Eps 1 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/.
Geger Dunia Persilatan (Hong Lui Tjin Kiu Tjiu) Judul Asli .
Fenglei Zhen Jiuzhou (Badai Guntur Menggetarkan Sembilan Wilayah) (Hong Lui Tjin Kiu Tjiu) Karya .
Liang Yusheng (Liang I-Shen) Saduran .
Gan KL Denyut kehidupan sembilan wilayah diambang badai petir, Selaksa kuda bungkam rintihkan getir lewat kebisuan, Kupohonkan berkat semangat melimpah dari penguasa langit, Berikut limpahan patriot bijak cendekia tanpa pembatasan.
Jilid 1 Guntur menggelegar di puncak Thay-san (pegunungan Altai), hujan lebat seakan dituangkan dari atas langit, topan menderu menerbangkan batu pasir, seluruh puncak gunung seolah-olah tertutup rapat oleh awan hitam tebal.
Setitik cahaya subuh yang baru muncul di ufuk timur juga lenyap tertelan oleh awan gelap.
Tapi di tengah hujan badai itu terdengarlah suara senandung seorang laki-laki tegap berewok dan bermantel.
Menggelegarnya guntur yang gemuruh itu ternyata tidak dapat melenyapkan suara orang laki-laki yang keras itu.
Di bawah gemuruh suara geledek dan kilat yang berkelebat memecah lapisan awan menyinari bumi itu, tiba-tiba tertampak ada sesosok bayangan seorang lain lagi yang sedang menyongsong ke arah si lelaki berewok tadi sambil berseru memuji.
"Syair bagus! Siau-toako, tampaknya engkau riang benar!"
Berkelebatnya sinar kilat hanya dalam sekejap saja sudah lenyap, namun wajah pendatang itupun sudah tertampak jelas, dia seorang pemuda yang tampan, berdandan sebagai kaum terpelajar.
"Aha, kau pun sudah datang, saudara Yap,"
Sahut si berewok dengan tertawa.
"Maksud kita ingin melihat matahari terbit di puncak gunung Thay-san ini, tapi matahari terbit tidak kelihatan, sebaliknya kita sudah basah kuyup mirip ayam tercemplung kali."
Kiranya laki-laki berewok itu bernama Siau Ci-wan, seorang murid Jing-sia-pay dari keluarga partikelir yang bercita-cita tinggi dan suka mengembara untuk mencari kawan yang sepaham.
Sebaliknya si pelajar yang bernama Yap Leng-hong itu adalah kawannya yang baru dikenalnya.
Walaupun kenalan baru, tapi rupanya mereka mempunyai kecocokan satu sama lain sehingga persahabatan mereka sudah hampir mirip saudara sekandung saja.
Mereka mengembara bersama dan berjanji akan melihat matahari terbit dari puncak Thay-san yang terkenal indah itu.
Tak terduga sebelum fajar tiba mereka sudah tersiram dulu oleh air hujan yang lebat.
Sambil berteduh di bawah pohon Siong yang rindang, kedua orang saling menjabat tangan dengan tertawa.
Kata Yap Leng-hong.
"Siau-toako, kiranya bukan melulu ilmu silatmu sangat hebat, bahkan kau pun pandai bersyair."
"Ah, mana aku pandai bersyair?"
Sahut Ci-wan.
"Syair yang kudendangkan tadi hanya kupetik dari gubahan penyair Kiong Ting-am yang patriotik itu."
Sementara itu cuaca juga sudah berubah, hujan angin tadi sudah lenyap, udara mulai terang, sang surya yang baru muncul laksana bola bara raksasa telah mulai memancarkan cahaya yang gilang-gemilang dari ufuk timur.
"Inilah matahari terbit yang indah, walaupun sudah agak kasip,"
Ujar Siau Ci-wan dengan tertawa. Sebaliknya Yap Leng-hong tampak termenungmenung saja, bahkan mendadak menghela napas.
"Sebab apakah mendadak Yap-hiante menghela napas?"
Tanya Ci-wan dengan heran.
"Ya, suasana yang tenang indah ini tiba-tiba mengingatkan padaku akan nasib tanah air kita yang terjajah selama ratusan tahun ini,"
Sahut Leng hong.
"Selama ini entah berapa banyak patriot-patriot yang telah berkorban dalam perjuangan mereka mengusir penjajah Boan-jing keluar dari negeri kita ini Akan tetapi sudah turun temurun dari Kaisar-kaisar Sun-ti, Khong-hi Yong-cing dan Kian-liong, selama ratusan tahun ini pondasi pemerintahan sudah sangat kukuh, berbareng penindasan mereka kepada bangsa Han kita juga semakin kejam di samping politiknya memecah belah serta penyuapan sehingga tidak sedikit pahlawan pahlawan yang telah terperosot ke dalam perangkap mereka, hal ini telah banyak mematahkan semangat perjuangan bangsa kita, rakyat jelata hanya bisa mengeluh belaka dan tak dapat berbuat apa-apa. Semua ini apakah tidak cukup membuat kita kesal dan menghela napas?"
"Uraian Hiante juga tidak betul seluruhnya,"
Ujar Ciwan.
"Lihatlah hujan topan tadi. Sebelum hujan suasana tenang-tenang belaka, tapi sesudah hujan topan, segala kotoran di muka bumi ini tersiram bersih, tetumbuhan bertambah segar, semangat hidup berkobar-kobar."
"Namun demikian, entah bilakah akan datangnya hujan topan sebagai tadi untuk menyapu bersih segala kelaliman di dunia ini?"
Kata Leng-hong.
"Pula kalau kita bicara tentang manusianya, karena kita adalah orang persilatan, maka biarlah kita bicara tentang tokoh persilatan saja. Pada ratusan tahun yang lalu pernah muncul seorang pendekar besar Leng Bwe-hong yang tersohor di daerah perbatasan dan mengguncangkan pemerintah Boan, 50 tahun yang lalu terjadi pula pendekar wanita Lu Si-nio yang menyelundup ke dalam istana dan memenggal kepala kaisar Yong-cing. Pada 20 tahun yang lalu juga terdapat pendekar besar Kim Si-ih yang namanya menggetarkan pihak musuh, sesudah pertarungan sengit di atas Bin-san, sampai sekarang kawanan bayangkara kerajaan Boan tidak berani muncul lagi di dunia Kangouw. Namun sekarang para pahlawan angkatan tua itu sudah wafat atau sudah tua, semangat juang mereka sudah lenyap, teringat demikian ini apakah kita tidak terharu? Untunglah selama berkelana dan mencari sahabat, dapatlah aku berkenalan dengan Siautoako, tapi lebih dari itu tiada seorang pun pahlawan atau ksatria sejati yang pernah kutemukan."
"Meski ksatria angkatan tua sudah sama wafat atau sudah tua, tapi hal ini tidak berarti tiada lagi tunas muda yang akan meneruskan perjuangan mereka. Maka hendaklah Hiante tidak perlu gegetun,"
Kata Ci-wan.
"Tapi sayang pengalamanku masih terlalu jelek, sekalipun di dunia ini masih banyak ksatria-ksatria sejati, toh tiada yang kukenal,"
Demikian kata Leng-hong.
"Toako, engkau adalah keturunan keluarga ternama dan murid dari golongan termuka, pergaulanmu juga sangat luas, tentu dalam pandanganmu ada banyak tokoh-tokoh ksatria yang berharga untuk menjadi sahabat atau guru kita."
Ci-wan merenung sejenak, akhirnya berkata.
"Aku pun tidak dapat dikatakan luas bergaul. Tapi sesungguhnya perjalananku ini ada maksud untuk mengunjungi seorang Tayhiap (pendekar besar). Meski paling akhir ini Tayhiap ini telah mengundurkan diri dari khalayak ramai dan tiada melakukan sesuatu yang menggemparkan, tapi beliau tetap terhitung seorang ksatria sejati pada masa kini."
"Siapakah beliau?"
Tanya Leng-hong.
"Beliau adalah ahli-waris pendekar besar Kim Si-ih yang baru saja kau sebut tadi, yaitu Kang Hay-thian, suaminya Kok Tiong-lian, Ciangbunjin dari Bin-san-pay."
"O, apakah Toako sudah kenal baik padanya?"
"Aku dan keluarga Kang ada sedikit hubungan kekeluargaan,"
Tutur Ci-wan.
"Kalau diurutkan, Kangtayhiap masih terhitung saudara sanakku, cuma saja kami belum pernah bertemu muka. Memang sudah lama ayahku menyuruh aku pergi berkunjung kepadanya, tapi karena beliau jarang tingggal di rumah dan kabarnya akhir-akhir ini baru saja pulang dari daerah perbatasan."
Kiranya kakek Siau Ci-wan ini adalah tokoh kawakan dari Jing-sia-pay yang bernama Siau Jing-hong.
Siau Jing-hong boleh dikata adalah guru pertama Kang Lam, ayah Kang Hay-thian.
Maka dari itu kalau dihitung, Siau Ci-wan adalah satu angkatan dengan Kang Hay-thian.
Namun Ci-wan lantas berkata pula.
"Kang-tayhiap itu sekarang sudah berusia empat puluhan, beliau telah terkenal sejak masih muda belia, maka sekali-kali aku tidak berani mengaku sesama derajat dengan beliau."
"Dimanakah kediaman Kang-tayhiap?"
Tanya Leng hong.
"Di Nyo-keh-ceng, terletak di kabupaten Tong-pengkoan dalam propinsi Soatang, kira-kira tiga ratus li di sebelah timur Thay-san ini,"
Sahut Ci-wan.
Kiranya nenek-luar Kang Hay-thian adalah putri tunggal Nyo -Tiong-eng, tokoh persilatan yang paling terkemuka kelima propinsi di daerah utara, namanya Nyo Liu-jing dan bersuamikan Tje Sik-kiu, dari perkawinan mereka itu hanya mendapat keturunan seorang putri yang kemudian menikah dengan Kang Lam, ayah Kang Hay-thian.
Kang Lam semula adalah seorang kacung yang tidak diketahui asal-usulnya, maka dia ikut sang istri tinggal di rumah keluarga Nyo ini, istri Hay-thian, Kok Tiong-lian, adalah ketua Bin-san-pay.
Karena dia sudah menikah, maka dia jarang tinggal di atas Bin-san, hanya kalau ada upacara dan hari raya tertentu barulah dia datang ke Binsan untuk menerima laporan-laporan dari para murid Binsan-pay.
Adapun urusan sehari-hari mengenai Bin-sanpay telah diserahkan kepada paman gurunya, yaitu Cia In-cin, istri almarhum Tiat-koay-sian (cerita tentang Nyo Tiong-eng, Tje Sik-kiu, Lu Si-nio, Kim Si-ih dan lain-lain silakan membaca Tiga Dara Pendekar/Kang Ouw Sam Li Hiap dan Bidadari Sungai Es/Peng Tjhoan Thian Li, sudah terbit).
Begitulah sesudah mendengar uraian ringkas Siau Ciwan itu, tiba-tiba Leng-hong berkata.
"Siau-toako, ada sesuatu permohonanku, entah Toako suka membantu atau tidak?"
"Hubungan kita bagaikan saudara sekandung, kenapa main sungkan-sungkan segala, ada urusan apa silakan bicara saja,"
Sahut Ci-wan.
"Tentang Kang-tayhiap itu memang sudah lama aku mendengar namanya, cuma sayang aku tiada sempat mengenal ksatria sejati bagai beliau itu. Sekarang kebetulan Toako adalah sanak-kadangnya, maka Siaute (adik) ingin ikut kau berkunjung padanya, entah Toako suka meluluskan atau tidak?"
Permohonan Yap Leng-hong memang sudah dalam dugaan Siau Ci-wan, maka dengan ikhlas ia lantas menyanggupi, katanya.
"Baiklah. Walaupun aku belum pernah bertemu dengan Kang-tayhiap, tapi aku mengetahui beliau sangat suka kepada kaum muda yang bercita-cita luhur, maka beliau tentu suka menemui kau. Marilah kau ikut saja padaku."
Leng-hong sangat girang, katanya.
"Pagi yang cerah ini sangat cocok untuk meneruskan perjalanan, marilah sekarang juga kita berangkat saja."
Giok-hong-teng (puncak batara Guru) adalah puncak tertinggi pegunungan Thay-san dimana mereka menikmati matahari terbit.
Baru saja mereka hendak turun ke bawah, tiba-tiba terdengar suara suitan yang amat panjang, suara suitan melengking tajam.
Ci-wan terkejut, pikirnya.
"Siapakah orang ini? Sedemikian hebat tenaga dalamnya!"
Belum hilang rasa kejutnya, sekonyong-konyong terdengar pula suara-suara suitan tajam susul menyusul dari empat penjuru.
Lwekang Siau Ci-wan adalah dari golongan silat asli Jing-sia-pay, namun anak telingganya toh sampai mendaiging-denging karena suitan-suitan yang tajam mengerikan itu.
Didengar dari suara-suara suitan itu, agaknya kekuatan kelima orang itu sembabat, masing-masing mempunyai kesaktian sendiri-sendiri dan susah ditentukan mana yang lebih unggul atau asor.
Lenyapnya keempat suitan panjang tadi segera disusul dengan suara seruan semang yang lantang.
"Kalian benar-benar orang yang dapat dipercaya dan telah datang seluruhnya. Orang she Lim telah menantikan kedatangan kalian di atas Giok-hong-teng ini."
Bayangan orang yang bicara itu tidak nampak, tapi Siau Ci-wan merasa suara orang itu seakan-akan mendengung di tepi telinganya. Keruan ia terkejut, cepat ia membisiki Yap Leng-hong.
"Agaknya ada orang yang bermusuhan hendak mengadakan pertarungan penyelesaian di sini, persoalan demikian adalah paling pantang diketahui oleh orang luar yang tak bersangkutan. Namun untuk menyingkir juga sudah terlambat, lebih baik kita lekas bersembunyi saja."
Dan baru saja mereka berdua bersembunyi di belakang sebuah baru cadas yang besar, terlihatlah dua orang yang tak dikenal telah datang ke tempat dimana mereka berdiri tadi.
Seorang di antaranya memakai mantel berkerudung kepala sehingga sebagian mukanya teraling-aling dan wajahnya kurang jelas.
Tapi dari potongan rubuhnya dapat diduga adalah seorang laki-laki setengah umur.
Adapun seorang lainnya adalah satu bocah yang berumur 11 atau 12 tahun.
"Ayah, izinkanlah aku membantu engkau,"
Demikian terdengar anak kecil itu berkata.
"Aku sudah mahir Kiukong-poh-hoat (langkah cepat menurut Kiu-kong), pula Ngo-hou-toan-bun-to (ilmu golok panca harimau) juga sudah kulatih dengan masak."
Namun si lelaki menghela napas, sahutnya.
"Nak, apakah kau sangka ini permainan menarik? Ketahuilah bahwa musuh-musuh yang datang ini semuanya sangat lihai. Sebentar bila mereka sudah tiba semua, begitu aku bergebrak dengan mereka, maka selekasnya kau harus pergi. Di Nyo-keh-ceng kabupaten Tong-peng-koan tinggal seorang ksatria besar bernama Kang Hay-thian, kita bukan sanak-kadangnya, tapi aku percaya beliau akan melindungi kau, maka bolehlah kau mengungsi ke sana."
Diam-diam Ci-wan membatin.
"Kang-tayhiap benarbenar seorang ksatria sejati. Orang ini mengaku tidak pernah kenal Kang-tayhiap, tapi toh sedemikian mempercayai beliau. Dia suruh anaknya mengungsi ke tempat Kang-tayhiap, ini menandakan dia sendiri juga bukan orang jahat."
Namun demikian Ci-wan masih tetap sangsi.
Jika orang itu sudah tahu susah melawan musuh sehingga si anak disuruh melarikan diri, lalu apa sebabnya dia membawa anaknya untuk memenuhi janji pertarungan sengit ini?
Sebaliknya sebabnya dia minta si anak melarikan diri bilamana musuh-musuhnya sudah tiba semua, hal ini mudah dipahami, yakni bila sekarang juga si anak melarikan diri tentu akan kepergok musuh yang sudah mengepung dari berbagai penjuru itu, tapi kalau musuh-musuh itu sudah tiba semua dan mulai bergebrak, tentu bocah itu akan gampang untuk lolos.
Namun seorang anak sekecil itu apakah dapat melarikan diri, harapan inipun mungkin sangat tipis.
Demikian selagi Ci-wan menyangsikan kelakuan si lelaki dan menguatirkan si bocah, tiba-tiba terdengar anak kecil itu sudah berkata.
"Tidak, ayah, sekali-kali aku takkan lari. Ayah adalah seorang ksatria, maka aku pun ingin menjadi seorang pahlawan."
Mendadak si lelaki menarik muka. Melihat itu si anak menyangka ayahnya tidak mengetahui permintaannya, cepat ia menambahkan lagi.
"Ayah, aku takkan menyalahkan kau, selamanya juga aku takkan menyalahkan kau. Janganlah kau kira aku tidak paham apa-apa, aku cukup paham untuk apa engkau berbuat demikian. Ayah, pendek kata, mati atau hidup kita akan bersama, pula kita toh belum tentu akan dikalahkan musuh."
Ci-wan tambah heran dan bingung mendengar ucapan si anak, masakah terhadap sang ayah, ada soal "menyalahkan"
Segala?
Namun demikian, meski dia tidak paham apa yang dimaksudkan dalam ucapan si anak, ia merasa bocah ini terang adalah bocah yang sangat pintar.
Si lelaki agaknya melengak juga karena perkataan si anak tadi, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan berkata.
"Hahahaha! Bagus, bagus ayah ksatria dan anak pahlawan, kata-kata yang sangat bagus! Baiklah, sarang yang terbalik tentu tak ada telur yang utuh, biarlah aku meluluskan permintaanmu. Semoga mendiang ibumu akan dapat memaafkan daku."
"Sssst, jangan bersuara lagi, musuh sudah datang."
Benar juga, hampir pada saat yang sama dari empat penjuru telah muncul empat orang musuh.
Yang datang dari sebelah timur adalah seorang Hwesio, dari arah barat datang seorang Tosu, dari selatan adalah seorang Busu (jago tempur pemerintah) berbaju hitam, sedangkan yang datang dari jurusan utara adalah seorang laki-laki yang bermuka bengis, mukanya penuh daging-daging lebih.
Di antara keempat pendatang ini hanya laki-laki bengis inilah yang dikenal Siau Ci-wan, namanya Peng-hong, seorang bandit besar dan terkenal di dunia Kangouw.
Setiba di atas Giok-hong-teng, keempat orang itu masih tetap berada dalam posisi mengepung.
Segera Hwesio dan Tosu berseru berbareng.
"Lim-thocu benarbenar sangat berani. Tapi karena sekaligus kau telah berjanji dengan kami berempat, maka hendaklah maafkan bila kami pun tidak dapat mentaati peraturan Kangouw lagi. Hari ini kami hanya bertindak atas perintah dan terpaksa harus membunuh kau. Sesudah mati tentu kami akan memanjatkan doa bagimu agar arwahmu tidak gentayangan tak keruan tempat."
"Hahaha!"
Si lelaki berewok tertawa.
"Jika mati, tentu aku akan naik ke surga, sebaliknya kalian mengaku beribadat, tapi perbuatan kalian sewenang-wenang, kalau mati tentu akan masuk ke neraka."
"Hm, tidak perlu banyak bicara lagi,"
Jengek si Busu baju hitam.
"Jadi kau sudah pasti tidak mau menyerah? Apakah kau tidak merasa kasihan kepada anakmu ini?"
"Bandit anjing!"
Mendadak si bocah mendamprat dengan mata melotot.
"Ayolah maju sini. Biarpun mati juga aku tidak sudi minta ampun padamu, siapa ingin belas kasihanmu."
"Hehe, keras juga tulang anak ini,"
Kata si Busu dengan menyeringai.
"Baiklah, biar kami memenuhi citacita kalian ayah dan anak. Babat rumput harus seakarakarnya!"
Begitu komando "babat rumput harus seakar-akarnya"
Diberikan, serentak si Hwesio mengangat tongkatnya dan si Tosu mencabut pedangnya, dengan cepat mereka mengambil tempat yang menguntungkan dan mendesak maju siap menggempur si lelaki berewok.
Sebaliknya si bandit Peng Hong tetap diam berdiri di tempatnya, mendadak ia berseru.
"Nanti dulu!"
Si Hwesio dan Tosu melengak serta menghentikan langkah, tanya mereka.
"Peng-toako tidak mau melabraknya, sekarang ingin tunggu kapan lagi?"
Namun Peng Hong tidak menjawab, tiba-tiba ia melangkah maju dua tindak sambil membentak.
"Siapa kau sebenarnya?"
Busu tadi ikut terkejut, serunya.
"Ha, apakah orang ini bukan Lim Jing?"
Belum lenyap suaranya, si berewok sudah membuka mantelnya, katanya dengan bergelak tertawa.
"Hahaha, baru sekarang kalian tahu, ya? Lim-thocu sudah terang tak dapat kalian ketemukan lagi, lebih baik aku orang she Li ini main-main beberapa jurus saja dengan kalian."
Perubahan secara mendadak ini bukan saja membikin pihak Peng Hong berempat terkejut, bahkan Siau Ci-wan yang bersembunyi di balik batu itupun terperanjat.
Kiranya di dunia Kangouw terdapat sebuah perkumpulan rahasia yang bernama "Thian-li-hwe", sebuah organisasi yang bekerja di bawah tanah untuk melawan kerajaan Boan.
Lim Jing yang disebut-sebut itu adalah pemimpin nomor dua organisasi itu.
Walaupun Ci-wan tidak kenal orangnya, tapi sudah lama nama Lim Jing didengarnya, bahkan adalah tokoh yang sangat dikaguminya.
Ia berpikir.
"Melihat gelagatnya, beberapa orang itu tentu adalah antek-antek pemerintah Boan. Mereka telah menguber-uber Lim Jing, apakah barangkali markas besar Thian-li-hwe telah terbongkar oleh mereka. Lelaki yang mengaku she Li ini sungguh sangat mengagumkan sikap kejantanannya."
Dalam pada itu terdengar si Hwesio dan si Tosu telah berseru terkejut berbareng.
"Ha, kau adalah Li Bun-sing!"
"Benar, hal ini tentu sangat di luar dugaan kalian, bukan?"
Sahut Li Bun-sing dengan tertawa.
"Dan aku pun tidak menyangka kalian berdua ini, Hek-bok Taysu, paderi agung dari Jian-hu-si dan Pek-tiu Totiang, pemimpin Ban-biau-koan, ternyata semuanya telah rela menjadi anjing pemburu kerajaan Boan-jing."
Siau Ci-wan tidak kenal siapakah Li Bun-sing itu, tapi nama Hek-bok Taysu dan Pek-tiu Totiang adalah dua tokoh terkenal yang dikenalnya.
Jika tokoh-tokoh seperti Hek-bok dan Pek-tiu sampai terkejut demi mengenali Li Bun-sing, maka dapat diduga Li Bun-sing tentu juga bukan orang sembarangan.
Peng Hong yang pertama-tama mengenali suara Li Bun-sing itu masih coba membujuk.
"Li-toako, buat apa engkau bersusah payah menanggung resiko buat orang lain?"
Tapi "sret", mendadak Li Bun-sing membentak sambil mencabut goloknya terus membacok ke arah Peng Hong, dampratnya.
"Orang she Peng, kau telah merusak setia kawan kaum Lok-lim dan rela menjadi budak kaum penjajah, hidup seperti dirimu adalah lebih baik mati saja, masakah kau masih ada muka bertemu dengan aku!"
Sebagai bandit yang tersohor di daerah utara dengan sendirinya ilmu silat Peng Hong tidaklah lemah.
Justru pada saat sinar golok Li Bun-sing menyambar tiba, secepat kilat ia pun sudah mencabut senjata yang berbentuk sepasang Boan-koan-pit (senjata tajam bentuk potlot).
"Jreng", ia tangkiskan potlot baja sebelah kiri atas bacokan golok lawan sehingga lelatu meletik, berbareng potlot sebelah kanan dengan cepat menusuk dari samping, sekaligus ia incar tujuh tempat Hiat-to berbahaya di tubuh Li Bun-sing. Tak terduga permainan golok Li Bun-sing terlebih cepat daripadanya, ketika'golok Kui-thau-to (golok berkepala setan) terbentur potlot baja lawan, dengan daya pental itu segera ia mengayun goloknya ke samping sehingga tepat potlot baja sebelah kanan Peng Hong kena disampuk pergi, menyusul secepat kilat goloknya lantas menabas lagi. Kalau Peng Hong berani mengambil resiko, jika ia mendesak maju dan menyerang pula dengan potlotnya, maka Li Bun-sing pasti akan kena terserang olehnya. Tapi bacokan Li Bun-sing itu sedikitnya juga akan membikin sebelah lengan Peng Hong terkurung mentahmentah. Biarpun bandit yang biasanya membunuh orang dengan tak berkedip, tapi pada saat-saat antara mati dan hidup itu Peng Hong toh tidak berani mengadu jiwa dengan Li Bun-sing. Terdengarkan suara mendering yang nyaring. Peng Hong telah menggunakan potlot bajanya untuk menahan tabasan Li Bun-sing itu sampai tergetar mundur beberapa tindak, hampir-hampir saja jatuh terjerembab. Li Bun-sing juga tidak mendesak lebih jauh, tapi ia lantas melompat ke samping, dimana sinar goloknya berkelebat, kembali ia sudah bergebrak dengan Pek-tiu Tojin yang sedang menyerang dari samping. Pek-tiu Totiang adalah ahli-waris Ban-biau Cinjin dari Ban-biau-koan di Sohciu, ilmu pedangnya sangat lihai. Begitu maju segera menusuk perut Li Bun-sing dengan tipu 'Ki-hwe-liau-thian' (mengangkat obor menerangi langit). Namun dengan cepat sekali Li Bun-sing telah memelompat, kedua kakinya menendang susul menyusul dengan cepat. Sambil memiringkan tubuhnya segera Pektiu memutar kembali pedangnya untuk menabas lutut Li Bun-sing.
"Bagus!"
Seru Li Bun-sing sambil berputar tubuh menghindari tabasan lawan, menyusul goloknya bekerja dengan cepat, terdengarlah suara "crang-cring", suara menderingnya golok dan pedang berbenturan, dalam sekejap saja Li Bun-sing telah melontarkan 6 x 6 = 36 kali serangan dengan cepat luar biasa.
Di tengah berkelebatnya sinar golok dan pedang itu mendadak terdengar suara jerit kaget Pek-tiu Tojin, orangnya terus melompat mundur dua-tiga meter jauhnya.
Kiranya rambut yang terikat di atas kepalanya telah kena dipapas oleh Li Bu-sing sehingga rambut bertebaran, untung dia sempat berkelit, kalau tidak, mungkin separoh kepalanya sudah terpapas.
Serangan kilat 36 kali itu baru saja selesai dilontarkan oleh Li Bun-sing, pada saat itulah si Hwesio pun sudah memburu tiba.
"Baik, sekarang kubelajar kenal dengan Hong-motiang-hoat Hek-bok Taysu!"
Bentak Li Bun-sing.
"Hek-bok Taysu adalah ahli Gwakang, yaitu mengutamakan tenaga luar. beeitu tongkat paderinya berputar, biarpun air hujan juga tak dapat menembus. Segera Li Bun-sing berganti siasat, ia keluarkan Yusin-pat-kwa-to-hoat, yaitu permainan golok dengan berganti tempat kian-kemari, dalam sekejap saja kedua orang telah saling bergebrak lebih 20 jurus dan sama kuat. Si bocah cilik yang sejak tadi hanya menonton saja di samping, mendadak mendekat ke belakang Hek-bok Taysu, terus melolos golok dan menusuk kaki kanan paderi itu.
"Hehe, setan cilik ini juga berani main gila, mengingat keberanianmu ini, biarlah jiwamu kuampuni,"
Ujar si Busu baju hitam dengan tertawa. Dan sebelum dia memburu maju, lebih dulu senjata cambuknya yang panjang sudah lantas menyabet ke arah si bocah dengan maksud menangkap anak itu hidup-hidup.
"Awas, anak He!"
Seru Li Bun-sing.
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong sebelah kaki Hek-bok Taysu telah mendepak ke belakang.
Sebagai seorang jago silat kelas wahid, sudah tentu panca indranya teramat tajam, mana dia kena disergap oleh seorang anak kecil?
Depakan Hek-bok Taysu itu dengan tepat mengarah dada si anak sehingga merupakan serangan yang sangat ganas dan berbahaya.
Bocah itu baru berusia 11-12 tahun, pertumbuhan tulangnya belum sekeras orang dewasa, kalau kena depakan itu tentu jiwanya bisa melayang.
Pada detik yang mendebarkan itu, Siau Ci-wan yang bersembunyi di balik batu itu sampai hampir-hampir berteriak, baru saja ia bermaksud memburu keluar, di luar dugaan keadaan di tengah kalangan pertempuran sudah berubah mendadak.
Bocah itu ternyata sangat cerdik, pada saat jiwanya terancam itu, sekonyong-konyong ia mendak ke bawah terus menerobos lewat melalui selangkangan Hek-bok Taysu.
Betapapun lihainya Hek-bok Taysu juga sekali-kali tak tersangka olehnya akan perbuatan anak kecil itu, keruan ia kaget.
Lebih celaka lagi si bocah tidak hanya menerobos lewat saja, bahkan goloknya ikut bekerja sehingga betis Hek-bok tertusuk.
Walaupun usia bocah itu masih sangat muda dan tenaganya kecil, namun dimana terkena goloknya juga kontan lantas terluka dan sebuah urat sampai terputus.
Saking kesakitan sampai Hek-bok berjingkrak-jingkrak terus roboh ke belakang.
Pada saat itu cambuk si Busu tadi sedang menyabet, maksudnya hendak meringkus si bocah dari jarak jauh, tak terduga mendadak si bocah menerobos pergi melalui selakangan Hek-bok Taysu, sebaliknya Hek-bok yang roboh terjengkang dan kebetulan ujung cambuknya sudah menyambar tiba sehingga tepat melilit kaki Hekbok yang terluka itu.
Karena kakinya terlibat oleh cambuk sehingga Hek-bok tertahan dan tidak jadi roboh, ia menjadi malu dan gusar, ia mendamprat.
"Apa kau buta, kawan sendiri diserang?"
Wajah si Busu menjadi merah, ia kendorkan cambuknya, segera ia menyabet pula ke arah si bocah, serangan ini sudah tidak kenal ampun lagi, yang diincar adalah leher anak kecil itu, yaitu jurus yang disebut 'Sokan-pian' (cambuk pencekik leher).
Hek-bok Taysu juga tidak kurang murkanya, dengan menahan kakinya yang sakit, mendadak ia gunakan tongkatnya untuk menahan di atas tanah, tubuhnya lantas melayang ke udara, bagaikan elang menyambar kelinci, dari atas tongkatnya terus mengemplang batok kepala si bocah.
Melihat itu, Li Bun-sing menjadi gusar, bentaknya.
"Bandit terkutuk, terhadap seorang anak kecil juga sekejam itu, dasar binatang!"
Bersamaan tangannya lantas memukul dari jauh, dengan tenaga pukulannya si bocah didorongnya ke samping sehingga terhindar dari serangan cambuk dan tongkat musuh.
Karena menyingkirnya si bocah, Li Bun-sing berbalik menjadi sasaran kemplangan tongkat Hek-bok Taysu, serangan itu jatuh dari atas ditambah tenaga Hek-bok yang memang sangat hebat, maka dahsyatnya tak terkatakan.
Cepat Bun-sing melintangkan goloknya untuk menangkis.
"Trang", karena tenaga benturan senjata itu Li Bun-sing lantas sekalian memelompat ke samping, sinar golok berkelebat, kontan ia tabas si Busu. Dengan gugup si Busu berkelit, cambuknya bekerja.
"sret-sret-sret", dengan gerakan 'Hwe-hong-sau-yap' (angin lesus menyapu daun), secara berantai ia menyabet beberapa kali. Namun dengan gesit Li Bunsing dapat memelompat dan menghindar. Sekali Busu itu memutar cambuknya, dalam jarak tiga meteran tertampak bayangan cambuk melulu sehingga Li Bunsing susah mendekatinya, sebaliknya cambuknya juga tak dapat menyentuh tubuh Bun-sing. Kiranya Busu baju hitam ini adalah jago pilihan kerajaan Boan-jing, tampak kepandaiannya sekali-kali tidak di bawah Pek-tiu, Hek-bok dan Peng Hong. Sekonyong-konyong sebelah tangan Li Bun-sing ikut bermain di samping goloknya, ketika ujung cambuk menyambar tiba, ujung cambuk dapat ditahan olehnya, bersamaan goloknya lantas menabas ke depan menyerempet batang cambuk panjang musuh dalam tipu 'Sun-cui-tui-ciu' (mendorong perahu menurut arus). Tipu serangan ini sangat berbahaya, karena tak mendugaduga, seketika permainan cambuk si Busu menjadi kacau. Namun Busu itu memang bukan jago sembarangan, dalam keadaan berbahaya ia pun tidak bingung, cepat ia menyendal cambuknya sehingga berwujud sebuah lingkaran untuk bertahan sambil menyerang bila perlu, ia pasang sebuah jiratan, asal golok Bun-sing menabas tiba, segera ia menarik kencang cambuknya untuk merampas golok lawan itu. Tapi Li Bun-sing tidak mau terlibat lebih lama dengan Busu itu, tujuannya hanya untuk mematahkan permainan cambuk lawan untuk melepaskan diri, segera ia putar kembali goloknya dan secepat terbang melayang ke samping, sekali ini yang dijegat adalah Peng Hong yang sedang menguber si anak kecil tadi.
"Kalau mau menangkap maling harus tangkap dulu gembongnya, ayolah yang tua ini dibekuk dahulu saja,"
Seru Peng Hong.
"Baik, biar kubelajar kenal pula dengan ilmu golok Lithocu,"
Kata Pek-tiu Tojin.
Pek-tiu Tojin sebenarnya adalah orang golongan Cingpay, golongan orang baik-baik, walaupun ia telah dapat dibeli kerajaan Boan, tapi sedikit banyak ia masih mempunyai rasa malu, ia tidak ingin mempersulit seorang bocah cilik, pula tadi dia telah kalah satu jurus, ia merasa penasaran, maka ingin bertanding pula dengan Li Bun-sing, walaupun menang dengan mengeroyok bukan perbuatan yang terpuji, tapi ia tidak memikirkannya lagi, pokoknya asal dapat merobohkan dan meringkus Li Bun-sing.
Sebaliknya Hek-bok Taysu yang kakinya dilukai si anak tadi, kejadian ini merupakan kekalahan yang memalukan selama hidupnya, dalam gusarnya ia masih terus mengudak bocah itu.
Tapi karena sebelah kakinya terluka, jalannya jadi pincang sehingga susah menyusul bocah yang lincah dan cerdik itu.
"Hek-bok Taysu, buat apa mengurusi seorang anak kecil?"
Ujar si Busu baju hitam dengan tertawa.
"Lebih baik kita mengincar peran utamanya saja."
Diam-diam Hek-bok sangat mendongkol.
"Hm, yang suruh babat rumput harus seakar-akarnya adalah kau, sekarang kau sok ksatria, pura-pura bermurah hati, semuanya ini apa bukan lantaran tadi aku telah memaki kau, maka sekarang kau sengaja main kuasa dan memberi perintah kepadaku?"
Walaupun demikian pikirnya, tapi karena Busu baju hitam ini memang pemimpin rombongan mereka, pula ia pun tidak sanggup membekuk anak kecil itu, lagi pula ia pun perlu menjaga harga dirinya.
Maka biarpun dalam hati sangat mendongkol terpaksa ia tunduk kepada perintah Busu itu, ia berputar balik untuk membantu Peng Hong dan Pek-tiu Tojin mengeroyok Li Bun-sing.
Saat itu Bun-sing sudah terlibat dalam kerubutan sepasang Boan-koan-pit Peng Hong dan pedang Pek-tiu Tojin sehingga susah melepaskan diri, meski Ginkangnya sangat tinggi juga susah dikeluarkan.
Sekarang ditambah lagi seorang Hek-bok Taysu, keruan Bun-sing bertambah payah, namun sedikitpun ia tidak gentar dan pantang mundur.
Pertarungan sengit itu membuat Siau Ci-wan yang mengintip di tempat persembunyian itu berdebar-debar.
Ia merasa ilmu silat setiap orang yang ikut bertempur itu jauh lebih tinggi daripada dirinya, ada maksudnya hendak keluar untuk membantu, tapi kuatir kepandaiannya yang rendah itu tidak dapat meringankan Li Bun-sing, sebaliknya akan merepotkan malah.
Tibatiba terpikir olehnya.
"Sekarang mereka telah membiarkan anak kecil itu, lebih baik aku menyelamatkan bocah itu dengan membawanya lari saja untuk menjaga keturunan keluarga Li. Tapi bocah itu tampaknya sangat keras kepala, entah dia mau menurut kepada perkataanku atau tidak?"
Belum selesai ia berpikir, tiba-tiba tampak si Busu telah mengayun cambuknya untuk merintangi si bocah.
"Anak He, lekas lari!"
Seru Li Bun-sing.
Namun sudah terlambat, cambuk panjang si Busu yang berputar-putar di udara bagai ular hidup itu sudah membayangi si bocah, kemana pun dia hendak menerobos senjata lincah toh selalu tak terlepas dari ancaman cambuk.
"Tar, tarr!", cambuk berbunyi beberapa kali disertai robekan baju si bocah yang bertebaran, tampaknya anak itu pasti akan babak-belur di bawah hajaran cambuk itu. Li Bun-sing menjadi gusar dan kuatir. sekonyongkonyong ia membentak keras.
"Bangsat yang tidak tahu malu, biarlah aku mengadu jiwa dengan kalian!"
Saking murkanya tenaganya mendadak juga bertambah, dengan gagah perkasa ia menyerang ke kanan dan menabas ke kiri, membacok ke depan dan memapas ke belakang, setiap serangan adalah serangan mematikan.
"Crat", dimana sinar golok berkelebat, kontan si Hwesio yang kurang gesit karena kakinya terluka telah terkena bacokan Li Bun-sing sehingga lengan kirinya terbelah menjadi dua dimulai dari batas pundak. Tapi pada saat yang hampir sama juga, dengan jurus 'Pek-hong-koan-jif (pelangi putih menembus sinar matahari), pedang Pek-tiu Tojin telah menusuk dari samping, karena tidak sempat menangkis, kontan bahu Li Bun-sing juga terluka dan darah bercucuran. Pertarungan sengit dan mengerikan tanpa kenal ampun itu bukan saja menegangkan kedua pihak yang bertempur, bahkan Siau Ci-wan dan Yap Leng-hong yang mengintip di tempat persembunyian mereka pun ikut berdebar-debar dan menahan napas. Karena kedua orang berdempetan di tempat persembunyian mereka maka Ci-wan dan Yap Leng-hong agak gemetaran, pikirnya.
"Rupanya Yap-hiante belum berpengalaman di dunia Kangouw, pantas dia menjadi takut menyaksikan pertarungan sedahsyat ini."
Sesungguhnya diam-diam Siau Ci-wan juga merasa takut, tapi bila melihat keadaan Li Bun-sing dan anaknya yang berbahaya itu, tak tertahan juga timbul jiwa luhurnya sebagai pendekar silat.
Melihat perubahan air muka Siau Ci-wan itu, segera Yap Leng-hong dapat menjajaki juga pikirannya, ia coba membisikinya.
"Siau-toako, apa ... apakah kau akan keluar membantunya?"
"Betul,"
Sahut Ci-wan dengan suara tertahan.
"Hendaklah mengingat persaudaraan kita, sukalah kau memberitahukan kepada Kang-tayhiap tentang kejadian ini, beritahukan kepada beliau bahwa Pek-tiu dan Hek-bok berdua sekarang sudah menjadi anjing pemburu pemerintah Boan."
Kiranya Siau Ci-wan insyaf bila sudah menerjang keluar, maka kematian sudah pasti akan dihadapinya, maka lebih dulu ia memberi pesan, maksudnya supaya sahabatnya ini tidak perlu ikut bertempur, tapi lebih baik melarikan diri.
Pada saat itulah terdengarlah suara cambuk si Busu telah menyambar, sekali libat dan sekali tarik, kontan tubuh si anak kecil sudah terangkat ke atas, sambil memutar tawanannya itu si Busu berseru dengan tertawa.
"Haha, Li Bun-sing, kau masih menginginkan putramu atau tidak?"
Rupanya Busu itu menjadi kuatir melihat Li Bun-sing bertempur dengan nekat, biarpun mereka main keroyok dan besar kemungkinan akan menang, tapi kerugiankerugian berat pasti juga susah dihindarkan, yang terang Hek-bok Taysu juga sudah terluka parah.
Maka dia sengaja menggunakan rencana semula, yaitu menawan si anak kecil untuk memaksa Li Bun-sing menyerahkan diri.
Tak terduga olehnya, belum lenyap suara si Busu, sekonyong-konyong Siau Ci-wan menerjang keluar dari tempat persembunyiannya sambil membentak.
Walaupun sadar kepandaian musuh-musuh itu jauh lebih tinggi daripadanya, tapi rupanya Siau Ci-wan sudah tidak memikirkan mati-hidupnya sendiri dan serentak menerjang musuh.
Sebaliknya Yap Leng-hong merasa sangsi, pikirnya.
"Usiaku baru 20-an tahun, hari depanku masih penuh harapan, buat apa aku mesti mengorbankan jiwa bagi seorang yang tak pernah kukenal?"
Tapi lantas terpikir pula olehnya.
"Siau-toako juga tidak kenal orang she Li itu, dia rela mengorbankan dirinya sendiri guna membela sesamanya, mengapa aku sendiri takut mati dan membiarkan Siau-toako sendiri yang berkorban? Ah, sudahlah, seorang laki-laki sejati harus berani mati demi kebenaran dan keadilan, kenapa aku mesti takut? Kalau sekarang aku tidak berani maju, kelak biarpun aku mempunyai kedudukan tinggi dan nama baik juga akan merasa malu untuk selamanya."
Karena pikiran terakhir itu, dengan nekat serentak ia pun ikut menerjang keluar dari tempat persembunyiannya.
Ketika mendadak melihat dari balik batu cadas berlari keluar dua orang, si Busu menyangka mereka adalah kawan Li Bun-sing yang sudah disembunyikan di situ, keruan ia terkejut.
Dalam pada itu dengan cepat luar biasa Siau Ci-wan sudah menubruk ke arahnya lebih dulu, tangannya bergerak, sejalur sinar mengkilat lantas menyambar ke jurusan si Busu, kiranya adalah sebuah belati yang amat tajam.
"Bagus, boleh coba kau serang!"
Si Busu tertawa mengejek.
Mendadak bocah yang terlibat pada cambuknya dan sedang diputar di udara itu telah digunakan sebagai tameng dan diayun ke depan.
Tak tersangka kepandaian Siau Ci-wan menyambitkan senjata rahasia ternyata sangat bagus.
Ia sudah memperhitungkan akan perbuatan Busu itu.
Ia menaksir berat badan bocah itu sedikitnya ada 20-30 kilo sehingga ujung cambuk pasti melambai ke bawah.
Benar juga, biarpun kepandaiannya Busu itu amat tinggi juga tidak cukup untuk memainkan cambuknya yang ujungnya membawa badan seorang bocah.
Terdengarlah suara "sring"
Yang nyaring, maksud Busu itu hendak menggunakan badan si bocah untuk menangkis Am-gi (senjata rahasia), tak terduga Hui-to (pisau terbang) yang disambitkan Siau Ci-wan itu justru tepat memotong ujung cambuk bagian yang melilit di panggang si anak, maka putuslah cambuk itu tanpa sedikitpun melukai anak kecil itu.
Karena ujung cambuk putus, dengan sendirinya tubuh bocah itu lantas mencelat pergi dan tampaknya segera akan terbanting di atas sepotong batu cadas, jika hal ini sampai terjadi, tentu kepala bocah itu bisa pecah berantakan.
Saking kagetnya sampai Li Bun-sing menjerit kuatir, cepat ia melompat untuk menyusulnya.
Akan tetapi jaraknya terlalu jauh, terang tidak keburu lagi.
Tampaknya dengan segera bocah itu akan terbanting mati di atas batu, syukurlah pada detik yang menentukan itu tiba-tiba dari samping batu telah melompat maju satu orang, begitu ia pentang kedua tangannya, dengan tepat bocah itu kena dirangkulnya.
Kiranya orang itu adalah Yap Leng-hong.
Tapi Yap Leng-hong sendiri juga lantas terhuyunghuyung.
"bluk", punggung tertumbuk pada sebatang pohon sehingga tidak sampai terjatuh. Ia merasa kedua lengannya kaku pegal, ruas tulang seluruh tubuh serasa retak semua. Nyata tenaga cambuk si Busu tak terkatakan hebatnya. Sebabnya Yap Leng-hong berlari keluar untuk menolong anak kecil itu adalah karena dorongan spontanitas saja, sesudah punggungnya tertumbuk pohon, semangat keberaniannya menjadi hilang seketika, pikirnya.
"Aku telah menyelamatkan bocah ini, hal ini boleh dikata aku sudah berusaha sekuat tenagaku."
Segera ia melepaskan anak itu ke bawah, lalu berseru.
"Siau-toako, bolehlah kau membawa anak ini pergi dari sini saja!"
Rupanya dia merasa tidak enak melarikan diri sendirian, tapi dengan alasan menyelamatkan anak itu ia suruh Siau Ci-wan membawanya lari, kedengarannya dia tidak mementingkan diri sendiri, padahal dia hanya cobacoba memancing saja, sebab adalah tidak mungkin Siau Ci-wan yang saat itu sedang menerjang ke kalangan pertempuran itu disuruh melarikan diri, apalagi Siau Ciwan pun tidak nanti melarikan diri dengan meninggalkan Yap Leng-hong.
Jadi sesungguhnya seruan Leng-hong itu pada hakikatnya adalah untuk kepentingannya sendiri dengan harapan kalau-kalau Siau Ci-wan lantas balas berseru menyuruhnya lari dengan membawa si bocah.
Di luar dugaan bocah itu sangat gagah berarti, begitu berdiri di atas tanah, sambil memberi hormat kepada Leng-hong ia lantas berteriak.
"Banyak terima kasih atas pertolongan tuan. Aku takkan melarikan diri, ayah tidak lari aku pun tidak mau lari!"
Habis berkata, sambil memutar goloknya yang pendek segera ia menerjang maju pula ke tempat sang ayah.
Saat itu Li Bun-sing sedang memburu ke arah si bocah, di belakangnya menyusul Pek-tiu Tojin dan Peng Hong berdua yang terus membayangi.
Tubuh Li Bun-sing sudah terluka dua tempat, walaupun masih gesit dan cekatan, tapi larinya sudah tidak secepat tadi.
Di lain pihak Siau Ci-wan tengah kepayahan melawan cambuk panjang si Busu, berulang-ulang ia terancam bahaya, asal ayal sedikit saja tentu jiwanya bisa melayang.
Cambuk si Busu ada tiga-empat meter panjangnya, sesudah terpapas sebagian juga masih tertinggal sepanjang tiga meter, sesudah dia lepaskan libatan si bocah, permainan cambuknya telah kembali hidup seperti semula, ia menyabet, melibat, menarik dan macammacam serangan cambuk lainnya, serentak dikeluarkan secara membadai.
Dalam keadaan demikian, untuk melayani saja kewalahan, jangan lagi Ci-wan hendak memapas kutung pula cambuk lawan.
Memangnya kepandaian si Busu juga jauh lebih tinggi daripada Ci-wan, untunglah di samping ilmu pedang, Ciwan masih memiliki sejenis kepandaian tunggal yang lain, yaitu 'Thian-lo-poh-hoat (ilmu langkah ajaib) yang merupakan kepandaian rahasia kaum Jing-sia-pay, bila tidak kepepet ilmu langkah ajaib itu tidak sembarangan dikeluarkan, maka orang Kangouw jarang mengetahui adanya langkah ajaib itu.
Ci-wan adalah cucu lelaki Siau Jing-hong, tokoh Jingsia-pay yang terkenal, dengan sendirinya Thian-lo-pohhoat telah dilatihnya dengan sangat sempurna.
Kalau si Busu dengan enteng dapat mematahkan ilmu pedangnya, tapi ilmu langkah ajaib ini sama sekali belum pernah dilihat si Busu sehingga seketika ia tidak tahu cara bagaimana menghadapi langkah Ci-wan yang aneh itu.
Begitulah Ci-wan telah mainkan ilmu pedangnya dengan menggunakan langkah Thian-lo-po-hoat, tibatiba berada di depan, tahu-tahu menyelinap ke belakang, mendadak berada di sebelah kanan, pada saat lain sudah berada di sebelah kiri.
Betapapun dahsyat seranganserangan cambuk si Busu juga tak dapat menyentuh ujung bajunya.
Sebaliknya terkadang Ci-wan malah sempat balas menyerang beberapa kali dengan pedangnya.
Namun demikian sesungguhnya Siau Ci-wan masih tetap terancam bahaya, ia harus melangkah dengan hatihati sekali, sedikitpun tidak berani lengah.
Dalam pada itu Leng-hong merasa malu sendiri atas sikap gagah perwira anak kecil itu.
Segera ia perbaharui semangatnya dan menyusul ke depan sambil berseru.
"Adik cilik, aku akan membantu kau! Li-enghiong, Siautoako, ayolah kita terjang bersama ke bawah gunung!"
Waktu itu Li Bun-sing sedang dikerubut Pek-tiu Tojin dan Peng Hong berdua, sambil bertempur sambil mundur, masih belasan meter lagi baru bisa bergabung dengan putranya.
Mendadak Hek-bok Taysu menyerobot ke depannya, sambil mengayun tongkatnya ia membentak.
"Anak jadah, biarlah Taysu mengantar nyawamu pulang menyusul kakek-moyangmu!"
Berbareng tongkatnya terus ditimpukkan.
Cepat anak itu menjauhkan dirinya ke tanah sehingga tongkat itu menyambar lewat di atas kepalanya.
Yang berada di belakang bocah itu adalah Yap Leng-hong, maka dia yang menjadi sasaran tongkat paderi yang antap itu, tampaknya susahlah baginya untuk menghindarkan diri.
Diam-diam Leng-hong mengeluh, sekali ini jiwanya pasti akan melayang, untunglah mendadak terdengar suara "trang"
Yang keras, tertampak Li Bun-sing telah melayang tiba secepat kilat dan tepat pada waktunya dapat menyampuk tongkat baja itu dengan goloknya.
Li Bun-sing sendiri sudah terluka dua tempat, walaupun bukan tempat yang berbahaya, tapi darahnya bercucuran sejak tadi, dengan sendirinya tenaganya telah banyak berkurang, sekarang dia telah menerjang tiba dan menyampuk tongkat itu dengan sekuatnya, hal ini boleh dikata sudah hampir memakan segenap sisa tenaganya yang masih ada.
Meski tongkat musuh kena disampuk jatuh, tapi ia sendiri pun tidak dapat berdiri tegak lagi, ia sempoyongan dan akhirnya roboh.
Di tengah suara bentakan-bentakan, berbarengan Hek-bok, Pek-tiu dan Peng Hong telah memburu tiba juga.
Hek-bok Taysu yang lengan kirinya terpapas separoh, dendamnya kepada Li Bun-sing boleh dikata sampai ke tulang sumsum, maka bagitu melihat Li Bunsing roboh di atas tanah, segera ia menubruk maju terus menghantam dengan sekuatnya.
Kemahiran Hek-bok Taysu adalah jenis Gwakang, tenaganya sangat kuat, walaupun lengannya sudah kutung, tapi kekuatan tangan kanan masih cukup dahsyat untuk menghancurkan batu sekalipun.
Ketika punggung Li Bun-sing kena dihantam olehnya, keruan ia meringis kesakitan, berkat Lwekangnya yang tinggi, sekuatnya ia bertahan, walaupun mata berkunangkunang, syukur tidak sampai pingsan.
Dalam keadaan kesakitan, tiba-tiba Bun-sing teringat.
"Memangnya aku tiada berharap akan pulang dengan hidup, tapi sekali-kali aku tidak boleh merembet kedua ksatria yang berbudi luhur dan telah membantu padaku ini."
Seketika ia mengertak gigi, entah darimana timbulnya tenaga, mendadak ia melompat dengan gerakan 'Yau-cuhoan-sin' (burung merpati membalik tubuh), secepat kilat dia tarik Hek-bok Taysu terus dibanting ke bawah sambil membentak.
"Orang beragama mengapa sedemikian kejamnya, Buddha tentu tidak mengampuni dosamu!"
Bersamaan kedua tangannya sekuatnya mencekik.
"krek", seketika tulang leher Hek-bok kena diremas patah. Cepat Li Bun-sing menjemput pula goloknya terus melompat bangun, dalam pada itu tertampak Peng Hong telah memainkan sepasang Boan-koan-pitnya dengan gencar sehingga Yap Leng-hong terdesak mundur dan keadaannya sangat berbahaya. Di sebelah lain Pek-tiu Tojin juga sedang mengudak putranya. Sambil menyerang dengan gencar Peng Hong membentak.
"Yap Ting-cong, kau bocah inipun berani ikut campur urusan orang lain? Lekas letakkan pedangmu dan minta ampun!"
Leng-hong terkesiap.
"Mengapa dia tahu nama asliku?"
Tapi dalam keadaan jiwa terancam, biarpun nama aslinya tidak ingin diketahui orang juga tak dapat dipikirkan lebih jauh lagi, terpaksa ia harus memilih mati menjadi seorang ksatria atau hidup sebagai seorang pengecut.
Tengah Leng-hong merasa ragu-ragu, tiba-tiba terdengar suara mengerang gusar Siau Ci-wan.
Rupanya dia melihat Yap Leng-hong lagi terancam bahaya, maka buru-buru ia menerjang untuk bergabung dengan Leng hong, tapi ia lupa bahwa keadaannya sendiri jauh lebih berbahaya daripada Yap Leng-hong, sebab kepandaian Busu baju hitam itu sesungguhnya lebih tinggi daripada Peng Hong, cambuknya menari-nari kian-kemari bagai naga hidup sehingga sekeliling Siau Ci-wan terkurung rapat, hanya berkat Thian-lo-poh-hoat saja Ci-wan masih dapat bertahan.
Tapi sekali dia mulai gelisah, langkahnya sedikit ayal, seketika ia kena cambuk sekali oleh si Busu sehingga bajunya robek dan punggungnya babak-belur.
Kejadian ini dapat dilihat pula oleh Yap Leng-hong yang berada belasan meter jauhnya di sebelah sana.
Walaupun sudah terluka, Siau Ci-wan menjadi semakin nekat, ia bertempur mati-matian, pedangnya berputar dengan kencang, setiap jurus serangannya selalu mengajak gugur bersama sehingga membuat si Busu mau tidak mau merasa jeri juga.
Rupanya kenekatan Siau-Ci-wan itu telah menggugah semangat Yap Leng-hong, pikirnya.
"Siau-toako bertempur dengan mati-matian dan pantang menyerah, sebagai sahabatnya mana boleh aku membikin malu padanya."
Karena begitu pikirnya, seketika lenyaplah rasa takutnya kepada musuh, mendadak ia membentak.
"Kau budak kaum penjajah yang tidak kenal malu ini, masalah aku orang she Yap sudi minta ampun segala padamu?"
Peng Hong melengak atas kegarangan Yap Leng-hong, rupanya hal ini agak di luar dugaannya, sebab semula ia menganggap Yap Leng-hong adalah satu orang yang telah dikenalnya, maka dia telah menggertaknya agar suka menyerah.
Sekarang ia menjadi sangsi, pikirnya.
"Jangan-jangan aku telah salah mengenalnya, dia bukanlah tuan muda keluarga Yap-tihu (bupati Yap) itu? Sebab kalau benar tuan muda keluarga Yap, mustahil dia tidak takut mati?"
Kiranya pada belasan tahun yang lalu Peng Hong pernah bertemu dengan putra Yap-tihu yang dimaksudkan, Yap Leng-hong sekarang adalah pemuda berusia 20-an tahun, sudah tentu usianya jauh lebih tua, tapi raut mukanya ia merasa banyak persamaannya.
Begitulah, dalam keadaan ragu-ragu di pihak lain Yap Leng-hong telah menyerang sekuatnya sehingga Peng Hong tidak sempat banyak berpikir atau menegur lagi, diam-diam dia sangat mendongkol, pikirnya.
"Peduli apakah dia tuan muda Yap atau bukan, yang terang dia berada bersama buronan pemerintah, untuk dosanya ini aku sudah boleh membunuhnya."
Meski kepandaian Peng Hong tidak setinggi si Busu baju hitam, tapi ilmu silat Yap Leng-hong juga jauh di bawah Siau Ci-wan, sekalipun dia bertempur dengan mati-matian juga tak mampu melawan Peng Hong.
Sekarang Peng Hong sudah bertekad akan membunuhnya, maka sepasang Boan-koan-pitnya lantas bekerja lebih ganas lagi, sekonyongkonyong kedua potlot baja itu menusuk ke depan secara bersilang, tahu-tahu sudah berada di depan dada Yap Leng-hong.
"Bret", baju Leng-hong sudah terobek, seketika perasaan pemuda itu menjadi hampa, sekilas itu ia menyesalkan kematiannya yang dianggapnya tak berharga itu selagi usia masih begitu muda. Tapi pada detik berbahaya itulah tiba-iba terdengar suara bentakan yang menggelegar. Saat itu Li Bun-sing telah memburu tiba untuk menolongnya, Li Bun-sing baru saja membunuh Hek-bok Taysu, begitu menjemput goloknya dan melompat bangun, segera ia melihat putranya dan Yap Leng-hong sama-sama terancam bahaya. Tapi tanpa berpikir lagi segera ia memburu ke arah Yap Leng-hong. Biarpun sisa tenaga Li Bun-sing sudah hampir ludes, tapi suara bentakan yang menggeledek itu membuat Peng Hong tergetar, ujung Boan-koan-pit lantas meleset mengenai Soan-ki-hoat di dada Yap Leng-hong, tapi hanya melukai dada pemuda itu sehingga berdarah. Leng-hong menjerit kesakitan sambil melompat ke samping sekuatnya. Waktu ia memandang pula, tampak Li Bun-sing dengan langkah sempoyongan sedang menerjang maju dengan kalap.
"trang", golok Li Bun-sing telah beradu dengan Boan-koan-pit milik Peng Hong. Dengan hati berdebar-debar, Leng-hong merasa malu diri pula, pikirnya.
"Ternyata dia tidak memikirkan keselamatan putranya, tapi lebih dulu aku yang diselamatkan olehnya."
Untuk sejenak ia tertegun, meski darah bercucuran keluar dari luka di dadanya, tapi aneh, sedikit pun ia tidak merasa kesakitan lagi.
Sebaliknya dengan penuh semangat ia putar pedangnya dan menerjang maju pula ke medan pertempuran.
Dalam pada itu "sret-sret-sret", Li Bun-sing telah membacok tiga kali dengan segenap sisa tenaga yang dikumpulkannya untuk mengadu jiwa dengan musuh, pendek kata kalau bukan musuh yang mati biarlah dirinya yang gugur.
Pilihan lain tidak ada.
Peng Hong adalah bandit besar yang biasanya membunuh orang tak kenal ampun, tapi demi melihat kekalapan Li Bun-sing dengan suara gertakannya yang menggeledek, sinar goloknya berkelebat laksana kilat, mau tak mau ia menjadi jeri dan gugup.
Di tengah suara bentakan Li Bun-sing, mendadak terdengar suara jeritan Peng Hong yang mengerikan, batok kepalanya telah terbacok pecah dan roboh terkapar.
Rupanya dengan serangan yang ketiga kalinya, Li Bun-sing telah berhasil membinasakan lawannya, pada saat itu Yap Leng-hong belum lagi memburu tiba.
Selama hidup Yap Leng-hong belum pernah menyaksikan pertarungan yang mengerikan seperti sekarang ini, saking takutnya sampai ia melongo seperti patung.
Sesudah pikirannya agak tenang kembali barulah ia berkata.
"Li ... Li-enghiong, engkau.."
"Aku tidak apa-apa, lukamu sendiri hendaklah dibalut dahulu,"
Sahut Bun-sing. Habis berkata mendadak ia putar balik dan berlari ke arah Pek-tiu Tojin sambil membentak.
"Huh, menganiaya seorang anak kecil, kau tahu malu atau tidak? Marilah, kalau berani boleh kita bertempur untuk menentukan mati atau hidup!"
Sesungguhnya di antara keempat orang musuh, hanya Pek-tiu Tojin seorang saja yang sedikit banyak masih punya rasa malu.
Sebabnya dia menguber putra Li Bunsing bukanlah karena dia hendak membunuh anak kecil itu, tapi maksudnya ingin menangkapnya hidup-hidup.
Tak terduga karena Pek-tiu sendiri sudah terluka, bocah itu sangat lincah dan gesit pula, sebentar melompat ke sana, lain saat sembunyi ke situ.
Dengan kepandaian Pek-tiu Tojin, kalau hendak membunuh anak kecil itu adalah sangat mudah, sebaliknya untuk menangkapnya hidup-hidup dalam keadaan Pek-tiu sendiri terluka, soalnya menjadi tidak mudah.
Sebagai seorang tokoh terkenal, memangnya Pek-tiu sudah merasa malu diri karena menguber-uber seorang anak kecil, sekarang kena digertak dan disindir pula oleh Li Bun-sing, keruan ia bertambah malu sehingga mukanya merah padam.
Di antara empat orang itu, kini Hek-bok Taysu dan Peng Hong berturut-turut sudah dibinasakan oleh Li Bunsing, Pek-tiu Tojin sendiri pun sudah terluka, sekarang melihat Li Bun-sing sedemikian kalapnya, mau tak mau ia menjadi jeri.
Cepat ia berkata.
"Kedatanganku ini hanya menurut perintah saja, aku sendiri tidak berkuasa dan bukan ingin bermusuhan dengan Li-thocu. Baiklah, sekarang kita pun sudah sama-sama tahu kekuatan masing-masing, kau telah membacok aku sekali, aku pun telah balas menusuk kau sekali, kita sama-sama tiada punya hutang, buat apa mesti mengadu jiwa pula? Anggaplah aku telah mengenal seorang sahabat seperti kau. Sekarang aku mohon diri saja, sampai jumpa pula"
Habis berkata, ia simpan kembali pedangnya dan memberi hormat, lalu buru-buru berlari ke bawah gunung.
Bahwasanya Pek-tiu Tojin merasa jeri dan menghindari pertarungan lebih lanjut, hal ini boleh dikata sangat beruntung bagi Li Bun-sing, Pek-tiu tidak tahu bahwa luka Li Bun-sing jauh lebih berat daripadanya.
Sedangkan Siau Ci-wan dan Yap Leng-hong juga sudah terluka, walaupun tidak parah, tapi tidak juga enteng.
Kalau Pek-tiu tidak kabur dan bergabung dengan si Busu untuk melawan Li Bun-sing bertiga yang sudah terluka semua beserta seorang anak kecil, maka pihak Li Bun sing pasti bukan tandingan mereka dan tentu akan tertawan semua.
Sekarang di pihak lawan sudah mati dua dan kabur satu, tertinggal si Busu baju hitam yang masih belum terluka dan sedang bertarung sengit melawan Siau Ciwan.
Berulang-ulang Ci-wan telah kena dicambuk beberapa kali, tubuhnya sudah babak-belur dan tampaknya tak sanggup bertahan lebih lama lagi.
Yap Leng-hong menjadi tabah demi nampak musuh hanya tinggal seorang saja, ia buru-buru membalut lukanya, lalu menerjang maiu untuk membantu Ci-wan.
Maksud Li Bun-sing juga ingin membantu, tapi kedua kakinya sudah tidak mau diperintah lagi karena kehabisan tenaga.
Namun Busu baju hitam itu sudah mulai gugup ketika melihat Yap Leng-hong menerjang tiba, Li Bun-sing juga sedang mengawasi dirinya dengan mata mendelik, walaupun orangnya tidak bergerak, tapi sikap Li Bun-sing yang gagah perkasa dan berwibawa itu jauh lebih menakutkan si Busu daripada Yap Leng-hong yang menerjangnya dengan senjata.
Mendadak cambuk si Busu menyabet, Leng-hong yang tak menduga-duga itu menjadi kaget, kakinya terserempet oleh ujung cambuk dan jatuh terguling, cepat Ci-wan melompat maju untuk membangunkannya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan si Busu, cepat ia putar tubuh dan angkat langkah seribu tanpa memikirkan untuk melukai lawannya lagi.
Ci-wan juga tidak sempat mengejarnya.
Tapi masih ada seorang Li Bun-sing yang sedang mengawasi di samping, pikirnya.
"Aku tidak boleh meninggalkan bibit bencana bagi Yap-toako."
Mandadak ia gigit lidah sendiri, karena kesakitan, tiba-tiba timbul tenaganya, secepat kilat ia timpukkan Kui-thau-to. Golok yang ditimpukkan itu tahu-tahu sudah menyambar sampai di belakang si Busu.
"cret", kontan bahu jago bayangkara itu tertembus golok, dibarengi dengan jeritan keras, Busu itu terguling-guling ke bawah gunung. Pertarungan sengit yang mendebarkan itu telah diakhiri dengan jerit ngeri si Busu baju hitam. Di antara empat musuh, dua terbunuh, Pek-tiu Tojin kabur dengan menderita luka, Busu baju hitam itupun terluka parah dan terguling ke bawah gunung, tampaknya juga akan binasa, andaikan hidup juga akan menjadi cacad karena tulang pundaknya tertembus oleh golok Kui-thau-to. Saat itu Yap Leng-hong baru saja berdiri kembali, ia seperti baru sadar dari mimpi buruk atau boleh dikata baru lolos dari lubang jarum. Ketika angin pegunungan meniup silir-silir barulah ia merasa luka di dadanya sakit dan perih, baru sekarang juga ia sadar pertempuran sudah berakhir dan dia sendiri masih hidup. Bila terbayang kembali pertarungan sengit tadi, mau tak mau hatinya berdebar-debar pula, tapi dalam hatinya juga timbul semacam rasa bangga yang susah dijelaskan, rasa bangga karena untuk pertama kalinya dirinya telah ikut pertempuran seru sebagai seorang ksatria, walaupun musuh bukan dikalahkan olehnya sendiri, tapi ia benarbenar merasa bangga, merasa dirinya sesuai untuk disebut sebagai seorang ksatria, seorang pendekar. Dalam pada itu Li Bun-sing sedang berdiri tegak di puncak gunung sambil memandang jauh ke depan sana, perasaannya tenang dan lega, ia tahu pertempuran tadi adalah pertempuran terakhir selama hayatnya, walaupun jiwa pahlawannya masih menyala-yala, tapi jiwanya susah dipertahankan lagi, bayangan maut sudah menghampiri dirinya. Tapi ia tidak gentar menghadapi bayangan maut itu, ia sudah melakukan apa yang harus dilakukannya, sebaliknya ia menyesal tak dapat berjuang lagi sejajar dengan kawan-kawan seperjuangannya yang lain. Namun manusia pada akhirnya harus mati, mati dengan berharga, hal ini adalah jamak dan tidak menjadi soal. Begitulah Li Bun-sing mengenangkan kembali suka-duka perjuangannya selama ini, mendadak ia bergelak tertawa, di tengah suara tertawanya tiba-tiba darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
"He, kenapakah kau, Li-enghiong?"
Seru Ci-wan dengan kuatir sambil berlari mendekatinya. Anak kecil tadi juga mendekati ayahnya, serunya sambil memegangi sang ayah.
"Tiatia (ayah), janganlah engkau meninggalkan aku!"
Dengan napas terengah-engah Li Bun-sing berkata sambil tertawa.
"Bagus, bagus sekali! Sungguh tak terduga empat musuh hanya dapat lolos seorang saja dengan terluka pula. Anak He, kau punya Lim-pepek dan engkoh Han pasti dapat lolos dengan selamat dari kejaran musuh!"
Habis berkata mendadak ia muntah darah pula, seketika mukanya pucat-pasi sebagai kertas.
"Aku membawa obat luka,"
Kata Ci-wan. Tapi sebelum ia mengeluarkan obatnya, Bun-sing sudah lantas berkata.
"Tidak perlu lagi, manusia pada akhirnya pasti akan mati, asal mati dengan berharga, kenapa mesti dibuat sedih? Keadaanku sekarang biarpun ada obat dewa juga susah menyambung nyawaku lagi. Luka kalian berdua juga tidak ringan, silakan coba aku punya obat Kiu-coan-hoan-yang-san, mungkin.akan lebih manjur daripada obat kepunyaan kalian sendiri."
Ci-wan sedikit memahami ilmu pertabiban, ia coba memegang nadi Li Bun-sing, ia merasa denyut nadinya sangat lemah dan tak teratur, percaya apa yang dikatakan Li Bun-sing adalah memang sebenarnya, kalau dia masih tahan untuk sementara adalah berkat Lwekangnya yang sangat tinggi.
Menghadapi keadaan demikian, Ci-wan menjadi muram dan tak dapat bicara lagi.
"Ini, terimalah obatku ini, cobalah, tentu manjur,"
Kata Bun-sing pula.
"Kalian harus sayang kepada badan sendiri untuk melanjutkan perjuangan. Lekas kalian membubuhkan obat luka ini, aku masih ingin bicara lagi dengan kalian."
Dengan penuh rasa terima kasih, diam-diam Lenghong terharu pula atas jiwa ksatria Li Bun-sing yang cuma memikirkan kepentingan orang lain walaupun jiwanya sendiri sudah hampir tamat.
Segera ia membubuhkan obat pemberian Li Bun-sing itu di atas lukanya, dalam sekejap saja rasa sakit pada luka itu lantas lenyap.
Ci-wan mengetahui keadaan Li Bun-sing memang tidak dapat diselamatkan lagi, terpaksa ia pun minum obat pemberian itu sambil menahan air mata, lalu ia bertanya.
"Apakah Li-enghiong masih ada pesan lain?"
"Atas bantuan kalian berdua, budi kebaikan ini rasanya aku tak bisa membalas lagi,"
Kata Bun-sing.
"Aku memang masih ada sedikit urusan dan terpaksa harus membikin susah kalian berdua "Sayang kepandaian kami terlalu rendah sehingga tak dapat banyak memberi bantuan apa-apa,"
Cepat Ci-wan menukas.
"Tapi kalau Li-enghiong ada sesuatu pesan, asal dapat kami laksanakan, tentu sekuat tenaga akan kami lakukan sekalipun mesti terjun ke lautan api atau masuk ke dalam air mendidih."
"Kita tak perlu bicara secara sungkan-sungkan lagi,"
Ujar Bun-sing.
"Mohon tanya, kedua Gisu (tuan budiman) ..."
"Namaku Siau Ci-wan dari Jing-sia, kakekku ialah Siau Jing-hong. Dan ini adalah saudara angkatku, Yap Lenghong."
"O, kiranya adalah Siau-toako, sudah lama kudengar namamu,"
Puji Bun-sing. Ia percaya Siau Ci-wan adalah seorang ksatria benar-benar, maka ia lebih-lebih lega dan tidak kuatir untuk menguraikan apa-apa yang hendak dipesankan padanya. Segera Bun-sing, menutur.
"Cotho (markas besar) Thian-li-kau kami berada di kota Poting, kali ini markas besar kami telah dihancurkan oleh kaum pengkhianat dari anggota sendiri, Kaucu (ketua) kami Thio Ting-ki terbinasa, Hukaucu (wakil ketua) Lim Jing dapat meloloskan diri, untuk perjuangan selanjutnya, tugas ini terletak pada pundak Lim-toako seorang, tapi kerajaan Boan telah menyebarkan jago-jago istana untuk mengubernya, keadaanya sungguh sangat berbahaya.
"Aku sendiri juga seorang Thaubak (kepala bagian), tugasku adalah penghubung rahasia antara markas pusat dengan cabang-cabang di berbagai tempat. Di kota Poting sehari-hari aku menyaru sebagai tukang kayu. Kedudukanku di dalam organisasi ini juga dirahasiakan, dengan sendirinya orang luar lebih-lebih tidak tahu, terutama pihak kerajaan. Kali ini Lim-hukaucu berhasil meloloskan diri bersama seorang putranya yang bernama Lim To-han, usia To-han sebaya dengan putraku ini. Putraku ini bernama Li Kong-he.
"Lim-hukaucu adalah saudara angkatku, beliau lebih tua setahun daripadaku, perawakan kami hampir sama. Aku dan He-ji sengaja , menyaru sebagai Lim-toako dan anaknya dengan menggunakan kata-kata sandi Thian-likau agar menimbulkan kecurigaan pihak anjing pemburu kerajaan Boan, kami telah diikuti sepanjang jalan, beberapa musuh telah kami bunuh, akhirnya empat jago istana di bawah pimpinan Busu baju hitam itu yang masih terus menguntit jejak kami, rupanya mereka yakin aku adalah Lim-toako yang hendak mereka cari.
"Untuk lebih mengalihkan perhatian mereka, aku sengaja menggunakan nama Lim-toako dan mengirim surat tantangan melalui kawan Kay-pang untuk mengadakan pertarungan menentukan di puncak Thaysan. Rupanya mereka cukup kenal perangai Lim-toako yang gagah berani, mereka menyangka Lim-toako sudah kepepet dan susah menyembunyikan diri, maka terpaksa menantang pertandingan kepada mereka. Mereka ternyata tidak menaruh curiga apa-apa, seterima surat tantangan, benar juga mereka telah kena kupancing ke puncak Giok-hong-teng. Apa yang terjadi sesudah itu kalian sendiri sudah menyaksikan, maka tidak perlu kuceritakan lagi. Di antara empat musuh hanya lolos seorang Pek-tiu Tojin dengan menderita luka. Hahaha, bukankah hasil kejadian hari ini jauh lebih bagus daripada dugaanku semula?"
Li Bun-sing berhenti sejenak, sorot matanya perlahanlahan beralih ke arah putranya, lalu sambungnya dengan tersenyum simpul.
"Syukurlah anak ini walaupun usianya masih muda, tapi tahu juga ajaran nabi tentang 'berkorban bagi kebenaran, betapapun dia tidak mau berpisah dengan aku dan terus ikut padaku dengan menyaru sebagai Lim-toako beserta putranya sehingga kawanan anjing kerajaan Boan itu terjebak. Sungguh aku sangat bersyukur dan girang karena bocah ini tidak terluka apa-apa, sekalipun aku akan mati juga dapatlah mangkat dengan hati lega."
Baru sekarang Ci-wan dan Leng-hong mengetahui sebabnya Li Bun-sing membawa serta anaknya ke puncak Thay-san untuk memenuhi janji 'pertemuan maut' ini.
Mereka menjadi kagum tak terkatakan terhadap jiwa ksatria dan budi luhur Li Bun-sing itu.
"Apakah Li-enghiong ingin aku menyampaikan sesuatu berita kepada Lim-hukaucu?"
Akhirnya Ci-wan bertanya dengan nada terharu.
"Aku sudah membunuh tiga orang musuh yang kuat, mati pun aku tidak menyesal lagi, maka aku pun tidak perlu orang membalaskan sakit hatiku,"
Ujar Bun-sing.
"karena itu aku pun tidak ingin Lim-toako mengetahui kejadian hari ini, apabila beliau bertanya tentang kematianku, hendaklah kalian ceritakan sekedarnya dan tidak perlu menguraikan apa yang terjadi dengan sesungguhnya, supaya beliau tidak ikut sedih. Aku pun tiada mempunyai harapan apa-apa sehingga tiada sesuatu urusan yang minta dibereskan. Tapi ada suatu hal yang menyangkut rahasia organisasi kami, untuk inilah mohon Gisu sukalah menyampaikan kepada mereka yang bersangkutan."
"Banyak terima kasih atas kepercayaan Li-enghiong kepada kami dan tentu kami takkan mengecewakan maksud baikmu, silakan Li-enghiong mengatakan saja,"
Sahut Ci-wan.
"Hujan topan tadi apakah kalian berdua juga menyaksikannya?"
Tiba-tiba Bun-sing bertanya. Ci-wan dan Leng-hong melengak, mereka heran mengapa Li Bun-sing menanyakan hujan topan apa segala pada saat ajalnya sudah mendekat? Maka Leng-hong yang menjawab.
"Ya, kami mengalami hujan topan tadi, ada apakah?"
"Situasi sekarang justru mirip sekali dengan sebelum hujan topan tadi,"
Kata Bun-sing.
"Agaknya bangsa kita sudah tak bisa bernapas lagi karena penindasan pemerintah Boan-jing, tampaknya saja dimana-mana tenteram, semuanya serba aman, tapi di dalam hati setiap orang sebenarnya penuh dendam dan bergolak siap meledak setiap saat, sehingga mirip dengan akan tibanya hujan topan tadi.
"Tugas dalam Thian-li-hwe ialah penghubung antara pusat dengan cabang-cabang di berbagai tempat, aku sering berkelana di dunia Kangouw, selain menghubungi orang-orang sendiri, tidak sedikit pula para pahlawan dan kaum ksatria di luar Thian-li-hwe yang telah kukenal, banyak pula perkumpulan Kangouw yang telah berserikat dengan kami untuk mengadakan pergerakan. Perkumpulan-perkumpulan yang telah mengadakan serikat dengan kami ini sebagian besar telah diketahui oleh Lim-toako, tapi ada juga sebagian yang belum sempat kulaporkan sehingga pimpinan pusat sendiri belum mengetahui. Sekarang aku hendak memberitahukan kepada kalian beberapa pimpinan dari berbagai tempat yang paling penting, hendaklah kalian ingat dengan baik di luar kepala dan janganlah dicatat di atas kertas. Mereka ini adalah. Thia Pek-gak dari Bu-sing di Soatang, Kwe Su-oh dari Go-sing di Holam, Hau Kokliong dari Ki-si di Soasay, Chi Thian-tik dari Kong-goan di Sucwan utara, Leng Thian-lok di Siau-kim-jwan, tiga jago she Thio dari Bici di Siampak, yaitu Thio Su-liong, Thio Han-tiau dan Thio Thian-lun Begitulah ia mengulangi beberapa kali nama orang dan tempat kediamannya, sesudah Ci-wan dan Lenghong ingat betul-betul barulah Bun-sing menyambung pula.
"Aku telah berjanji dengan beberapa tokoh yang kusebut tadi dengan menggunakan kata-kata sandi sebagai tanda penghubung, asal dapat menyebutkan dua kata kode, kedua pihak akan segera mengetahui adalah kawan sendiri. Inilah yang paling penting dan harus diingat dengan baik serta tak boleh bocor."
Sampai di sini, entah sengaja atau tidak, tiba-tiba ia memandang sekejap ke arah Yap Leng-hong, tampaknya agak raguragu sedikit.
Sebagai pemuda yang cerdik, melihat sikap Li Bunsing itu segera Leng-hong dapat menerka pikiran orang, pikirnya.
"Jangan-jangan Li Bun-sing menaruh curiga padaku? Tidaklah baik mengetahui rahasia orang lain. Biarlah kata-kata kode ini aku tidak perlu ikut mendengarkan saja."
Segera ia pura-pura mengintai ke sana kemari dan bermaksud mencari sesuatu alasan untuk menyingkir. Tapi lantas terpikir pula olehnya.
"Kali ini aku telah ikut membantu dia dengan mati-matian, memangnya aku tidak mengharapkan balas budi apa-apa, tapi kalau dari sini dapatlah aku berkenalan dengan ksatria-ksatria di dunia ini kelak ikut-ikut di medan perjuangan, boleh jadi aku pun dapat mencurahkan sedikit tenagaku, untuk ini ada manfaatnya juga bila aku ikut mengetahui kata-kata kode mereka, paling sedikit akan dapat digunakan berkenalan dengan para gembong organisasi rahasia itu, sekalian biar mereka tahu bahwa aku adalah orang kepercayaan ksatria Li Bun-sing, kawan yang telah diberi pesan terakhir pada saat ajalnya."
Tengah ragu-ragu, tiba-tiba Bun-sing sudah berkata.
"Aku mengetahui dengan jelas, selain keempat tadi tiada begundal mereka yang lain, maka saudara Yap tidak perlu kuatir ada orang luar lagi. Adapun kedua kata kode itu ialah. 'Menunggu sungai utara kembali kepada raja Han, bumi raya Kian-khun akan terus berputar-putar'. Kata-kata Kian-khun di sini dimaksudkan kaisar Kianliong, artinya bila sampai pada pemerintahan Kian-liong, maka nasib kerajaan Boan mereka pun akan segera tamat. Ini adalah kata-kata kiasan untuk mendorong semangat juang para pahlawan kita."
Demikianlah secara mudah Li Bun-sing telah menghindarkan rasa sangsi dan salah paham Yap Lenghong tadi.
Semula ia lihat Leng-hong adalah pemuda yang masih hijau, boleh jadi adalah keturunan keluarga hartawan atau pembesar, orang demikian kalau sampai tertawan musuh, bukan mustahil akan terus mengaku segala rahasia yang telah diketahuinya karena tidak tahan siksaan.
Tapi lantas teringat olehnya bahwa pemuda she Yap ini telah menyelamatkan jiwa anaknya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, kalau aku menyangsikan kejujurannya tentu akan sangat mengecewakan dia.
Karena itu akhirnya ia toh menceritakan juga kode-kode rahasia tadi.
Yap Leng-hong sendiri menjadi hilang juga rasa sangsinya, segera ia pun bertanya.
"Dan apa artinya sungai utara kembali kepada raja Han?"
"Itu adalah kata-kata kiasan di dalam organisasi kami, bila didengar Lim-toako, tentu beliau akan tahu sendiri,"
Sahut Bun-sing.
"Kalau kedua Gisu tidak dapat menemukan Lim-toako, di dalam Thian-li-kau masih ada dua orang Thocu yang bernama Liap Jin-kiat dan Khu Giok, kalian boleh menyampaikan rahasia ini pada mereka. Dan ini adalah 'Hay-te' dari Thian-li-kau kami, sesudah kalian hapalkan tentu kalian dapat bertanya jawab dengan lancar antar sesama anggota dan kalian akan dianggap sebagai kawan sendiri."
Apa yang dimaksudkan 'Hay-te' (dasar laut) itu adalah kumpulan kata-kata sandi setiap organisasi rahasia pada waktu itu yang biasanya digunakan untuk membuktikan diri sebagai sesama anggota.
Ci-wan dan Leng-hong bukan anggota Thian-li-hwe, mestinya Li Bun-sing tidak layak menyerahkan buku kecil yang berisi kata-kata rahasia itu, tapi urusan sekarang dalam keadaan luar biasa, terpaksa ia lakukan dengan penuh kepercayaan kepada kedua kenalan baru itu.
Ci-wan sendiri cukup kenal peraturan-peraturan JKangouw, dengan penuh hormat ia menerima buku kecil itu, tapi lantas diserahkan kepada putra Li Bun-sing, katanya.
"Lebih baik Hay-te ini dipegang oleh putramu saja, di tengah jalan kami dapat minta pelajaran lisan dari saudara cilik ini."
Dengan berbuat demikian, pertama Ci-wan menyatakan tulus ikhlas menerima pesan Li Bun-sing tadi, kedua memperlihatkan bahwa dia sebagai orang di luar Thian-li-kau tidak berani mengangkangi benda berharga yang tidak layak dipegang olehnya.
"Baik juga,"
Ujar Bun-sing dengan tertawa.
"Anak ini mestinya baru boleh masuk menjadi anggota bila telah mencapai usia 16 tahun, sekarang biarlah dia diterima lebih cepat beberapa tahun. Anak He, sekarang kau telah terima 'Hay-te' dari ayah, kelak kalau bertemu dengan Lim-pepek barulah kau minta beliau mengadakan upacara resmi bagimu."
"Apakah Li-enghiong ada pesan lain lagi?"
Tanya Ciwan pula.
"Anak He, lekas menjura kepada kedua paman ini,"
Kata Bun-sing.
"Ah, mana kami berani menerima penghormatan ini,"
Ujar Ci-wan dan Leng-hong.
"Jika kedua Gisu tidak sudi menerima penghormatan bocah ini, maka kata-kata yang masih akan kusampaikan tak berani ku teruskan lagi,"
Kata Bun-sing. Melihat kesungguhan Li Bun-sing itu, terpaksa Ci-wan dan Leng-hong menerima penghormatan Li Kong-he.
"Mungkin aku tidak sanggup menjaga anak ini lagi, untuk itu terpaksa mohon kedua Gisu sukalah menjaganya,"
Kata Bun-sing lebih jauh.
"Kalian baru saja kenal, tapi kalian sudah lantas diminta memikul beban seberat ini, budi kebaikan ini hanya dapat dibalas sesudah anak ini dewasa."
Sambil membangunkan Li Kong-he, Ci-wan berkata.
"Kami merasa beruntung dapat menjadi kawan Lienghiong masakah kami berani menolak mencurahkan sedikit tenaga kami. Aku malah ada suatu usul, entah Lienghiong setuju atau tidak?"
Melihat Ci-wan adalah orang jujur, Bun-sing menjadi sangat percaya padanya, ia menjawab.
"Usul Siau-toako tentulah sangat baik. Silakan Siau-toako menerangkan."
Di kala menyebut mereka berdua, Bun-sing memakai panggilan Gisu ( tuan budiman), tapi sekarang memangil Siau Ci-wan sendiri dengan sebutan "Toako", terang nadanya agak lebih mesra.
Walaupun ini tidak disengaja, tapi tidaklah enak bagi pendengaran Yap Leng-hong sendiri.
Dalam pada itu Ci-wan telah berkata pula.
"Aku ada sedikit hubungan kekeluargaan dengan Kang-tayhiap, Kang Hay-thian, perjalananku ini justru hendak berkunjung padanya. Maka aku bermaksud membawa serta putramu ke sana dan biar saudara cilik ini mengangkat Kang-tayhiap sebagai guru. Pertama, agar mendapat didikan. Kedua, kita menjadi tidak perlu kuatir akan gangguan dari anjing-anjing pemburu kerajaan. Entah bagaimana pendapat Li-enghiong atas usulku ini?"
"Bagus, sudah tentu sangat bagus,"
Sahut Li Bun-sing dengan girang.
"Bicara terus terang, aku belum kenal Kang-tayhiap, tapi sudah lama aku kagum kepada beliau dan ada maksud sebagaimana usulmu ini. Sekarang engkau suka menjadi perantara, sungguh suatu hal yang sangat menguntungkan bagi anak ini. He-ji, coba kemari!"
"Ada pesan apakah ayah?"
Sahut Kong-he.
"He-ji,"
Kata Bun-sing.
"Sejak kecil kau sudah berbeda dari anak-anak lain, kau jarang merengek dan menangis. Sesudah ayah meninggal hendaklah kau ingat baik-baik harapan ayah atas dirimu yang sering ayah katakan padamu itu. Selain itu, sekali lagi ayah melarang kau mengucurkan air mata. Lim-pepek sudah terhindar dari bahaya, kau pun sudah ada tempat berlindung yang baik, sekarang apa yang kuharapkan lagi? Haha, apa yang kuharapkan lagi?"
Habis berkata, ia tertawa tiga kali, lalu tidak bersuara lagi. Waktu Ci-wan memegang nadinya, ternyata Li Bunsing sudah berhenti bernapas alias wafat.
"Ayah, ayah!"
Teriak Kong-he sambil merangkul tubuh ayahnya, air mata berlinang-linang di kelopak matanya, tapi katanya.
"Ya, ayah. aku akan taat kepada pesanmu, aku tetap dendam kepada musuh yang telah menjajah tanah air kita, aku akan berbuat seperti engkau, akan menjadi seorang patriot sejati. Aku takkan menangis, aku akan menuntut balas!"
Katanya tidak menangis, tapi akhirnya air matanya menetes juga. Dengan mengembeng air mata Ci-wan membangunkan Kong-he, katanya.
"Mati dengan berat bagai Thay-san, hari ini ayahmu gugur bagi kepentingan negeri dan berkorban bagi kawan, nama beliau tentu akan harum sepanjang masa, maka hendaklah saudara cilik suka menurut pada pesannya tadi agar janganlah berduka, tapi lekas membereskan layonnya saja."
"Ya, Siautit (keponakan) masih terlalu muda dan tidak tahu apa-apa, segala sesuatu masih mengharapkan petunjuk-petunjuk kedua paman,"
Sahut Kong-he. Ci-wan berkata pula.
"Ketua kuil Giok-hong-koan di atas gunung ini, Ham-hi Tbtiang adalah sahabatku, walaupun beliau adalah orang beribadat, tapi orangnya sangat simpatik dan suka membantu kepada kawan. Di dalam kuilnya ada tersedia peti jenazah sumbangan dari para dermawan yang berkunjung ke kuilnya, maka kita dapat minta bantuannya agar mencarikan orang untuk mengebumikan jenazah ayahmu."
"Baiklah, banyak terima kasih atas perhatian Siausioksiok Tapi apakah luka Siau-sioksiok sendiri tidak berhalangan?"
Tanya Kong-he.
"Sesudah dibubuhi obat luka pemberian ayahmu yang mujarab, lukaku sekarang sudah tak terasa sakit lagi dan cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan,"
Kata Ci-wan.
"Rupanya kau buru-buru ingin pergi dari sini, biarlah nanti sesudah kita bertemu dengan Ham-hi Totiang dan minta bantuannya, lalu kita boleh turun gunung. Mengenai nisan makam ayahmu, biarlah kelak kalau kau sudah dewasa dan tamat belaiar barulah kau laksanakan kewajibanmu sebagai seorang putra berbakti."
"Baiklah, memangnya kedua paman juga perlu berganti pakaian yang bersih, supaya kita dapat berangkat dengan baik,"
Ujar Kong-he.
Maklum, sesudah mengalami pertempuran sengit tadi, baju Ci-wan dan Leng-hong sudah kumal dan bernoda darah.
Diam-diam Ci-wan memuji ketelitian dan kecerdikan anak yang pandai berpikir ini.
Kedatangan Siau Ci-wan dan Yap Leng-hong untuk menikmati pemandangan matahari terbit di atas Thaysan memangnya mondok di kuil Giok-hong-koan.
Ham-hi Totiang itupun seorang tokoh persilatan yang baik hati, bahkan juga sesama orang pergerakan yang diam-diam bekerja di bawah tanah untuk melawan kerajaan Boan, hanya saja dja jarang menonjolkan diri, maka hanya terbatas beberapa orang kawan karibnya saja yang tahu akan seluk-beluknya.
Sebelum mengetuai kuil Giok-hongkoan, pernah juga Ham-hi bertapa di Jing-sia-san sehingga ada hubungan baik dengan keluarga Siau, kalau diurutkan masih terhitung angkatan tua dari Siau Ci-wan, sebab itulah Ci-wan menaruh kepercayaan kepadanya untuk menyelesaikan penguburan jenazah Li Bun-sing dan kawanan bayangkara kerajaan Boan yang terbunuh di atas gunung itu.
Begitulah mereka bertiga lantas kembali ke Giok-hongkoan.
Sebelum tiba di depan kuil itu, tertampak Ham-hi Tojin sudah menantikan kedatangan mereka dengan wajah agak gelisah dan kuatir.
Selagi Ci-wan hendak menegur, tiba-tiba Ham-hi memberi tanda agar jangan bersuara sambil menggeleng kepala, lalu membawa mereka memutar ke samping kuil dan masuk dari pintu belakang dan menuju ke suatu kamar yang biasanya dipakai bertapa oleh Ham-hi.
Ci-wan dan Leng-hong merasa heran atas kelakuan imam itu, tapi Ham-hi juga terperanjat melihat pakaian kedua tamunya itu, ia mendahului bertanya.
"Mengapa demikian keadaan kalian?"
Segera Ci-wan menceritakan apa yang terjadi tadi. Sambil mengelus-elus kepala Li Kong-he, berkatalah Ham-hi.
"Anak baik, janganlah kuatir. Tentang ayahmu itu boleh serahkan padaku saja. Tapi saat ini aku belum dapat keluar kuil, sebab masih harus mengerjakan sesuatu urusan."
"Apakah terjadi sesuatu di dalam kuilmu ini?"
Tanya Ciwan cepat.
"Hal ini tiada sangkut-pautnya dengan Giok-hongkoan, sebaliknya menyangkut urusan kalian berdua,"
Sahut Ham-hi. Leng-hong terkejut dan mendahului bertanya.
"Urusan apakah?"
"Ada dua orang yang tak kukenal telah datang kemari untuk mencari kalian berdua,"
Tutur Ham-hi.
"Siapa nama mereka?"
Tanya Ci-wan "Seorang di antaranya she Leng, dia meninggalkan 'kotak penghormatan' untukmu, boleh jadi di dalamnya tertulis namanya,"
Tutur Ham-hi.
"Dan seorang lagi tak mau memberitahukan namanya, dia juga lebih aneh daripada orang she Leng itu."
"Mereka tidak datang bersama?"
Tanya Ci-wan.
"Tidak, orang she Leng itu datang lebih dulu,"
Kata Ham-hi. Lalu Ham-hi mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, katanya lebih jauh.
"Lebih dulu biarlah kuceritakan orang she Leng ini, tampaknya dia adalah seorang Kangouw yang suka berterus terang begitu datang dia lantas menyatakan ada urusan penting ingin mencari Siau Ci-wan, Siau-toaya. Aku menjawab tidak tahu siapakah Siau Ci-wan. Namun aku pun kuatir kalau-kalau dia benar-benar adalah kawanmu, maka aku menjawab bahwa di dalam kuilku memang terdapat beberapa orang tamu yang sedang keluar pesiar di atas gunung dan entah di antaranya adakah terdapat seorang she Siau. Kutanya apakah dia ada sesuatu urusan yang perlu disampaikan, biarlah nanti kalau para tamu sudah pulang dan ternyata ada tuan Siau yang dimaksudkan, maka akan kusampaikan pesannya. Tapi orang she Leng itu menyatakan belum pernah bertemu muka dengan kau, tapi ada urusan penting yang harus dibicarakan berhadapan. Dia meninggalkan kotak ini, katanya bila engkau sudah melihat kotak ini dan ada maksud menemuinya dengan sendirinya inilah yang dia harapkan, sebaiknya kalau kau tidak mau bertemu dengan dia, maka kotak ini boleh dikembalikan padanya dan dia iuga takkan memaksa. Sekarang aku menyilakan dia menunggu di kamar tamu."
"Kiranya adalah kawan yang belum pernah bertemu, tapi darimanakah dia mengetahui jejakku ini, sungguh agak aneh,"
Ujar Ci-wan.
Segera ia menaruh kotak itu di atas meja, lalu mundur beberapa langkah, cepat mengeluarkan sebilah belati terus disambitkan dari jauh.
Ternyata mahir sekali sambitannya itu, tepat kotak itu kena tertimpuk bagian sela-sela tutupnya sehingga terbuka dan tiada terlihat sesuatu yang mencurigakan.
Diam-diam Leng-hong memuji ketelitian saudara angkatnya itu.
Kemudian Ci-wan mengeluarkan sehelai kartu dari dalam kotak.
di atas kartu itu terlukis sebuah matahari dan sabit (rembulan muda), di bawahnya ada empat huruf yang artinya.
"Tertanda tahu sendiri."
"Aneh, disangka tertulis apa-apa, kiranya toh tiada sesuatu namanya,"
Ujar Leng-hong dengan heran. Sebaliknya Siau Ci-wan lantas bergelak tertawa, katanya.
"Kiranya Leng-cecu yang telah mengirim orang untuk mencari diriku, ini benar-benar kawan yang sudah lama saling mengagumi nama masing-masing."
"Siapakah Leng-cecu itu?"
Leng-hong.
"Dia adalah seorang ksatria termuka di Sucwan utara, yaitu satu di antara tokoh-tokoh yang disebut Li Bun-sing tadi, namanya Leng Thian-lok, Cecu dari Tay-bong-nia di Siau-bong-nia di Siau-kim-jwan. Dia menganggap perlawanan kepada kerajaan Boan dan memulihkan kerajaan Beng sebagai tugasnya yang suci, simbul matahari dan sabit adalah huruf 'Beng' (dalam huruf Tionghoa) huruf 'Beng' terdiri dari gabungan huruf-huruf Jit (matahari) dan Gwat (rembulan) dan ini adalah panji pengenalannya. Meski aku tidak pernah bertemu dengan dia, tapi di rumah beberapa orang kawan aku pernah melihat tulisan tangannya dan beberapa huruf ini memang benar adalah tulisannya. Orang yang menyampaikan kotak ini juga she Leng, tentunya adalah anak atau keponakannya. Dia datang dari tempat jauh, tentu adalah urusan penting, maka aku harus menemuinya."
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Ham-hi Tojin mencegah.
"Adakah sesuatu nasehat Totiang?"
Tanya Ci-wan.
"Bukankah masih ada seorang tamu lagi,"
Ujar Ham-hi.
"Ya, benar,"
Kata Ci-wan.
"Aku justru hendak bertanya bagaimana dengan tamu yang lain itu? Tadi kau mengatakan dia jauh lebih aneh daripada orang she Leng ini?"
"Benar, orang she Leng itu begitu datang lantas menyatakan ingin mencari kau. Tapi tamu yang lain itu sangat pendiam dan mirip seorang pengunjung biasa, begitu masuk kuil langsung menyulut dupa dan bersembahyang, habis itu tampak longok ke sana dan intip ke sini, aku menjadi curiga dan segera keluar untuk melayaninya. Tiada lama dia bicara dengan aku, tanpa diminta dia lantas memberikan derma 30 tahil perak. Dia sangka aku adalah imam yang mata duitan, dengan menerima dermanya tentu akan mudah memberi keterangan yang dia hendak tanya. Benar juga, sesudah memberi derma, dengan cengar-cengir dia lantas bertanya padaku tentang wajah dan perawakan kalian, ia bertanya apakah kalian berdiam di sini atau tidak?"
"Lalu bagaimana jawabmu?"
Tanya Ci-wan.."Karena merasa curiga, maka aku pun menjawab tidak tahu dan menyatakan suka menyampaikan pesannya jika di antara tamu-tamu pengunjung kami adalah orangorang yang dia cari.
Dia juga menyatakan ada sesuatu urusan yang harus dibicarakan berhadapan dengan kalian.
Tapi dia tidak memberi tanda pengenal apa-apa juga tidak mau mengatakan namanya.
Terpaksa aku pun minta dia menunggu di kamar tamu."
"Apakah dia berada di suatu kamar tamu yang sama dengan orang she Leng itu?"
Tanya Ci-wan.
"Kau jangan kuatir. Masakah sedikit pengetahuan umum kalangan Kanggouw aku tidak paham? Aku justru telah memisahkan mereka dengan cukup jauh, yang satu di kamar timur, yang lain di kamar barat, keduanya juga tidak mengetahui satu sama lain."
Ci-wan tertawa lega, katanya.
"Memangnya jahe tua selalu lebih pedas, cara Totiang melayani mereka memang sangat baik, pertanyaanku barusan terlalulah berlebihan."
Ia kuatir Leng-hong tidak paham, maka ia lantas memberikan penjelasan.
"Jika kedua tamu itu adalah sama-sama kawan seperjuangan, tentu tidak menjadi soal. Kuatirnya kalau satu di antaranya adalah anjing pemburu kerajaan, hal ini tentu bisa menjadi urusan. Pula, bila di luar tahu tuan rumah ternyata di antara mereka pernah bermusuhan, lalu mereka kepergok di sini, hal inipun dapat menjangkitkan keonaran yang tak terduga. Sebab itulah adalah sangat bijaksana bahwa Totiang telah memisahkan mereka di kamar yang berlainan."
"Asal-usul orang she Leng itu sudah jelas, tapi tamu yang satu lagi itu belum terang"
Demikian Ham-hi berkata pula.
"Menurut pandanganku, orang itu jauh lebih pendiam daripada orang she Leng mungkin bukan orang dari kalangan baik. Malahan dia meyakinkan sesuatu ilmu berbisa dari golongan jahat."
"Darimana Totiang tahu?"
Tanya Leng-hong dengan terkejut.
"Waktu dia menuliskan dermanya pada buku sumbangan, diam-diam aku memperhatikan di telapak tangannya terdapat tujuh titik bintik merah, ini adalah ilmu pukulan Chit-poh-cu-seh-ciang. Siapa saja yang terkena pukulannya, tidak sampai melangkah tujuh tindak segera akan binasa. Tapi kalau tidak memiliki Lwekang yang tinggi, dengan sendirinya pukulannya yang berbisa itu takkan manjur untuk mencabut nyawa sang korban dalam tujuh tindak. Walaupun demikian, juga perlu berhati-hati menghadapi orang yang melatih pukulan berbisa begitu. Siau-hiantit, coba kau pikir dulu, apakah di antara sahabatmu terdapat seorang yang meyakinkan Chit-poh-cu-seh-ciang (pukulan pasir merah pencabut nyawa dalam tujuh langkah)?"
Pergaulan Siau Ci-wan memang sangat luas dan meliputi berbagai golongan dan lapisan, makanya Ham-hi bertanya padanya. Ci-wan merenung sejenak, katanya kemudian sambil mengerut kening.
"Aneh, aku merasa tidak pernah mempunyai seorang kenalan yang mahir ilmu pukulan demikian itu."
"Bagaimana wajah orang itu?"
Tiba-tiba Leng-hong bertanya.
"Setengah tua dan agak gemuk, tiada sesuatu yang luar biasa,"
Sahut Ham-hi.
"Ya, hanya ada satu tempat yang agak berbeda daripada orang lain, yaitu alisnya tipis dan jarang-jarang, pula berwarna kemerah-merahan."
"Alisnya tipis dan jarang, warna kemerah-merahan?"
Leng-hong menegas.
"Apakah saudara Yap kenal dia?"
Tanya Ci-wan.
"Aku seperti pernah melihat seorang yang berciri demikian,"
Sahut Leng-hong.
"Tapi aku pun tidak berani memastikan, harus melihatnya dahulu baru bisa tahu apakah dia atau bukan?"
"Bagaimana asal-usulnya dan dari kalangan mana?"
Tanya Ci-wan.
"Siaute sama sekali tidak tahu, aku pun menyangsikan dia bukanlah orang baik-baik. Orang itu pernah cekcok sedikit urusan denganku, agak panjang juga untuk menceritakan, biarlah nanti saja kututurkan. Kukira besar kemungkinan akulah yang hendak dicari olehnya. Maka lebih baik begini saja, silakan Siau-toako pergi menemui orang she Leng itu, orang ini biarlah aku yang menghadapinya."
Dari ucapannya ini terang Leng-hong bermaksud menemui sendiri tamu yang aneh itu.
Melihat sikap Leng-hong yang agak aneh dan tuturkatanya yang rada ragu-ragu itu, diam-diam Ci-wan menyangka saudara angkatnya itu sungkan untuk menerangkan sesuatu urusannya di hadapan Ham-hi Totiang, maka bukannya dia mencurigai Leng-hong, sebaliknya dia agak kuatir baginya.
Segera ia berkata.
"Baiklah, kita boleh menemui tamu masing-masing. Cuma Yap-hiante hendaklah berlaku hati-hati sedikit."
Leng-hong lantas berbangkit. Tiba-tiba Ci-wan berkata pula.
"Totiang, silakan kau membawa aku menemui dulu orang she Leng itu, habis itu barulah kau membawa Yaphiante kepada tamu yang lain. Kedua tamu itu toh bukan satu rombongan, maka kita pun tak perlu menemui mereka bersama."
Rupanya Siau Ci-wan lebih berpengalaman dan juga lebih dapat menyelami perasaan orang lain.
Dia sengaja minta bantuan Ham-hi Tojin untuk diam-diam membantu Yap Leng-hong bilamana perlu, cuma ia tidak ingin menyinggung perasaan Leng-hong tapi sengaja memakai alasan.
Begitulah sesudah Siau Ci-wan keluar dengan diantar Ham-hi.
Leng-hong sendiri menjadi tidak tenteram di dalam kamar, pikirannya bergolak, pikirnya.
"Orang ini pasti adalah pesakitan she Cu dahulu itu. Sejak kecil aku telah meninggalkan rumah, masakah dia masih dapat mengenali diriku? Dahulu ayahku sengaja hendak membebaskan dia, mungkin kemudian maksud ayah itu telah dilaksanakan, maka dia sekarang dapat mengembara di Kangouw lagi. Kabarnya dari pentolan bandit dia telah berganti bulu menjadi anjing pemburu kerajaan yang selalu bermusuhan dengan ksatria kaum Kangouw, entah berita ini benar atau tidak? Jika benar, ai, ini adalah dosa ayahku."
Lalu terpikir pula olehnya.
"Wajahku sudah banyak berubah, aku pun sudah berganti nama, pula berada bersama Siau-toako, boleh jadi dia menganggap aku adalah kawan perjuangan Siau-toako, maka dia sengaja membikin susah padaku? Ya, atau barangkali ayah mengetahui kepulanganku ke selatan ini, maka dia dikirim kemari untuk memapak? Hm, aku sekarang sudah berubah menjadi orang baru, mana dapat aku pulang ke rumah? Aku pun tidak ingin orang lain mengetahui asalusulku yang sebenarnya serta namaku yang asli."
Tengah bergolak pikirannya, sementara itu Ham-hi Tojin sudah kembali. Ia membuka lemari obat dan mengeluarkan sebutir pil, katanya.
"Obat ini dapat menolak hawa berbisa, bolehlah kau meminumnya."
Leng-hong juga tidak sungkan-sungkan lagi, sesudah menghaturkan terima kasih ia lantas menerima pemberian obat itu. Lalu Ham-hi berkata pula.
"Orang yang melatih pukulan berbisa itu, di atas tubuhnya tentu ada tiga tempat titik kelemahan, pertama adalah di Leng-yan-hiat di bagian iga, kedua di Lau-kiong-hiat di telapak tangan dan ketiga adalah Tan-tian-hiat di bagian pusar. Asal ketiga tempat itu diincar, biarpun ilmu silatnya jauh lebih tinggi juga terpaksa ia harus menangkis dan menghindari."
"Biar kulihat dulu apa maksud kedatangannya, toh belum tentu mesti bergebrak,"
Ujar Leng-hong.
"Kalau tak perlu bergebrak, itulah paling baik,"
Kata Ham-hi.
"Baiklah, sekarang akan kuantar kau ke sana."
Komplek kuil Giok-hong-koan itu sangat luas, dari kamar pertapaan Ham-hi itu masih harus melalui beberapa susun ruangan barulah dapat sampai di ruang tamu.
Ruang tamu itupun mempunyai belasan buah kamar tamu yang jarak satu sama lain cukup jauh dan terletak di kedua samping pendopo.
Ketika dekat dengan pendopo utama Tay-hiong-potian, tiba-tiba Leng-hong berhenti dan berkata.
"Totiang, orang itu menunggu di kamar tamu mana, silakan kau beritahukan padaku saja."
Melihat Leng-hong mempunyai maksud menemui sendiri tamunya, sebagai orang yang berpengalaman, dengan sendirinya Ham-hi merasa di antara mereka tentu ada sesuatu rahasia yang tidak ingin didengar oleh orang lain.
Walaupun agak kurang senang, terpaksa ia menunjukkan sebuah kamar dan berkata.
"Di kamar tamu itu, kau boleh melongok dulu dari luar, coba lihat apakah tamu itu sudah kau kenal atau belum."
Leng-hong mengiakan.
Setiba di depan kamar, benar juga ia mengintip dulu dari luar, tampaknya agak ragu ragu sejenak dan memandang sekejap ke belakang, tapi akhirnya ia masuk juga ke dalam kamar.
Ham-hi tidak lantas tinggal pergi, ia bersembunyi di balik sebuah gunung-gunungan untuk mengawasi, dia memang orang simpatik karena mendapat pesan Siau Ciwan tadi, maka diam-diam ia ingin melindungi Yap Lenghong.
Sebenarnya tiada maksud Ham-hi hendak mencuri dengar percakapan orang.
Tapi selang tak lama mendadak terdengar teriakan orang "Sam-koan, apa yang kau lakukan?
Baik ...
baik sekali caramu ini Suara itu agak kasar dan menyeramkan, sampai di sini mendadak suara itu terputus.
Terang suara itu bukan suara Yap Leng-hong hal ini benar-benar di luar dugaan Ham-hi.
Sejak tadi ia kuatir Leng-hong akan mengalami sesuatu cidera dari tamu aneh itu, siapa duga justru terbalik, tamu aneh itu yang telah cidera di tangan Yap Leng-hong.
Sesudah suara orang itu terputus mendadak, tapi lantas terdengar suara gedubrakan jatuhnya macammacam benda, mungkin orang itu telah kena serangan, tapi tidak mengenai tempat berbahaya dan telah bergebrak sengit dengan Yap Leng-hong.
Sebagai tuan rumah, dengan sendirinya Ham-hi tidak dapat tinggal diam.
Cepat ia berlari dan menerjang ke dalam kamar sambil berseru.
"Ada urusan apakah, harap kalian bicara dengan baik-baik saja!"
Ia lihat tamu aneh itu dengan mata melotot dan secara kalap sedang menubruk dan menyerang Lenghong sambil mengeluarkan suara "uh-uh".
Tapi tak dapat bicara.
Setiap pukulannya selalu membawa angin yang berbau busuk.
Pada Leng-yan-hiat di bagian iganya tertampak luka tusukan, cuma tidak tepat mengenai Hiatto itu, maka lukanya tidak parah.
Tapi karena kekuatannya jauh di atas Leng-hong maka pemuda itu sudah terdesak sampai di dinding.
Untung sebelumnya Leng-hong sudah minum pil anti hawa berbisa pemberian Ham-hi sehingga ia masih tahan pukulan lawan.
Sebaliknya atas petunjuk Ham-hi tadi, maka pedangnya selalu mengincar titik-titik kelemahan musuh sehingga tamu aneh itupun tidak berani terlalu mendesak maju.
Walaupun demikian, keadaan Leng-hong terang juga terancam bahaya.
Diam-diam Ham-hi heran melihat keadaan itu.
Tamu aneh itu hanya megeluarkan suara "ah-uh-ah-uh"
Saja, terang dia punya Ah-hiat (Hiat-to yang membikin bisu) tertotok.
Mengapa begitu berhadapan Leng-hong lantas menotok Hiat-to bisu lawannya?
Tengah Ham-hi bersangsi, tiba-tiba terdengar suara "creng"
Sekali, selentikan jari tamu aneh itu telah mementalkan pedang Leng-hong ke samping, menyusul telapak tangan kiri terus membelah ke atas kepala pemuda itu.
Sebagai tuan rumah dan sebelum tahu jelas duduknya perkara, dengan sendirinya Ham-hi tidak enak membela salah satu pihak.
Tapi demi nampak Leng-hong terancam oleh pukulan maut tamu itu, terpaksa Ham-hi harus bertindak, tanpa pikir lagi kebutnya lantas menyabet ke arah tamu aneh itu.
Kepandaian Ham-hi dengan sendirinya sangat tinggi, tujuannya hendak menolong Yap Leng-hong pula, maka serangannya yang lihai ini telah memakai hampir seluruh tenaganya.
Dengan cepat sekali tampaknya pukulan tamu aneh itu sudah hampir mengenai sasarannya, di luar dugaan mendadak kebut Ham-hi juga sudah menyambar tiba dan Lau-kiong-hiat yang merupakan salah satu titik kelemahannya tepat kena tersabet oleh ujung kebut.
Tanpa ampun lagi tamu aneh itu bersuara tertahan, tenaganya jadi buyar dan terhuyung-huyung mundur.
Dan belum lagi Ham-hi sempat melerai, kesempatan itu tidak disia-siakan lagi oleh Yap Leng-hong, secepat kilat ia menubruk maju dan pedangnya lantas menikam.
Baru saja Ham-hi hendak berseru mencegah, namun pedang Leng-hong sudah menembus perut tamu aneh itu melalui pusarnya, terang jiwanya tak bisa tertolong lagi.
Melihat itu Ham-hi menjadi bertambah curiga, ia heran mengapa Yap Leng-hong begitu terburu-buru membinasakan tamu aneh itu, jangan-jangan ada sesuatu rahasianya yang dipegang tamu itu sehingga perlu membunuhnya untuk menutup mulutnya?
Dalam pada itu terdengar juga seruan Siau Ci-wan di luar.
"Yap-hiante jangan kuatir, aku sudah datang!"
Menyusul tertampaklah dia telah menerobos masuk, di belakangnya mengikut seorang laki-laki setengah umur, yaitu tamu yang mengaku she Leng itu.
Tapi waktu Ci-wan masuk kamar, sementara itu Lenghong sudah mencabut kembali pedangnya dan tamu aneh itupun sudah menggeletak di lantai dengan berlumuran darah.
"Yap-hiante, kiranya bangsat ini sudah kau bunuh, kau sendiri terluka atau tidak?"
Tanya Ci-wan dengan girang dan terkejut Ia menaruh kepercayaan penuh kepada kawannya, kalau tamu aneh itu sampai dibunuh Lenghong maka pastilah tamu itu adalah seorang penjahat, demikian anggapan Ci-wan.
Leng-hong menggosok noda darah pedangnya di atas bajunya sendiri dan menyimpan kembali senjata itu, lalu berkata.
"Banyak terima kasih atas bantuan Ham-hi Totiang untung Siaute tidak sampai terluka. Hanya saja kuil Ham-hi Totiang yang suci ini menjadi ikut ternoda."
Sedikitpun Ci-wan tidak menaruh curiga apa-apa, sebaliknya Ham-hi tetap merasa sangsi, tiba-tiba ia bertanya.
"Siapakah orang ini?"
Belum lagi Leng-hong menjawab, sekonyong-konyong tamu she Leng itu telah menyela.
"Aku kenal orang ini! Bagus, bagus sekali!"
Leng-hong memandang bingung kepada tamu she Leng itu, sedang Ci-wan lantas memperkenalkan mereka.
"Saudara ini adalah keponakan Leng-cecu dari Siau-kimjwan, namanya Tiat-jiau. Dan ini adalah saudara angkatku, Yap Leng-hong."
Habis itu ia lantas bertanya.
"Siapakah orang ini, mengapa Leng-toako mengatakan bagus sekali?"
"Bangsat ini adalah pengkhianat golongan Hek-to (kaum bandit) yang dosanya tak terampunkan,"
Sahut Leng Tiat-jiau.
"Dengan membinasakan dia, paling tidak Yap-enghiong telah ikut membasmi satu penyakit bagi dunia Kangouw kita."
Baru sekarang Ci-wan dan Ham-hi paham, kiranya "bagus sekali"
Yang dimaksudkan Leng Tiat-jiau ialah memuji Yap Leng-hong karena orang yang dibunuh olehnya itu adalah tepat.
"Hahaha!"
Leng-hong bergelak tertawa.
"Aku hanya tahu dia adalah anjing pemburu pemerintah Boan yang kejam, tapi tidak jelas nama dan asul-usulnya. Jika demikian aku memang tidak salah membunuhnya."
Kiranya Leng-hong juga cukup cerdik, walaupun kurang pengalaman.
Ia pun merasa dirinya telah dicurigai oleh Ham-hi Tojin, maka ucapannya sesungguhnya ditujukan kepada Ham-hi.
Imam itu ternyata diam saja seperti sedang berpikir.
Namun Leng-hong juga masih kebat-kebit, ia tidak tahu sampai dimana pengetahuan Leng Tiat-jiau atas tamu aneh yang telah dibunuhnya itu.
Sebab itulah ia pura-pura tidak kenal nama dan asal-usul korbannya itu dan membiarkan Leng Tiat-jiau yang bercerita lebih dulu.
Maka Leng Tiat-jiau telah menutur.
"Kira-kira belasan tahun yang lalu di kalangan Hek-to terdapat seorang bandit besar yang sangat terkenal, namanya Cu Goan dan berjuluk 'Chit-poh-tui-hun-jiu' (pukulan maut dalam tujuh langkah). Dia bukan lain adalah orang yang sudah mati ini."
"O, kiranya dia adalah iblis yang pernah seorang diri membinasakan 13 gembong Cecu di daerah Siamsay dahulu itu,"
Kata Ci-wan.
Apa yang dikatakan itu adalah peristiwa yang mengguncangkan kalangan Lok-lim yang terjadi pada 20 tahun yang lalu, tatkala itu Ci-wan sendiri belum lagi dewasa, tapi ia pernah mendengar cerita dari kakeknya, yaitu Siau Jing-hong.
"Ya, betul, memang dia ini,"
Sahut Tiat-jiau, lalu tuturnya pula.
"Sesudah peristiwa itu, seketika Cu Goan lantas menjadi gembong yang disegani di kalangan Hekto. Beberapa tahun kemudian, mendadak dia menghilang dari dunia Kangouw. Ada orang mengatakan dia sengaja menyembunyikan diri untuk menghindari pencarian musuh, tapi ada juga yang mengatakan bahwa dia sudah kaya raya, maka sudah cuci tangan dan kembali ke masyarakat ramai untuk menikmati hasilnya. Padahal kedua macam dugaan itu semuanya tidak betul."
"Tidak betul semua? Habis mengapa dia menghilang?"
Tanya Ci-wan.
"Masakah dia dengan suka rela menghilang? Adalah karena terpaksa, dia telah ditangkap pihak yang berwajib dan dijebloskan ke dalam penjara,"
Kata Tiat-jiau.
"Aneh, begitu tinggi kepandaiannya juga kena ditangkap oleh yang berwajib?"
Ci-wan menegas dengan heran.
"Pembesar macam apakah itu sehingga mampu menangkapnya?"
"Kabarnya dia tertangkap di kota Siangyang,"
Tutur Tiat-jiau lebih jauh.
"Waktu itu yang menjabat Tihu (walikota) Siangyang adalah seorang she Yap juga, namanya aku sudah lupa. Walaupun seorang pembesar sipil, tapi terdapat beberapa orang bawahannya yang pandai, malahan ada orang mengatakan dia sendiri pun memiliki ilmu silat yang lihai. Cuma saja dia tidak pernah menonjolkan diri, maka tiada orang yang tahu persis sampai dimana kepandaiannya yang sebenarnya. Dan kabarnya adalah dia sendiri bersama beberapa pembantunya yang telah menangkap Cu Goan."
"Apakah Yap-tihu itu adalah Yap Siau-ki yang sekarang menjabat sebagai gubernur Siamsay dan Kamsiok itu?"
Tiba-tiba Ham-hi Totiang bertanya.
"Itulah aku kurang jelas,"
Sahut Tiat-jiau.
"Tatkala itu aku masih kecil, hanya dari obrolan kakek dengan para tamu kudengar tentang peristiwa itu. Apakah Totiang sendiri mengetahuinya juga?"
"Aku hanya menduga-duga saja, sebab pembesarpembesar she Yap yang berkedudukan lebih tinggi daripada Tihu sekarang hanya Yap Siau-ki saja,"
Sahut Ham-hi. Leng-hong merasa lega, pikirnya.
"Untung mereka pun tidak terlalu jelas tentang seluk-beluk Cu Goan."
Lalu Leng Tiat-jiau menyambung pula ceritanya.
"Sesudah itu kabarnya Cu Goan telah menyerah kepada pembesar she Yap dan berubah menjadi antek pemerintah Boan yang khusus memusuhi kawan-kawan Kangouw, akhirnya Cu Goan naik pangkat dan mencari bayangkara kerajaan, sering pula dia ditugaskan menjadi mata-mata pemerintah di kalangan Kangouw. Pernah sekali dia kepergok oleh pamanku, maka terjadilah pertarungan sengit, dia kena dilukai paman, tapi berhasil melarikan diri. Tak terduga hari ini dia bisa muncul di sini dan mati di ujung pedang saudara Yap."
"Tanpa bantuan Ham-hi Totiang, mungkin Siaute sendiri sudah binasa di bawah pukulan bangsat ini,"
Sahut Leng-hong rendah hati. Baru sekarang rasa sangsi Ham-hi mulai lenyap, pikirnya.
"Kiranya orang ini adalah Cu Goan yang telah dibuktikan oleh Leng Tiat-jiau sebagai kaki tangan kerajaan Boan. Jika demikian Yap Leng-hong memang tidak salah membunuh orang, kalau tidak, tentu akulah yang berdosa."
"Dan sebab apakah Yap-hiante bermusuhan dengan orang she Cu ini, jika engkau tidak kenal nama dan asalusulnya?"
Tiba-tiba Ci-wan bertanya. Leng-hong memang sudah menduga akan adanya pertanyaan demikian, maka ia lantas menjawab.
"Permulaan tahun ini, waktu Siaute dalam perjalanan tiba-tiba merasa telah dikuntit orang. Malam itu aku menginap di sebuah hotel, pada saat terakhir mendadak aku telah ganti kamar, kamar yang pertama kemudian juga telah, disewa orang. Siapa duga malam itu benarbenar ada orang menyatroni aku, untung aku telah ganti kamar sehingga yang menjadi korban adalah tamu penghuni bekas kamarku itu. Ketika semua orang terkejut oleh jeritan ngeri dan beramai-ramai mendatangi kamar itu, kulihat tamu itu sudah mati dengan dada terbuka dan terdapat bekas luka pukulan dengan tujuh titik bintik merah."
"Ya, betul, itulah ciri bekas kena pukulan Chit-poh-cuseh-ciang"
Kata Tiat-jiau.
"Keadaan saudara Yap pada waktu itu sungguh berbahaya sekali."
"Benar, aku menjadi sangat menyesal telah mengakibatkan korban orang lain,"
Sahut Leng-hong dengan gegetun.
"Sungguh aku tidak paham, aku toh tiada pernah kenal dia, mengapa dia menguntit aku dan hendak menyergap diriku secara keji?"
"Soalnya cukup jelas,"
Ujar Ci-wan.
"Bangsat ini kan suka memusuhi pahlawan-pahlawan yang anti kerajaan Boan? Mungkin kau telah dicurigai dia, maka kau hendak dibunuh olehnya. Tapi dalam kegelapan bangsat ini telah keliru membunuh orang tanpa sadar."
"Ya, memang sesudah itu aku pun tidak dikuntit orang lagi,"
Kata Leng-hong. Lalu ia menghela napas dan menyambung pula.
"Walaupun demikian aku merasa tidak enak karena telah menyebabkan kematian orang lain yang tak berdosa. Diam-diam aku telah mengingat baik-baik wajah bangsat ini. Siapa duga ajalnya mungkin sudah ditakdirkan akan tamat, maka dia telah mengantarkan sendiri ke sini. Untung juga ada bantuan Ham-hi Totiang sehingga dapatlah membunuhnya."
Meski Ci-wan dan Tiat-jiau dapat mempercayai cerita yang dikarang Yap Leng-hong ini, tapi rasa curiga Ham-hi Tojin masih belum lenyap seluruhnya, pikirnya.
"Jika menurut ceritanya, jadi dia tidak pernal kenal Cu Goan ini, tapi mengapa tadi Cu Goan terdengar memanggilnya 'Sam-koan' apa? Sebutan demikian lazimnya adalah panggilan seorang hamba terhadap tuan mudanya. Pula, begitu menyerang Yap Leng-hong lantas menotok Ah-hiatnya, terang dia sengaja membikin Cu Goan agar tidak dapat bicara. Apa sih yang dikuatirkanYap Lenghong atas diri Cu Goan?"
Begitulah sedikit banyak.Ham-hi dapat menerka, di antaranya Cu Goan dan Yap Leng-hong pasti ada sesuatu hubungan yang tak ingin diketahui orang lain. Terpikir pula olehnya.
"Tak peduli apa hubungan antara Cu Goan dan Yap Leng-hong, yang terang Cu Goan adalah kaki tangan kerajaan, matinya tidak perlu disayangkan lagi. Kalau melihat tindakan Yap Leng-hong hari ini yang telah menolong Li Bun-sing dan putranya dengan mati-matian, betapapun dia juga tergolong seorang pendekar yang berbudi. Kalau ada rahasia pribadinya yang tidak ingin diketahui orang lain, buat apa aku mesti menyelidikinya?"
Kemudian Ham-hi lantas menyuruh beberapa anak muridnya membereskan mayat Cu Goan.
Begitu pula beberapa murid yang lain disuruh mengubur jenazah Li Bun-sing serta beberapa korban lain di Giok-hong-teng.
Dan baru sekarang Ci-wan dapat bicara baik-baik dengan Leng Tiat-jiau, tadi karena terburu-buru ingin membantu Yap Leng-hong, maka mereka belum sempat bicara.
Ci-wan mulai bertanya maksud kedatangan Leng Tiat-jiau.
"Tentang pemupukan kekuatan pamanku yang hendak mengadakan pergerakan melawan kerajaan, hal ini tentu sudah kau ketahui,"
Tutur Tiat-jiau.
"Sekarang sudah tiba waktunya, Pek-lian-kau telah mengacau di daerah Oulan dan Oupak, laskar rakyat di daerah Holam di bawah pimpinan Liap Jin-kiat juga mulai bergerak dan menduduki beberapa kota. Pemerintah Boan sekarang sedang memusatkan pasukannya untuk menghadapi Peklian-kau dan laskar rakyat Holam sehingga tidak sempat lagi mengawasi propinsi-propinsi yang terletak agak jauh seperti Sucwan, Hunlam, Kuiciu dan lain-lain. Jadi menurut pamanku, sekarang ini merupakan kesempatan paling bagus untuk ikut bergerak, terutama dapat memencarkan kekuatan Boan, secara tidak langsung juga berarti membantu gerakan pemberontakan bersama pasukan sekawan. Paman sudah mengadakan perjanjian dengan pahlawan-pahlawan lain di berbagai tempat untuk bergerak bersama. Siau-toako adalah orang Sucwan dan anak murid Jing-sia-pay yang terkenal, tentunya luas juga hubungannya dengan orang-orang Bu-lim, maka paman sengaja mengutus aku untuk mengundang Siau-toako agar sudi pulang kampung untuk membantu pergerakan kita ini."
"Aku mengucapkan banyak terima kasih ajas perhatian pamanmu yang sedemikian menghargai diriku,"
Sahut Ciwan dengan bersemangat.
"Cuma saja aku masih ada sedikit urusan harus berkunjung dulu ke Nyo-keh-ceng di Tong-peng-koan."
"Nyo-keh-ceng di Tong-peng-koan? Bukankah kediaman Kang Hay-thian, Kang-tayhiap?"
Tiat-jiau menegas.
"Ya, kabarnya keluarga Siau kalian mempunyai hubungan baik dengan keluarga Kang-tayhiap."
"Kunjunganku ke sana ini tidak melulu menyambangi keluarga Kang saja, tapi lebih penting lagi adalah karena pesan seorang pahlawan,"
Sahut Ci-wan. Lalu ia pun menuturkan hal ikhwal Li Bun-sing dan putranya. Tiat-jiau ikut terharu atas jiwa kepahlawanan Li Bunsing itu, katanya.
"Membela keturunan Li-enghiong adalah suatu tugas suci. Baiknya Tong-peng-koan terletak tidak jauh dari sini, hanya perjalanan dua hari saja akan dapat sampai. Aku pun ingin sekali mengunjungi Kang-tayhiap, biarlah aku mengiringi kalian pergi ke sana."
"Bagus sekali jika Leng-toako suka ikut pergi ke sana,"
Sambut Ci-wan dengan girang.
Begitulah mereka bertiga lantas bebenah seperlunya dan mohon diri kepada Ham-hi untuk berangkat dengan membawa Li Kong-he.
Hari pertama tiada terjadi apa-apa, hari kedua mereka sudah memasuki wilayah Tong-peng-koan, kira-kira beberapa puluh li lagi sudah dapat sampai di Nyo-kehceng.
Diam-diam Ci-wan merasa lega, pikirnya.
"Sampai di sini rasanya aku telah memenuhi tugasku menyelamatkan keturunan Li Bun-sing ini. Biar betapapun ganasnya antek-antek kerajaan Boan, rasanya juga tidak berani main gila di wilayah pengaruh Kangtayhiap ini."
Siapa duga belum lenyap pikirannya, tiba-tiba terdengar suara mendering nyaring suara dua batang anak panah yang melayang di udara.
Panah bersuara adalah tanda peringatan yang biasanya digunakan oleh kaum bandit pada saat akan melakukan pembegalan.
Yang berani menggunakan panah bersuara biasanya adalah bandit besar yang ternama.
Ci-wan agak terkejut ia heran kaum bandit darimanakah yang berani melakukan kejahatan di wilayah pengaruh Kang-tayhiap?
Apakah mereka tidak takut mati?
Sebaliknya Leng Tiat-jiau lantas tertawa, katanya.
"Sejak dilahirkan aku lantas hidup di sarang bandit, tak terduga hari ini bandit telah ketemukan pembegal, sungguh lucu dan menarik."
"Mungkin bukan bandit sembarang bandit,"
Ujar Ciwan.
"Biarlah kita mencari tahu maksud kedatangannya dahulu."
Dalam pada itu tampak lima penunggang kuda sedang mendatangi secepat terbang, lalu berhenti di depan mereka.
Pemimpin pendatang-pendatang itu adalah seorang wanita cantik berusia 30-an, keempat lainnya adalah wanita-wanita muda berbaju hijau semua, tampaknya adalah dayang-dayang wanita cantik itu.
Mau tak mau Ci-wan dan Tiat-jiau terperanjat.
Ci-wan menjadi sangsi apakah mungkin kaum wanita ini adalah kaki tangan kerajaan Boan.
Sebaliknya Tiat-jiau mestinya hendak bicara menurut peraturan sesama kaum bandit.
Selama hidupnya tidak pernah bergaul dengan wanita, maka ia menjadi kaku, terpaksa ia tampil ke depan dan menegur.
"Kalian, kalian ini kawan dari garis manakah?"
"Hihi,"
Tiba-tiba salah seorang dayang muda itu mengikik tawa, katanya.
"Siapa mengaku kawanmu? Huh, mestinya kau harus berkaca dahulu, siapa yang sudi berkawan dengan lelaki hitam kasar macammu ini?"
"Hus, Siau Kiok, jangan sembarangan omong!"
Bentak si wanita cantik. Namun demikian ia lantas berkata kepada Leng Tiat-jiau dengan sikap dingin.
"Hm, kau bicara tentang garis apa segala, aku tidak paham. Pendek kata, apakah kau ingin minta ampun padaku saja?"
Dasar watak Leng Tiat-jiau memang kaku dan keras, belum pernah ia dihina orang sedemikian rupa, dengan gusar ia lantas menjawab.
"Kau adalah bandit dan aku pun bandit, kau paham tidak?"
"O, kiranya demikian. Ya, aku paham,"
Sahut wanita cantik itu sambil manggut-manggut.
"Jika kau sudah mengerti, apakah pantas kau merintangi jalan kami?"
Tanya Tiat-jiau. Mendadak air muka wanita cantik itu berubah kereng katanya.
"Kau mengaku sebagai bandit, mengapa peraturan bandit sendiri kau tidak paham?"
"Peraturan yang mana?"
Tanya Tiat-jiau.
"Jika kaum bandit mengadakan operasi, apakah boleh pulang dengan tangan kosong?"
"O, jadi kau ingin minta uang jalan padaku?"
Tiat-jiau menegas. Segera ia mengeluarkan sebuah mata uang tembaga, sekali menjentik.
"jreng", mata uang itu lantas menyambar ke arah si wanita cantik, katanya.
"Ini, tiada uang receh, hanya ada segobang saja!"
Dalam hati Leng Tiat-jiau lantas mencaci-maki, coba kalau bukan kaum wanita, tentu sudah dilabraknya.
Maklumlah bahwa adalah hal terlarang bagi kaum begal makan sesama kaum begal, apalagi wanita cantik itu sekarang terang-terangan menyatakan hendak membegal sesama kaumnya, terang ini suatu penghinaan besar, pantaslah kalau Leng Tiat-jiau merasa gusar.
Maka dia telah menimpukkan mata uang tadi dengan cara menggunakan senjata rahasia dengan maksud menakut-nakuti wanita itu.
Tujuan mata uang Leng Tiat-jiau itu ialah ingin menimpuk anting-anting yang dipakai si wanita cantik.
Tak terduga wanita itu dengan mudah sekali telah dapat menangkap uang itu, waktu tangannya menggenggam, lalu dibuka, ternyata mata uang itu sudah hancur berkeping-keping kecil.
Maka dapatlah dibayangkan betapa lihai kekuatan tangannya itu, apalagi dia hanya seorang wanita.
"Hm, bicara padaku tentang peraturan Lok-lim segala, tapi kau sendiri ternyata tidak kenal peraturan,"
Jengek si wanita cantik.
"Kaum bandit mengadakan operasi, apa yang diincar itulah yang diambil, masakah kau boleh memberi sesukamu?"
Tiat-jiau menjadi murka, baru saja dia hendak mendamprat, tiba-tiba Ci-wan mencegahnya, katanya kepada bandit wanita itu.
"Habis, apa yang kau inginkan?"
Hendaklah maklum bahwa Ci-wan ingin bisa lekas mengantar Li Kong-he ke rumah Kang Hay-thian dengan selamat, maka sedapat mungkin ingin menghindarkan kesulitan-kesulitan di tengah jalan.
Apalagi pihak lawan adalah kaum wanita, biarpun menang juga kurang mentereng.
"Sekali sudah kukatakan, maka tidak dapat ditarik kembali lagi. Sebaliknya kalian pikirkan dahulu, apakah kalian berani menyanggupi?"
Sahut si wanita cantik.
Nyata dia ingin kepastian dahulu dari pihak Ci-wan barulah mau menjelaskan apa yang dia inginkan, dan sekali dia sudah mengatakan, maka harus terlaksana tujuannya.
Ci-wan terkesiap, ia membatin.
"Aneh sekali ucapan wanita ini. Seaakan-akan sengaja hendak mencari perkara padaku. Jangan-jangan nanti dia menyatakan anak ini yang diminta, lalu cara bagaimana aku harus menjawabnya?"
Di sebelah lain Leng Tiat-jiau menjadi gusar juga, katanya.
"Sungguh aku tidak pernah melihat orang yang main menang-menangan seperti dia ini. Siau-toako, tak perlu kau banyak omong dengan dia, lihat saja kepandaian apa yang dimilikinya sehingga ia berani omong besar?"
"Kita adalah sama-sama sekaum, buat apa mesti bercekcok?"
Ujar Ci-wan dengan tertawa.
"Nyonya, saudara Leng ini adalah keponakan Leng-cecu dari Siaukim-jwan. Nama Leng-cecu tentu sudah pernah kau dengar juga?"
Maksud Ci-wan ialah ingin wanita itu segan kepada nama kebesaran Leng Thian-lok, paman Tiat-jiau, dengan demikian selisih paham ini dapat diselesaikan. Tak tersangka wanita itu lantas mendengus.
"Huh, peduli apakah dingin (Leng artinya dingin) atau panas, ataukah goreng atau panggang, pendek kata sasaran ini sudah pasti akan kumakan. Ya, kecuali kalau kalian menerima dua syaratku barulah kalian boleh lewat."
Karena ingin mencari tahu maksud si wanita, maka Ciwan mengedipi Tiat-jiau agar bersabar dulu. Dengan menahan perasaannya Tiat-jiau lantas bertanya.
"Syarat apa? Coba, aku ingin tahu."
"Kalian datang dari jurusan sana, tentunya kalian melalui Thay-san, bukan?"
Tanya si wanita cantik. Hati Ci-wan tergetar, ia kuatir jangan-jangan wanita ini sudah tahu apa yang terjadi di atas gunung itu? Segera ia bertanya.
"Apa maksud pertanyaanmu ini?"
Wanita itu menjawab.
"Kalian melalui Thay-san, tentunya kalian tahu ada pameo yang mengatakan bahwa punya mata tapi tidak kenal Thay-san "Huh, hanya seorang wanita macam kau juga berani menganggap dirimu sebagai Thay-san?"
Ejek Tiat-jiau. Thay-san di sini hanya dipakai sebagai perumpamaan saja bagi seorang besar atau tokoh ternama. Namun wanita cantik ini tidak menggubris olok-olok Tiat-jiau itu, katanya dengan dingin.
"Nah, karena kalian punya mata tapi tidak kenal Thay-san, maka bolehlah kalian mencungkil sendiri biji mata kalian!"
Saking gusarnya Leng Tiat-jiau lantas bergelak tertawa malah. Tapi sebelum dia membuka suara, si wanita cantik sudah lantas berkata pula dengan seenaknya.
"Jika kalian berlutut dan menyembah padaku. Boleh kalian pilih satu di antara kedua syarat ini, habis itu barulah kalian boleh berangkat."
Sampai di sini, betapapun sabarnya Siau Ci-wan juga tidak tahan lagi atas hinaan itu. Lebih-lebih Leng Tiatjiau, saking gusarnya segera ia melolos senjata.
"Bagus!"
Ejek wanita itu.
"Jika kalian mau berkelahi, maka bolehlah kalian maju sekaligus!"
Namun Ci-wan tak meladeni ejekan itu, melihat Leng Tiat-jiau sudah maju, segera ia mengundurkan diri. Leng Tiat-jiau juga lantas membentak dengan gusar.
"Betapa tinggi kepandaianmu sehingga berani menantang Jing-sia-kiam-hoat Siau-toako? Ini, boleh kau berkenalan dulu dengan aku punya sepasang 'Hou-jiau' (senjata bentuk cakar harimau) ini. Nah, lekas kau keluarkan senjatamu?"
"Apa yang kau ributkan?"
Sahut si wanita cantik.
"Boleh kau mainkan dua jurus dulu, ingin kulihat apakah aku perlu menggunakan senjata atau tidak?"
Tiat-jiau bertambah murka, bentaknya pula.
"Bagus, kau ingin lihat, nah, lihatlah yang jelas!"
Bersamaan senjatanya terus mencakar ke Gi-hay-hiat di dada lawannya.
Senjata berbentuk cakar harimau yang jarang terdapat itu memakai gagang sepanjang satu meteran, dapat digunakan merebut senjata lawan dan dapat pula dipakai menotok Hiat-to lawan.
Walaupun Leng Tiat-jiau tidak ingin membikin celaka seorang wanita, tapi serangannya itu juga sangat lihai, maksudnya hanya akan membikin kelabakan wanita itu sehingga menjadi malu.
Tak terduga, ketika senjatanya secepat kilat menyambar ke depan dan tampaknya pasti akan mengenai sasarannya, sekonyong-konyong tubuh si wanita menggeliat, seperi main sulap saja, hanya dalam sekejap saja tubuh sebesar itu tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan Leng Tiat-jiau.
Karena menubruk tempat kosong, tiba-tiba Tiat-jiau merasa ada angin menyambar dari belakang kiranya wanita cantik itu sudah berada di sisinya dan telah menyerangnya dengan cambuk.
Keruan Tiat-jiau terkejut, untung dia sudah banyak berpengalaman sehingga tidak gugup menghadapi serangan mendadak itu, cepat Hou-jiau sebelah kiri menahan di atas tanah dan tubuhnya lantas melompat pergi.
Bahkan pada saat tubuhnya melayang naik itu Hou-jiau sebelah kanan sempat balas mencakar ke belakang untuk merampas cambuk panjang lawan.
Wanita itu bergelak terawa, dengan mudah ia menarik kembali cambuknya sehingga cakar Tiat-jiau menangkap angin.
Tapi ia pun sempat menghindarkan cambuk si wanita dan melompat pergi sejauh dua-tiga meter.
Waktu Tiat-jiau turun ke bawah dan putar balik, ia lihat wanita itu sudah berdiri di depannya pula, dengan tersenyum wanita itu berkata.
"Tampaknya kau juga mahir sejurus dua. Baiklah, biar kulayani kau dengan cambuk kuda ini saja!"
Cambuk kuda gunanya untuk memecut kuda, walaupun juga dapat dipakai menyabet manusia, tapi tak dapat dianggap sebagai senjata secara resmi.
Maka perbuatan si wanita cantik ini boleh dikata terlalu memandang hina kepada Leng Tiat-jiau.
Namun Tiat-jiau sudah tidak berani main garang lagi, baru sekali gebrak saja dia sudah hampir termakan, diam-diam ia sudah mulai keder.
Melihat Tiat-jiau tertegun, dengan tertawa si wanita berkata pula.
"Bagaimana, apa kau sudah kapok? Jika demikian, belumlah kasip jika sekarang kau mau menyembah dan minta ampun padaku!"
"Huh!"
Tiat-jiau mendengus.
"Walaupun hebat kepandaianmu, tapi apa kau kira orang she Leng lantas takut padamu? Baiklah, silakan kau memberi petunjuk beberapa jurus lagi."
Walaupun tidak mau mengaku kalah, tapi nada ucapannya sudah mulai merendah diri dan tidak berani memandang enteng lagi kepada lawannya sebagai wanita.
"Boleh juga. Nah, awas, terimalah seranganku ini!"
Sahut si wanita.
Bersamaan pecutnya diayunkan ke udara terus menyabet ke depan.
Cepat Tiat-jiau putar sepasang cakar harimau, yang sebelah digunakan melindungi tubuh sendiri, senjata sebelah lain dipakai balas menyerang.
"Hah, kau benar-benar tidak tahu diri dan berani juga membalas seranganku!"
Ejek si wanita cantik dengan tertawa.
Bersamaan pecutnya lantas berputar-putar dengan cepat laksana beratus-ratus ular hidup, seketika Leng Tiat-jiau seakan-akan terkurung rapat di bawah bayangan pecutnya.
Keruan Tiat-jiau kelabakan menghadapi seranganserangan itu sehingga cuma mampu menjaga diri dan tak sanggup balas menyerang laei.
Terpaksa kedua batang Hou-jiau harus diputar sekencangnya untuk membela diri.
Ci-wan ikut kebat-kebit menyaksikan perarungan seru itu.
Jika maju membantu, rasanya tidak pantas dua lelaki mengembut seorang wanita.
Kalau tidak membantu, terang Tiat-jiau akan keok dalam waktu singkat.
Tengah ragu-ragu, tiba-tiba si wanita telah berkata.
"Kepandaian Hoau-jiau dari keluarga Leng sudah kulihat sekarang, kiranya hanya sekian saja. Sekarang silakan kau melihat aku punya!"
Mendadak ia membentuk.
"Kena!"
Menyusul terdengarlah pecut berbunyi, Leng Tiat-jiau telah terlempar pergi beberapa meter jauhnya, sepasang cakarnya kena dirampas oleh pecut si wanita.
Ci-wan menjadi kuatir, cepat ia melompat maju untuk merintangi jika wanita itu menyerang pula.
Tapi wanita cantik itu telah bergelak tertawa, pecutnya menyendal, sepasang Hou-jiau yang terlilit oleh cambuk itu terlempar ke depan dan tepat menancap di kanan-kiri Leng Tiatjiau, lalu katanya.
"Jika aku mau mencabut nyawanya tentu sudah sejak tadi kulakukan. Nah, bagaimana, apakah kau anggap aku pantas untuk belajar kenal dengan Jing-sia-kiam-hoat kalian atau tidak?"
Di sebelah sana Yap Leng-hong sudah lantas membangunkan Leng Tiat-jiau yang kedua matanya tampak melotot, urat-urat hijau sampai menonjol di jidatnya, tapi tak dapat bersuara dan bergerak.
Maka tahulah Leng-hong bahwa Hiat-to Tiat-jiau telah tertotok, ia menjadi terkejut akan kelihaian si wanita cantik yang mampu menotok dengan ujung cambuk itu.
Sebisa mungkin Leng-hong coba berusaha membuka Hiat-to kawannya itu, tapi sedikitpun tidak mempan.
Malahan terdengar si wanita telah mengolok-oloknya.
"Lebih baik kau jangan membuang tenaga percuma, sesudah belajar kenal dengan Jing-sia-kiam-hoat boleh jadi kau akan mendapat giliran untuk mencicipi pecutku ini."
Dalam pada itu Ci-wan sudah siap siaga, katanya.
"Kepandaianku terlalu rendah, mohon Lienghiong (ksatria wanita) sudi memberi petunjuk!"
Pedangnya berputar, terus siap di depan dada dengan ujung pedang sedikit menjurus ke bawah.
Gaya ini adalah jurus pembukaan dan sebagai penghormatan kepada pihak lawan.
Hanya melihat jurus pembukaan Siau Ci-wan saja segera wanita cantik itu mengetahui bahwa kepandaian Ci-wan terang di atas Leng Tiat-jiau.
Ia tidak berani terlalu memandang enteng lagi, ia simpan kembali pecutnya dan lantas melolos pedang juga, katanya.
"Jing-sia-kiam-hoat adalah satu di antaranya empat ilmu pedang terkemuka, sungguh sangat beruntung hari ini aku dapat belajar kenal dengan jago Jing-sia-pay. Nah, silakan mulai, Siau-enghiong!"
"Silakan dulu!"
Sahut Ci-wan dengan rendah hati. Si wanita cantik juga tidak sungkan-sungkan lagi.
"sret", dengan tipu 'Giok-li-tau-soh' (gadis ayu melempar tali), secepat kilat ia menusuk ke dada Siau Ci-wan. Ci-wan tidak berani ayal, dengan hati-hati sekali ia menghadapi lawannya. Cepat ia menangkis dengan jurus 'Ting-ho-lah-jit" (sinar mentari menghiasi sepanjang sungai), pedangnya melingkar ke depan, ini adalah jurus ilmu pedang Jing-sia-pay yang lihai, menangkis sambil menyerang, biasanya dengan mudah sekali senjata lawan dapat terpuntir dan terlepas. Tak terduga ilmu pedang wanita cantik itu ternyata lain daripada yang lain, perubahannya susah diraba, jelas kelihatan dia menusuk dari depan, tapi pada saat Ci-wan membalas serangannya itu, entah bagaimana sedikit ujung pedangnya menggetar, sinar hijau berkelebat, tahu-tahu senjatanya telah berganti tempat, seperti hendak menusuk dari kiri dan agaknya juga hendak membacok dari kanan. Karena perubahan jurus serangan wanita itu, seketika Ci-wan berubah menjadi di pihak terserang. Keruan Ciwan terkejut, cepat ia mengeluarkan 'Thiat-lo-poh-hoaf dan berputar ke samping sehingga terhindar dari ancaman pedang musuh. Akan tetapi secepat kilat si wanita masih membayanginya, tahu-tahu pedangnya menyambar tiba pula. Ketika mendengar sambaran senjata dari belakang, tanpa pikir Ci-wan menyampuk ke belakang dengan pedangnya dalam tipu 'Kim-tiau-tian-ih' (garuda emas pentang sayap), tujuannya untuk memotong pergelangan tangan lawan. Serangan Ci-wan ini mestinya sangat bagus, tak tersangka toh tetap didahului musuh, tiba-tiba terdengar suara "trang"
Yang nyaring, pedang Ci-wan mengenai tempat kosong, sebaliknya pedang si wanita telah menepuk dari atas sehingga tepat menindih di atas batang pedangnya, tenaganya ternyata sangat kuat.
Sebagai murid golongan ternama, biarpun terdesak juga Ci-wan tidak menjadi bingung, dengan tenang ia kerahkan tenaganya untuk menarik, pedang bersama orangnya dengan cepat berputar setengah lingkaran, dengan demikian barulah dapat terlepas dari tekanan wanita cantik itu.
"Bagus, kau tidak malu sebagai murid Jing-sia-pay, ternyata pedangmu tidak sampai terlepas!"
Puji si wanita dengan tertawa.
Berbareng ia melancarkan seranganserangan lagi sehingga Ci-wan terdesak dan main mundur terus.
Di sebelah sana Yap Leng-hong tetap tidak mampu membuka Hiat-to Tiat-jiau yang tertotok tadi, sekarang dilihatnya Ci-wan juga hampir kalah, keruan Leng-hong menjadi gelisah dan serba susah.
Tiba-tiba terdengar Li Kong-he membisikinya.
"Yapsioksiok, boleh kau pergi membantu Siau-sioksiok saja. Biar aku mencoba membuka Hiat-to Leng-sioksiok yang tertotok ini."
Habis berkata ia lantas menggunakan jarinya yang kecil-kecil itu untuk menotok beberapa kali di tubuh Leng Tiat-jiau.
Terdengar tenggorokan Leng Tiat-jiau mengeluarkan suara "krok-krok", tampaknya sangat menderita, tapi tubuhnya tetap belum dapat bergerak.
Diam-diam Leng-hong mengerut kening, pikirnya.
"Bocah ini benar-benar tidak kenal gelagat, masakah Hiat-to yang aku tidak sanggup buka dia berani mencoba apa segala."
Melihat Yap Leng-hong belum maju, tiba-tiba Kong-he membisiki lagi.
"Tenagaku kurang kuat, biarlah kuajarkan caranya padamu dan boleh kau menolong Leng-sioksiok. Ai, celaka, hendaklah kau membantu Siau-sioksiok lebih dulu saja!"
Belum selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa si wanita cantik dan berseru.
"Sekali ini kau haruslah melepas pedangmu!"
Berbareng sinar pedang telah menyambar ke depan waktu Ci-wan menangkis, sekonyong-konyong pedang si wanita cantik menyampuk ke atas terus dipuntir sekalian.
"Trang", benar juga Ci-wan tak dapat menguasai senjatanya lagi, pedangnya mencelat ke udara. Sambil tertawa panjang, mendadak wanita cantik itu melayang ke atas, secepat terbang dia telah melompat ke arah Yap Leng-hong. Dengan kaget, cepat Leng-hong melolos pedang untuk menyambut musuh. Tapi sebelum mendekat si wanita cantik sudah mengeluarkan pecutnya lagi.
"ser-ser"
Dua kali, cambukan pertama membikin ikat kepala Yap Leng hong terlepas, pecutan kedua secepat kilat telah menyabet ke mukanya.
Segera Leng-hong mengayun pedangnya untuk menangkis, tapi mengenai tempat kosong, sedangkan pecut lawan masih terus menyambar tiba, untuk berkelit terang tidak keburu lagi, tampaknya mukanya pasti akan babak-belur.
Pada saat berbahaya itulah sekonyong-konyong Lenghong merasa angin dingin menyambar lewat di ujung hidungnya, berbareng terdengar wanita cantik itu sedang tertawa dan berkata.
"Melihat wajahmu yang tampan ini aku menjadi sayang untuk merusaknya. Baiklah, asal kau sudah tahu rasa, biarlah aku mengampuni kau."
Habis itu cambuk lantas ditariknya kembali.
Dalam keadaan masih melenggong tanpa terasa Lenghong menggunakan lengan baju untuk mengusap hidungnya, maka tertampaklah di atas lengan baju ada setitik warna merah dan sedikit kotoran tanah.
Kiranya ujung cambuk wanita cantik itu tadi telah menyerempet lewat di ujung hidungnya, dari ujung cambuk tergesut setitik kotoran tanah sehingga melekat di hidungnya, berbareng ujung hidungnya juga lecet sedikit.
Betapa hebat kepandaian memainkan cambuk si wanita itu sungguh susah untuk dibayangkan.
Keruan Leng-hong lebih-lebih terkejut sehingga kakinya terasa lemas.
Dalam pada itu si wanita cantik telah memutar tubuh.
"serr", kembali cambuknya menyabet ke depan pula. Tapi sekali ini yang dituju adalah Li Kong-he. Mendadak anak itu memelompat ke atas dan berjumpalitan sehingga cambuk itu mengenai tempat kosong. Si wanita cantik bersuara heran, katanya.
"Kiranya kau setan cilik ini cukup gesit juga!"
"Ser-ser-ser", kembali cambuknya menyabet tiga kali pula. Meskipun Li Kong-he sangat gesit dan cepat, tapi apa mau dikata, betapapun dia adalah seorang anak kecil, ketika dia berjumpalitan untuk ketiga kalinya, tanpa ampun lagi tubuhnya sudah terlilit oleh cambuk si wanita, terus ditarik ke sana. Saat itu Ci-wan baru menjemput kembali pedangnya yang terlepas tadi, ia menjadi kaget melihat Kong-he tertawan musuh, dengan mati-matian ia menerjang maju untuk menolong. Tiba-tiba si wanita berkata dengan tertawa.
"Apa yang aku inginkan sekarang sudah kudapatkan. Kau adalah jago yang sudah keok, aku pun tidak ingin membikin susah padamu. Tapi kau sendiri apa masih ngotot dan ingin cari penyakit?"
Habis berkata cambuknya lantas mengayun ke belakang, Kong-he terlempar pergi dan disambut oleh seorang dayangnya, lalu melarikan kudanya dengan menggondol bocah itu.
Si wanita cantik juga lantas menyemplak ke atas kudanya, sekali bersuit, keempat orang dayangnya lantas kabur dengan terpencar ke empat jurusan.
Si wanita cantik tetap merintangi kejaran Siau Ci-wan dengan memutar cambuknya.
Melihat anak yang harus dilindunginya telah diculik orang Ci-wan menjadi gugup, maka hanya beberapa jurus saja kembali pedangnya sudah terlilit pula oleh cambuk si wanita dan terlempar jatuh ke tanah.
"Hahaha, apakah kau masih ingin bertanding untuk ketiga kalinya? Tapi aku tiada tempo untuk melayani kau lagi,"
Seru si wanita dengan tertawa.
Ia putar kudanya terus kabur pergi dengan cepat.
Hanya dalam sekejap kelima wanita itu sudah tak tertampak lagi bayangannya.
Untuk kedua kalinya Ci-wan menjemput kembali pedangnya, ia menjadi terlongong-longong bingung, sungguh tak terduga bahwa sudah hampir sampai di rumah Kang Hay-thian toh masih ketemukan peristiwa aneh dan mengalami kekalahan habis-habisan.
Yap Leng-hong juga merasa serba susah, tapi diamdiam ia pun bersyukur bahwa musuh tidak mengganggu keselamatan mereka.
Segera ia menghibur Ci-wan.
"Siautoako, kepandaian begal wanita itu terlalu tinggi, apa mau dikata lagi jika kita dikalahkan?"
Ci-wan berdiam saja. Baru saja ia hendak memeriksa keadaan Leng Tiat-jiau, sekonyong-konyong Tiat-jiau telah melompat bangun sambil berteriak-teriak penasaran.
"He, Leng-toako, kiranya kau sendiri dapat membuka Hiat-to yang tertotok,"
Seru Yap Leng-hong. Tapi muka Tiat-jiau menjadi merah padam, ia menghela napas dan berkata.
"Ah, sungguh memalukan. Kepandaian Tiam-hiat wanita jahanam itu teramat lihai, darimana aku mampu membuka Hiat-to sendiri? Adalah si Kong-he itulah yang telah melancarkan urat nadiku. Sayang, dia telah menolong aku sebaliknya aku tidak mampu menolongnya sehingga dia telah diculik oleh musuh."
Diam-diam Leng-hong terkejut dan terasa malu pula, tadinya ia menyangka kelakuan Kong-he hanya permainan anak-anak saja, siapa kira bahwa dari ayahnya serta sahabat sang ayah yang sering berkunjung ke rumahnya, bocah itu telah banyak mempelajari kepandaian-kepandaian yang tinggi, soalnya usianya masih terlalu muda, tenaga dalamnya masih belum cukup, maka dia tak dapat membuka Hiat-to Leng Tiat-jiau yang tertotok itu dalam waktu singkat Tapi sesudah Tiat-jiau merasa darahnya berjalan lancar, segera ia mengerahkan tenaganya sendiri, dengan demikian Hiat-to yang tertotok itu akhirnya terbuka dengan sendirinya.
"Leng-toako, sekali ini kita benar-benar telah terjungkal habis-habisan,"
Ujar Ci-wan dengan muram.
"Lebih celaka lagi asal-usul dan nama pihak lawan juga tidak kita ketahui, lalu kemana kita akan mencari anak itu?"
"Ya, jahanam wanita itu benar-benar keterlaluan, tapi akhirnya kita pasti akan dapat menemukan jejaknya serta membikin perhitungan dengan dia,"
Sahut Tiat-jiau dengan marah-marah.
"Sungguh perbuatan jahanam itupun agak aneh, apakah Siau-toako memperhatikan bahwa sesudah Kong-he digondol mereka, segera keempat dayangnya lantas melarikan diri dengan berpencar ke berbagai jurusan?"
"Benar."
Seru Ci-wan sambil menepuk paha.
"Tempat ini sudah dekat dengan rumah Kang-tayhiap, sebabnya mereka melarikan diri dengan berpencar tentu karena kuatir kepergok oleh orang-orang dari keluarga Kang. Sungguh nyali mereka pun terlalu besar dan berani main gila di wilayah pengaruh Kang-tayhiap ini."
"Sudahlah, kita jangan urus dia lagi, jalan paling baik sekarang marilah kita lekas pergi ke rumah Kang-tayhiap dan melapor kepada beliau,"
Ujar Tiat-jiau.
Begitulah berramai-ramai mereka lantas meneruskan perjalanan.
Tiada setengah jam kemudian, tibalah mereka di tempat tujuan.
Tempat kediaman Kang Hay-thian itu adalah bekas rumah Nyo Tiong-eng, kemegahan Nyo-keh-ceng masih tetap seperti dahulu kala.
Pemandangan indah permai dengan gunung dan telaga mengapit di belakang dan di muka perkampungan itu.
Karena ada urusan penting, Ci-wan bertiga tiada pikiran buat menikmati pemandangan indah itu.
Sesudah mendaki beberapa tanjakan, akhirnya dari semak-semak pohon sana kelihatan beberapa buah rumah.
Sesudah dekat, tertampak di depan deretan rumah-rumah itu adalah sebuah tanah lapang, seorang anak dara sedang berlatih silat di situ.
Usia anak dara itu kurang lebih 16 atau 17 tahun.
Mata Yap Leng-hong terbeliak seketika, pikirnya.
"Di dunia ini ternyata ada nona secantik ini. Bangsat wanita tadi juga sangat cantik, kalau dibandingkan nona cilik ini terang bukan apa-apanya. Konon istri Kang-tayhiap adalah seorang wanita cantik pula, besar kemungkinan anak dara ini adalah putri mereka?"
Kalau Yap Leng-hong hanya memperhatikan kecantikan si anak dara, adalah yang diperhatikan Siau Ci-wan justru ilmu silat yang dilatihnya itu.
Sementara itu mereka sudah lebih dekat lagi, jelas terlihat oleh Ci-wan bahwa yang dilatih anak dara itu adalah semacam ilmu pukulan 'Yu-sin-pat-kwa-ciang', ilmu pukulan yang sangat umum, apa yang diperlihatkan anak dara itupun tiada sesuatu yang luar biasa.
Tapi yang membikin Siau Ci-wan tidak habis mengerti adalah kebagusan cara si anak dara menguasai tenaga pukulannya.
Di sisi tanah lapang sana tumbuh sebatang pohon yang berbunga merah.
Waktu si anak dara memukul sekali, selalu setangkai bunga merah rontok jatuh ke tanah.
Semula Ci-wan mengira hal itu hanya kebetulan saja.
Tapi sesudah beberapa jurus, setiap kali pukul tentu rontok setangkai bunga, dengan sendirinya hal ini bukanlah secara kebetulan lagi.
Yang lebih hebat ialah bunga-bunga lainnya sama sekali tidak terguncang dan bergerak, bahkan tangkai pohon itupun tiada bergoyang sedikitpun.
Mau tak mau Ci-wan melongo kagum, pikirnya.
"Betapa bagus caranva menguasai tenaga pukulannya, benar-benar sudah sempurna sekali."
Selagi Ci-wan merasa kagum dan terkejut, sebaliknya Yap Leng-hong sama sekali tidak ambil pusing, bahkan ia mendekati anak dara itu.
Mendadak anak dara itu menghentikan latihannya dan menegur dengan nada dingin.
"Siapakah kalian ini?"
"Apakah di sini tempat kediaman Kang-tayhiap?"
Sahut Leng-hong sambil bersoja.
"Kedatangan kami ini adalah untuk menemui beliau."
"Kepandaian apa yang kau miliki? Silakan coba beberapa jurus dahulu, jika mampu melawan aku barulah kalian boleh bertemu dengan Kang-tayhiap,"
Kata si anak dara tiba-tiba. Leng-hong melengak.
"Apakah ini peraturan yang ditentukan oleh Kang-tayhiap? Jika demikian sekali-kali kami tidak berani berlaku kasar kepada nona."
Belum habis ucapannya, tanpa peduli lagi secepat kilat anak dara itu sudah memukul, keruan Leng-hong terkejut, sama sekali tak terduga olehnya bahwa sekali bilang mencoba, kontan anak dara itu lantas menyerang.
Cepat ia hendak berkelit, namun sudah terlambat.
Untung pukulan anak dara itu tidak sungguh-sungguh diteruskan, tapi hanya melayang lewat di sebelah pipinya.
"Kenapa tidak lekas menangkis? Hm, hanya, sedikit kepandaianmu saja apa kau sangka dapat menangkan aku? Hayo, lekas tangkis, sekali ini aku tidak sungkansungkan lagi!"
Seru si anak dara.
Menyusul ia lantas memukul pula, sekali ini datangnya agak perlahan dan tertampak jelas hendak menampar Yap Leng-hong.
Walaupun Leng-hong suka kepada anak dara yang cantik itu, tapi tidaklah rela dirinya dihina, katanya di dalam hati.
"Biar kuparahkan kesombonganmu agar kau pun tahu bahwa aku bukanlah kaum keroco."
Segera telapak tangannya menangkis miring ke atas, berbareng terus mengait dengan maksud hendak menyeret lawannya ke depan.
"Tangkisanmu ini sih betul caranya, hanya saja masih terlalu kaku,"
Ujar si anak dara.
sekonyong-konyong ia tarik kembali tangannya, berbareng tubuhnya menggeser ke samping, menyusul lengan bajunya lantas menyabet.
Waktu Leng-hong berkelit sambil balas menyerang pundak si nona dengan tipu 'Heng-in-toan-hong' (awan terapung memotong puncak), telapak tangannya terus memotong ke bawah.
Namun perubahan serangan si anak dara ternyata sangat cepat, sedikit tubuhnya menggeliat, kontan tangannya membalik untuk memotong pergelangan tangan Yap Leng-hong.
Ketika Leng-hong buru-buru menarik kembali tangannya, secepat kilat si anak dara sudah mengganti serangan lagi, dengan tipu 'Kim-liongtam-jiau' (naga emas menjulur cakar), ia melangkah maju terus mencakar muka Yap Leng-hong.
"Tahan dulu, nona!"
Seru Ci-wan dengan kuatir. Belum lagi dia memburu maju, terdengarlah suara "plak"
Sekali, Leng-hong dapat menghindarkan mukanya dari cakaran si nona, tapi dadanya tidak urung kena ditonjok sekali.
Inipun untung baginya karena .anak dara itu tidak ingin melukainya dan hanya menggunakan satudua bagian tenaga saja, kalau tidak, tentu Leng-hong bisa menggeletak seketika.
Walaupun demikian toh tidak urung Leng-hong terhuyung-huyung mundur dan hampirhampir jatuh kalau Leng Tiat-jiau tidak lantas memeganginya.
Dengan kuatir Ci-wan juga buru-buru hendak memeriksa keadaan Yap Leng-hong, namun si anak dara sudah datang ke hadapannya dan berkata dengan tertawa.
"Kawanmu ini sudah terang tiada memenuhi syarat untuk menemui Kang-tayhiap. Sekarang coba kau ini?"
Habis berkata, kontan ia terus meninju dada Siau Ciwan. Cepat Ci-wan menangkis sambil membuka telapak tangan untuk menangkap kepalan si nona.
"Plak", Ci-wan merasa telapak tangannya pedas kesakitan.
"Baik, kepandaianmu memang lebih tinggi sedikit. Silakan menerima lagi serangan ini,"
Seru si nona dengan tertawa.
Berbareng kepalan lantas menjotos pula dari depan, sekali ini tenaganya telah bertambah kuat pula.
Cepat Ci-wan menggeser ke samping dengan Thian-lopoh-hoat.
Si nona bersuara, katanya.
"Eh, pintar juga caramu menghindarkan diri!"
Menyusul ia lantas mendesak maju dan hendak menyerang lagi. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang.
"Anak Hu, jangan sembrono!"
Si nona terkejut, cepat ia berhenti menyerang, katanya sambil berpaling.
"Ayah, aku tiada maksud membikin susah mereka, aku hanya ingin mengenyahkan mereka saja!"
Kiranya anak dara ini bernama Kang Hiau-hu, putri tunggal kesayangan Kang Hay-thian.
Karena nama Kang Hay-thian teramat besar dan sering orang ingin minta petunjuk ilmu silat padanya sehingga sedikit membikin repot.
Maka Kang Hiau-hu lantas menggunakan caranya sendiri di luar tahu ayahnya untuk menghalau tetamu yang berkunjung, kecuali kalau sang tamu dapat menangkan dia barulah diperbolehkan menemui sang ayah.
Perbuatan Kang Hiau-hu yang jahil ini mengakibatkan sekian lamanya Kang Hay-thian tidak mendapat kunjungan tamu, hal ini sangat mengherankan, diamdiam ia pun menduga pasti putrinya yang nakal itulah yang main gila.
Betul juga hari ini telah dipergokinya.
Begitulah selagi Ci-wan hendak mulai bicara, tiba-tiba Kang Hay-thian sudah menegur lebih dulu.
"Apakah saudara ini dari Jing-sia-pay? Numpang tanya, Siau Jinghong Siau-loyacu itu pernah apa dengan kau?"
Kiranya sekali lihat saja segera Kang Hay-thian mengenali Thian-lo-poh-hoat yang dimainkan Siau Ciwan tadi, yang merupakan kepandaian turun-temurun dari keluarga Siau.
Cepat Ci-wan memberi hormat dan menjawab.
"Beliau adalah kakekku, beliau yang telah menyuruh aku mengunjungi Kang-tayhiap."
Hay-thian terkejut, cepat ia membalas hormat. Lalu dengan kereng ia membentak putrinya.
"Hiau-hu, benarbenar keterlaluan kau ini, hayo lekas menjura kepada Siau-sioksiok serta meminta maaf."
Dengan sendirinya Kang Hiau-hu juga tahu riwayat engkongnya, yaitu Kang Lam, dan tahu hubungan apa antara keluarganya dengan keluarga Siau, keruan ia terkejut dan merasa perbuatannya sekali ini benar-benar telah menerbitkan onar.
Ia menjadi takut dan malu, terpaksa ia melangkah maju dan menjura kepada Siau Ci-wan.
"Ah, apa yang terjadi tadi juga tak bisa menyalahkan adik cilik ini, aku sendiri tidak memberitahukan namaku, darimana dia kenal aku? Sudahlah, adik cilik jangan banyak adat,"
Demikian kata Ci-wan dan hanya menerima penghormatan sekadarnya dari Kang Hiau-hu.
Diam-diam Hiau-hu merasa berterima kasih atas ucapan Ci-wan itu.
Sebab sesungguhnya dia yang salah, begitu berhadapan tanpa bertanya nama sang tamu segera ia mengajaknya bertanding.
Air muka Kang Hay-thian tampak tenang kembali dan berkata pula.
"Untung Siau-sioksiok suka bermurah hati padamu, kalau tidak, tentu kau harus terima rangketan yang setimpal. Sekarang lekas minta maaf juga kepada tuan tamu itu."
Sebenarnya Yap Leng-hong juga sangat mendongkol dan penasaran, tapi demi melihat anak dara itu dimarahi sang ayah, ia menjadi merasa kasihan, cepat dia berkata.
"Ah, atas petunjuk beberapa jurus dari nona tadi aku justru merasa berterima kasih, masakah aku ... aku berani menyalahkan dia."
Watak Kang Hiau-hu memang suka dipuji sanjung, diam-diam ia merasa senang atas perkataan Yap Lenghong itu, segera ia berkata.
"Engkau terlalu rendah hati. Akulah yang salah, harap engkau suka memberi maaf."
Habis berkata ia lantas memberi hormat. Dengan gembira cepat Leng-hong membalas hormat.
"Anak Hu, lekas memberitahukan kakek, katakan Siau-sioksiok telah datang"
Kata Hay-thian. Ci-wan sendiri karena ada urusan penting, tanpa menunggu lagi ia lantas menutur.
"Kang-tayhiap, kunjunganku ini selain kunjungan kekeluargaan biasa, juga secara kebetulan ingin memohon bantuan kepada Kang-tayhiap berhubung dengan sesuatu peristiwa yang kami alami di tengah perjalanan."
"Kita adalah orang sendiri, seharusnya kita jangan sungkan-sungkan dan menyebut Tayhiap apa segala. Numpang tanya, berapa usia Siau-heng tahun ini?"
Tanya Hay-thian.
"Siaute tahun ini berumur 33 tahun,"
Terpaksa Ci-wan menjawab.
"Jika demikian aku ada lebih tua beberapa tahun, maka aku tak sungkan-sungkan lagi akan memanggil Laute (adik) padamu,"
Kata Hay-thian dengan tertawa.
"Ada urusan apakah yang Laute inginkan bantuanku, sedapat mungkin tentu akan kubantu. Marilah kita bicara di dalam rumah saja. Kedua sobat inipun silakan masuk ke dalam sana."
Diam-diam Ci-wan memuji atas baik budi Kang Hay-thian itu. Sesudah masuk ke ruangan tamu dan mengambil tempat duduk, baru saja Ci-wan hendak membuka suara, tiba-tiba terdengar suara seruan seorang.
"Wah, benar-benar tamu yang jarang terdapat. Saudara cilik keluarga Siau yang manakah yang datang ini?"
Kiranya orang ini adalah Kang Lam, ayah Kang Haythian. Kang Hiau-hu tampak mengiring di samping sang kakek. Cepat Ci-wan berbangkit dan memperkenalkan namanya sendiri.
"Ai, sang tempo benar-benar berlalu dengan cepat,"
Demikian Kang Lam menerocos pula.
"waktu melihat kau tempo dulu, kau masih anak yang ingusan, tapi sekarang kau sudah berubah menjadi seorang jago gemilang di dunia Kangouw. Apa kakekmu sehat-sehat saja? Bagaimana dengan Toakomu! Apa kau sendiri sudah berkeluarga?"
Meski usia Kang Lam sudah hampir 60 tahun, tapi tabiatnya masih tetap belum berubah, masih suka ceriwis dan suka membual.
Padahal dulu waktu dia datang ke Jing-sia dan bertemu dengan Ci-wan, tatkala mana umur Ci-wan juga sudah belasan tahun dan bukan anak kecil yang masih ingusan.
Demi sopan santun terpaksa Ci-wan menjawab dulu pertanyaan-pertanyaan Kang Lam.
"Kakek sehat-sehat saja, tahun yang lalu beliau baru mengadakan ulang tahun ke-80 dan hanya dirayakan secara sederhana bersama anggota keluarga saja. Toako sendiri sudah meninggalkan rumah dan menjadi Hwesio di Siau-Iim-si pada tiga tahun yang lalu. Siautit sendiri belum berkeluarga."
Kiranya ayah Siau Ci-wan sudah lama meninggal dunia, dia punya seorang kakak laki-laki dan kakak perempuan.
Kakak perempuannya diperistri oleh Kam Cong-hoa, murid pertama Lui Cin-cu, ketua Bu-tong-pay yang sekarang.
Kakak laki-laki Ci-wan bernama Siau Cihong dan telah mencintai adik perempuan Kam Cong-hoa yang bernama Kam Tiau-hoa.
Tapi Kam Tiau-hoa sudah mempunyai kekasih sendiri, karena patah hati, akhirnya Siau Ci-hong masuk ke Siau-lim-si dengan mengangkat Tay-pi Siansu sebagai guru.
"Tanpa sebab mengapa engkohmu mendadak menjadi Hwesio? Jika demikian kau harus lekas berumah tangga,"
Ujar Kang Lam.
"Apakah kau sudah mempunyai pilihan sendiri? Baiklah biar aku ingat-ingat apakah ada seorang nona yang cocok untukmu Keruan Ci-wan menjadi serba runyam, cepat ia menjawab.
"Ah, soal ini tidak perlu buru-buru, aku "Hahaha! Usiamu sudah 30 lebih, buat apa kau masih malu-malu segala?"
Kata Kam Lam dengan tertawa.
"Ya, mungkin kau terlalu tekun belajar silat sehingga melupakan soal maha penting bagi orang hidup ini. Ilmu silat memang perlu dipelajari juga, misalnya aku, waktu umurku sebaya dengan Hiau-hu sekarang, sama sekali aku belum kenal ilmu silat segala. Tatkala itu kakekmu menjadi guru sekolah Tan-kongcu dari saudara angkatku. Setiap kali mereka berlatih silat di taman belakang, diamdiam aku lantas mengintip dan ikut belajar "Cerita ayah ini masakah Siau-hiante tidak mengetahui?"
Ujar Hay-thian dengan tersenyum.
"Ya, cerita ini entah sudah berapa kali kudengar dari Yaya (kakek),"
Hiau-hu menambahkan juga dengan tertawa.
"Baiklah, asal kalian tahu saja,"
Kata Kang Lam dengan sungguh-sungguh.
"Aku justru ingin kalian mengetahui betapa susah payahku dahulu itu. Kalian sekarang sih gampang saja, belajar silat sudah ada gurunya. Namun demikian, belajar silat dan berumah tangga adalah dua hal yang sama pentingnya. Sesudah berumah tangga toh tidak menghalangi belajar silat. Pada waktu berumur 20 lebih aku sudah berumah tangga, tapi ilmu silatku makin berlatih makin baik. Ayahmu (kata-kata ini ditujukan kepada Hiau-hu) belum berusia 20 juga sudah menikah dengan ibumu dan ilmu silatnya bahkan jauh lebih hebat daripadaku. Sebab itulah, Siau-hiantit Diam-diam Ci-wan mengeluh, ia tahu watak Kang Lam, kalau sudah menerocos, maka susahlah untuk dihentikan. Tapi demi sopan santun terpaksa ia harus berlagak seperti kaum muda yang sedang menerima petuah dengan hormat dari orang tua. Sebaliknya Kang Hay-thian lantas merasa sikap Ci-wan itu agak kaku-kaku, mendadak, ia teringat dan cepat berkata.
"Siau-hiante, bukankah kau mengatakan ada sesuatu urusan penting? Jika demikian bolehlah kau menjelaskan dulu urusan pokoknya."
Dengan demikian barulah 'pidato' Kang Lam yang panjang lebar itu dapat dihentikan. Rupanya Kang Lam menjadi rikuh juga, segera ia berkata dengan tertawa.
"Benar, bila kau ada urusan penting bolehlah kau terangkan kepada Hay-thian. Habis itu barulah kita bicara pula tentang urusanmu yang tidak kurang pentingnya."
Sesudah Ci-wan meminta maaf kepada Kang Lam, lalu ia berpaling kepada Kang Hay-thian dan mulai menutur.
"Di dalam Thian-li-hwe ada seorang Hiangcu yang bernama Li Bun-sing, apakah Kang-toako kenal namanya?"
"O, apa kau maksudkan Pat-kwa-to Li Bun-sing? Aku tahu dia adalah seorang laki-laki sejari. Ada apakah mengenai dia?"
"Beberapa hari lalu aku telah bertemu dia di atas Thay-san, dia sudah terbunuh oleh kawanan anjing pemburu kerajaan,"
Tutur Ci-wan. Hay-thian terkejut.
"Ha, dia terbunuh? Sayang, sungguh sayang! Ilmu silatnya toh tidak lemah, kenapa kawanan alap-alap dan anjing pemburu kerajaan mampu membunuhnya?"
"Selain itu, dia meninggalkan pula seorang putra ..."
Lalu secara singkat Ci-wan menceritakan apa yang terjadi di puncak Thay-san tempo hari.
"Usiaku belum terlalu tua, tokoh Bu-lim yang jauh lebih terkemuka daripadaku masih sangat banyak, sebab itulah sampai saat ini aku belum punya pikiran untuk menerima murid, aku telah banyak menolak permohonan orang,"
Demikian kata Hay-thian.
"Tapi putra Li Bun-sing ini pastilah akan kuterima sebagai murid agar tidak mengecewakan harapan ayahnya. Dan dimanakah anak itu? Kenapa tidak kau bawa ke sini?"
"Tadi di tempat beberapa puluh li dari sini, bocah itu telah diculik oleh seorang penjahat wanita!"
Tutur Ci-wan.
"Ha, bisa terjadi demikian?"
Seru Hay-thian dengan kaget dan gusar.
"Ada orang berani melakukan kejahatan di depan mataku sini? Penjahat wanita macam apakah dia?"
Lalu Ci-wan menceritakan peristiwa tadi.
"O, kiranya dia pandai menotok Hiat-to dengan ujung cambuk?"
Hay-thian menegas.
Sekilas terbayanglah jagojago silat yang terkemuka dari berbagai cabang dan golongan, tapi seketika itu susah juga menyelidiki asalusul penjahat wanita itu.
Setelah berpikir sejenak, kemudian Hay-thian berkata pula.
"Sekarang sudah lewat dua jam, kawanan penjahat itu tentu sudah meninggalkan wilayah Tong-peng-koan. Hai, Hiau-hu, semuanya gara-garamu, coba kalau kau tidak membikin onar, tentu kita ..."
"Ayah, biarlah kukejar bangsat wanita itu dengan Jikliong-ki (si naga kuning, nama kuda) untuk menebus kesalahan anak tadi,"
Kata Hiau-hu cepat sambil berbangkit.
"Boleh juga, tapi belum tentu dapat menyusulnya,"
Kata Hay-thian.
"Kau boleh membawa serta beberapa kartu namaku untuk disampaikan kepada pemimpin cabang Kay-pang (organisasi kaum pengemis) di Tekciu serta para Cianpwe di dunia persilatan, mintalah bantuan mereka agar menyebarkan Eng-hiong-tiap (undangan para pahlawan) dan Lok-lim-cian (panah pengenal para begal) untuk menyelidiki jejak bangsat wanita itu. Setiba di Tekciu lantas boleh kau tinggal pulang saja."
Hati Ci-wan merasa lega demi mendengar ucapan Hay-thian itu.
Ia tahu nama Kang Hay-thian sangat tersohor dan disegani di dunia persilatan, pula hubungannya sangat luas.
Bilamana Eng-hiong-tiap dan Lok-lim-cian itu sudah tersebar, tentu akan sangat mudah mendapatkan berita tentang orang yang akan dicarinya.
Sebabnya Kang Hay-thian memberi kesempatan kepada putrinya untuk keluar rumah adalah sekalian ingin menggembleng anak dara itu agar mendapat pengalaman di dunia Kangouw.
Jik-liong-ki yang dikatakan itu adalah satu di antara dua ekor kuda bagus pemberian Danu Cu-mu dahulu.
Kuda itu sehari dapat berlari ribuan li jauhnya, maka untuk pulang pergi ke Tekciu paling-paling hanya diperlukan waktu tiga hari saja.
Menurut perkiraan Hay thian, biarpun kepandaian penjahat wanita itu sangat tinggi, tapi ia yakin putrinya itu tentu sanggup melawannya, apalagi dia membawa kartu namanya, sepanjang jalan tentu gampang meminta bantuan tokohtokoh persilatan.
Tapi inipun merupakan pertama kalinya Kang Hiau-hu berkelana di Kangouw, dengan sendirinya Hay-thian memberi pesan-pesan seperlunya.
Ia menyuruh putrinya membawa pedang pusakanya serta baju kutang wasiat milik ibunya.
Dipesankan pula bila ketemukan musuh lihai, kalau tak mampu melawan hendaklah lekas lari pulang saja.
Kalau tidak kepergok musuh, setiba di Tekciu dan menyampaikan kartu namanya kepada Nyothocu dari Kay-pang, selekasnya juga putrinya diharuskan pulang.
Dengan aleman Hiau-hu mengiakan, katanya.
"Aku sudah bukan anak kecil lagi, mengapa ayah menganggap aku seperti anak yang tidak tahu apa-apa saja. Harap ayah janganlah kuatir."
"Aku pun sudah lama tidak pernah keluar, maka aku juga ingin ikut-ikut melemaskan otot,"
Demikian tiba-tiba Kang Lam berkata. Hay-thian melengak.
"Apakah engkau juga ingin pergi, ayah?"
Tanyanya.
"Aku toh belum terlalu tua, apa kau ingin aku hidup menganggur di rumah saja?"
Sahut Kang Lam.
"Sekarang aku ingin pesiar keluar, hendaklah kau tidak merintangi aku."
"Anak tidak berani,"
Kata Hay-thian.
"cuma "Cuma apa? Kau kuatirkan ilmu silatku tidak cukup?"
Kang Lam menegas.
"Kau toh tahu juga pengalamanku di masa lampau. Sekarang aku telah berlatih pula selama 20 tahun, andaikan tidak dapat mengungguli kau juga tidak sampai dikalahkan orang lain. Apa kau kuatir aku membikin malu dirimu?"
"Ah, mana anak berani berpikir demikian?"
Sahut Haythian cepat. Kang Lam tidak peduli lagi, ia bicara terus.
"Betapapun aku toh lebih kuat daripada Hiau-hu, pengalamanku juga lebih luas. Kalau Hu-ji dapat pergi, tentu aku pun boleh pergi. Pula aku tidak ingin didampingi olehmu, jika bersama kau, tentu musuh akan menyingkir jauh-jauh, kawan-kawanmu pun cuma kenal aku sebagai ayah Kang-tayhiap, Kang Hay-thian, dengan demikian perjalananku menjadi tiada artinya lagi. Maka sebaiknya kau tinggal di rumah saja menemani tamu, kau tidak boleh menguntit perjalananku. Hanya sedikit urusan kecil saja masakah kau kuatir aku tidak sanggup membereskannya?"
Hay-thian cukup kenal watak ayahnya.
Meski suka berkelakar, tapi kalau sudah sungguh-sungguh, maka tidak dapat dibantah lagi.
Apalagi yang diucapkan Kang Lam juga ada benarnya, sesudah berlatih puluhan tahun, tokoh Bu-lim yang dapat menandingi dia sesungguhnya juga tidak banyak lagi.
Terpaksa Hay-thian tunduk dan berkata.
"Jika ayah ingin pergi, bolehlah silakan menunggang Pek-liong-ki (si naga putih, nama kuda) saja."
Kang Lam menjadi girang, katanya kepada Hiau-hu dengan tertawa.
"Hu-ji, biarlah kita masing-masing mengambil satu jurusan, bukankah kawanan penjahat wanita itu melarikan diri dengan berpencar? Maka kau mencari ke jurusan timur dan selatan, aku menguber ke barat dan utara, coba siapa lebih beruntung menemukan jejak musuh. Siapa yang ketemukan musuh lebih dulu harus segera melepaskan Coa-yam-cian (panah berapi) sebagai tanda, dengan demikian kita akan selalu berhubungan dengan baik."
"Ya, cara demikian sangat baik, aku justru kuatir kakek menganggap aku sebagai anak kecil dan tidak memberi kesempatan padaku untuk memperlihatkan ketangkasanku,"
Ujar Hiau-hu dengan tertawa.
Kang Hay-thian tahu ayahnya paling sayang kepada Hiau-hu, dengan cara membagi tugas itu diam-diam orang tua itu dapat melindungi si anak dara, tapi tampaknya saja anak dara itu telah dibiarkan keluar sendirian.
Begitulah, kalau Kang Lam dan Kang Hiau-hu bergembira ria, adalah sebaliknya Siau Ci-wan merasa sangat rikuh, ia berkata.
"Karena urusanku ini terpaksa mesti membikin repot kepada adik cilik, bahkan membikin susah kepada paman pula, sungguh aku merasa tidak enak sekali "Janganlah Hiantit bicara demikian,"
Segera Kang Lam memotong.
"Kau telah membela kawan yang tak pernah kau kenal, masakah kami tak dapat menolong kau? Kenapa bicara tentang urusanmu dan urusanku apa segala. Apalagi Hay-thian sudah berjanji akan menerima anak itu sebagai murid, dengan sendirinya bocah itu adalah cucu-muridku pula, dan bukankah inipun terhitung urusanku juga. Sudahlah, kau baru pertama kali berkunjung ke sini, bolehlah kau bicara baik-baik dengan Hay-thian, tidak sampai tiga hari kami pasti akan pulang. Andaikan tidak dapat menangkap penjahat wanita itu, paling sedikit persoalan ini akan dapat diselidiki juga seluk-beluknya Hiau-hu kuatir kalau sang kakek sudah menerocos tentu takkan ada habis-habisnya lagi, cepat ia menariknya dan diajak berangkat, katanya.
"Yaya, lihatlah hari sudah hampir petang!"
"Ya, benar, kita harus berangkat sekarang juga,"
Sahut Kang Lam dengan tertawa.
Sambil mengantarkan bayangan perawakan Hiau-hu yang ramping menggiurkan keluar pintu, diam-diam Yap Leng-hong menjadi linglung.
Dalam pada itu Ci-wan telah berbangkit dan memperkenalkan kawannya kepada Kang Hay-thian, katanya.
"Kang-toako, akan kukenalkan kedua sahabatku ini. Yang ini adalah teman sekampungku bernama Leng Tiat-jiau, keponakan Leng-cecu dari Siau-kim-jwan."
Dan sesudah Kang Hay-thian beramah-tamah sejenak dengan Leng Tiat-jiau, lalu Ci-wan memperkenalkan Leng-hong.
"Dan yang ini adalah saudara angkatku, Yap Leng-hong."
Leng-hong tersentak dari lamunannya, cepat ia melangkah maju . dan mendahului berlutut di hadapan Kang Hay-thian. Keruan Hay-thian terkejut, serunya.
"He, mana boleh saudara Yap menjalankan penghormatan setinggi ini?"
Dan baru saja ia hendak membangunkan orang, namun Leng-hong sudah menjura sambil berkata.
"Harap Kohu (paman, suami saudara perempuan ayah) menerima penghormatan keponakanmu ini."
Untuk sejenak Kang Hay-thian tertegun bingung, katanya.
"Kau ...kau siapa? "
"Ini adalah surat ayah,"
Sahut Leng-hong.
Dengan heran dan ragu-ragu Hay-thian menerima surat yang diangsurkan Yap Leng-hong itu, ia coba membacanya, baru beberapa baris membaca tangannya tampak sedikit gemetar, tiba-tiba ia berseru.
"Lian-moay (adik Lian), lekas keluar, putra Toakomu telah datang!"
Buru-buru ia membaca habis surat itu, lalu dengan rasa terharu ia memeluk Yap Leng-hong, katanya.
"O, kiranya kau adalah keponakanku. Kami sudah 20 tahun lebih tak bertemu dengan ayah-bundamu. Selama ini bibimu sangat merindukan kalian!"
Kiranya istri Kang Hay-thian, yaitu Kok Tiong-lian, mempunyai dua saudara laki-laki, kakak kedua, Danu Cumu adalah raja negeri Masar.
Kakak tertua Yap Tiongsiau, karena di waktu mudanya ditipu musuh sehingga salah mengaku musuh sebagai ayah dan banyak berbuat kejahatan, kemudian setelah mengetahui rahasia asalusulnya sendiri, Yap Tiong-siau kembali ke jalan yang benar dan berkumpul dengan saudara-saudaranya.
Namun di dalam hati kecilnya ia tetap merasa malu, ia sengaja menghilang ketika Danu Cu-mu hendak menyerahkan tahta kerajaan kepadanya (cerita ini dapat dibaca dalam KISAH PEDANG DI SUNGAI ES, sudah terbit).
Sesudah menghilang selama 20 tahun, siapa duga sekarang mendadak muncul seorang Yap Leng-hong yang membawa surat ayahnya, yaitu Yap Tiong-siau.
Surat itu ditanda tangani oleh Tiong-siau, tapi jelas adalah tulisan tangan Auyang Wan, istri Tiong-siau sendiri.
Hay-thian masih kenal tulisan Auyang Wan.
Saking girangnya ia terus memanggil sang istri.
Yap Leng-hong mendadak mengaku keluarga Kang sebagai famili, sudah tentu hal ini membuat Siau Ci-wan terkejut dan heran, tapi juga rada mendongkol, pikirnya.
"Kiranya dia adakan keponakan Kang-tayhiap, terang hubungan mereka jauh lebih dekat daripadaku. Tapi mengapa dia membohongi aku, bahkan minta aku memperkenalkan dia?"
Tapi Ci-wan adalah seorang jujur, segera ia anggap perbuatan Yap Leng-hong itu tentu ada alasannya, mungkin karena dia sengaja rendah hati dan tidak mau mengaku sebagai sanak famili Kang-tayhiap, maka tidak mau sembarangan dikatakan kepada orang lain.
Jika demikian halnya juga tak dapat menyalahkan dia.
Dalam pada itu Kok Tiong-lian telah berlari keluar ketika mendengar seruan sang suami.
Tapi dia lebih teliti daripada Kang Hay-thian, begitu keluar ia lantas berkata.
"Dimanakah surat Toako, coba kuperiksa dulu!"
Mestinya Yap Leng-hong hendak memberi salam hormat kepada sang bibi, tapi demi melihat Kok Tionglian asyik membaca surat, terpaksa ia menunggu di samping.
Terdengar Kang Hay-thian telah memberi penjelasan kepada istrinya.
"Surat ini adalah tulisan tangan Toa-soh (ipar, istri saudara) sendiri."
"O, aku tidak pernah kenal tulisan tangan Toa-soh, syukurlah kau masih mengenalnya,"
Ujar Tiong-lian dengan tertawa.
Wajah Hay-thian menjadi merah, diam-diam ia mengomeli sang istri yang masih ingat pada urusan di masa lampau, padahal mereka sekarang sudah samasama tua.
Kiranya di masa mudanya dahulu Kang Hay-thian pernah dicintai oleh Auyang Wan.
Tapi sejak Auyang Wan menikah dengan Yap Tiong-siau, selama itu mereka tidak pernah datang menjenguk keadaan Kang hay-thian dan Kok Tiong-lian, mungkin salah satu sebabnya adalah karena hubungan asmara yang gagal di masa dahulu itu.
Sebenarnya maksud Kok Tiong-lian hanya ingin mengetahui dengan pasti surat itu tulen atau palsu.
Surat itu ditulis oleh Auyang Wan, tapi nadanya adalah nada Yap Tiong-siau.
Surat itu memberitahukan bahwa Tiong-siau dan istrinya sudah bertekad akan menyingkir keluar lautan untuk mencari tempat tinggal yang baru agar maksud menyerahkan tahta dari Danu Cu-mu dapat diredakan.
Untuk selanjutnya mereka terang takkan pulang ke tanah air lagi, maka putranya sengaja disuruh datang pada bibinya, untuk itu diminta Kang Hay-thian berdua suka menjaga keponakannya itu.
Di dalam surat Tiong-siau juga menyatakan penjelasannya berhubung di masa dahulu pernah sesat jalan, maka diharapkan putranya kelak akan menjadi seorang yang berguna di bawah pendidikan Kang Hay-thian.
Tiong-lian menjadi terharu dengan air mata berlinanglinang, katanya dalam hati.
"Tak nyana watak Toako ternyata sedemikian keras, semua orang sudah memaafkan dia, tapi dia sendiri yang tetap tak mau mengampuni dirinya sendiri. Mungkin Jiko (kakak kedua, Danu Cu-mu) berulang-ulang menyebarkan orang untuk mencarinya, hal ini malah memaksa Toako menyingkir pergi sejauh mungkin."
Bagaimanapun pikiran sang Toako dengan sendirinya dapat dipahami Kok Tiong-lian, maka ia tidak ragu-ragu lagi sesudah membaca surat itu. Ia simpan baik-baik surat itu, lalu bertanya kepada Leng-hong.
"Hiantit, apakah kau pernah pulang ke negeri leluhur (maksudnya negeri Masar)?"
Baru sekarang Leng-hong sempat memberi hormat kepada sang bibi, lalu menjawab.
"Ayah menyuruh Titji (keponakan) langsung datang kepada paman dan bibi, bahkan beliau memberi sesuatu larangan pula padaku."
"Larangan apa?"
Tanya Tiong-lian dengan heran.
"Katanya harus menunggu sesudah putra mahkota kerajaan Masar naik tahta barulah Titji boleh pulang untuk menjenguk sanak famili di sana,"
Tutur Leng-hong.
"Malahan ayah juga meminta bibi suka merahasiakan urusan ini agar Jicek (paman kedua) tidak mengetahui keberadaan diriku di sini."
"Ya, aku paham,"
Kata Tiong-lian sambil manggutmanggut.
"Ai, sesungguhnya Toako juga terlalu. Dia kuatir kalau-kalau Jicekmu akan memaksa kau menggantikan tahtanya. Tapi, baiklah, aku pasti akan menuruti keinginannya."
"Menjadi seorang pendekar pengelana sesungguhnya juga jauh lebih bebas dan merdeka daripada menjadi seorang raja,"
Ujar Kang Hay-thian dengan tertawa.
"Tapi kepandaian Titji terlalu rendah, mungkin tak dapat melakukan kewajiban untuk menolong sesama dan membela kaum lemah sebagaimana diharapkan oleh ayah,"
Kata Leng-hong.
"Sebab itulah, maka maksud ayah ... maksud ayah ..."
"Apakah maksud ayahmu menyuruh kau mengangkat pamanmu ini sebagai guru?"
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 11
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 6