Eps 13 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
Setelah terlaksana cita-cita yang dikandung nya selama ini, rasa Kim Si Ih juga susah dikatakan ia termangu-mangu mengenangkan kejadian-kejadian dimasa dahulu, teringat olehnya pengalamannya ketika belayar keluar lautan untuk mencari kitab pusaka bersama Le Seng Lam teringat juga pesan terakhir Le Seng Lam sebelum meuinggal dunia, terkenang perasaan sendiri ketika membakar kitab pusaka itu dide-pan makamnya Le Seng Lam....
Ya, setelah mengalami suka duka selama dua puluh tahun "ini, sekarang dapat melihat ahli waris satu-satunya dari keluarga Le, maka entenglah tekanan batin yang dirasakannya selama ini, baru sekarang ia benar-benar dapat menikmatkan rasa gembira yang sesungguhnya.
Tiba-Tiba Le Hok Sing berkata pula.
"Kim tayhiap, citacitamu sudah terkabul tapi akupun mempunyai suatu anganangan, aku ingin mohon sesuatu padamu, entah engkau sudi menerima atau tidak?"
"Silahkan bicara saja, betapapun, sukarnya tentu akan kulakukan bagimu!"
Sahut Kim Si Ih.
"Angan-Anganku ini pun merupakan angan-angan bibi ku,"
Kata Le Hok Sing.
"Dari itu, Kim tayhiap, aku memohon agar engkau jangan mengecewakan harapan bibiku yang ditinggalkan sebelum wafatnya!"
Untuk sejenak Kim Si Ih tertegun, tanya nya kemudian dengan tercengang.
"Darimana kau tahu.......!"
"Meski aku tidak pernah bertemu dengan bibiku, tapi dayangnya dimasa dahulu sekarang masih banyak berada didalam Thian Mo Kau, dari pembicaraan mereka sedikit banyak akupun mengetahui kejadian-kejadian masa dahulu!"
Demikian sahut Hok Sing.
"Sedangkan mengenai cinta kasih murni antara kau dan Kok lihiap selama dua puluh tahun ini telah kudengar pula, dari penuturan nona Kok tadi!"
Selama dua puluh tahun ini belum pernah ada orang bicara seperti Le Hok Sing sekarang kepada Kim Si Ih.
Meski banyak sobat-sobat baiknya seperti Kang Lam.
Ki Hiau Hong dan lainlain juga pernah menganjurkan agar Si Ih kembali kepada cinta murni Kok Ci Hoa, tapi yang mereka bicarakan tidak timbul dan pihaknya Le Seng Lam, yang mereka katakan juga tidak .epat mengenai isi hati Kim Si Ih, tapi sekarang Le Hok Sing bicara sebagai keturunan keluarga Le satu-satunya, maka .setiap ucapannya boleh dikatakan meresap betul didalam hati sanubari Kim Si Ih.
Ya, memang cinta murni selama dua puiuh tahun yang menyiksa diri itu, benar-benar sudah cukup dirasakan oleh Kim Si lh.
Seketika pandangan Si Ih serasa kabur, bayangannya Le Seng Lam seperti muncul di-depan matanya.
Lapat-Lapat Kim Si Ih merasa seperti.berada di malam pengantin baru pada dua puluh tabun yang lalu......
Le Seng Lam baru mendapatkan cinta kasih Kim Si Ih pada detik penghabisan dia meninggal dengan mengulum senyum, Kim Si Ih juga percaya penuh pesan Le Seng Lam yang terakhir itu adalah timbul dari lubuk hatinya yang murni tapi karena merasa menyesal, maka selama ini Si Ih tidak melaksanakan pesan Le Seng Lam itu.
"Begitulah semua kejadian-kejadian dimasa dahulu seakanakan terbayang semua olehnya, kata Seng lam juga seperti berbunyi ditepi telinganya pula. Pesan Le Seng Lam yang terakhir itu ada tiga hal. Pertama minta Kim Si Ih menerima kitab pusaka Kiau Pak Beng yang diserahkan itu dan supaya mempelajari dengan baik sehingga menjadi seorang sarjana besar ilmu silat. Ketiga ialah minta Si Ih menikah dengan Kok Ci Hoa supaya dia dapat merasa tenang dialam baka. Didalam air matanya yang berkaca itu Si Ih seakan-akan melihat bayangan Le Seng Lam sedang mendekatinya dan berkata padanya.
"Si lh, sekarang kau sudah menjadi seorang sarjana persilatan yang tiada taranya, tapi kedua hal lain yang kuharapkan itu belum kau laksanakan semua. Kau telah mengecewakan harapanku dan mengecewakan Kok cici "
"O, Seng Lam, deng.. dengarkanlah ucapanku"
Si Ih menggumam sendiri, tapi bayangan Le Seng Lam mendadak lenyap, yang ada didepannya adalah Le Hok Sing. Dengan pelan-pelan Hok Sing telah berkata.
"Kim tayhiap, hendaklah kau jangan menyiksa diri lagi sehingga membikin susah diri sendiri dan membikin susah orang lain. Apa yang hendak kau katakan, aku siap mendengarkan."
Sesudah tenangkan diri, dengan tersenyum berkata Si Ih.
"Sebenarnya aku hendak menjadi comblang bagimu, tapi kau malah sudah menjadi comblang bagiku."
Segera Hok Sing menarik Thian Mo Kaucu dan berdiri sejajar depan Kim Si Ih, katanya dengan tertawa.
"Banyak terima kasih atas kebaikan Kim tayhiap, kau telah menyembuhkan penyakitnya Cau Hwe Jip Mo yang menyiksanya, maka urusan kami berdua boleh tak usah Kim tayhiap pikirkan lagi." ---ooo0dw0ooo---
Jilid 21
"Kami percaya urusanmu dengan Kok lihiap juga tidak perlu comblang pihak lain. Nah, Kim tayhiap, sudah waktunya kita harus segera berangkat ke Bin San."
Saat itu subuh sudah tiba, sang surya sudah mengintip diufuk timur, kabut yang memenuhi lereng pegunungan itu telah buyar Perasaan Kim Si Ih, Le Hok Sing dan lain lainnya yang tertekan selama ini telah hilang seketika ibarat habis hujan terbitlah terang.
Sebaliknya kedua pihak yang bersangkutan di-dalam pertemuan di Bin San pada hari Jing Beng samasama merasa kuatir seakan-akan terselubung dibalik kabut yang tebal.
Karena belum nampak pulangnya Kok Liong Lian, dengan sendirinya Kok Ci Hoa sangat kuatir.
Sebaliknya Bok Lolo, Bun Ting Bik dan lain-lain juga sangat terperanjat ketika mengetahui tawanan mereka telah menghilang tanpa bekas, mereka menyangka telah kena ditipu oleh Thian Mo Kaucu.
sama sekali mereka tidak menyangka bahwa yang datang menyelamatkan Thian Mo Kaucu bertiga itu adalah Kim Si Ih.
Namun demikian karena mendapat dukungan dari kerajaan Jing, ditambah pula Bok Lolo, maka mereka tetap yakin pasti akan di-pihak yang menang dan tetap meneruskan rencana mereka semula"
Dalam sekejap saja dua hari sudah lalu, Hari pertemuan di Bin San menurut perjanjian itu tepat jatuh hari Jing Beng.
Biasanya musim Jing Beng, musim orang membikin bersih makam leluhur memang musim yaug banyak hujan.
Tapi tahun ini ternyata luar biasa, langit tampak terang benderang, udara cerah tanpa awan segumpalpun.
Tapi perasaan Kok Ci Hoa justeru berlawanan dengan cuaca yang baik pada hari itu.
hatinya seperti berkabut, perasaannya tertekan, pikirnya.
"Mengapa Lian ji masih belum tampak pulang ? Apa barangkali dia telah tertawan musuh ? Pabila meraka menggunakan Lian ji sebagai sandera untuk mengancam aku lantas bagaimana aku harus menghadapi mereka ?"
Selagi mereka bimbang dan tidak tenang, tiba-tiba Pek Eng Kiat sudah masuk melapor.
""Menurut penjaga, katanya rombongan Thian Mo Kaucu sudah datang dan minta Ciangbun menemuinya."
Seketika semangat Ci Hoa terbangkit.
"Jadi Thian Mo Kaucu betul-betul telah datang sendiri ? Baiklah, aku justeru hendak menemui dia."
Pertemuan diadakan dilapangan rumput disampicg pemakaman.
Memangnya sebagian besar anak murid Bin San Pay sudah menjaga disitu, maka Ci Hoa banya tinggalkan beberapa muridnya yang belum dewasa untuk menjaga kuil.
yang lain-lain dibawanya semua untuk menghadap!
musuh.
Sampai dilapangan rumput itu, disana sudah penuh dengan orang.
Kiranya meski Bin San Pay tidak minta bantuan orang lain tapi menurut kebiasaan, setiap tahun dikala Jin Beng tentu tidak sedikit kawan-kawan persilatan yang datang menyambangi makam Tok Pi Sin Ni dan Lu Si Nio.
Tahun ini karena mendengar kabar tentang Thian Mo Kau akan menyatroni Bin San, maka yang berkunjung bertambah banyak dari pada biasanya.
Diantaranya banyak pula anggotaanggota Kay Pang yang terkemuka.
Tapi orang-orang pihak Thian Mo Kau juga tidak sedikit, bahkan jauh lebih banyak dari pada pihak Bin San Pay ditambah tetamunya tadi.
Kedua pihak berdiri sebelah menyebelah, karena lapangan rumput itu sudah penuh, banyak yang terpaksa berdiri diatas batu-batu karang yang tinggi.
Sesudah Kok Ci Hoa masuk kalangan ia melihat di pihak Thian Mo Kau ada sebuah kereta kebesaran dengan tertutup kerai dan terdapat panji pekan Thian Mo Kau.
Ci Hoa menjadi sangsi, segera ia berseru.
"Saya ucapkan selamat datang kepada Kaucu, Ciangbun dari Bin San Pay Kok Ci Hoa bersama anak muridnya menghormat disini. Adalah suatu petunjuk Kaucu yang berharga, silaukan maju untuk bertemu !"
Waktu kerai kereta pelahan-lahan disingkap, dipandang dari jauh memang benar Thian Mo Kaucu tertampak duduk didalam kereta.
Tertampak Kaucu itu memberi tanda dan Bun Ting Bik lantas mendekatinya dan entah apa yang dikatakan karena bicaranya sangat pelahan, orang lain hanya melibat sikapnya yang angkuh dan congkak itu.
"Kaucu"
Itu dengan sendirinya adalah samaran Mo hujin.
Sebagai saudara sekandung Thian Mo Kaucu, muka mereka memang sangat mirip, ditambah dia sengaja menyamar, dengan sendirinya orang lain susah membeda kannya.
Meski Kok Ci Hoa sudah curiga, tapi ia pun tidak berani memastikan dia adalah Kaucu palsu.
Sebaliknya ia membathin.
"Jangan-Jangan dia telah lumpuh akibat Cau Hwe Jip Mo, maka tidak dapat turun dari keretanya? Tapi kalau dilihat dari gerak-geriknya. tampaknya dia toh sehat-sehat saja, kenapa mesti suruh keparat Bun Ting Bik itu menjadi juru bicaranya?"
Begitulah, sesudah menerima pesan Thian Mo Kauwcu, lalu Bin Ting Bik maju ketengah dengan menengadah iu berkata dengan angkuh.
"Pertemuan kita hari ini akan ditentukan dengan segera, yang lebih kuat adalah pihak yang menang. Maka Kaucu ingin bertanya kepadamu, apa kau ingin menyelesaikan urusan ini secara damai atau terpaksa bicara dengan senjata?!"
"Kalau damai bagaimana dan kalau pakai senjata bagaimana pula? Coba katakan!"
Sahut Ci Hoa.
"Jika ingin berdamai, maka pihakmu harus tunduk kepada dua syarat kami,"
Kata Bun Ting Bik.
"Dua syarat apa?"
Tanya Ci Hoa dengan sikap dingin.
"Pertama, kau harus minta maaf secara terbuka dan menjura kepada Thian Mo Kau-cu kami,"
Kata Ting Bik.
"Dan kedua, dahulu kau pernah mengusir Kaucu kami dari sini, maka untuk sekarang kau harus menimbang terimakan Bin San untuk menjadi cabang Thian Mo Kau kami. Namun begitu, kuburan guru. dan kakek gurumu juga dilarang ditanam di sini, tapi harus dibabat sehingga rata"
Padahal Tok Pi Sin Ni dan Lu Si Nio adalah tokoh-tokoh persilatan yang paling dipuji dan dihormati, sebab itulah walaupun sudah meninggal, namun setiap tahun masih banyak orang-orang Kangouw yang datang menyambangi makamnya.
Sekarang Bun Ting Bik secara kasar berani bicara seenaknya, belum lagi Kok Ci Hoa menjawab atau para tamu yang hadir itu sudah geger dan beramai-ramai memaki Bun Ting Bik.
Sebaliknya dengan tertawa dingin Bun Ting Bik berkata pula.
"Kalian tidak perlu bersilat mulut, jika perlu sebentar kalian boleh membantu pihak Bin San Pay. Tapi harus meminta ketegasan Kok Ciangbun dulu, apakah ingin memilih jalan kekerasan saja dari kedua-syarat yang kami ajukan tadi?"
"Pendek kata urusan hari ini adalah berpangkal pada diriku yang diangbap berdalih kepada Kauwcu kalian, untuk mana bila Kauw cu toh tidak sudi memaafkan, maka baiklah, biar aku orang she Kok sendiri yang bertanggung jawab segala akibatnya, demikian sahut Ci Hoa dengan tegas. Dengan ucapan Kok Ci Hoa ini, dia maksudkan siap untuk bertempur dergan Thian Mo Kauwcu, satu lawan satu dan kalah atau menang takkan menyangkut orang lain. Tak terduga baru selesai ia bicara, disebelah sana Bok Lolo sudah iantas menubruk maju sambil berteriak murka.
"Kan ingin bertanggung jawab, maka biar kutangkap kau lebih dulu! Tempo hari kebetulan dapat kau meloloskan diri, sekarang ingin kulihat kau memiliki kemampuan apa untuk lolos pula dari cengkeramanku !"
Dikanan kiri Kok Ci Hoa berdiri Cia In Cin dan Loh To lin. Cia In Cin berjuluk "San Jiu Sicn Nio"
Sidewi bertangan gapali.
Asalnya dia adalah anak murid Go Bi Pay, tari karena mendiang suaminya, yaitu "Thi Koay Siao adalah pangcu angkatan tua dari Kaypang, terhitung suhengnya Ek Tiong Bo.
maka dia dapat dianggap juga sebagai orang Bin San Pay.
Perangai Cia In Cin memang berangasan, maka dia menjadi gusar mendengar ucapan Bok Lolo yang tekabur itu, segera ia memapak maju dan kontan menusuk dengan pedangnya sambil memaki.
"Kurang ajar, pengemis tua bangka dari manakah, berani main gila disini."
Tapi Bok Lolo telah menyambutnya dengan mengejek.
"Kau memiliki kepandaian apa dan berani mencari mampus ?!"
Kepandaian Cia In Cin yang utama adalah ilmu pedangnya yang terkenal cepat dan ganas, dalam sekejap saja ia sudah menusuk tujuh kali kearah hiat-to mematikan ditubuh Bok Loio, tak terduga tiap-tiap kali tusukannya ternyata mengenai tempat kosong, ketika sampai serangan ketujuh, mendadak lengan baju Bok Lolo, ketika sinenek mengelak lagi dan memutar, seketika Cia In Cin terbanting terjungkel.
Sudah tentu Loh To Lin tidak tinggal diam.
dia adalah muridnya Co Jin Hu.
itu tokoh utama dari Kang Lam Cithiap yang tersohor dimana tigapuluh tahun yang lalu, Ia memakai senjata Thi Pi Pe semacam rebab besi berbentuk gitar, ditengah alat itu ada bumbung kosong dan didalamnya tersembunyi tiga puluh enam batang Tau-kut-ting paku penembus tulang.
Ketika melihat Cia ln Cin terancam bahaya, tanpa ayal lagi Loh To Lin lantas tekan senjata rahasianya dan sekaligus tigapuluhenam batang paku lantas menyambar kedepan.
"Huh, hanya begini saja berani main-main dengan aku?"
Jenguk Bok lolo.
Dan tampaklah ketigapuluh enam buah paku itu sudah menghujani nenek dari berbagai penjuru, tapi aneh juga, walaupun kelihatan sudah mengenai badannya, tapi pakupaku itu seperti kecemplung kelaut saja tanpa bekas lagi, kiranya semua paku itu telah kena digulung oleh kedua lengan bajunya.
Cuma saking cepat gerakannya sehingga penonton tidak dapat mengikuti dengan jelas.
"Loh juheng silahkan mundur saja!""seru Ci Hoa kuatir. Dia dengan cepat luar biasa ia sudah lolos Siang Moa Pokiam dan tahu-tahu sudah menyerobot kedepan Loh To Lin uutuk memapak Bok Lolo. Muka terdengarlah suara "trang tring"
Yang ramai tak berhenti-henti diudara lantas terjadi hujan paku pula.
Kiranya Bok Lolc telah menggunakan ke tigapuluh batang paku yang dirampasnya tadi untuk menyerang Kok Ci Hoa.
tapi pakupaku itu kena dirampok hancur oleh pedang yang diputar Kok Ci Hoa secepat kitiran itu.
"Rupanya Bin San Pay ingin main senjata hayolah tidak perlu sungkan? lagi, maju semua!"
Demikian Bun Ting Bik lartas memberi aba-aba.
Sebelumnya pihak Thian Mo Kauwcu sudah mengatur siasat pertempuran, maka begiiu mendapat perintah, serentak anggota-anggota Thian Mo Kau dan jago-jago kerajaan yang menyaru sebagai orang Thian Mo Kau juga ikut mengerubuti maju dan melakukan pengepungan terhadap pihak Bin San Pay yang jumlahnya lebih sedikit, Bun Ting Bik sudah berada ditengah kalangan lebih dulu, maka begitu gebrak ia sudah merobohkan beberapa murid Bin San Pay Ek Tiong Bo menjadi gusar bentaknya.
"Keparat dari mana kau? Rasakan tongkatku ini!"
Dan berbareng tongkatnya terus menyerampang kaki Bun Ting Bik, Hok Mo Teng Hoat atau tongkat penakluk iblis yang terkenal dari Tiong Bo itupun sangat hebat, kalau kena dihantam, mustahil kaki Bun Ting Bik tidak patah.
Namun sedikitpun Ting Bik tidak gentar, bahkan ia sedikit mendak dan menangkis dengan sebelah tangannya.
"Blang"
"blang"
Tahu-tahu tongkat Ek Tiong Bo hampir-hampir terlepas dari cekalannya, tangannya sampai lecet kena getaran tangkisan itu.
Sebaliknya Bun Ting Bik juga merasa lengannya Sakit pegal, diam-diam ia harus mengakui kepandaian pengemis tua itu tidaklah rendah dan sanggup menahan Sam siang sin kangnya yang liehay itu, tanpa ayal segera Ting Bik menggeser kesamping, menyusul ia melancarkan pukulan lagi.
Saat itu Ek Tiong Bo belum sempat berdiri dengan baik, tampaknya pukulan susulan Bun Tii-g Bik itu pasti akan mengenai dadanya untunglah mendadak dari samping menyambar tiba semacam senjata rahasia.
Bun Ting Bik sudah berhasil menyempurnakan Sam Sin Sin kang dan tidak gentar kepada senjata rahasia yang tak berarti itu, maka sama sekali ia tidak menghiraukan dan pukulannya masih tetap diteruskan, segera terdengar lah suara "Buk"
Sekali, senjata rahasia iiu kena dihantam hancur, tapi kekuatan timpukannya senjata rahasia itupun sangat keras sehingga pukulan Bun Ting Bik itu terbentur mencong kepinggir, segera ia merasa tangannya basah-basah dingin, berbareng terendus bau busuk.
Kiranya senjata rahasia itu adalah sebuah sepatu rumput yang sudah butut lagi kotor penuh lumpur.
Pemilik sepatu rumput itu tak lain tak bukan adalah Thiang Thong itu pangcu Kaypang sekte utara.
Sesudah menyambitkan sepatunya untuk menangkiskan serangau terhadap Ek Tiong Bo, segera Tiang Thong melompat maju sambil ter bahak-bahak, menyusul ia sambut pula sekali pukulannya Bun Ting Bik.
Ilmu yang dilatih Tiong Tiang Thong adalah Kun goan kang, daya serangan tak dibawah sam sian sin kangnya Bun Ting Bik sedangkan kepandaian Ek Tioig Bo juga selisih tidak terlalu jauh dari Bun Ting Bik, maka dengan gabungan kedua pangcu dari Kaypang utara dan selatan, seketika dari terdesak berubah menjadi pihak penyerang.
Segera dari pihak Thian Mo Kau berdiri keluar seorang lakilaki berbaju hitam, senjata yang dipakai berbentuk sangat aneh, yaitu sepasang roda emas yang bersinar mengkilap, waktu Ek Tiong Bo menghantam dengan tongkatnya, tiba-tiba kena digigit oleh kedua roda itu sehingga mengeluarkan suara nyaring dan di atas tongkat kelihatan bekas-bekas gigitan gigi roda itu.
Cepat Tiang Thong menghantam dan samping sehingga kedua roda musuh didesak pergi, berbareng dia membentak.
"Siapakah kau Tampaknya kau juga berasal dari golongan baik-baik, mengapa sudi membantu agama jahat mereka?"
Tapi orang itu balas membentak "Bin San Pay tergolong penjahat-penjahat yang tak dapat diampuni dan setiap orang wajib membasminya, kenapa kau pengemis busuk ini tidak kenal gelagat dan berani ikut ikut campur.
Tiang thong menjadi murka, selagi dia hendak menghantam pula, tiba-tiba dari samping menyambar tiba dua larik pedang sehingga se pasang roda laki-laki berbaju hitam kena ditangkis.
Kiranya kedua pedang yang menyambar tiba ini berasal dari dua tamu Bin San Pay yang sengaja datang berjiarah kemakamnya Tok Pit Sin Ni, Orang pertama adalah tokoh angkatan tua Jing Sia Pay, yaitu Sau Jing Hong namanya.
Seorang lagi adalah Bo Cut Tojin dari Bu Tong Pay.
Kedua orang ini mempunyai hubungan sangat rapat dan baik dengan Bin San Pay.
Maka terdengar Sian Jing Hoag telah membentak.
"Anjing bangsa Boan yang tiddk kenal malu juga berani gerayangan tak keruan? Ini lihat pedangku!"
Kiranya laki-laki berbaju hitam ini bernama Tong Goan Ki, murid Ce Thian Lok, tokoh utama dari Khong Tong Pay Karena kemaruk kepada kemewahan dan kedudukan, paling akhir ini telah menyerah kepada kerajaan Boan dan menduduki jabatan wakil komandan pasukan pengawal keraton.
Tapi ilmu silatnya sebenarnya lebih tinggi daripada komandannya yang berbangsa Boan dan bernama Orkin.
jadi sebenarnya dia adalah jago nomor satu bagi kerajaan Boan sekarang.
Dengan gabungan kekuatan Siau Jing Hong dan Bo Cut Tojin sekarang baru tiba cukup untuk menandingi Tong Goan Ki.
Sementara itu pertarungan Bun Ting Bik melawan Tiang Thong sudah memuncak masing-masing mengeluarkan ilmu sakti yang paling diandalkan.
Sedangkan ilmu permainan tongkat Tiong Bo juga sudah diulangi lagi untuk kedua kalinya, begitu kencang ia putar tongkat nya sehingga tak tertembus air dari jarak beberapa meter disekelilinya.
Karena Tong Goan Ki tidak sempat membantu Bun Ting bik begitu pula sebaliknya maka dalam kalangan itu sekarang menjadi terbagi dua partai dengan pertarungan yang sengit Sebenarnya gabungan tenaga Tiong Tiang Thong dan Ek Tiong Bo berdua agak lebih unggul daripada Bun Ting Bik, tapi diantara angin pukulan Bun Ting Bik itu terendus membawa bau amis busuk.
Kiranya Sam-siang-sin-kangnya telah terbaur dengan cara mengguna kan racun yang diperolehnya dari kitab Pek Tok Cin Keng yang dirampasnya dari Thian Mo Kauwcu itu, sekarang bukan saja tenaga pukulannya bertambah dahsyat, bahkan pukulannya yang mengandung racun itupun cukup membuat musuhnya roboh.
Mesti Lwekang Tiong Tiang Thong dan Ek Tiong Bo sangat tinggi, seketika mereka tidak gentar menghadapi pukulan berbisa lawan, tapi mau tak mau mereka harus menahan napas untuk menghindari keracunan.
Dalam waktu singkat saja Bin San Pay sudah merasakan tekanan musuh yang jauh lebih kuat.
Tapi orang yang paling genting menghadapi bahaya adalah Ciangbunjin mereka Kok Ci Hoa.
Beberapa Suhengnya Ci Hoa seperti Lim Seng, Thia Keng dan para tamu yang membantu seperti Sin Un Long dan lainlain segera turut memgerubut maju ketika melibat Bok Lolo sangat lihay.
Tapi nenek ilu telah mendengus sekali, sekali mengebas, mendadak dari dalam lengan bajunya menyambar keluar segulung api dingin sketika api itu menjalar dan menjadi sebuah lingkaran seluas lima enam meter.
Karena kurang hatihati.
baru saja sebelah kaki Lim Seng menginjakan lingkaran kalangan itu, seketika ia menjerit ngeri dan terhuyung-huyung akan roboh Keruan Sin Un Liong terkejut, cepat ia tarik punggung Lim Seng dan seret mundur, maka tertampaklah sebelah kaki Lim Seng itu sudah terbakar, kulit dagingnya meluluh hancur sehingga tinggal tulang kaki saja.
Terpaksa Thia Keng ayun goloknya menabas kaki kawannya itu sebatas dengkul dengan demikian racun dari pospor itu tidak sampai menjalar ke atas tubuh dan jiwa Lim Seng dapatlah diselamatkan.
Sesudah memisahkan pihak musuh dengan api berbisa sehingga di tengah kalangan hanya tinggal Bok Lolo menghadapi Kok Ci Hoa Kiranya api berbisa sinenek itu hanya bagus untuk menyerang musuh dari jarak jauh.
Sebab kalau dekat, bukan mustahil dia sendiri akan termakan, la yakin kepandaiannya masih diatasnya Kok Ci lio jika bala bantuannya dihalangi sehingga tak dapat maju maka dia akan berusaha menangkap Kok Ci Hoa untuk mematahkan semangat perlawanan Bin San Pay.
Sebaliknya Kok Ci Hoa juga sudah memperoleh seluruh ajaran Lu Sin Nio, dalam hal lwekang iapun pernah mendapat petunjuk-petunjuk yang berharga dari Kim Si Ih, dengan Tian li kiam hoat yang hebat itu, seketika Bok Lo lo juga tak dapat mendekati, jangankan hendak menawannya.
Sesudah beberapa jurus pula.
berulang-ulang Bok Lolo telah menggunakan ilmu sakti menyalurkan tenaga melalui benda.
Berulang-ulang ia menyelentik pedangnya Kok Ci Hoa hingga Ci Hoa tergetar oleh tenaga berbisa yang hebat itu, badannya panas sebagai dibakar dan dadapun terasa sesak, maka permainan pedangnya menjadi agak kacau, untung dia masih bertahan dengan sekuat tenaga, namun sudah tidak kuat menyerang lagi.
Kuatir sekali anak murid Bin San Pay menyaksikan keadaan Ciangbunjin mereka yang terdesak itu, tapi mereka sendiri berada di tengah kepungan musuh pula api pospor yang disebarkan Bok Lolo itu terlalu liehay, tiada seorang pun yang berani menerjang maju untuk mencari kematian.
Pada saat yang gawat dan tampaknya Bin San Pay akan kalah habiskan itulah, sekonyong konyong terdengar teriakan orang yans sangat panjang, barisan orang-orang Thian Mo Kauwcu seketika terpencar seperti gelombang ombak yang terbelah kesamping, ditengah suara suitan, tadi tahu-tahu muncul seorang pemuda dengan pedang menabas dengan tangan memukul, dengan targkas sekali pemuda itu telah menerjang ke-tengah kalangan di lapangan rumput.
Pemuda itu bukan lain adalah Kang Hay Thian yang baru saja menyusul tiba dari negri Kunbran yang jaub itu.
"Kau perempuan siluman ini berani membikin celaka orang lagi disini"
Damprat Kang Hay Thian dengan gusar demi melibat Bok Lo lo juga berada disitu.
Ketika kedua tangan Kang Hay Thian dipukulkan kedepan dan diraih kedua sisi, seketika api pospor berbisa yang berkobar-kobar itu ikut tersiak kekanan kiri hingga terlubang satu jalan.
Cepat Hay Thian melompat masuk kedalam kalangan, kontan ia mendahului menghantam si nenek.
Segera Bok Lolo memainkan Hoa biat sin kang untuk menyambut pukulan Kang Hay Thian itu, si nenek lebih liehay dalam hal menggunakan pukulan berbisa, sebaliknya Hay Thian lebih kuat lwekangnya sehingga racun sinenek sama sekali tak mempan atas diri Hay Thian.
Tapi karena Hay Thian harus mengerahkan lwekang untuk melindungi badannya agar tidak terserang racun, maka kekuatannya kedua pihak menjadi cuma seimbang saja.
Dengan demikian Kok Ci Hoa lantas sempat bernapas lega, sesudah ia mengerahkan tenaga dalam untuk menghapus hawa berbisa lawan tadi, segera ia putar pedangnya pula, daya tempurnya telah pulih kembali dan ikut maju menyerang.
Seketika keadaan menjadi berubah, sekarang Bok Lolo hanya sanggup menangkis saja dan tak mampu menyerang.
Ditengah segala kesibukan dalam pertempuran itu Hay Thian lantas bertanya pada Kok Ci Hoa.
"Dimanakah Lian moay Mengapa tidak kelihatan ?"
Rupanya sesudah bertema dengan Hoa Thian Hong dinegeri Kunbran, maka ia telah diberi tahu tentang tertolongnya.
Kok Tiong Lian.
Namun Ct Hoa menjadi sedih karena menyangka Tiong Lian pasti sudah ditawan pihak-Thian Mo Kau, maka sahutnya.
"Lian-jie sudah jatuh kedalam cengkeraman mereka, terpaksa kita harus tangkap siluman tua bangka untuk menukar tawanan dengan mereka. Walaupun demikian, bicara memang gampang, untuk menangkap Bok Lolo dalam waktu singkat sudah tentu tidak bisa. Waktu itu disebelah sana Tiong Tiang Thong dan Ek Tiong Bo sudah mulai merasa payah menghadapi lawan mereka, pukulan Sam siang sin ciang yang berbisa pula yang dilancarkan Bun Ting Bik itu terlalu liehay, setiap kail pukulan tentu membawa angin pukulan berbisa yang memuakkan sehingga terpaksa Tiang Thong berdua harus menahan napas. Bagi Tiang Thong masih mendingan karena Kun goan kang nya juga sangat hebat, sebaliknya usia Ek Tiong Bo lebih tua, lwekangnya juga kalah setingkat, lama kelamaan ia menjadi tak tahan, kepalanya mulai pusing dan mata berkunangkunang, serangan-serangan juga mulai remas. Rupanya kelemahan pihak lawan itu dapat dilihat dengan baik oleh Ting Bik, mendadak ia menggertak sekali, sepenuh tenaga ia terus menghantam keatas tongkat Ek Tiong Bo, maka terdengarlah "cring"
Yang sangat keras di sertai mencipratkan lelatu api, tahu-tahu tongkat baja Ek Tiong Bo mencelat keudara dalam keadaan bengkok, bahkan darah segera lantas menyembur keluar dari mulut Tiong Bo dan orangnya terus terpental dua tiga meter jauhnya Lekas-Lekas Tiang Thong memburu maju untuk membangunkannya.
Bun Ting Bik juga tidak menguber lawan lawannya itu, tapi dia lantas menerjang kesebelah Bok Lolo sana.
Sementara itu Tong Goan Ki juga sudah memberi tanda kepada tujuh orang berandalnya.
Rupanya ketujuh orang itu adalah jago-jago keraton kelas satu, semuanya mempunyai ilmu silat yang tinggi, dengan tujuh orang mengeroyok Siau Jing Hong dan Bo Cut Tojin berdua, Tong Goan Ki lantas sempat meninggalkan kalangan pertempuran "Menangkap maling harus tangkap benggolannya, asal Kok Ci Hoa dan bocah she Kang.
itu kita tangkap, maka segala urusan tentu akan menjadi beres demikian"
Ajak Bun Ting Bik kepada Tong Goan Ki.
Segera ia pindahkan senjatanya ketangan kiri.
lalu memukul kedepan bersama Bun Ting.
Bik sehingga api pospar tersiak kepinggir, la lu mereka lompat masuk ketengah kalangan.
Begitu maju pukulan Bun Ting Bik lantas ditujukan kepada Kang Hay Thian sedang roda bergigi Tong Goan Ki juga lantas mengepruk kearah Kok Ci Hoa.
Tapi dengan gerak tipu "Wan kiong sia liau", pentang gendewa memanah elang, kedua tangannya naik turun berbareng, tangan kiri dipakai menangkis serangan Bun Ting Bik dan tangan kanan untuk menyambut pukulan Bok Lolo.
Bun Ting Bik tergetar sempoyongan, sebaliknya Bok Lolo sampat mendesak maju sehngga Kang Hay Thian terpaksa melangkah mundur.
Dengan tenaga gabungan mereka berdua, dengan sendirinya lebih kuat sedikit dari pada Kang Hay Thian, maka keadaan segera berubah sangat menguntungkan mereka.
Bun Ting Bik terbahak-bahak dan mengejek.
"Bocah she Kang. coba sekarang kau masih berani berlagak atau tidak ?"
Segera ia per-kencang serangan-serangannya dan mengeroyok Kang Hay Thian dari kanan kiri bersama Bok Lolo Tapi Hay Thian tetap tenang saja menghadapi musuhmusuh terkebur itu, ia keluarkan Tay simi ciang hoat yang hebat, ilmu pukulan yang serba guna untuk menjaga dirinya dengan rapat dan bila mama perlu juga untuk menyerang.
Karena itu meski Bun Ting Hik dan Bok Lolo sudah menyerang sekuat tenaga, tapi mereka seperti kebentur selapis dinding baja yang tak tertembuskan.
Di sebelah lain Kok Ci Hoa dapat melawan Tong Goan Ki dengan sama kuatnya.
Senjata roda bergigi Goan Ki itu khusus digunakan untuk menggigit senjata-senjata lawan sebangsa pedang dan golok, jadi dalam hal senjata sudah lebih menguntungkan Tong Goan Ki.
Untung Ci Hoa memiliki keunggulan Ginkang yang hebat, ilmu pedang Hian li kiam hoat ditambah dengan kegesitannya, ia dapat bergerak dengan cepat dan menyerang setiap ada kesempatan, dengan demikian Tong Goan Ki juga tidak banyak lebih untung.
Cuma Kok Ci hoa telah dipotong oleh pihak musuh sehingga tidak dapat saling, membantu dengan Kang Hay Thian, betapapun hal ini tidak menguntungkan mereka.
Dalam pada itu suasana pertempuran sudah dalam keadaan kacau, karena kalah jumlah orangnya, beberapa orang Bin San Pay sudah roboh terluka, keadaan tambah gawat.
Sudah tentu yang paling gopoh seperti dibakar adalah Kok Ci Hoa.
diam-diam ia menghela napas dan membatin.
"Apakah sejarah Bin San Pay hari ini akan tamat ditanganku?"
Dan baru saja ia hendak memberi perintah supaya para anak muridnya tidak perlu pikirkan dirinya dan lekas melarikan diri saja.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar pihak musuh riuh ramai suara orang berteriak kaget.
Yang paling menyolok adalah teriakan beberapa dayang pribadinya Thian Mo Kaucu yang menjerit kaget.
"He, Kaucu, Kaucu disana!"
Menyusul banyak pula anggota-anggota Thian Mo Kau yang berseru heran.
"Eh, aneh, mengapa Kaucu muncul lagi disana?"
Kiranya mendadak dari atas gunung sana telah muncul empat orang dua orang yang jalan sejajar didepan adalah Thian Mo Kaucu dan Hok Sing dibelakangnya adalah Kim Si lh dan paling akhir adalah Kok Tiong Lian.
Keruan yang paling girang Kok Ci Hoa dan Kang Hay Thian, Semangat mereka tambah berlipat ganda.
Mestinya Kang Hay Thian sudah kewalahan dikeroyok oleh Bun Ting Bik dan Bok Lolo.
Tapi sekarang demi nampak datangnya sang guru, seketika semangatnya berkobar-kobar, walaupun masih kalah kuat, tapi sedikitnya sudah sanggup balas menyerang dengan lebih tangkas.
Dalam pada itu dengan cepat Thian Mo Kaucu sudah msndekati kereta kebesaran Thian Mo Kaucu itu, ia menyingkap kerai kereta dan berkata dengan dingin.
"Cici, kau sendiri adalah nyonya gubernur, apakah kedudukan dan kemewahan hidupmu masih tidak cukup .sehingga mesti memalsukan adikmu sendiri pula untuk mencari perkara kesini? Cici, kuharap lebih baik kau pulang saja dan tetap menjadi nyonya gubernur yang terhormat !"
Sudah tentu malu Mo hujin tak terkatakan, dengan muka merah ia berlari keluar dari keretanya dan tanpa bicara lagi ia berlari kebawah gunung sambil menutupi mukanya.
Segera Thian Mo Kaucu membentak pula.
"Wahai, dengarkanlah anggota-anggota Thian Mo Kau! Kalian tidak boleh bikin gara-gara disini. sekarang juga lekas kalian pulang ke Ci Lay San untuk menunggu perintahku lebih lanjut!"
Sekarang para angota Thian Mo Kau juga sudah tahu ditipu oleh pemerintah Jing, Sudah tentu mereka tunduk kepada perintah sang Kaucu dan beramai-ramai meninggalkan medan pertempuran itu dan pulang ke Ci Lay San.
Lalu Kim Si Ih tampil ketengah lapangan rumput, mendadak ia menggertak keras-keras dengan suara yang menggeledek.
"Disini terdapat makam Tok Pi Sin Ni dan Lu Lihiap. setiap orang yang berani main gila disini berarti dia memusuhi aku Kim Si Ih! Nah kawan an bangsat yang buta, apa kalian tidak lekas enyah dari sini?!"
Dahulu Kini Si Ih dikenal sebagai Tok Jiu Hong Kay, sipengemis gila bertangan keji siapa orang Kangouw yang tidak rontok nyalinya bila mendengar nama itu dimasa dua puluh tahun yang lalu.
Keruan jago-jago silat yang datang untuk membantu pihak Thian Mo Kau itu ketakutan setengah mati dan lari ter birit-birit oleh gertakan Kim Si Ih itu.
Sesudah anggota-anggota Thian Mo Kau dan jago jago Kangouw yang mereka undang itu pergi semua, sekarang tinggal beberapa puluh Jago pengawal kerajaan saja, diantaranya ada yang menjadi jago bayangkari karena pangkat keturunan dan selamanya belum pernah berkelana di Kangouw dengan sendirinya mereka tidak kenal siapakah gerangan tokoh Kim Si Ih itu Adapula sebagian adalah banditbandit dan bajak-bajak yang dibeli oleh pihak kerajaan.
meski merekapun pernah mendengar namanya Kim Si Ih dan merasa jeri juga tapi sekarang mereka adalah anggota bayangkari kerajaan, mereka diupah dengan sendirinya mesti mengeluarkan tenaga, Sebab itulah mereka tidak berani melarikan diri.
Sebaliknya ketujuh jago bayangkari yang mengerubut Siau Jing Hong dan Bo Cut Tojin itu menganggap kepandaian mereka cukup tinggi, mereka menjadi gusar kepada Kim Si Ih segera mereka meninggalkan Siau Jing Hong dan Bo Cut Tojin yang sudah melompat keluar dari kalangan pertempuran lalu mereka berbaris mengelilingi Kim Si lh sambil membentak.
"Kau manusia apa? Berani berlagak disini!"
Namun Si Ih anggap sepi saja kepada ke tujuh jago bayangkari yang tidak kenal gelagat itu, sahutnya dengan tertawa.
"Hahaha! Jadi kalian tidak kenal kepadaku? Ya, jika begitu apa gunanya kalian mempunyai mata?""
Ditengah gelak tertawanya itu, secepat kilat, ia telah melancarkan serangan entah cara apa yang digunakannya baru berhenti suara keta-wanya, tahu-tahu diatas tanah sudah berserakkan empat belas biji mata yang berlumuran darah.
Ternyata dalam sekejap saja sekaligus Si Ih telah mengorek keluar tujuh pasang mata jagojago bayangkari kerajaan Boan itu.
Keruan kejadian ini membuat bayangkari-bayangkari yang lain menjadi pecah nyalinya, dengan tersipu-sipu mereka memayang ketujuh orang kawannya, yang sudah buta itu dan melarikan diri dengan terbirit-birit.
Pertempuran berhenti, suasana menjadi tenang kembali, diatas Bin San situ hanya tinggal Bok Lolo dan sedikit begundalnya yang masih terus berkutet mati-matian ditengah lingkaran api pospor itu.
Melihat kedatangan Kim Si Ih, Bok Lolo insaf kekalahan pihaknya sudah tak bisa ditarik kembali lagi.
Tapi didalam hati ia masih berharap-harap akan mendapat kesempatan memperoleh kemenangan terakhir, maka mendadak ia membentak.
"Kim Si Ih, biarlah aku mengadu jiwa padamu!"
Dan sekali tangannya bergerak.
"pluk"
Pluk, dua gulung api berbisa lantas meletus.
Iapun tahu api pospor berbisa itu belum tentu dapat membikin celaka Kim Si Ih.
tapi ia yakin lawan paling tidak tentu akan menghindar, kesempatan ini akan digunakannya untuk melarikan diri.
Ketika kedua gulung api itu melayang, sampai diatasnya Kim Si Ih, mendadak api meluas sehingga berwujut dua gumpal awan merah dan mengurung kebawah.
Sebaliknya Kim Si Ih tampak tenang-tenang saja, ia mengejek.
"Huh, barang apa-apaan ini, berani dibuat mainmain dengan aku?"."
Aneh juga, ketika mendadak Kim Si Ih menuding keatas, kontan dua gumpal api membara itu lantas menyambar kembali dan mencurah kedalam lingkaran api yang masih ber kobar tadi.
Lalu dengan langkah seenaknya Kim Si Ih melintasi lingkaran api itu kedalam kalangan, dimana dia lalu, disitu api lantas menyiak minggir.
Karena gumpalan api yang ditolak kembali Kim Si Ih itu sangat menakutkan, maka para penonton disekelilingnya beramai-ramai berlari menyingkir.
Tapi jalur api yang menyambar balik ketengah lingkaran api pospor itu seperti kenal orang tidak menyerang orang lain, yang diarah cuma Bok Lolo saja.
Maka terdengarlah jeritan ngeri, senjata telah makan tuannya, Bok Lolo telah terkurung oleh gumpalan api itu dan hanya sekejap saja nenek jahat itu sudah hancur luluh menjadi abu.
"Orang jahat tentu akan makan hasil perbuatannya sendiri nenek inilah contohnya l"
Kata Si Ih.
Dan sekali tubuhnya memutar, beruntun-runtun ia memukul empat kali keempat penjuru sehingga sisa api pospor itu kena dipadamkan semua.
Melihat Bok Lolo sudah binasa, Bun Ting Bik dan Tong Goan Ki menjadi nekad, tanpa pikir mereka terus menubruk kearah Kim Si Ih, Bun Ting Bik tiba lebih dulu, dengan gemas ia gigit ujung lidah sendiri, ia kerahkan Sam siang sin kang terus menghantam sekuat-kuatnya sebagai gugur bersama gunung dahsyatnya.
Tapi lagi-lagi Kim Si Ih bersikap tenang-tenang saja, bahkan ia bertolak pinggang dan menggeleng kepala, katanya.
"Sayang, sayang !"
Maka terdengarlah "blang"
Yang keras, pukulan Bun Ting Bik itu dengan telak sekali telah mengenai tubuh Kim Si Ih.
Sama sekali diluar dugaan orang bahwa sedikitpun Kim Si Ih tidak menangkis serangan Bun Ting Bik itu, keruan terdengarlah jeritan kuatir dan kaget orang banyak, Namun tahu-tahu kelihatan Bun Ting Bik telah muntah darah segar dengan wajah pucat sebagai mayat orang nya juga terhuyunghuyung akan roboh.
Tong Goan Ki terkejut, sementara itu sepasang rodanya juga telah disodorkan kedepan untuk menarik kembali sudah tidak keburu lagi.
Terdengar Kim Si Ih membentak.
"Terhadap anjing pengekor musuh seperti kau ini harus diberi hukuman yang lebih setimpal!"
Dan sekali ia kebaikan lengan bajunya, kontan sepasang roda bergigi itu memotong kembali ke arah Tong Goan Ki, tanpa ampun lagi kedua kakinya terkutung sebatas dengkul oleh senjatanya sendiri.
Ketika Kim Si Ih mencengkeramnya pula dan dilempar pergi, berbareng ia meremas remuk tulang pundaknya dan berkata.
"Kaki anjing sudah putus, sejak kini kau takkan dapat menggigit manusia lagi dan jiwamu biarlah diampuni, lekas enyah, lekas!"
Diantara bayangkari kerajaan yang masih ada yaitu ada dua orang muridnya Tong Goan Ki.
cepat mereka menggotong sang guru yang sudah buntung itu dan melarikan diri.
Selesai mengenyahkan Tong Goan Ki, kemudian Kim Si lh berpaling dan berkata kepada Bun Ting Bik.
"Kau telah merintis ilmu silat dengan jalan sendiri sehingga berhasil meyakinkan sam siang si n king, sebenarnya karyamu ini harus dipuji dan tidak gampang mencapainya. Cuma sayang kau tidak menggunakannya ditempat yang benar, maka terpaksa aku mesti memunahkan kepandaianmu itu. Sekarang boleh kau pulang saja. semoga seterusnya kau dapat memperdalam pengetahuanmu itu. bagi kebaikan orang banyak, bagi nusa dan bangsa. Sungguh sama sekali tak terduga oleh Bun Ting Bik bahwa Kim Si Ih sedemikian longgar terhadap dosanya itu, maka dengan muka merah malu tanpa bicara lagi ia terus berlari pergi. Sesudah mengalami awan mendung pertempuran berdarah itu, kini diatas Bin San Tang benderang dalam suasana damai lagi. Semua bergembira anak murid Bin San Pay beramairamai merubung maju hendak mengucapkan terima kasih kepada Kim Si Ih, Tapi terhadap semua itu Kim Si Ih seperti tidak mendengar dan tidak melihat, pada saat itu dalam pandangannya hanya terdapat seorang Kok Ci Hoa saja. Perasaan yang tertahan selama duapuluh tahun sekarang telah berkobar-kobar kembali, hakikatnya ia tidak menghiraukan disitu ada beratusratus pasang mata yang sedang mengawasi dia. tapi ditengah suara sorak-sorai bergembira itu pelahan-lahan Kim Si lh telah mendekati Kok Ci Hoa. Diam-Diam Ek Tioag Bo memberi tanda kepada kawankawan dan anak muridnya, para murid Bin San Pay paham maksudnya, maka mereka tidak menunggu dan mengganggu Kim Si Ih lagi, pikir mereka.
"Kita sesungguhnya banyak berhutang budi pada Kim tayhiap. Ciangbunjin Juga telah berkorban masa remajanya bagi Bin San Pay kita sendiri, maka sekarang semoga beliau-beliau itu dapat terangkap menjadi suami-isteri dan kitapun jangan mengganggu kemesraan mereka......"
Tentang suka duka antara Kim Si Ih dan Kok Ci Hoa dimasa lalu boleh dikata cukup diketahui oleh para murid Bin San Pay.
Pada 20 tahun berselang juga dimusim Jing Beng, ketika pertama kalinya Kim Si Ih berjiarah ke makamnya Lu Si Nio.
Tatkala itu penjabat ke tua adalah Co Kim Ji, dia telah mencaci maki pada Kim Si Ih yang dianggap sebagai iblis jahat dan mengusirnya pergi dari Bin San.
Dalam waktu yang cukup panjang, lantaran Co Kim Ji tetap tidak bisa memahami maksud Kim Si Ih.
maka orang-orang Bin San Pay pernah memandang Kim Si Ih sebagai musuh mereka, bahkan merasa sirik karena Kok Ci Hoa masih suka berhubungan dengan Kim Si Ih.
Sama sekali tak terduga bahwa "iblis"
Yang dicaci maki oleh Co Kim Ji itu sekarang justeru telah menyelamatkan Bin San Pay dari kehancuran Bila teringat kejadian-kejadian dimasa lampau itu, para murid Bin San Pay menjadi sangat menyesal, merekapun sangat terharu oleh cinta murni Kim Si Ih dan Kok Ci Hoa yang teguh itu.
Maka tanpa diminta oleh Ek Tiong Bo, segera mereka menyingkir dengan tersenyum malu sendiri.
Disebelah lain Kok Tiong Lian dan Kang Hay Tian juga sedang tersenyum yang penuh arti.
Hay Thian telah memberi isyarat agar Tiong Liau jangan mengganggu gurunya, lalu iapun ngeloyor dan mendekati Kok Tiong Lian.
Girang dan sedih pula perasaan Kok Tiong Lian.
Pikirnya.
"Rindu dendam suhuku selama duapuluh tahun tampaknya sekarang sudah berakhir dengan memuaskan, Dahulu aku kuatir nasibku akan serupa dengan nasib Suhu sama-sama bernasib malang dan patah hati. tak terduga sekarang telah berakhir dengan berbeda, beliau sudah tercapai cita-citanya sebaliknya aku tetap merindu gundah gulana,"
Sementara itu Kang Hay Thian sudah berada didepannya dan telah mengeluarkan sapu tangan pemberian Kok Tiong Lian waktu kecil, saputangan yang bersulamkan bunga teratai itu.
Pelan-Pelan Hay Thian mengusap air mata yang membasahi pipi sinona, katanya dengan berbisik.
"Akhirnya kita telah berada bersama lagi, Lian moay, bukankah seharusnya kau merasa girang, kenapa kau merasa berduka malah? Tempo hari waktu berada di Kun-bran. sungguh aku kelabakan setengah mati karena kau tidak mau keluar untuk menemui aku."
"Buat apa kau menyusul kemari lagi "? Bukankah kau sudah bertemu dengan Hoa cici?"
Tanya Tiong Lian.
"Benar, kami memang sudah bertemu,"
Sahut Hay Thian.
"Jika begitu seharusnya kau tinggal didampingnya, mana boleh kau meninggalkan dia pula ?"
Ujar Tiong Lian.
"Sekalipun kau ingin mencariku, mestinya...,mestinya.... ,"
Sebenarnya ia ingin berkata.
"Mestinya tunggu dulu sesudah kalian menikah,"
Tapi belum lagi kata-kata itu terucapkan, tanpa tertahan air matanya bercucuran dengan lebih pedih lagi. Hay Thian mengusap air matanya pula, dan tiba-tiba ia tertawa. Tiong Lian menjadi dongkol.
"Apa yang kau tertawakan"
Tegurnya.
"Coba kau terka, sebab apa aku buru-buru menyusul kembali kesini ?"
Tanya Hay Thian. Tiong Lian tercengang, ia heran apakah kedatangan pemuda itu bukan ingin mencari dia ? Maka tanyanya dengan bingung.
"Ya, sebab apa ? "
"Karena aku harus lekas menyampaikan dua helai kartu undangan padamu"
Sahut Hay Thian, Hati Tiong Lian berdebar keras, ia coba menegas.
"Kartu undangan apa !"
Dan ketika ia sambut kartu yang disodorkan Hay Thian, ia membaca kartu undangan yang pertama, ia lihat pengundangnya adalah Yap Tiong Siau dan In Ciau yang berarti tidak atas nama keluarga pengantin lelaki dan perempuan.
Pasangan pengantin ini adalah Danu Cu Mu mendapatkan In Bik.
hari upacara pernikahan jatuh pada hari Tiongchie nanti, tempatnya berada di keraton kerajaan Masar.
Sebenarnya kalau menurut protokol, kartu undangan pernikahan seorang raja harus dikirim oleh menteri kepala rumah tangga kerajaan Masar, tapi Danu Cu Mu tidak mau main protokol-protokolan, ia tidak suka berlagak sebagai seorang raja, tapi ingin berbuat seperti orang biasa saja.
sebab itulah meski upacara pernikahannya tetap diurus oleh bagian rumah tangga kerajaan, tapi undangan kepada sanak pamili dan para sobat dari dunia persilatan tetap dikirim seperti orang biasa, yaitu kartu undangan dilanda tangani oleh wali pengantin kedua belah pihak.
Tiong Lian sangat girang, katanya.
"Ah, aku telah tambah seorang enso. Nona In mempunyai perangai yang halus dan sifatnya welas asih, kelak tentu akan menjadi seorang permaisuri yang bijaksana."
"Dan boleh coba periksa lagi kartu undangan yang lain."
Kata Hay Thian.
Kalau kartu undangan pertama masih dapat diduga oleh Tiong Lian, adalah kartu undangan kedua ini benar-benar diluar dugaannya.
Kartu undangan kedua inipun tertera atas nama orang tua kedua keluarga pengantin, In cengcu dari Cui In Ceng sekarang telah berubah menjadi wali pihak pengantin lelaki, dan wali pihak pengantin perempuan adalah Hoa Thian Hong.
Ternyata kartu undangan kedua ini adalah atas pernikahan In Khing mendapatkan Hoa In Pik.
Harinya juga jatuh pada tanggal lima belas bulan delapan atau hari Tiongchiu.
tempatnya juga akan dilangsungkan dikeraton Masar.
Untuk sejenak Kok Tiong Lian termangu-mangu, sungguh girangnya tak terlukiskan, ia hanya menggumam saja.
"Sungguh tidak nyana, sungguh tidak nyana Dua pasang pengantin sama-sama dilangsungkan pada hari Tiongchiu yang melambangkan kehidupan manusia yang bulat dan bahagia. Sungguh sangat baik dan penuh arti!"
"Tiongchiu adalah hari baik menurut tradisi bangsa Han, tapi dinegeri Masar sekarang telah dijadikan suatu hari raya baru,"
Kata Hay Thian.
"Hari raya apa, kenapa aku tidak tahu ?"
Tanya Tiong Lian.
"Karena negeri-negeri Masar telah berdamai dengan Kunbran, maka rakyat kedua negeri telah menetapkan tanggal lima belas bulan delapan sebagai hari raya perdamaian,"
Tutur Hay Thian.
Tentu kau masih ingat bahwa pada hari itu pula di Kim Eng Kiong telah diadakan pertemuan besar dan juga hari naas bagi raja lalim Masar yang telah digulingkan itu sehingga engkohmu telah naik tahta sebagai raja yang budiman dan membikin negeri aman sentausa.
Untuk memuji kejadiankejadian yang menggembirakan itu rakyat jelata telah membuatkan syair nyanyian......."
"Ya, kalau tidak salah aku pernah mendengar nyanyian itu,"
Kata Tiong Lian.
"Bukan kah syairnya berbunyi.
"Api peperangan hilang Sungai es jernih laksana kaca, disana hendak kucuci pedangku yang berbau darah...."
Dan ketika sampai bait yang herbunyi "kaum muda akan mendapatkan cinta", tanpa merasa dua buah hati sepasang muda-mudi itu menjadi berdebar-debar dan dua pasang tanganpun saling genggam dengan kencang, mata saling memandang dengan bergejolaknya api asmara yang gembira ria.
Dengan suara peiahan kemudian Hay Thian berkata.
"Pada sebelum berangkat menghadiri upacara mereka, ingin kubawa kau menemui dulu kedua orang tuaku!"
"Untuk apa?"
Tanya Tiong Lian.
"Karena kedua engkohmu sudah mengatur dengan baik, yaitu akan menyebarkan kartu undangan ketiga dengan hari yang sama dan tempat yang sama pula, kartu undangan ini adalah untuk pernikahan kita, maka aku hendak melapor pada ayah dan minta dia bertindak sebagai waliku. Lian moay, hendaklah jangan kau menyalahkan aku berani sembarangan mengambil keputusun sendiri sebelum mendapat persetujuanmu dahulu. Tapi sekarang juga aku hendak minta kau mengangguk sebagai tanda akur."
Muka Tiong Lian menjadi merah jengah, ia tidak mengangguk dan tidak juga menggeleng kepala. Keruan Hay Thian menjadi gugup, desaknya .
"Adik Lian, apakah kau tidak setuju?"
"Kalau tidak setuju tentu aku sudah menggeleng."
Sahut Tiong Lian lirih.
Dengan demikian artinya dia sudah setuju bin akur.
Sungguh girang Kang Hay Thian seperti naik kesorga, cepat serunya.
Marilah kita pergi memberitahukan suhu!
Eh, dimana suhu?
Kemanakah mereka telah pergi?"
Memang saat itu Kim Si Ih dan Kok Ci Hoa mempunyai lakon lain pula.
Pegunungan Bin Sau waktu itu menghijau dengan bunga mekar semarak menghiasi lereng-lereng gunung laksana sedang berlomba memamerkan kecantikan masing-masing.
Ketika itu Ci Hoa dan Si Ih sedang jalan bergandengan tangan menyusuri semak-semak bunga yang lebat mewangi itu Pada hari yang sama seperti sekarang di waktu 20 tahun yang lampau, ditempai inilah Kira Si Ih telah mengamati keberangkatan Kok Ci Hoa kebawah gunung.
Dimana perasaan mereka muram dan risau, hakikatnya mereka tidak pernah memperhatikan pemandangan alam yang indah itu masih tetap seperti dahulu kala.
orang-orangnya juga berhadapan pula namun perasaan mereka sudah berbeda dari pada dulu.
Si Ih memetik setangkai bunga, katanya dengan gegetun.
"Ci Hoa sudah dua puluh tahun ini bunga mekar dan rontok dan mekar pula? apakah kau merasa aku kembali terlambat? Dengan suara lembut Ci Hou menjawab.
"Bunga ini tiada ubahnya seperti bunga dimasa dua puluh tahun yang lalu, kita berdua juga serupa. Biarpun kau terlambat dua puluh tahun lagi aku tetap akan menantikan dikau."
"Apakah kau masih ingat syair-syair yang pernah kuberikan padamu?"
Tanya Si Ih.
"Mengapa tidak?"
Sahut Ci Hoa.
"Selama dua puluh tahun ini meski kita jarang ketemu tapi biarpun kau terlunta-lunta diluar lautan atau mengembara diujung jagat, senantiasa aku merasa kau tetap didampingku. Jauh dimata dekat dihati."
"He, aneh. akupun mempunyai perasaan seperti kau,"
Kata Si Ih.
"Selama ini terkadang bila aku merasa masgul, maka kau lantas seperti muncul dihadapanku,"
"Jika demikian kita boleh dikata dua orang bersatu hati!"
Ujar Ci Hoa dengan tertawa.
Belum pernah Si Ih melihat Ci Hoa tertawa sedemikian riangnya, ia merasa tertawa sang kekasih itu bagaikan bunga yang sedang mekar indah, jauh lebih menarik daripada dimasa remajanya dikala 20 tahun yang lalu.
Tanpa merasa ia genggam kencang-kencang kedua tangan Kok Ci Hoa, katanya.
"Sejak kini kita tak boleh berpisah lagi hidup atau mati kita selalu berada bersama!"
Dari jauh Kang Hay Thian dan Kok Tiong Lian dapat melihat guru mereka sedang bermesraan ditengah semak-semak bunga, tanpa merasa kedua muda-mudi itu saling pandang dengan tersenyum penuh arti.
"Melihat gelagatnya, rasanya kita tidak perlu buru-buru memberitahukan kepada suhu tentang urusan kita!"
Kata Hay Thian.
"Ya, nampaknya tidak lama lagi tentu akan ada kartu undangan bahana yang akan menggempatkan dunia persilatan dan dibuat bahan cerita orang banyak""
Sahut Tiong Lian.
"Ha, seperti ada orang mendatangi?"
Demikian disebelah sana Kok Ci Hoa sedang berkata.
Ketika Si lh mendongak, dari jauh ia dapat melihat bayangan muridnya katanya dengan tertawa "Mereka adalah Hayji dan Lian ji, mereka sudah menuju kearah sana, jangan kita mengganggu mereka!"
"Dahulu aku sangat kuatirkan mereka akan mengulangi jejak kita yang menyedihkan tapi sekarang aku justeru bergembira karena nasib mereka ternyata serupa dengan kita,"
Demikian kata Ci Hoa dengan tertawa.
"Si lh kelak bila aku sudah serahkan jabatan Ciangbun kepada anak Lian, maka aku dapat bebas mendampingi kau kemana saja kau hendak pergi untuk melewatkan penghidupan kita yang bahagia laksana dewata disorga. Apakah kau merasa senang, Si lh?"
"Mengapa tidak?"
Sahut Si Ih.
"Justeru itulah yang senantiasa kuharapkan. Manusia hidup demikian, apalagi yang hendak disesalkan........."
TAMAT
Baca Juga: Kisah Dua Saudara Seperguruan 4
Baca Juga: Terbang Harum Pedang Hujan 12