Sebilah Pedang Mustika 1

Eps 1 Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen

Baca online Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen

Cersil Sebilah Pedang Mustika - Liang Ie Shen.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com. Sebilah Pedang Mustika (Hoan Kiam Kie Tjeng) Karya . Liang Ie Shen Saduran . OKT.

"Rembulan di langit mengejar sang surya, Nona dibumi mengejar kekasihnya, Sang Surya naik di Timur, Sang Rembulan silam di Barat, Bidadari di istana rembulan sia-sia berduka.... Layung sore menabur langit biru, Sinar sang Surya menyinari sang Rembulan, Meski sang Surya dapat dikatakan tak berbudi, Tetapi si Gagak Emas tetap mendampingi si Kelinci Kumala, Oh, engko, Kenapa kau tak menoleh memandang daku?"

Berkejar-kejaran.

Sang Surya telah menyilam akan tetapi sinar layungnya masih bertebaran, di saat itu sang angin sore telah bertiup mengantarkan suara nyanyian yang perlahan....nyanyian yang menggenggam rasa penasaran, rasa kekaguman, bagaikan tangisan mengeluh, hingga burung2 yang berterbangan pulang kerimbanya mesti terbang ber-putar2 diatas rimba, tak turun kebawah.

Walaupun demikian halus nyanyian itu mengalun, nyanyian itu masih tak dapat menahan seekor kuda pilihan yang berlari didalam lembah.

Penunggang kuda itu adalah seorang muda dengan baju putih yang tampan rupanya, dia bukannya tidak mengetahui yang dibelakangnya ada si nona remaja, yang mengejar dia, yang bernyanyi untuknya, ia tapinya telah mengeraskan hatinya, ia mengaburkan terus kudanya itu.

Setelah suara nyanyian hilang lenyap dan lembah menjadi sunyi kosong, diam segala apa, barulah ia menghela napas dan bersenandung.

"Sungai Ek Sui tenang diam, angin barat yang dingin berdesir, si orang agah sekali pergi tak kembali, Mengadu jiwa hanya mengandali sebatang pedang panjang tiga kaki, biarpun cintanya sangat tetapi dia menoleh kebelakang, ia tidak cuma dapat mensia-siakan si nona belia...."

Kemudian ia menoleh kebelakang ia tidak melihat seorang juga, Kudanya itu kuda jempolan yang bagaikan dapat 'mengejar kilat menguber angin,' maka dengan kaburnya barusan, dia telah meninggalkan jauh si nona hingga terpisah dengan beberapa bukit....

Pemuda itu adalah Tan Hian Ki dan ia tengah menjalankan tugas yang berat yang dibebankan kepadanya, ialah untuk membunuh seorang ahli silat kenamaan yang tinggal mendiamkan diri, bersembunyi di gunung Holan San.

Maka itu jangankan ia memangnya tak berniat menyintakan si nona, taruh kata ia menyintainya dengan sangat, didalam saatnya seperti ini, tidak dapat ia terhalang oleh nyanyian itu.

Memang nyanyian itu telah dapat menggoncang hati sanubarinya, dilain pihak si nona telah terpisah dengan beberapa lapis gunung, dari itu nona itu tak dapat mendengar helaan napas dan senandungnya itu dan tak dapat melihat juga air yang mengembang pada kedua matanya....

Matahari telah berturun, angin berhawa dingin, maka sang magrib datang makin lama makin suram, Tan Hian Kie mengangkat kepalanya, memandang kearah depan, Disana samar2 terlihatlah puncak dari gunung Holan-san itu, Tanpa merasa hatinya menjadi tegang sendirinya, Segera ia membiluki kudanya, dengan mengayunkan cambuknya, ia malarikannya ke barat.

Sekeluarnya dari mulut lembah, pemuda ini mulai mendaki dijalan pegunungan yang ber-liku2, Ia sekarang berada dalam ragu-ragu, Kudanya memang kuda jempolan, tetapi ia berada dijalan pegunungan yang sesukar itu, pula didepan ada seorang musuh yang lihay sekali, walaupun ia tidak jeri, apabila ia menunda perjalanan untuk melewatkan sang malam disitu, ia bisa mendapat kesulitan dari si nona....

Bagaimana kalau nona itu dapat menyandak ia dan karenanya ia menjadi kena terlibat?

Tengah ia bersangsi itu, bimbang hati, tiba2 kupingnya mendengar suara tindakan kaki dari seekor kuda, yang datangnya dari arah depan, Hanya sekejap saja, kuda itu sudah tiba didepannya, hampir saja kedua binatang saling tabrak, atau mendadak saja penunggangnya telah berlompat turun, tangannya diulur untuk mencegah tabrakan itu.

Kudanya si anak muda berjingkrak berdiri seraya memperdengarkan ringkikan yang keras, tetapi dia tidak dapat maju terus, maka itu si anak muda sendiripun mesti berlompat turun, Sekarang dapatlah ia melihat dihadapannya seorang muda dengan alis yang kereng dan mata yang besar yang wajahnya bermuran durja, dingin seperti tak ada perasaannya, sedang disaat magrib seperti itu, cuaca remang2, dia nampaknya seram....

Hanya sedetik Tan Hian Ki tercengang, lantas ia mengangkat kedua tangannya, untuk memberi hormat.

"Saudara Siangkoan, sungguh beruntung, sungguh beruntung untuk pertemuan kita ini!"

Katanya. Anak muda itu mengasi dengar suara dingin.

"Hm! Memang, sungguh beruntung pertemuan kita ini!"

Berkata dia, tawar.

"Mana Un Lan?"

"Dia berada dibelakang,"

Menyahut Hian Ki.

"Jikalau kau melintasi gunung itu, mungkin kau dapat bertemu dengannya."

Dengan tangannya, ia menunjuk. Terbangun sepasang alisnya anak muda itu, wajahnya nampak terlebih muram.

"Jadi dia menyusul kau?"

Tanyanya. Parasnya Hian Ki menjadi bersemu merah.

"Jangan bergurau, saudara Siangkoan."

Tetapi sianak muda, yang dipanggil 'saudara Siangkoan' itu, menjadi gusar.

"Siapa bergurau denganmu?"

Bentaknya "Aku cuma hendak menanya kau, kau menginginkan dia atau tidak?"

"Eh, saudara Siangkoan, kau bicara apakah?"

Tanya Hian Ki keras.

"Terhadap enci Un Lan itu belum pernah aku memikir yang tidak2!"

"Jikalau demikian adanya, kau cuma mempermainkan dia, kau memincuknya, lalu sekarang kau men-sia2kannya?"

Parasnya Hian Ki berubah.

"Saudara Siangkoan, kau pandang aku orang macam apa?"

Dia kata nyaring.

"Terhadap Un Lan aku cuma memandang sebagai saudara, maka mana dapat kau membilangnya tentang mempermainkan dan memincuknya?"

Pemuda itu tertawa dingin.

"Jadi, menurut kau, Un Lan adalah yang memincukmu?"

Katanya.

Hian Ki mengerutkan kening, yang benar memang Un Lan yang 'melibat' padanya, Akan tetapi, mana dapat ia mengatakannya terus terang?

Tidakkah itu akan merusak nama baiknya anak dara itu?

Pemuda itu, pemuda she Siangkoan, bernama Thian Ya, maju dua tindak.

"Tan Hian Ki, kau kembalilah!"

Katanya bengis.

"Kau menghendaki apa?"

Hian Ki tanya.

"Kau menghaturkan maaf terhadap Un Lan, lalu kau bersumpah bahwa serlanjutnya kau tidak akan men-sia2kan lagi padanya!"

Berkata Thian Ya tetap bengis.

"Hendak aku mengawasi kau bersumpah itu, aku melarang kau menyangkalnya!"

Bengis suaranya pemuda itu akan tetapi akhirnya bernada sedih, seperti juga ia tengah memohon terhadap Hian Ki yang mulanya ia perlakukan hebat sekali. Hian Ki mundur dua tindak.

"Saudara Siangkoan, aku mengerti maksudmu, aku tahu hatimu."

Ia berkata.

"Kau menyintai enci Un Lan, mengapa kau menyimpannya itu didalam hati saja?"

"Tidak salah!"

Menjawab Thian Ya.

"Dialah orang satu2nya yang aku sangat menyintainya, maka itu tidak nanti aku membuatnya dia berduka, tidak nanti aku membiarkannya kau men-sia2kan padanya!"

"Saudara Siangkoan, kau tidak mengetahui hatiku!"

Kata Hian ki.

"Dengan setulusnya aku berdoa supaya kamu berdua menjadi pasangan yang berbahagia! kenapa kau bercuriga? kau membuatnya aku jadi menyesal."

Hian Ki telah membeberkan hatinya itu, akan tetapi Thian Ya beradat tinggi, ia menerimanya secara keliru.

Ia menganggap bahwa ia justeru dipermainkan.

Ia menduga Hian Ki adalah sipemenang dalam perebutan asmara ini.

Tentu sekali, inilah diluar dugaan pemuda she Tan itu.

Wajah Thian Ya kembali menjadi muram, kedua matanya dibuka lebar.

"Tan Hian Ki, jangan banyak omomg pula!"

Ia membentak.

"Kau hendak kembali atau tidak?"

Hian Ki melihat kelangit, melihat cuaca, hatinya cemas.

"Kau tidak mengerti, saudaraku aku tidak bisa membilang apa2 lagi,"

Katanya.

"Tetapi aku ada punya urusan yang sangat penting, aku minta sukalah kau membagi jalan padaku...."

Kata-kata itu belum habis diucapkannya, atau "Sret!"

Maka Thian Ya telah menarik keluar sepasang gaetannya.

"Aku justeru tidak hendak melepaskan padamu, lelaki tidak berbudi!"

Bentaknya. Bukan main mendongkolnya Hian Ki.

"Apa sangkutannya aku denganmu, aku berbudi atau tidak?"

Pikirnya. Tapi tengah ia berpikir itu, didepan mukanya telah berkelebat gaetan orang, yang bersinar kuning bagaikan emas.

"Masih kau tidak hendak menghunus pedangmu?"

Thian Ya berseru.

"Saudara Thian Ya, sabar,"

Berkata Hian Ki berkelit.

"Dengar dulu aku."

"Kau hendak ngaco apa lagi?"

Kata Thian Ya dengan dingin.

"Kau masih hendak banyak omong pula?"

"Kalau saudara pasti hendak memberikan pelajaran padaku, tidak berani aku menolaknya,"

Berkata Hian Ki sabar, sedang hatinya panas dan berduka.

"Hanya benar2 hari ini aku mempunyai urusan yang sangat penting. Begini saja, selang sepuluh hari nanti aku datang pula kemari untuk menerima pengajaranmu itu. Umpama kata pada hari yang aku janjikan itu aku tidak muncul, bukanlah aku salah janji, hanya terang aku telah kena orang bunuh. Dengan begitu tak usahlah saudara menjadi mencapaikan tangan lagi."

Thian Ya melengak, Tapi hanya sejenak.

"Kau tidak mempunyai tempo, apakah kau sangka aku sempat menantikanmu?"

Katanya keras.

"Lekas geraki tanganmu, disini kita memastikan menang atau kalah, supaya Un Lan tidak lagi berduka!"

Sambil mengucap demikian, Thian Ya menggeraki kedua tangannya, menyambar dari kiri dan kanan.

Dengan terpaksa Hian Ki mencabut pedangnya.

Maka juga gaetan dan pedang bentrok keras sekali, sampai pedangnya Hian Ki hampir terlepas terbang dari cekalannya.

Siangkoan Thian Ya tertawa lebar menyaksikan pedang orang mental.

"Un Lan memuji ilmu silat pedangmu sampai dilangit lapis ke-33, tidak tahunya cuma sebegini saja!' katanya mengejek. Hian Ki mendongkol berbareng geli dihati.

"Kau hendak melampiaskan hatimu, baiklah aku mengalah,"

Pikirnya.

Setelah berpikir begitu, anak muda itu membalas menikam.

Ia memikir untuk mencari ketika untuk meninggalkan lawannya itu.

Diluar dugaannya, gaetan Thian Ya dapat juga digunakan sebagai pedang, ia dilawan secara hebat.

Sebab setelah hasilnya yang pertama, Thian Ya mendesak, serangannya ber-tubi2, Dia hendak mencegah orang mengangkat kaki.

Cuaca sementara itu semakin suram, tanda sang sore lagi mendatangi, ketuka itu ada terdengar tindakan kaki kuda.

Hian Ki menduga kepada Un Lan, si nona yang tadi bernyanyi dan menyusul padanya, Maka ia berpikir.

"Meski aku lekas menyingkir, apabila dia keburu tiba disini, sulit nanti...."

Karena itu, kalau tadi ia melayani hanya untuk membela diri, sekarang ia membalas menyerang secara sungguh2. Thian Ya lantas saja menjadi terkejut, Inilah ia tidak mengira.

"Pantas adik Un menyintai bocah busuk ini, benar2 dia lihay!"

Katanya dalam hati.

Tentu sekali ia tidak mau mengalah, ia pun berkelahi dengan lebih hebat.

Sementara itu tindakan kaki kuda mendatangi semakin dekat.

Hian Ki membalik tangannya, ia menyerang dengan hebat, Dengan jurusnya ini, ia membuatnya gaetan Thian Ya terdesak kesamping.

"Kau masih tidak suka membuka jalan?"

Katanya perlahan tetapi membentak. Dalam cuaca remang2 itu, disana terlihat kabur mendatangi seekor kuda, lalu penunggangnya seorang nona, berseru menanya.

"Hian Ki, kau bertempur dengan siapa? Ah! Apa? kau, Thian Ya? Hayo, kamu berhentilah!"

Siangkoan Thian Ya menyahuti.

"Bocah ini tidak sudi menemui kau, nanti aku bekuk dia untuk diserahkan padamu!"

Hian Ki mendesak pula tetapi orang didepannya tidak mau mundur, Ia menjadi berpikir.

"Kalau aku melukai ia didepan Un Lan, mungkin jodoh mereka tidak bakal tertangkap...."

Tengah orang berpikir itu, sepasang gaetannya Thian Ya menyambar hebat, lalu dua2nya terlempar terpental, tetapi sebagai pembalasan untuk itu, sebelah tangannya orang she Siangkoan itu melayang kedada Hian Ki hingga dia ini menjerit tertahan, tubuhnya mental setombak lebih.

Hian Ki tidak menyangka, setelah pedangnya terlepas, Siangkoan Thian Ya bakal meneruskan menyerang dengan tangan kosong, ia sampai tak waspada.

Thian Ya tercengang untuk hasil serangannya itu, Un Lan, yang sudah lantas tiba, berseru.

"Thian Ya! Kau bikin apa? kenapa kau menurunkan tangan berat? Lekas, lekas kau mengasi dia bangun!"

Thian Ya mencoba menenangkan dirinya, habis itu ia bertindak menghampiri Hian Ki, hanya segera ia kecele, Mendadak ia melihat satu tubuh mencelat naik keatas kuda, lalu dengan sekali tepuk kempolannya, binatang itu berlompat untuk lari kabur, Ia terkejut, Untuk mencegah sia-sia belaka, Sekali pun ekor kuda, tak dapat ia mencekalnya, Ia heran sekali, setelah roboh, pemuda itu masih dapat melompat naik atas kudanya, Hanya sekarang Hian Ki tidak duduk tegak diatas kudanya itu, dia mendekam seraya memeluki erat2 leher binatang tunggangan itu.

Kuda itu kuda terdidik berlari pesat sekali, hingga dilain saat dia telah menyelinap disebuah tikungan.

"Minggir!"

Un Lan berseru selagi Thian Ya menjublak mengawasi kaburnya lawannya itu, sambil memperdengarkan suaranya itu, si noana pun mencambuk kearah pemuda she Siangkoan itu.

Bukan main mendongkol, menyesal, malu dan cemburunya Thian Ya, Ia bertindak untuk si nona, sekarang si nona membentak dan mencambuk padanya, Sedetik itu ingin ia menyambar si nona untuk menjewer kupingna, buat dilain saat memelukinya sambil menangis, Tapi semua itu telah lewat, Hanya diluar kehendaknya, ia pun naik keatas kudanya, untuk menyusul si nona....

Un Lan mengaburkan kudanya dalam cuaca remang2, tempo ia menikung, kudanya melanggar sebuah tanggul batu, tidak tempo lagi, ia kena dibikin terpental.

Justeru Siangkoan Thian Ya tiba, ia kaget sekali, ia lantas berlompat untuk menyambar, guna menolongi si noana.

Un Lan tidak roboh terbanting, selagi terlempar, ia melompat jumpalitan hingga ia dapat berdiri dengan kedua kakinya, hanya ia berdiri tepat didepannya sianak muda.

"Hm!"

Bersuara si nona.

"Kau baik sekali!"

Lantas ia menolak tubuh orang, Hanya berbareng dengan itu ia terperanjat, Ia mendapatkan tangan Thian Ya berlepotan darah, sebab tadi selagi menyerang dada Hian Ki, tangan itu membentur pedang lawannya, yang menyerempet ke lengan.

Un Lan terperanjat hingga ia tercengang, Ia memandang pemuda itu, yang terus menyenderkan tubuh disebuah batu, wajahnya sangat bersedih, Ia lantas menghela napas.

"Ah, orang dewasa semacammu masih mengucurkan air mata,"

Katanya perlahan.

"Apakah kau tidak malu? Mari kasih aku lihat lukamu!"

Memang juga, saking menyesal, Thian Ya berlinang air matanya, Nona itu merobek ujung baju, dengan itu dengan perlahan2 ia membalut lukanya sianak muda.

Thian Ya memutar tangannya, untuk menolak, ia merasakan tangannya hilang, Ia tidak sanggup bertahan, ketika si noana mengusap lengannya, maka saking malu, iqa berpaling kearah lain, didalam hatinya ia mencaci dirinya....

"Beruntung lukanya tidak mengenai tulang,"

Berkata si nona menghela napas.

"Umpama kata aku matipun tidak ada halangannya!"

Berkata sianak muda, tawar.

"Ah!"

Berkata si nona.

"Mengapa kamu mengadu jiwa untukku?"

Dengan tiba2 Thian Ya menoleh.

"Adik Lan,"

Katanya perlahan.

"mengapa kau tak ketahui hatiku? Aku, aku....ah, aku berbuat itu untuk kebaikan kamu....Seranganku barusan memang bukannya enteng tetapi mengingat tenaga dalamnya Hian Ki sempurna, tidaklah itu bakal mengambil jiwanya, Asal untuk kebaikanmu, tubuhku hancur leburpun tidak apa...."

Un Lan menghela napas.

"Masih kau mengatakan demikian, Memang tanganmu tidak membinasakan dia, tetapi karena likanya itu, cara bagaimana dia dapat meloloskan diri dari tangan orang lain?"

Siangkoan Thia Ya kaget.

"Apa kau bilang?"

Tanyanya cepat.

"Dia hendak membinasakan satu orang, Orang itu sudah melenyapkan diri dari dunia kangouw 20 tahun lamanya, Selama 20 tahun itu, dia telah mengangkat namanya hingga menjadi tersohor, Setelah berselang 20 tahun, bisa dimengerti yang sekarang ini ilmu silatnya bertambah dahsyat!"

Thian Ya melengak, Sekarang ingatlah ia akan kata2nya Hian Ki tadi, Hian Ki meminta tempo sepuluh hari, andaikata dia tidak muncul pastilah sudah bahwa dia telah dibinasakan orang.

"Siapakah orang itu?"

Ia tanya tanpa merasa.

"Apakah kau pernah dengar nama In Bu Yang?"

Si nona balik menanya.

"Apa?"

Menegasi Thian Ya, kaget.

"Dialah In Bu Yang?"

Paras pemuda ini menjadi berubah, Un Lan heran.

"Kenalkah kau dengannya?"

"Pada 20 tahun itu, aku adalah bocah umur tiga tahun."

Menyahut Thian Ya, maka itu, mana aku kenal dia? Coba bilang, mengapa Hian Ki hendak membunuh In Bu Yang?"

"Panjang untuk menutur itu,"

Sahut si nona.

"Sekarang ini tahun Hong Bu ke berapa?"

"Tahun ini tahun ke-13, Kenapa kau tidak tahu?"

"Pasti aku mengetahuinya, Hanya sekarang ini ada serombongan orang yang masih tidak sudi menggunakannya!"

"Pastilah mereka itu bekas orang2nya Thio Su Seng dan Tan Yu Liang."

"Benar, Walaupun kita terlahir belakangan tetapi kita pernah mendengar ceritanya orang tua dan saudara bahwa dulu hari itu adalah orang itu yang bergulat hebat dengan Kaisar Hong Bu memperebutkan kerajaan, Mereka itu sama2 memakai nama kerajaan sendiri2, ialah yang satu Tay Ciu, kerajaan Ciu yang agung."

"Habis, apakah hubungannya itu dengan percobaannya Hian Ki sekarang untuk membunuh In Bu Yang?"

"Dulu hari itu Thia Su Seng telah mendapat bantuannya beberapa orang gagah kaum rimba persilatan, tahukah kau?"

Si nona tanya.

"Ya,"

Menyahut sianak muda.

"Pertama2 Pheng Hwesio yang bernama Eng Giok, Katanya dia, dalam hal tenaga dalam, tak ada tandingannya."

"Memang, Habis, siapa lagi?"

"Yang kedua yaitu Cio Thian Tok, Katanya dia ini dengan sepasang tangan besinya pernah menjagoi diseluruh negara."

"Masih ada lagi?"

"Orang gagah dijaman dahulu itu, mana aku dapat mengingat semuanya?"

Menyahut Thian Ya, yang tapinya matanya bersinar, seperti ia memikir sesuatu, tetapi ia mencegah sendiri untuk menyebutnya.

"Yang ketiga itu ialah In Bu Yang ini!"

Menambahkan si nona. Ia memandang sianak muda, tetapi anak muda ini tidak mengutarakan sesuatu sikap, nampaknya ia sudah tahu, tapi sengaja ia menghendaki si nona yang menyebutkannya.

"Pada 20 tahun yang lalu itu Thio Su Seng telah bertempur sama Kaisar Hong Bu disungai Tiangkang, dia kalah dan kena ditawan, di itu hari juga dia tenggelam mati disungai itu, akan tetapi orang2 bawahannya yang dapat lolos bukan sedikit jumlahnya, bahkan puteranya yang terbakar telah dapat ditolongi Cio Thian Tok itu. Selama 10 tahun yang belakangan ini, orang2 bawahannya Thio Su Seng itu pada hidup sembunyi dan menyendiri, dengan diam2 mereka berusaha untuk bangun pula. Tentang asal-usulnya Hian Ki, belum pernah dia memberitahukannya kepadaku, tetapi aku tahu dialah turunan dari salah seorang bawahannya Thio Su Seng itu."

"Jikalau demikian adanya, sudah selayaknya Hian Ki memanggil paman kepada In Bu Yang, Kenapa dia hendak membinasakan In Bu Yang itu?"

"Kabarnya itu disebabkan In Bu Yang sudah mendurhakai kepada tuannya untuk mendapatkan pangkat tinggi, maka itu Hian Ki mendapat tugas dari yang lain2nya untuk membinasakan dia, bahkan tak dapat tidak, dia mesti membunuhnya. Hanya mengenai penjelasannya, aku tidak mendapat tahu."

Siangkoan Thian Ya tertawa terbahak.

"Jikalau benar demikian halnya, apabila In Bu Yang sampai terbinasa terbunuh, dia pasti mati tak puas!"

Katanya.

"Mengapa begitu eh?"

Bertanya si nona.

"Isteri pertama dari In Bu Yang itu justeru telah terbinasa dalam peperangan disungai Tiangkang itu. Maka kenapa dia bisa berbalik menunjang kaisar yang sekarang ini?"

"Kenapa kau ketahui itu?"

"Sebab isteri yang kedua dari In Bu Yang itu ialah bibi guruku...."

"Bagaimana? Kau jadinya murid dari Butong Pay?"

Tanya si nona heran.

"Kenapa tak pernah kau memberitahukannya? Bahkan belum pernah aku menyaksikan kau menjalankan ilmu silat Butong Pay itu?"

Didalam cuaca samar2 malam itu, kedua matanya Siangkoan Thian Ya bersinar tajam, bibirnya pun telah bergerak akan tetapi dia tidak mengatakan sesuatu.

Isteri kedua dari In Bu Yang itu, dengan siapa Bu Yang menikah, setelah kebinasaannya isterinya yang pertama adalah puterinya Bouw Tok It yang menjadi Ciangbunjin, ahli waris yang memegang pimpinan partai Butong Pay, yang semasa hidupnya dikenal sebagai ahli silat pedang nomor satu.

Memang benar Siangkoan Thian Ya memanggil dia sukouw (bibi guru), karena mana, Bouw Tok It itu ialah kakek gurunya (sucouw).

Hanya selama beberapa tahun Un Lan mengenal Thian Ya, pemuda ini belum pernah mengasih lihat ilmu silat pedangnya, ilmu silat pedang Butong Pay itu, baru sekarang secara tiba2 dia menyebutnya.

Maka mau atau tidak, si noana menjadi heran.

Siangkoan Thian Ya pun terbenam dalam ke-ragu2an, beberapa kali dia hendak membuka mulutnya, tetapi senantiasa gagal.

Hanya berselang sekian lama, barulah sambil tertawa menyeringai ia berkata juga.

"Aku baru mempelajari kulit atau bulunya ilmu silat pedang Butong Pay itu, maka itu cara bagaimana aku berani petentang petenteng dimuka orang banyak? Tidakkah dengan begitu aku akan dapat membuat malu rumah perguruanku itu?"

Un Lan cerdas sekali, walaupun orang mengatakan demikian, ia dapat melihat pemuda didepannya ini niscaya mempunyai kesulitan yang tak dapat dia jelaskan. Maka berpikirlah ia.

"Biasanya Siangkoan Thian Ya belum pernah tak memberitahukan aku segala apa, kenapa sekarang, didalam urusan ini, dia hendak menutupinya? Adakah urusan itu demikian besar hingga mesti dirahasiakan?"

Nona ini merasa heran, dari itu meskipun ia tidak menanyakannya pula, herannya itu menjadi ber-tambah2. Sang malam merayap terus, sebentar lagi muncullah si Puteri Malam.

"Hian Ki terluka parah, diwaktu malam sunyi begini dia berada ditanah pegunungan ini, siapakah yang nanti menolong dia?"

Berkata si noana menghela napas.

Dimana cahaya rembulan menyinari wajah mereka, Un Lan heran menampak muka Thian Ya pucat mendadak, sedang kedua matanya dipentang lebar2, pada kedua mata itu bagaikan hendak mengalir air mata darah....

Tanpa merasa, nona ini menggigil sendirinya.

"Aku tidak menyesalkan kau, aku hanya berkuatir untuk Hian Ki,"

Katanya menjelaskan, suaranya perlahan. Siangkoan Thian Ya tidak menyahuti si noana, sebaliknya dia bertanya.

"Barusan kau berkata Hian Ki hendak membunuh In Bu Yang, tahukah kau In Bu Yang itu berada dimana?"

"Katanya dia berada digunung Holan-san didepan ini,"

Menyahut si nona. Baru si nona berkata atau Siangkoan Thian Ya sudah berlompat berjingkrak.

"Adik Lan, jangan kuatir!"

Serunya.

"Jikalau aku tidak dapat mencari Hian Ki, untuk se-lama2nya tak nanti aku kembali!"

Hanya sejenak itu dia sudah ber-lari2 mendaki gunung, gesitnya bagaikan seekor kera, hingga dilain saat lenyaplah tubuhnya diantara pepohonan yang gelap, juga dengan sang malamnya.

Hendak Un Lan menyusul, akan tetapi ia telah terlambat.

Sang Puteri Malam bersinar cemerlang, akan tetapi tanah pegunungan itu sunyi senyap, maka itu berada sendirian,Un Lan menjadi kesepian.

Hian Ki sudah pergi, Thian Ya juga, tinggallah ia seorang diri.

Bukankah kudanya pun telah terbinasa?

Maka itu, gunung itu dengan lembahnya yang diam, bukankah menakutkan?

Dengan samar2 Un Lan masih dapat melihat tapak kaki kudanya Hian Ki.

"Hian Ki, Hian Ki, kau dimanakah?"

Ia menanya, matanya mendelong mengawasi tapak kuda itu, kau tunggu aku....

Ia ketahui kuda Hian Ki kuda pilihan hanya tak tahu ia kuda itu sudah kabur kemana, tetapi walaupun demikian, ia lantas membuka tindakannya, untuk mengikuti tapak kuda itu, mengikuti tanpa harapan....

Hian Ki sendiri telah tiba di suatu tempat yang ia tidak menyangkanya sama sekali.

Ia terluka bukannya enteng, tetapi ia kabur bersama kudanya itu, selagi dibawa lari binatang itu, ia merasakan dadanya sesak dan kepalanya nyeri sekali, maka sebentar kemudian, gelaplah pikirannya, lenyap kesadarannya, sebagai gantinya timbullah hayalnya.

Ia menjadi ingat saat gurunya menyuguhkan ia arak untuk memberi selamat jalan padanya, kupingnya seperti mendengar nyanyiannya nona Un Lan, si nona yang seperti terus mengintil dibelakangnya.

"Tidak, aku tidak boleh mati, tidak boleh mati!"

Kemudian ia kata dalam hatinya.

Se-konyong2, ia mendengar suara kuda meringkik keras, lalu tubuhnya seperti terlempar, jauh berlaksa tombak didalam awan, terlempar turun kejurang yang dalam sekali, atau mendadak ia merasakan hawa yang dingin luar biasa.

Kiranya kudanya telah tersandung dan ia terdampar kedalam jurang, Dalam keadaan tak sadar itu Hian Ki merasakan tangan yang halus dari satu nona mengurut-urut dadanya.

Adakah dia nona Un Lan?

Tak tahulah ia!

Ingin ia membuka matanya, untuk melihat tegas, tetapi tak dapat, matanya itu tak sudi mengikuti keinginannya.

Ia merasa dalam hawa yang sangat dingin itu, hatinya menjadi hangat, ia merasa sangat nyaman, maka tak lama kemudian, pulaslah ia dengan nyenyaknya.

II.

KITAB ILMU PEDANG Entah berapa lama sudah lewat, mendadak Hian Ki seperti mendusin dari mimpinya yang buruk dan hebat, dia seperti dibawa terbang kudanya berlaksa li, dia bertempur dahsyat digunung belukar dimalam hari, lalu ia ingat kejadian atas dirinya, Ia menggeraki tubuhnya, untuk berbalik.

"Ha, aku berada dimana?"

Tanyanya seorang diri.

"Mana Siangkoan Thian Ya? Mana Un Lan? Mana kudaku? Eh, tempat ini tempat apakah?"

Ia terbenam dalam keheranan, matanya mengawasi kearah jendela, disana terasa angin halus mendesir masuk, hidungnya membaui bau yang harum halus, hatinya menjadi lapang.

Karena ia merasakan nyaman itu, tiba2 ia berbangkit untuk duduk.

"Hei, mengapa aku telah kembali kerumahku?"

Ia berseru seorang diri tanpa ia merasa.

Inilah sungguh diluar dugaan.

Ia me-ngucak2 kedua matanya, ia pun menggigit jari tangannya sendiri.

Bukan, ia bukan tengah bermimpi!

Ia ingat baik sekali bahwa ia telah tiba digunung Holan-san, dikaki gunung, yang terpisah dari rumahnya ribuan li.

Mustahilkah ia telah ketiduran hingga seratus hari?

Bahwa tengah pulas orang sudah mengangkatnya, menggotong ia pulang kerumahnya?

Atau, mustahillah didalam dunia ini ada dewa, yang telah menggunakan ilmunya membikin ciut bumi, hingga dari kaki gunung Holan-san, ia telah dibawa pulang kekampung halamannya di Sucoan Utara?

Tidak, itulah tak dapat terjadi!

Toh ia bukannya lagi bermimpi!, Jendela didepannya itu menghadap ke Selatan, jendela itu tertutup dengan kaca, diluar jendela berbayang pohon bwee.

Semua itu, berikut lemari buku didalam kamarnya ini....ia ingat, adalah kamar tulisnya sendiri.....Ketika itu terdengar tindakan kaki diluar kamar, tidak ayal lagi, pemuda ini bergerak untuk turun dari pembaringan.

"Ibu!"

Ia memanggil keras.

Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa geli, lalu tertampak seorang nona menyingkap layar bertindak masuk.

Dialah seorang nona dengan alis lengkung bagaikan bulan sisir, mulutnya kecil mungil seperti buah engtho, dan disorot matahari pagi itu, mukanya yang potongan telur bersemu dadu cemerlang, hingga jelaslah kecantikan dan kesegarannya.

Hanya pada wajah itu nampak roman ke-kanak2kan.

Heran Hian Ki hingga ia berdiri tercengang.

"Bagus!"

Terdengar si nona membuka mulutnya, memperdengarkan suara yang halus.

"Kau telah dapat turun dari pembaringan! Bagaimana? Apakah kau kangen akan rumahmu?"

Kembali Hian Ki tercengang.

"Ah, jadinya ini bukan rumahku?"

Pikirnya heran. Nona itu menghampiri dengan tindakan perlahan sekali, hingga terasa hawa mulutnya yang harum wangi, Ia tertawa pula ketika ia berkata lagi.

"Aku lihat kau mem-bawa2 pedang, kau menunggang seekor kuda jempolan, tetapi kiranya kaulah seorang bocah gede, sebab begitu kau sadar kau memangil ibu!"

Hian Ki heran, ia tak mengambil hati kata2 itu.

"Aku mohon bertanya, nona apakah she-mu yang mulia?"

Tanyanya.

"Kenapa aku dapat datang kemari?"

Si nona kembali tertawa.

"Aku justeru hendak menanyakannya kepadamu!"

Sahutnya.

"Kenapa orang telah melukai kau begini hebat? Coba aku tidak menyimpan pel mustajab Siauwyang-Siauwhoan-tan, aku kuatir kau bakal mesti merawat sedikitnya setengah tahun."

"Terima kasih, nona, terima kasih! Aku mohon bertanya, tempat ini tempat apakah?"

"Inilah rumahku. Adakah kau mencelanya buruk?"

Hian Ki mementang lebar kedua matanya, Ia mengawasi kesekitarnya.

Ditembok ada tergantung sebuah pigura yang melukiskan panorama diwaktu malam dimusim rontok disungai Tiangkang, disana nampak si Puteri Malam tergantung diatas sungai, disungai sendiri terlihat empat atau lima buah kapal perang.

Kota pun seperti berlatarkan belakang sungai itu, kotanya besar dan angker.

Di atasnya itu ada seruas syair yang memuji keindahan sungai Tiangkang itu.

Disamping pigura itu pula ada tergantung sebatang pedang, mungkin pedang mustika, sebab romannya luar biasa.

Itulah dua rupa benda yang tak ada didalam kamarnya sendiri.

Maka sekali lagi ia memandang sekelilingan.

Perlengkapan kamar ini ada bagiannya yang tak sama dengan kamarnya, hanya itu jendela kaca, pula luarnya jendela dimana ada pohon bwee.

Bagaimana mirip!

Nona itu tertawa mengawasi orang yang berdiam bingung seperti si tolol.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Kamar ini indah, mengapa dibuatnya jendela itu?"

Sianak muda bertanya.

Biasanya dulu2, sebuah rumah besar berjendela kecil, dan dipakaikan kaca keluaran Pakkhia, dan itu jarang terlihat kecuali di Kanglam.

Nona itu heran orang menanyakan jendela, Tapi ia tersenyum manis.

"Itulah perlengkapan yang dibuat ayahku,"

Sahutnya.

Sambil berpegangan pada tembok, Hian Ki menghampiri jendela itu, perlahan tindakannya.

Ketika itu diluar jendela, bunga bwee tengah mekar, baunya harum.

Tanpa merasa, Hian Ki berkata perlahan.

"Membuka jendela menyambut matahari pagi, menggulung layar mencium bau harum, dimana telah berada pekarangan penuh dengan bunga bwee, sudah seharusnya diadakannya jendela ini...."

Mendengar itu, si nona melengak.

"Ah,"

Serunya perlahan,"nyatalah kegemaranmu sama dengan kegemaran ayahku.

Ayah pun mengatakannya, lebih banyak jendela dibuka, supaya sinar matahari tembus kedalam, hingga harum bunga memenuhi kamar, itu membuatnya pikiran orang nyaman dan terbuka."

Hian Ki pun heran.

"Tapi itulah bukan kegemaranku belaka, itulah...."

Katanya.

"Bagaimana?"

Si nona memotong.

"Kamarmu ini tak beda banyak dengan kamarku,"

Menerangkan sianak muda.

"Hanya kamarku itu adalah ibuku yang mengaturnya."

Kelihatan nona itu sangat ketarik hati dan kagum.

"Kau mempunyai ibu seperti ibumu itu, sungguh kau beruntung!"

Hian Ki dan ibunya memang sangat saling menyayangi, maka itu senang ia mendengar pujian si nona.

"Juga ilmu silatku ada ajarannya ibuku itu."

Katanya tersenyum.

"Hanya sayang ibuku sendiri, selama sepuluh tahun, ia selalu menyekap diri didalam kamar,"

Berkata si nona tanpa diminta.

"Didalam satu tahun, cuma beberapa hari saja ia mendapat lihat matahari...."

"Oh, kiranya peebo berada dirumah,"

Kata Hian Ki, agak terperanjat.

"Aku masih belum menemuinya...."

"Kesehatan ibuku buruk, seluruh tahun ia berdiam saja merawat dirinya didalamm kamar,"

Berkata pula si nona.

"sekalipun pintu depan, tak suka ia pergi melintasinya, maka itu jangan dikata pula untuk menemui tetamu."

Hian Ki melihat kening orang dikerutkan, ia menyesal dengan kata2nya itu. Maka Syukurlah untuknya, sejenak kemudian kembali si nona dapat tersenyum.

"Kiranya ilmu silatmu ada ajarannya ibumu,"

Katanya.

"Bagaimana dengan ayahmu?"

Wajahnya Hian Ki menjadi guram.

"Ayahku telah menutup mata sebelum aku dilahirkan,"

Sahutnya berduka.

"Ah!"

Berseru si nona tertahan, terus ia berdiam. Hian Ki tak dapat melenyapkan keheranannya.

"Aku Tan Hian Ki,"

Katanya memperkenalkan diri.

"Boleh aku menanya she yang mulia dari nona? Adakah ayah nona dirumah?"

Ditanya begitu, sebaliknya si nona tertawa.

"Aku tidak mengharap balasan budimu, mengapakah kau menanya tak habis-habisnya?"

Tanyanya, manis.

Parasnya Hian Ki menjadi merah, ia likat.

Memang aneh akan menanyakan she atau namanya, seorang nona yang baru dikenal.

Ia menanya saking hatinya tertarik sangat oleh gerak gerik nona itu.

Tidak disangka, ia ketemu batunya....

Nona itu mengangkat kepalanya melihat matahari.

"Kau telah tidur nyenyak satu malam, sekarang tentulah kau lapar,"

Katanya kemudian.

"Kau tunggu sebentar."

Ia tertawa, terus ia menyingkap layar untuk bertindak pergi, Hanya tiba diambang pintu, ia berpaling.

"Baiklah aku beritahu padamu, aku she In,"

Katanya perlahan. Hati Hian Ki tercekat.

"She In,"

Katanya didalam hatinya itu.

"Mustahilkah?...."

Tapi segera ia mengubah pikirannya, Ia berpikir pula.

"Dikolong langit ini tidak sedikit orang she In, tidak nanti terjadi peristiwa sangat kebetulan seperti ini...."

Sendirinya ia menghibur diri, tetapi tetap ia masgul, tidak tenang pikirannya. Ia lalu mencoba mengerak-geraki tangan dan kakinya, Senang hatinya. Ia dapat bergerak dengan merdeka.

"Pukulannya Siangkoan Thian Ya berat, tetapi obatnya si nona begini mujarab,"

Pikirnya pula.

"Mungkin dia dari keluarga ilmu persilatan."

Ia mengangkat kepalanya, memandang ketembok, Terlihat itu pedang yang luar biasa, tak kuat ia menahan kehendak hatinya, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil turun senjata itu.

Iapun menghunusnya, maka tampaklah sinar pedang dalam mana samar-samar terbenam cahaya kehijau2an.

Itulah benar suatu pedang yang istimewa.

Hian Ki adalah seorang ahli untuk alat-alat senjata, Maka tercengganglah dia.

"Nona ini sangat mempercayai aku,"

Pikirnya pula.

"Enak saja ia menggantung pedangnya disini, tidak kuatir ia nanti aku mencurinya."

Ia menunduk, akan mengawasi seksama pedang itu, Digagang pedang ada ukiran dua huruf kuno yang luar biasa, terlihat mana, anak muda ini lantas merasa ia bagaikan terbenam didalam kabut....

Huruf kuno itu adalah yang dinamakan huruf model Ciongteng, huruf semacam itu ia pernah melihatnya dalam kumpulan kitab syair kakek luarnya.

Adalah ibunya yang membacakan, mengajari ia, maka tahulah ia sekarang, pedang ini ialah pedang Kungo-kiam, benar2 sebuah benda kuno.

Kakek luar dari Hian Ki tidak mempunyai anak laki2, maka juga semenjak dilahirkannya, Hian Ki dipandang sebagai anaknya, untuk menurunkan she keluarga, dari itu ia memakai she ibunya yaitu she Tan.

Kakek luarnya itu bernama Teng Hong, seorang penyair kenamaan diakhir kerajaan Goan (Mongolia), tetapi berbareng pun pandai silat, hingga karenanya dia dijuluki Bulim Siangcoat, artinya seorang Rimba Persilatan yang sempurna, bunbu-coancay (pandai surat dan silat).

Didalam sebuah syairnya pun pernah ia melukiskan tentang pedang ini.

Karena syair itu, pedang ini seperti juga ada milik kakeknya itu, hal mana pernah ia menanyakan ibunya, apakah ibu pernah melihat Kungo-kiam, pedang itu, hanya jawaban dari sang ibu adalah menyimpang, seperti disengaja, sedang waktu itu, wajah ibu itu agaknya berduka.

Soal ini membuatnya Hian Ki sangat tidak mengerti, sia2 belaka ia memikirkannya, siapa sangka disini justeru ia menemukan Kungo-kiam.

Adakah pedang ini pedang kakeknya itu atau keluarga In mendapatnya dari lain orang?

Keras Hian Ki memikirkannya.

Ia tidak memperoleh jawaban sampai ia mendengar tindakan kaki mendatangi.

Lekas sekali ia menggantunkannya kembali pedang itu ditempatnya.

Segera terlihat si nona muncul dengan penampan dikedua tangan, diatas itu ada bubur yang asapnya masih me-ngepul2 serta dua rupa sayurnya.

"Kau baru saja sembuh, mari makan bubur!"

Berkata si nona, manis.

"Eh, kau tengah memikirkan apakah?"

Ia heran melihat orang seperti tercengang, maka ia mengikuti pandangan mata sianak muda, Maka tahulah ia apa sebabnya itu. Tiba-tiba saja ia tertawa riang.

"Ah, kiranya kau penuju pedangku!"

Katanya. Merah muka dan kupingnya Hian Ki.

"aku lihat pedang itu luar biasa,"

Ia mengaku, perlahan.

"Bagaimana ?"

"Agaknya itulah sebilah pedang kuno...."

"Benar, Menurut ayahku, inilah pedang pembuatannya Auw Ya Cu dijaman Cian Kok, jaman Perang Antar Negara, Sungguh matamu tajam!"

"Adakah pedang ini pedang turunan keluargamu, nona?"

Si nona tertawa pula dengan manis.

"Itulah seharusnya!"

Sahutnya.

"kalau tidak, masakah pedang ini digantung disini? Itulah mustikanya ayahku, biasanya tidak pernah ia mengijinkannya lain orang untuk merabahnya saja. Barulah pada suatu hari dari bulan yang baru silam, hari ulang tahunku yang ke-18, ia mewariskannya padaku."

Habis mengucap, paras si nona merah sendiri, Ia menyesal sendirinya, hingga ia menjadi jengah karenanya, sebab ia telah kelepasan memberitahukan usianya tanpa diminta!

"Jikalau begitu, nona pastilah seorang ahli silat,"

Kata Hian Ki tanpa memperdulikan si nona.

"Apakah artinya ahli?"

Menyahut si nona, kembali ia dapat tertawa sekarang.

"Ayahku mengatakan aku belum dapat mewariskan tiga bagian saja."

Mendapatkan orang demikian polos, hatinya Hian Ki menjadi besar.

"Nona terlalu sungkan,"

Katanya.

"Sudikah nona membuka kedua mataku?"

"Kau melebihi aku sepuluh kali lipat, cara bagaimana aku berani membuat diri malu didepanmu?"

Katanya tertawa. Hian Ki memperlihatkan roman heran.

"Kapannya kau pernah meliaht aku bersilat?"

Tanyanya.

"Kau terluka parah, bukankah? Tapi kau dapat sembuh hanya dalam sehari semalam. Memang harus dibilang pil Siauwyang-siauwhoan-tan mujarab sekali, akan tetapi apabila itu tak dibantu oleh tenaga dalam yang mahir, yang telah ada dasarnya, tak nanti kesembuhannya begini cepat. Menurut pandanganku, kepandaian kau sudah tak beda jauh dari pada kepandaian ayahku. Sayang ayah tengah melancong, jikalau tidak, pastilah kau dapat berunding dengannya."

"Walaupun benar aku tidak berjodoh bertemu dengan ayah nona, dengan mendengar katamu saja, tahulah aku bahwa ayahmu itu seorang ahli silat, Karena itu aku minta sukalah kau memberi petunjuk padaku."

Nona itu tertawa.

"Aku belum berpengalaman,"

Ia mengaku.

"aku cuma tahu ayahku sendiri yang mengerti ilmu silat dan memujinya, Sungguh aku akan membuatnya kau mentertawainya. Aku tidak dapat menyuguhkan masakan yang enak untukmu, baiklah aku memainkan sejurus ilmu pedang padamu, hanya aku harap sudilah kau nanti, memberi petunjuk padaku...."

Hian Ki girang sekali.

"Nona, sangat girang aku akan mendapat menyaksikan kepandaian kau!"

Ujarnya.

"Ah, kau pandai sekali bicara!"

Kata si nona, yang terus tertawa.

Setelah itu ia menurunkan pedangnya, ia menghunusnya, atau dilain saat ia sudah mulai bersilat.

Tidak saja sinar pedang ber-kilau2, tubuh si nona pun ber-gerak2 dengan lincah menuruti gerak tangannya, kelihatannya ia menikam atau membabat secara wajar, tetapi sebenarnya tikaman dan babatan yang dahsyat.

Bahkan sejenak kemudian, tubuh nona itu bergerak pesat dan cepat sekali, buka lagi lincah hanya sangat gesit, cahaya pedangnya pun berkelebatan kesegala penjuru.

Diam-diam Hian Ki menyedot hawa dingin.

Orang mengatakannya ilmu pedangnya sudah mahir, tetapi kalau ia diadu dengan nona ini, mungkin ia belum dapat menandinginya.

Meski juga usianya masih sangat muda, Hian Ki mengenal baik ilmu silatnya pelbagai partai persilatan, hanya kepandaiannya nona cantik dan manis ini, tak tahu ia bersumber dari partai mana.

Nampaknya itu mirip dengan ilmu silat Butong Pay, akan tetapi kelicahannya melebihi dari apa yang pernah ia saksikan.

Se-konyong2 sambil bersilat itu, si nona bernyanyi.

"Udara kosong penuh dengan asap, jauh di empat penjuru, tahun apakah itu? Di sana, dari langit yang biru, jatuhlah bintang yang panjang! di langit itu terlihat pohon-pohon dari mega. Nona-nona manis di dalam Istana Emas, di sana pula sisa-siasa istana raja jago. Panah yang ampuh menembus angin, memanah mata, cipratan airnya pedang membasahkan bunga, Sang suasana membuatnya sepasang burung wanyoh memperdengarkan suaranya. Di lorong maka daun-daun pohon membuatnya suara dari musim rontok. Di dalam keraton, raja Gouw tenggelam dalam mabuk araknya, dan telaga Tay ouw menyebabkan tetamu yang berpesiar menjadi kantuk. Seorang diri memancing ikan di lembah Seng-Seng, menegur gelombang tak dijawab, Rambut indah bagaikan gunung hijau, air dalam, ranggon tinggi menjulang udara. Mengantar sang gagak terbang pulang di waktu matahari turun. Ber-ulang2 meminta arak, mendaki panggung musik di mana musim rontok dan sang mega ada berserta."

Hian Ki berdiam mendengar nyanyian itu diantara bayangan pedang, Ia teringat kepada Raja Gouw dijaman Cian Kok, yang mabuk arak hingga lupa daratan.

Atau adakah itu dimaksudkan Cu Goan Ciang yang memperebutkan negara terhadap Thio Su Seng yang mengangkat diri menjadi raja di Souwciu?

Tapi, kapan ia memandang pigura yang tergantung ditembok yang melukiskan rembulan dimusim rontok disungai Tiangkang, maka mulutnya yang telah dibuka dirapatkan pula, batal ia berbicara.

Sampai disitu, berhentilah si nona bersilat.

Ia tertawa dan bertanya, bagaimana dengan nyanyiannya itu, yang menjadi syairnya Gouw Bun Eng dari negara Song Selatan.

Ditanya begitu, mukanya Hian Ki bersemu merah.

Sedikit sekali ia membaca kitab syair, ia sampai tak ingat akan penyair yang kenamaan itu.

"Nona ini me-nyebut2 syair tua tetapi suasana dari itu mirip dengan suasana jaman sekarang, adakah karena ia sengaja atau bukan menyebutkannya itu? Kalau ia sengaja menanya aku, benar2 ia cerdas sekali...."

Demikian pikirnya, Maka ia mencoba mengendalikan diri untuk tidak mengutarakan sesuatu. Si nona lagi-lagi tertawa.

"Aku telah membawakan bubur untukmu, aku pun sudah bersilat, tetapi kau, sumpit pun kau tidak menyentuhnya satu kali juga!"

Katanya. Ditegur begitu, Hian Ki tertawa.

"Hebat ilmu silatmu nona, hingga aku lupa segala apa!' ia memuji. Ia lantas menduduki kepala, untuk memegang sumpitnya, Ia mulai bersantap, ia merasakan santapan cara propinsi Sucoan, sederhana tetapi lezat. Maka heranlah dia, Gunung Holan-san ini jauh di Lenghee, terpisahnya dari Sucoan beberapa ribu li, mengapa sekarang disini ia dapat makan masakan Sucoan itu? Dan yang terlebih aneh lagi, itulah dua rupa sayur yang ia gemari semenjak ia masih kecil, Mau atau tidak, ia menjadi menjublak pula.

"Bagaimana, eh?"

Si nona tanya, tertawa.

"Apakah masakannya tidak enak?"

Hian Ki menyumpit pula, ia menggayam.

"Enak sekali!"

Serunya.

"Inilah masakan seperti masakan ibuku!"

Wajah si nona menjadi merah.

"Inilah masakanku sendiri,"

Berkata ia.

"Mengapa kau menjadi ingat ibumu? Hayolah dahar, buburnya nanti keburu dingin!"

Bubur itu wangi, masakannya daging campur sayur yang lezat, maka terbangunlah napsu daharnya, maka ia menghajar habislah tiga mangkok bubur! Si nona memandangi orang bersantap.

"Telah lama kau rebah diselokan gunung, sekarang kau baru sembuh, baiklah kau minum secawan arak untuk menghidupkan darahmu,"

Katanya pula. Dan dari poci arak yang berukiran, ia menuangi araknya, ia menyodorkan itu pada sianak muda didepannya. Hian Ki tidak pandai minum arak, tetapi ia teguk itu hingga habis.

"Arak begini sedap, kalau karenanya orang mati karena mabuk, dia mati rela!"

Katanya tertawa. Nona itu menutup mulutnya sendiri untuk mencegah tertawanya, Hian Ki menjadi heran sekali, ia pun lalu merasakan apa-apa yang luar biasa.

"Kau....kau....eh, apakah artinya ini?"

Katanya tak lancar, sebab ia segera merasakan lemas seluruh tubuhnya, ia menjadi ingin tidur saja, beberapa kali ia menguap, ia merasakan lidahnya pun rada kaku....

Nona itu mengulur tangannya, ia mendorong dengan perlahan, tetapi sianak muda....

"Bruk!"

Ddan robohlah dia keatas pembaringannya, ia agaknya kaget tetapi kedua matanya terus meram tertutup, lapat2 ia mendengar tindakan kaki berlalu meninggalkan kamarnya itu, samar2 ia mendengar si nona tertawa dan berkata.

"Kau pikir terlalu banyak, maka itu kau tidurlah biar nyenyak!...."

Hian Ki benar2 tidur pulas dan baru sadar sesudah mahgrib, Ia masih dalam keadaan samar2.

Ia melihat sang rembulan diatas pohon bunga bwee, ia mendapatkan asap dupa melayang2 didalam kamarnya itu.

Dimeja kecil dikepala pembaringan ada tersedia sebuah teko-an teh yang teh-nya masih panas.

Ia heran, karena ia masih tetap dikamarnya yang luar biasa itu, Ia mencoba bernapas, ia tidak merasakan sesuatu yang menghalanginya, ia bahkan merasa lebih segar dari pada siang tadi.

Tiba-tiba saja ia dapat mengerti, maka bersyukurlah ia terhadap si nona.

"Siapa nyana nona ini pun mengerti ilmu pertabiban,"

Katanya dalam hati.

"Ia melihat aku berpikir banyak, ia kuatir kesehatanku tak pulih seperti sediakala, ia memberikan aku arak obat, obat yang mujarab sekali.... Ah, akulah yang keliru, tadinya aku menyangka ia meracuni aku.... Tengah pemuda ini berpikir itu, ia dapat mendengar tindakan kaki diluar kamar. Lantas saja ia menduga kepada si nona, maka hendak ia lekas berbangkit untuk menyambut, atau mendadak ia merandak. Ia mendapat kenyataan tindakan itu bukannya dari seseorang. Dengan cepat ia mengintai dari jendela. Disana ia melihat bayangan dari dua tubuh yang besar. Segera juga ia mendengar suara tertawa dari satu orang, yang terus ber-kata2.

"Saudara Bu Yang, tempatmu ini benar2 mirip dengan tempat dewa, pantas kau kerasan tinggal disini belasan tahun, tak pernah kau turun gunung, Sebaliknya aku, masih muncang mancing saja diantara angin dan debu, dibandingkan dengan kau, aku seperti ketinggalan jauh beberapa li!"

Orang itu bicara dengan perlahan, tetapi dikupingnya Hian Ki terdengarnya bagaikan guntur menggelegar, karena satu diantara mereka itu adalah In Bu Yang, orang yang ia satroni untuk dibunuhnya.

Tidakkah dia dipanggil 'Saudara Bu Yang'?

Maka teranglah sudah, rumah ini rumah In Bu Yang si musuh!

Lalu ia mendengar suara jawaban, suara seperti dari seorang tua;

"Selama belasan tahun ini, aku tidak memperoleh kemajuan satu dim juga, maka itu cara bagaimana aku dapat dibandingkan dengan kau, saudara, yang telah membantu menunjang seorang raja yang bijaksana, hingga kau berulangkali mendirikan jasa besar?"

Hian Ki berpikir keras, Tahulah ia sekarang, In Bu Yang ini benar telah mendurhakai kepada junjungannya yang lama, bukankah dia bersahabat erat dengan orangnya pemerintah?

Hanya belum tahu ia , siapa itu yang seorang lagi.

Sementara itu terlihat sinarnya api diluar jendela, sebab itulah si nona yang muncul dengan sebuah lentera ditangannya.

"Ayah baru pulang!"

Sambutnya.

"Ya, aku pulang lambat sekali,"

Menyahut sang ayah.

"Inilah paman Lo, Tayjin Lo Kim Hong yang sekarang menjadi Kimi-wi Congcihui, Komandan utama dari pasukan pengawal Sri Baginda Raja."

Si nona agaknya tak mengerti apa itu Kimi-wi pasukan pengawal raja, ia cuma memberi hormat secara wajar saja, Sebaliknya Hian Ki, kembali ia berpikir keras, Ia kenal Lo Kim Hong ini, sebab dialah jago kelas satu dibawahan Cu Goan Ciang, Selama peperangan disungai Tiangkang, Lo Kim Hong inilah yang dapat membekuk Thio Su Seng, Karena jasa ini yang besar, sekarang ia menanjak kedudukan komandan utama dari Kimi-wi, sebuah pasukan yang tugasnya teristimewa, membekuk segala musuh negara, Maka sesaat itu bergolaklah darahnya, ia bergusar berbareng cemas hati, bukankah ia berada diantara musuhnya dan musuh yang tangguh pula?

Ketika pertama kali Hian Ki menerima tugas untuk membinasakan In Bu Yang, ia sudah ketahui Bu Yang sangat lihay, maka itu tidak pernah ia memikir untuk pulang hidup, setelah menyaksikan ilmu pedangnya anak dara orang, ia semakin menginsafi mala petaka yang mengancam dirinya, Bukankah telah terbukti, ilmu kepandaiannya Bu Yang ada berlipat ganda melebihi ia?

Bahkan sekarang In Bu Yang berada bersama seorang jago kelas satu dari istana kaisar.

Disamping segala itu, yang membuat Hian Ki sangat bergelisah ialah itu kenyataan Bu Yang adalah ayah si nona cantik manis, yang lemah lembut itu, yang telah menolong jiwanya, Dapatkah ia turun tangan terhadap ayahnya nona itu?

"Siapa itu dikamar tulis?"

Tiba2 Hian Ki mendengar pertanyaannya Bu Yang, selagi ia bagaikan melamun, Ia berjingkrak, tangannya diulur kebantal kepalanya dibawah mana ia menyimpan pedangnya.

"Dialah seorang pemuda yang mendapat luka parah."

Demikian ia mendengar jawaban si nona.

"Dia terjatuh kedalam selokan, tidak ada orang yang menolonginya, maka itu anakmu telah membawanya pulang."

"Orang muda macam apakah dia itu?"

Terdengar pula Bu Yang.

"kenapa dia terluka?"

"Dia telas pulas satu hari satu malam, baru saja dia mendusin, maka itu anakmu belum sempat menanyakan keterangannya,"

Si nona menjawab pula.

"Ah, So So, kau membuat berabeh dirimu!"

Menyesali si ayah. Baru sekarang Hian Ki ketahui bahwa nama si nona adalah So So.

"Satu nama yang bagus sekali!"

Pujinya dalam hati.

"Ayah,"

Ia mendengar pula si nona, agaknya dia penasaran, sebagaimana itu terbukti dari nada suaranya.

"bukankah kau setiap hari telah mengatakan kepadaku tentang per-buatan2 mulia menolongi orang? Didepan mata kita ada seorang asing, pula dia terluka parah, apakah kita harus membiarkannya saja?"

"Tetapi tak usahlah sampai dia ditempatkan dikamar tulis,"

Berkata sang ayah.

"Mama takut suara berisik, apakah dia mesti ditempatkan diruang dalam?"

Sang anak menanya.

"Sebernarnya dia terluka apa?"

Tanya Bu Yang, menyampingi puterinya itu.

"Kelihatannya dia terkena pukulan tenaga dalam."

"Kalau begitu, mengapa dia dapat sembuh hanya dalam sehari semalam?"

"Anak telah memberikan dia tiga butir pil Siauwyangsiauwhoan-tan,"

Menerangkan si nona.

"Dan tadi, se-sadarnya dia, anakpun memberikan dia minum secawan arak Kenghoa-Thianhio-Hweeyang-ciu buatan ayah, Mungkin hingga sekarang dia masih belum mendusin dari tidurnya..."

"Apa? Kau memberikannya itu pil yang aku dapat minta dari Siang Kwi Taysu?"

Tanya si ayah terperanjat.

"Aku dapat minta hanya enam butir, sekarang kau memberikannya separuhnya! Dan itu arak Hweeyang-ciu, aku membuatnya setelah membuang tempo lima tahun, tahukah kau?"

"Aku tahu itu, ayah,"

Sang anak menyahuti.

"Apakah ayah menyesali aku?"

Nona ini nampaknya manja sekali. Hian Ki tidak melihat gerah gerih orang, tetapi ia dapat membayangi itu, Ia menjadi cemas hati.

"Si nona tidak kenal aku, tetapi dia ada begitu mulia, dan telah menolongi secara sungguh2 padaku,"

Katanya dalam hatinya.

Memang aneh jalannya urusan didalam dunia ini, Un Lan sangat menyinta dia, menyinta seperti panasnya api, hatinya tidak bergerak, tetapi sekarang, baru pertama kali ini, ia bertemu dengan So So, segera ia kena terpengaruh....Hian Ki lantas juga mendengar tertawanya Bu Yang.

"Baiklah,"

Barkata ayah itu.

"kalau besok dia sudah bangun, hendak aku berbicara dengannya, hendak aku mencari tahu tentang ilmu silatnya, ingin aku melihat apa benar2 dia berharga diberikan tiga butir pil mustajab."

In Bu Yang menyebutnya 'besok,' karena ia ketahui baik sekali, siapa minum arak Kenghoa Thianhio Hweeyang-ciu, dia mesti tidur selama sehari semalam, Ia tidak menyangka, sempurna sekali tenaga dalam dari Hian Ki, sejak makan obat, dia telah sembuh, dari itu, dia cuma tidur seharian sudah mendusin.

Hian Ki terbenam dalam kebimbangan, Baikkah malam itu ia bokong In Bu Yang, untuk membinasakan padana, atau ia harus mengangkat kaki, menyingkir secara diam2?

Ia berpikir tanpa ada keputusannya, ia terus beragu-ragu.

"Bagaimana dengan ibumu selama beberapa hari ini?"

Kemudian terdengar In Bu Yang menanya pula.

"Ibu bilang makan obatpun sama saja,"

Menyahut sang anak.

"Pada dua hari yang pertama, ia telah minum setengah mangkok, habis itu melarang aku memasaknya pula, Ayah, mengapa penyakit ibu tak sembuh2?"

"Apakah enso kurang sehat?"

Lo Kim Hong menyelak.

"Ia sakit tetapi bukanna sakit berat, ia melainkan sering merasakan kepalanya pusing, hingga ia tidak suka ber-jalan2, Eh, So So, pergi kau bilangi ibumu, besok akuakan menjenguk dia."

Hian Ki ada seorang anak berbakti kepada ibunya, mendengar perkataannya Bu Yang itu, ia merasa tertusuk sendirinya.

"Aneh sekali!"

Pikirnya.

"Isterinya sakit, suaminya pulang, tetapi kenapa suami ini tidak lantas melihat isterinya itu? Bukankah tidak pantas? Menurut kabar isterinya In Bu Yang ini adalah puterinya Bouw Tok It ahli waris dari Butong pay, dan pada belasan tahun yang lalu, sebelum orang ketahui Bu Yang berkhianat kepada tuannya yang lama, merekalah suami isteri yang setimpal yang mendapat pujian umum, kenapa sekarang ia ada begini tawar terhadap isterinya itu? Dan aneh pula Nyonya In itu, Benar ia sakit dan tak suka jalan2, tetapi sakitnya itu tidak menyebabkan ia tak dapat bangun dari pembaringannya, kenapa sekarang suaminya pulang ia tidak keluar menyambut?"

Terdengar suara menyahut perlahan dari So So, yang lantas bertindak pergi dengan per-lahan2, dilain pihak, dikaca jendela terlihat lewatnya satu bayangan orang, Sebat sekali, Hian Ki ber-pura2 tidur pulas, matanya dirapatkan hanya untuk mengintai terus.

Dikaca jendela sekarang terlihat wajah cantik dari So So, Malam sunyi, rembulan bercahaya indah, pohon bungan bwee berbayang miring, dan dikaca jendela itu si cantik mengintai kedalam, kepada orang yang tengah tidur....Bagaimana indah pemandangan itu, walau pelukis kenamaan, belum tentu dia dapat melukiskannya...

Si nona terdengar tertawanya yang perlahan;

"Bocah yang baik, kau tidurlah biar nyenyak,"

Katanya, perlahan juga.

"Kau sangat memikirkan rumahmu, baiklah dalam mimpimu kau bertemu dengan ibumu itu, Aku juga hendak pergi pada ibuku."

Hian Ki tertawa didalam hati, karena ia dipanggil 'bocah yang baik,' tetapi hatinya goncang, ketika ia mendengar tindakan kaki orang sudah jauh, hampir ia mau berteriak memanggilnya.

Kata2nya In Bu Yang membuat pemuda ini seperti sadar.

"Saudara Lo, bukannya kau berdiam dikota raja untuk mengicipi kebahagiaanmu, sekarang kau datang menjenguk aku, mungkinkah Sri Baginda menugaskan kau sesuatu yang penting?"

Demikian suara si tuan rumah.

"Saudara mengenal sifat junjungan kita, baiklah aku memberikan keterangan,"

Menjawab Lo Kim Hong.

"Sri Baginda mengangkat saudara dengan Thio Su Seng, sayang Thio Su Seng itu tidak sudi menakluk terhadapnya, Diatas langit tidak ada dua matahari, maka itu, rakyat pun tidak layak mempunyai dua raja, karena ini dengan sangat terpaksa Sri Baginda menghadiahkan kematian kepadanya, Itulah kejadian sangat terpaksa, Tapi sekarang terbukti, banyak orang bawahannya yang tidak puas, Negara aman sentosa, Baginda juga sudah memerintah tiga belas tahun lamanya, meski begitu, mereka itu masih bergerak terus, mereka asyik menantikan ketika untuk turun tangan, Bukankah perbuatan mereka itu perbuatan tidak mengenal selatan ?"

"Memang! Untuk satu keluarga atau satu she, orang memperebutkan negara, itu cuma mencelakai rakyat jelata, Apakah perlunya itu? Aku menginsafi itu, maka juga aku menyingkir kemari, seperti si harimau tua rela mati digunung belukar!"

"Memang benar!"

Hian Ki mengulangi didalam hatinya.

"Untuk satu keluarga atau satu she, orang memperebutkan negara, itu cuma mencelakai rakyat jelata, Apakah perlunya itu?"

Kata2 itu belum pernah Hian Ki mendengar orang mengucapkannya, baru sekarang ia mendengar dari mulutnya In Bu Yang ini, Kata2nya In Bu Yang ini memang beralasan, Maka berpikir pulalah ia.

"Asal In Bu Yang benar rela mati digunung belukar ini sebagai si harimau tua, nah, perlu apa aku membunuhnya?"

Diluar kamar itu terdengar tertawanya Lo Kim Hong si komandan Kimi-wi.

"Kau seorang sadar, saudara , aku kagum terhadapmu,"

Katanya.

"Tetapi mereka itu menentang Sri Baginda, sebelum ancaman bencana itu disingkirkan, mana hati kita menjadi tenang? Saudara lihay ilmu silatnya, mengingat itu pepatah, 'Macan tutul mati meninggalkan kulit, orang mati meninggalkan nama', maka kalau saudara menanti hari akhirmu digunung ini, apakah itu tidak sayang?"

"Sebutan lihay ilmu silatnya, itulah saudara sendiri yang berhak menerimanya,"

Berkata In Bu Yang.

"Aku sendiri, mana aku sanggup? Sri Baginda telah memperoleh bantuan saudara, perlu apa lagi aku sitolol dan bodoh?"

Lo Kim Hong bergelak;

"Saudara, keliru kata2mu ini, kau memandang terlalu asing terhadapku, Karena kota raja tidak ada lain orang lagi, terpaksa aku menerima pangkatku ini, tetapi ini pun untuk sementara waktu, Sebenarnya aku menantikan saudara turun gunung, untuk nanti menyerahkannya padamu."

"Saudara Lo, kau membuat aku malu sendiri, Apakah yang aku dapat lakukan?"

"Orang2 bawajannya Thio Su Seng itu, dalam sepuluh, yang sembilan ada sahabat2 saudara, maka itu Sri Baginda memikir untuk saudara, yang pergi memberi nasihat kepada mereka, agar mereka suka datang menghamba."

"Umpama kata mereka tidak sudi menyerah?"

Kim Hong kembali tertawa;

"Saudara seorang sadar, tak usah aku menjelaskannya lagi! Andaikata saudara masih memberati sahabat2 lama, dan karenanya tak dapat menurunkan tangan sendiri, cukup asal kau memberitahukan aku alamat mereka, Jasa ini tetap ada jasa saudara."

Hati Hian Ki terkesiap.

"Sudah banyak tahun aku hidup menyembunyikan diri digunung ini, mengenai mereka itu aku tak jelas lagi, Sekarang begini saja, Saudara memberi tempo tiga bulan padaku, Selewatnya tiga bulan itu, saudara datang berkunjung pula kerumahku ini, itu waktu nanti aku memberikan jawaban pada saudara."

Kata2 itu dapat diartikan, selama tiga bulan ia bakal mendapat tahu sepak terjangnya orang Thio Su Seng itu, lalu jasanya itu hendak ditukar dengan semacam pangkat tinggi dan mulia, Hian Ki menjadi mendongkol dan gusar sekali, Pikirnya."Kau tidak menyetujui satu keluarga atau she memperebutkan negara, karena itu bolehlah kau menempatkan dirimu diluar garis itu masih bagus untukmu, Tapi kalau kau menyelidiki mereka dan kemudian membuka rahasia, bukankah itu berarti mencelakai banyak orang gagah?"

Terdengar pula Lo Kim Hong tertawa lebar;

"Baiklah, selewatnya tiga bulan, aku bakal datang pula kemari!"

Katanya.

"Disini aku tidak dapat berdiam lama, dari itu ijinkanlah aku mengundurkan diri."

In Bu Yang tidak menahan tamunya itu, yang ia antar hingga diluar, Tidak lama ia sudah kembali, sambil memegangi cabang bungan bwee, ia bersenandung.

"Peperangan itu mendatangkan penasaran, cuma merusak bunga ini"

Dari suaranya itu, nyata hatinya sangat terpengaru mala petaka peperangan.

Hian Ki melengak, tidak dapat menangkap hati orang.

Tidak antara lama terdengarlah daun pintu dibuka, tertolak dari sebelah luar, lalu terdengar tindakan kaki mendatangi, Hian Ki heran hingga ia menanya dirinya sendiri.

"Eh, mengapa Lo Kim Hong balik kembali?"

Ia mengangkat kepalanya, untuk mengintai keluar jendela, Sebentar saja, ia melihat sesosok tubuh manusia, Untuk kagetnya, ia sampai tak mempercayai matanya sendiri.

Yang datang itu ialah Siangkoan Thian Ya!

Juga In Bu Yang agaknya heran, Tapi dianya seorang jago yang berpengalaman, Ia melirik kepada tamunya yang tidak diundang itu, sikapnya tenang, bahkan tawar.

"Siapakah kau tuan?"

Tanyanya.

"Kenapa tengah malam seperti ini tuan datang kemari?"

"Aku Siangkoan Thian Ya,"

Menyahut anak muda itu, suaranya dalam.

"Bouw It Siok menitahkan aku datang kemari menanyakan kesehatan Loocianpwee,"

Bu Yang nampaknya terperanjat, sampai air mukanya berubah.

"Kau masih begini muda, tuan, mengapa kau belajar berdusta?"

Tegurnya, dingin.

"Bukankah Bouw It Siok itu telah meninggal dunia pada bulan delapan yang baru lewat?"

Bouw It Siok itu keponakan satu2nya dari Bouw Tok It, dialah yang menggantikan Tok It, pamannya, menjadi Ciangbunjin dari Butong Pay, Hian Ki heran mendengar perkataan Thian Ya itu.

"Kiranya Thian Ya benar2 murid Butong Pay? Kenapa tadi2nya ia tidak pernah menyebutnya? Dan In Bu Yang ini, lihay kupingnya, Dia berdiam didalam gunung ini, tapi dia ketahui segala apa, Aku sendiri tidak tahu yang Bouw It Siok sudah menutup mata,"

"Benar,"

Menyahut Thian Ya, tetap dingin, Oleh karena guruku itu telah meninggal dunia, maka beranilah aku menerima pesannya yang berupa titah untuk datang kemari, Apakah sukouw (bibi guru), masih sehat walafiat?

Bolehkah aku diperkenankan menghunjuk hormat kepadanya?"

Thian Ya memanggil sukouw, kepada isterinya Bu Yang itu.

"Isteriku itu telah putus hubungannya dengan dunia luar,"

Berkata Bu Yang sambil tertawa dingin.

"maka tak usahlah kau mencapaikan diri untuk menemuinya, Laginya jikalau keluarga Bouw itu ada mempunyai urusan, kenapa Bouw It Siok tidak datang sendiri, disaat ia belum menutup mata?"

Juga Thian Ya tertawa dingin.

"In Loocianpwee,"

Katanya.

"kau tahu tetapi sengaja kau menanyakannya! Guruku almarhum itu, karena mengingat kecintaan kakak dan adik, tak ingin ia datang sendiri untuk meminta pulang kitab ilmu pedangnya, Kitab itu adalah kitab milik Butong Pay, karenanya apakah dapat orang luar yang menyimpannya? Loocianpwee telah meminjam itu lamanya 20 tahun,aku pikir pastilah kau telah hapal se-mua2nya."

"Hm!"

Bu Yang memperdengarkan ejekannya.

"Jadi pesan Bouw It Siok itu menugaskan kau menjadi Ciangbunjin?"

"Thian Ya seorang bodoh, karena dia menerima bidi, kecintaan gurunya, dia tidak dapat menampik,"

Jawab anak muda.

"Setelah mendapatkan kitab silat pedang itu, baru aku akan kembali ke Butong Pay, untuk menerima tugasku itu."

"Hm!"

Kembali Bu Yang, mengejaek.

"Kecuali kau, ada siapa lagi yang mengetahui kitab pedang itu berada ditanganku?"

"Aku sendiri mengetahui itu, baru pada tiga bulan yang silam, setelah aku menerima pesan guruku, Karena memandang muka saudaranya, guru menyimpan urusan ini, selama hampir 20 tahun, Bukankah itu telah cukup sebagai tanda, bahwa ia menghargai kau, Loocianpwee?"

Bu Yang tetap dengan sikapnya yang dingin, Ia tertawa;

"Meskipun kitab itu kitabnya keluarga Bouw, tetapi itu bukan miliknya Butong Pay,"

Ia bilang.

"Kau tahu sendiri, juga gurumu belum pernah melihat kitab itu!"

"Itulah benar,"

Thian Ya mengakui.

"Kitab itu kakek guru yang membuatnya, setelah ia mendapatkan kitabnya Tat Mo Couwsu, lalu ia menciptakan sendiri ilmu silatnya itu, Kakek guruku adalah orang Butong Pay, maka itu, ilmu silat pedang itu digabung dengan ilmu silat pedang Butong Pay itu, adalah maksudnya kakek guru untuk mewariskan ilmu silat pedang itu, kepada murid2 Butong Pay."

"Apakah kau pernah dengar sendiri kata2nya kakek gurumu itu?"

Tanya Bu Yang terus tertawa dingin.

"In Loocianpwee,"

Berkata Thian Ya, menyahuti, kaulah seorang kenamaan dalam Rimba Persilatan, mengapa kau mengeluarkan kata2mu ini, yang merupakan sangkalan?

Mustahilkah benar2 segala apa sudah mati dan menjadi tidak ada saksi atau buktinya?"

Muka Bu Yang menjadi merah.

"Jikalau kau membawa surat wasiat dari mertuaku untuk meminta kitab itu, mungkin aku memberikannya,"

Kata dia, keras.

"Kitab itu milik keluarga Bouw, dan mertuaku itu tidak punya anak laki2, maka sekali It Siok masih hidup, tidak dapat dia datang untuk memperebutkannya,"

Siangkoan Thian Ya tertawa ter-bahak2.

"Kiranya beginilah In Bu Yang, yang pada 20 tahun yang lampau, namanya menggetarkan dunia!"

In Bu Yang menjadi gusar.

"Sekalipun gurumu yang datang kemari, tidak nanti dia berani berlaku kurang ajar begini!"

Katanya sengit, tertawanya dingin.

"kau sendiri makhluk apa. maka kau berani berlaku kurang ajar didepanku?"

Thian Ya tidak takut.

"Memang aku telah memikir, bahwa aku tidak bakal pulang dengan masih bernyawa!"

Katanya.

"Hanya aku khawatir, apa bila kabar kematianku telah tersiar luas, maka Ti Wan Tiangloo dari Butong San, pastilah akan membuka dan membaca surat wasiatku, hingga itu waktu semua orang Butong Pay, akan mendapat tahu duduknya hal yang sebenarnya, Mungkin Butong Pay sendiri tak dapat membuatnya kau jeri, tetapi putusan yang maha adil dari kaum rimba persilatan, pastilah In Loocianpwee tak dapat menerimanya."

Bu Yang terkesiap, tetapi ia tidak suka mengalah kepada anak muda itu, tak sudi ia memparlihatkan kelemahannya.

"Hm!"

Serunya.

"Seumurku, aku siorang she In tidak pernah dipengaruhi orang lain! Jikalau aku tidak melihat usiamu yang masih begini muda, hungga kemajuan dan masa depanmu harus disayangi, pastilah sudah aku membinasakan dirimu! Hm, benar2kah kau menghendaki kitab ilmu pedang itu?"

Kata2 itu menggabung sikap keras dan lunak, Hian Ki menduga Thian Ya bakal tetap berkepala batu, Siapa tahu, ia menduga keliru, Mendadak pemuda itu mengubah lagu suaranya.

"Memang sejak lama aku mengetahui kau ber-cita2 menjagoi dikolong langit ini,"

Demikian katanya,"kau ingin menjadi ahli silat pedang nomor satu! Maka itu mana kau sudi mengembalikan kitab pedang itu!"

Kata2 ini tajam dan telak mengenai jantungnya In Bu Yang.

"Kau telah mengetahui, habis perlu apa kau datang juga kemari?"

Tegurnya.

"Jikalau tetap kau tidak sudi mengembalikan kitab pedang itu, baiklah,"

Berkata Thian Ya, keras tetapi sabar.

"tetapi disamping itu kau mesti mengembalikan satu orang padaku! Seberlalunya aku dari sini, aku tidak akan omongkan pula tentang kitab ilmu pedang itu kepada lain orang."

Mendengar itu, Bu Yang menjadi heran sekali, Ia benar2 tidak menduga Thian Ya, suka menukar kitab dengan satu orang, bahkan dia bersedia mengorbankan kedudukan Ciangbunjin, ketua partai Butong Pay, Siapakah orang itu yang dia sangat menyayanginya?

Ia berpikir, lalu wajahnya berubah.

"Hm!"

Katanya, matanya dipentang lebar, Ia tidak lagi bergusar seperti tadi, tetapi ia tetap angker.

"Kau bilang,"

Katanya dingin.

"siapakah orang itu? jikalau kau omong kurang ajar sedikit saja, kau bakal mampus dibawah telapak tanganku ini!"

Bu Yang mempunyai semacam penyakit dihati, ialah kecurigaannya, Ia mau menerka, mungkinkah keluarga Bouw hendak mengirim wakil, untuk mengajak pulang isterinya?

Atau, mungkinkah pemuda ini menaruh hati kepada puterinya, agar puteri itu dapat ditukar dengan kitab pedang itu?

Sama sekali ia tidak menyangka, bahwa kecurigaannya, terkaannya itu, salah semua.

Siangkoan Thian Ya mundur satu tindak, karena ancamannya tuan rumah yang bengis dan lihay itu, tetapi ia tidak jeri, ia tetap berlaku tenang.

"Aku minta kau menyerahkan pulang Tan Hian Ki padaku!"

Demikian ia berkata, itulah syaratnya menukar kitab pedang dengan manusia. In Bu Yang menjadi sangat heran.

"Apa?"

Tanyanya.

"Siapa itu Tan Hian Ki ?"

"Jangan kau berlagak pilon!"

Kata Thian Ya keras.

"KUdanya Tan Hian Ki itu, masih ada diluar rumahmu ini! Umpama kata benar dia memusuhi kau, tetapi orang dengan kedudukan sebagai kau, adakah kau puas hatimi, untuk membinasakan seseorang yang sedang terluka parah?"

Bu Yang bertambah heran, Hanya sejenak, ia bagaikan sadar.

"Bukankah Tan Hian Ki itu orang yang telah ditolong So So?"

Terka-nya.

"Sampai sekarang ini pemuda yang tidur dikamar tulisku itu, masih belum aku ketahui she dan namanya, kenapa dia hendak memusuhi aku?"

"Bagaimana?"

Siangkoan Thian Ya mendesak.

"Sebuah kitab kaum Rimba Persilatan, ditukar dengan satu orang, kau toh tidak rugi, bukan?"

Kedua matanya Bu Yang membelalak, sinarnya menyapu tajam bagaikan kilat, Ia memandang tajam pemuda didepannya itu.

"Tan Hian Ki itu orang macam apa?"

Dia menanya.

"Kenapa kau sudi mengorbankan kitab pedang, dan kedudukan ketua Butong Pay, hanya dengan meminta aku melepaskan dia?"

Siangkoan Thian Ya tidak menduga sama sekali, bahwa In Bu Yang belum mengetahui hal-nya Hian Ki itu, maka itu, mendengar pertanyaan orang, dialah yang balik melengak, Ia heran, kenapa jago ini belum mengetahui hal ihwalnya Hian Ki, Dengan menatap mata orang yang bengis itu, ia berkata;

"Hian Ki itu telah terluka parah olehku! Kalau atas dirinya terjadi sesuatu yang tak terduga, atau karena lukanya tak dapat ia menempur kau, hingga dia terbinasa ditanganmu, apa kata aku terhadap kaum Rimba Persilatan?"

Hian Ki dikamar tulis dapat mendengar semua pembicaraan itu, Ia terharu untuk sikapnya Thian Ya itu, Bu Yang sebaliknya menjadi semakin gelap, Tapi dia tertawa bergelak;

"Aku siorang she In, baru pertama kali ini, selama hidupku mendengar kejadian aneh seperti ini, Benarkah ada orang yang suka mengorbankan, kedudukan ketua partainya cuma karena untuk memohon untuk musuhnya? Ha ha! Mendengar kau, bolehlah dianggap bahwakau adalah seorang ksatria!"

"Tidak berani aku menerima pujian ini!"

Menjawab Thian Ya, tanpa memperdulikan ejekan orang.

"Didalam hal ini, aku tidak lain hendak melepaskan kedudukanku sebagai Ciangbunjin, aku juga bersedia akan mengorbankan jiwaku!"

"Bagus!"

In Bu Yang menerima, menantang.

"Nah, kau serahkanlah jiwamu!"

Dengan mendadak saja dua jari tangannya, jago itu menyambar kemukanya sianak muda.

Siangkoan Thian Ya kaget tak terkira, Inilah benar2 ia tidak duga, Tidak ada waktu lagi untuk menangkis atau berkelit, maka dengan bersedia kedua biji matanya dikorek keluar, ia membarengi dengan satu kepalannya kearah jago itu.

Kedua pihak berdiri sejarak dua tindak, turut pantas, matanya Thian Ya mesti kena ditusuk dan dikorek, sebaliknya, In Bu Yang juga mesti kena dihajar hebat, akan tetapi kesudahannya adalah diluar dugaan, Matanya Thian Ya selamat, tak kurang suatu apa, dan tubuhnya In Bu Yang seperti menghilang dari hadapan sianak muda, kepalan siapa yang menghajar sebuah pohon bwee dibelakang Bu Yang, hingga diantara satu suara nyaring, pohon itu patah dua cabangnya, daunnya rontok bagaikan hujan, Thian Ya melengak karenanya, atau mendadak ia mendengar dari sampingnya;

"Benar, kau benarlah mewarisi ilmu silat Butong Pay! Sekarang mari coba satu kali lagi!"

Masih belum tetap hatinya Thian Ya, tatkala ia merasakan, jari tangan yang dingin meraba pipinya, Tidak ayal lagi ia menolak dengan kedua tangannya, dengan gerakannya'Dua naga menindak melingkar', Karena ia mengerahkan seluruh tenaganya, tangkisan ini berat sedikitnya seratus kati, hanya ia heran, ketika tangannya itu mengenai sasarannya, ia tidak menghajar barang yang keras, hanya sesuatu yang kosong, Sebab dengan cara sederhana saja Bu Yang dapat menghindarkannya, Tentu sekali kembali ia menjadi kaget, maka segera juga ia bertindak mundur, tetapi ia kalah cepat, jalan darahnya ciang-bun-hiat di-iganya telah kena tertotok, maka,'Bruk!' robohlah ia terguling ditanah!

Pertempuran itu tidak lolos dari matanya Tan Hian Ki, Sekarang dapatlah ia membuktikan tidak saja ilmu meringankan tubuh dari Bu Yang sudah mencapai puncak kemahiran, serta ilmu pedangnya menakjubkan, juga totokan jarnya luar biasa, yaitu totokan Itci-sian..

(totokan sebuah jari tangan), Ia menyedot hawa dingin, saking kagum dan terkesiap hatinya.

"Aku tidak menyangka sama sekali, bahwa malam ini adalah malam terakhir, untuk hidupku dalam dunia ini..."

Katanya didalam hati, Ia lantas menjemput pedangnya untuk membuka pintu, guna menerjang In Bu Yang, Biar bagaimana, ia mesti membantu Siangkoan Thian Ya, yang sudah berkorban untuknya, Ia tahu ia kalah lihay, tetapi ia tak menghiraukannya lagi, Malu ia, andaikata ia mesti mengangkat kaki, meninggalkan Thian Ya ditangan musuhnya, Hanya, belum lagi ia membuka pintu, ia telah mendengar pula tindakan kaki orang, disana muncul So So nona cantik manis puterinya jago she In itu.

"Ayah, ada kejadian apakah?"

Menanya si nona, suaranya merdu, Si nona bertanya tanpa menanti, ia sudah datang dekat kepada ayahnya itu.

"Tidak ada apa2,"

Menyahut sang ayah tenang.

"Ada satu maling cilik, lancang masuk kemari, dan aku membekuknya."

So So tertawa geli.

"Ah, benarkah ada maling cilik, yang berani lancang memasuki rumah kita?"

Katanya.

"Dia benar2 tak tahu mampus!"

Segera si nona sampai kepada ayahnya itu, Apabila ia sudah melihat si 'maling cilik', ia heran bukan main, Itulah seorang pemuda bukan dengan roman sembarang, meski betul ia telah ditotok roboh, hingga tak dapat berkutik, tetapi sinar matanya tajam dan berpengaruh, sinar itu menandakan kegusaran yang tak mengenal takut, Orang cemacam itu tak selayaknya menjadi maling.

Selagi si nona ter-heran2 ketika matanya bentrok dengan mata ayahnya, begitu juga ayahnya memperlihatkan wajah aneh sekali, Dan lantas ia mendengar ayahnya itu menanya padanya;

"So So, apakah itu ditanganmu?"

Nona In ini memegang dua potong baju pria, yang satu baju luar, yang lainnya baju dalam, itulah bajunya Hian Ki, yang ia buka dan kemudian diganti, karena baju itu berlepotan darah, ia telah mencucinya, sesudah kering hendak ia membawanya kekamar sipemuda, tetapi karena ia mendengar suara apa2, ia segera datang kepada ayahnya, dan melupakan barang yang ia bawa2 itu, Lantas saja mukanya menjadi merah, lekas2 ia menunduk.

"Inilah kepunyaan orang itu..."

Katanya sangat perlahan.

"Kepunyaannya Tan Hian Ki?"

Sang ayah menegaskan.

"Eh, ayah, mengapa kau ketahui namanya dia itu?"

Si nona balik bertanya, heran.

"Apakah dia pernah bertemu denganmu?"

In Bu Yang tidak menjawab, hanya dengan suara seram ia berkata;

"Kau bangunkan bocah itu, kau suruh dia keluar menemui aku!"

Kedua matanya So So mengeluarkan air, mulutnya yang mungil bergerak.

"Mustahilkah orang yang anakmu tolongi itu seorang jahat?"

Katanya.

"Kenapa ayah menjadi begini? Kalau ada bicara, tidakkah itu dapat ditunggu sampai besok?..."

Tetapi, baru si nona mengucapkan kata2nya itu, 'Blak!' daun pintu telah menjeblak terpentang, disana muncul Tan Hian Ki dengan pedang ditangan.

"Tak usah mencapaikan diri untuk memanggilku, disinilah Tan Hian Ki!"

Katanya, suaranya lancar, terang dan jelas.

Malam itu malam tanggal 17 bulan pertama, rembulan bercahaya indah, dan terang bagaikan kaca rata, maka itu dapat In Bu Yang memandang dengan jelas, wajah dan potongan tubuh sianak muda yang bernyali besar itu, Tanpa terasa ia terkesiap.

"Rasanya pernah aku melihat dia ini, entah dimana... ."

Pikirnya, Sudah lama ia tidak pernah merantau, jarang ia bertemu orang, tidak heran tak ingatlah ia akan pemuda she Tan ini, Yang pasti ia sekarang ia menghadapinya, bersama seorang anak muda lain yang tak kenal takut.

"Ayah, kau tanyalah dia secara baik2,"

Berkata So So halus, jangan ayah membuatnya jadi kaget, dia baru sembuh dari sakitnya... ."

"Anak So, kau minggir,"

Berkata In Bu Yang.

"Jangan kau banyak mulut!"

Belum pernah So So menghadapi perlakuan demikian kasar dari ayahnya itu, ia merasa tertusuk, ia penasaran sekali, akan tetapi ia menghampiri sebuah pohon bwee, untuk disitu menyenderkan tubuhnya, hampir ia menangis karenanya.

"Eh, bocah, nyalimu sangat besar!"

Terdengar suara keren dari In Bu Yang.

"Siapakah yang telah mengirim kau kemari?"

"Itulah sejumlah sahabat2mu atau sekalian pamanku."

Menjawab Hian Ki dengan berani.

"Merekalah yang menitahkan aku datang kemari!"

Kedua matanya In Bu Yang menyapu anak muda didepannya itu.

"Jikalau begitu, ayahmu pastilah bekas rekanku,"

Ia berkata.

"Apakah namanya ayahmu itu? Dia berpangkat apakah dibawahnya Thio Su Seng?"

So So heran dan terkejut, Heran ia mengapa ayahnya segera mendapat tahu asal-usulnya pemuda ini, Ia tidak menginsyafinya, yang baju dalam dari Hian Ki itu, ada tersulam tanda burung garuda jantan, Dulu hari itu, semua siwi(pahlawan) yang mendampingi Thio Su Seng, rata2 memakai pertandaan itu.

Hian Ki pun terkehut, hingga ia tercengang, Dan lantas ia mundur setindak, tangannya mencekal keras gagang pedangnya, Karena rahasianya telah dibongkar Bu Yang, ia semakin bulat tekadnya untuk menempur jago itu, Hanya ia heran, nada suaranya orang itu, bukan seperti nadanya orang yang bermusuhan, Meski begitu, pertanyaan orang membuatnya tertegun.

Hian Ki ingat belum pernah ibunya bicara dari hal ayahnya, ia cuma tahu ayahnya itu pernah membantu Thio Su Seng memperebutkan negara, dan dalam pertempuran paling belakang disungai Tiangkang, ayahnya itu telah menemui ajalnya, Perihal pangkat ayahnya itu, tentang segala sepak terjangnya, sedikit juga ia tak mengetahuinya, Pula belum pernah ia menanyakan kepada ibunya, sebab ia kuatir ibunya menjadi bersusah hati karenanya.

In Bu Yang menjadi sangat bercuriga, Ia maju satu tindak.

"Bocah, lekas bicara!"

Katanya angker.

"Bicara terus terang! Dengan memandang bekas rekanku, suka aku mengampuni jiwamu!"

Tapi Hian Ki tidak takut, ia bahkan menjadi gusar.

"Mana kau mempunyai rasa cinta kepada rekanmu!"

Ia berkata dengan keras.

"Untukmu baiklah kau menanti lagi tiga bulan, waktu itu bolehlah kau berangkat kekota raja untuk menerima hadiah!"

Mukanya In Bu Yang bermuram durja.

"Hai, kau berani mencuri dengar pembicaraanku dengan Lo Tayjin?"

Katanya bengis.

"Memang aku telah mendengarnya, tak sepatah pun kata yang lolos!"

Menyahut Hian Ki dengan berani.

"Aku telah mendengar semuanya!"

"Sebenarnya, apa perlunya kau datang kemari?"

Bu Yang membentak pula, matanya mengawasi tak berkedip.

"Aku telah menerima tugas dari bekas kawan2mu itu, untuk membunuh kau simanusia tan berbudi, yang menjual kawan2 cuma untuk memperoleh pangkat!"

Sahut Hian Ki tetap. So So kaget tidak terkira.

"Apa?"

Jeritnya tajam.

"Kau hendak membunuh atahku?"

Bu Yang sebaliknya tertawa nuyaring ter-bahak2.

"Kau hendak membunuh aku!"

Ejeknya.

"Hm!"

"Jangan bermimpi!"

Hian Ki membentak."Biarpun aku bukan tandinganmu, tetapi hendak aku memberitahukan kau, bahwa dikolong langit ini , masi ada orang2 yang tak takut mampus!

Bahwa apabila kau menjual sahabatmu, karena hendak mendapatkan hadiah uang dan pangkat, dunia Rimba Persilatan bakal mengasingkanmu!

Aku kuatir, setelah aku ini, dibelakang hari akan masih banyak orang lainnya yang bakal mencari kau, untuk membunuh dirimu!

Dapatkah kau membunuh habis mereka itu?"

In Bu Yang bergetar juga hatinya, ia bergidik tanpa terasa, Memang hebat ancaman bahaya itu, Tetapi ia tak sudi kalah gertak, Ia tertawa ter-bahak2.

"Hanya didalam satu malam, kesini datang dua bocah tolol yang tidak takut mampus!"

Katanya.

"Seorang ksatria asalnya satu pemuda, itulah benar adanya! Nah, kau hendak membunuh aku, mengapa kau tidak menghunus pedangmu?"

"Malam ini telah aku mengambil keputusan,"

Berkata Hian Ki, menyahuti,"Ini ksatria she Siangkoan telah menukar aku dengan kitab ilmu pedang, tapi itu tidak perlu dilakukannya lagi, Sekarang kau bebaskan dia dari totokanmu, kau kembalikan kitabnya itu kepadanya, untuk itu aku suka menyediakan jiwaku, akan aku menempur engkau!"

Bu Yang melirik kepada anak muda itu, Mendadak ia tertawa pula.

"Tidaksalah, kau terluka karena pukulan ilmu silat Butong Pay, yang menjadi kaumku, jadinya ini bocah tolol tidak mendustai aku,"

Kata dia.

"Hanya saja ini ada keanehannya! Jikalau tidak ada permusuhan hebat diantara kamu berdua, tidak mungkin dia menurunkan tangan dahsyat terhadapmu, maka kenapa sekarang kau justru meminta keampunan untuknya?"

"Inilah urusan orang luar, tak perlu kau mencari tahu!"

Jawab Hian Ki ketus.

"Aku cuma mau tanya kau, kau suka melepaskannya atau tidak?"

In Bu Yang tertawa dingin.

"Urusan lain orang, kaupun tak perlu mencampurinya!"

Ia membaliki, Kedua matanya terpentang lebar, cahayanya tajam penuh sinar membunuh. So So sudah lantas mencelat maju.

"Ayah!"

Teriaknya tajam.

Sementara itu Hian Ki, segera merasakan sambaran angin dari pukulan tangan kearah punggungnya, Ia berbalik dengan gesit, seraya menghunus pedangnya, untuk membabat, tetapi yang ia babat itu hanyalah tempat kosong, bukan tangan lawannya, Dilain pihak ia melihat, ditangan Bu Yang telah tercekal sebatang pedang, tangannya sendiri sudah tidak memegang senjata, Tengah ia tercengang, ia merasakan tangannya dijejalkan sesuatu, hingga ia menjadi heran dan kaget, Tapi ia sadar dengan cepat, untuk mendengar suaranya jago she In itu;

"Telah aku kembalikan pedangmu! Apakah kau masih tidak hendak turun tangan? So So, lekas kau mundur!"

Dengan mengibaskan tangannya, Bu Yang membuat anak gadisnya itu terhuyung setombak jauhnya, Nona itu berdiri tercengang, Belum pernah ia menyaksikan ayahnya begini gusar.

Hian Ki benar2 keturunan jago, nyalinya besar, Ia tahu Bu Yang sangat lihay, pedangnya telah dirampas, tapi ia masih tidak merasa jeri, Cuma sejenak ia berdiam, segera ia mulai dengan serangannya, Ia menggunakan jurus 'Menaiki naga memancing burung hong', pedangnya mencari tenggorokan lawan, setelah mana ia menyabet pulang pergi ke-kedua pundak.

In Bu Yang mengibaskan kedua tangan bajunya, tubuhnya turut bergerak pula, maka bebaslah ia dari ancaman bahaya itu.

Hian Ki terkejut, mendapatkan ia menyerang tempat kosong, dam dilain pihak ia mendengar suara angin dibelakang batok kepalanya, dan mendengar juga pertanyaan ini;

"Siapa yang ajarkan kau ilmu pedang ini?"

Pemuda itu mengertak gigi, Tidak sudi ia melayani bicara, Dengan tangan kirinya mengimbangi pedangnya, menyerang pula kebawah, lalu menyontek keatas, kapan serangan itu tidak memberikan hasil, ia menyerang pula ber-tubi2, Dengan saling susul ia menggunakan tipu2 silat 'Garuda Emas Mementang Sayap, Ayam Galak Merebut Gabah, Kera Putih Bergelantungan Dicabang, dan Kuda Liar Melompati Selokan', Serangannya nitu bagaikan gelombang sungai Tiangkang yang saling tindih, semuanya menuju keanggota tubuh yang berbahaya.

Memangnya, ilmu pedang Hian Ki ini sangat beragam, Sebelum usianya tiga belas tahun, ia dididik oleh ibunya, setelah itu, ia dididik lebih jauh bergantian oleh beberapa pamannya, encek dan empek, semuanya rekan2 ayahnya, Pembantu2nya Thio Su Seng itu, semua adalah ahli2 silat yang lihay, masing2 dengan kepandaian sendiri2 yang istimewa, maka juga ilmu silat Hian Ki ini aneh kelihatannya, luar biasa sekali.

In Bu Yang mengibaskan lengan bajunya ber-ulang2, dengan begitu ia berhasil membuyarkan semua serangan maut itu, meski begitu, ia tetap heran, hingga didalam hatinya memendam berbagai pertanyaan.

"Eh, ilmu silatmu jauh lebih lihay, dari pada itu bocah she Siangkoan, kenapa kau sebaliknya kena dilukai hebat olehnya?"

Ia bertanya, Ia seperti lupa bahwa ia lagi bertempur.

Hian Ki tidak mengambil pusing, ia terus saja dengan serangannya yang tak hentinya, Ia sudah nekat dan penasaran, ia melupakan segala apa, Ia telah keluarkan segenap kepandaiannya, dan kegesitannya.

"Ilmu pedang Ngokim Kiamhoat, ilmu pedang Cengyang Kiamhoat,"

Bu Yang mengoceh sambil saban2 ia membebaskan diri.

"Ah, inilah ilmu silat Khongtong Pay! Sayang belum mahir! Dan ini jurus Naga Sakti Kehilangan Ekor, tabasannya rada lambat..."

Biar bagaimana, Hian Ki pun heran, Orang dapat mengenal setiap jurusnya itu, Mau atau tidak, hatinya gentar juga. Pertempuran berlanjut hingga 35 jurus, habis mana In Bu Yang tertawa dingin.

"Kiranya ilmu silatmu ini adalah buah ajaran sekalian sahabat2ku!"

Katanya.

"Pantaslah kau dikirim mereka itu! Pheng Hweeshio sudah mati, Cio Thian Tok lenyap tidak ketahuan tak ada bayangannya, tak ada bekasnya, maka meskipun semua gurumu itu, bergabung menjadi satu memusuhi aku, aku tidak jeri sedikitpun juga! Ilmu silat pedangmu ini, jikalau itu dihadapkan kepada pemuda2 sepantaranmu, memang sudah luar biasa hebatnya, tetapi bila diadu denganku sayang sekali, kau masih jauh sekali dibelakang!"

So So bingung bukan main, Ia telah menyaksikan itu pertempuran aneh, Ayahnya berkelahi sambil ngoceh saja, nada suaranya itu semakin hebat, Ia jadi sangat berkhawatir.

"Ayah!"

Katanya kemudian, suaranya tajam.

"Ayah, kau biasa menyayangi orang pandai, dengan memandang ilmu silat pedangnya dia ini, kau ampunilah dia..."

"Hm!' ada jawabannya si ayah.

"Orang2 semacam dia ini senantiasa mengarah aku, jikalau hari ini aku beri ampun padanya, maka nanti lagi sepuluh tahun, setelah dia tumbuh sayap yang panjang, belum tentu dia suka mengampuni aku!"

Habis mengucap, mendadak tangannya jago ini melayang kemuka Hian Ki, Justeru itu waktu, tubuh anak gadisnya pun melesat, lompat kedepannya untuk menghadang dimuka sianak muda, Anak dara inipun sambil menyerukan;

"Ayah, ilmu silatmu tak ada tandingannya dikolong langit ini, kiranya kau masih jeri lagi sepuluh tahun kau bakal tidak dapat menandingi dia ini..."

Hian Ki sudah merasakan sambaran angin, akan tetapi lenyap secara mendadak, Ia segera mendengar suara nyaring dari In Bu Yang;

"Kali ini aku beri ampun padamu! Lagi sepuluh tahun, kau datang lagi padaku, untuk bertanding kembali, untuk memastikan siapa jantan siapa betina! Jikalau kau tidak tahu diri, belum lagi kepandaianmu sempurna, kau cari mampusmu sendiri!"

Kaget Hian Ki mendengar suara itu, tetapi lebih kaget pula ia, ketika ia merasakan tubuhnya dicekal orang, tanpa ia merasa, lalu diangkat tinggi2 dan diputar, Masih ia mendengar seruan orang;

"Pergilah kau!"

Dan segera tubuhnya itu dilemparkan, Maka dilain saat, ia merasakan dirinya seperti me-layang diantara mega dan kabut, hingga rasanya bumi berputar, ia terus tak sadarkan dirnya....Lama rasanya sudah lewat, baru dengan per-lahan2 sianak muda sadarkan diri, Ia sudah lantas membuka kedua matanya, Yang paling dulu dirasakan ialah bau yang harum menyerang hidungnya.

"So So! So So!"

Segera ia me-mangil2, Ia tidak mendapat jawaban, sebaliknya, ia merasakan bahwa ia rebah lagi disebuah tempat yang dingin dan keras, Iapun merasakan tubuhnya nyeri seluruhnya, nyeri ke-tulang2, ke-pelbagai tubuh, Jadinya ia bukan berqada dirumah keluarga In, bukannya sedang rebah diatas pembaringan yang indah dan empuk, Ia menjadi terkejut sendiri, Ia membuka matanya lebar2, Lantas ia mendengar satu suara yang halus merdu, yang didahului suara tertawa yang empuk;

"Apa itu So So, kau tengah bermimpi siapa, ha?"

Dan itulah Un Lan, si nona she Siauw. Baru sekarang Hian Ki mendapat tahu , bahwa dirinya berada didalam sebuah goa, Ia menjadi sangat heran.

"Kenapa kau ketahui akau berada dirumah orang she In itu?"

Tanyanya.

"Aku tiba disini, karena aku mengikuti tapak kaki kudamu,"

Menyahut si nona.

"Kebetulan sekali aku mendapatkan kau dilemparkan keluar tembok pekarangan, Oh, kiranya itu rumah keluarga In? Kalau begitu, si tua bangka itu mestinya In Bu Yang! Sungguh nyalimu besar, kau membuat aku kaget setengah mati,! Kau telah bertempur dengannya?"

Hian Ki merebahkan diri pula, ia sangat lesu, lenyap pula kegembiraannya, Ia menghela napas dan mengangguk dengan perlahan, Ia menyesali kepandaiannya yang belum sempurna, Selama ia belajar silat dibawah bimbingan sekalian paman2nya itu selama 10 tahun lebih, semua orang memuji dia, sebagai pemuda yang ber-pengharapan, siapa tahu kali ini, begitu menempur In Bu Yang, begitu ia dirobohkan, ia tak berdaya sama sekali, Maka ia meresa sangat malu, dan menyesal.

Tetapi nona Un Lan tertawa dengan riang sekali, wajah ramai dengan senyuman...

"Sebenarnya kau hebat sekali!"

Berkata ia memuji.

"Kau telah terhajar Siangkoan Thian Ya, bahkan kau terluka, tapi kau dapat melayani In Bu Yang! Eh, jangan bergerak, jangan, meskipun kau tidak terbanting hebat, kau toh mendapat luka diluar, darahmu belum buyar dan berjalan lancar, Mari aku pijati!"

"Muka Hian Ki menjadi merah, Ia singkirkan tangan si nona.

"Tidak usah,"

Katanya menampik.

Jika Un Lan tidak menyebutkan lukanya sipemuda, tidak apa, tetapi karena disebut itu, Hian Ki segera teringat kepada So So, Nona In itu telah menolongi dia dengan pil mujarab kepunyaan ayahnya, nona itu juga sudah memasaki ia bubur yang wangi, dan sayur yang lezat, yang menjadi kesukaannya, Ia pun menghargai kejujuran nona itu, yang membiarkan ia berdiam seorang diri, didalam kamar dimana ada tergantung sebuah pedang mestika yang tak ternilai dan langka.

Segala gerak-gerik So So itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam, semua sangat menarik hatinya, juga sikapnya si nona itu, waktu menghadapi ayahnya yang bengis itu, Maka itu, semakin Un Lan bersikap manis dan telaten terhadapnya, semakin terbayang semua kebaikannya So So, tak dapat ia melupakan itu, Dimatanya, So So adalah bagaikan bunga bwee didalam lembah, sederhana keharumannya, melebihi bunga tho atau lie yang indah mentereng.

Un Lan heran menyaksikan sikap orang tawar.

"Kau memikirkan apa, eh?"

Ia menanya. Hian Ki mencoba menenangkan diri.

"Aku lagi memikirkan Siangkoan Thian Ya,"

Sahutnya, menghindar kesoal lain, Ia nampaknya berduka. Un Lan menghela napas.

"Kamu berdua benar2 sepasang musuh aneh,"

Katanya.

"Begitu bertemu muka, kalian berkelahi, tapi begitu berpisah, kalian saling memikirkan, Memang, Siangkoan Thian Ya juga tengah mencarimu."

"Aku telah bertemu dengannya,"

Hian Ki memberitahukan. Un Lan heran.

"Dimana?"

Un Lan bertanya.

"Dirumahnya In Bu Yang, Ya, baru sekarang aku mengetahuinya, ia adalah satu pemuda yang jujur dan jantan!"

Hian Ki menuturkan segala apa yang terjadi dirumah Bu Yang itu. Un Lan tertawa, seraya menutupi mulutnya.

"Sayang, Thian Ya tidak dapat mendengar pujianmu ini!"

Katanya.

"Lebih sayang lagi kau bukannya seorang nona remaja!"

Hian Ki heran, sungguh2 ia memandang si nona.

"Benar!' katanya.

"Coba aku seorang nona, niscaya aku menyintai dia!"

Ia melirik tajam parasnya nona yang dihadapannya itu, Tapi Un Lan menunduk, kelihatannya ia tidak senang.

"Kau terlalu!"

Katanya.

"Lain orang terhadap kau...terhadap kau...kau, kau sebaliknya..."

Dan ia tidak meneruskan kata2nya, karena si pemuda telah memutuskannya.

"Dengan sebenarnya aku lagi memikirkan Thian Ya,"

Hian Ki menjelaskan.

"Oleh karena aku, dia terjatuh kedalam tangannya In Bu Yang, maka itu mana bisa aku berkati tenang?"

"Tetapi In Bu Yang yang demikian lihay,"

Berkata si nona, Umpama kita bekerja sama dan dengan nekad melawan dia, kita masih tidak dapat mengalahkannya, Maka itu beiknya kau bersabar, kau beristirahat, lalu kau pergi ke Butong-san untuk menyampaikan warta, Biarlah itu segala imam dari Butong-san yang melayani In Bu Yang, kau sendiri janganlah menempuh bahaya dengan seorang diri, pergi untuk mencoba membinasakan dia..."

Hian Ki menghela napas, Ia tetap memikirkan Thian Ya.

"Thian Ya sangat menyintai kau, mustahilkah hatimu tidak tertarik sedikitpun juga?"

Pikirnya, yang ia maksudkan nona she Siauw ini. Un Lan berdiam sekian lama, mengawasi orang menjublak saja.

"Apakah kau lapar?"

Dia menanya, halus, selang sesaat.

"Nanti aku menangkap dua ekor kelinci untukmu."

Hian Ki menggeraki tubuhnya, untuk bangun berdiri, ia pun hendak mengatakan, bahwa tubuhnya sudah sehat, namun si nona cepat sekali sudah keluar dari goa itu, Ia berpikir sejenak, lalu ia membiarkannya.

Goa itu terdiri dari dua potong batu besar yang bergabung menjadi satu, dari dalam goa, dapat memandang keluar, orang dapat melihat si Puteri Malam dengan cahayanya yang gilanggemilang, Sebab, waktu itu adalah malam yang ke dua bagi pemuda ini.

Hanya berdiam sebentar, Hian Ki bangun berdiri, Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tangan dan kakinya, setelah itu ia bertindak keluar, Ia berjalan dengan perlahan, lalu menyenderkan tubuhnya dilamping batu, matanya memandang kedepan, kegunung dimana terlihat beberapa rumah, Ia lantas seperti mendengar nyanyiannya So So, nyanyian yang menggiurkan hati, Ia berkhayal, seperti si nona tengah menggapai2 terhadapnya, memanggil ia datang....Sendirian pemuda ini menghela napas, panjang sekali...."Sayang ia adalah anak gadisnya In Bu Yang,"

Ia berpikir pula, ia melamun.

"Ah, buat apa aku memikirkannya lagi? Sebegitu jauh ilmu silatku belum sempurna, mana dapat aku menginjak pula rumahnya? Ah, apakah benar aku harus menunggu dulu, sampai sepuluh tahun lagi, baru aku dapat bertemu pula dengannya?..."

Dalam keadaan hati bergejolak itu, bimbang pemuda ini, hingga ia memikirnya juga, sekalipun lagi sepuluh tahun, masih belum tentu ia dapat mengalahkan orang she In yang demikian lihay itu, Maka akhirnya ia menjadi sangat masgul, pikirannya buntu.

Tapi, adakah dia pun memikirkan aku?"

Tiba2 ia ingat.

"Jikalau benar dia memikirkan aku, berani aku menyediakan jiwaku untuk dapat menemui dia pula!"

Ia lantas teringat kepada syair Oey Tiong Cek.

"Malam begini dengan bintang-bintangnya bukan malam kemarinnya, Siapakah berdiri di tengah malam antara angin dan embun?"

Hian Ki menyender terus, Kecuali So So terpeta dalam otaknya, ia tidak memikirkan lainnya, Malam itu angin dingin sejuk, ia berdiam saja seperti tanpa merasa, Lama ia berdiam secara begitu, sampai tiba2 ia dibuat sadar oleh suara nyanyian tinggi, jauh dipuncak gunung, terbawa sang angin.

"Pulang habis perang seratus kali, arak masih hangat, Es menerjang rambut dipelipisan mendatangkan rasa dingin, Mengingat peperangan tahun lalu itu, Sesungguhnya itu men-sia2kan hati si bunga bwee..."

Hian Ki terkejut, karena ia mengenali suaranya In Bu Yang, Tinggi dan dalam nadanya nyanyian itu, Pula aneh, sudah jauh malam, Bu Yang masih belum tidur, Maka ia men-duga2, mungkin Bu Yang pun tengah memikirkan sesuatu.

Pemuada ini mengangkat pula kepalanya, memandang kearah puncak tadi, Tiba2 ia melihat berkelebatnya satu bayangan orang, yang menghilang kearah selatan, lenyap dalam sekejap, Ia menjadi heran, hingga ia menjublak pula.

"Sekarang sudah tengah malam, apakah perlunya In Bu Yang turun gunung?"

Ia tanya dirinya sendiri, Ia menduga kepada jago she In itu, Tanpa terasa ia bertindak, menuju kerumahnya So So itu, Sekarang, sebagai gantinya nyanyian, telinganya menangkap suara tetabuhan khim, Dari atas puncak, suara itu turun terbawa angin, lalu terdengar pula suara nyanyian.

"Itulah So So tengah bernyanyi,"

Pikirnya.

"Angin malam telah membawa nyanyian itu kemari, dapat aku mendengarnya dengan nyata."

Ia memasang kupingnya, So So bernyanyi.

"Kuda putih yang bagus, makan rumput di ladangku, Mengikat dia, Menambat dia, Untuk melewati sang hari ini, Dan orang itu, itu orang, Dia pernah bersiar bersama... Kuda putih yang bagus, Kembali dia kedalam lembah, Dia mengenyam rumput hijau, Dan itu orang, Cantik bagai kumala, Jangan lupa membagi aku warta, Janganlah kau menjauhkan hatiku!"

III. Satu lawan Tiga Suara khim itu, nyanyian itu pula, itulah menandakan So So memikirkan dia, Maka meng-hela napaslah Hian Ki.

"Ya, kuda putihku masih ada dirumahmu,"

Katanya dalam hati.

"dan besok dia masih memakani rumput hijau didepan pintu rumahmu, Hanya, hanya aku kuatir, tidak dapat aku menginjak pula rumahmu itu..."

Ia mengongak memandang langit, sang cakrawala indah tak ber-mega, hanya sang Sungai Perak yang terpeta terbayang disana, Rembulan cemerlang bagaikan air jernih, malam yang indah, luas tak berbatas, Disamping itu sijantung hati, dapat dia dipandang, tetapi tak dapat dihampiri, seperti itu bunga bwee dilembah yang dalam...

Dengan sendirinya Hian Ki, terumbang-ambing, oleh tetabuhan dan nyanyian itu, hatinya tidak karuan rasanya, didepan matanya terbayang si nona cantik yang lembut itu, Ia punlantas mengingat suara tertawa nyaring dari Siangkoan Thian Ya.

"Untuk mereka berdua, mengapa aku mesti menyayangkan diriku? Baiklah aku mencoba lagi sekali menempuh bahaya!"

Demikian mendadak ia mengambil keputusan, Maka tak ayal lagi, ia bertindak mendaki puncak.

Dengan tiba2 suara khim berhenti, lenyap suara nyanyian tadi, Puncak itu, lembah itu, kembali menjadi tenang, sunyi dan senyap, Hian Ki berpikir, maka terhentilah tindakan kakinya, Di saat itu, didalam kesunyian, ia dapat mendengar suatu suara perlahan, Karena sedari kecil, ia telah mempelajari mendengar suara anginnya senjata rahasia, maka iapun tak nanti tak mendengarnya.

Ia memasang kupingnya, ia mendapatkan suara datang semakin dekat, Itulah suara tindakan kaki orang, dan orangnya bukan bersendiri pula, Tindakan kaki dari orang yang jalan didepan, nyata bedanya dengan beberapa diantaranya yang jalan belakangan, Teranglah orang sedang ber-lari2 atau saling ber-kejaran, Dan kerena larinya cepat, segera juga mereka itu tiba bagian depannya.

Hian Ki terkejut, melihat lihay-nya ilmu meringankan tubuh dari orang itu, cepat2 ia menyelinap, untuk menyembunyikan diri.

Orang yang didepan itu, berpakaian serba hitam, sampai disitu ia bersiul panjang, lalu ia menghentikan larinya, Sebagai gantinya itu, segera terdengar suaranya yang keras dan dingin; Aku siorang she Cio masih mengingat, akan persahabatan kita dari banyak tahun, maka itu, saudara2, mangapa kamu mengejar2 aku tak mau terus?

Mustahilkah kamu benar2 mau menguber aku hingga dirumah keluarga In?

Benar2kah kamu menghendaki aku merusak persahabatan kita?"

Atas itu terdengar satu suara nyaring, bagaikan gembreng bobrok.

"Cio Thian Tok, jangan kau terlalu mengandalkan ilmu silatmu yang lihay!"

Demikian suara menggelegar itu.

"Sekalipun kimpay dari junjungan kita yang muda, kau tidak menghiraukannya! Apakah kau hendak kerjakan dengan pergi kerumah keluarga In ?"

Semua kata2 itu masuk jelas kedalam telingannya Hian Ki, pemuda ini menjadi tercengang dibuatnya, Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa orang dengan pakaian hitam itu, adalah seorang jago Rimba Persilatan, dari banyak tahun ia berada di urutan bawah dari Pheng Hweeshio, tetapi berada diatas In Bu Yang, dialah Cio Thian Tok yang kenamaan, Setelah Thio Su Seng runtuh dan menemui kematiannya, Pheng Hweeshio pun turut mengorbankan dirinya, Cio Thian Tok ini lantas tidak ketahuan rimbanya, Ada yang mengatakan dia kabur kegurun pasir Utara, dengan membawa kabur puteranya Thio Su Seng, yang berada dibawah perlindungannya, tetapi kebenarannya itu tak ada yang dapat membuktikannya, Maka sungguh aneh, sekarang, diwaktu malam begini, dia muncul digunung Holansan, dan dia hendak mencari In Bu Yang.

Hian Ki heran dan bingung, hingga ia berpikir keras, Cio Thian Tok itu jujur, gagah dan setia, Disaat runtuhnya Thio Su Seng, yang jiwanya lenyap dan pemerintahannya jatuh karenanya, dengan melupakan bahaya yang mengancam dirinya, dia merampas puteranya Thio Su Seng sijunjungan, untuk dibawa menyingkir, Rekan2 dalam pasukan tenteranya Thio mSu Sengitu, juga yang menjadi paman2nya Hian Ki ini, dan mereka setiap kali membicarakan Cio Thian Tok, semua rata2 memuji tinggi, semua sangat mengaguminya, Maka itu aneh, kenapa kini orang2 yang mengejar mengatakan dia temberang, mengagulkan kepandaian sendiri, sampai dia tak menghiraukan kimpay dari siauwcu, junjungannya yang muda itu?

Mungkinkah junjungan yang muda itu, bukan dimaksudkan putera mahkota yang buron dari kerajaan Tay Ciu?

(Tay Ciu itu, Kerajaan Ciu yang agung, ada nama kerajaannya Thio Su Seng).

Segera setelah suara nyaring seperti genbreng pecah itu, terlihatlah orang2 yang me-ngejar2 Cio Thian Tok, Mereka berjumlah tiga orang, Dari tempatnya mengintai, Hian Ki dapat melihat cukup jelas mereka itu, Luar biasa mereka, Yang satu adalah seorang toosu (imam penganut agama Too Kauw), Yang kedua berdandan sebagai seorang dusun yang lanjut usianya, tangannya panjang, kulit mukanya ke-kuning2an, wajahnya tawar, Dan yang ketiga adalah seorang kosen yang dandanannya sebagai seorang Mongolia, Si suara genbreng pecah itu ialah si imam, pengikut Loo Cu atau Lao Tze.

Hian Ki rasanya seperti kenal imam itu.

"Cit Siu Tooheng,"

Terdengar Thian Tok berkata.

"Jikalau kau menanyakan aku, kenapa aku hendak pergi kerumah keluarga In, maka terlebih dulu, ingin juga aku menanya kau, kenapa kamu mengejar aku sampai disini?"

Tergetar hatinya Hian Ki, Benar, itulah Cit Siu si imam yang ia kenal, Dimasa hidupnya Thio Su Seng, Cit Siu menjadi tamu yang terhormat dari Raja kerajaan Ciu itu, Dialah ahli silat yang diundang untuk mendidik Thio Hok Cee, putera mahkota, dalam ilmu pedang, Ketika itu Thio Su Seng paling menghargai tiga orang, ialah seorang padri, seorang imam dan seorang pengemis, Si paderi yaitu Pheng Hweeshio yang bernama Eng Giok, Si pengemis ialah Pit Leng Hi, pangcu atau ketua partai Pengemis di Utara, Dan si imam ialah Cit Siu Toojin ini.

Ketika itu Pheng Hweeshio diakui umum sebagai jago silat nomor satu, Tentang yang lainnya, seperti Cio Thian Tok, In Bu Yang, Pit Leng Hi dan Cit Siu, mereka kesohor untuk masing2 kepandaiannya yang istimewa sendiri2, sulit untuk menggariskan mereka kepada sesuatu kelas, Karena Cio Thian Tok dan In Bu Yang bersama Pheng Hweeshio, bekerja sama dipemerintahan Thio Su Seng, dan karena kedudukan mereka, dahulu itu orang menyebut mereka dengan Liong Houw Hong Samkiat, ialah tiga jago Naga(Liong) Harimau(Houw) Hong(pheonix), Hian Ki pernah melihat Cit Siu , diwaktu usianya baru enam tahun, tidak heran sekarang ia tidak dapat segera mengingatnya.

Diantara terangnya rembulan, Cit Siu mengangkat tinggi sebuah kimpay, pertanda terbuat dari Emas.

""Aku menerima titahnya Siauwcu, menyusul kau kemari untuk diajak pulang!"

Berkata dia.

"Kita mesti dapat menghargai kehormatan umum dan perasaan pribadi, maka itu kau dilarang berkhianat kepada junjungan yang lama, untuk mendapatkan hadiah dan pangkat tinggi!"

Thian Tok tertawa dingin.

"Jikalau aku berkhianat kepada junjunganku, untuk memperoleh pangkat tinggi dan hadiah besar, tidak usahlah aku menanti sampai pada sekarang ini! Tempo itu hari yang junjungan kita roboh di Tiangkang, akulah yang melindungi putera mahkota, menyingkir menyebrangi sungai dengan menaiki hanya seekor kuda tunggangan, aku bawa dia buron jauh keluar perbatasan negara, ke negeri asing, Disepanjang jalan itu, dengan beruntun aku telah menghajar mampus delapan belas jago silat, bawahannya Cu Goan Ciang, Maka jikalau aku ingin mencari kebahagiaan dipemerintahan Cu Goan Ciang itu, pastilah itu kedudukan mulia Congci-hui dari Kimi-wi tidak nanti terjatuh kedalam tangannya Lo Kim Hong.

"Kita semua telah menerima budinya junjungan yang tua, kalau kita mengorbankan diri untuk membelanya, itu sudah selayaknya,"

Berkata Cit Siu.

"Untuk melindungi keturunan junjungan kita, kau sudah membawa putera mahkota menyingkir jauh2, perbuatanmu itu kita semua mengagumi dan menghargainya, Akan tetapi seorang laki2 sejati, dia mesti berbuat ada kepala harus ada buntutnya, Dulu kau melindungi almarhum putera mahkota, kenapa kemudian kau men-sia2kan keturunannya? Siauwcu itu bijaksana, sudah selayaknya kau membantu padanya, dengan segenap tenaga dan kepandaianmu, untuk kita bekerja sama, guna membantu ia membangun kembali negara orang tuanya, kenapa sekarang kau buron seorang diri? Kenapa kau menyingkir kemari untuk mencari In Bu Yang? Sebenarnya, aku numpang bertanya, kau ada mengandung maksud apa?"

Mendengar pembicaraan itu, tahulah Hian Ki yang mana putera mahkota yang dibantu paman2nya telah meninggal dunia dinegara asing, maka sekarang yang dipanggil siauwcu ini, junjungan yang muda, mesti adalah cucunya Thio Su Seng.

"Kedua keluarga Cu dan Thio memperebutkan negara, pergulatan mereka sekarang tiba kepada turunan yang ketiga,"

Pikir sianak muda.

"Entah sampai kapan pergulatan ini akan berakhir? In Bu Yang hendak mengkhianati, ia mau menjual sahabat2nya guna mendapat pangkat, dialah seorang yang tidak berbudi, buruk bathinnya, hanya kata-katanya bahwa perebutan negara, dalam satu keluarga ayau satu she, tidak ada perlunya, sedikitnya mengandung kebenaran juga."

Peristiwa didepannya ini membuat Hian Ki bertambah bingung, Pantaskah ia terlibat didalam pergulatan itu? Ia tak tahu! Lalu terdengar jawaban Thian Tok.

"Oleh karena Siauwcu muda dan bijaksana, maka itu aku tidak rela kamu merusak dia!"

Ujarnya.

"Tahun dulu itu putera mahkota telah memberi nama Cong Ciu kepada siauwcu, itu artinya ia ingin supaya siauwcu terus berjuang dengan tidak melupakan negara yang musnah, tetapi bukan maksud putera mahkota, menyuruh dia memuja negara Watzu dan menjunjung raja asing itu, sebagai majikan!"

Hian Ki kembali melengak, Apa itu negara Watzu?

Apa itu raja asing?

Sebenarnya, bagaimana duduknya urusan ini ?

Watzu itu sebuah atau sekelompok bangsa Mongolia, dijaman itu dia belum membangun negara, maka itu namanya tidak dikenal oleh sejumlah rakyat Tiongkok asli.

"Hm!"

Cit Siu bersuara, Tapi belum ia sempat melanjuti, untuk berkata, Cio Thian Tok telah mendahului dirinya.

"Dengan saudara Bu Yang aku sudah berpisah 20 tahun lamanya, sekarang ini aku belum tahu sikap jejaknya, tetapi walaupun demikian, hendak aku berbuat sebisanya, untuk membujuk dia, agar dia tidak usah terjerumus kedalam lumpur seperti kamu ini!"

Kata Thian Tok.

"Cio Thian Tok, kau sudah memberontak, kau sudah berkhianat!"

Membentak siorang tua pedusunan, yang baru campur bicara.

"Kesalahanmu minggat saja sudah bukannya kesalahan kecil, sekarang kau masih mengandung maksud untuk merusak usaha yang besar!"

Si jago Mongolia juga tidak tinggal diam.

"Buat apa ngoceh saja dengannya,"

Katanya bengis, memotong Thian Tok.

"Sri Baginda telah memerintahkan, jikalau manusia ini tidak mau mendengar perintah, dia mesti segera dibinasakan!"

Ia bukan cuma membentak, iapun segera mengayunkan cambuk ditangannya dengan menyabet pinggangnya Thian Tok, menyabet untuk melibat dan dilemparkan!

Hebat sabetan itu, anginnya menderu, daun-daun pada rontok, pasirpun beterbangan, dan 'Plak!' sebuah pohon disamping Hian Ki kena disambar, hingga patah dua cabangnya yang besar, Tenta saja sianak muda terkejut karenanya, terutama untuk tenaga orang yang besar itu.

Thian Tok tidak menjadi jeri karenanya, Bahkan dengan tenang ia berkata;

"Dengan mengingat persahabatan kita untuk banyak tahun, dengan menghargai juga keharusan diantara tuan rumah dan tamunya, aku akan mengalah untuk tiga cambukmu!"

Benar2 penyerang itu mengulangi serangannya, sebanyak tiga kali beruntun, hingga Thian Tok seperti terkurung cambuk yang lihay itu, hanya sekejab kemudian, berbareng dengan siulannya yang panjang, tubuh orang she cio itu mencelat tinggi dengan gerakannya 'Burung walet menerjang mega', setelah melompat tinggi itu, diwaktu tubuhnya turun, ia membarengi membalas menyerang.

Siorang Mongol tengah terulur cambuknya, belum sempat ia menarik pulang cambuknya, pundaknya telah kena terhajar.

Cio Thian Hok terkenal dengan Tangan Besinya dan Poankoan pitnya yang dahsyat, hingga kedua kepandaiannya itu, menyebabkan dia mendapat gelar Bulim Siangcoat, maka itu, serangannya kali ini bukanlah enteng, Akan tetapi tangguh juga siorang Mongol, tubuhnya tidak bergeming, kalau toh ia bergerak, ialah untuk memutar tubuh dengan gerakannya 'Ular naga berjumpalitan',cambuknya itu berbareng disabetkan pulang, menyapu pada Cio Thian Hok.

Hebat orang she Cio ini, Ia tidak menangkis atau berkelit, Ia seperti membiarkan tubuhnya dilibat, hanya setelah ia menyambar cambuk itu, untuk dipegang erat2, setelah itu, belum lagi siorang Mongol sempat melemparka padanya, ia sudah menarik duluan, kaget dan keras, Sambil menarik, ia berseru, Kuda-kuda orang Mongol itu tergempur, diluar kehendaknya, tubuhnya tertarik, terangkat tinggi, mengikuti cambuknya itu yang terus diputar lawannya, Dia kaget, tetapi dia tidak sudi melepaskan pegangannya pada gagang cambuk, kalau dilepaskan, itu artinya dia bakal terlempar dan terpelanting, dengan memeganginya terus, dia seperti melayang berputaran diudara, sebab kakinya telah terangkat, terpisah dari tanah.

Thian Tok tidak berhenti, dengan gerakannya memutar cambuk itu, musuhnya jadi melayang terus berputaran, Sekarang barulah siorang Mongol kaget dan takut, ia lantas berteriakteriak, Ia merasakan kepalanya pusing dan matanya kabur.

Melihat kejadian itu, Cit Siu Toojin berseru.

"Thian Tok, kita sama2 bernaung kepada satu orang, tidak dapat kau berlaku begini kurang pantas, kepada seorang baturu dari watzu!"('baturu' itu ialah seorang kosen dlm tugas ketenteraan) "Baiklah !"

Menjawab Thian Tok.

"kamu tidak dapat membujuk aku, aku pun tidak dapat menasihati kamu, karena itu mari kita jalan masing2! Kamu mesti lekas angkat kaki dari sini, nanti aku beri ampun jiwa dia ini!"

Si orang tua pedusunan itu beda pendapatnya dengan si imam.

"Cio Thian Tok,"

Ia berseru.

"kau terlalu mengandalkan kepandaianmu! kau sudah menentang titahnya junjungan kita, kau merusak usaha besar mambangun negara, kau juga tak ambil pusing Cit Siu Tooheng, maka itu, tidak dapat aku melepaskan kau!"

Kata2 ini disusul dengan satu lompatan jauh, sambil kedua tangannya diulur, Hian Ki dapat melihat gerakan orang itu, ia terkejut, Heran ia melihat dua tangan orang yang panjang, dengan sepuluh jarinya yang berkuku tajam, bagaikan kuku burung, bahkan kuku itu berwarna hitam, Sasaran dari serangan itupun batok kepalanya Thian Tok.

Orang she Cio itu dapat melihat serangan itu.

"Hm, Pouw Kian!"

Serunya dingin.

"Kita adalah kawan2 seperti kaki dan tangan untuk banyak tahun, kenapa kau begini kejam menurunkan tanganmu yang beracun? Baiklah!, jangan kau sesalkan aku tidak mengenal aturan!"

Sembari berkata begitu, tanpa menoleh lagi, Thian Tok menyerang kebelakang, siorang tua pedusunan yang dipanggil Pouw Kian itu, gesit gerakannya, atas itu penyambutan, ia berlompat mundur, tetapi bukannya untuk pergi menyingkir, hanya untuk terus menyerang pula buat kedua kalinya, Lagi2 ia mengulur kedua tangannya, dengan sepuluh jarinya yang berkuku tajam itu.

Ketika itu, dengan mengeluarkan suara'Buk!' keras sekali, tubuh siorang Mongol terjatuh keras ketanah, sebab untuk melayani Pouw Kian, terpaksa Thian Tok melepaskan cambuk yang tadi ia pegang dan putar terus2an, Tapi orang Mongol itu lihay, ketika ia roboh terbanting, ia tidak roboh rebah, hanya begitu ke tanah, ia lompat mencelat pula dengan gerakannya 'Ikan gabus meletik', Ia terus melompat menjemput cambuknya, untuk kembali dipakai menyerang musuhnya!

Thian Tok membuka kedua tangannya, tangan yang kiri dipakai untuk menghindarkan cambuk, tangan yang kanan digunakan untuk memecah serangan Pouw Kian, Lebih dulu ia mengambil sikap, dengan jurus 'Memeluk harimau pulang kegunung' lalu disusul dengan ' Garuda emas mementang sayap' maka gagallah serangannya siorang dusun.

Keduanya lantas bertempur lebih jauh, Thian Tok berani dan hebat, dengan satu melawan dua, ia masih lebih banyak menyerang, dari pada membela diri, namun biarpun begitu, ia ber-hati2 untuk sepuluh jari tangan atau kukunya Pouw Kian, Karena itu, siorang Mongol yang bergelar baturu itu dapat leluasa memainkan cambuknya, saban2 ia menyabet kepinggang dan kaki.

Baru sekarang Hian Ki ingat kepada Pouw Kian itu, Bukannya ia kenal, hanya ia pernah mendengar nama orang itu, Menurut paman2nya, Pouw Kian ini adalah seorang dari suku bangsa Ie di Seeling, dan ilmu silatnya itu didapat digunung Seeling-san, dari seorang berilmu yang hidup mengasingkan diri, ilmu silat itu dinamakan Ngokim Cianghoat, artinya ilmu silat Lima Binatang bersayap, karena mana, sepuluh buah kukunya itu tajam dan beracun, siapa kena dicengkeram, dalam tempo 12 jam, akan terbinasalah korban itu, Thio Su Seng tahu orang lihay, ia ambil sebagai kawan seperjuangan, tetapi karena ilmu silatnya itu bukan dari kalangan lurus, nama Pouw Kian kalah kesohor seperti Pheng Hweeshio, Cio Thian Tok dan lainnya.

Pouw Kian sangat menagndalkan ilmu kepandaiannya itu, sewaktu bekerja sama dibawah pimpinannya Thio Su Seng, ia sudah berkesan tak puas terhadap Thian Tok semua, tak sudi ia mengalah, maka itu sekarang, setelah pecah persahabatan, dalam bentrokan, ia hendak perlihatkan kelihayannya itu, Hebat semua serangannya.

Thian Tok sedikit jeri kepada kuku orang, tetapi ia tidak takut, bahkan kalau orang Ie itu tidak lincah gerakannya, beberapa kali tentulah dia sudah merasakan tangannya.

Hanya, tidak perduli dia lincah atau gesit, dia toh seperti terkurung tangan Thian Tok, Maka mau tidak mau, orang Ie ini menyedot juga hawa dungin, sakin gentar hatinya, Diam2 akhirnya dia mengaku dalam hatinya.

"Nama Cio Thian Tok ini cuma ada dibawah Pheng Hweeshio, dengan sebenarnya ia lihay sekali, namanya tak kosong belaka!"

Selagi bertempur terus, mendadak terdengar Thian Tok berseru nyaring, Kesudahannya itu sebuah pohon cemara didekatnya, kena dihajar roboh, hingga daunnya rontok mengganggu penglihatan orang, Adalah disaat itu, sebelah kakinya melayang, menyebabkan tubuh siorang Mongol jatuh berjumpalitan!

Pouw Kian terkejut, ia menyingkir untuk menjauhkan diri, tetapi Thian Tok lompat memburu kepadanya, tidak ampun lagi sebelah pundaknya kena dihajar, hingga disebelah merasakan sakit dan panas, tubuhnya pun terhuyung sepuluh tindak.

Disaat itu, Thian Tok hendak membuka mulut, tetapi ia batal, Tahu2 satu sinar terang berkelebat menyambar kepadanya, Ia melihat itulah Cit Siu, yang telah menghunuskan pedang dan melompat menyerang kepadanya.

"Oh, saudara Cit Siu, kau juga maju?"

Ia menegur.

"Inilah terpaksa!"

Menyahut si imam.

"Kami telah menerima tugas, aku sudah membawa kimpay dari siauwcu, terpaksa aku mesti mengadu jiwa denganmu!"

Perkataan ini dibarengi tikaman kejalan darah ditujuh tempat, sebab Cit siu lantas menyerang ber-tubi2.

Thian Tok berkelit ber-ulang2, Satu kali, sambil mendadak tangannya diangkat dan sebuah jarinya menyentil, maka mentallah pedangnya si imam, dari itu ia jadi mendapat waktu untuk melompat kearah Pouw Kian, hingga musuh dapat terdesak mundur.

Melihat cara berkelahinya jago tua itu, Hian Ki kagum dan takjub, tanpa terasa sendirinya ia mengeluarkan keringat.

"Bagus!"

Cit Siu memuji, Pedangnya terpental, tetapi tidak terlepas dari cekalannya.

"Lihat pedang!"

Serunya pula, membarengi berputarnya pedangnya untuk membabat.

Cit Siu ini ber-sama2 Pheng Hweeshio dan Pit Leng Hie, dulu hari telah mendapat nama sama tersohornya, kalau barusan pedangnya kena disentil Thian Tok, itu disebabkan mereka berdua baru saja bertempur, setelah itu, ia hati2, setiap kali ia menyerang, pedangnya bergerak dalam tujuh perubahan, Inilah tepat dengan namanya, yang memakai huruf 'Cit' yang berarti 'tujuh', Dalam ilmu pedang, ia tidak dapat menandingi Bouw Tok It dari Butong Pay, akan tetapi disebelah Tok It itu, ialah ahli pedang nomor satu.

Segera juga Thian Tok mesti memeras keringat, dalam melayani satu Cit Siu, sebab sampai sebegitu jauh, ia tetap dengan tangan kosong, maka dengan adanya Pouw Kian disampingnya si imam, dan mereka itupun masih dibantu siorang Mongol, yang maju pula setelah terbanting, dan kini iapun mulai terdesak.

Menggigil rasanya Hian Ki menyaksikan pertempuran itu, ia tidak tahu ia mesti turun tangan atau tidak, ia sangsi untuk membantu pihak yang mana, yang ia tahu mereka semua adalah sahabat2 ayahnya almarhum, tetapi siapa benar, siapa salah, gelap untuknya, bahkan untuk membuka suara, ia tidak berani.

Tidak lama kemudian, mendadak Thian Tok berseru panjang, tubuhnya mencelat tinggi, entah kapan ia sudah turun pula menginjak tanah, sebelah tangannya sudah mencekal sebatang poankoan-pit panjang dua kaki, yaitu senjata semacam pit,(alat tulis).

"Cit Siu Tooheng, kau yang mendesak saudaramu mempertaruhkan jiwa!"

Ia berteriak, suaranya nyaring dan tajam, mengandung hawa amarah hebat dan penasaran sangat.

Setelah itu, maka bergeraklah senjatanya siorang she Cio ini, ke-sana ke-mari, mengikuti tubuhnya yang gesit dan lincah.

Cit Siu segera menutup diri dengan pedangnya, atas mana poankoan pit menyambar kealisnya Pouw Kian, hingga dia menjerit tajam, terhuyung beberapa tindak, Siorang Mongol merangsak, tetapi ia juga disambut serangan hingga lengannya tertikam, hingga lengan itu berlepotan darah.

Hian Ki kaget dan heran menyaksikan kegagahan orang, yang dalam segebrak saja, telah dapat melukai musuh2nya, Ia kagum bukan main.

Cit Siu melayani dengan perhatian penuh, ia menyaksikan lihaynya poankoan pit itu, Ia pun mengeluarkan kepandaiannya ilmu pedang, membalas menyerang kepelbagai tempat mematikan, saban2 berlompat kesana kemari, atau kedang2 ia berlompat mengapungi diri, untuk menikan dan membacok dari atas, Ia menyerang sambil menutup dirinya.

Cio Thian Tok dikenal sebagai "Tiatciang Sinpit" (Tangan besi dan poankoan pit keramat), tepat sebutan itu, Lain orang, biasanya menggunakan poankoan pit sepasang, ia hanya sebatang, tangan kirinya dipakai membantu dimana tenaganya Yang dan lemah tenaganya Im, ia menggabung ke-dua2nya, Im dan Yang itu, maka dimana perlu, dapat ia berlaku keras atau lembek, Juga hebat caranya ia menotok jalan darah, sebagaimana poankoan pit memang di-peruntukkan totokan itu.

Cit Siu dibantu dua jago, ia tetap tidak dapat berbuat banyak, Hian Ki terus menonton dengan saban mendengar mendengungnya senjata2 beradu, Ia memang telah meyakinkan ilmu mendengarkan suara senjata, maka tahulah ia, sudah tujuh kali mereka berempat bentrok senjatanya, Tidak perduli lihaynya pedang Cit Siu, pemuda ini mengetahui Thian Tok masih lebih unggul.

Cit Siu Toojin sudah menggunakan tipu pedangnya 'Lianhoan Tuihun Toatbeng',ilmu pedang (Mengejar arwah merampas jiwa), yang beruntun tiga kali tujuh, tidak kurang setiap serangannya itu, kena dihalau oleh Thian Tok, diam2 ia mengagumi dan memuji lawannya ini.

"Cit Siu Tooheng, apakah tetap kau tidak hendak melepaskan aku pergi?"

Bertanya Thian Tok selagi bertarung. Si imam mengertak giginya.

"Kau sambutlah lagi dua jurus!"

Serunya, keras dan sengit, nadanya seram, Itulah tanda kemurkaan dan penasaran yang hebat, Ia benar2 menyerang kekiri dan kekanan, dikiri dengan jurus 'Diliongbun gelombang menggempur', dikanan dengan jurus 'Digurun besar, pasir berterbangan', Namanya dua kali penyerangan, sebenarnya itu menjadi berjumlah empat belas kali, sebab seperti telah diketahui, setiap serangannya berulang tujuh kali, Dengan itu, berarti semua tikamannya itu mencari empat belas jalan darah dari Thian Tok.

"Tooheng, kau sangat mendesak aku, maka tidak ada jalan lain, terpaksa aku mesti menemani kau!"

Berkata Thian Tok, keras dan berbada putus asa, Maka bergeraklah pula senjatanya dibarengi tangan kirinya yang kosong.

"Tingtong! Tingtong!"

Demikian beruntun terdengar suara nyaring, Cit Siu terperanjat, ia melompat mundur, dengan itu ia mengambil kesempatan untuk memeriksa pedangnya, Betapa kagetnya ia, mendapatkan pedangnya itu telah gompal disatu tempat, Itupun menyatakan hebatnya serangan dari Thian Tok, Hendak ia membuka mulutnya, ketika Pouw Kian mendahului dia dengan tertawanya yang menyeramkan, disusul sama sambaran sebelah tangannya, Karena menggunakan Thian Tok menghajar pedang Cit Siu, ia mencengkram dengan lima jari dari tangan kirinya, Maka robeklah baju dipundak Thian Tok!

"Cio Thian Tok, pada hari ini dari lain tahun, itulah hari sembahyang kematianmu satu tahun!"

Pouw Kian berseru mengejek, Kemudian ia menambahkan.

"Cit Siu Tooheng, mari maju bersama, mari kita mampusi dia!"

Sebaliknya, dari pada maju menyerang, Cit Siu menarik pulang pedangnya, Kata dia dengan suara tak lancar;

"Kita adalah orang2 nomor satu dari dunia Rimba Persilatan, kalau dengan cara begini, kita mengalahkan dia, itu bukanlah kemenangan yang cemerlang! Saudara Pouw Kian, mari!"

Kata2 ini, ajakan untuk berlalu pergi, disusul dengan teriakan panjang dan keras dari Cio Thian Tok, seruan umpama kata "Menembus mega, menghancurkan batu"

Itulah tanda dari lweekang, yang telah mencapai puncaknya, teriakan itu tidak memperlihatkan sedikitpun juga bahwa dia telah kena dilukai.

Pouw Kian tengah melompat maju, untuk mengulangi seranganya, tatkala telinganya mendengung teriakan itu, ia kaget bukan kepalang, hingga mukanya menjadi pucat, Justeru itu Thian Tok tertawa lebar dan mengatakannya!

"Jari tanganmu yang berbisa tak dapat melukai aku!"

Berbareng dengan itu, sebelah tangannya melayang!

Tanpa ia berdaya, Pouw Kian terpelanting hingga satu tombak lebih, Siorang Mongol tidak kenal bahaya, jusrtu waktu itu ia maju, seraya mengayunkan cambuknya.

Kembalai Thian Tok berseru;

"Mengingat kepada bekas rekan, aku akan mengampuni kau, Pouw Kian, tetapi jahanam ini tidak! yang ia maksud adalah siorang asing ini, dan kata2nya itu dibarengi dengan bergeraknya pula tangan kirinya, maka disaat itu juga, cambuk kena disambar dan ditarik, selagi tubuh orang itu terbetot, poankoan pit ditangan kanan ditancapkan kedada lawannya itu! Menyaksikan itu,Cit siu berseru ber-ulang2, seruannya nada putus asa;

"Habis sudah, habislah! Kau telah membunuh orang ini, hal itu pasti tidak dapat diubah lagi, maka kita yang bersaudara satu sama lain, putuslah sudah hubungan kita!"

Habis mengucapkan demikian, imam ini menghampiri Pouw Kian, untuk diangkat tubuhnya buat dipanggul, dan dibawa pergi, dengan lari seperti terbang turun gunung. Thian Tok menghela napas panjang.

"Sudah terpaksa, tidak bisa lain,"

Katanya seorang diri, menyesal.

Setelah pertempuran hidup mati yang dahsyat itu, gunung menjadi sunyi senyap kembali, tetapi Hian Ki hatinya masih berdebar keras, Sebab baginya, peristiwa itu sangat hebat, sangat mengesankan.

Diantara cahaya rembulan yang indah itu, Thian Tok mendongak memandang keatas gunung, lalu terdengar suaranya yang perlahan;

"Siapakah yang menyangka dalam hidupku ini, kembali aku dapat tiba dirumah keluarga In...Ya, aku pergi terus atau aku kembali saja?..."

Hian Ki heran bukan main.

"Tadi dia nekat, dia melarang orang mencegahnya,"

Pikirnya.

"Sekarang musuh2nya yang tangguh sudah roboh, dan mengangkat kaki, kenapa dia justeru menjadi ragu2?"

IV.

Suatu pertemuan Masih Hian Ki mengintai dari pohon itu, Ia mendapatkan Thian Tok lesu sekali, bagaikan hilang semangatnya, tak ada tanda sedikitpun bahwa ia merasa girang dengan kemenangannya itu.

Dibawah sinarnya si Puteri Malam, ia berdiri menjublak saja, tak ada suaranya sama sekali, Hingga ia mirip dengan sebuah patung saja.

Kembali Hian Ki menggigil sendirinya, Sekarang ini Thian Tok tampaknya lebih menakutkan, dari pada waktu ia berkelahi mati2an barusan.

Sesaat kemudian, kembali Cio Thian Tok menghela napas yang panjang, lalu terdengar suaranya yang perlahan;

"Untuk 20 tahun aku terumbang-ambing diantara telaga dan lautan, rontok kuyup bagaikan bunga bwee dimusim semi dinegara Utara!..."

Lalu tangannya merogo kedalam sakunya, mengeluarkan berupa benda, apabila ia angkat itu, maka terlihatlah sebuah dompet bersulam, Kembali ia berkata dengan perlahan;

"Dompet ini disulam dengan huruf2 wanyoh, daun yang hijau yang teduh menghadapi orang yang lama... ."

Tak tahu Hian Ki artinya kata2 itu, tetapi ia merasakan nadanya yang sedih, Itulah curahan dari penyesalan hati, Mungkinkah jago ini yang demikian kesohor, ada mempunyai kesulitan yang tak dapat dia utarakan?

Sesaat kemudian, Cio Thian Tok menyimpan kembali dompetnya itu, Lalu sekali lagi ia mengoceh seorang diri;

"Peristiwa2 didalam dunia ini ber-ubah2, bagaikan mega dan asap melintas didepan mata, maka apakah perlunya aku me-mikir2kan pula semua itu yang telah lewat...?"

Segera juga tubuh jago itu bergerak, atau dilain saat ia seperti sudah menghilang, entah ia terus pergi kerumah siorang she In itu, atau ia kembali ketempat dari mana ia datang...

Baru sekarang Hian Ki berani keluar dari tempatnya bersembunyi, Ia mendapatkan Si Puteri Malam sudah melintasi garis tengah dari sang langit, Di situ, disekitarnya, tak ada satu bayangan juga diri manusia, kecuali mayatnya siorang asing Mongol yang tergeletak ditanah pegunungan itu, Sunyi dan senyap, suasana itu menciutkan hati, Disaat sesunyi itu, ia teringat pula kepada So So si nona manis.

"Tentulah dia sudah tidur sekarang,"

Pikirnya.

"Tahukah dia bahwa dikaki gunung, telah terjadi pertempuran hidup mati ini?"

Bimbang pemuda ini, Ia ingin sekali menemui So So secara diam2, ia ingin pula mencari tahu tentang Siangkoan Thian Ya, Disamping itu, ia juga ingin mendapat kepastian apa benar Thian Tok telah pergi kerumah keluarga In itu, Untuk apakah Thian Tok menvari In Bu Yang?

Ada hubungan apakah diantara mereka itu berdua?

Tidak ada tempo setengah jam, kembali Hian Ki sudah berada didepan rumahnya In Bu Yang, Ia berlaku dengan sangat hati2 sekali, Ia memasang kuping tetapi tidak dapat mendengar sesuatu, Kiranya Bu Yang masih belun kembali, Ia ragu2 sebentar, lantas ia mengambil keputusan, Maka ia menjejakkan dengan kedua kakinya, membuat dirinya terapung tinggi lompat melintasi tembok, Itulah gerakan ringan tubuh 'Seekor burung bangau mencelat kelangit'.

Dipekarangan dalam, daun2 pohon bwe bagaikan menghalang2i cahaya rembulan, tetapi harumnya bunga2 menyesaki hidung, membuat hatinya lega, Maka malam itu sama dengan malam kemarinnya, Hanya saja sekarang, pemuda ini tidak melihat sipemudi kemarin itu..Hian Ki berduka dan bimbang hati, Ia telah datang dengn harapan besar, tetapi sekarang tak tahu ia mesti berbuat apa, Ia berpikir.

"Mustahilkah dimalam buta rata seperti ini aku lancang memasuki rumah orang, kekamar si nona itu? Ah, So So, So So, semoga dewa-dewi memberi mimpi kepadamu, memberitahukan kau bahwa aku telah datang kemari... Inilah lamunan, Kapan Hian Ki menginsafinya, ia tertawa sendirinya, andaikata benar ada dewa-dewi, tidak nanti mengetahui rahasia hatinya itu... Dalam saat yang sunyi itu, tiba2 Hian Ki mendengar helaan napas yang halus, yang dihantar silirnya sang angin, Itulah helaan dari rasa penasaran dan kedukaan, Tanpa terasa, ia menggigil, Itulah bukan suaranya So So, bukan juga suaranya Thian Tok. Cepat luar biasa, pemuda ini menyembunyikan dirinya didalam kamar tulis, Ia masih sempat melihat berkelebatnya satu bayangan tubuh dikaca jendela, Itulah seorang yang datang dari Timur, yang meloncati tembok, Tembok itu menyambung dengan ruangan dalam, Jadinya orang itu keluar dari dalam rumah, bukan datang dari luar, Ia menjadi melengak, matanya mengawasi, Atau kembali ia berdiri menjublak. Dibawahnya sebuah pohon bwee yang tua terlihat, seorang berdiri dengan rambutnya yang panjang terurai dipundaknya, Dialah seorang wanita setengah umur, yang parasnya pucat pasi, Dengan memiringkan tubuh sedikit, ia memandangi si Puteri Malam, Ia mirip seorang wanita yang kehilangan cinta sang suami. Setelah mengintai sekian lama, Hian Ki merasakan wajah orang mirip wajah So So, Maka mulailah ia menduga, kecuali nyonya In, ibunya si nona manis itu, dialah pasti bukan orang lain lagi. Kembali pemuda ini terbenam dalam ke-ragu2an, hingga ia me-nerka2, Nyonya In Bu Yang ini berada didalam rumahnya sendiri, mengapa dia keluar secara diam2, bahkan dengan cara meloncati tembok? Bukankah dengan begitu, dia tak mirip2nya sebagai nyonya dari rumah itu? Bukankah dia lebih mirip dengan seorang kangouw tukang ngelayap malam untuk menyelidiki sesuatu? Dan lebih aneh lagi, dari pembicaraan Bu Yang dengan anak gadisnya, dialah seorang nyonya berpenyakitan yang tengah rebah dipembaringan didalam kamarnya sendiri, yang tak pernah melangkah setindak juga dari ambang pintu! Sekarang ditengah malam sunyi ini dia keluar seorang diri! Adakah dia hendak menghirup harumnya bunga sambil memandangi si Puteri Malam? Lebih aneh lagi, gerakan tubuhnya demikian gesit, tak mirip2nya denan orang yang lagi menderita sakit... Belum lama, sejumlah lembaran bunga bwee terbang jatuh, disusul dengan lompat turunnya satu bayangan manusia, ringan jatuhnya, tak ada suaranya sedikit juga. Hian Ki heran, Tak tahu ia, kapan datangnya, orang itu...adalah Cio Thian Tok! "Thian Tok, benar2 kau!"

Berkata nyonya In perlahan, Ia tak kaget karena munculnya bayangan itu yang secara tiba2.

"Ya, Poo Cu!"

Menjawab Thian Tok.

"Kau menantikan aku disini?"

Perlahan suara lelaki itu, tetapi dari nadanya nyata hatinya memukul keras.

"Ya,"

Menyahut nyonya itu.

"Barusan aku mendengar suara pertarungan dikaki gunung, Orang yang dapat mengalahkan ilmu pedang Cit Siu Toojin, yang sekali bergerak dapat menjalankan tujuh jurus, menurut setahuku dijaman ini, kecuali Bu Yang dan kau, tidak ada orang yang ketiganya."

Hian Ki terkejut, Sungguh lihay telinganya Nyonya In Bu Yang ini, Dia tidak menyaksikan pertempuran dengan matanya sendiri, dia cuma mendengar, tapi, dia mengetahui pertarungan itu demikian jelas, dia tahu bahwa pihak musuh adalah Cit Siu imam yang lihay itu, Dia hanya membedakan suara bentroknya senjata saja!

Nyata sekali, ilmu mendengarnya nyonya ini hebat sekali kepandaiannya.

Thian Tok tertawa, tetapi nadanya sedih.

"Terima kasih untuk pujianmu,"

Katanya.

"Oh, kiranya saudara Bu Yang tidak ada dirumah."

"Apakah kau tidak berpapasan dengan dia?"

Si nyonya bertanya.

"Tidak, Aku justeru handak mencari dia, Aku menduga, jikalau dia ada dirumah, pasti dia telah ketahui kedatanganku ini."

"Tadi tengah malam dia turun gunung,"

Berkata si nyonya.

"Untuk urusan apa, aku tidak tahu, Aku tadinya menduga ia ketahui kau datang dan pergi untuk memalakmu."

Thian Tok berdiam sebentar, lalu ia tertawa menyeringai.

"Oleh karena saudara Bu Yang tidak ada dirumah, tidak leluasa aku untuk berdiam lama2 disini,"

Katanya kemudian.

"Baik, besok saja aku datang kembali,"

Ia mengucapkannya demikian, tetapi kedua kakinya tak bergerak, Nyonya In menghela napas panjang;

"Kau sudah datang, perlu apa kau lantas pergi pula?"

Katanya.

"Kita sudah sama2 tua, apakah diantara kita mesti ada pula kerikuhan, hingga kita mesti saling menyingkir? Kalau sekarang kau pergi, aku khawatir, untuk selanjutnya bakal tidak ada kesempatannya lagi, untuk kita bertemu berduaan saja..."

Perlahan sekali suaranya si nyonya, kepalanya pun ditundukkan, seperti tak berani ia memandang sinar matanya Thian Tok, Hingga ia mirip lagi bicara dengan dirinya sendiri, bukan kepada pria dihadapannya itu.

Hati Thian Tok berguncang keras, Ia maju satu tindak;

"Poo Cu, kau..."

Katanya, suaranya perlahan, tetapi tajam.

"Perlahan sedikit,"

Memperingati si nyonya.

"Jangan kau membikin kaget So So,"

Paras Thian Tok merah, ia mundur pula, Lalu terus menyender dipohon bwee.

"So So?"

Ia menanya.

"So So adalah anakku perempuan, sekarang ia sudah berusia delan belas tahun."

Thian Tok menghela napas.

"Sudah delapan belas tahun..."

Katanya.

"Ya sang waktu lewat cepat sekali, Anak2 kita telah menjadi besar..."

"Ah! kapankah kau menikah? Mengapa isterimu tidak datang bersama?"

Nyonya In agaknya heran.

"Ketika aku mendapat dengar khabar girang dari kau dengan saudara Bu Yang,"

Menjelaskan Thian Tok.

"waktu itu aku lagi rebah sakit di MOngolia, Selama aku sakit, dialah yang merawati aku, Mulanya aku tidak berpikir untuk menikahi dia, lalu kemudian aku berbalik pikir, Aku ter-lunta2 dinegara orang, sudah seharusnya aku mendapatkan keturunan, untuk penyambung keluarga Cio, Demikian ditahun kedua, bagaikan tanpa terasa, dengan cara sederhana, menikahlah kami, Isteriku itu tidak mengerti ilmu silat, maka itu sebelum aku angkat kaki dari watzu, siang2, aku telah kirim isteri dan anakku itu pulang kekampung halamanku di Shoasay, Poo Cu, kau pasti tidak menyesalkan aku, bukan?"

Nyonya itu menggeleng kepala.

"Mana dapat aku menyesalkanmu?"

Sahutnya.

"Tentulah puteramu itu sudah dewasa?"

Tanpa ia kehendaki, Tan Hian Ki dapat mendengar pembicaraan orang itu, Itulah pembicaraan biasa, yang terdapat umum se-hari2, tetapi yang ini ada terpendam cerita asmara yang tersembuyi, Maka makin heranlah ia.

"Nyonya In ini gagah perkasa, kalau dahulu itu bukan karena kehendaknya sendiri, siapa dapat memaksa ia menikah dengan In Bu Yang?"

Pikirnya.

"Ia sudah menikah, kenapa sekarang ia agaknya masih menyintai Cio Thian Tok?"

Maka mulailah ia menduga, diantara kedua orang ini, dua jago satu jantan dan betina, mesti ada tersembunyi sesuatu apa, yang tak dapat mereka beberkan dimuka umum, Dan In Bu Yang itu, mengetahui akan rahasia hati isterinya ini?

mengingat begitu, Hian Ki membayang ancaman bencana untuk nyonya ini dan kekasihnya itu, ia menjadi berkhawatir sendiri, sampai ia lupa bahwa ia sendiri pun turut terancam bahaya...

"Anakku itu sekarang sudah berusia enam belas tahun,"

Menerangkan Thian Tok.

"Aku beri nama Eng padanya, Ia bertabiat keras hingga sering ia menimbulkan onar buatku, Sahabat2nya menyebut dia Hongthianlui (si Guntur).

"So So-ku sebaliknya alim,"

Kata Nyonya In tertawa.

"Kadang2 saja ia sangat lucu, tetapi ia bersifat seperti ayahnya, apa yang ia pikir, ia akan lakukan, walaupun salah, ia tidak menyesal,"

"Ah, kau lebih beruntung dari pada aku, suamimu gagah, anak gadismu lembut, dan ini rumah, kamu telah mengaturnya seperti goa dewa-dewi, dimana gunung ini indah, lengkaplah dua2nya, Dengan kehidupan manusia yang begini, apalagi yang dikehendaki? Aku telah datang kesini, dan menyaksikannya, legalah hatiku."

Ia mengangkat kepalanya, ia masih tampak si nyonya tersenyum, hanya pada kedua matanya, airnya mengembang, ber-linang2. Heran orang she Cio ini.

"Adakah saudara Bu Yang perlakukan kau buruk?"

Ia bertanya.

"Baik, terlalu baik!"

Menjawab si nyonya.

"Setiap hari dia menyuruh aku makan obat!"

Thian Tok semakin heran.

"Menyuruh kau makan obat? Kau sakit apakah?"

"Setelah menikah dengannya, untuk beberapa tahun aku sehat2 saja, hanya belasan tahun kemudian, sering jantungku sakit, sebentar baik, sebentar kumat, Disini tidak ada orang dengan siapa aku dapat berbicara untuk mencurahkan isi hati, Demikian apa yang terjadi, musim semi datang, musim semi pergi, aku tidak niat untuk memperdulikannya, Didalam tahun ini juga baru kali ini aku keluar kemari,"

Thian Tok tercengang saking heran.

"Kenapa begitu?"

Tanyanya. Hal itu barulah kemudian aku dapat mengetahuinya, Sebenarnya Bu Yang menikahi aku bukan karena cintanya..."

"Apakah bukannya kau terlalu banyak berpikir?"

"Bukan, hanya dia, selama belasan tahun, dia terus-menerus ingat saja isterinya yang dulu, Nama kecil isterinya itu dipanggil Bwee, maka juga semua pohon bwee disini ada untuk mengingati isterinya itu,"

"Isterinya Bu Yang itu telah menutup mata di Tiangkang, sampai sekarang ini sudah berselang 20 tahun, Kalau begitu, aku harus memuji dan menghormati dia."

"Kenapa ?"

Thian Tok memaksakan diri untuk tertawa.

"Kalau dia memikirkan orang lain, aku tidak sesalkan kau, tetapi dia memikirkan almarhum isterinya, bukankah itu menandakan cintanya yang satu, mati atau hidup ia tak melupakannya? Dengan mengingat yang dulu, dapat ia mencurahkan cinta pada orang yang sekarang berada disampingnya, Seorang duda, apabila ia lekas2 melupakan isterinya yang lama, terhadap isterinya yang baru, belum tentu ia dapat menyintanya sungguh2 dan kekal."

Terang Thian Tok berbicara untuk menghibur, tetapi itu pun beralasan, Hanya, diluar dugaannya, air mata si nyonya In bercucuran semakin deras.

"Aku tidak pandai bicara, kalau aku salah ucap, maafkan aku,"

Thian Tok berkata. Nyonya In tidak menjawab, hanya ia balik bertanya.

"Tahukah kau kenapa dia nikahi aku? demikian tanyanya.

"Kau berilmu silat tinggi, kau cantik, hatimu pun baik,"

Menyahut Thian Tok,"Kaulah wanita gagah dan cantik tak ada bandingannya, Semasa hidupnya isteri Bu Yang itu, asal membicarakan kau, dia memuji dan sangat mengagumimu."

Nyonya In sebaliknya tertawa tawar.

"Siapa bilang dia menikah karena menyintai aku?"

Katanya.".

"Sebenarnya dia menikah denganku untuk kitab ilmu pedang kepunyaan ayahku."

Inilah heran, maka Thian Tok terkejut.

"Ah!"

Serunya tertahan, tak berani ia lantas mengucap kata.

"Ayahku berhasil mendapatkan kitab tua ilmu pedang Butong Pay yang telah lama lenyap dari guru besar Tat Mo,"

Nyonya In menerangkan.

"Belum lagi ayah memahaminya secara sempurna, dia telah mencurinya dan dibawa kabur menyingkir, Aku tidak gusar atau menyesali yang dia senantiasa masih mengingat isterinya yang lama itu, hanya aku mendongkol dia menyebabkab kami ayah dan anak berpisah untuk se-lama2nya, kami tak dapat bertemu pula, Dia sangat mementingkan diri sendiri, supaya dirinya menjadi jago pedang nomor satu dikolong langit ini, dia men-sia2kan isterinya, hingga aku jadi menderita!"

Baca Juga: Lembah Patah Hati Lembah Beracun 3

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger