturunan yang berkakat itu, Junjungan muda ini sangat menyintai negeranya, walaupun usianya masih begitu muda, ia ingin sekali lekas2 membangun kembali pula kerajaannya,"

Thian Tok melanjuti sesaat kemudian.

"Karena usianya itu masih muda, aku khawatir sekali ia nanti salah jalan, Pergaulan Cong Ciu dengan Toto Puhwa pun erat sekali, maka juga Kahan Watzu itu telah memberikan janjinya, satu kali seluruh Mongolia sudah dioersatukan, dia akan membantu junjungan muda ini membangn kembali negaranya, Dimulut Toto Puhwa mengatakan begitu, tetapi hatinya aku dapat menerkanya, Dia sedang memperkuat diri, dengan sadar dia menuruti pimpinan pamannya, Aku percaya, setelah Mongolia bersatu, dia bakal berpaling ke Tinggoan, Itulah hebat dan berbahaya, Aku tahu betul, semenjak dahulu hingga sekarang ini, tidak pernah ada orang yang meminjam tenaga asing membangun negaranya dengan berhasil, dan kalau toh berhasil juga, ia sendiri menjadi semacam boneka, Aku menyesal pada rekan2ku tidak ada yang berpandangan jauh, mereka itu sebaliknya memuji tindakan junjungan muda itu, mereka memimpikan meminjam tenaga bangsa Watzu untuk bertempur pula melawan Cu Goan Ciang!"

Hian Ki dari tempat sembunyinya terkejut sendirinya.

"Jikalau benar Thio Cong Ciu meminjam tenaga asing menyerang balik ke Tionggoan ini, bukankah ia seperti membuka pintu untuk harimau galak?"

Pikirnya.

"Aku khawatir bukan saja ia gagal membangun negara, sebaliknya negara yang indah ini bakal diserahkan ketangan lain orang... .Semua pamanku, selama ini dua puluh tahun, memikirkan saja junjungannya yang lama, ingin mereka membangun kembali pula kerajaan Ciu itu, kalau mereka mendengar berita penting ini, entah bagaimana pendapat mereka."

Thian Tok menghela napas ketika ia melanjutkan ceritanya;

"Niatnya junjungan muda itu sudah tidak dapat diganggu gugat, ia sudah mengeluarkan kimpay dari junjungan almarhum, diserahkan pada Cit Siu Toojin dengan bersama Pouw Kian dan ditugaskan kembali ke Tionggoan untuk mengumpulkan orang2nya junjungan almarhum, untuk bersama mereka pergi ke Watzu guna menyusun tenaga, untuk bekerja sama, Yang per-tama2 mau dipanggil itu adalah saudara Bu Yang, Karena itu kedatanganku inipun dengan niat membujuk saudara Bu Yang lekas memberi khabar kepada semua rekan2 agar mereka itu lekas2 mengatus daya perlawanan, Aku hanya tidak ketahui selama tahun2 belakangan ini, bagaimana keadaannya saudara Bu Yang serta bagaimana pendiriannya."

"Sudah belasan tahun Bu Yang hidup menyendiri disini, telah putus pergaulannya dengan bekas rekan2nya itu."

Barkata nyonya In.

"hanya melihat kemajuan ilmu pedangnya yang sudah rampung, ia sepertinya tergoda untuk kembali turun gunung, supaya dunia persilatan mengakui ia sebagai ahli pedang nomor satu, Bulim Te-it Kiamkek, Tapi niat ini ia tunda, disebabkan aku masih mempunyai kakak sepupu yang ia segani, Sekarang ini, ayah dan kakakku itu telah meninggal dunia, aku percaya, hal turun gunungnya tinggal menanti waktunya saja."

"Macan tutul mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama,"

Berkata Thian Tok.

"Saudara Bu Yang yang sudah berhasil menyempurnakan ilmu pedangnya, sekarang dia hendak muncul pula supaya orang ingat dan kenal padanya, itupun baik."

"Dia besar ambisinya,"

Berkata nyonya In.

"Aku khawatir dia tidak dapat menerima kimpay dari siauwcu untuk pergi ke Watzu dan juga tidak bakal mendengar nasihatmu, supaya dia menyampaikan kabar terlebih jauh kepada bekas kawan2nya."

"Kenapa begitu?"

Tanya Thian Tok tak mengerti.

"Congcihui dari Kimi-wi dari Cu Goan Ciang, yaitu Lo Kim Hong jago nomor satu dari kotaraja, beberapa hari yang lalu telah datang kesini membuat pembicaraa dengannya."

"Begitu ?"

Thian Tok benar2 heran.

"Samar2 saja aku mendengar pembicaraan mereka itu, Dia hendak menerima undangan dari Cu Goan Ciang untuk membujuk bekas orang2nya Sri Baginda almarhum untuk mengabdi pada Cu Goan Ciang itu,"

"Mereka itu setia semuanya, mungkin ia mesti bekerja keras untuk membujuknya, Thian Tok menyatakan.

"Jikalau benar mereka tidak sudi menakluk maka Lo Kim Hong bakal mengambil tindakan keras, dengan membekuk mereka satu demi satu."

Thian Tok melengak, dan akhirnya kelepasan berkata;

"Apakah itu bukan namanya menjual sahabat2 untuk memperoleh pangkat besar?"

"Bu Yang pun tidak mau mengatakan terus terang padaku, Pernah aku menanya dia, dia tidak mengucapkan sepatah katapun, Apa yang aku ketahui, didalam beberapa hari ini dia seperti mempunya banyak persoalan hati, hingga aku tidak dapat membeda sikapnya."

"Mudah2an saudara Bu Yang tidak terpancing,"

Berkata Thian Tok.

"Aku harap kau bisa membujuk dan menasehati dia."

In Hujin tertawa sedih;

"Aku dan dia adalah suami isteri, tetapi sebenarnya kami tak ubahnya seperti orang2 ditengah jalan,,"

Ia mengaku.

"Selama ini beberapa tahun kami hidup menurut cara sendiri2, kami seperti bersandiwara saja..."

Thian Tok menyesal sekali, ia berduka dan berbareng merasa kasihan terhadap si nyonya.

"Poo Cu,"

Katanya perlahan.

"kau... ."

Tiba2 si nyonya mengangkat kepalanya;

"Mungkin Bu Yang tidak pulang malam ini,"

Katanya.

"Sekarang sudah jam empat, sedang So So biasa bangun jam lima untuk meyakinkan ilmu pedang dan kemudian paginya mempelajari ilmu suratnya, maka kau, sebaiknya kau pergi saja, Besok kau datang lagi."

Dengan perasaan berat, Thian Tok membalik tubuh untuk berlalu, Baru dua tindak, ia sudah menoleh, seperti ada apa2 yang ia lupakan.

"Poo Cu,"

Katanya,"Pernahkah kau melihat satu pigura dengan lukisan suasana rembulan musim rontok disungai Tiangkang ?"

"Untuk apa kau menanyakan gambar itu?"

Si nyonya balik bertanya.

"Gambar itu digantung dikamar tulus itu,"

"Begitu? Bagus! Nanti aku lihat,"

Nyonya In heran, ia bertindak mengikuti kekamar tulis, Hian Ki cepat juga sembunyikan diri dibelakang lemari.

"Siapakah berada didalam kamar tulis ini ?"

Terdengar suara dalam dari Thian Tok. Hian Ki heran sekali, Tapi ia berani, selagi ia hendak memperlihatkan dirinya, tiba2;

"Mana ada orang didalam kamar ini,"

Terdengar nyonya In.

"Umpama kata Bu Yang Yang pulang, tidak nanti ia bersembunyi disini untuk mencuri dengar pembicaraan kita,"

"Barusan aku seperti mendengar sesuatu suara."

"Itu mungkin tikus yang sedang menggeratak."

Hian Ki menyingkir dari jendela ke-lemari cuma beberapa tindak, ia pun bertindak sangat cepat dan ringan, maka heran Thian Tok masih dapat mendengar tindakannya itu, Maka itu ia sangat mengagumi orang she Cio ini.

Hanya setelah mendengar suara si nyonya, Thian Tok tidak berkata lagi, Segera juga api dinyalakan dan lilin disulut, Hal itu membuat sianak muda lega hatinya.

"Hanya benar pada dua hari yang lalu, kamar ini pernah ditempati orang!"

Kemudian terdengar suara nyonya In sambil tertawa.

"Siapakah dia?"

Thian Tok tanya.

"Dialah seorang anak muda yang ditolong oleh So So, Khabarnya ayah dia itu adalah bekas rekanmu, Tanpa tahu apa sebabnya, dia dilukai orang, So So menolong dia dengan memberi dia obat yang ayahnya paling sayang, Bocah itu bernyali sangat besar, dia datang kemari dengan maksud membunuh Bu Yang, Ketika Bu Yang pulang, dia lantas diusir pergi, Sayang aku tidak sempat melihat anak itu, tetapi So So nampaknya terkesan baik sekali terhadapnya, ia membuatnya pikiran, Didepan aku So So puji dia, katanya dia halus budi pekertinya, bagus ilmu silatnya, bahkan Bu Yang katanya turut memuji juga ilmu pedangnya, So So polos sekali, sampai terhadap seorang asingia berpendapat demikian macam, tak sedikitpun menaruh curiga, Kau lihat itu pedangnya yang digantung ditembok, Coba si bocah curi itu, tentulah ia tak dapat diampuni ayahnya... ."

Senang hatinya Hian Ki mendengar bahwa So So demikian memperhatikan dirinya, Selagi Nyonya In ber-kata2, Cio Thian Tok mengawasi gambar, agaknya ia sangat tertarik hatinya, hingga ia berdiri menjublak.

"Bagaimana, adakah apa2 yang aneh dalam gambar itu?"

Sinyonya bertanya, heran.

"Cocok, inilah gambar itu!"

Mendadak kata Thian Tok berseru, lalu ia menghela napas, Ketika ia berkata, suaranya perlahan;

"Inilah gambar yang Sri Baginda almarhum menitahkan melukisnya dimalam sebelum ia mengorbankan diri untuk negaranya, Didalam lukisan itu tersimpan rahasia, yang cuma diketahui oleh Bu Yang dan aku, Menurut kau, apakah Bu Yang tidak memberitahukan hal itu padamu,"

"Banyak sekali yang Bu Yang sampaikan kepadaku, bukan cuma hanya gambar ini,"

Si nyonya mengaku.

"Ketika pada 20 tahun itu kami berperang disungai Tiangkang, malam sebelumnya Sri Baginda almarhum telah merasa pengharapannya sudah musnah, maka itu semua hartanya yang terdiri dari berbagai barang permata telah dia sembunyikan disuatu tempat rahasia di Souwciu, Tapi bukan cuma harta itu, berikut itu ada peta bumi yang dibuat oleh Pheng Hweeshio, Itulah peta militer, siapa mendapatkan itu, dia boleh merajai, didalam lukisan inilah terdapat tempat penyimpanan harta dan peta penting itu."

Nyonya In memperlihatkan rasa heran, Ia tidak menyangka seorang raja yang bakal runtuh dapat merencanakan seperti itu, jauh pandanganya.

"Sebenarnya ketika itu Sri Baginda menghendaki aku membawa pergi gambar ini,"

Thian Tok menjelaskan.

"Tetapi saudara Bu Yang bilang, tugas melindungi putera mahkota tugas sangat berat, maka tugas untuk melindungi gambar ini, baiknya diserahkan saja padanya, Dengan begitu ia berkata ia hendak membantu meringankan tugasku itu, Sekarang Siauwcu memanggil saudara Bu Yang, itulah tentu disebabkan, selain tenaganya dibutuhkan juga mesti ada hubungannya dengan gambar ini."

"Menurut penglihatanku, kebanyakan Bu Yang tidak bakal pergi ke Watzu,"

Berkata Nyonya In.

"Maka gambar ini, gambar ini..."

Thian Tok melengak, begitu mendengar si nyonya, walaupun nyonya itu tidak meneruskan kata2nya, Ia sadar, dengan Bu Yang menerima undangannya Cu Goan Ciang, peta ini akan menjadi barang yang sangat berharga.

Nyonya In menghela napas;

"Aku lihat Bu Yang bukan saja dia tidak bakal pergi ke Watzu, dia juga tidak nanti sudi mendengar perkataanmu,"

Katanya kemudian.

"Maka itu gambar ini baiknya kau bawa pergi."

Belum habis suaranya si nyonya, mendadak terdengar satu suara tertawa dingin, Ketika keduanya berpaling, diambang pintu terlihat In Bu Yang lagi berdiri mengawasi mereka, dengan senyuman tawar.

BERTEMPURNYA NAGA DENGAN HARIMAU Kamar diterangi dengan api lilin yang ber-goyang2, tetapi tampak nyata wajah mengejek dari Bu Yang itu, yang terus bertindak masuk dengan ayal-ayalan.

Nyonya In mengawasi suaminya, hatinya guncang, akan tetapi pada wajahnya, ia tidak memperlihatkan sesuatu, bahkan ia terus menggulung gambar itu.

"Saudara Bu Yang, kau sudah pulang!"

Thian Tok menyambut.

"Kau tentu tidak menyangka aku pulang dengan begini cepat?"

Jawab orang yang ditanya, dingin.

"Aku datang mencari kau untuk satu urusan penting,"

Kata Thian Tok tanpa memperdulikan ejekan.

"Sudah lama aku menantikan kau saudara Bu Yang, kau, kau dengar aku... ."

Bu Yang maju satu tindak, dengan tajam ia menatap isterinya.

"Poo Cu, aku mengucapkan terima kasih yang kau telah mewakilkan aku menyambut tamuku yang mulia,"

Katanya.

"Sekarang kau letakkanlah gambar itu dan pergilah masuk kedalam untuk makan obatmu."

Nyonya In tidak mengatakan apa2, ia meletakkan gambar dari tangannya, tetapikedua kakinya tidak bergerak, Bu Yang mengawasi pula isterinya itu.

"Baiklah,"

Katanya pula.

"Karena kau menyesali aku yang telah membohongi kau, tidak apa kau tidak mau pergi masuk, kau boleh berdiam disini untuk mendengarkan,"

"Saudara Bu Yang, kau dengar aku!"

Kata pula Thian Tok.

"Tidak usah kau mengatakannya lagi,"

Berkata Bu Yang.

"Aku telah mengetahui maksud kedatanganmu ini."

"Saudara Bu Yang, jangan kau bercuriga, aku siorang she Cio satu laki2 sejati, tidak nanti aku melakukan apa2 yan tak bagus terhadap sahabatnya,"

Bu Yang memperlihatkan wajah sungguh2.

"Kau hendak pergi emana?"

Ia menanya.

"Kau...kau hendak mengatakan... ."

"Aku berterima kasih untuk kebaikanmu, Bukankah kau datang untuk ini ?"

Tangannya merogo kedalam sakunya, ketika ia menariknya keluar, maka berkelebatlah sebuah sinar kuning emas, dan Itulah Kimpay.

"Kau telah bertemu dengan Cit Siu Tooheng dan Pouw Kian?"

Thian Tok bertanya.

"Bahkan aku telah usir mereka berlalu dari gunung ini!"

Sahut Bu Yang.

"Dan kimpay ini sengaja aku tahan, supaya dengan begitu mereka tidak usah pergi membujuk lagi yang lain2 sahabat kita."

Thian Tok senang mendengar itu.

"Saudara Bu Yang, nyatalah kau telah ketahui semua! Tepat perbuatan kau ini! Aku puji padamu."

Bu Yang tertawa dingin, kedua tangannya dirapat pada kimpay itu, atas mana kimpay tersebut lantas saja menjadi sepotong emas murni, ketika ia melempar, emas itu nancap ditanah, Sungguh suatu kepandaian istimewa!

Ditempatnya sembunyi, Hian Ki tergoncang hatinya.

"Coba kemarin itu bukannya So So yang mencegah, tentulah tubuhku sudah hancur luluh..."

Katanya dalam hati. Bu Yang tidak menyahuti Thian Tok, hanya dengan dingin ia berkata;

"Jaman dahulu orang2 gagah bagaikan me-ngepung2 menjangan, aku berada bersama Sri Baginda almarhum, aku mengalami perang ratusan kali, atas semua itu, bertanya diri sendiri, tidak malu aku untuk kerajaan kita itu, Sekarang lain, sekarang ini dunia sudah berubah, seperti benda bertukar tempat dan bintang berpindah, sekarang ini aku siorang she In membenci peperangan, maka ingin aku hidup merdeka seperti burung bangau liar terbang diudara terbuka, untuk melewati hari2 yang tenteram dan aman, Sri Baginda sudah wafat, kerajaan Ciu suadah musnah, maka aku dengan keluarga Thio itu sudah tidak lagi mempunyai hubungan seperti raja dengan menterinya, Thio Cong Ciu sibocah cilik, cara bagaimana dia berani menggunakan kimpay untuk memanggil aku ?"

Thian Tok terperanjat, Itulah kata2 yang tidak ia sangka2, Memang ia tidak setuju dengan sepak terjangnya siauwcu, sijunjungan muda, yang mau meminjam tenaga negara Watzu, akan tetapi menghadapi anak cucunya Thio Su Seng, siraja almarhum, ia masih menganggap dirinya sebagai menteri, sebagai hamba, maka heranlah ia akan Bu Yang, yang putusannya demikian tegas, Ia merasakan hatinya tergetar.

"Jikalau begitu,"

Katanya, menanya.

"Ciu Goan Cianmg memanggil kau, kau juga tidak akan pergi, bukankah?"

Bu Yang menjawab dengan temberang sekali;

"Aku menjadi tuan atas diriku sendiri, aku pergi dan aku datang dengan merdeka,..aku pergi, putusannya ada padaku, aku tidak pergi, putusannya ada pada aku juga! Perlu apa kau mencampurinya tahu?"

"Kalau begitu bagaimana dengan semua sahabat2 lama kita? Kau masih memandang mereka atau tidak?"

Thian Tok menanya pula. In Buyang mementang kedua matanya, mata itu bersinar tajam.

"Apakah yang dibicarakan Poo Cu pada kau?"

Dia balik menanya.

"Katanya kau telah bertemu dengan Lo Kim Hong!"

"Memang!"

Kata pula Bu Yang dengan kejumawaannya.

"Siapa aku senang melihatnya, aku menemuinya! Dan malam ini tidak senang aku melihat kau!"

Thian Tok menyeringai.

"Karena saudara jemu terhadapku, baiklah, aku minta diri!"

Katanya.

"Eh, tunggu dulu!"

Bu Yang mencegah, suaranya tetap dingin.

"Kau tidak menghendaki lagi gambar ini?"

Thian Tok telah mengangkat dadanya, dan segera ia berbalik pikir, Maka menyahutlah ia dengan suaranya yang pasti;

"Dulu hari itu Sri Baginda almarhum telah menyerahkan gambar ini padaku, karena sekarang saudara sudah merdekakan diri, kau mau berbuat apa yang kau suka, hingga telah putus hubunganmu dengan kerajaan Ciu, baik juga gambar ini diserahkan padaku, untuk selanjutnya nanti kuserahkan kepada junjungan yang muda itu, Inilah memang baik sekali!"

Bu Yang melirik kesamping.

"Poo Cu, mari gambar itu kau serahkan padaku,"

Katanya perlahan, Suaranya tenang akan tetapi sinar matanya berapi, dengan sendirinya Nyonya In menggigil.

"Bu Yang,"

Katanya.

"kau... ."

"Bukankah kau hendak menyerahkan gambar itu padanya?"

Tanya suami itu dingin, Ia menunjuk kepada Thian Tok.

"Tapi gambar ini waktu dulu akulah yang mengambilnya dengan tanganku sendiri, maka sekarang sudah seharusnya aku mengembalikannya dengan tanganku sendiri juga,"

Ia menggeraki tangannya, menyambar gambar itu dari tangan isterinya.

"Hm!"

Kembali suaranya yang dingin dan menyeramkan, Terus ia memandang Thian Tok dan berkata dengan keras;

"Kau ambillah! Pheng Hweeshio telah mati, maka kau, Cio Thian Tok, kaulah sekarang orang kosen yang nomor satu! Dengan berani tengah malam buta kau datang kemari, mustahil kau tidak punya nyali untuk mengambil ini?"

Thian Tok mementang lebar kedua matanya, tetapi ia masih dapat mengendalikan diri.

"Saudara Bu Yang,"

Katanya sabar.

"Apakah maksudmu dengan kata2mu ini? Bukankah kita adalah sahabat2 dari pulhan tahun? Jikalau kau menghendaki gambar itu, akupun tidak ingin memaksa mengambilnya."

Bu Yang tertawa terbahak.

"Bagus, kau masih me-nyebut2 tentang persahabatan! Aku In Bu Yang, aku menerimanya dengan baik, Kau tidak mau mengambil gambar ini, tapi kau juga tidak mau pergi dari sini! Hm! harus kau ketahui, rumah ini adalah rumahku! Kau tidak mau berlalu dari sini, apakah kau anggap aku dapat dipermainkan?"

Sekarang Thian Tok tak dapat mengendalikan diri lagi.

"Bu Yang, kau bicaralah yang jelas!"

Bentaknya.

"Aku segera akan beralu! Hm! Kau menghina aku, masih tidak apa, kau, kau..."

Ia mau mengatakan "Kau merusak Poo Cu, bukankah?"

Tapi kata2 ini tidak sempat dikeluarkan, Bu Yang tidak menanti orang bicara habis, dengan wajahnya bermuran durja, dia menuding...

"Hari ini kitqa bicara ber-lebih2an!"

Katanya nyaring.

"Karena kau tidak mau lantas mengangkat kaki, baiklah, sekarang aku siorang she In mau minta pengajaran kau punya Tangan Besi dan Pit Sakti!"

Dengan melemparkan gambar ditangannya, Bu Yang lantas menurunkan pedang Kungo-kiam dari tembok.

"Buyang!"

Berseru nyonya In.

"Kalau dua harimau berkelahi, salah satu pasti celaka, maka dengan tidak ada sebab musababnya, perlu apa kalian hendak mengadu jiwa?"

Sang suami mendongak, ia tertawa terbahak.

"Oh, Poo Cu, kiranya kau masih memperhatikan aku?"

Katanya.

"Seorang lelaki tak mendapat kepercayaan dari isterinya, dia juga dicurigai sahabatnya, karena itu, apakah artinya dia masih tinggal hidup didalam dunia ini? Maka ingin aku terbinasa ditangannya, tetapi aku khawatir, dia tidak dapat mengalahkan aku! Thian Tok, kau cabut poakoan pit-mu, mari kita pergi keluar!"

Wajah Nyonya In menjadi sangat pucat, Ia mencelat hatinya mengingat suami itu yang telah belasan tahun memperlakukan ia dengan tawar sekali, bahkan sekarang ini ia tidak diperdulikannya, Ia berdiri menjublak, dadanya dirasakan sesak, Itulah kedukaan dan kedongkolan yang bercampur menjadi satu, Ia merasakan hatinya diam, seluruh tubuhnya lemas, Maka tak dapat membuka mulutnya.

Segera terdengar tertawa lebar dari Thian Yok;

"Aku tahu kau telah berhasil meyakinkan kitab silat Tat Mo Kiamsut,"

Katanya tawar.

"karena itu kau sangat mendesak untuk dicoba padaku, baiklah, aku siorang she Cio terpaksa suka menemani kau!"

Cio Thian Tok seorang ksatria dijaman itu, apabila ia tetap mengalah, akan merusak reputasinya, apalagi In Bu Yang telah membuatnya tak dapat mengelak lagi!

Sang rembulan sudah turun kearah barat, jam sudah menunjukkan lima pagi, Kedua orang itu, dengan sama2 bungkam, berjalan keluar, Cepat sekali terdengar suara 'Sret!' dan In Bu Yang telah menghunus pedangnya, yang sinarnya berkelebat seperti halilintar.

"Thian Tok, bukan keinginanku yang sebenarya untuk mencari menang sendiri,"

Kata Bu Yang dengan perlahan.

"karena dalam hal ilmu silat tangan kosong kau lebih unggul dari pada aku, aku terpaksa mesti menggunakan senjata tajam, Pedang ini adalah sebilah pedang mustika, yang dapat menabas kutung emas atau kumala, maka kau ber-hati2lah!"

"Terima kasih untuk petunjukmu ini,"

Berkata Thian Tok.

"Tetamu tidak mendahulukan tuan rumah, maka kau mulailah!"

In Bu Yang meletakkan tangan kirinya diatas pedangnya, lalu ia berseru panjang, menyusul mana pedang Kungo-kiam bergerak keatas, dalam jurus 'Bintang sapu mengejar rembulan', hingga tiga kali sinarnya berkelebatan, Ia telah menikam saling susul, dikiri kejalan darah pekhay-hiat, dikanan kejalan darah lengkiu-hiat, dan ditengah kejalan darah soanki-hiat, Ia tidak dapat menjalankan satu serangan seperti Cit Siu Toojin yang dapat menuju ketujuh arah, tetapi ini tiga, tidak kalah hebatnya karena sukar diduga arahnya yang tepat, Didalam hatinya, Thian Tok terperanjat!

"Benar2 Tat Mo Kiamsut yang lihay,"

Pikirnya, Ia lantas menutup dirinya, Maka 'Traang!' terdengarlah satu suara nyaring, dari bentroknya dua senjata, Ia tidak memakai tangan kosong tapi dengan poankoan pit, senjatanya yang menyerupai alat tulis itu, Ia menangkis dengan maksud menempel pedang lawannya, Hebat serangan si lawan, walaupun serangan itu tidak tepat sasarannya, toh ia merasakan telapak tangannya sakit, Hampir saja pit-nya itu terlepas dari cekalannya, Hal ini menambah keinsafannya akan lihay-nya lawan ini.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Bu Yang menarik pedangnya, untuk membebaskan diri dari tempelan senjata lawan, lalu dengan sama gesitnya juga, ia membabat kearah pinggang, Itulah jurus 'Ikat pinggang kumala melibat pinggang'.

Thian Tok menangkis dengan cepat, bahkan kali ini ia menangkis seraya terus membalas menyerang, Dan ia menyerang tiga kali saling susul.

Hebat desirannya kedua senjata, ber-kilau2 pedang mustika itu, hingga membuat suramnya cahaya bintang dan rembulan.

Nyonya In menonton pertempuran itu sambil menyenderkan tubuh dijendela, Ia sangat berduka, Yang satu adalah suaminya, yang lain adalah sahabat karib semenjak masih kanak2, Sekarang mereka itu mengadu jiwa, pada waktu itu ia terlibat, jikalau ia maju tidak memihak, ia akan seperti menyiram minyak kepada api yang tengah berkobar, ia malah akan tambah merusak, Tapi jikalau ia berdiam saja, ia merasa akan sangat menderita, Makin ia berdiam, makin ia rasakan hatinya sakit, Hingga seperti kosonglah otaknya, tak tahu bagaimana harus berbuat, Ia diam menyender, tubuhnya bagaikan sepotong tonggak, hatinya bagaikan abu, dan akhirnya, ia merapatkan kedua matanya, membiarkan mereka itu bagaikan naga menggempur harimau.

Kembali terdengar bentrokan hebat, mau tidak mau Nyonya In membuka kembali juga matanya, Nyata Bu Yang, dengan jurus 'Naga sakti masuk kelaut', sudah memaksa Thian Tok menangkis pula serangannya yang sangat dahsyat, Poankoanpit terbuat dari besi pilihan dan pemiliknya pun lihay, tetapi bentrokan itu membuat juga cacat ditiga tempat.

Tidak mengherankan Nyonya In menjadi terkejut sekali, juga Hian Ki dari tempat persembunyiannya, dia hampir napasnya putus, Dalam kengerian itu, ia pun merasa sangat menyayangkan, menyayangkan kedua jago itu, andaikata salah satu mesti roboh, Bukankah mereka sama2 tersohornya?

Cio Thian Tok sudah sekian lama, dan In Bu Yang baru saja?

Hanya sayangnya lagi bagi pemuda ini, ia cuma bisa mendengar, ia tidak bisa melihat, sebab tidak berani ia keluar dari tempat persembunyiannya itu, Ia hanya 'melihat' dari suara bentrokan senjata saja....Nyonya In sebenarnya tidak ingin menyaksikan lagi, tapi tanpa sadar, ia mengikuti terus setiap gerakan pedang dari suaminya, sejurus demi sejurus, hingga tak terasa tiga puluh jurus telah berlalu, hingga sekarang tampak tubuh Thian Tok seperti terkurung sinar pedang mustika itu.

Dalam khawatirnya itu, Poo Cu pun merasa heran dan kagum, Cuma ia yang mengenal baik kepandaiannya kedua orang itu, Ia kagum untuk lihaynya sang suami, dan ia heran kenapa Thian Tok dapat terkurung hanya dalam tiga puluh jurus itu.

Lagi2 terdengar suara 'Traaang!' ber-ulang2, Lagi2 poankoan-pit Thian Tok kena dipapas bercacat.

"Cio Thian Tok"

Katanya.

"ketika kau mulai, kau tidak bersungguh2, tetapi sekarang tahulah kau begaimana ilmu pedangku ini! Apakah kau kira aku In Bu Yang sudi mengalah padamu? Mari maju lagi, kau berlakulah hati2!"

Bu Yang menantang sambil terus menyerang, pertama pedangnya diputar bundar, lalu ia menikam.

Dua orang ini adalah sahabat dan kawan-seperjuangan, bersama2 mereka mengabdi pada satu junjungan, ber-sama2 mereka menghadapi musuh, pernah mereka ber-sama2 menderita, persahabatan mereka bagaikan saudara kandung, Ini juga sebabnya mengapa, walaupun ia sangat jemu terhadap In Bu Yang, Thian Tok tidak lantas berkelahi dengan sungguh2, Tapi kelemahan hatinya itu mendatangkan kerugian untuk dirinya, Nyata ilmu pedang Bu Yang lihay luar biasa dan ia kena didesak, Insaflah ia sekarang, tidak dapat ia main2 lagi, tak dapat ia mundur pula, se-konyong2 ia menyambar dengan tangan kiri yang kosong, terus itu disusul dengan pit-nya, bahkan terus-menerus sebanyak enam kali, ujung senjatanya itu mencari 36 jalan darah lawan, Maka pertempuran menjadi hebat luar biasa.

Hian Ki cuma mendengar, ia tidak dapat melihat, tentu saja sama sekali ia tak tahu, apa yang terkandung dalam hati Bu Yang.

Nyonya In, yang mengenal kedua pihak, menghela napas panjang, Ia mengerti pada Thian Tok yang sudah mencoba untuk mengalah, Itulah menandakan bahwa siorang she Cio tidak melupakan persahabatan mereka, Dipihak lain, Bu Yang berkeinginan membinasakan sahabatnya ini, Dengan cara berkelahinya itu, Bu Yang juga hendak mempertunjukkan kepandaiannya pada isterinya itu, Hanya karena kelicikannya ia memperlambat serangannya sementara, untuk memperlihatkan kebaikkan hatinya....Yang hebat bagi Thian Tok, bukan saja pit-nya bercacat, bahkan ujungnya pun kena dibabat kutung, Maka poankoan-pit tidak lagi menjadi Sin Pit (poankoan-pit Sakti)...

Tapi Bu Yang gagal untuk membodohi isterinya, Nyonya In dapat melihat isi perutnya...

Setelah merasa lebih unggul, Bu Yang menjadi besar hati, Ia percaya tidaklah sukar untuk mengalahkan Thian Tok, Tapi Thian Tok adalah jago tua, ia beda daripada dua puluh tahun yang lalu, maka itu bagaimana pun ia didesak, ia tetap dapat bertahan.

Sang Rembulan telah turun semakin rendah, gelanggang pertempuran itu menjadi semakin guram, untuk kemudian diganti sinar sang fajar, Selama itu, seratus jurus telah berlalu, tetap mereka sama tangguhnya.

"Sacaplakciu Thiankong Cianghoat benar2 lihay!"

In Bu Yang memuji sambil berseru panjang, suaranya nyaring.

"Tapi untuk berharap!"

Sacaplakciu Thiankong Cianghoat itu ialah ilmu silat Thiankong Ciang yang terdiri dari 36 jurus, yang merupakan ilmu silat istimewa dari Cio Thian Tok, Dengan suaranya itu, Bu Yang memuji berbareng mengejek, Setelah itu, ia mencoba untuk mendesak pula, Kali ini ia mengubah gerakannya, Tampaknya pedangnya menjadi ayal, tetapi sebenarnya setiap serangannya bertambah berat, Dengan begitu agaknya Thian Tok cuma dapat bertahan saja.

Pertarunganberlanjut terus, makin lama bertambah dahsyat, Hebat!

beberapa pohon didekat mereka cabang2nya telah terbabat pedang, daunnya rontok berserakan, hingga pohon itu menjadi gundul.

Nyonya In menyedot napas dingin.

"Itulah pohon bwee yang paling disayangi Bu Yang, sekarang ia membabatnya dengan pedangnya, pikirnya.

"Rusaknya pohon itu menandakan pada hatinya sudah timbul napsu membunuh."

Tentu saja nyonya In menjadi semakin gelisah, sebab untuk mencegah, ia tak berdaya, Lagi dua puluh jurus telah berlalu, Thian Tok masih belum menggunakan tiga jurus simpanannya.

Bu Yang terkejut ketika satu kali ia diserang, karena ia berkelit, serangan itu meminta mangsa patahnya sebuah cabang besar disampingnya, Ia lantas teringat;

"Dia bersahabat erat dengan Pheng Hweesio, khabarnya paderi itu telah mengajari dia ilmu Hiankong-Yauwkoat, inilah rupanya ilmu itu, Nyata dia tak lebih lemah dari Pheng Hweesio..."

Selagi Bu Yang berpikir, justeru serangannya Thian Tok datang pula, Ia menangkis dengan pedangnya, tetapi pedang itu kena tersapu mental.

Itulah serangan yang kedua dari Thian Tok, yang segera disusul dengan yang ketiga, Serangan yang pertama dahsyat, yang kedua lebih dahsyat pula, tetapi yang ketiga ini aneh, hingga Bu Yang tercenggang, Beda daripada yang dua tadi, kali ini tidak ada suara anginnya, Dalam kagetnya, Bu Yang memberatkan tubuhnya dengan pasangan Ciankin twie, Toh ketika serangan datang, tubuhnya terputar, kakinya limbung, tanpa terasa lagi, ia roboh terguling.

Nyonya In kaget, hingga ia menjerit, akan tetapi belum lagi suaranya berhenti, tubuh Bu Yang telah bergerak, memutar beberapa kali, dan dilain saat dia melompat bangun seraya pedangnya menyontek keatas, bahkan anehnya ia terus bisa menyerang hingga tujuh kali, maka punahlah ancaman dari Thian Tok.

Sekarang terlihat cara berkelahi yang aneh dari Bu Yang, Tubuhnya berputar dan terhuyung, seperti orang lagi mabok yang sinting, pedangnya menikam ke berbagai arah, seperti tidak beraturan, tetapi dimata isterinya, itu mendatangkan keheranan dan kekaguman, Baru pertama kali ini isterinya itu melihat suaminya jadi demikian lihay.

Segera juga Thian Tok terdesak mundur, tetapi baik tindakan kakinya, maupun gerakan tangannya, tidak jadi kalut, Maka itu, ia dapat bertahan hingga lebih dua puluh jurus lagi.

Bu Yang menginsafi lawannya mahir tenaga dalamnya, ia melayani dibagian ini, Ia mau membuat lawannya itu kehabisan tenaga, Kelihatannya ia berhasil, desakannya telah mengurangi tekanan dari Thian Tok.

Beberapa jurus kemudian, mendadak pundak Thian Tok kena tikaman, dilain pihak, kepalan Thian Tok pun mengenai sasarannya, hingga terdengar satu suara yang nyaring.

Nyonya In terkejut, Ia tahu, suaminya terhajar terlebih parah, Tapi, ketika kedua orang itu betempur lebih jauh, lalu terlihat perbedaannya, Gerakan pedang menjadi terlebih kendor, sedang gerakan tangan Thian Tok menjadi terlebih ayal lagi.

Hati Nyonya In menjadi ciut, Sekarang ia menjadi ingat akan isterinya Thian Tok, Ia ketahui nyonya Thian Tok tak pernah mendapat cinta suaminya, Maka kalau Thian Tok terbinasa, janda itu akan hidup sunyi dan menderita bersama anaknya yang piatu...

Siapa yang akan mendidik anak itu, karena ibinya tidak mengerti ilmu silat?

Sampai disini, Nyonya In lantas berpikir untuk datang melerai, Tapi ia terlambat..Bu Yang menyerang dengan hebat, Thian Tok menangkis, Tepat kedua senjata beradu, cepat poankoan-pit terbabat bagian tengahnya dan putus kutung!

"Bu Yang!"

Teriak si isteri.

Tapi pedang Bu Yang sudah berkelebat, tubuh Thian Tok lantas roboh, ketika ia dapat berdiri, tubuhnya itu berlumuran darah, Sebab pedangnya orang she In itu telah melukai delapan belas lubang, Ia ter-huyung2.

"Saudara Bu Yang,"

Ia berkata seraya menyeringai.

"mulai saat ini, kaulah yang ilmu silatnya nomor satu dikolong langit ini, tidak akan ada yang dapat menandingi lagi, Saudara, aku beri selamat padamu!"

Habis berkata, kembali jago itu roboh, Bu Yang mengawasi, tetapi mendadak ia menjadi sangat kaget, Sebab pada pundak Thian Tok yang bajunya robek itu, ia melihat kulit yang hitam.

"Ah, ah, kau terkena kuku beracun dari Pouw Kian!..."

Jeritnya, Baru sekarang ia ketahui, Thian Tok menjadi lemah karena bekerjanya racun dari tangan Pouw Kian itu, racun tersebut dapat ditahan oleh Thian Tok untuk sementara waktu, tetapi karena dia harus bertarung mati2an, racun itu tak dapat ditahan lebih lama lagi, maka ditambah dengan luka2 pedang, habislah tenaganya.

Dua kali lagi Bu Yang memanggil nama sahabatnya itu, Thian Tok tetap tidak menjawab, maka itu, ia menjadi berdiri menjublak dengan pedang ditangan, Ia merasa segala apa menjadi sunyi.....

VI.

AYAH, IBU, ANAK -KEKASIH Sisa sinar dari bintang2 terlah sirna, sebaliknya sang embun mendemakkan baju, selain itu, pekarangan rumah sunyi senyap, sebab keadaan disekitarnya seperti membeku, Adalah dalam kesunyian seperti itu, mendadak terdengar tangisan sedu-sedan, bagaikan jarum yang lancip tajam menusuk udara yang kosong itu.

In Bu Yang segera juga berpaling, maka terlihat olehnya bahwa isterinya, dengan membawa gulungan gambar, setindak demi setindak, berjalan keluar dari pintu model rembulan disisi pohon bwee, Isterinya itu tak berpaling sedikitpun juga kepada suaminya itu.

Dengan sendirinya, hati Bu Yang bergetar, bagaikan semangatnya meninggalkan raga kasarnya, ber-ulang2 ia menyebut "Poo Cu"

Akan tetapi suaranya tak terdengar, panggilan itu tak pernah keluar dari mulutnya. Nyonya In berjalan lewat disisinya mayat Cio Thian Tok.

"Thian Tok, kau legakan hatimu,"

Katanya, perlahan tetapi tegas.

"Gambar ini pasti aku akan antar kerumah kau, Akupun akan memperlakukan anakmu seperti aku merawati So So."

Agaknya si nyonya kuatir akan membuat kaget jago tua itu.

In Bu Yang meresakan hatinya seperti di-tusuk2 jarum, ia kehilangan akal budinya, disaat ia mengangkat kepalanya, bayangan punggung isterinya itu sudah menghilang dari pandangan matanya.

Lama, lama sekali, barulah Bu Yang dapat mengeluarkan suaranya, Itulah suara dari kedukaan yang sangat, dari hati yang dalam, putus asa, Ia lantas merasakan takut, lebih takut daripada kepergian isterinya barusan, Ia baru menggeraki kakinya, lantas disitu muncullah puterinya yang muda belia, Tak tahu ia kapan anak itu datang, tahu2 si nona sudah tengah menyender disebuah pohon bwee, sinar matanya juga mengandung sinar kekhawatiran, sinar ketakutan, Kelihatannya anak dara ini seperti tak lagi mengenali ayahnya itu.

"So So!"

Akhirnya Bu Yang memanggil, Ia telah berhasil menguasai dirinya, dan dapat membuka mulutnya itu.

Sinar matanya sianak melintas kepada wajahnya sang ayah itu, kembali ia tampaknya seperti dapat melihat sesuatu yang membuatnya sangat takut, bahkan ia mundur tiga tindak!

"Semua2nya aku telah mendengarnya!"

Katanya tajam, bagaikan teriakan.

"Semua2nya aku telah mengetahuinya! Jangan mendekat padaku!"

Tubah In Bu Yang bergidik, bergemetar, Tiba2 ia menarik napas panjang, Ia lantas saja memperdengarkan nyanyian yang seperti orang menangis;

"Mengingat langit dan bumi yang demikian samar, siapakah yang mengenal aku? Mengingat akan hari ajal siksatria, menangpun apanya yang harus dibuat girang? Dan kalau kalah, apanya yang harus dibuat berduka? Beginilah kehidupan yang gampang menghilang, Burung hong terbang, burung loan melayang, maka itu siapakah yang nanti mengikuti aku?"

Dengan diimbangi tindakan kaki, suara itu makin lama makin jauh terdengarnya, Terluka hatinya So So, air matanya bercucuran deras.

"Ayah! Ayah!"

Ia memanggil tanpa merasa, Tapi ayahnya itu sudah tak lagi mendengarnya, Nona itu menyender pula pada pohon bwee, ia menangis ter-sedu2, sampai kemudian ada tangan yang halus dan hangat, dengan perlahan sekali membelai rambut kepalanya, Lalu disusul dengan satu suara yang sabar dan lembut;

"So So, So So, jangan menangis... ."

Si nona mengangkat kepalanya, Tiba-tiba;

"Hian Ki!"

Panggilnya, Dan air matanya turun semakin deras.

Hian Ki tak dapat mengatakan berkata apa2, ia mengeluarkan sapu tangan suteranya, denan per-lahan2 ia menghapus air mata si nona.

Tak lama kemudian, sambil menangis segugukan, So So berkata;

"Oh ayah! Ayah yang menyebalkan, ayah yang harus dikasihani! Hian Ki, kau tak tahu, semenjak masih kecil aku telah memandangnya ayah sebagai satu2nya ksatria dikolong langit ini, yang tak ada keduanya!... ."

"Memang juga sekarang ini tidak ada orang yang dapat menandingi ayahmu,"

Hian Ki membenarkan.

"Benar, mulai hari ini, ayahlah yang ilmu silatnya nomor satu paling lihay!"

Membenarkan juga sinona.

"akan tetapi patung yang aku punya didalam hatiku sudah hancur lebur, dia bukan lagi seorang ksatria yang aku junjung! Dia sudah mencuri kitab pedang kakekku, dia telah memaksa ibuku mengangkat kaki, dia membunuh sahabat2nya, dia telah mengurung Siangkoan Thian Ya, bahkan dia tak segan membantu komandan Kimi-wi itu untuk membekuk rekan2nya! Semua itu aku ketahui sekarang!"

"Dia mengurung Siangkoan Thian Ya?"

Tanya Hian Ki heran.

"Ah, dimanakah Siangkoan Thian Ya sekarang?"

"Tadi malam aku telah bertemu dengan Siangkoan Thian Ya,"

Menyahut Sinona.

"Banyak hal yang dia telah menceritakan kepadaku, Didalam dua hari ini, aku telah pula mendengar sesuatu hal, Aku percaya Siangkoan Thian Ya tidak membohongi aku, Ya, ayahku memanglah siorang busuk!"

Hian Ki merangkul nona itu, ia menatap matanya, dimana air mata mengembang, siar matanya sayup-sayup, menandakan hatinya terluka.

Memang, didalam dunia ini ada urusan pribadi, Apakah yang dapat melebihi putus asanya seorang anak terhadap ayah atau ibunya?

"Kau legakan hatimu,"

Hian Ki menghibur, Tanpa merasa ia mencium pipi orang.

"Mungkin semua ini bukanlah kesalahan ayahmu seorang,"

Katanya pula, So So mengawasi;

"Bukankah kau hendak membunuh dia?"

Ia menanya. Sipemuda menghela napas;

"Inilah urusan yang sangat ruwet, benar salahnya, sekarang ini sulit untuk dijelaskan,"

Ia menyahut, Ia mendongak, melihat sinar matahari sudah tiba didalam pekarangan, Ia melepaskan kedua tangan sinona, yang ia pegangi, lalu ia berbangkit untuk berdiri.

"Ibuku sudah pergi, ayahku sudah pergi, apakah kau juga hendak pergi?"

Menanya So So, mengawasi.

"Ah,"

Hian Ki seperti mengeluh.

"jikalau kau memerintahkan aku pergi, akan aku pergi.."

Sinona menangis pula;

"Baiklah, kau pergilah... ."katanya. Pemuda itu melengak;

"So So, benar2kah kau menghendaki aku pergi?"

Ia menegasi.

"Aku tidak menghendaki kau pergi, tetapi aku juga tidak sudi orang jemu terhadapku,"

Jawab sinona. Hian Ki heran;

"Apakah maksudmu?"

Ia menanya pula.

"Aku tahu dihatimu sudah ada seorang lain, ialah nona yang kau paling menyintainya..."

Mendengar itu, Hian Ki tertawa;

"Didalam dunia ini dimana ada lain nona yang lebih manis dari pada kau?"

Katanya.

"Rupa2nya kau mendengar hal ini dari Thian Ya."

"Apa dan perlunya Thian Ya mendustai aku?"

Hian Ki tertawa pula;

"Nona itu justeru adalah nona yang paling manis dimatanya Thian Ya sendiri! Dan nona yang diukir didalam hatiku adalah kau!"

So So mengawasi, sinar matanya penuh dengan kesangsian;

"Benarkah itu?"

Menegasinya dengan perkahan.

"Siangkoan Thian Ya menyintai nona itu, melebihi ia menyintai dirinya sendiri,"

Hian Ki berkata pula.

"Tetapi dia menyangka bahwa cinta nona itu dengan cintaku adalah perjodohan yang paling manis dan cocok, Sebenarnya, sama sekali aku tidak berpikir demikian, Berulang kali telah aku menjelaskan kepadanya, tetap ia tak mau mempercayainya, So So, apakah kau juga tidak percaya padaku?"

Mata sinona bersinar terang;

"Pantas Siangkoan Thian Ya juga telah mencaci aku,"

Katanya.

"kiranya dia khawatir aku nanti akan merusak perjodohan kamu,"

"Baiklah, segala apa sudah terang sekarang!"

Kata Hian Ki.

"Mari kita pergi kepada Thian Ya, untuk membebaskan dirinya."

"Tidak, dia tidak mau dirinya dibebaskan!"

"Apa? Dia tidak mau pergi?"

"Benar! Tadi malam dia bilang padaku, sekalipun ayahku yang melepaskan dia pergi, dia masih tak mau pergi!"

Hian Ki menjadi heran sekali;

"Kenapa dibebaskan tetapi dia masih tidak mau pergi, Tabiatnya benar2 aneh!"

"Aku justeru menyukai tabiat orang semacam dia!"

Kata So So, yang terus menunduk.

"Ah, Hian Ki, dapatkah kau juga bertabiat seperti dia itu?"

Hian Ki bertambah heran;

"Kau menghendaki tabiatku seperti tabiat dia?"

Katanya, Tiba2 datang sinar terang didalam hatinya, maka lekas ia menambahkan perkataannya, menambahkan dengan halus;

"Bisa, aku juga bisa bertabiat seperti dia terhadap nona itu, aku menyintai kau melebihi aku menyintai diriku sendiri! Jikalau tidak, tidak nanti tadi malam aku mencuri datang kemari!"

So So girang bercampur jengah, hingga ia menjerit "Ah!"

Tanpa terasa, menyusul mana ia dipeluk pula oleh sipemuda.

"So So, aku minta kau antar aku kepada SiangKoan Thian Ya,"

Ia minta.

Sinona merapikan pakaiannya, terus ia pegang tangan sianak muda, untuk ditarik, dituntun melintasi pintu belakang, Mereka jalan disebuah jalan kecil yang banyak tikungannya, hingga tidak lama kemudian tibalah mereka dimuka sebuah goa, yang kedua pintunya besar dan tebal, tertutup rapat.

"Goa ini dibuat dan diperlengkapi ayahku untuk berlatih silat,"

So So menerangkan.

"Aku sendiri baru tadi malam untuk pertama kalinya memasukinya secara diam2, Siangkoan Thian Ya dikurung didalam goa ini."

Nona ini bertindak hingga tepat didepan goa.

"Coba kau putar gelang pintu itu,"

Ia berkata pada Hian Ki yang mendampinginya.

"Kau putar kekiri tiga kali, lalu kekanan tiga kali juga, nanti pintu terbuka sendirinya."

Hian Ki lantas bekerja menuruti petunjuk nona itu, Hanya ketika tangannya menyentuh daun pintu, ia merasakan sesuatu yang aneh, ia lantas mendorong dengan perlahan, lalu terjadilah hal aneh, Kedua daun pintu itu roboh menjublak, roboh hancur menjadi banyak potongan kecil2, mirip dengan dempur.

So So heran, hingga ia mengeluarkan jeritan tertahan;

"Eh!, mengapa begini?"

Katanya.

Daun pintu itu terbuat dari semacam pohon kayu yang terdapat digunung Holan-san itu, kayu yang kuat, dibuatnya pun tebal, dalam keadaan biasa, untuk mendobraknya dengan golok atau kampak pun akan meminta tenaga dan tempo yang lama, siapa tahu sekarang didorong perlahan saja sudah rubuh, Ketika tadi malam So So datang kesitu, pintunya masih kokoh dan kuat, Bagaikan tak percaya akan diri sendiri, sinona menatap sipemuda, Ia mendapatkan orang heran berbareng tak tenang hatinya.

"Mari,"

Kata sinona, Ia mengajak sianak muda menyentuh daun pintu yang hancur itu, mereka hanya menggunakan sedikit tenaga, potongan2 kecil itu lantas menjadi abu.

"Inilah akibat satu serangan tenaga dalam,"

Kata Hian Ki kemudian.

"Rupanya orang itu sengaja hendak mempertontonkan kepandaiannya yang mahir itu, lihaynya ialah dia merusak bagian dalam, bagian luarnya pintu tampak wajar saja."

"Benar, inilah akibat serangan tenaga dalam,"

Si nona membenarkan.

"Hanya sekarang ini siapakah yang tenaga dalamnya begini sempurna?"

Hian Ki tidak menjawab, ia hanya berpikir, Kalau Cio Thian Tok masih hidup, ia mau menduga jago she Cio itu, tetapi menurut pembicaraan Thian Tok dan Nyonya In kemarin, dia cuma memikirkan usahanya untuk junjungannya yang muda, dia tidak mengenal Siangkoan Thian Ya, Maka pengrusakan pintu itu pasti bukan perbuatannya Thian Tok Itu, Habis , siapakah?

"Hian Ki, kau memikirkan apa?"

Menanya si nona melihat orang menjublak.

"So So,"

Hian Ki tidak menjawab, hanya balik bertanya.

"Tadi malam jam berapa kau datang kesini?"

"Kira-kira dekat jam empat,"

Menyahut si nona.

"Ah, itu waktu dia dengan Thian Tok sedang bertempur..."

Katanya seorang diri.

"Eh, kau memikir bagaimana?"

Tanya So So.

"Mengapa kau me-nyebut2 ayahku? Mungkinkah ayah yang merusak kamar berlatihnya sendiri? jikalau ayah mau melepaskan orang, tidakkah dapat ia membuka saja pintunya?"

"Memang benar, Inilah yang menjadi anehnya!"

Si nona pun berpikir keras, Pintu bukan dirusak Thian Tok, Kalau begitu, masih ada seorang lain yang dapat menandingi kelihayan ayahnya, Siapakah dia itu?

Apakah dia berbuat demikian untuk menantang kepada ayahnya.

"Mari kita masuk akan kita lihat kedalam,"

Hian Ki mengajak.

"Entah bagaimana dengan Thian Ya... .Thian Ya! Thian Ya! Hian Ki me-manggil2.

"Saudara Siangkoan, bagaimana dengan kau?"

Tidak ada jawaban dari dalam goa, dan tak terdengar suara apapun juga.

Hian Ki gelisah, cemas hatinya, Ia menduga Thian Ya tengah terluka parah, Maka ia berlari masuk, Tiba didalam, ia berdiri melengak, goa itu kosong, Dengan pintu besarnya runtuh, cahaya matahari dapat masuk kedalam dan segala apa tampak jelas, Siangkoan Thian Ya tidak ada disitu.

So So menjadi terlebih heran dari pada sianak muda, Ia bahkan kaget.

"Dia yang mengatakannya sendiri, kalau bukan dia yang menerjangnya, tidak nanti dia sudi berlalu dari goa ini?"

Katanya seorang diri.

"Siapa pun yang memintanya, dia bakal menolak, Dia rela mengubur diri digunung belukar tetapi dia tidak sudi menerima belas kasihan siapa juga! Tapi sekarang?"

Hian Ki berpikir, tetapi matanya memandang kesekitar goa, Ditembok itu terdapat banyak lukisan mengenai ilmu silat pedang, tegas terlukis berbagai bentuk gerak, Ia memperhatikannya, tetapi tidak mudah untuk ia segera dapat mengerti.

"So So,"

Kemudian ia bertanya pula pada si nona;

"Bagaimana caranya kau bertemu Siangkoan Thian Ya dan apakah katanya?"

Si nona tidak lantas menjawab, Ia hanya berkata;

"Aku hidup digunung ini semenjak dari kecil, kecuali dengan ayah dan ibuku, sangat jarang aku bertemu dengan orang lain, Ada kalanya aku turun gunung untuk berburu, tapi belum pernah aku melintas lebih jauh daripada lima li dari sekitar sini, Hanya tak tahulah aku, sejak hari itu aku melihat kau untuk pertama kali, lantas aku mendapat perasaan, bahwa kau mirip orang yang terdekat denganku... ."

"Inilah aneh, Kenapa perasaan kita serupa? Ketika hari itu aku tersadar, begitu melihat kau, aku lantas merasa kaulah adikku dengan siapa aku belum pernah bertemu."

Kedua belah pipi si nona menjadi bersemu merah dadu.

"Ketika tadi malam aku memberi makan kuda putihmu, aku lantas teringat kau."

Katanya perlahan.

"maka itu aku lantas lari keatas gunung dimana aku menabuh khim, Apakah kau mendengar itu?"

"Aku justeru kena ditarik oleh suara khim dan nyanyianmu itu,"

Hian Ki mengaku.

"Aku tidak menyangka bahwa demikian dalam kesanmu terhadap aku, Semoga mulai hari ini kita berdua tak bakal berpisah lagi!"

So So menyingkap rambutnya, ia tersenyum manis, Cuma sebentar ia memandang sianak muda, lantas ia menunduk.

"Sembari menabuh khim, aku terus memikirkan kau,"

Ia berkata pula, mengaku.

"Aku ingat halnya kau hendak membunuh ayahku, Tegang hatiku, aku cemas sekali, Itulah bukan disebabkan kau dapat membinasakan ayah, Ayah pernah berkata, jikalau kau mau melawan ayah, untuk dapat mengimbangi saja, kau masih harus belajar lagi sedikitnya sepuluh tahun, Aku hanya berkhawatir untuk ayahku, Aku sangat memuja ayah, maka takut aku bahwa ia benar2 seorang jahat? Dan aku menguatirkan keselamatanmu andaikata kau dapat bertemu dengan ayah, Tanpa aku berada bersama, ayah dapat membunuhmu! Disebelah itu aku memikirkan segala apa yang aku lihat dan dengar selama dua hari ini, Dimataku, semua perbuatan ayah tak wajar adanya, lebih2 kenapa ayah tidak sudi mengembalikan kitab pedang itu dan dia mengurung Siangkoan Thian Ya. .?? Ya, ayah bersikap tidak manis terhadapmu, hal itu membuat aku malu sekali, Maka itu, sebagai seorang yang berdosa, yang hendak menebus dosanya itu, ingin aku berbuat sesuatu untuk menyenangi hatimu, Untuk itu, aku juga bersedia untuk berbuat baik terhadap orang yang biasa berbuat baik terhadapmu, Demikian, aku jadi ingat Siangkoan Thian Ya, Bukankah dia telah datang kemari dengan menempuh bahaya? Bukankah dia telah sudi melepaskan kedudukan sebagai Ciangbunjin partainya, bahkan dia rela tak mendapatkan kitab pedang, asal itu semua dapat ditukar dengan kebebasanmu? Aku juga berpikir kau pastilah hendak menolong dia."

"Siangkoan Thian Ya dialah sahabatku, satu2nya orang yang mengenal aku dengan baik sekali,"

Berkata Hian Ki.

"Cuma dia masih belum dapat menyelami hatiku sebagaimana yang kau buat, Aku heran, kenapa pikiranmu selalu sejalan dengan pikiranku, begitu juga hati kita berdua terangkap menjadi satu?"

Tanpa terasa keduanya saling memegang tangan mereka dengan erat sekali, Kemudian si nona menghela napas perlahan;

"Sebenarnya ayahku sangat menyayangi aku,"

Ia menambahkan.

"maka mimpi pun tak terpikir olehku, bahwa aku bisa menentangnya, Demikian tadi malam aku telah berlaku dengan diam2 datang kemari unuk membuka pintu goa ini, untuk menolong membebaskan Siangkoan Thian Ya, Sebenarnya aku takut pada sikapnya yang bengis itu, tetapi aku telah mengambil keputusan, andaikata ia salah mengerti dan hendak menghajar aku, aku tidak akan membalasnya."

"Adikku, kau baik sekali!"

Hian Ki memuji, kagum, Ia tahu betul, kecuali ibunya sendiri yang bijaksana tidak ada orang lain daripada si nona In ini yang begini polos.

"Benar saja, pada mula kami bertemu, dia bersikap garang sekali,"

So So melanjuti.

"Cuma tidaklah sampai dia menyerang aku, setelah dia mendengar perkataanku, aku lihat dia menggigil, tubuhnya gemetaran, Dia bilang sungguh dia tidak menyangka bahwa aku sudi berlaku demikian baik hati terhadapnya, Mulanya dia tertawa, kemudian dia menangis rupanya saking terharu, kemudian dari itu, kau tahu, dia mendamprat aku! Dia menegur aku, aku tahu atau tidak bahwa kau telah mempunyai kekasih... ."

"Salah faham itu tadi aku telah menjelaskannya,"

Kata Hian Ki tertawa.

"Apa lagi katanya dia?"

"Aku menahan sabar, aku pendam kesedihanku, aku membiarkan dia mencaci aku,"

Menyahut si nona.

"Aku tetap berlaku baik padanya , Aku bilang, jikalau dia menghendaki kitab pedang, aku akan mencurinya untuknya, supaya dia boleh dapat pergi, Aku pun mengatakan pada dia bahwa kau sudah lolos dengan selamat, oleh karena itu, tidak ada artinya untuk dia, berdiam lebih lama pula disini, bahkan lebih baik dia mengambil kitab pedang dan kabur, sebelum ayahku pulang, Diluar dugaanku, kembali dia memperlihatkan tabiatnya yang keras."

"Demikian memang tabiatnya Siangkoan Thian Ya!"

Kata pula Hian Ki, tertawa.

"Dia bilang kitab pedang itu, adalah kepunyaan partainya Butong-pay, maka itu katanya, perlu apa dia mengambilnya dengan jalan mencuri, Dia memastikan, kecuali dia dapat mengalahkan ayah, hingga ayah rela menyerahkannya kembali, biarpun aku mengambil untuknya, biarpun dia disuruh pergi, tidak sudi dia lakukan, Dia telah bersumpah bahwa dia lebih suka mati daripada berbuat begitu, Sambil tertawa dingin, dia berkata.

"Ayahmu sengaja berlaku bijaksana, dia seperti bermaksud baik untuk menolong aku, tetapi aku tidak sudi menerima kebaikannya itu, Kitab itu adalah milikku! Sungguh, aku tidak mengerti maksudnya itu."

Mendengar sampai disitu, Hian Ki sudah mengetahui maksud Siangkoan Thian Ya, Maka ia tertawa pula;

"Kau lihat semua lukisan diempat penjuru tembok itu,"

Ia berkata kepada si nona, sambil tangannya menunjuk kesekeliling tembok.

"Bukankah itu gambar dari ilmu pedang Tat Mo Kiamhoat?"

"Mungkin benar,"

Menyahut si nona.

"Aku mempelajari Tat Mo Kiamhoat itu baru tiga bagian, semua yang aku pelajari berada dalam gambar ini, Kau lihat itu gambar jari tangan, itulah ilmu silat Itci Sian, Aku mengerti sekarang, ayah telah melukiskan disini semua kepandaiannya, maka itu siapa dapat meyakinkan semua ini dengan sempurna, dia lebih unggul daripada belajar menuruti kitab ilmu pedang itu, Ayah mengurung Siangkoan Thian Ya disini, rupanya ia bermaksud Thian Ya dapat mempelajarinya, Sekarang tidak mengherankan lagi, bila Thian Ya tidak ingin berlalu dari goa kurungannya ini!"

So So mengatakan demikian, tetapi ia heran juga, sebab Thian Ya akhirnya menghilang juga...

"Menurut tabiatnya Thian Ya,"

Kata Hian Ki.

"Asal dia sudah bersumpah tidak mau pergi, meskipun langit runtuh dan gunung ambruk dan goa ini tertimbun, tidak nanti dia lari keluar, tetapi sekarang dia menghilang, inilah aneh."

Keduanya berpikir, keduanya berbicara lebih lanjut, dengan dugaan2 mereka, tetap mereka tidak mengerti, tidak ada kesimpulan yang tepat, Hian Ki menjadi masgul sekali.

"Dia sudah pergi, tidak ada gunanya kita berdiam disini lebih lama pula,"

Kata So So kemudian.

"Mari kita pulang, Kau tentunya sudah lapar,"

Hian Ki menurut, maka mereka kembali kerumah, melihat rusaknya lantai dan rumah bwee, yang daunnya rontok berhamburan, keduanya berduka, Rumah yang tadinya tenang dan asri, sekarang kacau tidak karuan, Segala apa tampak menyedihkan dan menyeramkan.

"Coba pinjamkan aku pacul,"

Hian Ki minta, So So carikan alat yang diminta itu, Ia mengerti maksud orang.

"Kau bekerjalah sendiri!"

Katanya sambil memberi hormat.

"Aku mau berganti pakaian sekalian akan memasak sesuatu untukmu,"

"Pergilah,"

Menjawab sianak muda, yang terus saja bekerja, Ia menggali lubang, yang mana memakan waktu juga, sesudah itu ia memondong tubuhnya Cio Thian Tok untuk dikubur disitu, dikubur menurut cara yang paling sederhana, Tidak ada perlengkapan, tidak ada upacara, hanya kemudian, diatas sana ditumpuk cabang2 pohon dan dedaunan, Ia menjadi sangat terharu melihat demikian mengenaskan akhir dari seorang gagah perkasa, yang pernah mengeluarkan tenaga untuk membela negara.

Belum lama Hian Ki selesai bekerja, So So muncul dengan pakaian baru, Si nona tidak lantas menghampiri, ia hanya menyender dipintu.

"Eh, mengapa kau menjublak memandang aku?"

Menegur ia sambil tertawa geli, Memang Hian Ki mendelong mengawasi dia.

"Apakah kau belum kenal aku?"

"Dengan dandananmu ini, ya, kau sungguh cantik!"

Memuji sianak muda, yang terpesona, hanya setelah itu, ia menghela napas, Ia masih sedih dan penuh dengan berbagai dugaan.

"Ada apakah yang luar biasa?"

Tanya si nona.

"Bajuku ini aku buat menurut pola yang dirancang ayahku, katanya inilah pakaian dari jaman tigapuluh tahun yang lalu, yang ketika itu sangat digemari, Dan ini sepatu sulam dengan dua ekor burung hong dan bertabur mutiara, sekarang sudah sangat jarang orang yang memakainya."

"Ibuku juga mempunyai sepatu semacam ini,"

Berkata Hian Ki.

"Ibu menyimpan itu didalam koper, satu kali aku pernah melihatnya, cuma belum pernah aku melihat ibu memakainya."

Si nona berdiam sebentar, lalu berkata pula;

"Karena ini adalah dandanan tigapuluh tahun berselang, tidak heran jika ibumu masih menyimpannya,"

Ia berkata demikian, tapi sebenarnya, iapun heran.

So So mengatur barang hidangan dikamar tulis, Ia memasak dua macam sayur yang disukai Hian Ki, Sebenarnya Hian Ki ingin memujinya, tetapi saat itu ia masih terbenam dalam kedukaan, dan ia hanya mengucapkan.

"Terima kasih!"

"Sebenarnya kau sedang memikirkan apa?"

Si nona tanya kemudian, Pemuda itu mengangkat kepalanya.

"Tidak,"

Sahutnya sembarangan. Si nona tertawa;

"Aku tahu kau tengah memikirkan ibumu!"

Katanya.

"Itu hari ketika kau tidur, kau telah mengingau me-manggil2 ibumu itu, Sungguh bahagia ibumu itu yang mempunyai anak berbakti seperti kau,"

Habis berkata begitu, nona ini mendadak ingat ibunya sendiri, ia menjadi sedih sendirinya, saking sedihnya, ia sampai tak dapat menangis dengan bersuara.

Hian Ki bisa memahami kesusahan hati orang, ia membelai rambut nona itu.

"Ibuku pasti akan menyukai kau,"

Kata dia perlahan.

"Mulai hari ini, dalam hidupku ada dua orang yang terdekat dan menyintai aku, yang satu ibuku, yang lain adalah kau."

Airmatanya So So mengucur deras, Ia berduka berbareng bahagia.

"Ah, baru aku ganti baju, sekarang basah lagi oleh air mata,"

Katanya malu.

"Memang!"

Berkata sianak muda.

"Siapa suruh kau suka menangis? Mari kita bicara dari hal2 yang menggembirakan!"

"Ya aku ingat sekarang,"

Berkata si nona.

"Bukankah waktu itu kau mengatakan bahwa kamar tulismu mirip dengan kamar tulisku ini? Sayang sekarang ini pohon2 bwee pada gundul, Entah sampai kapan aku mempunyai kesempatan bagus akan dapat pergi melihat rumahmu itu... ."

Betapa senang Hian Ki mendengar kata2 itu, tetapi bersamaan dengan itu, iapun sedikit terkesiap, Entah kengapa, ia menjadi bersangsi, Semakin ia memperhatikan kamar tulis ini, makin ia merasakan sesuatu yang aneh, Ia merasa seperti juga kepalanya ditindih bayangan gelap, hingga ia sukar bernapas...."Ah, kau nampaknya ketakutan?"

Menanya So So, yang mengawasi wajah orang, sebab sianak muda diam saja, matanya memandang kesekeliling kamar, mata itu seperti lenyap sinarnya. Mendadak Hian Ki berjingkrak bangun;

"Berada dirumahmu ini benar2 aku merasa takut,"

Ia mengaku.

"So So, maukah kau mengikut aku pergi?"

Si nona tertawa manis;

"Tentu saja aku akan ikut kau!"

Sahutnya.

Pemuda itu bernapas lega, Ia pun lantas merasakan tubuh yang lemah lembut dari si nona berada dalam pelukannya.

Pada saat itu pemuda ini merasakan pikirannya me-layang2 karena dimabuk cinta itu, Se-konyong2 ia mendengar satu suara keras dan dingin;

"Kau lepaskan anakku!"

Ia menjadi kaget sekali, begitu juga So So, bahkan nona itu lompat berjingkrak, Ia melihat ayahnya, yang tiba2 sudah berada didalam kamar tulis itu, berdiri didepan mereka sejarak lebih kurang tiga kaki, wajah ayahnya itu bermuram durja, mukanya pucat seperti tak ada darahnya, Tangan kanan ayahnya itu kemudian diangkat per-lahan2.

Anak ini dapat menduga maksud ayahnya itu.

"Jikalau kau mau bunuh dia, kau bunuhlah aku sekalian!"

Berseru ia pada ayahnya itu. Kepalan Bu Yang seperti tertunda ditengah udara, lalu kemudian dengan sama perlahannya seperti tadi, diturunkan pula, Iapun lalu menghela napas.

"Mana ada niatku untuk membunuh orang lagi?"

Katanya.

"So So, kau suruh dia keluar, hendak aku bicara denganmu."

Nada suara ayahnya ini bukan lagi nada suara memerintah dari seorang ayah, terdengar seperti nada seorang sahabat yang memohon sesuatu, So So pun lantas melihat wajah ayahnya yang dingin itu masih memancarkan sinar kecintaan orang tua kepada anaknya, Dengan sendiri hatinya menjadi terharu...

"Hian Ki, kau keluarlah sebentar,"

Ia meminta pada sianak muda, suaranya sangat perlahan.

Sianak muda menurut, maka sebentar saja didalam kamar tulis itu tinggallah siayah dan anak gadisnya berdua saja, Mereka berdiri berhadapan, saling mengawasi, Mereka biasanya adalah orang yang paling dekat satu dengan lainnya, akan tetapi sekarang mereka bagaikan orang asing yang tak saling kenal.

Beberapa saat kemudian, sinar matahari mulai menjadi meredup.

"Didalam hidupku ini cuma kaulah seorang yang aku paling sayangi,"

Kata sang ayah kemudian.

"apapun dapat aku korbankan kecuali kau."

"Aku tahu itu, ayah,"

Menjawab sianak.

"Ibumu telah pergi,"

Berkata pula siayah.

"Selama belasan tahun ini, aku mengerti hatinya ibumu itu, ia terlarut dalam kedukaan, begitu juga aku, kapankah aku tidak pernah berduka? Tentang rumah ini, sebenarnya sudah tidak aku hendaki lagi, tetapi masih ada sesuatu, jikalau tidak aku memberitahukan itu pada kau, setelah aku mati nanti, pastilah hatiku tak akan tenang, maka itu sekarang aku kembali lagi kesini, Sesudah aku menjelaskan, suka kau mengakui aku sebagai ayah, bagus, tidak suka kau mengakuinya, juga bagus, terserah padamu!"

So So mengangkat kepalanya;

"Ayah, bicaralah,"

Berkata sang anak.

"Sebenarnya anakmu tak dapat meninggalkan kau. ."

VII. TANGANNYA IN BU YANG Bu Yang menghela napas panjang;

"Selama beberapa hari ini kau telah melihat semua, kau mendengar semua juga,"

Berkata ayah ini.

"Ibumu, Tan Hian Ki, juga Siangkoan Thian Ya, pasti telah meceritakan sesuatu tentang diriku kepadamu, maka tidaklah heran jikalau kau sangat menyesalkan aku."

"Tan Hian Ki tidak mengatakan sesuatu apa tentang diri ayah,"

Menerangkan sianak.

"Aku tahu apa yang mereka ceritakan, Semua itu benar atau salah, tidak mau aku membantahnya, Memang waktu dulu itu aku pernah berupaya merampas kitab ilmu pedang kakekmu itu, dan sekian lama aku telah memperlakukan sikap dingin pada ibumu, itu juga merupakan suatu kenyataan, jikalau mereka mencela aku, aku tak akan gusar."

Kedua tangannya So So bergemetaran, dengan itu ia menutup wajahnya.

"Kenapa ayah perlakukan dingin pada ibu?"

Dia menanya.

"Aku dengar, diwaktu ibu menikah dengan ayah, ibu sudah mengorbankan cintanya seorang ayah dengan anak gadisnya, Ialah ibu telah membantu ayah mencuri kitab ilmu pedang itu, Apakah perbuatan ibu itu terhadap ayah masih belum cukup?"

"Dalam hal itu memang aku yang telah tidak berbuat selayaknya,"

In Bu Yang mengaku.

"Sebenarnya saja aku menikah dengan ibumu itu hanya untuk kitab itu."

Si nona menjerit tajam, ia mundur dua tindak, Bukan main sakit hatinya, Tidak pernah ia menyangka ayah ini akan mengaku terus terang secara demikian, Maka benarlah segala apa yang telah diceritakan orang kepadanya.

Terdengar In Bu Yang berkata pula, dengan sabar sekali;

"Anak, kau polos dan bersih sekali,"

Katanya.

"Kau tidak mengijinkan orang berbuat kesalahan sedikit juga, Adakah cuma karena urusan ini, maka kau menjadi takut?"

"Apakah cuma karena ini?"

Sianak mengulangi.

"Belasan tahun kau telah memperlakukan sikap dingin terhadap ibu, apakah itu suatu urusan kecil?"

"Bu Yang tertawa, tertawa sedih.

"Selama hidupku, aku telah melakukan sejumlah kesalahan,"

Ia berkata pula,"

Apa yang dikatakan mereka itu, ada yang dusta, Tapi, Andaikata semua itu benar, itupun tidak berarti apa2, Yang paling membuat aku penasaran adalah satu kesalahan besar yang telah aku lakukan, Di-kolong langit ini tidak ada seorang juga yang mengetahuinya, Selama belasan tahun itulah yang membuat aku sangat menyesal, Ya, So So, mengertikah kau apa yang membuat hati orang menjadi paling sengsara?

Itulah saat melakukan suatu dosa tanpa diketahui orang lain, tidak ada orang yang menegurnya, hingga dia menjadi tersiksa sendirinya, tersiksa bathinnya, Inilah hukuman yang paling kejam dikolong langit ini!

hendak kuberitahukan padamu, Untuk itu aku bersedia untuk kau tegur, untuk kau ludahi...

Inilah hal yang tidak di-sangka2, In Bu Yang yang demikian kosen, seorang jago, berbicara secara demikian menyedihkan, ia mirip seorang penjahat didepan seorang hakim, hingga ia rela meminta teguran puterinya sendiri, Tadinya mukanya pucat, sekarang paras mukanya itu menjadi merah, Itulah tanda dari perasaannya yang bergolak hebat, dari dalam hati nuraninya, Akan tetapi So So juga mendapat goncangan hati yang terlebih hebat lagi, awalnya dia kaget, lalu dia menjadi heran, akhirnya dia menjadi ketakutan, menjadi patut dikasihani.

"Ayah, kau bicaralah,"

Katanya, suaranya gemetaran.

"Kesalahan besar apa juga yang telah kau lakukan, So So tetap anakmu."

Bu Yang lalu mengerutkan alisnya, sekarang ia dapat mengutarakan itu.

"Pada dua puluh tahun yang lalu..."

Katanya.

"Ah, tunggu dulu, hendak aku melihat siapa yang telah datang berkunjung..."

So So ingin meminta ayahnya cerita terus, tetapi ketika ia sudah memasang telinganya, ia mendengar suara tak wajar, awalnya jauh dipekarangan luar, tetapi cepat juga telah berada dipekarangan dalam, Itulah suara dari beberapa orang.

"So So, kau berdiam saja didalam kamar, jangan kau keluar,"

Berkata sang ayah, Ia kelihatannya sangat gelisah, jauh melebihi daripada datangnya Cio Thian Tok.

So So melihat keluar dari antara jendela, Ia melihat lima orang tua berdiri berbaris didalam pekarangan dalam rumahnya, Tiga diantara Toosu (imam) itu, yang dua adalah orang biasa, hanya yang satu bertubuh gemuk dan yang satunya lagi kurus, mereka ini mirip dengan seorang dusun dan seorang su seng.

In Bu Yang tertawa ter-bahak2;

"Butong Ngoloo datang berbareng sungguh suatu kehormatan untukku!"

Berkata ia dengan nyaring, Butong Ngoloo itu ialah lima tetua dari Butong-Pay.

So So terkejut, Ia pernah mendengar namanya lima tetua itu dari ayahnya, Butong-Pay diakui umum sebagai suatu partai persilatan yang besar dijaman itu, dan muridnya pun paling banyak, diantaranya ada murid imam, ada juga murid orang biasa, artinya yang tidak mensucikan diri, dan ketiga imam itu adalah Tiangloo2 dari Butong-san, yaitu Ti Wan Tiangloo siketua, Ti Honag Tiangloo si-penilik, dan Ti Kong Tiangloo kepala dari pendopo Tat Mo Ih, Orang yang mirip orang dusun itu ialah Ciu Tong, salah tetua Butong-Pay dari kalangan orang biasa, dan yang seperti guru sekolah ialah Kok Ciong, juga satu tetua dari kalangan orang biasa itu, hanya yang satu dari Butong-Pay golongan Utara (Pak Pay), yang lain dari golongan Selatan (Lam Pay), Mereka ini berdua satu diSelatan dan satu lagi diUtara, terpisah jauh satu dengan lainnya, tetapi sekarang mereka ber-sama2 tiga tetua dari Butong-san, inilah bukan kejadian yang biasanya.

"Tanpa ada urusan tidak berani kami datang berkunjung,"

Berkata Ti Wan Tiangloo.

"Hari ini kami datang untuk meminta orang."

Imam ini bicara dengan singkat dan terang tentang maksud kedatangannya itu.

In Bu Yang sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan orang, Coba Butong Ngoloo datang pada dua hari yang lalu, pastilah ia akan menganggap mereka mengancam dan dia bakal menjadi gusar sekali, Tapi sekarang, setelah ia mengalami peristiwa tragis belakangan ini, hatinya telah menjadi dingin.

"Kamu meminta orang, inilah gampang,"

Sahutnya.

"Silahkan masuk dulu kedalam untuk minum teh."

Jawaban ini diluar dugaan kelima tamu itu, Mereka menyangka bakal menemui kesulitan, tidak disangka, Bu Yang lantas saja menerima baik.

"Dimana adanya Siangkoan Thian Ya sekarang?"

Ti Hong tanya.

"Apakah kau sudah berbuat sesuatu atas dirinya, ahli waris dari Butong-Pay kami?"

Ciu Tong adalah seorang yang keras adatnya, tanpa menanti Ti Hong berhenti bicara, ia sudah turut bicara.

"Jikalau gampang, lekas kau antar dia keluar!"

Bentaknya.

"Siapa mempunyai selera untuk meminum air tehmu?"

Wajah Bu Yang menjadi muram, akan tetapi ia masih dapat mengendalikan diri, Ia mendongak dan tertawa bergelak.

"Jikalau Ngoloo tak sabar hatinya, ayolah kita pergi,"

Ia menjawab.

"Mari kita lihat apakah aku orang she In telah memperlakukan tak selayaknya kepada ahli waris kamu."

"Ayah!"

Berkata So So dari balik jendela, Ia mengetahui ayahnya bakal kecele, Ia hendak melompat keluar jendela, ketika ia mendengar ayahnya berkata dengan lunak;

"So So, tak usah kau campur urusan ini, Aku berjanji padamu, hari ini aku hendak berbuat murah hati untukmu, kau jangan khawatir,"

Selagi ayahnya berkata, mereka telah berjalan keluar dari pintu besar, dan mulai ber-lari2 mendaki bukit, Suara Bu Yang itupun dikeluarkan melalui tenaga dalam.

Si nona menjadi bingung, ia berlari keluar untuk menyusul, Baru ia menikung ia telah melihat ayahnya itu bersama Butong Ngoloo sudah berada didepan pintu goa, Hanya Bu Yang segera menjadi kaget sekali, sebab pintu goa itu telah ambruk runtuh, Ia mendahului berlari masuk kedalam goa itu, kemudian dengan murka ia berseru;

"Kamu sudah bekerja sama merusak pintu goaku ini, sekarang kamu datang untuk meminta orang!"

Ia lantas menyangka, menuduh lima tetua itu. Ti Hong pun menjadi terlebih murka;

"Kau seorang kesohor!"

Bentaknya.

"Kenapa kau berdusta macam begini?"

"Dimana kau tahan ahli waris kami?"

Ciu Tong menanya.

"Benarkah kau telah menganiaya dia ?"

Dalam murkanya, jago Pak Pay ini sudah lantas menyerang dengan pukulannya 'Mega menutup gunung Chong San,' lima jari tangannya menyambar ketulang pipee dari tuan rumahnya.

Bu Yang tertawa dingin, belum lagi serangan itu tiba, ia sudah menangkis sambil menyambar dan diteruskan dengan satu tarikan, maka tak ampun lagi, Ciu Tong kena ditarik keluar goa, Diambang pintu, tuan rumah itu berdiri tegar!.

"Jikalau kamu hendak bertempur, ayolah di-luar!"

Tantangnya.

"Jangan didalam, nanti kamu membuat rusak kamar semedhiku!"

Ti Wan Tiangloo sabar sekali;

"Kami bukan bangsa buaya darat,"

Ia berkata.

"maka silahkan kamu berdua menghentikan pukulan kamu, Mari kita bicara dulu, untuk mengetahui kenyataan, benar atau salah akan terbukti belakangan."

Kata2 itu kelihatannya menegur kedua pihak, tetapi sebenarnya Ciu Tong yang dilindungi.

Bu Yang sangat gusar, tetapi untuk menjaga derajat, ia menahan sabar, Ia telah bertekad untuk melayani mereka itu.

Ti Wan yang berjalan paling belakang, Ia memeriksa ketanah dipintu;

"Kisu mengatakan pintu goa ini kami yang merusaknya,"

Ia berkata, tenang.

"Kisu adalah seorang kenamaan, pasti kau dapat melihatnya, Kami memang mengerti sedikit ilmu silat, tetapi ini bukanlah perbuatan kami, Kisu periksa sendiri, bukankah ini hanya serangan tangan dari satu orang? Kenapa Kisu menuduh kami, adakah ini disengaja?"

Hati Bu Yang tercekat, Ia lantas memeriksanya, Memang benar, kalau dihajar berlima dengan berbareng, akibatnya tidak nanti berupa demikian macam, Ia telah terlanjur menuduh, Ia menduga demikian karena Thian Tok sudah mati dan ia menyangka tidak ada orang lain yang melebihi Thian Tok kecuali Butong Ngoloo ini, Sekarang ia disenggapi imam tua itu.

"Ya, aku telah melihat keliru,"

Katanya mengaku.

"Kalau begitu, Siangkoan Thian Ya sudah melarikan diri."

"Hm!"

Ti Hong Tiangloo tertawa dingin.

"Pintu goa ini kau yang menggempurnya sendiri, sekarang kau menuduh kami, bagus benar! Apakah maksudmu?"

"Dia sudah mengaku salah sudahlah,"

Ti Wan Tiangloo menyelak.

"Sekarang kami cuma perlu meminta orang!"

"Kau telah mengurung ahli waris kami, lalu kau juga sengaja merusak pintu goamu!"

Ciu Tong campur bicara.

"Hm! Kau sengaja hendak menimpakan kesalahan kepada orang lain! Sebenarnya, apakah yang telah kau perbuat atas ahli waris kami itu?"

Makin hebat pertanyaannya rombongan Butong Ngoloo itu. In Bu Yang menjadi gusar;

"Untuk membinasakan seorang Siangkoan Thian Ya, perlu apa aku sampai memakai segala akal begini?"

Ia berseru.

"Asal aku lemparkan dia kegunung untuk dimakan serigala, lalu aku menyangkal, apa yang bisa kalian lakukan?"

Alasan ini dapat diterima baik, Memang, perlu apa Bu Yang memakai akal yang ber-belit2 itu, bahkan sampai merusak sendiri pintu goanya? Tetapi, Butong Ngoloo berpendapat.

"Kecuali In Bu Yang, tidak ada orang lain yang setangguh dia."

Bu Yang berkata pula;

"Kamu lihat bagian dari goaku ini, ditembok penuh segala coretan ilmu silat yang sedang aku yakinkan, dengan ini kamu bisa menduga kenapa aku kurung Siangkoan Thian Ya didalam goa ini, Mungkinkah kamu tidak dapat mengerti maksudku yang baik?"

"Tetapi itulah kata2mu sendiri!"

Kata Ti Kong dingin.

"Siapa yang mengetahui maksudmu yang sebernarnya?"

"Memang!"

Kok Ciong membenarkan kawannya itu.

"Kau mengurung dia disini atau tidak, siapakah yang mengetahuinya? Seandainya saja benar kau kurung dia disini, habis itu kau menggempur pintunya, bukankah itu berarti kau berniat kurang baik terhadap dirinya?"

"Kecuali kau cari Siangkoan Thian Ya, kalau tidak, iblis juga tak akan mempercayaimu!"

Ti Hong putuskan. Selagi Bu Yang belum sempat menjawab tetua Butong-Pay itu, tiba2 terdengarlah satu suara yang halus tetapi terang;

"Memang benar Siangkoan Thian Ya dikurung didalam goa ini, akan tetapi pintunya bukanlah ayahku yang menggempurnya!"

Di antara mereka segera muncul seorang nona, Mereka semua lantas berpaling dan mengawasi nona itu.

"Nona In, kau hendak menjadi saksi untuk ayahmu?"

Ti Hong Tiangloo tanya, Pertanyaan itu bersifat mengejek. So So berdiri tegak, sikapnya halus tetapi keren;

"Memang aku menjadi saksi dipihak ayahku,"

Ia menyahut, tenang.

"Tadi malam aku sendiri telah datang kemari dan aku telah bertemu muka dengan Siangkoan Thian Ya, Adalah maksudku untuk menolong membebaskan dia, tapi ia menolak."

Ia terus menoleh kepada ayahnya dan berkata;

"Ayah, kau toh tidak memarahi aku bukan?"

"Nona In bermaksud baik sekali!"

Kata Kok Ciong tertawa.

"Memang juga, dibawah pimpinan panglima gagah tak ada serdadu yang loyo!"

Ti Hong turut mengejek.

Jelaslah mereka tidak mau percaya nona itu, In Bu Yang menjadi sangat mendongkol dan gusar, Tidak apa orang tidak mempercayai dia, tetapi anak gadisnya tidak dipercaya juga, inilah hebat, itulah suatu penghinaan terhadap dirinya, Tiba2 saja ia menghajar sebuah batu besar didekatnya hingga batu itu pecah hancur berhamburan!

Butong Ngoloo terkejut, segera mereka mengambil sikap bersedia untuk bertempur.

"Kau memaksakan keteranganmu, karena kau tidak berhasil, kau menjadi malu dan gusar, bukankah?"

Ti Wan Tiangloo tanya.

"Untuk bicara dengan pantas, aku mesti melihat dulu, pihak sana pantas diajak bicara atau tidak!"

Berkata Bu Yang, sambil tertawa terbahak.

"Karena kau bilang aku memaksakan, baiklah, sekarang aku memaksa! Siangkoan Thian Ya adalah seorang anak muda, ia dari tingkatan bawah, tetapi terhadap aku dia berlaku kurang ajar, Diwaktu tengah malam buta, dia lancang naik gunung ini dan memasuki rumahku, maka itu aku bekuk dia dan membunuhnya! Sekarang boleh kamu pergi mengundang kaum Rimba Persilatan untuk mereka memberikan keputusannya!"

Butong Ngoloo saling mengawasi, Mereka terbenam dalam keraguan, Benarkah kata2 orang ini atau dia hanya berdusta?

Ti Wan Tiangloo biasa menghargai diri sendiri, biarpun Bu Yang berkeras, ia lihat dari pada itu bukannya tidak ada alasannya, Maka itu ia berkata dengan sabar;

"Jikalau benar Siangkoan Thian Ya memasuki tanpa tujuan yang jelas, sekalipun kau membunuh dia, aku tidak dapat mengatakan apa2, Tetapi kau telah mencuri kitab ilmu pedang dari Butong-Pay, dialah ahli waris kami, maka itu dia datang untuk meminta kembali kitab itu, maka kenapa kau berani mengatakan dia datang tanpa alasan?"

Wajah In Bu Yang sedikit berubah, akan tetapi ia menoleh kepada puterinya dan berkata;

"Sekalipun kata2nya seorang muda tak dapat terlalu diandalkan, maka itu lain kau mesti berlaku waspada, Aku melihat Siangkoan Thian Ya sebagai seorang pemuda yang berbakat baik, kiranya diapun membohongi aku!"

Memang Siangkoan Thian Ya mengatakan dia diutus Bouw It Siok, bahwa halnya kitab pedang itu dia tidak pernah memberitahu kepada orang lain, bahwa sebelum dia datang kegunung Holan-san ini, dia sudah menitipkan sepucuk surat pada Ti Wan Tiangloo, surat mana baru boleh dibuka Ti Wan andaikata berselang satu tahun kemudian, tak ada kabar beritanya tentang dirinya, Tapi sekarang, dalam tempo yang pendek, Butong Ngoloo telah datang bersama, bahkan mereka segera me-nyebut2 tentang kitab ilmu pedang itu, Seandainya Siangkoan Thian Ya tidak berdusta, maka jelas sudah Ti Wan Tiangloo sudah lancang mendahului membuka suratnya itu, sebelum watunya satu tahun, Dengan mengatakan Thian Ya membohongi dia, Bu Yang hendak memberi peringatan kepada puterinya, supaya puterinya ini pun jangan terlalu percaya pada Tan Hian Ki, agar anaknya ini nantinya tidak sampai kena diperdaya.

Ti Wan Tiangloo melengak mendengar perkataan tuan rumah ini.

"Dalam hal apakah Siangkoan Thian Ya telah menipu kau?"

Ia bertanya.

Suratnya Thian Ya memang telah dibuka oleh Ti Wan, dibuka dengan segera, tanpa menghormati pesan Siangkoan Thian Ya untuk menanti satu tahun kemudian, Inilah disebabkan terutama karena Ti Wan sendiri pernah mendapat khabar angin, bahwa In Bu Yang telah mencuri kitab pedangnya Bouw Tok It, Ketika ia menerima suratnya Thian Ya itu, dan Thian Ya lantas pergi tanpa pamitan lagi, ia sudah lantas menduga urusan kitab itu, Tentu saja ia menjadi curiga dan menguatirkan murid itu yang telah menjadi ahli waris, maka ia buka surat orang dan langsung bertindak mengumpulkan kawan dan segera menyusul ke Holan-san ini, dengan maksud membantu atau menolongi si ahli waris itu.

In Bu Yang menjawab;

"Siangkoan Thian Ya telah menipu aku, sudah saja, hitung2 mataku buta, Tentang itu tak usah dibahas lagi, Sekarang kau menyebut tentang kitab ilmu pedang, baiklah, mari kita bicarakan tentang kitab itu, Aku adalah menantunya keluarga Bouw, dan kamu sendiri? Kamu pernah punya hubungan apakah? Mertuaku itu bekas Ciangbunjin dari partaimu, tetapi kitab pedang yang ia dapatkan itu belum tentu milik partaimu itu, Didalam kalangan Rimba Persilatan tidak ada semacam aturan, Seandainya mertuaku ada pesannya bahwa ilmum pedangnya itu tidak dapat diwariskan kepada anak perempuan dan mesti cuma kepada ahli waris, yang kemudian menjadi Ciangbunjin, nah! aku minta, kamu tunjukkan surat wasiatnya itu!"

Inipun suatu alasan yang dipaksakan In Bu Yang, tetapi karena itu, merah mukanya Ti Wan Tiangloo, tidak dapat dia alasan untuk menjawab.

Melhat itu, Kok Ciong melirik kepada tiga kawannya yang lain, dari berduduk, ia bangun berdiri, Dengan dingin, nadanya seram, ia berkata;

"Mertuamu itu terbinasa ditanganmu yan berbisa, dia mati secara mendadak, walaupun dia berpikir untuk menulis surat wasiatnya, sudah tidak ada ketikanya lagi!"

Mendengar ini, So So kaget bukan kepalang, Tiba2 ia teringat;

"Ayah pernah mengatakan bahwa seumur hidupnya ia pernah melakukan satu kesalahan besar, yang membuatnya menyesal, adakah ini adalah kesalahannya itu? Jikalau benar ia membunuh kakekku, mustahil ibu dapat tetap tinggal bersama dengannya untuk banyak tahun? Seharusnya, tidak menunggu sampai sekarang, ibu sudah harus pergi meninggalkannya..."

Bu Yang bermuram durja, Pada matanya tampak sinar membunuh, mendadak saja, ia mendongak dan tertawa panjang.

Kok Ciong adalah murid kepala dari Bouw Tok It, Dan pula ia lebih tua sepuluh tahun dari pada Bouw It Siok, Katanya ketika Bouw Tok It meninggal dunia, orang yang mendampinginya adalah dia sendiri bersama It Siok, Maka itu, dengan kedudukannya itu, tidak mungkin Kok Ciong sembarang menuduh Bu Yang.

So So menjadi sangat bekhawatir, ia memandang ayahnya itu.

"Aku siorang she In telah berdosa dimatanya orang banyak, itu terjadi bukan cuma urusan ini saja!"

Katanya nyaring.

"Tapi semua tuduhan itu kosong belaka! Butong Ngoloo, hari ini kalian datang, sikap kalian sangat galak, kiranya kalian datang untuk menegur aku, Baiklah, aku tidak mau membantah lagi, Kalian menghendaki cara apa, silahkan kalian menyebutnya, sekalipun menghadapi pedang atau golok, tak nanti aku mengerutkan keningku!"

Hati So So bergoncang pula, kata2 ayahnya ini terang menyatakan Kok Ciong memfitnah belaka, Melihat sikap ayahnya, itulah jelas bukan sikapnya orang yang berdosa, melihat itu lega juga hatinya, tetapi tetap ia ragu2, benar atau tidak kakeknya terbinasa ditangan ayahnya itu....Kok Ciong tertawa pula dengan dingin;

"Memang biasa seorang berdosa besar, bisa dia memainkan lidah!"

Katanya.

"Kau boleh mengatakannya aku memfitnah, tetapi kematian guruku itu akulah yang menyaksikan dengan mataku sendiri! Adakah kau kira Kok Ciong seorang pendusta? Mungkinkah aku hendak memfitnah dirimu?"

In Bu Yang mengangkat kepalanya, ia mengawasi kelima orang itu, sikapnya jumawa;

"Kau berdusta atau tidak, cuma kau sendirilah yang mengetahuinya!"

Ia berkata.

"Sudah aku katakan, tidak mau aku membantah, Perlu apa kau banyak bicara lagi?"

Ia mengangkat alisnya, ia menambahkan dengan nyaring.

"Untukku, julukan siorang berdosa besar tetaplah sudah, maka itu, baiklah, mari aku menambah itu dengan melakukan satu kedosaan besar lainnya! Maafkan aku, Ngoloo, Sekarang aku mau menahan kalian!"

Ti Hong menjadi sangat murka;

"In Bu Yang!"

Serunya.

"Kau sangat takebur! Berapa tingginya kepandaian kau, maka kau berani manahan kami? Hendak aku lihat, hari ini siapakah yang bakal mengubur tulang belulangnya digunung belukar ini!"

Butong Ngoloo adalah bagaikan gunung Thay San atau bintang Pak Tauw dalam kalangan Rimba Persilatan, jangan kata mereka berlima, satu saja diantaranya tidak nanti berani orang permainkan, Sekarang In Bu Yang tidak memandang mata pada mereka, mereka hendak "dibereskan,"

Tidak aneh mereka menjadi gusar, lebih2 Ti Hong yang beranggasan.

"Hari ini kau hendak menahan kami, itulah bagus!"

Kata Kok Ciong dengan tawar.

"Kami disebut tiangloo dari Butong-Pay, tetapi kami belum pernah menyaksikan ilmu pedang Tat Mo Kiamhoat yang diwariskan oleh Couwsu kami, maka sekarang adalah saatnya yang paling baik untuk belajar kenal, Andaikata kami berlima mesti roboh ditanganmu, itulah berharga, supaya dengan begitu dunia akan mendapat tahu lihaynya ilmu silat partai kami!"

Kok Ciong ini dikenal sebagai 'Imkan Siucay,'(Sastrawan Neraka), maka itu bisa dimengerti jikalau dia licin sekali, Dengan kata2nya itu, diluar ia memuji In Bu Yang, dilain pihak ia menyindir Bu Yang, yang telah mencuri ilmu silat Butong-Pay, dengan apa dia menantangi murid2 Butong-Pay sendiri, maka itu, menang atau kalah, muka Bu Yang tidak bakal jadi terang cemerlang.

Sepasang alisnya Bu Yang bergerak pula, kembali dia tertawa lebar;

"Kamu bersikukuh bahwa Tat Mo Kiamhoat adalah ilmu pedang Butong-Pay, baiklah!"

Katanya.

"Hari ini aku siorang she In tidak hendak menggunakan pedang, aku hanya akan melayani kalian dengan sepasang tangan kosong! Kalian lihat bisa atau tidak aku menahan kalian!"

Habis sabarnya Ti Hong, tanpa mengatakan apa2 lagi tinjunya melayang!

Berbareng dengan itu, Butong Ngoloo mendengar suara tertawa yang nyaring dan panjang, yang seakan menulikan telinga, lantas mereka melihat tangannya Bu Yang bergerak laksana kilat, Setelah itu, diantara bentroknya dua tangan Ti Hong roboh terbanting, menyusul mana tangan kirinya siorang she In, ialah dua jarinya, mencari jalan darah giokkoat dan imhiat dari Kok Ciong, Itulah dua jalan darah yang utama, yang tidak sembarang orang dapat menotoknya, Rupanya saking panas hatinya, Bu Yang mengarah kedua jalan darah itu, kalau dia tidak lantas binasa, sedikitnya tubuhnya akan bercacat.

Maka itu, melihat demikian, Ti Kong dan Ciu Tong kaget tidak terkiar, keduanya berseru, sambil berseru, mereka melompat maju, Mereka ini ilmunya lebih lihay dari pada Ti Hong, tangan mereka masing2 menyambar kedada dan perutnya siorang she In itu.

"Bagus!"

Bu Yang berseru seraya segera mengubah cara bergeraknya, Ia bukannya menangkis, hanya jari tangannya memapaki Ti Kong, Tepat ia mengenai jalan darah Kiokti, hingga seketika itu juga, sebagian tubuhnya tiangloo itu seperti mati kaku, hingga dia terhuyung dua tiga tindak.

Bu Yang tidak berhenti sampai disitu, sikutnya bekerja terus, mampir ditubuhnya Ciu Tong, hingga dia ini jago Butong-Pay dari Utara, pinggangnya mesti melengkungmelengking, menyusul itu, dengan tangan geledek berantai, Bu Yang terus meninju punggungnya Kok Ciong, Hanya kali ini, belum lagi tinjunya itu sampai pada sasarannya, ia merasakan dorongan angin yang keras sekali, hingga ia mesti membatalkan serangannya itu seraya memutar tubuhnya, untuk berkelit, Tetapi ia tidak cuma berkelit, hanya dengan kedua tangannya, ia menahan dorongan yang luar biasa itu, Maka bentroklah empat buah tangan.

Penyerang itu, yang menolongi Kok ciong, adalah Ti Wan Tiangloo, orang tertangguh diantara Butong Ngoloo.

"Roboh!"

Berseru In Bu Yang, yang tak berhenti hanya karena rintangan itu, Kedua tangannya, dengan masing2 terlentang dan tengkurap, bergerak dengan sangat dahsyat menghalau tangannya Ti Wan Tiangloo, hingga tetua Butong-Pay ini mesti terhuyung beberapa tindak, Masih syukur untuknya, dia tidak sampai terguling roboh.

Lagi2 In Bu Yang memperdengarkan suara tertawanya yang nyaring dan lantang, karena sekarang ia berpikir;

"Aku tidak menyangka Butong Ngoloo seperti gentong nasi saja! Ti Wan sendiri cuma dapat menyambut tiga jurusku!"

Sebenarnya ia hendak menyindir mereka itu, dilain saat terlihat Ti Kong bersama Ti Hong, Kok Ciong dan Ciu Tong, pada berlompat bangun, bahkan dengan mengambil posisi empat penjuru, mereka maju mengurung.

Sekarang Bu Yang memandang enteng sekali pada kelima lawannya itu, Kata dia sambil tertawa dingin;

"Hm! Serombongan kambing menyerbu harimau galak! Apakah faedahnya jumlah kalian yang banyak?"

Baru sekarang Bu Yang terkejut, Insaflah dia, apabila satu lawan satu, mereka itu tidak berarti banyak, tetapi apabila mereka bergabung, mereka merupakan lawan yang tangguh, Ia memangnya tidak mengetahui, apabila mereka bekerja sama, empat jago Butong itu menjadi hebat sekali, empat seperti berubah menjadi delapan, Hanya mundur satu tindak, Ti Hong berempat sudah mengambil kedudukan mereka kembali, sekalu lagi mereka maju dengan berbareng.

Bu Yang telah merasakan tenaga mereka, sekarang ia tidak berani memandang enteng lagi, Dan lantas ia memasang kuda2nya, kedua tangnnya dirangkap, tidak lagi dipisah seperti tadi, Ia pun mengeluarkannya dengan perlahan, Maka sekarang tenaganya tidak terpencar lagi, Kali ini ia berhasil, dan ia tidak sampai terhuyung, keempat jago Butong itupun tidak dapat maju setengah tindak juga, walau dengan penyerangan tergabuung itu.

Ti Wan yang menyaksikan pertempuran itu, matanya menjadi seperti menyala, mukanya menjadi suram, Itulah pertanda bahwa ia sangat gusar, Ia lantas bertindak maju, perlahan saja tindakannya itu, In Bu Yang dapat melihat sikap dari tetua Butong-Pay itu, ia mengeluh dalam hatinya, Melawan empat jago saja ia sudah merasakan berat sekali, Tapi terpaksa ia mengempos semangatnya, dan mengerahkan tenaga dikedua tangannya itu.

"In Bu Yang, berkata Ti Wan Tiangloo sambil mengkertak gigi.

"hari ini beberapa tulangku yang tua hendak aku serahkan padamu!"

Kata2 ini disusul dengan diulurnya tangannya, yang satu dikasih turun dari atas kebawah.

Ancaman Ti Wan ini adalah batok kepalanya Bu Yang, Berbareng dengan itu Ti Hong berempat juga menyerang serentak.

Bu Yang mencoba mempertahankan diri, ia merasakan hampir sukar bernapas, Ia tidak kalah, tetapi lawannya itu dapat bergerak maju satu tindak.

Tipi silat Butong Ngoloo ini ialah yang dinamakan 'Ngolui Thiansim Cianghoat'(tangan lima-geledek), Kehebatannya ialah lima menjadi satu, Dengan ini mereka berhasil mendesak lawan, sia2 Bu Yang mempertahankan diri, pihak lawan dapat maju sedikit demi sedikit, Maka akhirnya ia berpikir, tidak dapat terus ia bertahan dengan cara demikian.

Kembali bersinar cahaya matanya jago she In ini, Mendadak saja dia berseru disusul dengan melayangnya tangannya yang kiri, diarahkan kepada Ti Hong, salah satu lawan yang paling lemah.

Imam ini terkejut, dengan sendirinya ia kena digertak beberapa tindak, Melihat itu, Bu Yang girang sekali, Maka hendak ia melompat untuk menerjang keluar, Tapi ia menjadi kaget ketika ia merasakan batok kepalanya tersambar angin, Ia mengerti itulah serangan dari belakangnya.

Memang itulah serangan Ti Wan Tiangloo berdua Ciu Tong, mereka itu masing2 menggunakan sepasang tangan mereka.

Dalam kagetnya, Bu Yang berkelit untuk menghindar, karena itu ia batal menerjang keluar, sebaliknya ia menjadi terkurung kembali.

"Kepala, dan buntut berantai, dari empat penjuru menyerang berbareng,"

Ti Wan memberi isyrat perlahan kepada keempat kawannya.

"Jangan terlalu maju."

Ti Hong berempat mengangguk perlahan.

Benar saja, habis itu serangan mereka tidak sehebat tadi, sebaliknya pertahanan mereka semakin kuat, kemana saja Bu Yang menyerang, ia seperti membentur tembok yang kokoh kuat, Beberapa kali ia mencoba menerjang, walau sudah berusaha kesudahannya tanpa hasil.

Beberapa saat kemudian, kening Bu Yang telah bermandikan keringat, Dari kepalanya pun keluar hawa seperti asap.

So So merasa cemas hatinya, Ia belum mahir dalam hal ilmu tenaga dalam, tetapi ia mengerti bahwa ayahnya telah mengerahkan tenaganya melebihi batas kekuatannya, Itu artinya ancaman bahaya untuk ayahnya.

Mendadak, Butong Ngoloo berbareng berseru, berbareng mereka mendesak dengan serangan, diikuti dengan majunya kaki mereka satu tindak, Ti wan Tiangloo pun ikut menyerang dua kali dengan beruntun.

Kelihatannya Bu Yang sangat terdesak, ia bagaikan tak kuat untuk balas menyerang, Dengan begitu kelima lawan dapat merangsek lebih jauh.

"Walaupun kitab pedang Butong-Pay kami dapat kau curi,"

Berkata Ti Wan dengan dingin.

"kau yang sangat kesohor ilmunya, In Bu Yang, tidak nanti kau dapat menahan tulang2 tua dari kami, Kau sekarang akan tunduk bukan? Hm! Kau sendiri boleh jumawa, hendak kau melenyapkan orang lain, tetapi kami orang2 Butong-Pay, kami bukannya bangsa jahat dan busuk, asal kau mau menyerah dan suka mengangguk tiga kali kepada kami sambil mengembalikan kitab pedang itu, suka kami berlaku murah hati, akan kami memberi ampun pada jiwa kecilmu!"

Mendengar itu, kedua matanya Bu Yang bersinar pula, Tetapi ia tidak menunjukkan kemurkaannya, sebaliknya, ia tertawa;

"Kau bicara tentang melenyapkan nyawa, tentang jahat dan busuk? Ha, kau justeru menyadarkan aku!"

Jawabnya.

Ti Wan terkejut juga mendengar perkataan orang itu, Maka ia segera memberi tanda kepada kawan2nya, ia lantas menyerang pula dengan hebat, untuk mencegah lawan mendapat kesempatan untuk membebaskan diri.

Beberapa jurus kemudian, dengan satu suara nyaring, pundak Bu Yang kena terhajar kepalannya Ti Kong Tiangloo.

"Ayah!"

Teriak So So.

"bukan kau yang membunuh kakek, mengapa kau tidak mau membantah?"

Nona ini berkata demikian, tetapi sebenarnya ia tak tahu apa2 tentang sebab kematian kakek luarnya itu, hanya sebagai anak, dapat ia lihat roman ayahnya, dan ia mau percaya bahwa ayahnya bukanlah sipembunuh.

Bu Yang telah terkurung, ia sudah merasakan bagaimana rasa pukulan, akan tetapi ia masih dapat tersenyum, cuma mulutnya saja yang tidak mengeluarkan suara.

Terdengar lagi, satu kali suara 'Duk!' dan kali ini Ti Wan Tiangloo yang dapat menyerang dengan jitu, Imam ini lebih lihay dari pada empat kawannya, maka itu robeklah baju dipunggungnya siorang she In, hingga dipunggung itu terlihat jejak tapak tangan yang merah.

"Ayah, inilah pedangmu!"

So So berteriak, Ia memegang Kungo-kiam, hendak ia menghunus pedang itu, untuk diserahkan kepada ayahnya, Ia tidak dapat melihat saja ayahnya terdesak demikian rupa, Benar Bu Yang sudah menantang dengan tangan kosong, tetapi dia dikeroyok berlima, inilah tidak adil.

Baru sekarang Bu Yang membuka suaranya, Ia menyahut sambil tertawa jumawa;

"So So, sejak kapan perkataan ayahmu tidak dapat dihormati?"

Begitu orang she In itu bicara, justeru lagi2 ia dirangsek, Tampaknya sekarang ia sudah tidak dapat mundur lagi, justeru itu, ia berseru keras sekali, disaat berseru, sinar matanya bentrok dengan sinar mata puterinya, So So menjadi kaget dan ketakutan, Ia melihat sinar mata ayahnya itu , seperti sinar mata pada waktu sang ayah membinasakan Cio Thian Tok.

"Ayah, jangan!"

Sang anak berseru, untuk mencegah, Belum habis suaranya anak ini, terlihat Bu Yang dengan mendadak menurunkan kedua tangan kedengkulnya, Dengan berkelit secara demikian, serangan dari kelima tetua Butong-Pay itu mengenai tempat kosong, Setelah itu, tubuh Bu Yang terlihat berputar bagaikan angin puyuh, kedua tangannya bergerak, sepuluh jarinya dipentang, lalu diluar dugaan, Butong Ngoloo pada roboh terguling, tidak sempat mereka itu menjerit, pada paras muka mereka terlihat roman mengerikan.

Bu Yang lantas sudah berdiri tegar, kedua tangannya berhenti bergerak, Dengan tawar ia berkata;

"Aku siorang she In ini bodoh, tetapi akhirnya dapat juga aku menahan Butong Ngoloo!"

Ti Wan berlima tidak dapat mengatakan apa2, yang ada hanya suara ditenggorokannya, yapi kata2nya tak keluar, Rupanya jalan darah mereka sudah tertutup.

"Ayah!"

Menjerit So So, ketakutan.

"Hari ini ayahmu berlaku sangat murah hati,"

Menyahut ayah itu.

"Coba tadi kau tidak menjerit, mungkin aku telah melakukan satu lagi pembunuhan besar2an!"

Delapan belas tahun In Bu Yang memendam diri digunung Holan-san, kecuali ia telah berhasil meyakinkan ilmu pedangnya, ia juga telah menyempurnakan Itci-sian, ialah ilmu totok dengan sebuah jari tangan, Dengan ilmu totok ini, ia dapat membuat orang mati atau bercacat seumur hidup, terserah kepada belas kasihannya, Butong Ngoloo gagah, tetapi mereka sangat mendesak, dimana ia tidak dapat menggunakan pedang seperkat kata2nya yang dihormati, dan disaat sangat berbahaya itu, Bu Yang terpaksa menggunakan Itci-sian, Inilah tidak pernah diduga Ti Wan berlima, maka itu robohlah mereka secara mengenaskan.

Setelah berdiam beberapa saat, Butong Ngoloo dapat juga bergerak, untuk berduduk, Mereka lantas mengempos semangat untuk mengerahkan tenaga, Beberapa kali mereka mencoba dengan sia2 tidak sanggup mereka membebaskan diri dari totokan lawannya itu, bahkan mereka merasakan napas mereka bukannya semakin lega, sebaliknya malah semakin nyeri, Diam2 dinginlah hati kelima jago ini, Mereka menyesal, Coba mereka membiarkan Bu Yang menggunakan pedangnya, mungkin mereka lantas binasa, tidak seperti sekarang, dikalahkan dan terhina, tersiksa juga.

Selagi orang mencoba untuk membebaskan diri, Bu Yang berdiam saja, hanya matanya mengawasi dengan tajam, menyapu wajah semua pecundangnya itu, Baru kemudian terdengar suara tertawanya yang dingin, yang menusuk hati kelima jago Butong-Pay itu.

Dengan sabar orang she In ini merogoh ke-sakunya, dan mengeluarkan kitab ilmu pedang yang menjadi sumber pertikaian itu, Setelah itu baru ia berkata dengan suaranya yang jumawa;

"Oleh karena gara2 kitab ini, maka ahli waris Butong-Pay serta kamu sekalian tetua daru partai Butong, datang berkunjung kerumahku ini,"

Demikian katanya.

"Sebenarnya aku siorang she In merasa tidak enak hati, Lantaran pihak kalian sangat menginginkan kitab ini, baiklah, suka aku berlaku baik hati, suka aku menyerahkannya kepada kalian, Akan tetapi didalam Rimba Persilatan mempunyai satu aturan, Kalau satu ilmu diturunkan, ilmu itu harus diturunkan kepada para murid atau keturunannya, atau kepada murid yang menjadi ahli waris, Aku adalah satu anggota dari keluarga Bouw, sebagai keluarga aku berhasil memahami ilmu pedangku, Sebenarnya sudah sepantasnya saja aku menurunkan pelajaran ini kepada anak atau ahli warisku, atau seorang murid, tetapi kalian Butong Ngoloo, kedudukan kalian sangat mulia, tingkat derajat kalian sangat tinggi, dari itu tidak dapat aku menerima kalian sebagai murid yang terlebih rendah derajatnya."

Butong Ngoloo tidak bebas lagi, walaupun mereka sangat mendongkol, terpaksa mereka bungkam, Mereka menganggap Bu Yang berbuat berlebihan, memaksa kehendak, sebab ia berkeras mengaku sebagai seorang anggota dari keluarga Bouw, Terdengar pula suara angkuh dan dingin dari In Bu Yang;

"Coba hari ini aku tidak memandang pada anak daraku, Butong Ngoloo, jangan harap kalian dapat pulang dengan masih hidup!"

Demikian suaranya itu.

"Gara2 se

Jilid kitab ilmu pedang, kalian menjual jiwa digunung belukar ini, tidakkah itu mengecewakan?

Karena itu lebih baik aku musnahkan saja kitab ini, supaya dibelakang hari tidak ada lagi orang yang mengikuti teladan kalian ini!"

Benar2 In Bu Yang membuktikan kata2nya itu, Dengan kedua tangannya yang kuat, ia me-robek2 kitabnya itu menjadi empat bagian, habis itu ia me-remas2nya, maka dilain saat hancur leburlah kitab mustika itu, terbang dibawa sang angin.

Butong Ngoloo mengawasi dengan hati terkesiap, Bahkan So So , saking tidak menyangka, sudah mengeluarkan jeritan.

Bu Yang sebaliknya tertawa ter-bahak2, Ia merangkap kedua tangannya;

"Mulai saat ini hingga selanjutnya, cuma aku seoranglah yang menguasai Tat Mo Kiamhoat!"

Berkata ia nyaring.

"Jikalau kalian sakit hati, juga kalian khawatir ilmu ini lenyap untuk partaimu, kalian kirimkan saja Siangkoan Thian Ya yang menjadi ahli waris kalian, suruh dia datang padaku dan mengangkat aku menjadi gurunya, aku bukan saja akan mengajarkan dia ilmu pedang Tat Mo kiamhoat itu, bahkan aku juga akan mewariskan Itci-sian kepadanya, Dengan begitu maka jadilah dia muridku yang menerima warisanku, Untuk partai kalian, kalian boleh memilih orang lain!"

VIII.

SAMA LIHAYNYA Didalam dunia Rimba Persilatan adalah jamak bila seorang berpindah partai, demi untuk mempelajari ilmu silat partai lain, Tapi hal ini biasa berlaku hanya buat orang2 dari tingkatan dan derajat yang lebih muda, Untuk menerima murid yang merupakan ahli waris dari suatu partai, hal itu belum pernah terjadi, Maka itu kata2nya In Bu Yang terhadap Butong Ngoloo ini tak lebih daripada penghinaan belaka, Meski begitu, tetap Ti Wan berlima tak dapat bersuara, tinggal mata mereka saja yang bersinar menyala, memperlihatkan kemurkaan mereka yang sudah memuncak.

So So berpaling ke-lain arah, ia menunduk, tidak hendak ia mengawasi Butong Ngoloo.

"Ayah!... ."

Ia memanggil.

Bu Yang tidak menanti terhentinya suara puterinya itu, Ia merogoh sakunya, untuk mengeluarkan sebuah botol kecil, Dari dalam itu ia mengeluarkan tiga butir pil yang berwarna hijau, Itulah pil Siauwyang Siauwhoan-tan, yang katanya ia peroleh dari Kwi Chong Taysu setelah ia bersusah payah memintanya, pil mana yang semula berjumlah enam butir, yang tiga sudah diambil So So untuk dipakai mengobati Tan Hian Ki, maka sekarang sisanya tinggal tiga butir.

Dengan menggunakan kuku tangannya, Bu Yang membela setiap butir pil itu, satu dibagi menjadi dua, dengan begitu, semuanya sekarang berjumlah menjadi enam potong, Yang sepotong ia lantas memasukkan kedalam mulutnya, dikunyah kemudian ditelan, sisa lima lainnya ia serahkan pada puterinya;

"Kau berikan ini sepotong kepada setiap tua bangka itu,"

Katanya tawar.

"Seranganku barusan tidak keras, berselang tiga hari, kesehatan mereka akan pulih kembali, dan ilmu silat mereka juga tidak akan musnah."

So So menyambuti obat itu, lalu ia bertindak kepada Butong Ngoloo, Dadanya Ti Wan Tiangloo bergerak naik turun, tenggorokannya berbunyi nyaring, sedang kedua matanya mendelik, Itulah tanda bahwa dia sangat gusar, karena dia tidak sudi menerima obat itu, Bukankah mereka adalah orang2 yang berkedudukan sangat tinggi?

Mana dapat mereka menerima budi dari In Bu Yang?

Kalau kejadian itu sampai tersiar dalam dunia kangouw (kalangan Sungai Telaga), kemana muka mereka mesti ditaruh?

Tentu saja, karena hal itu mereka kemudian tidak dapat pula memusuhi lagi pada In Bu Yang.

So So adalah seorang nona yang polos, ia belum mengerti akan pantangan kaum Rimba Persilatan seperti itu, yang cuma ia ketahui, tanpa obat itu, Butong Ngoloo bakal menjadi orang yang cacat, Ia berpikir didalam hatinya.

"Mereka sudah tua, dengan tidak memakan obat ini, kecuali akan mengalami cacat, ada kemungkinan mereka nanti akan mati karenanya, Tidakkah itu akan menambah banyaknya dosa ayah?"

Karena itu ia tidak memperdulikan penolakan kelima jago itu.

Hebat nona ini, dengan tangan kirinya ia menekan, maka diluar keinginannya, Ti Wan membuka mulutnya, maka dengan mudah ia memasukkan obat itu kedalam mulutnya, dimana dalam sekejap, obat itu telah tertelan masuk kedalam perut, Tetapi si nona masih Khawatir obat itu belum lumer dan termakan, ia menarik kepala orang hingga melengak, kemudian ia meng-goyang2nya, Dengan begitu, andaikata Ti Wan mau memuntahkannya kembali sudah tidak mungkin, Kemudian dengan cara yang sama ia lakukan pada keempat jago lainnya, Hingga semua jago2 itu dengan terpaksa memakan obat2 itu, hingga akhirnya terpaksa juga mereka menerima budinya In Bu Yang!

In Bu Yang tertawa gembira;

"Bagus! Bagus!"

Ia memuji anak gadisnya, Ia puas sekali.

Cuma sekejap Butong Ngoloo sudah lantas dapat menarik napas, setelah itu mereka saling mengawasi satu pada yang lain, sinar mata mereka sayup2, wajah mereka sangat lesu, Sangat menyedihkan sikap mereka itu.

So So memandangi mereka, Ia merasa heran.

"Tentulah mereka malu dikalahkan ayah,"

Pikirnya, Kemudian ia berkata pada ayahnya. .Ayah, mereka telah makan obat, biarkan mereka beristirahat sebentar, Mari kita pulang, supaya mereka dapat bersamedhi dengan tenang."

Bu Yang tertawa;

"So So kau sangat memahami orang,"

Katanya. Bu Yang mau meluluskan ajakan anak gadisnya itu untuk pulang, namun ketika telingannya mendengar suara beradunya tongkat besi pada tanah, Ia memasang telinganya dan lantas tertawa;

"Mungkinkah ada lagi orang lain yang tak takut mampus datang kesini untuk meminta kitab ilmu pedang?"

Katanya.

Boleh dikatakan belum habis suaranya jago ini, disana sudah tampak orang yang berjalan datang dengan tongkat besi, dan tongkatnya itu terus memperdengarkan suaranya , sebab setiap langkah, tongkat itu dipakai menotok tanah.

Melihat orang muncul dari tikungan, So So lantas saja kaget, Semakin dekat orang datang, semakin nyata terlihat orangnya.

Dialah seorang dengan kumis dan berewok kusut bagaikan rumput, mukanya ditutup topeng hitam hingga disamping telinganya, Berewoknya itu muncul dari bawah topeng, Selain itu, dia hanya mempunyai sebelah tangan yang utuh, sebab tangan kirinya buntung sebatas sikut dan sikutnya itu nongol tajam, Rupanya tangannya itu bekas ditebas orang separuhnya, Tulang sikut yang tajam itu diikat pita merah, Sudah tanagn kirinya buntung, juga kaki kirinya pincang, kaki itu tak dapat menginjak tanah, terpisah kaki itu dari tanah ada sekitar tiga dim, Karena itu, untuk dapat barjalan ia mengandalkan kaki kanannya dengan ditunjang tongkat besinya itu yang terus memperdengarkan suara, sebab tongkat itu adalah pengganti kaki pincangnya itu, Sudah wajahnya luar biasa, juga pakaian orang itu beda daripada dandanan kebanyakan orang, Dia memakai baju makwa, baju pendek seperti rompi, yang melapisi baju panjangnya, Makwa itu berwarna biru, dan jubahnya bersulam, bahannya bahan mahal, bukan saja bersih tetapi juga masih baru sekali, Hanya sedikit aneh, pakaian itu ditambal tujuh atau delapan tambalan, sedang bahan tambalannya itu adalah kain2 tua yang robek dari berbagai warna, Maka dialah seorang yang tidak karuan, yang agaknya mendatangkan rasa jemu....In Bu Yang melengak setelah mengawasi orang itu, ia agaknya heran dan kaget;

"Sahabat, adakah kau Tokpi Koayto yang menyebut dirimu Poantian Sinkay?"

Ia lantas menegur, suaranya membentak.

Bu Yang benar mengasingkan diri didalam gunung, akan tetapi ia bukannya sama sekali tak pernah bepergian, Setiap beberapa tahun sekali, suka juga ia turun gunung, dan pendengarannya juga masih terang, Demikian kira2 lima atau enam tahun yang lalu, ia mendengar khabar bahwa didalam kalangan Hitam, dipropinsi Siamsay Utara telah muncul seorang begal tunggal, yang luar biasa macam dan tindaktanduknya, Perampok itu biasa mengincar kaum piauwsu, dan belum pernah dia memperlihatkan wajah aslinya, Mungkin disebabkan tubuhnya cacat dan tak utuh lagi, maka dia menamakan dirinya Poantian Sinkay (si Pengemis Sisa), Dikalangan Hitam dan putih, dia dikenal sebagai Tokpi Koayto (begal aneh bertangan satu), Sebenarnya Bu Yang pernah hendak mencari dia, untuk menjajal kepandaiannya, akan tetapi karena orang menyembunyikan diri, ia tidak peroleh kesempatan bertemu, Maka aneh, sekarang sibegal aneh ini muncul sendirinya.

Mendengar suara Bu Yang itu, Butong Ngoloo juga terkejut, hingga mereka turut mwngawasi.

"Hm! Hm!"

Orang cacat itu memperdengarkan suaranya yang dingin, Lantas dia tertawa hingga dua rintasan, Itu artinya dia menyangkal tegurannya Bu Yang.

"Kau datang kemari, Tuan, apakah maksudmu?"

Bu Yan bertanya pula, Ia tidak memperdulikan sikap jumawa orang itu.

"Akulah dedengkotnya penjahat!"

Orang itu menyahuti.

"Aku datang kepada kau, maling kecil, untuk minta kau berlaku hormat padaku, dan meminta kau menghadiahkan sesuatu!"

Mendengar itu Bu Yang lantas menjadi gusar;

"Kau menghendaki hadiah apa?"

Dia menanya. Orang itu tertawa dingin, seram suaranya;

"Kau sudah mencuri kitab ilmu pedang dari Bouw Tok It,"

Sahutnya.

"Kau telah pakai itu selama delapan belas tahun, apakah tempo itu belum cukup lama? Maka sekarang lekas kau serahkan kitab itu padaku!"

Bu Yang kaget, Tentang kitab itu adalah semacam rahasia, maka aneh, mengapa pengemis aneh ini bisa mendapat tahu?

Tapi karena ia seorang yang berani dan sudah berpengalaman, ia tidak menunjukkan sesuatu, hanya tercengang sebentar, lalu ia bersikap biasa lagi, Ia tertawa terbahak.

"Tuan, dengan tubuhmu semacam ini, apa perlunya kau dengan kitab itu?"

Ia menanya.

"Tuan menamakan dirimu Setengah Sisa, sudah selayaknya saja apabila kau tahu diri sendiri! Apakah kau hendak menggunakan senjata pedang? Itukan tidak bisa, kecuali kau menitis kembali menjadi satu orang lain!"

Ilmu pedang Tat Mo Kiamhoat adalah satu ilmu pedang luar biasa, cara bagaimana itu dapat dipelajari oleh seorang yang tangannya buntung dan kakinya pincang?

Bu Yang mengatakan hal sesungguhnya, cuma dia terlalu menghina orang.

So So juga jemu terhadap sicacat itu, tetapi ia juga merasa ayahnya agak keterlaluan, Maka pikirnya.

"Meskipun dia agak jumawa, tetapi dia adalah seorang cacat, dia seharus dikasihani juga, kenapa ayah menghina dia?"

Biasanya, kalau seorang yang cacat dibicarakan cacatnya, dia akan menjadi tidak senang bahkan gusar, akan tetapi aneh adalah sibuntung dan sipincang ini, dia sama sekali tidak gusar, Cuma kedua matanya, yang sinarnya keluar dari balik topengnya, kelihatan bercahaya tajam.

"Aku sendiri tidak dapat memakai pedang karena cacatku, tetapi muridku dapat,"

Katanya, memberi keterangan.

"Sebenarnya dia sendiri yang hendak datang padamu untuk merampas kitab itu, hanya karena ia sabar, dia dapat menunggu waktu, Adalah aku sendiri yang tidak dapat menunda hingga sepuluh tahun lagi, maka sekarang aku datang meminta barang curian itu, Aku anggap inilah cuma perbuatan pindah tangan saja, dan kitab itu untuk kuhadiahkan padanya!"

Baik kelakuannya, maupun cara bicaranya manusia cacat ini, hebat luar biasa, benar nada suaranya dibuat tajam, tetapi Bu Yang seperti mengenal suara orang itu, hanya tak ingat, siapa orang ini dan dimana ia pernah bertemu dengannya, Ia menjadi berpikir keras untuk meng-ingat2nya, Dengan mata tajam ia mengawasi mata orang, ia maju setindak lebih dekat.

"Siapakah itu muridmu?"

Ia tanya, suaranya keras.

"Siangkoan Thian Ya!"

Jawabannya juga keras, bahkan membuat Bu Yang melengak karena heran.

So So tidak kurang herannya, hingga ia berpikir, Berhubung perkenalannya dengan Tan Hian Ki, sinona menjadi terkesan baik terhadap pemuda she Siangkoan itu, Pikirnya.

"Thian Ya orang macam apa, mustahil dia sudi menjadi muridnya?"

Tetapi ia halus budi pekertinya, biarpun ia mendongkol, ia tidak mau mencaci atau menegur pengemis aneh itu, Ia hanya berdiam saja.

Sebaliknya adalah Ti Wan Tiangloo, Bukankah orang menyebut2 ahli waris dari Butong-Pay itu?

Kenapa pengemis ini mengaku ahli waris itu sebagai muridnya?

Biar ia menjadi imam, setelah sekarang pulih kesehatannya, ia menjadi gusar dan tak dapat mengendalikan diri.

"Ngaco belo!"

Ia membentak.

"Siangkoan Thian Ya adalah ahli waris Butong-Pay, dia akan menjadi Ciangbunjin, berdasarkan apa kau, si-jelek ini, berani mengambil dia sebagai muridmu?"

Orang tanpa daksa itu tertawa, dingin suara tawanya;

"Meskipun aku jelek, akan tetapi dibandingkan dengan kalian beberapa orang tua pendusta, aku masih jauh lebih baik!"

Katanya.

"Siangkoan Thian Ya demikian lunak, dia sendiri ingin mengangkat aku menjadi guru, apakah dengan begitu kamu mau menganggap aku tidak mempunyai murid dan hanya hendak merampas Ciangbunjin-mu? Hm!"

Mata Ti Wan terbelalak, hampir2 dia pingsan, Tak terkira kemurkaan dan kedongkolannya itu, Ketika itu, Bu Yang menyelak, Tiba2 saja ia ingat akan sesuatu.

"Kau telah datang kemari, apakah kau masih tidak mau memperlihatkan wajahmu yang asli kepada sahabat lama?"

Demikian tanyanya dengan lantang, Kata2 ini disusul satu lompatan yang gesit, serta sambaran tangan yang cepat, untuk menjambret topeng sipincang yang buntung itu.

In Bu Yang lihay sekali, jarak diantara mereka juga cuma beberapa kaki, seharusnya tidak nanti ia gagal dengan serangannya itu, akan tetapi kenyataannya lain sekali, Adalah diluar dugaan, bahwa meski kakinya buntung, sipengemis aneh itu gesit luar biasa, Dengan tongkat besinya diketukkan pada tanah, hingga bersuara nyaring, tahu2 tubuhna telah melesat setombak lebih, maka loloslah ia dari cengkeraman siorang she In.

Saking heran, So So sampai menjerit.

"In Bu Yang, kau ingin melihat wajahku yang asli?"

Tanya sioran aneh, suaranya dingin.

"Hm, mana aku masih mempunyai wajahku yang asli untuk diperlihatkan kepadamu? Tapi biarlah bila kau ingin melihatnya, terserah padamu, hanya aku khawatir kau nanti merasa tidak enakhati!..."

In Bu Yang menatap wajah orang itu, Begitu juga So So dan Butong Ngoloo, mereka turut mengawasi, Mereka pun ingin sekali mengetahui siapa dia itu.

Siorang aneh mengangkat tangannya kewajahnya, dengan perlahan ia merabah topengnya, begitu cepat topeng itu disingkirkan, begitu juga hati Bu Yang bergoncang, sedang si nona lantas menutupi mukanya, Butong Ngoloo juga tak kurang herannya, mengawasi dengan bengong, hati mereka ngiris.

Pengemis dengan kaki dan tangan buntung itu benar2 istimewa wajahnya, jelek bukan main, Sungguh diluar dugaan siapa saja, Muka itu penuh tanda luka yang malang melintang, ibarat bagaikan benang kusut, Dimata So So dan Bu Tong Ngoloo, wajah itu jelek dan menakutkan, tapi dimata In Bu Yang, lebih dari sekedar itu.

Bu Yang adalah seorang ahli pedang nomor satu pada jaman ini, matanya tajam melebihi orang lain, maka ia dapat melihat dengan tegas bahwa tapak itu adalah bekas guratan ujung pedang yang lancip tajam, Guratan itu mirip dengan tulisan cepat yang singkat oleh seorang ahli, meski guratannya tampak kacau, tetapi ada jalannya goresan itu, hingga tidak terlihat ditulang2 pipi, tidak juga merusak mata dan hidung, Bu Yang berpikir, kalau ia yang melakukannya, tidak nanti ia dapat menggurat seperti itu, Maka, siapakah si-ahli pedang yang mencacah muka sipengemis aneh ini?

"Bagaimana?"

Tanya sipengemis, dengan dinginnya.

"Kau tidak mengenali aku? Ia pun tertawa mengejek."

Bu Yang segera memperdengarkan suaranya, yang seperti gerutuan.

"Kau adalah Giokbin Hiapkay Pit Leng Hong! dia menjawab agak ragu2. So So telah menutup mukanya, akan tetapi begitu mendengar suara ayahnya, ia pelan2 menurunkan kedua tangannya, ia membuka matanya sedikit, untuk melihat, Ia masih tidak berani memandang orang dengan kedua matanya dengan lebar, Dalam herannya, ia berkata dalam hatinya;

"Manusia begini aneh tetapi demikian indah julukannya... ."

"Giokbin Hiapkay"

Itu berarti Pendekar Pengemis Wajah Kumala.

Memang juga, pada dua puluh tahun yang lalu, Pit Leng Hong adalah seorang pria yang tampan sekali, karenanya, ia memperoleh julukan itu, Hanya karena hidup sebagai pengemis yang gagah dan murah hati, ia dapat tambahan Hiapkay itu (Pendekar pengemis), Kakaknya ialah Pit Leng Hi, adalah satu diantara tiga orang gagah luar biasa pengikut Thio Su Seng, Mereka bertiga ialah;

"Ceng Too Kay"

Artinya pendeta, si imam, dan si pengemis, Dua yang lain si pendeta dan si imam ialah Pheng Eng Giok dan Cit Siu Toojin, Sedang Pheng Eng Giok itu, ber-sama2 Cio Thian Tok dan In Bu Yang adalah yang dikenal sebagai "Liong Houw Hong Samkiat.

"ialah si Naga, si Harimau, dan si Burung Pheonix. Enam jago itu sama tersohornya, hanya didalam hal kedudukan, Pheng Eng Giok melebihi lima yang lainnya, Ini disebabkan Pheng Hweesio menjabat menjadi gurunya Cu Goan Ciang dan Thio Su Seng, Pit leng Hi berada bersama didalam pasukan tentera, ia mengagumi Pheng Hweesio, ia pun minta diangkat menjadi murid, maka ia terhitung murid yang ketiga, Kepandaian Pit Leng Hong ini didapat dari Pit Leng Hi kakaknya, dengan begitu, meskipun secara tidak langsung, iapun telah mewarisi kepandaiannya Pheng Eng Giok, hingga untuk menjunjung paderi itu, ia mengaku ialah murid Eng Giok, Leng Hong adalah seorang bebas, tidak betah ia berdiam dalam pasukan tentera, ia bergabung kedalam dunia pengemis, Ia tidak bergaul rapat dengan In Bu Yang, tetapi mengingat persahabatan Bu Yang dengan kakaknya, waktu dulu mereka telah mengaku saudara satu dengan lain, Satu tahun sebelum keruntuhan Thio Su Seng, mereka berdua telah terpisah, maka itu, dengan pertemuan hari ini, sebenarnya mereka sudah berpisah selama sembilan belas tahun. Sekarang melihat wajah orang itu, Bu Yang heran sekali, Ada dua hal yang tak dapat ia simpulkan, Tak banyak tokoh persilatan yang bisa mengalahkan Leng Hong, maka siapakah tokoh kosen yang dapat menaklukkan dan mencacah wajahnya sedemikian rupa? Kenapa dia tidak dibunuh saja? Dan yang kedua yaitu, dahulu Pit Leng Hong menghormati dia, kenapa sekarang sipengemis aneh ini datang dengan tingkah laku yang sangat memandang enteng kepadanya, bahkan menyebut dirinya 'simaling kecil' dan berani meminta kitab ilmu pedang padanya? Mungkinkah, karena wajahnya sudah berubah tabiatnya pun turut berubah juga? Atau, karena dia mengetahui rahasianya, maka dia jadi berani datang untuk memerasnya? Mengingat semua itu, Bu Yang menjadi mendongkol.

"Sudah sembilan belas tahun kita tidak bertemu satu dengan lainnya,"

Katanya sengit.

"Sekarang kau datang kepadaku, apakah maksudmu cuma menghendaki kitab ilmu pedang?"

Pit Leng Hong menjawab tawar;

"Aku telah menerima seorang murid baru, sudah seharusnya jikalau aku menghadiahkan sesuatu kepadanya, Oleh karena kitab itu asalnya ialah miliknya, maka jikalau aku tidak mencari kau, aku mesti cari siapa lagi?"

Bu Yang bertepuk tangan;

"Ha, sayang kau telah datang terlambat satu tindak!"

Katanya tawar.

"Kitab oitu baru saja aku robek hancurkan! Jikalau Siangkoan Thian Ya berniat mempelajari ilmu silat pedang, suruhlah dia menghadap aku."

Pit Leng hong tetap tertawa dingin;

"Justeru karena Siangkoan Thian Ya tidak sudi belajar padamu, ia jadi sudah mengangkat aku menjadi guru!"

Ia melanjutkan.

"Baiklah karena kitab sudah kau bikin rusak, aku sekarang hendak meminta sebuah barang darimu untuk aku tetap dapat menghadiahkan padanya!"

Kata2 ini ditutup dengan tekanan tongkat besinya ketanah, dan jejakkan kakinya yang utuh, dengan begitu tubuhnya jadi mencelat kearah So So, bersamaan dengan itu, tangannya diulur untuk merampas pedang yang ada ditangan sinona.

So So kaget, hingga ia tak sempat menjerit, Pit Leng Hong demkian gesit, begitu juga In Bu Yang, Melihat sipengemis mencelat, ia ikut mencelat juga, disaat tangan sipengemis diulur, tangannya dipakai untuk menyerang tangan orang itu, seraya ia membentak;

"Pit Leng Hong, kau berani berlaku begini kurang ajar?"

Hebat serangan Bu Yang, tetapi serangan itu tidak mengenai sasarannya, dengan kegesitannya, Pit Leng Hong dapat menghindarkan diri, dengan begitu ia menjadi batal merampas pedang sinona.

"Kau juga mendapatkan pedang Kungo-kiam itu dengan jalan mencuri!"

Berkata sipengemis, suaranya terus-menerus dingin.

"Kau mencurinya dengan terang2an, sedangkan aku dengan jalan merampas, Karena perbuatan kita sama sifatnya, cara bagaimana kau berani mengatakan aku kurang ajar?"

Hati So So baru saja menjadi tenang, lalu sekarang ia menjadi heran, sampai ia tercenggang, Aneh kata2nya sipengemis ini, Kenapa dia mengetahui pedangnya itu adalah Kungo-kiam dan mengetahui juga ayahnya mendapatkannya dari mencuri?

Ia lantas teringat saat pertama kali ia bertemu Tan Hian Ki, pemuda itu telah bertanya padanya, apakah pedang itu warisannya atau bukan...Mungkinkah...mungkinkah benar pedang ini hasil curian?

Namun, semenjak ia kecil, ia mengetahui pedang itu sudah ada dirumahnya, dan ayahnya pernah mengatakan, bahwa pedang itu adalah pusaka Keluarga In.

Tidak berhenti sampai disitu pikiran si nona ini, kalau benar pedang ini adalah hasil curian, setelah berselang begitu banyak tahun, kenapa pemiliknya tidak pernah datang untuk mencari atau memintanya pulang?

Mungkinkah sipemilik itu juga telah dibinasakan ayah?

"Ah, mungkinkah ini adalah dosa besar itu,yang disebut ayah sebagai dosa yang tak berampun?"

Ia berpikir lebih jauh.

Tapi cepat juga pikirannya itu berubah lagi, Sipemilik pedang pasti bukan orang sembarangan, andaikata benar ayahnya mencuri pedangnya itu dan membunuh pemiliknya, mustahil dalam dunia Rimba Persilatan tidak timbul gelombang dahsyat sebagai akibatnya?

Seharusnya sahabat2 sipemilik pedang akan bergerak untuk menghukum atau meminta pulang, tidak nantinya mereka berdian diri saja, Adalah aneh hari ini sipengemis datang memintanya.

So So menjadi bingung sendiri, hingga ia ingin cepat2 mendapatkan pemecahannya, Hingga lupa kepada sipengemis yang mukanya menakutkan itu, ia lantas berpaling kepada ayahnya dan mengawasinya, Ia ingin mengetahui bagaimana ayahnya akan bertindak terhadap pengemis itu, Melihat pada ayahnya kembali, ia menjadi heran.

In Bu Yang memperlihatkanroman dan sikap yang tak biasanya, Dia berdiri diam seperti orang yang tertotok jalan darahnya, Kulit mukanya agak tegang dan matanya bersinar tajam, Agaknya ia terbenam dalam ke-ragu2an.

Tapi tiba2 saja ia berseru;

"Pit Leng Hong, cepat kau menyingkir! Kalau kau terlambat satu detik saja, aku bakal tidak dapat menguasai diriku lagi!"

Suara itu bergemetar, sepuluh jari dari kedua tangannya bergerak2, diluruskan dan ditekuk bergantian, hingga terdengar suara meretak, Kelihatannya jago ini seperti hendak melakukan pembunuhan.

So So kaget dan takut, hatinya menjadi dingin, Melihat sikap ayahnya itu, mungkin benar pedang itu mempunyai asalusul aneh, Kalau tidak, mengapa sikap ayah menjadi seperti binatang buas yang terluka?

Bukankah kata2nya sipengemis aneh bagaikan tusukan anak panah?

Sipenegemis tidak takut dia bahkan tertawa tergelak;

"In Bu Yang kau mau membunuh aku?"

Tanyanya.

"Jikalau aku takut, tidak nanti aku datang kemari? Benarkah kau menganggap, setelah mendapatkan kitab pedang dan membinasakan Cio Thian Tok, kau pandang dirimu sebagai ahli pedang nomor satu dikolong langit ini? Selagi masih ada muridnya Pheng Hweesio disini, aku khawatir tidak dapat kau bertingkah!"

"Kalau Pheng Hweesio berada disini, mungkin aku takuti dia tiga bagian,"

Berkata Bu Yang.

"Sekarang ini, walaupun kakakmu hidup lagi aku tidak takut! Kau sendiri, kau makhluk apakah?"

Meluap hawa amarahnya orang she In ini, hingga ia mengibas dengan tangannya, jari tangannya bergerak bagaikan orang mementil pipee, Itulah jurus penyerangan dengan Itcisian.

Pit Leng Hong tetap tidak jeri.

"Jikalau kau tidak menggunakan pedang, aku juga tidak akan memakai senjata!"

Katanya sama dinginnya, Dia lantas menancap tongkatnya ditanah, tangannya itu terus diputar, untuk memapaki serangan Bu Yang.

Butong Ngoloo telah menyaksikan jari tangan yang lihay dari Bu Yang, mereka telah merasakannya, maka mereka heran atas keberaniannya sipengemis pincang dan buntung ini.

"Mungkinkah pengemis ini mengerti ilmu sesat, sehingga ia tidak takut terhadap ilmu Itci-sian?"

Tanya mereka didalam hati.

Atas tangkisan lawan In Bu Yang berubah paras mukanya, tangannya ditarik pulang, ia batalkan serangan dengan jari tangannya, tetapi dengan membuka telapak tanganya, untuk menyambut tangan orang, Tidak ampun lagi, kedua tangan bentrok satu sama lain, Tampaknya kedua pihak mengerahkan seluruh tenaga mereka, tetapi ketika kedua tangan bentrok, tidak terdengar suara apapun juga, tangan sipengemis lembek bagaikan getah.

Butong Ngoloo heran, hingga mereka mengawasi dengan takjub!

Nyata Pit Leng Hong mempunyai kepandaian melemaskan tangan seperti kapas, maka tangan In Bu Yang seperti memukul lumpur, bukan saja tenaganya jadi tak berdaya, bahkan sebaliknya tangan itu seperti disedot, Itci-sian bisa menutup jalan darah, tetapi kali ini, punahlah kekuatannya itu, Karena itu ia lantas mengubah tangannya menjadi terbuka.

"Gunakan kedua tanganmu berbareng!"

Pit Leng Hong berseru menantang.

"Hm!"

In Bu Yang memperdengarkan ejekannya, Ia tidak memperdulikan tangan itu, ketika ia menyerang kembali, ia menggunakan sebelah tangannya, Hanya sebentar saja, Bu Yang telah mengeluarkan keringat dingin pada jidatnya.

Mendadak ia berseru.

"Ha, kiranya kaulah yang merusak pintu goa dari kamar samedhiku ini!"

Pit Leng Hong tertawa;

"Telah aku mengatakannya,"

Jawabnya.

"Kau tidak mau percaya, habis apa lagi yang aku bisa jelaskan? Jikalau aku tidak menghajar pintu goamu, cara bagaimana aku dapat membawa pergi Siangkoan Thian Ya?"

So So heran bukan main, Walaupun ia tidak percaya, ia tetap mesti percaya keterangan pengemis ini, Memang aneh menghilangnya Thian Ya.

Butong Ngoloo juga heran bukan kepalang, Melihat begini, mestinya In Bu Yang bakal menemui batunya, Mereka heran bercampur gembira, Betapa tidak girang melihat lawannya yang tangguh itu bakal roboh?

Mereka tidak memintanya, tetapi sama juga seperti meminjam tangan manusia aneh ini, Hanya hati mereka menjadi dingin, ketika mereka ingat simanusia aneh ini memaksa Thian Ya, bakal Ciangbunjin mereka menjadi muridnya...

Sebenarnya dalam hal tenaga dalam, Bu Yang lebih unggul dari Pit Leng Hong, kalau sekarang ia kewalahan, itu disebabkan ia telah banyak mengeluarkan tenaga saat bertempur dengan Butong Ngoloo, sebab Ngolui Thiansimciang dari kelima jago Butong hebat sekali, Coba kalau tadi ia tidak makan pil Siauwhoan-tan, mungkin ia tak dapat bertahan begitu lama.

Beberapa saat kemudian, keringat dijidat Bu Yang menjadi titik2 besar.

"Gunakan kedua tanganmu!"

Pit Leng Hong berkata pula seraya tertawa dingin.

Memang Bu yang Tak mau menggunakan ke-dua2 tangannya, karena yang dia hadapi adalah seorang cacat, yang kaki dan tanganya tinggal sebelah?

Ia masih percaya akan ketangguhannya sendiri, iapun akan merasa malu, tetapi sekarang?

sekarang ia menjadi ragu2, Ia tahu bahwa ia sudah mengeluarkan banyak sekali tenaga, maka andaikata ia menggunakan ke-dua2 tangannya, juga belum tentu akan berhasil, Maka sambil menahan perasaan ia tertawa dingin dan berkata;

"Inilah kau yang menghendaki sendiri!' "Kau gunakanlah kedua tanganmu, mati pun aku tak menyesal!"

Menyahut Pit Leng Hong.

Tanpa ayal lagi, Bu Yang merangkap kedua tangannya, Inilah serangan yang dapat menggempur batu, Tubuh Pit Leng Hong, yang ditahan cuma oleh sebelah kakinya, lantas bergoyang2 tak henti2nya, bergerak kedepan lalu kebelakang, kekiri dan kekanan, tubuhnya itu mirip sebuah perahu kecil diantara hempasan gelombang.

So So yang menyaksikan itu, biar bagaimana ia merasa jemu, ia toh merasa kasihan juga, Bukankah orang bercacat, tinggal sebelah kaki dan sebelah tangannya?

Karena itu ia hendak meminta pada ayahnya, untuk memberi ampun, tetapi mendadak ia melihat paras ayahnya itu berubah, lenyap keringat dari jidat sang ayah, sebaliknya disitu tampak jelas urat2nya yang biru.

Meskipun ia merasa heran, si nona masih tidak percaya bahwa ayahnya lagi terancam bahaya, Karena itu, ia batal meneriaki ayahnya itu.

Hebat tenaga tangannya sipengemis aneh, Begitu dahsyat kedua tangannya Bu Yang, tangan itu seperti batu dilempar kedalam air, hilang tanpa bekas2nya, Sudah begitu dari tangan siorang aneh telah keluar hawa dingin yang merembes kedalam tangan lawannya, menembus ke-ulu hati, Bu Yang kaget hingga ia mesti mengempos semangatnya, untuk mempertahankan diri, meski begitu ia masih merasakan tak sanggup...

Pit Leng Hong merasa puas sekali, ia tertawa lebar, Karena tertawanya itu, wajahnya tampak jadi semakin luar biasa, Cuma satu kali ia tertawa, lalu ia berkata dengan suaranya dingin;

"Jikalau kau menyayangi jiwamu, serahkan pedang itu!"

So So yang memegang pedang maju dua tindak;

"Ayah, beri saja dia!"

Ia berkata kepada ayahnya, Ia seperti putus asa, Biar bagaimana, ia menyayangi ayahnya itu.

Mata Bu Yang mencorong memandang puterinya, Itulah sinar berupa teguran, rupanya sang anak mengerti, mau tidak mau, ia terpaksa mundur kembali.

Dengan tiba2 terdengar Bu Yang membentak, kedua tangannya ditarik pula, lalu dimajukan kembali, Dibelakang telapak tangannya dan dijidatnya juga, terlihat otot2 yang menonjol keluar, seperti ia tengah mendorong beban yang beratnya mencapai ribuan kati.

So So mengetahui bahwa sang ayah telah mengerahkan semua tenaga dalamnya, Itulah hebat, Tubuh Pit Leng Hong kembali bergoyang, senyuman pada mukanya lenyap seketika, tetapi meskipun demikian, kaki tunggalnya itu tetap bertahan pada muka bumi, bagaikan karang kokohnya.

Lewat sesaat kemudian, terlihat Pit Leng Hong pun menjadi seperti Bu Yang, peluhnya keluar mengucur, Hanya berbareng dengan itu, kulit wajah Bu Yang berubah menjadi matang biru.

Selagi dua jago ini bertempur hebat, mengadu tenaga dalam mereka, Butong Ngoloo berdiam bersemedhi, mereka berdiam ditanah untuk memulihkan tenaga mereka, Cuma mata mereka yang terus mengawasi, mata mereka itu mengeluarkan sorot heran dan ngeri.

Memang Pit Leng Hong dan juga In Bu Yang sudah bertarung sampai pada taraf puncak penentuan hidup mati mereka, Tenaga dalam Bu Yang dikumpul diujung jari tangannya, dari sana keluar hawa panas, Itulah hawa panas untuk menahan serangan hawa dingin dari tangan Pit Leng Hong, hawa untuk membalas serangan.

Sudah tentu Pit leng hong kalah tenaga dalam, sebab ia mempelajari ilmu Pheng Hweesio dengan perantara kakaknya Pit Leng Hi, dan apabila sekarang ia dapat melawan, itulah disebabkan In Bu Yang sudah terlalu lelah habis menempur Cio Thian Tok dan Butong Ngoloo, semua lawannya tangguh luar biasa.

Kembali sang waktu berjalan lewat, Dari samar2 warna matang biru dimukanya Bu Yang menjadi semakin terlihat tegas, Sekarang dia mengeluarkan pula keringat sebesar kedele, Karena itu, bajunya mulai basah, Dari sinar matanya yang layu, nyata ia sudah mulai kehabisan tenaga.

Sampai disaat itu, se-konyong2 Pit Leng Hong berseru secara aneh, tangannya ditolak perlahan kedepan, Bu Yang menggunakan ke-dua2 tangannya, tapi agaknya ia tak dapat bertahan, itu terlihat dari kedua tangannya yang mulai melengkung.

Disaat yang sangat genting itu, tiba2 saja Kok Ciong dari Butong Ngoloo melompat bangun sambil menjerit hebat;

"Kiranya kau simakhluk aneh yang membinasakan guruku!"

Seruan itu tidak hanya membuat So So menjadi bingung, tetapi juga Bu Yang menjadi heran sekali, Maka orang she In iniberkata didalam hatinya.

"Kelakuan Pit Leng Hong hari ini memang sangat aneh, Dulu dia dikenal sebagai Kayhiap (pendekar pengemis), dengan mertua-ku, dia tidak ada hubungannya, maka itu, kenapa dia melakukan pembunuhan pada mertua-ku itu? Sebelumnya Kok Ciong menuduh aku, kenapa sekarang ia berbalik menuduh Pit Leng Hong?"

Bu Yang memandang gelap untuk semua itu, Kematian Bouw Tok It diliputi suasana misterius, Ketika itu Kok Ciong memang seperti mendampingi gurunya itu, Waktu itu ditengah malam Kok-Ciong mendengar suara gurunya sedang bertempur dengan seorang yang tidak ia kenal, Ia lari memburu, tetapi musuh itu sudah melarikan diri, tinggal gurunya yang sudah tidak mampu bicara, muka guru itu matang biru, warnanya itu sama dengan mukanya In Bu Yang sekarang, Karena inilah maka ia menuduh Pit Leng Hong.

Kok Ciong tidak cuma berseru, diapun melompat maju untuk menyerang, Perbuatannya ini diikuti oleh empat saudaranya, yang maju dengan berbareng, Mereka mengambil sikap mengurung, sepuluh jari tangan mereka mengarah satu jurusan, Mereka ini belum pulih keseluruhannya, tetapi Ngolui Thiansim-ciang dasarnya hebat, tak dapat itu dipandang enteng.

Diserang secara mendadak demikian rupa, Pit Leng Hong berseru sambil kaki tunggalnya berputar, membawa badannya, menyusul mana badannya itu melompat, mencelat berjumpalitan, selagi tubuhnya itu bergelantungan diudara, kakinya terus menendang, ujung kakinya mencari jalan darah pekhay diiganya Ti Hong, sedang tangan kanannya yang utuh itu, menyambar pipi Ti Kong Tiangloo, Tangan kirinya yang buntung itu masih ada sikutnya yang tajam pula, tajam sebab dilapis besi yang terbungkus pita merah, maka dengan sikutnya itu ia menghajar jalan darah sianki didadanya Ti Wan Tiangloo, Maka itu sungguh hebat sitanpa dakpa ini, berbareng ia dapat menggunakan tiga anggota tubuhnya itu untuk menyerang, berbareng kepada tiga musuh yang lihay.

Serangan Butong Ngoloo telah berlangsung tatkala mereka melihat sasaran mereka mencelat dan berjumpalitan, kedua tangannya bergerak terpentang, sebelah kakinya bergerak juga, Ti Hong Dan Ti Kong kaget, hingga hati mereka terkesiap, belum sempat mereka melihat apa2, tubuh mereka sudah mental kira2 satu tombak, Hanya syukur buat mereka, jatuh tubuh mereka tidak terbanting, bahkan seperti ada orang yang menurunkannya secara perlahan, hingga mereka tak merasakan sakit, Setelah itu tahulah mereka, bahwa mereka telah ditolong oleh In Bu Yang, yang membebaskan mereka dari serangan berbahaya dari Pit Leng Hong.

Sementara itu sikut kiri Leng Hong telah menyambar kedada Ti Wan, imam ini terancam bahaya, sebab baginya tidak ada lagi waktu untuk menarik kembali kedua tangannya, Disamping itu, In Bu Yang telah memperlihatkan kehebatannya, adalah jari tangannya dengan ilmunya Itci-sian menyerang kesikut kiri siorang she Pit, tepat diujungnya sikut hingga pitanya robek dan tampak ujung besinya, terlihat ada ukuran naga2an, Melihat ukiran itu, Bu Yang kaget sekali, mendadak saja ia merasa seperti melihat sesuatu yang aneh, yang membingungkan hatinya, belum lagi jelas baginya, tiba2 ia telah merasakan satu hawa dingin menyerang ulu hatinya, Dan tak tertahankan lagi ia roboh terguling dengan terbanting, Dilain pihak tubuh Len Hong yang kurus kering itu, bagaikan layangan putus, terpental tiga tombak lebih melayang kebawah tanjakan, kemudian terdengar suara sindirannya "Hm!

Hm!"

Dan kemudian, tanpa menoleh lagi, ia menghilang dikejauhan, tak tampak lagi bayangannya.

In Bu Yang dan Butong Ngoloo tidak dapat berbuat apa2 terhadap musuh itu, barulah setelah bekerja sama, mereka dapat menghaiar hingga lawan mereka terpental, Lebih dulu Pit Leng Hong kena tertotok oleh Bu Yang, baru ia digempur serangannya Butong Ngoloo.

Sekian lama So So menjublak, baru ia tersadar ketika ia mendengar suaranya Ti Wan Tiangloo, suara yang dalam sekali;

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 8

Baca Juga: Duri Bunga Ju 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger