Eps 13 Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Baca online Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen
Cersil Geger Dunia Persilatan - Liang Ie Shen.
"Hehe, besar amat mulut bocah-bocah ingusan itu, apakah kau perlu bantuanku, Nyo-toako?"
Tanya Auyang Pek-ho dengan tertawa. Saat itu Nyo Ceng sudah kenyang makan, segera ia angkat tongkatnya dan berkata.
"Auyang-toako, silakan kau menjaga putraku saja. Hanya bocah-bocah ingusan begitu saja tidak cukup sekali kumakan."
"Huh, kau sudah keok di bawah tangan kami dan sekarang masih berani bermulut besar?"
Ejek Kong-he. Nyo Ceng menjadi murka, bentaknya.
"Kurangajar, apakah kau kira aku benar-benar kalah padamu? Ini, biar kau kenal kelihaianku!"
Berbareng tongkatnya berputar dengan jurus Pat-hong-hong-ih" (hujan badai delapan penjuru), bayangan tongkatnya bertebaran, sekaligus ia menyerang berbagai Hiat-to di tubuh kelima orang lawannya Lekas Siangkoan Wan dan Lim To-kan mengeluarkan Boat Hong kiam-hoat (ilmu pedang penghapus angin) ajaran Kang Hay thian untuk melawan ilmu totokan tongkat itu, sedangkan An Peng dan Tiok Ceng hoa juga mengerubut maju.
Mereka sudah pernah mengalahkan Nyo Ceng, maka mereka menyangka kali inipun akan dapat mengalahkan dia.
Mereka tidak tahu bahwa sekarang Nyo Ceng sudah kenyang makan, tenaganya bertambah kuat, pula ada Auyang Pek ho yang menjaga keselamatan Nyo Hoan, keadaan yang berbeda ini sudah tentu sangat menguntungkan Nyo Ceng.
Begitulah maka makin lama Kong-he dan kawankawan merasa makin payah menghadapi daya tekanan tongkat Nyo Ceng yang lihai itu.
Selagi pertarungan berlangsung dengan sengit, tiba-tiba ada suara orang membentak.
"Kalian berdua bangsat tua ini berani menganiaya anak kecil, sungguh tidak tahu malu!"
Belum nampak orang yang bicara, suaranya sudah berkumandang datang menggetar anak telinga.
Keruan Auyang Pek-ho terkejut, ia kenal suara itu bukan lain adalah ketua Kay-pang, Tiong Tiang-thong yang disegani itu.
Benar juga, baru lenyap suara tadi, segera tampak berkclebalnya bayangan orang, tahu-tahu tiga orang sudah muncul di depan mereka Demi melihat siapa-siapa pendatang itu, sungguh sukma Auyang Pek ho hampir terbang ke awang-awang meninggalkan raganya.
Kiranya pendatang-pendatang itu selain Tiong Tiangthong masih ada pula Siangkoan Thay, adik ipar Nyo Ceng.
Dan yang paling membikin takut Auyang Pek-ho itu adalah orang ketiga, yaitu jago nomor satu di dunia persilatan, Kang Hay-thian adanya.
Yang paling girang adalah Li Kong-he dan Lim To-kan, berbareng mereka lantas memanggil.
"Suhu, kedua bangsat tua ini telah melabrak kami, harap Suhu memberi hajaran setimpal kepada mereka."
"Kedua orang ini sudah pasti akan diajak membikin perhitungan oleh Tiong-pangcu dan Siangkoan-cianpwe, kita tidak perlu ikut turun tangan, kalian boleh mundur saja."
Munculnya tiga tokoh besar itu juga sangat mengejutkan Nyo Ceng, maka Kong-he dan lain-lain dapat mengundurkan diri dengan leluasa.
"Engkau sudah sembuh Suhu? Kedatanganmu sungguh sangat tepat waktunya,"
Demikian Kong-he dan To-kan bertanya kepada Kang Hay-thian sesudah mundur dari kalangan pertempuran.
"Ya, beberapa hari sesudah kalian berangkat, kebetulan Tiong-pangcu dan Siangkoan-cianpwe datang menyambangi aku, mereka bermaksud ke Sejiang, karena sakitku sudah baik maka aku lantas datang bersama mereka,"
Tutur Hay-thian.
Kong-he dan kawan-kawannya pernah tinggal dua hari di Sejiang, meski Kang Hay-thian bertiga lebih lambat berangkatnya, tapi dengan Ginkang mereka yang lebih tinggi dapatlah mereka menyusulnya.
Mereka buru-buru menyusul karena diberitahu oleh Tiok Siang-hu.
Dalam pada itu Nyo Ceng rada lega karena Kang Haythian menyatakan takkan ikut bertempur.
Ia menaksir kepandaiannya kira-kira sembabat dengan Siangkoan Thay, seumpama tak bisa menang juga pasti takkan kalah atau terbunuh.
Dengan sikap lesu yang dibuat-buat segera ia menegur Siangkoan Thay.
"Siangkoan-lote betapapun kita adalah sesama saudara ipar, andaikan aku berbuat sesuatu kesalahan padamu hendaklah dapat memberi kelonggaran mengingat hubungan famili kita."
Siangkoan Thay melengak, sama sekali tak terduga olehnya bahwa seorang gembong persilatan seperti Nyo Ceng yang terkenal tinggi hati mengucapkan kata-kata demikian, sahutnya segera.
"Apa maksudmu? Apakah kau ingin minta ampun padaku? Jangan kau harap aku sudi mengampuni kau."
"Tidak,"
Kata Nyo Ceng.
"Aku telah berbuat salah, jika kau ingin membunuh aku adalah pantas. Serendahrendahnya diriku juga tak nanti minta ampun padamu."
"Habis apa maksudmu tentang memberi kelonggaran segala?"
Tanya Siangkoan Thay.
"Yang kumaksudkan adalah putraku Nyo Hoan yang masih hijau ini, dia juga pernah berbuat salah kepada putrimu dan Lim-kongcu, tapi dosanya biar kupikul semua, diharap kau suka mengingat hubungan kekeluargaan kita dan sudilah memberi jalan hidup padanya. Padahal dia pun sudah dilukai oleh Limkongcu."
Mendengar ucapan Nyo Ceng yang memilukan itu, Siangkoan Thay menjadi tidak sampai hati, ia coba memandang putrinya.
Biarpun Siangkoan Wan membenci Nyo Hoan, tapi mereka adalah teman bermain sejak kecil, sekalipun tingkah laku pemuda itu tidak pantas, tapi dosanya tidak tergolong tak terampunkan, maka ia lantas bertanya kepada To-kan.
"Bagaimana pendapatku adik Kan?"
"Dia memang sudah kulukai, baiklah hari ini biar kuampuni jiwanya, bila kelak kepergok lagi, tentu tidak ampun lagi,"
Sahut To-kan tanpa pikir. Maka Siangkoan Thay lantas membentak.
"Baik, nah Nyo Hoan, lekas kau pergi. Aku tidak takut kau akan membalas dendam bagi ayahmu."
Namun Nyo Hoan masih pura-pura enggan dan merasa berat, sudah tentu yang paling kenal watak Nyo Hoan adalah ayahnya sendiri. Segera Nyo Ceng berkata.
"Anak bodoh, selama gunung tetap menghijau masakah takut kehabisan kayu bakar? Boleh kau pergi saja, anak Hoan. Pamanmu sudah menyatakan akan menempur aku satu lawan satu, siapa tahu kalau raja akhirat masih belum menerima kedatanganku. Nah, Siangkoan-lote marilah maju!"
Sesudah Nyo Hoan melangkah pergi, Siangkoan Thay lantas tampil ke muka dan mulai perang tanding dengan Nyo Ceng. Tiba-tiba Tiong Tiang-thong bergelak tertawa, ia mendekati Auyang Pek-ho dan berkata.
"Selamanya pengemis tua ini tidak mau kesepian, bila melihat orang lain berkelahi, tanganku menjadi ikut gatal. Nah, Auyangsiancu, sudah waktunya kita harus membikin perhitungan juga."
"Cepat,"
Sahut Auyang Pek-ho.
"Kau telah melukai istriku memangnya aku ingin membikin perhitungan dengan kau. Katanya kau menghina aku punya Lui-sinciang, maka sekarang ingin kulihat betapa lihainya Kungoan-it-khi-kangmu!"
Begitulah mereka berdua lantas menyingkir ke sana dan mencari suatu tempat pertempuran yang lain.
Dalam pada itu Nyo Ceng sedang menempur Siangkoan Thay dengan siasat ulur waktu sehingga sukar menentukan menang dan kalah.
Hal ini membikin anakanak muda yang menonton di samping merasa tidak sabar.
"Enci Wan, marilah kita coba-coba main beberapa jurus,"
Tiba-tiba To-kan mengajak.
"Aku akan menjajal kau dengan sejurus ilmu tongkat yang baru kupelajari."
Habis itu ia lantas menjemput sebatang ranting kayu dan pasang kuda-kuda.
"Ah, jangan membual, aku justru akan mengalahkan kau dengan ilmu pedang keluarga kami,"
Sahut Siangkoan Wan yang cukup cerdik dan paham maksud tujuan To-kan.
"Awas serangan!"
Segera To-kan mulai melancarkan serangan, yang dia gunakan adalah ilmu permainan tongkat kemahiran Nyo Ceng.
Sudah tentu permainannya tidak sebaik Nyo Ceng atau Nyo Hoan, tapi sekali lihat saja orang akan segera tahu bahwa yang dia gunakan adalah ilmu menotok dengan tongkat dari keluarga Nyo itu.
Dengan cepat Siangkoan Wan berputar sambil pedangnya menyampuk pergi ranting kayu lawan, menyusul ujung pedangnya sudah mengancam di depan hidung To-kan, katanya dengan tertawa.
"Coba, bukankah ilmu tongkatmu sudah kupatahkan?"
"Belum tentu, coba terima seranganku lagi!!"
Sahut To-kan.
Dia sengaja melambatkan gerakannya agar Siangkoan Thay dapat mengikuti dengan jelas.
Semula Nyo Ceng tidak menduga apa-apa, tapi ketika sekilas ia menyaksikan permainan kedua anak muda itu, seketika ia terkejut.
Siangkoan Wan adalah putri Siangkoan Thay, sudah tentu ia tidak dapat menuduh anaknya memberi petunjuk kepada ayahnya.
Diam-diam Nyo Ceng mengeluh, tapi tak bisa berbuat apa-apa, yang dia harapkan semoga Siangkoan Thay tidak mengetahui maksud putrinya itu.
Memang benar, semula Siangkoan Thay tidak memperhatikan, tapi diam-diam ia heran mengapa di saat ayahnya sedang bertempur mati-matian dengan musuh, anaknya begitu iseng bermain dengan Lim Tokan.
Waktu ia hendak memelototi putrinya dengan mendongkol, tapi sekali pandang segera ia paham duduknya perkara.
Sebagai seorang ahli ilmu silat, sudah tentu Siangkoan Thay sangat mudah menerima setiap petunjuk yang baru.
Kalau Siangkuan Wan harus memakai pedang baru dapat memainkan Boat-hong kiam hoat yaitu ilmu pedang ciptaan Kang Hay-thian yang khusus untuk mengalahkan ilmu tongkat Nyo Ceng, maka sesudah memahami dimana letak intisari ilmu pedang itu, seketika Siangkoan Thay dapat memainkan ilmu pedang itu dengan membaurkannya ke dalam Ilmu pukulan dan ilmu totokan darinya dan sama-sama dapat mengalahkan permainan tongkat Nyo Ceng yang lihai itu.
"Nyo Ceng, apakah kau masih ingin melawan?"
Bentak Siangkoan Thay mendadak, serangannya lantas berubah.
Akan tetapi demi melihat keadaan Nyo Ceng yang gelisah itu, timbul juga rasa tidak tega dalam hatinya mengingat hubungan kekeluargaan selama ini.
Tak tersangka sedikit welas-asih Siangkoan Thay itu malah mampu membikin celaka dirinya sendiri.
Sudah tentu Nyo Ceng tidak tahu perasaan Siangkoan Thay, pada waktu saudara iparnya itu sedikit lambat, sekonyong-konyong ia melancarkan serangan maut, secepat kilat tongkatnya menotok Hiat-to mematikan di dada Siangkoan Thay.
Syukur waktu itu Nyo Ceng sudah lemah, meski tongkatnya mengenai dada Siangkoan Thay, tapi tidak kena Hiat-to dengan tepat, pula Siangkoan Thay sempat mengempiskan dada dan menarik perut sehingga beberapa bagian tenaga totokan lawan kena dipunahkan, sebab itulah dia tidak terluka.
Tapi ia menjadi gusar, sambil menggertak ia balas menghantam.
Pukulan ini adalah kepandaian andalan Siangkoan Thay, yaitu Tay-jiu-in yang sangat dahsyat.
"Plak", tepat mengenai sasaran, kontan Nyo Ceng muntah darah.
"Nyo Ceng sampai mati kau masih tidak mau insyaf?"
Bentak Siangkoan Thay.
Karena Nyo Ceng sudah terluka parah kena pukulannya, maka bentakan Siangkoan Thay ikut bermaksud menginsyafkan Nyo Ceng, asal dia mau mengaku salah dan minta ampun, tentu lukanya akan dapat disembuhkan.
Tapi meski sudah terluka parah Nyo Ceng masih dapat melarikan diri, tanpa memikirkan apa yang diucapkan Siangkoan Thay itu segera ia melompat pergi hendak kabur.
Tempat dimana mereka bertempur itu berada di atas bukit, sekali lompat ia pikir dapat menggelundungkan diri ke bawah dengan Ginkangnya.
Tak terduga keadaannya sudah parah, kakinya kesrimpet pula menginjak sepotong batu, ia terpeleset jatuh ke bawah.
Waktu Siangkoan Thay memburu maju dan memandang ke bawah lereng bukit itu, ternyata kepala Nyo Ceng telah pecah membentur batu padas, jiwanya sudah melayang.
Mengingat hubungan famili mereka, Siangkoan Thay mengubur secara sederhana mayat Nyo Ceng, lalu katanya kepada Kong-he dan lain-lain.
"Marilah, sekarang kita coba melihat pertarungan si pengemis tua, semoga pertempuran itu belum selesai."
Setiba mereka di sebelah sana, terdengarlah suara pertempuran yang sengit diseling dengan suara bentakan orang yang ramai.
Ternyata Tiong Tiang-thong dan Auyang Pek-ho sudah bertarung sampai dua-tiga ratus jurus, tapi kedua pihak masih belum nampak lelah, benar-benar pertandingan yang seru dan sama kuat.
Tiong Tiang-thong tampak mendelik, jenggotnya seakan menegak, dimana tangan dan kakinya menuju selalu membawa sambaran angin yang keras.
Dalam jarak lingkar dua-tiga meter debu pasir bertebaran, daun-daun pepohonan beberapa meter lebih jauh juga berguncang dan rontok.
Tanpa terasa Siangkoan Thay bersorak memuji.
"Hebat benar Kun-goan-it-khi-kang Tiong-pangcu!"
Tapi Auyang Pek-ho juga bukan lawan empuk, tampaknya dia punya tenaga pukulan kalah kuat daripada Tiong Tiang-thong, tapi dia mempunyai keistimewaan sendiri.
Setiap kali ia hendak menyerang selalu didahului dengan menggertak, angin pukulan yang menyambar rasanya panas bagai api.
Kong-he, To-kan, Siangkoan Wan dan Tiok Ceng-hoa tidak berani terlalu mendekat karena tidak tahan hawa panas itu.
Diam-diam To-kan dan Kong-he merasa gelisah, mereka coba tanya Kang Hay-thian.
"Suhu, pertarungan seru ini entah baru akan berakhir kapan, apakah kita tidak perlu pergi mencari jahanam Yap Lenghong itu?"
"Aku sendiri tidak gelisah, mengapa kalian yang gelisah?"
Ujar Hay-thian dengan tertawa.
"Biarpun sampai besok, jika ada bantuan Siangkoan-cianpwe dan Tiong-pangcu masakah kita kuatir tak bisa membekuknya?"
Mendengar jawaban sang guru juga meyakinkan, Kong-he dan To kan tidak berani bicara lagi.
Sesungguhnya mereka sangat ingin lekas menangkap pengkhianat Yap Leng-hong itu.
Dalam pada itu Yap Leng-hong sendiri sama sekali tidak tahu bahwa gurunya juga telah datang, malahan dia sedang mimpi muluk muluk.
Sesudah kabur meninggalkan Nyo Ceng dan Nyo Hoan, diam diam Leng-hong bersyukur dan bersedih.
Dia bersyukur karena lelah bebas dari segala tekanan, tapi sekarang seorang diri dia harus berkelana di tengah rimba raya yang sunyi, hal inilah yang membuatnya cemas.
Sesudah semalam di tengah rimba itu, untung tiada memergoki seorang pun.
Besok petangnya ia menaksir arah perjalanan itu mungkin sudah tepat dan sehari lagi tentu akan dapat keluar dari hutan itu.
Ia tidak tahu bahwa arah yang ditempuh justru terbalik, sesudah mengitar suatu lingkaran yang jauh, tempatnya berada sekarang justru hanya belasan li saja dari tempat Kang Hay-thian.
Sudah tentu timbul pula lamunannya yang mulukmuluk bilamana dia sudah keluar dari rimba maut itu, ia tepuk-tepuk kepala Leng Thian-lok yang masih berada di dalam rangselnya itu, dengan bukti itu tentu tidaklah kecil jasanya.
Dengan kepandaian dan bakatnya, kelak tidak sukar untuk memperoleh pangkat yang lebih tinggi.
Bilamana kedudukan sudah didapat, di tengah kawalan pasukan yang ketat masakah takut lagi kepada musuhmusuhnya yang akan menuntut balas padanya?
Bahkan bila dirinya sudah berkuasa, maka musuh pertama yang akan dibasminya justru adalah Yap Boh-hoa.
Melamun sampai bagian-bagian yang menyenangkan, tanpa terasa Leng-hong mengayun sebelah telapak tangannya.
"krak", sebatang dahan pohon di sebelah telah kena ditabas kutung olehnya, seakan kepala Yap Boh-hoa yang telah dipenggal olehnya. Tanpa terasa ia tertawa terbahak-bahak pula. Sungguh mimpi pun Leng-hong tidak menyangka bahwa saat itu Yap Boh-hoa juga berada di tengah rimba itu, bahkan telah mendengar suara tertawanya. Sesudah Yap Boh-hoa menghancurkan tentara kerajaan dengan siasat gerak cepat, segera bersama Kheng Siu-hong, Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu meneruskan pengejaran ke arah barat. Yang hendak mereka cari adalah Yap Leng-hong dan ayahnya. Menurut laporan yang diterima, katanya Yap To-hu hanya membawa sisa anak buah ratusan orang dan lari ke dalam rimba di sebelah barat, sedangkan jejak Yap Leng-hong menurut laporan bawahan Siau Ci-wan juga dapat ditaksir berada di dalam rimba itu. Cuma Siau Ci wan yang meninggalkan pasukannya dan mengejar seorang diri masih belum diperoleh beritanya. Yap Boh-hoa telah minta Ubun Hiong mewakilkan pimpinan pasukannya, lalu bersama Kheng Siu-hong mereka berdua meneruskan pengejaran ke rimba yang lebat itu. Sudah beberapa tahun Boh-hoa berkenalan dengan Kheng Siu-hong dan telah banyak mengalami suka-duka, setiap kali mereka selalu berpisah pula dalam keadaan tergesa-gesa dan tidak sempat bicara secara mendalam. Kali ini mereka dalam perjalanan bersama barulah dapat berkumpul dan saling mengutarakan isi hati masingmasing. Boh-hoa telah menceritakan asal-usul dan pengalamannya sendiri kepada Kheng Siu-hong, terutama tentang maksud keji Yap Leng-hong yang memalsukan dia itu telah dituturkan dengan sangat jelas. Tentang hal itu ada sebagian sudah didengar Siu-hong dan sebagian lain baru diketahui dari cerita Yap Boh-hoa sekarang. Ia menghela napas dan berkata.
"Kematian ayahku juga akibat perbuatan keparat itu bersama ayahnya, jadi mereka ayah dan anak justru adalah musuh kita bersama."
"Ya, dan sudah tiba saatnya kita menuntut balas, mengapa kau menghela napas malah?"
"Aku menghela napas karena memikirkan nasibku sendiri,"
Sahut Siu-hong.
"Seperti juga ayah Yap Lenghong, ayahku juga pernah menjabat Congpeng di kota Ili, bahkan juga pernah menggempur pasukan pergerakan bangsa Kazak. Engkau sangat baik padaku, ini kuketahui, cuma sahabat-sahabatmu mungkin tidak mau menganggap aku sebagai kawan."
"Hahaha, kukira soal apa yang membuat kau risau, kiranya adalah urusan ini,"
Kata Boh-hoa sambil tertawa.
"Apakah hal ini tidak pantas dirisaukan?"
"Kukira keadaanmu ada perbedaannya dengan Yap Leng-hong,"
Kata Boh-hoa dengan sungguh-sungguh.
"Ayahmu dan ayah Yap Leng-hong adalah pembesar kerajaan, sedikit banyak tangannya juga berlepotan darah pasukan pergerakan. Tapi kekejaman Yap To-hu dan dosanya jauh lebih besar daripada ayahmu, sedangkan Yap Leng-hong adalah sama jahatnya dengan ayahnya, sebaliknya kau adalah pemimpin wanita pasukan pemberontak, jalan yang kau tempuh sudah terang berlainan dengan ayahmu. Asal usul seseorang tidak dapat ditentukan oleh orang itu sendiri, tapi sesudah kehidupannya dan perjuangannya yang ditentukan olehnya jadi jelas kau berbeda daripada Yap Leng-hong, mana bisa orang mempersamakan kau dengan dia? Seumpama sementara ini ada salah paham juga akhirnya akan dapat dibikin terang. Maka dari itu jangan kau kuatir, aku jamin kawan-kawanku pasti akan menganggap kau sebagai kawan sendiri."
"Ya, tapi aku kuatir orang lain akan memandang aku dengan sorot mata yang lain,"
Ujar Siu-hong.
"Tidak, orang yang bijaksana tentu akan menganggap sahabat padamu,"
Kata Boh-hoa.
"Coba lihat, apakah aku memandang kau dengan sorot mata yang aneh?"
Sudah tentu sinar mata Yap Boh-hoa itu adalah sinar mata yang "menyala", sinar mata yang membuat anak gadis kesemsem.
Wajah Siu-hong menjadi merah, tanpa terasa dua pasang tangan saling menggenggam dengan erat, tidak perlu dengan kata-kata lagi, segala rasa kasih mesra kedua muda mudi itu sudah bicara dari sinar mata masing-masing.
Sesaat itu segala apa yang berada di sekeliling mereka boleh dikata tiada terpikirkan lagi, seakan di seluruh jagat raya ini hanya tinggal mereka berdua saja.
Namun dunia ini sudah tentu tidak melulu tinggal mereka berdua saja, betapapun besar kekuatan tinta mereka juga tak bisa memisahkan dunia ini.
Entah selang berapa lama, mendadak Siu hong sadar dan terkejut, ia meronta keluar dari pelukan Yap Boh hoa dan berkata.
"Coba dengarkan engkoh Hoa, di sebelah barat sana seperti ada suara orang bertempur."
Kiranya suara yang didengar Siu-hong itu adalah suara bentakan dari pertarungan Tiong Tiang-thong dan Auyang Pek-ho yang sedang berlangsung dengan sengit itu.
Waktu Boh-hoa mendengarkan dengan cermat, katanya kemudian.
"Ya, benar, seperti ada orang sedang bertempur dengan amat dahsyat. Agaknya yang bertempur itu adalah jago-jago kelas satu."
"Marilah kita melihatnya ke sana, boleh jadi kawan kita yang telah memergoki Yap Leng-hong,"
Ujar Siu-hong.
"Ssst, nanti dulu, di sebelah timur sana juga seperti ada suara orang,"
Kata Boh-hoa.
"Apa, betul? Aku tidak mendengar,"
Sahut Siu-hong sambil mendengarkan dengan menahan napas.
Kiranya yang didengar Yap Boh-hoa itu adalah suara tertawa Yap Leng-hong sesudah dia melamun mulukmuluk, lalu lupa daratan dan tertawa senang.
Jarak Yap Leng-hong ada beberapa li jauhnya di sebelah timur sehingga suaranya tidak sekeras suara pertempuran kedua jago kelas wahid di sebelah barat, maka Siu-hong tidak mendengarnya.
Tapi Yap Boh-hoa yang Lwekangnya lebih tinggi telah dapat mendengar.
Suara tertawa yang berkumandang dari jauh itu sayup-sayup dapat ditangkap oleh telinga Yap Boh-hoa, cuma dia belum tahu bahwa suara itu adalah suara Yap Leng-hong, cuma dari suara tertawa itu dapat dirasakan nada yang dengki dan memuakkan.
Terkesiap hati Bohhoa, segera ia berkata.
"Adik Hong, coba kita melihatnya, aku ke timur dan kau periksa sebelah barat."
Sebelah barat adalah suara pertempuran sengit itu, menurut perhitungan Boh-hoa, bila salah satu pihak adalah Yap Leng-hong tentu pihak yang lain adalah kawan sendiri, maka Siu-hong akan dapat memberi bantuan dan mudah memperoleh kemenangan.
Saat itu pertarungan antara Tiong Tiang-thong dan Auyang Pek-ho sudah berlangsung hampir ribuan jurus.
Lambat laun tenaga Auyang Pek-ho sudah berkurang, dia mulai gelisah.
Mendadak ia mengeluarkan serangan berbahaya dengan maksud memperoleh kemenangan dalam keadaan terdesak.
Sekonyong-konyong Tiong Tiang-thong membentak keras-keras, tubuhnya mencelat tinggi ke atas, dalam keadaan terapung di udara mendadak ia menghantam ke bawah dengan gerakan Yau-cu-hoan-sin (burung merpati menukik ke bawah).
Serangan Auyang Pek-ho ini adalah suatu tipu serangan yang nekat, bila perlu biar gugur bersama musuh.
Kalau tidak kepepet, tidak sembarangan tipu serangan ini dikeluarkan, ini merupakan serangan terakhir Auyang Pek-ho, ia benar-benar telah mengerahkan segenap kekuatannya pada hantaman yang menentukan ini.
Tampaknya hantaman Auyang Pek-ho itu sudah hampir mengen.n kepala sasarannya, barulah terdengar Tiong Tiang-thong membentak.
"Bagus!"
Berberang kedua telapak tangannya menegak dan mendorong ke atas dengan sepenuh tenaga.
Tenaga pukulan dahsyat kedua pihak berbenturan serta mengeluarkan suara keras.
Di tengah jeritan anakanak muda seperti Kong-he dan lain-lain tertampak Auyang Pek-ho mencelat jatuh bagai layang-layang yang putus benangnya.
Tiong Tiang-thong bergelak tertawa sambil mendekati lawannya, tapi sebelum ia membikin tamat lelakon musuh, tiba-tiba terdengar seruan seorang gadis.
"Tahan dulu, Tiong-pangcu!"
Kiranya pada saat itu juga Kheng Siu-hong keburu datang.
"Apakah kau anak perempuan ini hendak memintakan ampun bagi suami gurumu?"
Tanya Tiong Tiang-thong.
"Antara yang benar dan yang jahat tidak boleh hidup bersama, mana aku berani merintangi Tiong-pangcu,"
Sahut Siu-hong.
"Cuma dia sudah cacad untuk selamanya dan tak bisa berbuat kejahatan pula, maka aku ingin memohon Tiong-pangcu sudi mengingat diriku dan mengampuni jiwanya, anggaplah aku telah membayar hutang budi perguruan padanya."
Menurut hukum Bu-lim (dunia persilatan), guru adalah maha terhormat.
Biarpun Siu-hong telah paham tentang perbedaan antara yang jahat dan yang baik, tapi pengaruh tradisi kuno itu betapapun masih melekat pada sanubarinya sehingga dia memintakan ampun bagi bapak gurunya itu.
Cuma ia pun menegaskan bahwa permintaan ampun itu harus dianggap sebagai balas budi kepada perguruannya dan untuk selanjutnya ia pun bebas dari segala ikatan dengan pihak perguruan, dengan demikian hatinya dapat pula merasa tenteram.
Maka Tiong Tiang-thong telah tertawa, katanya.
"Coba dengarkan Auyang Pek-ho, kau merasa malu atau tidak? Sungguh tidak nyana bahwa durjana macam kau ternyata mempunyai seorang murid sebaik ini. Kalian suami-istri telah berdaya upaya hendak mencelakai dia, tapi sekarang dia malah memintakan ampun bagimu."
Lalu ia berpaling kepada Siu-hong dan berkata.
"Nona Kheng, mungkin kau sendiri belum tahu apa maksud tujuan kedatangan bapak gurumu ke sini ini? Dia justru hendak memaksa kau menikah dengan putra kesayangan Kui Koh-ku itu."
Siu-hong melengak dan tak bisa menjawab apa-apa. Maka Tiang-thong telah melanjutkan.
"Cuma, mengingat kau, biarlah aku mengampuni jiwanya, ilmu silatnya toh sudah punah."
Wajah Auyang Pek-ho tampak pucat, ia meronta bangun, jengeknya.
"Terima kasih padamu, nona Kheng. Biarpun jiwaku ini tidak sampai melayang, selama hidup ini terang tidak sanggup membalas budi padamu, tapi pasti ada orang lain yang akan mewakilkan aku memberi pembalasan padamu."
"Apa maksud ucapanmu ini Auyang Pek-ho? Kau mau apa lagi?"
Bentak Tiang-thong.
"Aku bisa berbuat apa lagi?"
Jengek Auyang Pek-ho sambil tersenyum getir.
"Krak"
Mendadak ia betot putus lengan kanan sendiri, lalu katanya pula.
"Banyak terima kasih karena Pangcu tidak jadi membunuh diriku. Aku akan pergi sekarang!"
Tadi Auyang Pek-ho telah mengerahkan segenap tenaganya untuk melancarkan pukulan penghabisan, tapi Tiong Tiang-thong juga menyambut dengan pukulan dahsyat.
Dalam keadaan demikian, tenaga siapa lebih kuat yang akan menang.
Maka tenaga Lui-sin-ciang Auyang Pek-ho yang berbisa itu telah ditolak kembali oleh tenaga pukulan Tiong Tiang-thong yang lebih keras, racun pukulannya itu telah terdesak masuk kembali ke dalam tubuhnya sendiri, jadi gagal membikin celaka orang sebaliknya senjata makan tuan.
Jika dia tidak mengurungi lengannya sendiri, bila racun naik dan menyerang jantung, tentu jiwanya akan segera melayang.
Setelah Auyang Pek-ho pergi, kemudian Tiong Tiangthong berkata.
"Nah, nona Kheng, biar kuperkenalkan padamu. Yang ini adalah tokoh nomor satu yang termashyur, Kang Hay-thian, Kang-tayhiap. Dan Kangheng, nona Kheng ini bernama Siu-hong, adalah pahlawan wanita angkatan muda yang jarang dicari bandingannya."
Mendengar bahwa orang yang berada di depannya itu adalah Kang Hay-thian, sungguh kejut dan girang Siuhong tak terlukiskan. Cepat ia menyambung.
"Tiong pangcu, tak perlu lagi kau memuji diriku, aku justru ingin minta bantuan kepada Kang-tayhiap."
"Membantu soal apa'' tanya kang Hay-thian dengan tersenyum.
"Kang-tayhiap, keponakanmu juga berada di sini,"
Sahut Siu-hong. Hay-thian melenguh Keponakanku?"
Ia menegas.
"Apa kau maksud Yap Leng-hong juga berada disini?"
"Tidak, tidak, yang kumaksudkan adalah keponakanmu yang tulen, bukan Yap Leng hong palsu itu "
Sahut Siu-hong pula. Kembali Hay-thian terkesiap tukasnya.
"Keponakanku yang tulen? Siapakah dia?"
"Dia adalah putra Yap Tiong sian, dahulu pernah bernama Yap Leng-hong, tapi nama itu telah dipalsukan oleh putra Yap To-hu yang rendah itu, maka sekarang dia memakai nama Yap Boh-hoa. Murid Kang-tayhiap yang bernama Ubun Hiong itu saat ini berada bersama dia sebagai pemimpin pasukan pergerakan yang datang membantu pasukan pemberontak di wilayah Sucwan sini. Sebenarnya Kang Hay thian sudah tahu bahwa Yap Leng-hong adalah keponakannya yang palsu cuma dia pun belum mengetahui keponakan yang tulen itu berada dlmana Sekarang Siu-hong dapat menceritakan asal-usul sang keponakan secara jelas, tentu tidak perlu diragukan lagi. Keruan ia sangat girang dan berseru.
"Bagus sekali. Harap nona Kheng membawa aku pergi menemuinya tapi dalam hal ini adalah aku yang harus minta bantuanmu dan bukan kau yang minta bantuanku."
"Tidak, tidak,"
Sahul Siu-hong "tetapi kaulah yang membantu aku, tapi juga kau telah membantu keponakanmu.
Soalnya begini, tadi Boh-hoa telah menemukan jejak seseoraqng di tengah rimba yang diduga adalah Yap Leng-hong palsu, maka sekarang Bohhoa telah mengejarnya ke arah timur sana." -00dw00-Kembali bercerita tentang Yap Leng-hong selagi melamun masa depannya yang muluk-muluk itu, tiba-tiba di tengah rimba yang sunyi itu ada suara orang tertawa dingin.
Mendadak satu orang melompat keluar dan merintangi jalannya.
Waktu Leng-hong memandang ke depan, sungguh kagetnya bukan kepalang, teriaknya tanpa terasa.
"He, kau lagi!"
"Ya, memang sangat kebetulan bukan? Dimana-mana kita selalu bertemu!"
Sahut orang itu yang bukan lain adalah Yap Boh-hoa.
"Sudah dua kali kau hendak membinasakan aku, untung aku selalu dapat lolos dari cengkeraman maut. Kini rasanya adalah giliranku untuk membinasakan kau."
Tetapi rasa takut Yap Leng-hong rada berkurang sesudah mengetahui Yap Boh-hoa hanya sendirian saja.
Ia yakin dengan kepandaiannya sendiri yang sudah banyak maju, kalau satu lawan satu saja mungkin takkan kalah.
Segera ia pun bergelak tertawa dan berkata.
"Benar, aku memang pernah dua kali hendak mencelakai kau, tapi aku pun pernah satu kali menolong kau."
Yap Boh-hoa menjadi gusar, semprotnya.
"Kau masih berani mengungkit tentang pertolonganmu padaku? Huh, kau menolong aku? Sesungguhnya kau justru ingin menyusahkan aku? Bukankah kau telah memalsukan diriku, telah menipu Kang-tayhiap dan banyak berdosa serta berkhianat?"
"Ya sudah, jika kau tidak mau mengerti, terpaksa kita bertempur mati-matian,"
Sahut Leng-hong.
Ia sengaja memancing bicara Yap Boh-hoa, lalu mendadak menusuk dengan pedangnya.
Ia menggunakan Tui-hong-kiamhoat ajaran Kang Hay-thian yang maha cepat.
Syukur sebelumnya Yap Boh-hoa sudah berjaga-jaga.
Kontan ia pun menghantam, pukulannya ini memaksa musuh mau tak mau harus menolong diri sendiri lebih dulu.
Leng-hong juga kenal lihainya pukulan Pan-yak-ciang, bila kena terpukul pasti jiwanya akan melayang.
Cepat ia menarik kembali pedangnya dan menabas pergelangan tangan lawan, akan tetapi pada saat yang hampir sama Yap Boh-hoa telah melolos pedang juga, bentaknya.
"Bangsat, tinggal mampus saja masih berani menyerang secara pengecut. Rasakan juga pedangku ini!"
"Aha, siapa yang akan mampus toh belum dapat dipastikan jangan membual lebih dulu Hm, coba saksikan ilmu pedangku yang lihai!"
Sahut Leng bong berbareng pedangnya berputar dan mematahkan serangan Yap Boh-hoa Ilmu pedang ajaran Kang Hay thian sesungguhnya sangat hebat kalau melulu bicara tentang ilmu pedang, sebenarnya Yap leng hong masih kalah jauh daripada Yap Boh hoa.
Oleh karena itu ia telah mengeluarkan Tuihung kiam hoat (ilmu pedang pemburu angin) yang cepat itu untuk memunahkan serangan Yap Boh-hoa, bahkan secepat kilat ia lantas balas menusuk "Keparat, hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati!"
Teriak Boh-ho.i dengan murka.
Di tengah berkelebat nya sinar pedang, ia selingi dengan pukulan pukulan dahsyat.
Dengan jurus Thay san-hapteng" (gunung raksasa menindih kepala), segera ia hantam kepala musuh.
Namun Leng-hong sempal menggeser ke samping dengan Thian lo-poh-hoat, pada detik yang terakhir ia dapat menghindarkan pukulan maut Yap Boh-hoa.
Sebenarnya lwekang Yap Leng-hong masih kalah jauh daripada Yap Boh-hoa, tapi sejak tiong Tian melancarkan beberapa urat nadinya yang penting, tenaganya telah banyak lebih kuat sehingga selisih kedua orang sekarang sudah lebih dekat, walaupun Yap Boh-hoa tetap lebih unggul setingkat.
Dengan demikian kedua orang samasama mempunyai keunggulan masing masing, kepandaian Yap Leng-hong adalah ajaran Kang Hay-thian yang lihai, sebaliknya Yap Boh-hoa menang ulet, sedangkan pukulan Tay-seng-pan-yak-ciang yang dahsyat juga tidak berani dipandang enteng oleh Yap Leng-hong.
Begitulah pertarungan sengit itu terus berlangsung, seketika sukar menentukan kalah dan menang.
Cuma Yap Leng-hong cukup sadar bila pertempuran diteruskan lebih lama, tentu dia sendiri yang akan kecundang.
Bila sampai kehabisan tenaga, tentu Thian-lo-poh-hoat akan ikut lambat, keadaan demikian akan sukar pula menghindarkan pukulan Pan-yak-ciang yang lihai.
Tengah kuatir dan ragu-ragu, tiba-tiba terdengar suara deiapan kuda yang ramai.
Waktu Leng-hong menoleh, dilihatnya ada satu barisan tentara berkuda sedang naik dari lereng bukit sana.
Keadaan Keadaan barisan itu tidak teratur, tapi dari panji kebesaran yang berkibar itu dapat terbaca ada suatu huruf "Yap"
Yang besar. Sungguh girang Leng-hong tak terkatakan, cepat ia berteriak.
"Ayah, ayah! Tolong ayah! Aku berada di sini!"
"Hendak lari kemana?"
Bentak Yap Boh-hoa, berbareng ia menghantam pula.
Tapi Leng-hong telah menggunakan langkah ajaib Thian-lo-poh-hoat, secepat anak panah terlepas dari busurnya ia meloncat ke atas terus melayang ke sana beberapa meter jauhnya.
Ketika Leng-hong berlari ke arah ayahnya, saat itu barisan Yap To-hu yang kira-kira ada tiga-empat ratus orang itu baru saja naik ke atas bukit situ, jaraknya kirakira masih ada beberapa ratus meter dari tempat Yap Leng-hong.
Tapi Yap To-hu juga sudah mendengar dan melihat putranya, segera ia pun berteriak.
"Anak Cong, lekas lari kemari! Syukur kita ayah dan anak masih dapat bertemu pula."
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari tengah rimba yang rimbun sana telah muncul tiga penunggang kuda, secepat terbang penunggang-penunggang kuda itu sedang mendatangi.
Kiranya adalah Ubun Hiong, Kang Hiau-hu dan Ciong Siu.
"Hendak kabur kemana, bangsat!"
Terdengar Ubun Hiong membentak, ia cambuk kudanya dan mendahului tiba.
"Hm, kau tidak menghormati Suhengmu, tapi kepandaianmu juga belum tentu melebihi aku!"
Jengek Yap Leng-hong.
Mendadak ia melompat ke atas terus menubruk dengan maksud merebut kuda Ubun Hiong.
Tapi dengan tipu serangan Heng-hun-toan-hong (memotong awan memutus gunung), segera Ubun Hiong menabas dengan pedangnya.
Saat itu Leng-hong sedang terapung di atas, pedangnya juga telah menusuk ke bawah.
Sebenarnya tenaganya lebih kuat daripada Ubun Hiong, ditambah lagi dia menerjang dari atas ke bawah, maka terdengarlah suara "trang"
Yang nyaring, kedua pedang berbenturan, pedang Ubun Hiong tergetar ke samping dan kaki Lenghong sempat hinggap di atas kuda, segera pedangnya menusuk lagi.
Cepat Ubun Hiong angkat pedangnya menangkis, mendadak Leng-hong membentak.
"Turun!"
Berbareng kakinya mendepak.
Namun Ubun Hiong sudah murka, matanya merah membara otot-otot hijau menonjol di keningnya.
Dalam keadaan nekat demikian sukar juga bagi Yap Leng-hong untuk mendorongnya jatuh ke bawah kuda dalam waktu singkat.
Tampaknya Ubun Hiong dalam keadaan bahaya, syukur saat Itu Kang Hiau-hu sudah memburu tiba pula.
Kontan pedangnya lantas menusuk ke punggung Yap Leng-hong.
Lekas Leng-hong miringkan tubuhnya ke samping, hanya sebelah kakinya saja yang menggantol di atas pelana.
Tapi dalam keadaan demikian ia pun tak bisa merampas lagi kuda Ubun Hiong, terpaksa la meloncat pergi sekuatnya.
Kini jaraknya dengan sang ayah sudah lebih dekat pula.
Akan tetapi dari samping mendadak Ciong Siu menerjangnya juga, diam-diam Leng-hong mengeluh.
Tiba-tiba ia berseru dengan suara pilu.
"Siu-moay, betapapun kesalahanku hendaklah kau suka mengingat hubungan baik kita yang telah lalu."
Alis Ciong Siu tampak menegak, tanpa bicara lagi cambuknya terus menyabet.
"Bagus, lantaran kau tidak mau tahu hubungan kita di masa lalu, maka kau pun jangan menyalahkan aku tidak kenal ampun lagi,"
Bentak Leng-hong. Tangannya terus meraup dan ujung cambuk kena dipegangnya, bentaknya pula sambil membetot.
"Menggelinding turun!"
Memang kepandaian Ciong Siu tidak lebih rendah daripada Yap Leng-hong, tapi tenaganya yang kalah kuat.
Benar juga, kontan ia terseret jatuh ke bawah kuda.
Rupanya Yap Leng-hong bermaksud menawannya hidup-hidup untuk dipakai sandera guna memaksa lawan lawannya untuk tidak mengejar lagi padanya.
Tapi Ciong Siu cukup cerdik, begitu jatuh ke bawah kuda segera ia lepaskan cambuknya, cepat ia melolos pedang untuk melawan lagi.
Yap Leng-hong memainkan Tui-hong-kiam-hoat yang lihai, beruntun secepat kilat ia menusuk tujuh kali.
Tak terduga bahwa Tui-hong-kiam-hoat itu ternyata tidak dapat mengalahkan Ciong Siu.
Maklum, Ciong Siu adalah murid asli Thian-san-pay dan Tui-hong-kiam hoat berasal dari Thian-san-pay sendiri, untuk memainkannya bahkan Ciong Siu lebih paham daripada Yap Leng-hong.
Dalam keadaan gugup Leng-hong lupa akan hal demikian itu, yang dia pikirkan hanya ingin lekas menang, maka ilmu pedang itu lantas dikeluarkan.
Tak tahunya dia malah kena dicecar oleh Ciong Siu sehingga kelabakan menangkisnya.
Sementara itu barisan Yap To-hu tadi sudah tinggal ratusan meter saja jaraknya dengan kalangan pertempuran Yap Leng-hong.
Selagi Yap To-hu memberi komando kepada pasukannya untuk menyerbu, sekonyong-konyong dari dalam rimba terdengar juga suara teriakan dan bentakan yang ramai, satu pasukan mendadak menerjang keluar dari dalam rimba, pemimpin pasukan itu adalah Siau Ci-wan.
Kiranya di tengah jalan Siau Ci-wan telah ketemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Ubun Hiong, mereka telah bergabung untuk melanjutkan pencarian sisa tentara musuh yang lari bersama Yap To-hu itu.
Siau Ci-wan bergelak tertawa, lalu bentaknya dengan suara menggeledek.
"Dasar ajalmu sudah sampai hari ini, biarlah kalian ayah dan anak mampus bersama!"
Melihat pasukan Siau Ci-wan itu, keruan sukma Yap Leng-hong hampir terbang ke awang-awang saking takutnya.
Karena tak mampu menangkap Ciong Siu, segera ia putar haluan dan berlari ke jurusan lain, ia pikir kalau dapat menyusup ke tengah batu-batu padas di lereng bukit itu mungkin masih ada harapan buat melarikan diri.
Namun secepat terbang Yap Boh-hoa sudah mengejarnya dan berteriak.
"Siau-toako, serahkan dia padaku!"
Ci-wan tahu dendam Yap Boh-hoa kepada Yap Lenghong sedalam lautan, dengan bergelak tertawa ia berkata.
"Baik, boleh kau makan yang muda, biar aku makan yang tua."
Dan sekali perintah diberikan, serentak pasukannya menerjang ke arah barisan tentara musuh yang dipimpin Yap To-hu.
Mereka sudah terkepung dan sukar meloloskan diri lagi, Yap To-hu menjadi putus asa, ia menghela napas dan berseru.
"Sungguh tidak nyana hari ini aku bernasib sedemikian. Anak Cong, kau menyelamatkan diri sendiri saja!"
Habis berkata ia lantas melompat turun dari kudanya.
"tarrr"
Ia cambuk kudanya sekali.
Binatang itu sudah terlatih dan tahu maksud sang majikan, segera berlari-lari ke arah Yap Leng-hong.
Tiba-tiba mendapatkan kuda tunggangan, girang Leng-hong tak terperikan.
Tanpa menghiraukan ayahnya lagi segera ia mencemplak ke atas kuda dan buru-buru melarikan diri.
Saat itu pasukan Siau Ci-wan sudah mengepung Yap To-hu di tengah-tengah, anak buah jagal rakyat itu sudah tiada semangat bertempur lagi dan beramai-ramai menyerah.
"Yap To-hu,"
Bentak Siau Ci-wan.
"selama hidupmu sudah kenyang membunuh orang, tanganmu berlumuran darah rakyat, kini sudah tiba saatnya kau membayar hutang dengan kepalamu."
Yap To-hu tampak mengertak gigi dan mendadak melolos goloknya, ia berteriak.
"Aku adalah pembesar kerajaan, biarpun mati juga takkan mati di tangan kaum berandal macam kalian"
Habis berkata ujung goloknya terus menikam ke hulu hati sendiri.
Namun Siau Ci-wan dapat bergerak lebih cepat, ia menubruk maju dan "trang", ia sampuk jatuh golok Yap To-hu serta mencengkeram kuduknya.
"Ringkus pembesar anjing ini!"
Bentaknya sambil melemparkan tubuh Yap To-hu kepada anak buahnya. Keruan Yap To-hu ketakutan setengah mati, teriaknya dengan suara gemetar.
"Pembesar hanya boleh dibunuh dan tak boleh dihina. Lekas kau membunuh aku saja!"
Nyata Yap To-hu kuatir disiksa oleh kawanan 'berandal' yang menangkapnya ini, maka tadi dia merasa lebih baik membunuh diri saja untuk menjaga kehormatannya, tapi sekarang mau tak mau ia harus memohon kepada Siau Ci-wan untuk segera membunuhnya saja.
"Hm, kau adalah anjing pemburu rajamu, dasar tidak tahu malu, masih berlagak berani mati segala?"
Demikian jengek Siau Ci-wan.
"Rajamu mempunyai undangundang kerajaan, kami rakyat jelata juga mempunyai hukum rakyat. Sudah kenyang rakyat daerah Siau-kimjwan sini merasakan penindasanmu, entah berapa banyak jiwa yang melayang di ujung golok jagalmu, apakah sekarang kau ingin mati dengan seenaknya saja? Hm, hendaklah kau tahu bahwa kami akan menggiring kau pulang ke Siau-kim-jwan, biar rakyat sendiri yang akan menjatuhkan hukuman padamu."
Jika di sini Yap To-hu sedang berkuik-kuik minta ampun, adalah di sebelah sana Yap Leng-hong sedang berusaha kabur secepat terbang.
Tapi saat itu Yap Bohhoa juga telah meminjam seekor kuda dan telah mengejarnya dengan kencang dengan diikuti oleh Ubun Hiong dan Kang Hiau-hu.
Sesudah mengejar sekian jauhnya, tiba-tiba muncul pula satu pasukan berkuda dari lereng gunung di depan, dari panjinya yang berkibar-kibar dan barisannya yang rajin, terang berbeda sekali dengan sisa pasukan pelarian yang dipimpin Yap To-hu tadi.
Dari tulisan di atas panji kebesaran itu jelas terbaca tanda-tanda pasukan dari pihak mana.
Yap Leng-hong menjadi girang, kiranya pasukan itu adalah laskar Kui Koh-ku yang sekarang telah dilebur ke dalam pasukan kerajaan.
Pasukan Kui Koh-ku ini cukup banyak jumlahnya, jika dapat bergabung dengan mereka tentu dirinya akan selamat, demikian pikir Leng-hong.
Akan terapi jarak mereka waktu itu masih terpisah oleh sebuah selat gunung, paling sedikit ada beberapa li jauhnya.
Sungguh Yap Leng-hong ingin punya sayap agar bisa segera terbang ke sana.
Tak terduga pada saat itu juga mendadak terdengar tambur perang ditabuh bergemuruh, bagian belakang pasukan Kui Koh-ku itu tampak kacau-balau.
Kiranya telah diserbu oleh satu pasukan berkuda yang lain, pasukan itu adalah anak buah Tiok Siang-hu.
Maka terjadilah pertempuran sengit di lereng gunung sana antara kedua pasukan.
Ubun Hiong tidak tinggal diam, cepat ia pun mengerahkan pasukannya memburu ke sana untuk memotong jalan lari Kui Koh-ku.
Sudah tentu yang paling cemas adalah Yap Lenghong, diam-diam ia mengeluh pasti akan celaka.
Kui Kohku adalah bintang penolong yang diharapkan satusatunya, tapi sekarang bintang penolong itu sendiri pun sukar menyelamatkan diri sendiri.
Sungguh sial bagi Yap Leng-hong, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Selagi kelabakan mencari jalan menyelamatkan diri, tiba-tiba dari depan muncul lagi dua orang musuh.
Mereka adalah Utti Keng dan Ki Seng-in.
Keruan ia sangat terkejut, lekas ia putar kudanya dan lari ke arah lain.
"Hahaha, keparat, masih mau lari kemana?"
Seru Utti Keng sambil tertawa.
Kontan Ki Seng-in juga menyambitkan tiga buah Taukut-ting, yang diincar bukan melulu Yap Leng-hong saja, tapi juga kudanya.
Sebisanya Leng-hong menyampuk jatuh sebuah paku itu yang sebuah lagi berhasil dikelit, tapi paku ketiga tepat mengenai kepala kudanya.
Binatang itu meringkik sambil berjingkrak, lalu jatuh terguling tak bernyawa lagi.
Sudah tentu Yap Leng-hong ikut terbanting, jatuh Utti Keng tertawa dan melolos golok, tapi sebelum ia membikin tamat riwayat Yap Leng-hong, tiba-tiba istrinya berseru.
"Toako, kila tak perlu repot-repot lagi, ada orang lain yang akan membereskan dia "
Kiranya Yap Boh-hoa yang sedang memburu dalang dengan kudanya, keruan Yap Leng-hong ketakutan setengah mati, segeia ia gunakan Ginkangnya untuk kabur sekuatnya.
Tapi Ginkangnya tak bisa mengungguli kecepatan kuda, hanya sebentar saja ia sudah disusul oleh Yap Boh-hoa.
"Hendak lari kemana, keparat!"
Bentak Boh-hoa sambil menubruk maju hendak menawan hidup-hidup buronannya, pada saat itulah tiba tiba suara seorang wanita menggertaknya.
"Siapa berani mencelakai muridku?"
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu senjata rahasia menyambar lebih dulu. Waktu itu Yap Boh-hoa sedang mengayun pedangnya hendak menusuk ke punggung Yap Leng-hong, mendadak "cring"
Sekali, sebuah batu kecil tepat menimpuk batang pedangnya dengan tenaga sangat kuat, seketika Boh-hoa merasa genggaman tangan pegal kesemutan, pedang lantas terlepas dari cekalan.
Pada saat yang sana muncullah seorang wanita cantik setengah umur.
Kiranya wanita setengah umur ini tak lain tak bukan ialah Kok Tiong-lian, istri Kang Hay-thian yang baru pulang dari menjenguk famili di negeri Masar.
Karena kangen kepada sang 'keponakan', maka dia sengaja mengambil jalan ke Siau-kim-jwan untuk menyambangi Yap Leng-hong.
Pada waktu berangkat ke Masar, Kok Tiong-lian juga sudah merasa tindak-tanduk Yap Leng-hong rada mencurigakan, cuma belum tahu kalau dia adalah keponakan palsu.
Apalagi diam-diam telah timbul maksudnya hendak menjodohkan Kang Hiau-hu padanya, maka pada saat mengetahui Leng-hong terancam bahaya, tanpa pikir Kok Tiong-lian lantas menolongnya.
Ia sangka orang yang mengejar Leng-hong itu adalah antek kerajaan, maka selain sebuah batunya membentur pedang, sepotong batu yang lain lantas disambitkan pula ke arah bahu Yap Boh-hoa.
Dengan kekuatan Kok Tiong-lian yang lihai, bila tulang pundak Boh-hoa sampai terkena batu yang dijentikkan dengan tenaga jari yang dahsyat, betapapun tangkasnya Boh-hoa pasti akan terluka parah bila tidak binasa.
Saat itu Utti Keng dan Ki Seng-in juga sudah menyusul tiba, mereka menjadi kaget demi menyaksikan serangan Kok Tiong-lian.
Teriak Ki Seng-in.
"Kok-lihiap, kau keliru, jangan menyerang lagi!"
Akan tetapi seruan Ki Seng-in itu rada kasip.
Kok Tiong-lian sudah telanjur menjentikkan batunya.
Syukurlah pada saat yang sama dari arah yang berlawanan juga telah menyambar tiba sebutir batu kecil, kedua biji batu berbenturan di tengah udara dan jatuh hancur bersama.
Ketika mendengar teriakan Ki Seng-in tadi, memangnya Kok Tiong-lian juga tertegun, kini melihat batunya sendiri ditimpuk jatuh pula, ia terkejut dan membatin.
"Siapakah yang memiliki kepandaian setinggi ini? Jangan-jangan Hay-ko adanya?"
Benar juga, segera ia mendengar suara Kang Haythian.
"Lian-moay, keponakanmu berada di sini, mengapa kau malah menyerang keponakanmu sendiri?"
Berbareng tertampaklah sesosok bayangan putih melayang lewat di samping Yap Leng-hong, hanya sekejap saja sudah berada di sebelah Kok Tiong-lian, terang orang itu adalah Kang Hay-thian.
Tapi Hay-thian sendiri tidak mau turun tangan, pula buru-buru ingin bertemu dengan sang istri, maka waktu melayang lewat di samping Yap Leng-hong sama sekali ia tidak menyentuhnya.
Namun demikian Yap Leng-hong sendiri sudah ketakutan setengah mati.
Kok Tiong-lian merasa bingung, ia tanya sang suami.
"Kau bilang keponakanku siapa?"
"Pantas saja kau tidak tahu, aku sendiri juga baru saja diberitahu,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa. Lalu ia menuding ke arah Yap Boh-hoa dan menambahkan.
"Keponakanmu yang tulen adalah dia ini. Yang itu adalah pemalsuan mata-mata musuh."
Tiong-lian terkejut.
"Apa katamu? Dia ... dia benarbenar adalah mata-mata musuh yang memalsukan keponakanku?"
"Ya, dia adalah putra Yap To-hu, kita telah kena dikelabui semua"
Sahut Kang Hay-thian. Tapi Tiong-lian masih ragu-ragu, katanya setengah menggumam "Sebenarnya bagaimana persoalannya ini?"
"Coba kau lihat, kawan-kawan itupun sudah datang semua sebentar kau tentu akan tahu duduknya perkara,"
Kata Hay-thian Maka tertampak Tiong Tiang-thong, Siangkoan Thay, Siu Hong, Kong-he dan anak-anak muda lain sedang mendatangi.
Sebenarnya mereka datang bersama Kang Hay-thian, tapi mereka telah ketinggalan Sedangkan Utti Keng dan Ki Seng-in datang dari arah yang lain Bahkan Kang Hiau-hu sendiri telah memburu tiba dengan memotong jalan ketika melihat ibunya sudah kembali.
Saking girangnya sebelum mendekat ia sudah berteriak-teriak.
"Ibu, aku selalu mengatakan Jisuko adalah orang baik, tapi kau tidak mau percaya. Sekarang sudah jelas keparat Yap Leng-hong itu adalah mata-mata musuh dan Piauko yang tulen sudah berada di sini, maka ibu tidak perlu ragu-ragu lagi."
"Anak perempuan, banyak omong,"
Omel Hay-thian dengan tertawa.
"Bangsat ini memang sangat licin, sampai-sampai aku pun kena dibohongi, tidak heran kalau ibumu juga kena dikelabui. Kedatangan kalian sangat kebetulan, boleh kau tuturkan kepada ibumu duduknya perkara, begitu pula silakan Utti-thocu menceritakan pengalamanmu yang telah menjadi korban kelicikan keparat itu."
Dalam pada itu Yap Leng-hong sedang kebingungan, sudah tentu ia tidak lari mendekati Kok Tiong-lian lagi.
Ia mengertak gigi dan bermaksud membunuh diri, tapi di kala pedangnya terangkat, mata pedang yang gemilapan dingin itu membuatnya merasa ngeri dan tanpa terasa senjata itu menukik ke bawah lagi.
Nyata ia lebih pengecut daripada ayahnya, sudah terang menghadapi jalan buntu dan tiada harapan buat lolos lagi, tapi untuk membunuh diri saja dia tidak punya keberanian.
Melihat keadaan sudah pasti, segera Siu-hong berseru.
"Hoa-ko, semoga kau membunuh musuh dengan tangan sendiri, aku pun hendak pergi menuntut balas!"
Cepat ia melarikan kudanya ke bawah sana untuk ikut dalam penumpasan laskar Kui Koh-ku.
Anak buah Kheng Siu-hong sudah dilebur ke dalam pasukan pergerakan di bawah pimpinan Ubun Hiong, maka adalah tepat jika dia ikut pergi membantu Ubun Hiong.
Yap Leng-hong yang pengecut itu tidak jadi membunuh diri, terpaksa ia putar balik dan bertempur mati-matian dengan Yap Boh-hoa.
Dari putus asa Yap Leng-hong menjadi nekat dan benci kepada Yap Bohhoa.
Bagai srigala yang kepepet, secara kalap ia menyerang Boh-hoa.
Boh-hoa tidak berani sembrono menghadapi lawan yang kalap itu, dengan tenang dan sabar ia melayani perlawanan Leng-hong yang terakhir itu.
Sementara itu medan pertempuran di bawah gunung sana sedang berlangsung dengan sengit sesudah Kheng Siu-hong ikut menyerbu.
Ia mencari kedua saudara Cu dan memerintahkan agar mengumumkan bahwa para anak buah Kui Koh-ku diharapkan lekas menyerah, yang akan ditangkap dan dihukum adalah biang keladinya, orang-orang yang ikut-ikutan saja takkan diusut lebih lanjut.
Kedua saudara Cu adalah penduduk Kui-tek-po dan banyak mengenal anak buah Kui Koh-ku.
Hasil seruan mereka itu ternyata sangat memuaskan, tidak terlalu lama sudah ada lebih separoh laskar Kui Koh-ku membuang senjata dan meninggalkan barisannya, bahkan ada sebagian yang membalikkan senjata dan ikut menyerang pengikut-pengikut setia Kui Koh-ku.
Keruan Kui Koh-ku berjingkrak-jingkrak murka sambil memaki kalang-kabut.
Namun Kheng Siu-hong sudah memutar sepasang goloknya dan menyerbu ke tengah barisan musuh, teriaknya.
"Kui-locat, hari ini adalah tamatnya lelakonmu! Rasakanlah golokku ini!"
Sekali timpuk, sebilah pisau terbangnya kontan membikin jiwa Kui Siau-leng melayang.
Melihat putranya mati, apalagi sudah kepepet, terpaksa Kui Koh-ku bertempur mati-matian melawan Siu-hong.
Ilmu silat Kui Koh-ku dengan sendirinya tidak lemah, cuma usianya sudah lanjut.
Di waktu biasa tidaklah mudah Siu-hong hendak mengalahkan dia, tapi kini begundal Kui Koh-ku sudah hampir terbasmi bersih, ia menjadi gugup, hanya beberapa gebrakan saja ia sudah terluka kena bacokan golok Siu-hong.
Pada saat yang sama kedua saudara Cu juga telah memburu tiba dua pasang tongkat mereka mengepruk berbareng, kontan batok kepala Kui Koh-ku terketok hancur dan terbalaslah sakit hati mereka Setelah pertempuran berakhir, cepat Siu-hong mengajak Ubun Hiong kembali ke tempat pertempuran Yap Boh-hoa melawan Yap Leng hong.
Saat itu pertarungan sengit itupun sudah mendekati akhir.
Lenghong tampak beringas bagai binatang yang buas berulang-ulang la menerkam lawannya seperti anjing gila.
Wajahnya yang beringas waktu itu berbeda sama sekali daripada sikap biasanya yang ramah tamah.
Diam-diam Ciong Siu gegetun dan membatin "Tampang aslinya ternyata begini, syukurlah aku tidak terlanjur terpelet.
Pengalaman ini mengajar padaku agar kelak janganlah menilai seseorang dari wajahnya."
Pertarungan itu semakin seru, tapi Yap Boh hoa tetao berlaku tenang, sebaliknya Leng-hong tambah kalap, tampak dia sudah mandi keringat, tidak lama kemudian air keringatnya yang menetes itu menyerupai air darah.
Hiau-hu merasa heran, ia bertanya pada ayahnya "Keparat itu toh tidak terluka, mengapa mengalirkan darah?"
"Dia sudah seperti pelita yang kehabisan minyak"sahut Hay-thian. Baru selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar Leng-hong menjerit tidak kelihatan kena serangan, tapi mendadak jatuh terkulai. Meski Boh hoa telah mendepaknya dan membentaknya supaya berbangkit tapi sedikitpun Lenghong tidak bersuara, tubuhnya tampak melingkar, sekonyong-konyong sekujur badannya penuh berdarah. Kiranya dia telah kehabisan tenaga, keringat mengucur terus, akhirnya yang keluar adalah air berdarah. Ditambah lagi rasa takutnya sampai detik terakhir jantungnya telah pecah dan binasalah dia Setelah menyimpan pedangnya, lalu Boh hoa memberikan sembah hormat kepada Kang Hay-thian dan Kok Tiong lian, katanya "Maafkan kesalahan Tit-ji yang tidak segera datang, menemui paman dan bibi sebagaimana pesan ayah-ibuku sehingga memberi kesempatan kepada keparat ini untuk memalsukan diriku dan menimbulkan banyak bencana."
Hay-thian membangunkan Boh-hoa, sahutnya.
"Aku sendiri pun kurang teliti. Syukur sekarang duduknya perkara sudah jelas dan berakhir, kau pun telah mewakilkan aku membersihkan rumah tangga perguruan."
Lalu ia berpaling kepada sang istri, katanya dengan tertawa.
"Lian-moay, kau kehilangan keponakan yang palsu dan kini benar-benar mendapatkan keponakan yang tulen, boleh kau merasa bergembira!"
"Sungguh aku merasa menyesal telah kena dikelabui keparat ini,"
Kata Tiong-lian.
"Malahan tadi aku hampir salah mencelakai kau, tapi sekarang tidak saja kau harus memanggil bibi padaku, bahkan pamanmu menyuruh kau mewakilkan dia membersihkan rumah tangga perguruan, kau paham hal ini tidak?"
Sudah tentu Boh-hoa paham, katanya.
"Banyak terima kasih bahwa paman telah sudi menerima aku sebagai muridnya."
Segera ia memberi hormat pula menurut adat dan memanggil Suhu dan Subo.
Sungguh senang Kok Tiong-lian tak terkatakan.
Para ksatria juga ikut gembira dan beramai-ramai memberi ucapan selamat.
Menyusul Ubun Hiong juga maju memberi hormat kepada Suhu dan Subonya.
Tiong-lian rada malu melihat pemuda itu, katanya.
"Aku telah keliru menyalahkan kau sehingga kau menderita penasaran."
"Tadinya siapa pun tidak tahu kekejian bangsat itu, tindakan yang diambil Subo itu adalah menurut peraturan perguruan, mana murid berani menyesali Subo,"
Demikian sahut Ubun Hiong.
"Apa yang pernah kupesan padamu telah kau beritahukan kepada Hu-ji atau belum?"
Tiba-tiba Kang Hay-thian bertanya dengan tertawa. Wajah Ubun Hiong menjadi merah, sahutnya lirih.
"Belum!"
Hiau-hu masih belum paham arti ucapan ayahnya itu, segera ia bertanya.
"Ayah suruh kau memberitahukan apa kepadaku, Suko?"
"Suruh dia menjaga kau selama hidup, tahu?"
Sela Hay-thian sambil terbahak-bahak.
Baru sekarang Hiau-hu mengerti, mukanya menjadi merah jengah, tapi hati kecilnya merasa sangat girang, maka semua orang kembali menghaturkan selamat bahagia.
Kemudian dengan kereng Kang Hay-thian bicara pula.
"Tapi usia kalian masih terlalu muda, tiada halangannya dua tahun lagi baru melangsungkan pernikahan. Kini situasi di Siau-kim-jwan sudah kita atasi, tapi tanah air bangsa Han kita ini masih dijajah, rakyat jelata di berbagai daerah masih sangat menderita. Aku bermaksud berangkat ke utara untuk membantu Thiokaucu mengadakan pergerakan lebih besar lagi, kalian boleh ikut berangkat bersama aku."
Begitulah beramai-ramai mereka lantas berangkat ke utara untuk meneruskan perjuangan, dan itu sudah di luar garis cerita "Geger Dunia Persilatan"
Ini.... T A M A T
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 11
Baca Juga: Pendekar Pemetik Harpa 3