Eps 2 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Tiong-lian menegas. Leng-hong terdiam, ia merasa kikuk untuk menjawabnya. Tapi Kang Hay-thian yang berwatak tulus itu sudah lantas berkata dengan ikhlas.
"Titji, sekarang kau sudah berada di sini, sudah tentu aku akan memenuhi harapan ayah-bundamu itu. Selanjutnya bolehlah kau belajar padaku bersama Hiau-hu. Haha, sungguh tidak nyana bahwa selama 20 tahun aku tiada punya murid, tapi sekali terima dalam sehari lantas dapat dua. Cuma sayang putra Li Bun-sing itu adalah muridku yang belum pernah bertemu, entah dia ada jodoh atau tidak untuk menjadi muridku."
Orang persilatan paling menghormati perguruan, guru dipandang lebih penting daripada ayah.
Sebab itulah Yap Leng-hong menjadi girang sekali demi mendengar Kang Hay-thian telah suka menerimanya sebagai murid, cepat ia memberi hormat pula dan menyatakan terima kasih.
"Hay-thian-ko, untuk pertama kalinya kau menerima murid, sejak kini kau terhitung telah mendirikan suatu cabang persilatan tersendiri, maka upacara penerimaan murid ini harus dilakukan dengan selayaknya, sekalian memberi petuah-petuah seperlunya."
Kang Hay-thian menjadi serba susah.
Maklum dia sendiri tidak berpengalaman tentang upacara segala.
Gurunya, yaitu Kim Si-ih, adalah seorang yang tidak suka pada ikatan adat kebiasaan, hakikatnya dia belum pernah menerima petuah atau sesuatu larangan perguruan.
Ia lihat ucapan sang istri itu sangat sungguh-sungguh, terpaksa ia menjawab dengan tertawa.
"Baiklah, harap kau bantu mengatur selaku ibu guru."
Tiong-lian juga tidak membantah, segera ia menyiapkan sebuah meja sembahyangan darurat sebagai tanda abu para Cosu (leluhur perguruan).
Sebenarnya Kang Hay-thian hanya mempunyai dua orang Cosu, pertama adalah Tok-liong Cun-cia yang sudah lama wafat dan angkatan kedua adalah gurunya, Kim Si-ih, yang pada belasan tahun yang lalu telah mengasingkan diri bersama Kok Ci-hoa.
Kalau dihitung usianya sekarang juga sudah 60 lebih dan entah masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Sesudah itu lalu Tiong-lian menyuruh Yap Leng-hong berlutut, segera ia membuka upacara dan berseru.
"Murid baru hendaklah mendengarkan dengan baik. Perguruan kita melarang, pertama, tidak boleh berkhianat dan durhaka kepada perguruan, kedua, tidak boleh membunuh orang yang tak berdosa, ketiga, dilarang mengganggu dan memperkosa kaum wanita, keempat, tidak boleh ..."
Begitulah berturut-turut ia mengucapkan sepuluh pasal larangan yang paling penting yang dipetiknya dari peraturan Bin-san-pay, kemudian menyambung pula.
"Jika melanggar kesepuluh larangan ini, hukuman yang akan dijatuhkan adalah hukuman mati atau kalau ringan sedikitnya ilmu silatnya akan dipunahkan. Apa kau sanggup tunduk kepada undang-undang perguruan ini?"
Leng-hong menjura berulang-ulang, akhirnya menjawab.
"Tecu menerima peraturan perguruan dengan sepenuh hati, jika melanggarnya rela menerima hukuman."
"Selain itu masih ada pula larangan-larangan yang tidak terlalu penting, hendaklah kau pun mendengarkan dengan baik,"
Kata Tiong-lian pula.
"Dilarang mengumpulkan harta secara tidak jujur, tidak boleh berhubungan dengan kaum pembesar, dilarang menjadi pengawal kaum hartawan tanpa izin perguruan, dilarang Begitulah ia uraikan beberapa pasal lagi, akhirnya ditambahkannya.
"dan dilarang menipu dan berdusta. Kalau melanggar larangan-larangan ini, hukumannya ialah ilmu silat dipunahkan atau kaki-tangan dipatahkan serta diusir keluar dari perguruan. Apa kau sanggup taat kepada semua peraturan ini?"
Leng-hong sampai berkeringat dingin terutama mendengar larangan terakhir ini. Cepat ia menjura dan menjawab.
"Tecu akan tunduk dan taat sepenuhnya, pasti tak berani melanggar undang-undang perguruan ini."
"Bagus,"
Kata Tiong-lian.
"Sekarang ada lagi suatu peraturan khusus, untuk ini aku hanya minta kau mentaati setengahnya saja."
Dengan perasaan tak tenteram dan ragu-ragu Lenghong menjawab dengan hormat.
"Silakan Subo (ibu guru) menjelaskan."
Maka berkatalah Tiong-lian.
"Suhumu adalah bangsa Han, ibu angkat merangkap guruku juga orang Han, sekarang aku pun sudah ikut suami dan sudah lama aku pun menganggap diriku sebagai orang Han. Para ksatria dan pahlawan Han walaupun belum pernah berserikat dan mengangkat sumpah, tapi di dalam hati setiap orang telah mempunyai suatu janji setia, yaitu harus mengusir bangsa Boan dan menegakkan kembali kerajaan Beng. Namun kau bukanlah bangsa Han, maka aku tidak memaksa kau harus bertindak seperti pahlawanpahlawan bangsa Han untuk melawan kerajaan Boan. Tapi paling sedikit kau pun dilarang menjadi antek pemerintah Boan dan membikin celaka ksatria-ksatria. Sebab itulah aku hanya minta kau mentaati setengahnya peraturan ini. Undang-undang perguruan kita ini tidak diadakan untuk kau seorang saja, kau masih punya Sute dan Sumoay, mereka pun harus tunduk sepenuhnya kepada undang-undang perguruan kita ini."
Mendadak Leng-hong mendongak dan berkata.
"Ucapanmu salah Subo!"
Tiong-lian melengak.
"Salah? Apakah kau tidak mau ..."
"Ibuku sendiri juga bangsa Han, jadi paling sedikit separoh dari darahku ini adalah orang Han,"
Kata Lenghong.
"Sebab itulah Tecu bersedia mentaati sepenuhnya peraturan perguruan ini. Tecu akan berbuat sepenuh tenaga seperti para ksatria bangsa Han untuk melawan pemerintah Boan. Bila melanggar sumpah ini, Tecu rela menerima hukuman."
"Hahaha! Rupanya Lian-moay belum mengetahui bahwa Leng-hong adalah orang sekaum kita,"
Kata Haythian dengan tertawa.
"Dia bersama Siau-hiante telah menyelamatkan putra Li Bun-sing di puncak Thay-san dan sudah bertempur dengan anjing-anjing pemburu kerajaan Boan di sana."
Habis ini ia lantas menceritakan yang didengarnya dari Siau Ci-wan tadi. Tiong-lian sangat girang mendengar keterangan itu, ia membangunkan Leng-hong dan berkata.
"Keponakan yang baik, murid yang bagus, sejak kini kau adalah Ciangbun-tecu (murid ahli-waris) perguruan kita."
Menurut peraturan Bu-lim, yang diangkat menjadi pewaris biasanya adalah murid pertama.
Tapi peraturan inipun tidak mutlak, misalnya Lu Si-nio, begitu pula Kok Tiong-lian sendiri, dia adalah murid terbuncit dari Binsan-pay, tapi toh diangkat menjadi pewaris ketua.
Sudah tentu Yap Leng-hong sangat girang, tapi lahirnya ia memperlihatkan rasa gugup dan berkata.
"Ah, tentang ini ... tentang ini sebaiknya tunggu dulu kepada Kong-he Sute saja, dia adalah keturunan pahlawan dan bangsa Han. Pula masih ada Hiau-hu Sumoay."
Hay-thian bergelak tertawa, katanya.
"Sudahlah, apa yang dikatakan ibu gurumu memang cocok dengan pikiranku. Tentang Kong-he belum lagi diketahui apakah dia ada jodoh sebagai muridku atau tidak, pula usianya juga masih terlalu kecil. Lebih-lebih Sumoaymu itu, dia adalah nona yang nakal, tidak mungkin dapat diangkat menjadi Ciangbunjin."
Dengan girang Leng-hong lantas menghaturkan terima kasih pula.
Dan baru sekaranglah Siau Ci-wan dan Leng Tiat-jiau sempat memberi selamat kepada Leng-hong.
Lalu Ci-wan memberitahukan maksudnya akan segera pulang untuk membantu pergerakan Leng Thian-lok yang telah disiapkan itu.
Tapi Kang Hay-thian telah menahan mereka agar tinggal lagi beberapa hari, terutama mengenai Li Konghe yang belum diketahui kabar beritanya itu, maka terpaksa Ci-wan menurut, ia pikir akan menunggu pulangnya Kang Lam dan Kang Hiau-hu yang tentu akan membawa kabar tentang diri Li Kong-he.
Tak terduga, tiga hari telah berlalu dengan cepat, tapi Kang Lam dan cucu perempuannya itu belum tampak pulang.
Padahal jarak Tekciu tidak terlalu jauh, kuda tunggangan mereka pun kuda-kuda pilihan, sepantasnya dalam waktu tiga hari mereka dapat pergi dan pulang.
Walaupun yakin ayah dan putrinya itu pasti tidak mengalami sesuatu bahaya, tapi Kang Hay-thian rada berkuatir juga.
Ia tahu sang ayah biasanya suka bergaul dan suka kepada keramaian, setiba di Tekciu boleh jadi orang tua itu telah ditahan untuk tinggal lebih lama oleh kawan-kawan dari Kay-pang.
Sedangkan Hiau-hu yang juga baru pertama kali mengembara, di bawah lindungan kakeknya boleh jadi juga ingin pesiar beberapa hari lebih lama.
Maka Hay-thian lantas berunding dengan sang istri, mereka mengambil keputusan untuk menunggu tiga hari lagi, bila yang dinantikan tetap tidak pulang barulah Haythian sendiri akan berangkat mencarinya.
Karena kejadian luar biasa itu, terpaksa Ci-wan dan Tiat-jiau mesti tinggal tiga hari lagi di rumah Kang Haythian.
Begitulah dengan cepat tiga hari yang kedua telah berlalu pula.
Pada malam terakhir, tatkala itu sudah lewat tengah malam, dengan rasa kuatir Hay-thian asyik bicara bersama Ci-wan dan Tiat-jiau di ruang tamu.
Tibatiba terdengar suara meringkiknya kuda di luar.
Dengan girang Hay-thian berseru.
"Ha, tentu mereka sudah pulang!"
Dengan cepat mereka lantas memburu keluar untuk menyambut. Malam itu kebetulan malam terang bulan. Tapi mereka menjadi terkejut ketika melihat yang pulang hanya Kang Lam seorang saja.
"Ayah, hanya ... hanya engkau sendiri saja? Dimanakah Hu-ji?"
Tanya Hay-thian dengan kuatir. Ternyata Kang Lam juga tidak kurang kagetnya mendengar pertanyaan itu.
"He, apa Hu-ji belum pulang? Kukira dia sudah pulang lebih dulu,"
Demikian Kang Lam balas bertanya.
"Eh, mengapa kuda ayah telah berganti?"
Tiba-tiba Kok Tiong-lian berseru.
Dan baru sekarang Kang Hay-thian dapat melihat jelas bahwa kuda tunggangan itu memang bukan Pek-liong-ki yang dibawa sang ayah ketika berangkat tempo hari, yang dibawa pulang sekarang ternyata adalah seekor kuda hitam.
Perbedaan kuda itu sebenarnya sangat mencolok, soalnya Kang Hay-thian hanya menguatirkan keselamatan putrinya sehingga tidak memperhatikan kuda tunggangan Kang Lam itu.
Karena pertanyaan Tiong-lian itu.
Kang Lam tampak kikuk dan serba susah, akhirnya ia bicara juga.
"Sekali ini aku benar-benar kena diingusi anak kecil. Aku telah ditipu oleh seorang penjahat wanita."
"O, apakah ayah telah ketemukan penjahat wanita itu?"
Tanya Hay-thian.
Diam-diam ia bersyukur bahwa paling sedikit persoalannya telah ada petunjuk-petunjuk yang menguntungkan.
Sambil berjalan masuk ke dalam ruangan tamu dan ambil tempat duduk, Kang Lam menghela napas dan berkata pula.
"Aku memang memergoki seorang penjahat wanita, tapi bukan orang yang kita cari."
"Apa bukan komplotan penjahat-penjahat wanita itu?"
Ci-wan menegas.
"Ya, memang komplotannya, tapi bukanlah pentolannya, hanya seorang dayangnya saja,"
Sahut Kang Lam.
Kiranya pada hari kedua sesudah Kang Lam berangkat, di tengah jalan ia lantas berjumpa dengan seorang wanita muda berkuda yang mencurigakan.
Usia dan dandanannya cocok dengan keterangan Siau Ci-wan, hanya saja tidak membawa anak kecil.
Sudah tentu kuda yang ditunggangi wanita muda itu tidak dapat menandingi Pek-liong-ki yang ditunggangi Kang Lam, maka dengan cepat Kang Lam dapat menyusul wanita itu dan menegurnya.
Semula wanita muda itu hendak melawan, tapi Kang Lam tidak ingin membikin susah padanya, hanya dengan tenaga pukulan dari jauh ia membinasakan kuda tunggangan wanita itu.
Melihat kelihaian Kang Lam itu rupanya si wanita muda lantas dapat menerka dengan siapa dia sedang berhadapan.
Segera dengan lagak penasaran dan marah-marah ia mengomel.
"Bukankah engkau adalah Kang-loyacu yang tersohor itu? Kau adalah jago tua, ksatria besar, mengapa menganiaya seorang wanita lemah seperti diriku ini?"
Tapi Kang Lam menjawab.
"Kau tidak perlu menyangkal. Aku tahu kau adalah komplotan penjahatpenjahat wanita yang kemarin telah menculik seorang anak laki-laki di wilayah Tong-peng-koan ini. Terang kau pun paham ilmu silat, mengapa bilang seorang wanita lemah?"
"Ai, Kang-loyacu, engkau adalah jago tua yang dikagumi setiap orang Kangouw, semula aku percaya engkau adalah seorang jujur dan baik hati, tapi ternyata engkau sedemikian tidak bijaksana."
"Aku tidak bijaksana? Dimana letak kesalahanku? Coba katakan!"
Sahut Kang Lam.
"Tentang kesalahanmu sih terlalu banyak,"
Ujar si wanita muda. Rupanya ia sengaja mengulur tempo, maka bicaranya sengaja mengadaada dan bertele-tele.
"Kau ingin tahu kesalahanmu? Baiklah, coba dengarkan. Pertama, kau tidak tahu siapakah kami ini dan ada hubungan apa dengan bocah itu, mengapa kau berani menuduh kami adalah kawanan penjahat? Kedua, seumpama benar kami adalah kawanan penjahat, orang menangkap penjahat harus ada bukti, tanpa bukti masakah kau boleh sembarang menuduh aku sebagai penjahat? Padahal aku hanya seorang diri, dimana anak laki-laki yang kau maksudkan itu? Ketiga, walaupun aku juga paham sedikit ilmu silat, tapi kalau dibandingkan Kang-loyacu yang tergolong jago kelas satu, maka perbedaannya adalah mirip kambing melawan harimau, di hadapanmu bukankah aku boleh disebut sebagai wanita lemah?"
Hati Kang Lam merasa syur karena dipuji dan diumpak oleh wanita muda itu, diam-diam ia merasa apa yang dikatakannya itu juga ada benarnya. Segera ia berkata.
"Aku tidak ingin mempersulit dirimu, tapi lantaran anak laki-laki she Li itu adalah cucu muridku, maka aku harus meminta kembali dari tangan kalian. Bukankah komplotanmu yang telah menculik bocah itu? Tentang ini kau masih coba menyangkal?"
"Bilakah aku menyangkal?"
Sahut wanita itu dengan tertawa.
"Akan tetapi orang yang telah merampas bocah itu dari tangan kawanmu itu adalah Siocia (nona junjungan) kami. Aku cuma salah seorang dayangnya saja."
"Bagus, sedikitnya aku telah mendapatkan beritanya,"
Kata Kang Lam dengan girang.
"Nah, coba terangkan, siapakah Siocia kalian itu? Mengapa dia menculik putra Li Bun-sing? Hayo lekas mengaku!"
"Tentang Siocia kami, beliau bernama Ki Seng-in, berjuluk Jian-jiu-koan-im (si dewi Koan Im bertangan seribu). Loyacu sudah banyak berpengalaman, tentu pernah mendengar nama Siocia kami, bukan?"
"Jian-jiu-koan-im apa segala? Tidak, tidak pernah kudengar nama demikian,"
Sahut Kang Lam sambil menggeleng.
"Bagaimana asal-usulnya? Tidak, coba kau katakan dulu untuk apa dia menculik anak itu? Tentang asal-usulnya boleh disambung nanti."
"Ai, rupanya Kang-loyacu ini sudah pikun?"
Tiba-tiba wanita itu menghela napas.
"Hus, mengapa kau mengatakan aku pikun?"
Semprot Kang Lam.
"Habis, engkau tentunya sudah tahu bahwa aku cuma seorang pelayan saja, apa yang hendak diperbuat oleh sang majikan, darimana seorang pelayan dapat tahu?"
"Tapi menurut nadamu tadi bukankah kau hendak mengatakan di antara Siocia kalian ada hubungan apaapa dengan anak itu? Sebaliknya kau mengatakan aku tidak boleh sembarangan menuduh Siociamu sebagai penjahat."
"Ai, Kang-loyacu rupanya benar-benar sudah pikun!"
Sahut si wanita dengan tertawa.
"Memang tadi aku mengatakan kau jangan sembarangan menuduh Siocia kami sebagai penjahat, sebabnya aku berkata demikian adalah lantaran aku tahu benar beliau bukan penjahat, sebab itu pula aku berani memastikan bahwa beliau tentu ada hubungan sesuatu dengan anak she Li itu. Kalau tidak, buat apa lagi beliau mesti bersusah-susah merampasnya dari kawalan temanmu? Adapun tentang hubungan apa di antara Siocia dan bocah itu, karena Sioacia tidak memberitahu padaku, darimana aku dapat mengetahui?"
Begitulah wanita muda itu sengaja bicara putar-kayun ke sana-kemari, kesimpulan terakhir tetap sama, yaitu "tidak tahu".
"Sudahlah, kau tidak perlu melantur lagi. Aku hanya ingin tanya, sebenarnya siapakah Siocia kalian itu?"
"Siocia ialah Siocia, jika kau ingin tahu asal-usulnya, wah, untuk ini aku harus mengingat-ingat dulu. Ya, sebaiknya harus diceritakan mulai kakek-moyangnya saja supaya jelas. Tapi, ai, bicara sekian lamanya mulutku menjadi kering, marilah kita mencari suatu tempat minum, biarlah aku mengobrol lebih asyik dengan Loyacu."
"Busyet!"
Demikian Kang Lam menggerutu dalam hati.
"Sejak kecil aku dinamakan orang sebagai 'Si Kang Lam yang ceriwis', tapi tampaknya budak setan ini jauh lebih ceriwis daripadaku. Kan bisa runyam kalau aku mengikuti obrolannya yang bertele-tele dan akan membuang tempo belaka."
Dalam pada itu senja sudah tiba, suara burung gaok ramai di angkasa sedang pulang ke sarang.
Betapapun polosnya Kang Lam juga sudah punya pengalaman berpuluh tahun, sudah tentu ia tidak mudah terjebak oleh tipu mengulur waktu si wanita muda.
Cepat ia menyela dan berkata.
"Sudahlah, aku tidak ingin tahu asal-usul Siociamu itu. Menuju ke jurusan mana Siociamu, coba katakan. Sesudah kususul dia, dengan sendirinya aku akan tanya asal-usulnya."
"Untuk memberitahukan ke jurusan mana Siocia kami telah pergi adalah soal gampang,"
Sahut si wanita muda dengan licin.
"Tapi apakah Kang-loyacu tidak kuatir akan dibohongi olehku?"
"Benar, maka biarlah kau yang menunjukkan jalannya padaku,"
Kata Kang Lam.
"Jika kau suka bicara, maka bolehlah di tengah jalan kau menceritakan asal-usul Siociamu, boleh kau mulai dari sejarah kakek-moyangnya tiga turunan atau tujuh turunan, asal saja perjalanan tidak terhambat."
"Baik, Kang-loyacu, masakah aku berani menolak untuk menjadi penunjuk jalan bagi seorang jago tua yang termasyhur? Bahkan aku merasa sangat terhormat!"
"Sudahlah, jangan banyak mulut lagi. Lekas berangkat!"
Seru Kang Lam dengan tak sabar.
"Tam ... tapi ada suatu kesulitan pula!"
Tiba-tiba dayang itu berkata.
"Kesulitan apa lagi?"
Kang Lam menegas dengan kurang senang.
"Habis, Kang-loyacu telah memukul mati kudaku, apa sekarang aku disuruh berlari mengikuti kau? Padahal kudamu sedemikian cepat larinya, sebaliknya tenagaku terlalu lemah!"
"Ya, ini, ini Kang Lam menjadi bingung sendiri sambil menggaruk-garuk kepala. Sesudah berpikir sejenak, akhirnya ia berkata.
"Baiklah, kau boleh naik ke atas kudaku sekalian."
"Ah, mana boleh jadi begini!"
Seru si dayang dengan tertawa genit.
"Meski engkau cocok untuk menjadi kakekku, tapi apapun juga engkau adalah seorang lelaki. Untuk mengatakan terus terang, meski usiaku baru 18 tahun, tapi aku sudah bertunangan. Calon suamiku itu justru sangat cemburu, bila dia melihat aku menunggang kuda bersama seorang lelaki, wah, tentu bisa runyam."
Sesudah berpikir, akhirnya terpaksa Kang Lam berkata.
"Ya, sudahlah, boleh kau menunggang kudaku ini. Tapi awas, kau harus menurut pada perintahku. Ini, lihat!"
Mendadak ia memukul ke depan, kontan sebatang pohon yang tanggung besarnya dalam jarak tiga-empat meter lantas tumbang oleh tenaga pukulannya. Dayang itu terkejut, tapi pura-pura tertawa dan berkata.
"Kang-loyacu, apa sih maksudmu ini? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku merasa terhormat dapat mengabdi kepada seorang Locianpwe dan seorang jago tua, masakah aku berani membangkang lagi kepada perintahmu?"
Walaupun merasa syur karena disanjung-puji, tapi Kang Lam pura-pura kereng, katanya.
"Aku tidak suka dipuji, kau tidak perlu bicara muluk-muluk. Awas, kau boleh menunggang kudaku ini dan aku akan ikut dari belakang. Tapi awas, jangan kau main gila, jarakmu dariku tidak boleh jauh-jauh, bila kukatakan berhenti dan kau harus lantas berhenti. Kalau tidak, sekali pukul dari jauh tentu akan mampus, pohon tadi adalah sebagai contoh!"
"Ai, Kang-loyacu benar-benar terlalu banyak curiga, masakah aku akan menipu seekor kudamu?"
Demikian sahut si wanita.
"Apalagi cara bagaimana aku mengetahui jarakmu tertinggal jauh atau tidak. Apa kau suruh aku berulang-ulang menoleh untuk melihat kau?"
"Kudaku ini sudah terlatih baik, kau tidak perlu mencambuknya, asal dia berlari dalam kecepatan biasa saja tentu aku dapat menyusulnya,"
Kata Kang Lam.
Kiranya Ginkang Kang Lam sekarang sudah sangat tinggi, kalau kuda biasa saja takkan lebih cepat daripada dia.
Hanya saja kalau berlari jarak jauh, terutama dibandingkan Pek-liong-ki ini, tentu payah juga bagi Kang Lam untuk menyusulnya.
"Kudamu ini tampaknya sangat tangkas, cuma janganjangan tidak mau menurut perintah orang yang tak dikenalnya?"
Ujar si dayang.
"Tidak, dia sangat menurut padaku,"
Kata Kang Lam.
Lalu ia tepuk-tepuk punggung Pek-liong-ki.
Kuda itu ternyata sangat cerdik segera ia berjongkok hingga si dayang dapat naik ke atas punggungnya dengan mudah sekali.
Begitulah, karena buru-buru ingin menyusul pentolan penjahat wanita itu, maka Kang Lam suka mengalah dan membiarkan dayang itu menunggang kudanya, ia pikir dirinya toh akan mengintil dari belakang, pula kuda itu sangat menurut pada perintahnya, tentu takkan terjadi sesuatu yang di luar dugaan.
Siapa tahu, begitu si dayang sudah berada di atas kuda, mendadak cambuknya bekerja.
"tarr", seketika Pek-liong-ki pentang keempat kakinya dan berlari ke depan secepat terbang. Keruan Kang lam terkejut, cepat ia mengejar sambil membentak.
"Berhenti! Lekas berhenti! Awas, segera aku akan memukul!"
Tapi si dayang menjawab dengan suara nyaring.
"Kang-loyacu, engkau adalah seorang ksatria termasyhur, jika kau tidak takut ditertawai orang, bolehlah kau memukul mati seorang wanita lemah seperti diriku ini!"
Kang Lam sudah angkat tangannya dan siap memukul dari jauh.
Tapi ia menjadi ragu-ragu, kalau dia membinasakan kuda saja, rasanya sayang karena kuda itu adalah kuda mestika kesayangannya.
Lantaran ragu-ragu itulah dalam sekejap saja jaraknya dengan kuda putih itu sudah belasan meter jauhnya.
Cepat Kang Lam berteriak.
"Naga putih, bantinglah dia, perosotkan dia!"
"Tarrr!", dayang itu mengayun cambuknya ke udara, ia pun berteriak.
"Naga putih, jangan mau! Larilah lebih cepat, larilah lebih cepat!"
Dan benar juga Pek-liong-ki itu larinya bertambah cepat malah, maka dengan tertawa si dayang telah mengejek.
"Hihi, Kang-loyacu, kudamu ini tak mau tunduk pada perintahmu, sebaliknya menurut padaku, memang pantasnya aku yang menjadi majikannya!"
Karena tak mampu menyusulnya, keruan Kang Lam mendongkol setengah mati, tapi tak bisa berbuat apaapa.
Begitulah terpaksa Kang Lam melanjutkan perjalanan ke Tekciu dengan berjalan kaki.
Sehari semalam kemudian akhirnya dia sampai di tempat tujuan, namun capainya sudah tak terkatakan, apalagi usianya sudah tua dan tenaga sudah berkurang.
Semula ia menyangka Kang Hiau-hu sudah tiba lebih dulu di Tekciu, siapa duga anak dara itu sama sekali belum kelihatan bayangannya.
Sesudah menunggu sehari di Tekciu dan Hiau-hu tetap tidak muncul, diam-diam Kang Lam menjadi gelisah dan kuatir, segera ia minta seekor kuda kepada sahabat Kaypang dan berangkat pulang melalui jurusan yang ditempuh Kang Hiau-hu.
Sepanjang jalan ia pun mencari kabar, tapi tiada diperoleh sesuatu keterangan tentang diri anak dara itu.
Demikian Kang Lam menceritakan pengalamannya itu dengan mengurangi sedikit kejadian, yaitu tentang dirinya dipermainkan oleh dayang muda itu.
Untuk sejenak Kang lam merenung, katanya kemudian.
"Nama Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in rasanya belum pernah kudengar selama ini."
"Tapi kita menjadi tidak sulit untuk menyelidiki sesudah mengetahui namanya,"
Ujar Tiong-lian.
"Hanya saja aku kuatir kalau nama yang disebut dayang itu cuma omong kosong belaka, jika demikian urusan menjadi sulit pula."
"Ai, kalian ini benar-benar terlalu, Hiau-hu sampai saat ini belum lagi pulang, kenapa kalian tidak lekas pergi mencarinya, tapi masih bicara tak habis-habisnya?"
Desak Kang Lam. Biasanya dia paling sayang kepada Hiau-hu, dengan sendirinya ia pun paling gelisah.
"Harap ayah jangan kuatir,"
Kata Hay-thian.
"Hiau-hu sampai saat ini belum pulang, sudah tentu kita akan mencarinya. Bahwasanya dia baru mulai berkecimpung di dunia Kangouw, dengan sendirinya mesti mengalami gemblengan-gemblengan yang mungkin juga ada manfaat baginya. Biarlah besok pagi-pagi segera anak berangkat mencarinya."
Di sebelah sana Siau Ci-wan menjadi serba susah juga.
Dia telah dipasrahi putra Li Bun-sing, sepantasnya dia mesti ikut mencari.
Tapi di samping itu dia sedang ditunggu pula oleh Leng Tiat-jiau yang mengajaknya pulang ke kampung.
Rupanya Kang Hay-thian dapat merasakan kesukaran Siau Ci-wan itu, dengan tulus ia berkata.
"Siau-hiante, tentang putra Li Bun-sing ini, biarpun dia belum menjura dan mengaku guru padaku, tapi sudah terang aku telah menganggap dia sebagai muridku, mana boleh aku membiarkan muridku jatuh di tangan orang jahat. Maka Siau-hiante tidak perlu kuatir, dengan sepenuh tenaga aku pasti akan mencarinya kembali. Bila engkau sudah berjanji pulang kampung untuk membantu Leng-cecu, urusan yang maha penting ini harus kau utamakan lebih dulu, tentang mencari Kong-he boleh kau serahkan padaku saja, begitu ada berita tentang ini tentu aku akan mengirim surat padamu."
Sudah tentu Siau Ci-wan percaya penuh kepada Kang Hay-thian, katanya.
"Kang-toako, asal engkau sendiri sudah ikut campur urusan ini, biarpun lebih sukar berpuluh kali lipat juga pasti akan dapat diselesaikan dengan baik. Hanya ada sesuatu yang kusangsikan, yaitu muka si Kong-he toh belum pernah kau kenal "Hahahaha! Masakah kau melupakan si Leng-hong?"
Seru Hay-thian dengan tertawa.
"Aku justru ingin menggunakan kesempatan ini untuk membawa Lenghong keluar agar dia bertambah pengalaman dan lebih banyak mengenal jago-jago angkatan tua dunia persilatan."
"Bagus sekali jika demikian halnya,"
Sahut Ci-wan dengan tertawa.
"Yap-hiante, semoga kau lebih giat belajar kepandaian, bila ketemukan bangsat wanita itu harap kau mewakilkan aku membalas sakit hati tempo hari?"
Diam-diam Yap Leng-hong merasa sangat girang.
Betapa bahagianya jika nanti di luaran dia diperkenalkan sebagai murid pewaris dari tokoh utama dunia persilatan sekarang ini.
Segera ia menjawab dengan kata-kata yang merendah hati serta mengucapkan terima kasih atas perhatian sang guru.
Begitulah, besok paginya masing-masing lantas berpisah.
Ci-wan dan Leng Tiat-jiau berangkat pulang ke Sucwan.
Sedangkan Kang Hay-thian dan Kok Tiong-lian membawa serta Yap Leng-hong menuju ke Tekciu lebih dulu untuk mencari kabar tentang Kang Hiau-hu dan Li Kong-he.
Hanya Kang Lam yang ditinggal untuk menjaga rumah.
Marilah kita mengikuti pengalaman Kang Hiau-hu.
Apakah yang telah terjadi atas dirinya?
Untuk ini harus diceritakan mulai dari Li Kong-he.
Pada hari itu Kong-he telah dibawa lari oleh seorang dayang Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in.
Pada waktu melemparkan Kong-he kepada dayangnya, sekalian Ki Seng-in telah menotok Hiat-to anak itu.
Kong-he hanya bocah berusia 11 atau 12 tahun saja, kini sudah ditotok dengan ilmu Tiam-hiat tunggal yang dimiliki Ki Seng-in, sedangkan dayangnya itu juga bukan orang bodoh, dengan sendirinya Ki Seng-in tidak kuatir kemungkinan Kong-he akan meloloskan diri.
Ia tidak tahu bahwa meski Kong-he masih kecil, tapi kepandaian-kepandaian dari berbagai golongan dan aliran telah banyak yang dipelajari.
Kebetulan ilmu Tiam hiat yang digunakan Ki Seng-an itupun diketahui cara membukanya.
Maka dengan sedikit demi sedikit Kong-he telah menghimpun tenaga dan perlahan-lahan Hiat-to yang tertotok itu dapatlah terbuka sendiri.
Sementara itu hari sudah gelap, Ki Seng-in sudah dapat menyusul dayangnya sesudah menghalau Siau Ciwan bertiga.
Tatkala itu mereka berada di jalan pegunungan yang curam dengan di sebelahnya adalah jurang yang berbahaya.
Kuatir kalau terjadi kecelakaan, segera Ki Seng-in berseru kepada dayangnya yang berada di depan.
"Hari sudah gelap, jalanan ini sangat berbahaya, boleh kau serahkan anak itu padaku saja!"
Si dayang mengiakan dan segera menghentikan kudanya.
Tapi baru saja ia hendak memondong Kong-he ke bawah, sekonyong-konyong Kong-he menjerit keraskeras di tepi telinganya.
Keruan dayang itu kaget, pada saat itulah sekuatnya Kong-he mendorong dan sekalian menotok pula Hiat-to si dayang.
"He, kenapa? Lekas bangunkan bocah itu!"
Seru Sengin dari belakang.
Dalam keadaan gelap ia menyangka si dayang terperosot jatuh dari kudanya sehingga Kong-he ikut terbanting ke bawah.
Tapi pada saat sebelum Seng-in mendekat, dengan cepat Kong-he menutupi kepala sendiri dengan kedua tangan, lalu menjatuhkan diri dan menggelinding ke bawah lereng.
Sesudah dekat dan menyalakan geretan api barulah Ki Seng-in mengetahui yang menggeletak di situ adalah dayangnya sendiri, sedangkan Kong-he sudah tergelincir ke bawah gunung.
Sebagai seorang ahli ilmu silat, sekali lihat saja Ki Seng-in lantas tahu Hiat-to si dayang telah tertotok, ia terkejut, tapi segera paham pula duduknya perkara.
Ia menggeleng-geleng kepala, katanya.
"Bocah ini benar-benar terlalu berani, aku pun terlalu gegabah dan melupakan dia adalah putra Li Bun-sing. Wah, celaka, lereng gunung setinggi ini, dengan menggelinding ke bawah, kalau tidak mampus sedikitnya juga akan luka parah."
Segera ia membuka Hiat-to si dayang yang tertotok, lalu dengan cepat ia mencari Kong-he ke bawah lereng gunung.
Lereng gunung itu sangat terjal, hari sudah gelap pula, terpaksa Ki Seng-in berjalan dengan hati-hati, ia mencari secara teliti kalau-kalau Kong-he tersangkut di batu cadas atau batang pohon.
Tapi sebelum sampai di dasar lembah, api yang dinyalakan Ki Seng-in sudah padam.
Untunglah Kong-he tidak sampai terluka parah, hanya bajunya saja yang robek dan babak-belur karena duri belukar.
Ketika menggelinding sampai di dasar lembah, terus saja ia berlari sekuatnya.
Tapi di tengah malam gelap itu, ia pun tidak tahu harus lari ke jurusan mana.
Dalam pada itu Ki Seng-in telah melepaskan sebatang Coa-yam-ci (panah berapi) ke udara sambil berseru.
"Jangan lari lagi, anak baik, aku tidak akan membikin susah padamu!"
Mendengar suara tindakan orang di dasar lembah, maka legalah hatinya, ia yakin andaikan Kong-he terluka tentu juga tidak parah.
Di dasar lembah gunung itu penuh tumbuh rumput alang-alang yang tingginya melampaui manusia.
Kong-he cukup cerdik, ia tahu Ginkang Ki Seng-in tentu sangat tinggi, jika dia sudah menyusul tiba, biarpun dirinya berlari betapa cepatnya akhirnya pasti akan tersusul juga.
Karena itu ia tidak main lari lagi, tapi begitu melihat sinar api panah, segera ia menyusup ke tengah rumput alang-alang.
Cahaya api Coa-yam-ci itu hanya sekilas saja sudah lenyap di udara, meski Seng-in tidak melihat dimana beradanya Kong-he, tapi telah dapat mengikuti jurusan lari bocah itu.
Terpaksa ia menggunakan cambuk untuk menyingkap alang-alang dan mencari dengan hati-hati.
Dengan meringkuk di balik segundukan batu-batu yang dikelilingi alang-alang yang tinggi, hati Kong-he menjadi kebat-kebit, sampai bernapas pun tidak berani keras-keras.
"Anak yang baik,"
Demikian Ki Seng-in berseru pula dengan suara ramah.
"Aku adalah sanak familimu yang lebih tua, ayah-bundamu telah wafat semua, hidupmu menjadi sebatang kara, maka aku sengaja mencari dan ingin membesarkan kau, hendaklah kau jangan takut."
Walaupun masih anak-anak, tapi sejak kecil Kong-he sudah sering mendengar cerita ayahnya tentang tipu muslihat orang-orang Kangouw, pengetahuannya cukuplah luas. Diam-diam ia membatin.
"Darimana sih munculnya sanak familiku ini? Huh, apa kau mengira aku gampang ditipu?"
Maka ia tetap diam saja. Dalam pada itu terdengar Ki Seng-in berseru pula.
"Nenekmu berasal dari keluarga Ki bukan? Ayahku adalah saudara sekandung nenekmu dan aku adalah adik misan ayahmu, jadi terhitung kau punya Piaukoh (bibi). Namaku Ki Seng-in, apa ayahmu tidak pernah mengatakan padamu?"
Kong-he terkesiap dan agak heran.
Sebab neneknya memang benar she Ki, hanya saja ayahnya tidak pernah menceritakan sejarah dan keluarga leluhur itu.
Sekarang mendadak muncul seorang bibi, sudah tentu ia ragu-ragu apa bibi tulen atau palsu?
Karena Kong-he tetap diam saja, maka Ki Seng-in telah menghela napas dan berkata pula.
"Rupanya ayahmu sama sekali tak pernah menyebut namaku padamu? Aku mempunyai nama julukan 'Jian-jiu-koanim', apa kau juga tidak pernah mendengar julukan ini?"
Mendengar nama julukan itu, tiba-tiba Kong-he teringat sesuatu kejadian pada waktu hari ulang tahun ayahnya dua-tiga tahun yang lalu.
Seorang sahabat ayahnya telah membawakan kado sebuah patung dewi Koam-im porselen yang sangat indah.
Entah mengapa ketika melihat patung Koam-im itu, tiba-tiba ibunya menjadi marah dan membanting patung itu hingga hancur berantakan.
Tapi dengan tertawa ayahnya telah memberi penjelasan-penjelasan yang tak dipahaminya, maklum Kong-he sendiri masih sangat kecil dan tidak tahu selukbeluk orang hidup.
Hanya saja kemudian ibunya lantas ikut tertawa dan peristiwa itupun berakhir.
Kalau dipikir sekarang, jika julukan penjahat itu adalah Jian-jiu-koanim, dan tanpa sebab ibunya telah membanting hancur patung Koam-im yang indah itu, jangan-jangan yang dibenci ibunya adalah bangsat wanita ini?
Peduli apa dia bibiku atau bukan, jika ibu sudah tidak suka kepada "Koan-im", maka Jian-jiu-koan-im inipun adalah orang jahat.
Demikian Kong-he berkata dalam hati.
Di sebelah sana agaknya Ki Seng-in menjadi mendongkol karena Kong-he tetap tidak memberi jawaban dan memperlihatkan diri, tiba-tiba ia berkata dengan mendengus.
"Hm, jadi ayah-ibumu benar-benar tidak pernah menyebut namaku? Mereka benar-benar tidak mau mengaku famili lagi padaku? Biarpun begitu aku tetap akan melindungi hidupmu. Sudahlah, anak yang baik, harap kau keluar saja!"
Namun Kong-he tetap diam saja, ia hanya mendengarkan dan tidak bersuara. Lama-lama Ki Seng-in menjadi gusar, katanya.
"Anak kurangajar! Hm, apa kau kira aku tidak mampu membikin kau keluar. Ini rasakan nanti! Hayo, lekas tutupi mukamu!"
Maka terdengarlah suara mendesis-desis ramai, Ki Seng-in telah menaburkan segenggam Bwe-hoa-ciam (senjata rahasia bentuk jarum kecil).
Pikir Ki Seng-in, betapapun bandelnya Kong-he, kalau terkena jarum lembut itu tentu juga akan menjerit kesakitan walaupun jiwanya takkan terancam.
Dan lebih dulu ia telah memperlihatkan rasa kasih sayangnya kepada si Kong-he.
Begitulah bagaikan hujan saja Ki Seng-in menebarkan Bwe Hoa-ciam segenggam demi segenggam sambil melangkah maju ke arah tempat persembunyian Konghe.
Dalam lingkaran seluas beberapa meter sudah terancam di bawah hujan jarumnya.
Terdengar pula suara "cring-cring"
Yang ramai, batu-batu yang mengaling-aling di depan Kong-he itu sudah terkena jarum-jarum halus itu.
"Nah, kau bersembunyi di belakang batu itu, bukan? Hayo, lekas keluar! Aku sudah melihat kau, tak perlu bersembunyi lagi!"
Tiba-tiba Seng-in berseru.
Kong-he terkejut, tanpa terasa ia meringkukkan tubuhnya dengan lebih ringkas.
Lapat-lapat Seng-in dapat mendengar suara keresekan rumput alang-alang itu, ia menduga si Kong-he mungkin bersembunyi di situ.
Segera ia mencobanya lagi dengan menghamburkan Bwe-hoa-ciam, sekali ini ia menggunakan cara yang istimewa, jarum-jarum itu melayang dulu ke samping, lalu membalik.
Dengan sendirinya Kong-he tidak mampu menghindarkan diri, kontan bahu, lengan dan betisnya terkena jarum-jarum lembut itu, rasanya sakit pedas dan mengilukan.
Diam-diam Kong-he menjadi murka, pikirnya.
"Sedemikian kejamnya kau ini. Tapi kau masih mengaku sebagai bibiku apa segala. Hm, andaikan kau betul adalah bibiku juga tidak sudi aku ikut padamu."
Maka dengan menahan rasa sakit ia tetap diam saja.
Meski masih kecil, tapi ia cukup cerdik.
Ia yakin Ki Seng-in pasti belum tahu pasti tempat persembunyiannya, ucapannya tadi yang mengatakan telah melihat tempat persembunyiannya tentu hanya tipu muslihat saja.
Sebab kalau benar-benar sudah melihatnya mustahil wanita itu tidak memburu ke situ dan menangkap dirinya.
Sama sekali Ki Seng-in juga tidak menduga bahwa kecil-kecil cabe rawit, watak Kong-he ternyata sedemikian bandelnya.
Padahal kalau ada orang bersembunyi di belakang batu itu, tentulah terkena jarum-jarumnya dan tentu pula akan bersuara.
Tapi keadaan toh sunyi-sunyi saja, tampaknya bocah itu tidak bersembunyi di situ.
Sedangkan sisa jarumnya hanya tinggal sedikit saja, dengan mendongkol ia lantas membentak pula.
"Apa benar-benar kau tidak mau keluar? Biarlah aku menyalakan api untuk membakar kau, ingin kulihat kau mampu bersembunyi lebih lama lagi atau tidak?"
Tapi Kong-he juga sudah nekat. Biar terbakar mati juga aku takkan keluar, demikian pikirnya. Akhirnya Ki Seng-in menjadi murka juga, bentaknya.
"Setan cilik, biar kuhitung sampai tiga kali, bila kusebut tiga masih juga kau belum keluar, segera aku akan menyalakan api? Nah, satu... dua Baru saja "tiga"
Hendak diucapkan, sekonyongkonyong ada suara seorang telah mengejeknya.
"Jian-jiukoan-im, apa kau tidak malu menganiaya seorang anak kecil?"
Seng-in terkejut, tertampak sesosok bayangan orang sedang memburu tiba secepat terbang.
"Huh, kukira siapa, tak tahunya adalah Lok-lotoa,"
Jengek Ki Seng-in.
"Lok-lotoa, apa kau tidak salah ikut campur urusan ini? Tahukah kau pernah apa bocah ini dengan diriku?"
Orang yang dipanggil "Lok-lotoa"
Atau si tua she Lok itu mengekeh tawa, sahutnya.
"Mengapa aku tidak tahu? Tentu saja aku tahu bocah itu adalah anak Li Bun-sing dan Lo Ki-wan. Dahulu kau urung menjadi istri Li Bunsing sehingga kau sedemikian bencinya kepada Lo Kiwan, apa kau merasa tidak cukup membacok sekali di mukanya dan sekarang kau ingin membikin celaka pula anak kandungnya? Hm, hm, apa kau kira aku tidak tahu pikiranmu? Kau pura-pura baik hati dan sengaja menipu anak ini agar suka ikut padamu, habis itu dengan bebas kau akan menyiksanya. Tapi untunglah keponakanku ini cukup cerdik dan tidak kena ditipu olehmu!"
Sesungguhnya Kong-he juga tidak tahu apakah ayahnya mempunyai seorang sahabat she Lok atau tidak, yang terang pergaulan Li Bun-sing memang sangat luas, sekarang orang she Lok mengaku dia sebagai keponakan, apa yang dikatakan juga beralasan, maka diam-diam Kong-he berdoa.
"Semoga arwah ayah di alam baka suka membantu paman Lok mengalahkan bangsat wanita ini."
Kiranya ibu Kong-he memang benar bernama Lo Kiwan dan di bagian pipi kiri di bawah telinga memang juga terdapat sebuah bekas luka.
Di waktu kecilnya, Kong-he pernah bertanya pada sang ibu mengapa terdapat bekas luka itu.
Ibunya menjawab bahwa dia jatuh terkena pisau di masa kecilnya.
Tapi sekarang baru diketahui luka itu adalah gara-gara perbuatan Ki Seng-in.
Keruan hal ini makin menambah rasa benci Kong-he, pikirnya.
"Kau telah melukai ibuku dan beliau berusaha menutupi perbuatanmu ini, tapi sekarang kau malah hendak menangkap aku pula. Hm, Hm, hatimu benarbenar teramat kejam."
Dalam pada itu terdengar Ki Seng-in telah mendamprat orang she Lok tadi dengan gusar.
"Kau ... kau benar-benar mengaco-belo belaka! Darimana Li Bunsing bisa mempunyai seorang sahabat seperti kau? Tapi tanpa malu-malu kau telah berani mengaku anaknya sebagai keponakan?"
"Hahaha!"
Lok-lotoa itu bergelak tertawa.
"Karena Li Bun-sing kenal kekejamanmu, sesudah dia menikah dengan Lo Ki-wan lantas tak mau menggubris lagi padamu. Tentang sahabat-sahabatnya masakah dia perlu memberitahukan padamu? Hm, seumpama aku tiada punya hubungan persaudaraan dengan Li Bun-sing, tapi dia adalah ksatria yang terkenal di dunia ini, betapapun aku tidak dapat tinggal diam membiarkan anaknya jatuh di bawah cengkeramanmu! Apalagi aku memang pernah mengangkat saudara dengan dia."
Ucapan Lok-lotoa ini kedengarannya ditujukan untuk mendamprat Ki Seng-in, tapi sesungguhnya sengaja diperdengarkan kepada Li Kong-he yang bersembunyi di sekitar situ.
Lalu terdengar Ki Seng-in telah membantahnya.
"Persetan dengan ocehanmu itu! Huh, kau binatang Tokkak-lok (menjangan bertanduk satu) yang bernama busuk ini juga berani mengaku sebagai ksatria di hadapanku? Huh, benar-benar tidak tahu malu! Ocehanmu ini terang hanya ingin menipu dan merebut anak Li Bun-sing saja."
"Huh, kau sendirilah yang mengukur dirimu sendiri dengan diri orang lain,"
Lok-lotoa balas mendengus.
"Pendek kata, hendaklah kau lekas pergi dari sini, urusan keponakanku ini selanjutnya kau tidak boleh ikut campur lagi!"
"Lok-lotoa, jadi kau berani main gila padaku!"
Bentak Ki Seng-in dengan gusar.
"Peduli kau adalah Jian-jiu-koan-im segala, habis mau apa?"
Jawab Lok-lotoa dengan tertawa dingin.
"Ini, rasakan!"
Bentak Ki Seng-in.
Seketika senjata rahasia berhamburan laksana hujan ke arah Lok-lotoa.
Dia berjuluk Jian-jiu-koan-im atau si Dewi Koan-im bertangan seribu, dengan sendirinya dalam hal menggunakan senjata rahasia adalah lain daripada yang lain.
Maka terdengarlah suara "tring-tring"
Yang ramai, Loklotoa menggunakan sebatang senjata berbentuk aneh, yaitu mirip tanduk menjangan yang bercabang-cabang, ditambah kegesitan dan kelincahannya, seluruh senjata rahasia Ki Seng-in seperti panah kecil, pisau, batu dan lain sebagainya telah kena disampuk jatuh atau dihindarkannya.
Bahkan dengan terbahak-bahak Loklotoa lantas mengolok-olok.
"Hahaha! Kau adalah Dewi Koan-im bertangan seribu, aku adalah Dewa sakti bertubuh baja. Biarpun senjata rahasiamu sangat banyak, tapi apa yang kau mampu perbuat atas diriku?!"
Habis berkata, sebelum Ki Seng-in menghamburkan seluruh senjata rahasia, dengan cepat ia lantas mendesak maju dan menyerang dari dekat agar lawan tidak sempat menebarkan lagi senjata rahasianya.
Seng-in terkesiap dan diam-diam mengaku kecerdikan "menjangan bertanduk satu"
Itu. Terpaksa ia menimpukkan sisa senjata rahasianya, lalu melepaskan cambuk dan pedangnya sambil membentak.
"Baik. Boleh kita coba-coba lagi dengan bersenjata!"
Kepandaian memainkan cambuk dan pedang secara kombinasi adalah ilmu silat keluarga Ki yang tiada bandingannya.
Dengan cambuknya dia pernah mengalahkan Leng Tiat-jiau, dengan pedang juga telah mengalahkan Siau Ci-wan, sekarang cambuk dan pedang dimainkan bersama, maka betapa lihainya dapatlah dibayangkan.
Tapi senjata yang dipakai Lok-lotoa juga senjata yang aneh, namanya "Lok-kak-jat" (garpu tanduk menjangan), bentuknya memang mirip tanduk menjangan, tapi sesungguhnyaa dibuat dari tanduk sejenis binatang badak yang hanya terdapat di daerah Tibet, kerasnya melebihi baja, pada ujungnya ditambahkan dua cabang tajam sehingga kelihatannya lantas mirip tanduk menjangan.
Senjata aneh ini memang serba guna, dapat dibuat Tiam-hiat (menotok), dapat dipakai menusuk dan bahkan dapat digunakan membacok bagai golok.
Senjata aneh ini digunakan untuk melawan cambuk dan pedang Ki Seng-in menjadi sangat cocok dan sama kuatnya.
Karena tahu lawannya cukup lihai, maka Ki Seng-in tidak berani ayal, begitu mulai lantas melancarkan serangan-serangan kilat, cambuknya selalu mengincar bagian kaki, sedangkan pedang selalu mengarah bagian atas tubuh lawan.
"Permainan kombinasi yang jahat, hari ini aku benarbenar bertambah pengalaman!"
Seru Lok-lotoa. Berbareng senjata tanduk menjangannya terus memapak ke atas.
"Brek", kebetulan cambuk Ki Seng-in menyabet di atas tanduk yang bercabang itu, karena terlilit dan diseret pula oleh Lok-lotoa, tanpa kuasa Ki Seng-in tertarik maju dua tindak. Cepat pedangnya membacok sekalian.
"trang", dengan tepat kedua senjata beradu dan meletikkan lelatu api. Ternyata sedikitpun tanduk menjangan lawan tidak berkurang apa-apa, sebaliknya pedang Ki Seng-in sendiri yang gumpil sebagian, bahkan tangannya terasa pegal kesemutan, keruan Seng-in terkejut. Cepat ia ganti haluan, ia gunakan kelincahannya untuk menempur lawan dan tidak mau beradu senjata lagi. Sebenarnya bukanlah kepandaian Ki Seng-in kalah tinggi, soalnya dia belum kenal senjata Lok-lotoa yang aneh itu, maka begitu bergebrak ia lantas mengalami kerugian senjata. Sebaliknya meski Lok-lotoa lebih ulet dan senjatanya yang aneh itu lebih menguntungkan, namun sepasang senjata cambuk dan pedang Ki Seng-in juga tidak kalah lihainya, yang satu panjang dan yang lain pendek, kombinasi permainan dua senjata yang berbeda ini juga sangat bagus. Sebab itulah keadaan menjadi sama kuat dan susah menentukan menang atau kalah dalam waktu singkat. Di tengah pertarungan sengit itu, mendadak Ki Sengin bersuit panjang sekeras-kerasnya. Lok-lotoa tertawa, katanya.
"Jian-jiu-koan-im apa kau berani memanggil lakimu ke sini? Apa kau tidak kuatir dia akan minum cuka (cemburu) bila melihat putra Li Bunsing ini? Menurut pendapatku, ada lebih baik kau lepas tangan saja atas diri bocah ini. Kau toh masih muda, masakah kuatir takkan melahirkan anak sendiri?"
"Dasar mulut kotor!"
Semprot Ki Seng-in.
"Hm, menurut pendapatku ada lebih baik kau lekas ngacir dengan mencawat ekor saja! Kalau tidak, bila suamiku sudah datang, mustahil menjangan tanduk satu macammu ini takkan dipotong olehnya!"
Maksud Lok-lotoa mestinya ingin membikin Ki Seng-in marah, dengan demikian dia dapat menundukkan lawannya itu.
Tak terduga Ki Seng-in tetap bisa menguasai perasaannya dan tetap tenang, sebaliknya Lok-lotoa sendiri malah menjadi gugup dan kena ditakuttakuti tentang kedatangan suami Ki Seng-in nanti.
Kiranya di masa mudanya Ki Seng-in pernah mengalami patah hati dalam soal asmara sehingga enggan untuk kawin.
Sesudah usianya melampaui 30 barulah dia mulai merasa kesepian dan ingin mencari seorang teman hidup, dengan demikian barulah dia menerima lamaran seorang bandit terkenal.
Perkawinan mereka sampai kini belum ada dua tahun lamanya, tapi di dunia Kangouw sudah tersiar bahwa kehidupan suami-istri mereka kurang rukun, soalnya adalah suaminya terlalu cemburu dan merasa sirik karena sang istri tetap terkenang kepada kekasihnya yang lama, yaitu Li Bun-sing.
Lok-lotoa menjadi sangsi, apabila Ki Seng-in tidak mendapat persetujuan suaminya, rasanya tidak mungkin berani mencari putra Li Bun-sing ini?
Wah, celaka, boleh jadi suami istri ini'sudah rukun kembali.
Suami Ki Seng-in terkenal sangat keji dan gapah di kalangan Hek-to, maka Lok-lotoa agak jeri padanya.
Karena gelisah tak bisa mengalahkan Ki Seng-in dengan cepat, pula jeri kepada kedatangan suami Sengin, coba kalau bukan urusannya terlalu penting tentu dia sudah melarikan diri.
Tapi putra Li Bun-sing ini sudah menjadi tekadnya harus direbut, kesempatan sekarang adalah sangat bagus karena bocah itu bersembunyi di sekitarnya, dengan sendirinya ia tidak rela tinggal lari.
Setelah berpikir sekejap, segera ia berteriak.
"Keponakan He yang baik, lekas kau lari saja! Tidak nanti kubiarkan kau ditangkap dan disiksa orang jahat ini, biar jiwaku melayang juga aku akan menyelamatkan kau!"
Perasaan Li Kong-he menjadi terharu, tanpa pikir lagi ia lantas melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berteriak.
"Paman Lok, jika mau lari biarlah kita lari bersama saja!"
"He-ji, orang ini adalah penipu, jangan mau kau masuk perangkapnya!"
Seru Ki Seng-in. Tapi sekarang Kong-he sudah tidak mau percaya kepada Seng-in lagi, pikirnya.
"Kau telah menyerang aku dengan Bwe-hoa-ciam, hendak membakar aku pula dengan api, sekalipun kau benar-benar adalah familiku yang lebih tua juga aku tidak sudi mengakui kau lagi."
Dan baru saja Ki Seng-in hendak berseru pula, dalam pada itu Kong-he sudah lantas menerjang ke arahnya, bocah ini melolos golok, dengan gerakan 'Tiat-niu-kengte' (kerbau baja meluku sawah), kontan ia menabas kedua kaki Ki Seng-in.
Perawakan Kong-he masih kecil, memang paling cocok kalau menyerang bagian bawah musuh.
Jika dalam keadaan biasa sudah tentu Ki Seng-in tidak pandang sebelah mata kepada seorang anak kecil.
Tapi sekarang dia sedang melabrak Lok-lotoa dengan sengit, bahkan ia sendiri yang terdesak, ditambah lagi bocah yang cerdik dan tangkas ini, keruan ia meniadi kelabakan.
Dengan mendongkol Seng-in terpaksa membentak pula.
"He-ji, lekas mundur! Jangan kau paksa aku melukai kau!"
Kong-he tambah gemas, jawabnya kontan.
"Memangnya sedari tadi kau juga ingin membikin celaka padaku!"
Sebagai putra seorang ksatria yang berjiwa luhur, Kong-he menyangka si Lok-lotoa itu benar-benar ingin menyelamatkan dia dengan mati-matian, maka ia pun tidak dapat tinggal diam.
Walaupun diketahui setiap serangan Ki Seng-in dapat membinasakan dia, tapi hal ini sudah tak terpikir lagi olehnya.
Begitulah Ki Seng-in telah menggeser dengan cepat ke samping, sebelah kakinya terus menendang.
Tujuannya hendak menendang tangan Kong-he yang memegang golok itu supaya senjatanya terlepas.
Tak terduga Kong-he masih terus menyeruduk saja bagai banteng kecil tanpa menghiraukan tendangan Seng-in, dengan cepat tabasan Kong-he tetap diarahkan ke betis lawannya.
Dengan demikian ujung kaki Ki Sengin menjadi tepat menjurus ke batok kepala anak itu, kalau tendangan ini diteruskan tentu kepala kecil itu akan pecah berantakan.
Hubungan Ki Seng-in terhadap Kong-he adalah sangat ruwet.
Bocah itu adalah anak lawan asmaranya, yaitu Lo Ki-wan, tapi juga putra kekasihnya (Li Bun-sing).
Lantaran patah hati, maka Seng-in baru menikah tatkala usianya sudah lebih 30 tahun, tapi pernikahannya ternyata tidak bahagia sehingga membuat eksentrik pikirannya, dia benci kepada lawan asmaranya dan juga benci kepada kekasihnya, tapi betapapun dalam lubuk hatinya masih tersisa rasa cintanya kepada kekasih yang pertama itu.
Karena perasaan cinta dan bencinya kepada ayah-ibu Kong-he itulah, maka perasaannya kepada Kong-he juga sangat ruwet.
Tapi betapapun tidak nanti dia membikin celaka jiwa seorang anak kecil sebagaimana dikatakan Lok-lotoa tadi.
Demikianlah tendangan Ki Seng-in tadi menjadi urung diteruskan, terpaksa ia menghindari saja, dengan cepat ia miringkan tubuh terus berputar ke belakang sehingga sebelah kaki yang mestinya sudah melayang ke depan itu ditarik kembali mentah-mentah.
Gerakan Ki Seng-in itu sudah tentu sangat memakan tenaga.
Kesempatan bagus ini tidak dilewatkan oleh Loklotoa, senjata Lok-kak-jat kontan menjojoh ke depan.
Segera Ki Seng-in hendak menangkis, namun terlambat sedikit, lengannya tertusuk dan darah bercucuran.
"Hahaha!"
Lok-lotoa terbahak-bahak.
"Jian-jiu-koanim, meski kau terkenal sangat kejam, tapi aku Lok-lotoa selamanya mengingat persahabatan, sekarang aku mengampuni jiwamu, bolehlah kau pergi saja dan merawat lukamu itu."
Padahal dia sendiri kuatir akan kedatangan suami Ki Seng-in, mumpung sekarang lawannya sudah terluka, setelah membual sedikit, segera ia tarik Li Kong-he terus dibawanya lari.
Ki Seng-in memaki-maki dengan gusar, tapi tak bisa berbuat apa-apa, cepat ia mengobati lukanya dan duduk untuk mengaso.
Untung lukanya tidak parah, tapi lengannya sudah terasa kaku dan susah bergerak lagi.
Tengah uring-uringan sendiri, tiba-tiba Seng-in mendengar suara kuda meringkik, menyusul ada suara orang turun dari lereng gunung sana.
Saking gemasnya terus saja Ki Seng-in memaki.
"Laki bangsat, baru sekarang kau datang! Aku sudah kecundang, kau tahu tidak? Hayo, lekas kau mengejar, bekuk jahanam Tokkak-lok itu!?"
Demikianlah ia sangka pendatang itu pasti suaminya. Tak terduga suara seorang anak dara lantas menjawabnya dengan mendengus.
"Huh, siapa urus apa menjangan tanduk satu atau kambing kaki tiga? Aku hanya ingin tanya, dimanakah putra Li Bun-sing itu?"
Kiranya pendatang itu bukanlah suaminya, tapi adalah Kang Hiau-hu.
Karena Kang Hiau-hu menunggang kuda Jik-liong-ki, maka jalannya menjadi sangat cepat.
Ketika sampai di jalan pegunungan itu, di malam yang gelap dan sunyi itu sayup-sayup didengarnya di bawah lembah seperti ada suara beradunya senjata, maka ia lantas menyelidiki ke arah situ.
Di tengah malam yang gelap, hanya bintang-bintang berkelip-kelip di cakrawala, untunglah sejak sejak kecil Hiau-hu sudah terlatih sehingga ketajaman matanya boleh diandalkan biarpun di waktu malam.
Remangremang ia telah dapat melihat pihak lawan adalah seorang wanita, perawakan dan mukanya juga mendekati apa yang diceritakan Ci-wan, maka segera ia membentak.
Dari suaranya Ki Seng-in dapat menduga Hiau-hu baru berusia belasan tahun saja, tak terduga olehnya bahwa orang keluarga Kang yang mengejarnya itu adalah seorang anak ingusan saja.
Ia tidak tahu bahwa anak dara itu adalah putri Kang Hay-thian.
Memangnya Ki Seng-in lagi mendongkol karena habis mengalami kekalahan dari Lok-lotoa, segera ia mendengus dan menjawab.
"Hm, siapa kau? Hanya seorang budak ingusan seperti kau juga berani ikut campur urusan orang lain?"
Hiau-hu pertama kali keluar rumah dan ingin sekali mencari kesempatan buat menguji kepandaiannya, ia pikir kalau nama ayahnya disebut tentu pihak lawan akan takut untuk bergebrak dengan dirinya.
maka ia lantas menirukan lagak orang Kangouw dan berkata.
"Buat apa kau urus siapa diriku? Manusia sudah seharusnya ikut campur urusan manusia! Kau bangsat wanita busuk ini telah menculik anak orang. Sekarang aku sengaja menuntut keadilan. Nah, kemana perginya anak yang kau culik itu? Lekas katakan terus terang jika kau tidak ingin kulabrak."
Ki Seng-in menjadi murka, tanpa pikir lagi cambuknya lantas menyabet secepat kilat ke arah Hiau-hu.
Keruan anak dara itu kaget.
Dengan kepandaiannya mestinya Hiau-hu tidak sukar menghindarkan serangan itu.
Tapi karena dia kurang pengalaman, pula tidak menduga-duga, maka ia menjadi kelabakan, cepat ia pun hendak berkelit, namun sudah sedikit terlambat, badannya telah tersabet cambuk sehingga baju bagian punggung robek.
Untung dia memakai baju kutang wasiat dari ibunya sehingga tidak sampai terluka.
"Nah, budak busuk, sudah tahu rasa belum? Lekas enyah!"
Damprat Ki Seng-in pula.
"Kurangajar! Kau berani menyerang aku?"
Bentak Hiau-hu dengan gusar.
"Memangnya kau mau apa? Ini, rasakan lagi!"
Jengek Seng-in sambil mencambuk lagi. Tapi sekali ini Hiau-hu sudah siap siaga, sekonyongkonyong sinar tajam berkelebat, pedang pusakanya, Cayin-pokiam sudah terlolos keluar.
"Sret", kontan ujung cambuk musuh terpapas sebagian.
"Pedang bagus! Serahkan padaku saja!"
Seru Ki Sengin.
Berbareng cambuknya berputar terus menyambar pula ke pergelangan tangan Kang Hiau-hu.
Berbareng ujung cambuk menjengkit untuk menotok urat nadi sasarannya itu.
Permainan cambuk Ki Seng-in memang sangat lihai, menotok Hiat-to dengan ujung cambuk lebih-lebih adalah kepandaian tunggal keluarganya, dengan jurus serangan 'Leng-coa-jiau-wan' (ular hidup melilit tangan) yang lihai ini ia yakin pedang anak dara itu pasti dapat dirampasnya.
Tak tersangka mendadak Kang Hiau-hu telah menggunakan langkah yang aneh untuk menggeser ke samping sehingga cambuk Ki Seng-in ini hanya terpaut beberapa senti saja dari sasarannya.
Bahkan dimana sinar pedang berkelebat pula, tahu-tahu ujung cambuk Ki Seng-in kembali terpapas sepotong kecil lagi.
Kiranya ilmu silat Hiau-hu yang sebenarnya adalah lebih bagus daripada Ki Seng-in, soalnya dia belum berpengalaman di medan pertempuran, walaupun sebelumnya ia pun sering bertanding untuk menghalau tamu-tamu yang berkunjung kepada ayahnya, tapi pertandingan demikian itu ada batasnya, pula para tamu juga sungkan-sungkan mengingat dia adalah putri Kang Hay-thian.
Maka pertarungan dengan musuh yang sesungguhnya sekarang ini adalah untuk pertama kalinya.
Sebab itulah permulaan tadi dia telah kena dicambuk musuh, tapi lama kelamaan ia pun dapat mengikuti keadaan dan bertempur dengan tenang.
Sebaliknya Ki Seng-in sudah berpengalaman, keji dan licin pula.
Begitu melihat gelagat jelek, segera tubuhnya berputar.
"tarr", cambuk berbunyi, tapi tidak lantas disabetkan. Dalam keadaan gelap, Hiau-hu mendengar suara cambuk itu datang dari sebelah kiri, tanpa pikir lagi pedang pusaka lantas ditabaskan ke kiri. Tak terduga bahwa di sinilah letak kelihaian permainan cambuk Ki Seng-in. Dia sengaja membunyikan cambuk di sebelah kiri, begitu pedang Kang Hiau-hu terpancing dan digunakan menangkis, mendadak cambuknya menyendal ke atas terus menyabet ke bahu kanan anak dara itu. Karena pedang Hiau-hu sudah telanjur ditabaskan ke sebelah kiri, sesaat susah untuk ditarik kembali.
"plak", tanpa ampun lagi bahunya tercambuk sekali pula. Biasanya Hiau-hu sangat dimanjakan, sekarang berulang-ulang kena dihajar orang, keruan ia naik pitam, bentaknya dengan murka.
"Kurangajar! Kau berani mencambuk aku? Akan kubunuh kau."
Berkat baju kutang wasiat yang dia pakai di bagian dalam, biarpun dicambuk beberapa kali lagi juga takkan terluka.
Maka tanpa menghiraukan resiko apa-apa lagi, terus saja ia menubruk maju.
Selama malang melintang di dunia Kangouw belum pernah Ki Seng-in melihat lawan yang nekat sedemikian rupa, apalagi Kang Hiauhu menggunakan pedang pusaka, kalau sampai terkena senjatanya tentu bisa runyam.
Maka Ki Seng-in sendiri menjadi gugup juga menghadapi serudukan Hiau-hu itu.
Segera ia bermaksud angkat langkah seribu saja.
Akan tetapi Ginkang Kang Hiau-hu lebih tinggi pula dari dia, karena dia ingin melarikan diri, hal ini membuatnya lebih celaka lagi.
Walaupun cambuknya menyabet untuk menghalang-halangi kalau-kalau Hiauhu menubruk maju pula, tapi tahu-tahu sinar pedang anak dara itu sudah menyambar ke mukanya.
Sungguh kaget Ki Seng-in tidak kepalang, untuk menghindar terang tidak keburu lagi.
Terpaksa ia berbuat sebisanya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
Pada saat jiwa Ki Seng-in terancam itulah, tiba-tiba terpikir oleh Hiau-hu.
"Meski jahanam wanita ini pantas dihukum, tapi asal-usulnya belum terang bagiku, bila aku membunuhnya begini saja mungkin ayah akan marah padaku."
Waktu itu, bila ujung pedangnya terus menurun ke bawah tentu jiwa Ki Seng-in akan amblas.
Tapi karena pikiran demikian itulah, sekonyong-konyong ujung pedang Hiau-hu berputar terus menabas ke samping sehingga sebagian rambut Ki Seng-in terpapas, kepalanya menjadi botak.
"Hahaha!"
Hiau-hu bergelak tertawa.
"Kau bangsa wanita ini terlalu banyak melakukan kejahatan, maka sekarang aku telah mencukurkan rambutmu, bolehlah kau menjadi Nikoh (paderi wanita) saja untuk bertobat."
Dasar masih anak-anak, sesudah memapas rambut lawan Hiau-hu lantas menertawainya.
Ia lupa betapa kejam pihak lawannya itu.
Maka belum lenyap ucapannya, dengan murka cambuk Ki Seng-in sudah lantas menyabet, betis Hiau-hu tepat dimakan.
Betis adalah tempat yang tak terlindung oleh baju kutang pusaka, keruan Hiau-hu menjerit dan berjingkrak kesakitan.
"Hm, ingin kulihat apa kau masih berani main garang? Biar kuhajar kau sampai merengek minta ampun!"
Jengek Ki Seng-in, menyusul cambuknya berputar-putar dan menyambar ke arah kaki Hiau-hu pula.
Rupanya Ki Seng-in sekarang telah menduga, pada tubuh Kang Hiau-hu tentu memakai sesuatu benda pelindung sehingga beberapa kali cambuknya tidak dapat membuat anak dara itu terluka apa-apa, maka sekarang ia lantas ganti siasat, yang selalu diincar adalah bagian kaki saja.
Sudah tentu Hiau-hu juga berkaok-kaok gusar.
"Kurangajar! Aku sengaja mengampuni kau, sebaliknya kau malah tidak tahu diri. Sekali ini aku harus membunuh kau!"
Segera ia mainkan Si-mi-kiam-hoat dari Thian-san-pay yang lihai.
Meski usia Hiau-hu masih muda, tapi sejak kecil yang dilatihnya adalah Lwekang yang bagus, tenaga pukulannya kuat, sekalipun kaum jantan di kalangan persilatan juga jarang yang dapat menandingi dia.
Kekuatan Ki Seng-in sesungguhnya juga tidak lemah, tapi sebelah tangannya tadi sudah dilukai Lok-lotoa.
Tinggal tangan kiri yang hanya menggunakan cambuk saja, jadi kepandaiannya yang diandalkan, yaitu permainan kombinasi cambuk dan pedang tak dapat digunakan lagi.
Sekarang di bawah serangan Hiau-hu yang gencar, ia menjadi terdesak dan cuma sanggup menangkis saja.
Karena kaki Kang Hiau-hu sudah tercambuk sehingga terluka ringan juga, dengan sendirinya gerak-geriknya menjadi kurang gesit pula.
Namun begitu tidaklah mudah bagi Ki Seng-in untuk melarikan diri di bawah kurungan sinar pedangnya.
Makin lama makin payah keadaan Ki Seng-in, diamdiam ia mengeluh.
"Sungguh sialan! Belum dapat membalas sakit hati tusukan Lok-lotoa tadi, sekarang aku terjungkal pula di tangan seorang bocah ingusan. Aneh juga, siapakah dara ingusan ini, mengapa begini lihai?"
Sampai di sini Ki Seng-in sudah mulai meragukan diri Kang Hiau-hu dan menduga besar kemungkinan adalah putri Kang Hay-thian.
Tapi selamanya dia berwatak angkuh dan tinggi hati, sekarang rambutnya telah digunduli seorang anak dara, tentu saja dia tidak rela mengaku kalah.
Begitulah tengah Ki Seng-in merasa gelisah dan serba susah, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang lakilaki.
"Bagaimana, apa terjadi sesuatu kesukaran? Bagus, biarlah aku saja yang berkenalan dengan sahabat lihai ini!"
Ki Seng-in sudah mandi keringat dan napas tersengalsengal, ia sudah tak lancar bicara lagi, terpaksa ia berseru menjawab dengan terputus-putus.
"Lelaki bang... bangsat, le... lekas kemari!"
Maka tahulah Hiau-hu bahwa pihak lawan telah kedatangan bala bantuan, tapi ia pun tidak gentar, dengan suara melengking ia mengejek.
"Hah, kau adalah suami perempuan ini, ya? Hm, binimu adalah bangsat wanita, rasanya kau pun setali tiga uang. Baiklah, lekas datang kemari jika kau pun ingin merasakan betapa lihainya pedangku!"
Didamprat oleh Kang Hiau-hu, bukannya marah, sebaliknya pendatang itu malah tertawa.
"Hahaha! Adik In, sekarang ada orang memaki kau sebagai bangsat wanita juga. Sekali ini kau barulah tahu rasa. Maka lain hari janganlah kau merasa menyesal karena bersuamikan seorang bandit!"
Kiranya Ki Seng-in itu berasal dari keluarga persilatan, sesudah dia menikah dengan Utti Keng, seorang tokoh kalangan Lok-lim (kaum bandit), dengan sendirinya ia tidak sudi membantu suami, sebaliknya membujuk sang suami agar cuci tangan dan kembali ke jalan yang baik.
Rupanya ini pula yang merupakan salah satu selisih paham di antara suami-istri ini.
Dalam pada itu Utti Keng sudah mendekat.
Ia menjadi terheran-heran melihat lawan sang istri hanya seorang anak dara yang masih hijau.
Semula ia menyangka adalah tokoh persilatan, makanya dia berseru ingin belajar kenal.
Ki Seng-in merasa lega juga dengan kedatangan sang suami.
Tapi baru saja ia hendak menegur.
"sret", mendadak pedang Hiau-hu telah menabas kutung sebagian cambuknya lagi sehingga cambuk itu kini tinggal setengahnya saja. Sebaliknya Kang Hiau-hu tidak mau ayal-ayalan lagi karena pihak lawan kedatangan bala bantuan. Di tengah berkelebatnya sinar pedangnya mendadak ia membarengi pula dengan pukulan. Saat itu Ki Seng-in belum lagi lenyap rasa kagetnya, ketika mendadak merasa angin pukulan lawan tahu-tahu sudah menyambar tiba, tanpa pikir lagi ia memelompat mundur sekuatnya. Memangnya ia sudah payah, sekarang luka lengannya pecah lagi dan mengeluarkan darah, sakitnya tidak kepalang, tak tertahan lagi ia jatuh tersungkur. Namun hampir pada saat yang sama Utti Keng juga sudah melancarkan pukulan untuk menangkis serangan Hiau-hu.
"Brak", kedua tenaga pukulan kebentur. Diamdiam Utti Keng tergetar dan merasakan betapa hebat tenaga anak dara itu. Pantas adik In mengalami kekalahan, demikian pikirnya. Sementara itu Utti Keng telah dapat melihat keadaan sang istri yang serba runyam itu, kepalanya kelihatan botak, sebagian rambutnya terpapas, bajunya belepotan darah pula, agaknya tidak ringan lukanya. Keruan Utti Keng kaget dan gusar pula, disangkanya Kang Hiau-hu yang melukai sang istri. Dengan murka terus saja ia menghantam dengan kuat sambil membentak.
"Anak kecil sudah sedemikian kejinya, jangan kau harap akan pengampunanku!"
"Brak", kembali kedua tangan beradu. Betapapun Kang Hiau-hu masih terlalu muda dan kalah ulet. Seketika ia merasa dadanya sesak dan mundur dua-tiga tindak barulah menenangkan diri pula.
"Ini, rasakan lagi!"
Bentak pula Utti Keng, menyusul ia menubruk maju dan menghantam lagi. Hiau-hu menjadi kuatir.
"Lelaki sedemikian bengisnya, kalau aku tidak membunuhnya boleh jadi aku yang akan dibunuh olehnya!"
Cepat ia berputar ke samping dengan langkah Thian-lo-poh-hoat, menyusul pedangnya lantas menyerang tiga kali beruntun.
Yang digunakan Hiau-hu adalah 'Tui-hong-kiam-hoat', yang terkenal dari Thian-san-pay, ilmu pedang itu mengutamakan kecepatan dan ketangkasan, seketika sinar pedang lantas bertebaran bagai berpuluh-puluh pedang yang menusuk sekaligus ke arah lawan.
Biar betapapun tabahnya Utti Keng, mau tak mau ia menjadi gugup menghadapi serangan luar biasa itu.
Cepat ia menggeser mundur, beruntun ia"
Pun melontarkan pukulan-pukulan dahsyat sehingga pedang Kang Hiau-hu terguncang melenceng.
Dengan mundurnya Utti Keng, maka sempatlah Hiauhu melonggarkan napasnya yang sesak tadi.
Ia sadar kekuatan lelaki itu lebih unggul sedikit daripada dirinya, namun dengan mengandalkan pedang pusakanya ia masih terus menyerang dengan gagah berani.
Ada dua macam barang yang paling disukai orang persilatan, yaitu kuda bagus dan pedang mestika.
Jikliong-ki milik Hiau-hu sudah dilihat Utti Keng ketika di atas lereng tadi.
Sekarang dilihatnya pula pedang anak dara itu ternyata jauh lebih bernilai daripada kuda bagus, maka timbul seketika dalam pikiran Utti Keng untuk merebut kuda dan merampas pedang, malahan sekaligus anak dara ini dapat dibunuh untuk membalas sakit hati sang istri.
Begitulah, karena kedua pihak sama-sama timbul pikiran membunuh, maka pertarungan bertambah sengit.
Pada suatu ketika dengan nekat Hiau-hu mendadak menusuk sambil membentak.
"Ini, kau pun rasakan pedangku!"
Dengan cepat pedangnya menusuk ke dada lawan.
Saat itu Ki Seng-in sudah dapat menenangkan diri dan sedang membalut lukanya, ia sampai menjerit kaget demi nampak sang suami terancam bahaya.
Tak terduga justru Utti Keng mengharapkan serangan Hiau-hu itu.
Ketika ujung pedang anak dara itu sudah menyambar tiba, secepat kilat ia menggeser ke samping, berbareng terdengarlah suara "plok"
Sekali, tahu-tahu Utti Keng sudah bersenjatakan sesuatu.
Kiranya dia telah melepaskan sabuknya dan digunakan sebagai cambuk untuk menangkis, bahkan batang pedang Hiau-hu lantas terlilit oleh sabuk yang lemas itu.
"Serahkan pedangmu!"
Bentak Utti Keng, berbareng ia terus menarik. Hiau-hu juga kaget, tapi ia pun balas membentak.
"Jangan harap!"
Berbareng sebelah tangannya terus memotong ke tengah sabuk lawan.
Tebasan tangan Hiau-hu ini tidak kalah daripada pisau yang tajam, kalau kena tentu sabuk lawan akan terputus, tapi tenaga dalam Utti Keng terlebih kuat daripada anak dara itu, dengan imbangan tenaga kedua pihak, sabuk Utti Keng tidak sampai tertabas putus, tapi pedang Kang Hiau-hu juga dapat ditarik kembali.
Diam-diam Utti Keng mengakui kegesitan anak dara itu.
Tapi segera ia tertawa dan berseru.
"Apa yang sudah kuincar masakah dapat kau elakkan? Lihatlah dalam tiga puluh jurus pasti akan kurebut pedangmu! Adik In, sebentar pedang anak dara ini akan kuberikan padamu sebagai hadiah!"
Ia telah mengambil keputusan akan menghabiskan dulu tenaga Hiau-hu, maka ia menaksir dalam 30 jurus pasti akan tercapai tujuannya, yaitu merebut pedang anak dara itu.
Segera Utti Keng mempergencar tenaga pukulannya, sabuk di sebelah tangannya juga diputar sebagai cambuk seperti sang istri.
Walaupun Hiau-hu berpedang pusaka, tapi tenaga dan pengalamannya jauh di bawah lawannya.
Maka dalam waktu tidak terlalu lama daya serangan pedangnya menjadi tak bisa berkutik di bawah tekanan sabuk Utti Keng.
Bahkan hendak menabas sabuk itupun tidak gampang.
Begitulah, mendadak Utti Keng membentak dengan suara mengguntur sambil melontarkan pukulan kilat.
Dasar Hiau-hu baru pertama kali ini keluar rumah, sudah tentu ia belum pernah menghadapi serangan lihai dengan suara gertakan demikian, ia menjadi gugup.
Menurut taksiran Utti Keng, anak dara itu paling banyak akan dapat menangkis tiga puluh jurus serangannya, dan ternyata benar, belum lagi 36 jurus ilmu pukulan 'Thian-cing-ciang-hoaf miliknya dimainkan habis, Hiau-hu sudah kewalahan karena getaran tenaga pukulan disertai gertakan tadi, kontan Hiau-hu menumpahkan darah segar.
"Serahkan pedangmu atau tidak?"
Bentak Utti Keng pula.
Namun Hiau-hu bukanlah anak pengecut, wataknya juga keras, biarpun tubuhnya sudah sempoyongan tetap ia pantang menyerah.
Ketika tubuhnya sudah hampir jatuh, ia masih sempat menahaskan pedangnya ke depan.
Saat itu Utti Keng lagi menubruk maju, karena tak menduga, hampir saja kedua kakinya tertabas.
Untung dia masih keburu memelompat ke atas, tapi tidak urung sebelah tungkak kakinya juga terserempet sehingga luka lecet, coba telat sedetik saja tentu kakinya sudah buntung.
Utti Keng menjadi gusar, sabuknya terus menyabet sehingga pergelangan tangan Kang Hiau-hu tercambuk dan berdarah, saking sakitnya pedang lantas terlepas dari cekalan dan tubuhnya juga tersungkur.
Sambil menjemput pedang anak dara itu, Utti Keng berkata dengan mendengus.
"Hm, keji betul budak ini. Biarlah kau sendiri merasakan betapa enaknya pedangmu ini!"
Segera ia acungkan ujung pedang ke tenggorokan Kang Hiau-hu, mirip kucing mempermainkan tikus yang ditangkapnya, ia bermaksud menggoda anak dara itu sebelum membunuhnya.
"Nanti dulu, Toako!"
Tiba-tiba Ki Seng-in meneriaki sang suami. Utti Keng tertegun, lalu menjawab dengan tertawa.
"Adik In, kenapa kau menjadi menaruh kasihan padanya? Aku justru hendak membunuhnya untuk membalaskan sakit hatimu!"
Sementara itu Seng-in sudah selesai membalut lukanya sendiri, dengan napas masih terengah-engah ia memburu maju, katanya.
"Budak cilik ini mungkin bukanlah sembarang orang, hendaklah Toako jangan membunuhnya dulu."
Lalu ia membangunkan Hiau-hu dan bertanya padanya.
"Siapa namamu dan siapa orang tuamu? Lekas katakan!"
Luka Hiau-hu cukup berat, dalam keadaan setengah tak sadar ia berpikir.
"Toh aku sudah tertawan dan takkan hidup lagi. Betapapun aku takkan mengatakan nama ayah agar nama beliau tidak tercemar!"
Karena itu hanya diam saja.
"Ai, pukulan Toako tadi tidaklah enteng! Lihatlah apakah dia tidak perlu diberi obat lebih dulu?"
Demikian kata Seng-in. Rupanya Utti Keng lantas teringat sesuatu, segera ia pun berkata.
"Apakah... apakah kau kuatir dia adalah ..."
"Ya, besar kemungkinan adalah putri Kang Hay-thian,"
Ujar Seng-in.
"Hahaha! Apa kau takut aku tidak berani menghadapi lawan sebesar itu?"
Tanya sang suami dengan tertawa. Namun tidak urung dalam hati menjadi jeri juga demi mendengar anak dara itu besar kemungkinan adalah putri Kang Hay-thian.
"Soalnya bukan takut atau tidak, Toako,"
Kata Seng-in dengan suara halus.
"Tapi musuhmu sudah cukup banyak, buat apa mesti menambah seorang musuh pula?"
Utti Keng sebenarnya adalah seorang bandit yang tidak kenal apa artinya ampun.
Tapi sekarang demi mendengar ucapan sang istri yang lemah lembut itu, hatinya menjadi syur, seketika ia berubah seperti seekor kucing yang jinak, ujung pedang lantas diturunkan, lalu katanya dengan suara perlahan.
"Adik In, kiranya di dalam hatimu juga selalu memperhatikan keselamatanku."
"Kalau tidak memperhatikan kau, habis memperhatikan siapa?"
Sahut Ki Seng-in dengan sorot mata yang sayu menawan, suaranya seakan-akan mengomel dan setengah aleman.
"O, kiranya kau hanya memikirkan anak itu, karena ... karena dia adalah putra Li Bun-sing,"
Kata Utti Keng dengan tersenyum getir.
"Li Bun-sing sudah mati, apa yang sudah lalu biarlah hapus seluruhnya, apalagi ia pun tiada permusuhan apaapa dengan kau. Apakah kau ... kau ..."
Sampai di sini ia menjadi tidak enak untuk meneruskan. Tapi sang suami lantas mengatakannya.
"Bukannya aku cemburu kepada orang yang sudah mati, aku hanya kuatir kalau ... kalau bayangan Li Bun-sing masih tetap tumbuh di lubuk hatimu."
Air muka Ki Seng-in berubah mendadak, alisnya menjengkit, katanya dengan tidak senang.
"Toako, jika kau tidak dapat mempercayai dan memaafkan aku, sampai seorang anak kecil juga tidak dapat kau terima, maka biarlah aku tak menginginkannya lagi, toh anak itu juga sudah dirampas orang ..."
Bicara sampai di sini mendadak ia memuntahkan darah segar. Cepat Utti Keng merangkul bahu sang istri, katanya.
"Adik In, janganlah marah, dengarkan dulu penjelasanku. Sesudah peristiwa kematian Li Bun-sing, waktu kau meninggalkan aku, segera aku mengetahui kau hendak pergi menolong putranya itu. Terus terang saja, pada masa hidup Li Bun-sing aku memang selalu cemburu padanya. Tapi sesudah ia meninggal, diam-diam aku pun telah berpikir bahwa betapapun dia adalah seorang pahlawan yang kukagumi, sekarang putranya tinggal sebatang kara, masakah aku meski bersikap bermusuhan dengan seorang anak kecil yang harus dikasihani? Padahal kalau kau bicara terang-terang padaku, juga aku akan membantu kau menolong anak itu. Sesudah kau meninggalkan rumah, diam-diam aku lantas menguntit dari belakang, tapi aku pun tidak ingin diketahui olehmu, yang kukuatirkan ialah terjadi apa-apa atas dirimu."
Seng-in menjadi terharu, dari marah berubah menjadi girang.
"Ya, aku pun sudah tahu jejakmu, kalau tidak, masakah tadi aku berseru memanggil kau?"
Katanya dengan tertawa. Utti Keng menggunakan lengan bajunya untuk mengusap darah yang menetes di sudut mulut sang istri, lalu katanya pula.
"Sebabnya aku tidak menampakkan diri ialah ingin kau sendiri yang menyelamatkan bocah itu agar tercapailah maksud tujuanmu. Aku sudah mengambil keputusan, asal di kemudian hari kau bicara terus terang padaku, tentu aku akan menganggap bocah itu sebagai anak kandungku. Jika toh kau tidak percaya padaku dan diam-diam mengatur hidup anak itu, maka aku pun akan pura-pura tidak tahu."
Ki Seng-in menjadi terharu dan merasa malu pula, pikirnya.
"Sungguh tidak nyana bahwa sesungguhnya Toako sedemikian baik padaku. Padahal aku pun tidak menyayangi bocah itu sebagaimana diduganya. Aku benci kepada ibunya, maka di antara kasih-sayangku padanya juga ada rasa dendam dan benci. Ya, dadaku sesungguhnya tidak selapang Toako."
Karena rasa pedih hatinya, tanpa terasa Seng-in menghela napas. Utti Keng menyangka sang istri merasa berduka karena kehilangan anak yang hendak dicarinya itu, cepat ia bertanya.
"Siapakah yang telah merebut anak itu? Aku pasti akan merampasnya kembali bagimu."
"Lok-lotoa yang melakukannya, luka di lenganku inipun adalah perbuatannya,"
Sahut Seng-in.
"Lok-lotoa?"
Utti Keng menegas dengan heran.
"Aneh, ia pun ikut campur urusan ini? Bahkan berani melukai kau. Semula aku mengira adalah perbuatan budak liar inilah."
Bicara sampai di sini barulah mereka ingat bahwa masih ada seorang Kang Hiau-hu yang menggeletak di situ, dengan menjinjing pedangnya Utti Keng lantas berkata.
"Biar kubereskan budak busuk ini, baru nanti kita mencari Lok-lotoa untuk membikin perhitungan."
Seng-in terkejut, cepat ia menarik sang suami.
"He, kau tetap akan membunuh dia? Auuuh ____"
Ia berseru kesakitan karena luka di lengannya terguncang.
"Lukamu tidaklah ringan, marilah kita lekas meninggalkan tempat ini saja,"
Ujar Utti Keng.
"Tentang budak busuk ini apakah kita harus membawanya pula? Jika kita bereskan dia barulah perjalanan kita tidak terganggu."
"Boleh kau bubuhkan obat pada lukanya, toh takkan makan waktu terlalu lama,"
Kata Seng-in.
"Adik In, kau toh bukan bocah hijau yang baru muncul di Kangouw, mengapa kau tidak paham,"
Ujar sang suami.
"Tidak paham apa? Anak dara ini kan putri Kang Haythian!"
Sahut Seng-in.
"Justru karena putri Kang Hay-thian, maka dia harus dibunuh saja,"
Kata Utti Keng dengan tertawa.
"Apa kau melupakan peribahasa yang mengatakan bahwa 'menangkap harimau adalah lebih mudah daripada melepaskan harimau'. Kita telah melukai putri Kang Haythian dengan parah, jika dia dibiarkan pulang, bukankah kita sendiri yang bakal celaka. Kang Hay-thian adalah jago terkemuka di dunia persilatan, apakah dia mandah begitu saja membiarkan anaknya dianiaya orang? Nah, makanya anak dara ini harus dibunuh, bahkan aku hendak melenyapkan mayatnya untuk menghilangkan bukti, dengan demikian takkan lagi ada orang yang mengetahui perbuatan kita ini."
"Tapi aku pernah merebut anak Li Bun-sing dari tangan Siau Ci-wan, dia mengenali aku, kelak mereka juga akan mencurigai kita,"
Ujar Seng-in.
"Hanya dicurigai saja toh tiada bukti yang nyata, hal ini akan lebih baik daripada membiarkan budak ini hidup untuk menjadi saksi yang kuat,"
Kata Utti Keng.
Apa yang dikatakan sang suami juga ada benarnya juga, Seng-in menjadi bingung, sambil menarik lengan sang suami, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, yang terang ia merasa tidak tega membunuh anak dara yang tak berdosa itu.
Namun Utti Keng sudah tidak sabar lagi, katanya.
"Sudahlah adik In, daripada buang tempo percuma, marilah kita lekas berangkat saja!"
Habis berkata pedangnya terus menikam ke arah Kang Hiau-hu. Dalam kuatirnya tiba-tiba terdengar oleh Seng-in suara "tring"
Sekali, entah darimana datangnya, tahu-tahu ujung pedang sang suami tertimpuk oleh sepotong batu kecil sehingga tusukannya meleset, batu itupun mencelat lewat dan menyerempet jidat Ki Seng-in sehingga lecet.
Utti Keng menjadi gusar, bentaknya.
"Siapakah kau, keluarlah kalau berani, mengapa main sembunyi?"
Ia terkejut juga karena kejadian di luar dugaan itu, apalagi ia harus menjaga sang istri yang terluka.
Karenanya ia tidak sempat mengurus mati-hidup Kang Hiau-hu lagi.
Dalam pada itu batu-batu kecil telah berhamburan pula.
Utti Keng menjadi kerepotan, ia harus menjaga istrinya dan memutar pedang untuk menyampuk batubatu itu.
Di tengah hujan batu-batu kecil itulah tertampak sesosok bayangan orang sedang melayang tiba secepat terbang.
Waktu diperhatikan, dalam keadaan remang-remang dapatlah Utti Keng melihat pendatang itu adalah seorang pemuda, berusia kira-kira dua puluhan.
Ketika mengetahui Kang Hiau-hu menggeletak terluka, pemuda itu rupanya sangat terkejut, tidak terpikir lagi olehnya akan menyerang Utti Keng lebih jauh, tapi cepat-cepat mendekati Hiau-hu.
Utti Keng menjadi terkesiap, sama sekali tak terduga olehnya bahwa seorang pemuda muda belia ternyata sudah memiliki kepandaian sedemikian tingginya.
Tapi sesudah melihat jelas bahwa pemuda itu ternyata tak terkenal, ia manjadi lega.
Ia menaksir pemuda itu pasti bukan orang dari keluarga Kang.
Sebab diketahuinya keluarga Kang hanya terdiri dari empat orang saja, yaitu dua orang lelaki tua dan dua wanita.
Umur mereka tiada yang cocok dengan umur pemuda ini, teranglah pemuda ini bukan anggota keluarga Kang Hay-thian.
Setelah merasa lega, kembali pikiran membunuh timbul lagi dalam benak Utti Keng, pikirnya.
"Jika sampai putri Kang Hay-thian ditolong pergi olehnya, tentu akan menimbulkan malapetaka di kemudian hari. Sekali sudah berbuat, biarlah aku membunuh pula pemuda ini."
Sebagai seorang tokoh Kangouw yang sudah ternama, ia tidak mau main menyergap, maka lebih dulu ia membentak.
"Kalau menerima harus membalas. Ini, kau pun coba rasakan aku punya senjata rahasia!"
Berbareng dua buah Tau-kut-ting (paku penembus tulang) lantas disambitkan.
Cara Utti Keng menyambitkan senjata rahasia ternyata sangat keji.
Sebuah Tau-kut-ting yang langsung mengarah si pemuda itu mengeluarkan suara mendenging untuk menarik perhatian sasarannya, tapi sebuah paku yang lain tanpa suara telah menuju ke arah Kang Hiau-hu yang tergeletak di atas tanah itu.
Kepandaian pemuda itu juga tidak lemah dan mampu 'mendengarkan suara angin untuk membedakan datangnya serangan', cuma sayang pengalamannya terlalu cetek, sama sekali tak terduga olehnya cara serangan keji Utti Keng itu.
Maka waktu mendengar senjata rahasia lawan menyambar tiba, segera ia meloloskan senjata sendiri untuk menangkis, yaitu Boan-koan-pit, senjata berbentuk potlot baja.
"Trang", dengan tepat paku yang menyambar tiba itu kena disampuk sehingga mencelat kembali ke depan. Tapi hampir pada saat yang sama juga terdengar suara "ering"
Sekali, menyusul terdengar suara rintihan Kang Hiau-hu, rupanya telah terkena senjata rahasia musuh.
Padahal jarak pemuda itu dengan Hiau-hu tatkala itu masih lebih dua meter jauhnya.
Kuatir dan gusar sekali pemuda itu, dampratnya.
"Utti Keng, kau bangsat keparat ini berani mencelakai putri Kang-tayhiap?!"
Utti Keng menjadi kaget karena namanya dengan jitu kena disebut si pemuda.
Padahal dia adalah seorang bandit yang selamanya malang-melintang di daerah Kwan-gwa (di utara tembok besar), orang persilatan di daerah Tionggoan jarang ada yang mengenal namanya, apalagi mengenal orangnya.
Tak tersangka dari mulut seorang pemuda asing namanya telah disebut.
Untuk sejenak Utti Keng tertegun, tapi mendadak ia menjadi nekat, segera pedangnya menusuk ke hulu hati si pemuda tanpa menanyakan lagi asal-usul lawannya.
Kiranya Utti Keng merasa lebih baik tidak mengenal asal-usul si pemuda agar tidak ragu-ragu untuk membunuhnya, ia pikir sekalipun pemuda itu adalah putra seorang sahabat-karibnya juga pasti akan dibinasakannya daripada rahasianya tentang dibunuhnya Kang Hiau-hu sampai diketahui oleh Kang Hay-thian.
Ternyata Utti Keng adalah jago silat yang serba pandai, walaupun ilmu pedang bukan kepandaiannya yang utama, tapi dengan menggunakan pedang pusaka yang tiada bandingannya yaitu Cay-in-pokiam yang dirampasnya dari Kang Hiau-hu tadi, ternyata seranganserangannya juga tidak kurang dahsyatnya daripada jago-jago pedang ternama.
Cepat pemuda itu berkelit ke samping, berbareng Boan-koan-pit lantas mencungkit ke atas.
"trang", lelatu api meletik, tahu-tahu potlot bajanya yang tergurat. Untunglah dia yang mencungkit ke atas sehingga potlot baja itu tidak sampai tertabas kutung. Namun pemuda itu juga teramat lihai, sebelah Boankoan-pit digunakan mencungkit pedang lawan, Boankoan-pit yang lain berbareng lantas menikam ke depan. Di tengah malam yang gelap itu cara mengincar Hiat-to lawan ternyata tidak kurang jitunya. Hanya dalam sejurus saja tiga tempat Hiat-to terpenting di dada Utti Keng telah diserangnya. Belum lagi Utti Keng sempat menarik pedangnya untuk menangkis, tahu-tahu ujung Boan-koan-pit si pemuda sudah menyambar tiba. Untunglah Lwekang Utti Keng sudah cukup sempurna, pada saat berbahaya itu mendadak ia menahan napas dan menarik perutnya sehingga mendekuk, ujung Boan-koan-pit hanya merobek sebagian bajunya saja dan tidak sampai melukainya. Dan baru saja pemuda itu hendak mendesak maju untuk menotok pula, namun Utti Keng sudah mundur selangkah, pedangnya berputar, dengan gerakan 'Hengin-toan-hong' (awan terapung memotong puncak), pedangnya terus menabas ke batang Boan-koan-pit lawan. Si pemuda cukup mengetahui betapa lihainya Pokiam itu, cepat ia menggeser langkah dan ganti serangan, kedua Boan-koan-pit menotok berulang-ulang untuk mencari urat nadi penting di tubuh musuh. Untuk menjaga diri, terpaksa juga Utti Keng menarik pedangnya untuk bertahan. Begitulah, kedua orang sama-sama waspada sekali, sepasang Boan-koan-pit melawan sebatang pedang pusaka, keadaan lantas berubah saling bertahan. Gerakan si pemuda benar-benar sangat gesit dan cepat, kedua Boan-koan-pitnya bekerja dengan rapi sekali untuk memaksa lawan terpaksa harus menjaga diri, maka dalam sekejap saja 30 jurus lebih sudah berlalu, selama itu kedua Boan-koan-pitnya tidak pernah disentuh pula oleh pedang Utti Keng. Sebaliknya permainan pedang bukanlah kepandaian yang diandalkan Utti Keng, walaupun Lwekangnya lebih kuat, menang senjata pula, tapi bicara tentang bagusnya tipu serangan ternyata si pemuda lebih lihai. Apalagi Utti Keng harus memikirkan keadaan sang istri yang terluka itu, ia merasa sungkan untuk bertempur lebih lama lagi. Mendadak ia membentak, sebelah tangannya lantas menghantam. Tapi dengan gesit pemuda itu dapat mengegos ke samping, dan pada saat Utti Keng belum sempat mengganti serangan lagi, segera sepasang Boan-koanpitnya balas menyerang. Walaupun demikiah toh tidaklah mudah bagi Utti Keng untuk membunuh si pemuda. Ki Seng-in sendiri tidak mampu membantu sang suami, ia menjadi gelisah dan berseru.
"Toako, fajar sudah hampir tiba, biarlah kita tinggalkan dia saja!"
Desakan istri membuat Utti Keng menjadi ragu-ragu.
Saat itu ia sudah berada di atas angin, si pemuda sudah mandi keringat karena dicecar berpuluh jurus serangan, napasnya juga sudah memburu, kemenangan Utti Keng terang sudah pasti, tapi ia tidak berani yakin apakah dapat membinasakan pemuda itu sebelum fajar menyingsing.
Begitulah Utti Keng menjadi serba susah.
Kalau hari sudah terang, tentu akan kedatangan orang-orang dari keluarga Kang, pula ia pun menguatirkan luka sang istri yang parah dan harus lekas mencari suatu tempat istirahat yang baik untuk mengobati istrinya.
Tapi ia pun kuatir meninggalkan saksi-saksi hidup sebab hal ini berarti akan mendatangkan malapetaka di kemudian hari.
Apalagi sekarang keadaannya sudah unggul, mana dia mau mengakhiri pertarungan ini dengan demikian saja?
Tiba-tiba Utti Keng mendapat akal, cepat serunya.
"Adik In, coba kau periksa dulu budak busuk itu. Kalau belum putus napasnya boleh kau tambahkan lagi tusukan padanya."
Menurut dugaan Utti Keng, sesudah Kang Hiau-hu terkena paku Tau-kut-ting yang disambitkannya tadi besar kemungkinan sudah binasa.
Tapi ia pun masih sangsi, maka sang istri disuruhnya memeriksanya lagi.
Ia menaksir istrinya masih kuat untuk membinasakan anak dara yang sudah menggeletak itu, walaupun dalam keadaan terluka.
Keadaan Kang Hiau-hu memang sangat payah, tapi ia masih hidup.
Ia memakai baju kutang pusaka yang tak tertembus oleh paku musuh.
Tapi luka sebelumnya memang sudah parah, ditambah lagi hulu hatinya tersambit pula oleh Tau-kut-ting, walaupun tidak sampai terluka lagi, tapi jantungnya juga terguncang sehingga lukanya bertambah parah.
Demikianlah Ki Seng-in lantas mengiakan permintaan sang suami.
dengan pedang terhunus ia lantas mendekati Kang Hiau-hu.
Keruan takut Kang Hiau-hu tak terkatakan demi mendengar suara tindakan orang yang makin mendekat itu.
Lekas ia menahan napas dan pura-pura mati.
Tak diketahui bahwa sesungguhnya Ki Seng-in sendiri juga sangat bingung dan kuatir.
Ia coba memeriksa napas Hiau-hu dan memegang nadinya pula.
Walaupun anak dara itu telah menahan napas, namun tidak urung nadinya masih berdenyut dengan perlahan.
Maka sekali pegang saja segera Seng-in tahu sandiwara yang dimainkan Hiau-hu.
Segera ia mengangkat pedangnya, tapi entah mengapa, tangan dan kakinya terasa lemas dan gemetar sehingga tidak kuat menusukkan pedangnya.
Sekilas itu timbul macam-macam pertentangan batin Ki Seng-in, kalau mengingat keselamatan mereka suami-istri kelak rasanya tiada jalan lain kecuali membinasakan saksi dan menghilangkan bukti.
Tapi dasar hati nurani Ki Seng-in bukanlah orang jahat, betapapun ia merasa tidak tega membunuh seorang dara remaja yang tak berdosa.
Selagi Ki Seng-in merasa ragu-ragu, mendadak terdengar si pemuda menggerung kalap, sekonyongkonyong orangnya memelompat mundur dan menerjang ke arah Ki Seng-in.
Tak tersangka bahwa Utti Keng justru menghendaki si pemuda berbuat demikian, segera ia menguber dengan rapat dan melontarkan pukulan dari jauh.
Karena tubuh pemuda itu tengah terapung di udara, dengan sendirinya ia tidak mampu berkelit.
"biang", tanpa ampun lagi pemuda itu berguling dan jatuh tidak jauh di sebelah Kang Hiau-hu. Dalam pada itu secepat kilat pedang Utti Keng juga sudah menyambar tiba. Karena tak sempat berdiri tegak lagi, terpaksa pemuda itu menggunakan gerakan 'Kihwe-liau-thian' (mengangkat obor menerangi langit), Boan-koan-pit digunakan menangkis ke atas. Tapi lantas terdengar suara "trang"
Pula yang nyaring, kembali Boan-koan-pitnya telah tertabas kutung. Utti Keng terbahak-bahak, jengeknya.
"Nah, ingin kulihat apakah kau masih berani bersikap berandal dan berlagak garang? Lebih baik kau menemani budak busuk itu pergi melapor kepada Giam-lo-ong (raja akhirat) saja."
Di tengah tertawanya itu, pedang Utti Keng lantas membacok ke bawah.
Ia mengira jiwa pemuda itu pasti akan melayang tak terampunkan.
Siapa tahu mendadak pemuda itu telah menggunakan gerakan 'Le-hi-tah-ting' (ikan lele melejit ke atas), tahu-tahu orangnya membalik tubuh dan tepat serangan Utti Keng itu dapat dihindarkan.
Malahan Boan-koan-pit yang kiri secepat kilat lantas menikam juga.
Adalah salah Utti Keng sendiri karena dia terlalu gegabah, ia mengira besar kemungkinan pemuda itu akan binasa terkena tenaga pukulannya tadi, tak terduga pemuda itu masih mampu memberikan serangan balasan.
Karena tak tersangka-sangka itulah tanpa ampun lagi perutnya lantas tertikam oleh Boan-koan-pit, sakitnya tak terkatakan.
Seketika suara tawa Utti Keng tadi berubah menjadi jeritan ngeri, tapi ia pun benarbenar tangkas, sesudah terluka ia tidak mundur, sebaliknya sebelah kakinya lantas melayang sehingga pemuda itu kena ditendangnya terjungkal pula dan terpental beberapa meter jauhnya.
"He, kenapakah kau, Toako?"
Seru Seng-in dengan kuatir.
"Tidak apa-apa, hanya terluka sedikit saja,"
Sahut Utti Keng.
"Hm, anak keparat, apa kau masih dapat hidup lagi?"
"Benar, aku memang tidak ingin hidup lagi,"
Demikian kata si pemuda dari jauh.
"Hayolah maju sini, mari kita mengadu jiwa lagi. Hm, sekalipun mati juga aku akan ajak kau sebagai teman ke pintu akhirat."
Sungguh kejut dan heran Utti Keng tak terhingga, pikirnya.
"Sudah terluka parah demikian bocah busuk itu toh masih dapat bicara. Tampaknya dia masih sanggup bertahan untuk sekian lamanya walaupun sudah terluka dalam. Sungguh aneh, usianya masih muda belia, mengapa memiliki Lwekang setinggi ini? Apa barangkali dia tadi belum mengeluarkan segenap kepandaiannya dan aku yang telah salah menilai dia?"
Dengan menahan sakit Utti Keng lantas mencabut Boan-koan-pit yang menancap di perutnya itu dan cepat membubuhi obat luka.
Ki Seng-in lantas mendekati sang suami hendak membalut lukanya, tapi dia sendiri terluka parah dan sangat payah, ketika melihat suaminya bermandikan darah, ia menjadi kuatir, tanyanya dengan suara berbisik.
"Bagaimana? Parah tidak lukamu, Toako?"
"Tidak,"
Sahut Utti Keng.
"Budak busuk itu telah kau bunuh?"
"Dia benar-benar sudah mati, aku tiada tempo buat memotong mayatnya, biarkan dia mati dengan mayat sempurna saja,"
Sahut Seng-in.
Apa yang dikatakan Ki Seng-in rupanya didengar oleh si pemuda, ia tidak tahu kalau Seng-in berbohong, maka ia menjadi kuatir dan gusar, namun sudah tidak kuat untuk mendamprat lagi.
Maka terdengar Utti Keng tertawa dan berkata pula.
"Haha, bagus, bagus! Anak keparat itupun tidak sayang mengorbankan nyawanya untuk membela putri Kang Hay-thian, maka tak perlu aku membunuhnya, biarkan dia mati sendiri dengan mayat sempurna saja. Apabila Kang Hay-thian menerima kebaikanmu atas diri putrinya, mungkin dia akan menguburkan kalian di dalam liang yang sama."
Kiranya luka Utti Keng sendiri sesungguhnya tidaklah ringan.
Biarpun dia beromong besar, tapi di dalam hati benar-benar takut kalau-kalau si pemuda masih kuat melabraknya lagi.
Ia sengaja bergelak tertawa dan omong besar, semuanya ini hanya untuk menutupi luka parahnya sendiri, padahal ia benar-benar tidak kuat bertempur pula.
Cuma saja dia punya obat luka yang bagus, lukanya itu diperkirakan harus dirawat dua tiga hari baru dapat sembuh.
Sebaliknya ia menaksir luka pemuda itu pasti juga tidak enteng.
Di tengah lembah sunyi itu, tanpa pertolongan orang, pemuda itu pasti akan mati sendiri.
Maka ia merasa tidak perlu mengadu jiwa pula dengan pemuda itu.
Begitulah, dengan mengumpulkan sisa tenaganya Utti Keng lantas menolong sang istri dan berjalan pergi.
Ia tahu istrinya juga mengetahui keadaannya yang parah, maka ia telah membisikinya.
"Adik In, kau jangan kuatir. Kuda budak itu adalah seekor kuda bagus, kita justru dapat menggunakannya untuk melarikan diri. Biarpun terluka rasanya aku masih sanggup menjinakkan seekor binatang tunggangan."
Dalam pada itu, dengan kuatir si pemuda juga sedang memperhatikan gerak-gerik Utti Keng, ia bertiarap dan menempelkan telinganya di atas tanah, sesudah mendengar suara derap kuda yang makin menjauh barulah ia menghela napas lega.
Tapi sesudah merasa lega seketika ia pun tidak sadarkan diri.
Kiranya pemuda itu terluka dalam sangat parah, ia berteriak hendak mengadu jiwa pula dengan Utti Keng sebenarnya juga serupa tujuannya dengan Utti Keng, yaitu untuk menutupi keadaannya sendiri yang payah.
Padahal keadaan pemuda ini jauh lebih payah daripada dugaan Utti Keng, maka sesudah hilang rasa tegangnya, segera ia pun jatuh pingsan.
Entah sudah berapa lama, dalam keadaan sadar tak sadar tiba-tiba si pemuda mendengar suara jatuhnya sepotong batu di sebelahnya.
Disangkanya kedatangan musuh lagi, segera ia terjaga bangun.
Ia merasa silau oleh cahaya sang surya, kiranya waktu itu sudah siang hari.
Ia mendengar suara berkresekan di semak-semak sana, waktu diperhatikan kiranya adalah satu orang yang sedang merangkak ke arahnya.
Tak usah dijelaskan lagi orang itu tentu Kang Hiau-hu adanya.
Keadaan Kang hiau juga tidak kurang payahnya daripada si pemuda, ia sudah merangkak sekian lamanya dan baru dapat mencapai sejauh beberapa meter.
Batu tadi adalah dia yang menyambitkan ke samping si pemuda dengan sisa tenaganya yang ada.
Ketika melihat si pemuda sudah sadar, ia merasa bersyukur sekali, tadinya ia sangka pemuda itu sudah mati.
Ia bermaksud bicara, tapi suaranya sedemikian lemah hingga mirip suara nyamuk mendenging.
Namun samar-samar si pemuda dapatlah mendengar suara Hiau-hu yang berkata padanya.
"Lekas kau kemari!"
Walaupun sama-sama terluka parah, tapi si pemuda lebih kuat daripada Hiau-hu, semangatnya lantas terbangkit ketika mengetahui anak dara itu sedang menantikan pertolongannya, perlahan-lahan ia lantas merangkak dan mendekati Hiau-hu.
Dengan suara yang agak lemah seakan-akan cuma mendesis Hiau-hu berkata pula.
"Di dalam bajuku ada Siau-hoan-tan, harap kau bantu mengeluarkannya."
Untunglah pemuda itu sekarang sudah dekat dengan Hiau-hu sehingga suara yang sangat lirih itu dapatlah didengar.
Siau-hoan-tan adalah obat mujarab bagi luka dalam, yaitu obat buatan tabib sakti dari Hoa-san, Hoa Thianhong, ayah angkat Kang Hay-thian.
Dengan sendirinya dalam perjalanan Kang Hiau-hu ini ia pun membawa obat asal pemberian Hoa Thian-hong itu.
Cuma sayang ia sangat lemah sehingga untuk mengambil obat di baju sendiri pun tidak kuat lagi, maka terpaksa harus minta bantuan orang lain.
Si pemuda juga tahu khasiat Siau-hoan-tan, ia sangat girang demi mendengar adanya obat itu.
Tapi ia lantas menghadapi suatu persoalan sulit, obat itu tersimpan di dalam saku Kang Hiau-hu, apakah dirinya boleh sembarangan menggagap-gagap di atas badan seorang dara remaja.
"Bagaimana, apa kau pun tidak punya tenaga lagi? Lekas ambil obatku ini dan akan kubagikan sebutir untukmu,"
Kata Hiau-hu ketika melihat pemuda itu tertegun.
Dalam keadaan terpaksa si pemuda juga tak dapat memikirkan peraturan-peraturan adat lagi.
Segera ia pejamkan mata, sekuatnya ia angkat tangan dan menggagap-gagap di baju Hiau-hu.
Selama hidupnya baru pertama kali ini ia menyentuh tubuh kaum wanita, keruan ia menjadi merah jengah, hatinya berdebardebar.
Lebih runyam lagi karena di dalam saku Kang Hiau-hu itu ternyata terisi macam-macam barang, meski sudah menggagap-gagap sekian lamanya tetap tidak tahu Siau-hoan-tan itu tersimpan dimana?
Hiau-hu sendiri adalah dara remaja yang masih kekanak-kanakan.
Ia minta bantuan seorang pemuda asing karena terpaksa, ia pun baru pertama kali ini tubuhnya disentuh oleh seorang lelaki, maka ia merasa malu-malu dan risi.
Akhirnya berkatalah ia.
"Mengapa tidak lekas kau keluarkan Siau-hoan-tan?"
Si pemuda terkejut dan sedikit menarik tangannya, jawabnya dengan gelagapan.
"Aku ... aku tidak tahu Siau-hoan-tan tersimpan dimana?"
Muka Hiau-hu menjadi merah, baru sekarang ia ingat dirinya sendiri yang teledor karena tidak menjelaskan dimana beradanya obat itu. Cepat ia berkata.
"Tersimpan di dalam sebuah kotak kecil."
Maka dengan segera si pemuda dapatlah menemukan kotak kecil itu dan diambil keluar.
Ia menjejalkan sebutir obat itu ke dalam mulut Kang Hiau-hu.
Setelah menelan obat, sejenak kemudian barulah Hiau-hu berkata.
"He, mengapa kau termangu-mangu, lekas kau pun minum obat ini."
"Ya, banyak terima kasih atas pemberian obat nona ini,"
Sahut si pemuda. Setelah minum obat Siau-hoan-tan, rasa sesak di dada Hiau-hu lantas banyak berkurang, dengan cepat semangatnya juga mulai pulih, katanya dengan tertawa.
"Kau yang telah menyelamatkan jiwaku dan sampai sekarang aku belum lagi mengucapkan terima kasih padamu."
Sesudah si pemuda minum sebutir Siau-hoan-tan, ia menutup kotak obat itu, lalu dikembalikan kepada Hiauhu sambil memandang sekejap kepada nona itu. Seketika jantungnya memukul keras, pikirnya.
"Sungguh suatu pengalaman aneh, belum bertemu dengan Kang-tayhiap aku sudah bertemu dulu dengan putrinya. Adalah tidak heran jika dia memiliki kepandaian tinggi karena dia mempunyai seorang ayah seperti Kang-tayhiap, yang di luar dugaan adalah dia sedemikian cantiknya, belum pernah kulihat wanita yang lebih cantik dari dia. Untunglah dia tidak terbinasa di tangan Utti Keng dan istrinya."
Kiranya di tengah malam yang gelap semalam hakikatnya dia belum melihat jelas wajah Kang Hiau-hu.
Sebabnya dia termangu-mangu tadi rupanya adalah lantaran terkesima terhadap kecantikan anak dara itu.
Hiau-hu sendiri pun cemas-cemas girang, pikirnya.
"Usia pemuda ini tampaknya cuma beberapa tahun lebih tua daripadaku, tapi ilmu silatnya agaknya jauh lebih tinggi daripadaku. Ibu selalu kuatir usiaku muda dan pengalamanku cetek, maka aku dipesan agar selalu waspada terhada kepalsuan orang Kangouw, tapi pemuda ini tampaknya seperti seorang ksatria yang sopan-santun. Ya, dalam keadaan tak berdaya seperti sekarang ini, tentu celakalah aku bilamana dia adalah seorang jahat."
Begitulah, kedua muda-mudi itu sama-sama mempunyai prasangka sendiri-sendiri dan sama-sama memejamkan mata sambil merebah untuk menghimpun tenaga.
Selang dua jam kemudian, lambat-laun Siauhoan-tan telah memperlihatkan khasiatnya, rasa sakit Kang Hiau-hu sudah lenyap, baru sekarang ia merasakan perut lapar.
Badan si pemuda lebih sehat daripada Hiau-hu, maka pulihnya tenaga juga lebih cepat, ia membawa kantong rangsum kering, di situ masih ada sisa beberapa gempal nasi goreng.
Segera ia mengeluarkannya dan diberikan kepada Hiau-hu.
"Kau sendiri bagaimana, mengapa diberikan semua padaku?"
Ujar Hiau-hu.
"Aku akan mencari sedikit makanan lain, pula kita harus berdaya untuk meninggalkan lembah sunyi ini,"
Sahut si pemuda.
Lalu ia mendapatkan setangkai kayu untuk digunakan sebagai tongkat, dengan jalan berincang-incut ia lantas pergi mencari makanan.
Hiau-hu sangat terharu melihat cara jalan pemuda itu sangat dipaksakan.
Selang sejam kemudian barulah pemuda itu tampak kembali, pada ranting kayunya tersunduk dua ekor ikan, keadaan pemuda itu tampak lesu dan letih.
Perut Hiau-hu memangnya sudah 'keroncongan' saking laparnya, katanya dengan tertawa.
"Kedua ekor ikan ini walaupun agak kecil, tapi juga lumayan daripada tidak ada, mengapa kau lesu? Untung juga kau masih punya tenaga untuk menangkap ikan, aku sendiri sudah tidak kuat untuk memegang sepotong batu sekali pun."
"Aku sudah memeriksa keadaan di sekitar sini,"
Tutur si pemuda.
"Sekeliling sini adalah lereng-lereng yang terjal, kecuali kalau luka kita sudah sembuh, kalau tidak, tentu takkan dapat keluar dari sini. Kedua ekor ikan ini adalah secara kebetulan dapat kutangkap di sungai kecil di sebelah sana, apakah besok kita dapat menemukan makanan atau tidak belumlah diketahui!"
Hiau-hu menjadi sedih mendengar keterangan itu.
Maklumlah keadaan mereka benar-benar parah, hanya berkat Siau-hoan-tan barulah jiwa mereka dapat dipertahankan.
Tapi bilakah luka mereka akan sembuh, hal ini susah diramalkan.
"Jika demikian harapan kita hanya kalau-kalau ada orang mencari ke sini dan dapat menolong kita ke atas sana,"
Kata Hiau-hu kemudian.
"Harapan demikian pun sangat tipis,"
Sahut si pemuda.
"Di lembah yang sunyi seperti ini masakah ada orang datang ke sini?"
"Aku telah berjanji kepada ayahku akan pulang rumah dalam waktu tiga hari, jika aku tidak pulang tentu beliau akan mencari aku,"
Tutur Hiau-hu.
"Sebenarnya kau hendak kemana?"
Tanya pemuda itu.
"Aku justru sedang menguber bangsat wanita itu. Aku telah mengatakan kepada ayah, bilamana tidak dapat menyusul bangsat wanita itu, aku akan datang ke Tekciu untuk minta bantuan Nyo-pangcu dari Kay-pang. Karena kudaku adalah Jian-li-ma (kuda seribu li sehari). untuk pulang ke Tekciu rasanya cukup tiga hari saja, hari ini kebetulan hari ketiga. Cuma sayang kudaku telah dibawa lari oleh bangsat itu."
Si pemuda tidak sempat bertanya lebih jauh, ia menghela napas dan berkata.
"Jika demikian, ayahmu tentu akan pergi ke Tekciu untuk mencari dirimu, rasanya beliau juga takkan menduga bahwa kau akan terluka di tengah lembah yang sunyi ini."
Hiau-hu pikir benar juga ucapan pemuda itu, katanya kemudian.
"Ya, jika begitu, apa boleh buat, terpaksa kita pasrah nasib. Sudahlah, paling perlu kita panggang kedua ekor ikan itu dulu, perutku sudah sangat lapar. Apakah kau membawa batu api?"
Si pemuda lantas menyalakan segunduk api unggun. Di bawah cahaya api unggun, wajah Hiau-hu yang putih pucat itu tampak semakin cantik dan menggiurkan. Hati si pemuda kembali berdebar-debar, pikirnya.
"Sesudah dia terlepas dari bahaya ini, dia adalah putri Kang-tayhiap, perbedaan kedudukan ini apakah akan memungkinkan aku berdekatan dengan dia lagi? Ya, lebih baik aku dapat mendampingi dia di lembah sunyi ini, biarpun mati kelaparan juga aku rela."
"He, kenapa kau merasa gembira pula, apakah kau telah menemukan sesuatu akal yang memungkinkan kita keluar dari lembah ini?"
Tanya Hiau-hu tiba-tiba ketika melihat si pemuda mengulum senyum, tapi tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Ah, tidak!"
Sahut si pemuda.
"Ini, ikannya sudah hampir hangus, lekaslah makan!"
"Silakan kau makan juga!"
"Tidak, aku tidak lapar."
"Hayolah makan, kalau kau tidak makan aku pun tidak mau makan lagi,"
Kata Hiau-hu sambil menikmati ikan panggang. Namun pikiran si pemuda ternyata sedang melayanglayang.
"Sesudah pergi dari sini, entah kelak dia masih sedemikian baik padaku atau tidak?"
Sejenak kemudian, tiba-tiba Hiau-hu berkata.
"He, aku mendapatkan suatu akal!"
"Akal apa?"
Tanya si pemuda.
"Begini, api unggun kita kobarkan sebesar-besarnya, siang malam jangan dipadamkan. Kalau ada orang berlalu, andaikan tidak berani turun juga akan menyiarkan berita tentang apa yang dilihatnya ini."
"Ya, cara ini memang sangat baik. Cuma di sekeliling kita ini adalah rumput alang-alang belaka, bila kita kurang hati-hati sehingga api menjalar, maka kita pasti akan berubah seperti kedua ekor ikan panggang tadi."
Hiau-hu menjadi lemas lagi karena akalnya ternyata kurang sempurna, katanya kemudian.
"Habis, apakah kita harus menyerah begini saja?"
"Sebenarnya kita masih ada akal lain,"
Ujar si pemuda sesudah berpikir sejenak. Hiau-hu menjadi girang, cepat ia menanggapi.
"Jika demikian, hayolah lekas katakan! Kenapa mesti main teka-teki lagi?"
"Akalku ini sih tetap akalmu tadi, hanya saja kita harus bekerja dulu dengan membersihkan rumput alang-alang di sekitar api unggun ini, dengan demikian kita tidak perlu kuatir akan terjadi kebakaran lagi. Dan agar tidak terjadi sesuatu yang di luar dugaan, bolehlah kita berjaga secara bergiliran."
"Ya, bagus! Mengapa cara yang sederhana ini tadi tidak terpikir olehku?"
Seru Hiau-hu.
Walaupun sederhana akal mereka itu, tapi untuk dilaksanakan ternyata tidaklah mudah.
Maklum, tenaga Kang Hiau-hu belum lagi pulih, dia baru saja bisa bergerak sedikit.
Keadaan si pemuda masih mendingan, tapi tenaganya juga belum pulih seperti biasa.
Namun demikian mereka tidak pasrah nasib, mereka berjuang sedapat mungkin, dengan susah payah, dari siang sampai petang barulah mereka dapat membikin bersih tanah lapang seluas beberapa meter.
Sementara itu Hiau-hu sudah lapar dan letih, ia terkapar lemas dengan napas tersengal-sengal.
"Bangsat itu benar-benar membikin celaka kita,"
Katanya dengan gemas.
"Sudah membawa lari kudaku, pedangku dirampasnya juga. Kalau tidak, tentu aku dapat menggunakan pedangku untuk memotong rumput dan takkan payah seperti sekarang ini."
"Hahaha! Biasanya orang memotong rumput dengan arit, tapi kau ingin membabat rumput dengan pedang pusaka, sungguh bahan cerita yang baik. Untunglah kau tidak menggunakan pedangmu itu, kalau tidak, tentulah aku akan merasa sayang bagi pedang pusaka itu,"
Demikian si pemuda berkelakar.
"Orang lagi mendongkol, kau justru bicara seenaknya,"
Omel Hiau-hu dengan tersenyum.
"Baiklah, bila kelak pedang sudah kurebut kembali, tentu lebih dulu akan kupenggal kepala bangsat itu."
Begitulah mereka bicara sambil bergurau sehingga melupakan rasa letih tadi.
Kemudian si pemuda pergi pula mencari makanan dengan bantuan tongkatnya.
Hiau-hu merasa tidak enak demi melihat jalan si pemuda yang terpincang-pincang itu.
Dekat maghrib barulah pemuda itu kembali.
Sekali ini lebih beruntung, ia dapat memburu seekor kelinci, malahan dapat memetik beberapa buah-buahan yang sekadar dapat dibuat tangsal perut.
Setelah mengumpulkan bahan-bahan bakar dan membuat api unggun pula, mereka lantas membikin kelinci panggang dan memakannya dengan lahap.
Selesai makan, semangan Hiau-hu tampak lebih segar lagi, dengan tertawa ia berkata.
"Ai, sudah seharian aku masih belum tahu namamu."
"Aku she Ubun, bernama Hiong, berasal dari Pakkhia,"
Sahut pemuda itu.
"Dan mengapa kau bisa datang ke sini?"
Tanya Hiauhu pula.
"Kalau kau menguber bangsat itu, maka yang kucari adalah suaminya,"
Tutur si pemuda alias Ubun Hiong.
"Dia bernama Utti Keng, adalah seorang bandit besar Kwan-gwa."
"Aneh, kau masih begini muda, mengapa sudah bermusuhan dengan seorang bandit besar?"
Tanya Hiauhu dengan heran.
"Ayahku adalah seorang Piausu (jago kawal) dari Hong-lui-piau-kiok di Pakkhia,"
Tutur Ubun Hiong.
"Ada satu kali ayah telah mengawal suatu partai barang ke daerah Kwan-gwa. Tapi barang kawalan itu dirampas oleh Utti Keng. Walaupun ayah tidak mendapat cidera apa-apa, tapi karena kerugian yang terlalu besar itu terpaksa Piau-kiok (perusahaan pengawalan) harus tutup pintu alias bangkrut. Sebagai orang yang bertanggungjawab, ayah bermaksud menjual harta bendanya untuk mengganti kerugian yang diderita perusahaan, namun Congpiauthau (kepala perusahaan) cukup bijaksana dan tak mau menerima maksud baik ayah."
"Jika demikian, ayahmu hanya mengalami sedikit kegagalan, hal ini toh tidak menjadi soal,"
Ujar Hiau-hu.
"Kau tidak paham,"
Kata Ubun Hiong.
"Sebagai Piausu, yang paling diutamakan adalah nama. Barang kawalan hilang, perusahaan bangkrut, pukulan-pukulan demikian membikin ayah jatuh sakit dan tidak lama kemudian lantas meninggal dunia. Meninggalnya ayah walaupun tidak dibunuh sendiri oleh Utti Keng, tapi pangkal utamanya adalah karena perbuatan Utti Keng. Pada sebelum menghembuskan napas penghabisan, ayah telah menyerahkan sepucuk surat padaku yang sudah disiapkannya lebih dulu, beliau berpesan agar aku menyampaikan surat ini kepada Kang-tayhiap."
"Apa kau maksudkan ayahku?"
Tanya Hiau-hu.
"Siapa lagi kalau bukan ayahmu? Masakah di dunia ini ada Kang-tayhiap yang kedua?"
Sahut Ubun Hiong dengan tertawa.
"Jika begitu, jadi ayahmu sudah lama mempunyai hubungan baik dengan ayahku?"
Kata Hiau-hu dengan girang dan heran.
"Entahlah, ayah tak pernah mengatakan padaku bahwa beliau kenal Kang-tayhiap, aku pun tidak tahu bagaimana bunyi surat ini."
Hiau-hu agak kecewa mendengar jawaban itu, tapi lantas terpikir olehnya.
"Ya, nama ayah sangat tersohor sehingga setiap orang apakah kenal atau tidak selalu suka minta bantuannya, mungkinkah ayah Ubun Hiong termasuk juga orang demikian itu. Seperti halnya Li Bunsing yang juga tidak kenal ayah, tapi dia mempercayakan putra yang ditinggalkannya itu, untuk itu ayah lantas menerimanya dengan suka hati hanya dengan perantaraan Siau-sioksiok saja. Malahan sebabnya aku terluka seperti sekarang ini juga lantaran ingin mencari putra yatim keluarga Li yang belum kukenal itu."
Hiau-hu tersenyum, ia membesarkan api unggun dengan tangkai kayu, lalu berkata pula.
"Kau belum kenal ayahku, hal inipun tidak menjadi soal. Bangsat itu adalah musuhmu dan juga musuhku, biarlah nanti aku bantu bicara dengan ayah, tentu beliau akan dapat membalaskan sakit hatimu."
"Baiklah, untuk itu sebelumnya aku harus berterima kasih,"
Sahut Ubun Hiong dengan tertawa.
"Tapi entah aku mempunyai rezeki untuk bertemu dengan ayahmu atau tidak?"
"Ai, bicaramu selalu bernada putus asa, masakah kita benar-benar akan mati konyol di lembah sunyi ini?"
Ujar Hiau-hu sambil mengamat-amati lereng pegunungan yang curam itu.
"Aku justru berharap demikian adanya,"
Pikir Ubun Hiong. Kemudian ia menyambung pula ceritanya.
"Sesudah menyelesaikan layon ayah, segera aku berangkat ke selatan dan kemarin tiba-tiba memergoki bangsat Utti Keng di tengah jalan, meski sebelumnya aku tidak kenal dia, tapi ayah pernah menceritakan padaku tentang ciri-ciri mukanya yang penuh berewok, kepala besar dan pundak lebar, maka dengan mudah saja aku lantas mengenali dia, segera aku menguntit jejaknya dan akhirnya sampai di lembah sunyi ini. Dari percakapan mereka aku mendengar bahwa kau adalah putri Kangtayhiap, dengan sendirinya aku lebih-lebih harus menolong kau meskipun dia bukan Utti Keng yang kucari itu."
Hiau-hu sangat berterima kasih, tanpa terasa ia memegang tangan Ubun Hiong, katanya.
"Ubun-toako, bilamana kita dapat menyelamatkan diri, tentu aku akan membalas budi kebaikanmu ini."
"Sekarang pun kau sudah membalas kebaikanku,"
Ujar Ubun Hiong dengan tertawa.
"Apa arti ucapanmu ini?"
Tanya Hiau-hu dengan tercengang.
"Sedemikian baiknya kau bicara padaku, hal ini sudah cukup bagiku,"
Sahut Ubun Hiong. Muka Hiau-hu menjadi merah jengah dan melepaskan tangannya, cepat ia mengalihkan pokok pembicaraan.
"Sekali melihat bangsat itu kau lantas menyebut namanya, semula aku mengira kau sudah kenal dia sebelum ini."
"Aku sengaja menegurnya secara mendadak, tak tersangka memang betul adalah Utti Keng."
"Pintar juga kau ini,"
Puji Hiau-hu.
"Dan mengapa kau menguntit juga istri Utti Keng, apakah kau juga ada permusuhan dengan dia?"
Tanya Ubun Hiong.
Karena sudah dipesan oleh ayahnya agar jangan sekali-kali membocorkan kepada orang luar tentang penitipan anak yatim O Bun-sing, maka Hiau-hu menjadi ragu-ragu untuk menceritakannya.
Tapi demi teringat pemuda itu telah menceritakan segala apa yang menyangkut dirinya, masakah sekarang ia berbalik tidak bicara secara terus terang?
Dengan pertimbangan itu, akhirnya ia menceritakan segala sesuatu mengenai maksud tujuan perjalanannya ini, bahkan ditambahkannya.
"Lantaran pergerakan Thian-li-hwe sudah terbongkar, banyak pemimpinnya tertawan atau terbunuh, namun ayah telah bertekad akan melindungi putra yatim Li Bun-sing itu. Sekarang anak itu meski dibawa lari orang, namun akhirnya pasti dapat diketemukan kembali. Mengingat betapa penting dan berbahayanya persoalan ini, maka ayah telah berpesan padaku agar tutup mulut rapat-rapat. Oleh sebab itulah aku Dun minta kau tutuD rahasia ini dan ianean sekali-kali dibocorkan."
"Aku toh bukan anak kecil, tentu aku mengetahui urusan yang penting ini, harap kau jangan kuatir, tidak nanti aku katakan pada orang lain,"
Sahut Ubun Hiong dengan tertawa.
"Tapi sekarang kau telah memberitahukan urusan ini padaku, bukankah kau telah mengingkari dahulu pesan ayahmu?"
"Ayah hanya melarang aku memberitahukannya kepada orang luar. Kau telah menolong jiwaku, sekarang sama-sama menghadapi kesukaran pula, masakah aku dapat menganggap kau sebagai orang luar?"
Sungguh nikmat sekali perasaan Ubun Hiong, tanpa terasa ia memegang kencang-kencang kedua tangan anak dara itu, katanya.
"Banyak terima kasih kau tidak menganggap diriku sebagai orang luar."
Selagi asyik bicara, tiba-tiba terdengar suara guntur bergemuruh, awan tebal, hujan sudah hampir tiba. Cepan Ubun Hiong berkata.
"Wah, segera akan hujan lebat, lekas ikut padaku!"
"Tapi terlalu sayang api unggun yang kita nyalakan dengan susah payah ini,"
Ujar Hiau-hu.
"Badanmu harus diutamakan,"
Kata Ubun Hiong.
Lalu ia tarik si nona dan diajaknya berangkat dengan cepat.
Rupanya pada siang harinya waktu Ubun Hiong mencari bahan makan telah dipenujuinya suatu tempat berteduh yang baik.
Yaitu suatu tempat yang terdiri dari dua potong batu cadas raksasa yang saling berdempetan, di bawahnya terdapat sela-sela seluas satu meteran sehingga cukup dibuat bersembunyi satu orang.
Baru saja Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu sampai di tempat itu, saat itulah hujan lebat mulai menuang.
Cepat Ubun Hiong mendorong si nona ke tengah sela-sela batu itu untuk bernaung.
"Ubun-toako, kau ... kau sendirikata Hiau-hu dengan rikuh.
"Lukaku jauh lebih ringan daripadamu, badanku juga lebih kuat, hanya terkena air hujan saja tidak menjadi soal,"
Ujar Ubun Hiong.
Lalu ia melepaskan baju luar sendiri untuk dipakai mengerudung di atas kepala sambil bersandar di dinding batu, dengan demikian bagian sela-sela yang terluang itu dapat tertutup rapat sehingga dapat mengaling-alingi air hujan yang menyiram masuk.
Mestinya Hiau-hu ingin menyuruh pemuda itupun berteduh di dalam, tapi sela-sela batu itu terlalu sempit, pula ia merasa malu untuk meringkuk berdempetan, maka terpaksa membiarkan Ubun Hiong kehujanan di luar.
Saking lelahnya tanpa terasa kemudian ia terpulas.
Ketika terjaga bangun pula, ia mendengar gigi Ubun Hiong gemertukan menggigil kedinginan.
Sungguh Hiau-hu sangat terharu, cepat ia berkata.
"Toako, silakan kau masuk ke dalam sini saja."
"Tidak apa-apa, aku masih kuat bertahan, hujan pun sudah berhenti,"
Sahut Ubun Hiong dengan suara gemetar dan lemah.
Hiau-hu melihat hari sudah remang-remang, fajar sudah menyingsing, hawa sehabis hujan terasa lebih dingin daripada malamnya.
Segera ia keluar dari tempat bernaungnya, katanya.
"Toako, di dalam akan lebih hangat, semalam tentu kau tidak tidur dengan baik, silakan masuk mengaso di dalam saja. Biar kunyalakan api, tolong pinjam batu apimu."
Walaupun badan Ubun Hiong menggigil dingin, tapi hatinya terasa hangat sekali demi mendengar si nona memanggilnya dengan "Toako"
Tanpa menyebut she, ia merasa tidak sia-sia pengorbanannya bagi anak dara itu.
Dalam pada itu Hiau-hu sudah mulai pulih tenaganya, walaupun cahayanya masih lemah, tapi jauh lebih segar daripada kemarin.
Ia lihat bekas api unggun kemarin itu sudah basah dan tidak dapat dinyalakan lagi.
Terpaksa ia harus menunggu terbitnya sang surya, ia pikir lebih penting mencari bahan makanan dahulu.
Akan tetapi dia kurang mujur, pula tidak berpengalaman, sesudah mencari kian-kemari tetap tiada sesuatu binatang kecil yang diketemukan.
Akhirnya ia hanya memetik beberapa buah hutan yang tak diketahui namanya, lalu dibawa kembali.
Cuaca pagi itu sangat bagus, sang surya memancarkan sinarnya yang gilang gemilang.
Semangat Hiau-hu menjadi terbangkit sehingga rasa lapar pun berkurang.
Setiba kembali di tempat api unggun kemarin, ia pikir akan membiarkan Ubun-toako tidur lebih lama lagi, ia lantas mengumpulkan sisa-sisa kayu dan rumput kering yang masih agak lembab.
Dengan susah payah akhirnya api dapat dinyalakan.
Sementara itu hari sudah dekat lohor, dengan gembira ria, Hiau-hu lantas kembali ke gua, serunya sambil berlari-lari.
"Toako, api sudah kunyalakan! Kau sudah bangun belum, lekas keluar untuk mengeringkan bajumu!"
Tiba-tiba dilihatnya Ubun Hiong duduk bersimpuh di atas tanah tanpa bergerak, terhadap seruannya tadi seperti tidak mendengar.
Dikiranya pemuda itu sedang melatih diri, segera ia mendekatinya dengan tindakan perlahan-lahan.
Mendadak terdengar tenggorokan Ubun Hiong mengeluarkan suara "krok-krok"
Yang aneh, sekonyongkonyong dia melompat bangun, dengan mata merah membara ia melotot ke arah Kang Hiau-hu dengan lagak hendak mencengkeramnya.
Keruan Hiau-hu terkejut, cepat ia melompat mundur sambil berseru.
"He, kenapakah kau, Toako!"
Namun Ubun Hiong tidak menjawabnya, sebaliknya bersuara mengerang dan berkata.
"Bangsat, biarlah kumampuskan kau!"
Habis itu ia terus menerjang maju dan menghantam.
"He, Toako, ini akulah adanya!"
Seru Hiau-hu sambil berkelit.
Akan tetapi dengan mata mendelik merah kembali Ubun Hiong menubruk dan menghantam pula berulang-ulang.
Terpaksa Hiau-hu berkelit kian-kemari dan menyingkir mundur, untuk menangkis tidak berani karena kuatir melukai pemuda itu.
Sekonyong-konyong Hiau-hu keserimpet dan jatuh.
Dengan terbahak-bahak Ubun Hiong lantas menubruk maju dan dapat .
mencengkeramnya.
"Hahaha! Hendak lari kemana lagi kau?!"
Habis ini ia lantas pentang mulut hendak menggigit. Hiau-hu meronta sekuatnya, sebelah tangannya menampar "Plok,"
Dengan tepat Ubun Hiong kena ditempeleng sekali. Untuk sejenak pemuda itu tertegun, pikirannya seperti agak sadar. Ia menggumam.
"O, aku ... aku ..."
"Apa kau sudah sadar, Toako? Aku telah memukul kau, apakah sakit?"
Kata Hiau-hu dengan menyesal demi nampak pipi si pemuda berjalur-jalur merah karena tamparannya tadi.
"Kau ... kau jangan kabur lagi ya?"
Demikian Ubun Hiong menggumam pula.
Hiau-hu menjadi malu dan takut pula, seketika pikirannya menjadi kusut dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan orang.
"Bangsat kurangajar! Lekas lepaskan Sumoayku!"
"Darimana datangnya Suhengku? Tapi suara ini seperti sudah kukenal!"
Pikir Hiau-hu dengan heran. Dan sebelum dia sempat menoleh, terdengar suara bentakan ayahnya dari jauh.
"Siapa itu berani menghina putriku?!"
Kiranya Kang Hay-thian suami-istri dan Yap Leng-hong kebetulan melihat asap mengepul dari dasar lembah, mereka merasa heran dan coba menyelidiki ke bawah.
Tak tersangka di sinilah mereka dapat menemukan Kang Hiau-hu, tatkala itu tertampak Hiau-hu sedang dipegang oleh Ubun Hiong dan keadaannya sangat terancam.
Mestinya Kang Hay-thian akan merunduk maju untuk menolong putrinya, tak terduga Yap Leng-hong sudah lantas mendahului bersuara.
Sebab itulah terpaksa Kang Hay-thian juga bersuara menggertak pihak lawan dengan ilmu 'Say-cu-hau' (auman singa).
Karena Lwekang Kang Hiau-hu berasal dari ajaran ayahnya, maka suara Lwekang Say-cu-hau itu hanya membikin anak telinganya mendenging saja, sebaliknya Ubun Hiong tidak tahan lagi, ia sudah terluka parah dan sakit demam pula, demi mendengar getaran suara Lwekang yang maha kuat itu, seketika ia memuntahkan darah.
Dalam pada itu Kang Hay-thian sudah memburu tiba secepat terbang, sebelum dekat, dimana dia berlalu, dengan ujung kaki telah dicungkilnya beberapa potong batu kecil dan disiapkan di tangan.
Waktu jarinya menjentik, sepotong batu kecil lantas disambitkan lebih dahulu.
Ketika mendengar suara mendesirnya senjata rahasia, Hiau-hu cukup kenal betapa lihai tenaga ayahnya, kalau batu itu mengenai Ubun Hiong, mustahil jiwa pemuda itu takkan melayang.
Cepat ia rangkul Ubun Hiong dan mengaling-alinginya dengan tubuh sendiri, berbareng itu ia pun berteriak memanggil "ayah"
Dengan suara yang gemetar.
Kang Hay-thian terkejut, cepat ia susulkan sambitan batu kedua dengan tenaga lebih kuat sehingga batu pertama tersusul dan terbentur melenceng dan lewat di samping Hiau-hu tanpa melukainya.
Dalam pada itu secepat terbang Kang Hay-thian sudah memburu tiba sampai di depan Kang Hiau-hu, perlahanlahan ia mendorong pergi putrinya, lalu Ubun Hiong dipegangnya.
"Ayah, jangan baru saja Hiau-hu hendak mencegah, namun sebelah tangan Kang Hay-thian sudah digaplokkan ke punggung Ubun Hiong. Saking kuatirnya sampai Hiau-hu terpaku di tempatnya. Dilihatnya tubuh Ubun Hiong Hiong rada menggigil, tapi tidaklah seperti dugaannya dihantam roboh oleh ayahnya.
"He, siapakah dia ini?"
Tanya Hay-thian dengan heran.
"Dia telah terluka parah, kemudian kena demam, lalu berlatih secara paksa sehingga hawa murninya tersesat, untunglah belum terlalu kasip, hanya pikirannya yang sudah kacau."
Baru sekarang Hiau-hu tahu bahwa ayahnya tidak bermaksud menghantam Ubun Hiong, sebaliknya telah menggunakan tenaga saktinya untuk menolong pemuda itu.
"Harap ayah suka bantu menyembuhkan dia,"
Pinta Hiau-hu.
"Dia adalah penolong jiwaku."
Sementara itu Kok Tiong-lian juga sudah menyusul tiba, ketika melihat keadaan Kang Hiau-hu, dengan kuatir ia terus memeluknya sambil berkata.
"O, anakku, siapakah yang telah melukai kau sedemikian rupa?"
"Bukan dia ini, tapi adalah seorang penjahat yang bernama Utti Keng,"
Tutur Hiau-hu.
"Hay-ko, kau tidak memeriksa dulu putrimu?"
Seru Tiong-lian.
"Sudah kuperhatikan sejak tadi,"
Sahut Hay-thian.
"Anak Hu walaupun terluka, tapi tidak berbahaya, paling sebulan kesehatannya pasti akan pulih. Tapi pemuda ini, ai, rasanya rada-rada susah ..."
Hiau-hu menjadi cemas, katanya dengan suara kuatir.
"Yah, jiwaku ini adalah berkat pertolongan Ubun-toako ini, maka sedapat mungkin ayah harus ... harus menolongnya pula."
"Siapakah pemuda ini? Cara bagaimana kau bertemu dengan dia? Coba ceritakan padaku,"
Tanya Kok Tionglian dengan ragu-ragu.
Maka berceritalah Hiau-hu tentang apa yang telah terjadi ketika dia memergoki Ki Seng-in sehingga akhirnya dia terluka bersama Ubun Hiong sesudah mengalami pertarungan sengit dengan Utti Keng.
Meski dia telah bercerita sekian lamanya, tapi Ubun Hiong masih belum sadar juga.
Diam-diam Tiong-lian mengakui juga Ubun Hiong memang betul adalah tuan penolong putrinya dan terhitung ksatria muda yang berjiwa luhur.
Cuma sebelum mengetahui asal-usulnya betapapun pemuda ini masih harus disangsikan.
Tengah Hiau-hu bercerita, sementara itu Yap Lenghong juga sudah datang.
Meski dia tidak lengkap mengikuti cerita si nona, tapi telah diketahuinya juga bahwa pemuda yang tak dikenal ini adalah tuan penolong sang Sumoay, bahkan dari nada Sumoaynya dapat diketahui bahwa si nona sangat berterima kasih kepada pemuda itu, malahan memperlihatkan pula semacam perasaan yang susah dikatakan.
Diam-diam Leng-hong merasa cemburu, tapi lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu tanda, katanya kemudian.
"Ya, budi kebaikan Ubun-toako ini kita harus membalasnya dengan baik."
"Menurut pendapatmu cara bagaimana kita harus membalas budinya?"
Tanya Tiong-lian.
"Sesudah Suhu menyembuhkan dia, aku bersedia mengantar dia pulang ke rumahnya,"
Sahut Leng-hong.
"Untuk membalas budinya, Suhu dapat memperkenalkan dia kepada Piau-kiok besar kenalannya di kotaraja, bukankah dia berasal dari keluarga tokoh Piau-kiok? Untuk urusan ini boleh serahkan kepadaku saja."
"Bagus, usulmu ini sangat baik,"
Ujar Tiong-lian.
"Bagaimana pendapatmu, Hay-ko, apakah lukanya berhalangan? Bagaimana kalau dia diantar pulang oleh Leng-hong? Anak Hu, sisa Siau-hoan-tan yang masih ada padamu boleh kau bawakan kepada Suhengmu sekalian."
Belum lagi Kang Hay-thian menanggapi pertanyaan istrinya, dengan cepat Hiau-hu sudah berkata.
"Tidak, menurut pesan ayahnya, dia dilarang berkecimpung di kalangan Piau-kiok lagi. Kita tidak boleh membikin ... membikin susah padanya "Habis menurut pendapatmu cara bagaimana kita harus mengurus dia?"
Tanya Tiong-lian dengan mengerut kening.
Kiranya Kok Tiong-lian mempunyai perhitungan sendiri.
Sejak kedatangan Yap Leng-hong yang pintar mengambil hatinya itu, maka diam-diam ia ada maksud menjodohkan putrinya kepada sang keponakan.
Sekarang tiba-tiba muncul seorang Ubun Hiong yang telah menyelamatkan putrinya, mau tak mau ia menjadi repot menghadapi persoalan ini.
Apalagi melihat sikap Hiau-hu yang begitu gugup mendengar Ubun Hiong akan diantar pulang, diam-diam Tiong-lian membatin.
"Melihat gelagatnya, agaknya anak Hu telah jatuh hati kepada pemuda ini. Walaupun anak muda ini tampaknya boleh juga, tapi mana dapat dibandingkan dengan keponakanku sendiri?"
Dalam pada itu Kang Hiau-hu menjadi kikuk atas pertanyaan ibunya tadi, dengan muka merah ia tidak dapat menjawab.
"Biarlah aku menyembuhkan dia dahulu, segala urusan dapat dibicarakan kelak,"
Demikian kata Kang Hay-thian. Hiau-hu menjadi girang.
"Ya, betul, sesudah Ubun Hiong-toako sembuh barulah kita bicara lebih jauh. Sekarang belum lagi diketahui keadaan lukanya,"
Katanya cepat.
"Anak Hu, ini, beri hormat dahulu kepada Suhengmu,"
Kata Tiong-lian. Tempo hari karena Hiau-hu buru-buru berangkat, maka dia tidak mengetahui tentang asal-usul Yap Lenghong. Dengan heran ia bertanya.
"Apakah paman Yap ini?"
"Dia bukan pamanmu, tapi dia adalah kakakmisanmu,"
Tiong-lian menerangkan. Pada saat itulah mendadak terdengar tenggorokan Ubun Hiong mengorok, terus memuntahkan sekumur darah mati. Hiau-hu terkejut, sebaliknya Hay-thian merasa lega, katanya.
"Baiklah, akhirnya dia dapat tertolong."
Namun demikian, terlihat keningnya masih mengerut, suatu tanda sedang memikirkan sesuatu. Perlahan-lahan Ubun Hiong telah siuman, ketika melihat banyak orang mengelilinginya, ia menjadi kaget.
"Toako, ayah-ibuku telah datang, ayahku yang telah menyelamatkan kau,"
Seru Hiau-hu.
"Ah, kiranya adalah Kang-tayhiap, terimalah hormat Wanpwe,"
Seru Ubun Hiong dan bermaksud memberi sembah hormat. Akan tetapi kaki-tangannya sudah tidak mau diperintah lagi. Cepat Hay-thian menahannya, katanya.
"Jangan banyak adat. Kau telah menolong putriku, untuk inipun aku belum mengucapkan terima kasih padamu. Kau she Ubun, apakah kau berasal dari Kongciu?"
"Betul,"
Sahut Ubun Hiong.
"Darimana Kang-tayhiap mendapat tahu?"
"Ubun Long pernah apamu?"
Tanya Hay-thian pula.
"Beliau adalah ayahku,"
Sahut Ubun Hiong.
"Haha, ketika aku bantu menguatkan tenagamu, aku merasa Lwekangmu ini berasal dari golongan Kim-kongdang, diketahui pula kau she Ubun, aku menduga kau pasti keluarga Ubun Long dan ternyata memang benar. Jika demikian kita bukan lagi orang luar!"
Mendengar ucapan ayahnya ini. Kang Hiau-hu bertambah girang, serunya.
"He, Ubun-toako, kiranya kita ada hubungan kekeluargaan, mengapa tidak kau katakan sejak mula. Yah, dia membawa pula surat tinggalan ayahnya yang dialamatkan kepadamu."
Kiranya Ubun Long adalah murid pertama In Ciau, Incengcu dari Cui-in-ceng di Kengciu.
In Ciau mempunyai seorang putra dan seorang putri.
Putranya, In Khing, memperistri saudara angkat Kang Hay-thian, yaitu putri tabib sakti Hoa Thian-hong dari Hoa-san.
Sedangkan putri In Ciau yang bernama In Bik adalah istri kakak kedua Kok Tiong-lian, yaitu Danu Cu-mu yang kini menjadi raja Masar.
Sebab itulah hubungan kekeluargaan antara Kang Hay-thian dan In Ciau cukup akrab {tentang In Ciau dan putra-putrinya dapat dibaca dalam cerita Peng Ho Swe Kiam/Kisah Pedang di Sungai Es).
Dahulu waktu Kang Hay-thian masih bujangan dan bertemu di rumah In Ciau, di situ dia berkenalan dengan Ubun Long.
Habis itu mereka tidak pernah berjumpa pula.
Walaupun ucapan Kang Hiau-hu agak berlebihan tentang "hubungan kekeluargaan"
Segala, tapi sedikit banyak memang boleh dikata ada hubungan persahabatan. Namun bagi pendengaran Yap Leng-hong tentu saja menimbulkan perasaan tak enak. Tapi lantas terpikir olehnya.
"Biarpun dia pernah ada sedikit hubungan dengan keluarga Kang tapi mana dapat dibandingkan aku yang masih terhitung keponakan ibu guruku sendiri."
Sementara itu Ubun Hiong telah bicara.
"Sungguh malang ayah telah meninggal dunia, beliau meninggalkan surat dan suruh Siautit berkunjung kepada Kangtayhiap."
"Tentang kemalangan ayahmu, tadi aku sudah mendengar dari cerita anak Hu,"
Kata Hay-thian.
"Dimanakah suratnya?"
"Di dalam bajuku,"
Sahut Ubun Hiong.
Karena tidak leluasa bergerak, maka Kang Hay-thian lantas mengambil sendiri surat itu.
Kiranya surat Ubun Long itu menyatakan bahwa dia menginsyafi hayatnya tidak lama lagi di dunia fana ini, maka mohon Kang Hay-thian suka memupuk putranya.
Tentang barang kawalannya yang dirampas orang itu adalah soal biasa di dunia Kangouw, maka bukan maksudnya menyuruh putranya menuntut balas, hanya saja putranya diharapkan akan dapat mengalahkan musuh dan merebut kembali barang kawalan, untuk itu diharapkan Kang Hay-thian mengingat hubungan baiknya dengan gurunya, yaitu In Ciau, dan suka membantu serta mendidik putranya supaya cita-citanya itu dapat terkabul.
Jadi maksud isi surat ini sebenarnya Ubun Long minta agar Kang Hay-thian suka menerima putranya sebagai murid, cuma saja hal ini tidak dikemukakan secara tegas.
Diam-diam Hay-thian berpikir sesudah membaca surat itu.
"Keadaan Ubun Long berbeda dari Li Bun-sing. Persengketaan orang Kangouw seperti dia itu sesungguhnya aku tidak ingin ikut campur. Hanya secara kebetulan begal yang merampas barang kawalannya itu justru adalah penjahat yang menculik pula putra Li Bunsing, maka terpaksa aku tidak dapat tinggal diam."
Sekilas dilihatnya pula keadaan Ubun Hiong yang payah itu, maka terpikir lagi olehnya.
"Dia telah menolong jiwa putriku, tentang membantu dia menuntut balas adalah soal kemudian, paling perlu sekarang aku harus menyelamatkan dia dulu."
Maka kemudian ia berkata.
"Tentang wafatnya ayahmu, apakah pernah kau beri kabar kepada kakek gurumu?"
"Kakek guru sekeluarga sudah pindah dan bermukim di negeri Masar, karena perjalanan terlalu jauh, maka belum mengirim kabar,"
Sahut Ubun Hiong.
"Kakek gurumu terkenal dengan Tay-lik-kim-kongciang yang tiada bandingannya, cuma saja sangat memakan tenaga untuk melatihnya, entah ilmu kakek gurumu itu sudah berapa lama kau latih?"
Tanya Haythian.
"Sudah delapan tahun lamanya,"
Sahut Ubun-Hiong .
"Dan berapa umurmu tahun ini?"
Tanya Hay-thian.
"Tepat berumur delapan belas,"
Sahut Ubun Hiong.
"Jika demikian kau sudah berlatih sejak berumur sepuluh. Untuk melatih Kim-kong-ciang diperlukan tenaga yang kuat, ayahmu membiarkan kau melatihnya sejak masih anak-anak, hal ini menandakan pembawaanmu memang lain daripada yang lain."
"Di waktu kecil tenagaku memang mampu membandingi orang dewasa, tapi sekarang, ai bila teringat keadaan sendiri yang payah sekarang, seketika Ubun Hiong menjadi muram.
"Ayahmu menginginkan kau berlatih ilmu dengan lebih tinggi agar dapat mengalahkan musuh dan merebut kembali barang kawalan yang hilang itu,"
Kata Hay-thian.
"Cuma saja keadaanmu sekarang agaknya tidaklah cocok untuk berlatih Kim-kong-ciang yang memerlukan tenaga kuat."
"Ya, entah kapan kesehatanku baru dapat pulih kembali, tentang menuntut balas kukira tiada harapan lagi,"
Sahut Ubun Hiong dengan tersenyum getir karena insyaf Lwekang sendiri yang telah lumpuh sekarang.
"Kim-kong-ciang adalah ilmu yang mengutamakan kekerasan tenaga, dalam ilmu pedang Thian-san ada semacam Si-mi-kiam-hoat yang mengutamakan kelemasan, jika dilatih bersama Kim-kong-ciang, maka perseimbangan antara keras dan lemas itu akan sangat berguna bagi yang melatihnya untuk menghemat tenaga,"
Demikian Hay-thian menutur.
"Kau telah menolong jiwa putriku, sebagai balas budimu, entah kau suka belajar ilmu dari golongan lain atau tidak? Jika kau suka, maka bolehlah aku mengajarkan Si-mi-kiam-hoat padamu sebagai balas jasa kebaikanmu."
"Jadi kau bersedia menerima Ubun-toako sebagai murid ayah?"
Seru Hiau-hu dengan girang.
"Aku cuma membalas budi kebaikannya saja, Ubunsuheng mempunyai perguruan sendiri, mana boleh aku merebut cucu murid In-loenghiong,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa. Tiba-tiba Ubun Hiong berkata.
"Aku hanya secara kebetulan memergoki dan menghalau musuh bersamasama putri Kang-tayhiap, soal membela keadilan di dunia Kangouw adalah hal-hal yang jamak, iika menginginkan balas jasa apa-apa, itu bukan lagi perbuatan seorang ksatria!"
Kang Hay-thian berbalik rikuh mendengar jawaban si pemuda, tanyanya.
"Jadi kau tidak sudi menerima hadiahku, tidak mau belajar Si-mi-kiam-hoat?"
"Bila Kang-tayhiap mengajarkan kepandaian kepadaku dalam kedudukan sebagai Suhu, sudah tentu akan kuterima dengan senang hati, tapi kalau dimaksudkan sebagai balas jasa apa segala, maka sekali-kali aku tidak berani menerimanya."
Hay-thian tertawa mendengar ucapan yang jitu itu, katanya.
"Baiklah, jika demikian, sementara ini bolehlah kau menjadi calon muridku, bilamana kakek gurumu nanti mengizinkan barulah kelak kau mengadakan upacara pengangkatan guru secara resmi padaku."
Semula Kok Tiong-lian merasa kurang senang melihat sang suami bermaksud menerima Ubun Hiong sebagai murid, pikirnya.
"Aku justru ingin menjauhkan mereka, tapi Hay-ko malah menerimanya sebagai murid, apakah ini takkan membikin susah?"
Namun Kok Tiong-lian juga seorang yang berjiwa luhur, sesudah melihat keadaan Ubun Hiong yang parah, akhirnya ia dapat pula memahami maksud baik sang suami.
Tentang hubungan Hiau-hu di antara kedua Suhengnya nanti, mau tak mau terserahlah kepada keadaan dan nasib masing-masing.
Hiau-hu sendiri sangat senang ketika sudah terang ayajmya telah mengakui Ubun Hiong sebagai murid, segera ia berkata.
"Ubun-toako, mulai sekarang aku akan memanggil kau sebagai Jisuko (kakak seperguruan kedua)."
Sudah tentu hati Yap Leng-hong sangat tidak enak, tapi ia terpaksa tersenyum dan memanggil "Sute"
Juga kepada Ubun Hiong. Kok Tiong-lian lantas berkata pula.
"Leng-hong adalah murid pewaris perguruan, selanjutnya harus memberi bimbingan kepada Sute dan Sumoaynya. Dan kau, anak Hu, Leng-hong adalah Piaukomu, Hiong-ji juga ada hubungan kekeluargaan turun temurun dengan kita, kalian bertiga sekarang adalah saudara seperguruan pula, maka selanjutnya kalian harus bergaul lebih akrab sebagai sesama anggota keluarga sendiri."
Leng-hong dan Ubun Hiong sama-sama mengiakan. Lebih-lebih Hiau-hu, dengan senang ia berkata.
"Ibu jangan kuatir, aku tidak punya kakak, maka aku akan menganggap kedua Suheng ini sebagai kakakku sendiri, takkan berkelahi dan takkan bertengkar dengan mereka."
Sebenarnya dengan ucapan Kok Tiong-lian tadi secara samar-samar ia telah sengaja menonjolkan hubungan Yap Leng-hong dengan keluarga Kang yang lebih rapat daripada Ubun Hiong.
Sudah tentu Ubun Hiong tidak pernah memikirkan maksud lain di balik kata-kata ibu gurunya itu.
Sebaliknya Yap Leng-hong adalah pemuda yang cerdik, diam-diam ia merasa senang, pikirnya.
"Bocah itu tidak lebih cakap daripadaku, entah bagaimana ilmu silatnya, tapi sekarang dia dalam keadaan payah, bilamana keadaannya pulih kembali, tatkala itu kepandaianku tentunya juga sudah maju dan di atasnya. Sumoay tampaknya rada rapat dengan dia, hal ini adalah karena dia telah menolong jiwa Sumoay. Tapi kelak lama kelamaan Sumoay tentu akan merasa segalanya aku lebih baik daripada bocah ini dan mustahil dia takkan penujui diriku? Apalagi ibunya juga berdiri di pihakku. Haha, dapat menangkan sainganku dan merebut hati si cantik, cara demikianlah baru benarbenar menyenangkan."
Kang Hay-thian sendiri tidak mempunyai pikiran panjang dan berbelit-belit sebagaimana sang istri, yang dia harapkan hanya tenteramnya hati saja.
Maka sesudah menerima murid baru, terasa senanglah hatinya, katanya kemudian kepada istrinya.
"Sekarang kita sudah ketemukan anak Hu, maka rencana kita semula harus berubah sedikit. Kau boleh pulang dahulu bersama anak Hiong dan anak Hu, rawatlah luka mereka. Keadaan anak Hu rasanya tidak berhalangan, tapi luka anak Hiong harus diperhatikan, selain diberi obat, sekalian ajarkan dia berlatih Lwekang. Sebatang Jinsom tua yang masih tersimpan di rumah itu bolehlah diminumkan padanya. Nanti sesudah aku pulang baru akan kuajarkan dia Si-mikiam-hoat."
Setelah memberi pesan kepada istrinya, lalu ia berpaling kepada Yap Leng-hong dan berkata pula.
"Kau punya Samsute berada di cengkeraman penjahat, kita masih harus menemukannya kembali. Kau boleh ikut aku ke Tekciu lebih dulu untuk menemui Nyo-pangcu dari Kay-pang. Kita telah minta bantuannya, sesudah sekian hari boleh jadi dia sudah mendapatkan kabar-kabar yang berfaedah bagi kita."
Karena mesti berpisah dengan Kang Hiau-hu, dengan sendiri timbul iri dalam hati Yap Leng-hong.
Tapi demi teringat akan menambah pengalaman Kangouw dengan ikut serta dalam perjalanan sang guru, kesempatan bagus ini susah untuk dicari lagi, maka ia pun menjadi senang dan menurut saja.
Begitulah segera Kang Hay-thian menggendong Ubun Hiong dan Kok Tiong-lian menggendong Kang Hiau-hu, dengan Ginkang mereka yang tinggi, mereka terus mendaki ke atas melalui tebing-tebing yang curam.
Walaupun bertangan kosong dan sudah mengeluarkan segenap tenaga toh Yap Leng-hong masih tak dapat menyusul mereka dan terkadang Kang Hay-thian harus berhenti dahulu untuk menunggunya.
Diam-diam Leng-hong merasa malu dan senang pula, ia merasa beruntung mendapatkan seorang guru pandai, bilamana kelak ia dapat memperoleh setengah dari kepandaian gurunya, maka sudah puaslah baginya.
Sambil berjalan Kang Hay-thian bertanya pada Ubun Hiong tentang asal-usul dan muka Utti Keng.
Kang Hiauhu juga menceritakan pula pengalamannya ketika bertempur melawan Utti Keng dan istrinya.
Sesudah jelas Kang Hay-thian menanyakan keterangan mereka, lalu katanya.
"Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in itu pernah menyampaikan pesannya kepada kakekmu melalui dayangnya, katanya dia tidak bermaksud jahat terhadap putra Li Bun-sing. Tampaknyahal ini tidaklah dusta."
"Darimana ayah mengetahui?"
Tanya Hiau-hu.
"Kau telah memapas rambutnya, tapi sesudah kau terluka parah, kesempatan itu dapat digunakan olehnya untuk membunuh kau, bukankah hal ini tak dilakukan olehnya.?"
"Ini disebabkan dia jeri kepada keluarga Kang kita,"
Kata Hiau-hu.
"Tapi kau tak dibunuhnya, bukankah ini lebih membahayakan dia di kemudian hari?"
Ujar Hay-thian.
"Maka menurut pendapatku tentu ada sebab-sebabnya dia menculik putra Li Bun-sing, dan tak dapat disamaratakan dengan anjing pemburu kerajaan yang bermaksud membikin celaka bocah itu. Pula, dia tak membunuh kau, hal ini menandakan dia sesungguhnya bukan manusia yang kejam."
"Tapi mereka telah merampas pedang dan kudaku, Jisuko telah dilukai pula separah ini, masakah ayah bermaksud mengampuni mereka,"
Kata Hiau-hu dengan uring-uringan. Karena ingin mengambil hati sang Sumoay, segera Leng-hong menimbrung.
"Betul, Suhu, kedua bangsat itu terlalu kurangajar, masakah berani main gila kepada Suhu, jangan sekali-kali Suhu mengampuni dosa mereka itu."
"Aku sudah berjanji akan membela putra Li Bun-sing itu, mana boleh aku tinggal diam tanpa bertindak?"
Sahut Hay-thian dengan sungguh-sungguh.
"Tentang pedang dan kudamu yang hilang itu sudah tentu aku akan berusaha menemukannya kembali dari pihak penjahat itu. Tapi hendaklah kalian ingat, tindakanku ini bukanlah demi martabat keluarga Kang kita. Segala sesuatu harus bicara tentang kebenaran, kalau benar tak perlu gentar kepada siapa pun juga, kalau salah harus mengaku salah dan jangan main menang-menangan meski kalian adalah putri dan murid Kang Hay-thian. Memangnya apakah lantaran kalian adalah putri dan murid Kang Hay-thian, lalu orang lain harus mengalah padamu? Jika demikian jalan pikiran kalian, tentu kelak kalian akan mengalami kesukaran sendiri dan aku pun tak sudi membela orang yang salah, bahkan aku yang lebih dulu akan memberi hukuman yang setimpal. Untuk ini hendaklah kalian camkan betul-betul."
Hiau-hu menunduk dan terdiam dengan mengembeng air mata atas petuah sang ayah.
Sebaliknya Yap Lenghong menjadi lebih kenal siapakah Kang Hay-thian sebenarnya, diam-diam ia bertambah prihatin dan merasa lebih sukar mengambil hati gurunya daripada ibu guru.
Tengah bicara, mereka pun sudah keluar dari lembah sunyi itu.
Hay-thian menyuruh Yap Leng-hong mencari sebuah kereta ke kampung yang berdekatan, dengan kereta itu Hiau-hu dan Ubun Hiong dikirim pulang di bawah pengawalan Kok Tiong-lian.
Sedangkan Hay-thian sendiri bersama Leng-hong lantas menuju ke Tekciu.
Melihat kedatangan Kang Hay-thian, pemimpin Kaypang di Tekciu, Nyo Pit-tay, menyambutnya dengan gembira dan menahannya untuk tinggal beberapa hari di situ.
Hay-thian juga tahu dalam Kay-pang adalah cara mengirim berita dengan burung merpati, maka ia pun tidak menolak dan tinggal sementara di markas Kay-pang daripada mencari berita sendiri tanpa arah tujuan.
Dan benar juga dua hari kemudian, datanglah sebuah berita.
Berita ini dikirim dari cabang Kay-pang di Khayhong dengan merpati dan mengatakan bahwa tokoh Kay-pang yang bernama Goan It-tiong telah melihat penjahat yang dicari dalam perjalanan di sekitar Ting-to-koan, yang memergoki penjahat itu terdapat pula Kam Jin-liang dan Lim Seng dari Bin-san-pay, mereka telah bergebrak dengan musuh, adalah keterangan yang lebih jelas akan disampaikan sendiri oleh Goan It-tiong bertiga yang kini sedang menuju ke Tekciu untuk menemui Kang Haythian.
Nyo Pit-tay terkejut mendapat laporan itu, katanya.
"Goan-hiangcu sudah mewarisi kepandaian Tiongpangcu, ditambah bantuan Kam-cianpwe dan Limcianpwe dari Bin-san, tapi mereka toh tak dapat membekuk musuh, agaknya mereka malah kecundang. Jika demikian jelaslah musuh teramat lihai. Sekarang musuh sudah berada di wilayah Holam, rasanya harus minta paderi sakti Siau-lim-si ikut turun tangan."
Bahwasannya Utti Keng telah melukai Kang Hiau-hu, sudah tentu Kang Hay-thian dapat menilai betapa kepandaiannya, maka ia tidak kaget sebagaimana Nyo Pit-tay, hanya saja ia pun merasa di luar dugaan bahwa kepandaian Utti Keng suami-istri ternyata melampaui perkiraannya semula.
Tatkala itu Kay-pang sekte utara dan sekte selatan sudah berfusi, sudah bergabung menjadi satu.
Pangcu sekte selatan semula, Ek Tiong-bo, kini sudah pensiun dengan gelar Tianglo (sesepuh), segala urusan organisasi telah dipegang semua oleh Pangcu sekte utara yang kini sudah merupakan Kay-pang kesatuan, yaitu Tiong Tiangthong.
Goan It-tiong itu adalah murid pertama Tiong Tiangthong dan sudah berhasil meyakinkan Kun-goan-it-khikang dan ilmu silatnya sekarang terhitung jago nomor tiga di dalam Kay-pang, hanya lebih rendah daripada gurunya serta wakil Pangcu Ko Thian-hong.
Adapun Kam Jin-liong adalah putra Kam Hong-ti, pendekar besar termasyhur di masa beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan Lim Seng adalah murid angkatan ketiga dari Bin-san-pay.
Usia kedua orang itupun sudah lanjut dan juga sudah lama merupakan sesepuh Bin-san-pay.
Pendek kata mereka bertiga adalah tokoh-tokoh terkemuka dari dunia persilatan.
Tapi dengan tenaga gabungan mereka bertiga toh masih kecundang, tentu saja hal ini membuat Nyo Pit-tay terkejut dan agak di luar dugaan Kang Hay-thian.
Maka Hay-thian lalu berkata.
"Ting-to-koan terletak di perbatasan Holam dan Soatang, berita itu diterima cabang kalian di Khayhong, lalu diteruskan ke sini, rasanya peristiwa itu sedikitnya terjadi pada dua-tiga hari yang lalu. Sekarang mereka bertiga sedang menuju kemari, tentu akan dapat tiba besok atau lusa. Biarlah kita tunggu mereka dulu untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya dan tidaklah perlu membikin repot para paderi sakti Siau-lim-si."
Karena itu maka urunglah maksud Nyo Pit-tay hendak minta bantuan kepada Siau-lim-si.
Benar juga, besoknya waktu lohor, Goan It-tiong bertiga sudah datang.
Tatkala itu Kang Hay-thian sedang asyik bicara dengan para tokoh persilatan kota Tekciu.
Maka Goan It-tiong bertiga segera dikerumuni untuk ditanya mengenai pengalaman mereka.
"Kami telah menerima Eng-hiong-tiap dari Kangtayhiap,"
Demikian Kam Jin-liong mulai bicara.
"maka anak murid Bin-san-pay lantas kami kerahkan untuk mencegat ke berbagai jurusan untuk menghadang musuh. Aku satu jurusan bersama Lim-sute dan kebetulan di daerah Ting-to-koan kami melihat Goanhiangcu sedang bergebrak dengan penjahat itu."
"Kedua penjahat itu terdiri dari suami-istri, tapi tidak membawa anak kecil,"
Sambung Goan It-tiong.
"Semula aku merasa ragu-ragu apakah mereka itulah sasaran yang dimaksudkan Kang-tayhiap atau bukan. Belakangan kami menjadi yakin karena mengenali kuda mereka adalah milik keluarga Kang-tayhiap, berdasar itu pula kami lantas menghadang dan menegur mereka."
Yang paling diperhatikan Hay-thian adalah putra Li Bun-sing, maka ia menjadi kecewa demi mendengar penjahat-penjahat itu tidak membawa serta anak kecil.
"Penjahat berewok itu benar-benar sangat ganas,"
Demikian Goan It-tiong meneruskan.
"Begitu ditegur tentang putra Li Bun-sing, serentak ia menjawab aku dengan cambukan, dengan bertangan kosong aku lantas melayani dia. Maksudku hendak menangkapnya hiduphidup untuk ditanyai, maka aku tidak berani sembarangan menggunakan Kun-goan-kang. Kepandaian bangsat itupun sangat lihai, aku tidak dapat merebut cambuknya, sebaliknya malah kena tercambuk dua kali. Bangsat wanita itu bahkan lantas membentak, 'Anak Li Bun-sing bukan urusan kalian, kalau ingin hidup hendaklah lekas enyah!', sedangkan bangsat berewok itu juga membentak, 'Mana boleh membiarkan dia enyah, bunuh dan habis perkara!', lalu ia menerjang dengan kudanya, beruntun cambuknya menyabet pula. Aku menjadi murka, kontan aku menghantamnya dengan Kun-goan-kang. Bangsat itu tergeliat di atas kudanya, tapi tidak sampai terperosot jatuh. Pada saat itulah pedang si bangsat wanita juga telah menyambar ke arahku, saking cepatnya aku tidak sempat menghindar. Ai, benar-benar memalukan!"
Sampai di sini ia lantas menanggalkan kopiahnya, maka tertampaklah sebagian rambutnya tercukur sampai kelihatan kulit kepalanya.
"Sejak berkecimpung di dunia Kangouw, belum pernah aku mengalami kecundang seperti ini,"
Kata It-tiong pula "Tapi harus diakui pula, tebasan bangsat wanita yang sangat cepat itu sebenarnya dapat membikin jiwaku melayang, tapi rupanya dia sengaja bermurah hati padaku."
Mendengar itu, semua orang ikut terperanjat. Diamdiam Kang Hay-thian membatin pula.
"Untunglah Utti Keng itu telah mengalami cidera lebih dulu di lembah sunyi itu, kalau tidak, pasti Goan It-tiong akan menderita lebih hebat lagi. Rupanya Ki Seng-in telah terpapas rambutnya oleh anak Hu, maka ia pun membalas dengan cara yang sama atas diri Goan It-tiong, dasar pikiran wanita yang sempit."
Dalam pada itu Kam Jin-liong lantas menyambung lagi.
"Pada saat berbahaya itu, kebetulan aku dan Limsute menyambitkan Tau-kut-ting (paku penembus tulang) dan sebuah di antaranya mengenai bangsat berewok itu, cuma sayang tidak kena di tempat yang mematikan. Pedang yang digunakan bangsat wanita itu adalah pedang pusaka, paku-paku Lim-sute itu kena disampuk jatuh olehnya dan hancur. Pedang pusaka itu tampaknya mirip ... mirip dengan..."
"Ya, memang betul aku punya Cay-in-pokiam yang telah dirampas oleh bangsat berewok itu dari tangan putriku,"
Kata Hay-thian.
"Dengan kuda dan pedang rampasan yang hebat itu, kedua bangsat itu benar-benar seperti harimau tumbuh sayap, mungkin sukar untuk diburu lagi,"
Sambung Kam Jin-liong.
"Waktu itu kami bertiga mestinya dapat menangkan mereka berdua. Dengan Pek-poh-sin-kun (pukulan sakti dalam seratus langkah) aku telah mencoba pukulan Pik-khong-ciang si bangsat berewok, boleh jadi lantaran telah kehilangan tenaga ketika mengadu pukulan dengan Khun-goan-kang dari Goansuheng, ia telah menyemburkan darah, sebaliknya aku terjatuh dari kudaku. Cuma kudanya teramat cepat, begitu terluka ia lantas kabur bersama istrinya."
Setelah mendengarkan kisah Goan It-tiong bertiga, akhirnya Nyo Pit-tay berkata.
"Sekarang terpaksa kita mengirimkan berita kepada kawan-kawan Kangouw untuk mencari tahu jejak bangsat itu. Bilamana mendapat kabar, segera Kang-tayhiap akan membekuknya sendiri."
Diam-diam Kang Hay-thian merasa susah juga, Jikliong-ki dan Pek-liong-ki, kedua kudanya yang bagus itu teramat cepat larinya, untuk mencari jejak musuh benarbenar tidaklah gampang.
Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik disertai suara derapan yang berdetak-detak cepat, semula kedengaran masih jauh, tapi dalam waktu singkat saja sudah sampai di depan pintu.
Nyo Pit-tay terkejut.
"Cepat amat kedua ekor kuda itu!"
Pujinya. Kang Hay-thian juga rada heran, katanya.
"Leng-hong, coba kau keluar melihat siapakah yang datang itu?"
Waktu Leng-hong sampai di luar, di situ sudah ada beberapa anak murid Kay-pang yang sedang pasang mata.
Tertampaklah dua ekor kuda sedang mendatangi secepat terbang, setiba di depan pintu mendadak lantas berhenti.
Leng-hong sangat terperanjat ketika mengenali kedua penunggang kuda itu.
Kiranya pendatang itu adalah seorang laki-laki dan seorang wanita.
Yang lelaki itu penuh berewok, yang wanita adalah Ki Seng-in yang pernah mengalahkannya tempo hari.
Walaupun laki-laki berewok itu belum dikenalnya, namun dari cerita Kam Jin-liong dan Ubun Hiong tadi dapatlah diduga dia pasti suami Ki Seng-in, yaitu Utti Keng adanya.
Dan kedua ekor kuda yang mereka tunggangi itu tak lain tak bukan adalah milik Kang Hay-thian, yaitu Jik-liong-ki dan Pekliong-ki.
"Kang-tayhiap berada di sini, bukan?"
Segera Utti Keng bertanya dengan suara lantang sambil mengacungkan pecutnya.
Karena tidak tahu siapa dia, maka anak murid Kaypang itu tidak berani memberi jawaban.
Sebaliknya Yap Leng-hong merasa dijagoi gurunya, hatinya menjadi tabah, segera ia mencabut pedang dan membentak.
"Bangsat kurangajar, kami justru ingin mencari kau, sekarang kau datang cari mampus sendiri. Ini, lihat pedang!"
Akan tetapi dengan tenang-tenang saja Utti Keng dan Ki Seng-in turun dari kuda sambil kebut-kebut debu yang memenuhi pakaian, terhadap teriakan Yap Leng-hong itu mereka tak menggubrisnya.
"Siapakah bocah ingusan ini?"
Demikian Utti Keng bertanya kepada istrinya dengan acuh tak acuh. Di sebelah lain, meski sikapnya garang, tapi sebenarnya hatinya jeri.
"Apakah Suhu tidak mendengar suaraku tadi?"
Demikian pikir Leng-hong.
Rupanya ia memperhitungan pada saat dia mulai bergebrak dengan musuh, pada saat itu pula gurunya juga sudah muncul, dengan demikian dia akan kelihatan gagah berani, tapi juga tidak sampai dikalahkan musuh.
Karena itu sambil memutar pedangnya, Yap Lenghong hanya memburu maju dua-tiga langkah, lalu berhenti dengan maksud mengulur tempo.
Tiba-tiba terdengar Ki Seng-in berkata, dengan tertawa pada suaminya.
"Bocah ini adalah orang yang mengawal anak itu ke rumah keluarga Kang bersama Siau Ci-wan tempo hari. Melihat sikapnya ini terang sekali Kang Hay-thian tentu berada di sini."
Rupanya Yap Leng-hong sudah kapok terhadap Ki Seng-in suami-istri itu yang mulai memapak ke arahnya. Leng-hong menjadi gugup dan segera berteriak-teriak pula.
"Suhu, Su "Kedatangan kami bukan untuk berkelahi. Apakah Kang-tayhiap adalah gurumu? Bagus, sangat kebetulan!"
Kata Utti Keng dengan tertawa.
Dan sebelum Yap Leng-hong sempat meneruskan teriakannya, tiba-tiba genggaman tangannya terasa kesemutan, tanpa terasa pedangnya terlepas dari cekalan dan jatuh ke atas tanah.
"Terimalah ini!"
Bentak Utti Keng pula sambil mengayun sebelah tangannya, suatu benda kehitamhitaman secepat kilat lantas menyambar ke arah Yap Leng-hong.
Karena tidak sempat membedakan benda apakah itu, secara otomatis Leng-hong lantas menangkap benda itu dengan cara seperti menangkap senjata rahasia musuh.
Ia merasa benda itu sangat keras, tapi tidak menyakitkan tangannya, rupanya musuh tidak menimpuk dengan tenaga yang kuat.
Waktu diperiksanya, kiranya benda itu adalah sebuah kotak persegi yang biasanya berisi kartu nama untuk dipersembahkan kepada tuan rumah.
Kiranya Utti Keng telah membersihkan sebutir tanah liat yang melekat pada berewoknya, tanah itu lalu digunakan untuk menimpuk tangan Yap Leng-hong sehingga pedangnya terlepas, menyusul kotak kecil itu lantas dilemparkan pula kepada pemuda itu.
"Kau bocah ini sesungguhnya tidak kenal adat, tapi mengingat gurumu, tidak perlu kuperkarakan lebih jauh. Hendaklah kotak itu lantas kau sampaikan kepada gurumu saja,"
Kata Utti Keng.
Muka Yap Leng-hong menjadi merah.
Tapi kotak kecil itu adalah untuk gurunya, ia tidak berani membuangnya.
Sementara itu seorang murid Kay-pang telah menjemput pedangnya yang jatuh tadi dan berkata padanya.
"Tamu yang datang ini ingin bertemu dengan Kang-tayhiap, maka biarlah kita laporkan saja kepada beliau."
"Bagus, anak murid Kay-pang memang lebih tahu aturan Kangouw daripada bocah ingusan yang tengik ini,"
Kata Utti Keng dengan tertawa.
"Nyo-thocu adalah tuan rumah di sini, sebagai tamu, kami harus menghormatinya pula. kotak kecil itu tolonelah dibawa masuk sekalian."
Keruan Yap Leng-hong sangat mendongkol karena diolok-olok, bahkan didengarnya kedua tamu suami-istri itu sedang bicara sendiri dan menyindirnya pula mengapa Kang-tayhiap menerima seorang murid yang demikian tengik dan tak becus?
Ia kuatir mendengar sindiran-sindiran dan olok-olok yang lebih menyinggung lagi, cepat saja ia putar tubuh dan berlari masuk ke dalam.
Dan baru saja dia bersama murid Kay-pang tadi mempersembahkan kotak kecil itu, tiba-tiba terdengar suara Utti Keng berkumandang dari luar.
"Utti Keng dari Liautang mohon bertemu dengan Kang-tayhiap!"
Nyata yang digunakan adalah ilmu mengirimkan gelombang suara dan secara tepat diucapkan pada saat kotak kartu namanya dihaturkan. Para ksatria terkejut semua.
"Hahaha, besar juga nyali sobat Kangouw ini, kukira boleh juga ditemui,"
Ujar Kam Jin-liong sambil tertawa. Cepat Leng-hong ikut membuka suara.
"Suhu, penjahat ini Belum sempat dia bicara lebih lanjut, Kang Hay-thian sudah memberi tanda agar semua orang diam.
"Jika sobat ini minta bertemu secara terhormat, maka kita juga harus menerimanya dengan baik-baik,"
Kata Hay-thian, lalu ia pun berseru.
"Orang she Kang berada di sini, silakan masuk!"
Ucapan Kang Hay-thian ini kedengarannya perlahan, tapi nyaring berkumandang jauh, bukan saja Utti Keng suami istri dapat mendengar dengan jelas, bahkan segenap anggota Kay-pang yang berada di sekitar perumahan Kay-pang itupun dapat mendengarnya.
Teranglah Lwekang Kang Hay-thian itu entah betapa jauh lebih tinggi kalau dibandingkan Utti Keng.
Dengan langkah lebar segera Utti Keng dan istrinya masuk ke dalam.
Dengan perasaan tegang para ksatria menantikan kejadian selanjutnya, entah cara bagaimana Kang Hay-thian akan menghadapi tamunya?
Begitu masuk segera Utti Keng merasa perhatian semua orang dipusatkan kepada dirinya dan Kang Haythian.
Maka langsung ia menuju ke arah Kang Hay-thian, dengan penuh hormat ia menyapa.
"Yang ini apakah Kang-tayhiap adanya?"
Hay-thian cepat berdiri dan balas menghormat, sahutnya.
"Terima kasih atas sebutan kehormatan itu. Entah Utti Thocu ada petunjuk apa?"
Mendadak Utti Keng melolos pedang.
Itulah Cay-inpokiam milik Kang Hay-thian yang dirampasnya dari Kang Hiau-hu tempo hari.
Semua orang terkejut.
Sebaliknya Kang Hay-thian tenang-tenang saja, ia membiarkan dan ingin tahu apa yang hendak diperbuat orang.
"Cret", mendadak Utti Keng menggunakan pedang itu untuk menusuk lengannya sendiri, lalu berseru lantang.
"Utti Keng pernah melukai putri kesayangan Kang tayhiap, hari ini aku sengaja datang untuk menerima hukuman, sekarang lebih dulu aku hukum diriku sendiri, apabila Kang-tayhiap sudi memberi ampun barulah aku akan bicara, kalau tidak, terserahlah kepada Kangtayhiap untuk melaksanakan hukuman apa padaku."
Tindakan tamunya ini benar-benar di luar dugaan Kang Hay-thian, cepat ia menjawab.
"Ah, setiap pertarungan sudah tentu tidak terhindar dari terluka, tentang kejadian itu, putriku juga telah membikin susah nyonya Utti dan muridku pernah melukai Utti Thocu, maka masing-masing tidak perlu salah menyalahkan. Cara Utti Thocu menghukum diri sendiri ini membikin aku merasa tidak enak. Bahkan aku ingin mengucapkan terima kasih kepada nyonya Utti yang telah bermurah hati kepada putriku yang sembrono itu."
Mestinya Ki Seng-in masih mendongkol karena sebagian rambutnya telah terpapas oleh pedang Kang Hiau-hu sehingga sekarang dia terpaksa memakai ikat kepala.
Demi mendengar kata-kata Kang Hay-thian itu, mau tak mau ia membalas hormat dan berkata.
"Kangtayhiap benar-benar seorang besar dan berjiwa besar pula."
Tiba-tiba Kang Hay-thian mengeluarkan sebutir obat, sekali pencet terus menjentik, obat pil itu terus melayang dan menempel di atas luka lengan Utti Keng yang mengalirkan darah itu, seketika darah lantas mampet.
Dengan pemberian obat ini, hal ini menandakan persengketaan kedua pihak telah dapatlah diselesaikan.
Segera Utti Keng menghaturkan Cay-in-pokiam pula dan berkata.
"Banyak terima kasih atas kebijaksanaan Kang-tayhiap yang telah sudi mengampuni kesalahanku. Pedang dan kuda dengan ini kami pulangkan kembali. Kedua ekor kuda itu berada di luar tanpa kurang sesuatu apapun."
"Hahaha, pedang dan kuda hanya benda-benda sepele saja, betapapun nilainya juga tak dapat dibandingkan manusianya,"
Kata Kang Hay-thian dengan terbahakbahak.
"Utti Thocu, maafkan kalau aku bicara secara blak-blakan saja. Yang aku ingin minta kembali adalah manusianya."
"Tentang urusan ini memangnya aku pun ingin bicara dengan Kang-tayhiap, bagaimana kalau kita mencari suatu tempat lain?"
Sampai di sini mendadak Utti Keng memberi hormat kepada para hadirin, lalu menyambung.
"Aku pun tahu para hadirin di sini adalah sobat-sobat baik semua dan bukanlah orang luar. Tapi karena urusan ini terlalu ruwet serta menyangkut pribadi kami suamiistri, maka terpaksa aku hanya ingin bicara empat mata dengan Kang-tayhiap saja."
Utti Keng kenal watak kaum ksatria Kangouw, daripada main sembunyi-sembunyi dan dicurigai, lebih baik ia bicara secara terus terang saja.
"Baiklah, jika demikian harap Nyo-thocu sudi memberi pinjam suatu tempat lain,"
Kata Hay-thian kemudian.
Segera Nyo Pit-tay membawa Kang Hay-thian dan Utti Keng suami-istri ke suatu kamar yang rapat, lalu ia sendiri menyingkir pergi dan melarang anak murid Kaypang mendekati kamar itu.
Sesudah menutup pintu kamar, berkatalah Hay-thian dengan tertawa.
"Sekarang bolehlah Utti Thocu bicara, tanggung takkan didengar oleh orang luar."
"Adik In, silakan kau bicara dulu,"
Kata Utti Keng.
"Kang-tayhiap, kedatangan kami ini adalah untuk menyatakan isi hati kami,"
Demikian Ki Seng-in memulai.
"Meski suamiku biasanya melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa modal (maksudnya membegal), tapi maksud tujuan kami merampas anak kecil itu dari tangan Siau Ciwan bukanlah karena menginginkan sesuatu keuntungan "Untuk ini aku dapat mempercayai kalian,"
Sela Haythian.
"cuma "Ya, mungkin Kang-tayhiap ingin tahu apa sebabnya,"
Potong Ki Seng-in.
"Biarlah kukatakan terus terang, Li Bun-sing sebenarnya adalah aku punya Piauko (kakak misan), dia mengalami nasib malang, maka aku ingin memelihara putra yatimnya itu."
"Bukanlah maksudku hendak berebut anak itu dengan kalian,"
Ujar Hay-thian.
"Soalnya pada saat ajalnya, Li Bun-sing telah memberi pesan kepada Siau Ci-wan agar anak itu dibawa kepadaku dan minta aku menerimanya sebagai murid. Aku belum pernah kenal muka Li Bunsing, tapi seorang laki-laki sejati harus pegang janji. Li Bun-sing sedemikian mempercayai diriku dan memasrahkan nasib putra yatimnya padaku, mana boleh aku mengecewakan harapannya? Jika bocah itu sudah berada di rumahku, terkadang kalian pun dapat menjenguknya."
"Kang-tayhiap sudi menerima bocah itu sebagai murid, sudah tentu bocah itu sangat beruntung, cuma sayang bocah itu mungkin tiada mempunyai rezeki demikian,"
Kata Seng-in dengan tersenyum getir.
"Apa maksud ucapanmu ini?"
Tanya Hay-thian.
Baca Juga: Tengkorak Maut 3
Baca Juga: Legenda Golok Halilintar 1