Geger Dunia Persilatan 3

Eps 3 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen

Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen

Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.

"Sungguh memalukan, kami tak dapat mempertahankan bocah itu sehingga telah diculik oleh musuh lagi,"

Kata Seng-in.

"Ya, kekuatan musuh teramat besar, merasa tidak sanggup merebutnya kembali, maka kami sengaja datang kemari untuk minta bantuan kepada Kangtayhiap,"

Demikian Utti Keng menambahkan.

"Baik, coba kalian ceritakan seluk-beluk persoalannya,"

Sahut Hay-thian.

"Tak peduli tokoh macam apakah pihak lawan itu, sekali aku sudah ikut campur urusan ini, maka sudah pasti aku tetap akan ikut campur."

Maka berceritalah Utti Keng dan Ki Seng-in suatu kejadian yang mengejutkan, juga pada Kang Hay-thian.

Apa yang diceritakan ini akan diceritakan lebih lanjut di bagian belakang.

Sementara itu para ksatria sedang menunggu di luar dan sampai sekian lamanya masih belum nampak Kang Hay-thian keluar.

Seketika ramailah mereka membicarakannya.

"Utti Thocu itu meminta maaf dengan mengalirkan darahnya, perbuatannya itu sungguh harus dipuji, benarbenar seorang ksatria sejati,"

Ujar Kam Jin-liong.

"Dan Kang-tayhiap sendiri tidak kehilangan gaya seorang pendekar besar,"

Ujar Goan It-tiong.

"Tapi hati manusia susah diduga, kita belum kenal asal-usul Utti Thocu itu dan jangan terburu mempercayainya dahulu,"

Ujar Lim Seng.

"Aku justru kuatir Kang-tayhiap terlalu baik hati sehingga gampang ditipu orang."

Yap Leng-hong sudah teramat benci kepada Utti Keng dan Ki Seng-in, kesempatan ini segera digunakan olehnya untuk membakar.

"Benar, ilmu silat Suhu teramat tinggi, musuh tidaklah mudah menjebaknya, aku hanya kuatir beliau kena ditipu oleh kata-kata manis penjahat. Aku mempunyai suatu akal, bilamana Suhu melepaskan penjahat begitu saja, kita dapat mencegatnya di tengah jalan sana dengan sedikit permainan."

"Tidak, kukira kurang baik,"

Ujar Goan It-tiong.

"Terhadap kaum jantan kita harus pakai aturan, terhadap kaum pengecut barulah kita boleh memakai tipu muslihat. Sekarang kita belum kenal apakah Utti Keng itu seorang jantan atau seorang pengecut, mana boleh kita mendahului berbuat licik dengan tidak mengindahkan kepada Kang-tayhiap?"

Dan baru saja Yap Leng-hong ingin menghasut lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara Utti Keng yang keras sedang berkata.

"Maaf, membikin susah saudara-saudara menunggu terlalu lama!"

Ternyata Utti Keng suami-istri sudah keluar kembali dengan diiringi Kang Hay-thian.

"Nyo-thocu harap kau menyumbangkan dua ekor kuda kepada Utti Thocu sebagai tanda persahabatan,"

Seru Hay-thian.

"Hahaha! Aku sudah mengatakan Utti Thocu adalah sahabat sejati, nyatanya memang tidak salah,"

Seru Kam Jin-liong sambil bergelak tertawa.

"Haha, tidak berkelahi tidak saling kenal, kita sudah lebih dulu mengikat persahabatan."

"Ya, Kam-tayhiap punya Pek-poh-sin-kun (pukulan sakti seratus lanekaru benar-benar sangat mengagumkan,"

Ujar Utti Keng dengan rendah hati sambil memberi salam.

"Utti Thocu punya Pik-khong-ciang (pukulan kosong dari jauh) juga tidak kurang lihainya,"

Demikian Kam Jin-Iiong balas memuji.

Lalu bergelak tertawalah kedua orang itu.

Sementara itu anggota Kay-pang sudah menyiapkan dua ekor kuda, segera Utti Keng dan Ki Seng-in memberi hormat dan mohon diri.

Sesudah Utti Keng berdua berangkat, para ksatria lantas merubungi Kang Hay-thian untuk minta keterangannya.

"Sekarang sudah selesai semuanya, tidak perlu kuatir lagi,"

Kata Hay-thian.

"Bagaimana dengan anak itu?"

Tanya Nyo Pit-tay.

"Dimana beradanya bocah itu sudah diketahui dan tidak perlu mengerahkan orang banyak lagi,"

Kata Haythian.

"Sekarang silakan Nyo-thocu menyampaikan berita agar kawan-kawan kita jangan mempersukar lagi kepada Utti Keng suami-istri. Atas bantuan kalian ini aku pun merasa sangat berterima kasih, biarlah kelak akan kubalas kebaikan saudara-saudara."

Mestinya Nyo Pit-tay dan lain-lain meminta Kang Haythian tinggal beberapa hari lagi di situ, akan tetapi Kang Hay-thian menjadi ragu-ragu. Tiba-tiba Yap Leng-hong menyela.

"Mungkin para paman tidak tahu bahwa Sumoayku telah mengalami sedikit luka ketika bertarung melawan penjahat itu tempo hari, maka ..."

"Ya, aku benar-benar sudah pikun sampai melupakan luka keponakan perempuanku itu,"

Ujar Nyo Pit-tay sambil menepuk kening sendiri.

"Jika demikian, sudah tentu Kang-tayhiap ingin lekas-lekas pulang ke rumah."

Kang Hay-thian juga tidak menyangkal atau membenarkan alasan Yap Leng-hong itu.

Padahal Lenghong sebenarnya cuma mencari alasan saja agar dirinya bisa ikut gurunya lekas pulang ke rumah untuk mendekati sang Sumoay.

Begitulah Hay-thian lantas mohon diri kepada para ksatria.

Jik-liong-ki dan Pek-liong-ki yang sekarang telah pulang kandang itu kebetulan dapat digunakan oleh mereka guru dan murid.

Maka dengan cepat mereka sudah belasan li meninggalkan kota Tekciu.

"Suhu, mengapa jalan ini yang dituju, ini bukan jalan untuk pulang ke rumah?"

Tanya Leng-hong tiba-tiba.

"Ya,"

Jawab Hay-thian sambil menahan kudanya.

"Aku justru ingin mengatakan padamu, kita memang tidak akan pulang ke rumah."

Leng-hong tercengang.

"Tidak pulang? Habis akan kemana?"

Tanyanya.

"Kita harus selekasnya menuju ke Pakkhia,"

Sahut Hay-thian.

"Untuk apa. Suhu?"

Tanya Leng-hong dengan bingung.

"Kau punya Samsute telah jatuh ke tangan antekantek kerajaan, sekarang dia sedang digelandang ke kotaraja,"

Demikian Hay-thian menjelaskan.

"Cuma kita tidak tahu arah mana yang mereka ambil, bilamana di tengah jalan dapat memergoki mereka, terpaksa kita harus menyusul ke kotaraja untuk menolongnya!"

Kiranya Li Kong-he sebenarnya telah dibohongi oleh orang yang melarikannya dan mengaku bernama Loklotoa itu.

Sesungguhnya Lok-lotoa itu sama sekali tidak pernah bertemu dengan Li Bun-sing, apalagi mengenalnya, lebih-lebih bicara tentang mengangkat saudara apa segala.

Habis untuk apakah Lok-lotoa itu membohongi Li Kong-he?

Hal ini memang ada maksud tujuan tertentu.

Nama asli Lok-lotoa itu sebenarnya ialah Lok Khik-si, dia punya dua saudara angkat, masing-masing bernama Yo Tun-hou dan Be Sing-liong, mereka bertiga adalah kaum bandit yang biasa beroperasi di lereng gunung Kilian-san.

Orang-orang Lok-lim di daerah barat-laut menyebut mereka sebagai 'Ki-lian-sam-siu' (tiga binatang dari pegunungan Ki-lian), yaitu berhubungan dengan nama mereka, Lok-Khok-si berarti menjangan menjatuhkan badak, Yo Tun-hou berarti kambing menelan harimau dan Be Sing-liong berarti kuda menangkan naga.

Akhir-akhir ini Ki-lian-sam-siu diam-diam telah kena dipelet oleh kerajaan Boan-jing sehingga mereka telah menjadi antek pemerintah dan langsung di bawah perintah Tay-lwe-congkoan (komandan pasukan pengawal istana) Bok Ting-ca.

Peristiwa penggrebegan organisasi rahasia Thian-lihwe sekali ini adalah hasil kerja sama antara Bok Ting-ca dengan komandan Ham-limkun (pasukan ibukota) Sat Hok-khong.

Karena Li Bun-sing telah mati, maka Bok Ting-ca telah memberi perintah agar putra yatim Li Bun-sing harus ditangkap.

Maksud tujuannya bukanlah melulu ingin "babat rumput seakar-akarnya', yang lebih penting lagi adalah dari bocah ini diperoleh keterangan-keterangan lebih lanjut untuk menangkap seorang pemimpin Thianli-hwe yang lebih penting dari Li Bun-sing, yaitu Lim Jing, wakil ketua Thian-li-hwe.

Hubungan Lim Jing dan Li Bun-sing melebihi saudara sekandung, kali ini mereka telah meloloskan diri bersama-sama, kemudian Li Bun-sing yang telah menyaru sebagai Lim Jing serta putranya untuk memancing pengejaran kerajaan.

Jadi dengan jiwanya sendiri Li Bung-sing telah berhasil menyelamatkan Lim Jing.

Menurut perhitungan Bok Ting-ca dan Sat Hokkhong, hanya Li Bun-sing saja yang mengetahui tempat persembunyian Lim Jing, sebelum mati, besar kemungkinan pula Li Bun-sing telah menyerahkan dokumen-dokumen Thian-li-hwe yang penting kepada putranya.

Sebab itulah bilamana ingin menangkap Lim Jing dan memperoleh rahasia-rahasia Thian-li-hwe, maka titik tolaknya harus dimulai atas diri putra Li Bun-sing, yaitu Li Kong-he.

Begitulah, maka sesudah menerima perintah Bok Tingca itu, segera Ki-Iian-sam-siu mulai mencari jejak Li Kong-he.

Lok Khik-si tahu sejarah Ki Seng-in yang pernah main asmara dengan Li Bun-sing dan diketahui pula bahwa Ki Seng-in juga sedang mencari bocah ini.

Maka sepanjang jalan ia lantas menguntit Ki Seng-in dan akhirnya dapat merebut Kong-he dari tangan Ki Seng-in.

Sesudah Ki Seng-in dan Utti Keng meninggalkan lembah sunyi itu, makin dipikir mereka makin curiga, sebab sama sekali tiada alasan Lok Khik-si berebut anak Li Bun-sing dengan mereka.

Utti Keng adalah bandit yang tersohor di daerah Liautang dan mempunyai hubungan luas dengan sesama golongannya.

Tentang Ki-lian-sam-siu telah menjadi antek kerajaan dengan sendirinya gampang diselidiki.

Keruan suami-istri itu sangat terkejut ketika mengetahui seluk-beluk Lok-lotoa yang kini telah mengekor kepada pemerintah kerajaan.

"Bagaimana kita harus bertindak, Toako?"

Tanya Ki Seng-in dengan kuatir kepada sang suami, walaupun dia mempunyai perasaan cinta dan benci kepada ayah-bunda Li Kong-he, namun apapun juga dia tidak dapat membiarkan putra orang yang pernah dicintainya itu jatuh ke dalam cengkeraman musuh.

Meski iri juga karena sang istri tidak pernah melupakan kekasihnya yang dahulu, namun Utti Keng toh seorang jantan, dengan ikhlas ia lantas menjawab.

"Biarpun jiwa Toakomu harus melayang juga pasti akan menemukan kembali bocah itu."

Ki Seng-in sangat terharu, katanya.

"Toako, kau ... kau "Li bun-sing toh sudah mati, aku pun tahu kau sesungguhnya juga cinta padaku, masakah aku mesti cemburu padanya lagi?"

Sahut Utti Keng dengan tertawa.

"Bocah itu kau yang menghilangkan, kalau kita tak menemukannya kembali tentu akan berdosa terhadap Li Bun-sing. Sejak dulu juga sudah kukatakan padamu, meski di hidupnya aku menaruh cemburu kepada Li Bunsing, tapi dia memang benar-benar seorang ksatria, di dalam lubuk hatiku sesungguhnya aku sangat mengagumi dia."

"Toako,"

Kata Ki Seng-in dengan muka merah "Yang kukuatirkan bukanlah persoalanmu, tapi adalah keselamatan bocah itu.

Ki-lian-sam-siu saja susah dilayani, apalagi mereka sekarang berkomplot lagi dengan jago-jago pengawal kerajaan."

Kiranya Lok Khik-si meski termasuk orang pertama dari Ki-lian-sam-siu, tapi kepandaiannya masih kalah daripada saudara angkatnya yang kedua, yaitu Yo Tunhou, juga bagi Utti Keng akan merupakan seorang lawan tangguh.

Namun dengan ikhlas Utti Keng lantas berkata.

"Siau Ci-wan yang sebelumnya tidak pernah kenal pada Li Bunsing juga rela membela putra yatimnya, masakah kita malah kalah daripada dia? Pendek kata kita akan bertindak sekuat tenaga, soal berhasil atau tidak biarlah terserah pada nasib saja."

"Kau sungguh baik, Toako,"

Kata Ki Seng-in dengan tersenyum senang.

"Jalan yang terbaik untuk menolong bocah itu paling tepat kalau minta bantuan kepada Kangtayhiap, cuma Toako sendiri yang terpaksa mesti menanggung malu."

"Kita sudah membunuh putrinya, masakah dia sudi membantu kita?"

Ujar Utti Keng.

"Toako, sesungguhnya pada malam itu aku tidak menuruti permintaanmu untuk membunuh anak dara itu, kita hanya melukai putrinya, rasanya Kang-tayhiap masih dapat memaafkan kita,"

Kata Seng-in.

Menurut watak Utti Keng, selamanya dia tidak pernah merendahkan diri dan memohon sesuatu kepada orang lain.

Tapi sekarang demi untuk memenuhi keinginan sang istri, pula Kang Hay-thian sudah menyebarkan Enghiong-tiap agar orang-orang Kangouw mengepung dan menangkapnya, dimana-mana dia tentu akan ketemu musuh, kalau persoalan ini tidak diselesaikan, tentu dia akan sukar berkecimpung lagi di dunia Kangouw, jangankan lagi hendak menolong putra yatim Li Bun-sing.

Lantaran itulah maka Utti Keng suami-istri akhirnya datang menemui Kang Hay-thian.

Sesudah mengetahui duduknya perkara, Kang Haythian sendiri menjadi pusing juga.

Maklumlah kedudukan Kang Hay-thian berbeda daripada Utti Keng.

Walaupun Kang Hay-thian juga anti kerajaan Boan-jing, tapi resminya dia masih seorang penduduk yang terang asal-usulnya, berbeda dengan Utti Keng yang pekerjaannya memang merampok dan membegal, selalu menjadi buronan pemerintah.

Tapi yang dipikirnya Kang Hay-thian bukanlah soal kepentingannya sendiri, dia justru kuatir merembet kawan-kawannya seperti orang-orang Bin-san-pay dan Kay-pang yang bergerak di bawah tanah melawan kerajaan.

Padahal untuk menolong putra Li Bun-sing boleh jadi Kang Hay-thian terpaksa harus bertempur dengan jago-jago istana, apabila dalam urusan ini orangorang Bin-san-pay dan Kay-pang ikut campur, tentu akibatnya akan meluas dan mungkin akan merugikan gerakan anti pemerintah Boan-jing itu.

Sebab itulah maka sesudah dipikir Hay-thian mengambil keputusan akan memikul sendiri persoalan ini dan tidak menerangkan kepada para ksatria di Kay-pang itu.

Yap Leng-hong adalah murid pewaris, ia pikir kesempatan ini dapat digunakan untuk menggembleng pemuda itu.

Maka Leng-hong lantas diajaknya serta dan persoalannya dengan sendirinya harus dijelaskan pula kepadanya.

Diam-diam Yap Leng-hong mengeluh setelah mendapat keterangan dari sang guru.

"Bagaimana, apakah kau merasa takut?"

Tanya Haythian ketika melihat air muka Yap Leng-hong mengunjuk rasa ragu-ragu.

Sudah tentu Yap Leng-hong bukannya lantaran takut, tapi yang dipikirkan hanya mengenai Sumoaynya.

Kepergiannya ini entah akan makan tempo berapa lama, kesempatan ini bukankah akan menguntungkan Ubun Hiong yang setiap hari dapat berdekatan dengan sang Sumoay?

Pula Leng-hong juga kuatir kalau-kalau di kotaraja akan ketemukan orang yang mengenalnya, di waktu kecil dia pernah tinggal di sana, ayahnya juga telah mengirim orang untuk mencarinya, seperti halnya Cu Goan, apabila di kotaraja ketemu kenalan lagi, apakah dirinya dapat membunuhnya seperti apa yang telah dilakukannya atas diri Cu Goan itu?

Begitulah Yap Leng-hong terus memeras otak, tapi segera ia membusungkan dada dan menjawab pertanyaan Kang Hay-thian tadi.

"Sebagai murid Suhu, masakah aku mesti takut? Tempo hari di puncak Thaysan juga aku telah membela Li Bun-sing dengan matimatian dari kerubutan jago-jago istana. Tapi...."

"Tapi apa?"

Hay-thian menegas.

"Tapi perjalanan jauh yang akan makan tempo cukup lama ini apakah tidak perlu mengirim sesuatu berita dulu kepada Subo (ibu guru)? Apalagi Sumoay dan Sute juga terluka semua, apakah Suhu tidak perlu pulang dulu untuk menjenguk mereka?"

Demikian Leng-hong mengada-ada. Ia berharap sang guru akan mengirim dia pulang untuk menyampaikan berita yang dimaksudkan, dengan demikian dia ada kesempatan untuk bertemu dengan Kang Hiau-hu.

"Menolong orang laksana menolong kebakaran, mana boleh kita tunda hanya untuk urusan tetek-bengek ini?"

Sahut Hay-thian.

"Tentang luka Sumoay dan Sute itu sudah kuserahkan kepada ibu gurumu untuk merawatnya, untuk ini kita boleh tidak perlu kuatir. Sebaliknya aku malah menguatirkan dirimu."

Leng-hong menjadi terkejut, ia pikir apakah ada sesuatu tanda-tanda mencurigakan yang telah diketahui sang guru? Ia dengar Kang Hay-thian telah menyambung pula.

"Kepergian kita ini setiap saat ada kemungkinan bergebrak dengan musuh. Padahal kau baru masuk perguruan kita, kau belum lagi mulai belajar apa-apa, dengan kepandaianmu sekarang ini rasanya masih jauh daripada cukup bila ketemukan lawan tangguh."

Baru sekarang Leng-hong merasa lega karena bukan maksud gurunya mencurigainya. Segera ia menanggapi.

"Berada bersama Suhu, apa yang kutakutkan lagi?"

"Bukan begitu soalnya,"

Ujar Hay-thian.

"Maksudku pada kesempatan ini kau akan mendapat sedikit gemblengan. Sekarang akan kuajarkan teori-teori Lwekang dari perguruan kita, di waktu malam pada saat mengaso bolehlah kau melatihnya sendiri. Berbareng akan kubantu pula dengan kekuatanku agar kau bisa cepat jadi. Untuk ini kau sendiri perlu belajar dengan tekun, apakah kau sanggup?"

"Banyak terima kasih atas budi kebaikan Suhu, betapapun juga Tecu berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh,"

Sahut Leng-hong dengan girang.

Baru sekarang ia benar-benar rela ikut sang guru dalam perjalanan jauh ini, sampai-sampai Kang Hiau-hu juga terlupa olehnya Kita kembali kepada Li Kong-he yang dibohongi dan dilarikan Lok-lotoa itu.

Walaupun Kong-he adalah anak yang cerdik, tapi apapun juga ia baru berumur 11-12 tahun saja.

Karena Lok Khik-si telah menyelamatkan dia dari tangan Ki Sengin, dengan sendirinya dianggapnya paman Lok ini sebagai tuan penolong.

Apalagi Lok Khik-si mengaku pernah mengangkat saudara dengan ayahnya, keruan Kong-he bertambah percaya dan menurut.

Setelah setengah harian Lok Khik-si membawanya pergi, ketika melihat jalan yang diambil bukan jalan raya umumnya, segera Kong-he bertanya.

"Paman Lok, mengapa kita mengambil jalan pegunungan begini? Apakah kita tidak salah ambil jalan yang menuju ke Tong-peng-koan? Penjahat wanita itu telah membawa aku menuju ke barat, sekarang kita pun mengarah jurusan matahari terbenam, apakah ini tidak salah, bukankah seharusnya kita putar balik ke arah sana?"

Lok Khik-si terkesiap, diam-diam dia mengakui kecerdikan bocah itu, segera ia menjawab dengan tertawa.

"Hiantit, apakah kau tetap ingin menjadi murid Kang-tayhiap?"

"Ayah yang berpesan agar aku melakukan hal demikian,"

Sahut Kong-he.

"Rupanya waktu itu ayahmu terluka parah sehingga pikirannya seketika itu menjadi kurang sehat,"

Ujar Lok Khik-si.

"Apakah maksud ucapanmu, paman Lok?"

Tanya Konghe dengan mata membelalak lebar.

"Apakah kau anggap Kang-tayhiap bukan orang baik-baik?"

"Sudah tentu Kang-tayhiap adalah orang baik,"

Sahut Lok Khik-si.

"Tapi dia bukan sanak bukan kadang dengan ayahmu."

"Siau-sioksiok yang berbudi yang telah menyelamatkan jiwaku itu menyatakan bahwa Kangtayhiap pasti akan menerima aku dengan suka hati,"

Kata Kong-he.

Sebelumnya Lok Khik-si sudah bertanya jelas tentang pengalaman-pengalaman Kong-he selama beberapa hari ini, maka ia tahu nama-nama Siau Ci-wan, Yap Lenghong dan lain-lain.

Dengan tertawa ia menjawab.

"Walaupun Siau-sioksiok berbudi luhur, tapi ia pun baru saja kenal ayahmu. Di dunia Kangouw ini segala kepalsuan selalu dapat terjadi, biarpun kita percaya penuh kepada Siau-sioksiok, tapi kita juga harus senantiasa waspada. Pula ayahmu adalah buronan pemerintah kerajaan, kau adalah putra buronan, Siausioksiok bilang Kang-tayhiap pasti akan menerima kau, ini kan cuma kata-katanya saja, diterima atau tidak juga belum tahu dengan pasti. Apalagi kau masih banyak sanak-kadang yang lain, buat apa mesti menumpang kepada orang yang tak dikenal?"

Kong-he menjadi bingung atas uraian yang panjang lebar itu, sahutnya.

"Paman Lok, aku masih terlalu kecil dan tidak tahu urusan, harap suka memberi petunjuk."

"Aku adalah saudara angkat ayahmu, meski kepandaianku tidak tinggi, aku bersumpah akan membalaskan sakit hatinya. Aku tahu cita-citamu yang tinggi, cuma sayang kepandaianku tak dapat dibandingkan dengan Kang-tayhiap dan tidak sesuai untuk menjadi gurumu."

Sampai di sini Lok Khik-si sengaja menghela napas.

Kong-he memang ingin ikut guru yang pandai agar kelak dia dapat membalas sakit hati ayahnya.

Tapi ia pun berterima kasih kepada Lok Khik-si, maka tidak ingin membikin kikuk padanya.

Ia pikir jelek-jelek paman Lok juga dapat mengalahkan Jian-jiu^koan-im, andaikan tak dapat mengungguli Kang-tayhiap, namun kepandaiannya juga sudah lumayan, apalagi dia adalah saudara angkat ayah, sudah tentu lebih rapat hubungan kami daripada Kang-tayhiap.

Maka katanya kemudian.

"Paman Lok, asal aku dapat memiliki kepandaian seperti engkau, aku pun sudah merasa puas. Jika paman Lok sekiranya tidak menolak "Nanti dulu,"

Potong Lok Khik-si.

"Kau adalah putra buronan pemerintah, untuk memberi bimbangan padamu harus dicari di antara kawan-kawan sendiri yang berkepandaian tinggi, orang yang demikian inilah yang sekarang sukar dicari. Aku sendiri merasa tidak sesuai untuk menjadi gurumu. Tapi aku menjadi teringat kepada seorang, cuma sayang "Siapakah dia paman?"

Tanya Kong-he cepat. Lok Khik-si menghela napas, lalu menjawab.

"Dia juga saudara angkat ayahmu, sekarang ia pun sedang diuberuber yang berwajib, entah dia telah melarikan diri dan bersembunyi dimana?"

"O, apakah yang kau maksudkan ialah ... ialah paman Lim?"

Kong-he menegas.

"Paman Lim"

Yang dimaksudkan tak lain tak bukan adalah Lim Jing, pejabat ketua Thian-li-hwe yang buron bersama Li Bun-sing itu.

"Ya, benar, maksudku memang paman Lim,"

Sahut Khik-si.

"Ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripadaku, dia juga saudara angkat ayahmu dalam pergerakan, jika kau dapat mengangkat dia sebagai guru tentulah sangat baik. Cuma sekarang dia sedang buron, tempat persembunyiannya tentu sangat dirahasiakan, darimana kita dapat mencarinya?"

Kong-he tidak tahu tipu muslihat orang, ia sangka paman Lok ini toh orang sendiri, apa halangannya kalau kukatakan padanya? Maka ia lantas berkata.

"Lim-pepek pernah berjanji pada ayahku, bahwa .... Eh, paman Lok, jika sudah kukatakan padamu jangan sekali-kali kau bocorkan pula kepada orang lain lho!"

"Paman kan orang lebih tua, masalah dapat sembarangan membuka mulut kepada orang lain?"

Ujar Lok Khik-si dengan tertawa "Ya, kuanggap paman adalah saudara sendiri dengan ayah dan paman Lim, makanya aku mau mengatakan padamu,"

Sahut Kong-he.

"Paman Lim pernah berjanji dengan ayah bilamana ayah dapat menyelamatkan diri, maka boleh mencari kabar tentang jejaknya ke tempat Thio-samsiok (paman Thio ketiga) di Cong-liong-poh, Bici."

Mata Lok Khik-si seketika bersinar, cepat ia bertanya pula.

"Siapakah Thio-samsiok itu?"

Kong-he menjadi heran.

"Masakah Lok-pepek tidak kenal Thio-samsiok?"

Ia menegas.

"O, aku memang tahu ayahmu mempunyai beberapa kawan she Thio, cuma tidak tahu yang mana yang nomor tiga dan tinggal di Bici,"

Cepat Lok Khik-si menutupi kesalahannya. Lalu ia sengaja mengucapkan beberapa nama.

"Apakah Thio Hong-piau? Atau thio Tiong-gak? Atau "Bukan,"

Sahut Kong-he tanpa curiga apa-apa.

"Thiosamsiok adalah Thio Su-liong yang sering disebut-sebut oleh ayah, aku sendiri belum pernah bertemu dengan beliau."

"Ai, aku memang sudah pikun, masakah Thio Su-liong saja sampai terlupa,"

Seru Lok Khik-si sambil menabok kepala sendiri.

"Benar, benar, memang dia, kenapa aku tidak ingat padanya sedari tadi?"

"Sebenarnya aku pun ingin mencari Lim-pepek, tapi ayah telah berpesan padaku agar jangan membikin susah padanya, kelak kalau sudah dewasa dan tamat belajar barulah boleh mencari beliau. Maka sekarang aku pun tidak ingin berguru padanya."

"Ya, pertimbangan ayahmu memang betul juga,"

Ujar Lok Khik-si.

"Lebih baik begini saja, kau ikut aku pulang dahulu, kemudian aku sendiri akan pergi ke Bici untuk mencari kabar tentang Lim-pepek, bila sudah mendapat kabar pasti, barulah kita mengambil keputusan lagi. Sementara itu kau boleh belajar dengan giat. Aku mempunyai beberapa teman yang berkepandaian tinggi, kita bersama-sama akan mengajar kau, tentu kau akan mendapatkan kepandaian yang luas dan sempurna."

"Pertimbangan paman tentulah sangat baik, Titji menurut saja,"

Sahut Kong-he.

"Selain itu, sebelum mangkat apakah ayahmu tiada pesan-pesan lain lagi atau meninggalkan apa-apa kepadamu?"

Khik-si bertanya pula. Kong-he terkesiap atas pertanyaan ini, pikirnya.

"Menurut pesan ayah, 'Hay-to' (buku kode) Thian-li-kau itu hanya dapat diserahkan kepada sesama anggota perkumpulan, Lok-pepek toh bukan anggota."

Dalam pada itu Lok Khik-si telah meneruskan.

"Maksudku bila ayahmu meninggalkan apa-apa kepadamu, mengingat usiamu masih terlalu kecil, maka lebih baik aku saja yang menyimpannya bagimu. Bila ayahmu ada pesan apa-apa tentang tugas Thian-li-kau, aku pun dapat melakukan baginya. Walaupun aku belum menjadi anggota, tapi aku adalah saudara angkat Limkaucu, sesungguhnya aku pun bukan orang luar."

Akan tetapi Kong-he cukup cerdik, jawabnya.

"Ayah tiada meninggalkan apa-apa kepadaku. Beliau cuma memberikan goloknya padaku, dan pesan yang terpenting ialah Siau-sioksiok membawa aku serta menyuruhku berguru kepada Kang-tayhiap."

Khik-si sangat kecewa karena tidak dapat mengorek sesuatu dari bocah ini, katanya dalam hati.

"Entah setan cilik ini berdusta atau tidak. Biarlah kelak kalau sudah sampai di kotaraja barulah akan kugeledah badannya."

Sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda dari jauh. Segera Lok Khik-si bersuit panjang, lalu membisiki Kong-he.

"Yang datang ini adalah dua adik angkatku. Tapi mereka tiada hubungan rapat dengan ayahmu, maka jangan kau ceritakan tentang ayahmu dan Lim-pepek kepada mereka."

Kong-he mengiakan, tapi diam-diam heran mengapa sedemikian banyak saudara angkat paman Lok ini?

Dalam pada itu tertampaklah dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat, di belakangnya mengikut seekor kuda tanpa penunggang.

Ketika melihat Lok Khik-si bersama Li Kong-he, kedua penunggang kuda itu kelihatan sangat senang, cepat mereka melompat turun dari kuda mereka sambil berseru.

"Selamat, selamat! Lotoa, kau sudah berhasil!"

Kedua orang ini bukan lain daripada Yo Tun-hou, si kambing mencaplok macan, dan Be Sing-liong, si kuda mengalahkan naga, dua saudara angkat Lok Khik-si.

Rupanya mereka sudah berjanji untuk bertemu di tempat ini.

Melihat Lok Khik-si membawa serta Kong-he, Yo Tun-hou dan Be Sing-liong menganggap Lotoa mereka telah merampasnya dari tangan Ki Seng-in, mereka tidak tahu bocah itu adalah hasil berbohong yang dilakukan Lok-lotoa secara licik.

Meski mereka bertiga adalah saudara angkat, tapi masing-masing mempunyai perhitungan dan kepentingan sendiri-sendiri.

Sebab itulah Lok Khik-si telah berpesan kepada Kong-he agar tidak menceritakan rahasia tentang Lim Jing.

Maksud Lok Khik-si ingin melaporkan sendiri rahasia itu kepada komandan jago pengawal, yaitu Bok Ting-ca, lalu Lim Jing akan digrebek secara diam-diam.

Jika berhasil, maka jasanya tentu tidaklah kecil.

Begitulah, maka cepat Lok Khik-si mengedipi kedua kawannya sambil berkata kepada Kong-he.

"Ini dia kedua pamanmu, lekas Hiantit memberi hormat kepada mereka!"

Lalu ia pura-pura menghela napas dan menyambung pula.

"Sungguh malang nasib Bun-sing, syukurlah keponakanku ini dapat kuselamatkan sehingga sekadar dapat memenuhi kewajibanku sebagai saudara angkat Bun-sing. Selanjutnya masih diharapkan saudarasaudara sekalian untuk membantu memberi bimbingan kepada Kong-he agar dia dapat meneruskan cita-cita ayahnya dan menjadi seorang ksatria yang gagah perkasa, dengan demikian barulah harapanku benarbenar terkabul."

Yo Tun-hou dan Be Seng-liong lantas paham maksud Lok Khik-si, cepat mereka tertawa dan berkata.

"Persahabatan kami dengan Li-toako juga cukup kuat, keponakanmu ini berarti keponakan kami pula. Tanpa diminta juga kami akan mengajarkan segenap kepandaian kami yang tak berarti ini."

Biar usianya masih muda, tapi Kong-he sangat cerdik dan dapat berpikir.

Tadi begitu datang Yo Tun-hou dan Be Seng-liong lantas mengucapkan selamat kepada Loklotoa serta mengatakan dia telah "berhasil".

Walaupun Kong-he tidak tahu apa maksud mereka, tapi ia merasa kata-kata itu sangat menusuk telinga.

Pula ia merasa heran mengapa kedua paman yang baru datang ini menyatakan ada hubungan rapat dengan ayahnya, padahal menurut Lok-pepek, katanya mereka kenalan biasa ayahnya.

Melihat Kong-he seperti sedang merenungkan sesuatu, cepat Lok Khik-si berseru pula.

"Kepandaian kedua paman ini jauh lebih tinggi daripadaku, menurut penilaianku tidaklah terlalu jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian Kang-tayhiap, asal Hiantit dapat memperoleh kepandaian mereka, maka cukuplah dan tidak perlu susah-susah mencari guru lain lagi."

Di antara Ki-lian-sam-siu, tiga binatang dari pegunungan Ki-lian itu, ilmu silat Yo Tun-hou terhitung yang paling tinggi.

Untuk menarik hati anak kecil dan agar dikagumi, segera Yo Tun-hou bergelak tertawa, katanya.

"Lotoa, saudara sendiri kenapa dipuji-puji? Ilmu silat Kang-tayhiap tiada bandingannya di kolong langit ini, kau membandingkan diri kami dengan beliau, bukankah membikin malu kami saja? Hahahaha!"

Begitulah ia lantas terbahak-bahak, makin tertawa makin keras, ia tertawa menghadap sebatang pohon besar, setelah tertawa sekian lamanya, tiba-tiba tertampak daun pohon itu rontok bertebaran.

Ketika dia berhenti tertawa, daun pohon itu sudah jarang-jarang, hampir menjadi gundul seperti habis disapu angin puyuh.

Kong-he terkejut dan bergirang pula, pikirnya.

"Kepandaian Yo-sioksiok ini benar-benar sangat tinggi, agaknya lebih tinggi daripada ayahku."

Dalam pada itu Be Seng-liong juga ingin pamer, katanya.

"Pohon ini sudah gundul, lebih baik ditebang saja."

Dia membawa golok, katanya "tebang", tapi toh tidak melolos goloknya, sebaliknya ia menggunakan telapak tangannya untuk menabas batang pohon, berturut-turut ia memotong empat kali, mendadak ia membentak.

"Roboh!"

Benar juga, pohon itu lantas roboh menurut perintahnya.

"Sungguh pukulan yang hebat!"

Seru Kong-he memuji.

Meski Kong-he masih kecil dan bukan ahli ilmu silat, tapi untuk membedakan kepandaian yang tinggi atau rendah tidaklah sukar baginya.

Batang pohon itu cukup besar, ditebang dengan senjata tajam saja makan tempo, tapi sekarang Be Seng-liong menabas dengan telapak tangan empat kali dan pohon itu terus tumbang, kepandaian ini walaupun tidak selihai Lwekang Yo Tunhou yang menggunakan suara tertawanya untuk mengguncang dan merontokkan daun pohon itu, namun Gwakang Be Seng-liong ini boleh juga dikatakan sudah hampir mencapai puncaknya.

Betapapun Kong-he adalah anak kecil, ia menjadi senang dan kagum oleh pertunjukan Lwekang dan Gwakang itu, pikirnya.

"Benar juga kata Lok-pepek, bila aku dapat memperoleh kepandaian kedua paman ini rasanya sudah cukuplah bagiku."

Di lain pihak Yo Tun-hou dan Be Sing-liong juga tidak kurang terkejutnya. Pikir Yo Tun-hou.

"Usia anak ini baru belasan tahun, sama sekali dia tidak menutup telinga ketika mendengar suara tertawaku, masakah sedemikian kuat dasar Lwekangnya? Apa barangkali begitu dilahirkan dia sudah berlatih Lwekang?"

Sudah tentu bukan begitu dilahirkan Li Kong-he lantas belajar Lwekang, soalnya ayahnya mempunyai hubungan yang luas, banyak kawan-kawannya tergolong tokoh dunia persilatan yang terkemuka, sebab itulah Kong-he sering mendapat petunjuk Lwekang dan Gwakang dari paman-paman dan mamak-mamak yang sering berkunjung ke rumahnya, dengan demikian Lwekangnya sudah terpupuk sejak kecil.

Maka Yo Tun-hou berkata dengan tertawa.

"Ayahmu adalah ksatria yang gagah perkasa, putranya tentu juga bukan anak sembarangan, tentu sedikit kepandaianku ini tidak menarik perhatianmu."

Dasar masih anak-anak, karena dipuji, Kong-he menjadi lupa untuk memikirkan tanda-tanda yang mencurigakan dari kedua orang itu. Cepat ia berkata.

"Ah, kepandaian kedua paman sedemikian tingginya, aku justru sangat kagum dan sangat berterima kasih bilamana kedua paman mengajarkan padaku."

Sementara itu Lok Khik-si sudah mengajak berangkat. Dia bersatu kuda dengan Kong-he dan sengaja sedikit menjauh di belakang. Lalu membisiki Kong-he.

"Kau harus ingat kepada pesanku tadi. Betapapun juga jangan kau katakan hal-hal yang penting kepada kedua paman ini."

Kong-he mengangguk. Dan baru saja Lok Khik-si bermaksud memberi pesan apa-apa lagi, mendadak Yo Tun-hou telah berpaling dan berseru kepadanya.

"Lotoa, apakah kudamu tak dapat berlari karena terlalu berat dibebani dua orang?"

"Ah, tidak,"

Cepat Khik-si menjawab.

"Kalau terlalu cepat, aku kuatir Titji (keponakan) akan cepat lelah."

Habis berkata ia lantas pecut kudanya dan menyusul ke depan. Diam-diam Kong-he merasa heran.

"Lok-pepek berpesan padaku agar jangan bicara tentang hal-hal rahasia kepada mereka. Tapi mereka kan juga saudara angkat Lok-pepek, mengapa di antara mereka diam-diam saling bertengkar?"

Begitulah mereka melanjutkan perjalanan secara terburu-buru, mereka jarang berhenti, di tengah jalan hanya makan rangsum kering sekadarnya, lalu kuda dilarikan pula, yang ditempuh selalu jalan pegunungan.

Dekat maghrib, kuda mereka sudah terlampau lelah.

Tiba-tiba Yo Tun-hou menunjuk sebuah kelenteng rusak di atas bukit di sebelah depan sana, katanya.

"Kali ini biarlah kita menginap di kelenteng itu. Mumpung matahari belum terbenam, harap Lotoa pergi ke kota di depan sana, belilah seekor kuda serta bawa sekalian dua ekor ayam sebagai daharan malam nanti. Kudamu mungkin sudah payah, bolehlah pakai kudaku ini."

Untuk sejenak Lok Khik-si ragu-ragu, katanya.

"Tidaklah lebih baik Losamsaja..."

"Tidak, lebih baik Lotoa sendiri saja,"

Potong Yo Tunhou.

Habis ini mendadak ia mengucapkan beberapa kata rahasia orang Kangouw.

Sebagai putra seorang tokoh Kangouw, walaupun Kong-he tidak paham kata-kata rahasia orang Kangouw, tapi lapat-lapat ia pun dapat menangkap beberapa kata di antaranya yang berarti "menyampaikan berita".

"pemimpin".

"pengintai"

Dan sebagainya. Karena itulah Khik-si buru-buru menjawab.

"Baiklah, Loji, biarlah aku lantas berangkat!"

Kiranya maksud Yo Tun-hou adalah meminta Lok-lotoa menyampaikan berita tentang hasil usaha mereka kepada pemerintah setempat yang berdekatan serta minta berita penting ini diteruskan secara kilat ke kotaraja.

Selain itu mereka minta jago-jago pengawal yang tersebar dimana-mana itu mengadakan pengintaian dan menyambut kedatangan mereka di sepanjang jalan.

Sebagai kepala Ki-lian-sam-siu, Lok Khik-si yang berkewajiban mengadakan hubungan dengan pihak kerajaan.

Kali ini jago-jago istana yang dikirim untuk menangkap Li Bun-sing dipimpin oleh seorang komandan seksi yang bernama Wi Hoan.

Orang ini tinggal di gubernuran Soatang, maka Lok Khik-si harus mengadakan hubungan dengan dia bilamana usahanya sudah berhasil.

Dengan alasan inilah Yo Tun-hou mendesak Lok Khik-si sendiri yang menyampaikan berita hasil usaha mereka ini.

Begitulah walaupun dengan rasa enggan, terpaksa juga Lok Khik-si berangkat.

Dengan tertawa ia berkata kepada Tun-hou.

"Loji, untuk selanjutnya kita tidak perlu bicara memakai kode, toh Titji bukan orang luar, di antara kita tiada apa-apa yang perlu dirahasiakan."

Lalu ia meninggalkan pesan pula kepada Kong-he.

"Hiantit, segera aku akan kembali dengan membawa daharan yang enak, kau boleh tunggu di sini bersama kedua paman ini."

Sudah tentu Yo Tun-hou lantas sadar akan ucapan Lok Khik-si tadi agar kata-kata rahasianya tidak menimbulkan curiga Kong-he, maka cepat ia membenarkan teguran sang Lotoa.

Lalu ia pura-pura berkata kepada Kong-he.

"Walaupun kata-kata rahasia Kangouw jangan sembarangan digunakan, tapi perlu juga dipelajari. Apakah Hiantit pernah mempelajarinya? Jika belum, kelak akan kuajarkan padamu sedikit demi sedikit."

Ia tahu sekarang bahwa Kong-he adalah seorang anak cerdas, tapi tidak menduga bahwa bocah itu jauh lebih cerdik daripada sangkaannya. Saat itu Kong-he sedang berpikir.

"Aku hanya paham sedikit saja kata-kata rahasia yang diucapkan Yo-sioksiok, tapi artinya berlainan dengan penjelasan Lok-pepek tadi? Mereka hendak menyampaikan berita apa sih? Pemimpin yang dimaksudkan Yo-sioksiok itu siapa lagi?"

Betapapun Kong-he masih terlalu kecil, walaupun sudah merasa curiga, tapi pikirannya belum mampu menyelami kepalsuan orang Kangouw seperti ketiga pamannya ini.

Sesudah Yo Tun-hou dan Be Seng-liong membawa Kong-he sampai di kelenteng rusak itu, segera Tun-hou berkata.

"Kelenteng yang terpencil ini sangat cocok untuk kita. Eh, Losam, pergilah kau mengambil air!"

"Air? Bukankah persediaan air kita masih cukup/' Seng-liong menegas dengan tercengang. Tapi Yo Tun-hou lantas menarik muka.

"Tidak cukup!"

Sahutnya dengan nada dingin.

Biasanya Seng-liong memang jeri kepada sang Jiko, walaupun tahu maksud Yo Tun-hou itu hanya untuk menyingkirkan dirinya saja, terpaksa ia pun menurut.

Sesudah Be Seng-liong keluar, tiba-tiba Yo Tun-hou menghela napas, katanya.

"Hiantit, hatiku selalu memikirkan suatu urusan sehingga rasanya tidak tenteram."

"Ada urusan apakah, paman?"

Tanya Kong-he.

"Tiada lain ialah urusan Lim-pepekmu itu!"

"Lim-pepek? Apa kau maksudkan Lim-kaucu?"

"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?"

Sahut Tun-hou.

"Ayahmu dan Lim-kaucu laksana saudara sekandung saja, aku dan Lim-kaucu juga mempunyai hubungan persahabatan yang rapat. Walaupun aku belum masuk menjadi anggota, tapi biasanya bila bertemu dengan Lim-kaucu, beliau selalu suka membicarakan urusanurusan penting perkumpulan dengan aku."

Kembali Kong-he sangat heran, pikirnya.

"Lok-pepek mengatakan kedua paman ini tidak kenal Lim-pepek, mengapa sekarang dia mengaku mempunyai persahabatan rapat dengan beliau? Ah, mustahil ini. Salah satu di antara mereka tentu ada yang berdusta."

Yo Tun-hou mengira Kong-he adalah anak kecil yang gampang dibohongi, tidak tahunya diam-diam bocah itu sudah mencurigainya. Namun ia menghela napas dan menyambung lagi.

"Entah Lim-kaucu sekarang berada dimana, sungguh aku sangat menguatirkan keselamatannya. Ayahmu mengalami nasib malang, berita ini juga perlu selekasnya disampaikan kepadanya. Cuma sayang ... eh, Hiantit, apakah kau tahu ...?"

"Apa paman maksudkan tempat tinggal Lim-pepek, tapi ayah ..."

"Benar,"

Sela Tun-hou.

"Tentu ayahmu mengetahui, sebelum wafat tentu beliau telah memberitahukan kepadamu."

"Tidak, ayah tidak memberitahukan padaku,"

Sahut Kong-he. Tun-hou mengerut kening.

"Apakah Lok-pepek yang melarang kau mengatakan padaku?"

Ia coba memancing. Karena teringat kepada pesan Lok Khik-si, pula dalam hati kecilnya Lok Khik-si juga lebih rapat dengan dia, maka ia lantas mengadakan pembelaan bagi paman Lok itu, jawabnya.

"Tidak, tidak, aku pun tidak pernah mengatakan kepada Lok-pepek."

Yo Tun-hou merasa lega.

"O, ya, memang soal ini tidak boleh diberitahukan kepada Lok-pepek. Jadi kau memang tahu dimana keberadaan Lim-pepek, masakah kau tak mempercayai aku?"

Baru sekarang Kong-he merasa lubang kelemahan ucapannya tadi. Syukurlah ia cukup cerdik, segera ia menghindarkan pokok pembicaraan, ia pura-pura mengunjuk rasa keheran-heranan dan balas bertanya.

"Mengapa tidak boleh memberitahukan kepada Lokpepek, apakah kita tidak dapat mempercayai dia?"

"Dalam hal ini .... O, bukannya tidak mempercayai dia, soalnya dia ... dia tidak terlalu kenal Lim-pepekmu, pula dia mempunyai penyakit suka minum arak, bila mabuk dia suka mengoceh tak keruan. Maka tentang rahasia Lim-pepekmu itu sebaiknya jangan dikatakan padanya agar tidak sampai bocor sehingga membikin celaka Limpepek."

Ocehan Yo Tun-hou yang sengaja dibuat-buat ini sama sekali tidak cocok dengan apa yang dikatakan Loklotoa, keruan semakin menambah rasa curiga Kong-he, pikirnya.

"Aneh, Lok-pepek mengaku pernah mengangkat saudara dengan Lim-pepek, tapi Yo-sioksiok ini mengatakan mereka tidak saling kenal. Aha, pasti di antara mereka ada salah satu yang berdusta."

Dalam pada itu Yo Tun-hou telah membujuk.

"Anak yang baik, coba katakan padaku tentang keadaan Limpepek. hatiku baru tenteram bilamana aku sudah menemukan dia." 'Tapi aku ... aku benar-benar tidak tahu, ayah tidak pernah memberitahukan padaku,"

Jawab Kong-he.

"Ah, anak kecil janganlah berdusta,"

Ujar Tun-hou.

"Bukankah tadi kau sudah menyatakan mengetahui berita tentang Lim-pepekmu, mengapa tidak kau katakan padaku? Anak baik, ceritakanlah, lekas! Besok juga akan kuajarkan kepandaianku padamu."

Kepandaian Yo Tun-hou memang lebih tinggi daripada Lok Khiksi, tapi tabiatnya lebih gopoh dan kurang sabar.

Semakin dia mendesak, semakin membikin curiga Konghe.

Apalagi dia memancing dengan ajaran kepandaiannya, hal ini bukanlah perbuatan seorang ksatria sejati.

Pada waktu Kong-he merasa kagok untuk menjawab pertanyaan Yo Tun-hou, saat itulah tiba-tiba Be Sengliong sudah kembali dengan membawa sekantong besar air jernih.

Yo Tun-hou mengerut kening.

"Mengapa sedemikian cepat kau sudah kembali? Apakah itu air sumber yang bersih?"

Tanyanya.

"Ya, kebetulan tidak jauh dari sini ada sumber air, aku kuatir Jiko menunggu terlalu lama, maka buru-buru aku berlari kembali,"

Sahut Seng-liong. Walaupun mendongkol, terpaksa Tun-hou tidak leluasa untuk menanyai Kong-he pula.

"Jiko, baru saja aku melihat dua bayangan orang yang melayang lewat secepat terbang, jangan-jangan kita dikuntit musuh,"

Demikian kata Be Seng-liong.

"Apakah Jiko tidak perlu memeriksa keluar, biarlah aku yang membuatkan teh bagimu."

"Mengapa kau sendiri tidak menyusul bayanganbayangan orang itu?"

Tanya Tun-hou.

"Gerakan mereka teramat cepat, tampaknya kepandaian mereka jauh di atasku, maka buru-buru aku kembali untuk melapor padamu, rasanya cuma Jiko saja yang mampu menandingi mereka."

"Tapi juga belum pasti apakah kawan atau lawan, mengapa mesti geger?"

Ujar Tun-hou.

"Ya, toh tiada jeleknya kita berlaku waspada,"

Sahut Seng-liong.

"Sebaiknya Jiko berjaga-jaga menghadapi mereka, bila musuh yang datang, tentu mereka tak bisa lolos di tangan Jiko."

Dasar watak Yo Tun-hou juga suka disanjung puji, setelah diumpak, ia pikir kata-kata Be Seng-liong itupun beralasan. Tapi ia pun tidak lantas pergi, katanya.

"Baiklah, aku akan meronda keluar. Anak He, tentu kau sudah lelah, bolehlah kau tidur lebih dulu. Sebentar bila Lok-pepek sudah pulang dan membawa daharan enak tentu akan kubangunkan kau."

Memangnya Li Kong-he enggan melayani pembicaraan mereka lagi.

Sambil mengiakan segera ia merebah, dalam waktu tidak lama ia pura-pura sudah terpulas.

Dengan demikian barulah Yo Tun-hou tidak ragu-ragu lagi dan lantas keluar.

Tapi begitu Yo Tun-hou sudah pergi, segera Be Sengliong membangunkan Kong-he.

Seperti juga Tun-hou, sebelum bicara Be Seng-liong pura-pura menghela napas dahulu.

Diam-diam Kong-he merasa geli, tapi ia pura-pura tidak tahu, sebaliknya dengan lagak sungguh-sungguh ia bertanya.

"Sebab apakah paman menghela napas?"

"Ai, berada bersama kau aku jadi teringat kepada seorang sobat baik yang pernah menjadi saudara angkatku itu,"

Kata Seng-liong.

"Siapakah orang itu, paman?"

Tanya Kong-he.

"Ya, siapa lagi kalau bukan Lim-kaucu dari Thian-likau?"

Sahut Seng-liong.

"Kabarnya dia telah meloloskan diri bersama dengan ayahmu. Cuma, ai, sayang...."

Geli-geli mendongkol Kong-he melihat permainan sandiwara Ki-lian-sam-siu itu. Dengan tak sabar segera ia memotong ucapan orang.

"Paman Be, apakah kau maksudkan sayang tidak tahu dimana beradanya Limpepek bukan?"

"Ah, memang benar, kau sungguh pintar, Hiantit, sekali tebak lantas kena,"

Sahut Be Seng-liong.

"Bukanlah aku pintar, soalnya tadi Yo-sioksiok juga menghela napas dan mengajukan pertanyaan demikian kepadaku."

"O, lantas sudah kau katakan belum kepada Yosioksiok?"

Seng-liong menegas dengan terkejut. Kong-he tidak menjawab langsung, tapi berkata.

"Besioksiok, jika kau benar-benar sangat ingin tahu keadaan Lim-pepek, mengapa di tengah jalan siang tadi tidak kau tanyakan padaku?"

"Lim-pepekmu itu adalah buronan yang sedang dicaricari pemerintah kerajaan, masakah beritanya boleh sembarangan dibicarakan di hadapan orang?"

"Apakah Lok-pepek dan Yo-sioksiok juga orang luar?"

Tanya Kong-he.

"Meski mereka bukan orang luar tapi mereka tidak kenal Lim-kaucu, buat apa mereka diberitahu mengenai soal ini?"

Ujar Seng-liong.

"Harus diketahui bahwa urusan penting ini harus dirahasiakan, apalagi menyangkut keselamatan Limpepek. Eh, apakah kau telah mengatakan kepada mereka mengenai diri Lim-kaucu?"

"Aneh, mengapa ucapan Yo-sioksiok tadi sama sekali berlainan dengan apa yang dikatakan paman Be sekarang?"

Sahut Kong-he.

"Dia menyatakan Lim-pepek adalah saudara angkatnya, katanya kau dan Lim-pepek selamanya tidak saling kenal."

Padahal Lok Khik-si juga berkata demikian, cuma perasaan Kong-he lebih condong kepada Lok-lotoa itu, maka dia hanya menyebut Yo Tun-hou saja. Rupanya Be Seng-liong terpancing, ia menjadi marah.

"Huh, Yo-sioksiok telah membohongi kau,"

Katanya cepat.

"Masakah demikian, mengapa Yo-sioksiok membohongi aku?"

"Kau tidak tahu bahwa pihak kerajaan telah menjanjikan hadiah besar dalam usaha menangkap Lim kaucu. Siapa yang mengetahui jejak Lim Jing dan memberi laporan sehingga buronan itu dapat ditawan, bila harta yang diinginkan akan diberi hadiah seribu tahil emas murni, jika yang diharapkan adalah kedudukan, maka orang itu akan diangkat menjadi Congpeng (setingkat mayor). Ya, mungkin aku terlalu berlebihan menguatirkan urusan ini, tapi watak Yo-sioksiokmu biasanya paling tamak harta, penyakitnya ini cukup kuketahui, betapapun kita harus berjaga-jaga."

"Jika demikian, lantas bagaimana dengan Lok-pepek? Apakah Lok-pepek juga mempunyai penyakit tamak harta?"

"Lok-pepek sih tidak tamak harta, tapi aku pun kenal tabiatnya yang kemaruk pada kedudukan dan pangkat. Sebab itulah kita juga harus berjaga-jaga atas dirinya. Nah, sebenarnya sudah kau katakan kepada mereka atau belum? Wah, jika sudah, tentu urusan bisa runyam, kita harus lekas mencari akal untuk memecahkan persoalan ini."

Kong-he sampai berkeringat dingin, pikirnya.

"Ya, benar, harus mencari akal untuk memecahkan persoalan ini. Bukankah aku sudah memberitahukan tempat persembunyian Lim-pepek kepada paman Lok? Wah, jika ditilik dari pembicaraan mereka ini, boleh jadi Lok-pepek sendiri juga bukan manusia baik-baik."

Dalam pada itu Be Seng-liong telah menggoyanggoyangkan tangan Kong-he dan mendesak pula.

"Bagaimana? Apakah kau menjadi takut? Jangan takut, lekas katakan terus terang padaku. Aku dapat mencari jalan untuk mengirim kabar kepada Lim-pepekmu agar dia lekas menyingkir dari tempat persembunyiannya serta mengirim orang untuk memapak kau."

Kong-he coba menenangkan diri, lalu menjawab.

"Tidak, aku tidak tahu apa-apa, maka aku pun tidak pernah mengatakan sesuatu kepada Lok-pepek maupun Yo-sioksiok."

Untuk sejenak Be Seng-liong tercengang atas jawaban Kong-he.

"Ai, bicara sekian lamanya, rupanya kau bocah ini masih tetap tidak mau percaya padaku?"

Kata Sengliong kemudian.

"Sungguh, aku benar-benar saudara angkat Lim-pepekmu, sungguh aku sangat menguatirkan keselamatannya, juga aku benar-benar ingin menyelamatkan dirimu Sampai di sini tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang makin mendekat, air muka Seng-liong tambah berubah, cepat ia membisiki Kong-he.

"Ingat, apa yang kita bicarakan barusan ini janganlah kau katakan kepada siapa pun, awas, jika kau katakan kepada mereka, tentu kau sendiri bisa celaka."

Kong-he diam saja. Seng-liong menjadi kuatir, ia remas tangan bocah itu dan mengancam pula.

"Nah, ingat betul-betul. Jika mereka sampai mengetahui pembicaraan kita ini, andaikan kau tidak dibunuh mereka juga aku akan memuntir putus lehermu!"

Ternyata Be Seng-liong jauh lebih kasar daripada kedua kawannya, bukan saja dia telah menjelek-jelekkan kedua saudara angkatnya itu, bahkan dia telah menggertak dan menakut-nakuti Kong-he.

Dengan demikian sama juga dia telah merobek kedoknya sendiri.

Dasar masih anak-anak, dengan sendirinya Kong-he menjadi takut.

Terpaksa ia menjawab.

"Baiklah, takkan kukatakan kepada mereka."

Dan belum lagi Be Seng-liong melepaskan tangan Kong-he, terlihat Lok Khik-si sudah melangkah masuk.

"Eh, kau belum tidur, Kong-he? Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Demikian Lok-lotoa lantas menegur.

"O, dia ... dia kelaparan dan tidak bisa tidur. Aku sedang membujuknya bahwa sebentar juga kau akan kembali dengan membawa daharan enak. Haha, benar juga sekarang kau sudah datang/' kata Seng-liong.

"Baiklah, segera akan kusembelih ayam yang kau bawa ini."

"Tidak perlu disembelih lagi, panggang saja biar cepat!"

Ujar Lok-lotoa sambil melemparkan dua ekor ayam gemuk yang dibelinya itu.

"Eh, dimanakah Loji?"

"O, Loji sedang pergi, pergi meronda belum habis Seng-liong menjawab, tiba-tiba terdengar suara auman harimau.

"Meronda apa? Namanya saja 'kambing mencaplok macan', masakah dia malah takut kepada macan?"

Ujar Lok Khik-si.

"Bukan macan, tapi mungkin sekali musuh"

Kata Sengliong.

"Tengah malam buta di pegunungan sunyi ini masakah ada musuh segala?"

Semprot Lok-lotoa.

"Biasanya dia tidak sedemikian cermat kerjanya, tentu kau ... kau yang Selagi Be Seng-liong kuatir rahasianya terbongkar, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, kiranya Yo Tun-hou. Air muka Yo Tun-hou tampak mengunjuk rasa kuatir, begitu masuk lantas berseru.

"Ya, memang terdapat jejak orang yang mencurigakan di pegunungan ini!"

Diam-diam Seng-liong bergirang, katanya dalam hati.

"Ha, sebenarnya aku cuma membohongi, tak tersangka dia benar-benar menemukan jejak musuh. Dengan demikian kebohonganku menjadi tepat malah."

"Orang macam apa yang kau lihat?"

Khik-si ikut terperanjat.

"Kulihat seekor harimau kumbang!"

Sahut Yo tun-hou.

"Katanya manusia?"

Khik-si menukas.

"Begini, kulihat binatang itu terluka dan darah berceceran, maka kuyakin itu tentu dilukai manusia. Lalu kudengar pula derapan kuda> kuatir kedatangan musuh, maka buru-buru aku kembali. Tak tahunya kaulah yang telah pulang."

Lok Khik-si saling pandang sekejap dengan Be Sengliong.

Mereka tahu harimau adalah binatang buas yang paling ganas, jika binatang itu benar-benar dilukai manusia, maka orang itu tentulah tidak rendah ilmu silatnya.

Maka Khik-si berkata.

"Baiklah, malam ini kita harus meronda secara bergilir. Losam, sekarang kau yang dinas jaga lebih dulu."

Seng-liong mengiakan dan segera hendak meninggalkan api unggun yang telah dinyalakan itu. Mendadak Yo Tun-hou bertanya.

"Losam, sejak tadi kau memasak teh, sudah sekian lamanya mana itu teh yang kau buat?"

"O, tadi, tidak lama sesudah kau pergi, He-ji lantas terjaga bangun oleh suara harimau yang menakutkan, maka aku telah mendampingi dia dan ... dan tidak sempat membuat teh,"

Demikian Seng-liong memberi alasan.

"Apa benar kau terjaga bangun oleh suara harimau itu, He-ji?"

Tanya Khik-si karena ucapan Be Seng-liong itu ternyata tidak cocok dengan apa yang dikatakannya tadi. Kong-he menjadi serba susah, ia tidak tahu pasti ketiga "paman"

Ini sesungguhnya orang baik atau orang jahat, dengan sendirinya ia tidak berani menganggapnya sebagai musuh. Pula dia masih ingat ancaman Be Sengliong tadi, maka terpaksa ia menjawab.

"Ya, memang tadi aku kaget dan mendusin karena suara auman harimau yang menakutkan itu."

Karena kuatir menimbulkan curiga Kong-he kalau terlalu mendesak kepada Be Seng-liong, maka mereka pun tidak menegur lagi. Segera Yo Tun-hou berkata.

"Baiklah, boleh kau potong setengah ekor ayam itu dan jagalah di luar."

Saat itu kedua ekor ayam panggang sudah matang.

Dan baru saja Seng-liong melolos golok hendak memotong ayam panggang itu, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang.

Lalu ada suara anak dara yang nyaring sedang berseru.

"O, alangkah sedapnya bau ini!"

"Siapa itu?"

Bentak Yo Tun-hou segera.

Sungguh ia sangat terkejut, mengapa seorang anak dara kecil memiliki Ginkang setinggi ini, maka kepandaian temannya itu tentu terlebih lihai lagi.

Hendaklah maklum bahwa kepandaian Yo Tun-hou, bilamana yang datang tadi hanya dua orang biasa, tentu sedari jauh suara tindakan mereka sudah didengar olehnya.

Tapi sekarang kedua orang itu sudah dekat barulah diketahui, maka dapatlah diduga Ginkang kedua pendatang ini tentu tidak rendah.

Di tengah bentakan Yo Tun-hou itu kedua pendatang itupun sudah melangkah masuk.

Ternyata seorang di antaranya sudah berusia 50-an, perawakannya tinggi kurus, berbaju biru dan berkopiah kecil, itulah dandanan yang mirip seorang pengabdi rumah tangga.

Seorang lagi adalah dara cilik yang masih kekanak-kanakan, usianya paling-paling baru sepuluhan tahun, sebaya dengan Kong-he.

Rambutnya dikepang menjadi dua kuncir kecil, pipinya lesung, matanya hitam besar, lincah dan menyenangkan.

Lelaki tinggi kurus itu lantas memberi salam hormat dan berkata.

"Maaf, jika kami telah mengganggu tuantuan. Perjalanan kami ini telah melampaui tempat bermalam, terpaksa mesti mencari suatu tempat mengaso dan kebetulan terdapat kelenteng ini."

Sebaliknya yang terus diincar oleh dara cilik itu ternyata adalah ayam panggang yang mengeluarkan bau sedap itu, tampaknya dia sangat kepingin, katanya.

"Wah, ayam panggang yang gemuk sekali. Apakah boleh membagi sebuah pahanya untukku?"

Namun Yo Tun-hou telah menatap tajam kepada lelaki jangkung itu, tanyanya.

"Apakah saudara juga yang tadi melukai harimau?"

"Ah, sungguh memalukan,"

Sahut lelaki itu.

"Kepandaianku terlalu rendah sehingga binatang itu tidak dapat kubinasakan dengan timpukan Piau tadi, harap Loheng (saudara) jangan menertawakan diriku."

"Haha, sama-sama orang Kangouw tidak perlu merendahkan diri,"

Seru Tun-hou dengan terbahak.

"Nona cilik ini tampaknya sudah lapar? Baiklah, ayam panggang yang sudah masak ini boleh kalian makan lebih dulu."

Anak dara itu menjadi girang.

"Engkau sangat baik hati, terima kasih ya!"

Serunya dan segera hendak menerima ayam panggang yang dikatakan itu. Tapi si lelaki jangkung telah mengadang di depannya dan berkata.

"Ayam panggang ini masih sangat panas, biar aku menyobeknya untukmu."

Nyata lelaki ini seorang kawakan Kangouw, dari sorot mata Yo Tun-hou tadi segera ia menduga orang tak bermaksud baik.

"Ini, ambil!"

Mendadak Yo Tun-hou membentak, ayam panggang itu terus dilemparkan ke muka si lelaki jangkung, berbareng telapak tangannya lantas memotong ke batok kepalanya pula.

Cepat lelaki jangkung itu menunduk kepala sehingga ayam panggang itu melayang lewat ke belakang.

Tapi saat itu pukulan Yo Tun-hou juga sudah menyambar tiba.

Lelaki itu cuma mengangkat tangan kanan ke atas, jari tengahnya menegak tepat mengarah Leng-yan-hiat di telapak tangan Yo Tun-hou.

Hiat-to yang diarah itu adalah titik pangkal urat nadi Siau-yang-meh, kalau sampai tertotok maka lengan Yo Tun-hou itu pasti akan lumpuh untuk selamanya.

Melihat ilmu totokan lihai lawannya itu, Tun-hou tidak berani ayal, cepat ia merapatkan tangannya dan berbalik menggantol, jika jari lawan tergantol dan terpegang, segera ia dapat mematahkannya.

Akan tetapi lelaki jangkung itupun tidak kalah gesitnya, sebelum jarinya terpegang, ia pun sudah ganti serangan, tangan terbuka, dari menotok berubah meniadi memukul, kontan ia memotong tangan Yo Tunhou.

Karena kedua tangan sudah berdekatan, untuk mengelak juga tidak sempat lagi.

Terpaksa Tun-hou mengadu tenaga, tangannya juga cepat dibuka.

"plak", pukulan ketemu pukulan, Yo Tun-hou tergetar mundur dua tindak, lelaki jangkung itupun tergeliat. Dari kejadian itu nyatalah kekuatan lelaki jangkung itu masih sedikit di atas Yo Tun-hou. Dalam pada itu ayam panggang yang ditimpukkan Yo Tun-hou ke belakang tadi kebetulan melayang ke depan si dara cilik. Segera ia sambut ayam panggang itu dengan tangannya yang kecil itu, katanya.

"Aku hanya minta sebuah paha saja, mengapa kau memberi seekor penuh kepadaku?"

Karena melayangnya ayam panggang itu ke hadapannya, maka pandangannya menjadi teralih, maka nona cilik itu tidak melihat jelas pengiringnya yang tua itu sudah mulai bergebrak dengan Yo Tun-hou.

"Lekas lari saja, Siocia!"

Seru si lelaki jangkung berbaju biru kepada si dara. Tapi Be Seng-liong lantas menanggapi.

"Huh, jangan harap budak cilik ini dapat melarikan diri lagi!"

Berbareng ia terus merintangi jalan keluar serta hendak menawan si nona.

Lelaki itu ingin menolong anak asuhannya itu, tapi kena dirintangi Yo Tun-hou.

Walaupun kekuatan lelaki baju biru itu sedikit lebih lihai daripada Tun-hou, tapi dalam waktu singkat ia pun tidak dapat berbuat apa-apa atau mengalahkannya.

Sementara itu Be Seng-liong telah mendesak maju mendekati si nona cilik dengan menyeringai iblis.

"Kau berani mengganggu seujung rambutku saja, tentu ayahku akan mampuskan kalian seluruhnya!"

Bentak anak dara itu tanpa gentar.

"Hehehe! Siapa sih ayahmu?"

Tanya Be Seng-liong dengan menyengir ejek.

"Tidak perlu menyebut nama ayahmu Siocia!"

Seru si lelaki jangkung tadi.

"Ya,"

Sahut si dara cilik.

"Untuk membunuh beberapa bangsat begini memangnya juga tidak perlu membikin capai ayahku."

Be Seng-liong menjadi gusar.

"Kurangajar! Anak kecil seperti kau juga berani membual? Sekalipun kau adalah putri Kang Hay-thian juga tetap akan kusembelih kau!"

"Haha, putri Kang Hay-thian sudah dilukai oleh Jianjiu-koan-im, darimana bisa muncul seorang putrinya lagi,"

Ujar Lok Khik-si dengan tertawa.

"Bereskan saja, Samte, tak perlu kau takut."

Rupanya Lok Khik-si hanya memperhatikan si lelaki baju biru saja.

Diam-diam ia telah mengambil keputusan bila nanti lawan dan Yo Tun-hou sudah sama-sama payah, barulah dia sendiri akan turun tangan, dengan demikian dia .akan dapat menarik keuntungan tanpa susah-susah.

Perihal nona cilik itu hakikatnya tidak diperhatikan olehnya.

Tak tersangka, ketika Be Seng-liong mencaci-maki si dara cilik tadi, sebelum mulutnya terkatup kembali, sekonyong-konyong anak dara itu telah menimpukkan ayam panggang yang dipegangnya itu ke arah Be Sengliong sambil mendamprat.

"Kalian ini memang bangsat busuk semua, aku tidak sudi makan barangkalian ini!"

Bilamana lawan adalah orang dewasa, boleh jadi Be Seng-liong akan berlaku hati-hati, tapi karena sekarang yang dihadapinya cuma seorang anak kecil yang dianggapnya masih ingusan, maka sedikitpun tidak dipandang sebelah mata olehnya.

Siapa tahu justru kelengahannya ini telah mengakibatkan dia menelan pil pahit.

"Plok ... hauuuup tahu-tahu mukanya telah tertimpuk ayam panggang, celakanya kepala ayam panggang yang panjang itu persis menyelonong masuk ke dalam mulutnya. Keruan ia tersedak dan kelabakan. Dalam kalapnya ia bermaksud mencaci-maki namun tidak bisa lagi.

"Huuh, enak ya rasanya?"

Demikian si dara cilik itu malah mengejek dengan mengikik geli.

"Lekas, lekas lari!"

Si lelaki jangkung meneriakinya lagi.

Setelah ayam panggangnya berhasil hinggap di muka Be Seng-liong, mestinya kesempatan baik itu dapat digunakan si nona untuk melarikan diri.

Tapi dasar masih anak-anak, karena geli melihat ayam panggang itu tergantung di mulut Be Seng-liong yang menjadi kelabakan dan lucu itu, ia menjadi lupa melarikan diri.

Ia baru sadar dan kaget ketika kemudian Be Sengliong mendadak memelompat ke atas terus menubruk ke arahnya.

Melihat tubrukan yang beringas ini, cepat nona cilik itu menyambar sebatang kayu berapi, katanya dengan tertawa.

"Ayam panggang itu belum lagi matang, ini, biar kutambahi apinya!"

Berbareng tangkai kayu itu terus ditimpukkan ke depan. Akan tetapi sekali ini Be Seng-liong sudah berjagajaga, sudah tentu tidak gampang kecundang lagi.

"Krek", mendadak kepala ayam telah dikertaknya hingga putus, menyusul lantas disemburkan sehingga tangkai kayu berapi itu dengan tepat terbentur jatuh. Baru sekarang si nona cilik terkejut dan mengetahui lawannya itu tidak empuk.

"Budak setan, kau berani mempermainkan Locu (bapakmu) ini, rasakan kepalanku!"

Maki Be Seng-liong, dengan murka ia terus menguber maju, kedua tangannya yang lebar itu lantas mencengkeram.

Namun si nona cukup gesit, beberapa kali tubrukan Be Seng-liong hanya mengenai tempat kosong sehingga dia berkaok-kaok murka.

Rupanya Lok Khik-si merasa geli juga melihat kelakuan saudara angkatnya itu, katanya dengan tertawa.

"Losam, kenapa mesti gugup menghadapi seorang anak kecil? Asal kau jaga pintu saja masakah dia mampu kabur?"

Perhatiannya masih tetap dipusatkan atas diri si lelaki baju biru yang saat itu sudah bergebrak belasan jurus dengan Yo Tun-hou dan masih tetap sama kuatnya, walaupun Yo Tun-hou lebih asor sedikit, namun Lok Khiksi tetap belum mau ikut turun tangan.

Di antara Ki-lian-sam-siu memang kepandaian Be Seng-liong terhitung yang paling lemah, sekarang dia tidak mampu menangkap seorang nona cilik, tentu saja ia merasa malu dan penasaran.

Dalam murkanya ia terus mencabut golok dan main bacok.

Dengan demikian keadaan si nona menjadi berbahaya, berulang-ulang ia harus menghindarkan bacokan dan tabasan musuh, untunglah dia masih cukup gesit untuk menyelamatkan diri.

Melihat itu, timbul juga rasa keadilan Li Kong-he.

Mendadak ia melompat maju sambil berseru.

"Hei, Besioksiok mana boleh kau menggunakan golok Baru sekian dia bersuara, tiba-tiba Be Seng-liong telah memperingatkannya.

"Awas, kau jangan maju, nanti kau yang terkena golokku!"

Berbareng senjatanya terus menabas ke sana dan kemari dua kali.

Ini adalah 'Hwehwe-to-hoat', ilmu golok bolak-balik, yang terkenal dari keluarga Be mereka.

Di sebelah lain, si lelaki baju biru menjadi kautir juga, bentaknya gusar.

"Bangsat yang tidak kenal malu! Kalian cuma berani menganiaya seorang anak kecil saja, dasar pengecut!"

Saking murkanya serentak ia mengerahkan segenap tenaganya, kedua tangannya menghantam sekaligus ke arah musuh.

"Plak", terpaksa Yo Tun-hou menangkis serangan dahsyat ini, namun ia sendiri tergetar mundur, dadanya terasa sesak seperti digodam, pandangannya menjadi gelap. Maksud si lelaki baju biru menghantam mundur Yo Tun-hou adalah ingin menolong si nona cilik yang terancam bahaya itu. Namun ketika dia sempat membalik tubuh, keadaan sudah agak kasip, tertampak sinar golok Be Seng-liong berkelebat dan sedang menabas ke arah leher si nona. Syukurlah pada saat itu Kong-he yang berdiri lebih dekat itu lantas melompat maju pula ke belakang Be Seng-liong. Kontan ia depak belakang lutut 'kuda mengalahkan naga' itu. Maka terdengarlah suara gedebukan, tanpa ampun lagi tubuh Be Seng-liong yang gede laksana kerbau itu terus roboh terjungkal. Kiranya dengan tepat depakan Kong-he itu telah mengenai Hiat-to di belakang lutut sasarannya. Cara mendepak Hiat-to ini adalah ajaran ayahnya, tenaga Kong-he meski kecil toh Be Seng-liong juga tidak tahan, seketika terkulai dan tak bisa berkutik. Perubahan kejadian ini benar-benar sangat di luar dugaan dan mendadak. Ketika Lok Khik-si sempat memburu maju, sementara itu si . lelaki baju biru sudah lantas menyeret si nona cilik dan dibawa lari keluar kelenteng. Sebenarnya dengan mengerahkan segenap tenaga pukulannya dan membikin mundur Yo Tun-hou, maka si lelaki baju biru itupun sudah sedikit terluka dalam, cuma Lok Khik-si tidak tahu hal ini, maka dia tidak berani mengejarnya. Ketika ditarik lari keluar kelenteng, si dara cilik itu masih sempat menoleh sambil tertawa manis sehingga dua lekuk kecil di pipinya kelihatan, dia berkata kepada Kong-he.

"Terima kasih ya atas pertolonganmu!"

Baru sekarang Kong-he merasa perbuatannya tadi tentu akan membawa akibat celaka.

Benar juga, selagi dia bingung tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya, saat itu Hiat-to Be Seng-liong yang terdepak tadi sudah lancar kembali, sambil menggerung gusar ia lantas melompat bangun terus mencengkeram ke atas kepala Kong-he dan memaki.

"Kau anak jadah Belum sempat dia menjamah bocah itu, tahu-tahu Lok Khik-si sudah menghadang di depannya untuk melindungi Kong-he, serunya.

"Sabar dulu, Losam, hendaklah kau memaafkan maksud baik He-ji tadi."

"Maksud baik? Dia membela orang lain masakah bermaksud baik?"

Seng-liong menegas dengan marahmarah.

Dalam pada itu Yo Tun-hou sedang berdiri membelakangi ke sana dan memuntahkan sekumur darah segar.

Dengan keras lawan keras ia telah menyambut pukulan si lelaki baju biru tadi sehingga terluka dalam.

Sudah tentu diam-diam ia dendam kepada Lok Khik-si yang sejak tadi hanya menonton saja dan tidak mau membantu.

Lalu ia mendekati mereka dan ikut menegur.

"Ya, Losam, buat apa kau mesti marah kepada seorang anak kecil?"

Biasanya Be Seng-liong paling takut kepada saudara angkat kedua itu. Sebenarnya ia pun tahu apa sebabnya kedua kawannya itu membela Kong-he, maka dengan menyengir segera ia menjawab.

"Masakah aku marah kepada anak kecil? Hehe, aku justru sangat sayang padanya!"

Dan untuk memperlihatkan kesungguhannya itu ia pura-pura menepuk-nepuk pundak Kong-he.

Sudah tentu bukannya senang, sebaliknya Kong-he mengkirik mendengar suara tertawa iblis Be Seng-liong.

Dalam pada itu Yo Tun-hou telah berkata.

"Jejak kita telah diketahui orang luar, besok pagi-pagi kita harus lekas berangkat. Eh. Lotoa, apakah urusanmu sudah beres?"

"Sudah, aku sudah berjanji untuk bertemu kawankawan kita di tengah jalan, rasanya tidak perlu takut apa-apa lagi,"

Sahut Lok-lotoa. Kawan yang dia maksudkan adalah jago istana yang telah dihubunginya itu. Yo Tun-hou dan Be Seng-liong lantas paham maksudnya.

"Bangsat tadi telah melarikan diri, rasanya dia takkan berani datang lagi,"

Kata Tun-hou.

"Cuma kita masih perlu waspada, malam ini kita harus berjaga secara bergiliran. Hiantit, kau pun perlu lekas tidur supaya besok pagi-pagi dapat berangkat."

Akan tetapi mana Kong-he dapat pulas? Dalam benaknya selalu timbul suatu pertanyaan.

"Lok-pepek dan kedua paman ini apakah benar-benar orang baik?"

Adegan Be Seng-liong mengayun goloknya hendak membunuh si nona cilik tadi lantas terbayang olehnya, dampratan si lelaki baju biru atas perbuatan keji Yosioksiok dan Be-sioksiok itupun mengiang pula di tepi telinganya.

Pikir Kong-he.

"Ya, Yo-sioksiok dan Be sioksiok pastilah bukan manusia baik-baik, caci-maki lelaki itu memang benar."

Hanya saja apakah Lok-pepek orang baik atau jahat, untuk ini dia masih belum yakin betul.

Namun Lok-pepek telah bersaudara dengan dua orang manusia busuk, betapapun baiknya Lok-pepek rasanya juga terbatas.

Begitulah makin dipikir makin takut hati Kong-he, akhirnya timbul juga keinginannya untuk melarikan diri.

Akan tetapi ia dijaga oleh tiga orang dewasa yang berkepandaian tinggi, apakah mudah baginya untuk kabur?

Begitulah karena pikirannya yang kacau itu, tanpa terasa fajar sudah menyingsing.

Sebenarnya luka dalam Yo Tun-hou tidaklah ringan, dia telah makan obat yang dibawanya sendiri serta sudah mengaso semalam, tapi dadanya masih terasa sakit.

Namun wataknya yang tidak mau kalah itu membuatnya berlagak gagah, dia tetap berangkat pagi-pagi menurut rencana.

"Kau tetap bersatu kuda dengan aku, Hiantit,"

Kata Lok-lotoa kepada Kong-he.

Baru sekarang Yo Tun-hou ingat bahwa Lok-lotoa ternyata tidak membeli kuda baru sebagaimana pesannya kemarin.

Baru saja dia hendak menegur, tibatiba Lok Khik-si sudah memberi penjelasan.

"Kemarin sudah terlalu malam, setiba di kota keadaan sudah sunyi, semua pedagang sudah tutup pintu, terpaksa aku tak dapat membeli kuda baru."

Mestinya Yo Tun-hou hendak mengomel, tapi demi teringat Kong-he sedang memperhatikan percakapan mereka, agar tidak menimbulkan curiga, terpaksa Tun hou urung membuka suara lagi.

Segera ia memegang pelana dan memanjat ke atas kudanya.

Walaupun dia sudah bertahan, namun tidak urung dia meringis kesakitan.

Lok Khik-si lantas mengetahui bahwa kawannya terluka dalam yang tidak ringan, ia pura-pura menghela napas dan berkata.

"Aku menjadi teringat kepada suatu hal yang agak berbahaya, betapapun juga kita harus berhati-hati."

"Bahaya apa?"

Tanya Yo Tun-hou melengak.

"Loji, lelaki yang bergebrak dengan kau kemarin itu, kepandaiannya tidak rendah bukan?"

Tanya Khik-si. Tun-hou pura-pura berlagak tidak menghargai kepandaian orang, sahurnya.

"Ya, tapi untuk bisa menangkan aku paling sedikit dia harus berlatih sepuluh tahun lagi. Untung dia dapat melarikan diri, tapi tidak urung dia juga sudah terluka kena pukulanku."

Diam-diam Khik-si menertawai kawannya yang punya bacot besar itu, namun ia berkata pula.

"Loji, memangnya siapa yang tidak kagum kepada kepandaianmu. Tapi lelaki itu mampu bergebrak sampai puluhan jurus dengan kau, mau tak mau harus diakui kepandaiannya bukanlah kaum keroco."

Yo Tun-hou menjadi senang, katanya dengan tertawa.

"Ya, memang demikian!"

"Tapi, Loji, kau jangan lupa, menurut pembicaraan orang itu dengan si dara cilik, bukankah dia hanya seorang hamba saja?"

Ujar Khik-si.

"Hamba atau majikan, apa soalnya?"

Tanya Yo Tunhou.

"Kepandaian hambanya saja begitu lihai, maka dapatlah dibayangkan bagaimana kepandaian majikannya,"

Sahut Khik-si.

"Bukankah budak cilik itu pernah menggertak kita, katanya kita akan dibinasakan semua oleh ayahnya?"

"Lantas kau takut, Lotoa?"

Tun-hou mendengus. Dia pura-pura tenang, padahal ia sendiri pun agak kuatir.

"Takut sih tidak, tapi tiada jeleknya kalau kita berjagajaga,"

Ujar Khik-si.

"Maksudku adalah paling baik kalau kita membikin dia tidak mampu pulang untuk melapor ke majikannya. Sekarang fajar baru saja menyingsing, dia pun terluka, rasanya takkan lari terlalu jauh dan boleh jadi masih berada di lereng bukit ini. Maka lekas kita mengejarnya, mungkin kita masih dapat membabat rumput sampai akar-akarnya."

Kong-he terkejut.

"Ha, kiranya Lok-pepek juga bukan manusia baik-baik. Dia mau babat rumput sampai akarakarnya, bukankah ia pun bermaksud membunuh si nona cilik pula?"

Rupanya Khik-si juga kuatir dicurigai Kong-he, maka ia lantas memberi penjelasan.

"Hiantit, apa yang kami lakukan ini adalah untuk kepentinganmu, yaitu agar berita tentang dirimu tidak sampai bocor."

"Aku lebih suka ditangkap daripada membikin celaka nona cilik itu,"

Kata Kong-he.

"Lok-pepek, harap kau mengampuni saja nona itu."

"Hatimu memang baik, tapi apakah terpikir olehmu bilamana kau tertangkap, maka kami bertiga juga akan ikut celaka?"

"Toh nona cilik dan pengiringnya itu belum pasti adalah orang-orang pemerintahan?"

Ujar Kong-he.

"Betapapun juga, yang pasti permusuhan kita dengan mereka sudah terjadi,"

Kata Lok Khik-si.

"Jika sekarang membiarkan mereka melarikan diri, kelak kalau ayahnya mencari balas, tentulah aku dan kedua pamanmu yang akan dicarinya. Maka daripada meninggalkan penyakit di kemudian hari, ada lebih baik sekarang juga kita dianggap kejam. Sebagai orang Kangouw, kau masih harus belajar lebih banyak."

Kong-he tahu tiada gunanya banyak bicara lagi, ia menjadi nekat. katanya.

"Jika kalian bersikeras mau membunuh nona cilik itu, bolehlah kalian pergi, aku tak mau ikut."

Melihat kebandelan Kong-he, mau tak mau Yo Tunhou bertiga menjadi ragu-ragu.

"Eh, Loji,"

Tiba-tiba Lok Khik-si membuka suara pula.

"Mengapa kita menjadi pikun. Untuk membunuh lelaki itu kan tidak perlu kita sendiri yang turun tangan. Bukankah kita masih banyak kawan-kawan yang berjanji akan bertemu dengan kita di tengah jalan sana?"

"O. ya betul!"

Seru Tun-hou.

"Lotoa. silakan kau memapak mereka lebih dulu."

"Kukira Titii Derlu perlindunganku, rasanya lebih baik Loji sendiri...."

Belum lanjut ucapan Khik-si, cepat Yo Tun-hou lantas memotong.

"Sudahlah, kau saja yang pergi dulu, Losam!"

"Aku!"

Be Seng-liong terkejut.

"Tapi aku..."

"Sudahlah jangan rewel lagi,"

Bentak Tun-hou.

"Lelaki itupun sudah terluka, masakah kau takut?"

Biasanya Seng-liong paling jeri kepada Yo Tun-hou, terpaksa ia menjawab.

"Baiklah, aku yang berangkat!"

Diam-diam Kong-he mengeluh, terpaksa ia hanya berdoa saja agar dara cilik itu tak mengalami cidera apaapa di tengah jalan.

Lalu ia ikut berangkat bersama Lok Khik-si dan Yo Tun-hou.

Jika di sini Kong-he berkuatir bagi si nona cilik, maka saat itu si nona cilik juga lagi berkuatir bagi keselamatan Kong-he.

Semalam sesudah lelaki itu menyeret lari si nona cilik, sekeluarnya dari kelenteng segera ia gendong anak dara itu terus dibawa lari secepat terbang dan sekuat mungkin walaupun dengan menahan luka.

"Lau-taysiok, kita kan tidak boleh terus melarikan diri dengan begini saja?"

Demikian si nona cilik berseru kepada pengiringnya itu.

"Sebab apa?"

Tanya si lelaki baju biru.

"Orang lain telah menyelamatkan jiwaku, mana boleh aku membiarkan dia jatuh di tangan orang-orang jahat itu?"

Kata si nona.

"Apakah kau maksudkan anak laki-laki itu?"

"Benar, apakah kau tidak tahu bocah itu tadi telah menyelamatkan jiwaku? Tapi siapa namanya aku pun lupa bertanya padanya."

"Kita sendiri hampir-hampir celaka, masakah masih memikirkan orang lain? Bocah itu memanggil mereka sebagai paman, betapapun dia adalah begundal mereka."

"Tidak, aku yakin bocah itu pasti bukan sanak keluarga orang-orang jahat itu. Aku menyaksikan sendiri seorang penjahat itu melotot dan mendampratnya. Jika benar paman sekeluarga, tentu bocah itu takkan diperlakukan secara begitu galak."

"Ah, sudahlah,"

Ujar si lelaki baju biru.

"Apakah dia sanak keluarganya atau bukan, mau tak mau kita tak dapat mengurusnya lagi. Terus terang kukatakan, aku telah terluka dalam pertarungan tadi. Kita harus lekas meninggalkan tempat ini."

"Ha, kau terluka?"

Si nona cilik menegas dengan kuatir.

"Ya, memangnya kau anggap Lau-taysiokmu ini tiada tandingannya di dunia ini? Yang benar-benar tiada tandingannya di kolong langit ini hanyalah ayahmu seorang. Maka sesudah kita pulang bolehlah kau minta ayahmu yang mencari tahu asal-usul bocah lelaki itu. Sekarang jangan banyak bicara, aku akan berlari lebih cepat lagi."

Segera anak dara itu mendekam di punggung Lautaysiok (paman Lau) itu, terdengarlah suara angin mendesir-desir, pohon dan tumbuh-tumbuhan di kedua samping secepat kilat berkelebat ke belakang.

Diam-diam dara cilik itu membatin.

"Ginkang Lau-taysiok masih begini hebat, rasanya luka yang dideritanya tidaklah terlalu parah."

Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya luka dalam abdi pengiringnya itu tidaklah enteng, soalnya Lau-taysiok itu ingin cepat-cepat membawa anak dara itu meninggalkan tempat yang berbahaya itu sejauh mungkin, maka ia telah mengerahkan segenap sisa tenaganya.

Selagi mereka kabur ke depan secepat terbang, sekonyong-konyong di depan sana berjangkit angin, dari dalam hutan mendadak melompat dua ekor harimau kumbang.

Seekor di antaranya adalah binatang yang terkena Piau si baju biru tadi, hal ini tampak pada pinggulnya yang masih berdarah.

Kiranya kedua ekor harimau kumbang itu adalah jantan dan betina.

Yang jantan terluka oleh Piau yang ditimpukkan lelaki baju biru tadi, maka dia telah mengundang yang betina untuk membalas dendam.

Harimau adalah rajanya binatang, daya ciumnya sangat tajam, maka ia dapat mengenali musuhnya.

Melihat ada harimau menghadang, kontan si baju biru menyambitkan sebuah Piau lagi.

Rupanya harimau jantan itu sudah kapok, cepat ia mendak ke tanah sehingga terhindar dari serangan Piau.

Dalam pada itu dengan cepat luar biasa harimau betina itu sudah menggerung sambil menubruk dari atas.

Tapi sedikit mengegos, bersamaan telapak tangan si lelaki baju biru lantas menghantam dan tepat mengenai kepala raja hutan itu.

Harimau betina itu terguling ke samping, tapi cakarnya sempat menggaruk sehingga kulit lengan Lau-taysiok terbeset dan berlumuran darah.

Untuk meringankan beban abdi pengiringnya itu, cepat si nona melompat ke atas pohon.

Pada saat itulah harimau jantan juga sudah menubruk tiba.

Sebenarnya luka cakaran itu tidak terlalu parah, namun si lelaki baju biru menjadi kaget juga.

Sebab tenaga pukulannya biasanya dapat menghancurkan pilar batu, tapi sekarang batok kepala harimau betina itu toh tidak sampai pecah, bahkan tidak dapat membinasakannya, hal ini mempelihatkan bahwa tenaga dalamnya sudah sangat lemah.

Untunglah pada saat yang berbahaya itu, si nona yang berada di atas pohon sempat mematahkan setangkai ranting pohon, segera ia menimpukkannya sebagai anak panah.

Walaupun tenaganya kecil, namun timpukannya cukup jitu.

Saat itu harimau jantan itu sedang menubruk ke arah si lelaki baju biru, maka sebelah matanya dengan cepat tertimpuk ranting kayu itu sehingga buta seketika.

Sesudah tidak menggendong si nona lagi, gerak-gerik si lelaki baju biru menjadi lebih enteng dan gesit, cepat ia pun mengegos ke samping dan jarinya secepat kilat lantas digunakan mencolok sebelah mata harimau yang lain, kontan biji mata binatang itu kena dikoreknya keluar sehingga buta semua.

Habis itu cepat Lau-taysiok melompat ke belakang pohon.

Karena kedua matnya sudah buta, harimau jantan itu lantas mengamuk, sambil menggerung kalap ia terus menyeruduk maju sehingga kepalanya tepat menumbuk batang pohon, kontan kepalanya pecah dan menggeletak tak berkutik lagi.

Dalam pada itu harimau betina juga ikut menyerang lagi, ekornya menegak, mulutnya menyeringai buas, terpaksa lelaki baju biru mengitari pohon untuk menghindari tubrukan harimau itu sehingga binatang itu menjadi pusing.

Pada suatu kesempatan, lelaki baju biru itu cepat mencengkeram kulit tengkuk raja hutan itu terus ditekan ke bawah sehingga mencium tanah, bersamaan sebelah kepelan cepat menghujani binatang itu dengan pukulanpukulan.

Setelah beberapa puluh kali gebukan barulah harimau betina itu menggeletak tak berkutik, sementara itu si lelaki baju biru sendiri juga sudah kembang-kempis napasnya.

Melihat kedua ekor harimau itu sudah binasa, cepat si dara cilik melompat turun dari pohon dan segera si lelaki baju biru menggendongnya berlari pula.

"Lau-taysiok, engkau tentu sudah lelah, biarlah aku berlari sendiri saja,"

Kata dara cilik itu.

"Tidak, kita sudah terhalang sekian lamanya, maka kita harus berlari lebih cepat,"

Jawab lelaki baju biru.

"Pula hari sudah gelap dan jalanan licin, tentu kau tidak dapat mengikuti aku. Aku tidak lelah, tenagaku masih cukup."

Walaupun begitu, namun si dara mendengar napasnya sudah terengah-engah.

Sampai di sini lelaki itu tidak tahan lagi, langkahnya mulai sempoyongan dan hampirhampir jatuh.

Cepat si nona cilik meronta turun, katanya.

"Lautaysiok, kau tidak kuat berjalan lagi. Marilah aku memajang engkau saja."

"'Tidak perlu,"

Sahut si lelaki sambil duduk di atas batu di tengah jalan.

"kita boleh mengaso sebentar di sini, jika hari sudah terang, tentu kawan-kawan kita sendiri sudah keluar pula dan aku akan memberikan tanda minta pertolongan kepada mereka."

"Apakah ayah menyebarkan banyak orang untuk mencari aku?"

Tanya si nona cilik.

"Sudah tentu, karena kau pergi tanpa omong sehingga ayahmu sangat kuatir."

"Ya, akulah yang salah sehingga membikin susah Lautaysiok pula."

"Selanjutnya kau jangan nakal lagi. Jika mau mainmain ke Cong-lam-san juga mesti minta izin dulu kepada ayahmu."

"Aku telah berjanji akan main-main ke rumah Nyokoko, jika ayah tahu tentu akan melarang diriku."

"Ai, sungguh nakal kau ini. Keluarga Nyo itu tampaknya lelaki baju biru itu ingin mengatakan apa-apa, tapi napasnya sudah memburu. Dan sebelum dia melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara derapan kaki binatang, dua ekor kuda secepat terbang sedang mendatangi. Lelaki itu terkejut, ia pikir.

"Hebat sekali kedua ekor kuda ini, penunggangnya tentu juga bukan orang sembarangan. Celakalah jika mereka adalah sekomplotan dengan ketiga bandit semalam itu."

Mestinya ia inein berbangkit.

taDi badan terlalu lemas dan terpaksa duduk kembali.

Dalam sekejap saja kedua penunggang kuda itu sudah sampai di depan mereka.

Penunggang-penunggang itu terdiri dari seorang laki-laki setengah umur berwajah kereng dan seorang pemuda tampan.

Begitu sampai di depan mereka segera melompat turun.

"Siapa kalian?"

Segera si nona cantik menegur.

"Jangan kuatir nona cilik, kami adalah orang baikbaik,"

Sahut pemuda dengan tertawa. Mendadak si lelaki setengah umur itu bersuara kaget, segera ia mendekati si lelaki baju biru dan bertanya.

"Siapakah saudara ini? Mengapa terluka dalam?"

Hanya sekali pandang saja orang lantas tahu dirinya terluka dalam, terang sekali orang ini adalah tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, keruan si lelaki baju biru terkejut.

Karena tidak tahu asal-usul penanya itu, ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab.

Tapi si nona cilik sudah lantas mewakilkan menjawab.

"Dia adalah Lau-taysiok, dia adalah pengiringku. Kau mengetahui dia terluka, tentunya kau pun bisa mengobati?"

Lelaki setengah umur itupun terheran-heran, dilihatnya lelaki baju biru itu terang memiliki Lwekang yang lumayan, tak dinyana hanya seorang pengiring, seorang hamba saja.

Lalu siapakah majikannya yang pasti jauh lebih hebat itu?

Segera ia pun menjawab.

"Ya, jika kalian sudi, Cayhe suka saja melakukan sebisanya."

"Terima kasih,"

Ujar si lelaki baju biru.

"Tampaknya kalian buruburu dalam perjalanan ini, kita selamanya juga belum kenal, tak perlulah membikin susah padamu."

"Ah, sama-sama orang pengembaraan sudah seharusnya saling membantu dan tidak perlu mesti saling kenal,"

Ujar si lelaki setengah umur dengan tertawa.

"Ini adalah Siau-hoan-tan..."

"O, Siau-hoan-tan?"

Si nona cilik menegas.

"Ayahku bilang..."

"Tidak perlu banyak omong, Siau Hoa!"

Bentak si lelaki baju biru. Lalu ia memberi hormat kepada lelaki setengah umur, katanya.

"Maksud baikmu biarlah kuterima di dalam hati. Silakan engkau melanjutkan perjalanan saja."

Si pemuda menjadi kurang senang, serunya.

"Suhu, orang tidak mau terima maksud baik kita, buat apa kita mesti memaksa. Hm, benar-benar tidak tahu diri."

"Apa katamu?"

Rupanya si lelaki baju biru menjadi aseran juga.

"Mati atau hidup adalah urusanku sendiri, buat apa kau ikut pusing? Aku tidak mau terima obat kalian, lantas kalian memaki orang sesukanya?"

"Diam, Leng-hong!"

Bentak si lelaki setengah umur sebelum si pemuda buka suara pula. Lalu katanya kepada si lelaki baju biru.

"Ucapan muridku ini mungkin menyinggung perasaanmu, harap dimaafkan. Kau tidakkenal asal-usulku, tidaklah heran kalau engkau merasa sangsi. Aku adalah..."

"Suhuku adalah Kang-tayhiap, tentu kau pun pernah mendengar nama beliau!"

Sela si pemuda.

"Dia memberi obat padamu, masakah kau kuatir malah?"

Kiranya kedua orang ini memang Kang Hay-thian dan Yap Leng-hong adanya.

"O, engkau adalah Kang Hay-thian Kang-tayhiap!"

Si lelaki baju biru menegas walaupun kelihatannya di luar dugaan, tapi juga tidak begitu terkejut atau heran.

"Sebutan Tayhiap sesungguhnya aku tak berani terima,"

Sahut Hay-thian dengan rendah hati.

"Selama hidup aku hanya suka bersahabat, maka Siau-hoan-tan ini bolehlah kau terima saja."

Dengan memperkenalkan namanya. Kang Hay-thian mengira orang tentu takkan curiga lagi padanya. Di luar dugaan lelaki itu tetap menjawab.

"Terima kasih. Obat itu silakan Kang-tayhiap simpan kembali. Aku menerimanya di dalam hati saja."

Diam-diam Kang Hay-thian merasa heran dan menganggap lelaki itu terlalu tidak kenal kebaikan orang.

"Lau-taysiok, obat itu ..."

Demikian si nona cilik tampaknya hendak menganjurkan lelaki itu menerima obat pemberiannya. Tapi si lelaki baju biru sudah lantas memutus ucapannya.

"Siau Hoa, apakah kau sudah melupakan peraturan rumah?"

Kang Hay-thian menjadi heran, tapi mengingat pantangan orang Kangouw, tidaklah enak untuk bertanya kepada mereka.

Agaknya lelaki itupun merasa sikapnya itu terlalu kaku, segera ia berkata pula dengan menyesal.

"Kang-tayhiap, maafkan aku telah mengecewakan maksud baikmu, sesungguhnya ini adalah peraturan majikan yang harus kupatuhi. Dendam dan budi selamanya dipisah-pisahkan secara tegas oleh Cujin (majikan) kami, beliau melarang bawahannya bermusuhan dengan orang, tapi juga melarang anak buahnya sembarangan menerima budi kebaikan orang. Lebih-lebih engkau adalah Kang-tayhiap, jika aku sudah menerima budi pertolonganmu, maka entah cara bagaimana Cujin harus membalas kabaikanmu, bukankah aku akan menambah susah kepada Cujin?"

"Tapi lukamu tidaklah ringan, kalau tidak lekas disembuhkan mungkin tidak tahan sampai besok,"

Ujar Hay-thian.

"Memang, yang kukuatirkan hanya di dalam beberapa jam ini saja, jika di dalam beberapa jam ini aku dapat bertahan, tentu juga kawanku sudah datang."

"O, kiranya demikian. Siapakah nama majikanmu yang terhormat itu, dapatkah kau menerangkannya?"

"Maafkan, Cujin sudah lama mengasingkan diri dan tiada hubungan dengan orang Kangouw. Sudah tentu Kang-tayhiap tak dapat disamakan dengan orang Kangouw biasa, tapi untuk memberitahukan nama Cujin, sebelumnya Cayhe harus minta izin dahulu kepada beliau."

Melihat lelaki baju biru ini semakin gagah dan tegas tutur katanya, namun dia hanya seorang pengabdi saja, maka Kang Hay-thian menjadi tambah mengindahkan majikan yang belum dikenalnya itu.

Segera ia berkata.

"Jika demikian, terpaksa aku harus menyesalkan diriku sendiri yang tiada kesempatan untuk berkenalan dengan Cujinmu."

Dan baru saja ia hendak tinggal pergi, tiba-tiba si nona cilik membuka suara.

"Kang-tayhiap, menurut ayahku, katanya ilmu silatmu terhitung nomor satu di dunia ini, maka ayah juga sangat ingin berkenalan dengan kau."

"Hah, bagus,"

Sahut Hay-thian dengan girang.

"Dimanakah tempat kediamanmu, bolehkah kau menerangkan? Sesudah urusanku selesai tentu aku akan berkunjung kepada ayahmu."

"Biasanya ayahku yang berkunjung kepada tamunya, beliau tidak suka kalau dikunjungi tamu,"

Sahut si dara cilik.

"Jika engkau ingin bertemu dengan ayah, biarlah sesudah pulang nanti akan kuberitahukan beliau, engkau boleh tunggu akan kunjungannya kelak."

Hay-thian agak kecewa dan merasa aneh benar perangai ayah si nona itu, katanya kemudian.

"Rumahku berada di Nyo-keh-ceng, kabupaten Tong-peng-koan di Soatang, harap disampaikan kepada ayahmu bahwa tiga bulan kemudian tentu aku akan menantikan kunjungannya di rumah."

"Apakah ayah akan mencari engkau atau tidak, sekarang aku belum tahu pasti,"

Kata dara cilik.

"Tapi ada sesuatu permohonanku, entah Kang-tayhiap suka meluluskan atau tidak?"

"Silakan bicara, .nona cilik, asal dapat kulakukan tentu akan kuhaluskan,"

Sahut Hay-thian.

Diam-diam ia pun heran, menurut si lelaki baju biru tadi, katanya mereka dilarang mohon bantuan kepada orang luar, mengapa sekarang nona cilik ini berani melanggar peraturan ayahnya?

Benar juga terlihat si lelaki baju biru sedang mengerut kening dan melotot kepada si nona jelita.

Tapi nona itu lantas berkata.

"Jangan marah dulu, Lau-taysiok. Permohonanku ini adalah demi orang lain, mana dapat dianggap pelanggaran atas larangan ayah."

"Orang lain siapa?"

Tanya Hay-thian dengan tersenyum.

"Dia adalah seorang anak laki yang baik hati,"

Tutur si nona.

"Cuma sayang dia berada di dalam cengkeraman orang jahat. Apakah Kang-tayhiap suka menolongnya?"

Semangat Kang Hay-thian seketika terbangkit, cepat ia bertanya.

"Bukankah anak itu she Li?"

"Entah aku tidak tahu,"

Sahut si nona cilik.

"Yang kutahu adalah di antaranya namanya terdapat huruf He, sebab di antara penjahat-penjahat itu ada yang memanggil dia anak He."

"Aha, benar, dia pasti Li Kong-he adanya,"

Seru Haythian dengan girang.

"Lekas ceritakan, nona cilik, dimanakah penjahat-penjahat itu sekarang?"

"Jangan bilang, Siau Hoa!"

Tiba-tiba si lelaki baju biru berseru pula. Tapi si nona cilik menjawab.

"Lay-taysiok, kau telah dilukai penjahat-penjahat itu, masakah kau malah ingin melindungi mereka."

"Apakah kau sudah melupakan peraturan rumah?"

Kata lelaki itu.

"Dengan tegas ayahmu membedakan antara dendam dan budi. Kalau hutang budi membalas budi, kalau dendam harus balas dendam, selamanya beliau tak pernah pinjam tenaga orang lain. Sekarang kita telah dilukai orang, berarti mereka adalah musuh ayahmu. Sakit hati ini harus kita sendiri yang menuntut balas."

Hay-thian menjadi dongkol dan geli pula oleh peraturan-peraturan tengik yang dikatakan itu, majikannya benar-benar seorang yang tinggi hati, segera ia berkata.

"Aku hanya ingin menyelamatkan laki-laki itu, tentang penjahat-penjahat itu boleh dibiarkan tetap hidup supaya kelak kalian dapat menuntut balas padanya. Dengan demikian tentu bolehlah?"

"Tidak bisa,"

Sahut lelaki baju biru.

"Penjahat-penjahat itu takkan tunduk begitu saja padamu, tentu mereka akan melawan. Dan sekali sudah bergebrak mustahil takkan terluka atau binasa."

"Tapi anak laki-laki itu adalah putra seorang sahabatku yang harus kurebut kembali,"

Kata Hay-thian.

"Kau jangan kuatir. Kudengar bocah itu memanggil mereka sebagai paman, rasanya mereka takkan membikin susah anak itu. Kelak kalau kami menuntut balas kepada mereka, tentu bocah itu akan jatuh juga di tangan kami. Tatkala itu tentu kami akan minta kepada majikan agar berkenan menyerahkan kembali bocah itu kepadamu."

Karena lelaki itu tetap ngotot tentang peraturan majikannya. Kang Hay-thian menjadi kewalahan. Terpaksa ia bertanya.

"Kawanan penjahat itu terdiri dari berapa orang? Dapatkah kau menjelaskan?"

"Tentang ini tidaklah menjadi halangan untuk dikatakan,"

Ujar lelaki itu sesudah merenung sejenak.

"Mereka bertiga orang."

"Apakah seorang di antaranya pada jidatnya terdapat sebuah daging menonjol?"

Tanya Hay-thian.

"Betul,"

Sela si nona cilik.

"Rupanya kau juga kenal kawanan penjahat itu?"

Karena Hay-thian pernah mendengar cerita Utti Keng tentang ciri-ciri Lok Khik-si yang berjuluk Tok-kak-lok atau menjangan tanduk satu, maka yakinlah dia sekarang bahwa ketiga penjahat itu tentu Ki-lian-sam-siu adanya.

Sementara itu sang surya sudah memancarkan sinarnya yang terang cemerlang.

Sayup-sayup terdengar suara kaki kuda dari jauh.

Mendadak lelaki baju biru itu mengeluarkan beberapa buah 'Liu-sing-bau' (sebangsa petasan kembang api) dan dilepaskan ke udara sehingga menimbulkan cahaya kemilauan.

Tidak lama kemudian ada tujuh atau delapan penunggang kuda secepat terbang berlari mendatangi.

"Kawan-kawanku telah datang, Kang-tayhiap, banyak terima kasih atas perhatianmu tadi, sekarang kau tidak perlu kuatir lagi bagiku,"

Kata si lelaki baju biru.

Tapi rombongan pendatang-pendatang itu tidak kenal siapakah Kang Hay-thian.

Mereka menyangka si lelaki baju biru dilukai olehnya, maka begitu melompat turun dari kuda mereka lantas mengadakan pengepungan dan siap bertempur.

"Ini adalah Kang-tayhiap yang bermaksud menolong aku, kalian jangan sembrono!"

Cepat si lelaki baju* biru menerangkan. Hay-thian hanya tersenyum saja, katanya.

"Kami akan berangkat saja. Harap sampaikan salamku kepada majikan kalian!"

Habis itu bersama Yap Leng-hong mereka lantas mencemplak ke a'tas kuda masing-masing dan dilarikan ke depan.

"Orang itu benar-benar tidak kenal kebaikan orang, Suhu juga terlalu sabar kepadanya,"

Demikian Leng-hong mengomel di tengah jalan.

"Dia sangat setia kepada majikannya, pula terluka, masakah aku mesti memaksa pula pengakuannya?"

Ujar Hay-thian.

"Tapi kita pun sudah mendapat berita yang cukup dari mereka. Lelaki baju biru itu baru terluka semalam, boleh jadi Ki-lian-sam-siu itu masih berada di dalam lingkungan seratus li dari sini. Marilah kita mencari mereka ke jurusan datangnya tadi, jika tidak ketemu barulah kita ganti haluan. Kuda kita menang bagus, rasanya tidak susah untuk menyusul mereka."

Nyata Kang Hay-thian telah salah hitung.

Lelaki baju biru itu berpapasan dengan Ki-lian-sam-siu di atas gunung semalam, sekarang dia mencari mereka ke jurusan datangnya tadi, dengan sendirinya menjadi berlawanan arah dan dengan sendirinya dia takkan ketemukan Ki-lian-sam-siu atau tiga binatang dari pegunungan Ki-lian....

Dalam pada itu Lok Khik-si dan Yo Tun-hou sudah sampai di bawah gunung dengan membawa Li Kong-he.

Cuma si lelaki baju biru berada di selatan gunung, sebaliknya mereka turun ke sebelah utara, dengan sendirinya kedua pihak takkan kepergok lagi.

Lok Khik-si bersatu kuda dengan Li Kong-he.

Dasar orang licik, ia sudah tahu bocah itu telah menaruh curiga, maka diam-diam ia telah mengambil keputusan, jika dari mulut Kong-he sukar dikorek keterangan-keterangan dan rahasia-rahasia tentang Thian-li-kau, maka akan digunakan cara kekerasan untuk menggeledah badan bocah itu atau bila perlu akan disiksanya supaya mengaku, jika tetap tidak berhasil, sedikitnya dia toh sudah tahu dimana jejak Lim Jing, laporan ini saja sudah merupakan jasa yang tidak kecil baginya bila sampai di kotaraja.

Yo Tun-hou sudah terluka, tentu akan ketinggalan atau mungkin sekali akan jatuh sakit di tengah jalan, Be Seng-liong sudah dienyahkan pula, maka jasanya itu dapatlah dimakannya sendiri.

Yang masih dikuatirkan adalah kemungkinan dicegat musuh di tengah jalan.

Tapi dia sudah berjanji dengan jago-jago pengawal istana yang akan memapaknya di tengah jalan, rasanya takkan terjadi apa-apa.

Begitulah Lok Khik-si terbenam dalam pikirannya sendiri yang membuatnya sebentar kuatir dan sebentar senang itu.

Di lain pihak ' sepanjang jalan Li Hong-he juga terus berusaha mencari jalan untuk meloloskan diri dari cengkeraman iblis mereka.

Keadaan Yo Tun-hou memang benar cukup payah.

Sesudah sekian jauhnya mengaburkan kudanya mengintil di belakang Lok Khik-si, akhirnya ia benar-benar tidak tahan, napasnya mulai terengah-engah.

Segera ia berkata.

"Di depan ada sebuah warung minum, marilah kita mengaso dahulu dan makan sekadarnya."

Diam-diam Khik-si menertawakan kawannya itu, sahutnya.

"Baru saja belasan li jauhnya, kenapa kita tidak mengaso di kota kecil di depan sana."

"Tapi... tapi aku sudah lapar,"

Demikian kata Yo Tunhou dengan menahan gusarnya.

Khik-si pikir paling-paling kau hanya tahan sampai besok saja, maka ia pun tidak mau mempermainkannya.

Setiba di warung minum, segera mereka menambat kuda dan mengaso ke dalam warung.

Rupanya tempat itu sangat terpencil, maka warung itu tidak banyak tamunya, hanya dua orang tua tampak sedang minum secara adem-ayem sambil mengobrol ke timur dan ke barat.

Tiba-tiba Kong-he terkejut ketika tanpa sengaja dari percakapan kedua orang tua itu diketahui bahwa letak warung itu adalah di wilayah Bu-pok yang berbatasan dengan kota Tit-lik dan sama-sama termasuk di dalam propinsi Soatang.

Tempat kelahiran Thian-li-kau memangnya berada di Tit-lik, markas besarnya berada di kota Bu-ting.

Di Bupok juga terdapat cabang rahasia yang dipimpin oleh seorang tokoh bernama Thia Pek-gak.

Dari ayahnya, Kong-he pernah mendengar tentang paman Thia ini, tapi belum pernah bertemu.

Dalam pada itu.

Lok Khik-si telah memesan arak dan daging, ia makan sekenyang-kenyangnya.

Sebaliknya Yo Tun-hou tidak berani minum arak, daging pun hanya mencicipi sekadarnya saja.

Kuatir kalau keadaannya yang payah itu diketahui Lok Khik-si, segera ia mengajaknya berangkat lagi.

"Katanya kau lapar, mengapa hanya makan sedikit?"

Tanya Khik-si sengaja.

"Sudah cukup, masakan ini tidak cocok dengan seleraku, biarlah kita makan lagi di kota depan sana,"

Sahut Tan-hou.

"Haha, aku justru cocok makan dengan daging masak ini,"

Kata Khik-si dengan tertawa sambil melalap habis daharannya.

"Tapi baiklah, mari kita berangkat."

Diamdiam ia menertawai Yo Tun-hou, dengan perut kosong tentu kau akan lebih payah dalam perjalanan jauh ini.

Karena sudah makan kenyang, semangat Lok Khik-si menjadi bertambah kuat, segera ia larikan kudanya terlebih kencang.

Sekuat mungkin Yo Tun-hou menyusul dari belakang, walaupun kepala pusing tujuh keliling dan pandangan kabur, terpaksa ia pertahanan sebisanya, namun lambat-laun ia menjadi ketinggalan agak jauh.

"Lok-pepek semalam aku tidak bicara dengan sesungguhnya padamu,"

Tiba-tiba Kong-he bisik-bisik kepada Lok Khik-si.

"Tentang apa?"

Tanya Khik-si.

"Yo-sioksiok dan Be-sioksiok pernah bertanya padaku tentang keadaan Lim-kaucu,"

Tutur Kong-he.

"Tapi mereka minta aku membohongi kau, kalau tidak, aku akan dibunuh oleh mereka. Sebab itulah aku tidak berani mengatakan padamu."

"Dan apakah kau sudah memberitahukan kepada mereka?"

"Mana bisa kukatakan kepada mereka? Ya, baru sekarang aku tahu paman Yo dan paman Be itu bukan orang baik, hanya engkau Lok-pepek sendiri adalah orang baik."

"Asal kau tahu saja,"

Ujar Khik-si dengan senang. Dan baru saja kesempatan itu akan digunakan olehnya untuk membohongi Kong-he agar mau menceritakan rahasia Thian-li-kau, mendadak Kong-he berkata pula.

"Lok-pepek, kau sedemikian baiknya padaku, sungguh aku sangat malu, aku ... aku berdosa padamu."

Khik-si mengira bocah ini benar-benar terharu atas sikap baik dirinya selama beberapa hari, maka dengan suara ramah ia menghiburnya.

"Ada urusan apakah, boleh katakan saja. Tidak nanti aku marah padamu."

"Sebab sesungguhnya aku pun tidak ... tidak bicara sejujurnya padamu,"

Kata Kong-he.

"Apa katamu?"

Khik-si menegas dengan terperanjat.

"Ya, sebab berita tentang Lim-pepek yang kukatakan kemarin dulu itu sesungguhnya hanya omong kosong belaka,"

Sahut Kong-he. ' Khik-si terkejut, cepat ia bertanya.

"Habis bagaimana berita yang sesungguhnya? Dimana tempat persembunyian Lim-pepek sekarang?"

"Lim-pepek tidak bersembunyi di Cong-liong-poh, Bici, tapi dia berada di rumah Thia-pepek di Bu-pok,"

Kata Kong-he. Khik-si tambah kaget.

"Jika begitu, kan berada di sekitar sini?"

Ia menegas.

"Benar,"

Sahut Kong-he sambil menganguk.

"Apa yang kukatakan sebelumnya juga tidak bohong seluruhnya. Sebab ketika Lim-pepek berpisah dengan ayahku, beliau mengatakan lebih baik bersembunyi di tempat yang dekat daripada di tempat jauh, hal ini tentu di luar dugaan pihak kerajaan yang menyangkanya telah lari sejauh mungkin. Beliau berjanji pula dengan ayah bilamana dalam setengah bulan tidak terjadi apa-apa, maka ayah diminta datang ke rumah Thia-pepek untuk menemuinya. Lebih dari setengah bulan barulah Limpepek akan berpisah tempat persembunyian dan mungkin pergi ke Bici."

Karena uraian Kong-he itu cukup masuk akal, maka Khik-si percaya tanpa sangsi, segera ia bertanya pula.

"Siapakah nama Thia-pepekmu itu? Dimana tempat tinggalnya? Apakah kau masih ingat sejak kapan Limpepek berpisah dengan kalian?"

Kong-he pura-pura bingung dan lupa, kemudian ia menjawab.

"Kalau ... kalau tidak salah tangal 23 bulan yang lalu."

Waktu Khik-si menghitung-hitung, ternyata tepat baru 14 hari.

"Apakah kau tidak kenal Thia-pepek?"

Kong-he sengaja bertanya.

"Dia tinggal di tempat kecil ini, aku hanya pernah mendengar cerita ayahmu, tapi ... tapi belum pernah bertemu,"

Sahut Khik-si.

Ia ingin memancing Li Kong-he membawanya ke Bu-pok untuk menangkap Lim Jing, maka dia tidak berani mengaku sudah kenal, sebab setiba di Bu-pok tentu harus bertemu dulu dengan Thia Pek-gak.

"Lok-pepek,"

Kata Kong-he.

"kemarin dulu aku belum penuh mempercayai kau karena mengingat pesan ayahku. Tapi semalam kau telah melarang paman-paman Yo dan Be memaki dan memukul aku, nyatalah engkau adalah orang baik, maka aku mau mengatakan terus terang padamu. Sekarang kita kebetulan lewat di Bu-pok sini, aku ingin bertemu dulu dengan Lim-pepek, apakah engkau suka*mengantar aku ke sana?"

Diam-diam Khik-si menimang-nimang, bahwasanya Lim Jing adalah Kaucu Thian-li-kau, tentu ilmu silatnya tidak lemah, kalau pergi seorang diri mungkin tidak sanggup melawannya.

Tapi kalau tidak berani menyerempet bahaya, kuatirnya besok juga gembong Thian-li-kau itu sudah akan berpindah tempat persembunyian dan tentu akan susah dicari lagi, berarti akan kehilangan suatu jasa besar.

Akhirnya rasa ambisi menangkan pertimbangan yang lain, ia memutuskan akan mengambil resiko itu dan berangkat.

Segera ia berkata.

"Baiklah, kalau Lim-pepek berada di sana, sudah seharusnya aku pergi ke sana menemuinya. Dan selanjutnya apakah kau ingin ikut dia atau tetap ikut padaku boleh terserah kepada dirimu."

Kuatir dicurigai, lalu Kong-he pura-pura menjawab.

"Untuk seterusnya Lim-pepek masih harus berlari kiankemari, aku tidak ingin menambah kesukarannya, sudah tentu lebih baik ikut Lok-pepek saja."

"O, anak baik, kau memang pintar,"

Puji Khik-si.

"Sesudah sampai di rumah Thia-pepek, ada dua hal yang harus kau ingat baik-baik, kau harus menurut kepada pesanku ini."

"Urusan apa, silakan paman katakan,"

Tanya Kong-he.

"Karena aku belum kenal Thia-pepek itu, setibanya di sana dia tentu tak mau segera mengundang Lim-pepek untuk menemui kita, boleh jadi asal-usulku akan ditanyakan lebih dulu. Maka hal pertama harus kau ingatingat dengan baik ialah jangan mengatakan namaku yang sebenarnya. Biarlah kita mengarang suatu kisah, katakan saja dua-tiga hari yang lalu secara kebetulan aku telah menyelamatkan dirimu dari tawanan antek-antek kerajaan."

Dasar Kong-he memang sangat cerdik, dari ucapan Lok Khik-si ini segera ia tambah yakin bahwa apa yang dikatakan Khik-si sebelumnya itu semuanya adalah bohong belaka.

Karena itu Lok Khik-si merasa perlu mengarang cerita lain untuk menipu lagi dan tidak berani mengaku sebagai saudara angkat ayahnya pula.

"Buat apa kita harus berdusta kepada Thia-pepek, paman Lok?"

Demikian Kong-he pura-pura tidak paham.

"Ai, kau tidak tahu bahwa hati manusia susah diduga, tiada jeleknya kita berjaga-jaga sebelumnya,"

Ujar Khiksi.

"Kita juga belum tahu pasti apakah Lim-pepek betulbetul berada di sana, pula belum pasti Thia-pepekmu akan tetap setia kepada kawan sendiri, bukan mustahil dia telah terpancing dan akan menjual Lim-pepek kepada pihak kerajaan. Dan bila datang-datang kita lantas memberitahukan asal-usulku, bukankah kita akan cari penyakit sendiri? Maka kita harus bertemu muka dengan Lim-pepek dulu baru boleh bicara yang sebenarnya. Paham tidak sekarang?"

"Ya, paham,"

Sahut Kong-he pura-pura.

"Dan hal yang kedua?"

"Setiba di rumah Thia-pepek, sekali-kali kau jangan meninggalkan sampingku, jangan mau jika kau diminta bertemu sendirian dengan Lim-pepek. Maklumlah, aku kuatir kau akan tertipu. Tapi jika kau berada di sampingku, setiap saat aku dapat melindungi kau."

Rupanya Lok Khik-si akan menggunakan Kong-he sebagai sandera untuk memaksa Lim Jing menyerahkan diri jika betul berada di rumah Thia Pek-gak.

Ia cukup kenal watak ksatria Kangouw yang sangat mengutamakan setia kawan, asalkan bocah ini tetap berada dalam cengkeramannya, mau tak mau Lim Jing akan mati kutu dan menyerah.

Diam-diam Kong-he mengeluh, sebab hakikatnya Lim Jing tidak berada di rumah Thia Pek-gak, apalagi ia pun tidak kenal tuan rumah itu.

Sekarang Lok Khik-si melarangnya berhadapan sendirian dengan Thia Pek-gak sehingga tiada kesempatan untuk bicara.

Akan tetapi tiada jalan lain, terpaksa ia mengiakan saja.

Kemudian Lok Khik-si melambatkan kudanya dan berseru.

"Loji, lekas! Aku ingin bicara padamu."

Saat itu Yo Tun-hou lagi pusing kepala dan napas memburu, karena didesak, dalam gugupnya darah lantas tersembur keluar dari mulutnya, kontan ia terperosot jatuh ke bawah kuda.

Khik-si terkejut dan bergirang pula, tapi ia lantas mendekati dan pura-pura bertanya.

"Kenapakah kau, Loji?"

Karena keadaannya memang payah, terpaksa Yo Tunhou tak bisa berdusta lagi, jawabnya "Lotoa, aku tidak sanggup naik kuda lagi, boleh kau membawa diriku dan menumpang pada rumah petani di sekitar sini saja."

"Wah, agak repot juga kalau begini,"

Kata Khik-si.

"Untuk urusan penting ini kita harus segera menuju ke Bu-pok. Jika kau merasa payah, bolehlah kau mengaso saja di sini. Toh sebentar Losam juga akan menyusul tiba dengan kawan-kawan yang lain. Nanti kau boleh minta bantuan seorang agar tinggal di sini untuk membantu kau, sisanya hendaklah kau suruh mereka memapak kami ke Bu-pok."

Habis itu ia lantas menambahi beberapa kalimat istilah-istilah rahasia yang hanya dipahami Ki-lian-sam-siu sendiri tentang usahanya hendak menangkap buronan.

Walaupun mendongkol karena dirinya ditinggal begitu saja di tengah jalan, kalau ketemu musuh tentu bisa celaka.

Tapi ia pun tahu tiada gunanya minta belas kasihan Lotoa yang keji itu.

Terpaksa ia lantas membakar dupa isyarat yang hanya dimiliki Ki-lian-sam-siu, yaitu berasal dari semacam tumbuh-tumbuhan di Ki-lian-san, bilamana dinyalakan, asap dupa itu akan terus bergerombol di udara tanpa buyar.

Ia harap rombongan Be Seng-liong akan melihat dupa isyarat itu dan akan segera memburu datang.

Khik-si sendiri lantas membelokkan kudanya.

Ia kuatir Kong-he merasa curiga, maka di tengah jalan ia coba memberi penjelasan bahwa segala usahanya itu adalah untuk kebaikan Kong-he belaka.

Untuk menyenangkan orang, Kong-he juga pura-pura mengiakan saja.

Thia Pek-gak cukup terkenal di daerah Bu-pok, ia tinggal di Sehiang, dusun barat di kota itu.

Dari penduduk setempat dengan mudah Khik-si mendapat keterangan tentang perkampungan keluarga Thia itu.

Ketika melihat gerbang rumah Thia Pek-gak tertutup rapat di siang bolong, diam-diam Khik-si bergirang dan yakin Lim Jing pasti bersembunyi di situ.

Sesudah pintu diketuk, keluarlah seorang penjaga tua mengamat-amati sejenak Lok Khik-si, lantas berkata.

"Thia-samya sangat sibuk, sementara itu tidak menerima orang sakit."

"Kami bukan minta pengobatan ke sini, tapi kami adalah sesama anggota,"

Kata Khik-si.

"Anggota? Anggota apa?"

Penjaga tua itu menegas. Diam-diam ia merasa sangsi, sebab di antara temanteman majikan belum pernah terdapat orang seperti pendatang ini.

"Boleh kau katakan kepada Samya bahwa putra seorang sahabat lama she Li ingin bertemu dengan beliau,"

Ujar Khik-si.

"Engkau she Li?"

Penjaga itu mengulangi lagi.

"Bukan, anak ini she Li, aku she Lok, sungguh malang ayahnya telah meninggal, karena hidup sebatangkara, maka aku sengaja membawanya untuk minta menumpang di tempat Samya kalian ini. Laporkan saja kepada Samya, tentu beliau sudah tahu."

Penjaga tua itu tampak ragu-ragu sejenak, kemudian berkata.

"Baiklah, harap tunggu sebentar."

Dan tidak terlalu lama ia pun keluar kembali, pintu dibuka dan Khik-si berdua dipersilakan masuk.

Setelah mempersilakan tamunya duduk di ruang tamu dan menuangkan dua cangkir teh, lalu penjaga itu mengundurkan diri.

"Ingat, anak He, sebelum munculnya Lim-pepek, jangan kau berpisah dari sampingku,"

Demikian Khik-si membisiki Kong-he.

Tidak lama, terdengarlah suara gemericingnya logam, seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tampak keluar dengan memainkan dua buah cakram besi, tampaknya seperti seorang guru silat.

Cepat Khik-si berdiri menyambut sambil menyapa.

"Thia-samya, aku membawa keponakanmu ini untuk datang menyambangi engkau."

"Keponakanku?"

Laki-laki itu seperti agak heran.

"O, siapakah ayahmu?"

"Ayahku adalah Li Bun-sing,"

Sahut Kong-he.

"Thiapepek, aku ada kesukaran dan ingin minta pertolonganmu."

Dan selagi Lok Khik-si diam-diam menggerutu atas ucapan Kong-he itu, tiba-tiba terdengar lelaki itu telah berkata.

"Nanti dulu, sebenarnya bagaimana urusannya? Siapa ayahmu? Li ... Li Bun-sing, nama ini belum kukenal, rupanya kalian telah salah alamat!"

Jawaban ini membikin Khik-si dan Kong-he melengak semua. Tapi Kong-he cukup cerdik, segera terpikir olehnya.

"Dia menyangsikan diriku ini. Wah, cara bagaimana aku harus membuatnya percaya?"

Sebaliknya Khik-si lantas berseru.

"Li Bun-sing, Lithocu dari Thian-li-kau masakah Thia-samya tidak mengenalnya?"

"Thian-li-kau apa segala?"

Laki-laki itu tampak kurang senang.

"Aku adalah rakyat biasa yang hidup prihatin, selamanya tiada hubungan dengan segala agama atau kumpulan apa-apa. Kalian tentu salah alamat, silakan mencari ke lain tempat saja."

Habis berkata ia lantas berbangkit, inilah tanda menyilakan tamunya pergi saja. Tiba-tiba Kong-he mendapat akal, cepat ia melangkah maju sambil berteriak.

"Menanti sungai utara kembali kepada raja Han, bumi raya Kian-khun akan terus berputar."

Bersamaan secangkir teh panas yang dipegangnya itu terus dilemparkan ke belakang, sedang tubuhnya lantas mencelat ke depan.

"Apa katamu?!"

Seru laki-laki itu dengan melengak.

Sebaliknya Lok Khik-si menjadi kelabakan karena di luar dugaan mukanya tersiram teh panas yang dilemparkan Kong-he itu, segera ia pun menjambret ke depan, namun Kong-he sudah menjatuhkan diri dan menggelinding ke depan laki-laki itu sambil berseru.

"Tolong, Thia-pepek!"

Kedua kalimat yang diucapkan Kong-he itu adalah ajaran ayahnya, yaitu kode rahasia Thian-li-hwe yang hanya diketahui oleh para Hiangcu dan para pemimpin Thocu dari pusat dan cabang.

Ternyata lelaki ini tidak paham kedua kalimat itu, tapi ia menjadi terkejut dan berpikir.

"Jangan-jangan bocah ini memang benar putra Li Bun-sing?"

Di sebelah lain Lok Khik-si menjadi murka, sambil menggerung ia terus melompat maju hendak mencengkeram Kong-he, namun dengan gesit Kong-he sudah menyusup ke belakang laki-laki itu.

Pada saat itu kedua buah cakram besi laki-laki itupun sudah melayang ke depan.

Khik-si menyambut dengan memukulkan kedua tangannya sehingga kedua buah cakram itu tertolak jatuh.

Legalah hati Khik-si karena kepandaian Thia Pekgak ternyata hanya sekian saja, segera pukulannya menyul pula.

"Samya, lekas ..."

Belum selesai laki-laki itu berseru, kedua tangan masing-masing sudah terbentur.

"biang", laki-laki itu tidak tahan oleh tenaga pukulan Lok Khik-si yang dahsyat, kontan ia terjungkal dan muntah darah Keruan kaget Kong-he tidak kepalang. Ia pernah mendengar cerita dari ayahnya bahwa di antara kawankawannya antara lain kepandaian Thia-pepek kira-kira sama kuatnya dengan beliau, makanya dia sekarang berani memancing Lok-khik-si ke rumah Thia-pepek. Siapa duga sang paman ternyata begini lemah, hanya sekali gebrak saja sudah dirobohkan oleh Lok Khik-si.

"O, Thia-pepek, akulah yang telah membikin celaka engkau!"

Seru Kong-he sambil menangis.

"Hahaha! Setan cilik, kau berani menipu aku ya?"

Kata Lok Khik-si sambil terbahak-bahak dan mendesak maju.

Dengan cemas Kong-he mundur-mundur hingga mepet dinding, untuk lari terang tidak bisa lagi dan segera akan ditangkap kembali oleh Lok Khik-si.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara gemuruh, daun jendela telah didobrak dan mencelat, seorang tampak melayang masuk sambil membentak.

"Berhenti! Siapa yang berani main gila di rumahku?!"

Kiranya orang inilah Thia Pek-gak yang sesungguhnya, lelaki tadi hanya seorang hambanya saja.

Maklumlah bahwa Thia Pek-gak adalah pemimpin cabang Thian-likau di Bu-pok, dengan sendirinya dia tidak dapat terlalu menonjol di depan umum.

Ia belum pernah kenal Konghe, dengan sendirinya ia kuatir masuk perangkap musuh.

Sebab itulah ia sendiri bersembunyi di luar jendela untuk mengintip.

Ketika Khik-si dan Kong-he menganggap hambanya sebagai Pek-gak sendiri, tentu saja ia lebihlebih curiga.

Tak tersangka bahwa kewaspadaan Thia Pek-gak itu berbalik membikin urusan menjadi runyam.

Mestinya ilmu silatnya masih di atas Lok Khik-si, tapi sekarang dia sudah rada terlambat.

Ketika dia melayang masuk, saat itu Khik-si sudah dapat menjambret dada Kong-he.

Tanpa pikir Kong-he lantas menggigit tangan Khik-si sehingga berdarah, tapi cengkeraman itu tidak menjadi kendur, sebaliknya semakin kencang sehingga bocah itu tak bisa berkutik lagi.

Ketika Thia Pek-gak menghantam dan terpaksa Khik-si menangkis, kontan Khik-si tergetar mundur beberapa tindak, dadanya seperti kena digodam, tak ampun lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulutnya.

Namun dengan kencang ia tetap mencengkeram Konghe.

Serangan Thia Pek-gak itu bernama 'Siang-liong-cuthay7 (sepasang naga keluar dari laut).

Pukulan satu disusul lagi dengan pukulan yang lain, terpaksa Khik-si menarik "Kong-he ke depan untuk dipakai sebagai tameng, bentaknya.

"Boleh coba pukul saja, orang she Thia!"

Sudah tentu Thia Pek-gak tidak dapat menyerang seorang anak kecil, apalagi sekarang sudah jelas bocah itu adalah putra Li Bun-sing.

"Hehe, setan cilik ini licik benar, tapi kau tetap tak bisa lolos dari tanganku,"

Kata Khik-si sambil terkekeh-kekeh dan mengusap darah yang masih meleleh dari mulutnya.

"Nah, Thia Pek-gak, marilah kita berunding saja. Kau ingin setan cilik ini hidup atau mati?"

"Kau berani mengganggu seujung rambutnya, kau pun jangan harap mampu pergi dari sini dengan hidup,"

Sahut Pek-gak dengan gusar.

"O, jadi kau ingin dia hidup?"

Ujar Khik-si dengan tertawa ejek.

"Bagus marilah kita mengadakan tukar menukar."

"Jiwa anak itu terletak di tanganmu, tapi jiwamu juga tergantung padaku. Jika bocah itu kau lepaskan, segera aku pun melepaskan kau. Pertukaran demikian bukankah cukup adil?"

"Dengan apa aku dapat mempercayai omonganmu?"

"Huh, memangnya kau anggap orang she Thia ini manusia apa? Masakah aku sudi menipu kau? Aku akan mengantar kau keluar pintu rumahku dan kau baru melepaskan anak itu. Nah, bagaimana?"

"Biarpun kau tidak menipu aku, urusan ini juga tidak dapat diselesaikan semudah itu."

"Habis bagaimana keinginanmu?"

Tanya Thia Pek-gak dengan mendongkol.

"Silakan kau menyerahkan Lim Jing dari Thian-li-hwe, biarlah dia berangkat bersama aku. Sesudah Lim Jing berada di kotaraja barulah bocah ini akan kulepaskan."

"Apakah kau melamun? Siapa yang bilang Lim-kaucu berada di tempatku sini?"

"Putra Li Bun-sing ini yang bilang, masakah dia berdusta?"

"O, dia yang bilang?"

Pek-gak melengak. Tapi ia lantas paham juga maksud tujuan Kong-he, diam-diam ia mengaku kecerdikan bocah itu.

"Nah, bagaimana, kau setuju tidak usulku tadi?"

Khiksi mendesak pula.

Selagi Pek-gak ragu-ragu dan merenungkan cara bagaimana harus menghadapi persoalan sulit ini, di sebelah sana Kong-he yang tak bisa berkutik karena dicengkeram kencang oleh Lok Khik-si itu sudah lantas berteriak sekeras-kerasnya.

"Kau manusia jahanam ini, jangan kau harap bisa menangkap Lim-pepek. Huh, biar kukatakan terus terang padamu bahwa apa yang kukatakan sebelumnya ini semuanya adalah bohong belaka! Dia tidak berada di sini, juga tidak di Bici, aku sengaja menipu kau supaya kau mau membawa aku ke sini."

Khik-si menjadi murka karena merasa dirinya telah diingusi oleh seorang anak kecil.

"Kurangajar, kau anak jadah ini berani menipu aku?"

Dampratnya.

"Huh, kau sendiri telah menipu seorang anak kecil, kaulah yang tidak tahu malu?"

Kong-he balas memaki.

"Thia-pepek, jangan kau pikirkan diriku, lekas kau bunuh dia saja."

"Apa susahnya jika kau ingin mampus? Tapi sementara ini aku belum ada minat untuk membunuh kau,"

Ujar Khik-si sambil menotok Hiat-to Kong-he.

"Nah, Thia Pek-gak, bolehlah kau ikut aku ke kotaraja dan menyerahkan diri saja. Hm, luput menangkap pemeran utama, tokoh kelas dua juga bolehlah!"

"Hm, jangan kau mentang-mentang di sini, kau tidak nanti dapat keluar dari rumah ini!"

Kata Pek-gak dengan geram.

"O, kau ingin membunuh aku?"

Khik-si menegas dengan tertawa.

"Sedikit kau bergerak saja tentu anak ini akan mampus lebih dulu. Apalagi kau pun belum tentu mampu menangkan aku, bahkan sebelum kau dapat berbuat apa-apa mungkin segenap keluargamu ini sudah kami sapu bersih! Kau ingin lihat bukti bukan?"

Habis berkata mendadak ia bersuit keras-keras dan panjang.

Hanya sebentar saja terdengarlah suara riuh ramai orang dan kuda.

Penjaga tua tadi tampak masuk melapor bahwa di luar ada serombongan laki-laki bengis sedang menggedor pintu dan minta bertemu dengan Thiasamya.

Kiranya rombongan itu adalah Be seng-liong dan jago-jago pengawal istana yang sudah menyusul tiba.

"Bagaimana Thia Pek-gak?"

Desak Khik-si pula.

"Kau mau menyerahkan diri saja atau minta disapu bersih?"

"Bunuh dia saja, Samya, kita segera melarikan diri!"

Usul si penjaga tua dengan gusar. Kiranya di rumah Thia Pek-gak ada sebuah jalan rahasia di bawah tanah yang bisa menembus keluar.

"Hahaha! Apakah kau ragu-ragu, Thia Pek-gak?"

Khiksi mendesak pula sambil mengeluarkan senjatanya, tanduk menjangan.

"Baik, aku akan ikut kau dan menyerahkan diri!"

Mendadak Pek-gak menjawab dengan suara berat. Khik-si lantas mengeluarkan sebuah borgol baja, katanya.

"Suruhlah budak tua itu membelenggu kedua tanganmu sendiri!"

"Jangan, Samya! Lekas bunuh saja dia!"

Sela si penjaga tua dengan geram.

"Tak perlu banyak bicara, Lau Ong, lekas belenggu tanganku,"

Kata Pek-gak.

"Betapapun juga aku akan menghadapi segala resiko. Bocah ini benar-benar adalah putra yatim Li Bun-sing."

Tiada jalan lain terpaksa penjaga tua itu menurut dan memasang borgol di tangan sang majikan.

"Sudahlah, kalian boleh menyelamatkan diri sendirisendiri saja!"

Kata Pek-gak dengan pedih.

Tanpa pamit lagi dengan anggota keluarganya segera ia mendahului berjalan di depan, seperti pesakitan saja ia digiring pergi oleh Lok Khik-si.

Akan tetapi sebelum mereka keluar, terdengarlah suara gemuruh yang ramai, pasukan pegawai istana sudah berhasil menjebol dinding pintu gerbang dan menyerbu masuk.

Pasukan pengawal itu dipimpin oleh wakil komandan Ham-lim-kun yang bernama Ho Lan-bing yang merupakan atasan langsung Lok Khik-si.

Begitu melihat Lok Khik-si, Ho Lan-bing lantas bergelak tertawa, katanya.

"Lok-lotoa, hebat benar kau! Apakah bocah ini putra Li Bun-sing?"

"Benar, berkat rezeki Tayjin (paduka tuan) kita telah dapat menangkapnya,"

Sahut Khik-si.

"Dan siapa lagi orang ini?"

Tanya pula Ho Lan-bing.

"Dia adalah pemimpin cabang Thian-li-kau di Bu-pok sini."

"Lalu bagaimana dengan Lim Jing?"

"Sementara ini belum jelas, tapi kita akan mendapat keterangan dari kedua orang tua dan muda ini,"

Demikian jawab Khik-si. Padahal dia sudah mendapat berita tentang beradanya Lim Jing di Bici, namun dia sengaja jual mahal dan merahasiakannya dahulu. ' "Hahaha, tidak kecil juga jasamu ini!"

Lan-bing tertawa.

"Baiklah, coba geledah rumah ini, tawan seluruh penghuni rumah ini."

Namun anggota keluarga Thia Pek-gak sudah meloloskan diri melalui jalan rahasia di bawah tanah, sudah tentu pasukan pengawal itu tidak menemukan seorang pun "Rasanya kedua pesakitan ini harus lekas-lekas digiring ke kotaraja saja daripada tertunda lama-lama di sini, begundalnya tidak sedikit, untuk menangkapnya biarlah kita berdaya pula secara teratur,"

Demikian usul Khik-si.

Ho Lan-bing setuju, segera ia memberi perintah untuk segera berangkat dan membakar rumah Thia Pek-gak.

Dalam perjalanan Khik-si menambahkan pula borgol di kaki Thia Pek-gak dan diserahkan di bawah pengawasan Be Seng-liong.

Hanya sekejap saja api sudah berkobar-kobar.

Penduduk setempat menjadi ketakutan dan tidak berani memadamkan kebakaran itu ketika melihat serombongan pasukan kerajaan yang galak membakar rumah dan menangkap orang.

Dengan gembira karena hasil usahanya itu, sepanjang jalan Lok Khik-si terus membual tentang kecerdikannya sendiri dan cara bagaimana seorang diri telah membongkar cabang Thian-li-hwe di Bu-pok.

Di samping itu ia pun tidak lupa menyanjung kecekatan Ho Lan-bing yang telah datang tepat pada waktunya untuk membantu.

Akan tetapi rasa gembira mereka itu tidak berlangsung lama karena tidak jauh sesudah mereka meninggalkan tempat kediaman Thia Pek-gak, tiba-tiba terdengar suara derapan dan keleningan kuda yang ramai, dari depan tampak mendatangai secara berbondong-bondong serombongan penunggang kuda.

Hanya dalam sekejap saja tujuh atau delapan penunggang kuda itu sudah tiba, seorang di antaranya adalah laki-laki berbaju biru bersatu kuda dengan seorang nona cilik.

Karena Lok Khik-si sendiri sudah lemas akibat pukulan Thia Pek-gak tadi, pula ia harus menjaga Li Kong-he, maka cepat ia membawa Kong-he melompat turun dan membiarkan Ho Lan-bing dan anak buahnya maju ke depan untuk menghadapi pendatang-pendatang itu.

Pasukan pengawal Ho Lan-bing'itu berjumlah 13 orang belum terhitung Be Seng-liong dan Lok Khik-si.

Sudah tentu ia pandang enteng pihak lawan yang cuma berjumlah 7-8 orang itu.

Segera Lan-bing bergelak tertawa dan membentak.

"Hai, kawanan bandit yang buta, kau berani merintangi perjalanan tuan besarmu, apakah kau tahu siapakah tuan besarmu ini?"

Jika Lan-bing masih berlagak garang, adalah sebaliknya Lok Khik-si menjadi kaget dan kuatir ketika mengenalikan si lelaki baju biru dan si nona cilik itu bukan lain adalah orang-orang yang diketemukan di kelenteng semalam, dimana Yo Tun-hou telah menderita luka dalam akibat pukulan lelaki baju biru itu.

Sekarang mereka datang lagi dengan membawa kawan-kawannya, terang maksud tujuan mereka adalah menuntut balas kejadian semalam.

Padahal betapa tinggi ilmu silat si baju biru yang lihai itu sudah disaksikan sendiri oleh Khik-si.

"Peduli apakah kau tuan besar atau tuan kecil?"

Balas bentak si lelaki baju biru.

"Lekas enyah kau, yang hendak kucari bukanlah kau! Jika kau masih rewel, tentu kau akan celaka sendiri!"

Ho Lan-bing menjadi gusar, baru saja dia hendak bertindak, sekonyong-konyong terdengar seruan si nona cilik sambil menuding.

"Nah, itu dia, lelaki bermuka kuda itulah yang semalam hendak membunuh aku!"

Baru selesai ucapannya, secepat kilat seorang dari rombongannya lantas memelompat meninggalkan kudanya, bagaikan elang menyambar kelinci saja, dari atas dia terus pentang tangan hendak mencengkeram Be Seng-liong.

Buru-buru Seng-liong mencabut golok dan membacok tangan lawan.

Dalam keadaan terapung di udara, mestinya orang itu tidak dapat menghindar, sebelah lengannya seharusnya akan terpapas kutung oleh serangan Be Seng-liong itu.

Namun gerakan orang itu ternyata gesit luar biasa, mendadak ia berjumpalitan di udara sehingga bacokan Seng-liong mengenai tempat kosong, menyusul kakinya terus menendang sehingga golok Be Seng-liong berbalik mencelat ke udara.

Sesudah berjumpalitan dan menurun ke bawah, gayanya tetap masih menubruk seperti tadi, tanpa ampun lagi kuduk Be Seng-liong kena dicengkeram.

Apa yang terjadi ini sungguh cepat luar biasa sehingga sebelum Ho Lan-bing sempat memberi pertolongan, tahu-tahu Be Seng-liong sudah terseret turun dari kudanya.

"Nona Hoa, cara bagaimana orang ini harus diberi hukuman yang setimpal?"

Tanya laki-laki itu kepada si nona cilik.

"Mengingat dia belum sempat membikin susah padaku, bolehlah jiwanya diampuni dan cukup patahkan kedua tangannya saja,"

Kata si nona.

"Baik!"

Laki-laki itu mengiakan. Maka terdengarlah suara "krakkrak"

Dua kali, kontan kedua lengan Be Sengliong telah dipuntir patah oleh orang itu.

Keruan semangat Lok Khik-si hampir-hampir terbang ke awang-awang saking takutnya.

Cepat ia menyeret Kong-he dan diam-diam hendak mengeluyur pergi.

Namun Thia Pek-gak mendadak membentak, rantai borgol kakinya tiba-tiba digunakan untuk menyabet ke arahnya.

Mestinya rantai borgol kaki Thia Pek-gak itu dipegang oleh seorang jago pengawal, tapi karena terkesima menyaksikan pertarungan sengit itu, tanpa terasa rantai borgol itu kena dibetot oleh Thia Pek-gak.

Sungguh mimpi pun Khik-si tidak menduga bahwa mendadak Thia Pek-gak dapat menyerangnya.

Maka tangannya menjadi pecah kena disabet oleh benda keras itu, terpaksa ia harus melepaskan Kong-he.

Dan pada saat itu juga terdengar si nona cilik lagi berseru.

"Engkoh cilik itu adalah tuan penolongku, siapa yang berani mengganggu dia boleh kalian membunuhnya saja!"

Kejut dan gusar pula Ho Lan-bing menghadapi lawanlawan yang tangguh itu, cepat ia memberi perintah.

"Li Tay-cin, kalian berlima tangkap kembali buronanburonan itu. Sisanya ikut aku melabrak musuh!"

Li Tay-cin adalah salah seorang kapten pasukan pengawal, ilmu silatnya cukup tinggi dan merupakan wakil Ho Lan-bing maka rasanya tidaklah susah untuk menawan kembali seorang pesakitan yang masih terborgol dan seorang anak kecil yang tak bisa berkutik karena tertotok.

Namun di pihak lain si lelaki baju biru juga lantas membentak.

"Rupanya pembesar anjing ini ingin cari mampus juga!"

Ketika dia memberi tanda, serentak kawan-kawannya lantas menerjang maju. Saat itu dua jago pengawal baru saja hendak mencengkeram Li Kong-he. Mendadak laki-laki baju biru itu membentak.

"Roboh!"

Berbareng itu dari atas kudanya dua buah Tau-kut-ting (paku penembus tulang) terus disambitkan secepat kilat, kontan kedua perwira itu terjungkal sambil menjerit ngeri, terang jiwanya sudah melayang.

Tiga jago pengawal yang lain sedang mengembut Thia Pek-gak yang masih diborgol, terpaksa Pek-gak hanya menggunakan tenaga jarinya untuk memutar rantai borgol kaki laksana ruyung sehingga ketiga perwira itu tidak berani mendekat.

Pada saat lain, si lelaki baju biru dan si nona cilik sudah memburu tiba.

Seru lelaki itu.

"Entah siapakah pesakitan ini, coba kau tanya engkoh cilik itu apakah kawannya atau bukan?"

Kiranya rombongan orang-orang ini sangat mengutamakan perbedaan antara budi dan dendam serta tidak ambil pusing kepada urusan orang lain, mereka bukanlah kaum pendekar yang suka membela keadilan, terhadap urusan negara juga tidak mau tahu/ sebaliknya mereka juga tidak mau membantu kejahatan dan membunuh secara ngawur, asal mereka tak diganggu, maka mereka pun tidak mau mengganggu.

Karena Kong-he pernah menolong si nona cilik, maka lebih dulu si lelaki baju biru membinasakan kedua perwira yang hendak menangkap bocah itu.

Sedangkan ketiga perwira yang mengembut Thia Pek-gak tidak diapa-apakan olehnya.

Dengan tertawa si nona cilik lantas membangunkan Kong-he, katanya.

"Semalam kau telah menolong aku, maka sekarang aku pun balas menolong kau. Eh, apakah lelaki yang diborgol itu adalah kawanmu?"

Karena tertotok, Kong-he tidak bisa bergerak dan berbicara.

Namun ketiga perwira yang mengeroyok Thia Pek-gak sudah menjadi ketakutan kalau-kalau Kong-he menerangkan duduknya perkara, apalagi mereka sadar bukan tandingan si lelaki baju biru, maka tanpa ayal lagi mereka lantas lari terbirit-birit menyelamatkan diri.

Ho Lan-bing menjadi gusar, segera ia menerjang maju dengan kudanya.

Tapi kontan si lelaki baju biru menyambutnya dengan enam buah Tau-kut-ting.

Sudah tentu kepandaian Lan-bing jauh di atas perwira-perwira tadi, sekali ruyungnya berputar, terdengarlah suara mendering nyaring, sekaligus keenam buah paku si lelaki baju biru telah kena disampuk jatuh semua.

Menyusul ruyungnya terus menyabet pula ke arah Kong-he.

Syukurlah si nona cilik keburu merangkul Kong-he terus menggelinding ke samping sehingga ruyung Ho Lan-bing mengenai tempat kosong.

"Lau-taysiok, lekas kau maju untuk menghajar bangsat busuk ini!"

Seru si nona cilik. Sungguh gusar Lan-bing tak terkatakan, sebagai pembesar tinggi masakah dimaki si nona sebagai bangsat. Dengan menggertak murka segera ruyungnya menyabet pula.

"Bangsat anjing, berani kau mengganggu seujung rambut Sioda kami, segera kucincang hancur-luluh badanmu!"

Mendadak seorang membentak dan tahutahu sebuah ruyung lain juga telah menyambar tiba. Segera terjadilah ruyung lawan ruyung dengan serunya.

"Plak", kedua ruyung emas itu mendadak terlibat menjadi satu.

"Lepas!"

Bentak si lelaki she Lau.

Tapi Ho Lan-bing juga lantas membetot sekuatnya sambil melarikan kudanya dengan maksud menyeret jatuh lelaki she Lau itu.

Tak terduga tenaga orang she Lau ternyata luar biasa hebatnya, kuda Ho Lan-bing berbalik terseret mundur beberapa langkah.

Keruan Lanbing terkejut, sekuatnya ia mengerahkan tenaga ke ujung ruyungnya dengan maksud melepaskan libatan kedua senjata itu.

Sekonyong-konyong ruyung Ho Lan-bing putus menjadi dua, kiranya Lwekangnya tetap kalah setingkat dengan lelaki she Lau itu, begitu kedua kekuatan dikerahkan dan dipuntir, ruyung Ho Lan-bing lantas patah.

Tetapi hal ini malah menguntungkan dia, karena tiada halangan lagi, segera kudanya membedal secepat terbang ke depan dan selamatlah dia.

Melihat komandannya sudah kabur, dengan sendirinya anak buahnya ikut kacau-balau dan melarikan diri sendiri-sendiri, untuk ini rombongan si nona cilik juga tidak mengejar.

Hanya Lok Khik-si saja yang tidak sempat mencemplak kudanya, dia telah kena dibekuk oleh si lelaki baju biru.

"Nona Hoa, orang ini adalah salah seorang bangsat kemarin malam itu, apakah dibunuh saja?"

Tanya lelaki itu Si nona cilik sedang sibuk dan tidak mampu membuka Hiat-to Kong-he yang tertotok, maka dia menjawab acuh tak acuh.

"Semalam dia tidak terlalu jahat, engkoh cilik inipun memanggil paman padanya, maka bolehlah dilepaskan saja."

"He, jangan, jangan dilepas! Justru jahanam ini adalah biang keladi dari kejadian ini, dia telah membohongi anak He dan bersekongkol dengan pihak kerajaan untuk menangkap Lim-kaucu, maka jangan kalian melepaskan dia!"

Demikian seru Pek-gak cepat.

Ia mengira orang-orang ini tentu adalah golongan pendekar Kangouw dan tentu ada hubungan baik dengan Li Bun-sing, makanya beramai-ramai mereka datang menolong putranya.

Tak tahunya sama sekali dugaannya telah meleset, orang-orang itu tidak ambil pusing kepada seruannya.

Orang she Lau itu adalah pemimpin rombongan, segera ia menjawab dengan dingin.

"Aku tidak peduli urusan Kaucu kalian. Sekali Siocia kami bilang lepaskan, maka tidak perlu kau ikut campur bicara."

Sebagai seorang ksatria, sudah tentu Pek-gak sangat mendongkol atas sikap orang yang kasar itu, terpaksa ia pun tidak bersuara lagi.

Sementara itu Lok Khik-si sudah lantas mencemplak ke atas kudanya dan melarikan diri.

Kemudian orang she Lau itu melolos golok seorang kawannya dan mendekati Thia Pek-gak, hanya dua kali bergerak saja ia telah memutus borgol kaki dan tangan Pek-gak, katanya.

"Kita tak perlu saling bertanya, kulihat kau juga seorang laki-laki sejati, maka bolehlah kau pergi saja."

"Dan bagaimana dengan bocah ini?"

Tanya Pek-gak.

"Engkoh cilik ini telah menolong Siocia kami, sudah tentu majikan kami akan memperlakukan dia dengan baik, kau jangan kuatir,"

Sahut orang she Lau.

"Tidak bisa,"

Kata Pek-gak.

"Dia adalah putra yatim sahabatku, kalian tidak dapat membawanya pergi."

Dalam pada itu tiba-tiba si nona cilik telah berseru.

"Lau-taysiok, lekas kemari! Dia seperti kena ditotok orang, aku tidak mampu membukanya!"

Rupanya ilmu Tiam-hiat merupakan kepandaian tunggal Lok Khik-si sehingga orang lain tidak sembarangan dapat membuka Hiat-to yang ditotoknya.

Meski si nona cilik dan pengiring-pengiringnya juga tidak mampu membuka totokan di atas tubuh Kong-he itu.

Pek-gak juga tidak berani coba-coba, dengan nada dingin ia berkata.

"Nah, ini adalah perbuatan jahanam she Lok itu, cuma sayang orangnya sudah kalian lepaskan!"

"Huh, jika mampu mengapa kau tidak menolongnya? Apa gunanya menyindir saja?"

Si lelaki she Lau mendengus.

"Hm, ilmu Tiamniat demikian rasanya juga tidak sukar bagi kita, tentu kita dapat menolongnya nanti. Marilah kita berangkat!"

Berulang kali Pek-gak diperlakukan secara kasar, sungguh tak terkatakan mendongkolnya. Ia lihat Kong-he telah dibopong ke atas kuda oleh orang she Lau itu, segera ia berteriak pula.

"He, mengapa kalian tidak tahu aturan begini?"

"Siapa sebenarnya kau ini? Sudahlah, jangan banyak rewel lagi!"

Kata si orang she Lau sambil memberi tanda untuk berangkat.

Dalam pada itu Kong-he sendiri juga sangat gelisah, celakanya dia tidak mampu bicara, hanya sepasang matanya saja berulang-ulang mengedipi si nona cilik.

"Engkoh cilik ini rupanya ingin berkata apa-apa,"

Ujar si nona.

"Ya, baiklah, tampaknya orang ini merasa berat meninggalkan kau, maka biarlah dia ikut ke rumahku saja."

"Eh, rumah kita mana boleh didatangi sembarangan orang?"

Cepat si orang she Lau mencegah.

"Kau membawa pulang seorang asing mustahil ayahmu takkan mematahkan kedua kakinya. Jika terjadi demikian, maksud baikmu bukankah berbalik akan membikin celaka padanya?"

Orang she Lau itu adalah pengurus rumah tangga, si nona terpaksa tak berani membantah, katanya kepada Pek-gak.

"Kuminta dia menjadi temanku, sudah tentu akan kulayani baik-baik, harap jangan kuatir. Paman Lau adalah pengurus rumah tangga kami, dia tak mau menyambutmu, maka jangan kau memaksanya."

"Mari kita pergi, ayahmu menunggumu,"

Kata lelaki baju biru itu.

"Siapa sudi ke rumahmu? Kumaukan anak ini ditinggal!"

Sahut Thia Pek-gak murka. Orang she Lau itu sudah menjunjung Kong-he ke atas kuda dan terus hendak melarikan kudanya. Tiba-tiba Thia Pek-gak memelompat maju dan menariknya.

"Kau sungguh tak tahu tingginya langit dan dalamnya bumi, hm, rupanya mau cari mampus ya?"

Bentak lelaki itu sambil menyabetkan cambuknya.

Thia Pek-gak memakai rantai untuk menangkis.

Tapi permainan cambuk lelaki itu lincah laksana naga bermain di air.

Thia Pek-gak terkena dua kali cambukan, dia menggerung keras, rantai ditarik terus melibat cambuk.

Tenaga mereka berimbang, lawan tak dapat ditarik jatuh, tapi kudanya tetap berjalan sehingga Thia Pek-gak pun terseret sampai beberapa langkah.

Si lelaki baju biru putar kepala kudanya, katanya dengan tertawa.

"Bahwa nona kami mau bersahabat pada anak itu, itulah suatu rezeki besar baginya. Taruh kata omonganmu benar seluruhnya, seharusnya kau bergirang untuk keponakanmu, mengapa sebaliknya kau terus menerus cari perkara saja. Baik, rantaimu tadi aku yang memutusnya, sekarang biar kutambahi sebuah papasan lagi!"

Sekali golok diayun, rantai itu putus. Hanya tinggal beberapa dim yang digenggam dalam tangan Thia Pekgak. Golok lawan tampaknya menyentuh tangan Thia Pek-gak tapi ternyata tak melukainya.

"Paman An, hebat sekali permainan golokmu!"

Si nona kecil bertepuk tangan memuji.

Begitu Thia Pek-gak terputus rantainya, ketujuh orang dan kedua anak itupun sudah dibawa lari oleh kudanya.

Masih terdengar dari jauh yang dipanggil paman An itu tertawa.

"Rupanya anak ini mempunyai riwayat juga, pagi tadi Kang Hay-thian juga cari perkara padaku. Tak lain tak bukan juga hendak menyelidiki anak ini. He, sedang Kang Hay-thian saia tak kupedulikan, apalagi segala macam Lim-kaucu atau Bok-kaucu."

Thia Pek-gak terkejut, pikirnya.

"Bukankah yang dimaksudkan itu Kang-tayhiap? Mengapa Kang-tayhiap juga mencari anak itu? Orang-orang itu berkepandaian tinggi, percuma saja aku mengejarnya. Biarlah, begitu kubereskan urusan di rumah, aku segera akan menuju ke Nyo-keh-ceng di Soatang untuk menemui Kang-tayhiap. Benar aku tak begitu kenal dengannya, tapi mengingat dia seorang pendekar yang budiman, tentu suka membantuku."

Kembali ke dalam desa, dilihatnya beberapa rumah sudah terbakar habis.

Api masih menyala, para tetangga sedang sibuk memadamkan kebakaran itu.

Begitu melihat kedatangannya, mereka segera mengerumuni dengan berbagai pertanyaan, Thia Pek-gak tak punya banyak waktu luang.

Dia mencari seorang murid Thian-likau, setelah memintanya supaya menyampaikan berita pada keluarga di rumah, Thia Pek-gak segera bergegas meninggalkan tempat itu.

Tengah berjalan, tiba-tiba dua ekor penunggang kuda berlari mendatangi.

Diam-diam Thia Pek-gak memuji kepesatan kuda mereka di samping kuatir jangan-jangan kawanan orang tadi datang lagi.

Tepat pada saat itu, kedua penunggang kuda sudah berhenti di hadapannya.

Seorang lelaki pertengahan umur yang berwibawa dan seorang pemuda cakap memelompat turun.

Thia Pek-gak kembali terkejut.

Mata lelaki pertengahan umur itu bersinar tajam sekali, suatu tanda bahwa dia tentu seorang tokoh silat yang berkepandaian tinggi.

Sebaliknya setelah mengawasi Thia Pek-gak, lelaki itupun agak heran, lekas ia memberi hormat, ujarnya.

"Maaf, saudara. Aku hendak mohon bertanya padamu."

"Silakan,"

Sahut Pek-gak.

"Ada tiga lelaki dan seorang anak yang naik kuda. Entah apakah saudara pernah melihatnya,"

Orang itu memberi uraian tentang wajah dari orang-orang yang ditanyakan itu.

Terang yang dimaksudkan itu ialah Kilian-sam-siu dan Li-Kong-he.

Thia Pek-gak tergerak hatinya dan buru-buru balas bertanya.

"Bukankah saudara ini Kang-tayhiap?"

"Ah, tak berani kuterima pujian sedemikian tinggi itu. Tetapi aku memang benar Kang Hay-thian. Saudara tentu juga kaum Bu-lim, sudikah memberitahukan nama saudara yang mulia?"

Kiranya melihat pada siang hari di desa itu timbul kebakaran, Kang Hay-thian mengajak muridnya, Yap Leng-hong, melarikan kudanya ke situ.

Siapa tahu nanti akan mendapat berita apa-apa dan secara kebetulan mereka berjumpa dengan Thia Pek-gak Kang Hay-thian juga tahu kalau orang di hadapannya itu mempunyai Lwekang tinggi.

Pula dari sikap dan pakaiannya yang penuh debu, nyata orang itu baru saja habis berkelahi, maka ia lalu turun dari kudanya.

"Kang-tayhiap, aku justru hendak mencarimu!"

Seru Thia Pek-gak dengan kegirangan. Ia segera menuturkan apa yang telah dialaminya tadi. Kang Hay-thian pun menceritakan juga tentang Li Bun-sing menitipkan anak yang sudah sebatang kara itu.

"Apakah rombongan orang-orang itu sudah lama perginya?"

Tanya Kang Hay-thian pula.

"Kira-kira baru satu jam dengan mengambil jalan ini. Gerombolan itu tetap hendak membawa He-ji pulang, katanya untuk teman nona majikan mereka."

Segera Kang Hay-thian menyanggupi akan merebut kembali anak itu.

"Baik, jika ada berita apa-apa harap Kang-tayhiap suruh orang menyampaikannya pada Thio Su-liong, kepala Cong-liong-poh di Bici. Kudoakan mudahmudahan Kang-tayhiap berhasil. Rumahku sudah dibakar habis oleh kaki tangan kerajaan, aku pun tak dapat tinggal lama-lama di sini,"

Kata Thia Pek-gak.

Setelah menimbang-terimakan urusan, legalah hati Thia Pek-gak.

Ia anggap sebagai jago nomor satu di dunia persilatan tentu mudahlah bagi Kang Hay-thian untuk merebut kembali anak itu, apalagi kalau Kang haythian suka memunggut anak itu sebagai murid.

Mengenai ia sendiri karena sudah ketahuan siapa dirinya, ia tak dapat menunggu berita di Bu-pok lagi, maka ia ambil keputusan menuju saja ke Bici menemui Kaucu mereka, Lim Jing, untuk melaporkan tentang berita Li Bun-sing dan putranya.

Sekarang marilah kita ikuti Kang Hay-thian.

Jago itu segera mengajak muridnya melakukan pengejaran menurut arah yang ditunjukkan Thia-Pek-gak.

Memang benar di sepanjang jalan terdapat bekas-bekas tapak kaki kuda.

Dari jejaknya, rombongan itu terdiri dari 7-8 ekor kuda.

Ini sesuai dengan keterangan Thia Pek-gak tadi.

Diam-diam Kang Hay-thian merasa lega.

Ia yakin menjelang petang, berkat kudanya yang tergolong kuda Jian-li-ma (kuda yang sehari dapat menempuh seribu li), tentu dapat menyusul mereka.

Di luar dugaan, Kang Hay-thian berhadapan dengan sebuah jalan simpang tiga dan jejak perburuannya itupun hilang.

"Eh, apakah orang-orang itu bisa main sulap? Mengapa jejaknya hilang?"

Leng-hong berseru heran. Sebagai seorang tokoh persilatan yang berpengalaman, setelah merenung sejenak, tahulah Kang Hay-thian musababnya.

"Mereka tentu sudah mengira akan dikejar, maka dibuatnyalah sedikit muslihat. Mereka tentu telah membungkus kaki kudanya dengan kain tebal agar tak kelihatan bekas tapaknya."

"Kita tak mengetahui mereka mengambil jalan yang mana. Siapa tahu simpang tiga ini masih mempunyai persimpangan lagi. Ini tentu menyulitkan sekali! Suhu, menurut pendapatku "Kau takut menghadapi kesulitan?"

Tukas Suhunya.

"Murid bukan takut kesulitan, tetapi hanya berpikir ..."

"Berpikir apa, lekas bilang yang jelas!"

Kembali Haythian menegurnya.

"Kukira karena hendak membalas budi maka nona itu menyuruh orangnya mengambil Li-sute dan tentu takkan mencelakai Li-sute. Si orang baju biru itu juga pernah mengatakan kepada Suhu, bahwa begitu pulang ia akan melapor pada majikannya untuk menyampaikan kehendak Suhu. Di dunia ini siapakah yang tak ingin berkenalan dengan Suhu? Kelak dia pasti akan membawa Li-sute berkunjung pada Suhu. Menurut pendapatku, daripada mengikuti jejak orang yang tiada menentu, lebih baik kita pulang dan menunggu kunjungan mereka,"

Sahut Leng-hong.

Ternyata Leng-hong mempunyai pertimbangan sendiri.

Kali ini dia ikut keluar bersama Suhunya dengan harapan nanti dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh yang ternama.

Tetapi ternyata selama mengadakan perjalanan itu, Suhunya tak pernah berkunjung pada seorang pun tokoh persilatan.

Bahwa kini putra Li Bun-sing dilarikan orang yang tak diketahui asal-usulnya, tentu akan memakan waktu yang panjang untuk mencarinya.

Ia tetap memikirkan Ubun Hiong yang sedang merawat diri di rumah keluarga Kang.

Jika Ubun Hiong siang malam bergaul dengan Kang Hiau-hu, bukankah pemuda itu nanti yang menang dalam memperebutkan hati Kang Hiau-hu?

Usul Leng-hong itu walaupun berdasarkan kepentingan pribadi, tampaknya memang beralasan.

Tetapi setelah berpikir sejenak.

Kang Hay-thian menolak.

"Tidak, kalau menunggu di rumah mungkin kita akan siasia belaka. Lebih baik kita teruskan perburuan kita ini."

"Walaupun dengan jalan tak berujung dan tak berpangkal begini?"

Leng-hong mengeluh putus asa.

"Bukan sama sekali tiada ujung-pangkalnya. Bukankah mereka berjumlah 7-8 orang? Kalau kita bertanya-tanya di sepanjang jalan, masakah tak dapat memperoleh beritanya. Li Bun-sing telah minta tolong padaku. Kalau aku tak mampu lekas membawa pulang anaknya, hatiku tentu tak enak."

Leng-hong tak berani membantah lagi dan terpaksa ikut Suhunya.

Pertama mereka mengambil jalan simpang yang di sebelah kiri.

Sampai 50-an li jauhnya dan sudah bertanya pada beberapa orang yang dijumpainya bahkan pada pemilik-pemilik kedai di pinggir jalan, tetap mereka mengatakan tak pernah melihat rombongan penunggang kuda itu.

Kang Hay-thian balik dan mengambil jalan di tengah.

Di situ pun mereka bertanya pada beberapa orang, ada yang takut mengatakan karena tak tahu siapa Kang Hay-thian itu.

Akhirnya dari seorang pak tani yang sedang meluku di sawah, berhasillah mereka mendapat berita.

Rombongan penunggang kuda yang ditanyakan itu memang tengah hari tadi lewat di situ.

Padahal saat itu sudah menjelang petang.

Malam tak leluasa meneruskan perjalanan karena tak dapat bertanya orang, terpaksa guru dan murid itu menginap di sebuah hotel.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat.

Tak lama berjalan, ah, lagi-lagi bertemu dengan jalan simpang tiga.

Mereka melakukan penyelidikan seperti kemarin, karena banyak membuang waktu, mereka makin kehilangan jejak.

Dari Tit-lik mereka masuk ke wilayah Soasay.

Waktu bertanya pada orang, ternyata sudah lima hari yang lalu, rombongan penunggang kuda itu lewat di situ.

Ya, biar lambat asal tepat.

Tetapi apa lacur, beberapa hari kemudian pada waktu tiba di daerah pedalaman gunung yang sunyi, mereka tak memperoleh keterangan tentang rombongan berkuda itu.

Sampai di sini tak tahan lagi Leng-hong untuk membisu, lagi-lagi ia memperdengarkan lagu lama supaya menghentikan pengejaran yang sia-sia itu.

Kang Hay-thian menghela napas.

"Ya, kita ganti jalan yang satunya, nanti beberapa hari lagi akan kupertimbangkan. Taytong adalah pangkalan Kay-pang utara. Kita ke sana meminta bantuan pada Tiongpangcu."

Dalam putus-asanya.

Kang Hay-thian tetap masih memiliki setitik harapan.

Hari itu ketika sedang berjalan, tiba-tiba di sebelah depan ada dua ekor kuda sedang dilarikan dengan cepat.

Rupanya kuda-kuda itu juga kuda istimewa.

"Penunggang kuda itu tentu bukan orang sembarangan. Ayo, kita kejar,"

Kata Hay-thian.

Kuda merah Kang Hay-thian dan kuda putih Lenghong amat tajam sekali perasaannya.

Melihat jenis kawannya, timbullah nafsu untuk mengalahkan.

Tanpa dicambuk lagi, kuda-kuda itu mencongklang pesat.

Namun lewat sepenyulutan dupa lamanya baru jarak mereka makin dekat.

Saat itu Kang Hay-thianlah yang terkejut.

Ternyata kedua penunggang kuda yang dikejarnya itu perwira-perwira militer.

Kuda mereka memakai cap bakar kerajaan.

Hay-thian pernah melihat milik istana, sepintas pandang tahulah ia kalau tanda itu merupakan pertandaan dari pihak istana.

"Terang kedua orang itu utusan dari pihak Taylwe (istana). Tak enak untuk bertanya pada mereka. Entah ada urusan apa mereka sampai begitu terburu-buru,"

Pikir Hay-thian. Kebetulan saat itu kedua perwira itu sedang bercakapcakap. Beberapa patah ucapannya terdengar oleh Kang Hay-thian.

"Apakah berita dari Tok-kak-lok itu dapat dipercaya atau tidak?"

Tanya salah seorang perwira. Sahut kawannya.

"Baik sungguh atau bohong, toh kita tetap harus meringkus anak naga itu, kemudian..."

Sampai di situ kuda Kang Hay-thian dan Leng-hong sudah menyusul tiba.

Kedua perwira itu terkesiap dan berpaling, percakapan mereka pun terhenti.

Lain saat kuda Kang Hay-thian dan Leng-hong sudah melampaui mereka.

"Sungguh binatang luar biasa!"

Tanpa terasa kedua perwira itu berseru memuji. Percakapan tadi telah menimbulkan kecurigaan Kang Hay-thian, pikirnya.

"Yang disebut Tok-kak-lok itu tentulah gelar dari seseorang. Dalam kawanan Ki-liansam-siu memang Lok Khik-si mempunyai daging menonjol pada dahinya, apakah bukan dia yang dimaksudkan itu? Berita tentang diculiknya He-ji oleh gerombolan itu tentu sudah sampai pada pembesar negeri. Apa saja yang dilaporkan oleh Lok Khik-si itu? Eh, siapakah yang dimaksudkan dengan 'anak naga' itu?"

Saat itu Kang Hay-thian dan Leng-hong sudah jauh meninggalkan kedua pewira itu di belakang.

Diam-diam Hay-thian merasa menyesal, mengapa tak mengikuti saja mereka dari belakang.

Tapi kalau sekarang melambatkan kudanya menunggu, tentu akan ketahuan oleh mereka.

Lok Khik-si adalah orang yang merancang penculikan Kong-he, walaupun anak itu kena diculik oleh lain gerombolan, tapi mungkin yang dilaporkan Lok Khik-si itu tentulah mengenai diri Kong-he.

Sudah tentu Kang Haythian tak mau menyia-nyiakan usaha pencariannya, walaupun jejaknya itu masih merupakan setitik bayangan.

Sebenarnya dia tak biasa bersandiwara, tapi dalam saat seperti itu, apa boleh buat ia terpaksa mencari akal main aksi.

Pada waktu kudanya berlari pesat, tiba-tiba ia menjerit dan pura-pura jatuh terlempar beberapa tombak ke tanah.

Kuda Cik-tiong-ma sudah terlatih baik, begitu majikannya jatuh, binatang itupun melambatkan jalannya dan menghampiri sang tuan.

Leng-hong tak kurang kagetnya, buru-buru ia menghentikan kuda dan menghampiri Suhunya.

Ia seorang pemuda cerdas, dalam kejutnya ia bercuriga juga.

Ilmu silat dan kepandaian naik kuda Suhunya jarang ada tandingannya.

Mana bisa mendadak sontak jatuh dari kudanya?

"Suhu, kenapa kau?"

Tanya Lenghong.

"Mendingan, tak sampai terluka berat,"

Sahut Haythian. Tak berapa lama kedua opsir tadi pun tiba, melihat keadaan Kang Hay-thian, mereka tergelak-gelak dan berseru.

"Hebat memang kudamu itu, tapi tabiatnya liar sekali. Ha, ha, kuda bagus tentu memilih tuan, tampaknya binatang itu tak suka kau naiki."

Cepat sekali kuda perwira itu, baru orangnya berkata, kuda sudah berlari jauh sekali ke depan.

Kang Hay-thian pura-pura mengerang kesakitan dan tak menyahut kata-kata mereka.

Setelah kedua perwira tak kelihatan, barulah Kang Hay-than naik kudanya lagi.

Kali ini ia mengambil jarak tertentu, tidak terlalu cepat pun tidak sampai ketinggalan jauh.

Petang harinya kedua opsir itu bermalam di sebuah hotel kecil.

Kang Hay-thian dan muridnya pun masuk.

Saat itu tepat kedua perwira tadi baru turun dari kudanya, mereka heran melihat kedatangan guru dan murid itu.

"Eh, kudamu benar-benar hebat sekali larinya. Apa tadi kau tak terluka?"

Seru salah satu dari perwira itu.

"Untung, untung, hanya kaget saja,"

Sahut Kang Kaythian.

Pemilik hotel tersipu-sipu menyambut kedua perwira itu, dengan berlagak sekali perwira-perwira itu memberi perintah supaya kudanya dirawat yang baik karena besok pagi mereka akan meneruskan perjalanan lagi.

"Kuda kami itu tak perlu disikat, cukup diberi rumput saja,"

Kang Hay-thian berkata kepada pemilik hotel itu. Rupanya orang itu sedikit-sedikit mengerti tentang merawat kuda. Ia bersangsi sejenak, katanya.

"Istal kuda kami tak cukup lebar, keempat ekor kuda kalian dijadikan satu, kalau sampai ada salah satu kuda yang binal dan menyepak kawannya, aku tak berani tanggung."

Si perwira yang bertubuh tinggi besar tertawa gelakgelak.

"Tak apalah. Jika kudaku sampai tersepak luka, ganti saja dengan kudanya, kedua kuda mereka itu juga kuda bagus, harus dirawat yang baik."

Diam-diam Kang Hay-thian merasa geli karena ternyata orang-orang berminat pada kudanya.

Karena ucapan si perwira, pemilik hotel baru mau menerima kuda Suhu dan muridnya itu.

Lewat tengah malam, Kang Hay-thian bangun.

Ia berpesan pada muridnya.

"Aku hendak keluar sebentar. Jika terjadi apa-apa lekaslah bersuara!"

Ginkang jago itu sudah mencapai tingkat tertinggi.

Tanpa diketahui, ia sudah mendekam di luar kamar kedua perwira tadi untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

Sampai lama sekali tak terdengar suara apa-apa.

"Apa mereka sudah tidur pulas? Baik, akan kutotok jalan darah mereka. Barangkali mereka membawa surat penting,"

Akhirnya Hay-thian mengambil putusan.

"He, kau juga belum tidur?"

Tiba-tiba salah seorang perwira menggeliat dan bertanya pada kawannya.

"Ehm, begitulah. Aku mempunyai urusan yang terkatung-katung maka tak bisa pulas, marilah kita bicarakan,"

Sahut kawannya.

"Apakah Li-heng kuatir tentang perjalanan kita ke Cong-liong-poh ini?"

Tanya perwira pertama.

"Benar, Liok-heng. Bagaimana, besok kita teruskan perjalanan atau tidak?"

Kata si perwira she Li. Perwira she Liok heran.

"Aku sungguh tak mengerti apa yang kau maksudkan meneruskan perjalanan atau tidak itu!"

"Jika kita genjot kuda, dalam tiga hari tentu sudah tiba di Bici. Tapi yang lain-lain belum datang, hanya kita berdua. Ini... ini.."

Perwira she Liok cepat menukasnya.

"Oh, mengerti aku sekarang. Jadi kau kuatir tak dapat menundukkan naga jahat itu?"

Jawab perwira she Li.

"Benar, Thio Su-liong itu namanya menggetarkan daerah Sepak, tapi aku masih tak jeri padanya. Yang kucemaskan adalah Lim "Sst, bicara perlahanlah, tembok punya telinga lho!"

Cepat sang kawan memutus. Memang waktu mendengar kata-kata "Lim"

Tadi. Kang Hay-thian tergerak hatinya. Dia mempunyai pergaulan luas, asalkan yang agak ternama saja, tentu dikenalnya, pikirnya.

"Kiranya yang dimaksudkan mereka dengan 'Naga jahat' itu adalah Thio Su-liong di Bici. Dengan pukulan Pik-lik-ciang dan ilmu tongkat Loan-hi-hongkoay-hoat, orang she Thio itu menjagoi daerah Siamsay dan Kamsiok. Dia termasuk seorang jago kelas satu juga. Kedua perwira itu tak takut pada Thio Su-liong, sebaliknya jeri terhadap orang she Lim. Tentulah orang itu jauh lebih tangguh dari Thio Su-liong. Ah, celaka, orang she Lim yang begitu tangguh itu siapa lagi kalau bukan Lim Jing, ketua Thian-li-kau?"

Dalam pada itu terdengar perwira she Li tadi sedang tertawa, katanya.

"Siapa yang berani mencuri dengar di sini? Dengan kepandaian Thing-hong-pian-ki (mendengar angin dapat mengenal senjata) kita berdua, masakah kita tak dapat mendengar suara orang yang berani mengintai kemari?"

"Tapi tak ada jeleknya kita berhati-hati,"

Sahut si perwira Liok.

Rupanya walaupun mulut membantah, tetapi perwira Li itu menuruti nasehat kawannya juga.

Ia tak jadi menyebut nama orang she Lim itu, kini mereka bicara dengan perlahan.

Betapapun Kang Hay-thian coba mempertajam pendengarannya, namun tak dapat mendengar apa-apa lagi.

Lewat beberapa saat kemudian, kembali perwira Li itu tertawa.

"Bagus, sungguh rencana yang bagus sekali! Liok-lote, ternyata kaulah yang lebih terang pikiran. Kita bekerja menurut rencanamu itu. Jika gagal, kita tunggu sampai mereka datang baru bergerak."

Agaknya mereka sudah merencanakan sesuatu dan tak perlu bicara bisik-bisik lagi.

"Sekarang mari kita rundingkan urusan lain lagi,"

Kata si perwira Liok.

"Kau sendiri sudah cerdik, masakah perlu berunding dengan aku?"

Sahut perwira Li.

"Urusan berbelit tetapi kalau dirunding berdua rasanya lebih baik lagi agar dapat menemukan pemecahan yang bagus,"

Kata perwira Liok.

"Yaitu tentang dua orang yang kita jumpai siang tadi. Makin membayangkan kuda tunggangan mereka makin besar keinginanku. Terang kedua ekor kuda mereka itu jauh lebih baik dari kuda kita."

Perwira Li tertawa gelak-gelak.

"O, kiranya kau kepincut pada kuda orang? Apanya yang perlu dirundingkan lagi? Rebut sajalah. Ya, terus terang aku sendiri juga mempunyai minat begitu."

"Lelaki setengah tua itu rupanya berisi. Apakah kau tak melihatnya?"

Tanya perwira Liok.

"Tapi rasanya tak begitu 'keras'. Bukankah tadi dia dilempar jatuh oleh kudanya? Seorang yang benar-benar berkepandaian tinggi masakah dapat disengkelit kuda?"

Sahut perwira Li.

"Tapi begitu jatuh, begitu cepat mereka sudah menyusul kita. Tidakkah ini hanya pura-pura saja? Dan telah kuperhatikan, sepasang matanya bersinar tajam sekali, terang Lwekangnya tinggi."

Mendengar itu diam-diam Kang Hay-thian memuji ketajaman mata orang she Liok itu. Tetapi si perwira Li hanya ganda tertawa saja.

"Eh, Li-heng, mengapa kau tertawa?"

Tegur Liok.

"Kutertawakan kau yang begitu penakut."

"Karena aku tak mau banyak cari perkara!"

"Kalau begitu, aku ada akal. Kita gunakan cara halus kemudian baru pakai kekerasan."

Atas pertanyaan perwira Liok, perwira Li menerangkan lebih lanjut.

"Sekarang kita pergi ke kamar mereka, suruh mereka menyerahkan kudanya. Jika minta uang, kita kasih saja sepuluh tahil emas. Jika minta pangkat, kita janjikan mereka tingkat 'Chit-bin-koan-tay. Jelas orang belajar silat, kalau kita mencita-citakan nama dan pangkat bukankah mereka akan kepincut? Apalagi kalau mereka tahu siapa diri kita ini, tentu mereka mendapat muka terang. Masakah mereka tak mau? Jika mereka menolak, saat itu barulah kita jalankan siasat. Kau yang mengajaknya bicara, begitu kudengar mulurnya mengatakan 'tidak', segera akan kupersen dengan panah beracun."

"Biang", karena tak dapat menahan perasaannya lagi, Kang Hay-thian serentak menerjang masuk dari jendela dan tertawa gelak-gelak. Kejut kedua perwira itu bukan kepalang, cepat mereka melolos pedang dan memutarnya untuk membela diri.

"Ser, ser, ser", perwira Li melontarkan tiga batang panah. Tapi panah beracun itu tak mengeluarkan suara apa-apa hingga tak ketahuan apakah mengenai sasaran atau tidak. Yang terdengar hanya goresan api dan Kang Hay-thian pun sudah menyalakan lampu.

"Haha, harap kalian berdua jangan kaget. Kutahu Tayjin berdua menginginkan kudaku. Tak berani aku membikin repot Tayjin, maka kuperlu datang kemari untuk berunding dengan kalian,"

Seru Kang Hay-thian.

"Jadi kau mencuri dengar di luar kamar?"

Seru kedua perwira itu dengan masih bingung.

"Sewaktu di jalan tadi Tayjin berdua toh sudah memuji kudaku, masakah aku tak dapat menerka hati kalian? Untung kalian tak membunuh aku, jika sampai membunuh, tentu urusan ini tak dapat kita rundingkan dan kedua pihak tak dapat manfaat apa-apa!"

Kang Haythian tertawa gelak-gelak.

Ia mengeluarkan tiga batang panah beracun dan ditancapkan di atas meja dalam bentuk segi tiga.

Tahu kepandaian Kang Hay-thian menyambuti panah beracun tadi, kedua perwira itu insyaf kalau bukan tandingannya.

Cepat mereka meramahkan air muka dan bertanya.

"Entah apakah maksud tuan?"

"Aku tak mau emas dan pangkat. Bahkan aku mempunyai harta kekayaan besar yang hendak kuhadiahkan padamu,"

Sahut Hay-thian. Kedua perwira itu saling berpandangan.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Akhirnya perwira Liok bertanya.

"Aku telah belajar ilmu sastra dan silat dengan tujuan untuk kupersembahkan pada kerajaan. Sekarang aku hendak mohon Tayjin berdua supaya aku dapat diterima menjadi hamba baginda!"

Perwira Liok itu tertawa keras.

"Oh, kiranya kau anggap pangkat Chit-bin-koan itu masih kelewat rendah dan menginginkan yang lebih tinggi lagi. Baik, baik, akan kuusulkan kau pada Tay-lwe Congkoan agar dapat diterima menjadi Si-wi (pengawal istana). Coba katakanlah, apa yang hendak kau haturkan padaku?"

Kata Kang Hay-thian.

"Lim Jing, Kaucu dari Thian-likau memang bersembunyi di rumah Thio Su-liong di Bici. Aku sendirian tak berani menangkapnya, aku akan membawa kalian untuk menangkap pesakitan itu. Bukankah itu suatu kekayaan yang besar? Setelah hal itu selesai, kudaku dan kuda muridku akan kuberikan pada kalian. Aku hanya minta supaya kalian mengusulkan diriku pada kerajaan. Dalam buku pahala supaya namaku yang ditulis."

Kedua perwira itu terbeliak kaget, malah perwira Li yang tak sabaran wataknya sudah lantas berteriak tertahan.

"Jadi kau sudah mengerti hal itu juga?"

"Oh, jadi Tayjin berdua juga akan ke Bici untuk menangkap Lim Jing? Tahu begitu, aku tak perlu kemari menyampaikan berita. Kalau begitu, rundingan kita ini "Congsu, siapakah namamu yang mulia?"

Cepat perwira Liok menukas kata-kata Kang Hay-thian. Kang Hay-thian mengaku orang she Kang, tapi memakai nama palsu.

"Kang-congsu, ilmu silatmu hebat sekali. Jika benar kau ingin menghamba pada baginda, marilah kau ikut kami,"

Kata perwira Liok.

Tetapi sebenarnya orang she Liok itu hanya manis di mulut saja karena diam-diam dia sudah mempunyai rencana jahat.

Begitu selesai menggunakan Kang Haythian, dia akan membunuhnya.

Sudah tentu sebelum dibunuh akan ditanyai dulu mengapa dia (Kang Haythian) tahu tentang urusan penangkapan Lim Jing.

Sebenarnya Kang Hay-thian yang hanya mendengar orang menyebut kata-kata Lim tadi masih belum yakin kalau yang dimaksudkan adalah Lim Jing, maka ia sengaja memancing orang dan berhasil.

Baca Juga: Lembah Patah Hati Lembah Beracun 4

Baca Juga: Bendera Maut 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger