Eps 12 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
Sahut Boh-hoa dengan tertawa. Sesudah sibuk setengah harian, segera para pahlawan berunding mengenai pimpinan yang kini menjadi kosong itu, Ciong Leng berkata.
"Yap Leng-hong palsu sudah kabur, dengan sendirinya menjadi tugas Yap Leng-hong tulen untuk menggantikannya. Maka aku menyarankan Yap-toako diangkat menjadi komandan kita."
"Aku adalah orang baru dan belum berjasa sedikitpun, mana boleh datang-datang sudah lantas menjadi pimpinan,"
Ujar Boh-hoa.
"Maka menurut pendapatku, adalah selayaknya jika Gong-toako yang tadinya menjabat sebagai wakil sekarang mengambil alih pucuk pimpinan kita."
"Kau telah membongkar kepalsuan Yap Leng-hong, masakah ini bukan jasa yang besar?"
Kata Ciong Leng.
"Sudahlah, kalian tak perlu saling mengalah,"
Sela Hiau-hu.
"Menurut pendapatku, jabatan Thongleng (komandan) bolehlah dipegang oleh Piauko dan Ciongtoako tetap sebagai wakil dan pengawas dengan dibantu pula oleh Jisuko."
Serentak semua orang menyatakan setuju atas usul Kang Hiau-hu itu, dengan demikian tiga pimpinan baru lantas ditetapkan!
"Meski mata-mata musuh sekarang sudah kabur, akan tetapi bahaya masih tetap mengancam kita, kukira musuh pasti akan mengadakan gerakan yang tidak menguntungkan kita,"
Kata Hiau-hu pula.
"Benar,"
Tiba-tiba Ciong Leng menjadi sadar.
"Pasukan pergerakan kita terhimpun di sini untuk menyerang Siaukim-jwan besok, rencana ini diatur oleh Yap Leng-hong, kukira dia pasti mempunyai muslihat keji tertentu."
"Jangan gugup dulu,"
Ujar Boh-hoa.
"jika rencana ini diatur oleh keparat itu, kita justru bertindak kebalikannya. Besok pagi-pagi kita lantas memencarkan kekuatan pasukan kita agar musuh tak bisa meraba maksud kita. Selanjutnya dapat kita lakukan dengan mengganti tempat dan waktu, secara mendadak kita sergap musuh untuk membantu kawan-kawan yang terkepung di Siau-kim-jwan."
Sementara itu sudah hampir fajar, berpuluh ribu prajurit tersebar dalam perkemahan yang luas, untuk meneruskan perintah perubahan rencana tentu akan makan waktu cukup lama.
Padahal dua pasukan perintis di depan telah diperintahkan oleh Yap Leng-hong semalam agar menjelang subuh harus berangkat membuka jalan lebih dulu bagi pasukan induk.
Pada waktu perintah perubahan rencana itu sampai di situ kedua pasukan perintis sudah berangkat.
Sampai pagi, semua pasukan sudah menerima perintah agar mengundurkan diri dari pangkalan semula, segera dikirim pula kurir cepat untuk menghentikan gerakan lebih lanjut dari kedua pasukan perintis yang sudah berangkat itu.
Akan tetapi sudah terlambat, belum lagi pasukanpasukan pembuka jalan itu ditarik mundur, tiba-tiba terdengar suara tambur bergemuruh, dipandang dari atas bukit, terlihatlah beribu-ribu kuda berbondongbondong membanjir tiba, panji berkibaran memenuhi lembah, pasukan besar kerajaan sudah mulai menyerbu ke pangkalan mereka.
Menyusul diterima laporan pula bahwa kedua pasukan depan yang telanjur berangkat itu telah masuk perangkap musuh dan tertumpas habis, dari belasan orang yang berhasil menyelamatkan diri diterima keterangan bahwa dari panji pengenal yang terlihat, pasukan kerajaan itu dipimpin oleh Yap To-hu.
Ciong Leng menjadi kuatir dan gusar menerima laporan itu, katanya.
"Kedatangan pasukan musuh secepat ini tentu disebabkan hubungan rahasia keparat she Yap itu dengan ayahnya, mereka telah memasang perangkap untuk menantikan kita masuk sendiri ke jaring mereka."
"Ya, pastilah jahanam itu yang telah memancing kedatangan pasukan musuh,"
Kata Hiau-hu.
"Tapi kedatangannya menjadi kebetulan malah, kita tak perlu susah payah mencarinya lagi."
Namun dengan sangat tenang Yap Boh-hoa sedang memikirkan siasat, katanya kemudian.
"Ya, kukira musuh memang telah memasang perangkap di depan sana, bila pasukan kita memasuki jebakan yang telah mereka pasang, sekaligus mereka akan menumpas kita secara mendadak. Tapi sekarang mata-mata mereka telah kita bongkar, tentu mereka telah ganti rencana dan sekarang telah melancarkan serangan serentak. Kita kalah jumlah, tapi menang semangat, harapan menang bagi kita tetap besar. Tapi kita harus mencegah jatuhnya korban dan tidak perlu membagi kekuatan kita untuk mencari keparat Yap Thing-cong itu. Sudah tentu, jika dia sendiri yang mengantarkan nyawa ke sini tentu pula akan kita sambut dengan senang hati dan takkan membiarkan dia kabur lagi."
Yap Boh-hoa pernah berjuang bersama suku bangsa Kazak, maka dia rada paham dalam hal siasat perang.
Segera ia mengatur regu-regu tempur ke tempat-tempat tertentu dan memberitahukan perwira-perwira yang bertugas untuk melaksanakan garis tempur yang telah diaturnya itu.
Waktu pertempuran sengit terjadi, benar juga jumlah musuh jauh lebih banyak, perlengkapan lebih baik, tapi pasukan pemberontak menang semangat, menang teknik tempur.
Beberapa kali pasukan kerajaan menerjang maju, tapi selalu dapat digempur mundur dengan meninggalkan korban yang bergelimpangan.
Di beberapa tempat pasukan pemberontak juga dapat membobolkan garis pertahanan musuh, namun demikian korban yang jatuh di pihak pasukan pemberontak juga cukup banyak.
Pada saat pertempuran meningkat dengan sengitnya, sekonyong-konyong dari atas bukit muncul sepasukan musuh yang menerjang ke bawah ke pusat komando yang dipimpin Yap Boh-hoa itu.
Jumlah musuh ada ribuan, sebaliknya sekeliling Yap Boh-hoa hanya tinggal ratusan prajurit saja yang mengawalnya.
Di bawah hujan panah pasukan musuh yang menerjang dari atas itu, pasukan Yap Boh-hoa yang cuma sedikit itu menjadi kocar-kacir.
Waktu Ciong Leng memperhatikan pimpinan pasukan musuh yang tiba itu, dengan geram ia berkata.
"Kurangajar! Kiranya keparat Yap Leng-hong itu berani datang menantang kita!"
Segera Ubun Hiong juga lantas mengenali dua orang di kanan-kiri Yap Leng-hong itu adalah Nyo Ceng dan putranya, yaitu Nyo Hoan.
Kiranya ayah dan anak itu sudah kembali ke dalam pasukannya sesudah sembuh dari lukanya.
Karena mengetahui ilmu silat Nyo Ceng yang tinggi itu, maka Leng-hong sengaja minta bantuan mereka ikut menggempur secara mendadak dari jalan yang tak terduga-duga terhadap pasukan pemberontak.
Cepat Boh-hoa memerintahkan satu batalyon tempurnya yang terdekat ditarik mundur untuk menahan serangan musuh ini.
Ia sendiri menjadi murka, seorang diri ia lantas mengeprak kudanya ke depan untuk menantang Yap Leng-hong.
"Biarkan aku yang membereskan bocah ini!"
Seru Nyo Ceng sambil memapak maju.
Sekali bidik Yap Boh-hoa memanah mati kuda tunggangan Nyo Ceng, tapi dengan pukulan berat dari jauh, tenaga pukulan Nyo Ceng juga membikin roboh kuda Yap Boh-hoa.
Keduanya lantas melompat turun dari kuda untuk bertempur di atas tanah.
Syukurlah batalyon "harimau"
Yang ditarik mundur Yap Boh-hoa tadi sempat memotong serbuan pasukan berkuda yang dipimpin Yap Leng-hong ini, setiap prajurit dengan gagah berani melabrak musuh dengan matimatian.
Namun pasukan Yap Leng-hong telah bertahan dengan rapat sekali sehingga batalyon "harimau"
Itu sukar menembus ke lingkaran tengah untuk melindungi Yap Boh-hoa.
Keadaan medan pertempuran sekarang berpusat pada pasukan kecil yang dipimpin Yap Boh-hoa sendiri, di luarnya terkepung oleh pasukan yang dipimpin Yap Lenghong, dan di lapisan luar lagi adalah batalyon "harimau"
Dari pasukan pemberontak, lapisan lebih luar lagi adalah pasukan induk kerajaan yang berjumlah banyak melawan pasukan pemberontak yang jauh lebih sedikit.
Jadi pihak Yap Boh-hoa sangat tipis harapan akan dapat menang.
Soalnya tergantung sepasukan kecil yang dia pimpin sendiri itu mampu bertahan sampai berapa lamanya?
Ciong Leng sudah teramat benci kepada Yap Lenghong karena merasa tertipu.
Sekarang Yap Boh-hoa terlibat dalam pertarungan melawan Nyo Ceng, maka ia lantas menggantikan Yap Boh-hoa, segera Yap Lenghong diterjangnya.
"Ciong-toako,"
Kata Leng-hong .dengan cengar-cengir.
"hubungan kita seperti saudara sendiri, buat apa kita mesti bertengkar sendiri. Tiada gunanya kalian melawan mati-matian, lebih baik Ciong-toako ..."
Belum habis Leng-hong putar lidah, tiba-tiba Ciong Leng sudah mendekat seraya meludahi lawan, Ciong Leng memaki.
"Keparat, tak perlu mengoceh tak keruan, antara pahlawan dan pengkhianat tak mungkin hidup bersama! Ini rasakan senjata!"
Kontan pedangnya lantas menusuk.
"Hehe, dengan baik-baik aku menasehati kau, memangnya kau sangka aku jeri padamu?"
Jengek Lenghong dengan senyum ejek.
Mendadak ia miringkan tubuh ke samping sehingga tusukan Ciong Leng mengenai tempat kosong.
Berbareng Jik-liong-ki telah dilarikan dan mengitar ke belakang Ciong Leng, segera Leng-hong bermaksud melukai dulu kuda tunggangan lawan agar Ciong Leng terguling ke bawah.
Tak terduga mendadak terdengar suitan Kang Hiauhu, menyusul nona itu telah berseru.
"Jik-liong-ki, kemari sini!"
Sejak kecil Hiau-hu sudah berkawankan Jik-liong-ki, maka kuda itu boleh dikata melulu kenal si nona sebagai majikan yang paling akrab.
Ketika mendadak mendengar suara Hiau-hu, benar juga Jik-liong-ki meringkik sambil membedal ke arah si nona.
Saat itu Yap Leng-hong sedang mengangkat pedang hendak menusuk, mendadak Jik-liong-ki tidak tunduk pada kekangannya, terus putar haluan, keruan Lenghong hampir-hampir terbanting jatuh ke bawah.
Keruan Leng-hong terkejut dan cepat menarik tali kendalinya, namun begitu Jik-liong-ki masih tidak mau menurut dan tetap membedal ke depan.
Tentu saja ia menjadi gusar, bentaknya.
"Binatang, apa gunanya lagi jika kau tidak tunduk padaku!"
Berbareng ia terus menggablok sehingga kepala Jik-liong-ki terpukul hancur, berbareng ia lantas melompat turun dari kuda itu.
Segera Ciong Leng melompat turun juga dari kudanya, terus menubruk ke arah Yap Leng-hong.
Melihat Jik-liong-ki dibinasakan.
Kang Hiau-hu merasa sedih, dampratnya.
"Bangsat yang keji, apa dosa kuda itu? Kau harus mengganti jiwanya."
"Ya, tidak nanti dia dapat lolos, biarlah kita bersama mampuskan dia!"
Seru Ciong Leng.
Sesudah terpaksa membunuh Jik-liong-ki, sekarang Yap Leng-hong sendiri juga rada gugup, cepat ia bermaksud mengundurkan diri ke dalam pasukannya untuk mencari perlindungan, tapi saat itu Ciong Leng sudah mengamuk, terpaksa ia harus melawannya dan prajurit-prajurit biasa sudah tentu tidak berani mendekat.
Tiba-tiba Nyo Hoan menyerbu dari samping sehingga Kang Hiau-hu kena dicegahnya.
Dengan pedang pusaka Cay-in-pokiam yang tajam Hiau-hu dapat memapas senjata para prajurit sebangsa tombak, golok dan lainlain sehingga prajurit-prajurit itu ketakutan tidak berani mendekat.
Namun tidak demikian halnya dengan Nyo Hoan, pemuda ini dapat memutar tongkat bambunya dengan sangat gesit, beberapa kali Hiau-hu bermaksud mengurungi tongkat lawan selalu tidak berhasil.
Di sebelah sana Yap Boh-hoa yang ketemu tandingan seperti Nyo Ceng, mereka belum saling mengenal, tapi begitu bergebrak sudah tidak kenal ampun lagi.
Yap Bohhoa terus menusuk, tapi mendadak Nyo Ceng membentak.
"Lepas!"
Tongkatnya menangkis sambil dipuntir, namun Boh-hoa lantas melangkah miring ke samping, kontan sebelah tangannya menghantam. Mendadak terdengar "biang"
Sekali, telapak tangan kedua orang saling beradu.
Adu tangan ini segera kelihatan siapa yang lebih kuat dan siapa lebih lemah.
Yap Boh-hoa tergetar mundur dua-tiga tindak, tangannya panas kesakitan, tapi pedangnya tidak sampai tersampuk jatuh.
Sebaliknya tubuh Nyo Ceng hanya tergeliat sedikit saja tanpa tergeser selangkah pun, namun begitu telapak tangannya juga terasa panas seperti dibakar, bahkan terasa suatu arus panas seakan menyusup ke Lau-kiong-hiat di tengah telapak tangannya.
Kiranya dalam hal tenaga dalam memang Nyo Ceng lebih tinggi, tapi ilmu pukulan Yap Boh-hoa yang hebat, yaitu Tay-seng-pan-yak-ciang paling lihai untuk memutus urat nadi lawan, karena sedikit lengah hampir saja Nyo Ceng kecundang.
Untung Lwekangnya sangat kuat, begitu merasa gelagat jelek, segera ia menolak keluar hawa panas yang menyusup masuk ke telapak tangannya itu.
Dari gebrakan ini hasilnya Nyo Ceng masih lebih unggul, tapi dia adalah tokoh kelas wahid dari golongan Sia-pay, lawannya cuma seorang pemuda, bukan saja lawan tak bisa dirobohkan, bahkan senjatanya saja tak terlepas dari tangan, hal ini benar-benar di luar dugaannya.
Keruan ia terkesiap dan berseru.
"Bagus, kiranya kau bocah ini masih boleh juga. Ini, rasakan pula kelihaianku!"
Habis itu segera ia menubruk maju pula dengan tongkat bambu hijau yang diputar lincah laksana naga hidup.
"Lepas!"
Mendadak Nyo Ceng membentak lagi, kembali tongkatnya beradu dengan pedang Yap Boh-hoa dan seakan terlengket, berbareng terus dipuntir agar senjata lawannya terlepas dari cekalan.
Beberapa kali Boh-hoa menarik dan mengangkat pedangnya, tapi sukar melepaskan daya lengket dari tongkat lawan.
Selagi dia mengeluh bisa celaka, sekonyong-konyong dari sana Ubun Hiong telah menerjang tiba dengan menghalaukan prajurit-prajurit musuh yang merintanginya.
Begitu tiba pedangnya lantas menusuk ke arah Nyo Ceng.
"Hm, kau bocah inipun hendak mengantar nyawa!"
Jengek Nyo Ceng sembari mengebaskan lengan bajunya.
"Bret", pedang Ubun Hiong tersampuk melenceng ke samping, tapi lengan baju Nyo Ceng juga terpapas sebagian. Alangkah cepatnya Yap Boh-hoa, kesempatan itu tak disia-siakan olehnya, pedangnya mendorong ke depan terus ditarik, maka dapatlah ia melepaskan pedangnya dari lengketan tongkat musuh. Nyo Ceng tadi telah menggunakan kebasan 'lengan baju besi' yang kuat, tapi lengan bajunya toh terpapas robek oleh Ubun Hiong, keruan ia rada heran, pikirnya.
"Hanya dalam beberapa hari saja mengapa kepandaian bocah ini sudah maju sedemikian banyak?"
Ia tidak tahu bahwa Ubun Hiong telah ditolong oleh Ciong Tian, Lwekangnya sekarang sudah jauh lebih kuat daripada tempo hari.
Cuma sayang belum terlatih dengan baik, pula kurang pengalaman, kalau tidak, tentu Nyo Ceng sudah dikalahkan oleh kerubutan Ubun Hiong bersama Yap Boh-hoa.
Begitulah dengan satu lawan dua, pertarungan sekarang bertambah sengit, dalam lingkaran seluas beberapa meter hanya sinar pedang dan bayangan tongkat yang berkelebatan, orang lain hendak membantu juga tak mungkin dapat memasukinya.
Berkat keuletan Nyo Ceng dapatlah dia menandingi kedua pemuda itu dengan sama kuatnya.
Di sebelah sana Ciong Leng juga sedang melabrak Yap Leng-hong, tapi kekuatan mereka pun seimbang.
Tibatiba datang dua orang pembantu Yap Leng-hong sehingga Ciong Leng sekarang terkepung.
Kedua orang itu adalah Bong Ing-ping dan Cin Ing-gok yang sekomplotan dengan Yap Leng-hong.
Mereka pun telah menggabungkan diri dengan pasukan kerajaan dan sekarang ikut menyerbu.
Ilmu silat mereka tidak lemah, mereka dapat ikut menerjang ke tengah pertempuran antara Ciong Leng dan Yap Leng-hong.
Baru sekarang Ciong Leng mengetahui kedua orang itupun mata-mata musuh, keruan ia menjadi murka dan mencaci-maki.
Tapi dengan satu lawan tiga ia menjadi kewalahan, keadaannya menjadi berbahaya.
Di sebelah sana Hiau-hu telah ditandangi Nyo Hoan sehingga tidak dapat datang membantu.
Syukur Ciong Siu telah merobohkan dua-tiga perwira musuh dan menerjang tiba.
Sementara itu perang di medan yang luas sudah terjadi, tapi karena pasukan pemberontak kalah banyak, maka korban yang jatuh sudah amat banyak.
Yap Lenghong telah memerintahkan pasukannya mengepung rapat Ciong Leng agar tidak dapat lolos.
Sedangkan Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong juga cuma sama kuat melawan Nyo Ceng dan sama-sama berada di tengah kepungan musuh, jika bertahan lebih lama tentu tidak menguntungkan.
Sudah tentu yang paling berbahaya keadaannya adalah Ciong Leng.
Saat itu mendadak Kang Hiau-hu meninggalkan Nyo Hoan dan menerjang ke arah Ubun Hiong, tapi pemuda itu telah berteriak.
"Bantu dulu Ciong-toako!"
Cepat Hiauhu putar haluan dan menerjang ke arah lain.
Melihat datangnya Kang Hiau-hu, segera Yap Lenghong memberi perintah agar si nona ditangkap hiduphidup dengan disediakan hadiah bagi yang berjasa, maka beramai-ramai prajurit musuh terus merubung datang.
Tak terduga senjata yang digunakan Kang Hiau-hu adalah pedang pusaka yang tiada bandingannya, sekarang ia pun sudah merah matanya, tanpa ampun lagi ia menabas dan menusuk, kontan beberapa prajurit yang paling depan dibikin terguling.
Sesudah banyak membinasakan prajurit-prajurit itu, lama-lama Kang Hiau-hu tidak sampai hati, bentaknya segera.
"Siapa yang merintangi aku pasti mati! Jika ingin hidup lekas menyingkir!"
Nyata si nona belum kenal hati manusia, dia tak tega membunuh orang, tapi orang lain tidak kenal ampun padanya.
Dengan nekat beberapa perwira musuh telah mengerubutnya lagi, lebih celaka lagi Nyo Hoan juga telah menyusul tiba.
Syukurlah saat itu Ciong Siu sudah berhasil menerjang ke sana, dengan menyengir Yap Leng-hong telah berseru padanya.
"Kebetulan sekali kedatanganmu adik Siu, hendaklah kau bujuk kakakmu untuk meletakkan senjata saja, kita adalah orang sendiri, tentu aku tidak akan mengecewakan kalian."
"Pengkhianat, ini rasakan senjataku,"
Bentak Ciong Siu sambil menubruk maju seraya menusuk.
Serangan kilat itu benar-benar di luar dugaan Yap Leng-hong, ia terkejut dan cepat mengegos ke samping.
Tak tersangka, menyusul sebelah tangan Ciong Siu lantas memukul pula.
Leng-hong dapat menghindarkan tusukan pedang, tapi sukar mengelakkan pukulan itu, sebisanya ia coba menarik kepalanya dan mendak ke bawah, namun tidak urung mukanya juga keserempet oleh tangan Ciong Siu, rasanya sakit pedas.
Keruan Leng-hong menjadi murka, teriaknya.
"Budak setan yang tidak tahu diri!"
Segera pedangnya balas menabas.
Namun kepandaian Ciong Siu tidak di bawah kakaknya, yaitu Ciong Leng, apalagi ia sudah terlalu benci kepada Yap Leng-hong, maka hanya dalam waktu singkat saja Yap Leng-hong sudah kewalahan, hanya mampu menangkis dan tak dapat balas menyerang.
Diam-diam Leng-hong memikirkan siasat lain, mendadak ia melompat mundur terus melarikan diri.
Saat itu Ciong Leng sedang dikerubut Bong Ing-ping dan Cin Ing-gok sehingga tidak sempat merintangi mundurnya Yap Leng-hong.
"Hendak lari kemana!"
Bentak Ciong Siu sambil mengejar, dengan cepat ujung pedangnya sudah mengancam di belakang punggung lawan.
Tapi mendadak Yap Leng-hong mencemplak ke atas kuda seorang prajurit, berbareng prajurit itu diseretnya terus dilemparkan ke belakang sebagai tameng.
Bobot badan prajurit itu ada ratusan kati, jika sampai tertindih tentu akan celaka.
Cepat Ciong Siu berkelit ke samping, sebelah tangannya berbareng menyanggah dan ditolak ke belakang sehingga tubuh prajurit itu masih terus melayang pergi dan akhirnya jatuh terbanting sekarat.
Hanya sekejap itu saja Yap Leng-hong sudah sempat melarikan kudanya jauh ke depan, mendadak ia mengacungkan cambuk sebagai tanda memberi perintah, teriaknya.
"Pasukan berkuda ke depan, terjang saja, injak musuh biar hancur-luluh!"
Sebagai putra panglimanya, sudah tentu perintah Yap Leng-hong segera dituruti.
Serentak pasukan berkuda yang dibawa datang tadi menyerbu ke depan, diterjang oleh ribuan kuda yang dilarikan secara berbondong-bondong, bila sampai diterjang dan jatuh, maka dalam sekejap saja pasti akan terinjak-injak hancur luluh Saat itu Bong Ing-ping dan Cin Ing-gok masih mengerubut Ciong Leng, nyata Yap Leng-hong sama sekali tak ambil pusing apakah kawan sendiri akan ikut diterjang pasukan berkuda atau tidak.
Keruan kedua orang itu terkejut bukan main, kepandaian Bong Ing-ping lebih tinggi dan lebih cerdik, begitu melihat gelagat jelek, segera ia melarikan diri dan merampas seekor kuda dari seorang prajurit dan dapatlah ia menggabungkan diri dengan pasukan kerajaan.
Cin Ing-gok lebih lamban, baru saja ia hendak ikut lari, namun sekali hantam dia telah dirobohkan oleh Ciong Leng, menyusul badannya menjadi hancur terinjak-injak oleh beratus-ratus kuda yang menerjang tanpa pandang kawan atau lawan.
Ciong Leng sempat menjatuhkan diri sambil mengayun pedangnya, dua-tiga ekor kuda yang paling depan kena ditebas kakinya sehingga roboh, dengan sendirinya kudakuda di belakangnya menjadi terganggu larinya, kesempatan ini segera digunakan oleh Ciong Leng untuk melompat bangun.
Bersama Ciong Siu masing-masing berhasil merampas seekor kuda, terus mencari jalan menyelamatkan diri.
Pertarungan di antara Kang Hiau-hu melawan Nyo Hoan juga terpaksa saling memisahkan diri untuk mencari selamat, dengan cekatan Hiau-hu juga dapat merampas seekor kuda.
Namun demikian Ciong Leng, Ciong Siu dan Kang Hiau-hu bertiga menjadi terjeblos di tengah-tengah pasukan berkuda kerajaan yang melanda.
Di tengah pertempuran sengit yang kacau itu, sekonyong-konyong terdengar suara suitan orang yang panjang nyaring, suara tambur perang dan gemuruh kuda yang berbondong-bondong itu ternyata tidak mengurangi suara suitan yang keras itu.
Leng-hong terkejut, pikirnya.
"Siapakah dia? Agaknya kekuatannya tidak di bawah Nyo Ceng. Rasanya di bawah ayahku toh tiada jago selihai ini?"
Belum selesai ia berpikir, tertampaklah pasukan berkudanya yang kuat itu telah bobol diterjang orang.
Satu rombongan pengemis yang berbaju rombeng tampak menyerbu tiba, pemimpinnya seorang pengemis tua telah bergelak tertawa dan berseru.
"Bagus, anjing tua dan anjing kecil berada di sini semua. Kebetulan bagi pengemis tua, hari ini tentu dapat menghajar anjing sepuas-puasnya!"
Pengemis tua ini bukan lain adalah Tiong Tiang-thong, ketua Kay-pang.
Sebenarnya dia berangkat bersamaan waktunya dengan Yap Boh-hoa, tapi kuda Boh-hoa lebih cepat dan semalam sudah sampai di tempat tujuan.
Tiong Tiang-thong sempat mengumpulkan beberapa puluh murid Kay-pang di sepanjang jalan dan sekarang telah memburu tiba untuk membantu.
Meski jumlah kaum pengemis itu cuma sedikit, tapi beberapa puluh orang itu adalah murid Kay-pang dari tingkatan lima kantong ke atas, semuanya berilmu silat tinggi, datangnya mereka laksana sebilah belati yang menikam di tengah jantung pasukan musuh.
Dengan dibobolnya kepungan pasukan musuh oleh kawanan pengemis itu, kesempatan itu segera digunakan oleh "batalyon harimau"
Dari pasukan pemberontak untuk menggempur lebih nekat dari lapisan luar sehingga pasukan berkuda yang diandalkan Yap Leng-hong itu terpotong dan menjadi kacau.
Yap Leng-hong cukup kenal kelihaian Tiong Tiangthong, pula melihat pasukan inti pihak pemberontak berhasil ikut menerjang masuk, ia tidak berani tinggal lebih lama lagi di situ, jalan paling selamat adalah angkat kaki.
Segera ia mengumpulkan satu regu pilihan untuk melindunginya, terus menerjang ke arah yang paling lemah dari pihak pemberontak, akhirnya dapatlah dia bergabung dengan pasukan kerajaan yang berada di lapisan paling luar.
"Haha, tidak jadi apa, anjing kecilnya telah lari, biar kuhajar anjing tua saja. Awas!"
Teriak Tiong Tiang-thong sambil memapak datangnya Nyo Ceng yang sedang berlari ke arahnya, kontan ia menghantam.
Cepat Nyo Ceng angkat tongkat bambunya, bagai ular hidup ujung tongkat menotok ke Lau-kiong-hiat di tengah telapak tangan lawan.
Namun dengan gesit Tiong Tiang-thong telah memutar tangannya ke bawah, menyusul terus mencengkeram sehingga ujung tongkat Nyo Ceng terpegang.
Menyusul ia lantas mendesak maju selangkah, sebelah tangannya terus menggaplok ke atas kepala lawan.
Nyo Ceng menangkis.
"biang", kedua tangan beradu dengan keras. Tahu-tahu Nyo Ceng membuang tongkatnya sembari melompat ke samping. Kiranya kekuatan kedua orang boleh dikata seimbang, hanya ilmu pukulan Tiong Tiang-thong, yaitu Kun-goanit-khi-kang, adalah pukulan bertenaga dahsyat, dalam keadaan terpaksa Nyo Ceng menyambut pukulan itu, maka ia rada tergetar dan melompat menyingkir. Menyusul Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong telah memburu tiba, dua batang pedang serentak menusuk. Dalam keadaan sudah kehilangan tongkat, mau tak mau Nyo Ceng mengeluh.
"Celaka! Jika pengemis tua itupun menubruk maju, tentu tamatlah jiwaku!"
Di luar dugaan Tiong Tiang-thong tidak mau ikut menggempur di kala dia terdesak. Namun begitu, dengan tangan kosong Nyo Ceng juga kewalahan melawan keroyokan Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong.
"Baiklah, anjing tua ini biar kuserahkan kepada kedua anak ini untuk menyembelihnya,"
Seru Tiong Tiang-thong dengan tertawa.
Sebagai ketua Kay-pang dan seorang tokoh terkemuka, Tiong Tiang-thong merasa tidak pantas ikut membantu kedua pemuda itu.
Tak tersangka karena pikirannya itu, kembali Nyo Ceng mendapat kesempatan untuk menyelamatkan diri lagi.
Sementara itu situasi medan perang telah berubah dengan cepat.
"batalyon harimau"
Dari pihak pemberontak berhasil membobol pasukan berkuda yang dipimpin Yap Leng-hong tadi sehingga pemuda itu terpaksa ngacir, tapi dari lapisan luar pasukan induk kerajaan juga telah menyerbu tiba, pertempuran sengit secara besar-besaran kembali terjadi pula.
Pasukan kerajaan menang dalam jumlah orang, terpaksa pihak pemberontak bertahan mati-matian, kesempatan itu telah digunakan oleh Nyo Ceng untuk lari dari keroyokan Yap Boh-hoa bersama Ubun Hiong.
Mengingat dirinya harus memimpin pasukannya pula, terpaksa Boh-hoa tidak sempat mengejarnya.
Baru sekarang Tiong Tiang-thong merasa menyesal karena Nyo Ceng dan Yap Leng-hong berhasil lolos.
Dengan murka ia telah membinasakan beberapa puluh orang prajurit musuh sebagai pelampias marahnya.
Kedua tangannya mencengkeram dan melempar dengan cepat, seperti ayam saja prajurit-prajurit itu dibantingnya hingga mati.
Begitu pula Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong telah memutar pedangnya, yang berani mendekat pasti binasa.
Keruan prajurit-prajurit musuh menjadi ketakutan dan tak berani mendesak maju.
Walaupun demikian, jumlah pasukan musuh teramat banyak, pihak pemberontak masih belum mampu menerjang keluar dari kepungan.
Segera Yap Boh-hoa mengambil tindakan cepat.
"Ciong-toako, kau bertahan sementara di sini. Tiong-pangcu, marilah kita menerjang keluar dan menyerbu kemah komando pasukan musuh."
"Benar,"
Teriak Tiong Tiang-thong.
"Keparat Yap Lenghong itu tak terbunuh, boleh kita binasakan bapaknya saja. Memang si jagal she Yap itu lebih bermanfaat untuk dibunuh!"
Begitulah kedua orang itu lantas menerjang ke depan diikuti oleh beberapa puluh murid Kay-pang yang berkepandaian tinggi.
Prajurit-prajurit musuh tidak mampu menahan mereka, hanya dalam sekejap saja mereka sudah membuka suatu jalan berdarah.
Setiba di lapisan luar, dapatlah Yap Boh-hoa mengumpulkan dua barisan pemanah yang berjumlah ribuan orang, perintah diberikan agar menangkap dulu panglima musuh daripada membunuh prajuritnya.
Serentak bergemuruhlah suara.
"Tangkap si jagal she Yap!"
Ribuan prajurit pemanah yang bersemangat itu lantas saja menerjang ke arah kemah komando pasukan musuh yang jelas kelihatan dari panji pengenalnya.
Saat itu sebagian besar pasukan kerajaan sedang dikerahkan untuk mengepung pasukan pemberontak, sisa pasukan yang mengelilingi kemah komando dimana Yap To-hu berada itu cuma dua ribuan orang saja.
Orang yang kejam biasanya adalah orang yang paling pengecut pula, biasanya Yap To-hu membunuh orang boleh dikata seperti menggencet semut tanpa kenal kasihan, tapi sekarang demi nampak penyerbuan pasukan yang dipimpin Yap Boh-hoa yang gagah berani itu, suara teriakan tangkap yang dialamatkan kepadanya itu bergemuruh laksana geledek, keruan nyali Yap To-hu serasa pecah.
Ia takut kalau-kalau dirinya benar-benar tertangkap pasukan pemberontak, maka dengan gugup ia memberi perintah agar pasukannya lekas mundur, semua pasukan yang telah maju juga cepat ditarik mundur untuk melindungi dirinya.
Pada hal sisa pasukan Yap To-hu sendiri itu tidak lebih sedikit daripada pasukan yang datang dipimpin Yap Bohhoa itu, tapi dasar si jagal yang kejam itu memang takut mati, begitu perintah mundur dikeluarkan, segera ia menyelamatkan diri lebih dulu.
Keruan hal ini mempengaruhi semangat tempur pasukannya, masingmasing lantas mencari selamat sendiri-sendiri, suasana menjadi kacau.
Jika pasukan kerajaan mencari selamat sendiri-sendiri tanpa menghiraukan prajurit-prajurit mereka yang terluka, terpaksa kewajiban ini dilakukan oleh pasukan pemberontak.
Yap Boh-hoa memberi perintah agar jenazah dikubur setempat, yang luka baik kawan maupun lawan semuanya diberi pertolongan.
Selesai itu Yap Bohhoa lantas menarik kembali pasukannya ke pangkalan lain, dipindahkannya ke lereng gunung.
Maklumlah jumlah pasukan kerajaan jauh lebih banyak, bila mereka mendapat tambahan tenaga baru lagi, tentu akan dapat melakukan serangan pula.
Untuk perang secara terbuka tentu tidak menguntungkan pasukan pemberontak yang berjumlah jauh lebih sedikit.
Hasil pertempuran itu telah menimbulkan korban tidak sedikit, antara beberapa ribu korban mati dan luka itu sebagian besar adalah pasukan kerajaan.
Yang terluka dan sekarang tertawan itu ada beberapa ribu orang jumlahnya, karena perbekalan yang tidak cukup, maka tawanan-tawanan perang itu menjadi soal pembicaraan pokok.
Akhirnya Yap Boh-hoa mengambil keputusan, tawanan-tawanan yang terluka ringan dan mau pulang kampung halaman diberi kebebasan, yang terluka parah akan dirawat sedapat mungkin, yang sadar dan mau menggabungkan diri dengan pasukan pergerakan akan diterima dengan baik.
Keputusan Yap Boh-hoa yang bijaksana itu sangat mengharukan tawanan-tawanan itu, sungguh tak terduga oleh mereka bahwa pihak pasukan pergerakan itu akan memperlakukan mereka dengan begitu baik, sudah barang tentu mereka merasa berterima kasih tak terhingga.
Tengah bicara, tiba-tiba penjaga datang melapor bahwa Ciong-tayhiap dari Thian-san telah datang.
Ciong Siu kegirangan mendengar ayahnya telah datang, secepat terbang ia berlari keluar.
Yap Boh-hoa dan lain-lain juga lantas keluar menyambut, memang benar Ciong Tian suami-istri telah datang semua.
Melihat putrinya baik-baik saja barulah Li Sim-bwe merasa lega, ia merasa bersyukur anak dara itu tidak sampai menjadi korban kelicikan Yap Leng-hong.
Setelah ambil tempat duduk di dalam kemah, Yap Boh-hoa maju memberi hormat.
Ciong Tian telah diberitahu bahwa pemuda itu adalah keponakan Kang Hay-thian yang tulen, maka ia sangat senang, katanya.
"Bibimu sedang pulang ke negeri leluhur untuk menjenguk pamanmu, rasanya selekasnya dia akan pulang dan boleh jadi akan sekalian mampir ke Thiansan. Jika kami pulang dari sini mungkin masih sempat bertemu dengan dia nanti dan tentu aku akan memberitahukan tentang segala kejadian di sini agar dia pun ikut terkejut dan bergirang."
"Bilamana ibu mendapat tahu, tentu beliau akan datang kemari untuk menjenguk keponakannya,"
Ujar Hiau-hu dengan tertawa.
"Adik Hu,"
Kata Boh-hoa dengan tertawa.
"janganlah kau tergesa-gesa ingin bertemu dengan ibumu. Dalam waktu singkat ini aku ingin minta kau melakukan sesuatu."
"Melakukan sesuatu apa?"
Tanya Hiau-hu.
"Melakukan sesuatu yang amat penting,"
Sahut Bohhoa.
"Untuk ini aku ingin minta bantuanmu dan Ubunsute pergi bersama. Yaitu pergi ke Siau-kim-jwan untuk menyampaikan berita kepada keluarga Leng dan Siau Ciwan yang sementara ini tentu sangat mengharapkan kedatangan bala bantuan kita. Katakan kepada mereka bahwa rencanaku dalam waktu singkat bila pasukan kita sudah cukup beristirahat segera akan dapat dikerahkan untuk menggempur musuh pula dan melepaskan mereka dari kepungan musuh. Yang penting supaya mereka mengetahui lebih dulu rencanaku agar bisa tenteram, di samping itu hendaklah mereka berjaga-jaga kalau-kalau ada mata-mata musuh yang menyusup di antara mereka."
"Benar,"
Seru Ubun Hiong.
"kedok jahanam Yap Lenghong telah terbongkar di sini, tapi kawan-kawan di Siaukim-jwan belum lagi mengetahui, bukan mustahil keparat itu akan datang ke sana untuk mengacau. Dia adalah saudara angkat Siau Ci-wan, jangan-jangan dia mudah dikelabui olehnya. Baiklah, besok juga kita lekas berangkat."
"Ya, aku justru sedang menguatirkan hal ini,"
Kata Boh-hoa.
"Kepungan musuh terhadap Siau-kim-jwan memang rapat sekali, kepergian kalian harus dilakukan dengan lebih hati-hati."
Dugaan Ubun Hiong itu ternyata tidak meleset, pada saat yang bersamaan Yap Leng-hong seorang diri memang sudah menyusup ke Siau-kim-jwan.
Sesudah mengalami kekalahan dan kembali ke wilayah kekuasaannya, barulah Yap To-hu memerintahkan pasukannya berhenti dan berkemah.
Laksana ayam jago aduan yang baru saja keok, kira-kira begitulah kelesuan Yap To-hu pada saat itu.
Maka sambil duduk berhadapan dengan putranya di dalam kemah, dia hanya menghela napas panjang belaka atas kekalahannya itu.
Padahal sebelumnya dia sudah melaporkan rencananya yang muluk-muluk kepada raja bahwa kemenangan segera akan diperolehnya dengan mudah, karena mereka ayah dan anak sudah bersekongkol dengan baik, siapa duga pertempuran pertama saja sudah menggagalkan seluruh impiannya itu.
Sudah tentu Yap Leng-hong tidak kurang murungnya daripada sang ayah.
Kedoknya sekarang telah terbongkar sehingga buyarlah segala impiannya.
Terbayang olehnya sikap gemas Ubun Hiong yang hendak membunuhnya, terbayang pula sikap Yap Boh-hoa yang mendampratnya dengan murka.
Teringat olehnya sikap Ciong Siu yang mendadak berubah 180 derajat dan telah menempelengnya, ya ...
bahkan dia sekarang sudah menjadi musuh bersama orang persilatan, setiap ksatria, setiap pahlawan tentu tidak kenal ampun padanya.
Utti Keng dan istrinya sudah pasti akan menuntut balas padanya.
Yang paling mengerikan adalah gurunya yang paling ditakutinya yaitu Kang Hay-thian.
Begitulah makin dipikir makin kuatir dan makin ngeri Yap Leng-hong, sampai-sampai dua pengawal membawakan air cuci muka baginya tak diketahui.
"Anak Ting, cucilah mukamu dulu agar segar semangatmu,"
Kata Yap To-hu. Tiba-tiba Leng-hong sadar, sahutnya cepat.
"Tidak, biarkan tetap begini. Aku ada suatu akal bagus, ayah!"
"Akal apa?"
Tanya Yap To-hu.
"Biarlah sekarang juga aku akan berangkat ke Siaukim-jwan dan akan bertindak menurut keadaan,"
Tutur Leng-hong.
"Boleh jadi kita akan dapat bekerja sama pula dari dalam dan luar, mungkin pasukan pemberontak di bawah pimpinan Leng Thian-lok itu akan dapat kita lalap habis. Dengan demikian dapatlah menutup kekalahan kita hari ini."
"Kau akan menyusup ke Siau-kim-jwan?"
Yap To-hu menegas.
"Ya, rencana ini memang bagus, cuma agak berbahaya."
"Jangan kuatir, ayah,"
Kata Leng-hong.
"Asalkan kepungan terhadap Siau-kim-jwan diperketat, siapa pun jangan diberi luang untuk menerobos ke sana, dengan demikian resikoku tentu akan berkurang. Pihak Siau-kimjwan hanya mengenal aku sebagai komandan pasukan pergerakan yang datang hendak membantu mereka, Siau Ci-wan adalah saudara angkatku pula, tentu mereka akan percaya penuh padaku."
Sebenarnya bukanlah Yap Leng-hong tidak takut bahaya, soalnya terpaksa.
Ia tahu dosanya teramat besar dan tak terampunkan oleh pihak pemberontak, terpaksa ia mengharap akan dapat menumpas pasukan pemberontak untuk menyelamatkan jiwanya sendiri.
Karena tiada jalan lain yang lebih sempurna, akhirnya Yap To-hu setuju juga.
Dia hanya mempunyai putra tunggal Yap Leng-hong alias Yap Thing-cong saja, sesungguhnya ia tidak tega membiarkan putranya menghadapi bahaya, tapi keadaan sudah terpaksa, demi jiwa dan kedudukannya sendiri ia harus mengambil resiko itu.
Begitulah segera Yap Leng-hong minta dua orang pengiring dan satu pasukan yang pura-pura mengejarnya bila dia sudah memasuki daerah pertahanan Siau-kimjwan.
Pihak pemberontak di Siau-kim-jwan meski terkepung dan putus hubungan dengan luar, tapi pertempuran sengit yang terjadi antara musuh dengan pasukan sekarang yang dipimpin Yap Leng-hong yang gemuruh itu dapat diketahui juga oleh mereka.
Sebab itulah pasukan pemberontak di Siau-kim-jwan juga telah memperkuat patrolinya dan selalu siap siaga.
Oleh sebab itu baru saja Yap Leng-hong memasuki garis pertahanan pasukan pemberontak Siau-kim-jwan, segera jejaknya diketahui dan satu regu patroli lantas memapak kedatangannya.
Pasukan kerajaan yang berteriak-teriak dan pura-pura mengejar Yap Leng-hong segera mengundurkan diri.
Mendadak Yap Leng-hong memutar pedangnya ke kanan dan ke kiri, kontan dua pengiring yang dibawanya dari kemah ayahnya tu ditabas mati dengan penasaran tanpa mengetahui apa dosa mereka.
Dalam pada itu pasukan patroli tadi pun sudah tiba.
Leng-hong berseru.
"Aku adalah Yap Leng-hong, komandan pasukan pergerakan untuk membantu kalian. Lekas bawa aku menemui Leng-cecu dan Siau-thongleng kalian."
Perwira regu patroli itu terkejut, cepat ia mengirim orang melaporkan pihak pimpinan, ia sendiri lantas mengantar Yap Leng-hong ke markas besar.
Ketika mendapat laporan, Leng Thian-lok, pimpinan besar dari pasukan pemberontak di Siau-kim-jwan merasa sangsi, katanya.
"Yap Leng-hong adalah panglima pasukan besar, mengapa seorang diri datang ke sini?"
"Benar atau tidak biarlah kita bertemu dulu dengan dia,"
Ujar Siau Ci-wan.
"Yap Leng-hong adalah saudara angkatku, tidak nanti aku pangling padanya."
Disangkanya Leng Thian-lok menguatirkan orang memalsukan Yap Leng-hong untuk bertemu dengan dirinya, tak tahunya kedatangan Yap Leng-hong ini memang benar-benar sangat mencurigakan Leng Thianlok.
Ketika kemudian Yap Leng-hong dipersilakan masuk, Siau Ci-wan terkejut, serunya.
"Hiante, mengapa begini keadaanmu? Apakah.."
Leng-hong memang pandai main sandiwara, seketika ia menangis tersedu-sedu dan berkata.
"Siaute benarbenar malu untuk bicara dengan Siau-toako."
"Kalah menang adalah soal biasa di medan perang, Hiante jangan berduka, marilah kita berunding sebaikbaiknya,"
Kata Siau Ci-wan.
Begitulah Yap Leng-hong lantas menuturkan pengalamannya bahwa puluhan ribu prajurit yang dipimpinnya telah mengalami kekalahan total sehingga tidak berhasil memberi bantuan bagi kawan-kawan yang terkepung di Siau-kim-jwan.
Berita buruk itu sudah tentu sangat mencemaskan Siau Ci-wan, tapi semangatnya tidak menjadi runtuh, katanya.
"Kegagalan satu kali saja takkan mematahkan semangat kita. Perjuangan selamanya banyak rintangannya, kita masih harus mengulanginya lagi."
"Kami pun merasa malu karena tak mampu membobol kepungan musuh untuk memberi bantuan kepada kalian,"
Demikian Leng Thian-lok ikut berkata.
"Urusan sekarang kita harus meninjau sebab kekalahan kita ini dan bersama-sama menggempur musuh. Hanya saja aku ingin tahu sedikit keadaan cara bagaimana seluruh pasukan Yap-thongleng sampai kena dimakan habis oleh musuh dan hanya Yap-thongleng seorang saja yang berhasil menerobos kemari?"
Sudah tentu sebelumnya Yap Leng-hong sudah menduga akan datangnya pertanyaan demikian, maka dengan tenang ia menjawab.
"Menerjang keluar dari kepungan musuh sudah tentu tidak cukup dengan tenagaku seorang saja. Rombonganku semula ada beberapa orang yang masih ikut di belakangku, tapi jumlah musuh teramat banyak dan kuat, akhirnya mereka gugur semua, seperti murid Jing-sia-pay yang bernama Bong Ing-ping, dia juga satu rombongan bersama aku. Syukurlah aku dapat menembus kepungan dari arah yang paling lemah penjagaan musuh."
Walaupun masih ragu-ragu, tapi melihat pakaian Yap Leng-hong yang berlepotan darah dan mukanya yang kotor lelah habis bertempur sengit, mau tak mau Leng Thian-lok setengah percaya juga.
Apalagi dari laporan tadi memang diketahui Yap Leng-hong dipergoki di tengah kejaran pasukan musuh dan menyaksikannya membunuh prajurit yang mengejarnya itu.
Setelah mengikuti cerita Yap Leng-hong, kini Leng Thian-lok berbalik kuatir bagi pahlawan-pahlawan yang lain yang tak diketahui nasibnya, ia lantas mengemukakan perasaannya itu.
"Ya, aku justru ingin minta bantuan Leng-cecu agar regu-regu patroli diperintahkan mengawasi garis depan, bila ada kawan kita sendiri harus lekas disambut kemari, kode penghubung kita adalah matahari dan bulan bersinar kembali, hanya kawan sendirilah yang mengetahui kode ini,"
Demikian kata Leng-hong.
Leng Thian-lok segera memerintahkan seperti apa yang dikatakan Yap Leng-hong itu.
Kiranya cerita Yap Leng-hong itu hanya untuk menipu Leng Thian-lok saja, dia menguraikan hal itu secara benar-benar bohong, tapi sesungguhnya mempunyai tipu muslihat tertentu.
Sebab besok paginya dengan alasan ingin tahu keadaan garis depan, pada kesempatan itu dia telah menyembunyikan surat rahasia di dalam batang panah yang bertabung, lalu dibidikkan ke wilayah pasukan musuh.
Beberapa prajurit pengiringnya menyangka dia hendak memanah musuh untuk melampiaskan dendamnya, maka tiada seorang pun yang menaruh curiga.
Sesudah menerima surat rahasia putranya itu segera Yap To-hu menjalankan rencananya, ia memilih beberapa puluh perwira yang berkepandaian agak tinggi untuk menyamar sebagai prajurit pasukan pemberontak, setiap orang dibikin sedikit luka ringan, lalu dibawa serta oleh Bong Tng-ping dan menyusup ke daerah Siau-kim-jwan agar dipergoki oleh patroli, dengan demikian terlaksanalah langkah pertama rencana Yap Leng-hong.
Menurut rencana Yap Leng-hong, bila sudah mendapat kepercayaan Leng Thian-lok, setindak demi setindak ia dapat merebut kekuasaan dan menunggu saat yang baik untuk bergerak bersama ayahnya dari luar dan dalam, dengan demikian pertahanan Siau-kim-jwan akan dapat diruntuhkan.
Tak terduga Leng Thian-lok bukanlah anak bawang kemarin sore dan tak dapat dipersamakan Ciong Leng yang mudah dipermainkan.
Di luarnya saja Leng Thianlok ramah-tamah dan menghormati Yap Leng-hong, tapi sama sekali ia tidak memberi tugas penting padanya, segala rahasia militer juga tak dibicarakan dengannya.
Dengan demikian Yap Leng-hong menjadi sukar menempatkan Bong Ing-ping dan kawan-kawannya di pos-pos yang penting.
Terpaksa ia harus bersabar menunggu kesempatan lagi.
Namun hasil muslihat Yap Leng-hong itu bukannya sama sekali nihil, paling tidak ia telah membikin Siau Ciwan mau mempercayai ocehannya tentang gurunya, serta sesama saudara seperguruannya.
Tentang diusirnya Ubun Hiong dari perguruannya memang Siau Ci-wan sudah mendengar beritanya, maka Yap Lenghong lantas menambahkan macam-macam kebusukan Ubun Hiong dan memfitnahnya sebagai mata-mata musuh, bahkan juga ditimpahkan dosa itu atas diri Yap Boh-hoa yang bersekongkol dengan Ubun Hiong.
Karena Leng Thian-lok dan keponakannya serta Siau Ci-wan yang merupakan tiga tokoh pimpinan di Siau-kim-jwan itu tidak kenal siapa Yap Boh-hoa, dengan sendirinya Yap Leng-hong dapat mengoceh sesukanya dan mereka pun percaya saja.
"Sungguh tidak nyana bahwa Ubun Hiong itu sedemikian beraninya, sayang Kang-tayhiap telah salah menerimanya sebagai murid,"
Ujar Siau Ci-wan dengan gegetun.
"Ya, makanya Suhuku sangat gusar,"
Kata Leng-hong.
"Selain itu kita harus menjaga segala kemungkinan penyusupan ke sini bersama Yap Boh-hoa. Untuk ini hendaklah penjagaan harus diperketat."
Habis itu ia lantas melukiskan wajah Yap Boh-hoa agar dikenali para perwira yang berdinas patroli, asalkan menemukan kedua pemuda yang disebutnya itu, boleh segera disambut dengan hujan panah saja.
Usul Yap Leng-hong ini dapat diterima oleh Leng Thian-lok, segera ia memberikan perintah agar mengawasi kemungkinan penyusupan mata-mata musuh.
Kiranya Yap Leng-hong paling kuatir kalau-kalau Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong berhasil menyusup datang untuk membongkar rahasianya.
Sekarang usulnya diterima, maka senang dan legalah hatinya.
Pengepungan pasukan kerajaan yang rapat itu disertai penjagaan yang ketat di pihak Siau-kim-jwan, betapapun tinggi kepandaian Yap Boh-hoa dan Ubun Hiong juga suka menembus blokade yang rapat itu.
Sama sekali Yap Leng-hong tidak menduga bahwa pada waktu dia merasa senang-senang itulah Ubun Hiong benar-benar sudah datang, cuma datangnya tidak bersama Yap Boh-hoa, tapi dengan Kang Hiau-hu.
Lereng gunung di sekitar Siau-kim-jwan yang berderet-deret bagai ular raksasa, garis penjagaan pasukan kerajaan Boan-jing juga menyusur panjang ratusan li, meski penjagaan diadakan setiap beberapa meter satu pos, toh tidak urung masih ada lowongan yang dapat diterobos.
Berkat Ginkang yang tinggi, siang bersembunyi dan malam menggeremet, pada dua hari pertama Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu dapat maju dengan lancar, mereka berhasil melalui tiga garis penjagaan musuh tanpa dipergoki dan tibalah di daerah pegunungan.
Sampai malam hari ketiga mereka sudah melintasi puncak selatan Giok-boan-san.
Di kaki gunung sebelah utara adalah garis penjagaan terakhir dari pasukan kerajaan yang mengepung Siau-kim-jwan itu.
Setiba di Iamping gunung, samar-samar perkemahan pasuk.m musuh di bagian bawah sudah kelihatan, sesudah Ubun Hjong mengamat-amati keadaan setempat, tanpa terasa ia mengeluh.
Di teng.ili malam yang gelap gulita itu, pelita-pelita di kaki gunung sana terlih.it bintik-bintik serapat bintang-bintang di langit.
Ternyata pasukan musuh telah berkemah secara sambung menyambung dengan rapat sehingga Siau-kimjwan benar-benar terkepung tak tertembuskan.
Biarpun tumbuh sayap juga sukar melintasinya.
"Bagaimana baiknya sekarang?"
Kata Hiau-hu kepada sang Suheng.
"Apakah terpaksa kita harus menerjang lewat secara terang-terangan."
"Cara demikian kurang baik,"
Sahut Ubun Hiong.
"Biarpun pedangmu lihai, apa kau mampu menghabiskan prajurit musuh sebanyak itu?"
"Habis apa daya kita?"
Kata Hiau-hu.
"Bukan mustahil keparat Yap Leng-hong itu sekarang sudah menyusup ke Siau-kim-jwan, apakah kita mesti menyaksikan paman Leng tertipu lagi seperti Ciong-toako?"
"Ya, justru tugas kita yang maha penting, maka kita lebih-lebih tidak boleh sembarangan bertindak,"
Ujar Ubun Hiong.
"Betul, soalnya cara bagaimana kita harus menerobos ke sana, aku bingung, tidak tahu jalan yang paling baik."
Kata Hiau-hu.
Sudah tentu Ubun Hiong jauh lebih gelisah daripada si nona, tapi ia pun tidak mendapatkan sesuatu akal.
Pada saat itulah tiba-tiba terlihat api obor di kaki gunung, kiranya ada patroli musuh sedang mendatangi.
"Tiada gunanya kita membunuh beberapa orang mereka, lebih baik kita bersembunyi saja,"
Kata Ubun Hiong.
Dengan menahan dongkol Hiau-hu ikut Ubun Hiong bersembunyi di tengah semak belukar.
Tidak lama kemudian pasukan patroli itu sudah mendekat, sayupsayup Hiau-hu mendengar seorang di antaranya sedang berkata.
"Hanya seorang wanita saja, betapapun tinggi ilmu silatnya masakah berani menyusup lewat garis penjagaan kita yang rapat ini?"
Lalu seorang kawannya telah menanggapi.
"Darimana kau mengetahui dia hanya seorang diri saja, bukan mustahil dia berkawan."
"Jika yang datang orang banyak tentu sudah kepergok sejak tadi,"
Ujar orang tadi.
"Sebaliknya kalau cuma datang dua-tiga orang saja apa gunanya?"
Obor-obor yang dibawa prajurit-prajurit musuh itu disorotkan ke kanan-kiri, dengan kencang Hiau-hu memegang senjatanya dan bersiap-siap, bila jejaknya ketahuan ia akan segera menerjang keluar.
Syukur patroli itu tidak mengetahui tempat persembunyian mereka, mungkin karena jalanan pegunungan yang sulit dilalui, maka setiba di lamping gunung rombongan mereka lantas mundur kembali ke bawah.
Hiau-hu merasa lega dan keluar dari semak belukar, katanya kepada Ubun Hiong.
"Jisuko, kau dengar pembicaraan mereka tidak?"
"Ya, aneh, apakah barangkali dia maksudkan kita?"
Sahut Ubun Hiong.
"Memang bukan mustahil jejak kita telah diketahui musuh, tapi mungkin mereka hanya mengetahui diriku saja dan tidak tahu masih terdapat kau pula bersamaku."
Begitulah Hiau-hu menyangka "wanita"
Yang dikatakan prajurit musuh tadi itu adalah dirinya.
Pasukan ronda musuh tadi sudah pergi jauh.
Sementara itu langit yang tadinya gelap gulita tertutup awan hitam itu sekarang mendadak berubah, awan mulai buyar dan sang dewi malam menongol di tengah celahcelah mega sehingga semakin menambah pemandangan pegunungan yang indah itu.
Tentu saja Kang Hiau-hu tiada punya pikiran untuk menikmati pemandangan indah itu, katanya dengan rada kuatir.
"Bila jejak kita sudah diketahui musuh, terang malam ini kita tidak dapat menembus garis penjagaan mereka. Besok pagi mereka tentu akan mengadakan pencarian secara besar-besaran. Jisuko, daripada terhalang di sini, lebih baik kita menerjang lewat saja dengan sedikit menyerempet bahaya."
"Sssst, dengarkan, di sana seperti ada suara orang,"
Tiba-tiba Ubun Hiong mendesis perlahan.
Segera mereka memandang ke sebelah atas dan mendengarkan dengan cermat.
Di bawah sinar bulan yang remang-remang, tertampak di lereng gunung yang rada miring sebelah sana samar-samar seperti ada sebuah rumah gubuk.
Dan suara itu agaknya datang dari rumah gubuk itu.
Dengan hati-hati mereka coba mendekati, sesudah belasan langkah dapatlah mereka mendengar lebih jelas, itulah suara seorang wanita Tapi yang diucapkan adalah bahasa daerah pegunungan ini sehingga apa artinya mereka tidak paham.
"Kukira adalah wanita keluarga pemburu, boleh juga kita mendatanginya untuk mencari berita,"
Ujar Ubun Hiong.
"Keluarga ini terhitung pemberani, sampai wanitanya juga tidak lari,"
Kata Hiau-hu.
Maklumlah pegunungan yang penuh dengan pasukan kerajaan yang mengepung rapat Siau-kim-jwan itu sudah lama kosong dengan penduduk setempat yang menyelamatkan diri ke daerah yang aman.
Selama dua hari ini mereka memang tidak pernah menemukan seorang pun, maka sekarang mereka merasa heran ada keluarga pemburu yang tetap berani tinggal di rumahnya.
"Kau orang lelaki, tengah malam menggedor pintu tentu akan membikin takut mereka,"
Demikian kata Hiauhu.
"Lebih baik aku saja yang coba bicara dengan mereka.'"
"Benar juga pikiranmu,"
Kata Ubun Hiong dengan tertawa.
"Baiklah, aku akan menunggu kau di sini."
Segera Hiau-hu menuju ke depan rumah gubuk itu, dan baru saja ia hendak bersuara, sekonyong-konyong dari dalam rumah menyambar keluar sebatang piau.
Keruan Hiau-hu terkejut dan cepat berkelit, piau itu hampir-hampir menyerempet lewat rambut di pelipisnya.
Berbareng dengan itu dari dalam rumah gubuk itu lantas menerjang keluar seorang wanita muda.
Gerakan wanita muda itu amat cepat, begitu melompat keluar, tanpa bicara lagi goloknya lantas membacok ke arah Kang Hiau-hu.
Lekas Kang Hiau-hu berkelit sambil berseru.
"Nanti dulu, aku bukan orang jahat!"
Baru sekarang wanita muda itu dapat melihat jelas lawannya juga seorang nona jelita, tampaknya dia tercengang, tapi masih terus menyerang sambil membentak.
"Bukan orang jahat buat apa tengah malam buta datang ke sini? Tak peduli siapa kau, biar kutangkap kau dulu, urusan belakang!"
Habis berkata mendadak di tengah serangan goloknya, disertai hantaman dengan telapak tangan, goloknya mengarah muka lawan, tangannya menyusul dari bawah golok hendak memuntir tangan Kang Hiauhu.
Sejak kecil Hiau-hu sudah digembleng oleh ayahbundanya, hanya terbatas oleh umurnya, maka kepandaiannya belum mencapai tingkatan yang sempurna, tapi pengetahuannya dalam hal ilmu silat sudah melebihi tokoh persilatan kelas tinggi.
Maka dari itu ia lantas mengetahui arah serangan wanita muda itu, bacokan goloknya hanya pancingan saja, serangan yang betul tangannya yang hendak memegang itu.
Agaknya wanita muda ini tidak bermaksud membikin celaka padanya.
Namun begitu ia tidak tinggal diam, segera ia miring ke samping untuk menghindarkan golok lawan, berbareng dengan cepat sekali tangan kanan memapak ke depan, sedang tangan kiri kontan balas menggampar muka lawan.
Begitulah Hiau-hu telah menggunakan cara lawannya, cuma dibalik, yaitu ia menyerang muka lawan dengan sungguhan.
Keruan wanita muda itu terkejut dan gusar pula, bentaknya.
"Budak keji! Biar kau rasakan kelihaianku!"
Cepat ia melangkah ke samping untuk menghindar, menyusul ia putar goloknya dengan cepat, sekaligus ia mencecar belasan kali serangan pula.
Namun Kang Hiauhu telah menggunakan langkah ajaib Thian-Io-poh-hoat untuk melayaninya sehingga serangan golok lawan selalu mengenai tempat kosong, tapi beberapa kali ia pun hampir kena terbacok.
Ia tahu kalau bertangan kosong sukar melawan serangan golok kilat wanita muda itu, segera ia pun mencabut pedang pusakanya dan membentak.
"Baik, biar kau pun kenal kelihaianku!"
Pedangnya lantas menabas.
"trang", pedang beradu dengan golok dan meletiklah lelatu api. Golok wanita muda itupun bukan sembarang golok, tapi tergumpil juga satu bagian. Wanita muda itu benar-benar lihai, kecundang dalam hal senjata, untuk seterusnya goloknya yang diputar secepat kitiran itu selalu menghindarkan benturan dengan pedang Kang Hiau-hu. Bicara tentang ilmu silat sebenarnya Hiau-hu tidak kalah, cuma pengalamannya saja tidak cukup, maka dia rada kelabakan ketika diserang secara gencar oleh lawan. Dalam pada itu Ubun Hiong sudah memburu tiba, mendadak ia berteriak.
"Hei, bukankah kau ini nona Kheng? Berhenti, lekas berhenti! Kawan sendiri!"
Wanita muda itu bersuara heran sambil menarik kembali goloknya, lalu menyapa.
"Eh, bukankah kau ini pemuda yang pernah berada bersama Yap Boh-hoa itu?"
"Betul,"
Sahut Ubun Hiong.
"Aku bernama Ubun Hiong, dia adalah Sumoayku Kang Hiau-hu, sedangkan Yap Bohhoa justru adalah Piaukonya."
Kiranya wanita muda itu bukan lain adalah Kheng Siuhong yang tadinya memusuhi Yap Boh-hoa dan sekarang sudah menjadi kawannya itu.
Dengan tersenyum segera Kheng Siu-hong memberi salam kepada Kang Hiau-hu, katanya.
"Ilmu silat nona Kang sungguh hebat. Apakah kedatanganmu hendak mencari Piaukomu?"
Sebisanya ia hendak memperlihatkan rasa persahabatan kepada Kang Hiau hu, tapi senyumannya itu tampak sekali rada-rada tak wajar.
Hiau-hu cukup cerdik, ia pun sudah mendengar cerita Ubun Hiong tentang kisah cinta Yap Boh-hoa dengan Kheng Siu-hong, maka diam-diam ia merasa geli, janganjangan nona Kheng Siu-hong ini rada cemburu padanya, segera ia menjawab.
"Yap Boh-hoa memang betul aku punya Piauko, tapi baru kemarin dulu untuk pertama kalinya aku kenal dia, malahan Suhengku inilah yang memperkenalkan dia padaku."
Habis berkata ia sengaja memperlihatkan hubungan yang mesra dengan Ubun Hiong untuk melenyapkan rasa sangsi Kheng Siu-hong.
"O, jadi kemarin dulu kau baru saja bertemu dengan Piaukomu? Kepergianmu ke Siau-kim-jwan ini bukan untuk mencari dia? Wah, jika demikian benar-benar agak aneh,"
Demikian kata Kheng Siu-hong terperanjat.
"Aneh kenapa?"
Tanya Hiau-hu yang ikut-ikutan heran.
"Marilah kita bicara di dalam rumah saja,"
Ajak Siuhong, lalu ia menggandeng tangan Hiau-hu dan masuk ke dalam rumah gubuk itu dengan tertawa, sikapnya kini benar-benar sangat akrab.
Di dalam rumah ternyata sudah ada seorang nyonya muda yang berkaki telanjang, kakinya memakai dua-tiga buah gelang tembaga, tangannya memegang tombak, di sebelahnya ada seorang anak kecil yang sedang tidur nyenyak.
Dari dandanannya dapat diketahui itu adalah suku Coco, mungkin tadi dia belum mengetahui si pendatang kawan atau lawan, maka dia telah memegang tombaknya untuk menjaga keselamatan anaknya.
Sudah tentu ia merasa heran ketika melihat Kheng Siu-hong masuk kembali sambil bergandengan tangan dengan Kang Hiau-hu, segera Siu-hong bicara dalam bahasa daerah kepada nyonya muda itu sambil menuding Kang Hiau-hu serta menepuk-nepuk hulu hatinya sendiri.
Walaupun tidak paham bahasa daerah itu, tapi Hiau-hu mengerti juga maksud Kheng Siu-hong yang sedang mengatakan kepada si nyonya muda itu bahwa mereka berdua adalah sahabat baik.
Nyonya muda itu lantas menepuk-nepuk sebuah bangku kecil dan memberi tanda menyilakan Hiau-hu berduduk, lalu ia menuding Ubun Hiong dan berkata.
"Dia, kawan?"
Kiranya ia pun dapat bicara beberapa kata bahasa Han, cuma sangat kaku. Siu-hong manggut-manggut dan membenarkan, maka nyonya muda itu juga lantas menyilakan Ubun Hiong duduk.
"Enci Mafa ini adalah sahabatku,"
Tutur Siu-hong kemudian.
"Dan nona Kherig sendiri mengapa bisa berada di sini dan sebab apa engkau mengira aku akan ke Siau-kimjwan untuk mencari Yap-suheng?"
Tanya Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu berbareng.
Maka berceritalah Kheng Siu-hong tentang pengalamannya tempo hari, sesudah mendapat penjelasan dari kedua saudara Cu baru ia sadar bahwa musuhnya bukanlah Yap Boh-hoa seperti disangkanya, tapi adalah Yap To-hu, si jagal yang ganas itu.
"Sungguh aku tidak nyana bahwa sekeluarga guruku ternyata adalah sampah persilatan dan terima mengekor kepada antek-antek kerajaan,"
Demikian kata Siu-hong lebih jauh sambil menghela napas.
"Tempo hari sesudah aku meninggalkan guruku, aku ingin pulang ke Hui-hongsan untuk mengumpulkan pasukanku lagi, tapi sampai di sana ternyata pesanggrahanku telah dobrak-abrik oleh tentara kerajaan."
Sampai di sini Kheng Siu-hong berhenti sejenak, lalu menyambung pula.
"Sesudah mengalami pertempuran ini barulah aku memahami suatu kebenaran bahwa Yap Tohu, bangsat tua she Kui dan lain-lain berani bertindak sewenang-wenang adalah lantaran dijagoi oleh pihak kerajaan, jadi kerajaan adalah akar dari segala kejahatan yang terjadi, Yap To-hu dan lain-lain hanya antekanteknya saja. Dan sekarang juga aku baru insyaf bahwa musuhku tidak cuma Yap To-hu dan begundalnya itu, tapi untuk membalas sakit hati ayahku, aku pun harus berontak melawan kerajaan. Inilah kebenaran yang kupahami sekarang."
"Betul, nona Kheng,"
Kata Ubun Hiong.
"Kebenaran yang kau kemukakan ini cukup jelas dan sangat tegas."
"Sesudah kehilangan pangkalan Hui-hong-san, aku pun menjadi paham bahwa melulu mengandalkan tenagaku sendiri takkan mampu menuntut balas,"
Kata Siu-hong lebih jauh.
"Sebab Itulah aku sengaja membawa sisa anak buahku ke sini untuk bergabung ke dalam pasukan pergerakan. Yap To-hu adalah musuhku dan juga musuh pasukan pergerakan, dengan menggabungkan diri bersama pasukan pergerakan aku dapat membalas dendam pribadiku, juga dapat menuntut balas bagi negara. Cuma aku tidak punya kenalan di dalam pasukan pergerakan, hanya ada seorang Yap Bohhoa yang pernah kukenal, maka terpaksa aku harus mencarinya."
"Ah, masakah kau hanya kenalan biasa saja dengan Yap-piauko?"
Demikian diam-diam Kang Hiau-hu merasa geli, lalu ia pun bertanya.
"Dan mengapa engkau bisa timbul pikiran untuk mencari Piauko ke Siau-kim-jwan sini?"
"Setiba di bukit 'Anjing hitam' sana, baru aku mendapat kabar bahwa sepuluh hari yang lalu di situ telah terjadi pertempuran besar. Keadaan di tempat bekas medan pertempuran itu sudah morat-marit, penduduk sudah mengungsi. Secara kebetulan dapat kujumpai seorang kakek, dari kakek itulah aku mendapat keterangan tentang pertempuran dahsyat itu. Tapi sebelum bisa memberi keterangan lebih banyak, tiba-tiba satu regu patroli kerajaan telah mengendus jejak kami dan datang menggeledah. Secara mendadak kami dapat menggempur mundur pasukan musuh itu, si kakek malang itu telah menjadi korban keganasan musuh, tapi kami pun berhasil menawan seorang prajurit musuh dan memaksanya memberi keterangan. Prajurit itu memberi pengakuan bahwa pimpinan pasukan pergerakan she Yap telah lari ke Siau-kim-jwan dan pasukan pergerakan sendiri telah mengalami kehancuran total."
"Berita-berita itu sebenarnya palsu,"
Ujar Hiau-hu tertawa.
"Memang betul pimpinan pasukan pergerakan adalah orang she Yap, tapi Yap dan Yap ada dua. Yang lari ke Siau-kim-jwan itu adalah mata-mata musuh yang berhasil menyusup ke pihak kita dan mengangkangi tempat pimpinan, namanya Yap Leng-hong dan bukan Yap Boh-hoa."
Nyata Hiau-hu juga tidak tahu bahwa prajurit yang ditawan oleh Kheng Siu-hong itu pernah ikut dalam pasukan yang diperintahkan Yap To-hu untuk pura-pura mengejar Yap Leng-hong.
Cuma dia adalah prajurit saja, rahasia mengejar itu hanya diketahui perwiranya, maka pengakuan yang dipaparkan kepada Kheng Siu-hong itu sebenarnya menurut apa yang telah terjadi sesungguhnya dan bukan palsu.
Hanya tentang kehancuran total pasukan pergerakan yang dia katakan memang sengaja hendak digunakan untuk menakutnakuti Kheng Siu-hong.
Mendengar keterangan Kang Hiau-hu tadi, Siu-hong terkejut.
Kiranya ia pun sudah jelas menyelidiki asal-usul Yap Boh-hoa yang bernama Yap Leng-hong pula.
Cuma tidak diketahui seluk-beluk tentang pergantian namanya itu, maka Kang Hiau-hu lantas menceritakan pula lika-liku persoalannya itu kepada Kheng Siu-hong, keruan hal ini membikin Siu-hong tambah tercengang.
"Kurangajar,"
Demikian umpat Siu-hong, lalu ia menggerutu.
"kiranya Yap Leng-hong adalah putra Yap To-hu. Sekarang dia telah menyusup ke Siau-kim-jwan, kukira ini sangat berbahaya, untuk menumpas bahaya ini tidak boleh tidak kita harus lekas ke Siau-kim-jwan."
"Sedemikian rapat kepungan musuh, cara bagaimana kita dapat menembus garis kepungannya?"
Ujar Kang Hiau-hu sambil mengernyit dahi.
"Aku tahu jalan menuju ke sana,"
Kata Siu-hong dengan tertawa. Hiau-hu dan Ubun Hiong menjadi girang.
"Bagaimana caranya?"
Tanya mereka berbareng.
"Caranya terletak pada enci Mafa ini, dia dapat membawa kita melintas ke sana,"
Sahut Siu-hong. Lalu ia bicara sebentar dengan Mafa dalam bahasa daerah, Mafa tampak manggut-manggut dan tersenyum.
"Jika enci Mafa dapat membawa kita melintas kesana, urusan jangan ditunda lagi, marilah sekarang juga kita lantas berangkat,"
Kali Hiau-hu.
Mafa tampak berbangkit sambil menggendong anaknya yang masih tidur nyenyak itu, sebelah tangannya membawa tombak dan segera mendahului melangkah keluar.
Sembari berjalan iapun bertembang untuk menina-bobokan anaknya yang terjaga bangun itu tapi kemudian tidur nyenyak lagi.
Sampai di suatu lekukan bukit, Mafa menggunakan tombaknya untuk menyingkap segerombol belukar yang lebat, maka kelihatan di balik semak-semak itu ada sebuah lubang gua.
Sampai di sini barulah Siu-hong menjelaskan dengan tertawa.
"Ujung gua di sebelah sana adalah di daerah Siau-kim-jwan dan tepat melintasi garis pertahanan pasukan musuh. Kita menembus ke sana melalui gua di bawah tanah ini, rasanya mimpipun musuh takkan menyangka."
Kiranya gua ini adalah tinggalan leluhur penduduk setempat yang biasanya digunakan untuk bersembunyi bila terjadi bencana.
Sesudah menemukan gua itu, leluhur penduduk setempat sengaja menanam duri belukar yang lebat di sekitar mulut gua untuk menjaga rahasia tempat baik ini.
Sesudah membersihkan mulut gua itu, Mafa menyalakan sebuah obor dan membawa mereka masuk ke dalam gua yang aneh itu.
Pemandangan di dalam gua dapat tertampak dengan jelas di bawah cahaya obor, seketika Hiau-hu dan lain-lain melongo heran dan penuh kekaguman.
Ternyata di dalam gua itu banyak terdapat ukir-ukiran batu dalam macam-macam bentuk, ada binatang, ada bidadari, ada paderi dan lain-lain, semuanya indah dan seakan-akan hidup.
Namun tiada minat Hiau-hu dan lain-lain untuk menikmati keindahan gua itu, mereka terus menyusur ke depan.
Panjang gua itu kira-kira ada tiga li.
Tidak terlalu lama mereka sudah mencapai ujung gua itu.
Sesudah mengucapkan terima kasih kepada Mafa, lalu Kheng Siuhong menggeser batu penutup gua dan mendahului menerobos keluar.
Sesudah Hiau-hu dan Ubun Hiong menyusup keluar, mereka lantas menyumbat kembali gua itu.
Waktu itu ternyata mereka sudah berada di suatu tempat yang lapang dan sunyi tiada seorang pun.
Walaupun tanah lapang yang luas, tapi rumput alangalang tumbuh panjang melebihi tinggi manusia sehingga sangat kebetulan bagi persembunyian mereka.
Ubun Hiong menggunakan pedangnya untuk membabat rumput dan membuka jalan di depan, katanya.
"Melihat gelagatnya, agaknya tempat ini adalah daerah kontak antara pasukan kedua pihak. Jika kita terus berjalan ke depan, tentu akan dapat bertemu dengan pasukan pergerakan."
Benar juga, sejenak kemudian mendadak dari semaksemak yang lebat itu muncul segerombolan orang, memang betul mereka telah kepergok oleh pasukan pemberontak.
Dan baru saja Ubun Hiong hendak maju menyapa, tak terduga pemimpin pasukan itu sudah membentak.
"Apakah pendatang itu Ubun Hiong adanya?"
Ubun Hiong melihat pemimpin itu adalah seorang lakilaki yang kekar dan hitam, usianya antara 30-an dan belum pernah dikenalnya, tapi entah darimana dia tahu nama dirinya?
Dengan heran Ubun Hiong lantas memapak maju dan menjawab.
"Ya, betul, akulah Ubun Hiong. Numpang tanya nama..."
Belum selesai ucapannya, mendadak pemimpin pasukan itu sudah membentaknya.
"Bagus, berani benar kau Ubun Hiong, kebetulan kedatanganmu ini! Rasakan golokku ini!"
Tanpa menunggu jawaban Ubun Hiong, kontan orang itu lantas membacok dengan goloknya.
Karena tidak terduga-duga, hampir-hampir Ubun Hiong kena bacokan itu, lekas ia menangkis.
Kepandaian orang itu cukup lihai, meski Ubun Hiong tidak sampai kalah, tapi dalam keadaan tidak terduga, pihak lawan adalah pemimpin pasukan pergerakan pula, mau tak mau Ubun Hiong menjadi serba susah.
Kang Hiau-hu juga terkejut, lekas ia berseru.
"He, he, mengapa kalian menerjang kawan sendiri? Aku adalah Kang Hiau-hu, ayahku bernama Kang Hay-thian. Kedatangan kami ini hendak mencari Lengcecu, Ubun Hiong adalah Suhengku, kami membawa berita penting yang harus dibicarakan dengan Leng-cecu kalian."
Tak terduga, bukan saja tidak berhenti, sebaliknya orang itu malah memberi tanda kepada anak buahnya dan memberi perintah.
"Kepung kedua nona itu dan suruh mereka menyerahkan diri, jangan melukai mereka kecuali mereka main kekerasan lebih dulu!"
Kejut dan gusar pula Kang Hiau-hu, teriaknya.
"He, apa-apaan kalian ini? Apakah kalian tidak kenal siapa ayahku?"
"Justru kami tahu dan menghormati ayahmu, makanya berlaku sungkan padamu,"
Sahut orang itu dengan mendelik.
"Hm, kau nona cilik ini memang sembrono, biarlah kuringkus dan menggusur kau kepada Suhengmu agar dia memberi pengajaran padamu."
"Ngaco-belo, mengapa kau tuduh aku sembrono?"
Damprat Hiau-hu.
"Suheng pewaris ayahku adalah Ubun Hiong, kau tahu tidak?"
Tiba-tiba orang itu tertawa.
"Nona cilik sembarangan mengoceh,"
Katanya.
"Hm, bila ucapanmu ini didengar ayahmu, mustahil beliau takkan berjingkrak gusar. Siapa yang tidak tahu bahwa Ubun Hiong sudah diusir keluar perguruanmu, mengapa kau malah mengangkat dia sebagai Suheng pewaris ayahmu? Kau sengaja membela pengkhianat demi kepentingan pribadimu, apakah ini bukan perbuatan yang sembrono? Hm, anak perempuan seperti kau ini benar-benar mencemarkan nama baik ayahmu saja."
Sembari bicara dia masih terus memutar goloknya dan mencecar Ubun Hiong tanpa kenal ampun.
Kiranya orang ini bukan lain adalah keponakan Leng Thian-lok, namanya Leng Tiat-jiau.
Dia telah percaya kepada hasutan Yap Leng-hong yang mengatakan Ubun Hiong adalah 'mata-mata musuh yang paling jahaf, maka dia sendiri telah memimpin regu patroli ke garis depan, tujuannya ialah ingin menjaga penyusupan Ubun Hiong.
Karena muka Ubun Hiong telah dilukiskan dengan jelas oleh Yap Leng-hong, maka begitu melihatnya segera kenal dan tak mau membiarkan Ubun Hiong dan rombongannya lewat.
Leng Tiat-jiau memang seorang laki-laki yang jujur dan berwatak keras, menurut anggapannya sebabnya Kang Hay-thian dihormati dan disegani setiap ksatria Kangouw justru karena budinya yang luhur, dan tidak mungkin pendekar besar itu mau membela putrinya yang bersalah.
Dengan pegangan inilah dia telah memberi perintah untuk mengepung Kang Hiau-hu dan Kheng Siu-hong serta memaksa kedua nona itu menyerah.
Akhirnya Kang Hiau-hu sadar juga duduknya perkara, cepat ia berseru.
"Ah, tentu kau telah keliru sangka, tentu kau telah dikelabui oleh hasutan-hasutan si bangsat Yap Leng-hong itu. Hendaklah kau percaya padaku, Yap Leng-hong sendirilah mata-mata yang sebenarnya, kedatangan kami justru ingin menyampaikan urusan kepada Leng-cecu kalian agar jangan sampai kena ditipu oleh bangsat itu."
Akan tetapi mana Leng Tiat-jiau mau percaya begitu saja, ia mendengus dan menjawab dengan menghina.
"Anak perempuan sembarangan mengoceh, sungguh memalukan kau sebagai putri Kang-tayhiap. Hayolah kawan-kawan, jangan gubris ocehannya, tangkap dulu mereka!"
Muka Kang Hiau-hu sampai merah padam saking dongkolnya, omelnya.
"Kau laki-laki hitam inilah yang sembarangan mengoceh. Bukan soal jika kau memaki aku, tapi urusan penting yang menyangkut orang banyak di Siau-kim-jwan pasti akan kau bikin runyam."
Namun gerombolan Leng Tiat-jiau sudah lantas menyerang maju, mereka tidak ingin mencelakai Kang Hiau-hu karena tahu dia adalah putri Kang Hay-thian, sebaliknya Kang Hiau-hu juga tidak mau membikin susah prajurit-prajurit yang sebenarnya kawan sendiri.
Karena itu pertarungan mereka menjadi sangat hati-hati, prajurit-prajurit pemberontak menggunakan tombak panjang untuk menyampuk atau menindih pedang Kang Hiau-hu, berbareng menggunakan tali panjang untuk menjegal si nona dengan maksud akan menangkapnya hidup-hidup.
Namun dengan lincah Kang Hiau-hu selalu dapat menghindarkan diri, dengan langkah ajaib Thian-lo-pohhoat ia berlari kian kemari dengan gesit.
Beberapa kali ia hampir kesandung oleh tali, tapi selalu dapat dihindarkan dengan baik, sebaliknya dua bintara lawan malah terjegal jatuh sehingga Hiau-hu tertawa geli.
Di tengah pertempuran itu, tiba-tiba muncul pula sepasukan tentara negeri, pemimpin pasukan itu adalah seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian preman, senjata yang dibawanya juga sangat aneh.
bukan senjata tajam, tapi cuma sebatang tongkat bambu hijau, menyusul dekat di belakangnya adalah seorang pemuda berumur 20-an.
Semula mereka berada di tengah pasukan, tapi sekarang mereka telah berlari mendahului di depan dan semakin dekat dengan amat cepat.
"He, lihatlah ayah, bocah itu bukankah Ubun Hiong?"
Demikian tiba-tiba pemuda itu berkata kepada si lelaki tinggi kurus.
"Benar, dan orang yang bertempur dengan dia itu adalah Leng Tiat-jiau, keponakan Leng Thian-lok,"
Sahut si laki-laki kurus.
"Apa yang harus kita lakukan, ayah?"
Tanya si pemuda.
"Peduli apakah dia ayam atau itik, asal sudah di dalam kuali, lalap saja semua,"
Sahut ayahnya.
Kiranya kedua orang itu adalah Nyo Ceng dan Nyo Hoan, kepada mereka Yap To-hu telah memberi satu regu patroli berkuda untuk meronda di garis depan.
Secara kebetulan mereka pun memergoki pertempuran yang sedang terjadi di padang ilalang ini, maka dengan cepat mereka memburu tiba.
Sebaliknya Leng Tiat-jiau masih salah sangka, dengan gusar ia berteriak kepada Ubun Hiong.
"Bagus, sekarang baru borokmu kelihatan, apalagi yang dapat kau katakan? Dasar kau memang pengkhianat!"
Nyata ia mengira kedatangan Nyo Ceng dan pasukannya itu adalah untuk membantu Ubun Hiong. Tapi sebelum Ubun Hiong sempat bicara, sementara itu Nyo Ceng dan putranya sudah menerjang tiba.
"Hahaha! Bagus, bagus!"
Seru Nyo Ceng dengan tertawa.
"Ternyata putri Kang Hay-thian dan bandit wanita dari Hui-hong-san juga berada di sini, kebetulan kira dapat meringkusnya sekaligus. Anak Hoan, kau melayani kedua budak itu!"
Nyo Hoan mengiakan, dengan memimpin sebagian pasukannya segera ia melancarkan kepungan sehingga pasukan pemberontak di bawah pimpinan Leng Tiat-jiau serta Kang Hiau-hu dan Kheng Siu-hong terkurung di tengah-tengah.
Nyo Ceng memutar tongkat terus menerjang maju, mengeluarkan permainan tongkat yang lihai, yang diincar adalah Hiat-to lawan, hanya sekejap saja belasan prajurit pemberontak sudah kena ditotok roboh.
Sama sekali Leng Tiat-jiau tidak mengira sedemikian cepat datangnya Nyo Ceng, dia masih menerjang Ubun Hiong dengan sengit dan ingin lekas membinasakan pemuda itu agar nanti dapat melawan pasukan kerajaan itu dengan sepenuh tenaga.
Mendadak Nyo Ceng bergelak tertawa, bentaknya.
"Robohlah semua!"
Segera tongkatnya menghantam ke atas kepala Ubun Hiong.
Lekas Ubun Hiong menggeser ke samping dengan langkah ajaib Thian-lo-poh-hoat, tapi karena perhatiannya diarahkan kepada serangan Nyo Ceng itu sehingga sukar menghindarkan gerakan golok Leng Tiatjiau.
"cret", bahunya terluka sehingga mengucurkan darah walaupun lukanya tidak berbahaya. Dalam pada itu serangan tongkat Nyo Ceng yang membadai itu sudah tiba pula, kali ini yang diserang adalah Leng Tiat-jiau. Cepat Leng Tiat-jiau menangkis sambil terus balas membacok. Nyo Ceng adalah jago silat kelas tertinggi, ilmu permainan tongkatnya mempunyai caranya sendiri. Leng Tiat-jiau baru pertama kali ini bergebrak dengan dia sehingga belum kenal kelihaiannya. Mendadak terdengar Nyo Ceng membentak.
"Lepas golok!"
Berberang tongkatnya dipuntir dan disendai, kontan Leng Tiat-jiau merasakan tangannya kesemutan.
"trang", goloknya benar-benar terlepas dari cekalan. Dalam pada itu dengan secepat kilat tongkat hijau Nyo Ceng sudah menyambar pula dalam jurus Tok-coa-thosin (ular berbisa menjulur lidah). Ujung tongkatnya yang lancip langsung menikam tenggorokan Leng Tiat-jiau. Dalam keadaan sukar mengelak, diam-diam Leng Tiatjiau mengeluh celaka, syukur pada saat berbahaya itulah mendadak Nyo Ceng menarik kembali tongkatnya dan diputar ke belakang. Kiranya dari sebelah sana Ubun Hiong telah menerjang maju lagi, serangannya memaksa Nyo Ceng harus melepaskan tikamannya kepada Leng Tiat-jiau. Rupanya Ubun Hiong melihat Leng Tiat-jiau terancam bahaya, tanpa memikirkan luka pada bahunya itu segera ia melompat maju untuk menolong Leng Tiat-jiau yang baru saja melukainya. Ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat (ilmu pedang pemburu angin) yang dikeluarkan Ubun Hiong itu sangat lihai, sehingga Nyo Ceng terpaksa menarik kembali tongkatnya untuk menangkis. Sesudah Leng Tiat-jiau lolos dari ancaman maut, ia menjadi tertegun dan berpikir.
"Jika Ubun Hiong matamata musuh, mengapa dia mau menolong jiwaku? Jangan-jangan dia memang difitnah oleh Suhengnya? Tapi bisa jadi dia sengaja menolong aku untuk menarik kepercayaanku padanya?"
Namun biarpun Leng Tiat-jiau merasa ragu-ragu, bukti nyata Ubun Hiong memang telah menyelamatkan jiwanya, di tengah pertarungan sengit itu ia pun tidak sempat berpikir lebih jauh lagi.
Segera ia jemput kembali goloknya, dilihatnya darah Ubun Hiong masih mengucur dari lukanya, tapi pemuda itu masih terus bertempur dengan gagah berani, diam-diam Leng Tiat-jiau merasa malu sendiri.
Lekas ia ayun goloknya untuk mengembut Nyo Ceng dan mengucapkan terima kasih kepada Ubun Hiong dengan suara perlahan.
Di sebelah sana, berkat pedang pusakanya yang ampuh, Kang Hiau-hu telah menerjang keluar dari kepungan pasukan musuh, dengan cepat ia pun sudah memburu sampai di kalangan pertempuran Ubun Hiong itu.
Melihat sang Suheng terluka, ia merasa gusar kepada musuh dan kuatir pula, serunya kepada Ubun Hiong.
"Suko, kau mengaso dan mengobati lukamu lebih dulu."
Berbareng ia lantas menerjang maju.
Sudah tentu Nyo Ceng tidak pandang sebelah mata pada ilmu silat Kang Hiau-hu, tapi terhadap pedang pusakanya itulah mau tak mau ia harus hati-hati.
Segera ia gunakan kelincahan tongkatnya, selalu ia menghindari benturan tongkatnya dengan pedang lawan, tetapi menggunakan cara menyampuk dan menahan untuk menggoncang pergi pedang pusaka itu.
Karena itu gabungan Kang Hiau-hu dan Leng Tiat-jiau untuk sementara dapatlah bertahan dengan rapat.
Kang Hiau-hu menyuruh Ubun Hiong mengaso dan mengobati lukanya, tapi pemuda itu ternyata tidak tinggal diam, ia membubuhkan obat pada lukanya secara tergesa-gesa, lalu menerjang maju pula.
Dengan kekuatan mereka bertiga sebenarnya cukup untuk mengalahkan Nyo Ceng, cuma sayang Ubun Hiong terluka dan agak banyak mengucurkan darah, tenaganya telah banyak berkurang, maka mereka bertiga juga cuma sama kuatnya melawan Nyo Ceng seorang.
Jarak medan pertempuran itu dengan perkemahan pasukan kerajaan lebih dekat, maka waktu itu sudah ada bala bantuan yang datang.
Walaupun tidak terlalu banyak, namun beberapa kali lebih besar dari jumlah pasukan yang dipimpin Leng Tiat-jiau.
Seketika pasukan pergerakan terkepung di tengah, tapi mereka masih terus bertempur dan dengan mati-matian, tiada seorang pun yang patah semangat.
Untung tidak terlalu lama bala bantuan pihak pemberontak juga datang, kiranya Siau Ci-wan telah menerima berita dan segera memimpin satu pasukan datang membantu.
Siau Ci-wan adalah cucu Siau Jing-hong, tokoh angkatan tua Jing-sia-pay, kepandaiannya jauh lebih tinggi di atas Leng Tiat-jiau.
Kedatangannya ini mirip banteng ketaton, dengan serentak mereka menerjang ke medan pertempuan, dengan menyerang dari luar-dalam, seketika situasi berubah, pasukan kerajaan kini yang terpotong menjadi beberapa bagian, bahkan ada sebagian yang berbalik terkepung.
Waktu Siau Ci-wan melihat Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu mengembut Nyo Ceng bersama Leng Tiat-jiau, ia menjadi heran juga.
Namun dia tidak sempat mencari penjelasan lagi, ia menyerahkan pimpinan pasukan kepada wakilnya, lalu ikut menerjang ke tengah kalangan.
Di tengah pertempuran sengit dan gaduh itu, tiba-tiba terdengar suara mendengungnya anak panah susul menyusul.
Walaupun tidak tahu darimana datangnya panah-panah bersuara itu, tapi sebagai seorang panglima, Siau Ci-wan lantas curiga demi mendengar bunyi anak panah yang rada menyolok itu.
Panah bersuara itu terang dilepaskan oleh pihak musuh, sebab pasukan pergerakan di Siau-kim-jwan biasanya tidak pernah menggunakan panah demikian.
Apakah anak panah bersuara itu dilepaskan sebagai tanda minta bala bantuan atau ada lain maksud, sukar bagi Siau Ci-wan untuk menyelidiki di tengah pertempuran sengit itu.
Meski ilmu silat Nyo Ceng sangat tinggi, kini ia merasa kewalahan juga menghadapi kerubutan Siau Ci-wan, Leng Tiat-jiau, Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu berempat.
Satu kali Siau Ci-wan dan Leng Tiat-jiau menyerang bersama, yang satu mengayun goloknya membacok bahu kiri, yang lain membacok bahu kanan Nyo Ceng.
Walaupun Siau Ci-wan dan Leng Tiat-jiau bukan seperguruan, tapi mereka adalah kawan lama di medan perang, kedua orang sama-sama memakai senjata golok pula, maka dalam hal tipu serangan.
mereka dapat bekerja sama dengan sangat baik.
Namun Nyo Ceng memegang bagian tengah tongkatnya dan diputar dengan cepat, kontan kedua golok lawan kena ditangkisnya Akan tetapi Kang Hiau-hu tidak tinggal diam, kesempatan itu telah digunakan dengan baik, pedangnya lantas menusuk ke dada Nyo Ceng.
Begitu pula Ubun Hiong tidak mau ketinggalan, dengan mengertak gigi ia kerahkan segenap tenaga, pedangnya juga menusuk ke lutut musuh.
Yang ditakuti Nyo Ceng adalah pedang pusaka Kang Hiau-hu, maka lekas ia menyampuk dengan tongkatnya.
Di luar dugaan, serangan Siau Ci-wan dan Leng Tiat-jiau yang tertangkis tadi belum lenyap sama sekali, golok mereka masih sempat memutar balik dan menabas miring ke bawah.
"crit-crit"
Dua kali, baju Nyo Ceng terpapas robek dua potong.
Berbareng itu ujung pedang Ubun Hiong |iiga sudah berkenalan dengan lututnya.
Bagaimanapun Nyo Ceng memang jago silat terkemuka, dia masih sempat menekuk kaki terus mendepak sehingga pedang Ubun Hiong ditendang mencelat.
Walaupun lututnya telah tertusuk luka sedikit, tapi dia sempat menutup Hiat-to yang bersangkutan sehingga luka ringan itu baginya mirip ditusuk jarum saja dan tidak sakit.
Pada saat Nyo Ceng terluka itu, putranya, yaitu Nyo Hoan, juga telah dilukai Kheng Siu-hong, bahkan lukanya lebih parah daripada sang ayah.
Golok Kheng Siu-hong telah kena menabas di atas pundak pemuda itu sehingga darah bercucuran.
Sambil berkaok-kaok kesakitan, lekat Nyo Hoan melompat keluar dari kalangan pertempuran.
Melihat putranya terluka, Nyo Ceng tidak berani terlibat lebih lama dalam pertempuran itu.
Ia menggerung keras-keras, pada waktu Ubun Hiong belum sempat berdiri tegak, segera tongkatnya menyapu kedua kaki pemuda itu.
Karena terlalu banyak mengeluarkan darah, tenaga Ubun Hiong sudah lemah, tusukan pedangnya tadi tak bisa meluka-parahkan Nyo Ceng.
Sekarang dia sedang sempoyongan sesudah pedangnya memelai ditendang Nyo Ceng.
Syukurlah pada detik yang berbahaya itu, Leng Tiatjian yang, berada di samping Ubun Hiong sempat mendorong pergi pemuda itu.
Lekas Kang Hiau-hu memburu maju untuk memayang sang Suheng.
Tinggal Leng Tiat-jiau dan Siau Ci-wan berdua dengan sendirinya tidak mampu melawan serangan Nyo Ceng, sekuat tenaga mereka hanya berusaha menjaga diri saja.
Untung Nyo Ceng sudah gentar karena putranya terluka, setelah mendesak mundur Leng Tiat-jiau dan Siau Ciwan, segera ia menerjang pergi dan menarik mundur pasukannya.
Mengingat pasukan musuh jauh lebih banyak, ditambah Ubun Hiong sudah terluka, maka Siau Ci-wan tidak berani mengejar, segera ia pun memberi perintah mengundurkan pasukan.
"Bagaimana keadaanmu, Suko?"
Demikian Hiau-hu bertanya dengan kuatir sambil memegang Ubun Hiong.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Ubun Hiong dengan suara lemah.
"Ai, sayang seranganku tadi tak bisa membinasakan bangsat tua itu ..."
Belum habis ucapannya, mendadak darah segar tumpah keluar dari mulurnya, karena guncangan itu luka di bahunya tadi lantas pecah pula dan mengeluarkan darah.
Lekas Hiauhu membubuhi obat luka.
Karena luka Ubun Hiong adalah karena serangan Leng Tiat-jiau, tentu saja Leng Tiat-jiau merasa tidak enak.
Segera ia mengangkat tubuh Ubun Hiong dan didudukkan ke atas kudanya sendiri, katanya.
"Tak peduli bagaimana tentang dirimu, yang pasti aku harus menyembuhkan lukamu ini. Marilah kita pulang ke markas, kau adalah tamuku dan jangan kuatir."
Siau Ci-wan merasa bingung, sebentar ia memandang Ubun Hiong, lain saat ia memandang pula Leng Tiat-jiau, tanyanya kemudian.
"Sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"
"Dalam hal ini agaknya ... ada kesalah pahaman,"
Kata Leng Tiat-jiau dengan ragu-ragu.
"Yap Leng-hong mengatakan dia ... dia ... tapi tadi jiwaku justru telah ditolong olehnya."
Biarpun belum menaruh kepercayaan penuh terhadap penjelasan Ubun Hiong, tapi sudah timbul sedikit rasa simpatiknya, sebab itulah kata-kata "mata-mata musuh"
Tidak sampai diucapkannya.
Seperti diketahui, Kang Hiau-hu sudah kenal Siau Ciwan dahulu, maka di tengah jalan dia lantas memberi penjelasan tentang perbuatan dan kepalsuan Yap Lenghong yang keji itu dan tentang telah dipecatnya Lenghong dari pihak pergerakan.
Sudah tentu Siau Ci-wan sangat terkejut atas keterangannya itu.
"Siau-sioksiok"
Hiau-hu menambahkan.
"persoalannya sudah demikian jelas, apakah kau masih tidak percaya kepada kami? Keparat Yap Leng-hong itu pasti hendak membikin susah kepada kalian, mengapa kalian tidak lekas membinasakan dia agar tidak menimbulkan bencana lagi, kalau terlambat bukan mustahil keparat itu akan kabur pula."
Siau Ci-wan tidak menjawab, ia hanya memberi tanda dan berseru.
"Lekas pulang ke markas, cepat!"
Segera ia keprak kudanya dan mendahului lari ke depan.
Kita kembali ke pangkalan pasukan pemberontak, dimana Yap Leng-hong berada.
Waktu mendapat laporan tentang terkepungnya Leng Tiat-jiau bersama pasukan patroli yang dipimpinnya itu, saat itu Yap Leng-hong juga berada di antara para pemimpin.
Mestinya Leng-hong ingin ikut pergi bersama Siau Ci-wan, tapi Leng Thian-lok telah mencegahnya.
Rupanya diam-diam Leng Thian-lok juga belum percaya penuh terhadap Yap Leng-hong.
Jarak dari pangkalan pasukan pemberontak di Siaukim-jwan itu cukup jauh dari medan pertempuran, namun suara anak panah yang mendengung-dengung di angkasa itu dapat terdengar dengan jelas.
Kiranya panah bersuara itu adalah kode yang telah ditentukan antara Yap Leng-hong dengan begundalnya yang bercampur di antara prajurit-prajurit di bawah pimpinan Siau Ci-wan itu.
Setiba di medan pertempuran dan melihat Kang Hiau-hu bersama Ubun Hiong telah menggabungkan diri dengan Leng Tiat-jiau dan sedang melabrak musuh, cepat mereka lantas melepas panah bersuara yang merupakan tanda bahaya bagi Yap Leng-hong tentang rahasianya yang mungkin akan segera terbuka.
Keruan Yap Leng-hong sangat terkejut ketika mendengar suara anak panah yang mendengungdengung ramai itu, segera ia bermaksud kabur.
Tapi lantas terpikir olehnya bahwa usahanya sedikitpun belum berhasil, kalau kabur begitu saja sungguh tidak rela.
Tiba-tiba ia mendapat akal, ia panggil begundal kepercayaannya dan memberi petunjuk seperlunya cara bagaimana mereka harus bertindak, lalu ia dan Bong Ingping lantas pergi menemui Leng Thian-lok yang menjabat sebagai pucuk pimpinan pasukan pemberontak.
Pada waktu itu Leng Thian-lok juga telah mendengar suara anak panah yang mendengung-dengung di angkasa itu dan merasa curiga.
Kedatangan Yap Lenghong berdua adalah kebetulan baginya, segera ia bertanya kepada Yap Leng-hong apakah arti suara anak panah itu dan siapa yang melepaskannya.
Leng-hong menjawab.
"Panah bersuara itu memang biasa digunakan oleh anak buah kami. Tentang artinya, untuk menerangkan harap Leng-cecu menyuruh keluar saja para penjaga itu."
Leng Thian-lok rada kurang senang, sebab penjagapenjaga itu adalah orang kepercayaannya, namun demikian untuk menghormati kemauan Yap Leng-hong, terpaksa ia suruh keluar juga para penjaga.
Yap Leng-hong pura-pura bersikap penuh rahasia, ia geser kursinya lebih dekat dan berkata dengan suara perlahan.
"Soal ini memang agak luar biasa"
"Luar biasa bagaimana?"
Tanya Thian-lok.
Belum lenyap suaranya, mendadak ia sudah menggerung sambil melonjak bangun.
Kiranya Yap Leng-hong telah menusukkan sebatang jarum berbisa yang diam-diam sudah disiapkan di tengah jarinya, jarum berbisa itu adalah pemberian Hong Jongliong dahulu.
Jika racun jarum itu sampai mengenai urat nadi dan masuk ke dalam darah, seketika orangnya akan binasa.
Jarum berbisa ini dahulu sudah pernah digunakan oleh Yap Leng-hong sehingga Yap Boh-hoa hampirhampir melayang jiwanya.
Lwekang Leng Thian-lok sebenarnya tidak di bawah Yap Boh-hoa, tapi karena jaraknya sangat dekat, pula tidak curiga akan diserang secara keji, maka tahu-tahu jarum musuh sudah menancap di atas perutnya.
Setengah badan Leng Thian-lok seketika menjadi kaku dan lumpuh.
"Bangsat! Kiranya kau adalah mata-mata musuh!"
Bentak Leng Thian-lok sambil melonjak bangun.
"Brak", kontan sebelah telapak tangannya menggaplok ke atas kepala Yap Leng-hong.
"Hm, baru sekarang kau tahu, namun sudah terlambat!"
Jengek Yap Leng-hong sambil menangkis.
"Biang", kedua tangan beradu, Leng Thian-lok memuntahkan darah, tapi Leng-hong juga tergetak mundur dua-tiga tindak. Kejut Leng-hong tak terkatakan, sungguh tak terduga bahwa sesudah terluka parah oleh jarum berbisa itu Leng Thian-lok masih sedemikian tangkasnya. Tapi karena terlalu keras mengeluarkan tenaga pukulannya, racun yang sudah menyusup di dalam badan Leng Thian-lok lantas bekerja lebih cepat pula. Semula hanya terasa setengah badannya kaku, kini sekujur badan sudah mulai terasa kejang dan kaku, bahkan kepalanya terasa pusing, mata berkunang-kunang, pandangannya menjadi kabur. Serentak begundal Yap Leng-hong lantas menyerbu masuk, beramai-ramai mereka membunuh empat orang pengawal pribadi Leng Thian-lok yang terpercaya. Keruan Thian-lok menjadi murka, bentaknya.
"Bangsat, biar aku mengadu jiwa padamu!"
Berbareng ia lantas menubruk maju pula laksana banteng ketaton dan menghantam.
Sudah tentu Yap Leng-hong tidak begitu bodoh untuk bergebrak lagi, dengan cepat ia berkelit ke samping, tapi empat anak buahnya yang telah menjadi korban serangan Leng Thian-lok.
Hantaman Thian-lok itu sungguh dahsyat, terdengar jeritan ngeri empat prajurit bawahan Leng-hong yang diterjang itu, seketika mereka roboh tak bernyawa lagi, bahkan empat prajurit di belakangnya juga kena seruduk sehingga patah tulang dan terluka parah.
Sekali hantaman Leng Thian-lok telah membinasakan empat orang dan melukai empat orang, keruan begundal Yap Leng-hong yang lain menjadi ketakutan dan lari menyingkir.
Namun pukulan Leng Thian-lok tadi pun sudah menghabiskan tenaganya sendiri, laksana pelita kehabisan minyak, dia tidak tahan lagi, sambil menyemburkan darah ia roboh terkulai.
Leng-hong bergelak tertawa, tanpa susah payah ia lantas memotong kepala Leng Thian-lok.
Bersama sisa anak buahnya yang masih ada belasan orang segera Leng-hong menerjang ke bawah gunung.
Sudah tentu para penjaga tak dapat merintanginya karena dia dikenal sebagai pemimpin pasukan pemberontak yang datang membantu, pula diketahui sebagai saudara angkat Siau Ci-wan, maka dengan cepat sekali rombongan Yap Lenghong dapat melalui pos-pos penjagaan.
Akan tetapi karena keberangkatan Yap Leng-hong itu sangat tergesa-gesa dan mencurigakan, maka dengan cepat perbuatannya yang keji lantas diketahui.
Semua orang menjadi murka dan segera membunyikan tanda bahaya serta mengejar.
Rombongan Yap Leng-hong tidak berani berlari lurus ke tempat pasukan kerajaan, sebab menurut perhitungannya untuk mencapai kemah pasukan kerajaan masih harus melalui beberapa pos penjaga pasukan pemberontak, pula Siau Ci-wan dan pasukannya saat itu mungkin sudah kembali dari garis depan dan di antaranya bukan mustahil terdapat pula Yap Boh-hoa atau Ubun Hiong yang pasti sudah membongkar rahasianya, jika kepergok mereka di tengah jalan berarti celaka baginya.
Segera ia membawa begundalnya menyusur ke belakang gunung, ia tahu penjagaan di belakang gunung tidak seketat di bagian depan.
Malahan secara licin Yap Leng-hong berteriak-teriak ketika mendekati pos penjagaan.
"Celaka! Pasukan musuh telah menyergap ke atas gunung, lekas kalian pergi membantu!"
Mendengar itu, pasukan penjaga di belakang gunung itu menjadi bingung, tanpa memikirkan berita itu benar atau tidak, segera ada sebagian dikerahkan kembali ke markas besar sehingga mereka tertipu dan Yap Lenghong dapat lolos tanpa rintangan.
Sementara itu Siau Ci-wan, Leng Tiat-jiau, Ubun Hiong, Kang Hiau-hu dan Kheng Siu-hong sudah lebih dulu sampai di markas besar, terdengarlah suara tangisan orang banyak dan ada sejumlah kawan yang memburu ke belakang gunung.
Melihat keadaan itu, Siau Ci-wan tahu pasti terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan, cepat ia mendahului menerobos ke dalam rumah, segera dilihatnya di ruangan pendopo itu mayat bergelimpangan, satu di antaranya adalah jenazah Leng Thian-lok yang sudah tidak berkepala lagi.
Leng Tiat-jiau sampai terkesima menyaksikan itu, mendadak ia menampar muka sendiri beberapa kali, serunya dengan suara serak.
"Ubun-siauhiap, Kanglihiap, salahku semua yang tidak mau percaya kepada omongan kalian hingga sekarang membikin celaka pamanku ini."
Sesudah menampar muka sendiri, dengan mata mendelik dan darah mengucur keluar dari mulutnya barulahh ia berlutut di samping jenazah Leng Tiat-jiau, ia sesambatan dengan suara memilukan.
"O, paman, malang benar kematianmu! Semoga arwahmu memberkati, aku akan menuntut balas bagimu!"
Ia tidak menangis sedih, tapi hanya menjura tiga kali, lalu berbangkit dan berteriak.
"Ganti kudaku dengan yang baru!"
"Nanti dulu, Leng-toako,"
Tiba-tiba Ci-wan mencegahnya.
"Kenapa? Aku harus membalas sakit hati paman!"
Seru Tiat-jiau.
"Kini sudah hampir dimulai pertempuran menentukan, di sini sangat memerlukan pimpinanmu,"
Kala Ci-wan.
"Biarlah aku saja yang pergi mengejar bangsat pengkhianat itu. Harap Leng-toako mengingat kepentingan perjuangan kita, kurangilah kesedihanmu dan jagalah dirimu dengan baik."
Karena usul Siau Ci-wan itu cukup beralasan, Tiat-jiau menjadi agak tenang dan terpaksa membiarkan Siau Ciwan yang pergi mengejar Yap Leng-hong.
Sementara itu dengan tipunya yang licin, rombongan Yap Leng-hong sudah berhasil melalui beberapa pos penjagaan.
Sampai di lamping gunung, ketika pasukan penjaga di bawah gunung mendengar suara terompet tanda mengejar musuh, maka tipu licik Yap Leng-hong itu tak berlaku lagi.
Kini rombongannya hanya tinggal belasan orang saja, mau tak mau Bong Ing-ping merasa kuatir, kalau sampai tersusul oleh pasukan yang mengejarnya tentu sukar menyelamatkan diri.
Sebaliknya Yap Leng-hong masih bergelak tertawa.
"Mengapa kau tertawa, Yap-kongcu?"
Tanya Bong Ingping. Jawab Leng-hong.
"Kita memang telah mengalami kegagalan, tapi kepala Leng Thian-lok sudah kupenggal dan kubawa sekarang, jasa ini sudah jauh lebih besar daripada kegagalan kita. Kepala Leng Thian-lok ini rasanya lebih berharga daripada jiwa puluhan orang."
Nyata Yap Leng-hong hanya memikirkan kepentingannya sendiri tanpa menghiraukan jiwa anak buahnya, mau tak mau Bong Ing-ping merasa ngeri juga membayangkan kekejaman pemuda itu.
Agaknya Yap Leng-hong tahu akan perasaan kawannya, ia tertawa dan berkata pula.
"Dari sini kita dapat lari ke Sejiang, kita dapat minta bala bantuan di sana, karena panglima kota itu adalah bekas bawahan ayahku. Dengan serangan dari kanan-kiri tentu kita dapat menumpas habis kawanan berandal Siau-kim-jwan ini. Leng Thian-lok sudah kubunuh, jasa ini tentu takkan kumakan sendiri, kelak kalian tentu pula akan memperoleh kedudukan dan hadiah yang pantas dari Sri Baginda."
Dipancing dengan pangkat dan harta benda, seketika semangat kawan-kawannya terbangkit dan melupakan kematian kawan-kawannya yang lain.
"Ya, semoga kita takkan tersusul musuh,"
Kata Bong Ing-ping kemudian.
"Sesudah menyerbu sepanjang jalan, kita benar-benar sudah teramat lelah."
"Kukira musuh takkan dapat menyusul kita, sedangkan hari pun sudah hampir gelap,"
Ujar Leng-hong. Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan orang yang menggelegar.
"Yap Leng-hong, hendak lari kemana kau, tinggalkan dulu kepalamu!"
Kiranya Siau Ci-wan bersama 30-an anak buahnya telah mengejar tiba.
Rupanya Yap Leng-hong dan rombongannya terhalang oleh beberapa pos penjagaan sehingga makan tempo agak lama, maka kini telah disusul oleh Siau Ci-wan pada waktu hari menjelang gelap.
Leng-hong terkejut, tapi ia coba membesarkan nyali kawan-kawannya, katanya.
"Jangan takut, jumlah mereka cuma 20-30 orang saja, kita masih dapat melabrak mereka. Kita harus membunuh Siau Ci-wan dan jasa kita akan bertambah besar!"
Dalam pada itu dengan membentak-bentak Siau Ciwan sudah mendahului menerjang tiba dengan kudanya. Seru Leng-hong dengan tertawa.
"Siau-taoko, kita adalah saudara angkat, janganlah kau memaksa aku bergebrak dengan kau. Bagaimana kalau kau pulang saja dan kita tidak usah saling membunuh?"
"Kau manusia yang berhati binatang ini masih berani bicara tentang angkat saudara segala padaku?"
Damprat Siau Ci-wan dengan gusar.
"Hm, hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati."
Dengan murka segera ia menerjang maju, sungguh kalau dapat ingin sekali tabas ia kutungi badan Yap Leng-hong menjadi dua potong.
Sebenarnya semangat dan tenaga Yap Leng-hong sudah lemas sesudah seharian menerjang ke sana kemari, tapi dalam waktu singkat Siau Ci-wan juga sukar mengalahkan dia.
Dalam pertempuran ini akhirnya anak buah Yap Leng-hong kena dibunuh semua oleh pasukan Siau Ci-wan, namun Leng-hong dan Bong Ing-ping sempat meloloskan diri.
Dengan murka Siau Ci-wan segera mengejar, ia pacu kudanya secepat terbang dan terus mengudak, tanpa terasa ia telah meninggalkan anak buahnya jauh di belakang.
Kini tinggal dia seorang diri yang sedang mengejar, tapi jaraknya dengan Yap Leng-hong dan Bong Ing-ping juga semakin dekat.
"Yap-kongcu, kita kerubut dia!"
Ajak Bong Ing-ping.
"Baik, marilah kita melabraknya,"
Sahut Leng-hong.
"Boleh coba kalian labrak!"
Teriak Ci-wan dengan gusar sambil menyiapkan busurnya, dua anak panah dipasangnya terus dibidikkan susul menyusul mengarah kuda tunggangan lawan.
Bukan saja ilmu golok Siau Ciwan cukup lihai, bahkan ia pun terkenal sebagai jago panah di dalam pasukan pergerakan.
Mendengar suara jepretan busur, lekas Bong Ing-ping miringkan tubuh ke samping dan memberosot ke bawah perut kuda, goloknya siap digunakan untuk menyampuk panah.
Tak terduga yang diincar oleh Siau Ci-wan bukanlah orangnya, tapi adalah kudanya.
Goloknya menyampuk tempat kosong, sebaliknya perut kudanya telah terkena anak panah.
Kudanya roboh dan Bong Ingping sendiri pun terguling ke bawah.
Sedangkan Yap Leng-hong lain lagi keadaannya, ia lebih pandai, sebelah kakinya menggantol di atas pelana, kedua tangannya dipakai menangkap anak panah.
Namun luput dan panah itu menyambar ke arah tenggorokan.
"Mati aku!"
Teriaknya, menyusul ia pun jatuh terguling.
Siau Ci-wan bergirang, ia melompat turun dari kudanya hendak memotong kepala Yap Leng-hong.
Tak tersangka mendadak Yap Leng-hong dapat melompat bangun sambil membentak.
"Terimalah kembali panah ini!"
Berbareng ia pun menimpukkan sebatang panah.
Lekas Siau Ci-wan menyampuk dengan busurnya, tapi panah itu ternyata tidak mengincar orangnya, tapi juga mengarah kudanya.
Tenaga Yap Leng-hong yang digunakan menimpuk anak panah tidak kalah kuatnya daripada busur, maka seketika kuda Siau Ci-wan itu terpanah binasa.
Leng-hong terbahak-bahak, serunya.
"Siau-toako, kau tidak dapat menyusul aku lagi!"
Berbareng ia melompat bangun terus memburu dan mencemplak pula ke atas kudanya.
Ia tusuk pantat binatang itu, karena kesakitan, kuda itu lari kesetanan, dalam sekejap saja sudah berlari keluar dari jarak panah Siau Ci-wan.
Kiranya jatuhnya Yap Leng-hong itu hanya tipu daya saja, bukan saja Siau Ci-wan kena dibohongi, bahkan Bong Ing-ping juga tertipu.
Sebenarnya dengan tenaga mereka berdua dapatlah mengalahkan Siau Ci-wan, tapi Leng-hong hanya mementingkan diri sendiri, ia kuatir kalau sebentar lagi bala bantuan Siau Ci-wan akan datang pula dan mereka berdua pasti akan tertangkap.
Karena itu ia lebih suka mengorbankan Bong Ing-ping daripada mempertaruhkan jiwa sendiri.
Lantaran kudanya sudah terpanah mati, terpaksa Siau Ci-wan tak bisa berbuat apa-apa dan menyaksikan Yap Leng-hong kabur dengan leluasa.
Sebaliknya Bong Ing-ping ketakutan setengah mati, terpaksa ia melawan Siau Ci-wan mati-matian, tapi dasar ilmu silatnya memang lebih rendah, pula hati sudah keder, maka tidak sampai belasan gebrakan tulang pundaknya sudah ditembus oleh pedang Siau Ci-wan, ilmu silatnya telah dipunahkan, dia tertawan hidup-hidup.
Tidak lama kemudian anak buah Siau Ci-wan telah menyusul tiba.
Setelah menyerahkan tawanannya, segera Ci-wan berganti seekor kuda terus berangkat pula menguber Yap Leng-hong.
Sementara itu hari sudah gelap, terpaksa Siau Ci-wan menyalakan sebuah obor untuk mengikuti jejak Yap Leng-hong.
Sampai di suatu hutan yang rimbun, tiba-tiba jejak musuh lenyap.
Sebagai seorang Kangouw kawakan, tahulah Siau Ci-wan apa sebabnya, tentu Yap Leng-hong telah membungkus telapak kaki kudanya dengan kain sehingga tidak meninggalkan bekas pula.
Diam-diam Siau Ci-wan menggerutu akan kelicikan musuh itu, Tapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.
Di perbatasan Sucwan dan Sekhong memang banyak rimba lebat dengan pepohonan yang besar dan tua, jarang didatangi manusia.
Bila memasuki rimba purba demikian, biarpun orang yang paling berpengalaman juga sering-sering akan kesasar dan kehilangan arah, apalagi hendak mencari seseorang di tengah rimba seluas itu, sulitnya laksana mencari jarum di dasar laut.
Namun Siau Ci-wan tidak rela pulang begitu saja, seorang diri ia meneruskan pencariannya, sudah tentu hanya secara untung-untungan saja.
Yap Leng-hong memang bersembunyi di tengah rimba raya itu.
Sesudah lari ke dalam rimba, yang terdengar hanya suara auman binatang buas, suara manusia tak terdengar lagi.
Yang ditakuti Leng-hong bukanlah binatang buas, tapi takut disusul oleh Siau Ci-wan.
Ia merasa aman malah sesudah berada di tengah rimba raya itu.
Ia memanjat ke atas sebatang pohon besar, lalu bersandar pada sebuah cabang dahan dan dapat tidur dengan nyenyak.
Besok paginya Leng-hong terjaga bangun oleh suara auman harimau, waktu ia memandang ke bawah, kiranya kudanya telah menjadi mangsa harimau.
Raja hutan itu sedang melalap daging kudanya.
Tenaga Leng-hong sudah pulih kembali, untuk melawan seekor harimau tidaklah sukar baginya.
Segera ia melompat turun, ia jemput sepotong batu dan menimpukkannya ke arah raja hutan itu.
Rupanya harimau itu sudah cukup kenyang makan daging kuda, tertimpuk oleh batu itupun lantas melarikan diri.
Ternyata lebih dari separoh badan kuda telah dimakan oleh raja hutan itu.
Leng-hong tidak merasa sayang, ia pikir kudanya memangnya sudah terluka dan dalam keadaan payah, kematian kuda itu kebetulan malah, dagingnya dapat dijadikan rangsum, ia bisa menghemat tenaga tidak perlu berburu lagi.
Selama beberapa hari beruntun cuaca selalu lembab dan gelap, sering hujan lebat.
Keruan Leng-hong kenyang menderita di dalam rimba.
Yang paling celaka adalah dia kehilangan arah, ia telah berputar kian kemari di tengah rimba dan masih belum menemukan jalan keluar yang menuju ke Sejiang.
Cuaca malam itu tiba-tiba berubah cerah, berkah bantuan sinar bulan yang tidak terlalu terang ia melanjutkan perjalanan.
Tiba-tiba dilihatnya di depan sana ada sebuah kelenteng bobrok, itulah kelenteng 'malaikat gunung"
Yang biasanya dipuja oleh penduduk pegunungan.
Walaupun keadaan kelenteng sudah bobrok, tapi masih ada atapnya, pintu kelenteng juga masih cukup baik untuk ditutup dan dibuka.
Diam-diam Leng-hong bersyukur mendapatkan tempat berteduh, malam ini dia dapat tidur lebih nyenyak dengan aman.
Ia pikir bila ada kelenteng tentu di sekitar situ ada penduduknya, ia sudah bosan makan daging kuda melulu selama beberapa hari, besok paginya ia berharap akan menemukan rumah penduduk dan dapat merampas sedikit makanan.
Segera ia masuk ke kelenteng itu dan menutup pintunya, ia kumpulkan sedikit daun kering dan ranting kayu untuk menyalakan api unggun.
Ia masih ada sisa segumpal daging kuda, ia pikir malam inilah malam penghabisan makan daging kuda, besok tentu dapat mengganti makanan baru.
Ia potong sebatang ranting kayu sebagai sunduk, sisa daging kuda itu disunduk terus dipanggang.
Sesudah kenyang makan daging panggang, badannya juga terasa panas kena api unggun, akhirnya Leng-hong merasa mengantuk.
Tapi demi terpikir besok atau lusa pasti akan dapat keluar dari rimba raya itu, tanpa terasa semangatnya terbangkit pula dan hilanglah rasa mengantuknya.
Diam-diam timbul rekaannya bila besok sudah sampai di Sejiang, dari panglima kota itu dapat dipinjam beberapa ribu prajurit, lalu mengadakan penyerangan pula bersama ayahnya dari dua jurusan, mustahil Siaukim-jwan takkan bobol.
Tengah melamun hal yang muluk-muluk, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, serentak Leng-hong melompat bangun.
Terdengarlah suara seorang berkata dan tertawa.
"Aha, alangkah sedapnya bau ini. Kawan darimanakah yang sedang memanggang daging? Apakah sudi membagi sedikit kepada tamu yang tak diundang ini?"
Sungguh kejut Yap Leng-hong tidak kepalang demi mendengar suara itu, kiranya pembicara itu bukan lain adalah musuh yang paling ditakutinya, yaitu Utti Keng.
Waktu ia mengintip keluar melalui celah-celah pintu, benar juga Utti Keng yang sedang mendatangi, bahkan bersama istrinya pula, Ki Seng-in.
Untuk melawan Utti Keng seorang saja susah, apalagi Ki Seng-in ikut datang pula.
Waktu itu Leng-hong hanya tinggal dua batang jarum berbisa, segera ia siapkan jarum itu dan bersembunyi di belakang pintu.
Dalam pada itu Utti Keng rada sangsi karena seruan tadi tidak mendapat jawaban, ia pun bukan orang bodoh, ia tidak langsung mendorong pintu dan masuk begitu saja, tapi ia menggunakan Pik-khong-ciang, pukulan tangan kosong dari jarak jauh, dengan tenaga keras ia hantam pintu kelenteng hingga terpentang.
Begitu pintu terbuka, kontan Yap Leng-hong menyambitkan kedua batang jarumnya.
"Crit-crit", jarum itu menyambar secepat kilat, tapi sebelum mengenai sasarannya sudah dipukul jatuh oleh benturan senjata rahasia yang disambitkan oleh Ki Seng-in. Ki Seng-in berjuluk Jian-jiu-koan-im, Koan-im bertangan seribu, gelar ini diperoleh karena keahliannya menggunakan berbagai jenis senjata rahasia. Dengan kemahirannya itulah ia menyambitkan dua batang jarum Bwe-hoa-ciam untuk membentur jatuh jarum berbisa musuh, bahkan ditambahi pula sebatang Tau-kut-ting (paku penembus tulang) yang terus menyambar ke depan. Untung Yap Leng-hong memang sudah siap di tempat sembunyinya, sedikit mendak ke bawah dapatlah ia hindarkan serangan paku maut itu. Namun begitu tidak urung secomot rambutnya juga sudah terbeset oleh senjata rahasia Ki Seng-in. Keruan Yap Leng-hong menjadi ketakutan, sukmanya seakan terbang ke awang-awang, ia melangkah mundur dengan gemetar. Dalam pada itu dengan langkah lebar Utti Keng sudah menerjang ke dalam kelenteng Di bawah sinar api unggun yang cukup terang, segera Utti Keng dapat mengenali Yap Leng-hong, keruan girangnya melebihi orang mendapat lotere, katanya kepada sang istri.
"Adik In, jangan menggunakan senjata rahasia lagi. Aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri supaya dia tahu rasa."
Habis itu ia lantas tertawa terbahak-bahak, katanya kepada Yap Leng-hong.
"Anak keparat, tentunya kau tidak nyana pada malam ini akan kepergok olehku bukan? Hehe, untung aku tidak mati di bawah tipu kejimu, sekarang menjadi giliranmu menerima pembalasanku."
Tampaknya Yap Leng-hong sudah sangat ketakutan dan tiada jalan mundur lagi, sambil menjengek Utti Keng mengayun goloknya ke atas, bentaknya.
"Lihat golokku!"
Berbareng tangannya yang lain terus mencengkeram ke depan.
Rupanya Utti Keng bermaksud menawan hidup-hidup Yap Leng-hong, gerakan golok tadi hanya gerakan palsu, serangan yang benar adalah cengkeramannya itu.
Tak terduga Yap Leng-hong juga cukup cerdik, baru saja golok Utti Keng bergerak, berbareng ia pun melancarkan serangan dengan Tui-hong-kiam-hoat yang cepat.
Ia tahu gerakan golok lawan hanya pura-pura saja, maka tanpa menangkis, sebaliknya pedangnya lantas memotong pergelangan Utti Keng.
Pertarungan di antara jago silat kelas tinggi hanya ditentukan dalam satu-dua gebrakan kilat saja.
Untung Utti Keng bukanlah jago kelas kambing, pada saat pedang Yap Leng-hong hampir mengenai tangannya, seketika ia pun ganti serangannya tadi menjadi serangan sungguh-sungguh, goloknya lantas membacok ke bawah sehingga tepat membentur pedang lawan.
Utti Keng merasa tangannya tergetar, menyusul goloknya membabat pula, namun Yap Leng-hong sudah keburu melompat ke samping dengan sempoyongan.
"Hendak lari kemana?"
Bentak Utti Keng dengan suara menggeledek, goloknya berputar dan membacok pula.
Leng-hong sadar tiada gunanya berusaha lari, sebab sukar melalui Ki Seng-in yang mengawasi di samping, terpaksa ia bertahan mati-matian.
Kini yang dia mainkan adalah Si-mi-kiam-hoat yang lambat tapi kuat, dengan demikian ia dapat mematahkan serangan-serangan Utti Keng yang dilontarkan secara membadai itu.
Diam-diam Utti Keng juga terkesiap, tidak dinyana hanya berpisah setahun saja tenaga Leng-hong sudah bertambah begitu kuat.
Padahal lantaran Leng-hong mendapat bantuan Ciong Tian sehingga beberapa bagian urat nadinya dapat dilancarkan jalannya, Lwekangnya memang sudah banyak maju, tetapi kalau dibandingkan Utti Keng sebenarnya masih selisih jauh.
Soalnya seharian ini Utti Keng kehujanan, perut lapar pula, dengan sendirinya tenaganya banyak berkurang, maka dia merasakan kepandaian Yap Leng-hong telah maju pesat.
Rupanya Ki Seng-in mengetahui keadaan sang suami, ia sendiri juga sedang kelaparan.
Tiba-tiba dilihatnya di atas lantai masih ada sepotong daging kuda yang belum dimakan Leng-hong tadi, tergeraklah hati Ki Seng-in, segera ia ayun cambuknya, dengan ujung senjatanya ia lilit gumpalan daging itu terus dilemparkan ke arah sang suami sambil berkata dengan tertawa.
"Toako, daging kuda ini anggaplah persembahan bocah ini, silakan kau makan saja!"
Dengan sebelah tangannya Utti Keng menangkap daging kuda itu terus digeragoti dengan lahapnya, serunya tertawa.
"Ehm, boleh juga rasanya!"
Sambil makan sebelah tangannya tetap memutar goloknya untuk menyerang.
Dengan segala daya upaya Yap Leng-hong bermaksud balas menyerang pada saat orang sedang makan, tapi selalu gagal.
Jangankan hendak menyerang lawan, mendekat saja susah.
Sesudah makan separoh gumpalan daging kuda itu, Utti Keng melemparkan sisanya kepada sang istri.
"Adik ln, boleh juga kau mencicipinya,"
Serunya sambil tertawa. Kini tenaganya sudah banyak bertambah, segera ia menyerang lebih gencar lagi, katanya pula.
"Sekarang biar kau kenal kelihaianku!"
Sebelumnya saja Leng-hong tak bisa melawan, apalagi sekarang.
Keruan dia kelabakan menangkis ke sana dan ke sini, hanya dalam sekejap saja ia sudah terkurung di tengah sinar golok Utti Keng yang membadai.
Sekarang Yap Leng-hong yang kepayahan, tenaganya mulai habis, diam-diam ia mengeluh bisa celaka.
"Sret", mendadak baju pundak Yap Leng-hong terpapas oleh golok lawan, kalau kurang cepat dia berkelit tentu tulang pundaknya sudah putus. Tampaknya bacokan kedua Utti Keng sudah hampir menyusul pula dan pasti Yap Leng-hong sukar menghindarkan diri. Pada saat itulah tiba-tiba di tanah rumput itu terdengar suara orang berjalan, suaranya hampir tak terdengar, kalau bukan ahli yang berpengalaman tentu akan mengira suara keresekan rumput bergoyang atau daun jatuh tertiup angin. Karena tidak tahu pendatang itu kawan atau lawan, segera Utti Keng membentak.
"Kawan darimanakah yang datang itu?"
Dan lantaran sedikit terpencarnya perhatian, bacokan Utti Keng yang kedua telah dapat dihindarkan pula oleh Yap Leng-hong dengan langkah Thian-lo-poh-hoat.
Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara tawa seorang yang menusuk telinga.
"Aha, kiranya pasangan suamiistri bangsat kalian ini sedang main gila di sini. Hah, ketika pertempuran di penjara kotaraja tempo hari telah dikacau oleh kedatangan Kang Hay-thian, kebetulan hari ini kita dapat mengulangi lagi."
Kiranya pendatang itu adalah Nyo Ceng bersama Nyo Hoan.
Dari jauh Nyo Ceng mendengar suara beradunya senjata di dalam kelenteng sudah tentu ia tertarik dan ingin tahu apa yang terjadi.
Tentu saja Yap Leng-hong kegirangan, cepat ia berseru.
"Lekas kemari, Nyo-siansing, akulah yang berada di sini!"
"Hm,"
Ki Seng-in mendengus.
"Toako, biar kuwakilkan kau menahan musuh, kau lekas mampuskan bangsat cilik itu."
Menyusul ia lantas menggertak sekali sambil menyambitkan tujuh macam senjata rahasia yang berlainan.
Ada panah kecil, ada piau, ada paku, ada pelor besi dan lain-lain.
Nyo Ceng bergelak tertawa, serunya.
"Jian-jiu-koanim, kau memang tidak bernama kosong tapi ingin mengenai aku, kau masih harus belajar lagi."
Sambil bicara ia lantas melompat ke depan untuk mengalingi putranya, ia putar tongkatnya, terdengarlah suara "trang-tring"
Yang riuh, berbagai macam senjata rahasia yang dihamburkan Ki Seng-in telah tersampuk jatuh semua.
"Anak Hoan, kau ikut merapat di belakangku!"
Kata Nyo Ceng.
Habis itu dengan cepat sekali ia telah menubruk maju.
Segera Ki Seng-in memainkan cambuknya dengan kencang, bagai ular cambuknya menyambar ke arah musuh.
Salah satu kepandaian Ki Seng-in yang tersohor adalah permainan cambuknya, akan tetapi Nyo Ceng adalah jago kelas wahid, tokoh-tokoh Bu-lim yang dapat mengalahkan dia sangat terbatas, paling-paling hanya beberapa orang saja seperti Kang Hay-thian, Tiok Sianghu, Tong Kheng-thian, Ciong Tian dan sebagainya.
Sudah tentu biarpun serangan cambuk Ki in itu sangat lihai, tapi bagi Nyo Ceng adalah serangan sepele saja.
"Lepas!"
Mendadak Nyo Ceng membentak, tongkatnya lantas mencungkit ke atas.
Tepat sekali cambuk Ki Seng-in yang menyabet tiba itu lantas melilit di atas tongkatnya, waktu Nyo Ceng memutar balik tongkatnya terus ditarik, maksudnya hendak merampas cambuk lawan.
"Belum bisa!"
Jengek Ki Seng-in, mendadak ia kendorkan lilitan cambuknya terus disendai dan terlepas, sekonyong-konyong ujung cambuknya mengeras lurus terus menikam ke depan, yang diarah adalah Thay-yanghiat di pelipis musuh.
Terkejut juga Nyo Ceng, lekas ia menegakkan pula tongkatnya sehingga cambuk lawan kena disampuk ke samping.
Karena datangnya bala bantuan, Yap Leng-hong mendapat angin, segera ia bertempur pula mati-matian.
Dalam pada itu Nyo Ceng telah berhasil melalui rintangan Ki Seng-in dan membiarkan putranya melayani musuh, ia lantas menerjang maju, tongkatnya lantas menotok ke iga Utti Keng.
Dari suara sambaran angin, tahulah Utti Keng datangnya serangan musuh, tapi sama sekali ia tidak menangkis, sebaliknya ia gunakan delik itu dengan baik, mendadak ia menggertak keras, secepat kilat goloknya menabas miring ke bawah, tanpa menghiraukan sergapan musuh, yang dia incar tetap Leng-hong.
Nyo Ceng dapat menduga Utti Keng mempunyai kemampuan menutup jalan darahnya, andaikan iganya tertotok paling-paling hanya terluka parah saja, tapi Yap Leng-hong juga pasti akan binasa.
Dalam keadaan demikian terpaksa Nyo Ceng harus menolong jiwa Yap leng-hong lebih dulu, maka totokan tongkatnya berubah arah dan digunakan untuk menangkis tabasan golok Utti Keng.
Gerakan kedua orang sama-sama cepat sekali, maka terdengarlah "trang"
Yang keras, dengan tepat golok Utti Keng kena ditahan oleh tongkat Nyo Ceng dari bawah sehingga tabasannya meleset ke samping dan menyambar lewat di atas kepala Yap Leng-hong.
Sungguh kaget Leng-hong tidak kepalang, kalau tidak ditangkis oleh Nyo Ceng tentu jiwanya sudah melayang di bawah golok Utti Keng.
Cepat ia melompat mundur, ia tidak berani menerjang maju lagi dan membiarkan Nyo Ceng menandingi Utti Keng.
Menghadapi lawan tangguh, makin lama Utti Keng makin gigih.
Dalam 30-an jurus permulaan Nyo Ceng sampai kewalahan juga melayani serangan Utti Keng yang dahsyat.
Tapi sesudah itu ia dapat menguasai keadaan dan mulailah melancarkan serangan balasan.
Di sebelah sana Nyo Hoan yang menghadapi Ki Sengin sudah kewalahan, melihat putranya terancam bahaya, Nyo Ceng sengaja melangkah mundur, tongkatnya memutar balik untuk menotok Ki Seng-in.
Sudah tentu Utti Keng tidak memberi kesempatan padanya, ia membentak.
"Awas golok!"
Berbareng goloknya lantas menabas dari samping.
Lekas Nyo Ceng menggeser ke samping lain dan menarik kembali tongkatnya untuk menangkis, dengan demikian keadaan menjadi saling serang dari dua kalangan.
Karena mesti menghindari totokan tongkat Nyo Ceng, terpaksa Ki Seng-in berkelit dan kesempatan ini telah memberi kelonggaran kepada Nyo Hoan untuk bernapas.
Sebaliknya karena Nyo Ceng menggunakan tongkatnya menyerang Ki Seng-in, maka Utti Keng telah dapat melancarkan serangan dahsyat pula.
"Bagaimana keadaanmu, Yap-kongcu?"
Tiba-tiba Nyo Ceng menegur Yap Leng-hong. Saat itu Leng-hong sudah dapat menenangkan diri, seketika ia sadar dan menjawab.
"Tidak apa-apa. O ya, jangan kuatir Nyo-seheng, biar aku membantu kau!"
Begitulah ia pilih lawan yang lebih empuk, bersama Nyo Hoan ia lantas mengerubut Ki Seng-in.
Kini berganti Ki Seng-in yang merasa payah melawan keroyokan Leng-hong dan Nyo Hoan.
Ia melihat keadaan sang suami juga tidak menguntungkan bila pertempuran berjalan lebih lama.
Mendadak ia mendapat akal, pada suatu ketika ia melancarkan serangan kilat dan mendesak mundur Yap Leng-hong, pada saat lain ia telah menyiapkan sebatang jarum Bwe-hoa-ciam.
Mendadak cambuknya menyabet disusul dengan sambitan jarum dengan tangan lain.
Sekonyong-konyong terdengar Nyo Hoan menjerit.
"Perempuan jahanam, berani kau ... aduh"
Belum lenyap suara, pundaknya sudah terasa kesakitan.
"Haha, kau telah terkena jarumku, rasanya kau pun takkan hidup lebih dari satu jam lagi,"
Seru Ki Seng-in dengan tertawa.
Keruan ucapan Ki Seng-in membikin Nyo Hoan ketakutan setengah mati, begitu pula kejut Nyo Ceng bukan buatan.
Mestinya Nyo Ceng sudah di atas angin dan dapat mengalahkan Utti Keng dalam waktu tidak lama lagi, tapi sekarang ia harus menolong putranya lebih dulu.
Cepat ia meninggalkan Utti Keng dan melompat ke sana untuk menyerang Ki Seng-in.
Karena merasa kuatir atas keselamatan putranya, dengan sendirinya Nyo Ceng menyerang dengan segenap kepandaiannya, tongkatnya menotok ditambah lagi sebelah tangannya memukul dari jauh.
Ki Seng-in dapat menghindarkan totokan tongkat lawan, tapi terkena juga tenaga pukulan Nyo Ceng yang dahsyat itu, ia terhuyung-huyung mundur dan jatuh terduduk.
Syukur pada saat yang hampir sama Utti Keng juga sudah menyusul tiba di belakang Nyo Ceng, goloknya lantas membacok.
Lekas Nyo Ceng mendak ke bawah sambil memutar ke samping, walaupun cara menghindarnya sangat tepat, tapi tidak urung lengannya juga sudah tergores oleh mata golok.
Karena serangan Utti Keng yang melukai Nyo Ceng itulah maka tenaga pukulan yang mengenai Ki Seng-in tadi juga tidak terlalu keras.
Tanpa menghiraukan luka sendiri, segera Nyo Ceng menyeret putranya dan lari pergi secepatnya.
Yap Lenghong tidak kalah cerdik, sejak tadi ia sudah siap-siap untuk lari, maka begitu Nyo Ceng berdua angkat kaki, segera ia pun angkat langkah seribu.
Utti Keng juga tidak sempat mengejar musuh lagi, buru-buru ia membangunkan sang istri dan bertanya.
"Bagaimana keadaanmu, adik In?"
Tapi legalah hatinya sesudah memeriksa nadi istrinya yang ternyata tidak terluka dalam.
"Adik In,"
Kata Utti Keng pula.
"syukurlah kau telah menyerang bangsat cilik itu dengan senjata rahasia sehingga kita terlolos dari maut. Entah sejak kapan kau berhasil meyakinkan senjata rahasia berbisa?"
"Mana aku mempunyai jarum berbisa?"
Sahut Ki Sengin dengan tertawa.
"Yang kugunakan juga cuma Bwehoa-ciam biasa saja."
"O, jadi kau cuma menggertak saja agar Nyo Ceng menjadi keder,"
Kata Utti Keng dengan tertawa geli.
"Kalau aku tidak menggertak mereka dengan mengatakan jarum itu berbisa, tentu tua bangka Nyo Ceng itu sukar ditipu,"
Ujar Ki Seng-in.
"Sayang keparat Yap Leng-hong itu ikut lolos juga, biarlah lain kali tentu ada orang lain yang akan membereskan dia,"
Ujar Utti Keng.
"Sekarang marilah kita meneruskan perjalanan ke Siau-kim-jwan."
Dalam pada itu sekaligus Nyo Ceng telah menyeret putranya kabur sejauh beberapa li, melihat Utti Keng berdua tidak mengejarnya barulah ia berhenti.
Sejenak kemudian Yap Leng-hong juga sudah menyusul tiba dengan napas terengah-engah.
Begitu berhenti Nyo Ceng sudah lantas menyobek baju putranya untuk memeriksa pundaknya yang terkena senjata rahasia berbisa Ki Seng-in tadi.
Tapi dilihatnya kulit daging pundak Nyo Hoan itu tiada tanda-tanda terkena racun, hanya merah sedikit pada tempat yang terluka.
"Anak Hoan, apakah kau merasa enak atau ada tandatanda perasaan lain?"
Tanya Nyo Ceng dengan kuatir.
"Aku merasa sekujur badan seperti melembung, dada terasa panas seakan pecah,"
Sahut Nyo Hoan.
Nyo Ceng bertambah kuatir, ia mengira racun telah mulai bekerja di dalam tubuh putranya, lekas ia mengeluarkan sepotong besi sembrani terus ditempelkan ke titik luka di pundak Nyo Ceng.
Waktu ia angkat besi sembrani itu, melekatlah sebatang jarum halus di atas besi sembrani itu.
Tapi jarum itu putih bersih, tidak berwarna sebagaimana lazimnya senjata rahasia yang direndam di dalam racun.
Untuk sejenak Nyo Ceng melenggong, tapi segera ia sadar telah tertipu, ia ketok tongkatnya ke atas tanah dan berseru.
"Kurangajar, perempuan jahanam itu berani mempermainkan aku, biar kususul dia untuk membikin perhitungan padanya."
Sesudah melihat jarum itu tidak berbisa, segera ia tahu sebabnya Nyo Hoan merasa badan panas dan seperti melembung, adalah karena di tengah jalan tadi waktu ia seret tangan putranya itu telah menyalurkan tenaga dalamnya dengan maksud menahan menjalarnya racun, padahal keadaan Nyo Hoan tidak berbahaya.
Terpaksa Nyo Ceng harus membuang tenaganya sendiri untuk memunahkan pula hawa murni yang telanjur sudah bersarang di dalam tubuh putranya.
Pantas saja ia merasa gemas karena telah tertipu.
Mendengar Nyo Ceng bermaksud mengejar musuh lagi, Yap Leng-hong lekas membujuk.
"Utti Keng merasa bukan tandingan Nyo siansing, saat ini tentu mereka sudah kabur jauh. Engkau sendiri terluka dan belum lagi diobati, marilah kita mengaso dulu di sini untuk merundingkan urusan lebih penting. Kelak kita masih bisa membikin perhitungan dengan mereka."
Baru sekarang Nyo Ceng juga merasakan keadaannya sendiri pun sangat lemas, lengannya juga terasa pegal, hal ini disebabkan dia harus mengeluarkan tenaga murni untuk putranya itu.
Maka bujukan Yap Leng-hong itu kebetulan baginya untuk mengurungkan maksudnya mengejar musuh, katanya kemudian.
"Ya, memang betul kita harus merundingkan urusan yang lebih penting. Yapkongcu, situasi memang benar-benar sangat buruk."
Hati Leng-hong tergetar, cepat ia bertanya.
"Nyosiansing, aku justru ingin bertanya padamu, mengapa kalian bisa sampai di sini? bagaimana keadaan ayahku dan pertempuran di sana?"
"Ai, urusan pertempuran di Siau-kim-jwan itu tak perlu dibicarakan lagi, sudah runtuh habis-habisan,"
Sahut Nyo Ceng sambil menghela napas.
"Tentang ayahmu, dia..."
Leng-hong merasa cemas, dengan suara gemetar ia menegas.
"Ada apa? Masakah pasukan ayah sebanyak ratusan ribu itu sudah..."
"Ya, pasukan ayahmu sebanyak itu sudah hancur seluruhnya,"
Sahut Nyo Ceng dengan suara parau. Hampir-hampir Yap Leng-hong tidak percaya kepada telinganya sendiri. Untuk sejenak ia terkesima, katanya kemudian dengan suara terputus-putus.
"Mana ... mana bisa jadi demikian? Pasukan musuh sangat sedikit, masakah mereka mampu meng ... menghancurkan pasukan ayah yang berjumlah ratusan ribu orang itu?"
"Yap-kongcu,"
Tutur Nyo Ceng.
"kalau dibicarakan memang sukar untuk dipercaya, sampai aku sendiri pun merasa bingung. Pasukan musuh di bawah pimpinan Yap Boh-hoa itu tahu-tahu muncul di tengah-tengah kedudukan pasukan kita. Pasukan pemberontak di pihak Siau-kim-jwan itu rupanya sudah mengetahui apa yang bakal terjadi, serentak mereka pun menyerang dari garis dalam. Sungguh siasat yang mereka gunakan itu benarbenar sukar diduga, tentu saja pasukan kita menjadi bingung dan kacau-balau, akibatnya ya, tak perlu diceritakan lagi."
Kiranya rombongan Kheng Siu-hong telah menjadi penunjuk jalan bagi pasukan yang dipimpin oleh Yap Boh-hoa itu sehingga tahu-tahu muncul di tengah pasukan musuh.
Serangan yang tiba-tiba itu membikin tentara kerajaan menjadi panik dan kalang-kabut.
Apalagi digencet dari luar dalam, seketika pasukan yang dipimpin Yap To-hu itu tersapu bersih baik yang melarikan diri ataupun yang takluk.
Leng-hong ternganga mendengarkan penuturan Nyo Ceng itu, sampai agak lama baru ia dapat bertanya.
"Dan bagaimana keadaan ayahku? Apakah beliau berhasil meloloskan diri?"
Nyo Ceng menghela napas, lalu menjawab.
"Suasana waktu itu sangat kacau, kami ayah dan anak diterjang oleh ratusan ribu tentara yang ingin menyelamatkan diri sehingga terpencar dengan ayahmu. Namun demikian dengan pasukan pengawalnya yang cukup kuat itu kukira beliau takkan mengalami sesuatu rintangan."
Sudah tentu Yap Leng-hong masih kuatir dan mengeluh, katanya.
"Jika demikian tiada gunanya lagi aku hendak menuju ke sana."
Tiba-tiba Nyo C.eng menjawab.
"Yap-kongcu, yang kau kuatirkan adalah pencarian musuhmu yang ingin menuntut balas padamu bukan?"
Leng-hong melengak, ia paksakan tersenyum dan menjawab.
"Ah, di bawah perlindungan Nyo-siansing yang berkepandaian tiada tandingannya di jagat ini masakah aku masih kuatir?"
"Ilmu silatku sih lumayan juga, tapi terlalu berlebihan jika dibilang tiada tandingannya di jagat ini,"
Kata Nyo Ceng sambil tertawa.
"Yang pasti ilmu silat gurumu barulah dapat disebut nomor satu di dunia ini. Untuk ini tak perlu Yap-kongcu bicara sungkan-sungkan dengan aku."
Wajah Leng-hong menjadi merah jengah karena merasa ucapannya tadi terlalu bersifat mengumpak dan menjilat. Lalu Nyo Ceng berkata pula.
"Yap-kongcu, untuk selanjutnya bolehlah kita kumpul bersama, pada kesempatan menganggur ini tiada halangannya kita saling tukar pikiran dan saling belajar. Sudah tentu Yapkongcu tidak usah rendah hati lagi padaku, sebab kepandaianmu sudah tentu tidak dapat dibandingkan dengan aku, tapi siapakah yang tidak tahu bahwa ilmu silat gurumu adalah nomor satu di dunia Ini. Dia punya pelajaran Lwekang adalah ilmu yang paling hebat. Hehe, kukira dengan saling belajar kita akan sama-sama menerima manfaatnya"
Sampai di sini barulah Yap Leng-hong sadar bahwa tujuan Nyo Ceng adalah ingin mengorek pelajaran Lwekang perguruannya yang hebat itu.
Dalam keadaan sudah kepepet, kekuasaan ayahnya telah runtuh, dirinya memerlukan perlindungan orang pula, terpaksa ia di menyatakan rasa girangnya walaupun di dalam batin sebenarnya la merasa enggan, katanya kemudian.
"Jika Nyo-siansing sudi memberi petunjuk, sudah tentu aku merasa sangat berterima kasih, mana aku berani bicara tentang saling belajar."
"Haha, jika demikian lebih dulu aku pun membilang terima kasih,"
Seru Nyo Ceng sambil bergelak tertawa. Dan baru saja Leng-hong hendak mengucapkan kata kala merendah pula, tiba-tiba Nyo Ceng berseru dengan suara tertahan.
"Ssssst, seperti ada orang sedang mendatangi. Coba kalian tunggu di sini, biar aku memapak kedatangannya."
Segera ia berlari ke sana, terdengar ia membentak.
"Siapa itu, berhenti? Ketika orang itu berhadapan dengan Nyo Ceng, orang itu berseru kaget terus berlutut dan menyembah.
"Ai, Cukong, kiranya engkau berada di sini."
Kiranya orang ini adalah Lok Khik-si, si menjangan bertanduk satu.
Bersama Yo Tun-hou dan Ma Seng-liong mereka bertiga disebut "Ki-lian-sam-siu" (tiga binatang dari gunung Ki-lian), memang sudah lama mereka ditaklukkan Nyo Ceng dan diterima sebagai hambanya.
Waktu Ki-lian-sam-siu menggabungkan diri dengan pemerintah kerajaan juga atas persetujuan Nyo Ceng, supaya mereka dapat membuka jalan baginya bila kelak ia pun mengekor kepada kerajaan.
Kini Ki-lian-sam-siu hanya tinggal Lok Khik-si seorang saja yang juga menghadapi jalan buntu.
Sudah tentu ia menjadi girang mendadak bertemu dengan bekas majikannya.
"Bukankah kau ikut Ho Lan-bing di kotaraja, mengapa kau datang ke sini?"
Tanya Nyo Ceng dengan mengerut kening.
"Sebenarnya hamba diperintahkan datang membantu Yap-tayjin, malahan hamba membawa juga sepucuk surat dari Congkoan (komandan pasukan pengawal) yang harus disampaikan kepada Yap-kongcu,"
Demikian tutur Lok Khik-si.
"Ai, tidak nyana sampai di Sejiang telah mengalami hal-hal yang tidak enak."
"Jika begitu kau tidak perlu ke Siau-kim-jwan lagi, kebetulan Yap-kongcu juga berada di sini, boleh kau haturkan padanya,"
Sela Nyo Ceng, lalu ia berseru memanggil Yap Leng-hong dan Nyo Hoan. Sesudah muncul, Leng-hong merasa malu terhadap Lok Khik-si, katanya.
"Paman Lok, apakah kau membawa sesuatu berita dari kotaraja?"
Rupanya Lok Khik-si belum tahu tentang kekalahan Yap To-hu, dia masih menganggap Yap Leng-hong sebagai putra gubernur yang terhormat, segera ia memberi hormat dan menyerahkan surat yang dibawanya.
Waktu Leng-hong membuka surat dari komandan pasukan pengawal itu, kiranya isinya adalah ucapan selamat dan pujiannya berhubung dengan rencana pengkhianatannya yang sukses sehingga diangkat menjadi pimpinan pasukan pemberontak.
Surat itu menyatakan rasa girang Sri Bagindanya dan menganjurkan bekerja lebih baik lagi, kelak pasti akan mendapatkan ganjaran yang layak.
Keruan Yap Lenghong menyengir sesudah membaca surat itu.
"Yap-tayjin sudah mengalami kekalahan, beliau berada dimana sekarang pun kami tidak tahu, maka kau tidak perlu meneruskan perjalananmu lagi,"
Kata Nyo Ceng. Keruan Lok Khik-si terkejut, serunya.
"Wah, sungguh celaka! Kukira dari Yap-tayjin akan diperoleh bala bantuan untuk melepaskan bahaya yang mengancam Sejiang, siapa duga keadaan di sini lebih buruk lagi."
"Bahaya apa yang menimpa kota Sejiang?"
Tanya Nyo Ceng.
"Sebenarnya aku datang bersama Li Tay-tian dan Pek Tiu, tak terduga setiba di Sejiang, tahu-tahu kota itu sudah diduduki oleh pasukan pemberontak,"
Tutur Khiksi.
"Pasukan pemberontak darimana?"
Tanya Leng-hong terkejut, sebab setahunya di kota itu tiada pasukan pergerakan apapun "Cukong, kalau kuceritakan tentu engkau pun tidak percaya"
Kata Khik-si.
"Pasukan pemberontak itu ternyata dipimpin oleh ..oleh Tiok-taysiansing."
Sungguh kejut Nyo Ceng tak terlukiskan, serunya.
"Dia"
Betul-betul dia?"
Kiranya "Tiok-taysiansing',"
Yang dimaksudkan Lok Khik-si itu adalah kakak ipar Nyo Ceng sendiri, yaitu Tiok Siang-hu.
"Ya, sungguh tidak nyana ia lelah bersekongkol dengan Thian li kau dan telah ikut memberontak serta mendadak menduduki Sejiang dengan anak buahnya,"
Sahut Lok Khik-si.
"Lebih celaka lagi kedatangan kami di Sejiang itu kepergok juga oleh An-toasiok dan si Lau pengurus rumah tangga Tiok-taysiansing. Li Tay-tian dan Pek Tiu terbunuh oleh mereka, untung aku dapat menyelamatkan diri, tapi kemudian kesasar pula di tengah rimba ini. Syukurlah akhirnya bertemu dengan Cukong."
"Ayah, jika demikian kita tak perlu lagi ke Sejiang,"
Kata Nyo Hoan. Selamanya Nyo Ceng hanya takut kepada Kang Haythian dan jeri kepada saudara iparnya she Tiok itu. Sebagai putranya, dengan sendirinya Nyo Hoan cukup mengetahui perasaan sang ayah.
"Ya, memang kita tidak perlu ke Sejiang lagi, biarlah kita mengitari rimba ini menuju ke jurusan lain saja,"
Kata Nyo Ceng.
"Kita pun tiada tugas apa-apa lagi, boleh juga kita mengaso beberapa hari di tengah rimba yang sunyi dan tenang ini."
Nyata di dalam hati Nyo Ceng telah mengambil keputusan akan menggunakan beberapa hari 'mengaso' di dalam rimba ini untuk memaksa Yap Leng-hong mengajarkan inti Lwekang dari Kang Hay-thian yang sangat berguna baginya.
Karena kini Yap Leng-hong harus bersandar di bawah perlindungan Nyo Ceng, tiada jalan lain terpaksa ia menguraikan cara-cara melatih Lwekang perguruannya itu kepada Nyo Ceng.
Lwekang ajaran Kang Hay-thian itu memang sangat bagus, biarpun Nyo Ceng sudah mempelajari dengan tekun juga cuma mendapat kemajuan sedikit demi sedikit.
Hal ini semakin menarik baginya, ia pikir kalau Lwekang dari kedua aliran Cing dan Sia dapat dibaurkan menjadi satu, kelak dirinya dapat menjagoi dunia persilatan dan tidak perlu takut kepada Kang Hay-thian lagi.
Begitulah maka ia pun tidak ingin buru-buru keluar dari rimba raya itu.
Sampai hari ketiga mereka mendapatkan sebuah kelenteng kuno dan berteduh di situ.
Tiap hari ia memaksa Yap Leng-hong menguraikan inti Lwekangnya, sedangkan Lok Khik-si telah menjadi pesuruh mereka yang bertugas memburu binatang sebagai makanan dan mencari buah-buahan.
Suatu hari, pagi-pagi Lok Khik-si sudah pergi mencari makanan, tapi sampai malam belum nampak pulang.
Padahal makanan mereka sudah habis dan sedang menantikan kedatangan Lok Khik-si.
"Apakah Lok-lotoa telah kabur,"
Ujar Nyo Hoan yang perutnya sudah lapar.
"Masakah dia berani?"
Kata Nyo Ceng dengan tertawa.
"Besar kemungkinan dia telah kesasar lagi. Coba kau pergi mencarinya."
Ia tahu putranya sangat cerdik, di tengah rimba sepi itu rasanya juga takkan ketemu musuh tangguh, maka tanpa kuatir apa-apa ia suruh Nyo Hoan pergi mencari Lok Khik-si.
Nyo Ceng sendiri asyik menyelami intisari Lwekang ajaran Kang Hay-thian yang telah mulai dirasakan kemajuannya.
Tanpa terasa sudah tengah malam, ketika ia mendongak dan melihat cahaya sang dewi malam remang-remang menembus celah-celah pepohonan yang rimbun, ia terkejut karena teringat pada Nyo Hoan yang telah pergi mencari Lok Khik-si dan sampai kini belum kembali.
Lekas ia berbangkit dan bersama Yap Lenghong keluar mencari Nyo Hoan.
Kalau Nyo Hoan pergi mencari Lok Khik-si, lalu kemanakah perginya Lok Khik-si?
Kiranya hari itu sial bagi Lok Khik-si, setengah harian dia tidak memperoleh binatang buruan apa-apa, bahkan seekor kelinci pun tidak diketemukan.
Untung sesudah lohor ia melihat seekor rusa, keruan Lok Khik-si bergirang, segera ia menyambitkan sebuah pisau, tapi hanya mengenai punggung rusa itu dan binatang itu masih mampu lari dan menderita sakit.
Segera Lok Khiksi mengejar menurut jejak tetesan darah.
Makin lama makin jauh ia mengejar, jumpai di suatu tempat, tiba tiba di balik sepotong batu padas besar terdengar seruan seorang wanita muda.
"Aha, kau sendiri berjuluk menjangan bertanduk satu, tapi kau tega membunuh sesama jenismu. Tentunya kau tidak mengira akan kepergok olehku bukan?"
Suara itu sudah sangat dikenal Lok khik-si, keruan ia terperanjat dan berteriak.
"Kau ... kau Tiok-siocia bukan''"
Maka muncullah seorang gadis jelita dan balik batu, katanya dengan tertawa.
"Benar, memang aku adanya Dan masih ada pula seorang kenalanmu."
Menyusul muncul lagi seorang pemuda di belakang si nona.
Kiranya nona itu adalah putri Tiok Siang hu, yaitu Tiok Ceng-hoa.
Dan si pemuda adalah Li Kong-he.
Empat tahun yang lalu Lok Khik-si pernah menipu Kong-he sehingga bocah itu dibawa ke kotaraja, malahan beberapa kali Lok Khik-si bermaksud membunuhnya, maka tidak heran Li Kong lie sangat benci padanya.
Kini Kong-he sudah berwujud pemuda berusia I7 tahun yang bertubuh tinggi besar, gagah dan cakap.
Dengan tertawa Kong-he lantas mendamprat.
"Bagus, sudah cukup banyak kau membikin susah padaku, hari ini biar kubinasakan kau jahaman ini."
"Li-kongcu, sudikah kau mendengarkan penjelasanku?"
Pinta Lok Khik-si dengan rasa keder.
"Apa yang kulakukan dahulu adalah alas perintah majikan. Harap nona Tiok suka mengingat hubungan keluarga Nyo dan Tiok, sukalah engkau mengizinkan aku bertemu dengan ayahmu untuk minta maaf?"
Mendengar orang menyinggung keluarga Nyo, seketika Tiok Ceng-hoa merasa gusar, dampratnya.
"Hm, kau masih berani menonjolkan majikanmu sebagai tameng? Kata ayahku, bila Nyo Ceng sampai dipergoki beliau, kalau tidak dibeset kulitnya juga pasti akan dimusnahkan ilmu silatnya. Sekarang kami pun memperlakukan kau dengan cara yang sama, kau ingin hidup dengan ilmu silat punah atau ingin kami beset kulitmu?"
Padahal ucapan Lok Khik-si tadi hanya sebagai pancingan belaka untuk menjajaki apakah Tiok Siang-hu bersama dengan muda-mudi itu.
dari jawaban Tiok Cenghoa kini dapat diketahui ayahnya tidak ikut datang.
Seketika Lok Khik-si menjadi tabah, ia yakin sekiranya tak bisa menangkan kedua muda-mudi itu, paling tidak juga takkan kalah, apalagi dirinya masih ada bala bantuan yaitu Nyo Ceng.
Sekarang biar kubunuh dulu bocah ini, kemudian baru kubereskan budak perempuan itu.
Begitulah segera Lok Khik-si bersikap takut-takut sambil mundur, tapi mendadak ia menekan pesawat tongkatnya yang bercabang bagai tanduk menjangan itu.
Sebatang anak panah berbisa yang terpasang di dalam tongkat tanduk menjangan itu lantas menyambar keluar.
Namun Li Kong-he sempat menyampuk dengan goloknya.
"plok", anak panah kecil itu terpukul jatuh.
"Bangsat, berani kau menyerang secara pengecut? Lihat golokku!"
Bentak Kong-he sambil menubruk maju terus membacok.
Lok Khik-si mengira dengan serangan mendadak tadi akan dapat membinakan Li Kong-he, tak terduga kepandaian Li Kong-he sudah lain daripada dulu lagi.
Keruan Lok Khik-si terperanjat dan lekas-lekas menangkis.
Dahulu ia pernah kecundang di bawah golok pusaka ayah Kong-he, kini wajah Kong-he yang mirip ayahnya itu mengingatkan Lok Khik-si pada kejadian masa lampau, keruan ia menjadi jeri.
Untung baginya, Tiok Ceng-hoa tidak ikut mengembut, malahan Kong-he lantas berkata.
"Enci Hoa, biarkan dengan tanganku sendiri aku menuntut balas kepada keparat ini. Sudah waktunya aku harus menyembelih menjangan tanduk satu ini."
Ceng-hoa tertawa, sahutnya.
"Baiklah, hendaklah kau hati-hati!"
Sudah tentu niat Kong-he itu kebetulan bagi Lok Khiksi, dia sudah dapat menilai dari gebrakan tadi bahwa ilmu golok Li Kong-he memang sudah lain daripada dulu, tapi masih belum selihai mendiang ayahnya.
Khik-si merasa pasti dirinya masih dapat melawannya, malahan kalau bicara tentang pengalaman bertempur, dirinya terang jauh lebih luas daripada pemuda itu.
Dalam seratus jurus boleh jadi akan dapat mencari kesempatan untuk mengalahkannya, apalagi Tiok Ceng-hoa terang takkan membantu Kong-he, pertempuran yang akan berjalan lama ini tentu pula akan menarik perhatian Nyo Ceng dan putranya untuk keluar mencari, hal ini berarti datangnya bala bantuan baginya.
Begitulah maka Lok Khik-si telah sengaja main ulur tempo dan ternyata membawa hasil dengan memuaskan.
Kong-he adalah pemuda laksana anak banteng yang tidak takut kepada harimau, ia menyerang dengan hebat, tapi selalu kena ditangkis oleh Lok Khik-si.
Setelah lebih 50 jurus, mulai lemaslah tenaga Kong-he dan Lok Khik-si dapatlah melayani dengan seenaknya, walaupun ada kesempatan melancarkan serangan balasan, tapi Lok Khik-si sengara berlenggang saja ia kuatir kalau Kong-he terdesak dan Tiok Ceng-hoa akan terpaksa maju mengeroyoknya, hal ini tentu akan membikin runyam tujuannya Tapi kecil-kecil Tiok Ceng-hoa cukup cerdik, diam-diam ia dapat menaksir maksud tujuan Lok Khik-si, apalagi diketahuinya kedua saudara angkat Lok Khik-si sudah mati semua, darimana dia punya bal bantuan?
Apalagi Kong-he tadi sudah menyatakan akan menuntut balas dengan tangan sendiri, ia kenal watak pemuda itu dan tidak Ingin mengecewakannya, maka terpaksa ia tetap menonton saja.
Ketika Kong-he sudah tak berdaya mengalahkan musuh, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang.
"Bagus, dasar ajalmu sudah sampai, maka kemana pun kau lari juga sukar lolos dari jaring. Sekarang hendak lari kemana lagi kau?"
Berbareng dengan terdengarnya suara itu, di atas bukit sana telah muncul tiga orang.
Seorang laki-laki setengah umur dengan sepasang muda-mudi, laki-laki setengah umur itu adalah An Peng, centing keluarga Tiok, yaitu An-toasiok, hamba yang pernah mengawal Tiok Ceng-hoa dan berebut ayam panggang dengan Kilian-sam-siau dahulu itu.
Pemuda dan pemudi yang datang bersama dia adalah Lim To-kan dan Siangkoan Wan.
Kiranya sakitnya Kang Hay-thian sudah mulai sembuh, dia tidak memerlukan pelayanan kedua muridnya lagi.
Kebetulan waktu itu Tiok Siang-hu hendak bergerak di daerah Sejiang dan Tiok Ceng-hoa juga ingin pulang menemui ayahnya.
Maka Kang Hay-thian lantas menyuruh To-kan dan Kong-he bersama Siangkoan Wan ikut Tiok Ceng-hoa ke Sejiang.
Setelah laskarnya menduduki Sejiang, Kong-he dan To-kan telah memohon kepada Tiok Siang-hu agar mereka diperbolehkan pergi ke Siau-kim-jwan untuk mencari Ubun Hiong dan sekalian dapat membantu pasukan pemberontak di daerah itu.
Tiok Siang-hu meluluskan permintaan anak-anak muda itu dan menugaskan An Peng mengawal mereka.
Untuk menyelundup ke Siau-kim-jwan mereka pun mengambil jalan melalui rimba raya itu.
Hari itu Kong-he dan Tiok Ceng-hoa sedang keluar mencari air, To-kan dan Siangkoan Wan sengaja membiarkan kedua mudamudi itu berada sendirian, maka mereka tidak ikut.
Mereka baru menyusul sesudah mendengar suara petempuran yang ramai itu.
To-kan sendiri juga pernah dibikin susah oleh Lok Khik-si, maka ia menjadi gusar dan berlari datang hendak membantu Li Kong-he, serunya.
"He-ko, marilah kita bersama-sama menyembelih menjangan ini."
Tapi Ceng-hoa telah mencegahnya dan berkata dengan tersenyum.
"Jangan, engkohmu Kong-he ingin membinasakan musuhnya dengan tangannya sendiri."
"Benar,"
Sahut To-kan sambil memasukkan pedang ke dalam sarungnya.
"memang engkoh Kong-he harus membinasakan menjangan ini dengan tangan sendiri, dendamnya jauh lebih mendalam daripada aku."
Akan tetapi sesudah menyaksikan jalannya pertempuran untuk sejenak, ia merasa Kong-he tiada kesempatan dapat mengalahkan musuh. Tiba-tiba terdengar An Peng yang berdiri di samping sana berseru.
"Lok-lotoa, makin tua makin tak genah kau, masakah jurus kotor bagai 'anjing lapar menubruk tahi' juga kau keluarkan!"
Habis lenyap suaranya, mendadak tongkat tanduk menjangan Lok Khik-si menegak terus menikam ke depan, jurus yang digunakan adalah 'harimau buas menerkam mangsa'.
Kong-he melengak sambil menangkis serangan Lok Khik-si itu, segera ia pun sadar bahwa ucapan An-toasiok tadi sengaja ditujukan kepadanya.
An Peng telah mendahului menyebut jurus serangan yang akan dilancarkan Lok Khik-si, jurus Beng-hou-bok-sip (harimau buas menerkam mangsa) telah sengaja disebutnya Gokau-jiang-say (anjing lapar menubruk tahi).
Keruan Lok Khik-si terkejut dan gusar pula, masakah jurus serangannya yang lihai dengan nama yang bagus itu diputar-balikkan menjadi nama yang busuk, lebih celaka lagi karena seruan An Peng itu serangannya menjadi gagal.
Segera ia putar tongkatnya yang bercabang itu terus menyerang pula, tapi lagi-lagi An Peng mengejek.
"Ha, makin tak genah kau ini Lok-lotoa! Kau pakai tipu 'ular busuk menyusup liang'? Aha, apakah kau ingin kabur?"
Kiranya jurus yang dikeluarkan Lok Khik-si kali ini bernama Sin-liong-jut-hay (naga sakti keluar dari laut).
Tapi kini Kong-he sudah paham ucapan An Peng itu, segera ia mendahului musuh dengan tabasan goloknya dalam jurus Tay-peng-tian-ek (garuda sakti pentang sayap), ia mendahului menyerang tempat luang di badan lawan.
Saat itu Lok Khik-si sedang mengangkat tongkatnya hendak menjojoh ke depan, tahu-tahu golok Li Kong-he sudah menyambar dari samping lebih dulu.
Untuk Khik-si sempat melompat mundur, kalau tidak, sebelah bahunya pasti sudah terkurung.
Tiok Ceng-hoa sangat senang menyaksikan itu, serunya.
"An-toasiok, hebat benar kau, kalau pulang nanti akan kuminta ayah menghadiahkan sebotol arak bagus padamu."
An Peng menyengir saja dan tetap memperhatikan pertempuran di tengah kalangan, tiba-tiba ia mendengar sesuatu dan berkata.
"Eh, seperti ada orang datang!"
Belum lenyap suaranya, terdengarlah kumandang suara suitan dari jauh, segera Lok Khik-si juga telah mendengar suara suitan itu, ia sangat girang dan segera balas bersuit.
Tapi sesudah didengar pula suara pendatang itu, maka tertawalah dia, sebab dari tenaga suitan itu ia dapat menduga siapa yang datang.
An Peng berkata dengan tertawa.
"Haha, kukira macam apa bala bantuanmu yang datang itu, tak tahunya cuma begitu saja!"
"Eh, itu adalah suara Nyo Hoan,"
Demikian Siangkoan Wan juga berseru.
"Eh, adik Kan, kebetulan kau dapat menuntut balas padanya."
Kiranya Siangkoan Wan cukup kenal suara Nyo Hoan, sebab sejak kecil mereka sering bergaul bersama. To-kan bergirang juga, serunya.
"Hah, memangnya aku ingin mencari bocah keparat itu untuk membikin perhitungan padanya. Aku pun ingin meniru engkoh Kong-he, akan kubunuh dia dengan tanganku sendiri, kalian jangan berebut dengan aku."
Tahun yang lalu To-kan pernah ditawan oleh Nyo Hoan dan dimasukkan ke dalam karung, tidak sedikit Tokan telah merasakan pahit getirnya, kejadian itu dirasakannya sebagai suatu hinaan besar.
Maka tanpa ayal lagi ia lantas memapak ke tempat datangnya suara, Siangkoan Wan lantas menyusul di belakangnya.
Dalam pada itu Lok Khik-si sedang kelabakan dicecar oleh serangan Li Kong-he, ia merasa girang dan kuatir pula demi mendengar suara Nyo Hoan.
Bergirang karena bala bantuan sudah datang, kuatirnya jangan-jangan Nyo Ceng tidak ikut datang, kalau Nyo Hoan sendirian saja tidak banyak berguna baginya.
Karena sedikit terpencarnya pikiran itu ia semakin keripuhan menghadapi serangan Kong-he yang tambah gencar.
Tiba-tiba An Peng membentak.
"Lok-lotoa, apa-apaan kau? Eh, 'keledai malas bergelindingan', apakah kau hendak kabur?"
Benar juga, mendadak nampak Lok Khik-si mendakkan tubuh terus melesat ke depan, rupanya ia ingin menggabungkan diri dengan Nyo Hoan.
Tapi karena gerak-geriknya telah dibongkar lebih dulu oleh An Peng, tanpa ayal lagi golok Li Kong-he lantas menabas, dengan tepat pundak Lok Khik-si termakan.
Sambil menahan rasa sakit Lok Khik-si berusaha kabur sebisanya.
Namun malang baginya, secepat angin Kong-he sudah melompat tiba.
"Crat", tanpa ampun lagi kepalanya terpenggal oleh golok pemuda itu. Alangkah senangnya Kong-he sesudah mengusap bersih darah di atas goloknya, katanya dengan tertawa.
"Kini marilah kita pergi melihat adik Kan membunuh musuhnya!"
Sementara itu Nyo Hoan sedang memburu datang ketika mendengar jawaban suitan Lok Khik-si tadi, tapi belum sampai di tempatnya, sekonyong-konyong ia dibentak orang.
"Berhenti! Apakah masih kenal padaku?"
Tiba-tiba dilihatnya dua muda-mudi telah menghadang di depannya, siapa lagi kalau bukan Lim To-kan dan Siangkoan Wan. Keruan Nyo Hoan kaget, tapi ia pura-pura tenang saja, tegurnya dengan tertawa.
"Eh, enci Wan, sudah lama kita tak berjumpa, apakah baik-baik saja kau? Rasanya hubungan baik kita dahulu takkan menyebabkan renggangnya kita lantaran sedikit kesalah pahaman tempo hari. Sekarang kau akan membantu bocah she Lim ini atau aku?"
Muka Siangkoan Wan menjadi merah padam, dampratnya.
"Bangsat cilik, siapa sudi menjadi Encimu? Kau ayah dan anak sama-sama berhati kejam dan ingin mencelakai ayahku, hari ini aku harus membikin perhitungan padamu."
"Hehe, memangnya aku tahu kau lebih suka kepada bocah she Lim ini,"
Ejek Nyo Hoan dengan menyeringai.
"Baiklah, bila sebentar bocah she Lim ini sudah kubunuh, ingin kulihat bagaimana sikapmu nanti."
"Huh, jangan sombong lebih dulu, jangan-jangan kau yang akan dimampuskan oleh adik Kan,"
Ejek Siangkoan Wan.
"Bagus, jadi kau takkan membantu pihak mana pun juga?"
Nyo Hoan menegas.
"Ya, biar kusaksikan kematianmu nanti,"
Sahut Siangkoan Wan. Dalam pada itu To-kan sudah tidak sabar lagi.
"Sret", ia melolos pedangnya dan membentak.
"Bangsat, tak peduli apa yang hendak kau lakukan, pendek kata hari ini ajalmu sudah tiba."
"Hahaha!"
Nyo Hoan bergelak tertawa.
"Hayo majulah bocah she Lim. Kau sudah pernah keok di bawah tanganku, memangnya aku sekarang takut padamu?"
"Sret", segera To-kan mendahului menyerang, .dengan acuh tak acuh Nyo Hoan menangkis. Tapi ia menjadi kaget ketika kedua senjata beradu, dirasakannya kekuatan Lim To-kan sekarang sudah lain daripada dulu lagi, namun demikian ia percaya dirinya masih dapat mengalahkan seterunya itu. Segera tongkatnya berputar, ia keluarkan ilmu Tiam-hiat dengan tongkat ajaran ayahnya yang tiada bandingannya itu. Sekali jojoh, sekaligus mengarah tiga tempat Hiat-to yang mematikan. Ia taksir kepandaian To-kan kira-kira sembabat dengan dirinya, maka ia yakin totokannya ini pasti dapat merobohkan lawan. Tak terduga Lim telah menggeser ke samping, tungkak kakinya berputar, berbareng terdengarlah suara "trang-trang-trang"
Tiga kali, secepat kilat tongkat membentur pedang tiga kali.
Totokan Nyo Hoan itu telah kena dipatahkan oleh To-kan.
Tongkat Nyo Hoan itu sangat keras dan tidak terkutung oleh pedang lawan, tapi yang membuatnya heran adalah karena ilmu totokan kena dipatahkan oleh To-kan.
Sudah tentu ia sangat penasaran, bentaknya.
"Anak jadah! Ini terima pula seranganku!"
Berbareng tongkatnya berputar, seketika To-kan terkurung di tengah bayangan tongkatnya yang ketat.
Jurus serangan ini disebut Sip-hong-bay-hok (jebakan dari sepuluh penjuru), berturut-turut sekaligus dapat menotok sepuluh tempat Hiat-to yang berbahaya di badan lawan.
"Huh, jangankan cuma satu jurus, biar kuterima sepuluh jurus seranganmu juga tidak menjadi soal,"
Jengek To-kan.
Berbareng itu tubuhnya berputar secepat terbang, pedangnya menyampuk keliling, ternyata jurus serangan Nyo Hoan itu benar-benar telah dipunahkan pula.
Sungguh kejut Nyo Hoan tak terkatakan, ia heran darimanakah Lim To-kan mempelajari ilmu pedang yang seakan khusus digunakan untuk memunahkan ilmu totokan tongkat keluarga Nyo itu.
Dalam hal ini Nyo Hoan memang tidak tahu bahwa ilmu pedang aneh itu memang sengaja diciptakan oleh Kang Hay-thian untuk mengalahkan Nyo Ceng.
Tiga tahun yang lalu waktu Kang Hay-thian malammalam menjadi tamu Siangkoan Thay, sesudah siangnya bertempur melawan Nyo Ceng, ketika itu Siangkoan Wan telah menagih janji karena dahulu Kang Hay-thian pernah menyanggupi akan memberikan sesuatu tanda mata padanya, maka tanda mata yang diminta Siangkoan Wan itu adalah semacam ilmu silat yang dapat mengalahkan ilmu silat keluarga Nyo itu.
Sebagai maha guru ilmu silat, asal pernah bergebrak dengan lawan, segera Kang Hay-thian dapat menyelami dimana letak keunggulan dan kelemahan musuh.
Maka kepada Siangkoan Wan ia lantas mengajarkan semacam ilmu pedang yang dapat mengalahkan ilmu tongkat keluarga Nyo.
Jadi Lim To-kan tidak mendapat pelajaran dari gurunya, melainkan dari Siangkoan Wan, malahan ilmu pedang ini baru beberapa hari yang lalu selesai dipelajarinya dan kebetulan hari ini sudah dapat digunakan menghadapi Nyo Hoan.
Dengan sendirinya Nyo l-loan mati kutu, karena setiap jurus serangannya selalu kena dipatahkan, bahkan kemudian ia berbalik terdesak dan tidak mampu menyerang lagi.
Dalam pada itu An Peng, liok Ceng-hoa dan Li Kong-he bertiga juga sudah menyusul tiba dan ikut menonton di samping.
Sambil bertepuk tangan Kong-he berseni memuji.
"Bagus, adik Kan! Tambah tenaga, mampuskan dia!"
Baru lenyap suaranya.
"cret", dimana sinar pedang berkelebat, muncratlah tetesan darah. Ternyata lengan Nyo Hoan telah terluka, tongkatnya jatuh ke tanah.
"Terimalah kematianmu!"
Bentak lokan, menyusul ia hendak menubruk maju pula untuk menamatkan jiwa Nyo Hoan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar bentakan seorang dengan suara menggeledek.
"Siapa berani melukai anakku?"
Kiranya Nyo Ceng dan Yap Leng hong yang telah datang.
Keruan Siangkoan Wan, Kong he dan Tiok Ceng-hoa bertiga terkejut, serempak mereka memapak maju.
Akan tetapi sekali tongkatnya bergerak, sekaligus Nyo Ceng telah menyampuk pergi golok Li Kong-he dan pedang Lim To-kan serta masih terus menerjang maju.
Perlahan ia mendorong Nyo Hoan ke samping dan berseru.
"Yapkongcu, harap kau bubuhi obat pada lukanya!"
"Ayah, bunuhlah kedua anak keparat itu untuk membalaskan sakit hatiku,"
Teriak Nyo Hoan.
Dalam pada itu Nyo Ceng telah mengamuk, tongkatnya dia pakai sebagai pentung terus mengemplang ke atas kepala Lim To-kan.
Gagang tongkatnya berbareng ditekuk ke samping dan bergetar, sekaligus ia menotok beberapa Hiat-to mematikan di tubuh Siangkoan Wan, Tiok Ceng-hoa dan Li Kong-he.
Sesudah benturan senjata tadi, diam-diam Nyo Ceng merasa heran mengapa dengan kepandaian Lim To-kan itu mampu melukai putranya.
Karena ingin melampiaskan dendam anaknya, maka ia telah menyerangnya secara keji tanpa mempedulikan lawannya itu hanya seorang anak muda yang masih hijau.
Hanya terhadap Ceng-hoa dan Siangkoan Wan ia rada sungkan, maka dia hanya bermaksud menotok Hiat-to mereka saja.
Akan tetapi ketika Siangkoan Wan dan Lim To-kan mengeluarkan ilmu pedang mereka dan dengan mudah telah mematahkan totokan tongkatnya, barulah Nyo Ceng sadar pasti Kang Hay-thian yang telah mengajar anak-anak muda itu, makanya Nyo Hoan kena dilukai oleh Lim To-kan.
Namun Nyo Ceng sudah tentu tak bisa dipersamakan dengan Nyo Hoan, To-kan dapat melukai Nyo Hoan, tapi dengan bergabung dengan Siangkoan Wan toh mereka sukar melawan Nyo Ceng.
Tiok Ceng-hoa dan Li Kong-he juga tidak tinggal diam, serentak mereka pun mengerubut maju.
Dengan jurus Giok-li-tau-so (gadis ayu melempar tali) segera Ceng-hoa menusuk lambung orang, sedangkan Kong-he menabas lengan musuh dengan ganas.
Kepandaian Tiok Ceng-hoa dan Li Kong-he sama-sama mempunyai keunggulan masing-masing.
Yang satu adalah putra Tiok Siang-hu yang terhitung tokoh nomor dua di dunia persilatan pada masa ini, yang lain adalah murid tokoh nomor satu.
Apalagi selama setahun ini kemajuan Kong-he amat pesat, gerakan goloknya membawa tenaga yang dahsyat dan tidak boleh dipandang enteng.
Nyo Ceng menjadi gusar karena keroyokan empat anak muda itu, ia pegang bagian tengah tongkatnya, ujung tongkat menyampuk pergi kedua pedang Siangkoan Wan dan Lim To-kan, pangkal tongkat kena membentur pula golok Li Kong-he, berbareng ia menggeser ke samping sehingga serangan Tiok Cenghoa juga mengenai tempat kosong.
Tapi karena satu harus melawan empat, terpaksa ia tidak dapat melancarkan serangan ganas.
Namun apapun juga keempat anak muda itu masih selisih jauh dengan kekuatan Nyo Ceng.
Lama kelamaan bukan mustahil mereka akan dijatuhkan satu per satu.
Melihat ayahnya ada tanda-tanda akan menang, Nyo Hoan sangat girang, segera ia berteriak-teriak minta ayahnya lekas mampuskan Li Kong-he dan Lim To-kan.
Tapi mendadak An Peng melompat maju sambil bersuit panjang, lalu berseru.
"Lekas Cukong, Nyosiansing hendak membikin susah Siocia kita!"
Yang paling ditakuti Nyo Ceng di dunia ini pertama adalah Kang Hay-thian, kedua adalah Tiok Siang-hu.
Kini mendadak mendengar teriakan An Peng, keruan ia terperanjat.
Tatkala Ituia sedang menggunakan jurus Pat-hong-hong-ih (hujan angin delapan penjuru) mestinya ia sekaligus dapat mengguncang pergi senjata empat anak muda itu serta dapat melukai pula pundak Lim To kan, tapi sedikit kagetnya itu telah membikin Lim To-kan sempat menghindarkan serangannya.
Kalau Nyo Ceng terperanjat, maka ada seorang lagi yang lebih ketakutan, orang itu tak lain tak bukan adalah Yap Leng-hong ia cukup tahu betapa lihainya Tiok Sianghu yang diberi gelar sebagai 'gembong iblis' di dunia persilatan.
Kalau dia kena ditangkap gurunya yaitu Kang Hay-thian, paling-paling dia akan dihukum mati, tapi kalau sampai ditawan Tiok Siang-hu, maka sukar dibayangkan entah siksaan apa yang akan dia rasakan.
Maka tidak heran ia sangat takut demi mendengar Tiok Siang-hu juga sudah datang.
Segera timbul pikiran akan melarikan diri, tanpa pikir lagi ia dorong Nyo Hoan yang sedang diberi obat itu, tanpa menghiraukan mati-hidup kawannya lagi ia terus lari terbirit-birit.
Karena tidak tersangka-sangka, Nyo Hoan terdorong jatuh ia menjerit kesakitan dan hampir-hampir kelengar.
Keruan Nyo Ceng sangat gusar dan memaki kalangkabut.
Tadi ia terkejut dan menyangka Tiok Siang-hu benar-benar ikut datang, tapi segera terpikir olehnya bahwa Tiok Siang-hu adalah pemimpin kaum pemberontak di Sejiang dan tidak mungkin meninggalkan pangkalannya yang telah didudukinya itu.
Benar juga, sampai sekian lamanya ternyata belum nampak munculnya Tiong Siang-hu.
Dengan gusar Nyo Ceng lantas memaki "Budak kurangajar!
Kau berani menggertak aku dengan nama majikanmu!
Biarpun majikanmu datang juga aku tidak takut!"
Habis berkata segera ia putar tongkatnya lebih kencang, di tengah sambaran tongkatnya ia selingi dengan Kim-na jin hoat, ilmu menangkap yang lihai, ia bermaksud menawan hidup-hidup Tiok Ceng hoa.
Tiba-tiba An Peng tertawa, serunya.
"Nyo-siansing, jika kau benar-benar hendak membikin susah Siocia kami, terpaksa hamba juga akan berlaku kurang adat!"
Segera ia pun melompat maju.
"Kau mau apa? Berani kau bertempur melawanku?"
Bentak Nyo Ceng gusar.
"Tidak,"
Sahut An Peng.
"Hamba cuma mau menangkap tuan muda saja agar nanti dapat kutukarkan bila engkau juga menawan Siocia kami."
Nyo Ceng terkesiap dan gusar, ia pikir jangan-jangan budak ini benar-benar melakukan seperti apa yang dikatakannya. Segera ia membentak.
"Kurangajar! Kau berani?"
Berbareng ia lantas melompat mundur dengan cepat terus memondong sang putra.
Sebenarnya An Peng tahu sukar baginya untuk menawan Nyo Hoan, ucapannya tadi hanya gertak sambal belaka untuk memaksa Nyo Ceng harus melindungi putranya lebih dulu, dengan demikian bahaya yang mengancam Tiok Ceng-hoa dan lain-lain juga dapat dihindarkan.
Kemudian An Peng berkata pula sambil memberi hormat.
"Maaf Nyo-siansing, untuk membela majikan sendiri, terpaksa hamba bersikap kasar padamu."
Segera ia mengeluarkan senjatanya, sepasang Hou-jiu-kau (gaetan) dan bersama-sama Kong-he dan lain-lain mengerubut Nyo Ceng.
Kepandaian An Peng lebih tangguh daripada keempat anak muda itu, maka keadaan pertempuran menjadi berubah seketika sesudah dia ikut masuk kalangan, apalagi sekarang Nyo Ceng harus melindungi keselamatan Nyo Hoan.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, sekali Nyo Ceng ayun tongkatnya dan mendesak mundur para pengeroyoknya, menyusul dengan cepat sekali ia lantas angkat langkah seribu sambil memondong putranya.
Meski sudah banyak mengeluarkan tenaga, tapi Ginkangnya masih tetap jauh lebih tinggi daripada lawanlawannya, hanya sekejap saja ia sudah menghilang di tengah rimba yang amat rimbun itu.
Melihat Nyo Ceng sukar dikejar lagi, maka Kong-he dan lain-lain juga tidak mengudak lebih jauh.
Mereka tertawa senang atas kemenangan besar itu.
Setelah berlari masuk ke dalam rimba, makin dipikir makin gusarlah Nyo Ceng, katanya dengan gemas.
"Keparat Yap Leng-hong itu benar-benar kurangajar, bila ketemu lagi tentu akan kuhajar dia."
Kemudian mereka mengejar terus ke arah barat, akan tetapi tidaklah gampang hendak mencari seorang di tengah rimba raya seluas itu.
Sampai maghrib masih belum ditemukan jejak Yap Leng liong sedangkan Nyo Hoan sudah sangat kelaparan.
Untunglah Nyo Ceng berhasil memburu seekor rusa, mereka lantas menyalakan api unggun untuk memanggang daging rusa.
Di tengah tiupan angin malam yang sayup-sayup, tiba tiba terdengar suara kresekan orang berjalan.
Nyo Ceng terkejut dan lekas menyiapkan tongkatnya sambil membentak.
"Siapa?"
Baru selesai ucapannya, orang itu sudah muncul. Seru orang itu sambil bergelak tertawa.
"Aha, kukira siapa, tak tahunya adalah Nyo toako, sungguh sangat kebetulan. Aku datang ke sini karena tertarik oleh bau daging panggangmu!"
Nyo Ceng terkejut dan girang, sahutnya.
"He, Auyangtoako, mengapa engkau juga sampai di sini? Aku malah akan mengungsi ke tempatmu sana."
Kiranya orang itu bukan lain daripada Auyang Pek-ho.
"Kau mau mengungsi apa?"
Tanya Pek-ho dengan mata terbelalak.
"Ai, cukup panjang untuk diceritakan,"
Sahut Nyo Ceng.
"Silakan duduk dulu, Auyang-toako."
Sesudah menyodorkan sepotong paha rusa panggang kepada Auyang Pek-ho, lalu berceritalah Nyo Ceng tentang kekalahan pasukan Yap To-hu serta pengalamannya tadi.
Sudah tentu Auyang Pek-ho ikut terkesiap, katanya.
"Wah, celaka! Dengan kekalahan Yap-tayjin itu, Kui-tekpo terang juga pasti akan runtuh."
"Bagaimana Kui-tek-po akan ikut runtuh?"
Tanya Nyo Ceng.
"Kui Koh-ku telah membawa laskarnya dengan maksud akan membantu Yap-tayjin menumpas pemberontakan di Siau-kim-jwan, tapi beberapa hari yang lalu menurut berita kilat yang diterimanya, katanya kaum petani di wilayah kekuasaannya itu telah berontak dan menduduki bentengnya, Kui Koh-ku telah menggabungkan laskarnya ke dalam tentara kerajaan dan dia sendiri mendapat pangkat Congpeng, ia pikir sesudah berhasil membantu Yap-tayjin menyerbu Siaukim-jwan baru akan menarik pasukannya untuk menggempur pemberontakan di Kui-tek-po. Siapa duga lebih dulu pasukan Yap-tayjin sudah hancur, padahal kini pasukan Kui Koh-ku itu sedang menuju ke arah sini, jadi perjalanannya ini sia-sia belaka, bahkan Kui-tek-po pasti sudah direbut kembali lagi."
"Berapa kekuatan laskar Kui Koh-ku itu?"
Tanya Nyo Ceng.
"Kira-kira sepuluh ribu orang."
Nyo Ceng menggeleng kepala, katanya.
"Hanya sepuluh ribu laskar Kui Koh-ku saja tidak cukup sekali dimakan oleh pasukan pemberontak yang pengaruhnya kini jauh lebih besar daripada pasukan kerajaan."
"Urusan sudah sejauh ini, apa mau dikata lagi,"
Ujar Auyang Pek-ho.
"Paling perlu sekarang makan yang kenyang dan tidur yang nyenyak malam ini, segala urusan kita pikirkan besok."
Baru selesai ia bicara tiba-tiba terdengar pula suara tindakan orang mendatangi.
Kiranya rombongan Li Kong-he dan Lim To-kan telah melihat sinar api unggun, mereka mengira Yap Lenghong yang bersembunyi di sini, maka diam-diam mereka telah menyusur kemari.
Tak terduga yang mereka dapatkan adalah Nyo Ceng, bahkan An Peng lantas mengenali pula Auyang Pek-ho, keruan ia terkejut.
Bagi anak-anak muda seperti Kong-he dan To-kan sudah tentu tidak kenal apa artinya takut, segera To-kan melolos senjata dan membentak.
"Nyo Ceng kemana pun kau lari tentu juga akan dibekuk. Lekas serahkan jiwamu saja!"
Baca Juga: Duri Bunga Ju 7
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 6