Eps 12 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
Tapi Tiong Lian sudah dapat menerka bahwa kakek itu sekarang pun timbul rasa curiga mengenai barang-barang yang tadinya dianggap sepele itu sebenarnya mempunyai cerita yang belum diketahui.
Kemudian kakek baginda mengambil kedua surat yang tersimpan dalam kotak perhiasan itu dan tanya.
"Surat siapa lagi ini? Bolehkah kulihat?""
"Akupun tidak tahu surat siapa."
Sabut Tiong Lian.
"Menurut Koko, surat ini seperti surat cinta seorang wanita!"
Kakek baginda tampak termangu-mangu sejenak, lalu ia mengambil surat-surat itu. tangannya kelihatan gemetar. Sesudah membaca kedua pucuk surat ini air matapun tampak berlinang-linang.
"Kenapa kau, kakek?"
Tanya Tiong Lian.
"Apakah yang tertulis didalam surat? Janganlah merasa sedih!"
"Aku tidak sedih. Coba, kemarilah kau,"
Kata kakek, lalu ia memeluk Tiong Lian yang telah mendekatnya itu dan menyambung dengan terharu.
"Usiaku sudah lanjut, sebelah kakinya sudah melangkah keliang kubur, tapi baru hari ini aku tahu akan asal usul diriku sendiri. Sungguh aku merasa sangat senang dan berterima kasih kepadamu yang telah membongkar rahasia diriku ini. Lian Ji, tentu kau pun tidak pernah duga bahwa kita sebenarnya adalah orang sekeluarga.". Tiong Lian tidak menjawab, dengan terkesima ia memandang sikakek, hampir ia tidak percaya kepada telinganya sendiri. Maka si kakek telah berkata lagi.
"Kedua pucuk surat itu adalah tulisan ibusuriku, penerima surat adalah buyutmu. Aku dan kakekmu sendiri adalah saudara dari satu ayah tapi lain ibu, nah, sekarang kau sudah terang belum. Dan baru sekarang aku menjadi paham, maka-nya ibu berkali-kali memberi pesan agar diantara kedua negeri kita kita harus hidup damai dan bersahabat, kiranya kita memang benarbenar ada lah dua negara saudara. Baru sekarang Tiong Lian paham duduknya perkara, makanya didalam surat kedua itu siwanita pengirim surat itu memberitahukan bahwa dia telah melahirkan seorang putera dan mohon kepada bekas kekasih itu agar jangan sekali-sekali bertemu puteranya dimedan perang Dan ternyata putera ia yang dimaksudkannya itu adalah "sikakek"
Dihadapannya sekarang itu, dan kekasihnya adalah buyutnya Tong Lian sendiri. Karena masih banyak hal-hal yang tidak di ketahui, segera Tiong Lian bertanya.
"Kakek, jika ibu surimu telah saling mencintai dengan buyutku, mengapa dia tidak menjadi permasuri kerajaan Masar, tapi telah menjadi permaisuri kerajaan Kunbran"
"Seluk beluknya akupun tidak jelas, tapi dari sejarahnya dapat kutaksir kemungkinan yang telah terjadi itu,"
Tutur sikakek "Kira-Kira ratusan tahun yang lalu, tatkala itu suku Gurkha dari india telah menyerbu kedua negara kita.
Kerajaan Masar telah diduduki oleh musuh, Kunbran juga terkepung tapi masih terus bertahan dengan kuat sampai bertahun-tahun lama nya.
Waktu itu kakek luar adalah seorang pertapa Kunbran yang terkenal serta pandai sesudah raja Masar mengurgsi kenegeri ini, dia tahu kakek luar adalah seorang pandai yahg mengasingkan diri.
maka beliau telah mendatangi kediaman kakek luar dan mengangkat beliau sebagai guru.
Dan kukira hubungan baik ayah dan ibu tentu dimulai pada Waktu itu.
Belakangan rakyat Masar tidak tahan atas penindasan.
suku bangsa lain.
Beramai-ramai mereka bangkit memberontak Sehingga suku Gurkha itu kewalahan, terutama kekuatannya yang telah lemah berhubung sekian lamanya tidak dapat membobolkan pertahanan Kunbran akhirnya mereka dapat diusir kembali kenegeri asalnya sesudah pasukan pergerakan Masar bergabung dan berjuang bersama pasukan kerajaan Kunbran."
"Selama buyut berdiam di rumah pertapa itu, apakah tidak pernah terangkan siapa beliau sebenarnya?"
Tanya Tiong Lian.
"Ya, sesudah pasukan pemberontak Masar pulang dan menemukan rumah pertapa itu untuk menjemput raja mereka agar dapat memimpin pertempuran dengan musuh, barulah hal itu diketahui umum Sebelumnya kukira cuma ibu saja yang mungkin telah mengetahuinya."
"Tapi kemudian mengapa ibumu menikah pula dengan raja Kunbran?"
Tanya Tiong Lian "Sesudah peperangan itu selesai, raja Kunbran telah jatuh hati kepada puteri pertapa itu dan mengirim utusan untuk meminangnya dan perjodohan itupun lantas terjadi,"
Tutur sikakek.
Tatkala itu raja Masar sudah pulang kenegerinya dan sibuk memulihkan keadaan didalam negeri.
Menurut taksiranku, sebabnya ibu menerima lamaran raja Kunbran pertama orang yang melamarnya adalah raja negerinya sendiri, kedua, negara yang sudah bersahabat itu.
Rupanya raja Masar juga tidak ingin mengorbankan persahabatan antara kedua negara hanya karena seorang wanita, maka terpaksa iapun merahasiakan untuk selamanya cinta kasih mereka itu dan tidak diketahui oleh siapapun juga."
"Dari kedua pucuk surat itu, agaknya mereka berdua samasama sangat menderita batin,"
Ujar Tiong Lian dengan gegetun.
"Ya, senantiasa ibu merasa tidak gembira, hanya kalau aku berada dinadapannya barulah terkadang ia suka bersenyum,"
Kata si kakek.
"Rahasia itupun baru sekarang kuketahui dengan jelas. Aku telah menjadi raja selama enam puluh tahun, diantara raja-raja Kunbran, akulah paling lama diatas singgasanaku, tapi juga raja yang paling menderita bathin." ---ooo0dw0ooo---
Jilid 18
"SEBABNYA ialah karena tujuh bulan ibu masuk keraton, dan aku sudah lantas lahir. Maka waktu itu terdengar desasdesus yang menuduh ibu tidak suci, katanya aku bukan darah keturunan raja sendiri. Belakangan sesudah aku naik tahta, permulaannku pun banyak mengalami kesukaran terhadap para ko rabat kerajaan yang ingin merobohkan tahtaku. Untuk bicara terus terang, aku sendiripun pernah menyangsikan asalusul diriku sendiri, tapi batu sekarang inilah aku mengetahui duduk perkara seluruhnya. Namun aku sama sekali tidak dendam kepala ibusuri, biarpun dulu akupun merasa kasihan dan simpati padanya. Dia lebih menderita daripadaku, demi untuk kepentingan kedua negara, dia rela mengorbankan kekasih sendiri dan kebahagiaan pribadi, pula dengan susah payah mendidik dan membesarkan aku, membantu aku mengatur negara, padahal mesti menahan serahan desasdesus musuh dari luar dan dalam keraton.... Ai, beliau benar?, seorang yang harus di kasihani!"
"Ya, kakek sendiri juga telah banyak menderita,"
Kata Tiong Lian.
"Dan jika kedua negeri kita sebenarnya adalah saudara, mana boleh sekarang berubah menjadi musuh ? Kakek, harap engkau mencari jalan untuk mendamaikan permusuhan ini."
"Apa yang kau katakan memang benar,"
Ujar si kakek.
"Tapi ada sesuatu aku merasa tidak paham. Kau bilang kerajaan Masar kalian sangat mementinkan persahabatan kedua negara kita, hal ini aku percaya penuh. Tapi mengapa kalian membunuh pula utusan negara kita."
"Kakek, sudah lama ingin kubicarakan urusan ini dengan engkau,"
Sahut Tiong Lian.
"Memang benar kakak telah membunuh utusan itu, tapi ketika hal itu terjadi sedikitpun kakak tidak tahu dia adalah utusan negeri kalian, kejadian itupun sama sekali diluar dugaan...."
Buru bicara sampai disini, tiba-tiba terdengar orang mengetok pintu.
"Siapa ?"
Bentak kakek baginda.
"Sri baginda ingin menyampaikan hormat kepada Lococong,"
Terdengar dayang diluar telah melapor. Sikakek mengerut kening, akhirnya berkata.
"Boleh juga dia ikut tahu biar suruh dia masuk, kemari."
Lalu ia berkata Tiong Lian.
"Hendaklah kau menyingkir sebentar kekamar samping sana, coba dengarkan apa yang hendak dibicarakan."
Sejenak Kemudian, raja Kunbran telah masuk dan memberi hormat.
"Kabarnya kakek telah mengusir kedua pengawalmu?"
Tanya raja.
"Sebabnya aku mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepadamu, tujuannya ialah ingin hidup bebas dan tenteram, tapi kau justeru tidak ingin aku hidup demikian itu!"
Kata sikakek dengan uring-uringan.
"Dengan mengirim kedua pengawal itu, maksud cucu justeru ingin melindungi kakek dengan lebih baik,"
Kata raja.
"Usiaku sudah selanjut ini, masakah masih takut dibunuh orang?"
Sahut sikakek.
"Aku tinggal didalam keraton sendiri, kenapa perlu perlindungan segala?"
"Kakek, keadaan sekarang berbeda daripada biasanya!"
Kata raja dengan bisik-bisik.
"Kita telah cekcok dengan negeri Masar, kabarnya raja mereka berkepandaian sangat tinggi, tentu juga mempunyai banyak jago-jago pilihan, maka cucu kuatir...""
"Kuatir aku dibunuh mereka?"
Sela sikakek.
"Dan puteri Masar yang kita tawan itu hendaklah kakek juga jangan berdekatan dengan dia!"
Kata raja.
"Ha, kaupun hendak memerintah aku?"
Seru si kakek dengan aseran.
"Mana cucu berani,"
Sahut raja.
"Tapi puteri itu toh adalah musuh, betapapun aku merasa kuatir bila kakek berdekatan dengan dia."
"Apa kau akan perang dengan Masar"
Tanya sikakek.
"Ya, aku sudah perintahkan segenap angkatan perang siap siaga, dalam beberapa hari ini akan segera melintasi gunung selatan,"
Sahut raja. Mendadak sikakek menjadi gusar, kata nya.
"Dikala kau menerima tahta danku, bagaimana pesanku padamu, apa kau sudah lupa?"
"Cucu tidak pernah lupa, namun keadaan sudah meruncing, peperangan ini terang susah dihindarkan lagi. Adapun puteri Masar itu le bih baik kakek serahkan padaku saja."
"Cucuku, apa kau tahu pernah apakah puteri Masar ini dengan kau ?"
Tanya sikakek. Raja tercengang sejenak, lalu menjawab.
"Apa maksud kakek ini ? bukankah dia adalah musuhku ?"
"Dia adalah saudaramu sendiri dari satu buyut !"
Sikakek menegaskan.
Dengan ucapan ini sikakek mengira cucunya pasti akan kaget.
Siapa tahu sikap raja meski tampak terkesiap, tapi juga tidak sekaget sebagai mana dugaan kakeknya.
Bahkan ia telah melongok keluar jendela lalu menutup rapat daun jendela itu, sesudah menghela napas lega, lalu berkata dengan suara tertahan.
"Kakek, harap bicara dengan perlahan. Apa betul ucapanmu? Mengapa selama ini tak pernah kau katakan padaku?"
"Akupun baru tahu tadi,"
Bahut sikakek.
"Coba lihat, ini adalah surat-surat yang ditulis buyut perempuanmu kepada raja Masar dahulu, raja itu adalah ayahku sendiri dan juga buyut mu."
Sesudah terima kedua surat itu dan dibaca, lalu raja membakarnya. Katanya.
"Surat ini tidak perlu disimpan terus!"
"Jadi raja Masar sekarang adalah saudara sepupumu sendiri, apa kau tidak mengaku kepada anggota Keluarga sendiri?"
Tanya sikakek.
"Kakek, apa kedua pucuk surat ini kau peroleh dari puteri itu?"
Tanya raja.
"Benar, habis kau mau apa?"
"Selain dia, siapa lagi yang tahu akan rahasia ini?"
"Tidak ada lain orang lagi!"
"Baik, hendaklah kau cerahkan dia padaku, biar kuselesaikan dia dan rahasia ini tidak boleh tersiar!"
Wajah sikakek berubah seketika, katanya.
"Apa? Kau tidak mau mengakui saudara sendiri, bahkau hendak membunuh orang untuk menghilangkan saksi?"
Raja tampak serba susah, ia garuki kepala dan berkata.
"Kakek, kau benar-benar sudah pikun mana boleh aku mengaku musuh sebagai saudara ? Coba pikirkan, bila rahasia ini tersiar sehingga orang luar mengetahui aku adalah orang masar, apakah kita masih dapat menjadi raja Kunbran ?"
"Kau sendiri yang pikun,"
Sahut sikakek.
"Siapa yang minta kau siarkan rahasia ini, Kau tidak mau mengakui saudara sendiri juga boleh, tapi betapapun kau tidak boleh membunuh adik perempuan sepupumu. Nah, biar kuberikan satu jalan baik padamu, boleh kau pura-pura pergi berburu, kau sembunyikan dia di dalam keretamu, setiba ditempat sepi lantas kau melepaskan dia."
Tapi raja menggeleng kepala, katanya "Tidak, bila mendadak dia menghilang, tentu akan menimbulkan curiga orang, paling tidak bok Lolo pasti akan tanya.
"Hm, kau hanya takut kepada Bok Lolo saja,"
Jengek sikakek.
"Tidak melulu Bok Lolo saja,"
Kakek sudah belasan tahun tinggal menyepi didalam istana dan tidak ikut campur urusan negara munkin kakek tidak tahu bahwa pengaruh golongan Thay Ceng Ong (raja muda) sangat besar bahkan Thay Ceng Ong sendiri juga mengincar tahta kita.
Bila utusan ini bocor, ini berarti memberi senjata ampuh baginya.
Apalagi Masar tokh adalah negeri musub.
kalau kita lepaskan puterinya dan rahasia kita akan serba celaka ?""
"Habis kau mau apa ?"
Tanya sikakek.
"Bukankah puteri itu berada disini, kakek?"
Tanya raja.
"Ha, apa kau hendak menggeledah tempat ku ini"
Bentak sikakek dengan marah.
Tapi mendadak Tiong Lian telah muncul, katanya dengan tenang .,Kakek, hendaklah kalian jangan cekcok mengenai diriku.
Koko, kapan tidak perlu susah mengenai diriku.
Aku tahu kalianpun serba salah maka aku bersedia membebaskan kekuatiran kalian untuk menyelamatkan tahtamu asalkan kau berjanji tidak akan menyerang negeri Masar kami, dan sekarang juga aku akan membunuh diri dihidapanmu.
Dengan demikian kalian boleh tak usab kuatir rahasia ini akan tersiar ."
"Tidak boleh jadi !"
Seru sikakek.
"Korbankan aku seorang demi untuk keselamatan orang banyak, kenapa tidak boleh jadi?,"
Ujar Tiong Lian dengan tersenyum. Raja sebaliknya tertegun, ia seperti terharu atas sikap Kok Tiong Lian itu. Tiba-Tiba ia bertanya .
"Apa kakakmu sendiri tidak tahu akan rahasia ini ?"
"Selain aku, tiada orang lain lagi yang tahu,"
Kata Tiong Lian.
"Akupun baru saja tahu, sebab tulisan ke dua pucuk surat itu hanya kakek saja yang mengenalinya."
"Apa negeri Masar kalian benar-benar tidak ingin bermusuhan dengan negeri kami?"
Tanya raja pula.
"Sudah tentu, kalau tidak, buat apa kami mengirim utusan perdamaian kesini?"
Sabut Tiong Lian. Tapi raja masih merasa ragu-ragu ia pandang Tiong Lian dengan termagu-rungu.
"Lian Ji, tadi kau bicara tentang dibunuhnya utusan cucuku, bagaimana duduknya perkara, coba kau ceritakan,"
Tanya sikakek.
"Ya. akupun ingin tanya urusan itu,"
Timbrung raja. Tiong Lian pandang raja sekejap dan ragu-ragu. tapi kemudian iapun berkata.
"Maafkan aku. lebih dulu aku ingin tanya sesuatu baginda."
"Tentang apa?"
Tanya raja.
"Marilah kita bicara secara blak-blakan, saja utusan yang baginda kirim itu apa melulu bertugas menyampaikan ucapan selamat kepada kakakku yang naik tahta saja?"
"Memangnya kau sangka ada tugas lainnya?"
Balas tanya raja.
"Tapi besoknya sesudah utusanmu menyampaikan surat kepercayaan, disuatu tempat lain kami telah pergoki dia,"
Kata Tiong Lian.
"Ditempat apa ?"
Tanya raja dan tak sabar "Didalam gudang pusaka kami !"
Sehut Tiong Lian, tatkala itu dia berkedok dan ada pula seorang kawannya, yaitu putera Kayun yang merebut takhta kerajaan kami, namanya Kaso.
Sesudah kakak membunuh dia dan menyingkap kedoknya baru kami ketahui dia adalah utusanmu.
sayang Kaso berhasil melarikan diri sehingga tak bisa dijadikan saksi, tapi apa yang kuceritakan ini memang benar terjadi."
"Bisa terjadi begitu"?!"
Raja menegas.
"Ho. kiranya bukan........."
"Apa kau sangka perbuatan utusan itu ada lah atas perintahku"
Sela raja dengan kurang senang.
"Biarpun Kunbran tidak makmur sebagai negeri Masar kalian, tapi tidak nanti orang untuk mengerayangi harta pusaka kalian."
"Tahulah aku, tentu itu adalah gara-gara Kaso yang mengincar pusaka didalam gudang kerajaan Masar,"
Timbrung sikakek "Sudah lama aku anjurkan kau jangan terima manusia rendah sebagai Kaso. tapi kau tidak menurut... He. kenapakah kau ?"
Tiba-Tiba wajah raja tampak pucat, Sahutnya dengan suara gemetar.""Celaka, utusan itu adalah puteranya Thay Ceng Ong, namanya Hadi.
Dengan kedudukan dan kekayaannya tidak lah mungkin diapun kemaruk kepada harta pusaka negeri kalian.
Kukuatir dibalik itu masih ada sebab lainnya.
Kakek, maafkan kalau aku bicara terus terang....Sudah lama aku mendapat laporan rahasia yarg menyatakan bahwa Thay Ceng Ong mengincar tahta kita dan sengaja menyiarkan desasdesus..."
"Desas-desus apa?"
Potong sikakek. Dengan ragu-ragu akhirnya raja bicara.
"Menyebarkan kabar bohong bahwa kekek dilahirkan sebelum cukup bulan, maka Thay Ceng Ong ingin mengusut skandal ini, tegasnya dia menyangsikan keturunan kita,"
"Ini bukan kabar bohong, tapi sekarang kau sendiri kan sudah tahu,"
Ujar sikakek.
"Namun maksud Thay Ceng Ong hendak merebut tahta, rasanya diapun belum berani, apalagi urusan sudah hampir seabad lamanya, orang orang yang sebaya dengan usiaku sudah mati semua, kalau dia mengusut perkara ini juga tiada orang mau percaya tuduhannya."
"Ya, tapi kalau dia sudah memegang semua bukti. maka dengan resmi iapun ada alasan untuk mengenyahkan kita"
Kata raja.
"Dari itu kenapa sebabnya Hadi menggerayangi gudang pusaka kerajaan Masar, tentu tujuannya hendak mencari bukti-bukti itu, misalnya kedua pucuk surat tadi."
"Baiknya surat-surat itu sekarang sudah terbakar,"
Kata kakek baginda. Tapi selama Thay Ceng Ong masih ada akan tetap merupakan bahaya, apalagi puteranya terbunuh, masakah dia mau sudah ?!"
Kata raja.
"Biarpun Lian moay menyatakan dia terbunuh dikala mengerayangi gudang pusaka, tapi tiada bukti dan saksi, betapapun urusan ini susah dipercayai orang."
"Kalau begitu jadi terpaksa kau tetap akan perang dengan negeri kami ?!"
Tanya Tiong Lian.
"Hanya ada satu jalan, apa kau sudi membantu aku, Lian Moay"
Tanya raja.
"Cara bagaimana ?"
Sahut Tiong Lian.
"Membantu aku menghadapi Thay Ceng Ong,"
Kata raja.
"Apa kau hendak membunuh dia untuk menutup mulut ?"
Sela sikakek.
"Benar,"
Sahut raja.
"Urusan ini tak bisa minta bantuan Bok Lolo, tapi diam-diam kita membunuhnya saja. sesudah urusan terlanjur, tentu Bok Lolo tak bisa berbuat apa-apa padaku hanya karena Thay Ceng Ong saja."
"Tapi kekuatanku sudah hilang, tenaga menyembelih ayam saja tidak ada."
Ujar Tiong Lian dengan tersenyum getir.
"Kau terkena racun Siu lo so kut tan, aku mempunyai obat penawarnya dua jam kemudian tenagamu tentu akan pulih,"
Kata raja. Maka sebelum tengah malam nanti, diam-diam boleh kau datang keistanaku, tentang senjatamu pada saatnya tentu akan kukembalikan padamu nanti ."
"Iimu silat Thay Ceng Ong tidak lemah, begundalnya juga banyak, apa dia..."
Demikian kakek menjadi kuatir bagi Tiong Lian.
"Tapi kepandaian Lian moay terlebih tinggi"
Ujar raja dengan tertawa.
"Menurut pendapatku, selain Bok Lolo, tiada seorang Busu kita yang mampu menandingi Lian moay, maka bila ilmu silatnya sudah pulih kembali, untuk membunuh Thay Ceng Ong tentu tidaklah sulit. Adapun apa yang akan terjadi sesudah itu, biarlah kita lakukan menurut perkembangan saja. Yang penting sekarang yalah membunuh Thay Ceng Ong dulu sebelum aku sandiri digulingkan olehnya ."
"Baik, aku akan membantu kau, tapi kau juga harus janji padaku untuk selanjutnya ke dua negara kita bersahabat dan takkan saling menyerang"
Kata Tiong Lian.
"Sudah tentu,"
Sahut raja.
"Asal rahasia kita kau simpan rapat, secara diam? kita tetap saudara dan kedua negara tetap bersahabat,"
Kemudian Tiong Lian menerima dua butir pil dari raja dan segera ditelannya. Mendadak kakek baginda berseru.
"Obat penawar apa yang kau berikan itu?"
"Bukankah obat penawar Siu-Io-so-kut-aan""
Sahut raja. Tapi kakek baginda telah mendelik, katanya.
"Tidak bisa, dua butir obat itu tidak sama warnanya Biarpun mataku sudah lamur juga dabat mengenali obat penawar itu seharusnya berwarna merah saja. Lekas katakan, obat apa yang kau berikan padanya, Apa kakekmu sendiri juga hendak kau tipu."
Tiong Lian terkejut juga. Ia mundur dua langkah dan berkata.
"Memangnya akupun tidak pikirkan buat pulang dengan hidup, tapi bila kau hendak membunuh aku toh tidak perlu berbuat secara licik demikian."
Air muka raja sebentar merah sebentar pucat, akhirnya ia berkata dengan tertawa.
"Kakek dan Lian-moay tidak perlu sangsi, biarlah Kukatakan terus terang, kedua butir obat tadi yang sebutir memang bukan obat penawar namun, heh, bila Thay Ceng Ong nanti sudah terbunuh, tentu aku akan memberikan obat penawarnya. Dalam waktu tiga hari ku jamin kau takkan apa-apa "Mengapa kau menggunakan cara keji terhadap saudara sepupumu sendiri ?"
Semprot si kakek dengan gusar. Tapi Tiong Lian berbalik tertawa malah, katanya.
"Maklum, tentu kakak baginda kuatir aku akan mengeloyor pergi tanpa pamit bila kekuatanku sudah pulih. Apalagi kedua negara kita masih daiam keadaan bermusuhan tentu kau masih belum percaya penuh padaku. Baiklah, sesudah kubunuh Thay Ceng Ong baru aku akan meminta obat penawar lagi padamu Sekarang hendaklah kau katakan cara bagaimana aku harus bertindak "
"Tentang ini aku sudah menyiapkan suatu akal baik..."
Sampai disini. tiba-tiba raja berhenti bicara. Kiranya seorang nenek tahu-tahu sudah melangkah masuk kedalam kamar sambil tertawa yang dibuat-buat.
"Bagus, bagus ! Kiranya baginda dan puteri juga berada disini semua", seru nenek itu yang bukan lain adalah "Kim Lun Seng Bo"
Bok Lolo. Kakek baginda tampak tidak senang atas kunjungan nenek itu. katanya dengan dingin.
"Cucu baginda, jika Seng Bo mencari kau, maka boleh kau lakukan dinasmu."
Namun Bok Lolo telah berkata dengan tertawa.
"Tidak, aku justeru dalang untuk menyambangi Lococong !"
"Wah, tumben"
Sahut kakek baginda dengan tawar.
"Sungguh tidak nyana Seng Bo juga ingat kepada tua bangka yang tiada gunanya seperti diriku ini."
Meski nenek itu tahu si kakek menyindir dan tidak suka padanya, tapi ia pura-pura tidak tahu, bahkan dengan berseriseri ia terus ambil tempat duduk sendiri, ialu berkata dengan tertawa.
"Ai, mengapa berkata demikian. Tua-Tua keladi semakin tua Lococong tampik semakin kuat. Malah aku ingin minta petunjuk juga kepada Lococong ."
"Petunjuk apa ?"
Kata kakek baginda "Ingin belajar Lwekang dari Liong Lik Pit Kip yang dilatih Lococong "kata sinenek. Kakek baginda terkejut, sahutnya.
"Lwekang apa segala ? Dengar saja baru sekarang?"
Tiong Lian juga heran, pikirnya.
"Ternyata nenek siluman inipun tahu akan Liok Lik Pit Kip ?"
Dalam pada itu Bok Lolo tampak menyengir yang dibuatbuat, lalu bisiknya.
"Kabarnya kakek luar Lococong adalah seorang kosen pada jaman ratusan lahun yang lalu, bahkan dulu seorang raja Masar pernah diterima menjadi muridnya. Dan Liong Lik Pit Kip itu adalah benda pusaka kerajaan Masar konon murid yang sebenarnya adalah raja itu dan tidak paham akan isi kitab itu makanya sengaja masuk perguruan orang kosen itu dengan maksud hendak minta petunjuk orang pandai untuk bersama melatih ilmu sakti didalam kitab itu. Entah cerita ini benar atau tidak ."
"Darimana kau mendengar cerita ini ? Semuanya omong kosong belaka, aku sendiri tidak tahu sesuatu apu pun."
Sahut kakek baginda dengan aseran. Sedangkan hatinya diam-diam membatin apakah ilmu semadi yang pernah di ajarkan ibusuri itu adalah ilmu Lwekang yang dimaksudkan itu ?"
Kiranya kakek baginda memang benar pernah mendapat pelajaran dasar Lwekang dari ibu nya, rnakanya dia dapat berusia rampir seabad dan badannyu tetap sehat dan kuat, cuma dia sendiri tidak tahu.
"Apa Lococong sangka ceritaku tadi omong kosong belaka?"
Tanya Bo Lolo,"
Tapi raja Masar itu pernah menjadi murid kesayangan kakek luarmu, hal ini tentu bukan omong kosong bukan, Tentu waktu kecilmu pernah men dengar cerita itu, maka aku ingin tanya lebih jelas padamu, maksud yang lain tidak ada, hanya terdorong oleh rasa ingin, tahu saja.".
"Hmm, urusan dulu masakan aku bisa ingat semua? Maaf, aku sudah letih dan ingin mengaso, silahkan pergi saja,"
Segera kakek baginda hendak mengusir nenek itu. Keruan raja serba salah untuk ikut bicara. Sebaliknya Bok Lo"o sama sekali tidak marah, katanya kepada kakek baginda sambil memberi hormat.
"Jika demikian, maka aku-pun tidak mau membikin repot Lococong lagi silahkan mengaso saja !"
Dan aneh juga, habis perkataannya, benar-benar kakek baginda itu seperti kena hipnotis, lalu mendekap diatas meja dan menggeros.
"Kau ken..."
Seru raja terkejut "Jangan kuatir, aku hanya menggunakan sedikit kepandaian agar Lococong bisa tidur sebentar, hal ini akan berguna bagi kesehatan-nya,"
Sahut Bok Lolo dengan tertawa Tapi Tiong Bian lantas mendamperat.
"Kurang ajar kau siluman jahat............."
Bslum habis ucapannya dengan terbahak secepat kilat Bok Lolo sudah pegang pergelangan tangan Kok Tiong Lian, Karena kekuatannya belum lagi pulih, maka Tiong Lian menjadi tak berkutik ketika urat nadinya kena dipencet tangan nenek itu.
"Apa kau sangka aku tak berani mengganggu kau berkat lindungan Tay Siang Hong ? Hmm. lekas keluar bersama kau!"
Jengek Bo Lolo, Raja menjadi kebat kebit juga. katanya dengan kuatir.
"Seng Bo, perempuan ini ......."
"Ada perintah apa dari baginda ?"
Sinenek menegas dengan mendelik.
"Kukira kita masih perlu memperalat perempuan ini, maka hendaklah Seng Bo jangan membunuh dia, lebih baik masukan dia dalam penjara saja."
Kata raja.
"Jika kau penjarakan dia tentu kakekmu akan membebaskan dia pula, maka lebih baik serahkan padaku saja, aku tahu kau masih perlukan tenaganya, sebaliknya diapun besar manfaatnya bagi diriku,"
Kata sinenek.
Raja menjadi kewalahan, walaupun kuatir dua jam lagi Kok Tiong Lian akan pulih tenaganya dan urusan jadi runyam, tapi iapun tak bisa berbuat apa-apa, terpaksa terserah kepada perkembangannya nanti.
Sesudah Bok lolo menyeret Tiong Lian ke luar istana baginda, dengan tertawa iblis lalu ia tanya .
"Kang Hay Thian adalah kekasihmu, bukan ?"
Namun Tiong Lian diam saja dalam seribu bahasa.
"Kau tidak perlu malu, aku sudah tahu urusan kalian. Gadis mana yang tidak merindukan kekasih? Maka nanti malam bila bocah itu datang lagi tentu akan kutemukan dia padamu."
"Tapi kau harus tunduk kepada perintahku, kalau tidak, jangan kau salahkan kekejamanku"
Kiranya sesudah mengalami pertempuran semalam, Bok Llo menjadi agak jeri kepada Kang Hay Thian, maka dia sengaja hendak memegang Tiong Lian, sebagai senderan guna melawan Kang Hay Thian.
Tidak jauh mereka keluar dari istana, tiba-tiba datang seorang yang menyapa dengan tertawa .
"Suhu, akhir nya kaudapat menyeret keluar budak perempuan ini"
Ternyata pendatang ini adalah Thian Mo Kaucu. Dan baru sekarang Tiong Lian mengetahui hubungan diantara Bok Lolo dan gembong Thian Mo Kau itu, kiranya mereka adalah guru dan murid.
"Karani,"
Kata Bok Lolo.
"kebetulan, budak ini keserahkan dibawah pengawasanmu kau harus hati-hati, jangan sampai dia lolos."
Kiranya setelah bergebrak dengan Kang Hay Thian semalam, tenaga murni Bok Lolo juga banyak berkorban dan sekarang perlu kembali kekamarnya untuk melatih, untuk menggunakan Kok Tiong Lian untuk membikin Keng Hay Thian tak berdaya atas saran Thian Mo Kaucu Sekarang Bok Lolo menyerahkan Tiong Lian kepada muridnya sendiri untuk menjaga nya, dengan sendirinya dia tak perlu kuatir "Sudah jangan kuatir, tawanan yang kujaga tidak nanti bisa lolos,"
Sabut Thian Mo Kaucu dengan tertawa. Lalu ia pegang Tiong Lian dan berkata.
"Nona Kok, ikutlah padaku tentu aku takkan bikin susah padamu."
Tapi Tiong Lian hanya mendelik saja tanpa menggubris, karena tidak kuat melawan, terpaksa ia mandah diseret Thian Mo Kaucu sesukanya Thian Mo Kaucu mendapat tinggal sendiri disekitar keraton, segera ia seret Tiong Lian ketempatnya, sesudah masuk kamar dan tutup pintu, lalu ia lepaskan gadis itu dan ber kata dengan tertawa.
"Nona Kok, kau tentu sangat benci padaku bukan!"
Tiong Lian memandangnya dengan sikap dingin saja. Tiba-Tiba Thian Mo Kaucu menghela napas, katanya.
"Kau benci padaku, tapi aku sendiri sangat mengagumi kau. Semalam Kang Hay Thian telah datang kesini mencari kau, mungkin kaupun sudah tahu hal ini. Kau mempunyai seorang kekasih yang mencintai kau dengan sungguh, masakah tidak pantas dibuat girang."
Dalam hati kecil Tiong Lian memang rnerasa bangga bagi Kang Hay Thian, demi mendengar nama sang kekasih, tanpa merasa hatinya sangat senang dan nikmant sehingga sikapnya perlahan-lahan berubah menjadi ramah.
Dan sesudah menghela napas, lalu Thian Mo Kancu berkata Ugi.
"Apa barang kali kau anggap aku sebagai iblis yang tidak punya perasaan ? Diwaktu kecilnya Hay Thian juga aku pernah mendidiknya, meski tidak lama, tapi boleh kau tanya dia, selama dia berada di tempatku, apakah aku pernah membikin susah dia ?!"
Tiong Lian hanya mendengus saja dan tidak menjawab, dalam hati ia berkata.
"Diwaktu kecilnya kau sayang padanya, sesudah dia besar kau justeru menganggapnya sebagai musuh."
Thian Mo Kaucu seperti tahu pikiran Tiong Lian itu, katanya pula.
"Sekarang dia sudah dewasa, dia adalah orang dari golongan Cing Pay, sebaliknya aku adalah Kaucu dari agama yang dipandang jahat, berapa kali aku bergebrak dengan dia, namun ha! itu adalah terpaksa dan akupun tidak pernah berlaku keji padanya. Apa kau masih ingat ketika kau terkurung ditengah pulau kecil bersama Hay Thian, dia baru saja minum Thian Sim Ciok dan dia tertutuk pula oleh muridnya Po Siang, waktu itu kalau aku hendak mencabut nyawa kalian boleh dikata terlalu gampang bagiku."
Tapi Tiong Lian tetap sangsi, namun begitu rasa bencinya kepada Thian Mo Kaucu sudah banyak berkurang lagi.
Maka jawabnya "Enak saja kau bicara, siapa yang tahu dibalik perbuatanmu itu terkandung tujuan jahat apa-apa!"
Tiong Lian menjadi aseran lagi. sahutnya dengan dingin.
"Kalian menculik aku dari tempat Thay Siang Hong, bukankah kalian ingin menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing kedatangan Hay Thian,"
Tiba-Tiba Thian Mo Kaucu tersenyum, kata-nya.
"Nona Kok, apa kau ingin tahu maksud jahatku yang sebenarnya? Nuh aku dapat memberitahukan padamu aku justeru ingin mencari obat penawar untuk melepaskan kau,"
"Apa? Kau hendak menolong aku "
Tiong Lian menegas dengan tercengang.
"Benar, hendaklah ketahui bahwa sesungguhnya didalam hati aku anggap Hay Thian sebagai adikku, begitu pula kupandang kau sebagai adik perempuanku, akupun ingin kalian menjadi pasangan suami isteri yang bahagia."
Tiong Lian semakin sangsi pikirnya.
"Tampaknya ia bicara dengar sungguh-sungguh dan jujur, tapi bagaimana aku harus percaya padanya"
Maka terdengar Thitn Mo Kaucu berkata pula.
"Dengan sungguh-sungguh aku hendak menolong kau, aku tidak mengharapkan terima kasihmu, cukup asai kau tidak pandang aku sebagai musuh saja."
Tapi Tiong Lian cukup cerdik, ia tahu dimulut Thian Mo Kaucu menyatakan tidak ingin terima kasihnya, tapi justeru sangat ingin kan dia membalas budi kebaikannya itu.
Maka dengan suara dingin ia berkata.
"Kau hendak mengambilkan obat penawar bagiku, apa kau tidak mengharapkan juga agar aku memberikan sesuatu sebagai balas jasa?"
Wajah Thian Mo Kaucu menjadi merah, sahutnya.
"Hal ini...... ah, mengapa kau banyak bicara dan curiga?!"
"Sudahlah, terima kasih, aku tidak menerima kebaikan durimu, cara bagaimana kau hendak permainkan diriku boleh terserah padamu!"
Kata Tiong Lian. Thian Mo Kaucu tertegun, ia menghela napas, lalu berkata pula.
"Ya, maklum juga bila kau tidak percaya padaku. Memangnya setiap, salah paham diantara sesama manusia susah dihapus, aku sendiri pun tidak tahu cara bagaimana harus menjelaskan padamul"
Bara bicara sampai disini, tiba-tiba diluar ada suara tindakan orang, tidak lama kemudian ada orang mengetok pintu dengan pelahan dan terdengar suara seorang sedang berkata dengan perlahan.
"Enci Karani, akulah yang datang."
Terang itulah Le Hok Sing. Rupanya kedatangannya agak diluar dugaan Thian Mo Kaucu, namun jelas tampak rasa girangnya. Segera ia berbisik kepada Kok Tiong Lian.
"Kau boleh mengaso disini, tak perduli akan terjadi apa nanti hendaklah kau jangan keluar!"
Diam-Diam Tiong Lian merasa kebetulan, sebab saat itu kekuatannya sedang mulai pulih kembali, dengan keluarnya Thian Mo Kaucu ia dapat bersemedhi untuk mengerahkan tenaga.
Sesudah keluar dari kamar tahanan, lalu Thian Mo Kaucu membuka pintu ruangan tamu, maka tampaklah Le Hok Sing lantas me langkah masuk dengan berseri-seri kedua tangan nya mendokong sebuah kotak kemala, katanya.
"Cici aku hendak memberikan semacam barang baik kepadamu!"
"Ssst, jangan keras-kerasl"
Bisik Thian Mo Kaucu.
"Kau bersekongkol dengan Giok Kun Lun dan melarikan puteri Romana maka suhuku sedang marah padamu!"
"Cici, lebih baik kita juga lari saja?"
Ajak Le Hok Sing.
"Omong kosong, mana boleh aku juga melarikan, diri, jangan seperti anak kecil,"
Sahut Thian Mo Kaucu.
"Eh, lekas katakani bagaimana dengan puteri Romana "
"Dia baik-baik saja, mereka sudah berada dipesanggerahan puteri itu,"
Kakak beradik Giok Kun Lun juga sudah bertemu, dan masih ada sesuatu yang terduga. Coba lihat dulu kado yang hendak kuberikan ini habis itu akan kuberitahukan dengan lebih jelas duduk nya perkara."
"Kado apa segala? Masakah begitu penting?"
"Ya, betapapun Cici tak mungkin dapat menerkanya, tapi..."
Ah, lebih baik kau sendiri yang membukanya saja."
Ketika Thian Mo Kaucu membuka kotak itu dan melihat isinya adalah setangkai bunga aneh berwarna, segera ia lantas berkata "O, kiranya kau telah mencarikan setangkai "Swat Li Hong Ceng"
Bagiku. Apakah asal dari pemberian Giok Ling Liong?"
"Ya, sebab kedua saudara Giok itu sangat berterima kasih atas bantuanmu,"
Kata Le Hok Sing.
"Ah, aku hanya memberikan jalannya saja, yang keluar tenaga adalah kau,"
Kata Thian Mo Kaucu."
Baiklah, terima kasih atas perhatianmu."
"Eh, enci Karani, mengapa kau tampaknya kurang gembira?"
Kata Le Hok Sing.
"Sedemikian cantiknya kau sehingga mirip setangkai bunga yang indah segar...."
"Ada apakah hari ini, mengapa kau seperti sengaja menyanjung aku saja "
Ujar Thian Mo Kaucu.
"Apakah kau tahu akan kasiat bunga tri warna ini ?"
Kata Le Hok Sing.
"Bila kau makan bunga ini, maka kau akan awet muda, selanjutnya juga akan segar dan cantik seperti bunga dan takan pernah layu. Selama ini kau selalu mengatakan aku lebih muda darimu dan aku hanya kau anggap sebagai adik saja, tapi kalau kau sudah makan bunga ajaib ini, keluk aku sudah tua dan kau akan tetap muda. Eh, enci Karani, mengapa kau tidak senang, sebaliknya menangis malah"
Begitulah kalau Le Hok Sing membawakan bunga tri warna itu dengan penuh harapan dan bahagia, adalah sebaliknya Thian Mo Kaucu mencucurkan air mata malah sambil memandangi bunga itu.
Keruan Le Hok Sing menjadi bingung dan kelabakan, katanya pula.
"Apakah aku telah salah omong, apa Cici ti...... tidak suka padaku ?"
"Tidak, justeru kau adalah satuinya orang yang paling baik padaku didunia ini, maka saking girangnya sampai aku menangis,"
Kata Thian Mo Kaucu.
"Syukur alhamduliliah jika betul demikian,"
Kata Le Hok Sing.
"Tetapi, ah tampaknya kau tidak cuma girang saja. kulihat kau pasti ada sesuatu kesukaran lain?"
"Banyak terima kasih atas usahamu sehingga mendapatkan bunga ini. tetapi sayang tiada banyak lagi gunanya bagiku!"
Kata Thian Mo Kaucu, dengan sedih.
"Cici, apa maksud ucapanmu ini?"
Desak Le Hok Sing. Thian Mo Kaucu tersenyum pilu. sahutnya kemudian.
"Paling akhir ini dikala aku melatih, lapat-lapat aku merasakan alamat yang jelek, mungkin... mungkin... ajalku sudah tak lama iama lagi akan tamat!"
Seketika wajah Le Hok Sing berubah pucat, katanya dengan suara tak lancar.
"Apa kau telah "Cau Hwe Jip Mo?""
"Benar."
Sahut Thian Mo Kaucu.
"Dari apa yang kurasakan diwaktu latihan, kutaksir paling lambat setahun atau mungkin cuma beberapa bulan lagi tentu kau takkan terhindar dari bencana itu!"
Kiranya orang yang meyakinkan ilmu silat dari golongan Sia Pay, golongan jahat, semakin tinggi kekuatannya semakin bahaya pula menghadapi kemungkinan "Cau Hwe Jip Mo"
Atau sesat jalan dan akan terbinasa oleh kepandaian sendiri membalik menyerang diri sendiri itu.
Kalau tidak binasa juga pasti akan lumpuh dan cacat untuk selamanya.
Sebaliknya kalau rintangan demikian dapat dilalui, maka ilmu silatnya akan mencapai tingkatan yang pating sempurna.
Dahulu Kim Si Ih juga pernah mengalami peristiwa seperti itu, untung dia mendapat bantuan dari Teng Hiau Lan sehingga akhirnya selamat dan mencapai kesempurnaan.
Sesudah termangu-mangu sejenak, kemudian Le Hok Sing berkata.
"Cici, jika memang sudah ada tanda-tanda akan datangnya bencana itu, kenapa kita tidak cepat-cepat tinggalkan sini? Aku yakin dunia seluas ini pasti ada orang yang dapat menolong kau terhindar dari malapetaka."
"Orang pandai sih memang ada, tapi jaga cuma terbatas beberapa orang saja. Dan diantara beberapa orang ini kalau bukan tokoh-tokoh dari kalangan Cing Pay, tentu juga bermusuhan dengan aku. Sekarang aku sudah menjadi Kaucu dari agama dikenal dari golongan jahat, masa aku ada muka untuk minta bantuan pada tokoh persilatan dan golongan Cing Pay itu? Kau cukup kenal watakku, lebih bailc hancur lebur juga tidak sudi kehilangan pamor."
Le Hok Sing tau beberapa tokoh yang dimaksudkan itu antara lain Teng Hiau Lan dan Thian San serta Kim Si Ih. Maka dengan penasaran ia berkata.
"Kitab ilmu silat tinggalan Kiau Pak beng sebenarnya adalah milik keluargaku, cuma sayang sekarang telah jatuh ketangan Kim Si Ih. Dari itu, ai kecuali kalau...."
"Kecuali kalau minta bantuan Kim Si Ih begitu akan kau katakan bukan ?"
Sela Thian Mo Kaucu.
"Tidak, aku tidak ingin kau ikut malu demi untuk kepentinganku."
"Kalau melulu untuk kepentingan diriku, sudah pasti aku tidak sudi minta bantuan Kim Si Ih, tapi sekarang adalah kau demi kau Cici. biarpun mesti berlutut padanya juga sanggup kulakukan,"
Kata Le Hok Sing."
"Tidak, aku tidak ingin perbuatanmu ini, kecuali kalau kita mampu merebut kembali kitab pusaka itu dari dia, kalau tidak sekali-sekali aku tidak ingin kita mohon bantuannya,"
Kata Thian Mo Kaucu.
"Untuk merebutnya tentulah susah,"
Ajar Mok Sing dengan tersenyum getir.
"Ya, andaikan kau hendak mohon padanya juga kau takkan dapat menemukannya dia yang tiada kediaman tetap itu."
Kata Thian Mo Kau Cu.
Memang benar juga, untuk mencari Kim Si Ih adalah sangat sulit karena jejaknya tiada tertentu.
Seketika Le Hok Sing terdiam ia hanya menghela napas saja.
Didalam kamarnya Tiong Lian dapat mengikuti pembicaraan mereka dengan jelas tiba-tiba ia sadar dan tanpa merasa timbul sedikit rasa kasihannya.
Pikirnya.
"Kiranya dia hendak merebut Thian Sim Ciok dan Liong Lik Pit Kik dariku bukannya tiada beralasan, yaitu ingin memunahkan kemungkinan bahaya yang akan menyesatkan ilmu yang melatihnya itu. Dan andaikan sekarang hendak menolongnya juga sudah terlambat."
Rasa benci Tiong Lian kepada Thian Mo Kaucu sekarang telah banyak berkurang.
Apalagi bila dipikir tindak tanduk gembong Thian Mo Kaucu itu selama ini sesungguhnya tiada sesuatu yang melampaui batas kejahatan, maka tanpa meresa Tiong Lian menaruh kasihan padanya.
Pada saat itulah terdengar Thian Mo Kaucu telah menghela napas dan dan berkata pula, Sing te, aku sangat terima kasih atas maksud baikmu, untuk selanjutnya aku tak bisa berkumpul lagi dengan kau, maka kau pergi saja.
Bila tidak, sebentar kau diketahui Suhuku, mungkin kau akan menghadapi kedudukan yang sulit lagi."
"Cici, masih ada sedikit yang hendak ku katakan, harap kau dengarkan dulu."
Kata Le Hok Sing. Thian Mo Kaucu menaksir saat itu gurunya masih belum rampung latihannya, maka sahutnva.
"Baiklah, hendaklah kau lekas kata kau!""
"Dahulu kita pernah ingin mengukur kepandaian dengan pihak Cing Pay kalau dipikir sekarang, biarpun maksud kita itu agak tidak tahu diri, tapi juga bukan sesuatu dosa,"
Kata Hok Sing.
"Apabila tujuan kita itu merugikan rakyat, merugikan orang banyak, maka ituiah dapat dikatakan dosa. Sekarang kalau kita, harus ambil jalan lain, kenapa kita ragu-ragu."
"Cici, maukah kau suka mendengarkan kata-kataku yang terus terang?"
"Aku sedia mendengar, katakan terus,"
Sahut Thian Mo Kaucu "Bukan maksudku hendak memecah belah kalian guru dan murid, tapi tindak tanduk gurumu sesungguhnya aku tidak setuju,"
Kata Hok Sing.
"Rupanya dia sedang berusaha sebisa mungkin agar Kunbran bisa menyerang Masar, dengan demikian tentu akan mengambil banyak korban rakyat yang tak berdosa Cici, ingin kuberikan tahu padamu bahwa dalam perjalananku ini aku telah bertemu dengan raja Masar yang baru bernama Danu Cu Mu bersama Kang Hay Thian."
"Aku sudah tahu, semalam mereka sudah datang kesini.""
Kata Thian Mo Kaucu.
"Ya. mengapa kau menyinggung mereka dalam urusan kita ini ?"
Ternyata Thian Mo Kaucu keliru, semalam yang datang itu selain Kang Hay Thian masih ada lagi seorang Teng Ka Gwan dan bukan Danu Cu Mu.
Sebab itulah Le Hok Sing menjadi heran, masakah datangnya Danu Cu Mu bisa lebih cepat daripada larinya Kim Mo Soan?
Tapi dia pun tidak sempat buat mencari tahu hal itu.
ia melanjutkan bicaranya.
"Kedatangan Danu Cu Mu kesini adalah untuk usaha perdamaian, dan apakah perangan Ini dapat digagalkan atau tidak, seluruhnya tergantung kepada sikap raja Kunbran. Namun kita tahu, raja Kunbran justeru berada dibawah pengaruh gurumu ? "
"Apa maksudmu ingin aku membujuk guruku? Kau tidak kenal wataknya Suhu, selama nya dia tidak suka menurut bujukan orang lain ."
Ujar Thian Mo Kaucu.
"Biapun tidak dapat membujuk dia, paling tidak engkau jangan membantu keganasan mereka,"
Kata Hok Sing.
"Cici, sekarang ini kukatakan apa yang menjadi buah pikiranku yang paling mendalam, apakah kau suka kepadaku, harap katakan terus terang ."
"Kalau suka bagaimana, kalau tidak, bagaimana pula ?"
Sahut Thian Mo Kaucu.
"Jika tidak suka, maka apa yang hendak kukatakan inipun tidak perlu lagi !"
Kata Le Hok Sing.
"Aku...... aku cuma kuatir kaluu membikin susah padamu?"
Kata Thian Mo Kauwcu dengan menghela napas, dibalik ucapannya terang menyatakan dia suka kepada Le Hok Sin?
maka tanpa merasa tangan kedua orang sudah lantas saling genggam dengan kencang.
Kemudian Hok Sin berkata dengan suara halus.
"Cici. carilah kita pergi ketempat yang jauh, kesuatu pulau yang terpencil, di sana kita dapat hidup aman tenteram tanpa diganggu oleh urusan-urusan dunia yang ruwet."
"Muluk-Muluk benar pikiranmu,"
Sahut Thian Mo Kauwcu dengan tertawa.
"Ketahuilah bahwa kalau aku sampai mengalami sesat jalan dalam latihanku ini. andaikan aku tidak sampai binasa, toh sedikitnya aku akan cacat untuk selama hidup"
"Jika demikian halnya, maka aku akan meladeni kau selama hidup, aku akan membikin sebuah kereta dorong, di waktu senja tiba. kita akan menikmati matahari terbit, memandang awan yang aneka ragam perubahannya itu, di kala subuh, kita dapat mendengarkan kicauan burung manyar yaug hendak pulang kejangnya, diwakili malam kita memandang rembulan menghitung bintang yang tak terkira jumlahnya, akan kupetik setungkai bunga dan kusuntingkan disanggulmu dan..."
Thian Mo Kaucu sampai terpesona oleh cerita itu. sahutnya dengan tertawa.
"Uraianmu mengingatkan aku seperti hidup dialam dewata saja. Penghidupan yang bahagia seperti itu andaikata cuma sehari saja juga sudah berharga untuk mati ." ,Jadi engkau sudah mau, Cici?""
Hok Sing menegas dengan girang. Tiba-Tiba Thian Mo Kaucu menghela napas lagi, sahutnya.
"Mungkin aku tak dapat menikmati hidup bahagia seperti itu, dimana kita pernah datang, disitupun pernah dijajaki orang asing, Buat apa aku mesti membikin susah padamu pula "
"Apa kau takut kepada Suhumu?"
Desak Hok Sing lagi.
"Dan masih ada seorang lagi "
Sahut Thian Mo Kaucu.
"O, ya, masih ada sesuatu yang belum ku beritahukan padamu bahwa Bun Ting Bik Itu mampus !"
Kata Hok Sing. Rupanya hal ini sangat diluar dugaan Thian Mo Kaucu katanya kemudian.
"Orang yang mampu menangkan dia didunia ini cuma terbatas beberapa orang saja. Cara baigaimana meninggalnya dia?"
Dia bertarung mati-matian melawan lu Kwing dikaki Leng Ciu Hong, ketika mendadak batu es yang dia injak retak dan dia telah terjeblos kedalam sungai es."
Tutur Hong Sing.
"Dengan mata kepala sendiri kau menyaksikan peristiwa itu?!"
"Giok Lin Liong yang katakan padaku, kuyakinkan dia tak akan membohongi Cici, bukan maksudku bergirang atas kematian orang lain, tapi akupun tidak ingin merahasiakan perasaanku, memang aku juga benci pada orang she Bun itu, cici, apa kau berduka buat kematiannya ?"
"Selamanya aku tidak pernah suka padanya, tapi betapapun dia juga seorang sahabatku,"
Ujar Thian Mo Kaucu.
"Dalam hal suka, yang kuajukan hanya adikku seorang saja."
Sungguh girang Le Hok Sing melebihi orang ketumplek rejeki. Ia genggam tangan Thian Mo Kauwcu dengan kencang, serunya girang.
"Habis apa yang kau ragukan lagi? Hayolah pergi Kim Mo Soan sudah menunggu diluar sana tiga hari kemudian kita sudah dapat mencapai tepi pantai timur."
Pikiran Thian Mo Kaiici bergolak dengan hebat, diam-diam ia berpikir sebenarnya aku bantu suhu merebut kitab pusaka Kiau Pak Beng itu dari tangannya Kim Si Ih.
Tapi dengan pertempuran semalam melawan Kang Hay Thian tampaknya Suhu bukan tandingan Kim Si Ih.
Sekarang Bun Ting Bik sudah mati lagi, andaikata tidak mati juga dia takkan mampu menolong diriku."
Dalam pada itu Le Hok Sing medesak pula.
"Cici, hayolah berangkat saja. Kita akan pergi keujung langit, ketempat yang takkan diketemukan gurumu. Dia juga tak mahir berlayar, tentu susah mencari kita."
Sekarang Thian Mo Kaucu juga sudah ambil keputusan pasti, dengan tertawa ia berkata.
"Baiklah adikku yang manis, aku akan menurut perkataanmu, hidupku selanjutnya sudah kupasrahkan kepadamu."
Pada saal itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa orang lalu bersetu.
"Wah sungguh tidak kebetulan baharu saja aku kembali dan kalian sudah akan pergi"
Berbareng dengan selesainya ucapan itu, tampak seorang sudah mendorong pintu dan melangkah masuk. Keruan Le Hok sin sangat kaget, teriaknya.
"Bun Ting Bik, kau....kau belum...""
"Siau Le (Le kecil), jangan terburu-buru girang dahuhu aku toh belum lagi mati,"
Demikian sahut orang itu yang nampak betul adalah Bun Ting Bik "Dengan kepandaianku yang sakti, hanya sungai es yang tiada artinya itu apakah dapat membinasakan aku ?""
Kiranya berkat lwekang "Sam Siang Kui Gan"
Yang sempurna, Bun Ting Bik dapat menahan napas didasar sungai selama sehari semalam, akhirnya ia terdampar ketepian dan manyangkut diantara rumput-rumput ganggang dan kebetulan ditolong oleh seorang penangkap ikan.
Jadi sebenarnya dia cuma omong sombongi ia tadi mengatakan dirinya mempunyai ilmu sakti, padahal waktu itu ia sudah hampir mampus.
Maka dengan tertawa Thian Mo Kaucu telah melerai.
"Kalian berdua juga aneh, Saban ketemu Sudah langsung cekcok, Siau Lie juga tidak mengharapkan kau mati. hendaklah kau jangan salah paham Bun losiansing dapat menyelamatkan diri dalam bencana, sungguh harus diberi selamatan.""
Sebaliknya Le Hok Sing lantas berkata dengan dingin.
"Bun siansing apa kau akan mati atau tetap hidup. semuanya tiada sangkut puat dengan kepentinganku, untuk selanjutnya kita pun takkan berkumpul bersama lagi, Nah Cici marilah berangkat !"
Namun Bun Ting Bik telah menghadang di ambang pintu dengan tertawa.
"Siau Le. kenapa mesti buru-buru? Kau hendak mengajak Kaucu pergi kemana?"
"Peduli apa denganmu, Bun Ting Bik, kau berani merintangi kebebasanku?"
Seru Le Hok Sing dengan gusar.
"Hendak pergi, boleh kau pergi sendiri saja dan tidak perlu ikut campurkan kehendak Kaucu "
Kata Bun Ting Bik. Le Hok Sing menjadi merah padam, bentaknya.
"Kurang ajar kau ini manusia apa, berani melawan atasan dan menahan Kaucu."
"Aku justeru menaruh maksud baik kepada Kaucu, kau sendirilah yang telah memaksakan Kaucu hingga beliau kepepet,"
Sahut Ting bik tawar saja. Thian Mo Kaucu menjadi kurang senang, ia ikut bicara.
"Apa maksud perkataan Bun Siabsing itu?"
"Pembicaraan kalian barusan sudah kudengar semua."
Sahut Ting Bik dengan tertawa "Kaucu, jika kau terancam bahaya Cau Hwe Jip Mo, mengapa tidak sejak dulu kau kata kan padaku?"
"Hm, Bun Ting Bik, apa dengan sedikit kepandaianmu itu cukup mampu membantu kesukaran Kaucu?"
Jengek Hok Smg.
"Ya, memang."
Sahut Ting Bik.
"Dengan tingkatan Lwekangku sekarang aku memang belum bisa menolong Kauwcu terhindar dari bahaya, sebab itulah aku ingin kau tinggal dulu disini untuk berunding lebih jauh."
"Berunding tentang apa? tanya Hok Sing "Sebab aku dapat membantu Kauwcu menghindarkan diri dari bencana itu asal saja kau bersedia menerima tiga syaratku, apa kau mau? t"nya Ting Bik. Hok Smg merasa ragu tapi tanyanya kemudian.
"Tiga syarat apa? Coba katakan dulu "Pertama, hendaklah kau serahkan padaku seluruh kitab pusaka ilmu silat leluhurmu, aku tahu apa yang kau pelajari kurang lengkap tapi ditambah dengan kecerdikan dan bakatku aku yakin tidak sampai tiga bulan tentu dapat menghasilkan Lwekeng yang sempurna gabungan dari Cing Pay Dan Sia Pay mana tentu aku akan dapat menolong Kaucu dengan tidak ragu-ragu lagi."
"Mengaca mesti aku yang memberi dan bukan milikmu yang diberikan padaku "jawab Le Hok Sing.
"Kau tahu apa?"
Kata Ting Bik.
"Lwekang yang kulatih ini terlalu luas, kalau aku mengajar kau, paling sedikit harus makan tempo tiga tahun baru bisa sempurna, dan hal ini tentu susah untuk menolong Kauwcu. Sedangkan Sam Siang Sia Kang yang kulatih ini ada lebih mendekati ilmu dari golongan Cing Pay daripada ilmu yang kau latih ,"
Diam-Diam Le Hok Sing mengakui juga akan uraian Bun Ting Bik itu. Seketika ia menja di ragu-ragu dan tak dapat bicara lagi.
"Dan apa syarat yang kedua ".""sela Thian Mo Kaucu.
"Yaitu Kaucu supaya menyerahkan Pek Tok Cin keng padaku, dengan ilmu itu aku dapat menyerang racun dengan racun ditambah dengan kekuatanku, maka untuk menolong kau terlepas dari bencana itu menjadi lebih meyakinkan lagi ."
Diam-Diam Thian Mo Kaucu mentertawai perhitungan Bun Ting Bik yang muluk-muluk itu, dengan mendapatkan kitabkitab yang merupakan kepandaian asli kedua orang, maka untuk selanjutnya apakah usaha Bun Ting BiK akan berhasil atau tidak, itu berarti keselamatan Thian Mo Kaucu sendiri sudah tergenggam ditangan orang she Ban itu.
Walaupun diam-diam memikir namun lahirnya Thian Mo Kaucu tidak memberikan reaksi apa-apa, lalu tanjanya.
"Dan syarat ketiga bagaimana ?"
Ting Bik terbahak, katinya.
"Kaucu jelek-jelek aku orang she Bun juga seorang penguasa satu Pulau, betapa bebas merdeka hidup ditempat nya?. mandiri, tapi mengapa aku terima datang ke Tionggoan dan rela menjadi wakilmu, apa tujuanku. rasanya kau sendiri tentu sudah tahu. Urutan kita sudah tertunda sepuluh tahun, maka hari ini sudah tiba waktunya kita ambil keputusan secara tegas."
"Hm. apa kehendakmu yang sebenarnya itu?"
Sahut Thian Mo Kaucu dengan mendengus Maka dengan cengar cengir Bun Ting bik menjawab.
"Dengan memberanikan diri aku hendak melamar Kaucu sebagai isteriku Sesudah menikah, sebagai suami isteri dengan sendirinya aku akan berbuat sepenuh tenaga un tuk menolong kau, dipulau tempat tinggalku itupun aman dan makmur, segala apa yang Siau Le dapat menyanggupi kau, aku berjanji pasti akan berlipat ganda daripada dia."
Keruan Le Hok Sing berjingkrak gusar, dampratnya.
"B"in Ting Bik keparat kau sendiri sekarang justeru hendak memaksakan orang lain dikala ke pepet."
"Kenapa kau mesti marah, Siau Le."
Ujar Ting Bik dengan tertawa."
Bila kau menyukai Kauca dengan setulus hati, maka kau harus pikirkan kepentingannya, kau tidak dapat menyelamatkan dia, sebaliknya aku yakin pasti dapat menolong dia, maka seharusnya kau mengalah padaku."
Seketika semangat Le Hok Sing menjadi lesu sekilas lirik dilihatnya sikap Thian Mo Kau-cu hanya biasa saja.
sedikitpun tidak mengunjukkan perasaan apa-apa, sungpuh pedih rasa Le Hok Sing, katanya dengan gemetar.
"Bun...... Bun Ting Bik. apa kau berani bersumpah, ?"!"
"Bersumpah untuk apa "
Tanya Ting Bik. ,Jika kau benar-benar hendak menolong Kauwcu dengan sejujurnya, maka aku rela akan melengkapi cita-citamu itu, kata Le Hok Sing. Ting Bik tertawa senang, sahutnya.
"Siau lee tentu aku berani bersumpah. Thian Mo Kauwcu bersuara dengan dingin.
"Hm, apa dalam pandangan kalian masih ada diriku? Urusan yang menyangkut diriku sudah seharusnya akulah yang bicara."
"Ya, silahkan Kauwcu memberi petunjuk, kata Ting Bik.
"Aku juga ada tiga syarat,"
Kata Thian Mo Kauwcu.
"Sekarang hendak kukatakan syarat yang pertama, yaitu mulai hari ini Thian Mo Kauwcu sudah tidak ada lagi, sudah kububarkan"
Ting Bik tertegun, katanya kemudian.
"Thian Mo Kau yang didirikan dengan susah payah apa akan dibubarkan dengan demikian saja ! "
"Benar, aku yang mendirikan dan dengan sendirinya aku pula yang membubarkan,"
Sahut Thian Mo Kauwcu.
"dan mulai dari sekarang juga kaupun bukan wakil Kaucu lagi, tentang kau akan tinggal terus di Tionggoan atau akan pulang kandang kepulaumu, boleh terserah kau mana suka .""
Diam-Diam Ting Bik menjadi gugup, cepat kata nya pula.
"Kenapa kau mengambil keputusan demikian? Jikalau kau dapat menghindari bencana ini ilmu silatmu ada harapan akan mencapai tingkatan yang paling sempurna, tatkala itu dengan gabungan Kita berdua cukup untuk merajai dunia persilatan, kenapa Thian Mo Kau harus dibubarkan sekarang ?"
Sebab apa Bun Ting Bik menjadi kuatir Kiranya dia sendiripun paham bahwa cinta Thian Mo Kaucu tidak tertuju kepadanya sebab Thian mo Kaucu dahulu ramah tamah padanya adalah karena ingin menggunakan tenaganya untuk memperluas pengaruh Thian Mo Kau.
Dan sekarang Thian Mo Kau hendak dibubarkan, itu berarti hubungan satu sama lain akan putus.
Dari itu Bun Ting Bik masih dapat ber harap membujuknya dengan janji akan membantu Thian Mo Kaucu menghindarkan bencana "Cau Hwe Jip Mo ."
Namun Thian Mo Kaucu telah menjawab dengan dingin.
"Terima kasih atas maksud budi baik Bing siansing, sekali aku tidak ingin men jadi Kaucu laigi, soal ilmu silat sendiri apakah akan maju atau mundur sudah tak kupikirkan."
"jadi kau siap menghadapi bencana kematian atau tersiksa seumur hidup dan tidak mengharap akan terhindar dari kesukaran itu ?"
Ting Bik menegas dengan tidak mengerti. Thian Mo Kauwcu tidak menjawabnya, tetapi dengan tersenyum ia berkata kepada Le Hok Sing.
"Adik Sing, ucapanmu memang benar, rasa bahagia orang tidak terletak dari ilmu silatnya. Sekalipun aku nanti akan cacat selama hidup, tapi dengan didampingi kau, aku tetap merasa gembira, ya, bahkan lebih gembira dari pada dahulu. Dari itu Bun siansing soal kedua ysmg hendak kukatakan padamu yalah kau jangan pikirkan diriku lagi dan akupun tidak perlu bantuanmu segala !"
Saking terharu sampai Le Hok Sing meneteskan air mata, serunya "O, cici, kau teramat baik kepadaku, dan tanpa peduli Bun Ting Bik masih berada disitu, terus saja ia mendekati Thian Mo Kaucn dan menggenggam tangannya kencangkencang."
Seketika air muka Bun Ting Bik berubah merah padam, ia tertawa dingin dan berkata.
"Sungguh tidak nyana cintamu kepada Siau Le ternyata sedemikian mendalam sehingga jiwamu sendiripun tak kau pikirkan lagi"
"Benar,"
Sahut Thian Mo Kauwcu.
"Makanya soal ketiga yang hendak Kukatakan padamu. Aku sudah memutuskan akan menikah dengan Siau Le. Kau adalah sahabat kami, jika tiba saatnya harap kau suka hadir untuk meramaikan upacara pernikahan kami ."
Seketika Bun Ting Bik termenung sebegai patung.
Sebaliknya Le Kok Sing girang setengah mati, katanya.
,Bun siansing.
kenapa kau tidak lekas memberi selamat padaku?
Nah.
harap kau menyingkir, kami akan berangkat sekarang juga ""
Mendadak Bun Ting Bik mendelik, kata nya dengan terkekeh-kekeh.
"Sahabat?, sahabat ? Apa kalian anggap aku ini anak kecil saja ?"
"Bun siansing, bicaimana pikiranmu terserah kepadamu, pendek kata, maaf kami akan segera pergi dan hendaklah kau jangnn inenghadang di tengah jalan."
Kata Thian Mo Kaucu Sekonyong-konyong Bun Ting Bik menggerang, secepat kilat terus menghantam kearah Le Hok Sing sambil membentak.
"Sebabnya Kaucu tersesat adalah gara-garamu. aku tidak dapat membiar kan kau membikin susah Kaucu. hari ini sudah tiba saatnya kau harus mampus "
Dalam keadaan girang Le Hok Sing menjadi lupa daratan kalau dia sedang diserang , untung Thian Mo Kaucu sudah siap sedia sebelumnya, sekali lengan bajunya mengebas, secomot jarum berbisa bertebaran.
Kenal akan lihaynya jarum berbisa itu, terpaksa Bun Ting BiK mengalihkan pukulannya itu untuk menolak sambaran jarum-jarum berbisa.
"Bun Siansing,"
Semprot Thian Mo Kaucu dengan kereng.
"kau berani menyerang suamiku, terpaksa kami suami isteri juga tak sungkan-sungkan lagi padamu."
Saat itu Le Hak Sing baru sadar bahwa dirinya telah diserang. dengan gusar iapun membentak.
"Ting bik, kau mau minggir atau tidak?""
Dan dikala Thian Mo Kaucu sedang me-ngebaskan lengap bajunya untuk kedua kaki-nya, berbareng Le Mok Sing juga melolos Giok Jio atau mistar kumala terus menghantam kepala lawannya.
Cepat dengan gerakan "Simm siang sin tang dengan kedua tangan menegak dan dipentang kekanan kiri, kontan Bun Ting Bik menangkis sambil balas menyerang kedua lawan.
Tapi pukulan sebelah kiranya memakan sebagian besar tenaganya, terang Le Mok Sing yang hendak dihabisikannya lebih dulu.
Kekuatan ilmu "Sim siang sin-kang"
Yang dilontarkan Bun Ting Bik itu memang luar biasa.
Seketika mistar kemala Le Hak Sing seperti kebentur tembok dan susah menembus.
Dilain fihak sebelah tangan Bun Ting Bik menjadi kewalahan menahan tenaga kebasan Thian Mo Kjucu yang hebat itu "pluk"
Dengan tepat lengannya kena tersimpuk, walaupun se rangan ini tidak sampai membikin lengan Uno Ting Bik patah, tapi sakitnya tidak kepalang lagi.
apalagi lantas terendus pula bau harum yang memabukan.
Sudah tentu Ting Bik kenal kepandaian Thian MoKauwcu dalam menggunakan racun, maka cepat ia mengibas lepas.
Dan pada saat itulah mistar Le Hok Sing sudah sempat menembus pertahanan Bun Ting Bik dnn segera hendak menutuk "Kim-bun-hiai"
Bawah ketiaknya Bun Ting Bik tidak gentar, sedikit tubuhnya menggeser, berbareng ia balas menjotos.
Tapi Thian Mo Kaucu sudah lantas memapak dengan mengacungkan jari tengah yang memakai cincin dengan ujung berupa jarum berbisa yang hitam mengkilap.
Bun Ting Bik tidak takut kepada ilmu Thiam hiat, tapi terhadap kepandaian menggunakan racun sang Kaucu yang keji dan aneh-aneh itu terpaksa ia harus waspada, maka cepat cepat ia tarik ke kembali kepalan.
Dan saat lain dengan cepat sekali Le Hok Sing telah menubruk maju, sekaligus mistarnya bekerja untuk mengincar tujuh tempat Hiat to ditubuh lawan.
Di bawah keroyokan kedua orang, karena susah menghindar lagi, terpaksa Bun Ting Bik menutup Hiat to seluruh tubuh sambil angkat lengannya untuk menerima mentah-mentah serangan mistar Le Hok Sing itu.
Walaupun kecil senjata Le Hok Sing itu tapi beratnya melebihi besi.
maka terdengarlah "plak"
Sekali, meski Bun Ting Bik memiliki Lwekang yang kuat. hantaman itu membuat nya kesakitan luar biasa sehingga pandangannya serasa gelap. Sedang Thian Mo Kaucu lantas berseru dengan tertawa.
"Ai. sama-sama sobat lama, apa kau benar-benar hendak bertarung mati-matian dengan kami ?"
Saat itu Bun Ting Bik telah mengerang keras dan melompat pergi beberapa meter jauhnya. Sebaliknya Le Hok Sing juga tergetar mundur sampai berapa tindak, Segera Thian Mo Kaucu menariknya dan berkata.
"Adik Sing, lekas lari, urusan ini biarlah kita perhitungkan padanya lain kali !"
Dalam pada itu dengan wajah membesi Bun Ting Bik telah mengejek. .Hemrn, kalian hendak meninggalkan aku disini ?"
Huh, tidak semudah itu ! Mendadak ia terus bersuit kereskeres dan berkumandang jauh, menyusul terus menggembor "Kim Lun Sengbo, muridmu hendak minggat dengan gendaknya, kau tahan dia atau tidak ?."
Yang paling dikuatirkan Thian Mo Kaucu adalah datangnya sang Suhu, maka cepat dia berseru.
"Adik Sing, lekas kau panggil Kim Mo Soanl"
Menurut perhitungannya, latihan gurunya pada saat itu sudah hampir selesai, maka dalam waktu singkat itu ia harus berusaha melarikan diri.
Sebaliknya Le Hok Sing sebelumnya tidak tahu kalau Thian Mo Kaucu akan bersedia diajak minggat, makanya dia tinggalkan kedua ekor Kim Mo Soan diluar keraton.
supaya kedatangannya itu tidak menyolek.
Maka sekali bersuit, segera ia dengar suara jawaban Kim Mo Soan yang menggerung.
Mendengar itu, lega juga hati Thian Mo Kaucu.
ia yakin asal sudah menunggang oinatang iiu, biarpun setinggi langit kepandaian gurunya yang susah menyusulnya lagi.
Dalam pada itu Bun Ting Bik menjadi gugup dan gusar pula demi mendengar suara Kim Mo Soan.
Mendadak ia melompat keatas terus menubruk kearah Le Hok Sing, belum la gi kakinya menginjak tanah atau segera ia sudah menghantam dari atas.
Tapi Le Hok Sing dan Thian Mo Kaucu telah menangkis berbareng.
"blang", Bun Tiong Bik tidak kuat menahan gabungan tenaga mereka berdua, seketika ia terpental pula keatas sebagai bola. Tapi Bun Ting Bik juga sangat lihay, sekali berjumpalitan, lalu ia dapat turun dengan enteng dan masih tetap menghadang ditengah jalan, Thian Mo Kaucu menjadi gusar, damperatnya.
"Bun Ting Bik, kau masih berani merintangi kami?"
Berbareng ia timpukan sebuah geranat kabut api tercampur jarum berbisa.
"Kirana, kukira adalah lebih baik kau tinggal saja disini,"
Sahut Ting Bik dengan menyeringai, berbareng iapun menghantam dari jauh sehingga kabut buyar, jarum jatuh dan api menyambar kembali kearah Thian Mo Kauwcu.
Cepat Le Hok Sing juga menghantam dari jauh sehingga gulungan api yang berkobar-kobar itu ditolak kembali pula.
Dengan tenaga gabungan dengan sendirinya mereka lebih kuat daripada Bun Ting Hik, tapi dengan demikian mereka menjadi tertahan lebih lama lagi.
Diam-Diam Le Hok Sing heran mengapa Kim Mo Soan masih belum nampak muncul.
Cepat ia bersuit untuk mendesak pula.
Selang sejenak baru sayup-sayup terdengar suara gerengan Kim Mo Soan, tapi dibanding suara tadi terang jauh lebih lemah.
Le Hok Sing tambah heran, senen tara itu Bun Ting Bik tetap menaungi jalan pergi mereka.
"Bunuh keparat ini lebih dulu !"
Teriak Hok Sing dengan gusar. Namun Ting Bik menyambutnya dengan bergelak tertawa, sahutnya.
"Kau hendak mem bunuh aku? Ha, apa gampang?"
Begitulah sambil bertempur sambil jalan meski Bun Ting Bik terdesak, tapi dia cukup cerdik, ia hanya bertahan saja dan menghindarkan pertarungan sengit, tujuannya cuma merintangi dan mengulur waktu saja.
Keruan Le Hok Sing dan Thian Mo Kaucu Menjadi gopoh, terutama Kim Mo Soan yang diundang itu ternyata tidak muncul, untunglah Bok Lolo yang mereka kuatirkan itu pun tidak nampak datang.
Sementara itu Kok Tiong Lian yang disembunyikan didalam kamar itu, telah dapat mengikuti percekcokan Le Hok Sing dan Bun Ting Bik itu.
tanpa merasa rasa bencinya kepada Thian Mo Kaucu menjadi banyak berkurang lagi, bahkan timbul rasa simpatiknya, Pikirnya.
"Sekarang aku tidak diawasi, kalau tidak lari mau tunggu apa lagi!"
Saat itu sudah lebih satu jam sejak dia minum obat penawar pemberian raja itu.
ditambah dia sendiri juga mengerahkan tenaga untuk mempercepat bekerjanya otat itu sehingga walaupun kekuatannya tidak pulih seluruhnya, tapi juga sudah pulih sebagian besar.
Sebentar ia keluar dari kamar itu, ia coba melongok sekelilingnya, ia lihat keadaan sunyi senyap, suasana sudah remang-remang hampir gelap, meski ditempat jauh ada bayangan orang tapi bukan menuju kearahnya.
Suara pertarungan Le Hok Sing dan Bun Ting Bik juga sema kin menjauh, tampaknya orang-orang didalam keraton juga terkejut oleh karena suara pertempuran mereka, maka berramai-ramai menuju kearah sana untuk melibat apa yang telah terjadi.
Pada saat yang paling bagus untuk melarikan diri itu, tibatiba Tiong Lian teringat sesuatu katanya dalam hati.
"Ah, tidak boleh demiki an, kedatanganku ini adalah ingin menggagalkan peperangan antara negara, mana aku tinggal lari tanpa sesuatu hasil? Raja telah berjanji padaku, ia minta tengah malam ini datang keistananya untuk membantu dia membasmi Thay Ceng Ong, asal dibunuh, golongan yang ingin perang di negeri Kuubran ini akan kehilangan pimpinan dan persengketaan antara antar negara mungkin dapat didamaikan Aku sudah berjanji pada Sri Baginda, sekarang aku sudah lolos dari bahaya, mana boleh aku mengingkar janji"
Berpikir demikian segera ia ambil"
Keputusan untuk batalkan maksud la rinya, ia memutar keternpat yang sepi dan mencari istana raja untuk memenuhi janji.
Karena ingin menghindar pergokan musuh maka arah yang dituju Kok Tiong Lian adalah berlawanan dengan arah Thian Mo Kaucu ber tiga tadi, tapi suara benturan senjata diseling suara bentakan masih terus terdengar tanpa terhenti.
Diam-Diam Tiong Lian menjadi bimbang, pikirnya.
"Meski tidak tanduk Thian Mo Kaucu tidak benar, perbuatannya sesat, tapi toh bukan manusia yang terlalu jahat, Lebih-Lebih dia pun mencintai Le Hok Sing dengan sungguh-sungguh dan tidak mengecewakan harapan pemuda she Le itu, Ya, semoga mereka terlolos dari bahaya, atat mereka benar-benar dapat kembali kejalan yang benar, maka aku bersedia memohon Hay Ko untuk menolongnya. Dengan kepandaian Hay Ko yang sekarang sudah hampir memadai gurunya, bukan mustahil Hay Ko akan dapat menolong Thian"Mo Kaucu dengan mudah Belum habis ia merenung, tiba-tiba terdengar teriakan tajam seorang, itulah suaranya Thian Mo Kaucu. Seketika Tiong Lian menjadi kua-tir, serunya tanpa merasa ."Wah, celaka, mereka masih belum dapat meloloskan diri!"
"Hm, mereka tak dapat meloloskan diri, apakah kau sendiri mampu lolos?"
Demikian mendadak terdengar seorang menanggapi ucapannya itu dengan menyindir.
Ketika Tiong Lian berpaling dibawah sinar bulan yang remang-remang itu, tertampak dari balik gunung-gunungan palsu sana telah muncul seorang.
Itulah dia encinya Thian Mo Kaucu yang dahulu pernah memalsu dan mengaku sebagai ibunya Kok Tiong Lian, yaitu Mo Hujin.
Dengan cepat luar biasa tiba-tiba terdengar suara menderu, Mo Hujin telah ayun seutas-kain sutera merah dan mengerudung keatas kepala Kok Tiong Lian Tentu saja Tiong Lian menjadi gusar, sebelah tangannya terus mencakar keatas.
"bret", seketika seledang sutera itu kena dirobeknya menjadi dua jalur, cuma sayang tenaga Tiong Lian belum lagi pulih seluruhnya, meski sutera merah itu terobek, tapi juga tidak kuat merebutnya dan ujung sebelah sana masih tetap dipegang kencang oleh Mohujin Dan selagi Tiong Lian hendak menubruk maju lagi, sekonyong-konyong selendang sutera Mo hujin sudah mendahului bekerja, selendang sutera yang terobek menjadi dua jalur itu mendadak melibat dari kedua arah, yang seutas hei dak membelit lehernya, yang lain memapak tangannya. Terpaksa. Kok Tiong Lian mesti mengegos, tapi tangannya yang hendak men cakar itu sudah lantas terlilit oleh selendang sutera lawan. Selagi Tiong lian merasa cemas dan hendak membetot tangannya kembali sedikit, tiba-tiba terdengar Mo hujin telah membentak.
"Siapa itu...."
Tapi selesai ucapannya itu, tahutahu ia sendiri sudah roboh tersungkur karena lututnya tertutuk.
Menyusul mana dari semak-semak pohon sana telah melompat keluar seorang, dimana Sinar pedangnya berkelebat, seketika selendang sutera yang membelit lengan Kok Tiong Lian itu lantas terputus-putus menjadi potonganpotongan kecil dan pedangnya sedikitpun tidak melukai sinona.
Sungguh betapa hebat ilmu pedangnya dikata tiada taranya.
Kejut dan girang Tiong lian bukan buatan, seketika kedua orang lantas saling peluk, yang seorang berseru.
"Suhu!"
Dan yang iain berseru.
"Lianji!"
Kiranya pendatang itu bukan lain adalah gurunya Kok Tiong Lian, yaitu Kok Ci Hoa menyusup juga kedalam keraton dan baru sekarang mereka dapat bertemu.
Belum lagi guru dan murid itu sempat bicara, sementara itu terdengar ada orang mendatangi, cepat Tiong Lian berkata.
"Mari ikut lah padaku, suhu!"
Karena Tiong Lian sudah paham jalanan sekitar keraton itu, Ginkang mereka sangat tinggi pula.
maka hanya sebentar saja ia sudah membawa gurunya melintasi sebuah dinding yang tinggi dan masuk kedalam sebuah istana.
"He, mengapa kau membawa aku ketempat raja ?"
Tanya Ci Hoa.
"Ya, justeru tempat inilah paling aman bagi kita,"
Sahut Tiong Lian dengan suara tertahan.
"Malahan aku sekalian dapat berbuat sesuatu."
Tatkala itu sudah dekat tengah malam dan sudah sampai waktu perjanjiannya dengan raja, karena itu iapun tidak sempat memikirkan urusan orang lain lagi..."
Dalam pada itu Thian Mo Kaucu dan Le Hok Sing masih terus menempur Di.n Ting Itik dengan sengit sambil berjalan keluar berulang-ulang Hok Sing juga bersuit lagi untuk memanggil Kim Mo Soan, terdengar pula suara sahutan Kim Mo Soan, tapi suaranya memilukan dan seperti terluka dan tak bisa berkutik lagi.
Keruan Le Hck Sing terperanjat, cepat ia memburu kearah suara Kim Mo Soan berada didepun sana adalah tanah lapang, dari jauh samar-samar kelihatan kedua ekor Kim Mo Soan itu telah meringkuk diatas tanah.
"Cici, lekas kemari, Kim Mo Soan berada disini !"
Seru Hok Sing.
Segera Thian Mo Kaucu menghamburkan secomot jarum berbisa dengan cara aneh iamenyerang bagian depan Bun Ting Sik agar dia tidak sempat mendahului lari kesana membunuh kedua Kim Mo Soan Benar saja BunTing Bik mesti berkelit kesamping, kesempatan itu segera digunakan Le Hok Sing untuk memeriksa Kim Mo Soan.
Memangnya ia sudah menduga jelek ketika kedua binatang itu tidak berbangkit untuk memapak majikannya.
Sesudah di periksa kedua ekor Kim Mo Soan sudah meringkuk seperti cacing, seluruh badannya hitam hangus, ketika Le Hok Sing menendang pelahan, sedikitpun binatang-binatang itu tak bisa bergerak lagi.
Keruan Le Hok Sing menempuh harapan satusatunya agar Kim Mo Soan dapat membawa lari mereka, sekarang binatang-binatang itu ternyata sudah lebih dulu mati diracun orang Thian Mo Kaucu ikut terkejut juga, cepat ia menarik Le Hok Sing sambil bersatu.
"Hayo lekas mundur!"
Belum lenyap suaranya, terdengarlah seorang telah menegurnya dengan mengejek.
"Hmm, apa masih ingin lari?"
Dan tahu-tahu dari semak pohon sana telah muncul seseorang, siapa lagi dia kalau bukan gurunya Thian Mo Kaucu sendiri Bok lolo adanya.
Dan dengan cepat sekali, tiba Bok Lolo terus menggeraki tangannya.
"Wass"
Sejalur api yang gemerlap telah menjalar memutari mereka. Le Hok Sing masih bermaksud menerjang keluar tapi Thian Mo Kaucu telah mencegahnya.
"Jangan"
Baru saja Le Hok Sing dapat ditarik kembali, ketika memutar kebelakang, mendadak terdengar lagi suara "Bus", sejalur api lagi membakar pula didepan situ dan hanya dalam sekejap saja mereka berdua sudah terkurung di tengah.
Api yang berkobar-kobar itu bukanlah api yang sebetulnya, benda yang terkena juga tidak ikut terbakar, tapi mirip bola saja, dima na api itu lalu, rumput dan tumbuh-tumbuhan lain lantas layu dan kering dan mengeluarkan bau yang busuk.
Kiranya api berbisa itu adalah perbuatan pospor yang dikumpulkan Bok Lolo dari kuburan-kuburan kuno.
Api pospor itu tidak membakar tapi kulit daging yang terkena api itu akan segera busuk dan hancur luluh sebagai air.
Ilmu jahat yang dilatih Bok Lolo ini bernama "Leng yam sau hun" (api dingin nenyapu nyawa).
Maka terdengar Bok Lolo telah berkata.
"Karani, kau benar muridku yang paling baik sedikitpun kau tidak pikirkan budi kebaikan guru, sekali kelentukan kekasih, terus saja kau hendak mendurhakai guru."
"Setiap manusia boleh menikah, apakah ini dianggap sebagai mendurhakai guru?"
Sela Le Hok Sing dengan penasaran.
"Tidak perlu kau ikut cerewet!"
Bentak Bok Lolo.
"Muridku sendiri, soal mati hidup nya adalah aku yang memutuskan. Dia boleh menikah dengan siapapun, justeru tidak kepadamu. Hem,"tempo hari kau telah mengapusi aku dan menggondol lari puteri Romana, untuk itu aku belum sempat memberi hukuman setimpal kepadamu, dan sekarang kau hendak memelet muridku pula. Biarlah kau merasakan sedikit kelihayanku! Segera sebelah tangannya memukul kedepan. segulung api terus menyala diatas badan Kim Mo Soan, hanya sebentar saja kedua ekor Kim Mo Soan yang besar itu sudah lenyap dari pandangan mata, hanya diatas tanah saja tertinggal sedikit air darah dan bulu.
"Nah, tempo hari kau dapat melarikan diri berkat bantuan binatang itu, sekarang ingin kulihat apa yang kau hendak perbuat lagi?"
Jengek Bok Lolo.
"Aku sendirilah yang rela ikut dia, kalau salah, maka akulah yang salah, harap Suhu melepaskan dia, kalau hendak dihukum, boleh hukum aku saja!"
Kata Thian Mo Kaucu.
"Kau hendak mengingkari guru dan melarikan diri, apa hukuman yang pantas?"
Tanya "ok Lolo.
"Tecu terima di bakar dengan api berbisa,"
Sahut Thian Mo Katicu.
"Tidak, akulah yang berbuat salah pada mu, segala apa adalah langsung jawabku!"
Seru Le Hok Sing.
"Huh, kalian ternyata cinta mesra sekali!"-jengek sinenek. Dan dimana jarinya menuding setangkai bunga api terus menyambar. Thian Mo Kaucu menjerit tajam, tanpa pikir lagi ia terus peluk Le Hok Sing dengan maksud mengaling didepan tunangannya itu. Sudah temu Le Hok Sing tidak mau membiarkan kekasihnya menjadi korban, segera ia pun balas memeluk kebelakang sehingga tubuh-nya sendiri dipakai menghadang didepannya. Namun Bok Lolo tiba-tiba menarik kembali jalur api itu katanya dengan dingin "Hu, aku justeru tidak mau melihat cita-cita kalian terkabul dan hidup bahagia dan mati bersama."
Menyusul kedua tangannya bergerak pula, terdengar suara menderu, dua utas tali telah menyambar tiba, Thian Mo Kaucu dan Le Hok Sing tahu-tahu sudah teringkus oleh tali itu.
Ketika tangan Bik Lolo menarik, segera Hok Sing berdua tertarik keatas dan terhindar dari bola api tadi.
Kedua utas tali itu adalah buatan sutera berasal dari ulat sutera pilihan, uletnya luar biasa, sekali terangkat, berapa tangkaspun juga susah melepaskan diri !"
Sesudah menawan kedua orang itu selagi Bok Lolo tertawa terkekeh-kekeh senang. tiba-tiba datang seorang Bu Su dan melapor.
"Seng Bo, puteri kerajaan Masar itu telah lolos !"
"Ha, apa katamu ?"
Bentak Bok Lolo dengan mata mendelik.
"Puteri Masar itu telah melarikan diri,"
Demikian Busu itu mengulangi laporannya.
"Kami ketemukan Mo hujin menggeletak di-atas tanah tanpa berkutik, agaknya Hiat tonya ditutuk orang dan kami tak bisa membuka Hiat to yang tertutuk itu, maka Seng Bo di-mohon suka pergi memeriksanya sendiri.
"Jika begitu Bun siansing, silahkan ikut padaku,"
Kala Bok Lolo. Sesudah ketemukan Mo Hujin, sekilas pandang saja segera Bun Ting Bik berkata.
"Ya, benar, ini adalah ilmu Tiam hiat yang khas dari Bin San Pay. Eb, aneh juga, bukankah budak itu sudah minum Siu Lo So Kut S.n, kenapa dia mampu meloloskan diri?"
Dengan muka merengut Bok Lolo tepuk punggung Mo hujin untuk melancarkan darah nya, lalu tanyanya.
"Kenapa kau begini tak becus? sehingga kena disergap budak itu ?"
Wajah Mo hujin menjadi merah jengah, sahutnya.
"Guru budak itu telah datang juga !"
Sementara itu para Busu telah beruntun-runtun kembali mereka telah menggeledah segenap pelosok taman raja itu.
Tapi belum semuanya menyatakan tidak menemukan juga jejak Tiong Lian Bok Lolo sendiri paham duduknya perkara dengan tawar ia lantas berkata.
"Kalian tidak perlu ribut, aku sudah tahu tempat sembunyi nya, serahkan saja padaku, tidak nanti budak itu mampu lolos. Hm, gurunya juga sudah datang, Sungguh sangat kebetulan ! Kabarnya dia adalah kekasih lama Kim Si Ih ?"
"Benar,"
Sahut Bun Ting Bik.
"Jika engkau dapat menawan Kok Ci Hoa, tentu Kim Si Ih akan mati kutu dan akan menyerah tanpa syarat padamu,"
Selesai bicara, ia lihat air muka sinenek mengunjukan rasa kurang senang. ---ooo0dw0ooo---
Jilid 19 DENGAN cerdik cepat Ting Bik memutar balik ucapannya itu.
"Tapi sebenarnya dengan ilmu sakti Bok Lolo, tidak mungkin Kim Si Ih itu mampu melawan engkau. Cuma saja kalau kita menawan dulu kekasihnya, paling tidak dia akan kelabakan lebih dulu."
"Ipih (nama Mo-hujin), aku percaya kau takkan mengkhianati aku, maka adikmu kuserahkan dibawah pengawasanmu,"
Kata Bok Lolo.
"Jangan kuatir Suhu, tidak nanti Tecu lupa kepada budi Suhu,"
Sahut Mo hujin.
"Adik perempuanku tidak kenal malu dan hendak minggat dengan orang hal ini adalah kesalahannya biarpun nanti suhu dapat mengampuni, paling tidak aku sebagai saudaranya yang tua juga melaksanakan kewajiban untuk menghukumnya".
"Ehm, bagus,"
Puji Eok Lolo.
"Dan masih ada pula bocah she Le ini, eh Buu siansing silahkan kau ikut mengawasi bocah ini."
Itulah yang diharap-harapkan Bun Ting Kik, maka cepat ia menjawab.
"Ya. sudah tentu aku akan membantu sebisa mungkin "
"Tapi, akupun melarang siapapun mempergunakan kesempatan ini untuk membalas sakit bati perorangan, harus tunggu aku untuk menentukan keputusan terakhir,"
Kata Bok Lelo dengan dingin.
"Nah, Ipih, kau dan Bun siansing boleh mengiring mereka kembali keistana lebih dulu."
Selesai mengatur, segera Bok Lolo pergi menemui raja.
Kiranya dia sudah menduga Kok Tiong Lian, pasti sembunyi didalam istana tidur raja.
Tentang Kok Tiong Lien sesudah dia masuk kedalam istana tidur raja itu, ia lantas membawa gurunya menuju keruangan Cip Hian Kok.
Istana raja itu meliputi belasan ruangan besar dan Cip Hian Kok ini adalah ruangan tamu raja.
Tiong Lian membawa Ci Hoa melayang dari atap rumah satu kerumah yang lain, dimana mereka lewat.
Lapat-Lapat kelihatan dibalik gunung-gunungan palsu dan semak-semak pohon banyak terdapat bayangan orang yang bersembunyi disitu Ketika hampir dekat Cip Hian Kok.
tertampak pula ada satu regu seragam hitam sedang menuju kearah Ci Hian Kok, untung Ginkang Tiong Lian dan Ci Hoa sangat tinggi, sama sekali tiada orang yang pergoki jejak mereka roakp.
dengan enteng sekali mereka melayang lewat lalu melompat turun tanpa suara.
"Ada kejadian apakah, tampaknya didalam istana cukup ramai?"
Tanya Ci Hoa.
"Ya, melihat gelagatnya, rupanya akan ida sesuatu perjamuan istimewa, mungkin juga aku akan terlibat didalamnya. Sebentar bila terjadi apa-apa, harap Suhu mengawasi perkembangan dan memberi bantuan seperlunya."
Begitulah mereka lantas mendekam diatas talang rumah sambil mengintip kebawab. Dalam pada itu terdengar diluar gedung itu ada orang melapor.
"Thay Ceng Ong tibal"
Diam-Diam Tiong Lian merasa datangnya itu tepat pada waktunya, kebetulan dia dapat melibat dulu apa yang akan terjadi dan tidak perlu buru-buru menemui raja.
Perlahanlahan ia lantas menyingkap sebuah genting ia gunakan jarinya uutuk membikin sebuah lubang kecil dan mengintip kebawab.
Ia lihat seorang diri raja sudah duduk didalam ruangan.
Tapi lapat-lapat Tiong Lian merasa ada suara pernapasan orang banyak, terkadang juga terseling suara gemeresek nya pakaian, suatu tanda selain raja masih terdapat banyak orang lain yang telah diatur ini, kalau tidak perlu sekali lebih baik akupun tidak perlu unjuk diri supaya tidak membikin ribut dan mengakibatkan datangnya nenek siluman itu."
Begitulah lantas terdengar raja sedang memberi perintah.
"Silahkan Thay Ceng Ong masuk, pengawalnya boleh dilayani diluar sana.""
Berbareng la mengedipi Busu yang melapor itu.
Rupanya Busu itupun paham akan maksud junjungannya, maka terdengar mengiyakan sekali, lalu undurkan dir.
Meski raja sudah mengatur penjagaannya, tapi iapun merasa kebat kebit pikirnya.
"Ilmu silat Thay Ceng Ong juga tidak rendah sayang adik perempuan sepupu yang kuajak bersekongkol itu kebetulan dirampas oleh Seng Bo, janganjangan sebentar aku tidak berhasil menangkap harimau dan berbalik akan digigit malah. Ya, terpaksa aku harus bertindak menurut gelagat, lebih dulu biar kupancing dulu katakatanya."
Baru selesai ia memikir, siasat itu Thay Ceng Ong sudah melangkah masuk dan pintu lantas ditutup orang dari luar.
Melihat didalam ruangan hanya terdapat raja sendiri, Thay Ceng Ong tampak agak heran, katanya.
"Malam-Malam Baginda memanggil hamba, entah ada urusan apa yang penting?"
"Paman silahkan duduk,"
Kata raja.
"Aku justeru mendengar sesuatu berita aneh, maka-nya ingin tanya paman."
"O, berita aneh apa?"
Tanya Thay Ceng Ong "Kabarnya utusan yang kita kirim ke Masar telah dibunuh mereka karena dia dipergoki berada didalam gudang pusaka kerajaan mereka,"
Kata raja.
"Paman adalah ayah utusan yang kita kirim itu, apakah paman tahu sebab apakah dia menyelundup kedalam gudang orang?"
Air muka Thay Ceng Ong berubah mendadak, ia menegas.
"Apakah berita ini dapat dipercaya penuh?"
"Sumber berita ini cukup dapat dipercaya, kurasa tidaklah bohong,"
Sahut raja.
"Siapakah yang menyampaikan berita ini kepada baginda?"
Tanya Thay Ceng Ong pula.
"Pendek kata, berita ini dapat dipercaya, tentang siapa yang menyampaikan padaku hendaklah paman tidak perlu tanya."
"O, aku sendiripun mendengar sesuatu berita yang sangat aneh,"
Tiba-tiba Thay Ceng Ong berkata pula dengan pelahanlahan.
"Ha, aneh bagaimana?"
Tanya raja.
"Konon ada suatu negeri dimana rajanya ternyata bukan bangsanya sendiri, tapi adalah bangsa negeri musuh. Dia sudah berpuluh tahun naik tahta diturunkan kepada cucunya, tapi khalayak ramai masih belum tahu akan rahasia ini!"
Wajah raja mendadak berubah, serunya.
"Kau maksudkan negeri yang mana?"
"Tentang ini hendaklah Sribaginda jangan tanya, berita ini cukup dapat dipercaya, rasa nya toh bukanlah negeri Kunbran kita!"
Mendadak raja bergelak tertawa katanya-"Sudahlah, paman kita tidak perlu saling menyangsikan.
Apakah kau tahu maksud undanganku padamu ini?
Karena besok aku hendak mengesahkan pasukan, maka aku ingin mengangkat kau menjadi panglima besar merangkap mengkubumi, akan kuserahkan kekuasaan penuh padamu."
"Kenapa baginda menyerahkan tanggung jawab seberat ini padaku, mana hamba berani memikulnya?"
Sahut Thay Ceng Ong dengan dingin saja.
"Usiaku terlalu muda dan pengalamanku cetek. justeru orang pindai sebagi pamanlah yang tepat untuk diangkat sebagai pembarituku yang utama."
Harap jangan menolak maksud baikku yang jujur ini."
Diam-Diam Thay Ceng Ong memikir mungkin anak jadah ini kuatir rahasianya bocor kubongkar, maka hendak menyuap aku dengan ke dudukan.
Boleh juga aku terima kehendaknya ini, lalu bergerak menurut keadaan.
Maka lantas berkata.
"Jika baginda dengan sungguh-sungguh percaya kepada hamba, sudah tentu hamba tidak berani menolak.
"Bagus, sejak kini kita berdua dapat kerja, sama lebih baik. Aku memberi selamat kepada paman semoga pasukan paman dapat melumpuhkan musuh dengan lancar terimalah suguhanku secawan arak ini,"
Kata raja berseri-seri Lalu ia menuangkan dua cawan arak, ia mendahului meneguk secawan, Kemudian berkata .
"Silahkan paman !"
Namun Thay Ceng Ong tersenyum, sahut nya.
"Menurut adat kehormatan hamba harus memberi selamat lebih dulu kepada baginda dengan secawan arak maka harap baginda suka terima suguhan ini!"
Berbareng ia terus menyodorkan arak yang tadi dituang oleh raja untuk dia.
"Harap paman minum dulu suguhanku ini, diantara kita tidak perlu pakai adat apa segala"
Ujar raja. Mendadak Thay Ceng Ong membanting cawan arak itu kelantai sambi! bergelak tertawa dan berkata.
"Sri Baginda benar-benar banyak tipu akal, tapi tak bisa mengelabui hamba !"
Dan dimana cawan arak itu terbanting, terdengarlah suara gemerincing nyaring disertai menyalanya api.
Kiranya poci arak tadi itu bukannya arak istimewa, didalam poci ada pesawat rahasianya dan terbagi dua tingkat, tingkat atas terisi arak biasa yang tak berbisa dan pada tingkat bawah adalah arak beracun asal tekan alat pijatan tertenlu, segera akan tertuang arak yang dikehen daki.
Sebab itulah, arak yang dia minum sendiri arak biasa dan secawan yang disediakan unluk TUay Ceng Ong itu adalah arak berbisa.
Tak terduga Thay Ceng Ong telah tahu muslihatnya itu, begitu cawan arak dibanting, segera ia pegang pula tangan raja.
Ketika para Busu yang disembunyikan disekitar kamar itu mendengar suara bantingan cawan dan bframai ramai menyerbu masuk, namun sudah terlambat, raja sudah tertawan lebih dulu.
"Hm, kau masih ingin hidup tidak? Pendeknya kata, kau harus menurut setiap permintaanku,"
Jengek Thay Ceng Ong.
"Ampun paman. Siautit akan menurut segala perintah paman,"
Sahut raja dengan gemetar.
"Cis, siapa sudi mengaku sebagai pamanmu"
Semprot Thay Ceng Ong.
"Nah, Jika kau ingin selamat, lekas ceritakan asal usulmu kepada semua bawahanmu."
Dengan muka pucat pasti raja berkata dengan gelagapan.
"Aku......"
Aku......""
"Kau mau bicara tidak ?"
Bentak Thay Ceng Ong sambil pencet tangan raja yang dicengkeram itu sehingga raja meringis kesakitan "Lepaskan !"
Mendadak terdengar suara bentakan orang, ternyata suara itu seperti tak terbantahkan lagi, tanpa merasa badan Thay Ceng Ong menjadi lemas lunglai seperti kehabisan tenaga, benar juga pegangannya kepada raja lantas terlepas.
Kiranya Kok Tiong Lian yang telah melompat masuk dari jendela dan menggunakan Tiam hiat dari jauh unluk menutuk Hiato paman raja itu, Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh para busu yang disiapkan raja tadi, sekali melihat junjungan mereka sudah terhindar dari kekangan lawan, serentak mereka menerjang maju dan menyerang Thay Ceng Ong sehingga Tiong Lian terhalang malah, Tampaknya dengar segera Thay Ceng Ong akan mati tercincang dibawah senjata para Bu su, pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berbaju hitam telah menerjang masuk dengan mendobrak pintu, dimana kedua tangannya main hantam disitu sasarannya lantas menggeletak sehingga dalam sekejap saja belasan Busu ysng mengerubut kearah Thay Ceng Ong itu telah dirobohkan, Diam-Diam Tiong Lian terkejut, sama sekali tak terduga olehnya bahwa Thay Ceng Ong masih mempunyai pengawal yang berkepandaian setinggi itu.
Saat itu Thay Ceng Ong sudah berbangkit, serunya dengan tertawa.
"Haha, kau mempunyai bala bantuan apakah aku tiada punya?"
Sementara itu suara pertempuran juga sudah terjadi diluar Cip Hian Kok itu.
Ketika Hong Lian memukul orang baju hitam, dimana angin pukulannya menyambar tiba-tiba kopiah orang itu tersampok jatuh sehingga kelihatan kepalanya yang gundul kelimis.
Sebaliknya karena tangkisan pukulan orang itu Tiong Lian juga meraja dada sesak dan hampir-hampir sempoyongan mundur dan baru sekarang Tiong Lian dapat melihat jelas bahwa sibaju hitam itu adalah seorang Lama.
"Aha, kau ini puteri Masar itu? Boleh juga ya, ilmu silatmu !"
Seru Lama itu aengan teria wa.
"Aku paling suka kepada anak muda yang pintar lebih baik kau menjadi puteri suci gerejaku saja dari pada menjadi puteri kerajaan apa segala"
Habis berkata, segera ia mencengkeram pula.
"Hit, kiranya adalah kau !"
Sahut Tiong Lian dengan mendengus. Kang Suheng telah ampuni jiwa kamu, siapa tahu kau telah datang ke sini untuk membikin gara-gara lagi."
Wajah Lama itu berubah kalap, dari malu ia menjadi gusar karcaa teguran itu.
sekali mengfereng, mendadak ia menubruk maju sehingga cengkeramannya tambah hebat, tampak nya Tiong Lian susah menahan serangan itu, tiba-tiba Lama itu merasa dari belakang ada sambaran senjata, dengan terkejut terpaksa Lama itu harus menggeser kesamping, sebelah tangannya tetap menghantam Tiong Lian, lain tangan digunakan menghantam kebelakang untuk menahan serangan musuh.
Serangan lain itu dapat ditangkis oleh Kok Tiong Lian, sebaliknya Lama itu tidak "kuat menahan serangan lawan dari belakang itu, terdengarlah suraa "bret, bret"
Beberapa kali.
dimana sinar pedang berkelebat, tahu-tahu kasa jubah paderi Lama telah robek dan berlubang seperti sirang tawon.
Untung dia sempat mendekukkan dada dan mendoyong kebelakang sahingga terluput dari luka pedang.
"Ha. kiranya Kok ciangbun dari Bin Can Pay telah datang"
Seru si Lama dengari gusar.
"Kalian sendiri lagi menghadapi bencana di Tionggoan, tapi kau masih sempat turut campur urusan diperbatasan ini. Mengingat hubungan baik Lu ciangbun dari angkatan yang tua, hendaklah kau lekas pulang saja dengan muridmu "
"Hem. aku justeru mengingat kebaikan Suhengmu, makanya ingin menganjurkan kau jangan mendurhakai ajaran suci agama Budha,"
Sahut Ci Hoa.
"Ada petuah suhengmu sudah kau lupakan ? lebih baik kau sendiri saja lekas pulang keistana Orsim dan bertobat kepada Suhengmu Kiranya Lama ini tidak lain dari pada Khong Jiok Beng Lun Ong dari Lama baju putih. Sesudah cekcok dengan Suhengnya, yaitu raja agama Orsim. lalu melarikan diri ke Nepal, disana a juga ikut terpengaruh dan akhirnya ikut raja pelarian dari Nepal itu datang ke Kunbran. Karena sama-sama berkepentingan, maka raja Nepal itu mempunyai perjanjian rahasia dengan raja Kunbran. Tapi pengaruh Thay Ceng Ong diantero negeri tidak kecil, karena ingin memperalat kekuatan meliter Kunbran, maka raja Nepal itu mempunyai hubungan erat dengan Thay Ceng Ong. Demi untuk memupuk kekuatan sen diri, maka diam-diam Thay Ceng Ong telah memberitahu tentang perubahan sikap raja Kunbran yang dikatakan berbalik akan bergabung dengan Masar dan akan menawan raja pelarian dari Nepal itu untuk diserahkan kepada raja baru Nepal sebagai hadiah ucapan selamat. Sudah tentu raja Nepal itu terkejut dan gusar pula, maka dia lantas mengadakan persekongkolan rahasia dengan Thay Ceng Ong, Maka ketika malam ini Thay Ceng Ong diundang masuk keraton, diam-diam merekapun sudah mengatur rencana pemberontakan, pasukan pengawal yang ikut datang itu. sebagian besar adalah samaran dan Busu Nepal dan Khong Jiok Beog Lun Ong juga termasuk didalamnya. Selain itu telah diputuskan menggunakan isyarat mercon api bila terjadi sesuatu, dengan demikian seluruh Busu kepercayaan raja Nepal itu segera akan bergabung dengan begundalnya Thay Ceng Ong untuk menyerang istana dan mengada kan kudeta. Jadi kedua pihak sama-sama sudah mengatur rencana dan siap sedia. Cuma diluar dugaan Thay Ceng Ong bahwa mendadak Kok Ci Hoa dan Kok Tiong Lian bisa mendadak muncul dan merintangi Khong Jiok Beng Lun Ong. Sebagai ahli waris Lu Si Nio, dengan sendirinya Hian Li Kiam Hoat yang dilatih Kok Ci Hoa sudah sangat sempurna begitu pula Lwekangnya, lebih-lebih paling akhir ini dia mendapat petunjuk pula dari Kim Si Ih sehingga kekuatannya banyak bertambah, walaupun masih kalah kuat sedikit daripada Beng Lun Ong tapi dengan ilmu pedangnya yang hebat itu tidaklah sukar baginya untuk mengimbangi Beng Lun Ong, apalagi dia dibantu oleh Kok Tiong Lian. Dalam pada itu tenaga Tiong Lian sudah pulih seluruhnya, tentu saja Beng Lun Ong kewalahan dikeroyok dua orang. Disebelah sana raja sendiri sudah tenang kembali dan bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Thay Ceng Ong. Dilihatnya sang paman duduk diatas tanah dengan sorot mata yang bengis sedang melotot padanya. Rupanya jalan darahnya belum lagi lancar meski Hiat-tonya telaj dibuka oleh Beng Lun Ong tadi. Dibawah pandangan Thay Ceng Ong yang bengis itu, raja menjadi jeri pikirnya.
"llmu Thay Ceng Ong jiuh lebih tinggi dariku, jika dia cuma pura-pura untuk memancing aku, tentu aku bisa celaka sendiri,"
Begitulah sedang dia ragu-ragu. tiba-tiba raja pelarian dari Nepal sudah menyerbu masuk dengan beberapa pengawalnya dan terus membentak.
"Tangkap dulu manusia yang tak bisa dipercaya itu!"
Raja Kunbran menjadi gugup, teriaknya.
"Nanti dulu, dengarkan keteranganku!"
Namun dua Busu Nepal dengan senjata lengkap sudah lantas menerjang kearahnya.
Untung Tiong Lian sempat menjemput sebilah golok ditanah dan mendahulu melornpat maju untuk menghadang didepan raja.
dengan gerak tipu "Heng sau-jian-kun" (golok menyapu ribuan perojuril).
sekaligus ia babat kedua Busu tadi.
Maka terdengarlah suara "trang-trang.
dua kali, golok seorang Busu telah terpapas kutung dan tergeser mundur, sebaliknya Busu yang bersenjata toya sempat memutar balik toyanya terus balas hendak mengetok dengkul Kok Ticng Lian.
Kiranya Busu bersenjata toya ini adalah Minhaji.
itu komandan pasukan pengawal raja Nepal, kepandaiannya cukup lihay, Sedang Busu yang bergolok adalah wakilnya, Mawi namanya, ilmu silatnya juga tidak lemah, tapi terpaut jauh kalau dibandingkan Kok Tiong Lian.
Sudah tentu Tiong Lian tidak mudah diserang, cepat ia menggeser kesamping dan balas menyerang pula, ia bacok bahu Minhaji.
Tapi toya Minhaji lantas diputar sedemikian kencangnya sehingga serangan-serangan Tiong Lian susah menembus ditambah lagi Mawi lantas mengerubut lagi, maka keadaan mereka untuk si meutara menjadi saling bertahan.
Dengan berkurangnya seorang lawan kuat, semangat Beng Lun Ong lantas terbangkit, tiba-tiba ia melepaskan kasanya dan digunakan sebagai senjata, ia kerahkan tenaga dalam dan mengecutkan jubah itu sebagai baling tiap-tiap serangan pedang Kok Cie Hoa selalu tertolak kembali, sesudah beberapa gebrakan, walaupun Cie Hoa tidak sampai keok.
tapi juga ketara kalah kuat Tapi Beng Lun Ong kenal juga liehaynya ilmu pedang Kok Ci Hoa, iapun tidak berani sembarangan menerjang, hanya setindak demi setindak ia terus mendesak maju.
Disebelah sana Tiong Lian menjadi kuatir ia melihat bayangan merah dari kasa Beng Lun Ong yang diobat abitkan itu semain meluas, sebaliknya lingkaran sinar pedang semakin sempit, diam-diam ia menjadi kuatir bagi gurunya akan terjungkal ditangan keledai gandul itu.
Sebenarnya tidak sulit bagi Kok Tiong Lian untuk meloloskan diri dari kerubutan lawan, tapi iapun tahu dengan tenaga gabungan yang bersama gurunya, memang lebih dari cukup untuk mengalahkan Beng Lun Ong dan kemudian dengan gampang dapat menumpas para Busu pula.
Cuma sayang dia hanya berbadan satu, kalau dia membantu sang guru, tentu tidak dapat menolong raja.
"Sri Baginda Nepal, perempuan inilah puteri dari Masar, bukti nyata sudah kau lihat sendiri, lebih baik kau binasakan dulu raja khianat itu!"
Tiba-tiba Thay Ceng Ong berseru kepada raja Nepal.
"Ya, ingin kutanya Baginda raja Kunbran mengapa mengingkari perjanjian kita? Jika kau tidak dapat dipercaya, jangan pula menialahkan aku tidak pegang janji!"
Seru raja Nepal.
"Ah. tentu Baginda salah paham, masakan aku berani mengingkari perjanjian kita?""
Sahut raja Kunbran dengan gelagapan.
"Bahkan uegala persiapanku sudah selesai dan besok tinggal bergerak saja. Mengenai wanita ini, tadinya dia memang dikurung didalam keraton, akupun tidak menduga mendadak dia dapat lolos kesini. Adapun sebabnya biarlah kita selidiki dan bicarakan nanti."
"Apa kau benar-benar ingin berserikat dengan aku, setulus hati?"
Raja Nepal menegas.
"Sudah tentu,"
Sahut raja Kunbran.
"Jika begitu, lebih dulu kau harus turut suatu permintaanku!"
"Silahkann berkata !"
"Lekas suruh kedua wanita itu meletakan senjata dan aku berjanji takkan bikin susah mereka,"
Kata raja Nepal, ia pikir raja Kunbran yang pengecut itu lebih gampang diatasi dari pada Thay Ceng Ong yang berambisi besar itu.
Dan sekarang keadaan tampak belum menguntungkan pihaknya, dari itu ia sengaja mendesak agar raja Kunbran memerintahkan Kok Tiong Lian dan gurunya meletakan senjata.
Karena terkepung musuh, nyali raja Kunbran menjadi kuncup, dengan gemetar ia terus berteriak.
"Lian ... Lian... Kongcu, tiada gunanya kau melawan terus, lebih baik kau turut perintah Baginda ini, jangan kalian ber tempur lagi !"
Seketika itu perasaan Tiong Lian menjadi pedih, dengan mati-matian ia hendak menyelamatkan raja, siapa duga raja malah takluk kepada mujuh dan menganjurkan dia menyerah pula, padahal raja penakluk itu justeru adalah biangkeladi yang hendak menyerang negeri leluhur sendiri.
Tiong Lian menjadi nekat, jengeknya.
"Hai kau sendiri pengecut, terpaksa aku tidak kenal kau lagi sebagai penguasa disini! mendadak ia meloncat keatas, dengan Ginkang yang tinggi ia tinggalkan raja Kunbran itu dan melayang kesana dan segera goloknya membacok ke atas kepala raja Nepal. Ketika kepala raja itu tampaknya segera akan terbelah menjadi dua, tiba-tiba dari samping menyambar tiba sejalur sinar kuning dengan membawa suara menderu, itulah sebuah kecer tembaga yang dilimpukan seorang Hwehio di belakang raja Nepal itu. Hwesio ini adalah salah satu jagoan yang diundang raja Nepal itu, gelarnya adalah Keng Goat Siangjin, ilmu silatnya lebih tinggi dari ptida Minhaji dan lain. Ketika golok Kok liong Lian mengenai kecer tembaga, terdengar suara "trang"
Yang nyaring menekak telinga, menyusul dua Busu Nepal tahu-tahu jatuh terguling kiranya anak telinga yang pecah tergetar oleh suara keras itu sehingga jatuh kelenger.
Dalam pada itu Tiong Lian telah meloncat lagi keatas, dengan berjumpalitan sekali di udara kemudian ia menyambar kebawah sambil membecok lagi.
Nnmun raja Nepal keburu jatuhkan diri dan menggelundung pergi sehingga bacokan Tiong Lian mengenai tempat kosong.
Melihat nona itu sudah kalap, Minhaji kuatir kalau Keng Goat Sangjin tidak sanggup melawan, tanpa menghiraukan luka sendiri segera ia memerubut maju.
Sedangkan beberapa Busu lain lantas merubung maju juga untuk menjaga junjungan mereka.
Raja Kunbran merasa lega karena tiada orang memperhatikan dia lagi, tapi tiba-tiba dilihatnya Thay Ceng Ong sedang mendekati dengan perlahan-lahan, sorot matanya buas menakutkan.
Sungguh kejut raja Kunbran tak terkira pikirnya diam-diam.
Urusan hari ini terang hanya ada dua pilihan, mati dia atau gugur aku."
Berpikir demikian, seketika timbul juga napsu membunuhnya, tapi lahirnya ia tenang-tenang saja, bahkan dengan tersenyum-senyum ia berkata.
"Paman, menurut pendapatku seharusnya kita jangan bercekcok, tapi harus bersatu, tanpa kau aku seperti kehilangan sandaran, sebaliknya tanpa aku, siapa yang mangangkat kau sebagai panglima besar berkuasa penuh !"
Benar juga pikir Thay Ceng Ong, sangat lah mudah jika sekarang aku hendak membunuh dia, tapi sesudah membunuh dia, belum tentu semua panglima dan pembesar lain mau tunduk kepadaku.
Agaknya lebih baik membiarkan dia hidup, jika kekuasaan sudah beralih ketanganku, masakah takhtanya tak jatuh ketanganku ?!"
Karena itu, hilanglah sorot matanya yang buas tadi, setiba didepan raja, dengan suara kereng ia berkat .
"Dan dimana cap dan surat mandat pengangkatan aku itu ?! "
"Berada didalam bajuku,"
Kata raja.
"Mana lekas serahkan,"
Pinta Thay Ceng Ong.
"Silahkan paman menerimanya,"
Sahut raja sambil merogoh baju.
Tapi mendadak sejalur sinar menyambar keluar menembus bajunya berbareng terdengar Thay Ceng Ong menjerit ngeri sekali, perutnya telah tertembus pedang.
Kiranya yang tersimpan didalam baju ra ju raja itu adalah pedang pusaka Cay Ia Po kiam milik Kok Tiong Lian.
Pedang itu sangat tipis, lapi tajam luar biasa, kalau digu lung dan disimpan didalam baju takkan kentara, Dalam sangkaan Thay Ceng Ong, ia merasa raja sudah berada didalam cengkeramannya siapa tahu raja Kunbran itupun bukan manusia baik-baik, dalam keadaan kepepet diapun dapat menyergap musuh secara mendadak.
"Hahaha! Apa kau masih dapat berebut tahta dengan aku sekarang?"
Seru raja dengan terbahak-bahak.
Sekonyong-konyong Thay Ceng Ong menggerang keraskeras sebagai harimau ketaton ia terus memeluk raja sekencang-kencangnya.
Saat itu raja baru saja meloloskan keluar pedangnya, karena pelukan itu, seketika pedang itu tertekuk diantara dua badan, dan "bles"
Ujung pedang membalik dan menembus dada raja.
Jadi antara paman dan keponakan itu telah gugur bersama, kejadian yang mendadak itu membuat ke dua pihak yapg sedang bertempur itu samasama terkejut, sekilas Tiong Lian melibatnya pedangnya sendiri berada ditangan raja Kunbran yang sudah menggeletak itu, cepat ia melompat ke sana dan mengambil pedangnya, sekali putar tubuh, segera ia timpukan golok rampasannya sehingga dua orang Busu kena dirobohkan, menyusul pedangnya terus berputar dan menabas kearah Michaji, maka terdengarlah "trang"
Sekali, lelatu api bercipratan, toya yang dipegang Mohaji itu hanya tinggal separoh saja.
Waktu Keng Goat Siangjin juga menyerang dengan sepasang kecernya mendadak Kok Tiong Lian menerjang maju malah sambil memutar pedangnya, trang, segera terdengar suara nyaring, sepasang kecernya Keng Goat Sing jin, tepat menjepit pedangnya Tiong Lian.
"Bagus, rebut dulu pedangnya ?"
Seru Minhaji kegirangan.
Tak terduga lantas terdengar suara nyaring menyerikan pula, tahu-tahu sebelah kecernya Keng Goat telah pecah menjadi dua, padahal kecer itu cukup tebal, ditambah Lwekangnya sangat liehay, tapi hal itu toh kena ditabas oleh Cay In Pokiam, dan karena rintangan itu juga, ketika Tiong Lian hendak putar pedang nya untiik menyabat kearah raia Nepal, namun dari sana KhongJiok Beng Lun Ong menubruk tiba, kasanya yang lebar itu terus mengeradung dari atas.
Tanpa pikir lagi Tiong Lian terus memapak dengan ujung pedangnya "bret"
Kasa lawan tertembus satu lubang, sedang Tiong Lian sendiripun tergetar mundur beberapa tindak dan napas terasa sesak.
Pada saat itulah dengan cepat luar biasa Kok Ci Hoa sudah memburu tiba, dengan gerak tipu "Pek Ho-tiah-ih" (bangau putih pentang sayap), secepat kilat pedangnya terus menusuk kedepan Beng Lun Ong untuk menahan serangan susulannya kepada Kok Tiong Lian.
Begitulah kedua guru dan murid telah mengamuk sehingga Khong Jiok Beng Lun Ong tercecer, hanya sebentar saja kasanya sudah bertambah belasan buah lubang robekan lagi.
Di sebelah sana Minhaji dan Keng Goat Siangjin segera mengerubut maju pula sehingga keadaan menjadi tiga lawan dua, namun begitu mereka tetap terdesak.
Sudah tentu para Busu Nepal ketakutan, mereka tidak pernah menyaksikan pertarungan sengit demikian, maka mereka sama menyingkir kesamping dan tak berani mendekat.
Raja Nepal yang hampir-hampir melayang itu juga ketakutan dengan muka pucat pasi.
Dengan perlahan-lahan raja Nepal menggeloyor pergi, tapi baru sampai diambang pintu, sekoyong-koyong masuk seseorang dan segera menjambret dadanya sambil berkala dengan nada seram.
"Hm, kau telah membunuh cucu angkatku ya?"
Keruan raja Nepal terkejut, waktu dia tegaskan, kiranya pendatang itu adalah Kim Lun Seng Bo Bok Lolo. Cepat ia menyapa.
"Harap Seng Bo jangan salah paham, tewasnya cucu angkatmu adalah karena saling membunuh sendiri dengan Thay Ceng Ong."
""Hm. kau berani membohong padaku ?"
Jengek Bok. Lolo.
"Sebabnya Thiay Ceng Ong memberontak, bukankah lantaran hasutanmu ? Kau telah menewaskan cucuku sehingga aku kehilangan sandaran dihari tua, cara bagaimana kau akan terima hukumanmu ?"
Raja Nepal itu mendengar dibalik ucapan si nenek ada "udangnya,"
Segera ia berlutut dan menyembah.
"Kau mau apa ? Dengan menyembah kau kira cukup untuk ganti jiwa cucuku"
Bentak Bok Lolo.
"Harap Lolo jangan marah, jika engkau sudi, biarlah aku menjadi putera angkatmu saja dan dua orang puteraku akan menjadi cucu mu,"
Kata raja Nepal.
"Wah, jika begitu, aku kehilangan seorang cucu, sebaliknya mendapat kembali dua oraug cucu ditambah seorang putera angkat, aku mendapat untung malah, namun..."
Cepat raja Nepal menyeia.
"Dan kelak bila kedua negara Kunbran dan Misar sudah tergabung, maka semua harta pusaka akan menjadi milikmu dan engkau akan tetap menjadi Seng Bo dari kedua kerajaan. Ya, bahkan kalau aku bisa mendapatkan kembali tahtaku di Nepal, maka..."
"Urusan yang belum terjadi buat apa dibicarakan, yang terang sekarang ini kau sudah tidak mampu menangkan seorang puteri Masar tapi kau masih berani bicara tentang mencaplok kerajaannya segala ?"
Ujar Bok Lolo.
"Untuk ini justeru dimohon bantuan Seng Bo,"
Cepat raja Nepal memohon.
"Hihi!"
Bok Lolo terbahak sambil melepaskan raja pelarian itu.
"Tampaknya kau akan lebih baik dari pada cucuku yang dahulu itu. Ai, percuma saja aku telah sayang padanya, tapi diam-diam dia telah mendustai dan memberikan obat penawar kepada budak itu."
"Benar, bahkan sebenarnya mereka adalah Saudara sepupu."
Seru raja Nepal dengan senang.
"Aku sudah tahu hal ini,"
Kata Bok Lolo.
"Sudahlah kalian menyingkir saja biar aku yang tangkap dia."
Walaupun Beng Lun Ong merasa tidak senang atas kesombongan Bok Lolo, tapi tiada jeleknya bila ada orang mau mewakilkan dia bertempur.
Maka sekali mengebas kasanya, segera ia mengundurkan diri bersama Kong Goan dan Minhaji.
Dan baru saja Beng Lun Ong tarik kembali kasanya, dua sinar pedang sudah lantas menyambar kearah Bok Lolo.
Namun kedua lengan baju sinenek segera mengebas keatas, dengan tenaga dalamnya yang kuat ia sampuk pe dang Kok Tiong Lian untuk membentur pedangnya Kok Ci Hoa sendiri."
Tapi Hia-li-kiam-hoat yang dimainkan Kok Ci Hoa cukup sempurna, kerja sama guru dan murid juga sangat baik, begitu kedua pedang saling bentur, segera memutar balik dan menyambar lagi, dimana sinar pedang berkele bat, secomot rambut sinenek sudah bertebaran.
Terkejut dan gusar sekali Bok Lolo, kelima jarinya bekerja cepat, ia menjentik berulang-ulang sehingga terdengar suara "Crang-cring"
Yang nyaring kiranya kelima jarinya memakai cincin besi yang dapat digunakan sebagai senjata, saking cepat gerakannya dan tepat pula cara menggunakannya maka belum lagi serangan pedang Kok Tiong Lian mengenai sasarannya hidung ujung pedang sudah kena diselentik miring.
Dalam pada itu Kok Ci Hoa sempal merangsek maju untuk mengisi lowongan muridnya itu sehingga serangan si nenek dapat dicegah.
Dengan kerja sama kedua pedang yang hebat itu, maka betapapun uletnya Bok Lolo juga tidak dapat berbuat apa-apa.
Bahkan berulang-ulang ia menghamburkan senjata rahasia keji pula, seperti pasir berbisa, paku menembus tulang dan jarum peluluh darah, tapi dengan yang diputar Kok Ci Hoa berdua sedemikian rapatnya sehingga tak tertembus angin, semua senjata rahasia sinenek dapat dibentur hancur dan terpental.
Karena serangan-serangannya gagal semua, Bok Lolo menjadi gugup.
Terpaksa ia menyerang secara nekad sehingga Cay ln Po Kiam dan Siang Hoi Kiam diselentik beberapa kali pula.
Tiba-Tiba Kok Ci Hoa merasa suatu aliran hawa dingin seperti masuk ketangannya melalui gagang pedang.
Pada saat yang sama Tiong Lian sebalik nya merasakan hawa panas.
Kiranya Bok Lolo melatih dua macam hawa panas dan dingin dan dapat mengerahkan tenaganya melalui benda, sebab itulah secara tidak langsung ia dapat menyerang kedua lawannya itu.
Demi tahu gelagat tidak menguntungkan, segera Ci Hoa mengerahkan tenaga murni kelengan untuk melawan hawa dingin berbisa musuh.
Walaupun kekuatannya kalah dari pada sinenek, tapi ia iebih murni dan dapat menahan menjalarnya hawa berbisa itu.
Sedangkan Kok Tiong Lian baru saja berhasil menyaki kan Hou Te sin kang, ilmu pelindung badan sesudah makan Thian Sim Ciok, maka tenaga tolakannya juga cukup kuat untuk menahan serangan hawa berbisa musuhnya.
Deugan demikian keadaan menjadi sama kuatnya dan sama-sama tidak berani gegabah disatu pihak tentu akan keracunan hawa berbisa si-nenek jika lengah dilain pihak kalau kena tentu juga akan dilukai oleh pedang.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang tua.
"Siau Sun Cu, apa kau sudah tidak peduli lagi adanya kakekmu ini ? Jika kau hendak membunuh Lian Ji, lebih baik kau membunuh aku saja lebih dulu ! Eh, siapa kalian ini? Kemanakah perginya cucuku?"
Kiranya yang datang itu adalah Thay Siang Hong, kakek baginda raja Kunbran yang berjalan sempoyongan dengan membawa tongkat.
"Siau Sun Cu adalah nama kecil cucunya, yaitu raja Kunbran sekarang. Dia hanya menyangka raja hendak membunuh Kok Tiong Lian, makanya memburu datang hendak menolong. Ia tidak tahu kalau cucunya itu sudah mati sejak tadi. Karena usianya sudah lanjut, matanya juga kurang awas lagi sehingga seketika tidak mengenali raja pelarian dari Nepal itu, tapi dari dandanannya lapat-lapat iapun merasa orang! itu pasti bukan Bu Su dari negerinya sendiri. Maka dengan tertawa mengekek raja Nepal telah berkata.
"Loyaya, apa kau hendak mencari cucumu?"
Tapi kakek baginda sudah lantas berteriak.
"Bok Lolo, lekas berhenti! Apa yang kau kehendaki akan kupenuhi semua asalkan kau tidak mencelakai anak Lian. Bagus, kau masih tidak mau berhenti, biarlah akupun mengadu jiwa saja padamu!"
Begitulah ia berteriak-teriak, hakikatnya ia tidak memperhatikan apa yang dikatakan raja Nepal tadi.
Dan pada saat itu pula dari jauh tiba-tiba ada suara genta yang dibunyikan secara bertalu-talu.
Seketika air muka Bok Lolo berobah Kiranya itu adalah tanda bahaya dari Kim Lun Kiong yang menjadi istana kediamannya.
Diam-Diam ia heran apakah si Ipih telah ketemukan musuh sehingga perlu membunyikan tauda bahaya kilat ?
Ia pikir toh susah untuk menangkan kedua lawannya sekarang, boleh juga sekalian memberi muka kepada Thay Siang Kong yang telah berteriakteriak itu.
Maka segera ia bersuit menjawab Mo hujin membunyikan tanda bahaya tadi, lalu ia melesat pergi.
Ketika lewat disamping Thay Siang Hong, ia sengaja membisiki orang tua itu.
"Aku cuma ingin Liong Lik Pit Kip saja, sebentar nanti harap kau suruh mengantarkan padaku."
Rupanya paling akhir ini Bok Lolo telah dapat menyelidiki dengan pasti akan asal usul diri Thay Siang Hong, maka ia sangka kitab pusaka Liong Lik Pit Kip tentu berada ditangan kakek baginda itu.
Karena perginya Bok Lolo secara mendadak, sudah tentu hal ini membuat para Bu su Nepal menjadi kelabakan karena kuatir dilabrak oleh Kok Ci Hoa dan Tiong Lian.
Sampai Khong Jiok Beng Lun Ong juga terpaksa memikirkan sendiri diam-diam ia menggeser dan siap-siap dulu ditepi pintu.
Begitu pula Minhaji meski cukup setia kepada rajanya, lapi ia pun jeri dan gemetar.
"Kakek!"
Seru Tiong Lian demi melihat Thay Siang Hong.
"Lekas kau lari, lekas! Aku tak mampu melindungi kau lagi, lekas kau lari pergi saja, bagi Siau Sun Cu aku sudah bukan kakeknya lagi!"
Sahut sikakek sambil memberi tanda. Tiong Lian tidak tega untuk mcmberitahukan tentang kematian cucu bagindanya itu, tanpa merasa air matanya berlinang-linang dan kembali memanggil "Kakek"
Lagi. Mendengar suara Tiong Lian yang agak lemah itu, sekilas Ci Hoa melihat jidat nona itu bersemu hitam gelap, keruan ia terkejut, pikirnya.
"Mengapa dia terkena hawa berbisa nenek siluman tadi? Padahal kerja sama kedua pedang kami sangat rapat, masakah masih keracunan? Apalagi kekuatannya sekarang tidak dibawahku, mengapa aku malah tidak terkena apa-apa!"
Sudah tentu Ci Hoa tidak tahu bahwa Tiong Lian bukan terkena racunnya Bok Lolo, tapi adalah obat racun yang diminumnya dari raja Kunbran tadi kini sudah mulai bekerja.
"Melibat keadaan yang takan menguntung kan bila Tiong Lian sampai roboh keracunan maka cepat Ci Hoa meneriakinya.
"Giok Li Tau So dan Kim Eng Tian Ih!"
Apa yang disebut itu adalah dua jurus ilmu pedang yang ternama.
"Sigadis cantik melempar tali dan Garuda emas pentang sayap"
Sejak kecil Tiong Lian digembleng dengan baik oleh gurunya, apa yang dikatakan gururya tentu terus dilakukannya, hal ini sudah menjadi kebiasaannya, maka tampak pikir lagi segera ia mengeluarkan kedua jurus serangan yang disebut itu.
Saat itu Khong Jiok Beng Lun Ong sedang berdiri diambang pintu.
Sebagai seorang tokoh persilatan sebenarnya iapun melihat keadaan Tiong Lian yang agak aneh, cuma ia tidak tahu persis kalau nona itu keracunan Maka ketika mendadak dua jalur sinar pedang menerjang kemahnya dengan sangat lihah, dengran ketakutan terpaksa ia melompat kepinggir dan tak berani merintangi.
Dengan demikian, maka dalam sekejap saja Kok Ci Hoa berdua sudah menerjang keluar keraton, Melihat Tiong Lian sudah lolos dengan selamat Thay Siang Hong merasa lega dan baru sekarang ia mengenali orang yang berada disitu adalah raja pelarian dan Nepal yang pernah menemuinya ketika mula-mula datang, la terperanjat dan segera bertanya.
"Ada apa kau membawa pengikutmu sembarangan menerjang kedalam keratonku? Dimana cucuku?!"
"Jangan kuatir Lo cocong."
Sahut raja Nepal.
"Kulihat badanmu masih sehat dan masih dapat pegang kekuasaan buat beberapa tahun lagi dan aku bersedia menjadi bawahan mu untuk membantu kau!"
Kiranya raja Nepal itu menjadi bingung dengan matinya raja Kurbran bersama Thay Ceng Ong.
Sekarang tiba-tiba ia mendapat akal dan ingin memperalat sikakek baginda sebagai bonekanya agar dapat menguasai negeri Kunbran.
Sudah tentu Thay Sian Ong sendiri menjadi bingung oleh ucapan raja Nepal , segera ia mendamprat.
"Urusan rumah tanggaku sendiri buat apa kau ikut campur?"
"Aku kan bermaksud baik,"
Sahut raja Nepal sambil tertawa.
"Tentang cucumu, masakah kau belum tahu? Coba lihat!"
Ketika Thay Siang Ong memandang ke-arah yang ditunjuk, ia lihat ada dua sosok tubuh menggeletak ditengah pecomberan darah, ketika ditegaskan baru sekarang ia tahu adalah mayat Thay Ceng Ong dan cucunya.
Sekonyong-konyong kedua mata Thay Siang liong yang mendelik itu menjadi merah membara se hingga raja Nepal itu mengkirik, cepat ia berkata.
"Loyaya, ini... tiada sangkut..."!"
Belum habis ucapannya, terdengar Thay Siang Hong telah menggereng keras sekali dan seperti orang kalap terus menerjang maju, ia angkat tongkatnya terus menghantam serabutan.
Sekali hantam saja dua Busu didamping raja Nepal terjungkel, menyusul tulang betis raja itupun kena diketok saking kesakitan sehingga dia menjerit-jerit dan guling-guling ditanah.
"Tua bangka, apa kau sudah bosan hidup?"
Bentak Minhaji, sekali pegang segera ujung tongkat Thay Siang Hong kena ditangkap.
Tapi entah darimana datangnya tenaga, sekali betot, dengan cepat kakek baginda itu da pat menarik kembali tongkatnya, menyusul "plok"
Dengkul Minhaji juga kena diketok satu kali sehingga jagoan Nepal itu berjongkok dengan meringis kesakitan.
Kiranya walaupun Thay Siang Hong tidak mahir ilmu silat, tapi sejak ibundanya telah mengajakkan ilmu semedi dan melatih Lwe-kang padanya, yang diluar tahunya Lwekang itu sebenarnya berasal dari kitab pusaka Liong Lik Pit Kip.
la sendiripun tidak tahu bahwa ajaran ibunda itu adalah dasar latihan Lwekang yang hebat, ia cuma merasa tiada jeleknya setiap ajaran orang tua, ia telah melatihnya dengan giat dan merasa badan tambah sehat dan kuat hingga selama berpuluh-puluh tahun ia terus melatihnya tanpa berhenti.
Dan tenaga dalam latihan puluhan tahun itu sudah tentu bukan main Lihaynya.
Minhaji hendak merampas toya-nya berarti mesti mengadu Lwekang dengan dia, dan sudah tentu dia tidak ungkulan.
Melihat gelagat jelek, segera Keng Goat Siangjin membantu dan menyerang dari belakang, ia hendak tutuk Hiat-to dipunggungnya Thay Siang Hong.
Karena tidak pernah belajar ilmu silat yang sebenarnya, meski tenaga dalamnya amat kuat tapi ia tidak paham cara Menggunakannya, maka sekali kena ditutuk tempat "Ku-hi-biat"
Seketika sikakek tak bisa berkutik lagi, tongkat lantas jatuh ketanah.
Semenara itu Minhaji merasa malu dan gusar pula karena kena dihajar oleh seorang tua bangka yang hampir masuk liang kubur itu, saking penasarannya segera ia rebut golok seorang Busu dan melompat maju hendak membunuh Thay Siang Hong.
Saat itu raja Nepal baru saja merangkak bangun, cepat ia membentaknya.
"Minhaji, dia sudah pikun, apa kau juga akan menirunya pikun?!"
Jika kau membunuhnya dia, apa kita masih dapat menancap kaki disini! Lekas mundur "
Karena diketok tongkat sikakek, tulang betis raja Nepal itu menjadi retak, seharusnya dia mesti marah-marah, tapi dia berbalik mendekati Thay Siang Hong dengan cengar cengir dan menjilat, katanya.
"Lococong, kau jangan kuatir dan bangun, cucumu sudah mati, biarlah kau ambil aku sebagai cucu saja."
Namun sikakek terus pejamkan mata dan tidak mengubrisnya, hanya dalam hati ia ber doa semoga Lianji lekas lolos keluar keraton dan lain hari dapat membalaskan sakit hatinya.
Saat itu Kok Tiong Lian memang sedang lari melintasi pagar tembok keraton dengan di seret olen Kok Ci Hoa.
"He. namaku seperti dipanggil orangf"
Tiba-tiba Tiong Lian berseru .
"Ha, itu hanya suara bentakan dan teriak ac musuh, kita masih berada ditempat bahaya, hendaklah kau pertahankan semangatmu, tahanlah sebentar lagi!"
Kata Ci Hoa yang mengira pikiran muridnya itu mulai gelap akibat keracunan. Tapi Tiong Lian tetap berkata.
"Tidak. itu bukan suara musuh, tapi benar-benar kudengar namaku dipanggil. Ya, seperti suaranya engkoh Hay Thian."
Ci Hoa melihat air muka muridnya itu sudah suram, sorot matanya guram, ia mera sa sangat kasihan, hiburnya dengan suara ha lus.
"Lian-ji, jangan kau pikirkan apa-apa, sesudah kau sembuh tentu aku akan mencarikan Kang Hay Thian,"
Dan karena melihat langkah Tiong Lian sudah mulai mengambang tanpa pikir lagi ia terus menggendongnya dan di bawa lari terus dengan Ginkangnya yang sangat tinggi.
Kalau Kok Ci Hoa mengira apa yang di katakan Tiong Lian tadi cuma hayalan saja disaat pikirannya lagi butek, tak tabunya bahwa yang didengar Tiong Lian itu memang benar adalah suaranya Kang Hay Thian yang dikumandangkan dengan ilmu gelombang suara sehingga hanya didengar Tiong Lian yang telah biasa mengenali suaranya.
Sebaliknya Kok Ci Hoa sedang mencurahkan antara perhatiannya dalam menghadapi musuh, yang terpikir olehnya ialah cara bagaimana menyelamatkan diri, maka terhadap suaranya Kang Hay Thian itu tak diperhatikan olehnya, sehingga hilang lah kesempatan untuk bersuara dengan pemuda liehay itu.
Kembali bercerita tentang Kim Lun Seng Mo.
Ketika ia berlari sampai diistana kediam-nya, benar juga ia melihat Buo Ting Bik dan Mo Hunjin sedang bertempur sengit melawan Kang Hay Thian.
Meski dua lawan satu, tapi King Hay Thian dapat mendesak kedua lawan nya itu sehingga dalam waktu singkat tentu dapat menerjang kedalam.
Disampins sana ada pula seorang pemuda baju hitam yang senjatanya pedang.
Begitu hebat ilmu pedangnya sehingga para pengawal yang mengembannya telah dilabrak habishabisan dan lari tunggang langgang.
"Anak busuk dari manakah, berani kau main gila didalam istanaku ?"
Teriak Bok Lolo sambil memapak maju.
"Sret"
Tanpa bicara lagi pedang sipemuda baju hitam terus mendahului menusuk.
Tapi sekali Bok Lolo mengebaskan lengau baju nya untuk menangkis, berbareng ia julurkan tangan kiri untuk merampas pedang lawan.
Pemuda baju hitam yang menyerang itu adalah Teng Ka Gwan.
Dengan ilmu pedang kekeluarganya yang hebat itu.
mendadak ujung pedangnya sedikit menjengkat dan tahu-tahu menerobos lewat dibawah lengan baju Bok Lolo terusmenutuk "Swao-ki-hiat"
Didadanya. Tapi sekali jari Bok Lolo menyelentik "cring"
Yu Liong Pokiam yang dipakai Ka Gwan lantas terpental kesamping.
Cepat Ka Gwan menggeser pergi dan selagi ia hendak keluarkan Tui hong-kiam-hoat yang cepat, tahu-tahu tangannya terasa gatal pegal.
Kiranya sekali menyelentik pedangnya, berbareng Bok Lolo lantas salurkan racunnya yang jahat.
Syukur Ka Gwan masih sempat menarik diri dau tidak menyerang lagi dengan bantuan Thian San Swat Lian yang dikumur didalam mulutnya, ditambah ia lantas mengerahkan Lwekangnya, maka racun yang baru mengenai tangannya itu dapat dipunahkan.
Melihat Ka Gwan tidak roboh, Bok Lolo menjadi heran dan terkejut pula.
Pada saat itu disebelah lain terdengar suara gedebukan, kiranya Bun Ting Bik telah terguling oleh getaran tenaga pukulan Kang Hay Thian.
Bok Lolo tidak sempal mencecar Ka Gwan lagi, tetapi ia lantas meloncat kesebelah sana dan menghantam kepunggung Kang Hay Thian, Karena itu Hay Thian menjadi tidak sempat menyerang Bun Ting Bik puia dan cepat membalik untuk menangkis.
Karena kekuatan kedua orang sama hebatnya, tenaga pukulan yang saling bentur itu mengeluarkan suara keras, kedua orang sama-sama tergetar mundur beberapa tindak.
"Hoa-hiat-sin-kang", ilmu sakti peluluh darah, adalah satu diantara tiga ilmu berbisa dari Sia Pay yang setingkat dengan Siu-lo im sat-kang dan Tay Seng pan yak ciang. Meski Kang Hay Thian tidak seperti tadi malam, tapi iapun merasa kepala pusing dan enek karena hawa berbisa pukulan sinenek. Cepat ia menarik napas dalam-dalam, untung Iapun mengumur Thian San Swat Lian sehingga dalam waktu singkat saja rasa tidak enak itu telah hilang sirna.
"Hm, kau masih mempunyai kepandaian apa ? Hayolah keluarkan semua!"
Ejek Hay Thian.
Berbareng ia menyerang, dalam sekejap saja sudah saling gebrak, pula beberapa jurus.
Karena pukulan berbisanya tidak manjur, keruan Bok Lolo sangat terkejut, terpaksa ia menempur Hay Thian dengan ilmu silatnya yang sejati.
Disebelah sana Bun Ting Bik sudah merangkak bangun, tiba-tiba ia mengedipi Mo hujin dan berkata.
"Marilah kita kembali kerana tugas kita yang lebih penting ialah menjaga tawanan""
Saat itu Teng Ka Gwan sudah menghapuskan racun yang mengenai tangannya tadi dan sudah mau menerjang maju lagi.
Cepat Mo hujin melemparkan sebuah granat berasap untuk merintangi Ka Gwan, ditengah kabut asap, sementara itu ia sudah berlari kedalam istana bersama Bun Ting Bik.
Dengan tenaga pukulan yang dahsyat Ka Gwan dapat membuyarkan kabut berbisa itu, lalu ia putar Yu Liong Pokiam dan segera mengerubat Bok Lolo.
Kang Hay Thian tidak ingin main keroyok, segera ia berkata.
"Tengheng, kudengar diarah barat sana ada suara pertempuran, coba lah kau periksa kesana!"
Kekuatan Bck Lolo sekarang boleh dikata sama kuatnya Kang Hay Thian, tapi tentang ilmu pukulan adalah Hay Thian punya lebih bagus dan lebih unggul, belum lagi Hay Thian selesai memainkan Tay si mi ciang hoat yang hebat itu sinenek sudah terkurung ditengah tenaga pukulannya, apa lagi Bok Lolo tidak manjur menggunakan racun, dengan sendirinya ia menjadi kelabakan.
Sebaliknya makin lama Kang Hay Thian makin tangkas dan bukan mustahil dalam waktu singkat sinenek akan keok.
Tiba-Tiba nenek itu berkata.
"Tentang jantung hatimu itu, apa kau tidak memikirkan dia lagi ?"
Hay Thian tertegun oleh ucapan itu."Apa katamu?"
Bentaknya.
"Kok Tiong Lian sudah berada didalam cengkeramanku, jika kau masih tidak kenal gelagat, segera kuperintahkan dia dibinasakan Hm, apa kau masih berani main kepala batu ?""
Jengek Bok Lolo. Kaiena ragu-ragu, terpaksa Kang Hay Thian menghentikan serangannya lebih lanjut dan berkata.
"Asal kau tidak mengganggu dia maka akupun takkan membikin susah kau !"
Tapi baru selesai ia bicara, tiba-tiba sinenek mengekeh tertawa, tangannya bergerak mendadak api berkobar-kobar disekeliling situ sehingga Kang Hay Thian terkurung ditengahtengah.
Kiranya Bok Lolo sengaja menipu agar Hay Thian berhenti menyerang untuk sementara, dengan demikian ia sempat menggunakan "Leng Yam Sau Hun"
Api berbisa dingin penyambar nyawa, yang lihay itu, Hay Thian juga terkejut melihat api berbisa yang hebat itu, hanya dalam sekejap saja api itu sudah menyambar tiba.
Tanpa pikir lagi ia membentak sekali, berbareng iapun memukul kedepan dengan sepenuh tenaga, kontan api yang membanjir tiba sebagai air bah itu mendadak muncrat seakanakan terdampar pada suatu tanggul untuk kemudian surut kembali ke belakang dengan cepat.
Beruntun-runtun Hay Thian memukul empat kali kedepan dan belakang, kekanan dan kekiri sehingga api dingin yang membanjir itu tertolak kembali.
Tapi ia masih tetap terkurung ditengah.
Sudah tentu sinenek tidak tinggal diam, ia pun mengeluarkan tenaga pukulannya dari seberang sana sehingga api terdesak maju lagi.
karena itu, gelombang api menjadi maju mundur dengan cepat.
Walaupun kekuatan kedua orang setanding, namun Kang Hay Thian dipihak ter kurung ditengah api, betapapun hal ini tidak menguntungkan dia walaupun api tetap berjarak beberapa meter disekelilingnya.
Selagi Hay Thian bertahan sekuat-kuatnya, tiba tiba terdengar seruan Ka Gwan yang girang kejut .
"He, ayah, Anak berada disini, Ah, ibu juga datang"
Belum lenyap suaranya, dari luar sana lantas muncul dua orang yang memang betul adalah ayah bundanya Ka Gwan yaitu Teng Keng Thian dan Peng Coan Thian Li, Mereka baru datang dari Nepal.
Melihat Bok Lolo, segera Teng Keng Thian tertawa dingin, katanya .
"Ha, kukira siapa, tak tahunya adalah kau perempuan siluman tua bangka ini. Dahulu ayah dan ibu merasa kasihan padamu dan tidak tega membinasakan kau, tapi sekarang kau berani main gila lagi disini !"
Peng Coan Thian Li juga lantas membentak .
"Biarlah kuserapkan api berbisamu itu coba kau masih punya kepandaian apalagi ?"
Dan sekali ia bergerak, bagaikan hujan saja mencurah seketika Peng Pok Sin tan, peluru es berhambaran diatas api pospor Bok Lolo itu.
Dan dengao mengeluarkan ilmu Peng PoK Sin Tian yang maha dingin berasal dari intisari es itu justeru merupakan senjata anti api pospor sinenek, keruan api dingin yang menjalar-jalar tadi segera terpadam seluruhnya tanpa bekas.
Bok Lolo sampai menggigil juga mendadak ia mengerang keras sekali sambil menghamburkan secomot jarum berbisa kearah Teng Keng Thian berdua, berbareng ia putar tubuh terus angkat langkah seribu.
Keng Thian putar pedangnya sehingga jarum-jarum yang menyambar itu tersampuk jatuh semua, segera iapun membentak.
"Ada ubi ada talas, kalau diberi harus membalas. Ini kau pun terima sebiji Thian San Sin Bongku."
Dengan sendirinya kekuatan Keng Thian jauh iebih hebat dari pada puteranya.
maka sambaran Thian San Sin Bong ypng disambit-kan itu sampai mengeluarkan suara mendenging.
Cepat Bok Lolo bersiap dan menyelentik dengan jari tengahnya yang memakai cincin baja, maka terdengarlah suara "sring sring", dua kali, bukan saja cincinnya pecah, bahkan jarinya juga putus dimakan Thian San Sin Bong.
Namun begitu sinenek masih terus kabur dan mau masuk kedalam istana.
Didalam istana yang banyak pintu keluar masuk dan jalan berliku-liku itu, Hay Thian jadi bingung.
Tiba-Tiba terdengar suara gemuruh yang keras, waktu ia mencari ketempat suara iiu, ternyata Bok Lolo dengan rambut terurai sedang menghantam suatu dinding didepannya sambil mengomel kalang-kabut.
Hanya beberapa kali hantam, dinding itu tampak ambrol, lalu tertampaklah selapis pintu besi yang tertutup rapat.
Nenek itu masih terus menghantam, tapi pintu besi itu tak gampang untuk menjebolnya.
"Dimana kau menyembunyikan nona Kok?"
Bentak Hay Thian sambil memburu.
Mendadak Bok Lolo mengerang keras sekali dan tahu-tahu orangnya meloncat keatas "blang", atap istana tersundul hingga pada pecah berantakan menjadi suatu lubang, nenek itu lantas menerobos keatas melalui lubang itu.
Pada saat itulah diluar tiba-tiba terdengar beberapa kali suitan panjang tercampur suara nya yang kuat dan nyaring itu, Hay Thian jadi girang pikirnya.
"Jangan-Jangan Cu Mu sute sudah datang juga?"
Tadinya ia ragu-ragu apa mesti mengejar Bok Lolo atau mencari tahu rahasia apa dibalik pintu besi itu, rapi demi mendengar suara suit an itu, segera ia ambil keputusan, dengan Ginkang yang tinggi iapun meloncat keatas dan menerobos keluar melalui lubang yang disundul sinecek tadi.
Diluar sana adalah taman raja, meski sinar bulan banya remang-remang, tapi dari atas Hay Thian dapat melihat jelas ada beberapa orang yang dikenalaya.
Diantaranya terdapat Danu Cu Mu, In Khing dan In Bik dan Hoa In Pik Sungguh girang Hay Thian susah dilukiskan, segera ia berteriak.
"Sute, adik Pik In toako dan In cici, kalian dalam keadaan baik-baik semua!"
Selain mereka itu terdapat pula seorang laki-laki dan dua wanita yang tak dikenal Kang Hay Thian.
Dalam pada itu Bok Lolo sudah berada di pekarangan dibawah situ dan sedang membentak "Giok siaucu, kau membawa lari Kongcu, sekarang kau berani kembali pula kesinil"
Sanmbil berkata, berbareng ia terus mecceugkeram kearah lelaki yang tak dikenal Hay Thian itu.
Kiranya ketiga orang yang tak dikenal Hay Thian itu adalah puteri Romana, Giok Kun Lun dan Giok Ling Liong.
Mereka baru datang dari istana es tempo hari itu Maksud Danu Cu Mu ialah ingin berunding dengan raja Kunbran secara rahasia, maka diam-diam mereka masuk kedalam keraton dengan petunjuk jalan puteri Romana.
Seperti diduga didalam istana jadi geger, belum ketemekan raja atau sudah kepergok dengan Bok Loio.
Memangnya sinenek lagi kepepet dan sedang mencari jalan untuk meloloskan diri, demi melihit puteri Romana, tiba-tiba timbul maksud jahatnya untuk menawan Romana sebagai sandera.
Tapi Giok Kun Lun sudah merta tidak tinggal diam, kontan ia balas menghantam, begitu pula Giok Ling Liong lantas putar serulingnya dan sekaligus mengarah beberapa Hiat to ditubuh sinenek.
Kedua saudara Giok itu adalah keturunan tokoh persilatan ternama, kepandaian mereka dengan sendirinya tidak rendah, tapi kalau di banding Bok Lolo terang masih kalah jauh.
Dengan menyeringai Bok Lolo mendamprat "Anak ingusan, kau berani bergebrak dengan aku ?"
Berbareng tangan kanan terus mencengkeram seruling Giok Ling Liong, sedang tangan kiri membalik untuk menyambar kepalan Giok Kun Lun.
"Apakah kau ini yang mengaku sebagai Kim Lun Seng Bo? Sungguh terlalu kau terima gajih kerajaan, tapi malah berani main gila dengan tuan puterimu!"
Bentak Danu Cu Mu.
Dan belum lagi orangnya maju atau jarinya sudah menyelentik lebih dulu, ia keluarkan Bu-heng-cing-gi dan menutuk dari jauh kepunggung Bok Lolo.
Namun pada saat itu juga seorang lain tahu-tahu menerjang maju dengan lebih cepat dari Danu Cu Mu.
seakanakan pedang bersatu dengan orangnya, tertampak sejalur pelangi perak menyambar kedepan.
Kiranya pendatang ini adalah Teng Ka Gwan.
Ketika mendadak Bok Lolo merasa punggungnya sakit pegal, ia terkejut, tiba-tiba dilihatnya pula Teng Ka Gwan telah menerjang tiba.
Ia tidak berani terlibat didalam pertempuran lebih lama, cepat ia menggeser kesamping dan melompat keluar dari kalangan, berbareng ia menyentik seruling Giok Ling Liong yang sedang menutuk kearahnya itu.
Karena selentikan yang lepat itu sehingga seruling Ling Liong terpental kesamping dan dengan tepat pula seakan-akan ditangkiskan kepedang Teng Ka Gwan yang sedang menyerang itu.
Syukur ilmu pedang Ka Gwan cukup hebat, segera ia tahan pedangnya dan tidak sampai melukai Giok Ling Liong"
Sungguh girang Giok Ling Liong tak terkatakan ketika melihat pemuda dihadapannya itu.
"He, engkoh Gwan, bilakah kau datang kemari?"
Serunya sambil menarik kembali serulingnya. Ka Gwan juga girang sekali, sahut nya.
""Ya. adik Ling. sungguh tidak nyana dapat bertemu dengan kau disini !"
Begitulah sepasang kekasih yang sudah berpisah dan sekarang bertemu kembali, sudah tentu mereka merasa sangat bahagia sehingga tidak sempat mengurus Bok Lolo lagi.
Sementara itu sesudah menggeser kesamping, secepat kilat Bok Lolo lantas mencengkeram Danu Cu Mu, tapi Cu Mu sempat membalas dengan pukulan Tay seng pan yak ciang.
Kekuatannya itu cukup kuat untuk mengelakkan serangan lawan.
Kekuatan Cu Mu selisih tidak banyak dari pada nenek itu, jadi Cu Mu sempat membalas dengan pukulannya kearah Bok Lolo.
Sesudah menjajal satu jurus, segera Bok Lolo tahu Danu Cu Mu bukan sasaran empuk, cepat ia memutar kearah lain dan menubruk kepada Hoa ln Pik.
Tujuannya ialah ingin mendapatkan tawanan sebagai sandera, maka yang dicari adalah lawan yang paling empuk.
Tapi In Khing dan In Pik berada disebelah In Pik dengan serentak mereka mengeluarkan ilmu silat keluarga In yang terkenal untuk mengelubat, begitu pula Hoa In Pik lantas melolos pedang dan menjaga diri dengan rapat.
Mendadak dengan jurus Tay-peng-tiah-ih" (garuda pentang sayap), kedua tangan Bok Lolo terpentang kekanan dan kekiri dan dalam sekejap saja telah saling mengadu tangan dengan In Khing dan In Bik.
Tenaga In Khing lebih besar, tapi tidak urung iapun sempoyongan.
Sebaliknya ln Bik lantas mencelat keatas seperti bola dengan darah seakan-akan menyembur keluar dari rongga dadanya.
Untung pukulan itu digunakan Bok Lolo untuk menghadapi dua orang sekaligus, sehingga hanya separoh kekuatannya yang digunakan terhadap In Pik kalau tidak nona itu pasti akan menggeletak seketika.
Sesudah berjumpalitan diutus udara, lalu in Pik turun kebawah, belum lagi kakinya menginjak tanah, tahu-tahu ia sudah dirangkul orang.
Kiranya adalah Danu Cu Mu yang memburu maju untuk menyambutnya.
Sesudah membobolkan kepungan lawan, tangannya menjulur, terus mencengkeram dada Hoa ln Pik yang bersendirian iiu.
Cepat In Pik memapak dengan pedangnya.
"creng"
Tahu-tahu pedangnya patah menjadi dua terkena selentikan Bok Lolo.
Karena tak tahan akan tenaga selentikan itu, sehingga ln Pik terhuyung-huyung kebelakung dan roboh terjengkang.
Dan baru saja Bok Lolo hendak menyusulkan cengkeramannya, sekonyong-konyong terdengar gertakan orang seakan-akan halilintar kerasnya.
Kiranya saat itu Kang Hay Thian telah me-lompat turun dari atas rumah, selagi orang nya masih diatas udara atau pukulannya sudah dilontarkan iebih dulu.
Terpaksa Bok Lolo mesti melepaskan Hoa In Pik dan menangkis serangan Hay Thian itu.
Meski kekuatan kedua orang setanding.
tapi Hay Thian menurun dari atas, ditambah tenaga tekanan yang hebat itu, maka si nenek, menjadi kalah kuat.
Sekali menutul kakinya pinjam tenaga dorongan dari Kang Hay Thian untuk mencelat pergi secepat terbang, hanya dalam sekejap saja orangnya sudah menghilang.
Karena kualir keselamatan In Pik, Hay Thian tidak sempat memburu musuh lagi.
Segera ia membalik kearah In Pik, tapi ia melibat In Khing sudah membangunkan In Pik dan nona itu sedang istirahat sambil menggelendot dibahu In Khing.
Melihat Hay Thian datang, In Khing tampak agak kikuk, pelahan-lahan ia memisahkan In Pik, katanya.
"Untung kau tiba pada saatnya sehingga adik Pik terhindar dari bahaya."
Hay Thian tertegun sejenak, tapi segera ia berkata dengan girang-girang kejut.
"O, ya, baik sekali!"
Tapi baik sekali tentang apa sesungguhnya susah diterangkan karena apa yang terpikir olehnya bukanlah mengenai selamatnya Hoa In Pik? Sebaliknya perasaan In Pik juga aneka macamnya, katanya kemudian.
"Kabarnya Kok cici ada kesulitan aku sengaja datang kesini untuk mencarinya apakah dia sudah tertolong ke luar?"
"Aku justeru lagi mencari dia, didalam istana ini ada sebuah pintu besi rahasia, biar lah sekarang juga aku pergi mencari lagi!"
Kata Hay Thian.
"Ya, kita harus mencarinya dengan terpencar saja!"
Ujar puteri Romaca.
"Toh nenek siluman itu sudah digebah lari, tentu nona Kok dapat diketemukan! Biarlah aku pergi menemui kakak baginda dulu,"
Danu CuMu dan lain-lainnya, ingin menjumpai raja Kunbran, segera mereka ikut puteri Rormana kedalam keraton terkecuali Kang Hay Thian.
Para Bu Su didalam keraton sudah tentu kenal tuan puteri mereka, maka berramai-ramai mereka memberi lapor bahwa didalam keraton seperti terjadi kerusuhan dan kawanan Bu Su nepal telah mengepung istana tidur raja, kakek baginda juga berada diistana.
Mendengar Keterangan itu, Romana bertambah kuatir, ia percepat langkahnya dan menyusul kesana.
Saat itu raja pelarian Nepal sedang menggunakan macammacam akal untuk membujuk dan menggertak Thay Siang Hong yang ditawannya itu.
Tiba-Tiba didengar diluar ramairamai suara pertempuran yang gemuruh, Minhaji tampak masuk melapor.
"Wah, celaka ! Puteri Romana telah menyerbu kemari dengan serombongan kawan-kawannya, orang kita tak sanggup melawan mereka sudah menerjang kedalam istana."
Keruan raja Nepal itu terperanjat, cepat ia tanya.
"Bukankah puteri Romana katanya tudah melarikan diri dengan kekasihnya, mengapa bisa palang kembali ? Dan dimanakah Kim Lun Seng Bo ? Wah, celaka ! Beng Lun Ong, harap kau..kau..."
Baru saja ia hendak minta Beng Lun Ong agar keluar untuk menahan musuh, namun sudah terlambat, sekonyorg-konyorg terdengar suara "blang"
Yang keras, pintu telah didobrak orang dari luar dan terpental.
Teng keng Thian suami isteri dan Danu Cu Mu sudah mendahului menyerbu kedalam, menyusul kedua saudara she Giok yang mengawal puteri Komana juga menerjang tiba, Melihat Peng Coan Thian Li, seketika raja Nepal pucat ketakutan, cepat ia pegang Thay Siang Hong sambil meloloskan senjata, maksudnya hendak menggunakan kakek baginda Kunbra"n itu sebagai tameng.
Tapi mendadak pergelangan tangannya terasa dingin linu sehingga goloknya jatuh kelantai.
Kiranya Peng Coan Thian Li telah menimpukan peluru es dan tepat mengenai urat nadinya.
"Kakek!"
Teriak Puteri Romana sambil memburu maju, ia merangkul sang kakek dan saking terharu merekapun lantas menangis.
Disebelah sana baru saja Keng Goat Siang jin melompat maju, mendadak ia telah dipapak oleh Teng Ka Gwan dengan membentak.
"Keledai gundul, apa kau masih kenal aku?"
Ka Gwatt pernah menjabat panglima pemberontakan kerajaan Nepal yang baru, Keng Goat Sianjin dan Minhaji adalah jago-jago yang telah keok dibawah tangannya.
Maka didamperat Teng Ka Gwan Seketika ia menjadi gugup sekali Yu Liong Pokiam berkelebat, hanya sejurus senjata kecer Keng Goat Siangjin pecah, menyusul iapun tertusuk dan terguling Dilain pihak Giok Kun pun juga cuma sekali jotos saja sudah merobohkan Minhaji.
Melihat Thay Siang Hong hanya tertutuk Hiat tonya, segera Ka Gwan memunahkanrya.
Sedang raja pelarian Nepal itu selang berteriak.
"Ampun Piaumoay! Ampun Lococong."
"Kejahatanmu dinegeri sendiri sudah kelewat takaran, sekarang kau berani main gila pula dinegeri tetangga, siapa sudi mengaku sebagai Piaumoay mu?"
Damperat Peng Coan Thiau Li.
"Anak Gwan ringkus dia !"
Tapi belum lagi Ka Gwan bertindak, mendadak Thay Siang Hong sudah jemput tongkat nya dan mendaperat dengan gusar.
"Kau hampir-hampir membikin negeriku dan keluargaku hancur berantakan, mesakah kau masih berani minta ampun !"
Habis berkata, dengan sekuat tenaganya ia telah mengangkat tongkatnya dan menghantam, seketika kedua kaki raja pelarian patah.
Dengan marah-marah Thay Siang Hong masih hendak menghajarnya pula, tapi puteri Romana telah mencegahnya dan membujuknya agar tidak perlu buang-buang tenaga, biarlah bangsa Nepal sendiri yang akan memberi hukuman setimpal kepada raja lalim itu, Lalu Ka Gwan maju untuk meringkusnya.
Tinggal Khong Jiok Beng Lun Ong saja yang masih terus melawan mati-matian.
Keng Thian telah mendampratnya.
"Kau tidak nurut nasehat Suhengmu sekarang menyesalpun sudah terlambat!"
Mendadak Beng Lun Ong pentang jubahnya dan menubruk maju sambil berteriak kalap.
"Teng Keng Thian, kau tidak perlu banyak ngoceh, pendek kata biarlah aku mengadu jiwa dengan kau!"
Namun sekali Keng Thian menangkis dengan Simi-cia ng, kontan jubah paderi itu tersampuk miring kesamping. Segera Peng Choan Thian Li ikut mendamprat.
"Jika kau tinggal dengan alim didalam Orsim, tentu kami akan menghormat padamu tak mungkin kami memusuhi kau. Tapi kau justeru kemaruk pangkat ingin menjadi Kok Su apa segala dan membikin su.ab rakyat negeri kami, hal ini terpaksa aku harus ikut campur tangan, hari ini aku bertindak selaku pembela agama dan sebagai puteri Nepal, maaf, terpaksa aku tidak dapat bicara tentang peraturan Kangouw dengan kau !"
Habis bicara, segera ia ikut menyerang bersama sang suami, ia timpukkan sebutir Peng Pok Sin Tan.
Karena terhalang oleh serangan-serangan Kong Tan yang semakin gencar, Beng Lun Ong tidak serapat berkelit lagi.
peluru es itu tepat masuk kelubang telinganya sehingga memunahkan hawa murni pelindung tubuhnya, dengan tidak ayal lagi Keng Thian mengirim hantaman dahsyat membuatnya terjungkel.
"Mengingat kebaikan Suhengmu, biarlah kuampuni jiwamu "
Kata Keng Thian.
lalu ia serahkan Beng Lun Ong dibawah pengawasan komandan kepala pasukan Kunbran untuk kelak akan dikirim kembali kepada Suhengnya, Hoat Ong dari Lama Putih di Orsim.
Sementara itu semua orang telah dapat rnenemukan jenazah raja Kunbran dengan sedih Thay Siang Ong berkata "kakakmu memancing serigala kedalam rumah sehingga makan hasilnya perbuatannya sendiri.
Untung musuh sudah tertangkap, betapapun dapatlah aku tutup mata dengan tenang."
Puteri Romana juga sedang menangis dan berduka atas nasib kakak bagindanya itu, demi mendengar ucapan kakeknya, ia terkejut dan cepat berkata.
"Kakek, kenapa kau bicara demikian? Sekarang pemerintah kita dalam keadaan lowong tantpa pimpinan. Kakek justeru harus menjaga diri sebaik-baiknya.
"Orang hidup jarang yang dapat mencapai seabad, sekarang usiaku sudah lebih 90, kurasa juga takkan lama lagi hidup berdampingan dengan kau,"
Kata Thay Siang Hong sambil membelai rambut Romana.
"Apalagi aku sudah tua bangka begini, apakah kau masih ingin aku memeras otak lagi, kerajaan tidak boleh tanpa pemimpin, maka tugas ini untuk selanjut nya harus kau yang memikulnya."
Romana terkejut, cepat sahutnya.
"Apa yang kau maksudkan kakek ?!"
"Kebiasaan negeri kita yang kecil ini berbeda dari pada negeri Tiong Hoa yang besar itu,"
Kala "Thay Siang Hong.
"Kita kaum pria dan wanita sama rata sama derajat dan boleh juga menjadi raja. Maka untuk selanjutnya kau adalah ratu kerajaan Kunbran ini ."
"He, mana boleh jadi ?"
Kata Romana.
"Kenapa tidak ?"
Sebut Thay Siang Hong "Kau tokh tiada punya saudara lain lagi.
jika kau tidak mau naik tahta, apa kau ingin melihat negeri kita berada didalam kekacauan ?
Sifatmu lebih jujur, watakmu juga lebih welas asih, jauh lebih baik dari pada kakakmu, coba kalau tiada terikat oleh adat leluhur, tentu sejak dulu aku sudah angkat kau sebagai kepala negara kita dan tidak kakakmu ."
Karena tak bisa menolak lagi, terpaksa puteri Romana menerima dengan terharu. Serentak semua orang lantas maju untuk mergucapkan selamat kepada Ratu Kunbran baru itu.
"Romana. sesudah kau menjadi ratu, ada sesuatu yang harus kau ingat betul-betul,"
Pesan Thay Siang Hong lebih jauh.
"Ya, silahkan kakek memberi petuah,"
Sahut Romana.
"Kerajaan Masar adalah negeri saudara kita, maka kau harus hidup damai dengan mereka, selanjutuya harus mengadakan hubungan secara baik-baik dan tidak boleh main peperangan,"
Kata sikakek.
"Ya. untuk itu aku justeru hendak memberitahukan kepada kakek bahwa raja Masar itu sekarang juga sudah berada disini,"
Tutur Romana. Keruan Thay Siang Hong tercengang. Sedangkan Danu Cu Mu lantas melangkah maju akan memberi hormat, katanya.
"Kakek, memangnya akupun hendak melaporkan duduk nya perkara padamu, dan ternyata engkau sudah mengetahui semuanya."
"Kaupun memanggil aku sebagai kakek?"
Tanya Thay Siang Hong dengan terkesiap.
"Kau sudah bertemu dengan adik perempuanmu? Ai muka kalian berdua benar-benar sangat mirip sekali"
"Kabarnya kakek telah mengakui Liau-moay sebagai cucu, makanya akupun memberanikan memanggil kakek padamu."
Sahut Cu Mu dengan tertawa. Saking terharunya Thay Siang Hon sampai mengucurkan air mata, katanya sambil memeluk Cu Mu.
"Memang betul, kau benar-benar adalah cucuku yang baik"
Kelakuan Thay Siang Hong yang agak luar biasa itu disangka orang mungkin karena saking berdukanya kehilangan cucu, hanya Da nu Cu Mu saja lapat-lapat dapat menerka kemungkinan-kemungkinannya.
Kemudian Romana menceritakan juga berkat bantuanbantuan Danu Cu Mu dan lain-lain barulah dia berani pulang.
Lalu ia memperkenalkan pula Giok Kun Lun bersaudara sekandung demi untuk kesejahteraan rakyat kedua negeri.
Kedua muda mudi itu menjawab bersama akan melaksanakan harapan sang kakek.
Kemudian Cu Mu bertanya.
"Kakek, dimanakah adik perempuanku ?"
"ya, lekas kalian pergi mencarinya.""
Seru Thay Siang Hong kuatir.
"Belum lama dia baru saja lari keluar dari sini bersama gurunya."
Segera Cu Mu dan lain-lain hendak pergi mencari Tiong Lian. Tapi baru saja mereka keluar tertampak Kang Hay Thian sudah berlari kembali sambil berkata.
"Dimanakah adik Lian."
Kiranya sesudah Hay Thian membobol pintu besi itu dengan pedang pusaka Cay ln Poki-am, akhirnya diketemukan sebuah jalan dibawah tanah yang menembus keluar keraton, di dalam jalan itu tiada ketemukan seorangpun hanya banyak terdapat bekas tapak kaki.
Segera puteri Romana perintahkan para Busu ikut mencari, tapi meski seluruh pelosok keraton itu sudah diperiksa, tetap tidak menemukan Kok Tiong Lian, Seperti diketahui Tiong Lian telah dibawa lari oleh Kok Ci Hoa.
Sesudah keluar keraton, diam-diam Ci Hoa mengambil keputusan akan mencari suatu tempat yang sunyi dan untuk mengobati Tiong Lian yang tidak ringan keracunan.
Maka ia terus berlari kedataran tinggi pegunungan bersalju sana.
Diatas gunung sungai es silang melintang degan hawa dingin yang menusuk tulang.
Tapi hawa napas Kok Tiong Lian yang dihembus keluar itu makin lama makin panas.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 20 NONA itu sudah tak sadarkan diri lagi, dengan lemas ia menggemblok diatas pundak Kok Ci Hoa.Selagi Ci Hoa mengeluh tiba-tiba dari lereng gunung sana muncul seorang tua berjenggot, wajahnya agak kurus, tapi sinar matanya tajam, terang seorang tua yang memiliki kepandaian yang tinggi.
Semula Ci Hoa tertegun melihat orang tua itu, tapi segera ia menjadi girang, cepat ia berseru.
"Yang datang ini bukankah Hoa locianpwe dari Mu San."
"Eh kalau tidak salah kau adalah Kok ciangbun dari Bin San?"
Sahut orang itu yang memang betul adalah Hoa Thian Hong itu.
Kiranya dahulu waktu lu Sinio masih hidup pernah sekali Hoa Thian Hong berkunjung ke Bin San, tatkala itu Ci Hoa baru berumur belasan tahun namun demikian mereka masih dapat saling mengenal.
Sejak tempo hari Thian Hong berpisah dengan Hay Thian, ia menyusur sungai es untuk mencari Danu Cu Mu dan kedua saudara In, tapi ia tidak tahu bahwa yang hendak dicari itu sudah selamat semua, maka ia masih terus mencari dan akhirnya sampai dipegunungan salju ini dan secara tak sengaja telah bertemu dengan Kok Ci Hoa.
Bertemu dengan Hoa Thian Hong sudah tentu Kok Ci Hoa merasa seperti ketemukan dewa penolong, tanpa banyak etngeong lagi ia lantas berkata.
"Kedatanganmu sangat kebetulan sekali, Hoa locianpwe, lekas kau sudi menolong muridku ini!"
"Muridmu ?"
Thian Hong menegas.
"Bukankah kau maksudkan Tiong Lian? Katanya dia berhalangan dinegeri Kunbran, apa kau tadi menolong dia keluar dari bahaya? Bagaimana keadaannya ?"
"Dia keracunan sangat berat, jiwanya sangat dikuatirkan,"
Sahut Ci Hoa.
Kebetulan tidak jauh dari situ ada sebuah gua, segera mereka membawa Tiong Lian kedalam gua.
Sesudah Thian Hong memeriksa denyut nadi Tiong Lian selang sejenak tampak dia mendongak dengan wajah terheran-heran katanya.
"Ahh bocah begini muda tidak seharusnya dia memiliki tenaga sekuat ini, apa barangkali dia makan obat apa-apa!"
"Benar!"
Sahut Ci Hoa.
"Dia pernah minum Thian Sim Ciok..."
"Pantas."
Ujar Thian Hong.
Thian Sim Ciok adalah obat ajaib yang cepat memberi tambahan tenaga, tapi juga sejenis obat yang maha ganas!
Tapi sekarang racun yang mengenai dia ini justeru adalah semacam racun yang maha panas pula, keruan ini mirip api diberi minyak."
"Apa sangat susah disembuhkan?"
Tanya Ci Hoa dengan kuatir.
"Untung aku membawa Swat Siam San (puyer katak salju), yang paling manjur untuk memunahkan racun panas, selain itu dapatku tambah dengan tusuk jarum untuk membuyarkan panasnya. Cuma sesudah itu dia perlu istirahat selama dua tiga hari lamanya."
Segera Thian Hong mengeluarkan puyer yang dikatakan tadi dan sebotol kecil arak dari kantong obat yang dibawanya, ia cekoki Kok Tiong Lian dengan obat campur arak itu.
Menyusul ia mengeluarkan sebatang jarum emas dan menusuk bagian-bagian Hiat-to yang penting, dimana Hiat-to itu ditusuk, dari situ lantas mengeluarkan uap panas yang membuyar.
Selesai menusuk tiga puluh enam Hiat-to penting ditubuh Tiong Lian, lalu Thian Hong berkata.
"Tunggu sebentar lagi tentu dia akan siuman kembali!"
Ci Hoa merasa lega oleh keterangan itu. Katanya kemudian.
"Hoa locianpwe. banyak terima kasih atas bantuanmu"
Silahkan kau mengaso dulu, biar kupergi mencari sedikit makanan!"
Dan tidak lama sesudah Ci Ho pergi, pelahan-lahan Tiong Lian tampak siuman kembali. Waktu ia membuka mata. ia menjadi terkejut dan berse-u.
"He, tempat apakah ini? Di manakah Suhu? Dan siapa kau?"
Pelahan-lahan Thian Hong membelai rambut sinona, katanya dengan suara halus.
"Baik lah sekarang, kau sudah sadar kembali. nak! Jangan kuatir gurumu sedang pergi mencari makanan, Aku adalah sahabat baik gurumu!"
Lambat laun pikiran sehat Tiong Lian te lah pulih kembali, demi melihat sorot mata Thian Hong yang welas asih serta memperhatikannya dengan penuh kasih sayang, maka pahamlah Tiong Lian.
"Lotiang (bapak), apa kau yang telah menolong aku?"
"Kau tidak perlu banyak berpikir, kau tidak. kenal aku, tapi kalau kukatakan tentu kau akan tahu aku tidaklah asing bagimu,"
Ujar Thian Hong, dengan tertawa.
"Aku ada lah ayah angkatnya Kang Hay Thian. Hoa In Pik adalah puteriku. Tentu kau pernah mendengar cerita mereka, bukan ?"
Seketika Tiong Lian termangu-mangu, ia menggumam sendiri seperti orang mengigau.
"Kang Hay Thian, Hoa In Pik...... Thian Hong menyangka nona itu sedang iseng ingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya karena baru saja siuman, maka iapun tidak menaruh perhatian, katanya pula.
"Ya, betul mereka. Sekarang kau sudah ingat bukan ? Dan ada pula engkohmu" ."
"Engkohku kenapa ?"
Tanya Tiong Lian ter sentak kaget.
"Engkohmu bersama aku Hay Thian hendak mencari kau serta Pik Ji tapi ai,......"
"O, ingatlah aku sekarang,"
Sela Tiong Lian sesudah tenangcan diri.
"Kabarnya enci Pik menghilang, apa sudab ada kabar tentang dia ?"
"Aku sudah ketemukan dia tapi telah pergi lagi dan sampai sekarang belum diketahui jejaknya,"
Sahut Thian Hong sambil menghela napas. Yang paling dipikirkan oleh Tiong Lian adalah urusan hubungan Kang Hay Thian dengan Hoa In Pik, maka cepat ia tanya pula? "Bagaimana bisa jadi begitu ?"
"Sudahlah, kau merebah saja, biar kuceritakan duduknya perkara"
Kata Thiao Hong, Lalu ia menuturkan pengalamannya tempo hari Ketika bercerita sampai kejadian di puncak, Leng Cu Hong, dimana telah bertemu dengan Hoa In Pik, maka Thian Hong teluh menghela napas dan berkata.
"Kasihan anakku itu, didalam mimpi iapun tidak lupa kepada Hay Thian. Tatkala itu dia dalam keadaan tak sadar, jadi seperti kau barusan. Sama Sekali dia tidak tahu kalau ayahnya waktu itu berada didepannya. Tapi yang teringat dan dipanggil nya cuma namanya Hay Thian saja."
Sungguh perasaan Tiong Lian seperti disayat-disayat sedapat mungkin ia menahan air mata-nya. Ia dengar Thian Hong sedang menyambung pula.
"Selama hidupku tidak sedikit aku telah menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh hanya penyakit pikiran lain yang paling sukar di obati. Ya, salahku juga. sudah tahu mereka saling mencintai, tapi aku tidak dulu-dulu menetapkan perjodohan mereka. Entah sibuk, urusan apa."
Sesudah pertemuan Kim Eng Kiong, kedua anak itu lantas selisih paham, Pik Ji tahu-tahu menghidang dan mengalami malapetaka itu!
Ai aku cuma mempunyai seorang puteri itu saja, semoga.
dia tetap selamat, kalau bisa bertemu kembali dengan Hay Thian kurasa segala sesuatu akan baik lagi!"
Dengan pedih, beberapa kali Tiong Lian hampir-hampir berseru.
"Tidak, itulah salahku!"
Tapi ia tidak punya keberanian untuk mengutarakan perasaannya itu didepan Thian Hong. Maka orang tua itu bertata pula.
"Sekarang Hay Thian tentu sudah sampai dikotaraja Kunbran, apakah dia tidak menyelundup kedalam keraton untuk mencari kau?"
"Oo, ti.......tidak!"
Sahut Tiong Lian dengan kikuk-kikuk.
"Ta...... tapi aku... aku seperti mendengar suaranya. Tatkala itu aku sedang dibawa lari oleh guruku!"
Melihat muka nona itu pucat pasi. Thian liong coba meraba keningnya, lalu berkatai "Aneh. suhu panas badanmu sudah banyak berkurang, mengapa semangatmu sedemikian lesunya?"
Thian Hong menyangka nona itu ikut berkuatir bagi keselamatan In Pik tapi Tiong Lian sudah lantas menghiburnyamalah.
"Hoa lo-ciaupwe, harap kau jangan kuatir, kukira da lam waktu singkat mereka tentu akan bertemu kembali Hay Thian adalah seorang yang paling mengutamakan budi kebaikan, dia pasti takkan mengingkari cinta enci pik. Eh aku lupa tanya padamu, tadi kau bilang datang bersama cagkohku, sekarang dia kemana lagi?"
Kuatir nona itu akan sedih, maka Thian Hong tidak berani menceritakan tentang terjerumusnya Danu Cu Mu kedalam sungai es, hanya secara samar-samar ia menjawab.
"Aku telah berpisah dengan dia dikaki Leng Ciu Hong, kuyakin sekarang dia tentu sudah sampai dikotaraja Kunbran."
"Jika engkobku juga sudah datang, muka legalah hatiku,"
Ujar Tiong Lian perlahan.
Girang dan berduka pula hati Tiong Lian ia merasa girang kareua dengan datangnya Kang Hay Thian dan Danu Cu Mu tentu mereka akau mampu menundukkan nenek siluman Bok Lolo itu.
Sekarang raja Kunbran dan Thay Ceng Ong juga sudah mati, tentu perselisihan kedua negara dapat diselesaikan dengan baik oleh kakek baginda.
Tapi untuk menghadapi wajah Hoa Thian Hong yang muram sedih itu.
diam-diam Tiong Lian merasa pilu pula, pikirnya.
"Kedatangan Hay Ko adalah untuk aku, tapi mana aku dapat mengutamakan keberuntungan diri sendiri dan tega menyaksikan mereka ayah dan anak menderita batin? Ayah angkatnya pernah menolong jiwamu, sekarang menolong jiwaku pula untuk semuanya ini, selain aku mengalah dan menyempurnakan cita-cita mereka rasanya tiada jalan lain uutuk membalas budinya,"
Melihat wajah Tiong Lian pucat dan lesu, dengan suara ramah Thian Hong lantas berkata padanya.
"Badanmu baru saja dingin kembali, sebaiknya kau mengaso saja dulu. Lalu ia meuutuk pelahan di hiat to tidur nona itu. Karena ilmu Tiam hiat Hoan Thian Hong ini mempunyai daya guna penyembuh, maka tutukan ini membikin Tiong Lian merasa kantuk dan akhirnya terpulas sehingga dapat mengaso dengan tenang. Selang tak lama Kok Ci Hoa telah kembali dengan membawa dua ekor ayam alas dan tidak sedikit buah-buahan. Melihat Tiong Lian masih tidur dengan nyenyak, ia terkejut dan menanya.
"Kenapa, apa dia masih belum men-dusin ?"
"RASA panas baru saja terpunah seluruh nya, dia baru saja mendusin, cuma aku kuatir dia terlalu lelah, maka biar dia tidur sebentar lagi,"
Sahut Thian Hong.
Mereka lantas menyalakan api untuk memanggang ayam alas, sambil makan sambil bicara "Untuk selanjutnya asal mengaso dengan tenang saja, dalam waktu dua tiga hari tentu dapat pulih kembali."
Ujar Thian Hong sambil memandangi Tiong Lian yang masih tertidur itu.
"Biarlah kukatakan cara perawatan nya dan boleh kau menjaganya dengan baik."
"Ya, atas pertolongan Hoa locianpvve, sungguh kami sangat berterima kasih, tentang merawatnya sudah tentu aku tidak berani membikin repot engkau lagi,"
Sahut Ci Hoa.
"Sebenarnya aku harus mengawani kalian tapi karena jajak puteriku belum lagi diketahui, maka aku ingin pergi mencarinya,"
Kata Thian Hong dengan menghela napas.
Ci Hoa juga mengetahui sedikit tentang hubungan Hoa ln Pik dan Kang Hay Thian cuma tak enak untuk menyinggungnya.
Tbian Hongsend"ri ingin buru-buru berangkat, maka se-sudi-h memberi petunjuk cara perawatan kepada Kok Tiong Lian, lalu ia berpisah dengan Kok Ci Hoa.
Ketika Tiong Lian mendusin kembali, sementara itu sudah dekat magrib.
Begitu bangun ia terus tarik lengan bajunya Kok Ci Hoa dan berseru.
"Hoa locianpwe, kau jangan kuatir....!"
Tapi lantas ia tahu bahwa orang yang dipegangnya itu adalah gurunya sendiri.
"Hoa locianpwe sudah pergi."
Kata Ci Hoa.
"Apa kau sudah lapar? Disini tersedia sedikit makanan, boleh kau tangsal perut dulu!"
"Hoa locianpwe sudah pergi? Ai!"
Demikian Tiong Lian menegas sambil menghela napas.
""Adakah sesuatu yang hendak kau bicara Kan dengan dia?"
Tanya Ci Hoa.
"O, tidak,"
Sahut Tiong Lian.
"Aku... aku tidak ingin makan."
Malamnya, kembali suhu badan Tiong Lian naik lagi dan tiada hentinya mengigau sebentar-sebentar memanggil namanya Kang Hay Thian dilain saat menyebut namanya Hoa In Pik.
Ci Hoa menjadi kuatir, padahal Hoa Thian Hong mengatakan dia sudah sembuh, mengapa kumat lagi?
Syukur sesudah dekat pagi Tioag Lian dapat tidur dengan tenang lagi.
Besok paginya ketika bangun tidur, semangatnya ternyata segar sekali dan tiada tanda-tanda habis sakit.
Sungguh Ci Hoa sangat heran mengapa penyakit panas itu sedemikian cepat datang menghilangnya, apa barangkali sakit batin ?
Sesungguhnya memang demikian Suhu badan Tiong Lian yang panas itu adalah lantaran guncangan perasaannya.
Tapi sesudah batinya telah mendapatkan sesuatu keputusan tetap, segera pikirannya tenang kembali dan penyakitnya lantas lenyap pula.
Menurut kehendak Tiong Lian, mestinya hari itu juga ia ingin tinggalkan pegunungan itu.
Tapi Ci Hoa taat pada pesan Hoa Thian tiong dan suruh nona itu istirahat dulu dua tiga hari lagi Namun dengan Lwekangnya yang tinggi sesudah racun panas didalam badannya bilang, hakikatnya Tiong Lian tidak merasakan sesuatu penyakit lagi.
Taksiran Hoa Thian Hong agar Tiong Lian istirahat dua tiga hari ternyata tidak perlu, karena pada hari kedua kesehatan nona itu boleh dikata sudah pulih seperti sediakala, Pagi-Pagi hari ketiga, dengan hati lega Ci Hoa lantas meninggalkan pegunungan bersalju itu bersama Tiong Lian.
Cuaca hari itu sangat baik, sungai es silang menyilang dilereng-lereng pegunungan, cahaya matahari yang gilang gemilang dihembus angin pagi yang sepoi-sepoi menyebarkan semangat.
Sampai didekat kaki gunung, tiba-tiba mereka mendengar suara senda-gurau yang riuh ramai disertai suara nyanyian yang merdu.
Serombongan muda-mudi tampak sedang mendatangi dengan gembira-ria sambil menari dan menyanyi.
"Ada apakah mereka sedemikian gembiranya? Sungguh amat merdu dan bagus syair nyanyian mereka ini!"
Puji Kok Ci Hoa.
Bahasa yang digunakan negeri-negeri Masar dan Kunbran adalah sama, meski Tiong Lian baru pulang ketanah leluhurnya selama setengah tahun, tapi karena kata-kata yang digunakan didalam nyanyian muda-mudi itu sangat seder hana, maka ia dapat mengikuti dengan jelas.
Terdengar lagu mereka berbunyi.
Api peperangan hilang sirna, Sungai es bening laksana kaca, Disana hendak kucuci pedangku nan berbau darah, Sejak kini dunia aman-sentosa, Kaum muda mendapatkan cinta, Orang tua memperoleh ketenangan, Tiada lagi janda yang kehilangan suami, Tiada pula ibu yang kehilangan anak.
Oiii-Api peperangan hilang sirna Sungai es bening laksana kaca.
Disana hendak kucuci pedangku nan berbau darah.
Sungguh Tiong Lian merasa sangat girang mendengar syair nyanyian itu, ia mendekati mereka dan tanya.
"Mengapa kalian sedemikian gembira? Apa peperangan sudah tidak ada lagi.
"He, masakah kau belum tahu ?"
Sahut rombongan muda mudi itu.
"Ada dua peristiwa yang menggembirakan seluruh rayat dinegeri kita, tentu saja semua orang harus bergembira."
"Peristiwa menggembirakan apakah? Kami baru pulang dari mencari bahan obat-obatan, maka belum mengetahui ?"
Sahut Tiong Lian.
"Peristiwa pertama ialah hari ini ratu baru akan naik tahta."
Kata pemuda-pemuda itu.
"O. ratu baru? Bukankah puteri Romana?"
Tiong Lian menegas.
"Benar,"
Sahut pemuda?, itu.
"Kabarnya raja meninggal mendadak, sekarang Thay Siang Hong telah mengumumkan kepada rakyat bahwa beliau telah mengangkat puteri Romana sebagai ratu. Biasanya puteri Romana sangat baik kepada rakyat, jauh lebih haik dari pada kakaknya"
"Dan peristiwa kedua?"
Tanya Tiong Lian.
"Masakah kau tidak mendengar lagu yang kami nyanyikan barusan?"
Sahut rombongan pamuda itu.
"Justeru sejak kini kita telah bebas dari penderitaan peperangan. Raja Masar telah datang sendiri kenegeri kita dan telah mengadakan perjanjian perdamaian dengan ratu ."
"Raja Masar telah datang ? Darimana kalian mendapat tahu?"
Tanya Tiong Lian dengan senang.
"Tidak hanya mengetahui, bahkan kami-pun telah melihatnya,"
Sahut pemuda-pemuda itu.
"Kemarin beliau telah tampil dimuka umum bersama Ratu dan mengumumkan perjanjian perdamaian mereka itu ."
Saking terharu sampai air mata Tiong Lian berlinang-linang katanya dengan terputus-putus.
"Peperangan sudah berhenti, inilah paling...paling bagus, paling bagus ! Pantas sudah berhenti, pantas kalian sedemian gembiranya !"
"Hei, mengapa kau menangis malah ? Bukankah kau seharusnya ikut gembira o, ya, tentu saking gembiranya sehingga kau menangis ?"
Demikian tanya seorang pemudi dengan kekanak-kanakan.
"Ya, benar, aku sangat gembira, bahkan terlalu gembira,"
Sahut Tiong Lian sambil mengaugguk.
"Sejak kini kita tidak perlu perang lagi kita adalah orang sekeluarga, selanjutnya kita akan hidup aman dan damai "
Sudah tentu romhongan muda-mudi itu ti dak tahu bahwa Kok Tiong Lian adalah puteri kerajaan Masar. Maka pemudi tadi berkata pula dengan tertawa.
"Wah, hari ini ditengah kota sungguh ramai sekali. Siang nanti ratu akan mengantar keberangkatan kembali raja Masar, diseluruh psloksok kota telah di pajang dan diadakan sambutan yang meriah"
Kalian boleh lekas kekota untuk menonton ke ramaian itu."
Begitulah dengan menari dan menyanyi gembira rombongan muda mudi itu lantas melanjutkan perjalanan mereka. Tiba-Tiba Tiong Lian tanya. Ci Hoa.
"Suhu, bukankah engkau harus lekas pulang ke Bin San"
"Ya, ada apa?"
Tanya Ci Hoa.
"Urusan disini sekarang sudah selesai, murid ingin berangkat bersama Suhu,"
Sahut Tiong Lian.
"Setelah mengetahui Thay Siang Hong tidak berhalangan apa-apa. maka bolehlah aku merasa lega."
"Dan apakah kau juga tidak iegin menemui kakakmu dan Kang Hay Thian ?!"
Tanya Ci Hoa pula. Sambil menahan perasaannya yang pilu Tiong Lian menjawab dengan tersenyum.
"Setelah Kakak perkenalkan dirinya secara terbukti tentu Hoa locianpwe akan dapat menjumpainya dan tentang keadaanku tentu Hoa lociapwe akan memberitahukan padanya, tentang Hay Thian, rasanya lebih baik jangan ditemui dulu. Paling penting kita harus lekas pulang ke Bin San saja."
Sebagai orang tua yang lebih berpengalaman, dengan sendirinya ia dapat memahami pikiran Tiong Lian, ia menghela napas perlahan dan berkata.
"Ya. jika memang Hay Thian betul-betul mencintai kau, tentu dia akan kembali sendiri kesampingmu."
Habis berkata, ia menjadi berduka, bukan cuma menyesalkan urusan muridnya itu, tapi juga mengenai urusannya sendiri.
Sebabnya dia datang kenegeri Kunbran sekali ini, walaupun benar untuk membela sang murid, tapi tujuannya yang lain juga berharap akan dapat bertemu dengan Kim Si Ih.
Akan tetapi harapannya itu ternyata hampa, Kim-Si Ih tetap tidak diketemukan.
Ia masih ingat ucapan Kim Si Ih ketika bertemu di Kim Eng Kiong, dimana Si Ih memberi tanda-tanda secara tidak jelas bahwa sesudah sesuatu urusannya di selesaikan, mungkin dia akan kembali kesamping Kok Ci Hoa, Ci Hoa tahu urusan itu tentu ada sangkut pautnya dengan Le Seng Lam, iapun tahun Le Hok Sing dan Thian Mo Kauw cu sedang beraksi dinegen Kunbran, maka ia menduga kepergian Kim Si Ih besar kemungkinan adalah untuk mencari Le Hok Sing.
Namun sekarang Le Hok Sing diketahui jelas berada di Kunbran, sebaliknya Kim Si Ih tetap tidak kelihatan.
Ci Hoa merasa hampa, ia merasa kecewa, pikirnya.
"Apa barang kali Kim Si Ih memang tidak pernah datang ke Kunbian atau dia sudah melupakan padaku ?!"
Tapi kemudian ia menghibur dirinya sendiri, bukankah dia sendiri dahulu pernah menghibur Kim Si lh agar jangan terlalu kukuh kepada pikiran kolot yang menganggap diantara pria dan wanita hanya terdapat cinta antara suami dan isteri saja, padahal diantara kedua jenis yang berlainan itu masih ada cinta lain, yaitu cinta sahabat yaug murni dan sejati.
Selama lebilh duapuluh tahun tersebut, boleh dikatakan dua hati kami sudah terjalin menjadi satu, dia takkan melupakan diriku dan akupun takkan melupakan dia, apakah pengertian didalam yang meresap ini kurang tinggi nilainya?
Namun begitu, rindu selama duapuluh tahun yang baru saja mulai ada perubahan yang menyenangkan, akhirnya mengecewakan pula.
biar betapa bijaksananya pikiran Ci Hoa juga merasa berduka.
Begitulah ditengah renungan Kok Ci Hoa itu, dari jauh masih terdengar suara nyanyian rombongan muda-mudi tadi.
Tiba-Tiba Ci Hoa berkala.
"He, suara apakah itu, coba dengar kan?"
"Bukankah suara nyanyian yang merdu itu?"
Ujar Tiong Lian.
"Bukan, kudengar diantara suara nyanyian itu, seperti tercampur suara......suara orang memanggil namamu?"
Kata Ci Hoa.
"Mana bisa jadi,"
Ujar Tiong Lian dengan tertawa.
"Suhu, tentu kau salah dengar. Mumpung hari masih pagi dan hawa sejuk, marilah kita cepat melanjutkan perjalanan !"
Denp.an parasaaan yang mendalam Ci Hov memandang kepada muridnya itu, ia tidak bicara lagi dan meneruskan perjalanan dengan dia"
Padahal Tiong Lian dapat mendengar terlebih jelas daripada gurunya yaitu suara panggilan Hay Thian yang menggunakan "Thian Sun Toan Ini"
Kepandaian mengirimkan gelombang suara.
Kiranya waktu itu Kang Hay Thian dan Hoa Thian Hong baru saja sampai ditempai gua yang baru ditinggalkan Kok Ci Hoa dan Tiong Lian itu, Sudah tentu Tiong Lian dapat menduga pasti Hoa Thian Hong yang telah memberitahukan keadaannya kepada Hay Thian, tapi demi untuk mengabulkan harapan Hoa Thian Hong yang ingin menjodohkan puteri nya kepada Kang Hay Thian, maka Tiong Lian sengaja pura-pura tidak mendengar, Kotaraja Kunbran itu tidak jauh dari kaki gunung, sesudah mereka turun kebawah, mereka sengaja memutar kepintu gerbang timur agar tidak perlu memasuki kota.
Tak terduga kereta kebesaran Ratu justeru lagi keluar dari pintu gerbang Timur itu, kiranya Ratu sedang menghantarkan kebarangkatan Danu Cu Mu yang akan pulang ke Masar.
Sepanjang jalan Ratu baru itu disambut oleh rakyat dengan sangat meriah.
Tiong Lian mencampurkan diri diantara obang banyak bersama gurunya sehingga susah diketemukan kenalannya.
Ia lihat kereta kebesaran Ratu jalan didepan, Danu Cu Mu bersama pengiring-pengiringnya berada diatas sebuah kereta dan mengikut dibelakang.
Diantara pengiringpengiringnya itu terdapat kedua saudara she In, ada Teng Ka Gwan dan Giok Ling Liong, Selain itu ada pula seorang yang sekali-sekali tak terduga oleh Tiong Lian ialah Hoa In Pik.
Tapi Hoa Thian Hong dan Kang Hay Thian tidak kelihatan.
Kiranya Hoa ln Pik hendak ikut pulang kedaerah selatan, ayahnya dan Kang Hay Thian memang betul sedang pergi mencari Kok Tiong Lian, karena Hoa Thian Hong menaksir Tiong Lian harus istirahat selama tiga hari dan tentu masih beiada didalam gua itu, sesudah bertemu kembali tentu masih dapat menggabungkan diri dengan rombongan Danu Cu Mu, siapa tahu Hay Thian berdua sudah terlambat datangnya.
Tiong Lian sudah meninggalkan goa tersebut.
Menyaksikan iring-iringan para kawan itu.
Tiong Lian merasa girang dan pedih pula, pikirnya.
"Kiranya Hoa cici sudah diketemukan kernbali dengan selamat. Tampaknya dia sehat-sehat saja dan tentu dia sudah bertemu dengan Hay Thian, Jika demikian lebih baik aku tidak perlihatkan diri saja supaya tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan ."
Ia tidak tahu bahwa pulihnya kesehatan Hoa ln Pik bukanlah disembuhkan oleh Kang. Hay Thian, tapi adalah In Khing. Kok Tiong Lian sedang memikirkan untuk "mengalah"
Agar ln Pik terlaksana harapannya dengan Kang Hay Thian, sebaliknya saat itu di sana Hoa ln Pik juga sedang memikirkan cara bagaimana menjadikan jodoh antara Kang Hay Thiao dan Kok Tiong Lian, Cuma sayang Tiong Lian tidak mau perlihatkan dirinya sehingga perasaan kedua orang susah disesuaikan satu sama lain,.......
Bsgitulah kedua guru dan murid itu meneruskan perjalanan kedaerali selatan, saat itu kebetulan memasuki musim Jing Beng, diatas Bin San tumbuh-tumbuhan menghijau permai, burung berkicau nyaring merdu.
Tapi suasana pemandangan yang indah itu ternyata dirasakan agak tegang diatas pegunungan itu.
Disamping Kuil Hian Li Kiong dipuncak gunung itu terdapat suatu jalan ke makam yang diapit oleh pelbagai pepohonan yang rindang!, dijalanan makam itu anak murid Bin San Pay nampak meronda kian kemari dengan keras.
Menurut peraturan Bin San Pay, setiap hari Jing Beng, anak murid yang tersebar disegenap penjuru tentu akan pulang untuk membersihkan makam cikal bakal mereka yaitu makam Tok Pi Sinni, biksuni berlengan satu yang sakti dimakamkan beberapa puluh tahun yang lalu.
Sekarang masih tiga hari sebelum hari Jing Benc, Kok Ci Hoa menjadi heran mengapa anak murid Bin Serg Pay itu datang terlebih cepat dari pada biasanya.
Belum tiba hari Jing Biug mengapa sudah berramai-ramai berkumpul dipemakaman cikal bakal mereka .
Ketika melihat Ciaugbunjin mereka sudah pulang, sudah tentu anak murid Bin San Pay sangat girang, semuanya menyapa atas pulang nya Kok Ci Hoa.
Waktu Kok Ci Hoa meninggalkan Bin San segala urusan perguruan telah diserahkan kepada Ek Tiong Bo dan Pek Eng Kiat sebagai pem bantu.
Sekarang demi mendapat laporan tentang pulangnya Kok Ci Hoa, beramai-ramai Ek Tiong Bo lantas menyambut keluar bersama Pek Eng Kiat, Loh Eng Ho, Thia Go, Lini Seng dan lain-lain.
"Ada terjadi apakah, Ek Suheng ?"
Demikian Ci Hoa lantas tanya begitu sudah berhadapan.
"Hendaklah kau masuk kedalam dan mengaso dulu nanti kita bicarakan lagi,"
Kata Ek Tiong Bo. Dan sesudah masuk kedalam pendopo dan masing-masing sudah ambil tempat duduk, kemudian Ek Tiong Co memperlihatkan sehelai kartu dan berkata.
"Sesudah kau melihat kartu ini tentu kau akan paham duduknya perkara ?""
Sesudah membaca kartu nama yang dimasudkan, Ci Hoa menjadi heran, kalanya.
"Kiranya Thian Mo Kau telah menantang pihak kita dan akan menuntut balas dendam, Kaucu mereka yang pernah diusir dari sini."
Tapi, diam-diam iapun tidak habis mengerti, bahwasanya Thian Mo Kaucu telah ditemuinya ketika berada di Kim Eng Kiong pada hari Tiongchiu tahun yang lalu, rnengapa dia dapat mengirim kartu tantangan kc Bin San pada waktu jing Beng yang akan dalang, terang mereka tidak bermaksud baik.
maka kami sebenarnya lagi susah, memikirkan cara bagaimana harus rnenghadapi mereka ."
"Mereka sengaja berkunjung kernari dan tegas-tegas menyatakan akan menuntut balas dendam Kauwcu mereka, jadi terang mereka tidak bertujuan baik, mengapa Suheng perlu meragukannya lagi ""
Ujar Ci Hoa. Tapi Ek Tiong Bo menjawab.
"Apa yang kumaksudkan mereka tidak bertujuan baik ialah karena persoalannya tidak sederhana, dibalik tipu muslihat mereka ini masih ada rahasia lagi, kau tahu bahwa gurumu yang telah membunuh Kaisar Yong Cing ?!"
Dasar Ci Hoa memang cerdik, segera ia da pat menangkap kemana maksud ucapan Ek Ti ong Bo itu, katanya.
"Ya, pahamlah aku sekarang. Tentu pemerintah kerajaan yang tidak bermaksud baik kepada ku""
Sebaliknya pengalaman Kok Tiong Lian masih cetek, ia tidak jelas duduknya perkara, ia bertanya.
"Jika kerajaan ingin memusuhi kita kenapa mesti mencatut namanya Thian Mo Kaucu ?"
"Kaisar mereka dibunuh orang dalam ke adaan kepala hilang tanpa bekas kalau penstiwa demikian tersiar, dimana letak kewibawaan kerajaan mereka? Sebab itulah, biarlah mereka sangat benci kepada Bin San Pay kita, mereka mempunyai alasan yang kuat dan selama ini tiduk berani terang-terangan memusuhi kita,"
Tutur Ek Tiong Bo.
"Adapun encinya Thian Mo Kauwcu adalah Mo hujin yang dahulu pernah mengaku sebagai ibumu, dan membikin gegar disini itu Eng Kiat ikut menjelaskan.
"Dia adalah isterinya Mo Lam Ting yang baru saja diangkat menjadi gubernur Soatang, maka kita menduga urusan ini mungkin adalah usulnya Mo-Lam Ting yang sengaja menggunakan nama Thian Mo Kau untuk menantang kita, tapi diam-diam mereka akan mengirimkan jago pilihan secara besar-besaran untuk mengepung kita dengan demikian mereka akan dapat menumpas kita tanpa diketahui orang luar""
"Hmm, perhitungan mereka muluk-muluk,"
Ci Hoa mendengus, dengan menentukan Jing-Beng untuk menggerebek kita, rupanya mereka sudah mengetahui pada hari itu anak murid Bin San Pay kita berkumpul semua disini, dengan demikian sekaligus mereka hendak mengganyang kita habis-habisan.
Hm, rasanya tidak, segampang rencana mereka!"
"Habis bagaimana dengan pendapat Ciaug bun?"
Tanya Ek Tiong Bo.
"Apa kita sambut tantangan mereka dan labrak mereka sedini mungkin ?"
"Selain demikian, apa yang dapat kita lakukan lagi ?"
Sahut Ci Hoa.
"Masakah kita mesti mengorbankan Bin San kita jang suci ini dari terlunta-lunta dikangouw tanpa arah tujuan yang tetap? Pendek kata, biarpun Seantero jago kelas satu mereka dikerahkan juga pasti akan kita lawan sampai titik penghabisan ."
Diam-diam Ek Tiong Bo memuji sikap tegas Kok Ci Hoa itu.
Biasanya Ci Hoa kelihatan lemah lembut, tapi menghadapi pilihan antara hidup atau maii, maka jelas kelihatan tekadnya yang bulat untuk mempertahankan kehormatan Bi San Pay mereka nyata tidak kecewa sebagai akhli waris Lu Sin Nio, boleh di katakan, seorang Ciangbunjin yang harus dibuat contoh.
Maku iapun berkata.
"Ya. aku sendiripun sudah mengadakan sedikit persiapan, bila perlu anak murid Kaypang juga dapat memberi bantuan. Untuk ini jnasih diharapkan pimpinan Ciangbun secara bijaksana ."
Mestinya yang ditantang oleh Thian Mo Kau adalah orangorang Bin San Pay dengan sendirinya orang dari golongan lain tidak boleh ikut campur.
Tapi Ek Tiong Bo mempunyai kedudukan rangkap, ia adalah murid Bin San JPay, juga menjabat pangcu dari Kay pang maka boieh dikata cukup baralasan bila anggota kaypang ikut bertempur bila perlu.
"Ya. baiklah, kita masih ada tempo dua-hari lagi, bila perlu nanti kita rundingkan pula,-"
Kata Ci Hoa akhirnya. Sesudah Ek Tiong Ro dan lain-lain sudah mengundurkan diri, tiba-tiba Kok Tiong Lian berkata.
"Suhu, kulihat dibalik urusan ini ada banyak terdapat hal-hal yang mencurigakan."
"Apa kau maksudkan waktu pengiriman kartu tantangan itu tidak tepat?"
Tanya Ci Hoan memang saat itu Thian Mo Kauwcu telah jauh hari meninggalkan kartu itu dan suruh bawahannya mengirimkannya kesini, berbareng iapun berangkat ke Kunbran untuk minta bantuan gurunya ?!"
"Tidak, aku justeru curiga bahwa urusan-ini bukan keinginan Thian Mo Kauwcu, bahkan dia sendiri mungkin tidak tahu menahu !"
Ujar Tiong i ian.
"Ya, biarpun diluar tahunya pemerintah-kerajaan hendak menggunakan namanya dengan melalui encinya, tapi toh mesti mendapat persetujuan lebih dahulu, ujar Ci Hoa.
"Dan sebab apa kau merasa curiga ".
"Sebab aku tanu Thian Mo Kaucu sudah lama ingin kembali jalan yang benar, ingin memperbaiki kelakuannya yang duludulu,"
Kata Tiong Lian.
"Ya, mungkin didalam waktu beberapa hari juga dia akan mengalami penderitaan Cap Hwe Jip Mo, dalam keadaan demikian apakah dia masih dapat cari perkara pada kita"
"Ketika di Kunbran, ketika aku diserahkan dibavvah pengawasan Thian Mo Kaucu, di sanalah secara tidak sengaja aku mendengar rahasianya yang dikatakannya sendiri itu,"
Tutur Tiong Lian Lalu iapun menceritakan apa yang pernah didengarnya ketika Thian Mo Kaucu berbicara berduaan dengan Le Hok Sing tempo hari.
Mendengar cerita tentang Le Hok Sing rela sehidup-semati mendampingi Thian Mo Kau cu yang mungkin akan menjadi cacad untuk selamanya, saking terharunya Kok Ci Hoa -sampai meneteskan air mata, Katanya dengan gagetun.
"Usia Le Hok Sing masih muda belia, kalau dia mencintai secara membuta sebenarnya tidak mengherakan Tapi tidak terduga bahwa gembong iblis sebagai Thian Mo Kaucu itu ternyata juga mempunyai perasaan yang tulus dan membalas cinta Le Hok Sing sepenuhya demikian tampaknya dia toh bukan ketempat nya atau belum "!"
"He Suhu, aku menjadi ingin pergi ke Ci Lay Sim untuk menyambangi Thian Mo Kau cu."
Tiba-tiba Tiong Lian minta persetujuan sang guru.
"KAU hendak menemuinya seorang diri ? Kukira ini agak terlalu bahaya "kata Ci Hoa.
"Tapi kalau duduk perkara dapat diselidiki boleh jadi malah akan mengelakan kemungkinan, tertimpanya malapetaka,"
Ujar Tiong Lian.
"Lagi pula Thian Mo Kaucu pernah mem perlihatkan budi baiknya kepadaku meski aku tidak terima maksud baiknya itu, tapi tiada jeleknya sekarang aku membalas kebaikannya tu. Sekarang dia dalam kesukaran, seharusnya aku pergi menyambangi dia, bicara tentang bahaya memang bukan mustahil, tapi juga tidak lebih berbahaya dari pada waktu aku berkunjung ke Kunbran tempo hari."
Diatas badan muridnya itu Kok Ci Hoa se akan-akan melihat bayangan sendiri dikala masih muda.
Seorang pemudi yang dinamis, berdarah panas dan berperasaan halus.
Tahunya cuma membela kebenaran dan mementingkan orang lain.
tidak pernah mementingkan diri pribadi.
Bedanya sang murid rupanya jauh lebih kuat, lebih kukuh daripada waktu mudanya dan jauh lebih tahan akan segala macam ujian.
Diam-Diam Ci Hoa sangat terharu, pikirnya.
"Selama beberapa bulan ini Lwekang Lian-ji sudah jauh lebih maju lagi, terutama sesudah dia minum Thian Sim Ciok dan mempelajari Lwekang dari Liong Lik Pit Kip, bukan mustahil kekuatannya sekarang tidak dibawah aku lagi, jika mesti memilih seorang untuk pergi ke Ci Lay San, maka selain dia memang tiada pilihan yang tepat lagi!"
Melihat gurunya diam saja, Tiong Lian menjadi kuatir permintaannya tak disetujui, segera ia menutur pula.
"Disainping itu. akupun memakai Pek Giok Kah dan Siang Ho Pokium dalam keadaan bagaimanapun juga, paling celaka aku masih dapat melarikan diri, Apalagi Ci Lay San bagiku juga bukan tempat yang asing."
Ci Hoa menjadi heran, tanyanya.
"Bila kah kau pernah pergi ke Ci Lay San?!"
Wajah Tiong Lian menjadi merah, sahutnya.
"Meski tidak pernah pegi kesaua, tapi pernah kudengar cerita dari orang lain!"
"O, ya, diwaktu kecilnya, memang Kang Hay Thian pernah tinggal disana!"
Kata Ci Hca dengan tertawa.
"Suhu, boleh aku pergi kesana?"
Tanya Tiong Lian pula. Pelahan-lahan Ci Hoa angkat kepalanya dan berkata.
"Orang-Orang Bin San Pay kita turun temurun mengutamakan budi kebaikan, tidaklah sia-sia aku mendidik kau selama ini! Baiklah, boleh kau pergi kesana, tapi hendaklah hati-hati."
Jarak Bin San dan Ci Lay San kurang lebih ada lima ratus li, tanpa mengaso terus saja Tiong Lian berangkat pula kesana.
Besoknya waktu magrib Tiong Lian sudah sampai di pegunungan Ci Lay San yang merupakan pangkalan Thian Mo Kau itu.
Dahulu ketika Tiong Lian terkurung dite ngah pulau terpencil bersama Kang Hay Thian dikala senggang mereka suka mengobrol dan menceritakan pengalamannya masingmasing.
ia masih ingat cerita Hay Thian tentang keadaan Thian Mo Kau itu berbentuk sebuah benteng kurung yang kecil arah timur, barat dan selatan dijaga dengan keras, hanya sebelah utara karena tebing yang curam sekali, monyet juga susah mendaki, maka disitu rada penjagaan.
Dan dibawah tebing yang terjal itu adalah taman kediaman Thian Mo Kaucu, dahulu waktu Kang Hay Thian tinggal disitu juga sering memain di-dalam taman itu.
Segera Tiong Lian mengeluarkan Ginkang yang tinggi terus menjurus keutara gunung.
Sesudah melintasi beberapa tanjakan, akhirnya sampai diatas puncak karang yang terjal, disekelilingnya penuh tebing-tebing yang menjulang tinggi, halus dan licin sehingga susah didaki.
Diam-Diam Tiong Lian merasa bersyukur, karena membawa pedang yang dapat digunakan sebagai alat pembantu.
Segera ia melompat setinggi-tingginya keatas kira-kira dua tiga meter diatas ia tancapkan pedang kedinding tebing dan mengoreknya menjadi sebuah dekukan agar dapat dipakai sebagai tempat berpijak, dan sesudah mengambil posisi yang baik, kemudian ia melompat pula keatas.
Maka tidak lama kemudian dapatlah dia mendaki puncak karang yang terjal itu.
Dan dibawahnya memang benar terdapat sebuah taman bunga yang indah.
Ia lihat diujung puncak sana tumbuh sebatang pohon Sioug yang tua, batang pohon menjulur kepinggir, pohon Siong itu banyak terdapat akar-akar yang panjang dan kuat sehing ga sangat praktis untuk digunakan sebagai tali.
Ia pilih seutas akar yang paling panjang, dari situ ia merosot kebawah, ketika kemudian dia ayun tubuhnya dan lepas tangan dengan tepat ia terlempar ketengah taman dan hinggap diatas sebatang pohon yang tumbuh ditanah itu.
Dari atas pohon besar itu ia melihat di-sebslahnya ada sebuah gedung, ia menduga gedung itu pasti tempat kediaman Thian Mo Kaucu.
Ia tidak berani gegabah untuk berderak, maka ia coba pusatkan perhatian untuk mendengarkan.
Maka terdengarlah didalam rumah itu ada suara orang perempuan tua sedang berkata dengan tertawa dingin.
"Hrn, apa perbuatan kalian ini dapat dipertanggung jawabkan padaku? Tapi sekarang kalian masih berani minta bantuan padaku ? Ipih, kaupun seorang muridku yang bagus ya ? Dikala menghadapi bahaya yang kau pikirkan ialah menyelamatkan jiwa sendiri dahulu ! Hehe. tapi kalau perlu pertolongan Suhu, lantas mohon bantuan lagi ya ? Tapi kau adalah nyonya gebernur, aku tidak berani mengakui kau sebagai murid lagi."
Tiong liian terkesiap, ia merasa diluar dugaan karena Kim Lun Seng Bo dari Kunbran itu ternyata berada didalam rumah itu, rupanya yang diajak bicara adalah Bun Ting Bik dan Mohujin berdua, sedangkan Thian Mo Kaucu tidak terdapat disitu.
Maka terdengar Mo-hujiu telah berkata.
"Harap suhu mendengarkan laporanku, bukanlah Tecu berani meninggalkan Suhu disaat terancam bahaya, soalnya Tecu tidak ingin menjadi beban Suhu dikala terdesak musuh. Ketika itu Tecu mendapat tugas menjaga tawanan sedangkan musuh sudah menyerbu kedalam keraton, Tecu kuatir tidak dapat memenuhi tugas kewajiban, maka terpaksa menghindarkan diri lebih duiu!"
"Ya, tatkala itu kami berpendapat dengan ilmu sakti engkau orang tua yang tiada bandingannya toh tidak perlu bantuan kami yang tidak berarti,"
Demikian Bun Ting Bik ikut bicara.
"Sebaliknya kami kuatir tawanan akan di rampas oleh musuh sehingga mengecewakan kepercayaan yang engkau berikan pada kami. Dari itu kami lantas berangkat lebih dulu kesini. Adapun kejadian sehabis itu, sesungguhnya tidak kami duga sebelumnya."
Rupanya Bok Lolo paling suka disanjung sanjung orang, sekarang Bun Ting Bik dan Mo hujin telah mengumpak dan memuji kesaktiannya sehingga meredalah rasa gusarnya.
Namun begitu ia masih berkata kepada Bun Ting Bik dengan dingin.
"Pintar juga bicaramu, aku suruh kau menjaga tawanan, manfaat yang kau peroleh kau juga tidak sedikit? Sekarang kau berhasil meyakinkan Sam-siang-sin-kang dengan lebih sempurna, apakah kau masih perlu bantuanku segala?"
Kiranya tempo hari ketika masih dinegeri Kunbran, waktu Bok Lolo bertempur dengan Kang Hay Thian, maka diam-diam Bun Ting Bik dan Mo-hujin telah membawa lari Thian Mo Kaucu dan Le Hok Sing melalui jalan rahasia ditawan tanah yang menembus keluar istana itu.
Sebaliknya yang rugi adalah Bok Lolo secara bergiliran tempo hari ia telah bertarung melawan Kang Hay Thian dan Teng Keng Thian suami isteri, walaupun dia berhasil merat, tapi kekuatannya juga sudah terbuang tidak sedikit.
Sesudah kekuatannya pulih kembali, kemudian iapun menyusul ke Ci Lay San.
Sesudah berada di Ci Lay San, pertama karena dia mempunyai kepentingan yang sama dengan Bun Ting Bik, kedua, kekuatannya masih belum pulih seluruhnya, sebaliknya Sam siang sin kang yang dilatih Bun Ting Bik semakin sempurna maka nenek itu menjadi jeri dan tidak berani terlalu garang lagi.
Begitulah, terdengar Bun Ting Bik sedang berkata pula dengau terbahak-bahak.
"Kim Lun Seng Bo, jika kau mau membantu lagi sekali ini toh tidak sedikit pula manfaatnya bagimu!"
"Manfaat apa?"
Tanya Bok Lolo.
"Sebab tenaga yang kau curahkan nanti dari pada dikatakan membantu kami adalah lebih tepat dianggap membantu pemerintah kerajaan Jing, masakah untuk ini kau masih belum paham ?"
Ujar Bun Ting Bik.
"Di Kunbran, paling-paling kau cuma menjadi Seng Bo dari sesuatu negeri kecil, apa jeleknya jika kau menerima tempat terhormat didalam kerajaan Tiongkok besar."
Rupanya bujukan Bun Ting Bik itu sangat menarik hati Bok Lolo, tampak nenek itu manggut-manggut berulang-ulang. Maka Mo hujin juga berkata.
""Sekali ini pihak kerijaan ling telah mengerahkan dua puluh empat jago pilihan, yang dikuatirkan ialah peristiwa ini didengar oleh Kim Si Ih dan muridnya dan tentu mereka akan datang Ke Bin San untuk membantu mereka. Menurut rencana kita, Suhu nanti boleh menandingi Kang Hay Thian, sedangkan Bun Hu kaucu bersama para kawan lain tentu cukup kuat untuk melayani Kim Si Ih."
Selagi Kok Tiong Lian mendengarkan dengan kesiina, tibatiba terdengar Bok Lolo berseru "Siapa yang berada diluar itu ?"
Belum lenyap suaraaya mendadak daun jendela sudah didobrak oleh Bun Ting Bik yang terus melompat keluar. Baru saja Tiong Lian melompat turun dari atas pohon, saat itu Bun Ting Bik sudah memburu tiba.
"Blang", kontan pukulan mereka beradu, Tiong Lian merasa telapak tangannya pegalpegal gatal dan tangannya menjadi lemas keruan ia terkejut, cepat ia melompat kesamping dan segera melolos pedang Shng Hoi Kiam, ia putar kencang pedangnya sambil mengundurkan diri. Karena benturan pukulan tadi, tubuh Bun Ting Bik juga tergeliat dan terkejut, dalam hatinya ia berkata.
"Sungguh tidak nyana dalam beberapa bulan saja kekuatan budak ini sudah maju sedemikian pesatnya. Ternyata ilmu sakti berbisa yang baru kuyakinkan ini tidak mempan padanya ."
Kiranva Tiong Lian cukup mengetahui kemahiran Thian Mo Kaucu dalam hal menggunakan racun, maka sebelumnya ia telah mengumur sebutir Pek Ling Tan yang terbuat dari Thian San soat Lian, ditambah kemajuan kekuatannya selama dalam beberapa bulan ini, maka dengan mengerahkan tenaga dalam bebe Tapa kali, dapatlah hawa berbisa pukulan Bun Ting Bik tadi dipunahkan.
Tapi dari benturan pukulan itu iapun dapat menjajaki kepandaian Bun Ting Bik juga sudah tambah hebat daripada dahulu dan susah untuk dilawan, apa lagi dibelakangnya masih, terdapat Bok Lolo.
"Bagus ! ini namanya ikan masuk jaring sendiri !"
Demkian Bok Lolo terkekeh-kekeh mengejek.
"Tempo hari kau dapat lolos, tapi sekarang kau mengantarkan nyawamu sendiri. Nah, apa kau masih ingin lari lagi ?"
Segera iapun menubruk maju, di mana lengan bajunya mengebas, seketika tiga macam bubuk berbisa bertebaran terbawa oleh angin kebesannya.
Walaupun mengumur Pek Ling Tan, namun kepala Tiong Lian juga merasa pusing oleh serangan bubuk-bubuk berbisa itu, Dan belum lagi Tiong Lian sempat melompat pergi, secepat kilat Bok Lolo sud.h menubruk maju, dalam keadaan bahaya kepala pening dan mata berkunang-kunang Tiong Lian menjadi tidak dapat melawan, hanya sekali cengkeram saja Bok Lolo sudah kena pegang pergelangan tangannya.
"Haha, bigus!"
Seru Bun Ting Bik dengan tertawa, dengan tawanan muridnva Kok Ci Hoa ini, dalam gelanggang pertempuran di-atas Bin San hari lusa nanti sudah pasti kemenangan berada dipihak kita."
"Rupanya kedatangannya ini adalah untuk menemui Karani, ketika di Kunbran memangnya aku sudah curiga persekongkolan mereka, nyatanya memang betul,"
Kata Bok Lolo.
"Baiklah, boleh kurung dia menjadi satu dengan Karani, biar mereka mengobrol sepuas-puasnya."
Kiranya pada saat itu Thian Mo Kaucu dan Le Hok Sing telah disekap dalam kamar tahanan rahasia dan Mo hujin telah memalsukan dia sebagai Kaucu.
Mo hujin adalan kakak sekandung Thian Mo Kaucu, wajah mereka memangnya sama dan mirip, ditambah peraturanperaturan Thian Mo Kaucu yang keras, setiap anggota yang hendak menghadap sang Kaucu hanya boleh berdiri jauh dibawah undakan-undakan pendopo, sehingga tidak dapat melihat jelas wajah asli Kauwcu mereka.
Mo hujin sendiri mempunyai dayang-dayang pribadi pula dan tidak perlu dilayani dayangnya Thian Mo Kaucu, makanya dengan mudah anggota-anggota Thian Mo Kau dapat dikelabui.
Waktu itu Thian Mo Kaucu, sedang tersiksa oleh karena "Cau Hwe Jip Mo"
Tersesatnya ilmu yang dilatihnya sendiri.
Sedangkan Le Hok Sing juga tidak bertenaga sama sekali oleh karena diracuni oleh Bok Lolo dengan "So Kut San", puyer pelemas tulang meski dapat berjalan, tapi kekuatannya susah dikerahkan.
Bun Ting Bik telah mengurung mereka di dalam suatu kamar dan paksa Le Hok Sing menulis kunci ajaran Lwekang dari keluarga Le mereka.
Namun Le Hok Sing rela sehidup semati dengan Thian Mo Kaucu.
Ia tidak mau menyerah kepada Bun Ting Bik biarpun disiksa lahir dan batin.
Begitulah selagi Thian Mo Kaucu dan Le Hok Sing saling sandar, menjadi satu didalani karcar tahanan yang gelap itu, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, dari cahaya yang menembus masuk itu Thian Mo Kaucu melihat ada seorang nona telah didorong masuk.
Ketika melihat jelas siapa nona itu.
Thiao Mo Kaucu terkejut dan cepat menariknya kesampingnya.
Katanya dengan suara tak lampias.
"No....... nona Kok, kenapa kau datang kemari "Aku adalah seorang yang bernasib malang, sekarang telah menderita siksaan hasil latihanku sendiri, matiku tidak ada artinya, tapi mernbikin susah padamu, inilah harus disayangkan ."
"Kau mempunyai cita-cita yang luhur, suatu saat akan terhindar dari bahaya kesusahanmu lenta akan berakhir dalam waktu singkat,"
Sahut Tiong Lian.
"Tapi aku sudah jatuh didalam cengkeraman guruku, jiwaku setiap saat bisa melayang, masakah masih ada harapan hidup bebas lagi!"
Ujar Thian Mo Kaucu.
"Tua bangka siluman itu sedemikian keji nya. masakah kau masih sudi mengaku Suhu padanya,"
Kata Le hok Sing dengan penasaran.
"cici jika kau mau akupun tidak ingin hidup sendirian."
Air mata Thian Mo Kauwcu berlinang-linang saking terharunya, tanpa hiraukan Kok Tiong Lian lagi ia terus saling rangkul dengan kencang bersama Le Hok Sing, katanya.
"Adik Sing, kau sangat baik kepadaku, biarpun mati juga aku merasa senang."
Tiong Lian ikut terharu menyaksikan itu, tapi ia tidak berdaya untuk menghibur mereka bila dipikir lagi, padahal nasibnya sekarang juga tiada bedanya dengan Thian Mo Kauwcu yaitu setiap saat bisa tamat riwayatnya, bahkan Thian Mo Kauwau didampingi Le Hok Sing yang rela sehidup semati bagi sang kekasih, sedangkan kekasihnya sendiri yang dirindukan itu entah sekarang berada dimana Boleh jadi sedang berada didamping seorang nona yang lain ?!"
Walaupun ada maksud Kok Tiong Lian hendak mengalah kepada Hoa In Pik, tapi dalam keadaan demikian bila teringat kepada Kang Hay Thian tanpa merasa iapun mencucurkan air mata.
Tiba-Tiba Le Hok Sing berkata.
"Nona Kok, selama ini aku mempunyai sesuatu tanda tanya yang belum terjawab, sebelum ajalku aku ingin, mengetahuinya dengan jelas, hal ini mungkin kau dapat menjelaskan. Apakah gurumu benci kepada Kim Si ih?"
"Kenapa guruku mesti benci padanya?"
Tanya Tiong Lian.
"Sebab dia telah mengecewakan cinta murni gurumu selama hidup ini,"
Kata Hok Sing "Le Seng Lam pernah apamu?""
Tanya Tiong Lian.
"Bibiku,"
Sahut Hok Sing.
"Seluruh lakon dimasa hidup bibimu itu apakah kau sudah ketahui semua?"
Tanya Tiong Lian pula.
"Menurut cerita, katanya dia meninggal karena Kim Si Ih, tapi seluk beluknya aku tidak tahu dengan pasti"
Kata Hok Sing "Perangai bibimu itu terlalu keras dan suka turut kemauannya sendiri,".tutur Tiong Lian.
"Dia ingin merebut hatinya Kim tayhiap maka suhuku teiah menjadi bulanbulanannya. Dia telah meracun guruku, lalu dengan obat pemunahnya dia mengancam agar Kim tayhiap suka menikah dengan dia. Tapi dia telah membunuh diri pada malam pertama didalam pengantin baru mereka."
Begitulah, lantas Tiong Lian menceritakan apa yang pernah didengarnya tentang kisah percintaan Kim Si Ih dan Le Seng Lam dahulu. Akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Karena Kim tayhiap merasa berdosa kepada cinta bibimu, maka sesudah bibimu meninggal, selama lebih 20 tahun ini beliau tetap membujang tak mau menikah, Guruku dapat memahami perasaan Kini tayhiap, maka beliau tidak mau dendam padanya, juga tidak dendam kepada bibimu. Beliau cuma menganggap apa yang terjadi itu sudah takdir ilahi, nasib menentukan hidup ineieka harus mengalami ujian-ujian seperti itu. Padahal waktd bibimu hendak menghabiskan nyawa sendiri, dia telah meninggalkan surat kepada Kim tayhiap dan meninggalkan pesan agar Kim tayhiap menikah dengan guruku ."
Le Hok Sing termangu-mangu sekian lamanya sesudah mendengar cerita Kok Tiong Lian itu. Katanya kemudian.
"Ketika mu!a-a aku datang keTionggoan, karena percaya atas hasutan orang luar, maka aku sangat benci dan dendam kepada Kim Si Ih. tapi lambat laun akupun sangsi dan baru sekarang aku benar-benar mengetahui duduknya perkara" ,Dahulu apa yang sangsikan dan sekarang mengetahui apa lagi"
Tanya Tiong Lian.
"Semula aku sangat dendam kepada Kini-Si Ih, sebab aku menganggap dia yang membunuh bibiku", kata Hok Sing, kemudian aku melihat batu nisan yang didirikan Kim Si Ih di makam bibiku, lalu mengetahui pula bahwa gurumu sebenarnya adalah kekasihnya yang lebih dulu dari pada bibiku, karena itu aku lantas berpikir bahwasanya dengan tokoh wanita pilihan sebagai Kok ciangbun dari Bin San, bicara tentang ilmu silat dan kedudukan, tentang kecantikan pula, dalam hal apa yang kurang? Pada umumnya bila orang kematian isteri, kawin lagi juga bukan sesuatu yang luar biasa, apalagi Kim Si Ih dengan bibiku pada hakikatnya suami isteri dalam nama saja, perateknya toh tidak. Tapi dia toh rela meninggalkan kekasih yang cantik itu dan mengembara di Kangouw dengan hidup yang terlunta-lunta tak keruan tempatnya, dipandang dari sudut ini agak nya dia toh tidak melupakan cinta murni bibiku, tentang caci maki orang lain kepada Kim Si Ih bukan mustahil timbul karena dendam dari diri peribadi mereka dan sengaja hendak mengadu dombakan aku dengan dia. Dan malam ini sesudah kudengar ceritamu tadi, aku menjadi lebih paham duduknya perkara. Sebenarnya bibiku juga bersalah dan tidak pantas ditimpakan semua atas kesalahan Kim Si Ih. Sekarang bibiku sudah meninggal, orang yang sudah mati boleh tak usah dibicarakan lagi. sebalikrya tentang hubungan Kim Si Ih dengan gurumu pengorbanan selama duapuluh tahun itu kenapa mesti ditarik lebih panjang lagi?""
"Jadi sekarang kau sudah jelas,"
Kata Tiong Lian dengan girang."
Dan apa kau dendam kepada Kim tayhiap?"
"Ya, aku merasa malu. dahulu sebelum tahu perkara yang sebenarnya, aku pernah beberapa kali memaki dia, didalam hati tentu dia sangat menyesal,"
Kata Hok Sing.
"Cuma sayang jiwaku sendiri berada diujung tanduk, aku tidak ada kesempatan untuk minta maaf lagi padanya."
Selagi mereka bertiga asyik mengemuka kan isi hati masing, dan sama-sama merasa gegetun. tiba-tiba terendus bau harum yang memabukan orang. Thian Mo Kaucu terkejut dan berseru.
"Celaka, Suhuku telah mulai turun tangan keji."
"Bagus, biar aku mengadu jiwa dengan dia,"
Teriak Hok Sing dengan gusar, tapi belum lagi ia sempat menggunakan Thian mo tay hoat yang merupakan ilmu terakhir untuk gugur bersama musuh, tahu-tahu ia sudah jatuh pingsan, begitu pula Thian Mo Kauwcu lantas sempoyongan dan akhirnya juga terjungkel dan tak sadarkan diri, hanya Kok Tiong Lian saja yang tidak merasakan apa-apa atas dirinya dari bau harum itu.
Kiranya tenaga Thian Mo Kauwcu dan Le HokSing sudah habis, jangankan bau harum itu adalah sejenis pembius, pembius yang paling hebat, sekalipun obat tidur biasa saja juga mereka tak tahan.
Sebaliknya dimulut Kok Tiong Lian mengulum Pek Ling Tan yang justeru dapat memunahkan bau harum ini."
Segera Tiong Lian merasa heran dan kuatir tiba-tiba dilihatnya terjadi jendela patah satu persatu, ia tambah heran dan menjadi ragu-ragu jika Kim Lun Seng Bo, kenapa dia tidak masuk saja dari pintu ?!
Belum selesai ia berpikir, tertampaklah sesosok bayangan orang telah melompat masuk melalui jendela yang sudah dijebol itu, cahaya lembulan juga lantas menembus masuk ke jendela yang melompong itu, walaupun remang?
tapi Kok Tiong Lian sudah dapat mengenali yang datang ini tak lain tak bukan tokoh yang barusan mereka bicarakan, yaitu Kim Si Ih adanya.
"He. Kim tayhiap, kiranya engkau yang datang, inilah paling bagus!"
Seru Tiorg Lian dengan kejut-kejut girang.
"Ya. marilah kita menolong mereka lebih dulu dan sementara ini jangan membikin kaget nenek siluman dan begundalnya, biarlah kita bikin perhitungan dengan mereka dalam pertemuan diatas Bin San nanti,"
Demikian sahut Kim Si Ih.
"Eh, harap kau suka membantu menggendong Thian Mo Kauwcu."
Dan baru saja Tiong Lian hendak rnemberitahu tantang keadaani.ya yang lemas kehilangan tenaga, namun Kim Si Ih sudah iantas menepuk perlahan sekali diatas punggungnya Seketika Tiong Lian merasa suatu hawa hangat menembus seluruh urat nadinya dalam sekejap saja semangatnya terasa segar dan tenaga pulih kembali, bahkan jauh lebih kuat dari pada tadinya.
Tanpa bicara lagi segera Tiong Lian menggendong Thian Mo Kauwcu dan mengikuti Kim Si Ih yang menggendong Le Hok Sing melompat keluar melalui daun jendela, sepanjang jalan tertampak disana sini banyak menggeletak anggotaanggota Thian Mo Kauw, semuanya tak sadarkan diri.
Dengan tertawa Kim Si Ih menerangkan kepada Tiong Lian.
"orang-orang Thian Mo Kauwcu suka menggunakan racun, sekali ini aku telah menggunakan cara mereka untuk menyerang mereka sendiri."
Kiranya obat pembius yang digunakan Kim Si Ih adalah semacam bunga berbisa yang diperoleh didaerah Tibet yang tiada bandingannya kerasnya, oleh karena tujuan Kim Si lh hanya menolong orang, maka ia sengaja menggunakan obat pembius itu agar tidak diketahui musuh.
Sesudah melintasi pagar tembok pagar bunga, sampailah mereka dibawh tebing yang curam itu.
"Biar aku naik dulu keatas, nanti aku menggerek kalian,"
Kuta Si lh"
Dengan menggendong Le Hok Sing segera ia melompat keatas, jadi setiap kali kakinya memacal, segera tubuhnya terlempar keatas mirip orang manjat tangga saja, hanya sekejap saja orangnya sudah sampai diatas.
Sungguh kagum Tiong Lian tak terhingga kalau tidak menyaksikan sendiri pasti orang takkan percaya bahwa didunia ini ada orang memiliki Ginkang setinggi ini.
Kemudian Kim Si Ih telah membetot beberapa utas rotan panjang, ia ikat menjadi tambang besar, lalu dilemparkan kebawah.
Deugan sebelah tangan mengempit Thian Mo Kaucu, sebelah tangan Kok Tiong Lian memegang kencang tali dan membiarkan Kim Si Ih mengereknya keatas.
Sesudah berada diatas, segera Tiong Lian berkata.
"Thiau Mo Kaucu sudah bertekad akan kembali kejalan yang baik, cuma sekarang dia sedang tersiksa oleh bencana Cau Hwe Jip Mo."
"Aku sudah tahu,"
Sahut Si Ih.
"Kedatangan aku ini justeru hendak menolong dia agar perjodohannya dengan Le Hok Sing dapat terlaksana dengan baik"
Segera ia suruh Tiong Lian meletakkan Thian Mo Kaucu, lebih dulu ia jejalkan sebutir Pek Ling tan kedalam mulutnya, lalu menggunakan lwekangnya yang maha dahsyat untuk menutuk ke Hiat to penting di tubuh Thian Mo Kaucu, Setiap kali ia menutuk, seketika suatu arus hawa murni tersalur kedalam badannya, Sesudah ke tigapuluh enam Hiat-to semua ditutuk toh Tlhian Mo Kaucu masih belum siuman, namun urat nadinya sekarang sudah lancar kembali bahkan tambah kuat tenaganya.
Sebaliknya Kira Si Ih sendiri sudah mandi keringat, dengan napas agak terengah ia berkata dan tertawa"
"Untung dia baru dua hari rnengalami penyakit hebat ini. kalau sudah kasip, tentu aku perlu lebih banyak membuang tenaga untuk menyembuhkan dia."
Padahal dengan Lwekang Kim Si Ih sekarang boleh dikata tergolong kelas yang tiada taranya tapi untuk menolong penyakit Thian Mo Kauwcu itu toh sedemikian banyak memakan tenaganya, maka betapa bahayanya penderitaan itu dapatlah dibayangkan.
Diam-Diam Tiong Lian terkesiap mendengar keterangan itu Dan sesudah mengaso sebentar, kemudian Kim Si Ih menggunakan pula tenaga murninya untuk memunahkan racun "So-kut-san,"
Yang bekerja didalam badan Le Hok Sing untuk ini boleh dikata terlalu mudah bagi Kim Si Ih dan tidak sepayah dia menolong Thian Mo Kauwcu tadi.
Begitulah maka pelahan-lahan tenaga Thian Mo Kauwcu telah pulih lagi dan secara kebetulan telah siuman kembali bersama Le Hok Sing.
Ketika mendadak mereka melihat Kim Si Ih berdiri dihadapaa mereka, seketika mereka melonjak, bangun dengan kaget, Tapi segera Le Hok Sing merasa girang pula disamping kagetnya tadi, tanpa menghiraukan Kim Si Ih lagi lantas tanya Thian Mo Kauwcu.
"He, cici, mengapa kau dapat melompat?"
Untuk sejenak Thian Mo Kauwcu tertegun tapi segera ia paham apa yang terjadi, dengan air mata berlinang-linang ia lantas memberi hormat kepada Si Ih katanya dengan suara tergugu-gugu.
"Kim....Kim tayhiap, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Aku...aku adalah sampah masyarakat persilatan yang dianggap golongan Sia Pay, tapi kau telah sudi menolong aku dengan pengorbanan tenagamu yang berharga!""
Kim Si Ih menjadi masgul terkenang pada kisahnya sendiri dimasa dahulu, katanya dengan gegetun.
"Duapuluh tahun yang lalu aku pun hampir-hampir mengalami penyakit "Cau Hwe Jip Mo"
Syukur aku telah ditolong oleh Teng Locianpwe dari Thian San.
Tatkala itupun Aku dianggap seorang sampah masyarakat per kilatan oleh orang-orang dari CingPay.
Sekarang berterima kasin padaku, asalkan kelak kau suka mencontoh perbuatan luhur kaum Locianpwe berbuatlah sekuat tenagamu untuk kepentingan orang banyak, dengan demikian berarti kau telah membalas budiku dan telah berbuat baik bagi sesamanya "
Le Hok Sing sangat terharu, iapun berkata.
"Kim tayhiap, baru sekarang aku mengetahui bahwa engkau adalah orang yang baik, bahkan jauh lebih bak daripada apa yang dapat kuduga, Beberapa kali aku teiah berlaku kasar padamu, sungguh aku sangat malu dan menyesal, aku tidak tahu cara.. cara bagaimana harus berkata padamu......""
"Kau tak perlu bicara lagi"
Tentang perasaaamu aku sudah tahu sekarang."
Sahut Si Ih dengan tertawa.
"Apa yang kau bicarakan dengan Kaucu didalam penjara tadi sudah kudengar semua. Apakah kau mengetahui lantaran dirimu maka aku telah menyusul kalian kesini sejak dari Kunbran."
"O, engkau terlalu baik bagiku, Kim tayhiap,"
Kata Le Hok Sing dengan mencucurkan air mata terharu.
"Dan apakah sudah lama engkau mengetahui asal usulku?"
Kiranya Le Hok Sing ini adalah satu-satunya keturunan keluarga Le yang masih ada didunia ini.
dia adalah putera tunggal Le Pek Cu yang dahulu hidup terasing dipulau terpencil dilautan timur yang pernah diketemukan Kim Si Ih itu.
Tanpa merasa air mata Kim Si Ih berlinang-linang juga, katanya.
"Sejak bibimu wafat, selama dua puluh tahun ini aku senantiasa ber duka. Aku malu terhadap bibimu dan berduka pula atas nasib keluarga Le Kalian yang malang itu karena di Tionggoan keluarga kalian telah putus turunan. Sukur alhamdullilah, akhirnya keluarga Le ternyata masih mempunyai bibit satu-satunya yaitu kau, Hok Sing, kau tidak pernah bertemu dengan bibimu, tetapi walau agak mirip dengan bibimu sendiri. Ketika untuk pertama kali aku melihat kau, sesaat itu aku merasa bibimu seperti hidup kembali didepanku. Ya, selama ini yang tidak bisa kulupakan, ialah aku ingin mencari tahu asal-usulmu untuk menyelesaikan suatu angan-anganku."
Sampai disini, tiba-tiba Kim Si Ih mengeluar kan sebuah Kotak kecil, lalu katanya.
"Kau adalah keturunan lurus keluarga Le, tentang sejarah leluhurmu, kau cukup tahu. Leluhurmu Le Gong Thian adalah murid Kiau Pak Beng seorang tokoh paling terkemuka pada masa akhir dinasti Bing. Dahulu Kiau Pak Beng telah dikalahkan Thio Tan Hong dan mengasingkan diri kesuatu pulau terpencil dengan tekad akan membalas sakit hati itu kelak. Tapi sesudah dia berhasil meyakinkan ilmu saktinya tetap ia tidak sempat pulang kembali ke Tionggoan. Rahasia ini hanya diketahui oleh keluarga Le kalian, maka selama duaratus tahun ini keluarga kalian terus menerus mengirim anak cucu keturunannya berlayar keluar lautan untuk mencari pulau yang pernah ditinggali Kiau Pak Beng dengan maksud tujuan mencari kitab pusaka ilmu silat ciptaannya itu. Akhirnya kitab pusaka itu diketemukan oleh bibimu, dan paling akhir jatuh pula ditangan-ku."
"Tatkala itu bibimu sudah meninggal karena aku mengira keluarga kalian sudah tiada keturunan lagi, pula ilmu silat yang tertera didalam kitab pusaka itu adalah ilmu silat yang jarang terdapat didunia ini, namun tergolong Sia Pay dan tidak pantas diajarkan kepada umum, maka kitab pusaka itu telah kubakar habis didepan makam bibimu. Cuma saja aku pun telah menggunakan ilmu silat yang terdapat didalam kitab pusaka itu sebagai fondasi dan kutambah dengan Lwekang dari golongan Cing Pay sebagai tulang punggung nya sehingga dapat kuciptakan suatu aliran persilatan tersendiri yang tergabung dari Sia Pay dan Cing Pay, aku yakin hasil karyaku ini pasti tidak dibawah ilmu silat ciptaan Kiau Pak-beng itu. Sekarang aku telah menulis semua ilmu silat ciptaanku itu didalam suatu kitab dan kitab ini harus kuserahkan sebagai milikmu! Nah, harap kau menerimanya!"
Le Hok Sing menjadi gugup, cepat ia men jawab.
"Kim tayhiap kitab ini merupakan darah keringatmu selama hidupmu ini, maka mana aku berani menerimanya?"
Tapi Si Ih berkata.
"Sebabnya aku dapat menanjak sampai tingkatan seperti sekarang ini boleh dikata juga berkat ajaran keluarga Le kalian. Sekarang kitab pusaka Kiau Pak Beng itu sudah kubakar dan tak dapat kuserahkan kembali padamu, terpaksa aku memberi ganti kitab yang kutulis sendiri ini. Sebelum wafat bibimu menyerahkan kitab pusaka Kiau Pak Beng kepadaku dengan pesan agar aku mengembangkannya secara luas, syukur aku tidak mengecewakan harapannya dan sekarang aku menyerahkan kitabku ini padamu, dengari demikian dapatlah mengakhiri cita-citaku yang belum terkabul selama ini."
"Ya, Le sioksiok harap kau menerimanya saja, kalau tidak, tentu Kim tayhiap akan tetap merasa tidak enak,"
Kata Tiong Lian.
Sampai disini Le Hok Sing tidak dapat menolak lagi.
dengan air mata bercucuran ia menerima kotak kelama itu dengan rasa terima kasih yang susah dilukiskan.
Baca Juga: Rahasia Iblis Cantik 4
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 10