Geger Dunia Persilatan 9

Eps 9 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen

Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen

Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.

"Ah, sekarang sudah lewat beberapa jam, jika terjadi sesuatu pada Li sute, kita pun tak dapat menolong. Pada saat ini, tentulah mereka sudah meninggalkan kedai itu,"

Kata Ubun Liong dengan menghela napas.

"Tetapi paling tidak kita harus mengetahui, apakah Lisuko sudah mati atau dilarikan orang. Bagaimana kalau kita balik ke kedai lagi?"

Tanya To-kan.

Ubun Hiong anggap hal itu memang baik, tetapi ia merasa cemas juga.

Rasa cemas itu bukan tentang apaapa, melainkan tentang diri Lim To-kan.

la belum tahu sampai dimana kepandaian silat anak itu, anak itu habis mengalami penderitaan masuk karung, bagaimana ia dapat mengajaknya ke tempat yang berbahaya?

Ia merasa tak sanggup mengalahkan Lok Khik-si dan tak tahu pula kalau Nyo Hoan sudah terluka.

Ia kuatir kalau sampai kebentur dengan mereka, bukan saja tak dapat menolong Li Kong-he, malah jangan-jangan Lim To-kan sendiri juga akan jatuh ke tangan musuh.

To-kan seorang anak cerdas, apa yang diragukan Ubun Hiong dapat diketahuinya juga.

"Jisuko, harap kau memberi petunjuk padaku barang beberapa jurus saja!"

Tiba-tiba ia berseru.

Selama merawat luka di rumah keluarga Kang, dalam setahun itu ia hanya mendapat pelajaran ilmu pelajaran Lwekang dan ilmu pedang Toa-si-mi-kiam.

Sebaliknya To-kan yang berbulan-bulan menempuh perjalanan dengan Suhunya, sebenarnya telah menerima pelajaran lebih banyak dari Ubun Hiong, tetapi semua itu hanya jumlah jenis pelajaran, sedang latihannya masih kurang sempurna.

Sebaliknya meskipun hanya satu macam, tetapi Ubun Hiong telah dapat meresapi intisari ilmu pedang Toa-si-mi-kiam dengan jelas.

Toa-si-mi-kiam itu sebuah ilmu pedang yang luar biasa hebatnya, jika bertempur sungguh-sungguh, tentulah Tokan kalah dengan Jisukonya, tetapi karena terhadap seorang Sute yang lebih kecil, apalagi To-kan menyerang secara mendadak, maka tak sempatlah bagi Ubun Hiong untuk mengeluarkan ilmu pedang Toa-si-mi-kiam.

Lim To-kan menggunakan ilmu Siau-kim-na-jiu, sebuah ilmu tangan kosong yang diciptakan oleh Kang Hay-thian sendiri berdasarkan beberapa jenis ilmu Kim-na-jiu dari partai-partai persilatan, sudah tentu gayanya hebat sekali.

Karena tak bersiap, lengan Ubun Hiong kena dipelintir oleh To-kan.

Ubun Hiong kerahkan Lwekang ke arah lengan, tangan To-kan pun segera mencelat, tetapi anak itu hanya terhuyung saja tak sampai jatuh.

Ubun Hiong kaget dan buru-buru hendak menolonginya, siapa tahu sekonyong-konyong To-kan menyambar telapak tangan Jisukonya lagi, kali ini Ubun Hiong tak mau menggunakan Lwekang dan membiarkan tangannya dipegang sang Sute.

Keduanya saling bercekalan tangan dan tertawa gelak-gelak.

"Lim-sute, hebat benar kepandaianmu. Dua jurus Kimna-jiumu itu aku tak mampu menandingi, hanya "Ya, memang kutahu kalau belum dapat melawan Lok Khik-si, tetapi kalau dia hendak menjatuhkan aku dalam 10-an jurus juga tak mudah. Kuda ini cepat sekali larinya, jika terdesak bukankah kita dapat melarikan diri dengan kuda ini?"

Buru-buru To-kan menanggapi.

Apa yang dikatakan To-kan itu memang kenyataan, dalam usia yang begitu muda, To-kan sudah dapat memiliki kepandaian yang boleh dibanggakan.

Anak itu boleh dijadikan pembantu tanpa Ubun Hiong harus memikirkan untuk melindunginya.

"Baik, usiamu masih muda tapi kau sudah mengerti setia-kawan, memang sekurang-kurangnya kita harus mencari kabar tentang diri Li-sute. Ayo, kita berangkat!"

Akhirnya Ubun Hiong tergerak semangatnya.

Kala itu sudah malam hari, karena kaki kuda dibungkus dengan robekan kain, maka tak meninggalkan jejak apa-apa.

Derap kakinya pun tak seberapa keras.

Saat itu Ceng-hoa dan Kong-he telah melewati simpang tiga dan terus melarikan kudanya sejauh 5 li.

Dengan demikian hilanglah kesempatan untuk berjumpa dengan Ubun Hiong dan To-kan.

Dalam perjalanan itu, Lim To-kan menceritakan nama dan asal-usul dirinya pada Ubun Hiong.

"Oh, kiranya kau sudah ke rumah Suhu, apakah semua keluarga Suhu tak kurang sesuatu apa?"

Tanya Ubun Hiong. Dengan pertanyaan itu ia hendak mencari tahu tentang diri Kang Hiau-hu. To-kan mengatakan semua keluarga Suhu baik-baik saja, lalu ia bertanya.

"Tapi Jisuko, mengapa kau seorang diri berkelana?"

"Eh, apakah mereka tak memberitahukan padamu?"

"Memberitahu apa?"

Balas To-kan "Apakah kau tak pernah menanyakan mereka tentang diriku?"

"Ya, sudah. Suci menjawab bahwa beberapa tahun lagi kau baru kembali ke rumahnya, la pesan itu supaya aku jangan mengatakan hal itu di hadapan Suhu dan Subo, karena pesan itu aku pun tak berani menanyakan pada Suhu dan Subo. Jisuko, apakah sebenarnya yang terjadi padamu?"

Tanya To-kan. Ubun Hiong tertawa getir.

"Ah, panjang benar ceritanya. Besok saja kuceritakan padamu."

Dari keterangan Sutenya itu, terhiburlah hati Ubun Hiong.

Dari situ dapat diketahui bahwa Hiau-hu masih tetap mengenangnya dan diam-diam dara itu kurang puas dengan tindakan mamahnya.

Cepat sekali mereka tiba di kedai makan tadi.

Waktu hendak masuk, tiba-tiba di dalam kedai terdengar suara orang bicara.

Buru-buru Ubun Hiong menarik To-kan dan menempelkan telinganya pada daun pintu untuk mencuri dengar.

Yang bicara itu ternyata seorang gadis.

"Kurangajar! Berani sekali Li Kong-he itu melukaimu. Besok pagi-pagi tentu kukejar mereka,"

Gadis itu marahmarah.

"Apakah kau tak takut pada Tiok Ceng-hoa?"

Sahut seorang lelaki yang bukan lain adalah Nyo Hoan. Gadis itu menghela napas.

"Engkoh Hoan, apakah keteranganmu tadi benar-benar sesungguhnya?"

"Mengapa aku harus membohongimu? Ketahuilah, dalam hatiku hanya ada dirimu. Karena terpaksa baru aku pura-pura menyetujui pernikahan dengan Tiok Cenghoa itu, mereka telah menghina habis-habisan ayahmu, karena marah aku sampai tak dapat mengatakan apaapa!"

Sahut Nyo Hoan.

Ubun Hiong dan To-kan mengira kalau Nyo Hoan tentu sudah pergi, tapi ternyata tidak.

Dan keterangan Nyo Hoan tadi menyatakan bahwa Kong-he ternyata sudah pergi, bukannya jatuh ke tangan musuh.

Suatu hal yang menggirangkan Ubun Hiong dan To-kan.

Memang luka Nyo Hoan banyak mengeluarkan darah sehingga setelah diberi obat oleh Lok Khik-si, tetap ia belum dapat jalan, terpaksa ia beristirahat dulu di kedai itu.

Kira-kira sejam dari kepergian Ceng-hoa dan Konghe, datanglah seorang anak perempuan dengan berkuda.

Ketika melalui kedai, gadis itu mendengar rintihan Nyo Hoan.

Ia terkejut dan cepat-cepat turun dari kuda dan menyapa.

"Hai, apakah itu engkoh Hoan?"

Gadis yang ternyata adalah Siangkoan Wan, putri Siangkoan Thay kejut-kejut girang ketika masuk ke dalam kedai melihat Nyo Hoan duduk dikelilingi lantai berdarah, Lok Khik-si tengah memberinya obat.

Mayat ketiga pelayan yang dibunuh Nyo Hoan tadi masih bergelimpangan di situ.

"Engkoh Hoan, mengapa terluka begini parah?"

Seru Siangkoan Wan, nona itu memang menaruh perhatian istimewa pada Nyo Hoan.

Pertama yang ditanyakan tentu saja diri pemuda itu, tentang bagaimana ketiga sosok mayat itu ia tak menghiraukan.

Nyo Hoan sengaja merintih lebih mengiba, sahutnya.

"Percuma saja kuberitahukan padamu, toh kau tidak dapat membalaskan sakit hatiku."

"Siapa musuhmu? Apakah sakti sekali? Kalau aku kalah, toh ada ayahku! Masih ada pula pamanku. Mengapa pula tak mau engkau memberitahukan?"

Nyo Hoan tertawa dingin.

"Kau masih mimpi akan bantuan pamanmu? Hm, hm, sekali kau sebut-sebut namanya, aduh, duh, aku, aku ..."

Cepat-cepat Siangkoan Wan mewakili Lok Khik-si merawat luka Nyo Hoan.

"Engkoh Hoan, bagimana lukamu?"

Tanyanya.

"Luka di badan sih tak mengapa, tapi luka di hatilah yang paling parah,"

Sahut Nyo Hoan.

Siangkoan Wan menjamah tubuh si anak muda, diketahuinya memang luka engkoh misannya itu tak berbahaya, hanya karena kelewat banyak mengeluarkan darah maka tubuhnya lemas.

Setelah membalut luka Nyo Hoan, bertanyalah ia.

"Apakah yang terjadi sebenarnya? Mengapa kau mengeluh ketika mendengar kusebut nama paman? Bagaimana urusanmu dengan adik Ceng-hoa?"

Dalam anggapannya ia mengira Nyo Hoan tentu marahmarah karena dipaksa kawin oleh pamannya yang pertama itu. Nyo Hoan menghela napas.

"Jangan menyebut-nyebut ayah dan gadis itu lagi. Lebih dulu bilanglah, kau sebenarnya hendak pergi kemana?"

"Hendak ke rumah paman pertama."

"Untuk apa?"

"Eh, apakah kau tidak tahu? Bulan yang lalu ketika ayah mengunjungi paman, ayah mengatakan paling lama setengah bulan tentu sudah pulang, tetapi ternyata sudah sebulan dia belum pulang. Mamah kuatir terjadi sesuatu dengan ayah, maka menyuruh aku mencarinya. Bukankah bulan yang lalu kau juga berada di tempat paman? Apakah kau pernah melihat ayahku?"

Nyo Hoan pura-pura unjuk sikap masgul dan dengan mengertak gigi ia berseru.

"Cici Wan, karena sudah begitu, terpaksa kubicara terus terang padamu. Paman hendak memaksa ayahmu supaya melarang kau jangan bergaul dengan aku. Ayahmu menolak, beliau mendamprat paman yang dikatakan hendak memperbudak dan mengikat kebebasan orang. Mereka bercekcok mulut, akhirnya berkelahi, paman telah mengurung ayahmu dalam kamar tahanan."

"Benarkah begitu"

Siangkoan Wan terperanjat sekali.

"Masakah kau tak tahu perangai paman? Kalau ia hanya mengurung ayahmu dalam kamar saja masih mending. Saat itu aku menyaksikan pertengkaran mereka, hatiku berdebar sekali demi melihat wajah paman berubah sedemikian bengisnya. Aku kuatir ia akan bertindak ganas, untung tidak."

Pandainya Nyo Hoan membawakan kata-katanya, telah membuat Siangkoan Wan percaya sehingga seketika itu wajahnya pucat, ujarnya.

"Habis bagaimana ini? Aku harus mencari daya untuk menolong ayah. Hm, ya, yang paling disayang paman hanya adik Ceng-hoa. Kalau kita mencari padanya untuk minta tolong, tentulah akan berhasil. Bagaimana pendapatmu?" . Nyo Hoan tertawa menghina.

"Huh, kau masih memikirkan Ceng-hoa?"

Siangkoan Wan mendidih dalam hati, pikirnya.

"Benar, sekalipun adik Ceng-hoa itu baik dengan aku, tapi kini ia sudah menjadi bakal istri engkoh Hoan. Rasanya sukar mempercayai kalau ia tak menganggap aku sebagai saingan."

Berpikir begitu, rawanlah hati Siangkoan Wan.

"Engkoh Hoan, kalau aku yang menemui tentu tidak leluasa, baiknya kau sendiri yang meminta pertolongan padanya,"

Bisiknya. Nyo Hoan menggelengkan kepala.

"Kalau dia mendengar kataku, tentu siang-siang sudah kukatakan hal itu. Apa kau kira Ceng-hoa hanya benci padamu saja? Aku pun juga dibencinya! Mungkin kau belum tahu tentang sebuah hal!"

Siangkoan Wan gelagapan dan meminta penjelasan.

"Coba tebak, siapakah yang melukai aku ini?"

Tanya Nyo Hoan.

"Apakah Ceng-hoa?"

Siangkoan Wan balas bertanya.

"Sekalipun bukan tangannya sendiri, tapi serupa juga seperti dia. Aku menerima bacokan dari kacungnya!"

Jawab Nyo Hoan.

"Kacungnya? Budak yang bernama Li Kong-he itu? Mengapa ia berani melukai kau?"

Siangkoan Wan kaget.

"Masakah kau tidak tahu bahwa Ceng-hoa sudah mengangkat saudara dengan budak itu dan tak lagi menganggapnya sebagai kacung. Karena cemburu melihat hubunganku dengan kau, ia mengajak aku bertengkar, dengan adanya kejadian itu dan mengingat tingkah-laku paman, hatiku tak tahan lagi. Aku bersumpah tak mengambilnya menjadi istri dan meninggalkan rumahnya."

Siangkoan Wan kejut-kejut girang mendengar hal itu.

"Benarkah begitu? Tetapi bagaimana kau dapat melarikan diri?"

Nyo Hoan tak mau kepalang tanggung berbohong, dengan wajah tak berubah ia melanjutkan keterangan.

"Mengapa aku membohongimu? Hatiku hanya untukmu seorang. Sekalipun tiada kejadian itu, aku pun tak puas dengan ini. Setelah menyekap ayahmu dalam kamar, paman lalu menyuruh Koan-ke (pengurus rumah tangga) untuk menjaga dan melarang siapa pun masuk ke dalam kamar tahanan itu. Setelah menyerahkan ayahmu pada Koan-ke, paman segera mengajak beberapa bujangnya menuju ke Bin-san, katanya hendak menghadiri rapat besar para orang gagah. Pada hari kedua setelah paman pergi, barulah terjadi percekcokan dengan Ceng-Hoa, bibi tak berani mencegah aku sehingga dapatlah aku melarikan diri."

Siangkoan Wan menerima tanpa sangsi, ujarnya.

"O, kiranya begitu. Engkoh Hoan, sekalipun kau tak berhasil menolong ayahku, tetapi aku tetap berterima kasih kepadamu."

"Tetapi urusan tak berhenti sampai di situ, Ceng-Hoa marah-marah dan mengajak budak itu mengejar aku,"

Kata Nyo Hoan pula. Mendengar itu, agak meragulah Siangkoan Wan, batinnya.

"Paman benar bengis, tapi adik Ceng-hoa lebih halus pekertinya, mengapa ia bisa berubah? Apakah benar-benar cemburu padanya?"

"Waktu kemarin aku tiba di sini, mereka telah mengejarku, Ceng-Hoa dan kacungnya mengeroyok aku. Karena harus menjaga serangan Ceng-hoa, lenganku kena dibacok kacung itu, ketiga pelayan kedai pun dibunuh kacung itu. Untung Lok-lotoa kebetulan jalan di sini dan dapat mengenyahkannya, dengan begitu dapatlah jiwaku tertolong, kalau tidak, mungkin saat ini kau tak dapat melihat aku lagi. Coba apa katamu, menjengkelkan tidak mereka itu?."

Tiada lain pikiran Siangkoan Wan kecuali mempercayai kata-katanya itu, kemudian ucapnya.

"Kalau memang begitu, sudah tentu menjengkelkan, tetapi karena ayah sekarang sedang ditahan di rumah paman, tentang hutang dendam budak Li Kong-he itu, besok saja kita mencarinya."

"Aku mempunyai akal, dapat menolong ayahmu juga dapat membalas sakit hatiku,"

Kata Nyo Hoan.

"Bagus! Apa itu?"

Siangkoan Wan girang.

"Mereka tak punya kuda, kulihat mereka menuju ke utara. Kau boleh berkuda mengejarnya, tentu akan dapat menyandaknya. Biar kuminta Lok-lotoa membantumu menangkap mereka,"

Kata Nyo Hoan.

Usia Siangkoan Wan lebih besar setahun dari Nyo Hoan, begitupun ilmu silatnya juga lebih tinggi, tetapi biasanya mereka suka berbahasa 'engkoh' dan 'taci'.

Jika Lok Khik-si seorang belum tentu dapat menang, tetapi jika bersama Siangkoan Wan tentulah mudah menangkap mereka, maka Nyo Hoan hendak menggunakan tenaga si nona.

"Menangkap adik Ceng-hoa? Mana ... mana bisa?"

Siangkoan Wan terkejut.

"Paman toh bisa menangkap ayahmu, mengapa kau tak dapat menangkap putrinya? Jika sudah dapat menangkapnya, jangan kuatir paman takkan melepaskan ayahmu."

"Oh, kiranya kau hendak memakai adik Ceng-hoa sebagai barang tebusan ayah,"

Kata Siangkoan Wan.

"Begitulah! Rasanya kecuali dengan cara itu, mana kita dapat menghadapi paman? Biasanya orang itu ngotot untuk menang dalam perdebatan, kaum paderi ngotot berebut dupa sembahyang. Jika hendak menolong ayahmu, janganlah kau menghiraukan hal-hal yang lain."

"Lalu hendak kau apakan budak Li Kong-he itu nanti?"

Tanya Siangkoan Wan.

"Itu menjadi urusanku, tetapi aku berjanji padamu, kalau aku takkan membunuhnya agar hatimu tenteram."

"Baik, aku setuju dengan usulmu, tetapi tunggu setelah terang tanah, setelah lukamu agak baik, barulah aku dapat mengejarnya dengan pikiran tenang,"

Akhirnya karena mengingat diri sang ayah, Siangkoan Wan menerima usul Nyo Hoan.

Nyo Hoan kuatir kalau-kalau nona itu nanti berubah pikiran, maka ia mendesak supaya lekas berangkat saat itu juga, namun Siangkoan Wan tetap mau menunggu sampai terang tanah.

Adalah pada saat-saat mereka berunding itu, tibalah Ubun Hiong dan Lim To-kan.

Mereka hanya berhasil mendengar separuh bagian dari pembicaraan Nyo Hoan dan Siangkoan Wan.

Ubun Hiong menjamah telapak tangan To-kan dan menuliskan huruf 'pergi'.

Ia anggap berita tentang Li Kong-he sudah jelas, jadi tak perlu berada di situ terlalu lama.

Tetapi tak terduga-duga To-kan tak mau beringsut, ketika Ubun Hiong tahu Sute itu tidak mau mengikutinya pergi, ia berpaling ke belakang.

Tampak dalam keremangan bulan, anak itu tengah berdiri di pinggir pintu seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Eh, apakah Sute tak menangkap maksudku? Di dalam kedai ada tiga orang. Sekalipun budak she Nyo itu terluka, tapi masih ada orang she Lok yang sukar ditundukkan, apalagi masih ada si nona itu. Kita sudah mendapat berita, maka harus lekas menyingkir, jangan sampai ketahuan."

Itu dugaan Ubun Hiong, tetapi To-kan ternyata mempunyai rencana sendiri.

Ia tengah memikirkan si nona (Siangkoan Wan).

Meskipun hanya berjumpa dua kali dan tinggal di rumahnya semalam, tapi ia merasa cocok dengan nona itu.

Bahkan keduanya saling berbahasa taci dan adik.

Ia masih ingat bagaimana Siangkoan Wan karena hendak menjaga kalau-kalau Nyo Hoan berubah hatinya, lalu minta ajaran sebuah ilmu yang dapat menundukkan anak muda itu pada Kang Haythian, tetapi nona itu sungkan mengatakan sendiri, maka To-kanlah yang menyampaikan hal itu pada Suhunya.

Memang To-kan sudah tak senang kepada Nyo Hoan, maka ia merasa gegetun mengapa Taci Wan itu sampai terpikat dengan pemuda jahat.

Makin mendengar semakin tak kuatlah To-kan menahan perasaannya, ia marah kepada Nyo Hoan yang membohongi mentah mentah dan kasihan pada Siangkoan Wan.

Bingung ia untuk bertindak, apakah akan menerobos masuk dan menelanjangi kebohongan Nyo Hoan?

Tetapi kalau Siangkoan Wan tidak percaya, lalu bagaimana tindakannya nanti?

Secerdas-cerdas pikirannya, namun ia masih muda.

Menghadapi peristiwa itu, ia benar-benar kehilangan akal.

Ubun Hiong kelabakan ketika melihat Sutenya tetap tak beringsut dari samping pintu, akhirnya terpaksa ia kembali hendak menariknya.

Dan tindakannya itu memang menguntungkan sekali, karena tepat pada saat itu terdengar sebatang anak panah mendesir keluar dari celah pintu.

Menyusul pintu terpentang dan Lok Khik-si menerobos keluar seraya memaki.

"Siapa yang berani mencuri dengar di luar itu!"

"Tring", Ubun Hiong cepat menyabet anak panah itu dengan pedangnya. Terlambat sedikit saja pastilah Tokan akan termakan.

"Ho, kiranya kalian berdua datang hendak mengantar kematian. Bagus, aku dapat menghemat waktu tak usah mencari kalian. Hahaha!"

Teriak Lok Khik-si sambil tertawa gelak-gelak.

Ubun Hiong menggunakan jurus Heng-hun-hong menangkis senjata Lok-kak-jat sambil meneriaki Lim Tokan supaya cepat lari, tetapi anak itu tak mau pergi.

Pada saat itu Siangkoan Wan dan Nyo Hoan pun keluar, begitu melihat To-kan, berteriaklah Siangkoan Wan dengan kaget.

"Hai, mengapa kau di sini?"

Nyo Hoan pun girang sekali, serunya.

"Cici Wan, budak kecil ini sekawan dengan Li Kong-he, lekas tangkap, jangan sampai lari!."

Siangkoan Wan bingung dibuatnya.

"Bagaimana ini?"

"Nanti kuterangkan, sekarang tangkap dulu budak itu!"

Nyo Hoan mendesaknya. To-kan tertawa mengejek.

"Kau takut aku bilang? Hm, Cici Wan, kau tak menanyakan aku pun tetap akan mengatakan"

Nyo Hoan mendesak si nona lagi.

"Mulut anjing kecil itu tajam sekali, jangan hiraukan, lekas ringkus saja!"

"Tak nanti dia melarikan diri. Biarkan ia berkata dulu, mengapa tak boleh?"

Sahut Siangkoan Wan.

Nyo Hoan marah, tapi dikarenakan saat itu ia mengandalkan tenaga si nona, terpaksa ia diam saja.

Bertanding melawan Lok Khik-si, Ubun Hiong merasa kewalahan, sedangkan To-kan segera mendamprat Nyo Hoan.

"Mulutmu sendiri yang layak disebut mulut anjing!"

Ia mencabut golok lalu membantu Ubun Hiong. Setelah agak tenang, barulah ia berseru.

"Cici Wan, Nyo Hoan itu bukan manusia baik. Ia hendak menangkap aku untuk mengemis pahala pada kerajaan, si Tok-kak-si ini adalah kuku garuda pemerintah Cing!"

"Cici Wan, apakah kau percaya omongan setan cilik itu? Coba kau tanya padanya, dimana aku pernah menangkapnya?"

Seru Nyo Hoan.

"Percuma kau menyangkal! Kau menyelundup ke Binsan dan sekonyong-konyong menangkap aku. Banyak orang gagah yang menyaksikan kejadian itu!"

Balas Tokan. Nyo Hoan tertawa gelak-gelak.

"Nah dengar tidak! Katanya aku menangkapnya di Bin-san, lucu, lucu! Di Bin-san tengah diadakan rapat para orang gagah, penjagaannya kuat sekali. Mana aku dapat malang melintang menangkap dirinya!"

Siangkoan Wan ragu, memang ucapan Nyo Hoan itu beralasan juga, tapi bantahan To-kan bahwa banyak orang gagah yang menjadi saksi lebih kuat, pikirnya.

"Ya, jika omongan Kan-te itu benar, masakah tiada saksinya. Kelak aku tentu dapat mengetahui benar tidaknya."

Rencana Nyo Hoan ialah untuk mengelabui Siangkoan Wan, apabila Li Kong-he dan Lim To-kan sudah dapat ditangkap, tak menjadi soal baginya untuk ditinggalkan nona itu.

Ia pun cukup tahu bahwa Siangkoan Wan tak kenal dengan orang gagah golongan Cing-pay yang sedang rapat Bin-san itu.

Sekalipun ke sana hendak menyelidiki tentu akan kecele, karena sebelumnya ia (Nyo Hoan) hendak menghubungi orang-orangnya di sana agar menjumpai Siangkoan Wan dan merangkai keterangan palsu.

Ternyata Siangkoan Wan tak mau buru-buru turun tangan, kesempatan itu tak disia-siakan To-kan yang sambil bertempur sambil menelanjangi kejahatan Nyo Hoan serta ayahnya.

Ia memperingatkan Siangkoan Wan supaya jangan mudah percaya omongan pemuda yang menjadi antek kerajaan itu.

Makian itu membuat Nyo Hoan seperti orang kebakaran jenggot.

"Bangsat kecil, jangan memfitnah orang semaumu sendiri. Terimalah ini!"

Sambil mengangkat tongkat, Nyo Hoan hendak menghantam To-kan, tetapi ia terlalu banyak mengeluarkan darah, tubuhnya lemas.

Hal ini cukup disadarinya, adanya ia nekat hendak menyerang adalah dengan rencana tertentu.

Pertama adalah dapat menghentikan ocehan To-kan.

Dan kedua, untuk mendesak agar Siangkoan Wan mau bertindak.

"Dengan tindakanku ini, dapatlah kuketahui apakah budak perempuan itu berpihak padaku atau kepadanya,"

Demikian yang menjadi pertimbangannya.

"Bagus, aku pun hendak mengadu jiwa padamu!"

Teriak To-kan.

Ia tetap mendendam terhadap orang yang pernah menculiknya itu.

Sekalipun baru berumur 14 tahun, tapi sejak kecil ia sudah belajar silat.

Kemudian mendapat pelajaran ilmu Lwekang dari Kang Hay-thian, dengan begitu tenaganya cukup kuat.

"Tring", tongkat Nyo Hoan terpental lepas, ujung golok To-kan meluncur terus ke dadanya. Hanya tinggal beberapa senti saja pasti akan melayanglah jiwa pemuda itu.

"Aku tak melukaimu, tetapi janganlah kau melukainya!"

Tiba-tiba Siangkoan Wan menyodokkan pedangnya ke golok To-kan.

Pada saat golok terdorong ke samping, Nyo Hoan menyelinap ke samping terus menghantam To-kan.

Ia mengerti juga ilmu Kiu-kiongpoh-hoat.

Setelah memperhitungkan bahwa si dara tentu akan bertindak ternyata benar, maka ia menggunakan kesempatan baik itu untuk melukai To-kan.

Pukulan Nyo Hoan tepat mengenai jalan darah Ih-gihiat yang merupakan salah satu jalan darah kematian.

Untung beberapa hari yang lalu To-kan sudah berhasil meyakinkan ilmu untuk menutup jalan darah.

Dan karena terluka, tenaga Nyo Hoan banyak berkurang.

To-kan hanya terhuyung-huyung beberapa tindak, lambungnya terasa sakit sekali tetapi tak sampai terluka.

Perbuatan curang Nyo Hoan itu diketahui juga oleh Siangkoan Wan.

Buru-buru ia menarik Nyo Hoan, serunya.

"Tak kuizinkan ia melukai kau, kau pun tak boleh membunuhnya!"

Dengan gusar To-kan berseru.

"Cici Wan, telah aku utarakan sepenuhnya apa yang harus kukatakan. Kau masih dapat tertipu atau tidak, itu terserah padamu. Jisuko, mari kita pergi!"

Siangkoan Wan tertegun, ia kecewa bahwa orang yang paling dekat dengan hatinya ternyata tak dapat dipercaya, ia terlongong-longong beberapa saat..

Ubun Hiong segera melompat keluar dari kalangan, terus hendak lari menghampiri kudanya yang tertambat pada pohon di tepi jalan.

Tiba-tiba Lok Khik-si menimpukkan sebatang Hui-to ke tali kendali kuda, ia tahu bahwa jika menimpuk Ubun Hiong tentu percuma saja, maka sasarannya ditujukan pada kudanya.

Kuda itu sebenarnya milik Nyo Hoan, Nyo Hoan bersuit keras memanggilnya.

Mendengar itu, kuda lari menyingkir dari Ubun Hiong terus kembali kepada Nyo Hoan.

Kala itu hampir terang tanah.

Kuatir kalau Siangkoan Wan berganti halauan memusuhinya, dan takut pula jika anak buah Lok Khik-si keburu datang, terpaksa Ubun Hiong mengajak To-kan berlari.

Pada waktu To-kan sudah lenyap dari pandangan, Siangkoan Wan masih termangu-mangu.

"Apakah engkoh Hoan itu benar menjadi antek pemerintah Cing?"

Demikian renungan yang mencengkeram batinnya.

Ngeri benar ia membayangkan hal itu, karena ia telah mempercayakan hatinya pada engkohnya itu, tetapi To-kan seorang anak yang masih murni, tentulah takkan bohong.

Ia masih mengharapkan setitik harapan, mudah-mudahan engkoh Hoan itu jangan seperti yang dituduhkan To-kan tadi.

Ah, cinta, cinta.

Cinta itu memang buta.

Sekalipun tahu bahwa yang dihadapinya itu memang kenyataan, tetapi ia masih tak berani mempercayai, ia takut untuk merusak impiannya yang indah.

Nyo Hoan menghela napas.

"Cici Wan, apakah kau tak percaya pada omonganku? Mari kita segera mengejar Ceng-hoa, kau boleh bertanya kepadanya benar atau tidak ayahmu ditahan di rumahnya? Tanyakan padanya, benar tidak budak Li Kong-he itu melukai aku? Jika kedua hal itu benar, terang membuktikan bahwa aku tak bohong, membuktikan pula bahwa kata-kata budak she Lim tadi hanya semata-mata hendak memfitnah diriku saja!"

Pintar juga Nyo Hoan mengemukakan kedua hal itu, tetapi saat itu Siangkoan Wan tengah ruwet pikirannya, mendengar Nyo Hoan begitu berani diadu kebenarannya, maka timbul lagi harapannya.

"Baik, harus kutanyakan kedua hal itu pada Ceng-hoa. Ayahku tak dapat kubiarkan dirampas kemerdekaannya, engkoh Hoan pun tak boleh dihina budak itu."

Demikian ketiganya segera naik kuda melakukan pengejaran.

Dan sekarang kita ikuti perjalanan Tiok Ceng-hoa dan Li Kong-he.

Setelah tak dapat mencari To-kan, mereka berhenti sejenak di simpang tiga.

Kata Ceng-hoa.

"Lebih baik sekarang kita menuju ke Bin-san dulu mencari ayah. Kini aku tak percaya lagi pada omongan Nyo Hoan itu, ia mengatakan ayah dan Kang-tayhiap sama-sama terluka, itu tentu bohong belaka."

Sebenarnya Kong-he pun ingin sekali mencari Suhunya, tapi karena kuatir jangan-jangan To-kan tersesat jalan dan mendapat celaka, ia tak dapat mengambil keputusan dengan segera.

"Adanya Nyo Hoan hendak menangkap Sutemu itu, tentulah hendak diserahkan ke kotaraja. Kalau tidak, masakah ia begitu berjerih-payah memanggulnya? Menilik pertimbangan itu, sekalipun andaikata Sutemu jatuh ke tangan musuh lagi, tentu juga takkan dibunuhnya. Dan dengan tenaga kita berdua, terang tidak mungkin dapat menolong orang di kotaraja, maka kurasa lebih baik kita mencari ayah dan Suhumu dahulu daripada kita bergerak sembarangan,"

Kata Ceng-hoa.

Kali ini Kong-he dapat menerima pendirian Ceng-hoa.

Semalam suntuk mereka tak tidur, setelah menempuh perjalanan sejauh 30-an li, hari pun sudah terang tanah.

Ceng ho mengajak mencari rumah makan.

"Delapan atau sepuluh li lagi kita akan tiba di kedai makan tadi malam. Entah apakah Nyo Hoan masih di situ atau sudah pergi?"

Sahut Kong-he.

"Eh, kau masih terkenang akan kedai itu? Pelayanpelayannya telah mati begitu mengenaskan. Aku sungguh benci kepada Nyo Hoan, tetapi karena kita tak dapat mengalahkan mereka, lebih baik kita berjalan mengitar saja,"

Kata Ceng-hoa. Sekonyong-konyong mereka mendengar derap kaki kuda berlari menghampiri. Melihat penunggangnya, Ceng-hoa terkejut dan berseru girang.

"Cici Siangkoan Wan, mengapa kau berada di sini?"

Ternyata yang datang lebih dulu adalah Siangkoan Wan, sementara Nyo Hoan yang kehabisan darah terpaksa ketinggalan beberapa li di belakang.

Ceng-hoa hendak menghampiri, tapi kejutnya bukan kepalang ketika turun dari kudanya, Siangkoan Wan tampak memelototkan mata.

"Tiok Ceng-hoa, apakah ayahku berada di rumahmu? Kenapakah dia?"

Dengan sikap menyesal Ceng-hoa menjawab.

"Ini ... ini suatu kesalah pahaman..."

"Kesalah pahaman apa? Ayo lekas bilang!"

Bentak Siangkoan Wan.

"Ayah telah khilaf mendengar omongan orang sehingga paman kedua.."

"Bagaimana?"

Tukas Siangkoan Wan.

"Ditahan ayah, tetapi paman kedua tak kurang suatu apa,"

Dengan nada berat Ceng-hoa memberitahukan. Seketika berubahlah wajah Siangkoan Wan.

"Cici Wan, aku masih mau omong lagi,"

Ceng-hoa terkejut. Dalam pada itu Nyo Hoan dan Lok Khik-si pun sudah tiba.

"Cici Wan, jika hendak membebaskan ayahmu, mengapa kau tak lekas turun tangan!"

Teriak Nyo Hoan. Siangkoan Wan terkesiap darahnya.

"Tiok Ceng-hoa, jangan sesalkan aku tak ingat persaudaraan lagi, aku terpaksa menangkapmu!"

Serunya seraya menggunakan Kim-na-jiu untuk mencekal lengan Ceng-hoa.

Ceng-hoa terkejut sekali, karena tak menduga Taci misannya akan menyerangnya dengan begitu ganas, ia tak siap sama sekali.

Pada saat Ceng-hoa akan kena dicekal, tiba-tiba Kong-he membacok jari Siangkoan Wan.

Anak itu karena gugup tanpa banyak pikir terus mengayunkan goloknya, tapi maksudnya sekali-kali bukan hendak melukai, melainkan hanya mencegah perbuatan Siangkoan Wan saja.

Siangkoan Wan marah sekali, cengkeramannya diubah menjadi tamparan.

"Tring", gigir golok Kong-he kena ditampar ke samping.

"Bagus, kau memang pengacau, budak!"

Bentaknya.

"Cici Wan, jangan percaya ocehan Nyo Hoan!"

Kata Ceng-hoa dengan gugup.

"Bukankah yang membacok Nyo Hoan itu kau, budak?"

Bentak Siangkoan Wan tanpa menghiraukan kata-kata Ceng-hoa.

"Benar, memang aku yang membacok. Aku masih belum puas tak dapat mengurungi cakar anjingnya itu, apakah kau penasaran?"

Sahut Kong-he dengan jumawa. Ia marah sekali karena dipanggil "budak".

"Adik He, jangan kurang adat pada Cici Wan, tetapi kau tak dapat menyalahkan dia. Kurasa memang seharusnya ia membacoknya,"

Seru Ceng-hoa.

Segera ia hendak menjelaskan tentang kejadian itu, tetapi Siangkoan Wan sudah tak menggubrisnya lagi.

Dengan gerak Kim-li-joan-poh ia melesat untuk menampar muka Kong-he, sudah tentu Kong-he tak mandah dihina begitu saja.

Sambil mendakkan tubuh ke bawah, ia membacok lengan si nona.

"Bagus, kau berani juga melukai aku, budak!"

Bentak Siangkoan Wan dengan gerakan kedua tangannya.

Tangan kiri menabas, tangan kanan menggunakan jurus Khong-jiu-jip-peh-jim untuk merebut golok.

Ia dirangsang kemarahan, ia memaki-maki Kong-he tanpa mengingat bahwa sebenarnya dialah yang menyerang lebih dulu.

Serangannya sekaligus dua gerakan itu amat berbahaya sekali, jika kena tebasannya, pasti Kong-he akan terluka.

"Siangkoan Wan, kau tahu aturan atau tidak? Kau dapat menggunakan golok, masakah aku tak mampu pakai pedang?"

Tiba-tiba Tiok Ceng-hoa mendamprat keras. Mendengar kesiur senjata menyerang dari belakang, Siangkoan Wan mengisar ke samping, mencabut golok terus membacok, pikirnya.

"Apa yang dikatakan engkoh Hoan memang benar, Ceng-hoa telah jatuh hati pada budak itu hingga tak segan memusuhi aku juga. Ah, karena kau tak ingat persaudaraan, aku pun terpaksa melayani!"

Sebenarnya serangan pedang Ceng-hoa itu bukan untuk melukainya, sedang Kong-he karena goloknya hendak direbut, telah mengeluarkan ilmu golok dari keluarganya.

Benar ilmu silatnya kalah dibanding Siangkoan Wan, tapi dalam pertempuran ia lebih banyak pengalamannya.

Pada saat Siangkoan Wan merasa akan dapat merampas goloknya, tiba-tiba ia membabat tangannya.

Kejut Siangkoan Wan tak terkira, saat itu ia memakai kedua tangannya, yang satu untuk menangkis pedang Ceng-hoa, yang satu untuk merebut golok Konghe, justru Kong-he telah mengeluarkan jurus yang istimewa.

Dalam kegugupannya, Siangkoan Wan memiringkan tubuh berputar ke samping sambil menampar golok dengan lengan bajunya.

Benar ia dapat menyingkirkan golok Kong-he, tapi ia pun kehilangan keseimbangan badan sehingga ia tak mampu menangkis pedang Ceng-hoa.

"Sret", ia rasakan ujung pedang Cenghoa hampir menyentuh tulang rusuknya. Kejutnya bukan kepalang dan buru-buru menghindar, kemudian ia berdiri tegak memperbaiki keseimbangan rubuhnya. Suatu perasaan aneh timbul dalam batinnya.

"Sebenarnya Ceng-hoa tadi dapat melukai aku, mengapa tidak mau? Apakah ia masih mengingat hubungan saudara?"

"Nona Siangkoan, jangan kuatir. Budak perempuan itu serahkan padaku, kau ringkus saja bangsat kecil itu untuk membalaskan sakit hati engkohmu itu,"

Tiba-tiba Lok Khik-si berseru. Ia kuatir kalau Siangkoan Wan berbalik hati karena teringat persaudaraannya dengan Ceng-hoa, maka ia tak mau memberi kesempatan si nona merenung lama-lama.

"Kurangajar! Siangkoan Wan, kau ... kau ...."

Seru Tiok Ceng-hoa.

Sebenarnya ia hendak memaki Siangkoan Wan bersekutu dengan kaki tangan pemerintah Cing untuk mencelakai dirinya, tetapi baru mengucap separuh, Lok Khik-si sudah menusuk dadanya.

Terpaksa Ceng-hoa menumpahkan seluruh perhatian untuk melayaninya.

Di sana pun Nyo Hoan sengaja menjerit-jerit.

"Bangsat kecil, perbuatanmu menabas badanku tentu akan kubalas!"

Ia putar tongkatnya, lalu maju menyerang Kong-he.

"Bagus, memang justru aku hendak menumpas kawanan anjing!"

Dengan geram Kong-he menyapukan goloknya.

Nyo Hoan segera menggunakan jurus Cui-patsia atau delapan dewa mabuk untuk bergerak lincah kian kemari.

Tiga buah serangan kilat dari Kong-he hanya mengenai angin saja, tetapi bagi orang yang menyaksikan, sebenarnya Nyo Hoan berada dalam bahaya.

Akhirnya Siangkoan Wan tak dapat berpeluk tangan lagi.

"Engkoh Hoan, mundurlah, biar kubalaskan sakit hatimu!"

Sekali memainkan Liu-yap-tonya, terdengarlah gemerincing suara senjata beradu.

Kong-he melingkarlingkar hampir jatuh, sedangkan Liu-yap-to Siangkoan Wan gumpil sedikit.

Ternyata yang dimainkan Kong-he ialah ilmu golok keluarganya, Kwalitas goloknya menang dari Liu-yap-to milik Siangkoan Wan, tetapi kepandaian nona itu jauh lebih tinggi dari Kong-he.

Serangannya yang dihayati dengan Lwekang lunak untuk meminjam tenaga lawan membuat Kong-he kalang-kabut.

"Bagus, Cici Wan, jangan lupa bahwa ayahmu masih ditahan mereka. Terhadap musuh jangan sungkansungkan lagi!"

Nyo Hoan berteriak mengipasi si gadis. Rupanya ucapan Nyo Hoan itu mengacaukan pikiran Siangkoan Wan, serunya.

"Benar, kamu telah menghina ayahku dan melukai engkoh Hoan. Kedua hal itu memang terbukti, apakah kalian masih menyangkal? Tiok Ceng-hoa, sudah salah kau masih berani memaki aku kurangajar? Kau sendirilah yang kurangajar!"

Urusan ayah Siangkoan Wan ditahan oleh ayah Cenghoa, memang Ceng-hoa hendak memberi penjelasan, tapi hal itu memerlukan keterangan yang panjang lebar.

Apalagi saat itu ia diserang deras oleh Lok Khik-si, sedikitpun ia tak mempunyai kesempatan bicara.

Makian Siangkoan Wan tadi terpaksa ditelannya saja karena ia harus tumpahkan seluruh perhatian menghadapi Lok Khik-si.

Di pihak Siangkoan Wan sendiri, meskipun mulut mengucap begitu, tetapi dalam hati masih teringat akan ikatan kekeluargaan, ia pun cukup mengerti bahwa tadi sebenarnya Tiok Ceng-hoa jika mau dapat melukainya.

Karena itu tak mau ia dengan tangan sendiri mencelakai adik misannya itu, maka sengaja ia 'berikan' Ceng-hoa pada Lok-Khik-si sedang ia mengurus Kong-he.

Dengan ilmu pedangnya yang indah dan gerakannya yang gesit, sebenarnya kepandaian Ceng-hoa itu tak di bawah Khik-si, tetapi sayang tenaganya masih belum cukup, semangatnya lesu karena semalam kurang tidur, ditambah pula ia memang kalah pengalaman bertempur dibanding lawannya.

Menghadapi Lok Khik-si ia hanya dapat bertahan saja, tetapi Lok Khik-si pun tak mampu segera mengalahkan gadis itu dalam 3-5 puluh jurus.

Sedang Kong-he sebenarnya kalah tangguh dari Siangkoan Wan, tetapi pikiran si nona saat itu sedang kacau karena belum yakin benar salah tidaknya Tiok Ceng hoa itu.

Kong-he berlaku tenang menghadapi si nona, maka selama Siangkoan Wan masih belum memutuskan untuk menyerang dengan jurus serangan maut, selama itu pula Kong-he masih dapat bertahan.

Nyo Hoan yang mengikuti pertempuran itu diam-diam merasa gegetun sekali karena beberapa kali dilihat sebenarnya Siangkoan Wan dapat merobohkan Kong-he, tetapi selalu dapat dihindari, pikirnya.

"Ah, mengapa permainan Cici Wan tak sehebat biasanya? Janganjangan ia menyangsikan diriku dan tak mau bersungguhsungguh membantuku?"

Setelah mengerutkan jidat, Nyo Hoan mendapat akal, serunya.

"Bangsat kecil itu ganas sekali, Cici Wan, aku membantumu!"

"Tak usah, tak usah. Engkau sedang terluka, mana boleh membantuku?"

Siangkoan Wan tersipu-sipu mencegah.

"Kukuatir kau tak mampu menjatuhkannya, biar aku terluka tetapi tetap hendak membalas sakit hati!"

Seru Nyo Hoan.

"Jangan buru-buru, aku tentu akan menang!"

"Baik, lekas kau robohkan dia agar aku tak perlu turun ke gelanggang,"

Kata Nyo Hoan.

Ia sengaja hendak menguji sampai dimana kesungguhan hati si nona terhadap dirinya.

Tiba-tiba Ceng-hoa mengeluarkan sebuah jurus yang luar biasa untuk mendesak Lok Khik-si, kemudian menggunakan kesempatan itu untuk berseru kepada Kong-he.

"Adik He, katakan duduk perkaranya pada Cici Wan!"

Memang secara diam-diam Ceng-hoa membagi perhatian pada pertempuran Kong-he dan Siangkoan Wan.

Ia cukup tahu sampai dimana kelihaian Taci misannya itu, jelas dilihatnya kalau Siangkoan Wan tak bersungguh hati hendak melukai Kong-he.

Itulah sebabnya maka ia mencari saat luang untuk menyuruh Kong-he menerangkan pada Siangkoan Wan, sebab ia sendiri tiada sempat bicara dalam menghadapi serangan Lok Khik-si yang gencar.

Siangkoan Wan tertegun serunya.

"Ya, benar, mengapa kau melukai engkoh Hoan?"

"Aku toh sudah mengatakan padamu bahwa Ceng-hoa cemburu pada kita, maka lantas menyuruh bangsat kecil itu untuk mencelakai diriku!"

Buru-buru Nyo Hoan berseru menyahut.

"Kentut!"

Bentak Kong-he.

"jika kau tak menculik adikku To-kan, mana bisa aku menyerangmu?"

"Siapa adik Kan itu?"

Teriak Siangkoan Wan.

"Namanya Lim To-kan, putra seorang ksatria pejuang yang menentang pemerintah Cing!"

Sahut Kong-he.

"Dimana ditangkapnya?"

Tanya Siangkoan Wan pula.

Kong-he sebenarnya belum pernah melihat Lim Tokan, ia pun tak tahu bagaimana terjadinya penculikan anak itu.

Hanya karena menduga Nyo Hoan datang dari Bin-san, maka cepat-cepat ia mengatakan kalau penculikan itu terjadi di gunung Bin-san.

Tergetar hati Siangkoan Wan mendengar sahutan itu, karena cocok dengan keterangan Lim To-kan sendiri, pikirnya.

"Jika benar demikian, bukankah engkoh Hoan itu "Tiok Ceng-hoa dan bangsat itu baru keluar dari rumah, mana mereka tahu kejadian di Bin-san?"

Nyo Hoan kalap.

Goyah pikiran Siangkoan Wan, siapa yang patut dipercayainya?

Habis membantah, Nyo Hoan lantas menimpukkan beberapa buah Thi-lian-cu.

Kong-he memutar goloknya untuk menangkis, tapi tak urung kena dua buah senjata rahasia.

Untung tenaga Nyo Hoan masih belum pulih, jadi Kong-he pun tak sampai terluka berat.

Tujuan Nyo Hoan memang tak ingin melukainya, melainkan hendak mengacau supaya Kong-he tak sempat bicara dengan Siangkoan Wan lagi.

Saat itu sebenarnya mudah sekali Siangkoan Wan untuk menangkap Kong-he, tetapi setelah mendengar keterangan dari kedua pihak, ia ragu dalam hati.

Sekalipun tidak mengundurkan diri tetapi juga tak mau melukai Kong-he.

Sementara Ceng-hoa yang tak tahu apakah Kong-he terluka oleh timpukan Thi-lian-cu, segera mencaci-maki Nyo Hoan.

"Nyo Hoan, kau sungguh nista sekali! Kau hendak melenyapkan mulut seorang saksi?"

Ceng-hoa terus hendak melompat membantu Kong-he, tetapi Lok Khik-si cepat merintanginya.

Karena pikiran kacau, Cenghoa pun terdesak.

Pernyataan Tiok Ceng-hoa itu menimbulkan reaksi dalam hati Siangkoan Wan, pikirnya.

"Ya, mengapa, engkoh Hoan begitu bernafsu hendak membunuh anak itu? Apakah karena hendak membalas sakit hati atau karena sebab lain? Tadi dia menyatakan padaku takkan membunuh anak itu, mengapa sekarang berbalik haluan? Hm, meskipun keterangan anak ini belum boleh seratus persen dipercaya, tetapi karena cocok dengan keterangan To-kan, sekurang-kurangnya dia (Kong-he) tentu melihat peristiwa penculikan To-kan, tetapi engkoh Hoan hanya mengatakan bahwa dia dibacok Kong-he, tidak menyebut-nyebut kalau mereka sudah kenal. Apakah sebabnya?"

Makin dipikir makin tebal kecurigaan Siangkoan Wan, meskipun jauh dari pemikiran bahwa Nyo Hoan itu menjadi kuku garuda, tetap sekurang-kurangnya tentang penculikan Lim To-kan itu, ia sudah maju kepercayaannya.

Sambil melanjutkan timpukan Thi-lian-cu, berserulah Nyo Hoan.

"Cici Wan, jika tak kau tangkap dulu, mana dapat kau mengorek keterangannya?"

"Baik, akan kutangkapnya dulu, tetapi janganlah kau lanjutkan timpukanmu lagi,"

Karena menganggap beralasan, maka Siangkoan Wan segera menyetujui. Diam-diam Nyo Hoan mengejek dalam hati.

"Hm, asal sudah kau tangkap, akulah yang akan turun tangan. Biar aku putus hubungan denganmu, tak apa. Di dunia ini toh banyak wanita cantik, nanti di kotaraja masakah aku tak bisa mencari gadis yang lebih cantik dari kau?"

Namun Siangkoan Wan tetap tak mau melukai Konghe, ia menggunakan pedang dengan tangan kosong.

Kong-he menghindari kian kemari, kadang-kadang ia terpaksa membacok apabila dalam posisi terdesak.

Dengan cara itu dapatlah ia menghadapi serangan si gadis sampai dua tiga puluh jurus, tetapi saat itu Siangkoan Wan sungguh-sungguh mengeluarkan kepandaiannya.

Sekalipun Kong-he memakai golok, tetap saja kalah.

Lewat 30-an jurus, napas Kong-he sudah terengah-engah.

Dalam beberapa detik lagi tentu ia akan kena ditangkap.

Tiok Ceng-hoa sibuk bukan kepalang, makin sibuk makin payah keadaannya.

"Tring", sekali membolakbalikkan senjata Lok-kak-jat, Lok Khik-si dapat menampar jatuh pedang Ceng-hoa. Berbareng itu Siangkoan Wan pun berseru.

"Lepaskan!"

Pergelangan tangan Kong-he kena dijepit dari Siangkoan Wan dan goloknya terampas oleh gadis itu.

Pada saat Lok Khik-si dan Siangkoan Wan hendak mengejar untuk menangkap lawan, mendadak seorang penunggang kuda berlari mendatangi.

"Tahan!"

Serunya. Mendengar nada suara orang itu, terkesiaplah darah Siangkoan Wan. Ia tak asing lagi dengan suara itu, pikirnya.

"Eh, mengapa Lau tua yang datang?"

Cepat sekali penunggang kuda yang bertubuh kurus itu tiba.

Ya, memang dia adalah Lau tua, kepala rumah tangga keluarga Tiok Siang-hu.

Tadi Nyo Hoan mengatakan bahwa ayah Siangkoan Wan yang ditawan di rumah keluarga Tiok itu diserahkan kepada Lau tua itu.

Karena ada tugas itu, tentunya Lau tua tak dapat pergi keluar rumah, tetapi mengapa saat itu dia datang dari jurusan Bin-san?

Seketika pucatlah wajah Siangkoan Wan, bukan karena takut kepada Lau tua itu, melainkan ngeri membayangkan bahwa keterangan Nyo Hoan tadi dusta seluruhnya.

"Pak Lau, mengapa kau datang kemari?"

Ia pun segera menegurnya. Pak Lau melirik tajam pada Nyo Hoan, lalu menyahut.

"Aku mendapat perintah dari tuan Tiok supaya menyampaikan berita padamu dan ibumu. Ha, tak kuduga bisa berjumpa di sini, sungguh kebetulan sekali. Hm, kau Siaucu (budak kecil), mengapa kau masih di sini? Kukira kau sudah ke kotaraja mengambil hadiah!"

"Lau San jangan kurang adat! Sekalipun aku ada sedikit salah paham dengan nona majikanmu, tetapi hal itu urusan pribadi. Baik atau buruk aku ini setengah resmi adalah tuanmu!"

Bentak Nyo Hoan.

"Cis, tak malu, siapa yang menjadi tuanmu. Pak Lau, dia menghina padaku, tangkaplah! Dan binatang Lok Khik-si itu juga jangan dikasih ampun!"

Tiok Ceng-hoa memaki.

Lok Khik-si licin sekali, ia cukup paham sampai dimana kelihaian kepala rumah tangga keluarga Tiok itu.

Pada saat Lau tua datang, ia sudah bersiap-siap, jika Nyo Hoan dengan menggunakan pengaruh sebagai calon menantu Tiok Siang-hu dapat menundukkan pak Lau, itulah syukur, tetapi ternyata Lau tua itu sudah menyebut Nyo Hoan dengan kata-kata "Siau-cu".

Tahu gelagat jelek, Lok Khik-si cepat melompat ke atas kuda dan kabur.

Lau tua tak mau mengejar, melainkan berpaling kepada Nyo Hoan.

"Memang dahulu boleh kau dianggap sebagai tuanku setengah resmi, tetapi sekarang sama sekali bukan. Apa yang kau ayah dan anak lakukan, apakah kau kira tuanku tak mengetahui?"

Siangkoan Wan tersentak kaget, tanyanya.

"Perbuatan apakah yang dilakukan mereka berdua ayah dan anak? Dan bukankah kau diserahi untuk menjaga ayahku?"

"Pak Lau, pak Lau, lekas tangkap dulu budak itu!"

Ceng-hoa mendesak lagi. Mendengar itu, serasa terbanglah semangat Nyo Hoan. Cepat ia melompat ke atas kudanya.

"Toasiocia, ayahmu tentu dapat mengurus mereka ayah dan anak. Asal kau tak kena dipikatnya saja, biarkanlah dia kabur,"

Kata Lau tua.

Kiranya memang sudah menjadi peraturan keluarga Tiok, bahwa bujangbujangnya tak boleh melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan.

Lau tua hanya diperintah untuk menyampaikan berita ke rumah keluarga Siangkoan.

Ia tak mendapat tugas menangkap Nyo Hoan, maka ia biarkan saja pemuda itu lari.

Ketika Nyo Hoan mencemplak ke punggung kuda, Siangkoan Wan berdiri seperti patung.

Pada saat itu sebenarnya ia sudah terang gamblang siapakah yang jujur dan siapa yang dusta.

Namun ia masih menghibur lamunannya, akan menunggu jawaban pak Lau.

"Nona Siangkoan, jangan kuatir. Pamanmu sudah membebaskan ayahmu. Penderitaan yang diderita ayahmu kali ini adalah gara-gara Nyo Ceng dan anaknya itu. Merekalah yang mengadu dombakan paman dan ayahmu,"

Jawab Pak Lau.

Mendengar keterangan itu, seolah-olah bumi yang dipijak Siangkoan Wan itu amblas, dunia yang penuh isinya itu dirasakan kosong melompong.

Ia tak menyangka sama sekali bahwa pemuda yang menjadi pujaan hatinya itu ternyata yang mencelakai ayahnya.

Lama sekali ia kehilangan semangat seperti patung, baru kemudian berkata dengan nada bergetar.

"Jadi Nyo Ceng ayah dan anak yang mengacau? Dia ... dia mengapa berbuat demikian?"

"Karena Nyo Ceng ayah dan anak sudah menjadi kaki tangan kerajaan Cing, dan ayahmulah orang satusatunya yang mengetahui hal itu. Kepergianku ke rumah nona adalah hendak menyampaikan beberapa hal. Pertama, menyampaikan permintaan maaf dari tuanku. Dan kedua, menjaga agar kalian jangan sampai terpikat oleh kedua ayah dan anak itu,"

Sahut pak Lau tua. Dengan rasa iba, berkatalah Ceng-hoa kepada Taci misannya.

"Cici Wan, syukur kita berdua tak sampai termakan jerat Nyo Hoan. Lupakanlah peristiwa yang telah lalu dan kita tetap menjadi kakak beradik yang mesra."

Tiba-tiba pecahlah tangis Siangkoan Wan, terus ia melompat ke atas kudanya.

"Hai, Cici Wan, hendak kemana kau?"

Seru Ceng-hoa.

"Jangan mengurusi aku!"

Sahut Siangkoan Wan. Ia mencambuk kudanya dan mencongklang pesat menuju arah yang ditempuh Nyo Hoan.

"Ia dapat menangis, itulah lebih baik,"

Kata Lau tua.

"Apakah ia hendak menyusul Nyo Hoan? Pak Lau, lekas susullah dia!"

Kata Ceng-hoa. Tetapi bujang tua itu menyahut.

"Kukira belum tentu ia menyusul Nyo Hoan. Saal ini ia sedang dirundung rasa kecewa besar, maka tak mau berjumpa dengan orang. Tak apa, tentu akan kulindungi dia."

Sambil berkata itu pak Lau naik ke atas kudanya, ia bertanya mengapa Ceng-hoa diam-diam pergi dari rumah bersama Kong-he.

"Ayahmu sudah pulang, kuharap nona lekas pulang juga,"

Katanya.

"O, jadi ayah tak benar bertanding dengan Kangtayhiap dan mereka berdua tak luka?"

Seru Ceng-hoa.

"Tidak sama sekali! Siapa yang bilang?"

Waktu mendengar kalau Nyo Hoan yang mengatakan, berkatalah bujang tua itu.

"Mengapa kau masih percaya pada omongannya? Bukan saja ayahmu tak bertempur dengan Kang-tayhiap, bahkan mereka telah menjadi sahabat baik. Panjang juga ceritanya, nanti kalau pulang boleh bertanya pada ayahmu saja."

"Lha, Suhuku bagaimana?"

Tanya Kong-he.

"Kang-tayhiap telah berangkat ke kotaraja, kelak tuanku juga akan ke kotaraja menjumpainya. Apa masih ada pertanyaan lagi?"

Ceng-hoa mengatakan tidak ada dan menyuruh bujang tua itu segera mengejar jejak Siangkoan Wan. Setelah itu ia mengajak Kong-he pulang.

"Pulang? Pulang kemana?"

Tanya Kong-he "Masakah bertanya, tentu saja pulang ke rumah.

Rapat besar di Bin-san sudah selesai.

Ayahku sudah pulang dan Kang-tayhiap pun sudah pergi ke kotaraja.

Kalau tak pulang apakah kita akan ke Bin-san lagi?"

Sahut si dara.

"Tidak, aku tak turut pulang. Aku hendak menuju ke kotaraja mencari Suhuku,"

Kata Kong-he. Ceng-hoa terkejut.

"Mau ke kotaraja? Apakah kau tak takut ditangkap?"

"Sudah tiga tahun lamanya aku menunggu menjadi murid Suhu, sekarang setelah mengetahui tempat beradanya Suhu, masakah aku tak mencarinya?"

"Eh, apakah kau tak mendengar keterangan pak Lau tadi bahwa nanti ayah juga akan ke kotaraja menemui Kang-tayhiap? Kita pulang dulu, besok kita ikut ayah ke kotaraja. Tidakkah ini lebih tepat?"

"Tidak, aku tak mau menunggu lama-lama lagi. Dan aku kuatir akan timbul lagi hal-hal yang tak diduga,"

Sahut Kong-he "Siapa tahu setiba di rumahmu, ayahmu sudah berangkat.

Dan aku pun tak tahu sampai berapa lama Suhu tinggal di kotaraja.

Kalau ikut kau pulang seperti rencanamu itu, paling tidak tentu akan memakan waktu sebulan lagi baru berangkat.

Jika Suhu sudah pergi dari kotaraja lagi kemanakah hendak kucari beliau?"

Selain alasan yang dikemukakan itu memang tepat, juga sebenarnya masih mempunyai lain alasan yang kuat.

Yakni ketika menutup mata, ayahnya telah menyerahkan Hay-te padanya, dengan begitu Kong-he itu sebenarnya adalah murid dari Thian-li-kau.

Hay-te adalah alat pertanda dari perkumpulan rahasia Thian-likau.

Dengan menyerahkan benda itu, ayah Kong-he seperti menganjurkan agar putranya meneruskan citacitanya.

Thian-li-kau adalah sebuah perkumpulan yang menentang pemerintah Cing, membangun pemerintah Bing lagi.

Sejak kecil diasuh dalam lingkungan partai, membuat Kong-he tahu juga mematuhi peraturanperaturan partai, hanya kepada orang Thian-li-kau atau orang-orang yang dipercaya oleh partai itu, ia mau memberitahukan dirinya.

Sekurang-kurangnya kaum ksatria penentang pemerintah Cing mau juga menganggap dia sebagai 'orang sendiri', maka betapa baik sekalipun keluarga Tiok memperlakukannya, namun ia masih menganggap mereka sebagai orang 'luar".

Apalagi Kong-he memang masih belum jelas betul tentang pribadi Tiok Siang-hu yang aneh itu.

Rencananya untuk meninggalkan keluarga Tiok mencari Suhunya dan sekalian menyelidiki tentang berita 'paman Lim' memang sudah lama dirancang.

Bahwa sekarang ia sudah mendapat kesempatan, tentu saja akan segera melaksanakannya.

"Tetapi kotaraja itu luas sekali. Kau ... kau seorang diri ke sana, ini ... ini ... aku tak tega,"

Kata Ceng-hoa dengan nada mesra.

"Jangan kuatir, Cici Hoa. Di kotaraja aku mempunyai kenalan sahabat-sahabat ayahku. Dan kalangan kuku garuda yang mengenal diriku hanyalah terbatas Ki-liansam-siu dan kawan-kawannya saja, belum tentu mereka berada di kotaraja. Asal aku hati-hati menghindari bertemu dengan mereka, tentu tak akan apa-apa,"

Kata Kong-he.

"Tidak, aku tetap tak tega. Baiklah, jika kau berkeras hendak ke kotaraja, aku pun akan menyertaimu,"

Akhirnya Ceng-hoa berkata.

Usia Kong-he lebih muda dari Ceng-hoa, dalam hati mereka masih belum ada benih-benih asmara, melainkan hanya sebagai kakak adik saja.

Meskipun Kong-he tahu bahwa pada suatu hari ia akan berpisah dengan dara itu, namun pada saat-saat hendak mengucapkan selamat berpisah, ternyata berat sekali hatinya.

Bahwa Ceng-hoa menyatakan hendak ikut, sebenarnya Kong-he terkejut girang, tetapi ia menggelengkan kepala.

"Jangan Cici Hoa, jangan ikut aku."

"Mengapa?"

Tanya Ceng-hoa. Ia menatap Kong-he lekat-lekat. Kong-he bersangsi sejenak, kemudian berkata.

"Cici Hoa, kau tak tahu bahwa semasa hidupnya mendiang ayahku itu dianggap sebagai pesakitan negara. Dia meninggal di tangan kuku garuda, kawanan kuku garuda itu masih hendak menangkap aku lagi. Kepergianku ke kotaraja ini lain sifatnya dengan ke Binsan. Aku ... aku tak ingin kau terlibat."

"Justru begitu aku makin tak tega membiarkan kau pergi seorang diri. Aku tak takut terlibat, aku dapat membantumu,"

Sahut si dara.

"Kau sih tak takut terlibat, tetapi mungkin ayahmu tak senang berurusan dengan kuku garuda. Kalau sampai terjadi apa-apa, bukan kau saja tetapi akan merembet pada keluargamu juga."

Ceng-hoa tertawa.

"Jangan kuatir, justru ayah memang hendak membuat perhitungan dengan kaum kuku garuda itu. Pernah sekali kudengar beliau berunding dengan pak Lau, apabila saatnya tiba akan segera bergerak. Perbuatanku mencuri dengar pembicaraan itu kepergok ayah. Beliau memberi peringatan keras padaku supaya jangan menguarkan hal itu kepada orang lain. Bahkan Nyo Hoan pun tak boleh diberitahu, kala itu kau belum datang di rumahku. Sebenarnya sewaktu kau berada di rumahku, hendak kuberitahukan hal itu, tetapi kukuatir nanti malah menimbulkan kecurigaanmu, maka baru sekarang kukasih tahu."

"Bagus, kalau begitu baiklah,"

Seru Kong-he.

Demikianlah kedua anak muda itu segera berangkat.

Pembicaraan tadi telah meningkatkan ikatan hati mereka lebih erat, walaupun Kong-he belum memberitahukan tentang rahasia Thian-li-kau, tapi dalam hati ia menganggap dara itu sebagai 'orang sendiri'.

Selama dalam perjalanan itu tak terjadi suatu apa dan pada hari itu juga tibalah mereka di kota Po-ting.

Kota itu menjadi pusat markas Thian-li-kau, ialah tempat tinggal Kong-he.

Sejak kecil ikut ayahnya membuat Li Kong-he tahu cara menjaga diri apabila berada di daerah yang penuh dengan mata-mata musuh.

Dipilihnya waktu magrib untuk masuk kota, pada saat itu banyak bakulbakul (pedagang) desa yang terburu-buru pulang sebelum pintu kota ditutup.

Ceng-hoa berganti pakaian sebagai gadis desa dan Kong-he pun memoles mukanya dengan angus menyaru seperti anak gembel.

Setelah masuk ke dalam kota, Ceng-hoa bergurau.

"Dengan dandanan seperti ini, mungkin jongos hotel tak mau menerima kedatangan kita. Kemana kita nanti bermalam?"

"Jangan kuatir, mari kita cari rumahku yang dahulu,"

Jawab Kong-he.

Ketika lewat di muka rumahnya, Kong-he mendapatkan pintu rumah itu disegel.

Warna merah segel sudah luntur dan kunci pintu pun sudah karatan.

Tiga tahun yang lalu ia bersama ayahnya melarikan diri dari rumah, kini hanya dia sendiri yang pulang tanpa dapat masuk ke dalamnya.

Teringat akan hal itu, timbullah seketika ingatan Kong-he untuk menjenguk ke dalam, ia ajak Ceng-hoa menuju ke gang yang sepi dan membeli wedang.

Kala itu sudah tengah malam, tokotoko dalam kota sudah tutup semua.

"Eh, adik He, apakah kita akan bermalam di tempat ini? Bukankah kau mengatakan mempunyai kenalan?"

Tanya Ceng-hoa.

"Sudah berselang tiga tahun, entah apakah mereka masih tinggal di alamatnya yang dulu. Dan apakah sekarang mereka sudah tak berbalik haluan? Nanti setelah kuselidiki jelas baru kukunjungi mereka. Jangan kuatir Cici Hoa, akan kuajak kau pulang ke rumahku."

"Ke rumahmu? Bukankah rumahmu sudah disegel!"

Ceng-hoa heran.

"Masakah kita tak dapat masuk dari samping tembok? Sudah lewat tiga tahun, kunci pintunya sudah berkarat. Kukira kawanan kuku garuda itu tak nanti terus menerus menjaga di sini. Besok akan kucari seorang yang dapat kupercaya,"

Sahut Kong-he.

"Lompat tembok rumahmu sih tak apa, tetapi aku tetap cemas."

"Aku tak percaya kalau kepergok mereka. Ah, ingin benar aku menjenguk tempatku bermain-main waktu kecil, menikmati pula barang-barang peninggalan ayah bundaku. Mamahku meninggal pada saat aku dan ayah melarikan diri, mungkin barang-barang peninggalannya masih, mungkin sudah hilang. Aku harus menjenguknya, sekalipun kepergok kawanan kuku garuda, tetap akan kuhadapi."

Ceng-hoa menyatakan kesediaannya.

Mereka kembali ke rumah kediaman Kong-he, setelah diperhatikan tiada orang lagi, diam-diam mereka melompat ke atas tembok.

Di antara pintu besar ada ruang tamu, terdapat halaman yang cukup luas, di situlah semasa kecil Kong-he berlatih silat dan bermain-main.

Di bawah sinar rembulan remang, tampak halaman itu penuh ditumbuhi rumput.

Kong-he tertusuk perasaannya, ia membungkuk mengisar sebuah pot bunga dan dengan hati-hati menyiak rumputnya, seperti hendak mencari sesuatu.

"Eh, kau sudah berada di rumah, mengapa tak lekas masuk?"

Tanya Ceng-hoa.

"Dahulu mamah meninggal di halaman ini. Kawanan kuku garuda menerobos masuk dengan tiba-tiba, karena hendak melindungi diriku, mamah sampai binasa. Kasihan, ketika roboh di tanah, beliau masih menguatkan diri mendesak ayah suruh lekas membawa aku lari. Hendak kulihat lagi apakah di dalam semak rumput ini tiada terdapat barang-barang peninggalannya? Akan kucari apakah tiada bekas darah di tanah ini?"

Dari semak rumput melompat dua ekor jangkerik, hidung Kong-he mencium bau rumput busuk, Ceng-hoa menarik tangan Kong-he.

"Adik He, tak berguna kelewat bersedih. Kau harus menjaga dirimu baik-baik agar dapat menuntut balas. Asal kau selalu ingat pada sakit hati itu, tiada perlu lagi harus mencari peninggalan mamahmu,"

Ceng-hoa menghiburnya. Kong-he berbangkit, ujarnya.

"Aku beruntung mendapatkan sebuah. Sayang bukan benda yang dipakainya saat itu."

Ternyata Kong-he mencekal sekeping porselen (tembikar).

Peristiwa itu terjadi sudah lama sekali, pada suatu hari datang seorang sahabat ayahnya dari Kian-se.

Kenalan itu memberikan sebuah patung dewi Koan Im dari porselin buatan dari kota Keng-tek yang termasyhur.

Setelah orang itu pergi, tanpa bicara apa-apa, mamah Kong-he terus melemparkan patung itu ke halaman.

Keping porselin itu mungkin pecahan patung yang waktu itu, karena bujang kurang bersih menyapu, masih ketinggalan di situ.

Di kemudian hari setelah berjumpa dengan Jian-jiu-koan-im Ki Seng-im barulah Kong-he mengetahui bahwa mamahnya karena benci terhadap wanita itu maka patung porselin yang berbentuk gambar Koan-im dibanting juga, tetapi apa sebab mamahnya membenci Jian-jiu-koan-im, sampai sekarang Koan-he tak tahu.

Setelah menyimpan keping pecahan porselin itu, Kong-he pun berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dalam kegelapan tiba-tiba ia seperti mendengar isak tangis seseorang, dan datangnya dari kamar mendiang mamahnya.

Ceng-hoa bergidik.

"Eh, apakah karena mati penasaran, arwah mama adik He menjadi setan?"

Bahkan Kong-he yang tak percaya akan segala setan, ternyata tergetar juga hatinya, tapi dengan memberanikan diri ia mendorong daun pintu.

"Mah, aku adalah anak He, aku sudah pulang mah!"

Pintu terbuka dan terdengarlah seorang wanita berseru.

"O, apakah anak He? Aku mencarimu kemanamana, sungguh beruntung sekali sekarang kau pulang!"

Kong-he terkesiap, wanita itu menyulut pelita.

"Oh, kiranya kau. Mengapa kau berada di sini? Dan berada di tempat mamaku?"

Tegur Kong-he setelah mengetahui wanita itu ternyata Jian-jiu-koan-im Ki Seng-in.

Ternyata Ki Seng-in tidak mati, meskipun di kota Tang-peng ia menderita luka parah, tetapi setelah diberi minum jinsom oleh suami istri Gak Ting, sebulan kemudian ia sudah sehat kembali.

Kali ini ia memang datang ke kotaraja hendak menyirapi berita tentang suaminya.

Ki Seng-in sebenarnya adik misan ayah Li Kong-he.

Sejak kecil bermain bersama, sampai berangkat dewasa tetap bergaul, semua orang menganggap mereka kelak tentu akan terangkap menjadi suami istri, tetapi ternyata di kemudian hari mereka mempunyai jalan hidup sendirisendiri.

Ayah Kong-he tahu bahwa perangai Ki Seng-in tak mencocoki seleranya, maka ia segera meninggalkannya, kemudian menikah dengan pendekar wanita Lo Ki-wan dari Thian-li-kau.

Karena marah dan putus asa, Ki Seng-in lolos ke Kwan-gwa, beberapa tahun kemudian baru menikah dengan Utti Keng, berandal besar dari daerah Liau-tang.

Utti Keng sangat menyayangi istrinya sehingga tumbuh juga kecintaan Ki Seng-in terhadap suaminya, tetapi romannya semasa masih muda tetap tidak dapat dilupakan.

Lebih-lebih setelah Li Bun-sing meninggal, ia merasa sedih jika tak dapat merawat putra Li Bun-sing yang sudah sebatang kara itu.

Hari itu Ki Seng-in berlalu di kota Po-ting, terkenanglah ia akan peristiwa masa remaja, maka ia pun diam-diam masuk ke dalam rumah hanya karena sekadar menikmati kenangan indah di masa lampau.

Ia tak nyana sama sekali Kong-he akan muncul di situ, karena anak itu sudah jatuh di tangan musuh, maka kegirangannya sedemikian melonjak sehingga ingin sekali ia memeluk anak itu, tetapi kong-he mempunyai perasaan lain.

Teringat peristiwa mendiang mamahnya membanting patung Koan-Im, ia pun tak senang kepada Ki Seng-in.

Perih hati Ki Seng-in mendengar teguran yang tajam dari Kong-he itu, ujarnya.

"Anak He, bertahun-tahun karena iri atas kebahagiaan mamahmu, pernah aku bertempur dengannya. Aku memberikan sebuah bacokan golok dan sebuah tusukan pedang, sekalipun tak terluka, tetapi akulah yang menyerangnya lebih dulu. Untuk hal itu aku merasa menyesal dan aku pun tak menyalahkan mamahmu benci padaku, sebenarnya ingin sekali aku menghaturkan maaf di hadapannya. Anak He, apakah kau masih membenci padaku?"

Perasaan menyesal telah mendorong Ki Seng-in menumpahkan isi hatinya secara terus terang.

Pada usia itu Kong-he sudah mulai mengerti persoalan muda-mudi, terbukalah kesadarannya setelah mendengar keterangan Ki Seng-in, pikirnya.

"O, kiranya demikian. Kalau begitu sekalipun dia cemburu kepada mamah tetapi ia sayang sekali kepada ayahku."

Kong-he amat mencintai ayah, terhadap wanita yang cinta pada ayahnya, ia pun tak memandangnya sebagai musuh.

"Tempo hari kau tak mau ikut padaku hingga kena dikelabui si Tok-kak-lok. Betapa cemasku, anak He. Kedua ayah bundamu sudah tiada dan diam-diam aku telah bersumpah untuk melakukan sesuatu guna kedua orang tuamu, oleh karena itu tak dapat aku tinggal diam melihat kau ditawan musuh. Bertahun-tahun aku mencarimu, akhirnya Thian mengabulkan dan kita dapat berjumpa di sini. Tentu kau sekarang sudah tahu siapa Tok-kak-lok itu, bukan? Anak He, apakah kau masih benci padaku?"

Wanita itu mengucurkan air mata.

Sekalipun masih muda, Kong-he dapat juga membedakan orang baik dan jahat, melihat betapa kesungguhan hati seorang wanita yang hendak menebus dosa asmaranya, Kong-he pun terharu dan ikut mengucurkan air mata.

"Bibi,"

Akhirnya mulut Kong-he meluncurkan panggilan mesra.

"Bibi, untukku kau bertahun-tahun menempuh bahaya. Kukira di alam baka arwah mamah tentu tak benci lagi kepadamu,"

Sahut Kong-he. Dalam celah-celah wajah yang basah air mata itu, berserilah cahaya kegirangan.

"Baik, puaslah hatiku sekarang. Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk kita tinggali lama-lama, lebih baik kita lekas pergi dari sini. Aku mempunyai tempat untuk kalian berteduh, apakah nona ini Pada saat itu barulah Ki Seng-in sempat menanyai Tiok Ceng-hoa.

"Namaku Tiok Ceng-hoa, aku mengangkat saudara dengan Kong-he. Aku girang sekali Kong-he yang sudah sebatang kara berjumpa dengan bibinya,"

Kata Cenghoa. Mendengar ucapan itu, Ki Seng-in dapat menyingkap hati si dara. Melihat Ceng-hoa seorang dara yang cantik, diam-diam Ki Seng-in girang sekali, ujarnya dengan tertawa.

"Tidak, sekarang dia sudah punya dua keluarga."

Ceng-hoa tertegun, sesaat dapat menangkap siapa yang dimaksud dengan keluarga yang satunya itu, merahlah wajah Ceng-hoa.

Setelah itu Ki Seng-in segera mengajak kedua anak muda itu pergi, tetapi seketika itu juga terdengar kesiur angin melayang di atas penglari rumah.

Ki Seng-in terkejut dan cepat menarik kedua anak muda itu, bisiknya.

"Ikutlah di belakangku, lompat keluar dari jendela. Ada tetamu malam masuk rumah ini."

Setelah memadamkan lampu, sambil mendorong daun jendela, Ki Seng-in menyiapkan serangkum Bwe-hoaciam. Menyusul terdengarlah jerit orang mengaduh. Setelah melompat keluar jendela, Ki Seng-in berseru.

"Jian-jiukoan-im berada di sini. Siapa yang tak takut mati, silakan maju!"

"Jian-jiu-koan-im sungguh tak bernama kosong, tetapi sayang hanya mampu melukai dua orang bawahanku saja. Hehe, aku Ho Lan-bing berada di sini, mana kau dapat melarikan diri?"

Terdengar suara sahutan orang. Menyusul itu terdengar lain suara.

"Jian-jiu-koan-im, sungguh beruntung dapat bertemu di sini! Tempo hari kau dapat melukai Loktoakoku, sekarang aku Yo-loji juga ingin menerima pelajaran darimu!"

Di bawah cahaya rembulan remang, tampak empat orang berbaris tegak di halaman.

Yang seorang Ho Lanbing, yang kedua Yo Tun-hou dan dua orang lagi ialah perwira barisan Gi-lim-kun.

Yang terkena jarum dan rebah di tanah mengenakan pakaian pegawai kantor residen, tentulah pegawai pemerintah kota Po-ting-hu.

Rumah Li Bun-sing disegel kantor pemerintah kota Poting, maka Ho Lan-bing dan kawan-kawan harus diantarkan dua pegawai kota Po-ting untuk melakukan penyergapan.

Mereka berdua berkepandaian rendah dan belum kenal siapa Ki Sing-in, akibatnya merekalah yang harus menerima persen jarum Bwe-hoa-ciam.

Sebenarnya Ki Seng-in belum mendengar berita tentang suaminya yang telah ditangkap, tetapi ia tahu bahwa rombongan kuku garuda yang mengejar Utti Keng di Siam-kam itu dikepalai oleh Ho Lan-bing.

Ketemu musuh lama, merahlah mata Ki Seng-in, ia melolos Jwanpian, lalu berseru.

"Ho Lan-bing, kau tak datang kemari, aku pun memang hendak mencarimu. Kau apakan suamiku itu?"

Ho Lan-bing tertawa mengejek.

"Belum mati dan tak terluka. Kupelihara dia baik-baik, maka silakan kau nyanyikan lagu 'Perjumpaan sepasang suami istri', tetapi kau harus kenal gelagat, kalau tidak, hehe, salah-salah akan kujadikan kau seorang janda nanti!"

Ki Seng-in murka sekali.

"Lihat serangan!"

Kim-sijwan-pian secepat kilat disabetkan.

"Ai, cepat sekali. Apa kau sungguh ingin menjadi janda?"

Ho Lan-bing mengejek sembari mengangkat Kong-pian untuk menangkis.

Ceng-hoa dan Kong-he maju menyerbu, tetapi segera disambut oleh Yo Tun-hou dan kedua perwira Gi-lim-kun itupun menghunus senjatanya juga.

"Yo-loji, ringkuslah kedua anak itu agar Jian-jiu-koanim tak mengatakan kita menghina kaum wanita. Dan kalian berdua, masuklah ke dalam melakukan penggeledahan. Coba lihat apakah masih ada konconya lagi,"

Ho Lan-bing memberi perintah kepada kedua perwira.

Yo Tun-hou sudah tahu kelihaian Jian-jiu-koan-im, Ho Lan-bing tak menyuruhnya membantu, itu sungguh kebetulan sekali.

Yang diurusnya hanyalah dua anak kemarin sore, ia anggap tentu mudah untuk membereskan.

Cepat ia gunakan ilmu tangan kosong Toa-kim-na-jiu untuk menangkap Ceng-hoa dan Kong-he, dan kedua perwira itu segera melakukan perintah Ho Lan-bing.

Yo Tun-hou merangsek dengan kedua tangannya, tangan kiri hendak mencengkeram bahu Kong-he, tangan kanan menotok siku lengan Ceng-hoa.

Terhadap Kong-he ia gunakan jurus maut, terhadap Ceng-hoa ia berlaku murah, ini disebabkan karena melihat Ceng-hoa seorang dara yang cantik gilang-gemilang.

Ingin ia menawannya hidup-hidup untuk dipersembahkan pada salah seorang pangeran kerajaan yang mempunyai pengaruh besar.

"Bagus!"

Seru Ceng-hoa.

Sekali putar pedangnya ia menusuk tiga jurusan, pergelangan tangan, lengan dan iga.

Sekali serang tiga sasaran, lihainya bukan kepalang.

Kejut Yo Tun-hou tak kepalang, ia tak menyangka sama sekali bahwa dara yang begitu cantik ternyata sedemikian lihainya.

"Tring", terpaksa ia ganti gaya serangan untuk menotok pedang Ceng-hoa dengan jari tengahnya.

"Cakarmu kutung!"

Kong-he berseru sembari menebas.

Karena sedang sibuk menghadapi serangan Ceng-hoa itu, terpaksa Tun-hou memutar tubuh dengan menggunakan gerak Ih-sing-hoan-wi untuk menghindari.

Li Kong-he hendak membalas sakit hati tempo hari.

Mendapat angin, ia maju mendesak.

"Budak kecil, kau sudah bosan hidup?"

Bentak Yo Tunhou seraya merubah cengkeraman dengan pukulan.

Seketika Kong-he merasakan dadanya sesak, tubuhnya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Ceng-hoa terperanjat dan maju menyerang untuk menghalangi Yo Tun-hou.

Meskipun dalam kalangan Ki-lian-sam-siu, Yo Tun-hou termasuk nomor dua, tetapi kepandaiannya nomor satu.

Memang Ceng-hoa dan Kong-he cukup hebat, tapi mereka tetap kalah dari Yo Tun-hou.

Untung Kong-he seorang pesakitan negara yang harus ditangkap hidup, jangan sampai dibunuh.

Dengan begitu Yo Tun-hou pun tak berani kelewat ganas.

Ho Lan-bing adalah wakil komandan Gi-lim-kun, dia tokoh terkemuka dalam pasukan Gi-lim-kun, jauh lebih lihai dari Tun-hou.

Setelah menerima serangan beberapa jurus dari Ki Seng-in, timbullah kemarahannya.

Ia tertawa gelak-gelak.

"Sungguh beruntung sekali dapat berjumpa dengan ahli pian, rupanya kita sepasang tandingan yang setimpal. Baik, aku hendak melayanimu dengan sungguh-sungguhi"

Ki Seng-in marah juga mendengar hinaan itu, ia mainkan Jwan-pian sedemikian rupa, khusus mengarah jalan darah lawan.

Jurus-jurus yang dilancarkan merupakan serangan maut, namun dengan Kong-pian, Ho Lan-bing dapat menghalau serangan-serangan itu semua.

"Jian-jiu-koan-im, mengapa kau tak kenal kasihan sama sekali? Untung aku tak sampai kena!"

Ia tertawa mengejek.

Keduanya sama-sama menggunakan senjata pian, tetapi jurus permainannya berbeda.

Yang digunakan Ki Seng-in ialah Kim-si-jwan-pian atau ruyung dari kawat emas.

Sedang Ho Lan-bing memakai Cui-mo-kong-pian atau pian baja.

Pian dari Ki Seng-in lebih lincah, tetapi pian Ho Lan-bing lebih keras, yang satu lunak yang satu keras.

Sayang Ki Seng-in tak dapat mengembangkan ilmu 'dengan kelemasan menundukkan kekerasan'.

"Ilmu pianmu tak menang dari aku, perlu apa bertempur terus? Mari kuajak .kau menemui suamimu. Heh, mengapa kau masih menyerang? Apakah kau benar-benar ingin menjadi janda? Hai, benarlah! Memang Utti Keng si jelek itu tak sembabat menjadi suamimu, kau tak mau melihatnya lagi, bukan?"

Ho Lan-bing tertawa mengolok-olok.

"Bangsat anjing, rasakan kelihaianku!"

Bentak Ki Sengin, tahu-tahu tangan kirinya sudah mencekal sebilah pedang pendek.

Dengan pedang di tangan kiri dan pian di tangan kanan, ia menghajar Ho Lan-bing sederasderasnya.

Ki Seng-in bergetar Jian-jiu-koan-im atau dewi Koan-im seribu tangan.

Dan digelari juga sebagai Piankiam-siong-ciat atau jago pedang dan pian.

Biarpun Ho Lan-bing lebih tinggi kepandaiannya, namun dengan serangan dua macam senjata yang dimainkan secara luar biasa, terpaksa wakil komandan Gi-lim-kun terdesak, hanya dapat bertahan tak mampu balas menyerang.

Sekalipun begitu juga tak mudah bagi Ki Seng-in untuk mengalahkan sang lawan.

Dan celakanya, pada saat Ki Seng-in berada di atas angin itu, di sana Ceng-hoa dan Kong-he kelabakan ditekan Yo Tun-hou.

Pada saat Ki Seng-in mendesak Ho Lan-bing, Yo Tunhou pun dapat menampar ke samping pedang Ceng-hoa, kemudian hendak mencengkeram bahu Kong-he.

Pada waktu cengkeramannya akan berhasil, tiba-tiba sebuah jurus Hwe-hong-soh-liu (angin berkisar menyapu pohon Liu), Ki Seng-in mencambuk ke belakang.

Serangan itu datangnya dari jarak dekat dan secara tak terduga-duga, dalam kejutnya Yo Tun-hou berusaha mengapungkan tubuh untuk menghindar, namun tak urung kakinya kena sabet dan jatuhlah ia terkapar di tanah.

Tetapi Ki Seng-in pun menderita, pada saat ia membalikkan tangan mencambuk ke belakang, Ho Lanbing pun melompat menerjang dengan piannya.

Ki Sengin bukannya tak tahu akan resiko itu, tetapi untuk menolong kedua anak itu, terpaksa ia harus menempuh bahaya itu.

Sabetan Kong-pian Ho Lan-bing tak dapat dihindari lagi, ia masih mencoba menangkis dengan pedang pendeknya, tapi tenaganya kurang.

"Tring", punggung tangan Ki Seng-in tergurat berdarah. Untuk itu sebenarnya ia harus merasa bersyukur.

"Bibi!"

Rasa kejut dan haru mendorong Kong-he untuk maju menggempur Yo Tun-hou.

Yo Tun-hou menggunakan gerak Le-hi-ta-ting atau ikan lele meletik, tapi tak urung tulang betisnya kena.

Lukanya lebih parah daripada Ki Seng-in,.

jago Ki-lian-sam-siu itu mempunyai ilmu kebal, meskipun terluka tetapi tulangnya tak sampai patah.

Adalah karena memikirkan keselamatan Ki Sengin, maka Kong-he dan Ceng-hoa telah melepaskan kesempatan bagus untuk melukai Yo Tun-hou.

"Lekas merapat, hati-hati menghadapi musuh!"

Seru Ki Seng-in dengan suara serius.

Saat itu ia sudah dapat memperbaiki posisi tubuhnya dan mulai memainkan kedua senjatanya, pian dan pedang pendek.

Pian untuk menyerang jarak jauh dan pedang untuk menjaga jarak dekat, dengan begitu dapatlah ia melindungi kedua anak itu dari serangan kedua Ko-chiu itu.

Walaupun pihaknya tetap lebih lemah, namun dapat juga Ki Seng-in memberi perlawanan.

Pada saat itu keluarlah kedua serdadu Gi-Iim-kun yang diperintah menggeledah ke dalam rumah tadi, mereka melapor pada Ho Lan-bing bahwa di dalam tiada terdapat barang seorang pun juga.

"Baik kalau begitu, kalian bantu meringkus kedua bocah itu. Hari segera terang tanah, kita tak boleh lamalama di sini!"

Karena harus menyudahi pertempuran itu, terpaksa Ho Lan-bing tak menghiraukan kedudukannya sebagai wakil komandan pasukan Gi-lim-kun lagi.

Kedua perwira itu kepandaiannya lebih lemah dari Yo Tun-hou, tetapi juga cukup berbahaya, paling tidak mereka dapat menghadapi kedua anak muda itu.

Kedua perwira itu yang saru menggunakan rantai Lian-cu-jui dan yang satu tongkat besi, sebuah senjata yang berat.

Mereka menyerang Kong-he dan Ceng-hoa, tapi tak berani mendekati Ki Seng-in.

Ditekan oleh kedua jago tangguh, Ki Seng-in tak sempat lagi membagi tenaganya untuk membantu Konghe dan Ceng-hoa.

Mereka masih muda, tenaganya belum penuh.

Sebenarnya mereka sudah tercecar, apalagi lawan ketambahan dua tenaga pula.

Tengah terjepit dalam keadaan berbahaya, mata dan telinga Ki Seng-in yang selalu memperhatikan empat penjuru tiba-tiba mendengar di atas rumah ada angin berkesiur.

Bercekatlah hati Ki Seng-in, yang dihadapinya itu saja sudah berat apalagi kalau sampai datang bala bantuan musuh.

Tetapi ia sudah membulatkan tekad, daripada menerima hinaan lebih baik gugur saja.

"Siapakah yang datang itu? Lekas beritahukan namamu!"

Tiba-tiba Ho Lan-bing berteriak. Rupanya ia juga mendengar kesiur angin itu, tetapi tak tahu kawan atau lawan yang datang. Sesosok tubuh melompat turun, serentak memaki dengan keras.

"Kawanan anjing buduk, kamu berani menghina kaum wanita di dalam rumah saudaraku!"

Mendengar suara orang itu, girang Kong-he bukan kepalang, serunya.

"Paman Lim, kau datang!"

"He-tit, kaukah?"

Orang itupun berseru kaget. Karena berteriak itu, Kong-he menjadi agak lengah.

"Tring", goloknya terpental ke udara oleh sambaran rantai si perwira.

"Berhenti! Kalau tidak, akan kucincang tubuhmu!"

Tiba-tiba pendatang itu membentak.

Karena bentakan itu, rantai di tangan kiri si perwira tak mengenai sasaran, dengan demikian Kong-he dapat menyelinap lolos.

Pendatang itu segera maju untuk merintangi kejaran si perwira.

Kejut Ho Lan-bing lebih besar dari perwira itu, karena ia tahu siapa pendatang itu, namun ia masih menegas.

"Apakah yang datang Lim-kaucu?"

"Benar! Bukankah kalian hendak mencari aku? Sekarang aku datang sendiri, jika mampu tangkaplah aku!"

Sahut orang itu yang memang Lim Jing adanya.

Mimpi pun tidak Ho Lan-bing bahwa Lim Jing berani muncul di kota Po-ting, diam-diam ia menyesal mengapa tak menyiapkan anak buahnya yang lihai untuk menangkapnya.

Kedua perwira itu belum kenal siapa Lim Jing, melihat orang hanya bertangan kosong, maka timbullah keinginan mereka untuk menangkapnya.

Jika dapat menangkap ketua Thian-li-kau, tentulah akan mendapat pahala besar, serempak kedua perwira itu maju menyerang.

Waktu rantai bandringan melayang ke muka Lim Jing, ketua Thian-li-kau membentaknya.

"Roboh!"

Ia menghindar terus menyambar rantai.

Perwira itu sertamerta roboh bermandikan darah.

Setelah merampas rantai, Lim Jing segera mempermainkannya, perwira yang menggunakan tongkat segera menjerit roboh dan kepalanya pecah.

Lim Jing menjemput golok pusaka Kong-he, dengan mendongak ke langit ia tertawa keras.

"Li-hiante, kau telah dicelakai kawanan anjing alap-alap. Sekarang -engkoh akan membalas sakit hatimu dengan golokmu ini, agar arwahmu mengaso dengan tentram di alam baka!"

Perwira yang memakai rantai bandringan tadi tak begitu parah lukanya, waktu ia hendak merayap bangun, tahu-tahu kepalanya sudah menggelinding. Ilmu golok Lim Jing bukan olah-olah cepatnya.

"Ki-temoay, mundurlah!"

Teriak Lim Jing kepada Ki Seng-in.

Nyonya itu segera mundur, ia cukup tahu sampai dimana kelihaian ketua Thian-li-kau itu, tak perlu ia membantunya.

Melihat sekali gebrak Lim Jing dapat membunuh dua orang perwiranya, kuncuplah nyali Yo Tun-hou.

Diamdiam ia sudah merencanakan untuk lolos.

Pada saat Lim Jing berganti tempat dengan Ki Seng-in, Yo Tun-hou segera kabur.

Dalam beberapa kejap saja ia sudah melompat ke atas pagar tembok.

"Paman Lim, jangan biarkan bangsat itu kabur! Dia adalah musuhku!"

Teriak Kong-he.

"Tak nanti dia mampu!"

Sahut Lim Jing yang segera melontarkan sebuah pukulan seraya membentak.

"Turun!"

Yo tun-hou baru saja naik ke atas tembok, tiba-tiba ia merasa didorong oleh sebuah tangan kuat yang tak kelihatan.

Tak ampun lagi ia terdorong jungkir-balik.

Berbareng itu senjata rahasia Ki Seng-in pun menembus tubuhnya, dengan begitu tak dapat ia bernapas lagi ....

Habis mengirim pukulan, Lim Jing segera menerjang Ho Lan-bing sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, kepandaian Ho Lan-bing lebih unggul dari Yo tun-hou.

Biar bagaimanapun ia tak mau menyerah, ia pun segera mengeluarkan ilmu pian, Utti-pian-hoat dari pusaka keluarganya.

Pat-hong-ih-hwe-tiong-ciu atau hujan angin empat penjuru bertemu di Tiong-ciu, demikian jurus yang dimainkan Ho Lan-bing.

Pian gelombang demi gelombang mendampar dengan hebat.

"Apakah kau sudah mengeluarkan semua kepandaianmu?

Lihat golok!"

Lim Jing tertawa mengejek. Dan pada lain saat ia membentak.

"Kena!"

Dari curahan hujan pian yang gencar, ia menerobos maju.

Ho Lan-bing berteriak keras, tubuhnya melesat keluar.

Kiranya bahu wakil komandan Gi-lim-kun itu terkena bacokan, tetapi sekalipun begitu dia masih lihai.

Larinya menjurus ke arah Li Kong-he, saat itu Kong-he sedang tercengang melihat permainan Lim Jing, ia tak mencekal senjata karena goloknya dipakai Lim Jing.

"Celaka!"

Ki Seng-in mengeluh dan buru-buru melindungi anak itu. Lim Jing sebenarnya sudah bersiap siap kemungkinan lawan berbuat begitu, ia bergerak mendahului untuk melompat ke samping Kong-he.

"Apa kau masih mau unjuk keganasan? Fui, mau lari kemana kau!"

Di luar dugaan Ho Lan-bing berganti arah, sekali melompat ia naik ke tembok.

Kiranya ia menggunakan apa yang disebut Seng-tang-ki-se atau suara di timur menerjang ke barat.

Ia pura-pura hendak meringkus Kong-he untuk memancing Lim Jing dan Ki Seng-in ke situ, setelah itu barulah ia lolos.

Tahu tertipu, Lim Jing melontarkan sebuah pukulan seperti ia berbuat terhadap Yo-Tun-hou tadi.

Ho Lan-bing menjerit dan mengapungkan tubuh setombak tingginya, berjumpalitan di udara lalu melayang turun keluar tembok.

Ki Seng-in tak dapat melontarkan senjata rahasia, lalu melompat ke tembok, tetapi ternyata Ho Lan-bing sudah lari.

Dengan kuda pilihannya memang sukar untuk mengejar wakil komandan Gi-lim-kun itu.

Pukulan Lim Jing memang dahsyat, tetapi kepandaian Ho Lan-bing pun bukan seperti Yo Tun-hou.

Dengan begitu walaupun terluka, tetap jago istana itu masih dapat melarikan diri.

Lim Jing membesut darah pada goloknya, lalu menyerahkan kembali kepada Kong-he.

"Anak baik, tiga tahun tak berjumpa kepandaianmu sudah maju pesat. Baik-baiklah kau memakai golok pusaka tinggalan mendiang ayahmu ini!"

Kong-he menerima golok pusaka itu dengan berlinang air mata, mulurnya tak dapat mengucap apa-apa, Lim Jing segera mengajak mereka keluar.

Kala itu sudah hampir jam 3 pagi, tetapi pintu kota masih belum dibuka.

Po-ting adalah ibukota propinsi Ciat-lim, tembok kota tak kurang dari 4-5 tombak tingginya, Ceng-hoa dan Konghe tak mampu melompat ke atasnya.

"Biar kubukakan jalan, mari ikut aku naik,"

Lim Jing tertawa.

Sebenarnya ia dapat melompat ke atas, tetapi ia hanya menggunakan ilmu Bik-hou-ba-jiang atau cecak merayap tembok, dengan tangan menempel tembok ia merayap naik.

Tiap 5-6 depa, ia tusukkan jarinya membuat lubang pada tembok agar anak-anak itu dapat berpegangan.

Tiok Ceng-hoa kagum, bisiknya.

"Pamanmu Lim sungguh hebat sekali. Dia menggunakan ilmu Toa-lateng-jiau-kang, sedikitpun tak menggunakan tenaga. Ayah pun demikian juga."

Demikianlah setelah keluar dari kota Po-ting, keempat orang itu segera menggunakan ilmu lari, dalam sekejap saja sudah mencapai 10-an li lebih. Hari pun mulai terang. Katalah Lim Jing.

"Bagus, sekarang kita berjalan agak lambat. He-ji, apakah kau tahu berita tentang adikmu, To-kan?"

Kong-he pun menyahut dengan sedih.

"Aku bertemu di tengah jalan. Eh, tidak, dia berada dalam karung, aku belum pernah melihatnya, tetapi aku dengar suaranya memanggil aku dari dalam karung. Sayang aku tak becus menolongnya."

"Mengapa ia berada dalam karung?"

Lim Jing heran. Kong-he menceritakan tentang peristiwa Nyo Hoan menculik To-kan.

"O, kiranya dia diculik anjing alap-alap? Jadi kau mengira ia dibawa ke kotaraja hingga kau hendak menolongnya ke kotaraja juga?"

"Ya, meski kepandaianku dangkal, tetapi kuketahui bahwa Suhuku, Kang hay-thian, juga berada di kotaraja. Paman Lim, tahukah kau akan Suhuku?"

"Belum pernah berjumpa, tetapi Kang-tayhiap melepas budi padaku, aku pun tahu."

Karena belum tahu peristiwa di Cong-liong poh, Konghe hendak menanyakan, tetapi Lim Jing sudah mendahului.

"Siapa nama nona ini? Apakah datang bersamamu?"

Setelah memberitahukan nama Tiok Ceng-hoa, Konghe menyatakan bahwa nona itu adalah Taci angkatnya.

"Apakah ayah nona adalah Tiok-cianpwe Tiok Sianghu?"

Tanya Lim Jing.

"Darimana kau tahu, Lim-kaucu?"

Ceng-hoa heran. Lim Jing tertawa, katanya.

"Kulihat kepandaian nona tadi bukan sembarangan, tentulah ajaran ayahmu. Kemasyhuran nama ayahmu sudah lama aku mendengarnya."

Kiranya sewaktu Ceng-hoa dan Kong-he bisik-bisik membicarakan kepandaian Lim Jing dibandingkan dengan ayahnya (Tiok Sing-hu), Lim Jing telah dapat mencuri dengar.

"Setelah ayah binasa, aku menerima budi Tioklocianpwe, tinggal setahun lebih di rumahnya,"

Kata Kong-he.

"Ah, peruntunganmu memang besar. Kau mendapat seorang ayah angkat seorang tokoh luar biasa dan menjadi murid Kang Hay-thian, tokoh nomor satu di dunia persilatan,"

Kata Lim Jing.

"Tetapi sampai saat ini aku belum pernah melihat Suhuku."

"Eh, aneh. Mengapa?"

Kong-he segera menuturkan peristiwa selama ini.

"O, kiranya begitu, maka kau tak menghiraukan bahaya datang ke kotaraja hendak mencarinya,"

Kata Lim Jing. Kemudian katanya kepada Ki Seng-in.

"Ki-temoay, mengapa kau juga berada di Po-ting. Hendak kemana saja? Kabarnya kau sudah berumah tangga di Kwan-gwa, Moayhu (adik ipar) mengapa tidak ikut?"

"Adik iparmu itu juga ditawan kuku garuda, entah hidup entah mati? Aku pun hendak ke kotaraja untuk mencari beritanya,"

Jawab nyonya itu yang lalu menuturkan peristiwa yang menimpa diri suami istri itu.

"Dan kau paman Lim, kemana saja kau selama beberapa tahun ini? Apakah juga hendak ke kotaraja?"

Tanya Kong-he.

"Tahun pertama aku bersembunyi di Cong-liong-poh, kemudian setelah Cong-liong-poh dibakar, aku mengembara kemana-mana tanpa tujuan."

"Hai, jadi Cong-liong-poh sudah dibakar? Bagaimana dengan paman Tio?"

Kong-he kaget.

"Untung bisa melarikan diri bersama aku, setelah itu baru Cong-liong-poh dibakar. Kabarnya waktu pembakaran itu Kang-tayhiap kebetulan datang ke Cong liong-poh. Adikmu To-kan yang masih berada dalam Cong-liong-poh kabarnya juga ditolong oleh Kangtayhiap. Berita ini kudapat dari seorang desa yang juga binasa karena kebakaran itu. Tapi bagaimana sebenarnya, aku pun juga belum mengetahui,"

Kata Lim Jing.

Kong-he baru jelas bahwa apa yang dikatakan Lim Jing soal hutang budi pada Kang-Hay-thian ternyata tentang hal itu, kemudian Kong-he mengajak paman Lim Jing bersama-sama ke kotaraja.

Pertama, dapat bertanya jelas pada Kang Hay-thian dan kedua, bisa membantu bibi Seng-in menolong suaminya.

"Memang aku hendak ke kotaraja, tetapi aku kuatir tak ada waktu mencari Suhumu. Mudah-mudahan bisa ketemu saja,"

Kata Lim Jing.

"O, jadi paman Lim masih ada urusan penting lain?"

Tanya Kong-he.

"Memang ada urusan penting yang memerlukan kedatanganku ke sana, Ki-temoy, mungkin urusan itu secara tak langsung akan membantumu menolong Moayhu. Ayo, kita berangkat,"

Kata ketua Thian-li-kau itu.

Sebagai seorang persilatan, Ki Seng-in cukup mengerti peraturan, ia bukan orang Thian-li-kau, sudah tentu tak mau banyak bertanya.

Sebelum berangkat, Lim Jing menyuruh Kong-he membasuh mukanya yang tak keruan itu.

Kemudian dengan nada serius Lim Jing memberi pesan.

"Di dalam kotaraja banyak sekali telinga dan mata kerajaan. Penjagaan di sana ketat sekali, jauh berbeda dengan di Po-ting, tetapi jangan harap kau dapat berbuat begitu di kotaraja."

Kong-he tertawa meringis, ia meminta paman itu suka memberi petunjuk, Lim Jing menyanggupi akan mengusahakan.

Po-ting hanya terpisah 300-an li dari kotaraja.

Dengan berjalan, pagi berangkat tengah malam tibalah sudah mereka di luar kotaraja, di sebuah dusun yang terletak 50 li dari kotaraja.

Di situ sudah ada beberapa orang yang menyambut kedatangan Lim Jing.

Keesokan harinya Lim Jing memberi Kong-he ganti satu stel pakaian bagus, menyuruh dia menjadi seorang putra hartawan.

Sedang ia (Lim Jing) sendiri menyaru menjadi perwira dari luar daerah yang mengunjungi kotaraja, sedangkan empat' orang lagi menyaru jadi pengiring.

Mereka naik empat buah tandu, masuk ke kotaraja.

Benar juga penyaruan itu telah dapat mengelabui mata kawanan kuku garuda, bahkan ke-16 anggota Thian-li-kau yang menyaru jadi tukang pikul tandu pun lolos dari pengawasan mereka.

Dalam kotaraja terdapat cabang partai Thian-li-kau, tempatnya di sebuah gedung besar bekas milik seorang hartawan, kamarnya beberapa puluh buah.

Lim Jing menempatkan Kong-he di sebelah kamarnya, Ki Seng-in dan Ceng-hoa menempati kamar dalam.

Lim Jing berpesan pada mereka jika tak perlu jangan sekali-kali keluar rumah.

Selama itu Kong-he lihat setiap hari tentu ada orang yang datang menemui Lim Jing dan berunding, tahu akan peraturan partai, Kong-he pun tak mau bertanya.

Setiap Lim Jing menemui tetamu, Kong-he tentu pergi ke dalam mencari Ceng-hoa.

Dia seorang anak, jadi tak sungkan bermain dengan anak perempuan.

Diam-diam Kong-he menduga, bahwa ditilik dari kesibukan Lim Jing dan orang-orang itu, tentulah mereka tengah mempersiapkan rencana yang hebat.

Pada hari itu Lim Jing meminta kedatangan Ki Seng-in, katanya.

"Aku sudah menerima berita yang boleh dipercaya, Moayhu disekap dalam penjara besar Thian-lo. Pembesar-pembesar anjing itu hendak memaksanya supaya memberi keterangan tentang harta benda yang dirampasnya selama bertahun-tahun, di antaranya yang penting ialah Cu-kwan (kopiah mutiara) dari istana. Selama mereka belum memperoleh pengakuan dari Moayhu tentang barang-barang itu, tentulah takkan bertindak ganas kepada Moayhu."

Mendengar keterangan itu, legalah hati Ki Seng-in, tetapi jika membayangkan betapa kejam para petugas dalam mencari pengakuan seorang pesakitan, mau tak mau bergidiklah bulu roma Ki Seng-in.

"Selama dalam penjara tentu dia mengalami siksaan hebat, entah bagaimana dengan kesehatan badannya?"

Tanyanya.

"Terus terang"

Lim Jing memberi keterangan.

"Untuk mendapat pengakuan, kawanan pembesar anjing itu sudah tentu melakukan segala macam siksaan, tetapi janganlah kau kuatir. Moayhu hanya mendapat luka luar saja."

"Masakah begitu enak?"

Tanya Ki Seng-in.

"Moayhu cerdik sekali, ia menggunakan akal untuk mempedayai mereka. Di depan pengadilan, sepatah pun ia tak mau mengatakan, tetapi di dalam penjara ia diamdiam membisiki para petugas di situ tentang tempat penyimpanan harta rampasannya. Sudah tentu tempat yang tak begitu penting, ia suruh petugas itu mengambil dan membagi rata pada semua kawan-kawannya. Dengan mendapat kebaikannya itu sudah tentu para petugas penjara tak berani membikin susah padanya. Alat siksaan apapun yang digunakan itu, semua telah dilatih dengan seksama. Memang pada waktu di depan pembesar, Moayhu mendapat siksaan, tetapi yang luka hanya kulitnya saja. Apalagi Moayhu mempunyai kepandaian lihai, sudah barang tentu makin tak menjadi soal. Dan karena rakus supaya diberi bagian lagi, petugas-petugas penjara itu melayani Moayhu luar biasa baiknya. Hidangannya terdiri dari ikan dan daging yang lezat-lezat!"

"Ya, meskipun demikian aku tetap akan menolongnya keluar baru pikiranku lega,"

Kata Ki Seng-in.

"Sudah tentu, tetapi penjagaan penjara itu luar biasa ketatnya. Sejak moayhu dimasukkan ke dalam penjara, penjagaan di situ diperkuat dengan beberapa Ko-chiu istana, maka kuharap kau suka bersabar sedikit, jangan sembarangan merampas penjara, tetapi jangan kuatir lambat-laun kita tentu akan menolong Moayhu!"

Lim Jing menghibur nyonya itu. Setelah itu berkatalah Lim Jing kepada Kong-he.

"Aku pun telah menyuruh orang mencari berita tentang Suhumu, tetapi sampai sekarang belum mendapat kabar apa-apa. Kulihat dalam beberapa hari ini kau murung saja, apakah kau hendak mencari Suhumu?"

"Kulihat paman begitu sibuk, ingin sekali kudapat membantu sedikit. Jika aku boleh keluar "Setelah pertempuran di Po-ting itu, memang kawanan anjing alap-alap dalam kotaraja tampak sibuk, tetapi setelah dalam beberapa hari ini tiada terdapat gerakan apa-apa, dalam dua hari ini memang agak longgar. Tak apa, kau boleh keluar mencari angin sana. Jika seseorang tak mendapat ujian kesulitan, memang sukar menjadi orang."

Sejak itu Kong-he sering keluar melakukan sesuatu untuk Lim Jing, misalnya mengantar surat atau menemui seorang.

Sudah tentu Lim Jing tak mau membiarkan dia keluar seorang diri dan menyuruh seorang Thaubak menyertainya.

Thaubak itu bernama Te Kun, orang kelahiran kota itu.

Tak terasa sudah 10-an hari lebih, rencana besar yang dirancang Lim Jing itu masih belum dilaksanakan, juga gerakan menolong Utti Keng dari penjara belum juga dilakukan.

Ki Seng-in gelisah sekali, tetapi tak dapat berbuat apa-apa.

Ada kalanya ia mengeluarkan isi hatinya pada Kong-he.

Tetapi Kong-he cukup paham akan perangai paman Lim itu, sekali paman itu menyanggupi, tentu akan mengerjakan sampai selesai.

Pada suatu pagi, ketika Kong-he hendak mengajukan soal itu kepada paman Lim Jing, Lim Jing sudah mengangsurkan sepucuk surat kepadanya dan menyuruh dia mengantarkan.

Kala itu Lim Jing sibuk sekali dan melayani beberapa orang tetamu, Kong-he pun tak mau mendesak.

Penerima surat itu ialah seorang yang tinggal di bagian timur kota.

Waktu Kong-he dan Te Kun mengantar, kala itu sudah tengah hari.

Pulangnya mereka melalui Tho-yan-thing, sebuah tempat tamasya yang indah di dalam kotaraja.

Hiang-hui-tiong atau makam permaisuri raja, terletak di dekat Tho-yan-thing itu.

Permaisuri Hiang-hui, seorang wanita cantik dari suku Hwe, ditawan kaisar Kian Liong tetapi tak mau menurut dan meninggal.

Negara asal Tiok Siang-hu, bertetangga dengan daerah Hwe.

Karena sewaktu berada dalam rumah keluarga Tiok, Kong-he pernah mendengar cerita tentang permaisuri itu, maka ingin juga ia melihat makamnya.

"Jika kau hendak menikmati pemandangan indah, kau tentu kecele,"

Kata Te Kun.

"tetapi dalam tempat pesiar itu ada juga warung arak, boleh juga kita masuk minumminum."

Kiranya yang disebut makam Hiang-hui-tiong itu ternyata segunduk tanah belaka, malah kalah dengan kuburan orang biasa, tetapi karena disohorkan sebagai tempat pesiar, banyak juga orang yang berkunjung, maka orang pun membuka juga warung minuman.

Karena kecele dengan apa yang disaksikan, Kong-he dan Te Kun pun lalu minum teh di warung.

Ada beberapa tetamu di situ, antaranya seorang tetamu yang datang sendirian, seorang pemuda berumur 20-an tahun.

Anehnya pemuda itu rupanya menaruh perhatian akan pembicaraan Kong-he dan Te Kun, tempo-tempo melepas lirikan mata juga kepada orang tua itu.

Te Kun seorang Kangouw yang berpengalaman, cepat sekali gerak-gerik pemuda itu menarik perhatiannya, la bertanya bisik-bisik pada Kong-he.

"Pernahkah kau melihat orang itu?"

Kong-he menyatakan belum pernah.

Kuatir jangan-jangan pemuda itu golongan mata-mata musuh, maka cepat Te Kun memanggil pelayan supaya menghitung bayarannya, tetapi pemuda itu sudah mendahului menghampiri ke tempat Te Kun dan Konghe.

"Engkoh kecil, apakah kau orang she Li?"

Tegurnya. Kong-he terkejut, ia tak kenal pada pemuda itu, tetapi agaknya ia pernah mendengar nada suaranya. Karena melihat sikap orang bersungguh-sungguh, ia pun menjawab.

"Kalau ya bagaimana, kalau tidak bagaimana?"

Pemuda itu setengah berbisik berkata.

"Di sini banyak orang, ayo kita cari tempat yang sepi."

Buru-buru Te Kun menarik Kong-he dan menegur orang itu, waktu pemuda itu hendak menjawab, tiba-tiba ada seorang lelaki datang menghampiri dan menepuk bahunya.

"Eh, apakah bukan Hiong-ji ini? Sudah berapa tahun tak bertemu, apa masih kenal padaku?"

"Oh, paman Ting, sungguh kebetulan sekali,"

Seru pemuda itu. Lelaki she Ting itu tertawa.

"Bukan kebetulan, tetapi memang aku sengaja kemari menjumpaimu."

Si pemuda tertegun.

"Paman Ting, mengapa kau tahu aku berada di sini?"

Sahut lelaki itu.

"Bukankah kau menjanjikan Sat-lotoa untuk bertemu di sini? Dia tak datang, akulah yang mewakilinya."

Pada saat itu datang pula beberapa orang, setiap orang membawa senjata.

Dan tetamu-tetamu yang berada di dalam warung situ berdiri semua.

Pemuda itu tersadar, sekonyong-konyong ia mencengkeram lelaki tadi, bentaknya.

"Bagus, kiranya kau menjadi antek kerajaan!"

"Bluk", bahu orang she Ting itu terkena hantaman si pemuda, tetapi pemuda itupun tak berhasil menangkapnya. Lelaki itu bahunya berdarah, ia melompat menghindar, serunya.

"Ubun Hiong, kau bersahabat dengan kawanan pengacau akan menentang kerajaan. Jangan salahkan paman Ting tak kenal kasihan padamu!"

Sekali ia memberi isyarat tangan, tetamutetamu tadi dan beberapa opas segera menyergap pemuda itu.

Kiranya pemuda itu bukan lain adalah Ubun Hiong, murid Kang Hay-thian.

Ketika ia dan To-kan tiba di gunung Bi-san, ternyata rapat sudah bubar, dia mendengar bahwa Suhunya sudah pergi ke kotaraja, Subo (ibu guru) juga tak pulang ke Soatang.

Karena ingin lekas mendapatkan Suhunya, Ubun Hiong segera menyusul ke kotaraja.

Ia suruh To-kan menunggu saja di rumah Suhunya (Kang Hay-thian) tetapi bocah itupun tetap mau ikut, terpaksa Ubun Hiong membawanya juga.

Dulu ayah Ubun Hiong adalah Piauthau (pemimpin) perusahaan Tin-wan-piau-kiok, di Pakkhia mempunyai banyak sahabat.

Karena sejak kecil hidup di kotaraja, maka banyak juga kenalan Ubun Hiong.

Karena saat itu ia sudah mengetahui asal-usul Lim To-kan, maka setiba di kotaraja, ia sewakan sebuah kamar untuk To-Kan dan tak berani mengajak ke rumahnya dahulu, pikirnya ia toh tak berbuat kesalahan atau melanggar peraturan pemerintah, asal ia dapat menyembunyikan To-kan, dapatlah ia bebas berkeliaran di dalam kotaraja.

Demikian setelah dua hari tiba di kotaraja, barulah ia berani keluar.

Sebenarnya Ubun Hiong bukan seorang pemuda yang cermat, tetapi apa yang dilakukan kala itu memang hatihati sekali.

Tak berani ia mencari sembarang orang orang yang dijanjikan bertemu di warung itu bernama Sat Thian-lip, bekas tenaga lama dari kantor ayahnya dahulu, ia juga sahabat baik ayahnya.

Ubun Hiong anggap orang itu boleh dipercaya, untuk menjaga kemungkinan yang tak diinginkan dan jangan sampai merembet keluarga Sat, Ubun Hiong menulis sepucuk surat, lalu menyuruh seorang anak pengemis mengantarkan kepada keluarga Sat.

Maksud Ubun Hiong hendak mencari keterangan tentang diri Suhunya pada Sat Thian-lip.

Untuk pertemuan itu ia memilih Tho-yan-thing yang sepi.

Tiba di Tho-yan-thing dan menunggu sekian lama belum juga Sat Thian-lip datang, dan di luar dugaan, yang ditemukan di situ ialah Kong-he.

Waktu Ubun Hiong di tengah jalan merampas To-kan, Kong-he sedang bertempur melawan Nyo Hoan di dalam warung arak.

Yang satu di tengah jalan, yang satu di dalam warung, maka mereka belum berjumpa, namun nada suara masing-masing dapat dikenalnya.

Dari To-kan, Ubun Hiong sudah mengetahui tentang diri Kong-he, maka setelah mendengar nada suara Konghe, buru-buru ia pun menghampirinya, tetapi sebelum melanjutkan pembicaraan, Ubun Hiong sudah diserang kawanan anjing alap-alap.

Anjing alap-alap yang menjadi mata-mata itu bernama Ting Koh, dahulu juga bekas Piauthau Tin-wan-piau-kiok.

Memang sejak bekerja dalam Piau-kiok, Ting Koh sudah banyak hubungannya dengan para pembesar negeri, tetapi karena kala itu Piau-kiok banyak mengerjakan pengiriman barang-barang dari pemerintah, maka hubungan Ting-Koh dengan pembesar-pembesar itu tak diperhatikan orang.

Siapa tahu sejak saat itulah Ting Koh mendaftarkan diri masuk menjadi antek kerajaan.

Setelah Piau-kiok tutup, ia menjadi mata-mata dari kantor gubernur Kiu-bun-te-tok.

Kebetulan sekali pada saat si bocah pengemis mengantar surat dari Ubun Hiong, Ting Koh pun sedang berada di rumah keluarga Sat.

Dan Sat Thian-lip merobek surat itu di hadapan Ting Koh, itulah sebabnya maka Ting Koh mengetahui tentang perjanjian Ubun Hiong dengan Sat Thian-lip.

Tentang hubungan Ubun Hiong dengan Kang Haythian, karena di dalam rumah Kang Hay-thian terdapat Yap Leng-hong yang menjadi mata-mata pemerintah Cing, maka sudah dilaporkan pada pemerintah pusat.

Kembali ke kantor Gi-bun, Ting Koh segera melaporkan apa yang diketahuinya.

Malam itu juga Gi-bun mengirim pasukan menangkap Sat Thian-lip.

Dan besok harinya, Ting Koh mewakili Sat Thian-lip menjumpai Ubun Hiong.

Kawanan kaki tangan pemerintah itu belum mengetahui bahwa Ubun Hiong membawa juga To-kan, tetapi bahwa To-kan sudah diterima menjadi murid Kang Hay-thian sudah diketahui oleh mereka.

Penangkapan atas diri Ubun Hiong itu maksudnya hendak mencari tahu dimana beradanya To-kan, mereka menduga yang merampas To-kan di tepi jalan tentulah sahabat Kang Hay-thian.

Mimpi pun tidak mereka sangka kalau yang melakukan hal itu ternyata Ubun Hiong sendiri.

Pada saat kawanan hamba negeri mengepung Ubun Hiong, diam-diam Te Kun mengajak Kong-he keluar, tetapi di luar dugaan Kong-he menyiak tangan Te Kun, serunya.

"Dia adalah Jisuhengku."

Dengan mencabut golok ia segera menerjang.

Dari Ki Seng-in, Kong-he sudah mendengar tentang diri Ubun Hiong, maka setelah mengetahui tentang Jisuhengnya itu, tak mau ia meninggalkannya.

Sambil menangkis serangan musuh, Ubun Hiong membentak.

"Bah, budak gila, siapa Jisuhengmu? Jangan omong sembarangan!"

Maksud Ubun Hiong hendak menghindarkan Kong-he terlibat dalam urusan itu, di samping ia memberi kisikan supaya Kong-he lekas pergi saja, tetapi kawanan anjing alap-alap itu sudah banyak pengalaman.

Mereka tahu akan maksud kata-kata Ubun Hiong tadi, kepala opas tertawa gelak-gelak.

"Sungguh tak terduga, yang hendak kita tangkap hanya ikan kecil, siapa tahu akan dapat kakap besar juga. Budak ini adalah putra Lim Jing!"

Memang mereka keliru menyangka bahwa Kong-he itu Lim To-kan, putra Lim Jing, tetapi toh sama artinya, mereka akan menangkap Kong-he.

Kong-he berhadapan melawan seorang opas yang bersenjata rantai, opas itu hendak menangkap Kong-he hidup-hidup, maka yang disabet kaki Kong-he saja.

Kong-he menggunakan jurus Kun-te-tong-to-hoat (bergelundungan di tanah), malah membabat kutung telapak kaki penyerangnya.

Kawanan anjing alap-alap yang menyergap berjumlah 8 orang, di antaranya ada 3 orang yang berkepandaian tinggi, Wi-su (pengawal) dari istana.

Sedang yang 5 orang juga opas kelas satu, tetapi berhadapan dengan murid Kang Hay-thian yang mendapat gemblengan setahun (Ubun Hiong), ketiga jago istana itu tak dapat mengatasi.

Kelima hamba opas sibuk menyergap Konghe, mereka tiada waktu untuk membantu kerepotan ketiga Wi-su itu.

Berhasil membabat kaki seorang opas, semangat Kong-he bertambah besar.

Ia segera mainkan ilmu golok Pat-kwa-to, dengan lincah menghadapi keempat pengeroyoknya.

Keempat opas itupun tak berdaya menangkapnya.

"Biar aku yang menangkap budak itu!"

Seru Ting Koh, dia adalah Piauthau tua Tin-wan-piau-kiok, kepandaiannya jauh lebih tinggi dari kelima opas itu.

Tadi bahunya kena dicengkeram Ubun Hiong, jeri terhadap anak muda itu kini ia hendak ganti pada Kong-he.

Kong-he menabas dengan goloknya, Ting Koh menggunakan tangan kosong Khong-jiu-jip-peh-jim untuk merebut golok, Kong-he miringkan tubuh menghindar.

"Bret", bajunya kena ditarik robek oleh Ting Koh. Saat itu terdengar suara orang menggerung keras, sekali bergerak Te Kun dapat menjungkir-balikkan dua orang opas, kemudian maju mengirim pukulan kepada Ting Koh. Adanya Te Kun mengajak Kong-he pergi tadi karena kuatir ketahuan dirinya hingga dapat menelantarkan urusan yang ditugaskan Lim Jing, tetapi setelah Kong-he terancam, tak mau lagi ia berpeluk tangan. Apalagi ia sudah mengetahui kekuatan lawan, ia tak menduga kalau ilmu pedang Ubun Hiong hebat sekali. Ia memperhitungkan, ia bersama Ubun Hiong saja dapat menanggulangi kawanan anjing alap-alap itu. Ting Koh kenal pada Te Kun, ia terkejut, serunya.

"Lote, kau ... kau juga ..."

Tetapi Te Kun mana mau memberi kesempatan padanya untuk menyebut namanya.

Tinjunya tadi diarahkan kepada orang, Ting Koh hendak menekuk tangannya, tetapi gelaran Te Kun ialah Peh-pohsin-kun (tangan sakti seratus langkah).

"Krak", pergelangan tangan Ting Koh patah.

"bluk", tinju Te Kun itu masih mempunyai daya untuk menjotos dada lawan. Seketika itu robohlah Ting Koh, Te Kun menginjaknya.

"krek". Amblaslah nyawa Ting Koh.

"Aku paling benci pada manusia yang menjual kawan!"

Ubun Hiong mainkan ilmu pedang Toa-si-mi-kiam, tubuhnya seolah-olah terbungkus oleh sinar pedang.

Ketiga Wi-su yang mengeroyoknya tak mampu berbuat apa-apa, dalam beberapa kejap Te Kun sudah membereskan kelima orang opas tadi.

Kini jumlah mereka berimbang, tiga lawan tiga.

Kelemahan dari Kong-he ditutup dengan kelihaian ilmu pukulan Peh-pohsin-kun dari Te Kun.

Berdua saja dengan Ubun Hiong, Te Kun sudah unggul dari ketiga Wi-su, apalagi ditambah seorang Kong-he.

Kedudukan segera berubah, dari pihak penjerang kini ketiga Wi-su itu menjadi pihak yang diserang.

Beberapa jurus kemudian, tinju Te Kun dapat merobohkan seorang Wi-su, dan pedang Ubun Hiong pun dapat melukai seorang musuh.

Wi-su yang ketiga segera melarikan diri.

"Ubun-suheng, peristiwa ini besar juga. Kau bersembunyi saja di tempat kami,"

Kata Te Kun, ia tahu bahwa Ubun Hiong adalah Suheng Kong-he, maka dipersilakannya.

"Tidak, aku hendak kembali ke tempatku saja,"

Sahut Ubun Hiong.

"Kau hendak ke sana lagi?"

Te Kun terkejut. Tiba-tiba Kong-he mendapat pikiran, tanyanya.

"Jisuko, apakah adik To-kan juga di sana?"

"Justru karena To-kan ikut, maka aku harus ke sana?"

Sahut Ubun Hiong. Mendengar itu kejut Te Kun bukan kepalang, karena ia tahu bahwa To-kan adalah putra Kaucunya.

"Apakah tempatmu sudah diketahui musuh?"

Tanyanya kaget.

"Entah, sebenarnya aku berjanji bertemu di sini dengan Sat-piauthau. Jika Sat-piauthau dan suratku jatuh ke tangan mereka, tentulah mereka akan menggeledah tempatku,"

Jawab Ubun Hiong.

Walaupun pada surat itu Ubun Hiong tak menulis alamatnya, tetapi dari bentuk suratnya dapatlah Ting Koh mencari tempat tinggalnya.

Atas pertanyaan Te Kun, Ubun Hiong menerangkan kalau ia tinggal di pondok Thiat-mo-oh-tong.

"Tempat itu memang sepi, belum tentu musuh tahu. Ayo, kita lekas ke sana, tetapi tak boleh berlaku buru-buru agar jangan menimbulkan kecurigaan orang. Ikutlah aku!"

Kata Te Kun.

Te Kun ajak mereka mengambil jalan kecil kembali ke dalam kota, setelah melalui beberapa gang, ternyata masih ada tiga buah gang lagi yang menuju ke Thiat-mooh-tong.

Di situ mereka berjumpa dengan sebuah pasukan besar, jalan yang menembus ke Thiat-mo-ohtong sudah tertutup semua, tak boleh orang lewat.

Te Kun juga cemas kalau dirinya ketahuan, hal itu akan membikin susah urusan besar dari Lim Jing.

Keadaannya juga tak kalah sulitnya dengan To-kan yang sedang disergap kawanan serdadu.

Untung di dekat situ terdapat rumah seorang anak buah Thian-li-kau.

Te Kun mengajak rombongannya bersembunyi di situ, ia minta kawan-kawannya mencari berita.

Setengah jam kemudian,' terdengar suara tambur dan berisik teriakan orang.

Dari jendela, mereka melongok ke arah jalanan sebuah kereta pesakitan sedang lewat di jalan itu, di dalam kereta terdapat seorang anak lelaki berumur 15 -16 tahun.

Siapa lagi kalau bukan Lim Tokan?

Dan yang lain ialah yang punya rumah penginapan serta keluarganya.

Dada Kong-he berombak-ombak, segera ia hendak mendorong jendela menerobos keluar.

Te kun cepat mencegahnya.

"Jangan bergerak sembarangan!"

Kong-he menggigit gigi.

"Apakah kita melihat saja adik To-kan ditangkap mereka?"

"Tentu saja tidak! Tetapi sekarang belum saatnya bergerak! Ketahuilah, bahwa Lim-kaucu sedang menyiapkan suatu gerakan yang akan menggemparkan dunia. Kita kehilangan beberapa jiwa sih tak apa, tetapi jangan sampai membikin susah tugas yang diberikan Kaucu,"

Kata Te Kun. Kong-he terbeliak, tetapi setelah itu menjadi tenang lalu bertanya.

"Habis bagaimana tindakan kita sekarang?"

"Mereka tentu hendak mengorek keterangan dari mulut Sutemu, karena itu belum mau lekas menurunkan tangan ganas. Setelah kita mendapat berita yang positif, barulah kita lapor pada Kaucu,"

Sahut Te Kun. Lewatnya kereta pesakitan selalu membawa kepanikan pada penduduk setempat. Menjelang sore, barulah ada seorang anggota Thian-li-kau yang datang memberi keterangan pada Te Kun.

"Telah kudapat berita yang boleh dipercaya. Anak itu dimasukkan dalam penjara besar, sedang pemilik rumah penginapan, karena tak punya kesalahan, setelah diperas uangnya lalu disuruh pulang."

"Bagaimana suasana di luar?"

Tanya Te Kun.

"Masih tegang, tetapi penjagaan di sebelah barat dan utara sudah dibubarkan. Kalian boleh keluar dari Ciok-huma sana,"

Kata orang itu.

Te Kun sudah menyuruh Ubun Hiong dan Kong-he berganti pakaian.

Berbareng dengan hari gelap, mereka diam-diam keluar.

Te Kun cukup paham akan jalanan dan pos-pos penjagaan, ia dapat tiba di markas tanpa mendapat halangan suatu apa.

Saat itu sudah hampir tengah malam, Lim Jing belum tidur.

Setiba di markas, mereka dapatkan ruang yang dibuat untuk berunding terang benderang.

Lim Jing dan beberapa tokoh penting dalam partai berada di situ.

Ceng-hoa pun berada di situ, tengah bicara dengan Lim Jing.

Hal itu mengejutkan Kong-he,.

Ceng-hoa bukan anggota Thian-li-kau, apalagi pada jam seperti itu biasanya sudah tidur.

Kong-he hendak menyapa, tetapi dara itu sudah mendahului menegurnya.

"Kong-he, mengapa baru saat ini kau pulang? Bibi Ki sudah pergi!"

Kong-he kaget sekali.

"Mengapa pergi?"

"Pada waktu kutunggu kedatanganmu, kulihat bibi Ki berganti pakaian malam, ia mengatakan hendak melakukan penyelidikan ke rumah penjara. Ia suruh aku jangan ribut-ribut, tetapi akhirnya kupikir lebih baik memberitahu pada Lim-kaucu saja,"

Kata Ceng-hoa. Kiranya setelah menunggu 10-an hari, Ki Seng-in tak dapat bersabar lagi. Ia salah menduga Lim Jing tak mau bertindak, maka malam itu ia menempuh bahaya.

"Celaka, celaka,"

Kong-he mengeluh.

"tetapi hal itu masih tak seberapa berat. Paman Lim, aku membawa berita yang lebih penting bagimu "Kabarnya di Thiat-mo-oh-tong telah terjadi peristiwa kawanan kuku garuda mengadakan penangkapan. Aku sudah tahu akan hal itu, siapa orang ini!"

Kong-he gugup.

"Tetapi kau belum tahu siapa yang ditangkap? Adik Kan!"

Dengan terengah-engah ia memperkenalkan Ubun Hiong pada Lim Jing.

"Ini adalah Jisukoku Ubun Hiong. Adik Kan datang bersamanya."

Kepala cabang Thian-li-kau di Pakkhia, Jui Cin, berkata.

"O, pantas musuh begitu sibuk. Berita yang datang tadi mengatakan kalau besok pagi kotaraja akan ditutup dan akan dilakukan penggeledahan besarbesaran. Kaucu, dengan terjadinya hal itu, mungkin akan mempengaruhi rencana kita besok malam, kita harus bersiap-siap menghadapi. Harap Kaucu memberi petunjuk."

Kata Te Kun.

"Kan-koji itu ditaruh di penjara besar. Malam ini penjagaan penjara tentu jauh lebih kuat. Kilihiap seorang diri, mungkin berbahaya."

Te Kun hendak mengusulkan supaya melakukan perampokan penjara saja, tetapi ia tahu bagaimana watak Lim Jing.

Jika hanya untuk kepentingan putranya saja, tentulah Kaucu itu tak mau bergerak, maka ia sengaja menonjolkan tentang bahaya yang mengancam diri Ki Seng-in agar Lim Jing tergerak hatinya.

"Apakah semua saudara sudah siap?"

Tanya Lim Jing.

"Ya, mereka sudah siap menunggu perintah,"

Sahut Jui Cin.

"Apakah kau sudah berunding dengan saudara Giam dan Lau tentang gerakan besok malam itu?"

Tanya Lim Jing pula.

"Aku sudah mengangkat saudara dengan mereka. Mereka bersumpah akan menyambut dari dalam, tetapi dengan gerakan razia besar-besaran besok pagi itu, lalu bagaimana kita bisa Tiba-tiba Lim Jing menggebrak meja.

"Karena urusan sudah sampai begini, kita harus menempuh bahaya! Gerakan besok malam diajukan malam ini juga! Juithocu, lekas beritahukan kepada saudara Giam dan Lau untuk mengadakan kontak. Aku segera akan memimpin rombongan besar anak buah kita!"

"Baik!"

Sahut Jui Cin seraya berlari keluar.

"Te-hiangcu, kau bersama Kong-he yang menyambut Ki Seng-in. Karena orang tak mencukupi, aku hanya dapat memberi sekelompok anak buah untuk membantumu. Asal kau dapat mengajak Ki Seng-in lolos dari bahaya, jika Kan-ji tak dapat ditolong, tak perlu harus diusahakan mati-matian,"

Kata Lim Jing kepada Te Kun. Ubun Hiong minta izin supaya diperbolehkan ikut pada Kong-he, Lin Jing pun meluluskan.

"Aku juga!"

Teriak Ceng-hoa.

"Kau juga mau ikut? Ini berbahaya!"

Kata Lim Jing.

"Aku Taci Kong-he, jangan dianggap orang luar!"

Bantah si dara. Lim Jing tersenyum.

"Baiklah, kau boleh pergi!"

Setelah memberi tugas seperlunya, Lim Jing bergegas pergi.

"Kaucu, apakah kau bersama kita?"

Tanya Te Kun. Lim Jing memutar matanya yang bundar.

"Te Kun, kau tolol, mana aku hanya mementingkan putraku saja?"

Te Kun tak berani membantah, segera ia mengajak Ubun Hiong, Kong-he dan Ceng-hoa menuju ke penjara besar.

Kelompok anak buah Thian-li-kau yang diperbantukan oleh Lim Jing segera mengikuti.

Karena tadi tak sempat mengajukan pertanyaan pada Lim Jing, di tengah perjalanan Kong-he bertanya pada Te Kun.

"Mengapa paman Lim tak ikut kita? Kemanakah ia hendak pergi? Apa yang dikatakan memajukan waktu gerakan itu?"

"Paman Lim akan memimpin rombongan besar untuk menyerbu istana!"

Kata Te Kun. Betapa besar nyali Kong-he, waktu mendengar hal itu, ia pun terkejut sampai melonjak.

"Apa? Hendak menyerbu istana?"

"Benar, selama setengah bulan ini boleh dikata Limkaucu lupa makan lupa tidur karena merencanakan penyerbuan itu, mestinya gerakan itu akan dilakukan besok malam. Luar dan dalam akan ada kontak, tetapi karena bantuan dari luar sudah terputus, terpaksa hanya mengandalkan tenaga dari dalam istana saja. Ah, semoga Thian memberkahi agar gerakan Kaucu itu berhasil."

Kiranya untuk menggelorakan semangat laskar pejuang di daerah-daerah, Lim Jing hendak menyerbu istana.

Jika berhasil menawan kaisar Boan, sekalipun tak dapat mengenyahkan pemerintahannya, tetapi sekurangkurangnya akan mengguncangkan seluruh negeri.

Di lain pihak musuh tentu kuncup nyalinya, di lain pihak akan menambah gelora semangat laskar pejuang di daerahdaerah.

Lim Jing bukan seorang yang sembrono, ia merencanakan hal itu secermat-cermatnya.

Di dalam istana ada dua Thaykam, Giam Cin-hi dan Lau Ca-wan, kedua Thaykam ini menjadi anggota Thian-li-kau.

Agar dapat menyelundup ke dalam istana, kedua orang itu tak menghiraukan lagi pengorbanan yang besar, mereka rela menjadi orang kebiri dan masuk istana.

Sebelum melancarkan gerakan itu, memang Lim Jing sudah mengadakan kontak dengan kedua orang kebiri itu.

Jika saatnya tiba, merekalah yang akan bergerak menyambut dari dalam.

Dari luar, Lim Jing pun sudah meminta pada Tio Suliong untuk menyerang kotaraja.

Tio Su-liong adalah kepala Cong-liong-poh di Bici, dia telah mengangkat saudara dengan Lim Jing.

Ketika markas besar Thian-likau dihancurkan, Lim Jing lari bersembunyi di Bici.

Kemudian Cong-liong-poh pun dihancurkan tentara pemerintah dan kedua orang itu melarikan diri.

Tio Suliong menuju ke Ciat-lin kabupaten Hoat-koan, sebuah tempat yang terpisah 300 li dari Pakkhia, si situ terdapat seribu orang anak murid Thian-li-kau.

Lim Jing menyerahkan mereka dalam pimpinan Tio Su-liong dilengkapi pula dengan kuda dan senjata hingga merupakan suatu laskar besar.

Setelah Lim Jing di kotaraja dan menetapkan tanggal penyerbuan ke istana, ia segera mengutus orang memberitahukan Tio Su-liong agar bergerak memimpin laskar itu ke kotaraja.

Perjanjian ditetapkan, besok malam gerakan itu akan dimulai.

Tetapi di luar dugaan, sehari sebelum tanggal pergerakan itu dimulai telah timbul peristiwa penangkapan Lim To-kan.

Kemudian besok paginya akan dilakukan razia besar menutup kota.

Hal itu bukan saja membahayakan keselamatan kelompok Thian-li-kau yang berada dalam kotaraja, juga akan merintangi datangnya laskar Tio Su-liong.

Untuk mengatasi hal itu, terpaksa Lim Jing memutuskan untuk bergerak pada malam itu juga.

Penjagaan di istana sudah tentu berlipat ganda beberapa ratus kali kuatnya dari penjagaan di penjara.

Te Kun seorang yang amat taat kepada Kaucunya, maka di waktu menuturkan tentang rencana penyerbuan Lim Jing itu kepada Kong-he, wajahnya gelisah bukan main.

Diam-diam ia hendak lekas menolong Ki Seng-in agar selekasnya dapat membantu pergerakan Kaucunya.

Kong-he pun terperanjat.

"Ya, benar. Mungkin pada saat ini bibi Ki sudah bertempur melawan musuh, adik Kan juga berada dalam penjara. Kita harus menyerbunya!"

Kalau dapat, Kong-he ingin tumbuh sayap agar bisa terbang ke penjara.

Malam itu rembulan gelap, angin kencang.

Suatu malam yang cocok bagi seorang Ya-heng-jin (orang yang berbuat sesuatu pada waktu malam).

Berkat Ginkangnya yang tinggi dapatlah Ki Seng-in lepas dari pengawasan para peronda, penjara besar itu merupakan sebuah gedung yang berdiri sendiri, tiada berdekatan dengan kantor pemerintah.

Pagar temboknya setinggi tiga tombak lebih, lebih tinggi dari tembok kota kabupaten, ia mencabut sebatang Thiat-ting (paku) terus ditimpukkan pada tembok setinggi satu tembok.

Kemudian ia mengapungkan tubuh, dengan ujung pian ia menggantol paku itu.

Sekali tubuhnya berayun, dapatlah ia melompat melayang ke atas tembok tanpa diketahui oleh siapa pun juga.

Ia melongok ke bawah, dilihatnya keadaan sepi-sepi saja, tiada seorang penjaga pun yang kelihatan, hal itu malah mengejutkan Ki Seng-in.

Masakah di penjara yang menyimpan pesakitan penting tiada penjagaan sama sekali, tetapi sebagai seorang Kangouw yang berpengalaman, keadaan itu justru menimbulkan kecurigaannya, pikirnya.

"Jangan-jangan musuh memasang jerat!"

Tetapi semangat untuk menolong sang suami mendorongnya berani menempuh segala bahaya apapun.

Setelah memperhatikan keadaan setempat, ia segera melayang turun, baru kakinya menginjak bumi, terdengarlah suara orang tertawa gelak-gelak.

"Nyonya Ki, apakah kau hendak memeriksa penjara? Sudah lama kita menunggu kedatanganmu kemari!"

Orang itu bukan lain adalah Ho Lan-bing, wakil komandan pasukan Gi-limkun.

"Kau beruntung dapat lolos dari tabasan golok Lim Jing, sekarang masih mau unjuk kegarangan lagi?"

Damprat Ki Seng-in seraya mencambuk. Sambil menangkis dengan Cui-bo-kong-pian, wakil komandan Gi-lim-kun itu tertawa gelak-gelak.

"Benar, memang aku hendak bertanya padamu, mengapa Lim Jing tak datang bersamamu? Tanpa bantuan Lim Jing, jangan harap kau dapat meloloskan diri dari sini, tetapi jika kau suka memberitahukan tempat persembunyian Lim Jing, akan kuantar kau menjumpai suamimu. Kita takkan merintangi kau menemui suamimu sampai berapa lama pun. Bukankah kau suka menerima perjanjian ini?"

"Anjing buduk, kau mengharap aku menjual kawan? Hm, hm, aku menginginkan jiwamu sebagai penukarnya!"

Ki Seng-in menyerang dengan cambuk pian dan pedang pendek, sehingga Ho Lan-bing hanya mampu bertahan saja. Sesosok bayangan lain sebat sekali datang dan memaki.

"Wanita busuk ini memang sukar dibaiki, lebih baik dikubur di sungai Hongho saja, jangan diberi peti mati. Ho-toako perlu apa banyak bicara dengannya? Tangkap saja dan nanti suruh dia merasakan alat siksaan 36 macam itu. Masakah ia tak mau memberitahukan tempat Lim Jing!"

Orang itu juga wakil komandan Gi-lim-kun yang bernama Li Tay-tian, ketika di Tang-peng-koan tempo hari ia pernah dilukai Ki Seng-in, maka ia benci sekali kepada nyonya itu.

Li Tay-tiah dan Ho Lan-bing teman sejawat, kepandaiannya lebih rendah sedikit dari Ho Lan-bing, tetapi karena dapat menjabat wakil komandan pasukan istana, sudah tentu kepandaiannya juga bukan olah-olah hebatnya.

Sebenarnya satu lawan satu dengan Ki Sengin, Ho Lan-bing masih menang angin, apalagi dibantu Li Tay-tian.

Ki Seng-in menjadi kepayahan, di samping itu segera muncul pula di halaman penjara situ ada belasan Wi-su.

Setelah memilih empat orang Wi-su yang lihai, yang lainnya Ho Lan-bing suruh kembali ke posnya masing-masing, ia suruh keempat Wi-su itu menjaga di empat penjuru, menunggu kedatangan kawan-kawan Seng-in.

Lama kelamaan Ki Seng-in menjadi rancu permainannya.

"Wut", golok Li Tay-tian hampir memapas rambut nyonya itu.

"Li-tayjin, mengapa kau tak sayang pada seorang wanita cantik? Ketahuilah bahwa nyonya Ki ini bergelar Jian-jiu-koan-im. Kalau kau menggurat mukanya, bukankah sayang?"

Lan-bing tertawa mengolok.

"Sebenarnya aku bersedia menyanjung Koan-im ini, tetapi ia yang tak mau,"

Sahut Li Tay-tian. Ho Lan-bing membuat sebuah lingkaran pian untuk membungkus tubuh Ki Seng-in, serunya.

"Nyonya Ki, kau suka lepaskan senjatamu atau tidak? Nanti kuberi kesempatan kalian suami istri bertemu."

Saat itu Ho Lan-bing dan Li Tay-tian sudah berada di atas angin, tetapi mereka pun kuatir kalau nyonya gagah itu akan kalap mengadu jiwa, memang maksud mereka akan menawan Ki Seng-in hidup-hidup.

Pertama, agar dapat memaksa keterangan soal tempat persembunyian Lim Jing.

Kedua, untuk mengancam Utti Keng agar mau memberitahu tempat persembunyian harta rampasannya.

Ini jauh lebih berguna daripada membunuh nyonya itu, tetapi kepandaian Ki Seng-in itu bukan kepalang hebatnya.

Dengan mengeroyok berdua, memang mudah untuk membunuhnya, namun kalau hendak menawan hidup-hidup, itulah sukar.

Oleh karena itu Ho Lan-bing coba memikat dengan janji akan mempertemukan Ki Seng-in pada suaminya.

Ki Seng-in tahu juga maksud mereka, ia membulatkan tekadnya, lebih baik mati daripada menerima hinaan, serunya nyaring.

"Toako, tahukah kau bahwa aku datang hendak menjumpaimu? Tetapi biarlah sekiranya kau tak tahu, pokoknya asal aku sudah memenuhi kewajiban seorang istri, mati pun aku tak menyesal!"

Saat itu karena kehabisan tenaga, jurus permainan Ki Seng-in pun mulai kacau, ia mengambil keputusan hendak bertempur lagi sampai 20-an jurus.

Jika tak dapat melukai musuh, ia sendiri yang akan bunuh diri, supaya jangan sampai jatuh ke tangan orang.

Di dalam penjara besar itu terdapat berpuluh-puluh ruangan, tadi Ki Seng-in berseru kepada suaminya dengan harapan akan didengarnya.

Seruan itu hanya sekedar untuk melampiaskan suara hatinya di saat ia telah mengambil keputusan untuk bunuh diri.

Di luar dugaan, Utti Keng telah mendengarnya.

Benar ia ditaruh di ruangan yang terpisah berpuluh kamar dari tempat pertempuran itu, tetapi Utti Keng adalah penyamun kuda dari daerah Kwan-tang.

Ia memiliki apa yang disebut ilmu Hok-te-thing-seng atau menempelkan telinga ke tanah untuk mendengar suara.

Kala itu ia belum tidur, baru berbaring di tanah saja.

Teriakan keras dari Ki Seng-in tadi, sepatah demi sepatah telah didengarnya jelas sekali, kejutnya bukan kepalang.

Kejut dan girang telah membuatnya melompat bangun, tetapi ia tak mampu melompat ke atas, tangannya diborgol kuat.

Kaki dibanduli dengan papan besi berat dan diborgol dengan borgol kaki.

Borgol itu dirantai pada tiang, mana ia mampu lepas!

Untuk menjaga Utti Keng, di ruang penjara telah ditempatkan seorang penjaga, Utti Keng menduga sipir penjara itu tentu belum mendengar teriakan Ki Seng-in.

Ia gabrukan borgol tangannya ke dinding untuk membangunkan sipir itu, serunya.

"Siau Ih, kemarilah! Aku hendak bicara padamu. Eh, apakah kau tak ingin kaya?"

Sipir itu pernah menerima kebaikannya, tahu pula ia bahwa Utti Keng mempunyai tempat simpanan harta yang dirahasiakan. Dengan girang buru-buru ia menghampiri.

"Jika Utti-thocu memanggil, hamba tentu bersedia."

Sekonyong-konyong Utti Keng mengerahkan Lwekang.

"Krak", borgor tangannya digentak putus. Pergelangan tangannya berdarah tetapi ia tak menghiraukan lagi, sipir itu terus dicengkeramnya. Sudah tentu sipir itu terkejut sekali.

"Bluk", ia berlutut.

"Utti-thocu, hamba tak berani melanggar pada Thocu."

"Jika ingin hidup, lekas buka papan besi pembungkus kakiku ini, nanti kujadikan kau orang kaya-raya!"

Kata Utti Keng. Sipir' itu cepat melakukan perintahnya, kembali Utti Keng minta supaya borgol kakinya juga cepat dibuka. Sipir itu mengeluh.

"Kunci borgol kaki ada pada kepala penjara, bukan padaku."

Utti Keng gugup sekali, ia kerahkan tenaganya menarik rantai, tetapi rantai borgol terlampau kuat.

Sampai dua kali ia ulangi tarikan sampai tangan berdarah, juga tak berhasil.

Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah sesosok tubuh.

"Siau Ih, kau berbuat apa itu? Hai, huh!"

Yang masuk itu adalah seorang Wi-su.

Mendengar suara gedubrakan, cepat ia memeriksa, waktu melihat Utti Keng sedang mengisar papan besi, segera ia membacok kepala sipir itu, segera pula kepala sipir itu pecah berantakan.

"Pesakitan hendak melarikan diri?"

Kembali Wi-su itu membacok Utti Keng. Meskipun kaki Utti Keng masih belum lepas dari borgol, namun Wi-su itu merasa jeri maka ia hendak melukainya saja, setelah itu akan diikat lagi.

"Bagus!"

Seru Utti Keng yang pura-pura gugup, ia membalikkan tubuh ke belakang.

Begitu golok si Wi-su hampir tiba di dadanya, segera menjepit gigir golok dengan kedua jarinya terus ditariknya, Wi-su itu terjorok jatuh ke atas tubuh Utti Keng, cepat sekali Utti Keng bergeliat menindihnya.

Tanpa dapat berteriak, Wi-su itu amblas jiwanya.

Utti Keng memungut golok si Wi-su, didapatinya golok itu berkilau-kilau seperti air bening, kiranya sebatang golok Bian-to yang tajam sekali.

"Terima kasih atas pemberianmu!"

Utti keng tertawa.

Utti Keng menabas borgolnya, namun tidak putus, melainkan rantainya saja, tetapi dengan masih memakai gelang borgol, dapat juga ia berjalan.

Tak kepalang tanggung, Utti Keng melucuti dan memakai pakaian Wisu tadi, setelah itu berlarilah ia keluar.

Karena masih ada sisa rantai yang terikat pada kakinya, sewaktu berlari Utti Keng merasa berat dan menerbitkan suara bergemerincing.

Mendengar suara itu, Wi-su penjaga penjara berbondong-bondong keluar.

Dua orang Wi-su yang mencekal obor kesampuk dengan Utti Keng.

Kejut mereka bukan main.

"Celaka, ada pesakitan lari!"

"Bertemu dengan aku sudah tentu takkan selamat!"

Utti Keng tertawa seraya membacok mereka. Golok dan pedang mereka dilucuti, terus dibawa melompat ke atas wuwungan.

"Awas, awas, ada pesakitan lari!"

Teriak para penjaga dari empat penjuru.

"Ya, ada orang melompat penjara, ada orang melompat penjara!"

Utti Keng turut berteriak. Ia lemparkan golok dan pedang kedua Wi-su tadi ke udara.

"Tring, tring", kedua senjata itu beradu di udara dan menerbitkan suara seperti orang bertempur. Dari bawah tanah tadi Utti Keng dapat mengetahui arah tempat istrinya berada, ke sanalah ia berlari. Dalam kegelapan malam, dengan memakai baju Wi-su, ada sementara kuku garuda mengiranya sebagai kawan sendiri. Walaupun banyak penjaga di penjara itu, tetapi karena mereka diharuskan menjaga Lim To-kan, maka Utti Keng tak banyak mendapat halangan. Di sepanjang pelariannya itu, ia membunuh lagi tiga orang dan kini tibalah ia di tempat pertempuran.

"In-moay, jangan takut, engkohmu datang!"

Serunya. Saat itu sebenarnya tenaga Ki Seng-in sudah habis, mendengar suara suaminya, serentak timbul lagi semangatnya.

"Tring", ia tangkis Kong-pian Ho Lan-bing dan menahan golok Li Tay-tian. Dua Wi-su yang di atas rumah segera menghadang, mereka berdua adalah Ko-chiu dari istana, kepandaiannya juga tinggi, namun mana mampu merintangi Utti Keng. Cepat sekali gerakan sepasang golok Utti Keng habis melancarkan dua buah tabasan, ia sudah menyusuli pula dengan tabasan ketiga yang mengarah muka. Kejut kedua Wi-su itu tak terkira, luput menyerang mereka bergelundungan melompat turun ke bawah. Wi-su kedua mainkan tombaknya, Utti Keng menangkis tapi hanya dapat menahan, tak mampu membuatnya jatuh. Memang pedangnya kalah berat dibanding tombak lawan. Melihat kaki Utti Keng masih memakai borgolan, Wi-su itu memperhitungkan tentulah tak dapat melompat lincah. Ia menusuk ke arah kaki Utti Keng tetapi mencondongkan tubuh ke belakang. Rantai pada borgol kakinya malah melibat tombak lawan, dengan begitu dapatlah si Wi-su ditariknya roboh. Dengan menggerung keras, Utti Keng melayang turun ke halaman. Kini sepasang suami istri berkumpul bertempur bahu membahu.

"Toako, ada kau di sampingku, apa yang kutakuti lagi?"

Ki Seng-in tersenyum girang. Ho Lan-bing tertawa ejek.

"Kalau begitu biarlah kusempurnakan keinginanmu, agar kalian dapat menjadi sepasang belibis!"

Ia sapukan Kong-pian ke kaki Utti Keng.

Karena kaki masih diborgol, Utti Keng kurang lincah gerakannya.

Ho Lan-bing tahu kelemahan itu, sengaja ia menyerang bagian kaki, berbareng Li Tay-tian pun membacok kepala Utti Keng.

Kedua tokoh itu lihai dan pengalaman, serangan mereka serasi dan indah, atas bawah berbareng diserang.

Utti Keng menggerung, ia angkat kakinya menghindar dan secepat kilat menginjak pian Ho Lanbing berbareng ia tabaskan Bian-tonya menangkis golok Li Tay-tian.

"Tring", golok orang she Li itu terpental ke udara, tetapi Bian-to Utti Keng patah menjadi dua. Golok Li Tay-tian adalah Gan-leng-to, sebuah golok pusaka yang terbuat dari baja murni. Sebenarnya kualitasnya lebih bagus daripada Bian-to Utti Keng tetapi Lwekang Utti Keng jauh lebih tinggi dari lawan, maka ketika sepasang golok itu beradu, tangan Li Tay-tian berlumuran darah dan goloknya terpental, sedang Bianto Utti Keng kutung.

"Terima golok!"

Teriak Utti Keng seraya melontarkan kuntungan goloknya kepada Ho Lan-bing dan Li Tay-tian.

Li Tay-tian melompat menghindar, kesempatan itu digunakan Utti Keng untuk melompat menyambar Ganleng-to lawan.

Sementara Ho Lan-bing menggunakan jurus Thiat-pian-kio untuk menotok tubuh bagian belakang.

Kurungan golok melayang lewat di depan wajahnya.

"Haha, dapat tukar sebuah golok, bagus!"

Utti Keng tertawa.

Ho Lan-bing mencabut pian dan meneriaki anak buahnya supaya menyerang Utti Keng.

Dua Wi-su juga bergelundungan dari wuwungan tadi, saat itupun sudah hampir bangun, lalu berganti dengan tongkat Hou-wi-kun dan kembali maju membantu Li Taytian.

Tongkat merupakan senjata berat dan panjang, tak takut kena dibabat kutung.

Ia tahu Utti Keng tak leluasa bergerak, maka dapatlah ia menyerang dari jarak jauh.

Ho Lan-bing dan Li Tay-tian belum banyak menggunakan tenaga, keempat Wi-su termasuk jagojago kelas satu dari istana, enam orang mengembut Utti Keng dan istrinya.

Padahal karena menghadapi dua orang tadi (Ho Lan-bing dan Li Tay-tian) tenaga Ki Sengin sudah hampir habis, maka walaupun suami istri maju, tetapi pada hakikatnya Utti Kenglah yang menghadapi lawan.

Boleh dikata ia harus melawan enam musuh, maka betapapun lihainya terpaksa ia kewalahan juga.

"Toako, aku tak berguna, silakan menerobos keluar sendiri!"

Karena merasa dirinya menjadi beban sang suami, Ki Seng-in berkata begitu. Tetapi Utti Keng membesarkan hatinya.

"Kita suami istri tetap sehidup semati. Aku hendak membunuh beberapa kawanan tikus lagi, jangan putus asa!"

Dengan menggerung laksana harimau kelaparan, Utti keng bertempur mati-matian, mau tak mau keenam pengeroyoknya itu tergetar juga nyalinya.

Mendapat anjuran sang suami, segar lagi semangat Ki Seng-in, dengan menggigit gigi ia bertempur dengan gigih, tetapi bagaimanapun ia hanya seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Napsu besar tapi tenaga kurang, lama kelamaan tenaganya mulai habis lagi.

Li Tay-tian cerdik sekali, ia hanya melancarkan serangan ke arah Ki Seng-in saja, hal itu membuat Utti Keng sibuk sekali.

Di bawah ancaman keenam penyerang, ia tak dapat melindungi istrinya dengan sempurna.

Pada saat Seng-in terancam bahaya, tiba-tiba terdengar gemuruh derap kaki berlarian datang, malah sekonyong-konyong Ki Seng-in mendengar sebuah nada orang yang dikenalnya berseru.

"Bibi Ki di sini, paman Te, lekas kemarilah!"

Kiranya yang berseru adalah Li kong-he dan rombongan Te Kun, pada saat segenting itu, mereka tepat datang dan segera turun tangan.

Kong-he ngotot sekali untuk menolong Ki Seng-in, tapi yang lebih ngotot lagi adalah Ubun Hiong.

Karena anak muda itu ingin mendapat kesaksian untuk membersihkan diri dari tuduhan orang.

Saat itu Li Tay-tian tengah melancarkan jurus Ya-jatham-hay, tongkatnya dihantamkan ke ubun-ubun kepala Ki Seng-in.

Karena tak dapat menghindar, terpaksa Ki Seng-in menangkis dengan Jwan-pian melibat tongkat Hou-wi-kun.

Jika pada waktu biasa, tentulah ia dapat menarik tongkat itu, tetapi dikarenakan ia sudah letih sekali, tak dapat lagi ia mengerahkan Lwekangnya, sekalipun dapat juga ia hanya bisa merintangi lawan yang menyerang kaki, tetapi tongkat yang menyerang kepalanya tetap mengancam jiwanya.

Mengimbangi Li Tay-tian, Ho Lan-bing pun mainkan piannya dengan seindah-indahnya, yakni dalam jurus Pat-hong-hong-ih (hujan angin dari delapan penjuru), Pian-cu-mo-kang-pian digentakkan untuk menekan golok Utti Keng.

Bukan ia tak tahu bahwa Utti Keng tentu dapat menangkis, tetapi biarlah, asal ia dapat mengganggu Utti Keng beberapa saat, tentulah Li Tay-tian dapat menyelesaikan Ki Seng-in.

Tetapi pada saat Ki Seng-in terancam bahaya, Ubun Hiong menggerung keras menyerang Li Tay-tian.

Kepandaian anak muda itu dan Li Tay-tian sebenarnya seimbang, tetapi Ubun Hiong saat itu menggunakan jurus ilmu pedang Toa-si-mi-kiam yang melompat sambil menabas.

Tak pernah Li Tay-tian menyaksikan permainan pedang semacam itu, dalam kagetnya ia gugup dan buru-buru menangkis dengan Hou-wi-kun.

"Trang", benturan itu telah membuat tongkat Li Taytian terkisar ke samping tepat pada saat Ki Seng-in mencambuk dengan pian, muka Li Tay-tian berhias dengan sebuah guratan darah. Sayang tenaganya kurang, coba tidak, tentu Li Tay-tian sudah pecah keningnya. Sekalipun begitu cukuplah membuat orang she Li itu pecah nyalinya, buru-buru ia melompat keluar gelanggang. Tiga kali memainkan golok, berhasillah Utti Keng memecahkan serangan Pat-hong-hong-ih dari Ho Lanbing, setelah itu ia putar tubuh merangkul istrinya dengan sebelah tangan sambil melintangkan golok menangkis serangan dari dua orang lawan. Berturut-turut datanglah Te Kun, Kong-he dan Cenghoa. Te kun kenal Ho Lan-bing adalah wakil komandan Gim-lim-kun, menangkap penyamun harus membekuk kepalanya dulu, cepat ia menyerang Ho Lan-bing. Te kun adalah salah seorang dari kelima jago Thian-li-kau, walaupun tak selihai Utti Keng, tapi ia pun tak kalah dengan Ho Lan-bing. Belum komandan Gim-lim-kun itu memperbaiki posisinya karena desakan Utti Keng tadi, sekonyong-konyong ia sudah diserang Te Kun dengan pukulan Peh-po-sin-kun. Terkena sambaran pukulan, Ho Lan-bing terhuyung mundur, namun dia juga bukan jago sembarangan. Dalam kekalahan ia masih dapat mengeluarkan jurus Hwe-hong-soh-liu Saat itu Te Kun menyerang maju dan terperangkap dalam lingkar permainan pian Ho Lan-bing, tapi orang she Te itu lihai sekali, ia condongkan tubuhnya menyusup dalam lingkaran pian, kemudian menyelonong maju memukul bahu Ho Lan-bing. Memang menghindar dan memukul mengurangi tenaga Te Kun, tetapi pukulannya cukup membuat Ho Lan-bing berkaok-kaok. Dua orang Wi-su yang bergaman kapak dan rantai bandringan buru-buru datang menolong. Te Kun menggerung, sambil menggeliat ke kanan kiri ia mencengkram bandringan terus dilontarkan pada kapak. Karena tarikan itu, rubuh Wi-su yang membawa bandringan terhuyung-huyung, sekali tabas dapatlah Utti Keng membelah kepala Wi-su itu. Dari enam orang kini Ho Lan-bing tinggal bertiga orang, untung kawanan Wi-su yang mengejar Te kun sudah tiba. Dalam jumlah memang masih menang, Ho Lan-bing berteriak-teriak menyuruh anak buahnya menyerang pengamuk-pengamuk itu. Utti Keng tertawa mengejek.

"Ho Lan-bing, lihat saja siapa yang akan menghadap raja akhirat lebih dulu!"

Ho Lan-bing memberi komando supaya membentuk 6 lapisan mengepung, dalam tiga lapis luar juga tiga lapis.

Sekalipun jumlahny .< sedikit, tapi dalam rombongan Utti Keng ada empat orang Ko-chiu (Utti Keng Ki Seng-in, Te Kun dan Ubun Hiong), juga Kong-he dan Ceng-ho.i bukan tenaga lemah.

Gencar dan rapatnya serangan tetap tak mampu mematahkan keenam orang itu, mereka laksana karang di tengah damparan ombak dahsyat.

Setelah mendapat kesempatan, berkatalah Utti Keng dengan bisik lemah lembut.

"In-moay, kau tak kena apa? Mengasolah sebentar biar aku yang menjagamu!"

"Tak apa-apa, Toako. Kita telah melukai hati Ubunsiauhiap, seharusnya minta maaf padanya,"

Sahut Ki Seng-in. Utti Keng tertawa gelak-gelak.

"Ubun-siauhiap, kita sekarang sekawan sehaluan. Aku Utti Keng lelaki kasar, tempo hari telah merampas barang antaran yang dikawal ayahmu. Jika kali ini aku beruntung dapat keluar dari penjara, aku tentu akan menghaturkan maaf di depan makam ayahmu. Jika kantor Tin-wan-piau-kiok hendak mengibarkan panji lagi (buka lagi), aku pun bersedia membantu tenaga."

"Tin-wan-piau-kiok sudah bubar, tak perlu dibicarakan pula. Utti-hujin, aku hendak minta bantuanmu sedikit,"

Sahut Ubun Hiong. Ki Seng-in merah mukanya.

"Ubun-siauhiap, akulah yang membuat kau menderita, aku sungguh menyesal sekali. Jika aku beruntung masih hidup, tentu akan kujelaskan duduk perkaranya pada Suhu dan Subomu."

Setelah ganjalan itu ditumpahkan, hati mereka bahagia sekali, Ubun Hiong makin bersemangat dan Ki Seng-in pun segar kembali.

"Utti-thocu, tahukah dimana Siau-kaucu kami? Aku adalah orang Thian-li-kau,"

Seru Te Kun. Utti Keng terkejut.

"O, kiranya Lim-kaucu yang mengirim kalian kemari? Sudah lama aku mengagumi kebesaran nama Lim-kaucu. Baik, mari kita menerobos keluar dari neraka ini!"

Tetapi kepungan berlapis-lapis, kaki Utti Keng masih memakai borgol, gerakannya tak leluasa. Memang kalau untuk bertahan masih lebih dari cukup, tapi jika hendak menerobos sukar sekali.

"Eh, Utti-thocu apakah kau merasa kikuk dengan borgol kakimu itu? Maukah kuhilangkan benda itu?"

Tibatiba Ceng-hoa berseru.

Borgol kaki itu membutuhkan senjata yang luar biasa tajamnya dan tangan yang pandai.

Sedikit saja kurang hati-hati, tentulah kaki Utti Keng turut terpapas.

Waktu di penjara Utti Keng tidak berani menggunakan Bian-to memapas karena ia merasa kurang aman.

Pedang yang dipakai Ceng-hoa adalah pedang pusaka keluarga Tiok.

Utti Keng tahu juga, tetapi bagaimana kepandaian dara itu menggunakan pedang, ia belum tahu.

Lebih-lebih Ki Seng-in yang sayang pada suaminya, ia cemas sekali.

Lebih baik ia pinjam saja pedang dara itu dan ia sendiri yang mengerjakan, tetapi baru ia hendak membuka mulut, Utti Keng sudah mendahului.

"Baik, Inmoay, lindungilah aku. Nona Tiok, merepotkan kau saja, silakan!"

Utti Keng seorang lelaki yang lapang dada, walaupun ia lebih mempercayai jika istrinya yang mengerjakan, tetapi ia tak mau melukai perasaan seorang dara yang baru dikenalnya.

Ki Seng-in terkejut tapi si dara sudah bergerak mengayunkan pedangnya.

"Tring", seketika putuslah rantai borgol yang melingkar pada kaki Utti Keng. Rantai putus tapi selembar bulu roma orang she Utti itupun tiada yang rontok, walaupun dirinya bergelar Pian-kiamsong-ciat, namun mau tak mau tercengang juga Ki Sengin menyaksikan ilmu pedang Ceng-hoa, diam-diam ia malu dalam hati.

"Ombak di sungai Tiangkang, yang di belakang mendampar yang di muka, patah tumbuh hilang berganti. Nona Tiok, hebat benar ilmu pedangmu!"

Utti Keng tertawa memuji.

Dalam tawanya itu Utti Keng tetap kerjakan goloknya, seorang Wi-su yang menyerang dengan tombak terpapas kutung pinggangnya.

Wi-su itu meyelonong hendak menusuk Ceng-hoa.

Hilangnya borgol di kaki telah membuat Utti Keng bertambah gesit, dalam sekejap mata saja ia sudah membinasakan lagi dua orang Wi-su, kemudian ia berteriak.

"Ho Lan-bing, sekarang giliranmu!"

Tubuh Utti Keng melambung ke udara, laksana seekor burung elang menerobos awan, ia melayang turun menerkam Ho Lan-bing.

Kejut wakil komandan Gi-limkun bukan kepalang, namun pada saat mati atau hidup itu, ia pun keluarkan seluruh kepandaiannya.

Ia putar Cui-bo-kang-pian dalam jurus Hun-bwe-sam-wu, tiga buah lingkaran sinar seolah melibat kepalanya.

Selama masih melayang di udara Utti Keng tak mampu membuyarkan ketiga lingkaran sinar pian, tak dapat ia memukul lawan.

Pertempuran itu menentukan kalah atau menang.

Tiba-tiba Ho Lan-bing menjerit ngeri dan melompat sampai beberapa tombak keluar gelanggang.

Di atas tanah menggeletak sebuah lengan manusia, ternyata jurus Hun-bwe-sam-wu tak mampu menahan tebasan golok Utti Keng dalam jurus Lak-boh-san-kwan.

Lengan kirinya kena terpapas kutung, tetapi hal itu membuktikan bahwa Ho Lan-bing lebih unggul dari kedua Wi-su yang terbelah mati di ujung golok Utti Keng tadi.

Karena sebenarnya tabasan Utti Keng itu mengarah batok kepala Ho Lan-bing dan ternyata hanya berhasil dapat sebuah lengannya saja.

Luka itu memaksa Ho Lan-bing harus mengobatinya.

Barisan tanpa pimpinan, tentu menyebabkan kawanan Wi-su kalut, sebaliknya rombongan Utti keng menyerang laksana gerombolan harimau, mereka berusaha membuka suatu jalan darah untuk lolos dari penjara.

Sewaktu pertempuran seru tengah berlangsung, sekonyong-koyong terdengar teriakan orang.

"Bagus, NyoToyacu datang!"

"Cis, apa macam babi anjing golokku akan menumpas mereka!"

Utti Keng memaki.

Sekonyong-konyong pengepung di sebelah muka tersiak ke kanan dan ke kiri, seorang lelaki berumur 50-an tahun berpakaian biru muncul di tengah mereka, ia mencekal sebatang tongkat bambu, sikapnya congkak.

Melihat orang itu kejut Ceng-hoa bukan kepalang serunya dengan suara tertahan.

"li ... Ji-ih-hu (paman kedua), kau benar-benar menjadi antek kerajaan?"

Memang orang itu bukan lain adalah Nyo Ceng, ayah Nyo Hoan.

Sebenarnya ia bertugas menjaga To-kan, maka walaupun pertempuran tadi berjalan seru, ia tetap tak keluar, tetapi setelah Ho Lan-bing putus lengannya, ia tak dapat diam lagi.

"Ceng Hoa, kau amat berandal! Kau adalah orang keluarga Nyo, tak dapat kubiarkan kau campur dengan kawanan pemberontak itu!"

Seru Nyo Ceng dengan wajah bengis, bahkan dalam berseru itu ia sudah melayang menotok jalan darah Ceng-hoa. Untung Te Kun berada di muka nona itu.

"Lepas!"

Serunya sembari menyambar ujung tongkat dengan Khong-ciu-jip-peh-jim.

"Huh, kiranya orang yang amat congkak ini hanya boneka lilin saja,"

Dengusnya ketika dengan mudah ia dapat menangkap ujung tongkat, tetapi sebelum ia dapat menarik, tiba-tiba tangannya dirasakan linu sekali.

Dan sebelum tahu apa yang terjadi, ia sudah kena digentak dengan tongkat sampai jungkir balik.

Cepat sekali Utti Keng melompat membacok orang she Nyo itu.

"Berandal yang tak kenal selatan coba saja rasakan kelihaianku!"

Seru Nyo Ceng sambil menangkiskan tongkat dengan jurus Koay-bong-hoan-sim (ular besar membalikkan tubuh) untuk menindih golok Utti Keng.

Tongkat yang begitu kecil ternyata mempunyai kekuatan seperti ribuan golok, hampir saja golok Gan-leng-to Utti Keng kena dipentalkan jatuh!

Utti Keng seorang berangasan, tak takut mati, makin mendapat musuh kuat makin menggelora semangatnya.

Dengan menggerung keras ia salurkan Lwekang ke goloknya sehingga Nyo Ceng tak kuat menindihnya dan kena diterbalikkan.

"O, kiranya boleh juga, tetapi aku di sini, jangan harap dapat unjuk kegarangan!"

Nyo Ceng mengejeknya.

Ia putar tongkat dalam jurus Jay-hong-suan-oh dan Kunliong-tiau-siu, tiga kali menyapu kaki, tiga kali berputar tubuh dan tiga kali pula menyerang dahsyat ke bagian kepala, perut dan kaki.

Utti Keng sibuk sekali mempertahankan diri, tetapi ternyata Lwekangnya masih kalah setingkat.

Untuk tiga kali serangan ia balas dengan empat kali putaran golok, yang dituju selalu menguntungkan tongkat lawan saja, tetapi setiap kali terjadi benturan, Nyo Ceng selalu menyaluri tongkatnya dengan Lwekang, sehingga tongkat itu sedikit pun tak menderita kerugian.

Banyak sekali variasi permainan tongkat Nyo Ceng, ada kalanya menjadi tongkat, ada kalanya dipakai seperti pian dan ada kalanya pula digunakan sebagai senjata Boan-koanpit.

Menghadapi permainan aneh lawan itu, betapapun Utti Keng hendak bersikap tenang, namun goloknya dapat dikuasai tongkat lawan.

Melihat itu, kaget sekali Ki Seng-in, cepat ia maju membantu.

Dalam pada itu setelah menggunakan gerak Le-hi-ta-ting untuk berjumpalitan, Te Kun lantas maju lagi menyerang Nyo Ceng.

Nyo Ceng kebutkan lengan bajunya untuk menangkis pian Ki Seng-in, kemudian melontarkan sebuah pukulan Lwekang Pik-khong-ciang untuk menangkis serangan Peh-poh-sin-kun dari Te Kun dan dalam pada itu masih tetap menindih sekencang-kencangnya pada golok Utti Keng.

Gagah memang orang she Nyo itu, tetapi menanggapi tiga orang Ko-chiu, dia pun hanya dapat bertahan saja.

Saat itu kawanan Wi-su menggempur ketiga anak muda dengan hebatnya, di antara ketiga anak muda itu hanya Ubun Hiong yang kepandaiannya paling tinggi dan memakai senjata panjang.

Hanya dialah yang mampu menandingi kawanan Ko-chiu itu.

Ceng-hoa masih kecil, menghadapi sekian banyak pengepung, ia agak gugup.

Syukur Ubun Hiong dengan ilmu pedang Toa-si-mi-kiam dapat membuat penjagaan rapat, kalau tidak, tentulah dara itu sudah celaka.

Melihat Ki Seng-in dan Te kun membantunya, Utti Keng terkejut, serunya.

"In-moay, lekas bantu mereka saja!"

Ki Seng-in tersadar, tetapi baru saja ia hendak mengundurkan diri, Nyo Ceng sudah bergerak menghalanginya.

Tongkatnya secepat kilat ditotokkan padanya, karena tak berani adu kekuatan, Ki Seng-in miringkan tubuh menghindar, tetapi Nyo Ceng pun sudah berganti menggempur Te Kun.

Dalam sekejap mata saja, Nyo Ceng sudah masuk ke dalam lingkaran pedang Ubun Hiong.

"Tring, tring", terjadilah benturan antara pedang dan tongkat. Memang ilmu pedang Toa-si-mi-kiam itu hebat sekali jika untuk mempertahanan diri, tetapi kepandaian mereka berdua jauh sekali terpautnya. Lekas Nyo Ceng menyalurkan Lwekang ke ujung tongkat yang digeliat-balikkan, pergelangan tangan Ubun Hiong terasa seperti pecah. Anak muda itu terhuyung-huyung mundur. Tetapi bahwa Nyo Ceng tak mampu membuat pedang Ubun Hiong jatuh, juga mengherankan sekali.

"Jangan melukai keponakanku!"

Bentak Ki Seng-in seraya mati-matian melindungi Kong-he.

Utti Keng tak memberi kesempatan lagi pada Nyo Ceng ia meloncat membacok punggungnya.

Tanpa berpaling, Nyo Ceng membalikkan tangan menangkis golok musuh dengan jurus Heng-hun-toanhong.

Habis itu, secara tak terduga-duga ia menyambar tangan Ceng-hoa.

"Tar", Jwan-pian Ki Seng-in menyabet kaki jago she Nyo itu, tetapi kaget sekali nyonya itu, piannya seperti mencambuk sebuah tiang besi. Sedikitpun kulit Nyo Ceng tak lecet, sebaliknya pian milik Ki Seng-in terpental.

"Ayo, bacoklah!"

Nyo Ceng tertawa gelak-gelak mengejek Utti Keng seraya mengangsurkan tubuh Cenghoa.

Sudah tentu Utti Keng tak berani, namun ia tak gugup karenanya.

Waktu ia hendak ganti mengarah kaki orang, Nyo Ceng tertawa dan berputar "Hoan-ji, sambutlah!

Baik-baiklah kau melayani istrimu!"

Dalam rombongan Wi-su, muncul seorang pemuda yang dengan cepat menyambut tubuh Ceng-hoa terus dibawa lari, ujarnya.

"Adik Hoa, jangan takut, tak nanti aku mengganggumu!"

Pemuda itu ternyata adalah Nyo Hoan. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang.

"Nyo Ceng, hari ini kau atau aku yang mati!"

Nyaring benar nada suara orang itu sehingga telinga kawanan Wi-su terasa pekak.

Dan menyusul dengan kegaduhan dari tersiaknya kawanan Wi-su, muncul Siangkoan Thay bersama putrinya.

Setelah dapat membuyarkan kepungan para Wi-su, ayah dan anak itu menerjang ke arah Nyo Ceng.

Siangkoan Thay telah ditahan di rumah Tiok Siang-hu, setelah pak Lau disuruh Tiok Siang-hu memberi penjelasan tentang kesalah pahaman itu, maka istri Tiok Siang-hu segera membebaskan sang ipar (Siangkoan Thay).

Di tengah jalan Siangkoan Thay berpapasan dengan putrinya, demikianlah kedua ayah dan gadisnya itu segera menuju ke kotaraja untuk menolong Lim Tokan.

Sayang terlambat sedikit, siangnya To-kan ditangkap, sore harinya baru ayah dan gadisnya itu tiba.

Mereka menduga To-kan tentu dimasukkan ke penjara besar, ke sanalah segera mereka menuju.

Karena difitnah oleh Nyo Ceng, beberapa kali Siangkoan Thay menderita kemalangan, kini hubungan persaudaraan ipar sudah putus bahkan menjadi musuh.

Itulah sebabnya maka Siangkoan Thay merah matanya demi melihat ipar durjana itu.

Habis menendang roboh dua orang Wi-su, segera ia menerjang dan menghantam Nyo Ceng dengan pukulan khusus untuk melukai urat nadi.

Nyo Ceng tahu akan hal itu, ia pun mainkan tongkat dalam jurus Tok-coa-tho-sim untuk menotok telapak tangan Siangkoan Thay.

Nyo Ceng mempunyai ilmu totok khusus ciptaan keluarganya, sekali kena, tentu akan hancur pusat Lwekang Siangkoan Thay.

Sebenarnya kepandaian kedua ipar itu berimbang.

Siangkoan Thay mengerahkan Lwekang ke tangan untuk menyampuk tongkat Nyo Ceng.

Tongkat Nyo Ceng terpental ke samping tapi dengan cepat ia bergerak mengitar dalam jurus Poan-Iiong-yupoh (naga melingkar tubuh) untuk berputar ke samping Siangkoan Thay, lalu menotok rusuknya.

Siangkoan Thay mundur tiga langkah ke samping, lalu menggunakan Kim-na-jiu (ilmu tangan kosong) untuk menyambar tongkat.

Demikianlah keduanya saling merapat dan menghindar, keduanya tiada yang mendapat hasil.

Saat itu Siangkoan Wan pun sudah berhasil melalui dua lapis penjagaan dan sebentar pula tentulah ia dapat mengejar Nyo Hoan, tetapi ia dicegat oleh dua orang Wisu, kedua Wi-su itu adalah Ko-chiu kelas satu dari istana.

Dalam waktu singkat permainan pedang Lian-hoan-chitkiam dari si nona dapat diatasi oleh kedua Wi-su itu, bahkan Siangkoan Wan hampir saja kena pukulan tongkat mereka.

"Yah, lekas kemarilah, tolong adik Hoa dan adik Kan lebih penting!"

Siangkoan Wan meneriaki ayahnya.

Karena peristiwa tempo hari, maka Siangkoan Wan merasa menyesal sekali terhadap Ceng-hoa dan To-kan, maka ia bertekad hendak menebus kekhilafan dengan jasa menolong mereka.

Siangkoan Thay mendendam pada Nyo Ceng tetapi ia pun kuatir kalau putrinya sampai kena apa-apa, segera ia mendesak mundur Nyo Ceng.

"Sebentar akan kubikin perhitungan padamu lagi!"

Bentaknya.

Nyo Ceng hendak mengejar, tapi Utti Keng dan Ki Seng-in sudah menghadangnya.

Kekuatan suami istri itu dapat mengimbangi Nyo Ceng sehingga tak dapat orang she Nyo itu lolos.

Utti Keng, Ubun Hiong dan Te Kun belum kenal siapa Siangkoan Thay, tetapi menyaksikan kepandaian orang sedemikian hebatnya dan mendengar pula pembicaraan mereka hendak menolong To-kan, Te Kun, dan kawankawan, mereka lega sekali.

Semangat mereka pun timbul sehingga dapat memberi perlawanan lagi yang dahsyat, tetapi sayang karena jumlah mereka lebih sedikit, meskipun tak sampai terluka, namun tak dapat juga mereka menerobos keluar dari kepungan.

Dalam pada itu dengan mudah Siangkoan Thay dapat membuka jalan karena kawanan Wi-su sudah menyaksikan kelihaiannya dan jeri kepadanya.

Cepat sekali orang she Siangkoan itu tiba dan menyerang kedua Wi-su yang menghadang Siangkoan Wan, sebenarnya kepandaian kedua Wi-su itu tak menang dari Siangkoan Thay, namun karena mereka bertempur dua orang, dapat juga mereka melayani sampai belasan jurus.

Sedang Nyo Hoan yang harus mendukung Ceng-hoa tak dapat berlari cepat, ia meloncat turun dari genteng dan maksudnya hendak bersembunyi dalam salah sebuah kamar tahanan, tetapi ternyata setiap kamar dikunci dengan rantai.

Belum lagi ia sempat membuka, Siangkoan Wan pun sudah menyusul tiba.

"Lekas lepaskan adik Hoa!"

Bentaknya. Nyo Hoan mendapat akal, tertawalah ia tergelakgelak. Dengan sedih dan marah, berserulah Siangkoan Wan.

"Nyo Hoan, tak kukira kau ternyata manusia macam begitu. Kau menghina aku, kau rela menjadi antek kerajaan. Kau gembirakah? Lekas lepaskan atau aku tak sudi kenal padamu lagi. Dan pedangku ini juga takkan kenal padamu!"

Nyo Hoan berputar seraya memasang tubuh Ceng-hoa sebagai perisai, kemudian tertawa gelak-gelak.

"Cici Wan, tidakkah kau ingat akan hubungan kita? Jika kau memang hendak membunuh, tusuklah! Paling banyak aku akan mati bersama Ceng-hoa."

Saking marahnya, sepasang mata si nona terbalik, dampratnya.

"Nyo Hoan, kau sungguh manusia berhati srigala!"

"Kaulah yang memaksa aku, jika kau memperlakukan aku seperti dahulu, perlu apa kau merancang siasat begitu? Cici Wan, sebenarnya buat apa kau melindungi Ceng-hoa? Tiada Ceng-hoa, bukankah akan lebih baik bagi kita? Cici Wan, tidakkah lebih baik kita berdamai?"

Siangkoan Wan memaki diri sendiri mengapa dahulu ia sampai begitu buta terhadap Nyo Hoan, adalah karena luapan amarahnya, ia sampai tak dapat mengucap sepatah kata juga, hal itu disalah artikan oleh Nyo Hoan yang mengira tekanannya berhasil.

Selagi ia kegirangan, tiba-tiba iganya terasa kesemutan dan Ceng-hoa yang dikempit di bawah ketiaknya itu terlepas juga.

Bukan kepalang kejut Nyo Hoan, buru-buru ia hendak menjulurkan tangan meraihnya, tetapi saat itu Siangkoan Wan sudah meloncat menotok jalan darah pelemasnya, seketika lunglailah tubuh Nyo Hoan tak dapat berkutik lagi.

Kiranya kepandaian keluarga Tiok jauh lebih unggul dari Nyo Hoan, bahkan Nyo Ceng sendiri juga tak mengetahui bahwa kepandaian si nona sudah mencapai titik yang sedemikian rupa hingga dapat membuka jalan darah yang tertotok, Nyo Ceng hanya hendak membuat Ceng-hoa sebagai barang tanggungan saja.

Tak berani ia mencelakai nona itu dengan totokan yang berat karena takut pembalasan dari ayah nona itu.

Sewaktu ditawan Nyo Hoan, diam-diam Ceng-hoa sudah berusaha membuka jalan darahnya yang tertotok itu, kemudian ia balas menotok iga Nyo Hoan.

Sayang ilmu totoknya baru saja dipelajari, jadi belum cukup kuat tenaganya, maka paling banter ia hanya dapat membuat Nyo Hoan kesemutan, tetapi tak dapat menundukkan.

Baru setelah Siangkoan Wan memberi totokan, pemuda itupun roboh.

Dengan bercucuran air mata, berkatalah Siangkoan Wan kepada Ceng-hoa.

"Adik Hoa, tempo hari aku telah membuat penasaran padamu, sehingga kau menderita. Akulah yang bersalah karena telah tertipu oleh Nyo Hoan. Adik Hoa, maukah kau memaafkan aku?"

Ceng-hoa tertawa, ditariknya tangan Siangkoan Wan.

"Kutahu kalau kau tertipu oleh bangsat itu, sudah tentu aku tak menyesalimu, sudahlah jangan memikirkan hal itu lagi. Bahwa sekarang kau sudah sadar dan dapat membuka kedok Nyo Hoan, itulah suatu perbuatan yang baik!"

Demikian kedua saudara misan itu saling berjabatan tangan dengan mesra, pertanda kembalinya kerukunan mereka semula. Sambil mencengkeram leher Nyo Hoan, berkatalah Siangkoan Wan.

"Lekas antar kita ke tempat To-kan!"

Nyo Hoan meringis.

"Aku ... aku tak tahu dimana ia berada!"

"Cici Wan, jangan percaya omongannya!"

Seru Cenghoa.

"Cret", perlahan saja Siangkoan Wan mengguratkan ujung pedangnya ke pakaian Nyo Hoan.

"Cici Wan, aku ... aku.."

Nyo Hoan merintih.

"Kau bagaimana? Mau mengantar atau tidak?"

Bentak Siangkoan Wan seraya menambahi sedikit tenaga untuk memasukkan ujung pedangnya ke daging Nyo Hoan.

"Ya, ya, mau, mau!"

Nyo Hoan berkuik-kuik seperti babi hendak disembelih. Siangkoan Wan menggusur Nyo Hoan supaya menunjukkan jalan. Nyo Hoan menunjuk sebuah kamar tahanan.

"Lim To-kan ditaruh di situ. Cici Wan, maukah kau melepaskan aku?"

Siangkoan Wan berseru keras.

"Adik Kan, adik Kan, kau dimana? Apakah kau dengar suaraku? Akulah Cici Wan!"

Tak berapa lama, benar terdengar suara gemerincing rantai dan penyahutan To-kan.

"Aku di sini, Cici Wan. Mengapa kau datang ke sini, lekas pergilah!"

Mendengar suara To-kan, legalah hati Siangkoan Wan.

"Bukankah aku tak membohongimu? Lepaskanlah aku, ya?"

Kata Nyo Hoan. Tetapi Ceng-hoa curiga, pikirnya.

"To-kan adalah seorang pesakitan penting, mengapa tiada yang jaga?"

Buru-buru ia menyerukan Siangkoan Wan supaya jangan melepaskan Nyo Hoan dulu. Tepat pada saat Ceng-hoa selesai berseru, sekonyongkonyong terdengar orang berseru.

"Hai, budak perempuan darimana itu? Nyo Hoan, apakah kau juga membawanya?"

Nadanya seperti baru logam dibenturkan, mengiang di telinga.

Dalam penjara tiada lampu, di bawah sinar rembulan remang, tertampaklah seorang Lamma berjubah merah berdiri di muka ruang penjara itu, entah darimana munculnya.

Mungkin karena keremangan cuaca, maka Lamma itu tak melihat jelas bahwa Nyo Hoan digusur Siangkoan Wan.

Seketika gemetarlah tubuh Nyo Hoan, serunya dengan tergagap.

"Ya, ya ... eh, tidak, tidak Hud-ya, jangan turun tangan!"

Lamma itu mendengus, lalu membentak.

"Nyo Hoan, kau berani membawa orang luar kemari? Akan kubunuh kau lebih dulu!"

Sekali tangan menimpuk, tiga batang Hui-piau melayang.

Ceng-hoa dan Siangkoan Wan dapat memukul jatuh masing-masing sebatang.

Dan yang sebatang melayang di pelipis Nyo Hoan, hampir saja menyentuh kulitnya.

"Cici Wan, jika kalian bertempur, aku tentu akan binasa. Maukah kau berbuat sedikit kebaikan dengan melepaskan aku?"

Jika lain orang dalam kedudukan sebagai Siangkoan Wan, tentu Nyo Hoan akan dijadikan barang tanggungan, tetapi Siangkoan Wan masih teringat akan hubungan asmara tempo hari. Lemaslah hatinya, pikirnya.

"Lamma itu ganas benar, tetapi aku dapat memukul jatuh Huipiaunya, kepandaiannya tentulah tidak luar biasa. Bersama Ceng-hoa, aku tentu dapat mengalahkannya. Dengan menggusur Nyo Hoan sebaliknya aku malah tak leluasa, perlu apa harus membinasakannya?"

Segera ia lepaskan anak muda itu, bentaknya.

"Hari ini kuberi ampun padamu, tetapi kuharap kau dapat merubah kelakuanmu, enyahlah! Nyo Hoan bergulingan di tanah, tiba-tiba ia berseru.

"Hud-ya, tangkaplah kedua budak perempuan itu, tetapi jangan dibunuh!"

"Bagus, setelah dilepas kau hendak berbuat kejahatan lagi! Cici Wan suka mengampunimu, tetapi aku tidak!"

Ceng-hoa murka sekali, ia hendak menerkam Nyo Hoan, tapi kepalanya ditelingkup oleh segulung awan merah. Kiranya Lamma jubah merah itu sudah meloncat turun dari atas rumah.

"Cret", Ceng-hoa menusukkan pedangnya, tetapi pedangnya kena dirangkup oleh jubah Lamma.

"Hai, sungguh budak perempuan yang galak. Kau hendak menangkap Nyo Hoan, aku hendak menangkapmu!"

Lamma itu tertawa gelak-gelak.

Tangannya digerakkan, sebelum menyentuh tubuh Ceng-hoa, dara itu sudah merasakan dirinya seperti diseret oleh suatu tenaga kuat.

Kejut nona itu bukan kepalang, cepat ia keluarkan ilmu Ginkang pusaka keluarganya, ia miringkan tubuh menggelincir ke samping.

Setelah tenaga tarikan tadi terasa berkurang, ia segera gunakan gerak Yan-cu-joanlian untuk melompat pergi.

Si Lamma juga tercengang karena tak berhasil menangkap Ceng-hoa, dengan penasaran ia memburu, mengganti cengkeraman dengan dorongan tenaga kuat ke arah Ceng-hoa, dari belakang Ceng-hoa sudah menyingkir tiga tombak jauhnya, tetapi toh tetap terguncang sehingga rebah ke tanah.

Pedangnya pun kena dilibat jubah si Lamma.

Siangkoan Wan terkejut sekali, tetapi si Lamma pun sudah menyerbunya.

Kepandaian Siangkoan Wan lebih tinggi dari Ceng-hoa, ia hanya terputar-putar tubuhnya tapi tak sampai jatuh.

Hanya saja Ginkang nona itu kalah dari Ceng-hoa, ia dapat bertahan diri tapi tak mampu melompat menerobos keluar seperti Ceng-hoa tadi.

Hanya dalam beberapa jurus saja, si Lamma sudah membentak.

"Lepas!"

Berbareng dengan gerakan jubahnya, pedang Siangkoan Wan pun terlepas dari tangan.

Ternyata Lamma itu adalah jago nomor satu atau dua golongan Ang-kau di Secong (Tibet), namanya Songpupa.

Kepandaiannya lebih tinggi sedikit dari Nyo Ceng.

Bersama Nyo Ceng ia mendapat tugas menjaga To-kan.

Tadi ketika Nyo Hoan digusur Siangkoan Wan, Lamma itu sengaja tak mau mengeluarkan kepandaiannya yang sebenarnya.

Dia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya untuk menimpuk senjata rahasia, agar Siangkoan Wan mengira kalau dia mudah dihadapi dan kemudian mau melepaskan Nyo Hoan.

Apa yang direncanakan itu ternyata berhasil.

Setelah dapat merebut pedang pusaka Siangkoan Wan, Songpupa tertawa gelak-gelak.

"Nyo Hoan, bukankah kau menghendaki nona ini? Baik, terimalah nonamu itu!"

Waktu ia hendak maju menangkap Siangkoan Wan, tiba-tiba Siangkoan Thay datang.

Melihat putrinya terancam bahaya, sebelum orangnya tiba, Siangkoan Thay lebih dulu melontarkan sebuah hantaman.

Gentarlah hati Songpupa menyaksikan kepandaian Siangkoan Thay itu, tanpa menghiraukan Siangkoan Wan lagi, ia terus melontarkan pedang Siangkoan Wan tadi ke arah Siangkoan Thay.

Jago she Siangkoan itu menghindar sambil menyambar tangkai pedang dengan jarinya, kemudian pedang itu diberikan lagi pada putrinya.

Serunya.

"Lekas tolong orang, biar kubereskan si ganas ini!"

Baca Juga: Telapak Setan 6

Baca Juga: Sebilah Pedang Mustika 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger