Eps 8 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Berbareng mereka pun ingin tahu dengan ilmu aneh apa Tiok Siang-hu akan melawan Ciong Tian.
Tiba-tiba tertampak Tiok Siang-hu menepuk pinggang sendiri, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang pedang yang gemerlapan menyilaukan mata.
Kiranya pedangnya itu sangat lemas dan terlibat di pinggang, di waktu tidak terpakai dapat digunakan sebagai sabuk.
Dalam pertandingannya dengan Lui Cin-cu tadi, Tiok Siang-hu hanya menggunakan sebatang ranting kayu sebagai senjata, tapi sekarang dia telah mengeluarkan pedang sejati, ini menandakan betapa ia memandang berat kepada lawannya, yaitu Ciong Tian.
Di lain pihak Ciong Tian juga sudah melolos pedang dan sedang menantikan serangan Tiok Siang-hu, namun orang she Tiok itu ternyata tidak lantas menyerang, sebaliknya sorot matanya yang tajam menatap Ciong Tian tanpa berkedip.
Ciong Tian sendiri juga sangat prihatin dan sungguh-sungguh.
Memang pertandingan di antara jago kelas wahid yang memiliki kepandaian setingkat tidak mau sembarangan menyerang lebih dulu, sebaliknya kalau sudah menyerang, maka sukar dibendung lagi.
Benar juga, mendadak terdengar suara deru angin yang keras disertai kelebat sinar pedang, entah siapa yang mulai menyerang lebih dulu.
Yang terang pedang kedua orang sama-sama membawa suara gemuruh yang keras, terdengarlah suara "trang-tring"
Berulang-ulang, hanya sekejap saja pedang kedua orang sudah saling bentur sampai belasan kali. Mendadak terdengar Ciong Tian membentak.
"Pergi!"
Menyusul Tiok Siang-hu juga berseru.
"Kau pun berdirilah yang kuat!"
Dengan cepat sekali kedua orang lantas berpisah, Tiok Siang-hu tampak mundur dua-tiga tindak, sebaliknya Ciong Tian berputar-putar seperti gangsing sehingga sukar dibedakan siapa yang tergetar mundur lebih dulu.
Kiranya tadi Tiok Siang-hu mulai menyerang lebih dulu, Ciong Tian yang sudah siap menantikan serangan lawan dengan Lwekang yang tersalur ke ujung pedang, telah menangkis dan memaksa Tiok Siang-hu mundur dua-tiga tindak.
Sebaliknya Tiok Siang-hu telah mengerahkan tenaganya gelombang demi gelombang, untuk mematahkan damparan tenaga dahsyat itu tak tertahankan lagi Ciong Tian sampai ikut terdorong berputar-putar.
Ketika Tiok Siang-hu dapat berdiri tegak, sementara itu Ciong Tian juga sudah menenangkan diri.
Hasil gebrakan ini boleh dikata sama kuatnya, maka gemuruhlah sorak-sorai para penonton.
"Tadi aku telah menyerang lebih dulu, sekarang adalah giliranku menunggu petunjuk dari Ciong-tayhiap,"
Kata Tiok Siang-hu dengan tersenyum. Ciong Tian sudah mempunyai rencana serangan, mendadak ia membentak.
"Awas!"
Sinar pedang berkelebat, kontan ia menyerang dari depan.
Menurut teori ilmu silat, golok atau tombak, baik digunakan menyerang dari depan, tapi pedang lebih tepat digunakan menyerang dari samping, misalnya dengan menabas atau membabat.
Tapi sekarang Ciong Tian justru menyerang dari depan dengan pedangnya, ini telah menyimpang daripada permainan ilmu pedang yang biasa.
"Bagus!"
Seru Tiok Siang-hu sambil menangkis.
Tapi perubahan serangan Ciong Tian secepat kilat, baru saja ujung pedangnya mengancam tenggorokan lawan, tahu-tahu pedang menyambar ke samping untuk menabas bahu terus menurun untuk menikam lambung musuh.
Ini adalah jurus serangan mematikan dari Tui-hong-kiam-hoat yang lihai.
"Kiam-hoat bagus!"
Kembali Tiok Siang-hu memuji sambil mundur setindak.
Ciong Tian tidak berhenti lagi, sekali Tui-hong-kiamhoat sudah dilancarkan, terus-menerus ia menyerang dengan gencar dan sukar dihentikan.
Hanya kelihatan sinar pedang bertebaran menyilaukan mata, beruntun Ciong Tian menyerang delapan kali dan Tiok Siang-hu juga terdesak mundur delapan tindak.
Akan tetapi delapan tindak mundur itu bukanlah ngawur, sebaliknya selalu menginjak tempat yang kuat menurut perhitungan Pat-kwa, langkah dan permainan pedangnya sedikitpun tidak kacau, bahkan setiap mundur setindak selalu daya serangan Ciong Tian juga kena dimusnahkan.
Serangan Ciong Tian itu benar-benar sangat hebat, tapi lawannya juga tidak kurang lihainya.
Sungguh kagum tak terhingga para penonton sehingga banyak yang terkesima dan ada yang menghela napas gegetun.
Pada saat itulah mendadak ilmu pedang Ciong Tian berubah lagi, sinar pedangnya memanjang naik turun laksana naga menari di angkasa, seketika kedua orang terbungkus oleh sinar pedang.
Bagi penonton-penonton yang kepandaiannya masih cetek hanya kelihatan berkelebatnya sinar pedang saja dan tidak nampak orangnya.
Hanya tokoh-tokoh terkemuka seperti Sin Un-long dari Jing-sia-pay, Lui Cincu dan Siong-ciok Tojin dari Bu-tong-pay, Kok Tiong-lian dan lain-lain yang masih dapat membedakan jurus-jurus serangan di antara kedua seteru itu.
Namun begitu, yang mereka ketahui juga cuma ilmu pedang yang dimainkan Ciong Tian saja, yaitu Si-mi-kiam-hoat dari Thian-san-pay yang sangat lihai.
Jika Si-mi-kiam-hoat masih dapat dikenali beberapa tokoh-tokoh itu, adalah ilmu pedang yang dimainkan oleh Tiok Siang-hu ternyata tidak mereka kenal, apa namanya juga mereka tidak tahu.
Yang jelas hanya kelihatan orang she Tiok itu mengacung ke timur, tapi tahu-tahu menyerang ke barat, seperti mengincar ke selatan, tiba tiba menyambar ke utara.
Tampaknya seperti tidak beraturan, tapi ternyata sangat ulet dan rapat.
Mau tak mau Ciong Tian merasa kagum juga terhadap lawan tangguh itu, ia pikir ilmu silat memang tiada batasnya, meski dia sudah mengeluarkan Si-mi-kiamhoat yang paling diandalkan toh belum dapat menundukkan lawan.
Namun demikian lambat-laun ia pun sudah dapat mengikuti jalannya ilmu pedang Tiok Siang-hu.
"Lepas senjata!"
Mendadak Ciong Tian menggertak, sinar pedangnya merapat terus melebar lagi seakan sebuah jaring besar menelungkup ke bawah.
Jurus ini disebut Kay-cu-si-mi, dimana pedangnya sampai, bila terbentur senjata lawan tentu pedang lawan akan terpuntir jatuh, kalau tidak lepas pedang tentu lawan akan terluka.
Namun Tiok Siang-hu menyambutnya dengan bergelak tertawa, serunya.
"Belum tentu bisa!"
Berbareng sinar pedangnya juga membuyar, hanya dalam sekejap saja ia sudah menggeser kian-kemari sehingga serangan Ciong Tian itu dapat dielakkan.
Sebenarnya dengan ilmu pedang Tiok Siang-hu sendiri sangat sukar untuk mematahkan jurus serangan Ciong Tian itu, tapi yang dia pakai secara mendadak adalah sejurus yang ditirunya dari Kiu-kiong-pat-kwa-tin milik Bu-tong-pay yang dilihatnya tadi dan hanya diberi perubahan sedikit.
Walaupun Tiok Siang-hu meminjam jurus ilmu pedang golongan lain, tapi mau tak mau Ciong Tian harus memuji akan kepintaran lawannya.
"Sungguh hebat!"
Seru Ciong Tian, berbareng dia menyerang pula dengan jurus Kay-cu-si-mi seperti tadi.
Sudah tentu para penonton menjadi heran, sudah terang Tiok Siang-hu dapat mematahkan serangan jurus itu, entah mengapa sekarang Ciong Tian mengulanginya lagi?
Kiranya menurut perhitungan Gong Tian, dalam tangkisan tadi Tiok Siang-hu telah terpaksa memencarkan tenaga dalamnya untuk menangkis serangan yang bertebaran dari berbagai arah itu.
Jika dia mengulangi lagi sampai dua-tiga kali tipu serangan yang sama, maka Tiok Siang-hu pasti sukar lagi menangkis dan pasti akan kalah.
Tak terduga sekali ini Tiok Siang-hu tidak menyambut dengan jurus tadi, tapi dia menirukan Ciong Tian dengan jurus Kay-cu-si-mi.
Keruan Ciong Tian terperanjat, sungguh sukar dipercaya bahwa jurus serangan yang paling sukar dan ruwet dari Thian-san-pay itu hanya sekali lihat saja sudah dapat ditirukan oleh Tiok Siang-hu, bahkan terus digunakan.
Sungguh seorang maha pandai.
Padahal jurus tiruan Tiok Siang-hu itu hanya bentuknya saja sama, tapi sesungguhnya belum murni, belum memadai.
Hanya saja dia kerahkan pula tenaga dalamnya yang dahsyat sehingga benturan kedua pedang dari jurus serangan yang sama sukar dihindarkan lagi.
"Trang", terdengar dering nyaring mengilukan, dua jalur sinar perak mendadak mencelat ke udara. Kedua orang sama-sama melompat mundur. Sejenak kemudian barulah semua orang dapat melihat jelas bahwa pedang yang dipegang Ciong Tian dan Tiok Siang-hu sudah terkurung semua, keadaan Tiok Siang-hu tampak tiada sesuatu yang aneh, tapi lengan baju Ciong Tian sudah tertusuk sobek. Pedang yang dipakai Ciong Tian adalah pedang biasa, sebaliknya Tiok Siang-hu memakai pedang pilihan, walaupun sama-sama terkurung, tampaknya tenaga dalam Ciong Tian lebih kuat. Cuma baju Ciong Tian terobek, kalau menurut peraturan pertandingan dia sudah kalah satu jurus.
"Aku telah kalah sejurus, selama hidup ini aku takkan menggunakan pedang lagi, tapi kita masih belum selesai!"
Ujar Cong Tian sambil membuang pedangnya yang kutung.
Tiok Siang-hu tahu kemenangannya itu hanya secara kebetulan saja, kalau bicara ilmu pedang sejati, dirinya harus mengaku kalah tinggi, maka dengan tersenyum getir ia menjawab.
"Ah, buat apa Ciong-tayhiap berkata demikian. Sekarang biarlah aku minta petunjuk tentang Thian-san-sin-bong kalian!"
"Baik, boleh kita mengadu senjata rahasia!"
Sahut Ciong Tian dan kontan sejalur sinar emas mengkilap terus terlepas dari tangannya dan menyambar ke depan sambil membawa suara mendesing.
Itulah Thian-san-sinbong yang termasyhur.
Bentuk Thian-san-sin-bong mirip anak panah kecil, panjangnya cuma beberapa senti, siapa pun tidak menyangka bahwa benda yang tampaknya sepele itu mempunyai daya serangan begitu dahsyat.
Tampaknya Sin-bong itu sudah hampir mengenai tubuh Tiok Siang-hu, namun dalam sekejap itu dengan cepat sekali orang she Tiok itupun sudah berkelit.
"Cret", Sin-bong itu menyambar terus ke depan dan menancap di tebing batu. Tiok Siang-hu sendiri telah melompat ke atas tebing sehingga Sin-bong itu menyambar lewat di bawah kakinya. Waktu ia berpaling, ia lihat Thian-san-sin-bong itu hampir amblas ke dalam dinding batu, mau tak mau ia harus memuji.
"Bagus! Memang luar biasa! Thian-sansin-bong harus diakui sebagai senjata rahasia nomor satu di dunia ini!"
Dalam pada itu dengan cepat sekali Sin-bong yang kedua sudah menyambar tiba pula disertai suara bentakan Ciong Tian.
"Ini, terima lagi yang kedua!"
"Haha! Kau sudah menguji aku, terpaksa aku harus menerima senjata rahasiamu ini,"
Kata Tiok Siang-hu.
Terhadap Sin-bong pertama dia belum berani menangkapnya karena belum diketahui sampai dimana dahsyatnya senjata rahasia ini, tapi sekarang ia menduga dirinya masih mampu menangkap Sin-bong itu.
Di atas tebing yang curam itu tiada tempat untuk menghindar, maka tertampak Tiok Siang-hu telah merangkap kedua tangannya, tahu-tahu sinar emas lenyap, Thian-san-sin-bong kedua itu telah terjepit di tengah kedua telapak tangannya.
Namun begitu tidak urung badan Tiok Siang-hu tampak bergeliat dan hampir terpeleset jatuh ke bawah tebing.
Selama ratusan tahun ini Thian-san-sin-bong malang melintang tiada bandingannya.
Dahulu hanya Beng Sinthong dan Le Seng-lam saja yang pernah menangkap timpukan Thian-san-sin-bong itu dan sekarang Tiok Siang-hu terhitung orang yang ketiga.
Tokoh-tokoh angkatan tua yang dahulu pernah menyaksikan peristiwa Beng Sin-thong dan Le Seng-lam, dibandingkan dengan cara Tiok Siang-hu menangkap Sinbong sekarang, tampaknya orang she Tiok ini malah lebih mudah.
Walaupun kekuatan Ciong Tian tidak dapat dibandingkan dengan Teng Hiau-lan di masa itu, tapi kekuatan Tiok Siang-hu sekarang paling sedikit toh tidak di bawah mendiang Beng Sin-thong dan Le Seng-lam.
Melihat Tiok Siang-hu sanggup menangkap Sin-bong, mau tak mau Ciong Tian terkesiap juga.
Serangan Sinbong itu biasanya sekaligus tiga biji secara susul menyusul, sekarang pun begitu, segera Sin-bong yang ketiga lantas disambitkan.
Ciong Tian tidak tahu bahwa Tiok Siang-hu juga jauh lebih terkejut daripadanya, walaupun dia sudah dapat menangkap sebuah Sin-bong, tapi tenaga sambitan yang dahsyat itu benar-benar di luar dugaannya.
Begitu Sinbong itu tertangkap, seketika napasnya terasa sesak dan darah bergolak, cuma dia punya Lwekang teramat tinggi sehingga orang lain sukar mengetahuinya.
Sekarang Tiok Siang-hu menghadapi pula Sin-bong ketiga, ia merasa tidak sanggup menangkapnya lagi, cepat ia mengerahkan tenaga dan juga menimpukkan Sin-bong yang tertangkap olehnya itu, maka terbenturlah kedua biji Sin-bong itu di tengah udara, lalu terpental dan jatuh semua ke tanah.
"Kalau menerima tanpa membalas adalah kurang sopan! Ciong-tayhiap, sekarang giliranmu yang harus menerima senjata rahasiaku!"
Seru Tiok Siang-hu.
Melihat Tiok Siang-hu mampu menyambut serangan tiga biji Thian-san-sin-bong dengan tidak cidera sedikitpun, memangnya semua orang sudah kagum, sekarang mendengar dia akan 'membayar"
Kembali juga dengan senjata rahasia, keruan hal ini sangat menimbulkan keheranan semua orang.
Setiap orang sangat ingin tahu iblis yang kepandaiannya sukar diukur ini entah akan menggunakan senjata rahasia jenis apa yang dapat mengungguli Thian-san-sin-bong?
Tiba-tiba Tiok Siang-hu menjemput sepotong batu sebesar kepalan tangan, bentaknya.
"Awas!"
Ketika tangannya terangkat, batu itu sudah diremas hancur olehnya sehingga berubah menjadi batu kerikil yang kecil-kecil terus dihamburkan.
Yang dia gunakan adalah gaya Thian-li-san-hoa (bidadari menebar bunga).
Bagi para penonton, soal meremas hancur batu dan menaburkannya sebagai senjata rahasia, kepandaian demikian tidaklah terlalu mengherankan, maka orangorang yang tadinya menilai tinggi kepandaiannya menjadi rada kecewa dan merasa kepandaian menggunakan senjata rahasia Tiok Siang-hu kiranya juga cuma begini saja.
Tapi segera mereka merasa pandangan mereka itu keliru, tahu-tahu batu kerikil yang ditaburkan oleh Tiok Siang-hu itu telah bekerja secara luar biasa.
Di tengah suara mendesing sambaran batu-batu kerikil itu, batubatu itu ada yang berputar-putar, ada yang bisa membelok dan ada yang menyambar lurus ke depan.
Dengan sekali timpuk ternyata dapat menggunakan berbagai cara yang ruwet, baru sekarang semua orang terkejut.
Ciong Tian juga tidak berani memandang enteng kepada musuh, sambil menggunakan angin pukulannya untuk menjatuhkan batu-batu itu, berbareng ia pun menggeser kian-kemari untuk menghindar.
Namun sesudah batu-batu kecil itu berputar-putar, mendadak saling bentur dan di luar dugaan siapa pun juga batu-batu itu seperti punya mata saja terus menguber ke arah Ciong Tian dari jurusan yang tak tersangka-sangka.
Kiranya cara menggunakan senjata rahasia Tiok Sianghu memang benar sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, bukan saja sekaligus dapat menggunakan berbagai cara yang berbeda-beda, bahkan setiap batu kerikil itu membawa tenaga cadangan dengan perhitungan tempo yang tepat.
Sesudah terbentur oleh tenaga pukulan lawan, lalu batu-batu itu saling tumbuk sendiri, berganti arah, lalu menyambar pula ke jurusan sasarannya.
Karena tidak menyangka dan berjaga, walaupun cukup gesit menghindar, tidak urung tubuh Ciong Tian juga tertimpuk dua potong batu kecil itu.
Meski tidak sampai melukainya, namun betapapun juga sudah terhitung kalah.
Sambil berdiri di atas tebing yang curam, terdengar Tiok Siang-hu telah berseru.
"Tiga macam ilmu sakti Thian-san-pay sudah kucoba dua macam, entah untuk yang terakhir apakah Ciong-tayhiap sudi memberi petunjuk tenaga Lwekang yang murni?"
Belum lenyap suaranya, terdengarlah Ciong Tian bersuit panjang, orangnya telah melompat ke atas dan hinggap di puncak tebing itu.
Puncak tebing dimana Tiok Siang-hu berdiri itu menonjol di udara seperti payung dan hanya cukup untuk berdiri dua orang, maka begitu Ciong Tian berada di atas tebing dan berdiri muka berhadapan muka dengan Tiok Siang-hu, jelas kelihatan tempat itu menjadi sangat sempit sehingga untuk berputar tubuh saja sukar.
Tiok Siang-hu berbalik tercengang malah, tanyanya.
"Apakah Ciong-tayhiap bermaksud menjajal Lwekang di atas tebing ini?"
"Betul,"
Sahut Ciong Tian.
"Kita boleh menggunakan caramu bertanding dengan Hoat-hoa Siangjin tadi, siapa yang jatuh ke bawah tebing ini dianggap kalah. Bahkan kita persingkat saja syarat bertanding, kita tentukan kalah menang dengan sekali pukul saja dan tidak perlu buang-buang waktu."
Ucapan Ciong -Tian ini menggemparkan para penonton, sampai-sampai Tiok Siang-hu juga terkesiap.
Bertanding Lwekang di puncak tebing, sudah tentu jauh lebih berbahaya daripada bertanding di tempat datar.
Apalagi Ciong Tian telah menyatakan akan menentukan kalah menang dengan sekali pukul saja, maka sekali pukul itu pasti menggunakan segenap tenaga masingmasing, siapa yang tergetar jatuh ke bawah tebing mungkin jiwanya akan melayang.
Meski Tiok Siang-hu sudah menang dua babak, tapi Thian-san-pay terkenal paling unggul dalam hal Lwekang.
Waktu bertanding pedang tadi dia sudah menjajaki Lwekang tokoh Thian-san-pay itu memang sangat tinggi, apakah sekarang dirinya mampu menang atau tidak sungguh sukar diduga.
Sebenarnya Tiok Siang-hu bermaksud adu Lwekang dengan Ciong Tian di tanah datar seperti pertandingannya dengan Hoat-hoa Siangjin tadi, tapi Ciong Tian sudah mendahului melompat ke atas tebing dan mengemukakan cara pertandingan, terpaksa Tiok Siang-hu tak dapat menolak, pikirnya.
"Cara bertanding demikian hakikatnya bukan lagi cuma menentukan menang dan kalah, tapi menentukan hidup atau mari."
Kiranya watak Ciong Tian memang sangat keras dan lurus, kejahatan dipandangnya sebagai musuh besar.
Ia melihat Tiok Siang-hu rela menjadi pembela Nyo Ceng yang jelas-jelas adalah anjing pemburu pihak kerajaan, maka Tiok Siang-hu sejak tadi juga sudah dianggapnya sebagai musuh besar.
Apalagi sejak muncul tadi lagak-lagu Tiok Siang-hu teramat garang, seakan-akan selain Kang Hay-thian tiada seorang pun yang terpandang olehnya.
Sebab itulah amarah Ciong Tian menjadi meluap sesudah mengalami kekalahan senjata rahasia tadi dan bertekad akan melabrak lawan yang takabur itu, bila perlu biarlah gugur bersama untuk mengurangi musuh tangguh bagi pergerakan para ksatria.
Tiok Siang-hu sendiri sebenarnya cuma ingin pamer kepandaian dan menundukkan para jago silat Tionggoan saja, bukan maksudnya hendak membunuh orang.
Tapi dasar dia memang sombong, maka dia pun tidak gentar terhadap cara bertanding yang dikemukakan Ciong Tian itu, segera dengan muka merah padam ia menjawab.
"Baiklah, jika demikian silakan Ciong-tayhiap mulai saja."
Melihat itu, cepat Kok Tiong-lian mencegah.
"Jangan ...?"
Akan tetapi sudah terlambat.
Tertampak tangan Ciong Tian sudah terangkat dan menghantam ke depan, begitu pula sebelah tangan Tiok Siang-hu juga sudah bergerak.
Tampaknya pukulan kedua pihak segera akan beradu dan di antara kedua tokoh itu pasti akan satu mati dan satu luka.
Namun pada saat yang genting itulah, tiba-tiba sesosok bayangan orang telah melayang tiba secepat kilat.
Kok Tiong-lian segera mengenali siapa pendatang itu, dengan kejut dan girang ia lantas berteriak.
"Hay-ko, le ... lekas engkau melerai mereka!"
Saking cepat datannya orang itu hingga para ksatria belum melihat jelas, sesudah mendengar seruan Kok Tiong-lian itu baru mereka tahu siapa pendatang itu.
Beramai-ramai mereka juga lantas berteriak "He, Kang-tayhiap!
Kang-tayhiap sudah datang!"
Memang yang baru tiba itu tak lain tak bukan adalah Kang Hay-thian yang baru saja pulang dari Hoa-san dengan tergesa-gesa.
Saat itu suasana di situ menjadi riuh ramai, tapi kedua jago yang siap bergebrak di atas batu tebing itu seakanakan tidak melihat dan mendengar apa yang terjadi di bawah mereka.
Maklum, saat itu mereka sedang menghadapi detik menentukan antara mati dan hidup, kedua orang sama-sama mencurahkan segenap perhatian kepada lawan, sedikitpun tidak berani ayal.
Sebab itulah meski serangan mereka sudah mulai bergerak, tapi tangan mereka masing-masing masih terangkat di atas, hanya tenaga sudah terkumpul, cuma belum dilontarkan, jadi mirip panah yang sudah dipasang pada busurnya dan segera akan dibidikkan.
Datangnya Kang Hay-thian sangat tepat pada waktunya, secepat kilat ia terus melompat ke atas.
Pada saat itulah kedua telapak tangan tokoh-tokoh itu sudah mulai bergerak dan hampir beradu.
Karena tiada tempat berpinjak lagi di atas batu tebing yang sempit itu, terpaksa Kang Hay-thian menggunakan tangan untuk menahan puncak tebing itu terus melompat lagi ke udara, waktu menurun menjadi tepat di tengah-tengah kedua orang tanpa menginjak tanah, selagi tubuh masih terapung di udara itulah tangannya lantas menolak ke kanan kiri.
Maka terdengarlah suara "plak-plok"
Dua kali yang keras, tenaga pukulan Tiok Siang-hu dan Ciong Tian sama-sama mengenai tubuh Kang Hay-thian.
Di tengah jerit kaget orang banyak, tertampaklah ketiga orang di atas puncak tebing itu lantas anjlok ke bawah bagai layangan putus benang.
Muka Kang Haythian tampak pucat-pasi, begitu menginjak tanah, kontan ia terus memuntahkan sekumur darah.
Berbareng itu Tiok Siang-hu dan Ciong Tian juga sudah dapat menginjak tanah dengan selamat.
Sungguh terima kasih Tiok Siang-hu tak terhingga di samping sangat kagum pula, bahkan timbul juga rasa penyesalannya atas perbuatan dan sikapnya tadi.
Kiranya Kang Hay-thian telah menerima mentahmentah tenaga pukulan Tiok Siang-hu dan Ciong Tian tanpa menggunakan tenaga gempuran balasan.
Sebagai seorang ahli silat, sudah tentu Tiok Siang-hu tahu bilamana Kang Hay-thian mengerahkan tenaga gempuran balasan, maka yang terluka pasti bukan Kang Hay-thian, tapi adalah Tiok Siang-hu sendiri.
Bahkan pasti lebih parah daripada Kang Hay-thian sekarang.
Jadi Kang Hay-thian telah menyelamatkan kedua tokoh itu dengan mengorbankan dirinya, malahan sesudah menerima tenaga pukulan kedua tokoh kelas wahid itu, dia masih dapat melompat turun ke bawah dengan cuma memuntahkan sekumur darah, maka betapa hebat kekuatannya dapatlah dibayangkan.
Tiok Siang-hu dan Ciong Tian cukup tahu diri, mereka harus mengakui kekuatan Kang Hay-thian itu masih lebih tinggi setingkat daripada mereka.
Dengan rasa kikuk Tiok Siang-hu lantas memberi hormat dan berkata.
"Ilmu silat Kang-tayhiap memang maha sakti, pula berbudi dan suka menolong, sungguh tidak bernama kosong. Aku orang she Tiok merasa sangat kagum dan takluk benar-benar."
Kang Hay-thian ternyata tidak menyambut ucapan yang rendah hati itu, sebaliknya cepat ia menarik Ciong Tian dan Tiok Siang-hu sambil berseru.
"Lekas lari, lekas! Kalau ayal mungkin terlambat!"
Keruan Tiok Siang-hu dan Ciong Tian tercengang bingung, sedangkan Kang Hay-thian sambil menarik lari kedua tokoh itu seraya berteriak pula kepada sang istri.
"Semua orang lekas menyingkir ke atas gunung, makin jauh dari sini makin baik!"
Mendengar suara sang suami itu penuh tenaga, Kok Tiong-lian tahu dia hanya terluka ringan saja dan tidak menjadi halangan, maka dapatlah ia merasa lega.
Tapi sebab apakah suaminya berseru menganjurkan semua orang lekas menyingkir dari situ dan tampaknya sangat mendesak, seakan-akan segera akan tertimpa malapetaka, sungguh Kok Tiong-lian sendiri juga tidak mengerti.
Sambil ikut berlari diseret Kang Hay-thian, pendengaran Tiok Siang-hu yang tajam itu sayup-sayup mendengar di bawah tanah seperti ada suara mendesisdesis.
Dengan heran ia bertanya kepada Hay-thian.
"Kang-tayhiap, apakah yang kau dengar? Suara apakah itu?"
"Tiok-locianpwe, marilah kita berlomba Ginkang!"
Demikian kata Kang Hay-thian.
Keruan Tiok Siang-hu tambah heran, ditanya tapi dijawabnya menyimpang dan bahkan mengajak berlomba Ginkang segala.
Namun ia pun bukan orang bodoh, ia tahu di dalam hal ini tentu ada sesuatu yang tidak beres dan mungkin Kang Hay-thian tidak sempat menerangkan, tapi sengaja pakai alasan berlomba Ginkang untuk mengajaknya lekas meninggalkan tempat itu.
Maka dengan kencang ia terus mengikut di belakang Kang Hay-thian, ia telah keluarkan segenap kemahiran Ginkangnya, namun selalu hanya cukup untuk mengintil saja di belakang Kang Hay-thian, untuk mendahului selalu gagal.
Diam-diam Tiok Siang-hu harus mengakui keunggulan pendekar besar yang termasyhur itu, coba kalau dia tidak muntah darah tadi, tentu dirinya sudah jauh ketinggalan.
Dalam sekejap saja mereka sudah sampai di puncak gunung dan bergabung dengan tokoh-tokoh pimpinan seperti Kok Tiong-lian dan lain-lain.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi Hay-ko? Apakah ada malapetaka yang akan menimpa secara tak terduga?"
Tanya Tiong-lian kepada sang suami.
Belum lenyap suaranya.
Kang Hay-thian sudah lantas menarik istrinya itu untuk bertiarap, maka terdengarlah suara letusan yang menggelegar, asap hitam lantas mengepul tebal ke angkasa di lamping gunung, begitu keras ledakan itu sehingga bumi bergetar.
Tempat ledakan itu tepat berada di puncak dimana Tiok Siang-hu dan Ciong Tian bertanding tadi.
Batu tebing yang menonjol dan digunakan berdiri kedua tokoh tadi sudah hancur lebur ikut meledak.
Syukurlah semua orang sempat mengundurkan diri ke atas gunung, walaupun ada dua-tiga orang yang ketinggalan di belakang, mereka hanya terluka ringan terkena pecahan batu, tapi tiada seorang pun yang tewas.
Melihat kejadian itu, betapapun tinggi kepandaian Tiok Siang-hu juga merasa ngeri.
Coba kalau Kang Hay-thian tidak datang tepat pada waktunya, kemudian memisahkan dia dan Ciong Tian dari pertarungan sengit itu, tentu saat ini dia sudah hancur lebur menjadi bubuk.
Baru sekarang dia menyadari bahwa suara mendesis yang didengarnya tadi kiranya adalah bunyi api sumbu bahan peledak yang tertanam di bawah tanah.
Tanpa bicara lagi Tiok Siang-hu terus berlutut dan memberi hormat kepada Kang Hay-thian, katanya.
"Kang-tayhiap, hari ini berturut-turut dua kali kau telah menyelamatkan jiwaku. Perbuatan siapakah yang sedemikian keji ini? Tolong katakan, biar aku mengadu jiwa dengan dia!"
"Apakah kau benar-benar mau mengadu jiwa dengan orang itu?"
Tanya Kang Hay-thian. Dengan mengertak gigi, Tiok Siang-hu pun menjawab.
"Ya, sedemikian keji perbuatannya, sekalipun dia adalah bapakku sendiri juga takkan kuampuni."
"Baiklah, akan kuberitahukan siapakah dia itu,"
Kata Hay-thian.
"Orang yang mengatur ledakan ini tak lain tak bukan adalah iparmu sendiri si Nyo Ceng."
"Apa? Kau bilang dia?"
Tiok Siang-hu melonjak kaget.
"Ya, mereka ingin menjaring kita dengan sekaligus, jadi bukan cuma di sini saja mereka memasang bahan peledak,"
Tutur Hay-thian.
"Hah, masih ada tempat lain lagi?"
Seru Tiong-lian kaget dan kuatir. Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar pula suara ledakan yang gemuruh.
"Celaka! Hian-li-koan yang telah diledakkan!"
Seru Pek Ing-kiat. Waktu semua orang memandang ke arah kuil itu, benar juga di tempat itu tampak asap hitam tebal membubung tinggi ke angkasa.
"Masih mendingan, hendaklah kalian jangan cemas,"
Ujar Hay-thian.
"Orang-orang di sana sudah lebih dulu meninggalkan Hian-li-koan."
Di tengah suasana yang panik itu, benar juga tertampak ada serombongan besar orang sedang berlarilari mendatangi.
Orang yang paling depan adalah Loh Ing-ho yang ditugaskan menjaga Hian-li-koan tadi.
Sesudah dekat dan melihat Kok Tiong-lian dalam keadaan baik-baik barulah Loh Ing-ho merasa lega, serunya.
"Ciangbunjin tentu terkejut. Aku tidak dapat memenuhi kewajiban sehingga kuil kita kena diledakkan oleh musuh, mohon Ciangbunjin memberi hukuman setimpal."
"Loh-susiok sendiri tentu juga terkejut. Sudahlah, asalkan tiada orang-orang kita yang terluka dan tewas sudah untung,"
Kata Tiong-lian.
"Syukur Kang-tayhiap memberi kabar tepat pada waktunya kebaikannya dengan kasar. Sebab itulah aku tidak mengganggunya."
"Apakah kau tidak memperhatikan apa-apa yang mencurigakan di atas kudanya?"
Tanya Tiong-lian pula. Kang Hay-thian coba mengingat-ingat, lalu menjawab.
"Agaknya tidak ada apa-apa. Hanya ada sebuah karung besar yang terletak di atas kudanya, tampaknya memang rada aneh."
"Sayang, sungguh sayang! Kau telah kehilangan kesempatan menolong muridmu!"
Kata Tiong-lian gegetun.
"Apa katamu? Muridku yang mana?"
Tanya Kang Haythian dengan tercengang.
"Tahukah kau apa isi karungnya itu? Isinya tak lain tak bukan adalah anak Kan yang kau bawa pulang dari Congliong-poh dengan susah payah itu,"
Tutur Tiong-lian.
"Hah, kau maksudkan To-kan telah diculik mereka?"
Kang Hay-thian terperanjat.
Segera Kok Tiong-lian menceritakan pengacauan Nyo Ceng dan anaknya semalam serta menyergap Lim To kan.
Kang Hay-thian sampai melenggong mendengar peristiwa itu.
Tiok Siang-hu merasa menyesal dan malu, segera ia berkata.
"Semuanya gara-garaku, maka aku tanggung pasti akan mengembalikan muridmu dengan baik."
Kang Hay-thian merenung sejenak, katanya kemudian.
"Jika demikian, tampaknya komplotan Nyo Ceng yang bersembunyi di antara kita masih tidak sedikit. Memang dari berbagai hal-hal yang sudah terjadi aku pun merasa curiga, apalagi sesudah terjadi diculiknya To-kan."
"Ya, tentang peledakan ini belum lagi Kang-tayhiap menceritakan cara bagaimana engkau dapat membongkar rahasianya?"
Tanya Tiok Siang-hu.
"Aku mendapat tahu dari pengakuan mata-mata musuh yang kubekuk itu,"
Tutur Hay-thian.
"Sebenarnya aku hendak menyerahkan dia kepada kalian untuk diperiksa secara terbuka di tengah sidang, tapi matamata itu tampak sangat ketakutan dan segera mengaku tentang adanya bahan peledak yang dipendam di sekitar sini. Cuma tempat mana persisnya dia tidak tahu. Kemudian ia pun mengaku di Hian-likoan juga telah ditanam obat peledak dan minta aku jangan membawanya ke sana. Tentu saja aku sangat kuatir mendengar berita demikian itu, kuatir kalau terlambat dan akibatnya akan membikin celaka orang banyak, terpaksa aku tidak sempat bertanya lebih jelas, di tengah jalan aku lantas menyerahkan mata-mata itu kepada Loh-supek, aku sendiri berlari ke sini dan Loh-supek pulang ke Hian-li-koan. Tak terduga akhirnya mata-mata itu toh dibinasakan oleh kawan sekomplotannya."
"Keparat Nyo Ceng itu meski dapat mendatangi Binsan, tapi belum pernah menyelundup ke dalam Hian-likoan, lagi pula seorang diri tidak mungkin dia dapat berbuat sebanyak ini,"
Ujar Pek Ing-kiat.
"Benar,"
Lim Seng, salah seorang tertua Bin-san-pay ikut bicara.
"Pertemuan kita ini dilangsungkan dengan sangat rapi, penjagaan sangat keras. Paling-paling satudua orang luar dapat menyelundup ke sini, tapi tidak mungkin menanam bahan ledak dengan begitu berani tanpa kepergok, maka aku yakin pasti di antara orang kita sendiri ada yang menjadi mata-mata musuh, boleh jadi tidak terbatas dalam jumlah dua-tiga orang."
Menghadapi musuh di dalam selimut, memang suatu hal yang sukar dihadapi.
"Betul, tentu ada di antara kita ini telah rela diperkuda oleh musuh,"
Tukas Pek Ing-kiat dengan gemas.
"Pengkhianat demikian bila tertangkap sungguh aku ingin membeset kulitnya dan mencincang tubuhnya."
Saat itu Yap Leng-hong berdiri di samping Kok Tionglian, meski yang menanam obat peledak bukan dia, bahkan komplotannya sama sekali tidak memberitahukan hal itu kepadanya sehingga urusan ini boleh dikata tiada sangkut-pautnya dengan dia.
Akan tetapi sikap Pek Ingkiat yang gemas penuh dendam sambil memaki matamata musuh itu, bagi pendengaran Yap Leng-hong benar-benar seperti jarum yang menusuk-nusuk tubuhnya.
Sementara itu pembicaraan Kang Hay-thian sudah selesai, ia sempat mengamat-amati para hadirin.
Sorot matanya perlahan-lahan tertuju juga ke arah Yap Leng hong, cepat Leng-hong memberi hormat sambil memanggil.
"Suhu!"
"Tentang diri Leng-hong, aku sudah mengerjakan menurut pesan di dalam suratmu,"
Kata Kok Tiong-lian.
"Baik,"
Sahut Hay-thian mengangguk.
"Biarlah nanti aku akan bicara lagi padamu."
Perasaan Leng-hong rada tenang mendengar demikian, tapi ia masih kebat-kebit juga karena tidak tahu apakah yang akan dibicarakan sang guru nanti.
Suasana yang kacau karena ledakan dahsyat segera dapat diatasi pula oleh Kok Tiong-lian, Loh Ing-ho, Pek Ing-kiat dan lain-lain, ada yang sibuk menolong yang terluka, ada yang membersihkan tempat pertemuan, sebagian murid Bin-san telah diperintahkan kembali ke Hian-li-koan untuk mengadakan penyelesaian seperlunya.
Untuk sementara Kok Tiong-lian menunda pertemuan itu sampai malam nanti bertempat di Yok-ong-bio, sebuah kelenteng di lereng Bin-san, tidak jauh dari Hianli-koan.
Sebagai tempat berteduh darurat, Kok Tiong-lian menugaskan anak murid Bin-san-pay di bawah pimpinan Loh Ing-ho untuk membangun gubuk-gubuk secukupnya.
Bagian Hian-li-koan yang tidak rusak dipergunakan untuk tempat tinggal para tamu undangan.
Sekarang Kok Tiong-lian tidak memandang Tiok Sianghu sebagai musuh lagi, tapi karena belum jelas akan asal-usulnya, maka ia pun belum dapat menganggapnya sebagai orang sendiri.
Ia merasa bingung juga cara bagaimana harus mengatur tempat bagi orang-orang yang ikut datang bersama Tiok Siang-hu itu.
Lantaran itulah sampai sekian lamanya ia tak menyinggung tentang Tiok Siang-hu dan rombongannya, juga belum menyampaikan undangan langsung kepadanya untuk ikut dalam pertemuan malam nanti.
Kuatir Tiok Siang-hu menaruh kecurigaan, berkatalah Kang Hay-thian.
"Kuminta juga Tiok-cianpwe beristirahat di kuil Yok-ong-bio. Sebenarnya ingin sekali kukunjungi Locianpwe, sayang belum terlaksana. Bahwa sekarang Locianpwe telah sudi datang kemari, sungguh suatu kehormatan yang tak ternilai bagiku. Harap Tioklocianpwe sudi tinggal di sini barang dua tiga hari, agar aku mempunyai kesempatan untuk menerima pelajaranpelajaran Locianpwe."
"Tidak, sekarang pun aku hendak pulang. Banyak terima kasih atas kebaikan Kang-tayhiap,"
Sahut Tiok Siang-hu. Kok Tiong-lian menyeletuk.
"Apakah Tiok-locianpwe mencela pelayanan kita kurang memuaskan? Sekalipun tempat kami tak cukup besar, tetapi rasanya takkan mengecewakan Locianpwe. Suruhlah anak buah Locianpwe pulang dulu, Locianpwe tinggal di sini beberapa hari menjadi tetamu kami berdua suami istri."
Pintar sekali Kok Tiong-lian menempatkan katanya, ia meminta Tiok Siang-hu menjadi tetamunya pribadi, bukan tetamu rapat besar, ini untuk menjaga muka Tiok Siang-hu dan sekalian supaya jangan menyulitkan rapat.
Dengan beradanya Kang Hay-thian mendampingi orang she Tiok itu, ia percaya tentulah takkan timbul hal-hal yang tak diinginkan.
Memang dalam hati kecilnya.
Kok Tiong-lian masih belum lepas kekuatirannya terhadap Tiok Siang-hu.
Tapi Tiok Siang-hu tetap menolak.
"Ah, janganlah Koklihiap berlaku sungkan, lebih baik aku pulang saja. Pertama, saudara-saudara di sini baru saja mengalami bencana, aku tak ingin menambah kesulitan lagi. Kedua, memang benar-benar aku perlu pulang karena ada urusan penting, tetapi sebelum pulang, aku hendak bicara sedikit dengan Kang-tayhiap."
Mendengar orang bicara secara terus terang, Kok Tiong-lian pun tak mau kelewat mendesak.
"Baiklah, kalau demikian kehendak Tiok-locianpwe. Hay-ko, antarlah Tiok-locianpwe!"
Ketika sudah pergi dan tiba di sebuah tempat yang sepi, berkatalah Tiok Siang-hu.
"Kang-tayhiap, lebih dulu aku hendak minta maaf padamu. Calon muridmu Li Kong-he itu berada di tempatku, sebenarnya aku harus lekas melepaskannya."
"Dengan mendapat rezeki mendampingi Locianpwe, sungguh tak kecil keberuntungan anak itu. Siangkoan Thay mengatakan padaku, bahwa Locianpwe sayang benar dengan anak itu dan menganggapnya sebagai anggota keluarga sendiri. Sebetulnya akulah yang harus berterima kasih kepadamu Tiok-locianpwe, hanya karena telah menerima pesan ayahnya untuk mendidik, tak berani aku menelantarkannya, kumohon supaya Locianpwe sudi mengizinkan kuambil kembali anak itu. Sekiranya Locianpwe tak memandang rendah padaku, sudilah Locianpwe menerima penghormatan anak itu sebagai ayah angkat. Dengan begitu, akan terlaksanalah cita-cita ayahnya dengan sempurna."
Tiok Siang-hu mengiakan.
"Baik, begitu memang jalan yang terbaik. Perjalanan pulangku kali ini, paling lama seratus hari secepatnya dua bulan tentu akan kubawa anak itu kemari."
Kang Hay-thian minta agar apabila bertemu dengan Siangkoan Thay menyampaikan salamnya. Tiok Siang-hu menghela napas.
"Siangkoan Thay telah kutahan. Terus terang, adanya aku buru-buru pulang adalah karena hendak melepaskannya serta meminta maaf kepadanya."
Kiranya sejak malam Siangkoan Thay diserang tibatiba oleh Nyo Ceng, setelah lukanya sembuh lalu mengunjungi kediaman Tiok Siang-hu untuk melaporkan kejadian itu, tetapi Tiok Siang-hu sudah dihasut oleh Nyo Ceng.
Sudah tentu ia tak percaya omongan Siangkoan Thay, bahkan sebaliknya malah menahannya, Siangkoan Thay ditahan di rumah Tiok Siang-hu.
Kang Hay-thian cemas dibuatnya.
"Tiok-locianpwe, siapakah yang berada di rumahmu? Kukuatir Nyo Ceng akan mendahuluimu untuk mencelakai mereka."
Tiok Siang-hu tertawa.
"Bangsat Nyo Ceng itu meskipun busuk, tapi kukira ia belum mempunyai keberanian sebesar itu untuk mengacau di rumahku!"
Adalah karena selama ini Tiok Siang-hu selalu ditakuti oleh ipar-iparnya (Nyo Ceng dan Siangkoan Thay), maka beranilah ia menyatakan hal itu dengan yakin.
Kang Haythian menganggap orang she Tiok itu kelewat meremehkan Nyo Ceng, tapi karena baru saja berkenalan, tak enaklah bagi Kang Hay-thian untuk mengeluarkan kritik.
Habis tertawa, Tiok Siang-hu menghela napas.
"Tak kunyana sama sekali kalau Nyo Ceng berani mengkhianati aku, sehingga orang baik kuanggap jahat, orang jahat kuperlakukan baik. Aku tak dapat membedakan emas dan loyang, aku punya bola mata tapi tak dapat melihat, Kang Hay-thian harap jangan kuatir. Muridmu yang ditangkapnya itu tentu akan kurebut dan kuantarkan padamu. Aku menyesal sekali telah menerbitkan bencana kali ini. Sukalah di hadapan para orang gagah kau mintakan maaf untukku."
"Ah, setiap orang tak luput dari kesalahan, asal jalan yang kita tempuh itu satu tujuan, itulah baru kawan sejati Tiok-locianpwe, maafkan kelancanganku ini. Aku hendak mohon Locianpwe memberi petunjuk tentang sebuah hal,"
Kata Kang Hay-thian. Setelah Tiok Siang-hu mempersilakan orang mengatakan, barulah Kang Hay-thian berkata.
"Kudengar desas-desus bahwa Siangkoan Thay dan Cianpwe juga mempunyai cita-cita hendak melawan kerajaan Cing. Kunjungan Cianpwe kemari ini hanya karena hendak mencari aku ataukah hendak bermaksud mengikat perkenalan dengan sekalian orang gagah untuk bersamasama merundingkan gerakan melawan pemerintah Cing itu?"
Karena selama ini Tiok Siang-hu belum menyatakan pendiriannya yang tegas, maka terpaksa pada saat-saat perpisahan itu Kang Hay-thian meminta penjelasan.
"Kutahu karena asal-usulku tak terang, maka sekalian orang gagah tentu menaruh kecurigaan pada diriku. Adanya kuajak Kang-tayhiap keluar bicara empat mata ini justru hendak mengeluarkan isi hatiku kepadamu,"
Ujar Tiok Siang-hu.
"Atas kepercayaan Tiok-cianpwe, aku menghaturkan terima kasih, tetapi sekiranya hal itu menyukarkan Cianpwe, baiklah kutarik saja permintaanku tadi,"
Kata Kang Hay-thian. Tiok Siang-hu tertawa lepas.
"Lebar dan luas kalangan dunia persilatan itu, namun setelah hidup berpuluh tahun baru hari ini aku berjumpa dengan seorang ksatria besar yang membuat aku benar-benar kagum. Ah, apanya yang tak boleh kukatakan padamu. Kang-tayhiap, jika kau anggap aku orang she Tiok ini berharga menjadi sahabatmu, karena aku lebih tua beberapa tahun dari kau, bagaimana kalau kau panggil aku dengan sebutan 'Toako' saja? Kata-kata-kata 'Cianpwe' sungguh berat kuterima."
"Baik, silakan Toako mengatakan,"
Kang Hay-thian pun menyambut kelapangan hati orang dengan serempak. Tiok Siang-hu tertawa.
"Kalau begitu, akan kukatakan dengan sejujurnya. Jalan yang kutempuh adalah serupa dengan jalan kalian, tapi boleh dikatakan juga berbeda."
Jawaban itu lepas dari persangkaan Kang Hay-thian hingga ia tertegun sejenak.
"Bagaimana maksud Toako?"
Tanyanya heran.
"Sebenarnya aku ini putra raja Guki, sebuah negara kecil di daerah Secong (Tibet). Negeriku telah dimusnahkan oleh tentara Cing pada 100-an tahun yang lampau. Kakek Siangkoan Thay dahulu menjabat menteri besar dari negeriku, setelah negeri diduduki musuh, kami berdua keluarga sama-sama melarikan diri, tetapi Nyo Ceng seorang suku Han, jadi jelas bahwa kerajaan Cing itu adalah musuh bebuyutanku. Sudah tentu aku hendak melawannya, tetapi tujuanku ialah hendak membangun negeri lagi. Dengan gerakan kalian bangsa Han, jalannya sama tapi tujuan berbeda, itulah maka kukatakan sejalan tapi tak setujuan tadi,"
Kata Tiok Siang-hu.
Memang Kang Hay-thian menaruh kesangsian kalaukalau Tiok Siang-hu bukan bangsa Han, karena jarang sekali orang Han yang she Tiok.
She itu berasal dari bangsa Oh, hanya karena sejarah pertumbuhan negeri Tiongkok, maka telah mengalami proses peleburan (integrasi) dari suku-suku yang berpindah-pindah, maka banyaklah suku Oh yang pindah ke dalam negeri Han dengan tetap menggunakan she mereka.
Salah satu di antaranya ialah she Tiok itu, tetapi tak sampai pada pikiran Kang Hay-thian bahwa Tiok Siang-hu ternyata seorang putra raja.
"Walaupun tujuan berbeda, tetapi kita sudah sehaluan untuk mengenyahkan penjajah Cing. Kita boleh menjalankan rencana masing-masing, hanya kuharap supaya suka saling bantu membantu,"
Kata Kang Haythian. Tiok Siang-hu mengiakan.
"Sudah barang tentu, jika kelak laskar kalian bergerak, bila perlu bantuanku, asal Kang-hiante mengirim surat tentu aku segera datang membantu."
Ia lalu memberitahukan tentang tempattempat dimana Kang Hay-thian dapat menghubunginya. Tiba-tiba Kang Hay-thian teringat sesuatu, katanya.
"Di kaki gunung Altai terdapat sebuah negeri kecil bernama Mazar. Dengan negeri Tiok-toako hanya terpisah oleh padang rumput seluas 1000-an li. Karena letak Mazar itu di perbatasan yang teraling gunung, maka beruntung tak diduduki tentara Cing. Entah apakah Tiok-toako kenal negeri itu?"
Tiok Siang-hu tertawa.
"Justru itupun hendak kukatakan padamu. Bukan melainkan pernah tinggal di negeri itu saja, di situlah untuk pertama kali kudengar nama adik yang termasyhur."
"Oh, jadi Tiok-heng pernah berjumpa dengan raja Mazar?"
Kang Hay-thian berseru girang. Dengan Danu Cu-mu sudah 10-an tahun Kang Hay-thian tak berjumpa, hendak ia tanyakan kepada Tiok Siang-hu tentang berita Danu Cu-mu itu.
"Nama saudaramu itu termasyhur di seluruh Secong, dia telah memerintah Mazar dengan baik sekali. Sekalipun kecil negerinya, tapi merupakan sebuah daerah yang indah. Adalah karena mendengar Danu Cu-mu itu bukan saja seorang raja bijaksana, tapi juga memiliki ilmu kepandaian yang sakti, maka pergilah aku mengunjunginya."
"Oh, jadi Tiok-heng membicarakan diriku dengan dia?"
Tanya Kang Hay-thian.
"Benar. Waktu menerima kunjunganku, dia ramah sekali, tidak bersikap seperti seorang raja melainkan seperti seorang persilatan. Kita membicarakan ilmu silat dengan gembira sekali, waktu kuminta, ia pun menerima ajakanku untuk melakukan sebuah pertandingan. Kita bertanding ilmu Lwekang dan ilmu pedang, dengan kesudahan berimbang saja. Baru pertama kali itu aku bertemu dengan seorang lawan yang dapat mengimbangi kepandaianku. Rasa kagumku kepadanya makin bertambah besar, sehingga waktu minum arak aku telah memuji dia sebagai seorang gagah yang tiada tandingan di kolong dunia. Kukatakan, dengan kepandaian kita berdua, tiada tokoh persilatan di Tionggoan yang mampu menandingi. Tetapi Danu Cu-mu membantah, 'Tidak, tidak! Di dalam dunia yang seluas ini, banyak sekali orang-orang sakti yang luar biasa. Siapa-siapa mereka aku tak tahu, tetapi adik iparku yang juga seorang Han, jauh lebih sakti dari aku!'. Karena mendengar pujiannya kepadamu itulah maka aku ingin sekali bertemu dan bertanding dengan kau, Kangheng."
Berita tentang diri Danu Cu-mu itu amat menggirangkan Kang I lay-thian. Setelah mengucapkan beberapa patah kata merendah diri, kembali ia bertanya.
"Apa lagi yang dikatakan kakak iparku itu?"
Tiba-tiba Tiok Siang-hu teringat sesuatu, ujarnya.
"Murid ahli warismu tadi, kudengar dia bernama Yap Leng-hong, bukan?"
"Benar, belum lama dia menjadi muridku, kepandaiannya masih dangkal sekali, maka jika di kelak kemudian hari berkelana, mohon sukalah Tiok-heng bantu mengamati-amatinya."
"Sudah tentu, tetapi murid ahli warismu itu ..."tiba-tiba Tiok Siang-hu berhenti.
"Mengapa? Apakah ada yang tak beres padanya,"
Kang Hay-thian bertanya.
"Bukan, hanya apabila kuteringat hal itu, agak geli juga dan aneh,"
Sahut Tiok Siang-hu.
"Leng-hong telah berbuat apa saja?"
Kembali Kang Hay-thian mengajukan pertanyaan.
"Tadi dialah yang pertama-tama menantang aku,"
Kata Tiok Siang-hu.
"Memang anak itu tak kenal tingginya langit, tetapi mungkin tadi ia hendak membela perguruannya, sehingga di luar kesadaran ia berani berbuat begitu. Dalam hal itu sukalah Tiok-heng memaafkan."
"Sudah barang tentu aku takkan mempersalahkannya. Dan bukannya karena hal itu maka aku merasa geli."
Kang Hay-thian tercengang.
"Habis apa sebabnya?' "Jika tadi kau tak menyebut namanya, mungkin aku lupa. Wajahnya yang sekarang ini jauh berlainan dengan ketika ia masih kecil, mungkin karena aku seorang tua, maka perubahan wajahku tak seberapa banyak, tetapi ia sampai tak mengenali aku dan menantang berkelahi, benar-benar aku merasa heran dan geli."
"Oh, jadi Tiok-heng dahulu sudah pernah melihat waktu ia kecil?"
"Benar, dia adalah keponakanmu, bukan?"
Sahut Tiok Siang-hu.
Rasa heran Kang Hay-thian makin bertambah, walaupun Siang-hu pernah bertemu dengan Danu Cumu, tapi Danu Cu-mu belum pernah melihat Yap Lenghong, bahkan tahu pun tidak kalau dia mempunyai keponakan yang bernama Yap Leng-hong itu.
Karena setelah kakak Danu Cu-mu, yakni Yap Tiong-siau menyerahkan takhta kerajaan dan pergi meninggalkan negerinya, barulah melahirkan Leng-hong.
Dan sejak itu Yap Tiong-siau ayah dan putra tak pernah kembali ke negerinya lagi.
Mengapa Tiok Siang-hu mengetahui hubungannya dengan Yap Leng-hong?
Terang hal itu bukan Danu Cu-mu yang menceritakan kepada orang she Tiok itu.
"Tiok-heng, bagaimana kau dapat mengetahui hal itu?"
Tanyanya.
"Beginilah,"
Kata Tiok Siang-hu.
"sewaktu berkunjung pada Danu Cu-mu, aku meminta sebuah hal kepadanya dan sebagai timbal-balik ia pun meminta sebuah hal padaku. Hal yang kuminta padanya, dia tak meluluskan, tetapi permintaannya tanpa kusengaja telah kulakukan. Sayang aku tak mempunyai kesempatan untuk memberitahukan kepadanya di Mazar."
"Bukankah dia minta supaya kau mencari berita tentang kakaknya?"
Tanya Kang Hay-thian. Ia cukup tahu isi hati Danu Cu-mu, raja Mazar itu berniat hendak mencari kakaknya untuk diserahi takhta kerajaan lagi.
"Benar,"
Tiok Siang-hu mengiakan.
"sedang permintaanku kepadanya ialah supaya dia suka membantu usahaku untuk membangun negeriku lagi, dia rupanya enggan untuk bentrok dengan tentara Cing yang menjaga perbatasan. Mengingat negerinya kecil dan tak mempunyai kekuatan, maka terpaksa ia menolak permintaanku. Aku pun tak mau memaksanya. Permintaannya supaya mencari diri kakaknya, sebenarnya aku tak bersungguh-sungguh mencari, tetapi di luar dugaan, aku telah menjumpainya."
Dengan kejut-kejut girang Kang Hay-thian minta supaya orang she Tiok itu menceritakan kejadian itu.
"Sebenarnya hal itu boleh dikata hanya kebetulan saja. Kalian telah membuang waktu selama 20-an tahun untuk mencarinya, sebaliknya tanpa sengaja dan tanpa bersusah payah aku dapat menjumpainya. Itu waktu aku dalam perjalanan pulang dari Mazar dan tengah melalui kaki gunung Kun-lun sebelah barat. Di situlah aku bertemu dengan mereka suami istri dan putranya. Ketika melihat wajahnya yang walaupun kotor dengan debu jalanan, tapi mirip Danu Cu-mu, maka segera kuhadang mereka dan menantangnya berkelahi."
"Eh, mengapa tak mengatakan terus terang saja tetapi mengajaknya berkelahi?"
Kang Hay-thian tertawa.
"Danu Cu-mu mengatakan bahwa ia dan kakaknya itu seperti pinang dibelah dua. Oleh karena Danu Cu-mu mengatakan bahwa kakaknya itu selalu menghindari adiknya dan tak mau mengaku siapa dirinya, maka kugunakan cara untuk berkelahi,"
Kata Tiok Siang-hu.
"Ai, benar, benar. Ilmu silat Yap Tiok-siau dari aliran Toa-seng-pan-yak-ciang. Tentulah Danu Cu-mu menerangkan ciri-ciri itu kepadamu,"
Ujar Kang Haythian.
"Benar,"
Sahut Tiok Siang-hu.
"dalam pertempuran itu sengaja kugunakan jurus yang paling ganas agar dia mau mengeluarkan ilmu kepandaian dari keluarganya. Pukulan Toa-seng-pan-yak-ciang itu khusus untuk melukai urat-urat orang dan memang luar biasa hebatnya, sayang ia belum mencapai kesempurnaan sehingga tak dapat melukai aku. Setelah kusambut 8 jurus 8 pukulannya barulah aku tertawa gelak-gelak dan membuka kedoknya. Karena kukatakan namanya dengan blak-blakan, akhirnya terpaksa ia mau mengaku siapa dirinya itu."
"Kita saling mengagumi kepandaian masing-masing sehingga pembicaraan selanjurnya yang kita lakukan saat itu sangat menggembirakan, tetapi ketika kusampaikan maksud adiknya untuk memintanya pulang dan menduduki takhta kerajaan, dia menghela napas. Entah apa sebabnya, selama tiga hari kutemani mereka pesiar di daerah gunung Kun-lun dan memetik beberapa macam daun obat, waktu berpisah, barulah ia mengatakan padaku bahwa ia akan mengembara keluar negeri. Mungkin sejak saat itu takkan bertemu padaku lagi, dengan sendirinya ia takkan pulang ke negerinya pula."
Ketika Leng-hong datang memperkenalkan diri ke rumah Kang Hay-thian, ia membawa sepucuk surat yang ditulis sendiri oleh ibunya, Auyang Wan.
Surat itu bernadakan kata-kata Yap Tiong-siau dan ditanda tangani juga olehnya.
Yang penting ialah memberitahu kepada Kang Hay-thian bahwa ia (Yap Tiong-siau) keluar negeri, tetapi Leng-hong mengatakan bahwa surat itu ditulis pada 5 tahun yang lalu, ini tak sesuai dengan keterangan Tiok Siang-hu.
"Tentulah Yap Tiong-siau tahu bahwa adiknya masih berusaha mencarinya, maka ia lantas menyingkir keluar negeri,"
Pikir Kang Hay-thian. Kemudian ia bertanya.
"Apakah Toako ingat betul bahwa waktu berjumpa dengan Yap Tiong-siau itu pada 10 tahun yang lalu?"
Tiok Siang-hu menghitung-hitung jarinya, tertawa.
"Kira-kira begitu, tapi sebenarnya yang tepat ialah 11 tahun."
Pikir Kang Hay-thian dengan agak ragu.
"Apakah setelah berjumpa dengan Tiok Siang-hu itu ia tunda keberangkatannya keluar negeri sampai 5 tahun lagi?"
Dan Leng-hong setahun yang lalu baru datang ke rumah Kang-Hay-thian, demikian Kang Hay-thian menimang-nimang. Tiba-tiba Tiok Siang-hu berkata pula.
"Bukankah murid pewarismu itu tahun ini berumur 23 tahun? Kuingat waktu berjumpa dengan mereka adalah pada bulan 8, karena suka dengan putranya, kutanyakan juga tentang umur anak itu. Kata Yap Tiong-siau, putranya berumur 12 tahun, rasanya daya ingatanku masih cukup kuat."
Kembali Kang Hay-thian menimang, pikirnya.
"Entah bilamana surat itu ditulis? Tetapi kutahu Yap Tiong-siau itu seorang yang cekat bekerja, apa yang dikatakan tentu segera dilakukan. Tak mungkin setelah berkata kepada Tiok Siang-hu, ia menunda keberangkatannya sampai 5 tahun, tetapi mengapa Leng-hong mengatakan waktunya sang ayah menulis surat itu lebih lambat 5 tahun?"
Juga Tiok Siang-hu tak luput dari keheranan, pikirnya.
"Mengapa Kang Hay-thian begitu berbelit menanyakan tentang waktunya aku bertemu dengan Yap Tiong-siau, mengapa ia meminta keterangan yang tepat?"
"Apakah selama 3 hari pesiar di gunung Kun-lun barat itu Toako akrab sekali dengan anak itu?"
Kembali Kang Hay-thian mengajukan pertanyaan. Tiok Siang-hu tertawa.
"Meskipun kala itu muridmu baru berumur 12 tahun, tetapi ia pintar sekali. Bukan saja menemani aku bermain, bahkan ia minta pelajaran padaku."
"Apa saja yang Tiok-heng ajarkan padanya?"
"Waktu tiga hari tak banyak. Aku hanya memberinya pelajaran ilmu Siau-kim-na-jiu, tetapi pelajaran itu cukup rumit, terdiri dari 27 jurus dan 81 perubahan. Sungguh cerdik betul anak itu, dalam waktu tiga hari saja ia sudah paham,"
Sahut Tiok Siag-hu. Setelah berhenti sejenak, Tiok Siang-hu melanjutkan berkata.
"Melihat kecerdikannya, kala itu aku bergurau kepadanya, 'Begini cepat kau belajar silat, kelak kalau besar tentu akan hebat sekali. Sepuluh tahun kemudian mungkin kau dapat menantang aku.'. Eh, tak kukira 11 tahun kemudian, muridmu itu benar-benar menantang aku berkelahi. Sayang aku tadi tak mengenalnya, begitupun dia. Bukankah lucu, hahaha!"
Tetapi Kang Hay-thian tak tertawa.
Mulailah ia merasakan sesuatu yang tak beres, kecurigaannya mulai menebal, tetapi ia belum berani memastikan kalau keponakannya itu palsu.
Sebaliknya karena mengira Kang Hay-thian menyesali sikap muridnya, buru-buru Tiok Siang-hu berseru.
"Ah, mungkin memang benar-benar ia lupa padaku atau mungkin karena sikapku itu hendak menantang kau berkelahi, maka demi membela perguruannya, ia memperlakukan aku sebagai seorang musuh, tak mau mengingat peristiwa lama lagi, tetapi, ah, hal itu hanyalah urusan kecil. Janganlah kau memarahinya nanti."
"Aku takkan memarahinya, melainkan hendak bertanya saja,"
Kata Kang Hay-thian.
Akhirnya Tiok Siang-hu minta diri, setelah saling berjabatan tangan, Tiok Siang-hu mengajak anak buahnya turun gunung.
Sedang Kang Hay-thian masih termenung-menung memikirkan peristiwa Leng-hong, pikirnya.
"Mengapa Hong-tit tak mengatakan hal itu kepadaku?"
Jika menyangkut orang biasa, itu sih tak mengapa, tapi Tiok Siang-hu bukan tokoh sembarangan.
Perjumpaannya dengan suami istri Yap Tiong-siau bukanlah suatu hal yang biasa, mengapa Leng-hong tak pernah mengatakan hal itu?
Hal inilah yang membingungkan pikiran Kang Hay-thian.
Selama ini Kang Hay-thian hanya mempunyai kesempatan setengah tahun berdampingan dengan Leng-hong.
Siang hari menempuh perjalanan, jika senggang atau pada malam hari barulah Kang Hay-thian memberi pelajaran pada murid-muridnya.
Diam-diam timbul pertanyaan pada hari jago itu, mungkin karena giat belajar sehingga Leng-hong lupa mengatakan peristiwa itu, tetapi ia bantah sendiri anggapan itu.
Karena Tiok Siang-hu seorang tokoh sakti, jika Lenghong pernah menerima pelajaran ilmu Siau-kim-na-jiu darinya, tentulah ia harus mengatakan hal itu kepada gurunya, agar sang guru dapat mengerti keadaannya.
Makin memikirkan makin tebal kecurigaan Kang Haythian.
"Ya, peristiwa Hoa-san itu juga sebuah teka-teki. Apakah asal-usul Leng-hong itu benar-benar mencurigakan?"
Pikirnya.
Tengah ia terbenam dalam renungannya, tiba-tiba terdengar derap kaki orang mendatangi.
Ketika mengangkat kepala, tahu-tahu istrinya, Kok Tiong-lian, sudah berada di samping.
Tertawalah nyonya itu.
"Apakah Tiok-locianpwe sudah pergi? Rupanya kau tengah memikirkan sesuatu?"
Karena menunggu sang suami sampai sekian lama tak kembali, Kok Tiong-lian segera mencarinya.
"Ah, tak apa-apa. Apakah para tetamu sudah menuju ke biara Yok-ong-bio?"
Kang Hay-thian balas bertanya.
"Sudah diatur beres semua. Kali ini untung kau datang tepat pada waktunya sehingga dapat menolong pertumpahan darah. Meskipun biara Hoan-li-koan hancur beberapa ruangannya, tapi dengan gotong-royong, kini sedang diperbaiki. Apakah sekarang kau sudah senggang? Apakah kau tak ingin bercakap-cakap dengan Leng-hong?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Nanti saja, mari kita omong-omong tentang urusan rumah tangga dulu. Ah, tempo berjalan cepat sekali, sudah setahun lamanya kita tak berjumpa. Apakah kau mempunyai tempo untuk bercakap-cakap dengan aku?"
Kata Kang Hay-thian. Berjumpa dengan sang suami sudah tentu Kok Tionglian girang sekali, tetapi sedih juga, tanyanya.
"Aku telah menjanjikan untuk rapat dengan sekalian ketua-ketua partai persilatan. Sekarang masih ada waktu luang untuk makan malam bersama, bagaimana dengan keadaan Hoa-san. Mengapa ayah angkatmu memanggilmu ke Hoa-san?"
Wajah Kang Hay-thian menampilkan kerut tebal, seolah-olah menyimpan rahasia apa-apa, namun terpaksa belum ditanyakan, katanya.
"Lebih dulu aku ingin mendengar tentang keadaan rumah tangga kita. Hong-tit ada, Hu-ji pun ada, tetapi mengapa Hiong-ji tak kelihatan? Apakah ia belum sembuh? Atau kau suruh ia tinggal, di rumah menemani ayah?"
Kang Hay Thian memperlakukan sama terhadap murid-muridnya, tak ada yang lebih disayangi. Dalam kesibukan, tetap ia tidak lupa menanyakan tentang diri Ubun Hiong. Kok Tiong-lian menghela napas.
"Setahun sejak kepergianmu, di dalam rumah telah terjadi peristiwa yang tak menguntungkan ..."
"Peristiwa apa? Apakah Hiong-ji, dia ... dia..."
"Bukan, dia sudah lama sembuh dari penyakitnya, tetapi sekarang kusuruhnya pergi!"
Cepat Kok Tiong-lian menyahut.
"Dia melanggar kesalahan apa hingga kau usir?"
Kejut Kang Hay-Ihian tak kepalang. Kok Tiong-lian segera menuturkan peristiwa Ubun Hiong mencelakai Ki Seng-in. Kang Hay-thian makin kaget, serunya.
"Apa? Utti Keng telah ditangkap kawanan anjing itu dan dibawa ke kotaraja? Dan Ki Seng-in meninggal secara begitu mengenaskan? Aku harus menyelidiki hal itu sampai jelas!"
"Kabarnya Utti Keng telah dimasukkan ke penjara. Pembesar yang memeriksa perkaranya, atas perintah menteri Taylwe-congkoan, memaksa Utti Keng memberitahukan tentang hasil penggarongannya selama beberapa tahun ini, karena di antaranya terdapat barang berharga dari istana, menilik besarnya perkara itu, dalam waktu singkat tentu belum putus. Memang Ki Seng-in menderita luka parah, tapi belum ada bukti jelas kalau ia sudah meninggal. Pada waktu itu, istri Gak Tinglah yang membawa Ki Seng-in pergi, kemudian Gak Ting datang kepadaku menceritakan peristiwa itu. Menurut keterangannya, keadaan Ki Seng-in sedemikian payahnya hingga kemungkinan besar tiada harapan hidup lagi, tetapi belum meninggal, maka apakah ia benar mati atau masih hidup, kita harus meminta keterangan pada suami istri Gak Ting."
Kang Hay-thian merenung sejenak, ujarnya.
"Menurut keteranganmu bahwa Ki Seng-in telah dicelakai orang, kukira tentu benar. Tapi aku tak percaya kalau anak Hiong yang berbuat!"
"Aku pun juga tak berani memastikan, hanya ketika terluka parah itu, Ki Seng-in mengatakan kepada Gak Ting kalau Hiong-ji yang mencelakainya. Banyak prasangka yang menimpa diri anak itu. Misalnya, ia memang mempunyai dendam permusuhan dengan Utti Keng dan kuda itu juga dia yang memberinya makan pada malam hari, bukti-bukti itu tak menguntungkan dirinya. Untuk menjaga setiap kemungkinan, untuk menjaga jangan sampai orang luar menuduh aku melindungi murid, untuk menjaga jangan orang luar menganggap aku membela orang bersalah, maka terpaksa kusuruh ia pergi dari sini,"
Kok Tiong-lian menerangkan.
"Ya, kutahu kau tentu tak dapat berbuat lain daripada begitu, aku tak menyesalimu, tetapi adakah terlintas pada pikiranmu, siapa lagi kiranya orang yang kau curigai melakukan perbuatan itu?"
Pertanyaan sang suami itu membuat mata Kok Tiong-lian terbelalak, jawabnya kemudian.
"Siapa lagi? Dalam rumah kecuali aku dan Hu-ji, hanya Ubun Hiong dan Leng-hong saja. Hu-ji tak pernah berpisah dari sampingku, tak nanti ia mencelakai Ki Seng-in. Apakah kau menaruh kecurigaan pada Hong-tit?"
"Mengapa tidak?"
Sahut Kang Hay-thian.
"Ia baik sekali kepada Ki Seng-in, obat yang kuberikan kepada Ki Seng-in juga dialah yang membelikan untuknya. Sedikitpun ia tak mempunyai dendam kepada Ki Seng-in, perlu apa ia mencelakainya? Dan kuda yang terkena racun itu juga Ubun Hiong yang memberi makan, Ubun Hiong sendiri sudah mengakui, sedikitpun tak ada sangkut-pautnya dengan Hong-tit. Mengapa kau menjatuhkan dugaanmu kepada Hong-tit?"
Untuk sementara itu tak mau Kang Hay-thian memberi penjelasan, ia hanya menjawab.
"Baiklah, karena masih ada jejak yang tak dapat kututurkan, biarlah setelah dapat kubikin terang urusan ini baru nanti kuberitahukan padamu. Utti Keng seorang tokoh yang berharga untuk dijadikan sahabat, aku harus menolongnya. Setelah rapat besar para orang gagah ini selesai, aku akan segera menuju ke kotaraja untuk menolong kedua orang itu, tetapi kita berdua suami istri ini hanya berkumpul sejenak lalu harus berpisah pula "Tetapi itu suatu pekerjaan mulia yang harus kau kerjakan, aku sebagai seorang istri takkan menyesali. Hay-ko, urusan dalam rumah tangga telah kuberitahukan kepadamu, sekarang giliranmu yang bercerita, mengapa ayah angkatmu memanggil?"
Dengan nada berat Kang Hay-thian menyahut.
"Ayah hendak mengambil selamat berpisah selama-selamanya dengan aku."
Kok Tiong-lian terkejut sekali.
"Apa? Ayahmu, beliau ... beliau telah.."
"Telah meninggalkan dunia fana ini, dia memanggil aku untuk diberi pesan-pesan. Tahun ini dia sudah berusia 80 tahun, suatu karunia hidup yang sudah cukup, aku tak menyesal dia dipanggil oleh Yang Kuasa, hanya yang kuragukan tentang kematiannya itu."
"Kalau toh sudah sampai waktunya, apa lagi yang kau curigai?"
Seru Kok Tiong-lian.
"Bukan kematiannya yang kuragukan, melainkan katakatanya terakhir di kala ia hendak menutup mata itu yang menjadi pemikiranku. Cobalah kau dengarkan keteranganku sejelas-jelasnya,"
Kata Kang Hay-thian yang kemudian mulai bercerita.
Kiranya ayah angkat Kang Hay-thian, Hoa Thian-hong itu seorang ahli ilmu pengobatan yang luar biasa.
Beberapa bulan di muka sebelum menutup mata, ia telah melakukan pemeriksaan pada dirinya sendiri.
Hasilnya ia tahu bahwa ia takkan lama lagi hidup di dunia.
Lahir, tua, sakit dan mati adalah tingkat keadaan yang harus dijalani oleh setiap manusia.
Setiap manusia yang sudah hilang daya hidupnya, tentu akan meninggal, sekalipun diberi obat yang bagaimana mujizatnya.
Hoa Thian-hong seorang yang tenang, walaupun sudah diketahui datangnya sang ajal, dia tetap tenang dan mempersiapkan pesan-pesannya yang terakhir.
Hoa Thian-hong hanya mempunyai seorang keluarga, seorang anak perempuan, yaitu Hoa In-pik yang menjadi permaisuri raja Mazar.
Hoa Thian-hong seorang sakti yang aneh, tak senang ia dengan segala kemewahan hidup, maka tak mau ia tinggal dengan putri dan menantunya, ia lebih suka hidup mengasingkan diri di gunung Hoa-san, jarak Hoa-san dengan negeri Mazar amat jauh sekali.
Burung rajawali yang dipeliharanya, dua tahun yang lalu telah mati, jadi tak dapat ia menyampaikan berita kepada putrinya.
Dan andaikata ada orang yang bisa disuruhnya membawa surat, putrinya itu tentu juga terlambat untuk mendampingi detik-detik terakhir sang ayah._ Selain anak perempuannya itu, orang yang paling dekat di hati adalah Kang Hay-thian, putra angkatnya itu, maka ia segera minta tolong pada orang Kay-pang supaya menyampaikan surat kepada Kang Hay-thian, memintanya supaya lekas datang.
Murid-murid Kay-pang tersebar luas dimana-mana dan mempunyai juga dara pos, maka mudahlah untuk melakukan permintaan Hoa Thian-hong itu.
"Begitu menerima surat itu dari orang Kay-pang, bergegas aku menuju ke Hoa-san. Sayang terlambat sedikit, setiba di Hoa-san, keadaan ayah sudah sedemikian payahnya hingga tak dapat banyak bercakap dengan aku, tetapi rupanya beliau sudah mempersiapkan segalanya lebih dahulu. Begitu aku datang, segera ia menyerahkan buku-buku resep obat yang disimpan dalam peti kecil kepadaku, menyuruh apabila aku ada tempo supaya mengantar peti itu kepada putrinya. Idamidamannya semasa masih hidup ialah supaya kelak ada ahli waris yang dapat meneruskan kepandaian ilmu pengobatan itu, maka beliau berpesan wanti-wanti kepada adik Pik, supaya sekalipun sudah jadi permaisuri raja tapi janganlah terbenam dalam kesenangan saja, melainkan harus melanjutkan warisan kepandaian ayahnya,"
Kata Kang Hay-thian.
"Waktu mau menutup mata, ayah teringat akan putrinya itulah sudah jamak, apa yang mencurigakan lagi?"
Celetuk Kok Tiong-lian.
"Selain kepada putrinya, paling akhir ia teringat juga akan seseorang. Inilah yang tak kuduga-duga,"
Kata Kang Hay-thian.
"Siapa?"
"Leng-hong, keponakanmu itu!"
Kejut juga Kok Tiong-lian mendengar hal itu, serunya.
"Mengapa ayah angkatmu tiba-tiba teringat pada anak itu?"
"Itulah yang kuherankan,"
Jawab Kang Hay-thian. Kok Tiong-lian minta keterangan bagaimana ucapan ayah angkat suaminya. Kang Hay-thian termenung sejenak, ujarnya.
"Dalam keadaan yang sadar tak sadar itu, rupanya ayah masih mempunyai sesuatu urusan yang mengganjal hati. Tibatiba ia membuka mulut dan mata, 'Kasih tahu pada menantuku bahwa ia mempunyai seorang keponakan yang bernama Yap Leng-hong. Anak itu baik dan kepandaiannya tak tercela, dan yang penting ia mempunyai cita-cita tinggi. Kini ia terlibat dalam permusuhan dengan antek-antek kerajaan. Hay-ji, kuharap kau dapat menemukan anak itu,Karena kulihat ayah sudah sangat payah sekali, buru-buru kuberitahukan kepadanya bahwa anak itu telah kutemukan bahkan sudah menjadi muridku. Seketika wajah ayah berseri girang, hanya beberapa patah kata yang diucapkan, yaitu 'Bagus, legalah hatiku, setelah itu beliau pun menghembuskan napas yang penghabisan."
Kata Kok Tiong-lian.
"Ya, memang aneh juga. Ucapannya tentang diri Leng-hong itu memang benar, tapi mengapa ia dapat mengetahui hal itu?"
"Itulah! Hari pertama Leng-hong datang kemari, bukankah kau pernah menanyainya! Jelas ia menjawab bahwa ia belum pernah pergi ke Hoa-san berjumpa dengan ayah angkatku!"
Seru Kang Hay-thian.
"Sebelum Hong-tit datang kemari, memang ia sudah mendapat sedikit nama di luaran. Bahwa ayah angkatmu tak menerangkan kalau ia pernah bertemu dengan anak itu, mungkin ia hanya mendengar dari orang saja tentang asal-usul anak itu."
Kang Hay-thian menggeleng.
"Tidak, jika ayah tidak bertemu sendiri, tak nanti ia mengetahui hal itu dengan jelas. Kutahu beliau tak sembarangan memuji orang, bahkan bagaimana perangai dan cita-cita Leng-hong, ia dapat mengetahui sejelasnya, maka kuyakin beliau tentu sudah beberapa hari berkumpul dengan anak itu."
Kok Tiong-lian terdiam beberapa jenak baru berkata pula.
"Dalam hal ini memang mencurigakan, tetapi surat yang dibawanya itu tentulah bukan palsu. Jika memang ada lain Yap Leng-hong lagi, mengapa hingga kini belum datang kemari? Hong-tit pun tak nanti mempunyai nyali sebesar itu, berani turut dalam rapat besar para orang gagah!"
Kata Kang Hay-thian.
"Aku pun tak berani memastikan kalau dia itu seorang palsu, oleh karena itu aku hendak mencobanya."
"Bagaimana cara mencobanya?"
"Dari Tiok Siang-hu aku mendapat keterangan beberapa hal tentang diri anak itu. Dengan cara ujian begini, tentulah dapat diketahui palsu tidaknya anak itu,"
Kata Kang Hay-thian yang segera membisiki beberapa cara pada istrinya.
"Baik, bolehlah begitu. Jangan menggunakan nada curiga kalau menanyainya, agar jangan menyinggung perasaannya,"
Kata Kok Tiong-lian.
Begitulah setelah kedua suami istri itu mendapat kesepakatan, mereka segera mencari Leng-hong di biara Yok-ong-bio, tetapi tak dapat berjumpa.
Malah para tokoh-tokoh persilatan yang menunggu hasil pembicaraan Kang Hay-thian dengan Tiok Siang-hu.
Demi melihat sepasang suami istri itu datang, mereka segera mengerumuninya.
Di antaranya terdapat Tay-pi Siansu, Hoat-hoa Siangjin, suami istri Ciong Tian dan lain-lain, mereka tergolong angkatan lebih tua dari Kang Hay-thian, terpaksa Hay-thian memberi laporan tentang pembicaraannya dengan Tiok Siang-hu yang mengenai urusan menentang pemerintah Cing.
Mendengar bahwa Tiok Siang-hu juga bersedia untuk ikut dalam gerakan itu, girang mereka bukan kepalang.
Belum berapa lama bercakap-cakap, hari pun sudah malam dan mereka lalu berkumpul untuk makan.
Dalam dunia persilatan, orang menjunjung tinggi pada kedudukan tingkatan, Kang Hay-thian tak enak memanggil Leng-hong untuk diajak makan bersama para Cianpwe itu, maka walaupun dalam hati masih terlekat rencana-rencana yang dirundingkan dengan sang istri, namun terpaksa ia harus bersabar juga.
Barulah setelah perjamuan malam selesai dan diseling dengan mengobrol.
Kang Hay-thian mendapat kesempatan menyuruh salah seorang memanggil Lenghong.
"Eh, apakah ada urusan penting, Kang-tayhiap?"
Tanya Pek Ing-kiat "Ah, tidak. Hanya ingin omong-omong sebentar dengan anak itu. Kapan rapat akan dibuka?"
Sahut Kang Hay-thian.
Pek Ing-kiat menerangkan bahwa rapat akan dibuka sejam lagi.
Kang Hay-thian menganggap waktu itu cukup untuk melakukan penyelidikan, tetapi orang yang disuruhnya tadi tak dapat menemukan dimana Lenghong berada.
Hal itu menggelisahkan Kang Hay-thian sehingga dalam pembicaraan ia tak begitu bersemangat.
"Eh, Kang-tayhiap benar-benar sayang sekali kepada murid pewarisnya itu hingga begitu pulang rumah, bukan putrinya yang dicari melainkan sang murid,"
Ciong Tian berolok-olok. Kang Hay-thian hanya menyahut dengan tertawa tawar.
"Ah, kemana saja anak itu?"
Setengah jam kemudian, barulah tampak Leng-hong bergegas mendatangi.
Pesuruh Kang Hay-thian tadi menerangkan bahwa Leng-hong dan Bong-suhengnya asyik berlatih silat di atas gunung.
Setelah memberi hormat kepada sang Suhu, berkatalah Leng-hong.
"Aku tak tahu sama sekali kalau Suhu memanggil, aku bersama Bong-suheng tengah berlatih di atas gunung sampai lupa waktu."
Yang disebut Bong-suheng itu bukan lain adalah Bong Ing-ping, murid partai Jing-sia-pay yang ditugaskan untuk bekerja sama dengan Leng-hong merencanakan pengacauan rapat.
Kang Hay-thian tak sempat lagi menanyakan siapa Bong-suheng itu, ujarnya.
"Leng-hong, mari kita keluar, aku hendak bicara padamu agar jangan mengganggu para Cianpwe yang tengah mengobrol di sini."
Hati Leng-hong kebat-kebit, namun wajahnya tetap tenang-tenang saja, serta-merta ia mengiakan perintah Suhunya itu. Kang Hay-thian mengajaknya ke sebuah tempat yang sunyi.
"Kau sungguh giat sekali berlatih silat!"
Katanya.
"Selama perjalanan menerima pelajaran Suhu itu, belum pernah kulatih, maka begitu pulang, asal ada waktu luang tentu segera kulatih. Tadi kebetulan aku berkenalan dengan seorang sahabat baru, anak murid Jing-sia-pay, maka kita segera saling tukar pengalaman. Dia adalah Sutit Sin-cianpwe, pewaris partai Jing-sia-pay. Dia baik sekali terhadap sahabat."
Kang Hay-thian tak sabar mendengar keterangan Leng-hong, katanya.
"Bagus, sekarang hendak kuuji sampai dimana kemajuanmu itu."
Dengan menggunakan ilmu Siau-kim-na-jiu, Kang Hay-thian segera mencengkeram tulang bahu Leng-hong. Sudah tentu Leng-hong terperanjat sekali.
"Cret", tahu-tahu bahunya tercengkeram tangan sang Suhu. Jika tulang bahu itu sampai diremas remuk, akan hilang lenyaplah seluruh kepandaiannya, tapi sebelum mengetahui persoalannya yang jelas, sudah tentu Kang Hay-thian tak mau melakukan hal itu.
"Mengapa tak kau gunakan ilmu Siau-kim-na-jiu?"
Tegurnya. Dengan tergagap-gagap Leng-hong menyahut.
"Siaukim-na-jiu? Suhu, kau belum pernah mengajarkan ilmu itu padaku!"
Kang Hay-thian melepaskan cengkeramannya, lalu mendorong Leng-hong ke belakang, katanya dengan nada bengis.
"Sekalipun belum kuajarkan, tetapi masakah kau tak dapat menggunakan ilmu yang sudah kau pelajari dahulu? Awas, terimalah seranganku lagi! Jika tak kau gunakan Siau-kim-na-jiu, jangan harap kau dapat menghindar!"
"Suhu, aku ... aku.."
Tetapi Kang Hay-thian tak mau menunggu kata-kata muridnya, tangannya sudah dilayangkan untuk mencengkeram.
"Kali ini aku tak bergurau, lekas sambutlah atau kalau tulang bahumu sampai remuk, janganlah menyalahkan Suhumu!"
Memang Kang Hay-thian sudah ambil putusan, jika Leng-hong tidak mampu menggunakan Siau-kim-na-jiu, terang adalah palsu.
Cengkeramannya itu akan dilakukan sungguhan agar tulang pemuda itu remuk, kepandaiannya lenyap.
Pada saat jari-jari Kang Hay-thian yang bagaikan lima buah kaitan itu hampir mengenai bahu, sekonyongkonyong Leng-hong mengendap ke bawah, tangan kirinya membentur siku lengan Kang Hay-thian dan tangan kanannya menabas pinggang Kang Hay-thian.
Sudah tentu Kang Hay-thian takkan terkena oleh serangan itu, tetapi bahwa gerakan sekaligus 4 serangan dalam sebuah jurus itu, memang benar-benar gerakan Siau-kim-na-jiu.
Dengan menggunakan sedikit tenaga, Kang Hay-thian mendorong ke samping.
Dalam hati ia agak ragu-ragu, kiranya ilmu Siau-kim-na-jiu yang digunakan Leng-hong itu serupa dengan Siau-kim-na-jiu dari partai Jing-siapay.
Gerakan dan gayanya sederhana sekali, maka timbullah keraguan Kang Hay-thian, pikirnya.
"Tiok Siang-hu seorang tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa. Ia dapat disejajarkan sebagai guru besar pada zaman ini. Kukira ia mempunyai ilmu Siau-kim-na-jiu yang istimewa, siapa tahu hanya biasa saja!"
Dorongan Suhunya itu membuat Leng-hong terhuyung-huyung beberapa langkah baru dapat berdiri tegak, hatinya tak keruan rasanya. Entah apakah permainannya tadi dapat meyakinkan sang Suhu.
"Siapa yang mengajarkan Siau-kim-na-jiu itu padamu?"
Tegur Kang Hay-thian.
"Tiok-locianpwe yang tadi hendak mengacaukan rapat ini,"
Sahut Leng-hong.
"Kapan ia mengajarkan padamu?"
"Ketika aku masih kecil bersama ayah bundaku pesiar ke gunung Kun-lun-san barat. Dia begitu gembira sekali hingga memberi pelajaran ilmu itu,"
Sahut Leng-hong dengan tetap. Ia menghitung jarinya.
"Itu terjadi kirakira 11 tahun berselang."
Bahwa keterangan Leng-hong itu sesuai dengan ucapan Tiok Siang-hu membuat Kang Hay-thian keheranan, pikirnya.
"Apakah aku sendiri yang terlalu banyak curiga? Apakah dia bukan Leng-hong palsu?"
Memang Kang Hay-thian tak mengetahui apa yang terjadi selama beberapa jam ini.
Rencananya untuk menguji sang murid sudah diketahui lebih dulu oleh Leng-hong, tetapi bagaimana Leng-hong mengetahui hal itu?
Kiranya pembicaraan Kang Hay-thian dengan Tiok Siang-hu tadi, telah didengar orang, orang itu bukan lain ialah Bong Ing-ping.
Dia seorang mata-mata yang terlatih matang.
Karena mengetahui dirinya tak.
sederajat dengan para cianpwe, ia hanya mengikuti mereka dari kejauhan saja.
Ketika dilihatnya Kang Haythian berjalan keluar, telah diperhitungkan tentu akan terjadi sesuatu, maka buru-buru ia mendahului bersembunyi di balik sebuah hutan.
Dan secara kebetulan sekali, Kang Hay-thian berhenti di situ bercakap-cakap dengan Tiok Siang-hu.
Rupanya karena terliput oleh rasa kegembiraan dapat menyelesaikan persoalan Tiok Siang-hu dengan damai, apalagi ketika menganggap tempat di situ tiada orang.
Kang Hay-thian tak mau menyelidiki ke sekitar hutan lagi, terus saja bercakap-cakap dengan Tiok Siang-hu secara lepas.
Dengan menahan napas dalam semak, Bong Ingping dapat mencuri dengar pembicaraan kedua jago itu.
Setelah kedua tokoh itu pergi, Bong Ing-ping pun cepat kembali untuk mencari Leng-hong.
Selagi Kang Hay-thian terhambat dalam perjamuan malam di biara Yok-ong-bio, Bong Ing-ping dan Leng-hong merundingkan cara-cara untuk menghadapi tindakan orang she Kang itu.
Sebenarnya Leng-hong tak mengerti ilmu Siau-kim-najiu, sebaliknya Bong Ing-ping dapat, bahkan bukan hanya satu tetapi dua macam.
Yang satu baru saja ia terima dari Hong Jong-liong dan yang satu setelah ia berhasil menyelundup menjadi murid partai Jing-sia-pay.
Lenghong berotak cerdas, dalam waktu singkat dapatlah ia menerima ajaran Siau-kim-na-jiu dari Bong Ing-ping.
Walaupun belum sempurna, tapi berkat otaknya yang tajam dapatlah ia menggabungkan kedua ilmu Siau-kimna-jiu itu, ditambah pula dengan gerak perubahan ciptaannya sendiri untuk menghadapi ujian dari Kang Hay-thian.
Sekalipun Kang Hay-thian agak heran, merasa bahwa Siau-kim-na-jiu dari Tiok Siang-hu itu tak seharusnya sedemikian sederhananya, tetapi dengan keterangan yang diberikan oleh Leng-hong tadi, maka terpaksa untuk sementara itu ia percaya kalau Leng-hong memang Yap Leng-hong yang asli, bukan palsu.
"Mengapa kau tak pernah mengatakan kalau kau pernah menerima ilmu pelajaran dari Tiok-cianpwe?"
Tegurnya.
"Jika bukan karena Suhu memaksa aku menggunakan ilmu itu, sampai saat inipun aku tak berani mengatakan hal itu kepada Suhu,"
Sahut Leng-hong.
"Mengapa?"
"Setelah berpisah dengan Tiok-cianpwe di gunung Kun-lun-san, ayah berpesan wanti-wanti padaku supaya sejak itu jangan menyebut-nyebut nama Tiok Siang-hu lagi. Kala itu aku pun merasa heran dan menanyakan sebabnya, ayah mengatakan bahwa setiap orang mempunyai pendirian sendiri. Bagi ayah, ia tak suka orang luar mengetahui asal-usul dirinya, katanya Tiokcianpwe itu juga seperti ayah, tak mau dirinya diketahui orang. Malah saat itu ayah mendamprat aku sebagai anak kecil yang tak tahu urusan apa-apa, kemudian ayah memperingatkan aku, jika aku membocorkan rahasia Tiok-cianpwe, berarti aku mencelakai Tiok-cianpwe. Memang kala itu ayah tak mempunyai pikiran menyuruh aku berguru pada Suhu, maka beliau pun tak berpesan kalau aku boleh mengatakan rahasia itu kepada paman,"
Leng-hong memberi keterangan panjang lebar.
Keterangan itu membuat Kang Hay-thian mau tak mau menaruh kepercayaan juga, memang sebagai anak raja suatu negeri kecil yang hendak membangun kemerdekaan negerinya, Tiok Siang-hu tak ingin diketahui orang.
Bahkan pengurus rumah tangga keluarga Tiok dan iparnya (Siangkoan Thay) pun tak berani mengatakan asal-usul orang she Tiok itu.
Adalah karena kali ini Kang Hay-thian telah menyelamatkan jiwanya, maka Tiok Siang-hu baru mau membuka rahasia dirinya.
"Murid dan Suhu tak beda seperti ayah dan putra, memang tak seharusnya aku merahasiakan hal itu kepada Suhu, tetapi karena ayah telah berpesan wantiwanti, terpaksa aku berbuat demikian. Jika Suhu tadi tidak menanyakan, aku pun tak ingat lagi untuk memberitahukan hal itu. Mohon Suhu suka memaafkan, sekali-kali bukan aku bermaksud hendak menutupi rahasia itu,"
Kata Leng-hong pula. Kang Hay-thian tak enak hati, ujarnya.
"Adalah karena Tiok Sianghu sendiri mengatakan hal itu, maka aku ingin mengetahui bagaimana ilmu Siau-kim-na-jiu itu dan mencobamu."
Mendengar nada kata-kata Suhunya sudah mulai lunak, legalah perasaan Leng-hong, namun masih purapura ia ketakutan.
"Sayang sejak mempelajari ilmu itu, hampir 10 tahun lamanya aku tak berlatih hingga hampir-hampir lupa."
"Sebab apa!"
"Ayah tak senang aku belajar ilmu kepandaian dari partai-partai lainnya, waktu itu Tiok-cianpwe sendiri yang mau memberi pelajaran, karena sungkan atas kebaikan orang, terpaksa ayah mengunjuk kegirangan, tetapi sebenarnya ayah tak begitu senang dengan ilmu ajaran Tiok-cianpwe jang dianggapnya berbau Sia-pay (aliran jahat)."
Perangai Leng-hong itu congkak, dalam membawakan keterangan itu, dapatlah ia melakukan dengan tepat sekali. Pikir Kang Hay-thian.
"O, kiranya begitu. Tak heran kalau gerakan Siau-kim-na-jiunya tadi begitu sederhana sekali, kiranya dia memang belum mempelajari dengan sempurna."
"Ayah mengatakan Tiok-cianpwe itu tergolong aliran Sia-pay, maka dalam anggapanku dia kupandang sebagai tokoh Sia-pay. Tadi ketika Tiok-locianpwe datang menantang dalam rapat, sekalian tetamu merasa kurang puas terhadap dirinya. Itulah sebabnya tadi murid terpaksa memperlakukan Tiok-locianpwe sebagai seorang musuh dan tak berani menganggapnya sebagai kenalan lama."
Kang Hay-thian merenung sejenak, lalu tiba-tiba bertanya.
"Lenghong, berapakah umurmu tahun ini?"
Tadi Bong Ing-ping telah memberitahukan semua pembicaraan Kang Hay-thian dan Tiok Siang-hu pada Leng-hong, untuk setiap pertanyaan yang berisi kecurigaan, Leng-hong sudah siap dengan jawabannya, maka dengan serentak menyahutlah ia.
"Murid tahun ini baru berumur 24 tahun, tetapi aku dilahirkan pada bulan delapan, jadi menurut perhitungan yang sebenarnya umurku baru 23 tahun."
Pada waktu datang ke rumah keluarga Kang, Lenghong sudah memberitahukan umurnya, maka tak dapatlah ia merubahnya.
Satu-satunya hanyalah dengan keterangan tentang 'makan' tahun.
Leng-hong yang dijumpai di gunung Kun-lun oleh Tiok Siang-hu tahun ini berusia 23 tahun, memang dia lebih muda setahun dari Leng-hong yang palsu ini, tetapi rakyat dari wilayah barat menggunakan perhitungan tahun yang sebenarnya dan tahun yang 'makan' tahun.
Dan jawaban itu ternyata termakan oleh Kang Hay-thian, ia pun tak menaruh perhatian serius terhadap masalah sekecil itu.
Sambil menengadah ke atas, Kang Hay-thian menampak sang rembulan sudah berada di atas dahan pohon, sebenarnya sudah waktunya ia harus kembali ke dalam biara, tetapi rupanya benaknya masih terbungkus oleh lapisan kesangsian.
Setelah merenung beberapa jenak, bertanyalah ia.
"Apa yang menyangkut diri Tiok Siang-hu tak perlu kita bicarakan lagi, sekarang aku hendak bertanya padamu tentang sebuah hal lagi. Kenalkah kau pada Hoa Thian-hong Locianpwe?"
Leng-hong terkesiap kaget.
"Kuingat setahun yang lalu Suhu pernah menanyakan hal itu kepadaku."
"Benarkah? Ah, ingatanku memang kurang baik, maka kutanyakan lagi hal itu,"
Sahut Kang Hay-thian.
"Putri Hoa-locianpwe adalah bibiku yang belum pernah kujumpai, sebenarnya sebagai seorang angkatan muda aku harus menemuinya. Tapi dikuatirkan berita tentang diriku itu akan tersiar sampai di negeriku hingga paman (raja Mazar) nanti mencari aku untuk dijadikan raja, suatu hal yang bertentangan dengan pesan mendiang ayah, maka terpaksa aku tak berani berkunjung menghadap Hoa-locianpwe di Hoa-san,"
Jawab Lenghong.
Untuk mengulur waktu,.
Leng-hong sengaja memperpanjang penuturannya, tetapi agar keterangannya itu 'kepalanya' sesuai dengan 'ekornya', terpaksa ia kukuh dengan keterangannya semula bahwa ia belum pernah bertemu muka dengan Hoa Thian-hong.
"Sebelum engkau datang ke rumahku ini, pernahkah kau memberitahukan riwayatmu kepada lain orang?"
Tanya Kang Hay-thian.
Memang Leng-hong memancing supaya Kang Haythian mengajukan pertanyaan begitu agar ia dapat berkesempatan untuk 'membersihkan' diri.
Pura-pura ia berpikir beberapa jenak, kemudian baru berkata.
"Hanya kepada satu orang,"
"Siapa?"
Tanya Kang Hay-thian.
"Saudara angkatku Siau Ci-wan Toako. Rahasia pribadiku, sebenarnya enggan kuberitahukan kepada orang, tetapi Siau-toako kuanggap bukan orang luar. Dengan mengangkat saudara sehidup semati, kukira tak seharusnya menyembunyikan asal-usulku lagi. Kuyakin Siau-toako seorang satria jujur, tentulah dapat menyimpan rahasiaku itu. Entah bagaimana pendapat Suhu tentang tindakanku itu?"
Sebagai seorang yang menjunjung tinggi keutamaan, segeralah Kang Hay-thian memberi pernyataan.
"Siau Ciwan? Boleh, bolehlah kau memberitahu padanya."
"Suhu, apakah kepergian Suhu ke Hoa-san kali ini tak mendengar Hoa-locianpwe mengatakan sesuatu tentang diri Siau-toako?"
Tanya Leng-hong pula.
"Eh, bukankah Siau Ci-wan sudah kembali ke gunung Siau-kim-san."
"Ketika berpisah dengan aku, atas peringatanku ia bermaksud hendak ke Hoa-san untuk meminta obat pada Hoa-locianpwe. Setelah itu baru kembali ke Siau-kimjwan, entah apakah ia sudah pergi ke sana atau belum?"
Memang ayah Siau Ci-wan yakni Siau Jing-hong adalah sahabat baik Hoa Thian-hong.
Bahwa Siau Jinghong hendak minta obat kepada Hoa Thian-hong untuk persediaan gerakan laskarnya di kemudian hari, adalah suatu hal yang masuk akal.
Lagi-lagi kepercayaan Kang Hay-thian makin tebal, pikirnya.
"O, makanya ayah angkatku begitu paham tentang diri Leng-hong, tentu Siau Ci-wan yang telah memberitahukan."
Tetapi bagaimanapun tetap masih belum hilang sama sekali kecurigaan Kang Hay-thian terhadap Leng-hong.
Tengah ia mencari jalan untuk mengajukan beberapa pertanyaan lagi kepada muridnya itu, tiba-tiba seseorang bergegas lari mendatangi.
Masih jauh orang itu berteriakteriak.
"Kang-tayhiap, Kang-tayhiap!"
Kiranya orang itu bukan lain ialah Loh Ing-ho, tokoh Bin-san-pay yang hendak mengundang Kang Hay-thian karena rapat segera akan dimulai.
"Sebenarnya tak usah kalian tunggu aku, sehingga seolah-olah akulah yang memperlambat pembukaan rapat itu,"
Ujar Kang Hay-thian dengan perasaan tak enak. Loh Ing-ho tertawa.
"Rapat rahasia malam ini sekalian orang meminta Kang-tayhiap harus hadir, maka terpaksa aku mendesak Kangtayhiap untuk segera menghadiri rapat itu."
Kang Hay-thian tak mau urusan pribadinya akan menelantarkan kepentingan orang banyak, terpaksa ia tunda penyelidikannya kepada Leng-hong sampai lain waktu dan buru-buru ikut Loh Ing-ho.
Setelah dibuka jalan darah bagian Yang-keng, tenaga Leng-hong bertambah besar, sekarang kekuatannya tak kalah dengan Loh Ing-ho.
Untuk menghormati orang tua ini, terpaksa Kang Hay-thian memperlambat larinya agar dapat berendeng dengan Loh Ing-ho.
Leng-hong mengikutinya dari belakang.
Dengan menggunakan Ginkang, ketiganya cepat sudah tiba di biara Yok-ongbio.
Kang Hay-thian tiba-tiba melarang Leng-hong ikut masuk dan menyuruh dia kembali ke tempatnya tadi.
"Tetapi Yap-siauhiap adalah murid pewarismu, pikirku hendak mengundangnya hadir juga,"
Loh Ing-ho tertawa.
"Tak usah. Telah ditetapkan bahwa rapat ini hanya dihadiri oleh pimpinan saja, kita jangan mengacaukan peraturan,"
Sahut Kang Hay-thian. Masih Loh Ing-ho membujuk.
"Ah, kau terlalu keras Kang-tayhiap. Apa halangannya tambah seorang saja? Kau mendirikan partai baru, murid pewarismu juga tergolong tokoh utama dari suatu cabang."
Namun Kang Hay-thian tetap pada pendiriannya.
"Sudah ada aku, tak perlu ia juga hadir. Mana boleh karena ada hubungan dengan aku, seorang angkatan muda boleh hadir? Ini melanggar peraturan!"
Merah wajah Leng-hong dibuatnya, sebenarnya ia ingin sekali hadir, tapi karena ditolak mentah-mentah oleh Suhunya, terpaksa ia mengiakan dan lantas mengeluyur pergi.
Waktu Kang Hay-thian masuk, semua tokoh penting dari partai-partai persilatan dan beberapa tokoh persilatan yang mempunyai derajat untuk hadir dalam rapat rahasia itu, sudah tampak hadir.
Hanya menunggu kedatangan Kang Hay-thian, rapat segera dapat dimulai.
Kok Tiong-lian menyambut kedatangan sang suami dengan isyarat bertanya.
Kang Hay-thian menyambut dengan wajah berseri dan gelengan kepala, menandakan bahwa hasil penyelidikan terhadap Leng-hong itu tiada tanda-tanda yang mencurigakan, begitulah kebiasaan kedua suami istri itu jika saling bertanya.
Kok Tiong-lian segera dapat menanggapi pernyataan suaminya itu, diam-diam legalah hatinya.
Padahal walaupun tak mendapat titik-titik yang mencurigakan, namun Kang Hay-thian masih belum seratus persen percaya pada Leng-hong, hanya karena di hadapan umum maka tak enaklah berbicara panjang lebar dengan sang istri.
Rapat telah berlangsung sesuai dengan acara yang telah direncanakan.
Pertama, merundingkan tentang cara-cara untuk menghubungi satuan-satuan dan daerahdaerah yang bertujuan menentang pemerintah Cing.
Kedua, tentang cara memberi bantuan pada laskar pejuang dari berbagai daerah.
Dewasa itu sudah ada tiga tempat yang bergerak memberontak, yakni gunung Siau-kim-san, Bin-lam dan Lou-se.
Di antaranya yang paling berbahaya kedudukannya ialah Siau-kim-jwan.
Sin ln-long, ketua Jing-sia-pay telah mendapat tugas dari pemimpin laskar Siau-kim-jwan yakni Leng Thian-lok untuk menyerukan kepada kaum gagah supaya mengirim bantuan tenaga ke sana.
Dalam hal itu, pertama-tama Sin In-long menyebut nama Yap Leng-hong.
"Kang-tayhiap, tentulah muridmu telah memberitahukan hal itu kepadamu, bukan?"
Tanya Sin In-long. Kang Hay-thian mengerutkan alis.
"Memberitahukan hal apa?"
"Yap-siauhiap telah menyanggupi untuk pergi ke Siaukim-jwan!"
Kata Sin In-long.
"Apa? Aku belum tahu sama sekali!"
Seru Kang Haythian.
Menilik bahwa Suhu dan murid tadi bicara sekian lama, Sin In-long mengira kalau Kang Hay-thian dan Leng-hong tentu merundingkan persoalan itu, maka betapa kejutnya demi mendengar sahutan Kang Haythian, kontan air mukanya berubah tak begitu senang.
"Urusan itu begini,"
Akhirnya Tiong Tiang-thong menyela.
"Pihak Siau-kim-jwan dan Siau Ci-wan sangat mengharap supaya muridmu dapat menyumbangkan tenaga ke sana, mereka minta tolong pada Sin-ciangbun untuk menyampaikan hal itu. Karena waktu itu kau belum datang, maka muridmu tak berani mengambil putusan sendiri. Adalah aku yang memberi jaminan bahwa kau tentu dapat menyetujui, barulah muridmu meluluskan. Kau jangan menyalahkan muridmu, karena akulah yang bertanggung jawab!"
Sin In-long tertawa.
"Kemudian dalam kedudukan sebagai Subo, istrimu pun meluluskan. Tentunya kau pun takkan menaruh keberatan apa-apa bukan?"
Diam-diam Kok Tiong-lian berdebar, ia cukup kenal perangai suaminya itu.
Biasanya Kang Hay-thian itu seorang yang tak kenal takut dalam membantu kebenaran.
Tak usah diminta, dia tentu akan menyuruh muridnya turut dalam pergerakan itu.
Tetapi saat itu Kang Hay-thian berbeda sikapnya, hal itu menimbulkan keraguan Kok Tiong-lian apakah suaminya itu masih belum mau menerima keterangan Leng-hong dan masih mencurigai anak itu.
Karena Sin In-long sudah mengatakan, terpaksa Kok Tiong-lian harus mengakui, ujarnya.
"Walaupun Hong-tit belum lama masuk dalam perguruan kita dan ilmu silatnya masih dangkal, tapi mengingat kesempatan begitu jarang terdapat, maka biarlah ia turut dalam pergerakan itu untuk menambah pengalaman."
Kok Tiong-lian mengatur kata-katanya sedemikian rupa agar sekalian orang jangan salah duga kepada Kang Hay-thian, rupanya Kang Hay-thian merasa juga.
Ia pikir, walaupun Leng-hong mencurigakan, tetapi tak nanti sampai berkhianat.
Sambil menatap Tiong Tiang-thong, tertawalah jago nomor satu itu.
"Ah, Tiong-pangcu kelewat sungkan, aku hanya menguatirkan kepandaian muridku itu tak becus untuk memikul tugas sepenting itu. Karena Tiong-pangcu memberi jaminan kepadanya, aku pun sudah tentu takkan menaruh keberatan apa-apa lagi!"
"Ai, kau terlalu sungkan Kang-tayhiap, serendahrendahnya kepandaian muridmu tentulah masih hebat juga. Aku hendak berunding denganmu, Kok-ciangbun tadi mengatakan agar muridmu ikut dalam pergerakan itu. Ini berlainan dengan maksudku, aku menghendaki supaya jangan hanya ikut saja, tetapi memimpinnya!"
"Hai, mana bisa?"
Kang Hay-thian terkejut.
"Ah, jangan buru-buru menolak dulu, dengarkan keteranganku. Tenaga yang hendak kita kirim membantu laskar Siau-kim-jwan itu haruslah benar-benar orang yang dapat dipercaya sepenuhnya, benar tidak?"
Kata Sin In-long.
"Benar!"
Kang Hay-thian mengiakan.
"terutama setelah kita ketahui sekarang bahwa dalam tubuh kita ini kemasukan mata-mata, kita harus lebih hati-hati."
"Nah, kalau begitu, tiada yang lebih sesuai lagi daripada Yap-siauhiap. Pertama, dia telah dipercaya orang banyak. Kedua, dia menjadi saudara angkat Siau Ci-wan, juga bersahabat dengan keponakan Leng Thianlok, yaitu Leng Tiat-jiau. Kelak apabila dipersatukan dengan laskar Siau-kim-jwan, di bawah pimpinan Yapsiauhiap, tentulah semua gerakan dapat berjalan lancar."
Kang Hay-thian tak dapat mendebat lagi, terpaksa ia meluluskan.
"Menolong tentara ibarat menolong kebakaran, bala bantuan ini besok pagi harus juga sudah berangkat. Maksudku, kita harus mengutamakan kualitas daripada jumlah orang, maka kuharap sekalian Ciangbunjin segera memilih anak muridnya masing-masing yang dipercaya, agar dapat dibentuk sebuah laskar bala bantuan,"
Kata Sin In-long pula.
Dalam dunia persilatan, kedudukan seorang guru sederajat dengan seorang ayah, dia dapat menentukan pilihan tanpa meminta persetujuan murid yang bersangkutan.
Sudah tentu para Ciangbunjin (ketua) itu takkan memilih dengan sembarangan.
Kecuali yang benar-benar dapat dipercaya, barulah mereka mau memilihnya.
Di samping itu juga ada pertimbanganpertimbangan lain mengenai cocok tidaknya murid itu melakukan tugas itu.
Pada saat para Ciangbunjin menyodorkan daftar nama murid-muridnya, hari pun sudah menunjukkan jam satu malam.
Yang hadir dalam rapat orang gagah itu tak kurang dari 1000 orang lebih, regu bantuan yang dibentuk itu hanya terdiri dari 100 orang.
Ciong Tian juga mengajukan kedua putra-putrinya untuk ikut.
"Seratus orang rasanya sudah cukup,"
Kata Sin In-long dengan gembira.
"Siau-kim-jwan bukan kekurangan tenaga laskar, tetapi tenaga-tenaga pimpinan yang cakap. Rakyat hendak menentang pemerintah Cing, menurut apa yang kuketahui, berpuluh daerah yang terletak di sekitar Siau-kim-jwan diam-diam sudah membentuk barisan sukarela. Begitu kita mengirim 100 jago-jago ini, berarti akan menyulut 100 obor yang akan memimpin rakyat untuk membebaskan Siau-kim-jwan dari kepungan musuh."
Mendengar tugas regu bala bantuan itu sedemikian beratnya, Kang Hay-thiap makin cemas, pikirnya.
"Mungkin Leng-hong tak sampai menjadi pengkhianat, tetapi pada dirinya terdapat sebuah titik jejak yang menyebabkan aku harus menaruh kecurigaan kepadanya. Apalagi dia masih hijau, jika sampai bertindak salah, bagaimana pertanggung jawabannya kepada orang banyak?"
Tetapi tugas Leng-hong sudah ditentukan.
Kang Haythian tak dapat merubahnya.
Terpaksa ia mengusulkan supaya Ciong Leng diangkat sebagai wakil, usul itu mendapat persetujuan juga.
Setelah perundingan selesai, kemudian acara meningkat pada lain-lain persoalan, setelah itu barulah rapat ditutup.
Saat itu sudah hampir terang tanah.
Kok Tiong-lian tidur sekamar dengan putrinya, tetapi ketika Kang Hay-thian bersama istrinya masuk kamar, ternyata Hiau-hu tak ada.
"Eh, kemana saja anak itu, perlu "kita mencarinya atau tidak?"
Kata Kang Hay-thian.
"Tak nanti ia hilang. Memang selama dua hari ini ia bergaul rapat sekali dengan Ciong Siu. Atau mungkin ia sengaja memberi kesempatan ayah ibunya berduaan saja maka dia lantas lari ke kamar Ciong Siu, ai, apakah sekarang kau dapat memberitahukan tentang hasil pembicaraanmu dengan Hong-tit?"
Setelah mendengar penuturan suaminya, berkatalah Kok Tiong-lian.
"Keterangannya masuk akal, tak perlu kau mencurigainya lagi."
"Tetapi mengapa harus kutanya dulu baru ia mau menerangkan? Urusan dengan Tiok Siang-hu mungkin karena mematuhi pesan ayahnya maka ia tak mau mengatakan. Ini dapat dimengerti, tetapi bahwa Siau Ciwan hendak ke gunung Hoa-san, mengapa ia tak mau bilang?"
Bantah Kang Hay-thian. Kok Tiong-lian tertawa.
"Terhadap murid kau kelewat bengis, jarang bercakap-cakap dengan mereka. Mungkin ia menganggap hal itu tak penting, kau tak bertanya, ia pun tak mau banyak omong lagi."
Kang Hay-thian menghela napas.
"Leng-hong masih muda tapi pikirannya sudah masak, selama ini aku pun percaya padanya, tetapi banyak hal-hal mencurigakan yang menyangkut dirinya. Karenanya tak dapat tidak aku harus menaruh kecurigaan padanya."
"Mengingat kedudukanmu, memang haruslah kau berlaku hati-hati, tetapi tentang urusan Tiok Siang-hu dan pesan ayah angkatmu itu, Leng-hong sudah memberi keterangan yang jelas. Apakah kau merasa masih ada hal-hal yang perlu kau tanyakan pula? Berlaku hati-hati memang perlu, tetapi janganlah kelewat curiga agar jangan sampai merenggangkan hubungan kalian Suhu dan murid."
Sahut Kang Hay-thian.
"Benar sekali ucapanmu itu. Tentang dua hal itu aku pun takkan bertanya lagi, tetapi masih ada sebuah hal yang tetap hendak kucari penjelasannya."
"Maksudmu tentang dicelakainya suami istri Utti Keng?"
Tanya Kok Tiong-lian.
"Benar, dalam hal itu aku merasakan sesuatu yang berbelit-belit. Pada saat Utti Keng tertangkap kawanan kuku garuda, kebetulan Leng-hong juga sedang tak berada di rumah. Leng-hong mengatakan bahwa ia tak pernah melihat Utti Keng, tetapi benarkah begitu, tak dapat kupercaya keterangan dari sepihak saja,"
Kata Kang Hay-thian.
"Karena sekarang Utti Keng sedang meringkuk dalam penjara, tak dapatlah ditanya, menanyai Leng-hong pun tiada gunanya. Mudahmudahan kepergianku ke kotaraja nanti berhasil membebaskan Utti Keng dari penjara."
"Benar. Asal dapat mengeluarkan Utti Keng dan menanyainya, tentulah hal itu dapat dibikin terang, maka segala kesimpulan baiklah ditangguhkan setelah kau pulang dari kotaraja lagi,"
Ujar Kok Tiong-lian. Kembali Kang Hay-thian menyatakan kecemasan hatinya berhubungan dipilihnya Leng-hong menjadi pimpinan laskar orang gagah yang dikirim ke Siau-kimjwan.
"Dia toh bukan seorang pengkhianat?"
Seru Kok Tianglian.
"Aku percaya memang bukan, tetapi selama asal-usul anak itu belum terang, segala kemungkinan yang tak diharap bisa terjadi!"
Selagi kedua suami istri itu asyik bercakap-cakap, tibatiba Kang Hiau-hu muncul.
"Yah, mah, kamu berdua di situ, bagus! Aku justru hendak minta persetujuanmu, bolehkah aku pergi?"
Seru dara itu dengan girang.
"Kemana? Mengapa begitu bernapsu?"
Sahut Kang Hay-thian. Dara itu menghela napas, ujarnya.
"Kalau tak ke Siaukim-jwan, kemana lagi? Yah, aku telah bicara dengan bibi Ciong, ia ingin sekali mengajak aku bersama-sama pergi. Memang tepatlah kalau kita mempunyai kawan sekaum dalam perjalanan. Yah, janganlah mengecewakan harapan bibi Ciong, yah, izinkanlah aku pergi!"
"Eh, jangan begitu tergopoh-gopoh kau! Jawab dulu beberapa pertanyaanku,"
Kang Hay-thian tertawa melihat tingkah putrinya itu.
"Baik, asal kau izinkan aku pergi, mau tanya silakan tanya apa saja,"
Sahut Hiau-hu.
"Kau suka pada Toasukomu atau tidak?"
Pertanyaan ayahnya membuat Hiau-hu merah mukanya, dengan kurang senang ia menjawab.
"Yah, perlu apa kau tanyakan hal itu? Apa hubungannya dengan kepergianku ke Siau-kim-jwan?"
Kang Hay-thian tak mau tertawa, melainkan menarik muka bersungguh-sungguh.
"Sudah tentu ada hubungannya maka baru kuajukan. Di hadapan ayah bundamu, janganlah kau aleman. Nah, katakanlah sejujurnya, kau suka pada Toasukomu atau tidak?"
Kang Hiau-hu paling mengindahkan terhadap ayahnya,"
Ia tahu bahwa ayahnya itu tak bergurau. Meskipun ia tak tahu maksud sang ayah, tetapi ia anggap hal itu memang penting, maka dengan bersungguhsungguh menyahutlah ia dengan tegas.
"Tidak suka!"
"Mengapa?"
Tanya Kang Hay-thian.
"Tidak kenapa. Menurut perasaanku, aku tak cocok dengannya. Satu waktu kalau ia kelewat merapat sekali padaku, aku malah merasa jemu!"
Sahut Hiau-hu. Kang Hay-thian menghela napas, sementara Kok Tiong-lian mengerutkan alis. Melihat mamahnya, berkatalah Hiau-hu.
"Sudah tentu dia tetap Toasuhengku yang harus kuhormati. Mah, kutahu kau memang berat sebelah, kau lebih menyukai Toasuko daripada Jisuko!"
Kok Tiong-lian tak enak perasaannya, ujarnya.
"Eh, Hu-ji, jadi kau masih penasaran karena Jisukomu kuusir?"
Hiau-hu mencibirkan bibir.
"Dalam hal itu terang Jisuko menderita fitnah."
"Hu-ji, tak boleh kau berkata begitu terhadap ibumu!"
Tukas Kang Hay-thian.
"Toasuko adalah keponakan ibumu. Kalau ia lebih memperhatikan keponakannya, itulah sudah wajar, tetapi kutahu ibumu itu selalu berlaku adil dalam setiap persoalan. Kalau menuduh ia berat sebelah, itulah tak benar. Tentang Jisukomu diusir dari rumah ini, telah kuketahui. Jika aku yang kebetulan berada di rumah, memang juga harus bertindak begitu, tetapi jangan kuatir, yang asli tentu takkan dikata palsu, yang palsu tentu kelihatan dari yang asli. Jika Jisukomu memang menderita fitnah, aku tentu dapat mengurusnya. Dengarlah, setelah rapat ini selesai, aku segera akan berangkat ke kotaraja menolong Utti Keng, berbareng untuk menyelidiki kejadian yang menimpa diri Jisukomu. Jika memang ia tak bersalah, tentu akan kubawanya pulang lagi."
"Yah, kau sungguh baik sekali,"
Seru si dara dengan kegirangan.
"Ya, memang ibu tidak baik!"
Kok Tiong-lian uringuringan. Hiau-hu biasa manja pada ibunya, segera ia menubruk ke haribaan sang ibu.
"Mah, aku kelepasan omong, maafkanlah. Kutahu kau cinta padaku, kau pun seorang ibu yang baik, tetapi aku sudah bukan seorang anak kecil lagi, janganlah memperlakukan"
Aku seperti ketika aku masih kecil. Apa yang tak suka kumakan, sekalipun kau katakan makanan itu amat bermanfaat, aku pun tak mau. Jangan memaksalah."
Walaupun kata-kata Hiau-hu bernada seperti kekanakkanakan, tapi memberi kesan yang dalam kepada Kok Tiong-lian, diam-diam ia mengakui kebenarannya.
Dibelainya rambut putri tunggalnya itu dan tertawalah ia dengan rawan.
"Hu-ji, kata-katamu itu benar. Aku tak menyadari bahwa sekarang kau sudah dewasa. Kau suka pada siapa, terserah pada pertimbanganmu sendiri, selanjutnya aku tak memaksamu lagi. Puaskah kau?"
Kata-kata ibunya itu laksana angin segar yang menyejukkan kepanasan hati Hiau-hu.
"Mah, lagi-lagi kau mengatakan hal itu. Aku toh tak mengatakan suka pada siapa-siapa?"
Katanya dengan wajah kemerah-merahan walaupun dalam hati dara itu girang. Kang Hay-thian batuk-batuk untuk melonggarkan kerongkongan.
"Hu-ji, sekarang marilah kita membicarakan urusanmu."
"Bagaimana, yah, apakah kau izinkan aku pergi?"
Tanya si dara. Kang Hay-thian mengangguk.
"Semula aku memang cemas, tetapi setelah mendengar keteranganmu tadi, kutahu kau tidak sekali-kali mengandung maksud pribadi. Baiklah, besok pagi kau boleh berangkat bersama bibi Ciong."
Memang semula Kang Hay-thian kuatir putrinya terpengaruh oleh dorongan asmara kepada Leng-hong hingga mau mengikutinya ke Siau-kim-jwan, maka ia meminta penjelasan lebih dulu.
Setelah mengetahui maksud pertanyaan ayahnya itu, diam-diam Hiau-hu mendongkol dan geli, pikirnya.
"Eh, mengapa ayah mengira aku suka pada Toasuko?"
Memang dara itu tak mengerti bagaimana perasaan sang ayah, karena masih mendendam kecurigaan kepada Leng-hong, sudah tentu Kang Hay-thian memikirkan kepentingan putrinya juga.
Ia harus menjaga jangan sampai sang putri terjerumus dalam jerat, di samping itu sebagai seorang yang menjunjung kepentingan umum, Kang Hay-thian tak mau putrinya turut dalam pergerakan itu hanya karena pengaruh asmara.
"Mah, bantulah aku mengemasi perlengkapanku. Yah, kau salah, bukan besok pagi tetapi hari ini!"
Hiau-hu berseru girang. Saat itu langit sudah mulai terang. Menurut rencana, setelah terang tanah, laskar bantuan itu segera akan berangkat.
"Lihatlah itu, kau kegirangan sekali! Biarlah ibumu yang mengemasi barang-barangmu, kau kemari, aku hendak menyampaikan pesan. Jangan gugup, sekarang masih ada waktu setengah jam lagi,"
Kata Kang Haythian. Dengan tertawa-tawa si dara menghampiri ke dekat ayahnya.
"Hu-ji tahun ini kau sudah berumur 18 tahun, kuperlakukan kau sebagai orang dewasa yang mengerti urusan dunia. Dengarlah baik-baik, kau harus dapat menangkap maksudku ini."
Hiau-hu paling senang kalau dirinya dianggap sudah dewasa, maka dengan menirukan gerak tingkah-laku sang ayah, ia kerutkan wajahnya dengan mimik bersungguh-sungguh.
"Anak mengerti, anak siap mendengarkan!"
"Kali ini Toasukomu memimpin bala bantuan ke Siaukim-jwan, aku agak cemas. Pertama, karena dia masih hijau, tak punya pengalaman untuk menjabat tugas itu. Kedua, usianya masih muda, laskar bantuan ini tentu akan menghadapi kesukaran-kesukaran yang tak terduga-duga. Bilamana Toasukomu kurang bijaksana dan salah mengurus, merugikan namaku sih tak mengapa, tetapi dengan mengakibatkan kekalahan pihak kita, tentu besar sekali akibatnya. Ini bukannya aku tak percaya padanya, hanya maksudku haruslah selalu meningkatkan kewaspadaan. Mengertikah kau akan maksudku?"
"Ya, anak mengerti, yah. Bukankah kau suruh aku membantunya? Tetapi aku sendiri juga tak tahu cara bagaimana harus menjaga jangan sampai ia melakukan kekeliruan itu?"
Sahut Hiau-hu.
Keinginannya ke Siaukim-jwan itu hanya didorong oleh semangatnya yang menggelora, sama sekali ia tak memikirkan kesulitankesulitan yang disebutkan ayahnya itu, maka setelah mendengar ucapan sang ayah, barulah ia merasa beratnya tugas itu, diam-diam ia merasa cemas juga.
"Kebetulan Ciong Leng menjadi wakil pimpinannya, dia lebih tua, ilmu silatnya pun boleh juga, pengalamannya cukup. Nanti biar kupesan pada Toasukomu supaya dalam setiap hal harus berunding dengan Ciong Leng,"
Kata Kang Hay-thian. Hiau-hu serasa terlepas dari himpitan beban berat.
"Benar dengan dibantu oleh paman Ciong, yang juga merangkap tugas sebagai penilik, aku boleh bebas dari kewajiban tadi."
Memang ia jemu pada Leng-hong, ia tak senang kalau terlalu rapat dengan Toasukonya itu. Kang Hay-thian tertawa.
"Tidak, kau masih terikat kewajiban. Ada beberapa perkataan yang tak enak kukatakan pada Ciong Leng di hadapan orang banyak, apalagi nanti saat mengantar keberangkatannya aku tak dapat bicara jelas dengannya, maka sekarang aku hendak menyampaikan pesanku yang jelas agar kau sampaikan pada mereka berdua saudara."
"Oh, kiranya begitu, bolehlah,"
Sahut si dara.
"Tapi ingat, walaupun hanya menyampaikan pesan saja, kau harus menggunakan otak untuk mengaturnya. Sekarang dengarkanlah pesanku,"
Kata Kang Hay-thian memperingatkan putrinya.
"Tadi telah kukatakan, bahwa dalam setiap urusan Toasukomu harus berunding dengan Ciong Leng. Jika ia sampai melanggar pesanku itu dan diam-diam merahasiakan sesuatu terhadap Ciong Leng, kalian harus berlaku hati-hati. Ajaklah beberapa saudara berunding, minta pendapat mereka, apakah hal itu berguna untuk kepentingan orang banyak. Jika tiada gunanya, hapuskan saja,"
Kata Kang Hay-thian Hiau-hu tertegun sejenak, tanyanya.
"Toasuko menjadi pimpinan, sudah tentu setiap hari harus menghadapi banyak urusan. Jika paman Ciong kebetulan tak berada di sampingnya? Dan andaikata Toasuko memang bermaksud hendak mengelabuinya, bagaimana kita dapat mengetahui?"
Kembali Kang Hay-thian tertawa.
"Hu-ji, ternyata kau juga bisa menggunakan pikiranmu. Bagus, bagus, tetapi yang penting kau harus dapat menyelami kata-kataku itu. Bangunkanlah kesadaranmu dan pendirian kalian semua, jangan karena Toasuko itu termasuk orang sendiri kalian lantas lengah menjaganya. Asal kau ingat hal ini, tentu bereslah! Tetapi dalam urusan sehari-hari yang tak penting, janganlah Ciong Leng kelewat bersitegang leher, kupercaya kau tentu dapat menyampaikan kata-kataku itu kepada Ciong Leng, dia tentu mengerti sendiri nanti. Tentang cara bagaimana dapat mengetahui kalau Toasukomu merahasiakan sesuatu hal kepada kalian, ini tergantung asal kau selalu memperhatikan gerak-geriknya. Ingat, apakah hal itu menguntungkan orang banyak atau merugikan, jika hal itu merugikan, kalian harus lekas bertindak. Dan yang terakhir, dan ini yang paling penting, jika Toasukomu sampai bertindak salah, membuat kesalahan yang berat, kuizinkan Ciong Leng bertindak untuk membikin cacad padanya! Tak usah takut padaku!"
"Eh, mengapa begitu hebat, yah?"
Tanya Hiau-hu terkejut.
"Aku hanya menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan, sekali-kali bukan memastikan bahwa Toasukomu tentu berbuat begitu. Apa yang kukatakan kepadamu ini hanya boleh kau katakan pada kedua kakak beradik Ciong itu sendiri saja, jangan pada lain orang agar jangan menimbulkan kesalahan paham yang dapat mengganggu suasana anak-anak laskar. Dan terhadap Toasukomu harus tetap menghormatinya, kecuali jika dia benar-benar berbuat salah, apakah kau dapat menangkap maksudku?"
Tanya Kang Hay-thian. Hiau-hu mengusap dahinya yang berkeringat, ujarnya.
"Ya, anak mengerti yah."
Sebenarnya ia sendiri belum jelas betul kata-kata ayahnya itu. Matahari memancarkan sinarnya ke dalam jendela. Tanpa terasa, waktu keberangkatan laskar sudah tiba, kata Kang hay-thian.
"Baik, bolehlah sekarang kau pergi. Nanti aku dan ibumu segera akan datang."
Kok Tiong-lian yang sudah mengemasi bekal putrinya, bertanya dengan berat hati.
"Hu-ji, semalam kau tak tidur, mungkin kau tentu lelah. Kubawakan kau sebungkus obat dan sebatang jinsom yang berumur seribu tahun, obat penambah semangat yang paling mujarab." . Hiau-hu tertawa.
"Ah, sebaliknya semangatku lebih baik dari biasanya."
Setelah memberi pesan supaya sang putri menjaga diri baik-baik di perjalanan, maka Hiau-hu pun segera memberi hormat meminta diri pada kedua ayah bundanya yang tercinta itu.
"Eh, anak itu seperti kita semasa masih muda,"
Kok Tiong-lian menggelengkan kepala melihat kelakuan sang putri yang masih seperti anak-anak itu.
"Rasanya kau tak menyesal dengan apa yang kukatakan kepada Hu-ji tadi, bukan?"
Tanya Kang Haythian.
"Itu kan untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, sudah tentu aku tak menyesalimu. Tapi kuharap kau dapat lekas membikin terang urusan itu, agar Leng-hong dapat bebas dari kecurigaan. Dan kuharap pula agar kali ini dia dapat memperoleh hasil gemilang hingga nama perguruan kita semakin harum,"
Sahut Kok Tiong-lian.
Terang bahwa nyonya itu masih berkesan baik terhadap Leng-hong, sampai saat itupun ia masih tak percaya bahwa Leng-hong itu jahat.
Kang Hay-thian dapat memaklumi perasaan istrinya, ia pun tak mau berbantah tentang Leng-hong.
Kedua suami istri itu segera keluar mengantar keberangkatan laskar taruna gagah.
Laskar bantuan yang terdiri dari para taruna gagah perkasa itu sudah berkumpul siap hendak berangkat.
Para Ciangbunjin, para guru dan sahabat-sahabat berdatangan untuk mengantar keberangkatan mereka.
Kang Hay-thian mencari Leng-hong dan Ciong Leng yang diajaknya ke samping, di situ ia memberi pesan wantiwanti kepada Leng-hong supaya sewaktu-waktu menghadapi kesulitan harus berunding dengan Ciong Leng.
Dalam usia Ciong Leng tak selisih banyak dengan Leng-hong, tapi dalam dunia persilatan ia lebih tinggi kedudukannya daripada Leng-hong.
Bahwa ia hanya diangkat sebagai pembantu pimpinan saja membuat Ciong Leng mempunyai perasaan bahwa apa yang dikatakan Kang Hay-thian itu hanyalah sekedar ucapan merendah saja.
Sebaliknya Leng-hong dapat menilai bahwa Suhunya itu masih mempunyai rasa curiga kepadanya, pikirnya.
"Boleh, kau suruh Ciong Leng mengawasi gerak-gerikku, sebaliknya justru nanti aku akan merapat pada anak itu seerat-eratnya."
Setelah Kang Hay-thian cukup memberi pesan, ayah bunda Ciong Leng pun datang mencari putra-putrinya. Li Sim-bwe menggandeng putrinya (Ciong Siu) dan Kang Hiau-hu, sambil tertawa berkata.
"Kalian berempat harus berlaku seperti saudara sekandung. Karena umur kalian terpaut tak seberapa, baiklah selanjutnya jangan memakai bahasa panggilan yang sungkan."
Ciong Tian pun memberi pesan pada putranya agar selalu mematuhi peraturan ketentaraan dan bekerja sama dengan Leng-hong.
Ucapan suami istri Ciong itu seolah-olah telah menghapus makna dari pesan Kang Hay-thian, maka Kang Hay-thian buru-buru akan bicara lagi, tapi kala itu Sin In-long, Tay-hui Siansu dan beberapa orang lainnya, berdatangan.
Sin In-long hendak menyerahkan keterangan penting tentang keadaan di Siau-kim-jwan kepada Leng-hong, sudah tentu Kang Hay-thian tak mempunyai kesempatan berbicara lagi.
"Ah, asal Hu-ji menyampaikan pesanku tadi kepada kedua saudara Ciong, tentulah Ciong Leng mengerti sendiri,"
Pikirnya. Setelah barisan berangkat, di tengah jalan Kang Haythian berkata kepada istrinya.
"Suami istri Ciong-tayhiap itu rupanya suka benar kepada Hu-ji dan Hong-tit!"
Kok Tiong-lian menerangkan bahwa jalan darah Samyang-keng-meh di tubuh Leng-hong adalah Ciong Tian yang membukanya pada saat bertemu kemarin dulu.
"Oh, makanya kemarin sewaktu kucoba, kepandaian Hong-tit jauh lebih maju dari dahulu, kiranya Ciongtayhiap telah memberi bantuan yang sedemikian besarnya,"
Kata Kang Hay-thian.
Dalam anggapan Kang Hay-thian tentulah Ciong Tian itu suka pada Leng-hong karena anak itu mempunyai bakat tulang yang bagus.
Setitik pun ia tak menduga bahwa orang she Ciong itu sebenarnya mempunyai lain maksud tertentu.
Maksud dari Ciong Tian suami istri tak lain adalah mereka merasa penujui kalau memungut mantu Lenghong.
Leng-hong, murid pewaris dari Kang Hay-thian, orangnya cakap, sikapnya sopan.
Sekali lihat, sukalah kedua suami istri itu, di samping itu mereka pun ingin juga agar Hiau-hu dapat berjodoh dengan Ciong Leng.
Hanya saja kalau Hiau-hu masih belum sampai umurnya, adalah Ciong Siu dan Leng-hong itu sudah cukup dewasa, maka perhatian mereka terhadap Leng-hong lebih didahulukan agar perjodohan Ciong Siu lekas dapat diselesaikan.
Sekalipun demikian, mereka itu bukan orang tua kolot, tetapi dapat mengikuti aliran zaman.
Mereka memberi kekebasan kepada putra-putrinya untuk menentukan pilihannya sendiri, Ciong Siu baru saja kenal dengan Leng-hong, pergaulan mereka masih belum mendalam, maka Ciong Tian tak berani segera mengatakan soal perjodohan mereka kepada Kang Haythian.
Bahwa diizinkannya Ciong Siu ikut dalam gerakan laskar pejuang itu, memang suatu kesempatan yang baik.
Pertama untuk menyumbangkan tenaga kepada pejuang, di samping itu agar putrinya dapat kesempatan bergaul lebih banyak dengan Leng-hong.
Rupanya maksud kedua orang tuanya itu diketahui juga oleh Ciong Siu, nona itu memang terpikat dengan kecakapan wajah Leng-hong, diam-diam ia sudah menaruh hati pada pemuda itu.
Sebaliknya tujuan Kang Hay-thian adalah supaya putrinya itu bekerja sama dengan kedua saudara Ciong untuk mengawasi gerak-gerik Leng-hong.
Sedikitpun ia tak memikirkan tentang urusan asmara anak-anak muda itu, inilah yang menyebabkan timbulnya kesulitankesulitan di kelak kemudian hari.
Setelah barisan laskar tunas-tunas muda itu berangkat, rapat para orang gagah pun segera bubar.
Kang Hay-thian hendak lekas-lekas menuju ke kotaraja untuk menolong Utti Keng.
Ia berpesan kepada sang istri supaya menyampaikan kepada ayahnya kalau ia tak pulang melainkan hendak terus pergi ke kotaraja.
Kok Tiong-lian tertawa.
"Masakah ayah tidak tahu akan perangaimu? Asal ia tahu kalau kau sehat walafiat saja, tentulah sudah lega hatinya. Sekarang ayah sudah punya teman main catur, tentu takkan kesepian. Setelah pulang menjumpainya, aku pun juga segera akan pergi."
"Eh, hendak pergi kemana kau?"
Kang Hay-thian terkesiap.
"Untuk membantu tugasmu! Bukankah ayah angkatmu menyuruh kau ke negeri Mazar! Dan buku obat-obatan itupun harus lekas diserahkan pada Cici Pik,"
Kata Kok Tiong-lian.
"Ya, ya, sudah hampir 20-an tahun kau tak menjenguk rumah, bolehlah kau menggunakan kesempatan ini untuk menyambangi keluarga. Dan tentang urusan Hong-tit, bilanglah juga pada Jikomu,"
Kata Kang Hay-thian yang lalu menyerahkan kotak isi buku obat-obatan itu kepada Kok Tiong-lian.
Hanya sesingkat waktu suami istri gagah itu berkumpul, setelah itu mereka berpisah pula.
Tempat dimana kedua suami istri Kang Hay-thian dan Kok Tiong-lian berpisah, adalah justru tempat ketika Kang Hay-thian berjumpa dengan Nyo Hoan.
Teringat akan peristiwa itu, diam-diam Kang Hay-thian menyesal.
"Ah, sungguh tak nyana kalau karung yang dibawa Nyo Hoan itu berisi Kan-ji, aku membiarkannya begitu saja."
Memang terhadap muridnya.
Kang Hay-thian tak pilih kasih.
Adalah karena Lim To-kan itu umurnya paling kecil dan berkumpulnya paling lama, ditambah pula putra dari seorang Kaucu Thian-li-kau, Kang Hay-thian mempunyai rasa tanggung jawab yang lebih besar, ia tak punya putra maka ia menganggap To-kan itu sebagai putranya sendiri.
"Ah, dengan calon murid Li Kong-he, aku telah menerima empat orang murid tahun ini, tetapi yang kelihatan hanyalah tinggal Leng-hong seorang, tetapi ah, anak itu tak dapat dipercaya,"
Kang Hay-thian menghela napas. Orang persilatan paling mengutamakan pewaris, bahwa keempat muridnya itu masing-masing mengalami nasib yang berbeda-beda, mau tak mau membuatnya rawan juga.
"Walaupun Tiok Siang-hu telah berjanji hendak mendapatkan Kan-ji, tetapi setelah ketahuan rahasianya, sudah tentu Nyo Ceng tak berani bertemu dengan Tiok Siang-hu lagi. Dan orang she Nyo itu licin sekali, belum tentu Tiok Siang-hu dapat menghadapinya. Ah, tak dapat kuserahkan hal itu semata-mata kepada Tiok Siang-hu seorang, aku juga harus berusaha mencari juga,"
Pikirnya lebih jauh.
Tiga hari yang lalu Kang Hay-thian berjumpa di tempat itu dengan Nyo Hoan.
Untung selama tiga hari itu hawa udara terang.
Setelah berusaha mencari-cari, akhirnya dapat juga ia menemukan jejak yang dapat menentukan arah larinya Nyo Hoan, ialah ke jurusan utara.
Ia duga tentulah Nyo Ceng dan Nyo Hoan hendak menyerahkan To-kan ke kotaraja untuk mencari pahala.
Segeralah ia pun berangkat memulai pengejarannya.
Sekarang marilah kita ikuti keadaan Lim To-kan, murid Kang Hay-thian yang diculik musuh itu.
Pada waktu ditangkap Nyo Hoan, ia ditotok jalan darahnya hingga pingsan, ketika sadarkan diri, lapat-lapat seperti didengarnya suara gurunya (Kang Hay-thian).
Ia membuka mata tapi hanya kegelapan yang melingkupinya, tak tahu ia berada dimana saat itu dan suara gurunya pun tak kedengaran lagi.
Dalam kegelapan itu ia hanya mendengar desus angin menderuderu, hendak menjerit tak dapat keluar suaranya, hendak menggerakkan tangan juga tak mampu.
"Eh, apakah aku sedang bermimpi?"
Pikirnya.
Dengan susah payah barulah ia dapat mengingat peristiwa yang dialaminya semalam.
Dan tersadarlah ia saat itu bahwa dirinya sedang dalam cengkeraman Nyo Hoan.
Memang ilmu totokan Nyo Hoan itu istimewa sekali, sebenarnya setelah 12 jam nanti barulah To-kan dapat tersadar, tapi karena To-kan telah memiliki latihan ilmu Lwekang tinggi, sekalipun masih belum sempurna, namun dapat juga ia menyalurkan pernapasannya, maka hanya dalam waktu 4 jam saja dapatlah ia tersadar, tetapi belum dapat berkutik.
Ketika Kang Hay-thian dapat meringkus seorang kawannya, kejut Nyo Hoan bukan kepalang.
Kuatir kalau jago sakti itu akan mengejarnya, Nyo Hoan mencongklang kuda sekencang-kencangnya.
Kudanya itu adalah kuda istana yang diperoleh dari persembahan daerah Jing-hay, sehari dapat menempuh seribu li jauhnya.
Apa yang dirasakan To-kan tentang desus angin menderu-deru itu, ialah karena dirinya seperti dibawa terbang oleh kuda itu.
Setelah mencapai beberapa puluh li, Nyo Hoan berpaling dan legalah hatinya ketika tak melihat barang seorang pun pengejar, tetapi kawannya kena tertangkap, tak tahu ia bagaimana harus bertindak saat itu.
Kawannya itu seorang perwira dari pasukan Gi-lim-kun yang mendapat tugas untuk membantunya.
Nyo Ceng karena harus menghadapi musuh yang hendak mengejarnya (Nyo Hoan), dan setelah penculikan itu berhasil, Nyo Ceng masih akan pergi ke lain tempat lagi, maka tak dapatlah ayah itu menemani putranya lagi, maka Nyo Ceng hanya menyuruh putranya supaya bersama opsir Gi-lim-kun itu ke kotaraja untuk menyerahkan Lim To-kan.
Memang Nyo Hoan itu juga seorang anak yang cerdik dan suka mengagulkan diri.
Setelah ancaman dari Kang Hay-thian itu lewat, kembali timbul nyalinya pula, pikirnya.
"Boleh dikata segenap jago-jago persilatan kelas satu sudah berkumpul di Bin-san. Yang ada di luaran hanyalah tinggal jago-jago kelas dua saja, masakah aku jeri menghadapi mereka? Biarlah anak ini secara terangterangan kubawa ke kotaraja, tak perlu aku takut-takut dan main sembunyi. Setiba di kotaraja tentulah aku dapat mencari komandan Gi-lim-kun!"
Tetapi sekalipun dibesar-besarkan nyalinya, tak urung ia masih mempunyai rasa cemas juga kalau-kalau orang Bin-san melakukan pengejaran, maka ia melakukan perjalanan secara terus menerus, 'non-stop', palingpaling hanya berhenti memberi makan kudanya.
Di desa maupun kota, tak berani ia berhenti.
Setelah diperkirakan mencapai jarak empat lima ratus li jauhnya, barulah ia anggap ancaman pengejaran sudah lewat.
Kala itu hari sudah petang, ia merasa lelah sekali dan terpaksa berhenti di sebuah kedai di tepi jalan.
Sambil meletakkan karung di sisi tempat duduknya, ia mulai memperhitungkan.
"Ah, bocah ini 4 jam lagi baru dapat tersadar. Kurasa tentu takkan terjadi sesuatu, tetapi aku pun harus menyediakan makanan untuknya apabila ia nanti tersadar, agar jangan sampai kelaparan,"
Pikirnya. Melihat seorang Kongcu membawa sebuah karung beras, pelayan kedai agak melongo, memandang tak berkedip.
"Hai, mengapa kau memandang aku? Apakah kuatir aku tak punya uang? Nih, perak, ambillah. Kasih aku air teh panas dan beberapa macam makanan,"
Bentak Nyo Hoan.
Si pelayan terkejut, buru-buru ia mengiakan dan menyediakan pesanan.
Waktu menuangkan teh di meja Nyo Hoan, mata pelayan itu tak lepas melirik karung beras di samping.
Nyo Hoan marah-marah dan membentaknya supaya lekas pergi.
"Tak perlu kau layani, ayo pergi!"
Serunya seraya hendak mendorongnya.
Saking ketakutan, pelayan itu melonjak.
Cawan yang berisi teh panas menumpah ke arah karung kain.
Hampir setengah harian To-kan berusaha untuk memusatkan hawa murninya, sekalipun jalan darahnya masih belum terbuka, tapi ia sudah mulai dapat bergerak.
Tersiram air panas, ia meronta-ronta.
Melihat karung dapat bergerak-gerak, pelayan itu menjamahnya dan astaga ...
tangannya menyentuh daging yang empuk.
Tak tahu ia apakah manusia atau binatang.
Kejutnya tak terhingga.
Nyo Hoan murka sekali, bentaknya.
"Kau berani menyentuh barangku, kubunuh kau!"
Waktu ia hendak melontarkan sebuah hantaman, tiba-tiba terdengar suara seorang dara melengking.
"Eh, engkoh Hoan, mengapa kau di sini? Ada apa kau marah-marah begitu rupa? Nyo Hoan buru-buru menarik tangannya dan si pelayan itupun cepat-cepat menyingkir. Tepat pada saat itu masuklah seorang anak perempuan beserta seorang anak lelaki, mereka berusia di antara 15 -16 tahun. Melihat mereka, diam-diam Nyo Hoan mengeluh.
"Celaka!"
Ternyata dara yang datang itu adalah Tiok Ceng-hoa, putri Tiok Siang-hu, yang mengikut di belakangnya adalah Li Kong-he, putra Li Bun-sing.
Sebenarnya Nyo Hoan dan ayahnya telah merundingkan suatu siasat yang keji, Nyo Ceng akan datang ke rumah Tiok Siang-hu dan memikat supaya Tiok Ceng-hoa dan Li Kong-he dapat diajak keluar rumah.
Asal sudah meninggalkan rumah, dapatlah Nyo Ceng menyelesaikan mereka, Nyo Ceng hendak memaksa agar pernikahan putranya dengan Tiok Ceng-hoa lekas dapat diselesaikan, sedangkan Li Konghe segera akan diserahkan ke kotaraja.
Siasat yang diatur Nyo Ceng itu disebut 'sekali tepuk dua lalat', asal Nyo Hoan sudah menikah dengan Tiok Ceng-hoa.
Tiok Siang-hu tentu tak akan memusuhinya.
Di samping itu dengan berhasil menyerahkan anak-anak dari tokoh-tokoh Thian-li-kau ke kotaraja, tentulah ia akan mendapat pahala besar.
Ia mengharapkan menduduki jabatan komandan pasukan Gi-lim-kun atau gubernur istana.
Dengan pahala itu, kemungkinan besar cita-citanya itu tentu akan terkabul.
Sebenarnya Nyo Hoan lebih suka pada Siangkoan Wan, putri Siangkoan Thay yang usianya sebaya dengannya, sekalipun belum pernah mengikrarkan janji sehidup semati, namun kedua anak muda itu dalam hati masing-masing sudah saling bersambut.
Tiok Ceng-hoa tahun ini baru berumur 16 tahun, tiga tahun lebih muda dari Nyo Hoan.
Nyo Hoan anggap pergaulannya dengan dara she Tiok itu hanya sebagai kawan saja, Ceng-hoa masih kekanak-kanakan, maka Nyo Hoan pun tak mau mengemukakan soal asmara, tetapi Nyo Hoan seorang anak yang mendengar kata dan patuh kepada ayahnya.
Di samping itu ia pun ingin sekali mendapatkan kepandaian pamannya (Tiok Siang-hu) yang sakti itu, maka terpaksa ia setuju dengan rencana ayahnya.
Adanya Nyo Ceng tak dapat menemani putranya ke kotaraja adalah karena hendak menuju ke rumah Tiok Siang-hu untuk membujuk Ceng-hoa.
Memang rencana ayah dan anak itu bagus sekali, tetapi di luar dugaan ternyata Ceng-hoa tak berada di rumah, diam-diam ia melancong keluar dengan mengajak Li Kong-he.
Dan secara kebetulan juga saat itu mereka berjumpa dengan Nyo Hoan, bukan saja rencananya semula berantakan, juga Nyo Hoan harus merasa gelisah, kuatir kalau-kalau rahasia karungnya itu akan diketahui Ceng-hoa.
Buru-buru Nyo Hoan menarik karung ke sampingnya, kemudian memalingkan tubuhnya supaya jangan kelihatan, ujarnya.
"Ah, tak apa-apa. Pelayan itu tak hatihati hingga menumpahi aku teh panas. Tadi aku sudah memakinya. Eh, adik Tiok, mengapa kau diam-diam pergi dari rumah?"
"Memang sebenarnya ayah melarang aku turun gunung, mungkin ia takut aku membuat gara-gara di luaran, sehingga ayah tak mau memberitahukan aku kemana kali ini ia pergi, tetapi biarpun ia tidak memberitahu, aku sendiri pun dapat menyelidiki. Pada hari kedua dari kepergiannya, aku sudah tahu, ternyata ia pergi ke Bin-san untuk menghadiri rapat besar orang gagah. Di sana dia tentu bakal berjumpa dengan Kangtayhiap. Coba pikir sendiri, kesempatan sebagus itu masakah aku betah tinggal di rumah saja tak ikut menyaksikan?"
"Oh, tentulah bibi yang memberitahukan padamu,"
Nyo Hoan tertawa.
"Benar, mamah sayang sekali padaku. Terpaksa ia mengizinkan aku pergi juga. Eh, bukankah kau akan ikut ayahmu pergi ke Bin-san juga? Mengapa sekarang kau berada di sini marah-marah pada pelayan?"
Si dara balas bertanya.
"Tentang urusan itu nanti kuterangkan, tetapi adik Tiok, kau memang berani benar. Kalau seorang diri itu sih tak apa-apa, mengapa kau ajak kacungmu bersamasama pergi? Tak tahukah kau akan peraturan bengis dari ayahmu yang melarang seorang bujangan turun gunung secara diam-diam? Lebih baik suruh kacungmu itu ikut aku saja, nanti kuakui, akulah yang membawanya,"
Sahut Nyo Hoan.
Ia tahu bagaimana perangai si dara yang berhati keras itu.
Percuma saja ia hendak mencegah dara itu ke Bin-san, lebih baik ia berusaha membujuk supaya dara itu mengizinkan kacungnya ikut padanya.
Tak senang Ceng-hoa mendengar kata-kata Nyo Hoan, sahutnya.
"Tahukah kau siapa Li Kong-he ini? Dia adalah calon murid dari Kang-tayhiap. Tak pernah ayahku menaruh hormat pada orang kecuali terhadap Kangtayhiap, maka setelah mengetahui siapa diri Li Kong-he itu, ayah pun memperlakukan lain. Meskipun sekarang ini ia menemani aku belajar, berlatih silat dan main-main, tapi sekali-kali ia bukan kacungku. Kita sekarang menjadi seperti kakak adik, ia adalah adikku, jangan kau menghinanya!"
Sejak peristiwa dalam biara dimana Ceng-hoa hampir mengalami peristiwa tak enak karena dikeroyok Ki-liansam-siu, tapi untung Kong-he menolongnya itu, Cenghoa merasa berterima kasih sekali kepada Kong-he.
Dan setelah Kong-he berada di rumah keluarga Tiok, makin rapatlah pergaulannya dengan dara itu.
Usia 16 tahun itu merupakan berkembangnya perasaan hati seorang dara, maka sekalipun hanya bergaul setahun, namun bayangan Kong-he membekas lebih dalam di hati si dara daripada bayangan Nyo Hoan.
Pikiran seorang anak perempuan memang lebih cepat masak, perangainya suka melindungi yang lemah, maka Ceng-hoa senang sekali menyebut dirinya sebagai seorang Taci kepada Kong-he.
Walau sebenarnya dalam pertumbuhan jasmaniah Konghe jauh lebih besar dan tinggi badannya daripada Cenghoa.
Makin tak enak hati Nyo Hoan mendengar keterangan Ceng-hoa itu, katanya dengan dingin.
"O, kau senang menjadi kakak beradik dengan orang yang lebih rendah derajatnya? Itu terserah padamu! Tetapi kunasehati, sebaiknya janganlah kau pergi ke Bin-san. Kalau berkeras hendak ke sana juga, janganlah kau mengajak Li Konghe itu."
"Mengapa?"
Tanya si dara.
"Kemarin ayahmu di Bin-san telah adu kepandaian dengan Kang Hay-thian, keduanya sama-sama terluka. Mereka berjanji, tiga hari lagi akan bertempur pula, pada saat-saat dimana ayahmu sedang marah terhadap Kang Hay-thian, masakah kau hendak mengajak murid Kang Hay-thian menemuinya?"
Ceng-hoa terbeliak mendengar ucapan Nyo Hoan, serunya.
"Benarkah itu? Ayah mengatakan kalau ia hanya ingin mengukur kepandaian saja dengan Kang-tayhiap."
Nyo Hoan menjawab dengan sikap bersungguhsungguh.
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri, masa aku berbohong? Memang ayahmu hanya hendak mengukur kepandaian saja, tetapi belum tentu Kang Hay-thian dapat menerimanya. Apalagi kalau Ko-chiu bertempur, tentu tak lepas dari keinginan untuk menang. Kang Hay-thianlah yang lebih dulu melancarkan serangan ganas kepada ayahmu sehingga ayahmu marah dan balas melukainya."
"Kau tentu paham akan perangai ayahmu, seumur hidup ia belum pernah menerima hinaan orang. Bahwa kali ini ia sampai kena dilukai Kang Hay-thian, sekalipun untuk itu ia dapat juga membalas, tetapi ia merasa malu dan marah sekali. Ia sedang marah, kalau kau membawa Li Kong-he menjenguknya, bukanlah seperti hendak mencelakai ayahmu sendiri?"
Nyo Hoan melanjutkan rangkaian ceritanya.
"Adik He ini hanya seorang anak, tidak nanti ayah akan membunuhnya,"
Bantah Ceng-hoa.
"Mungkin ayahmu tak membunuhnya, tetapi tak nanti ia mau menyerahkan anak itu kembali pada Kang Haythian. Ayahmu itu sukar dijajaki hatinya, bukan mustahil ia akan membikin cacad anak itu,"
Nyo Hoan memainkan lidahnya yang beracun. Ceng-hoa bersangsi, setengah percaya akan cerita Nyo Hoan itu.
"Engkoh Hoan, lalu bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"
Tanyanya.
"Ayahmu menyuruh aku lekas pulang mengabarkan kepada mamahmu. Lebih baik kalian ikut aku kembali pulang sajalah,"
Kata Nyo. Hoan.
"Tidak, ayah terluka aku harus merawatnya,"
Bantah Ceng-hoa.
"Baiklah, tetapi biar Kong-he ikut aku saja. Sekarang memang ada beberapa tokoh yang berusaha untuk melerai bentrokan ayahmu dengan Kang Haythian. Mudah-mudahan berhasil, jika kedua pihak sudah berbaikan kembali, kau boleh minta pada pamanku supaya diantarkan kembali kepada Suhumu,"
Kata Nyo Hoan kepada Kong-he. Kong-he menolak.
"Tidak, aku tak mau ikut padamu. Untung atau celaka aku tetap hendak menemui Suhuku di Bin-san."
Nyo Hoan merasa waktu bicara itu mata Kong-he selalu ?
memperhatikan karung saja, memang sekalipun masih anak-anak, tetapi Kong-he sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan.
Begitu melihat karung Nyo Hoan, seketika timbullah kecurigaannya, pikirnya.
"Apa yang dibekal orang persilatan itu paling banyak hanyalah pakaian untuk ganti, masakah membawa sebuah karung yang begitu besar? Apalagi Nyo Hoan menyatakan kalau mau cepat-cepat menempuh perjalanan karena ada urusan penting. Tak seharusnya ia membawa beban yang begitu berat."
Selain itu Kong-he pun tak puas melihat lagak Nyohoan yang seolah-olah seperti tuan besar, maka ia tak sudi ikut pada anak muda itu. Malu perintahnya ditolak, marahlah Nyo Hoan.
"Adalah karena memandang dirimu supaya dihormati orang, aku mau mengajakmu. Hm, sebaliknya kau mau jual tingkah! Jangan bertepuk dada sebagai calon murid Kang Haythian, yang nyata kau sekarang ini masih dalam kedudukan sebagai kacung keluarga Tiok!"
Berubahlah air muka Kong-he seketika, sahutnya mengejek.
"Tuan besar Nyo, aku tak suka ikut padamu, kau mau apa?"
"Maukah kalian jangan ribut mulut?"
Buru-buru Cenghoa melerai. Kemudian ia menegur Nyo Hoan.
"Engkoh Hoan, tadi telah kukatakan padamu bahwa Kong-he ini bukan kacungku, ia adalah adikku, mengapa kau masih menghinanya?"
Nyo Hoan tertawa menyengir.
"Jangan marah adik Tiok, aku kelepasan omong saja. Sebenarnya aku memikirkan untuk kebaikannya."
Ia takut kalau Ceng-hoa sampai marah, seluruh rencananya tentu akan berantakan.
"Engkoh Hoan, bukan aku hendak mendampratmu, tetapi sebenarnya gayamu sebagai seorang Siauya itu memang agak kelewatan. Ah, sudahlah, mari kita bicara secara baik-baik saja,"
Kata Ceng-hoa. Waktu Nyo Hoan dan Ceng-hoa duduk, Kong-he tetap tak mau duduk, ujarnya.
"Silakan kalian berunding urusan kalian, aku punya pendirian sendiri. Bagaimanapun aku tetap akan pergi ke Bin-san."
"Eh, adik He, jangan terlalu keras kepala. Hai, adik He, hendak kemana kau ini?"
Teriak si dara.
"Suruh pelayan menuangkan teh untuk kalian,"
Sahut Kong-he. Memang sejak kaget hendak dipukul Nyo Hoan tadi, si pelayan masih terlongong-longong di samping sambil memandang ke arah karung, sampai-sampai ia lupa menghidangkan minuman teh.
"Eh, apa yang kau pandang begitu rupa?"
Tegur Konghe sambil menghampiri si pelayan. Pelayan itu tersentak kaget, sekonyong-konyong ia menuding Nyo Hoan dan berseru.
"Tuan, apa isi karung itu?"
Setelah melihat karung yang mencurigakan dan mendengar anak-anak muda itu berbicara tentang adu kepandaian, timbullah dugaan si pelayan, jangan-jangan tetamunya itu kawanan penyamun dan karung itu berisi anak yang diculiknya untuk meminta uang tebusan.
Pelayan itu teringat kalau di dapur masih terdapat dua orang kawannya, kalau sampai terjadi perkelahian, ia tak perlu takut tak punya kawan, maka dengan berani ia menegur Nyo Hoan.
"Jangan kelewat iseng! Perlu apa kau mengurusi karungku?"
Bentak Nyo Hoan dengan marah sekali. Perhatian Ceng-hoa tertarik juga pada karung itu, ujarnya.
"Engkoh Hoan, mengapa kau membawa karung sebesar itu? Mengapa pelayan itu terus menerus menanyakan? Ya, aku sendiri juga merasa heran. Apakah isinya? Kasih tahulah padaku, engkoh Hoan!"
"Ah, tak apa-apa, tak apa-apa, nanti di jalanan kukasih tahu padamu,"
Nyo Hoan tersipu-sipu memberi jawaban.
"Aku seorang kacung, biarlah aku yang membawa karung itu nanti,"
Tiba-tiba Kong-he berseru.
"Jangan menyentuh!"
Nyo Hoan membentak pula dengan bengis. Sekonyong-koyong karung itu jatuh sendiri ke lantai dan dari dalam terdengar lengking teriakan seorang anak.
"Engkoh He, tolonglah aku!"
Kiranya waktu mendengar suara Kong-he, darah Lim To-kan bergolak keras dan terbukalah jalan darahnya yang tertutup itu.
Berbareng tubuhnya dapat bergerak, berteriaklah ia memanggil Kong-he, sudah tentu Kong-he kaget sekali.
Cepat ia hendak merampas karung, tapi Nyo Hoan melompat melalui atas meja sembari mengirim sebuah pukulan.
Pukulan itu merupakan jurus yang ganas dari ilmu pukulan keluarga Nyo, dalam gugupnya hendak menolong Kong-he, tanpa banyak pikir Ceng-hoa menjulurkan dua buah jarinya menotok lambung Nyo Hoan.
Muda sekalipun usia dara itu, tapi ilmunya menotok sudah sempurna.
Tahu bahaya tengah mengancam, Nyo Hoan dengan terpaksa menghindarkan diri dari totokan Ceng-hoa.
Saat itu Kong-he pun maju hendak merebut karung lagi, sudah tentu Nyo Hoan tak tinggal diam.
Dengan jurus Soh-Iiong-jiu ia mendesak mundur Ceng-hoa, kemudian melayangkan tubuh menghadang Kong-he dengan sebuah hantaman keras.
Begitu tubuhnya melayang ke dekat Kong-he, ia gunakan ilmu Kim-na-jiu untuk mencengkeram tulang Pi-peh di bahu Kong-he.
"Engkoh Hoan, kau memang tidak tahu aturan, masih mau menghinanya?"
Teriak si dara yang dengan sebuah gerakan kilat sudah membayangi Nyo Hoan sambil menggunakan Kim-na-jiu juga untuk mengancam bahu anak muda itu.
Hanya saja ia tak bermaksud untuk meremukkan tulang bahu Nyo Hoan dengan sungguhsungguh, melainkan hendak membebaskan Kong-he dari ancaman Nyo Hoan.
Nyo Hoan condongkan tubuh ke samping, merubah terkamannya menjadi gerak mendorong, kedua tangannya dibuka untuk mendorong kedua orang itu.
Dalam hal permainan memang Ceng-hoa lebih lihai, tapi dalam hal tenaga ia kalah dengan Nyo Hoan.
Kena didorong Nyo Hoan, dara itu terhuyung-huyung beberapa langkah baru dapat berdiri tegak lagi.
Sementara Kong-he menangkis pukulan Nyo Hoan dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Meskipun tubuhnya berguncang, tapi ia masih tetap dapat berdiri tegak, ilmu silatnya diperoleh dari gemblengan ayahnya sejak ia masih kecil, pengalamannya bertempur pun tak kalah dengan Nyo Hoan.
Memang kepandaian Nyo Hoan lebih tinggi, tapi untuk menjatuhkan Kong-he dalam dua tiga gebrak, sungguh tak mudah.
Selama ini Ceng-hoa selalu mendapat perlakuan sungkan dan mengalah dari Nyo Hoan, maka setitik pun ia tak menyangka kalau saat itu Nyo Hoan benar-benar memberinya pukulan sungguh-sungguh.
"Tring", serempak dicabutnyalah pedang dan menuding Nyo Hoan.
"Baik, sampai diriku kau juga berani menghina, ya? Ayo, berhenti atau tidak!"
Nyo Hoan sudah bulat keputusannya, ia pun mencabut tongkat bambunya, ia menyahut.
"Adik Tiok, sekali-kali aku bukan ingin menghinamu, melainkan hendak meminta kau jangan mengurusi urusanku. Kita adalah saudara misan, jika kau menganggap Piauko (kakak misan) kalah berharga dengan budak itu, aku pun tak dapat berbuat apa-apa dan terserah padamu!"
Dalam berkata-kata itu Nyo Hoan tak tinggal diam, tongkat dimainkan untuk menotok jalan darah yang berbahaya di tubuh Kong-he.
Untung Kong-he pun sudah mencabut goloknya dan memainkan ilmu golok Pat-kwato warisan keluarganya.
Ilmu golok Pat-kwa-to itu rapat sekali sehingga sukar diterobos, namun kepandaiannya terpaut jauh dengan Nyo Hoan.
Dalam belasan jurus kemudian, ia sudah kalang-kabut.
"Baik, karena kau kelewat menghina kami berdua, terpaksa aku hendak meminta pelajaran ilmu tongkat Thian-mo-ciang-hoat dari keluarga Nyo!"
Akhirnya Cenghoa bertindak juga.
Karena dikeroyok dua orang, Nyo Hoan tak dapat lolos lagi, tetapi Kong-he pun tetap tak dapat berkutik di bawah tekanan tongkat Nyo Hoan.
Sebenarnya Ceng-hoa dapat keluar dari pertempuran itu, tetapi ia kuatir kalau Kong-he terluka, maka ia tetap melancarkan serangannya.
Karung itu terbuat daripada semacam bahan kain yang ulet sekali, beberapa kali To-kan berusaha untuk merobek, tapi sia-sia saja.
Ia meronta-ronta sekuatnya hingga karung itu berguling-guling ke arah si pelayan.
Pelayan hendak menolong To-kan, tapi sebelum tangannya dapat menjamah karung, sekonyong-konyong Nyo Hoan menyambar sebatang sumpit terus ditimpukkan.
"Cret", sumpit itu telah menusuk kena pelipis si pelayan yang tak ampun lagi roboh binasa seketika itu juga.
"Nyo Hoan, tak nyana kau seorang manusia yang seganas itu! Mengapa kau bunuh seorang pelayan yang tak berdosa?"
Damprat Ceng-hoa makin murka. Nyo Hoan tertawa dingin.
"Pelayan yang tak berdosa? Jika dia tak berani menyentuh karungku, masakah kubunuhnya? Isi karung itu tak kuperbolehkan diambil orang lain. Adik Tiok, kunasehati jangan kau mengurusi karung itu, atau hehe ..."
"Hehe, bagaimana? Apakah kau juga hendak membunuhku?"
Teriak si dara.
"Di dalam karung itu berisi sahabatku yang paling kusayang. Ya isinya orang, bukan barang! Kau boleh mempertahankan culikanmu itu, tetapi aku pun tetap hendak menolongnya!"
Teriak Kong-he turut memaki.
Jadi bukan saja kaki tangan yang bertempur, mulut mereka pun ikut perang tanding.
Saat itu para bujang kedai situ keluar membawa supit api, pisau dapur.
Rupanya Nyo Hoan tak mau kepalang tanggung, pegawai-pegawai kedai itu dibunuhnya semua.
Melihat keganasan itu, tak tertahan pula kemarahan Ceng-hoa.
"Bagus, kalau kau memang sakti, ayo bunuhlah aku sekaligus. Kau tak mampu membunuh aku, tentu akan kubikin cacad tubuhmu supaya hilang kepandaian silatmu!"
Ia mainkan pedangnya lebih gencar dan menggunakan gerak cepat untuk berputar-putar menyerang dari semua jurusan.
Setiap tusukan tentu mengarah jalan darah yang berbahaya di tubuh Nyo Hoan.
Telah diterangkan di atas, bahwa dalam permainan Ceng-hoa itu lebih unggul dari Nyo Hoan.
Sayang dalam hal tenaga ia masih kalah.
Tadi karena mengingat Nyo Hoan adalah putra bibinya, ia masih sungkan, tetapi demi menyaksikan keganasan anak muda itu sedemikian rupa, sampai-sampai ia sendiri juga mau dibunuhnya, tak mau lagi si dara memberi hati, pertempuran berjalan dengan sesungguhnya.
Jika bertanding satu lawan satu, memang Nyo Hoan banyak kemungkinan dapat mengalahkan Ceng-hoa, tetapi ditambah dengan Li Kong-he yang tak lemah kepandaiannya itu, akhirnya Nyo Hoan terdesak juga.
Karena sedang menumpahkan perhatian pada pertempuran, siapa pun di antara ketiga anak muda itu tak sempat mengurusi karung lagi.
To-kan meronta sekuat-kuatnya dan bergelundunganlah karung itu keluar pintu, terus sampai ke jalan.
Pada saat Nyo Hoan tak kuat melawan lagi, sekonyong-konyong munculan seorang penunggang kuda yang segera melompat turun terus menerobos masuk ke dalam kedai.
"Nyo-kongcu, jangan takut, aku datang membantumu. Sekarang kita menjadi orang sendiri,"
Seru pendatang itu.
Orang itu bukan lain adalah Lok Khisi si Tok-kak-lok (rusa tanduk satu) itu.
Tiga serangkai Ki-lian-sam-siu telah ditundukkan Nyo Ceng dan dijadikan bujangnya, kemudian mereka dapat meloloskan diri dan masuk menjadi Wi-su (pengawal) dari Congkoan atau gubernur istana.
Tapi bukan Wi-su dalam istana, melainkan bertugas luar yakni untuk menyelidiki orang-orang persilatan yang hendak menentang pemerintah Cing.
Bahkan kemudian adanya Nyo Ceng bisa masuk ke dalam lingkungan hamba kerajaan adalah karena bujukan kawanan Ki-lian-sam-siu itu.
Nyo Hoan tak tahu hal itu, maka terjadilah salah paham dengan Ki-lian-sam-siu.
Yakni ketika Kang Haythian terkepung oleh Yo Tun-hou dan beberapa opsir kerajaan dalam sebuah gua, Nyo Hoan dan Siangkoan Wan yang kebetulan berlalu di situ, tahu bekas bujangnya (Ki-lian-sam-siu) yang minggat berada di situ, lantas memberi hajaran pada Yo Tun-hou, secara tak sadar ia telah menolong Kang Hay-thian.
Karena sudah mendapat keterangan dari sang ayah, kini Nyo Hoan tahu hal itu, maka demi melihat kedatangan Lok Khik-si, girangnya bukan kepalang.
Sebaliknya Lok Khik-si pun girang sekali juga, karena sebenarnya ia mendapat tugas untuk menyambut Nyo Hoan.
Orang she Lok itu tak tahu apa sebabnya Nyo Hoan bertengkar dengan Tiok Ceng-hoa, tapi ia tahu kalau dara itu adalah si nona yang dua tahun berselang merampas Li Kong-he dari tangan mereka.
Bahwa di samping bertemu Nyo Hoan, terdapat juga si dara dan Kong-he, girang Lok Khik-si sukar dilukiskan.
"Sungguh suatu kesempatan yang jarang terdapat! Biar kuringkus dara itu terlebih dulu. Di samping untuk mengambil hati Nyo Hoan, juga untuk membalaskan sakit hatiku dua tahun yang lalu dan yang penting pula dapat merampas anak Li Bun-sing itu lagi,"
Pikirnya. Lok Khik-si boleh merangkai keinginan, tapi Nyo Hoan tak membiarkan dia cepat-cepat memberi bantuan.
"Budak itu nanti saja kita ringkus, yang penting ambil kembali karung itu lebih dulu!"
Bentak Nyo Hoan pada saat Lok Khik-si mencabut senjata hendak menerjang Kong-he.
Nyo Hoan tetap mempertahankan keangkuhannya, sekalipun ia terdesak, namun ia yakin tentu dapat merebut kemenangan.
Sekurang-kurangnya ia masih dapat bertahan sampai setengah jam lamanya.
Ia kuatir kalau-kalau To-kan dapat melarikan diri, maka disuruhnya Lok Khik-si mencari karung itu saja.
Memang ketika turun di muka kedai tadi, sepertinya Lok Khik-si melihat di tengah jalan terdapat sebuah karung, tetapi hal itu tak diperhatikannya.
Barulah setelah mendengar perintah Nyo Hoan, ia agak tertegun, ia anggap Nyo Hoan takut kalau dia yang akan mendapat pahala, maka ia tak mau keluar, sebaliknya bertanya lagi.
"Apa perlunya dengan karung itu? Budak ini adalah putra Li Bun-sing, salah seorang tokoh Thian-li-kau yang penting, jauh lebih berharga dari emas berlian!"
Ternyata Lok Khik-si mengira karung itu paling banyak hanya berisi harta benda saja.
"Budak tolol!"
Bentak Nyo Hoan dengan marah sekali.
"Kusuruh kau pergi, mengapa membantah! Karung itu berisi putra Lim Jing, ketua Thian-li kau! Jauh lebih berharga dari budak ini, tahu!"
"Astaga ..."
Demikian mulut Lok Khik-si menjerit kaget, terus ia melompat lari keluar.
"Tok-kak-lok, bukankah kau pernah merasakan kelihaian Suhuku? Kalau kau berani mencelakai aku, awas. Suhu tentu akan mengejarmu lagi!"
To-kan memaki-maki dalam karung. Lok Khik-si tertawa gelak-gelak.
"Justru hutang Kang Hay-thian padaku itu hendak kutagih padamu! Hehe, pada waktu Kang Hay-thian tahu, kau tentu sudah berada di kotaraja!"
Lok Khik-si terus berlari hendak menerkam karung itu, tapi sekonyong-konyong seorang lelaki berjalan secepat orang lari dan mendahului mengambil karung itu.
Ia seorang pemuda, umurnya di antara 20-an tahun dan ternyata adalah Ubun Hiong, murid kedua Kang Haythian.
Setelah pergi dari rumah keluarga Kang, dengan menahan malu dan sedih, Ubun Hiong sebenarnya hendak pergi jauh.
Di tengah jalan ia berjumpa dengan beberapa sahabat kenalannya yang menanyakan mengapa ia tak pergi ke Bin-san menghadiri rapat orang gagah.
Sahabatnya itu mengira kalau Ubun Hiong tentu mendapat perintah dari Suhunya untuk mengundang orang.
Ubun Hiong memberi jawaban sekenanya saja, setelah orang itu pergi, timbullah pikiran Ubun Hiong.
"Ya, mengapa aku tak pergi ke Bin-san saja? Mungkin Suhu hadir di situ. Dapatlah aku meminta pertimbangannya."
Demikianlah Ubun Hiong segera berganti arah menuju ke Bin-san, tak terduga-duga ia bertemu dengan Nyo Hoan.
Sebenarnya Ubun Hiong belum kenal siapa Lim To-kan itu, karena bocah itu baru datang pada Kang Hay-thian setelah Ubun Hiong pergi diusir Kok Tiong-lian, tetapi ketika ia mendengar To-kan memaki-maki Lok Khik-si tadi, tahulah ia kalau anak yang berada dalam karung itu juga murid Kang Hay-thian, putra ketua Thianli-kau.
Sudah tentu ia terkejut sekali dan cepat-cepat menolongnya.
Ubun Hiong kenal pada Lok Khik-si, tapi orang she Lok itu tak kenal pada Ubun Hiong.
Melihat Ubun Hiong hanya seorang anak muda yang baru 20-an umurnya, ia tak memandang mata sama sekali, digentakkannya senjata Lok-kak-jat, ia segera menyerang si anak muda.
Ubun Hiong pun menyambutnya dengan memainkan ilmu pedang Toa-si-mi-kiam-hoat, sekalipun belum mencapai kesempurnaan, namun gerakan Ubun Hiong itu cukup mengagumkan.
Lok Khik-si terkejut sekali, ia heran melihat permainan pedang si anak muda yang sukar diduga perubahannya itu.
Dengan menggunakan gerak Kek-cu-hoan-sim atau burung merpati membalikkan tubuh, ia buang tubuhnya dan melompat tiga tombak jauhnya ke belakang.
"Huh, siapa anak itu? Mengapa ilmu pedangnya sedemikian hebat?"
Ia menggumam seorang diri.
Memang ia tak kenal apa yang disebut ilmu pedang Toasi-mi itu, inilah yang membuatnya terkejut sekali hingga sampai beberapa saat ia tak berani maju lagi.
Setelah sembuh dari luka, barulah Ubun Hiong mulai mendapat pelajaran ilmu pedang itu dari Kok Tiong-lian.
Sejak itu, baru sekarang ini ia menggunakannya terhadap musuh.
Ia sendiri tak tahu sampai dimana kemajuan yang telah diperolehnya selama ini.
Apakah ilmu pedang itu benar-benar sakti, masih diragukannya.
Ketika pedangnya tertumbuk dengan Lok-kak-jat lawan tadi, sebenarnya tangannya terasa kesemutan, maka meskipun Lok Khik-si terkejut, Ubun Hiong sendiri juga tak berani menyusuli lain serangan lagi.
Ubun Hiong mempunyai beberapa pertimbangan.
Pertama, ia tak yakin dapat mengalahkan Lok Khik-si.
Kedua, ia kuatir konco Lok Khik-si yang berada dalam kedai itu (Nyo Hoan) keburu keluar membantu, ini tentu akan membahayakan.
Karena toh sudah dapat mengambil karung, maka lebih baik ia lekas meninggalkan tempat itu saja.
Kebetulan sekali kuda Nyo Hoan tertambat pada pohon yang berada di sebelahnya.
Tanpa sempat membuka tutup karung lagi, Ubun Hiong segera melompat ke atas kuda sambil menjinjing karung itu, sekali sabet dengan pedang, putuslah tali pengikat kuda dan larilah binatang itu sekencang-kencangnya.
To-kan yang berada di dalam karung sudah tentu tak mengetahui siapakah yang membawanya saat itu, maka ia pun diam saja.
Sedang Ubun Hiong tak tahu sama sekali bahwa di dalam kedai itu masih terdapat seorang Sutenya lagi, yakni Li Kong-he.
Dengan begitu, hilanglah kesempatan untuk bertemu.
"Ser, ser, ser", Lok Khik-si melepaskan tiga batang panah pendek, tapi semuanya dapat ditangkis jatuh oleh Ubun Hiong. Lok Khik-si putus asa karena tahu bahwa kuda yang dinaiki anak muda tak dikenal itu kuda istana yang dapat lari seribu li sehari. Selagi ia menghela napas, tiba-tiba terdengar Nyo Hoan menjerit kesakitan, sudah tentu ia kaget dan buru-buru lari kembali ke arah kedai. Memang pada saat Lok Khi-si keluar tadi, di dalam kedai telah berlangsung suatu adegan pertempuran yang seru, karena hendak menolong To-kan, Li Kong-he telah mengadakan serangan mati-matian untuk menerobos keluar, Nyo Hoan merintangi di ambang pintu. Kong-he nekat menerjangnya.
"Hai, kau minta mati!"
Teriak Nyo Hoan seraya menghantamkan tongkatnya ke arah pelipis Kong-he.
Sebenarnya ia hendak menangkap Kong-he hidup-hidup, tetapi setelah pertempuran meningkat dengan senjata, ia merasa tak ada harapan.
Lebih dulu ia mengharap dapat menjatuhkan Kong-he yang agak lemah, baru kemudian Tiok Ceng-hoa yang lebih tangguh.
Melihat serangan Nyo Hoan makin lama makin gencar, si dara pun makin marah, tanpa sadar ia serentak mengeluarkan ilmu kepandaian dari keluarganya.
Sesaat Nyo Hoan mengayunkan tongkat ke arah Kong-he, ujung pedang sudah tiba di punggung Nyo Hoan.
Nyo Hoan tak gugup, dengan membusungkan dada ia mengacungkan tongkatnya ke atas, tangkainya untuk menangkis pedang si dara, ujungnya masih tetap mengancam jalan darah Kong-he.
Sebenarnya Lwekang Nyo Hoan itu lebih unggul dari si dara dan Kong-he, tapi dikarenakan ia membagi dua untuk melayani mereka, kekuatannya pun berkurang.
"Tring", pedang si dara kena dipentalkan. Cepat-cepat dara itu menggunakan Lwekang untuk menempel tongkat lawan, terus digelincirkan ke bawah menggurat kaki Nyo Hoan. Sedang Kong-he menangkis dengan seluruh tenaganya, setelah dapat menahan tongkat, secepat kilat ia mengirim sebuah bacokan. Ia gunakan jurus Lian-hoan-sam-to (golok berantai). Bacokan pertama berhasil mendapat sasaran, bacokan kedua pun segera menyusul datang. Ceng-hoa terkejut, bagaimanapun ia masih ingat akan hubungan persaudaraan dengan Nyo Hoan, buru-buru ia menangkis golok Kong-he.
"Dia sudah terluka, ampunilah jiwanya!"
Karena memandang muka si dara, terpaksa Kong-he batalkan serangannya.
"Tuan besar, maafkan!"
Katanya seraya terus berlari keluar. Pada saat ia melangkah ke pintu, justru Lok Khik-si datang. Girang orang she Lok itu tak kepalang, pikirnya.
"Tidak mendapat anak Lim Jing, asal dapat menawan anak Li Bun-sing inipun lumayan. Budak Nyo Hoan itu entah mati entah terluka, untuk sementara ini tak perlu kuhiraukan lagi."
Kong-he pernah ditipu Lok Khik-si, ia dendam sekali kepada orang itu.
Tanpa memperhitungkan bagaimana jadinya, begitu melihat Lok Khik-si coba menghadang jalan, terus saja diserangnya.
Lok Khik-si tertawa gelak-gelak.
"Ai, keponakan yang manis, lebih baik kau ikut pada paman. Perlu apa kau unjuk kekerasan, kan hanya, merusak hubungan kita saja?"
"Bedebah hina, siapa keponakanmu itu?"
Damprat Kong-he. Lok Khik-si menggunakan ilmu Toa-kim-na-jiu untuk menangkap, tapi Kong-he menggunakan jurus Pek-holiang-ih (burung ho pentang sayap) membacok siku lengan orang.
"Huh, berbahaya sekali!"
Teriak Lok Khik-si yang dengan cepat merubah gerakannya untuk menangkap tangan Kong-he, tetapi Kong-he pun sudah merubah jurusnya dengan lain gerakan membabat tangan Lok Khik-si.
Lok Khik-si terkejut melihat kemajuan si anak muda, berpisah hanya setahun ternyata kepandaian Kong-he maju pesat sekali.
Cepat ia tarik pulang tangannya, merubah cengkeramannya dengan sebuah tebasan, dua buah jarinya menotok jalan darah di paha Kong-he.
Kong-he berputar ke samping, membabat pinggang lawan.
Terpaksa Lok Khik-si mencondongkan tubuh menghindar.
Kalau semula Lok Khik-si hendak menangkap anak itu hidup-hidup, kini setelah dua tiga gebrak, ia tersadar Kong-he yang sekarang jauh berbeda dengan setahun yang lalu.
Kalau ia hanya menggunakan ilmu tangan kosong, terang tak dapat menghadapinya.
"Bagus, kau berani menantang pamanmu berkelahi dengan senjata? Ya, kalau tak diberi pengajaran, kau tentu belum kapok!"
Lok Khik-si berubah begis dan mencabut senjata Lok-kak-jat.
Kong-he kalah tenaga, waktu berbenturan senjata, tangannya dirasakan sakit sekali.
Namun anak itu mengertak gigi menahan sakit sehingga Lok Khik-si tak berhasil memukul jatuh goloknya.
Nyo Hoan yang termakan golok Kong-he jatuh terkapar di lantai, mulutnya mengerang kesakitan, darah mengalir deras.
Mendengar suara pertempuran di luar, ia kuatkan tenaganya merangkak dan berteriak.
"Bagus, Lok-lojin, bunuh saja budak itu, jangan takut!"
Saat itu sebenarnya Ceng-hoa hendak memberi obat pada Nyo Hoan, tapi demi mendengar mulut anak muda itu sedemikian kejamnya. marahlah dara itu.
"Nyo Hoan, rupanya sampai mati kau tetap tak mau insyaf, tetap hendak membunuh kami! Dengan memandang muka bibi, aku takkan membunuhmu, tetapi jangan harap kau pun akan mendapat pertolonganku. Sejak saat ini, putuslah hubungan kita sebagai saudara misan. Mati atau hidup, kita tempuh jalan sendiri-sendiri!"
Setelah itu si dara berlari keluar untuk membantu Kong-he, dan memang kedatangannya itu tepat sekali waktunya.
Ujung Lok-kak-jat orang she Lok itu tengah mengancam pergelangan tangan Kong-he.
Ceng-hoa cepat memainkan jurus Giok-li-tho-soh untuk menusuk tenggorokan orang itu.
Terpaksa Lok Khik-si melepaskan golok Kong-he, untuk menangkis serangan si dara itu.
Ilmu pedang Ceng-hoa luar biasa, sayang Lwekangnya masih lemah.
Maju berdua dengan Kong-he, palingpaling hanya dapat berimbang dengan Lok Khik-si.
Setelah mendapat kelonggaran, barulah Kong-he sempat melihat ke sekelilingnya, ia kaget sekali demi tak melihat karung maupun bayangan To-kan.
"Tok-kak-lok, kau apakan Lim-hengte itu?"
Bentaknya dengan marah. Lok Khik-si tertawa mengejek.
"Bangsat kecil she Lim itu? Sudah tentu telah jatuh ke tangan kami. Kau menghendaki dia hidup atau mati? Lekas buang golokmu dan panggil aku dengan sebutan paman lagi, nanti kuantar menjumpainya. Kalau tidak, hehehe, biar kubunuh dirimu dulu baru nanti kuhabisi jiwa anak itu!"
Lok Khik-si memperlakukan Kong-he sebagai seorang anak kecil, membujuk dengan omongan manis agar anak itu luluh hatinya.
Sudah tentu Kong-he tak nanti kena terpikat bujukan orang, tetapi ia pun mengakui bahwa Lim To-kan tentu sudah jatuh ke tangan musuh.
"Bangsat tua, aku mengadu jiwa padamu!"
Teriaknya sambil menyerang dengan kalap, kekalapan itu menyebabkan permainannya menjadi ngawur.
Dalam sebuah kesempatan, Lok Khik-si dapat memukul jatuh goloknya dan menusukkan ujung Lok-kak-jat ke dada Kong-he.
Untung Ceng-hoa bertindak cepat, ia dorong Kong-he ke samping sambil menusuk lambung Lok Khik-si.
Jurus ini untuk menolong apabila terdesak dalam ancaman maut.
Lok Khik-si dengan terpaksa membatalkan serangannya kepada Kong-he.
"Adik He, tenangkan pikiranmu, jangan percaya bujukan bangsat ini!"
Seru Ceng-hoa.
Kong-he memungut goloknya yang jatuh di tanah, diam-diam ia sesali dirinya yang kelewat tak dapat menahan kemarahan.
Setelah itu ia maju menyerang lagi, kali ini ia bertempur dengan tenang.
Lok Khik-si masih mencoba untuk mengalihkan perhatian Kong-he, tapi gagal.
Kini ia harus bertahan mati-matian diserang oleh kedua anak muda itu.
Makin lama permainan pedang Ceng-hoa makin tenang dan makin indah, Lok Khik-si yang mahir menotok jalan darah dengan senjata Lok-kak-jat, terpaksa harus menyerah terhadap ilmu menotok jalan darah dengan pedang dari si dara.
Lok Khik-si kalah gesit dibanding Ceng-hoa, beberapa kali hampir saja ia kena ditusuk.
Tanpa terasa pertempuran itu telah berjalan hampir seratusan jurus, tiba-tiba Nyo Hoan terdengar berteriak.
"Lok-lojin, mengapa tak lekas memberi aku obat!"
Nadanya rawan dan parau, terang ia tak tahan lagi dan takut mati.
Memang semula ia mengira tentu dalam waktu singkat Lok Khik-si dapat menyelesaikan pertempurannya melawan Ceng-hoa dan Kong-he, tetapi ternyata ditunggu sampai sekian lama belum juga orang she Lok itu muncul ke dalam kedai.
Walaupun Nyo Hoan juga membawa obat luka, tapi karena ia lemas, darahnya terus mengalir, maka tak dapatlah ia mengambil obat itu.
Akhirnya ia terpaksa meneriaki Lok Khik-si supaya memberikan obat.
Teriakan Nyo Hoan itu memberi alasan bagi Lok Khiksi untuk ngacir dari gelanggang.
"Ya, aku segera datang!"
Serunya seraya melompat dari kepungan kedua anak muda itu, terus berlari ke dalam kedai.
Kong-he lebih mengutamakan mencari To-kan.
Apalagi ia merasa, sekalipun maju berdua dengan Ceng-hoa juga tak dapat mengalahkan Lok Khik-si, maka ketika Lok Khik-si lari, ia pun tak mau mengejarnya.
"Hm, biar hari ini kuampuni jiwamu, tapi lain hari tetap akan kubikin perhitungan lagi,"
Kata Kong-he geram.
Nyo Hoan yang berada di dalam kedai, merasa lega ketika didengarnya derap langkah mereka makin lama makin jauh.
Waktu hendak menentukan arah pengejaran, Kong-he agak bimbang.
Terus ke utara berarti menuju ke kotaraja, kalau balik ke selatan, akan kembali ke Bin-san.
Akhirnya Ceng-hoa yang menghiburnya.
"Tadi ketika berada di dalam kedai, lapat-Iapat aku seperti mendengar suara pertempuran di luar sini. Jika komplotannya terang mereka takkan berkelahi dengan Lok Khik-si, mungkin tentulah lain orang yang membawa karung itu."
Kong-he merasa lega, ia anggap ucapan dara itu memang masuk akal.
Hanya ketika tiba di sebuah jalan simpang tiga, jejak kuda yang diikutinya itu hilang lenyap, suatu hal yang membuat mereka kehilangan arah pengejarannya.
Ternyata yang menghapus jejak kuda itu adalah Ubun Hiong, sebenarnya ia seorang pemuda yang jujur, tapi sebagai putra seorang Piauthau (pemimpin kantor pengiriman), mengerti juga ia akan cara-cara orang persilatan untuk menghadapi pengejaran musuh.
Sebenarnya ia hendak menuju ke Bin-san, tetapi untuk mengelabui musuh atau pengejaran pasukan pemerintah, ia terpaksa mengambil jalan arah sebaliknya.
Ketika tiba di persimpangan tiga itu, barulah ia berhenti.
Kala itu sudah petang hari.
Ia merobek kain bajunya untuk membungkus keempat kaki kudanya, kemudian ia berkuda lagi masuk ke sebuah hutan di dekat situ.
Malam itu ia hendak bermalam di dalam hutan dan mengeluarkan To-kan, setelah malam barulah ia akan menempuh perjalanan balik lagi.
Dengan cara itu, apabila ada musuh mengejar tentulah mengira kalau ia menuju ke kotaraja, padahal ia pergi ke Bin-san.
Setelah berada dalam hutan, segera ia membuka karung itu.
Lim To-kan menggelundung keluar, tetapi tak dapat berdiri.
Ubun Hiong terkejut, buru-buru diangkatnya anak itu.
Tampak wajah anak itu pucat lesi, dadanya berombak keras.
Waktu hendak ditanyai, tibatiba anak itu berteriak.
"Bisa mati sesak aku! Siapa kau?"
Mendengar suara To-kan, legalah hati Ubun Hiong.
Terang anak itu tak menderita luka apa-apa, memang To-kan hanya mengalami penderitaan dikurung dalam karung selama satu malam satu hari tanpa makan minum hingga tenaganya lemas sekali.
"Aku adalah Suhengmu, siapakah namamu?"
Tanya Ubun Hiong.
"Eh, sedangkan namaku saja kau tak tahu, mengapa mengaku-aku jadi Suhengku?"
Balas To-kan.
"Bukankah kau ini murid Kang Hay-thian? Aku adalah murid kedua Kang-tayhiap. Kau lebih muda dari aku, tentulah kau baru datang belakangan, maka tentulah Suteku,"
Sahut Ubun Hiong. To-kan masih bersangsi, jangan-jangan berhadapan dengan seorang pembohong, ujarnya.
"Kasih tahu dulu siapa namamu."
Ubun Hiong memberitahukan namanya, lalu mencabut pedang dan ia segera memainkan ilmu pedang Toa-si-mikiam.
"Sreet", sebatang ranting kutung menjadi tiga, setelah itu baru ia menarik pulang pedangnya.
"Percayakah kau kalau aku ini murid Kang-tayhiap?"
Memang pernah Kang Hay-hian mengatakan bahwa To-kan mempunyai seorang Toasuheng bernama Yap Leng-hong dan Jisuheng bernama Ubun Hiong.
Melihat ilmu pedang Suhunya dimainkan oleh Ubun Hiong, seketika lenyaplah segala kesangsiannya, buru-buru ia memberi hormat kepada Suhengnya.
Ubun Hiong mengatakan kalau To-kan tentu kelewat lapar, ia mengambil air di sebuah sungai, kemudian mengeluarkan rangsum kering dan menyuruh To-kan makan.
Setelah makan dan minum, semangat To-kan bertambah segar, maka bertanyalah ia.
"Bagaimana dengan Samsuheng? Ubun-suko, mengapa kau hanya menolong aku seorang? Tidak sekalian menolongnya?"
Ubun Hiong tercengang.
"Samsuheng yang mana?"
"Siapa lagi kalau bukan Li Kong-he? Suhu pernah mengatakan kalau ia telah menerima Samsuheng sebagai calon murid. Waktu aku diterima menjadi murid, meskipun Samsuheng belum diketemukan, tetapi Suhu telah memberi janji lebih dahulu, maka menurut urutan, dia adalah Samsuhengku,"
Jawab anak itu.
"Kau maksudkan putra Li Bun-sing itu? Benar, memang kutahu Suhu pernah mencarinya. Ha, dimanakah dia sekarang?"
Ubun Hiong bertanya.
"Hai, apakah kau tak melihatnya? Yang bertempur dengan Nyo Hoan dalam kedai itu ialah Samsuheng!"
"Aku belum masuk ke kedai itu. Dahulu aku pun belum pernah berjumpa dengan Li-sute, sekalipun tadi aku masuk ke dalam kedai pun juga tak mengenalnya,"
Sahut Ubun Hiong.
"Celaka, celaka! Nyo Hoan itu lihai sekali, apalagi ditambah Lok Khik-si. Dikuatirkan Li-suko tentu sudah jatuh ke tangan mereka!"
To-kan mengeluh.
"Apakah Li-sute tiada berkawan?"
Tanya Ubun Hiong. To-kan menerangkan bahwa selama itu ia dimasukkan dalam karung, jadi tak tahu, tetapi jelas didengarnya kalau masih terdapat seorang dara yang dipanggil adik misan oleh Nyo Hoan.
"Ha, aneh sekali. Entah bagaimana anak perempuan itu akhirnya membela Li-suko dan berkelahi dengan Nyo Hoan sendiri,"
Kata To-kan.
Ubun Hiong tak kenal siapa Tiok Ceng-hoa, siapa Nyo Hoan itu, tetapi ia tahu kalau Suhunya mencari matimatian pada Li Kong-he.
Ia menyesal sekali bahwa Sute yang sebenarnya tanpa sengaja dapat diketemukan itu telah lolos dari tangannya lagi.
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 9
Baca Juga: Pedang Bunga Mei 4