Eps 6 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Diam-diam Hiau-hu merasa ibunya kurang adil, mengapa Ji-sukonya tidak disuruh belajar sekalian.
Namun lantas teringat pula olehnya bila perlu kelak toh dirinya dapat mengajarkan sendiri kepada Ubun Hiong, rasanya sang ibu juga takkan marah padanya.
Kiranya ilmu pedang itu meliputi 8 x 8 = 64 gerakan, dimainkan dengan keras dan halus sehingga cocok bagi permainan ganda campuran.
Dasar ilmu silat Yap Lenghong jauh di bawah Hiau-hu, tapi dia lebih cerdas sehingga cuma dalam waktu satu-dua jam saja dia sudah cukup hapal memainkan 64 gerakan ilmu pedang itu.
Tengah mereka asyik berlatih, sekonyong-konyong ada orang bergelak tertawa dan berseru.
"Bagus! Ilmu pedang bagus. Muridnya juga bagus!"
Waktu mereka menoleh, kiranya Kang Lam sudah pulang bersama Ubun Hiong.
"He, Jisuko, kami sedang berlatih ilmu pedang baru, apakah engkau mau ikut belajar?"
Demikian mendadak Hiau-hu sengaja berkata demikian di hadapan sang ibu. Namun Ubun Hiong menjawab.
"Tidak, Si-mi-kiamhoat saja aku belum hapal, mana boleh aku belajar yang baru lagi, kan tambah tidak keruan nanti."
"Ya, sudahlah, kita belajar lagi lain hari saja,"
Cepat Leng-hong menyela.
"Kakek sudah pulang, biarlah kita memberi laporan dulu."
Habis berkata ia lantas menyimpan kembali pedangnya dan memberi hormat kepada Kang Lam.
"Sudahlah, tak perlu banyak adat,"
Kata Kang Lam dengan tertawa.
"Tentang pengalamanmu sudah kudengar dari Hiong-ji, kau tidak perlu mengulangi lagi."
Segera Tiong-lian juga berkata.
"Ayah, keadaan Haythian entah bagaimana, kami ingin mohon engkau suka..."
"Ya, aku sudah tahu, besok juga aku lantas berangkat ke Tekciu,"
Sela Kang Lam.
"Coba kalau bukan urusan ini, masakah aku mau pulang? Boleh kau tebak dimanakah Hiong-ji menemukan aku?"
"Bukankah di rumah kawanmu bermain catur itu?"
Sahut Tiong-lian.
"Tidak, tapi di sebuah rumah minum yang baru saja dibuka,"
Kata Kang Lam.
Mendengar itu, hati Yap Leng-hong tergetar dan wajahnya menjadi pucat.
Namun orang lain tidak memperhatikan perubahannya itu, Tiong-lian menyangka pemuda ini tentu terlalu lelah saja, maka tidak menanyakannya.
Dalam pada itu Hiau-hu telah berkata dengan tertawa.
"Wah, kakek telah mendapat tempat mengobrol yang baru. Kapan-kapan harap kakek membawa serta aku ke sana."
"Ya, tempat baru itu memang sangat menyenangkan, araknya bagus, masakannya lezat, pelayanan rapi, tempatnya sejuk di tepi telaga,"
Demikian kata Kang Lam yang dasarnya memang ceriwis.
"Cuma sayang, besok juga kakek akan berangkat, entah kapan barulah aku dapat mengajak kau ke sana."
"Jika besok pagi juga ayah akan berangkat, silakan mengaso saja dahulu. Aku pun harus menulis sepucuk surat untuk disampaikan kepada Nyo-thocu,"
Kata Tionglian.
"Apakah kau kuatir mulutku kurang jelas menyampaikan keinginanmu?"
Ujar Kang Lam dengan tertawa.
"tapi boleh juga, dengan sepucuk surat akan kelihatan lebih sopan."
Begitulah, habis makan malam mereka lantas pulang ke kamar masing-masing.
Tapi sepanjang malam Yap Leng-hong tak bisa pulas, bayangan Hong Jong-liong seakan-akan iblis yang siap menerkamnya selalu terkenang olehnya.
Teringat olehnya pesan Hong Jongliong yang terakhir tempo hari tentang pos penghubung di kemudian hari adalah sebuah rumah minum arak yang baru dibuka di kota Tong-peng, letak rumah minum itu adalah di tepi telaga.
Setiap pelayan di rumah minum itu adalah komplotan sendiri, kode penghubungnya adalah istilah "matahari dan rembulan tak bersinar".
Tadinya demi untuk melepaskan diri dari pemerasan Hong Jong-liong, maka segalanya Yap Leng-hong mengiakan saja, ia pikir bila perlu kelak dapat menghindari apa yang dipaksakan oleh Hong Jong-liong itu.
Siapa duga baru hari pertama pulang.
Kang Lam sudah lantas membenarkan adanya rumah minum yang ditunjuk itu, keruan hatinya sangat terguncang dan pikiran pun menjadi kacau.
Padahal dia hanya ada suatu persoalan saja, yaitu 'tunduk kepada perintah Hong Jong-liong atau tidak?'.
Cuma persoalan ini memang menyangkut untung dan rugi kehidupannya di masa depan.
Kelemahannya telah dipegang oleh Hong Jong-liong, tapi ia tiada mempunyai keberanian untuk mengaku terus terang kepada ibu gurunya.
Sebab itulah semalam suntuk ia tidak dapat pulas dan persoalan itu tetap sukar dipecahkan.
Tanpa terasa fajar sudah menyingsing, ia coba bersemadi untuk mengumpulkan semangat.
Dalam pada itu terdengarlah suara Kang Hiau-hu dan Ubun Hiong sedang bicara di luar jendela, cepat Leng-hong memakai baju dan keluar.
Beramai-ramai mereka lantas pergi mengantar keberangkatan Kang Lam.
Selesai itu, Kok Tiong-lian berkata kepada Leng-hong.
"Sebagai murid pewaris, sebaiknya kau lebih giat mempelajari ilmu silat perguruan kita. Pertemuan Bin-san kali ini aku pun bermaksud mengajak kau ke sana untuk menambah pengalaman. Anak Hu, iringilah latihan Toasuhengmu agar kau pun dapat lebih maju."
Begitulah seharian mereka bertiga saudara perguruan lantas berlatih di taman bunga.
Meski Hiau-hu merasa ibunya agak pilih kasih namun ia pun tidak menaruh curiga bahwa sang Piauko ternyata mempunyai maksud tertentu terhadap dirinya.
Sebenarnya Hiau-hu tiada mempunyai kesan baik kepada Leng-hong, tapi juga tidak merasa jemu, sebab apapun juga pemuda itu adalah Piaukonya.
Namun demikian di kala latihan tampaknya dia lebih akrab dan lebih rapat bergaul dengan Ubun Hiong.
Sudah tentu Leng-hong merasa iri, namun lahirnya dia tidak memperlihatkan sesuatu tanda apa-apa.
Tapi hatinya tambah panas ketika malamnya ia melihat Hiauhu dan Ubun Hiong keluar berjalan-jalan bersama.
Ia merasa serba salah apakah mesti ikut mereka keluar atau tetap tinggal di dalam rumah saja.
Pada saat itulah tiba-tiba Kok Tiong Lian berkata padanya.
"Tit-ji, kau duduklah di sini, aku ingin bicara padamu."
Leng-hong mengiakan dengan hormat. Lalu dengan tersenyum Tiong-lian bertanya.
"Tampaknya kau menahan sesuatu dalam perasaanmu? Apakah dapat kau ceritakan kepada bibimu ini?"
"Tidak ada!"
Sahut Leng-hong dengan mengelak.
"Kulihat kau agak kesal, apakah barangkali Hiau-hu telah membikin marah padamu?"
Tanya Tiong-lian pula.
"Tidak, Piaumoay sangat baik padaku, yang kupikirkan adalah Suhu saja,"
Sahut Leng-hong.
Tengah bicara, sekonyong-konyong terdengar suara orang menggedor pintu dengan keras, diam-diam Tionglian heran, siapakah yang malam-malam kemari.
Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara bentakan Ubun Hiong.
"Perempuan keparat, besar sekali nyalimu, berani kau datang ke sini!"
Menyusul lantas terdengar suara "sret", mungkin pedangnya sudah mulai menyerang.
Cepat Kok Tiong-lian dan Yap Leng-hong berlari keluar, maka tertampaklah di pekarangan luar berdiri seorang wanita berbaju hitam, semula berkerudung kain sutera, tapi sekarang sudah dibuka sehingga kelihatan jidatnya dekat pelipis terdapat sejalur luka lecet yang masih berdarah.
Tusukan pedang Ubun Hiong tadi rupanya menancap di atas batang pohon dan belum lagi dicabut keluar.
Melihat wanita itu, seketika tergetarlah hati Lenghong.
Kiranya dia bukan lain adakan istri Utti Keng, yaitu Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in.
"Jangan kurang sopan, anak Hiong,"
Cepat Tiong-lian bersuara.
"Apakah yang datang ini..."
"Su-nio, dia adalah perempuan keparat yang melukai aku dan Sumoay tempo hari itu,"
Seru Ubun Hiong.
Kiranya tentang Kang Hay-thian telah berubah menjadi kawan dengan Utti Keng suami istri di markas Kay-pang di Tekciu tempo hari, berita itu sudah diketahui oleh Kok Tiong-lian melalui orang Kay-pang, cuma Tionglian belum mengatakan kepada Ubun Hiong, sebab waktu itu Ubun Hiong masih belum sembuh lukanya.
Ayah Ubun Hiong pada masa hidupnya adalah seorang Piau-su kenamaan, tapi karena barang kawalannya kena dirampas oleh Utti Keng, saking dendamnya, sepulangnya lantas jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Sebab itulah Ubun Hiong memandang Utti Keng sebagai musim pembunuh ayah, ditambah lagi terluka di lembah sunyi tempo hari, maka begitu melihat Ki Seng-in dia lantas menyerang.
Akan tetapi Ki Seng-in sempat menghindar sehingga tusukan Ubun Hiong itu mengenai batang pohon.
Kok Tiong-lian sendiri belum kenal Ki Seng-in, tapi demi mendengar caci-maki Ubun Hiong tadi, sudah diduganya siapakah pendatang wanita itu.
Dalam pada itu Ki Seng-in sudah membuka suara.
"Ini tentulah Kang-hujin adanya? Ya, memang kami suami istri pernah melukai putrimu, jika Kang-hujin masih dendam boleh silakan bunuh saja diriku."
Di sebelah sana Ubun Hiong sudah mencabut pedangnya dari batang pohon dan siap untuk melabrak musuh lagi. Kang Hiau-hu juga sudah melolos pedang dan siap membantu. Tapi Tiong-lian lantas membentak.
"Mundur kalian, jangan kurangajar kepada tetamu! Utti-hujin, harap maafkan. Entah ada keperluan apakah nyonya berkunjung kemari?"
"Ya, memang ada sedikit keperluan,"
Sahut Ki Seng-in.
"Tapi tampaknya kedatanganku ini kurang tepat waktunya dan salah sasaran."
Kiranya ia menjadi kurang senang melihat Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu masih bersikap menantang padanya.
"Ibu, hanya kawan yang datang barulah dapat kita anggap sebagai tamu!"
Tiba-tiba Kang Hiau-hu menyela. Ki Seng-in tertawa dingin, baru saja dia hendak membuka suara, tiba-tiba Leng-hong tampil ke muka dan berkata.
"Sute dan Sumoay, mungkin kalian belum tahu bahwa Suhu sudah menjadi kawan Utti-thocu, persengketaan kecil dahulu sudah dihapuskan. Apalagi Sumoay mungkin juga belum tahu bahwa ketika di lembah sunyi tempo hari sebenarnya Utti-hujin tidaklah sungguh-sungguh hendak melukai kau, k esalah pahaman tempo hari sudah dibicaranya dengan baik antara Suhu dan Utti-thocu berdua dan sudah tak dipikirkan lagi. Kedatangan Utti-hujin sekarang justru adalah tamu kita, andaikan kita hendak mengundangnya mungkin malah sukar."
Kiranya Yap Leng-hong sengaja hendak mengambil hati mereka yang bersangkutan, berbareng juga ingin menjajaki sikap Ki Seng-in.
Satu hal sudah pasti baginya adalah Ki Seng-in belum mengetahui dia yang membikin celaka Utti Keng, kalau tahu, mustahil sejak tadi Ki Sengin tidak mengumbar perasaannya.
Kang Hiau-hu tampak melengak atas ucapan Lenghong itu, ia pandang sang ibu dengan ragu-ragu.
"Ucapan Suhengmu memang betul, anak Hu,"
Kata Tiong-lian.
"Kau mesti minta maaf kepada Utti-hujin."
Mendengar itu, masih boleh juga bagi Kang Hiau-hu, sebaliknya Ubun Hiong menjadi serba susah.
Dia tak dapat melawan kehendak perguruan, di lain pihak sakit hati orang tua juga tak bisa dilupakan olehnya, karena itu ia menjadi berduka dan bingung.
Dalam pada itu Ki Seng-in telah berkata pula.
"Kanghujin, aku hanya ingin bertemu dengan Kang-tayhiap untuk bertanya sesuatu padanya, habis itu segera aku akan pergi!"
"Suamiku tiada berada di rumah,"
Sahut Tiong-lian.
"O, jika begitu aku benar-benar datang pada waktu yang kurang tepat,"
Ujar Ki Seng-in sambil menghela napas.
"Baiklah, biarlah aku mohon diri saja."
Habis berkata segera Ki Seng-in memutar tubuh hendak berangkat. Namun Kok Tiong-lian lantas berseru.
"Nanti dulu, Utti-hujin! Caramu ini bukankah terlalu memandang enteng padaku?"
Mendadak langkah Ki Seng-in tampak sempoyongan, ia menoleh dan menjawab.
"Ada apa lagi?"
"Biarpun suamiku tidak di rumah, segala apa akulah yang bertanggung jawab dan akan kulakukan dengan sekuat tenaga,"
Kata Tiong-lian tegas. Ki Seng-in merasa kagum atas sikap Kok Tiong-lian yang tegas itu, lekas ia minta maaf dan berkata.
"Ya, Kang-hujin adalah Ciangbunjin, seorang ksatria kaum kita, masakah aku berani memandang enteng padamu. Sebenarnya aku pun tiada urusan yang terlalu penting, hanya ingin mencari suatu berita kepada Kang-tayhiap."
"Andaikan aku tidak tahu, boleh jadi muridku inipun tahu, dia baru pulang kemarin dari bepergian bersama gurunya,"
Kata Tiong-lian.
"O, ketika di Tekciu tempo hari suamiku telah berlaku kasar padamu, aku harus minta maaf juga kepada saudara muda ini,"
Kata Seng-in kepada Leng-hong.
Diam-diam hati Leng-hong berdebar-debar.
Tapi dari ucapan Ki Seng-in yang sungguh-sungguh itu ia merasa nyonya itu tentu belum mengetahui kejadian atas diri suaminya baru-baru ini.
Maka ia berkata.
"Aku berpisah dengan Suhu pada setengah bulan yang lalu. Berita apa yang hendak kau tanya, bila tahu pasti akan kuceritakan."
"Marilah masuk saja ke dalam rumah, betapapun juga hari ini Utti-hujin harus tinggal dulu di sini, masakah kau tidak menganggap kami sebagai sahabat?"
Ujar Tionglian dengan tertawa".
Kiranya Tiong-lian dapat melihat keadaan Ki Seng-in yang payah itu, cuma tidak diketahui bagaimana lukanya, maka dengan tulus hati ia hendak menahannya supaya bermalam.
Sudah tentu Ki Seng-in dapat memahami maksud baik nyonya rumah itu, pikirnya.
"Keadaanku agak payah. Meski muridnya yang kecil ini masih dendam padaku, tapi sebagai tamu ibu gurunya rasanya Ubun Hiong inipun tak berani berbuat sembrono padaku. Dahulu suamiku secara gagah berani pergi menemui Kang Hay-thian, masakah sekarang aku malah takut dan menolak maksud baik nyonya Kang?"
Begitulah, maka dengan tertawa ia lantas berkata.
"Sungguh aku sangat berterima kasih atas kesediaan Kang-hujin menganggap aku sebagai sahabat. Mau tak mau aku mesti membikin repot padamu."
Yang dipikirkan Ki Seng-in adalah sikap permusuhan Ubun Hiong, sebaliknya dia lengah terhadap Yap Lenghong.
Padahal meski Ubun Hiong masih dendam padanya, tapi jiwa pemuda itu sangat jujur, betapapun juga tidak nanti dia berbuat tidak pantas terhadap tamu ibu gurunya.
Apalagi Ki Seng-in juga bukan musuhnya yang sejati, cuma dia adalah istri Utti Keng, maka timbul juga rasa permusuhannya.
Sebaliknya diam-diam Yap Leng-hong mengandung maksud tidak baik padanya, sedikitpun tidak disadari oleh Ki Seng-in, ia malah berkesan baik padanya karena dianggapnya sebagai ksatria muda yang luhur budi.
Sesudah masuk ke dalam rumah dan dipersilakan duduk, lalu Ki Seng-in berkata.
"Sesungguhnya kedatanganku ini adalah ingin mencari kabar tentang diri suamiku. Pekerjaan suamiku sudah kalian ketahui sehingga selalu menjadi buronan pihak yang berwajib, musuhnya juga tidak sedikit, sebab itulah aku agak kuatir baginya. Tiga bulan yang lalu kami berpisah untuk melaksanakan pekerjaan masing-masing dan berjanji akan berkumpul lagi sebulan kemudian, tapi sampai saat ini dia sama sekali tidak ada kabarnya. Dia pernah menyatakan hendak berkunjung kepada Kang-tayhiap, maka hari ini aku sengaja datang kemari untuk mencari keterangan."
"Suamiku sendiri sudah keluar setengah tahun lamanya dan sampai hari ini juga belum pulang,"
Sahut Tiong-lian.
"Hong-ji, apakah di tengah jalan kalian pernah bertemu dengan Utti-thocu?"
Leng-hong memang sudah menduga Ki Seng-in pasti ingin mencari tahu tentang diri suaminya, maka ia sudah siap sedia, segera ia menjawab dengan sewajarnya.
"Tidak pernah bertemu. Cuma sesudah Suhu berangkat sendiri, entahlah apakah beliau pernah bertemu dengan Utti-thocu atau tidak."
"Dengan kepandaian Utti-thocu yang tinggi, rasanya tidak sampai terjadi apa-apa atas dirinya,"
Ujar Tionglian.
"Ya, kalau kaum keroco biasa saja tentulah suamiku tidak perlu takut,"
Kata Ki Seng-in.
"Tapi setahuku, kali ini jago-jago kerajaan yang dikerahkan untuk menangkapnya terdapat seorang yang bernama Ho Lanbing yang terkenal lihai permainan ruyungnya. Selain itu kabarnya Ki-lian-sam-siu juga telah menggabungkan diri pada pihak kerajaan, sedangkan mereka bertiga adalah musuh kami semua."
Ternyata berita yang diterima Ki Seng-in tidaklah sempurna.
Bahwasanya Ho Lan-bing memang telah muncul di daerah Siamsay dan Kamsiok, tapi yang dituju adalah Lim Jing yang disinyalir bersembunyi di Bici, sedangkan Be Seng-liong itu orang ketiga dari Ki-liansam-siu juga sudah mati.
Namun demikian perhitungannya juga tidak meleset seluruhnya, sebab kemudian Utti Keng memang benar telah ditawan oleh Ho Lan-bing.
Tiba-tiba Hiau-hu menukas.
"Kau bilang Ho Lan-bing? Eh Toasuko, ketika di Kiokyau bukankah kau bilang pernah bertemu dengan Ho Lan-bing itu?"
Leng-hong tergetar, tapi cepat ia menenangkan diri, sahutnya.
"Benar, aku memang melihat Ho Lan-bing. Untung kudaku cepat sehingga selamatlah aku. Tapi aku tidak melihat Utti-thocu."
"Jika begitu, jelas Ho Lan-bing berada di sekitar sana,"
Ujar Ki Seng-in sesudah merenung sejenak.
"Boleh jadi suamiku belum kepergok dengan mereka."
"Menurut kabar yang didengar Suhuku, katanya rombongan Ho Lan-bing itu hendak menuju ke Bici untuk menangkap ketua Thian-li-kau."
"Tapi bagaimanapun juga aku tetap kuatir bagi suamiku, cuma sayang aku tidak dapat segera pergi ke sana untuk menyelidiki,"
Kata Seng-in.
Diam-diam Leng-hong kuatir.
Menurut cerita Utti Keng tempo hari, katanya dia mempunyai seorang kenalan di kota Kiokyau.
Jika perempuan ini menyelidiki ke sana tentu akan mendapat tahu tentang tertangkapnya Utti Keng dan tentu akan terbongkarlah kebohongannya.
Dalam pada itu Kok Tiong-lian telah bertanya.
"Maaf, apakah barangkali Utti-hujin menderita sedikit luka?"
"Terima kasih atas perhatian Kang-hujin,"
Sahut Seng-in.
"Memang sebenarnya di Leng-pik hari ini aku telah bertemu dengan tiga orang antek kerajaan, aku telah terluka sedikit, tapi mereka pun sudah kubereskan semua. Luka ini kukira besok juga sudah dapat sembuh!"
Diam-diam Tiong-lian terkejut. Leng-pik itu ada 200 li jauhnya, sesudah terluka dia masih berlarian sejauh itu, pantas tertampak lesu dan lelah seperti terluka dalam.
"Betapapun juga harus diobati untuk menjaga kemungkinan menjalarnya penyakitmu itu,"
Kata Tionglian.
"Biarlah kubuka resep untuk membelikan obat bagimu."
"Terima kasih, cuma hari sudah malam, biarlah tunggu sampai besok saja."
"Tidak apa-apa, rumah obat di Tong-peng-tin ini adalah kenalan baik kami, sekarang masih keburu, biarlah kusuruh muridku pergi membeli obatnya,"
Habis berkata Tiong-lian lantas memeriksa nadi Ki Seng-in, lalu membuka resep sambil berpikir siapakah yang harus disuruh pergi membeli obat di antara kedua muridnya itu.
"Kebaikan Kang-hujin entah cara bagaimana aku harus membalasnya,"
Ujar Ki Seng-in kemudian.
"Sebenarnya aku pun ingin membeli seekor kuda, sudah malam begini entah dapat membelinya di kota atau tidak?"
Tiong-lian terdiam sejenak, ia merasa sukar juga untuk membeli kuda di kota kecil itu, lagi pula sudah malam. Tiba-tiba Kang Hiau-hu menyela.
"Aku punya usul, ibu. Aku tahu Ong-toasiok (paman Ong) mempunyai seekor kuda bagus, kedua Suko juga pernah melihat kuda itu, walaupun tak dapat dibandingkan Pek-liong-ki dan Jikliong-ki kita, tapi seharian juga dapat lari sampai dua-tiga ratus li."
"Siapakah paman Ong itu?"
Tanya Seng-in.
"Dia adalah teman main catur ayah, orangnya sangat baik,"
Sahut Tiong-lian.
"Baiklah, jika dia suka memberikan kudanya, beli saja berapa pun harganya,"
Kata Seng-in. Tapi Hiau-hu lantas berkata.
"Aku kenal watak paman Ong, jika bicara tentang harga tentu dia akan menolak malah. Sudahlah, kau tahu beres saja, tentu paman Ong akan memberikan kudanya."
"Jika begitu aku sangat berterima kasih,"
Kata Seng-in.
"Selain itu aku minta tolong pula agar di kota nanti sukalah mencari tahu seorang kawanku. Kami telah berjanji akan bertemu di Tong-peng-tin, sama sekali aku tidak menduga akan terluka dan mesti bermalam di sini."
"Di kota hanya ada tiga buah rumah penginapan kecil, rasanya tidak sukar untuk mencarinya,"
Ujar Tiong-lian.
"Cuma tidak tahu apakah temanmu itu sudah datang atau belum?"
"Kami telah berjanji, bila dia sudah datang, maka di atas dinding belakang rumah penginapan itu akan diberi tanda lukisan bunga Bwe yang kecil di tempat yang kurang menyolok. Asal menemukan tanda gambar itu, tidak perlu menemui orangnya, cukup aku diberitahu saja,"
Demikian kata Seng-in.
"Baiklah, untuk urusan demikian perlu seorang yang sabar dan teliti,"
Kata Tiong-lian.
"Anak Hu adalah anak perempuan, malam-malam begini tentu akan menarik perhatian orang jika kelihatan berkeliaran di kota, pula kebanyakan orang sudah kenal kau adalah putri Haythian."
"Jadi aku tidak boleh pergi, ibu? Habis siapa yang akan membawa kuda paman Ong pulang kemari?"
Tanya Hiau-hu. Sejak tadi Leng-hong diam saja, sekarang mendadak ia berbangkit dan berkata.
"Bibi, biarlah aku saja yang pergi."
"Toasuko kan belum kenal paman Ong, pula tidak kenal rumah obat itu,"
Ujar Hiau-hu.
"Kukira Ubun-sute dapat pergi bersama aku,"
Sahut Leng-hong dengan tertawa.
"Bukankah Sute juga kenal paman Ong?"
"Bagaimana Hiong-ji?"
Tanya Tiong-lian kepada Ubun Hiong.
"Murid menurut saja terhadap setiap perintah Subo,"
Sahut Ubun Hiong. Ia tidak ingin mencari muka kepada Ki Seng-in, tapi ia pun tidak dapat membantah perintah ibu gurunya. Maka berkatalah Tiong-lian.
"Baiklah, jika begitu bolehlah kalian berangkat. Pemilik toko obat itu kenal tulisanku, asal kuberi tanda sedikit coretan tentu dia akan merahasiakannya bagiku."
Habis berkata ia lantas menyerahkan resep obat kepada Yap Leng-hong.
"Pemilik toko obat itupun kenal engkoh Hiong,"
Ujar Hiau-hu.
"Jika begitu lebih baik lagi,"
Kata Tiong-lian.
Walaupun demikian resep obat itu tetap dia serahkan kepada Lenghong.
Ubun Hiong adalah orang jujur, tapi tidak berarti tolol, dia dapat merasakan kurang dipercayai ibu gurunya mengingat sakit hatinya kepada Utti Keng.
Kemudian Tiong-lian menambahkan lagi.
"Kepada paman Ong hendaklah kau katakan kita hanya pinjam kudanya, Ceng-cong-ma, barang setengah bulan saja, bila perlu dia dapat memakai Jik-liong-ki kita bila besok atau lusa kakek sudah pulang."
Dengan pesannya itu secara tidak langsung ia menyuruh Ubun Hiong yang pergi meminjam kuda dan membiarkan Yap Leng-hong yang pergi membeli obat.
Walaupun sebenarnya merasa kurang senang cara pembagian tugas Kok Tiong-lian itu, tapi terpaksa Lenghong tak berani membantah.
Segera ia bersama Ubun Hiong berangkat ke Tong-peng-tin.
Dengan menggunakan Ginkang, maka dalam waktu singkat saja perjalanan yang cuma belasan li jauhnya itu sudah sampai di tempat tujuan.
Saat itu belum lewat tengah malam, akan tetapi Tong-peng-tin adalah satu kota kecil, bila hari sudah gelap lantas sepi, toko-toko sudah tutup pintu.
Tiba-tiba Leng-hong berkata kepada Ubun Hiong.
"Sute, kau kenal pemilik toko obat, boleh kau pergi beli obat dulu, kemudian barulah pergi meminjam kuda. Biarlah aku pergi menyelidiki kawan Ki Seng-in itu."
"Tidak, Suheng, lebih baik Suheng saja yang pergi membeli obat seperti pesan Subo tadi,"
Jawab Ubun Hiong.
"Bukannya aku malas, sesungguhnya aku harus menghindari prasangka jelek karena sedikit percekcokanku dengan suami-istri Ki Seng-in itu. Soal ini akan kuceritakan besok jika dia sudah pergi."
Karena Ubun Hiong telah bicara terus terang, terpaksa Leng-hong menurut, katanya.
"Jika begitu, sesudah kuda itu kau pinjam, boleh kau tunggu aku di tepi jalan saja dan tak perlu masuk kota lagi untuk mencari aku."
Kiranya dia sudah mencari tahu bahwa rumah paman Ong itu berada dua-tiga li di luar kota.
Ubun Hiong mengiakan, segera pula mereka berpisah untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.
Kiranya Yap Leng-hong sebenarnya sudah merancang suatu tipu muslihat 'sekali tepuk dua lalat'.
Kesempatan itu mestinya akan digunakan untuk mengganti obat dengan racun, dengan demikian Ki Seng-in dapat dibinasakan, sebaliknya yang tersangka adalah Ubun Hiong.
Untuk ini dengan sendirinya yang harus pergi membeli obat adalah Ubun Hiong, tapi justru Ubun Hiong telah merasakan kesangsian ibu guru atas dirinya, maka dia tidak sampai masuk perangkap.
Begitulah sambil memegangi resep obat itu Leng-hong menjadi bingung malah.
Pikirnya.
"Subo justru menyangsikan dia dan percaya padaku, sudah tentu ini menguntungkan diriku, tapi tipu akalku menjadi sukar dilaksanakan lagi. Padahal sekarang adalah kesempatan paling bagus untuk membinasakan Ki Seng-in, bila tidak, kalau kelak dia mengetahui tentang tertawannya Utti Keng, tentu pengkhianatan diriku akan terbongkar, tentu nyonya itu akan mengusutnya dan pasti celakalah aku. Wah, akal apalagi yang dapat kugunakan dengan sempurna?"
Tengah terbenam dalam lamunannya itu, ketika mendadak ia mendongak, ia menjadi kaget.
Kiranya tanpa terasa ia telah berada di depan sebuah restoran.
Merek restoran itu tampak tertulis "Thay-pek-lau".
Papan merek itu kelihatan masih baru, terang restoran itu belum lama mulai berusaha, letak restoran ini di tepi telaga seperti apa yang diceritakan Kang Lam kemarin, tentunya adalah restoran yang dimaksudkan Hong Jongliong sebagai pos penghubung itu.
Di atas loteng restoran itu masih kelihatan cahaya lampu, lapat-lapat tertampak pula bayangan-bayangan orang.
Seketika Leng-hong gelisah, bayangan Hong Jong-liong muncul pula dalam benaknya.
Sayup-sayup seperti terdengar suara Hong Jong-liong sedang berbisik padanya.
"Kau ingin membunuh Ki Seng-in, mengapa tidak masuk ke dalam untuk berunding dengan kawan kita?"
Ya, sekali sudah salah langkah, apa mau dikata lagi? Demikian pikirnya kemudian. Dan baru dia hendak melangkah ke dalam restoran itu, tiba-tiba suatu suara lain seperti sedang menegurnya.
"Wahai, Yap Leng-hong, salah satu kali jangan salah untuk kedua kalinya lagi. Sekali kau memasuki restoran gelap ini, selama hidupmu tentu akan terjeblos semakin dalam. Kau sudah membikin celaka Utti Keng, sekarang kau hendak meracuni istrinya pula, dimanakah letak hati nuranimu?"
Namun sayang, hati nuraninya cuma timbul sekilas saja lalu lenyap lagi. Ia sudah mundur dua langkah, tapi segera maju lagi tiga tindak, katanya di dalam hati.
"Manusia mana di dunia ini yang tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri? Untuk hari depanku sendiri aku tidak boleh membiarkan Hong Jong-liong membongkar rahasiaku, tapi aku pun tak dapat mengampuni Ki Seng-in!"
Selagi berjangkit pertentangan hatinya antara jahat dan bajik, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melompat tiba, tahu-tahu Leng-hong kena dicengkeram, sebilah belati sudah mengancam pula di tenggorokannya.
"Keparat, siapa kau? Berani kau mengintai ke sini?"
Bentak orang itu.
Sebenarnya dengan kepandaian Yap Leng-hong, tidak sampai dia dikekuk begitu saja oleh lawan, cuma dia sedang bimbang dan melamun, hakikatnya tiada punya pikiran buat melawan, sebaliknya demi nampak orang itu melompat keluar dari restoran itu, tanpa pikir ia terus berseru dengan suara tertahan.
"Matahari dan rembulan tak bercahaya!"
"Aha, kiranya adalah kawan sendiri, marilah masuk!"
Kata orang itu dengan tertawa.
Sebenarnya Leng-hong juga bermaksud masuk ke restoran itu, cuma dia tahu ambang pintu itu adalah batas antara manusia dan binatang, maka kakinya terasa berat untuk melangkah ke dalam.
Tapi sekarang kena ditarik oleh orang itu, mirip perahu tanpa kemudi saja segera ia terhanyut ke tengah-tengah pusaran air dan tanpa terasa ikut masuk ke dalam.
Kita tinggalkan dulu pertemuan rahasia antara Yap Leng-hong dengan orang-orang di dalam restoran itu.
Sementara itu Ubun Hiong sudah berhasil meminjam kuda dari paman Ong dan sedang menunggu di tepi jalan sana.
Sampai sekian lamanya masih tidak nampak bayangan Yap Leng-hong, diam-diam Ubun Hiong merasa kuatir apakah terjadi sesuatu?
Tengah bersangsi, sekonyongkonyong terasa berkesiurnya angin seperti ada orang melayang lewat di sebelahnya.
Ia terkejut.
Waktu diperhatikan, ternyata cepat sekali gerakan orang itu, tahu-tahu hanya setitik bayangan hitam saja yang masih kelihatan jauh di depan sana, dalam sekejap saja titik hitam itupun menghilang di dalam kota.
Ubun Hiong menjadi sangsi dan kuatir, jika bayangan itu adalah musuh, tentu sang Suhengnya bisa celaka kalau kepergok di tengah jalan.
Selagi dia bermaksud menyusul ke sana, tiba-tiba bayangan itu telah datang kembali, cuma tidak secepat tadi.
Tapi sesudah dekat barulah Ubun Hiong tahu bukan orang tadi, serunya girang.
"He, Suheng, kiranya kau!"
Leng-hong sampai melengak.
"Memangnya kau kira siapa?"
Katanya.
"Tadi kulihat seorang berlari masuk ke dalam kota, kukira dia yang telah keluar kembali,"
Tutur Ubun Hiong. Diam-diam Leng-hong terkejut.
"Kenapa aku tidak melihat orang itu?"
Katanya.
"Jika dia tidak mencari perkara kepada kita, maka kita pun tak perlu urus dia, marilah kita pulang saja. Apakah obatnya sudah Suheng belikan?"
"Sudah tentu. Aku telah menggedor toko obat itu sehingga agak terlambat sedikit."
"Silakan Suheng naik kuda ini dan pulang dulu, biarlah aku menyusul dengan berjalan saja"
Leng-hong merasa kebetulan malah, maka ia pun tidak menolak.
Segera ia mencemplak ke atas kuda dan pulang lebih dulu.
Walaupun naik kuda, tapi perasaan Leng-hong seperti naik harimau, rasanya serba susah untuk turun kembali.
Ia pikir urusan dengan Hong Jong-liong sudah telanjur, apakah akan untung atau akan buntung biarlah terserah nasib.
Cuma bayangan orang tadi entah kawan atau lawan.
Jika mereka adalah kawanan di Thay-pek-lau itu tidaklah menjadi soal, bila dia adalah teman Ki Seng-in yang dimaksudkan itu, boleh jadi akan menimbulkan kesukaran.
Untung juga hubunganku dengan Thay-peklau tidak sampai dilihat olehnya.
Tidak lama, sampailah dia di rumah.
Waktu mendengar suara kuda meringkik, segera Kok Tiong-lian dan Hiau-hu memapak keluar.
"Dimanakah Sutemu?"
Tanya Tiong-lian heran. Leng-hong menyerahkan kudanya kepada Hiau-hu, jawabnya.
"Sute minta aku lekas pulang dulu mengantar obat, maka aku pun tidak sungkan-sungkan lagi dengan dia". Sesudah di dalam rumah, Leng-hong menyerahkan obatnya dan berkata.
"Juragan toko obat itu sudah tidur, terpaksa aku menggedor pintu dan membangunkan dia, maka agak makan waktu."
"Baiklah, ambilkan anglo kecil dan bantulah menyalakan api,"
Kata Tiong-lian.
"Kita masak obat di dalam kamar saja supaya dapat menemani Utti-hujin sekalian."
Nyata maksud Kok Tiong-lian adalah untuk menghilangkan rasa curiga Ki Seng-in. Sebaliknya Lenghong merasa bersyukur.
"Untunglah aku telah mengatur rencana lain, kalau tidak, tentu tipu muslihatku akan ketahuan Subo."
Kok Tiong-lian memeriksa seperlunya bahan-bahan obat yang dibeli itu, lalu dimasak dengan ceret kecil. Pada kesempatan itu Ki Seng-in lantas bertanya.
"Yapkongcu, apakah kau menemukan tanda dari kawanku itu?"
"O, ya, aku sudah memeriksa ketiga rumah penginapan di sana, tapi tiada menemukan tanda apaapa,"
Sahut Leng-hong.
"Aneh, mengapa dia belum datang? Biasanya kawan ini sangat tepat janji,"
Ujar Seng-in.
"Biarlah besok juga aku pergi mencarinya."
Padahal sama sekali Yap Leng-hong tidak pernah pergi menyelidiki teman Ki Seng-in itu, keterangannya tadi hanya sengaja dibuat-buat saja. Tapi segera ia menambahkan.
"Eh Utti-hujin, selain itu akan kuberitahukan pula kejadian ini mestinya Suteku yang mengalami sehingga aku tidak tahu dengan persis. Namun bolehlah kuceritakan garis besarnya saja. Ketika Sute pergi meminjam kuda dan aku membeli obat dan menyelidiki temanmu, sekeluarnya dari kota, dari jauh kulihat ada seorang dengan cepat sekali menghilang di dekat Sute, entah siapa dia. Menurut Sute adalah orang Kangouw biasa yang berlalu di situ. Apakah tidak mungkin orang itu adalah teman yang kau maksudkan?"
"Kukira bukan, sebab kelemahan kepandaian temanku itu justru terletak pada Ginkangnya,"
Sahut Ki Seng-in.
"Sebentar juga Hiong-ji akan pulang, biar kita tanya dia nanti,"
Sela Kok Tiong-lian.
"Obatnya sudah jadi, silakan Utti-hujin minum obat dulu."
"Sungguh aku sangat berterima kasih atas perhatian Kang-hujin,"
Kata Ki Seng-in. Segera ia minum habis semangkuk obat.
"Utti-hujin, engkau sudah minum obatnya? Akan kuambilkan air kumur untukmu,"
Demikian tiba-tiba terdengar suara Kang Hiau-hu.
"Eh, Sute, kau baru pulang?"
Tanya Leng-hong. Kiranya secara diam-diam Ubun Hiong juga ikut di belakang Hiau-hu. Ubun Hiong merasa kikuk, sahutnya.
"Ya, Gingkangku belum sempurna sehingga tak dapat berjalan cepat, sampai-sampai Utti-hujin pun sudah selesai minum obatnya."
Padahal bukanlah Ginkangnya kurang tinggi, soalnya dia baru sembuh dari luka, maka tidak berani terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Mendadak tampak Ki Seng-in mengerut kening, keringat berbutir-butir merembes keluar juga dari dahinya, semua orang terkejut.
Tiong-lian mengira obatnya tidak tepat.
Ubun Hiong juga merasa kuatir dirinya akan disangka jelek bila terjadi apa-apa atas diri Ki Seng-in.
Syukurlah sejenak kemudian Ki Seng-in telah menghela napas lega, lalu katanya dengan tersenyum.
"O, obat ini benar-benar sangat manjur, sehabis berkeringat, badanku lantas terasa segar."
"Ai, aku sampai kuatir kalau-kalau obatku tidak betul,"
Ujar Tiong-lian dengan rasa lega.
"Ah, Kang-hujin terlalu rendah hati, obatmu justru sangat tepat, rasanya besok juga aku sudah dapat berangkat,"
Kata Seng-in sesudah berkumur mulut.
"Anak Hiong, katanya kau telah bertemu seorang Kangouw di tengah jalan, macam apakah orang itu?"
Tanya Tiong-lian.
"Gerakan orang itu teramat cepat, sekelebatan saja sudah lewat di sampingku sehingga murid tidak dapat melihat jelas,"
Sahut Ubun Hiong.
"Kemudian apakah kau melihat orang yang mencurigakan lagi?"
Tanya Tiong-lian. Diam-diam Ubun Hiong berduka dan mendongkol karena sang ibu guru ternyata masih tak percaya penuh padanya. Maka tanpa terasa ia pun menjawab dengan nada rada keras.
"Tidak melihat siapa-siapa lagi, Subo. Tecu paham akan peraturan perguruan, bila ada apa-apa tentu Tecu akan memberi laporan sejelasnya."
Tiong-lian menjadi kurang senang, katanya dalam hati.
"Bocah ini benar-benar sembrono, maksudku biar didengar sendiri oleh Ki Seng-in, tapi dia malah menyesali diriku."
Namun ia pun bukan orang yang tidak bijaksana, ia kenal watak Ubun Hiong yang tulus lurus, maka tidak enak lagi menaruh prasangka kepada murid itu, katanya kemudian.
"Beberapa hari terakhir ini suasana agak genting, kita harus berlaku hati-hati walaupun tiada terjadi urusan mengenai Utti-hujin ini."
Ubun Hiong juga lantas merasa sikapnya tadi agak kasar, cepat ia menjawab dengan kepala menunduk.
"Ya, Subo."
"Sudahlah, kalian boleh kembali ke kamar masingmasing, biar Utti-hujin dapat mengaso dengan tenang,"
Kata Tiong-lian kemudian.
Memangnya Ubun Hiong tidak ingin tinggal lama-lama di situ, segera ia memohon diri paling dulu.
Hiau-hu juga lantas mengucapkan selamat malam kepada ibunda dan tamunya, lalu menyusul keluar untuk menghibur Ubun Hiong.
"Kau pun boleh kembali ke kamarmu, Leng-hong,"
Kata Tiong-lian. Leng-hong tertawa, jawabnya.
"Sebentar lagi, bibi. Boleh jadi Piaumoay akan bicara apa-apa kepada Sute, nanti aku akan menunggu mereka."
"Ah, kau pun terlalu banyak pikiran,"
Ujar Tiong-lian dengan mengerut kening.
Maka Leng-hong tak berani mengadu-biru lagi, ia tahu ucapannya itu mulai bersarang di dalam hati ibu gurunya, hal itu berarti maksud tujuannya sudah tercapai.
Sesudah Leng-hong keluar, Ki Seng-in tertawa dan berkata.
"Entah sudah berapa umur putri Kang-hujin itu?"
"Tujuh belas tahun ini,"
Sahut Tiong-lian.
"Ya, sudah mencapai usia remaja yang cukup membuat pusing orang tua,"
Kata Seng-in.
"Kang-hujin, engkau sungguh sangat baik padaku, kita boleh dikata sekali bertemu sudah seperti sobat lama. Jika aku ingin bicara sesuatu, entah engkau suka mendengar atau tidak?"
"Ah, mengapa engkau berkata demikian,"
Sahut Tionglian.
"Silakan bicara saja."
"Melihat gelagatnya, kukira kedua muridmu samasama menaruh perhatian terhadap putrimu,"
Kata Ki Seng-in.
"Padahal untuk memilih menantu bagi keluarga kalian, kukira yang utama adalah kepribadian calon menantu harus baik, asal-usulnya harus jelas. Tentang ilmu silatnya adalah soal kedua malah."
Hati Tiong-lian tergerak, segera jawabnya.
"Mengingat simpatik Utti-hujin ini, aku pun ada sesuatu pertanyaan entah boleh kuajukan atau tidak?"
"Perkenalan kita ini sungguh seperti pertemuan sahabat lama saja, maka aku ingin sekali bicara secara dari hati ke hati dengan Taci,"
Sahut Seng-in. Dengan sebutan "Taci", nyata menandakan persahabatan yang cukup akrab dan tidak perlu bicara secara sungkansungkan lagi.
"Baiklah, jika begitu aku ingin tanya tentang persengketaan kalian suami-istri dengan muridku yang kedua ini, tentu Taci sudah kenal juga asal-usulnya?"
Kiranya Tiong-lian yakin Yap Leng-hong adalah keponakannya, maka tentang asal-usulnya tidak perlu disangsikan lagi.
Sebaliknya terhadap Ubun Hiong dia masih belum percaya seluruhnya.
Memang betul dahulu Kang Hay-thian pernah kenal ayah Ubun Hiong, yaitu Ubun Long, ketika mereka bertemu di Cui-in-ceng dan dikenalnya Ubun Long sebagai murid tertua In Ciau.
Sesudah Ubun Hiong menyerahkan surat tinggalan ayahnya barulah Hay-thian mengetahui Ubun Long telah menjadi Piauthau di Hong-lui-piau-kiok dan tentang jatuh melaratnya berhubung barang kawalannya dirampas oleh Utti Keng sehingga akhirnya mangkat dengan menahan dendam.
Akan tetapi seluk-beluk tentang keluarga Ubun Hiong selama belasan tahun terakhir ini kurang jelas bagi mereka.
Sebab itulah Kok Tiong-lian ingin mencari tahu seluk-beluk tentang ayah Ubun Hiong itu.
Memangnya Ki Seng-in bermaksud menceritakan persoalan itu, maka ia lantas menjawab.
"Ya, suamiku telah meramapas harta kawalan Hong-lui-piau-kiok, urusan ini tentu sudah diketahui Taci, tapi apakah engkau tahu sebab musababnya?"
"Justru ingin minta keterangan padamu,"
Sahut Tionglian.
"Sebenarnya kami tiada permusuhan apa-apa dengan Ubun Long, perampasan harta kawalan itupun tidak ditujukan kepadanya. Soalnya juga bukan mengincar harta kawalannya yang cuma beberapa ratus ribu tahil perak, sebab harta sekian sesungguhnya tidaklah berarti bagi kami. Yang menjadi pokok persoalan adalah karena Hong-lui-piau-kiok telah kemasukan pesero dari kalangan pembesar, yaitu Li Tay-tian, wakil komandan pasukan pengawal kotaraja yang sejajar dengan Ho Lan-bing. Kepandaian Li Tay-tian lebih rendah daripada Ho Lanbing, tapi Li Tay-tian lebih tamak dan korup."
"O, jadi tujuan Utti-thocu adalah untuk menjatuhkan Li Tay-tian?"
Kata Kok Tiong-lian.
Akan tetapi diam-diam ia pun merasa perbuatan Utti Keng itu agak kelewatan, sebab akibatnya tentu saja membikin susah para Piauthau dan pegawai-pegawai Piau-kiok, Li Tay-tian paling banyak hanya kehilangan modal seronya saja.
"Ya, memang kejadian itu hanya terdorong oleh rasa marah suamiku yang timbul seketika itu, sehabis itu dia pun merasa menyesal,"
Kata Ki Seng-in lebih jauh.
"Lebih-lebih sesudah diketahui putra Ubun Long telah menjadi muridmu, kami menjadi lebih-lebih tidak tenteram. Lantaran itulah maka kami telah meminta maaf kepada Kang-taythiap ketika beliau berada di Tekciu."
"Sebenarnya kematian Ubun Long tidak dapat disamakan dengan permusuhan umumnya, apalagi urusan sudah berlalu, Cici tak perlu memikirkan lagi,"
Ujar Tiong-lian.
"Walaupun begitu kami tetap merasa menyesal,"
Kata Seng-in.
"Sesudah bertemu dengan Kang-tayhiap di Tekciu tempo hari, kemudian kami telah membagibagikan sejumlah 20 laksa tahil perak kepada para Piauthau dari Hong-lui-piau-kiok dahulu melalui seorang teman di kota Pakkhia. Hal ini adalah nazar yang pernah kami janjikan kepada Kang-tayhiap, sekarang sudah kami selesaikan apa mestinya. Di sini adalah tanda terima dari teman kami di kotaraja itu, silakan Cici menerima dan memeriksa adanya."
Tiong-lian tercengang.
"Maksudmu apakah "Sekadar pertanggungan jawab kami kepada Kangtayhiap, pula mohon Cici suka memberi penjelasan kepada murid kalian,"
Kata Ki Seng-in.
"Tabiat muridku yang kedua ini memang agak keras, tapi orangnya sih cukup baik dan mau menerima nasehat orang tua. Biarlah besok akan kubicarakan padanya, kuyakin dia juga dapat mengerti."
"Aku sih tidak mencurigai muridmu, tapi ada satu hal yang ingin kuingatkan kepada Cici. Mendiang ayahnya sangat luas pergaulannya, termasuk golongan orangorang seperti Li Tay-tian dan lain-lain, bilamana mereka mengetahui dia adalah muridmu, hendaklah kalian waspada agar pemuda itu tidak diperalat oleh mereka. Maafkan ucapanku yang terus terang ini."
Padahal ucapan Ki Seng-in terang-terangan menaruh prasangka terhadap Ubun Hiong.
Sama sekali tak disadari olehnya bahwa orang yang dia maksudkan itu sebenarnya bukanlah Ubun Hiong, tapi adalah Yap Lenghong.
"Maksud baik Cici ini tentu akan kuperhatikan,"
Sahut Tiong-lian.
"Apakah Cici menganggap tingkah-laku muridku ini ada sesuatu yang mencurigakan?"
"O, tidak. Jika Cici dapat mempercayai murid sendiri masakah aku tidak?"
Sahut Ki Seng-in.
"Hanya dari berita yang kami dengar, kabarnya pihak kerajaan ada rencana akan bertindak terhadap Bin-san-pay kalian, boleh jadi orang Kangouw yang dilihat muridmu semalam adalah mata-mata kerajaan yang sengaja dikirim kemari."
"Ya, memang kami sedang diincar oleh pihak kerajaan, tapi biasanya kami hidup prihatin, tidak hutang pajak, tidak melanggar undang-undang, betapapun mereka tidak berani mengutik kami secara terang-terangan. Kalau cuma kaum keroco saja, rasanya kami lebih dari cukup untuk membereskan mereka. Sebaliknya aku malah kuatir bagi Cici, jangan-jangan yang sedang mereka incar adalah jejakmu."
"Kawanan anjing yang menguntit diriku sudah kubereskan kemarin, kukira orang yang dilihat muridmu itu bukanlah rombongannya. Andaikan cuma seorang dua orang musuh saja aku pun masih sanggup membereskannya.""
Kok Tiong-lian tahu Ki Seng-in buru-buru ingin pergi mencari suaminya, maka ia pun tidak mencegahnya lagi, katanya.
"Jika begitu silakan Cici mengaso saja agar besok dapat berangkat dengan semangat penuh."
Begitulah mereka berdua lantas tidur sekamar. Besoknya pagi-pagi sekali Ki Seng-in sudah bangun. Kok Tiong-lian dapat mendengar suara Ki Seng-in, segera ia pun terjaga bangun dan bertanya.
"Apakah kurang nyenyak tidur Cici semalam?"
"Ah, obatmu itu sungguh sangat manjur, sekarang aku sudah sembuh seluruhnya,"
Sahut Ki Seng-in.
Ia kuatir Kok Tiong-lian menahannya untuk tinggal beberapa hari lagi, maka sengaja dilebih-lebihkan pujiannya.
Padahal ia merasa tenaganya baru pulih tujuh atau delapan bagian.
Namun Tiong-lian percaya saja, katanya.
"Jika demikian aku pun merasa bersyukur bagimu."
"Biarlah sekarang juga aku lantas berangkat, mumpung pagi-pagi, hawa masih sejuk,"
Kata Ki Seng-in.
Kok Tiong-lian mengantarnya ke kandang kuda untuk mengambil kuda Ceng-cong-ma pinjaman semalam dari Ong-toasiok.
Tertampaklah Yap Leng-hong sudah menanti di luar pintu, segera ia menyapa.
"Utti-hujin, apakah engkau akan berangkat sekarang? Sampaikanlah hormatku kepada Utti-thocu bila sudah bertemu."
"Dimana Sumoaymu? Apakah belum bangun?"
Tanya Tiong-lian.
"Sudahlah, jangan membuatnya repot lagi. Terima kasih atas perhatianmu, Yap-kongcu,"
Kata Ki Seng-in. Lalu Leng-hong berkata pula.
"Sebelum tidur semalam Sute telah memberi makan sekenyangnya kepada kuda ini, tampaknya semangatnya penuh dan tenaga kuat."
"Jika begitu, pagi ini tak perlu kuberi makan lagi, terlalu kenyang nanti malah tak bisa lari cepat,"
Ujar Ki Seng-in.
Segera ia pun mencemplak ke atas kuda dan mengucapkan selamat tinggal.
Sekali pecutnya menyabet, Ceng-cong-ma lantas mencongklang ke depan secepat angin.
Setelah Ki Seng-in pergi, Leng-hong lantas berkata.
"Bibi, sebenarnya Sumoay dan Sute sudah bangun semua. Mungkin Sute tidak ingin mengantar keberangkatan Ki Seng-in, maka mereka telah pergi ke taman untuk berlatih."
Tiong-lian mengerut kening diam-diam ia menduga tentu Ubun Hiong merasa mendongkol atas kejadian semalam, maka sengaja menghindari pertemuan lagi.
Anak muda memang sok uring-uringan, sifat jelek ini kelak harus diperbaiki.
Tapi ia pun tidak mau mengomeli murid kedua di hadapan murid tertua, ia hanya berkata dengan acuh tak acuh.
"O, mereka sedang berlatih? Coba kau panggil Sutemu ke sini, aku ingin bicara padanya."
Begitulah untuk memenuhi permintaan Ki Seng-in, maka Kok Tiong-lian hendak berusaha menghapus sakit hati antara Ubun Hiong dengan Utti Keng suami-istri.
Kembali mengenai Ki Seng-in.
Ia telah melarikan kudanya dengan cepat sekali, akan tetapi aneh, tidak lama kemudian lari kuda itu mulai lambat, biarpun dicambuk juga tetap tak bisa lari lebih cepat.
Ia menjadi curiga, teringat olehnya kuda itu adalah Ubun Hiong yang meminjam dari pemiliknya, yang memberi makan semalam juga pemuda itu, jangan-jangan pemuda itu diam-diam telah mengerjai kuda ini, demikian pikirnya.
Waktu itu dia sedang mendaki suatu tanjakan, sesudah melintasi tanjakan itu akan sampailah di Tongpeng-tin.
Mendadak kuda itu meringkik panjang, keempat kakinya tertekuk lemas dan jatuh terkulai.
Cepat Ki Seng-in melompat turun, dilihatnya mulut kuda itu berbusa, napasnya terengah-engah.
Sebagai seorang Kangouw kawakan segera ia mengetahui kuda itu telah diracun orang.
Racun itu bekerja lambat, sesudah kuda itu berlari, lambat-laun racun lantas bekerja.
Dugaan pertama Ki Seng-in dengan sendirinya jatuh atas diri Ubun Hiong, pikirnya dengan gusar.
"Sungguh kurangajar sekali bocah itu. Manusia kotor begitu akan berbahaya jika dibiarkan tinggal di rumah keluarga Kang. Aku harus kembali ke sana untuk memberitahukan Kanghujin."
Karena kuda itu adalah kuda pinjaman dan tak dapat ditinggalkan begitu saja, mestinya Ki Seng-in hendak pulang ke rumah Kang Hay-thian.
Tapi pada saat itu juga lantas terdengar suara orang bergelak tertawa dan berseru.
"Haha.
"perempuan keparat, sekarang kau telah masuk ke dalam jaring, apakah kau dapat merat lagi?"
Habis itu dari balik gundukan tanah sana lantas melompat keluar tiga orang yang semuanya dikenal oleh Ki Seng-in.
Yang berdiri di tengah jelas adalah Li Tay-tian, wakil komandan Gi-lim-kun (pasukan pengawal kotaraja).
Yang berdiri di sisi kiri adalah perwira pasukan pengawal yang bernama Wi Hwan yang terkenal lihai juga, pangkatnya lebih rendah satu tingkat daripada Li Tay-tian, tapi ilmu silatnya malah lebih tinggi.
Sedangkan yang berdiri di sebelah kanan adalah seorang Tosu, semula adalah ketua Hian-bian-koan di Sohciu, tapi kemudian telah menjadi anjing pemburu pihak kerajaan, namanya Pektiu Tojin.
Kedua orang ini pernah ikut menggerebek Li Bun-sing di puncak Thay-san dahulu.
Melihat ketiga musuh ini, seketika Ki Seng-in menjadi murka.
Li Tay-tian memangnya sudah lama dicarinya, terutama mengenai urusan Hong-Iui-piau-kiok.
Sedangkan Wi Hwan dan Pek-tiu Tojin pernah ikut mengeroyok Li Bun-sing bersama Hek-bok Hwesio dan Peng Hong, kedua orang yang belakangan ini terbunuh oleh Li Bun-sing.
Wi Hwan dan Pek-tiu berhasil melarikan diri dengan membawa luka parah.
Tak terduga lukanya dapat disembuhkan dan sekarang kepergok lagi di sini.
Dengan tertawa dingin Ki Seng-in lantas membentak.
"Bagus! Memangnya aku ingin menuntut balas bagi Li Bun-sing!"
Berbareng kedua tangannya bergerak sekaligus, dua batang panah, dua bilah pisau, dua buah paku, serentak disambitkan.
Ki Seng-in berjuluk Jian-jiu-koan-im, Buddha bertangan seribu, dengan sendirinya kepandaian dalam hal senjata rahasia bukan main lihainya.
Enam buah senjata rahasia itu sekaligus dihamburkan untuk mengarah Hiat-to mematikan di tubuh ketiga orang musuh.
Sayangnya tenaga Ki Seng-in belum pulih seluruhnya, sebaliknya ketiga musuh juga bukan kaum lemah.
Sekali ruyung Wi Hwan berputar.
"plok-plok", kedua pisaunya telah kena disempuk jatuh. Di sebelah sana Pek-tiu Tojin juga sudah mengayun pedangnya sehingga kedua batang panah kena ditabas kutung olehnya. Kepandaian Li Tay-lian agak rendah, sebuah paku kena disampuk jatuh, tapi paku yang lain menyerempet lewat di lengannya sehingga terluka lecet sedikit Dalam pada itu, dengan cepat sekali setelah menghindarkan serangan senjata rahasia, serentak ketiga orang itupun sudah menubruk maju sehingga Ki Seng-in terkepung di tengah.
"Hahaaaah! Kekasihmu yang dahulu sudah mampus, seharusnya sekarang kau mengikuti suami baru saja dengan setulus hati. Saat ini suamimu sudah menyerah pada kerajaan sedang menikmati kehidupan bahagia di kotaraja, apakah kau tidak ingin bertemu dengan dia!"
Demikian Wi Hwan lantas berseru sambil tertawa.
"Ngaco-belo!"
Damprat Ki Seng-in. Berbareng pecutnya lantas menyabet. Wi Hwan bersenjatakan ruyung lemas yang mirip cambuk, cuma lebih berat dan tidak kurang lemas. Cepat ia pun mengayun ruyung untuk menangkis.
"Prak", kedua senjata berbentur dan saling membelit, tapi cambuk Ki Seng-in yang lebih panjang ujungnya tetap menyabet ke bawah sehingga lengan baju Wi Hwan terobek sepotong. Dalam pada itu dengan jurus Pek-hong-koan-cit (pelangi putih menembus cahaya matahari), pedang Pektiu Tojin telah menyambar tiba. Tak terduga selain lihai dalam menyambit senjata rahasia, Ki Seng-in juga lihai dalam permainan pedang bersama cambuk. Baru saja ujung pedang Pek-tiu Tojin menyambar sampai di depan dada Ki Seng-in, sekonyong-konyong pedang Ki Seng-in yang bergerak ke belakang malah mendahului tiba pada sasaran, berbareng dengan mengegosnya tubuh, tahu-tahu ujung pedang Ki Seng-in sudah mengancam muka Pek-tiu Tojin malah. Keruan Pek-tiu terkejut, cepat ia mengkeret mundur dan menangkis sebisanya. Pada saat itulah golok Li Taytian juga telah mengancam punggung Ki Seng-in, terpaksa Seng-in menarik pedangnya dan menyabet ke belakang tanpa menoleh. Menghadapi serangan mati-matian begitu, Li Tay-tian masih sayang akan jiwa sendiri, terpaksa ia tarik kembali serangannya dan mundur selangkah. Ki Seng-in tertawa mengejek, berbareng ia memutar balik, ia gunakan cambuk untuk melawan ruyung dan pedang melawan pedang, sekaligus ia patahkan pula serangan Wi Hwan dan Pek-tiu Tojin. Habis itu ia terus menerjang pula ke arah Li Tay-tian. Sebagai seorang jago silat kelas tinggi, sesudah bergebrak dua-tiga jurus, segera Ki Seng-in tahu di antara ketiga lawan hanya kepandaian Li Tay-tian yang paling lemah, untuk bisa mencapai kemenangan harus menggempur musuh yang paling lemah itu, segera pedangnya menusuk pula. Tapi Li Tay-tian juga dapat melihat kelemahan Ki Seng-in, yaitu dalam hal tenaga. Maka sekuatnya ia lantas menyampuk dengan maksud membikin senjata Ki Seng-in tergetar jatuh. Namun Ki Seng-in bukan anak kemarin, secepat kilat pedangnya berputar ke bawah terus menusuk pula ke atas dari samping. Kejut Li Tay-tian bukan buatan, lekas ia miringkan kepala dan menggeser ke samping. Tapi tidak urung terasalah kepalanya menjadi dingin, pedang Ki Seng-in menyambar lewat, ternyata kucirnya yang terikal di atas kepalanya itu terpapas putus. Melihat kawannya terancam bahaya, cepat Pek-tiu dan Wi Hwan menubruk maju lagi dari kanan dan kiri. Sekali ini mereka dapat bekerja sama dengan lebih rapat. Terpaksa Ki Seng-in mesti meninggalkan Li Tay-tian untuk melayani kedua musuh yang lebih tangguh ini. Menurut tata cara dinasti Boan-jing pada zaman itu, kaum pria harus memakai kuncir, lebih-lebih pejabat pemerintahan, kuncir merupakan tanda keangkeran yang tak boleh kurang, walaupun dapat memakai kuncir palsu, namun tetap memalukan. Sekarang Ki Seng-in dapat menabas kutung kuncir Li Tay-tian, bagi Ki Seng-in masih kurang puas, sebaliknya Li Tay-tian merasa sangat terhina. Namun Li Tay-tian memang licin dan cukup sabar, daripada murka ia malah tertawa, katanya.
"Jian-jiukoan-im, hari ini kau telah masuk jaring sendiri, sekalipun kau benar-benar punya tangan seribu juga takkan mampu lolos dari jaring yang telah kami pasang. Mengingat kau adalah kaum wanita, kami masih ingin memberi jalan hidup padamu. Apakah kau tidak memikirkan lagi suamimu? Biarlah kami katakan terus terang, meski dia tidak menyerah kepada kami, tapi dia benar-benar telah kami bekuk dan meringkuk di dalam penjara, cepat atau lambat tentu dia akan menerima ganjaran. Untuk menyelamatkan jiwanya adalah tergantung pada dirimu, asal kau mau menurut perintah kami dan menyuruh dia menyerahkan harta karun yang pernah dia keduk."
Sungguh gusar dan berduka pula Ki Seng-in, ia tahu watak sang suami yang keras, menyerah memang tidak mungkin, tentulah telah banyak menderita siksaan bilamana betul tertawan musuh.
Sekarang dirinya mesti melawan tiga orang, dengan nekat ia terus melompat maju dan mencecar Li Tay-tian, akan tetapi Pek-tiu Tojin dan Wi Hwan lantas mencegatnya sehingga Ki Seng-in menjadi kerepotan pula menghadapi serangan dari kanan dan kiri.
Segera Li Tay-tian tertawa mengejek.
"Hahaha! Mumpung kau belum terluka, lebih baik lekas menyerah saja. Orang manis dan cantik seperti kau sungguh sayang kalau sampai terbinasa!"
Sembari bicara diamdiam ia terus menggeser ke belakang Ki Seng-in, goloknya lantas membabat bagian kaki Ki Seng-in.
Memangnya kesehatan Ki Seng-in belum pulih seluruhnya, gerak-geriknya menjadi kurang lincah, kelemahan ini rupanya telah dapat dilihat oleh Li Taytian.
Mendadak Ki Seng-in bersuit panjang, ia ganti siasat bertempur, dia tidak bergerak ke sana sini lagi, tapi tetap mempertahankan dirinya di tempat, serangan dibalas serangan, yang dekat ditusuk pedang, yang jauh disabet cambuk, ia menjaga diri dengan rapat sekali.
Ia tahu kelemahannya dalam hal tenaga, maka dia berharap dapat bertahan lebih lama.
Ternyata serangan Li Tay-tian menjadi gagal, berulang-ulang ia malah hampir-hampir tersabet oleh cambuk Ki Seng-in sehingga terpaksa ia tidak berani mendekat secara gegabah.
Sedangkan Pek-tiu Tojin dan Wi Hwan untuk waktu singkat juga tidak berdaya mendekati Ki Seng-in.
Karena suitan Ki Seng-in tadi seperti tanda memanggil kawan, Pek-tiu Tojin menjadi kuatir, katanya kepada Li Tay-tian.
"Tampaknya perempuan keparat ini sedang menunggu bala bantuan, kita harus lekas-lekas membereskan dia, jika orang keluarga Kang ada yang datang, tentu kita akan kerepotan."
"Hahahaha! Untuk ini Pek-tiu Totiang hendaklah jangan kuatir,"
Sahut Li Tay-tian dengan tetawa.
"Kita sudah cukup mengetahui seluk-beluk keadaan keluarga Kang. Bini Kang Hay-thian beberapa hari lagi akan pergi ke Bin-san; selama itu tentu takkan keluar rumah. Jarak rumah keluarga Kang dari sini juga ada belasan li, biarpun tenggorokan perempuan keparat ini berteriak sampai bejat juga takkan didengar oleh siapa pun juga."
"Apalagi mungkin Totiang juga belum tahu bahwa diam-diam Li-toako yang cerdik telah mengatur matamata di dalam keluarga Kang, andaikan bini Kang Haythian pada saat ini hendak keluar juga tentu akan dihalangi,"
Demikian Wi Hwan menambahkan.
Memangnya Ki Seng-in sudah menyangka di dalam keluarga Kang tentu terdapat mata-mata musuh, cuma sayang dia salah sangka, orang yang dia curigai justru Ubun Hiong sebaliknya yang benar adalah Yap Lenghong.
Kiranya restoran di Tong-peng-tin itu dibuka oleh Li Tay-tian, Wi Hwan menyamar sebagai pelayan dan Pektiu pura-pura sebagai tamu yang menginap di situ.
Restoran itu dibuka sudah ada sebulan lamanya, Wi Hwan dan Pek-tiu kebetulan dapat merawat luka yang dideritanya dalam pertempuran di puncak Thay-san tempo hari.
Sekarang luka mereka sudah sembuh sehingga hari ini mereka dapat bertempur dengan penuh semangat.
Kontak antara Yap Leng-hong dengan mereka justru dilakukan semalam, maka apa yang dikatakan Wi Hwan itu memang beralasan, andaikan saat ini Kok Tiong-lian hendak keluar rumah, tentu juga Yap Leng-hong akan berusaha mencegahnya.
Percakapan mereka itu sengaja diperdengarkan kepada Ki Seng-in, tujuan pertama agar supaya dia putus harapan akan datangnya bala bantuan, kedua, biar Ki Seng-in semakin mencurigai Ubun Hiong.
Ternyata Ki Seng-in tertipu juga, dia sangat gemas terhadap Ubun Hiong.
Tapi ada suatu hal yang keliru diduga oleh Li Tay-tian bertiga, yaitu suara suitan Ki Seng-in bukanlah tanda minta tolong kepada keluarga Kang, tapi ditujukan pada teman yang sedang dinantikannya itu.
Temannya itu adalah kawan dari kalangan Lok-lim (kaum bandit), tempat dimana mereka bertempur sekarang memang ada belasan li jaraknya dengan rumah Kang Hay-thian, tapi cuma satu-dua li saja dari Tongpeng-in.
Maka ia menduga bila temannya itu sekarang berada di dalam kota, tentu akan dapat mendengar suara suitannya tadi.
Tong-peng-tin hanya suatu kota kecil saja, di waktu pagi kelihatan juga ada beberapa orang berlalu-lalang, tapi demi mereka melihat ada orang sedang bertempur di tanah tanjakan, di antaranya ada perwira, Tosu dan ada pula wanita, entah petugas pemerintah sedang menangkap perampok atau pembegal sedang mengganas, saking ketakutan orang-orang itu lekas lari kembali ke dalam kota.
Sudah tentu Ki Seng-in sangat kecewa, orang-orang yang lari ketakutan itu dengan sendirinya bukan teman yang sedang ditunggu itu.
Sampai sang surya sudah cukup tinggi menghiasi cakrawala dengan sinarnya yang cerlang-cemerlang, tetap teman itu tidak kelihatan.
Diam-diam Seng-in membatin.
"Mengapa sekali ini Gaktoako ingkar janji dan tidak datang kemari? Jika dia sudah berada di dalam kota seharusnya dia sudah memburu ke sini bila mendengar suara suitanku."
Karena hari ini sudah siang, Li Tay-tian bertiga menjadi kuatir juga, segera mereka menyerang lebih gencar.
Ki Seng-in sendiri sudah payah karena telah bertempur sekian lamanya, sekarang hatinya merasa kecewa, maka semangatnya menjadi patah, serangannya mulai kacau dan penjagaannya mulai kendur.
Melihat ada kesempatan, mendadak Wi Hwan membentak.
"Kena!"
Kontan ruyungnya menyabet sekali di punggung Ki Seng-in.
Ki Seng-in sampai sempoyongan, mata terasa berkunang-kunang.
Menyusul pedang Pek-tiu Tojin menambahi satu luka pula di lengannya sambil membentak.
"Tidak lekas menyerah?"
Memangnya kesehatan Ki Seng-in belum pulih, sekarang terluka pula berulang-ulang, sungguh ia tidak tahan lagi.
Namun ia pantang menyerah, dengan matimatian ia melawan terus.
Saking cemasnya sampai dia muntah darah walaupun sekaligus ia masih sempat menghalau pergi tiga macam senjata musuh.
"Hm, perempuan keparat ini ingin mampus, kita tak perlu main sungkan-sungkan lagi, bunuh saja dia!"
Jengek Li Tay-tian.
Sekali mengiakan, kontan ruyung Wi Hwan lantas menyambar ke depan sehingga terbelit menjadi satu dengan cambuk Ki Seng-in dan sukar dipisahkan.
Pedang Pek-tiu Tojin tidak ketinggalan, dia yang menutup setiap gerakan pedang Ki Seng-in, sedangkan Li Tay-tian lantas membentak.
"Perempuan keparat, pergilah bertemu dengan suamimu!"
Berbareng goloknya lantas membacok.
Tampaknya Ki Seng-in sudah tidak mampu menangkis atau berkelit lagi, bacokan itu pasti akan membuat tubuhnya terbelah menjadi dua.
sekonyong-konyong terdengar suara "tring"
Sekali, entah darimana datangnya, tahu-tahu golok Li Tay-tian terbentur melenceng ke samping oleh sambitan sepotong batu kecil sehingga bacokannya mengenai tempat kosong.
"Kau sudah datang, Gak-toako!"
Seru Ki Seng-in dengan girang. Sebaliknya Li Tay-tian memaki dengan gusar.
"Keparat, kalau berani hayolah keluar sini!"
Tapi aneh, orang itu tidak muncul, juga tidak bersuara.
Namun begitu melihat batu kecil itu, dapatlah diduga penyambit itu tentu bersembunyi tidak jauh di sekitar mereka.
Diam-diam Ki Seng-in sangat heran, pikirnya.
"Apa barangkali Gak-toako menyembunyikan kawannya di sini? Kalau menuruti wataknya yang berangasan, tidak nanti ia membiarkan aku dikerubut musuh secara demikian, bahkan cuma membantu dengan menimpukkan senjata rahasia saja, malah sesudah itu tetap tidak mau muncul. Siapakah penolong ini?"
Melihat Ki Seng-in sudah terluka parah, Li Tay-tian bertiga anggap dia bagai kura-kura di dalam guci, tinggal dibekuk saja.
"Bangsat itu adalah pengecut, tidak berani keluar, apakah perlu aku pergi membekuknya dahulu?"
Kata Wi Hwan.
"Tak perlu, binasakan dulu perempuan ini baru nanti kita mencari bangsat itu,"
Bentak Li Tay-tian.
"Hati-hati saja terhadap serangan senjata rahasia lagi."
Meski Wi Hwan telah mengucapkan kata-kata pancingan toh orang itu tetap tidak mau keluar, maka diam-diam Ki Seng-in menghela napas, ia tahu orang itu pasti bukanlah kawan yang sedang dinantikan itu.
Dalam pada itu ruyung Wi Hwan telah menyabet pula sebatas pinggang, terpaksa Ki Seng-in menggunakan pedangnya untuk menyampuk, tapi ia sudah kepayahan, tenaga sudah habis.
"trang", pedangnya tersabet jatuh oleh ruyung Wi Hwan.
"Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Pek-tiu Tojin, cepat ia menubruk maju dan menusuk Hun-bun-hiat di punggung Ki Seng-in. Pada saat jiwa Ki Seng-in terancam itulah, kembali orang tak kelihatan itu menyambitkan pula dua butir batu. Lebih dulu ujung pedang Pek-tiu Tojin tertimpuk melenceng, menyusul "plok", pergelangan tangan Wi Hwan juga tertimpuk sehingga ruyungnya terlepas dari cekalan. Sebenarnya Pek-tiu dan Wi Hwan sebelumnya sudah berjaga-jaga akan serangan senjata rahasia orang tak kelihatan itu, tapi kesudahannya toh tetap tak dapat menghindar, maka jelas sekali kepandaian orang itu pasti jauh di atas mereka. Pek-tiu bertiga adalah orang Kangouw kawakan, keruan mereka terkejut. Tapi mereka pun dapat menduga maksud tujuan orang yang tak kelihatan itu, agaknya cuma melarang mereka membunuh Ki Seng-in saja dan tiada maksud bermusuhan dengan mereka. Kalau tidak, tentu batu kecil itu diarahkan kepada Hiat-to mereka yang berbahaya dan tidak cuma membentur senjata saja. Segera Li Tay-tian berseru.
"Kawan dari garis manakah itu? Ketahuilah bahwa perempuan keparat ini adalah buronan pemerintah, jika sobat bukan sehaluan dengan dia hendaklah jangan ikut campur."
Akan tetapi orang itu tetap tidak bersuara. Pek-tiu Tojin lantas membisiki Li Tay-tian.
"Perempuan jahat ini sudah terluka parah, tidak mungkin dapat lolos. Marilah kita mencari orang itu dulu, aku sudah mendengar arah darimana datangnya batu yang dia sambitkan, tentu dia bersembunyi di balik gundukan tanah itu. Dengan kekuatan kita bertiga pasti dapat membereskan dia."
Namun Li Tay-tian merasa sangsi, seketika ia tidak bisa mengambil keputusan.
Pada saat itulah terdengar suara derapan kuda yang ramai, tertampak dua penunggang kuda sedang mendatangi dari arah Tongpeng-tin, dalam sekejap saja sudah sampai di atas tanah tanjakan ini.
Kedua penunggang kuda itu adalah sepasang pria dan wanita setengah umur, yang lelaki bermuka hitam laksana pantat kuali yang hangus, hidungnya pesek, jelek sekali tampangnya.
"Siapa itu yang datang?"
Bentak Li Tay-tian.
Sebaliknya Ki Seng-in sangat girang.
Kiranya laki-laki itu tak lain tak bukan adalah orang yang sedang dinantinantikan, namanya Gak-Ting, bahkan istrinya juga telah ikut datang.
Terdengar Gak Ting bersuit dari jauh, sesudah dekat lantas berseru.
"Ki-temoay (adik ipar), siapakah mereka ini?"
"Antek-antek kerajaan!"
Sahut Ki Seng-in sekuatnya.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, serentak Pek-tiu Tojin dan Li Tay-tian menghamburkan senjata rahasia berbentuk anak panah dan paku berduri, semuanya berbisa.
Mereka pikir Ki Seng-in harus dibinasakan sebelum kedua penolongnya tiba.
Namun pada saat yang sama, dari belakang gundukan tanah tadi mendadak keluar sesosok bayangan hitam, dengan cara Thian-li-san-hoa (bidadari menebar bunga), sekaligus ia menghamburkan segenggam mata uang tembaga, maka terdengarlah suara "trang-tring"
Yang ramai, seluruh senjata rahasia yang dilontarkan oleh Pektiu Tojin dan Li Tay-tian tadi telah terbentur jatuh.
Akan tetapi begitu muncul, orang itupun tidak tinggal lebih lama lagi di situ, secepat angin ia terus melayang pergi.
Pakaiannya berwarna hitam mulus, memakai topi berpinggir lebar dan tertutup rendah, maka wajah aslinya tidak kelihatan.
Hanya dari perawakan belakang menurut perkiraan Ki Seng-in besar kemungkinan orang itu masih sangat muda.
Ginkangnya juga sangat luar biasa, sama sekali tidak mirip dengan Ginkang dari daerah Tionggoan.
Ki Seng-in sangat heran, ia merasa tiada pernah mempunyai seorang kenalan demikian itu.
Sejak tadi orang itu tidak muncul, tapi sesudah Gak Ting berdua datang, orang itu lantas pergi tanpa bertegur sapa dengan Ki Seng-in.
Jelas sekali orang itu tidak kenal padanya, tapi juga tidak mau terlibat dalam persengketaan ini.
Selagi Ki Seng-in merasa heran, di sebelah sana Wi Hwan sudah menjemput kembali ruyungnya dan mulai menyerang pula.
Namun semangat Ki Seng-in jadi terbangkit juga demi nampak kawan yang ditunggunya sudah datang, sekaligus ia dapat mematahkan beberapa kali serangan musuh.
Dalam pada itu Gak Ting dan istrinya sudah memburu tiba.
Dengan suara mengguntur Gak Ting lantas membentak.
"Bagus! Aku justru hendak menumpas habis kaum antek penindas rakyat seperti kalian ini!"
Gak Ting adalah saudara angkat Utti Keng pada waktu mereka masih sama-sama menjadi begal kuda di daerah utara, wataknya keras sehingga orang memberi julukan Pi-lik-hwe (api geledek) padanya.
Sebaliknya istrinya yang bernama Kat Sam-nio berperangai halus, ilmu silatnya tidak di bawah sang suami.
Paling akhir ini mereka telah digrebek oleh pasukan-pasukan pemerintah sehingga tak dapat bercokol lebih lama lagi di daerah operasi mereka, maka mereka telah lari ke daerah Tionggoan untuk mencari Utti Keng.
Sesudah mencari dengan susah payah, akhirnya dapat berhubungan dengan Ki Seng-in dan berjanji akan berjumpa di Tongpeng-tin ini.
Mereka baru saja sampai di kota kecil itu dan lantas mendengar suara suitan Ki Seng-in, cepat mereka memburu ke situ.
Demi melihat Ki Seng-in sudah terluka, Gak Ting menjadi murka, sekali melompat turun dari kudanya, segera ia cabut goloknya yang tebal dan berat, dengan gerak tipu Lik-pik-hoa-san (sekuat tenaga membelah gunung Hoa), kontan ia terus membacok kepala Li Tay-tian.
Lekas Li Tay-tian menangkis dengan goloknya.
"Trang, trang", lelatu api berletikan, mata golok Li Tay-tian sampai gumpil, genggaman tangannya juga lecet. Untung golok tidak sampai terlepas. Melihat gelagat jelek, cepat Pek-tiu Tojin ikut menyerang, segera Koh-cing-hiat di bahu Gak Ting ditusuknya.
"Boleh juga ilmu pedang hidung kerbau ini!"
Pikir Gak Ting.
Mendadak ia membentak keras, goloknya yang tebal menabas dari samping, ia membarengi serangan dengan lebih dahsyat.
Keruan Pek-tiu mengkeret mundur dan memutar ke belakang, namun berturut-turut Gak Ting membacok dan membabat sambil membalik tubuh, tapi dapat dihindarkan Pek-tiu Tojin.
Dalam pada itu ruyung Wi Hwan juga sudah menyambar tiba.
Dalam hal Ginkang memang Gak Ting kurang tinggi, tapi kekuatan kakinya ternyata luar biasa.
Ia incar dengan tepat dan mendadak kakinya menginjak ke bawah sehingga ujung ruyung musuh kena ditindih, sedangkan goloknya masih terus membacok ke arah Li Tay-tian.
Lekas Pek-tiu Tojin menubruk maju, pedangnya cepat menusuk lutut Gak Ting untuk melepaskan Wi Hwan dari ancaman musuh.
Tak terduga sekonyong-konyong Gak Ting menggertak keras.
"Pergi!"'Tahu-tahu kedua kakinya melayang ke atas, sekaligus Pek-tiu dan Li Tay-tian hendak didepak olehnya. Untung Pek-tiu Tojin sempat berkelit, tapi golok Li Tay-tian kena ditendang sehingga mencelat ke udara. Sebaliknya Wi Hwan yang sedang membetot ruyungnya yang terinjak itu sekuatnya, karena mendadak Gak Ting melambung ke atas, kontan ia pun terhuyunghuyung ke belakang, hampir-hampir jatuh tersungkur.
"Kau merawat luka Ki-temoay dahulu, istriku, ketiga jahanam ini boleh serahkan padaku saja, golokku sudah lama haus darah, hari ini harus kubunuh sepuaspuasnya,"
Seru Gak Ting.
Ucapan Gak Ting itu menyadarkan Li Tay-tian malah.
Ia mendapat akal, tiba-tiba ia meninggalkan Gak Ting dan menerjang ke arah Ki Seng-in yang sudah terluka itu.
Sudah tentu Kat Sam-nio tidak tinggal diam.
"Huh, tidak tahu malu, beraninya cuma menyerang wanita yang terluka!"
Jengeknya sambil mengadang di depan Ki Sengin.
Ia tunggu lawan sudah dekat baru mendadak menusuk.
Li Tay-tian mengira kaum wanita tentu mudah dijalani, tak tersangka ilmu pedang Kat Sam-nio juga sangat lihai.
"sret", karena sedikit lena saja lengan Li Tay-tian sudah tergores luka. Melihat kawannya tercidera, cepat Wi Hwan memutar ruyungnya untuk mengembut Kat Sam-nio. Sebenarnya tidaklah sukar bagi Kat Sam-nio untuk melawan kedua orang itu, cuma dia harus menjaga juga keselamatan Ki Seng-in, karena itulah perhatiannya jadi terbagi sehingga tidak berani mendesak maju untuk mencecar musuh. Di sebelah lain Gak Ting sekarang hanya melawan Pek-Tiu Tojin saja. Ilmu pedang Pek-tiu mestinya sangat hebat, tapi kalau satu lawan satu, tenaganya masih kalah kuat daripada Gak Ting. Untuk bertahan dalam beberapa puluh jurus dia masih sanggup. Sekonyong-konyong Gak Ting menggerung gusar, berulang-ulang ia membacok tiga kali sehingga Pek-tiu Tojin terdesak mundur. Namun Gak Ting tidak mencecar lagi, sebaliknya ia terus melompat ke sebelah sana untuk menggabungkan diri dengan sang istri. Dengan kekuatan mereka suami-istri tentu saja Li Taytian bertiga mati kutu. Hanya beberapa jurus saja kopiah kebesaran Li Tay-tian sudah tertabas jatuh, untung kepalanya sempat mengkeret ke bawah, kalau tidak, separoh buah kepalanya tentu sudah berpisah dengan tubuhnya. Untung Pek-tiu lantas menubruk maju untuk menolongnya sehingga Gak Ting tidak sempat menambahi serangan mematikan lagi. Begitulah meski cuma dua lawan tiga, tapi Li Tay-tian bertiga sama sekali tak mampu mendekat. Tiba-tiba Li Tay-tian mengeluarkan terompet tanduk dan ditiupnya sehingga mengeluarkan suara "tut-tuttut"
Yang keras dan nyaring.
"Bagus! Boleh kau panggil bala bantuan, tapi kau harus pergi menghadap raja akhirat dahulu!"
Ejek Gak Ting dengan gusar. Habis itu goloknya berputar semakin kencang sehingga Pek-tiu bertiga kerepotan menghindar dan menangkis.
"Bertahan lagi sementara, sebentar juga akan datang bantuan kita!"
Seru Li Tay-tian. Walaupun demikian diam-diam ia pun merasa kuatir karena tidak mendengar suara jawaban terompet tanduk kawannya. Bahkan mendadak terdengar Pek-tiu berseru.
"Wah, celaka! Thay-pek-lau terbakar!"
Di tanah tanjakan ini cukup jelas untuk memandang ke arah Tong-peng-tin.
Saat itu kelihatan di suatu bangunan di dalam kota itu sedang terbakar, maka Pektiu lantas kenal bangunan itu adalah restoran yang mereka buka itu.
Li Tay-tian memang licik dan lidn, begitu mendengar Thay-pek-lau terbakar, mendadak ia pura-pura menyerang, lalu putar tubuh angkat langkah seribu.
Keruan Wi Hwan terkejut, sama sekali ia tidak menduga kawannya akan kabur begitu saja tanpa memikirkan teman sendiri.
Segera ruyungnya menyabet, dia bermaksud lari juga, namun sudah terlambat.
Sambil mengotak Gak Ting telah berhasil memegang ujung ruyungnya, berbareng goloknya lantas membacok.
Belum lagi Wi Hwan sempat bersuara tahu-tahu kepalanya sudah terbelah menjadi dua.
Melihat O Tay-tian hendak kabur, dalam keadaan payah, sekuat tenaga Ki Seng-in masih sempat menyambitkan sebilah pisau.
Cuma sayang karena tenaganya sudah lemah, walaupun pisau terbang itu dapat mencapai sasarannya, tapi hanya menancap di bahu Li Tay-tian.
Sambil menahan sakit Li Tay-tian masih dapat mencemplak ke atas kudanya dan kabur.
Dalam pada itu Pek-tiu Tojin juga lantas ikut melarikan diri.
"Gak-toako, keparat itu mestinya harus ditawan hiduphidup,"
Ujar Ki Seng-in kemudian.
"Ah, kawanan bangsat begitu buat apa diberi hidup? Bunuh saja beres!"
Sahut Gak Ting.
Ia tidak tahu maksud Ki Seng-in akan mencari keterangan kepada tawanan tentang persekongkolan Ubun Hiong dengan mereka.
Dengan terbunuhnya Wi Hwan itu secara tidak langsung berarti Gak Ting telah membantu Yap Leng-hong.
Dalam pada itu tenaga Ki Seng-in sudah habis, lukanya bercucuran darah, lekas Kat Sam-nio membalut lukanya.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Toako,"
Kata Ki Seng-in dengan suara lemah.
"Lukaku sangat parah, rasanya jiwaku sukar tertolong lagi. Cuma aku ada dua urusan yang masih harus minta bantuan Gak-toako."
Gak Ting menjadi kuatir juga melihat keadaan Ki Seng-in yang parah itu, cepat ia berjongkok untuk mendengarkan.
"Pertama, aku harap kau mencari saudaramu,"
Kata Seng-in dengan suara lemah.
"Tentu saja, kalau tidak, apa gunanya punya saudara angkat seperti aku?"
Sahut Gak Ting.
"Kedua, hendaklah kau segera pergi memberitahu kepada istri Kang Hay-thian, katakan muridnya yang kedua Ubun Hiong itu adalah mata-mata musuh, dia bersekongkol dengan antek-antek kerajaan tadi. Ingat, namanya Ubun Hiong!"
Setelah mengulangi nama itu, Ki Seng-in tidak tahan lagi, ia memuntahkan darah dan jatuh pingsan.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda, kiranya Ceng-cong-ma tadi waktu terjadi pertempuran telah lari ke dalam hutan, sekarang telah keluar lagi.
Berbareng itu terdengar juga suara kaki binatang berdetak-detak, sebuah kereta sapi tampak sedang mendaki tanjakan itu.
"Napas Ki-temoay masih kuat, mungkin masih dapat diselamatkan, datangnya kereta itu sangat kebetulan,"
Ujar Kat Sam-nio.
"Ya, benar, kalian boleh lekas menyingkir pergi dulu, aku akan menyampaikan pesan Ki-temoay ke rumah Kang Hay-thian, biar kurampas kereta itu untuk kalian, segera aku akan menyusul,"
Kata Gak Ting cepat. Habis itu segera ia memapak datangnya kereta itu, dasar wataknya memang kasar, segera ia membentak.
"He, berhenti!"
Tak terduga si kakek kusir kereta itu sudah lantas mendahului menegur.
"Eh, apakah engkau adalah tamu keluarga Kang?"
Gak Ting melengak malah.
"Darimana kau tahu?"
Tanyanya.
"Kuda itu adalah milikku, semalam murid keluarga Kang yang kedi telah datang meminjam kudaku itu, katanya akan dipakai oleh seorang tamunya yang harus buru-buru berangkat,"
Tutur si kakek.
"Tampaknya kau telah kepergok kaum garong di sini? Eh, kenapakah binatang itu? Wah, terang keracunan!"
Kiranya kakek ini adalah teman main catur Kang Lam yang dipanggil Ong-toasiok oleh Kang Hiau-hu itu.
Pagipagi dia mendengar di tanjakan sini ada suara orang bertempur.
Sebagai seorang bekas pengelana Kangouw, dia menjadi tertarik dan ingin tahu apa yang terjadi.
Kebetulan seorang kenalan kampung dengan keretanya hendak menuju ke Tong-peng-tin, maka ia lantas ikut kereta itu.
Karena sayang kepada kudanya, cepat kakek Ong itu melompat turun dari keretanya untuk memeriksa keadaan Ceng-cong-ma.
Ia menggumam sendiri.
"Untung cuma kena racun yang ringan, asal kurawat beberapa hari tentu akan sembuh."
Mendadak Gak Ting bertanya.
"Murid Kang Hay-thian yang kau maksudkan tadi apakah bernama Ubun Hiong?"
"Betul,"
Sahut si kakek Ong.
"Hah, tahulah aku! Kiranya memang bocah itu yang main gila!"
Teriak Gak Ting. Si kakek kaget oleh suara Gak Ting yang mengguntur itu, tanyanya dengan bingung.
"Kau tahu tentang apa?"
Namun Gak Ting tiada tempo buat bicara lagi dengan dia, katanya.
"Keretamu ini pinjamkan kepadaku."
"Kereta ini bukan punyaku tapi aku dapat bicarakan untukmu. Thio-toasiok..."
Namun Gak Ting sudah tidak sabar lagi, ia mendekati kereta itu dan menyeret keluar satu orang, yaitu Thiotoasiok, pemilik kereta yang bersembunyi ketakutan di dalam keretanya.
Si kakek Ong sampai mendelik melihat kelakuan Gak Ting itu, serunya marah.
"He, kawan, aku anggap kau sebagai tamu terhormat keluarga Kang, mengapa perbuatanmu mirip perampok?"
"Ya, aku memang perampok, tapi aku pun tidak ambil percuma kereta kalian ini, sepotong emas lantakan ini boleh kau ambil, aku tiada tempo buat bicara lagi,"
Kata Gak Ting sambil memberikan sepotong emas kepada Thio-toasiok.
Lalu ia melepas kedua ekor sapi itu dan diganti dengan kedua ekor kuda milik mereka suami-istri tadi.
Kereta sapi itu diubahnya menjadi kereta kuda.
Sambil memondong Ki Seng-in ke atas kereta, Kat Sam-nio lantas menambahkan.
"Aku tahu engkau adalah orang baik, tapi kami harus buru-buru berangkat untuk menolong kawan yang terluka parah sehingga berbuat kasar, harap engkau maklum."
Lalu cambuk Ki Seng-in disabetkan.
"tarrr", segera kereta kuda itu membedal ke depan dengan cepat. Sebaliknya Gak Ting lantas berlari ke arah rumah Kang Hay-thian. Dalam pada itu rasa dongkol si kakek Ong agak reda setelah mendengar ucapan Kat Sam-nio tadi, tapi dia masih mengomel.
"Dasar orang sinting! Dahulu aku juga pernah jadi perampok, tapi aturan Kangouw juga harus ditaati. Aneh, mengapa dia mencaci-maki Ubun Hiong, murid Kang Hay-thian itu bukanlah anak nakal, darimana dia mengenalnya?"
Tiba-tiba ia dengar Thio-toasiok berseru padanya.
"He, Ong-toako, kau kira ini emas tulen atau bukan?"
"Sudah tentu emas tulen,"
Sahut kakek Ong. Seketika Thio-toasiok berjingkrak-jingkrak seperti orang edan, teriaknya.
"Aha. Sekali ini aku benar-benar kaya mendadak!"
Maklumlah, orang desa, lantakan emas itu tentu sangat berarti baginya. Si kakek Ong merasa geli juga setelah ingat kereta itu bukan miliknya, katanya dalam hati.
"Ya, mereka yang satu mau jual dan yang lain mau beli, kenapa aku mesti ikut pusing?"
Begitulah ia lantas mengajak Thio-toasiok pulang ke rumah.
Tadi sayup-sayup Kat Sam-nio mendengar juga omelan kakek Ong.
Ia menjadi heran dan sangsi tentang Ubun Hiong yang dikatakan mata-mata musuh oleh Ki Seng-in itu, namun sang suami sudah berlari pergi, Ki Seng-in juga belum sadar, terpaksa ia melanjutkan perjalanan.
Sudah tentu mimpi pun Ubun Hiong tidak mengira dirinya telah difitnah orang.
Pada waktu Ki Seng-in berangkat, dia malah sedang berlatih dengan Kang Hiauhu di kebun bunga.
Belum habis dia mainkan Tui-hongkiam-hoat, tiba-tiba Yap Leng-hong sudah datang memanggil untuk menemui ibu gurunya.
Karena urusan semalam, maka ketika bertemu dengan ibu gurunya sikap Ubun Hiong masih agak canggungcanggung.
Namun Kok Tiong-lian bicara padanya dengan ramah tamah.
"Hiong-ji, apakah kau masih merasa penasaran dan dendam kepada Utti Keng suami-istri?"
"Subo,"
Sahut Ubun Hiong.
"meski Utti Keng sendiri bukan pembunuh ayahku, tapi kematian ayah disebabkan barang kawalannya dirampas olehnya. Mengingat hubungan baiknya sekarang dengan Suhu, apalagi soal pembegalan adalah kejadian umum di dunia Kangouw, maka aku takkan menganggap dia sebagai musuh pembunuh ayah lagi walaupun di dalam hati aku masih rada dendam padanya."
"Kau dapat berpikir demikian, sungguh aku sangat senang,"
Ujar Kok Tiong-lian.
"Sebenarnya Utti Keng juga sangat menyesal atas pembegalan tempo dulu itu dan ingin memperbaiki permusuhan ini dengan kau. Menurut keterangan istrinya semalam, mereka memang sengaja merampas barang kawalan ayahmu itu, sebab..."
Belum lanjut ucapan Kok Tiong-lian, sekonyongkonyong terdengar suara pintu didobrak orang.
Tionglian terkejut dan heran, siapakah yang berani main gila di rumahnya?
Pada saat itulah lantas terdengar suara seorang berteriak.
"Anak liar Ubun Hiong, lekas keluar!"
Kiranya pendatang itu adalah Gak Ting, dia adalah begal kuda di daerah utara dan tidak terlalu kenal Kang Hay-thian.
Ia hanya pernah mendengar Kang Hay-thian adalah seorang pendekar besar saja.
Keruan Kang Hiau-hu menjadi gusar melihat kekasaran tamu tak dikenal itu, segera ia melolos pedang dan memburu keluar, bentaknya.
"Siapa kau? Di rumah ini kau berani main gila?"
Namun Kok Tiong-lian dan Ubun Hiong sudah menyusul datang, begitu pula Yap Leng-hong. Bentak Tiong-lian.
"Jangan kurang sopan, anak Hu!"
Sebaliknya Ubun Hiong juga sangat heran karena merasa orang itu tak dikenalnya, tapi mengapa mencacimaki dirinya, segera ia melangkah maju dan menegur.
"Ada apa kau mencari Ubun Hiong?"
Dalam pada itu dengan aleman Kang Hiau-hu telah mundur ke samping ibunya dan berkata.
"Lihatlah ibu, jahanam ini telah berani mendobrak pintu rumah kita, bahkan memaki Jisuko. Kalau dia tidak dihajar tentu tidak kenal siapa kita."
Namun Kok Tiong-lian telah menjawab.
"Diam, anak Hu, biarlah tuan tamu bicara dahulu. Betapapun sikapnya, namun sekali datang di rumah kita dia tetap adalah tamu, kita harus menyambutnya dengan aturan."
Ucapan Kok Tiong-lian yang tajam itu seperti mengomeli putrinya, tapi sebenarnya Gak Ting juga itu kena damprat.
Gak Ting melengak dan sadar atas kekasarannya tadi, cepat ia memberi hormat dan menyapa.
"Apakah aku sedang berhadapan dengan Kang-hujin?"
"Betul,"
Sahut Kok Tiong-lian sambil membalas hormat.
"Entah ada kesalahan apakah sehingga tuan menyinggung nama murid kami?"
Mendadak mata Gak Ting mendelik, serunya.
"Kanghujin, apakah kau tidak tahu bahwa muridmu Ubun Hiong ini adalah mata-mata pihak kerajaan?"
Kata-kata itu bagaikan halilintar meletus sehingga sekalian orang terkejut. Ubun Hiong tercengang, kemudian berseru keras.
"Kau bilang apa? Aku seorang pengkhianat? Keparat! Kau, kau memfitnah orang!"
Ia ayunkan tinju terus menerjang.
"Budak, kau marah karena kedokmu terbuka?"
Gak Ting tertawa mengejek seraya menggunakan jurus Liong-ting-toh-cu atau merebut mustika di kepala naga.
Kelima jarinya memainkan ilmu Hun-kin-joh-kut-jiu-hoat terus menyambar Ubun Hiong.
Keduanya sama-sama dirangsang kemarahan, Gak Ting mempunyai ilmu Thiat-poh-san (kebal).
Pukulan Ubun Hiong takkan mengakibatkan apa-apa, tetapi sebaliknya kalau Ubun Hiong kena tercengkeram bahunya, tulang Pi-peh-kutnya pasti remuk dan dia akan menjadi seorang cacad seumur hidup.
Pada saat keduanya hampir berbenturan, sekonyongkonyong serangkum angin mendampar mereka berdua.
Kiranya Kok Tiong-lian keburu maju dan mengebutkan lengan bajunya untuk melerai.
Gak Ting tersurut mundur tiga langkah baru dapat berdiri tegak, sedang Ubun Hiong hanya terseret ke samping.
Dalam hal ini sebenarnya Kok Tiong-lian tak berpihak pada muridnya, adalah karena kepandaian kedua orang itu berbeda, terpaksa Kok Tiong-lian menggunakan dua macam tenaga.
Tetapi sekalipun begitu, ia dapat mengendalikan tenaga kebutannya itu dengan sesuai dan kedua belah pihak tak sampai menderita luka.
Gak Ting terkejut, mukanya merah padam.
Ia hendak bicara tapi Kok Tiong-lian sudah mendahuluinya.
"Berat nian tuduhan sebagai pengkhianat itu. Jika betul terbukti, tentu akan kuhukum menurut disiplin perguruan, tapi juga harus kutanya dulu yang jelas. Dalam hal itu aku tak menghendaki turut campurnya orang luar. Silakan tuan duduk dulu. Muridku memang kasar perangainya, dia tetap bersalah karena turun tangan lebih dulu, untuk itu biarlah aku yang minta maaf padamu."
Sebagai seorang Ciangbun (pemimpin) suatu aliran persilatan, ucapan Kok Tiong-lian itu berwibawa sekali. Rangkaian kata-katanya tidak menghina juga tidak sombong. Mau tak mau Gak Ting membatin.
"Nyonya Kang ini sungguh seorang wanita yang jarang terdapat. Di samping kepandaianya yang tinggi, ucapannya juga lihai."
Bahwa ilmu Toa-lat-eng-jiau-kang tak kuat menahan tamparan lengan baju nyonya itu, diam-diam ia malu hati.
Ucapan nyonya itu mengandung dampratan kepadanya juga, namun ia tak berani berbuat apa-apa.
Sekalipun begitu, tetap ia lampiaskan isi dadanya dengan tertawa keras dan berseru.
"Kang-hujin dapat menyelesaikan dengan bijaksana, itulah yang kuharapkan. Jika Kang-hujin ingin bertanya apa-apa, silakan mengajukan!"
Kok Tiong-lian lantas menanyakan siapa Gak Ting dan apa keperluannya datang ke situ. Sahut Gak Ting.
"Aku she Gak nama Ting. Utti Keng adalah adik angkatku dan Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in adalah adik iparku. Aku sebenarnya tak kenal muridmu, juga tak punya dendam permusuhan apa-apa. Kedatanganku kemari adalah memenuhi permintaan Ki Seng-in, ia tak rela jika gengsi perguruanmu yang harum namanya itu sampai dinodai oleh muridmu yang murtad! Penyakit dalam tubuh seharusnya lekas dibasmi, itulah sebabnya maka Ki Seng-in meminta aku supaya membongkar urusan ini agar kau mendapat tahu."
"Eh, bagaimana dengan Utti-hujin? Mengapa ia tak datang sendiri?"
Kok Tiong-lian terkejut. Dengan penuh amarah dan kesedihan, berkatalah Gak Ting dalam nada yang dingin.
"Iparku itu mungkin dalam penjelmaannya yang akan datang baru dapat menjumpai Kang-hujin!"
"Apa? Kau ... kau maksudkan dia sudah meninggal?"
Kok Tiong-lian berseru kaget. Gak Ting mengatupkan giginya dan menyahut.
"Ia menderita belasan luka, mana bisa hidup lagi? Itulah berkat perbuatan muridmu yang manis! Bagus, bocah she Ubun, dengan membinasakan Ki Seng-in anggaplah kau sudah setengah bagian membalaskan sakit hati ayahmu. Kau tentu sudah puas, bukan? Tetapi cara menuntut balas seperti itu, sungguh kelewat hina sekali!"
Bahwa Ki Seng-in menderita luka parah, memang betul, tapi ia belum sampai mati.
Adalah karena ingin melampiaskan kemarahannya, maka sengaja Gak Ting mengatakan begitu agar mengguncangkan perasaan Kok Tiong-lian.
Bukan saja Kok Tiong-lian, bahkan Ubun Hiong juga tersentak kaget.
Setelah terkesima beberapa saat baru kemudian dapat mengeluarkan kata-kata.
"Kau ... kau mempunyai bukti apa? Aku ... aku hari ini tak pergi kemana-mana, bagaimana dapat membunuh Jian-jiukoan-im?"
Gak Ting tertawa mengejek.
"Memang dengan kepandaianmu itu, sudah tentu kau tak mampu mencelakai Jian-jiu-koan-im. Tetapi kau pinjam tangan membunuh orang, ini lebih-lebih keji lagi!"
Wajah Kok Tiong-lian berubah, ia berseru tajam.
"Urusan harus dibikin terang. Siapakah yang membunuh Utti-hujin?"
"Ketika berada di sebuah gunung yang terletak di muka kota Tong-peng-tin, mendadak muncul sekawanan antek kerajaan. Kepala rombongannya ternyata adalah wakil komandan pasukan Gi-lim-kun Li Tay-tian. Dia bekas orang dari perusahaan Piau-kiok yang didirikan Ubun Long, ayah Ubun Hiong. Coba jawab, hai, budak Ubun. Apakah kau tak kenal Li Tay-tian itu?"
"Jangan memfitnah orang semaumu sendiri! Benar, memang kutahu orang itu. Tetapi hanya sekali dua kulihatnya semasa aku masih kecil. Sekarang bagaimana wujud orang itu, aku pun sudah lupa. Bagaimana aku dapat bersekongkol dengan dia?"
"Habis perlu apa Li Tay-tian datang ke kota sini? Mengapa ia bisa tahu kalau iparku itu akan lewat jalan itu sehingga ia dapat menyiapkan gerombolannya?"
Gak Ting tertawa menghina.
"Mana aku tahu!"
Teriak Ubun Hiong dengan kalap, sehingga suaranya gemetar. Hal itu sebaliknya malah menimbulkan kesan pada Gak Ting bahwa anak itu memang bersalah.
"Apakah Utti-hujin sudah dikubur? Tolong bawa aku menjenguk jenazahnya!"
Kata Kok Tiong-lian.
"Terima kasih atas budi baikmu, tapi tak usah kau menyibukkan diri. Bagaimanapun juga takkan kubiarkan jenazahnya sampai jatuh ke tangan antek-antek kerajaan. Istriku telah membawanya pergi."
"Bolehkah aku menjumpainya untuk yang penghabisan kali?"
Tanya Kok Tiong-lian pula. Gak Ting tertawa tawar.
"Orangnya sudah mati, apa gunanya melihat? Toh dia tak dapat bicara lagi padamu. Apalagi kau adalah istri seorang pendekar besar dan kami hanya bangsa berandal. Aku tak leluasa berjalan bersamamu. Asal kau masih mempunyai setitik kecintaan terhadap iparku itu, cukuplah kiranya kau berusaha untuk mengimpaskan penasarannya saja. Sebelum menutup mata, ia minta kepadaku supaya menyampaikan berita ini kepadamu. Ah, karena tiada lain hal yang kukatakan lagi, maaf, aku tak mempunyai tempo senggang dan hendak minta diri!"
"Ibu, jangan kasih dia pergi begitu saja!"
Teriak Kang Hiau-hu. Gak Ting mendelik dan tertawa mengejek.
"O, makanya Ubun Hiong berani berbuat ugal-ugalan, kiranya karena punya pelindung! Hehe, nona Kang, apakah kau hendak mempersalahkan aku karena membawa berita ini?"
Malu bercampur marahlah Kang Hiau-hu mendengar sindiran itu, tetapi ia insyaf bahwa nasib Ubun Hiong akan ditentukan pada saat itu. Ia tak mau meladeni orang she Gak itu dan berkata kepada ibunya.
"Kita belum tahu apakah ocehan orang ini betul atau tidak, tapi sekurang-kurangnya kita harus mengetahui dulu berita tentang Ki Seng-in yang sebenarnya barulah kita melepaskan dia pergi."
Kok Tiong-lian menilai bahwa Gak Ting itu bukan seperti seorang pembohong, tapi ia pun tak percaya kalau Ubun Hiong berbuat sedemikian hina, pikirnya.
"Berita tentang kematian Ki Seng-in mungkin bukan bikinannya, tetapi pesannya ketika ia hendak menutup mata hanya orang ini yang mendengar dan tiada lain orang yang menjadi saksi. Hal ini agak menyangsikan juga."
Melihat Kok Tiong-lian menghadang jalannya, berubahlah wajah Gak Ting.
"Kang-hujin, apakah kau benar-benar hendak menahan aku?"
"Ah, mana aku berani. Hanya ingin aku mengajukan suatu pertanyaan pada Gak-thocu,"
Sahut Kok Tiong-lian.
"Tentang apa?"
"Apakah masih ada bukti lainnya?"
Tanya nyonya itu. Gak Ting tertawa sinis.
"Rupanya kau masih tak mempercayai omonganku? Tidakkah cukup perbuatan rombongan alap-alap kerajaan yang mengepung iparku itu sebagai bukti lainnya? Jika kau tak percaya, ada seorang wakil komandan Gi-lim-kun yang berada di bukit itu, silakan pergi melihat sendiri. He, jika itu masih belum cukup lagi, saat ini ada seorang saksi yang telah berada di sini, dia dapat memberikan kesaksian padamu. Maaf, aku tak punya tempo melayani pertanyaanmu. Kanghujin, kau izinkan aku berlalu atau tidak?"
Kiranya yang datang itu adalah pak tua si Ong. Melihat Gak Ting juga hadir di situ dan suasana dalam rumah tak sewajarnya, diam-diam kakek itu terkejut.
"Apa yang terjadi?"
Ia bertanya.
"Ah, tak apa-apa. Paman Ong, silakan duduk. Aku hendak mengantar tetamu ini,"
Sahut Kong Tiong-lian.
"Hai, mengapa kau tidak bilang kau tetamu keluarga Kang?"
Tegur Ong tua tiba-tiba kepada Gak Ting. Gak Ting menyahut tertawa.
"Aku hanya pengantar berita saja, mana berani mengangkat diriku terlalu tinggi sebagai tamu. Kang-hujin, terima kasih karena kau memperlakukan aku sebagai tetamu. Selamat tinggal, tak usah berlaku sungkan padaku!"
Tertawanya mengandung kemarahan, kepergiannya membawa perasaan dongkol.
"Paman Ong, kenalkah kau pada Gak-thocu itu?"
Tanya Kok Tiong-lian kemudian.
"Secara kebetulan saja kukenal padanya ketika pagi tadi berjumpa di atas bukit. Dia menukar gerobak Thiotoasiok dengan Goan-po (uang) untuk dibuat mengangkut seorang wanita terluka berat. Mengira dia adalah tetamumu, aku hendak berkenalan padanya. Tetapi dia tak menghiraukan, ia lemparkan lantakan emas terus merebut gerobak,"
Sahut Ong tua itu. Dia seorang penduduk yang tinggal lama di Kanglam, jadi sudah kenal dengan keadaan daerah itu. Nada bicaranya pun bergaya seperti orang Kanglam.
"Seorang wanita yang terluka parah? Jadi kalau begitu wanita itu belum meninggal?"
Buru-buru Kok Tiong-lian menegas.
"Siapakah yang melukai wanita itu? Tahukah kau?"
"Beberapa orang desa mengatakan kalau ada serombongan tentara pemerintah mengepung seorang wanita. Ketika aku datang, kulihat di tanah terkapar sesosok mayat pembesar tentara dan dua orang antek kerajaan dihalau lari oleh si lelaki hitam itu. Hm, opsir yang mati itu kukenalnya."
"Siapa?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Opsir Gi-lim-kun yang bernama Wi Hwan, dia dan wakil komandan Li Tay-tian itu orang lama. Sepuluhan tahun yang lalu, karena suatu kesalahan aku pernah ditangkap mereka. Untung aku dapat meloloskan diri dan sejak itu aku cuci tangan pulang ke desa."
Apa yang dikatakan Ong tua serupa dengan keterangan Gak Ting.
Jika menilik apa yang telah terjadi, memang patut diduga kalau Ubun Hiong bersekongkol dengan Li Tay-tian untuk mencelakai Ki Seng-in.
Kang Hiau-hu terkejut juga dan cepat bertanya.
"Apakah wanita itu benar-benar Jian-jiu-koan-im?"
"Apakah kuda si wanita itu adalah kuda Ceng-cong-ma milikmu?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Justru aku hendak memberitahu padamu. Kuda Cengcong-ma itu sudah kubawa pulang, tapi aneh,"
Kata Ong tua.
"Kenapa?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Mulut kuda itu mengeluarkan busa putih, dia terserang sakit, makanya aku datang ke sini akan bertanya padamu."
"Hai, semalam kuda itu masih baik-baik saja, mengapa mendadak sakit? Paman Ong, kau seorang ahli kuda, tentu tahu apa penyakitnya itu?"
"Ya, memang agak aneh. Dikuatirkan binatang itu makan rumput yang terlumur racun,"
Sahut Ong tua.
"Hai, rumputnya aku yang potong dan yang memberi makan juga aku. Mengapa beracun?"
Ubun Hiong kaget.
"Rumput beracun memang jarang terdapat. Mungkin kau tak dapat membedakan, siapa tahu? Tetapi engkoh cilik Ubun, aku tak mencurigaimu,"
Ong tua mempunyai kesan baik terhadap anak muda itu. Dia coba berusaha untuk membersihkan diri anak itu, tetapi Kok Tiong-lian mau tak mau curiga juga.
"Untung racunnya tak seberapa hebat. Tiga empat hari lagi kuda itu tentu akan sembuh. Eh, Kang-hujin, hampir saja aku lupa, masih ada lagi suatu berita."
"Apa?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Warung arak yang baru saja dibuka di kota telah dibakar orang, dua orang pegawainya dilukai. Kebakaran itu sungguh aneh, tapi yang lebih mengherankan, bukannya memadamkan api sebaliknya orang-orang dari warung arak itu malah melarikan diri. Api baru dapat dipadamkan setelah rumah menjadi tumpukan puing. Sayang, sekarang tiada lagi warung arak sebaik itu!"
Kata kakek Ong. Diam-diam Leng-hong kejut-kejut girang, pikirnya.
"Dengan terbakarnya warung arak itu, kini anak buah Hong Jong-liong tak punya tempat berkumpul lagi. Dan aku pun tak perlu cemas akan ancaman mereka. Sekalipun kelak Hong Jong-liong mencariku, tapi sekurang-kurangnya sekarang aku dapat tidur pulas. Ha, tak nyana segala urusan berakhir menyenangkan bagiku! Dengan meninggalnya Ki Seng-in dan lolosnya Li Tay-tian serta terbakarnya warung arak itu, tak ada lagi orang yang mengetahui rahasiaku!"
Hanya sedikit yang masih mengganggu pikirannya ialah siapakah orang yang membakar warung arak itu? Tahukah dia akan hubungannya dengan warung arak itu? Pikir punya pikir, ia hibur hatinya sendiri.
"Kemarin malam diam-diam aku pergi ke warung arak itu, tetapi telah kuteliti secermatnya kalau di jalan tiada seorang pun yang kelihatan, tentulah tak ada orang yang tahu rahasiaku. Mengenai Ya-heng-jin (pengelana malam) yang dijumpai Ubun Hiong, walau mencurigakan, tetapi hal itu terjadi setelah aku keluar dari warung arak di kota."
Dengan pertimbangan itu, akhirnya longgarlah perasaan Leng-hong.
Setelah melaporkan tentang keanehan yang terjadi di warung arak, akhirnya Ong tua minta diri karena hendak mengurus kudanya yang istimewa itu.
Setelah kakek itu berlalu.
Kok Tiong-lian terdengar menghela napas.
"Hu-ji, sayang ayahmu tak di rumah."
Memang walaupun Kok Tiong-lian lebih cerdas dari Kang Hay-thian, namun menghadapi sesuatu masalah ia tak secepat suaminya dalam menentukan kesimpulan.
Nyonya itu terlongong seorang diri, tak tahu bagaimana harus bertindak.
Memang jika menilik pembicaraan Gak Ting dan Ong tua, Ubun Hiong itu yang paling mencurigakan.
Tetapi Kok Tiong-lian tetap meragukan kalau anak itu mempunyai nyali sedemikian besarnya.
Ubun Hiong juga merasa kalau dirinya paling menderita disangsikan orang, dengan menahan kesedihan dan menelan air mata ia berlutut di hadapan Kok Tiong-lian, sambatnya.
"Subo, murid sungguh merasa penasaran!"
Leng-hong membantu memberi 'angin'.
"Walaupun masalahnya memang sangat kebetulan, tapi kuyakin Sute tak nanti berani melanggar peraturan perguruan. Aku bersedia dengan Sumoay menanggungnya!"
Tahu kalau Kang Hian-hu tentu bakal membela Ubun Hiong, cepat Leng-hong mendahului, seolah-olah ia mengunjuk setia kawan kepada Ubun Hiong, tapi pada hakikatnya ia bermaksud membangkitkan kecurigaan ibu gurunya.
Dan Kang Hiau-hu yang tak dapat meraba hati Lenghong, segera membuka suara.
"Ibu, mengingat budi Jisuko yang pernah menolong aku, bebaskanlah dia dari hukuman. Pengaduan orang she Gak itu belum tentu dapat dipercaya sepenuhnya."
Karena tak punya alasan kuat untuk menolong Ubun Hiong, Kang Hiau-hu hanya dapat mengemukakan peristiwa lama itu.
Tapi hal itu malah menyinggung perasaan ibunya.
'Musuh dalam selimut7, ah, betapa berat tuduhan itu.
Masakah dosa sebesar itu dapat dihapus hanya dengan mengingat hubungan antara putrinya dengan anak muda itu?
Setelah berpikir beberapa jenak, berkatalah Kok Tiong-lian.
"Ubun Hiong, bangunlah! Persoalan tentu akan dapat dibikin terang, tak perlu kau gelisah. Apakah luka dalammu sudah sembuh?"
Kata Kok Tiong-lian. Bahwa ibunya tak memanggil Hiong-ji tetapi menggunakan sebutan Ubun Hiong, Kang Hiau-hu sudah merasa gelagat kurang baik. Ubun Hiong terkesiap, ujarnya.
"Terima kasih atas budi Subo. Murid sudah sembuh."
Ia tak mengerti mengapa sudah tahu Subonya masih bertanya pula. Dengan nada penuh penyesalan, berkatalah Kok Tiong-lian.
"Kau pernah berjasa menolong anak Hu. Kini kau sudah sembuh aku pun lega. Ketika kau mengangkat guru. Suhumu hanya menerima kau sebagai calon murid. Sekarang dengan adanya peristiwa ini, ikatan Suhu dan murid nanti kita tetapkan lagi setelah persoalan ini selesai. Apa yang kau telah pelajari kuizinkan kau membawanya, tetapi sebelum kau diterima kembali di sini, kau tak boleh menyebut dirimu sebagai murid keluarga Kang."
"Apa? Ibu hendak mengusir Jisuko?"
Teriak Kang Hiauhu.
"Hu-ji, jangan ribut,"
Kok Tiong-lian menyahut tegas.
"Ubun-se-heng, bukannya aku tak percaya padamu. Tetapi dengan timbulnya peristiwa ini, orang luar tentu tak percaya padamu. Jika aku tak menyelesaikan persoalan ini secara peraturan orang Bu-lim, orang luar tentu akan menuduh aku membela murid sendiri. Untuk sementara ini terpaksa kau harus menderita sedikit, tapi begitu urusan sudah terang, kau boleh kembali kemari lagi. Dapatkah kau memahami kesukaranku?"
Memang apa'yang diucapkan Kok Tiong-lian itu sungguh tepat.
Besok ia hendak berangkat ke Bin-san memimpin upacara sembahyang Tok-pi Sin-ni, serta mengadakan pertemuan dengan sekalian orang gagah untuk membicarakan rencana melawan pemerintah Cing.
Jika sekalian orang gagah mengetahui urusan itu, mana mereka mau mengampuni Ubun Hiong?
Di samping itu, walaupun ia menyatakan kepercayaan terhadap Ubun Hiong, namun ia harus tetap menjaga kemungkinan apabila anak muda itu sungguh-sungguh seorang matamata, itu akan merupakan kesalahan yang tiada ampun.
Itulah sebabnya ia harus mengambil keputusan begitu dan dengan keputusan yang jauh lebih ringan daripada apa yang disebut 'pembersihan' (memberi hukuman pada anak murid yang bersalah), ia anggap sudah berlaku bijaksana dan murah hati.
Betapa pedih hati Ubun Hiong dapat dibayangkan, tetapi pemuda itu juga keras wataknya, pikirnya.
"Karena Subo juga menaruh curiga padaku, tak ada artinya jika aku masih tinggal di sini."
Segera ia memberi hormat tiga kali pada ibu gurunya, ujarnya.
"Sehari menjadi guru, seratus tahun sebagai ayah, dengan belum terangnya persoalan ini, sukar bagi murid untuk tetap berada di sini. Biarlah kutaati perintah Subo agar jangan menodai nama perguruan kita, tetapi murid belum dapat membalas budi Subo, tak nanti di luaran murid berani mengaku diri sebagai anak murid Kang-tayhiap, walaupun dalam batin murid selalu menjunjung tinggi Suhu dan Subo. Hanya murid mohon sudilah Subo mengingat kesungguhan hati murid dan izinkan murid tetap menyebut engkau sebagai Subo."
Sebenarnya Kok Tiong-lian hendak menghindari supaya jangan terjadi upacara perpisahan resmi. Mendengar ucapan yang setulus hati dari anak itu, mau tak mau ia berlinang-linang juga.
"Jisuko, apakah kau benar-benar hendak berlalu? Mengapa kau begitu keras hati?"
Teriak Hiau-hu.
"Kau memang budak yang tak tahu urusan, Hong-tit, seret dia pergi!"
Kata Kok Tiong-lian kepada Leng-hong.
"Tindakan Suko sudah kelewat baik terhadapku, Sumoay, terima kasih atas kebaikanmu, tapi sebaliknya janganlah kau menghalangi,"
Kata Ubun Hiong. Leng-hong melangkah setindak menghadang di mulut pintu, ujarnya.
"Sute, harap kau baik-baik menjaga dirimu di luaran, aku tentu akan berusaha keras membantu Subo untuk membikin terang urusan ini, agar kau tercuci bersih dari segala tuduhan. Harap kau jangan kuatir!"
Sebenarnya itu hanya sandiwara yang hendak dipertunjukkan pada Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu, tapi entah bagaimana waktu mengucapkan kata terakhir, dapat juga ia meneteskan air mata.
Padahal maksud yang sebenarnya, ia hendak merintangi agar si dara jangan memburu Ubun Hiong.
Terharu sekali hati Ubun Hiong, jawabnya.
"Terima kasih atas budi kecintaan Suheng. Kuharap pada suatu hari aku dapat kembali lagi kemari agar dapat menerima petunjuk yang berharga dari Suheng. Silakan Suheng kembali, selamat tinggal!"
Segera ia membungkuk badan memberi hormat, lalu melangkah keluar pintu besar.
Si dara tahu bahwa keputusan telah ditetapkan, sukar ditarik kembali.
Sekalipun Leng-hong tak menghadang di ambang pintu, ia pun tak mau mengejar Jisuhengnya.
Kok Tiong-lian memeluk putrinya seraya mengusap air matanya.
"Budak tolol, bukan perpisahan mati, mengapa begitu sedih hatimu?"
"Ibu, telah kau janjikan untuk membikin terang persoalan ini lebih dulu baru nanti kau izinkan Jisuheng kembali kemari, tapi bagaimana kau hendak menyelidiki urusan yang segelap itu?"
Tanya Hiau-hu.
"Di dunia tiada urusan yang sukar dikerjakan, soalnya hanya tergantung pada kemauan orang. Setelah rapat besar di Bin-san, tentu segera kulakukan penyelidikan. Salah atau benar, tentu ada orang yang mengetahui. Jika ia memang kena fitnah, tentu takkan menderita sampai berkepanjangan,"
Demikian Tiong-lian menghibur putrinya.
Sebenarnya ia sendiri juga belum mempunyai rencana tertentu untuk membikin terang urusan itu.
Leng-hong merasa terkena sekali oleh kata-kata "salah atau benar tentu ada orang yang mengetahui"
Dari Subonya itu, diam-diam ia menggigil dalam batin. Tetapi pada lain kilas ia menimang.
"Ah, urusan yang sedemikian peliknya bagaimana hendak diselidiki? Jangankan Ki Seng-in sekarang sudah mati, sekalipun masih hidup, tentu ia juga akan menuduh kalau Ubun Hiong yang melakukan. Segala kecurigaan tentu jatuh pada diri Ubun Hiong, bukankah Gak Ting telah menyampaikan pesan penghabisan dari Ki Seng-in yang nyata-nyata menunjuk hidung Ubun Hiong?"
Liku-liku urusan yang menguntungkan dirinya menyebabkan ia girang sekali.
Namun ia memulas wajahnya dengan kerut kesedihan.
Pandainya Leng-hong bermain sandiwara menyebabkan si dara diam-diam menyesal.
"Kukira Toasuheng iri hati pada Jisuheng, ternyata aku salah duga."
"Sudah tiga hari ayahmu pergi, hari ini tentu pulang. Begitu ia pulang, besok pagi kita akan berangkat ke Binsan. Hu-ji, nanti kau harus berlatih giat dengan Suhengmu. Ilmu pedang Toa-si-mi-kiam dengan gerak langkah Thian-lo-poh-hoat harus diyakinkan sampai mahir betul. Jangan sampai membikin malu ayahmu di hadapan umum. Hilangkan pikiranmu terhadap Jisuhengmu, lekas sana!"
Kata Kok Tiong-lian.
"Ya, selama dalam perjalanan aku hanya mendapat pelajaran lisan dari Suhu. Aku perlu meminta petunjuk Sumoay untuk mempraktekkan ilmu pedangnya itu,"
Kata Leng-hong dengan kegirangan sekali. Setelah kedua anak muda itu pergi, diam-diam Kok Tiong-lian merenung.
"Hong-tit pandai benar mengambil hati Hu-ji, mungkin ia akan dapat menawan hati Hu-ji. Tapi menilik suasana tadi, jelas kalau Hu-ji sudah mendalam sukanya pada Ubun Hiong. Andaikata ia dapat ditempel Hong-tit, juga dikuatirkan hatinya terluka dengan bekas-bekas vang tak dapat dilupakan selamalamanya. Entah apakah keputusanku tadi sesuai atau tidak?"
Sebenarnya tindakan yang dilakukan terhadap Ubun Hiong tadi, memang alasannya untuk membersihkan rumah tangga perguruan, menjaga apabila terjadi kemungkinan bahwa Ubun Hiong benar-benar seorang pengkhianat.
Namun tak urung juga tak bebas dari kepentingan pribadi.
Kepentingan pribadi berupa bantuannya untuk menghilangkan 'saingan' Leng-hong, agar selanjutnya Leng-hong punya kesempatan luas bergaul dengan Hiau-hu sehingga dara itu terpikat hatinya.
Kok Tiong-lian seorang pendekar wanita yang menjunjung kebenaran dan kejujuran, bahwa tindakannya kali ini dipengaruhi oleh rencana pribadi, diam-diam ia merasa menyesal juga.
Nyonya itu juga seorang yang pernah mengalami ujian gelombang asmara.
Teringat bagaimana romannya dahulu dengan Kang Hay-thian juga mengalami bermacam-macam ujian, diam-diam nyonya itu bimbang hatinya memikirkan keputusannya tadi, sekonyong-konyong ia teringat pada ibu angkatnya.
Kok Ci-hoa.
Dahulu Kok Ci-hoa juga didakwa sebagai murid murtad oleh Sucinya sendiri sehingga diusir dari rumah perguruan.
"Jika Ubun Hiong benar-benar terfitnah dan dengan sewenang-wenang kupisahkan mereka (Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu), apakah aku tak berdosa kepadanya? Ah, tetapi persoalan itu belum terang. Tak ada lain pilihan lagi bagiku kecuali harus bertindak begitu,"
Ia mengadakan perbantahan sendiri dalam batinnya.
Leng-hong tak tahu bahwa Kok Tiong-lian diam-diam merasa menyesal dengan tindakannya tadi.
Ia anggap Subonya itu bersungguh-sungguh akan membantunya, girangnya meluap-luap sukar diutarakan.
Kesempatan berlatih bersama dengan Sumoay itu akan dipergunakan untuk mengambil hati si dara.
Sekarang mari ikuti perjalanan Ubun Hiong.
Di saat Leng-hong bersuka ria, bagi Ubun Hiong merupakan saat-saat yang menyiksa.
Kemanakah langkah hendak diayunkan di dunia yang sedemikian luasnya ini?
Kakinya seolah-olah terdorong oleh gejolak kemarahannya untuk lekas-lekas meninggalkan rumah keluarga Kang.
Ia biarkan dirinya dibawa oleh ayunan kakinya, tapi ketika teringat bahwa entah kapan ia dapat berjumpa pula dengan sang Sumoay, mau tak mau hatinya seperti tersayat-sayat.
Tak terasa ia tiba di bukit yang terletak di hadapan kota Tong-peng, sekonyong-konyong sesosok bayangan melesat.
Bahunya ditepuk perlahan-lahan oleh seseorang.
"Apakah saudara ini murid kedua dari Kangtayhiap yang bernama Ubun Hiong? Kulihat saudara mempunyai kesedihan dalam hati, bolehkah aku mengetahui?"
Demikian orang itu berkata. Munculnya orang itu membuat Ubun Hiong kaget sekali, tetapi demi dilihatnya yang datang itu seorang Pemuda baju hitam, ia tertegun, ujarnya.
"Siapakah saudara? Maaf, agaknya kita tak pernah berkenalan. Mengapa saudara tahu namaku?"
Diam-diam Ubun Hiong membatin Pemuda baju hitam itu kelewat usil, masa mau mengetahui rahasia hati orang. Pemuda baju hitam itu tertawa, rupanya ia tahu kesangsian Ubun Hiong, ujarnya.
"Bukankah kau menyangsikan diriku yang muncul secara mendadak ini? Bagi kaum persilatan yang berkelana, asal sehaluan saja tentu dapat menjadi sahabat, bukan?"
"Hm, benar, tetapi aku tak tahu siapa dirimu,"
Demikian Ubun Hiong berkata dalam hati.
"Apalagi kita sudah pernah berjumpa muka, hanya mungkin saudara tak ingat lagi,"
Kata pemuda itu pula.
"Bilamana dan dimana? Maafkan ingatanku yang terlalu lemah. Aku sungguh tak ingat lagi,"
Kata Ubun Hiong. Tertawalah si Pemuda baju hitam.
"Ya di sini juga, kan baru kemarin, mengapa sudah lupa?"
Kini tersadarlah Ubun Hiong.
"O, jadi kaulah Ya-hengjin semalam itu?"
Pemuda itu mengiakan, tanyanya.
"Eh, mengapa kau tinggalkan rumah keluarga Kang? Menilik kerut wajahmu, kau tentu mempunyai kesulitan."
"Urusanku tak berharga untuk dikemukakan pada orang lain. Saudara pun tak nanti dapat menyelesaikan. Hm, siapakah nama saudara yang mulia?"
Pemuda itu kembali tertawa.
"Namaku? Kelak kau tentu akan mengetahui sendiri. Bukannya aku tak mau memberitahukan padamu, soalnya hanya belum tiba saatnya."
Ubun Hiong agak tak senang, pikirnya.
"Mengapa pemuda ini aneh benar? Hm, namanya saja tak mau memberitahukan, sebaliknya mengapa mau minta tahu rahasiaku!"
"Siapa tahu aku mungkin dapat membantu. Mari kita omong-omong di dalam hutan sana,"
Kata pemuda itu pula.
"Aku tak berani merepotkanmu. Aku masih harus meneruskan perjalanan, terima kasih atas kebaikanmu,"
Sahut Ubun Hiong. Pemuda itu tertawa gelak-gelak.
"Ubun Hiong, kau berdusta. Kemana tujuanmu, mungkin kau sendiri tak dapat menjawab. Mengapa hendak meneruskan perjalanan?"
"Ini urusanku, tak usah saudara turut campur,"
Sahut Ubun Hiong dengan aseran.
"Tidak! Mungkin hanya aku yang dapat menyelesaikan urusanmu itu. Kuatirkah kau aku akan mencelakai dirimu? Bukan hendak menyombongkan diri, tetapi jika mau, semalam saja tentu sudah kulukaimu. Baiklah, rupanya kau tak begitu percaya padaku, kalau begitu aku hanya hendak mengajukan suatu pertanyaan. Jika kau anggap dapat menjawab, jawablah. Tetapi kalau tidak, boleh diam saja. Dengan cara demikian, legakah hatimu?"
Karena tak berdaya menghadapi keusilan si anak muda, akhirnya terpaksa Ubun Hiong mengikut pemuda itu ke dalam hutan.
"Apakah pemuda yang tadi malam bersamamu itu adalah Suhengmu?"
Tanya si pemuda kemudian. Ubun Hiong mengiakan.
"Siapakah nama Toasuhengmu itu?"
Tanya pemuda itu pula.
Ubun Hiong merasa aneh juga mengapa pemuda itu hendak mencari keterangan tentang Toasuhengnya, tetapi karena hal itu dianggapnya bukan suatu rahasia, ia pun memberitahukan.
Tampak pemuda itu tertegun seperti mendengar lelucon, wajahnya berubah aneh, katanya seorang diri.
"O, Yap Leng-hong, dia bernama Yap Leng-hong?"
Tibatiba ia tertawa terbahak-bahak. Diam-diam Ubun Hiong kuatir jangan-jangan pemuda itu tak waras pikirannya, maka bertanyalah ia.
"Apanya yang lucu? Orang toh punya nama, apakah nama Suhengku itu kau anggap aneh?"
"Benar, benar. Nama hanyalah suatu tanda pengenal saja, nama Yap Leng-hong itu bagus benar, sama sekali tak ada keanehannya,"
Sahut si pemuda.
"Tapi mengapa kau tertawa?"
Tanya Ubun Hiong.
"Tak apa-apa, hanya merasa geli saja. Eh, kan salah ini. Bukankah tadi kita sudah berjanji, aku yang bertanya dan kau yang menjawab. Mengapa kau yang berbalik menanyai aku?"
Ubun Hiong membatin.
"Orang ini mungkin pikirannya tak waras, tapi sinar matanya begitu tenang, seorang gila tentu tak begitu". Ia dongkol dan ingin lekas menghindarkan diri, katanya dengan ketus.
"Baik, kau hendak bertanya apa, silakan lekas bertanya!"
"Aku masih hendak menanyakan tentang Toasuhenginu itu. Apakah ia bersikap baik kepadamu?"
Tanya Pemuda baju hitam itu.
"Kau ingin tahu urusan pribadi kami?"
"Kau tak ingin menjawab?"
Pemuda itu mengembalikan pertanyaan.
"Tidak, hanya aku merasa pertanyaanmu itu agak aneh. Kita tak kenal satu sama lain, nama Suhengku pun baru pertama kali kau dengar."
Tiba-tiba pemuda itu tertawa.
"Kau melanggar persetujuan kita. Kalau kau suka menyahut, menyahutlah. Tapi jangan menanyakan padaku apa sebabnya aku mengajukan pertanyaan begitu."
Kuatir si pemuda mengolok-olok, Ubun Hiong menyahut.
"Hal itu bukan suatu rahasia yang tak boleh diberitahukan orang. Baiklah, kuberitahu, Toasuheng bersikap baik kepadaku."
"Kapan Toasuhengmu diterima masuk menjadi murid Suhumu?"
"Hanya beberapa hari lebih dulu dari aku, kira-kira setengah tahun yang lampau."
"Apakah kau masih punya saudara seperguruan lainnya?"
"Masih ada seorang Sumoay, ia putri Suhuku,"
Berkata sampai di sini tampak Ubun Hiong tergetar hatinya, timbullah kecurigaannya.
"Apakah orang ini tahu kalau Suhu telah menerima seorang calon murid putra Li Bunsing dan dengan sengaja pura-pura gila ia hendak mencari keterangan padaku?"
Pikirnya.
"Baiklah, karena agaknya kau tak sabar lagi, aku pun takkan menanyakan tentang diri Toasuhengmu itu, sekarang aku hendak bertanya padamu mengenai hal-hal yang sungguh,"
Kata Pemuda baju hitam itu. Karena mempunyai prasangka, diam-diam Ubun Hiong waspada terhadap orang itu. Setelah tertegun sejenak, ia menyahut.
"Kita berdua belum saling mengenal, urusan sungguh-sungguh apa yang hendak dibicarakan?"
Pemuda itu tertawa.
"Jangan begitu tegang perasaanmu. Bukankah kita sudah setuju, apa yang kau rasa tak perlu menjawab, janganlah menjawab."
"Baik, silakan bertanya,"
Kata Ubun Hiong.
"Benarlah ucapanmu itu. Kita berdua belum saling kenal, maka aku pun tak mau menanyakan sejarah hidupmu yang lampau, melainkan tentang peristiwa yang kau alami akhir-akhir ini saja. Kudamu kemarin itu kau pinjamkan kepada siapa?"
Oleh karena menganggap bahwa Subonya berhubungan dengan seorang berandal wanita Jian-jiukoan-im Ki Seng-in, maka ia tak mau menyahut pertanyaan itu.
Pemuda itu tertawa dan mengadakan tanya-jawab seorang diri.
"Dipinjamkan pada seorang yang bergelar Jian-jiu-koan-im, seorang berandal wanita yang dapat memainkan ruyung dan pedang bersama-sama, bukan? Jian-jiu-koan-im itu telah dilukai oleh kawanan budak kerajaan, bukan?"
"Kau sudah tahu semua, mengapa masih bertanya padaku?"
Kata Ubun Hiong.
"Namun masih ada sebuah hal tak jelas yang perlu kutanyakan pada saudara,"
Kata pemuda itu.
"terlukanya Jian-jiu-koan-im itu disebabkan karena kudanya terkena racun. Kalau tidak, dengan kuda sebagus itu ia tentu dapat meloloskan diri. Kemarin malam kulihat kuda itu masih segar bugar, mengapa mendadak bisa kena racun?"
"Kurangajar! Kau juga mencurigai aku?"
Teriak Ubun Hiong.. Ia mengira pemuda itu tentulah orang Gak Ting, maka tak dapatlah ia menahan kemarahannya lagi, tapi dengan berbuat begitu, kelemahannya telah diketahui si Pemuda baju hitam.
"Oo, jadi Subo dan Suhengmu mendakwa kau yang meracuni? Semalam kau yang memberi makan kuda itu bukan?"
"Terserah kau hendak merangkai dugaan apa saja, namun aku merasa tak berbuat hal-hal yang hina,"
Kata Ubun Hiong. Pemuda itu tertawa.
"Bukannya aku curiga padamu. Kau menjawab hal yang tak kutanyakan, memang aku juga menaruh kecurigaan, masakah Sumoaymu menemani kau memberi makan kuda itu. Bukankah hal itu baru dikatakan oleh Suhengmu kepada Subomu setelah peristiwa itu terjadi?"
Pemuda baju hitam itu luas sekali pengalamannya di dunia persilatan. Sekali tebak, jitu sekali, tetapi hal itu diterima salah oleh Ubun Hiong.
"Kau hendak mengadu domba hubunganku dengan Suheng!"
Ia marah-marah.
"Mana aku berani merusak hubungan kalian berdua, tapi naga-naganya kau memang mempunyai ganjalan batin dengan Toasuhengmu itu. Oh, tahulah aku!"
Ubun Hiong makin marah.
"Karena segala apa sudah kau ketahui, tak usah kau mengolok-olok aku lagi. Maaf!"
Ia terus hendak berlalu, tapi cepat dicegah oleh pemuda itu. Dengan wajah bersungguh-sungguh berkatalah pemuda aneh itu.
"Tidak, ada sebuah hal yang tak kumengerti, kau harus memberitahukan padaku. Hal itu penting sekali bagiku!"
Melihat kesungguhan orang, terpaksa Ubun Hiong mau percaya.
"Silakan mengatakan. Asal tidak melanggar kesusilaan Hiap-gi (sifat ksatria), tentu aku suka memberitahu."
"Tahukah kau bagaimana pribadi Jian-jiu-koan-im? Apakah perjalanan hidupnya di dunia Lok-lim baik atau buruk?"
Ubun Hiong terkesiap, serunya.
"Apakah kau bergurau padaku? Bagaimana tokoh Jian-jiu-koan-im itu mengapa kau perlu tanyakan lagi padaku?"
Pemuda itu juga tertegun, serunya keheran-heranan.
"Aku bicara dengan sungguh-sungguh, mengapa kau kira bergurau?"
"Jadi kau bukan anggota gerombolannya?"
Teriak Ubun Hiong.
"Sudah tentu bukan, kalau tidak, masakah aku perlu bertanya padamu!"
Namun Ubun Hiong masih tak percaya, pikirnya.
"Aneh orang ini! Terlukanya Ki Seng-in oleh kawanan alap-alap itu baru saja terjadi, jika bukan anggota gerombolannya bagaimana ia dapat mengetahui? Dalam pembicaraannya tadi, ia sudah mengenal riwayat hidup Ki Seng-in, mengapa ia bertanya tentang perjalanan hidupnya?"
Memang tak salah kalau Ubun Hiong merangkai dugaan begitu, namun ia tak tahu bahwa yang bersembunyi di balik tumpukan batu itu bukan lain adalah si Pemuda baju hitam ini.
Sudah dua kali secara diam-diam ia turun tangan menyelamatkan jiwa Ki Sengin, tentang riwayat Ki Seng-in ia hanya mendapat dengar dari kabar saja.
Ia tak kenal dengan Ki Seng-in, tapi sebaliknya kenal pada Leng-hong.
Dari apa yang dilihat dan didengarnya tadi malam dan saat itu, remang-remang dan ia menduga kalau Leng-honglah yang mencelakai Jian-jiukoan-im.
Adalah karena tak kenal bagaimana pribadi Ki Seng-in, maka si Pemuda baju hitam tak mau terangterangan ikut campur dalam pertempuran.
Hanya pada saat-saat yang penting saja ia diam-diam membantu.
Paling perlu menolong jiwa Ki Seng-in dulu, baru nanti perlahan-lahan menyelidiki keadaan yang sesungguhnya.
"Sebenarnya tak nanti tanpa sebab dan tanpa alasan apa-apa Leng-hong mau mencelakai orang. Tindakan begitu itu bukanlah peri-laku seorang ksatria. Ah, hal ini membingungkan sekali, apakah aku salah mengenal orang? Atau apakah Leng-hong sudah berubah menjadi seorang lain?"
Demikian batin pemuda itu.
Adalah karena bingung mencari pemecahannya, ia hendak mencari keterangan pada Ubun Hiong.
Sayang pemuda itu salah paham tak mempercayai orang, hal itu bahkan menimbulkan banyak kesalah pahaman lagi.
"Tak nanti jawaban yang kau berikan itu melanggar garis-garis kaum Hiap-gi!"
Kata Pemuda baju hitam kemudian.
Sebenarnya bukan Ubun Hiong tak mau memberi jawaban, tapi memang hal itu sukar dijawabnya.
Penderitaan yang diterima Ubun Hiong saat itu timbul dari peristiwa Ki Seng-in.
Apakah wanita gagah itu binasa atau tidak, masih belum diketahui jelas.
Meski hatinya tak mendendam kepada Ki Seng-in, tapi sekurangkurangnya ia tak senang mendengar diungkitnya peristiwa itu.
Apalagi kalau teringat bahwa kematian mendiang ayahnya disebabkan gara-gara suami Ki Sengin merampas barang antaran.
Pertanyaan yang diajukan Pemuda baju hitam itu sukar dijawab.
Ki Seng-in seorang baik atau buruk?
Suatu pertanyaan yang ia tak tahu cara bagaimana harus menjawab.
"Tak tahulah aku!"
Akhirnya ia hanya dapat menyahut begitu.
"Mengapa kau tak tahu? Bukankah tadi malam kau pinjamkan kudamu kepadanya?"
Tanya si pemuda dengan nada putus asa.
"Itu perintah Suboku!"
Sahut Ubun Hiong. Cepat sekali pemuda itu mengetahui reaksi wajah Ubun Hiong, tegurnya.
"Melihat nadamu, agaknya kau tak begitu senang terhadap Jian-jiu-koan-im, benarkah?"
"Terserah bagaimana kau hendak menduganya, aku tak mau karena orang menuduh aku mencelakai Ki Sengin, lalu aku berusaha untuk menghilangkan tuduhan itu dengan memuji-muji wanita itu. Maaf, hari sudah petang, terpaksa aku tak dapat menemanimu lebih lama,"
Kata Ubun Hiong. Ia masih curiga kalau Pemuda baju hitam itu anak buah rombongan Ki Seng-in dan Gak Ting.
"Eh, nanti dulu, aku masih akan bicara!"
Lagi-lagi pemuda itu mencegah.
"Percuma, aku tetap mengatakan tak tahu apa yang kau tanyakan nanti! Betapa tinggi kepandaianmu, belum tentu dapat memaksa aku bicara. Mau lepaskan aku atau tidak?"
Pemuda itu tertawa.
"Saudara salah faham, sebelumnya kita sudah membuat persetujuan. Masakah aku akan memaksamu bicara? Memang pertanyaanku serba lancang, tak heran kalau kau curiga. Aku hanya ingin bicara sepatah padamu, harap kau jangan meneruskan perjalanan."
"Eh, aneh benar kau ini. Ini kan urusanku, mengapa kau turut campur?"
Seru Ubun Hiong.
"Bukannya aku mengurusi urusanmu, tetapi kau adalah murid Kang-tayhiap. Sungguh sayang kalau kau sampai meninggalkan perguruanmu. Aku hendak menyumbangkan sedikit tenaga padamu, tetapi kuminta janganlah kau pergi jauh dulu barang dua hari ini. Ya, bukankah kau kenal baik dengan Ong tua itu? Pergilah ke rumahnya dulu, besok pagi aku tentu mencarimu di sana. Mudah-mudahan aku. dapat membawa berita baik bagimu."
Begitu besar perhatian pemuda itu, suatu hal yang membikin Ubun Hiong semakin curiga.
"Terima kasih, pergi atau tidak, aku dapat memutuskan sendiri. Harap kau jangan memikirkan,"
Katanya. Pemuda itu menghela napas, ujarnya.
"Kau tak mau percaya padaku, itu terserah saja. Sudahlah, kuharap kita bisa berjumpa lagi di kemudian hari. Sekalipun kau tak menjawab semua pertanyaanku, tapi kau sudah memberitahukan padaku beberapa hal. Terima kasih!"
Setelah memberi hormat, Pemuda baju hitam itu lantas melangkah pergi.
"Hm, hampir setengah hari melayani seorang gila, kalau bukannya gila tentulah ia orang Gak Ting. Dia hendak membantu supaya aku kembali ke tempat Suhu? Edan barangkali dia itu!"
Pikir Ubun Hiong.
0^de*wi^0 Seperginya Ubun Hiong dari rumah keluarga Kang, rencana Leng-hong berjalan lancar, suatu hal yang membuat kegirangannya meluap-luap.
Soal yang dihadapinya sekarang hanyalah bagaimana cara mengambil hati si dara Hiau-hu.
Pada hari itu boleh dikata sehari suntuk ia bersama si dara berlatih ilmu pedang di taman.
Dengan bersungguhsungguh hati Hiau-hu memberi petunjuk jurus permainan pedang, tapi sikap si dara hanya didasarkan atas dasar mengindahkan saja, lain tidak.
Mengindahkan karena Leng-hong adalah Piauko (kakak misan) dan berbareng juga Ciangbun Suheng (Suheng calon pengganti guru), tapi samar-samar dara itu merasa bahwa 'selera' Lenghong itu tak mencocoki hatinya.
Rangkaian kata-kata indah merdu yang diucapkan Leng-hong padanya malah membuatnya jemu, rasa jemu itulah yang membuat renggang hatinya.
Tahu bahwa si dara belum dapat melupakan Ubun Hiong, Lenghong bersikap menunggu dengan sabar, pikirnya.
"Toh Ubun Hiong tak mungkin kembali lagi, asal tiap hari berada bersama masakah lama kelamaan hati Hiau-hu takkan terpikat? Biar lambat asal dapat Demikian sikap yang ditentukan untuk memenangkan. usahanya menawan hati dara ayu itu. Untuk menghadapi sikap dingin dari si dara, ia pun tak mau ceriwis, melainkan bicara dengan betul dan berlatih sungguh-sungguh. Dasar otaknya memang cerdas, apalagi sudah mendapat pelajaran lisan lebih banyak dari Sumoaynya, maka waktu berlatih praktek, cepat sekali ia dapat menguasai pelajaran. Apa yang didapatnya selama berlatih sehari itu sungguh banyak sekali. Suco (kakek guru) Leng-hong atau ayah Kang Haythian, yakni Kang Lam, mengatakan bahwa hari itu akan pulang. Tapi sampai malam hari, belum juga kelihatan datang. Habis makan malam, berkatalah Kok Tiong-lian.
"Jika sampai besok siang ayah belum pulang, terpaksa kita berangkat dulu ke Bin-san. Kalian sudah berlatih sehari, tidurlah sore-sore, besok kita akan berangkat."
Gedung kediaman keluarga Kang itu sebuah rumah besar yang tua, peninggalan engkong luar Kang Haythian yaitu Nyo Tiong-eng, umur gedung itu sudah 100-an tahun lebih.
Nyo Tiong-eng adalah pemimpin kaum persilatan dari lima wilayah, walaupun tidak kaya raya, tapi rumah tinggalnya besar sekali.
Kok Tiong-lian dan putrinya menempati ruangan yang paling dalam dan Leng-hong tinggal di kamar yang paling luar dekat taman bunga.
Biasanya ia tinggal bersama Ubun Hiong, kini seorang diri.
Hari itu bagi Leng-hong dirasakan sebagai hari yang paling bahagia.
Seorang diri ia berada di kamar, mulurnya tertawa-tawa, saking girangnya hingga tak dapat tidur.
Cepat sekali tahu-tahu sudah tengah malam, malam itu tanggal muda, rembulan remang-remang, bintang-bintang tak muncul.
Bunyi serangga malam di luar kamar menambah kelelapan malam, gedung keluarga Kang seperti diselubungi suasana yang agak menyeramkan.
Tiba-tiba Leng-hong seperti melihat bayangan Hong Jong-liong muncul di luar jendela.
"Ah, tak nanti dia datang, Li Tay-lian sudah lari dan warung arak itu sudah terbakar, mengapa aku takut? Hm, siapakah yang membakar warung arak itu?"
Ia membesarkan semangatnya sendiri, tapi secepat itu samar-samar ia mendengar kesiur angin dari lengan baju orang yang melayang turun dari genteng.
Sejak beberapa bulan ini, kepandaian Leng-hong memang maju pesat sekali, ia segera mengetahui kalau pendatang itu berilmu tinggi.
Orang itu dapat berjalan di atas atap seperti capung bermain di air.
Waktu melayang turun, gerakannya hampir tak menerbitkan suara sama sekali.
Untung di tengah malam yang begitu sunyi, coba tidak, Leng-hong pun belum tentu dapat mendengarnya.
Rupanya orang itu berkeliaran dulu di atas wuwungan untuk kemudian melayang turun di luar kamar Lenghong, rupanya dia tahu kalau kamar itu ada penghuninya.
Munculnya orang itu membuyarkan seluruh impian indah Leng-hong.
Lamunannya berubah menjadi kejut yang luar biasa, serentak ia hendak berteriak untuk membangunkan Subo dan Sumoaynya.
Dengan datangnya kedua bala bantuan itu, pendatang itu tentu mudah diringkus.
Namun Leng-hong tak berani menjerit, terlintas dalam pikirannya, jangan-jangan yang datang itu Hong Jongliong.
Jika ketahuan Subo dan Sumoaynya, tentu tak menguntungkan baginya.
Bayang-bayang Hong Jongliong itu mengerikan hati Leng-hong, tapi dalam hati kecilnya, ia lebih menyukai kalau Hong Jong-liong atau orang-orangnya yang datang.
"Mereka tentu takkan mencelakai diriku, sebaliknya aku dapat meminta mereka supaya mengejar jejak Ubun Hiong dan membunuhnya pula untuk menghilangkan bahaya di kemudian hari,"
Pikirnya. Dengan mencabut pedang, lalu Leng-hong mendekam di bawah jendela, mulutnya menggumam.
"Matahari rembulan tak bersinar, matahari rembulan tak bersinar."
Itulah kata-kata sandi untuk mengadakan kontak dengan orang-orang Hong Jong-liong, tentulah akan menyambut kata-kata sandi itu.
Rupanya pendatang malam itu berhenti di muka jendela, tetapi tak memberi penyahutan apa-apa, terang dia bukan golongan Hong Jong-liong, suatu hal yang menggetarkan hati Leng-hong.
Pikirannya membayangkan sebuah kemungkinan lain yang menyeramkan.
"Jika yang datang itu kawan Gak Ting, celakalah aku. Mereka tentu sudah tahu kalau aku yang membunuh Jian-jiu-koan-im."
"Ah, tak peduli siapa saja yang masuk ke dalam kamarku tentu kubunuh. Andaikata sahabat Suhuku, tengah malam masuk ke kamar orang, tak salah kalau dibunuh. Sembilan puluh persen dia tentu mengandung maksud buruk terhadap diriku, lebih baik kubunuh daripada kubiarkan saja, akhirnya ia mengambil putusan. Mendengar Leng-hong menggumam seorang diri, pendatang itu heran. Walaupun tanggal muda rembulan sisir, tapi toh masih ada bulannya, mengapa Leng-hong mengatakan "matahari bulan tak bersinar?"
"Entah apa maksudnya mengatakan begitu? Apakah dia sedang mengigau dalam tidurnya? Ah, tak apa, biar kumasuki kamarnya,"
Demikian orang itu berpikir. Kepandaian orang itu tinggi sekali. Setelah mendorong jendela, ia segera melompat masuk seraya berseru.
"Yap-heng, bangun, bangunlah! Coba lihatlah siapa yang datang?"
"Sret", dari tempat gelap tiba-tiba Leng-hong menusuknya. Tubuh orang itu masih terapung di atas udara, tusukan Leng-hong datangnya begitu mendadak, mengarah dada. Kecuali dapat menarik tubuhnya keluar lagi barulah ia dapat terhindar dari tusukan pedang, tapi hal itu terang tak mungkin.
"Krek", pedang bukan menusuk daging manusia, melainkan seperti menusuk kulit keras. Leng-hong terkesiap kaget, tangannya terasa kesemutan dan tahutahu pedangnya sudah pindah tangan, ternyata pendatang itu seorang tokoh persilatan yang berpengalaman. Dia pun sudah menjaga kemungkinan Leng-hong bertindak begitu, maka sewaktu melompat masuk ia membuka sabuk kulit untuk melindungi rubuhnya. Tusukan pedang Leng-hong tadi hanya dapat menabas putus sabuk kulit, namun orang itu tak menyangka kalau Leng-hong hendak membunuhnya. Begitu merampas pedang, ia tak mau balas menyerang, malah tertawalah ia.
"Yap-heng, akulah! Lupakah kau akan suaraku?"
Memang Leng-hong seperti sudah pernah mendengar suara orang itu, tapi untuk sesaat tak ingat siapa orang itu, pikirnya.
"Dia memanggil aku Yap-heng rasanya tentu tak bermaksud buruk. Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari aku, tak boleh kuhadapi dengan kekerasan."
"Maaf atas kelancanganku tadi, untung tak sampai melukai saudara. Hanya ingatanku lemah sekali, entah bilakah aku berjumpa dengan engkau?"
Cepat Leng-hong menyusuli tindakannya yang gagal tadi. Orang itu tertawa, ia menyalakan api dan menyulut lampu, ujarnya.
"Lihatlah dengan jelas, masih kenal padaku?"
Leng-hong pentang kedua matanya memandang tajam-tajam. Tiba-tiba wajahnya berubah pucat seperti kertas, semangatnya serasa terbang, beberapa saat kemudian baru berkata.
"Kau ... kau adalah..."
Orang itu bukan lain ialah Pemuda baju hitam yang dijumpai Ubun Hiong siang tadi. Melihat Leng-hong ketakutan seperti melihat setan, tertawalah pemuda itu.
"Tak heran kalau kau tak ingat lagi padaku, aku sendiri pun tak menyangka akan dikirim kembali dari akhirat, hanya saja jika kau tanyakan siapa namaku, wah, sukar kujawab. Dahulu aku mempunyai nama Yap Leng-hong, sekarang karena nama itu sudah kau pakai, aku pun mengalah, terserah kau hendak memanggil apa kepadaku. Hehehe, nama hanya suatu tanda pengenal, tak begitu penting. Aku memakai pakaian warna hitam, panggil saja aku si Baju Hitam."
Wajah Leng-hong berubah-ubah, sebentar pucat sebentar merah.
Orang itulah manusia yang paling ditakutinya, ia tak nyana sama sekali kalau orang itu hidup kembali di dunia ....
Hal itu terjadi dua tahun berselang, pada suatu hari Leng-hong kembali dari wilayah Kamsiok dan lewat di suatu gundukan batu di bawah gunung.
Kala itu dia belum bernama "Yap Leng-hong", dia adalah putra gubernur Kamsiok yang bernama Yap Thing-cong.
Setelah 10-an tahun meninggalkan rumah, kini ia pulang, tapi hatinya masih bimbang, pulang atau tidak.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara hiruk-pikuk di lamping gunung, ada yang membentak, memaki dan mengerang kesakitan.
Ia ingin mengetahui apa yang terjadi dan naiklah ia ke atas untuk melihatnya.
Di atas lamping gunung dilihatnya bergelimpangan belasan mayat, mayat-mayat itu mengenakan seragam prajurit Gi-lim-kun.
Di antaranya terdapat seorang perwira yang tubuhnya mandi darah, tapi belum mati.
Dia tengah merangkak di tanah.
Di sebelahnya menggeletak seorang Pemuda baju hitam yang juga belum mati.
Pemuda itu membelalakkan sepasang matanya yang besar bundar, memandang dengan penuh kebencian dan marah kepada perwira Gi-lim-kun yang merangkak dengan membawa golok hendak menghampiri tempatnya itu.
Luka pemuda itu lebih berat dari si perwira, perwira itu masih dapat merangkak, tapi pemuda itu sedikitpun tak mampu berkutik lagi.
Dua tahun berselang, pemuda Yap Thing-cong itu masih hijau, dengan dada penuh cita-cita tinggi dan keberanian yang menyala-nyala, ia hendak menonjolkan diri melebihi orang lain untuk melakukan sesuatu yang gemilang.
Apakah yang dikatakan 'menonjol melebihi orang lain' itu?
Bagaimana cara melakukan suatu hal yang gemilang?
Setiap pemuda tentu mempunyai cita-cita begitu, masing-masing mempunyai tujuan sendiri.
Ayah Yap Thing-cong adalah seorang pembesar tinggi kerajaan, tetapi Suhunya seorang pejuang yang menentang kerajaan Cing, sudah tentu pandangan hidup keduanya berlainan.
Yap Thing-cong langsung tak langsung menerima pengaruh dari dua macam aliran pendidikan.
Dia seorang pemuda yang cerdas, sebelum mengambil keputusan, ia sudah berpikir masak-masak.
"Ayahku menjabat gubernur Siam-kam (Siamsay -Kamsiok). Ikut padanya memang mudah mencari pangkat, tapi apakah hal itu dapat dianggap menonjol? "Ayah menjabat pangkat sebagai hamba kerajaan. Di dalam kantor mungkin dia tak merasa, tetapi aku yang di luaran tahu jelas. Setiap orang yang masih punya setitik darah panas patriot, tentu bercita-cita untuk mengusir penjajah, merebut kembali tanah air. Lambat-laun antekantek pemerintah Cing tentu dienyahkan keluar daerah. Soalnya hanya waktu saja, entah kapan.
"Walaupun jalan yang ditempuh Suhu berbahaya, tetapi dapat mendirikan suatu pahala yang gilang gemilang, sekalipun kalah tetap akan mendapat gelar terhormat sebagai ksatria. Meskipun jalan yang ditempuh ayah itu mudah, tetapi sebenarnya tak aman. Dewasa ini hati rakyat sudah bergolak, bibit-bibit pemberontakan sudah mulai tumbuh. Mereka-mereka yang menghamba pada pemerintah Cing belum tentu dapat mempertahankan pangkat dan kekayaannya. Jika kawanan antekantek pemerintah Cing itu sampai diusir keluar daerah, rumah tangganya pun tentu hancur berantakan."
Begitulah betapapun perhitungan Yap Thing-cong itu masih tak lepas dari keuntungan pribadi, tetapi ia memilih juga jalan menentang kerajaan Cing.
Maka begitu keluar rumah, tujuannya hendak mengikat persahabatan dengan kaum pahlawan yang menentang kerajaan.
Sayang gurunya itu sudah pergi jauh ke perbatasan sehingga hubungannya dengan kaum pahlawan di daerah Tionggoan terputus.
Thing-cong sendiri sebagai seorang anak muda yang masih hijau, betapapun ia berusaha mencari hubungan dengan kaum pejuang kemerdekaan, namun sukar menemukan, akhirnya ia terpaksa menunggu kesempatan saja.
Memang hal itu hanya bisa didapat secara tak terduga, tapi tak bisa diharap dengan cepat.
Akhirnya berjumpa pula ia dengan kesempatan itu, ialah ketika ia melihat perwira yang bertempur dengan si Pemuda baju hitam tengah merangkak mengambil golok untuk membunuh si pemuda.
Seketika timbullah ingatannya, pikirnya dengan girang.
"Seorang diri pemuda itu dapat membunuh belasan perwira kerajaan, tentulah seorang tokoh penting dalam kalangan kaum pahlawan. Dia dan perwira itu sama-sama terluka parah, jika kutolong dia, itulah mudah sekali. Dia nanti tentu akan berterima kasih kepadaku dan suka memperkenalkan aku pada kawan-kawannya. Hahaha, akhirnya tercapai juga tujuanku!"
Setelah mengambil putusan, Thing-cong menghampiri belakang si perwira yang saat itu justru masih merangkak. Sekali tusuk, amblaslah jiwa perwira itu.
"Terima kasih atas bantuanmu, saudara yang gagah, tapi lebih baik kau lekas lari saja. Aku ... aku sudah tak kuat ..."
Berkata begitu napas Pemuda baju hitam itu terengah-engah, suaranya terputus-putus. Yap Thing-cong kecewa, pikirnya.
"Dia payah sekali keadaannya. Jika tak bisa hidup, sia-sialah pertolonganku tadi. Tapi baiklah aku berusaha menolongnya, jangan sampai ia mati begitu saja."
Di atas gunung terdapat sebuah kuil rusak. Yap Thingcong mengangkat tubuh pemuda itu, ujarnya.
"Jangan kuatir, beristirahatlah dengan tenang. Aku paling memuja kaum gagah. Walaupun terancam bahaya yang bagaimanpun juga, tetap hendak kurawat dirimu sampai sembuh."
Ia memperhitungkan, jika seorang diri mampu membunuh sekian banyak tentara kerajaan, tentulah pemuda itu seorang gagah perkasa, dia tentu mempunyai kawan yang hebat.
Memang sukar untuk mengetahui isi hati orang, sikap Yap Thing-cong itu membuat si Pemuda baju hitam berterima kasih sekali dan menganggap tentulah Thingcong itu juga sekaum dengan dia.
Waktu dibawa masuk ke dalam kuil, pemuda itu sudah tak kuat bicara lagi.
"Kepandaianmu begitu tinggi, tentulah kau membawa obat. Biarlah kuambilkan,"
Kata Thing-cong.
Pemuda itu mengangguk, tapi pada lain saat ia menggeleng kepala.
Thing-cong terkesiap, tapi ia seorang cerdas.
Cepat ia dapat menangkap isyarat kepala pemuda itu.
Dia mengangguk, artinya memang membawa obat, tapi dia menggeleng berarti kalau obat itu takkan dapat menolongnya.
"Orang baik tentu diberkahi Thian, janganlah saudara putus asa. Serahkan saja kepada Yang Kuasa, jika saudara membawa rahasia apa-apa, aku pun takkan berani mengambilnya. Apakah saudara dapat mempercayai aku?"
Thing-cong merangkai kata-kata menghibur.
Rupanya Pemuda baju hitam itu tergerak hatinya, ia mengangguk.
Thing-cong mengambil keluar barangbarang pemuda itu, memang benar ia membekal dua botol kecil berisi pil dan salep.
Sepotong emas pecah sebesar kacang, beberapa keping pecahan perak dan sepucuk surat.
Sampul surat itu tiada tertulis alamat penerimanya, melainkan tertutup dengan lak merah, tentulah sepucuk surat yang penting.
"Ah, benarlah kiranya. Surat itu tentu akan disampaikan kepada orang gagah penentang pemerintah Cing,"
Pikir Thing-cong.
Ia berlagak tak acuh, yang diambil hanya botol obat.
Emas dan perak serta surat diletakkan di pangkuan pemuda itu.
Thing-cong melumurkan obat dan meminumkan pil ke mulut si pemuda.
Pemuda itu ternyata parah sekali lukanya, obat dan pil hanya dapat memperpanjang sedikit jiwanya.
Setelah minum pil, pemuda itu diam-diam menyalurkan napas, dirasakan kaki dan tangannya sakit seperti disayat pisau.
Sebagai seorang persilatan, tahulah ia bahwa uraturat nadinya telah putus.
Di kolong langit ini kiranya hanya ada seorang tabib yang mampu menyembuhkannya, tabib itu ialah Hoa Thian-hong di gunung Hoa-san.
Dengan tempatnya sekarang itu, Hoasan terpisah ribuan li jauhnya, padahal pemuda itu hanya kuat hidup sejam lamanya, terang dia bakal tak tertolong.
"Sebelum mati, ingin aku berkenalan dengan seorang sahabat sejati seperti kau, agar aku dapat mati dengan meram. Siapakah nama saudara dan siapakah guru saudara?"
Setelah menghela napas. Pemuda baju hitam itu memaksakan diri berbicara. Thing-cong menyadari juga tentang keadaan pemuda itu, ia coba menghiburnya, tapi pemuda itu berkata.
"Waktu hanya tinggal sedikit, aku masih ada beberapa hal yang hendak kupasrahkan padamu."
Dengan bercucuran air mata, Yap Thing-cong memperkenalkan dirinya dan menerangkan bahwa Suhunya ialah Jui Hun-liang dari Jing-sia-pay.
Pemuda itu mengangguk, rupanya ia pernah mendengar tentang nama Jui Hun-liang, ujarnya.
"Aku juga orang she Yap, bernama Leng-hong. Bila aku mati, tolonglah kau sampaikan surat ini kepada seorang."
Dengan bersumpah Thing-cong menyatakan kesediaannya untuk melaksanakan pesan pemuda itu.
"Dia bukan seorang pemimpin laskar perjuangan, melainkan seorang pamanku. Surat tadi adalah surat dari ayahku kepada pamanku itu, bawalah surat ini kepadanya selaku bukti,"
Kata si pemuda.
Yap Thing-cong agak kecele mengingat bahwa pemuda itu saja sudah sedemikian lihai, pamannya tentu bukan tokoh sembarangan, siapa tahu ia nanti bakal memperoleh keuntungan.
Akhirnya ia buru-buru menanyakan siapa paman pemuda itu.
"Pamanku tinggal di desa Nyo-keh-ceng, kabupaten Tong-peng di propinsi Soatang, namanya Kang Haythian. Orang persilatan banyak yang kenal pamanku itu, tanyalah pada orang, tentu akan diberitahu tempatnya,"
Kata pemuda itu pula. Yap Thing-cong tercengang, seperti mendapat mutiara berharga, berserulah ia dengan girang sekali.
"O, jadi Kang Hay-thian, Kang-tayhiap itu?"
Kang Hay-thian adalah seorang tokoh persilatan yang termasyhur, dia merupakan jago nomor satu di dunia persilatan, sudah tentu Thingcong pernah mendengar nama itu.
Ini benar-benar 'pucuk dicinta ulam tiba', ia hanya mengharap dapat berkenalan dengan orang gagah, siapa tahu sekarang terbukalah kesempatan untuknya berkenalan dengan seorang tokoh seperti Kang Hay-thian, bintang kejora dari dunia persilatan.
Girang Thing-cong sungguh tak terperikan!
"Tolong kau ceritakan peristiwa hari ini padanya, minta pada paman supaya mencari ayahku agar menuntut balas untukku,"
Kata pemuda itu pula.
"Membalas? Bukankah sudah kau hancurkan semua jahanam itu?"
Tanya Thing-cong.
"Aku ini setengah keturunan orang Han, kini aku binasa di tangan kawanan alap-alap. Aku hendak minta ayahku membalas pada kawanan antek kerajaan Cing demi kepentingan bangsa Han. Cukup kau bilang begitu tentu Kang-tayhiap sudah mengerti."
Ternyata ayah-bunda pemuda itu tinggal di luar lautan, pemuda itu mengharapkan mereka pulang kembali.
Heranlah Thing-cong mendengar keterangan bahwa pemuda itu bukan orang Han melainkan hanya setengah keturunan Han, ujarnya.
"Tentu akan kulakukan pesan saudara, tetapi ada suatu hal yang ingin kutanyakan."
Pemuda itu minta Thing-cong supaya mengatakan, maka berkatalah Thing-cong.
"Walaupun surat itu dari ayahmu kepada Kang-tayhiap, tapi karena aku yang mengantar, mungkin Kang-tayhiap tak percaya. Bagaimana membuktikan bahwa aku memang menerima pesanmu dan bukan karena mencuri surat itu setelah kubunuh kau?"
Pemuda itu anggap pernyataan Thing-cong memang beralasan, katanya.
"Sebenarnya dapat kugigit jariku dan menulis beberapa patah kata dengan darahku, tetapi sayang paman pun tak kenal pada bentuk tulisanku. Aku sudah tak dapat berpikir lagi, tolong kau carikan cara yang sebaik-baiknya."
"Dahulu apakah kau pernah bicara sesuatu pada pamanmu yang bagi lain orang tak mengetahui?"
Tanya Thing-cong.
"Aku tak pernah bertemu muka dengan paman,"
Sahut pemuda itu, tiba-tiba ia berseru.
"Ada, ya ada! Biarlah kuceritakan tentang diriku, hal ini memang tak ada orang luar yang tahu."
Kuatir kalau pemuda itu tak dapat menyelesaikan ceritanya, buru-buru Thing-cong memberinya minum seraya membisikannya supaya bicara perlahan-lahan saja.
Dari cerita pemuda itu, tahulah Thing-cong kalau ayah pemuda itu ternyata putra raja Masar di Se-ek.
Setelah menyerahkan tahta pada adiknya, ayah pemuda itu lalu melarikan diri keluar negeri.
Sejak kecil pemuda itu berada di luar negeri, tak pernah pulang ke tanah airnya.
Kali itu ayahnya menyuruhnya mencari sang paman untuk belajar silat padanya, tapi dengan pesan supaya menunggu dulu sampai putra mahkota kerajaan dinobatkan jadi raja, barulah pemuda itu boleh pulang ke negerinya untuk bertemu dengan anak-anak sang paman.
Pemuda itu sebenarnya hendak menuturkan bagaimana ia sampai bentrok dengan kawanan alap-alap kerajaan, tapi ternyata tenaganya sudah habis.
Ia menghela napas.
"Yap-heng, budimu itu hanya dapat kubalas pada penjelmaanku yang akan datang. Sudilah kau kubur mayatku nanti dan memberi pertandaan pada makamku, agar kelak ayah-bundaku dapat mengambil tulang-tulangku. Tak usah kau belikan peti mati. Ah, jangan kelewat lama berada di sini, baiknya kau lekas pergi."
Thing-cong mengucurkan air mata.
"Yap-heng, kau tak boleh pergi (mati). Ah, secara kebetulan kita dapat berkenalan dan she kita pun bersamaan. Jika kau dapat hidup, kita boleh angkat saudara."
"Saudara yang baik, sayang aku tak dapat menemanimu. Jika berjumpa dengan paman, beliau tentu akan memperlakukan kau seperti diriku,"
Berkata sampai di sini mata pemuda itu terbalik, jiwanya melayang.
Jelas diketahui Thing-cong, bahwa pemuda itu terang sudah mati.
Saat itu barulah ia mengganti air mata kesedihan dengan rasa gembira.
Saking tak dapat menahan luapan hati, ia menari-nari dan berseru.
"Hahaha, ini benar-benar suatu rezeki yang luar biasa! Cukup kuganti nama tanpa tukar she!"
Sebenarnya ia belum mengambil keputusan akan pulang atau tidak, tapi dengan mendapat rezeki itu, putusannya telah bulat.
Ia hendak menjadi murid Kang Hay-thian.
Dengan mengandal pengaruh Kang Hay-thian, ia akan berserikat dengan kaum gagah penentang kerajaan Cing untuk melakukan suatu gerakan besar.
Setelah tujuannya tercapai, karena kuatir tentara pemerintah datang mengejar, ia segera buru-buru berangkat ke Soatang mencari tempat tinggal Kang Haythian.
Ia tak mau menghiraukan lagi pesan si pemuda itu untuk mengurus penguburannya.
Adalah justru karena itu, si pemuda malah mendapat pertolongan yang tak disangka-sangka datangnya.
Secara kebetulan ia ditemui oleh seorang tabib pandai dan dapat dihidupkan kembali.
Sejak itu Yap Thing-cong ganti nama dengan Yap Leng-hong dan diangkat menjadi murid pewaris oleh Kang Hay-thian, diakui pula sebagai keponakan oleh istri Kang Hay-thian.
(Untuk menghindari keruwetan, selanjutnya tetap digunakan nama Yap Leng-hong untuk menyebut diri Yap Thing-cong.
Sementara si pemuda yang sebenarnya bernama Yap Leng-hong itu sebut saja si Pemuda baju hitam -penerbit).
Bahwa sekarang Yap Leng-hong palsu kedatangan Yap Leng-hong tulen, benar-benar tak diduga sama sekali.
Pemuda baju hitam itu tertawa.
"Biarlah namaku Yap Leng-hong kuberikan padamu, tetapi aku hendak minta pertanggungan jawabmu selama kau gunakan namaku itu."
Yap Leng-hong palsu gugup.
Dua tahun yang lalu, ia ingin sekali menolong jiwa pemuda itu, tapi kini ia berbalik ingin sekali untuk membunuhnya.
Tapi tadi baru saja ia menjajal kepandaian pemuda itu, ia insyaf bahwa kepandaiannya jauh lebih rendah dari pemuda itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk menghadapi dengan cara lunak, ia percaya karena pernah berhutang budi padanya, maka pemuda itu tentu takkan bersikap keras.
Entah bagaimana caranya, dengan tiba-tiba Yap Lenghong palsu mengucurkan beberapa butir air mata dan berlutut di hadapan pemuda itu, katanya.
"Aku berani memakai namamu, memang aku harus dihukum mati, tetapi aku mempunyai kesukaran sendiri. Toako, ampunilah aku, nanti kukatakan."
Dengan kedua tangan pemuda itu membimbing Lenghong bangun, ujarnya.
"Ini hanya urusan kecil. Dahulu kau pernah menolong jiwaku, aku belum dapat membalas budimu. Sebenarnya aku tak menduga akan bisa hidup lagi, ingatkah kau? Kala itu kau hendak mengangkat saudara padaku. Oleh karena jiwaku tipis harapannya, terpaksa kutolak. Kukatakan padamu juga, bahwa pamanku tentu akan memperlakukan kau sebagai diriku. Bahwa ternyata benar sekarang kau menjadi muridnya, itulah tepat seperti yang kuduga. Tetapi aku tak menyangka sama sekali bahwa bukan saja paman menganggapmu sebagai diriku, malah mengira kalau kau ini memang aku sendiri. Hehe, ini betul-betul melampaui harapanku, tetapi apa mau dikata lagi!"
Dari nada ucapannya, tahulah Leng-hong palsu kalau pemuda itu tak menyalahkan dia yang telah berbuat kelewat batas itu. Diam-diam nyali Leng-hong palsu pun besar lagi, katanya pula.
"Toako, janganlah menyalahkan aku! Kala itu aku pun mengira kalau kau sudah meninggal. Mengingat kepandaianku masih rendah, ingin sekali aku belajar kepandaian yang tinggi agar dapat melanjutkan cita-citamu dan membalaskan sakit hatimu. Syukur kalau dapat mengenyahkan kaum penjajah pula, dengan begitu tak sia-sialah kau beristirahat di alam baka."
"Bagus, bagus sekali ucapanmu. Dengan tujuan itukah maka kau berani memakai namaku?"
Tanya si Pemuda baju hitam.
"Benar,"
Leng-hong palsu mengiakan.
"karena kuatir Kang-tayhiap tak sudi menerima aku sebagai murid, akhirnya terpaksa kugunakan siasat itu."
"Kalau benar kau hendak membalaskan sakit hatiku, mengapa semalam kau masuk ke dalam warung arak itu untuk mengadakan pertemuan dengan mereka?"
Tegur si Pemuda baju hitam.
Kata-kata itu membuat Leng-hong seperti disengat kala kejutnya, semangatnya serasa terbang.
Kini barulah diketahuinya bahwa yang membakar warung arak Thaypek-lau itu bukan lain adalah si pemuda yang berada di hadapannya itu.
Dan apa yang dilakukan di dalam warung arak itu telah diketahui semua olehnya.
"Benarkah begitu? Mengapa kau diam saja?"
Kembali pemuda itu menegas.
Untung penerangan dalam kamar itu remang-remang, perubahan air muka Leng-hong yang berlangsung hanya dalam beberapa kejap itu tak sampai diketahui oleh si pemuda.
Dan secepat itu juga Leng-hong palsu sudah dapat menguasai perubahan mukanya, ia sengaja menghela napas dalam-dalam, ujarnya.
"Kau dan aku mempunyai ikatan hidup dan mati. Jika Toako menaruh kecurigaan, aku pun tak dapat bilang apa-apa lagi."
Melihat sikap orang begitu lunak. Pemuda baju hitam tak sampai hati.
"Bukan aku tak percaya padamu, melainkan hal itu penting sekali. Aku hendak membikin terang persoalan itu agar kau bebas dari tuduhantuduhan, harap kau mengerti,"
Katanya. Leng-hong yang cerdas segera dapat menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Pemuda baju hitam itu belum mengetahui betul rahasia itu. Ia masih punya harapan untuk membersihkan diri, ujarnya.
"Aku memang tolol sekali dan tak mengerti kebaikan Toako. Benar, memang semalam aku masuk ke dalam warung arak Thay-pek-lau itu, tetapi karena aku hendak menyelidiki suatu hal."
"Urusan apa?"
Tanya si pemuda. Setelah bersangsi sejenak, berkatalah Leng-hong palsu.
"Urusan itu menyangkut diri seorang Suteku. Sebenarnya aku tak suka mengatakan urusan dirinya di hadapan orang luar, namun karena Toako hendak mengusut urusan itu, terpaksa tak dapat menutupinya lagi. Syukur Toako juga bukan orang luar."
Tanpa sebab alasan suatu apa, mencuri dengar rahasia orang merupakan salah satu pantangan bagi orang persilatan.
Hal itu dianggap perbuatan yang hina.
Tetapi pemuda baju hitam itu sudah berjumpa dengan Ubun Hiong, pikirnya.
"Ubun Hiong selalu memuji Toasuhengnya ini. Sekarang biarlah kudengar apa komentarnya terhadap Sutenya itu. Hal ini menyangkut kepentingan yang besar, aku terpaksa tak berlaku sungkan lagi."
Melihat si pemuda tak memutus omongannya, Lenghong palsu pun melanjutkan ceritanya.
"Aku mempunyai seorang Sute bernama Ubun Hiong, berasal dari kalangan Piau-kiok. Bagaimana riwayat hidupnya yang lampau. Suhu tak begitu jelas. Beberapa hari yang lalu, aku melihat dia berada di kota dan bicara dengan seseorang. Waktu berpisah, orang itu masuk ke dalam warung arak Thay-pek-lau. Saat itu kuteringat seperti pernah kenal dengan orang itu di suatu tempat, akhirnya teringatlah aku. Dia ialah "Siapa?"
Tukas si Pemuda baju hitam.
"Wakil komandan Gi-lim-kun yang bernama Li Taytian. Beberapa waktu berselang, aku diajak Suhu untuk mengunjungi sahabat, di tengah jalan berpapasan dengan Li Tay-tian dan begundalnya. Mereka tak berani mengganggu Suhu dan bergegas pergi. Suhu memberitahukan padaku siapakah mereka setelah semuanya lenyap,"
Kata Leng-hong palsu.
"Kemudian apa tindakanmu setelah kau ketahui orang itu Li Tay-tian?"
Tanya si pemuda.
"Pada hari itu adalah Sute yang pergi ke kota lebih dulu, baru kemudian aku pergi juga. Aku mengetahui kasak-kusuk mereka, sebaliknya dia tak tahu aku. Ketika aku masuk ke dalam warung arak, ternyata Li Tay-tian tak berada di situ. Kupikir kalau orang she Li itu tak tampak minum arak, ia tentu bersembunyi di dalam warung itu. Tegasnya dia tentu salah seorang konco pemilik warung, maka timbul kecurigaanku bahwa warung arak itu tentu sebuah warung arak hitam!"
"Kalau begitu kau masuk ke dalam warung arak itu karena hendak membuat penyelidikan, bukan? Nah, bagaimana hasilnya? Apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar?"
"Kulihat memang Li Tay-tian benar bersembunyi di dalam warung arak itu, kudengar ia tengah bicara dengan kawan-kawannya. Dia mengatakan bahwa ia bersahabat baik dengan ayah Suteku itu, ia mengatakan lagi bahwa ia hendak menggunakan tenaga Suteku untuk melakukan rencananya!"
Kata Leng-hong palsu. Pemuda baju hitam terkesiap.
"Begitukah? Apakah dia (Li Tay-tian) mengatakan kalau Sutemu menyanggupi?"
"Dia hanya mengatakan pernah berjumpa dengan Sute, tapi tak menerangkan apakah Sute meluluskan atau tidak, tapi dari pembicaraan lebih lanjut, orang she Li itu hanya mengatakan bahwa hal itu baru merupakan rencana saja. Kemungkinan besar rencana itu belum dikatakan kepada Suteku."
Memang cerdik benar Yap Leng-hong palsu itu, semula ia hendak memfitnah Ubun Hiong sebagai mata-mata.
Tapi demi mendengar si pemuda bertanya tentang warung arak Thay-pek-lau dengan nada yang agak tak percaya, buru-buru ia merubah haluan.
Ia kuatir janganjangan pemuda itu sudah berjumpa dengan Ubun Hiong dan telah mendengar keterangannya.
Dan memang siasat yang dipasang Leng-hong itu tepat sekali, si Pemuda baju hitam agak bimbang.
Jelas didengarnya bagaimana Ki Seng-in memaki-maki Ubun Hiong, walaupun ia tidak mengerti bagaimana duduk persoalan yang sesungguhnya, tapi dari dampratan Ki Seng-in itu agaknya seperti mendakwa Ubun Hiong bersekongkol dengan Li Tay-tian.
"Kulihat Ubun Hiong itu seorang anak jujur, aku tak percaya ia mau menjadi mata-mata! Percakapanku dengan dia hanya secara tergesa-gesa, jadi tak dapat dibuat ukuran. Sayang anak itu tidak mau mempercayai aku. Beberapa hal yang kutanyakan tak mau dia terangkan,"
Demikian pikir Pemuda baju hitam itu.
Memang tadi malam si Pemuda baju hitam itu melihat Yap Leng-hong palsu memasuki warung arak Thay-peklau, tapi waktu itu ia belum tahu kalau warung itu warung hitam, maka ia tak ikut masuk dan tak tahu apa yang dikerjakan Leng-hong di situ.
Oleh karena itu walaupun menaruh curiga, ia tetap bimbang mendengar keterangan Leng-hong, pikirnya.
"Walaupun Ubun Hiong itu bukan seorang mata-mata, tapi sepulangnya dari bicara dengan Li Tay-tian, dia tak mau memberitahukan pada Subo dan Suhengnya, itu juga suatu kesalahan. Untuk membikin terang urusan ini, lebih dulu harus kuselidiki sampai dimana hubungan Ubun Hiong dengan Li Tay-tian, setelah itu baru dapat kuambil kesimpulan."
Dengan pikiran itu ia segera bertanya pula.
"Setelah malam itu kau melakukan penyelidikan ke warung arak Thay-pek-lau, apakah sepulangnya ke rumah kau beritahukan kepada Subomu?"
Leng-hong palsu menghela napas.
"Jika kutahu bakal terjadi peristiwa seperti hari ini, tentu semalam sudah kukatakan kepada Subo."
"Oh, jadi kau tak mengatakan kepadanya?"
Tanya si Pemuda baju hitam.
"Aku memikirkan kepentingan Sute, dia masih muda, kurang pengalaman. Bahwa sekali bertindak salah itu mungkin tak dapat dihindari, jika kuadukan pada Subo, bukankah dia akan menderita seumur hidup? Kuputuskan saja untuk memberi nasehat sendiri padanya. Asal selanjutnya ia jangan berhubungan dengan kawanan alap-alap kerajaan lagi, urusan ini akan kututup selamanya."
Pandai sekali Leng-hong merangkai kata-kata, alasannya pun jitu dan benar. Si Pemuda baju hitam mengangguk-angguk kepala, pikirnya.
"Kalau begitu, terang dia melindungi kepentingan Sutenya."
"Sayang usahaku untuk melindungi Sute itu sia-sia saja, urusan toh menjadi besar juga. Setelah Ki Seng-in terbunuh, seorang kawannya yang bernama Gak Ting datang kemari. Ia membuka kedok Sute di hadapan Subo hingga terpaksa Subo mengusir Sute dari sini,"
Kata Leng-hong pula. Pemuda baju hitam tahu kalau Ki Seng-in belum mati, namun hal itu tak mau ia beritahukan pada Leng-hong ia hanya bertanya.
"Eh, tetapi siapakah yang meracuni kuda Ki Seng-in itu?"
Leng-hong palsu pura-pura terkejut sekali, serunya.
"Apa? Kudanya diracuni orang? Sama sekali aku tak tahu hal itu! Tadi malam aku tak pergi ke kandang kuda!"
"Siapa yang memberi makan rumput?"
Tanya si pemuda pula.
"Kuda itu selalu Sute yang memeliharanya!"
Sahut Leng-hong. Jawabannya serupa dengan keterangan Ubun Hiong, diam-diam si Pemuda baju hitam itu membatin.
"Dari ucapan Ubun Hiong tadi terang ia tak begitu suka kepada Ki Seng-in. Apakah benar-benar dia yang meracuni kuda itu? Untung Ki Seng-in tak mati, biar kujumpainya untuk membikin terang hal ini."
"Setelah Toako tertolong, tak seharusnya kupakai nama Toako lagi, tapi kumohon Toako suka memberi muka padaku. Aku minta tempo dua hari lagi. Nanti secara diam-diam akan kutinggalkan rumah ini, tiga hari kemudian bolehlah Toako datang kemari menjumpai bibimu dan menjelaskan duduk perkaranya,"
Kata Lenghong palsu. Pemuda itu tertawa.
"Telah kukatakan akan kubalas budimu. Karena kau sudah menjadi keponakan bibiku, tak usahlah diubah lagi. Asal kau selalu menjalankan dharma kebaikan, aku tak keberatan bahkan merasa bangga memberikan namaku padamu."
Kembali Leng-hong dapat mengucurkan air mata buaya dan dengan rasa terharu menyahut.
"Ini ... ini sungguh berat sekali bagiku menerima kepercayaan Toako yang begitu besar."
"Cukup lama rasanya kehadiranku di sini, jika sampai ketahuan Subomu, tentu tak baik. Kelak apabila ada kesempatan lagi, tentu aku akan datang kemari. Rasanya penyelesaian yang telah dilakukan oleh Subomu itu tepat juga, untuk itu tak.perlu kau bersedih. Nah, sampai bertemu lagi!"
Pemuda itu berputar tubuh dan melompat keluar jendela.
"Kuharap Toako datang kemari lagi!"
Seru Leng-hong.
Tiba-tiba ia mengantar dengan sebuah hantaman dan berbareng itu menaburkan tiga batang jarum beracun.
Ketiga jarum beracun itu adalah pemberian Li Tay-tian tadi malam agar digunakan Leng-hong untuk mencelakai Ki Seng-in.
Ia tak sempat menggunakan kepada Ki Sengin, kini digunakan terhadap Pemuda baju hitam itu.
Itulah yang kedua kali dalam satu malam Leng-hong membokong si Pemuda baju hitam.
Yang pertama ialah ketika pemuda itu menerobos masuk ke dalam kamarnya tadi, untung pemuda itu sudah berjaga-jaga sebelumnya, ia dapat menghalau serangan gelap itu dengan pedangnya.
Yang kedua, adalah saat si pemuda hendak pamit pergi, mimpi pun pemuda itu tak menduga Lenghong yang begitu taat dan mesranya, kini tiba-tiba membokongnya dari belakang.
Pukulan Si-mi-ciang tepat mengenai tulang punggung, batang jarum beracun itu menyusup ke dalam jalan darah yang berbahaya!
Ilmu pukulan Si-mi-ciang itu sebenarnya berasal dari ilmu pukulan Thian-san-pay, digubah dan disempurnakan lagi oleh Kim-Si-ih.
Di dalam golongan ilmu pukulan termasuk yang paling hebat, meskipun latihan Leng-hong belum mencapai kesempurnaan, tapi karena dapat mengenai dengan jitu, akibatnya juga bukan olah-olah hebatnya.
Masih ditambah pula dengan tiga batang jarum beracun, dapat dibayangkan betapa ngerinya.
Jarum beracun itu dilumuri dengan racun menurut resep istana.
Sedikit saja kulit terlecet, racun akan merangsang ke seluruh tubuh, apalagi jarum-jarum itu tadi menyusup ke dalam jalan darah!
Pemuda itu terdengar menahan suara jeritan, seperti bola tubuhnya terlempar keluar.
Leng-hong tak puas, ia melompat menyusul dan menabas dengan pedangnya.
Tetapi kepandaian pemuda itu memang hebat sekali, begitu tubuh menyentuh tanah, dengan gerak Le-hi-tating (ikan lele meletik), cepat ia melompat jungkir balik.
"Yap Thing-cong, kau ... kau seorang manusia serigala"
Dampratnya. Dalam mendamprat itu ia melontarkan tiga kali pukulan walaupun sudah terluka, tetapi pukulannya masih dahsyat sekali.
"Maling, maling!"
Leng-hong berteriak keras-keras.
Dengan mengandalkan Lwekangnya yang tinggi, dapatlah pemuda itu bertahan diri tak sampai roboh, maka dampratanya tadipun nadanya agak parau.
Teriakan Leng-hong dapat melingkupi makian pemuda itu, kemudian dengan gerak Thian-lo-poh-hoat ia hindarkan pukulan terakhir dari si pemuda.
Setelah itu ia tertawa mengejek.
"Jiwamu aku yang menolong dan sekarang aku pula yang mencabut, anggaplah bahwa aku tak pernah menolongmu, tak usah marah-marah! Jangan coba menarik perhatian orang, toh bibimu tak nanti mau mempercayai ocehanmu. Begitu ia muncul, berarti kematianmu dipercepat lagi!"
Memang ketiga pukulan itu merupakan pukulan terakhir dari si pemuda, habis memukul matanya terasa gelap dan kepala pening.
Kini Leng-hong berbalik menyerangnya, ia keluarkan ilmu pedang Tui liong kiam yang baru saja dipelajarinya.
Menghadapi serangan pedang yang sedemikian gencarnya, si Pemuda baju hitam tak mampu buka suara lagi.
Walaupun kepalanya puyeng, tapi pikiran pemuda itu masih terang.
Diam-diam ia mengakui memang yang dikatakan Leng-hong palsu itu benar, bibinya tak nanti percaya pada keterangannya.
Dan keterangan itu tentu memerlukan waktu panjang, bangsat itu tentu akan mengambil tindakan untuk menghabisi jiwanya.
Ia kuatir sebelum bibinya datang bangsat itu tentu sudah membunuhnya, akhirnya ia putuskan lebih baik melarikan diri saja.
Tiga puluh kali tusukan telah dilancarkan oleh Lenghong dengan permainan ilmu pedang Tui-hong-kiam itu, si Pemuda baju hitam menjadi kalang-kabut dibuatnya.
Baca Juga: Sarang Perjudian 1
Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 3