Geger Dunia Persilatan 11

Eps 11 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen

Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen

Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.

Sekali mencengkeram tidak kena, dengan cepat Hong Jong-liong menubruk maju lagi.

Namun Ubun Hiong sempat menjatuhkan diri dan menggelundung pergi, lalu dengan gerakan 'ikan lele meletik', cepat ia melompat bangun sambil melolos pedang.

"Dasar bocah yang tidak tahu maksud orang baik, aku ingin membantu kau, sebaliknya kau malah berani bersikap kasar padaku,"

Jengek Hong Jong-liong dengan geram. Sudah tentu sekarang Ubun Hiong tidak gampang ditipu lagi, sahutnya.

"Orang baik apa? Kau justru adalah antek kerajaan."

"Biarpun kau mengetahui sekarang juga sudah terlambat,"

Kata Hong Jong-liong.

"Lebih baik serahkan semua barangmu dan bertekuk lutut, mungkin jiwamu masih dapat kuampuni."

"Baiklah, boleh coba kau ambil sendiri bila ingin kutabas cakar anjingmu,"

Teriak Hiong dengan gusar.

Di tengah suara geraman, dengan gerakan Hek-houthau-sim (harimau kumbang mencuri hati), cepat sekali Hong Jong-liong mendesak maju terus menghantam dada Ubun Hiong.

Namun pemuda itu telah melangkah mundur sambil memulai pedangnya dengan kencang, bila Hong Jong-liong tidak menarik kembali tangannya tentu bisa tertabas kutung.

"Tring", mendadak Hong Jong-liong menjentikkan jarinya dengan tenaga yang kuat, seketika Ubun Hiong merasa genggamannya kesakitan, hampir-hampir pedang terlepas dan cekatan, Baru sekarang dia tahu ilmu silat Hong Jong-liong bukanlah jago keroco dan masih di atas dirinya. Sebaliknya Hong Jong-liong juga tidak berani memandang ringan kepada Ubun Hiong lagi. Semula ia mengira dengan mudah saja akan dapat membekuk pemuda itu, tapi sekarang ia sadar, untuk bisa terlaksana maksudnya itu paling tidak harus mendalami dulu suatu pertarungan sengit. Begitulah mereka mulai bertempur di jalan pegunungan itu sehingga makin lama makin menggeser ke lereng bukit yang menanjak. Kedudukan Ubun Hiong lebih untung karena berada di sebelah atas yang lebih tinggi, serangannya bertubi-tubi dan sangat lihai. Sebaliknya Hong Jong-liong lebih payah karena dari bawah harus menahan serangan dari atas, untuk balas menyerang juga kurang leluasa. Namun dia punya Kimna-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) juga tidak dapat dipandang enteng, dimana tangannya tiba selalu membawa sambaran angin yang keras, jarinya seperti belati, telapak tangannya bagai pedang, setiap ada kesempatan tentu dia merangsek maju. Sesudah lebih 30 jurus, pertarungan semakin sengit. Ubun Hiong terdesak mundur terus, beberapa kali malah pedangnya hampir-hampir kena dirampas lawan. Melihat gelagat jelek, diam-diam Ubun Hiong mengeluh. Ia pikir dapat bertahan lebih lama lagi sehingga Yap-toako keburu menyusul tiba, tentu keadaan akan berubah baik. Karena itu segera ia berganti siasat, ia mainkan Si-mi-kiam-hoat yang ruwet dan bertahan dengan rapat, Si-mi-kiam-hoat ini memang gunanya untuk bertahan bila menghadapi lawan yang lebih kuat. Biarpun tinggi kepandaian Hong Jong-liong juga tidak kenal cara mematahkan ilmu pedang ciptaan Hui-bing Siansu, yaitu cikal-bakal Thiansan-pay. Karena seketika sukar membobol pertahanan Ubun Hiong itu, sambil menyerang Hong Jong-liong mengejek.

"Hm, coba kau mampu bertahan sampai beberapa lama!"

Habis itu ia menyerang semakin gencar.

Waktu itu sang surya sudah mulai menggeser ke barat, hari sudah lewat lohor.

Ubun Hiong sudah mandi keringat, tapi Yap Boh-hoa yang diharapkan masih belum kelihatan bayangannya.

Lambat-laun Ubun Hiong mulai putus asa, pikirnya.

"Tidak menjadi soal kematianku ini, yang penting dokumen rahasia ini tidak boleh sampai jatuh di tangan musuh."

Akan tetapi dalam keadaan kepepet, cara bagaimana ia dapat menyelamatkan dokumen berharga itu.

Karena kehabisan tenaga, permainan pedang Ubun Hiong mulai lamban, keruan Hong Jong-liong sangat senang, ia terbahak-bahak dan berkata.

"Lekas menyerah saja dan keluarkan barang yang kau bawa jika ingin selamat!"

Namun dengan mengertak gigi Ubun Hiong masih terus bertempur dengan mati-matian, Hong Jong-liong juga makin gencar menyerang.

Tidak lama seluruh titik Hiat-to berbahaya di tubuh Ubun Hiong sudah terkurung di bawah telapak tangan lawan.

"Haha, kau bocah ini benar-benar kepala batu,", ejek Hong Jong-liong.

"Jika kau sudah nekat dan tidak menginginkan jiwamu lagi, maka bolehlah kubereskan kau."

Setindak demi setindak Ubun Hiong terus mundur ke arah tepi jurang, ia pikir dalam keadaan terpaksa biarlah terjun ke dalam jurang saja, sekaligus melenyapkan dokumen yang dibawanya daripada kena dirampas musuh.

Namun Hong Jong-liong memang licin, dia telah dapat menerka pikiran Ubun Hiong, mendadak ia melompat ke atas dan menghadang jalan mundur Ubun Hiong sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Sesudah tertawa, pada saat dia hendak melontarkan serangan mematikan, tiba-tiba terdengarlah suara derapan kuda yang berdetak-detak.

Nyata ada orang sedang mendatangi dengan cepat.

Semangat Ubun Hiong terbangkit seketika, teriaknya dengan girang.

"Yap-toako! Aku berada di sini!"

Berbareng itu ia telah menghindarkan serangan maut Hong Jong-liong, ia benar-benar sudah kehabisan tenaga, tampaknya kalau Hong Jong-liong menubruk maju lagi terpaksa ia hanya memejamkan mata menunggu ajal saja.

Tapi sebisanya ia menjatuhkan diri dan menggelundung ke bawah, pikirnya.

"Jika yang datang itu bukan Yap-toako, maka pasti tamatlah riwayatku!"

Tapi untung baginya, yang datang itu ternyata Yap Boh-hoa adanya.

Dengan kudanya yang terluka itu, mestinya ia mengira tak mampu menyusul Ubun Hiong lagi.

Tak tersangka setiba di lereng bukit situ mendadak didengarnya suara teriakan pemuda itu, waktu menoleh bahkan dilihatnya Ubun Hiong sedang menggelundung ke bawah bukit, di atasnya berdiri seorang laki-laki tegap berewok.

Terkejut dan girang pula Yap Boh-hoa, tanpa pikir lagi ia terus meloncat dari kudanya, secepatnya anak panah ia menggunakan Ginkang yang tinggi memburu ke atas.

Hanya beberapa kali lompatan saja ia sudah sampai di dekat Ubun Hiong dan tepat pada waktunya dia dapat menghadang pengejaran Hong Jong-liong.

Melihat pendatang baru ini juga cuma seorang pemuda berusia sebaya dengan Ubun Hiong, maka Hong Jong-liong tidak memandang berat padanya, bentaknya.

"Bocah yang cari mampus! Hendak apa kau ikut ke sini? Lekas enyah jika ingin selamat!"

Berbareng itu dengan Kim-na-jiu-hoat yang ganas, kelima jarinya seperti kaitan terus mencengkeram ke atas kepala Yap Boh-hoa.

"Kim-na-jiu-hoatmu ini masih kurang sempurna,"

Jengek Yap Boh-hoa sambil menabokkan sebelah tangannya ke depan.

Hong Jong-liong kaget melihat cara orang yang aneh itu, sebagai seorang jagoan berpengalaman, ia tahu betapa lihainya.

Lekas ia menarik kembali tangannya dan tangan lain terus memotong ke bawah dengan gerakan Cam-liong-jiu (tangan memotong naga).

"Sudah kukatakan kepandaianmu ini kurang sempurna, nyatanya betul atau tidak?"

Yap Boh-hoa menyindir pula sembari menggeser ke samping, menyusul lantas balas menyerang dari arah yang tak terduga.

Meski terdesak, namun Hong Jong-liong tidak menjadi bingung, sekuatnya ia menangkis.

Maka terdengarlah suara "blang"

Yang keras, Yap Boh-hoa tergentak mudur dua tindak, sebaliknya tubuh Hong Jong-liong tergeliat, tangannya panas seperti dibakar.

Kiranya kalau bicara tentang kekuatan, memang Hong Jong-liong masih lebih ulet, makanya Yap Boh-hoa tergetar mundur dua tindak.

Tetapi Boh-hoa punya ilmu pukulan Tay-seng-pan-yak-ciang itu merupakan perusak urat nadi, biarpun Hong Jong-liong punya Kim-na-jiuhoat sangat kuat juga ketemu batunya sekarang.

Urat nadi Siau-yang-hiat di tangannya telah tergetar hebat, jalan darahnya sudah terasa seret.

Keruan Hong Jong-liong terperangkat, cepat ia membentak.

"Siapa Kau? Kenalkah kau siapa aku? Lebih baik kau jangan ikut campur urusan ini. Bocah ini adalah buronan kerajaan, kau tahu tidak?"

Sementara itu Ubun Hiong sudah berbangkit kembali, serunya.

"Yap-toako, bangsat tua ini adalah anjing alapalap kerajaan, jangan kau lepaskan dia!"

Yap Boh-hoa juga lantas menjawab.

"Hong Jong-liong, kau tidak kenal aku, tapi aku sudah kenal kau. Kau tidak menunggui Cukongmu di Sucwan, untuk apa kau datang ke sini? Lekas mengaku terus terang bila jiwamu ingin diampuni. Kalau tidak, hm, ketahuilah bahwa aku ini adalah tukang sembelih anjing."

Sebenarnya Yap Boh-hoa hanya tahu sedikit tentang diri Hong Jong-liong dan tidak tahu keseluruhannya.

Namun kaget Hong Jong-liong sudah bukan main demi mendengar asal-usulnya sendiri telah diketahui orang.

Dari gebrakan tadi ia tahu kepandaian Yap Boh-hoa jauh lebih tinggi daripada Ubun Hiong, sedangkan murid Kang Hay-thian itu saja dari tadi sukar ditangkap, apalagi sekarang datang pula seorang pemuda yang lebih lihai.

Maka ia menjadi ragu-ragu apakah mesti lekas lari atau tidak.

Kalau bertempur terang pula tidak menguntungkan dirinya.

Agaknya Yap Boh-hoa dapat menerka perasaan Hong Jong-liong, dengan tertawa sesudah menjaga jalan lari lawan, bentaknya.

"Tuan besar jago pengawal, kau kepergok padaku, apakah kau ingin kabur begini saja?"

"Kurangajar! Memangnya kau sangka aku jeri padamu?"

Sahut Hong Jong-liong dengan gusar.

"Aku cuma sayang pada usiamu yang masih muda sudah harus lapor kembali kepada raja akhirat. Siapakah kau sebenarnya, siapa gurumu?"

Maksud Hong Jong-liong sebenarnya hendak mengulur waktu untuk mencari selamat, sebab di lereng gunung situ terdapat suatu keluarga terdiri dari suami-istri itu yang berkepandaian sangat tinggi, dia mempunyai hubungan baik dengan keluarga itu.

Asal salah seorang dari suami-istri itu mendengar suara pertempuran mereka dan datang, maka yakinlah kemenangan pasti akan berada di pihaknya.

Namun Yap Boh-hoa tidak mau ayal lagi, jawabnya ketus.

"Bukan waktunya kau tanya diriku, sebentar lagi akulah yang akan minta pengakuanmu!"

Habis itu segera ia menerjang maju lagi.

Sekarang dengan hati-hati Hong Jong-liong bertahan dengan sangat rapat, dengan Kim-na-jiu-hoat yang ulet ia coba menghabiskan tenaga lawan, sekaligus untuk mengulur tempo menantikan bala bantuan.

Tak terduga perhitungannya agak meleset, Kim-na-jiuhoat hanya bermanfaat untuk menyerang, dengan tenaganya yang lebih ulet, jika main serang mungkin akan membikin Yap Boh-hoa harus waspada dan paling sedikit dalam waktu cukup lama dapat sama kuatnya.

Tapi sekarang dia hanya bertahan saja tanpa menyerang, hal ini berbalik tidak menguntungkan baginya.

Tenaga pukulan Yap Boh-hoa merupakan pukulan maut memutus urat nadi, ilmu pukulannya juga jauh lebih hebat.

Meski Hong Jong-liong bertahan dengan rapat, tidak urung terkadang harus mengadu tangan, dan setiap kali tangan berbentur, selalu dia tergetar hingga lama-lama terasa payah juga.

Dalam pada itu Ubun Hiong sedang mengumpulkan tenaga di samping, diam-diam Hong Jong-liong merasa kuatir.

Seorang saja susah dilawan, jika murid Kang Haythian itu sebentar ikut mengeroyok tentu celakalah dirinya.

Sedangkan bala bantuan yang diharapkan tampaknya takkan datang, dan jalan satu-satunya adalah mencari kesempatan untuk melarikan diri saja.

Untuk merebut kuda Jik-liong-ki, binatang itu kelihatan berada di sebelah sana, sebelum mencapai kuda itu tentu sudah akan disusul oleh Yap Boh-hoa.

Tiba-tiba ia mendapat akal licik, mendadak ia menyerang matimatian tiga kali sehingga Yap Boh-hoa terdesak mundur.

Kesempatan itu segera digunakan olehnya untuk menerjang ke arah Ubun Hiong, nyata maksud tujuannya hendak membekuk pemuda itu sebagai sandera.

Tak terduga saat itu tenaga Ubun Hiong sudah pulih sebagian, melihat musuh menubruk ke arahnya, cepat ia mengacungkan pedangnya, dengan jurus Pek-hongkoan-jit (pelangi menembus sinar matahari), kontan ia menikam ke dada Hong Jong-liong.

Biarpun keadaannya rada payah, tapi tenaga Hong Jong-long masih cukup kuat.

"Cring", tahu-tahu pedang Ubun Hiong kena diselentik dan jatuh terpental. Dengan Kim-na-jiu-hoat tangan Hong Jong-liong masih terus menyambar ke depan, kelima jarinya bagai cakar telah dapat mencengkeram pergelangan tangan Ubun Hiong. Sekuatnya Ubun Hiong meronta sehingga terjadilah pergulatan dari dekat. Selagi Hong Jong-liong hendak membikin Ubun Hiong tak berkutik, namun sudah kasip, tahu-tahu Yap Boh-hoa sudah memburu tiba. Sekali totok Hiat-to di tubuh Hong Jong-liong, seketika kedua tangannya menjadi kaku dan tak bisa berkutik pula. Setelah Hong Jong-liong tertawan, Ubun Hiong menjemput kembali pedangnya dan mengucapkan terima kasih kepada Yap Boh-hoa. Ia pandang Hong Jong-liong dengan benci, sungguh sekali tikam ingin dia binasakan.

"Kalau keparat ini dibinasakan begini saja, akan terlalu enak baginya,"

Kata Boh-hoa yang dapat menduga perasaan Ubun Hiong.

"Benar, marilah kita mencari suatu tempat untuk memeriksa dia,"

Ujar Ubun Hiong.

Segera Yap Boh-hoa menaikkan Hong Jong-liong yang sudah tak bisa berkutik itu ke atas kuda hasil curiannya dari Ban-keh-ceng kemarin, Ubun Hiong juga mencemplak ke atas Jik-liong-ki, sisa dua ekor kuda yang lain terpaksa ditinggalkan.

Mereka terus menanjak ke atas gunung, kata Boh-hoa dengan tertawa.

"Keparat ini bukanlah antek kerajaan biasa, buang sedikit tempo baginya masih ada harganya juga. Kita harus dapat mengorek pengakuannya yang penting."

Melihat dirinya dibawa ke atas gunung, dalam hati diam-diam Hong Jong-liong merasa girang. Setiba di suatu tempat yang rimbun dengan pepohonan, Yap Boh-hoa lantas menurunkan Hong Jongliong.

"Tuan besar pengawal, memeriksa tawanan bagimu adalah pekerjaan biasa, tapi hari ini biarlah kau pun merasakan enak tidaknya diperiksa sebagai pesakitan. Jika kau bisa melihat gelagat, hendaklah mengaku terus terang saja, bila berdusta, hm, boleh coba kau rasakan nanti. Sekarang coba katakan, apa maksud tujuanmu pergi ke kotaraja?"

Karena Hiat-to tertotok, sedikitpun Hong Jong-liong tak bertenaga lagi, tapi dia masih berlagak gagah dengan membusungkan dada, lalu menjawab.

"Seorang laki-laki sejati sekalipun mati juga tidak takut. Bocah ingusan macam kalian juga sesuai untuk memeriksa aku?"

Habis berkata ia bahkan bersitegang dan bergelak tertawa keras-keras.

Sebenarnya Hong Jong-liong tidak sungguh-sungguh tak gentar mati, cuma dia tahu sebelum memperoleh pengakuannya tentu lawan takkan membunuhnya, maka dia sengaja berlagak kepala batu sambil bergelak tertawa, maksudnya sengaja hendak memancing kedatangan kawan penolong yang diharapkan bila mendengar suaranya.

"Hm, tertawa, boleh coba tertawa terus!"

Demikian Yap Boh-hoa lantas menjengek.

"Ingin kulihat berapa lama kau bisa berlagak jantan?"

Habis berkata perlahan-lahan ia tabok sekali punggung Hong Jong-liong, hanya sebentar dalam badan Hong Jong-liong serasa digigit oleh beribu-ribu ekor semut dan seperti diselusuri oleh beratus-ratus ular kecil, rasanya sakit dan gatal tak terkatakan, penderitaan demikian benar-benar sukar dilukiskan, biarpun otot kawat tulang besi juga tak tahan, apalagi Hong Jong-liong, dengan merintih ia berkata.

"Kau ... kau boleh membunuh aku saja!"

"Bunuh kau? Hm, kan enak bagimu!"

Dengus Boh-hoa.

"Tadi kau berlagak gagah, tapi hanya sedikit siksaan saja sudah tak tahan. Ini saja belum apa-apa, bila perlu aku masih ada lagi berbagai macam rasa lain yang lebih enak untukmu."

Hong Jong-liong sampai berkelojotan saking tidak tahan akan siksa sakit dan gatal itu, akhirnya terpaksa ia minta ampun.

"Baiklah, kakek kecil, hilangkan dulu siksaan ini, aku akan mengaku ... akan mengaku!"

"Memangnya kau berani tidak mengaku?"

Ejek Yap Boh-hoa sambil menepuk perlahan sekali di tubuh Hong Jong-liong untuk mengurangi rasa sakitnya agar dia dapat bicara dengan lancar, lalu mulailah dia mengajukan pertanyaan.

"Untuk apa kau ditugaskan ke kotaraja kali ini, lekas katakan!"

Sesudah menghela napas lega, Hong Jong-liong menjawab.

"Aku ditugaskan oleh Yap-tayjin agar memberi laporan situasi militer, pula mohon Sri Baginda memberi tambahan pasukan."

Boh-hoa cukup cerdik, segera ia mendesak.

"Situasi militer bagaimana? Mengapa tidak pakai laporan tertulis, tapi suruh kau menyampaikan secara lisan?" . Untuk sejenak Hong Jong-liong tergagap dan raguragu untuk bercerita. Segera Yap Boh-hoa mengancamnya.

"Apakah kau ingin merasakan siksaan lebih keji lagi?"

Berbareng sebelah tangannya lantas diangkat dan siap menabok. Dengan takut lekas Hong Jong-liong menjawab.

"Tentang ... tentang beberapa kali kekalahan pasukan Yap-tayjin yang sebenarnya disengaja itu. Beliau suruh aku melaporkan dan mohon Sri Baginda jangan kuatir."

"Sebab apa dia sengaja pura-pura?"

Desak Boh-hoa.

"Tentang ini ... tentang ini ..."

Kembali Hong Jongliong merandek.

"Ini ada hubungannya dengan putranya itu bukan?"

Sela Yap Boh-hoa.

"Hm, biar kukatakan terus terang padamu, tentang asal-usul Yap Thing-cong sudah kuketahui. Andaikan kau berdusta juga tak dapat membohongi aku, sebaliknya akan membikin susah dirimu sendiri."

Berbareng jarinya menyelentik perlahan di bagian siku Hong Jong-liong, tempat itu adalah urat syaraf yang paling perasa, keruan Hong Jong-liong dibikin meringis pula, saking tak tahan ia terus bergelindingan di tanah dan menjerit seperti babi hendak disembelih.

"Siapakah Yap Thing-cong?"

Tanya Ubun Hiong heran.

"Siapa lagi? Dia adalah nama asli Toasuhengmu yang mengaku bernama Yap Leng-hong itu, adalah majikan muda tuan besar pengawal ini, putra gubernur Sucwan Yap To-hu,"

Tutur Boh-hoa dengan tertawa Ubun Hiong terperanjat, pikirnya.

"Aku sendiri tidak berani memberitahukan tujuan perjalananku ini kepadanya, tapi dia bahkan sudah mengetahui Toasuheng adalah mata-mata musuh, malahan tentang asal-usulnya juga jauh lebih mengetahui daripada kami."

Dalam pada itu air muka Hong Jong-liong tampak pucat seperti mayat, butir keringat sebesar kedelai memenuhi jidatnya. Rintihnya dengan suara parau.

"Baiklah, akan kukatakan segalanya, hilangkan siksaan ini."

Dengan caranya yang khas Yap Boh-hoa mengurangi pula derita Hong Jong-liong untuk memberi kesempatan bicara padanya.

Karena sadar tak bisa membohongi lagi tentang diri Yap Leng-hong, benar juga ia lantas mengaku sebenarnya.

"Sebabnya Yap-tayjin sengaja pura-pura kalah adalah untuk menegakkan kepercayaan pihak kalian kepada putranya, supaya pasukan pergerakan benar-benar tunduk di bawah pimpinannya."

"Hm, enak saja impian kalian,"

Jengek Boh-hoa.

"Lalu rencana keji apa yang telah diatur Yap To-hu dan putranya untuk menumpas pasukan pemberontak? Lekas katakan!"

"Itu adalah rahasia militer yang maha penting, aku ... aku hanya seorang pengawal saja, darimana bisa tahu?"

Sahut Hong Jong-liong sambil merintih menahan sakit.

"Hanya seorang pengawal saja? Hm, kau kira jabatanmu yang sebenarnya aku tak tahu?"

Demikian Boh-hoa menggertak.

"Kali ini kau ditugaskan memberi laporan situasi militer dan minta raja anjing kalian jangan kuatir, Yap To-hu berani tanggung kemenangan segera akan diperolehnya dan pasukan pemberontak dapat ditumpas. Dengan dasar apa dia berani menjamin pasti akan menang? Mustahil dia tidak melaporkan pula rencananya agar dipercaya oleh rajamu? Nah, apakah kau merasa sulit untuk bicara? Baiklah, akan kuberi hadiah pula padamu."

Yang diartikan "hadiah"

Sudah tentu adalah kebalikannya, yaitu siksaan.

Padahal Yap Boh-hoa sebenarnya belum tahu kedudukan Hong Jong-liong yang sesungguhnya, hanya dari tugas berat yang diberikan Yap To-hu kepadanya, dapatlah diduga dia pasti bukan seorang jago pengawal biasa.

Karena menyangka asal-usul dirinya sudah diketahui oleh Yap Boh-hoa, maka Hong Jong-liong tidak dapat menyangkal lagi.

Diam-diam ia merasa tiada jalan lain kecuali mengaku sedikit kebenaran bila tidak ingin tersiksa lagi.

Dengan tergagap akhirnya ia bicara.

"Tentang tipu yang telah direncanakan Yap-tayjin dan putranya ialah pada suatu ketika sesudah berulang-ulang pasukan kerajaan pura-pura kalah, lalu Yap-kongcu akan menghimpun laskar-laskar pemberontak untuk melakukan serangan total kepada Siau-kim-jwan, pada waktu itulah pasukan kerajaan akan mengadakan perangkap untuk menjaring habis-habisan laskar pemberontak sekaligus."

"Keji benar tipu muslihatnya,"

Omel Ubun Hiong demi mendengar keterangan itu.

Sebenarnya Kang Hay-thian dan lain-lain belum lagi mengetahui hubungan gelap apa yang dilakukan Yap Leng-hong dengan pihak kerajaan, walaupun sudah diketahui pemuda itu adalah putra Yap To-hu.

Baru sekarang dari pengakuan Hong Jong-liong inilah segala kejahatan Yap Leng-hong sama sekali terbongkar.

"Bilakah rencana keji itu akan dilaksanakan,"

Tanya Boh-hoa.

"Pelaksanaannya harus melihat keadaan, maka kapan waktunya yang tepat aku benar-benar tidak tahu,"

Sahut Hong Jong-liong.

Padahal dia cukup mengetahui bahwa rencana itu telah ditetapkan akan dilaksanakan dalam bulan ini juga, walaupun harinya yang persis tak diketahui.

Jadi dia hanya mengaku setengah saja dan tidak seluruhnya berterus terang.

Betapapun cerdiknya Yap Boh-hoa juga karena kurang berpengalaman, maka dia tidak mendesak lebih jauh.

Sebaliknya ia terus bertanya mengenai tugas yang dibawa kembali Hong Jong-liong dari kotaraja.

Karena tadi sudah mengaku telah bertemu dengan Ho Lan-bing, kini Hong Jong-liong tidak dapat membohongi lagi, untuk mencari selamat terpaksa ia mengaku bahwa dia buru-buru pulang untuk memberitahukan kepada Yap Leng-hong bahwa tentang peranannya di dalam pasukan pergerakan telah diketahui dan harus bertindak seperlunya sebelum rahasianya terbongkar, bila perlu penumpasan laskar pemberontak harus dipercepat menurut rencana.

Keruan Ubun Hiong terkejut mendengar keterangan itu, untung mereka dapat memergoki Hong Jong-liong di tengah jalan, kalau tidak, pasti celakalah laskar-laskar pergerakan di daerah Sucwan itu.

"Sekarang aku sudah mengatakan semua yang aku tahu, harap meringankan penderitaanku ini,"

Mohon Hong Jong-liong.

"Nanti dulu, aku ingin tanya sesuatu lagi,"

Kata Bohhoa.

"Tiga tahun yang lalu ada 13 jagoan istana telah mengerebut seorang pemuda di atas pegunungan Masjit di daerah Kamsiok. Pemuda itu adalah Yap Leng-hong yang sekarang dipalsukan oleh tuan muda putra gubernur kalian itu. Di antara ke-13 jagoan istana itu tatkala itu ada tujuh orang yang bertugas di gubernuran Siamsay dan Kamsiok. Sebagai pengawal gubernur tentu peristiwa itu cukup kau ketahui bukan?"

Hong Jong-liong terperanjat, ia heran mengapa pemuda ini mengetahui juga kejadian itu, cepat ia menjawab.

"Ya, aku tahu. Tapi waktu itu aku tidak ikut pergi."

"Aku tahu kau tidak ikut,"

Kata Boh-hoa.

"Aku hanya ingin tanya darimana para jagoan istana itu mengetahui bahwa pada hari itu Yap Leng-hong akan datang ke sebuah kuil di atas gunung Masjit itu? Siapa yang menyampaikan berita rahasia itu?"

Karena kuatir disiksa lagi, Hong Jong-liong pikir orangorang yang bersangkutan itu sekarang toh sudah mati semua, rasanya tak berhalangan bila dirinya mengaku terus terang, maka katanya kemudian.

"Berita itu diperoleh dari keenam jagoan istana yang lain. Waktu itu mereka ditugaskan mengawal Kheng-congpeng dari Ili yang sedang pulang ke kotaraja. Adapun darimana mereka memperoleh berita itu, aku sendiri tidak tahu."

Namun pengakuan Hong Jong-liong ini sudah cukup bagi Yap Boh-hoa, diam-diam ia sudah tahu duduknya perkara.

Tentu waktu Kheng Siu-hong bicara dalam kemah dengan ayahnya, di luar dugaan mereka, isi pembicaraan itu telah didengar oleh mata-mata kerajaan yang dipasang di sekitar panglima Ili itu.

Keenam jago istana itu resminya adalah mengawal, tapi tugas yang sebenarnya adalah mengawasi gerak-gerik pembesar itu.

Sesudah terbukti Kheng Siu-hong tiada tersangkut dalam kejadian itu, entah mengapa perasaan Yap Bohhoa menjadi lega.

Segera ia bertanya pula.

"Sudah terang kalian tahu Kheng-congpeng tiada hubungan apaapa dengan pemuda she Yap itu, mengapa majikan kalian, yaitu si jagal she Yap, sengaja memfitnah dan membikin celaka Kheng-congpeng?"

Melihat Yap Boh-hoa serba tahu, Hong Jong-liong tidak berani berdusta, ia mengaku pula.

"Kepindahan Kheng-congpeng pada waktu itu tampaknya ada maksud hendak mengincar jabatan gubernur Siamsay dan Kamsiok. Karena kuatir kedudukannya terdesak, setelah menerima berita rahasia itu, segera ia turun tangan lebih dulu dengan melenyapkan Kheng-congpeng."

Keterangan ini membikin Yap Boh-hoa sangat senang, tanpa terasa ia hantam sepotong batu sehingga hancur, serunya.

"Kiranya demikian halnya. Sayang, sayang!"

"Sayang apa?"

Tanya Ubun Hiong heran.

"Tidak apa-apa, cuma sayang yang hadir di sini hanya kita berdua saja,"

Sahut Boh-hoa.

Kiranya dia menjadi teringat kepada Kheng Siu-hong dan sayang nona itu tidak ikut mendengar pengakuan Hong Jong-liong tadi.

Sudah tentu Ubun Hiong merasa bingung, ia tidak tahu siapakah yang diharapkan oleh Yap Boh-hoa itu.

Didengarnya Boh-hoa bertanya pula kepada Hong Jongliong.

"Baik, akhirnya aku ingin bertanya pula, sejak kapan Yap Thing-cong mulai menjadi mata-mata kerajaan? Apakah kau yang menjadi penghubungnya?"

Karena Hong Jong-liong memang sengaja mengulur tempo dan berharap datangnya penolong, maka dia lantas mengaku panjang lebar supaya terhindar dari siksaan.

Ubun Hiong menjadi ngeri sendiri sesudah mendengar pegakuan Hong Jong-liong itu.

Baru sekarang diketahuinya bahwa Yap Leng-hong sudah sejak tahun lalu sepulangnya di rumah telah didalangi Hong Jongliong secara diam-diam.

Itu restoran Thay-pek-lau yang dibuka di kota Tong-peng adalah pos penghubung mereka.

Akhirnya Hong Jong-liong berkata.

"Segala apa sudah kukatakan, bilamana kedua tuan muda sudi mengampuni aku, selanjutnya aku akan hidup prihatin mengasingkan diri dan tak berani lagi menjadi anjing pemburu kerajaan."

"Apakah betul sudah kau katakan semua?"

Ujar Bohhoa.

"Coba Ubun-heng, geledahlah badannya."

Waktu Ubun Hiong membuka baju Hong Jong-liong, dapatlah digeledah dua sampul surat.

Sebuah adalah titah raja untuk Yap To-hu yang menganugerahi gelar pangkat 'menteri' dengan hak penuh untuk memerintah semua pasukan kerajaan yang dikirim ke Sucwan.

Sampul yang lain berkas surat mandat bagi Yap Lenghong untuk membuktikan dia adalah orang sendiri bila pada suatu ketika dia berhubungan dan menggabungkan diri dengan pasukan kerajaan yang belum saling kenal.

"Ubun-heng, kedua dokumen itu mungkin berguna bagimu, boleh kau menyimpannya saja,"

Kata Boh-hoa.

Diam-diam Ubun Hiong tahu bahwa tugasnya ke Sucwan tentu sudah dapat diduga oleh Yap Boh-hoa, maka kedua orang hanya tahu sama tahu secara diamdiam saja.

Segera Ubun Hiong menyimpan baik-baik kedua sampul rampasan dan menjawab.

"Lantas keparat ini bagaimana membereskannya?"

"Orang ini sekali-kali tidak dapat dipercaya, bolehlah berikan dia dengan cepat saja untuk mengurangi rasa deritanya,"

Kata Boh-hoa. Maksudnya sekali tusuk boleh dibunuh saja Hong Jong-liong itu. Keruan Hong Jong-liong ketakutan, teriaknya.

"Mengapa kalian tidak pegang janji?"

"Janji apa? Apakah aku pernah berjanji akan mengampuni jiwamu?"

Sahut Boh-hoa.

"Sudah begitu banyak rahasia-rahasia yang kukatakan, apakah belum cukup untuk menebus kesalahanku?"

Kata Hong Jong-liong. Jiwa Ubun Hiong memang luhur, ia merasa tidak tega, tanyanya.

"Bagaimana Yap-toako?"

"Janganlah karena sedikit rasa kasihan hingga membikin runyam urusan besar,"

Ujar Boh-hoa.

Ubun Hiong lantas teringat juga kepada jiwa-jiwa para pahlawan yang pernah menjadi korban keganasan Hong Jong-liong, terhadap musuh tidak boleh bicara tentang kasihan segala.

Segera ia mencabut pedang dan menusuk untuk menghabisi nyawa Hong Jong-liong.

Sekonyong-konyong Hong Jong-liong bergelak tertawa, serunya.

"Hahaha! Sekarang biarpun kau hendak membunuh aku juga sudah terlambat!"

Pada saat yang hampir sama itulah tiba-tiba terdengar suara "Cring"

Yang nyaring, entah darimana datangnya sebuah senjata rahasia, tahu-tahu pedang Ubun Hiong sampai terbentur lepas dari cekalan. Dalam pada itu terdengar Yap Boh-hoa telah membentak.

"Darimana datangnya perempuan siluman, berani main gila di sini?"

Berbareng jarinya menjentik, sebuah cincin kehitam-hitaman telah kena diselentik jatuh.

Dan pada saat itu juga Hong Jong-liong mendadak menjatuhkan diri terus menggelinding ke bawah gunung.

Sesudah bergelindingan belasan meter jauhnya, cepat ia meletik ke atas dan melompat bangun.

Sebenarnya dia tertotok oleh Yap Boh-hoa dan tak bisa berkutik, tapi sekarang sudah dapat bergerak, keruan kejadian ini membuat Yap Boh-hoa sangat terkejut.

Hampir pada saat yang sama tahu-tahu sudah muncul juga seorang wanita tua berambut memutih perak dengan dandanan yang aneh, sambil bergelak tertawa ia berkata.

"Aku berada di sini, siapakah yang mampu membikin celaka padamu? Kau tidak perlu lari lagi Hong Jong-liong!"

Kiranya wanita tua ini tadi sekaligus telah menyambitkan tiga buah cincin, sebuah membentur jatuh pedang Ubun Hiong, sebuah lagi menyerang Hiat-to penting di tubuh Yap Boh-hoa, dan cincin yang ketiga telah menimpuk ke arah Hong Jong-liong untuk membuka Hiat-to yang tertotok.

Sesudah menyelentik jatuh cincin yang menyerang ke arahnya, tangan Yap Boh-hoa sendiri sampai pegal, kuat sekali sambitan cincin itu.

Maka tahulah dia telah berhadapan dengan seorang lawan yang sangat lihai.

Meski nenek itu telah menyuruh Hong Jong-liong tak perlu lari, tapi Hong Jong-liong masih terus berlari ke arah Jik-liong-ki.

Nyata tujuannya hendak merebut lagi kuda itu dan melarikan diri.

Yap Boh-hoa tidak tinggal diam, segera ia mengejar dengan Ginkangnya yang tinggi, tapi si nenek juga lantas mengubernya dari belakang.

Saat itu Ubun Hiong sudah menjemput kembali pedangnya, ia pun mengudak dan menyerang ke arah nenek itu, tapi sekali si nenek mengebaskan lengan bajunya ke belakang, kontan Ubun Hiong tergentak mundur beberapa tindak.

Menyusul si nenek lantas bersuit panjang, sekali lompat tahu-tahu ia sudah mendahului dan mengadang di depan Yap Boh-hoa.

Walaupun rambut si nenek sudah beruban semua, tapi mukanya masih merah bercahaya, sedikitpun tidak kelihatan loyo, bahkan gerak-geriknya juga sangat gesit.

Ketika Yap-boh-hoa melontarkan pukulan, tanpa pikir nenek itupun memapak dengan pukulannya.

"Plak", Boh-hoa sampai tergetar mundur dua tindak.

"Hahaha! Boleh juga kau punya Tay-seng-pan-yak-ciang, tapi jangan harap dapat mencelakai aku,"

Seru si nenek sambil tertawa.

"Eh, kau ini anak Yap Tiong-siau atau muridnya?"

Boh-hoa naik pitam juga mendengar jawaban yang kaku itu, pikirnya tak peduli siapa dia, karena dia berkawan dengan antek kerajaan, hal ini sudah merupakan musuhku.

Dalam pada itu dengan tertawa dingin si nenek telah menubruk maju lagi, tahu pukulan Pan-yak-ciang tak bisa melukai lawan, segera Boh-hoa melolos pedang, dengan senjata dan telapak tangan sebelah ia sambut serangan si nenek yang lihai.

Agaknya nenek itupun tidak berani memandang enteng terhadap Yap boh-hoa, ia lantas melepaskan ikat pinggangnya dan kain sutera, digunakan sebagai ruyung lemas.

Setelah bergebrak beberapa jurus pula, kembali si nenek menjengek.

"Hm, kiranya kau adalah putra Yap Tiong-siau dan Auyang Wan. Perempuan hina dina Auyang wan itu sampai mengajarkan ilmu pedang dari keluarga ibunya kepadamu."

Sudah tentu Boh-hoa sangat gusar karena si nenek memaki ibunya, tapi di tengah gusarnya ia pun merasa heran.

Ia tahu ayah-bundanya jarang bergaul dengan orang-orang Kangouw, tapi nenek ini tidak saja tahu tentang ayah ibunya, bahkan terhadap ilmu pedangnya berasal dari keluarga ibunya juga kenal.

Jika demikian, seharusnya nenek ini mempunyai hubungan rapat dengan ayah ibunya sendiri.

Tapi mengapa si nenek tidak tahu bahwa ayahnya tidak pernah menerima murid dan mengapa memaki ibunya pula?

Begitulah segera Yap Boh-hoa main balas serang dengan mati-matian, tapi si nenek dapat memutar ikat pinggang suteranya dengan hidup, setiap serangan Yap Boh-hoa selalu kena dipatahkan, seakan-akan sudah terduga sebelumnya oleh si nenek.

Yang menarik bagi Yap Boh-hoa adalah gaya ilmu silat si nenek itu, walaupun tak dikenal dari aliran mana, tapi lapat-lapat seperti sama dengan gaya ilmu silat Kheng Siu-hong, yaitu yang pernah diduga berasal dari perubahan ilmu pedang keluarga Yap Boh-hoa sendiri.

Hanya saja kepandaian si nenek jauh lebih tinggi daripada Kheng Siu-hong sehingga Boh-hoa tak berdaya mengalahkannya, sebaliknya malah selalu terdesak.

"Hm, aku memaki ibumu lantas kau merasa marah?"

Demikian jengek si nenek.

"Huh, biarpun Auyang Wan si perempuan hina itu bertemu dengan aku, juga mesti menyembah padaku dan membiarkan aku memaki dia sesuka hatiku."

Melihat keadaan Yap Boh-hoa berbahaya, segera Ubun Hiong ikut menerjang maju.

Meski kepandaiannya masih jauh di bawah Yap Boh-hoa, tapi Si-mi-kiam-hoat yang dia mainkan adalah ilmu pedang kelas satu, inilah yang tidak berani dipandang ringan oleh si nenek.

Ia gunakan lengan baju yang sebelah untuk mengebas, buat menangkis serangan pedang Ubun Hiong.

Sekalipun lebih tinggi kepandaian si nenek daripada Yap Boh-hoa, tapi selisihnya juga tidak terlalu jauh.

Sekarang si nenek harus membagi perhatiannya untuk menjaga serangan Ubun hiong, dengan sendirinya ia tak bisa memusatkan tenaganya ke ikat pinggangnya.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Yap Boh-hoa untuk balas menggempur.

"Bret", tiba-tiba sebagian ikat pinggang sutera itu terkupas sobek, ketika si nenek menarik kembali ikat pinggangnya terus menyabet pula, lekas Boh-hoa menggeser ke samping. Begitulah walaupun satu dikerubut dua, tapi si nenek masih dapat menyerang dengan lincahnya, Boh-hoa berdua toh lebih banyak bertahan daripada balas menyerang. Untung Si-mi-kiam-hoat yang dimainkan Ubun Hiong itu sangat rapat pertahanannya, sebaliknya pukulan Pan-yak-ciang Yap Boh-hoa juga membuat si nenek setiap kali harus menjaga diri dengan hati-hati. Dengan demikian kelihatannya saja si nenek berada di atas angin, tapi sesungguhnya kedua pihak sama-sama sukar memperoleh kemenangan sehingga kedua pihak hanya saling bertahan saja. Dalam pada itu Hong Jong-liong yang berusaha hendak merampas lagi kuda Jik-liong-ki sudah mendekati binatang itu. Keruan Yap Boh-hoa menjadi gelisah, bila Hong Jong-liong sampai lari, tentu akan banyak menimbulkan kesukaran pula bagi perkembangan pertempuran antara pasukan pemberontak melawan pasukan kerajaan di Sucwan. Pada saat itu juga mendadak Ubun Hiong bersuit, Jikliong-ki sudah kenal suara Ubun Hiong, tiba-tiba binatang itu meringkik sambil berjingkrak dan menyepak, lalu lari menanjak ke atas. Keruan Hong Jong-liong sangat mendongkol, hampir saja ia kena didepak oleh kuda itu. Padahal sudah cukup lama ia menunggangi kuda itu, tapi akhirnya lebih setia kepada tuannya yang lama daripada majikan baru. Luput merampas Jik-liong-ki, tiba-tiba Jong-liong mengincar kuda kelabu hasil curian Yap Boh-hoa dari Ban-keh-ceng, kuda itu cukup bagus meski tidak dapat dibandingkan Jik-liong-ki. Segera ia mendekati kuda itu dan binatang itu ternyata diam saja. Dan baru saja Hong Jong-liong hendak mencemplak ke atas kuda, sekonyong-konyong terdengar si nenek berkaok.

"Awas, Hong-lotoa!"

Belum lenyap suaranya, terdengarlah suara mendesing keras, sebilah belati telah menyambar tiba.

Lekas Hong Jong-liong mengegos, namun tidak urung bahunya juga terserempet oleh belati itu, darah lantas mengucur keluar.

Untunglah si nenek keburu memperingatkan, kalau tidak, tentu lehernya sudah ditembus belati itu.

Pada saat lain dari semak-semak di balik gundukan batu karang sana telah muncul tiga orang laki-laki, dua di antaranya berdandan bagai setan jangkung hitam-putih, seorang lagi lebih mengerikan, rambutnya kusut-masai, terang seorang laki-laki, tapi memakai baju wanita, baju itupun sudah robek sehingga kelihatan bulu dadanya yang hitam lebat.

Kiranya ketiga orang ini adalah kedua saudara Cu serta laki-laki yang menyaru sebagai setan perempuan yang ikut mengacau Kui-tek-po semalam itu.

Dalam pertempuran sengit itu mereka telah terluka, cuma tidak parah, mereka masih sempat melarikan diri.

Setiba di lereng gunung sini mereka telah berhenti mengaso, di luar dugaan mereka memergoki pertarungan Yap Bohhoa dan Hong Jong-liong tadi, serta mendengar percakapan mereka.

Demi mengetahui siapa Hong Jong-liong, diam-diam mereka bertiga ikut prihatin.

Ketika Hong Jong-liong hendak lari, segera mereka bertindak, orang yang menyaru sebagai setan wanita itu lantas menyambitkan sebilah belati dengan sekuatnya.

Walaupun berhasil melukai Hong Jong-liong, tapi karena dia sendiri terluka, sekarang mengerahkan tenaga pula, saking sakitnya ia jatuh pingsan sendiri.

Sedangkan kedua saudara Cu lantas melompat maju menerjang ke arah Hong Jongliong.

Lantaran terkejut, kuda kelabu itu sampai berjingkrak terus lari menyingkir, dalam pada itu kedua saudara Cu sudah menerjang tiba dengan sepasang tongkat dan sepasang gaetan sehingga Hong Jong-liong tidak sempat kabur.

Dalam keadaan biasa, kedua saudara Cu pasti bukan tandingan Hong Jong-liong, tapi sekarang tenaga Hong Jong-liong sudah banyak berkurang, walaupun kedua saudara Cu juga terluka ringan, tapi dua lawan satu masih tetap menguntungkan mereka, hanya beberapa kali gebrakan saja berulang-ulang Hong Jong-liong sudah hampir dibinasakan oleh kedua lawannya.

"Hm, aku berada di sini, siapa yang berani mengganggu seujung rambut Hong Jong-liong tentu jiwanya yang akan kucabut!"

Jengek si nenek.

Pada saat itu juga sebuah tongkat Cu-loji sudah melayang ke atas kepala Hong Jong-liong.

Untuk mengelak sudah tidak keburu lagi karena harus menangkis gaetan Cu-lotoa yang telah mendahului menyambar datang.

Terpaksa Hong Jong-liong berteriak.

"Tolong Auyang-toanio!"

"Tring", pada detik terakhir tahu-tahu sebuah senjata rahasia kecil menyambar tiba sehingga tongkat Cu-loji kena dibentur melenceng ke samping, berbareng itu sebuah cincin si nenek yang lain juga telah mengenai Hiat-to di bawah iganya, kontan ia roboh sendiri. Ibu Yap Boh-hoa mempunyai she Auyang dan berasal dari Cong-lam-san, sekarang demi mendengar Hong Jong-liong berseru memanggil "Auyang-toanio", tiba-tiba Boh-hoa ingat bahwa pegunungan ini memang Conglam-san adanya. Ia terkejut dan ragu-ragu.

"Janganjangan nenek ini adalah angkatan tua dari keluarga ibu?"

Kesepuluh jari nenek itu memakai sepuluh buah cincin, bersama tiga buah yang tadi seluruhnya dia sudah menyambitkan lima buah, kini tinggal lima buah lagi. Baru saja Yah Boh-hoa merenung.

"tring", kembali si nenek melontarkan sebuah cincin pula ke arah Cu-lotoa. Tanpa pikir panjang lagi Yap Boh-hoa terus menerjang nenek itu, begitu pula Ubun Hiong lantas ikut mengembut dengan Tui-hong-kiam-hoat yang hebat, maka si nenek menjadi tidak sempat menarik diri untuk membantu Hong Jong-liong lagi. Namun serangan cincin tadi juga telah mengenai Culotoa, cuma jaraknya agak jauh, maka Cu-lotoa hanya terhuyung-huyung saja dan tidak sampai roboh, tapi sebelah lengannya sudah terasa kaku dan sukar bergerak lagi. Keruan Hong Jong-liong lantas balas menyerang sehingga Cu-lotoa kewalahan karena harus bertahan sendirian. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara keliningan kuda yang riuh nyaring, seorang gadis baju merah tampak muncul dengan cepat. Nona baju merah ini bukan lain adalah Kheng Siu-hong, kuda yang dia gunakan adalah kuda merah yang ditinggalkan oleh Ubun Hiong di kaki gunung itu.

"Berhenti dulu. Suhu!"

Tiba-tiba Siu-hong berseru kepada si nenek.

"Semuanya kawan sendiri, jangan bertempur lagi."

"Kheng-lihiap, jahanam ini adalah antek kerajaan, lekas kau bantu membinasakan dia!"

Cu-lotoa juga berteriak. Tapi demi mengetahui yang dipanggil sebagai "Suhu"

Oleh Kheng Siu-hong kiranya adalah si nenek, keruan ia terperanjat.

Kheng Siu-hong juga terkejut ketika mendengar teriakan Cu-lotoa yang mengatakan Hong Jong-liong adalah anjing pemburu kerajaan.

Baru saja dia akan melabraknya, tiba-tiba si nenek telah membentaknya.

"Siu-hong, jangan! Orang she Hong itu yang harus dibela, siapa pun tidak boleh mengganggunya!"

Perintah guru terpaksa harus diturut, Siu-hong merandek.

Dalam pada itu Hong Jong-liong sudah sempat mencapai kuda kelabu dan sudah mencemplak ke atasnya, terus dilarikan secepat terbang ke bawah gunung.

Yap Boh-hoa berteriak.

"Nona Kheng, orang she Hong itu adalah jago pengawal Yap To-hu dan orang she Yap itulah yang telah membikin celaka ayahmu. Kenapa kau melepaskan dia, kelak tentu akan banyak menimbulkan bencana pula. Lekas kau mengejarnya jangan sampai terlepas!"

Tapi si nenek juga lantas berseru.

"Siu-hong ke sini! Bocah she Yap inilah musuhmu, boleh kau binasakan dengan tanganmu sendiri."

Keruan Siu-hong menjadi bingung, ia tidak tahu sebab apa gurunya bertempur dengan Yap Boh-hoa, juga tidak tahu mengapa sang guru membela orang she Hong juga yang dikatakan sebagai antek kerajaan oleh Cu-lotoa tadi?

Tadi Hong Jong-liong baru saja melarikan kudanya, jika Kheng Siu-hong mau mengejarnya dengan segera, dalam keadaan masih payah tentu Hong Jong-liong akan dapat disusul oleh Siu-hong, tapi sekarang Hong Jongliong sudah pergi jauh.

Melihat si nona tertegun di tempatnya, Boh-hoa menghela napas, sambil melawan si nenek ia berseru.

"Nona Kheng, sudah salah satu kali jangan salah pula untuk kedua kalinya. Aku bukanlah musuhmu, kesalah pahaman kita adalah karena tipu muslihat Yap To-hu. Kalau tidak percaya boleh kau tanya kedua saudara Cu, seumpama kita bukan kawan seperjuangan, paling sedikit juga bukan musuh."

Di kala Yap Boh-hoa bicara, berulang-ulang si nenek mendesak pula agar Siu-hong mau memihak padanya. Sementara itu Cu-lotoa lantas berkata.

"Memang benar apa yang dikatakan Yap-siauhiap itu, Kheng-cecu. Tadi aku mendengar dengan telingaku sendiri pengakuan anjing she Hong itu."

Lalu ia pun menceritakan apa yang didengarnya secara tidak sengaja tadi.

Di sebelah sana Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong telah mengembut mati-matian sehingga si nenek tidak sampai menyerang dengan senjata rahasianya lagi.

Dengan gusar ia hanya berkaok-kaok.

"Hong-koh apakah kau tidak mau menurut kepada perintah gurumu lagi? Soal orang she Hong itu adalah petugas kerajaan apa sih halangannya? Ayahmu sendiri bukankah pernah menjabat Congpeng? Tentang pengakuan orang she Hong itu jangan mudah percaya begitu saja, yang penting bekuk dan bikin perhitungan dulu dengan bocah she Yap ini."

Saat itu si nenek dapat mengimbangi keroyokan Bohhoa dan Ubun Hiong, tapi kalau Kheng Siu-hong ikut membantunya tentu dengan gampang Boh-hoa berdua dapat dikalahkan.

Tapi Siu-hong anggap tidak mendengar seruan gurunya, sebaliknya cerita Cu-lotoa sangat menarik perhatiannya, ia yakin Cu-lotoa pasti tidak berdusta padanya.

Jadi jelas sekarang pemuda she Yap ini sesungguhnya bukan musuh pembunuh ayahnya, bahkan adalah tuan penolongnya.

Lantaran itu tidak mungkin ia membalas susu dengan air tuba dengan menuruti perintah gurunya itu.

Seketika hati Siu-hong berduka dan bimbang pula, kedatangannya ke Cong-lam-san ini sebenarnya hendak menjenguk sang guru, tak terduga gurunya ternyata ada hubungan baik dengan musuh yang sesungguhnya malah, bahkan memerintahkan dia ikut membekuk Yap Boh-hoa yang pernah menolongnya.

Sebagai gadis yang tahu budi, ia lebih suka menerima hukuman dari gurunya daripada berbuat sesuatu yang berlawanan dengan hati nuraninya.

Dengan mengembeng air mata terpaksa ia menjawab.

"Suhu, boleh engkau anggap saja tidak mempunyai muridmu ini!"

Segera ia putar tubuh hendak mencemplak ke atas kuda, tiba-tiba dilihatnya laki-laki yang menyamar sebagai setan perempuan dan Cu-loji masih menggeletak di situ, segera ia memberi pertolongan untuk menyadarkan mereka dan menyuruh mereka lekas berangkat saja, lalu ia sendiri lantas meninggalkan tempat itu dengan berlinang air mata.

Si nenek menjadi gusar, teriaknya.

"Bagus, Siu-hong! Kau sudah gemuk dan sudah bersayap sekarang, lalu ingin terbang sendiri ya? Hm, jangan kau kira bisa lepas dari genggamanku, sesudah kubereskan kedua bangsat cilik ini, segera aku akan membekuk kau dan membikin perhitungan denganmu."

Tapi Yap Boh-hoa segera melancarkan serangan lebih gencar sehingga si nenek tidak sempat mengurus Siuhong lagi. Di tengah pertarungan sengit itu, tiba-tiba terdengar suara "bret-bret"

Dua kali, ikat pinggang sutera si nenek telah kena terpapas putus kedua ujungnya oleh pedang Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong, yang tertinggal di tangan si nenek hanya tinggal satu bagian yang pendek saja.

Sekalian si nenek buang sisa ikat pinggangnya, kedua tangannya digosok-gosokkan, mendadak ia bersuit panjang.

Tahu-tahu kedua telapan tangannya kelihatan merah membara seperti terbakar.

Boh-hoa terkesiap, ia tahu ini tentu sejenis ilmu jahat yang lihai, lekas ia memperingati kawannya.

"Hati-hati Ubun-heng!"

Benar juga, dengan dahsyat kedua tangan si nenek sudah mulai menghantam sekaligus.

Dari angin pukulannya yang menyambar tiba lebih dulu itu terasa panas sekali.

Cepat Boh-hoa mendahului menyambut pukulan itu dengan sebelah tangan.

Dari dua tiga kali gebrakan tadi, agaknya si nenek agak jeri terhadap Pan-yak-ciang, makanya Yap Boh-hoa berani menandangi pula pukulan dahsyat yang membakar ini.

Tak terduga, sekali ini telah berbeda jauh daripada tadi.

Begitu tangan berbenturan, seketika Boh-hoa merasa telapak tangannya seperti kena dibakar oleh besi panas yang baru diangkat dari anglo.

Seketika dadanya sesak, isi perut serasa berjungkir balik.

Kiranya yang digunakan si nenek adalah ilmu pukulan Lui-sin-ciang yang merupakan kepandaian andalan suaminya, cuma dia belum sempurna mempelajari ilmu pukulan itu dari suaminya dan belum leluasa untuk digunakan.

Sekarang karena dia ingin mencapai kemenangan secepatnya, maka dengan nekat ia mengeluarkan pukulan itu sehingga Yap Boh-hoa tergentak mundur beberapa tindak.

"Sekarang kau tahu kelihaianku belum?"

Seru si nenek sambil tertawa.

"Mengingat ibumu, biarpun dia pernah berdosa padaku, tapi apapun juga dia adalah orang dari keluarga Auyang, maka bolehlah kau berlutut dan menyembah padaku, segera aku dapat mengampuni jiwamu."

Waktu Boh-hoa tergetar mundur tadi, segera Ubun Hiong memutar pedangnya dan mengadang di depan untuk melindunginya.

Meski kepandaian Ubun Hiong lebih rendah, tapi Si-mi-kiam-hoat adalah ilmu pedang menjaga diri yang hebat sehingga dalam waktu singkat si nenek tak mampu menembus pertahanannya.

"Baik, biar kumampuskan dulu kau bangsat cilik ini!"

Bentak si nenek dengan gemas. Boh-hoa menjadi kuatir.

"Ubun-heng, kau mempunyai urusan penting, silakan kau lekas berangkat saja!"

Serunya, lalu katanya juga kepada si nenek.

"Auyangtoanio, aku tidak tahu kau terhitung apa di dalam keluarga ibuku. Jika kau benci kepada ibuku, bolehlah aku bertanggung jawab bagi beliau, silakan kau mau berbuat apa? Tapi suruh aku menyembah padamu janganlah harap. Segala urusan tentu ada yang benar dan yang salah, yang jelas urusan sekarang ini kaulah yang salah."

"Kurangajar, setelah kau dapat menduga siapa aku ini, kau masih berani berlagak di hadapanku?"

Teriak si nenek alias Auyang-toanio dengan murka.

"Baik, kalian berdua bangsat cilik ini jangan harap bisa lolos seorang pun."

Habis berkata ia gosok-gosok pula kedua telapak tangannya dan segera akan melancarkan pukulan dahsyat pula.

Ternyata Ubun Hiong tidak mau pergi meski sudah disuruh lekas berangkat oleh Yap Boh-hoa, sebaliknya ia malah putar pedang dan siap menghadapi Auyangtoanio.

Keruan Boh-hoa merasa kuatir dan cemas, baru saja ia hendak menarik mundur Ubun Hiong dan dirinya akan menyambut serangan Auyang-toanio.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seruan Cu-lotoa yang kejut-kejut girang.

"Kebetulan sekali kedatanganmu, Tiong-pangcu! Lekas engkau menolong kedua ksatria muda itu!"

Tapi panca indra Auyang-toanio cukup tajam, saat itu ia pun merasa datangnya tokoh luar biasa yang dimaksudkan Cu-lotoa itu. la terkejut dan membatin.

"Mengapa begini kebetulan si pengemis tua itu datang pada saat demikian ini?"

Karena itu pukulannya lantas tertunda.

Dalam pada itu mendadak telah muncul seorang pengemis tua yang berbaju compang-camping dengan menggendong karung.

Segera Ubun Hiong mengenali pengemis tua itu tak lain tak bukan adalah liong Tiang thong, ketua Kay-pang yang mempunyai hubungan akrab dengan Kang Hay-thian.

Terdengar Tiong Tiang-thong tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Selamanya pengemis tua paling suka ikut campur urusan orang lain. He, Auyang-toanio, ada urusan apa kau merecoki dua anak kecil itu?"

"Dia membantu antek kerajaan, dia hendak membunuh kami,"

Sela Ubun Hiong sebelum si nenek menjawab. Dengan nada dingin Auyang-toanio juga lantas menjawab.

"Hm, apakah kau tahu siapa bocah she Yap ini? Dia adalah anak keturunan keluarga kami, aku mengajar orang sendiri, berdasarkan apa sebagai orang luar kau mau ikut campur? Kau boleh bawa pergi saja murid Kang Hay-thian itu!"

Nyata dengan licik Auyang-toanio mengelakkan persoalan pokok, ia kesampingkan soal membantu antek kerajaan segala, tapi dikatakannya sebagai urusan kekeluargaan.

Rupanya dari jauh Tiong Tiang-thong telah mendengar juga caci-maki Auyang-toanio kepada Yap Boh-hoa dan sudah tahu siapa dia, maka dengan tertawa dingin ia berkata.

"Bukankah kau sudah tidak mengakui lagi famili keluargamu itu. Hehe, aku justru ingin campur urusan, selama aku berada di sini kau tidak boleh sembarangan bertingkah."

Auyang-toanio menjadi gusar, dampratnya.

"Tiong Tiang-thong, lebih tepat kau urus kaum pengemis saja, mengapa urusan keluarga Auyang kami juga kau akan ikut campur?"

"Buat apa kau marah, jika kau tidak terima boleh coba melabrak padaku, apa gunanya memusuhi anak kecil?"

Sahut Tiang-thong sambil menarik mundur Ubun Hiong, menyusul setelah tangannya lantas menabok ke depan untuk menyambut Lui-sin-ciang (pukulan geledek) si nenek.

Maka terdengarlah suara gemuruh benturan kedua tangan, di tengah guncangan angin pukulan, tertampak air muka Auyang-toanio berubah menjadi pucat-pasi, badannya sempoyongan dan mundur beberapa tindak, menyusul darah segar terus menyembur keluar dari mulutnya, masih mending baginya tidak sampai terjungkal.

Kiranya ilmu Kun-goan-it-khi-kang yang dilatih Tiong Tiang-thong sudah cukup sempurna, betapa hebat tenaga dalamnya sudah jauh di atas Auyang-toanio.

Kalau Tiong Tiang-thong tidak menyerangnya dengan sepenuh tenaga sudah terhitung bermurah hati.

"Terang kau punya Lui-sin-ciang belum cukup sempurna, boleh kau pulang untuk belajar kepada suamimu!"

Ujar Tiang-thong dengan adem-ayem.

"Pengemis busuk, permusuhan kita ini sudah pasti, kelak aku pasti akan menyuruh lakiku mengukur kepandaianmu lagi, boleh kau tetapkan harinya,"

Damprat Auyang-toanio. Untuk mengurangi malunya terpaksa ia tampilkan nama suaminya. Tapi Tiang-thong lantas menjawab.

"Aku tiada tempat kediaman yang tetap, biarlah kelak bila aku lewat di sini lagi tentu aku akan mampir untuk minta petunjuk kepada suamimu. Aku tahu saat ini dia tidak berada di rumah."

Auyang-toanio terkesiap, diam-diam ia mengakui tajam sekali berita kaum Kay-pang, sampai-sampai suaminya tidak berada di rumah juga diketahui olehnya.

Terpaksa ia tidak berani menonjolkan sang suami lagi, sesudah mengucapkan beberapa kata-kata lagi, ia lantas kabur dengan lesu.

Segera Ubun Hiong dan Yap Boh-hoa mengucapkan terima kasih kepada Tiong Tiang-thong.

"Untung Auyang Pek-ho tidak di rumah, kalau tidak, tentu hari ini kalian akan banyak menelan pil pahit,"

Ujar Tiang-thong dengan tertawa.

"Eh, kau ini tentunya putra Yap Tiong-siau bukan? Tampaknya Lwekang ayahmu juga telah diajarkan padamu."

Boh-hoa tidak paham mengapa datang-datang ketua Kay-pang itu sudah lantas menilai Lwekangnya, segera ia mengucapkan kata-kata merendah hati.

"Tidak perlu sungkan-sungkan,"

Ujar Tiang-thong.

"Menurut Lwekangmu sekarang, agaknya jauh lebih kuat daripada ayahmu ketika dia berusia sebaya dengan kau dahulu."

"Jika demikian tentunya Tiong-pangcu adalah kenalan lama ayah-ibu?"

Tanya Boh-hoa.

"Bukan cuma kenalan lama saja, bahkan perjodohan ayah-ibumu dahulu si pengemis tua ini yang menghubungkannya,"

Kata Tiong-thong dengan bergelak tertawa.

"Dan pernah apakah Auyang-toanio itu dengan nenek luarku? Siapa pula Auyang Pek-ho yang disinggung Tiong-pangcu tadi?"

Tanya Boh-hoa.

"O, kiranya ibumu belum pernah bercerita padamu tentang keluarga ayahnya?"

Kata Tiang-thong.

"Auyang Pek-ho yang kusebut tadi adalah saudara tua kakekluarmu, selain itu mereka masih mempunyai seorang adik laki-laki bernama Auyang Ki-ho, kakekmu sendiri bernama Auyang Tiong-ho. Auyang-toanio tadi adalah istri Auyang Pek-ho, yaitu bibi besar ibumu. Mereka telah berselisih paham dengan ayah-ibumu, maka sudah lama putus hubungan. Tentang ini kelak bila ada tempo tentu dapat kuceritakan padamu."

Kiranya Auyang Pek-ho bertiga saudara dahulu pernah juga menjagoi dunia persilatan.

Ibu Yap Boh-hoa, yaitu Auyang Wan sebenarnya telah dijodohkan dengan Bun To-ceng, keponakan Bun Ting-bik yang terkenal pada masa itu.

Tapi berkat Kang Hay-thian dan bantuan seorang Suhengnya, pada hari perkawinannya, Bun Toceng telah dilukai dan Auyang Wan melarikan diri, sejak itu lantas putus hubungan dengan keluarganya.

Kemudian Auyang Wan telah menjadi istri Yap Tiongsiau, perjodohan ini akhirnya disetujui juga oleh Auyang Pek-ho dan saudaranya, karena Yap Tiong-siau diketahui adalah putra mahkota sebuah kerajaan kecil.

Tak terduga kemudian Yap Tiong-siau sengaja melepas haknya sebagai putra mahkota kepada saudaranya, yaitu Danu Cu-mu.

Sebaliknya Tiong-siau juga tidak suka terhadap tingkah laku keluarga Auyang yang plin-plan, suka berkomplot dengan kerajaan Boan-jing dan orang-orang Kangouw yang tak beres.

Semuanya ini sangat mengecewakan harapan Auyang Pek-ho, maka hubungan kekeluargaan mereka kembali putus lagi.

Begitulah setelah mengetahui sekedar duduknya perkara, maka Boh-hoa tidak bertanya lebih lanjut.

Dalam pada itu kedua saudara Cu dan kawannya telah maju pula untuk beramah-tamah dengan semua orang.

Mereka pun gelisah seperti Yap Boh-hoa mengenai larinya Hong Jong-liong yang sudah sekian lamanya itu.

Bila Yap Leng-hong dapat menerima berita' lebih dulu dari Hong Jong-liong, tentu akan menimbulkan bencana bagi laskar pemberontak di Sucwan.

Mendengar percakapan mereka, Tiong Tiang-thong bertanya.

"Apakah orang she Hong yang dapat lolos itu berumur 50-an dan bermuka berewok?"

"Betul, darimana Tiong-pangcu mengetahui?"

Tanya Boh-hoa.

"Tadi waktu aku naik ke sini, dia sedang melarikan kudanya ke bawah,"

Tutur Tiang-thong.

"Aku tidak kenal dia, dari kudanya itu aku tahu binatang itu adalah milik Ban-keh-ceng yang terkenal sebagai sarang gembong penindas rakyat, murid Kay-pang sendiri pernah dihina mereka. Jika orang Ban-keh-ceng berada di Cong-lamsan sini tentu tiada melakukan sesuatu yang baik, maka dengan sengaja aku lantas menghantamnya dari jauh dengan maksud menjatuhkan dia dari kuda untuk ditanya lebih jauh. Tapi karena tenaga yang kupakai hanya sebagian kecil saja, keparat itu hanya bersuara tertahan dan tidak sampai jatuh dari kudanya. Sayang, bilamana mengetahui dia adalah antek kerajaan, tentu tenaga pukulan yang kulancarkan sedikitnya akan membikin dia terluka parah."

"Biarpun tidak keras, sedikitnya keparat itu juga sudah terluka, maka untuk mengejarnya rasanya tidaklah sukar dan masih keburu,"

Ujar Cu-lotoa.

"Jika demikian, bolehlah lekas Ubun-heng menyusulnya dengan Jik-liong-ki, meski keparat itu sudah lari sekian lamanya, mungkin kudamu itu masih sanggup menyusulnya,"

Kata Boh-hoa.

"Kemudian cara bagaimana kita akan bergabung kembali?"

Tanya Ubun Hiong.

"Setiap jarak tertentu boleh kau meninggalkan tanda agar aku dapat mencari jejakmu,"

Kata Boh-hoa.

Sesudah menentukan tanda pengenal, lalu Ubun Hiong mencemplak ke atas Jik-liong-ki dan menyusul ke arah Hong Jong-liong.

Yap Boh-hoa juga lantas menceritakan pengalamannya dan tentang tipu muslihat keji kepergian Hong Jong-liong ke Sucwan itu.

"Kabarnya semalam Kui-tek-po telah terjadi geger, apakah perbuatan kalian? Sudahkah kalian membalas dendam?"

Tanya Tiang-thong kepada kedua saudara Cu.

"Kejadian semalam dilakukan oleh laskar Kheng Siuhong, kami hanya membantunya dari dalam saja,"

Tutur Cu-lotoa.

"Bangsat tua she Kui itu bahkan telah melukai saudaraku, jadi dendam lama belum terbalas sudah bertambah sakit hati baru lagi."

Begitulah sembari berjalan sambil bicara, dari situ baru Boh-hoa mengetahui bahwa keluarga Cu sebenarnya adalah petani di Kui-tek-po, karena musim paceklik dan tak mampu membayar sewa, akhirnya ayah-ibu persaudaraan Cu telah mati merana atas pemerasan Kui Koh-ku.

Waktu itu persaudaraan Cu baru 7-8 tahun umurnya, mereka telah mengungsi ke daerah lain ikut sanak-famili miskin yang lain, kemudian mengembara lebih jauh lagi sambil mengemis, akhirnya masuk menjadi anggota Kay-pang.

Mereka baru pulang ke Kui-tek-po beberapa tahun yang lalu sebagai pendatang baru.

Dari bocah ingusan telah berubah menjadi laki-laki pertengahan umur yang tegap sudah tentu mereka tidak dikenal lagi oleh penduduk setempat, apalagi logat mereka sudah mirip dengan orang dari daerah lain.

Mereka pura-pura minta pekerjaan dan mau menerima syarat mencekik dari keluarga Kui, hasil cocok tanam mereka harus dibagi dua, hewan piaraan harus disetorkan tiga ekor dari tiap-tiap sepuluh ekor, selain itu setiap tahun harus kerja bakti bagi keluarga Kui selama dua bulan tanpa upah.

Sebabnya mereka mau menerima syarat-syarat pelik itu tujuannya asalkan dibolehkan menetap di Kui-tek-po, agar mereka ada kesempatan menuntut balas.

Akan tetapi kemudian mereka baru tahu untuk menuntut balas tidaklah gampang.

Bukan saja keluarga Kui menyewa beberapa jago pengawal, bahkan kepandaian Kui Koh-ku sendiri juga lebih tinggi daripada mereka.

Sudah sekian tahun mereka menetap di Kui-tek-po dan tetap belum berhasil menuntut balas.

Perkenalan persaudaraan Cu dengan Kheng Siu-hong dimulai dengan seorang kawannya yang ikut menjadi anak buah nona itu.

Karena maksud Siu-hong hendak menggempur Kui-tek-po, mereka lantas mengadakan hubungan dengan persaudaraan Cu agar membantu dari dalam, mereka pikir bila Kui-tek-po berhasil diruntuhkan, untuk membunuh Kui Koh-ku dan menuntut balas tentulah tidak sukar.

Tak terduga sakit hati lama belum terbalas, sebaliknya persaudaraan Cu malah terluka.

Boh-hoa menghibur persaudaraan Cu dan berjanji bila kelak dirinya pulang dari Sucwan tentu akan membantu mereka menuntut balas.

Cu-lotoa mengucapkan terima kasih, katanya.

"Kami akan pergi menggabungkan diri dengan Kheng-cecu, kuyakin kegagalan Kheng-cecu ini tentu takkan mematahkan semangatnya."

"Aku juga pernah mendengar bahwa Auyang Pek-ho suami-istri telah menerima seorang putri Congpeng sebagai murid, kiranya dia adalah Kheng-cecu kalian itu,"

Kata Tiang-thong.

"Di antara angkatan baru kalangan Lok-lim akhir-akhir ini, Kheng-cecu kalian juga terhitung satu di antaranya yang paling menonjol. Cuma aku tidak paham, mengapa dari putri Congpeng dia terus menjadi kepala bandit?"

Segera Boh-hoa menceritakan sebab-musababnya, tentang diri Kheng Siu-hong hanya urusan pribadinya dengan nona itulah yang tak diceritakan.

Karena tadi Cu-lotoa sudah mencuri dengar tanya jawab antara Yap Boh-hoa dan Hong Jong-liong, maka ia sudah tahu hubungan antara Boh-hoa dan Siu-hong, katanya kemudian.

"Yap-tayhiap, banyak terima kasih atas bantuanmu semalam. Banyak di antara anak buah Hui-hong-san yang terluka, rasanya rombongan mereka belum terlalu jauh perginya. Apakah Yap-tayhiap tidak ingin tinggal satu-dua hari lagi, marilah bersama kami berkunjung kepada Kheng-cecu."

Watak Tiong Tiang-thong paling suka menjodohkan anak muda, meski tidak tahu bagaimana hubungan antara Boh-hoa dan Siu-hong, tapi diam-diam ia sudah dapat menduga beberapa bagian dari percakapan mereka tadi, maka dengan tertawa ia berkata.

"Jika kenalan baik sudah seharusnya kau pergi menjenguknya. Mestinya aku hendak pergi menyambangi Hay-thian, tapi sekarang aku telah berubah pikiran dan akan pergi ke Siau-kim-jwan. Tentang keamanan Ubun Hiong boleh serahkan padaku saja."

"Tidak, tidak,"

Sahut Boh-hoa dengan wajah merah.

"aku sudah bertemu dengan Cecu kalian, tiada sesuatu yang perlu dibicarakan lagi."

Tengah bicara, mereka telah sampai di kaki gunung.

Tiba-tiba dua wanita muda penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat, di belakangnya mengikut pula beberapa ekor kuda tanpa penunggang.

Kiranya adalah kedua dayang Kheng Siu-hong yang disuruh membawa kuda untuk memapak persaudaraan Cu, di antaranya terdapat pula kuda milik Ubun Hiong yang dilarikan Kheng Siu-hong itu.

"Wah, kebetulan sekali, kiranya Yap-kongcu juga berada di sini,"

Kata dayang yang satu dengan tertawa.

"Tadi Cecu kami telah meminjam kuda ini, sekarang hamba disuruh mengembalikannya kepada Yap-kongcu, Siocia kami pun minta maaf tentang kejadian semalam. Apakah Yap-kongtu sendiri ada pesan apa-apa yang minta kami sampaikan kepada Siocia?"

Sebenarnya Siu-hong cuma menyuruh mereka mengembalikan kuda saja, permintaan maaf itu adalah mereka sendiri yang mengemukakan.

Sebagai pelayan pribadi mereka cukup tahu perasaan Siu-hong.

Maka Boh-hoa menjawab.

"Aku mestinya hendak mengembalikan sesuatu kepada Siocia kalian, tapi ... sudahlah, biar kelak bila aku lewat lagi di sini, tentu akan mampir untuk mengembalikan barangnya ini. Harap kalian sampaikan demikian saja."

"O, jika demikian memang seharusnya kau mengembalikannya sendiri,"

Sahut dayang tadi dengan tertawa.

"Ya, betul juga jika kau mengutamakan kepentingan umum daripada pribadi,"

Kata Tiong Tiang-thong.

"Sekarang bolehlah kau berangkat saja lebih dulu, segera aku akan menyusul. Tambah teman tentunya tambah baik."

Maka Yap Boh-hoa lantas mohon diri dan berangkat lebih dulu.

Meski kuda merah yang dikembalikan Kheng Siu-hong tak dapat dibandingkan Jik-liong-ki, tapi juga terhitung seekor kuda pilihan.

Perasaannya yang tertekan mengenai diri Siu-hong sekarang sudah buyar, satusatunya hal yang dipikirnya sekarang adalah dapatkah Ubun Hiong menyusul Hong Jong-liong.

Sepanjang jalan Boh-hoa melihat ada tanda-tanda yang ditinggalkan Ubun Hiong, menurut ketentuan, bilamana Hong Jong-liong dapat dibekuk akan diberi tanda silang tambahan.

Tapi sampai hari kedua Boh-hoa masih belum menemukan tanda tambahan itu, ia menjadi sangsi dan kuatir.

Apa barangkali Hong Jongliong berhasil meloloskan diri, padahal menurut perhitungan, dengan kuda Jik-liong-ki seharusnya pada hari kedua Ubun Hiong sudah dapat menyandak buronannya.

Sampai hari ketiga Boh-hoa semakin kuatir, sepanjang 30 li ia tidak lagi menemukan tanda-tanda yang ditinggalkan Ubun Hiong.

Ia coba putar kembali untuk menyelidiki hutan di sekitar tempat yang dilaluinya, namun tetap tidak diketemukan jejak Ubun Hiong.

Tanda yang ditinggalkan pemuda itu putus mendadak, hal ini menimbulkan dugaan pasti terjadi apa-apa sesudah tempat yang terdapat tanda terakhir itu.

Cuma di sekitar situ hanya lereng bukit belaka, sama sekali tiada rumah penduduk sehingga sukar bagi Yap Boh-hoa untuk mencari keterangan.

Sebab apakah mendadak jejak Ubun Hiong bisa menghilang.

Untuk itu marilah kita mengikutinya dari semula.

Hari itu Ubun Hiong telah menguber sampai di jalan pegunungan yang curam itu, sekonyong-konyong sebutir batu mengambar dari atas dan dengan tepat mengenai kaki depan Jik-liong-ki.

Padahal saat itu Jik-liong-ki sedang mecongklang dengan cepat, tapi batu itu dengan tepat dapat mengenai kakinya, kepandaian menyambit senjata rahasia orang itu tentu sangat tinggi.

Karena ruas kaki depan tertimpuk batu, kontan Jikliong-ki meringkik kaget dan terguling.

Dalam keadaan sedang lari cepat dan mendadak roboh, keruan Ubun Hiong juga ikut terjungkal.

Dan sebelum Ubun Hiong melompat bangun, tiba-tiba di atas bukit terdengar suara tertawa orang dan berkata.

"Ayah, perhitunganmu benar-benar sangat tepat. Kurir yang mereka kirim benar-benar lewat di sini. Aha, aku kenal bocah ini, dia adalah Ubun Hiong, murid Kang Haythian yang kedua."

Waktu Ubun Hiong mendongak, dilihatnya di atas bukit berdiri tiga orang yang dikenalnya semua.

Yaitu Nyo Ceng, Nyo Hoan dan seorang lagi adalah Bong Ingping dari Jing-sia-pay.

Kiranya pada malam penyerbuan penjara kerajaan tempo hari Nyo Ceng dan putranya beruntung dapat meloloskan diri.

Sebagai orang yang berpengalaman dan licin, ketika melihat Kang Hay-thian berjumpa kembali dengan Utti Keng dan istrinya serta Ubun Hiong, diamdiam Nyo Ceng menduga rahasia Yap Leng-hong palsu pasti akan terbongkar, maka malam itu juga dia lantas berangkat ke Sucwan.

Bong Ing-ping adalah mata-mata kerajaan yang diselundupkan ke dalam Jing-sia-pay, dia juga mendapat tugas ikut di dalam pasukan pemberontak dan mengadakan hubungan langsung dengan Yap Lenghong.

Waktu ditugaskan mencari berita di luar, secara kebetulan bertemu dengan Nyo Ceng dan Nyo Hoan di tengah jalan.

Karena tidak leluasa bertemu sendiri dengan Yap Leng-hong, maka Nyo Ceng telah minta Bong Ing-ping menyampaikan berita tentang kemungkinan akan terbongkarnya rahasia Leng-hong.

Ia pun menduga bahwa dari pihak Kang Hay-thian pasti akan dikirim kurir ke Sucwan, maka mereka sengaja bicara di atas bukit, dimana jalan yang menuju ke Sucwan itu dapat diawasi bilamana ada orang lewat.

Benar juga dugaan Nyo Ceng, di situlah Ubun Hiong kena dicegat mereka dan terguling dari kudanya.

Nyo Ceng menjadi senang sesudah mendengar dari putranya tentang siapa Ubun Hiong.

Dengan tertawa ia berkata.

"Bagus, kita tangkap dulu murid Kang Hay-thian ini untuk melampiaskan rasa dongkol kita. Kudanya itu juga bagus, jangan-jangan adalah Jik-liong-ki milik Kang Hay-thian. Hoan-ji, boleh kau bekuk bocah itu, biar kutangkap kudanya."

Rupanya Jik-liong-ki hanya terluka ringan saja dan masih bisa meronta bangun, walaupun dengan sebelah kaki sedikit pincang, tapi kuda itu masih dapat berlari dengan cepat kian kemari di lereng bukit itu sehingga sukar didekati meski Nyo Ceng telah mengudaknya.

Sebaliknya Ubun Hiong terbanting jatuh agak keras, saat itu dia baru saja merangkak bangun dan tahu-tahu Nyo Hoan sudah memburu tiba, tongkat bambunya terus saja menotok ke dada Ubun Hiong, sambil menyeringai bentaknya.

"Bocah keparat, sekali ini masakah kau mampu lolos lagi!"

Tampaknya segera Ubun Hiong akan tertotok oleh tongkat bambu musuh, tapi secara cepat sekali pemuda itu sempat mengegos ke samping, berbareng itu pedang juga sudah diloloskan dan menyampuk pergi serangan Nyo Hoan yang kedua.

Gerakan Ubun Hiong yang pertama adalah langkah ajaib Thian-lo-poh-hoat dan jurus kedua adalah ilmu pedang Si-mi-kiam-hoat, perpaduan kedua macam kepandaian itu dapat dimainkan dengan amat bagus, maka walaupun habis jatuh terbanting ia masih mampu melawan Nyo Hoan dengan sengit.

Dalam sekejap saja Nyo Hoan telah menyerang 20-30 jurus secara membadai, tapi Ubun Hiong telah putar pedangnya sehingga berwujud suatu lingkaran cahaya yang tak tertembus siraman air.

Hanya terdengar "Cringcring"

Berulang-ulang, betapapun tongkat bambu Nyo Hoan tidak mampu menembus pertahanan lawan.

Diamdiam ia terkesiap, sungguh tidak nyana baru berpisah beberapa bulan saja kepandaian Ubun Hiong sudah maju begini pesat.

"Jangan kuatir Nyo-heng, biar kubekuk dia!"

Seru Bong Ing-ping yang telah menyusul tiba, segera ia menubruk maju dengan senjata gaetan.

Langkah ajaib Thian-lo-poh-hoat berasal dari Jing-siapay, walaupun telah banyak ditambah dan diubah oleh Kim Si-ih, lalu diajarkan kepada Hay-thian, namun betapapun Ubun Hiong juga belum sempurna dan tidak lebih pandai daripada Bong Ing-ping yari^, merupakan murid Jing-sia-pay terpilih, sebab itulah dalam hal ger.ik geriknya ia selalu kena dihalangi.

Akan tetapi Bong Ing-ping juga salah hitung, ia sangka dengan senjata gaetnya akan dapat merampas pedang Ubun Hiong, karena gaetan demikian memang biasanya sangat baik buat merebut senjata lawan seperti golok dan pedang.

Tak terduga mendadak terdengar "cret"

Satu kali, ujung pedang Ubun Hiong tergaet, sebaliknya lengan kanan Bong Ing-ping malah kena tergores luka.

Nyata dia dapat mengatasi langkah Thian-lo-poh-hoat, tapi tidak dapat menahan Si-mi-kiam-ho.it yang lihai.

Namun Nyo Hoan juga tidak tinggal diam, pada waktu Bong Ing-ping dapat menembus pertahanan Ubun Hiong, berbareng tongk.il bambunya juga lantas menikam pula pada saat yang sama ketika Ubun Hiong melukai Bong Ing-ping sehingga tepat kena sasarannya.

Setelah terkena totokan tongkat, Ubun Hiong merasa lemas.

Bung Ing-ping yang terluka menjadi murka, menyusul sebelah tangannya lantas menghantam.

"Jangan membunuh dia, kita perlu tanya keterangannya'"

Seru Nyo Hoan.

Cepat Bong Ing-ping menahan sebagian tenaganya, tapi tidak urung pukulan yang cukup keras itupun sudah mengenai tubuh Ubun Hiong.

Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara bentakan orang "He, siapa itu berani mengganas di sini?"

Karena pukulan Bong Ing-ping itu, kepala Ubun Hiong serasa sakit hendak pecah, matanya berkunang-kunang, tapi samar-samar ia masih mendengar seruan Nyo Ceng.

"Lekas lari, anak Hoan.'"

Hanya ucapan demikian itulah yang masih terdengar, habis itu ia lantas jatuh pingsan tanpa mengetahui siapakah yang datang itu.

Entah sudah selang berapa lama, perlahan-lahan Ubun Hiong mulai sadar.

Sebelum membuka mata sudah terdengar suara orang sedang bicara di sampingnya, lebih dulu suara seorang wanita berkata.

"Sayang keparat Nyo Ceng itu sempat lari!"

"Tapi dia sudah merasakan pukulanku, walaupun selamat juga pasti terluka parah, sedikitnya kita sudah melampiaskan dendam anak Ling yang dipukulnya di Binsan tempo hari,"

Demikian suara seorang laki-laki tua menjawab.

Ia merasa suara itu seperti sudah dikenalnya, lambatlaun teringatlah olehnya.

Ya, suara inilah yang membentak Nyo Ceng pada saat dia akan jatuh pingsan tadi, karena kedatangan orang ini maka Nyo Ceng telah berseru kepada Nyo Hoan agar lari.

"Tentu orang inilah yang telah menolong diriku,"

Demikian Ubun Hiong membatin. Dalam pada itu terdengar suara wanita tadi sedang berkata pula.

"Nah, dia sudah mulai dapat bergerak, tentu akan segera siuman. Eh, Lau Han, boleh bawa kemari bubur encer itu!"

Waktu perlahan-lahan Ubun Hiong membuka mata, ia merasa dirinya berada di dalam sebuah rumah gubuk dan terbaring di atas balai-balai batu.

Di sebelah berdiri seorang laki-laki dan seorang wanita berumur kira-kira setengah abad, yang laki-laki berjenggot cabang tiga, wajahnya kereng.

Yang perempuan selalu tersenyum simpul, sikapnya ramah dan sedang merawatnya seperti kasih seorang ibu.

Hampir Ubun Hiong mengira dirinya berada dalam mimpi, selagi hendak bicara, tiba-tiba orang tua itu sudah bertanya lebih dulu.

"Apakah kau murid Kang Haythian? Siapa namamu?"

"Tecu bernama Ubun Hiong dan baru masuk perguruan tahun yang lalu. Banyak terima kasih atas pertolongan Locianpwe,"

Jawab Ubun Hiong. Diam-diam ia heran, siapakah kedua orang tua ini dan darimana kenal nama Suhunya. Terdengar kakek itu telah berkata pula sambil tertawa.

"Aku adalah Ciong Tian dari Thian-san. Dari permainan ilmu pedangmu memang sudah kuduga kau adalah murid Kang Hay-thian, nyatanya memang benar."

Tempo hari waktu Ciong Tian hadir dalam pertemuan di Bin-san, waktu itu Ubun Hiong tidak berada di sana, maka sekarang adalah pertemuan mereka yang pertama.

Namun sebelumnya Ubun Hiong sudah sering mendengar cerita sang guru tentang Ciong Tian dan tokoh-tokoh Thian-san-pay yang lain, keruan ia terkejut dan bergirang pula, pantas orang kenal ilmu pedangnya dan tahu nama gurunya.

Sementara itu wanita tua itupun ikut bertanya.

"Jika demikian, jadi kau adalah Sute Yap Leng-hong, putraputriku sekarang juga ikut berjuang dalam pasukan Toasuhengmu sana. Kabarnya pasukan pemberontak di Sucwan telah memperoleh kemenangan yang gilang gemilang di bawah pimpinan Toasuhengmu, sekarang kabarnya sudah mulai akan menyerang Siau-kim-jwan. Apakah kau sedang menuju ke sana buat membantu Toasuhengmu?"

Wanita tua ini adalah istri Ciong Tian yakni Li Simbwe.

Putra putrinya yang dimaksud adalah Ciong Leng dan Ciong Siu yang tempo hari juga ikut hadir di Bin-san.

Mendengar mereka memuji Leng-hong, seketika Ubun Hiong menjadi bingung, entah apa yang harus dikatakan.

Dalam pada itu seorang laki-laki dengan dandanan sebagai pemburu, tampak masuk dengan membawa semangkuk bubur dan beberapa piring kecil lauk-pauk.

"Ya, tentu badanmu masih lemas sesudah berbaring sekian lamanya, silakan dahar dulu, nanti kita bicara lagi,"

Kata Li Sim-bwe dengan tertawa.

Ubun Hiong memang sudah merasa lapar, ia mengucapkan terima kasih dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia lantas menghabiskan semangkuk bubur itu.

Lalu Cong Tian memeriksa urat nadi Ubun Hiong, sedang Li Sini bwe berkata pula dengan tertawa.

"Sampai sekian lamanya kau tak sadarkan diri, sungguh kami ikut cemas sekali. Tapi dasar Lwekangmu cukup kuat, asal mengaso lagi dua hari sudah boleh melanjutkan perjalanan."

Ubun Hiong terperanjat, cepat ia bertanya.

"Sudah beberapa lama aku tak sadar?"

"Sehari semalam,"

Sahut Li Sim-bwe.

"Wah, celaka, celaka! Mengapa terhalang sampai sekian lamanya'"

Seru Ubun Hiong.

"Belakang kepalamu tergetar sehingga darah mati mengumpul di situ, tapi sekarang sudah kami urut dan darah sudah jalan lancar kembali,"

Tutur Sim-bwe.

"Rumah ini adalah milik pemburu yang kami kenal, kau boleh mengaso di sini dengan tenang, urusan apa hendaklah dikesampingkan dulu. Paling-paling hanya dua hari saja kau sudah bisa berangkat".

"Tapi aku akan pergi ke Siau-kim-jwan,"

Seru Ubun Hiong.

"Jangan kuatir, kami juga akan pergi ke sana untuk menjenguk putra-putri kami,"

Ujar Sim-bwe.

"Selang dua hari lagi bila tenagamu sudah pulih boleh kita berangkat bersama ke tempat Toasuhengmu itu."

"Bukan, aku memang hendak pergi mencari Yap Lenghong, tapi ... tapi dia bukan ..."

"Bukan apa? Yap Leng-hong bukan Suhengmu?"

Sela Li Sim-bwe dengan heran.

"Dahulu Suhengku, tapi sekarang bukan,"

Sahut Ubunhiong.

"Apa maksudmu?"

Kata Ciong Tian dengan mengerut kening. Segera Ubun Hiong mengeluarkan sampul yang berisi laporan rahasia gubernur Sucwan si jagal she Yap itu, katanya.

"Silakan Ciong-locianpwe membacanya dan tentu akan paham duduknya perkara."

Ciong Tian coba membacanya, tapi baru membaca beberapa baris saja air mukanya sudah berubah hebat. Waktu Sim-bwe ikut membaca, ia menjadi lebih kaget pula, serunya kurang percaya.

"Apa ... apa betul! Yap Leng-hong adalah mata-mata musuh? Ini tidak mungkin."

Tapi Ubun Hiong lantas menceritakan seluk-beluk diri Yap Leng-hong serta pesan gurunya agar setiba di Siaukim-jwan meminta bantuan pula kepada Ciong Leng dan Ciong Siu untuk bersama-sama membereskan pengkhianat itu, maka mau tak mau Li Sim-bwe percaya juga.

Sesungguhnya Lim Sim-bwe rada penujui Yap Lenghong yang memang ganteng itu, maka ada maksud hendak menjodohkan putrinya kepada pemuda itu.

Sebabnya dia mengizinkan putra-putrinya ikut ke Sucwan justru ingin Ciong Siu bisa lebih rapat bergaul dengan Yap Leng-hong, siapa duga pemuda itu justru adalah pengkhianat, tentu saja ia cemas dan kuatir.

Akhirnya Ciong Tian berkata.

"Pantas kau buru-buru ingin berangkat, kiranya ada urusan begini penting. Baik, aku akan membantu kau agar segera dapat berangkat."

Habis itu ia lantas menghimpun Lwekangnya, diam-diam ia mengerahkan tenaga jari, dalam sekejap saja ia telah menotok berbagai Hiat-to penting di tubuh Ubun Hiong.

Dimana jarinya menyentuh, Ubun Hiong lantas merasakan suatu arus hawa hangat menyusup masuk ke titik jalan darah itu, rasanya nikmat dan segar.

Dengan cara totokan Gong Tian untuk menembus saluran urat-urat nadi yang penting di tubuh Ubun Hiong itu, sebenarnya Gong Tian harus mengorbankan pemupukan tenaga dalam yang dihimpunnya paling sedikit tiga tahun lamanya, tapi demi untuk kepentingan pergerakan, ia tidak memikirkan untung ruginya lagi.

Ia terus menotok dengan cepat sehingga jidatnya penuh butir-butir keringat, ketika ia berhenti menotok, Ubun Hiong merasa sekujur badannya lantas panas seperti terbakar.

Tapi Ciong Tian lantas mengeluarkan sebutir obat pil warna hijau muda dan menyuruh Ubun Hiong meminumnya.

Hanya sebentar saja pemuda itu merasa badannya sudah segar kembali, balikan semangatnya bertambah kuat.

Pil itu adalah Pik-ling-tan yang dibuat dari teratai salju yang tumbuh di puncak Thian-san, khasiatnya menghilangkan panas, memunahkan racun, menguatkan tenaga dan lain-lain lagi.

Maka dalam waktu singkat saja kekuatan Ubun Hiong akibat pukulan Bong Ing ping itu telah dapat dipulihkan kembali.

Selagi Ubun Hiong ragu ragu dengan cara bagaimana dirinya harus lekas berangkat karena Jik liong ki telah hilang, pada saat itulah mendadak terdengar suara ringkikan kuda, itulah suara Jik-liong-ki.

Keruan Ubun Hiong sangat girang.

"He, Jik-liong-ki tidak dibawa lari!"

Serunya.

"Kuda itu sangat cerdik, sesudah Nyo Ceng kabur, dengan jinak ia lantas mengikuti kita, sekarang sedang makan rumput di luar sana."

"Dengan bantuan Jik-liong-ki, kurasa masih keburu mendahului Hong Jong-liong sampai di Sucwan walaupun aku sudah terhalang sehari semalam,"

Kata Ubun Hiong.

"Cuma ada sesuatu yang perlu minta bantuan Cionglocianpwe pula."

"Tentang apa, coba katakan,"

Tanya Ciong Tian.

"Perjalanan Tecu ini sebenarnya bersama seorang kawan,"

Tutur Ubun Hiong.

Lalu ia pun menceritakan janjinya dengan Yap Boh-hoa untuk meninggalkan tandatanda rahasia di sepanjang jalan yang dilaluinya.

Tapi kemarin tanda-tanda rahasia itu putus mendadak karena terjadinya serangan Nyo Ceng, hal ini tentu akan membikin bingung dan kuatirnya teman itu.

Jika bertemu diharap Ciong-locianpwe suka menyampaikan apa yang sudah terjadi itu.

Akhirnya ia pun melukiskan wajah dan memberitahukan nama Yap Boh-hoa.

Ciong Tian kelihatan tertegun mendengar nama Yap Boh-hoa, tiba-tiba ia berkata kepada istrinya.

"Sim-bwe, ingatkah kau pada kepala suku Kazak yang kita kenal pada dua tahun yang lalu, dia menceritakan ada dua orang ayah dan anak she Yap beberapa tahun yang lalu pernah bantu mereka berperang di padang rumput. Katanya mereka memakai she dari bangsa Han, tapi menggunakan nama suku bangsa di daerah sana. Namun dilihat dari wajah mereka memang lebih mirip dengan bangsa Han."

"Betul, aku masih ingat,"

Sahut Li Sim-bwe.

"Tatkala itu kau malah menyangsikan orang itu adalah Yap Tiongsiau, cuma kita tidak sempat mencari tahu lebih lanjut. Jika betul mereka adalah ayah dan anak, maka putranya itu bernama Yap Leng-hong. Putra gubernur Sucwan itu telah memalsukan nama Yap Leng-hong, makanya Kang Hay-thian percaya penuh pemuda itu adalah keponakannya."

Ubun Hiong termenung mendengar percakapan itu, mendadak ia mendusin, serunya.

"Ya, tentu demikian adanya, Yap Boh-hoa itu pasti Yap Leng-hong yang tulen. Pantas saja dia begitu jelas tentang seluk-beluk diri Yap Leng-hong palsu, justru dia yang pertama-tama membongkar tipu muslihat keparat yang memalsukan dia itu."

Ciong Tian sangat senang, katanya.

"Ya, pasti demikian halnya. Aha, Kang Hay-thian salah terima famili palsu, tapi kita yang telah menemukan keponakannya yang tulen, boleh jadi kelak akan ada sidang konfrontasi antara Yap Leng-hong tulen dan palsu. Haha, tentu akan sangat menarik."

"Huh, masih bilang menarik apa?"

Omel Li Sim-bwe.

"Jika sampai anak Siu tertipu olehnya, kukira kau ingin menangis saja tidak bisa."

Maka cepat Cong Tian berkata.

"Baiklah, urusanmu memang penting, bolehlah kau lekas berangkat saja. Aku akan bantu memperhatikan Yap Boh-hoa nanti."

Lim Sim-bwe juga memberi pesan seperlunya untuk disampaikan kepada Ciong Leng dan Ciong Siu bahwa selekasnya mereka juga akan menyusul ke Sucwan.

Habis itu Ubun Hiong lantas berangkat dengan Jik-liongki.

Sepanjang jalan ia tidak menemukan jejak Hong Jongliong lagi, entah sudah mendahului di depan atau masih ketinggalan di belakang.

Kalau Hong Jong-liong lebih dulu sampai di Sucwan tentu urusan bisa runyam, terutama keselamatan sang Sumoay, yakni Kang Hiauhu.

Terkenang kepada sang Sumoay, sambil melarikan kudanya terbayanglah olehnya masa lampau ketika mereka bersama-sama belajar silat di rumah, setiap hari berkumpul di tepi danau Tong-peng yang indah.

Walaupun mereka berdua tidak pernah bersumpah setia, tapi dalam hati sanubari masing-masing sudah lama bersemi asmara.

Diam-diam ia berpikir.

"Meski Sumoay masih kekanakkanakan, tapi ia cukup tegas membedakan antara yang baik dan buruk. Dia tidak tahu Yap Leng-hong itu adalah palsu, tapi sudah lama dia tidak menyukainya, maka Sumoay juga pasti takkan tertipu olehnya."

Walaupun demikian ia belum lega sebelum bertemu dengan sang Sumoay, maka ia mengeprak kuda dengan lebih cepat.

Jik-liong-ki itu dapat menempuh beberapa ratus li dalam sehari, tapi ia masih merasa kurang cepat.

-ooo0dw0ooo Jika Ubun Hiong sedang mengenangkan sang Sumoay, maka Kang Hiau-hu sendiri juga sedang merindukan Ubun Hiong.

Sesudah Kang Hiau-hu ikut pasukan pergerakan yang dipimpin Yap Leng-hong masuk wilayah Sucwan, Yap Leng-hong telah membagi tugas dengan mengirimkan para murid berbagai golongan dan aliran itu untuk membantu pemimpin-pemimpin laskar pemberontak di berbagai tempat.

Ciong Leng, Ciong Siu, Kang Hiau-hu dan lain-lain tetap tinggal bersama di markas besarnya.

Pasukan pergerakan yang dipimpin Yap Leng-hong ini tidak banyak jumlahnya, tapi kebanyakan terdiri dari jago-jago silat yang tangkas, maka dengan mudah saja setiap orang yang dikirim ke berbagai pos itu lantas menjadi pimpinan pasukan setempat.

Sebab itulah Yap Leng-hong menjadi komando tertinggi dari seluruh pasukan pemberontak dan ada hak buat menggerakkan pasukan di berbagai tempat yang jumlahnya mendekati seratus ribu orang.

Tapi diam-diam Kang Hiau-hu selalu mengawasi gerak-gerik Toasuhengnya itu, sikapnya terhadap Yap Leng-hong boleh dikatakan menghormat tapi tidak suka.

Karena Yap Leng-hong sangat licin, maka tiada sesuatu tanda-tanda mencurigakan yang dapat diketemukan Hiau-hu.

Sudah tentu Leng-hong masih tetap mengincar Kang Hiau-hu, tapi setiap kali ia memperlihatkan hasratnya, selalu ia tak digubris oleh si nona sehingga dia hanya bertepuk sebelah tangan belaka.

Kalau Yap Leng-hong tidak diladeni oleh Kang Hiauhu, sebaliknya Ciong Siu memperhatikan dan mendekati Yap Leng-hong.

Meskipun Ciong Siu lebih tua dua-tiga tahun daripada Hiau-hu, tapi selamanya dia tinggal di pegunungan Thian-san dan jarang bergaul dengan khalayak ramai, maka dalam soal kehidupan manusia dia lebih polos daripada Hiau-hu, hakikatnya ia tidak tahu kepalsuan hati manusia dan rintangan orang hidup.

Yang dilihat Ciong Siu hanya kebaikan-kebaikan Yap Lenghong, gantengnya, ramahnya, tangkasnya, mahir silat pintar tulis pula.

Bicara tentang perguruan, dia adalah murid pewaris dari tokoh nomor satu di dunia ini.

Bicara tentang kedudukan, dalam usia semuda itu dia sudah menjadi pucuk pimpinan pasukan pergerakan.

Pendek kata dalam pandangan Ciong Siu, benar-benar Yap Lenghong adalah mirip sepotong batu kemala yang putih bersih tanpa cacad.

Sebaliknya alangkah cerdiknya Yap Leng-hong, tanpa si nona mengutarakan perasaannya juga dia sudah tahu Ciong Siu diam-diam jatuh hati padanya.

Maka diamdiam Leng-hong telah pasang perangkap, dia telah memakai perhitungan "hilang yang satu, bolehlah dapat yang lain".

Jika tidak bisa mempersunting Hiau-hu biarlah Ciong Siu juga boleh.

Sudah tentu Leng-hong masih mempunyai tipu muslihat lain, sebab Ciong Leng adalah wakil pimpinan.

Menurut keputusan rapat besar para ksatria di Bin-san dulu.

Kang Hay-thian telah mengemukakan syarat bahwa setiap perintah komandan pasukan harus mendapat persetujuan dulu dari wakil komandan.

Tatkala itu para ksatria mengira Kang hay-thian sengaja berendah hati karena Ciong Leng dalam perhitungan angkatan persilatan masih sejajar dengan Kang Hay-thi.m sendiri, jadi lebih tua satu angkatan daripada Yap Leng-hong, maka adalah pantas kalau setiap kebijaksanaan Yap Leng-hong ada baiknya minta persetujuan Ciong Leng.

Usul itu telah diterima sehingga Ciong Leng yang menjabat wakil komandan seakan-akan merangkap menjadi pengawas.

Sebagai orang berdosa, memangnya Leng-hong sudah menerka gurunya sengaja memasang Ciong Leng untuk mengawasi gerak-geriknya.

Apalagi pada waktu akan berangkat Kang Hay-thian telah memberi pesan pula kepada Leng-hong agar segala sesuatu urusan harus dirundingkan dengan Ciong Leng.

Ini lebih membuktikan pula kebenaran dugaan Leng-hong.

Sekarang Leng-hong dapat mengetahui perasaan cinta Ciong Siu padanya, ia merasa ini adalah suatu syarat bagus untuk memperalatnya, maka terkadang ia pun suka melayani Ciong Siu dengan mesra untuk lebih menjinakkan nona itu.

Adapun Ciong Leng sendiri memangnya tiada menaruh curiga kepada Yap Leng-hong, maka terhadap setiap tindak-tanduk dan kebijaksanaan Yap Leng-hong sama sekali tidak membantah.

Jadi di luarnya Yap Leng-hong pura-pura menghormati Ciong Leng, tapi sebenarnya main kuasa dan melakukan segala sesuatu dengan sesuka hatinya.

Malam itu justru Yap Leng-hong telah memberi perintah siap siaga sebab besok akan mulai dilakukan penyerangan ke Siau-kim-jwan, pasukan-pasukan pergerakan dari berbagai jurusan sudah terhimpun, markas besar induk pasukan Yap Leng-hong berada di bawah gunung.

Prajurit-prajurit telah diperintahkan istirahat agar besok pagi-pagi bisa bergerak.

Waktu itu adalah permulaan musim semi, di pucuk gunung masih diliputi oleh salju, namun di lereng gunung tetumbuhan sudah tumbuh dengan suburnya dan bunga mekar mewangi.

Suasana malam di bawah sinar bulan yang terang itu sangat indah.

Saat itu Kang Hiau-hu sedang bersama Ciong Siu, tibatiba Kang Hiau-hu memuji malam yang menarik itu.

Tapi Ciong Siu telah berkata.

"Masakah kau masih iseng menikmati keindahan malam bulan purnama ini, aku sendiri sedang memikirkan pertempuran yang akan terjadi besok pagi."

"Ya, aku pun rada kuatir,"

Ujar Hiau-hu.

"Kuatir? Kuatir apa?"

Tanya Ciong Siu heran. Ia sangka Hiau-hu menguatirkan kekalahan bagi pasukan pergerakan. Jika demikian itu ia sendiri tidak sependapat.

"Kuatir tentang apa aku sendiri tak bisa menjelaskan,"

Sahut Hiau-hu.

"Hanya lapat-lapat aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aku tidak paham sebab apa Yap-suko menghimpun semua pasukan pergerakan ke sini."

"Sudah tentu untuk melepaskan kawan kita yang terkurung di Siau-kim-jwan,"

Kata Ciong Siu.

"Pasukan kerajaan dipusatkan di sini, sudah tentu kita juga harus menghadapinya dengan kekuatan besar. Ini kan mudah dipahami?"

"Aku bukan ahli militer, tapi aku merasa cara pemusatan pasukan Yap-suko ini rada ganjil dan tidak menguntungkan kita,"

Kata Hiau-hu.

"Sejak kita berada di sini, hampir setiap pertempuran selalu menang. Kukira Yap-suko sudah mempunyai perhitungan yang meyakinkan, maka aku bahkan penuh semangat dan tidak merasa kuatir."

"Tampaknya kau sangat percaya kepada kemampuan Yap-suko,"

Kata Hiau-hu. Ciong Siu seperti berpikir sesuatu, sejenak kemudian barulah berkata.

"Adik Hu, aku ingin bertanya padamu, tapi janganlah kau menyesal."

"Silakan bicara saja, mengapa mendadak enci Siu sungkan-sungkan padaku?"

Wajah Ciong Siu tiba-tiba bersemu merah, lalu katanya dengan suara perlahan.

"Aku ingin bertanya padamu, agaknya kau tidak begitu suka kepada Yapsukomu bukan?"

"O, jadi kau pun sudah merasakan hal ini?"

"Ya, makanya aku merasa heran. Kalian adalah saudara seperguruan, dia adalah saudara misanmu pula, kalian seharusnya bergaul dengan sangat rapat. Tapi mengapa kau tidak suka padanya dan menganggapnya seakan-akan orang luar saja."

Hiau-hu tidak langsung menjawab pertanyaan Ciong Siu itu, ia pun merenung sejenak, lalu balas bertanya.

"Enci Siu, jika demikian agaknya engkau sangat menyukai Yap-suko bukan?"

"Bukan, setan,"

Omel Gong Siu dengan paras merah "Aku tanya kau sebaliknya malah tanya padaku."

Dia tidak menjawab pertanyaan Hiau-hu, ini sama dengan mengiakan secara diam-diam.

"Maafkan, enci Siu, aku pun ingin bertanya sesuatu pulamu yang mestinya tidak pantas kukemukakan, hendaklah kaupun jangan menyesal."

"Katakan saja, kita adalah saudara sendiri, mengapa sungkan?"

"Tampaknya Yap-suko akhir-akhir ini suka mencari kesempatan mendekati kau, bukan?"

"Setan, kukira urusan yang benar, tak tahunya kau hendak mengolok-olok aku saja."

"Tidak, yang kutanya ini justru urusan sesungguhnya."

Ciong Siu terkesiap, sahutnya kemudian.

"Ya, akhirakhir ini aku memang lebih sering bertemu dengan Yapsukomu, tapi juga sekedar tukar pikiran tentang ilmu silat saja. Bukankah aku pun sering berbuat demikian dengan kau?"

"Rupanya kau tidak mau menyatakan isi hatimu yang sesungguhnya. Bukankah kau menyukai Yap-suko? Tentunya tidak melulu tukar pikiran tentang ilmu silat saja?"

"Aku hanya kagum terhadap Yap-suko yang cerdik pandai. Kau selalu mempunyai pandangan sepihak terhadap dia, itulah yang membuat aku heran."

"Apakah kau pernah mengutarakan isi hatimu kepadanya?"

Tanya Hiau-hu pula. Muka Ciong Siu menjadi merah pula, sahutnya.

"Setan, memangnya kau anggap aku sebagai seorang gadis yang tidak kenal malu?"

Di balik kata-katanya itu sebenarnya secara tidak langsung dia sudah mengakui suka kepada Yap Leng-hong, hanya tidak menjawab secara terus terang.

"Jika demikian, apakah Yap-suko sendiri pernah menyatakan perasaannya padamu?"

"Dia sibuk dengan tugasnya yang berat, mana dia mau membicarakan urusan pribadinya padaku"

Sahut Ciong Siu pula dengan kepala menunduk malu-malu.

Jawaban Ciong Siu ada sebagian memang benar.

Maklumlah, terhadap Ciong Siu memang Yap Leng-hong hanya ingin memperalat buat sementara saja, biarpun dia selalu menghadapi sikap dingin dari Kang Hiau-hu, tapi dia masih belum putus asa untuk menjadi menantu Kang Hay-thian.

Sebab itulah terhadap Ciong Siu dia sengaja main 'bajing Ioncaf, kadang-kadang mendekati, lain saat menjauhi untuk menggoda hati si nona yang belum berpengalaman itu.

Sebab itulah di antara mereka memang belum ada yang saling menyatakan cinta masing-masing.

Mendengar jawaban tadi, tiba-tiba Hiau-hu menghela napas lega dan berkata.

"Baik, masih mendingan jika demikian."

Kembali Ciong Siu tercengang.

"Apa artinya masih mendingan?"

Tanyanya heran.

"Enci Siu,"

Sahut Hiau-hu dengan terus terang.

"Aku ingin bicara dari hati ke hati padamu, untuk ini hendaklah kau jangan marah. Tentang diri Yap-suko, kukira ada lebih baik kau menjauhi saja, dia bukanlah orang yang dapat dipercaya."

"Yap-sukomu tak dapat dipercaya?"

Ciong Siu menegas dengan bingung.

"Apa ... apa maksudmu? Dalam hal apa dia tidak dapat dipercaya?"

"Apakah kau masih belum paham? Ayahku mengharuskan Yap-suko berunding dulu dengan kakakmu sebelum mengambil sesuatu kebijaksanaan, soalnya justru karena dia tak bisa dipercaya,"

Sahut Hiauhu. Kejut Ciong Siu tak terkatakan, hampir-hampir ia tidak percaya kepada telinganya sendiri, sesudah tertegun sejenak barulah ia bertanya pula.

"Adik Hu, apa yang kau katakan? Apakah kau maksudkan dia tidak dapat dipercayai dalam hal perlawanan tehadap musuh?"

Hiau-hu mengangguk perlahan. Keruan Ciong Siu bertambah kaget, katanya.

"Apakah benar-benar demikian halnya? Jika begitu mengapa ayahmu mengangkatnya sebagai pewarisnya dan membiarkan dia memimpin pasukan pergerakan ini?"

"Ayah baru mengetahui kepalsuannya pada malam sebelum pasukan pergerakan ini terbentuk,"

Sahut Hiauhu "Cuma bukti nyata belum diketemukan. Sebab itulah ayah menghendaki kakakmu diangkat sebagai pengawas, maksudnya adalah menjaga segala kemungkinan."

"Jadi bukti nyata belum diketemukan, apakahh bukan ayahmu yang salah mencurigainya?"

"Bukti memang belum ada, tapi sudah ada petunjukpetunjuk yang jelas."

"Petunjuk jelas apa?"

Tanya Ciong Siu kembali tegang lagi "Kau tentu tahu di dunia Kangouw ada seorang Jianjiu koan-im Ki Seng-in? Suaminya adalah begal terkenal dari kwantung yang bernama Utti Keng?"

"Pernah aku mendengar cerita tentang mereka, kabarnya jejak mereka telah menghilang. Ada yang mengatakan mereka telah ditangkap pihak kerajaan. Apa hubungan kedua orang itu dengan Yap-sukomu?"

Segera Hiau-hu menceritakan pengalaman Utti Keng dan isterinya, lebih-lebih peristiwa yang terjadi di rumahnya ketika Ki Seng in bermalam di sana, katanya kemudian.

"Besok paginya ketika Ki Seng in berangkat dari rumah kami, di tengah jalan dia lantas mengalami bencana sehingga tak diketahui mati-hidupnya. Kawannya yang bernama Gak Ting telah datang ke rumahku dan memberi kesaksian bahwa ada orang telah melaporkan kepada anjing kaki-tangan kerajaan jejak Ki Seng-in itu. Katanya kuda yang ditunggangi Ki Seng-in diketahui keracunan pula, sebab itu Gak Ting telah membikin rusuh di rumahku."

"Jadi dia anggap di rumahmu tentu ada bersembunyi mara mata musuh,"

Kata Ciong Siu terkesiap.

"Memang begitulah,"

Sahut Hiau-hu.

"Padahal malam itu di rumah kami hanya ada empat orang, ibu dan aku sudah tentu bukan, tinggal dua orang lagi adalah Toasuko Yap Leng-hong serta Jisuko Ubun Hiong."

"Bukan mustahil Ubun Hiong itulah orangnya,"

Ujar Ciong Siu "Dari ceritamu tadi agaknya yang patut dicurigai adalah Ubun Hiong."

"Tidak, aku yakin pasti bukan Jisuko,"

Kata Hiau-hu.

"Darimana kau mengetahui dan apa dasar keyakinanmu itu?"

"Aku dapat mempercayai sepenuhnya."

"Tapi Toasukomu adalah murid pewaris ayahmu, juga keponakan ibumu sendiri, bukankah dia harus lebih dipercayai?"

"Itulah sebabnya,"

Kata Hiau-hu sambil menghela napas.

"Justru karena itulah maka ibu hanya mencurigai Jisuko dan percaya kepada Toasuko. Akibatnya Jisuko telah diusir pergi. Akan tetapi, aku tetap mempercayai Jisuko."

Tiba-tiba Ciong Siu merasa paham, ia membatin.

"Ah, kiranya anak dara ini telah jatuh cinta kepada Jisukonya, pantas dia tidak menyukai Toasukonya."

Karena merasa sudah menemukan duduk perkaranya, dengan tersenyum Ciong Siu lantas berkata.

"Adik Hu, agaknya kau memang mempunyai pandangan sepihak atas diri Toasukomu. Bukankah sejak dia memimpin pasukan pergerakan kita ini sudah sekian banyak kemenangan yang telah diperolehnya dalam pertempuran, andaikata dahulu kau mencurigainya, tentu sekarang harus percaya padanya. Boleh jadi kedua Suhengmu bukanlah mata-mata musuh semua, tapi masih ada orang lain yang belum kita ketahui."

Ciong Siu tidak mengenal pribadi Ubun Hiong, karena dia tidak ingin berdebat dengan Hiau-hu, maka ia coba mengelakkan tuduhan untuk keduanya.

Sudah tentu yang dia utamakan adalah Yap Leng-hong, Ubun Hiong hanya sebagai ikutan saja.

Kemenangan di medan pertempuran adalah bukti nyata, hal ini tak bisa dibantah Kang Hiau-hu.

Tapi terhadap kenyataan ini terkadang ia pun merasa bingung dan meragukan dirinya sendiri yang salah mencurigai Yap Leng-hong.

Namun dia tetap berkata.

"Enci Siu, kutahu kau mengira aku membela Jisuko. Pendek kata, segala sesuatunya ayah sependapat dengan aku, yaitu Toasuko yang lebih mencurigakan daripada Jisuko."

"Sebab apa?"

Tanya Ciong Siu.

"Ayah buru-buru berangkat lagi sehingga tidak sempat bicara lebih jelas dengan aku,"

Kata Hiau-hu.

"Namun beliau sudah pasti akan menyelidiki persoalan ini sehingga jelas. Ayah telah berangkat ke kotaraja dengan maksud menolong keluar Utti Keng dari penjara. Selain itu beliau akan mencari Ki Seng-in dan Jisuko pula. Asalkan satu di antara ketiga orang itu dapat diketemukan ayah, tentu segala urusan akan menjadi jelas pula."

"Betul juga. Bila ayahmu sudah pulang, tentu duduknya perkara akan menjadi terang. Sementara ini kita jangan buru-buru mencurigai Yap-suko."

"Umpama kali ini Yap-suko memberi perintah akan menyerang Siau-kim-jwan, apakah sebelumnya telah berunding dengan kakakmu."

"Hal ini aku tidak tahu,"

Sahut Ciong Siu, padahal dia sudah mengetahui.

Konsep perintah Yap Leng-hong itu selesai dibuat barulah disodorkan kepada Ciong Leng, sebelumnya Ciong Siu memang tidak tahu, tapi untuk menghindarkan curiga Kang Hiau-hu, maka sengaja ditutupinya.

"Enci Siu,"

Kata Hiau-hu pula.

"aku kuatir kau tertipu, maka malam ini aku bicara padamu tentang urusan ini. Hendaklah kau jangan menyesal."

"Tidak, aku tahu maksud baikmu. Aku sendiri dapat menjaga diri,"

Sahut Ciong Siu dengan tertawa.

"Kumohon pembicaraan tadi janganlah enci Siu katakan kepada orang lain termasuk Yap baru sampai di sini ucapan Kang Hiau-hu, tiba-tiba tertampak muncul seseorang ke arahnya sini. Kiranya adalah Yap Lenghong. Diam-diam Hiau-hu terkejut, pemuda itu datang dari bawah gunung, jangan-jangan sengaja mengintip pembicaraannya, demikian Hiau-hu ragu-ragu. Dalam pada itu Yap Leng-hong sudah mendekati mereka, ia menegur dengan tertawa.

"Wah, sudah malam begini kalian masih cari angin di sini? Apa yang kalian bicarakan? Asyik benar tampaknya."

"Ah, obrolan biasa saja sampai lupa waktu, tentu sekarang sudah jauh malam,"

Sahut Ciong Siu.

"Malam dengan sinar purnama yang indah begini memang membikin orang lupa kantuk, biarlah aku pun ikut dalam obrolan kalian,"

Kata Leng-hong menyengir. Namun Hiau-hu pura-pura menguap, katanya.

"Aku menjadi mengantuk sekarang. Enci Siu, marilah kita pulang tidur saja."

"Saking repotnya oleh urusan-urusan tugas sampai kita jarang bertemu. Eh, ya, ada sesuatu dalam hal latihan Lwekang yang ingin kuminta petunjuk nona Ciong. Tapi bila besok sudah mulai peperangan lagi, entah kapan baru bisa bertukar pikiran tentang ilmu silat pula."

Sambil berkata Yap Leng-hong melirik pula ke arah Ciong Siu dengan harapan si nona tetap tinggal di situ. Dasar sudah mabuk asmara, dengan agak malu-malu Ciong Siu berkata.

"Adik Hu, bolehlah kau tinggal sebentar lagi di sini."

Diam-diam Hiau-hu mendongkol, katanya dengan ketus.

"Jika kau ingin bicara dengan Yap-suko, boleh kau tinggal lagi di sini. Biarlah aku pulang saja dulu."

Watak Hiau-hu memang masih kekanak-kanakan, sama sekali tak terpikir olehnya apa kemungkinannya bila Ciong Siu ditinggalkan sendirian di situ.

Begitu habis berkata segera ia melangkah pergi tanpa menoleh.

Sudah tentu Ciong Siu juga mendongkol karena tersinggung, maka ia pun tidak menghiraukan lagi kepergian Hiau-hu.

Sesudah Hiau-hu pergi, dengan tertawa Leng-hong berkata.

"Perangai Sumoayku ini memang kurang baik, hendaklah kau suka maklum, mengingat diriku harap kau jangan marah padanya."

Dasar licik, ucapannya ini seakan menunjukkan rasa sayangnya kepada sang Sumoay, berbareng juga untuk mengambil hati Ciong Siu seakan dia lebih condong ke pihak nona ini.

"Masakah aku bisa marah pada Hiau-hu?"

Sahut Ciong Siu tertawa.

"Selamanya juga aku menganggap dia sebagai adikku sendiri. Sebenarnya perangainya juga tiada yang aneh, hanya wataknya agak kepala batu. Kukira kau yang harus lebih mendekati dia agar di antara sesama saudara seperguruan tidak menjadi renggang."

"Ya, cuma aku ... aku kuatir kau salah paham,"

Lenghong sengaja berbisik dengan tersenyum. Muka Ciong Siu menjadi merah, katanya dengan malumalu.

"Ah, aku salah paham apa?"

"Aku hanya bergurau saja padamu,"

Ujar Leng-hong.

"Ilmu silatmu tinggi, perangaimu halus dan.."

"Terima kasih, janganlah kau memuji padaku saja, mari kita bicara urusan yang benar,"

Kata Ciong Siu.

"Bicara urusan yang benar, ya, aku tahu kau adalah seorang yang simpatik dan berpikiran luas, kau ingin aku dan Sumoayku akur satu sama lain. Akan tetapi, ai sayang ..."

Sampai di sini Leng-hong telah menghela napas panjang.

"Sayang apa?"

Ciong Siu menegas.

"Sayang Hiau-hu sudah terlalu salah paham padaku,"

Sahut Leng-hong.

"Lantaran suatu hal dia telah sedemikian benci padaku. Padahal dia yang telah salah paham."

"Jika demikian mengapa tidak kau terangkan persoalannya kepadanya?"

"Soal ini aku tidak leluasa menjelaskan sendiri padanya, andaikan kukatakan juga dia takkan percaya."

"Urusan apakah?"

Tanya Ciong Siu pula. Padahal diamdiam ia sudah tahu tentu urusan yang menyangkut Ubun Hiong itu, cuma dia masih belum jelas apa maksud yang terkandung dalam ucapan Yap Leng-hong itu.

"Apakah Hiau-hu pernah bicara tentang diusirnya Ubun-sute oleh ibu guruku?"

Kata Leng-hong.

"Hal ini disebabkan tertangkapnya Ki Seng-in oleh pihak kerajaan, karena pengaduan Gak Ting, ibu guru merasa Ubun-sute paling pantas dicurigai, maka terpaksa mengusirnya pergi. Tapi Sumoay masih menyangsikan aku yang telah mengadu-biru tentang kejelekan Ubunsute, padahal diam-diam aku malah melindungi dia, kalau tidak, mungkin Ubun Hiong takkan melulu diusir pergi saja. Hal ini sampai sekarang belum diketahui oleh ibu guru dan Sumoay, aku pun tidak berani mengatakan kepada mereka. Sekarang akan kuceritakan padamu, hendaklah kau jangan memberitahu Hiau-hu agar dia tidak berduka."

Dari nadanya seakan Yap Leng-hong hendak menceritakan bahwa Ubun Hiong pasti adalah mata-mata musuh yang pernah dipergoki olehnya, maka diam-diam Ciong Siu merasa tidak enak bagi Kang Hiau-hu.

Dalam pada itu Leng-hong telah meneruskan.

"Malam itu aku dan Ubun-sute sama-sama pergi ke Tong-pengtin dan mengerjakan tugas masing-masing. Aku habis membeli obat, lalu aku menunggu di tempat yang telah dijanjikan, sampai lama sekali Ubun-sute masih belum muncul, akhirnya aku pergi mencarinya dan tanpa sengaja aku menemukan sesuatu rahasianya."

"Rahasia apa?"

Ciong Siu menegas dengan mata terbelalak lebar.

"Aku melihat dia baru keluar dari sebuah restoran yang baru dibuka di kota itu,"

Tutur Leng-hong.

"Kulihat dia mengadakan hubungan dengan seorang laki-laki kekar secara sembunyi-sembunyi, ketika keluar, kulihat laki-laki itu menyodorkan suatu bungkusan apa-apa kepada Ubun-sute. Akhirnya baru diketahui bungkusan itu adalah racun."

"Sesudah pulang mengapa kau tidak melapor kepada ibu gurumu?"

Ujar Ciong Siu.

"Waktu itu aku belum tahu jelas apa yang terjadi, besoknya sesudah kedatangan Gak Ting baru diketahui duduknya perkara,"

Kata Leng-hong. la telah menimpakan semua perbuatannya sendiri kepada Ubun Hiong, karena ceritanya yang menarik itu sehingga Ciong Siu percaya saja segala bualannya.

"Usia Sumoay masih sangat muda, dia tertipu dan tetap menyukai Ubun Hiong, sebab itulah aku telah berpikir masak-masak dan merasa lebih baik kututupi apa yang telah kulihat itu. Jika kulaporkan kepada ibu guru tentu Ubun Hiong akan dibunuh olehnya dan ini berarti membikin susah Sumoay."

"Tapi kalau soal ini tak dijelaskan kepada adik Hu, tentu dia akan merana selama hidup,"

Ujar Ciong Siu agak cemas.

"Semoga Ubun Hiong akhirnya insyaf dan kembali ke jalan yang benar, maka hal ini boleh tetap kita tutupi agar tidak mempengaruhi perasaan adik Hu,"

Kata Yap Leng-hong.

"Engkau benar-benar seorang yang baik hati,"

Ujar Ciong Siu dengan terharu.

Saat ini dia benar-benar sudah percaya penuh terhadap Yap Leng-hong, tanpa terasa teringat olehnya apa yang diceritakan Kang Hiau-hu tadi sehingga timbul rasa kuatir pada wajahnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan adik Siu?"

Tanya Lenghong dengan tersenyum. Untuk pertama kalinya ini Leng-hong memanggilnya "adik Siu", keruan Ciong Siu merasa syur sehingga tanpa pikir tercetus dari mulutnya.

"Yap-toako, aku ... aku sedang menguatirkan dirimu."

"Kuatir tentang apa?"

Sahut Leng-hong sambil memegang tangan si nona.

"Tadi adik Hu bicara padaku, katanya ... katanya Suhumu juga rada..."

"Ya, aku tahu Suhuku juga rada menyangsikan diriku,"

Sela Leng-hong.

"Maklumlah, ayah tentu lebih percaya kepada putrinya, tapi kuyakin persoalan ini cepat atau lambat tentu akan dibikin terang."

"Bukan saja Kang-tayhiap mencurigaimu, bahkan beliau telah pergi ke kotaraja, kabarnya justru ingin menyelidiki sebab musabab tertangkapnya Utti Keng dan istrinya."

Diam-diam Leng-hong terkejut, tapi lahirnya ia purapura tenang saja, bahkan ia menjawab dengan tersenyum.

"Itulah sangat bagus, justru itulah yang kuharapkan bila duduknya perkara dapat dibikin terang oleh Suhu."

"Tapi kau harus tahu bahwa gurumu juga akan mencari Ubun Hiong,"

Kata Ciong Siu Siu.

"Maka bukan mustahil dia akan mempunyai kesempatan memfitnah lebih dulu padamu. Mengingat gurumu sangat sayang putrinya, boleh jadi dia pun akan percaya kepada omongan Ubun Hiong, bila demikian tentu kaulah yang akan penasaran."

Memangnya yang paling dikuatirkan Yap Leng-hong adalah belum diketahui cara bagaimana gurunya akan bertindak, sekarang diperoleh keterangan dari Ciong Siu, keruan ia menjadi girang dan kuatir, pikirnya.

"Dunia demikian luasnya, belum pasti Suhu akan dapat menemukan Ubun Hiong, namun selama Ubun Hiong tetap ada, selama itu pula akan merupakan bencana bagiku. Dalam dua hari ini Hong Jong-liong ingin mengadakan pertemuan rahasia denganku, kepadanya akan kuminta menumpas penyakit tersembunyi ini. Sebagai seorang jagoan istana tentu dia akan dapat mengerahkan kawan-kawannya untuk bantu menangkapnya, dengan demikian tentu akan lebih mudah mencarinya daripada Suhu."

Dalam batin ia merancang muslihat keji itu, tapi lahirnya dia tetap tenang-tenang saja, katanya kemudian.

"Seorang laki-laki sejati harus berani bertanggung jawab, biarpun aku mesti merasa penasaran lantaran Ubun Hiong, daripada nanti membikin susah kepada Sumoay."

"Yap-toako, engkau sungguh seorang yang baik hati ..."

Baru Ciong Siu bicara sampai di sini, mendadak dari jauh terdengar suara derapan kaki kuda.

Belum lagi Ciong Siu mendengar jelas, lebih dulu Yap Leng-hong sudah bersuara heran.

Cepat ia melepaskan tangan si nona terus menuju ke arah suara kaki kuda itu dengan langkah cepat.

Perbuatan Yap Leng-hong yang mendadak ini sudah tentu membikin kaget Gong Siu, ketika dia sadar dari rasa bingungnya, sementara itu bayangan Yap Lenghong sudah tidak kelihatan lagi.

"Apakah dia melihat sesuatu yang mencurigakan atau kedatangan musuh?"

Pikirnya.

Segera ia pun menyusul ke arah Yap Leng-hong dengan maksud akan membantunya bilamana ada bahaya.

Sebab apakah Yap Leng-hong pergi secara tergesagesa?

Kiranya suara derapan kuda di malam sunyi itu bagaikan ujung belati yang menyayat hatinya.

Suara derap kaki kuda tadi sangat cepat dan kerap, hal ini menandakan pendatang itu ada urusan penting, sedangkan kuda tunggangannya itu pasti pula bukan kuda biasa.

Seketika timbul rasa cemas dan kuatir dalam hati Yap Leng-hong, yang dia kuatirkan bukan datangnya musuh, tapi kuatir pendatang itu akan membongkar rahasianya.

Pasukan pergerakan ini berkemah di kaki gunung, pada bagian depan di pos penjaga pertama itu adalah lembah gunung.

Ketika derap kuda tadi mendadak berhenti, tempat berhentinya itu tepat di pos penjaga depan sana.

Dengan cepat Yap Leng-hong berlari ke bawah dengan memotong jalan dari lamping gunung.

Sesudah dekat, waktu dia memandang ke bawah, dilihatnya prajuritprajurit penjaga itu sedang mengadang seorang penunggang kuda, tampaknya sedang memeriksa pendatang itu.

Kuda yang berada di samping pendatang itu jelas berwarna merah maron, sekali pandang saja sudah lantas dikenal Leng-hong sebagai Jik-liong-ki milik Suhunya.

Girang dan kejut pula perasaan Leng-hong, diam-diam ia bersyukur.

"Untung bukan Suhu sendiri yang datang."

Tak perlu diterangkan lagi siapa pendatang itu, dia memang bukan lain daripada Ubun Hiong adanya.

Kiranya Ubun Hiong telah menempuh perjalanan siang dan malam dengan harapan akan mendahului Hong Jong-liong sampai di Siau-kim-jwan.

Dia memegang tanda pengenal pemberian pimpinan Thian-li-kau, maka sepanjang jalan dia tidak menemukan kesukaran apa-apa dan dengan gampang dia dapat mengetahui dimana letak markas besar pimpinan pasukan pemberontak.

Akan tetapi setiba di depan pos penjaga markas besar, Ubun Hiong telah mendapat rintangan.

Sesuai dengan rencana, Ubun Hiong tidak ingin membikin onar, segera ia menerangkan siapa dirinya dan minta prajurit penjaga mengundang keluar Ciong Leng untuk bertemu.

Perwira piket menjadi curiga malah demi mendapat keterangan Ubun Hiong itu.

Ia heran bilamana Ubun Hiong mengaku sebagai murid Kang Hay-thiap, mengapa tidak bertemu dengan komandan saja yang merupakan Suhengnya, sebaliknya hanya minta bertemu dengan wakil komandan.

Karena rasa curiga itu, ia tetap berpegang teguh disiplin dan melarang masuknya Ubun Hiong, sudah tentu Ubun Hiong sangat mendongkol, dengan sendirinya ia tak dapat menerangkan rahasianya kepada perwira piket itu.

Dan selagi mereka saling berdebat itulah tibatiba Yap Leng-hong telah muncul.

Perwira piket itu menjadi girang, serunya.

"Itu dia komandan telah datang sendiri, kita tak perlu repot-repot lagi. Silakan engkau bicara langsung dengan beliau saja."

Dengan muka berseri-seri Yap Leng-hong lantas menyapa.

"Ubun-sute, dimanakah kau berada selama setahun ini? Sungguh aku sangat merindukan kau. Malam-malam kau datang kemari, apakah ada urusan penting, mengapa kau hanya mencari Ciong-toako saja, bukankah agak janggal?"

Sebenarnya hati Ubun Hiong menjadi panas demi tampak Yap Leng-hong, tapi dasar dia memang seorang yang bisa berpikir panjang, sedapat mungkin ia bersabar dan menahan rasa gusarnya, segera ia menjawab.

"Siaute adalah murid buangan maka tidak berani minta bertemu pada Suheng."

Sudah tentu Ubun Hiong tak bisa menandingi kelicikan Yap Leng-hong, apalagi Ciong Siu telah membeberkan hal Ubun Hiong, maka Leng-hong sudah yakin kedatangan Ubun Hiong ini tentu tidak menguntungkan dirinya.

Dengan sendirinya diam-diam ia sudah merencanakan akan menghabisi pemuda seterunya ilu.

Sebabnya Leng-hong pura-pura ramah itu adalah untuk memancing kelengahan Ubun 1 liong.

Maka setelah Ubun Hiong bicara, dengan terbahakbahak Leng-hong berkata pula.

"Ubun-sute, mengapa kau berkata demikian? Selama menjadi Suhengmu, apakah kau masih belum tahu pikiranku terhadapmu? Biarpun ibu guru telah mengusir kau, tapi aku masih tetap menganggap kau sebagai Sute sendiri. Sudahlah, ada urusan apa boleh kita bicarakan nanti, marilah kita pulang dulu."

Sama sekali Ubun Hiong tidak berprasangka jelek terhadap Yap Leng-hong, siapa duga baru habis berkata mendadak tangan Leng-hong bergerak, dua buah Kim-cipiau, senjata rahasia berbentuk mata uang, terus menyambar ke depan.

Karena jaraknya sangat dekat, hendak mengelak juga tidak sempat lagi.

"Plok-plok", kontan Hiat-to bagian pinggang tertimpuk. Sambil mengerang Ubun Hiong jatuh terguling sejauh dua meter lebih, menyusul Yap Leng-hong telah menubruk maju pula sambil membentak.

"Berani benar mata-mata musuh hendak mengelabui aku! Biarpun kau adalah adik kandungku juga akan kucabut nyawamu!"

Berbareng pedangnya terus menikam.

Untunglah bagi Ubun Hiong sesudah mendapat penyaluran tenaga dalam dari Ciong Tian sehingga beberapa urat nadinya telah dapat ditembus, Lwekangnya sekarang sudah berbeda daripada dahulu.

Meski Hiat-to tertimpuk Kim-ci-piau, namun dia tidak sampai jatuh pingsan.

Pada detik yang berbahaya itu dia masih sempat melolos pedang untuk menangkis, akan tetapi dia kalah tenaga, orangnya berbaring pula, maka begitu kedua pedang beradu "trang", pedangnya tergetar putus oleh tenaga dalam Yap Leng-hong.

"Hehe, Ubun Hiong, apakah kau masih ingin hidup?"

Ejek Yap Leng-hong dengan menyeringai. Waktu dia hendak menikam untuk kedua kalinya, tibatiba terdengar suara jeritan Ciong Siu.

"Yap-toako, ja ... jangan!"

Sebagaimana diketahui, diam-diam Ciong Siu telah menyusul ke arah Yap Leng-hong, maka dia masih sempat mendengar sebagian pembicaraan Leng-hong tadi dan diketahuinya pemuda yang baru datang itu adalah Ubun Hiong.

Bahwasanya mendadak Yap Leng-hong turun tangan keji hendak membinasakan Ubun Hiong, hal ini bukan saja tak diduga oleh Ubun Hiong, bahkan juga di luar dugaan Ciong Siu.

Tadi baru saja Leng-hong mengutarakan isi hatinya padanya, katanya tidak tega membikin duka sang Sumoay, lebih suka menanggung penasaran daripada membikin susah Sute dan Sumoaynya.

Kata-kata itu seakan-akan masih mengiang di telinganya, tapi perbuatan Yap Leng-hong sekarang sudah lain dengan ucapannya.

Begitulah, karena seruan Ciong Siu tadi, Leng-hong agak merandek, kesempatan itu telah digunakan oleh Ubun Hiong untuk menggelundung ke samping dengan sekuatnya sehingga tusukan Leng-hong yang kedua kalinya menjadi meleset juga.

Walaupun agak rikuh karena kedatangan Ciong Siu, tapi Leng-hong tidak lantas berhenti.

Sesudah ragu-ragu sejenak segera ia memburu maju pula, serunya.

"Aku terpaksa harus membunuhnya, adik Siu, terhadap matamata musuh tidak ada ampun lagi!"

Ciong Siu menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya pula.

Dalam pada itu keadaan Ubun Hiong telah bertambah payah.

Hiat-to yang tertimpuk Kim-ci-piau tadi karena tidak mendapat pengurutan, sekarang sudah mulai kaku sehingga hilang daya rasanya.

Sebentar lagi tentu dia takkan bisa berkutik sama sekali.

Tampaknya serangan ketiga Leng-hong pasti akan membinasakan Ubun Hiong.

Pada saat menentukan itulah sekonyong-konyong Leng-hong merasa di belakangnya ada angin sambaran senjata tajam, ia terkejut dan lekas menarik kembali pedangnya untuk menangkis ke belakang.

"Trang", ujung pedang Yap Leng-hong tahu-tahu terpapas kutung oleh senjata penyerang itu. Kejut dan girang sekali Ubun Hiong, sekuatnya ia berseru.

"Sumoay!"

Sayang dia sudah kehabisan tenaga, terutama karena Hiat-to yang tertimpuk Kim-ci-piau itu, maka habis bersuara ia pun tak sadarkan diri lagi.

Waktu Leng-hong menggeser ke samping dan berpaling, dilihatnya Kang Hiau-hu sudah berdiri di situ dengan alis menegak dan mata mendelik.

"Mengapa kau hendak membunuh Jisuko?"

Tegurnya dengan marahmarah.

Kiranya sepulangnya ke kamar sendiri, Hiau-hu merasa tidak tentram meninggalkan Ciong Siu sendirian bicara dengan Yap Leng-hong, akhirnya dia keluar lagi untuk mencarinya, tak tersangka kebetulan memergoki kedatangan Ubun Hiong ini.

Melihat Ciong Siu tak bisa mencegah keganasan Leng-hong, segera Hiau-hu bertindak dengan cara yang paling tepat, yaitu menyerang Yap Leng-hong.

Dari malu Yap Leng-hong menjadi gusar, serunya.

"Sebagai komandan aku hendak melaksanakan hukum, mengapa kau berani merintangi aku?"

"Kalau komandan apa lantas boleh sembarangan membunuh orang? Berdasarkan hukum apa kau boleh bertindak secara sewenang-wenang?"

Sahut Hiau-hu.

"Kukira kau sengaja hendak membunuh untuk menghilangkan saksi."

Ucapan terakhir ini benar-benar menusuk perasaan Yap Leng-hong, keruan ia berjingkrak gusar.

Lebih-lebih ia kuatir bila nanti Ubun Hiong sudah sadar, tentu rahasianya akan terbongkar, maka dengan murka ia membentak.

"Budak gila, kau berani sembarangan omong dan membangkang kepada pimpinan, aku justru ingin membinasakan Ubun Hiong. Kau mau menyingkir atau tidak?"

Habis itu segera ia menahaskan pedangnya ke arah Kang Hiau-hu.

Selamanya Hiau-hu belum pernah melihat Toasukonya sedemikian bengisnya, ia menjadi rada takut, namun begitu ia tetap tidak mau menyingkir.

"Trang", kembali kedua muda-mudi bergebrak pula dan lagi-lagi ujung pedang Yap Leng-hong terkutung sebagian, tapi pedang Hiau-hu sendiri juga tergetar mencelat. Rupanya tenaga si nona tetap kalah kuat daripada sang Suheng walaupun menang senjata. Namun lebih dulu Kang Hiau-hu masih sempat mendahului memburu ke depan Ubun Hiong, ia pentang kedua tangan untuk melindungi pemuda itu. Dengan membusungkan dada ia menghadapi ujung pedang Yap Leng-hong sambil membentak.

"Jika kau ingin membunuh dia, lebih dulu kau harus membunuh aku."

Ciong Siu menjadi takut kalau urusan menjadi runyam, cepat ia maju melerai, katanya kepada Yap Leng-hong.

"Biarpun orang ini pantas menerima hukuman setimpal karena dosanya, tapi tidak perlu buru-buru melaksanakan hukuman pada waktu sekarang. Mengingat adik Hu, bolehlah kau menunda dulu persoalan ini."

Betapapun besar nyali Yap Leng-hong, pada saat ini dia belum berani membunuh Kang Hiau-hu, apalagi Ciong Siu juga berada di situ, tidak nanti si nona tinggal diam saja jika Hiau-hu akan dibunuhnya.

Pada saat itulah Ciong Leng yang mendapat laporan juga telah memburu tiba.

Ia pun terperanjat melihat keadaan yang tegang itu.

"Ai, ada apakah kalian berdua saudara seperguruan ini?"

Demikian ia menegur dengan tertawa.

"Bagus, kedatanganmu sangat kebetulan,"

Seru Hiauhu.

"Dia hendak sembarangan membunuh orang. Menurut pesan ayah, biarpun dia adalah komandan, tapi segala urusan harus berunding dulu dengan kau, sekarang coba kau ikut menimbangnya secara adil."

Sudah tentu Ciong Leng bingung karena tidak tahu duduknya perkara, ia bertanya.

"Siapakah saudara ini?"

"Orang ini membawa tanda pengenal dari Thian-li-kau, katanya adalah Sute komandan, namun kedatangannya hendak menemui engkau,"

Lapor perwira piket tadi. Keruan Ciong Leng bertambah kaget, katanya.

"Yapheng, apakah benar-benar orang ini adalah Sutemu? Apa dosanya? Segala sesuatu sebaiknya kita pikirkan lebih mendalam."

Kedatangan Ciong Leng membuat Yap Leng-hong lebih-lebih tidak leluasa untuk turun tangan keji pula, terpaksa ia pura-pura menghela napas dan menyimpan kembali pedangnya, lalu berkata.

"Adik Hu, bukanlah aku sengaja mengomeli kau, tapi sesungguhnya kau terlalu memikirkan kepentingan pribadi dan melupakan tugas."

Hiau-hu menjadi malu dan gusar, sahutnya dengan sengit.

"Urusan pribadi apa? Melupakan tugas? Coba terangkan!"

"Kau suka kepada Ubun Hiong bukan?"

Seru Yap Lenghong.

"Suka atau tidak suka adalah urusanku, peduli apa dengan kau!"

Semprot si nona.

"Sudah tentu aku tidak peduli, tapi kau mengaku suka kepada Ubun Hiong, bukankah itu berarti mementingkan urusan pribadi?"

"Dia adalah Jisukoku, juga Sutemu. Bicara tentang urusan pribadi, kita berdua sama-sama berkepentingan,"

Sahut Hiau-hu dengan ketus.

"Hm, barangkali kau sudah lupa bahwa Ubun Hiong sudah dipecat dan diusir pergi oleh ibumu?"

Jengek Lenghong.

"Kau boleh mengaku dia sebagai Suheng, tapi aku tidak punya Sute seperti dia. Apalagi terhadap seorang mata-mata musuh, setiap orang dapat membunuhnya."

"Kau bilang dia mata-mata musuh, apa buktinya, apa dasarnya?"

Sahut Hiau-hu.

"Jik-liong-ki ini saja sudah cukup menjadi bukti,"

Kata Leng-hong.

"Kuda ini telah direbut oleh komandan Gi-limkun yang bernama Ho Lan-bing, mengapa sekarang bisa berada padanya?"

"Apakah tidak mungkin dia merebutnya kembali dari Ho Lan-bing?"

Sahut Hiau-hu tetap ngotot.

"Huh, hanya dengan sedikit kepandaiannya ini mampu merebut kuda dari tangan Ho Lan-bing?"

Ejek Leng-hong.

"Tanpa memeriksanya dahulu, darimana kau mengetahui soal ini? Ayahku telah berangkat ke kotaraja, bukan mustahil ayah juga telah merebut kembali kuda ini dan diserahkan kepada Jisuko."

"Kau hanya menduga saja, tapi aku masih ada bukti nyata yang lain,"

Kata Leng-hong.

"Bukti nyata apa?"

Tanya Hiau-hu.

"Ya, sebenarnya aku tidak ingin bercerita, tapi sekarang terpaksa harus kukatakan padamu,"

Leng-hong pura-pura menyesal. Lalu ia menuturkan seperti apa yang dikatakannya kepada Ciong Siu tadi dan akhirnya menambahkan.

"Bahkan dari laporan rahasia yang kuterima, sejak dia meninggalkan perguruan, dia sudah bersekongkol dengan musuh. Padahal besok juga kita akan mulai penyerangan total, masakah kita boleh membiarkan seorang mata-mata musuh menyusup ke dalam pasukan kita. Sebab itulah aku harus segera menumpasnya."

"Aku tidak percaya, kau memfitnah!"

Seru Hiau-hu.

Perdebatan mereka yang sengit itu benar-benar membikin Ciong Leng tercengang.

Tentang Ubun Hiong diusir oleh ibu gurunya memang telah diketahui olehnya, sebab itulah ia rada percaya kepada ucapan Yap Lenghong, tapi segala sesuatu sepantasnya mesti melalui pemeriksaan lebih dulu seperti apa yang dikatakan Kang Hiau-hu tadi.

Terpaksa ia menengahi.

"Yap-toako, bila Ubun Hiong benar-benar pengkhianat, rasanya kita harus mengadakan pemeriksaan lebih dulu, siapa tahu kalau kedatangannya ini juga membawa rencana tertentu. Eh, mengapa dia diam saja, apakah Ia coba mendekati Ubun Hiong dan memeriksa nadinya, kemudian berkata.

"Orangnya masih hidup, cuma tenaganya sangat lemah, rasanya dua-tiga jam kemudian baru dapat sadar kembali."

Ilmu silat Ciong Leng sudah tergolong kelas tinggi, dia dapat melihat keadaan Ubun Hiong yang payah, pertama karena tertotok, pula kehabisan tenaga sehingga tak sadarkan din.

Andaikan Hiat-to yang tertotok berat itu dapat dibuka kembali juga masih belum dapat menyadarkan pemuda itu.

Di waktu Ciong Leng memeriksa Ubun Hiong, baik Yap Leng-hong maupun Kang Hiau-hu sama-sama merasa kuatir.

Leng-hong kuatir kalau rahasianya terbongkar bilamana Ubun Hiong siuman, sebaliknya Kang Hiau-hu kuatir kalau-kalau Ubun Hiong dalam keadaan parah karena serangan Yap Leng-hong.

Tapi mereka menjadi lega sesudah mendengar keterangan Ciong Leng, diam-diam Yap Leng-hong bersyukur karena masih ada waktu untuk mengambil tindakan terhadap Ubun Hiong, sebaliknya Hiau-hu bersyukur karena Ubun Hiong hanya pingsan saja, sesudah siuman nanti tentu segala persoalan akan dapat dibikin terang.

Maka dengan berlagak menyesal Yap Leng-hong berkata.

"Baiklah, mengingat pada Ciong-toako, bolehlah kita menahannya sementara untuk diperiksa kemudian. Sesungguhnya aku pun tiada niat membunuhnya, soalnya besok juga kita sudah akan melakukan serangan total, kalau mata-mata musuh dibiarkan berada di antara kita, mungkin akan mendatangkan bencana."

Habis berkata ia lantas memanggil pengawal untuk menggusur pergi Ubun Hiong.

"Kemana kau hendak menahannya?"

Tanya Hiau-hu.

"Sudah tentu menahannya di kemahku,"

Sahut Lenghong.

"Aku sudah menyatakan akan menyekapnya untuk sementara, sudah pasti aku takkan buru-buru membunuhnya. Namun demikian aku harus menjaganya dengan rapat sebagai tawanan yang penting."

"Aku justru tidak mempercayai kau dan membiarkan dia berada di dalam tahananmu,"

Ujar Hiau-hu. Leng-hong menjadi gusar, katanya.

"Sungguh tidak pantas ucapanmu ini. Jelek-jelek aku adalah Suhengmu, kau tidak menghormati aku berarti melanggar tertib perguruan. Bicara kedudukan, aku adalah komandan pasukan, kau membangkang kepada pimpinan, ini berarti melanggar disiplin. Jika kau sembarangan bicara lagi, jangan salahkan aku bertindak semestinya padamu."

Akan tetapi Kang Hiau-hu tidak gentar, ia jemput kembali pedang pusaka Cay-in-pokiam yang jatuh tadi, lalu dengan mendelik ia menjaga di samping Ubun Hiong. Leng-hong bertambah gusar, bentaknya.

"Apa artinya ini?"

"Pendek kata kemana pun kau hendak menahannya, malam ini juga aku akan menjaga di sebelahnya, jika kau berani mengganggu seujung rambutnya saja, segera aku mengadu jiwa padamu,"

Sahut Hiau-hu tegas.

"Ngaco-belo!"

Seru Leng-hong sambil berjingkrak gusar.

"Sungguh tidak tahu aturan! Sungguh tidak takut ditertawai orang!"

Biarpun berjingkrak-jingkrak gusar, tapi dia benarbenar tak berdaya terhadap Sumoay yang kepala batu itu.

Betapapun dia gentar terhadap sang guru, maka dia tidak berani memakai kekerasan terhadap Kang Hiau-hu.

Melihat keadaan yang serba susah itu, diam-diam Ciong Leng juga merasa sikap Hiau-hu itu adalah keterlaluan.

Segera ia melerai pula.

"Yap-toako, besok, kau harus memimpin pasukan, malam ini harus istirahat sebaik-baiknya, biarlah tawanan ini sementara ditahan di kemahku saja. Berada di bawah pengawasanku rasanya adik Hu juga tak perlu kuatir pula."

"Ya, rasanya kakakku takkan membela siapa-siapa, tentu adik Hu dapat mempercayainya,"

Ciong Siu ikut menyokong.

"Baiklah,"

Sahut Hiau-hu.

"Jika demikian biarlah Ciongtoako yang menjaganya, besok aku akan minta orangnya kepada Ciong-toako."

Karena Ciong Leng sudah menyatakan akan mengawasi tawanan, terpaksa Yap Leng-hong menyerah dan setuju.

Maka percekcokan itupun berakhirlah.

Setiba kembali di perkemahan sendiri, ternyata Hiauhu masih kurang puas, katanya kepada Ciong Siu.

"Perasaanku tidak tenteram, aku kuatir akan terjadi sesuatu."

"Masakah kau tidak percaya juga kepada kakakku?"

Ujar Ciong Siu dengan kurang senang.

"Tidak, yang tak bisa kupercayai adalah Yap suko,"

Kata Hiau-hu.

"Kukira Yap Leng-hong pasti takkan tinggal diam, tentu dia akan mendatangi kemah kakakmu dan entah tipu keji apa yang akan digunakannya lagi."

"Agaknya curigamu terlalu besar,"

Ujar Ciong Siu.

"andaikan ada apa-apa juga kakakku takkan tinggal diam."

"Tapi aku tetap tidak tenteram, aku ingin pergi melihatnya,"

Kata Hiau-hu.

"Tampaknya kehendakmu sukar dirintangi,"

Kata Ciong Siu.

"Baiklah, biar kupergi bersama kau."

Sementara itu sudah jauh lewat tengah malam, suasana sunyi senyap.

Di sekitar perkemahan hanya prajurit-prajurit peronda saja yang masih berseliweran, dengan Ginkang yang tinggi mereka keluar dari kemah, secara hati-hati sekali mereka dapat melalui pos-pos penjaga dan akhirnya sampai di kemah Ciong Leng.

Dengan suara perlahan Ciong Siu membisiki Hiau-hu.

"Kita mengintip dulu dari luar, bila tiada terjadi sesuatu bolehkah kita pulang kembali saja?."

"Tidak, aku harus ikut mengawasi sampai subuh tiba barulah lega hatiku,"

Ujar Hiau-hu.

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari belakang kemah sana tampak berkelebat sesosok bayangan orang, karena datangnya dari arah berlawanan sehingga orang itu tidak mengetahui Ciong Siu dan Hiau-hu.

Orang itu tampak masuk ke kemah Ciong Leng dari arah depan, gerakan orang itu sangat cepat, sama sekali ia tidak menghindari penjaga, sebaliknya prajurit penjaga juga tidak merintangi dia.

Seketika Ciong Siu dan Hiau-hu terkejut demi mengenali siapa orang itu, ternyata tak lain tak bukan adalah Yap Leng-hong.

Sebagai komandan pasukan, pantas penjaga-penjaga itu tiada berani bersuara dan merintangi kedatangannya.

Kembali Ciong Siu membisiki Hiau-hu.

"Kau jangan bersuara dulu. Biarlah kita lihat apa maksud kedatangannya, jangan-jangan dia ada urusan penting yang hendak dirundingkan dengan kakakku."

Hiau-hu tidak menjawabnya, sebaliknya dia lantas merayap maju, ia berhenti tepat di belakang kemah, ia keluarkan Cay-in-pokiam dan merobek kain kemah, disiapkannya segenggam senjata rahasia jarum pula.

Bila Yap Leng-hong berani menyentuh Ubun Hiong, segera kubutakan dulu matanya, demikian pikirnya.

Dalam pada itu Ciong Leng agak terkejut juga demi melihat kedatangan Yap Leng-hong secara mendadak itu, tegurnya.

"Yap-toako, apakah ada terjadi sesuatu?"

"Tidak apa-apa, aku cuma menguatirkan tawanan ini,"

Ujar Leng-hong. Walaupun segala sesuatu Ciong Leng suka menghormati Yap Leng-hong, tapi demi mendengar ucapan itu ia menjadi kurang senang, katanya.

"Apakah Toako kuatir aku melepaskan dia?"

"Ah, mana aku berani berpikir demikian, kau jangan salah paham,"

Cepat Leng-hong menjawab dengan tertawa.

"Soalnya mendadak aku teringat sesuatu atas diri tawanan ini."

"Tentang apa?"

Tanya Ciong Leng.

"Apakah kau sudah menggeledah badannya?"

"O, hal ini memang tak kupikirkan. Apa kau kira ada barang rahasia apa-apa yang dia bawa?"

"Ya, tiada jeleknya kita berjaga-jaga, biarlah aku coba mengeledahnya,"

Kata Leng-hong.

Segera tangannya menjambret ke dada Ubun Hiong.

Pikirnya andaikan tidak menemukan sesuatu barang berharga sedikitnya juga akan membuat terluka dalam supaya tak bisa bicara.

Tak tersangka, baru saja jari Yap Leng-hong hampir menyentuh baju Ubun Hiong, sekonyong-konyong cahaya bintik-bintik gemerlapan disertai suara mencicit yang ramai, tahu-tahu secomot jarum halus telah berhamburan ke mukanya.

Bahkan lantas terdengar suara bentakan Kang Hiau-hu.

"Jangan menyentuhnya! Bila kau menyentuhnya aku mengaju jiwa padamu!"

Leng-hong terkejut, cepat ia mengebaskan lengan bajunya untuk melindungi mukanya sambil melompat ke samping.

Untung gerakannya cukup cepat sehingga matanya terhindar dari bahaya dibutakan, walaupun demikian lengan bajunya juga sudah tertancap belasan buah jarum halus itu.

Sementara itu dengan cepat sekali Kang Hiau-hu juga sudah menerjang ke dalam kemah.

Leng-hong menjadi gusar, bentaknya.

"Apa apaan kau ini? Kau hendak berontak?"

"Kau tidak adil, berontak padamu juga panlas!"

Sahut Hiau-hu.

"Ingin kutanya padamu, apa maksudnya diamdiam datang ke tempat Ciong-toako ini?"

Kuatir kalau kedua orang memakai kekerasan, lekas Ciong Leng dan Ciong Siu melerai mereka. Dengan tertawa dingin Yap Leng-hong berkata.

"Aku tidak menegur kau sebaliknya kau malah menyalahkan aku. Kau telah melanggar disiplin, bahkan seorang anak perempuan malam-malam keluyuran ke sini, apa sih maksudmu? Sebagai komandan apa salahnya jika aku datang ke sini untuk memeriksa tawanan?"

"Periksa tawanan apa?"

Jengek Hiau-hu.

"Caramu mencengkeram dadanya, apakah begitu orang menggeledah atau sengaja hendak mencelakai tawananmu?"

Dari malu Yap Leng-hong menjadi gusar, bentaknya.

"Ngaco-belo! Aku belum memberi hukuman setimpal padamu, sebaliknya malah kau sudah menuduh aku. Ciong-toako, tangkap dia sekalian!"

Sudah tentu Ciong Leng merasa bingung dan serba susah. Dalam pada itu Hiau-hu sudah melolos pedang dan menjawab.

"Yap Leng-hong, jangan kau membikin sulit Ciong-toako, jika mau tangkap aku, silakan kau maju sendiri saja."

Keruan Yap Leng-hong berjingkrak murka, tapi ia benar-benar mati kutu menghadapi sang Sumoay yang kepala batu itu.

Sedang ketiga pihak dalam keadaan canggung, sekonyong-konyong terdengar suara mendenging-denging nyaring di angkasa, itulah suara panah tanda bahaya yang biasa digunakan dalam pasukan.

Sungguh kejut Leng-hong tak terkatakan, sebaliknya Ciong Leng merasa kebetulan malah, cepat ia berseru.

"Yap-toako, silakan kau lekas pergi memeriksa urusan yang genting. Urusan di sini biarlah serahkan di bawah pengawasanku saja."

Sebenarnya Yap Leng-hong bukan menguatirkan penyerangan 'musuh' di waktu malam, sebab panglima lawan itu tak lain tak bukan adalah ayahnya sendiri, mereka ayah dan anak sudah mengadakan kontak untuk membasmi pasukan pemberontak pada besok lohor bila pasukan yang dipimpin Yap Leng-hong memasuki suatu lembah buntu.

Tapi justru karena yakin pasukan kerajaan takkan menyerang pada malam ini, makanya Yap Leng-hong sangat terkejut.

Dari panah bersuara sebagai tanda bahaya yang berseliweran di udara yang dilepaskan pos penjagaan bagian depan itu, kecuali ada serangan musuh hanya ada suatu kemungkinan lain, yaitu memergoki mata-mata musuh yang tidak berhasil ditangkap oleh pos penjaga.

Dari keterangan yang diterima, Leng-hong telah mengetahui Hong Jong-liong ditugaskan ke kotaraja, menurut perhitungan dalam waktu sehari dua hari ini tentu sudah dapat pulang kembali dan Hong Jong-liong sendiri atau wakilnya akan menyampaikan hasil usahanya di kotaraja kepada Yap Leng-hong.

Mestinya kedatangan Hong Jong-liong atau wakilnya takkan mengalami kesukaran, karena mereka tentu sudah memegang surat jalan yang telah disiapkan Yap Leng-hong, tapi mungkin terjadi sesuatu rintangan, hal inipun bisa terjadi.

Karena rasa kuatirnya kalau-kalau Hong Jong-liong mengalami sesuatu yang mungkin membikin susah padanya, terpaksa Yap Leng-hong harus meninggalkan dulu persoalan Ubun Hiong ini, apalagi sebagai komandan pasukan sudah seharusnya dia memeriksa apa yang terjadi seperti dianjurkan Ciong Leng tadi, maka berkatalah dia.

"Baiklah, kuharap Ciong-toako menjaga baik-baik mata-mata musuh ini. Kupergi memeriksa apa yang terjadi dan segera akan kembali ke sini."

Sungguh lacur bagi Yap Leng-hong, dia tergesa-gesa pergi karena kuatir terjadi apa-apa atas diri Hong Jongliong yang mungkin membawa dokumen rahasia untuknya, tak terduga dokumen penting yang dikiranya itu justru berada pada Ubun Hiong yang hampir kena digeledah olehnya.

Setelah Leng-hong pergi, barulah Ciong Leng merasa lega, katanya.

"Sudahlah, sekarang kalian boleh pulang juga ke perkemahanmu, segala urusan serahkan saja padaku."

"Baiklah, biar kucoba memeriksa keadaan Jisuko dulu,"

Kata Hiau-hu sambil mendekati dan memayang bangun Ubun Hiong yang terbaring itu, tapi mendadak ia berseru heran.

"He, Ciong-toako! Coba lihat, dalam bajunya seperti ada sepucuk surat' Kiranya Ubun Hiong telah menyimpan dokumen rahasia rampasan dari Hong Jong-liong itu di lapisan dalam bajunya. Karena jambretan Yap Leng-hong tadi keburu dicengah oleh Kang Hiau-hu, maka hanya bajunya saja sedikit tertarik dan ujung sampul surat berharga menongol keluar sedikit. Namun Yap Leng liong tidak sempat menggeledah lebih jauh sehingga tidak mengetahui Cepat Ciong Leng mendekat Ubun Hiong dan menarik keluar sampul surat di dalam bajunya. Belum membaca tulisannya lebih dulu ia sudah melihat di muka sampul ada cap kebesaran gubernur Sucwan. Keruan ia terkejut dan berseru.

"He, benar-benar ada bukti yang terdapat di atas badannya."

"Bukti apa?"

Tanya Hiau-hu bingung.

"Coba kau periksa dulu Jisukomu, biarlah kubaca isi surat ini,"

Kata Ciong Leng.

Segera ia menyingkir ke pinggir, lalu membuka surat itu dan membacanya sendiri.

Kiranya dari dokumen yang diketemukan di atas badan Ubun Hiong itu, Ciong Leng menyangka benar-benar telah diketemukan bukti pengkhianatan Ubun Hiong.

Ia kuatir Kang Hiau-hu merebut surat itu, maka sengaja menyingkir dulu di pinggir, tapi baru saja ia membaca sebagian isi surat itu, seketika air mukanya berubah menjadi pucat, serunya dengan suara gemetar.

"Adik Siu, coba kemari kau!"

Dan pada waktu Ciong Siu ikut membaca surat itu, di sebelah sini Kang Hiau-hu sedang sibuk membangunkan Ubun Hiong, ia membuka Hiat-to yang tertotok, dasar Lwekang Ubun Hiong juga cukup kuat, sesudah sekian lamanya kekuatan Ubun Hiong sudah pulih, maka dalam waktu singkat dia sudah siuman kembali.

Begitu membuka mata dan melihat wajah Hiau-hu yang cantik itu berada di depannya, hampir-hampir saja ia mengira sedang mimpi.

Segera Hiau-hu berkata.

"Syukurlah kau sudah siuman. Tentu kau tidak mengira akan melihat aku di sini bukan?"

"Aku ... aku ingat dirobohkan oleh si keparat Yap Leng-hong itu,"

Sahut Ubun Hiong.

"Dimanakah bangsat itu sekarang?"

"Apa? Kau menyebutnya ..."

Baru saja Hiau-hu hendak menegas, sekonyong-konyong terdengar suara gedebukan.

Kiranya Ciong Siu telah roboh pingsan sesudah membaca surat rahasia yang diketemukan dalam baju Ubun Hiong tadi.

Keruan Hiau-hu kaget.

"He, enci Siu, kenapakah kau?"

Serunya. Namun Gong Siu sudah tak sadarkan diri dan sudah tentu tak bisa menjawab. Gong Leng yang lantas berkata.

"Yap Leng-hong adalah putra Yap To-hu, dia ... dia benar-benar pengkhianat. Ini adalah surat rahasia laporan ayahnya tentang jasa putranya selama ini."

Walaupun ucapan Gong Leng bukan jawaban yang jelas, namun Hiau-hu sudah dapat paham duduknya perkara. Ia tahu sebab apa Ubun Hiong memaki "Toasuko"

Mereka sebagai bangsat dan paham juga apa sebabnya Gong Siu mendadak pingsan.

"O, kiranya kalian telah menemukan surat rahasia yang kubawa itu, jika demikian aku tidak perlu memberi penjelasan lagi. Dimanakah bangsat Yap Leng-hong itu, jangan biarkan dia lolos!"

Seru Ubun Hiong sambil melompat bangun. Wajah Gong Leng sebentar pucat sebentar merah, serunya kemudian.

"Ya, kita harus lekas mengejarnya! Dia belum tahu bahwa rahasianya telah kita ketahui, mungkin belum sempat lari!"

"Baiklah, boleh kalian berangkat, biar aku yang menjaga enci Siu,"

Ujar Hiau-hu.

Sesungguhnya ia pun ingin ikut pergi mengejar Yap Leng-hong, tapi mengingat Gong Siu tentu akan sangat cemas dan malu bila siuman nanti, untuk ini harus ada orang yang mendampingi dan menghiburnya.

Sebab itulah Hiau-hu mengekang api amarahnya terhadap Yap Leng-hong dan tinggal untuk menjaga Gong Siu.

Begitulah selagi Ciong Leng dan Ubun Hiong sudah mulai melangkah pergi, mendadak Hiau-hu berseru.

"Jisuko!"

Cepat Ubun Hiong merandek dan berpaling.

"Ada apa, adik Hu."

"Cay-in-pokiam ini boleh kau bawa saja!"

Kata Hiauhu.

Walaupun hanya melalui percakapan singkat itu, akan tetapi segenap perasaan si nona sudah dicurahkan melalui pedang itu.

Sambil menerima pedang pusaka itu, perasaan Ubun Hiong sangat berterima kasih kepada sang Sumoay, semangatnya juga terbangkit untuk segera menumpas pengkhianat.

Sebenarnya tenaganya masih belum pulih seluruhnya, tapi sekarang ia merasa seluruh badannya penuh tenaga.

kalau bisa ia ingin terbang menyusul Yap Leng liong dan sekali tabas dengan Cay-inpokiam membinasakannya.

Sekarang marilah mengikuti kepergian Yap Leng-hong.

Sekeluarnya dari kemah Ciong Leng, cepat-cepat ia pulang ke kemahnya sendiri.

Jik-liong-ki yang dibawa kemari oleh Ubun Hiong itu kini sudah dirampas olehnya, kuda itu sangat besar artinya baginya.

Ia pikir bila terjadi sesuatu yang luar biasa dan tidak menguntungkan dirinya, tentu kuda mestika itu dapat digunakan untuk melarikan diri.

Begitu mencemplak ke atas Jik-liong-ki, segera Lenghong melarikannya ke pos penjagaan di mulut lembah.

Tiba-tiba terlihat di pengkolan sana ada panah berapi yang dibidikkan ke angkasa, itulah tanda bahwa di sana dipergoki jejak musuh.

Cepat ia mengeprak kudanya, sampai di tengah jalan dia telah diberi laporan bahwa ada seorang berkedok telah menerjang masuk tanpa menghiraukan rintangan penjaga.

Leng-hong terkejut, ia pikir kalau pendatang itu adalah Hong Jong-liong, caranya ini benar-benar tidak pantas.

Dan baru saja ia hendak melanjutkan ke depan, tiba-tiba tertampak seorang penunggang kuda telah muncul dari balik pengkolan jalan sana.

Cahaya bulan yang tidak terlalu terang, pula orang itu berkedok sehingga sukar bagi Yap Leng-hong untuk mengenali siapa pendatang itu.

Cepat Leng-hong memapak maju sambil membentak.

"Siapa itu? Berhenti!"

Sesudah dekat ia merasa pendatang ini seperti sudah dikenalnya, tapi jelas bukan Hong Jong-liong.

Orang itu terbahak-bahak dan mendadak menarik kedoknya sambil membentak, 'Tentanglah mata anjingmu, apakah kau sudah pangling padaku?

Hehe, tentunya kau tidak mengira aku masih bisa hidup bukan?"

Sungguh kaget Leng-hong tidak kepalang, kiranya pendatang ini tak lain tak bukan adalah "Yap Leng-hong tulen"

Yang dipalsukan olehnya dan kini memakai namanya yang lain, yaitu Yap Boh-hoa.

"Hm, tentang pemalsuan namaku aku tak peduli, kau suka kepada nama itu boleh ambil saja, tapi dengan memalsukan namaku kau sengaja hendak menghancurkan pasukan pergerakan, inilah aku tak bisa tinggal diam,"

Jengek Yap Boh-hoa. Walaupun kaget karena munculnya Yap Boh-hoa itu, tapi segera Yap Leng-hong menjadi nekat, pikirnya.

"Mungkin kepandaianku sekarang tidak kalah daripada dia, kenapa aku mesti jeri padanya?"

Tanpa bicara lagi segera ia melarikan kudanya ke depan, pedangnya terus menusuk.

"Hm, kau masih berani bergebrak dengan aku?"

Dengus Yap Boh-hoa sambil menangkis.

"Trang", tusukan Yap Leng-hong tersampuk ke pinggir, dengan cepat kuda Jik-liong-ki sudah menyerobot lewat, ketika Yap Boh-hoa hendak balas menyerang sudah tidak keburu lagi. Diam-diam Boh-hoa terkesiap juga karena tak dapat menyampuk jatuh pedang Yap Leng-hong. la kagum sekali terhadap pamannya, yaitu Kang Hay-thian yang hebat, hanya dalam waktu singkat saja sudah dapat mendidik muridnya sedemikian pesat kemajuannya. Ia tidak tahu bahwa Leng-hong telah mendapat bantuan saluran Lwekang dari Ciong Tian, maka tenaga dalamnya dapat maju begitu cepat. Namun begitu sesungguhnya kekuatan Yap Leng-hong toh masih kalah setingkat dari Yap Boh-hoa. Tanpa berhenti, segera Yap Boh-hoa mengeprak kudanya mengudak pula, sekejap itu sudah timbul berbagai pikiran dalam benak Yap Leng-hong. Ia bingung apakah mesti melarikan diri atau tidak? Jika mau melarikan diri dia masih dapat lolos mengingat kudanya yang bagus itu. Akan tetapi kalau melarikan diri, berarti segala daya upayanya selama ini akan terbuang dengan sia-sia belaka, segala impiannya juga akan kosong melompong. Sebagai seorang yang punya ambisi gede, sudah tentu Yap Leng-hong tidak rela berakhir dengan demikian. Diam-diam ia membatin.

"Untuk membongkar rahasiaku rasanya dia belum dapat memberi bukti-bukti yang cukup dan orang sukar mempercayainya. Asal pasukan sudah berkumpul, sebagai komandan tentu aku masih dapat memberi perintah untuk membekuknya atau membinasakan dia dengan hujan panah."

Bertempur di atas kuda sudah tentu Leng-hong lebih untung karena Jik-liong-ki jauh lebih gesit daripada kuda biasa, apalagi Leng-hong memperhatikan di atas kuda Yap Boh-hoa termuat sebuah karung goni besar entah apa isinya, lantaran itu kuda Yap Boh-hoa menjadi lebih lamban pula.

Leng-hong sengaja memutar kudanya dengan cepat mengilat ti belakang Boh-hoa, segera pedangnya menusuk ke arah karung goni itu tapi pedang Yap Bohhoa sempat menangkisnya lagi.

Sesudah mencoba satu kali dan melihat lawannya membela karung goni itu, diam-diam Leng-hong heran, apa sih isinya sehingga karung itu dibelanya mati matian?

Segera ia mendapat akal, lawan membela mati-matian karungnya itu, maka kelemahan ini yang akan terus dicecar dengan serangan-serangan.

Sementara itu Boh-hoa sudah tahu pikiran Yap Lenghong, segera ia ganti siasat, tidak mau bertahan melulu, tapi diseling dengan serangan balasan.

Begitulah dalam sekejap saja belasan jurus sudah berlalu, di tengah pertarungan itu sudah ada beberapa orang memburu tiba pula.

Dua orang yang memimpin pendatang-pendatang itu satu bernama Kam Pa dan yang lain bernama Pek Hiong.

Keduanya sama-sama murid Bin-san-pay angkatan ketiga, Kam Pa adalah cucu Kam Hong-ti dan Pek Hiong cucu Pek Thay-koan.

Melihat kedatangan mereka, segera Yap Leng-hong berlagak sebagai komandan dan memberi perintah.

"Lepaskan panah, binasakan mata-mata musuh ini!"

Kam Pa mengiakan, kontan ia menyambitkan tiga buah piau ke arah Yap Boh-hoa.

Beberapa bintara yang ikut di belakangnya juga lantas menghamburkan macammacam senjata rahasia, hanya Pek Hiong saja yang tidak ikut menyerang.

Kiranya Pek Hiong adalah putra Pek Eng-kiat yang terkenal cerdik, sejak kecil Pek Hiong sudah terdidik seperti sang ayah, segala urusan tentu dipikirkan dulu sebelum bertindak, maka sekarang ia pun berpikir.

"Jika orang ini adalah mata-mata musuh, seharusnya ditangkap hidup-hidup untuk dimintai keterangan, mengapa buru-buru hendak membinasakan dia."

Dalam pada itu Yap Boh-hoa telah memutar pedangnya dengan kencang hingga ramai terdengar suara "Crang-cring"

Suara terbenturnya macam-macam senjata rahasia oleh pedang.

Senjata-senjata rahasia itu semuanya terbentur mencelat, di bawah hujan senjata rahasia itu, Yap Boh-hoa tidak dapat melindungi dirinya sendiri dengan kudanya sekaligus, pada suatu ketika kaki kudanya telah tertimpuk dua buah piau, binatang itu meringkik kesakitan sambil berjingkrak untuk kemudian lantas roboh.

Di sinilah tampak kelebihan Yap Boh-hoa, pada saat berbahaya itu dia telah mengeluarkan Ginkangnya yang lihai, ia kempit karung goninya itu dan meloncat tinggi ke atas, selagi terapung di udara pedangnya terus berputar untuk menyampuk senjata-senjata rahasia yang bertebaran itu sehingga tidak terluka sedikitpun, tapi sebelum dia berdiri tegak di atas tanah, dari sana Kam Pa sudah menerjangnya pula.

"Berhenti dulu, para pahlawan! Apakah kalian tahu siapakah komandanmu yang sebenarnya?"

Teriak Bohhoa.

"Persetan!"

Semprot Kam Pa.

"Siapa yang tidak kenal komandan kami adalah murid pewaris Kang-tayhiap? Sungguh lucu sekali pertanyaanmu ini."

Sambil melompat pergi untuk menghindarkan serangan Kam Pa, berbareng Boh-hoa berseru pula.

"Salah, salah! Komandan kalian adalah putra Yap To-hu, dia yang menjadi mata-mata musuh di tengah-tengah pasukan pemberontak, Kang-tayhiap sudah tidak mengakui dia sebagai murid pewaris lagi."

"Hahahaha! Apakah kalian percaya kepada ocehannya?"

Sela Yap Leng-hong dengan bergelak tertawa.

Apa yang dikatakan Yap Boh-hoa sudah tentu terlalu mengejutkan sehingga orang-orang itu sukar mempercayainya begitu saja, maka beramai-ramai para pahlawan itu mencaci-maki sebagai jawaban ucapan Yap Boh-hoa itu.

"Baik, kalian tidak percaya, ini akan kuberi saksi hidup!"

Seru Boh-hoa sembari melemparkan karung goni yang besar itu ke arah Kam Pa, tanpa ayal lagi Kam Pa lantas menangkapnya.

"Coba kau buka, tentu kalian akan mengenalnya!"

Seru Boh-hoa pula.

Dengan tidak sabar Kam Pa lantas merobek karung goni itu, kontan memberosot keluar sesosok tubuh manusia.

Benar juga, segera ada di antara para pahlawan yang kenal orang di dalam karung itu dan berteriak.

"He, bukankah dia Hong Jong-liong, jagoan pengawal gubernur Sucwan si jagal she Yap itu?"

Kiranya tempo hari sesudah dilukai oleh pukulan Tiong Tiangthong, buru-buru Hong Jong-liong melarikan diri, tapi makin luka-lukanya makin berat, terpaksa ia harus mencari suatu tempat untuk merawat diri.

Sebab itulah penguntitan Ubun Hiong tidak berhasil menemukannya, sebaliknya Yap Boh-hoa yang menyusul kemudian malah dapat memergokinya.

Tentang kejadian ini akan kita ceritakan di bagian lain.

Sekarang sesudah asal-usul Hong Jong-liong dikenali orang, seketika para pahlawan menjadi gempar.

Segera Boh-hoa berseru pula.

"Coba kalian tanyai dia, tentu segala sesuatunya akan menjadi jelas."

Dasar watak Kam Pa memang tidak sabaran, pula tidak suka banyak berpikir, kontan ia gampar dulu muka Hong Jong-liong sambil membentak.

"Orang she Hong, kau sudah dengar tidak? Mengapa tidak lekas mengaku?"

Dasar dogol sehingga pertanyaannya menjadi tidak keruan juga.

Tapi Hong Jong-liong masih tetap membisu, hanya biji matanya saja dapat bergerak, sedang badannya masih kaku tak berkutik.

Kiranya dia telah ditotok oleh Yap Bohhoa dengan tenaga berat dan belum lagi dibuka.

"Kam-jiko, agaknya dia tertotok Hiat-to tertentunya, biar kuperiksa apakah dapat membukanya atau tidak?"

Seru Pek Hiong.

Kalau Hong Jong-liong sampai diperiksa oleh pahlawan-pahlawan itu, berarti guci wasiat Yap Lenghong akan terbongkar, maka ia tidak tinggal diam.

Ia pura-pura berjingkrak gusar dan berteriak.

"Kurangajar! Dasar mata-mata musuh durjana, kau berani bersekongkol dengan Hong Jong-liong untuk menfitnah aku? Akan kubunuh dulu keparat she Hong ini baru nanti kubereskan kau!"

Sambil memaki Yap Leng-hong sudah lantas menghalau kudanya menuju ke arah Kam Pa, mendadak ia rampas sebatang tombak dari seorang bintara terus ditimpukkan sekuatnya ke hulu hati Hong Jong-liong.

Namun Pek Hiong mendadak melompat maju, goloknya terus menangkis, tombak itu disampuknya jatuh, serunya.

"Yap-thongleng, tahan dulu, kukira dia akan berguna bila kita memeriksanya sebelum dibunuh."

Agar tidak menimbulkan rasa curiga lebih mendalam, terpaksa Yap Leng-hong mengalah, namun dia mendapat akal lagi. Segera ia berkata.

"Benar juga usul Pek-hiante. Baiklah, sementara ini keparat she Hong ini ditahan dulu untuk kita periksa lagi nanti. Cin Ing-gok, gusurlah keparat she Hong itu, hati-hati jangan sampai terlepas."

Kiranya Cin Ing-gok yang diberi tugas itu adalah Sute Bong Ing-ping yang merupakan kawan sekomplotannya.

Sebab itulah Leng-hong sengaja menugaskan begundalnya sendiri untuk menggiring pergi Hong Jongliong, dengan demikian secara diam-diam Hong Jongliong dapat dibinasakan untuk menghilangkan saksi hidup, Leng-hong yakin Cin Ing-gok pasti akan paham maksudnya dan mengerjakannya dengan baik.

Menyusul Leng-hong lantas memberi perintah pula.

"Dan masih ada lagi mata-mata musuh itu, lekas kalian bekuk dia sekalian!"

Karena tadi perhatian semua orang dicurahkan kepada Hong Jong-liong sehingga Yap Boh-hoa hampir terlupakan.

Sekarang beberapa perwira segera menerjang ke arahnya demi mendengar perintah komandan mereka, namun Boh-hoa telah berseru.

"Tahan dulu! Aku takkan lari dari sini. Paling penting sekarang lekas kalian membuka Hiat-to Hong Jong-liong yang tertotok itu untuk dimintai keterangan yang amat penting. Aku telah menotok dia punya Ih-gi-hiat dan Tiok-tho-hiat."

Saat itu Cin Ing-gok sudah akan menjambret Hong Jong-liong dari tangan Kam Pa, tapi keburu dicegah oleh Pek Hiong.

"Nanti dulu, kita perlu memeriksa dan menanyai beberapa keterangan padanya,"

Kata Pek Hiong sembari membuka Hiat-to Hong Jong-liong yang tertotok seperti apa yang dikatakan Yap Boh-hoa.

"Kau berani membantah perintah komandan baru saja Cin Ing-gok menegur, mendadak Hong Jong-liong sudah bisa berteriak dengan suara serak.

"Ka ... kalian jangan membunuh aku, segera aku akan mengaku terus terang!"

"Baik, asal kau mengaku terus terang, jiwamu tentu akan diampuni,"

Sahut Pek Hiong. Yap Leng-hong menjadi gusar.

"Pek Hiong, kau berani bertindak melampaui wewenangmu tanpa menghiraukan atasanmu?"

Semprotnya.

"Huh, kau masih mimpi hendak menjadi komandan mereka?"

Jengek Yap Boh-hoa.

"Hong Jong-liong, jika kau ingin hidup hendaklah lekas mengaku saja, lekas!"

"Sungguh keji amat kau, Yap-kongcu!"

Teriak Hong Jong-liong.

"sampai-sampai aku pun hendak kau bunuh, maka terpaksa aku mengaku segala perbuatanmu kepada mereka. Ya, apa yang dikatakan Yap-tayhiap ini tadi memang tidak salah."

Sedapat mungkin Yap Leng-hong berlagak tenang, jengeknya.

"Huh, kedua mata-mata musuh ini sudah terang bersekongkol dan sengaja hendak memfitnah diriku untuk mengadu domba kita, apakah kalian mau percaya padanya?"

Sebagian para pahlawan itu sebenarnya sudah mencurigai Yap Leng-hong, akan tetapi sebagian pula yang biasanya suka memuja kecakapan pemimpin mereka yang muda itu serentak bersorak menyokong bantahan Leng-hong tadi.

Selagi suasana rada tegang, tiba-tiba terdengar seruan orang.

"Yap Leng-hong, kau masih berani berlagak di sini? Saudara-saudara sekalian, lekas bekuk dia, jangan sampai dia lolos! Dia benar-benar seorang mata-mata tulen!"

Kiranya Ciong Leng dan Ubun Hiong telah tiba.

Suara Ciong Leng itu benar-benar laksana bunyi geledek yang membikin sukma Yap Leng-hong hampirhampir terbang ke awang-awang.

Sebagian pahlawan yang tadinya masih percaya padanya juga terkesima bingung, sungguh mimpi pun mereka tidak menyangka bahwa pemimpin pujaan mereka itu benar-benar adalah mata-mata musuh.

Pek Hiong yang pertama-tama bertindak, kontan ia menyambitkan sebatang belati ke arah Yap Leng-hong sambil membentak.

"Hayolah, beramai-ramai kita bekuk mata-mata musuh keparat ini!"

Lantaran suara bentakannya barulah semua orang seperti tersadar dari impian, beramai-ramai mereka lantas mengerubut maju.

Yap Leng-hong sempat menyampuk jatuh belati timpukan Pek Hiong itu, menyusul ia terus putar kudanya dan menerjang ke arah Kam Pa.

Saat itu Hong Jong-liong masih berada di tangan Kam Pa, Cin Ing-gok yang diperintahkan menahan Hong Jongliong sudah lebih dulu ngacir demi nampak gelagat tidak enak.

Dasar otak Kam Pa memang encer, belum lagi dia sempat berpikir, tahu-tahu kuda Yap Leng-hong sudah menerjang sampai di depannya.

"Awas, Kam-jiko, lekas turun tangan!"

Teriak Pek Hiong. Dan baru saja Kam Pa sadar bahwa musuh yang harus segera dibekuk adalah Yap Leng-hong, namun sudah terlambat.

"Tarrrrr", ruyung lemas Yap Leng-hong sudah menyabet sehingga tubuh Kam Pa terlilit dan terangkat ke atas, berbareng Leng-hong menyambitkan sebatang panah kecil pula dan tepat menembus tenggorokan Hong Jong-liong, kontan jago pengawal itu jiwanya melayang. Dengan mengangkat tubuh Kam Pa yang terlilit oleh ruyungnya itu, Leng-hong terus memutarnya untuk digunakan sebagai tameng, serunya dengan tertawa.

"Ini dia, bolehlah kalian coba serang lagi!"

Mestinya para pahlawan akan menghujani lawan dengan senjata rahasia, tapi urung demi melihat keadaan Kam Pa yang terancam itu.

Mereka tak berani mendekat.

Ilmu silat Kam Pa mestinya tidak lemah, soalnya dia tidak berjaga-jaga sama sekali sehingga kena dikerjai oleh Yap Leng-hong.

Saking gusarnya ia terus meronta dalam keadaan tubuh melayang di udara terbelit oleh ruyung orang, seketika ujung ruyung terputus dan dia terjungkal jatuh ke bawah, tapi cepat ia dapat melompat bangun lagi.

Sambil mencaci-maki kontan ia sambitkan tiga buah piau ke arah Yap Leng-hong.

Namun Jik-liong-ki yang teramat cepat itu sudah sempat mencongklang jauh ke depan, betapapun cekatan Kam Pa menyambitkan senjata rahasianya juga sudah agak kasip.

Piau pertama masih sempat mencapai sasarannya, tapi kena disampuk jatuh oleh pedang Yap Leng-hong, piau kedua dan ketiga jatuh di tengah jalan.

Maka dengan leluasa dapatlah Yap Leng-hong membobol kepungan dan meloloskan diri.

Sebagai komandan, dengan sendirinya pos-pos penjaga di bagian depan belum mengetahui apa yang sudah terjadi lantas memberi kebebasan seluasnya bagi kaburnya Yap Leng-hong tanpa menanyai sesuatu.

Sesudah menguber belasan li dan tak dapat menyusulnya, terpaksa Ciong Leng, Yap Boh-hoa dan lain-lain putar kembali.

Dalam pada itu perwira-perwira dari berbagai pasukan sudah berkumpul untuk menanyakan duduknya perkara.

Di tengah lapangan situ Ciong Leng lantas mengadakan suatu sidang darurat untuk menerangkan peristiwa tadi serta mengumumkan pengkhianatan Yap Leng-hong.

Dan baru sekarang Ubun Hiong sempat bicara dengan Yap Boh-hoa dan menanyakan cara bagaimana Hong Jong-liong itu dapat ditangkapnya.

"Ini berkat bantuan kawan-kawan dari Kay-pang,"

Tutur Boh-hoa dengan tertawa.

"Kay-pang mempunyai hubungan merpati pos, Tiong-pangcu telah menghubungi cabang-cabang Kay-pang di sepanjang jalan dan suruh mereka membantu diriku. Akhirnya orang Kay-pang menyampaikan berita padaku bahwa Hong Jong-liong diketahui sedang merawat lukanya di suatu kelenteng. Waktu kususul ke sana dan memang benar, dalam keadaan masih terluka, dengan gampang saja aku dapat membekuknya."

"Kematian Hong Jong-liong setimpal dengan perbuatannya, cuma sayang Yap Leng-hong dapat lolos,"

Kata Ubun Hiong.

"Aku pun ingin segera membinasakan dia, namun tidak apalah, yang penting kedoknya sudah tersingkap, penyakit yang tersembunyi di dalam barisan kita sudah dicabut sampai akar-akarnya, untuk ini kita harus gembira,"

Ujar Yap Boh-hoa.

"Biarlah keparat Yap Thingcong itu hidup lebih lama beberapa hari, tidak lama tentu dapat kita bekuk."

"O, jadi jahanam itu aslinya bernama Yap Thing-cong,"

Tanya Ubun Hiong.

"O, jika demikian pahamlah aku"

Tapi sebelum dia menjelaskan apa yang diartikan paham itu, tiba-tiba nampak Kang Hiau-hu dan Ciong Siu sedang mendatangi.

"Sayang kami datang terlambat dan tak bisa membantu sehingga keparat itu sempat melarikan diri,"

Seru Hiau-hu.

"Semuanya adalah kesalahanku,"

Kata Ciong Siu dengan gemas dan menyesal.

Kiranya tidak terlalu lama Ciong Siu sudah siuman kembali, hatinya yang suci bersih itu walaupun mudah tertipu orang jahat, tapi sesudah sadar segera ia dapat membedakan tegas antara yang baik dan buruk, segera ia ajak Kang Hiau-hu menyusul dan ikut membekuk Yap Leng-hong, namun agak terlambat datangnya.

Karena Ubun Hiong belum kenal Ciong Siu, segera Hiau-hu memperkenalkan mereka.

"O, sangat kebetulan,"

Kata Ubun Hiong.

"Di tengah jalan aku telah bertemu dengan kedua orang tuamu, mereka telah menolong menyembuhkan lukaku dan minta aku menyampaikan berita kepada kalian bahwa beliau-beliau itu segera akan menyusul kemari pula."

"Jisuko,"

Tiba-tiba Hiau-hu bertanya.

"tadi kau bilang paham apa? Asyik benar kalian bicara, siapakah saudara ini?"

Sekarang para pahlawan sudah tahu siapakah Yap Leng-hong yang sebenarnya sehingga mereka menjadi benci padanya, sebaliknya mereka juga ingin tahu siapakah kedua pemuda yang berjasa ini.

Tentang Ubun Hiong sudah diketahui sebagai murid Kang Hay-thian, tapi Ciong Leng dan lain-lain masih belum tahu siapakah Yap Boh-hoa itu, maka beramai-ramai mereka berkerumun ingin berkenalan.

"Ini dia Yap Leng-hong yang tulen, yang asli,"

Kata Ubun Hiong dengan tertawa.

"Sumoay, dialah yang benar-benar Piaukomu sejati."

Walaupun Yap Boh-hoa belum memberitahukan asalusulnya sendiri kepada Ubun Hiong, tapi dari berbagai kejadian yang telah dialaminya dan disaksikan serta caranya membongkar rahasia "Yap Leng-hong"

Yang telah melarikan diri tadi, segera Ubun Hiong paham duduknya perkara dan yakin siapa adanya Yap Boh-hoa.

Sampai di sini terpaksa Boh-hoa mengakui asalusulnya sendiri, katanya kepada Kang Hiau-hu dengan tertawa.

"Pada suatu malam di rumahmu telah kedatangan 'maling' seperti digemborkan Yap Thing-cong itu, dan maling yang dikatakan itu adalah aku sendiri."

"Ya, betul, aku masih ingat,"

Kata Hiau-hu.

"Itu adalah malam berikutnya sesudah Jisuko diusir ibu. Mengapa waktu itu Piauko tidak mau membongkar kedoknya?"

"Tatkala itu aku baru mulai curiga, tapi ingin menyelidiki seluk-beluknya dengan jelas, siapa duga mendadak ia menyerang aku dengan keji, untung jiwaku tidak sampai melayang. Ya, memang salahku, jika lekas aku membongkar kedoknya tentu takkan terjadi seperti sekarang ini. Ciong Leng merasa menyesal dan malu, katanya.

"Kita semua telah tertipu, sungguh tidak nyana bisa terdapat seorang Yap Leng-hong palsu."

"Nama yang telah dinodai olehnya sudah kubuang, namaku yang lain adalah Yap Boh-hoa,"

Kata Boh-hoa.

"Kami sekeluarga telah tertipu sekian tahun, bila ayahibu mengetahui Piauko yang tulen sudah diketemukan, tentu mereka akan sangat senang,"

Kata Hiau-hu.

"Eh, apa selama ini engkau belum pernah bertemu dengan ayah?"

"Belum,"

Sahut Boh-hoa.

"Tapi Jisukomu baru kembali dari kotaraja, dia sudah bertemu dengan ayahmu."

Segera Ubun Hiong menceritakan secara ringkas kejadian-kejadian di kotaraja dimana pergerakan Thianli-kau telah mengalami kegagalan, Lim Jing, ketua Thianli-kau telah gugur dan Thio Su-liong telah diangkat sebagai gantinya.

Tapi para pahlawan bersama gurunya juga berhasil membobol penjara dan menolong keluar Utti Keng yang kini sudah berkumpul lagi dengan istrinya, yaitu Ki Seng-in.

Berita-berita yang disampaikan Ubun Hiong ini sudah tentu sangat menggembirakan semua orang, walaupun di antaranya ada kabar tentang gugurnya Lim Jing, tapi hal ini tidak mengurangi semangat juang mereka.

"Bukankah masih ada suatu kabar baik yang belum kau ceritakan?"

Tiba-tiba Boh-hoa menambahkan dengan tertawa.

"Kabar baik apa?"

Cepat Ciong Leng tanya.

"Yaitu Kang-tayhiap telah mengangkat dia sebagai murid ahli waris dan menugaskan dia membersihkan murid murtad dari perguruan,"

Seru Boh-hoa. Semua orang ikut bergembira dan beramai-ramai memberi selamat kepada Ubun Hiong. Ubun Hiong sendiri merasa kikuk, katanya.

"Sebenarnya aku tidak berani menerima tugas sebesar itu. Cuma perintah Suhu sukar untuk ditolak. Eh, darimanakah Yap-toako mengetahui hal ini?"

"Berita orang-orang Kay-pang memang sangat cepat dan tajam, dari kawan-kawan Kay-pang itulah aku mendapat kabarnya,"

Baca Juga: Dendam Asmara 2

Baca Juga: Sukma Pedang 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger