Eps 5 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Di antaranya Leng-hong pernah belajar silat pada Chit-roh-tui-hun-chiu Cu Goan.
Adanya guru Jui menyuruh Leng-hong bersabar juga ada kepentingan bagi dirinya, ialah supaya ayah Lenghong jangan sampai mencurigai dirinya (guru Jui).
Tetapi di luar dugaan, memang ayah Leng-hong sudah curiga padanya, maka ia segera bertindak.
Diam-diam ia menyuruh orang memata-matai gerak-gerik guru itu, di lain pihak ia menanyai putranya, apa saja yang diajarkan guru itu kepada Leng-hong.
Cara dan waktunya mengajukan pertanyaan sedemikian rupa hingga Leng-hong tidak curiga.
Tetapi Leng-hong memang cerdas sekali, ia tak membuka rahasia gurunya.
Kemudian setelah bertemu gurunya ia segera menceritakan pertanyaan-pertanyaan ayahnya.
Guru Jui tahu gelagat sudah tidak mengizinkan untuk tinggal lebih lama di situ, buru-buru ia ambil putusan untuk pergi.
Leng-hong mendapat akal bagus untuk membantu gurunya lolos, tetapi ia minta supaya guru itu suka membawanya bersama-sama pergi, kalau tidak, ia pun tak mau membantu.
Guru Jui sayang kepada Leng-hong, memikirkan juga akan keselamatan sendiri, akhirnya ia meluluskan.
Begitulah pada suatu malam Leng-hong mengundang beberapa pengawal yang berkepandaian tinggi untuk minum arak, ia taburkan obat tidur dalam arak itu.
Sebenarnya cara begitu sering digunakan oleh kaum persilatan picisan, seorang persilatan yang berkepandaian tinggi tentu tak mudah dikelabui, tetapi karena beberapa pengawal itu tak menyangka kalau putra residen bakal menggunakan cara begitu rendah, akhirnya mereka termakan tipu Leng-hong juga.
Dan sejak itulah Leng-hong mengikuti guru Jui berkelana di dunia persilatan.
Memang Leng-hong pada kala itu penuh dengan citacita yang luhur, hendak berjuang mengusir penjajah, membangun kerajaan baru.
Tetapi dia dibesarkan di dalam keluarga pembesar negeri, ayahnya seorang menteri yang ternama, maka betapa besar indoktrinasi yang diberikan gurunya, tetap belum dapat menghilangkan dasar-dasar pendidikan rumah tangganya.
Itulah sebabnya di dalam cita-cita perjuangannya untuk bangsa dan negara, ia tetap mempunyai ambisi pribadi.
Tetapi bahwa pada saat itu Hong Jong-liong menyuruh dia menjadi mata-mata gelap di dalam keluarga Kang, sungguh dirasakan suatu penghinaan besar padanya.
Dalam gejolak amarahnya, darahnya meluap-luap dan bersumpah biar mati tak sudi menerima.
Inilah suatu hal yang tak terduga-duga sama sekali oleh Hong Jong-liong!
Hong Jong-liong memicingkan mata memandangnya, ia tertawa mengekek.
"Yap-kongcu, tak perlu kuturun tangan membunuhmu. Cukup kuberitahukan pada Kang Hay-thian tentang perbuatanmu malam ini serta kuterangkan siapa dirimu, hehe, kurasa Kang Hay-thian tentu tak gampang mengampunimu, ha? Terhadapku, mungkin kau akan mati secara perwira, tapi jika Suhumu melenyapkan kepandaianmu dan mengusirmu, hehehe, kau tentu akan menjadi orang cacad selamanya, di sanasini akan dinista orang sebagai manusia rendah yang menjual sahabat!"
Tersirap darah Leng-hong, memang apa yang dikatakan Hong Jong-liong itu bukan ancaman kosong.
Jika dia melakukan hal itu, Suhunya tentu bakal menghukumnya.
Kalau tidak dibunuh, paling tidak tentu akan dibikin cacad seumur hidup, ini lebih meneerikan daripada kematian.
Kembali Hong Jong-liong tertawa dingin.
"Yap-kongcu, pikirlah dengan kepala dingin. Kurasa lebih baik kita bekerja sama, aku berjanji takkan membuka rahasiamu kepada Kang Hay-thian. Kau boleh terus belajar ilmu silat sakti, di samping diam-diam dapat membantu pada kerajaan. Dalam hal ini, kedua pihak akan mendapat keuntungan yane memuaskan!"
Hati Leng-hong seperti dikili-kili, dengan susah payah barulah ia dapat diterima menjadi murid Kang Hay-thian, bagaimana dengan begitu saja ia merusak hari depannya?
Dan pula sang Sumoay yang jelita, mana ia dapat melepaskannya?
Beberapa kali ibu gurunya dalam pembicaraan sudah memberi perlambang hendak menjodohkan putrinya kepadanya, tetapi kalau ia menolak permintaan Hong Jong-liong, tentu Hong Jongliong akan menggagalkan perjodohan itu.
Sekali ia diusir oleh Suhunya, habislah segala-galanya.
"Untuk sementara ini baiklah kuterima, kukerjakan atau tidak, akan kuputuskan belakangan. Setelah menyelesaikan pelajaran silat, segera kucari kesempatan untuk membunuhnya dan akan dapatlah aku bebas dari ancamannya,"
Leng-hong menimang-nimang dalam hati.
Dalam tatapan mata dan senyum Hong Jong-liong yang tajam, lunglailah semangat Leng-hong.
Dia bagaikan ayam sabung yang kalah, akhirnya ia berkatalah dengan serta merta.
"Hong-thongleng, kau menang. Aku menurut padamu."
Namun agaknya Hong Jong-liong dapat membaca isi hati Leng-hong, serunya.
"Kita bekerja sama dengan saling menguntungkan. Yap-kongcu, aku tak takut kau akan menyiasati. Rahasiamu tak nanti kuberitahukan pada Suhumu, tetapi kutulis sepucuk surat pada komandan Gi-lim-kun sebagai kesaksian rahasia. Dengan begitu percuma saja sekalipun kelak kau hendak membunuh aku. Sejak sekarang kau harus mendengar perintahku, mengerti?"
Wajah Leng-hong menggelap, dia yang biasanya selalu cerdas kali ini benar-benar ketemu batunya.
Selanjutnya di hari-hari mendatang, mungkin sukar untuk lolos dari cengkeraman mereka.
Tetapi tak ada lain pilihan lagi bagi Leng-hong, terpaksa ia tertawa pahit.
"Hong-thongleng, kau banyak curiga, bagaimana aku dapat mempunyai pikiran mencelakaimu?"
Ia memang takut sekali dengan orang she Hong itu, lebih lekas pergi, lebih baik. Tapi ternyata Hong Jong-liong masih belum mau melepaskannya, waktu Leng-hong hendak minta diri, buru-buru ia mencegah.
"He, mengapa terburu-buru? Aku masih ada omongan lagi."
Apa boleh buat, terpaksa Leng-hong duduk kembali, Hong Jong-liong menepuk-nepuk bahunya, katanya.
"Yap-kongcu, kita bekerja sama. Untuk itu harus ada kesungguhan hati baru bisa berhasil, jika kau tak mau bicara jujur, bagaimana aku dapat mempercayai kejujuranmu?"
Yap Leng-hong menebalkan muka menyahut.
"Bilakah aku berbohong?"
"Tentang Siau Ci-wan yang kau katakan tadi, dia bersekongkol dengan Leng Thian-lok dan Leng Thiat-kian di Siau-kim-jwan untuk memberontak, tapi kau tak mengatakan padaku! Kutahu kalian berdua erat sekali hubungannya, masakah kau berani mengatakan kalau tak tahu?"
Leng-hong tersengat kaget, pikirnya.
"Mengapa dia tahu urusan itu?"
Akhirnya terpaksa ia membantah.
"Kau tadi tak menanyakan, aku pun tak ingat."
Hong Jong-liong tertawa dingin.
"Baiklah, kita lewatkan urusan itu. Sekarang hendak kuajukan pertanyaan yang kedua. Oleh partai Thian-li-kau, Li Bunsing telah ditugaskan untuk mengadakan hubungan dengan partai-partai dan kaum pemberontak dari segala tempat. Pada saat dia menutup mata, pernah dia menyebutkan beberapa nama di hadapanmu dan Siau Ciwan. Daftar nama-nama itu ialah orang-orang yang sudah mempunyai kontak dengan dia, coba kau sebutkan nama-nama dalam daftar itu!"
Sekali ini Leng-hong seperti disambar petir kagetnya, batinnya.
"Memang! Li Bun-sing pernah mengatakan nama beberapa orang, orang yang telah setuju untuk mengadakan kode kontak bersama. Li Bun-sing belum sempat memberitahukan hal itu pada Cong-thocu, tapi kalau aku tak menyebut nama barang satu atau dua orang dalam daftar itu, tentulah Hong Jong-liong tak percaya!"
Hong Jong-liong tertawa gelak-gelak.
"Yap-kongcu, kau tentu kaget dan heran bagaimana aku tahu hal itu, bukan? Terus terang kukatakan, Siau Ci-wan sudah jatuh di tangan kami, karena tak kuat menahan siksaan, akhirnya ia mengaku semua. Sekarang aku hanya akan mencocokkan padamu, akan kulihat apakah kau berlaku jujur atau tidak?"
Leng-hong terombang-ambing dalam kegelisahan. Semula ia berpendapat seorang lelaki seperti Siau Ci-wan mana sudi mengaku, tapi pada lain saat ia beranggapan lain.
"Sedangkan semut saja rindu akan hidup, apalagi manus.ia. Dikuatirkan dalam keadaan terjepit, Siau-toako terpaksa mengaku juga. Tentang daftar nama itu, karena tak kuat menahan siksaan, ia lantas menyebut saja beberapa nama dengan sembarangan."
Mana dia tahu Hong Jong-liong hanya menggunakan siasat menggertak saja, memang licin dan licik sekali Hong Jong-liong itu.
Sebenarnya ia hanya tahu tentang gerakan Leng Thian-lok dan keponakannya di Jwan-pak serta kedudukan Li Bun-sing di Thian-li-kau.
Yang lainlain hanya analisanya sendiri berdasarkan pengalamannya.
Sekalipun tak benar seluruhnya, tetapi 7-8 bagian memang mendekati kebenaran.
Mengenai tertangkapnya Siau Ci-wan, sama sekali hanya isapan jempolnya saja.
Yang menyedihkan adalah Leng-hong, dia takut mati, maka dengan ukuran seorang rendah ia telah mengukur seorang perwira atau mengukur baju orang dengan baju sendiri.
Dia menganggap, pribadi Siau Ci-wan itu tentu sama dengan dirinya.
Mata Hong Jong-liong berkilat-kilat menatap Lenghong, katanya dengan nada dingin sekali.
"Siau Ci-wan sudah mengaku tentang dirimu, sebaliknya kau masih menutupi dirinya!"
Leng-hong menggigit gigi kencang-kencang, sahutnya.
"Baik, akan kuterangkan apa yang kuketahui padamu!"
"Bagus, begitulah baru benar!"
Hong Jong-liong tertawa gelak-gelak.
"Sewaktu hendak menutup mata Li Bun-sing memang telah menyebutkan beberapa nama, tetapi tiada daftar sama sekali. Aku tak berbohong."
"Sebutkan saja nama orang-orang itu,"
Kata Hong Jong-liong.
"Ji Thian-tik dan Leng Thian-lok dari Jwan-pak, Thio Su-liong dan Thio Han-tiau dari Siampak, Kwe Su-oh dari Soatang, Khu Giok dari Kisi di Soasay. Itulah nama-nama yang dikatakan Li Bun-sing,"
Kata Leng-hong. Mata Hong Jong-liong melotot.
"Masakah hanya enam orang?"
"Keenam orang itulah yang sudah ada kontak dengan Li Bun-sing, tapi belum lagi sempat diberitahukan pada Cong-hocu (pemimpin). Yang lain-lain, karena Thian-likau sudah banyak mengetahui maka tak perlu ia mengatakan, kau terlalu banyak curiga, terlalu kurangajar!"
Leng-hong menutupi ketakutannya dengan marah-marah.
"Yap-kongcu, bukannya aku tak percaya padamu. Melainkan aku kuatir kau lupa dan kelewatan menyebut nama yang lain,"
Hong Jong-liong tertawa seraya menepuk-nepuk bahu si anak muda.
"Kau suruh aku menyebut semua orang yang tiada hubungannya? Perbuatan yang amoral itu, aku tak sudi melakukan!"
Teriak Leng-hong sekuat-kuatnya.
"Sudah tentu, sudah tentu!"
Buru-buru Hong Jongliong menyabarkan.
"betapapun kau ini murid utama Kang Hay-thian, seorang pendekar budiman. Mana aku berani memaksamu mencelakai orang yang tak berdosa? Di belakang hari kita masih harus banyak berhubungan. Kesalahanku hari ini harap Yap-kongcu suka memberi maaf!"
Sebenarnya Leng-hong sudah mengucurkan keringat dingin, tapi demi mendengar Hong Jong-liong rupanya percaya padanya, barulah ia lega.
Kiranya ia memang menyembunyikan beberapa orang penting dan yang mempunyai kepentingan dengan pertandaan sandi (kode) itu.
Keenam orang yang dikatakan tadi, misalnya Thio Su-liong yang menjadi kepala dari Cong-liong-poh di Bici, sudah diketahui rahasianya oleh pihak kerajaan karena menyembunyikan Lim Jing.
Ia rasa tiada halangan menyebut orang she Thio itu.
Thio Han-tiau adalah saudara misan Thio Su-liong, karena Cong-liong-poh sudah dirampas pemerintah, Thio Su-liong tentu akan memberitahu saudara misannya itu supaya bersembunyi.
Tentang Leng Thian-lok dan Ji Thian-tik, karena memang sudah mempersiapkan gerakan melawan pemerintah, tentu saat itu sudah mulai bergerak.
Jadi tak kuatir diketahui pihak kerajaan.
Sedang yang seorang lagi, Kwe Su-oh, kabarnya sudah lama tiada di desanya.
Mengenai Khu Giok, karena sudah masuk dalam Thian-li-kau, tentu akan dilindungi oleh organisasi itu.
Begitulah setelah berpikir masak-masak barulah Lenghong menyebut nama keenam orang itu.
Karena terjepit, Leng-hong terpaksa mengatakan keenam orang itu yang menurut pertimbangannya tentu takkan membahayakan keselamatan mereka.
Meskipun dalam hati tidak enak karena merasa berbuat khianat, namun ia merasa terhibur juga.
Jauh dari pikirannya bahwa dengan menyebutkan nama keenam orang itu, bukan saja merugikan perjuangan kaum pejuang kemerdekaan, juga berarti dia sendiri masuk makin dalam ke jurang perangkap yang curam!
Setelah Hong-Jong-liong mengucapkan beberapa perkataan dengan nada ramah, Leng-hong mengira kalau sudah selesai.
Siapa tahu Hong Jong-liong masih tertawa menahannya.
"Nanti dulu, Yap-kongcu. Masih ada suatu hal yang penting."
Tergetar perasaan Leng-hong karena mengira orang tentu mengetahui kebohongannya, segera ia berseru sengit.
"Apa yang kuketahui telah kukatakan semua. Kau masih mau bertanya apa lagi?"
"Memang bagianmu telah kau katakan, tetapi aku masih belum menyelesaikan kata-kataku kepadamu. Bagaimana cara kita nanti mengadakan hubungan, bukankah suatu hal yang penting dibicarakan juga? Mengapa tak kau tanyakan sejelas-jelasnya? Mengapa kau lantas buru-buru hendak pergi? Agaknya terhadap persekutuan kita ini kau tak mempunyai kesungguhan hati!"
Bahwa ternyata lain hal yang dikemukakan Hong Jong-liong, membuat Leng-hong lega dan tertawa.
"Kau tahu aku ini putra seorang gubernur, mana aku mengerti tentang ilmu klenik dari golongan orang seperti kau. Baiklah, anggap saja aku teledor tak berpikir sampai di situ. Hong-tayjin, silakan memberi titah!"
Buru-buru Hong Jong-liong memberi hormat dengan kedua tangannya.
"Putra gubernur, tak berani aku menerima sanjungan tuan yang begitu tinggi. Menurut kedudukan, kau adalah majikan muda. Kata-kata 'titah' itu rasanya lebih tepat untuk pihakmu, baiklah tuan muda, karena kau menitahkan supaya kuterangkan tentang caranya, harap dengarkanlah.
"Di kota Tang-ping, kami membuka sebuah rumah arak, setiap kali ada berita dari rumah Suhumu, harap kau pura-pura minum ke warung itu, pelayan-pelayan di situ tentu akan menanyaimu. Tentang kata-kata sandi yang kita pergunakan, baiklah kita atur begini. Jika kusuruh seseorang mencarimu, tanda yang dipergunakan ialah 'matahari rembulan tiada bersinar'. Hehehe, kawanan pemberontak itu hendak 'melawan Jing membangun Beng', maka hendak kusuruh mereka 'matahari rembulan tiada bersinar7. Apakah kau mengerti? Apakah kau dapat mengingat?"
Leng-hong mengeluh dalam hati, namun ia menghias mulut dengan senyuman.
"Ya, aku ingat,"
Sahutnya. Hong Jong-liong tertawa lebar, kemudian naik ke atas kudanya, ujarnya.
"Yap-kongcu, kau sungguh seorang cerdik. Bila nanti kulaporkan pada gubernur, beliau tentu akan memujimu. Tahukah kau bahwa kesediaanmu menjadi 'orang dalam' di rumah keluarga Kang itu, bukan saja membantu padaku, juga membantu ayahmu! Pemerintah mengeluarkan titah akan memindah ayahmu menjabat gubernur di Sujwan. Tujuan utama ialah hendak menghadapi Leng Thian-lok dan Siau Ci-wan serta kawanan pemberontak itu. Pinjamkanlah kudamu ini padaku, aku perlu buru-buru menghadapi ayahmu!"
Setelah Hong Jong-liong pergi, barulah Leng-hong tersirap kaget.
"Dia mengatakan ayah hendak menggempur Leng Thian-lok dan Siau Ci-wan? Astaga, kiranya Siau-toako tidak jatuh ke tangan mereka, aku kena ditipunya."
Leng-hong benar-benar gelisah, di atas kudanya ia coba menghibur diri.
"Untung aku tak memberitahu dua patah sandi itu. Keenam orang yang kusebut itupun belum tentu dapat mereka tangkap. Hanya saja sejak saat ini aku mempunyai hutang moril kepada mereka, ah, bagaimana baiknya ini?"
Dalam bayang-bayang kegelisahan itu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya bayangan si jelita Kang Hiau hu, batinnya.
"Ah, urusan besok pikirkan besok saja. Hiau-hu Sumoay tak nanti curiga padaku. Aku harus buru-buru pulang dan berusaha sekuatnya untuk mengambil muka pada Subo. Jadikan dulu urusan pernikahan itu, baru nanti bicara lagi. Aku murid utama, pula menjadi menantu keluarga Kang, sekalipun aku mempunyai kesalahan, mengingat betapa sayang Suhu terhadap keluarganya, rasanya tak nanti ia akan menindak aku. Ya, benar, begitu sajalah!"
Kalau Leng-hong bergegas pulang untuk menjalankan rencananya supaya lekas menjadi menantu keluarga Kang, adalah Suhunya (Kang Hay-thian) cemas memikirkan keselamatannya.
Karena membawa To-kan, terpaksa Hay-thian berjalan hanya 100 li sehari, ia kuatir anak itu akan kecapaian.
Ketika tiba di hotel Leng-hong, total dari waktu berpisah dengan Leng-hong dan datang lagi itu beriumlah 18 hari, padahal ia berjanji pada Leng-hong akan kembali dalam waktu 8 hari.
Leng-hong sudah pergi dari hotel dan masih meninggalkan sewa kamar beberapa hari yang belum dibayar.
Pemilik hotel yang masih ingat pada Kang Haythian, begitu melihat dia datang, terus saja menariknya dan meminta supaya melunasi hutang Leng-hong.
Heran Kang Hay-thian dibuatnya, ia meminta keterangan mengapa sebelum membayar rekening Leng-hong sudah pergi.
Pada malam itu karena hendak meloloskan diri dari kejaran Ho Lan-bing dan kawan-kawan, habis mendorong jatuh Utti Keng, Leng-hong terus kembali ke hotel dan cepat-cepat melarikan diri.
Sudah tentu pemilik hotel tak mengerti jelas persoalannya, tetapi tentang peristiwa tentara pemerintah hendak mengadakan penangkapan pada buronan, pemilik hotel itu tahu juga.
Malam itu mereka menutup hotel dan bersembunyi di dalam kamar kasir untuk menunggu kedatangan tentara pemerintah, karena itulah mereka tak mengetahui Lenghong sudah lolos secara diam-diam.
Hanya saja ketika Leng-hong bertempur melawan Ho Lan-bing di depan hotel, pemilik hotel itu mendengar juga.
Walaupun bukan seorang persilatan, tapi pemilik hotel itu sedikit banyak mengerti tentang urusan kaum persilatan, ia menaruh curiga Leng-hong itu seorang buronan negara.
Ia tak takut kepada Kang Hay-thian dan terus terang menceritakan peristiwa malam itu, setelah itu ia lantas membuka rekening Leng-hong dinaikkan tiga kali lipat.
Memang dia rakus uang, tapi tak sampai membikin susah Kang Hay-thian, Kang Hay-thian pun segera melunasi rekening muridnya itu.
"Memilik kepandaian Leng-hong, kalau hanya kaum keroco biasa saja tentu dapat dilawannya. Dikuatirkan dia berhadapan dengan jago-jago istana dari tingkat golongan seperti Co Bong. Pemilik hotel ini mengatakan mendengar kedua ekor kudaku itu meringkik tapi tak tahu Leng-hong dapat melarikan diri atau jatuh ke tangan musuh,"
Pikirnya.
Putra Li Bun-sing belum ketemu, kini Leng-hong juga menghilang.
Kang Hay-thian sungguh gelisah sekali, tapi karena ia tak berhasil memperoleh keterangan siapasiapa yang bertempur dengan Leng-hong, terpaksa ia meninggalkan kota itu.
Ia harap berkat pergaulannya yang luas nantinya akan memperoleh keterangan dari beberapa sahabatnya.
Dan jika tetap tak mendapat berita apa-apa, ia ambil keputusan akan pulang dulu untuk mengatur tempat bagi To-kan.
Dalam perjalanan itu banyak sudah ia mengunjungi beberapa tokoh-tokoh ternama, memang mereka mengatakan telah mendengar berita tentang bakal adanya gerakan jago-jago istana yang akan lewat di daerah mereka, tapi para anak buah mereka menyatakan tak pernah bertemu dengan Leng-hong dan kuda sakti yang dinaikinya itu.
Beberapa hari kemudian, Hay-thian tiba-tiba bertemu di tengah jalan dengan dua orang, kala itu dia bersama To-kan lewat di kaki gunung Lu-liang.
sekonyongkonyong dari atas gunung terdengar orang memanggilnya.
"Kang-tayhiap, Lo-siu (aku yang tua) sudah menanti lama di sini. Naiklah kemari, sudikah?"
Kang Hay-thian merasa cukup kenal baik dengan nada orang itu, tetapi ia tak ingat siapa, pikirnya.
"Orang itu menggunakan ilmu Lwekang Coan-im-jip-bit dan membahasakan dirinya dengan sebutan 'Lo-siu'. Dia tentu seorang Lodanpwe persilatan."
Ia segera menyahut menyatakan kesediaannya, sembari menjinjing To-kan, ia segera lari ke atas gunung, ke tempat datangnya suara itu.
"Eh. dimana orang itu? Mengapa aku tak melihatnya?"
Ujar To-kan.
"Itu, lihatlah!"
Kang Hay-thian tertawa. Karena ia menggunakan ilmu Pat-poh-kan-sian, To-kan merasa kakinya tak menginjak tanah seperti terbang.
"He, Cianpwe apa segala? Masakah kau tak kenal lagi pada pengemis tua ini?"
Orang tadi tertawa gelak-gelak.
Ketika Kang Hay-thian menghentikan larinya, orang itupun sudah muncul di hadapannya.
Ah, kiranya Tiong Tiang-thong, ketua Kay-pang.
Tiong Tiang-thong ini adalah sahabat baik ayah angkat Kang Hay-thian yang bernama Hoa Thian-hong.
Juga bersahabat erat dengan Suhu Kang Hay-thian.
Dahulu Kang Hay-thian ikut adik angkatnya, Hoa Hun-pik, memanggil ketua Kay-pang itu dengan sebutan 'paman'.
Paling akhir keluarga Hay-thian berjumpa dengan pengemis itu di tempat keluarga In di desa In-keh-ceng.
Sampai sekarang pertemuan itu sudah dua puluh tahun berselang.
Tak kepalang girang Kang Hay-thian, serta merta ia maju memberi hormat.
"Paman Tiong, Pangcu, kiranya kaulah!"
Setelah Kay-pang sekte selatan dan utara bergabung, Tiong-Tiang-thong menggantikan Ek Tiong-bo menjadi ketua Kay-pang.
Hubungan Kay-pang dengan Bin-sanpay erat sekali, dalam perjumpaan itu, untuk sesaat Kang Hay-thian bingung mencari panggilan yang sesuai, maka setelah menyebut 'paman', lalu ia pun memanggil 'Pangcu' (ketua) pula.
Tiong Tiang-thong tertawa.
"Ah, sungguh cepat sekali jalannya waktu. Kau yang dulu masih seorang bocah ingusan sekarang sudah menjadi seorang Tayhiap. Apakah bocah laki itu muridmu?"
"Paman ketua, kata sanjunganmu 'Tayhiap' itu sungguh menyiksa hatiku. Anak ini bernama Lim To-kan, putra Lim Jing, ketua Thian-li-kau. Kan-ji, lekas memberi hormat kepada Siok-kong (paman kakek)."
Sambil mengusap-usap batok kepala To-kan, Tiangthong tertawa.
"Ayahnya seorang jantan dan gagah perwira, muridmu sungguh tak mengecewakan. Muridku yang pertama, apakah kau sudah pernah bertemu?"
Seorang pengemis muda, tepat pada saat itu lantas muncul.
Kang Hay-thian kenal dia, ialah Goan It-tiong, murid kepala Tiong Tiang-thong.
Beberapa bulan yang lalu Kang Hay-thian pernah berjumpa dengannya di markas cabang Kay-pang di Tek-ciu.
Pada wajah Goan It-tiong terdapat sebuah guratan bekas luka.
Ketika tempo hari bertemu dengannya.
Kang Hay-thian ingat kalau luka itu belum ada, terang adalah luka baru.
Kang Hay-thian merasa heran, batinnya.
"Kaypang adalah partai besar nomor satu. Di dalam cabang Kay-pang, Goan It-tiong menduduki kursi ketiga. Siapakah yang berani menggurat luka pada mukanya itu?"
"Hiantit, apakah pulangmu ini karena mendengar sesuatu berita?"
Tanya Tiong Tiang-thong.
"Berita apa?"
Hay-thian balas bertanya.
"Pada waktu belakangan ini dimana-mana mulai timbul gerakan melawan pemerintah Cing. Untuk menjaga jangan sampai partai-partai persilatan mengadakan hubungan dengan gerakan itu, maka kawanan perwira Gi-lim-kun dan jago-jago istana keluar untuk menyelidiki gerak-gerik partai-partai persilatan. Kay-pang dan Binsan-pay terutama menjadi incaran mereka. Istrimu adalah ahli waris Bin-san-pay. Kukira kau sudah mendengar berita ini, maka lantas buru-buru pulang untuk membantu istrimu."
"Memang Bin-san-pay selamanya menjadi duri di mata pemerintah Cing, hal itulah sudah kuduga. Aku memang hendak lekas pulang, tetapi masih bisa ditunda satu-dua hari lagi. Apakah yang terjadi pada Kay-pang?"
Tanya Hay-thian. Tiong Tiang-thong berwatak blak-blakan, ujarnya.
"Kau dapat menebak jitu. Adanya kutunggu kedatanganmu di sini, pertama, karena sudah lama tak bertemu, kedua, memang ada sedikit kesulitan. Jika kau tak ada urusan penting, akan kuminta kau menemani aku untuk bertemu dengan seseorang."
"Apakah kawanan alap-alap kerajaan yang membikin susah padamu?"
Tanya Kang Hay-thian.
Dalam pikirannya, kecuali pemerintah Cing, siapa lagi yang berani menandingi Kay-pang yang besar pengaruhnya.
Siapa tahu kali ini dugaannya salah.
Tiong Tiang-thong tertawa dan menjawab.
"Aku si pengemis tua ini tiada tentu tempat tinggalku, antekantek itu tak mudah mencari aku. Mereka hanya dapat meluaskan jaringan untuk menyelidiki gerak-gerik Kaypang. Tapi orang yang mengadu-biru, bertekad hendak menantang aku berkelahi."
Kang Hay-thian terkejut.
"Siapa orang yang bernyali besar itu? Mengapa ia tak tahu diri berani menantang berkelahi pada paman?"
Tiong Tiang-thong tertawa dingin.
"Dia minta aku supaya datang minta maaf padanya! Bukankah itu berarti hendak menantang padaku!"
Kang Hay-thian makin kaget.
"Sungguh tak tahu adat! Tetapi bagaimanakah urusannya?"
Bukan saja Kay-pang itu merupakan organisasi terbesar di dunia persilatan, juga Tiong Tiang-thong itu juga seorang tokoh terkemuka dalam persilatan.
Dua puluh tahun berselang, ilmunya Khun-goan-it-khi-kang telah menggegerkan dunia persilatan.
Apalagi sekarang tentu makin sempurna, entah berapa puluh kali lipat dahsyatnya dibanding dulu.
Maka Tiong Tiang-thong mulai bercerita.
"Puncak Thian-pit-nia di gunung Lu-liang ada tumbuh sejenis rumput obat, yakni sejenis ramuan obat luka yang paling manjur. Tiga puluh tahun yang lalu ketika aku berlalu di situ, kutemukan rumput itu. Kupetik sedikit dan kuberikan pada ayah angkatmu Hoa Thian-hong supaya ditanam di kebunnya. Tak lupa juga kuberitahukan resep ramuannya. Sejak itu tak pernah lagi kudatang ke Thian-pit-nia. Pertama, karena enggan mendaki puncak yang berbahaya itu. Dan kedua, karena luka kena senjata tajam atau api dapat kuobati dengan obat biasa. Karena diliputi kesibukan terus menerus, aku tak punya waktu juga dan enggan menyuruh anak murid Kay-pang memetik rumput di Thian-pit-nia itu.
"Sekali ini adalah Kwe Su-oh dari kota Ih-sing yang telah membentuk barisan pembebasan untuk mengusir penjajahan. Dia minta kepadaku supaya membuatkan obat Kim-jong-yok (obat luka) dalam jumlah besar dan yang manjur, segera aku teringat akan rumput obat di Thian-pit-nia itu. Setelah tiga puluh tahun, tentulah rumput itu akan sudah tumbuh lebat, dan ini sungguh memenuhi kebutuhan.
"Kusuruh Goan It-tiong dengan empat orang murid menuju ke Thian-pit-nia. Keempat murid itu aku sendiri yang memilih, kepandaiannya tak mengecewakan. Kukira memetik rumput di gunung yang tiada pemiliknya tentulah mudah. Siapa tahu ternyata mereka mendapat kesulitan. It-tiong, coba kau tuturkan pengalamanmu pada Kang-tayhiap,"
Ketua Kay-pang itu menyudahi keterangannya. Maka berkatalah Goan It-tiong.
"Baru saja kami berlima naik ke Thian-pit-nia dan belum lagi menemukan rumput yang dimaksud Suhu itu, kami bertemu dengan sepasang muda-mudi. Mereka baru berumur 16-17 tahun, pemuda itu garang sekali, begitu melihat kami dia terus mencaci-maki. Ia mengusir kami katanya tempat itu terlarang bagi orang luar. Tahukah kami sekarang bahwa Thian-pit-nia itu sekarang sudah di tempati orang. Kami pun segera menuturkan maksud kami kepada mereka.
"Aneh, sekalipun mereka tinggal di situ, toh tak boleh mengangkangi hak atas gunung itu dan menganggap diri sebagai pemiliknya. Dan pula rumput itu bukan mereka yang menanam, mengapa melarang orang dan tak boleh mengambilnya,"
Kata Kang Hay-thian.
"Aku pun mengatakan begitu kepadanya, tetapi anak muda yang belum hilang pupuknya itu, tak mau menerima alasan kami. Kami menggunakan lidah, dia terus hendak menggunakan tangan,"
Kata Goan It-tiong.
"Apakah perkelahian itu lantas menyebabkan datangnya pemilik Thian-pit-nia?"
Tanya Hay-thian.
Goan It-tiong adalah jago nomor tiga dalam Kay-pang, yang berkelahi dengan dia itu hanya seorang jejaka umur 16-an tahun.
Kang Hay-thian mengira Goan It-tiang tentu menang dan akan datang bantuan dari pihak Thian-pit nia sehingga menyebabkan Goan It-tiong kalah dengan membawa luka di mukanya itu.
Tetapi dugaannya ternyata salah.
Dengan wajah kemalu-maluan, Goan It-tiong berkata.
"Tidak, anak yang belum hilang pupuknya itu ternyata ganas sekali kepandaiannya. Semula aku masih memaafkan mengingat usianya yang semuda itu. Tetapi ternyata begitu bergebrak ia sudah menggunakan ilmu Hunkin-jo-jiu-hoat. Aku hampir saja menderita luka berat, untung aku masih punya Khun-goan-it-khi-kang untuk melindungi tubuh sehingga tak sampai konyol."
"Apakah kau tak tahu dari golongan mana anak itu?"
Tanya Hay-thian. Goan It-tiong makin kikuk, ujarnya.
"Wanpwe picik pengalaman, jadi tak mengetahui golongannya!"
Kang Hay-thian minta dia supaya melanjutkan penuturannya. Kata Goan It-tiong.
"Setelah aku dapat memperbaiki posisiku, aku bertempur lagi, kesudahannya hanya seri saja. Tapi celakanya, Sute kami berempat itu dapat ditotok jalan darahnya oleh si dara!"
Kejut Kang Hay-thian tak terkira.
Tadi Tiong Tiangthong mengatakan kalau keempat murid itu dia sendiri juga memilih berdasarkan kepandaiannya.
Kalau Tiong Tiang-thong mengatakan 'kepandaian mereka tak mengecewakan' itu, paling tidak tentu seimbang dengan jago persilatan kelas dua.
Tetapi masakah seorang dara dalam waktu yang singkat saja sudah dapat membikin mereka tak berdaya?
Sungguh suatu kejadian yang mengejutkan!
Goan It-tiong melanjutkan pula.
"Dalam keadaan gugup, aku segera mengeluarkan seluruh kepandaianku menyerang anak muda itu. Maksudku hendak lekas menolong keempat Suteku itu, tetapi sudah terlambat. Keempat Suteku sudah kena tertotok roboh, kemudian si dara berlari datang mengeroyok aku.
"Anak muda itu kena pukulanku dan mungkin menderita luka sedikit. Rupanya dia marah sekali, lalu mencabut golok terus membacok punggungku. Aku berputar tubuh hendak menangkis, tetapi kalah cepat, mukaku kena dibacoknya. Si dara dengan gerakan cepat segera merebut golok adik misannya itu, sedang tangannya yang satu dipakai untuk menotok jalan darahku."
Kang Hay-thian cepat menyeletuk.
"Mengapa kau tahu mereka adalah saudara misan?"
"Setelah tertangkap barulah kutahu mereka saling membahasakan Taci dan adik misan,"
Sahut Goan Ittiong.
"Bukankah yang anak laki itu bernama Nyo Hoan dan si dara Siangkoan Wan?"
Tiba-tiba To-kan berseru.
"Hiantit, kiranya kau tahu riwayat keluarga yang berdiam di Thian-pit-nia itu,"
Tiong Tiang-thong berseru girang.
"Bulan yang lalu memang aku pernah berjumpa dengan sepasang anak laki perempuan yang berkepandaian tinggi. Mereka juga membahasakan Taci dan adik misan. Menurut keterangan It-tiong tadi, umur, kepandaian dan perangai kedua anak itu memang persis seperti yang kujumpai itu. Tetapi aku belum tahu aliran perguruan dan Suhu mereka,"
Sahut Hay-thian.
"Menilik gelagatnya memang mereka itu seperti yang dijumpai Kang-tayhiap. Mereka tak mau menyebut nama, hanya saja penghuni Thian-pit-nia itu memang benar memakai she ganda Siangkoan dan bernama Thay,"
Kata It-tiong.
"Baik, coba tuturkan lagi pengalamanmu selama ditawan dan bagaimana dilepaskan lagi,"
Kata Hay-thian.
"Setelah merebut golok adik misannya, dara itu berkata, 'Beberapa pengemis ini berkepandaian tinggi, mereka dapat naik ke puncak sini tentulah mereka bukan orang sembarangan. Tak boleh menjadi hakim sendiri, serahkan pada ayahku saja!'. Si bocah laki menyahut, 'Memang hendak kuserahkan pada paman, tapi tadi karena dia memukul aku, saking gemasku lantas kubacok mukanya. Apakah kau mengira aku sungguh-sungguh hendak membunuhnya?'. Si dara lantas mengikat kami berlima dengan rotan dan membawa pulang,"
Demikian kata It-tiong.
Karena Kang Hay-thian dianggap sebagai anggota keluarga Kay-pang, maka Goan It-tiong tak malu untuk menceritakan peristiwanya.
Supaya Kang Hay-thian mengetahui jelas, ia bercerita apa adanya.
Hanya saja ketika menceritakan dirinya diikat si dara, tak urung mukanya tersipu-sipu merah juga.
"Orang pandai masih ada yang lebih pandai, di atas langit masih ada langit. Orang yang berkecimpung di dunia persilatan, siapakah yang belum pernah mengalami cidera. Semasa muda, aku pun pernah beberapa kali diringkus orang. Dalam hal itu janganlah Goan-sute merasa malu, lalu bagaimana kelanjutannya?"
Kata Kang Hay-thian.
"Kemudian ayah dara itu memeriksa aku. Takut membikin malu perguruan, aku tak mau bilang siapa Suhuku. Tetapi dia licin benar, kami ditanya satu per satu secara terpisah. Entah siapa di antara Sute kami yang telanjur membocorkan, setelah mengetahui siapa diriku, dia sendiri yang melepaskan aku dengan pesan supaya menyampaikan pada Suhu bahwa dia bernama Siangkoan Thay. Dia ... dia ... ah itu sungguh suatu penghinaan besar."
Tiong Tiang-thong segera menyambung.
"Siangkoan Thay menyuruhku meminta maaf kepadanya barulah dia nanti mau melepaskan keempat murid Kay-pang itu. Sepanjang sejarah belum pernah Kay-pang menerima hinaan begitu rupa, nyata Siangkoan Thay itu hendak menantang aku berkelahi, hendak menghina Kay-pang. Namun sekalipun dia bersikap begitu, dia masih tetap mematuhi peraturan dunia persilatan. Karenanya aku pun sungkan untuk mengundang bantuan dari sahabatsahabat persilatan. Dalam hal itu bukan berarti aku mengabaikan dia dan tidak membuat persiapanpersiapan. Hiantit, jika pergi bersamamu, hatiku sungguh mantap sekali!"
"Urusan ini sungguh aneh. Entah orang manakah Siangkoan Thay itu hingga sengaja mencari perkara padamu. Hanya saja, putrinya dan anak laki she Nyo itu pernah melepas budi padaku,"
Sahut Kang Hay-thian.
Tiong Tiang-thong tercengang heran.
Kang Hay-thian diakui kaum persilatan sebagai jago nomor satu, pergaulannya luas sekali.
Sukar sekali orang hendak mencelakainya, tetapi mengapa dia menerima budi seorang dara dan seorang anak muda?
Sekalipun mulut Kang Hay-thian sendiri yang mengatakan, hampir saja Tiong Tiang-thong tak percaya, namun ia tahu Kang Hay-thian seorang lelaki yang tegas jujur, apa yang dikatakan tentu tak bohong.
Pada lain saat tertawalah Tiong Tiang-thong.
"Jika Hiantit merasa tak leluasa, baiklah tak usah turut pergi."
Kang Hay-thian tertawa.
"Sekalipun tak ada urusan paman ini, aku memang hendak mencari orang itu."
Ia lantas menuturkan tentang peristiwa yang dialaminya di Bici. Kini baru tahulah Tiong Tiang-thong aoa yang dikatakan Kang Hay-thian tentang menerima budi dari kedua muda-mudi itu.
"Sebenarnya meskipun kala itu Suhu tak dapat bergerak, namun kawanan petugas itu tak dapat melukai Suhu juga. Jika bicara tentang budi, hanya akulah yang menerima budi mereka. Apalagi Suhu juga sudah diamdiam menolong jiwa Nyo Hoan, sayang mereka tak tahu,"
Demikian To-kan menyeletuk.
"Ah, itu bukan seperti orang jual beli, mana boleh aku ngotot terhadap kaum muda dengan mengatakan aku sudah membalas budinya? Betapapun kita sudah menerima kebaikannya, tetapi budi yang kuterima dengan hinaan yang ditujukan pada Tiong-pangcu adalah dua hal yang berbeda. Hanya saja karena Siangkoan Thay itu ayah dari Siangkoan Wan, kuharap Tiongpangcu suka memberi sedikit muka padaku untuk menjadi orang perantara. Asal Siangkoan Thay mau melepaskan orang Kay-pang, kurasa kita pun juga harus menganggap urusan sudah selesai sampai di situ saja,"
Kata Hay-thian.
"Baiklah,"
Jawab Tiong Tiang-thong.
"Suhu, apakah kali ini kita dapat mencari tahu keadaan engkoh Li,"
Tanya To-kan "Eh siapakah engkoh Li itu?"
Sela Tiong Tiang-thong. Kang Hay-thian mengatakan kalau itu adalah putra dari Li Bun-sing. Rupanya Tiong Tiang-thong juga sudah mengetahui tentang Deristiwa Kone-he. tanyanya.
"Apakah sampai sekarang belum diketahui dia berada dimana?"
"Sudah ada sedikit jejaknya. Marilah kita bicara sambil berjalan,"
Kata Hay-thian. Setelah menceritakan kelanjutan dari peristiwa Li Kong-he, berkatalah Kang Hay-thian.
"Kini dia jatuh ke tangan orang she Tiok, dijadikan kacung oleh keluarga gadis Tiok. Yang dapat diketahui sekarang ialah Siangkoan Thay, ayah dari Nyo Hoan serta ayah gadis she Tiok itu, merupakan tiga serangkai saudara ipar. Mereka bertiga memang aneh sekali gerak-geriknya, tak kenal peri-kemanusiaan. Tapi biar bagaimanapun aku tetap hendak menyelidiki sampai jelas, hanya saja dalam urusan ini biarlah paman yang menjadi peran utama. Setelah urusan kami selesai, barulah aku hendak menanyakan hal itu pada Siangkoan Thay."
Mereka menggunakan ilmu Ginkang, sambil bercakapcakap tanpa terasa mereka sudah tiba di bawah puncak Thian-pit-nia.
Dari jauh tampak sebuah rumah batu, dari atas gunung ada orang yang melemparkan sebuah batu kecil sambil berseru.
"Hai, siapakah yang berani datang ke gunung ini?"
"Ai, jangan kau menakuti orang, biar aku yang bicara,"
Terdengar suara lengking seorang anak perempuan, kemudian serunya lebih lanjut.
"Thian-pit-nia tak boleh didatangi orang luar. Kalau mau mencari daun obat, pergi ke lain tempat saja."
Habis berkata ia pun menimpukkan sebuah batu untuk mengejar batu orang pertama tadi.
Batu yang pertama kena terhantam hancur oleh batu si dara, agaknya dara itu mempunyai maksud baik agar orang yang di bawah puncak itu jangan sampai kena lemparan batu, maka batu orang pertama tadi menjadi melenceng jalannya.
Tiong Tiang-thong marah ia melontarkan Pik-khongciang hingga batu sebesar mangkuk itu mencelat ke udara dan meledak hancur berkeping-keping!
Itu saja Tiong Tiang-thong masih mengingat kebaikan si nona, coba jika tidak, dia tentu akan mengirim balik batu itu kepada pengirimnya.
"Pangcu dari Kay-pang, Tiong Tiang-thong menepati janji menghadap Siangkoan-siancu!"
Tiong Tiang-thong berseru lantang, suaranya segera berkumandang dan menimbulkan gema di empat penjuru.
Memang Tiong Tiang-thong menggunakan Lwekang Coan-seng-jip-bit untuk mencoba kepandaian Siangkoan Thay.
Ia ingin mengetahui bagaimana reaksinya.
Seperti diketahui, suara yang dilancarkan dari bawah ke atas lebih sukar daripada atas ke bawah.
Ia percaya seruannya tadi tentu mengiang di telinga Siangkoan Thay.
Kalau orang she Siangkoan itu tak mampu mengimbangi kekuatannya, berarti kalah "Ya, sudah tahu, suruh tetamu itu naik ke atas gunung!"
Terdengar suara yang bernada congkak.
Katakata yang separuh di bagian muka itu untuk jawaban Tiong Tiang-thong, sedang yang bagian belakang perintah kepada putrinya.
Jelas bagaimana jumawa tuan rumah dapat dilihat dari kata-katanya yang menggunakan ucapan 'silakan'.
Sekalipun congkak, tapi nyata kalau tuan rumah berilmu tinggi, setiap patah katanya berat bagai batu menindih telinga, jantung pun ikut bergetar.
Kang Haythian, Tiong Tiang-thong memang tak kena apa-apa, tapi yang celaka adalah Goan It-tiong dan Lim To-kan.
Buruburu mereka menyumpal telinga masing-masing.
Diam-diam Kang Hay-thian membatin bahwa kepandaian orang she Siangkoan itu ternyata tak di bawah Tiong Tiang-thong.
Seketika itu ia tersenyum, ujarnya.
"Dia menggunakan ilmu Say-cu-thong (auman singa) dari perguruan agama. Dahulu Coan Bi Taysu dari Secong (Tibet) juga memiliki ilmu semacam itu. Sekarang sudah jarang yang bisa."
Tampaknya ia hanya bicara pada Tiong Tiang-thong, tapi Siangkoan Thay yang berada di dalam rumah jelas mendengarnya. Diam-diam dia terperanjat.
"Eh, siapakah orang itu? Hanya sepatah kata kuucapkan, dia lantas mengetahui aliran kepandaianku? Terang kepandaiannya di atasku!"
Ketika rombongan Kang Hay-thian tiba di puncak, mereka disambut oleh seorang dara berumur 16-an tahun dan seorang lelaki.
Si dara itu bukan lain ialah Siangkoan Wan, sedang si lelaki tentu pengurus rumah tangga ayah si dara.
Rupanya Siangkoan Wan juga tak lupa pada Kang Hay-thian dan To-kan, tegurnya.
"Eh, kalian tahu aku tinggal di sini?"
Ia mengira kedua orang itu hendak mencarinya untuk menghaturkan terima kasih. To-kan tertawa.
"Suhuku mempunyai keahlian untuk meramal, dia meramal dan tahu kau tinggal di sini, maka sengaja datang hendak menghaturkan terima kasih."
Siangkoan Wan tertawa mengikik, tukasnya.
"Ai, kau setan cilik ini memang pandai melucu."
Kata Kang Hay-thian.
"Tiong-pangcu adalah sahabatku. Kami tak menduga akan bertemu di jalan, katanya Siangkoan-siancu telah mengundangnya. Karena ingin berjumpa dengan Ko-jin (orang sakti) di zaman ini, maka aku pun ikut menyertainya. Tak terkira kalau Siangkoan-siancu itu ayahmu, sungguh kebetulan sekali. Tapi takkan kulupakan untuk menghaturkan terima kasih padamu."
Pengurus rumah tangga itu berkata dengan nada dingin.
"Kalau begitu, kalian ini bukan kaum Kay-pang? Hehe, karena sudah tahu majikanku itu Ko-jin pada zaman ini, seharusnya kau tahu, tak nanti dia mau menemui orang yang bukan golongan Ko-jin. Yang diundang majikanku ialah Tiong-pangcu, bukan kau. Lekas kau turun gunung agar jangan mendapat kesulitan."
Tiong Tiang-thong membeliakkan mata.
"Kau punya mata tapi tak dapat melihat gunung Thaysan. Kau tahu siapa dia? Dia "Aku hanya seorang keroco, tapi adalah sahabat Tiong-pangcu. Mungkin dengan memandang muka Tiong-pangcu, majikanmu itu suka menemui aku juga. Jika memang majikanmu yang menyuruh aku pergi, sudah tentu aku akan menurut,"
Buru-buru Hay-thian menanggapi. Tiong Tiang-thong mendengus.
"Hm, mulutmu selalu tergila-gila menyebut Ko-jin. Tapi berapa orang Ko-jinkah yang kau kenal? Sudahlah, aku tak mau melayani kau, jangan banyak bicara, lekas bawa kami pada majikanmu!"
Memang setelah mendengar betapa dahsyat ilmu Khun-goan-it-khi-kang yang digerungkan Tiong Tiangthong tadi, pengurus rumah itu sudah jeri terhadap ketua Kay-pang itu.
Dibentak oleh ketua pengemis, ia tersipusipu menyahut.
"Tiong-pangcu, jangan marah. Kami orang bawahan ini hanya menurutkan aturan yang ditetapkan majikan saja. Jika sahabatmu menyertai kau, mari silakan."
Dalam batin pengurus rumah itu menyumpahi Kang Hay-thian yang tak tahu diri, maka biar dia nanti tahu rasa.
Memang dia tak tahu siapa Kang Hay-thian, jago nomor satu yang lebih unggul dari majikannya.
Siangkoan Wan mempunyai kesan baik terhadap Tokan, ujarnya.
"Jangan takut, jika ayah hendak membikin susah padamu, nanti aku yang mintakan kebebasan, tetapi kau harus ingat suatu hal."
"Hal apa?"
Tanya To-kan. Siangkoan Wan membisiki.
"Di hadapan ayahku jangan sekali-kali kau menyanjung Suhumu sebagai Tayhiap. Kepada aku sih tak apa kau bicara begitu, tetapi di hadapan ayahku, sekali kau menyebut kata-kata itu, ayah tentu akan menantang berkelahi pada Suhumu dan aku pun tak berdaya menolong Suhumu lagi."
To-kan lantas membantah.
"Tapi Suhuku itu memang "Benar, memang aku tak sembabat disebut Tayhiap. Kan-ji mengapa kau tak membilang terima kasih kepada nona yang memberi peringatan baik padamu?"
Tukas Kang Hay-thian.
"Ya, terima kasih nona,"
Kata To-kan, yang segera tertawa mengikik. Tiong Tiang-thong pun turut tertawa geli. Kerlinean mata Sianckoan Wan berkeliaran, teeurnya.
"Apa yang kalian tertawakan?"
"Tak apa-apa, kami hanya merasa geli saja,"
Sahut Tiang-thong.
"Hm, apakah kau juga geli karena adik kecil itu menyanjung Suhunya setinggi langit?"
Tanya Siangkoan Wan.
Tiong Tiang-thong mengiyakan saja, tapi ia kembali tertawa.
Sudah tentu Siangkoan Wan tak mengetahui yang ditertawakan itu bukan To-kan, melainkan dirinya yang tak kenal siapa Kang Hay-thian sebenarnya itu.
"Eh, mana Nyo-kongcu itu?"
Tanya Kang Hay-thian.
"Adik misanku itu? Ah, sayang, kemarin baru saja dia pulang,"
Sahut Siangkoan Wan. Setelah merenung sejenak, ia tertawa.
"Tetapi juga kebetulan sekali. Ketika kau bilang hendak memberi pelajaran silat padanya, dia marah-marah dan mengatakan kau tak tahu diri, dia merasa terhina. Untung sekarang dia sudah pulang, coba jika tidak, tentu dia akan minta ayahku memberi hajaran padamu."
"Ya, aku salah bicara, aku menyesal sekali. Harap nona maafkan,"
Kata Kang Hay-thian. Pada waktu bicara itu, mereka sudah tiba di muka rumah. Dua buah tembok melingkari rumah itu seperti bentuk gendewa. Bangunannya kokoh, mirip benteng.
"Ketua Kay-pang sudah tiba!"
Teriak si pengurus rumah.
Berada di kandang sendiri pengurus rumah itu menjadi garang dan kurangajar, ketua Kay-pang dianggapnya sebagai seorang pesakitan saja.
Tiong Tiang-thong menahan kemarahannya.
Tiba-tiba terdengar suara tuan rumah Siangkoan Thay berseru nyaring.
"Budak goblok, ketua Kay-pang sudah berkunjung mengapa tak lekas mempersilakan masuk? Mengapa perlu melapor lagi?"
Setelah mendengar Lwekang suara Tiong Tiang-thong dan Kang Hay-thian tadi, kini orang she Siangkoan itu berubah menghormat sikapnya. Bisik Siangkoan Wan.
"Agaknya ayah sudah memandang lain pada kalian, sungguh suatu hal yang jarang terjadi. Agaknya dia takkan membikin susah pada kalian."
Dengan murung si pengurus rumah segera mempersilakan para tetamunya masuk.
Maka tertampaklah seorang lelaki berumur 50-an tahun bertubuh kekar duduk di tengah ruangan.
Begitu rombongan tamu masuk, dia pun lantas berbangkit memberi hormat, ujarnya.
"Apakah tuan ini Tiongpangcu?"
Tiong Tiang-thong tersipu-sipu balas memberi hormat dan. mengiakan. Sorot mata tuan rumah menyapa pada rombongan tetamu dan berhenti menatap Kang Haythian, ia agak terkesiap, pikirnya.
"Orang ini gagah perkasa. Yang mengatakan asal-usulku tadi tentulah orang ini."
Setelah mengawasi tajam beberapa jenak, bertanyalah Siangkoan Thay.
"Apakah sahabat ini "Aku yang rendah adalah Kang Hay-thian dari Tangping di Soatang,"
Buru-buru Kang Hay-thian menanggapi.
Ia tak mau plintat-plintut di hadapan Siangkoan Thay.
Ia menyatakan terus terang siapa dirinya.
Tiong Tiang-thong dan Goan It-tiong mengawasi bagaimana reaksi tuan rumah ketika mendengar nama Kang Hay-thian yang termasyhur di dunia persilatan itu.
Mereka yakin tuan rumah tentu akan terkejut, siapa tahu Siangkoan Thay hanya mengerutkan alis dan dengan nada heran menggumam sendiri.
"Kang Hay-thian? Nama ini agaknya aku pernah dengar dari orang? O, benar, benar! Wan-ji, tuan Kang ini adalah orang yang kau dan adik misanmu jumpai ketika di Bici itu, bukan?"
Tanggapan itu sungguh di luar dugaan Tiong Tiangthong, bahwasanya Siangkoan Thay mendengar nama Kang Hay-thian itu karena diberitahu oleh Nyo Hoan.
Nyata dari nadanya, Siangkoan Thay sendiri belum kenal siapa Kang Hay-thian itu.
Diam-diam Tiang-thong heran.
"Eh, apakah Siangkoan Thay itu sejak dua puluh tahun sudah tinggal di Thian-pit-nia sini dan tak pernah turun ke masyarakat ramai? Apakah selamanya dia tak pernah punya sahabat? Masakah tokoh seperti Kang Hay-thian tidak dia ketahui sama sekali!"
Siangkoan Wan menjadi kuatir malah, pikirnya.
"Celaka, celaka. Tadi aku lupa memesan supaya dia pakai nama palsu saja. Adik misanku telah menceritakan kejadian tempo hari, ayah tentu akan mencoba kepandaiannya."
Terpaksa ia mengiakan dan mengatakan kalau Kang Hay-thian itu datang karena hendak menghaturkan terima kasih kepada Nyo Hoan. Nyata ia hendak melindungi Kang Hay-thian. Siangkoan Thay tertawa.
"Hm, dengan sedikit kepandaian kalian begitu saja mampu menolong tuan Kang? Janggal benar!"
"Memang benar putri dan keponakanmu itu telah menolong aku. Jika tiada bantuan mereka, aku dengan muridku tentu sudah jatuh ke tangan kawanan alap-alap kerajaan!"
Kata Kang Hay-thian bersungguh-sungguh. Siangkoan Thay agak tak percaya, ujarnya.
"Kalau begitu adanya, kau hendak memberi pelajaran silat pada Nyo Hoan karena hendak membalas budi? Atau karena kau tahu aliran perguruannya, lantas kau mempunyai rencana akan menerimanya sebagai murid?"
Tak tahu Kang Hay-thian apa yang dimaksudkan itu, tetapi dari nadanya dia curiga kalau orang mempunyai rencana busuk, sahutnya.
"Aku memang tak tahu diri, maksudku itu hanya membuat orang tertawa saja, tetapi sesekali aku tak mempunyai itikad buruk?"
"Yah, memang dia tak tahu asal-usul kita. Tadi dia pun sudah meminta maaf padaku atas kesalahan omong tempo hari,"
Kata Siangkoan Thay.
"Tuan Kang, keponakanku itu masih kecil, tak mengerti apa-apa. Dia benar-benar mengecewakan maksudmu yang baik,"
Kata Siangkoan Thay.
"tetapi sekalipun dia tak punya rezeki menerima pelajaranmu, tetap akan kusuruh dia menghaturkan terima kasih kepadamu."
Ia angsurkan tangan untuk berjabatan dengan Kang Hay-thian.
Memang hal itu sudah lazim, tapi di samping itupun dapat juga untuk menguji tenaga orang.
Terpaksa Kang Hay-thian mengangsurkan tangannya juga.
Siangkoan Thay memiliki ilmu Toa-hoan-ciu-in-kang dari aliran Bit-cong di Secong.
Gunanya khusus untuk melukai urat dan jalan darah orang.
Sekali tenaga dilancarkan, akan mendampar seperti gelombang yang tak putus-putus.
Kang Hay-thian terperanjat, pikirnya.
"Kepandaian orang ini lebih unggul dari ilmu Tay-sengpoan-yak-ciang Yap Tiong-siau tempo dulu. Jika aku tak meyakinkan Lwekang dua aliran Cing dan Sia (baik dan jahat) tentu tak mampu menghadapinya!"
Begitulah gelombang demi gelombang Lwekang Siangkoang Thay melancar sampai sembilan kali, yang satu lebih dahsyat dari yang lain.
tetapi setiap kali arus Lwekang mendampar, dirasakan seperti mengalir ke dalam lautan.
Tanpa bersuara tenaga itu lenyap sirna dan tak dapat mengembangkan kedahsyatannya.
Sekarang baru untuk pertama kali itu Siangkoan Thay mengerti apa yang disebut 'dalamnya sukar diukur".
Lwekangnya tak dapat mengapa-apakan lawan.
Tapi lawan pun tak mau balas mendamparkan tenaganya.
Sampai dimana kesempurnaan ilmu Kang Hay-thian, dia sungguh tak dapat menjajakinya.
Tapi jelas sudah bahwa kepandaian orang she Kang itu lebih tinggi dari dirinya.
Adalah karena mempunyai itikad baik untuk menjadi orang penengah, maka Kang Hay-thian tak mau membikin malu tuan rumah.
Coba dia berlaku kejam, asal mendampar balikkan Lwekangnya, hanya dua kesudahan bagi orang she Siangkoan itu, mati atau luka parah.
Setelah sembilan kali melancarkan Lwekang tanpa berhasil, akhirnya Siangkoan Thay sendiri yang tercengang.
Kang Hay-thian tertawa dan melepaskan tangannya, katanya.
"Siangkoan-siancu, kau sungguh hebat!"
Betapapun orang she Siangkoan itu jumawa, namun setelah merasakan pengalaman itu, mau tak mau ia mengkeret juga nyalinya. Ia pun tertawa juga.
"Kangtayhiap barulah benar-benar orang sakti yang tak mau menunjukkan muka. Wan-ji, kau dan Nyo Hoan sungguh punya mata tapi tak lihat gunung Thay-san."
Demikianlah secara lapang dada ia memuji Kang Hay-thian, nadanya ia tetap tak menyatakan tunduk. Ini dapat dibuktikan dari perkataannya "tak melihat gunung Thay-san"
Itu adalah putri dan keponakannya, bukan dia.
Mendengar itu diam-diam Tiong Tiang-thong heran dan menyangsikan kalau-kalau percobaan adu Lwekang tadi berakhir dengan seimbang kekuatannya.
Sebaliknya Siangkoan Wan dan si pengurus rumah tangga menjadi pucat karena mendengar ayahnya menyebut Kang Hay-thian dengan kata-kata "Tayhiap", katanya.
"Yah, kukira kalau gelarannya Tayhiap itu hanya pepesan kosong belaka!"
"Kalian memang punya mata tapi tak bisa melihat. Kang-tayhiap tak mau cupet pikiran seperti kalian, maka tempo hari membiarkan kalian membanggakan diri. Apa kau kira Kang-tayhiap tempo hari sungguh-sungguh menerima pertolonganmu?"
Meski ia memang tak tahu kejadian yang sesungguhnya, tapi ia dapat menerka dengan jitu.
Sebaliknya dengan jujur Kang Hay-thian mengaku kalau tempo hari memang menerima bantuan yang berharga dari Siangkoan Wan dan Nyo Hoan.
"Lalu kedatangan Kang-tayhiap kemari ini dalam kedudukan sebagai apa?"
Siangkoan Thay hendak meminta penjelasan apakah Kang Hay-thian datang sebagai kawan Kay-pang atau sebagai tetamu Siangkoan Thay sendiri.
"Ketua Kay-pang Tiong-pangcu adalah pamanku "Hm, kiranya kau diundang oleh Kay-pang?"
Serentak Siangkoan Thay mendengus. Kang Hay-thian tertawa.
"Aku tidak diundang oleh siapa pun. Kay-pang adalah salah satu organisasi persilatan terbesar di dunia, rasanya tak perlu mencari bantuan orang luar. Siangkoan-siancu, kuminta jangan memutus omonganku dulu."
Tegas sekali ucapan Kang Hay-thian itu dan tepat pula.
Jika Kay-pang tak mau menuruti peraturan dunia persilatan, asal mengerahkan seluruh anak buahnya, sekalipun Siangkoan Thay mempunyai kepandaian menembus langit, tak nanti dia mampu lolos.
Memang maksud permintaan Tiong Tiang-thong supaya Kang Haythian suka menyertainya itu juga untuk kepentingannya.
Dia hanya minta Kang Hay-thian menjaga jangan sampai pihak Siangkoan Thay main curang.
Jika Siangkoan Thay tak menghiraukan lagi peraturan persilatan dan main keroyok, barulah Kang Hay-thian ikut campur.
Sayang Kang Hay-thian sudah dikenal oleh Siangkoan Wan, jadi tak bisa menyembunyikan dirinya lagi.
Siangkoan Thay meneguk tehnya untuk menenangkan rangsangan syarafnya, kemudian katanya perlahan.
"Lalu apa maksud kedatangan Kang-tayhiap yang sebenarnya?"
"Dengan kalian berdua aku mempunyai ikatan. Tiongpangcu adalah pamanku, tetapi putrimu telah melepas budi padaku. Maka kuminta kalian menutup urusan ini sampai di sini saja, janganlah hanya karena urusan kecil sampai merusak hubungan. Entah bagaimana pendapat Siangkoan-siancu?"
Siangkoan Thay tertawa gelak-gelak.
"Dengan memandang muka kalian berdua, sudah tentu aku sedih untuk lepas tangan. Aku hanya ingin tahu sedikit tentang keempat murid Kay-pang itu, mereka datang sendiri atau atas perintah Tiong-pangcu?"
"Akulah yang menyuruh mereka kemari untuk memetik rumput obat,"
Sahut Tiong Tiang-thong. Siangkoan Thay mengerutkan kening.
"Adanya aku menetap di Thian-pit-nia sini adalah untuk mencari ketenangan. Aku tak suka diganggu orang luar, itulah sebabnya maka aku melarang setiap pengunjung yang datang kemari. Tapi untuk keempat orang itu, karena mereka adalah anak murid Kay-pang dan Kang-tayhiap juga memintanya, maka aku pun takkan menahannya lagi. Silakan Tiong-pangcu mengambilnya."
Diam-diam ketua Kay-pang geram dalam hati, ia anggap peraturan Siangkoan Thay melarang orang datang ke Thian-pit-nia itu sungguh keterlaluan, tapi kini orang malah mengatakan dia yang mohon pertolongan.
Hanya saja karena tuan rumah sudah sedia melepaskan muridnya, dengan memandang muka Kang Hay-thian, ia tak mau menarik panjang urusan itu.
"Bahwa Siangkoan-siancu tak menghukum muridku lagi, menandakan kemurahan hati yang besar. Tetapi bagaimanakah soal memetik daun obat itu, harap Siancu meluluskan,"
Katanya kemudian.
Karena masih hendak mengambil tanaman obat di gunung situ, ia menggunakan bahasa yang halus.
Hanya ucapan kemurahan hati yang besar kedengarannya sangat menusuk telinga.
Siangkoan Thay ternyata masih mempunyai acara lagi, ia mengambil selembar kertas yang sudah ditulisi, ujarnya.
"Dengan memandang muka kalian berdua, murid-muridmu itu tak kuberi hukuman lagi, tapi hanya untuk sekali ini, lain kali lain soal. Karena mereka itu menjalankan tugas suruhan Tiong-pangcu, maka haraplah Tiong-pangcu suka membubuhkan tanda tangan selaku pernyataan bahwa urusan ini selesai sampai di sini."
Ia menyodorkan surat itu kepada Tiong Tiang-thong.
Waktu ketua Kay-pang itu mengawasinya, seketika meledaklah amarahnya.
Ternyata surat yang disiapkan Siangkoan Thay itu merupakan surat pengakuan salah, menyatakan bahwa Kay-pang mengakui tindakannya itu tidak benar dan selanjutnya berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap anak muridnya yang berani datang di daerah seluas sepuluh li dari Thian-pit-nia.
Tanpa disebut lagi, otomatis, pengambilan rumput obat itu sudah tak mungkin dilakukan pula jika surat itu sudah ditanda tangani.
Dengan muka merah padam segera Tiong Tiang-thong mengambil pena pit dan merubah kata-kata 'Kaypang' menjadi 'Siangkoan Thay' dan kata-kata 'murid Kaypang* menjadi 'anak-anak keluarga'.
Sementara baris kata-kata yang terakhir pun diganti dengan 'tak boleh mencampuri urusan orang yang naik gunung'.
Surat pernyataan bersalah yang terdiri dari beberapa puluh huruf itu, setelah diganti oleh Tiong Tiang-thong berubah menjadi 'Surat pernyataan bersalah dari pihak Siangkoan Thay'.
Kang Hay-thian semula tak tahu apa yang dicoratcoret mereka itu, ia pun sungkan untuk melihatnya, tetapi ketika melihat wajah kedua tokoh itu berubah, barulah ia tampil ke muka melihatnya.
Kejutnya bukan kepalang, Siangkoan Thay memang sombong tak tahu adat, tapi Tiong Tiang-thong juga kelewat berangasan.
Kang Hay-thian terlambat, kedua tokoh itu sudah samasama kencang uratnya.
"Siangkoan-siancu, kurasa surat itu kaulah yang selayaknya menanda tangani selaku pernyataan kalau urusan itu selesai sampai di sini,"
Demikian kata Tiong-Tiang-thong. Siangkoan Thay menyahut, begitu menerima kembali surat itu terus dirobek-robeknya.
"Siangkoan-siancu, Tiong-pangcu, harap kalian menimbang lagi masak-masak cepat Hay-thian menengahi.
"Tiada yang perlu ditimbang lagi,"
Tukas Siangkoan Thay atas bujukan Kang Hay-thian yang hendak mendamaikan urusan itu.
"Kita selesaikan urusan ini menurut peraturan persilatan, yang menang itu yang benar. Jika aku kalah, akan kutanda-tangani surat ini. Tetapi jika aku beruntung dan Tiong-pangcu suka mengalah "Aku yang menanda-tangani,"
Sahut Tiong Tiangthong.
"Baik, begitulah! Ucapan seorang lelaki, laksana kuda dicambuk. Tidak ada yang perlu disesalkan lagi!"
Kang Hay-thian masih berusaha untuk mencegah, ia minta kedua orang itu berunding lagi dengan tenang, tetapi keadaan sudah telanjur begitu. Tiong Tiang-thong terpaksa menyatakan.
"Hiantit, kalau orang lain tentu perlu kujelaskan, tapi kau tentunya sudah mengetahui jelas seluk-beluk Kay-pang. Sejak berdiri, kapan pernah mandah menerima hinaan orang? Jika urusan pribadi Tiong Tiang-thong, tentu aku suka mengalah. Tetapi aku datang kemari sebagai ketua Kaypang, kalau aku mengalah, bagaimana pertanggungjawabanku kepada leluhur-leluhur pendiri Kay-pang nanti?"
Siangkoan Thay lebih congkak lagi, tak banyak bicara, ia malah menyentil Hay-thian.
"Kang-tayhiap kau minggir dan menyaksikan saja atau hendak sekalian memberi pelajaran padaku!"
"Urusan ini harus aku dan kau yang menyelesaikan. Kau tak mengundang bantuan orang lain, aku pun akan melayanimu seorang diri. Jangan merembet orang ketiga!"
Bentak Tiong Tiang-thong dengan marahnya. Siangkoan Thay tergelak-gelak.
"Tiong-pangcu benarbenar gagah perwira, aku sungguh kagum sekali. Kalau begitu, harap Kang-tayhiap menjadi saksi saja!"
Sebenarnya ia juga jeri terhadap Kang Hay-thian, sengaja ia ucapkan kata-kata tadi supaya Tiong Tiangthong panas dan mau mengeluarkan pernyataannya.
Kang Hay-thian tak puas dengan sikap tuan rumah yang begitu congkak, ia anggap belum tentu Tiong Tiang-thong kalah dengan orang itu, maka ia memutuskan akan membiarkan mereka bertempur dulu, melihat gelagat bagaimana nanti barulah ia turun tangan.
Siangkoan Thay mempersilakan tamunya menuju ke sebuah tanah lapang, ternyata lapangan itu memang biasa digunakan untuk berlatih silat.
Mendengar majikannya hendak bertanding dengan ketua Kay-pang, semua bujang sudah berbondong-bondong keluar mengelilingi lapangan, mereka hendak memberi bantuan moril kepada sang majikan.
Setelah berdiri di tengah lapangan, Siangkoan Thay memberi hormat dan mempersilakan sang tamu mulai menyerang.
Meskipun dia congkak, tapi dia tak mau meninggalkan peraturan dunia persilatan.
selamanya tuan rumah harus mengalah lebih dulu kepada sang tetamu.
"Apakah pertandingan ini dilakukan sampai ada yang roboh?"
Tanya Tiong Tiang-thong. Siangkoan Thay tertawa lebar, serunya.
"Lama telah kudengar Khun-goan-it-khi-kang dari Tiong-pangcu menggetarkan seluruh dunia persilatan. Aku seorang gunung yang beruntung hari ini dapat bertemu dengan seorang kosen, harap Pangcu jangan sungkan-sungkan, silakan memberi pelajaran sepuas-puasnya, agar aku tambah pengalaman."
Terang orang she Siangkoan itu hendak mengadu kepandaian secara sungguh-sungguh dan habis-habisan dengan ketua Kay-pang.
"Ah, mana aku berani. Karena Siancu tetap menghendaki begitu, terpaksa pengemis tua ini merelakan jiwanya untuk menemani Siancu,"
Sahut Tiong Tiang-thong.
Karena masing-masing sudah menunjukkan gengsi sebagai tokoh persilatan, maka Tiong Tiang-thong menganggap sudah cukup.
Setelah selesai saling bicara, ia segera merangkapkan sepasang tangan lalu dijulurkan ke arah Siangkoan Thay seperti orang memberi hormat.
Padahal sebenarnya gerakan itu disebut Tong-cu-paykoan-im atau anak kecil memberi hormat kepada dewi Koan Im.
Jurus itu merupakan jurus pembukaan, biasanya dilakukan oleh seorang tetamu apabila berhadapan dengan tuan rumah.
Namun sekalipun gerakannya sederhana, karena Tiong Tiang-thong yang memainkan jurus itu berubah lain daripada yang lain.
Waktu dia merangkap sepasang tangan tadi, bujang-bujang keluarga Siangkoan yang berdiri mengelilingi lapangan itu seperti tersambar oleh angin yang kuat, mereka kaget dan buru-buru mundur.
"Tak usah banyak peradatan!"
Seru Siangkoan Thay seraya mengebaskan sebelah tangannya ke muka selaku orang yang menolak pemberian selamat.
Tetapi gerakan tangan itu ternyata dalam jurus permainan pedang, jika tangan Tiong Tiang-thong kena tertabas, uratnya tentu putus.
"Hm, ilmu orang ini dari aliran Sia (jahat),"
Tiong Tiang-thong membatin.
Ia pencarkan kedua tangannya dari Tong-cu-pay-koan-im berubah menjadi Im-yangsong-cong-ciang (sepasang Im dan Yang saling bentur).
Gerakan itu menerbitkan suara macam kilat menyambar.
yang diarah adalah lambung Siangkoan Thay.
"Bagus!"
Teriak Siangkoan Thay seraya berputar tubuh.
Sebuah jari tengahnya ditotokkan ke jalan darah Jiok-ti-hiat di lekuk lengan orang, sedang tangan yang lain memainkan Toa-jiu-in untuk menggempur tangan lawan.
"Bluk", terdengar suara benturan yang dahsyat. Begitu tangan mereka berbenturan, lalu sama-sama ditarik pulang. Tiong-Tiang-thong tersurut dua langkah, tubuhnya terhuyung-huyung, Siangkoan Thay berdiri tegak laksana gunung. Hanya saja ubun-ubun kepalanya mengeluarkan asap. Memang kalau tak dilihat dengan seksama, tentu sukar mengetahui asap itu. Bujang-bujang Siangkoan Thay bersorak, memang sepintas Tiong Tiang-thonglah yang kalah. Malah Goan It-tiong juga gelisah, pikirnya.
"Siangkoan Thay ternyata begitu hebat, mungkin Suhu yang sudah lanjut usia tak dapat menghadapinya!"
Tetapi ketika ia melirik ke samping, dilihatnya Kang Hay-thian tenang-tenang saja seperti biasa.
Tadi Tiong Tiang-thong menyalurkan Lwekang Khungoan-it-khi-kang ke tangannya, sebaliknya Siangkoan Thay dengan tangan sebelah melancarkan Toa-jui-inkang dengan tujuh bagian Lwekangnya.
Dan yang kena dibentur hanya sebelah tangan Tiong Tiang-thong.
Berarti Lwekang yang diadu ialah Tiong Tiang-thong 5 bagian lawan Siangkoan Thay 7 bagian.
Itulah sebabnya maka dalam benturan itu, nampaknya seolah-olah Tiong Tiang-thong yang menderita kekalahan.
Sementara totokan jari Siangkoan Thay yang menggunakan tiga bagian tenaga Lwekangnya yang lain ternyata tak mampu menotok jalan darah Tiong Tiangthong.
Sebaliknya Tiong Thian-thong malah menggunakan Lwekangnya untuk mendampar balik serangan Lwekang lawan.
Sedemikian hebat tenaga Lwekang Tiong Tiang-thong yang mengirim kembali totokan itu hingga dada Siangkoan Thay terasa sesak dibuatnya, la buru-buru menyalurkan tenaga dalam untuk mengatur kembali pernapasannya.
Uap yang mengepul dari ubun-ubun kepalanya itu ialah akibat dari pengerahan tenaga murni itu.
Sebagai seorang ahli, tahulah Kang Hay-thian siapa sebenarnya yang unggul.
Dalam hal Lwekang terang Tiong Tiang-thong lebih tinggi setingkat, tapi dalam hal ilmu kepandaian dari aliran Sia-pay, terang Siangkoan Thay lebih atas.
Yang satu putih (baik) yang satu hitam (jahat), yang sana murni dan yang sini aneka warna.
Masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri dan sukar untuk menentukan siapa yang akan menang dan kalah nanti.
"Kalau Tiong-pangcu dapat mempertahankan gaya serangannya, akhirnya tentu dialah yang akan menang,"
Kang Hay-thian diam-diam membuat penilaian.
Kalau mau, sebenarnya ia dapat menggunakan ilmu Thian-tuncoan-im untuk secara diam-diam membisikkan suaranya memberi petunjuk pada Tiong Tiang-thong, tapi itu suatu perbuatan yang kurang baik, hal itu jauh dari pikirannya.
Setelah dua kali serangan tadi berlangsung, kini masing-masing pihak tak berani memandang enteng lawannya.
Siangkoan Thay mendapat akal, ia hendak menggunakan siasat mengacaukan hati lawan.
Caranya ialah dengan bertempur sambil berteriak-teriak keras, menyerang kalang-kabut dengan sedahsyat-dahsyatnya dan setiap serangan memakai jurus-jurus yang ganas.
Sepasang kepalan tangannya merupakan dua macam senjata dengan ilmu Toan-meh-pi-khi-kang (memutuskan urat dan menutup hawa) yang khas dari perguruannya.
Sekali-kali tangannya digerakkan dalam ilmu permainan pedang Ngo-heng-kiam, dan kalau sudah mencapai detik-detik yang menentukan ia lantas merubah permainannya dalam ilmu Toa-jiu yang khusus untuk menghancurkan urat nadi lawan.
Toa-jiu-in itu paling banyak menggunakan tenaga dalam, maka tak dapat terus menerus digunakan dan memerlukan istirahat.
Tokoh seperti Tiong Tiang-thong seharusnya tahu tentang hal itu dan dapat mengambil kelemahan orang.
Tapi sayang, orang yang menonton lebih jelas dari yang menjalankan, beberapa kali ia main mundur dalam menghadapi serangan musuh.
Untuk itu bujang-bujang keluarga Siangkoan selalu memberi sorakan, memuji majikannya dan mengejek sang tetamu.
Sebagai seorang ketua Kay-pang, sudah tentu Tiang-thong malu juga.
Dan ini justru yang dikehendaki Siangkoan Thay, tapi Tiong Thiang-thong segera merubah permainannya, ia balas melancarkan serangan Khun-goan-it-khi-kang, cepat dan dahsyat.
Untung dia banyak pengalaman, walaupun menyerang tak diburu nafsu.
Posisi kaki Ngo-bun-pat-kwa dan gerak pukulannya selalu menurut arah gerak lawannya, dia tak mau terburu-buru adu kekerasan.
Di lain pihak, Siangkoan Thay juga berhati-hati, setiap ada kesempatan ia mendesak maju, tapi selekas itu mundur lagi.
Dengan begitu keduanya seperti bertempur dengan menggunakan Pik-khong-ciang tapi agak berbeda.
Jarak keduanya dekat sekali, setiap saat gerakan kosong bisa berubah menjadi serangan sungguh.
Walaupun tangan tak pernah saling berbenturan, tapi serangan-serangan yang dilancarkan dengan Pik-khong-ciang itu jauh lebih menyeramkan.
Hanya dua orang yang bertempur, tapi lapangan itu seolah-olah menjadi gelanggang pertempuran ribuan tentara.
Debu dan batu beterbangan, bayangan berseliweran.
Tiong Tiang-thong dan Siangkoan Thay menjadi berpuluh-puluh bayangan yang memenuhi empat penjuru, kecuali Kang Hay-thian, tiada seorang pun yang dapat membedakan mana ketua Kay-pang dan mana tuan rumah.
Karena tercengang menyaksikan pertempuran dahsyat yang belum pernah dilihatnya itu, lupalah kawanan bujang itu untuk bersorak.
Kang Hay-thian mulai gelisah, pikirnya.
"Sayang, Tiong-pangcu tak mengerti rahasia dengan ketenangan merebut kemenangan. Jika terus-terusan begini, mereka berdua tentu sama-sama terluka."
Tapi sebagai saksi, dia tak berhak menghentikan pertandingan itu.
Lewat beberapa saat kemudian, uap di atas ubunubun kepala Siangkoan Thay makin tebal, Tiong Tiangthong juga mandi keringat, napasnya mulai memburu.
Kang Hay-thian dapat mendengarnya jelas, tapi dia cukup kenal perangai ketua partai pengemis itu.
Jika belum ada yang kalah atau yang menang, bila ia maju menengahi, tentu dianggap mengacau oleh kedua pihak.
Tiong Tiang-thong tidak puas, Siangkoan Thay pun akan menuduhnya membantu Kay-pang.
Karena kuatir orang salah faham, terpaksa Kang Hay-thian tak berani turun tangan, namun ia gelisah sekali karena keduanya tentu akan menderita luka parah.
"Breet", tiba-tiba terdengar suara kain robek, sekonyong-konyong Siangkoan Thay berputar tubuh, selagi Tiong Tiang-thong tertegun, kelima jarinya lantas mencakar robek lengan baju Tiong Tiang-thong, kukunya dapat menggurat pergelangan tangan lawan. Tenaga guratan itu tak seberapa besar dan Lwekang Tiong Tiang-thong terlampau tangguh. Namun sekalipun demikian, pergelangan tangan adalah jalan darah yital di tubuh manusia, sedikit saja bagian itu terluka, separoh tubuh segera dirasakan agak kesemutan. Tiong Tiang-thong marah dalam hati.
"Mengingat kesopanan, aku tak mau menyerang dari belakang, tetapi bangsat itu nyata-nyata tak malu berbuat curang."
Ia menyedot napas, sekali menerjang maju, ia pentang kedua lengannya untuk melingkupi lawan.
Seluruh Lwekang dipusatkan untuk melancarkan Khun-goan-itkhi-kang.
Sebenarnya Siangkoan Thay bukannya hendak main curang untuk merebut kemenangan, jurus serangannya yang aneh itu disebut Hoan-ngo-heng-poh-hoat (ilmu anti langkah Ngo-heng).
Maksudnya untuk memecah kubu-kubu pertahanan Ngoheng-poh-hoat lawan, kemudian mengajaknya adu kekerasan.
Ia tak sabar untuk bertempur terlalu lama, maka ia keluarkan seluruh kemampuannya untuk menentukan siapa jantan dan siapa betina dengan ketua Kay-pang.
Sama sekali ia tak mengira bahwa setelah terluka tadi, Tiong Tiang-thong malah menyerang dengan dahsyat.
Dalam sibuknya ia tak dapat menghindar lagi dan terpaksa mengadu Lwekang.
Ia kerahkan sepasang tangan dengan Toa-jiu-in, belum telapak tangan kedua orang itu berbenturan, keduanya sudah merasakan dadanya seperti ditindih batu ribuan kati beratnya sehingga sesak napas.
Keduanya terkejut dan menyesal.
Siangkoan Thay sebenarnya hendak mengakhiri pertempuran dengan cara kilat, tapi dengan saling melontarkan gempuran Lwekang itu, sifat pertempuran menjadi berubah, bukan lagi menentukan siapa jantan dan siapa betina lagi, melainkan pertempuran menentukan mati dan hidup.
Siangkoan Thay terkejut, Tiong Tiang-thong pun menyesal.
Di bawah tekanan tenaga dahsyat dari lawan, ia merasa berbuat kesalahan karena terlalu menuruti kemarahan hati, Toa-jiu-in khusus untuk meremukkan urat dan jalan darah.
Adu kekuatan itu akan membawa akibat, kalau tidak mati tentu akan luka berat.
Keduanya terkejut dan menyesal dalam hati, tetapi pukulan sudah dilancarkan.
Tiada yang berani menarik pulang pukulannya karena hal itu berarti kematian, apalagi tenaga yang dilancarkan juga sudah sepenuhnya.
Taruh kata mereka mau menarik pulang juga tak dapat lagi.
Pada saat kedua tokoh itu akan mengalami bencana kematian berbareng, sekonyong-konyong sesosok tubuh memlompat ke tengah-tengah mereka.
Sekali orang itu pentang kedua tangannya ke kanan kiri "Plak-plok", pukulan Siangkoan Thay dan Tiong Tiang-thong samasama mengenai tubuh orang itu.
Orang yang menerjang bahaya itu adalah Kang Haythian.
Melihat kedua orang itu terancam kehancuran, ia tak banyak pertimbangan lagi.
Ia mandah menerima caci-maki mereka yang salah paham daripada membiarkan mereka hancur binasa.
Kang Hay-thian menggunakan tenaga kesaktiannya, tangan kiri menerima pukulan Lwekang Khun-goan-it-khikang dari Tiong Tiang-thong dan tangan kanan menyambut pukulan Toa-jiu-in dari Siangkoan Thay.
Tenaga pukulan dari kedua tokoh itu sedahsyat gelombang mendampar samudera.
Jika Kang Hay-thian menggunakan tenaga untuk menangkisnya, pukulan mereka tentu akan membal balik dan melukai mereka sendiri, karena itu Kang Hay-thian hanya menggunakan tenaga untuk mengurangi tenaga pukulan mereka.
Ia membiarkan dirinya menerima pukulan yang bagai godam kerasnya.
Khan-goan-it-khi-kang dan Toa-jiu-in adalah ilmu pukulan yang luar biasa.
Betapa sakti kepandaian Kang Hay-thian, karena serta merta menerima pukulan dahsyat itu, malah sekaligus dua, seketika itu dadanya sesak, mata berkunang-kunang dan kepala puyeng.
Hanya saja penderitanya itu telah berhasil melerai dua gembong harimau yang sedang mengadu jiwa.
Setelah terpisah, mereka rasakan tubuhnya lemah lunglai, napasnya terengah-engah.
Mereka tahu bahwa karena pengorbanan Kang Hay-thian menerjang bahaya, barulah mereka dapat diselamatkan.
Dan jelas sudah, Kang Hay-thian berdiri di tengah-tengah, tidak membantu pihak mana pun juga.
Mereka ingin menyatakan sesuatu terhadap Kang Haythian, tapi tak dapat karena napasnya sedang kembangkempis menyesakkan dada.
Lebih-lebih Siangkoan Thay, pukulan Toa-jiu-in paling menghabiskan hawa murni dalam tubuh.
Pukulannya disambut dengan tenaga sakti Kang Hay-thian, walaupun tak sampai terluka, tapi saat itu dia seperti orang sakit, mukanya pucat seperti kertas, tubuhnya lemas lunglai seperti tak bertulang.
Mengira majikannya dilukai Kang Hay-thian, maka para bujang keluarga Siangkoan menjadi geger dan panik, tetapi hanya mulutnya saja yang berteriak, karena tiada seorang pun yang berani maju ke tengah-tengah gelanggang untuk menyerang Kang Hay-thian.
Setelah menghembuskan napas longgar.
Kang Haythian hendak memberi penjelasan, tiba-tiba terdengar sebuah suitan panjang dan sesosok tubuh melayang ke gelanggang melampaui kepala orang-orang yang menonton.
"Kepandaian hebat! Tindakan yang ganas! Aku hendak minta pelajaran ilmu saudara yang hebat itu!"
Seorang tua berjenggot cabang tiga, umurnya kira-kira 50-an tahun, kakinya pincang dan mencekal sebatang tongkat bambu, tiba-tiba muncul dengan gerakan yang secepat kilat.
Kang Hay-thian terkesiap juga melihat ketangkasan orang, ia merenung.
"Tak nyana di puncak Thian-pit-nia masih terdapat seorang tokoh yang begini sakti. Rupanya dia lebih lihai dari Siangkoan Thay. Masih banyak sekali orang-orang kosen di dunia ini, yang belum kukenal entah masih berapa banyak!"
Kang Hay-thian mestinya hendak memberi penjelasan, tapi datangnya orang itu cepat bagai kilat.
Tahu-tahu ia sudah berada di hadapannya dan terus menyerang dengan tongkat, tongkat bambu segera berubah menjadi bayangan hijau persis seperti sinar kebiru-biruan hijau dari pedang.
Dia telah menggunakan jurus ilmu pedang untuk menusuk ketiga belas jalan darah di tubuh Kang Hay-thian.
Menotok jalan darah dengan ujung pedang sudah termasuk ilmu kepandaian yang luar biasa, apalagi orang itu hanya menggunakan "tongkat bambu sebagai ganti pedang.
Dalam sejurus saja, ia sudah mengancam tiga belas jalan darah, bagaimana kecepatannya, sungguh tak terperikan.
Bahkan Kang Hay-thian sendiri yang mengerti ilmu silat segala cabang aliran belum pernah menyaksikan permainan yang begitu hebat.
Tetapi kepandaian Kang Hay-thian sudah mencapai titik yang tertinggi, sekalipun orang melancarkan serangan kilat, tetapi tak dapat lepas dari pandangan matanya.
"Bagus!"
Serunya memuji sambil menjentik dengan jari tengah.
Selentikan itu tepat mengenai ujung bambu orang.
Sinar hijau buyar, beberapa saat kemudian baru berpadu lagi, bersamaan dengan lenyapnya sinar itu, jadilah sebatang tongkat bambu lagi.
Orang itu mundur selangkah, sebaliknya pergelangan tangan Kang Hay-thian terasa sedikit panas.
Orang itu berseru memuji kepandaian Kang Hay-thian, kemudian menekan tongkatnya ke tanah dan tubuhnya segera melambung ke udara.
Kali ini ia menggunakan jurus Pheng-pok-kiu-siau, memutar tongkat di udara dan melayang turun menyerang.
"Rupanya dia hendak menguji tenaga lagi. Baik, akan kuturuti kemauannya,"
Kata Kang Hay-thian dalam hati. Dia tegak berdiri bagai gunung dan menghantamkan pukulannya.
"Blak", terdengar benturan dua buah pukulan yang dahsyat. Orang itu berjumpalitan dan melayang turun, ia menginjak tanah dengan sebelah kaki dalam jurus Kimkhe-tok-lip (ayam emas berdiri dengan sebelah kaki), tongkatnya segera disodokkan ke muka lawan lagi. Dalam benturan tangan tadi. Kang Hay-thian hanya tergoyang tubuhnya tapi tak sampai menyurut mundur. Memang dalam adu pukulan itu tampaknya berimbang, tiada yang menderita kekalahan, tapi sehabis Kang Hay-thian menyambut dua pukulan sakti Siangkoan Thay dan Tiong Tiang-thong, walaupun tak sampai terluka, tapi tenaga dalam Kang Hay-thian juga berkurang banyak, jelas orang bertongkat itu mendapat kemurahan. Sekalipun begitu, karena dapat mengimbangi tenaga Kang Hay-thian, orang itu sudah tergolong jago yang jarang terdapat di dunia persilatan. Kini tongkat orang itu memapas dengan tenaga berat. Kang Hay-thian tak mau menggunakan Tan-ci-sin-thong (selentikan jari tunggal). Ia kuatir tak dapat mementalkan tongkat, maka ia gunakan saja apa yang disebut 'empat tahil menolak seribu kati'. Begitu ia kebutkan lengan bajunya, tongkat orang menyisih ke samping, tetapi sebelum lengan baju Kang Hay-thian menampar, orang itupun cepat-cepat menarik pulang tongkatnya dan terus diganti dengan permainan Hok-mopang-hoat (ilmu tongkat menundukkan iblis), ia menyapu kaki Kang Hay-thian. Hok-mo-pang-hoat sumbernya berasal dari aliran Siaulim, semacam ilmu tongkat yang dahsyat sekali. Orang itupun tenaganya besar, sebatang tongkat yang enteng bisa berubah menjadi sebuah tongkat besi yang berat, anginnya menderu-deru.
"flmu kepandaian orang ini luas sekali. Dia berharga menjadi sahabat, tapi entah bagaimana asal-usulnya?"
Pikir Kang Hay-thian.
Diam-diam ia mengerahkan Lwekang, sepasang tangannya dilingkarkan.
Aneh benar, serangan tongkat yang begitu dahsyat ternyata tak mampu menerobos lingkaran yang dijangkau tangan Kang Hay-thian, rupanya Kang Hay-thian telah memainkan ilmu Toa-simi-ciang dari Thian-san-pay.
Ilmu pukulan itu memang berguna untuk mempertahankan diri dan ini justru sesuai dengan Lwekang Kang Hay-thian yang tinggi.
Betapapun lihainya orang itu, tetap tak dapat mengunjuk keunggulan.
Sayang tenaga dalam Kang Hay-thian masih belum pulih, untuk menundukkan orang itu dalam waktu singkat memang tak mungkin.
Apakah ia mempunyai rencana untuk mengikat persahabatan dengan orang itu, maka tak mau ia mengeluarkan jurus permainan yang ganas.
Lima enam puluh gebrak, ternyata pertempuran masih berimbang.
Karena Kang Hay-thian tetap hanya bertahan dengan Toa-si-mi-ciangnya, maka sepintas tampaknya orang itu yang menang angin.
Semula Tiong Tiang-thong tak menaruh perhatian, ia mengira sebagai jago nomor satu tak mungkin orang itu bisa mengalahkan Kang Hay-thian.
Tapi pada saat itu, mau tak mau ia terkejut juga.
Sebagai seorang tokoh persilatan, jelas diketahuinya kalau pertandingan itu berimbang.
Ia tak tahu kalau sebenarnya Kang Hay-thian masih belum mau bertempur sungguh-sungguh, jadi pada hakikatnya Kang Hay-thian yang lebih unggul.
"Celaka, siapakah orang tua yang hebat kepandaiannya ini? Tadi karena menolong aku, tenaga murni Kang-hiantit masih belum pulih. Kalau bertempur lebih lama lagi, dikuatirkan ia akan menderita, tetapi saat ini aku tak dapat membantunya. Ah, bagaimana ini!"
Diam-diam ketua Kay-pang itu sibuk sendiri, saat itu napasnya sudah tak terengah-engah lagi, tapi tenaganya masih belum pulih.
Selagi gelisah, tiba-tiba tertampak Siangkoan Thay berbangkit dan tertawa gelak-gelak sambil berkata.
"Nyoheng, kau salah faham! Kang-tayhiap ini tak memusuhi aku, malah menolong jiwaku. Jika tadi dia tak turun tanean, mungkin diriku dan Tiong-pangcu sudah samasama binasa!"
Meskipun jumawa dan sombong, namun Siangkoan Thay itu seorang gembong persilatart, terhadap Kang Hay-thian yang telah menolong jiwanya, ia merasa berterima kasih sekali.
Tak mau ia membalas budi dengan permusuhan, maka setelah napasnya tenang dan dapat bicara, segera ia memberi penjelasan.
Orang itu tergelak-gelak seraya melompat keluar gelanggang, ia tancapkan tongkatnya dan berseru.
"Aku sudah tahu, apakah kau kira aku tak mengetahui? Aku memang sengaja mencoba kepandaian Kang-tayhiap. Heh, ternyata memang tak bernama kosong!"
Dari ucapannya, rupanya ia sudah mendengar kemasyhuran nama Kang Hay-thian.
"Ah, mana? Adalah atas kemurahan hati Nyolocianpwe, aku beruntung dapat mengimbangi pertandingan tadi,"
Buru-buru Kang Hay-thian mengucapkan kata-kata merendah.
Saat itu si dara Siangkoan Wan berdiri di samping si cilik To-kan, rupanya ia tahu kalau Kang Hay-thian merendah diri.
Ia melelerkan lidah lalu berbisik kepada To-kan.
"Pamanku itu lebih lihai dari ayahku. Dengan dapat bertanding seimbang dengan pamanku, bolehlah Suhumu memakai gelar Tayhiap!"
Siangkoan Thay menghaturkan terima kasih kepada Kang Hay-thian, sahut Kang Hay-thian.
"Bahwa aku lancang melerai tadi, sebenarnya sudah menyalahi kedudukan sebagai seorang saksi. Siangkoan-siancu tak menghukum diriku itu saja, aku sudah berterima kasih, mengapa Siangkoan-siancu masih perlu mengucap terima kasih padaku lagi!"
Melihat sikap orang yang sedemikian rendah hati itu, diam-diam Siangkoan Thay menyesal dalam hati, sebaliknya Tiong Tiang-thong masih penasaran. Ia melompat dan berseru.
"Dia menolongmu juga menolongku. Pertempuran kita masih belum selesai. Siangkoan-siancu, bersediakah kau menetapkan hari tantangan lagi?"
Siangkoan Thay tertegun, kemudian tertawa lebar, serunya.
"Khun-goan-it-khi-kang milik Tiong-pangcu jauh lebih sakti dari kepandaianku. Aku sungguh merasa kagum sekali! Kalau bertempur lagi, terang aku bukan tandinganmu. Tadi aku telah berjanji, karena sekarang aku kalah, maka akan kubebaskan murid-muridmu itu. Di samping itu aku hendak minta kepada Kang-tayhiap dan Tiong-pangcu sudi meminum hidangan arak selaku pernyataan kesalahan."
"Minum arak atau tidak, nanti .kita bicarakan lagi. Bagaimana dengan urusan daun obat itu?"
Kata Tiong Tiang-thong. Kembali Siangkoan Thay tertawa.
"Harap Tiongpangcu jangan kuatir. Sekarang sudah malam, besok pagi saja akan kusuruh orang-orangku untuk melayanimu. Daun obat apa yang kau kehendaki, silakan katakan saja!"
Tiong Tiang-thong hanya mengejar penasaran saja, demi mendengar orang sudah mengaku kalah, lenyaplah kemarahannya. Ia mengganti nadanya yang kaku dengan ucapan ramah.
"Ilmu silat Siangkoan-siancu sungguh luar biasa. Dalam sepuluh jurus, ada delapan yang pengemis tua ini belum pernah menyaksikan. Pengemis tua juga merasa kagum sekali?"
Ucapan itu bersifat merendah, tapi memang begitu kenyataannya. Mendapat sanjung puji, makin lapanglah dada Siangkoan Thay, ujarnya.
"Kalau begitu, jika tak bertempur kita tentu tak saling kenal."
Ia menjabat tangan ketua Kay-pang selaku tanda persahabatan, keduanya saling mengindahkan dan samasama letih.
Jabatan tangan kali ini sungguh-sungguh dalam suasana persahabatan, sekali-kali bukan menguji kepandaian.
Siangkoan Thay segera memerintahkan orangorangnya untuk membebaskan murid-murid Kay-pang, setelah itu ia memperkenalkan Kang Hay-thian dan Tiong Tiang-thong pada si orang tua pincang tadi.
"Inilah saudara iparku Nyo Ceng dan ini adalah Tiongpangcu dari Kay-pang, sedang Kang-tayhiap ini tak perlu kuperkenalkan. Nyo-heng, kedatanganmu itu sungguh kebetulan sekali!"
Kata tuan rumah.
"Aku datang mencari si Hoan, sudah beberapa bulan ia pergi belum pulang, kukuatir di luaran dia menemui bahaya. Lebih dulu aku datang pada Tiok-toako sana, Tiok-toako mengatakan anak itu pergi bersama putrimu. Beruntung hari ini aku tiba di sini, coba jika tidak, tentu tak mempunyai rezeki berkenalan dengan Kang-tayhiap,"
Jawab Nyo Ceng.
"Oh, kiranya kau sudah pergi ke tempat Tiok-heng sana?"
Siangkoan Thay menegas.
"Nama besar Kang-tayhiap ini Tiok-heng yang memberitahukan padaku. Dalam hal urusan dunia persilatan, Tiok-heng lebih banyak menaruh perhatian, tidak seperti kita yang selalu menutup diri saja,"
Sahut Nyo Ceng.
"Tiok-cianpweitu adalah..."
"Ipar kami yang paling besar,"
Lekas saja Siangkoan Thay menerangkan.
"Bukankah dia mempunyai seorang putri yang bernama Tiok Ceng-hoa?"
Tanya Kang Hay-thian.
"Eh, mengapa kau tahu?"
Siangkoan Thay heran.
"Aku mempunyai seorang calon murid, ayah-ibunya sudah meninggal, ia berkelana di dunia persilatan. Mendiang ayahnya meninggalkan pesan, suruh aku yang mendidiknya. Kabarnya anak itu sekarang berada di rumah keluarga Tiok dan dijadikan kacung oleh nona Tiok,"
Sahut Kang Hay-thian.
"Paman, aku dan adik Tiok sudah pernah berjumpa dengan Kang-tayhiap. Tentang diri adik Ceng-hoa, akulah yang mengatakan,"
Seru Siangkoan Wan.
"Oh, kiranya begitu. Kang-tayhiap, apakah calon muridmu itu bernama Li Kong-he?"
Ujar Nyo Ceng. Waktu Kang Hay-thian mengiakan, Nyo Ceng memberi komentar.
"Oh, makanya tak mengherankan."
"Tak mengherankan bagaimana?"
Tanya Kang Haythian.
"Tak mengherankan kalau anak itu tak mau jadi murid Tiok-toako, kiranya dia sudah punya seorang guru kenamaan. Tetapi jangan kuatir Kang-tayhiap, keluarga Tiok ayah dan putri rupanya sayang pada anak itu. Watak Tiok-toako memang aneh, tetapi dia tak marah biarpun ditolak Li Kong-he, dia tetap memperlakukannya dengan baik. Namanya saja sebagai kacung, tapi kenyataannya tak ubahnya seperti keponakan,"
Kata Nyo Ceng.
"Sekalipun begitu, karena sudah menerima pesan almarhum ayahnya, terpaksa akan kubawa pulang. Entah Tiok-cianpwe itu akan sudi menerima kunjunganku atau tidak?"
Ujar Hay-thian.
"Watak Tiok-toako itu aneh sekali. Jika dia ingin menemui seseorang, dia tentu akan datang sendiri, tapi kalau orang mencarinya, dia tentu tak mau keluar menemui."
Siangkoan Wan tertawa.
"Ayah dan pamanku yang kedua itu agak jeri kepada paman pertama. Jika paman pertama tak memberi pernyataan apa-apa, mereka tentu tak berani memberitahukan alamatnya kepadamu."
Diam-diam Kang Hay-thian membatin bahwa watak dari orang she Tiok itu tak jauh bedanya dengan mendiang Suhunya.
Dia mau menemui orang tapi tak mau ditemui orang, tentunya dia lebih lihai dari Siangkoan Thay dan Nyo Ceng.
Nyo Ceng mengomel.
"Jangan bermulut usil, budak. Masakah aku dan ayahmu takut pada paman Tiok?"
Mulutnya mengatakan begitu, tapi dia tetap tak mau memberitahukan alamat keluarga Tiok, jadi betul juga ucapan Siangkoan Wan. Nyo Ceng tersipu-sipu, katanya pula.
"Tiok-toako pernah bilang padaku bahwa dia sudah lama mengagumi nama Kang-tayhiap dan ingin berkenalan. Bahwa sekarang kebetulan ada urusan ini, siapa tahu bila Kangtayhiap tiba di sana, Tiok-toako sudah menunggunya."
Sengaja ia tambahkan keterangan itu agar Kang Haythian lebih tenang, di samping itu untuk menutupi dirinya yang sebenarnya tak berani mengatakan alamat orang she Tiok itu.
Kang Hay-thian lebih mementingkan masalah yang sedang dihadapi Bin-san-pay daripada berkunjung ke tempat orang she Tiok.
Maka katanya.
"Kalau begitu biarlah kutunggu kedatangan Tiok-cianpwe ke pondokku saja. Hanya apabila saudara berdua bertemu padanya, tolong sampaikan terima kasih atas perawatannya kepada muridku itu."
Si dara Siangkoan Wan kembali mengikik tawa, katanya.
"Ayah dan paman kedua ini mengatakan bahwa kepandaian paman Tiok itu tiada bandingan di dunia ini. Bahwa mereka amat mengagumi kepandaianmu, gelagatnya kau ini juga jago nomor satu di dunia. Kangtayhiap, jika kau berjumpa dengan paman Tiok dan mengadu kepandaian, wah, tentu menarik sekali."
Kang Hay-thian hanya berganda tertawa.
"Adalah karena aku tetamu maka ayah dan pamanmu ini sangat sungkan sekali. Padahal kepandaianku masih jauh dari sempurna, mana dapat menandingi pamanmu Tiok?"
"Salah, salah. .Ayahku selamanya tak pernah sungkan terhadap orang lain. Kecuali kepada paman Tiok, tak pernah ia memuji kepandaian orang lain. Sedang pamanku yang kedua itu, dia lebih congkak lagi dari ayah. Sampaipun terhadap pamanku pertama, lahirnya dia tak begitu mengindahkan, tetapi kutahu kalau dalam hati dia tunduk, maka kalau mereka sampai memuji kepandaianmu, tentulah bukan karena sungkan."
Nyo Ceng tertawa.
"Kau ini memang budak yang gemar melihat ramai-ramai. Tetapi kembali pada persoalannya, memang Tiok-toako itu mempunyai minat untuk mengukur kepandaian dengan Kang-tayhiap. Bukan aku hendak menyanjung, tetapi menurut penglihatanku, kepandaian Kang-tay-hiap ini lebih tinggi dari Tiok-toako. Adalah karena itu maka dikuatirkan ..."
"Dikuatirkan apa?"
Tukas Siangkoan Thay.
"Eh, apakah kau belum tahu? Paling akhir ini Tioktoako telah berlatih ilmu Liok-yang-jiu, dapat menggunakan tenaga Im memutuskan urat nadi orang. Jika dia sampai kalah dengan Kang-tayhiap, dikuatirkan dia lantas menggunakan ilmu itu. Sekalipun aku baru kenal dengan Kang-tayhiap, tapi aku mengindahkan sekali atas sikapnya yang suka bersahabat dengan orang. Sekali lengah, jika sampai kena dilukai Tiok-toako, aku sungguh tak rela. Liok-yang-jiu itu lihai sekali, aku sendiri tak dapat menemukan jalan untuk melawannya, tetapi jika orang berhasil meyakinkan ilmu Kim-kong-put-hoaysin-hoat (ilmu kebal), di waktu bertempur dengan dia harus lebih dulu menutup jalan darahnya sendiri, tentulah dia tak mampu mengembangkan Liok-yangjiunya."
Keterangan Nyo Ceng itu membuat Kang Hay-thian heran, pikirnya.
"Nyo Ceng masih ipar orang she Tiok, mengapa dia memberitahukan rahasia kepandaian orang she Tiok kepadaku? Ini merupakan pantangan yang paling besar dari kaum persilatan. Apakah dia benarbenar tulus hati memberi petunjuk padaku karena tak rela aku terluka? Dia bilang orang she Tiok itu hendak mengadu kepandaian dengan aku, entah benar entah tidak, tapi bagaimanapun aku ini orang luar. Jika memang ia tak ingin iparnya sampai terluka, seharusnya dia berdaya untuk melerai, tetapi mengapa dia memberitahukan rahasia kepandaian iparnya itu? Apakah dia tak kuatir"aku mengerti cara memecahkan Liok-yangjiu dan kemudian akan dapat melukai iparnya?"
Diam-diam Kang Hay-thian merasa curiga, namun lahirnya ia menghaturkan terima kasih atas keterangan Nyo Ceng itu. Ujarnya dengan tertawa.
"Dengan kepandaianku yang serendah ini, mana aku berani melayani Tiok-cianpwe. Harap saudara berdua jangan kuatir, jika nanti Tiok-cianpwe minta bertanding, aku tentu akan segera menyatakan menyerah saja."
Siangkoan Thay tertawa gelak-gelak.
"Budi pekerti Kang-tayhiap sungguh jarang terdapat, aku kagum sekali. Memang seorang yang sudah mencapai kesempurnaan, tentu tak mau sembarangan berkelahi, sekalipun Tiok-toako pernah mengatakan begitu, tapi pada hakikatnya ia hanya akan adu kepandaian secara saling tukar pengetahuan saja, tak nanti sampai matimatian."
Rupanya Nyo Ceng tak senang, serunya dingin.
"Masakah kau tak tahu watak Tiok-toako Dia mengagungkan dirinya sebagai jago nomor satu di dunia. Terhadap orang biasa, tentu ia tak mau sembarangan turun tangan, tetapi oleh kaum persilatan Kang-tayhiap juga dipandang sebagai jago nomor satu. Menilik ambisi Tiok-toako yang suka menang sendiri, mana dia mau berjajar setingkat dengan Kang-tayhiap? Dia bilang selekas dia akan menyelesaikan urusan ini, dia akan datang mencari Kang-tayhiap. Sudah tentu maksudnya akan mengadu kepandaian dengan Kang-tayhiap."
Tapi Kang Hay-thian tetap tertawa.
"Aku hanya bernama kosong, mana dapat menandingi seorang sakti. Jika berhadapan dengan Tiok-cianpwe, aku akan mengunjuk hormat selaku seorang Wanpwe. Kata pepatah, mundur selangkah angin reda gelombang tenang. Sikap mengalah akan dapat mengosongkan lautan. Percayalah, tak nanti aku mau bertempur dengan Tiok-cianpwe dan merusak persahabatan kita. Sudah jangan membicarakan hal itu lagi Nyo-locianpwe, dengan sejujurnya aku harus berterima kasih pada putramu. Tempo hari ketika dikurung dari kawanan antek-antek kerajaan, berkat pertolongannya barulah aku dan muridku terhindar dari bahaya,"
Kang Hay-thian sengaja mengalihkan pembicaraan, namun dalam hati ia tetap memikirkan kata-kata orang she Nyo tadi.
Ia menduga jangan-jangan di antara kedua ipar itu mempunyai ganjalan hati.
Memang benar Nyo Ceng mempunyai maksud untuk mengadu domba Kang Hay-thian dengan iparnya yang she Tiok itu, tapi karena Kang Hay-thian bersikap merendah, ia pun sungkan untuk kelewat mendesak, katanya.
"Aku pun ingin menanyakan persoalan anak Wan, dimanakah kau dan anak Hoan itu bertemu dengan Kang-tayhiap?"
Walaupun si dara itu lebih tua usianya dari Nyo Hoan, tapi ia juga masih kekanak-kanakan.
Waktu mengetahui bahwa ternyata Kang Hay-thian itu benar-benar seorang Tayhiap (pendekar besar) dan berulang kali menyatakan terima kasih kepadanya, girang sekali dara itu, maka ia segera menuturkan peristiwa tempo hari kepada sang paman.
"Oh, kiranya begitu,"
Nyo Ceng tertawa.
"Memang aku hendak menjadikan Ki-lian-sam-siu itu sebagai budak, tetapi mereka meloloskan diri. Tak kukira dia menghambakan diri pada kerajaan dan berani mencelakai Kang-tayhiap. Walaupun anakku itu pernah memberi sedikit bantuan pada Kang-tayhiap, tetapi masih belum berarti dapat menggantikan kesalahanku. Biarlah sekarang aku si tua ini menghaturkan maaf kepada Kang-tayhiap."
Dalam berkata-kata itu ia menyertakan muka ramah tertawa, tetapi mimiknya jelas sangat dipaksakan.
Sebagai seorang jujur, Kang Hay-thian tak memperhatikan hal itu.
Tetapi Tiong Tiang-thong diamdiam mengetahui hal itu, pikirnya.
"Meskipun Siangkoan Thay berwatak mengagulkan diri, tetapi dia jujur, sebaliknya orang she Nyo ini rupanya lebih licik dan banyak muslihat. Hm, ketika mendengar anaknya membunuh kaki tangan kerajaan, ia mengerutkan dahi. Apakah diam-diam ia mempunyai hubungan dengan kerajaan? Ah, hal ini perlu diperhatikan juga."
Kang Hay-thian buru-buru membalas hormat, ujarnya.
"Ah, Nyo-locianpwe terlalu merendah. Sedang aku belum sempat menghaturkan terima kasih kepada putramu, mana aku berani menyalahkan Locianpwe mengenal ketiga Ki-lian-sam-siu, mereka itu bekas budak Locianpwe yang melarikan diri?"
Dalam pada itu bujang keluarga Siangkoan sudah membawa keluar keempat murid Kay-pang.
Karena kepala bujang itu tak mengatakan apa-apa, maka ketika keempat murid Kay-pang itu melihat Pangcu mereka, tentu saja mereka terkejut dan girang, mereka lantas menyapa.
"Pangcu, sungguh kebetulan sekali Pangcu sendiri datang Tetapi mereka tertegun demi melihat sang Pangcu berdiri sejajar dengan Siangkoan Thay dan tampaknya akrab. Kata-kata mereka yang ingin meminta sang Pangcu menuntut balas tak jadi diucapkan. Ketika melihat keempat muridnya, bahkan agak gemuk, diam-diam Tiong Tiang-thong membatin.
"Ternyata Siangkoan tua ini tak menganiaya muridku, hanya It-tiong yang menderita paling besar. Tetapi cacad di wajahnya itu adalah si budak Nyo Hoan yang melakukan, jadi tak dapat menyalahkan Siangkoan tua."
Setelah melalui pertempuran yang berbahaya, ia benar-benar menyambut dengan bersungguh hati akan uluran tangan bersahabat dari tuan rumah.
Kuatir muridnya mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaan, Tiong Tiang-thong segera berseru.
"Aku dan Siangkoan-siancu sudah menjadi sahabat. Daun obat di gunung ini kamu boleh memetiknya. Haturkan terima kasih kepada Siangkoan-siancu dan segera ikut aku pergi."
"Eh, telah kukatakan supaya kalian sukalah tinggal sehari lagi agar aku dapat menjamu. Tentang daun obat, asal kalian katakan namanya, tentu orangku akan mengambilkannya. Jika hal ini kalian tak mau memberi muka padaku, berarti kalian masih mendendam padaku,"
Demikian Siangkoan Thay berkata.
"Kami sungguh tak ingin merepotkan Siancu lagi,"
Sahut ketua Kay-pang itu.
"Lucu, lucu! Ucapanmu itu berarti mendamprat aku. Aku telah menghina muridmu, sekarang aku hendak menghaturkan maaf, kau mau apa lagi? Apalagi sekarang sudah malam, masakah kalian tak mau menginap? Kalian mau berbuat begitu, tetapi aku pun tidak dapat mengizinkan, karena kalian ternyata tak menganggap aku sebagai sahabat?"
Kang Hay-thian tertawa.
"Siangkoan-cianpwe dengan bersungguh hati hendak meminta kami bermalam, Tiongpangcu, baiklah kita mengganggunya semalam lagi."
Tiong Tiang-thong berwatak terus terang, sekarang ia sudah tak mempunyai prasangka jelek terhadap tuan rumah.
Hanya ia agak tidak senang terhadap Nyo Ceng, maka tadi ia hendak minta diri.
Bahwa ternyata tuan.
rumah bersungguh-sungguh dan Kang Hay-thian juga menganjurkan, sekalipun orang she Nyo itu mempunyai maksud tak baik, tapi dengan adanya Kang Hay-thian, tak perlu ditakutkan lagi.
"Ah, untuk menerima pemintaan maaf itu sungguh terlampau berat. Anggap sajalah perjamuan itu selaku tanda persahabatan kita,"
Katanya kemudian.
Siangkoan Thay bergirang dan segera menyuruh orangnya menyiapkan perjamuan.
Untuk melenyapkan kecurigaan sang tamu, setiap hidangan Siangkoan Thay tentu minum dan makan lebih dulu, kemudian baru mempersilakan tetamunya.
Dalam perjamuan itu banyak dibicarakan tentang ilmu silat, satu sama lain saling mendapat kecocokan.
Hanya tampak Nyo Ceng yang tak begitu wajar sikapnya, dia tak mau menuturkan tentang riwayat dirinya dan keluarga Siangkoan.
Selesai perjamuan, Siangkoan Thay telah mengatur tempat tidur untuk tetamunya, Tiong Tiang-thong diberi sebuah kamar besar tersendiri, sedang Kang Hay-thian dan muridnya sekamar.
Kamarnya lebih kecil tapi indah perlengkapannya, yakni kamar baca.
"Rupanya Siangkoan Thay sengaja, supaya aku dapat meminta keterangan pada keempat muridku itu,"
Pikir Tiong Tiang-thong.
Memang sejak dibebaskan, keempat murid Kay-pang itu belum sempat bicara dengan ketuanya.
Kasar sekalipun Siangkoan Thay itu, tapi dia punya pikiran juga, ia mengukur pikiran orang dengan pikirannya sendiri.
Andaikata dia, tentulah juga ingin bicara dengan muridnya, menanyakan bagimana keadaan mereka selama ditawan.
Siangkoan Thay merasa memperlakukan murid-murid Kay-pang itu dengan cukup baik, maka ia tak takut memberi kesempatan kepada mereka untuk melapor pada ketuanya, itulah sebabnya maka ia memberi Tiong Tiang-thong dengan muridnya sebuah kamar besar.
Satu kamar diisi dengan enam orang, sungguh tak pantas tuan rumah memberi pelayanan begitu.
Tapi dipikir lebih jauh, tentulah tuan rumah mempunyai maksud supaya sang tetamu dapat kesempatan bicara dengan muridnya, Tiong Tiang-thong mengerti kehendak tuan rumah dan dia pun tak merasa keberatan.
"Terhadap Siangkoan Thay, aku tak menaruh prasangka apa-apa. Sekalipun muridku menderita sedikit siksaan, biarlah. Tetapi terhadap Nyo Ceng, aku harus waspada, mulut manis hatinya berbisa, agaknya dia bukan orang baik-baik. Malam ini kamarku terpisah dengan kamar Kang Hay-thian, Kang-hiantit berilmu tinggi, tapi orangnya kelewat jujur. Aku harus memperingatkannya supaya menaruh kewaspadaan,"
Pikir ketua Kay-pang itu.
Kamar Tiong Tiang-thong hanya terpisah satu gang kecil dengan kamar Kang Hay-thian.
Ketua Kay-pang itu merasa lega juga perasaannya, namun ia tetap hendak memberi bisikan kepada Kang Hay-thian, maka waktu menuju ke kamar, sengaja ia memperlambat jalannya dan memberi bisikan kepada Kang Hay-thian.
"Malam ini jangan kepulasan tidur, hati-hati sedikitlah!"
Kang Hay-thian agak heran, masuk ke kamar ia mengancing pintu dan merenung.
"Tuan rumah baik sekali terhadap tetamu, orang she Nyo itu juga bukan tokoh sembarangan. Terhadap pihak kita, boleh dikata mereka baik, entak mengapa paman Tiong menaruh curiga? Tapi aku tak boleh mengabaikan peringatan paman Tiong itu."
Ia tidak lantas tidur melainkan duduk bersemadi.
Tak lama kemudian Lim To-kan sudah tidur pulas.
Kira-kira pukul satu tengah malam, tiba-tiba ia mendengar kesiur angin berlalu di atas wuwungan rumah.
Tergetar perasaan Kang hay-thian.
"Sungguh lihai kedua orang ini!"
Pada malam sesunyi itu jelas didengarnya yang muncul itu dua orang tetamu malam, datangnya dari tempat yang terpisah beberapa kamar.
"Apakah sesungguhnya ada orang yang diam-diam hendak mencelakai aku?"
Batinnya demi teringat peringatan Tiong Tiang-thong tadi.
Cepat sekali orang itu sudah melesat pergi, terang mereka menuju keluar, sekali-kali bukan menghampiri kamar Kang Hay-thian.
Legalah hati Kang Hay-thian, ia tertawa dalam hati.
"Di tempat asing harus berlaku hati-hati, itulah sudah seharusnya. Tapi juga tak perlu kelewatan sekali."
Tetapi pada lain kilas timbullah pertanyaan dalam hatinya, siapakah orang itu?
Menilik kepandaiannya, tentu bukan tokoh sembarangan.
Jika musuh dari Siangkoan-siancu, sebagai tetamu aku harus membantu tuan rumah mengusirnya, namun jika yang datang itu kawan Siangkoan-siancu, aku keluar menemui pun tiada halangannya."
Kang Hay-thian mengambil putusan untuk menjenguk, setelah mendorong jendela perlahan-lahan ia melompat ke atas genteng.
Malam itu rembulan remang-remang, bayangan kedua orang itu sudah tak kelihatan lagi.
Tiong Tiang-thong pun tak muncul, rupanya dia tak mengetahui kedua tetamu malam itu.
Kang Hay-thian hendak memberitahukan, tapi sekilas ia ubah pikirannya, lebih baik melihat sendiri saja dulu.
Jika tak ada hal yang lebih penting, tak baik membikin kaget tuan rumah.
Dan dengan masih adanya Tiong Tiang-thong di dalam rumah, rasanya lebih tak menguatirkan, dia cukup tahu sampai dimana kepandaian ketua Kay-pang itu.
Suara kesiur angin di atas genteng tadi, mungkin Tiong Tiangthong tak dapat mendengarkan.
Walaupun tetamu malam tadi sudah lenyap, tapi telinga Kang Hay-thian yang tajam dapat mengetahui arah perginya.
Ia segera menggunakan Ginkang istimewa Tha-soat-bu-heng (menginjak salju tanpa bekas).
Cepat dan tanpa suara, ia meluncur mengejar orang itu.
Melintasi beberapa buah kamar dan mengitar pagar tembok, namun ia belum melihat bayangan orang itu.
Kang Hay-thian merasa aneh, pikirnya.
"Kalau bukan musuh Siangkoan Thay, mengapa dia masuk keluar di sini? Jika anggota rumah ini tentu tak nanti tengah malam buta begini gentayangan keluar."
Karena rasa ingin tahunya makin besar, ia pun meneruskan pengejarannya.
Adalah berkat Ginkang yang sakti, beberapa jurus kemudian dapatlah ia menampak dua bayangan hitam di sebelah depan, rupanya kedua orang itu belum mengetahui kalau dikejar.
Ketika lebih dekat dan mengawasi dengan seksama, kejut Kang Hay-thian bukan kepalang.
Kiranya kedua orang itu bukan lain adalah Siangkoan Thay sendiri bersama Nyo Ceng!
"Seharusnya aku dapat menduga kalau mereka, siapa lagi orang yang keluar dari dalam rumah kalau bukan mereka.
Dan siapa lagi yang memiliki kepandaian begitu lihai?
Tetapi mengapa mereka tengah malam begini keluar rumah?
Apakah mereka mengetahui ada musuh datang?"
Demikian Kang Hay-thian bertanya dalam hati. Saat itu terdengar Siangkoan Thay berkata.
"Apakah boleh di sini? Dari sini ke rumahku sudah 10-an li jauhnya."
Nyo Ceng tertawa, ujarnya.
"Betulkah? Kalau begitu biarpun Kang Hay-thian mempunyai telinga yang bagaimana panjangnya tentu tak mungkin mendengarnya. Baiklah, di sini saja."
Sekonyongkonyong ia putar tubuh dan memandang ke belakang, ia kuatir ada orang mengikutinya. Baru sekarang Kang Hay-thian paham.
"Kiranya mereka takut didengar orang, kalau bicara di dalam kamar, kuatir terdengar olehku. Kurangajar, mereka anggap aku ini manusia macam apa?"
Kepandaian Kang Hay-thian sudah mencapai tingkat tertinggi, maka begitu bahu Nyo Ceng bergoyang, tahulah ia kalau orang hendak berbalik tubuh.
Buru-buru ia menyelinap ke balik pohon, gerakannya cepat sekali, jangankan pada malam gelap, sekalipun di siang hari, sukar bagi Nyo Ceng untuk mengetahuinya.
"Jiko, sebetulnya kau mempunyai rahasia apa sampai perlu mengajak aku bicara di luar? Dan mengapa harus mengelabui tetamu? Si pengemis tua itu seorang ketua Kay-pang dan orang she Kang itu, menurut katamu sendiri, seorang tokoh menonjol di dunia persilatan, masakah mereka mau mencuri dengar pembicaraan kita?"
Kata Siangkoan Thay. Sebenarnya Kang Hay-thian hendak berlalu, tapi demi mendengar kata-kata itu, tergeraklah hatinya.
"Ya, mengapa mereka hendak mengelabui aku? Tentu ada hal yang menyangkut diriku, memang tak boleh mencurigai orang, tapi juga jangan meninggalkan kewaspadaan. Mereka hendak membelakangi aku, aku justru ingin mendengar pembicaraan mereka. Paman Tiong itu bagaimanapun seorang kawakan persilatan, siang-siang ia menaruh kecurigaan. Hm, tadi orang she Nyo itu tampaknya begitu bersungguh-sungguh terhadap aku, tak nyana di belakangku dia berlaku plin-plan."
Kang Hay-thian memutuskan untuk menyingkap tabir mereka.
Dengan gerakan yang tak diketahui, ia bersembunyi di atas pucuk sebatang pohon yang tepat di atas kepala kedua orang itu.
Terdengar Nyo Ceng jedang berkata.
"Sudah tentu aku percaya kepada kedua tetamu itu, tapi urusan ini menyangkut jiwa keluarga kita. Tembok mempunyai telinga, jika hal ini sampai bocor, sungguh besar bahayanya!"
"Jika, kita tinggal mengasingkan diri di daerah pegunungan sepi, dengan dunia luar tiada hubungan, tak punya dendam permusuhan kepada siapa-siapa, darimana datangnya ancaman bahaya yang kau katakan begitu serius itu?"
Tanya Siangkoan Thay bingung.
"Urusan ini bisa dianggap kecil, juga bisa dianggap besar. Bisa mendatangkan naas bisa mendatangkan keberuntungan, tergantung bagaimana kau hendak menyelesaikannya. Jangan bingung dulu, dengarlah aku bercerita perlahan-lahan,"
Kata Nyo Ceng.
"Nah, sekarang hendak kumulai dari peristiwa anak-anak kita. Aku hendak bertanya dulu padamu, anak Wan putrimu itu dengan anakku tahun ini berumur 15 tahun, dari pergaulan mereka sehari-hari yang begitu akrab, apakah kau tak merasa bahwa dalam hati kedua bocah itu mempunyai perasaan sesuatu?"
Siangkoan Thay menganggukkan kepala, sahurnya.
"Aku seorang polos, memang sebenarnya aku hendak mengatakan hal itu kepadamu, tapi kukuatir putramu si Hoan itu menampik anak perempuanku."
Terhadap Siangkoan Wan, putri tunggalnya itu, Siangkoan Thay mencintai bagai mestika.
Memang dara itu menaruh hati terhadap Nyo Hoan, waktu ibunya menanyainya, ia hanya diam saja dan tersipu-sipu malu.
Hanya sikap Nyo Hoan itu memang agak sukar diraba, Siangkoan Wan tak dapat mengetahui apakah anak muda itu juga membalas cintanya atau tidak.
Nyo Ceng tertawa.
"Anak Wan itu cantik laksana dewi rembulan, aku yang kuatir kalau-kalau anakku itu tak sepadan dengan putrimu!"
"Kalau begitu, kau juga setuju merangkapkan perjodohan mereka?"
Siangkoan Thay berseri kegirangan.
"Mereka sudah bergaul mesra, usia dan rupa mereka juga sesuai, rasanya tiada yang lebih tepat lagi dari perjodohan itu,"
Kata Nyo Ceng. Tiba-tiba ia menghela napas.
"Ah, hanya .... sayang, sayang!"
Siangkoan Thay terkesiap, serunya.
"Apanya yang disayangkan?"
"Sayang kita tak siang-siang merencanakan, baru sekarang membicarakan urusan perjodohan dan sudah terlambat!"
"Mengapa?"
Tanya Siangkoan Thay. Kembali Nyo Ceng menghela napas, lalu berkata perlahan-lahan.
"Waktu aku datang ke tempat Tioktoako, Tiok-toako juga mengemukakan hal perjodohan anaknya. Seperti dirimu, dia pun hendak berbesan dengan aku!"
"Oh, jadi dia juga ingin menjodohkan putrinya kepada anakmu? Bukankah si Ceng-hoa itu masih terlalu kecil?"
Seru Siangkoan Thay.
"Kecil sih memang kecil, tapi tidak terlalu. Tahun ini ia berumur 12, hanya lebih muda tiga tahun dari anak Hoan. Kata Tiok-toako, memang sudah selayaknya suami harus lebih tua dari istrinya. Tapi kutahu anak Hoan hanya menganggap Ceng-hoa sebagai adik. Yang sungguh dicintainya adalah putrimu, anak Wan."
"Eh, mengapa tiba-tiba saja Tiok-toako hendak menjodohkan putrinya? Tidak dulu-dulu, tidak besokbesok, tapi mengapa justru sekarang mengatakan hal itu padamu?"
Tanya Siangkoan Thay.
"Tiga bulan yang lalu, putrinya untuk yang pertama kali keluar sendirian, secara diam-diam meninggalkan rumah. Coba kau terka, kemana perginya?"
Tanya Nyo Ceng.
"Apakah pergi ke rumahmu mencari anak Hoan?"
Siangkoan Thay balas bertanya.
"Benar. Dia diam-diam meninggalkan rumah karena hendak mengajak anak Hoan main-main beberapa hari. Keluarganya sibuk tak keruan, kecuali budak perempuan itu, seisi rumah diperintahkan keluar mencarinya."
Kini barulah Kang Hay-thian tahu bahwa lelaki baju biru yang dijumpainya bersama seorang nona kecil tempo hari dan rombongan orang yang mencarinya adalah bujang-bujang keluarga Tiok.
Keluarnya mereka telah menimbulkan kegemparan di dunia persilatan.
Siapa tahu, kiranya hanya untuk urusan sekecil itu saja.
"Tiok-locianpwe itu kelewat menyayangi putrinya, tetapi bujang-bujangnya itu tak mau kenal dengan kaum Hek-to dan Pek-to. Untuk kerugian yang diderita kaum si dara dari Ki-lian-sam-siu, karena Ki-liansiam-siu bersekongkol dengan kaki tangan pemerintah kerajaan, maka bujang keluarga Tiok itupun lantas membunuh kaki tangan kerajaan itu. Dilihat dari sudut ini, agaknya Tiok locianpwe itu masih boleh diajak bersahabat,"
Pikir Kang Hay-thian. Nyo Ceng melanjutkan kata-katanya.
"Aku pun sebenarnya menganggap nona itu seperti anak-anak. Secara diam-diam dia datang bermain ke rumahku, kuanggap seperti tingkah anak-anak saja, tak tahu aku akan gerak-geriknya selama di luaran itu, tetapi Tioktoako tidak berpikir begitu. Baru pertama kali meninggalkan rumah, anaknya terus mencari putraku di rumah. Ini mestinya mengingatkan padanya bahwa kini putrinya itu sudah beranjak dewasa. Kecuali ayahbundanya, dalam hati anak dara itu hanya ada seorang engkoh misan, itulah sebabnya maka Tiok-toako lantas mengemukakan perjodohan itu padaku, agar lekas dapat ditetapkan."
"Kau sudah meluluskan belum?"
Tanya Siangkoan Thay. Nyo Ceng tertawa getir.
"Apakah aku dapat menolak Tiok-toako? Dia bukannya berunding, melainkan memberi perintah padaku supaya mempersiapkan seperlunya."
Siangkoan Thay tertegun sejenak, kemudian katanya.
"Ah, Tiok-toako memang begitu. Pernikahan adalah soal suka sama suka, mana boleh diperintah? Ai, karena sudah begitu, aku pun tak mau berebut dengan dia."
Nyo Ceng berseru tak puas.
"Benar? Tapi kaulah orang ketiga yang menuntut keadilan bagiku! Bagaimana kau boleh disuruh menelan penasaran begitu? Jangankan anakku itu memang sudah suka pada putrimu, sekalipun tidak, aku pun tak rela anakku menerima tekanan mereka!"
"Ceng-hoa masih kecil. Menilik wataknya, sekalipun juga congkak, tapi tidak membabi-buta seperti ayahnya,"
Kata Siangkoan Thay.
Diam-diam Kang Hay-thian geli dalam hati, Siangkoan Thay sendiri seorang 'pembabi-buta', kini ia mengecap orang lain begitu.
Tentulah ipar orang she Tiok itu lebih gila lagi atau jangan-jangan Siangkoan Thay terdorong oleh kemarahan karena calon menantunya direbut orang she Tiok?
Menilik Siangkoan Thay juga memuji kebaikan dara she Tiok itu, terang dia itu masih punya rasa keadilan.
Demikian Kang Hay-thian membuat analisa dalam hati.
Karena yang dibicarakan itu ternyata urusan pernikahan anak-anak mereka, Kang Hay-thian tak ingin mendengarkan lebih jauh.
Tapi saat itu-ia bersembunyi di atas pohon, sedang kedua orang itu berada di bawahnya, ia tak sanggup menyelinap pergi tanpa diketahui mereka.
Sesaat terkilas dalam ingatannya, siapa tahu dalam pembicaraan mereka nanti, ia akan memperoleh bahanbahan keterangan lebih jauh tentang diri orang she Tiok itu, maka ia membatalkan keinginannya pergi.
Sementara itu Nyo Ceng telah berkata pula.
"Ada ayah tentu ada anaknya. Kalau sekarang saja budak Ceng-hoa itu sudah congkak, apalagi besok kalau sudah besar, tentu tak beda dengan ayahnya. Taruh kata anak Hoan sanggup menerima tekanan istrinya, tapi aku tetap tak tahan menerima tekanan besanku."
Siangkoan Thay tertawa katanya.
"Toh urusan sudah ditetapkan, percuma saja kau mengeluh."
Tertawanya itu ditujukan pada Nyo Ceng, tapi sebenarnya merupakan rintihan batinnya sendiri.
"Tidak, biarpun aku tak berani menolak, tapi aku pun belum menerima lamarannya. Itulah sebabnya maka sekarang aku mengajakmu berunding,"
Kata Nyo Ceng.
"Lalu apa maksudmu dan bagaimana akan kau katakan pada Tiok-toako?"
"Kukatakan nanti kalau pulang akan kubicarakan hal ini kepada ibu anak Hoan. Toh usia mereka masih samasama kecil, perlu apa harus terburu-buru,"
Sahut Nyo Ceng.
"Apa kata Tiok-toako waktu itu?"
Tanya Siangkoan Thay.
"Semula dia tak senang, dia mengatakan istrinya dan istriku toh bersaudara, masakah tak setuju? Kujawab, memang sudah menjadi kebiasaan untuk merundingkan sesuatu masalah dengan istriku. Kutahu kalau ia nanti bakal tak menolak, tapi memberitahukan padanya toh tiada buruknya agar ia gembira. Dan setelah itu baru menyelenggarakan upacara perhelatan, toh masih belum terlambat. Karena kalah beradu alasan, terpaksa Tioktoako menurut pendapatku, tetapi dia masih mengajukan suatu hal, dia suruh aku menjaga putraku. Hehe, hal ini ada hubungannya juga dengan kau dan putrimu!"
Siangkoan Thay melonjak kaget, serunya.
"Mengapa menyangkut dirikur "Bukankah anak Wan dan anak Hoan bulan yang lalu bersama-sama mengunjungi rumah Tiok-toako? Karena sudah lama tak pulang, barulah aku menjenguk anak Hoan ke sana,"
Kata Nyo Ceng.
"O, apakah karena itu maka Tiok-toako menjadi sirik? Mereka adalah saudara misan, sejak kecil sudah biasa bermain bersama, memang di waktu kecil dikawal orang yang besar, tetapi setelah mereka besar kan tak perlu diantar orang. Toh hal itu tiada halangan, masakah kita masih memegang adat lama d i mari a pemuda dan pemudi tak boleh bergaul bersama?"
Sahut Siangkoan Thay.
"Benar, tapi Tiok-toako justru tak berpandangan begitu. Adalah karena anaknya sudah besar maka ia mempunyai pikiran untuk menjodohkan pada putraku. Dan itulah sebabnya maka ia tak senang melihat anak Wan menyela di tengah, ia menyuruh aku melarang anak Hoan pergi bersama anak Wan lagi, ia pun minta aku menyampaikan padamu supaya kau juga membujuk putrimu!"
Manusia yang dicintai Siangkoan Thay di dunia hanyalah putrinya, mendengar sentilan itu, diam-diam ia marah sekali, sahutnya.
"Anak perempuanku tak usah diurus orang lain."
Nyo Ceng tertawa dan ikut mengejek.
"Ya, kita berdua ini saudara ipar, tapi rupanya dia seakan hendak menjadikan kita sebagai orang bawahannya saja. Bila sudah menyuruhmu berbuat sesuatu, mana boleh kau mengatakan sepatah kata penolakan?"
"Putra-putri kita, masakah dia sampai ikut mengurus, itu sungguh kelewat menghina,"
Akhirnya muntahlah kemarahan Siangkoan Thay.
"Siangkoan-heng, asal kau bertekad bulat, kita akan tetap bisa berbesan untuk membikin panas hatinya,"
Nyo Ceng mulai memasukkan jarum proyokasinya. Siangkoan Thay terdiam, sampai lama baru ia menjawab.
"Itu berarti membuka perpecahan dengan dia!"
"Benar, justru hal itulah yang perlu kurundingkan padamu, kita berdua bersepakat dan selanjutnya jangan menurut omongannya lagi!"
"Tapi biarpun kita berdua bersekutu, tetap belum tentu dapat menangkan dia?"
Kata Siangkoan Thay.
"Tapi toh sekurang-kurangnya akan dapat menghadapinya dengan seimbang?"
Bantah Nyo Ceng.
"Sesama saudara ipar saling berkelahi, sungguh aku merasa sungkan!"
"Masakah kau mandah dihinanya seumur hidup? Bahkan anak-anak kita pun akan menderita hinaan itu? Sebenarnya mereka adalah pasangan yang tepat, tetapi dipisahkan olehnya!"
Kata Nyo Ceng.
Teringat akan kebahagiaan putrinya dan membayangkan bagaimana pedih kalau kelak melihat wajah sang putri bercucuran air mata, hampir saja ia menyanggupi ajakan Nyo Ceng.
Tapi akhirnya ia masih kuat menahan perasaannya dan hanya menghela napas saja dan tak mau bicara.
"Kau masih takut padanya?"
Tanya Nyo Ceng.
"Bukannya takut, ah, kau tak tahu ... pada hakikatnya aku memang tak suka berkelahi dengan dia,"
Sahut Siangkoan Thay.
Di atas pohon Kang Hay-thian dapat melihat jelas bagaimana sewaktu mengucapkan kata-katanya itu nada suara Siangkoan Thay agak gemetar dan mimik wajahnya pun berubah.
Ia menduga orang she Siangkoan itu tentu menyembunyikan sesuatu, maka betapapun Nyo Ceng mendesaknya, ia tetap tak mau bentrok dengan iparnya.
Nyo Ceng tertawa, ujarnya.
"Aku mempunyai akal, tak usah kita yang turun tangan sudah dapat melenyapkan dia, tetapi entah apakah kau mau membantu atau tidak?"
Siangkoan Thay tertegun beberapa jenak, serunya.
"Kau ... kau hendak menggunakan tipu pinjam pisau membunuh orang?"
"Tepat, hendaklah menurut pendapatku saja. Di masa ini hanya Kang Hay-thian satu-satunya orang yang dapat menandingi Tiok-toako. Kita cari akal supaya kedua harimau itu bertarung, kalau tak berhasil melenyapkannya, sekurang-kurangnya kita dapat membuat kedua orang itu sama-sama terluka parah!"
Mendengar itu, tersadarlah Kang Hay-thian, pikirnya.
"O, makanya orang she Nyo itu membocorkan rahasia kepandaian iparnya. Dia memang pintar merencanakan siasat jahat, tapi coba lihat saja bagaimana reaksi Siangkoan Thay?"
"Bagaimana akalmu itu? Tentunya kau sudah merencanakannya?"
Demikian tanya Siangkoan Thay.
"Apakah kau menghendaki supaya Tiok-toako mencari Kang Hay-thian atau Kang Hay-thian yang mencari Toako?"
Nyo Ceng balas bertanya.
"Kalau Tiok-toako yang mencari Kang Hay-thian, bagaimana caranya?"
"Dalam hal ini kau harus berani menerima sedikit resiko, kau harus melukai dirimu sendiri dan mengatakan Kang Hay-thian yang melakukan dan akulah saksinya nanti. Dan akan kuajarkan kau bagaimana merangkai kata untuk membikin panas Tiok-toako supaya mengadu jiwa dengan Kang Hay-thian. Walaupun kau harus menderita sedikit kesakitan, tapi demi kepentingan anakanak kita, rasanya masih berharga juga."
"Rupanya kau cukup mempelajari watak Tiok-toako. Betapapun ia benci kepadaku, tetapi jika benar-benar aku sampai dilukai orang, dia tentu akan membela aku mati-matian. Hehe, tapi mengapa siasat menyakiti diri itu tak kau lakukan sendiri?"
"Karena kebetulan kaulah yang bentrok dengan Kaypang, Kang Hay-thian datang kemari bersama Tiong Tiang-thong dan kau pun memang bertempur dengan ketua Kay-pang itu. Meskipun Kang Hay-thian yang melerai, tetapi apakah kau yakin kalau Kang Hay-thian diam-diam tak membokongmu? Dengan adanya bentrokan itu, siasat 'menyakiti diri' rasanya kaulah yang tepat menjalankannya,"
Nyo Ceng memberi sanggahan.
"Hehe, bagus siasat menyakiti diri yang bagus. Tak sia-sia kau dapat menemukan siasat itu!"
Siangkoan Thay tertawa sinis. Melihat wajah sang ipar tak wajar lagi, buru-buru Nyo Ceng menyusuli.
"Telah kukatakan tadi, aku mempunyai dua macam cara. Siasat 'menyakiti diri' itu hanya terserah pada pertimbanganmu sendiri, apakah kau mau merundingkan siasat yang lain?"
"Yang satunya ialah supaya Kang Hay-thian datang kepada Tiok-toako. Dia seorang pendekar utama, bukankah kau telah menjajaki hatinya? Kau hendak menyuruh Kang Hay-thian mengadu jiwa untukmu, apakah itu tidak melamun?"
Nyo Ceng tertawa gelakgelak, katanya pula.
"Tak dapat menggerakkan Kang Hay-thian, masakah kita tak mempunyai akal lain agar dia tanpa dipaksa mau mencari Tiok-toako sendiri?"
"Baik, ingin aku mengetahui betapa indah siasatmu itu."
"Kang Hay-thian mempunyai seorang calon murid bernama Li Kong-he, kini anak itu berada di rumah Tioktoako, menjadi kacungnya. Untuk mencari muridnya itu, berbulan-bulan Kang Hay-thian mondar-mandir ke daerah utara dan selatan sungai Hong-Ho!"
Kata Siangkoan Thay.
"Hal itu telah kuketahui, tapi apakah hubungannya dengan siasatmu yang indah itu?"
Nyo Ceng tertawa sinis.
"Persoalan kita dititik beratkan pada murid Kang Hay-thian itu, misalkan, tahu-tahu anak itu meninggal di rumah Tiok-toako, masakah Kang Haythian tak akan mengadu jiwa dengan Tiok-toako?"
Hati Siangkoan Thay tergetar.
"Kau mau mencelakai anak itu? Jika kau lakukan hal itu, mana Tiok-toako mau memberi ampun kepadamu lagi? Bukanlah kau tadi mengatakan kalau Tiok-toako dan putrinya memperlakukan anak itu seperti keluarganya sendiri?"
Nyo Ceng tertawa.
"Sudah tentu aku takkan setolol itu untuk turun tangan sendiri, maka sekarang aku hendak berunding denganmu. Bukankah kau tahu tentang sejenis rumput beracun yang dapat menghabisi jiwa orang tanpa bekas? Berikanlah rumput itu padaku, nanti akan kutumbuk menjadi puyer. Aku mempunyai akal pinjam tangan Ceng-hoa untuk meracuni anak itu. Cenghoa sendiri pasti takkan menyadarinya."
Berdirilah bulu tengkuk Kang Hay-thian mendengar rencana sekeji itu, ia tak menyangka kalau Nyo Ceng sedemikian ganasnya.
Hampir saja ia tak bisa menahan kemarahannya dan terus hendak membuka kedoknya, tapi pada lain saat ia mendapat pikiran biarlah menunggu dulu bagaimana jawaban Siangkoan Thay nanti.
Terdengar Siangkoan Thay tertawa dingin, ujarnya.
"Nyo-toako, kau anggap aku ini orang apa?"
Nyo Ceng tercengang, serunya.
"Yang berhati kecil bukan seorang perwira, yang berhati lemah bukan seorang lelaki. Jika hal ini berhasil, paling tidak kita tentu dapat membuat mereka sama-sama remuk dan ini sangat menguntungkan kita. Pertama, terhindar dari tekanan keluarga Tiok. Kedua, anak-anak kita dapat melangsungkan perjodohan tanpa kuatir diganggu lagi. Dan ketiga, hehe, dengan hilangnya kedua tokoh besar itu, kalau kita berdua bersatu-padu, siapakah di kolong langit ini yang bisa melawan kita lagi?"
"Tutup mulutmu!"
Tiba-tiba Siangkoan Thay membentak sekerasnya.
"Seribu macam keuntungan sekalipun, aku Siangkoan Thay tak sudi menjadi seorang manusia yang bermartabat begitu hina!"
Muka Nyo Ceng sebentar hijau sebentar merah, ia tertawa dingin.
"Siangkoan-heng, aku seorang manusia rendah, tapi perbuatanmu selama ini juga tak layak disebut ksatria!"
Siangkoan Thay gusar sekali, ia sampai melompat dan berseru.
"Meskipun bukan ksatria utama, tetapi sekurang-kurangnya masih punya hati nurani."
"Kang Hay-thian melepas budi padaku, sebaliknya kau hendak membalas air susu dengan air tuba dan menganjurkan aku membunuh seorang anak kecil! Hm, kau ini benar-benar ...."
"Kau tidak mau, ya sudah. Kita berdua retak hubungan sih tak mengapa, asal anak-anak kita jangan sampai menderita kesulitan, apakah selanjutnya mereka tidak akan berjumpa lagi?"
Mestinya Siangkoan Thay hendak memaki Nyo Ceng lebih buas dari binatang, mendengar kata-kata Nyo Ceng yang terakhir, terkilas dalam bayangannya Bagaimana sang putri terhadap Nyo Hoan.
Diam-diam ia mengeluh dan tak mau kelewat menyakiti hati Nyo Ceng, ia menghela napas, ujarnya.
"Pulanglah, anggap saja kau tak pernah membicarakan soal ini dan aku pun takkan mengungkitnya. Urusan perjodohan biarlah nasib yang menentukan, kau meluluskan atau menolak pinangan keluarga Tiok, terserah padamu sendiri. Hanya pesanku, kikislah pikiran hendak mencelakai orang!"
Kering sekali nada Nyo Ceng ketika menyahut.
"Kau mandah menerima hinaan Tiok-toako, aku pun tak mau memaksamu. Baiklah, kau mengusir aku tentu aku akan pergi, hanya kuharap jangan kau menyesal di belakang hari."
Habis itu Nyo Ceng segera hendak angkat kaki, tetapi tiba-tiba Siangkoan Thay mencegahnya.
"Tunggu!"
Mengira orang berbalik pikiran, tertawalah Nyo Ceng.
"Apakah kau sudah berpikir jelas? Bagaimana, apakah kita berunding lagi?"
Wajah Siangkoan Thay mengerut gelap dan mata menatap tajam kepada Nyo Ceng, kemudian berkata dengan perlahan-lahan.
"Jika hanya urusan anak-anak saja, janganlah kau turunkan tangan jahat . kepada Tioktoako, kau sudah mengetahui rahasia keluarga Tiok? Jika kau hendak mengajak berunding aku, janganlah coba mengelabui aku!"
Kasar sekaligus tabiat Siangkoan Thay, tapi dia sekalikali bukan orang jahat gila-gilaan, apalagi dia juga sudah berumur 50-an tahun, pengalamannya cukup banyak.
Maka setelah agak tenang, timbullah segera suatu kecurigaan terhadap apa yang dikemukakan oleh Nyo Ceng tadi, apa sebabnya Nyo Ceng begitu membenci kepada iparnya, seakan-akan kalau dapat hendak membunuhnya?
Teguran Siangkoan Thay membuat wajah Nyo Ceng berubah, tetapi pada lain kilas ia terdengar tertawa gelak-gelak.
"Siangkoan-heng, pertanyaanmu itu memberi kesan kapadaku bahwa rupanya kau juga tahu rahasia Tiok-toako? Siangkoan Thay tahu ia hendak dikorek oleh Nyo Ceng, pikirnya.
"Biarlah kukatakan beberapa bagian, coba bagaimana reaksinya."
"Kabarnya Tiok-toako hendak mendirikan sebuah partai baru, apakah kau tak suka menjadi orang bawahannya?"
Kata Siangkoan Thay.
"Kau hanya tahu satu tidak tahu dua, bukan terbatas hanya mendirikan partai saja, ia pun hendak mendirikan gerakan melawan pemerintah Cing!"
"Oh, jadi Tiok-toako benar-benar mempunyai cita-cita yang begitu luhur? Sungguh tak kuduga sama sekali!"sahut Siangkoan Thay.
"Memang benar. Manusia seperti kita yang mengasingkan diri di pegunungan sunyi, alangkah bebasnya! Perlu apa harus ikut menceburkan diri dalam pergolakan air keruh begitu? Tiok-toako harus sadar, sebenarnya ia pun serupa kita, beberapa generasi tinggal di gunung terpencil tak mau ikut campur urusan dunia luar. Kini selagi dia sudah mendekati usia tua, tiba-tiba timbul semangatnya yang patriotik. Coba pikir, apakah dia tidak linglung? .... Dia linglung sih tak mengapa, tapi kita berdua juga tentu akan terembet. Tiok-toako menganggap sekarang rakyat sudah tergugah pikirannya, maka sudah saatnya bergerak. Dia sama sekali tak memikirkan betapa kokoh berakarnya pemerintahan Ceng yang sudah ratusan tahun ini. Dapatkah kaum pemberontak melawan kekuatan tentara Ceng yang besar dan teratur itu? Jika kitajkut padanya, apabila sampai kalah, bukankah kita akan menerima hukuman dibasmi seluruh keluarga kita?"
"Oh kiranya begitu, tetapi setiap orang mempunyai cita-cita sendiri. Kau tidak mau ikut kepadanya, apakah dia tidak boleh melaksanakan cita-citanya?"
Bantah Siangkoan Thay.
"Ai, kukira kau tentu paham perangai Tiok-toako, dia orang yang tak mau mendengar nasehat orang lain. Sekali dia membuat gerakan, jika kita tak mau ikut, masakah dia akan membiarkan kita begitu saja? Dikuatirkan begitu mulut kita mengatakan 'tidak', dia tentu seeera akan membunuh kita."
"Maka kau lantas mendahului akan melenyapkannya?"
Siangkoan Thay mengomentari dengan nada dingin. Mendengar nada ucapan Siangkoan Thay yang tak wajar dan belum tahu bagaimana sebenarnya pendiriannya itu, berkatalah Nyo Ceng.
"Ucapan Siangkoan-heng terlalu berat, aku sama sekali tidak punya rencana hendak membunuhnya, hanya saja hendak berusaha menghindari bencana itu. Jika dia sampai bertempur dengan Kang Hay-thian, keduanya tentu sama-sama terluka dan cacad. Pada saat itu baru dia yang menurut perintahmu, sebaliknya kita tak perlu mendengar perintahnya. Hehehe, dengan begitu bukan saja perjodohan anak kita dapat berlangsung, Tiok-toako pun akan dapat melewatkan sisa hari tuanya dengan tenang. Bukankah masing-masing pihak akan mendapat kebaikan?"
"Sungguh penyelesaian yang membawa kebaikan semua pihak! Jadi jelas kau masih memikirkan diri Tioktoako?"
Seru Siangkoan Thay.
"Tentu, tentu, aku memikirkan dari sudut untung ruginya. Peribahasa mengatakan, 'Dari dua kecelakaan kita dapat mengambil keringanan'. Benar Tiok-toako dan Kang Hay-thian akan mengalami penderitaan bersama, tapi dengan begitu Tiok-toako dapat terhindar dari bencana, itu masih patut dilaksanakan! Apalagi kita berdua juga akan memperoleh manfaatnya."
Tiba-tiba Siangkoan Thay tertawa dingin.
"Mungkin masih ada sebuah keuntungan lagi, rupanya kau masih belum mengatakan?"
Seketika berubahlah wajah Nyo Ceng, serunya.
"Siangkoan-heng, apa maksud ucapanmu?"
Tegas dan tenang Siangkoan Thay bertanya.
"Hadiah apakah yang akan kau peroleh dari pihak kerajaan sehingga kau begitu bernafsu hendak melenyapkannya?"
Muka Nyo Ceng beringas dan dengan suara menggeledek ia berseru.
"bagaimana kau bisa mengatakan begitu? Hm, hm, Siangkoan Thay, kau anggap aku Nyo Ceng ini orang apa?"
Bagaimanapun Siangkoan Thay masih memiliki kejujuran, melihat sikap orang begitu bersungguhsungguh, ia bersangsi sendiri, ujarnya.
"Kalau tidak, itulah bagus. Hanya saja, Nyo-heng, janganlah kau salah mengerti dengan aku, aku hendak mengucapkan barang separah kata untuk memberi nasehat padamu ..."
Sekonyong-konyong selagi Siangkoan Thay lengah, Nyo Ceng secepat kilat menjotos dadanya!
Kepandaian orang she Nyo itu memang lebih tinggi dari Siangkoan Thay, ditambah pula pukulan itu dilancarkan secara tak terduga-duga, mana Siangkoan Thay dapat menghindar?
Bluk, tinju Nyo Ceng tepat mendarat pada sasarannya, tetapi anehnya, seketika itu juga Siangkoan Thay merasa suatu aliran tenaga kuat mendorong tubuhnya sampai melengkung ke samping, berbareng itu Nyo Ceng pun merasakan suatu arus tenaga menyambar mukanya.
Kiranya kedua arus tenaga itu berasal dari Kang Haythian yang secepat kilat melayang turun dari pohon, segera melancarkan dua buah tamparan, tangan kiri mendorong Siangkoan Thay, tangan kanan menghantam Nyo Ceng.
Dua gerakan tangan, dua macam tenaga yang dilancarkan, yang tertuju pada Siangkoan Thay memang cukup keras sehingga dapat mendorongnya ke samping, tapi Siangkoan Thay tak terluka, sebaliknya yang dilancarkan kepada Nyo Ceng merupakan hantaman maut.
Sayang Kang Hay-thian meskipun sebelumnya sudah menaruh kewaspadaan, tapi sedikitpun ia tak menyangka bahwa Nyo Ceng akan tega menurunkan tangan jahat terhadap iparnya sendiri.
Dalam hal itu Kang Hay-thian tidak bersiap-siap, baru setelah Nyo Ceng turun tangan, ia cepat melompat turun dan menyerang, tetapi sudah agak terlambat.
Kalau Ko-chiu berkelahi, sedetik saja sudah banyak artinya.
Gerakan Kang Hay-thian yang walaupun dilakukan lebih cepat dari kejapan mata, tapi sudah cukup memberi kesempatan Nyo Ceng untuk menghindar dari kematian.
Benar dia kalah unggul daripada Kang Hay-thian, tapi dia pun juga seorang Ko-chiu kelas satu, begitu melihat berkelebatnya tubuh turun dari pohon, cepat ia sudah melesat setombak jauhnya sambil mendorongkan kedua tangannya untuk menolak pukulan Pik-khong-ciang dari Kang Hay-thian.
Karena tubuhnya terdorong ke samping, dada Siangkoan Thay terhindar dari tinju maut, tapi tak urung punggungnya termakan juga, tubuhnya berputar sekali.
"huak", darah menyembur dari mulut dan jatuhlah ia ke tanah, tetapi ia dapat lolos dari lubang jarum. Coba dadanya yang kena, jangan harap dia masih bernyawa lagi. Namun Nyo Ceng pun juga harus merasakan pil pahit, pukulan Kang Hay-thian mengandung dua macam tenaga berlapis. Melompat setombak dan menolak dengan kedua tangan, memang Nyo Ceng dapat menangkis tenaga pukulan Kang Hay-thian lapis pertama. Baru saja ia bernapas longgar, tahu-tahu gelombang tenaga lapis kedua melanda.
"Huak", ia pun muntah darah, terus lari sipat-kuping turun gunung. Untung baginya bisa lolos dari lubang jarum, coba Kang Hay-thian lebih cepat turun tangan dan kemudian menolong Siangkoan Thay lebih dulu, mungkin orang she Nyo itu sudah tak bisa melihat matahari lagi. Karena tak tahu bagaimana luka Siangkoan Thay, Kang Hay-thian tak mau mengejar Nyo Ceng, ia menghampiri Siangkoan Thay untuk memeriksa lukanya.
"Tidak kusangka bangsat itu begitu ganas, sama sekali tidak menghiraukan ikatan saudara lagi. Kang-tayhiap, terima kasih atas pertolonganmu menyelamatkan jiwaku. Sayang aku tak dapat membalas budi!"
Siangkoan Thay tertawa getir. Waktu meraba dadanya, tahulah Kang Hay-thian kalau orang she Siangkoan Thay itu tak begitu parah lukanya. Ia merasa lega, ujarnya.
"Dia pun cukup menderita dengan sebuah pukulanku tadi, paling sedikit dia harus beristirahat sebulan lamanya."
Siangkoan Thay mengusap darah di ujung mulutnya, lalu menelan sebutir pil, katanya.
"Kang-tayhiap, aku hendak memohon suatu hal padamu."
"Silakan Cianpwe mengatakan."
"Walaupun bangsat she Nyo itu menderita luka, tapi dia sudah lari. Kejadian tadi harap Kang-tayhiap jangan menyebarkan kepada siapa pun."
Kang Hay-thian tahu Siangkoan Thay tak menghendaki putrinya tahu hal itu sehingga akan menderita batin.
Di samping itu mungkin dia masih mengharap Nyo Ceng bisa sadar akan kesalahannya.
Jika disebarkan keluar, apalagi kalau sampai terdengar oleh Tiok-toako, tentu habislah riwayat Nyo Ceng.
Sebagai orang yang lapang dada, Kang Hay-thian pun segera mengiakan.
"Tak nanti aku membuat Cianpwe mendapat kesukaran, tetapi aku pun hendak mohon sebuah permintaan, hendak menanyakan "Bukanlah tentang diri iparku Tiok-toako itu?"
Tukas Siangkoan Thay.
"Benar, terus terang dengan orang gagah yang bercita-cita menentang pemerintah Cing, aku banyak kenal. Karena Tiok-locianpwe itu juga mengandung citacita begitu, sungguh sehaluan. Aku bermaksud hendak mengunjunginya."
Siangkoan Thay merenung beberapa jenak, ujarnya.
"Walaupun mempunyai cita-cita begitu, tapi tak secepat itu Tiok-toako akan bergerak, kulihat paling cepat setelah dia nanti berhasil mendirikan sebuah partai. Watak Tioktoako itu aneh, apa yang direncanakan tak boleh diketahui orang, kecuali kalau dia sudah sehati dengan kau, tentu dia akan memberitahukan sendiri, maka kurasa lebih baik Kang-tayhiap jangan terburu-buru mengunjunginya dulu, biarlah tunggu saja dia nanti menemuimu."
Karena dalam ucapan orang bernada kuatir, terpaksa Kang Hay-thian tak mau mendesak, tetapi ia tetap memikirkan keselamatan Li Kong-he, ujarnya.
"Baiklah kalau begitu, tetapi muridku berada di rumah keluarga Tiok, karena Nyo Ceng mengandung maksud hendak mencelakainya, tak boleh tidak harus dijaga."
"Ini mudah dikerjakan, akan kusuruh orang memberitahukan kepada Tiok-toako agar dia suka menjaga anak itu baik-baik. Nyo Ceng sudah terluka, rasanya tak mungkin mendahului tindakanku itu. Dan lagi kuduga dia tentu tak berani datang ke rumah Tiok-toako lagi."
Mendengar kata-kata orang beralasan, Kang Hay-thian pun menurut, ia percaya Kong-he tentu takkan kena apaapa.
Dan kini karena partai Bin-san-pay memerlukan tenaganya, dia pun harus lekas pulang membantu istrinya.
Untuk sementara waktu, biarlah ia tunda dulu mengambil Kong-he.
Setelah minum pil, tenaga Siangkoan Thay pun mulai pulih.
Sambil memandang langit, ia tertawa.
"Hari segera akan terang tanah, mari kita kembali. Jika Wan-ji sampai tahu, orang di rumah tentu akan kaget!"
Kang Hay-thian hendak memayangnya, tapi karena dilihatnya tuan rumah sudah dapat berjalan sendiri, bahkan sudah dapat berlari cepat, diam-diam dia merasa kagum juga.
Setiba di rumah mereka masuk kamar masing-masing, tetapi alangkah terkejut Kang Hay-thian ketika masuk kamar, ternyata Lim To-kan sudah tidak ada di pembaringannya.
Buru-buru ia keluar mencari, baru tiba di belakang taman, ia melihat sesosok bayangan mendatangi.
Setelah menenangkan keguncangan hatinya, barulah Kang Hay-thian tahu bahwa yang datang itu Tiong Tiangthong.
Lekas ia gunakan Lwekang Thoan-tun-coan-im untuk menyusupkan kata pengenal diri, barulah Tiong Tiang-thong lega.
"Apa yang telah terjadi?"
Tanya ketua Kay-pang itu.
"Tak ada apa-apa. Hanya Siangkoan-siancu telah menggebah pergi orang she Nyo itu. Nanti setelah meninggalkan tempat ini baru kita bicara lagi. Mana Kanji, apakah kau melihatnya?"
"Kang-ji dengan teman kecilnya bersembunyi di bawah gunung-gunungan palsu, rupanya kedua bocah itu sudah saling mencocoki."
Jawab Tiong Tiang-thong.
"Sahabatnya yang mana?"
Kang Hay-thian heran, tapi pada lain saat ia tersadar, serunya pula.
"Apakah putri Siangkoan Thay itu?"
Tiong Tiang-thong mengiakan Kiranya tadi To-kan terbangun, dia kaget karena tak nampak Suhunya, lalu dia keluar dan kebetulan bertemu dengan Siangkoan Wan yang juga sedang mencari ayahnya, mereka bertemu di belakang kebun.
"Mereka tentu hendak merundingkan sesuatu yang tak boleh kita dengar. Karena sudah telanjur bangun, mari kita tunggu mereka di kebun ini,"
Kata Siangkoan Wan.
Ia lebih tua tiga tahun dari To-kan, ia anggap dirinya lebih tahu urusan orang besar.
Walaupun Lim To-kan lebih kecil, tapi dia menang pengalaman, dia menduga tentu ada sesuatu yang tidak sewajarnya, namun ia yakin akan kepandaian Suhunya.
Ia mempunyai kesan baik terhadap si dara, maka maulah dia menemaninya.
Karena baru berumur 12 -13 tahun, To-kan tak punya perasaan apa-apa terhadap lain kaum.
Waktu To-kan keluar, Tiong Tiang-thong mengetahuinya, ia segera mengikutinya.
Dia tak menguatirkan Kang Hay-thian, tapi memikirkan diri anak itu.
Diam-diam ia melindungi dari tempat yang tak kelihatan.
"Sayang kau hanya tinggal sampai besok pagi saja, tak dapat menemani aku bermain beberapa hari lagi. Baik, besok pagi tentu akan kuajak kau bermain-main sampai puas. Di gunung banyak sekali bunga-bunga yang indah, akan kuajak kau memetik bunga, akan kurangkai bunga untukmu."
Karena pembicaraan mereka hanya berkisar pada soal main-main saja, diam-diam geli juga Tiong Tiang-thong, pikirnya.
"Dara itu tak mempunyai kawan sebaya, Nyo Hoan mungkin hanya setahun sekali datang kemari, maka dara itu menjadi kesepian."
Mendengar Tiong Tiang-thong menyebut nama Nyo Hoan dan anaknya, resahlah hati Kang Hay-thian, pikirnya.
"Dara ini jujur dan lincah, jauh lebih menyenangkan dari Nyo Hoan. Sayang dalam hatinya yang tengah mekar itu hanya tergores bayangan Nyo Hoan seorang."
To-kan dan Siangkoan Wan sibuk berbicara. Kata Tokan.
"Baik, kau buatkan aku rangkaian bunga, aku akan tangkapkan burung untukmu. Aku gemar sekali memanjat pohon, belakangan ini aku telah belajar ilmu Sip-hun-poh, dibuat memanjat pohon, sungguh tepat sekali. Hm, Sip-hun-poh itu tak perlu menggunakan tangan memegang dahan pohon, cukup berjalan sepanjang batangnya saja."
"Kalau begitu bukan disebut 'panjat pohon'!"
Sela si dara.
"Mengapa tidak? Ilmu Ginkang ini memang hebat sekali!"
"Tanpa memegang dahan, mana kau bisa berdiri tegak di atas batang pohon?"
"Kau tak tercaya? Baik, besok akan kutunjukkan untukmu."
Siangkoan Wan ingin bisa juga, ujarnya.
"Ah, kau sungguh beruntung punya Suhu yang begitu sakti sehingga dapat mempelajari Ginkang begitu hebat."
"Sip-hun-poh masih belum apa-apa, ada lagi yang lebih sakti ialah Thian-lo-poh. Kalau sudah menguasai ilmu Ginkang itu, musuh yang lebih tangguh tak akan mampu memukulmu, tetapi ilmu itu hanya digunakan di tempat datar."
"Benarkah?"
Si dara meneeas. Ia keiut-keiut girang mendengar cerita To-kan. Kang Hay-thian geli dalam hati.
"Baru belajar beberapa macam kepandaian saja, anak itu sudah membanggakan pada orang. Tetapi rupanya dia juga hati-hati, tak memberitahukan rahasia ilmu itu kepada orang luar."
"Tempo hari sebenarnya Suhuku hendak memberi pelajaran beberapa kepandaian padamu dan Nyo Hoan, sayang kalian tak mau,"
Kata To-kan. Jawab Siangkoan Wan.
"Itulah karena adik misanku Nyo Hoan yang tinggi hati, sebenarnya aku sudah mengetahui kalau Suhumu bukan orang sembarangan."
Habis itu, pembicaraan mereka tak terdengar.
Lewat beberapa saat lagi, barulah terdengar Siangkoan Wan tertawa mengikik, disusul dengan tawa To-kan, tetapi nada tawa To-kan agak dipaksakan karena untuk menemani si dara saja.
Kang Hay-thian heran, pikirnya.
"Eh ... apakah mereka berdua membisikkan kata-kata rahasia?"
Kalau tak berbisik ke dekat telinga, ia tentu dapat menangkap pembicaraan meraka. Tiba-tiba terdengar teriakan Siangkoan Thay memanggil.
"Wan-ji, Wan-ji!"
Rupanya ia juga mencari dara itu.
"Yah, aku ke sini untuk adik Lim,"
Sahut Siangkoan Wan, yang muncul dari balik gunung-gunungan. Siangkoan Thay tertegun, tegurnya.
"Mengapa tengah malam buta begini kalian bersembunyi di sini?"
"Kami keluar mencarimu, bukankah kau pergi keluar bersama Kang-tayhiap?"
Kata Siangkoan Wan. Siangkoan Thay tertawa gelak-gelak.
"Budak cerdik, dapat menerka jitu. Benar, memang aku bersama Kangtayhiap mengantar pamanmu pulang."
Siangkoan Wan terkesiap.
"Mengapa tengah malam dia pulang? Ada urusan apa?"
"Tidak apa-apa. Watak pamanmu itu memang selalu ingin buru-buru, tiba-tiba ia menguatirkan adikmu yang di rumah seorang diri akan terjadi apa-apa, maka ia lantas pulang."
"Masakah perlu pada tengah malam!"
Bantah Siangkoan Wan.
"Ya, memang telah kukatakan begitu kepadanya, tetapi begitulah adat pamanmu. Teringat apa, terus saja dikerjakan, dia pergi mencari putranya yang sudah lama tidak pulang, kalau dia memaksa hendak pulang, aku pun tak dapat menahannya lagi."
Beberapa handai taulan Siangkoan Thay memang beradat aneh, bilang pergi terus pergi, bilang pulang terus pulang.
Siangkoan Wan sejak kecil sudah biasa dengan kelakuan mereka, maka ia pun tak curiga akan pulangnya sang paman di tengah malam itu, ia hanya bertanya bilakah pamannya itu akan datang lagi?
Siangkoan Thay tertawa.
"Kau juga terkenang akan adik misanmu itu, bukan? Pamanmu mengatakan, tak lama dia akan datang kemari."
Berdusta kepada sang putri, sebenarnya hati Siangkoan Thay tak enak, tapi demi menjaga jangan sampai sang putri mengalami derita batin, ia terpaksa berbuat begitu.
Dalam pada itu dengan bisik-bisik Kang Hay-thian mengajak Tiong Tiang-thong kembali ke dalam kamar, Siangkoan Thay pun tak mau membicarakan diri Nyo Ceng dan putranya lagi.
Ia mengalihkan pembicaraan.
"Rupanya kau gembira benar bermain dengan adik Lim, kalian tertawa, bisik-bisik, apa saja yang dibicarakan?"
Siangkoan Wan tertawa.
"Adik Lim hendak mengajar aku panjat pohon dan aku berjanji hendak membuatkan rangkaian bunga untuknya. Ilmu Ginkang yang baru saja dipelajarinya dari Kang-tayhiap, tanpa berpegangan dahan dapat berjalan di atas pohon. Aneh tidak, ayah?"
"Bagus, kalau begitu kalian harus lekas masuk tidur lagi supaya besok pagi tidak mengantuk!"
Siangkoan Thay tertawa. Tak lama setelah Kang Hay-thian pura-pura tak tahu, tanyanya.
"Kemana saja kau tadi?"
"Keluar mencari Suhu dan kebetulan berjumpa dengan nona Siangkoan. Suhu, aku "Kenapa? Bilanglah!"
Tukas Kang Hay-thian.
"Bukan urusanku, hanya nona Siangkoan hendak mohon sebuah permintaan padamu, tapi dia takut bilang sendiri."
"Tentang urusan apa?"
Kang Hay-thian tersenyum.
"Dia hendak minta kau mengajarkan semacam ilmu kepandaian kepadanya."
"Sebenarnya aku sudah meluluskan untuk memberinya pelajaran, mengapa tak berani bilang padaku?"
"Yang ingin ia pelajari ialah sebuah kepandaian istimewa, bukannya menurut apa yang Suhu hendak ajarkan padanya."
"Ilmu apa yang hendak dimintanya itu?"
Kang Haythian heran.
"Dia hendak belajar ilmu kepandaian yang dapat mengalahkan Nyo Hoan, ia bilang Suhu sudah pernah berkelahi dengan ayah Nyo Hoan, tentu mengerti keunggulan kepandaian keluarga Nyo, maka ia hendak belajar ilmu kepandaian yang dapat mematahkan kepandaian keluarga Nyo itu!"
"Sebab apa dia ingin belajar ilmu silat yang dapat mengalahkan Nyo Hoan?"
Tanya Hay-thian dengan rada heran.
"Supaya Nyo Hoan mau tunduk padanya,"
Sahut Tokan.
"Tampaknya dia sangat baik kepada Nyo Hoan, sebaliknya Nyo Hoan suka menang-menangan."
"Apakah begitu katanya? Dia suka Nyo Hoan, tentu aku menjadi tidak tenang,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa. Meski masih kecil, To-kan merasa sang guru sedang mengolok-' olok padanya, dengan kikuk ia berkata.
"Aku sih tak pusing, cuma anak she Nyo itu terlalu tengik tingkah-lakunya, aku memang agak muak padanya."
Diam-diam Hay-thian tahu To-kan agak cocok dengan Siangkoan Wan, cuma sayang To-kan lebih muda tiga tahun, kalau tidak, tentulah mereka akan merupakan dua sejoli yang setimpal.
"Suhu, engkau suka mengajar dia atau tidak?"
Demikian To-kan mendesak pula.
"Apalagi engkau memang sudah berjanji akan mengajarkan sesuatu padanya? Cuma dia minta Suhu suka merahasiakan hal ini agar tidak diketahui oleh ayahnya?"
"Dara cilik ini benar-benar nakal,"
Kata Hay-thian dengan tertawa.
"Lebih baik kau tetap bermain dengan dia dan kau nanti yang mengajarkan padanya."
"Cara bagaimana aku mengajar dia?"
Tanya To-kan dengan heran.
"Setelah aku mengajarkan kau, tentu kau dapat mengajarkan pula padanya,"
Kata Hay-thian.
"Kau sudah mahir Liap-in-poh dan Thian-lo-poh-hoat, masih ada lagi semacam kepandaian It-ci-sian-kang (ilmu tenaga jari), akan kuajarkan rumus rahasianya padamu, kemudian boleh kau ajarkan kepadanya, biar dia melatihnya sendiri kelak. Dia punya dasar Lwekang yang kuat, sekali tahu rumus rahasianya tentu akan cepat memahaminya. Dengan tiga macam kepandaian ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Nyo Hoan."
To-kan menjadi girang, katanya.
"Hah, memangnya dia sangat mengagumi kedua macam ilmu langkah itu, sekarang Suhu mengizinkan aku mengajarkan padanya, tentu dia akan sangat senang."
Begitulah Kang Hay-thian lantas mengajarkan It-cisian-kang kepada To-kan.
Ilmu itu memang sangat hebat, tapi rumusnya cukup sederhana, tidak seberapa lama To-kan sudah dapat mengingatnya dengan baik.
Besok paginya, sesudah sarapan pagi Siangkoan Thay lantas mengumpulkan segenap kerabatnya untuk mencarikan rumput obat bagi keperluan Tiong Tiangthong seperti yang dijanjikan kemarin.
Merasa berterima kasih, Tiang-thong dan Hay-thian ikut keluar bersama tuan rumah, sedangkan To-kan pagi-pagi sekali sudah pergi bermain bersama Siangkoan Wan.
Rupanya sudah puluhan tahun Siangkoan Thay tidak berkecimpung di dunia Kangouw, maka ia asyik sekali berbicara dengan Tiong Tiang-thong tentang kejadiankejadian di Kangouw yang menarik.
Ia pun banyak bertukar pikiran tentang ilmu silat dengan Kang Haythian, cuma kalau pembicaraan menyinggung tentang sumber ilmu silatnya serta asal-usulnya, maka segera ia membelokkan pokok pembicaraan, lebih-lebih tentang kakak-iparnya yang she Tiok itu, sedikitpun dia tidak mau menyebutnya.
Sampai petang bahan obat-obatan yang dikumpulkan sudah cukup banyak.
Tiang-thong mengucapkan terima kasih kepada Siangkoan Thay, beramai-ramai rombongan mereka lantas pulang.
Setiba di rumah, segera Siongkwan Thay menanyakan putrinya yang tidak nampak memapaknya itu.
Selagi dia hendak menyuruh mencarinya, tiba-tiba terdengar suara seruan Siangkoan Wan dari luar.
"Ayah, anak sudah pulang!"
Menyusul muncullah anak dara itu bergandengan tangan dengan Lim To-kan, tertampak leher To-kan berkalungkan karangan bunga, kedua tangan Siangkoan Wan membawa dua ekor burung kecil berbulu indah.
"Kemana saja anak kecil bermain sampai sehari suntuk?"
Tegur Siangkoan Thay.
"Aku dan adik Lim pergi menangkap burung. Lihatlah ayah, elok benar kedua ekor burung ini!"
Sahut Siangkoan Wan.
Diam-diam Kang Hay-thian menduga pastilah kedua bocah itu telah pergi saling belajar kepandaian yang baru saja diajarkan, burung-burung itu tentulah hasil ujian kepandaian mereka yang baru itu.
Tampaknya dalam waktu singkat ilmu It-ci-sian-kang itu pasti dapat diyakinkannya dengan sempurna.
Begitulah semalaman tiada terjadi apa-apa.
Besoknya Kang Hay-thian dan tokoh-tokoh Kay-pang itu lantas mohon diri.
Dengan rasa berat Siangkoan Thay dan putrinya mengantar sampai di bawah gunung barulah berpisah.
Di tengah jalan Tiong Tiang-thong telah berkata.
"Kali ini kita malah menambah seorang sahabat baik bagi Tokan. Lihatlah betapa akrabnya dia bergaul dengan anak dara itu, sayang kalian masih terlalu kecil."
"Tapi engkau juga mendapatkan seorang kawan baik, Tiong-kongkong,"
Sahut To-kan.
"Kemarin dulu kalian bertempur mati-matian, tapi tadi kalian berpisah dengan berat sekali."
"Sobatku dan sobatmu kan lain,"
Ujar Tiang-thong dengan tertawa.
"Tapi kau pun benar. Biarpun tingkahlaku Siangkoan Thay rada aneh, namun wataknya cocok juga dengan aku. Kalau dibandingkan Nyo Ceng, terang Siangkoan Thay jauh lebih baik. Eh, bicara tentang Nyo Ceng, aku ingin tanya padamu, apa yang telah terjadi kemarin malam sehingga dia dienyahkan oleh Siangkoan Thay?"
"Ya, sekarang bolehkah kuceritakan,"
Ujar Hay-thian, lalu ia pun menguraikan apa yang dialaminya kemarin malam.
"Ternyata tidak meleset dari dugaanku, terang Nyo Ceng itu telah berkomplot dengan pihak kerajaan,"
Kata Tiang-thong.
"Sayang pukulanmu itu kurang keras."
Mendengar percakapan itu, diam-diam To-kan juga merasa penasaran bagi Siangkoan Wan jika anak dara itu sampai terpengaruh oleh pemuda dari keluarga tak senonoh itu.
Dalam pada itu Kang Hay-thian telah berkata.
"Sekarang telah diketahui dengan pasti anak Li Bun-sing berada di rumah keluarga Tiok. Kabarnya iparnya she Tiok itu juga ingin bergerak melawan kerajaan, tapi entah mengapa dia tidak mau berhubungan dengan orang-orang Kangouw. Kay-pang kalian biasanya sangat tajam mata telinganya, bolehlah kalian coba menyelidikinya."
"Baik, tentu akan kuperhatikan,"
Kata Tiang-thong.
"Sekarang kerajaan sedang mengincar Kay-pang dan Binsan-pay, aku harus lekas pulang untuk mengatur penjagaan, juga perlu mengolah obat-obat luka yang diminta pasukan pergerakan itu. Bila urusanku sudah agak longgar, tentu aku akan datang ke Bin-san untuk menemui kau."
Begitulah mereka lantas berpisah, yang satu menuju ke selatan, yang lain berangkat ke utara.
Sudah ada setengah tahun Kang Hay-thian meninggalkan rumah, tentang Li Kong-he sudah diperoleh berita yang pasti.
Sekarang yang masih dikuatirkan olehnya adalah Yap Leng-hong saja, ia tidak tahu bahwa saat itu dengan selamat Yap-Leng-hong sudah pulang sampai di rumah.
Hari itu setelah melepaskan diri dari pemerasan Hong Jong-liong, dengan cepat Leng-hong langsung kembali ke Tong-peng-koan, walau dia sudah terlepas dari ancaman Hong Jong-liong, tapi bayangan gelap yang ditanamkan Hong Jong-liong dalam benaknya sukar dilenyapkan.
Pengalaman malam itu seakan impian buruk yang mengerikan dan tak terlupakan.
Hong Jong-liong adalah jago pengawal gubernur Siamsay, yaitu ayah Leng-hong, tapi tugas yang sebenarnya adalah mata-mata yang dikirim kerajaan untuk mengawasi ayahnya.
Maka tidak heran Hong Jong-liong cukup mengetahui seluk-beluknya, bahkan sekarang ada dua kelemahannya yang dipegang oleh Hong Jong-liong, yaitu pertama, memalsukan diri orang lain dan mengaku sebagai keponakan Kok Tiong-lian.
Kedua, di kala kepepet dia mengkkhianati kawan sendiri sehingga Utti Keng yang terluka itu kena ditawan antek-antek kerajaan dan dia sendiri berhasil menyelamatkan diri.
Karena adanya kelemahan-kelemahan yang dipegang oleh Hong Jong-liong itu, terpaksa Leng-hong tunduk dan terima menjadi mata-mata di rumah keluarga Kang serta setiap saat harus melaporkan gerak-gerik Kang Hay-thian dengan pemimpin-pemimpin pasukan pergerakan.
Ia tidak ingin berbuat begitu, tapi juga tidak berani membangkang.
Kalau meninggalkan keluarga Kang saja rasanya berat pula kehilangan sang Sumoay yang cantik jelita itu, apalagi dia telah ditetapkan sebagai murid ahli waris Kang Hay-thian.
Ia pikir jalan satu-satunya adalah merebut hati Kang Hiau-hu lebih dulu, jika sudah menikah, karena beras sudah menjadi nasi, andaikan urusan akhirnya ketahuan juga masih ada kemungkinan akan mendapat pengampunan dari Kang Hay-thian.
Begitulah dengan rasa bimbang, akhirnya Leng-hong sampai juga di rumah.
Tiba-tiba terbayang pula olehnya bayangan pemuda yang beralis tebal dan bermata besar, yaitu Ubun Hiong.
Selama beberapa bulan ini pemuda itu selalu berdampingan dengan Hiau-hu, jangan-jangan di antara mereka sudah ....
Tapi lantas terpikir lagi olehnya.
"Ah, dalam hal apa anak muda itu mampu menandingi aku? Bicara tentang kepintaran, tampang muka, ilmu silat maupun sastra, tiada satu pun yang dia mampu melebihi aku. Apalagi aku mendapat sokongan ibu guru yang telah menganggap aku sebagai keponakannya, mustahil citacitaku takkan terkabul?"
Setiba di depan perkampungan kediaman Kang Haythian, tiba-tiba Leng-hong mendengar di balik semaksemak pohon sana ada suara mengikik tawa, lalu terdengar pula suara nyaring seperti benturan dua batang pedang.
Segera Leng-hong kenal suara tertawa itu adalah suara Kang Hiau-hu.
Ia menduga sang Sumoay mungkin sedang berlatih ilmu pedang dan mungkin kawan berlatihnya itu adalah Ubun Hiong, seketika perasaannya menjadi kecut.
Selagi dia hendak turun dari kudanya untuk mengintip, mendadak Jik-liong-ki, kuda tunggangannya itu telah meringkik lebih dulu, mungkin binatang itupun kegirangan karena sudah sampai di rumah.
Rupanya suara ringkik kuda itu telah mengejutkan Kang Hiau-hu, anak dara itu telah berlari keluar membelah semak-semak pohon sambil berseru.
"He, seperti suara Jik-liong-ki kita. Aha, kiranya Toasuko sudah pulang!"
Demikian ia lantas memapak maju dan ketika dilihatnya Yap-Leng-hong cuma sendirian, segera ia bertanya.
"Eh, mengapa Toasuko sendirian saja? Dimanakah ayah?"
"Ceritanya sangat panjang, biarlah kita bicarakan lagi sesudah menemui bibi lebih dulu,"
Kata Leng-hong.
"Engkau sudah pulang, Toasuko?"
Demikian Ubun Hiong ikut menyapa dengan girang menyusul di belakang Hiau-hu.
"Eh, luka Sute sudah sembuh, syukurlah,"
Sahut Lenghong dengan mengunjuk rasa simpatik. Padahal di dalam hati ia ingin meremas sang Sute.
"Tentu ilmu silat Sute selama setengah tahun ini sudah banyak maju."
Sambil berkata ia terus mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Ubun Hiong.
Sama sekali Ubun Hiong tidak berjaga-jaga, dengan suka hati ia pun menjabat tangan sang Suheng.
Di luar dugaan mendadak Leng-hong menggenggam sekuatnya dengan Lwekangnya, Ubun Hiong terkejut dan dengan sendirinya mengeluarkan tenaga dalam untuk melawan.
Mestinya dasar Lwekang Ubun Hiong lebih kuat daripada Yap Leng-hong, tapi karena dia baru sembuh dari lukanya, sebaliknya selama setengah tahun ini Lenghong telah banyak bertambah kuat, karena itu Ubun Hiong menjadi lemah malah, ia sampai meringis menahan sakit.
"Wah, hebat benar tenaga Toasuko,"
Kata Ubun Hiong dengan tersenyum getir sambil memijat-mijat tangannya.
Melihat itu, Hiau-hu mengira Toasuheng sengaja menguji kekuatan Sutenya, walaupun ia tidak menyalahkan Leng-hong, tapi ia sangat menaruh perhatian kepada Ubun Hiong, cepat ia bertanya.
"O, apakah kesakitan? Tidak apa-apa bukan?"
"Ah, tidak apa-apa,"
Sahut Ubun Hiong pura-pura, lalu tanpa curiga ia mengajak mengobrol lagi kepada Yap Leng-hong.
Sungguh cemburu dan kuatir pula hati Leng-hong melihat hubungan kedua Sute dan Sumoay yang rapat itu, diam-diam ia bertekad akan mencari satu akal untuk memisahkan mereka, namun lahirnya dia tetap tenang tenang saja, ia minta maaf kepada Ubun Hiong, lalu bertanya pula keadaan selama berpisah ini.
Belum sempat mereka bicara banyak, tiba-tiba Kok Tiong-lian sudah muncul, segera ia pun berseru.
"Aha, engkau sudah pulang, Leng-hong? Selama ini aku merasa kuatir sekali atas keadaan kalian. Dimanakah pamanmu? Mampir kemana lagi dia?"
Tiong-lian tahu sahabat suaminya sangat banyak dan mungkin tertahan oleh salah seorang sahabat, lalu Lenghong disuruh pulang lebih dulu.
Sama sekali tak terduga olehnya bahwa sang suami akan mengalami suatu halangan.
Diam-diam Leng-hong merasa senang karena sang bibi sedemikian ramah padanya, seketika besar lagi hatinya, segera ia menjura dan menjawab.
"Titji ingin minta maaf padamu, bibi. Mungkin paman mengalami sesuatu kesukaran, tapi kepandaian Titji terlalu rendah sehingga tidak dapat mencari tahu jejaknya, sebab itulah buru-buru pulang lebih dulu untuk melapor kepada bibi."
Tiong-lian terkejut, cepat ia bertanya.
"He, ada apakah? Bukankah kau berada bersama pamanmu? Apa yang sudah terjadi? Marilah masuk ke rumah dulu, ceritakanlah pengalamanmu selama ini."
"Pengalaman selama setengah tahun sungguh panjang untuk diceritakan,"
Kata Leng-hong.
"Tapi ilmu silat Suhu teramat sakti, andaikan beliau mengalami sesuatu juga tidak jadi halangan baginya."
Lalu ia pun menceritakan kejadian Kang Hay-fhian bertemu Thia Pek-gak dan Ki-lian-sam-siu sehingga mendapat berita tentang Lim Jing, ketua Thian-li-kau yang tersohor.
Akhirnya Kang Hay-thian seorang diri berangkat ke Cong-liong-poh di Bici untuk menyampaikan berita, semuanya ia tuturkan dengan jelas, lalu ia menghela napas dan berkata.
"Demi mengetahui jago-jago istana hendak menggerebek Lim Jing di Cong-liong-poh, sedangkan kedua ekor kuda kami terluka, tanpa pikir Suhu lantas pergi ke Bici untuk menolong Lim Jing. Suhu menganggap aku tak mampu mengikuti kecepatan jalannya, maka aku disuruh menunggu di suatu kota kecil Kiokyau."
"Ya, watak Suhumu memang begitulah, untuk menolong orang dia selalu ingin cepat-cepat dilakukannya,"
Sahut Tiong-lian.
"Kemudian bagaimana, dia tidak kembali lagi?"
"Suhu berjanji 10 hari kemudian akan kembali, tapi sampai hari kesebelas beliau masih belum muncul, pada malamnya lantas terjadi sesuatu di luar dugaan,"
Tutur Leng-hong pula.
"Apakah kau kepergok antek-antek kerajaan?"
Tanya Tiong-lian.
"Betul, dugaan bibi benar-benar sangat tepat,"
Sahut Leng-hong.
Padahal Tiong-lian hanya kena separoh saja dugaannya.
Antek-antek kerajaan itu hanya secara kebetulan memergoki Leng-hong di kala mereka menguber buronan, yaitu Utti Keng.
Diam-diam Leng-hong merasa waswas, ia pikir ceritanya harus hati-hati supaya tidak menimbulkan curiga ibu gurunya, segera ia melanjutkan.
"Tapi mereka bukan antek kerajaan biasa, yang mengepalai mereka justru adalah wakil komandannya, Ho Lan-bing. Dalam perlawananku akhirnya aku kena senjata rahasia Ho Lanbing, berkat Jik-liong-ki aku beruntung selamat. Lihatlah ini, lukaku masih belum sembuh."
Padahal malam itu meski Leng-hong dua kali diserang senjata rahasia oleh Ho Lan-bing, tapi berturut-turut dia diselamatkan oleh Utti Keng dan Hong Jong-liong sehingga tidak sampai terluka apa-apa, lukanya ini adalah perbuatannya sendiri yang sengaja dilakukannya.
Dengan kecerdikan Kok Tiong-lian, mestinya tidak sukar baginya untuk mengetahui luka itu tulen atau buatan sendiri, tapi dia percaya penuh kepada 'keponakan yang baik' itu, maka dia hanya memandang sekilas saja, lalu tidak mengusut lebih lanjut.
Ia malah berkata.
"Kau ditinggal pergi oleh Suhumu, tentu kau telah banyak menderita. Untung kau berhasil melarikan diri."
"Tapi Pek-liong-ki telah dirampas oleh mereka,"
Sahut Leng-hong.
"Ah, asal orangnya selamat, apa artinya seekor kuda saja,"
Ujar Tiong-lian.
"Ya, jangan kuatir Toasuko, biarlah kelak akan kurebut kembali,"
Hiau-hu menyela.
"Anak Hu, enak saja kau bicara, apakah kau kira Ho Lan-bing itu kaum keroco yang mudah dirobohkan?"
Omel Tiong-lian tertawa.
"Jika begitu, harap ibu lekas mengajarkan semacam kepandaian lihai padaku untuk mengalahkan orang she Ho itu,"
Kata Hiau-hu.
"Apakah kau kira ilmu silat yang lihai sedemikian cepat kau pelajari? Untuk bisa mencapai tingkatan sempurna juga perlu giat belajar dan makan tempo tertentu,"
Kata Tiong-lian.
"Tapi baiklah, aku tahu maksud baikmu terhadap Piauko. Biarlah besok juga akan kuajarkan sejurus ilmu pedang yang dapat kalian mainkan bersama agar kelak dapat merobohkan tokoh seperti Ho Lan-bing atau jago silat lainnya."
Mimpi pun Tiong-lian tidak menyangka bahwa Yap Leng-hong ini adalah keponakannya yang palsu.
Dia memang mempunyai maksud mendekatkan Leng-hong kepada putrinya, sebab itulah dia sengaja hendak mengajarkan ilmu pedang yang harus dimainkan mereka berdua.
Sebagai pemuda yang cerdik sudah tentu Lenghong dapat memahami maksud ibu gurunya.
Segera Leng-hong menghaturkan terima kasih, katanya pula.
"Sebenarnya aku ingin mencari Suhu, tapi sepanjang jalan kulihat banyak sekali anjing alap-alap pihak kerajaan berlalu-lalang, kukuatir terjadi apa-apa atas diriku yang berkepandaian rendah ini sehingga pulang melapor bibi saja tak dapat, maka buru-buru aku pulang lebih dulu agar bibi maklum."
"Memangnya waktu yang dijanjikan Suhumu juga sudah lewat, memang seharusnya kau mesti pulang melapor padaku,"
Kata Tiong-lian tanpa curiga walaupun uraian Yap Leng-hong itu banyak dustanya, terutama mengenai Utti Keng dan Hong Jong-liong. Sesudah merenung sejenak, kemudian Tiong-lian berkata pula.
"Suhumu pulang terlambat, kukira pasti terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Dari sini ke Bici terlalu jauh, andaikan terjadi apa-apa atas dirinya juga aku tidak keburu menolongnya lagi. Celakanya baru-baru ini aku menerima kabar pula bahwa pihak kerajaan akan bertindak terhadap Bin-say-pay. Sebagai ketua Bin-saypay tidaklah mungkin aku menempuh perjalanan jauh untuk urusan lain."
"Tapi tentang keadaan ayah perlu juga diselidiki,"
Kata Hiau-hu. Namun Tiong-lian menjawab.
"Sepuluh hari lagi adalah hari Cheng-beng, para kerabat Bin-say-pay akan berkumpul semua di atas Bin-san untuk membersihkan makam cikal-bakal kita, yaitu Tok-pi Sin-ni dan Lu Si-nio, maka paling tidak lima hari sebelumnya kita harus berangkat dari rumah. Semoga dalam lima hari ini ayahmu sudah dapat pulang, bila belum pulang, terpaksa aku tak dapat menunggu lagi. Setiba di Bin-san tentu aku dapat minta bantuan para kawan Bu-lim untuk mencari berita tentang ayahmu."
"Selama lima hari ini apakah kita harus tinggal diam saja, ibu? Tidakkah lebih baik minta kakek mengirim berita kepada Kay-pang dan minta bantuan Kay-pang mencari kabar keadaan ayah?"
Ujah Hiau-hu.
"Boleh juga usulmu ini,"
Sahut Tiong-lian.
"Cuma kita pun kenal watak kakekmu yang kekanak-kanakan itu, apalagi usianya memang juga sudah lanjut, sebenarnya tidak enak kalau merisaukan beliau. Tapi apa boleh buat, dalam keadaan terpaksa mesti membikin capai padanya. Nah, Hiong-ji, boleh kau pergi mengundang kakek pulang dulu."
Kiranya paling akhir ini Kang Lam mempunyai kenalan main catur di kota, jika iseng tentu dia ke kota untuk main catur, terkadang sampai bermalam.
Begitulah sesudah Ubun Hiong berangkat, sorenya Kok Tiong-lian lantas mengajarkan ilmu pedang kepada Lenghong dan Hiau-hu sebagaimana dijanjikannya.
Baca Juga: Kereta Berdarah 10
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 2