Eps 10 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Siangkoan Wan hendak bergerak, tapi ayahnya segera melindungi di depan.
Benar juga saat itu Songpupa melontarkan sebuah hantaman dahsyat.
Siangkoan Thay menangkisnya, ketika dua buah pukulan berhantam, terdengarlah suara tamparan yang keras sekali.
Songpupa terhuyung-huyung, Siangkoan Thay tersurut mundur dua langkah.
Tampaknya Songpupa yang lebih unggul tapi sebenarnya dialah yang menderita, telapak tangannya seperti terbakar oleh besi panas.
Sekalipun dia memiliki ilmu kebal, namun sakit juga.
Ternyata yang dilancarkan Siangkoan Thay itu adalah pukulan Toa-jiuin, sebuah pukulan Lwekang yang khusus untuk menghancurkan urat nadi.
Pukulan ini sumbernya berasal dari daerah Secong, sebagai seorang Secong sudah tentu Songpupa kenal akan ilmu pukulan itu.
Maka serunya dengan kaget.
"Kau toh bukan bangsa Han mengapa membantu gerombolan pemberontak itu?"
"Aku hanya kenal jahat dan baik, kau membantu kejahatan, sudah seharusnya menerima pukulanku!"
Sambil berkata ia menghantam lagi dengan kedua tangannya.
Gerakan itu semula dalam jurus Wan-kiongshia-hou, kemudian diubah menjadi No-hay-kin-liong (laut marah menangkap naga).
Sayup-sayup sambaran pukulannya itu mengandung gemuruh deru badai, jauh lebih dahsyat dari yang tadi.
"Eh, kau kira aku takut padamu!"
Teriak Songpupa dengan marah, ia menyongsongkan sebelah tangannya. Tiba-tiba ia gunakan dua buah jarinya untuk menusuk, kalau kena, urat nadi lengan Siangkoan Thay tentu putus juga.
"Bagus!"
Siangkoan Thay membalikkan lengan, dengan punggung tangan ia menampar jari lawan, sedang tangan kirinya masih tetap menggunakan Toajiu-in untuk mengarah dada, jurus itu mengajak lawan sama-sama terluka.
Songpupa tak berani, terpaksa ia menarik pulang tangannya untuk kemudian memukul dengan jurus Ngo-ting-gui-san.
Benturan kali itu membuatlah Siangkoan Thay mundur selangkah, Songpupa benar tetap tegak tapi ubun-ubun kepalanya mengeluarkan segulung asap tipis.
Dalam hal Lwekang, Songpupa lebih dalam sedikit, tetapi karena pukulan Siangkoan Thay khusus diperuntukkan menghancurkan urat nadi, maka dapatlah menutup kelemahannya itu.
Demikianlah kedua jago itu saling mengukur kepandaian dengan seru.
Sementara Siangkoan Wan setelah menghampiri kamar tahanan, lalu segera menabas rantai kunci dengan pedang pusakanya.
Ia menyulut api untuk menyuluhi, ternyata To-kan dikurung dalam sebuah sangkar (kurungan) besi dan dirantai dengan papan besi.
"Adik Kan, akulah yang bersalah. Tempo hari karena percaya omongan Nyo Hoan, aku tak mau menolongmu. Kalau tidak, tentulah saat ini kau takkan menderita seperti ini!"
Siangkoan Wan menyesal sekali. To-kan gembira sekali, ujarnya.
"Cici Wan, telah kudengar bagaimana tadi kau memaki Nyo Hoan. Kau telah bertengkar padanya, bukan?"
Merah pipi Siangkoan Wan, sahutnya.
"Bukan saja bertengkar, tetapi karena dia ternyata yang mencelakai ayahku, maka sejak kini kalau berjumpa dengannya tentu tak akan kuberi ampun lagi. Kali ini aku pun telah memaksanya supaya mengantar kemari."
"Cici Wan, begitulah selayaknya! Tahukah kau apa yang kucemaskan tempo hari? Tiada lain ialah kalau kau sampai terpikat oleh Nyo Hoan. Terus terang, sebelum ketahuan belangnya, aku pun sudah tak senang padanya. Hanya kala itu tak berani kubilang padamu,"
Kata To-kan. Mungkin dia tak mengerti bagaimana perasaan antara gadis dan jejaka, tetapi yang dikatakannya itu adalah suara hatinya, hati yang masih kekanak-kanakan. Siangkoan Wan tergerak hatinya.
"Adik Kan, tak nyana kau begitu memperhatikan diriku. Ah, sayang kau bukan adik kandungku."
To-kan memakai papan besi, setelah Siangkoan Wan membuka sangkar besi, To-kan masih belum dapat bergerak.
Waktu Siangkoan Wan menariknya keluar, hampir saja To-kan jatuh ke tubuh si nona.
Siangkoan Wan mengangkatnya, didapatinya anak itu sudah jauh lebih besar dari dua tahun yang lalu.
Walaupun baru berusia 15 tahun, tapi tingginya sudah sama dengan si nona yang sudah berumur 18 tahun.
Ketika mengangkat bahu anak itu, Siangkoan Wan menyentuh sebuah bahu yang kokoh kekar.
Suatu perasaan timbul dalam hati si nona bahwa itulah bahu yang diandalkan, jauh berlainan dengan Nyo Hoan.
Entah bagaimana, seperti ada suatu perasaan yang membangkitkan keinginan Siangkoan Wan untuk menyandarkan diri pada bahu itu.
Keinginan itu hanya terlintas sekejap saja dan merahlah wajah si nona.
Papan besi yang merangkap kaki To-kan itu terdiri dari dua bilah besi, pedang pusaka Siangkoan Wan hanya dapat membelah borgol tangan tetapi tak dapat memecahkan papan besi di kaki.
"Akan kuminta ayah membuka papan besi ini,"
Kata Siangkoan Wan.
Ia yakin ayahnya tentu sudah dapat memberesi Lamma jubah merah tadi, tetapi kejutnya bukan kepalang ketika melongok keluar, dilihatnya sang ayah masih bertempur mati-matian dengan Lamma itu, bahkan ayahnya tidak tampak unggul dalam pertempuran.
Kiranya ilmu pukulan Toa-jiu-in dari Siangkoan Thay itu paling memeras tenaga Lwekang.
Keunggulan Songpupa terletak pada Lwekangnya yang tinggi, memang dalam babak pertama ia hanya dapat bertahan.
Dua puluh jurus kemudian setelah tenaga Siangkoan Thay mulai berkurang, barulah kekuatan kedua pihak berimbang.
Selagi Siangkoan Wan cemas, tiba-tiba dari kejauhan terdengar pula dering senjata beradu.
Siangkoan Wan menatap ke keremangan bulan, dilihatnya di atas wuwungan terdapat empat orang lelaki tengah mengepung seorang dara.
Astaga, kiranya Tiok Cenghoa!
Ternyata pada waktu Siangkoan Wan dan kawankawan menggusur Nyo Hoan, di sekeliling tempat itu sudah penuh dengan kawanan Wi-su istana.
Mereka pun tahu perbuatan ketiga anak muda itu, tetapi oleh karena anak-anak muda itu masuk ke dalam perangkap, mereka tak mau keluar, kemudian setelah Nyo Hoan bebas, barulah kawanan Wi-su itu keluar.
Untung keempat Wisu yang mengepung Ceng-hoa itu bukan termasuk golongan kelas satu, dengan Ginkangnya yang lihai dapatlah Ceng-hoa melayani mereka.
"Cici Wan, bantulah Cici Tiok, jangan hiraukan aku!"
To-kan menyuruh si nona.
"Tetapi kau belum dapat berjalan sendiri,"
Sahut Siangkoan Wan. To-kan tertawa.
"Setelah tanganku bebas, aku toh sudah dapat membela diri. Jangan kuatir, jika hendak membunuh aku, tentu siang-siang mereka sudah membunuhku."
Siangkoan Wan masih tak tega, namun karena Cenghoa terancam, terpaksa ia pergi juga.
Saat itu Siangkoan Thay tengah bertempur seru dengan Songpupa, dalam lingkaran setombak luasnya, angin pukulan mereka masih menderu.
Jago biasa saja, kalau masuk dalam lingkaran itu tentu akan terpental.
"Yah, perhatikan adik Kan, jangan sampai ada orang masuk ke dalam kamarnya,"
Kata Siangkoan Wan.
"Ya, kau teruskan membantu Ceng-hoa dan ajak ia kemari,"
Sahut ayahnya.
Ia mengisar ke belakang dan berdiri membelakangi kamar tahanan To-kan dan menjaga pintunya, dia memang tidak dapat mengenyahkan Songpupa, tapi Lamma itupun tak mampu menerobos.
Kedua jago itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya, lebih-lebih kawanan Wi-su itu, sama sekali mereka tak dapat menghampiri ke dekat kedua orang itu.
Siangkoan Wan meloncat ke atas genteng dan membantu Ceng-hoa, ia tidak dapat mengajak Ceng-hoa supaya bergabung dengan Siangkoan Thay.
Berturut turut muncullah kawanan Wi-su untuk mengepung rapat kedua dara itu.
Tiga puluh jurus kemudian, tenaga Siangkoan Thay makin banyak keluar, meskipun tak sampai kalah namun Songpupa sudah lebih menang angin.
Demikianlah terjadi dua partai pertempuran, ayahnya bertempur di bawah, putrinya di atas rumah, sementara di luar halaman penjara, Utti Keng dan kawan-kawan tengah bertempur seru juga.
Setelah Siangkoan Thay masuk ke dalam, maka Nyo Ceng mendapat angin lagi, Utti Keng dan istrinya sudah kelewat lama bertempur, mereka hanya dapat bertahan saja.
Di pihak Nyo Ceng masih ada 7-8 orang Ko-chiu kelas satu.
Te Kun, Ubun Hiong dan Konghe bahu membahu memberikan perlawanan, mereka juga masih merasa kepayahan.
Ada salah seorang Wi-su yang mengetahui riwayat Kong-he, serunya.
"Bangsat kecil ini juga yang diperintahkan supaya ditangkap. Ayo, kita ringkus dulu!"
Dengan beberapa orang, Wi-su itu menyusup ke arah Kong-he, terpaksa Ubun Hiong memainkan Toa-si-mikiam untuk menahan mereka.
Utti Keng dan istri juga ingin membagi tenaga untuk melindungi Kong-he, tetapi mereka ditekan oleh tongkat Nyo Ceng sehingga tak mempunyai kesempatan lagi.
Tiba-tiba Nyo Ceng mainkan tongkatnya dengan gencar, setelah berhasil mendesak Utti Keng dan istri mundur tiga langkah, ia memutar tubuh menyampuk pedang Ubun Hiong.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh seorang Wi-su yang segera menggunakan ilmu Kim-najiu untuk menangkap Kong-he.
Utti Keng menggerung keras, menyabet tengkuk Nyo Ceng.
Nyo Ceng membalikkan tangan menangkis, sedang Ki Seng-in meloncat mengejar si Wi-su tadi seraya menyabetkan piannya.
"Lepaskan!"
Wi-su itu sudah berhasil menangkap Kong-he, ia angkat tubuh anak itu ke atas dan berseru.
"Nah, pukullah!"
Maksudnya hendak menjadikan Kong-he sebagai perisai, tetapi di luar dugaan, permainan pian Ki Seng-in luar biasa sekali.
Belum selesai mulut si Wi-su mengucap, dahinya sudah kena tersabet pian, darah bercucuran keluar.
Pian Ki Seng-in dapat mengitari tubuh Kong-he tanpa melukainya untuk kemudian menyabet dahi si Wi-su, sungguh suatu permainan yang luar biasa.
Wi-su itu terkejut dan marah, diangkatnya Kong-he tinggi-tinggi terus diputar-putar seraya berseru.
"Bangsat perempuan, ayo hantam lagi sepuas-puasmu agar bangsat cilik ini menjadi hancur-lebur!"
Sebenarnya mengingat betapa penting diri Li Kong-he bagi pemerintah Cing, si Wi-su tentu tak berani mencelakainya, tetapi Ki Seng-in kuatir juga, dalam kemarahannya Wi-su itu akan kalap dan berbuat sesuatu yang merugikan Kong-he.
Di sini Ki Seng-in terbenam dalam kesangsian, di sana Utti Keng pun terdesak oleh Nyo Ceng.
Meskipun ia gagah, tapi karena sudah kelewat lama bertempur, maka tak dapat lagi sisa tenaga memenuhi kehendaknya.
Nyo Ceng memainkan tongkatnya dengan gencar, menyerang ke kanan menotok ke kiri, setiap jurus serangannya selalu mengarah jalan darah orang yang berbahaya.
Sedikit saja Utti Keng lengah, tentu akan termakan.
Ki Seng-in makin bingung, ia tak mau membiarkan Kong-he celaka, tapi juga kuatir suaminya menderita.
Selagi dalam kebingungan, sekonyong-konyong terdengar sebuah suitan panjang memecah angkasa.
Cepat sekali suitan itu sudah tiba.
Ki Seng-in terperanjat menyaksikan kepandaian pendatang baru itu, belum habis ia meraba-raba siapa yang datang itu, kawanan Wi-su yang berada di atas wuwungan rumah sudah kacau-balau berjatuhan ke bawah.
"Suhu, Suhu!"
Serentak menjeritlah Ubun Hiong dengan girang demi mengetahui siapa yang datang.
Kiranya pendatang itu adalah Kang Hay-thian, tokoh yang dipandang oleh kaum persilatan sebagai jago nomor satu di masa itu.
Sebenarnya Kang Hay-thian tak menyerang kawanan Wi-su tadi, adalah mereka sendiri yang tak tahu siapa Kang Hay-thian, lalu coba-coba hendak menghadangnya.
Akibatnya mereka terpental kena ilmu Can-ih-cap-pek-tiap (menyentuh pakaian jatuh 18 kali) dari Kang Hay-thian.
Melihat Kang Hay-thian, pecahlah nyali Nyo Ceng.
Tanpa berpikir lama ia segera meninggalkan pertempuran dan lari tunggang-langgang.
"Kang-tayhiap, kawanan kuku garuda telah menangkap muridmu Li Kong-he!"
Seru Ki Seng-in.
Maksud kedatangan Kang Hay-thian sebenarnya hanya untuk menolong To-kan.
Siapa tahu ternyata di situ ia berjumpa pula dengan dua orang muridnya yang lain.
Terutama Li Kong-he, murid yang pernah dicari kemanamana tanpa berhasil itu ternyata juga berada di situ.
Mendengar nama Kang Hay-thian, terbanglah semangat para Wi-su, tetapi mereka berkeras kepala karena merasa masih mempunyai barang tanggungan (Kong-he).
"Oh"
Dalam menyahuti seruan Ki Seng-in tadi, Kang Hay-thian pun sudah tiba dihadapan Wi-su itu, bentaknya.
"Lepaskan anak itu, nanti kuampuni nyawamu!"
Si Wi-su mencengkeram tenggorokan Kong-he makin kencang, serunya.
"Selangkah saja kau berani maju, muridmu tentu kumatikan!"
Kang Hay-thian tertawa gelak-gelak.
"Memang tak berani?"
Sekali mengulurkan kedua tangannya, tahu-tahu Kong-he sudah berada di pelukannya.
Tampaknya seolah-olah Wi-su itu rela menyerahkan sendiri tanpa dipaksa.
Utti Keng dan istrinya heran sekali, pikir mereka.
"Mengapa kawanan kuku garuda begitu taat padanya?"
Habis 'menyerahkan' Kong-he, si Wi-su terhuyunghuyung dan roboh ke tanah.
Kedua kakinya dijulurkan dan mulutnya muntah darah, jiwanya amblas.
Ternyata waktu 'meminta' Kong-he tadi.
Kang Hay-thian telah menggunakan Lwekang Kek-bu-joan-kang, meremukkan tulang tangan si Wi-su supaya melepaskan Kong-he.
Kepandaian Kang Hay-thian telah mencapai kesempurnaan, bukan saja tulang tangan remuk, juga jeroan Wi-su itu hancur berantakan ....
Kong-he seperti bermimpi bahwa dalam keadaan dan tempat seperti saat itu, ia dapat berjumpa dengan Suhunya.
Ki Seng-in menyuruh ia lekas memberi hormat kepada Kang Hay-thian, tetapi Kang Hay-thian tertawa.
"Nanti kalau sudah pulang saja, sekarang kita perlu menolong Lim-sutemu dulu."
Namun Kong-he masih tetap menganggukkan kepala selaku memberi hormat kepada sang Suhu, ujarnya.
"Suhu, tadi kulihat Nyo Hoan lari ke sana, Lim-sute besar kemungkinan ditahan di sana juga. Nyo Hoan juga membawa lari putri Tiok Siang-hu!"
Tiba-tiba dari arah yang dikatakan Kong-he tadi, terdengar suara suitan panjang. Kang Hay-thian terkejut, katanya.
"Itulah suitan Siangkoan Thay, agaknya ia menderita sedikit luka."
Tak sempat lagi ia bercerita, dengan menggunakan ilmu Pat-poh-kam-sian, cepatcepat ia menuju ke sana.
Ternyata setelah lari dari tempat pertempuran, Nyo Ceng masih penasaran, ia mempunyai rencana hendak melarikan To-kan, ia tahu bahwa di dalam penjara situ terdapat sebuah jalan rahasia yang tembus keluar.
Jika dapat melarikan To-kan, berarti sebuah pahala juga, tetapi Siangkoan Thay menjaga dengan gigih, harus diganyang dulu baru ia dapat melaksanakan rencananya.
Begitu tiba, ia segera mainkan tongkat menyerang Siangkoan Thay yang tengah sibuk menghadapi Songpupa.
Siangkoan Thay mati-matian melawan sambil bersuit keras.
Akhirnya Siangkoan Thay kena ditotok jalan darahnya oleh Nyo Ceng, namun orang she Siangkoan itu mempunyai ilmu menutup jalan darah.
Sekalipun totokan itu mengakibatkan tenaga dalam merembes keluar, namun ia masih dapat bertahan tak sampai roboh.
Nyo Ceng hendak menerjangnya lagi, tiba-tiba terdengar hiruk-pikuk kawanan Wi-su menjerit kaget.
Kang Haythian sudah tiba di atas wuwungan rumah, melihat Siangkoan Thay dan Ceng-hoa tengah dikeroyok para Wisu, Kang Hay-thian gunakan ilmu Toa-soay-pay-chiu untuk merobohkan beberapa Wi-su yang tampak paling ganas.
Melihat Kang Hay-thian muncul di atas rumah, Nyo Ceng insyaf bahwa ia tak punya kesempatan lagi untuk mencelakai Siangkoan Thay, segera berserulah ia kepada kawan-kawannya.
"Angin kencang, berhenti teriak!"
Dengan peringatan itu ia anggap sudah memenuhi kewajiban kawan terhadap Songpupa, tanpa menghiraukan dia lagi, segera ia melarikan diri. Songpupa tak tahu siapa Kang Hay-thian itu, ia tertawa dingin.
"Nyo Ceng, nyalimu sungguh kecil benar!"
Kembali ia melontarkan sebuah pukulan ke arah Siangkoan Thay.
Saat itu Kang Hay-thian pun sudah tiba, dari atas rumah meloncat turun.
Setelah menderita sedikit luka dan melihat kedatangan Kang Hay-thian, Siangkoan Thay pun tak mau bertempur lagi.
Ia menghindar ke samping dan berseru.
"Kangtayhiap, lekas, Lim To-kan ditahan dalam ruang ini!"
Di luar dugaannya, peringatan itu menggugah pikiran Songpupa juga, pikirnya.
"Begitu takut Nyo Ceng kepada orang ini, tentulah seorang yang lihai. Lebih baik kutawan dulu bangsat cilik itu agar jangan sampai dirampas musuh dan sekaligus dapat digunakan bila perlu."
Ia menyiak Siangkoan Thay dengan sebuah pukulan, kemudian terus hendak menerobos ke dalam ruangan. Kang Hay-thian mencengkeramkan tangannya ke udara dan membentak dahsyat.
"Kembali!"
Bentakan itu disebut ilmu Say-cu-khong-kang atau singa mengaum.
Dahulu ketika tukar-menukar kepandaian dengan Thongsian Siangjin dari Sian-lim-si, Kim Si-ih telah mendapat pelajaran ilmu itu, kemudian ia menurunkan pada Kang Hay-thian.
Hebat sekalipun Lwekang Songpupa, namun menghadapi gemboran Say-cu-khong-kang itu, jantungnya pun tergetar keras, bahkan tidak hanya begitu saja, tubuhnya pun di luar kesadarannya telah terseret mundur beberapa langkah.
Kang Hay-thian.
telah menggunakan pukulan Pikkhong-ciang digabung dengan Say-cu-khong-kang, hasilnya membuat Lamma lihai dari Secong itu terpental mundur, tetapi ia tak jatuh, suatu hal yang membuat Kang Hay-thian kagum juga.
Cepat sekali Kang Hay-thian mencelat ke muka si Lamma dan membentaknya.
"Mengingat kau seorang agama, maka enyahlah saja!"
Kang Hay-thian seorang yang lapang dada dan murah hati, sebaliknya Songpupa tak percaya kalau ia bakal dilepas begitu saja.
Ia kuatir begitu berputar tubuh.
Kang Hay-thian akan memukulnya dari belakang.
Dilihatnya Siangkoan Thay sudah terluka dan menyingkir ke samping, pikirnya.
"Ho Lan-bing dan beberapa Ko-chiu masih berada di sini, asal aku dapat melayaninya barang 10-an jurus saja, tentulah bala bantuan akan datang. Daripada mundur dan ditertawai orang, lebih baik kutempurnya mati-matian!"
Lamma itu tidak tahu bahwa Ho Lan-bing, Li Tay-tian dan kawannya yang lain sudah terluka semua.
Diam-diam ia mengerahkan seluruh Lwekang ke arah lengan, ia pura-pura hendak lari sambil mendamprat Kang Hay-thian.
"Siapa kau, berani begitu sewenangwenang?"
"Kalian menangkap juga seorang anak, mengapa menuduh aku sewenang-wenang? Seorang lelaki tak mau menyembunyikan diri, akulah Kang Hay-thian dari Soatang!"
Sahut Kang Hay-thian.
"O, kiranya Kang-tayhiap? Sudah lama sekali aku mengagumi namamu!"
Sekonyong-konyong Lamma itu bersuit keras, kemudian menghantam sekuat-kuatnya dengan sepasang tinjunya. Suitan itu tanda meminta bala bantuan.
"Bum", karena tak bersiaga. Kang Hay-thian terkena hantaman itu. Marahlah ia.
"Kurangajar! Telah kuampuni kau, sebaliknya kau malah membokong aku!"
Ia balas memukul dengan jurus Wan-kong-shia-tiau, setelah tangan kiri ditarik, secepat kilat ia menggerakkan tangan kanan menghantam.
Songpupa mengepalkan kedua tinju yang dibuat memukul orang itu untuk menyambut telapak tangan lawan.
Sementara kuda-kuda kakinya tetap tegak laksana karang, pukulan tangan kiri Kang Hay-thian tadi menggunakan lima bagian Lwekang, kemudian pukulan dengan tangan kanan menggunakan tujuh bagian tenaganya.
Bahwa si Lamma dapat bertahan diri sedemikian rupa, membuatnya benar-benar heran.
Ia hendak menyusuli lagi dengan pukulan ketiga, tapi tibatiba terlintas sesuatu dalam pikirannya.
Didengarnya Songpupa berdehem perlahan, dari tujuh lubang indera tubuhnya memancarkan darah dan disusul dengan robohnya sang tubuh ...
ternyata Lamma itu tak kuat menerima pukulan Kang Hay-thian, tetapi memaksakan diri dan menggunakan Jian-kin-tui untuk mempertahankan tubuhnya.
Itulah sebabnya setelah bagian dalam tubuhnya hancur, barulah Lamma itu terjungkal roboh.
Kemudian Kang Hay-thian menanyakan tentang keadaan Siangkoan Thay.
Sahut Siangkoan Thay.
"Hanya terluka sedikit, tak jadi soal."
Kemudian kedua jago itu masuk ke dalam ruang sel, dengan tenaganya yang maha dahsyat dapatlah Kang Hay-thian memutuskan papan besi pengalung kaki To-kan.
Saat itu Utti Keng suami istri dan kawan-kawannya tiba juga.
kawanan Wi-su yang mengeroyok Ceng-hoa dan Siangkoan Wan pun sudah lari.
Dalam girangnya, To-kan mencekal tangan Kong-he dan berkata dengan penuh keharuan.
"Apakah aku sedang bermimpi? Suhu, kau datang. Engkoh Kong-he, kau pun juga datang!"
Kong-he tertawa.
"Masih ada lagi hal yang lebih menggirangkan hatimu, adik Kan. Ayahmu pun berada di kotaraja sini, aku bersama paman Te memang mendapat perintah dari beliau untuk menolongmu!"
Hampir tak dapat To-kan mempercayai telinganya.
"Benarkah? Mengapa ayah tak kemari?"
"Dia memimpin anak buah menyerang istana,"
Kata Kong-he.
Mendengar ucapan itu sampai Kang Hay-thian juga terkejut sekali, ternyata ia hanya mendengar berita tentang ditangkapnya Lim To-kan, sama sekali tak tahu tentang Lim Jing menyerang istana.
"Kita tak boleh terlambat, segera saja kita sambut Kaucu,"
Kata Te Kun. Dengan semangat bergelora, berserulah Kang Haythian.
"Inilah suatu gerakan yang benar-benar menggemparkan dunia. Hiong-ji, He-ji, Kan-ji, sungguh berbahagia sekali kita guru dan murid-murid bertemu di sini, kita harus segera membantu Lim-kaucu."
Ditariknya tangan Ubun Hiong untuk menghiburnya.
"Hiong-ji, kau adalah muridku yang baik. Apa yang telah kau alami, kuketahui semua. Soal itu tak lama tentu akan ketahuan, janganlah kuatir!"
Ucapan itu berarti suatu pernyataan menerima Ubun Hiong sebagai murid lagi, girang anak muda itu bukan buatan. Berbareng pada saat itu terdengarlah derap pasukan besar mendatangi. Segera kata Te Kun.
"Eh, apakah musuh telah mengetahui kita menyerang penjara sehingga mengirim pasukan kemari?"
"Jika mereka mengirim pasukan kemari, itulah kebetulan sekali. Dengan begitu tenaga perlawanan yang dihadapi Lim-kaucu menjadi berkurang,"
Seru Ki Seng-in pula.
Kini tersadarlah ia mengapa Lim Jing tempo hari tak mau lekas menyerang penjara, ternyata Lim Jing telah mengatur rencana yang sedemikian cermatnya, menyerang istana serta mengirim tenaga untuk membantunya (Ki Seng-in) ke penjara, membuat nyonya itu terkagum-kagum.
Sudah setahun Utti Keng menganggur, malam itu ia benar-benar gembira karena dapat menumpahkan kekesalan hatinya.
"Bagus, kita berpesta-pora malam ini!"
Para penjaga penjara sudah melarikan diri, mereka panik diterjang si berangasan Utti Keng.
Selesai menembus keluar, Utti Keng selalu membuka kunci tiaptiap ruang tahanan.
Para narapidana dan pesakitan penting berbondong-bondong keluar....
Sesudah menerjang keluar penjara kerajaan, tertampaklah di sebelah sana cahaya api merah membara menjulang tinggi ke langit.
Te Kun menyatakan kegirangannya, disangkanya sang Kaucu sudah berhasil menyerbu ke dalam istana.
Akan tetapi mendadak satu pasukan tentara berlari-lari ke jalanan ini.
Yang berlari-lari di depan sambil bertempur adalah anggota-anggota Thian-li-kau dan yang mengejar di belakang adalah pasukan kerajaan yang berseragam dengan membawa obor, maka suasana menjadi terang benderang seperti siang hari.
"Itu dia, yang di depan sana tentu adalah komplotan bandit Thian-li-kau yang menyerbu penjara. Mereka harus diringkus semuanya, satu pun tidak boleh lolos!"
Demikian teriak seorang perwira.
Te Kun menjadi ragu-ragu dan merasa gelagat jelek, pasukan kerajaan ini bukan pergi membantu mempertahankan istana, sebaliknya malah menguber ke sini, agaknya di sebelah istana sana telah terjadi perubahan.
Dalam pada itu pasukan kerajaan yang berkuda itu sudah menerjang tiba, anggota-anggota Thian-li-kau yang bersenjata itu masih sanggup melawan sehingga tidak banyak jatuh korban, tapi kawanan pelarian dari penjara itulah yang telah terbunuh tidak sedikit.
Mendadak Utti Keng menggerung keras, bukannya melarikan diri, sebaliknya ia memapak ke arah pasukan musuh.
Bentaknya murka.
"Ini dia, boleh kita coba siapa yang akan lapor dulu kehadapan raja akhirat!"
Ketika beberapa penunggang kuda dari pasukan kerajaan yang paling depan menerjang tiba, sekonyongkonyong Utti Keng menjatuhkan diri ke atas tanah, sinar goloknya berkelebat, yang dia incar adalah kaki kuda melulu.
Kepandaian Utti Keng menggelinding di atas tanah sambil main golok memang sangat lihai, begitu rebah terus saja dia bergulingan sebagai bola dan setiap saat dapat pula membal ke atas bilamana ada kesempatan untuk membunuh musuh.
Pasukan musuh yang bermaksud menginjak tubuh Utti Keng tahu-tahu berbalik roboh semua karena kaki kuda mereka tertabas kutung.
Dalam sekejap saja lima penunggang kuda paling depan sudah dibinasakan olehnya.
Dan karena itu pula jalanan kota menjadi terhalang oleh bangkai kuda dan mayat manusia.
Sesuai dengan julukan 'Koan-im bertangan seribu', saat itu Ki Seng-in juga telah memperlihatkan kemahiran dalam menghamburkan senjata rahasia.
Begitu dia menangkap anak panah yang dibidikkan dari prajuritprajurit kerajaan itu, kontan ia sambitkan kembali bagai hujan, dalam sekejap saja belasan prajurit musuh juga sudah roboh binasa.
"Terjang terus, injak kawanan bangsat ini sampai hancur-Iebur!"
Demikian perwira tadi memberi komando.
Karena didesak oleh komandannya, walaupun enggan, terpaksa kawanan prajurit itu membanjir maju lagi, selain panah, sekarang mereka pun menghujani lembing sehingga mau tak mau di pihak Thian-li-kau telah jatuh korban lebih banyak.
Kang Hay-thian tidak mau tinggal diam lagi, mendadak ia melompat maju sambil membentak "Roboh!"
Dua batang lembing yang ditangkapnya kontan-ditimpukkan kembali. Perwira garang tadi tertembus oleh sebatang lembing, lembing yang lain menyelonong ke arah seorang perwira yang lain lagi.
"cret", tahu-tahu kopiah perwira itupun telah disambar lembing itu dan jatuh ke tanah, rambut si perwira itupun terkupas secomot, hanya selisih sedikit saja kepalanya tentu bisa pecah. Keruan kejut perwira itu tidak kepalang, sambil meraba kepalanya cepat ia memutar kuda terus melarikan diri. Melihat komandan dan wakil komandan mereka telah binasa dan lari, tentu saja prajurit-prajuritnya ikut ketakutan. Sambil berteriak panik mereka terus saja putar haluan dan kabur mencari selamat sendiri-sendiri. Diam-diam Kang Hay-thian merasa lega, untunglah pasukan musuh itu sudah lari ketakutan, padahal kalau mereka mau menerjang maju, biarpun kepandaian Kang Hay-thian dan kawan-kawannya setinggi langit juga sukar meloloskan diri dari terjangan lautan manusia musuh itu. Sesudah suasana tenang kembali, segera seorang Thaubak dari Thian-li-kau maju memberi hormat kepada Te Kun serta menyampaikan berita.
"Atas perintah Kaucu, para saudara kita diharuskan lekas menuju ke Wijun melalui pintu gerbang utara."
Wi-jun adalah sebuah kampung kecil kira-kira ratusan li di luar kotaraja, beberapa ribu bala bantuan anak buah Tio Su-liong sementara itu berpangkalan di sana.
Keruan Te Kun terkejut sekali menerima berita itu.
"Apakah pertempuran di istana telah mengalami kegagalan?"
Tanyanya.
"Giam Cin-hi telah berkhianat pada saat terakhir, di dalam istana ada pasukan bedil pula, sebaliknya bala bantuan kita terlambat datang, terpaksa kita diperintahkan mundur dahulu,"
Tutur Thaubak itu.
"Dan Kaucu sendiri apakah baik-baik saja?"
Tanya Te Kun "En ... entah, aku sendiri tidak tahu,"
Sahut si Thaubak dengan ragu-ragu dan tidak berani menerangkan, karena saat itu Lim To-kan telah mendekati mereka.
Kiranya Lim Jing sudah bersekongkol dengan dua Thaykam di dalam istana, yaitu Lau Kim dan Giam Cin-hi.
Di luar dugaan Giam Cin-hi telah mengetahui terputusnya bala bantuan dari Tio Su-liong, melihat gelagatnya tentu pergerakan mereka akan gagal, ia menjadi takut akibatnya, diam-diam ia malah melaporkan sendiri kepada raja.
Karena itu pihak kerajaan di bawah pimpinan putra mahkota Bun Ling sempat mengadakan penjagaan dan Lau Kim tertangkap serta binasa.
Di antara pasukan pengawal istana itu ada satu pasukan bedil yang lihai pada zaman itu.
Betapapun gagah beraninya anggota-anggota Thian-li-kau juga sukar melawan senjata api itu, apalagi musuh sudah mengetahui pergerakan mereka, bahkan bala bantuan pasukan kerajaan segera dapat didatangkan juga.
Dalam keadaan terjepit, demi untuk menyelamatkan sebagian kekuatannya, terpaksa Lim Jing memberi perintah menerjang keluar dari kotaraja.
Begitulah setelah mendapat laporan dari Thaubak itu, semua orang menjadi kuatir dan ingin lekas pergi membantu Lim Jing, segera rombongan mereka menyerbu ke pintu gerbang utara.
Sampai di sana.
pintu gerbang sudah terpentang lebar, mayat-mayat bergelimpangan memenuhi bumi.
Ada satu regu anggota-anggota Thian-li-kau sedang terkepung dan bertempur dengan mati-matian, rupanya regu Thian-likau itu keburu disusul oleh pasukan musuh sehingga terpaksa mereka mempertahankan diri.
Walaupun jumlah pasukan kerajaan itu cukup banyak, tapi rombongan Utti Keng terdiri dari jago-jago silat yang tangkas, sekali terjang segera prajurit-prajurit musuh dibikin kocar-kacir dan lewatlah mereka keluar pintu gerbang.
Karena tidak tahu apakah pihak Thian-li-kau menyembunyikan pasukan bala bantuan atau tidak, maka pasukan kerajaan itu tidak berani mengejar keluar kota.
Karena menguatirkan diri sang ayah, segera To-kan menanyakan keadaan ayahnya kepada seorang Hiangcu yang dikenalnya.
Keterangan yang diperoleh ternyata cocok dengan laporan Thaubak semula.
Ayahnya sudah mengundurkan diri lebih dulu ke Wi-jun.
To-kan menjadi sangsi, ia kenal watak sang ayah yang lebih memikirkan orang lain daripada keselamatan diri sendiri.
Mustahil ayahnya mau kabur lebih dulu dengan meninggalkan anak buahnya dalam keadaan terkepung, kecuali kalau sudah terjadi sesuatu atas diri ayahnya.
Namun percaya atau tidak, terpaksa ia ikut di samping Suhunya dan kabur ke depan bersama rombongan.
Utti Keng dan Ki Seng-in juga bersama mereka, di belakang menyusul Ubun Hiong dengan kencang.
Utti Keng tahu dimana letak kampung Wi-jun itu, mereka melarikan kuda sekencangnya sehingga tidak lama kemudian rombongan telah mereka tinggalkan jauh di belakang.
Melihat di belakang tiada orang lain lagi, Utti Keng tidak tahan lagi, segera ia berkata.
"Kang-tayhiap, aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu padaku ini, tapi mau tak mau aku mesti mencaci-maki muridmu yang tertua itu, keparat benar, bocah itu benar-benar bukan manusia."
Kang Hay-thian terkejut, tanyanya cepat.
"Apakah Leng-hong berbuat sesuatu kesalahan padamu?"
"Tidak cuma salah saja, bahkan jiwaku ini hampir melayang karena perbuatannya,"
Kata Utti Keng dengan gemas.
"Waktu di Kik-yau tempo hari, dalam keadaan terluka aku telah berjumpa dengan dia. Bukannya dia membantu aku, sebaliknya dia malah mendorong aku sehingga terjungkal dari atas rumah, sebab itulah aku kena ditangkap oleh Ho Lan-bing."
"Jika begitu soalnya menjadi makin jelas sekarang,"
Tiba-tiba Ki Seng-in menimbrung.
"Makin jelas bagaimana?"
Tanya Utti Keng.
"Toako,"
Sahut Ki Seng-in.
"bukan saja jiwamu hampir dibikin melayang, bahkan jiwaku juga hampir melayang lantaran bocah itu. Kang-tayhiap, kami tahu Yap Leng hong adalah keponakan dan juga murid ahli warismu, tapi dalam urusan ini, terpaksa kami harus bicara terus terang kepadamu."
"Kedatanganku ke kotaraja ini justru hendak menyelidiki dan bertanya kepada kalian urusan tentang Leng-hong, maka silakan bicara saja,"
Sahut Hay-thian tegas.
"Kang-tayhiap, tahukah kau ketika aku menumpang bermalam di kediamanmu, besok paginya ketika aku berangkat, segera dicegat oleh kawanan alap-alap kerajaan dan hampir-hampir tewas?"
Tanya Ki Seng-in.
"Aku sudah mendapat tahu kejadian itu, kabarnya kau mencurigai anak Hiong, sebenarnya bagaimana persoalannya?"
Tanya Hay-thian. Lebih dulu Ki Seng-in minta maaf lagi kepada Ubun Hiong, kemudian baru berkata.
"Sesudahnya barulah aku tahu telah salah memfitnah muridmu yang kedua ini, sebab mata-mata musuh yang sebenarnya adalah muridmu yang pertama, yaitu Leng-hong."
"Hah, Toasuheng katamu? Dari ... darimana kau mengetahui, Ki-lihiap?"
Tanya Ubun Hiong terkejut dan girang.
Dia bergirang karena dirinya sekarang sudah bebas dari tuduhan yang tak berdasar itu.
Tapi Toasuhengnya adalah mata-mata musuh, hal ini sama sekali tak tersangka olehnya.
"Yap Leng-hong memang pintar menjalankan perannya, tapi tidak urung ketahuan juga tandatandanya yang mencurigakan,"
Kata Ki Seng-in.
"Ubunsiauhiap, waktu kau dan Toasuhengmu hendak berangkat ke Tong-peng-koan untuk membeli obat, bukankah aku pernah berpesan agar suka mencarikan seorang kawanku yang berjanji akan bertemu dengan aku di kota itu?"
"Betul,"
Sahut Ubun Hiong.
"Kawanku itu pada besok paginya juga keburu tiba, dia bukan lain adalah Gak-thocu yang telah menolong jiwaku itu,"
Kata Seng-in.
"Dia bernama Gak Ting, adalah saudara angkat suamiku. Malahan aku harus minta maaf kepada Kang-tayhiap karena kesalah pahaman Gak Ting pernah merecoki rumahnya."
"Hal-hal yang sudah lalu itu tak perlu dibicarakan lagi,"
Ujar Hay-thian.
"Harap lekas kau ceritakan duduk perkara sebenarnya saja."
"Malam itu juga sebenarnya Gak Ting sudah sampai di Tong-peng,"
Demikian tutur Ki Seng-in "Kota itu hanya ada dua buah hotel, dia bermalam pada hotel yang agak besaran.
Sebagaimana menurut perjanjian kami, dia telah menggores tanda di dinding pagar belakang hotel untuk memudahkan aku mencarinya.
Mestinya dengan gampang saja dia dapat diketemukan, akan tetapi Yap Leng-hong yang kumintai tolong mencarinya mengatakan tidak menemukan sesuatu tanda apa-apa.
Bukankah dia jelas berdusta?"
"Sebab ... sebab apakah Toasuheng sampai berbuat begitu?"
Ujar Ubun Hiong dengan ragu-ragu.
"Ya, sudah tentu karena dia mempunyai urusan penting sendiri di dalam kota,"
Kata Ki Seng-in.
"Pertama dia harus menyelesaikan urusannya pada waktu sebelum kau kembali meminjam kuda, makanya dia sama sekali tidak mencari tahu keberadaan Gak Ting, selain itu dia ingin menjebak aku pada esok paginya."
Ubun Hiong tambah terkejut, tanyanya.
"Urusan apakah yang dikerjakan Toasuheng ketika datang ke kota? Siapakah yang dia hubungi? Darimana kau mengetahui Toasuheng yang telah menjebak kau?"
"Hotel yang dipakai Gak Ting itu tepat berhadapan dengan restoran Thay-pek-lau yang baru saja dibuka,"
Tutur Ki Seng-in.
"Antara tengah malam, dari jendela kamar Gak Ting kebetulan melihat suatu bayangan pemuda menyelinap ke dalam hotel secara sembunyisembunyi. Lapat-lapat di dalam restoran itu kelihatan pula ada beberapa orang lagi, sebelumnya pemuda itu seperti dipapak seorang dan mengadakan pembicaraan sejenak, kemudian barulah masuk. Bagi orang yang berpengalaman, gerak-gerik pemuda itu dapat diduga pasti tidak beres dan ada hubungan rahasia dengan orang-orang di dalam restoran.
"Sudah tentu Gak Ting tidak kenal apakah dia Yap Leng-hong atau siapa, maka dia percaya saja padaku dan besoknya telah berkunjung ke rumah Kang-tayhiap dan memfitnah Ubun-siauhiap. Kalau dipikir, sekarang memang banyak tanda-tanda yang mencurigakan, misalnya waktunya, menjelang tengah malam tatkala itu Ubun-siauhiap sendiri berada dimana?"
"Aku berada di rumah si kakek Ong untuk meminjam kuda,"
Sahut Ubun Hiong.
"Kemudian aku berkumpul lagi dengan Yap-suheng di luar kota, sementara itu sudah lewat tengah malam."
"Itulah dia, makanya bayangan pemuda itu pastilah dia adanya,"
Seru Ki Seng-in.
"Aku yakin dugaanku ini tidaklah meleset."
"Apa kerja restoran baru itu dan orang macam apakah penghuninya? Apakah sesudahnya kalian menyelidiki?"
Tanya Hay-thian dengan suara parau, hilanglah ketenangannya waktu menghadapi persoalan pelik ini.
"Restoran itu dibuka oleh alap-alap kerajaan,"
Tutur Seng-in.
"Malam itu wakil komandan pasukan pengawal Li Tay-tian dan jago-jago istana lainnya justru bersembunyi di rumah makan itu. Hal itu esok paginya juga sudah kupergoki mereka."
"Hah, jika demikian, jadi Toasuheng yang telah bersekongkol dengan kawanan anjing kerajaan itu untuk menangkap kau dan kudamu itupun Toasuheng yang meracuninya?"
Ubun Hiong menegas dengan tidak habis mengerti.
"Benar,"
Sahut Ki Seng-in.
"Besok paginya aku pergi mengambil kuda, kebetulan kupergoki dia baru keluar dari kandang kuda. Dia bilang kuda itu sudah diberi makan olehmu, dia hanya mengontrol lagi sekadarnya. Tatkala itu aku tidak menaruh curiga apa-apa kepadanya, yang kucurigai adalah kau. Namun sekarang duduknya perkara sudah jelas. Justru dia yang telah berbuat jahat dengan memfitnah kau, maka bagi Kang-tayhiap, murid murtad yang sesungguhnya adalah kau punya murid ahli waris itu."
Sungguh menyesal sekali Kang Hay-thian, katanya dengan sedih.
"Utti-thocu dan Ki-lihiap, banyak terima kasih atas bantuan kalian yang telah ikut membongkar rahasia muridku yang murtad ini. Ehm, binatang kecil itu, biarpun kubunuh dia juga belum terlampias rasa benciku."
Waktu itu Kang Hay-thian berjalan dengan menggandeng tangan Lim To-kan dan Li Kong-he, sekarang kedua anak itu sama-sama merasakan tangan sang guru berkeringat dingin dan agak gemetar.
Keruan mereka terkejut dan sama-sama bertanya.
"Suhu, ada apakah? Apakah engkau tidak perlu mengaso dulu?"
Sementara itu fajar sudah hampir menyingsing, sudah remang-remang.
Sebagai seorang Kangouw kawakan, Utti Keng menjadi terkejut ketika melihat air muka Kang Hay-thian agak pucat, napasnya rada tersengal dan jidatnya berkeringat.
Tanda-tanda ini biasanya tidak mungkin terjadi bagi orang kuat seperti Kang Hay-thian, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat guncangan perasaan Kang Hay-thian terhadap peristiwa luar biasa mengenai diri Yap leng-hong itu, maka cepat ia pun mengusulkan agar Kang Hay-thian berhenti mengaso dulu.
Namun Kang Hay-thian menjawab.
"Tidak perlu, aku harus lekas menemui Lim-kaucu, habis itu segera aku akan mencari murid murtad itu untuk membikin perhitungan padanya."
"Kang-tayhiap,"
Kata Ki Seng-in dengan menyesal.
"tahu begini, tentu aku takkan buru-buru memberitahukan padamu duduknya perkara. Tentang muridmu itu memang harus dihajar, tapi juga tidak perlu tergesa-gesa."
"Kenapa tidak tergesa-gesa? Ai, kau tidak tahu ... ya, pendek kata aku malu terhadap para ksatria di jagat ini,"
Kata Kang Hay-thian.
"Sudahlah, mari kita maju terus. Hayo Utti-thocu, marilah kita berlomba Ginkang, coba tenaga lari siapa lebih cepat?"
Mendengar suara Kang Hay-thian yang sedih memilukan itu, diam-diam Utti Keng ikut terharu.
Dalam pada itu Kang Hay-thian sudah mendahului mempercepat langkahnya ke depan, terpaksa Utti Keng dan Ki Seng-in menyusul sekuatnya, namun begitu mereka tetap ketinggalan.
Menurut dugaan Utti Keng, sebabnya Kang Hay-thian berduka dan menyesal adalah lantaran mempunyai seorang murid pengkhianat.
Tak diketahuinya bahwa penyesalan Kang Hay-thian itu tidak melulu urusan pribadi saja, tapi adalah mengenai soal pergerakan melawan kerajaan Boan-jing serta jiwa para pahlawan yang banyak, boleh jadi karena kesalahannya, jiwa para pahlawan itu bisa melayang di tangan Yap Leng-hong.
Seperti diketahui Yap Leng-hong diangkat menjadi suatu pemimpin pasukan bala bantuan yang berangkat ke Sucwan.
Pengangkatannya adalah karena para pahlawan menaruh kepercayaan penuh atas nama Kang Hay-thian, tapi jika lantaran pengkhianatan Yap Lenghong sehingga terjadi apa-apa atas diri para pahlawan, hal ini benar-benar suatu pukulan yang hebat bagi Kang Hay-thian.
Begitulah, jarak ratusan li itu telah ditempuh dalam waktu singkat dengan Ginkang Kang Hay-thian yang tinggi.
Setiba di depan markas pasukan pergerakan di dusun Wi-jun, terasalah dada Kang Hay-thian agak sesak, keringat dingin membasahi bajunya.
Kalau bukan Lwekangnya teramat tinggi dan bertahan sekuatnya, mungkin dia telah jatuh pingsan seketika.
Ada di antara anak buah Thian-li-kau yang kenal Kang Hay-thian dan Lim To-kan, maka mereka lantas menyambut kedatangan para ksatria itu dan mempersilakan masuk.
Dalam pada itu Thio Su-liong telah memapak keluar, katanya.
"Kaucu sedang menantikan kedatangan Kangtayhiap dan anak Kan, silakan masuk saja."
To kan merasa lega demi mendengar ayahnya berada di situ, tapi merasa heran mengapa ayahnya tidak menyambut kedatangan sang guru.
Ketika Thio Su-liong membawa mereka ke suatu kamar, tiba-tiba To-kan melihat ayahnya berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat, selimutnya juga berlepotan darah, la menjerit dengan terkejut.
"Ayah, kenapakah kau?"
Mendadak Lim Jing bangkit berduduk dan menyapa.
"Kang-tayhiap, sungguh tidak nyana hari ini barulah aku dapat berkenalan dengan engkau. Walaupun agak terlambat, tapi kedatanganmu ini tepat pada waktunya, engkau telah sudi menerima anakku sebagai murid, untuk itu aku dapatlah merasa lega dan berterima kasih. Mengenai situasi pergerakan, soal menang atau kalah adalah jamak, tentu pula ada yang binasa dan terluka, ini bukan apa-apa. Asalkan saja tenaga baru terus menerus dapat dibangkitkan."
Kiranya Lim Jing telah terluka parah dalam usahanya melindungi anak buahnya dan menerjang keluar dari kepungan musuh, darahnya terlalu banyak mengalir keluar, jiwanya sudah tinggal soal waktu saja.
Semangatnya itu hanya terbangkit secara serentak saja ketika melihat kedatangan putrinya bersama Kang Haythian.
"Kaucu, silakan mengaso dan merawat lukamu dengan tenang, janganlah banyak bicara lebih dulu,"
Kata Kang Hay-thian.
"Tidak, ada suatu urusan penting yang tidak boleh tidak harus kubicarakan denganmu saat ini juga,"
Ujar Lim Jing.
Kang Hay-thian paham ilmu pertabiban, dari luka Lim Jing yang parah serta denyut nadinya yang lemah itu, ia tahu ketua Thian-li-kau itu sudah sangat payah, lebih banyak matinya daripada hidup, maka sebisanya ia menahan rasa sedihnya sendiri, ia pegang kencang tangan Lim Jing dan menyalurkan tenaga sendiri untuk membantu Lim Jing agar kuat bicara.
"Kang-tayhiap,"
Kata Lim Jing.
"soal ini tentu akan membikin kau berduka, tapi terpaksa harus kukatakan padamu. Bukankah engkau mempunyai seorang murid pewaris yang bernama Yap Leng-hong?"
Hati Kang Hay-thian tergetar.
"Benar, kenapakah dia?"
"Apakah engkau mengetahui orang macam apakah dia itu?"
Tanya pula Lim Jing.
"Seorang murid khianat!"
Sahut Hay-thian tegas.
"O, jadi engkau sudah tahu, jika demikian akan banyak menghemat pembicaraanku,"
Ujar Lim Jing.
"Tapi mungkin engkau belum lagi mengetahui asal-usulnya bukan?"
Ini memang soal pokok yang sangat ingin diketahui oleh Kang Hay-thian, berbareng juga soal yang membuatnya sangsi selama ini.
Sebab ia masih mengira Yap Leng-hong adalah keponakannya dan tidak mengerti mengapa pemuda itu rela menjadi mata-mata musuh.
Maka dengan bingung Kang Hay-thian menjawab.
"Bagaimana asal-usulnya?"
"Dia adalah putra Yap To-hu, si tukang jagal gubernur Sucwan sekarang,"
Tutur Lim Jing dengan mengertak gigi.
Keterangan ini benar-benar membuat Kang Hay-thian terperanjat meskipun sebelumnya sudah mengetahui Yap Leng-hong adalah muridnya yang murtad.
Memangnya sudah cukup berat pukulan batin yang dia terima, sekarang dia benar-benar ditusuk lagi sekali.
Seketika pandangannya serasa gelap dan hampir-hampir pingsan, sekuatnya ia bertahan dan bertanya lagi dengan suara gemetar.
"Darimana kau mengetahui Lim-kaucu?"
"Waktu kami menyerbu ke dalam istana, dari dokumen yang kami berhasil rampas, antara lain adalah suatu laporan rahasia dari Yap To-hu kepada Bok Ting-ca agar disampaikan kepada kaisar, tentang putranya yang telah berhasil menyelundup ke dalam pasukan pemberontak sehingga untuk menumpas pergerakan di Sucwan adalah tidak sukar. Bahkan untuk sementara ini dengan bantuan kedudukan putranya di dalam pasukan pemberontak itu, kelak ada harapan besar dapat menjaring sekaligus para pemimpin pemberontak. Dokumen itu berhasil dicuri oleh seorang Thaykam anggota Thian-li-kau di bawah pimpinan Lau Kim, yang gagal dalam pergerakan kali ini."
Sesudah membaca dokumen itu, maka jelaslah segalanya bagi Kang Hay-thian, namun urusan juga sudah telanjur. Dalam keadaan gugup dan bingung, Kang Hay-thian mendengar Lim Jing berkata.
"Dengan segala daya upaya, musuh tentu akan memukul kita, soal pengkhianatan juga sukar dihindarkan. Walaupun agak terlambat, namun akhirnya soal ini dapat kita ketahui juga. Syukurlah kita telah dapat bertemu tepat pada waktunya. Kang-tayhiap, tentang murid murtad ini dapatlah aku merasa lega karena akan kau bereskan sendiri."
Sampai di sini mendadak napas Lim Jing berubah menjadi lemah, badannya menjadi lemas.
Kang Haythian terkejut, ia merasa tenaga dalam sendiri sudah tidak mau dikerahkan menurut keinginannya lagi untuk membantu Lim Jing.
Thio Su-liong yang berdiri di belakang lekas maju untuk memayang Lim Jing dan membaringkannya, katanya dengan suara pilu.
"Lim-kaucu, adakah pesan apa-apa darimu?"
"Thio-hiante,"
Kata Lim Jing dengan tersenyum.
"tanggung jawab Thian-liu-kau kita ini biarlah kuserahkan padamu. Meski sekali ini kita gagal, tapi janganlah kau patah semangat."
"Tidak, tidak! Kita tidak gagal,"
Seru Thio Su-liong.
"Kaucu, engkau harus tetap bersama kami!"
Wajah Lim Jing menampilkan pujian terhadap kegagahan bawahannya itu, seperti halnya orang yang tidur nyenyak dengan penuh pengharapan, dia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Ketika mendengar sang Kaucu telah wafat, para anggota Thian-li-kau menyatakan bela sungkawa mereka.
Lim To-kan menangis sedih sambil mendekap di atas jenazah ayahnya.
Di tengah suasana duka cita itu, tiba-tiba Kang Haythian berseru.
"Bagus, Lim-kaucu, kematianmu benarbenar menggegerkan dunia dan mengguncangkan langit, kematianmu membuat musuh merasa ngeri dan membuat semangat kawan terjaga! Engkau tidak gagal, hidupmu adalah ksatria, mati pun tetap gagah! Tidak, hakikatnya engkau tidak mati, jiwamu tetap hidup! Aku Kang Hay-thian percuma saja hidup di dunia ini, sungguh aku malu terhadapmu, malu terhadap para pahlawan seluruh jagat!"
Belum habis dia bersambat, mendadak darah segar menyembur dari mulutnya.
Perasaannya teramat berat mengalami pukulan, dia benar-benar sudah terlalu letih dan baru sekarang dia mengumbarnya, maka darah pun tersembur keluar.
Utti Keng sangat terkejut, cepat ia maju memayangnya, katanya.
"Kang-tayhiap, ini kan bukan kesalahanmu, Lim-kaucu sudah wafat, engkau harus lebih menjaga dirimu sendiri. Misalnya tentang muridmu yang murtad itu, hal ini masih menunggu penyelesaianmu."
"Betul,"
Sahut Kang Hay-thian.
"mana boleh aku melupakan pesan Lim-kaucu? Aku harus segera berangkat."
Namun demikian dia benar-benar sudah sangat lemas, tubuhnya sudah tak mau menurut perintah lagi. Ki Seng-in membisiki sang suami.
"Jangan kau menyebut soal Yap Leng-hong lagi?"
Namun ucapan yang perlahan itu tak didengar juga oleh Kang Hay-thian, katanya.
"Soal itu mana boleh dihindari untuk tidak dibicarakan? Sehari murid murtad itu belum lenyap, sehari pula aku tidak bisa tidur nyenyak."
"Kang-tayhiap, bagaimana kalau aku mewakilkan kau berangkat ke sana,"
Ujar Utti Keng.
"Cuma Yap Lenghong adalah murid pewarismu, adalah di luar batas bilamana aku mewakilkan kau mengadakan pembersihan."
Kaucu baru dari Thian-li-kau, yaitu Thio Su-liong telah mengikuti pembicaraan mereka. Dia merasa serba susah, mestinya dia ingin bicara sesuatu, tetapi urung.
"Murid murtad dan kaum pengkhianat setiap orang juga boleh membunuhnya, soal ini bukan soal di luar batas segala,"
Kata Kang Hay-thian.
"Cuma saja Limkaucu baru saja wafat, boleh jadi musuh akan menggunakan kesempatan baik ini untuk menyerang kita, maka gerakan pemberontakan di sini juga sangat penting. Kukira kalian suami istri lebih baik tinggal di sini untuk membantu Thio-kaucu."
Dalam keadaan demikian Kang Hay-thian lebih mementingkan urusan pergerakan daripada kepentingan pribadi, sudah tentu para ksatria merasa sangat kagum, maka Utti Keng juga tidak membuka suara pula.
Thio Su-liong minta agar Kang Hay-thian istirahat saja dahulu dan merawat lukanya, tentang urusan lain boleh diselesaikan kelak.
Namun Kang Hay-thian telah berkata.
"Urusan ini tidak boleh ditunda. Biarlah kupikirkan dulu cara penyelesaiannya yang baik."
Lalu ia pejamkan mata untuk merenung. Sejenak kemudian, mendadak ia membuka mata dan memanggil.
"Anak Hiong, coba maju sini."
"Ada pesan apakah, Suhu?"
Tanya Ubun Hiong sambil mendekati sang guru.
"Sejak hari ini kau adalah murid pewarisku yang baru, aku memerintahkan kau supaya memegang teguh peraturan kita, soal upacara boleh diabaikan, biarlah para ksatria yang hadir di sini sebagai saksi,"
Demikian kata Kang Hay-thian. Ubun Hiong terkejut, katanya pula dengan gugup.
"Hal ini mungkin ... mungkin Tecu tidak sanggup melakukan kewajiban dengan baik."
"Tidak bisa melakukan kewajiban dengan baik apa?"
Omel Hay-thian.
"Semakin berat tanggung jawabmu, semakin besar pula tugasmu. Seorang ksatria sejati harus berani menghadapi kesukaran, seorang laki-laki sejati harus memilih tugas yang berat. Jika kau tidak menjadi ahli waris, apakah mesti Yap Leng-hong saja yang tetap menjadi ahli warisku?"
Ucapan sang guru itu membangkitkan semangat jantan Ubun Hiong, segera ia menjawab.
"Baiklah, segalanya murid tunduk kepada pesan Suhu, biar masuk ke lautan api atau terjun ke dalam air mendidih juga murid takkan menolak."
Wajah Kang Hay-thian menampilkan senyuman, katanya.
"Bagus, demikianlah baru benar-benar muridku yang baik."
Lalu ia pun menyerahkan dokumen rahasia yang diterimanya dari Lim Jing itu kepada Ubun Hiong, lalu menyambung.
"Kau lekas berangkat ke Sucwan, carilah Ciong Leng dan Sumoaymu, perlihatkan dokumen rahasia ini. Tentu mereka nanti akan membantu kau memberi ganjaran setimpal kepada murid murtad itu. Tapi ingat, sebelum bertemu dengan Ciong Leng, jangan sekali-kali rahasia ini sampai bocor. Bocah she Yap itu sangat licik, jangan-jangan kau tidak berhasil menggebuk anjing berbalik malah digigit anjing."
Ubun Hiong mengiakan dan menyatakan akan berlaku hati-hati.
Ia menerima dokumen itu dan menyimpannya dengan baik di dalam baju, lalu ia pun mohon diri untuk keluar agar gurunya dapat mengaso.
Tapi Kang Hay-thian tiba-tiba seperti ingat sesuatu, ia berkata pula.
"Nanti dulu anak Hiong, ada sedikit urusan pribadi yang hendak kubicarakan denganmu."
Mendengar pembicaraan yang akan diadakan adalah soal pribadi, Utti Keng dan lain-lain lantas mengundurkan diri keluar kamar.
Segera Kang Hay-thian menyuruh Ubun Hiong mendekatinya, katanya dengan tersenyum.
"Anak Hiong, aku ingin tanya sesuatu urusan pribadimu. Ketika ayah-bundamu masih hidup, apakah beliau-beliau itu sudah mengikatkan jodoh bagimu?"
Selamanya Kang Hay-thian tidak pernah berkelakar dengan anak muridnya, maka Ubun Hiong menjadi melengak ketika mendadak sang guru menanyakan soal perjodohannya, dengan muka merah kemudian ia menjawab.
"Belum."
Lalu Kang Hay-thian berkata pula.
"Aku tahu kau dan Hiau-hu sangat cocok saru sama lain. Menurut cerita ibu gurumu, sesudah kau difitnah dan meninggalkan rumah, selama itu Hiau-hu terus memikirkan dirimu dan pernah menangis beberapa kali."
Hati Ubun Hiong berdebar-debar dan muka merah jengah. Tapi Kang Hay-thian menyambung lagi dengan tertawa.
"Asalkan kalian suka sama suka, maka aku pun bersedia menjadikan kalian. Kesehatanku ini entah kapan baru dapat pulih kembali, boleh jadi akan timbul pula halhal di luar dugaan. Andaikan terjadi apa-apa atas diriku, maka bolehlah kau katakan kepada ibu gurumu bahwa aku sudah menyanggupi perjodohan kalian."
Sungguh girang Ubun Hiong tak terkatakan, untuk sekian lamanya dia sampai terkesima.
"Bagaimana, aku menyerahkan anak Hu padamu, apakah kau bersedia mendampingi dia selama hidup?"
Tanya Hay-thian pula. Baru sekarang Ubun Hiong sadar, cepat ia berlutut dan mengucapkan terima kasih, katanya.
"Atas budi kebaikan Suhu, tentu murid takkan mengecewakan harapanmu serta cinta kasih adik Hu. Semoga kesehatan Suhu lekas pulih seperti sediakala."
Begitulah, dia buru-buru menyatakan terima kasihnya sehingga lupa memanggil "ayah mertua"
Kepada Kang Hay-thian, tapi soal tetek-bengek inipun tak dipikir oleh Hay-thian, dia hanya tertawa senang. Melihat hari masih siang, segera Ubun Hiong menyatakan maksudnya.
"Hari baru saja lewat Iohor, murid pikir dapat berangkat sekarang juga. Apakah Suhu masih ada pesan apa-apa?"
"Baiklah, selekasnya kau sampai di Siau-kim-jwan, selekas itu pula aku merasa lega," .kata Hay-thian.
"Aku tiada pesan-pesan lain lagi. Asalkan kau ingat betulbetul, segala sesuatu harus mengutamakan kepentingan umum daripada keuntungan pribadi, bertindak sesuatu harus tabah dan hati-hati. Untuk urusan kita, aku percaya kau tentu dapat menyelesaikannya dengan baik."
Ubun Hiong mengiakan dan menerima pesan itu, lalu mohon diri.
Di luar Thio Su-liong sudah menyediakan kuda baginya, segera Ubun Hiong mohon diri juga kepada para pahlawan.
Hubungan Utti Keng dengan Kang Hay-thian dan muridnya itu jauh lebih akrab daripada anggota Thian-li-kau, maka Utti Keng dan istrinya telah mengantar keberangkatan Ubun Hiong sampai beberapa puluh li jauhnya.
Sebelum berpisah, lebih dulu Ki Seng-in telah minta maaf kepada Ubun Hiong karena pernah membikin susah padanya tempo hari, sedangkan Utti Keng telah berkata dengan tertawa.
"Ubun-laute, dahulu hampir saja aku membunuh kau, tapi sekarang aku benar-benar ingin bersahabat dengan kau. Aku tidak pandai bicara, pendek kata kelak bilamana kau mempunyai kesulitan apa-apa, hendaklah kau katakan padaku saja. Jika urusan di sini sudah rada tenang, selekasnya tentu aku akan menyusul ke Siau-kim-jwan. Jangan kuatir, bila kau tidak sanggup membunuh keparat Yap Leng-hong itu, tentu aku akan membantu kau membeset kulitnya dan mematahkan tulangnya."
Ubun Hiong tertarik oleh jiwa orang yang suka berterus terang itu, jawabnya dengan tertawa.
"Uttithocu, sesungguhnya aku malah harus berterima kasih kepada kalian, tempo hari aku pun bersalah karena tidak dapat membedakan mana yang betul dan mana yang salah, namun kalian telah sudi memaafkan kelancanganku, sungguh aku sangat berterima kasih. Tentang sakitnya guruku itu diharap kalian sudi merawatnya. Tampaknya hari sudah petang, silakan kalian kembali saja, sudah waktunya kita harus berpisah."
Begitulah Ubun Hiong lantas melanjutkan perjalanan.
Bayangan Kang Hiau-hu segera timbul di depan mata pemuda itu menggantikan kepergian Utti Keng dan istrinya, kejadian-kejadian di masa lalu segera terbayang lagi.
Dahulu bila dia dan Kang hiau-hu tidak sama-sama terluka di lembah sunyi itu, tentu mereka tidak akan saling mengenal.
Dari sudut ini, kalau dahulu Utti Keng tidak melukainya tentu dia takkan dapat tinggal di lembah sunyi itu bersama Hiau-hu.
Demi terkenang kepada si nona, segera Ubun Hiong melarikan kudanya secepat terbang, sungguh ia ingin bersayap untuk bisa lekas terbang ke samping Kang Hiau-hu.
Setelah berpisah sekian lamanya, dia ingin mengutarakan rasa rindunya kepada si nona, sementara itu Hiau-hu belum tahu Yap Leng-hong adalah matamata musuh, entah nona itu akan mengalami perlakuan keji atau tidak?
Teringat demikian ia menjadi kuatir bagi keselamatan sang Sumoay, selain itu ia pun ingin lekas bertemu dengan si nona agar dapat menyampaikan 'berita bahagia' kepadanya.
Ya, berita bahagia yang sebelumnya tak pernah dipikir oleh Ubun Hiong bahwa sang Suhu sendiri yang telah menjanjikan perjodohan mereka.
Dengan perasaan yang diliputi oleh rindu asmara, Ubun Hiong melarikan kudannya dengan cepat tanpa mengenal waktu.
Tak terasa sang dewi malam sudah menghias di tengah cakrawala nan biru permai.
Pada saat itulah tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara nyaring beradunya senjata.
Waktu ia memandang ke depan, ternyata di situ ada segerombolan orang sedang bertempur.
"Jangan-jangan ada kawan pergerakan sedang dikerubut oleh anjing alap-alap kerajaan?"
Demikian pikir Ubun Hiong.
Segera ia keprak kudanya menuju ke kalangan pertempuran.
Sesudah dekat, kiranya ada seorang wanita muda bersama empat laki-laki kekar sedang mengembut seorang laki-laki berbaju hitam.
Senjata yang digunakan keempat laki-laki kekar itu adalah sejenis, yaitu gada bergigi, tampaknya berbobot cukup berat.
Tapi yang paling lihai adalah wanita muda itu, dia bersenjata sepasang golok, satu panjang dan yang lain pendek.
Dengan kencang ia cecar si lelaki baju hitam dengan serangan-serangan maut.
Namun laki-laki baju hitam itu tampaknya lebih lihai daripada lawan-lawannya, pedangnya berputar sedemikian kencangnya sehingga angin pun tak tembus.
Keempat laki-laki itu hanya berputar di sekelilingnya, gada mereka ternyata tidak sanggup menembus sinar pedang lawan.
Coba kalau tiada bantuan sepasang golok si wanita muda, mungkin sejak tadi laki-laki baju hitam itu sudah kabur dengan leluasa.
Tapi sekarang dia harus satu lawan lima sehingga kekuatan kedua pihak boleh dikata sama kuatnya.
Dari dandanan keempat laki-laki itu jelas kelihatan bukanlah antek-antek kerajaan, pula jago-jago istana tak mungkin dipimpin oleh seorang wanita.
Karena tidak kenal asal-usul orang-orang itu, seketika Ubun Hiong menjadi sukar untuk ikut turun tangan walaupun samarsamar ia seperti sudah kenal si lelaki baju hitam, cuma dimana dia pernah melihatnya seketika belum teringat.
Selagi Ubun Hiong bermaksud maju lebih dekat agar dapat mengenal lebih jelas wajah si lelaki baju hitam.
Mendadak seorang laki-laki tegap tadi membentaknya.
"Siapa itu? Besar amat nyalimu berani sembarangan terobosan di sini? Kalau ingin selamat hendaklah lekas menyingkir pergi."
Ubun Hiong menjadi gusar, sahutnya dengan dingin.
"Jalan umum ini boleh dilalui oleh segala orang, jalanan ini toh bukan milikmu, berdasar apa kau melarang aku lewat di sini?"
Pada saat itu juga mendadak orang berbaju hitam telah bersuara kejut, kiranya lebih dulu dia sudah mengenali Ubun Hiong.
Waktu Ubun Hiong berpaling, tepat dia beradu pandang dengan si baju hitam sehingga muka orang tertampak jelas.
Tanpa terasa Ubun Hiong juga menyerukan suara kaget.
Kiranya si baju hitam itu tak lain tak bukan adalah si pemuda baju hitam yang pernah dijumpai Ubun Hiong pada waktu dia diusir pergi dari rumah perguruannya tempo dulu.
Tatkala itu si pemuda baju hitam itu pernah memberi nasehat agar Ubun Hiong jangan pergi jauh-jauh, katanya dia sanggup menyelidiki perkaranya dan tanggung Ubun Hiong dapat pulang kembali ke perguruannya.
Juga pemuda baju hitam itulah yang secara tidak bosan-bosannya pernah menanyakan tentang asal-usul Yap Leng-hong, biarpun waktu itu Ubun Hiong tak mau menjelaskan, tapi pemuda baju hitam masih terus bertanya tak habis-habisnya.
Bahkan pemuda baju hitam itulah yang pertama-tama memberi isyarat padanya bahwa Toasukonya yang bernama Yap Leng-hong itu adalah orang yang mencurigakan.
Cuma sayang waktu itu Ubun Hiong tidak mau percaya pada omongannya dan tidak mau tinggal di Tong-pengkoan untuk menyelidiki lebih terang persoalannya.
Begitu pemuda baju hitam itu sudah pergi, segera juga dia lantas berangkat meninggalkan kampung halaman perguruan.
Waktu itu Ubun Hiong sangat menghormati sang Toasuheng, sudah tentu dia tidak mau sembarangan percaya kepada omongan seorang yang belum pernah dikenalnya.
Tetapi sesudah dipikirkan kembali, mau tak mau ia mesti percaya kepada pemuda baju hitam itu.
Sekarang walaupun Ubun Hiong tetap belum jelas asal-usul pemuda baju hitam ini, namun sedikitnya sudah mengetahui bahwa orang yang menyampaikan berita kepada Gak ing, tentang terkurungnya Ki Seng-in di luar kota Tong-peng tempo hari itu justru adalah si pemuda baju hitam ini.
Kemudian orang yang membakar restoran Thay-pak-lau itu juga si pemuda baju hitam ini, berdasar kedua hal ini saja sedikitnya sudah dapat pula menentukan, apakah kawan atau lawan si pemuda baju hitam itu.
Ketika melihat si pemuda baju hitam rupanya kenal Ubun Hiong, rombongan pengerubut tadi segera bertindak, ada seorang lantas menimpukkan sebuah Piau ke arah Ubun Hiong.
Cepat Ubun Hiong melolos pedang untuk menyampuk sambil melompat turun dari kuda, teriaknya dengan gusar.
"Kalian ini benar-benar manusia yang sewenangwenang!"
"Bukan urusanmu, lekas kau pergi saja, tunggulah aku di depan sana,"
Seru si pemuda baju hitam.
Setahun yang lalu dia pernah menjajal kepandaian Ubun Hiong, dia kuatir bukannya membantu, sebaliknya mungkin Ubun Hiong bisa celaka sendiri malah.
Sudah tentu Ubun Hiong tidak mau menurut, dia masih terus melangkah maju.
Akan tetapi dengan cepat sekali seorang laki-laki pengerubut tadi dengan gadanya yang bergigi sudah lantas menghantamnya sambil membentak.
"Bocah yang tidak takut mampus, jalan ke surgamu tak mau kau tuju, sebaliknya ingin menerobos ke dalam neraka. Baik, biarlah kau tahu rasa nanti."
Cepat Ubun Hiong menangkis dengan pedangnya, terasa gada lawan sangat berat sehingga tangan sendiri sampai kesemutan.
Namun dengan Si-mi-kiam-hoat yang hebat, mendadak Ubun Hiong terus menabas ke depan sehingga jari tangan orang itu hampir-hampir terpapas.
Orang itu terkejut, dengan gugup dia menarik tangannya.
Untung baginya, jarinya dapat diselamatkan, tapi tidak urung ujung bajunya juga terpapas sebagian.
Melihat ilmu pedang Ubun Hiong sedemikian hebat, baru sekarang si baju hitam merasa lega, pikirnya.
"Ilmu silat ajaran pamanku memang luar biasa. Perpisahanku dengan Ubun Hiong baru setahun, tapi sudah mencapai kemajuan sepesat itu."
Orang yang menyerang Ubun Hiong dengan piau tadi segera melompat maju untuk mengerubut.
Dua senjata Long-ge-pang (gada bertaring srigala) telah bekerja sama dengan rapat sehingga kekuatan mereka bertambah lebih satu kali lipat.
Namun Ubun Hiong sudah tahu tenaga lawan cukup hebat, segera ia melawan dengan mengutamakan kelincahan dan kegesitan.
Melihat kedua kawannya tak mampu membekuk Ubun Hiong, si wanita muda mendadak mendamprat.
"Dasar tidak becus semua, masakah seorang bocah ingusan saja tak mampu membereskannya!"
Mendadak ia pegang kedua goloknya ke sebelah tangan, tangan lain lantas mencabut dua buah tusuk kundai emas, terus disambitkan sebagai senjata rahasia.
"Ai, perhiasan nona yang berharga mahal itu mana boleh sembarangan diberikan kepada orang!"
Seru si pemuda baju hitam sambil tertawa.
Berbareng tangannya lantas meraup ke samping, tapi tusuk kundai itu hanya kena ditangkap sebuah saja, sebuah lagi tetap menyambar ke arah Ubun Hiong.
Saat itu Ubun Hiong sedang memutar pedangnya dengan kencang sehingga berwujud suatu tirai cahaya yang tak tertembus air, akan tetapi tusuk kundai sekecil itu ternyata lebih kuat dari bidikan panah.
Terdengar "tring"
Sekali, pedang Ubun Hiong kena membentur tusuk kundai itu.
Namun benda kecil itu tidak tersampuk jatuh, sebaliknya masih terus menyambar ke depan dan "cret", bahu Ubun Hiong telah tertancap oleh tusuk kundai itu.
Keruan kejut Ubun Hiong tak terkatakan, baru sekarang ia percaya apa yang sering dikatakan gurunya bahwa di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai.
Usia wanita itu sebaya dengan dirinya, tapi kepandaiannya terang lebih tinggi, hanya saja caranya yang agak keji dan tercela Di sebelah sana sesudah pemuda baju hitam berhasil menangkap sebuah tusuk kundai si wanita muda, sambil tertawa ia lantas memasukkan benda kecil itu ke dalam saku, katanya.
"Emas begini kalau dibuang begitu saja kan terlalu sayang? Memangnya aku sedang miskin, biarlah kusimpan sebagai uang saku saja."
Dengan malu dan mendongkol wanita muda itu terus menerjang maju ke arah si pemuda dengan sepasang goloknya.
Namun sekarang keempat kawan si wanita muda sudah terbagi dua untuk melayani Ubun Hiong, kekuatan mereka menjadi berkurang dan agak kewalahan menghadapi pedang si pemuda baju hitam.
Mestinya keempat lelaki tegap itu mempunyai permainan barisan gada bergigi yang ampuh, dengan bekerja sama yang rapat mereka bisa bertempur dengan lihai sekali, tapi sekarang mereka harus terbagi menjadi dua kelompok, permainan gada mereka menjadi pincang.
Di tengah pertarungan sengit itu, mendadak terdengar "trang"
Satu kali, pedang si pemuda baju hitam tepat kena menusuk pergelangan tangan salah seorang lakilaki kekar tadi sehingga gadanya terlepas dari cekalan.
Menyusul pedang berputar dan menyambar tiba pula, kontan secomot rambut laki-laki kekar yang lain terpapas, berbareng golok si wanita muda yang sedang membacok juga kena ditangkisnya.
Saking kagetnya sampai kedua laki-laki kekar itu melompat mundur.
Kejut dan dongkol sekali wanita muda itu, bentaknya kepada kawan-kawannya.
"Sudahlah, tak perlu bikin malu lagi, pulang saja semua! Hm, bocah she Yap, hari ini biar kau senang dulu, kelak kita berjumpa lagi di depan sana!"
"Maaf, aku telah kedatangan sahabat, aku tiada sempat untuk memenuhi undanganmu!"
Sahut si pemuda baju hitam dengan tertawa.
Segera si wanita muda mendahului kabur disusul kawan-kawannya, si pemuda baju hitam juga tidak mengejarnya.
Memangnya Ubun Hiong sedang kewalahan melayani dua musuh, mendadak sekarang kedua pengerubut itu melarikan diri, diam-diam ia bersyukur dan segera mendekati si pemuda baju hitam.
"Tidak nyana hari ini kita berjumpa pula di sini,"
Kata si baju hitam dengan tertawa.
"Banyak terima kasih atas bantuanmu tadi."
Muka Ubun Hiong berubah merah, sahutnya.
"Kepandaianku tidak becus, bilamana kau tidak mengusir lari mereka, tentu aku bisa celaka. Entah orang-orang macam apakah mereka itu, mengapa mereka mengeroyok saudara?"
"Aku pun tidak tahu seluk-beluk mereka,"
Sahut si baju hitam.
"Apakah baik-baik saja selama berpisah? Kau masih ingat janji pertemuan kita dahulu?"
Ubun Hiong merasa rikuh, sahutnya.
"Hari itu juga aku lantas pergi dari Tong-peng, harap maafkan aku tidak menetapi janji."
"Hahaha! Syukurlah kau tidak datang, sebab aku sendiri pun ingkar janji,"
Ujar si baju hitam sambil terbahak-bahak. Ubun Hiong melengak heran, sebagai seorang pemuda polos, tanpa pikir ia terus bertanya.
"Mengapa kau pun tidak datang?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut si baju hitam.
"Karena aku menjanjikan buat menyelidiki urusanmu, maka malam itu juga aku telah pergi menemui Toasukomu secara diamdiam. Tak tersangka dia telah menyerang aku dengan sebatang jarum berbisa, lantaran itu aku sendiri terpaksa berbaring selama beberapa bulan dan hampir-hampir jiwa melayang. Sebab itulah besoknya aku pun tidak dapat memenuhi janji pertemuan kita."
Kiranya sesudah terkena jarum berbisa pada malam itu, hampir saja jiwa pemuda baju hitam itu melayang oleh serangan gelap Yap Leng-hong itu.
Pada saat maut hendak merenggutnya itu, dengan nekat ia telah terjun ke danau Tong-peng, tapi dengan demikian jiwanya dapat diselamatkan malah.
Waktu itu air danau lagi naik pasang, dia berbawa oleh ombak dan terdampar keluar serta hanyut ke sungai.
Dasar belum sampai ajalnya, dia telah ditolong oleh seorang nelayan, perutnya yang sudah kembung dengan air itu dapat diperas keluar.
Tak terduga dengan demikian malah telah mengurangi racun yang telah menyerangnya, perutnya seakan dicuci dan dikuras oleh air sungai yang dipencet keluar itu.
Sisa racun di dalam badannya boleh dikata tak berhalangan lagi bagi Lwekangnya yang kuat.
Sekarang secara acuh tak acuh diceritakan kejadian itu, tapi Ubun Hiong yang sangat terperanjat, serunya.
"Yap Leng-hong benar-benar telah menyerang kau sedemikian keji? Sungguh kotor dan hina!"
"Aku sih tidak heran dengan caranya yang keji dan hina itu, sebab aku tidak cuma satu kali itu saja dicelakai olehnya,"
Kata si baju hitam dengan tertawa.
"Dahulu ia pun pernah mencelakai kau?"
Tanya Ubun Hiong heran.
"Ya, cuma dahulu dia tidak langsung turun tangan,"
Kata si baju hitam.
"Tatkala itu berkat Hoa-san-ih-un Hoa Thian-hong yang telah menolong jiwaku, sedang kali ini adalah karena aku belum ditakdirkan untuk mati. Ah, jangan terus bicara tentang diriku, sekarang bergilir aku bertanya padamu. Mengapa kau merasa heran terhadap perbuatan Toasuhengmu itu, apakah kau masih menganggap dia orang baik?"
"Aku menyesal dahulu tidak percaya kepada omonganmu,"
Sahut Ubun Hiong.
"Tapi aku pun tidak mengerti sebab apakah berulang kali Yap Leng-hong hendak mencelakai kau? Apakah kau memang sahabatnya, makanya kau tahu asal-usulnya?"
"Dahulu aku tidak tahu, tapi sekarang sudah tahu,"
Tutur si baju hitam.
"Dia adalah putra gubernur Sucwan, Yap To-hu alias si jagal. Dengan keterangan ini tentu dapat kau pahami apa sebabnya berulang kali dia ingin mencelakai aku. Pendek kata, siapa saja yang mungkin tidak menguntungkan dia, tentu akan dicelakai olehnya. Kau sendiri kan juga hampir-hampir dibikin celaka olehnya?"
Padahal dia belum menjelaskan bahwa sesungguhnya dia sendirilah 'Yap Leng-hong yang tulen'.
Ubun Hiong manggut-manggut sesudah mendapat penjelasan itu.
Melihat itu, dengan tertawa si baju hitam menambahkan pula.
"Sekarang tentu kau sudah mendapatkan gambaran yang jelas, tapi aku tidak dapat berbuat sepantasnya bagimu, sungguh aku merasa gegetun. Entah urusanmu yang penasaran itu sudah dibikin terang atau belum?"
"Banyak terima kasih atas perhatianmu,"
Sahut Ubun Hiong.
"Aku sudah bertemu dengan guruku dan beliau telah berkenan menerima aku kembali ke dalam perguruan, beliau juga sudah mengetahui perbuatan Toasuheng yang jahat. Saat ini Suhu sedang merawat sakitnya di dusun Wi-jun yang terletak ratusan li dari sini. Apakah engkau mau pergi menemui beliau?"
"Merawat sakitnya? Gurumu menderita sakit apa?"
Si baju hitam menegas.
"Sakitnya juga lantaran marah terhadap perbuatan Yap Leng-hong itu, tapi rasanya tidak berbahaya. Jika kau ingin menemui beliau, biarlah aku menjelaskan tempat tinggalnya."
Sebenarnya pemuda baju hitam itu ada maksud mencari paman iparnya, yaitu Kang Hay-thian, untuk memberitahukan asal-usul Yap Leng-hong.
Tapi sekarang demi diketahui perbuatan Yap Leng-hong sudah diketahui Kang Hay-thian, maka dirinya tidak perlu menemuinya lagi sesuai dengan pesan ayahnya agar jangan buru-buru bertemu dengan para sanak famili sebelum putra mahkota kerajaan Masar naik takhta.
Setelah merenung sejenak, akhirnya si baju hitam bertanya.
"Ubun-siauhiap, maafkan kalau lebih dulu aku ingin bertanya padamu, apakah kau ada urusan penting yang harus dilakukan mengingat kau menempuh perjalanan cepat di tengah malam buta?"
Ubun Hiong menjadi ragu-ragu apakah mesti memberitahukan tentang pesan sang guru agar membereskan Yap Leng-hong itu. Sesudah ragu-ragu sejenak, kemudian ia balas bertanya.
"Kita telah bicara sekian lamanya, tapi aku masih belum tahu siapakah nama saudara yang terhormat?"
Diam-diam pemuda baju hitam itu geli karena nama aslinya sebenarnya sudah dikenal baik sekali oleh Ubun Hiong. Namun dijawabnya.
"Sebenarnya apa artinya sebuah nama itu? Seperti Yap Leng-hong, sebenarnya adalah sebuah nama yang indah, tapi sekali dipakai oleh seorang durjana, seorang mata-mata musuh, maka busuklah nama itu, maka yang utama kukira adalah melihat orangnya dan tak perlu peduli namanya. Biasanya aku tidak terlalu mementingkan nama, maka bolehlah kau memanggil aku sesukamu. Namun bila kau berkeras ingin tahu namaku yang asli, maka boleh juga aku memberitahukan padamu. Aku she Tiba-tiba ia teringat si wanita muda telah menyebut shenya dan tentu telah didengar pula oleh Ubun Hiong, maka urunglah dia memakai nama samaran, terpaksa mengaku.
"Sungguh sial, aku pun she Yap, sama she dengan Toasuhengmu yang menjadi mata-mata musuh itu, namaku Boh-hoa."
Untuk membedakan dirinya dari nama aslinya yang telah dicuri oleh Yap Leng-hong, maka pemuda baju hitam itu sengaja menggunakan nama kecil, yaitu Yap Boh-hoa. Habis itu, dengan tertawa ia berkata.
"Dan kau sendiri masih belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Aku ... aku ... sebenarnya aku pun tiada urusan penting apa-apa, hanya atas perintah Suhu aku harus ke Sucwan untuk menemui beberapa Locianpwe dari dunia persilatan, karena para Cianpwe itu adalah buronanburonan kerajaan, nama mereka harus dirahasiakan."
Meski Ubun Hiong tidak menerangkan maksud tujuannya, tapi diam-diam Yap Boh-hoa sudah dapat meraba apa yang akan dilakukan pemuda itu, pikirnya.
"Katanya paman sedang sakit, tapi dia malah berangkat ke Sucwan, terang karena atas perintah gurunya. Padahal panglima kerajaan yang sedang menumpas pemberontakan di daerah Sucwan itu adalah Yap To-hu alias si jagal, sedangkan asal-usul Yap Leng-hong palsu itu katanya tadi sudah diketahui oleh paman. Kalau diselami lebih mendalam, jangan-jangan bocah jahanam itu telah berhasil menyelundup ke dalam pasukan pergerakan dan sekarang Ubun Hiong atas perintah paman diharuskan pergi ke sana untuk membongkar kedoknya?"
Dengan cerdasnya ternyata dia sudah dapat menerka dengan hampir jitu duduknya perkara. Namun ia tidak mengutarakan dugaannya itu, dia hanya memperlihatkan rasa senang mendadak, katanya dengan tertawa.
"Wah, sungguh sangat kebetulan. Aku pun akan menuju ke Sucwan, jika tidak merasa jemu, marilah kita berangkat bersama. Tentang gurumu, semoga kelak ada kesempatan lagi untuk bertemu kepada beliau."
Maksud Yap Boh-hoa sesungguhnya ialah hendak mengawal Ubun Hiong, mengingat pemuda itu mempunyai tugas yang amat penting.
Sebaliknya Ubun Hiong juga merasa kebetulan, hanya saja ia masih menyembunyikan tugas perjalanannya itu, tanyanya.
"Entah Yap-heng akan menuju ke timur atau barat Sucwan?"
"Ke timur, dan kau?"
Balas tanya Yap Boh-hoa.
"Aku sebaliknya ke barat,"
Sahut Ubun Hiong.
"Sayang, sayang, sesudah masuk wilayah Sucwan terpaksa kita harus berpisah,"
Kata Boh-hoa.
"Cuma jarak dari sini ke Sucwan masih ada ribuan li jauhnya, paling sedikit setengah bulan lagi baru bisa sampai. Selama ini tentu aku dapat banyak belajar darimu."
"Ah, Yap-heng terlalu rendah hati,"
Sahut Ubun Hiong.
"Engkau sudi jalan bersama kau, akulah yang harus belajar padamu."
Sementara itu hari sudah lewat tengah malam.
Yap Boh-hoa mengusulkan bermalam saja di situ sekadar mengaso, Ubun Hiong setuju.
Segera ia memanggil kudanya dan menurunkan sebuah buntalan, dikeluarkannya kain kemah yang ringan.
Waktu memasang kemah, di tanah itu tiba-tiba diketemukan sebuah benda kuning.
Kiranya adalah tusuk kundai sambitan si wanita muda yang disampuk jatuh oleh Ubun Hiong tadi.
Dengan mendongkol segera Ubun Hiong hendak membuang tusuk kundai itu, namun Yap Boh-hoa sudah lantas mendahului mengambil benda itu, katanya.
"Tusuk kundai ini terbuat dari emas murni, kalau dibuang agak sayang, biarlah berikan padaku saja."
"Betul juga,"
Ujar Ubun Hiong.
"Bukankah Yap-heng tadi juga sudah menangkap sebuah tusuk kundai wanita itu? Sekarang dapatlah menjadi satu pasang, malah dapat disimpan untuk kenang-kenangan."
"Kenang-kenangan apa? Ah, Ubun-heng suka berkelakar saja,"
Kata Boh-hoa.
"Wanita itu menggunakan tusuk kundai sebagai senjata rahasia, hal ini bukankah sangat hebat dan ada nilainya untuk dibuat kenang-kenangan?"
Ujar Ubun Hiong.
"Ah, Ubun-heng benar-benar suka bergurau,"
Sahut Boh-hoa sambil menyimpan tusuk kundai itu.
Diam-diam Ubun Hiong merasa di antara Yap Boh-hoa dan wanita muda tadi tentu ada sesuatu hubungan yang tidak diketahui orang luar.
Karena baru kenal, ia merasa tidak enak untuk banyak bertanya tentang rahasia orang lain, segera ia berkata.
"Kemah sudah selesai dipasang, marilah kita mengaso saja."
Karena menunggang kuda setengah harian, ditambah tadi telah ikut bertempur, maka Ubun Hiong benar-benar sudah lelah.
Begitu merebahkan rubuhnya segera ia terpulas.
Sebaliknya Yap Boh-hoa masih guling-gelantang tak bisa pulas sambil meraba sepasang tusuk kundai di dalam bajunya itu.
Angin malam di tanah padang meniup dengan kerasnya, tapi dalam benak Yap Boh-hoa terbayang kembali sesuatu adegan kejadian masa silam....
Sama halnya sekarang, pada suatu hari yang sejuk di musim rontok, dia sedang melarikan kudanya secepat terbang di padang rumput yang luas, yaitu padang rumput di dataran Tarim.
Waktu itu dia sedang berburu.
Rupanya hari itu dia lagi sial, seekor binatang kecil pun tidak diperolehnya.
Tengah merasa kesal, tiba-tiba dilihatnya seekor elang terbang rendah lewat di atasnya.
Ia pikir.
"Elang ini benar-benar jauh lebih besar daripada elang biasa. Dia berburu binatang, biarlah aku berburu dia, apa sih salahnya?"
Segera ia pentang busur, sekali bidik saja elang itu kena dipanah jatuh.
Waktu dia mendekati hasil buruannya itu, tiba-tiba terlihat di badan elang itu sudah ada sebatang panah lain.
Jadi elang itu telah kena panah lebih dulu, pantas begitu gampang elang itu kena dipanah dan jatuh lantas mati.
Diam-diam ia heran siapakah pemanah yang pandai itu, segera ia cabut panah itu, dilihatnya di atas gagang panah terukir sebuah huruf "Kheng".
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara keleningan kuda berbunyi, seekor kuda putih mulus secepat terbang sedang mendatangi.
Penunggangnya adalah seorang nona cilik berusia antara 16-17 tahun, rambutnya dikepang menjadi dua kuncir, dua tusuk kundai emas berkepala burung Hong tampak menghias di atas kepalanya.
Nona cilik itu sebelah tangan memegang busur dan tangan lain membawa cambuk.
Yap Boh-hoa merasa heran, apakah mungkin si nona cilik inilah yang memanah elang tadi?
Namun sebelum ditegur, datang-datang nona cilik itu sudah lantas mendamprat.
"Kau ini benar-benar tidak tahu aturan, mengapa kau memanah mati elangku ini?"
Karena merasa dirinya memang bersalah, walaupun pihak lain hanya seorang nona cilik, tapi Yap Boh-hoa lantas menyodorkan kembali bangkai elang itu sambil minta maaf.
Tak tersangka nona cilik itu tetap marah, sekali ayun cambuknya kontan bangkai elang itu kena disabet jatuh dari tangan Yap Boh-hoa, dampratnya.
"Apakah dengan minta maaf saja lantas habis perkara? Apakah kau tahu bahwa aku sengaja hendak menangkap elang ini hiduphidup untuk dipiara. Jika kau seorang pemburu tulen tentu kau akan tahu elang itu sudah terluka lebih dulu, mengapa secara ngawur kau memanahnya lagi hingga mati? Tidak, aku tidak peduli, kau harus mengganti elangku ini!"
Tatkala itu usia Yap Boh-hoa juga baru 18 tahun, darah mudanya dengan sendirinya juga panas dan tidak mandah didamprat begitu saja. Segera ia menjawab.
"Elangmu sudah kupanah mati, tapi maaf, aku pun tak dapat mengganti, jika kau tetap marah boleh terserah."
Nona cilik itu benar-benar mengamuk, mendadak ia keprak kudanya ke depan, begitu mendekat segera pula cambuknya menyabet sambil membentak.
"Kau tidak mau mengganti elangku, nih rasakan cambukku!"
Melihat gaya serangan nona cilik itu cukup lihai, Bohhoa terkejut.
Ia tidak berani ayal, segera ia melolos pedang dan bertempur.
Dari atas kuda mereka akhirnya melompat turun dari kuda, sampai ratusan jurus mereka masih belum dapat menundukkan pihak lain.
Akhirnya betapapun kepandaian Yap Boh-hoa memang lebih tinggi sedikit, pula tenaganya lebih kuat, dia telah mengurung si nona dengan sinar pedangnya.
Cuma ia pun tidak benar-benar hendak mengalahkannya, hanya ingin memaksa si nona mundur teratur, maka serangannya tidak terlalu ganas.
Di luar dugaan mendadak si nona cilik telah ganti cara bertempur, rupanya ia tahu pikiran Yap Boh-hoa, ia sengaja memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menusuk tanpa menangkis, ketika Yap Boh-hoa terkejut dan cepat menarik kembali pedangnya, pada saat itulah si nona lantas melancarkan serangan.
"Sret, sret, sret", cambuknya menyabet tiga kali susul menyusul. Cambukan dua kali dapat dihindarkan Yap Boh-hoa, namun sabetan ketiga kalinya, kopiahnya telah tersampuk jatuh. Walaupun demikian pedang Yap Bohhoa juga sempat mencungkit jatuh sebuah tusuk kundai si nona. Kedua orang sama-sama kagetnya dan serentak melompat mundur.
"Boleh juga kepandaianmu, ternyata kau dapat melawan aku dengan sama kuatnya,"
Kata si nona.
"Usiamu lebih kecil dariku, kita dapat bertempur dengan sama kuatnya, maka kau dapat dianggap yang menang. Cuma saja elangmu ini tetap tak dapat kuganti,"
Sahut Bah-hoa sambil menjemput kembali kopiahnya. Si nona cilik juga mengambil tusuk kundainya yang jatuh itu, di luar dugaan ia berkata dengan tertawa.
"Sungguh harus kukatakan, selama dua tahun aku tinggal di sini, belum pernah aku melihat orang pandai seperti kau. Apakah kau orang dari daerah lain? Sesudah berkelahi, jelek-jelek kita sudah terhitung berkenalan. Apa artinya seekor elang, jika kau suka boleh kau ambil saja."
Dasar anak muda, sebentar berkelahi sebentar lagi sudah baik kembali, maka mulailah mereka saling berkenalan, Yap Boh-hoa tetap menggunakan nama kecilnya ini, si nona cilik mengaku she Kheng, tapi tak mau menerangkan asal-usulnya.
Dia hanya berjanji akan bertemu dengan Yap Boh-hoa pada tengah malam nanti di suatu menara lonceng di tengah kota Ili, dimana akan diperkenalkan juga kepada ayahnya yang katanya paling suka kepada anak muda yang berkepandaian tinggi.
Karena rasa tertarik, pula senang kepada tingkah laku si nona cilik yang lincah itu, untuk persahabatan selanjutnya yang lebih akrab, maka Yap Boh-hoa telah menyanggupi janji itu.
Sebenarnya Yap Boh-hoa adalah orang yang paling pegang janji, tapi sekali ini dia telah ingkar janji.
Kejadian itu adalah enam tahun yang lalu, tatkala itu usia Boh-hoa baru 18 tahun, dia masih berkumpul bersama ayah-bundanya, yaitu Yap Tiong-siau dan Auyang Wan.
Yap Tiong-siau mempunyai hubungan baik dengan para pahlawan suku bangsa di daerah Sinkiang.
Waktu itu dia sedang bertamu di rumah seorang kepala suku Kazak.
Kazak adalah suku bangsa yang gagah berani di padang rumput Tarim yang sering berperang melawan penjajahan pasukan Boan-jing.
Karena bangsa Kazak hidup dari beternak dan mengembara, mereka pada umumnya pandai naik kuda dan mahir memanah, pasukan Boan-jing benar-benar pusing menghadapi perlawanan mereka.
Yap Tiong-siau telah membantu suku bangsa Kazak, maka dari itu ia pun merupakan buronan kerajaan Boan.
Hari itu sesudah Yap Boh-hoa berjanji untuk bertemu dengan si nona, sepulangnya di kemah kepala suku Kazak, ia telah menuturkan pengalamannya kepada sang ayah dan kepala suku dengan memperlihatkan panah si nona yang dibawa pulang itu.
Di luar dugaan, sesudah memeriksa panah itu, kepala suku tampak terkejut, lalu dengan kurang senang ia sodorkan panah itu kepada Yap Tiong-siau.
Setelah melihat sekejap huruf "Kheng"
Di gagang panah, mendadak Yap Tiong-siau mematahkan panah itu dan berkata dengan suara aseran.
"Janji pertemuan malam nanti tak perlu lagi kau penuhi."
Sudah tentu Boh-hoa terperanjat dan bingung, ia menanyakan apa sebabnya dan adakah sesuatu yang tidak betul? Jawab ayahnya.
"Kau tak perlu ke sana, sebab ayahnya adalah Ili Congpeng (komandan militer kota Ili)."
Ili adalah suatu kota besar di daerah Sinkiang selatan, komandan militer kota itu she Kheng dan mempunyai seorang putri bernama Hong-koh yang mahir memanah, nona itu seringkah berburu sendirian di padang rumput.
Orang-orang Kazak tahu siapa diri nona cilik yang cantik itu.
Karena itu mau tak mau Yap Boh-hoa menurut juga ucapan sang ayah dan tidak jadi pergi menemui si nona, walaupun dalam batin ia merasa nona itu belum tentu sejahat ayahnya yang menjadi panglima kerajaan Boan itu.
Suatu adegan lenyap, menyusul terbayang pula suatu adegan lain Itupun suatu hari yang sejuk di musim rontok, ia pun sedang melarikan kudanya secepat terbang, akan tetapi bukan di padang rumput yang luas, tapi di tengah perjalanan yang penuh debu pasir antara Siamsay dan Kamsiok, kejadiannya adalah tiga tahun kemudian.
Di tengah jalan itulah kembali dia bertemu pula dengan si nona cilik yang cantik menggiurkan.
Bilamana teringat kepada kejadian itu, tanpa terasa Yap Boh-hoa menghela napas, sungguh tak tersangka bahwa nona itu adalah seorang gadis cantik yang licin dan berbisa.
Waktu itu ayah-ibunya sudah berangkat keluar lautan, seorang diri Boh-hoa membawa surat ayahnya yang ditujukan kepada Kang Hay-thian di daerah Tionggoan.
Di luar dugaan dia bertemu pula dengan si nona, untuk sejenak mereka termangu, namun si nona lantas menegur.
"Apakah kau masih ingat kepada nona cilik di padang rumput tiga tahun yang lalu?"
Sesaat itu Yap Boh-hoa tidak tahu apa yang harus diucapkan, ia hanya mengangguk saja.
"Kukira kau sudah lupa,"
Kata pula si nona.
"Malam itu mengapa kau tidak datang?"
Boh-hoa tidak biasa berdusta, tapi juga tidak enak bicara terus terang, keruan mukanya menjadi merah dan sukar menjawab.
"Baiklah, biarlah kita membicarakannya lebih lanjut nanti, sekarang aku ada urusan, kukira k.m pun terburuburu hendak melanjutkan perjalanan, besok lohor bil.mi.iii.i k.m berlalu di kaki gunung Masjit, di sana ada sebuah kuil rusak, bolehlah aku menunggu kau di sana. Ingat, sekali ini kau jangan ingk.ii |.mji lagi,"
Demikian kata si nona.
Habis itu dengan tertawa segera mendahului mengeprak kudanya ke depan.
Selama tiga tahun itu pengalaman d.in pengetahuan Boh-hoa sudah tambah luas.
Seperginya si nona, diamdiam ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku harus memenuhi undangannya atau tidak? Padahal asalusulnya belum kukenal, bahkan mencurigakan. Apakah dia betul-betul putri panglima kerajaan musuh? Tapi kalau dilihat dari tingkah lakunya, dia toh bukan seorang jahat atau sepaham dengan ayahnya? Apa salahnya bila aku bersahabat dengan dia?"
Karena merasa ingin tahu, pula daya tarik si nona benar-benar telah melekat dalam sanubarinya, walaupun ada kemungkinan menghadapi bahaya, namun ia memutuskan besoknya akan pergi untuk menemui si nona.
Dan hasilnya ternyata sangat di luar dugaannya, di tempat yang telah dijanjikan itu tidak kelihatan bayangan si nona, sebaliknya yang menunggu kedatangannya adalah 13 orang jago-jago istana yang segera mengepungnya.
Dalam pertarungan sengit itu, sebagian besar musuh dapat dibinasakan olehnya, sisanya juga terluka parah, namun ia sendiri pun roboh dengan luka berat.
Ada di antaranya musuh yang terluka parah itu masih merontaronta dan berusaha mendekat untuk membunuhnya.
Tampaknya akhirnya dia pasti akan gugur bersama dengan musuh, syukurlah pada saat itu telah muncul seorang pemuda dan telah membantu membunuh musuh-musuh lain yang terluka parah, tapi masih hidup itu.
Sudah tentu Yap Boh-hoa merasa sangat berterima kasih walaupun ia merasa luka sendiri sangat berat dan sukar tertolong pula.
Pemuda penolongnya itu adalah orang yang kemudian memalsukan dia sebagai Yap Leng-hong itu, namanya asli ialah Yap Thing-cong, putra gubernur Siamsay-Kamsiok pada waktu itu.
Namun ketika itu Boh-hoa tidak tahu asal-usulnya, apalagi Yap Thing-cong mengaku sebagai pahlawan pergerakan melawan kerajaan, bahkan dengan simpatik berusaha mengobati luka Yap Boh-hoa, mau tak mau Yap Boh-hoa mempercayai juga ucapannya itu sehingga memberi pesan-pesan seperlunya bilamana dirinya meninggal, bahkan menyerahkan juga surat ayahnya yang ditujukan kepada Kang Hay-thian.
Inilah suatu kesalahan maha besar yang telah diperbuatnya.
Sama sekali ia tidak menduga bahwa dia tidak lantas mati, tapi cuma pingsan saja yang terus ditinggal pergi oleh Yap Thing-cong alias Yap Leng-hong palsu itu.
Syukur akhirnya secara kebetulan dia tertolong oleh tabib sakti Hoa Thian-hong.
Kenangan Yap Boh-hoa kembali terbayang kepada diri si nona jelita itu.
Apabila dia tidak memancing aku ke gunung Masjit, tentu aku takkan dikerubut musuh dan takkan terjadi pemalsuan diriku oleh Yap Thing-cong.
Kalau diusut, pangkal utama dari semua kejadian yang membikin celaka diriku adalah nona cantik itu.
Namun apakah nona itu memang sengaja hendak membikin celaka dirinya?
Pertanyaan ini dihubungkannya dengan apa yang terjadi pagi hari tadi.
Hari ini untuk ketiga kalinya ia berjumpa pula dengan si nona, tapi sekarang nona itu membawa kawankawannya.
Belum lagi Boh-hoa menegur si nona mengenai kejadian-kejadian dahulu, tahu-tahu nona itu sudah lantas mengerubutnya dengan marah-marah.
Karena macam-macam pertanyaan yang meliputi benaknya, sedapat mungkin Boh-hoa masih coba bertanya.
"He, he! Ada apakah kau? Belum lagi kau terangkan kejadian tempo dulu, kenapa datang-datang sudah menyerang kenalan lama?"
"Kenalan apa segala? Aku mempunyai dendam sedalam lautan kepadamu,"
Seru nona itu dengan murka.
Tentu saja sikap dan ucapan si nona makin membikin sangsi Yap Boh-hoa, hanya orang yang membunuh orang tuanya biasanya dikatakan dendam sedalam lautan.
Padahal Yap Boh-hoa tidak merasa punya permusuhan apa-apa dengan si nona, jago-jago istana yang pernah dibunuhnya di pegunungan Masjit dahulu juga diketahui tiada seorang pun she Kheng yang pernah menjadi panglima di kota Ili, yang waktu itu diketahui telah dipindahkan ke daerah lain dan sedang dalam perjalanan menuju ke kotaraja bersama keluarga.
"Apakah kau benar-benar putri Ili Congpeng yang dahulu?"
Saking tidak tahannya Yap Boh-hoa mengajukan pertanyaan. Ternyata si nona semakin gusar, dampratnya.
"Kurangajar! Memangnya kau sangka aku mempunyai ayah yang kedua?"
Keempat laki-laki tegap yang ikut mengeroyok itupun memaki.
"Kau telah membunuh Tayjin kami, sekarang berani lagi menyebut namanya?"
Begitulah mereka lantas mempergencarkan serangan sehingga Boh-hoa terkurung rapat di tengah.
Syukurlah ketika pertarungan sengit itu berlangsung, tiba-tiba datanglah Ubun Hiong dan membantunya menghalau si nona dan kawan-kawannya sehingga Boh-hoa juga tidak sempat memperoleh keterangan lebih lanjut tentang diri nona she Kheng itu.
Sekarang Boh-hoa merenungkan kembali semua kejadian itu, makin dipikir makin tidak mengerti.
Mengapa datang-datang nona itu menyatakan dendam sedalam lautan padanya?
Padahal semula ia sendiri yang merasa tertipu dan dijebak oleh si nona ketika dia hampir tewas dikerubut oleh 13 jago istana.
Hanya satu hal yang sudah jelas, yaitu si nona benar adalah putri Ili Congpeng yang bernama Kheng Siu-hong dengan nama kecil Hongkoh itu.
Selain itu ada pula yang membuatnya heran, yaitu ilmu silat Kheng Siu-hong.
Ia merasa permainan cambuknya sudah pernah dilihatnya, begitu pula permainan goloknya jelas mempunyai persamaan dengan ilmu pedang keluarganya sendiri.
Karena hal-hal yang sukar dimengerti itu, dengan muram ia menyimpan kembali tusuk kundai emas itu, pikirnya.
"Sekarang aku sudah tahu dia adalah putri panglima kerajaan, buat apa aku mesti memikirkan dia lagi? Paling penting sekarang aku harus mengawal Ubun Hiong ke Sucwan dan membantunya membinasakan Yap Leng-hong palsu itu."
Saat itu Ubun Hiong sedang mendengkur dengan nyenyak, tiba-tiba Boh-hoa teringat sesuatu, kemudian secara diam-diam ia bangun dan keluar kemah.
Besok paginya ketika Ubun Hiong mendusin, ia tidak melihat Yap Boh-hoa lagi.
Ia merasa heran mengapa pemuda itu diam-diam mengeluyur pergi tanpa pamit?
Padahal katanya akan mengiringinya ke Sucwan.
Segera Ubun Hiong bebenah sendiri dan meringkasi kain kemah, baru saja ia hendak berangkat, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda yang nyaring.
Kiranya Yap Boh-hoa sudah kembali dengan menunggang seekor kuda merah yang bagus.
"O, kiranya kau pergi mencari kuda,"
Ujar Ubun Hiong dengan tertawa.
"Untuk mengimbangi kudamu yang bagus dalam perjalanan jauh ini, aku pikir harus mencari seekor kuda bagus pula,"
Sahut Boh-hoa dengan tertawa.
"Bagaimana pendapatmu terhadap kudaku ini?"
"Ehm, bagus sekali, sungguh kuda pilihan yang jarang terdapat,"
Sahut Ubun Hiong.
"Secara mendadak entah darimana kau bisa memperolehnya?"
"Binatang ini kuperoleh secara kebetulan saja,"
Kata Boh-hoa.
"Kemarin aku lewat di suatu tempat yang bernama Ban-keh-ceng, terletak kira-kira 50 li dari sini. Kulihat Ban-cengcu dari perkampungan itu sedang menunggang kuda bagus ini, dari penyelidikanku diketahui Ban-cengcu itu adalah seorang tuan tanah yang suka menindas rakyat jelata. Kukira tidak ada salahnya jika aku mengambil kudanya ini."
Ban-keh-ceng itu terletak tidak terlalu jauh dari Pakkhia, dahulu Ubun Hiong sering mendengar tentang namanya. Dengan kejut ia bertanya.
"Apakah Bancengcu itu bernama Ban Peng-ya yang berjuluk 'Wi-tinho-pak' (pengaruhnya merajai Hopak)? Kabarnya ilmu silatnya sangat hebat. Engkau benar-benar maha lihai, hanya setengah malaman saja sudah berhasil menyatroni dia dan membawa lari kuda kesayangannya."
"Maha lihai apa?"
Sahut Boh-hoa tertawa.
"Aku cuma mencari kesempatan baik saja. Semalam dia sedang mengadakan pesta perkawinan anaknya dan belum bubar sampai jauh malam. Aku pun tidak kenal Bancengcu yang berjuluk Wi-tin-ho-pak apa segala, hanya ada seorang yang telah mengejar aku dan menyambitkan tiga batang piau, tenaganya memang tidak lemah. Cuma sayang aku tiada tempo buat menghajarnya, kalau tidak, ada baiknya juga orang jahat yang suka menindas kaum lemah itu dilabrak sekadarnya."
Menurut arah yang harus mereka tempuh, dari Titlik menuju ke Siau-kim-jwan mereka memutuskan akan mengambil jalan sebelah barat-laut.
Yaitu melalui Soasay dan Siamsay, kemudian masuk ke wilayah Sucwan sebelah timur-laut, akhirnya akan sampai di Siau-kimjwan.
Jarak seluruhnya ada lebih tiga ribu li.
Mereka melarikan kuda dengan cepat, sampai petang sudah lebih 300 li mereka lampaui dengan aman.
Sepanjang jalan mereka asyik bicara tentang kejadiankejadian di dunia Kangouw dan soal ilmu silat.
Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di pegunungan Ou-tho-san di perbatasan antara propinsi Soasay dan Siamsay.
Kalau dihitung sudah lebih setengah jalan yang mereka tempuh, mereka menduga bila tiada halangan apa-apa, dalam sepuluh hari lagi mereka sudah mencapai wilayah Sucwan.
Hari itu mereka sedang melarikan kuda mereka dengan cepat, tiba-tiba terlihat di tepi jalan ada sebuah tiang kayu berbentuk salib.
Ujung tiang kayu bagian atas ada bekas dibacok senjata tajam sehingga terbelah hampir sampai bagian salib.
Boh-hoa bersuara heran dan berkata.
"Sepanjang jalan kita lalui dengan aman, boleh jadi hari ini akan ketemukan sesuatu di luar dugaan. Kita harus lekas lewat di daerah ini agar tidak ikut tersangkut dalam urusan orang."
"Tanda apakah tiang kayu itu?"
Tanya Ubun Hiong.
"Itulah tanda kawanan bandit hendak menyatroni sesuatu di sekitar sini dan melarang orang lain ikut campur. Akan tetapi dari tanda bacokan di atas tiang itu rupanya sudah ada orang sengaja menantang mereka,"
Tutur Boh-hoa.
"Diharap saja pertempuran mereka tidak terjadi pada hari ini sehingga kita dapat lewat di tempat pertengkaran ini,"
Ujar Ubun Hiong.
Sementara itu sudah dekat maghrib, setiba mereka di bawah gunung sang surya juga sudah terbenam di ufuk barat.
Mereka melarikan kuda dengan lebih cepat agar dapat mencapai sesuatu tempat yang cocok untuk berkemah.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba terlihat di depan sana pagar tembok yang tinggi melintang di jalan dimana mereka lewat.
Dari bentuk temboknya, tampaknya seperti sebangsa benteng.
Biasanya orang-orang yang berpengaruh atau berkuasa di daerah barat-laut memang suka membangun tembok-tembok seperti benteng dalam wilayah kekuasaannya, sering kali luasnya sampai belasan li persegi, yang kecilan juga beberapa li luasnya.
Di dalam benteng kurung itu mirip seperti sebuah kota dengan pemerintahan sendiri.
Hal demikian mirip sekali dengan seorang gembong bandit yang berkuasa di satu pegunungan.
Sesudah dekat, mereka melihat di atas pintu gerbang benteng itu terpancang tiga huruf ukiran "Kui-tek-po".
Pintu gerbangnya tertutup rapat.
Bon-hoa terkesiap, pikirnya.
"Kiranya tempat ini adalah benteng Kui Koh-ku."
Kui Koh-ku terkenal sebagai seorang berpengaruh dan disegani di daerah ini, dalam wilayah kekuasaannya seluas beberapa li, tiada seorang pun yang tidak takluk padanya sehingga mirip satu raja kecil.
Di atas benteng itu rupanya ada penjaganya, sebelum Boh-hoa bersuara, sudah keluar beberapa orang dan membentak mereka.
"Siapa kalian dan mau apa datang ke sini?"
"Orang lewat biasa, karena hari sudah malam, maka ingin bermalam di dalam kota,"
Sahut Ubun Hiong dengan mendongkol.
"Hm, orang lewat ingin bermalam, mengapa justru datang pada malam ini? Bahkan membawa senjata pula, masakah begini kebetulan? Huh, ada lebih baik kau bicara terus terang saja, orang macam apakah kalian ini?"
Demikian semprot penjaga itu. Mendengar pertanyaan orang ada udang di balik batu, segera Yap Boh-hoa menyenggol Ubun Hiong, dia lantas menyela.
"Kami benar-benar orang lewat yang kemalaman. Untuk menjaga gangguan orang jahat, membawa senjata juga jamak saja. Tuan-tuan penjaga, sungguh aku tidak paham sebab apakah malam ini kami tidak boleh masuk di dalam kota kalian?"
"Hm, tidak paham? Kukira kalian sengaja berlagak pilon!"
Semprot penjaga tadi.
"Bilang menjaga gangguan dari orang jahat segala, kulihat kalian sendiri justru adalah penjahatnya. Boleh jadi kalian adalah mata-mata yang dikirim bandit wanita dari Hui-hong-san itu."
Keruan Boh-hoa sangat mendongkol, lebih-lebih Ubun Hiong, dengan murka segera ia hendak melabrak penjaga-penjaga itu.
Pada saat itulah mendadak dari dalam benteng muncul pula beberapa penunggang kuda, pemimpinnya adalah seorang laki-laki berusia 30-an dan bertubuh kecil.
Melihat orang itu, penjaga yang ngotot tadi segera memberi hormat dan melapor.
"Siaupocu (tuan muda penguasa benteng), ada orang memaksa hendak masuk kota, tapi hamba menyangsikan mereka adalah matamata musuh, harap Siaupocu memeriksanya sendiri."
Dengan acuh tak acuh Siaupocu itu mendengus sekali, lalu ia melirik hina kepada Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong. Tiba-tiba pandangannya tertarik pada kuda tunggangan Yap Boh-hoa, bentaknya segera.
"Kalian berdua bangsat cilik ini masih berani pura-pura sebagai orang lewat di sini? Hm, ingin kutanya, darimanakah kalian mendapatkan kuda ini? Sungguh besar amat nyali kalian, sampai-sampai kuda kesayangan Ban-cengcu juga kalian curi."
Kiranya antara Ban-keh-ceng dan Kui-tek-po memang ada hubungan baik, maka Siaupocu itu cukup kenal kuda kesayangan Ban-cengcu yang mempunyai warna bulu khas itu.
Agaknya Siaupocu itupun memiliki kepandaian lumayan, ia tidak pandang sebelah mata kepada kedua 'bangsat cilik' itu.
Tanpa bicara lagi segera cambuk kudanya menyabet ke arah Yap Boh-hoa, beberapa pengiringnya juga tidak tinggal diam, serentak mereka lantas menyerbu Ubun Hiong.
"Bagus!"
Seru Boh-hoa sambil mengayun cambuknya sehingga ujung kedua cambuk saling libat.
Siaupocu itu memang mempunyai sedikit kepandaian lumayan, tapi mana sanggup melawan tenaga Boh-hoa yang kuat, sekali betot saja Siaupocu itu sudah kena diseret jatuh ke bawah kuda.
Pengiring-pengiringnya lebih celaka lagi, hanya beberapa kali gebrakan saja mereka sudah dibikin kocarkacir oleh Ubun Hiong.
Lekas Siaupocu itu merangkak bangun dan lari masuk ke dalam benteng diikuti begundalnya.
"Bagus kalian bangsat-bangsat cilik ini, janganlah lari jika kalian tidak takut mampus!"
Teriak Siaupocu itu sambil menghilang di dalam benteng dan menutup rapat kembali pintu gerbangnya.
Dia suruh orang lain jangan lari, tapi dia sendiri sudah lari lebih dulu.
Sesudah naik ke atas benteng, segera Siaupocu itu membunyikan tanda bahaya sambil memerintahkan penjaga menghamburkan anak panah.
Karena tidak ingin terlibat dalam persengketaan dengan mereka, segera Boh-hoa mengajak Ubun Hiong kabur.
Sementara itu matahari sudah terbenam lama, hari sudah remang-remang.
Mereka mendaki bukit dan ternyata pihak benteng tidak ada yang mengejar, mereka lantas berhenti untuk berunding.
"Rupanya mereka harus berjaga kemungkinan diserbu apa yang disebut kawanan bandit dari Hui-hong-san, maka mereka tidak mengejar kita,"
Demikian kata Bohhoa.
"Jalan yang baik sekarang terpaksa harus mengambil jalan berputar yang lebih jauh hampir seratus li. Mungkin kau belum paham jalan mengitar ini, biarlah aku melukiskan bagimu."
Ia jemput sebatang ranting, lalu melukiskan peta jalan di atas tanah, katanya.
"Dari sini ke barat, sesudah memutar ke balik gunung terus menyusur ke selatan, di sana ada suatu jalan raya, lalu ke barat lagi kira-kira lebih 20 li akan sampailah di suatu kota kecil bernama Oh-liong-poh, di situlah boleh kau bermalam dan menunggu aku."
"Hah, apakah kau tidak ikut berangkat bersama?"
Tanya Ubun Hiong kaget.
"Tidak, aku masih ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan di dalam benteng itu, kau boleh berangkat lebih dulu, besok kita bertemu lagi di Oh-liong-poh,"
Sahut Boh-hoa.
"Yap-toako, tidakkah lebih baik aku tetap tinggal bersama kau, sedikit banyak aku pun dapat membantu kau?"
"Tidak, apakah kau sudah lupa bahwa kau mempunyai tugas penting yang harus segera diselesaikan di Siaukim-jwan? Bilamana kita terhalang di sini, siapa lagi yang akan menyelesaikan tugasmu itu?"
Ubun Hiong melengak, apa yang diucapkan Boh-hoa memang betul.
Apalagi entah urusan pribadi apa yang akan diselesaikan Yap Boh-hoa, ia tidak enak untuk bertanya terus terang padanya.
Terpaksa ia menjawab.
"Baiklah, jika begitu aku akan berangkat lebih dulu. Hendaklah engkau berhati-hati saja."
"Terima kasih,"
Sahut Boh-hoa.
"Malam inipun aku tidak perlu pakai kuda, maka kudaku ini tolong dibawa saja sekalian."
"Baiklah, sampai bertemu pula besok,"
Seru Ubun Hiong sambil mencemplak ke atas kuda, di belakang mengikut kuda merah milik Yap Boh-hoa itu. Tinggal Boh-hoa sendirian berdiri di atas bukit memandang jauh ke arah Kui-tek-po, ia pikir.
"Mengapa timbul pikiranku yang aneh terhadap benteng itu? Jika dugaanku salah dan 'bandit wanita' itu ternyata bukan dia, maka ini benar-benar runyam dan menertawakan."
Kiranya dari kejadian tadi, Boh-hoa menjadi sangsi jangan-jangan bandit wanita dari Hui-hong-san seperti apa yang dikatakan penjaga Kui-tek-po tadi adalah Kheng Siu-hong si nona yang telah tiga kali bertemu dengan dia sejak beberapa tahun yang lampau itu.
Sangsinya itu didasarkan terutama kepada gada bersalib yang tertancap di tepi jalan itu, bentuk gada itu serupa dengan gada yang digunakan keempat laki-laki yang mengiringi Kheng Siu-hong itu.
Apalagi nona itupun telah menyatakan akan menyatroninya lagi di depan sana, tapi sampai saat ini masih belum muncul.
Cuma ia pun merasa geli apakah mungkin putri seorang panglima perang sekarang bisa berubah menjadi bandit?
Sementara itu sang dewi malam sudah menongol, bundar dan terang.
Boh-hoa mengeluarkan sepasang tusuk kundai emas itu dan memandangnya sejenak, akhirnya ia ambil keputusan.
"Tak peduli apakah dia atau bukan, malam ini juga aku harus menyelidiki soal ini dengan jelas."
Segera ia mengeluarkan sebutir Ih-yong-tan (obat rias), ia mencari sedikit air dan diaduknya obat itu, lalu dipoles mukanya sendiri sehingga wajahnya sukar dikenal lagi.
Ia coba mengamat-amati keadaan sekitar benteng itu, dari jalan depan terang tak bisa dimasuki.
Kanan-kiri benteng itu adalah tanah pegunungan yang terjal, namun hal ini bukan halangan baginya, dengan Ginkang yang tinggi segera ia turun dari tempat yang terjal itu.
Sepanjang jalan tiada rintangan apa-apa.
Walaupun terkadang juga ada penjaganya, tapi dengan enteng sekali Boh-hoa sudah melayang lewat.
Ada juga satu-dua penjaga yang kepergok, tapi dengan mudah saja sudah dibereskan oleh pemuda itu.
Ketika hampir mencapai tembok benteng, tiba-tiba di angkasa bertaburan bunga api yang terang dan aneka warna yang indah.
Baru sekarang Boh-hoa ingat bahwa malam itu adalah malam Cap-go-meh, rupanya di dalam benteng itu rakyat sedang merayakan malam tradisionil itu.
Suasana pesta-pora di dalam benteng itu memudahkan Yap Boh-hoa untuk menyusup ke dalam kota, dia terus melintasi tembok benteng dan menyusup beberapa kampung di pinggir kota.
Pusat Kui-tek-po itu adalah sebuah kota yang ramai, jalan menuju ke pusat kota lebih dulu harus melalui beberapa kampung pinggiran dimana suasana juga diliputi kegembiraan, terutama kaum anak-anak yang ribut ingin pergi melihat kembang api yang indah itu.
Boh-hoa mencampurkan diri dengan orang-orang kampung yang berbondong-bondong keluar melihat keramaian, sampai di suatu jalan simpang, dari sana muncul serombongan orang dengan suara tetabuhan yang gemuruh.
Orang-orang itu menyamar dalam macam-macam corak, ada yang menyamar sebagai setan jangkung hitam-putih dengan memakai kaki panjang dari kayu (egrang), ada pula yang menyaru sebagai setan perempuan dengan lidah menjulur panjang untuk menakuti anak-anak yang beramai-ramai mengintil dari belakang.
Didengarlah beberapa orang di sampingnya sedang mengobrol.
"Ha, rombongan ini bukankah keluarga Cu bersaudara yang belum lama menetap di sini? Biasanya mereka tidak berhubungan dengan Kui-pocu, mengapa malam ini mereka pun ikut meramaikan pesta Cap-gomeh ini bagi Kui-pocu?"
Sebagai seorang berpengalaman, Boh-hoa melihat rombongan penyamar itu rata-rata kuat dan tangkas, bagian pinggang pakaian mereka agak melambung, terang di dalamnya tersembunyi senjata.
Lalu terdengar seorang lagi berkata.
"Kabarnya ada bandit wanita dari Hui-hong-san hendak menyatroni Kuipocu, entah maksud tujuannya melulu hendak mengacau kepada Kui-pocu saja atau akan menyerbu benteng ini secara umum. Sebagai rakyat jelata, aku justru tidak percaya ada kawanan bandit yang mau mengincar kita. Sesungguhnya kita pun tiada harganya menjual nyawa bagi kepentingan keluarga Kui."
"Sssst, jangan sembarangan omong!"
Demikian desis kawannya sambil melirik ke arah Yap Boh-hoa yang berjalan di sebelahnya.
Maka laki-laki pertama tadi tidak berani bicara lebih banyak lagi ketika melihat Boh-hoa berada di samping mereka.
"Toako ini berasal dari kampung mana? Mengapa jarang kelihatan?"
Demikian ia coba mengadaada mengajak bicara kepada Boh-hoa.
"O, aku memang tinggal di atas gunung dan jarang turun ke kota,"
Sahut Boh-hoa samar-samar.
"Ah, kiranya adalah pemburu yang tinggal di gunung, pantas kita tidak saling kenal,"
Kata laki-laki tadi sambil menyengir.
"Paling akhir ini tinggal di gunung juga tidak aman, sering diganggu orang jahat, maka mumpung hari raya, iseng-iseng pesiar ke kota,"
Kata Boh-hoa pura-pura.
"Jangankan cuma orang gunung seperti kalian, sedangkan Kui-pocu kami yang selama ini malang melintang di dunia Kangouw, siapa tahu kali ini bandit wanita dari Hui-hong-san ternyata berani menantang beliau,"
Tutur orang itu.
"Sudah tentu Kui-pocu tidak pandang sebelah mata kepada bandit-bandit yang tak berarti itu, beliau justru sengaja merayakan pesta Capgo-meh tahun ini secara besar-besaran untuk memperlihatkan wibawanya."
Dalam pada itu orang-orang semakin membanjir dan datang dari berbagai jurusan menuju ke pusat kota, Bohhoa mencampurkan diri dengan khalayak ramai dan maju terus ke depan.
Sampai di pintu masuk sebelah barat, dilihatnya di situ dibangun sebuah barak untuk kandang kuda, padahal di depannya adalah gedung-gedung yang megah.
Entah berapa banyak kuda yang berada di kandang itu, ia heran, biasanya kandang kuda dibuat di tempat yang terpencil, mengapa sekarang berada di tengah tempat keramaian?
la coba bertanya pada orang di sebelahnya.
"Bangunan ini hanya untuk sementara saja,"
Tutur orang itu.
"Yaitu disediakan bagi para petugas, bila perlu dapat segera berkuda untuk bertempur melawan kawanan bandit. Kui-pocu kami selama ini telah malangmelintang di dunia Kangouw."
Gedung kediaman Kui Koh-ku terletak di pusat kota itu, di depannya adalah sebuah lapangan luas dengan enam jalan besar yang mengarah ke berbagai penjuru dimana ada lagi jalan-jalan simpang.
Di depan gedung kediaman keluarga Kui itu adalah sebuah ruang pendopo yang luas dan di bawahnya adalah undak-undakan batu puluhan tingkat.
Di tengah pendopo itu tersedia lima kursi besar dan yang duduk di tengah-tengah adalah Kui Koh-ku, pemilik dan penguasa kerajaan benteng itu.
Di kanan-kirinya berduduk empat orang jago pengawalnya, semuanya adalah tokoh-tokoh Kangouw yang terkenal, makanya dipandang sebagai tamu terhormat.
Dari jauh Yap Boh-hoa dapat mengenali dua orang di antaranya.
Seorang bernama Cin Cu-cun berjuluk 'Malaikat maut hitam' dan yang lain bernama Ciu Ting berjuluk 'Malaikat bertenaga raksasa'.
Diam-diam Boh-hoa membatin.
"Pantas begini besar pengaruh Kui-tek-po, kiranya di antara begundalnya terdapat pula dua benggolan Kangouw ini. Entah bandit wanita yang akan menyatroni benteng malam ini adalah Kheng Siu-hong atau bukan? Jika dia, tentu akan ketemu lawan tangguh seperti Cin Cu-cun dan Ciu Ting, belum lagi kedua jago lain yang tak dikenal itu."
Di ruang pendopo itu selain Kui-pocu dan keempat jagonya, kedua samping masih berdiri pula orang banyak.
Putranya, Kui Siau-leng, juga berada di antara orang-orang yang berdiri itu.
Sementara itu orang-orang yang ikut meramaikan pesta Cap-go-meh itu sudah berkumpul, segera akan dimulai pawai dengan macam-macam tontonan dan lampion-lampion yang indah.
Ada rombongan yang main barong-say, ada tarian liong (naga) dan macam-macam lagi.
Kelihatan juga keluarga Cu bersaudara yang menyamar sebagai setan jangkung serta setan wanita itupun bercampur di barisan pawai.
Sementara itu rembulan sudah menghias di tengah cakrawala, hari sudah tengah malam.
Saat itulah puncak keramaian Cap-go-meh.
Suara tambur dan gembreng berbunyi riuh ramai memekakkan telinga, kembang api bertaburan di udara laksana berjuta-juta bintang.
Dengan perasaan bimbang Boh-hoa mendesak di antara orang banyak dan mendekati undak-undakan batu pendopo itu, dilihatnya Kui Koh-ku sedang menikmati keramaian itu dengan riangnya dan terkadang mengeluarkan suara tawa bersama orang-orang di sekitarnya.
Mendadak terdengar si malaikat maut hitam Cin Cucun bergelak tertawa, lalu berkata.
"Hahaha, rupanya bandit wanita itu cukup tahu diri, agaknya malam ini dia tidak berani datang. Kalau berani datang, hm, tanggung akan kubekuk dan kupersembahkan kepada Siaupocu."
Terdengar Kui Koh-ku mendengus, katanya.
"Binatang inipun keterlaluan, putri keluarga baik-baik dan terhormat dia tidak mau, dia justru penujui seorang bandit. Dasar bandit wanita itupun tidak kenal maksud baik orang, bukan saja tidak menerima lamaranku, sebaliknya malah mengancam akan mengacau ke sini. Hm, celakalah kalau punya menantu perempuan seperti itu. Kalau dia benar-benar berani datang, sesudah dibekuk nanti biarlah dia dihajar adat supaya tahu rasa."
"Tapi kabarnya bandit wanita itu bukan sembarangan bandit,"
Ujar Cin Cu-cun.
"Oo, kau tahu asal-usulnya?"
Tanya Kui Koh-ku.
"Ya, kabarnya dia berasal dari keluarga pembesar negeri,"
Sahut Cu-cun, lalu ia menempelkan mulutnya ke tepi telinga Kui Koh-ku dan entah apa yang dibisikkan.
Walaupun ucapan Cin Cu-cun itu kemudian dibikin lirih, tapi sayup-sayup masih dapat ditangkap Yap Bohhoa.
Ia terkejut dan bergirang pula, hatinya menjadi berdebar-debar, pikirnya.
"Bandit wanita berasal dari keluarga pembesar, siapa lagi kalau bukan dia?"
Tiba-tiba kelihatan seorang berlari ke atas undakundakan secara tergesa-gesa, lalu menjura di hadapan Kui Koh-ku dan entah apa yang dilaporkan.
Habis itu tampak Kui Koh-ku lantas berbangkit, sinar matanya yang berjelilatan memandang kian-kemari di sekitar lapangan, lalu dia turun ke bawah undak-undakan dengan diikuti keempat jagonya.
Saat itu pawai kebetulan sampai pada rombongan keluarga Cu bersaudara, kedua saudara she Cu yang menyaru sebagai setan jangkung hitam-putih itu sedang menguber-uber seorang yang menyamar sebagai setan perempuan dengan lidahnya yang menjulur panjang.
Waktu melihat Kui Koh-ku mendekati lapangan, segera setan wanita itu berlari-lari ke depannya dengan diuber oleh kedua setan jangkung.
Setiba di depan Kui Koh-ku, dengan memencet hidungnya setan perempuan itu mengeluarkan suaranya yang melengking.
"Kematian hamba terlalu penasaran, di dunia sukar mendapatkan keadilan, di akhirat juga diuber-uber. Mohon Laupocu sudi membela keadilan!"
Dari belakang kedua setan jangkung hitam-putih samaran kedua bersaudara Cu juga sudah menyusul tiba, mereka berteriak.
"Raja akhirat sudah menentukan kematianmu, siapa lagi yang berani menghidupkan kau!"
Penonton-penonton mengira rombongan pemain keluarga Cu itu mendadak mengeluarkan adegan yang lucu, maka tertawalah mereka dengan riuh. Kui Koh-ku tampak senyum tak senyum, ia menoleh dan berkata.
"Cin-lotoa, coba kau saja yang memberi keadilan."
"Baik,"
Sahut Cin Cu-cun, si Malaikat maut hitam.
Mendadak ia melompat maju terus mencengkeram ke batok kepala setan perempuan itu.
Lekas setan perempuan itu menundukkan kepala hingga cengkeraman Cin Cu-cun itu mengenai rambutnya.
Di luar dugaan rambutnya tahu-tahu mengelotok lepas, kiranya setan perempuan itu memakai rambut palsu.
Keruan 'setan perempuan' itu terkejut, namun Cin Cucun tidak berhenti sampai di situ saja, cepat ia menjambret pula bajunya terus ditarik hingga robek, maka tertampaklah dadanya yang lapang, terang dia seorang laki-laki yang menyamar sebagai setan perempuan.
"Ada apakah kalian ini, sungguh kalian terlalu menghina orang!"
Demikian kedua saudara she Cu jang menyamar sebagai setan hitam-putih itu berkaok-kaok marah. Terpaksa Kui-Koh-ku tampil ke muka, katanya untuk melerai.
"Hendaklah kedua saudara Cu maklum, karena malam ini ada kemungkinan akan dikacau oleh bandit wanita dari Hui-hong-san, maka Cin-hiante terpaksa mesti lebih waspada, rupanya dia telah salah duga kawanmu ini sebagai samaran bandit wanita itu."
Baru sekarang Yap Boh-hoa paham sebabnya Cin Cucun mendadak membuka kedok 'setan perempuan' tadi, kiranya disangka samaran bandit wanita dari Hui-hongsan.
Sudah tentu yang paling penasaran adalah orang yang menyaru sebagai 'setan perempuan' tadi, dengan nekat ia lantas menubruk ke arah Cin Cu-cun.
Namun dengan sedikit mengegos dan sengkelit saja, tahu-tahu orang itu malah kena dilempar pergi.
Selagi kedua saudara Cu berkaok-kaok marah, sebaliknya Kui Koh-ku dan kawan-kawannya bergelak tertawa.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara lengking seorang.
"Ini dia bandit wanita dari Huihong-san berada di sini!"
Mendengar suara yang telah dikenalnya itu, kejut dan girang pula Boh-hoa, waktu ia menoleh, dilihatnya dari atas papan pigura yang melintang tinggi di atas ruangan pendopo sana telah melompat keluar seorang wanita bersenjata sepasang golok pendek dan panjang.
Siapa lagi dia kalau bukan Kheng Siu-hong yang diharapkannya sejak tadi?
Kiranya sejak tadi Kheng Siu-hong sudah menyelundup ke situ dan bersembunyi di tempat yang tak terduga, saat itu Siaupocu Kui Siau-leng masih berdiri di undak-undakan batu sebelah belakang, maka orang yang menjadi sasaran serbuan pertama oleh Kheng Siuhong adalah dia.
Cuma sayang, serangan Kheng Siu-hong itu tidak dilakukan secara menyergap, lebih dulu ia sengaja mengeluarkan suara sehingga musuh-musuhnya sempat berpaling, maka Ciu Ting si Malaikat bertenaga raksasa yang berdiri lebih dekat dengan Kui Siau-leng cepat memburu maju dan melontarkan suatu pukulan.
Namun begitu, datangnya Kheng Siu-hong benarbenar cepat luar biasa, sebelah goloknya sudah lantas membacok hingga Kui Siau-leng kontan menggeletak.
Cuma sayang bacokan itu tidak mengenai tempat bahaya, karena guncangan tenaga pukulan Ciu Ting, bacokan Kheng Siu-hong itu hanya melukai bahu sasarannya.
Dengan menjerit Kui Siau-leng terguling ke bawah undak-undakan batu, di sebelah sana Ciu Ting dengan diikuti dua orang kawannya lagi sudah lantas memburu tiba.
Kui Koh-ku juga lantas memerintahkan anak buahnya membunyikan tanda bahaya.
Keruan suasana riang gembira tadi seketika berubah menjadi kacau-balau.
Penonton hiruk pikuk berlari pulang, anak buah Kui Koh-ku jang tersebar di segenap penjuru beramai-ramai mengurung ke arah pendopo.
"Tangkap bandit wanita itu, tangkap!"
Teriak Kui Kohku dengan murka.
"Kau telah menghina kami dan lantas menganggap habis perkara sampai di sini saja?"
Bentak Cu-lotoa yang menyaru sebagai setan jangkung hitam, mendadak ia angkat kain bajunya ke atas, dengan satu lompatan, dengan cepat mereka mematahkan kayu-kayu itu, kiranya di dalamnya tersimpan senjata sepasang gaetan, serentak mereka menerjang ke arah Kui Koh-ku.
Cu-loji yang menyaru jadi setan jangkung putih juga berbuat sama, dari dalam kaki kayunya telah dikeluarkan senjata sepasang gaetan, serentak mereka menerjang ke arah Kui Koh-ku.
Namun dengan cepat Cin Cu-cun telah melompat maju mengadang di depan kedua saudara Cu.
Senjata yang dipakai Cin Cu-cun adalah toya untiran rotan, sekali bergerak, lebih dulu ia gentak tongkat Culotoa ke samping, menyusul ujung toyanya lantas menyapu untuk menangkis pergi sepasang gaetan Culoji.
Kui Koh-ku sendiri tiada pikiran buat bertempur dengan rombongan kedua saudara Cu itu, cepat ia hendak menyingkir, tapi mendadak orang yang menyaru sebagai setan wanita tadi muncul dari penontonpenonton yang lari tunggang-langgang sehingga tepat kepergok dengan Kui Koh-ku.
"Bayar kembali jiwaku!"
Teriak orang itu dengan nada seram, berbareng itu lidah palsu yang menjulur panjang itu mendadak tergigit putus terus disemburkan ke arah Kui Koh-ku.
Serangan cara demikian benar-benar di luar dugaan siapa pun juga, dan baru saja ia melenggong kaget, tahu-tahu bajunya sudah berlepotan darah, bahunya juga telah tertusuk oleh 'lidah' putus itu dan terasa agak linu.
Kiranya 'lidah' yang gemelantung itu sebenarnya adalah sebilah belati kecil yang berbisa, untunglah Kui Koh-ku berlatih ilmu Tiat-poh-san, begitu menyentuh tubuhnya, belati itu lantas jatuh ke tanah.
"Kau main gila apa?"
Bentak Kui Koh-ku dengan gusar sambil menghantam.
Kontan 'setan wanita' kena dipukul terguling, tapi ia pun tidak sempat membinasakannya, segera ia berlari pula ke depan.
Pada saat itulah tiba-tiba tertampak api menganga membumbung ke langit.
Dari dalam pendopo tadi telah menerjang keluar pula beberapa orang, empat orang laki-laki di antaranya memakai senjata yang sama, yaitu gada bergigi, selain itu adalah dua wanita muda berdandan sebagai dayang dan bersenjata golok, kiranya mereka juga telah bersembunyi di situ bersama Kheng Siu-hong.
Waktu itu Kheng Siu-hong sedang dikerubut oleh tiga jagoan sewaan Kui Koh-ku, dengan datangnya bala bantuan itu segera ia mempercepat serangannya, goloknya yang panjang membacok, golok yang pendek terus menusuk.
"Sret-sret", tahu-tahu toya Ciu Ting tersampuk ke samping, menyusul tulang pundaknya sudah terbacok. Kedua kawannya tidak sempat menolongnya lagi karena sedang dikerubut oleh anak buah Kheng Siu-hong. Setelah merobohkan Ciu Ting, tanpa menghiraukan mati hidupnya lagi, segera Kheng Siu-hong melompat ke bawah undak-undakan untuk menguber Kui Siau-leng. Pada saat itu Kui Siau-leng baru saja merangkak bangun dan hendak mengerahkan begundalnya, tapi tahu-tahu Kheng Siu-hong sudah memburu sampai di belakangnya dengan golok membacok. Saat itu Kui Koh-ku kira-kira belasan meter jauhnya dari situ, melihat putranya terancam bahaya, sambil menggertak, goloknya lantas ditimpukkan sekuatnya. Karena Kheng Siu-hong sedang melontarkan serangan dan sedetik lagi tentu jiwa sasarannya bisa dibikin melayang, tapi ia pun terkesiap ketika mendengar angin keras menyambar dari samping, untuk menangkis atau menghindar terpaksa ia harus menarik kembali pula serangannya. Pada saat hampir bersamaan itulah sekonyongkonyong terdengar suara mendenging dan "tring", entah darimana datangnya sebuah senjata rahasia kecil telah berhasil membentur golok yang ditimpukkan Kui Koh-ku itu sehingga golok itu terpental ke samping. Sedikit ayal itu saja bacokan Kheng Siu-hong tadi menjadi agak melenceng, ia tertegun sebentar sehingga Kui Siau-leng sempat mencondong tubuhnya ke depan, namun tidak urung punggungnya terbacok juga sehingga terluka parah, kontan ia menjerit dan terguling. Ketika Kheng Siu-hong menoleh, dilihatnya sesuatu benda kecil tepat jatuh di sampingnya. Ia menjemputnya, kiranya adalah sebuah tusuk kundai yang dikenalnya sebagai miliknya sendiri. Tergetarlah hati si nona, entah girang entah kejut.
"Kiranya dia juga berada di sini. Dia adalah musuhku mengapa malah membantu aku?"
Demikian pikirnya. Dalam pada itu Kui Koh-ku sudah memburu tiba, melihat putranya roboh bermandikan darah, ia menjadi murka.
"Bangsat wanita, biar kucincang tubuhmu!"
Teriaknya sambil menerjang maju.
"Tua bangka, biar kukirim kau ke akhirat bersama binatang kecil itu!"
Bentak Kheng Siu-hong sambil memutar sepasang goloknya dengan kencang, seketika Kui Koh-ku terkurung rapat di bawah sinar goloknya.
Ternyata Kui Koh-ku sama sekali tidak gentar, dengan bertangan kosong segera ia hendak merebut golok Kheng Siu-hong.
Akan tetapi mendadak ia merasa lengan kirinya agak pegal dan kurang leluasa bergerak.
Rupanya tadi dia tertimpuk belati berbisa yang disemburkan 'setan wanita' itu, walaupun tidak sampai cacad, tapi sedikit lecet saja racun sudah mengganggu kekuatan lengannya itu.
Dalam pada itu serangan-serangan Kheng Siu-hong sudah membadai datangnya, terpaksa Kui Koh-ku melayani dengan sebelah tangan saja dan sudah tentu hal ini sangat tidak menguntungkan dia.
Untung baginya pada saat itu Cin Cu-cun telah berhasil mendesak mundur kedua saudara Cu dan memburu datang untuk membantu.
"Bangsat wanita ini serahkan padaku saja, Kui-toako!"
Seru Cin Cu-cun. Sekali putar toya rotannya.
"plak-plak", kontan kedua golok Kheng Siu-hong kena disampuk pergi sehingga Kui Koh-ku terhindar dari ancaman maut.
"Malam ini kalau kita tidak menangkap hidup-hidup bangsat wanita ini, tentu lenyaplah nama baik Kui-tek-po selama ini,"
Seru Kui Koh-ku.
"Dalam keadaan demikian apakah kita perlu bicara tentang peraturan Kangouw lagi?"
Rupanya Kui Koh-ku menjadi nekat dan gemas karena bentengnya diobrak-abrik, putranya terluka parah dan entah hidup atau mati.
Saking murkanya ia tidak menjaga harga diri lagi dan bermaksud mengerubut Kheng Siu-hong yang masih muda belia itu.
Permainan toya rotan Cin Cu-cun itu terhitung suatu kepandaian terkemuka di daerah barat laut, serangannya beraneka macam gayanya dan sangat lihai.
Untuk satu lawan satu saja Kheng Siu-hong tak bisa menang, apalagi sekarang dikerubut.
Dalam pada itu di tanah lapang itupun sudah terjadi pertempuran gaduh, anak buah Kui Koh-ku sebagian sibuk memadamkan api, sebagian lagi harus menghadapi kelompok rombongan persaudaraan Cu, keempat jago bersenjata gada bergigi dan dua dayang pribadi Kheng Siu-hong.
Ketika melihat tuan putri mereka dikerubut, cepat kedua dayang itu melepaskan diri dari kalangan pertempuran mereka dan memburu datang untuk membantu tuan putrinya.
Maka Kheng Siu-hong menjadi longgar, ia sempat mengeluarkan sebuah tanduk kerbau terus ditiup dan mengeluarkan suara "tut-tut"
Yang keras dan berkumandang jauh.
"Hm, apa yang kau jeritkan? Biarpun kau memanggil bala bantuan juga tak berguna, apakah kau kira bentengku ini mudah dibobol?"
Jengek Kui Koh-ku.
Terkaan Kui Koh-ku memang benar, Kheng Siu-hong memang sedang meminta bala bantuan, dengan suara tiupan tadi kiranya penyerangan terhadap Kui-tek-po kali ini sebelumnya sudah direncanakan dengan baik.
Dengan bersekongkol dengan kedua saudara Cu, anak buah Kheng Siu-hong telah bersiap akan menyerbu masuk ke dalam benteng melalui suatu jurusan yang penjagaannya agak longgar, apabila kelihatan api sudah mulai membakar di ruang pendopo.
Akan tetapi sekarang api sudah menyala sekian lamanya dan bala bantuan dari luar itu masih belum kelihatan, diam-diam Kheng Siuhong menduga mungkin telah terjadi sesuatu, ia menjadi gelisah.
Namun dia masih coba meniup tanduknya untuk memanggil bala bantuan itu.
Ia tak bisa meniup tanduknya lebih lama lagi karena segera Cin Cu-cun telah menyerangnya dan dia terpaksa harus menangkis.
Di tengah pertarungan sengit itu tibatiba tertampak dua penunggang kuda berlari datang.
Seorang di antaranya telah memberi lapor kepada Kui Koh-ku.
"Pocu, ada berita baik. Kawanan bandit Huihong-san telah berusaha melintasi selat Hek-hong-kiap, untung kepergok oleh Lau-suhu dari Ban-keh-ceng yang kebetulan lewat. Sekarang kawanan bandit itu sudah terkepung di sana, tanggung mereka takkan lolos seorang pun."
Laki-laki yang satunya segera melompat turun dari kuda dan berseru.
"Kedatanganku sebenarnya hendak minta bantuan, tak tersangka di sini juga sedang direcoki orang jahat, tanpa sengaja aku malah sudah berjasa bagi Kui-pocu."
Kiranya orang yang lapor tadi adalah anak buah Kui Koh-ku, sedang laki-laki yang belakangan ini adalah Lau Jin-kiat, jago sewaan Ban Peng-ya, pemilik perkampungan Ban-keh-ceng yang kuda kesayangannya dicuri oleh Yap Boh-hoa itu.
Secara kebetulan Lau Jin-kiat memergoki laskar Kheng Siu-hong yang sedang bersiap di tengah selat gunung dan menunggu isyarat pimpinan mereka.
Diam-diam Lau Jin-kiat menyampaikan berita dari apa yang dilihatnya itu kepada laskar Kui Koh-ku, yang menjaga tidak jauh dari selat gunung itu sehingga laskar Kheng Siu-hong kena dikurung di tengah selat gunung.
Maka dengan girang Kui Koh-ku menanggapi.
"Bagus, Lau-suhu jasamu ini tentu akan kubalas dengan pantas."
Cin Cu-Cun adalah sahabat Lau Jin-kiat, dengan tertawa ia ikut bicara.
"Kedatanganmu ini sangat kebetulan, Lau-Iotoa. Apakah kau tidak ingin berjasa lebih banyak lagi? Itulah hadiahnya dua dayang molek itu, kau senang tidak?"
Dasar Lau Jin-kiat memang gemar pipi licin, ia bergelak tertawa mendengar itu, sahutnya.
"Terima kasih, Cin-toako. Kita adalah orang sendiri, bila ada kesukaran tentu dipikul bersama."
Habis berkata segera ia ikut menerjang ke kalangan pertempuran. Memangnya Kheng Siu-hong sudah kewalahan, sekarang pihak lawan bertambah lagi seorang jago, keruan ia tambah repot.
"Nona Kheng,"
Tiba-tiba Cin Cu-cun berseru dengan cengar-cengir.
"aku sudah tahu asal-usulmu, kau adalah putri seorang Congpeng yang mulia, buat apa mesti bertempur mati-matian dan rela menjadi kaum bandit. Tidakkah lebih baik kau terima lamaran Siaupocu kami, tanggung kau hidup senang bahagia."
"Tutup bacotmu!"
Bentak Kheng Siu-hong dengan murka, segera sepasang goloknya diputar cepat, dengan mati-matian ia menerjang.
Memangnya Cin Cu-cun memancing amukan Kheng Siu-hong, dalam keadaan kalap nona itu tentu akan lebih mudah dibekuk.
"Trang", mendadak golok Kheng Siuhong yang pendek tersampuk jatuh. Menyusul toya rotan Cin Cu-cun sudah lantas mengemplang dari atas, serunya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Nona Kheng, sekarang biarpun kau mau menurut juga sudah terlambat!"
Pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar suara kuda meringkik ramai dengan suara gemuruh lari binatang-binatang itu, seakan beratus ribu pasukan berkuda di medan pertempuran.
Sedikit Cin Cu-cun tercengang, kesempatan itu telah digunakan oleh Kheng Siu-hong untuk melompat ke samping.
Dalam pada itu terdengar ada orang berteriak.
"Ini dia orang-orang gagah dari Hui-hong-san! Mana itu tua bangka she Kui dan putra anjingnya."
Keruan Kui Koh-ku terperanjat, waktu ia berpaling, kiranya barak darurat yang digunakan sebagai kandang kuda itu telah terbakar, beratus-ratus ekor kuda itu lari serabutan seperti gila, menerjang ke sana sini di tanah lapang itu.
Tentu saja medan pertempuran itu menjadi kacau, banyak anak buah Kui Koh-ku sendiri yang diseruduk dan disepak terguling oleh kuda-kuda binal itu.
Kiranya Yap Boh-hoa yang telah melakukan sabotase itu, ia lihat kedudukan pihak Kheng Siu-hong tidak menguntungkan, untuk menolongnya dengan tenaga sendiri juga sukar.
Tiba-tiba ia mendapat akal, ia menyusup ke barak darurat itu, belasan penjaga di situ disergapnya dengan totokan-totokan kilat sehingga tak bisa berkutik, ia membakar barak itu, lalu pantat kudakuda itu ditusuk dengan pedang.
Karena kesakitan kudakuda itu lantas berjingkrak dan meringkik, terus berlari menerjang kian kemari seperti kesetanan, asal ketemu orang lantas menyepak tanpa membedakan kawan atau lawan.
Memangnya ruang pendopo sudah kebakaran dan belum sempat dipadamkan, sekarang api berkobar lagi di lain tempat, keruan suasana tambah kacau balau.
Banyak anak buah Kui Koh-ku yang lari tungganglanggang mencari selamat.
"Tangkap dulu bangsat wanita ini mati atau hidup, hadiah disediakan kepada siapa pun yang berjasa!"
Seru Kui Koh-ku untuk memberi semangat kepada begundalnya.
"Baik!"
Seru Cin Cu-cun, toyanya mencambuk golok panjang Kheng Siu-hong, menyusul ia menghantam pula dengan sebelah telapak tangannya.
Kelihatan telapak tangannya hitam hangus, kiranya dia memiliki pukulan telapak tangan berbisa, makanya orang memberi julukan 'Hek-sat-sin' atau si Malaikat maut hitam.
Namun sebelum Kheng Siu-hong menangkis, tiba-tiba sejalur sinar emas menyambar tiba.
Kiranya Yap Boh-hoa sudah menyambitkan sebuah tusuk kundai sebagai senjata rahasia untuk menolong si nona.
Tusuk kundai itu mengincar titik darah di tengah telapak tangan Cin Cu-cun, jika kena, pasti punah segenap ilmu telapak tangan berbisa yang dilatihnya itu.
Sebagai seorang jagoan, Cin Cu-cun terkesiap juga mendengar sambaran tusuk kundai yang membawa suara mendesing itu, cepat ia menarik kembali tangannya.
Pada saat lain tahu-tahu Yap Boh-hoa sudah memburu tiba.
Di sekitar situ terdapat seorang pengiring Kui Siauleng yang kenal Yap Boh-hoa, ia berteriak-teriak.
"Itu dia bocah yang membikin onar tadi!"
"Kurangajar! Bangsat cilik semacam kau juga berani main gila di sini!"
Bentak Kui Koh-ku dengan gusar. Berbareng ia terus menghantam dengan ilmu pukulan Tay-Iik-kim-kong-ciang, pukulan tenaga raksasa.
"Hm, ada ubi ada talas, kalau diberi harus dibalas! Ini kau pun terima pukulanku!"
Sahut Yap Boh-hoa.
Dan pada saat yang hampir bersamaan ia pun melontarkan pukulan Pan-yak-ciang-hoat ajaran ayahnya yang dahsyat.
Tenaga pukulan Pan-yak-ciang itu paling lihai buat menggetar putuskan urat nadi lawan, biarpun Kui Koh-ku juga bukan jago silat rendahan toh tak tahan juga.
Begitu kedua tangan beradu.
"biang", seluruh badan Kui Koh-ku tergetar, darah bergolak dalam rongga dadanya dan hampir-hampir menyembur keluar. Keruan kagetnya tidak kepalang, lekas ia melompat ke samping untuk melancarkan napasnya. Melihat majikannya kecundang, cepat Cin Cu-cun meninggalkan Kheng Siu-hong, ia putar toyanya terus menyerampang kaki Yap Boh-hoa. Sambil meloncat ke atas Yap Boh-hoa juga sudah melolos pedangnya. Sekali menyambar, dalam sejurus saja pedangnya telah mengancam tujuh tempat Hiat-to di tubuh Cin Cu-cun. Cin Cu-cun tahu telah ketemu lawan tangguh, dari menyerang terpaksa menjaga diri, ia putar toyanya dengan kencang sambil melangkah mundur. Yap Boh-hoa tidak mendesak lebih jauh, tapi sebelah kakinya lantas menyungkit sehingga golok pendek milik Kheng Siu-hong yang jatuh tadi mencelat ke arah si nona, katanya.
"Nona Kheng, terima kembali senjatamu!"
Pikiran Kheng Siu-hong gelisah tak keruan, dia bingung apakah masih benci atau mesti berterima kasih kepada pemuda itu, namun tidak urung ia menangkap juga golok pendek itu dengan muka bersemu merah, lalu ia berputar ke sana untuk membantu kedua dayangnya.
Pada kesempatan itu pula Boh-hoa sempat menjemput kembali tusuk kundai yang disambitkan tadi dan disimpan kembali untuk dipulangkan kepada Kheng Siuhong pada kesempatan lain.
Habis itu segera ia mengayun pedangnya menerjang pula ke arah Cin Cucun.
Di sebelah sana Lau Jin-kiat menjadi kelabakan diterjang oleh Kheng Siu-hong, apalagi dikenalnya pula bahwa Yap boh-hoa adalah pencuri kuda yang lihai itu.
Keruan ia bertambah jeri karena sudah merasakan betapa lihatnya Yap Boh-hoa.
Dan karena gugupnya, sedikit meleng saja bahunya telah kena ditabas oleh golok Kheng Siu-hong, lekas ia lari menyingkir ke samping.
Sesudah bersatu dengan kedua dayangnya, Kheng Siu-hong melihat keempat pengawalnya yang bersenjata gada bergigi itupun sudah menerjang keluar dari kepungan untuk bergabung dengan dia.
Hanya satu saja di antara keempat orang itu yang terluka ringan, yang lain tidak mengalami cidera apa-apa.
Dalam pada itu suasana pertempuran sudah agak reda, hanya tinggal sebagian kuda binal tadi yang masih berlari-lari kian kemari tak teratur.
Anak buah Kui Koh-ku juga ada sebagian yang telah kabur mencari selamat.
Kui Koh-ku sangat gusar, ia perintahkan orang membunyikan tanda berkumpul, ia hendak menghimpun pasukannya untuk mengejar Kheng Siu-hong.
Kheng Siu-hong sendiri karena ingin pergi menolong laskarnya yang terkurung di selat gunung, pula keadaan pertempuran juga tidak menguntungkan, bilamana sampai terkepung lagi tentu akan sukar meloloskan diri, segera ia memberi tanda agar kawan-kawannya merebut kuda dan menerjang keluar dari benteng Kui-tek-po.
Sambil melarikan kudanya, dia masih sempat berteriak.
"Dengarkan tua bangka she Kui, hari ini kami hanya memberi hajar adat padamu, jika kau masih belum kapok, lain kali tentu kami akan mencabut nyawamu!"
Sesudah kata-kata itu terucapkan, diam-diam ia merasa malu sendiri, sebab tadi kalau tiada bantuan dari Yap Boh-hoa, boleh jadi dirinya sukar lolos dari cengkeraman Kui Koh-ku, jangankan bilang hendak memberi hajar adat.
Dengan kuda rampasan, segera Kheng Siu-hong dan rombongan meninggalkan sarang musuh.
Yap Boh-hoa juga sudah merampas seekor kuda dan ikut di belakang.
Namun sama sekali Kheng Siu-hong tak menggubrisnya, dia melarikan kudanya paling depan diikuti kedua dayangnya, di belakangnya menyusul keempat laki-laki bersenjata gada, paling akhir adalah Yap Boh-hoa.
Sudah tentu Yap Boh-hoa merasa kesepian, tapi tidak leluasa untuk memburu maju dan mengajak bicara.
Mestinya banyak pertanyaan Yap Boh-hoa akan diajukan kepada Kheng Siu-hong, tapi nona itu tetap tidak menggubris padanya sepanjang jalan.
Dalam pada itu fajar sudah menyingsing, tiba-tiba ia teringat kepada perjanjiannya untuk bertemu kembali di Oh-liong-poh.
Kheng Siu-hong seperti tak sabar lagi, ia melarikan kudanya secepat terbang.
Tentu saja Yap Boh-hoa lebihlebih tiada kesempatan buat mengajak bicara, akan tetapi ia pun merasa berat untuk tinggal pergi begitu saja.
Secara kebetulan kali ini bertemu lagi dan dirinya telah membantunya, kesempatan ini sebenarnya sangat baik untuk digunakan menyelesaikan kesalah pahaman selama ini.
Tentang kesalah pahaman ini sungguh ia merasa bingung dan tidak tahu apa sebabnya, maka kalau sekarang tidak ditanyakan sejelasnya mungkin kelak tiada kesempatan sebaik ini lagi.
Walaupun penting juga janjinya kepada Ubun Hiong, tapi ia yakin kalau terlambat beberapa jam saja masih dapat dimengerti oleh Ubun Hiong, andaikan pemuda itu harus berangkat lebih dulu dan tidak menunggunya, biarlah kelak bila bertemu lagi akan diberi penjelasan.
Begitulah tanpa terasa ia telah ikut sekian jauhnya di belakang rombongan Kheng Siu-hong, kini mereka sudah berada di jalan lereng gunung, sayup-sayup terdengarlah suara pertempuran di lembah gunung sana.
Diam-diam Yap Boh-hoa ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.
Ia pikir sekali sudah membantu biarlah membantu sampai akhirnya.
Sementara itu hari sudah terang benderang, sang surya telah memancarkan sinarnya yang gilang gemilang, kabut juga masih menyelimuti lereng gunung, seperti baru saja tersingkap dan mulai buyar.
Dari jauh samarsamar sudah kelihatan bayangan orang berlari-lari di sana sini, tak terbedakan kawan atau lawan.
Segera pula Kheng Siu-hong memutar sepasang goloknya dan melarikan kudanya ke depan secepat terbang, dari jauh ia sudah berteriak.
"Kui-tek-po sudah kami serbu dan bobol, ruang pendopo sarang tua bangka she Kui juga sudah kami bakar menjadi puing. Jika kalian ingin hidup, lekaslah letakkan senjata dan angkat tangan!"
Dia berteriak dengan menggunakan tenaga dalamnya sehingga suaranya berkumandang jauh, ternyata cukup berhasil gertakannya ini.
Sebagian anak buah Kui Koh-ku menjadi ketakutan dan melarikan diri tak teratur, sebagian lagi walaupun masih coba melawan, tapi dengan mudah telah diberesi oleh Kheng Siu-hong dan rombongannya.
Ternyata laskar Kheng Siu-hong sendiri juga sudah kocar-kacir tak keruan, untunglah dia keburu tiba, kalau tidak, tentu sukar diramalkan bagaimana nasib anak buahnya itu.
Seorang Thaubak laskarnya lantas menghadap untuk melapor dan minta ampun.
"Bukan salahmu,"
Kata Kheng Siu-hong.
"terkurungnya laskar kita adalah secara kebetulan saja sehingga mangacaukan rencana. Paling penting sekarang lekas kau urus anak buah yang terluka dan yang gugur."
Habis itu ia lantas bantu memeriksa beberapa anak buahnya yang terluka serta memberi obat seperlunya. Ketika dia berpaling, tahu-tahu Yap Boh-hoa kelihatan berdiri di hadapannya.
"Kau ... kau mau apa ikut ke sini?"
Tanyanya tak terduga-duga.
"Nona Kheng, maafkan bila aku mengganggu. Aku ... aku hanya ingin bicara sedikit padamu,"
Sahut Boh-hoa.
"Yap-kongcu,"
Kata Siu-hong.
"tiada sesuatu yang perlu kita bicarakan. Untuk selanjutnya hendaklah kau pun jangan ikut campur urusanku lagi."
Boh-hoa tertegun, diam-diam ia merasa nona itu terlalu tidak tahu kebaikan orang. Dengan aseran ia lantas menjawab.
"Baiklah, anggap saja akulah yang usil dan suka campur urusan orang lain."
"Yap-kongcu,"
Seru Kheng Siu-hong sebelum Yap Bohhoa hendak melangkah pergi.
"Kau telah membantu aku semalam, mesti aku harus mengucapkan terima kasih padamu, namun kaum persilatan kita paling tegas membedakan antara budi dan dendam. Boleh kau pilih apakah aku menjura padamu sebagai tanda terima kasih, lalu kita mulai lagi menggunakan senjata atau kita anggap saja pertolonganmu telah melunasi dosamu, untuk selanjutnya kita menempuh jalan sendiri-sendiri dan tiada sangkut-paut apa-apa."
Boh-hoa terkejut bingung, tanyanya.
"Sungguh aku tidak paham maksud ucapanmu, nona Kheng? Bantu membantu adalah hal yang lazim di dunia persilatan. Aku merasa tiada menanam budi apa-apa kepadamu, sebaliknya aku pun tidak tahu bilakah berbuat dosa? Sungguh aku tidak paham, dapatkah kau bicara lebih jelas lagi persoalannya?"
"Bocah she Yap,"
Kata seorang di antara empat lakilaki bersenjata gada yang entah sejak kapan telah mengepung di belakang Yap Boh-hoa.
"apa yang telah kau perbuat, kau sendirilah yang tahu. Apakah perbuatanmu yang keji itu kau kira orang lain tidak tahu? Kau adalah musuh pembunuh ayah Siocia (tuan putri) kami, tapi semalam kau telah menolong jiwa kami pula. Apakah kurang jelas bagimu apa yang dimaksudkan Siocia kami?"
Boh-hoa tambah bingung.
"Sungguh aneh,"
Katanya kemudian.
"Hakikatnya aku belum pernah kenal, siapakah ayah nona Kheng, darimana aku bisa dituduh membunuh beliau? Bahwasanya aku memang memusuhi kerajaan Boan-jing, itu tidak berarti mesti membunuh ayah nona. Sungguh aku tidak paham persoalannya."
"Tak perlu kau membela diri, justru kami tahu kau memusuhi kerajaan, makanya majikan kami telah menjadi korbanmu. Meski majikan tidak dibunuh oleh tanganmu sendiri, tapi tewasnya beliau adalah karena gara-garamu. Dan apakah kau tetap tidak mau mengaku sebagai musuh Siocia kami,"
Kata seorang kawannya lagi.
Dari pembicaraan mereka itu, sedikit banyak Yap Bohhoa dapat meraba, boleh jadi majikan mereka telah menjadi korban keganasan pihak kerajaan, karena merasa dendam, maka si nona dan anak buahnya terpaksa masuk hutan dan naik gunung menjadi bandit untuk melawan kerajaan, tapi sebenarnya tidak sejalan dengan laskar pemberontakan.
Maka dengan aseran ia pun berteriak.
"Benar, aku memang buronan kerajaan dan majikanmu adalah panglima kerajaan, terang aku bukan orang golongan kalian, tapi apa sangkut-pautku dengan kematian majikanmu? Mengapa kematiannya dianggap garagaraku?"
"Hm, apakah kau sudah lupa pada perjanjian pertemuan kita di pegunungan Masjit tempo dulu?"
Tibatiba tiba Siu-hong menjengek. Mendengar itu, alis Boh-hoa menegak, serunya dengan penasaran.
"Jadi kau masih ingat kepada janji tempo hari? Hm, aku sih tidak berani menuduh kalian ayah dan anak sengaja membikin celaka padaku. Tapi nyatanya ketika aku sampai di tempat itu, bukannya kau, nona Kheng, yang menanti di situ, sebaliknya aku sudah ditunggu oleh 13 orang jago istana."
"Hah, apa betul?"
Siu-hong menegas dengan terkejut.
"Mengapa tidak betul, di atas tubuhku masih tertinggal belasan bekas luka yang dapat menjadi bukti,"
Seru Bohhoa.
"Untunglah aku tidak jadi mampus, sebaliknya ke-13 jagoan kalian itu malah mati semua. Memangnya kau perlu bertanya?"
"Aku perlu bertanya karena aku memang tidak tahu,"
Sahut Siu-hong.
"Tidak tahu? Janji pertemuan kita itu kalau bukan kau yang menyiarkan, masakah begitu kebetulan ke-13 anjing alap-alap kerajaan itu bisa mengetahui?"
Jengek Boh-hoa. Siu-hong tampak bersangsi, pikirnya.
"Apakah mungkin ayahku yang membocorkan soal ini?"
Dia memang telah memberitahukan janjinya dengan Yap Boh-hoa itu kepada sang ayah, ayahnya telah melarang dia pergi memenuhi janji, tapi juga tidak akan mengusut lebih jauh persoalan itu atau membikin susah sahabatnya, untuk ini ia dapat mempercayai ayahnya.
Maka dengan aseran ia pun berteriak.
"Ya, aku tidak tahu, Justru kau sendirilah yang memfitnah ayahku bersekongkol dengan pihakmu berdasarkan perjanjian pertemuan kita itu. Seumpama kau ingin memaksa ayah ikut berontak, sebenarnya tidak perlu menggunakan cara serendah itu. Hm, kau membikin celaka ayah, aku benci, aku benci selamanya padamu."
"Darimana kau bisa menuduh aku demikian? Tentu kau telah dihasut atau salah mendengar desas-desus yang sengaja disiarkan orang,"
Ujar Boh-hoa.
"Ini bukan desas-desus, tapi adalah bukti hitam di atas putih yang tertulis di dalam laporan rahasia gubernur Siam-say kepada kaisar, katanya dari mata-matanya yang menyusup di pihakmu telah diperoleh keterangan dan bukti bahwa ayahku bersekongkol dengan kalian, bahkan namaku juga ikut terseret, katanya akulah yang membantu ayah mengadakan hubungan rahasia yang akan diadakan hari apa di atas gunung Masjit dan macam-macam tuduhan lagi. Untunglah seorang sahabat baik yang berwenang dalam kerajaan telah menyampaikan berita tuduhan itu kepada ayah, sehingga ayah menyuruh aku lekas meloloskan diri, kalau tidak, saat ini jiwaku tentu sudah melayang bersama ayah."
"Apakah gubernur Siamsay yang kau maksudkan itu adalah si jagal she Yap yang kini menjabat gubernur Sucwan itu?"
Boh-hoa menegas.
"Aku tak peduli apakah dia jagal atau pembesar baik, pendek kata tentulah bahan fitnah itu diperoleh dari pihakmu,"
Sahut Siu-hong.
"Kau tidak perlu mungkir lagi, laporan rahasia itu adalah bukti yang kuat."
"Ya, laporan itu mungkin terjadi, apa yang dilaporkan itu hanya sengaja dibuat-buat untuk memfitnah belaka,"
Kata Boh-hoa.
"Ya, isi laporan itu memang fitnah belaka, memfitnah ayahku,"
Kata Siu-hong.
"Bukan begitu maksudku,"
Ujar Boh-hoa.
"Apa maksudmu?"
Siu-hong menegas.
Seketika jantung Yap Boh-hoa berdebar-debar dan sukar menjawab, ia sudah menduga, boleh jadi peristiwa ini ada hubungannya dengan Yap Leng-hong palsu itu.
Yang terang janji pertemuannya dengan Kheng Siu-hong dahulu itu toh tak diceritakanya kepada Yap Leng-hong palsu, entah darimana dia dapat mengetahuinya dan memasang perangkap?
Andaikan sekarang hendak diberi penjelasan kepada Kheng Siu-hong, rasanya juga sukar dipercaya oleh si nona.
Dalam pada itu para korban di pihak anak buah Kheng Siu-hong telah diselesaikan, Thaubak tadi datang melapor pula.
"Tampaknya api di Kui-tek-po sudah dipadamkan, bila kita tertunda lebih lama di sini boleh jadi tua bangka she Kui itu akan mengerahkan pasukannya untuk mengejar. Dalam keadaan lelah, saudara-saudara kita tentu sukar bertahan, lebih baik kita lekas mengundurkan diri saja, mohon Cecu memberi petunjuk."
"Baiklah, yang luka supaya diangkut dulu di muka, kita mengawal di belakang, boleh segera berangkat,"
Kata Kheng Siu-hong.
Begitu perintah diberikan, berbondong-bondong laskar itu lantas bergerak.
Pikiran Yap Boh-hoa benar-benar kusut dan serba susah.
Melihat Yap Boh-hoa tertegun, Kheng Siu-hong lantas membuka suara.
"Tentang bantuanmu tadi aku pun takkan mengucapkan terima kasih. Anggaplah kita sudah tidak saling hutang budi dan dendam, kita selesaikan sampai di sini dan habis perkara."
Waktu itu hari sudah dekat lohor.
Karena teringat kepada Ubun Hiong yang sedang menunggu di Oh-liongpoh, diam-diam ia pun menimang-nimang, urusan di Sucwan itu jauh lebih penting, untuk sementara ini terpaksa aku mendendam penasaran.
Persoalaan ini agaknya juga sangat ruwet dan sukar dibikin terang dalam waktu singkat.
Hari sudah siang, kalau tidak lekas berangkat mungkin aku akan ditinggalkan Ubun Hiong."
Maka dengan menghela napas ia berkata.
"Nona Kheng apa yang kukatakan adalah sungguh-sungguh, jika kau tidak percaya, apa yang dapat kukatakan lagi. Persoalan ini kelak pasti akan menjadi terang. Sampai berjumpa pula."
Namun dengan dingin Kheng Siu-hong menjawab.
"Aku tidak ingin melihat kau lagi, kau pun tak perlu mencari aku pula."
Saat itu Yap Boh-hoa sudah mencemplak ke atas kudanya dan dilarikan, sayup-sayup Kheng Siu-hong mendengar suara helaan napas pemuda itu.
Tiba-tiba dalam hati kecilnya terasa cemas juga, ia sendiri raguragu apa benar dirinya tidak ingin melihatnya lagi?
Perasaan Yap Boh-hoa juga cemas, ia mengira kali ini dapat diselesaikan kesalah pahaman mereka, siapa tahu telah berakhir dengan nihil.
Yang terhibur baginya hanyalah dua hal, pertama, sudah diketahuinya sedikit duduknya perkara, teranglah pokok pangkal peristiwa itu, adalah karena perbuatan Yap Lep-hong yang licik itu.
Kedua, dengan tegas Kheng Siu-hong telah menyatakan takkan memusuhinya lagi, rasa dendamnya telah dihapus sebagai imbalan budi pertolongannya kali ini.
Jadi sedikitnya perselisihan paham mereka boleh dikatakan sudah berakhir sebagian.
Ketika tanpa sengaja Yap Boh-hoa merogoh saku dan menyentuh tusuk kundai yang dijemputnya kembali itu barulah teringat olehnya bahwa dia lupa mengembalikan benda itu kepada si nona.
Namun soal kecil ini lantas dikesampingkan olehnya karena dia harus buru-buru menuju ke Oh-liong-poh untuk bertemu dengan Ubun Hiong.
Setiba di kota kecil itu, ternyata tiada menampak bayangan Ubun Hiong dengan kedua ekor kudanya, diam-diam Boh-hoa mengeluh.
Maklumlah kuda hasil curiannya dari Ban-keh-ceng itu adalah kuda bagus yang sehari mampu menempuh ribuan li jauhnya, kuda itu semalam telah dia titipkan kepada Ubun Hiong.
Sekarang dirinya cuma menunggang seekor kuda rampasan yang sudah terluka malah, jika Ubun Hiong sudah berangkat lebih dulu dengan kuda yang bagus itu, teranglah dirinya tidak dapat menyusulnya lagi.
Kota kecil itu tidak banyak terdapat rumah makan, maka dengan mudah saja Yap Boh-hoa dapat menemukan rumah makan yang pagi itu disinggahi Ubun Hiong.
Menurut pelayan rumah makan itu, Ubun Hiong menunggu cukup lama di situ, tapi akhirnya telah berangkat dengan tergesa-gesa.
"Kira-kira sudah berapa lama dia berangkat, mengapa kelihatan tergesa-gesa?"
Tanya Boh-hoa. Si pelayan menjawab.
"Kira-kira baru lebih satu jam dia berangkat. Tadinya tuan tamu muda itu duduk tenang-tenang saja sambil bersantap, tapi tiba-tiba ada seorang laki-laki berewok berkuda lewat di sini. Entah mengapa tuan tamu muda itu menjadi gelisah dan buruburu meninggalkan serenceng uang perak terus berlari keluar, beliau mencemplak kuda terus menyusul ke arah orang berewok itu."
Boh-hoa mengucapkan terima kasih dan memberi persen atas keterangan pelayan itu, cepat ia pun meninggalkan rumah makan itu.
Ia menjadi gelisah, Ubun Hiong sudah berangkat lebih satu jam lamanya, apakah mungkin dirinya dapat menyusulnya?
Ia merasa heran juga siapakah orang berewok yang menarik perhatian Ubun Hiong itu sehingga pemuda itu terus mengubernya tanpa menunggu kedatangannya lagi?
Karena rasa sangsinya itu, sekuatnya Boh-hoa mengeprak kudanya ke depan walaupun ia tidak yakin akan dapat menyusul Ubun Hiong.
Siapakah sebenarnya orang berewok yang dilihat Ubun Hiong itu?
Kiranya pagi hari itu Ubun Hiong sudah sampai di Ohliong-poh.
Rumah makan itu baru saja membuka pintu dan dia merupakan tamunya yang pertama pada pagi itu.
Dengan tenang Ubun Hiong menanti sampai menjelang lohor, tapi Yap Boh-hoa yang ditunggu masih belum menongol, sesungguhnya dia sangat gelisah mengingat tugasnya yang harus buru-buru berangkat ke Siau-kimjwan.
Sudah tentu ia pun mengirakan kemungkinan terjadi sesuatu di luar dugaan yang menghambat kedatangan Yap Boh-hoa, tapi ia yakin dengan ilmu silat Yap Boh-hoa yang tinggi itu tentu tidak sampai mengalami cidera apa-apa.
Ia menjadi ragu-ragu dan serba salah, tugas berat mengharuskan ia lekas berangkat, tapi rasa setia kawannya meminta dia menunggu lagi.
Tengah bingung dan sukar mengambil keputusan, tiba-tiba didengarnya suara derapan kuda yang cepat.
Waktu Ubun Hiong melongok keluar, dilihatnya seorang laki-laki berewok melarikan kudanya secepat terbang dan berkelebat lewat dengan cepat sekali.
Ubun Hiong meloncat kaget demi mengenali siapa orang itu, tanpa pikir lagi ia merogoh saku dan melemparkan serenceng uang perak ke atas meja makan, lalu berlari keluar dan mencemplak ke atas kudanya terus dikaburkan ke arah laki-laki berewok tadi.
Kiranya laki-laki berewok itu bukan lain daripada jago pengawal gubernur Sucwan yang sekarang, yaitu Yap Ki alias Yap To-hu, dengan jabatan rahasianya sebagai utusan raja yang ditugaskan mengawasi Yap To-hu yaitu Hong Jong-liong.
Justru karena rahasia Yap Leng-hong diketahui oleh Hong Jong-liong, makanya dia kena didalangi dan terpaksa menjadi mata-mata kerajaan di dalam pasukan pergerakan.
Kuda tunggangan Hong Jong-liong justru adalah Jikliong-ki, kuda mestika milik Kang Hay-thian, yang hilang dibawa lari oleh Hong Jong-liong ketika kuda itu dipasrahkan kepada Yap Leng-hong untuk merawatnya di kota Kik-yau tempo dulu.
Ubun Hiong tahu kuda merah itu adalah kuda kesayangan sang Sumoay, yaitu Kang Hiau-hu.
Sekarang mendadak dilihatnya di tengah jalan, sudah tentu ia kaget.
Tanpa pikir lagi segera ia mengejarnya walaupun dia tidak tahu siapakah Hong Jong-liong itu.
Karena kuda merah hasil curian Yap Boh-hoa dari Bankeh-ceng jauh lebih bagus daripada kuda miliknya sendiri.
Maka yang dia cemplak adalah kuda merah itu dan membiarkan kuda sendiri mengikut dari belakang.
Ia pikir entah siapakah orang berewok itu, yang penting Jikliong-ki harus dirampas kembali dulu, urusan belakang.
Tak terduga kecepatan lari Jik-liong-ki jauh lebih cepat daripada kudanya, sesudah mengejar belasan li, jaraknya bukan makin dekat, sebaliknya malah ketinggalan semakin jauh.
Saat itu mereka sedang menanjak ke jalan pegunungan, Ubun Hiong pikir bila si berewok sampai melintasi lereng gunung itu, maka sukar lagi untuk mencari jejaknya mengingat dirinya sudah ketinggalan agak jauh.
Di luar dugaan, setiba di ujung jalan suatu belokan, mendadak orang berewok itu telah menahan kudanya dan berhenti.
Ubun hiong berbalik tercengang melihat orang mendadak berhenti, dalam sekejap saja ia pun sudah menyusul sampai di pengkolan jalan itu.
Nyata di jalanan yang berbahaya itu hanya mereka berdua saja dan tiada orang ketiga.
Hong Jong-liong lantas memapak maju, serunya sambil tertawa.
"Bocah, kudamu ini boleh juga ya? Apakah kau ingin berlomba kuda-dengan aku atau sedang mengincar kudaku ini? Lekas katakan, untuk apa kau terus menguntit jejakku?"
Nyata ia telah salah sangka Ubun Hiong adalah anak yang masih hijau dan ingin merampas kudanya. Ubun Hiong ternyata tidak menjawabnya, sebaliknya ia terus bertanya malah.
"Darimana kau memperoleh kuda ini?"
Menurut laporan palsu Yap Leng-hong dahulu, katanya kuda Jik-liong-ki itu hilang direbut oleh Ho Lan-bing, maka menurut perkiraan Ubun Hiong hanya ada dua kemungkinan, kuda ini direbut oleh si berewok dari tangan Ho Lan-bing atau Ho Lan-bing yang meminjamkan kuda ini padanya.
Dengan demikian kawan atau lawan segera pula dapat dibedakan, sebagai seorang pemuda yang cerdik dan bisa bekerja teliti, sebelum bertindak Ubun Hiong perlu menyelidiki lebih dulu.
Hong Jong-liong melengak juga atas teguran Ubun Hiong tadi, tapi ia lantas melotot dan balas bertanya.
"Siapakah kau? Peduli apa darimana aku mendapatkan kuda ini?"
"Sudah tentu aku harus bertanya, karena kuda ini adalah punya Suhuku,"
Sahut Ubun Hiong secara blakblakan.
Rupanya ia pikir di situ toh tiada orang ketiga, apabila si berewok adalah anjing alap-alap kerajaan, maka ia tidak segan-segan membunuhnya.
Tapi kalau orang adalah sahabat atau sealiran, untuk memberitahukan asal-usulnya sendiri juga tidak menjadi soal.
Karena dahulu ia pernah bertempur melawan Ho Lan-bing dengan sama kuat, ia taksir kalau si berewok ini adalah antek kerajaan tentu kepandaiannya juga takkan lebih tinggi dari komandannya, yaitu Ho Lan-bing.
Sama sekali tak terduga olehnya bahwa ilmu silat Hong Jongliong justru lebih tinggi daripada Ho Lan-bing dan tidak lebih rendah.
Setelah mengetahui siapa Ubun Hiong, kejut dan girang pula Hong Jong-liong, dasar dia memang licin dan sudah berpengalaman, maka dia pura-pura terkejut dan menyambut dengan tertawa.
"Aha, kiranya Kang-tayhiap adalah gurumu? Ini benar-benar benar sangat kebetulan. Marilah kita mengaso dulu untuk bicara."
Walaupun sangsi, namun Ubun Hiong tidak mau kurang adat menurut orang Kangouw. Ia melompat turun dari kudanya lebih dulu dan memberi hormat, tanyanya kemudian.
"Siapakah nama Cianpwe yang mulia? Apakah kenalan baik Suhu?"
Hong Jong-liong memperkenalkan sesuatu nama palsu, lalu katanya dengan tertawa.
"Bukan saja kenal gurumu, bahkan kami adalah sobat lama. Aku tahu belum lama dia telah menerima beberapa murid, apakah kau adalah muridnya yang pertama, Yap Leng-hong, atau murid kedua, Ubun Hiong?"
Memang Hong Jong-liong belum pernah kenal Ubun Hiong, tapi dari Yap Leng-hong ia sudah mendapatkan keterangan tentang diri Ubun Hiong dan asal-usulnya.
Dia sengaja bertanya untuk membuktikan bahwa dia pun belum kenal Yap Leng-hong.
Inilah kelicinan Hong Jongliong.
Diam-diam Ubun Hiong merasa heran karena belum pernah mendengar nama orang ini dari Suhunya, tapi ia masih tidak berani kurang sopan, dengan hormat ia menjawab.
"Tecu Ubun Hiong adanya, apa barangkali Cianpwe sudah lama tidak bertemu dengan guruku?"
"Benar sudah sekian tahun kami tidak berjumpa,"
Sahut Hong Jong-liong.
"Kali ini gurumu telah mengundang aku untuk bertemu di kotaraja. Sayang ketika aku sampai di sana, sudah lebih dulu terjadi penyerbuan istana oleh laskar pemberontak Thian-li-kau. Kang-tayhiap dan Lim-kaucu serta kawan-kawan yang lain entah menyingkir kemana, aku tidak sempat mengadakan kontak lagi dengan mereka. Tahukah kau, gurumu dan rombongan Lim-kaucu sekarang berada dimana?"
Namun Ubun Hiong cukup waspada, walaupun cerita Hong Jong-liong rada masuk akal, tapi ia pun tidak gampang memberitahukan rahasia pasukan pemberontak. Dengan samar-samar ia lantas menjawab.
"Tecu juga telah terpencar dan melarikan diri pada malam itu sehingga tidak dapat bertemu lagi dengan Suhu sampai sekarang."
Diam-diam Hong Jong-liong merasa geli, katanya dalam hati.
"Hm, kau bocah ingusan inipun berani mendustai aku?"
Tapi untuk memancing pengakuan Ubun Hiong, ia pura-pura bertanya pula.
"Sebagai sahabat lama gurumu, sekarang kau tidak perlu takut lagi dikejar pasukan kerajaan, tentu aku akan melindungi kau. Sekarang kau hendak kemana?"
"Wanpwe tidak berani mengganggu dan membikin repot Cianpwe,"
Sahut Ubun Hiong.
"Hanya tentang kuda ini..."
"Aku mencurinya dari kediaman Ho Lan-bing,"
Sahut Hong Jong-liong.
"Malam itu kalian telah menyerbu kotaraja dan membobol penjara, kejadian itu mengakibatkan Ho Lan-bing terluka parah. Sayang tujuanku hanya buru-buru ingin mencuri kuda saja sehingga tiada pikiran buat membinasakan dia."
Sudah tentu Ubun Hiong bertambah sangsi, memang bisa jadi si berewok ini adalah orang sendiri karena dia cukup jelas tentang kejadian malam penyerbuan kotaraja itu.
Tapi meski Ho Lan-bing terluka, penjagaan di rumahnya tentu cukup kuat, masakah Jik-liong-ki ini dengan begitu gampang kena dicuri olehnya?
Namun begitu, karena ia ingin buru-buru melanjutkan perjalanan, maka ia tidak mendesak lebih jauh, hanya katanya.
"Jika demikian sungguhlah sangat kebetulan, silakan Cianpwe menyerahkan kuda ini kepadaku saja agar kelak Cianpwe tidak perlu membuang tenaga mencari guruku lagi untuk mengembalikan kuda ini. Untuk itu Cianpwe bolehlah menggunakan kudaku yang satu itu."
"Haha, jangan buru-buru,"
Sahut Hong Jong-liong dengan tertawa.
"Kuda ini sudah tentu akan kukembalikan kepada gurumu, tapi bukan sekarang. Sudahlah, kita bicara urusan saat ini saja. Ingin kutanya, kau hendak kemana? Apakah kau ditugaskan sesuatu oleh gurumu atau Lim-kaucu? Beberapa hari ini suasana agak genting, sesungguhnya tidaklah menguntungkan kau jika jalan sendirian. Bila perlu, sudah tentu aku akan membantu kau sepenuh tenagaku."
"O, tidak, tidak ada tugas apa-apa,"
Sahut Ubun Hiong cepat.
Sesudah lari keluar dari kotaraja, sampai sekarang aku belum bertemu dengan Suhu, sebaliknya kuda itu dapat diserahkan kepadaku saja.
Untuk itu Wanpwe mengucapkan terima kasih lebih dulu."
Tapi mendadak air muka Hong Jong-liong berubah hebat, katanya dengan nada dingin.
"Hm apakah kau masih tidak mempercayai diriku? Aku adalah sahabat gurumu dan Lim-kaucu, aku pun tahu kau hendak pergi ke Siau-kim-jwan bukan?"
Kiranya Hong Jong-liong memang benar baru berangkat dari kotaraja.
Atas perintah Yap To-hu dia telah menyampaikan laporan ke kotaraja dan di sana juga pernah bertemu dengan Ho Lan-bing.
Karena gagalnya pemberontakan Thian-li-kau, pihak kerajaan ingin menumpas sekalian sisa-sisa anak buah Lim Jing, sebab itulah jejak Lim Jing dan Kang Hay-thian harus dicari.
Tentang wafatnya Lim Jing belum diketahui oleh pihak kerajaan.
Hal lain yang dikuatirkan pihak kerajaan adalah hilangnya beberapa dokumen rahasia ketika istana diserbu Than-li-kau.
Di antaranya adalah dokumen yang berisi laporan rahasia Yap To-hu tentang sudah dipasangnya Yap Leng-hong sebagai mata-mata di dalam pasukan pergerakan.
Jika hal itu sampai diketahui, tentu segala rencana akan berantakan.
Sebab itulah pihak kerajaan perlu mengirim orang mendahului ke Siau-kimjwan sebelum tibanya kurir yang dikirim oleh Lim Jing, dengan demikian Yap Leng-hong masih sempat bertindak seperlunya menurut keadaan.
Sudah tentu paling baik kalau di tengah jalan kurir Lim Jing itu dapat dicegat dan dibinasakan serta merebut kembali dokumen rahasia itu.
Datangnya Hong Jong-liong ke kotaraja itu menjadi sangat kebetulan, terutama kuda Jik-liong-ki yang dia pakai itu, maka dia yang lantas diberi tugas penting itu dan diharuskan segera pulang kembali ke Sucwan.
Sepanjang jalan Hong Jong-liong telah memperhatikan setiap orang yang pantas dicurigai, tapi sama sekali tak diduganya bahwa kurir yang dikirim oleh pihak pemberontak adalah Ubun Hiong.
Semula disangkanya Ubun Hiong adalah bocah yang masih hijau dan gampang dikelabui, tapi meski sudah dipancing toh pemuda itu tutup mulut rapat-rapat dan sukar dikorek sesuatu keterangan yang penting.
Sebaliknya Ubun Hiong menjadi curiga, segera ia mendekat hendak menuntun kuda Jik-liong-ki.
Sudah tentu Hong Jong-liong tidak tinggal diam, terpaksa ia harus bertindak.
Mendadak ia menubruk maju sambil membentak.
"Bocah yang tidak kenal kebaikan, apa yang hendak kau lakukan?"
Berbareng itu pundak Ubun Hiong hendak dicengkeramnya.
Namun Ubun Hiong sudah bersiap-siap, sedikit mendak ke bawah dan menggeser, dapatlah ia mengelakkan cengkeraman itu, tapi tidak urung pundaknya juga sudah terserempet jari lawan hingga terasa panas pedas.
Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta Gu Long
Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 10