Eps 7 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
"Huak", ia muntah darah. Melihat itu Leng-hong girang sekali, dengan jurus Pek-hong-koan-jit (pelangi menutup matahari) ia tusuk tenggorokan si pemuda. Ilmu pedang Tui-hong-kiam terdiri dari tiga puluh enam jurus. Setelah seluruh jurus selesai dan hendak berganti permainan lagi, terpaksa gerakan Leng-hong agak ayal. sekonyongkonyong pemuda itu menjentikkan jari tengahnya. Ujung pedang Leng-hong yang sudah hampir kena tenggorokan itu dipentalkan oleh jari si pemuda, tangan Leng-hong pun terasa sakit kesemutan. Pada saat Leng-hong terkejut, pemuda itu sudah melompat keluar kalangan, terus lari. Ternyata pemuda itu menggunakan ilmu Thian-mohou-the-tay-hoat, ia menggigit lidah sendiri sampai keluar darah. Ilmu itu sebenarnya ilmu dari kaum Sia-pay (hitam) yang digunakan apabila dalam keadaan terdesak. Dengan menggigit lidah, semangatnya pun tergugah dan tenaganya bertambah. Ayah pemuda itu, Yap Tiong-siau, memang dari golongan Sia-pay, baru di kemudian hari ia belajar ilmu dari golongan Cing-pay. Pemuda itu dapat mewarisi dua macam aliran ilmu, tetapi ilmu semacam itu hanya sebentar daya khasiatnya. Begitu kekuatan timbul berarti hawa murninya makin terluka dan habis, itulah sebabnya setelah dapat mementalkan pedang, pemuda itu cepat-cepat melarikan diri. Leng-hong bersangsi, jangan-jangan Pemuda baju hitam hanya pura-pura saja seperti orang terluka berat, maka untuk beberapa jenak tak berani ia mengejar.
"Dimana penjahatnya? Suko, jangan kuatir, aku datang membantumu!"
Tiba-tiba Kang Hiau-hu terdengar berseru.
Mendengar itu seketika timbullah pikiran Leng-hong, ia bantah pikirannya kalau pemuda itu hanya pura-pura, kalau tak kehabisan tenaga masakah dia melarikan diri begitu terburu-buru.
Untuk menjaga segala kemungkinan, sebelum Sumoaynya mengetahui urusannya, lebih baik ia kejar dan menghabisi jiwa pemuda itu saja, cepat ia melompat mengejar.
Setelah melompat melalui pagar tembok, barulah ia berseru.
"Penjahat itu berkepandaian tinggi, tak usah Sumoay ikut-ikutan, aku sendiri mampu membereskannya!"
Rumah keluarga Kang membelakangi gunung dan menghadap telaga. Tiba di tepi telaga, dapatlah Lenghong mengejar pemuda itu.
"Hm, kau sungguh ganas sekali! Hendak kulihat sampai berapa lama kau dapat menikmati hidupmu?"
Pemuda itu mendengus.
"Anjing bernyali besar, berani masuk ke dalam rumah keluarga Kang. Apa kau kira Suhu tak di rumah lantas aku tak dapat mengambil jiwamu?"
Sengaja Leng-hong berteriak keras supaya didengar Hiau-hu.
"Suko, tunggulah!"
Dari kejauhan Hiau-hu meneriakinya tapi mana Leng-hong mau mendengar kata-katanya, ia mempercepat larinya dan menyerang sehehat-hebatnya.
"Sekalipun jadi setan, aku tetap tak mengampunimu"
Geram pemuda itu.
"Blung", karena terdesak ke pojok, akhirnya pemuda ilu terjun ke dalam telaga. Luput menusuk, Leng-hong juga hainpu liampii tercebur ke dalam telaga, untung cepat-cepat ia berhenti. Telaga Tang-peng-oh itu dikelilingi oleh gunung, airnya mengalir ke sebuah sungai besar. Kala itu musim semi, selama beberapa hari telah turun hujan lebat, air dari barisan gunung telah membanjiri telaga. Ditelan oleh gelombang, tubuh pemuda itu lenyap dari permukaan air.
"Kau mengutuk aku akan hancur lebur, sayang kau sendiri malah tak berada di dunia. Dulu secara tak tersangka-sangka kau dapal hidup kembali, tapi coba saja sekarang ini,"
Demikian Leng-hong bersorak kegirangan di dalam hati.
Pemuda itu terluka dalam dan terkena jarum beracun, kemudian kecemplung ke dalam telaga.
Hal itu disaksikan sendiri oleh mata kepala Leng-hong, ia yakin pemuda itu tentu akan mati.
"Suko, mengapa kau bunuh penjahat itu?"
Begitu tiba Hiau-hu lantas bersungut-sungut.
"Mengapa? Penjahat itu berani masuk ke dalam rumah kita. Setelah kupergoki, dia berani menyerang aku, masakah tidak harus kubunuh?"
Leng-hong pura-pura tak puas.
"Kau harus menangkapnya hidup-hidup dan diserahkan pada ibu, dengan tindakanmu membunuhnya itu, kita tidak tahu tentang asal-usulnya dan apa maksudnya ia datang kemari,"
Kata Hiau-hu.
"Ai, benar, benar, mengapa aku setolol itu,"
Lenghong pura-pura menabok kepalanya sendiri.
"Tapi salah dia sendiri yang tak becus, cukup dengan gerakan yang sederhana saja, dia sudah tak kuat bertahan lalu kecemplung ke telaga. Mungkin saja dia belum mati, perlukah kita suruh orang mencarinya?"
"Saat ini entah dimana mayatnya, mana bisa dicari? Sudahlah, karena orang sudah mati, mari kita pulang melapor kepada ibu,"
Kata si dara.
Ketika tiba di rumah, ternyata Kok Tiong-lian sudah menunggu.
Begitu dibangunkan oleh teriakan Leng-hong Kok Tiong-lian segera menyuruh putrinya membantu Lenghong ia sendiri menjaga di rumah.
Setitik pun ia tak mimpi kalau penjahat yang datang itu ternyata keponakannya sendiri.
"Ya, memang kau tak dapat dipersalahkan. Ada penjahat datang memang seharusnya ditempur, kalau kau lupa menangkapnya hidup-hidup agar dapat ditanya, itu dapat dimengerti, tapi cara bagaimana ia datang kemari?"
Kata Kok Tiong-lian.
Leng-hong merangkai cerita, ia mengatakan kalau malam itu ada penjahat membuka jendela kamarnya dan menimpukkan senjata rahasia.
Untung ia sudah bersiap lebih dulu dengan bersembunyi di balik pintu, kemudian ia menerobos keluar dan menyerang penjahat itu.
Penjahat melarikan diri terus dikejarnya sampai ke tepi telaga, karena tak dapat menahan serangannya, akhirnya penjahat itu kecemplung ke dalam telaga.
"Apakah penjahat itu hanya seorang diri saja?"
Tanya Kok Tiong-lian.
Dari nadanya jelas kalau nyonya itu agak curiga, suatu pertanyaan yang membuat hati Leng-hong kebat-kebit.
Ia kuatir jangan-jangan nyonya itu sudah mengetahui urusan itu, namun terpaksa juga ia mengiakan.
"Ibu, memang aku juga merasa heran, sungguh besar sekali nyali orang itu berani seorang diri masuk kemari. Jika dia lihai, itulah tak apa, tapi ternyata dia hanya begitu saja, kalah dengan Suheng. Hm, bukankah itu seperti mengantar kematian saja? Mengapa dia setolol itu?"
Hiau-hu menyeletuk.
Memang keluarga Kang amat disegani.
Kang Hay-thian dianggap sebagai jago nomor satu di dunia persilatan, penjahat picisan mana berani mengganggu rumahnya?
Kecuali kalau orang itu datang dengan maksud baik, kenal dengan keluarga Kang.
Leng-hong tahu kalau ibu dan putrinya itu menaruh kecurigaan, diam-diam ia bersyukur karena sudah lebih dulu dapat membunuh pemuda itu.
"Tentu karena dia tahu kalau Suhu tak berada di rumah,"
Katanya.
"Betul ayah tak di rumah, tapi ibu toh ada. Kalau dia menyelidiki lebih dulu, mana hal itu tak diketahuinya. Ha, Suko, kukuatir jangan-jangan kau keliru membunuh orang,"
Kata si dara.
"Tidak bisa,"
Sahut Leng-hong dengan yakin.
"Jika orang baik mana mungkin datang-datang terus melepaskan senjata rahasia? Tadi sewaktu aku menempurnya, kau pun tahu sendiri. Kalau dia memang orang baik, tentu dia akan berteriak minta tolong padamu. Mengapa dia diam saja?"
"Tapi sungguh patut disayangkan kau telah membunuhnya, jika kau dapat menangkap hidup-hidup, tentu bisa ditanya keterangannya,"
Si dara masih menambahkan.
"Aku sudah tahu asal-usulnya!"
Tiba-tiba Kok Tionglian berseru. Sudah tentu Leng-hong kaget sekali, juga si dara segera bertanya pada ibunya.
"Orang itu seorang jago dari istana. Lihatlah ini!"
Kata nyonya itu. Tangannya dibuka dan di atas telapak tangannya terdapat empat batang jarum beracun yang hitam mengkilap. Leng-hong seperti terlepas dari tindihan batu besar, ujarnya.
"Memang aku pun sedang mencari senjata rahasia yang digunakan penjahat itu, kiranya bibi sudah dapat menemukannya!"
"Apakah itu jarum Bwe-hoa-ciam yang dilumuri racun? Banyak sekali orang persilatannya yang menggunakan jarum semacam itu. Mengapa dapat dipastikan kalau orang itu seorang jago istana?"
Tanya si dara.
"Ini bukan jarum beracun biasa, jarum ini telah direndam dengan racun Khong-jiok-tan dan Ho-ting-ang, kedua racun itu hanya terdapat di dalam istana saja. Memang benar orang persilatan mengetahui kedua barang itu mengandung racun, tapi tak tahu bagaimana meramunya,"
Sahut Kok Tiong-lian. Leng-hong walaupun sudah lama mengetahuinya, namun masih pura-pura terkejut. Ia melelerkan lidah.
"Sungguh berbahaya, sungguh berbahaya! Untung aku tak terkena!"
Memang pintar sekali Leng-hong gadungan itu, sebelumnya ia sudah memperhitungkan kalau bibinya tentu akan menaruh curiga tentang penjahat yang dibunuhnya itu, maka siang-siang ia sudah mempersiapkan rencana.
Jarum pemberian Li Tay-tian itu berjumlah tujuh batang, yang digunakan kepada si Pemuda baju hitam tadi baru tiga batang sisanya yang empat batang ia sebarkan di tanah.
Biarlah nanti Subonya menemukan jarum-jarum itu, cukup sebatang saja orang terkena, tentu akan matilah dia.
Karena Pemuda baju hitam itu sudah terkena tiga batang, maka ia tambah yakin akan kematian pemuda itu.
Ternyata Kok Tiong-lian termakan siasatnya, walaupun ia merasa aneh mengapa penjahat itu berani datang seorang diri, namun dengan menemukan bukti-bukti jarum itu, hilanglah sudah segala kesangsiannya dan menetapkan kalau penjahat itu juga dari istana.
Walaupun terhadap Suhengnya itu Hiau-hu tak mempunyai kesan baik, namun ia pun tak mempunyai prasangka jelek.
Mendengar keterangan ibunya itu, si dara agak menyesal telah menyalahkan tindakan Sukonya, ujarnya.
"Suko, aku tak menyalahkan tindakanmu membunuh penjahat itu. Aku salah menyesalkan!"
"Mungkin dengan mengandalkan jarum ini dan mengira Suhumu tak berada di rumah, penjahat itu tak takut untuk datang kemari. Hm, Hong-tit, selama beberapa bulan mengikuti Suhumu, kepandaianmu pun maju pesat sekali .... Anak Hu, jangan kau kira penjahat itu seorang keroco, sebenarnya dia itu lihai sekali. Kulihat tadi cara ia melompat pagar tembok, Ginkangnya begitu sempurna, hanya karena terluka maka agak lamban gerakannya. Jika tak terluka, mungkin kau belum tentu dapat menangkan dia!"
Diam-diam Leng-hong kagum atas ketajaman mata Subonya di samping bersyukur karena Subonya itu hanya melihat dari kejauhan saja, sehingga tak mendengar pembicaraan mereka.
Kang Hiau-hu masih sangsi, katanya dengan penasaran.
"Suheng, kau bilang selama dalam perjalanan kau telah mendapat pelajaran lisan, ternyata bohong. Kalau kau lebih lihai dari aku, perlu apa minta petunjukku?"
"Anak Hu, itulah karena Piaukomu mengerti aturan, ia berlaku sungkan kepadamu, mengapa kau tidak tahu diri dan malah menyalahkannya? Kalian berdua sebagai kakak adik harus saling tukar pendapat, tak perlu menganggap siapa yang memberi petunjuk. Sudahlah, tidur sana. Besok kita segera berangkat,"
Kata Kok Tionglian. Tetapi mana Leng-hong dapat tidur. Setelah ibu dan gadisnya itu pergi, ia besut keringatnya seraya mengeluh.
"Sungguh berbahaya...sungguh berbahaya!"
Setelah tenang kembali, perasaannya menjadi girang atas nasib mujur yang dihadapinya.
Ia percaya kedua orang yang tahu rahasia pribadinya itu sekarang sudah mati, selanjutnya ia tentu dapat mencapai cita-citanya, ia tentu dapat menjadi murid pewaris keluarga Kang.
Menjelang fajar, baru saja ia terpulas, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.
"Siapa?"
Bentaknya seraya melompat bangun.
"Suko, apa kau sudah bangun? Ibu suruh mengundangmu supaya lekas datang. Ada seseorang hendak menemuimu!"
Ternyata yang datang adalah Kang Hiau-hu.
"Siapa ya?"
Leng-hong bergegas-gegas mengenakan pakaian.
"Tak mungkin dapat kau terka!"
Sahut si dara, sahutan itu membuat Leng-hong gelagapan, rasa kantuknya hilang seketika.
"Sumoay yang baik, tolong kasih tahulah siapa orang itu agar aku tak menduga-duga,"
Leng-hong setengah meratap. Kang Hiau-hu tertawa.
"Ah, toh sebentar lagi kau akan dapat melihatnya, mengapa terburu-buru? Eh, kenapa kau seperti ketakutan?"
Rupanya pagi itu Hiau-hu sedang gembira, sengaja ia hendak mempermainkan sang Suko. Leng-hong setengah mati dibuatnya.
"Ah, jangan berolok-olok, aku hanya ingin tahu saja, mengapa takut? Sedang semalam anjing alap-alap itu menggunakan jarum beracun toh aku tak jera. Yang datang ini tentulah seorang Cianpwe dan Subo hendak memperkenalkan padaku."
"Salah! Yang datang itu juga pemuda yang sebaya dengan kau. Ibu belum pernah kenal, tapi selanjutnya akan memperlakukannya sebagai orang sendiri. Dia akan disuruh tinggal di sini bersama kita. Ini, kau tentu tak dapat menduganya,"
Kata si dara. Kejut Leng-hong bukan kepalang, pikirnya.
"Apakah bukan si Pemuda baju hitam itu?"
Hampir saja ia hendak putar tubuh dan melarikan diri, tapi saat itu mereka sudah tiba di ruang tamu, malah Kok Tiong-lian sudah berseru.
"Hong-tit, ayah sudah pulang."
Leng-hong seperti terlepas dari tindihan batu besar, sahutnya.
"Oh, kiranya Yaya. Sumoay, mengapa kau berolok-olok dan menggoda aku?"
"Leng-hong, kubawakan kau seorang Sute. Lekaslah kalian berkenalan,"
Kata Kang Lam. Dari belakang Kang Lam lantas melangkah maju seorang anak lelaki antara umur 13-14 tahun. Dia memberi hormat seraya berkata.
"Apakah ini Toasuheng? Terimalah hormatku Tosuheng."
Bahwa ternyata bocah itu bukan si Pemuda baju hitam atau Ubun Hiong, legalah hati Leng-hong. Buru-buru ia mengangkat bangun bocah itu.
"Apakah kau ini Li Konghe Sute?"
"Bukan, namaku Lim To-kan. Li-koko itu sahabatku karib. Aku tahu kalau sekarang dia juga saudara seperguruan kita, tetapi Suhu belum dapat menemukannya,"
Sahut anak itu.
"Suhumu baru saja mendapatkan anak ini ketika di Bici. Ayahnya adalah Lim Jing, ketua Thian-li-kau,"
Kata Kok Tiong-lian. Mendengar asal-usul Lim To-kan begitu hebat, diamdiam timbullah rasa iri dalam hati Leng-hong.
"Ayahnya seorang Kaucu yang amat diindahkan oleh para gagah di seluruh dunia. Kelak apabila sudah dewasa, dengan mengandal ketenaran nama ayahnya, mungkin gengsiku sebagai Toasuheng akan direbutnya,"
Pikirnya. Diamdiam ia tak senang, namun lahirnya ia mengunjuk muka girang. Sambil menarik tangan Lim To-kan, ia berkata.
"Bagus, aku dapat tambahan seorang Sute yang baik. Mengapa Suhu belum pulang?"
"Suhumu pergi ke Hoa-san untuk mengunjungi ayah angkatnya, Hoa Thian-hong,"
Demikian Kok Tiong-lian menerangkan. Entah bagaimana, kembali hati Leng-hong berdebardebar keras, tanyanya.
"Apakah tabib terpendam dari Hoa-san yang digelari sebagai tabib nomor wahid di dunia itu?"
"Benar, putrinya menjadi permaisuri kerajaan Masar, ialah kakak iparku kedua dan bibimu juga! Mengapa kau tak tahu?"
Jawab Kok Tiong-lian.
"Ayah telah mengatakan juga tentang hal itu, tetapi ayah telah pesan wanti-wanti padaku. Sebelum putra makota Masar dinobatkan jadi raja, aku dilarang mengaku-aku sanak dan mengunjungi negeri itu. Aku juga tak boleh membocorkan asal-usulku, kecuali hanya terhadap bibi di sini. Itulah sebabnya mengapa aku tak mau menemui Hoa-ya agar diriku jangan sampai terdengar oleh paman, karena dia hendak mencari aku untuk dinobatkan jadi raja."
Oleh karena sebelumnya sudah mengetahui tentang riwayat si Pemuda baju hitam, maka dapatlah l.eng-hong bercerita dengan lancar, namun ia tetap kuatir tentang suatu hal.
Tabib terpendam dari Hoa-san itu menimbulkan suatu bayangan seram dalam sanubarinya, dahulu jelas diketahuinya kalau si Pemuda baju hitam itu sudah tak mungkin hidup lagi, tetapi mengapa bisa hidup kembali?
Siapakah yang mempunyai kepandaian begitu sakti untuk menghidupkan lagi?
Tetapi akhirnya ia menghibur dirinya sendiri, pemuda baju hitam itu terluka di daerah gunung terpisah ribuan li jauhnya dari Hoasan, mana bisa begitu kebetulan tabib sakti itu menemukan pemuda itu.
"Baru tadi malam dia (Pemuda baju hitam) tahu tentang diriku, jika dia memang bertemu Hoa Thianhong, tentulah rahasiaku belum mereka ketahui. Apalagi pemuda itu tentu taat pada perintah ayahnya supaya jangan menemui Hoa Thian-hong. Pendek kata, tipis sekali kemungkinannya kalau ia bertemu dengan Hoa Thian-hong. Tak perlu aku gelisah,"
Akhirnya ia besarkan hatinya sendiri. Tiba-tiba terdengar Kok Tiong-lian menghela napas.
"Aku tahu bagaimana derita hati ayahmu itu, dia terlalu halus sekali perasaannya."
Ia berhenti sejenak, lalu tertawa.
"Ah, baiklah, jangan membicarakan lagi urusan yang telah lampau. Suhumu sungguh memikirkan dirimu. Inilah suratnya yang diberikan padaku. Di dalamnya ia juga menulis tentang dirimu. Nah, cobalah kau baca sendiri."
Ternyata setelah pamitan pada Siangkoan Thay dan turun dari puncak gunung Thian-pit-hong, Kang Haythian dan rombongan Kay-pang yang terdiri dari Tiong Tiang-thong dan kelima muridnya juga lantas berpisah.
Tiong Tiang-thong dan beberapa muridnya pergi ke Lokyang untuk mengurus persoalannya sendiri.
Dia hanya menyuruh muridnya yang pertama, Goan-It-tiong, untuk menemani Kang Hay-thian menuju ke selatan, menghadiri rapat di Bin-san.
Sebenarnya Kang Hay-thian hendak pulang ke rumah, tapi baru tiga hari dalam perjalanan, di tengah jalan ia menerima surat dari ayah angkatnya, Hoa Thian-hong, yang disampaikan oleh orang Kay-pang.
Isi surat amat sederhana, karena ada urusan penting diminta supaya Kang Hay-thian datang kepadanya.
Kang Hay-thian tak berani menolak perintah ayah angkatnya, ia minta Goan It-tiong membawa Lim To-kan pulang dulu, sementara ia menuju ke Hoa-san.
Nyo Pit-tay, ketua cabang Kay-pang di Tek-ciu, adalah Susiok dari Goan It-tiong.
Ketika tiba.di kota itu, Goan Ittiong mengajak Lim To-kan bermalam di rumah paman gurunya itu.
Kebetulan malam itu Kang Lam datang ke situ juga, Goan-It-tiong segera menyerahkan Lim To-kan kepada Kang Lam agar diajak pulang.
Di dalam suratnya, selain memberi kabar kepada istrinya mengapa ia belum dapat pulang, Kang Hay-thian menyebut-nyebut juga tentang Leng-hong.
Ia mengatakan, apabila Leng-hong sudah pulang bolehlah Kok Tiong-lian mengajaknya ke Bin-san.
Di hadapan para orang gagah.
Kok Tiong-lian boleh memaklumkan kalau Yap Leng-hong itu adalah murid pewaris dari Kang Haythian.
Apabila hendak mendirikan sebuah cabang persilatan baru, kedudukan seorang murid pewaris itu amat penting sekali.
Biasanya tentu akan mengundang seluruh Cianpwe persilatan untuk hadir dalam upacara peresmian.
Walau Kang Hay-thian berhalangan datang, tapi dengan memperkenalkan murid pewarisnya itu, juga tak mengurangi kekhidmatannya.
Selanjutnya dalam surat Kang Hay-thian mengatakan, sedapat mungkin akan berusaha untuk hadir dalam upacara peringatan wafatnya Tok-pi Sin-ni.
Tetapi jika sampai terhalang, ia minta istrinya dan Leng-hong yang mewakili, tak usah menunggunya.
Habis membaca surat itu, legalah hati Leng-hong.
Namun ia pura-pura mengunjuk kecemasan.
"Suhu adalah jago nomor satu di dunia, aku seorang murid yang goblok, apakah takkan ditertawai oleh sekalian orang gagah jika dipilih menjadi murid pewaris?"
"Orang persilatan mengutamakan Hiap-pi (keperwiraan). Banyak orang persilatan yang telah mendengar tindakanmu bersama Siau Ci-Wan ketika menolong Li Bun-sing dan putrinya di gunung Thay-san dahulu. Walaupun sekarang kepandaianmu masih belum sempurna, tapi berkat kecerdasanmu, di kemudian hari tentu dapat menambah cemerlang nama perguruan kita. Namamu sudah dikenal orang pula menjadi murid pewaris Suhumu, siapakah yang berani memandang rendah padamu lagi?"
Sahut Kok Tiong-lian.
"Toasuko, kali ini kau boleh unjuk muka di hadapan sekalian orang gagah! Tak usah kau pura-pura sungkan, seharusnya kau bergirang,"
Hiau-hu yang lincah mulut turut memberi dorongan semangat. Sekali-kali dara itu tak mengandung hati untuk menyindirnya, tapi entah bagaimana muka Leng-hong merah sendiri.
"Anak Hu, kau sungguh keterlaluan, untung Sukumu cukup kenal perangaimu,"
Kata Kok Tiong-lian.
"Tetapi Hong-tit, kuharap di hadapan para orang gagah seluruh negeri, sebagai murid pewaris perguruan kita kau harus pandai merendah diri, jangan sekali kali mengunjuk kecongkakan. Kutahu kau cukup hati-hati, sebenarnya tak perlu kupesankan lagi."
"Sudah tentu kuingat sungguh-sungguh pesan bibi ini. Budi Suhu sedalam lautan, mana aku berani memerosotkan derajatnya,"
Leng liong segera menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada Ibu gurunya sambil berjanji akan melaksanakan nasehat bibinya Itu "Ah, sudahlah.
Yang kumaksudkan supaya kau merendah diri terhadap orang luar.
Terhadap orang dalam sendiri tak perlu begitu sungkan.
Kemasi pakaianmu, mari kita segera berangkai.
Ayah, sukalah kau tinggal menilik rumah.
Anak Kan, kau pun ikut aku melihatt keadaan dunia luar.
Apakah kau tak lelah?"
Kata Kok Tiong-lian.
"Tidak, aku sudah biasa tiap hari menempuh perjalan dengan Suhu. Selama dua hari ini Yaya menyuruh aku naik kuda, suatu hal yang malah tak biasa bagiku,"
Sahut Lim To-kan. Kang Lam tertawa.
"Bocah ini mempunyai tulang, bagus. Bisa tahan menderita dan cerdas otaknya. Pelajaran bernapas yang dibelikan Suhunya, baru sebulan lebih sudah dikuasainya."
Mendengar itu diam-diam Leng-hong makin iri. Kata jago tua itu pula.
"Untuk mencari Suhu ternama susah sekali, tapi mencari murid yang baik pun tak mudah. Dalam waktu setahun ini Hay-ji sekaligus menerima tiga orang murid dan seorang calon murid yang belum diketemukan, yakni putra Li Bun-sing. Empat murid semua berbakat bagus, sungguh suatu hal yang jarang terdapat di dunia persilatan!"
"Ayah, kau memuji orang sendiri, apakah takkan ditertawai orang, lain?"
Seru Kok Tiong-lian.
"Itu bukti yang nyata, bukannya aku memuji,"
Sahut Kang Lam. Tiba-tiba ia menghela napas.
"Sayang Ubun Hiong menerima dakwaan yang tak baik dan telah kau usir."
"Dalam kedudukan seperti diriku, terpaksa kulakukan hal itu,"
Sahut Kok Tiong-lian dengan rawan.
"Ya, kutahu. Bukannya aku menyalahkan, tapi dalam perasaanku, Ubun Hiong, anak itu jujur dan sederhana, tidak layak melakukan perbuatan yang jahat. Mudahmudahan dia dapat membersihkan diri dan lekas kembali kemari lagi,"
Kata jago tua itu.
"Kuanggap murid-murid Hay-ji sebagai cucuku, tak kubedakan satu sama lain."
Mendengar disebut-sebutnya nama Ubun Hiong, Kang Hiau-hu berduka, namun karena toh sudah menjadi kenyataan, tak mau ia menyalahkan tindakan ibunya. Kok Tiong-lian mengalihkan pembicaraan.
"Ayah Kan-ji adalah orang buronan nomor satu antek-antek kerajaan. Dalam rapat besar di Bin-san nanti, walaupun sebagian besar terdiri dari para orang gagah golongan Cing-pay, namun sukar dijaga kemungkinan diselundupi oleh golongan jahat. Tentang asal-usul diri Kan-ji, kalian harus merahasiakan."
Pesan itu ditujukan pada Leng-hong dan Hiau-hu, kedua anak muda itu tersipu-sipu mengiakan pesan Kok Tiong-lian. Leng-hong segera menuju ke kamarnya untuk berkemas, hatinya selalu gelisah, pikirnya.
"Untung sekarang warung arak itu sudah terbakar. Coba masih, mereka tentu mengirim orang kepadaku, suruh aku mencari berita tentang putra Lim Jing. Ah, aku tentu terjepit dalam kesukaran, serba susah untuk memberitahu atau tidak!"
Begitu kembali ke ruang tamu, didengarnya Kok Tiong-lian berkata kepada sang ayah mertua.
"Sejak datang ke Masar dahulu, sudah hampir 20-an tahun Hoaloyacu tak pernah turun dari Hoa-san. Kini beliau memanggil Hay-thian, entah ada urusan penting apa?"
Sahut Kang Lam.
"Hoa Thian-hong lebih tua dari aku, tahun ini mungkin sudah 70-an tahun usianya."
Sahutan pada yang bukan ditanyakan itu membuat Kok Tiong-lian heran, ujarnya.
"Lalu bagaimana?"
"Seorang tua tentu mudah dihinggapi rasa kesepian, seorang diri dia tinggal di Hoa-san, sudah tentu ia merasa kesepian,"
Kata Kang Lam.
"Ah, kau jangan bergurau, ayah,"
Kata sang menantu.
"Kalau begitu ia minta Hay-thian menemaninya?"
Kang Lam tertaw.
"Aku sendiri pun kuatir kesepian dan tak ada orang yang kuajak bicara, tentulah orang lain juga begitu!"
Mendengar itu sekalian orang tertawa geli. Kembali Kang Lam berkata.
"Terus terang walaupun aku tak tahu mengapa Hoa Thian-hong memanggil Hay-ji tapi kuduga tentu ada kebaikannya untuk Hay-ji. Dulu kau takut dia kena apa apa, sekarang setelah tahu tempat kepergiannya, seharusnya tak usah memikirkannya lagi."
Kok Tiong lian mengangguk, kala itu Leng-hong sudah berada di ruang tamu dan mendengarkan pembicaraan antara mertua dan menantunya itu.
la makin longgar perasaan hatinya ketika mendapat tahu bahwa Hoa Thian-hong sudah 20 tahun tak turun gunung.
Ia yakin dipanggilnya Kang Hay Thian ke Hoa-san itu tentu tak ada sangkut-paut dengan dirinya.
Sebenarnya Kang Lam tak tahu kalau pada dua tahun berselang Hoa Thian-hong pernah turun gunung, begitupun Kok Tiong-lian juga tak tahu hal itu.
Dan Lenghong hanya menarik kesimpulan dari pembicaraan antara mertua menantu itu saja.
Begitulah hari itu dengan membawa putrinya dan dua orang murid, Kok Tiong-lian berangkai ke Bin san.
Dalam perjalanan mereka selalu bergembira.
Yap Leng hong menggunakan kesempatan baik itu untuk mendapat kepercayaan bibinya dan mengambil hati sang Sumoay, tetapi sebaliknya si dara bersikap dingin kepadanya, ia lebih suka pada Lim To-kan.
To-kan lebih muda tiga tahun, keduanya seperti kakak dan adik.
Itu tak berarti bahwa Hiau-hu membenci Leng-hong, melainkan hanya tak cocok dengan seleranya saja oleh karena itu, ia tak bergaul rapat, kebanyakan hanya bersikap sekadarnya saja.
Sebagai ahli waris partai Bin-san-pay, Kok Tiong lian harus datang lebih dulu di Bin-san untuk mempersiapkan upacara sembahyang memperingati wafatnya Tok pi Sinni, pendiri Bin-san-pay.
Waktu tiba di Bin-san, masih ada waktu tiga hari dari sembahyangan itu.
Semula ia kuatir dengan membawa seorang anak (To-kan) dalam perjalanan itu tentu akan banyak memakan waktu.
Bahwa ternyata ia dapat tiga hari di muka tiba di Bin-san, ia sangat girang Waktu tiga hari itu dapatlah ia gunakan untuk bertemu dengan para anak murid Bin-san-pay guna membicarakan urusan dalam.
Pada musim semi, alam di gunung Bin indah sekali.
Sambil mendaki ke atas gunung, Kok Tiong-lian menuturkan tentang riwayat hidup cikal-bakal pendiri Bin-san.
Tak berapa lama, tibalah mereka di puncak gunung, di puncak gunung terdapat sebuah air terjun yang bentuknya mirip dengan segulung sutera dijungkirkan ke bawah.
Ditimpa oleh sinar matahari, air terjun itu memantulkan cahaya keemasan yang indah, pada dinding karang air terjun itu terdapat sebuah bekas lubang sebesar cawan, tetapi empat kelilingnya rata.
"Apakah kalian melihat lubang bekas di dinding karang itu? Ayo tebaklah, bagaimana asalnya itu,"
Kok Tiong-lian tertawa.
"Tampaknya seperti bukan dari alam. Ibu, mengapa di atas karang yang halus terdapat lubang?"
Tanya Hiau-hu.
"Benar, memang itu bikinan manusia, tetapi dibikin dengan tak sengaja. Ada sebuah cerita yang menarik tentang lubang itu,"
Jawab Kok Tiong-lian.
"Aku paling seriang mendengar cerita. Bu, ceritakanlah,"
Hiau-hu segera mendesak.
"Ya, baiklah. Cerita itu mengandung nasehat baik kepada kalian,"
Kata Kok Tiong-lian.
"Lubang itu bekas gempuran tongkat Liau-in Hwesio. Cikal-bakal kita, Tok-pi Sin-in, pendiri Bin-san-pay, mempunyai 8 orang murid. Yang pertama ialah Liau-in, mereka disebut Kang-lam-pat-hiap (8 pendekar dari Kanglam). Selain Toasuheng, ilmu kepandaian Liau-in itu paling tangguh, keenam Sutenya ia yang mewakili memberi pelajaran, maka dia seolah-seolah seperti setengah Toasuheng setengah Suhu."
"Lho, bukankah mereka disebut Kang-lam-pat-hiap? Seharusnya dia punya tujuh Sute?"
Hiau-hu menyeletuk.
"Yang nomor 8 adalah Lu Si-nio, murid asuhan Tok-pi Sin-ni sendiri, ketika Lu Si-nio diterima menjadi murid, Liau-in sudah meninggalkan gunung. Ilmu kepandaian Lu Si-nio itu didapat dari Tok-pi Sin-ni sendiri. Memang Sinni yang sudah merasa kalau sifat Liau-in itu tidak lurus, kuatir sesudah ia mati tak ada orang yang dapat menundukkan Liau-in, maka Tok-pi Sin-ni menurunkan semacam ilmu pedang ciptaan terbaru kepada Lu Si-nio. Dan memberinya sebuah Kim-pay (lencana emas). Sewaktu meninggal, Tok-pi Sin-ni memberi pesan, jika nantinya Liau in berubah jahat, lu Si-nio boleh menggunakan Kim-pay itu untuk menghukum Toasuengnya itu. Pada saat Liau in datang menghadiri upacara penguburan Suhunya, dia mengumpulkan para Sutenya dan memaksa mereka mengakuinya sebagai pengganti sang Suhu. Saat itu Lu Si-nio turun tangan, dikeluarkannya kimpay dan mengumumkan pengusiran Liau-in dari Bin-san pay, menghapus namanya dari Kanglam-pat-hiap, Liau-in tak terima. Begitullah dihadapan makam Tok-pi Sin-ni, terjadilah pertempuran sengit antara Liau In dengan Sute-sutenya. Dahsyat sekali pertempuran itu, mungkin merupakan pertempuran yang terdahsyat dalam sejarah Binsanpay. akhirrnya Lu Si nio dapat menusuk mata Liau-in sampai buta, lalu membunuhnya pada saat menghembuskan napas penghabisan. Liau in menimpukkan tongkatnya ke arah Lu Si-nio. Maksudnya hendak mati bersama, tetapi dengan Ginkangnya yang tinggi, Lu Si-nio dapat menghindar. Tongkat itu menancap ke dalam dinding karang, kemudian Kam Hong-ti yang mencabutnya. Itulah sebabnya pada dinding karang itu terdapat sebuah lubang,"
Demikian Kok Tiong-lian mengakhiri ceritanya Mendengar lubang itu berasal dari timpukan tongkat Liau-in yang sudah terluka parah, diam diam Leng hong dan Hiau-hu terperanjat.
Lebih-lebih Leng-hong, ia merasa keadaan Liau in itu persis seperti dirinya.
Diamdiam ia gelisah dan bertanya dalam hati, mengapa Subonya menuturkan cerita itu kepadanya.
"Mengkhianati guru karena gila kemuliaan kupercaya kalian tentu takkan melupakan. tetapi baik juga kalian ingat cerita itu. Setelah menyelesaikan pelajaran, jangan sekali-kali mengaggulkan diri dan berbuat kejahatan. Dalam mengikat persahabatan harus yang cermat, jangan sampai kena dipikat oleh orang-orang tersesat. Atau kalau tidak, kalian tentu akan mengalami nasib serupa Liau in. Kembali Kok Tiong-lian memberi nasehat. Bahwa ternyata Subonya hanya bersifat memberi nasehat saja, legalah perasaan Leng-hong,, mereka bertiga segera mengiakan, tetapi sebenarnya Leng-hong mempunyai kesan tersendiri dari cerita itu, dan kesan itu justru berlawanan dengan yang tersimpul dalam nasehat Kok Tiong-lian, pikirnya.
"Kehancuran Liau-in disebabkan oleh Tok-pi Sin-ni yang diam-diam menurunkan ilmu pedang Hian-li-kiam-hoat kepada Lu Si-nio. Jika tidak begitu, mana Liau-in semudah itu dapat dikalahkan?"
Dengan tamsil cerita Liau-in itu, ia meneropong keadaan dirinya.
Kang Hay-thian jago nomor satu di dunia dan dia (Leng-hong) adalah murid pewarisnya.
Seharusnya mendapat seluruh kepandaian Suhunya, jika Kang Hay-thian sudah tua dan mengundurkan diri, dialah yang bakal menjagoi dunia persilatan.
Yang penting harus dijaga jangan sampai Suhunya itu diam-diam memberi ilmu kepandaian istimewa kepada salah seorang Sutenya.
Leng-hong membuat perhitungan lebih jauh.
"Ubun Hiong sudah diusir, dia tak perlu dikuatirkan. Yang penting aku harus mencurahkan perhatianku untuk mengambil hati Sumoay dan memperistrinya, dengan begitu tak usah kuatir ia akan melawan aku lagi. Dalam hal ini, bibi membantu usahaku, kemungkinan besar tentu dapat berhasil. Anak Li Bun-sing itu belum dapat diketemukan, inipun tak perlu dihiraukan, agaknya yang membahayakan hanyalah setan cilik Lim To-kan itu. Dengan memandang muka ayah bocah itu, Suhu tentu akan menggemblengnya sungguh-sungguh. Bocah itupun cerdik, pandai mengambil hati. Datang belum dua hari saja Subo dan Sumoay sudah memperlakukan dengan begitu sayang. Kalau terus dilanjutkan, mungkin kedudukanku sebagai murid pewaris akan guncang, tetapi bagaimana akal supaya dapat mengenyahkan setan cilik itu?"
Karena pikiran melayang, kaki Leng-hong terantuk batu. Ia terhuyung-huyung sampai dua langkah ke muka baru dapat berdiri tegak.
"Ai, Toasuko, mengapa kau tak melihat jalan? Apa yang kau pikirkan?"
Hiau-hu menertawakan.
"Aha, sudah sampailah sekarang!"
Memandang ke atas, benarlah biara Hian-li-koan sudah tertampak. Malah dari sebelah atas sudah ada orang turun menyambut kedatangan mereka. Buru-buru Leng-hong menenangkan pikirannya, ia menyahut.
"Aku tengah memikirkan tentang kabar-kabar yang santar tersiar di luaran. Dalam perjalanan bersama Suhu, sudah tersiar desas-desus bahwa pemerintah Cing hendak menghancurkan Bin-san-pay. Mungkin kawanan alap-alap kerajaan akan mengacau rapat besar di Bin-san ini."
"Sudah tentu kita harus waspada menjaga kemungkinan itu, tetapi yang dikuatirkan mereka Itu akan menggunakan jalan gelap. He, sudah sampai. Peksupek, Loh supek, Cia sukoh, Ceng Yang Susiok, terimalah hormat Sutitmu. Ah, mengapa dengan orang sendiri begitu sungkan?"
Seru Kok Tiong-lian.
Kiranya rombongan murid Bin-san-pay yang berada di biara Hian-li-koan terdiri dari Pek Ing-kiat, Loh Ing-ho, Cia Hun-cin dan Ceng Yang Suthay sudah menunggu di muka pintu biara untuk menyambut kedatangan Kok Tiong-lian, Ciang-bunjin mereka.
Kok Tiong-lian memperkenalkan kedua murid suaminya kepada mereka.
Di antara para Cianpwe itu, Leng-hong sudah pernah bertemu dengan Pek Ing-kiat dan Loh Ing-ho ketika di markas Kay pang cabang Tekciu tempo hari.
Para Cianpwe Bin-san-pai itu menyambut dengan hangat pula Leng hong.
"Hari ini adalah peringatan wafatnya Cosu yang ke 100, banyak kawan-kawan persilatan akan mengirimkan orang untuk hadir, hal ini sudah disepakati lebih dulu. Di samping itu masih akan datang juga tokoh tokoh persilatan ternama, jika Kang tayhiap dapat datang tepat waktunya, itulah yang kita harapkan. Namun jika ia berhalangan datang kekuatan kitapun cukup untuk mengatasi segala kemungkinan yang tak diinginkan,"
Kata Pek Ing kiat.
"Dalam mengatur pertemuan ini, banyak sekali merepotkan berdua Supek "
Kok Tiong lian menyatakan rasa syukurnya.
"Mulai besok pagi tentu tetamu-tetamu sudah pada datang, gelagatnya tahun ini akan lebih meriah dari tahun-tahun yang lalu "
Kata Pek Ing kiat pula Atas pertanyaan Kok Tiong-lian mengenai tempat penerimaan tetamu, Pek Ing kiat menerangkan bahwa Hian-li koan telah ditambah dengan berpuluh kamar, kuil Yok-ong-bio yang terletak ditengah gunung juga dapal dibuat tempat penginapan.
"Tetapi kalau tetamu keliwat banyak, mungkin tenaga pelayannya tak cukup, kurasa hendak minta Yap-seheng membantu jadi Ti-khek (penyambut tetamu) bersamasama dengan aku, menyambut tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai golongan,"
Katanya pula Pek Ing-kiat seorang yang banyak pengalaman, ia tahu bahwa maksud dari Kang Hay-thian dengan menyuruh istrinya membawa murid pewarisnya itu tentulah supaya dapat mengenalkan diri pada sekalian orang dari seluruh penjuru.
Ia juga suka dengan anak muda (Leng-hong) itu, pandai bicara, pintar menempatkan diri dan sikapnya cukup terampil.
Itulah sebabnya Pek Ing-kiat segera mengatur begitu.
Kok Tiong-lian mengangguk.
"Walaupun Leng-hong bukan murid pewaris partai kita, tapi boleh dikata sebagai orang sendiri. Karena tenaga penyambut tak mencukupi, bolehlah dia bertugas jadi Ti-khek. Eh, apa katamu Leng-hong?"
Leng-hong tak mimpi kalau bakal mendapat kehormatan seperti itu, ia pun mengiakan.
Pada hari kedua, memang benar tetamu-tetamu berdatangan.
Di antara tetamu-tetamu penting yang disambut oleh Kok Tiong-lian dan Pek Ing-kiat adalah Tay-hui Siansu dari Siau-lim-pay, Lui Cin-cu, Ciangbun Bu-tong-pay, Hoat-hoa Siangjin, Tianglo dari Go-bi-pay dan ratusan murid-murid dari ketiga aliran itu.
Dalam penyambutan, Leng-hong banyak mendapat pujian dan memperoleh kesan baik dari para tetamu.
Bersambung
Jilid 2
Jilid 2 Hari ketiga adalah hari terakhir dari pertemuan besar, tetamu-tetamu yang datang lebih banyak lagi.
Di antaranya yang paling menarik perhatian Leng-hong ialah Ciangbun Jing-sia-pay yang bernama Sin In-long serta kedua belas muridnya.
Jing-sia-pay merupakan salah satu dari enam besar di Tionggoan, memang dalam kemasyhuran nama, kalah dengan Siau-lim-pay dan Butong-pay.
Perhatian Leng-hong terhadap Jing-sia-pay bukan karena kedudukan cabang itu, melainkan disebabkan karena saudara angkatnya, Siau Ci-wan, orang Jing-sia-pay.
Ketika tahun yang lalu ia berpisah dengan Siau Ci-wan, adalah karena Siau Ci-wan hendak pulang ke Sujwan untuk membantu gerakan menentang pemerintah Cing yang dibentuk oleh Leng Thian-lok.
Leng-hong ingin sekali mencari keterangan mengapa Siau Ci-wan tak datang.
"Kabarnya di gunung Siau-kim-san, Leng Thian-lok telah menggerakkan pemberontakan terhadap pemerintah Cing. Sekarang bagaimana kesudahannya?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Semula mendapat kemajuan, Leng Thian-lok dan keponakannya berpencar dalam dua jurusan. Mereka dapat merebut Kong-gwan, memukul pecah Bian-tiok dan menekan Seng-to. Wilayah Sujwan gempar. Sayang sejak musim semi tahun ini, kedudukan mereka berubah jelek, pemerintah Cing telah mengutus gubernur Siamkam Yap To-hu ke Sujwan. Dia membawa seratus ribu serdadu masuk ke Sujwan, laskar pejuang kalah banyak jumlahnya, terpaksa mereka melepaskan tempat-tempat yang diduduki dan kembali ke pangkalan lama di Siaukim-jwan. Keadaannya payah sekali,"
Sahut Sin Un-long. Lim To-kan yang saat itu berada di samping Subonya, tiba-tiba menyeletuk.
"Mengapa gubernur she Yap itu bernama To-hu (jagal)? Apakah dia seorang jagal manusa yang ganas?"
"Dia sebenarnya seorang Cinsu (pegawai sipil tinggi). Wajahnya memang seperti sastrawan, tetapi hatinya ganas sekali. Ketika menjabat gubernur di Siam-kam, ia banyak sekali membunuh orang, sebab itulah ia digelari dengan sebutan To-hu. Waktu masuk ke Sujwan, segera ia mengadakan pembersihan. Rakyat di daerah yang pernah diduduki pemberontak dibunuh dengan tuduhan sebagai antek pemberontak dan perampok. Benar katamu itu, engkoh kecil. Dia Memang seorang jagal manusia yang ganas sekali!"
Sahut Sin In-long.
Orang-orang yang mendengar penuturan Sin In-long mencaci-maki Yap To-hu.
Tiada seorang pun yang mengira sama sekali bahwa satu-satunya orang yang tertusuk hatinya karena Yap To-hu itu dicaci-maki adalah murid pewaris dari Kang Hay-thian yang kala itu tengah berhadapan dengan Sin In-long.
Adalah karena begitu datang Sin In-long terus sibuk menceritakan keadaan di daerah Sujwan, maka Pek Ing-kiat belum memperkenalkan Leng-hong pada orang itu.
Mendengar ayahnya dicaci-maki habis-habisan, sedih dan gelisah perasaan Leng-hong.
Tiba-tiba mata Sin Inlong tertumbuk pada Leng-hong, pewaris Jing-sia-pay itu tertegun, serunya.
"Saudara ini.."
"Yap-siauhiap, murid pewaris dari Kang-tayhiap,"
Buru-buru Pek Ing-kiat memperkenalkan Leng-hong.
Leng-hong pun tersipu-sipu berlutut memberi hormat sebagai layaknya seorang angkatan muda terhadap seorang Cianpwe.
Sin In-long mengangkatnya bangun, katanya.
"Justru aku hendak mencarimu, siapa tahu kau malah membikin aku terkejut."
Kang Hiau-hu seorang dara lincah dan Sin In-long itu sahabat karib ayahnya, sejak kecil dara itu sudah mengenalnya. Ia segera melengking keheranan.
"Shinyaya, wajah Toasuko ini toh tidak jelek, mengapa kau terkejut?"
Jika bukan di tempat dan waktu seperti itu, tentulah Leng-hong akan girang sekali mendapat pujian si dara, tetapi pada saat seperti itu, kebalikannya ia malah berdebar sekali.
"Justru karena wajah Yap-siauhiap begitu, maka aku sampai terkejut,"
Sahut Sin In-long.
"Mengapa?"
Tanya si dara.
"Kukenal pada Yap To-hu, wajahnya mirip benar dengan Yap-siauhiap ini!"
Jawab Sin In-long. Pek Ing-kiat tertawa gelak-gelak.
"Untung dia itu keponakan Kang-hujin, Ciangbunjin kami. Kalau tidak, mungkin orang tentu mengiranya sebagai keponakan Yap To-hu, wah bisa runyam!"
Sin In-long pun tertawa.
"Asal-usul Yap-seheng, aku pun tahu jelas. Yap yang ini berbeda dengan Yap yang itu, orang bisa mirip, benda bisa sama. Janganlah Yapseheng kecewa karena berwajah seperti Yap To-hu."
Takut menimbulkan kesangsian orang banyak, Lenghong sengaja ikut memaki ayahnya.
"Aku tak menyesal, melainkan benci sekali pada jagal rakyat yang ganas itu. Kuharap supaya tentara pejuang lekas dapat menumpasnya, agar rakyat bebas dari penderitaan!"
"Yap-seheng, maukah engkau berhadapan dengan Yap To-hu? Mungkin kau mempunyai kesempatan membunuhnya sendiri agar dapat meringankan penderitaan rakyat!"
Kata Sin In-long. Diam-diam Leng-hong terkejut, ia kuatir janganjangan orang she Shin itu hendak mencoba harinya, maka terpaksa ia memberi pernyataan.
"Sudah tentu aku ingin sekali membunuh srigala itu, tetapi apakah maksud Locianpwe menganjurkan aku masuk dalam tentara pejuang itu?"
"Benar, untuk itulah maka aku hendak mencarimu. Kau punya seorang Giheng bernama Siau Ci-wan, benarkah?"
Kini tahulah Leng-hong apa tujuan Sin In-long, ia merasa lega sekali, jawabnya.
"Ya, memang aku hendak mencari berita Siau-toako itu."
Kuatir yang lain-lain tak mengerti, Sin In-long memberi penjelasan.
"Siau Ci-wan anak murid golonganku, dia mengangkat saudara dengan Yapsiauhiap. Ketika tahun yang lalu Yap-siauhiap pergi ke rumah keluarga Kang, muridku she Siau itu yang mengantarkan, maka kutahu asal-usul Yap-siauhiap."
Setelah menjelaskan duduk perkaranya, Sin In-long melanjutkan pula.
"Dewasa ini keadaan laskar Siau-kimjwan berbahaya sekali, boleh dikata semua murid Jingsia-pay turut dalam gerakan itu. Namun jumlah orangnya tetap belum mencukupi, masih perlu meminta bantuan luar. Siau Ci-wan mengharap kau suka membantunya."
Leng-hong memandang sejenak pada Subonya, lalu menyahut.
"Gerakan itu memang mulia tujuannya, sudah tentu Wanpwe tak menolak, tetapi harus mendapat izin Suhu dulu. Sekarang Suhu masih belum datang, entah apakah beliau mempunyai pesan apa yang akan . diberikan kepadaku."
"Watak Suhumu kuketahui dengan jelas, dia adalah lelaki yang mengutamakan keperwiraan. Jika kau masuk laskar pejuang, tak nanti dia mau menyuruh kau mengerjakan lain tugas lagi. Terus terang saja, kedatanganku kemari ini karena mendapat permintaan dari Leng Tian-lok agar sekalian orang gagah sudi membantunya. Bukan hanya mengharap Yap-siauhiap saja, makin banyak orang makin baik! Kok-ciangbun, kau adalah penyelenggara rapat Bin-san ini. Aku pun hendak meminta kau membantu."
"Ya, sudah tentu. Dalam rapat nanti tentu akan kukemukakan permintaanmu ini. Tentang hal Leng-hong, aku yang mewakilkan Suhunya memberi izin, karena Suhunya tak keburu datang, maka tak perlu menunggunya lagi,"
Demikian sahut Kok Tiong-lian.
Walaupun Kok Tiong-lian tak menghendaki berpisah dengan Leng-hong, namun untuk gerakan perjuangan dan memandang muka Sin In-long, apa boleh buat, ia lepaskan Leng-hong pergi.
Apalagi nantinya Leng-hong tentu akan mendapat pengalaman yang lebih luas, maka tanpa banyak ragu, ia segera mengizinkan Leng-hong.
Mulut setuju tetapi di dalam hati Leng-hong mengeluh, mendengar sekalian orang mencaci-maki ayahnya, Lenghong seperti duduk di kursi duri.
Untung datang pula lain rombongan tetamu yakni dari Thian-san-pay yang terdiri dari suami-istri Ciong Tian dan kedua putra-putrinya, Ciong Leng dan Ciong Siu.
Hubungan antara Thian-san-pay dan Bin-san-pay sudah lama sekali, Teng Hiau-lan, Lociangbun Thian-sanpay, adalah sahabat karib Bin-san-pay.
Istrinya yang bernama Pang Ing dan iparnya Pang Lin, dahulu bersama Lu Si-nio digelari orang sebagai Kang-ouw-sam-li-hiap (tiga dara pendekar).
Juga istri Ciong Tian dengan ibu angkat Kok Tiong-lian merupakan saudara angkat, jadi hubungan antara kedua cabang itu sudah terjadi beberapa generasi.
(Baca TIGA DARA PENDEKAR) Berhubung Lociangbun Teng Hiau-lan sudah meninggal, maka yang menggantikan sebagai ketua Thian-san-pay adalah putranya yang bernama Teng Keng-thian.
Karena letaknya jauh, maka Teng Keng-thian tak dapat mengirim banyak orang, tapi Ciong Tian adalah murid pertama Teng Hiau-lan, di dalam Thian-san-pay kedudukannya hanya terpaut setingkat dengan Teng Keng-thian.
Dengan kedatangan Ciong Tian bersama keluarganya itu, sudah menandakan suatu kehormatan yang hangat.
Sudah tentu sebagai Wanpwe (angkatan muda), Kok Tiong-lian menyambut sehormat-hormatnya kepada keluarga Ciong itu, oleh karena itu maka pembicaraan tentang Yap To-hu itupun berhenti.
Kini telinga Leng hong pun tak tertusuk lagi, tetapi hatinya tetap gelisah.
Oleh karena tetamu-tetamu penting sudah sama datang, maka tak perlu lagi Leng-hong menjadi repot.
Ia pun tak dapat turut dalam pembicaraan para angkatan tua itu, apalagi memang ia tak suka mendengarnya.
Setelah duduk sebentar, ia segera keluar untuk mencari hawa segar penenang hatinya.
"Jika aku masuk ke dalam tentara pejuang itu, bukankah akan bermusuhan dengan ayah sendiri?"
Pikirannya selalu dicekam dengan pertanyaan itu.
Biarpun dahulu ia pernah menggemborkan semboyan "Usir kaum penjajah, kembalikan tanah airku", namun kalau disuruh bertempur dengan ayah sendiri, sungguh sulit baginya.
Apalagi setelah rahasianya digenggam oleh Hong Jong-liong, semangat perjuangannya mulai luntur.
Pernah Leng-hong merangkai rencana, apabila ia mendapat kedudukan penting dalam tentara pejuang itu, ia akan menggunakannya untuk kepentingan diri pribadinya.
Tentara pejuang menang, ia akan menarik pasukan ayahnya untuk merebut negara dan menduduki tahta kerajaan.
Jika tentara pejuang kalah atau timbul keretakan di dalamnya, dalam keadaan yang buruk ia akan lari balik kepada ayahnya.
"Jika sekarang aku sudah bermusuhan dengan ayah, tentu kedua belah pihak akan remuk, rencanaku itu tentu akan gagal. Dan yang paling menguatirkan, karena tak sedikit anak buah ayah yang kenal padaku, jika aku menggabungkan diri pada gerakan Sujwan itu, tentu rahasiaku bakal ketahuan!"
Pikirnya lebih jauh.
Yap Leng-hong mondar-mandir dalam kegelisahan, sekonyong-konyong seseorang datang dan memberi salam padanya.
Leng-hong kenal orang itu sebagai salah seorang murid Sin In-long, tapi siapa namanya ia tak tahu.
Sebenarnya Leng-hong enggan bicara dengan orang, tapi sekadar untuk memenuhi kesopanan, terpaksa ia balas memberi hormat serta menanyakan nama orang.
Diam-diam ia menduga orang itu tentu bermaksud membujuknya.
Tiba-tiba orang itu tertawa gelak-gelak, kemudian berkata dengan bisik-bisik.
"Matahari dan rembulan tak bersinar. Hehehe, kita kan orang sendiri!"
Leng-hong seperti mendengar halilintar berbunyi di tengah hari, ia terlongong seperti kehilangan semangat.
"Di sini banyak orang, mari kita cari tempat yang sepi. Awas, jangan sampai menimbulkan kecurigaan orang sehingga ketahuan rahasia kita,"
Kata orang itu pula.
Diam-diam Leng-hong mengeluh dalam hati, ia mengira sudah terlepas dari cengkeraman mereka, kini ternyata masih belum.
Apa boleh buat, terpaksa ia tenangkan hati dan ikut orang itu.
Setelah sampai di sebuah tempat yang tak ada orangnya, berkatalah orang itu.
"Yap-kongcu, baiknya kita menjadi seorang Siaujin (orang kecil), baru kemudian menjadi Kuncu (jantan sejati). Terus terang kuberitahukan padamu bahwa orang-orang kita di Bin-san sini banyak sekali, yang tahu rahasiamu juga bukan aku seorang saja. Yap-kongcu, janganlah merencanakan untuk melenyapkan diriku."
Memang diam-diam Leng-hong telah membayangkan rencana itu, siapa tahu orang ini jauh lebih lihai. Sekali bicara dapat membuka isi hatinya, diam-diam Leng-hong terkejut dan paksakan tertawa.
"Saudara juga banyak curiga, kita orang sendiri, masakah aku akan menggunakan tangan jahat?"
Orang itu tertawa.
"Benar, memang begitu, kita saling mempunyai kepentingan, jika rahasia kita sampai ketahuan, aku sih tak mengapa, sebaliknya bila mereka tahu kau ini putra Yap To-hu, dikuatirkan orang akan mencincang tubuhmu."
Leng-hong mengucurkan keringat dingin, ujarnya.
"Ya, ya, ya. Siapakah nama saudara? Apakah kau juga murid Jing-sia-pay?"
"Ingatanmu tajam sekali, memang aku murid Jing-siapay. Suhuku bernama Han In-kiau, Sin In-long adalah Supek (paman guru) dan ketua kami. Menurut uraiannya, Siau Ci-wan itu masih Suteku. Hehehe, kita mempunyai kedudukan kembar yang serupa sehingga akan makin mempererat hubungan kita, aku she Bong bernama Ingping."
"Apa hubunganmu dengan Hong-tayjin?"
Tanya Lenghong.
"Kau terburu-buru ingin tahu, tentu kau masih belum percaya padaku, biarlah kuterangkan sebenarnya. Hong Jong-liong adalah atasanku, dialah yang menyuruh aku menyelundup ke dalam Jing-sia-pay, sudah 10-an tahun lamanya. Diriku serupa benar denganmu, apakah masih ada yang kau sangsikan lagi?"
Bong Ing-ping tertawa.
Sebenarnya Bong Ing-ping dengan Leng-hong itu tidak sama, Bong Ing-ping adalah mata-mata yang diselundupkan sedang Leng-hong adalah murid yang dipikat.
Namun soal kecil itu tak dihiraukan Leng-hong, ia tertawa getir.
"Lalu apa yang hendak kau beritahukan padaku sekarang?"
"Pertama, untuk memberi selamat padamu. Dan kedua, sebagai orang sendiri kita harus saling kenal agar bila ada apa-apa dapat berunding!"
Sahut Bong Ing-ping.
"Apa yang perlu diberi selamat?"
Leng-hong terkesiap.
"Sin In-long minta kau masuk laskar pemberontak, bukankah itu suatu keuntungan besar?"
Bong Ing-ping memandang tajam pada Leng-hong, lalu berkata dengan tertawa mengejek.
"Untuk apa kau resahkan hal yang begitu menggirangkan? Oh, apakah kau masih bercabang hati, belum seratus persen mengabdi pada kerajaan Cing?"
Leng-hong kaget dan buru-buru menyahut.
"Jangan salah faham, aku masih hijau, kurang pengalaman. Menghadapi soal begitu, bingunglah aku. Mohon Bongheng suka memberi petunjuk."
Bong Ing-ping tertawa gelak-gelak.
"Kau seorang cerdik, masakah perlu petunjukku lagi? Hehehe, dengan kesempatan itu kau tentu bakal mendirikan jasa besar kepada pemerintah!"
Walaupun sudah tahu, namun Leng-hong masih purapura berlagak pilon, ujarnya.
"Aku seorang tolol, tolong Bong-heng memberi petunjuk."
"Baiklah, memang lampu kalau tak dinyalakan tentu tak terang, kedudukanmu berbeda dengan aku, apa yang tak dapat kulakukan justru bisa kau kerjakan. Seperti kau ketahui, Sin In-long datang kemari itu karena hendak minta bantuan para orang gagah, selain kau, tentu masih banyak lagi orang-orang dari apa yang disebut golongan Hiap-su. Kau murid pewaris Kang-tayhiap, sembilan dari sepuluh tentu kau yang akan diserahi pimpinan pasukan bantuan itu. Sebagai seorang Ciangbun, tentu Sin In-long tak leluasa unjuk diri, maka begitu masuk ke Sujwan, mengingat hubunganmu dengan Siau Ci-wan dan Leng Thiat-kiau, tentulah tak sukar bagimu untuk mengambil alih kekuasaan laskar pemberontak dari Leng Thiat-kiau dan keponakannya itu. Setelah semua kekuasaan kau pegang, hahaha, masakah kau tak dapat menggunakan menurut kehendak hatimu? Kau dapat memberi berita rahasia agar pasukan pejuang itu hancur. Kau pun boleh merencanakan suatu jebakan untuk meringkus semua golongan Kangouw-hiap-su itu!"
Dalam berkata-kata itu Bong Ing-ping menggunakan juga gerakan tangan.
Leng-hong kaget dan bingung, ini bukan karena ia setia kepada tentara pejuang atau sayang pada golongan Kangouw-hiap-su itu, melainkan karena rencana Bong Ing-ping itu berbeda dengan rencananya sendiri.
"Tindakan itu berarti aku condong pada kerajaan, di kemudian hari mana aku dapat menegakkan kaki di kalangan Hiap-gi lagi? Dan jika terang-terangan mengkhianati perjuangan, tentu Suhu akan membunuhku,"
Pikirnya. Rupanya Bong Ing-ping tahu isi hatinya, ia tertawa.
"Kesulitan apa yang kau kandung, silakan mengatakan. Aku tentu dapat membantu memecahkannya!"
Kata Leng-hong.
"Kini rakyat di seluruh negeri sudah goyah hatinya, golongan yang menentang pemerintah Cing bukan hanya Leng Thian-lok saja. Merancang rencana untuk menyaring seluruh kaum Kangouw-hiapsu kukira tak mudah."
"Lalu bagaimana kehendakmu?"
Tanya Bong Ing-ping.
"Aku bersedia membantu sekuatnya pada kerajaan. Tapi biarpun hal itu sudah ketahuan dalam gerakan Sujwan ini, sekalipun dapat memusnahkan laskar Leng Thian-lok, bahaya lain-lainnya masih belum hilang."
Bong Ing-ping mengulurkan jempol tangannya dan berseru memuji.
"Bagus, bagus! Kau sungguh hebat sekali Yap-kongcu. Pandanganmu amat luas. Tepat kalau dikatakan 'ada ayah tentu ada putranya', kau berdua ayah dan anak benar-benar memadai."
Leng-hong terkesiap.
"Apakah ayahku tahu urusanku? Apa katanya?"
"Beliau sudah membicarakan dirimu dengan Hongtayjin, mereka sudah memikirkan kepentinganmu dengan cermat. Rencana mereka pun juga akan menebarkan jaring seluas-luasnya untuk menangkap burung yang jauh, kakap yang besar. Jika kau sudah masuk ke Sujwan, mereka akan memberi umpan untukmu, sekalikali bukan mereka terus menghendaki kau supaya membuka rahasiamu. Misalnya, mereka akan sengaja memberi kesempatan padamu dalam beberapa pertempuran, supaya kau menang dulu dan menduduki beberapa tempat, akhirnya pasukan pejuang dari Leng Thian-lok dan kawanan Kangouw-hiap-su tetap harus musnah semua. Asal kita berdua mau bekerja sama, kita tentu dapat mengacau rencana yang bagus, hanya saja nanti perlu juga kau menderita sedikit kesakitan, tentara pemerintah akan menangkap dan mungkin akan menyiksamu. Hehe, kau seorang cerdik Yap-kongcu, bagaimana harus bertindak dan menyesuaikan keadaan rasanya tak perlu kuajarkan lagi. Pendek kata, kita akan bertindak sedemikian rupa hingga kawanan Kangouwhiap-gi itu tak mencurigai kita!"
Masih Leng-hong mengemukakan bahwa sekalipun ia sudah lama pergi dari rumah, tetapi anak buah ayahnya yang kenal padanya banyak sekali. Bong Ing-ping tertawa.
"Hal itu tak perlu kau kuatirkan, mereka tak nanti membocorkan rahasiamu. Mereka akan berlagak memusuhimu mati-matian, mereka akan meniupkan desas-desus bahwa kau adalah musuh mereka nomor satu. Pendeknya kau nanti akan dianggap sebagai pahlawan tentara pejuang. Nah, puaskah kau sekarang?"
"Kalau begitu barulah lega hatiku,"
Leng-hong menyahut girang. Tiba-tiba Bong Ing-ping berkata dengan nada bengis.
"Ucapanmu dalam pembicaraan tadi, ketika Sin In-long menyuruh kau masuk dalam gerakan Sujwan, dapat menimbulkan kecurigaan orang. Ingat, kau harus menjadi kepala tentara pemberontak. Segala apa harus rebut dulu posisi penting, kata-katamu harus yang garang. Yap-kongcu, sebagai seorang cerdik kau tentu mengerti hal itu!"
Leng-hong tersipu-sipu mengiakan dan menghaturkan terima kasihnya.
"Baik, sekarang kita sudahi pembicaraan tentang tentara pemberontak itu, aku hendak menanyakan padamu tentang seseorang,"
Kata Bong Ing-ping. Atas pertanyaan Leng-hong, Bong Ing-ping mengatakan.
"Ialah tentang diri ketua Thian-li-kau Lim Jing!"
"Lim Jing?"
Seru Leng-hong agak gentar.
"namanya memang kukenal, tapi dimana beradanya, aku tak tahu."
"Benarkah?"
Bong Ing-ping menegas dengan bengis.
"Tapi menurut penyelidikan, Suhumu telah pergi ke Bici untuk menemui orang itu."
"Suhu pergi seorang diri ke Bici, aku tak ikut, hal itu Hong-tayjin tahu jelas. Sampai sekarang Suhu belum kembali, mana aku tahu tempat tinggal Lim Jing?"
Bantah Leng-hong.
"Justru Hong-tayjin yang menyuruh aku menanyakan padamu, dia mengatakan Suhumu itu luas sekali pergaulannya. Walaupun orangnya belum pulang, masakah dia tak menyuruh orang pulang membawa berita? Ketahuilah, Lim Jing merupakan pesakitan utama dari kerajaan, kita takkan melepas setiap kesempatan yang bagaimana kecilnya pun untuk mengetahui tempat persembunyiannya. Hong-tayjin minta supaya kau ingat apa yang kau janjikan padanya, kita semua sudah merupakan semut-semut yang terikat dalam sebuah tali. Siapa pun tak dapat meninggalkan yang lain, baik mati atau hidup, kita harus bersama-sama. Kau harus mengandalkan kita, mengerti?"
Kata Bong Ing-ping. Leng-hong mengiakan dengan nada yang lesu. Bong Ing-ping tertawa, ujarnya.
"Baik, syukurlah kalau sudah mengerti. Kita tentu akan bersungguh hati membantumu, sebaliknya kau pun harus bersungguhsungguh membantu kami. He, apakah benar berita Lim Jing tak kau ketahui sama sekali?"
Pada saat itu tiba-tiba terdengar lengking tertawa dari kejauhan, itulah nada suara Kang Hiau-hu dan Lim To kan. Leng-hong yang pasang telinga segera mendengar To-kan berkata.
"Mana Toasuko, mengapa tak kelihatan?"
"Tak usah mempedulikan dia, kita cari tempat bermain-main. Jika ada dia, kita malah tak dapat mainmain sepuasnya. Hm, lihatlah di sana banyak bunga, nanti kubuatkan rangkaian bunga untukmu, ya,"
Kata Hiau-hu.
"Enci Hu, agaknya kau jemu padanya?"
Tanya To-kan.
"Bukannya jemu, melainkan tak cocok,"
Sahut si dara. la tertawa, ujarnya pula.
"Siau Lim, sebaliknya kau kelihatan kagum padanya dan ingin bergaul rapat dengan dia? Kalau begitu silakan kau mencarinya, aku tak menghalangi."
"Dia adalah Ciangbun Suheng, kita harus menghormatinya, tetapi karena enci Hu tak menyukai bermain dengan dia, maka aku pun tak mencarinya juga,"
Sahut To-kan.
Takut kalau ketahuan dirinya bersekongkol dengan Bong Ing-ping, maka Leng-hong pun bersembunyi di balik pohon sambil menahan napas.
Setelah mereka pergi jauh barulah ia berani keluar dan menghela napas longgar.
"O, kiranya Sumoay dan Sutemu. Hm, apakah Sutemu itu she Lim?"
Tanya Bong Ing-ping.
Pertanyaan itu membuat hati Leng-hong guncang, timbul pertentangan dalam hatinya.
Kala itu tengah permulaan musim semi, di gunung hawanya masih agak dingin, namun dahinya mengucurkan berbutir-butir keringat.
"Yap-kongcu, kenapa kau?"
Mata Bong Ing-ping yang tajam segera mengetahui keadaan Leng-hong. Dengan suara tergagap, Leng-hong menyahut.
"Apakah ... kau tanyakan tentang Lim Jing ketua Thian-likau? Ha, ini... ini.."
Kata Bong Ing-ping.
"Bagaimana? Mengapa kau begini plintat-plintut? Lekas katakan tentang Lim Jing itu!"
Dalam pertentangan batin itu, semula Leng-hong tak sampai hati untuk mencelakai seorang anak kecil, namun akhirnya ia menimbang.
"Yang bernyali kecil bukan seorang ksatria, yang tidak kejam bukan seorang lelaki. Jika anak itu dibiarkan hidup, tentu merupakan bahaya bagiku. Asal-usulnya lebih gemilang dari aku, apalagi menjadi kesayangan Suhu dan Subo. Jika sudah dewasa, mungkin kedudukanku sebagai murid pewaris tentu goyah. Bukankah Liau-in Hwesio juga dibunuh oleh Sute dan Sumoaynya? Siang-siang aku harus membuat rencana, jangan sampai senasib dengan Liau-in!"
Ia mengertak gigi, keganasannya merangsang dan akhirnya membuka rahasia.
"Tentang diri Lim Jing memang aku sungguh tak tahu, tetapi aku tahu dimana putranya. Kalian menghendaki putranya atau tidak?"
Girang Bong Ing-ping di luar batas, buru-buru ia berkata.
"Mengapa tidak? Tak dapat menemukan yang tua, yang muda pun boleh juga. Lekas katakan!"
Leng-hong menunjukkan tangannya. Ketika Bong Ingping mendongak ke muka, samar-samar ia masih melihat bayangan Kang Hiau-hu dan Lim To-kan. Dan saat itu Leng-hong kedengaran berbisik-bisik.
"Putra Lim Jing di depan mata itu. Dia adalah Suteku sendiri Lim To-kan!"
Bong Ing-ping girang-girang kaget, dengan agak kurang percaya ia berkata.
"Ini sungguh di luar dugaan, tetapi bukankah Suhumu belum pulang?"
Memang dia tadi mendengar juga Kang Hian-hu memanggil Sutenya dengan sebutan 'Siau Lim' (Lim kecil).
Tapi dia mengira itu hanya secara kebetulan saja, belum tentu putra Lim Jing.
Dugaan itu didasarkan bahwa Kang Hay-thian belum pulang, kalau Kang Haythian berhasil menolong anak itu, tentulah akan diajak pulang bersama-sama.
Tadi ia hanya sambil lalu saja menanyakan anak itu pada Leng-hong, siapa tahu hal itu telah menimbulkan rangsang pembunuhan dalam hati Leng-hong.
"Suhu menitipkan pada orang Kay-pang untuk mengantar pulang anak itu,"
Kata Leng-hong yang lalu menceritakan tentang kedatangan Lim To-kan.
"Tapi apakah kalian hendak merencanakan menangkapnya di sini? Di sini adalah daerah Bin-san-pay, Suboku Ciangbun Bin-san-pay. Jika Suteku kalian tangkap, Subo tentu tak terima, dapatkah kau lolos?"
"Ini urusanku, tak usah kau hiraukan!"
Sahut Bong Ing-ping.
"Tetapi aku ... aku adakah Suhengnya. Subo telah menyerahkan anak itu dalam lindunganku,"
Bantah Lenghong.
"Yap-kongcu, jangan kuatir. Sudah tentu kita akan mengerjakan dengan bijaksana, tak nanti merembet padamu. Sudahlah, sekarang aku hendak mengatur rencana."
"Setan cilik itu lincah sekali dan Sumoayku pun tidak lemah,"
Leng-hong memberi peringatan.
"Aku tahu, jangan kuatir. Segera kau kembali saja pada Subomu sana dan kau bebas dari segalanya,"
Kata Bong Ing-ping.
"Ya, kau harus menghitung waktu yang tepat. Begitu aku sudah masuk ke dalam biara Hian-li-koan, barulah kau boleh turun tangan,"
Kata Leng-hong. Bong Ing-ping menyeringai.
"Masakah perlu diberi petunjuk lagi? Lekas pergi!"
Rupanya ia jengkel juga terhadap Leng-hong yang banyak tingkah hanya karena memikirkan keuntungan diri sendiri saja. Leng-hong bergegas pergi, pikirnya.
"Benar, jika aku berada di samping Subo, mereka hendak berbuat apa saja Subo tentu takkan mencurigai aku."
Saat itu Hiau-hu dan To-kan tengah mencari bunga di lamping gunung, rupanya To-kan gembira sekali, tawanya berkumandang sampai jauh.
Sementara Kok Tiong-lian masih beromong-omong dengan suami istri Ciong Tian.
Melihat Leng-hong datang, bertanyalah Kok Tiong-lian.
"Sumoay dan To-kan tadi bermain-main keluar, apa kau melihatnya?"
"Tidak,"
Jawab Leng-hong.
"Ai, kedua anak itu memang masih senang main-main. Bibi Ciong mencarinya tapi anak itu sudah ngacir pergi,"
Kata Kok Tiong-lian. Li Sim-bwe atau nyonya Ciong Tian hanya tertawa.
"Memang anak-anak suka ramai, suruh mereka menemani orang tua, tentu tak senang. Biarkan anak anak itu bermain sendiri, kita orang tua tak usah menghiraukannya. Eh, waktu dalam perjalanan, kedua anakku itu telah bersepakat mau saling menguji ilmu pedang dengan adik keluarga Kang, serta minta diantar pesiar ke sekeliling Bin-san, kali ini keinginan mereka tentu terkabul."
"Anak Hu dan Sutenya itu tentu hanya main-main di dekat sini saja. Tentang kepandaiannya sebenarnya ia masih cetek, rasanya ia masih dapat menerima pelajaran dari paman dan bibinya. 'Menguji kepandaian' rasanya kelewat berat baginya,"
Kata Kok Tiong-lian.
"Ah, kau terlalu sungkan. Siapakah yang tak tahu kepandaian Kang-tayhiap itu nomor satu di dunia persilatan? Di bawah pimpinan jenderal pandai mana ada prajurit yang lemah?"
Bantah Li Sim-bwe.
"Itu kan orang luar yang terlalu menyanjung padanya, di hadapanmu ia tetap seorang Wanpwe. Ilmu silat Thian-san-pay termasyhur tinggi. Hong-tit, dalam kesempatan sekarang ini kau pun boleh saling mengenal rapat dengan paman Ciong, minta ia suka memberi petunjuk."
Buru-buru Leng-hong mengiakan.
Sebenarnya yang dimaksud dengan paman dan bibi oleh Kok Tiong-lian itu ialah putra-putri Ciong Tian, yakni Ciong Leng dan Ciong Siu.
Memang kalau menurut umur mereka itu hanya terpaut 3-4 tahun lebih tua dari Hiauhu, tapi kalau menurut angkatan silsilah, mereka itu lebih tinggi setingkat.
Apa yang diucapkan Kok Tiong-lian dan Li Sim-bwe itu adalah biasa, namun dalam penerimaan Leng-hong amat menggelisahkan hatinya.
Ciong Tian adalah murid yang mendapat warisan seluruh kepandaian Teng Hiau-Ian, di dalam cabang Thian-san-pay dia termasuk tokoh nomor dua, sepasang anaknya itu sudah tentu mendapat gemblengan yang mendalam.
Jika kedua anak itu hendak mencari Hiau-hu dan To-kan, tentulah dengan mudah dapat diketemukan karena si dara dan Sutenya itu hanya pergi tak jauh dari situ.
"Ah, kalau mereka sudah ketemu Hiau-hu dan To-kan, berarti tambah dua tenaga yang lihai. Entah siapakah yang ditugaskan oleh Bong Ing-ping itu? Belum tentu dia menang melawan kedua saudara Ciong, jika sampai gagal dan kena ditanggap serta mengaku, celakalah kita semua,"
Diam-diam Leng-hong membayangkan kekuatiran. Ciong Tian tertawa.
"Menurut peraturan Bulim, jika dari aliran tak sama, harus sejajar tingkatannya dan tak usah mengemukakan urutan angkatannya. Berapa usia Yap-siauhiap sekarang?"
Leng-hong tengah melamun, ia mengkira Ciong Tian tengah bercakap-cakap dengan Subonya, maka ia tak begitu memperhatikan. Adalah Kok Tiong-lian yang langsung menegurnya.
"Hong-tit. Cionglocianpwe menanyakan umurmu!"
Leng-hong gelagapan, sahutnya.
"Tahun ini Wanpwe berumur 23 tahun."
"Kau lebih tua tiga tahun dari anakku, Leng-ji. Jangan menurut perintah Subomu memanggil paman dan bibi. Anggaplah kalian itu sebagai kakak beradik saja,"
Kata Ciong Tian.
"Mana Wanpwe berani?"
Ujar Leng-hong. Tiba-tiba Ciong Tian menepuk bahunya perlahan.
"Duduklah, tak usah terlalu sungkan."
Seketika itu Leng-hong merasakan bahunya tertindih oleh suatu tekanan tenaga yang lunak, tapi anehnya sekujur badannya seperti tercengkeram oleh jaring tenaga keras.
Leng-hong terkejut dan buru-buru hendak mengerahkan tenaga penolak, tapi Ciong Tian tertawa gelak-gelak dan melepaskan tangannya.
Leng-hong terduduk di luar kemauannya.
"Kau sudah mendapat pelajaran ilmu Lwe-kang-simhoat dari Suhumu, sayang belum dapat kau gunakan menurut kehendak hatimu, sudah berapa lamakah kau menjadi murid Suhumu?"
Tanya Ciong Tian. Kini Leng-hong baru tahu kalau dirinya sedang dicoba. Kok Tiong-lian menerangkan bahwa Leng-hong baru setengah tahun menjadi murid suaminya.
"Baru setengah tahun? Sungguh suatu bakat yang jarang terdapat!"
Ciong Tian terkejut.
"Ai, kau hanya mengiri murid orang lain saja, tetapi memang aku sendiri juga mempunyai perasaan begitu. Berbakat bagus, lagi pula halus pekertinya. Pertama berjumpa aku sudah mendapat kesan kalau berhadapan dengan seorang murid yang patuh, tidak seperti kedua anakku yang kasar itu,"
Kata Li Sim-bwe dengan tertawa. Girang juga Kok Tiong-lian mendengar Leng-hong dipuji, ia tertawa.
"Ah, kalian kelewat menyanjung. Hong-tit, tak mudah mendapat pujian dari Cionglodanpwe, mengapa kau tak lekas meminta pelajaran?"
Lim Sim-bwe ikut tertawa.
"Benar, jangan hanya memuji saja, kau juga harus memberinya sesuatu sebagai tanda mata."
"Murid Kang-tayhiap mana menginginkan lain ilmu kepandaian lagi? Tapi karena kalian mengatakan untuk tanda mata perjumpaan, aku pun sungkan juga. Ilmu silat terang dia tak memerlukan lagi, sekarang aku hendak membuka jalan darah Jim dan Tok, agar ia selekasnya dapat menggunakan Lwekang tinggi,"
Akhirnya jago Thian-san-pay itu mengalah.
Lwekang Kang Hay-thian diperoleh dari Kim Si-ih, tentang kesempurnaannya, tak di bawah Lwekang kaum Thian-san-pay, tetapi dalam hal kemurnian dan ketepatannya memang Thian-san-pay lebih unggul setingkat.
Dengan tenaga luar membuka jalan darah Jim dan Tok, memang menjadi keistimewaan kaum Thiansan-pay.
Kok Tiong-lian kejut-kejut girang, ia tak nyana Ciong Tian suka melakukan hal itu, buru-buru ia berkata.
"Sungguh tak ternilai tanda mata itu. Hong-tit, mengapa tak lekas menghaturkan terima kasih?"
Ciong Tian bergelak tawa dan mengangkat bangun Leng-hong, ia mengatakan bahwa hal itu sebenarnya tak berarti apa-apa.
Setelah itu mulailah ia menggerakkan jarinya menotok 13 jalan darah di tubuh Leng-hong.
Leng-hong merasakan tubuhnya seperti tersalur oleh semacam aliran hawa yang hangat, waktu aliran itu menjadi makin panas, Leng-hong mengerang kesakitan juga.
Ciong Tian memberinya dua butir pil untuk ditelannya, seketika Leng-hong merasakan Pik-Iing-tan buatan Thian-san-pay yang istimewa.
Seketika Leng hong merasa tubuhnya dingin lagi dan sakitnya berkurang, kemudian Ciong Tian suruh ia coba-coba menggunakan Lwekangnya.
Benar juga, Leng-hong dapat menyalurkan Lwekangnya kemana saja yang dikehendakinya.
Itulah tanda-tanda dari tercapainya latihan yang terakhir.
Mimpi pun tidak, kalau hari itu secara tak terduga ia bakal mendapat rezeki sebesar itu.
Apa yang lain orang harus berlatih keras selama lima tahun, tanpa bersusah payah ia sudah berhasil mendapatkannya.
Kiranya kedatangan suami istri Ciong Tian ke Bin-san itu selain karena menunjukkan eratnya hubungan antara kedua cabang itu, juga mereka bermaksud untuk mencari menantu guna kedua putra-putrinya itu.
Leng-hong adalah murid pewaris Kang Hay-thian, mereka tertarik juga dengan lagak lagu Leng-hong yang cakap dan sopan itu.
Kedua suami istri itu segera jatuh hati, itulah sebabnya maka Ciong Tian begitu murah hati memberi 'tanda mata' yang sedemikian hebat nilainya.
Sudah tentu mereka tak tahu kalau Kok Tiong-lian juga mengandung maksud untuk mengambil mantu Lenghong.
Dan Kok Tiong-lian pun tak menduga kalau kedua suami istri itu mempunyai maksud lebih dalam lagi, ia mengira hanya sebagai tanda eratnya hubungan kedua pihak saja.
"Hong-tit, panggillah Sumoay dan Sutemu kemari, biar mereka juga turut bergirang,"
Kata Kok Tiong-lian.
Rupanya Li Sim-bwe juga tak betah duduk terus menerus, ia menyatakan hendak ikut Leng-hong keluar mencari hawa.
Kok Tiong-lian suruh Leng-hong menemani kedua suami istri itu keluar, ia sendiri terpaksa harus berada di dalam ruang tamu itu karena kuatir masih ada tetamu yang datang lagi.
Justru hal itulah yang dikehendaki Li Sim-bwe, ujarnya.
"Baiklah, mumpung hari belum gelap, biar anakanak itu saling menguji kepandaian nanti."
Mendengar itu, kembali hati Yap Leng-hong gelisah, pikirnya.
"Mengapa mereka belum turun tangan? Sekali kedua suami istri Gong keluar, urusan tentu akan menjadi runyam!"
Namun ia tetap menguasai keguncangan hatinya dan dengan tertawa-tawa ia mengiakan perintah Subonya itu.
"Ya, marilah kita keluar!"
Baru Li Sim-bwe berkata begitu, tiba-tiba di luar terdengar hiruk-pikuk orang berteriak-teriak.
"Lekas datang, ada mata-mata, ada mata-mata!"
"Di sana, lekas kejar, lekas kejar!"
"Celaka, dia menculik seorang anak!"
"Anak siapa?"
"Sudahlah jangan tanya, yang penting tangkap matamata itu dulu!"
"Ya, kejar, kejar!"
Kejut Kok Tiong-lian bukan kepalang.
"Celaka, mungkin Kan-ji yang diculik!"
Serunya dengan gemetar, terus ia berlari keluar.
Suami istri Ciong Tian mempercepat larinya hingga Leng-hong tak dapat menyusul, la ketinggalan di belakang, kepalanya mandi keringat.
Dia girang-girang kaget, hatinya bergolak keras.
Meskipun To-kan diculik, tapi dia masih belum longgar perasaannya, batinnya seolah-olah meneriaki supaya penculik itu lekas lari, jangan sampai tertangkap.
Memang yang diculik adalah Lim To-kan, tetapi yang menculik bukan Bong Ing-ping.
Orang she Bong itu tidak berdusta, di atas gunung Bin-san, memang banyak sekali terdapat orang-orangnya, di antaranya terdapat beberapa jago-jago ternama, tetapi yang menculik Tokan itu di luar dugaan, seorang bocah yang umurnya hanya 3-4 tahun lebih tua; dari To-kan.
Pada saat To-kan sedang memetik bunga untuk diberikan pada Hiau-hu, sekonyong-konyong seorang anak muda datang menghampiri.
To-kan segera mengenalnya sebagai Nyo Hoan, anak muda yang pernah menolong Suhunya ketika di dalam gua tempo hari.
Waktu Kang Hay-thian hampir ditangkap kawanan anjing alap-alap adalah Nyo Hoan itu yang menolongnya.
Sebenarnya To-kan tak begitu suka kepada Nyo Hoan, tapi karena berjumpa di situ, terpaksa ia menegurnya dengan girang.
"Nyo-toako, kau juga datang? Mana ayahmu?"
Nyo Hoan juga agak terkejut, pikirnya.
"Kiranya aku disuruh menangkap bocah ini. Ah, jangan sampai dia sempat banyak bicara lagi."
"Siapa dia?"
Tanya Hiau-hu yang tak begitu memperhatikan Nyo Hoan yang sebaya dengannya.
"Ya, boleh dikata penolongku. Aku dan Suhu bertemu dengannya di Bici,"
Kata To-kan.-Dalam pada itu dengan tertawa-tawa Nyo Hoan sudah tiba di hadapan mereka.
Nyo Hoan membawa sebuah karung, dia berpakaian mewah sekali, tetapi membawa sebuah karung yang biasanya dibuat minta-minta oleh kaum pengemis.
Sungguh aneh sekali, maka bertanyalah To-kan.
"Nyotoako, mengapa kau membawa karung?"
Nyo Hoan tertawa.
"Kau memetik kembang, aku juga hendak menangkap burung."
"Menangkap burung mengapa perlu pakai karung yang begitu besar?"
Tegur Hiau-hu yang merasa curiga.
"Nah, di sini ada seekor burung besar!"
Tiba-tiba Nyo Hoan membuka mulut karung dan secepat kilat menyelubungkan ke kepala To-kan.
Sebenarnya To-kan seorang bocah tangkas, tetapi karena ia tak menduga sama sekali kalau Nyo Hoan akan bertindak begitu terhadap dirinya, kenalah dia dikarungi kepalanya.
Dengan sebarnya Nyo Hoan segera menutup karung dan memanggulnya, terus dibawa lari.
Karung itu terbuat dari sejenis rami hutan keluaran gunung Ki-liansan yang kuat sekali dan tahan bacokan senjata tajam.
Karena dibungkus erat sekali, To-kan tak dapat berkutik, bahkan hampir tak dapat bernapas.
"Hai, apa-apaan kau?"
Bentak Hiau-hu.
"Hihihi, hanya bersenda-gurau saja!"
Jawab Nyo Hoan sambil tertawa. Hiau-hu mencabut pedangnya dan mengejar.
"Lepaskan atau kubunuh kau! Bukan caranya bergurau semacam itu!"
Karena memanggul beban, Nyo Hoan kalah cepat larinya dengan si dara, terpaksa ia sosongkan karung ke pedang si dara.
"Ayo, lekas bunuhlah!"
Sudah tentu Hiau-hu buru-buru menarik pedangnya. Dalam pada itu Nyo Hoan segera mengayunkan kaki mendepak jalan darah di lutut si dara.
"Tangkap ..."
Belum sampai Hiau-hu dapat mengatakan "mata-mata", jalan darahnya terdepak dan tegaklah ia seperti patung yang tak dapat bicara lagi. Nyo Hoan menepuk-nepuk karung dan tertawa.
"Sute cilik, kau masih nakal tidak? Kini kau takkan dapat lari lagi!"
Sebenarnya di sekeliling situ terdapat beberapa murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay, tapi karena mereka masih belum jelas betul kalau Hiau-hu sudah tertotok jalan darahnya, apalagi Nyo Hoan bertingkah seperti seorang anak-anak, mereka mengira Nyo Hoan tengah bergurau dengan Sutenya, maka tiada seorang pun dari mereka yang mengira telah terjadi suatu peristiwa hebat.
Untung saat itu Ciong Leng dan Ciong Siu tengah mencari Hiau-hu.
Mendengar suara si dara tadi, lekas mereka berlari menghampiri.
Demi melihat keadaan Hiau-hu, tahulah Ciong Leng kalau Hiau-hu tertotok jalan darahnya, tetapi ilmu totok keluarga Nyo itu lain dari yang lain, Ciong Leng tak mampu membukanya.
Samar-samar tadi Ciong Leng mendengar Kang Hiauhu hendak mengatakan "tangkap mata-mata", maka buru-buru ia bertanya si dara.
"Apakah budak itu seorang mata-mata?"
Walaupun tidak dapat bicara, tetapi Hiau-hu masih dapat menggerakkan kepalanya, ia mengangguk perlahan. Ciong Leng amat terkejut, cepat ia serahkan Hiau-hu pada Ciong Siu, ujarnya.
"A Siu, rawatlah adik keluarga Kang ini, aku hendak membekuk penjahat."
Ia lihat Nyo Hoan sudah mendaki puncak gunung dan menyusup ke dalam semak-semak rumput.
Untung karena memanggul karung besar, jejaknya menimbulkan bekas penyiakan rumput, maka meskipun sudah berada di lereng gunung, samar-samar masih kelihatan jejaknya.
Sambil mengejar, Ciong Leng berteriak-teriak.
"Tangkap mata-mata!"
Suara Ciong Leng bergema di seluruh pelosok dan mendapat sambutan dari sekalian orang, Ciong-Leng menggunakan ilmu Pat-poh-kam-san untuk mengejar ke puncak gunung, akhirnya berhasillah ia menyandaknya.
Nyo Hoan mengangkat karung dan memutar-mutarnya seperti senjata sambil tertawa mengejek.
"Huh, jika kau tak menginginkan jiwa budak ini, silakan menahannya!"
Tetapi Ciong Leng bukan Hiau-hu, kepandaiannya jauh melebihi dara itu. Apa yang dapat digunakan Nyo Hoan terhadap Hiau-hu, tak mungkin digunakan pada Ciong Leng.
"Hahaha, pedangku bermata, hanya mau melukai bangsa mata-mata saja. Coba, lihatlah!"
Ciong Leng tertawa gelak-gelak seraya menabas.
Benar juga pedangnya seperti bermata, tidak mengenai karung tetapi menuju ke tulang bahu Nyo Hoan.
Nyo Hoan mendak ke bawah dan menggunakan karung sebagai perisai, dia dapat menghindar tiga kali serangan pedang Ciong Leng.
Diam-diam Ciong Leng memuji kepandaian lawan yang meskipun memanggul karung berat, tapi gerakan kakinya masih tetap lincah.
"Masih begini muda sudah sedemikian ganas, kali ini tak dapat kuampuni jiwamu!"
Bentak Ciong Leng.
Ia melancarkan jurus ilmu pedang Thian-san-pay untuk menyusup setiap lubang pertahanan lawan.
Keistimewaan ilmu pedang Thian-san-pay itu meskipun sederas hujan mencurah, tetapi sama sekali tak menyentuh karung.
Nyo Hoan benar-benar kelabakan.
Pada saat Nyo Hoan terancam bahaya, tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring dari kejauhan, makin lama makin dekat.
Ciong Leng tertawa mengejek.
"Bangsat kecil, lepaskan orang! Kalau tidak, sebelum koncomu tiba, jiwamu tentu sudah kucabut!"
Ketika Ciong Leng hendak melancarkan serangan maut, sekonyong-konyong Nyo Hoan berseru.
"Kau meminta orang? Inilah!"
Karung tiba-tiba dilemparkan, tetapi bukan ke arah Ciong Leng, melainkan ke bawah jurang!
Kejut Ciong Leng bukan kepalang, tanpa ayal ia segera memburu.
Sekali melompat ia tiba di tepi karang dan dapat menggapai karung itu.
"Sekarang kau pun harus menerima pedangku!"
Tibatiba Nyo Hoan berteriak dan menyerang.
Kedudukan sekarang berubah, yang menyerang ganti diserang.
Sudah tentu Ciong Leng tak dapat menggunakan karung untuk perisai, bahkan kebalikannya ia harus hati-hati jangan sampai tertusuk pedang Nyo Hoan.
Selang beberapa jurus, keadaan Ciong Leng bertambah payah, hampir saja ia kena dijatuhkan ke bawah karang.
Sekonyong-konyong seorang lelaki tinggi kurus melayang tiba, hanya dalam sekali gebrak, ia sudah berhasil merebut karung dari tangan Ciong Leng.
Setelah bebannya hilang, Ciong Leng segera balas menyerang dengan sebuah hantaman.
Orang kurus itu melemparkan karung ke belakang, ia miringkan tubuh sambil melangkah maju untuk menyongsongkan tinjunya.
Sebenarnya Ciong Leng menggunakan Si-im-ciang-lik yang mengandung Lwekang keras dan lunak, sebuah Lwekang yang dahsyat.
Jangankan manusia, batu saja tentu akan terpukul hancur, tetapi betapa kejutnya sukar dilukis ketika saling berbentur, ia dapatkan pukulannya seperti terjerumus ke dalam kehampaan hingga hilanglah keseimbangan badannya dan terhuyung-huyung.
"Turun!"
Tiba-tiba orang kurus itu membentak keras seraya melontarkan pukulan dahsyat.
Karena kakinya berdiri di tepi karang, Ciong Leng tak dapat mempertahankan kuda-kudanya dan bagai layang-layang putus tali, ia melayang ke bawah jurang.
Si orang kurus itu bukan lain adalah Nyo Ceng, ayah Nyo Hoan.
Memang diam-diam Nyo Ceng telah menerima 'bingkisan' pemerintah Cing untuk menghamba pada kerajaan.
Setelah mendapat berita bahwa Kang Haythian tak dapat datang di Bin-san, barulah ia berani datang.
Bersama Bong Tng-pik dan kawan-kawan, ia merencanakan untuk mengacau rapat di Bin-san, tetapi penjagaan di Bin-san rapat sekali, tidak sembarang orang boleh masuk.
Terpaksa Nyo Ceng hanya dapat menyuruh putranya ikut pada Bong Ing-ping untuk bergerak di sekitar biara Hian-li-koan.
Sedang ia sendiri bersembunyi di puncak Hok-gu-san dan merencanakan siasat.
Putranya baru berumur 17-18 tahun, pantas menjadi anak buah Bong Ing-ping, hal itu memang mudah karena tak begitu menarik kecurigaan orang.
Ternyata sekali gerak, dapatlah Nyo Hoan membuat 'jasa' besar, dapat menculik To-kan.
Dan larinya Nyo Hoan menuju ke puncak gunung itu juga atas petunjuk ayahnya.
Nyo Ceng juga seorang ketua suatu aliran persilatan.
Pada waktu bertanding dengan Kang Hay-thian di puncak Thian-pit-nia, dapat juga ia bertahan sampai berpuluhpuluh jurus.
Kepandaiannya lebih tinggi dari Ciong Leng, tetapi anak muda itu juga tak mudah ditelan.
Jatuhnya ke bawah jurang disebabkan karena ia berdiri di tepi karang, berhadapan dengan tokoh semacam Nyo Ceng sudah tentu ia harus menderita kekalahan.
Nyo Ceng mengantar melayangnya tubuh Ciong Leng dengan tertawa gelak-gelak.
Pada saat-saat tubuh pemuda itu akan terhempas hancur, sekonyong-konyong anak muda itu menggeliat seperti gaya seekor kera.
Hal itu untuk mengurangi daya jatuhnya ke bawah dan secara kebetulan ia dapat meraih sebatang dahan pohon Siong.
"Eh, tak nyana bangsat cilik itu lihai sekali. Kalau sekarang tak melenyapkannya, kelak tentu merupakan lawan berat,"
Dalam kejutnya Nyo Ceng menimang dalam hati. Ia segera pula hendak mengangkat sebuah batu besar untuk ditimpukkan, tapi sekonyong-konyong terdengar suara seorang meneriakkan aba-aba keagamaan.
"Omitohud! Di atas gunung Bin-san mana boleh melakukan pembunuhan semena-mena?"
Menyusul terdengar terdengar bentakan keras.
"Bangsat bernyali besar! Hendak lari kemana kau?"
Kiranya yang berseru itu adalah Tay-hiong Siansu, kepala bagian Lo-han-tong dari Siau-lim-si dan tokoh terkemuka dari Bin-san-pay yakni Kam Jing-liong.
Kejut Nyo Ceng bukan kepalang, ia tahu kedua orang itu adalah tokoh-tokoh persilatan kelas satu.
Terpaksa ia batalkan niatnya mencelakai Ciong Leng dan cepat berpesan pada putranya supaya lolos.
"Bawalah budak kecil itu lebih dulu. Jangan takut, aku yang menahan musuh. Asal kau dapat melintasi gunung ini, tentulah sudah ada orang yang menyambutmu!"
"Tentu, ayah. Aku tak nanti takut. Kali ini kita berdua ayah dan anak telah dapat menggegerkan merekamereka yang membanggakan diri sebagai tokoh ternama. Besok pagi begitu paman datang, tentu akan menghajar pula mereka!"
Sahut Nyo Hoan.
Memang karena asuhan ayahnya ia menjadi pemuda sombong.
Gelap akan kebenaran, tahunya hanya mengunjuk kekerasan saja.
Baru saja Nyo Hoan pergi, Tay-hiong Siansu dan Kam Jing-liong pun sudah mengejar tiba.
"Sicu, tinggalkan orang itu!"
Teriak Tay-hiong Siansu sambil menggentakkan kebut untaian mutiaranya.
Seratus delapan butir mutiara berhamburan ke arah Nyo Ceng.
Itulah yang disebut Hud-cu-hang-mo atau mutiara Buddha menundukkan iblis, merupakan salah satu dari tiga macam ilmu sakti Siau-lim-si.
Thong-sian Siangjin, Hongtiang (ketua) Siau-lim-si yang dulu, pernah menundukkan Beng Sin-thong dengan ilmu itu.
Tampaknya ke-108 butir mutiara itu seperti curah hujan, tetapi sebenarnya semua mengarah pada jalan darah orang.
"Eh, butir beras masakah dipertunjukkan di sini?"
Nyo Ceng tertawa mengejek seraya memutar tongkatnya.
"Tring,. tring, tring", berdering-dering butir mutiara itu jatuh terhantam tongkat. Kembali Nyo Ceng tertawa terbahak-bahak, di luar dugaan ada beberapa butir mutiara yang hanya terpukul pinggirnya dan masih tetap melayang maju.
"Aduh! tawa Nyo Ceng berganti dengan jerit kesakitan. Tiga buah jalan darahnya kena termakan mutiara, ia mundur sampai 7-8 langkah, namun kakinya tetap tak dapat berdiri tegak.
"Huh, mulutmu saja besar tapi ternyata tak becus. Coba apakah sekarang kau masih berani tertawa mengejek lagi?"
Demikian Kam Jing-liong tertawa menghina seraya maju mencengkeram bahu orang. Dugaan Kam Jing-liong bahwa Nyo Ceng terluka dan tentu mudah diringkus ternyata salah. Tiba-tiba Nyo Ceng membentaknya.
"Lihatlah kepandaianku ini!"
Sekonyong-konyong Nyo Ceng membalikkan tangan dan menyambar lengan Kam Jingliong, terus dipelintir hingga tulangnya patah.
Memang tadi Nyo Ceng hanya berpura-pura kesakitan, sehebat-hebatnya hamburan mutiara Tay-hiong Siansu, namun belum memadai kelihaian Thong-sian Siangjin pada masa itu, dan kepandaian Nyo Ceng pun lebih unggul dari Beng Sin-thong waktu itu.
Pada hakikatnya kepandaian Nyo Ceng masih lebih unggul setingkat dari Tay-hiong Siansu, hanya karena dikerubut dua orang, barulah Nyo Ceng pura-pura kesakitan tadi, padahal diam-diam ia sudah menutup jalan darahnya.
Memang Kam Jing-liong terlalu terburu nafsu, maksudnya hendak menangkap Nyo Ceng hidup-hidup, oleh karena itu ia tak mau terlalu mencengkeram dengan keras, akibatnya ia harus menderita patah tulang.
Kam Jing-liong adalah keturunan Kam Hong-ti, pendekar Kanglam yang ternama.
Ilmu warisan keluarga Kam, yakni ilmu silat Peh-poh-sin-kun bukan olah-olah hebatnya.
Dengan menahan kesakitan, ia masih dapat melontarkan sebuah hantaman dahsyat, tetapi Nyo Ceng cerdik sekali, setelah berhasil mematahkan tulang orang, ia segera menghindar ke samping.
"Krek", dahan sebatang pohon Siong yang terpisah jarak 10-an langkah patah terkena tenaga pukulan Peh-poh-sin-kun Kam Jingliong! Dalam pada itu sebat sekali Nyo Ceng sudah menyelinap ke belakang Kam Jing-liong.
"Kau harus beristirahat, rebahlah!"
Serunya seraya menotokkan tongkat ke punggung Kam Jing-liong. Melihat sahabatnya terluka, marahlah Tay-hiong Siansu, segera ia melepas jubahnya dan menyerang.
"Bangsat, setelah melukai dua orang kau mau merat dari Bin-san?"
Di tangan Tay-hiong Siansu, jubah yang lemas itu berubah menjadi sebuah senjata yang sakti, atas kepala Nyo Ceng seperti terkurung oleh selimut merah.
Batubatu dan pasir di sekeliling jarak beberapa tombak berhamburan.
"Paderi besar, hebat sekali ilmu silat Siau-lim-si, tapi jangan harap dapat menahan aku di sini!"
Seru Nyo Ceng.
Sekali tongkatnya berputar mendesing-desing, maka terbukalah sebuah lubang pada selimut merah itu.
Berulang kali Tay-hiong menyerang, tapi setiap kali dapat dihalau oleh tongkat Nyo Ceng, namun tongkat Nyo Ceng pun tak berhasil menyerang lawan.
Pada saat pertempuran berlangsung seru, tiba-tiba dari pesanggrahan muncul dua sosok bayangan, Ciong Tian dan Kok Tiong-lian memburu datang.
Adalah karena harus menolong putrinya, maka Kok Tiong-lian agak terlambat sedikit datangnya.
"Kan-ji, Kan-ji!"
Teriak nyonya gagah itu. Setelah teriakannya tak terbalas, marahlah Kok Tiong-lian, bentaknya.
"Bangsat, kau apakan anak muridku itu? Selembar rambutnya kau ganggu, tentu kucabut nyawamu!"
Kok Tiong-lian tak tahu bahwa To-kan sudah di bawah merat Nyo Hoan.
Untuk menggertak jangan sampai orang berani mencelakai anak itu, maka sebelum tiba, Kok Tiong-lian sudah melantangkan teriakannya.
Nyo Ceng terperanjat, kalau wanita gagah itu sampai datang, tentu celakalah dia.
Habis menyingkirkan jubah Tay-hiong, cepat ia putar tubuh terus melarikan diri.
"Hai, mau lari kemana kau?"
Seru Tay-hiong seraya mengejarnya. Ternyata Nyo Ceng sudah merancang cara-cara meloloskan diri, tiba-tiba ia ayunkan tangannya.
"Sekarang kau pun harus menerima balasan senjata rahasia ini!"
Kontan sebuah benda bundar warna merah gelap meluncur dan sekonyong-konyong meledak, berhamburan di atas kepala Tay-hiong.
"Senjata ganas! Tapi jangan mimpi dapat mencelakai aku!"
Tay-hiong berteriak gusar seraya mengebutkan jubahnya.
Asap ledakan itu menjadi buyar.
Tapi pada saat itu Nyo Ceng kembali menimpukkan sebuah pelor beracun, kali ini ke arah Kam Jing-liong yang roboh di tanah.
Sudah tentu Tay-hiong Siansu kelabakan dan cepat melompat menolongnya.
Adalah pada saat itu terdengar Nyo Ceng tertawa gelak-gelak.
"Paderi besar, baik-baiklah kau menolong kawanmu, maaf, aku tak dapat menemanimu lebih lama!"
Bersamaan dengan selesainya perkataannya itu, ia sudah berlari pada jarak yang jauh.
Tay-hiong Siansu segera memadamkan api, keadaan Kam Jing-liong cukup mengenaskan.
Napasnya lemah, untung masih hidup, kening dan kepalanya terbakar melepuh.
Setelah membuka jalan darahnya, Tay-hiong memberinya obat.
Tak lama Kok Tiong-lian dan Ciong Tian tiba, melihat Kam Jing-liong terbakar begitu macam.
Kok Tiong-lian terkejut sekali.
Kam Jing-liong masih paman gurunya, sudah tentu ia harus memberi pertolongan, terpaksa untuk sementara itu ia tunda pengejarannya dan merawat Kam Jing-liong.
"Kok-ciangbun, tangkap mata-mata lebih penting. Aku tak apa-apa,"
Kata orang she Kam itu dengan terengahengah.
Tay-hiong pun menyatakan kalau keadaan Kam Jing-liong tak membahayakan jiwanya.
Lega sekali hati Kok Tiong-lian mendengar keterangan itu, ia menanyakan tentang anak muridnya (To-kan).
Tay-hiong menerangkan kalau anak itu telah diculik mata-mata tadi, Kok Tiong-lian segera melakukan pengejaran.
Tepat pada saat itu, terdengarlah teriakan minta tolong dari Ciong Leng yang berada di bawah jurang.
Ternyata tangan anak muda yang menggelantung pada dahan pohon Siong sudah mulai lemas, tubuhnya bergeliatan di udara, sembarang waktu anak muda itu bisa jatuh.
Melihat itu Tay-hiong Siansu mendesak supaya Ciong Tian lekas menolong putranya, terpaksa Ciong Tian membatalkan pengejarannya dan menolong putranya lebih dulu.
Sesaat Ciong Tian dapat menarik putranya ke atas, anak muda dari cabang-cabang persilatan yang lain telah datang.
Di antara mereka terdapat.Leng-hong, ia melihat bagaimana wajah Hiau-hu dan Ciong Siu tegang sekali, dahinya basah keringat.
"Mana Suteku yang kecil itu? Bagaimana dia? Ai, bagaimana dia?"
Dengan gugup sekali ia bertanya pada Tay-hiong Siansu. Malah setelah mendengar jawaban paderi itu, Leng-hong muntah darah, sambil mengurut dada ia mengeluh.
"Ai, bagaimana, bagaimana?"
Hiau-hu terpaksa memapah Suhengnya itu, ujarnya.
"Toasuko, jangan gelisah. Ibu sudah mengejarnya."
"Siu-ji, rawatlah engkohmu, aku hendak mengejar mata-mata itu,"
Kata Ciong Tian. Leng-hong berpura-pura seperti orang bingung, sambil menampar kepalanya ia berseru.
"Ai, benar! Ayo kita kejar mata-mata itu!"
Tetapi Hiau-hu mencegahnya karena anak muda itu kelewat tegang perasaannya. Diam-diam Leng-hong geli dan bahagia mendengar ucapan si dara yang memperhatikan dirinya, pikirnya.
"Lidahku kugigit sedikit ternyata cukup berharga."
Memang muntah darahnya itu bukan karena ia sungguh-sungguh berduka dengan nasib To-kan, melainkan dengan menggigit lidah saja.
Pandai benar anak muda itu bermain sandiwara, dan untuk menyempurnakan permainannya, ia pura-pura melepaskan tangan sang Sumoay yang mencekalnya dan berkata.
"Tidak, bagaimanapun aku harus ikut mengejar bersama kalian. Bukankah aku ini Ciangbun Suhengmu?"
Tay-hiong Siansu tertarik akan 'kejantanan' Lenghong, diberinya anak muda itu sebutir pil.
Leng-hong girang sekali karena tahu bahwa pil Siau-hoan-tan buatan Siau-lim-si merupakan obat nomor satu untuk segala luka luar dan dalam.
Tersipu-sipu ia menerimanya, dalam hati ia menggerutu.
"Ah, tahu kalau bakal mendapat rezeki, sebaiknya tadi kumuntahkan darah dua kali."
Tay-hiong Siansu membawa Kam Jing-liong ke biara Hian-li-koan, sementara Ciong Leng yang tak terluka tapi hanya kehabisan tenaga saja, segera duduk bersemadi di tanah.
Adiknya menunggu di samping.
Yang lain-lain mengejar mata-mata, tetapi Nyo Ceng dan Nyo Hoan sudah berhasil melintasi puncak gunung dan lenyap, bahkan sekalipun Kok Tiong-lian yang paling cepat larinya toh tak berhasil menemukan jejak kedua ayah dan putra itu, ternyata Nyo Ceng dan putranya sudah disambut oleh konco-konconya.
Pada waktu Kok Tiong-lian kembali ke biara Hian-likoan, hari pun sudah malam.
Ternyata semua orang masih belum tidur karena menantikan kedatangannya, melihat Kok Tiong-lian pulang seorang diri, tahulah mereka kalau tak berhasil.
"Ibu, akulah yang bersalah, tak punya guna, tak mampu melindungi Sute sehingga membikin malu padamu,"
Kata Hiau-hu dengan terisak-isak.
"Tidak, akulah yang salah. Jika aku mendengar kata Subo dan lekas mencari kalian, tentulah takkan terjadi hal ini."
Leng-hong tak mau kalah suara, bahkan untuk menunjukkan menyesalnya yang besar, ia mengucurkan beberapa butir air mata. Kok Tiong-lian menghela napas.
"Hal ini tak dapat menyalahkan kalian, musuh sudah mengatur rencana, akulah yang bertanggung jawab karena kurang waspada. Sekarang sudah larut malam, baiknya kalian tidur dulu."
Malam itu semua orang tak dapat tidur pulas, kecuali Leng-hong seorang yang tidur dibuai impian indah.
Keesokan harinya adalah hari peringatan wafatnya Tok-pi Sin-ni atau pembukaan rapat besar para orang gagah.
Pagi-pagi sekali Leng-hong sudah bangun dan ikut sekalian orang ke halaman kuburan Tok-pi Sin-ni.
Kali ini yang datang banyak sekali, anak murid dari berbagai cabang persilatan datang bersembahyang.
Lereng gunung penuh dengan orang, diam-diam Lenghong girang-girang terkejut menyaksikan suasana yang sedemikian meriahnya.
Girang karena mengetahui wajah pendekar-pendekar gagah dari segenap penjuru tanah air, kejut karena melihat banyaknya pejuang yang menentang pemerintah Cing.
Jika mereka sampai mengetahui bahwa ia diam-diam sudah masuk ke dalam komplotan anjing alap-alap, akibatnya sungguh mengerikan untuk dibayangkan.
Kok Tiong-lian memimpin seluruh anak murid Bin-sanpay angkatan ketiga untuk bersembahyang di makam Tok-pi Sin-ni dan Lu Si-nio pendiri partai Bin-san-pay, setelah itu barulah para ketua dan wakil-wakil cabang' persilatan serta para tetamu lainnya.
Selesai bersembahyang, tampak Kok Tiong-lian berlinang air mata.
Peristiwa semalam telah diketahui semua orang, tetapi yang membuat mereka tak habis mengerti, mengapa mata-mata itu berani mengambil resiko sedemikian besar hanya karena hendak menculik seorang anak kecil saja.
Benar anak itu adalah murid Kang Hay-thian, tetapi toh masih ada tokoh lain yang lebih penting lagi dari anak itu.
Soal itu ramai menjadi pembicaraan segenap hadirin.
Selesai upacara, menurut acara yang telah ditetapkan, Kok Tiong-lian sebagai tuan rumah harus membuka rapat, kemudian para tokoh segera merundingkan tentang acara-acara penting yang menjadi bahan pembicaraan rapat.
Semua perhatian ditujukan pada Kok Tiong-lian, kata Ciangbunjin Bin-san-pay itu.
"Sebelum rapat dimulai, aku ingin memaklumkan dua hal kepada sekalian Cianpwe dan kawan-kawan Bulim."
Ternyata apa yang hendak dimaklumkan Kok Tionglian, pertama ialah memperkenalan Yap Leng-hong sebagai murid pewaris Kang Hay-thian.
Pengangkatan ahli waris sebenarnya harus disaksikan oleh kaum Cianpwe terkemuka.
Bahwa Kok Tiong-lian telah mengumumkan hal itu di hadapan rapat para orang gagah, tentu saja makin memeriahkan perkenalan itu.
Berbondong-bondong para hadirin memberi selamat pada Leng-hong.
Sebenarnya luas sekali pergaulan Kang Hay-thian, orang yang memberi selamat pada Leng-hong seharusnya masih banyak sekali, tetapi dikarenakan sekalian hadirin ingin lekas mendengarkan pengumuman Kok Tiong-lian yang kedua, maka upacara perkenalan itu agak dipersingkat.
Suatu hal yang membikin kecele Lenghong karena sebenarnya ia sudah siap hendak unjuk 'permainan' sebagai seorang ksatria muda yang rendah hati agar dapat menarik simpati orang.
Bahwa ternyata pemberian selamat hanya berlangsung agak dingin, sungguh membuat kecewa hatinya, tetapi ia dapat menghibur hatinya juga karena sejak hari itu kedudukannya sebagai murid pewaris Kang Hay-thian sudah resmi.
Ia membalas ucapan selamat orang-orang itu dengan cara yang begitu simpatik sekali hingga banyak mendapat pujian para hadirin.
Setelah upacara perkenalan selesai, dengan wajah bersungguh-sungguh Tiong-lian berkata pula.
"Hal yang kedua ialah menyangkut tentang pemilihan Ciangbunjin baru Bin-san-pay. Begitu pula pimpinan rapat inipun kuminta mengangkat ketua baru lagi."
Ucapan Kok Tiong-lian itu segera menimbulkan kegemparan di antara para hadirin.
"Kok-ciangbun, mengapa kau berucap begitu?"
Seru Pek Ing-kiat. Seorang ketua cabang persilatan mengumumkan hendak mengundurkan diri memang jarang terjadi, maka dugaan orang cenderung pada kejadian semalam.
"Kuminta keempat Tianglo dari golongan kami keluar!"
Seru Kok Tiong-lian.
Di antara keempat Tianglo partai Bin-san-pay, salah seorang ialah Kam Jing-liong, tetapi karena ia terluka, maka yang berada di situ hanya terdiri dari Pek Ing-kiat, Loh Ing-ho dan Lim Seng.
Perasaan keempat Tianglo itu gundah sekali, mereka hendak mencegah maksud Kok Tiong-lian, tapi nyonya gagah itu sudah berlutut di hadapan makam Tok-pi Sin-ni dan berseru.
"Tecu Kok Tiong-lian tiada berbudi tiada berguna sehingga menodai nama Bin-san-pay kita, sungguh Tecu merasa berdosa dan mohon ampun pada Cosu."
Habis itu ia berbangkit, ujarnya.
"Aku telah menodai jabatanku sebagai Ciangbun sehingga kaum anjing pemburu kerajaan dapat menculik orang dengan terangterangan serta melukai Kam-supek. Harap keempat Tianglo menjatuhkan hukuman pada diriku."
Sahut Pek Ing-kiat.
"Menurut hematku, peristiwa semalam itu memang mencurigakan, hal ini tak dapat hanya mempersalahkan Ciangbun seorang. Coba saudara-saudara renungkan, dengan susah payah kawanan alap-alap itu menyelundup ke Bin-san hanya karena perlu menculik seorang anak kecil saja, tentunya hal itu bukanlah disebabkan karena anak itu murid Kang Hay-thian? Mengapa mereka tahu tentang diri anak itu? Dan mengapa mereka dapat memilih waktu yang tepat untuk bertindak?"
Loh Ing-ho dan Pek Ing-kiat serempak mengiakan.
"Ya, benar! Rupanya di dalam rapat sini terdapat pengkhianat yang bersekongkol dengan mereka, sehingga peristiwa semalam itu dapat dilaksanakan dengan berhasil, maka yang penting, kita harus segera mengusut siapa pengkhianat itu untuk menjaga terjadinya sesuatu yang merugikan rapat ini. Tentang permintaan Kok-ciangbun supaya diberi hukuman, nanti kita rundingkan lagi dengan perlahan-lahan."
Memang kedua Tianglo Bin-san-pay itu tak tahu asalusul Lim To-kan, mereka hanya tahu bahwa anak itu adalah murid Kang Hay-thian, tetapi mereka itu kaya pengalaman, apa yang diucapkan memang beralasan sekali, dan ternyata pendapat mereka itu mendapat dukungan dari semua orang.
"Ya, harus mengusut siapa pengkhianat dalam selimut itu lebih dulu,"
Demikian semua orang menyatakan.
Tetapi munculnya Nyo Ceng dan Nyo Hoan secara terang-terangan itu, diketahui oleh Hiau-hu, Ciong Leng, Kam jing-liong, Tay-hiong Siansu dan lain-lain orang, tiada seorang pun di antara mereka yang kenal dengan kedua ayah dan anak itu.
Bahwa ternyata setelah diselidiki, tiada seorang pun di antara hadirin yang menghilang, hal ini menandakan bahwa pengacauan itu dikerjakan oleh musuh dari luar.
Habis siapa pengkhianat dari dalam itu?
Hati Leng-hong berdebur keras ketika mendengar pembicaraan sekalian hadirin yang mau mengusut pengkhianat, tetapi ia pandai memulas wajahnya dengan ketenangan.
"Untung waktu terjadi peristiwa itu, aku berada di samping Subo. Bagaimanapun tentulah ia takkan mencurigai diriku,"
Pikirnya.
Memang tepat sekali perhitungannya itu, sedikitpun Kok Tiong-lian tak mencurigainya.
Memang ia mempunyai gagasan bahwa yang mengetahui asal-usul Lim To-kan itu hanyalah ia sendiri, Hiau-hu dan Lenghong, terang kedua anak itu bukanlah pengkhianat.
Tapi yang menjadi keresahannya adalah mungkin Hiau-hu karena kurang hati-hati telah kelepasan omong sehingga tentang diri Lim To-kan dicuri dengar oleh pengkhianat itu.
Diam-diam tak enak sendiri perasaan Kok Tiong-lian.
"Pengkhianat memang harus diusut, tetapi hal itu rupanya tak mudah untuk mengetahuinya dalam waktu yang singkat. Rapat ini masih hendak merundingkan banyak persoalan yang lebih penting, maka lebih baik tunda dulu tindakan untuk mengusut pengkhianat itu sampai nanti rapat selesai, tetapi dengan terjadinya peristiwa itu, walaupun kalian tak menyalahkan diriku, tapi aku sendiri tetap merasa menyesal, maka aku tetap menghendaki supaya diadakan pemilihan ketua baru untuk memimpin rapat ini,"
Kata Kok Tiong-lian pula.
Ia pikir malam nanti dengan diam-diam ia hendak menanyai putrinya, itulah sebabnya maka ia mengusulkan untuk menunda dulu pengusutan si pengkhianat.
Oleh karena usul itu beralasan, maka setengah dari hadirin dapat menyetujui, alasan mereka karena musuh mengatur rencana begitu rapi tentulah tak mudah diusut dengan cepat.
Tapi ada setengah dari hadirin yang berpendapat bahwa pengusutan itu harus lebih dulu dilakukan agar jangan mengganggu ketenangan rapat.
Kalau tidak, tentu tak berani rapat membicarakan masalah-masalah yang penting.
Tiba-tiba tampak seorang berdiri dari tempat duduknya.
"Aku mempunyai cara untuk mencari pengkhianat itu!"
Setenang-tenangnya Leng-hong, ketika mendengar pernyataan itu, mau tidak mau berdebar juga jantungnya, mulutnya mengeluarkan geraman lirih.
Untung tiada seorang pun yang memperhatikan gerakgeriknya.
Ternyata yang bicara ialah Goan It-tiong, murid pertama ketua Kay-pang, Tiong Tiang-thong.
Karena masih ada kepentingan, Tiong Tiang-thong tak dapat datang dan hanya mengirim muridnya untuk mewakili.
Selain merupakan organisasi persilatan yang besar, Kaypang erat sekali hubungannya dengan Bin-san-pay (Ketua Kay-pang yang dulu, yakni Ek Tiong-bo juga berasal dari organisasi Bin-san-pay).
(Baca KISAH PEDANG DI SUNGAI ES/PENG HO SWE KIAM) "Suheng, besar harapanku!
Kay-pang punya cara berhubungan yang cepat dan luas, mungkin mereka sudah mengetahui siapa pengkhianat itu.
Eh, Suheng, mengapa wajahmu begitu pucat?
Apakah kau tak enak badan?"
Habis girang mendengar pernyataan Goan Ittiong, Hiau-hu heran melihat perubahan muka Lenghong. Leng-hong gelagapan dan buru-buru menenangkan keguncangan hatinya.
"Karena memikirkan Sute, semalam aku tak dapat tidur pulas. Sudah tentu aku girang sekali dengan pernyataan wakil Kay-pang itu. Ya, memang berita itu memberi harapan besar!"
Setelah meminta supaya para hadirin tenang, Kok Tiong-lian segera minta agar Goan It-tiong memberi keterangan yang jelas. Kata murid Kay-pang itu kepada Hiau-hu.
"Tolong tanya nona Kang, bukankah pemuda yang menculik Sutemu itu orang she Nyo? Pernahkah Sutemu bicara apa-apa sebelum peristiwa itu?"
"Ya, memang orang itu she Nyo, Suteku mengatakan bahwa pemuda penculik itu dahulu pernah melepas budi padanya. Sayang sebelum ia selesai memberi keterangan sudah diculik si pemuda jahat,"
Jawab Hiau-hu.
"Bukankah wajah bangsat itu begini Goan It-tiong lalu memberi keterangan tentang raut wajah Nyo Hoan.
"Ya, ya, benar. Goan-hiangcu, kenalkah kau kepadanya?"
Seru Hiau-hu. Kemudian Goan It-tiong bertanya pada Tay-hiong Siansu.
"Yang bertempur denganmu itu bukankah bersenjata tongkat bambu?"
Tay-hiong Siansu mengiakan, diam-diam paderi itu heran karena semalam Goan It-tiong sudah diberinya penjelasan, mengapa sekarang bertanya lagi.
"Kok-ciangbun, jangan kuatir. Untuk mencari jejak mata-mata itu kita dapat mengusut dari kedua orang itu. Mereka berdua adalah ayah dan anak, sang ayah bernama Nyo Ceng dan anaknya bernama Nyo Hoan."
"Siapa mereka? Bagaimana kita dapat menangkapnya?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Aku pun tak tahu jelas tentang Nyo Ceng itu, tetapi dapatlah nanti kuselidiki dirinya. Nyo Ceng pernah bertemu muka dengan Kang-tayhiap. Dia mempunyai seorang ipar yang bernama Siangkoan Thay yang berdiam di puncak gunung Thian-pit-nia. Pernah orang she Siangkoan itu bentrok dengan Suhuku tapi kemudian didamaikan oleh Kang-tayhiap. Siangkoan Thay agak menjunjung kebenaran, rasanya ia takkan melindungi pengkhianat."
Cing-ciok Tojin dari Bu-tong-pay yang berangasan segera menyeletuk.
"Benar, selama ada biara jangan takut tidak dapat menemukan paderi. Selesai rapat ini, kami beberapa tua bangka akan menemani Kok-ciangbun dan Goan-hiangcu ke Thian-pit-hong. Peduli Siangkoan Thay akan melindungi pengkhianat atau tidak, kita tetap akan meringkus bangsat itu."
Seruan paderi itu mendapat sambutan yang hangat dari para hadirin, ada beberapa tokoh yang serentak mengajukan diri untuk ikut serta menangkap Nyo Ceng.
Mendengar itu kendurlah ketegangan hati Leng-hong, kiranya jejak yang dimaksud Goan It-tiong ialah tentang diri orang she Nyo ayah dan anak.
Sekonyong-konyong terdengar suara tawa ejek orang, datangnya dari arah jauh, makin lama makin dekat.
Orang-orang terperanjat dan serempak memandang ke arah datangnya suara tawa itu, namun hanya suaranya yang terdengar, sedang orangnya tak tampak sama sekali.
"Siapa?"
Baru Pek Ing-kiat berteriak menegur, seorang lelaki berjubah biru sudah muncul di hadapan para hadirin.
"Tak perlu saudara-saudara bersusah-payah naik ke puncak Thian-pit-hong. Siapa yang berani mengganggu selembar rambut Nyo Ceng, tentu akan berhadapan dengan aku!"
Seru orang itu dengan nada mengejek.
Pesat sekali gerakan orang itu, baru kata-katanya yang terakhir berkumandang, orangnya pun sudah melangkah masuk ke halaman makam, bersama dia mengikut pula seorang pemuda ...
si Nyo Hoan!
, Munculnya kedua orang itu menggemparkan suasana, beberapa orang yang berwatak berangasan segera berteriak hendak melabraknya, tetapi si lelaki jubah biru itu tertawa dingin.
"Apakah kalian yang membanggakan diri sebagai ksatria-ksatria ini hendak mengandalkan jumlah banyak? Mana Kang Hay-thian? Aku hendak bicara padanya!"
Oleh karena permintaan mengundurkan diri dari Kok Tiong-lian tadi belum ada keputusan, sudah tentu ia masih sebagai Ciangbunjin Bin-san-pay dan ketua rapat, maka berkatalah ia.
"Siapakah saudara ini? Kau hendak membela Nyo Ceng, tetapi tahukah kau bagaimana perbuatannya? Dan perlu apa kau hendak menemui Kang Hay-thian?"
"Tentulah kau ini Ciangbunjin Bin-san-pay, nyonya Kang, bukan? Eh, apakah suamimu belum datang? Ah, sia-sia saja perjalananku ini,"
Sahut tetamu aneh itu. Baginya hanya Kang Hay-thian yang diperlukan, lain tokoh dianggap sepi saja.
"Sekalipun Kang-tayhiap tidak berada di sini, tetapi asal saudara menerangkan maksud kedatanganmu, kami di sini tentu takkan mengecewakan keinginanmu,"
Seru Siong-ciok Tojin dengan marahnya. Kok Tiong-lian tak mau banyak putar lidah, serunya.
"Bagaimana sebenarnya dengan Nyo Ceng? Putuskan dulu soal itu, baru nanti kita bicara lain-lainnya."
Tetapi tampaknya tetamu aneh itu hilang gairahnya, dengan acuh tak acuh ia menjawab.
"Apa yang dilakukan Nyo Ceng, coba kau bilang!"
"Rupanya kau hanya pura-pura tak tahu. Bangsat kecil itu ikut datang bersamamu, masakah kau tak mengetahui persoalan Nyo Ceng?"
Teriak Loh Ing-ho. Orang itu mengerutkan sepasang alisnya.
"Fui, belum terang hitam putihnya, mengapa kau memaki-maki orang?"
Jarak orang itu dengan Loh Ing-ho kira-kira 10-an tombak, suatu jarak yang sukar dicapai timpukan senjata rahasia oleh orang persilatan, tetapi waktu mengakhiri kata-katanya, tetamu aneh itu menudingkan jarinya ke arah Loh Ing-ho, seketika Loh Ing-ho merasakan seperti ada suatu ujung golok yang tak kelihatan sedang menusuknya.
Sekalipun Loh Ing-ho seorang jago tua yang mempunyai pengalaman berpuluh tahun, namun tak urung menggigil juga perasaannya.
"Baik, sekarang biarlah segenap ksatria dari empat penjuru memberi pertimbangan apakah Nyo Ceng itu pantas dikutuk atau tidak. Nyo Ceng masuk menjadi budak pemerintah Cing, kemudian ia menyuruh anaknya datang ke Bin-san menculik orang. Kecuali kau memang komplotannya, kalau tidak, tak nanti kau membelanya!"
Kata Kok Tiong-lian.
"Benar, karena ia hendak membela Nyo Ceng, maka kita harus meminta pertanggung jawabannya!"
Teriak para hadirin yang marah melihat kesombongan tetamu itu, tetapi dikarenakan mengingat kedudukannya sebagai tokoh-tokoh ternama, tak mau mereka maju mengeroyok.
Apalagi di gunung Bin-san situ mereka harus menurut perintah Kok Tiong-lian baru berani bertindak.
Di bawah pancaran kemarahan dari hadirin, tetamu itu dingin saja menjawab.
"Siapakah orangmu yang ditangkap keponakanku ini?"
"Murid terkecil Kang Hay-thian yang hendak kau temui itu, dia seorang anak kecil, baru 14 tahun umurnya,"
Sahut Kok Tiong-lian. Orang berjubah biru itu tertawa mengejek.
"Ha, kukira urusan yang hebat, kiranya hanya murid Kang Hay-thian saja. Menangkap murid Kang Hay-thian .masakah lantas dicap sebagai budak kerajaan? Mengapa memfitnah orang semaumu sendiri, bahkan diriku pun turut dimakimaki? Hm, sekalipun raja Boan-jiu tak dapat mengusir aku. Jangan coba main gertak sambal padaku!"
Ucapan itu mengejutkan segenap hadirin, kalau golongan antek kerajaan tak nanti orang berjubah biru berani memaki raja.
Kok Tiong-lian termenung beberapa saat, diam-diam ia memperhatikan diri tetamu itu, kemudian berkata.
"Tetapi mengapa kalian perlu menculik murid Kang Hay-thian itu?"
Pada saat itu terdengar derap kaki serombongan orang yang tengah mendaki lereng gunung, rupanya mereka menuju ke makam juga. Hadirin segera menyongsong.
"Hai, siapa kalian?"
Tegur Kok Tiong-lian dengan menggunakan ilmu Lwekang untuk melontarkan suaranya, tampaknya perlahan saja ia bicara tetapi cukup melengking keras di telinga rombongan orang yang datang itu.
Rombongan pendatang itu rata-rata berilmu tinggi, tetapi setelah mendengar Lwekang Kok Tiong-lian sedemikian hebat, mereka pun tertegun berhenti.
Orang jubah biru itu tertawa gelak-gelak, serunya.
"Mereka adalah sahabatku dan setengahnya adalah bujang-bujangku, mereka hendak ikut hadir dalam rapat besar 'ksatria gagah' di Bin-san ini, maka mereka tergolong tetamu juga, mengapa kalian begitu gugup? Eh, apakah kalian tak senang menerima kedatangan mereka?"
Rapat orang gagah di Bin-san itu sebenarnya adalah rapat rahasia para pendekar gagah pejuang tanah air, sekali-kali bukan rapat umum dimana segala orang boleh hadir.
Bagi orang yang tak menerima undangan, tentu dibawa oleh orang yang sudah diketahui pahamnya oleh rapat.
Bahwa seorang jubah biru datang tanpa diundang, bahkan membawa bujang-bujang rumahnya, ini merupakan suatu penghinaan bagi Bin-san-pay dan secara tak langsung juga meremehkan sekalian orang gagah.
Namun Kok 'Tiong-lian cukup besar toleransinya, tak mau ia hanya memikirkan soal pelanggaran aturan itu saja, tetapi yang penting ia -menguatirkan tentang keselamatan murid-murid Bin-san yang bertugas menjaga keamanan gunung.
Sebagai organisasi yang dicap menentang pemerintah, Bin-san-pay selalu memperkuat penjagaan gunung, apalagi pada waktu rapat besar berlangsung, penjagaan makin diperkuat.
"Tak kupusingkan kalian ini siapa, tetapi jika kalian sampai melukai seorang murid Bin-san-pay saja, tentu takkan kulepaskan kalian pulang. Lim-supek, silakan kau memeriksa mereka."
Sekalian orang gagah segera mengepung kawanan pendatang itu, sewaktu-waktu siap untuk menghajarnya setelah nanti Lim Seng selesai mengadakan pemeriksaan. Tetamu jubah biru itu masih tertawa.
"Jangan kuatir Kok-ciangbun, aku tak melukai seorang muridmu pun. Hanya karena mereka merintangi kedatanganku kemari terpaksa kutotok jalan darah mereka, tetapi tak apa, setengah jam kemudian mereka tentu akan dapat bergerak lagi."
Kini baru Kok Tiong-lian mengerti, kiranya tetamu jubah biru lebih dulu datang untuk 'meratakan jalan', menotok para petugas keamanan gunung, setelah itu barulah rombongan bujang-bujangnya naik ke atas.
Jika hal itu benar, nyata bahwa Ginkang dan Tiam-hiat (ilmu totok) orang berjubah biru itu luar biasa sekali.
"Siapa yang mengundang kalian datang kemari? Mengapa kau menyalahkan anak murid Bin-san-pay menghadang jalanmu. Baik, karena kau begitu kurang tata hormat, aku pun tak mau bertanya lagi siapa kalian. Coba sebutkan keinginanmu dan sekali-kali jangan menuduh kami mengandalkan jumlah banyak."
Dengan ucapan itu Kok Tiong-lian telah menempatkan kawanan bujang rumah si tetamu itu sebagai musuh, tetapi ia memberi kelonggaran untuk menyelesaikan persoalan itu menurut tata cara orang persilatan.
Orang berjubah biru itu menengadah ke langit dan tertawa lebar.
"Bagus! Hahaha, lucu benar!"
"Apanya yang lucu?"
Semprot Kok Tiong-lian. Orang itu tetap tertawa gelak-gelak.
"Kalian menyebut diri sebagai ksatria, tetapi siapakah yang memberi gelaran itu? Apakah kalian sendiri yang pasang merk? Mengapa hanya orang-orang yang kau undang pantas disebut ksatria? Apakah mereka saja yang boleh hadir dalam rapat ini? Hahaha, apakah hal ini tak menggelikan?"
"Ksatria haruslah manusia-manusia yang menjunjung kebenaran, seorang baru boleh menyebut dirinya ksatria kalau sudah diakui oleh sebagian besar kaum persilatan. Orang yang asal-usulnya gelap, tentu tak dapat kami golongkan dalam kaum ksatria,"
Sahut Kok Tiong-lian. Kembali orang berjubah biru itu tergelak-gelak.
"Ucapan itu tak berlaku, berapakah jumlah kaum persilatan itu? Dan berapa pula jumlah yang berkumpul di sini sekarang? Apakah kau yang menentukan siapasiapa yang dapat dianggap sebagai ksatria? Dan bagi orang yang belum terkenal di Bu-lim apakah tiada seorang pun yang mungkin menjadi ksatria?"
Pertanyaan si baju biru yang juga beralasan membuat Kok Tionglian merasa serba sukar untuk menjawab dan memberi penjelasan. Adalah Loh Ing-ho yang merasa tidak sabar, segera ia berteriak.
"Huh, kau tak perlu main pokrol di sini. Pendek kata kau datang bersama bangsat cilik itu, terang kalian adalah satu komplotan bersama kaum anjing kerajaan, tapi kau masih menganggap dirimu sebagai ksatria? Ciangbunjin, tak perlu buang waktu lagi, silakan memberi perintah seperlunya."
"Enyahkan semua orang itu! Bekuk bangsat cilik she Nyo itu, suruh mereka menukar dengan To-kan,"
Kata Tiong-lian dengan suara tegas.
"Bagus!"
Teriak si baju biru.
"Jika demikian bolehlah kita ukur menurut ilmu silat masing-masing untuk menentukan siapa terhitung ksatria."
Pada saat kedua pihak sudah hampir mulai bertempur, tiba-tiba terdengar suara orang berseru.
"Nanti dulu!"
Suara orang itu cukup dikenal oleh para tokoh cabang persilatan yang hadir di Bin-san, mereka tercengang.
Dalam pada itu dengan cepat sekali orang itupun sudah sampai di atas gunung, kiranya adalah Kay-pang Pangcu Tiong Tiang-thong.
Sebenarnya Tiong Tiang-thong ada urusan dan berangkat ke utara, maka muridnya Goan It-tiong yang disuruh ikut hadir dalam rapat Bin-san ini.
Kalau menurut angkatan dan kedudukan, terutama Kay-pang sebagai organisasi terbesar di dunia persilatan, maka tingkatan Tiong Tiang-thong masih di atas Kok Tiong-lian dan lainlain, sejajar dengan tokoh tua Thian-san-pay seperti Ciong Tian.
Sebab itulah para ksatria merasa kejut-kejut girang atas kedatangan Tiong Tiang-thong, mereka telah bertambah jago terkuat.
Setiba di depan orang baju biru, Tiong Tiang-thong lantas memberi salam dan menyapa.
"Apakah saudara adalah Tiok Sian-hu dari Giok-ping-san?"
Si baju biru tampak melengak, rupanya dia pun belum penah kenal Tiong Tiang-thong, tapi dari dandanan serta sikap para ksatria yang menghormat terhadap Tiong Tiang-thong, segera ia dapat menduga siapakah yang berada di hadapannya itu, maka ia pun tidak berani kurang adat, cepat ia membalas hormat dan menjawab.
"Haha, orang bilang Kay-pang sangat luas jaringan pemberitaannya, nyatanya memang benar. Orang she Tiok cuma seorang gunung saja, siapa duga Tiongpangcu juga tahu akan diriku yang rendah ini."
Di balik kata-katanya itu dia sengaja menyindir para hadirin yang tiada seorang pun yang mengenalnya tadi, para ksatria memangnya juga terheran-heran, mereka tidak tahu siapakah Tiok Siang-hu itu, mengapa tidak pernah mendengar namanya?
Hanya Kok Tiong-lian seorang saja lantas teringat sesuatu.
"Orang ini she Tiok, boleh jadi orang inilah yang telah menawan Kong-he dan dijadikan kacung di rumahnya."
Tentang Li Kong-he dibawa pergi oleh seorang gadis cilik she Tiok, hal ini sudah dicek kebenarannya oleh Kang Hay-thian kepada Siangkoan Thay, maka sepulangnya Lim To-kan, hal itu telah dilaporkan juga kepada Kok Tiong-lian, meski nama lengkap Tiok Sianghu belum dikenalnya, begitu pula asal-usulnya.
Siapa duga sekarang Tiok Siang-hu sendiri telah datang pula ke Bin-san.
Kok Tiong-lian menjadi ragu-ragu, pikirnya.
"Tiongpangcu sengaja melerai, tentu beliau tahu asal-usul orang she Tiok ini. Biarlah dengarkan dulu apa yang akan dikatakan olehnya."
Maka ia lantas memberi tanda agar para ksatria yang sudah siaga tadi mundur dahulu. Sementara itu dengan lantang Tiong Tiang-thong telah berkata pula.
"Ya, nama saudara cukup kukenal, bahkan aku pun cukup mengetahui urusanmu, sebaliknya saudara mungkin belum tahu urusan sendiri."
Tiok Siang-hu tampak kurang senang.
"Apa arti ucapanmu ini?"
Tanyanya.
"Nyo Ceng adalah adik iparmu, tapi apakah kau mengetahui bahwa dia sudah menggabungkan diri pada kerajaan? Kau tampil ke muka membelanya, kau telah tertipu olehnya tanpa sadar, sungguh aku ikut merasa penasaran bagimu."
Air muka Tiok Siang-hu berubah mendadak, semprotnya.
"Kau sembarangan mengoceh apa? Desasdesus yang tiada buktinya, masakah seorang Pangcu seperti juga dapat mempercayainya begitu saja?"
"Nyo Ceng telah rela menjadi anjing pemburu kerajaan, aku mempunyai bukti yang nyata, jadi bukan sembarangan menuduh lataran dia telah menculik murid Kang-tayhiap,"
Sahut Tiang-thong "Hm, agaknya yang gampang percaya kepada ocehan orang adalah saudara sendiri."
"Bukti apa yang kau punyai?"
Jengek Tiok Siang-hu.
"Apakah kau belum tahu bahwa Nyo Ceng telah membujuk Siangkoan Thay untuk melawan kau, lantaran Siangkoan Thay tidak mau menurut, maka Nyo Ceng telah menyerangnya hingga terluka, sekarang dia mengatur perangkap pula untuk mengadu-dombakan kau dengan Kang-tayhiap. Apakah maksud tujuannya? Tak lain adalah karena dia sudah menjadi antek kerajaan, dia sengaja hendak mengadu-domba agar kau saling bunuh dengan para ksatria di seluruh dunia."
"Lalu ada bukti lain atau tidak?"
Tukas Tiok Siang-hu dengan menarik muka.
"Apakah bukti-bukti itu tidak cukup?"
Ujar Tiong Tiangthong.
"Jika perlu boleh silakan pergi ke Thian-pit-hong, mungkin luka Siangkoan Thay sampai sekarang belum sembuh dan dia tentu akan bicara padamu."
"Siangkoan Thay sudah pernah mengunjungi tempatku,"
Sahut Tiok Siang-hu dengan tertawa dingin.
"Dia adalah adik iparku, aku cukup tahu sebab apakah mereka bercekcok. Pendek kata urusan kami sendiri tidak perlu kau ikut campur dan memecah-belah."
"Kau anggap aku manusia apa?"
Seru Tiong Tiangthong dengan gusar.
"Bukankah kau ingin memupuk kekuatan dan berdiri sendiri, tidak mau takluk kepada kerajaan? Justru karena mengetahui maksud tujuanmu ini, maka Nyo Ceng telah menghasut Siangkoan Thay untuk melawan kau bersama."
"Hm, aku tahu Siangkoan Thay telah sengaja membiarkan kau mencari bahan obat di tempat kediamannya, jika kau diberitahu sedikit tentang diriku juga tidak perlu heran,"
Kata Tiok Siang-hu.
Rupanya Tiok Siang-hu sudah dicekoki oleh macammacam hasutan oleh Nyo Ceng sehingga percaya penuh padanya, sebaliknya Siangkoan Thay malah dianggap sebagai pengkhianat.
Soalnya Tiok Siang-hu ingin menjodohkan putrinya kepada putra Nyo Ceng, yaitu Nyo Hoan, ditambah lagi Nyo Hoan dan Nyo Ceng memang pandai bicara dan menghasut sehingga Tiok Siang-hu kena dipengaruhi.
Keruan Tiong Tiang-thong berjingkrak gusar, sungguh ia ingin segera melabraknya, tapi Kok Tiong-lian keburu menyela.
"Tiong-pangcu, tak perlu engkau marah terhadap seorang yang tidak tahu diri. Baiklah Tioklosiansing, masa bodohlah jika kau tetap memandang Nyo Ceng sebagai orang baik. Marilah kita kembali kepada persoalan pokok, Nyo Ceng telah menculik orang kami, lalu cara bagaimana kau akan bicara?"
"Tindakan Nyo Ceng itu tidak lain hanya ingin membalas dendam pukulan di Thian-pit-hong tempo hari, mana boleh kalian lantas menuduhnya sebagai anjing pemburu pihak kerajaan?"
Sahut Tiok Siang-hu.
"Adalah layak jika orang Bu-lim seperti kita ingin mempertahankan pamor. Asal kau suruh Kang Hay-thian minta maaf padanya, aku tanggung dia akan segera mengembalikan muridnya."
Apa yang dikatakan Tiok Siang-hu ini sebenarnya adalah rencana Nyo Ceng, ia tidak tahu bahwa tipu muslihat Nyo Ceng itu justru hendak mendorong dia bertempur mati-matian dengan Kang Hay-thian dan para ksatria, dengan demikian dia yang akan menarik keuntungan.
Benar juga Kok Tiong-lian lantas berkata.
"Hay-thian tidak berada di sini, biarlah aku yang mewakilkan dia. Pendek kata aku hanya ingin minta Nyo Ceng mengembalikan murid Kang Hay-thian. Kalau tidak, silakan kau kemukakan cara bagaimana penyelesaiannya?"
"Karena Kang Hay-thian tidak ada, maka aku ada dua syarat,"
Kata Tiok Siang-hu.
"Pertama, permintaan maaf Kang Hay-thian kepada Nyo.Ceng dapat dilakukan di kemudian hari dengan disaksikan hadirin yang ada sekarang ini. Cara kedua ialah jika kalian ingin menyelesaikan urusan pada hari ini juga, maka bolehlah silakan kalian berurusan dengan aku. Asalkan satu di antara kalian dapat menangkan aku, aku pun bertanggung jawab akan mengembalikan murid Kang Hay-thian."
Diam-diam Kok Tiong-lian menjadi ragu-ragu, kalau menurut ucapan Tiong Tiang-thong tadi, agaknya orang she Tiok inipun bermusuhan dengan pihak kerajaan, tapi mengapa dia mati-matian membela Nyo Ceng yang terang rela menjadi antek kerajaan itu?
Namun orang sudah menantang, terpaksa ia menghadapinya sebagai musuh, segera ia menjawab.
"Baiklah, boleh kita menyelesaikan urusan ini secara orang persilatan. Cuma aku ingin tanya lebih dulu, orang-orang yang kau bawa kemari ini hanya menonton sebagai saksi saja atau akan membantu dalam pertempuran?"
"Mereka datang dari jauh, kesempatan baik ini sudah tentu akan mereka gunakan untuk belajar kenal dengan kalian berdasar kepandaian masing-masing,"
Sahut Tiok Siang-hu dengan tertawa. Para ksatria menjadi gusar atas sikapnya yang congkak dan takabur itu. Tiba-tiba Yap Leng-hong melompat maju sambil berseru.
"Biarlah aku menjajalnya lebih dulu!"
Hampir pada saat yang sama Kang Hiau-hu juga berlari maju.
"Biarlah aku maju lebih dulu, Toasuheng!"
"Tidak, aku adalah murid utama Suhu, sudah seharusnya aku mewakilkan Suhu untuk belajar kenal dengan Tiok-siansing,"
Kata Leng-hong.
"Hm, ilmu silatmu sih boleh juga di antara sesama angkatan muda, tapi untuk belajar kenal padaku, palingpaling jiwamu yang akan melayang percuma,"
Jengek Tiok Siang-hu.
"Murid Kang-tayhiap masakah kau anggap sebagai manusia pengecut? Hayolah maju, biar mati aku tidak menyesali kau,"
Teriak Leng-hong.
Sudah tentu ia yakin Tiok Siang-hu tak sudi melayani dia, maka dia sengaja berteriak.menantang untuk menarik simpati orang banyak.
Benar juga serentak terdengarlah suara tepuk tangan riuh gemuruh yang memuji keberaniannya.
"Kau tidak takut mati, akulah yang takut ditertawai orang,"
Ujar Tiok Siang-hu.
"Kau tidak sesuai menjadi lawanku. Mundur saja, jangan mengacau di sini. Pergi!"
Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan Lwekang yang tinggi sehingga suaranya menggelegar, Leng-hong tergetar kaget dan tanpa terasa mundur dua-tiga tindak. Tapi Kang Hiau-hu segera menggantikan maju.
"Anak perempuan juga mau mengacau?"
Jengek Tiok Siang-hu kurang senang.
"Mengacau apa?"
Semprot Hiau-hu.
"Kau mempunyai urusanmu, aku pun mempunyai urusanku. Aku hanya ingin membikin perhitungan dengan bangsat cilik itu."
Sampai di sini mendadak ia menuding Nyo Hoan yang berdiri di samping Tiok Siang-hu dan membentak.
"Maju sini, bangsat kecil! Secara licik kau telah menculik Suteku, hari ini biarlah kita membikin perhitungan."
Baru sekarang Tiok Siang-hu tahu bahwa yang ditantang Kang Hiau-hu adalah Nyo Hoan yang telah menculik Lim To-kan kemarin.
Usia Kang Hiau-hu dan Nyo Hoan sebaya, yang satu adalah putri Kang Haythian, yang lain putra Nyo Ceng, jika Hiau-hu menantangnya, ini sesuai dengan peraturan Kangouw.
Karena tiada alasan buat merintangi, apalagi yakin Nyo Hoan takkan kalah, pula dapat melihat sampai dimana kebagusan ilmu silat keluarga Kang.
Dalam pada itu tanpa menunggu perintah sang paman, dengan cepat Nyo Hoan sudah lantas melompat maju.
Karena dengan mudah kemarin Kang Hiau-hu kena ditotok roboh olehnya, maka ia memandang enteng kepada nona itu, dengan cengar-cengir ia berkata.
"Apakah kau masih belum kapok, nona? Jika demikian bolehlah kita coba-coba lagi. Tapi kalau kau kalah, betapapun kau harus mengaku ilmu silat keluarga Kang kalian lebih rendah daripada keluarga Nyo kami."
"Dan kalau kau kalah, jiwamu akan kucabut! Lihat pedang!"
Bentak Kang Hiau-hu sambil menusuk dengan pedangnya.
Sama sekali Nyo Hoan tidak menduga bahwa serangan Kang Hiau-hu begitu cepat datangnya, lekas ia menangkis dengan tongkat bambunya.
Tongkat bambu ini adalah benda yang amat ulet dan keras, tapi pedang Kang Hiau-hu terlebih lihai, yaitu pedang pusaka Cay-inpokiam, maka terdengarlah suara "cring"
Sekali, tahutahu ujung tongkat bambu telah terpapas sebagian.
Terdengar Tiok Siang-hu mendengus sekali, Nyo Hoan memang anak cerdik, segera ia tahu sang paman mencela cara pertempurannya yang keliru, segera ia berganti cara bertempur.
Tongkat bambunya bekerja dengan cepat sehingga pedang Kang Hiau-hu tak dapat menabasnya lagi.
Dasar watak Nyo Hoan memang bangor, melihat kecantikan Kang Hiau-hu, diam-diam ia kesemsem dan merasa paras calon istrinya masih kalah daripada putri Kang Hay-thian itu.
Namun bakal mertua berada di samping sana, mau tak mau ia harus prihatin dan tak berani main gila.
Karena sedikit lamunannya itu.
"cret", tahu-tahu ujung lengan bajunya tersabet oleh pedang Kang Hiau-hu, untung tidak melukainya.
"Hihihi, tidak kena! Marilah coba-coba lagi!"
Goda Nyo Hoan dengan tertawa.
Hiau-hu menjadi murka, segera ia mainkan Tui-hongkiam-hoat, ilmu pedang pemburu angin.
Pedangnya berputar laksana kitiran dan menusuk secepat kilat.
Namun Nyo Hoan justru sengaja hendak membikin nona itu naik pitam, berulang-ulang ia mengejek pula.
Keruan Hiau-hu tambah marah, tapi karena inilah dia telah masuk perangkap Nyo Hoan, mendadak Nyo Hoan melancarkan serangan balasan.
Pada suatu kesempatan terdengar Nyo Hoan membentak.
"Kena!"
Tongkatnya menjojoh ke depan dan dengan tepat mengenai Soan-kihiat di dada Kang Hiau-hu. Akan tetapi hampir pada saat yang sama terdengar seruan Tiok Siang-hu.
"Awas, anak Hoan!"
Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, pedang Kang Hiau-hu telah menyambar balik.
Sama sekali Nyo Hoan tidak menyangka bahwa anak dara yang tertotok Hiat-to bagian dadanya itu masih sanggup melancarkan serangan balasan.
Untung sang paman berseru memperingatkan sehingga dia sempat menggeser ke samping, kalau tidak, tentu jiwanya sudah melayang.
Walaupun demikian, tidak urung lengannya juga tergores suatu luka beberapa senti panjangnya.
Kejadian itu benar-benar membingungkan orang, sampai Tiok Siang-hu juga terkejut dan heran.
Ia tidak tahu apakah anak dara itu sudah memiliki ilmu kebal sehingga tidak mempan ditotok oleh Nyo Hoan yang jelas telah kena sasarannya itu.
Kuatir kalau Hiau-hu melancarkan serangan susulan pula, dengan segera ia bermaksud menerjang maju untuk menolong Nyo Hoan.
Tapi sebelum ia bergerak, mendadak tertampak tubuh Kang Hiau-hu terhuyung-huyung.
"bluk", tahu-tahu anak dara itu jatuh terduduk malah. Kiranya Kang Hiau-hu memakai baju wasiat tinggalan Kiau Pak-beng yang diketemukan Kim Si-ih dahulu, baju wasiat itu oleh Kim Si-ih diberikan kepada Kang Haythian, maka meskipun totokan Nyo Hoan tadi sangat keras dan tepat mengenai sasaran, namun tenaga totokan itu terhalang sejenak oleh baju wasiat sehingga Kang Hiau-hu sempat melancarkan serangan kilat untuk melukai Nyo Hoan, tapi kemudian tenaga totokan Nyo Hoan juga sudah menembus baju wasiatnya dan masuk ke Hiat-to di dadanya, maka Hiau-hu juga lantas jatuh terduduk. Cepat Kok Tiong-lian melompat maju untuk memayang bangun putrinya, begitu pula Tiok Siang-hu juga lantas maju untuk memapak Nyo Hoan. Sebagai seorang ahli silat, segera Tiok Siang-hu paham juga duduknya perkara, katanya dengan menjengek.
"Putrimu sudah kalah satu jurus, apakah kau tidak mengakui?"
"Dan yang terluka siapa, keponakanmu atau bukan?"
Sahut Kok Tiong-lian tidak mau kalah. Menurut peraturan Kangouw, terluka harus dianggap kalah, maka Tiok Siang-hu tak dapat lagi membantah, terpaksa ia berkata.
"Baiklah, pertandingan anak kecil tak perlu direcokkan. Sekarang biarlah orang dewasa saja yang coba-coba."
Sudah tentu Kok Tiong-lian tahu kemenangan putrinya itu adalah berkat bantuan baju pusaka yang dipakainya, maka ia pun tidak menarik panjang lagi persoalannya.
Ia cuma jengkel terhadap kesombongan Tiok Siang-hu, maka sesudah membuka Hiat-to putrinya yang tertotok segera ia bermaksud maju kegelanggang.
Tapi paman gurunya, yaitu Pek Ing-kiat rupanya mengetahui perasaannya, maka orang tua itu telah menasehati.
"Kau adalah tuan rumah dari pertemuan besar ini, kau harus menjaga kedudukan sendiri dan jangan sembarangan turun tangan. Lebih baik lihat dulu sampai dimana kepandaian lawan, apakah ada harganya kau tampil ke muka sendiri?"
Selagi Kok Tiong-lian merasa ragu-ragu, tertampak seorang Tosu tua berjenggot cabang tiga telah maju ke tengah kalangan dan menantang Tiok Siang-hu.
Kiranya imam itu adalah seorang tokoh Bu-tong-pay, ialah Siongciok Tojin, Sute Lui Cin-cu, ketua Bu-tong-pay.
Melihat munculnya Siong-ciok Tojin, semua orang merasa tepat sekali mengingat kepandaian imam itu cukup terkenal.
Tak terduga Tiok Siang-hu seakan tidak tahu siapakah Siong-ciok Tojin itu, dengan sikap acuh tak acuh ia bertanya.
"Apakah kau ingin bertanding dengan aku?"
Walaupun sudah tua, namun Siong-ciok Tojin masih berdarah panas, dengan gusar ia menjawab.
"Memangnya orang Bu-tong-pay tidak ada harganya untuk melawan kau?"
"Banyak terima kasih atas penghargaanmu kepadaku, tapi aku sendiri belum ada minat untuk turun ke tengah gelanggang, boleh kau melawan seorang hambaku saja dahulu,"
Kata Tiong Siang-hu, lalu ia berseru.
"A Lau, boleh kau mengiringi beberapa jurus dengan Totiang ini, mintalah petunjuk ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur."
Seorang laki-laki berbaju hijau lantas tampil ke muka dengan membawa sebuah Huncwe atau pipa cangklong yang panjang dan besar.
Segera Yap Leng-hong kenal orang ini adalah kawanan hamba keluarga Tiok yang pernah dilihatnya dahulu waktu melabrak Yo Tun-hou dan kawan-kawannya.
Keruan Siong-ciok Tojin menjadi murka, masakah dirinya dipandang cuma cocok untuk bertanding dengan kaum budak saja, segera ia berteriak.
"Orang she Tio, kau ... kau terlalu ..."
Tapi saking gusarnya ia menjadi tidak tahu apa yang harus diucapkan. Sebaliknya Tiok Siang-hu hanya tersenyum saja, katanya.
"Kita sudah bicara di muka bahwa pertandingan ini mengutamakan ilmu silat masing-masing, jadi tidak perlu memandang kedudukan atau harga diri para peserta pertandingan ini."
Dalam pada itu laki-laki baju hijau itu lantas memberi hormat kepada Tiok Siang-hu, katanya.
"Hamba siap melakukan perintah Cukong. Sesungguhnya hamba ingin sekali belajar kenal dengan tokoh terkemuka di sini."
Di balik kata-katanya itu seakan-akan Siong-ciok Tojin itu bukan tokoh terkemuka yang diharapkannya. Maka terdengar Tiok Siang-hu telah menjawab.
"A Lau, Totiang ini adalah tokoh Bu-tong-pay yang termasyhur, jangan kau takabur. Boleh lekas maju saja."
"Baik, cuma mohon diberi waktu sejenak, hamba ingin mengisap tembakau sebentar,"
Kata laki-laki baju hijau.
"Hahaha! Rupanya kau belum bertempur sudah ketagihan tembakau,"
Tiok Siang-hu tertawa.
"Baiklah, lekas saja, supaya tidak buang tempo."
"Ya, tapi bila perlu hamba juga dapat mengisap tembakau sambil bertempur,"
Kata laki-laki baju hijau sambil memasang tembakau pada pipanya yang masih berapi, lalu disedotnya dalam-dalam dua-tiga kali. Kemudian dengan acuh tak acuh ia melangkah maju ke tengah, katanya.
"Bila tidak udut tentu aku tak punya semangat, untuk itu harap Totiang suka memaafkan. Nah, marilah kita mulai. Kau memakai pedang, aku memakai cangklong. Boleh kita coba-coba apakah pedang lebih tajam atau cangklong lebih keras."
Bukan saja laki-laki baju hijau itu akan berkelahi sambil udut, bahkan senjatanya adalah pipa cangklongnya itu.
Mestinya Siong-ciok Tojin tidak ingin bertanding dengan seorang budak, tapi kena diolok-olok, ia menjadi naik pitam.
Dengan gusar ia membentak.
"Aku tidak sudi adu mulut dengan orang kecil, mau mulai bolehlah silakan, biarpun kau akan menyemburkan asap berbisa juga aku tidak gentar!"
"Eeh, mengapa Totiang menyangsikan asap tembakauku ini sebagai asap berbisa?"
Kata laki-laki baju hijau itu dengan tertawa.
"Supaya engkau tidak raguragu, biarlah engkau coba mengendus dulu asap tembakauku ini. Tanggung tidak berbisa, bahkan dapat menambah semangatmu!"
Habis berkata, seenaknya saja ia terus mendekati Siong-ciok Tojin dan menghembuskan asap tembakaunya ke muka imam itu.
Dari bau tembakaunya yang harum itu teranglah bukan asap beracun, tapi adalah daun tembakau pilihan.
Namun menghembuskan asap tembakau ke muka orang adalah perbuatan yang menghina, keruan Siongciok Tojin tidak tahan lagi.
"sret", kontan pedangnya terus menusuk sambil membentak.
"Aku harus menghajar adat padamu!"
Karena dianggapnya orang terlalu kurangajar, maka tusukannya ini diarahkan ke matanya.
Tak tersangka lakilaki baju hijau itupun tidak kalah cepat, mendadak ia mendak ke bawah, sambil masih mengisap pipa tambakaunya dia sudah menyusup ke samping, lalu berkata.
"Kenapa tidak kau keluarkan kepandaian andalanmu?"
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu pedang Siong-ciok Tojin sudah menyambar tiba pula, secepat kilat imam itu telah melancarkan tujuh kali serangan lihai dari Lianggoan-toat-beng-kiam (ilmu pedang sambar nyawa).
Sampai jurus ketujuh, karena tak sempat berkelit lagi, terpaksa laki-laki baju hijau itu menangkis dengan pipa cangklongnya.
Pipa cangklong itu entah terbuat dari apa, bukan baja bukan besi, tapi sedikitpun tidak rusak terkena pedang.
Sekali adu senjata saja Siong-ciok lantas tahu kekuatan lawan ternyata tidak lebih lemah, keruan ia terkejut.
Jika seorang budak saja sudah begini hebat, apalagi majikannya?
Sampai di sini dia tidak berani memandang enteng pada musuh lagi, namun dia pun belum mau mengeluarkan ilmu pedang andalannya, yaitu Kiu-kiongpat-kwa-kiam.
Sebaliknya laki-laki baju hijau itu telah mengolok-olok.
"Ilmu pedang sambar nyawa Bu-tong-pay memang hebat, tapi tampaknya jiwaku belum tentu dapat disambar, lebih baik Totiang keluarkan kepandaian andalanmu saja."
Habis berkata, mendadak cara bertempurnya juga lantas berubah.
Pipa cangklongnya telah bergerak dengan cepat dan lincah seperti naga hidup, sekaligus ia mengeluarkan tipu serangan dari tiga macam senjata, sebentar menotok, lain saat menusuk, satu tempo digunakan mengetok pula.
Namun Siong-ciok Tojin dapat menghadapinya dengan sama kuatnya, sementara itu tembakau yang dipasang laki-laki baju hijau itu sudah terisap habis.
Anehnya sejak mula dia hanya menghembuskan asap ke muka Siong ciok, lalu tidak pernah menghembuskan asap lagi.
Semua orang menyangka asap tembakau itu tentu ditelan seluruhnya ke dalam perut dan tidak perlu dibuat heran.
Tapi bagi Siong-ciok, pertandingan ini rada-rada tidak enak.
Lawannya cuma seorang budak, tapi dirinya sedikitpun tidak lebih unggul, bahkan pihak lawan masih sempat menyelingi dengan mengisap tembakau, hal ini benar-benar sangat memalukan Siong-ciok.
Akhirnya ia menjadi nekat, dikeluarkan juga ilmu pedang andalannya, Kiu-kiong-pat-kwa-tin.
Hanya dalam sekejap saja sinar pedang lantas bertebaran, mendadak menyambar ke timur, tahu-tahu mencurah dari sebelah barat.
Bayangan Siong-ciok seakan memenuhi seluruh kalangan dan menyilaukan pandangan penonton.
Kiranya ilmu pedang itu diciptakan menurut perhitungan Pat-kwa, setiap tempat dijaga oleh seorang murid sehingga delapan segi ada delapan orang.
Pada bagian tengah ditambah lagi seorang, maka jadilah Kiukiong atau sembilan tempat, makanya dinamakan Kiukiong-pat-kwa.
Kemudian Siong-ciok telah memperdalam ilmu pedang itu sehingga akhirnya seorang diri dapat memainkan barisan pedang yang seharusnya dimainkan sembilan orang itu.
Melihat kebagusan ilmu pedang itu, mau tak mau Tiok Siang-hu harus mengakui juga ilmu silat Tionggoan yang sukar dijajaki.
Cuma sayang imam tua ini sudah terbatas oleh usianya sehingga ilmu pedang ciptaan baru ini belum mencapai tingkat yang sempurna.
Sebagai seorang ahli, hanya melihat sebentar saja Tiok Siang-hu sudah dapat mengetahui dimana letak kelemahan ilmu pedang yang ruwet itu.
Laki-laki baju hijau itu adalah pengurus rumah tangga keluarga Tiok, kepandaiannya sudah mencapai enamtujuh bagian seluruh kepandaian sang majikan, maka dia cukup kuat untuk bertahan.
Walaupun tidak seperti majikannya yang telah mengetahui letak kelemahan ilmu pedang lawan, namun dia sendiri sudah mempunyai rencana cara mematahkan serangan Siong-ciok Tojin.
la membiarkan imam itu melancarkan serangan berantai yang hebat laksana air bah melanda dahsyatnya.
Berulang-ulang laki-laki baju hijau itu memang kelihatan terancam bahaya, tapi selalu dapat menghindarkan setiap serangan itu.
Pada suatu ketika tiba-tiba terdengar dia berseru.
"Ilmu pedangmu ini memang luar biasa, tapi semangatmu tampaknya sudah mulai kendur, agaknya kau perlu udut lagi. Ini, cobacoba lagi!"
Habis berkata, mendadak ia menghembuskan asap tembakau yang tebal, seketika dalam jarak beberapa meter luasnya seakan penuh kabut asap yang gelap.
Kiranya dia mempunyai suatu kepandaian yang khas, yaitu dapat mengisap dan menimbun asapnya di dalam perut, kemudian dapat dihembus keluar sekaligus.
Maka di tengah berkelebatnya sinar pedang di dalam kabut asap itu sekonyong-konyong terdengar suara "trang"
Yang nyaring, dengan cepat Siong-ciok Tojin telah menyusup keluar dari balik kabut asap, tapi tangannya sudah kosong, ternyata pedangnya sudah disampuk jatuh oleh pipa lawan.
"Maaf, maaf! Banyak terima kasih kepada Totiang yang sudi mengalah padaku,"
Demikian laki-laki baju hijau itu berseru sambil tertawa.
Habis itu ia lantas mengisi tembakau pula pada pipanya serta disedotnya satu kali, lalu dengan berlenggang akan meninggalkan kalangan pertempuran.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba ada orang membentak. Ternyata yang tampil ke muka ini adalah ketua Bu-tongpay sendiri, yaitu Lui Cin-cu.
"Haha, kiranya ketua Bu-tong-pay yang terhormat sudi memberi petunjuk, sungguh aku merasa sangat beruntung,"
Kata laki-laki baju hijau sambil tertawa.
"Orang she Tiok,"
Lui Cin-cu berkata kepada Tiok Siang-hu.
"Apakah kau berani bertanding secara terangterangan dengan aku?"
Nyata ia menganggap kemenangan hambanya itu diperoleh secara licik dan tidak menggunakan kepandaian sejati.
Tiok Siang-hu tahu ketua Bu-tong-pay itu sengaja hendak memancingnya supaya maju ke kalangan, tapi ia berbalik membikin Lui Cin-cu makin panas lagi, jawabnya.
"Di waktu bertempur, setiap orang mempunyai cara perkelahian sendiri-sendiri, mana boleh orang lain dituduh tidak menggunakan kepandaian sejati? Jika kau ingin bertanding dengan aku, hendaklah kau mengikuti peraturanku tadi, jadi silakan tundukkan dulu hambaku ini."
Mendengar itu, tanpa diperintah lagi si baju hijau lantas maju kembali, katanya dengan tertawa.
"Atas perintah majikan, tepaksa minta petunjuk lagi kepada Lui-tayciangbun. Cuma kita harus bicara di muka, aku sih tidak tahu cara perkelahian dengan kepandaian sejati apa-apa."
Sungguh gusar Lui Cin-cu tak terkatakan atas kesombongan orang she Tiok dengan budaknya itu.
Ia pikir kalau budak itu tidak diberi hajaran yang setimpal tentu pamor Bu-tong-pay akan runtuh habis-habisan.
Segera ia menjengek.
"Terhadap kaum rendah seperti kau ini aku pun tidak perlu bicara tentang cara perkelahian apa segala. Kalau di dalam sepuluh gebrakan aku tidak dapat mengalahkan kau, biarlah aku menyembah padamu!"
Ucapan Lui Cin-cu ini membikin orang-orang Bu-tongpay sendiri tercengang.
Mereka maklum meski Lui Cin-cu adalah Suheng Siong-ciok Tojin, namun mereka pun tahu selisih kepandaian mereka tidak seberapa.
Apalagi sekarang dia maju ke kalangan pertempuran dengan bertangan kosong, sungguh harus diragukan apakah di dalam sepuluh jurus dapat merobohkan lawan?
Diam-diam si baju hijau juga membatin.
"Tanpa menyemburkan asap juga dalam sepuluh jurus kau belum tentu mampu mengalahkan aku."
Dari pertarungannya dengan Siong-ciok Tojin yang berlangsung beberapa puluh jurus tadi ia sudah dapat memperkirakan kepandaian lawan, maka tanpa gentar sedikitpun ia menjawab.
"Baiklah, jika dalam sepuluh jurus aku betul-betul kalah, biarlah aku pun menyembah padamu. Nah, silakan lolos pedang, Lui-tayciangbun!"
"Terhadapmu masakah perlu pakai pedang segala?"
Jengek Lui Cin-cu.
"Hayolah, mulai!"
Kalau ada majikan yang sombong, dengan sendirinya kaum budaknya juga ketularan sombong, maka si baju hijau juga meniru lagak cukongnya, biasanya juga tidak pandang sebelah mata terhadap orang-orang persilatan di luar keluarga majikannya.
Sekarang ia menjadi gusar juga atas sikap Lui Cin-cu yang menghina itu, ia pun balas menjengek.
"Hm, ingin kulihat cara bagaimana kau menangkan aku dalam sepuluh jurus!"
Habis berkata, pipa cangklongnya terus bergerak, seperti akan menotok dan siap untuk mengetok pula.
"Bagus!"
Bentak Lui Cin-cu, berbareng tangannya bergerak seperti pedang, jarinya merapat sebagai ujung senjata, dalam sekejap saja ia sudah menggeser kiankemari dengan cuma menyerang satu kali.
Nyata yang dia mainkan juga ilmu pedang Kiu-kiong-pat-kwa-tin yang dimainkan Siong-ciok Tojin tadi, bedanya dia menggunakan telapak tangan sebagai senjata pedang.
Keruan si baju hijau terkejut dan lekas putar pipanya untuk mempertahankan diri.
Dalam pada itu Lui Cin-cu telah menyerang sambil menghitung.
"Satu ... dua ... tiga ... empat Tertampak sekeliling penuh bayangannya, berulang-ulang jarinya menusuk. Lwekangnya memang lebih tinggi dari Siongciok, maka serangannya membawa sambaran angin yang keras. Ketika Lui Cin-cu menyerang sampai empat jurus yang berarti 36 gerakan, mau tak mau Tiok Siang-hu manggut-manggut juga dan memuji.
"Bagus, memang Kiu-kiong-pat-kwa-kiam yang kau mainkan lebih mahir daripada Sutemu, tapi toh juga belum sempurna, di sana-sini masih ada beberapa lubang kelemahan."
Lui Cin-cu terkesiap dan kagum akan pandangan orang she Tiok yang tajam itu, memang sebegitu jauh dia meyakinkan ilmu pedang itu, ia sendiri pun merasa pada tempat-tempat tertentu masih belum sempurna betul.
Namun demikian ia yakin orang she Tiok itu juga tidak mampu memecahkan ilmu pedangnya itu, segera ia balas menjengek.
"Huh, bila perlu sebentar kau pun boleh coba-coba maju."
Sembari bicara serangannya tidak pernah berhenti, dia masih terus menghitung pula.
"Lima ... enam ... tujuh..."
Menangkis sampai jurus ketujuh, berulang-ulang lakilaki baju hijau itu sudah terancam bahaya, karena tiada jalan lain lagi, terpaksa ia menggunakan cara tadi, yaitu sambil menghembuskan tirai asap tembakaunya.
Namun Lui Cin-cu bukan Siong-ciok Tojin, asap tembakau itu sama sekali tidak mempengaruhi ketua Butong-pay itu, dia masih terus menyerang sambil kaki tetap menggeser kian-kemari menurut perhitungan Patkwa.
Malahan tirai asap yang dihembuskan laki-laki baju hijau itu tidak menyebar lagi, tapi begitu dihembuskan segera berubah menjadi jalur asap yang membubung ke atas dan kabur terbawa angin.
Kiranya Lui Cin-cu telah menggunakan tenaga pukulannya yang membawa sambaran angin yang santar untuk memaksa kabut asap itu tertiup ke atas.
Karena harus sembari menghembus asap tembakau, mau tak mau laki-laki baju hijau itu menjadi rada lengah, apalagi serangan asap itu tidak berhasil, ia menjadi gugup pula sehingga menambah cepat kekalahannya.
Baru saja Lui Cin-cu menghitung sampai angka "delapan", mendadak bentaknya.
"Roboh!"
Dan benar juga si baju hijau kontan lantas jatuh.
Tapi jatuhnya tidak terguling, sebaliknya cuma kedua kakinya yang bertekuk lutut dan berturut-turut menyembah tiga kali kepada Lui Cin-cu.
Kejadian ini benar-benar di luar dugaan semua orang, tak tersangka laki-laki baju hijau itu sedemikian jujur dan pegang janji betul-betul, begitu kalah lantas menyembah sungguh-sungguh kepada lawannya.
Padahal menyembahnya si baju hijau bukanlah karena dia pegang janji, tapi karena terpaksa.
Dia punya Goantiau-hiat di bagian lutut kena ditotok oleh Lui Cin-cu sehingga bertekuk lutut dan tampaknya menjadi seperti menyembah.
"Bagus, bagus! Lui-tayciangbun, rupanya kau masih ada harganya untuk berkenalan, marilah kita coba-coba, pertandingan cara bagaimana yang kau inginkan dariku?"
Seru Tiok Siang-hu.
"Tadi kau mengatakan ilmu pedangku ini masih ada lubang kelemahannya, maka biarlah aku tetap minta petunjuk padamu dengan ilmu pedang ini,"
Sahut Lui Cincu.
"Mana, ambilkan pedang!"
Demikian ia minta pedang kepada muridnya, nyata ia tidak berani memandang enteng kepada Tiok Siang-hu, maka merasa perlu menggunakan senjata betul-betul. Tiok Siang-hu tersenyum, katanya.
"Baiklah, aku memang ingin tukar pikiran dengan kau tentang Kiukiong-pat-kwa-tin kalian."
Habis berkata ia terus menjemput sebatang ranting kayu untuk digunakan sebagai senjata.
Keruan semua orang menjadi gempar, bukan saja orang she Tiok itu hanya menggunakan sebatang kayu sebagai pedang bahkan akan melawan Lui Cin-cu dengan ilmu pedang Bu-tong-pay.
"Kau berani main gila padaku?"
Bentak Lui Cin-cu dengan gusar. Belum lenyap suaranya.
"sret", mendadak Siang-hu telah menusuk lebih dulu sambil berkata.
"Aku benarbenar ingin minta petunjuk padamu, mengapa bilang aku main gila padamu? Jurus Pat-hong-su-tat (mencapai sasaran dari delapan penjuru) ini betul atau tidak?"
Walaupun cuma sebatang ranting kayu, tapi ternyata membawa tenaga yang kuat, bahkan serangan pertama itu memang betul adalah jurus pembukaan Kiu-kiongpat-kwa-kiam.
Bahkan dalam sekejap saja ia sudah melancarkan satu serangan sembilan gerakan sembari menggeser kian-kemari.
Melihat kelihaian musuh, Lui Cin-cu tidak berani ayal.
Terpaksa ia menangkis dengan jurus yang serupa.
Lui Cin-cu terkenal lihai akan Lwekangnya, maka setiap gerakan pedangnya selalu membawa tenaga yang dahsyat.
Tapi aneh, tampaknya pedangnya sering beradu dengan ranting kayu lawan, namun sama sekali tak dapat menabas kutung kayu itu.
"Dan jurus kedua Chit-sing-poan-goat (tujuh bintang mengelilingi bulan), begini caranya bukan?"
Demikian Tiok Siang-hu berkata pula dengan tertawa.
Para penonton ikut terkesima menyaksikan pertandingan itu, hanya beberapa tokoh terkemuka saja yang tahu dimana letak rahasianya mengapa pedang kayu Tiok Siang-hu itu tidak terkurung oleh pedang Lui Cin-cu.
Kiranya Lwekang Tiok Siang-hu sudah mencapai tingkatan sangat tinggi, bahkan lebih tinggi setingkat daripada Lui Cin-cu.
Setiap serangan Lui Cin-cu, tenaga Lwekang yang ikut dilontarkan selalu dapat dipatahkan oleh lawan.
Dengan enteng sekali pedang kayu itu dapat menempel dan bergoyang mengikuti daya tekanan pedang Lui Cin-cu sehingga tidak tertabas kutung.
Bagi pandangan orang lain, kedua orang hanya seperti saudara seperguruan yang sedang berlatih.
Akan tetapi kepandaian Tiok Siang-hu ternyata tidak cuma sekian saja, sampai jurus keempat yang bernama Uh-sia-kiu-jit (sinar matahari memancar dari angkasa), tiba-tiba ia berseru sambil tertawa.
"Jurus ini ada sedikit perubahan, hendaklah Lui-tayciangbun memberi petunjuk apakah betul atau tidak?"
Habis itu, dalam sekejap itu pedangnya seakan berubah menjadi bayangan barisan pedang yang bertebaran mengarah ke tubuh Lui Cin-cu.
Sungguh bukan main kejut Lui Cin-cu, jurus ini justru adalah jurus yang telah dilatihnya bersama Siong-ciok dan belum lagi sempurna selama ini.
Menurut gerakan ilmu pedangnya, jurus ini sekaligus mestinya dapat melukai sembilan musuh, tapi selama ini dalam latihan Lui Cin-cu hanya dapat menembus enam sasarannya.
Dan kekurangan itu sekarang ternyata dapat dimainkan oleh Tiok Siang-hu dengan sempurna.
Namun sebagai seorang ketua suatu cabang persilatan, meski menghadapi bahaya ia tidak menjadi bingung.
Berturut-turut ia pun menggunakan beberapa gerakan yang berbeda-beda untuk menghindar.
Baru sekarang ia percaya apa yang dikatakan Tiok Siang-hu tadi memang bukan bualan, ternyata di dalam ilmu pedang andalannya itu memang ada lubang kelemahannya.
Dengan kedudukan Lui Cin-cu, sampai di sini seharusnya ia mengaku asor dan mengundurkan diri, tapi dia masih merasa tidak rela untuk mengalah.
Diam-diam ia ingin mengetahui apakah jurus Kiam-hoatnya yang lain masih ada kelemahannya?
Maka sesudah pasang kudakuda lebih kuat, segera ia melancarkan serangan terlebih gencar.
"Bagaimana, apakah jurus ini tadi Lui-tayciangbun merasa boleh juga?"
Tanya Tiok Siang-hu sambil tertawa.
"Bagus! Dan masih ada lima jurus lagi, silakan memberi petunjuk sekalian,"
Sahut Lui Cin-cu, sembari bicara sekaligus ia pun menyerang pula jurus kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan, empat kali sembilan gerakan, seluruhnya 36 gerakan lagi.
Namun Tiok Siang-hu juga menggunakan gerakan yang sama untuk mematahkan serangan Lui Cin-cu, katanya dengan tertawa.
"Serangan keempat jurus ini sangat rapat tanpa kelemahan sedikitpun, aku pun sangat kagum!"
Sampai sekarang Kiu-kiong-pat-kwa-tin itu hanya tinggal jurus terakhir saja yang disebut Kiu-kiu-kui-goan (sembilan kali kembali asal), segenap perubahan serangan yang duluan sekaligus terlebur di dalam jurus terakhir ini sehingga gerakannya sangat ruwet tapi maha dahsyat.
Karena kalah atau menang hanya tergantung pada jurus terakhir ini, maka Lui Cin-cu telah mencurahkan segenap kemahirannya pada jurus ini.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang dan bayangan orang, sekonyong-konyong terdengar suara "creng"
Satu kali, seketika sinar pedang lenyap dan bayangan hilang, pedang Lui Cin-cu sudah terlepas dari cekalan.
Semua orang tidak jelas cara bagaimana dia dikalahkan.
Untuk sejenak Lui Cin-cu tampak tertegun.
Habis itu dia menggendong tangan sambil menunduk dan berpikir seperti sedang merenungkan sesuatu teka-teki yang sukar dipecahkan.
Selang tak lama, mendadak Lui Cin-cu bergelak tertawa dan berseru.
"Hahahaha! Benar-benar di atas langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai. Aku dikalahkan seorang yang lebih pandai, apa artinya bagiku? Sungguh menyenangkan sekali persoalan yang kuselami selama ini telah dapat dipecahkan dengan mudah. Cuma, Tiok-siansing, agaknya kau pun ada sesuatu kelemahan yang belum dapat ditutup dengan baik. Misalnya pada gerakan keenam dalam jurus terakhir ini aku menggeser ke kiri dan ujung pedang mengancam Goan-tiau-hiat, gagang pedang mengetok Ih-gi-hiat, lalu cara bagaimana kau akan mematahkannya?"
"Jika demikian jadinya, maka akulah yang kalah!"
Sahut Tiok Siang-hu tertawa.
Kedua orang sama-sama tergolong sarjana ilmu silat, setelah mengalami pertandingan ini, ilmu pedang andalan Bu-tong-pay itu telah menjadi betul-betul sempurna, dengan sendirinya Lui Cin-cu sangat senang, sehingga soal kalah atau menang tak terpikir pula olehnya.
Bahkan Tiok Siang-hu tampaknya juga menaruh simpati padanya, maka sesudah bertanding, dari pembicaraan mereka itu sifatnya menjadi seperti tukar pikiran di antara sesama kawan saja.
Melihat hasil pertandingan itu, semua orang menjadi lega, tapi segera para ksatria merasa ragu-ragu pula, sedangkan tokoh seperti Lui Cin-cu saja menderita kalah, lalu siapa lagi yang mampu menandingi Tiok Siang-hu?
Tiba-tiba terlihat seorang Hwesio tua memakai kasa putih telah tampil ke muka sambil mengucapkan kebesaran Buddha, katanya dengan perlahan.
"Ilmu silat Tiok-sicu benar-benar luar biasa, Lolap tidak bermaksud -mencari kemenangan, tapi ingin menghapus pertentangan ini, maka sengaja minta petunjuk kepada Tiok-sicu."
Kiranya Hwesio tua ini adalah tokoh Go-bi-pay, Hoathoa Siangjin gelarnya.
Dia adalah murid Kim-kong Siangjin, tokoh angkatan tua Go-bi-pay yang terkenal dengan Thay-jing-khi-kang, semacam Lwekang yang dahsyat.
Di antara hadirin itu terdapat empat tokoh utama, yaitu Kok Tiong-lian, Ciong Tian dari Thian-san-pay, Taypi Sian-su dari Siau-lim-si dan yang keempat adalah Hoat-hoa Siangjin ini.
Di antara empat tokoh ini, Hoat hoa Siangjin berusia paling tua pula, maka menurut urutan dia adalah tokoh utama di dalam pertemuan besar para ksatria ini.
Rupanya Tiok Siang-hu juga tahu akan kedudukan Hoat-hoa Siangjin, ia pun tidak berani congkak seperti tadi, sambil memberi salam balasan ia menjawab.
"Taysu adalah paderi agung pada zaman ini, baik ilmu silat maupun keagamaan sudah lama sangat mengagumkan. Bila Taysu ingin memberi petunjuk, terpaksa Cayhe harus belajar kenal dengan Lwekang Taysu."
Mendengar itu, kembali para ksatria terkejut, mereka tahu Thay-jing-khi-kang yang menjadi andalan Hoat-hoa Siangjin itu sukar dijajaki dalamnya, masakah sekarang Tiok Siang-hu justru ingin mengadu Lwekang padanya.
Memangnya orang she Tiok ini benar-benar seorang luar biasa dan serba pandai, kalau tidak, masakah selalu menantang lawan dengan kepandaian yang menjadi andalan lawan pula.
Dalam pada itu Hoat-hoa Siangjin telah menjawab.
"Sudah tentu Lolap akan mengiringi kehendak Tiok-sicu. Dan cara bagaimana harus bertanding, silakan memberi penjelasan."
Tiba-tiba Tiok Siang-hu menggunakan sebelah kakinya sebagai sumbu, tubuhnya berputar dan kaki sebelah lain digunakan menggaris satu lingkaran, lalu katanya.
"Kita boleh bertanding di dalam lingkaran ini. Siapa yang terdesak keluar dari lingkaran dianggap kalah, tapi yang menang juga tidak perlu menyerang lebih lanjut."
"Kuterima usul Tiok-sicu ini dengan senang hati,"
Sahut Hoat-hoa.
Lalu mereka berdua masuk bersama ke dalam lingkaran, duduk berhadapan dan menjulurkan telapak tangan dan saling bertahan, demikianlah mereka akan mengadu Lwekang.
Tiok Siang-hu yang lebih dulu melancarkan serangan untuk menjajaki kekuatan lawan, sebaliknya Hoat-hoa Siangjin duduk dengan mata terpejam seperti bersemadi, sedikitpun tidak bergerak.
Waktu Tiok Siang-hu melancarkan tenaga serangannya, sama sekali tak terasa tenaga perlawanan Hoat-hoa Siangjin.
Ketika Tiok Sianghu menambahkan tenaganya sampai enam-tujuh bagian, baru mulai merasa tenaga dalam lawan ternyata sangat halus, seperti air danau yang cuma sedikit bergelombang bila tertimpuk sepotong batu kecil.
"Thay-jing-khi-kang mengutamakan halus melawan keras, nyata memang luar biasa, tampaknya mau tak mau aku harus mengerahkan segenap tenagaku,"
Demikian diam-diam Tiok Siang-hu berpikir.
Karena ingin lekas menang, segera Tiok Siang-hu mengerahkan tenaga dan dikeluarkan serentak laksana gugur gunung dahsyatnya, tapi I loat-hoa Siangjin masih tetap duduk tenang, seakan tidak merasa sesuatu.
Hanya kasa (jubah Hwesio) yang dipakainya itu melembung lebar seperti layar, tapi tubuhnya tetap tidak bergerak.
Semakin keras Tiok Siang-hu mengerahkan tenaga dalamnya, sampai akhirnya dari ubun-ubunnya mengeluarkan uap putih yang tipis.
Melihat keadaan demikian, para penonton menyangka Hoat-hoa Siangjin sudah di pihak yang unggul, hanya Kok Tiong-lian saja yang mengerutkan kening dan merasakan kegawatan pertandingan itu.
Sementara itu Hoat-hoa Siangjin juga terkejut akan Lwekang lawannya yang kuat dan aneh itu, sekali menyerang, damparan tenaga lawan terasa seperti gelombang ombak samudra yang satu disusul yang lain, tanpa habis tanpa berhenti sedikitpun tidak memberi kesempatan mengaso kepada lawan.
Adu tenaga dalam memang paling berbahaya, apalagi usianya sudah tua, lama-lama Hoat-hoa merasakan tenaga tak mau mengikuti lagi kemauannya, terpaksa ia hanya menjaga diri tanpa menyerang, dengan kehalusan tenaga murni Thay-jing-khi-kang ia menghadapi serangan-serangan musuh.
Dalam pada itu Tay-pi Siansu dari Siau-lim-si dan tokoh Thian-san-pay, Ciong Tian, juga melihat gelagat yang tidak enak itu.
Mereka tahu bila keadaan demikian itu diteruskan, tentu kedua pihak akan sama-sama celaka nantinya, tapi untuk memisahkan mereka rasanya juga sukar, kecuali dilakukan bersama oleh kedua tokoh terkuat.
Walaupun Tiok Siang-hu sudah di atas angin, tapi keuletan Hoat-hoa Siangjin juga di luar dugaannya, la merasa tidak sukar untuk mengalahkan Hwesio tua itu pada saat terakhir, tapi dia masih harus menempur sekian banyak jago-jago yang lain, jika tenaga sudah kelewat banyak terbuang, tentu nanti akan membikin susah diri sendiri.
Saat itu uap yang mengepul dari ubun-ubun Tiok Siang-hu sudah tambah tebal.
Melihat itu, Tay-pi Siansu dan Ciong Tian tahu dia sedang mengerahkan tenaga dalam sedahsyatnya, mereka kuatir Hoat-hoa Siangjin tidak tahan, maka diam-diam mereka sudah siap untuk segera memberi bantuan bila perlu.
Di tengah hening semua orang itu, sekonyongkonyong terdengar gelak tertawa Tiok Siang-hu, tahutahu dia dan Hoat-hoa Siangjin telah berbangkit bersama, lalu melangkah keluar lingkaran berbareng sambil tangan bergandeng tangan seakan-akan sudah berjanji sebelumnya, kalau tidak, masakah langkah mereka begitu tepat dan sama.
Semula para ksatria terperanjat, beberapa tokoh terkemuka juga merasa bingung.
Tapi sesudah diperhatikan kemudian, barulah diketahui tempat dimana Hoat-hoa Siangjin duduk bersila tadi telah meninggalkan bekas dekuk yang nyata, sebaliknya tempat berduduk Tiok Siang-hu itu tidak meninggalkan bekas apa-apa.
Dari keadaan ini teranglah dalam hal Lwekang sudah diketahui Hoat-hoa Siangjin masih kalah setingkat, tapi kalau menurut peraturan yang telah ditetapkan, karena kedua orang melangkah keluar lingkaran berbareng, maka dapatlah dianggap sama kuat alias seri.
Rupanya Tiok Siang-hu tidak ingin membuang tempo dan tenaga lebih banyak, maka dia telah menggunakan gaya lengket dari tenaga dalamnya untuk menyedot telapak tangan lawan, lalu ditarik sehingga dapatlah keluar lingkaran bersama.
Ini adalah kecerdikan Tiok Siang-hu, daripada mengalahkan Hoat-hoa dan menimbulkan kebencian orang Bu-lim, ada lebih baik menarik simpatik dari Hoat-hoa, sebaliknya tenaga sendiri juga tidak terhambur percuma.
Sesudah keluar lingkaran pertandingan itu, Tiok Sianghu melepaskan tangan Hoat-hoa Siangjin, katanya sambil memberi hormat.
"Lwekang Losiansu benar-benar maha hebat, untung aku dapat mempertahankan diri dengan sama kuat, maka tidak perlu lagi kita melanjutkan pertandingan ini."
Sudah tentu Hoat-hoa tahu pihak lawan sengaja mengalah padanya, sebagai seorang paderi saleh dia harus bicara secara jujur, maka ia pun membalas hormat dan menjawab.
"Ilmu sakti Tiok-sicu benar-benar tiada bandingannya, Lolap kagum sekali dan terima mengaku asor."
Jelas sekali dia telah mengakui kemenangan pihak lawan, keruan para ksatria saling pandang dan tidak dapat bicara.
Berturut-turut dua tokoh terkemuka mereka sudah kalah, lalu siapa lagi yang akan maju untuk melawan Tiok Siang-hu.
Kok Tiong-lian merasa sudah tiba saatnya dia sendiri harus tampil ke muka.
Dan baru saja ia hendak melangkah, tiba-tiba Ciong Tian telah mendahului maju untuk menantang Tiok Siang-hu, serunya.
"Kepandaian Tiok-siansing ternyata serba tinggi. Sekarang giliran Thiansan-pay coba main-main dengan engkau."
Thian-san-pay jauh terpencil di wilayah barat sehingga namanya tidak setenar Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Go-bipay dan lain-lain.
Padahal kalau bicara tentang kepandaian sejati, maka tokoh-tokoh Thian-san-pay tidaklah di bawah jago-jago persilatan daerah Tionggoan itu, malahan ketua Thian-san-pay angkatan yang lalu, Teng Hiau-lan, adalah jago nomor satu di seluruh negeri yang diakui secara resmi oleh setiap jago silat.
Ciong Tian adalah murid Teng Hiau-lan, maka ilmu silatnya dapatlah dibayangkan.
"Hahaha! Ciong-tayhiap ternyata seorang yang suka blak-blakan,"
Sahut Tiok Siang-hu dengan tertawa.
"Sudah lama aku pun kagum kepada tiga macam ilmu sakti dari Thian-san-pay, hari ini bila aku dapat belajar kenal seluruhnya, itulah yang paling kuharapkan."
Ilmu pedang Thian-san-pay adalah leburan dari berbagai ilmu pedang di dunia sehingga terkenal sebagai ilmu pedang nomor satu.
Lwekang Thian-san-pay juga dapat membanding!
Lwekang dari Siau-lim-pay, selain itu ada pula Thian-san-sin-bong, sejenis biji berduri yang hanya tumbuh di puncak Thian-san dan merupakan senjata rahasia yang paling keras di dunia ini.
Jadi ilmu pedang, Lwekang dan senjata rahasia itulah yang merupakan ketiga macam kepandaian utama Thian-sanpay.
Dahulu Teng'Hiau-lan pernah mengalahkan iblis besar Beng Sin-thong dengan ketiga macam ilmu sakti itu dan pernah bertempur sengit melawan murid Kiau Pak-beng, yaitu Le Seng-lam.
Sekarang sekaligus Tiok Siang-hu dapat menyebutkan tiga macam kepandaian Thian-sanpay, hal ini menandakan dia sangat memahami sejarah dunia persilatan bahkan juga sangat tabah, agaknya kedatangannya ini memang diperhitungkan dengan rapi.
Kepandaian Thian-san-pay memang sangat tersohor, tapi jarang dilihat orang, maka para ksatria juga sangat ingin menyaksikan bagaimana ahli waris Teng Hiau-lan menggunakan ketiga macam kepandaiannya yang sakti.
Baca Juga: Tokoh Besar 5
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 9