Eps 4 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Kini setelah tahu jelas, sudah tentu ia tak mau melepaskan kedua perwira itu.
Masih dengan air muka tak berubah.
Kang Hay-thian menjawab.
"Terima kasih atas kebaikan Tayjin berdua, tetapi aku masih merasa sedikit cemas. Kepandaian Lim Jing itu bukan olah-olah hebatnya. Kita bertiga mungkin tak mudah menghadapinya. Entah apakah Tayjin berdua "Jangan kuatir, aku mempunyai akal yang bagus,"
Kata perwira Li.
"Ya, sampai pada saatnya cukup asal kau menurut apa yang kuperintahkan saja. Sekarang tak perlu banyak bertanya,"
Perwira Liok turut menambahi. Melihat perwira Liok itu agaknya sudah menaruh curiga. Kang Hay-thian tertawa tawar, serunya.
"Tayjin berdua, sekarang kalian juga harus menurut apa yang kuperintahkan!"
"Apa, kau ..."
Kedua perwira itu berteriak kaget, tapi sebelum menyelesaikan kata-katanya, mereka sudah tak dapat berkutik lagi.
Kang Hay-thian tak memberi kesempatan lagi, sekali bergerak, ia totok jalan darah kedua perwira itu.
"Harap kalian berdua beristirahat dulu. Dua belas jam kemudian, kalian tentu akan dapat bergerak lagi,"
Kata Kang Hay-thian.
Sebenarnya tadi ia hendak mengorek keterangan tentang rencana mereka terhadap Lim Jing.
Tetapi setelah dipikir-pikir, mereka tentu tak mau mengatakan sejujurnya, percuma saja ditanyai, maka ia mengambil putusan, lebih baik menotok jalan darah mereka saja, lalu ia hendak mendahului memberi kabar pada Lim Jing.
Ia gunakan totokan Ciong-chiu-hwat.
Hanya orang yang kepandaiannya sederajat, baru dapat membuka jalan darah itu.
Jika tidak, harus menunggu dua belas jam lagi baru dapat terbuka sendiri.
Dalam dua belas jam itu, kuda Kang Hay-thian tentu sudah dapat menempuh 300 li.
Kembali ke dalam kamar, Kang Hay-thian segera mengajak muridnya berangkat ke Bici.
Rupanya Lenghong enggan karena rindu pada si jelita yang di rumah.
"Mengapa begini terburu-buru? Bagaimana dengan kedua antek itu?"
Tanyanya.
Kang Hay-thian menyahut kalau mereka sudah dibikin tak berdaya.
Apa boleh buat terpaksa Leng-hong segera berkemas.
Baru mereka melangkah keluar kamar, tiba-tiba didengarnya suara kuda meringkik.
"Hai, ada orang mencuri kuda!"
Hay-thian terkejut. Dalam malam yang tak berbulan itu, remang-remang dia melihat dua sosok tubuh tengah mencemplak ke atas kuda.
"Hai, turun!"
Bentuk Hay-thian seraya melontarkan dua buah pukulan.
Jaraknya ada 10-an langkah, tapi pukulan Pik-khong-ciang Kang Hay-thian dapat mencapai 12 langkah.
Kuatir mereka mati.
Kang Hay-thian hanya menggunakan tujuh bagian tenaganya, tetapi sekalipun begitu, jarang ada orang yang mampu menerima pukulannya.
Kedua orang itu menggerakkan tangan menangkis.
"Hebat sekali!"
Teriak mereka, tetapi mereka tak sampai jatuh.
Dalam pada itu, kedua ekor kuda itupun sudah melesat belasan tombak jauhnya, suatu jarak yang tak terjamah oleh pukulan Kang Hay-thian.
Tiba-tiba dua ekor kuda yang lain meringkik dan melesat menyusul kedua penunggang tadi.
"Oh, kiranya kuda kita tak mereka curi. Yang dicuri itu kuda kedua perwira itu!"
Kang Hay-thian berseru girang.
Tetapi sekalipun begitu, tetap ia hendak mengusut siapa kedua orang pencuri itu.
Orang yang kuat menerima pukulan Pik-khong-ciangnya tentu bukan sembarangan orang.
Ia harus mengetahui mereka itu kawan atau lawan.
Cepat ia memelompat ke atas kudanya dan mengajak Leng-hong mengejar.
Tapi heran, semula kedua kuda mereka itu berlari pesat tetapi lama kelamaan menjadi macet.
"Ada yang tidak beres ini!"
Kata Hay-thian sambil memelompat turun dan menyuruh Leng-hong mencari ranting kering.
Ia menyulut korek api kemudian menyuluhi kudanya.
Kang Hay-thian sudah banyak makan asam garam dunia persilatan.
Hanya beberapa kejap saja sudah dapat menemukan ciri penyakitnya.
Jik-liong-ma kaki depannya pincang sehingga tak berani menginjak tanah, sedang Pek-liong-ma kaki belakangnya yang pincang dan tak dapat diinjakkan ke tanah.
Kang Hay-thian menghela napas longgar.
"Masih untung, mungkin hanya terkena senjata gelap lembut semacam Bwe-hoa-ciam, tapi tak beracun."
Ia mengambil besi sembrani untuk menyedot, ternyata memang benar, dari kaki depan dan kaki belakang kedua kuda itu dapat dikeluarkan dua batang Bwe-hoa-ciam.
Jik-liong-ma dan Pek-liong-ma berwatak keras.
Kedua pencuri itu terpaksa memilih kuda si perwira yang mudah ditundukkan, tapi tak lupa memberi persen Bwe-hoaciam kepada Jik-liong-ma dan Pek-liong-ma.
Kang Hay-thian segera mengobati kedua kudanya.
Leng-hong menanyakan apakah kuda mereka masih dapat digunakan.
"Bisa sih bisa, tapi tak dapat berlari cepat seperti biasanya. Cuma saja tetap lebih pesat dari kuda biasa,"
Sahut sang Suhu. Kesempatan itu tak dilewatkan Leng-hong yang kembali mengajukan usul.
"Kalau begitu apakah kita tetap pergi ke Bici?"
"Pemerintah kerajaan sudah mengirim beberapa Kochiu (jago) untuk menangkap Lim Jing, apakah kita hanya melihat saja? Sekalipun agak lambat jalannya, kita harus tetap ke sana,"
Sahut Hay-thian.
"Lim Jing?"
Leng-hong tersentak kaget.
"Bukankah Kaucu Thian-li-kau itu?"
"Ya, dia mempunyai kepentingan besar sekali, terpaksa kutunda dulu urusan mencari Li-sutemu itu,"
Sahut Hay-thian.
Leng-hong terpaksa menurut saja.
Memang benar apa yang dikatakan Suhunya, walaupun sudah dicabut jarum dan diobati lukanya, kuda mereka tetap berkurang kecepatan larinya.
Tengah hari mereka baru mencapai 100-an li, sedang napas kuda-kuda itu sudah terengahengah, mulutnya berbuih.
Leng-hong yang kurang tidur merasa tak enak badan.
Ia menguap dan mengeluh.
"Suhu, orangnya sudah lesu dan kudanya pun lelah. Marilah kita berhenti dulu."
Bukan Kang Hay-thian tak sayang pada murid dan kudanya, tetapi karena harus lekas menyampaikan kabar pada Lim Jing, terpaksa ia tak dapat menunda perjalanan.
Tapi kenyatan yang dihadapinya itu tak dapat diabaikan, kalau diteruskan orang sakit kuda pun bisa ambruk.
"Biar bagaimana tak dapat kubiarkan kawanan budakbudak kerajaan itu mendahului ke Bici. Kedua lelaki semalam itu juga tak diketahui lawan atau kawan. Jika mereka juga hendak menangkap Lim Jing, ah, sungguh runyam benar. Kedua kuda ini rupanya memerlukan istirahat beberapa hari. Tapi kalau kubeli kuda lain, kepada siapa kupasrahkan kuda ini? Biar bagaimana kuda yang jarang terdapat seperti ini tak boleh kusiasiakan. Ya, agaknya Leng-hong juga sudah lelah sekali,"
Demikian Hay-thian menimang-nimang.
Setelah dipikir-pikir, akhirnya Kang Hay-thian mendapat suatu cara yang walaupun terpaksa harus dijalankan, tapi sesuai dengan kebutuhan.
Ia turun dari kudanya dan berseru.
"Baik, kita beristirahat di sini."
Leng-hong duduk di tanah menjalankan Lwekang untuk memulihkan tenaga.
Ia tahu Suhunya buru-buru hendak melanjutkan perjalanan.
Meskipun ia tak setuju, tapi ia harus mencari muka pada gurunya.
Ia menghampiri kuda, serunya.
"Tampaknya kedua kuda ini juga sudah baik. Suhu mari kita berangkat lagi."
"Nanti dulu!"
Sebaliknya Hay-thian menolak. Suatu hal yang membuat Leng-hong tercengang dan menanyakan sebabnya.
"Selama lebih dari sebulan kau ikut aku, tiap hari dalam perjalanan aku selau mengajarkan uraian-uraian tentang ilmu silat dan ilmu pedang. Apakah kau masih ingat?"
"Semua ingat,"
Sahut Leng-hong.
"Baik, kau memang pandai dan tak mengecewakan harapanku. Lwekangmu tampaknya juga ada kemajuan, tapi sampai berapa jauh belum kuketahui. Sekarang cobalah sambut pukulanku ini,"
Sambil berkata Kang Haythian sudah melontarkan sebuah pukulan yang cukup dahsyat-"Mengapa Suhu menurunkan pukulan ganas?
Haya, apakah dia sudah mengetahui kelemahan Leng-hong terkejut, tapi karena pukulan Suhunya sudah melayang di atas kepalanya, ia tak sempat banyak pikir lagi.
Ia lantas menangkis dengan jurus pukulan ganas yang baru saja dipelajarinya.
Begitu kedua tangan saling berbentur.
Kang Hay-thian tertawa gelak-gelak.
"Bagus, bagus! Pelajaran selama sebulan, sudah boleh juga!"
Leng-hong merasa kepalanya berat dan tubuhnya ringan.
Dia seperti dilanda oleh suatu tenaga tak kelihatan yang menerbangkannya sampai beberapa langkah.
Tapi tenaga itu terasa lunak dan tak menyakitkan.
Leng-hong merasa lega, ia insyaf Suhunya itu hanya hendak mencoba kepandaiannya, sekali-kali tidak bermaksud lain.
"Leng-hong, tak perlu ragu-ragu. Aku memang sengaja melancarkan pukulan ganas untuk mencoba kepandaianmu. Rupanya sekarang kau kuat menerima pukulan dari dua bagian tenagaku. Tenagaku sudah berlipat ganda dari dulu, hanya masih belum mahir cara memainkannya, tetapi asal lawanmu itu bukan seorang Ko-chiu kelas satu, kau tentu mampu menghadapinya. Ah, dengan kemajuan yang kau peroleh ini, aku tak usah kuatir lagi untuk meninggalkan kau di sini."
"Apa Suhu? Kau ... kau tak menghendaki aku ikut?"
Leng-hong tersentak kaget.
"Bukan begitu, justru aku memikirkan dirimu dan kedua ekor kuda ini. Tak jauh dari sini adalah kota Jiokoh-koan. Di sana kau nanti boleh mencari sebuah hotel, setelah aku menemui Lim Jing di Bici, akan kujemput kau di hotel itu,"
Kata Kang Hay-thian.
Ternyata ia sudah mengambil putusan.
Kalau seorang diri, siangnya naik kuda, malamnya menggunakan ilmu berlari cepat.
Ini jauh lebih cepat jika harus membawa Leng-hong, apalagi Leng-hong dan kudanya bisa beristirahat secukupnya.
Sebenarnya Leng-hong bergirang dengan keputusan Suhunya itu, namun ia pura-pura lebih suka ikut sang Suhu.
Kang Hay-thian tetap pada keputusannya, ia suruh Leng-hong tinggal di hotel dan merawat kedua ekor kuda itu, tapi jangan lupa harus berlatih tiap harinya.
Demikianlah setelah masuk ke kota Jiok-oh-koan, Kang Hay-thian menempatkan Leng-hong di sebuah hotel.
Setelah memesan seperlunya, Hay-thian segera pergi, lebih dulu ia membeli seekor kuda.
Sebagai seorang ahli kuda dapatlah ia memilih seekor yang larinya lebih cepat dari kuda Jik-liong-ma yang pincang kakinya itu.
Dia pun membekal rangsum secukupnya, maka sepanjang perjalanan tak perlu beristirahat lagi.
Menjelang petang hari, kuda itu sudah letih sekali sampai mulutnya berbusa, segera ia melepaskan kuda itu.
Dan begitu malam tiba, ia lalu menggunakan Ginkang dan berlari.
Walaupun Lwekangnya tinggi, tapi karena larinya secara 'ngebut"
Mau tak mau pada waktu hampir terang tanah ia menjadi lelah juga.
Ia masuk ke hutan untuk beristirahat.
Hari kedua ia masuk ke kota, membeli kuda baru dan menambah rangsum.
Seterusnya ia menempuh perjalanan dengan cara begitu.
Bici yang jaraknya 2000-an li hanya ditempuh dalam waktu tiga hari tiga malam.
Hari keempat menjelang tengah hari dia sudah tiba di tempat itu.
Ketika melintasi sebuah sungai kecil, ia tertawa sendiri karena wajahnya yang tampak di permukaan air itu penuh dengan brewok seperti orang yang baru keluar dari penjara.
"Eh, kalau begini rupa, aku sendiri juga tak mengenali wajahku. Jika Lian-moay melihat, tentu akan ketakutan. Entah orang Cong-liong-poh apakah mau menerima kedatanganku nanti?"
Pikirnya.
Tapi kenyataannya ketika masuk kota ia tak memikirkan lagi untuk mencari tukang cukur, karena yang penting ialah harus lekas mengujungi Cong-liong-poh.
Cong-liong-poh terletak di barat daya kota Bici.
Ketika ke sana.
Semula di sepanjang jalan masih ada orangorang berjalan, tapi makin lama makin sedikit.
Kang Haythian tak memperhatikan hal itu, baru ketika dia tiba di perkampungan Cong-liong-poh dan hendak bertanya kepada orang, ia terkejut heran.
Bukan saja jalanan di situ tiada barang seorang manusia pun, bahkan sekelilingnya tiada tampak sesosok bayangan pun.
Saat itu baru ia merasa heran.
Tempat kediaman Thio Su-liong disebut Cong-liongpoh, ini diketahui oleh Kang Hay-thian.
Tapi dimana letak yang sebenarnya dari gunung itu, dia tak tahu.
Adakah karena Thio Su-liong itu cukup terkenal di daerah Bici, maka pada waktu ia bertanya pada orang, dengan mudah orang dapat memberitahu.
Dia kira setiba di desa itu tentulah juga akan mudah mencari keterangan.
Siapa tahu hanya belantara sunyi senyap yang dijumpainya.
"Sekarang bukan waktunya orang bercocok tanam, tapi sekalipun begitu di sawah tentu terdapat petani yang membersihkan rumput. Tapi mengapa begini sepi? Kemana saja orang-orang di desa ini?"
Pikirnya. Ketika dia hendak menuju ke desa sekitar situ, tibatiba dilihatnya dua orang berjalan. Cepat Kang Hay-thian menghampiri dan memberi hormat, tanyanya.
"Tolong tanya dimanakah rumah Thio Su-liong?"
Melihat roman Kang Hay-thian yang menyeramkan itu, kedua orang tadi terkejut.
"Siapa kau? Perlu apa mencari Thio-toaya?"
Karena tak leluasa memberitahu, terpaksa Kang Haythian berbohong.
"Thio-toayalah yang mengundang aku datang karena ada sedikit urusan. Aku perlu berjumpa padanya."
Rupanya kedua orang itu sudah biasa melihat orangorang persilatan mencari Thio Su-liong, maka mereka pun akhirnya mau juga membawa Kang Hay-thian ke Cong-liong-poh.
Semula Hay-thian tak mau merepotkan orang, tapi kedua orang itu mengatakan bahwa mereka toh menganggur.
"Eh, mengapa tiada tampak orang bekerja?"
Tanya Hay-thian.
"Karena kau sahabat Thio-toaya, biarlah kuberitahu. Menurut kabar angin, katanya ada seorang buronan penting bersembunyi dalam desa kami sini. Tak lama lagi pihak yang berwajib akan melakukan pembersihan, gerakan pembersihan itu selamanya merupakan bencana. Jika tak dapat menangkap buronan, rakyatlah yang menjadi korban. Ada yang dirampas hartanya, ada yang kehilangan jiwanya. Hal itu sungguh bukan main-main, oleh karena itulah maka penduduk desa mengungsi, selesai pembersihan baru mereka berani pulang kembali."
Kang Hay-thian terkejut, pikirnya.
"Apakah pihak pembesar negeri sudah mencium tentang Lim Jing bersembunyi di sini. Tapi pesakitan yang begitu penting masakah pihak pemerintah mau mengeluarkan berita kemana-mana. Lalu siapa yang dimaksudkan ini?"
"Apakah Thio-toaya masih di rumah?"
Tanyanya.
"Pembesar negeri selamanya tak berani mengusik Thiotoaya. Berita itu disampaikan pada Thio-toaya oleh muridnya yang bekerja sebagai pegawai di kantor Koangi-bun (kantor residen). Thio-toaya segera menyuruh penduduk desa mengungsi, tapi dia sendiri tetap tinggal di sini,"
Kata orang itu.
"Keluhuran budi Thio Su-liong sungguh tak bernama kosong. Kalau begitu, Lim Jing tentu sudah meninggalkan tempat ini. Tapi karena sudah telanjur tiba di sini, aku harus menanyakan hal itu kepadanya,"
Pikir Kang Hay-thian.
Kedua orang itu agaknya memperhatikan gerak-gerik Kang Haythian, sebaliknya Kang Hay-thian pun mulai memperhatikan mereka.
Sebagai ahli persilatan, cepat ia mengetahui kalau mereka berdua memiliki ilmu silat yang tidak lemah.
"Tapi mengapa saudara berdua tak menyingkir?"
Tanyanya pula.
"Kami ikut pada Thio-toaya dan sudah sebatang kara jadi tak usah kuatir memikirkan rumah tangga. Thiotoaya tidak pergi, kami pun tidak."
Kini Kang Hay-thian baru tahu bahwa kedua orang itu ikut belajar silat pada Thio Su-liong.
Tak berapa lama tibalah mereka di Cong-liong-poh.
Cong-liong-poh (benteng naga bersembunyi) didirikan di lamping gunung.
Letaknya strategis sekali, maka gedung itu benar-benar menyerupai sebuah benteng.
Kedua orang itu menarik genta di muka gedung sambil berseru.
"Ada tetamu jauh datang, sahabat yang diundang Thio-toaya!"
Tak berapa lama pintu besi dibuka, seorang penjaga keluar dan menatap tajam-tajam pada Kang Hay-thian, tegurnya.
"Kau mengaku sahabat dari Pohcu kami? Tetapi Pohcu tak memberi pesan apa-apa kalau hari ini bakal menerima tetamu. Siapakah namamu yang mulia?"
Tahu orang curiga, terpaksa Kang Hay-thian memberitahukan sejujurnya.
"Aku yang rendah ini ialah Kang Hay-thian dari Soatang. Aku mempunyai urusan penting hendak berjumpa dengan Pohcu."
Penjaga itu beraksi kaget.
"Astaga, kiranya Kangtayhiap. Harap tunggu sebentar, aku hendak melapor pada Pohcu dulu."
Penjaga dan kedua orang tadi masuk ke dalam.
Tak berapa lama, pintu terbuka kembali, seorang lelaki yang berjenggot cabang melangkah keluar.
Dia mengawasi Kang Hay-thian dari ujung kaki sampai ke atas kepala, kemudian mengulurkan tangan.
"Sungguh beruntung dapat menerima kunjungan Kang-tayhiap. Maaf, maaf terlambat menyambut!"
Berjabatan tangan sudah lazim dalam kalangan orang persilatan.
Kang Hay-thian pun segera mengangsurkan tangannya.
Tiba-tiba dia terkejut karena tangan tuan rumah melancarkan tenaga Lwekang yang kuat sekali.
Ia memang belum kenal Thio Su-liong.
"Mungkin karena takut berhadapan dengan orang yang mengaku sebagai diriku, maka dia lantas menguji kepandaianku,"
Pikirnya seraya mengerahkan tenaga untuk menghalau Lwekang lawan.
Tapi hanya menghalau saja dan tidak diteruskan balas menyerang.
Waktu Lwekangnya hilang sirna seperti kelelap dalam lautan, terkejutlah orang itu.
Buru-buru ia menarik pulang tangannya dan berseru.
"Kepandaian Kangtayhiap sungguh hebat sekali, aku orang she Thio merasa kagum benar. Dunia persilatan penuh dengan orang-orang jahat, terpaksa tadi aku berbuat begitu. Harap Kang-tayhiap suka memaafkan."
Kang Hay-thian balas tertawa.
"Ilmu Pik-lik-ciang Thiopohcu benar-benar tak bernama kosong. Marilah kita bicara dengan hati terbuka."
Setelah saling menguji Lwekang tadi.
Kang Hay-thian yakin bahwa orang yang berhadapan itu tentu Thio Suliong.
Thio Su-liong segera mengajak tetamunya masuk ke dalam kamar pribadinya.
Setelah menyuguhkan teh wangi, segera ia menanyakan maksud kedatangan sang tetamu.
"Apakah Lim-kaucu masih berada di sini?"
Kang Haythian menyahut dengan pertanyaan. Tho Su-liong tersentak kaget, serunya.
"Kang-tayhiap mendapatkan berita darimana?"
"Harap Thio-pohcu jangan menaruh curiga. Kedatanganku ini dengan maksud Thio Su-liong menukas ucapan sang tamu dengan tertawa gelak-gelak.
"Mana aku berani mencurigai Kangtayhiap, hanya saja urusan ini penting sekali. Entah mengapa berita itu sampai bocor keluar, maukah Kangtayhiap memberitahukan?"
Kang Hay-thian segera menuturkan apa yang didengarnya dari kedua perwira tempo hari, juga tentang Li Kong-he yang ditipu oleh Liok Khik-si dan kemalangan yang menimpa diri Thia Pek-gak diceritakan juga.
"Menurut dugaanku, berita itu tentu diperoleh Lok Khik-si dari putra Li Bun-sing itu dan Lok Khik-si mengirim laporan pada pihak kerajaan. Dikuatirkan dalam beberapa hari ini kawanan Ko-chiu istana akan berdatangan kemari. Dalam rangka itulah aku datang kemari untuk menyampaikan beritanya,"
Kata Kang Haythian.
Thio Su-liong tampaknya menyesal atas kemalangan yang menimpa Li Bun-sing dan putranya yang hilang tak berbekas itu.
Rupanya orang itu baru pertama kali mendengar tentang berita Li Bun-sing.
"Untuk sementara ini anak itu tentu tidak berbahaya keselamatannya. Kelak kita akan melanjutkan lagi mencarinya, tetapi yang kita hadapi sekarang adalah keselamatan diri Lim-kaucu. Kabarnya pihak yang berwajib akan mengadakan razia, apakah mereka sudah menciumnya? Apakah Lim-kaucu sudah meninggalkan tempat ini?"
"Ini ... ini ... hm, ada sedikit perkembangan dalam urusan ini. Kang-tayhiap, silakan minum dulu. Nanti kuceritakan sejelas-jelasnya."
Sahut tuan rumah.
Setelah menempuh perjalanan yang sedemikian jauhnya, tenggorokan Kang Hay-tian serasa kering sekali, jangankan teh wangi, sekalipun air tawar, tentu akan diteguknya habis.
Maka tanpa dipersilakan untuk kedua kali, dia terus menenggaknya dan terasalah teh yang segar itu.
"Hebat, teh yang hebat!"
Ia memuji.
"Itulah Hun-bu-teh yang dibawa seorang sahabat. Jika Kang-tayhiap suka, minumlah semangkuk lagi,"
Kata tuan rumah.
"Mangkuk pertama untuk menghapus dahaga. Mangkuk kedua, boleh perlahan-lahan dinikmati. Thiopohcu, bagaimana sebenarnya keadaan Lim-kaucu?"
"Baik-baik saja. Sebenarnya dia bersembunyi di sini, tapi di luar dugaan dua hari yang lalu telah terjadi suatu perubahan. Hehe, benar-benar suatu kejadian yang tak tersangka-sangka tuan rumah terbatuk-batuk dan menghela napas.
"Hal yang tak tersangka-sangka bagaimana?"
Kang Hay-thian makin gelisah. Diam-diam ia mendongkol melihat sikap tuan rumah yang begitu seenaknya. Orang she Thio itu mengatupkan matanya dan berkata dengan perlahan-lahan.
"Kang-tayhiap tak perlu gelisah. Biarlah kuceritakan yang jelas. Hm, kejadian tak tersangka-sangka itu ...""
Kang Hay-thian melihat sorot mata tuan rumah itu agak tidak wajar, tiba-tiba ia merasakan perutnya sakit. Ia mengerutkan alis, sengaja pura-pura ia terhuyunghuyung. Thio Su-liong segera berseru.
"Kejadian yang tak tersangka-sangka itu ... haha, roboh, robohlah!"
"Siapa kau ini, bangsat?! Berani mencelakai diriku!"
Serentak sambil memelompat Kang Hay-thian lantas menghantamnya.
"Biang", rupanya lelaki yang mengaku sebagai Thio Su-liong itu sudah siap sedia. Ia menghindar dan meja segi delapanlah yang hantur berkeping-keping. Lelaki brewok itu tertawa gelak-gelak.
"Berjalan tak mengganti nama, duduk tak perlu merubah she. Aku adalah Co Bong, wakil pemimpin Gi-lim-kun. Kangtayhiap, kau telah minum teh wangi istimewa istana yang terbikin dari Ho-ting-hong dan Khong-jiok-tan. Pantangannya tak boleh marah! Kalau kau mau berkelahi berarti mempercepat kematianmu. Haha, yang kumaksud sebagai kejadian tak tersangka-sangka itu ialah ini, mengertikah kau?"
"Bangsat anjing, kau akan kumampuskan dulu!"
Teriak Kang Hay-thian seraya mengejar dan melepaskan beberapa pukulan.
Tetapi karena beberapa hari ini dia terus menerus melakukan perjalanan, maka biarpun berotot kawat bertulang besi, dia letih juga.
Sambil mundur, Co Bong dua kali menangkis dengan tenaga penuh, tapi herannya.
Kang Hay-thian tetap tak roboh.
"Dia minum racun yang jarang terdapat, toh masih begitu hebat. Sungguh tak bernama kosong!"
Pikirnya, kemudian ia tertawa.
"Kang-tayhiap, tenagamu sudah tak memenuhi kehendakmu! Lebih baik kita bersahabat saja. Apakah kau tak menghendaki obat pemunahnya?"
Sebenarnya ia hendak mengulur waktu agar racun di tubuh Hay-thian lebih keras bekerjanya, tetapi Hay-thian tak kena ditipu.
"Aku menghendaki jiwamu!"
Serunya sembari mengejar dengan pukulan. Tiba-tiba terdengar orang tertawa.
"Kang-tayhiap, sudah lama kami menantikan kedatanganmu di sini. Sungguh beruntung sekali kau sudi kemari, harap kau suka memberi petunjuk dua-tiga jurus padaku!"
Segera dua arus tenaga menyambar dari sebelah kanan kiri.
Telinga Kang Hay-thian yang tajam dapat membedakan bahwa penyerangnya dari sebelah kiri menggunakan Bian-ciang (pukulan kapas), sedang yang dari kanan menggunakan semacam senjata tajam.
"Biang", Kang Hay-thian membalikkan tangan menggempur mundur penyerang dari kiri, kemudian secepat kilat menotokkan jari tengah untuk menjatuhkan senjata si penyerang dari kanan. Sekali gerak Kang Haythian dapat menghalau dua penyerang gelap. Dari gebrakan itu dapatlah ia mengukur tenaga kepandaian orang. Orang yang menyerang dengan senjata itu kepandaiannya biasa saja, sebaliknya penyerang dari sebelah kiri itu hebat sekali kepandaiannya. Paling tidak tentu tak di bawah wakil pemimpin Gi-lim-kun, Co Bong. Walaupun dapat menggagalkan serangan kedua penyerang itu, ia tetap tak menghentikan serangannya kepada Co Bong. Cepat Co Bong mendorong kedua tangannya untuk menangkis, setelah itu ia cepat menyingkir ke samping.
"Apakah kalian yang mencuri kuda pada malam itu,"
Kang Hay-thian berpaling ke arah kedua penyerang tadi.
"Kang Hay-thian, sungguh tajam pandanganmu. Tetapi ucapanmu itu salah, kami hanya meminjam kuda kawan kami, bagaimana dapat dikatakan mencuri? Hanya karena kami terpaksa juga melukai kudamu, biarlah kami minta maaf,"
Sahut orang itu.
Pada malam itu Kang Hay-thian hanya melihat bayangan mereka, sekarang barulah ia dapat mengetahui jelas wajah mereka.
Yang memakai senjata itu seorang bertubuh gemuk, berusia 50-an tahun dan dahinya terdapat daging menonjol (uci-uci).
Senjatanya menyerupai Boan-koan-pit yang ujungnya bercabang, warnanya hitam.
Segera Kang Hay-thian berseru.
"Kaulah Tok-hak-lok yang menipu anak Li Bun-sing, kau ..."
"Yo Tun-hou dari Ki-lian-san beruntung dapat bertemu Kang-tayhiap, Sam-te kami telah jatuh di tangan orangmu. Hehehe, orang yang sempit hati bukan ksatria, orang yang tidak ganas bukan orang lelaki. Kangtaythiap, sekarang kau jatuh ke tangan kami, lekas kau serahkan jiwamu saja!"
Tukas lelaki tinggi yang lain.
"Kawanan manusia srigala! Hm, ha, boleh coba-coba mencelakai aku dengan cara keji, mungkin takkan kesampaian maksudmu!"
Bentak Kang Hay-than.
Tangannya bergerak-gerak, menotok ke timur dan menghantam ke barat, menotok ke selatan menghantam ke utara.
Co Bong dan Yo Tun-hou masih dapat menghadapi, tapi Lok Khik-si hanya memutar senjatanya, Lok-kak-jat, dan tak berani mendekati.
Di antara ketiga orang itu adalah Lok Khik-si yang paling culas dan licik.
Karena tak dapat merapat, ia mengerut dahi.
Sesaat ia mendapat akal, serunya sambil tertawa.
"Kang-tayhiap bukankah kedatanganmu ini adalah karena Lim Jing? Kau ingin mengetahui dirinya tidak? Ai, sayang, sayang."
Kang Hay-thian menggerung keras, dengan gerak Eng-hik-tian-khong atau elang menyambar dari langit, ia memelompat menyambarnya.
Buru-buru orang she Lok itu memijat Lok-kak-jat, senjata itu ternyata berisi anak panah beracun.
Secepat kilat anak panah itu mengarah muka Kang Hay-thian.
Karena di atas udara, Hay-thian tak dapat menghindar.
Cepat ia mengangakan mulut dan menggigit tangkai panah.
Tapi pada saat itu Co Bong sudah menghantam punggungnya, Hay-thian melontarkan sebuah Pik-khong-ciang yang membuat Lok Khik-si jungkir balik.
Untung karena sedang menggigit anak panah, gerakan Kang Hay-thian agak tak leluasa.
Coba jika tidak, tentu Lok Khik-si sudah amblas jiwanya.
Saat itu pukulan Co Bong pun sudah tiba.
Walaupun sudah terkena racun, tapi tenaga dalam Kang Hay-thian masih cukup kuat.
Co Bong seperti menghantam papan besi.
Kang Hay-thian hanya bergoyang sekali, sebaliknya Co Bong terhuyung mundur sampai tiga langkah.
Belum lagi ia berdiri tegak, tiba-tiba Kang Hay-thian berputar tubuh dan menyemburkan panah yang digigit di mulutnya tadi.
"Tak apa aku bertambah sedikit racun lagi, kau pun harus turut merasakan racun itu!"
Kang Hay-thian tertawa dingin.
Karena masih terhuyung, Co Bong tak dapat menghindari bahunya termakan anak panah beracun itu.
Meskipun tak sehebat racun di tubuh Kang Hay-thian, tapi juga racun yang mematikan.
Kalau Kang Hay-thian seolah-olah tak menghiraukan, sebaliknya Co Bong ketakutan setengah mati.
"Lok-lotoa, lekas berikan obat penawar padaku!"
Ia gugup sekali.
Tapi saat itu Lok Khik-si masih belum berbangkit akibat hantaman Kang Hay-thian tadi, sedang Kang Haythian setelah berhasil menghantam mundur Yo Tun-hou, cepat berputar rubuh terus menyambar tangan Co Bong.
"Berikan obat penawar padaku, baru nanti kulepas!"
Bentak Kang Hay-than dengan bengis.
Diam-diam Co Bong mengeluh, kiranya racun itu ia peroleh dari Thay-kam yang mengurus gudang obatobatan istana, racun boleh diberikan pada para menteri, baik untuk keperluan bunuh diri atau membunuh orang, tetapi obat penawarnya tidak boleh diminta.
Sudah tentu Co Bong tak dapat memenuhi permintaan Kang Haythian.
Setelah berdiri tegak, Lok Khik-si berseru mengejek.
"Kau masih menghendaki jiwa Lim Jing atau tidak?"
"Apa?"
Bentak Hay-thian.
"Obat penawarnya tidak ada, tetapi dengan kepandaiannya, belum tentu kau akan mati. Kini aku hendak melakukan barter denganmu. Lim Jing memang sudah kami tawan, jika kau menghendaki jiwanya, kita saling tukar, Lim Jing kuberikan padamu, kau berikan Cocujin padaku,"
Kata Lok Khik-si.
"Kasih aku lihat Lim Jing dulu!"
Sahut Kang Hay-thian.
"Sudah tentu. Kita tukar menukar secara adil, masakah aku akan menipumu lagi. Tunggu, segera akan kubawa Lim Jing keluar,"
Ujar orang she Lok itu. Kang Hay-thian memperhatikan lirik mata Lok Khik-si yang mencurigakan. Tiba-tiba ia mendapat pikiran.
"Ah, tidak. Jika Lim Jing sudah jatuh ke tangan mereka, masakah mereka tidak lekas mengirim ke kotaraja tetapi malah mengeramnya di sini?"
Maka ia lantas mendengus, Co Bong dijinjingnya terus digusur keluar.
"Kang-tayhiap, mengapa kau tak bisa pegang perkataanmu itu? Bukankah kau datang kemari hendak menyampaikan berita pada Lim Jing? Mengapa sekarang tidak mau memyelamatkannya?"
"Menyingkirlah! Siapa yang berani bergerak, Cotayjinmu ini tentu akan kubunuh lebih dulu!"
Hay-thian mengancam sambil menggusur Co Bong keluar. Yo Tun-hou yang kepandaiannya tinggi segera tahu kalau hawa dalam Kang Hay-thian itu sudah tak penuh. Nadanya agak gemetar, ia menimang.
"Rupanya racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja. Jika sekarang tak turun tangan, di kemudian hari tentu menjadi bahaya besar. Jiwa Co Bong tak usah dihiraukan."
Sekonyong-konyong Kang Hay-thian merasakan kepala puyeng, tindakannya terhuyung.
Yo Tun-hou cepat melesat, menggerung keras sembari mengait dengan kaki, tapi Kang Hay-thian terjerembab ke belakang.
Jatuhnya tepat membentur dada Yo Tun-hou, orang she Yo itu mencelat terjungkir ke atas.
Tetapi karena jatuhnya itu, tangan Kang Hay-thian pun agak kendor.
Co Bong bukan jago lemah, melihat kesempatan itu, ia segera meronta sekuat-kuatnya dan berhasillah ia terlepas dari cengkeraman Kang Hay-thian.
Cepat ia berlari ke tempal Lok Khik-si dan meminta obat.
Kang Hay-thian menggerung keras terus mengejar, tetapi matanya makin gelap.
Dalam pandangannya ia hanya melihat segumpal bayangan hitam.
"Brak", ia menghantam, tapi yang hancur hanyalah sebuah bangku panjang. Tenyata bangku itu memang didorong ke muka oleh Lok Khik-si. Celakanya, Kang Hay-thian mengangap bangku sebagai orang. Setelah mendapat obat, Co Bong cepat meminumnya. Teringat hampir saja jiwanya amblas di tangan Kang Hay-thian, ia menjadi jeri. Buru-buru ia hendak merat keluar, tapi Yo Tun-hou cepat melompat menghadang.
"Jangan takut, dia lebih parah lukanya. Co-tayjin, kesempatan baik sukar didapat. Jika melepaskan harimau pulang ke gunung, kelak tentu menjadi bahaya besar!"
Co Bong berpikir, dengan kepandaiannya yang sakti, jika Kang Hay-thian sampai lolos, belum tentu akan mati karena racun Ho-ting-hong dan Khong-jiok-tan.
Begitu sembuh tentu akan melakukan pembalasan, Sekalipun ia bersembunyi di dalam istana juga tak terjamin jiwanya.
Akhirnya ia mengambil keputusan.
Daripada hidup dalam ketakutan, lebih baik sekarang mengadu jiwa saja.
"Ayo, majulah kawan-kawan!"
Teriaknya kepada orangorangnya.
Kiranya sehari sebelum Kang Hay-thian datang, Congliong-poh sudah diserang dan diduduki, yang merencanakan penangkapan Kang Hay-thian itu ialah Lok Khik-si.
Kali ini yang datang hendak menangkap Lim Jing dibagi menjadi tiga gelombang, semuanya menuju ke Cong-liong-poh.
Dua perwira yang dijumpai Kang Haythian di hotel tempo hari adalah salah satu regu mereka.
Mereka mendapat tugas untuk lebih dulu datang ke Bici memberitahukan pada pembesar setempat supaya mempersiapkan gerakan razia itu.
Yo Tun-hou dan Lok Khik-si sebenarnya termasuk anggota regu itu, tetapi karena kuda mereka tak sehebat kuda perwira itu, apalagi karena perwira-perwira itu temaha hendak merebut jasa, mereka meninggalkan Yo Tun-hou dan Lok Khik-si di belakang.
Yo Tun-hou dan Lok Khik-si baru malamnya tiba di hotel itu.
Sebelum masuk, lebih dulu mereka melihat adanya dua ekor kuda bagus.
Lok Khik-si mengenali kuda putih Pek-liong-ma itu, yang pernah dinaiki oleh putri Kang Hay-thian.
Bahwa Kang Hiau-hu menderita luka berat dan sedang beristirahat di rumah, diketahui pasti oleh Lok Khik-si, maka ia yakin yang naik kuda putih itu tentulah Kang Hay-thian sendiri.
Maka ia buru-buru mengajak Yo Tunhou menukar kudanya dengan kuda kedua perwira itu, terus dibawa kabur lebih dulu.
Dan ketika Kang Hay-thian mengejar keluar serta melontarkan pukulan Pik-khongciang, Lok Khik-si menduga kedua perwira temannya itu tentu sudah diganyang oleh Kang Hay-thian.
Rombongan kedua terdiri dari Co Bong dan tujuh orang Wi-su istana.
Rombongan itu adalah regu inti untuk menangkap Lim Jing, sedang rombongan ketiga hanyalah disiapkan sebagai bala bantuan, mereka datang belakangan.
Lok Khik-si dan Yo Tun-hou siang-malam melakukan perjalanan.
Begitu tiba di Bici mereka segera mengerahkan tentara setempat, lalu menyerang Congliong-poh, tetapi mereka tak berhasil menangkap Lim Jing dan Thio Su-liong.
Lok Khik-si tak mau berhenti sampai di situ, segera ia mengatur rencana untuk meringkus Kang Hay-thian.
Para serdadu disuruh menyaru sebagai penjaga untuk menunggu kedatangan Kang Hay-thian atau sahabat-sahabat Thio Su-liong dan Lim Jing yang datang.
Memang pukulan Co Bong dahsyat sekali, apalagi ia pernah belajar ilmu pukulan Pik-lik-ciang, maka dia yang menyaru menjadi Thio Su-liong.
Dahulu Thia Pek-gak pernah menyuruh bujang rumahnya untuk menyaru menjadi dirinya (Thia Pek-gak) untuk menghadapi Lok Khik-si, sekarang Lok Khik-si hendak meniru siasat itu.
Hanya saja bedanya ia hendak membunuh Kang Haythian, maka caranya pun lebih keji.
Ketujuh Wi-su itu menjaga di delapan penjuru sudut gedung.
Ketika mendengar teriakan Co Bong, enam Wisu segera muncul dan mengepung Kang Hay-thian.
Karena matanya pudar.
Kang Hay-thian hanya mengandalkan suara angin untuk menghindari serangan musuh dan balas menyerangnya.
Sekalipun tenaganya sudah banyak berkurang, namun tetap masih jauh lebih kuat dari kawanan Wi-su itu.
Co Bong dan Yo Tun-hou karena sudah terluka, mereka tak mau bertempur matimatian, mereka hanya menyuruh kawanan Wi-su untuk mengurung Kang Hay-thian.
Dua Wi-su yang coba-coba maju merapat, telah kena disambar dan dibanting oleh Kang Hay-thian.
Yang empat hanya berani main gertak dan berlagak saja, tapi tak berani maju mendekat.
"Kini tiba saatnya, Co-tayjin, mari kita maju berbareng!"
Akhirnya Yo Tun-hou mengajak kawannya setelah jelas mengetahui tenaga Kang Hay-thian mulai lemah. Sekonyong-konyong Kang Hay-thian duduk di tanah dan berseru tawar.
"Benar, memang sudah tiba saatnya, majulah kalian!"
Co Bong dan Yo Tun-hou terkesiap, pikirnya.
"Apakah tenaganya masih belum habis dan hanya pura-pura hendak menjebak musuh?"
Keduanya ragu-ragu tak berani maju.
Kang Hay-thian menggigit jari tengahnya, darah memancur keluar, warnanya hitam.
Habis itu ia menggerung keras terus memlompat menghantam dua orang Wi-su sehingga terjungkir balik.
Kiranya dengan kepandaiannya yang sakti.
Kang Hay-thian dapat mengerahkan darahnya yang beracun ke ujung jari dan dipancurkan keluar.
Memang hal itu merupakan pertolongan darurat, tapi hawa dalam tubuhnya terluka.
Ini berarti ia kehilangan sepuluh tahun pemupukan tenaga dalam.
Dan toh dengan berbuat begitu ia tetap hanya dapat bertahan untuk sementara dan tak dapat bertempur lama.
Co Bong yang pernah merasakan hajaran orang, begitu melihat Kang Hay-thian semangatnya menyala kembali, kejutnya bukan kepalang.
Tanpa banyak pikir lagi, bahkan tanpa mengajak kawannya, ia lari sipatkuping.
Untung Kang Hay-thian lebih membenci Lok Khik-si daripada Co Bong, ia tak menghiraukan Co Bong, sebaliknya maju selangkah lantas menghantam Lok Khiksi.
Lok Khik-si buru-buru menusuk dengan senjatanya.
Hay-thian membentaknya dan dengan suatu gerakan yang luar biasa, direbutnya senjata itu terus ditusukkan.
Lok Khik-si tak berani menangkis, ia menghindar ke belakang Yo Tun-hou, tapi Tun-hou pun tak berani menangkis.
Karena kepandaiannya lebih tinggi dari Lok Khik-si, ia masih dapat menolak tangkai Lok-kak-jat itu ke samping.
Yang celaka adalah Lok Khik-si, ia tak sempat menghindar dan bahunya tertancap senjatanya sendiri.
Untung karena tolakan Yo Tun-hou tadi tenaga tusukan Kang Hay-thian sudah berkurang.
Coba kalau tidak, tentu tulang pundaknya akan tertembus dan dia tentu akan menjadi seorang cacad.
Ancaman maut itu membuat Lok Khik-si dan Yo Tunhou berantakan nyalinya.
Juga keenam Wi-su itu, karena ada beberapa yang terluka, mereka juga lari kabur.
Ketika Kang Hay-thian mengejar keluar, dari kejauhan terdengar Co Bong berseru.
"Lekas bawa pesakitan itu!"
Kang Hay-thian terkesiap, pikirnya.
"Apakah prasangkaku keliru? Apakah Lim Jing benar sudah jatuh di tangan mereka?"
Para Wi-su itu mengikuti jejak Co Bong berlari keluar pintu besar, hanya ada seorang Wi-su yang berlari dengan mengambil jalan dari pintu belakang.
Buru-buru Kang Hay-thian mengejar, pada saat hanya tinggal beberapa langkah saja akan dapat membekuk Wi-su itu, tiba-tiba Lok Khik-si menimpukkan sebatang panah beracun ke punggung si Wi-su.
Ketika Kang Hay-thian tiba, Wi-su itu sudah tak bernapas lagi.
Kang Hay-thian marah sekali, ia putar tubuh dan mengejar mereka lagi.
Tapi baru beberapa langkah, ia merasa tenaganya makin lemah, ia himpun semangatnya dan berseru sekuat-kuatnya.
"Hai, kalian harus segera meninggalkan Bici, kalau kutemukan masih di sini, satu pun tak akan kuberi hidup!"
Dia menggunakan ilmu Say-cu-hwe-kang atau ilmu auman singa, meskipun tenaga dalamnya berkurang tapi gerungan itu cukup membuat telinga mereka serasa pecah.
Sebenarnya tanpa Kang Haythian berteriak begitu toh mereka sudah lari sekuat-kuatnya.
Serdadu-serdadu yang menyamar menjadi bujang Cong-liong-poh, karena melihat Co Bong dan lain-lain sudah lari, mereka juga lantas lari mencari selamat sendiri-sendiri.
Di, dalam gedung Cong-liong-poh menjadi sunyi senyap.
Diam-diam Kang Hay-thian bersyukur, coba musuh kembali mengurungnya, ia tentu akan mati.
Segera ia minum sebutir pil yang meskipun bukan obat penawar, tapi dapat dibuat mengembalikan tenaganya yang habis.
Ia sudah menyalurkan keluar darahnya yang kena racun.
Kalau la mau beristirahat menyalurkan Lwekang, dalam tiga hari tentu akan bisa sembuh.
"Mereka lari ke Koang-seng, tentu akan mengirim pasukan kemari pula. Aku tak boleh tinggal lebih lama di sini. Tetapi siapakah yang disebut pesakitan oleh Co Bong tadi? Aku harus memeriksanya!"
Habis berpikir begitu, ia segera mengheningkan cipta. Tiba-tiba dari bawah tanah seperti terdengar suatu suara. Ia mengerutkan kening, pikirnya.
"Tentu ada terowongan rahasia, tapi entah dimanakah pintunya?"
Ia bimbang memikirkannya.
Meninggalkan tempat itu karena kemungkinan datangnya tentara pemerintah atau berusaha mencari terowongan di bawah tanah ataupun meninggalkan tempat itu lebih dulu untuk merawat sakitnya, begitu sudah baik baru kembali ke situ?
Selagi ia menimang-nimang, tiba-tiba terdengar suara keresekan dari kamar penyimpanan kayu bakar dan muncullah seorang.
Umurnya di antara 50-an tahun, rambutnya banyak beruban, punggungnya sedikit bungkuk.
"Kau siapa?"
Tegur Hay-thian.
"Kudengar mereka menyebut kau sebagai Kangtayhiap. Benarkah kau adalah Kang Hay-thian Tayhiap dari Soatang?"
Orang tua itu balas bertanya.
"Sebutan Tayhiap, aku merasa tak pantas memakai. Memang benar akulah Kang Hay-thian,"
Sahut Hay-thian. Orang tua itu mengganguk.
"Kau dapat mengusir kawanan bangsat itu, aku percaya kau tentu Kang Haythian. Aku adalah bujang tua keluarga Thio!"
Habis berkata orang tua itu lantas menjura memberi hormat tiga kali. Hay-thian tersipu-sipu mengangkatnya bangun.
"Mohon Kang-tayhiap suka menolong Lim-siauya,"
Kata bujang tua itu.
"Apa? Lim-siauya?"
Kang Hay-thian tersentak kaget.
"Ya, putra Lim-kaucu,"
Sahut bujang tua itu.
"Apa? Putra Lim Jing jatuh ke tangan mereka? Cara bagaimana menolongnya?"
Seru Hay-thian.
"Ikutlah padaku,"
Kata bujang itu. Sambil mengikuti, Kang Hay-thian bertanya apakah Lim Jing berada di Cong-liong-poh situ. Bujang tua itu menghela napas, lalu katanya.
"Waktu tentara pemerintah menyerang Cong-liong-poh, dengan membawa putranya, Lim-kaucu sebenarnya sudah berhasil menerobos keluar. Tetapi karena Thio-pohcu kami masih di belakang dan terkepung, Lim-kaucu masuk kembali untuk menolong Pohcu. Kasihan, karena tak dapat melindungi keduanya, akhirnya putra Lim-kaucu jatuh ke tangan mereka. Pohcu kami menderita luka, namun beliau tetap mengajak Lim-kaucu masuk kembali untuk menolong Lim-siauya. Tetapi Lim-kaucu lantas menotok jalan darah Thio-pohcu dan memanggulnya lari. Untuk kepentingan Pohcu kami, Lim-kaucu rela mengorbankan putranya sendiri!"
Kang Hay-thian menghela napas.
"Itulah baru sepasang sahabat yang sejati. Pak tua mengapa kau masih berani tinggal di sini?"
Bujang tua itupun menghela napas.
"Aku tak dapat lolos dan ditangkap. Yang turut ditangkap berjumlah 6-7 orang dan dimasukkan ke dalam tahanan. Aku pura-pura berlaku sebagai orang gagu tuli. Kawanan perampok itu membiarkan aku tinggal di sini untuk mencari air dan membelah kayu."
Saat itu mereka tiba di ujung lorong. Bujang tua itu membuka sebilah papan batu dan terbukalah sebuah mulut terowongan. Ujarnya.
"Di dalam terowongan ini terdapat penjara di bawah tanah. Eh, apakah kau mendengar suara gemerincing senjata? Kuduga Limsiauya tentu dimasukkan dalam penjara bawah tanah sini."
Kang Hay-thian menyulut api, bersama bujang tua itu bergegas mereka menuju ke sebuah kamar batu.
Suara orang bertempur makin terdengar jelas.
Kang Hay-thian coba mendorong pintu batu, tapi sedikltpun tak bergeming.
Bujang itu terengah-engah, ujarnya.
"Celaka, celaka! Pintu batu ini dipalang dari dalam!"
Sayang pedang pusaka Cay-in-po-kiam milik Kang Hay-thian sudah diberikan kepada putrinya.
Coba ia masih membawanya, tentu tak sukar untuk membelah pintu batu itu.
Sesakti-saktinya, ia tetap tak mampu mendobrak pintu itu, apalagi kini tenaganya masih belum oulih kembali.
"Lim-siauya, apakah kau di dalam? Apakah kau mendengar suaraku? Jawablah!"
Bujang tua itu berteriak.
"Ya, akulah paman Thio! Bagaimana dengan ayahku?"
Terdengar suara seorang anak kecil menyahut dari dalam.
Kang Hay-thian menyatakan kelegaannya karena anak itu masih sehat-sehat saja, tapi sekonyong-konyong terdengar anak itu menjerit kesakitan.
Kiranya waktu menyahut pertanyaan bujang tua tadi, perhatian anak itu terganggu dan pundaknya kena dimakan ujung golok lawan.
"Lim-siauya, lekas buka pintu. Aku dan Kang-tayhiap datang menolongmu!"
Karena kuatir bujang tua itu berteriak-teriak lagi.
Dari sebelah dalam terdengar dering senjata makin riuh Nyata anak itu didesak makin gencar sehingga tak sempat lagi membuka pintu.
Tiba-tiba terdengar seorang Wi-su tertawa mengejek.
"Aha, kiranya Kang-tayhiap juga datang. Bagus, lekas suruh setan kecil itu menyerah, kalau tidak, boleh dibereskan saja!"
Kang Hay-thian hanya menggigit giginya kencangkencang. Beberapa saat kemudian, kembali Wi-su itu berteriak.
"Pesakitan cilik, lemparkan rantai itu ke tanah. Kuhitung tiga kali, jika membangkang, akan kukutungi tubuhmu. Satu, dua "Lim, Lim ..."
Bujang tua berseru terguguk-guguk. Kang Hay-thian segera mendekap mulut bujang itu dan membisikinya.
"Jangan takut, tak nanti dia berani membunuhnya!"
"Tiga ..."
Terdengar mulut si Wi-su berseru. Kemudian terdengar suara anak itu menggeram.
"Kalau kau membunuh aku, ayahku tentu akan membalasmu! Aku tak takut!"
Langkah kaki memburu, dering senjata beradu. Benarlah, anak itu tak dibunuh. Diam-diam Kang Haythian terkejut girang, pikirnya.
"Anak ini serupa dengan anak Li Bun-sing, nyalinya besar sekali. Harimau tentu beranak harimau, kiranya memang benari"
Ia menduga Wi-su itu tentu tak berani membunuh putra Lim Jing dan hanya akan dijadikan sebagai barang tanggungan.
Karena Wi-su itu tak mengetahui keadaan di luar, dia merasa kuatir kalau-kalau Thio Su-liong datang ke Cong-liong-poh lagi.
Kalau mengerahkan orang untuk menghancurkan pintu batu itu, tentu dalam setengah hari saja akan sudah terbuka.
Sudah tentu ia tak mengetahui bahwa sebenarnya Kang Hay-thian juga gelisah untuk lekas meninggalkan tempat itu, karena kuatir tentara pemerintah akan datang.
Dua macam perasaan mencengkeram hati Kang Hay-thian.
Pertama, ia girang akan kegagahan putra Lim Jing itu, tapi dia pun gelisah, juga karena tak dapat menolongnya.
Selagi ia dalam kegelisahan itu, tiba-tiba terdengar suara berkeretak keras, semacam benda yang terpapas golok.
Tahu-tahu bujang tua itu menjerit dan menangis gerung-gerung.
Kiranya ia mengira tentulah kepala putra Lim Jing sudah dipenggal.
"Hanya membacok kayu, jangan menangis. Aku punya akal!"
Bisik Kang Hay-thian. Rupanya karena percaya akan ucapan Kang Hay-thian, bujang tua itu berhenti menangis. Seru Kang Hay-thian.
"Miring ke kanan tiga langkah gunakan Pah-ang-pian-ciok. Benar, lalu jurus Poan-liongyu-poh dan cepat-cepat Thiat-so-heng-kang. Ganti jurus, Hwe-liong-soh-liu, Lian-hoan-sam-si Kiranya walaupun tenaganya berkurang, tapi kepandaian mendengar angin membedakan senjata masih lihai. Jelas didengarnya bahwa putra Lim Jing itu menggunakan rantai untuk melawan golok si Wi-su. Anak itu menggunakan permainan Utti-pian-hwat (ilmu pian dari keluarga Utti), sedang si Wi-su menggunakan ilmu golok Ngo-toan-bun-to. Sebenarnya permainan anak itu cukup lihai, hanya sayang kurang pengalaman, tak tahu bagaimana harus memecahkan permainan golok lawan. Anak itu bernama Lim To-kan, umurnya baru 12 tahun. Tapi bagaimana ia dapat memperoleh rantai besi itu? Sebenarnya rantai besi itu digunakan untuk merantai kakinya. Wi-su yang menjaganya berpangkat Si-wi kelas dua dari Gi-lim-kun. Karena terlalu menyombongkan kepandaiannya yang tinggi, ia tak memandang sebelah mata sama sekali terhadap anak itu. Karena sehari suntuk menjaga Lim To-kan, ia merasa sebal dan mengantuk. Lebih dulu ia ikatkan ujung rantai pada tiang, kemudian tangan Lim To-kan diborgol. Ia anggap sudah kuat penjagaannya. Tetapi borgolan itu sebenarnya diperuntukkan orang besar, maka waktu dipasang di tangan To-kan tak begitu kencang. Semasa kecil To-kan pernah belajar ilmu Sutkut-kang (menyurutkan tulang) dari seorang anggota rombongan sulap, permainan 'menerobos lingkaran' adalah menggunakan ilmu Sut-kut-kang itu. Waktu Kang Hay-thian bertempur seru di atas tadi, kebetulan si Wi-su sedang tidur pulas, sebaliknya To-kan mendengar jelas. Lim To-kan bernyali besar dan berotak cerdas. Ia menduga tentu ayah dan paman Thio Su-liong yang kembali. Tak mau ia sia-siakan kesempatan itu dan berhasillah ia meloloskan tangan dan kaki dari rantai borgol. Waktu si Wi-su bangun, To-kan sudah siap melawannya dengan rantai kaki yang dimainkan seperti pian. Bagaimanapun tenaga anak itu kalah dengan orang tua. Untung ia tangkas dan mempunyai senjata hingga dapat bertahan lama, tapi akhirnya ia pun terdesak, bahkan terluka. Dalam detik-detik berbahaya dimana dia terancam, tiba-tiba terdengar Kang Hay-thian dari sebelah luar memberi petunjuk gerak-gerak jurus yang harus dimainkan. Semangat To-kan timbul kembali, tanpa banyak berpikir, ia ikuti petunjuk-petunjuk Kang Hay-thian itu untuk melawan musuh. Hal itu tak ubahnya seperti Kang Hay-thian meminjam tangan si bocah untuk menyerang Wi-su itu. Setiap gerakannya tentu selalu mendahului gerakan lawan, sekalipun tenaganya lemah dan pengalaman kurang, tapi dengan menyerang dulu, To-kan dapat mengatasi lawannya. Hanya sepuluh jurus, lutut Wi-su kena sabetan rantai hingga terhuyunghuyung.
"Ayo, berlututlah di hadapan leluhur cilik!"
Teriak Tokan. Pada lain saat paha si Wi-su menerima tiga kali sabetan rantai yang cukup keras.
"Bluk", robohlah jago istana itu. To-kan lalu mencari kunci di tubuh si Wi-su, kemudian membuka pintu mempersilakan Kang Hay-thian dan bujang tua masuk. Setelah bertempur seru dan mendapat luka, pakaian To-kan sudah berlumuran darah, dia seperti habis mandi darah. Bujang tua memeluknya erat-erat, dia menangis karena girangnya.
"Syukur Tuhan maha adil sehingga jiwamu tertolong. Lekas haturkan terima kasih pada Kang-tayhiap. Astaga, lukamu begini berat, darah masih terus mengalir!"
"Jangan terburu-buru menghaturkan terima kasih, sini kuperiksa lukamu,"
Kata Kang Hay-thian dan dengan bantuan lentera di kamar situ segera ia memeriksa.
"Untung tak sampai kena tulang. Nanti setelah kulumuri obat tak sampai tiga hari tentu sembuh."
"Paman Thio. dimana ayah dan paman Thio Su-liong?"
Tanya To-kan.
"Jangan kuatir, Siauya, mereka tak apa-apa dan sudah meloloskan diri,"
Sahut bujang tua. Waktu To-kan menanyakan tempat beradanya sang ayah, bujang tua itu tertawa getir, ujarnya.
"Mana aku tahu, Siauya, rawatlah lukamu baik-baik, kelak kita cari beritanya."
"Keponakan Kan, kita tak boleh tinggal lama-lama di sini. Thio-pohcu menderita luka, ayahmu bersamanya bersembunyi di lain desa, kapan kalian ayah dan anak akan berjumpa sukar diketahui. Maukah kau ikut padaku? Akan kuajarkan seluruh kepandaianku kepadamu, maukah kau menjadi muridku yang keempat?"
Akhirnya Kang Hay-thian membuka mulut.
"Tidak, aku tak boleh merembet dan membikin susah padamu,"
Sahut To-kan tegas. Melihat anak itu bisa memikirkan kepentingan lain orang, makin besarlah rasa suka Kang Hay-thian. Dia tertawa.
"Jika aku takut terseret, masakah aku datang kemari menolongmu?"
"Kepandaian Kang-tayhiap ini sungguh hebat sekali. Kawanan bangsat itu dapat dikocar-kacirkan Kangtayhiap seorang diri,"
Bujang tua memberi komentar.
"Memang aku sudah tahu, ayah sering mengatakan tentang Kang-tayhiap. Kau mau menerima aku sebagai murid, jika ayah mengetahui tentu akan bergirang hati. Suhu, terimalah hormat muridmu,"
Begitulah To-kan merubah pikirannya dan berlutut menjura tiga kali. Diam-diam Kang Hay-thian geli dalam hati.
"Sebenarnya aku tak mau menerima murid. Tapi dalam setengah tahun ini berturut-turut telah menerima empat orang murid."
"Suhu, aku mempunyai suatu persoalan,"
Setelah berbangkit Lim To-kan lalu mengajukan usul.
"Eh, kecil-kecil sudah punya soal?"
Kang Hay-thian tertawa.
"Aku mempunyai seorang kawan yang baik sekali, namanya Li Kong-he. Ayahnya dan ayahku mengangkat saudara, aku dan dia pun ikut-ikutan angkat saudara. Aku pernah berj'anj'i padanya kelak akan sama-sama belajar. Maka dari itu, Suhu, maukah kau menerimanya sebagai murid juga?"
Kang Hay-thian tertawa gelak-gelak.
"Haha, kawanmu yang baik itu bukan lain adalah Sam-suhengmu sendiri!"
Girang sekali To-kan, serunya.
"Kalau begitu, tak lama lagi aku tentu akan berjumpa padanya!"
"Tidak, aku sekarang sedang mencarinya, tetapi aku sudah berjanji akan menerimanya sebagai murid. Meskipun belum resmi tapi karena sudah kuterima, maka dia tetap menjadi Suhengmu. Nanti bila senggang tentu kuceritakan padamu. Sekarang gantilah pakaian dulu."
"Dengan mendapat janjimu, Kang-tayhiap, Li-siauya tentu akan diketemukan. Sepasang anak ini tentu bisa berkumpul,"
Kata si bujang tua.
Dapat menolong putra Lim Jing itu, hati Kang Haythian susah-susah senang, wajahnya berseri girang tapi hatinya berat.
Tenaganya sekarang ini jauh berkurang dari beberapa jam yang lalu, terang ia tak dapat membawa lari anak itu.
Dia memerlukan tiga hari untuk menyembuhkan lukanya, anak itupun memerlukan waktu yang sama untuk sembuh.
Tetapi bagaimana caranya melewatkan tiga hari itu dengan selamat?
Inilah yang membuatnya prihatin sekali.
Rupanya si bujang tua mengetahui kesulitan Kang Hay-thian, ujarnya.
"Di dalam Cong-liong-poh sini tiada seekor kuda pun. Kang-tayhiap, jika kau hendak membawa pergi anak ini, kalau sampai kesamplok tentara pemerintah tentu akan berbahaya sekali. Rasanya lebih baik kau menyingkir dulu."
Bujang itu memikirkan bahayanya tapi tak mengerti kalau Kang Hay-thian terluka berat, sahut Hay-thian.
"Aku justru hendak bertanya padamu, apakah di sekitar tempat ini terdapat tempat sepi yang cocok untuk persembunyianku?"
"Tujuh-delapan li di belakang gunung ini, terdapat sebuah gua karang yang dahulu secara tak sengaja telah kutemukan. Penemuan itu tetap kupegang rahasianya. Lebih baik Kang-tayhiap dan Lim-siauya bersembunyi di situ untuk sementara waktu, setelah keadaan agak longgar nanti kusediakan dua ekor kuda."
Kang Hay-thian setuju.
Setelah Lim To-kan ganti pakaian, si bujang tua memanggul sebuah buntalan rangsum dan mengajak kedua orang itu menuju ke belakang gunung.
Kala itu matahari sudah condong di balik gunung.
Tiba-tiba kang Hay-thian mendengar suara belasan napas dari dalam sebuah gubuk di tepi jalan.
"Siapa itu? Lekas keluar!"
Bentaknya. Dari gubuk itu menongol kepala orang.
"Aku orang desa yang sedang mencari rumput."
Si bujang tua menggeram.
"Hm, penduduk dusun ini semua kukenal, tapi tak pernah aku melihatmu. Tentu bangsa serdadu yang menyaru. Kang-tayhiap, bunuhlah dia!"
Orang itu menjatuhkan diri berlutut di tanah dan meratap.
"Kasihanilah aku. Aku masih mempunyai seorang ibu yang sudah 80 tahun umurnya dan mempunyai "Anak yang baru berumur tiga tahun, bukan?"
Sambung si bujang tua.
"Ucapan orang persilatan semacam itu masakah dapat mengelabui Kang-tayhiap?"
Kang Hay-thian tahu juga bahwa jika orang itu dibiarkan hidup tentu di kemudian akan menimbulkan bahaya, tetapi ia mempunyai rasa kasihan juga.
Orang itu hanya ditotok jalan darahnya supaya pingsan, ujarnya.
"Tak usah pedulikan dia, mari kita lanjutkan perjalanan lagi."
"Mengapa Kang-tayhiap mengampuninya?"
Tanya bujang tua.
"Dia, hanya seorang biasa yang tak mengerti ilmu Lwekang. Setelah kutotok jalan darahnya, tiga hari kemudian dia baru dapat sadar, setelah tiga hari andaikata tentara pemerintah mengetahui tempat persembunyianku, mereka Juga takkan dapat berbuat apa-apa."
Tak berapa lama mereka melihat di atas karang terdapat sebuah air terjun, air yang mencurah ke bawah itu merupakan selembar tirai air.
Kang Hay-thian menarik anak itu untuk diajak mengikuti si bujang tua yang merangkak ke atas lamping gunung dan melintasi air terjun itu dari samping.
Tiba di belakang air terjun, si bujang tua memindahkan sebuah batu besar, ujarnya.
"Di sinilah, Kang-tayhiap, cocok tidak tempat ini?"
Ternyata di belakang batu itu terdapat sebuah gua, mulut gua sempit tapi dalamnya cukup luas. Dinding gua terdapat dua buah lubang angin sebesar tinju manusia.
"Bagus benar tempat ini. Orang luar tentu sukar mengetahuinya,"
Hay-thian memuji.
"Karang ini berisi rangsum yang cukup untuk empat hari. Semua penduduk desa ini waktu terjadi penyerbuan tentara pemerintah sudah melarikan diri. Jika bukan aku sendiri, kalau di luar ada orang memanggil tentulah kawanan kaki tangan musuh, maka jangan sekali-kali dijawab. Benar orang luar sukar mengetahui tempat ini, tapi tiada jeleknya untuk berhati-hati,"
Demikian si bujang memberi pesan. Kang Hay-thian tertegun.
"O, jadi kau tak tinggal bersama kami disini!"
"Aku masih perlu pulang, siapa tahu Pohcu nanti diamdiam pulang juga dan tentulah memerlukan orang untuk menyampaikan berita kemari,"
Sahut si bujang.
"Tentara pemerintah tentu akan datang ke Cong-Liong-poh lagi, harap kau menyingkir saja. Kurasa Limkaucu dan Pohcumu itu tentu takkan gegabah pulang,"
Kata Hay-thian.
Namun bujang itu masih berkeras hendak pulang, ia mengatakan di dalam Cong-liong-poh harus ada orang yang menjaga.
Sekalipun tentara pemerintah datang, ia dapat mencari tempat persembunyian yang rapat, andaikata kepergok juga belum tentu tentara pemerintah akan membunuhnya.
Akhirnya Kang Hay-thian melepaskan juga di samping memuji kesetiaan bujang itu, pesannya.
"Kalau begitu harap kau berhati-hati. Untuk menjaga bahaya, lebih baik kau tak usah menjenguk kemari. Tiga hari kemudian, jika tak terjadi apa-apa, aku dengan anak ini pada malam harinya tentu akan masuk ke Cong-liong-poh untuk menjumpaimu."
Setelah bujang itu pergi, Kang Hay-thian segera menyuruh To-kan tidur, sedang ia sendiri mengadakan penyaluran Lwekang untuk mengobati lukanya.
Keesokan harinya, semangat To-kan sudah banyak pulih, hanya tinggal lukanya yang belum sembuh.
Kang Hay-thian memberinya pelajaran yang praktis-praktis dan mudah yang bisa segera digunakan, misalnya melepas senjata rahasia pada jalan darah, merebut senjata lawan dengan tangan kosong.
Lim To-kan anak cerdas, apa yang diajarkan cepat dapat diterimanya.
Kang Hay-thian membiarkan anak itu berlatih sendiri, kemudian ia duduk semadi.
Malamnya ia rasakan hawa dalamnya mulai terpusat, sembuhnya agak lebih cepat dari yang dikiranya semula.
Dalam pada itu ilmu tangan kosong Siau-kim-na-jiu-hoat yang dipelajari To-kan pun sudah mahir.
Hari kedua Kang Hay-thian memberinya pelajaran Thian-lo-poh-hoat.
Pelajaran langkah kaki ini memang paling berguna untuk menghadapi lawan yang kuat, tapi juga sulit dipelajari.
Kang Hay-thian mengira paling tidak dalam tiga hari anak itu baru bisa.
Siapa tahu pada malamnya ketika menyaksikan To-kan berlatih, ternyata sudah boleh juga, yang masih kurang hanya dalam gerak perubahan posisi dan latihan.
Diam-diam Kang Hay-thian bergirang hati.
"Anak ini pintar sekali. Tampaknya dia tak di bawah Leng-hong. Orang bu-lim mengatakan mencari Suhu pandai sukar, memilih murid baik juga tak mudah, tak terduga kedua muridku ini mempunyai bakat bagus semua. Jauh lebih baik dari aku sewaktu kecil."
Hari ketiga merupakan saat-saat yang penting.
Dia hendak menjalankan penyaluran istimewa dari Toa-jiutho-na-hoat untuk memasukkan hawa Cin-gi ke dalam perut.
Jika berhasil, racun dalam tubuhnya akan hilang semua, tenaganya pun akan pulih seperti semula.
Pantangannya, di waktu menjalankan penyaluran tak boleh berhenti setengah jalan, karena salah-salah bisa menjurus ke dalam keadaan Cau-hwe-jip-mo, dimana separuh tubuhnya akan mati.
Luka To-kan sudah sembilan bagian sembuh, untuk menjaga kemungkinan yang tak diingini, ia berjaga di mulut gua.
Kira-kira tengah hari, tiba-tiba To-kan melihat cahaya merah timbul dari gunung di sebelah muka.
Tak lama kemudian awan langit berubah merah membara.
Angin yang meniup membawa hawa panas.
"Suhu, celaka, Cong-liong-poh timbul kebakaran! Paman Tio entah kemana?"
Teriak To-kan. Kang Hay-thian juga merasakan angin panas itu. Melihat dari arahnya, ia percaya tentulah terjadi kebakaran di Cong-liong-poh. Yang membakar tentu pihak tentara pemerintah.
"Tutup mulut gua. Malam nanti kita menyelidiki ke sana,"
Sahutnya.
Penyaluran Lwekangnya tengah dalam saat-saat yang genting.
Jangankan lari, sedang pikirannya terpencar saja tak boleh.
Apa boleh buat, ia menyerahkan diri pada nasib.
Mudah-mudahan musuh jangan mengetahui gua tempat persembunyiannya itu.
To-kan menutup pintu gua dengan sebuah batu besar.
Dia pun tahu bahwa keadaan Suhunya sedang genting.
Jika sampai ketahuan musuh, tentu celaka.
Hatinya berdebar-debar.
Dalam kegelapan malam kedua Suhu dan murid itu duduk berhadapan.
Entah lewat berapa lama, tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing, pada lain saat terdengar suara orang berkata.
"Apakah bersembunyi di sini? Di sini kan tak ada suatu gua. Masakah di dalam air terjun ada orang bersembunyi?"
Suara itu berasal dari Co Bong, wakil pemimpin barisan Gi-lim-kun.
"Apakah lusa malam kau benar-benar melihat tiga orang? Bagaimana rupanya?"
Tanya seorang lain yang ternyata Tun-hou.
"Masakah hamba berani berbohong? Malam itu hamba benar melihat tiga orang? Seorang anak laki-laki, seorang laki pertengahan umur dan seorang tua. Pak tua itu memanggil si lelaki pertengahan umur sebagai Kangtayhiap,"
Sahut seseorang.
Dia ialah orang yang menyaru jadi orang desa dan ditotok jalan darahnya oleh Kang Hay-thian kemarin lusa.
Mestinya dalam waktu tiga hari baru dia sadar, jadi masih kurang setengah hari.
Tentu karena ditolong Co bong atau Yo Tun-hou.
"Ya, tentu benar. Menilik bagaimana dahsyatnya racun Ho-ting-hong dan Khong-jiok-tan, selihai-lihainya Kang Hay-thian, juga harus memerlukan waktu paling sedikit sepuluh hari sampai setengah bulan baru dapat sembuh. Dia tentu bersembunyi di sini,"
Kata Co Bong "Apakah di belakane air teriun itu ada guanya?"
Tanya Yo Tun-hou.
Belum habis pertanyaan itu diucapkan, kedua anjing pemburu sudah menyusur dari samping untuk mengitari air terjun.
Di situ mereka menyalak sambil memandang pada karang curam.
Co Bong menemukan jalan yang dilintasi anjing pemburu itu terdapat bekas-bekas rumput terpijak rubuh, segera ia tertawa.
"Ai, tak salah lagi!"
Demikian rombongan itu segera mengikuti jejak anjing mereka.
Rumput berdiri dibabat, mereka tiba di tanah lapang belakang air terjun, itulah jalanan yang dilalui Kang Hay-thian.
Selain Co Bong dan Yo Tun-hou, dalam rombongan tentara pemerintah itu masih terdapat lima orang perwira Gi-lim-kun.
Mereka ialah regu cadangan atau rombongan ketiga yang bertugas menangkap Lim Jing, karena tempo hari terluka berat Lok Khik-si terpaksa tak dapat ikut.
"Aneh, anjing terus-terusan menyalak tetapi tak ada suatu gua pun,"
Yo Tun-hou menggerutu.
"Kedua anjing pemburu itu adalah persembahan dari negeri Secong, terlatih sekali. Jika membau hawa orang barulah mereka menggonggong begitu. Coba pindahkan batu itu,"
Perintah Co Bong.
Kedua ekor anjing itu ternyata mendekam persis di muka gua.
Batu yang dimaksud Co Bong adalah batu yang diangkat To-kan.
Seorang perwira yang kuat segera mendorong dan ternyata berhasil mengisar batu itu.
Kini terbukalah mulut gua, hanya saja ketika mereka menjenguk ke dalam, ternyata hanya gelap pekat yang kelihatan, tiada terdapat barang apa-apa lagi.
To-kan bersembunyi di balik batu, hatinya melonjaklonjak.
Co Bong menempelkan telinga ke tanah, sekonyongkonyong ia tertawa.
"He, sedikitpun tak meleset. Di dalam memang ada orangnya!"
Ternyata ia dapat menangkap napas To-kan.
Anak itu gemetar, bukan saja karena memikirkan jiwanya, juga keselamatan Suhunya.
Rasa ngeri membuatnya menggigil, sebaliknya Yo Tun-hou dan Co Bong pun kuatir, mereka ragu-ragu untuk masuk.
"Coba kalian dua orang, papas mulut gua dan masuklah,"
Kata Co Bong.
Kedua perwira bertenaga kuat itu memang sudah mendengar nama Kang Hay-thian tapi belum pernah melihat kepandaiannya.
Mendengar bahwa jago she Kang itu sudah terkena racun buatan istana, nyali mereka pun bertambah besar.
Apalagi atasannya yang menyuruh, mereka buru-buru hendak mencari pahala, mereka segera ayunkan sekop untuk memapas tanah dan menghancurkan batu-batu, kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk.
Tiba-tiba seorang menjerit dan rubuh, jalan darahnya termakan batu yang ditimpukkan To-kan.
Kawannya yang di belakang sudah siap.
Ketika To-kan menimpuk lagi, perwira itu dapat menangkisnya dengan sekop.
Batu mencelat balik ke arah To-kan, dia melompat menghindar dan ketahuanlah dirinya.
Perwira itu menggerung keras, segera melompat ke muka dan menyodok dengan sekopnya.
Kerucut batu dimana To-kan bersembunyi tadi hancur seketika.
Untung To-kan sudah pergi, tetapi sekop pun melengkung tak bisa digunakan lagi.
"Harus ditangkap hidup-hidup!"
Teriak Co Bong. Semula perwira itu mengira yang membokong tadi tentulah Kang Hay-thian, setelah mengetahui ternyata hanya seorang bocah, diam-diam ia malu dalam hati.
"Ah melawan seorang anak saja mengapa harus begini ngotot!"
Pikirnya.
Sekop dilempar, dengan mementang kedua lengannya ia terus menubruk To-kan.
Karena sudah mempelajari Siau-kim-na-jiu, To-kan membalikkan tangannya menyambar.
Mimpi pun tak nyana perwira itu kalau anak sekecil ini ternyata lihai juga.
Belum dapat menerkam To-kan, lengannya sudah kena dicengkeram anak itu.
Sekali memelintir.
"krek", Tokan dapat mematahkan tulang lengan perwira itu. Perwira itu mengaum seperti harimau kelaparan, ia ayunkan sebelah tangannya menghantam sekuatkuatnya. Karena merapat dekat, To-kan sukar menghindar.
"Bluk", dia terlempar sampai setombak lebih. Habis menghantam, perwira itupun roboh ke tanah. Semula Co Bong terkejut, tapi pada lain saat ia girang sekali. Kalau Kang Hay-thian sudah sembuh, tentu tak nanti menyuruh seorang anak kecil menghadapi musuh. Masakah rombongannya yang begitu banyak orangnya tak mampu menghadapi seorang anak kecil saja? Apa yang dipikir Co Bong serupa dengan Yo Tun-hou. Nyali keduanya seketika menyala, mereka menyerbu masuk. Ketiga perwira yang berada di luar juga ikut masuk, lebih dulu mereka menolong kawannya yang tertimpuk jalan darahnya tadi. Tampak Kang Hay-thian duduk bersila dengan anteng, dia termenung bagai patung, sama sekali tak menghiraukan kejadian di sekelilingnya. Penyaluran Toajiu-thian-tho-na-hoat sedang mencapai titik yang tergenting. Sekali tubuhnya berkisar, hawa dalamnya menyungsang balik dan jadilah dia seorang cacad selama-lamanya. Co Bong dan Yo Tun-hou pernah merasakan kelihaian tangan Kang Hay-thian, walaupun tahu saat itu Kang Hay-thian sedang tak berdaya, namun mereka masih cemas juga. Kalau sampai hal yang di luar dugaan terjadi, menyesal di kemudian pun tak berguna. Lebih dulu Co Bong mencari tahu keadaan, dia tertawa.
"Kang-tayhiap, sekarang kau sudah ibarat kurakura dalam perigi. Tiada gunanya melawan, kuhormati kau sebagai seorang Hohan. Marilah kita menjadi sahabat, suruhlah anak itu ikut kami, nanti kami takkan mengganggu kau lagi."
Namun Kang Hay-thian tenang laksana sebuah patung. Yo Tun-hou sebagai seorang ahli silat, segera berbisik.
"Menilik keadaannya, dia sedang mencapai klimaks dalam mengobati lukanya dengan Lwekang. Tentu tak dapat bertempur."
Co Bong mengiakan, namun mereka tetap ragu-ragu.
Kepandaian jago she Kang itu memang sukar diduga, mereka pernah jatuh ke dalam tangannya, maka tetap merasa jeri.
Sampai sekian saat mereka hanya kasakkusuk tanpa mengambil keputusan.
Perwira yang paling kuat tenaganya, agaknya tak sabar lagi, pikirnya.
"Masakah seorang yang sudah terkena racun saja masih begitu ditakuti?"
Dia penasaran dan maju menghampiri, begitu tiba terus mengulurkan tangan mencengkeram tulang Pi-peh-kut di bahu Kang Hay-thian.
"Hai, jangan melukai Suhuku!"
Lim To-kan memaksakan diri merangkak bangun.
Tapi baru mau berdiri sudah dipersen sebuah Pik-khong-ciang oleh Yo Tun-hou, hingga anak itu terpental mundur sampai tiga langkah.
Berbareng dengan jatuhnya To-kan, terdengarlah sebuah jeritan keras.
Yang roboh bukan Kang Hay-thian, melainkan ...
si perwira.
Ternyata walaupun tak dapat berbangkit melawan, tetapi Kang Hay-thian telah menyalurkan Lwekang istimewa untuk menyelimuti tubuh.
Makin keras pukulan si perwira makin hebat reaksi yang dideritanya, pukulan tadi telah menyebabkan kepala si perwira mengucurkan darah.
Seorang perwira lain terkejut, serentak ia mengayunkan tombak menusuk Kang Hay-thian.
Ia telah memperhitungkan.
"Kalau tanganku tak menyentuh tubuhnya, betapa tinggi kepandaiannya, tubuhnya itu tetap terdiri dari darah dan daging. Coba saja apakah dia tetap duduk diam menghadapi tombakku ini?"
Ternyata Kang Hay-thian tetap duduk mematung, hanya telinganya yang bekerja untuk mendengarkan kesiurnya sambaran angin. Ia agak mengisarkan tubuh.
"Cret", ujung tombak menembus bawah iga dan merobek bajunya, tetapi dengan begitu tombak pun kerta dikempitnya. Kang Hay-thian mempunyai suatu ilmu yang dinamakan Kek-but-coan-kang (menyalurkan Lwekang melintasi sebuah benda). Hawa murninya segera menyalur di sepanjang batang tombak dan merangsek balik. Seketika itu juga si perwira jungkir balik, tetapi karena tenaga yang digunakan Kang Haythian tak begitu keras, maka setelah terbanting jatuh, perwira itupun hanya kesakitan saja tak sampai terluka seperti kawannya tadi. Begitu ia mengendorkan kepitan, tombak perwira itupun jatuh ke tanah. Beberapa perwira lainnya saling berpandangan sendiri, serunya.
"Orang itu mempunyai ilmu sihir, jangan diusik!"
Salah seorang yang bernyali kecil serentak memutar tubuh terus hendak ngacir. Co Bong membentaknya, lalu dia tertawa gelak-gelak, serunya.
"Jangan kuatir, orang she Kang itu hanya mempunyai tenaga untuk menangkis serangan saja, tetapi tak mampu balas menyerang. Kalian tak usah menyerangnya dan dia pun tak nanti mencelakai kalian. Tangkap anak itu saja, kemudian bakar dia!"
Sebagai tokoh-tokoh silat kelas satu, Co Bong dan Yo Tun-hou dapat melihat jelas bahwa ilmu Kek-but-coankang yang digunakan Kang Hay-thian itu hanya separoh kekuatannya.
Artinya hanya dapat dibuat melindungi diri tapi tak mampu dipakai menyerang.
Hanya satu hal yang tak dimengerti kedua orang itu ialah bahwa sekalipun hanya berkisar sedikit tadi, seharusnya hawa murni Kang Hay-thian itu tentu sudah buyar.
Mengapa tidak apa-apa?
Justru karena kesangsian Itu, maka Kang Hay-thian terlepas dari bahaya besar.
Coba Co Bong dan Yo Tunhou bersatu serempak menyerang, dengan tingkat kepandaian mereka berdua, tentulah Kang Hay-thian akan binasa.
Sebenarnya Kang Hay-thian tadi juga harus berusaha keras untuk mengendalikan agar hawa murni dalam tubuhnya itu jangan membinal.
Dalam keadaan begitu, sudah tentu sama sekali ia tak dapat melindungi To-kan lagi.
"Bangsat kedi, apakah kau mau lari ke langit?"
Yo Tun-hou tertawa sinis. Selangkah demi selangkah ia mendesak maju. To-kan memusatkan seluruh perhatian dengan menatap orang itu. Co Bong tertawa.
"Heh, setan cilik ini besar sekali nyalinya Baru ia mengucap begitu, sekonyong-konyong To-kan menyerbunya.
"Setan cilik, kau masih mau bertempur dengan aku?"
Yo Tun-hou tertawa gelak-gelak.
Ia mengulur tangannya yang besar hendak mencengkeram To-kan, ia yakin dengan gerak Kim-na-jiu itu pasti akan dapat meringkus si bocah.
Di luar dugaan tumit To-kan berputar.
Sebenarnya ia menyerbu ke arah kiri, tapi tiba-tiba berputar ke arah kanan.
Tahu-tahu sebatang belati berkilat hijau menikam ke lutut Yo Tun-hou.
Tun-hou kaget sekali, tapi bagaimanapun kepandaiannya jauh berlipat beberapa ganda dari To-kan.
Secepat kilat kakinya mengisar beberapa centi.
"Cret", tak urung bajunya termakan belati juga. Yo Tun-hou mengayunkan tinjunya, tetapi To-kan sudah melompat menyingkir. Heran Co Bong dibuatnya. Mengapa baru dua hari ikut Kang Hay-thian anak itu sudah mempunyai kepandaian yang istimewa? Segera ia berkata.
"Yo-heng, jagalah supaya dia jangan sampai lolos. Biarlah aku yang menangkapnya."
Co Bong menggunakan kedua tangannya, yang satu untuk melindungi diri, yang satu untuk menyerang.
Tapi setiap kali Co Bong hendak menangkapnya, selalu menangkap angin saja.
Lincah dan cepat sekali anak itu menghindar, selalu menyelinap dari bawah ketiak.
Bila berada di belakang lantas menikam punggung lawan dengan belati.
Kalau sudah dalam keadaan begitu, barulah Co Bong terpaksa berganti cara.
Tangan yang Semula dibuat melindungi diri tadi, kini diayunkan ke belakang untuk menyambar belati.
Suatu saat belatinya kena terampas dan To-kan pun kehilangan imbangan badan, terhuyunghuyung mau jatuh.
Melihat itu Yo Tun-hou tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus itu, ia melompat menubruk, tetapi sekonyong-konyong To-kan berjumpalitan.
Jari tangan Yo Tun-hou yang sudah menyentuh punggung anak itu, tahu-tahu mencekal angin kosong.
Co Bong tertawa gelak-gelak.
"Setan cilik ini ternyata sudah mempelajari suatu ilmu langkah kaki yang aneh. Ayo, kita ramai-ramai menjalanya."
Di antara lima perwira yang ikut rombongan itu, ada seorang yang patah tulang lengannya karena dipelintir To-kan, perwira itu sedang mengobati lukanya.
Tinggal empat perwira, kini mereka menjaga di empat penjuru dengan melintangkan senjata masing-masing.
Co Bong dan Yo Tun-hou berada di dalam lingkaran pagar senjata itu.
Yang satu di belakang, yang satu di muka.
Dua tokoh ternama kini berusaha menangkap seorang anak kecil.
Sebenarnya tadi sewaktu lingkaran pagar senjata itu masih belum merapat, To-kan dapat meloloskan diri.
Tetapi ternyata anak itu tak sampai hati meninggalkan Suhunya seorang diri.
Karena sedikit ayal itu, kini dia terkurung.
Dengan menggunakan ilmu Thian-lo-poh-hoat yang baru saja dipelajarinya dari Kang Hay-thian, To-kan dengan lincah kian-kemari main udak dengan kedua penyergapnya.
Sampai sekian lama, Co Bong dan Yo Tun-hou masih belum mampu menangkapnya.
"Pukul dulu sampai pingsan baru kita rundingkan lagi,"
Akhirnya Yo Tun-hou hilang kesabarannya.
"Baik, tetapi harus hati-hati agar jangan membahayakan jiwanya. Kalau dia tertangkap hidup, lebih baik,"
Sahut Co Bong. Kedua jago itu sudah mengetahui sampai dimana kepandaian To-kan. Segera mereka menggunakan pukulan Lwekang Pik-khong-ciang untuk membuat kepala To-kan puyeng.
"Lihat, lihat, siapa yang berkelahi di sebelah bawah itu?"
Sekonyong-konyong terdengar suara melengking nyaring.
Tekanan Lwekang Pik-khong-ciang telah membuat kepala To-kan pusing dan mata berkunang-kunang.
Ilmu permainan Thian-Io-poh-hoatnya juga mulai rancu.
Sekali ulurkan jari, dapatlah Yo Tun-hou menotok jalan darah To-kan, akhirnya To-kan menyerah juga.
Habis itu mereka putar tubuh hendak menjenguk siapakah orang yang berseru di luar gua tadi.
Sepasang bocah laki dan perempuan yang umurnya masing-masing baru 15-16 tahun melangkah masuk.
Yang laki memakai gelang emas dan rambutnya diikat.
Sedang yang perempuan parasnya berseri gemilang.
Mereka tak ubah sepasang Kim-tong-giok-li (dewa-dewi).
Si dara cilik mencibirkan bibir menyeringai.
"Uh, mengapa begini banyak lelaki tua menghina seorang anak? Sungguh tak tahu malu!"
Perwira yang patah tulang lengannya sudah selesai mengobati lukanya, dia merasa geram sekali tak sempat menumpahkan kemarahannya.
Kini melihat bocah laki perempuan yang bermulut besar itu, dia lantas melompat bangun dan mendamprat.
"Hai, darimana saja kamu berdua anak jadah ini? Ayo, enyah!"
"Plak", tahu-tahu sebuah tangan kecil menampar mulut si perwira itu. Dan bocah lelaki berseru dingin.
"Lekas berlutut dan menyebut 'kakek kecil' sampai tiga kali, baru nanti kuampuni!"
Perwira itu menggerung keras terus menyambar tombak dan menyerang.
Sebenarnya ia tahu bahwa kedua anak itu tentu bukan anak sembarangan, tapi karena ditampar di hadapan orang banyak, ia menjadi mata gelap juga.
Ternyata bocah laki itu bergerak luar biasa cepatnya.
Tombak si perwira menemui tempat kosong, tahu-tahu bocah laki itu sudah tiba di sisinya dan mendengus.
"Hm, kau tak mendengar omonganku, ya? Karena tadi aku sudah mengatakan lebih dulu, terpaksa sekarang tak dapat mengampunimu!"
"Plak, plak", kedua lengan perwira itu seperti putus rasanya, sakitnya jangan ditanya. Pemuda cilik itu merampas tombaknya, disumbatkan ke tenggorokan si perwira dan dipaku ke tanah. Seorang bocah yang baru berumur belasan tahun ternyata begitu kejam sekali. Keempat perwira lainnya kaget dan murka. Tampak bocah itu bercekak pinggang, sikapnya jumawa sekali. Tiba-tiba dia menjerit keras, perwira yang pertama-tama dekat padanya menjerit kesakitan. Waktu si bocah membuka tangannya, ternyata di dalam genggamannya terdapat dua biji bola mata yang masih berlumuran darah....
"Kau punya kelopak mata tapi tak ada bolanya, perlu apa?"
Bocah itu tertawa dingin.
Dan secepat ia sudah melolohkan kedua biji bola mata itu ke mulut si perwira, si perwira roboh tak sadarkan diri.
Betapa kejam perwira-perwira itu, tapi demi melihat kejadian yang begitu mengerikan, menggigil juga nyali mereka.
Tanpa bersepakatan, mereka berhenti.
Karena kepandaiannya jauh lebih tinggi dari ketiga perwira itu, Co Bong tak mudah digertak oleh si bocah.
Meskipun dia juga terkejut melihat kepandaian anak itu, namun ia percaya tentu dapat mengatasinya.
Kontan saja ia hendak menggunakan pukulan Kim-kong-cianglat, tiba-tiba dicegah Yo Tun-hou.
"Nanti dulu. anak siapakah kau ini?"
Tegur Yo Tun-hou kepada anak itu.
"Kau tak kenal padaku, sebaliknya aku kenal padamu. Bukankah kau ini si 'kucing sakit' dari kawanan Ki-liansam-siu?"
Bocah itu mengejek.
Kucing sakit benar-benar merupakan hinaan besar bagi Yo Tun-hou.
Dalam Ki-lian-sam-siu (tiga binatang buas gunung Ki-lian-san), Yo Tun-houlah yang paling tinggi kepandaiannya dan paling buas wataknya.
Co Bong mengira kawannya itu tentu akan murka sekali, tapi di luar dugaan ternyata Yo Tun-hou diam saja dengan muka merengut.
Kiranya hal itu disebabkan karena tiba-tiba saja ia teringat akan seseorang yang membuat gentar hatinya.
Buru-buru ia tahan kemarahannya dan bertanya.
"Apakah kau Siauya dari keluarga Nyo?"
Pemuda tanggung itu tertawa gelak-gelak.
"Matamu boleh juga, tahu siapa aku. Kau tahu dosamu?"
"Entah dalam hal apa aku menyalahi Nyo-siauya?"
Tanya Yo Tun-hou.
"Bukan kepadaku, tetapi kepada piaumoayku. Hehe, bilanglah sendiri bagaimana hukumanmu?"
Sahut si anak lelaki.
"Piaumoaymu? Bagaimana urusannya?"
Yo Tun-hou terkejut.
"Yang kau goda di biara tua itu ialah adik misanku,"
Balas anak Itu. Yo Tun-hou terkejut sekali, mukanya berubah dan nadanya gemetar.
"Piaumoaymu, si gadis dari keluarga Tiok itu?"
"Benar, dan masih untung kau hanya jatuh ke tanganku saja. Menurut peraturan keluarga pamanku, musuh dari keluarga harus dia yang membunuhnya. Aku tak dapat melanggar peraturannya itu, maka aku dapat membebaskanmu dari kematian. Hanya saja kau harus memotong kedua telingamu dan mengorek sebuah biji matamu."
Dara itu tertawa mengikik.
"Engkoh Hoan, tak kuduga kau dapat mencarikan buah tangan untuk Siau-hoa. Tapi entah apakah ia suka dengan benda-benda yang berlumuran darah itu. Hm, kau memang pandai mengambil muka Siau-hoa!"
Pemuda tanggung yang dipanggil engkoh Hoan itu, lengkapnya bernama Nyo Hoan. Dia tertawa juga.
"Juga kepadamu akan kuberi hadiah, kau suka tidak dengan mainan Hoa-leng (bulu burung) yang dipasang di atas kopiah pembesar itu? Nanti kupetikkan untukmu."
Co Bong berpangkat Ji-bin-hu-koan (pembesar militer tingkat dua), Raja telah menghadiahkan kopiah yang memakai mainan Song-gan-hoa-leng.
Itu suatu kehormatan besar, bahwa sekarang seorang bocah tanggung berani kurangajar hendak merampas benda itu, sudah tentu membuat Co Bong berjingkrak seperti orang kebakaran jenggot.
"Budak busuk yang tak tahu mati, akan kubeset kulit kepalamu!"
Teriaknya dengan penuh kemarahan.
"Co-tayjin.."
Baru Yo Tun-hou hendak mencegah, Co Bong sudah mendampratnya.
"Yo Tun-hou, jangan takut terhadap seorang bocah yang masih belum hilang bau pupuknya, apakah kau tidak kuatir ditertawai orang gagah seluruh dunia? Persetan dia itu anak siapa, masakah lebih berkuasa dari baginda raja yang sekarang."
"Wut", dia lantas menghantam. Nyo Hoan tertawa dingin.
"Kau akan membeset kulit kepalaku? Hm, hm, karena kau mengatakan begitu, sekarang aku harus mengambil kantong otakmu. Rajamu yang sekarang ini juga tak nanti mampu menolong kau."
Nyo Hoan mencabut sebatang belati, dia hanya setinggi bahu Co Bong, maka ia harus meloncat ke atas ketika hendak memotong kepala Co Bong.
Dengan tanpa mengeluarkan banyak tenaga tadi si anak muda dapat membunuh dua orang perwira.
Dia mengira Co Bong tentu tak banyak bedanya, tak terlintas dalam pikirannya bahwa sebagai wakil Demimoin Gi-limkun sudah tentu Co Bong tak seperti anak buahnya tadi.
"Lepas!"
Teriak Co Bong sambil menggunakan jurus Te-to-mo-sing. Kelima jarinya mencengkeram lengan Nyo Hoan, ibu jari dan telunjuk memijat pergelangan tangannya.
"Tring", jatuhlah belati anak itu. Tadi Nyo Hoan melompat untuk menusukkan belatinya, karena tangan kanan kena dicengkeram, dia menggerakkan tangan kirinya untuk menampar batok kepala Co Bong.
"Budak kejam, biar kau tahu kelihaianku! Kau tunduk tidak?"
Bentak Co Bong sembari menangkis dengan tangan kanan.
"Plak", ketika tangan saling berbentur, dengan sebarnya Co Bong sudah membalikkan tangan dan mencengkeram pergelangan anak itu. Kini kepala Nyo Hoan terjungkir di bawah kaki di atas, sedang kedua tangannya kena dicekal Co Bong. Dia tak dapat berkutik lagi. Co Bong tertawa lebar, tapi sesaat kemudian dia terkejut karena tubuh Nyo Hoan makin lama makin terasa berat. Seorang pemuda tanggung yang baru berumur lima-enam belas tahun, paling banyak berat badannya tentu hanya 100-an kati. Tapi Co Bong merasakan tangannya seperti diganduli sebuah bukit. Begitu berat hingga pinggang orang she Co itu sampai melengkung. Dia tak lagi bisa tertawa. Ia merasa heran sekali. Padahal pergelangan kedua tangan anak itu sudah dicengkeramnya, bukan saja Nyo Hoan tidak lemas, sebaliknya masih dapat mengeluarkan kepandaian Jian-kin-tui yang sedemikian hebatnya. Walaupun Co Bong masih dapat bertahan, tapi tak urung ia bingung juga memikirkannya. Beberapa perwira yang melihat Nyo Hoan dapat diringkus sang pemimpin, serempak bersorak kegirangan. Ada yang berseru supaya membeset uraturatnya, mencungkil hatinya untuk dibuat sembahyang kawannya yang binasa tadi. Ada juga yang mengusulkan supaya menanyakan siapa orang tua anak itu, kemudian dihukum pancung seluruh keluarganya. Kalau perwira-perwira itu riang gembira, adalah Co Bong yang terpaksa menahan kegelisahan. Hanya Yo Tun-hou seorang yang tak buka suara melainkan mengerutkan alis. Jelas dilihatnya bahwa Co Bong itu hanya menahan tekanan tenaga dari Nyo Hoan, sama sekali bukan karena sudah menang. Oleh karena dia tahu jelas siapa pemuda tanggung itu, maka dia pun tak merasa begitu heran. Kiranya ayah dari anak tanggung itu adalah seorang momok durjana yang luar biasa ganasnya, Yo Tun-hou sendiri tak begitu jelas tentang asal-usulnya. Tiga tahun yang lalu, karena terpikat alam lembah Siau-lui-im di gunung Ki-lian-san, durjana itu lalu berpindah tempat di situ. Ki-lian-sam-siu sebenarnya bermarkas di gunung itu juga, durjana itu hendak memaksa mereka jadi budaknya, jika tak menurut akan diusir dari Ki-lian-san. Jangankan terhadap durjana itu, sedang melawan pengurus rumah tangganya saja Ki-lian-sam-siu tak bisa menang. Karena tahu diri, terpaksa mereka pergi dari Kilian-san. Mereka berhamba pada kerajaan, selain temaha dengan pangkat dan kekayaan, juga sekalian hendak menyingkir dari gangguan durjana itu. Teringat pada peristiwa yang lampau, dengan mengotak gigi Yo Tun-hou berpikir.
"Durjana she Nyo itu sudah sedemikian lihainya, kakak orang she Tiok itu jauh lebih ganas lagi. Aku sudah membuat kesalahan pada putrinya, tentu tak ada ampun lagi. Jika tak kubantu Co Bong, bocah itu tentu akan mengiris daun telingaku dan mengorek biji mataku. Hm, hm, lebih baik anak itu dihabisi jiwanya saja, lalu ikut Co Bong berlindung pada kerajaan, mungkin masih ada jalan hidup!"
Mata Tun-hou berapi-api, setelah mempersiapkan Lwekangnya, dia lantas menghantam.
Pukulan Bian-ciang itu dapat menghancurkan batu, jika pukulan itu jatuh di tubuh Nyo Hoan yang sedang tergantung itu, anak itu tentu akan mati atau luka berat.
Belalang menerkam tonggoret, burung pipit sudah menunggu di belakangnya.
Dara kawan Nyo Hoan tadi tahu kalau Yo Tun-hou musuh lamanya, maka ia selalu memperhatikan gerak-geriknya.
Pada saat Yo Tun-hou mengangkat tinjunya, dara itupun sudah mencabut tusuk kundainya, terus dijentikkan ke arah telapak tangan Yo Tun-hou.
Jalan darah Lo-kiong-hiat di telapak tangan merupakan jalan darah yang berbahaya, jika sampai kena tertusuk, kalau tidak mati tentu akan terluka parah.
Untung Yo Tun-hou cepat dapat memiringkan telapak tangannya, tetapi dengan berbuat begitu, pukulannya pun melenceng.
Bukan Nyo Hoan yang kena, sebaliknya menyasar pada tubuh Co Bong, untung tidak mengenai dada, hanya bahunya saja.
Namun sekalipun begitu, pukulan itu cukup membuat Co Bong menjerit dan terpaksa melepaskan cengkeramannya, Nyo Hoan terlempar sampai satu tombak.
Dengan gerak Le-hi-ta-ting (ikan lehi meletik), Nyo Hoan berjumpalitan dan kemudian berdiri tegak.
Tapi sebelum kakinya berdiri tegap, Yo Tun-hou sudah menyusuli pula dengan sebuah hantaman.
Terpaksa Nyo Hoan mengacungkan tangannya untuk menangkis, tapi dia kena terdorong oleh pukulan Yo Tun-hou hingga terhuyung-huyung ke belakang sampai beberapa tindak dan hampir jatuh.
Si dara menjemput beberapa butir batu kecil untuk dijentikkan ke arah Yo Tun-hou, tapi karena Yo Tun-hou sudah berjaga-jaga, dengan mengebutkan lengan bajunya dapatlah ia menghalau batu-batu itu.
Kemudian ia mengisar tubuh hingga batu-batu itu melayang ke arah Nyo Hoan.
Tapi Nyo Hoan sudah berdiri tegak, ia dapat menyingkir.
"Hai, apakah kalian ini orang mati semua? Mengapa tak lekas meringkus anak perempuan itu!"
Co Bong mendamprat anak buahnya yang masih tinggal tiga orang perwira.
Mereka bukannya tak mau menangkap dara itu, hanya tadi pikirannya tercurah pada Nyo Hoan, maka mereka agak meremehkan dara itu.
Dampratan pemimpinnya tadi membuat mereka gelagapan, terus saja mereka maju menerjang si dara.
Si dara mencabut pedang, sambil tertawa mengejek katanya.
"Kawanan manusia yang hanya berani menindas kaum lemah, bertemu aku jangan harap kalian bisa hidup lagi!"
Pedang berkelebat dan seorang perwira dapat dilukai.
"Jangan menyerang tapi pertahankan diri. Pakai senjata berat untuk menahan pedang budak itu. Pertahankan sampai sepuluh jurus, nanti aku yang menangkapnya!"
Teriak Co Bong.
Ternyata dia sedang memulangkan semangat, sebelum tenaganya pulih ia tak mau turun tangan.
Setelah mendapat petunjuk, ketiga perwira itu lalu menggunakan tombak dan Khik panjang untuk mengepung si dara.
Mereka tak mau menyerang melainkan bertahan, benar juga dara itu menjadi gugup dan tak dapat mengalahkan mereka.
Kalau di sini si dara sibuk melayani ketiga perwira, di sana Nyo Hoan pun repot menghadapi serangan Yo Tunhou.
Bagaimanapun Nyo Hoan adalah seorang anak berumur belasan tahun, setelah habis bertempur seru dengan Co Bong dia harus melayani seorang jago seperti Yo Tun-hou yang kepandaiannya lebih tinggi setingkat dari Co Bong.
Lewat jurus yang kesepuluh, Nyo Hoan kehabisan tenaga.
Yo Tun-hou tertawa ejek.
"Dengan membunuhmu barulah penasaranku dapat terlampias!"
Setelah merangsek dengan kedua tangannya untuk menyergap, ia lantas mengayunkan tinjunya mengemplang ubunubun kepala Nyo Hoan.
"Ayah, kau datang!"
Sekonyong-konyong Nyo Hoan berteriak.
Yo Tun-hou kaget tertegun, tahu-tahu Nyo Hoan menyelusup ke bawah ketiaknya dan mencengkeram jalan darah di punggungnya, Yo Tun-hou memiliki ilmu kebal Kim-ciong-coh.
Tapi dicengkeram Nyo Hoan, ia merasakan separoh badan bagian bawah menjadi kesemutan.
Buru-buru ia balikkan tangan menghantam, namun Nyo Hoan sudah menghindar ke samping.
Kini baru tahulah Yo Tun-hou telah kena diingusi.
"Bagus, budak! Sekalipun kau panggil ayahmu kemari, aku tetap tak akan mengampuni kau lagi!"
Ia melompat menghadang dan menyerang Nyo Hoan lagi. Kalau tadi datangnya dengan sikap jumawa, sekarang diam-diam Nyo Hoan mengeluh.
"Ayah hendak menjadikan bangsat ini sebagai tukang kuda. Kalau aku tidak dapat mengalahkannya, sungguh memalukan!"
Dia hanya memikirkan tentang malu, sedang Yo Tunhou memikirkan hendak mengambil jiwanya. Serangannya tak kunjung surut, Nyo Hoan kaget dan marah.
"Bangsat kau berani membunuh aku? Ayahku tentu akan membeset kulitmu, mencincang dagingmu!"
Yo Tun-hou tertawa.
"Suruh ayahmu datang kemari! Hm, ayahmu ganas dan kejam, biarlah dia putus turunan!"
"Plak", kembali Yo Tun-hou menghantam, tapi kena ditangkis Nyo Hoan. Dalam benturan itu Nyo Hoan mengetahui tenaga lawan mulai berkurang, kini dia tak begitu gelisah lagi. Ternyata karena cengkeraman jalan darahnya tadi, meskipun Yo Tun-hou mempunyai ilmu Kim-cong-coh, tapi urat-uratnya yang kaku itu tak segera dapat normal kembali. Itulah sebabnya maka tenaganya tinggal delapan bagian saja, tapi dengan tenaga itu sudah cukup untuk mengatasi Nyo Hoan. Waktunya makin panjang, tenaga Nyo Hoan pun makin lemah, sebaliknya urat-urat Yo Tun-hou makin lancar dan tenaganya makin penuh. Menghindar ke sana menyingkir kemari, akhirnya Nyo Hoan terdesak dalam sebuah posisi yang berbahaya. Melihat itu si dara menjadi gelisah, tiba-tiba ia menjadi nekat dan menggunakan jurus yang berbahaya. Tubuhnya mengendap ke bawah terus menyelinap di bawah golok seorang perwira, gerakannya cepat sekali. Pada saat si perwira menurunkan goloknya, si dara sudah berada di hadapannya.
"Ces", pedangnya segera bersarang di tenggorokan perwira itu.
"Co-tayjin, lekaslah kemari!"
Dua orang perwira lainnya ketakutan dan berteriak memanggil Co Bong.
Tadi Co Bong minta mereka supaya bertahan sampai sepuluh jurus, sampai saat itu mereka sudah bertahan lebih dari sepuluh jurus.
Tetapi rupanya Co Bong kelewat mementingkan diri sendiri, tenaganya baru pulih 7-8 bagian.
Ia taksir belum dapat mengalahkan dara itu, maka ia hendak membiarkan anak buahnya menghabiskan tenaga dara itu lebih dulu, baru nanti mudah menangkapnya.
Apa anak buahnya itu nanti celaka atau tidak, dia tidak mau tahu.
"Jangan takut, jangan takut! Aku segera datang!"
Demikian sahutnya, tetapi sekalipun mulut mengatakan begitu, dia tetap enggan maju.
Dengan dapat membunuh seorang perwira, rantai kepungan dapat diterobos si dara.
Kini kedua perwira itu tak dapat saling memberi bantuan, sebaliknya si dara dapat mengembangkan permainannya.
Hanya dalam beberapa jurus saja, ia dapat memberesi kedua perwira itu.
Sekarang barulah Co Bong melompat bangun, sambil mencabut sepasang Ho-chiu-kau ia tertawa gelak-gelak.
"Budak perempuan, kau cantik sekali, ikut aku menjadi pelayan kesayanganku saja. Beberapa tahun lagi tentu akan kujadikan pengisi kamarku!"
Belum pernah si dara mendengar kata-kata sekotor itu, ia mengerutkan alis dan memaki.
"Bangsat jahanam, jika tak kubunuh kau aku bersumpah takkan berhenti!"
Bagaikan rantai, pedangnya dimainkan dalam jurus Giokli-tho-soh dan menusuk ke dada Co Bong.
"Haha, kau hendak membunuh aku? Tetapi aku senang padamu,"
Mulut Co Bong tertawa, tangannya tetap bekerja.
Serangan dara itu hebat sekali, benar Co Bong dapat menangkis, tapi banyak menghabiskan tenaganya.
Akhirnya ia mengambil keputusan membunuh dara itu dulu baru nanti membakar Kang Hay-thian.
Si dara buru-buru hendak menolong Nyo Hoan, untuk itu ia harus membereskan Co Bong dulu.
Karena serangannya selalu kandas, ia menjadi bingung, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Co Bong yang segera berganti dengan menyerang.
Sepasang kaitnya menari-nari melibat pedang si dara, memang senjata itu gunanya khusus untuk menundukkan pedang.
Apalagi kepandaian Co Bong lebih tinggi dari si dara, dalam sekejap saja dara itu menjadi kelabakan.
Untung ilmu pedang dara itu ajaran pusaka dari keluarganya, menghadapi ancaman bahaya maut itu, terpaksa ia curahkan seluruh perhatiannya, tak lagi ia memikirkan menolong Nyo Hoan.
Karena Co Bong tak kenal sampai dimana kelihaian ilmu pedang si dara, ia mempunyai kekuatiran juga, dengan begitu dia tidak dapat lekas mengakhiri pertempuran.
Si dara dengan susah payah masih dapat bertahan, tapi Nyo Hoan Hoan makin berbahaya keadaannya.
Yo Tun-hou sudah pulih tenaganya, pukulannya makin keras, sebaliknya Nyo Hoan makin habis tenaganya, bahkan untuk bertahan saja, sudah setengah mati sukarnya.
Kembali Yo Tun-hou dapat mengurung dan mengayunkan tinju ke batok kepala Nyo Hoan, ini serupa keadaannya yang tadi dimana dia kena ditipu Nyo Hoan.
Pada saat serangan ulangan itu dilakukan, Yo Tun-hou berseru mengejek.
"Ayo coba panggil lagi ayahmu!"
"Mati aku sekarang!"
Diam-diam Nyo Hoan menjerit dalam hari.
tapi bagaimanapun ia tetap pantang ayal.
Walaupun tahu tiada berguna, ia tetap menangkis juga.
Pukulan yang dilancarkan Yo Tun-hou itu keras dan cepat sekali, ketika hampir tiba di ubun-ubun kepala Nyo Hoan, entah apa sebabnya tiba-tiba ia merasa menggigil dan tinjunya pun berhenti.
Justru pada saat itu, tangan Nyo Hoan yang bergerak dalam jurus Thian-cut-tho-ta tadi meluncur datang.
"Bluk", Yo Tun-hou terlempar jatuh jungkir balik. Nyo Hoan sendiri tercengang dengan kejadian itu. Karena curiga jangan-jangan Yo Tun-hou hendak menggunakan tipu, kembali ia susuli dengan sebuah tendangan yang membuat Yo Tun-hou jungkir balik lagi. Sepasang mata Yo Tun-hou mendelik, terang dia sudah tak mampu berkutik lagi. Ternyata yang memberi bantuan secara diam-diam itu ialah Kang Hay-thian, penyaluran Lwekang Ta-sengthian-tho-na-hoat tadi sudah selesai. Hawa murni yang terpencar dalam tubuhnya hanya kurang sedikit yang masih belum terpusat ke perut. Tapi dikarenakan hendak menolong Nyo Hoan, terpaksa ia coba-coba menggunakan Kek-khong-tiam-hiat (menotok jalan darah dari jauh). Yang ditotok jalan darah di bahu Yo Tun-hou, karena terkena totokan itu, pukulan maut Yo Tun-hou pun menjadi macet. Nyo Hoan tak tahu hal itu, ia mengira tenaganya sendiri yang berhasil mengalahkan lawan, maka dengan bangga ia lantas tertawa mengejek.
"He, kiranya kau juga tak punya guna!"
Diambilnya belati yang jatuh di tanah tadi, ia mengorek sebiji mata Yo Tun-hou dan mengiris kedua daun telinganya, lalu bentaknya.
"Enyahlah, biarlah paman yang mengambil jiwamu kelak!"
Sakit Yo Tun-hou tiada taranya.
Karena menahan sakit yang hebat, jalan darahnya pun terbuka.
Dia tahu tentulah Kang Hay-thian yang mencelakainya tadi, kuatir orang she Kang itu akan mengambil jiwanya, begitu diperintah pergi oleh Nyo Hoan, ia lantas lari sipat kuping sambil mendekap kedua telinganya.
Begitu keluar gua barulah ia menjerit sekuat-kuatnya untuk menumpahkan rasa kesakitannya.
Kang Hay-thian berhati welas asih, mendengar jeritan Yo Tun-hou tadi, ia merasa kasihan, pikirnya.
"Lebih baik dibunuh saja daripada disiksa begitu. Anak itu memang lihai, tetapi kelewat kejam!"
Penyaluran Lwekangnya belum selesai, karena menggunakan Kek-khong-tiam-hiat tadi, sebagian hawa murninya menyalur keluar dari perutnya lagi.
Untung saat itu tenaganya sudah pulih 8-9 bagian, jadi tak begitu menjadi halangan.
Dia tahu Nyo Hoan dan dara itu dapat mengalahkan Co Bong, maka ia tak mau memikirkan.
Ia menundukkan kepala, memejamkan mata dan menjalankan penyaluran lagi.
Co Bong ngeri mendengar jeritan Yo Tun-hou, buruburu ia hendak melarikan diri, tapi sebelum dapat keluar gua sudah diburu oleh Nyo Hoan.
"Kau menghina Taci misanku, apakah kau masih mau hidup?"
Bentak Nyo Hoan yang melompat melampaui kepala dan menusuknya.
Sebenarnya kepandaian Co Bong lebih tinggi dari pemuda tanggung itu, tapi karena mengira anak muda itu yang mengalahkan Yo Tun-hou, maka nyali Co Bong pun pecah.
Dengan sepasang Siang-kau ia hendak merebut belati Nyo Hoan, gerakannya tepat sekali, sayang dia sudah gentar, maka tangannya pun agak gemetar sehingga kurang sempurna.
Nyo Hoan cepat menerobos lewat lubang kelemahan lawan, belati diguratkan pada lengan orang dan berbareng itu si dara pun sudah tiba dengan sebuah tikaman ke punggung, kontan Co Bong jatuh terkulai ke tanah.
"Pembesar anjing itu telah menghinamu, maukah engkau membunuhnya sendiri?"
Tanya Nyo Hoan.
"Aku tak ingin membunuh orang, tulang punggungnya sudah putus, dia akan menjadi cacad selamanya, rasanya sudah cukup bagiku, biarkan dia pergi,"
Sahut si dara.
"Enci Wan, hati nuranimu baik sekali. Baiklah, dengan memandang mukamu, kubebaskan dia dari kematian. Bulu ini boleh kau ambil sebagai mainan,"
Kata Nyo Hoan yang telah mencabut bulu burung di kopiah Co Bong, terus melemparkannya keluar gua. Dara itu melengking tawa.
"Bagus juga ini, terima kasih. Tapi lebih baik kau berikan pada Siau-hoa saja, biar dia tahu bahwa engkau sudah membalaskan rasa penasarannya."
"Huh, apa kau kira aku hanya pandai mengambil hati Siau-hoa saja? Umurnya masih kecil, biarpun kuberdaya mengambil hatinya, dia toh takkan mengerti hatiku."
"Mengerti apa? Kau mempunyai hati apa?"
Tegur si dara.
"Kau sendiri yang berhati sempit, aku toh hanya bergurau, kemana pikiranmu melayang? Baiklah, sekarang mari kita bicara sungguh-sungguh. Tampaknya anak itu pintar dan lincah, kau mau mengambilnya pulang untuk dijadikan kacung tidak?"
"Aku tak mau meniru Siau-hoa, tak senang mempunyai kacung laki-laki, tetapi kepandaian silat dan nyali anak itu memang boleh. Coba bukalah jalan darahnya yang tertotok dan tanya namanya. Masih begitu kecil mengapa bermusuhan dengan Ki-lian-samsiu?"
"Aku enggan mengajukan begitu banyak pertanyaan dan aku pun tak ingin bersahabat dengannya. Ah, hari sudah sore, kita harus lekas pergi,"
Sahut Nyo Hoan.
"Eh, menolong orang jangan kepalang tanggung, kan hanya tambah sedikit pekerjaan saja,"
Protes si dara.
"Aku bukan mengatakan takkan menolong dia. Baik, akan kubuka jalan darahnya dan kita lantas pergi,"
Sahut Nyo Hoan.
Dia mengira membuka jalan darah hanyalah sedikit gerakan yang gampang, tiada disangkanya bahwa totokan Yo Tun-hou itu istimewa sekali.
Beberapa kali dicobanya, tetap tak berhasil, Lim To-kan sampai meringis kesakitan tapi tak dapat merintih.
"Eh, bagaimana? Tidak bisa dibuka? Anak itu rupanya menderita kesakitan sekali,"
Seru si dara.
Merah muka Nyo Hoan, ia menghampiri Kang Haythian, dilihatnya Kang Hay-thian tak tertotok jalan darahnya.
Penasarannya tadi kini ditumpahkan pada Kang Hay-thian, dengan kedua tangan ia mendorong tubuh Kang Hay-thian dan membentak.
"Aku yang menolong kau mengusir orang jahat, sebaliknya kau enak-enak saja duduk di sini! Hm, siapa kau? Mengapa orang-orang jahat itu tak membunuhmu? Apakah kau teman mereka?"
Saat itu tepat tenaga Kang Hay-thian sudah selesai menyalur, ia membelalakkan mata dan menyahut.
"Ya, aku menyesal tak dapat melindungi muridku sehingga membikin repot padamu. Terima kasih, terima kasih!"
Sebagai jago nomor satu di dunia.
Kang Hay-thian lapang sekali dadanya, sekali-kali dia tak marah dengan kelakuan Nyo Hoan yang kurangajar itu.
Malah ia memegang peraturan orang persilatan dengan menganggap kedua muda-mudi itu sebagai penolongnya, ia menjura kepada mereka.
Nyo Hoan tak tahu sebenarnya jiwanya tadi adalah Kang Hay-thian yang menyelamatkan, rupanya dia senang dihormati orang.
Pemberian hormat Kang Haythian itu tak dibalasnya.
"O, kiranya kau Suhu dari anak ini? Kepandaian muridmu itu bagus juga, mengapa kau sendiri tak berguna sama sekali? Kalau kau Suhunya, mengapa kawanan penjahat itu tidak mengapa-apakan kau, tetapi mengganggu muridmu?"
Nyo Hoan kelewat iseng, sebelum mendapat keterangan, tak mau ia pergi.
"Tulangku keras, penjahat itu tak mampu membunuhku,"
Sahut Kang Hay-thian.
"Apa maksudmu? Aneh sekali omonganmu itu, kau mau menipu aku? Apa susahnya membunuh orang?"
Nyo Hoan merasa penasaran.
"Kawanan penjahat itu sudah mencobanya, tetapi mereka sungguh-sungguh tak dapat membunuh aku. Aku tak bohong."
"Baik, biar kucobanya!"
Teriak Nyo Hoan yang mengangkat belati terus hendak menikamnya.
"Adik Hoan, dia seperti tak beres ingatan, mengapa kau bersungguh-sungguh? Bukankah tujuanmu hendak menolongnya, mengapa sekarang mau membunuhnya?"
Cepat si dara menariknya. Muka Nyo Hoan merah, ujarnya.
"Ya, aku lupa kalau dia gila."
Kang Hay-thian mendongkol dan geli, serunya.
"Aku tidak gila. Kalian berdua jangan pergi dulu, aku hendak bicara."
Nyo Hoan menyimpan belatinya, sahutnya.
"Kau gila atau waras, aku tetap tak mau mempedulikan muridmu lagi. Uruslah sendiri!"
Mendadak Kang Hay-thian menjulurkan jari telunjuk, serangkum angin mendesis ke depan. Dari jarak tiga tombak, ia membuka jalan darah To-kan, kemudian serunya.
"Kan-ji, kemarilah menghaturkan terima kasih kepada kedua penolongmu ini."
Kejut sekali Nyo Hoan dibuatnya, pikirnya.
"Eh, ternyata dia lihai juga, mungkin dia tidak gila."
To-kan menghampiri dan menghaturkan terima kasih.
Karena darahnya masih belum normal, ia hanya dapat mengucapkan separah terima kasih saja, padahal dalam hati ia ingin mengajukan pertanyaan kepada Nyo Hoan dan si dara.
Karena tadi tak mampu membuka jalan darah To-kan, Nyo Hoan merasa kikuk, segera ia mengajak si dara berlalu, tapi segera dicegah Kang Hay-thian pula.
"Apa? Kau masih hendak minta tolong apa lagi?"
Seru Nyo Hoan.
"Tak dapat aku menerima pertolonganmu dengan percuma, aku hendak membalas budimu. Kau minta apa? Bukankah kalian gemar ilmu silat?"
Tanya Kang Haythian. Nyo Hoan tak dapat menangkap maksudnya, ia membelalakkan mata dan berseru.
"Kalau ya, lalu bagaimana?"
Sebaliknya si dara lebih cerdas dan cepat mengetahui maksud Kang Hay-thian. Ia tertawa.
"Tentunya kau hendak memberi beberapa pelajaran ilmu silat pada kami selaku balas budi, bukan?"
Orang yang lebih tinggi angkatannya memberi pelajaran beberapa macam ilmu silat kepada anak muda selaku hadiah atau membalas budi dengan memberi beberapa jurus ilmu silat adalah sudah jamak di kalangan persilatan.
Dalam hal ini tak perlu orang harus saling mengangkat guru dan murid.
Sebenarnya Nyo Hoan tak kalah pintar dengan si dara, tetapi dia memang berwatak sombong, jadi tak sampai memikirkan hal itu.
Setelah mendengar ucapan si dara, ia tertawa keras.
Dengan menatap Kang Hay-thian ia berkata.
"Benarkah kau bermaksud begitu? Hahaha, ini sungguh membuat orang mati tertawa. Hari ini kalau tak kebetulan berjumpa dengan aku, mungkin jiwamu sudah hilang, masakah kau mau memberi pelajaran silat padaku? Jangankan kepandaianmu yang tak kuanggap sama sekali, sekalipun orang yang jauh berpuluh kali lebih lihai dari kau, aku pun tak sudi menerima pelajarannya! Hahaha, jadi kau benar mempunyai maksud begitu?"
Hay-thian membiarkan saja pemuda tanggung itu mengoceh, setelah itu barulah ia tersenyum.
"Baik, kutarik usul itu dan anggaplah aku memang tak tahu diri."
Saat itu darah To-kan sudah menyalur normal, ia tak tahan mendengar kecongkakan Nyo Hoan, serunya.
"Nyo-kongcu, jangan kau memandang rendah Suhuku. Suhuku ini ialah Kang-tayhiap, semua orang kenal pada Kang Hay-thian, Kang-tayhiap!"
"Kan-ji, jangan sembarangan bicara. Suhumu hanya orang biasa,"
Tegur Hay-thian. Masih To-kan menandaskan.
"Itu bukan aku yang mengatakan, sahabat-sahabat ayahku apabila membicarakan tentang dirimu tentu memuji begitu."
Dengan rasa heran Nyo Hoan menatap Kang Haythian, lalu menegas.
"Kang-tayhiap siapa? Katamu, orang-orang tentu kenal, tetapi aku belum pernah mendengarnya. Hm, memang dengan ilmu Kek-khongtiam-hiat yang kau pertunjukkan tadi, mungkin dapat menakuti bangsa keroco persilatan. Julukan Tayhiap atau Siauhiap memang lazim di dunia persilatan, kau mempunyai kepandaian begitu dan mengangkat diri sebagai Tayhiap juga tak ada orang yang melarang."
Sebenarnya dalam hati Nyo Hoan memuji ilmu Kekkhong-tiam-hiat dari Kang Hay-thian tadi, tetapi dia belum tahu sampai dimana sesungguhnya kepandaian Kang Hay-thian itu.
Memang Kek-khong-tiam-hiat bukanlah suatu kepandaian yang luar biasa sekali, yang membuat mendongkol Nyo Hoan ialah ketika diketahui Kang Hay-thian hendak memberi pelajaran silat kepadanya tadi.
Anak itu congkak dan menganggap ilmu silat keluarganya yang paling tinggi, ucapan Kang Haythian tadi dianggapnya suatu penghinaan.
Maka dalam kata-katanya terhadap Kang Hay-thian ia selalu meremehkan dan menusuk hati.
"Ah, anak kecil memang tak tahu urusan apa-apa, telah kukatakan, aku bukan Tayhiap, harap Nyo-kongcu tak usah mengambil hati sungguh-sungguh. Nyo-kongcu, kau tentu murid seorang tokoh ternama. Sukakah kau memberitahu nama yang m'ulia ayahmu?"
Sedapat mungkin Kang Hay-thian bersikap merendah, memang ia heran, kalau anak itu saja sudah sedemikian lihainya, ayahnya tentu seorang tokoh ternama, tapi mengapa tak kenal padanya?
"Apa kau berminat hendak bersahabat dengan ayahku?
Jangan melamun.
Ayahku itu buruk sekali perangainya, dia tak mau mempedulikan orang sembarangan.
Tak perlu kau tanya namanya!"
Nyo Hoan terus hendak mengajak si dara pergi.
"Tunggu dulu, Nyo-kongcu!"
Cegah Hay-thian pula. Nyo Hoan berpaling, sahutnya dengan tidak sabar.
"Mengapa kau terus menerus hendak merepotkan aku? Hendak bicara apa lagi?"
"Maaf, aku hendak bertanya tentang seseorang padamu. Kau mempunyai adik misan bernama Siau-hoa dan ia mengambil seorang kacung, bukan?"
"Apa hubungannya dengan kau?"
Nyo Hoan balas bertanya.
"Bukankah kacung itu bernama Li Kong-he?"
Kembali Hay-thian bertanya.
"Benar, kenalkah kau?"
Kini si dara yang menyeletuk.
"Dia adalah putra seorang sahabatku. Aku sedang mencarinya. Siapakah nama pamanmu dan dimanakah tempat tinggalnya?"
Nyo Hoan tertawa mencemooh.
"Pamanku lebih ganas dari ayah, dia membunuh orang tanpa berkedip. Orang luar tak boleh datang ke tempatnya, jika kau ke sana, tak usah dia turun tangan, bujangnya saja tentu akan mencincangmu."
Kang Hay-thian hanya tersenyum.
"Walaupun tak kukenal namanya, tapi kutahu pamanmu itu ingin bertemu dengan aku."
"Bagaimana kau tahu? Bohong!"
Teriak Nyo Hoan.
"Aku pernah berjumpa dengan adik misanmu Siauhoa. Dia yang mengatakan sendiri."
"Siau-hoa memang pernah mengatakan padaku bahwa ada seorang jahat hendak mencari anak itu,"
Sahut Nyo Hoan.
"Benar, tapi itu lain golongan lagi, bukan aku."
Nyo Hoan tertawa lebar.
"Kutahu kau bukan orang jahat, kau Kang-tayhiap. Sayang adik misanku tak mengatakan tentang dirimu."
"Terus terang kuberitahukan, anak itu sebenarnya muridku!"
Akhirnya Kang Hay-thian menerangkan.
"Sejak kecil aku sudah mengangkat saudara dengan dia!"
Buru-buru To-kan turut menimbrung.
"Itu aku tak peduli. Tadi kau bilang pamanku hendak berjumpa denganmu. Nah, tunggu saja sampai dia datang mencarimu, jika tidak, silakan kau mencarinya sendiri. Aku tak punya selera mendengarkan urusanmu, aku hendak pergi!"
"Jangan kuatir, adik misanku akan memperlakukan anak itu baik-baik. Begitu baik sampai engkoh Hoan ini merasa cemburu!"
Seru si dara sambil mencibirkan bibir.
"Nona baik, aku hendak minta pertolongan suatu hal padamu, namaku Lim To-kan. Kalau bertemu adik misanmu itu, tolong kasih tahu padanya bahwa aku masih hidup di dunia ini!"
Kembali si dara mengikik tawa.
"Kau masih hidup, apa hubungannya dengan dia? Toh belum tentu kau kenal padanya?"
Sahut si dara.
"Aku hendak minta tolong padanya menyampaikan hal itu pada Kong-he, supaya dia jangan sedih memikirkan diriku!"
Jawab To-kan.
"Baik, akan kuperhatikan,"
Sahut si dara.
"Siapa nama adik misanmu itu? Bolehkah aku tahu? Kelak kalau ketemu padanya, biarlah aku menghaturkan terima kasih,"
Kata To-kan pula.
"Siau-hoa benar-benar menarik bagi setiap orang. Baiklah, aku tak takut mengatakan namanya. Ia she Tiok, namanya Ceng-hoa. Siapa nama pamanku, tak perlu kau tanyakan."
"Ya, tetapi siapa namamu sendiri nona? Aku pun hendak mengucapkan terima kasih padamu."
Agaknya dara itu senang kepada To-kan, ia tertawa.
"Jarang aku bertemu seorang anak yang berani, lincah dan ceriwis seperti kau! Ya, akan kuberitahu agar kau jangan terus bertanya. Aku she Siangkoan dan bernama Wan. Yang menolong kau tadi adalah engkoh Nyo Hoan. Jangan berterima kasih kepadaku."
Nyo Hoan menyahut dingin.
"Kau memang cerewet sekali. Karena hendak membalas rasa penasaran adik misanku barulah kubunuh orang-orang tadi. Sekali-kali bukan untuk kepentinganmu, maka janganlah berterima kasih kepadaku. Aku she Nyo bernama Hoan, biar kukasih tahu agar kau jangan cerewet tanya lagi. Enci Wan, jangan lama-lama di sini mari kita pergi!"
Rupanya Nyo Hoan sudah tak sabar lagi.
"Tunggu!"
Tiba-tiba Kang Hay-thian berseru pula.
"Omonganmu sudah habis atau belum? Aku tak punya waktu untuk mengobrol dengan kalian,"
Nyo Hoan marah-marah.
"Maaf, mengganggu sebentar lagi. Aku hanya akan mengucapkan beberapa patah kata untuk menyampaikan isi hatiku,"
Kata Kang Hay-thian.
"Apa yang hendak kau katakan, aku sudah tahu. Tak perlu ribut-ribut lagi,"
Tanpa berpaling Nyo Hoan keluar gua. Ia menduga paling-paling Kang Hay-thian tentu hanya berterima kasih saja. Dengan tenang Kang Hay-thian berseru.
"Nyo-kongcu, nona Siangkoan, sekalipun kau sebenarnya bukan menolong aku, tetapi aku merasa berhutang budi. Kelak di kemudian hari jika kalian memerlukan bantuanku, asal jangan pekerjaan jahat saja, aku tentu akan meluluskan. Ingatlah!"
Dia menggunakan Lwekang Thoan-im-jip-bit (ilmu mengirim gelombang suara). Nyo Hoan dan si dara yang sudah berjalan setengah li, masih mendengarnya dengan jelas.
"Manusia itu sungguh tak tahu diri, masakah aku Nyo Hoan sudi minta tolong orang luar? Segala urusan besar di dunia ini, dapat diselesaikan oleh ayah dan pamanku,"
Demikian Nyo Hoan menggerutu. Sebaliknya Siangkoan Wan yang berjalan di belakang cepat menyahuti pernyataan Kang Hay-thian tadi.
"Terima kasih atas kebaikanmu. Kuingat dalam hati, lebih dulu aku berterima kasih."
Ia menyusul Nyo Hoan, katanya.
"Mengapa kau begitu tak tahu aturan? Kukira orang she Kang itu bukan orang sembarangan."
"Persetan dia mempunyai riwayat hebat, tapi kepandaiannya tetap tak bisa menangkan ayah dan pamanku,"
Sahut Nyo Hoan. Apa yang dibicarakan kedua muda-mudi itu, Kang Hay-thian tidak mendengar. Tapi sahutan si dara tadi ia mendengarnya. Ia dapat menduga Nyo Hoan tentu bersikap congkak.
"Budak she Nyo itu sungguh kelewat memandang rendah Suhu, dia hanya menganggap sudah menolong kita, tapi dia tak tahu kalau Suhu juga menolongnya. Suhu, mengapa tak kau beritahukan padanya?"
Tanya Tokan.
Kiranya gerakan Kek-khong-tiam-hiat yang* dilancarkan Kang Hay-thian tadi dapat diketahui jelas oleh To-kan.
Ini bukan berarti bahwa kepandaiannya lebih tinggi dari Nyo Hoan, sebabnya ialah karena ia berada di sudut gua dan menumpahkan seluruh perhatian pada pertempuran di situ.
Dan lagi dalam beberapa hari itu ia sudah berhasil mempelajari ilmu Tiam-hiat dari Kang Hay-thian.
"Mengapa aku mengimbangi sikap seorang anak? Dan lagi memang dia telah memberi pertolongan pada kita. Seorang ksatria harus mengingat segi kebaikan orang lain, jangan segi keburukannya, kecuali apabila orang itu memang benar-benar orang dorna, itu lain halnya."
"Benar, terima kasih atas petuah Suhu,"
Sahut To-kan. Hay-thian tertawa lebar.
"Kan-ji, aku bersyukur karena kau lekas dapat menangkap sesuatu. Baiklah, kita juga harus pergi!"
To-kan mengikuti sang Suhu keluar gua, dirasakannya langkah kakinya ringan sekali, lebih lincah dari beberapa hari yang lalu.
Diam-diam ia kagum atas kesaktian ilmu Lwekang Suhunya dan sebaliknya menertawakan kecongkakan Nyo Hoan yang sudah menyangka "emas sebagai loyang".
Mendaki ke atas gunung, dari arah Cong-liong-poh tampak asap masih mengepul, bangunan-bangunan di daerah itu sudah menjadi puing.
Teringat akan bujang Tio yang melindungi dirinya, To-kan melelehkan air mata, katanya dengan suara tersekat.
"Paman Tio tentu mengalami bahaya. Kawanan penjahat yang melepas api itu, ingin sekali aku membunuhnya."
Kang Hay-thian mengelus-elus kepala bocah itu.
"Bagus, nak, catatlah perhitungan itu. Tetapi kau harus ingat bahwa yang jadi korban kaki-tangan musuh masih banyak orang lagi. Membalas dendam tidak hanya mengandalkan keberanian dan jangan terburu nafsu. Contohlah ayah dan pamanmu Li. Hanya setelah dapat mengusir musuh negara, baru kita dapat berbakti kepada negara."
"Baik. Setelah mendapat ilmu pelajaran dari Suhu, aku tentu akan mencari ayah. Sayang paman Li sudah dibunuh musuh, engkoh Kong-he kini sudah dijadikan kacung orang, entah sampai kapan baru kita dapat berjumpa lagi?"
Sahut To-kan.
"Untung sekarang sudah menemukan sedikit jejaknya bahwa dia berada dalam keluarga Tiok. Orang she Tiok itu terang seorang tokoh persilatan yang lihai, perlahanlahan kita tentu dapat menyelidikinya."
To-kan menanyakan kemana mereka hendak menuju. Jawab Kang Hay-thian.
"Lebih dulu hendak kuajak kau menemui Toasuhengmu, kemudian baru kita berunding lagi. Toasuhengmu itu bernama Yap Leng-hong, kusuruh dia menunggu di kota Jiok-oh."
Dari Bici ke kota itu, berkuda pun harus memakan waktu 5-6 hari.
Tempo datang ke Bici, Kang Hay-thian siang malam menggunakan ilmu berlari cepat, itupun harus empat hari.
Sekarang karena membawa To-kan, sudah tentu ia tak dapat lari cepat, walaupun lari keduanya jauh lebih pesat dari orang biasa, tapi waktu tiba di Jiok-oh juga membutuhkan sebelas hari.
Telah dijanjikan kepada Leng-hong bahwa paling cepat delapan hari paling lama sepuluh hari Kang Hay-thian tentu sudah kembali ke Jiok-oh.
Tetapi karena mendapat luka, total jenderal 18 hari kemudian baru ia tiba di Jiok-oh.
Jadi 8 hari lebih lama dari waktu yang dijanjikan.
Kang Hay-thian mengira toh Leng-hong senggang, walaupun terlambat hampir seminggu, tentu masih tetap menunggu di kota itu.
Di luar dugaan, Leng-Hong telah berbuat lain.
Memang selama 8 sampai 10 hari, ia tetap menunggu dengan tenang.
Tiap hari ia giat berlatih pelajaranpelajaran yang diberikan Suhunya selama dalam perjalanan itu.
Dan karena jarang keluar pintu, pelajarannya pun maju pesat.
Lewat hari yang ke-10, dia telah mencapai tingkat tertentu, tapi berbareng itu dia pun mulai gelisah memikirkan Suhunya.
"Meskipun kepandaian Suhu sakti sekali, tapi dia hanya seorang diri. Kawanan Ko-chiu yang hendak menangkap Lim Jing itu berjumlah banyak, mungkin dia kesamplok rombongan Ko-chiu itu. Ah, gelagatnya lebih banyak celakanya, jika tak meninggal tentu Suhu akan terluka berat,"
Pikirnya. Makin memikirkan makin besar kegelisahannya.
"Aku ini murid kepala dari Kang-tayhiap, banyak sudah orang persilatan yang tahu. Jika tahu sampai mengalami kecelakaan, aku tentu terembet. Dahulu ketika bertemu musuh di gunung Thay-san, untung ada Siau Ci-wan yang membantu. Kali ini jika bersua lawan, bagaimana aku dapat menghadapinya seorang diri? Lebih baik di antara 36 siasat, lari adalah yang paling sempurna!"
"Tapi ah lari kemana? Pulang?"
Terlintas dalam pikirannya ketika hendak pergi, ia pernah bersumpah takkan pulang lagi.
Juga teringat akan cita-citanya yang belum terlaksana, kalau pulang tentu akan kehilangan muka.
Tiba-tiba terbayang dalam benaknya bayangan seorang dara yang cantik.
Dara itu ialah sumoaynya atau Kang Hiau-hu, putri Suhunya.
"Ya, mengapa aku tak pulang saja ke rumah Suhu? Subo adalah pemimpin partai Bin-san-pay, ia tentu dapat melindungi diriku. Ha, ini sekali dayung dua tepian namanya, bukankah memang aku rindu pulang menemui Sumoay? ... Tapi kalau Subo bertanya, bagaimana jawabku? Suhu belum jelas beritanya. Apakah aku bisa sembarangan mengatakan beliau sudah meninggal? Ah, apakah lebih baik kukatakan saja kalau beliau tertangkap oleh kawanan Tay-lwe Ko-chiu?"
Demikian rencana-rencana yang berlalu lalang dalam pikiran Leng-hong.
Kedua ekor kuda Jik-liong-ma dan Pek-liong-ma, setelah dirawat selama sepuluhan hari sudah sembuh sama sekali, kedua kuda itu dalam sehari dapat menempuh seribu li.
Sebenarnya Leng-hong dapat berkuda mencari berita ke Bici, toh hanya makan waktu dua hari saja, tetapi pertama, karena ia tak berani dan kedua, karena ia hanya mementingkan diri sendiri.
Jika pergi ke Bici dan tak dapat berjumpa dengan Suhunya, berarti terjerat bahaya pula, kalau berhasil menemui Suhunya tak kurang suatu apa pun, ia tentu akan diajak mencari Li Kong-he.
Ah, entah kapan ia dapat berjumpa lagi dengan Sumoaynya itu?
Tak apalah jika Sumoaynya hanya seorang diri dan menunggu kedatangannya, tapi yang jelas di rumah terdapat Sutenya, Ubun Hiong, yang sedang merawat sakit.
Teringat bagaimana sewaktu di dalam lembah, ia dapatkan Sumoaynya begitu mesra terhadap Ubun Hiong, bergolaklah rasa cemburu dalam hati Leng-hong, pikirnya.
"Jika sekarang aku tak lekas pulang, kalau sampai di dahului budak Ubun Hiong itu, aku tentu gigit jari nanti. Ya, akan kukatakan kepada Subo kalau Suhu menuju ke Bici dan tiada beritanya lagi. Di tengah jalan aku berjumpa musuh, karena jejaknya sudaTi ketahuan musuh, terpaksa aku pulang memberi berita kepada Subo. Kelak apabila Suhu tak mengalami sesuatu dan pulang, karena waktu yang dijanjikan sudah lewat, dia tentu takkan menyalahkan tindakanku pulang sendirian itu. Aku pulang melapor Subo, juga termasuk memikirkan kepentingan Suhu. Siapa tahu Suhu bahkan akan memuji padaku karena dapat mengambil keputusan dalam waktu yang genting."
Pikiran bulat, putusan tetap.
Saat itu sudah petang, ia memutuskan besok pagi saja akan berangkat, maka ia lantas keluar membeli rangsum dan lain-lain bekal perjalanan, di antaranya dibeliny.i juga pelana baru untuk kuda.
Jiok-oh itu sebuah kota kabupaten yang kecil, habis berputar-putar membeli barang, tibalah ia di sebuah jakin yang sepi di dekat pintu kota, tiba-tiba dia bertemu seseorang.
Seorang lelaki yang alisnya tebal, mata besar dan jenggotnya lurus kaku, tiba-tiba ia berhenti menghadang.
"Sungguh kebetulan sekali, mana Suhumu? Hai, mengapa matamu membelalak, tidak kenal aku?"
Leng-hong tersentak kaget.
Orang lelaki itu bukan lain ialah penjahat besar Utti Keng yang pernah membuatnya malu ketika di tempat partai Kaypang cabang Tek-ciu memukul pedangnya hanya dengan gulungan tanah liat.
Karena rasa kejut itu, otomatis Leng-hong menyingkir ke samping.
Tapi sekali mengulurkan tangannya yang segede kipas, Utti Keng dapat menyambarnya, dia tertawa gelak-gelak.
"Jangan takut, aku dan Suhumu sudah menjadi kawan, masakah aku mau memukulmu. Hai, budak, mengapa kau pukul aku?"
Waktu disambar tadi, kontan saja Leng-hong mendorongnya.
Utti Keng terhuyung-huyung, ujung bibirnya mengucurkan darah.
Tapi secepat itu juga ia menyambar tubuh Leng-hong dengan kelima jarinya yang sekeras jepitan baja, kini Leng-hong tak dapat berkutik lagi.
"Tadi aku tak sengaja memukulmu. Kau ... kau mengapa menyeret aku?"
Tegurnya gugup. Dengan napas terengah-engah Utti Keng membentak.
"Lekas bawa aku kepada Suhumu!"
Leng-hong heran ketika mengawasi dengan cermat, barulah diketahuinya wajah orang she Utti itu pucat seperti orang sakit. Pakaiannya terdapat noda darah, menandakan orangnya tentu menderita luka.
"Perlu apa kau ingin bertemu Suhuku? Bilang dulu yang jelas,"
Sahut Leng-hong. Ia memperhitungkan Utti Keng tentu terluka, maka rasa takutnya pun berkurang.
"Apakah kau tak melihat aku terluka? Di belakang ada tiga orang kuku garuda yang mengejar aku! Jangan banyak omong, lekas antarkan aku kepada Kangtayhiap."
Kuku garuda adalah istilah untuk orang-orang persilatan yang berhamba pada penjajah. Leng-hong membantah lagi.
"Lepaskan dulu tanganmu, nanti kukasih tahu."
Utti Keng tertawa.
"Budak, bukankah belum tiga bulan kau mengangkat Suhu? Kini kepandaianmu sudah berlipat dari dulu. Hampir saja tadi aku kena kau dorong jatuh."
Ia lepaskan cekalannya. Leng-hong juga terhuyung dulu sebelum dapat berdiri tegak.
"Orang ini menderita luka berat tapi masih begitu lihai. Tubuhnya mengalirkan darah dan mulutnya muntah darah, dia tentu terluka dalam yang parah. Ketiga kuku garuda yang mengalahkannya itu tentu jago-jago yang jempol. Ah, celaka, celaka. Lebih baik aku tak ikut campur dalam urusan ini,"
Pikir Leng-hong.
Sudah tentu Utti Keng tak tahu yang dipikirkan anak muda itu.
Karena Leng-hong itu murid Kang Hay-thian, maka dianggapnya seperti orang sendiri.
Sedikitpun ia tak menaruh di hati akan urusan yang lampau, ia segera mengajak Leng-hong lekas berjalan.
"O, kiranya kau hendak minta pertolongan pada Suhuku?"
Tawar-tawar saja Leng-hong menyahut. Utti Keng menyahut marah.
"Kau hendak mengolok aku? Ya, memang. Selama hidup aku tak pernah meminta tolong orang kecuali Kang-tayhiap. Karena menjunjung tinggi Suhumu, maka aku baru mau minta tolong padanya. Apakah kau enggan mengantarkan aku?"
Leng-hong pernah merasakan pil pahit dari orang itu dan tahu pula wataknya yang berangasan.
Mungkin kalau salah bicara, bogem mentah bisa melayang ke kepala, tak berani lagi ia bicara dengan nada dingin.
Ia memberitahukan sungguh-sungguh bahwa Suhunya berada di kota itu.
"Celaka, mengapa tak lekas kau katakan?"
Utti Keng banting-banting kaki.
Kiranya tadi dia hendak mencari seorang sahabat Hek-to di kota itu, tapi sahabatnya itu tak begitu erat padanya, kepandaiannya juga hanya tergolong tokoh kelas dua saja.
Satu-satunya yang menjadi harapan Utti Keng bahwa sahabatnya itu seorang tokoh yang menjunjung tinggi pribadi.
Karena dikejar musuh, terpaksa Utti Keng hendak lari ke tempat sahabatnya itu, tapi waktu berjumpa dengan Leng-hong, ia segera merubah rencananya semula.
Sampai sekian lama adu mulut, barulah diketahui kalau Kang Hay-thian tak ada di kota situ.
Coba tadi-tadi Leng-hong mengatakan begitu, ia masih sempat lari mencapai sahabatnya itu, kini segalanya sudah kasip.
"Maaf, Suhu tak di sini dan aku tak mampu membantumu. Carilah dia sendiri saja, mudah-mudahan kau selamat tak kurang suatu apa, semoga lain kali bisa bertemu lagi,"
Kata Leng-hong. Utti Keng membelalakkan sepasang matanya dan melangkah ke depan Leng-hong.
"Tunggu dulu!"
"Mengapa?"
"Tungganganmu Jik-liong-ma atau Pek-liong-ma? Pinjamkan yang seekor padaku untuk sementara!"
Kata Utti Keng.
Ia pernah naik Pek-liong-ma dan tahu juga kalau Jik-liong-ma itu tak kalah dengan Pek-liong-ma.
Asal ia naik kuda itu tentu dapat meloloskan diri dari kejaran musuh.
Leng-hong cerdik sekali, apa yang dipikirkan Utti Keng, sebelumnya ia sudah dapat mengira.
Dia mempunyai pertimbangan sendiri, pikirnya.
"Sebenarnya tak susah aku menolongmu. Memang kedua kuda itu alat yang paling tepat, tapi perlu apa aku harus menolong orang yang pernah membikin malu padaku? Perlu apa aku harus repot-repot melayani orang yang terluka? Apalagi aku harus lekas pulang menemui Sumoay. Ini lebih tak memungkinkan aku membawamu bersama-sama."
"Hai, mengapa kau terlongong saja? Bagaimana, mau meminjami atau tidak?"
Teriak Utti Keng.
"Terus terang saja, aku hanya membawa seekor kuda. Tapi bukan Pek-liong-ma juga bukan Jik-liong-ma. Pula kudaku itu tengah sakit!"
Sahut Leng-hong. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman, dari wajah si anak, Utti Keng tahu kalau dibohongi.
"Budak, mengecewakan saja kau menjadi murid Kang-tayhiap. Sedikitpun kau tak punya nyali lelaki! Di hadapan orang yang berpengalaman jangan suka berdusta. Kau tak mau meminjami, bukan?"
Ia mengulurkan tangannya untuk mencekal Leng-hong lagi.
"Kalau mau minta pertolongan paling tidak kau harus mengucapkan kata-kata yang baik, tetapi kau terus selalu main pukul dan tendang saja. Kau menghina aku sih tak apa, tetapi kau terlalu tak memandang muka pada Suhuku!"
Utti Keng terkesiap, ia menghela napas.
"Naga yang terdampar di air dangkal tentu dipermainkan udang. Harimau yang berada di tanah datar akan dihina anjing. Sudahlah, tak seharusnya aku minta tolong padamu!"
Dalam marahnya Utti Keng mendorong Leng-hong sampai beberapa langkah.
Diam-diam Leng-hong bergirang dalam hati, ia putar tubuh terus lari.
Tiba-tiba pada lain saat terlintas sesuatu dalam pikiran Utti Keng.
"Ah salah, salah. Budak itu jangan-jangan menipu aku!"
Ia menghimpun tenaga dan menahan sakitnya terus mengejar Leng-hong.
Kesangsian timbul dalam hati Utti Keng, masakah Kang Hay-thian membawa muridnya berkelana di luaran lantas meninggalkan dia begitu saja di sebuah kota kecil?
Tentu anak itu sendiri yang merintangi supaya dia jangan sampai bertemu dengan Kang Hay-thian.
"Kang Haythian seorang pendekar budiman, aku tak boleh menilainya seperti anak itu,"
Pikirnya, ia menduga Kang Hay-thian tentu berada di kota itu. Ketika berpaling dan mendapatkan Utti Keng mengejar, kejut Leng-hong bukan kepalang, serunya.
"Mengapa kau tak lekas mencari tempat bersembunyi, sebaliknya mati-matian mengikuti aku?"
"Aku ingin pergi ke tempat pondokmu menjumpai Suhumu!"
Sahut Utti Keng.
"Suhu tak berada di sini. Kalau tak percaya, kau tentu menyesal!"
"Tahukah kau kalau aku ini seorang benggolan yang membunuh orang seperti jiwa lalat? Suhumu di sini, kau kuanggap sahabatku. Jika dia tak di sini, hehe, tak perlu aku bersahabat denganmu lagi! Tetapi bukannya aku hendak membunuhmu, melainkan hanya meminjam kudamu saja. Jelasnya, bukannya aku minta pertolongan padamu melainkan aku hendak merampas kudamu. Terserah, kau suka atau tidak, kau rela atau tidak."
Leng-hong mengeluh dalam hati, diam-diam ia mencari akal bagaimana menghindari momok ini.
Tibatiba terdengar derap kuda lari, tiga ekor kuda menerobos masuk kota dengan pesat.
Kejut Leng-hong bukan kepalang, yang datang itu tiga perwira.
Salah seorang dikenalnya sebagai Lok Khik-si dari kawanan Ki-lian-samsiu.
Setelah terluka di Cong-liong-poh, orang she Lok itu segera minta bantuan pada kedua perwira kawannya, yakni Ho Lan-bing, wakil komandan Gi-lim-kun dan Li Tay-cin seorang Si-wi.
Pasukan Gi-lim-kun mempunyai dua orang wakil komandan, yakni Ho Lan-bing dan Co Bong.
Kepandaian Ho Lan-bing lebih tinggi dari Co Bong, Li Tay-cin juga termasuk jago pilihan dalam pasukan Siwi.
Sejak berpisah dengan istrinya, Utti Keng menuju ke Soasay menjenguk sahabatnya dan sekalian mencari putra Li Bun-sing.
Meskipun dia sudah minta tolong pada Kang Hay-thian, tapi masih merasa tak enak kalau tak turut mencari atau sekurang-kurangnya membantu mencari berita untuk disampaikan pada Kang Hay-thian.
Secara kebetulan ia berjumpa dengan rombongan Ho Lan-bing, seorang Ho Lan-bing saja sudah cukup berat, apalagi ditambah Li Tay-cin.
Juga Lok Khik-si yang sudah sembuh lukanya dapat melukai Li Tay-cin dan membunuh kuda tunggangan lawan-lawannya.
Setelah mencari ganti kuda, barulah ketiga orang itu mengejar lagi.
"Lekas, sekarang kita harus sama-sama melawan bahaya!"
Utti Keng menarik Leng-hong dan membisikinya.
Bagaimanapun jeleknya, Leng-hong juga murid Kang Hay-thian.
Dalam keadaan begitu, Utti Keng tetap menganggap sebagai orang pihaknya.
Mereka saat itu berada di sebuah jalanan kecil dekat pintu kota yang tak jauh dari jalan besar.
Kala itu hari sudah petang.
Gang-gang yang terdapat di kota itu yang paling panjang hanya 10-an tombak jauhnya.
Kuda sukar berlari cepat di situ.
Justru ini membantu Utti Keng.
Leng-hong bersangsi sejenak, lalu berkata.
"Lebih baik kita lari berpencar, supaya memecah perhatian mereka."
Sebenarnya ia enggan tersangkut dalam urusan Utti Keng.
Ia memperhitungkan jika cepat-cepat menyelinap kembali ke hotel, ia hendak naik kuda untuk lari lebih dulu.
Dan dengan lari berpencar itu, ketiga kuku garuda itu tentu akan mengejar Utti Keng saja.
Utti Keng marah, tapi tak leluasa mendamprat.
Tepat pada saat itu mata Ho Lan-bing yang jeli segera melihat bayangan Utti Keng.
Dia tertawa gelak-gelak.
"Bangsat terkutuk, masih mimpi ingin lari? Ha, dia hanya punya seorang teman, tak perlu ditakuti. Ringkus saja mereka!"
"Apakah tidak diharuskan menangkap hidup?"
Tanya Lok Khik-si.
"Benar, tapi jika tak dapat menangkap hidup, mati pun boleh,"
Sahut Ho Lan-bing. Lok Khik-si memijat alat Lok-kak-jat.
"Serrr, serrr, serr", tiga batang panah meluncur. Mendengar dirinya dianggap sebagai komplotan Utti Keng, Leng-hong lari sipat kuping. Tapi sekencangkencangnya ia berlari, tetap tak dapat melampaui kecepatan panah itu. Pada saat ia hampir celaka, Utti Keng dengan sebarnya memukul jatuh dua batang panah, kemudian melompat ke muka dan dengan pukulan Pik-khong-ciang menghantam panah yang mengarah Leng-hong. Ho Lan-bing dan kawan-kawannya melompat turun dari kuda, terus menerjang.
"Kalau datang tak disambut itu kurang aturan namanya, lihat pukulan besi ini!"
Bentak Utti Keng yang melontarkan tiga batang Hui-jui.
Karena terluka, tenaganya menjadi berkurang.
Ketiga Hui-jui itu dapat dipukul jatuh oleh lawan, tapi sekurang-kurangnya pun dapat merintangi mereka untuk beberapa jenak.
"Setan cilik, tenanglah sedikit! Dengarkan angin untuk menentukan datangnya senjata, cabut pedangmu untuk menjaga diri. Baik kau boleh di muka aku yang melindungi di belakang,"
Dengan bisik-bisik Utti Keng mendamprat.
Ia anggap sebagai murid Kang Hay-thian, Leng-hong tentu sudah tahu apa yang disebut ilmu Pianhong-thing-ki (mendengarkan angin menentukan datangnya senjata) itu, siapa tahu Leng-hong tak banyak mengetahui tentang ilmu silat yang tinggi.
Dalam gugupnya ia hanya memutar pedang dan lari membabi buta, justru karena pedang bercahaya mengkilat, maka musuh tahu arah larinya.
"Hahaha, anak ayam yang baru keluar dari sangkarnya,"
Ho Lan-bing tertawa gelak-gelak.
Nyali mereka bertiga makin besar, dengan Kim-ci-piau, Huihong-ciok dan lain-lain, mereka menghujani orang buruannya.
Utti Keng tetap menggunakan Pik-khongciang untuk menyapu serangan itu.
Sekali-kali juga balas melontarkan Hui-jui, tapi dengan berbuat begitu, tenaganya makin habis.
Pada malam hari, jalanan di kota Jiok-oh sepi dengan orang, toko-toko sebagian besar sudah tutup.
Bahwa pada saat-saat seperti itu tiba-tiba muncul tiga perwira mengejar dua orang buronan makin membuat orangorang lari ketakutan.
Toko-toko yang masih buka ribut menutup pintu.
Benar senjata-senjata rahasia itu tak sampai mengenai orang, tapi suaranya yang mendesingdesing di jalanan cukup membuat panik orang.
Utti Keng tiada tempat lagi untuk bersembunyi, satu-satunya harapan adalah lekas tiba di hotel Leng-hong.
Sekalipun Kang Hay-thian benar tak ada, ia masih dapat naik kuda meloloskan diri.
Setelah melintasi beberapa jalan kecil, senjata Hui-jui Utti Keng sudah habis.
Tak lagi ia dapat balas menyerang, sedang lawan tetap menyerang dengan gencar.
Tiba-tiba dilihatnya Leng-hong melompat ke atas sebuah rumah penduduk, ia menduga hotel anak itu tentu sudah dekat.
Seketika semangatnya timbul lagi, ia turut melompat.
Ho Lan-bing menimpukkan tiga batang panah, karena melompatnya kurang lincah, betis kanan Utti Keng termakan sebuah panah.
Utti Keng menekan payon untuk berjumpalitan melompat ke atas genteng.
Lukanya membuat tubuhnya berguncang dan kaki terhuyunghuyung.
Sekonyong-konyong Leng-hong membalikkan badan, bukannya menolong, sebaliknya menghantam Utti Keng.
Mimpi pun Utti Keng tidak nyana kalau ia bakal mendapat perlakuan begitu rupa, sudah jatuh tertindih tangga pula.
Betapa lihainya, sukar juga ia menghindar, pukulan itu tepat sekali mengenainya.
Utti Keng terpelanting jungkir balik.
Rupanya Leng-hong tahu Utti Keng terluka berat dan segera mengatur rencana.
Ia sengaja melompat ke sebuah rumah, ketika Utti Keng mengikutinya, segera ia turun tangan ganas.
Saking marahnya Utti Keng sampai pusing kepala, ia mencaci-maki.
"Bangsat cilik, kau ini bukan manusia!"
Belum selesai ia memaki, Ho Lan-bing dan lain-lain sudah datang dengan tertawa lebar dan berseru.
"Sungguh seorang anak yang pandai. Bagus sekali tindakanmu, kau berjasa. Tak perlu lari, turun dan terimalah hadiahmu!"
Li Tay-cin yang telah menelan pil pahit dari Utti Keng, saat itupun datang untuk membalas sakit hati dan mencari jasa.
la keprak kudanya terus hendak menangkap Utti Keng hidup-hidup.
Utti Keng ambil keputusan untuk menghadapi musuh dulu, baru kelak membikin perhitungan lagi pada Lenghong.
Ia menggerung keras, sambil melompat ia melontarkan sebuah pukulan.
Li Tay-cin tak menyangka sama sekali bahwa dalam keadaan terluka Utti Keng masih sedemikian dahsyatnya.
Pukulan itu membuatnya muntah darah dan terjungkal jatuh.
"Bangsat, sudah mau mati masih tak mau menyerah?"
Bentak Ho Lan-bing dengan gusar dan menyabetkan pian, sedang Lok Khik-si pun lantas membantunya melepaskan senjata rahasia.
Tepat seperti yang diduga Leng-hong, yang dikejar adalah Utti Keng dan bukan dirinya.
Segagah-gagahnya Utti Keng, karena menderita luka parah dan seorang diri menghadapi musuh-musuh yang tangguh, setelah memberi perlawanan gigih sampai berpuluh-puluh jurus, akhirnya kena ditangkap Ho Lanbing juga.
Leng-hong lari terbirit-birit.
Sayup-sayup masih didengarnya Utti Keng bertempur dengan berteriakteriak, makin lama makin lemah untuk kemudian berhenti.
Ia menduga Utti Keng tentu sudah tertangkap.
Ketika tiba di hotel, Leng-hong menghembuskan napas longgar, pikirnya.
"Untung kawanan alap-alap itu tak tahu diriku. Utti Keng seorang lelaki keras, sebencibencinya kepadaku, dengan memandang muka Suhu, tak nanti dia akan merembet pada diriku."
Berpikir sampai di situ, merahlah mukanya, bagaimanapun nuraninya belum hilang.
Saat itu kesadarannya timbul dan gelisahlah hatinya.
Utti Keng seorang laki-laki jantan, tapi bagaimana dengan dirinya sendiri?
Leng-hong tertawa rawan.
"Kawanan kuku garuda itu menyuruh aku menerima hadiah, hehe, mana mereka tahu pikiranku? Aku dikiranya seorang manusia rendah yang suka menjual kawan!"
Ia mengejek, tertawa sendiri. Ia mencari dalih membersihkan diri tapi kebingungan sendiri. Pikirnya pula.
"Seorang lelaki harus dapat menyesuaikan keadaan, Utti Keng bukan sahabatku dan aku pun tak berdaya membantunya. Masa depan seorang penjahat yang ganas serta pernah menghina padaku, kuberi dia sebuah pukulan, itu sudah jamak. Ah, sudahlah, tak perlu memikirkannya lagi. Yang penting, setelah mereka menangkap Utti Keng, jangan-jangan masih akan mengejar aku lagi. Aku harus lekas berkuda melarikan diri!"
Dia mencari-cari dalih membela diri dan ia menganggap dirinya tak bersalah.
Tetamu-tetamu di hotel situ telah mendengar berita tentang tentara pemerintah melakukan penangkapan pada buronan.
Mereka bersembunyi di dalam kamar masing-masing, pemilik dan jongos hotel berkumpul di ruangan kasir, mereka siap menunggu apabila hotel itu digrebeg.
Kedatangan Leng-hong dengan melalui jendela itu tiada diketahui orang sama sekali.
Bergegas ia mengemasi perbekalannya, ia tinggalkan sekeping perak selaku pembayaran sewa kamar dan diam-diam lantas menyelinap keluar.
Istal kuda terletak di pinggir hotel, memang perlengkapan istal kuda di kota kecil situ amat sederhana sekali.
Tiada petugas yang mengurusnya, di dalam Istal pun hanya terdapat kedua ekor kuda milik Leng-hong itu.
Leng-hong mempercepat langkahnya, ketika hendak membuka tali pengikat kuda, dalam kegelapan terdengar suara tertawa mengekeh, nadanya seperti burung hantu.
"Siapa?"
Leng-hong terkejut.
"Yap-kongcu, bagus sekali perbuatanmu!"
Sebuah sahutan yang bernada ejek terdengar. Leng-hong mencabut pedang terus ditusukkan ke arah suara itu, tapi cekatan sekali orang itu.
"Cret", pedang Leng-hong hanya menusuk tiang pengikat tali. Orang itu tak membalas melainkan berseru.
"Ho Lan-bing dan Tokkak-lok segera akan mengejar kemari. Di saat begini kau masih hendak berkelahi dengan aku? Apakah kau ingin menunggu mereka datang menangkapmu?"
Nada orang itu seperti tak mengandung maksud buruk, Leng-hong buru-buru mencabut pedangnya untuk memapas tali pengikat kuda, kembali orang aneh itu memperdengarkan ketawanya yang seram.
Untuk meniaga serangan gelap, Leng-hong melintangkan pedangnya di dada.
"Perlu apa kau seorang diri menggunakan dua ekor kuda? Yang seekor ini berikan padakulah/' terdengar suara orang itu lagi. Rupanya di tempat yang gelap itu ia dapat melihat jelas tindakan Leng-hong. Sebelum Lenghong menjambret kudanya yang kedua, orang itu sudah mendahului berseru. Sementara itu suara teriakan Ho Lan-bing dan kawankawannya sudah terdengar. Leng-hong tak berani ribut mulut dengan orang aneh itu, setelah menerobos keluar istal, segera ia melompat ke atas Pek-Iiong-ma dan mencongklangnya. Saat itu Ho Lang-bing dan Lok Khik-si sudah tiba di sebuah gang, begitu melihat Leng-hong, berserulah Ho Lan-bing.
"Anak baik, hebat benar kudamu itu! Hai, mengapa kau lari? Kau sudah berjasa, apa tak ingin menerima pangkat dan kekayaan?"
Leng-hong menyempatkan diri untuk berpaling sejenak, tampak Utti Keng telah diborgol, tali rantainya dipegang Ho Lang bing.
Mata Utti Keng berapi-api menatap Leng-hong, tak berani Leng-hong beradu pandang, ia mengeprak kudanya berlari ke arah yang berlawanan.
"Hm, budak itu tak mau ikut kita,"
Gerutu Lok Khik-si. Segera ia memijat Lok-kak-jat. Sebatang panah meluncur pesat ke depan, Leng-hong cepat mengibaskan pedangnya untuk menangkis panah itu.
"Ya, bunuh saja budak itu ada lebih baik bagi kita,"
Ho Lan-bing mengayunkan tangan, sebatang Hui-piau melayang menyusul panah Lok Khik-si, ia hendak membunuh Leng-hong karena ingin merampas kudanya.
Kepandaian Ho Lan-bing lebih tinggi dari Lok Khik-si, Hui-piaunya yang dilepaskan itu ternyata jauh lebih dulu datangnya dari panah Lok Khik-si.
Karena tiba di tikungan jalan, Pek Long-ma tak dapat berlari cepat, Huipiau pun cepat sekali sudah tiba di belakang punggung.
Tergetarlah hati Leng-hong, ia meragukan kekuatannya, apa mampu menangkis kekuatan Hui-piau yang sedemikian dahsyatnya itu.
"Tring", tiba-tiba terdengar suara gemerincingan seperti dua buah Piau beradu di udara, menyusul dua benda jatuh di tanah.
"Bagus, budak itu masih punya konco,"
Teriak Ho Lanbing.
Berbareng itu kuda Jik-liong-ma menerobos keluar dari istal.
Ho Lan-bing cepat mengayunkan tiga buah senjata gelap.
Sebatang paku Tau-kut-ting ditujukan pada Lenghong dan dua buah Hui-piau pada penunggang Jik-liongma itu.
Kuda Leng-hong sudah membelok di tikungan dan tiba di gang kedua.
Secepat angin, Pek-liong-ma sudah melesat tiba di ujung gang, jarak yang tak mungkin dicapai oleh timpukan Tau-kut-ting.
Leng-hong pun mendengar gelak tertawa orang aneh tadi, rupanya dia pun terlepas dari serangan, tapi Leng-hong tak sempat memperhatikan orang lagi, dia keprak kudanya sekencang-kencangnya.
Pintu kota hanya dijaga oleh petugas yang sudah tua, sudah tentu dia tak berani menghalangi.
Sekali tabas Leng-hong mengurungi gembok pintu, terus menerobos keluar, hanya dalam beberapa kejap saja ia sudah jauh dari kota itu.
Di situ barulah longgar perasaan Lenghong, dia tak kuatir dapat dikejar Ho Lan-bing lagi.
Memang Ho Lan-bing tak mampu mengejarnya, tapi si orang aneh tadi dapat.
Belum lama, kembali didengarnya suara tertawa orang itu, memang Jik-liong-ma seimbang kecepatannya dengan Pek-liong-ma.
"Gerak-gerik orang itu aneh, asal-usulnya tak jelas. Walaupun dia tak bermaksud buruk tapi lebih baik kuhindari saja,"
Leng-hong menimang dalam hati, tetapi betapapun Leng-hong mengeprak kudanya, orang tak dikenal itu tetap berada di belakangnya.
"Yap-kongcu, beristirahat dululah!"
Orang itu tertawa mengejek.
"Siapa kau? Mengapa membuntuti aku?"
Tegur Leng-hong.
"Malam ini boleh dikata aku telah membantumu, mengapa kau hendak menyingkir dari aku? Marilah kita omong-omong, siapa diriku, nanti tentu kuberitahukan,"
Sahut orang itu. Sebenarnya Leng-hong agak jeri terhadap orang itu, setelah berpikir sejenak, ia berseru.
"Atas bantuanmu tadi, kuberikan kuda itu kepadamu. Kita tak saling kenal, apa yang perlu diomongkan lagi?"
"Banyak sekali, misalnya tindakanmu yang bagus tadi. Bukankah itu cukup menjadi bahan pembicaraan kita?"
Leng-hong terjebak, ujarnya.
"Apa katamu? Aku tak mengerti, perbuatan bagus apa yang kulakukan?"
Orang itu tertawa gelak-gelak.
"Di hadapan orang yang jelas, perlu apa berbohong. Yap-kongcu, apa yang kau lakukan tadi, kuketahui semua. Hehehe! Kau tak ingin mendengar kata-kataku, kau merasa takut, bukan? Namun, jika kau enggan mendengar pembicaraanku, terpaksa aku akan mengatakan pada Suhumu. Hehehe! Apabila Kang-tayhiap mengetahui kau yang menyebabkan Utti Keng tertawan kawanan alap-alap itu, coba terka, apa tindakan Suhumu nanti? Apakah kau masih mimpi tetap jadi murid pewarisnya?"
Tergetar hati Leng-hong, seketika teringatlah ia akan pantangan-pantangan yang keras ketika ia melakukan upacara pengangkatan Suhu.
Apabila tindakannya tadi diketahui Suhunya, mungkin dia akan dicopot sebagai pewaris olehnya, bahkan mungkin akan dibunuh.
"Maksudmu bagaimana?"
Leng-hong menahan kudanya, nadanya agak gemetar. Orang itu melompat turun dari kuda, ujarnya.
"Naik kuda tak leluasa bicara, turunlah. Tempat ini tepat sekali buat omong-omong."
Saat itu hari masih diselubungi gelap-gelap remang.
Tiada orang yang tampak berjalan di jalanan, jalanan di situ adalah sebuah jalan kecil di tepi gunung, diapit dua lereng gunung dan di bawahnya terbentang sebuah sungai.
Kiranya mereka tiba di sebuah tikungan gunung, keadaannya berbahaya.
Seketika timbullah nafsu membunuh di hati Lenghong, pikirnya.
"Orang ini tahu rahasiaku, jika dibiarkan hidup tentu membahayakan diriku."
Ia turun dari kudanya, pura-pura mengulur tangan hendak bersalaman, tapi sekonyong-konyong ia melepaskan sebuah hantaman dahsyat.
Karena dapat memukul jatuh senjata rahasia Ho Lan-bing, ia tahu orang itu tentu hebat kepandaiannya.
Pukulannya tadi dilancarkan dengan sepenuh tenaga dan menggunakan pukulan maut Si-mi-ciang-hoat, ia harap sekali pukul dapat membuatnya mampus!.
"Wah, wah, celaka! Kau sungguh kejam. Yap-kongcu!"
Teriak orang itu sembari menggeliatkan tubuhnya menghindar dengan indah, tetapi pukulan"
Ajaran Kang Hay-thian itu lain dari yang lain.
"Bluk", orang itu menjerit dan jatuh terguling. Tak mengira semudah itu ia dapat membereskan orang, girang Leng-hong tak kepalang, ia menghampiri untuk memeriksa apakah orang itu sungguh sudah mati. Waktu melangkah maju dua langkah, ia segera hendak mengayunkan kakinya menendang supaya tubuh orang itu terbalik agar diketahui mati tidaknya, tapi tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikirannya, lebih baik ia kebut dengan lengan bajunya saja.
"Bret", tiba-tiba orang itu melompat menarik lengan baju Lenghong. Secabik kain pindah ke tangannya, ternyata orang itu tadi hanya pura-pura mati. Untung Leng-hong merubah rencananya, coba dia jadi menendang, kakinya tentu kena dicengkeram orang. Sekalipun tadi ia menggunakan pedang, dalam keadaan seperti itu juga sukar untuk terhindar dari rampasan. Pada saat Leng-hong gelagapan, orang aneh itu sudah menyerbu dan membentak.
"Ha, bocah yang licik!"
Tiga kali serangan ilmu Hun-kin-jo-kut (memelintir tulang dan urat) segera dilancarkan, tetapi semuanya dapat dihindari Leng-hong.
"Heh,"
Si orang aneh menggumam heran, sedang Leng-hong sudah mencabut pedangnnya, terus menikam.
Memang pada waktu maju menjenguk tadi ia sudah berjaga kemungkinan yang tak diinginkan.
Ilmu langkah Thian-lo-poh-hoat yang baru saja dipelajari dari Suhunya telah membuat orang aneh itu menubruk tempat kosong.
Nyali Leng-hong menjadi besar, pikirnya.
"Hebat benar kepandaian Suhu."
Kemudian ia gunakan ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat untuk merangsek orang.
"Ilmu pedang hebat!"
Teriak orang itu sembari melontarkan pukulan Pik-khong-dang. Setelah dapat mengisarkan pedang Leng-hong, ia sendiri pun lalu mencabut golok dan tertawa.
"Meskipun ilmu pedang Suhumu itu sakti, tapi bdum sempurna latihanmu. Untuk membunuh aku, itu masih jauh!"
Memang benar penilaian orang itu, baru dua bulan Leng-hong ikut Kang Hay-thian.
Memang banyak sudah yang dipelajari, tetapi semua itu hanya secara lisan ketika dalam perjalanan.
Ada kalanya kalau beristirahat, barulah Kang Hay-thian memberinya sedikit pelajaran praktek, tapi karena Hay-thian selalu sibuk, waktu beristirahat pun sedikit sekali.
Paling-paling ia hanya melakukan contoh gerakan satu kali saja sehingga Lenghong pun tak mempunyai banyak kesempatan untuk berlatih, latihan secara serius yang dilakukan Leng-hong hanyalah selama sepuluh hari tinggal di hotel itu saja.
Betapa cerdasnya, paling-paling ia hanya mencapai tingkat tertentu saja.
Untuk menggunakan menurut sekehendak hati di dalam menghadapi setiap perubahan gerak lawan masih tak bisa.
Benarlah, tiga atau lima puluh jurus kemudian, orang aneh itu sudah dapat memahami gerakan-gerakan Lenghong, kelemahan Leng-hong makin menonjol.
Saat itu Leng-hong menduduki posisi kaki Pat-kwa-wi untuk maju menyerang dengan pedangnya, gerak kaki Thian-lo-pohhoat itu memang sesuai dengan ilmu pedang Tui-hongkiam.
Dan sudah dua kali ia menyerang secara begitu, untuk yang ketiga kalinya, si orang aneh sudah mendahului posisi yang bakal ditempati Leng-hong, bentaknya keras.
"Lepas pedang!"
Sekali gigir golok dibenturkan, jatuhlah pedang Leng-hong. Orang itu tertawa gelak-gelak, ia putar goloknya buat mengurung Leng-hong, serunya.
"Yap-kongcu, kau menyerah tidak?"
Leng-hong mendengus.
"Apa sih kepandaianmu itu? Kalau kau berani melepaskan aku pulang, tiga bulan lagi kau tentu bukan tandinganku!"
Ia menduga orang itu tentu kaum persilatan seperti Utti Keng.
Orang-orang begitu paling menjunjung muka, oleh karena itu ia hendak coba-coba menyiasatinya.
Di luar dugaan orang itu tak kena dipancing, bahkan sebaliknya mengangguk.
"Tepat sekali ucapanmu itu. Kepandaian Kang Hay-thian tiada yang dapat melawan di dunia ini, kau sudah diluluskan menjadi ahli warisnya, otakmu tajam, tiga bulan kemudian aku kuatir tak mampu mengalahkanmu. Hehehe, tetapi sekarang kau masih tak menang melawanku. Bagaimana kalau sekarang kita bicara secara baik-baik?"
"Apa yang hendak kau bicarakan?"
Tanya Leng-hong. Tertawalah orang aneh itu.
"Yap-kongcu, lebih dulu aku hendak bertanya suatu hal. Malam ini baru kuketahui betapa ganasnya dirimu. Kukira, Chit-poh-tui-hun-chiu Cu Goan tentu binasa di tanganmu?"
"Benar, akulah yang membunuhnya! Tahukah kau bahwa Cu Goan itu sudah menghamba pada kerajaan dan menjadi orang Lok-lim yang murtad? ..."
Leng-hong tak tahu siapa orang aneh itu, tetapi ia tahu bahwa karena menentang Ho Lan-bing dan kawan-kawan, kalau bukan bangsa Hiap-khek (pendekar) tentulah bangsa penjahat.
Kedua golongan orang gagah itu sama-sama membenci orang Lok-lim yang murtad.
"Cu Goan itu siapa, tak perlu kau beritahukan padaku. Dia adalah sahabatku!"
Tukas orang itu. Leng-hong tersentak kaget dan berseru tertahan.
"Kau ... kau...."
"Bukan, melainkan menjadi sahabat baik Cu Goan Ittiong saja, juga aku ini Suheng Ho Lan-bing, wakil komandan pasukan Gi-lim-kun, namaku Hong Jong-liong. Bukankah kau pernah mendengar Cu Goan mengatakan tentang diriku?"
Leng-hong membusungkan dada menantang.
"Seorang lelaki boleh dibunuh tak boleh dihina, karena aku sudah jatuh ke tanganmu, silakan bunuh aku untuk membalaskan sakit hati Cu Goan!"
Karena mengira sudah tak dapat meloloskan diri lagi, mengingat dirinya murid Kang Hay-thian, ia tak mau minta belas kasihan, maka meskipun sebenarnya hatinya kebat-kebit, ia memberanikan diri untuk bersikap sebagai seorang gagah.
Hong Jong-liong tergelak-gelak, ia menyarungkan golok dan berseru.
"Jika kubermaksud membunuhmu, perlu apa kupukul jatuh Am-gi Ho Lan-bing tadi? Kau cerdik dan licik, kejam dan ganas, itulah jenis orang yang kusukai. Untung malam ini kau ketemu padaku, jika Suteku sampai membunuhmu, itu kan sayang sekali!"
Dengan masih diliputi rasa kejut, Leng-hong berseru.
"Kau ... kau ini pembesar kerajaan?!"
Sebenarnya ia hendak mengatakan "antek kerajaan", tapi diganti dengan "pembesar".
"Yap-kongcu, di hadapanmu mana aku berani menyebut diri sebagai pembesar? Kau adalah aku punya majikan muda, orang she Hong hendak naik pangkat mencari kekayaan. Untuk itu hanya mengandal bantuanmu, Yap-kongcu,"
Sahut Hong Jong-liong. Makin lama makin aneh kata-kata Hong Jong-liong itu. Leng-hong terperanjat, tegurnya.
"Siapakah kau ini? Mengapa mengaku diriku sebagai majikan muda?"
"Telah kukatakan sejelasnya, masakah kau belum mengetahui siapa diriku? Hehehe, kau tak tahu aku, sebaliknya aku tahu siapa kau. Yap-kongcu, kau sudah sampai di Jiok-bo, mengapa tak menyambangi ayahmu? Dengan naik kuda sakti itu, tak sampai tiga hari saja kau tentu sudah tiba di Se-an!"
"Kau ... kau ini orang bawahan ayahku!"
Teriak Lenghong dengan nada gemetar. Hong Jong-liong terbahak-bahak.
"Kau dapat menebak dengan tepat, aku adalah komandan pengawal Yaptayjih, gubernur Siam-say. Ayahmu telah mengutus Cu Goan untuk mencarimu, tetapi dia pergi tanpa kembali lagi, terpaksa aku keluar sendiri. Tentang pembunuhan Cu Goan itu, aku berjanji menyimpan rahasia, marilah ikut aku pulang!"
Leng-hong tersentak kaget, tapi diam-diam juga lega, pikirnya.
"Dia orang bawahan ayahku, tentu tak berani membunuh aku."
Segera ia menyahut.
"Aku tak ingin pulang, bilang saja kalau kau tak dapat menemukan aku."
Hong Jong-liong tertawa dingin.
"Yap-kongcu, kau lepaskan kedudukan sebagai seorang Siauya (tuan muda) putra gubernur, sebaliknya keluyuran ikut kaum persilatan yang tak keruan, heran aku akan jalan pikiranmu itu. Adanya Kang Hay-thian mau menerimamu menjadi murid, tentu karena kau tak bilang sejujurnya siapa dirimu itu. Kau tentu mengaku putra lain orang."
Muka Leng-hong sebentar pucat sebentar merah, dampratnya.
"Budak bernyali besar, kau sungguh kurangajar!"
Hong Jong-liong tertawa mengejek.
"Yap-kongcu, sekalipun ayahmu sendiri tak berani memaki aku dengan kata-kata 'budak'. Memang aku menjadi komandan pengawal ayahmu, tapi aku mendapat pengangkatan dari kepala istana. Aku hanya disebut 'budak' oleh baginda saja. Ayahmu pun jeri terhadap aku, mengerti?"
Sebagai anak yang cerdas, sudah tentu Leng-hong mengerti persoalan itu.
Dengan membawa surat pengangkatan dari kepala istana itu, walaupun menjadi komandan pengawal gubernur Siamsay, tapi pada hakikatnya Hong Jong-liong itu bertugas untuk mematamatai gerak-gerik ayah Leng-hong.
Memang soal itu tak mengherankan, orang yang menjadi kaisar selamanya menaruh kecurigaan, pada diri pembesar-pembesar tinggi ia selalu menaruh mata-mata.
Jadi tidak sematamata terhadap ayah Leng-hong saja.
Jelas akan kedudukan rangkap Hong Jong-liong itu, tahulah Leng-hong kalau ia tak dapat mengagulkan sebutannya sebagai 'majikan muda', namun ia pun tak mau pulang.
"Tiap orang mempunyai cita-cita sendiri, mengapa aku tak sudi pulang menjadi putra gubernur, itu urusanku sendiri. Kau mau menyimpan rahasia untukku, aku tentu akan mengingat selamanya,"
Jawabnya kemudian.
"Terima kasih. Asal jangan coba menggunakan siasat terhadap Cu Goan itu kepadaku untuk itu aku sudah merasa berterima kasih. Yap-kongcu aku cukup mengetahui isi hatimu, kau tentu sayang urung menjadi murid Kang Hay-thian, bukan? Setelah mendapat seluruh kepandaiannya, kau akan bisa menjagoi dunia persilatan. Hehehe, memang itu lebih gagah daripada menjadi putra gubernur. Baik, karena kau sudah mengambil ketetapan begitu, akan kusempurnakan maksudmu!"
Leng-hong kaget, biasanya kalau orang persilatan mengatakan "menyempurnakan"
Itu artinya malah berlawanan. Ia mengira Hong Jong-liong tentu akan menurunkan tangan ganas, seketika pucatlah wajahnya. Hong Jong-liong tertawa gelak-gelak.
"Jangan menaruh prasangka apa-apa Yap-kongcu, kita bicara dengan baik-baik saja, asal saling menguntungkan jadilah. Kau tak halangan menjadi murid kesayangan Kang Hay-thian, aku takkan membuka rahasia dirimu, biarlah kau belajar padanya dengan hati tenteram. Setuju?!"
"Apakah yang kau artikan dengan saling menguntungkan itu?"
Leng-hong bersangsi. Jawab Hong Jong-liong.
"Lebih dulu kau ikut aku pulang menemui ayahmu, kita nanti berunding lagi, toh kudamu dapat berlari sehari seribu li, jadi hanya perlu waktu beberapa hari saja. Setelah berjumpa dengan ayahmu, setiap saat kau bebas pergi lagi. Hal itu serahkan padaku, jangan kuatir ayahmu akan menahanmu."
Leng-hong merenung sejenak, ujarnya.
"Tidak, aku tak dapat pulang."
Hong Jong-liong mengerutkan jidat.
"Yap-siauya, apakah kau benar-benar tak mau memberi sedikit muka padaku?"
"Bukan karena aku tak mau memberi muka padamu, tetapi aku takut..."
"Takut apa?"
Tukas Hong Jong-liong.
"Takut di tengah jalan bersua dengan Suhuku!"
Hong Jong-liong tertegun, katanya.
"Apakah Suhumu pergi ke Siamsay? "Ya, benar, dia menuju ke Bici. Dalam beberapa hari ini akan kembali."
"Mengapa ke Bici?"
Karena tak dapat mengelabui, terpaksa Leng-hong menerangkan bahwa Suhunya hendak menyelidiki berita Lim Jing di Bici. Hong Jong-liong tertawa meringis.
"Kau mungkin jujur, tapi apakah dia benar-benar mencari berita tentang Lim Jing? Untuk apa? Hayo, bilang lekas!"
Pikir Leng-hong, karena Hong Jong-liong ini sudah bertemu dengan Ho Lan-bing dan Lok Khik-si, ia percaya tentu sudah mendengar tentang rahasia Li Bun-sing, maka jawabnya.
"Hendak menyampaikan berita pada Lim Jing, memberitahukan tentang peristiwa Li Bun-sing."
"Siapakah yang membantu Li Bun-sing membunuh empat orang jago istana di gunung Thay-san tempo hari?"
Tanya Hong Jong-liong pula. Leng-hong tergagap menyahut.
"Ini... ini.."
"Jangan gelagapan. Aku sudah tahu kau termasuk di antaranya, dan siapa lagi yang seorang? Jika kau tak mau mengatakan, aku pun akan dapat mengetahui. Pada saat itu janganlah kau mengatakan aku kelewat ganas terhadapmu,"
Tukas Hong Jong-liong. Diam-diam Leng-hong membatin.
"Siau-toako sudah pulang ke Jwan-pak. Toh dia akan bergerak juga. Karena dia sudah berani melawan kerajaan, rasanya tiada halangan kukatakan hal itu."
"Siau Ci-wan, cucu dari Siau Ceng-hong!"
Sahutnya kemudian.
"Bagus! Aku hendak bertanya lagi, ketika menutup mata, apa pesan Li Bun-sing kepadamu?"
Sudah tentu pesan itu ada, ialah tentang kode-kode untuk mencari hubungan, Li Bun-sing sudah mengadakan persetujuan dengan pemimpin-pemimpin gerakan melawan pemerintah Cing di beberapa tempat.
Di kemudian hari jika bukan dia sendiri yang datang, orang lain harus menggunakan kode pengenal diri itu.
Lenghong insyaf betapa pentingnya kode itu.
Betapa dia takut mati, tapi untuk saat itu dia tetap tak berani mengatakannya.
Tetapi dia seorang licin, hatinya takut namun sikapnya pura-pura tenang sekali, sahutnya.
"Li Bun-sing seorang persilatan kawakan, meskipun aku melepaskan budi membantunya, tapi aku baru saja kenal dia, masakah dia percaya begitu saja memberitahukan rahasianya."
"Masakah dia sama sekali tak mengadakan penyerahan pada angkatan muda?"
Tanya Hong Jongliong.
"Ada sih ada, dia hanya memasrahkan putranya kepada kami supaya bisa diterima menjadi murid Suhuku,"
Jawab Leng-hong. Hong Jong-liong sudah kenyang pengalaman, mana ucapan Leng-hong yang sungguh-sungguh dan mana yang dusta, ia dapat mengetahui, pikirnya.
"Anak ini sungguh licin sekali, tetapi tak baik kalau kelewat kudesak. Biarlah lebih dulu lunak kemudian keras, supaya dia tahu kelihaianku."
"Yap-kongcu, apakah kau sungguh-sungguh tak mau pulang,"
Tanyanya pula.
"Setelah selesai pelajaranku, dengan sendirinya aku akan pulang."
"Kau takut Kang Hay-thian mengetahui rahasiamu dan akan mengusirmu?"
Tanya Hong Jong-liong pula.
"Benar, memang begitu. Karena itu aku takut pulang sekarang, kuatir kalau bersua Suhu di tengah jalan. Jika tahu aku berjalan bersamamu, dia tentu akan bertanya dan itu berbahaya. Hong-thongleng, kelak di kemudian hari aku tak nanti melupakan kebaikanmu, akan kuberi sebuah pelajaran ilmu silat yang sakti padamu!"
Hong Jong-liong menyahut dengan dingin saja.
"Sekarang aku sudah berumur 52 tahun. Untuk belajar ilmu silat baru, rasanya sukar berhasil, aku tak mengharapkan kebaikanmu itu."
Leng-hong bingung, serunya.
"Habis apa yang kau minta? Asal tenagaku dapat mengerjakan____"
Hong Jong-liong tertawa gelak-gelak.
"Yap-kongcu, kalau ingin bebas itu mudah saja. Sejak saat ini setiap waktu aku akan mengirim orang untuk menghubungimu. Konco-konco yang dikenal Kang Hay-thian itu semua gembong-gembong pemberontak, berita apa yang kau ketahui, sampaikanlah padaku. Begitu kau meluluskan, segera akan kuberitahu tentang cara-cara kita berhubungan."
Kejut Leng-hong bukan kepalang, serunya.
"Ini ... ini berarti kau hendak memperalat diriku menjadi matamata?"
"Benar, aku memang menghendaki kau bersembunyi di rumah keluarga Kang. Jika tidak, masa kubiarkan kau tetap menjadi muridnya?"
Merah selebar muka Leng-hong, ia merasa tersinggung sekali.
"Kau kelewat menghina aku, lebih baik bunuh saja aku!"
Teriaknya.
Memang sewaktu Lenghong minggat dari rumahnya, ia mempunyai anganangan yang luhur.
Dia dilahirkan di keluarga pembesar negeri, sejak kecil cerdas dan tangkas sehingga disayang oleh ayah-bundanya.
Selama ini ia belum tahu bagaimana penderitaan rakyat jelata, bagaimana tujuan perjuangan untuk negara dan bangsa.
Kemudian ia mendapat didikan dari seorang guru, guru itu pandai dalam ilmu sastra dan silat, seorang pejuang kemerdekaan.
Karena menghindari kejaran pemerintah Cing, ia ganti nama dan menyelundup ke dalam keluarga pembesar dan menjadi guru.
Kala itu ayah Leng-hong menjabat sebagai residen Siang-yang.
Adalah atas pembinaan guru itu, Leng-hong mulai mengerti keadilan, mengerti juga tentang kenegaraan.
Di dalam kantor residen, jika orang mau memperhatikan sedikit saja, tentu akan segera mengerti bagaimana tindakan sewenang-wenang dari pemerintah yang menindas rakyatnya.
Pernah untuk hal-hal yang tak adil itu Leng-hong cekcok mulut dengan ayahnya.
"Anak kecil tahu apa? Ayahmu menjadi pengawal kerajaan, setiap rakyat yang tak tunduk pada undangundang raja, tentu akan kutindak. Asal raja memuji kebijaksanaanku, peduli apa rakyat tak puas padaku?"
Begitulah karena kalah berdebat akhirnya ayah Lenghong mengalah Tahu ia bercekcok dengan ayahnya, guru she Jui itu malah menasehatinya supaya bersabar, supaya belajar kepandaian yang tinggi dulu baru kelak melaksanakan angan-angannya.
Ilmu silat guru Jui itu tidak seberapa tinggi, karena itu ia menganjurkan Leng-hong supaya minta ajaran jago-jago pengawal pribadi ayahnya.
Memang kawanan jago-jago asalnya dari guru-guru silat ternama dari beberapa daerah atau pejabat-pejabat besar yang dijatuhi hukuman mati tapi secara diam-diam dibebaskan oleh ayah Leng-hong untuk dijadikan pengawalnya.
Baca Juga: Tujuh Pembunuh 2
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 3