Pendekar Jembel 1

Eps 1 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/.

Pendekar Jembel Hiat Kut Tan Sin Karya Liang Ie Shen.

Sunyi-senyap suasana pegunungan, hanya suara pekik kera yang terkadang menyelinap di antara suara kicauan burung memecah kesunyian itu.

Di tengah suasana sunyi itulah ada seorang pemuda sedang mengayunkan langkahnya di lembah pegunungan.

Dia adalah murid terkecil Lui Tjin-tju, ketua Butong-pay, namanya Tjin Goan-ko.

Tatkala itu ia lagi menyusuri jalanan terjal di lereng gunung Tji-lay-san.

Tji-lay-san adalah sebuah gunung ternama di barat-daya propinsi Soatang, yaitu terletak di selatan kabupaten Thay-an.

Jadi menjulang berhadapan dengan gunung Thay (Altai) yang terletak di utara Thay-an, Tji-lay-san itu tidak terlalu tinggi, tapi lantaran tiada sesuatu hasil bumi apapun, juga tidak banyak binatang liar, maka penduduknya pun sangat jarang.

Lantaran itulah sepanjang jalan menuju pegunungan Tji-lay-san yang dilalui Tjin Goan-ko, belum pernah ditemuinya seorang pun.

Walaupun berjalan seorang diri dan kesepian, tapi di dalam hati Tjin Goan-ko justru terasa sangat hangat.

Suara kicauan burung pegunungan itu seakan-akan paduan suara yang mengingatkan dia pada ujar orang kuno bahwa suara burung itu seperti sedang mencari sahabat.

Dan perjalanannya ke Tong-peng-koan kali ini justru adalah kesempatan bagus baginya untuk berkawan dengan ksatria-ksatria sejagad yang berkumpul di sana.

Di tengah suasana kesepian itu Tjin Goan-ko sudah membayangkan betapa ramainya pesta yang akan dihadirinya itu.

Pikirnya.

"Hari ini adalah tanggal sepuluh bulan delapan, setelah melintasi Tji-lay-san, dalam waktu dua hari aku sudah dapat sampai di rumah keluarga Kang. Hari pestanya adalah Pek-gwe Tjap-go (tanggal 15 bulan delapan), jadi aku datang lebih dulu tiga hari sebelumnya, entah di sana sudah ada tamu lain atau tidak. Kalau tidak ada, wah tentu aku akan merasa rikuh, tapi Kang-tayhiap terkenal sangat simpatik, tentu beliau takkan mencela kedatanganku yang kurang layak itu."

Kiranya tanggal 15 bulan delapan adalah hari perkawinan putri kesayangan Kang Hay-thian yang termashur itu.

Putrinya, yaitu Kang Hiau-hu akan menikah dengan Ubun Hiong, murid Kang Hay-thian sendiri yang menjadi ahliwarisnya pula.

Hari bahagia itu telah ditetapkan pada hari raya Tiong-tjhiu yang baik itu.

Sebagai tokoh terkemuka dari dunia persilatan, ketika diketahui akan berita baik itu, dengan sendirinya tokoh-tokoh dari aliran lain akan hadir atau mengirim utusan untuk mengucapkan selamat kepadanya.

Dan Tjin Goan-ko adalah utusan Bu-tong-pay.

Sebenarnya jago-jago Bu-tong-pay tidaklah sedikit, bahkan kalau mengingat kedudukan Kang Hay-thian sebagai jago nomor satu pada zaman ini, untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya itu sepantasnya Bu-tong-pay mesti mengirim seorang wakil dari angkatan yang setingkat sebagai tanda penghormatannya kepada Kang Hay-thian, tapi Tjin Goan-ko meski cuma murid Lui Tjin-tju yang buncit, namun dia mempunyai bakat yang bagus, tinggi ilmu silatnya malahan di atas segenap Suheng-suhengnya, maka Lui Tjintju paling sayang padanya dan bermaksud memupuk anak muda ini.

Sebab itulah pada saat Tjin Goan-ko tamat belajar dan untuk pertama kalinya keluar lantas diberi tugas sebagai wakil pribadinya untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Kang Hay-thian.

Lui Tjin-tju tahu Kang Hay-thian paling suka kepada ksatria muda, jika murid kesayangannya ini yang diutus ke rumah Kang Hay-thian, ia yakin Kang Hay-thian pasti akan menaruh perhatian khusus dan akan merasa senang malah, tak nanti Kang Hay-thian akan merasa direndahkan karena ketidak hadiran Lui Tjin-tju sendiri.

Tapi lantaran Tjin Goan-ko baru untuk pertama kali berkelana, orang keluarga Kang juga tidak kenal padanya, maka Lui Tjin-tju sengaja menulis sepucuk surat perkenalan dan dibawakan pada Tjin Goan-ko, berikut kartu undangan yang diterima dari Kang Hay-thian itu.

Maka pada saat itulah Tjin Goan-ko sedang membayangkan secara muluk-muluk perkenalannya dengan para jago terkemuka di seluruh dunia.

Selagi Tjin Goan-ko merasa gembira sekali di antara hembusan angin, tiba-tiba terendus olehnya bau wangi bunga Kui yang harum semerbak.

Waktu Goan-ko menoleh, dilihatnya di lereng bukit sana ada sebuah rumah yang dibangun membelakangi bukit dan cukup megah dengan gentingnya yang berwarna hijau dan dinding tembok dilabur kemerah-merahan.

Terang itu bukan rumah kaum pemburu, tapi pasti rumah keluarga orang berduit.

Rupanya di taman bunga situ tertanam banyak pohon Kui yang sedang mekar bunganya, maka bau wangi sayup-sayup terbawa angin hingga terendus oleh Tjin Goan-ko.

Tatkala itu sudah mendekati senja dengan pemandangannya yang indah.

Diam-diam Tjin Goan-ko menimang-nimang.

"Hari sudah hampir malam, keluar dari Tjilay-san ini belum tentu akan mendapatkan tempat bermalam, ada baiknya bila aku mohon menumpang kepada tuan rumah itu."

Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Entah orang macam apakah pemilik rumah itu? Suhu telah berpesan agar berhatihati dalam perjalanannya. Tampaknya memang luar biasa keluarga yang hidup terpencil di pegunungan sunyi ini, mana boleh aku sembarangan minta bermalam di sana. Aku sudah terbiasa tidur di tempat terbuka di atas gunung, jika tidak menemukan tempat menginap juga tidak menjadi halangan bagiku."

Cuma Tjin Goan-ko sesungguhnya sudah amat lelah selama beberapa hari dalam perjalanan.

Ia menghirup napas dalamdalam, hawa sejuk dan bau harum membuat semangatnya menjadi segar.

Setelah mengulet kemalas-malasan, kemudian Goan-ko duduk mengaso di tepi jalan.

Tiba-tiba terdengar di dalam taman bunga rumah itu ada suara seorang pemuda sedang berkata.

"Asap mengepul lurus di gurun luas!"

Lalu ada suara seorang perempuan muda menanggapi pula.

"Bola matahari tenggelam di balik sungai panjang!"

Selain belajar silat, Tjin Goan-ko juga diberi pelajaran kesusastraan oleh Lui Tjin-tju, maka sedikit banyak ia pun bisa bersyair.

Setelah mendengar ucapan kedua muda-mudi di dalam taman itu, Goan-ko menjadi heran mengapa mereka tidak bersyair di kamar baca, sebaliknya bersanjak di taman bunga, pula syair yang diucapkan mereka itu tidak lengkap, melainkan cuma satu dua bait saja.

Letak rumah orang itu berada di bawah, sedangkan Goanko duduk di bagian tanjakan yang lebih tinggi sehingga pandangannya dapat mencapai keadaan di dalam taman bunga itu.

Bukan maksudnya hendak mengintip, tapi lantaran ingin tahu, tanpa terasa ia memandang ke jurusan datangnya suara itu.

Tadinya kedua muda-mudi itu tertutup oleh semak-semak bunga, tapi kini sudah berada di suatu tempat terbuka di dalam taman itu.

Kelihatan tangan masing-masing memegang sebatang pedang.

Terdengar si pemuda sedang berkata pula.

"Jurus 'Asap mengepul lurus di gurun luas' yang kau mainkan sudah betul, hanya tenaganya saja masih kurang kuat. Sebaliknya jurus 'Bola matahari tenggelam di balik sungai' itu yang kurang tepat mainnya, kau harus berlatih lagi. Coba lihat caraku ini!"

Habis berkata, pedangnya bergerak, ia menggores suatu lingkaran sehingga menimbulkan cahaya pedang yang gemi lapan, tubuh pemuda itu seakan-akan terbungkus di dalam lingkaran sinar pedang.

Segera si nona menirukan gerakan pedang si pemuda, akan tetapi selalu kurang tepat, lingkarannya kurang bulat.

Si nona menjadi uring-uringan dan ngambek tak mau main lagi.

"Jangan putus asa, jurus ini aku sendiri hampir sebulan baru dapat memainkannya dengan baik, kau baru berlatih tiga hari sudah tentu belum apa-apa,"

Kata si pemuda.

"Baiklah, jurus ini boleh kulatih besok pagi, sekarang kau perlihatkan jurus 'Asap mengepul lurus di gurun luas' tadi, aku ingin tahu sebab apa tenagaku selalu tidak cukup,"

Pinta si nona Si pemuda menurut, pedangnya lantas menusuk ke depan dengan lurus seperti sambaran panah.

Begitu hebat kekuatannya sampai kelopak-kelopak bunga Kui di atas pohon sama rontok bertebaran.

Walaupun Tjin Goan-ko tidak berada di dalam taman, tapi melihat rontoknya daun-daun bunga itu ia pun seperti merasakan betapa hebat menderunya angin senjata.

Diamdiam ia terkejut, pikirnya.

"Ilmu pedang yang dimainkan pemuda ini memang ilmu pedang kelas tinggi, kekuatannya juga hebat. Entah berasal dari aliran manakah dia?"

Dan baru sekarang Goan-ko mengetahui bahwa kedua muda-mudi itu sebenarnya sedang berlatih ilmu pedang, beberapa bait syair kuno yang mereka ucapkan tadi adalah nama-nama jurus ilmu pedang yang mereka mainkan itu.

Terdengar si pemuda sedang memberi petunjuk.

"Waktu pedang ditusukkan ke depan, siku sedikit melengkung, tenaga terhimpun di dalam perut dan siap dikerahkan, dengan demikian kekuatan tusukan tentu akan cukup hebat."

Beberapa kali si nona mengulangi jurus ilmu pedangnya dan lambat-laun dapat juga membikin rontok sedikit daun bunga. Dengan tertawa si pemuda memuji.

"Bagus, bakatmu memang lebih tinggi daripada diriku, jurus ini sudah boleh bagimu."

"Marilah kita coba-coba bergebrak beberapa jurus,"

Ajak si nona.

"Nah awas, mulai!"

Berbareng pedangnya terus menusuk dengan cepat sambi! mengucapkan satu bait syair.

"Bagus,"

Seru si pemuda.

"Awas serangan balasanku!"

Begitulah seketika sinar pedang berhamburan, setiap jurus serangan muda-mudi itu selalu menyesuaikan keadaan dengan arti suaru bait syair kuno.

Begitu cepat putaran pedang mereka sehingga Tjin Goan-ko merasa silau.

Pikirnya.

"Pantas Suhu sering memberi pesan bahwa di dunia Kangouw teramat banyak tokoh-tokoh kosen tersembunyi, di mana pun terdapat orang pandai. Ilmu pdang pemuda ini entah dari golongan mana, tapi jelas ilmu pedangnya tidak di bawah ilmu pedang Bu-tong-pay kami."

Berpikir demikian, timbul hasratnya untuk berkenalan dengan pemuda itu. Selagi Tjin Goan-ko termenung, terdengar di sebelah sana si pemuda itu berseru.

"Awas serangan!"

Berbareng pedangnya lantas menusuk, tapi si nona sempat menangkis dan balas menyerang satu kali, pedangnya memotong miring ke depan, akan tetapi rupanya dia kalah kuat tenaganya, ketika pedang si pemuda menyampuk ke bawah.

"Trang", benturan itu membikin pedang si nona terpental jatuh. Melihat begitu bagus ilmu pedang si pemuda, hampir saja Tjin Goan-ko bersorak memuji. Syukur dia masih bisa menahan diri, sebelum suaranya tercetus sempat ditelan kembali mentah-mentah. Nampak si pemuda itu menjemputkan pedang si nona, katanya dengan mengiring tertawa.

"Maaf, aku tak sempat menahan tenagaku sehingga memukul jatuh pedangmu. Marilah kita coba-coba lagi."

"Sudahlah, aku emoh lagi,"

Sahut si nona ngambek.

"Eh, kita kan cuma latihan saja, mengapa engkau anggap sungguh-sungguh?"

Ujar si pemuda.

"Kalau cuma latihan saja, mengapa kau pukul jatuh pedangku?"

Kata si nona.

"Mengapa tidak,"

Sahut si pemuda.

"Mataku memandang empat penjuru, telingaku mendengar delapan arah. Jika betul ada orang lain yang menyaksikan, hm, lihat saja aku akan menyeret dia keluar ke sini."

Mendengar kata-kata yang seakan-akan ditujukan kepadanya, tanpa terasa Tjin Goan-ko mengkeret dan menyembunyikan dirinya lebih rapat.

Sebenarnya ada hasrat Goan-ko untuk berkenalan dengan muda-mudi itu.

Kini setelah mendengar pembicaraan mereka itu baru dia sadar bahwa dirinya memang tidak pantas muncul begitu saja.

Maklumlah, orang persilatan umumnya sekali-kali tidak ingin orang luar menyaksikan di kala mereka sedang berlatih ilmu silat perguruannya sendiri.

Sebab itu adalah suatu pantangan besar untuk mengintip orang berlatih.

Diam-diam Goan-ko membatin.

"Untung mereka tidak memergoki diriku, jika tidak, tentu akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Nanti kalau sudah sampai di rumah Kangtayhiap akan kutanya asal-usul keluarga ini, setelah jelas rasanya masih belum terlambat aku mengikat persahabatan dengan mereka."

Mestinya Goan-ko ingin menyingkir pergi, tapi kedua mudamudi itu masih di dalam taman, jika Goan-ko bergerak tentu akan ketahuan.

Sebab itulah walaupun Goan-ko tiada niat mengintip mereka berlatih, sekarang terpaksa ia harus mengintip terus.

Terdengar si pemuda sedang berkata.

"Adik Siang, kita kan cuma saling belajar saja, memang ilmu pedang ini aku lebih mahir daripada kau, tapi kalau bicara tentang menggunakan senjata rahasia, akulah yang harus belajar padamu. Ehm, betul, kita tidak berlatih pedang lagi, marilah berlatih senjata rahasia saja. Katanya kau punya Bwe-hoa-tjiam (jarum berbentuk bunga Bwe) sangat lihai, coba perlihatkan satu jurus sekedar menambah pengalamanku."

Dengan dipuji dan diumpak begitu, dari uring-uringan si nona berubah menjadi senang, katanya.

"Kau tidak perlu memuji diriku. Kata ayahku, kakekmu adalah jago nomor satu di dunia ini, masakah iimu senjata rahasiamu kalah daripada aku? Barangkali kau sengaja hendak membikin malu lagi padaku."

Goan-ko terkesiap mendengar ucapan nona itu, pikirnya.

"Jago nomor satu di dunia ini, bukankah dia adalah Kang-tayhiap yang termashur itu? Dari mana bisa muncul seorang jago nomor satu lagi? Jika kakek pemuda ini adalah Kang-tayhiap, rasanya tidak mungkin, sebab umur Kang-tayhiap baru 40-an lebih, putrinya juga baru akan dikawinkan, darimana dia bisa mempunyai seorang cucu keponakan, selamanya juga tidak pernah terdengar beliau punya saudara dari sanak famili lain."

Dalam pada itu terdengar si pemuda menjawab dengan tertawa.

"Soal ilmu silat memang masing-masing mempunyai keistimewaannya sendiri-sendiri. Seperti ilmu Tiam-hiat dan senjata rahasia keluargamu, biasanya juga sangat dikagumi oleh kakekku. Kau jangan rendah hati, kita harus saling belajar."

Semula Tjin Goan-ko mengira kedua muda-mudi itu adalah saudara perguruan yang sedang berlatih, baru sekarang diketahui bahwa dugaannya ternyata salah.

"Baiklah, jika kau berkeras ingin melihat sedikit kepandaianku, tapi kau jangan menertawakan, dan terpaksa aku main sebisanya,"

Kata si nona. Habis itu ia lantas meraup keluar se-genggam Bwe-hoa-tjiam dan berkata pula seperti menggumam sendirian.

"Cara bagaimana melatihnya? Ya, biarlah aku menjatuhkan kawanan tawon yang menjemukan itu."

Di atas pohon Kui di depan si nona kebetulan ada segerombolan tawon madu yang sedang mengisap sari bunga.

Mendadak si nona angkat tangannya, terlihat sinar emas gemilapan, sebagian besar kawanan tawon itu lantas jatuh berhamburan.

"Bagus, kepandaian bagus!"

Sorak si pemuda.

"Setiap ekor tawon yang jatuh itu terkena sebuah jarummu. Kepandaian ini benar-benar luar biasa."

"Ah, kau terlalu memuji saja,"

Sahut si nona dengan tertawa.

"Sekarang kau coba!"

Melihat kepandaian nona itu, diam-diam Goan-ko terkesiap juga, hanya saja ia anggap cara si nona rada-rada kejam. Dalam pada itu terdengar si pemuda berkata.

"Baiklah, kau ingin tahu kepandaianku yang tak berarti, terpaksa aku menurut saja"

Habis berkata, mendadak ia berpaling dan tangannya terus diacungkan ke depan.

"He, sasaran apa yang kau arah?"

Tanya si nona.

Pada saat itulah Tjin Goan-ko lantas merasa mendesirnya angin, senjata rahasia orang tahu-tahu telah menyambar ke arahnya.

Kiranya si pemuda menggunakan Goan-ko sebagai sasaran senjata rahasianya.

Karena tidak menyangka, hampir saja Tjin Goan-ko termakan.

Syukurlah pada detik yang menentukan itu ia sempat menggunakan tenaga jari yang hebat untuk menyelentik tiga kali.

"criug-cring-cring", tiga buah Tau-kutting, paku penembus tulang, kena diselentik jatuh terpental. Namun jari Goan-ko terasa kesakitan juga, padahal jaraknya dengan pemuda tadi ada beberapa puluh meter jauhnya, tapi tenaga lemparan senjata rahasia pemuda itu ternyata sedemikian kuat, hal ini benar-benar membuat Tjin Goan-ko sangat terperanjat. Setelah menyambitkan senjata rahasia paku tadi, berbareng si pemuda lantas membentak.

"Bocah darimana itu berani mengintip latihan kami? Lekas keluar kemari!"

"Eh, kepandaian bocah ini tampaknya boleh juga,"

Ujar si nona dengan tertawa.

Memangnya Goan-ko ada maksud untuk berkenalan dengan mereka, cuma kuatir melanggar pantangan peraturan Kang-ouw, yaitu mengintip orang yang sedang berlatih, maka sejak tadi ia tak berani keluar.

Sekarang sesudah konangan mau tak mau ia keluar juga dari tempat persembunyiannya.

Segera ia melompat lewat pagar dan memberi salam kepada si pemuda, sapanya.

"Sianto adalah Tjin Goan-ko, murid Butong-pay yang kebetulan lewat di sini dan sekali-kali tiada niat sengaja mengintip latihan kalian. Harap saudara sudi memaafkan."

Dengan memperkenalkan nama perguruannya, Goan-ko telah mentaati peraturan Kangouw serta sebagai tanda hormat kepada pihak tuan rumah dan terutama untuk menghindarkan salah paham.

Maklum, Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay adalah dua aliran terkemuka di dunia persilatan yang umumnya sangat disegani.

Tak terduga pemuda itu ternyata dingin-dingin saja menerima salam Tjin Goan-ko tadi, jawabnya dengan ketus.

"Peduli apa kau murid Bu-tong-pay apa bukan. Yang jelas kau mengintip orang lain yang sedang berlatih, inilah tidak pantas."

Betapa pun Tjin Goan-ko juga seorang pemuda yang masih berdarah panas dan tahu akan harga diri, terhadap sikap pemuda yang congkak itu, ia pun merasa dongkol maka dengan kaku ia pun menjawab.

"Ilmu pedang saudara memang hebat, tapi anak murid Bu-tong-pay rasanya masih tidak sampai mencuri belajar ilmu pedang dari golongan lain."

"Hm, kalau anak murid Bu-tong-pay lantas mau apa?"

Jengek pemuda itu.

"Baik, biar kucoba-coba ilmu pedang Butong-pay kalian."

Habis berkata, pedangnya secepat kilat terus menyambar ke depan. Hanya sekali tusuk saja tiga tempat Hiat-to di badan Tjin Goan-ko diarahnya. Sudah tentu Goan-ko tidak tinggal diam, pikirnya.

"Ah, tidak boleh memalukan nama baik perguruan sendiri."

Segera ia pun melolos pedang untuk melayani serangan lawan.

"Adik Siang, harap kau menyaksikan secara teliti!"

Seru si pemuda.

"Sret"

Mendadak ia menusuk dengan jurus 'Asap mengepul lurus di gurun luas1, dengan cepat ujung pedangnya menusuk ke muka Tjin Goan-ko, yang diincar adalah matanya.

Terkejut dan gusar pula Tjin Goan-ko, gerutunya di dalam hati.

"Sekali pun benar aku telah mengintip latihanmu juga tidak seharusnya kau menyerang sekejam ini."

Terpaksa Goan-ko mengeluarkan kepandaian andalannya, dengan jurus 'Hong-in-toan-hong' atau memutus awan memotong puncak, pedangnya menangkis dengan cepat berbareng terus dipuntir.

Maka terdengarlah suara mendering nyaring, pedang si pemuda tadi tertangkis pergi, bahkan menyelonong tiga langkah ke samping.

Tiba-tiba si nona tertawa, serunya.

"Ya, aku sudah menyaksikan dengan baik. Kiranya jurus seranganmu 'Asap mengepul lurus di gurun luas' itu dapat dipatahkan dengan cara demikian!"

Sebenarnya maksud si pemuda ingin pamer ilmu pedangnya di hadapan si nona, tak terduga serangannya luput mengenai lawan, sebaliknya ia sendiri malah terdesak mundur.

Keruan ia menjadi malu dan dari malu menjadi kalap.

Bentaknya.

"Baik, biar kau rasakan kelihaianku!"

Berbareng pula pedangnya bergerak, dalam sekejap saja Tjin Goan-ko telah terkurung di tengah sinar pedangnya.

Nyata pemuda itu menggunakan jurus serangan 'Bola matahari tenggelam di balik sungai1.

Jika serangannya berhasil, tentu tubuh Tjin Goan-ko akan terpotong menjadi dua.

Melihat serangan lawan makin lama semakin keji, Goan-ko menjadi naik darah juga, pikirnya.

"Kalau aku tidak memberi sedikit rasa padanya, tentu dia akan menyangka aku takut padanya."

Segera ia pun balas menyerang, ujung pedangnya menembus lingkaran sinar pedang lawan, dengan jurus 'Menyapu melintang enam kali', terdengarlah suara mendering yang nyaring, seketika sinar pedang lawan menjadi buyar.

Nyata serangan si pemuda tadi kena dipatahkan pula.

"Bagaimana, cukup belum?"

Tanya Goan-ko. Namun pemuda itu menjawab dengan teriakan kalap.

"Menang atau kalah belum pasti, mengapa bilang cukup?"

Berbareng itu berturut-turut ia menyerang tiga kali secara gencar dan lihai.

Untung sebelumnya Tjin Goan-ko sudah mengikuti latihan kedua muda-mudi itu dan sudah paham jalan permainan pedangnya itu sehingga tidak sampai terdesak dan kelabakan.

"Kalau menerima tanpa membalas rasanya kurang hormat!"

Seru Goan-ko.

"Maaf, aku pun akan melancarkan serangan!"

Cepat pedangnya bergerak ke kanan dan ke kiri beberapa kali, menyusul menusuk ke depan beberapa kali, sekaligus ia menyerang tujuh kali secepat kilat dan tiap jurus serangannya berbeda.

Si nona sampai kesima menyaksikan serangan kilat itu, tanpa terasa ia berseru.

"He, Bun-toako, ilmu pedangnya tampaknya lebih cepat daripada permainanmu!"

Keruan wajah pemuda itu semakin masam, di bawah serangan Tjin Goan-ko yang gencar ia tidak sempat menjawab kata-kata si nona.

Mendadak ia meloncat ke atas, pedangnya berputar, menyusu terdengar pula suara mendering berulangulang.

Nyata serangan berantai Tjin Goan-ko tadi kena ditangkis juga olehnya.

Melihat ilmu pedang pemuda itu sedemikian hebat, diam-diam Goan-ko merasa kagum juga.

"Bagus!"

Puji Goan-ko. Habis ini maksudnya ia hendak mengakhiri pertandingan itu. Tak terduga si pemuda kembali menyerang pula sambil mendengus.

"Hm, bagus atau jelek ilmu pedangku tidak perlu penilaianmu. Memangnya Bu-tong-pay kalian paling jempol, toh jurus 'Lian-goan-toat-beng-kiam-hoat' (ilmu pedang berantai pencabut nyawa) masih tak mampu merenggut nyawaku."

Begitulah pemuda itu lantas melancarkan serangan pula secara gencar.

Keruan Goan-ko sangat mendongkol, ia anggap orang benar-benar tidak tahu diri, terpaksa ia harus melabraknya sekuat tenaga.

Maka terjadilah pertarungan sengit, begitu kencang pedang mereka sehingga akhirnya mereka seakan-akan terbungkus oleh sinar pedang masing-masing.

Menyaksikan itu, akhirnya si nona menjadi kuatir juga, pikirnya.

"Dua harimau bertempur akhirnya tentu ada yang terluka. Jika Bun-toako tercidera tentu tidak enak, kalau pemuda she Tjin itu dilukai, ini pun tidak baik. Dia hanya kebetulan melihat kami sedang berlatih, betapa pun tidak perlu dilukai. Apalagi dia adalah murid Bu-tong-pay, jika terjadi apa-apa tentu akan menimbulkan persengketaan. Akan tetapi untuk memisahkan mereka aku sendiri pun tidak sanggup, lantas bagaimana baiknya ini?"

Selagi si nona merasa bingung, sekonyong-konyong terdengar "creng"

Yang nyaring, sinar pedang yang berpancaran tadi mendadak buyar.

Kiranya kedua pedang mereka pada suatu jurus telah saling beradu dan sekarang mereka sedang mengadu tenaga-Ketika kedua pedang beradu, segera pemuda she Bun itu menekan sekuatnya.

Mestinya Tjin Goan-ko bermaksud menarik pedangnya dengan cepat.

Tapi tiba-tiba terasa suatu tenaga kuat menerjang ke atas pedangnya.

Sebagai pemuda yang juga berdarah panas, Goan-ko tidak mau kalah, jika pedang tetap ditarik kembali jangan-jangan dirinya akan disangka takut.

Maka timbul niatnya untuk menjajal Lwekang lawan.

Begitulah segera ia pun menyalurkan tenaga dalam untuk balas menyerang.

Ketika tenaga dalam kedua belah pihak sudah saling hantam melalui senjata masing-masing, maka sukarlah bagi salah satu pihak untuk menyudahi pertandingan Lwekang demikian.

Hanya sekejap saja kedua pemuda itu sudah sama mandi keringat.

Cuma Tjin Goan-ko masih lebih tenang, sebaliknya pemuda she Bun itu tampaknya lebih berabe, hal ini terlihat dari otot-otot hijau yang menonjol di bagian jidatnya.

Pertandingan Lwekang tidak dapat disamakan dengan pertandingan silat cara lain, sedikit lebih lemah saja tentu akan membahayakan jiwanya.

Kini si pemuda she Bun itu baru merasa menyesal dan gelisah, pikirnya.

"Jika tahu bocah ini memiliki Lwekang sekuat ini tentu lebih baik aku bertanding pedang saja dengan dia. Sekarang keadaan sudah telanjur, jalan satu-satunya untuk memperoleh kemenangan adalah minta bantuan kepada adik Stan."

Saat itu Goan-ko sudah di atas angin, cuma dia harus mencurahkan segenap pikiran dan tenaga untuk melayani pemuda she Bun itu, maka kalau saat itu ada seorang yang memiliki sedikit kepandaian saja sudah cukup menjatuhkan dia dari belakang.

Pemuda she Bun itu sudah biasa membual dan sok sombong di hadapan si nona.

Sekarang ia menjadi serba rikuh untuk meminta bantuannya.

Diam-diam hatinya gelisah dan mendongkol pula.

Ia menyesalkan si nona yang sudah melihat keadaannya runyam mengapa masih tinggal diam saja.

Karena tiada jalan lain lagi, terpaksa ia memberi kedipan mata kepada si nona.

Meski si nona bukan seorang ahli silat kelas tinggi, tapi menang atau kalah dari suatu pertandingan dapatlah dilihatnya juga.

Cuma ia menjadi ragu-ragu, jika dia memberi bantuan dan menyerang Tjin Goan-ko dari belakang, akibatnya Goan-ko pasti akan dibunuh oleh Bun-toakonya.

Padahal hanya urusan kecil saja seorang murid Bu-tong-pay harus terbunuh, betapa pun hal ini terasa tidak sampai hati.

Sebaliknya kalau dia tidak memberi bantuan, jangan-jangan Bun-toako yang akan terluka atau terbunuh.

Begitulah dengan pedang terhunus ia berdiri terpaku karena ragu-ragu.

Goan-ko tidak tahu sikap si gadis yang berdiri di belakangnya itu, tapi ia melihat isyarat yang diberikan kepada si nona tadi.

Ia pikir dirinya tiada punya permusuhan apa-apa dengan mereka, dari kegelisahan pemuda lawannya itu dapat diketahui keadaannya tentu sudah payah sehingga terpaksa ingin bantuan si nona, maka biarlah aku menyudahi saja pertarungan sengit ini.

Padahal dengan menyudahi pertarungan secara mendadak itu, Goan-ko sendiri harus menanggung resiko yang tidak kecil, sebab saat itu mereka sedang mengadu tenaga dalam, jika mendadak ia menarik kembali tenaganya itu dan pihak lawan terus menyerangnya secara dahsyat, maka Goan-ko sendiri pasti akan celaka.

Namun Goan-ko mengukur jiwa rendah lawannya dengan jiwa besar seorang ksatria, ia anggap ilmu silat pemuda itu-pun cukup hebat, betapapun tentu orang akan tahu maksud baiknya menyudahi pertandingan itu dan rasanya takkan menyerangnya pada waktu dia menarik kembali tenaganya.

Tapi nyatanya Tjin Goan-ko salah menduga, sebab apa yang dilakukan si pemuda benar-benar terlalu pengecut.

Memangnya pemuda she Bun itu sudah merasa dendam lantaran Goan-ko ternyata lebih unggul, sehingga membuatnya malu di hadapan si nona.

Kedua, biar pun si nona sudah melolos pedang, tapi sebegitu jauh masih tidak maju membantunya, hal ini makin menambah gusarnya.

Maka ketika Goan-ko mendadak menarik kembali pedangnya, tanpa pikir lagi kesempatan itu digunakan untuk menusuk secepat kilat ke depan.

Keruan Goan-ko terkejut, tapi dia adalah murid Bu-tongpay yang berbakat, pada detik berbahaya itulah dia memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa.

Dengan menggeser langkah, segera ia pun balas menyerang -dengan jurus 'Wan-kiong-sia-tiau' atau menarik busur memanah elang.

Menurut teori, jurus serangannya ini akan memaksa lawan mau tak mau harus membatalkan serangan untuk menyelamatkan diri lebih dulu.

Tak terduga pemuda she Bun itu agaknya sudah nekat.

Waktu menyerang dia menggunakan segenap tenaganya tanpa memikirkan segala akibatnya, maka tampaknya kedua pihak tentu akan sama-sama kena serangan masing-masing.

Si nona menjadi kuatir, teriaknya.

"Ayah! Tolong lekas!"

Pada saat itulah terdengar suara, 'cring-cring' dua kali, pada waktu ujung pedang masing-masing hampir mengenai sasarannya, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang tiba, secepat kilat kedua batang pedang kena diselentik sehingga sama-sama terlepas dari cekalan.

Sekarang yang amat terkejut adalah Tjin Goan-ko.

Betapa hebat tenaga dalam orang yang mampu menyelentik pedang mereka hingga terpental itu?

Tenaga sehebat ini Goan-ko yakin gurunya masih mampu melakukannya, tapi paman gurunya seperti Siong-tjiok Todjin dan lain-lain toh rasanya masih belum sanggup.

Jika pendatang yang belum jelas siapa ini bermaksud membuat celaka padanya, maka sukarlah dibayangkan akibatnya.

Tapi kalau melihat pedang si pemuda she Bun juga ikut diselentik mencelat, agaknya orang kosen ini hanya ingin memisah pertarungan mereka itu dan tiada bermaksud jahat padanya.

Waktu Goan-ko berpaling, kiranya orang itu adalah seorang laki-laki setengah umur berdandan sebagai Susing (kaum pelajar).

Tingkah-lakunya sangat lemah lembut Selagi Goan-ko melongo heran, Susing setengah umur itu sudah memberi salam padanya dan menyapa.

"Saudara cilik ini tentu terkejut. Maafkan anakku yang tidak tahu diri itu, aku ingin mintakan maaf baginya."

Dengan muka merah padam si pemuda she Bun tadi masih ingin membela diri.

"Ayah, dia.....dia....."

Namun Susing setengah tua itu sudah lantas mendampratnya.

"Diam! Bagaimana aku mengajarkan padamu, masakah kau boleh berbuat sekasar ini kepada tamu? Hayo, lekas minta maaf kepada tuan tamu."

Goan-ko menjadi rikuh sendiri, lekas ia memberi hormat kepada Susing setengah tua itu dan berkata.

"Harap tuan jangan menyalahkan putramu, sebab memang akulah yang salah."

"Ya, dia telah mengintip latihan kami, lantaran itulah aku bergebrak dengan dia,"

Timbrung si pemuda she Bun. Tapi Susing setengah umur itu menggeleng-geleng kepala dan mendengus.

"Hm, aneh. Orang adalah murid Bu-tong-pay yang ternama, hanya beberapa gerakan cakar kucing macammu ini masakah ada nilainya untuk diintip orang?"

Melihat orang itu mengomeli putranya, rasa dongkol Tjin Goan-ko lantas lenyap, bahkan timbul perasaan yang tidak enak. Cepat ia menyala.

"Ah, ilmu pedang putra tuan sungguh sangat hebat, Tjayhe sangat kagum. Memang salahku karena tanpa sengaja telah mengintip, bahkan menerobos masuk kemari, perkenankan Tjayhe mohon maaf kepada tuan rumah."

Mendadak Susing setengah umur itu bergelak tertawa. Goan-ko melengak karena tidak tahu apa sebabnya orang tertawa. Tiba-tiba Susing setengah umur itu menuding ke belakang dan berkata.

"Hong-toako inilah tuan rumah di sini, aku sendiri juga menjadi tamunya."

Waktu Goan-ko memandang ke arah yang ditunjuk, dilihatnya seorang laki-laki berumur 50-an tahun dan berjenggot panjang tampak sedang keluar dari pintu bulat sebelah sana Segera si nona tadi berlari memapak orang tua itu dan menyapa.

"Ayah, mengapa baru sekarang engkau datang. Ai, tadi, tadi hampir saja....."

"Aku sudah tahu, anak Siang,"

Kata orang she Hong itu.

"Sungguh beruntung kita kedatangan tamu dari golongan Butong-pay, benar-benar tamu yang susah di undang. Maaf bila aku terlambat menyambut."

Lekas Goan-ko memberi hormat kepada tuan rumah, lalu mohon tanya nama mereka.

Maka barulah diketahui bahwa tuan rumahnya she Hong bernama Hong Tju-tjiau, putrinya itu bernama Hong Biau-siang.

Susing setengah umur itu adalah Bun To-tjeng dan putranya bernama Bun Seng-tiong.

"Kedatangan Tjin-siauhiap sungguh sangat menggembirakan kami,"

Kata Hong Tju-tjiau kemudian.

"Melihat ilmu pedang Tjin-siauhiap yang hebat tadi, agaknya adalah ajaran sendiri Lui-iotjianpwe dari peguruan kalian?"

Baru sekarang Tjin Goan-ko sadar bahwa waktu dirinya bertarung dengan Bun Seng-Tiong tadi, sebenarnya mereka sudah mengintip di balik tembok sana.

Kaum angkatan tua mengintip latihan kaum muda bukanlah sesuatu yang tidak sopan.

Maka Goan-ko lantas menjawab dengan hormat.

"Ya, beliau adalah guruku."

"Aha, itulah lebih hebat lagi,"

Seru Hong Tju-tjiau dengan tertawa.

"Gurumu adalah bintang kejora di dunia persilatan yang sudah lama dikagumi. Syukur sekarang Tjin-siauhiap berkunjung kemari, harap sudi menerima suguhan secawan dua cawan arak gunung sekadar memenuhi kewajibanku sebagai tuan rumah."

"Banyak terima kasih,"

Sahut Goan-ko.

"Wanpwe tak berani menerimanya."

"Hari pun sudah gelap, pegunungan ini jau\ dari perkampungan, bila Tjin-siauhiap tidak menolak, biarlah aku menawarkan tempat bermalam bagimu,"

Kata Hong Tju-tjiau pula.

"Ah, jangan-jangan Tjin-siauhiap masih mendongkol lantaran kekurangajaran anakku itu,"

Timbrung Bun To-tjeng dengan tertawa.

"Tiong-dji, lekas meminta maaf kepada Tjinsiauhiap."

Habis berkata, diam-diam ia mengedipi putranya itu.

Bun Seng-tiong sebenarnya adalah pemuda yang sombong dan tidak nanti sudi minta maaf kepada orang lain, tapi sekarang ia seperti paham sesuatu, segera ia melangkah maju dan memberi hormat kepada Tjin Goan-ko, katanya.

"Harap Tjinheng sudi memaafkan kekasaranku tadi. Betapapun harap engkau sudi tinggal barang dua tiga hari di sini agar Siaute sempat minta belajar kepada Tjin-heng."

Memangnya sejak mula Tjin Goan-ko ada hasrat buat bersahabat dengan mereka, apalagi ia memang memerlukan suatu tempat untuk bermalam, jika terus menolak rasanya juga kurang baik, apalagi 'sandiwara' ayah dan anak she Bun itu membuatnya merasa serba salah, maka cepat ia menjawab.

"Bun-heng tidak menarik panjang dosaku yang telah menerobos kemari secara sembrono, hal ini saja sudah membuat Siaute berterima kasih, apalagi tuan rumah sudi pula menerima diriku untuk bermalam di sini, jika aku masih menolak tentu akan berarti tidak menghormati tuan rumah. Ilmu pedang Bun-heng sendiri sangat hebat, ucapan minta belajar tadi sungguh Siaute sekali-kali tidak berani menerimanya."

"Hahaha, bagus, bagus!"

Hong Tju-tjiau bergelak tertawa.

"Kalian boleh dikata tidak berkelahi tidak menjadi kenal. Tjin-Niauhiap memang harus tinggal beberapa hari di sini agar putriku yang bodoh itu pun sempat belajar lebih banyak darimu."

"Ah, kepandaian kedua Lotjianpwe berpuluh kali lebih tinggi dariku, masakah Wanpwe berani terima penilaian setinggi ini?"

Sahut Goan-ko dengan muka merah.

"Kali ini Wanpwe ada urusan harus menuju ke Tong-peng-koan, setelah mengganggu semalam, besok juga Wanpwe harus berangkat ke sana. Biarlah nunti pulangnya saja Wanpwe datang lagi untuk minta petunjuk kepada Lotjianpwe."

"Baik, jika demikian aku pun tidak enak untuk menahan engkau,"

Kata Tju-tjiau.

"Marilah silakan masuk, sudah waktunya bersantap, harap Tjin-siauhiap jangan sungkansungkan."

Begitulah mereka lantas menyambut Tjin Goan-ko ke ruangan dalam.

Ternyata di situ sudah tersedia meja perjamuan.

Agaknya sebelumnya Hong Tju-tjiau sudah menyiapkan untuk menjamu tamunya.

Melihat keramahan tuan rumah, Goan-ko menjadi sangsi, lapi kemudian ia menjawab kesangsian sendiri, ia pikir orang tentu bukan sungkan padanya, tapi adalah sebagai penghormatan kepada gurunya sebagai tokoh Bu-tong-pay yang umumnya memang disegani di dunia Kangouw.

Setelah menyanding meja perjamuan itu, Hong Tju-tjiau dan Bun To-tjeng melayani Tjin Goan-ko dengan sangat baik, berulang-ulang mereka mengajak minum.

Mestinya Goan-ko sanggup minum beberapa cawan arak, tapi tiba-tiba teringat kepada peringatan gurunya bahwa pergaulan di luaran harus berlaku hati-hati, lebih-lebih jangan suka banyak minum, terutama kalau bertemu orang yang belum dikenal asalusulnya Karena itu ia lantas menolak suguhan arak itu dengan alasan besok pagi-pagi masih harus meneruskan perjalanan jauh.

"Arak ini tidak keras,"

Demikian Hong Tju-tjiau membujuk dengan tertawa.

"Biar minum beberapa cawan juga takkan mabuk. Bolehlah kuminum dulu sebagai penghormatan, harap Tjin siauhiap sudi mengiringi nanti."

Habis berkata secawan arak yang dipegangnya itu lantas ditenggak habis.

Walaupun Tjin Goan-ko kurang luas pengetahuannya tentang peraturan Kangouw, tapi ia pun tahu arti minum lebih dulu pihak tuan rumah itu ialah untuk menunjukkan bahwa di dalam arak itu tiada sesuatu yang membahayakan dan dengan demikian untuk menghilangkan rasa curiga Tjin Goan-ko.

Apalagi Goan-ko juga cukup mengetahui kepandaian Bun To-tjeng tadi, kepandaian tuan rumah belum diketahui, namun dengan kepandaian Bun To-tjeng saja sudah cukup untuk membunuhnya, bila mereka bermaksud jahat kepadanya rasanya juga tidak perlu memasang perangkap dengan arak berbisa.

Karena pikiran demikian, Goan-ko anggap bila dirinya masih sangsi lagi, hal ini tentu akan membikin kurang senang pihak tuan rumah.

Maka setelah mengucapkan terima kasih, akhirnya ia pun minum habis secawan arak yang disuguhkan itu.

Rasa arak itu memang betul tiada sesuatu yang luar biasa, malahan terasa harum segar di dalam perut.

"Bagus, arak bagus!"

Demikian Goan-ko memuji.

"Eh, tadi Tjin-siauhiap bilang tidak sanggup minum arak, tak tahunya adalah seorang ahli arak malah,"

Kata Bun Totjeng dengan tertawa.

"Baiklah, biar aku pun menghormati Tjin-siauhiap dengan satu cawan."

Lantaran dirinya sudah mengadu cawan dengan Hong Tjutjiau, terpaksa Goan-ko juga minum secawan bersama-sama Bun To-tjeng. Menyusul Seng-tiong juga tampil untuk mengajak menghabiskan secawan, katanya.

"Ucapan Hong-lopek tadi memang betul, kalau tidak berkelahi kita takkan kenal. Biarlah secawan ini anggaplah untuk memberi selamat kepada persahabatan kita."

Diam-diam Goan-ko memperhitungkan, biar minum lagi beberapa cawan rasanya arak itu masih takkan memabukkannya, maka tanpa pikir ia pun minum lagi secawan bersama Bun Seng tiong.

Tiba-tiba Hong Biau-siang berkata.

"Arak apakah ini, ayah, sungguh wangi sekali. Biasanya jarang kulihat engkau minum arak ini? Biar aku pun ikut minum secawan."

"Hus, anak perempuan tidak boleh minum arak!"

Sahut Hong Tju-tjiau dengan menarik muka.

Selamanya Hong Biau-siang tidak pernah diomeli sang ayah, apalagi di depan para tamu, keruan mukanya menjadi merah dan tertegun.

Dengan tertawa Bun To-tjeng lantas berkata.

"Ah, Hongtoako juga terlalu keras terhadap gadisnya. Sudahlah, ayahmu melarang kau minum, boleh kau menyuguhkan secawan saja kepada Tjin-siauhiap."

"Tidak boleh minum ya sudah, memangnya kepingin?"

Demikian Hong Biau-siang menjadi ngambek, ia tidak jadi minum dan juga tidak menyuguh kepada Goan-ko. Goan-ko menjadi rikuh sendiri, katanya.

"Wanpwe tidak sanggup minum terlalu banyak, tiga cawan tadi sudah melebihi lakaranku. Suguhan nona Hong biarlah anggap sudah kuterima saja."

"Lantaran sejak kecil sudah ditinggalkan ibunya sehingga aku rada memanjakan dia, harap Tjin-siauhiap jangan menertawakannya,"

Kata Hong Tju-tjiau.

"Sudahlah, marilah kita bicara soal lain saja,"

Sela Bun Totjeng.

"Eh, Tjin-siauhiap tadi seperti bilang hendak menuju ke Long-peng-koan bukan?"

Goan-ko mengiakan.

"Kang-tayhiap, Kang Hay-thian juga tinggal di sana, kaharnya pada tanggal 15 bulan ini akan mengawinkan putrinya, apakah Tjin-siauhiap mengetahui hal ini?"

Tanya Bun To-tjeng.

"Wanpwe justru ditugaskan oleh guruku untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Kang-tayhiap,"

Jawab Goan-ko.

"Ya, aku memang sudah menduga demikian,"

Ujar Hong Tju-tjiau.

"Mengingat hubungan baik Bu-tong-pay kalian dengan Kang-tayhiap, jika Lui-taytjiangbun tidak dapat hadir tentu juga akan mengirim murid kesayangannya untuk mewakilinya."

"Ah, Hong-tjianpwe terlalu memuji saja,"

Sahut Goan-ko.

"Di dalam Bu-tong-pay kami, Tjayhe cuma seorang murid yang masih hijau, maka guruku sengaja menugaskan Tjayhe agar bisa menambah pengalaman."

"Ai, Tjin-siauhiap terlalu rendah hati, sungguh sedikit orang muda yang mau merendah hati seperti kau, terimalah satu cawan sebagai penghormatanku,"

Kata Hong Tju-tjiau.

"Terima kasih, Wanpwe sesungguhnya tidak sanggup minum lagi,"

Sahut Goan-ko.

Aneh juga, arak yang dirasakan tawar oleh Goan-ko dan rasanya takkan membikin mabuk itu, kini tiba-tiba kepalanya terasa rada berat, kakinya terasa lemas dan enteng, nyata ia telah tujuh atau delapan bagian terpengaruh minuman keras itu.

Dalam keadaan rada sinting itu, tiba-tiba teringat sesuatu oleh Goan-ko, tanyanya.

"Apakah kedua Lotjianpwe juga menerima undangan keluarga Kang."

Tji-lay-san hanya ratusan li jauhnya dari Tong-peng-koan, karena melihat kedua orang itu adalah tokoh-tokoh persilatan, maka Goan-ko mengira tentu pula kenalan Kang Hay-thian sehingga dia mengajukan pertanyaan demikian.

Namun Hong Tju-tjiau menjawab dengan tertawa.

"Aku tinggal menyepi di sini dan jarang bergaul dengan orang luar, meski nama Kang-tayhiap amat termashur, tapi aku tak pernah berkunjung padanya. Rasanya Kang-tayhiap juga takkan tahu orang gunung seperti diriku ini, darimana dia dapat mengirim undangan padaku?"

"Ya, lebih-lebih aku hanya seorang Bu-beng-siau-tjut (prajurit tak bernama, maksudnya keroco) saja, tidak nanti ada undangan keluarga Kang kepadaku,"

Sambung Bun Totjeng.

"Ah, kedua Lotjianpwe adalah orang kosen yang hidup bebas, sungguh harus dihormati. Marilah kusuguhi kedua Lotjianpwe secawan,"

Kata Goan-ko. Padahal tadi dia mengatakan tidak sanggup minum lagi, tapi sekarang ia justru mengajak minum pula. Melihat wajah Goan-ko merah membara, Biau-siang lantas berkata.

"Tampaknya Tjin-siauhiap telah mabuk benar-benar, seluriknya jangan minum lagi."

Hong Tju-tjiau melototi putrinya itu dan berkata.

"Anak Siung, mengapa kau tak tahu aturan, ayahmu hanya mengajak minum tamu, mana ada orang mencegah tamu yang ingin minum?"

"Hahaha, aku tidak mabuk, siapa bilang aku mabuk,"

Seru tioan-ko tertawa.

"Eh, nona Hong, marilah kita habiskan secawan!"

Sembari bicara ia terus berbangku dengan memegangi cawan araknya, tapi baru jalan dua langkah dengan sempoyongan, mendadak ia jatuh terkulai dan tak sadarkan diri lagi.

"Ayah, dia sudah mabuk begitu dan kau masih ajak dia minum,"

Ujar Biau-siang.

"Anak Siang, sekarang kau tentu mengetahui mengapa tadi dku melarang kau ikut minum,"

Seru Hong Tju-tjiau dengan tertawa.

"Arak ini bernama Djian-tjhit-tjui (mabuk seribu hari). Orang muda seperti kau, sekali pun mengulum obat penawar juga akan mabuk walau pun hanya minum secawan saja."

Menyusul Hong Tju-tjiau lantas berpaling kepada Bun Toi| cng, katanya.

"Namanya Djian-tjhit-tjui, tapi sebenarnya terlalu dibesarkan khasiatnya. Setelah minum tiga cawan tadi bocah ini sedikitnya juga takkan sadar selama tujuh hari tujuh malam. Dan cara bagaimana kita perlakukan dia, kuserahkan saja kepadamu."

"Bun-sioksiok, ayah, untuk apa kalian sengaja membuatnya mabuk?"

Tanya Hong Biau-siang bingung. Hong Tju-tjiau menjadi mendongkol, omelnya.

"Orang tua edang bicara, kau jangan ikut-ikutan omong!"

"Urusan ini toh tak dapat membohongi dia,"

Ujar Bun Totjeng tertawa.

"Malahan mungkin dia diperlukan untuk ikut meramaikan pekerjaan kita, maka tiada halangannya dia diberitahu."

"Baiklah, akan kukatakan padamu,"

Kata Tju-tjiau kepada putrinya.

"Bun-sioksiokmu mempunyai permusuhan turuntemurun dengan Kang Hay-thian, pada kesempatan Kang Haythian mengawinkan putrinya, Bun-sioksiokmu bermaksud membikin geger ke sana. Kebetulan bocah ini kesasar ke tempat kita ini, padanya terdapat kartu undangan Kang Haythian yang dapat kita pergunakan. Rasanya bocah ini terpaksa harus dibikin susah untuk sementara."

"Jika orang menyebut Tayhiap (pendekar besar) kepada Kang Hay-thian, rasanya dia tentu seorang baik,"

Kata Biausiang.

"Bun-siok-siok, cara bagaimana kau sampai bermusuhan dengan dia?"

Pertanyaan Hong Biau-siang ini membikin Bun To-tjeng menjadi serba susah.

Bun To-tjeng ini tak lain tak bukan adalah keponakan Bun Ting-bik, itu tokoh yang sangat disegani di pulau Bu-beng-to (pulau tak bernama di lautan timur).

Bun Ting-bik adalah seorang guru besar ilmu silat, ia sendiri tidak punya anak, maka keponakannya itu telah dipungut sebagai putranya sendiri dan diajarkan segenap ilmu silatnya.

Lebih 20 tahun yang lalu mereka berdua juga pernah menjelajahi daerah Tionggoan.

Dengan ilmu 'Sam-siang-sin kang"

Yang ampuh itu Bun Ting-bik pernah malang melintang di dunia Kang-ouw.

Tapi kemudian ia terbentur Kim Si-ih dan berulang-ulang kena dikalahkan.

Memangnya Bun Ting-bik bukan manusia baik-baik, setelah mengalami kekalahan, dia kena dipelet dan menjadi cakar alap-alap (kaki tangan) kerajaan Boan-djing.

Pada pertempuran terakhir di atas Bin-san, ilmu silatnya kena dipunahkan oleh Kim Si-ih, tapi tidak ditamatkan jiwanya.

Selama ikut berkelana di Tionggoan, Bun To-tjeng juga ikut menjadi cakar alap-alap kerajaan Boan, kalau pamannya mengikat permusuhan dengan Kim Sih-ih, maka ia sendiri pun mengikat permusuhan mendalam dengan murid Kim Si-ih, yaitu Kang Hay-thian.

Soalnya disebabkan dia ingin memperistrikan Auwyang Wan, putri Auwyang Tiong-ho, tatkala mana Auw-lyang Wan sendiri diam-diam jatuh hati kepada Kang Hay-thian dan tidak sudi kawin dengan Bun Totjeng, pada saat upacara pernikahan hendak dilangsungkan dia melarikan diri, kebetulan waktu itu Kang Hay-thian mendatangi rumah Auwyang Tiong-ho sehingga terjadi pertarungan dimana Bun To-tjeng terpukul hingga luka dalam.

Kejadian itu sudah lewat lebih dari 20 tahun, Kang Haythian dan Auwyang Wan sama-sama sudah kawin dengan orang lain.

Bun To-tjeng juga sudah pulang ke Bu-beng-to dan telah kawin serta punya anak.

Namun dendam lama itu selama ini belum pernah dilupakannya (Peristiwa ini ada dalam Geger Dunia Persilatan).

Setelah tekun berlatih selama 20 tahun di pulau terpencil itu, akhirnya Bun To-tjeng juga telah berhasil meyakinkan Sam-siang-sin-kang.

Meski hidup paman dan keponakan ini jauh berada di pulau sunyi itu, tapi terhadap keadaan dunia persilatan di Tionggoan, mereka pun sering mendapat berita dan diketahui bahwa suami istri Kim Si-ih sudah lama mengasingkan diri entah kemana.

Bahwa ketua Thian-sanpay, Teng Hiau-lan, ketua Siau-Iim-pay Thong-sian Siangdjin, tokoh Go-bi-pay Kim-kong Siangdjin, tokoh-tokoh kelas wahid angkatan tua itu berturut-turut wafat.

Setelah mengetahui kabar itu, timbul kembali ambisi Bun To-tjeng yang ingin merajai persilatan.

Musuh satu-satunya yang masih ada dianggapnya cuma Kang Hay-thian seorang saja, maka dengan mengandung maksud menuntut balas segera ia menjelajahi Tionggoan pula bersama putranya yang bernama Dun Seng-tiong itu.

Mengenai diri Hong Tju-tjiau, dia adalah satu di antara jago-jago bayangkara kerajaan Boan yang berhasil menyelamatkan diri dalam pertempuran besar di atas Bin-san pada 20 tahun yang lalu itu.

Ia pernah mendapat petunjuk ilmu silat dari Bun Ting-bik, maka boleh dikata telah angkat saudara dengan Bun To-tjeng.

Sesudah menyelamatkan diri, kuatir kalau orang-orang dari kalangan persilatan mencari perkara padanya, maka Hong Tjutjiau tidak berani menjual diri pula kepada pihak kerajaan, ia mengasingkan diri dan tinggal menyepi di pegunungan Tji-lai sini.

Kedatangan Bun To-tjeng kali ini lantas tinggat di rumahnya.

Hong Tju-tjiau pribadi sudah tentu tidak berani main gila kepada Kang Hay-thian, tapi dengan dukungan Bun To-tjeng dengan sendirinya nyalinya menjadi besar.

Begitulah maka kedua orang itu siang dan malam selalu memikirkan cara bagaimana bisa membalas sakit hati mereka.

Setelah berhasil meyakinkan Sam-siang-sin-kang, seperti juga pamannya di masa dahulu, ambisi Bun To-tjeng sangat besar dan menilai diri sendiri teramat tinggi.

Namun mau tak mau ia masih jeri juga terhadap ahli waris kesayangan Kim Siih, yaitu Kang Hay-thian, ia merasa belum yakin bisa mengalahkan Kang Hay-thian.

Sebab itulah biar pun siang dan malam mereka ingin lekas dapat menuntut balas, tapi sebegitu jauh mereka masih belum berani bertindak, mereka sedang menantikan kesempatan yang paling menguntungkan.

Dan kesempatan yang baik itu kini telah tiba.

Tiga hari lagi Kang Hay-thian akan mengawinkan putrinya, kebetulan utusan Bu-tong-pay yang akan hadir ke sana, yaitu Tjin Goan-ko pada saat yang diharapkan itu justru menerobos ke tempat kediaman Hong Tju-tjiau, maka Bun To-tjeng lantas memasang perangkap bersama Hong Tju-tjiau, Tjin Goan-ko terpancing untuk menceritakan maksud tujuan kedatangannya, lalu pemuda itu dibius dengan arak 'Djiantjhit-tjui'.

Bun To-tjeng, Hong Tju-tjiau dan Bun Seng-tiong bertiga sebelumnya sudah makan obat penawar sehingga mereka sendiri tidak sampai mabuk.

Namun terhadap tipu muslihat itu sedikitpun Hong Biausiang tidak tahu menahu, sebab itulah ia minta ikut minum arak dan membikin perjamuan rada runyam dan pertanyaannya juga membikin kikuk Bun To-tjeng.

Syukur Hong Tju-tjiau lantas menyela.

"Anak Siang, kau tidak perlu tanya urusan orang tua. Apa yang dilakukan ayah dan Mim-sioksiok tentu takkan salah."

Dasar watak Hong Biau-siang memang aleman dan sok nif^in tahu segala, maka dengan mulut menjengkit ia tetap ber-tnnyn.

"Anak justru ingin tahu, mengapa seorang Tayhiap yang irmtashur itu sampai dimusuhi oleh Bun-sioksiok?"

"Memang, Kang Hay-thian disebut sebagai Tayhiap, tapi osungguhnya cuma nama kosong saja untuk mengapusi orang yang tidak tahu, padahal sesungguhnya....."

Kata Bun To-tjeng dengan tersenyum.

"Sesungguhnya apa?"

Tanya Biau-siang. Bun To-tjeng melirik sekejap kepada Hong Tju-tjiau, lalu menjawab.

"Boleh juga kukatakan padamu. Sesungguhnya Kang Hay-thian adalah pemberontak yang melawan pihak kerajaan."

"Melawan kerajaan? Apa sih jeleknya jika begitu?"

Ujar Biau-siang.

"Kemarin dulu aku mendengar pembicaraan beberapa orang pemburu di atas gunung, katanya pembesar kerajaan mla-rata adalah orang jahat semua, suka memeras rakyat, memungut pajak liar, merampas harta benda rakyat kecil dan macam-macam perbuatan tercela sehingga mereka terpaksa sembunyi di pegunungan dan hidup sebagai pemburu."

Kiranya Hong Biau-siang ini dilahirkan sesudah Hong Tjutjiau mengasingkan diri di Tji-lay-san.

Lantaran takut dicari oleh kaum ksatria, maka Hong Tju-tjiau tidak pernah menceritakan asal-usulnya sendiri kepada putrinya itu.

Tahun ini Hong Biau-siang baru berumur 19 tahun, selamanya tidak pernah keluar jauh dari rumah.

Cuma sifatnya memang lincah dan suka berkeliaran di lereng gunung.

Walaupun Tji-lay-san sangat sedikit penduduknya, tapi ada juga beberapa keluarga pemburu, di bawah gunung ada lebih banyak keluarga petani, dari mereka Hong Biau-siang mendengar cerita tentang Kang Hay-thian serta perbuatan kaum pembesar korup yang menindas rakyat.

Cuma ia tidak tahu ayahnya sendiri sebenarnya juga jago bayangkara kerajaan.

Maka Bun To-tjeng berkata pula dengan tertawa.

"Nona yang baik, kau jangan percaya kepada cerita-cerita rakyat yang bodoh itu. Memang ada juga pembesar negeri yang jahat, tapi banyak pula yang baik. Bukankah kau pernah bersekolah dan membaca bahwa rakyat harus setia kepada junjungannya, jadi kerajaan yang berkuasa harus dipatuhi, mana boleh dilawan malah?"

Memangnya Hong Biau-siang masih hijau, ia menjadi bingung mendengar ucapan Bun To-tjeng itu. Lalu Bun To-tjeng berkata pula.

"Hong-toako, agaknya kau belum memberitahukan siapa dirimu kepada Titii (keponakan perempuan). Jika usaha kita sekali ini berhasil, maka tidak perlu lagi kau merahasiakannya kepada putrimu ini."

Hong Tju-tjiau mengangguk. Tapi Hong Biau-siang lantas berseru.

"Ayah, apa maksud kalian ini? Selamanya ayah bilang dirinya adalah orang persilatan, selain ini apakah ada kedudukan lain?"

"Anak bodoh, sabar dulu, tiga hari lagi ayah tentu akan memberitahukan padamu dengan jelas,"

Kata Tju-tjiau dengan tertawa.

"Mulai sekarang kau jangan lagi mengganggu pembicaraan orang tua. Bun-hiante, marilah kita bicara urusan pokok saja. Cara bagaimana kita harus menindak bocah ini,"

Katanya sambil menuding Tjin Goan-ko yang menggeletak tak sadar itu.

"Bocah ini akan tetap merupakan bibit bencana bila dibiarkan hidup terus, lebih baik sekali potong mampuskan dia saja,"

Ujar Bun Seng-tiong.

"Ya, dibunuh saja juga baik,"

Sokong Bun To-tjeng. Segera Hong Biau-siang menimbrung lagi.

"Baru saja kalian memperlakukan dia sebagai tamu terhormat, dia pun tidak berdosa apa-apa, mengapa kalian ingin membunuhnya?"

"Kau ini tahu apa? Sudah kukatakan jangan mengganggu urusan orang tua, kembali kau mengacau lagi,"

Semprot Hong Tju-tjiau.

"Tapi, Bun-hiante, bocah ini adalah murid Bu-tongpay?"

Hong Tju-tjiau sendiri memiliki harta benda cukup besar, kuatir akibatnya akan merugikan dia, sedangkan Bun To-tjeng dengan enak saja dapat kabur.

Bun To-tjeng menjadi kurang senang, tapi ia masih memerlukan kerjasama dari Hong Tju-tjiau, maka terpaksa ia berlagak tenang, katanya.

"Baiklah, jiwanya sementara ini boleh ditunda, sesudah usaha kita berhasil barulah kita rundingkan lagi, toh dia tak mungkin bisa kabur."

"Memangnya, sesudah minum 'Djian-tjhit-tjui sedikitnya dia akan mabuk tujuh hari tujuh malam,"

Ujar Hong Tju-tjiau dengan perasaan lega.

"Anak Tiong, seretlah bocah ini ke dalam kamar, kerjakan apa yang kukatakan,"

Kata Bun To-tjeng kemudian. Bun Seng-tiong mengiakan, segera ia mengangkat tubuh Tjin Goan-ko dan menyeretnya ke kamarnya sendiri.

"Ayah, kepalaku terasa pusing, aku akan pergi tidur saja,"

Kata Biau-siang.

"Baiklah, boleh kau pergi tidur saja daripada mengganggu di sini,"

Sahut Hong Tju-tjiau. Sesudah Bun Seng-tiong dan Hong Biau-siang pergi, maka tertawalah Bun To-tjeng bersama Hong Tju-tjiau. Kata Bun To-tjeng.

"Sungguh tidak nyana pada saat kita pusing memikirkan pelaksanaan rencana kita, tahu-tahu bocah ini menerobos kemari. Ini benar-benar kesempatan bagus yang dihadiahkan Thian kepada kita."

"Cara bagaimana kita harus bertindak, coba Bun-hiante suka menerangkan,"

Kata Hong Tju-tjiau.

"Maksudku menyuruh anak Tiong menyaru sebagai bocah ini dan kita ikut dia menyelundup ke tempat Kang Hay-thian, kemudian....."

"Nanti dulu,"

Sela Tju-tjiau.

"Caramu ada kelemahannya, padahal kita hanya punya sehelai kartu undangan."

"Kartu undangan ini ditujukan kepada ketua Bu-tong-pay, tapi tidak menentukan bahwa kartu undangan ini hanya berlaku untuk seorang saja. Padahal anak murid Bu-tong sangat banyak, kita kan dapat memalsu sebagai orang Butong-pay, sebagai pengiring bocah she Tjin ini. Kang Hay-thian terkenal suka bergaul, kalau kita datang menjadi tamunya masakah dia akan merintangi kita? Sudah tentu, jika orang yang tidak dikenal asal-usulnya memang sulit untuk menyusup ke sana. Tapi sekarang kita hadir bersama murid Bu-tong-pay, tentu urusan akan berbeda."

"Tapi, tapi kalau di antara tetamu itu ada yang kenal bocah she Tjin itu, lalu bagaimana?"

Tanya Tju-tjiau.

"Ini sudah kupikirkan,"

Jawab To-tjeng.

"Pertama, bocah she Tjin ini baru pertama kali ini mengembara keluar, tokohtokoh Kangouw yang terkemuka tentu masih jarang yang kenal dia. Maka aku pun yakin di antara tamu-tamu Kang Hai thian tentu tiada yang kenal dia. Kedua, dari pamanku aku mendapatkan Di-yong-tan (obat rias muka), perawakan anak Tiong hampir serupa dengan bocah she Tjin ini, sesudah menyamar, kecuali gurunya atau orang-orang yang berdekatan dengan dia setiap hari, rasanya juga sukar untuk membedakannya Apalagi tujuan kita harus menyelundup ke sana dan tidak perlu tinggal terlalu lama."

"Namun aku masih rada kuatir sebab dahulu pernah terjadi peristiwa yang serupa, maka besar kemungkinan Kang Haythian telah berjaga-jaga sebelumnya"

Ujar Tju-tjiau.

"Apa kau maksudkan kejadian putra Yap Tu-hu yang memalsukan keponakan Kang Hay-thian dahulu itu?"

Tanya Bun To-tjeng.

Meskipun dia tinggal terpencil di lautan, tapi setiba di Tionggoan ia sudah menyelidiki segala seluk beluk keluarga Kang.

Sebab itulah ia pun mendapat tahu tentang kejadian Yap Leng-hong yang dipalsukan itu.

"Ya"

Sahut Hong Tju-tjiau.

"Lantaran sudah mengalami kejadian itu, maka dia tentu penuh waspada Sedangkan istri Kang Hay-thian juga seorang wanita yang cerdik dan lihai."

"Kau masih belum paham urusan seluruhnya"

Ujar Bun Totjeng.

"Tampaknya kedua hal ini memang serupa, tapi sebenarnya berbeda dahulu Yap Leng-hong palsu pernah tinggal beberapa tahun lamanya di rumah Kang Hay-thian, sedangkan kita cuma perlu beberapa jam saja menyusup ke rumahnya Kedua Tjin Goan-ko ini adalah anak muda angkatan baru, kita dapat memakai waktu yang tepat dan memasuki rumah Kang May-thian beberapa saat sebelum upacara perkawinan dilangsungkan. Untuk menyambut seorang tamu angkatan muda tentu tidak perlu dilakukan sendiri oleh tuan rumah dan cukup oleh petugas penyambut tamu saja rasanya Kang Hay-thian juga takkan mengundang anak muda ke tempat duduk yang utama, ini berarti Kang Hay-thian dan istrinya tiada sempat buat bertemu muka dengan Tjin Goan-ko palsu. Jelas keadaan demikian sangat berbeda dengan Yap Leng-hong palsu dahulu."

"Lalu bagaimana tindakan kita sesudah menyusup ke sana?"

Tanya Tju-tjiau pula.

"Itu adalah urusanku sendiri,"

Kata Bun To-tjeng.

"Mungkin aku belum mampu memenangkan Kang Hay-thian, tapi untuk melayani anak muridnya kuyakin sudah jauh dari cukup. Aku dapat menggunakan cara kilat sekaligus membekuk putri dan menantunya untuk dipakai sebagai sandera kau sendiri boleh menjaga anak Tiong saja, dalam keadaan kacau kalian lantas kabur terlebih dulu."

Mendengar dirinya tidak perlu ikut bertempur, diam-diam Hong Tju-tjiau merasa lega ia pikir kalau urusan gagal dan Bun lo-tjeng dijatuhkan Kang Hay-thian, dalam keaadan kacau-balau dirinya masih ada kesempatan melarikan diri.

Jika usaha membekuk sandera berhasil, maka resiko yang ditempuh inipun ada harganya untuk dilakukan.

"Dan sudah tentu, setelah usaha kita berhasil, tenaga kalian ayah dan anak masih sangat diperlukan,"

Kata Bun Totjeng pula.

"Setahuku, Kang Hay-thian teramat benci oleh pihak kerajaan, soalnya dia belum secara terang-terangan memberontak, ilmu silatnya juga teramat tinggi, maka seketika pihak kerajaan belum bisa mengapa-apakan dia."

"Ya, sudah tentu pihak kerajaan ingin sekali bisa membunuh Kang Hay-thian, soalnya ilmu silat Kang Hay-thian memang luar biasa sehingga tiada orang yang berani mengutik-utik dia, sebab itu pula Kang Hay-thian berani mengadakan pesta besar-besaran. Tapi, betapapun tinggi ilmu silat Kang Hay-thian sekarang, dengan datangnya Bun-hiante sekali ini tentu gelar jago nomor satu tidak akan menjadi miliknya lagi."

Bun To-tjeng tertawa senang, katanya.

"Ah, Hong-toako terlalu menilai tinggi diriku. Untuk bicara terus terang, sudah tentu aku tak gentar kepada Kang Hay-thian, tapi kalau satu lawan satu, mungkin kalah atau menang juga masih menjadi teka-teki. Cuma saja aku masih berani mengambil resiko menyusup ke rumahnya."

"Ya, sudah tentu. Dengan kepandaian Bun-hiante, usahv mu sekali ini pasti akan berhasil dengan gilang gemilang,"

Hong Tju-tjiau mengumpak pula.

"Setelah putri dan menantunya tertawan sebagai sandera, kukira Kang Hay-thian akan menjadi jeri dan tidak berani main gila lagi kepada kerajaan,"

Kata To-tjeng pula.

"Dan sesudah berhasil usaha kita menawan musuh, selanjurnya masih diperlukan bantuanmu. Kau pernah menjadi anggota bayangkara selama sepuluh tahun, tentu kau masih punya teman sejawat di kotaraja. Maka hasil usaha kita ini perlu bantuanmu untuk dilaporkan ke sana."

Sudah tentu Hong Tju-tjiau paham maksud Bun To-tjeng yang kemaruk kedudukan dan kepingin pangkat itu. Jawabnya dengan tertawa.

"Untuk ini tidak perlu Bun-laute kemukakan lagi. Sudah tentu kita takkan menyerahkan putri Kang Haythian secara percuma, pasti akan membicarakan syarat yang seimbang bagimu. Komandan-komandan Gi-lim-kun mungkin seketika tak bisa diganti, tapi untuk menjadi wakil komandan kukira masih tidak sukar dicapai."

"Hahaha!"

Bun To-tjeng tertawa senang.

"Jika kelak aku menduduki tempat yang baik, tentu juga aku takkan lupa padamu. Kita ini kan ada rejeki dirasakan bersama, ada rugi dipikul berdua."

"Aku akan merasa puas bilamana aku dapat kembali kepada jabatanku yang dulu,"

Ujar Tju-tjiau tertawa.

"Setelah kekalahan di Bin-san dahulu, aku tidak berani pulang ke kotaraja dan menyingkir ke pegunungan sunyi ini. Selama 20-an tahun mi aku tak pernah meninggalkan pegunungan ini, hidupku benar-benar sangat mengesalkan."

"Dan sekarang adalah kesempatan bagus yang harus kita kerjakan sebaik-baiknya,"

Kata To-tjeng.

"Eh, ada sesuatu masih diperlukan bantuan Titli, dari kata-katanya tadi aku menjadi ragu-ragu, entah dia dapat melakukannya dengan baik atau tidak."

"Urusan apa?"

Tanya Tju-tjiau.

"Jika kita bertiga berangkat ke tempat Kang Hay-thian itu, maka bocah she Tjin itu harus dijaga oleh Biau-siang Titli. Tugas ini tidaklah sukar, aku hanya kuatir dia mempunyai jalan berpikirnya sendiri dan jangan-jangan dia malah akan membebaskan bocah itu, jika demikian tentu urusan kita bisa runyam."

"Aku akan memperingatkan dia dengan sungguh-sungguh, kau jangan kuatir, betapapun terhadap kata-kataku dia masih tetap patuh,"

Ujar Tju-tjiau.

Begitulah pada saat itu juga Hong Biau-siang ternyata tidak kembali ke kamarnya seperti katanya tadi, tapi diam-diam dia pergi mengintai apa yang sedang dilakukan Bun Seng-tiong.

Entah mengapa, selama berteman beberapa bulan dengan Bun Seng-tiong, terhadap ilmu silat pemuda itu memang Biausiang sangat kagum, tapi hubungan di antara kedua mudamudi itu seakan-akan terhalang oleh sesuatu yang sukar disebutkan.

Kemudian waktu muncul Tjin Goan-ko, setelah dibandingkan, samar-samar Biau-siang merasa pada diri Bun Seng-tiong itu ngaknya tidak terdapat jiwa yang besar, tidak punya kepribadian yang luhur.

Sungguh aneh juga, meski Tjin Goan-ko baru pertama kali bertemu dengan dia, tapi Biau-siang sudah menaruh simpati padanya.

Paling tidak ia anggap tingkah laku Tjin Goan-ko itu cukup untuk disebut sebagai seorang 'pendekar' yang baik.

Kini Biau-siang hendak pergi mengintai Bun Seng-tiong, tapi yang benar ia merasa kuatir kalau-kalau Seng-tiong mencelakai Tjin Goan-ko.

Ia merasa simpatik kepada Tjin Goan-ko yang tanpa berdosa telah dibikin susah, maka had kecilnya merasa tidak tentram walau pun dia sendiri tidak ikut di dalam komplotan keji ayahnya itu.

Saat itu Bun Seng-tiong sudah menanggalkan pakaian Tjin Goan-ko dan ditukar dengan pakaiannya sendiri.

Teringat pada pertandingan di taman siang tadi, diam-diam rasa dengkinya timbul pula, terutama bila ingat pujian Hong Biausiang yang diberikan kepada ilmu pedang Tjin Goan-ko itu.

Tiba-tiba ia melolos pedang dan diacungkan ke tenggorokan Tjin Goan-ko, pikirnya.

"Sayang Hong-pepek tidak mau terima usulku, kalau tidak, alangkah baiknya jika sekali tusuk kumampuskan bocah ini. Hm, sekarang dia jatuh di bawah cengkeramanku, meski tak kubunuh, asalkan Pi-peh-kut (tulang pundak) bocah ini kubisui patah, tentu segala kepandaian silatnya akan punah. Permusuhan dengan Butong-pay toh sudah terang terjadi, betapapun beras sudah menjadi nasi, rasanya Hong-pepek juga tak dapat menyalahkan aku."

Sembari mengancam tenggorokan Tjin Goan-ko dengan ujung pedangnya, tapi Seng-tiong masih ragu-ragu dan seketika masih belum berani turun tangan.

Ketika mendadak ia menjadi nekat dan akan memotong tulang pundak Tjin Goan-ko tanpa peduli akibatnya, sekonyong-konyong terdengar jeritan kaget di belakangnya.

"He, Seng-tiong, apa yang hendak kau lakukan?"

Kiranya Hong Biau-siang datang tepat pada waktunya dan sempat mencegah perbuatan keji Bun Seng-tiong. Waktu Seng-tiong menoleh, terpaksa ia menyapa dengan tertawa kikuk.

"O, kiranya kau. Kau membikin kaget saja padaku."

Menolehnya Bun Seng-tiong membuat Hong Biau-siang terkejut juga.

Kiranya selain Bun Seng-tiong sudah menukar pakaian Tjin Goan-ko, bahkan wajahnya juga sudah dirias hampir mirip dengan murid Bu-tong-pay itu, sekilas hampir saja Biau-siang mengira yang dihadapinya adalah Tjin Goan-ko sendiri.

Maka dengan mengomel Biau-siang menjawab.

"Kaulah yang membikin kaget padaku. Mengapa kau hendak membunuh dia dan untuk apalagi kau menyamar sebagai dia?"

"Mana bisa aku hendak membunuh dia? Soalnya kau tadi telah memuji dia, maka sekarang aku sengaja menakut-nakuti kau saja,"

Sahut Seng-tiong dengan tertawa.

"Eh, apakah kau pe-nujui bocah ini? Jika betul biarlah aku membunuhnya sungguh-sungguh."

"Ngaco-belo, siapa yang kupenujui? Siapa pun tiada yang kupenujui?"

Sahut Biau-siang uring-uringan.

"Kau bilang hendak menakut-nakuti aku dan pura-pura hendak membunuhnya. Tapi mengapa kau menyamar seperti dia pula? Apa maksudmu?"

"Coba katakan dulu, mirip tidak penyamaranku ini?"

Tanya Seng-tiong tertawa.

"Selain suara, hakikatnya kau seperti saudara kembarnya. Apakah kau memang hendak memalsukan dia? Untuk apa?"

Tiba-tiba Bun Seng-tiong menyengir dan berlagak memberi hormat kepada Hong Biau-siang, lalu berkata dengan suara yang dibuat-buat.

"Nona Hong, terimalah hormatku ini?"

Nyata ia menirukan lagak lagu Tjin Goan-ko.

"Cis,"

Omel Biau-siang.

"Bagaimana, kau belum lagi menjawab pertanyaanku tadi!"

"Ya, memang betul, aku memang sengaja menyaru sebagai dia,"

Jawab Seng-tiong kemudian.

"Bila kau ingin tahu lebih jelas boleh kau tanyakan kepada ayahmu sendiri."

"Apakah ayah yang suruh kau berbuat demikian? Aku tidak percaya."

"Kau tidak percaya boleh kau tanyakan pada ayahmu sekarang juga. Baiklah, mari kita ke depan sana, agar kau tidak selalu kualir aku mencelakai kau punya si dia."

Biau-siang menjadi serba salah, pikirnya.

"Perbuatanmu yang tidak pantas ini masakah terhitung seorang ksatria? Mengapa ayah menyuruh dia melakukan hal yang demikian secara sembunyi-sembunyi?"

Setelah berpikir sejenak, lalu Hong Biau-siang menjawab.

"Sudahlah, kepalaku rada pusing, aku akan pulang ke kamarku saja. Aku takkan percaya kepada omonganmu."

Bun Seng-tiong yakin si nona takkan berani sembrono, maka mereka lantas keluar kamar, pintu kamar digembok lebih dulu. Lalu Seng-tiong berkata.

"Baiklah silakan kau mengaso saja. Sebentar nanti kita bicara lagi."

Waktu melihat penyamaran Bun Seng-tiong, Tju-tjiau merasa puas dan memuji akan kepandaiannya itu.

Setelah memberi petunjuk seperlunya kepada sang putra tentang rencana mereka, lalu Bun To-tjeng berkata.

"Hendaklah kau berlatih dengan baik, besok juga kita lantas berangkat ke sana"

Ketika mengetahui Hong Biau-siang akan ditugaskan menjaga Tjin Goan-ko, diam-diam Bun Seng-tiong merasa tidak enak.

Rupanya Hong Tju-tjiau dapat melihat sikap Bun Seng-tiong itu, katanya "Apakah kau merasa kuatir meninggalkan mereka di sini?"

Kiranya Hong Tju-tjiau sudah ada maksud hendak berbesanan dengan Bun To-tjeng.

Sebenarnya ia sangat senang melihat pergaulan Seng-tiong dan Biau-siang kian rapat dan menyangka mereka sudah cocok satu sama lain.

Sebab itulah ia menyangka Seng-tiong merasa berat meninggalkan Biausiang di rumah.

Tentu saja Seng-tiong tidak dapat mengemukakan isi hatinya, terpaksa ia menjawab.

"Bukannya aku merasa kuatir. Soalnya kulihat adik Siang seperti belum paham duduknya perkara dan menaruh simpati kepada bocah she Tjin itu. Aku berpendapat ada lebih baik Hong-lopek menjelaskan kepada adik Siang bahwa urusan kita ini menyangkut penuntutan sakit hati Hong-lopek sendiri, dengan demikian adik Siang tentu akan membantu dengan sepenuh tenaga dan pikiran."

Setelah berpikir sejenak, kemudian Tju-tjiau berkata "Baiklah, sekarang juga akan kukatakan padanya."

Kamar Hong Biau-siang terletak di bagian paling belakang, untuk ke sana harus melalui kamar Bun Seng-tiong dima-na disekap Tjin Goan-ko yang tak sadarkan diri itu.

Ketika lewat kamar Seng-tiong, tiba-tiba timbul rasa curiga Bun To-tjeng.

Menurut keyakinannya, orang yang mabuk tentu bernapas lebih berat daripada orang biasa.

Dengan ketajaman pnnca indra Bun To-tjeng, dari luar kamar seharusnya ia dapat mendengar suara napas Tjin Goan-ko itu.

Tapi sekarang tampaknya di dalam kamar itu sunyi senyap tiada sesuatu suara pun.

"Entah, bagaimana keadaan bocah itu, marilah kita coba melongoknya"

Kata Bun To-tjeng.

"Kukira dia masih pulas seperti babi mati,"

Ujar Tju-tjiau dengan tertawa.

Tak terduga begitu pintu kamar dibuka, keadaan di dalam kamar membuat mereka menjadi melongo kesima.

Ternyata daun jendela di sebelah sana tampak terpentang, bau harum arak Djian-tjhit-tjui itu sayup-sayup masih tercium, lapi kamar itu sudah kosong melompong, Tjin Goan-ko sudah tak nampak batang-hidungnya.

Cepat Bun To-tjeng melompat keluar, dari atas gununggunungan di tengah taman dipandangnya sekitarnya tapi suasana malam sunyi kelam tiada bayangan seorang pun.

Setelah masuk kembali, dengan suara petahan To-tjeng membisiki Hong Tju-m'au.

"Cobalah tanya saja kepada putrimu."

Kuatir dan gusar pula Hong Tju-tjiau, katanya "Jika budak itu yang melepaskan bocah she Tjin, sekali hantam tentu akan kubinasakan dia."

"Hong-toako jangan marah dulu, paling betul ditanya dahulu,"

Ujar To-tjeng. Segera Hong Tju-tjiau mendatangi kamar Hong Biau-siang dan menggedor pintu, serunya.

"Anak Siang, sedang apa kau di dalam kamar? Lekas keluar!"

"Kepalaku terasa pening dan ingin tidur,"

Sahut Biau-siang dari dalam.

"Keluar!"

Bentak Tju-tjiau.

Maka terdengar suara kresak-kresek Hong Biau-siang turun dari tempat tidur serta mendekati pintu, sejenak kemudian pintu dibuka, mata si nona tampak masih keriyap-keriyap sepat, tanyanya.

"Ada apa ayah? Tengah malam buta adakah sesuatu yang harus dirundingkan dengan aku?"

Ketika Bun to-tjeng bertiga mengamat-amati keadaan kamar, tertampak di dalam kamar itu tiada sesuatu tanda ada orang lain kecuali Hong Biau-siang sendiri.

Dengan suara bengis Hong Tju-tjiau lantas bertanya.

"Dimanakah bocah she Tjin itu?"

Biau-siang melengak, tapi mendadak air mukanya berubah, katanya dengan suara penasaran.

"Apa artinya ini, ayah? Bukankah bocah itu telah kalian cekoki hingga mabuk? Hendak mencari dia kan mesti pergi ke kamar Bun-toako?"

"Di hadapanku kau jangan berlagak pilon,"

Semprot Tjutjiau.

"Bocah she Tjin itu telah kau lepaskan bukan?"

Sungguh penasaran dan mendongkol Hong Biau-siang, tapi terasa juga rasa senang yang tak terkatakan ketika mendengar bahwa Tjin Goan-ko telah kabur. Segera ia menjawab.

"Ayah, mengapa lupa bahwa bocah she Tjin itu dalam keadaan mabuk, cara bagaimana aku sanggup membawa dia keluar dan menyembunyikan dia? O, ayah, mengapa ayah menuduh putrimu sendiri tanpa alasan?"

Lalu menangislah dia dengan sedih.

Diam-diam Tju-tjiau dapat menerima alasan putrinya itu, rasanya dengan kepandaian Biau-siang yang terbatas itu takkan mampu melepaskan Tjin Goan-ko yang dalam keadaan tak bisa berkutik itu.

Maka ia lantas berkata.

"Baiklah, anggaplah aku ang salah paham padamu, kau jangan menangis lagi."

Bun Seng-tiong sengaja hendak mencari muka, ia pun mendekati Biau-siang dan berkata.

"Ya, karena salahku yang tak becus menjaga tawanan sehingga membikin adik Siang yang menderita penasaran."

Biau-siang masih terguguk-guguk dan tak menggubris kepada pemuda itu.

"Baiklah, mari kita coba memeriksa lagi lebih teliti,"

Ajak Tju-tjiau.

Lalu mereka bertiga pun meninggalkan kamar Biausiang.

Lebih dulu Tju-tjiau mendatangi kamar obatnya untuk memeriksa obat pemunah Djian-tjhit-tjui, tapi obat itu ternyata tersimpan dengan baik tanpa kurang sedikitpun.

Diam-diam Tju-tjiau merasa lega, katanya.

"Memang aku kira anak Siang juga takkan berani mencuri obatku. Sekarang jelas obat pemunahnya tiada kurang sedikitpun, sedikitnya bocah itu akan mabuk tanpa sadar selama tujuh hari tujuh malam. Meski kita tak membunuhnya, tapi keadaan sama seperti terbunuh, sementara itu kita sudah sempat pergi pulang dari Tong-peng-koan."

Sebaliknya Bun To-tjeng menjadi tidak tentram malah setelah terbukti hilangnya Tjin Goan-ko itu bukan dilepaskan oleh Hong Biau-siang. Katanya.

"Aneh, dalam keadaan sadar bocah she Tjin itu pasti tidak bisa kabur dengan sendirinya. Dan inilah yang sedang kukuatirkan."

Maklum, bila betul ada seorang yang mampu melarikan Tjin Goan-ko, maka kepandaian orang itu pasti tergolong kelas wahid, kalau tidak, mustail Bun To-tjeng tidak mendengar sesuatu suara apa pun.

"Dengan menggondol satu orang, tentu mereka belum terlalu jauh dari sini,"

Ujar Bun Seng-tiong.

Segera mereka bertiga mengejar keluar dan mencari ubekubekan sampai belasan li jauhnya, namun tiada bayangan seorang pun yang diketemukan.

Padahal luas Tji-lay-san itu ada ratusan li, sudah tentu mereka tidak dapat mencari ke setiap pelosok.

Akhirnya Bun To-tjeng berkata.

"Hong-toako, agaknya kepandaian orang itu tidak di bawah kita, besar kemungkinan saat ini dia sudah jauh meninggalkan Tji-lay-san."

"Lalu, apakah kita tetap akan berangkat ke Tong-pengkoan atau tidak?"

Tanya Tju-tjiau.

"Kesempatan baik sukar dicari, kita tetap melanjutkan rencana semula,"

Kata Bun To-tjeng. Tapi menghilangnya Tjin Goan-ko benar-benar membikin hati Hong Tju-tjiau tidak enak sehingga dari wajahnya kelihatan perasaannya yang ragu-ragu. Bun To-tjeng lantas menghiburnya.

"Bukankah kau mengatakan bocah itu akan mabuk selama tujuh hari tujuh malam tanpa sadar. Sekalipun ada orang membawa lari dia juga takkan dapat mengorek sesuatu keterangan dari bocah she Tjin itu. Dan dengan sendiri tiada yang tahu rencana yang telah kita atur."

"Tapi, tapi kalau orang Kang Hay-thian yang membawa lari dia, lantas bagaimana?"

Ujar Tju-tjiau.

"Masakah Kang Hay-thian bisa meramal, darimana dia mengetahui bocah she Tjin itu kebetulan kesasar ke tempatmu ini?"

Kata Bun To-tjeng dengan tertawa.

"Habis siapakah orangnya menurut persangkaanmu?"

"Darimana aku tahu? Cuma, sekalipun orang itu juga tamu yang akan pergi ke tempat Kang Hay-thian juga kita tak perlu kualir. Pertama dia toh tidak mengetahui akan rencana kita. Kedua, setelah mengetahui bocah she Tjin itu bukan mabuk biasa, tentu dia akan mengira keracunan dan pasti akan buruburu mencari tabib yang berdekatan di sini dan dia takkan sempat memburu ke Tong-peng-koan lagi. Sesungguhnya, jika kita ingin mengerjakan urusan besar betapapun kita harus berani mengambil resiko. Apakah kesempatan yang bagus ini akan kau sia-siakan begitu saja, Hong-toako?"

Sebenarnya Hong Tju-tjiau masih takut-takut, tapi rangsangan pangkat dan hadiah besar telah membikin gelap pikirannya.

Seketika ia menjadi tabah setelah digosok-gosok oleh Bun To-tjeng.

Katanya kemudian.

"Baiklah, seperti orang judi, memang kita harus berani bertaruh satu kali. Besok juga kita lantas berangkat. Cuma sekarang anak Siang sudah tiada tugas lagi, apakah dia perlu dibawa serta?"

"Kukira dia lebih baik disuruh menjaga rumah saja, sekali pun ada orang kosen yang menggerayangi rumahmu juga rasanya takkan mempersulit seorang gadis yang masih hijau,"

Kata To-tjeng.

Terpaksa Hong Tju-tjiau setuju.

Setiba di rumah ia sudah menduga putrinya tentu akan ribut lagi jika Biau-Siang tidak diperbolehkan ikut Tak tersangka nona itu ternyata dingindingin saja ketika diberitahu persoalannya, katanya.

"Memangnya aku lebih suka tinggal di rumah saja daripada ikut memalsukan tamu orang."

Sikap Biau-siang yang lunak ini berbalik menimbulkan rasa curiga Hong Tju-tjiau. Pikirnya.

"Bocah she Tjin itu telah menghilang secara aneh, jangan-jangan Biau-siang mengetahui persoalannya tapi sengaja tutup mulut?"

Akan tetapi karena tiada sesuatu bukti, pula usul membiarkannya menjaga rumah juga datang dari dia sendiri, terpaksa ia tidak dapat mengubah maksudnya lagi.

Besoknya mereka lantas berangkat ke Tong-peng-koan dengan rencana hendak menculik putri dan menantu Kang Hay-thian.

Sesungguhnya memang bukan Hong Biau-siang yang melepaskan Tjin Goan-ko, bahkan siapa yang menolong Goanko juga dia tidak tahu menahu.

Cuma dia lebih suka tinggal di rumah memang setengahnya dia berharap akan sempat bertemu pula dengan Goan-ko, di samping itu ia pun sudah jemu kepada $un Seng-tiong dan tidak ingin berada bersama lagi dengan pemuda itu.

"Siapakah orang yang telah menolong pergi Tjin Goan-ko itu? Dia tidak punya obat pemunah, selama tujuh hari tujuh malam ini Goan-ko takkan sadar, lalu apa yang diperbuatnya?"

Begitulah Biau-siang menimang-nimang sendiri.

Maksud Biau-siang ingin bertemu dengan Tjin Goan-ko bukanlah lantaran hatinya sudah bersemi cinta, walaupun dia memang menaruh hati kepada pemuda itu, namun apa pun juga mereka baru saja kenal sehingga hakikatnya belum dapat bicara tentang cinta segala.

Cuma disebabkan dia menghormat dan mengagumi sikap ksatria Tjin Goan-ko, maka dia berharap berkesempatan berbuat sesuatu yang berguna bagi pemuda itu.

Yang dia pikir adalah semoga orang itu tidak mampu menyadarkan Tjin Goan-ko dan terpaksa harus datang lagi ke rumahnya untuk mencuri obat pemunah yang tempat penyimpanannya sangat dirahasiakan, untuk mana dialah yang akan mengambilkan obatnya dan diberikan kepadanya.

Nyata pikiran Biau-siang itu terlalu kekanak-kanakan, ia tidak tahu bahwa ayahnya tidak sebodoh dugaannya.

Bukan saja ayahnya sudah memeriksa penyimpanan obat pemunah itu, bahkan sudah membawa serta semua obat itu waktu berangkat ke Tong-peng-koan.

Begitulah harapan Hong Biau-siang akan bertemu dengan Goan-ko selain untuk memenuhi rasa ingin tahu dimana Goanko bersembunyi pada saat itu, juga sesungguhnya dia ingin tahu tokoh macam apakah orang yang telah membawa lari Goan-ko itu.

Habis siapakah gerangan orang yang menolong pergi Tjin Goan-ko itu?

Tentang ini marilah kita ikuti dulu pengalaman Goan-ko yang aneh dan menarik.

Tjin Goan-ko sendiri tidak tahu dia sudah mabuk sampai berapa lama, ketika sadar kembali, tiba-tiba ia merasa punggungnya menempel di atas tanah yang keras, lembab lagi dingin.

Cepat ia meloncat bangun sambil kucek-kucek matanya dan celingukan kian kemari.

Ternyata sekitarnya adalah pepohonan belaka, kiranya dirinya terbaring di tengah hutan, di atas tanah penuh lumut, tampaknya tempat yang jarang diinjak manusia, bahkan binatang pun tiada yang lewat di situ.

Sang surya tampak baru saja menongol, mutiara embun belum lagi kering, pantas punggungnya terasa lembab dan dingin.

Setelah jelas keadaan sekitarnya, Goan-ko menjadi terheran-heran dan mengira dirinya sedang mimpi buruk.

Ia coba kucek-kucek matanya pula dengan air embun sehingga pikirannya rada jernih, maka mulailah ia teringat kepada kejadian perjamuan di rumah Hong Tju-tjiau, dimana dia telah disuguh tiga cawan arak berturut-turut.

"Hanya tiga cawan arak saja mengapa aku menjadi mabuk?"

Demikian pikirnya.

"Seumpama mabuk juga seharusnya aku berbaring di rumah keluarga Hong itu, mengapa aku bisa berada di sini? Ai, apa barangkali aku benar-benar sedang mimpi?"

Tapi ketika ia coba menggigit jarinya sendiri, rasanya toh sangat sakit, jadi dirinya sekali-sekali bukan di alam mimpi.

Sedang Goan-ko merasa bingung, tiba-tiba terdengar orang bergelak tertawa.

Seorang pengemis muda tampak sedang mendatanginya sambil berjalan sembari bertembang.

Yang ditembangkan pengemis muda itu adalah sebuah lagu kaum jembel yang bernama 'kembang kacang', lagunya jenaka menertawakan, malahan lagu itu seakan-akan menyindir Tjin Goan-ko yang telah kesengsem kepada anak dara orang dan akhirnya mabuk tak sadarkan diri.

Tjin Goan-ko melihat pengemis muda itu rambutnya awutawutan dan mukanya kotor, tapi baju yang dipakai biarpun banyak tambalan tampaknya rada bersih, usianya kira-kira baru 20-an tahun, jadi sebaya dengan Goan-ko sendiri.

"He, siapa kau? Apa maksud tembangmu itu?"

Tegur Goanko.

"Apa maksudnya kau sendiri kan tahu,"

Sahut jembel muda itu dengan menyeringai.

"Eh, kenapa kau berada di sini apakah kau sedang mimpi?"

Memangnya Goan-ko sedang menyangsikan dirinya apakah dalam mimpi, maka mukanya menjadi merah kena di katai oleh si jembel muda itu. Sahutnya kemudian.

"Ya, aku justru tidak paham mengapa aku bisa berada di sini? Jika kau tahu harap kau suka menjelaskan."

"Sudah tentu aku tahu, sebab akulah yang membikin kau sampai di sini,"

Kata si jembel.

"Bagaimana, apakah lelap tidurmu?"

Goan-ko menjadi gusar, dampratnya.

"Kiranya kau yang main gila padaku!"

"Hm,"

Si jembel mendengus.

"Main gila? Huh, jika aku tidak membikin kau terbang ke sini mungkin saat ini kau telah binasa secara tidak sadar. Memang, di sini sudah tentu tidak seenak tidur di rumah keluarga Hong, jika kau senang boleh lekas kau pulang ke sana saja. Boleh minum lagi arak Djiantjhit-tjui sepuas-puasnya agar kau dapat mimpi muluk-muluk lagi sesukamu."

Sebisanya Goan-ko menahan mendongkolnya, katanya kemudian.

"Aku takkan bertengkar dengan kau, masa bodoh jika kau ingin memaki diriku, tapi kau harus menjelaskan dulu apakah Djian-tjhit-tjui yang kau maksudkan itu? Memangnya kau maksudkan arak yang kuminum di rumah Hong Tju-tjiau itu adalah arak berbisa?"

Sembari bicara ia coba mengatur napas dan mengerahkan tenaga dalam, tapi segala sesuatu berjalan dengan lancar dan tiada tanda-tanda keracunan.

"Biarpun aku bilang arak itu berbisa juga tentu kau tidak percaya,"

Kata si jembel.

"Silakan kau bercermin sendiri ke tepi kolam sana."

Memang tidak jauh dari tempat Goan-ko berbaring situ terdapat sebuah kolam yang terjadi dari genangan air yang merembes keluar dari celah-celah mata air.

Waktu Goan-ko bercermin ke tepi kolam itu, ternyata badannya sendiri sangat kotor, ini masih dapat dimengerti karena dirinya tadi terbaring ditempat yang lembab dan sudah tentu belepotan kotoran tanah.

Yang mengherankan adalah badan-nya sendiri hanya memakai baju dalam yang tipis, baju luar sudah tak tampak lagi.

"Tentu kau sudah main gila lagi kepadaku, kemana kau telah membawa bajuku?"

Omel Goan ko.

"Bajumu? Sudah kujual, kugadaikan , mau apa lagi kau?"

Jawab si jembel dengan tertawa dingin.

"Ya, boleh au anggap saja aku yang telah mencuri bajumu"

Sungguh tak terkatakan mendongkolnya Goan-ko, bisa-bisa dia ingin menghajar jembel itu.

Tapi ia masih bisa bersabar dan patuh kepada ajaran gurunya yang sering memperingatkan dia agar jangan sembrono dan suka pakai kekerasan terhadap siapa pun juga.

Sikap Goan-ko yang hampir meledak itu rupanya dapat diketahui si jembel muda itu, dengan tertawa ia mengolokolok.

"Bagaimana? Kau tidak berterima kasih kepadaku sebaliknya mau berkelahi dengan aku ya?"

Sedapat mungkin Goan-ko menahan perasaannya, tanyanya kemudian.

"Kau bilang anggap saja kau yang mencuri bajuku, jika demikian siapakah pencuri yang sebenarnya?"

"Sesungguhnya kau terlalu kurang ajar terhadapku,"

Kata si jembel dengan kurang senang.

"Cuma, mengingat kau adalah angkatan muda, maka aku dapat mengampuni kau. Namun, bila kau minta aku menjelaskan persoalannya padamu, maka kau harus minta maaf dulu kepadaku."

Terpaksa Goan-ko minta maaf, katanya.

"Sekarang dapatkah kau ceritakan hal yang sebenarnya?"

Baiklah, akan kuceritakan hal yang sebenarnya. Cuma, jangan-jangan kau tetap tak percaya padaku. Tentang bajumu itu, pencurinya bukan lain adalah Bun Seng-tiong, dia yang telah membelejeti kau."

"Untuk apa dia membelejeti bajuku?"

Kata Goan-ko, benar saja dia belum berani mempercayai si jembel muda itu.

"Darimana aku mengetahui untuk apa dia membelejeti bajumu, yang jelas memang dia yang melakukan hal itu."

"Baiklah, anggaplah aku percaya pada ceritamu ini. Aku telah dicekoki dengan arak berbisa dan pemuda she Bun itu yang membelejeti bajuku. Jika demikian bukankah mereka adalah orang jahat? Ini kan terlalu aneh, padahal kalau mereka bermaksud jahat padaku kan tidak perlu memakai arak berbisa segala?"

"Sudah kukatakan tadi, percaya atau tidak terserah padamu."

"Untuk percaya kan aku harus mendapatkan alasan yang masuk diakal."

"Yang kukatakan adalah kejadian sesungguhnya yang aku ketahui, yang tidak kuketahui pasti tak kukatakan secara ngawur. Jika kau ingin alasan yang masuk diakal, hm, darimana aku bis, tahu apa alasannya mereka berbuat demikian padamu? Ai, lebih baik kau saja yang bercerita, coba terangkan padaku sebenarnya kau hendak pergi kemana, apa yang hendak kau lakukan dan apa yang pernah kau ucapkan di rumah keluarga Hong itu. Eh, bisa jadi dari sini aku akan memperoleh bahan untuk menerka alasan apa sehingga mereka memperlakukan kau dengan cara demiki-an. Diam-diam Goan-ko berpendapat kepergiannya ke rumah Kang Hay-thian toh bukan sesuatu rahasia. Tapi pengemis yang dekil ini toh bukan orang persilatan, buat apa kukatakan padanya. Maka dengan acuh tak acuh ia menjawab.

"Urusanku boleh dikesampingkan, biar aku bertanya padamu lebih dulu."

"Boleh juga, silakan tanya. Cuma untuk selanjurnya jika bicara hendaklah kau tambahkan suatu kata 'mohon', misalnya mohon tanya,"

Jawab si jembel. Lalu dengan lagak tuan besar ia berduduk di atas sebuah batu dan menunggu pertanyaan Tjin Goan-ko.

"Baik, mohon tanya, kalau menurut ceritamu tadi, jadi kau yang telah menolong aku ke sini. Dengan cara bagaimana kau menolong aku?"

"Itu kan terlalu gampang. Aku masuk ke rumah Hong Tjutjiau dan memanggul kau ke sini."

"Memangnya Bun To-tjeng dan Hong Tju-tjiau mau membiarkan kau pergi datang sesukanya?"

"Jika aku ingin datang dan mau pergi pula, memangnya mereka bisa melarang aku? Hendaklah kau mengetahui bahwa saat ini mereka pun seperti kau seakan-akan di alam mimpi."

"Hm, besar amat omonganmu. Mohon tanya berapa usia tuan tahun ini?"

Jengek Goan-ko dengan mendongol. Pikirnya dengan kepandaian Bun To-tjeng yang lihai itu masakah dapat diingusi seorang jembel macam kau?"

Pengemis muda itu tampak melirik, katanya kemudian.

"O, jadi maksudmu aku tidak mampu menolong kau? Apakah kau sangka hanya tokoh angkatan tua dunia persilatan yang sanggup menyelamatkan kau?"

"Ya, kira-kira begitulah!"

Sahut Goan-ko dengan sengaja.

"Huh, kau ini tentunya murid Lui Tjin-tju bukan?"

Goan-ko sangat geram karena si pengemis muda itu menyebut nama gurunya secara kasar. Tapi ia pun terperanjat mendengar asal-usulnya sendiri dapat diketahui dengan begitu saja. Segera ia pun menjawab.

"Betul, ketua Bu-tong-pay memang guruku adanya."

"Hahaha!"

Tiba-tiba jembel muda itu tertawa.

"Bicara tentang tingkatan menurut orang Kangouw sebenarnya aku tidak biasa dan selamanya aku tidak ambil pusing kepada adat istiadat demikian. Tapi kalau kau ingin aku mengatakan terus terang, maka kau harus menjura tiga kali lebih dulu kepadaku."

Goan-ko menjadi naik pitam, jawabnya dengan suara keras.

"Mengapa aku harus menjura padamu? Memangnya kau ini kaum Lotjianpwe (angkatan tua)?"

"Benar, bicara tentang umur memang aku belum tua, tapi tingkatanku cukup tua. Kau adalah tingkatan cucu muridku, gurumu lebih rendah satu angkatan daripadaku. Jika kau cuma menyembah tiga kali padaku sebenarnya masih murah bagimu."

Goan-ko benar-benar tidak tahan amarahnya lagi, bentaknya gusar.

"Masih tidak jadi soal jika kau mengolok-olok aku, tapi kau berani pula menghina guruku?"

"Cara bagaimana aku menghina dia?"

Tanya si jembel.

"Kau.....kau seorang pengemis cilik berani mengaku angkatan lebih tua dari guruku!"

Teriak Goan-ko.

"Apa yang terhina? Yang kukatakan ini adalah sesungguhnya,"

Kata si jembel dengan lagak acuh tak acuh.

"Gurumu sesungguhnya memang angkatan lebih muda daripada diriku. Kelak bila aku punya anak barulah gurumu terhitung sama tingkatannya dengan anakku."

"Bagus, jadi kau sengaja mengolok-olok ya? Ini, rasakan kepalanku,"

Bentak Goan-ko dengan gusar.

Kontan ia lantas menjotos.

Tapi jembel itu ternyata tidak menghindar juga tidak menangkis.

Goan-ko berbalik kuatir melukainya, maka pukulannya cepat ditahan di tengah jalan dan tidak diteruskan.

"Bicara berkelahi sebenarnya aku paling suka,"

Kata si jembel dengan tertawa.

"Tapi kau terhitung angkatan cucuku, aku tidak boleh bergebrak dengan kau. Begini saja, boleh kau pukul aku sesukamu. Tapi ingin kukatakan di muka, asal kau tidak takut rugi boleh kau serang aku."

"Aku pun ingin katakan padamu bahwa pukulanku ini dapat menghancurkan batu, apakah kau tidak takut akan kupukul rnati?"

"Tadi aku telah memperingatkan kau, jika kau pukul aku, kau sendirilah yang akan rugi. Jika tidak percaya boleh kau serang saja."

Sungguh gusar Goan-ko tak kepalang, pikirnya.

"Jika aku tidak memberi sedikit tahu rasa kepadanya tentu dia mengira Bu-tong-pay gampang diolok-olok. Daripada mencemarkan nama baik perguruan aku harus menghajar pengemis ini."

Maka tanpa pikir lagi pukulannya lantas diteruskan.

Cuma tenaga yang dia gunakan hanya tiga bagian saja.

Jarak tempat duduk si jembel dengan Tjin Goan-ko boleh dikata sangat dekat, pantasnya pukulannya pasti akan kena sasarannya dengan telak.

Tak terduga pukulan Goan-ko itu mengenai tempat kosong.

Sekilas pandangannya serasa kabur, si jem-bel yang duduk di atas batu itu sudah lenyap.

Keruan Goan-ko terkejut.

Baru sekarang ia tahu pengemis itu benar-benar seorang kosen.

Segera terdengar suara jembel itu sedang tertawa di belakangnya sambil mengolok-olok.

"Jangan sungkan-sungkan, sudah kukatakan kau adalah tingkatan cucuku, boleh kau pukul sesukanya, sekali-sekali aku takkan balas menghantam kau."

Walaupun sudah tahu orang adalah tokoh ajaib yang berkepandaian tinggi, tapi Goan-ko tidak rela dirinya diolok olok, kembali tangannya membalik dan menghantam pula dengan lebih keras daripada tadi.

Namun serangannya tetap mengenai tempat kosong.

"He, aku berada di sini!"

Demikian kembali si suara si jembel mengiang di belakangnya sebelah kiri.

Saking gemasnya Goan-ko terus membalik ke arah suara orang dan berbareng kedua tangannya menghantam, ia yakin serangannya sekali ini pasti takkan sia-sia.

Terdengar si jembel berseru.

"Aduh, celaka!"

Mendadak sesosok bayangan melayang lewat di atas kepala Goan-ko dan kembali terdengar seruannya.

"Ai, sayang, kembali luput!"

Dengan menahan perasaannya Goan-ko lantas mengeluarkan pukulan berantai Kiu-goan-lian-hoan-tjiang, sejenis pukulan andalan Bu-tong-pay yang lihai.

Pukulan yang mengutamakan langkah-langkah tertentu dan diperhitungkan ini biarpun kemari?

lawannya menghindar juga sukar lolos dari ancaman pukulannya.

"Bagus! Kau adalah setingkat cucuku, ilmu pukulanmu ini sudah boleh dikatakan lumayan!"

Demikian si jembel memuji dengan rada lebih mendekati olok-olok.

Bahkan dengan lagak acuh tak acuh ia terus berjalan kian kemari di bawah serangan Goan-ko yang gencar itu dengan berpanggung tangan seakanakan orang yang sedang berjalan-jalan iseng mengendorkan otot.

Namun demikian seenaknya si jembel itu berjalan toh pukulan Tjin Goan-ko itu sedikitpun tak berhasil, bahkan ujung bajunya saja tak tersentuh.

"Jika kau punya kepandaian, marilah kita bertanding pukulan berhadapan,"

Demikian teriak Goan-ko dengan penasaran.

"Aku hanya pandai terima pukulan, balas menyerang aku tidak bisa,"

Sahut si jembel dengan tertawa.

"Eh, cucu yang baik, biarlah aku terima mentah-mentah sekali pukulanmu. Boleh kau lakukan saja!"

Tanpa bicara lagi Goan-ko lantas menyerang, dengan tipu 'Wan-kiong-sia-tiau' atau pentang busur memanah rajawali, dengan kepalan kiri dan telapak tangan kanan ia terus menghantam ke arah datangnya suara si jembel.

Goan-ko menyangka lawan pasti akan berkelit, tak terduga pengemis itu ternyata berani berkata berani berbuat, ia benarbenar berhenti di depan Goan-ko dan membiarkan dirinya diserang.

Maka tanpa ampun lagi dengan tepat perut si jembel kena kepalan Goan-ko.

Sedetik itu Goan-ko masih kukir kalau-kalau si jembel kena dilukai olehnya, maka diam-diam ia mengeluh dan menyesal.

Siapa tahu ketika kepalannya menempel tubuh lawan, tibatiba rasanya seperti mengenai segumpal kapas yang lunak tak bertenaga.

Goan-ko bermaksud menarik kembali kepalannya dengan cepat, tapi mendadak perut lawan seperti timbul suatu arus tenaga sembrani, ternyata kepalannya kena disedot oleh tenaga pengisap itu dan sukar ditarik kembali lagi.

Keruan muka Goan-ko menjadi merah padam dan serba susah.

Ketika pengemis muda itu bergelak tertawa sambil membusungkan perutnya, serentak Goan-ko merasa seperti ditolak oleh suatu kekuatan maha dahsyat, tanpa kuasa tubuhnya terlempar dan mencelat sampai beberapa meter jauhnya.

"Nah, apa kataku, sekarang kau percaya atau tidak? Untung kau mengurangi tenaga pukulanmu, kalau tidak tentu kau akan terjungkal lebih keras lagi,"

Kata pengemis itu.

Waktu Goan-ko merangkak bangun, ia melihat dirinya tepat jatuh di depan sepotong batu besar, jika terpentalnya tadi lebih keras, pasti kepalanya bisa pecah menumbuk batu itu.

Keruan muka Goan-ko merah padam dan tak bisa bersuara pula.

"Sekarang kau percaya aku mampu menolong kau dari rumah keluarga Hong itu atau tidak?"

Tanya si jembel dengan tertawa. Setelah kalah dan merasa kepandaian lawan sungguh sukar diukur, mau tak mau Goan-ko sangat kagum. Namun dengan angkuh ia menjawab.

"Aku mengakui kepandaianmu, tapi kau telah menghina Bu-tong-pay kami, untuk ini....."

"Eh, kiranya kau masih tidak rela menjadi angkatan muda seperti apa yang kukatakan tadi? Baiklah, jika hal mana kau anggap sebagai penghinaan, maka bolehlah kita berkawan sama tingkatan saja. Memangnya aku tidak suka bicara 'entang tingkatan segala dengan orang. Padahal kalau mau diurutkan benar-benar, baik gurumu mau pun tokoh-tokoh Kangouw yang sudah ternama juga masih terhitung angkatan lebih rendah daripada aku. Baiklah, apakah sekarang Tjinheng boleh bercerita terus terang padaku?"

Walaupun Goan-ko masih menyangsikan si pengemis lebih tua satu angkatan daripada gurunya, tapi orang sudah mau bergaul sama tingkat dengan dirinya, betapapun rasa marah Tjin Goan-ko tadi lantas lenyap sebagian besar dan merasa tidak enak untuk bersungut pula.

Segera ia berkata.

"Baiklah, aku percaya kau sanggup menolong aku dari rumah Hong Tjutjiau itu. Tapi untuk apa kau melakukannya? Apakah mereka benar-benar hendak membikin susah padaku?"

"Rupanya kau belum percaya sepenuhnya kepada ceritaku,"

Kata si jembel dengan tertawa.

"Untuk apa mereka hendak mencelakai kau sudah tentu aku tidak tahu. Yang jelas arak yang mereka cekokkan pada kau itu bernama 'Djian-tjhit-tjui'. Ketika she Bun itu membelejeti bajumu juga kusaksikan sendiri."

"Djian-tjhit-tjui? Jika demikian sudah berapa hari aku mabuk?"

Gumam Goan-ko. Ia merasa ragu-ragu merasakan dirinya dapat mabuk hanya minum tiga cawan arak itu.

"Mestinya kau akan mabuk selama tujuh hari tujuh malam, tapi sekarang kau cuma tak sadar selama sehari semalam, hal ini lantaran kau sudah minum satu biji Pik-ling-tan dariku. Pil ini teruat dari teratai salju yang tumbuh di Thian-san, khasiatnya buat memusnahkan racun dan menyegarkan badan. Cuma pil ini bukan obat pemunah khusus bagi Djiantjhit-tjui, maka kau tetap mabuk sampai sehari semalam lamanya."

"O, jika demikian hari ini baru tanggal 12 bulan delapan?"

"Benar, ada apa? Apakah kau ada urusan penting?"

Diamdiam Goan-ko merasa bersyukur dirinya dapat sadar dalam waktu yang belum tertambat untuk berangkat ke Tong-pengkoan. Lantaran belum tahu asal-usul si jembel, maka samarsamar saja 'a menjawab.

"Ya, ada sedikit urusan, tapi masih keburu kukerjakan. Eh, aku belum lagi bertanya namamu yang terhormat Kepandaianmu sehebat ini, entah kau orang kosen dari aliran mana?"

Semula Goan-ko meragukan pengemis itu adalah anggota Kay-pang, itu organisasi kaum jembel yang besar dan disegani di dunia Kangouw.

Tapi ketua Kay-pang, yaitu Tiong Tiang thong adalah sahabat baik gurunya, setahunya ilmu silat Tiong Tiang-thong itu gayanya sangat berbeda dengan pengemis muda ini, apalagi ilmu andalan Kay-pang adalah Kun-goan-itki-kang yang lihai.

Sebaliknya waktu jembel muda ini menggunakan perutnya untuk mengisap dan membuatnya terpental tadi jelas adalah sejenis Lwekang yang hebat dan berlawanan dengan ilmu Kay-pang itu.

Dari sini terang sekali jembel muda ini bukanlah orang Kay-pang.

Maka terdengar jembel muda itu bergelak tertawa dan menjawab.

"Orang kosen segala tak berani kuterima. Tentang namaku sebenarnya teramat jamak. Eh, kau punya uang tidak?"

Pertanyaan ini membuat Goan-ko meiengak heran, jawabnya kemudian.

"Apakah kau kekurangan sangu? Aku tidak banyak membawa uang, tapi beberapa tail uang perak sekedar untuk biaya perjalanan masih ada."

"Aku bukan minta sedekah padamu,"

Kata jembel itu.

"Kau mempunyai benda lain yang lebih bernilai daripada uang perak atau tidak?"

"Benda yang lebih bernilai dari perak tentulah emas. Kalau emas aku tidak punya."

"Kau tidak punya, sebaliknya aku punya. Aku justru she Kim, Kim artinya emas, bukankah she ini teramat jamak. Mengenai namaku terlebih-lebih jamak lagi. Aku bernama Tiok-liu."

"Kim Tiok-Iiu?"

Pikir Goan-ko.

"Nama ini belum pernah kudengar. Sungguh aneh, orang berkepandaian tinggi demikian mengapa tak pernah kudengar? Jangan-jangan ia pun seperti aku baru pertama kali ini berkelana?"

Dalam pada itu terdengar jembel she Kim itu melanjutkan.

"Aku tidak tergolong pada aliran mana pun, aku tidak pernah berguru. Tokoh-tokoh ternama dari berbagai aliran persilatan pada zaman ini kalau diurut* an paling-paling juga sama tingkatannya dengan aku, tiada seorang pun di antara mereka yang sesuai untuk menjadi guruku."

Goan-ko mengira orang suka membual, pikirnya.

"Orang Kangouw memang banyak yang punya pantangan, jika dia tidak mau menerangkan asal-usul perguruannya, buat apa aku bertanya lebih jauh. Cuma kalau dinilai dari kepandaiannya yang tinggi memang sudah memadai tokoh-tokoh kelas satu dari berbagai golongan persilatan."

Dengan tertawa kemudian ia bertanya pula.

"Maaf jika aku ingin tanya pula sesuatu kepada Kim-heng. Bukankah kau mengatakan telah menolong aku dari rumah keluarga Hong itu. Hal ini dapat kupercayai. Tapi mengapa kau bisa mendatangi keluarga Hong itu dan menolong diriku? Apakah kau pun menaruh sesuatu kecurigaan kepada mereka?"

"Benar, ketika kau berkelahi dengan bocah she Bun di taman bunga itu dan kemudian kau diundang ke dalam rumah oleh Hong Tju-tjiau dan Bun To-tjeng, semuanya itu telah kulihat sendiri. Lantaran merasa sangsi, maka diam-diam aku menyusup ke sana untuk mengintip. Dan benar saja kau masuk perangkap mereka."

"Jika demikian sebenarnya orang-orang macam apakah mereka itu sehingga menimbulkan rasa curigamu?"

"O, kiranya sampai saat ini kau belum tahu siapa mereka. Pantas, jika tahu tentu kau takkan minum arak suguhan mereka."

"Ya, Siaute memang benar-benar tidak tahu siapa mereka itu,"

Sahut Goan-ko Diam-diam ia merasa heran, padahal kalau Bun To-tjeng bertiga itu mau menangkapnya toh tidak perlu memakai cara pengecut dan mencekokinya dengan arak segala.

Selagi Kim Tiok-liu hendak bicara lagi, tiba-tiba seperti mengetahui sesuatu dan pasang kuping dengan cermat.

Sejenak kemudian baru ia berkata.

"Jika kukatakan mungkin kau masih belum percaya. Biarlah nanti orang lain yang akan mengatakan padamu. Marilah ikut padaku!"

Goan-ko tidak tahu dirinya hendak dibawa kemana lagi, tapi ia lantas ikut juga di belakang Kim Tiok-liu.

Setelah berlari puluhan langkah, sayup-sayup Goan-ko baru mendengar bahwa di luar hutan sana ada suara tindakan orang.

Tiba-tiba Kim Tiok-liu berbisik padanya.

"Marilah kita mendengarkan pembicaraan mereka, hati-hati jangan sampai kita dipergoki mereka."

Segera ia ajak Goan-ko berlari lagi sebentar, lalu mereka melompat ke atas sebatang pohon besar, dari tempat yang tinggi dapatlah Goan-ko melihat ada dua orang laki-laki sedang mendatangi.

Kedua orang itu seorang tinggi dan yang lain pendek, keduanya berusia kira-kira setengah abad.

Terdengar yang tinggi sedang berkata.

"Tju-toako, kau kira anak dara itu berdusta tidak?"

"Kukira tidak,"

Demikian jawab yang pendek.

"Jika mereka di rumah, masakah mereka tidak mau menemui kita?"

"Ya, seharusnya mereka menemui kita. Orang she Bun itu aku tidak kenal baik, tapi Hong Tju-tjiau adalah kawan sejawat kita selama bertahun-tahun di masa lampau. Kita sudah membe-ritahu nama dan mohon bertemu, jika dia di rumah, seharusnya dia akan menyambut kedatangan kita. Cuma, bisa jadi lantaran sesuatu hal, maka dia sengaja menghindar untuk menemui kita."

"Hal apa?"

Tanya si pendek.

"Mungkin dia takut kedatangan kita adalah untuk mengusut kesalahannya. Dalam pertempuran di Bin-san dahulu kawan kita telah mati 17 orang, hanya dia dan So Bong yang berhasil lolos. Sepulangnya di kotaraja, So Bong telah dipenjarakan selama tiga tahun, sebaliknya Hong Tju-tjiau sengaja melarikan diri dari tugas, dosanya terang lebih besar daripada So Bong. Bisa jadi kuatir Sat-tjongkoan sengaja mengirim kita untuk menangkapnya, maka dia tidak berani menemui kita."

"Anak dara itu benar-benar kurang ajar, masakah tanpa banyak omong terus menutup pintu kembali. Coba kalau tidak mengingat ayahnya, sungguh aku ingin mendobrak pintu dan menghajar anak dara tak tahu adat itu,"

Demikian si pendek marah-marah.

"Apakah kita perlu kembali ke sana dan bicara lebih jelas padanya?"

Usul kawannya yang tinggi.

"Huh, jika Hong Tju-tjiau tidak mau memperhatikan kita, biar ke sana lagi juga percuma. Kukira soalnya bukan dia takut kepada kita, tapi takut kepada Kang Hay-thian. Biarpun kita adalah kawan lamanya, juga dia kuatir kalau-kalau tanpa sengaja kita membocorkan tempat persembunyiannya ini."

"Bun To-tjeng di rumahnya sendiri masakah dia masih takut kepada Kang Hay-thian. Sat-tjongkoan mengirim kita ke sini untuk mengundang Bun To-tjeng, maksudnya justru hendak menggunakan orang she Bun ini untuk melayani Kang Haythian. Tapi kalau mereka berdua juga takut kepada Hay-thian, maka undangan Sat-tjongkoan ini bukankah percuma saja?"

"Dahulu paman Bun To-tjeng yang bernama Bun Ting-Bik itu sangat sombong, katanya ilmu silatnya nomor satu di seluruh jagad. Tak terduga dalam pertempuran di Bin-san ilmu silatnya malah kena dipunahkan oleh Kim Si-ih. Betapapun kepandaian Bun To-tjeng juga belum melebihi pamannya dahulu, sebaliknya Kang Hay-thian sudah mewariskan segenap kepandaian Kim Si-ih. Menurut pendapatku mungkin Bun Totjeng masih bukan tandingan Kang Hay-thian."

"Peduli dia dapat menandingi Kang Hay-thian atau tidak, yang penting perintah Sat-tjongkoan harus kita laksanakan. Kita pergi ke sana lagi dan bicara padanya. Asal Bun To-tjeng sudah menerima undangan kita, malahan Hong Tju-tjiau juga akan dikembalikan kepada jabatannya semula, mustail dia takkan menerima dengan senang hati?"

"Jika Hong-tju-tjiau tetap menghindari kita, lalu bagaimana?"

"Tiada jalan lain, terpaksa kita bekuk dulu putrinya itu dan mau tak mau Hong Tju-tjiau pasti akan muncul."

"Bila Hong Tju-tjiau benar-benar tidak berada di rumah?"

"Kita masih dapat memaksa anak dara itu menceritakan kemana mereka pergi."

"Baiklah, jika sudah begini tekadmu, marilah kita kembali ke sana."

Begitulah kedua orang itu lantas putar haluan dan me-nuju pula ke rumah Hong Tju-tjiau. Seperginya kedua orang itu, dengan tertawa Kim Tiok-liu berkata kepada Goan-ko.

"Nah, sudah kau dengar sendiri, sekarang kau sudah jelas belum?"

Wajah Goan-ko menjadi pucat dan sebentar merah pula, katanya.

"Kiranya Bun To-tjeng dan Hong Tju-tjiau adalah antek kerajaan. Ya, pahamlah aku sekarang."

Memang Goan-ko sekarang sudah jelas siapa diri Bun Totjeng serta Hong Tju-tjiau, bahkan ia pun paham mengapa dirinya dicekoki arak hingga mabuk serta bajunya dibelejeti.

"Setahuku Bun To-tjeng dan putranya serta Hong Tju-tjiau kemarin pagi-pagi sudah berangkat. Di rumah memang tinggal anak dara itu saja. Eh, kenapakah kau, Tjin-heng?"

Kiranya Goan-ko sedang termangu-mangu. Ia melengak ketika ditegur, jawabnya dengan gelagapan.

"O, aku, aku sedang berpikir....."

"Memikirkan anak dara itu bukan?"

Sela Tiok-liu.

"Bu.....bukan, tapi kupikir bagaimana kalau.....kalau kita pun pergi melihatnya"

"Ya aku tahu tentu kau kuatir anak dara itu mengalami apa-apa"

Ujar Tiok-liu tertawa.

"Baiklah, sudah tentu aku akan mengiringi keinginanmu untuk ke sana"

Wajah Goan-ko bertambah merah karena isi .latinya dengan jitu kena dikatai Kim Tiok-liu. Sahutnya kikuk.

"Ah, Kim-heng jangan salah sangka Siaute cuma kasihan kepada nona Hong itu, lagak lagunya tampaknya adalah seorang baik. Biar pun ayahnya adalah seorang jahat, rasanya dia pasti tidak tahu menahu."

"Sudahlah, mari kita lekas berangkat ke sana"

Kata Tiok-liu tertawa Segera mereka melompat turun. Tiba-tiba Tiok-liu berkata pula.

"Jika kau ingin melihat tontonan menarik, sebaiknya suara langkah kita jangan sampai didengar mereka."

Habis itu ia lantas menggandeng tangan Goan-ko, lalu berlari secepat terbang ke depan.

Goan-ko merasa tubuhnya mengambang seakan-akan kaki tidak menempel tanah.

Padahal Ginkangnya terhitung nomor satu di antara sesama saudara seperguruannya gurunya juga sering memuji kemahirannya itu, tapi sekarang ia baru tahu bahwa di atas langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai.

Ia merasa biar Gin-kang gurunya juga tidak mampu menandingi si jembel muda ini, pantas dia mampu menolong aku keluar dari rumah Hong Tju tjiau tanpa diketahui oleh tokoh lihai seperti Bun To-tjeng itu.

Tidak antara lama mereka sudah dapat melihat bayangan kedua laki-laki tadi di bagian depan.

Kim Tiok-liu lantas melambatkan langkahnya dan menggunakan pepohonan sebagai aling-aling, mereka terus mempertahankan jarak belasan meter dari kedua orang di depan.

Setiba di sebelah rumah Hong Tju-tjiau, kedua orang itu lantas berhenti.

Kim Tiok-liu berdua mengawasi dengan bersembunyi di tengah semak-semak dari kejauhan.

Setelah merandek sejenak, akhirnya kedua orang itu mengetok pintu.

Tadinya mereka menyangka Hong Biau-siang pasti tak akan membuka pintu, tak terduga si nona membuka pintunya dengan cepat.

Rupanya Biau-siang sedang menantikan kedatangan Goanko atau orang lain yang mungkin datang untuk memintakan obat penawar Djian-tjhit-tjui baginya.

Sebab itulah ketika pintu diketok dengan cepat, ia lantas membuka pintu.

Tak terduga ketika pintu terbuka, kiranya kembali kedua orang yang telah datang tadi.

"Ayahku tidak di rumah, Bun-sioksiok juga sudah pergi, hal ini sudah kukatakan kepada kalian tadi, mengapa kalian datang pula?"

Omel Biau-siang dengan gusar. Habis itu daun pintu hendak digabrukkan lagi. Namun orang yang tinggian itu sempat berkata.

"Nanti dulu nona Hong, dengarkan dulu bicaraku."

Berbareng kakinya lantas menahan kc depan sehingga daun pintu yang sudah merapat itu kena ditolak terpentang.

Saking kuatnya tenaga tolakan kakinya itu, hampir saja Biausiang terdorong jatuh.

Keruan Biau-siang menjadi gusar, dampratnya "Apakah kalian sangka aku ini gampang dihina?"

"Sret", berbareng ia terus melolos pedang dan diacungkan ke arah si tinggi.

"Eeh, keponakanku yang baik, janganlah kau menakutnakuti kami dengan senjata ya?"

Kata yang tinggi itu dengan cengar-cengir.

"Siapa sudi menjadi keponakanmu?"

Semprot Biau-siang.

"Ah, barangkali kau belum tahu siapakah kami ini?"

Sela si pendek dengan tertawa.

"Biarlah kuberitahukan dulu. Aku she Tju, bernama Hou-sin. Dan dia she Ki, bernama Djui. Tentunya ayahmu pernah menyebutkan nama kami bukan?"

"Tidak tahu,"

Sahut Biau-siang dengan ketus. Sekilas Ki Djui tercengang, katanya.

"Jika demikian, jadi asal usul ayahmu sendiri pun selama ini tidak diberitahukan padamu? Baiklah biar kukatakan. Kami dan ayahmu adalah sama-sama jago bayangkara kerajaan pada 20-an tahun yang lalu. Ayahmu kemudian meninggalkan tugasnya dan mengasingkan diri di sini. Ketika kami bertiga masih bertugas, hubungan kami adalah seperti saudara sekandung, sebab itulah aku berani menyebut kau sebagai keponakanku. Tapi jangan kau sangka kami sengaja mengolok-olok padamu."

"Ayahku yang punya hubungan baik dengan kalian, tapi aku sendiri tidak kenal kalian,"

Sahut Biau-siang dengan sikap dingin.

"Ayah tidak di rumah, darimana aku bisa mengetahui kata-katamu itu benar atau tidak? Maaf aku tak bisa melayani kalian. Bila perlu kalian boleh bicara sendiri saja dengan ayah."

Tadinya Ki Djui menyangka dengan memberitahukan siapa diri mereka tentu Hong Biau-siang akan bersikap ramah, siapa tahu dugaannya ternyata meleset. Dengan mendongkol ia berkata lagi.

"Baiklah, jika begitu boleh kau beritahukan saja ayahmu dan Bun-sioksiokmu itu berada dimana sekarang?"

"Tidak tahu,"

Sahut Biau-siang kaku.

"Tahu juga takkan kukatakan."

"Haha! Hendaklah kau maklum bahwa kedatangan kami adalah hendak mengundang ayahmu kembali ke jabatannya yang dulu,"

Seru Tju Hou-sin dengan tertawa. Tapi Biau-siang hanya mendengus.

"Huh, aku tidak kepingin!"

"Kau tidak kepingin, tapi ayahmu pasti kepingin!"

Ujar Tju Hou-sin.

Ia tidak menduga bahwa justru sesudah Hong Biau-siang mengetahui siapa diri ayahnya itulah sehingga hatinya menjadi kesal.

Rasa kesal yang tak terlampiaskan itu kini lantas dihempaskan atas diri kedua orang ini.

Segera pedangnya menuding dan mendamprat.

"Ayahku kepingin boleh kau bicara sendiri padanya. Jika kau cerewet lagi jangan menyalahkan aku berlaku kasar padamu. Kalian mau lekas enyah atau tidak?"

"Aha, memangnya keponakan hendak menguji kepandaian pamannya?"

Ki Djui mengolok-olok dengan tertawa. Mendadak ia membentak dengan bengis.

"Kini aku pun tidak perlu sungkan-sungkan lagi!"

Berbareng pukulannya lantas dilontarkan, dengan tangan kosong segera ia bermaksud merebut senjata si nona.

Tak terduga, biar pun kepandaian Hong Biau-siang bukan tandingan mereka, tapi juga bukan kaum lemah.

Ki Djui terlalu memandang enteng lawannya dan mau merebut senjata dengan tangan kosong, mendadak Hong Biau-Siang memutar pedangnya.

"sret", dengan cepat ia berbalik hendak menebas pergelang-an tangan Ki Djui. Untung Ki Djui cukup cepat menarik tangannya, kalau tidak tangannya tentu sudah buntung.

"Kurang ajar! Lepas pedangmu!"

Bentak Tju Hou-sin dengan gusar.

Berbareng ia pun menubruk maju, lalu tangannya menampar dalam jurus 'Djiu-hun-pi-peh' atau tangan mengebas alat musik.

Tentu saja Biau-siang kewalahan menghadapi kerubutan dua jagoan, lengannya tertampar dan terasa panas pegal, jarinya terasa kaku dan pedang lantas terlepas dari cekalan.

Pada saat itulah di tempat persembunyiannya, Kim Tiok-liu mendorong Tjin Goan-ko dan berkata.

"Hayo, lekas pergi menolong si cantik!"

Tanpa kuasa lagi Goan-ko meloncat ke depan. Sekali sudah memperlihatkan diri, tanpa tanggung-tanggung lagi ia lantas melolos pedang dan menerjang maju. Tapi Kim Tiok-liu ternyata tidak ikut keluar.

"Cakar alap-alap bangsat! Dua orang mengeroyok seorang anak perempuan, huh, tidak tahu malu!"

Bentak Goan-ko.

Berbareng pedangnya bekerja dengan cepat, ia menusuk ke kanan dan menyabet ke kiri, sekaligus ia serang Tju Hou-sin dan Ki Djui berdua sehingga mereka terdesak mundur.

Untung kedatangan Goan-ko tepat pada waktunya, sehingga Biausiang terhindar dari ancaman maut "Heh, kiranya budak liar ini telah bergendak dengan pemuda hidung belang dari Bu-tong-pay, pantas ayahnya sendiri juga dikhianati!"

Ejek Tju Hou-sin. Muka Hong Biau-siang menjadi merah padam saking murkanya, dampratnya.

"Ngaco-belo! Tjin-toako, hajar dia!"

Melihat munculnya Tjin Goan-ko, hati Biau-siang terkejut dan bergirang pula.

Walaupun gusar kepada Tju Hou-sin, tapi legit juga terasa di dalam hati sehingga tanpa terasa ia telah memanggil Goan-ko dengan 'Tjin-toako'.

Setelah mengetahui ilmu silat Tjin Goan-ko itu dari aliran Bu-tong, maka Tju Hou-sin dan Ki Djui tidak berani sembrono lagi, segera mereka pun melolos senjata untuk melawan Goan-ko.

Senjata Tju Hou-sin adalah sepasang Hou-rhau-kau (gaetan berkepala harimau) yang dapat digunakan menggaet dan merampas senjata lawan.

Sedangkan senjata Ki Djui adalah sebilah golok tebal, bobotnya berat, ilmu goloknya tidak boleh dibuat main-main.

Ilmu pedang Goan-ko meskipun sangat bagus, tapi dia baru pertama kali ini muncul di Kangouw, pula latihannya belum cukup, sekuatnya ia melawan dua orang, setelah 30-40 jurus lambat-laun ia sudah merasa payah pula.

Sementara itu Hong Biau-siang sudah cukup mengaso, melihat Goan-ko terdesak, segera ia menjemput kembali pedangnya dan maju membantu.

Saat itu Ki Djui sedang mengayun goloknya membacok Goan-ko sehingga iganya tak terjaga, tanpa pikir lagi pedang Hong Biau-siang lantas menusuk ke 'Ih-gi-hiat' di bawah iga lawan itu.

Untung Tju Hou-sin sempat menyampuk pedangnya sehingga Ki Djui terhindar dari serangan Biau-siang itu.

Tapi sendirian Ki Djui menjadi kewalahan melawan Goan-ko, dalam sekejap itu secara berantai Goan-ko menyerang tiga kali secepat kilat, Ki Djui sempat menghindar dua serangan di antaranya, tapi serangan ketiga sukar dielakkan lagi, lengan kirinya kena digores oleh ujung pedang Goan-ko sehingga berdarah, untung hanya luka ringan saja.

Sudah tentu Biau-siang juga bukan tandingan Tju Hou-sin, ketika pedangnya tersampuk musuh dan terpuntir, hampir saja pedangnya terlepas pula dari cekalan.

Lekas Goan-ko memutar balik pedangnya untuk melindungi Biau-siang, dengan suatu tusukan ke arah Tju Hou-sin.

Selagi Tju Hou-sin terpaksa harus melayani serangan Goan-ko itu, sempatlah Biau-siang menarik diri dan ganti melawan Ki Djui.

Karena terluka, Ki Djui menjadi kalap seperti kerbau gila, Biau-siang diterjang dengan serangan gencar.

Dengan susah payah juga Biau-siang dapatlah menghindarkan seranganserangan lawan berkat kegesitannya.

"Ki-loji, mengingat Hong-toako, boleh ampuni saja jiwa putrinya itu,"

Seru Tju Hou-sin. Ki Djui mendengus.

"Hm, budak ini malah membela orang luar, demi bocah ini sampai sahabat lama ayahnya juga dia berani melawan. Bila Hong-toako tahu kejadian ini, mustail takkan mati kaku saking gusarnya. Betapapun juga aku harus mem-lieri hajar adat kepada budak liar ini. Bocah itu telah melukai lenganku, maka aku pun akan melukai juga lengannya."

Karena kalah tenaga, Biau-siang terpaksa hanya mengandalkan kegesitannya untuk main kelit sana dan loncat sini untuk menghindari sambaran golok Ki Djui, jangankan hendak balas menyerang, untuk menangkis saja ia sudah tak sanggup.

"Nona Hong, lekas kau lari!"

Seru Goan-ko.

Akan tetapi Biau-siang tetap bertahan, pikirnya meski aku tidak mampu melawan si jangkung ini, sedikitnya aku dapat mengurangi kekuatan musuh agar mereka tidak sempat mengeroyok Tjin-siauhiap.

Mendadak Tjin Goan-ko mengerahkan segenap tenaganya mendesak mundur Tju Hou-sin, lalu melompat ke arah Hong Biau-siang untuk bergabung pula dengan si nona Dengan demikian Goan-ko sempat menjaga keselamatan Biau-siang, keadaan mereka menjadi rada kuat menghadapi kedua lawannya.

Namun karena Goan-ko harus melindungi Biau-siang sehingga ia sendiri beberapa kali hampir kena dimakan senjata musuh.

Biau-siang juga tidak tinggal diam, dengan nekat ia pun berusaha menangkis untuk melindungi Goan-ko, tapi karena kedua muda-mudi itu kurang sempurna cara kerja samanya sehingga seringkah memberi peluang malah bagi musuh.

Diam-diam Goan-ko menjadi gelisah, sementara itu ia sudah mandi keringat, pikirnya "Mengapa Kim Tiok-liu hanya berpeluk tangan menonton saja?"

Tapi ia baru saja berkenalan dengan Kim Tiok-liu sehingga tidak enak untuk bersuara minta tolong padanya.

Mestinya senjata gaetan Tju Hou-sin itu sangat baik untuk merampas senjata lawan sebangsa pedang atau golok, soalnya ilmu pedang Lian-hoan-toat-beng-kiam-hoat yang dimainkan Goan-ko itu adalah ilmu pedang Bu-tong-pay yang amat lihai, maka sama sekali gaetan Tju Hou-sin tak bisa berkutik.

Akan tetapi berbeda dengan Hong Biau-siang, ia dapat menghindari golok tebal Ki Djui, na-mun sukar menghadapi sepasang gaetan Tju Hou-sin yang ber-ulangulang hendak mengunci pedangnya.

Suatu ketika, lantara berebut hendak menangkis serangan musuh, pedang Goan-ko dan pedang Biau-siang, dilontarkan ke arah yang sama kesempatan ini segera digunakan dengan baik oleh Tju Hou-sin, gaetannya lantas mengunci, seketika pedang Hong Biau-siang terkacip.

Lekas Goan-ko melangkah maju me-ngadang di depan Biau-siang, dengan jurus 'Tiat sok-heng-kang' (gembok besi memotong sungai), pedangnya lantas menebas pergelangan tangan Tju Hou-sin.

Mendadak Tju Hou-sin menggertak.

"Lepas!"

Ketika kedua gaetannya ditarik, tahu-tahu pedang Biausiang lagi-lagi terlepas dari cekalan dan mencelat ke udara.

Tanpa pikir lagi Goan-ko lantas menusuk pula sekuatnya.

Karena kekuatan kedua orang tidak berbeda banyak sehingga Tju Hou-sin tetap tidak mampu membikin pedang Goan-ko terlepas dari tangan.

Tapi Ki Djui juga tidak tinggal diam, dengan mengayun goloknya ia membentak.

"Anak jadah, kini kau pun rasakan golokku!"

Dan goloknya terus membacok ke atas kepala Tjin Goanko.

Saat itu baru saja Goan-ko sempat menarik kembali pedangnya dari kacipan kedua gaetan Tju Hou-sin dan tidak keburu menangkis, dalam pada itu sinar golok sudah menyambar tiba.

Seketika Tjin Goan-ko mengeluh matilah aku.

Sedangkan Hong Biau-siang saat itu berada beberapa meter di sebelah sana dan baru menjemput kembali pedangnya jangankan dia memang tidak mampu menolong, sekali pun hendak menolong juga sudah kasip.

Tapi aneh bin ajaib, tampaknya beberapa senti lagi golok Ki Djui itu diteruskan ke bawah dan kepala Goan-ko tentu akan terbelah, namun mendadak Ki Djui seperti kena sihir saja tahu-tahu ia berdiri mematung dan mata goloknya lantas berhenti beberapa senti di atas kepala Goan-ko.

Betapa gesit ilmu pedang Goan-ko, sekilas itu ia pun bertindak, tanpa pikir lagi pedangnya lantas menusuk.

Jadi Ki Djui tidak jadi membacok Goan-ko, sebaliknya pedang Goanko yang menembus tubuhnya dari ulu hati sampai ke punggung, jiwanya melayang seketika.

Setelah menarik kembali pedangnya barulah Goan-ko merasa heran.

Girang Hong Biau-siang tidak terkatakan, cepat ia memburu maju.

Sebaliknya Tju Hou-sin sangat terkejut ketika melihat kawannya mendadak terbunuh, hal yang sama sekali tak terduga olehnya.

Di bawah kerubutan Goan-ko dan Biau-siang berdua kini ia menjadi kewalahan, berulang-ulang ia kena ditusuk dua kali pada lengan kiri dan iganya, darah bercucuran.

Mendadak Tju Hou-sin berteriak keras sekali sambil melemparkan senjatanya, Biau-siang berkelit, tempat luang itu segera digunakan Tju Hou-sin untuk menerjang keluar dan melarikan diri terbirit-birit.

Goan-ko sendiri baru tenang kembali membayangkan ancaman maut yang hampir mencabut nyawanya tadi.

la ingin bicara dengan Hong Biau-siang, maka tidak berpikir untuk mengejar Tju Hou-sin.

"Tjin-toako, hebat benar ilmu pedangmu!"

Puji Biau-siang dengan tersenyum dan mendekati pemuda Ku. Wajah Goan-ko menjadi merah, ia berseru.

"Kim-toako! Kim-toako! Silakan keluar, aku sangat berterima kasih padamu!"

Diam-diam Goan-ko mengetahui juga pasti dari tempat persembunyiannya Kim Tiok-liu telah membantunya.

Akan tetapi mesti ia mengulangi seruannya tetap tidak terdengar jawaban Kim Tiok-liu.

Waktu ia menuju ke tempat tadi, ternyata bayangan Kim Tiok-liu sudah tak nampak lagi, jelas sudah pergi sedari tadi.

"Ai, pengemis aneh yang kosen ini benar-benar seperti malaikat yang pergi datang tak menentu,"

Gumam Goan-ko dengan gegetun. Sementara itu Biau-siang telah menyusul tiba, ia melengak dan bertanya.

"Apakah kau datang bersama teman?"

"Benar, yaitu orang yang telah menolong aku dari rumahmu itu, cuma sayang sekarang ia sudah pergi."

Sahut Goan-ko. Mendengar Goan-ko menyinggung peristiwa kemarin malam, muka Biau-siang menjadi merah. Katanya.

"Ayahku telah menjebak kau dengan Djian-tjhit-tjui, sebelumnya aku sama sekali tak tahu. Aku benar-benar tidak bersekongkol dengan ayah."

"Aku tahu kejadian itu tiada sangkut-pautnya dengan kau,"

Ujar Goan-ko.

"Kalau tidak, masakah aku datang kembali ke sini."

"Semula aku mengira kau datang kembali untuk menuntut balas,"

Kata Biau-siang.

"Aku dan Kim-toako telah mendengar pembicaraan kedua cakar alap-alap kerajaan itu, aku kuatir kau mengalami apaapa, maka sengaja menguntit mereka ke sini."

Malu dan girang sekali Biau-siang, pikirnya.

"Kiranya kau tidak marah padaku, bahkan malah memikirkan keselamatanku."

Dengan wajah yang lebih merah kemudian dia berkata pula.

"Meski aku tidak bersekongkol dengan ayah, tapi ayah telah menjebak kau, sungguh aku pun ikut menjadi malu."

"Urusan sudah berlalu buat apa disinggung lagi, aku toh tidak mengalami sesuatu cidera apa pun,"

Kata Goan-ko.

"Menurut ayah, orang yang minum Djian-tjhit-tjui sedikitnya akan mabuk selama tujuh hari tujuh malam. Darimanakah kau memperoleh obat pemunahnya?"

Seperti diketahui, kemarin Biau-siang coba mencari obat pemunah Djian-tjhit-tjui di kamar rahasia ayahnya dan tidak menemukan obat pemunah itu, hal ini membuatnya merasa gelisah, sebab ia tidak tahu ayahnya menyimpan obat itu di tempat lain atau telah dicuri orang.

Baru sekarang Goan-ko percaya penuh kepada omongan Kim Tiok-liu yang ternyata tidak berdusta.

Segera ia berkata.

"Sobat itu telah memberi minum padaku sebutir Pik-ling-tan yang katanya terbuat dari teratai salju Thian-san."

Melihat air muka Goan-ko sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, barulah Biau-siang merasa lega, tapi hatinya lantas berubah menjadi semacam perasaan gelisah dan tidak tenteram.

Sejenak kemudian baru ia berkata dengan suara pelahan.

"Aku ingin memohon sesuatu padamu, entah kau dapat meluluskan atau tidak?"

"Silakan bicara,"

Sahut Goan-ko.

"Meski engkau tidak marah padaku, tapi pasti sangat benci pada ayahku,"

Kata Biau-siang.

"Ya, aku tahu, memang ayah tidak pantas berbuat demikian kepadamu."

"Aku justru ingin minta penjelasan kepada nona, sebab apakah ayahmu menipu aku agar minum Djian-tjhit-tjui itu?"

"Aku ingin bertanya padamu lebih dulu, Kang Hay-thian itu orang baik atau orang jahat?"

Goan-ko melengak, katanya kemudian.

"Kang-tayhiap termashur karena budinya yang luhur dan dikagumi oleh setiap orang Kangouw, masakah dia orang jahat?"

"Tapi ada orang menuduh dia sebagai pemberontak pihak kerajaan, apakah tuduhan demikian tepat?"

"Kata-kata ini tentu datang dari ayahmu?"

Sahut Goan-kc sambil mengerut kening.

"Ayahmu pernah bekerja bagi kerajaan, pantas dia mengemukakan kata-kata demikian. Tapi seluruh rakyat jelata yang tidak sudi dijajah dan ditindas tentu takkan membenarkan kata-kata demikian itu. Negeri kita sekarang dikangkangi orang lain, raja dari kaum penjajah. Mengapa kita tak boleh melawannya dan memberontak padanya?"

Walaupun Hong Biau-siang terhitung gadis gunung yang hijau dan sedikit bersekolah, tapi dapat pula ia membedakan mana yang benar dan salah. Setelah merenung sejenak, akhirnya ia berkata pula.

"Ya, betul juga. Cuma orang yang mengatakan Kang-tayhiap adalah orang jahat bukanlah ayahku, yaitu Bun-sioksiok. Ayah cuma mengikuti suaranya itu."

Goan-ko tidak kenal asal-usul Bun To-tjeng, katanya dengan tertawa.

"Entah apa maksud nona dengan mengemukakan hal ini?"

"Bun-sioksiok mengatakan Kang-tayhiap adalah orang jahat, dia bermusuhan dengan Kang-tayhiap, maka dia akan mencarinya untuk bertanding dan menuntut balas sakit hati lama. Tapi dia kuatir sukar memasuki rumah Kang-tayhiap, maka ayahku dibujuk untuk membantunya, sehingga kau telah dicekoki tiga cawan Djian-tjhit-tjui itu. Kemudian Bun Sengtiong disuruh menyamar sebagai dirimu dengan memakai bajumu, sekarang mereka tentu sudah berada di rumah Kangtayhiap dengan menggunakan kartu undangan yang diketemukan di dalam bajumu itu."

Baru sekarang Goan-ko paham duduknya perkara.

"Ah, kiranya demikian. Tapi betapapun Bun To-tjeng bermaksud menuntut balas kepada Kang-tayhiap, aku berani memastikan dia pasti akan gagal."

"Namun ayahku mengatakan ilmu silat Bun-sioksiok lihai luar biasa dan adalah jago nomor satu di dunia ini."

"Jika ilmu silat Kang-tayhiap nomor satu di dunia, ini memang diakui secara umum oleh setiap orang persilatan. Sebaliknya tentang ilmu silat Bun-sioksiok-mu itu sudah kusaksikan sendiri, memang harus diakui cukup lihai, tapi paling-paling juga cuma setingkat dengan kawanku she Kim itu, bila dibandingkan Kang-tayhiap, biarpun aku sendiri belum pernah menyaksikan ilmu silat beliau, tapi aku yakin Bunsioksiok-mu hanya akan mencari penyakit saja bilamana berani bertanding dengan Kang-tayhiap."

"Bun-sioksiok mencari penyakit sendiri, hal ini aku tak ambil pusing, tapi bagaimana dengan ayahku....."

Sampai di sini dapatlah Goan-ko memahami maksud si nona, pikirnya.

"Ayahmu pernah menjadi kaki tangan pihak kerajaan, kalau sampai mengalami kesukaran juga adalah akibat perbuatannya sendiri."

Sudah tentu ia tidak berani mengemukakan perasaannya itu kepada Biau-siang, ia hanya bisa menghiburnya agar jangan kuatir. Katanya.

"Asalkan ayahmu tidak ikut tampil ke muka, tentu juga Kang-tayhiap takkan membikin susah padanya."

"Ya, semoga demikian adanya,"

Kata Biau-siang.

"Cuma, aku tetap mengharapkan bantuanmu."

"Bantuan apa? Asalkan tidak melanggar ajaran-ajaran perguruanku, tentu aku akan meluluskan permintaanmu."

Kalau menuruti wataknya, dengan jawaban Goan-ko itu tentu Biau-siang tidak mau memohon lebih lanjut. Tapi kini demi untuk menolong ayahnya, terpaksa ia berkata pula dengan kikuk.

"Begini, setibanya kau di tempat Kang-tayhiap, aku mohon engkau jangan.....jangan menggunakan namamu yang asli."

"Sebab apa?"

Goan-ko menjadi bingung. Sebagai seorang pemuda yang tulus, seketika ia belum mengerti apa maksud tujuan permohonan si nona.

"Ayahku ikut mereka ke tempat Kang-tayhiap, mereka saat ini tentu sudah berada di sana,"

Kata Biau-siang.

"O, pahamlah aku. Jika aku menggunakan namaku yang asli tentu rahasia penyamaran Bun Seng-tiong itu akan terbongkar dan mereka mungkin sekali akan ditangkap oleh orang-orang di tempat Kang-tayhiap itu dan ayahmu mungkin....."

"Ya, dengan sendirinya ayahku juga akan ikut terembet. Sekalipun dia tidak sampai ikut ditangkap, sedikitnya juga akan diusir dari sana. Hal ini tentu akan membuat beliau amat malu."

"Bun Seng-tiong telah memalsukan diriku, lalu aku mesti menyaru sebagai siapa? Aku sudah tidak punya kartu undangan, cara bagaimana bisa masuk ke sana?"

"Kau tidak perlu menyaru sebagai siapa-siapa, cukup memakai suatu nama palsu saja. Bila kau perlihatkan sejurus dua ilmu silat perguruanmu saja, masakah orang di sana tidak mengenal ilmu Bu-tong-pay kalian? Hubungan Kang-tayhiap dengan Bu-tong-pay kalian juga teramat baik, mustail akan menolak kehadiranmu? Setiba di sana, harap kau mencari ayahku secara diam-diam, kau tidak perlu bicara padanya, asal ayah melihat kau, tentu akan sadar kedoknya terbongkar dan beliau tentu akan kabur dengan sendirinya secara diam-diam. Secara mudah kau akan dapat menolong ayahku, dan untuk selanjutnya aku yakin ayah akan kembali ke jalan yang betul, aku sendiri juga akan memberi nasihat padanya."

Setelah melirik Goan-ko sekejap, kemudian Biau-siang melanjutkan pula.

"Aku tidak tahu apakah yang kumohon ini akan melanggar ajaran perguruanmu atau tidak. Jika kau merasa tidak pantas untuk melaksanakannya, ya apa boleh buat, aku pun tak dapat memaksa kau."

Diam-diam Goan-ko menimang-nimang apa yang akan diperbuatnya toh demi menolong Hong Tju-tjiau dari jalan yang sesat, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran perguruan.

Maka akhirnya ia memanggut dan berkata.

"Baiklah, aku akan berbuat sebisanya bagi nona."

Biau-siang sangat girang, katanya.

"Banyak terima kasih. Eh, Tjin-siauhiap, kau pun perlu mengganti pakaian. Akan kuberikan pakaian Bun Seng-tiohg kepadamu."

Baju Goan-ko sendiri memang telah dibelejeti oleh Bun Seng-tiong, maka cepat ia berkata.

"Baiklah, aku dapat mencari sendiri ke kamar Bun Seng-tiong itu. Terpaksa aku harus bertukar baju dengan dia."

Perawakan Goan-ko memang hampir sama dengan Bun Seng-tiong, waktu ia keluar kembali sesudah memakai baju Bun Seng-tiong, dilihatnya Biau-siang sedang termenung seakan sedang memikirkan sesuatu yang serba susah.

Melihat Goan-ko keluar, segera ia menegur.

"Apakah sekarang juga kau akan..... akan berangkat?"

"Besok lusa adalah hari pesta Kang-tayhiap, terpaksa aku harus segera berangkat,"

Sahut Goan-ko. Tiba-tiba ia ingat sesuatu dan menambahkan pula.

"Dan nona sendiri rasanya tidak enak juga tinggal sendirian di sini."

Biau-siang mengangguk, katanya sambil menuding mayat Ki Djui yang masih menggeletak di sebelah sana.

"Ya, memangnya aku sedang memikirkan soal ini. Mereka berdua mengaku sebagai sobat lama ayahku dengan kedudukan sebagai anggota bayangkara kerajaan. Sekarang yang seorang sudah terbunuh dan yang lain melarikan diri. Urusan ini mungkin sekali akan mendatangkan bahaya di kemudian hari."

"Sebab itulah aku kira kau lebih baik menyingkir dari sini untuk sementara. Apa kau mempunyai tempat persembunyian yang lain?"

Tanya Goan-ko. Biau-siang mengerling sekejap ke arah Goan-ko tanpa menjawab, akhirnya ia hanya menggeleng saja.

"Jika tiada tempat sanak famili yang dapat ditumpangi! boleh juga pergi ke kota untuk beberapa hari lamanya, beberapa hari lagi ayahmu tentu sudah pulang."

Sungguh Biau-siang sangat kecewa.

Semula dia berharap!

Goan-ko akan membawa serta dia, seumpama tidak leluasa ikui ke rumah Kang Hay-thian, sedikitnya ia dapat menunggu di Tong-peng-koan.

Tapi Biau-siang tidak enak mengajukan perj mohonannya itu, maka dengan hambar kemudian dia berkataj "Tentang hal itu Tjin-siauhiap boleh jangan kualir, aku dapaJ menjaga diriku sendiri."

Menurut jalan pikiran Goan-ko, dianggapnya Biau-siand adalah seorang nona yang mahir ilmu silat dan tidak usah di-j kualirkan bila bersembunyi untuk beberapa hari di kota y and berdekatan, selain itu ia merasa rikuh juga dalam perjalanan bersama seorang nona.

Maka dengan pikiran rada bimbang ia menjawab.

"Baiklah semoga nona menjaga diri baik-baik."

Begitulah ia lantas mohon diri dan meninggalkan rumahi keluarga Hong itu.

Dilihatnya sang surya hampir di tengahtengah langit, hari sudah dekat lohor, segera ia mempercepat langkahnya menuju ke Tong-peng-koan.

Sampai di bawah gunung, tiba-tiba dilihatnya Kim Tiok-liu berbaring di atas tanah rumput dan seperti sedang tidur.

"Hei, Kim-toako, engkau masih berada di sini?"

Teriak Goanko kegirangan.

"O, aku sudah kenyang tidur di sini. Cepat amat kedatang arimu, kukira kau merasa berat berpisah dengan nonamu itu?"

"Ah, Kim-toako suka bergurau saja. Aku mencari pakaian untuk pengganti sehingga rada membuang waktu."

"Nah, sekarang kau sudah jelas perkaranya?"

"Sudah jelas. Banyak terima kasih atas pertolongan Kirrn toako,"

Kata Goan-ko.

Habis itu ia lantas menjura tiga kali kepada Kim Tiok-liu.

Tadinya ia menyangka Kim Tiok-liu cuma seorang pengemis yang suka membual, baru sekarang ia tahu orang adalah tuan penolongnya yang benar, ia menjadi merasa malu sendiri.

Kim Tiok-liu mengulur tangannya seperti mau menariknya bangun, tapi lantas tidak jadi, katannya dengan tertawa.

"Baiklah, penghormatanmu ini rasanya aku masih pantas menerimanya."

"Kim-toako sekarang hendak kemana?"

Tanya Goan-ko kemudian.

"Kau sendiri hendak kemana?"

Balas Tiok-liu.

"Aku akan menghadiri pesta perkawinan putri Kang-tayhiap,"

Sahut Goan-ko.

"Kang-tayhiap siapa? Apakah Kang Hay-thian?"

"Benar,"

Sahut Goan-ko.

Diam-diam ia heran, sebab setiap orang Kangouw tentu sudah tahu tiada Kang-tayhiap kedua selain Kang Hay-thian, pertanyaan si jembel muda ini benarbenar berlebihan, bahkan ia menyebutkan Kang Hay-thian begitu saja.

Maka terdengar Kim Tiok-liu berkata pula.

"Eh, ternyata Kang Hay-thian punya putri sebesar itu dan sudah mau dikawinkan."

Diam-diam Goan-ko menertawakan Kim Tiok-liu.

"Huh, usia putri Kang-tayhiap itu mungkin lebih tua darimu, tapi lagakmu saja sok anggap dirimu sebagai kaum angkatan tua."

Meski ia sudah tahu kepandaian Kim Tiok-liu tidak perlu disangsikan lagi, tapi ia tetap menganggap Kim Tiok-liu suka membual dengan menganggap orang lain sebagai kaum muda.

Maka dengan sengaja ia mengolok-olok.

"Kim-toako, jangan-jangan Kang-tayhiap itu juga terhitung angkatan muda bagimu?"

"Dia bukan angkatan mudaku,"

Sahut Kim Tiok-liu.

"Tapi uku pun tidak lebih muda dari dia. Ya, sebenarnya kami berdua boleh dianggap satu tingkatan."

Diam-diam Goan-ko geleng-geleng kepala, pikirnya.

"Berbagai pemimpin persilatan di zaman ini paling cuma berani anggap diri mereka sama tingkatan dengan Kangtayhiap, tapi kau jembel semuda ini juga berani mengaku sama tingkatan dengan beliau. Namun masih mendingan juga, sekarang kau tidak berani anggap dirimu lebih tinggi angkatannya daripada Kang-tayhiap, bualanmu ini terhitung tidak keterlaluan."

Kim Tiok-liu ternyata tak acuh dan tidak ambil pusing apa yang sedang direnungkan Goan-ko, tanyanya pula.

"Sungguh bagus sekali, jadi kau hendak pergi makan besar pada pesta perkawinan putri Kang Hay-thian."

"Bagus bagaimana?"

Tanya Goan-ko tidak paham.

"Sudah berapa hari lamanya aku tidak makan enak, kebetulan aku dapat ikut kau ke sana untuk gegares sekenyangnya,"

Kata Kim Tiok-Hu dengan tertawa "Aku ikut kau ke sana biar pun kau cuma membawa satu bagian sumbangan, rasanya mereka pun tidak enak untuk menolak kehadiranku."

"Apakah Kim-toako kenal Kang-tayhiap?"

Tanya Goan-ko.

"Aku tahu dia tapi tak pernah bertemu."

"Sebenarnya Siaute merasa sangat senang dengan ikut sertanya Kim-toako ke sana. Cuma keadaan Kim-toako seperti ini rasanya rada.....rada-rada....."

"Rada-rada apa? Apakah kau anggap pakaianku terlalu kumal, terlalu kotor? Kau merasa keberatan membawa seorang teman pengemis yang berbau seperti aku? Apakah Kang Hay-thian itu seorang yang suka pilih bulu?"

"O, tidak, bukan begitu maksudku,"

Cepat Goan-ko memberi penjelasan.

"Kang-tayhiap paling suka berteman, hal ini diketahui siapa pun juga di dunia ini. Dengan kepandaian Kim-toako yang hebat ini masakah tiada harganya untuk menjadi tamu Kang-tayhiap? Hanya kupikir untuk menghadiri suatu pesta seperti pesta perkawinan, jika kita berdandan sedikit rapi kan berarti suatu penghormatan kita kepada tuan rumah dan juga menghargai diri kita sendiri. Begini saja, Kimtoako, marilah kita beli satu setel baju di kota di depan sana lalu Kim-toako memangkas rambut seperlunya, kukira sedikit tempo yang terbuang Ini takkan menjadi halangan bagi perjalanan kita."

"Hm, aku justru suka begini saja, kenapa mesti banyak Itortingkah secara pura-pura?"

Sahut Kim Tiok-liu dengan mendengus.

Habis berkata bahkan ia terus mencomot segenggam tanah terus diusap-usapkan ke mukanya sendiri dan rambutnya diaduk-aduk pula sehingga lebih kusut.

Lalu jengeknya lagi.

"Nah, aku justru akan pergi ke sana dalam keadaan begini. Jika kau merasa aku akan membikin malu dirimu, bolehlah kau bertingkat sendiri, aku tidak perlu ikut padamu."

Goan-ko menjadi geli melihat rupa orang, pikirnya.

"Dengan demikian kotor mukamu, bukankah kau justru sengaja hen-duk menutupi mukamu yang asli agar tidak dikenal orang lain?"

Kuatir Kim Tiok-liu menjadi marah, terpaksa Goan-ko berkata.

"Ya, baiklah, Kim-toako adalah orang kosen yang suka kebebasan, sudah tentu tidak menghiraukan bentuk lahiriah segala. Pandangan Siaute yang cupet tadi harap Kimtoako suka memaafkan."

"Aku tidak peduli kau cupet atau panjang, yang kuinginkan ialah makan kenyang,"

Semprot Kim Tiok-liu.

"Hehe, rasanya hidungku sekarang juga sudah mendengus bau sedap arak dan daging di rumah Kang Hay-thian itu. Hayolah, lekas berangkat!"

Begitulah di tengah jalan Tjin Goan-ko hanya menguatirkan dua hal, pertama soal waktunya mungkin sudah terlambat, jika Bun To-tjeng sudah sampai di tempat tujuan mungkin sudah mulai bertanding dengan Kang Hay-thian dan Hong Tju-tjiau lentu ikut tersangkut, hal ini berarti permohonan Hong Biau-siang agar ayahnya itu diselamatkan menjadi gagal.

Kedua ia kuatir setiba di tempat tujuan, orangorang di sana tidak mengilukan kehadiran Kim Tiok-liu dan besar kemungkinan akan menimbulkan keonaran mengingat watak Kim Tiok-liu yang aneh ilu.

Besoknya lewat lohor mereka baru sampai di tempat kediaman Kang Hay-thian.

Ketika melihat Tjin Goan-ko datang bersama seorang pengemis muda, petugas penyambut tamu merasa heran dan sangsi.

Kim Tiok-liu justru 'tidak tahu diri', tanpa permisi segera ia hendak masuk ke dalam.

Tentu saja penjaga pintu lantas merintangi dia dan menegur dengan tertawa.

"Maaf, entah siapakah nama tuan tamu yard terhormat? Apakah ada kartu undangan majikan kami?"

Mata Kim Tiok-liu lantas mendelik, jawabnya.

"Kartu unJ dangan apa segala? Aku bukan tamu undangan, yang kuketahui adalah kaum pengemis di waktu minta-minta tidak memerlukan kartu undangan apa segala."

"Ah, saudara ini suka bergurau saja,"

Kata penjaga itu de-j ngan menahan gusar.

"Jika sekiranya tidak punya kartu undangan, maka....."

"Maka mau apa?"

Sela Kim Tiok-liu.

Petugas penyambut tamu tadi adalah seorang murid Binsan-pay yang lebih berpengalaman, tapi ia pun tidak dapat meraba asal-usul Kim Tiok-liu itu kawan atau lawan, maka dengan ramah ia menyela.

"O, tidak apa-apa, hanya saja....."

"Hanya apa?"

Kim Tiok-liu mendesak pula.

Sudah tentu penyambut tamu itu serba salah dan mendongkol pula.

Sebenarnya maksud ucapannya tadi bilamana Kim Tiok-liu adalah pengemis benar-benar, maka selayaknya ia harus menunggu di luar pintu untuk menanti sedekah.

Jika dia seorang yang punya asal-usul tertentu, maka pantasnya dia mesti memperkenalkan diri.

Melihat keadaan bisa runyam, cepat Goan-ko tampil kc muka, katanya.

"Wanpwe adalah murid Bu-tong-pay dan Khuheng ini adalah sobat baikku."

Mendengar seorang pemuda mengaku sebagai murid Butong-pay, penyambut tamu itu tampak mengunjuk rasa sangsi pula. Kim Tiok-liu menjadi aseran, omelnya.

"Eh, kau ini bagaimana? Jika boleh undanglah kami masuk ke dalam, jika tidak, usir saja kami. Kenapa mesti rewel saja sejak tadi?"

Dengan menahan gusar, penyambut tamu itu tidak menggubris Kim Tiok-liu, sebaliknya ia bertanya pada Tjin Goan-ko.

"Maaf, aku masih ingin minta penjelasan. N timpang tanya siapa nama saudara yang terhormat ini dan siapakah gurumu yang mulia?"

Goan-ko memberitahukan she Tjin, tapi memakai suatu nama palsu.

"Harap Tjin-heng sudi menunggu sebentar,"

Kata penyambut tamu itu. Lalu ia masuk ke dalam untuk melapor. Tidak lama kemudian keluarlah seorang pemuda yang gagah, setelah memberi salam hormat ia berkata.

"Kiranya Tjin-siauhiap dari Bu-tong-pay telah datang, maaf kalau penyambutan kami kurang sempurna. Tadi seorang Tjinsuheng dari Bu-tong-pay kalian juga sudah tiba lebih dulu, namanya Goan-ko, entah pernah apa Tjin-suheng itu dengan Tjin-siauhiap?"

Dasar Goan-ko tidak biasa berdusta, maka ia menjadi gelagapan atas pertanyaan itu. Untung Kim Tiok-liu lantas menyela.

"Eh, agaknya kalian tidak tahu bahwa Tjin-siauhiap ini paling takut kepada kakaknya yang bernama Goan-ko itu. Kakaknya itu datang dengan membawa kartu undangan dan atas perintah gurunya, sebaliknya Tjin-siauhiap ini datang di luar tahu kakaknya itu. Maka kedatangannya ini juga tidak berbarengan. Tapi kalau nanti kepergok kakaknya tentu menjadi soal karena tempat tujuan sudah dicapai, asalkan kalian sudi melayani saja tentu kakaknya tidak enak untuk mengusir dia pulang, bukan?"

"O, kiranya demikian,"

Kata pemuda gagah itu dengan tertawa.

"Guruku mempunyai hubungan sangat baik dengan Bu-tong-pay kalian, tentu saja kedatangan Tjin-siauhiap kami sambut dengan senang hati. Mari silakan masuk, Tjinsiauhiap."

Habis berkata segera ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Tjin Goan-ko.

Kiranya pemuda gagah itu adalah murid tertua Kang Haythian, yaitu Yap Boh-hoa.

Masuknya Yap Boh-hoa ke dalam perguruan memang di belakang Ubun Hiong, tapi umurnya lebih tua dari Ubun Hiong, namanya juga lebih termashur, demi untuk menghormati dia, maka Ubun Hiong terima mengalah menjadi Sute dan membiarkan Yap Boh-hoa menjadi murid tertua dan sebagai pewaris Kang Hay-thian.

Namun Yap Boh-hoa tak mau terima maksud Ubun Hiong itu.

Kemudian Kang Hay-thian sendiri yang menetapkan, Yap Boh-hoa tetap sebagai Toasuheng, tapi sebagai pewarisnya adalah Ubun Hiong.

Pilihan Kang Hay-thian ini berdasarkan Yap Boh-hoa memiliki ilmu sakti ajaran keluarganya sendiri, meski lihai kepandaiannya, tapi dalam hal ilmu silat dari peguruan masih kalah murni daripada Ubun Hiong, sebab itulah sebagai pewaris harus dipilih murid yang paling sempurna meyakinkan ilmu silat dari perguruannya sendiri.

Apalagi masuknya Yap Boh-hoa juga lebih belakangan, yaitu sesudah Ubun Hiong diangkat sebagai murid pewaris oleh Kang Hay-thian.

Tatkala itu sudah tiga tahun pertempuran besar di Siaukim-djwan (Peristiwa ini ada dalam Kisah Pedang di Sungai Es dan Geger Dunia Persilatan).

Yap Boh-hoa ini pernah menjadi panglima tempur dan namanya sangat termashur, kenalannya juga banyak, maka sekali ini dia ditugaskan sebagai wakil gurunya untuk menyambut tamu-tamu yang dipandang terhormat.

Dengan kedudukan Goan-ko, mestinya tidak perlu disambut sendiri oleh Yap Boh-hoa, soalnya petugas penyambut tadi menyangsikan diri Goan-ko dan Kim Tiok-liu, maka Yap Boh-hoa lantas diberi laporan dan diminta keluar sendiri.

Dari percakapan tadi Yap Boh-hoa juga menyangsikan asalusul Goan-ko dan Kim Tiok-liu, hal inipun dapat dirasakan oleh Goan-ko.

Maka di waktu berjabat tangan, Goan-ko lantas mengeluarkan Lwekang dari perguruannya.

Maksud Yap Boh-hoa juga hendak menguji benar tidaknya asal-usul Goan-ko, maka sekali berjabatan tangan segera ia dapat mengetahui bahwa Lwekang yang dikeluarkan Goan-ko itu memang dari aliran Bu-tong-pay.

Ketika ia menambahkan tenaganya sampai lima enam bagian barulah mulai nampak Goan-ko mengerut kening, diam-diam Boh-hoa percaya penuh bahwa an-ko memang benar adalah murid kesayangan Lui Tjin-tju, iau tidak, rasanya tidak akan sanggup menerima tekanan kekuatannya itu.

Maka katanya kemudian.

"Silakan masuk Tjin-siauhiap. Dan numpang tanya dari aliran mana lagi Kim-heng ini, siapakah gurumu yang terhormat, sudikah memberitahu?"

"Apa? Kau panggil aku Kim-heng, sebutan ini rada-rada kurang tepat,"

Kata Kim Tiok-liu dengan bergelak tertawa.

"Entah dimana ketidak tepatannya?"

Tanya Boh-hoa. Goan-ko juga kuatir Kim Tiok-liu mengoceh tak keruan, aka ia mengedipinya. Namun Kim Tiok-liu telah menjawab.

"O, aku hanya seorang pengemis, mana boleh kau mengaku bersaudara padaku? Sesungguhnya kedatanganku ini hanya ingin gegares secara gratis saja. Kami adalah kaum pengemis turun temurun, darimana bisa dihitung aliran apa segala? Soalnya sobat she Tjin ini pernah kubantu menggebah dua ekor anjing galak di tengah jalan, sebagai balas jasanya ia mau membawa serta aku ke sini untuk makan besar. Nah, sudah kukatakan apa yang sebenarnya, mau melayani pengemis seperti aku atau tidak boleh terserah kepadamu."

Kata-kata Kim Tiok-liu yang angin-anginan itu membikin muka Goan-ko sebentar merah sebentar pucat, terpaksa ia menyela dengan tersenyum rikuh.

"Sobat she Kim ini paling suka berkelakar, dia.....dia....."

Mestinya dia bermaksud memperkenalkan Kim Tiok-liu, tapi dia sendiri juga belum tahu asal-usul Kim Tiok-liu, maka setelah tergagap-gagap, akhirnya ia tidak meneruskan lagi.

Sedangkan Yap Boh-hoa hanya menjawab dengan ramah.

"Ah, Kim-heng memang suka berkelakar saja."

Berbareng ia pun menjulurkan tangannya.

"Eh, jadi kau pun sudi berkenalan dengan aku?"

Ujar Kim Tiok-liu sambil menggosok-gosok kedua tangannya sehingga daki kotoran tangannya mengelotok dan memualkan murid Bin san-pay yang menyaksikan di sebelahnya.

Biasanya Yap Boh-hoa suka kebersihan, tapi demi untuk menguji tamunya terpaksa ia harus menahan perasaannya dan menjabat tangan Kim Tiok-liu secara wajar, pikirnya.

"Kau berani mempermainkan aku, sebentar baru kau tahu rasa."

Begitulah pelahan-lahan Boh-hoa menambah tenaganya, tapi dirasakan pihak lawan sama sekali tidak mengerahkan tenaga tolakan, ketika ia menambahkan hampir segenap kekuatannya, sikap Kim Tiok-liu masih tenang-tenang saja sambil tersenyum seakan tidak merasakan Yap Boh-hoa sedang menguji kepandaiannya.

Keruan Boh-hoa terperanjat, padahal dengan kekuatan yang dikerahkan itu cukup untuk menghancurkan batu pilar, mengapa pengemis muda itu sedikitpun tidak merasakan apaapa.

Maka tanpa pikir lagi ia lantas mengerahkan segenap tenaganya, bahkan yang digunakan adalah tenaga pukulan Tay-seng-pan-yak-kang yang ampuh dan khusus untuk memutus urat nadi lawan, tapi lawan tetap tenang-tenang saja.

Sampai di sini, lekas Boh-hoa melepaskan tangannya dan berkata.

"Wah, ilmu silat Kawan Kim ini memang teramat dalam dan sukar dijajaki, sungguh kagum!"

Tadi ia disemprot Kim Tiok-liu karena menyebut "Kimheng", maka kini ia telah ganti panggilan 'Kawan' sebagaimana lazimnya kenalan baru sesama orang Kangouw.

Tak terduga Kim Tiok-liu lantas mendelik lagi dan akan menyemprotnya pula.

Tapi mendadak si jembel muda ini berganti sikap, dengan tertawa ia berkata.

"Eh, jadi kau sudi pula berkawan dengan pengemis berbau busuk semacamku ini? Ai, sungguh aku sangat beruntung sekail Baiklah, jika kau sudah sudi, marilah kita berkawan, Eh, Kawan Yap, kau jangan sungkan-sungkan padaku, ilmu silatmu juga tidak jelek."

"Masih diharapkan petunjuk dari Kawan Kim,"

Sahut Bohhoa dengan rendah hati.

"Haha, mestinya aku dapat memberi petunjuk padamu, tapi gurumu Kang Hay-thian sudah cukup memberi petunjuk padamu dan tidak perlu membikin repot lagi padaku,"

Sahut Kim Tiok-liu dengan tertawa.

Ucapan ini tidak hanya membikin kuatir Tjin Goan-ko, terutama membikin orang-orang Kang Hay-thian menjadi marah lantaran nama Kang Hay-thian telah disebut begitu saja oleh Kim Tiok-liu tanpa suatu penghormatan apapun.

Namun Yap Boh-hoa tidak menjadi gusar, ia pikir jembel muda ini tentu mempunyai asal-usul hebat, nanti kalau sudah berada di dalam dan setelah Suhu diberi laporan, tentu asalusulnya tidak sukar untuk diselidiki.

Dalam pada itu Kim Tiok-liu berbicara pula.

"Kulihat kau ini tentunya berguru sesudah memiliki kepandainan sendiri, betul tidak?"

"Betul,"

Kata Boh-hoa.

"Tay-seng-pan-yak-tjiang yang kau latih itu mula-mula kurang tepat, mungkin sekali sesudah kau ikut Kang Hay-thian beberapa tahun baru lambat-laun kesesatanmu dapat dibetulkan kembali,"

Kata Tiok-liu pula.

"Cuma keuletanmu masih kurang, selanjutnya kau harus belajar lebih giat dasar ilmu silat perguruan sendiri. Cuma kalau dibicarakan, hanya beberapa tahun saja au ikut Kang Hay-thian sudah dapat mencapai tingkatan sebagus ini, sungguh harus dipuji."

Kata-kata Kim Tiok-liu ini nadanya lebih mirip orang tua emberi petuah kepada kaum muda.

Akan tetapi bagi pendegaran Yap Boh-hoa benar-benar mengejutkan dan mengagum-n pula sebab apa yang dikatakan Kim Tiok-liu itu memang angat tepat, bahkan juga serupa seperti apa yang dikatakan ang Hay-thian kepada Boh-hoa belum lama berselang.

Diam-diam Boh-hoa tambah sangsi, darimana pengemis uda ini mengetahui sebanyak ini?

Bukan saja dapat mengatakan dengan jitu tentang aku berguru setelah memiliki kepandaian, bahkan mengetahui pula dimana penyakit kelemahanku, padahal kalau tidak paham inti Lwekang dari perguruan sendiri, mustail dapat mengetahui seluk-beluk itu dengan begitu jelasi Sungguh aneh sekali.

Sementara itu Kim Tiok-liu berkata.

"Kau sudi berkawan dengan aku tentunya kau tidak keberatan memberi makan gratis padaku bukan? Setelah makan kenyang nanti kita bicarakan lagi ilmu silat."

"Kawan Kim sudi berkunjung kemari, sungguh kami merasa mendapat kehormatan besar, Silakan masuk, silakan!"

Jawab Yap Boh-hoa.

Di antara tamu-tamu yang hadir itu banyak sekali tokohtokoh ternama, Goan-ko adalah murid Bu-tong-pay yang masih hijau, sudah tentu tiada yang memperhatikan dia, berbeda dengan Kim Tiok-liu, walaupun tiada seorang tamu pun yang kenal dia, tapi terhadap seorang pengemis kotor yang aneh itu, mau tak mau orang lantas menaruh perhatian dan merasa heran.

"Tjin-siauhiap, apakah engkau ingin bertemu dengan kakakmu?"

Tanya Boh-hoa.

"O, Yap-heng tak perlu repot-repot, nanti Siaute akan mencarinya sendiri,"

Jawab Goan-ko.

"Dia takut kepada kakaknya, maka sesudah selesai perjamuan baru dia berani menemuinya,"

Timbrung Tiok-liu.

"Tapi kedua teman yang datang bersama kakaknya itu boleh juga kutemui dulu."

"Baiklah, akan kuantarkan kau mencari mereka,"

Kata Bohhoa.

Diam-diam ia heran mengapa pengemis ini mengetahui 'Tjin Goan-ko' itu datang bersama dua orang temannya?

Sungguh aneh kehadiran anak murid Bu-tong-pay kali ini.

Dua saudara datang sendiri-sendiri, bahkan masing-masing membawa seorang teman yang berkepandaian tinggi yang asal-usulnya tak jelas.

Bahkan kepandaian jembel muda ini lebih aneh daripada laki-laki yang ikut datang bersama 'Tjin Goan-ko' tadi.

Kiranya waktu Bun Seng-tiong, Bun To-tjeng dan Hong Tjutjiau tiba tadi, juga Yap Boh-hoa yang menyambut kedatangan mereka.

Bun Seng-tiong membawa kartu undangan dan memalsukan sebagai Tjin Goan-ko, sedangkan Bun To-tjeng dan Hong Tju-tjiau mengaku sebagai temannya.

Karena ada kartu undangan, maka Yap Boh-hoa tidak menyangsikan diri Bun Seng-tiong serta tidak perlu menguji kepandaiannya.

Sebaliknya terhadap Bun To-tjeng dan Hong-Tju-tjiau ia telah mencobanya dengan cara seperti dia menguji Kim Tiok-liu, Hong Tju-tjiau tiada sesuatu yang istimewa, tapi kekuatan Bun To-tjeng membuat Boh-hoa terkejut.

Begitulah selagi Boh-hoa hendak mengantar Kim Tiok-liu mencari Bun To-tjeng dan Hong Tju-tjiau, tiba-tiba datang Li Kong-he dan berkata.

"Toasuko, Suhu mencari kau agar mewakilkan beliau menemani tamu. Djisuko dan Sutji sebentar lagi akan keluar untuk menyuguhkan arak kepada para tamu."

"Baiklah, silakan engkau menggantikan aku melayani tamu terhormat ini,"

Sahut Boh-hoa.

"Ah, tak perlu membikin repot, kami toh tidak buru-buru ingin menemui mereka,"

Ujar Goan-ko.

Maksud tujuan Goanko hanya ingin Hong Tju-tjiau melihat kedatangannya, dengan demikian Hong Tju-tjiau akan takut dan kabur dengan sendirinya menurut rencana.

Perjamuan diadakan di tengah taman bunga, kedua samping taman adalah serambi yang panjang.

Karena tamu yang datang teramat banyak, maka perjamuan diadakan secara bergiliran, ada sebagian tamu yang belum sempat mendapatkan meja perjamuan terpaksa duduk-duduk minum teh di sepanjang serambi samping.

Di tengah tamu-tamu sebanyak itu, walaupun Goan-ko sudah mengawasi ke sana kemari masih belum menemukan bayangan Hong Tju-tjiau bertiga.

Para tamu yang mengambil tempat duduk di meja perjamuan sementara itu sudah penuh, yang masih lowong beberapa tempat duduk adalah di meja tuan rumah.

Menurut adat kebiasaan, meja ini disediakan untuk orang tua dari kedua mempelai serta tamu-tamu agung yang dianggap paling akrab oleh kedua keluarga mempelai.

Karena ayah-bunda mempelai lelaki sudah lama wafat, sanak-kadang juga tidak ada, sedangkan orang tua dari pihak keluarga mempelai perempuan juga cuma Kang Hay-thian dan istrinya (Kang Lam, ayah Kang Hay-thian, sudah wafat tahun yang lalu), Yap Boh-hoa dan Keng Siu-hong sudah menikah, mereka berdua juga ikut duduk di meja tuan rumah sebagai pengiring tamu.

Selain itu masih ada empat tempat duduk yang masih harus diatur siapa yang layak mendudukinya.

Lebih dulu Kang Hay-thian mengundang Ketua Kay-pang yaitu Tiong Tiang-thong serta It-yang-cu, tokoh Go-bi-pay.

Kedudukan Tiong Tiang-thong di antara para hadirin boleh dikata paling tinggi.

Hubungannya dengan keluarga Kang boleh dikata sangat rapat, maka tiada seorang pun yang keberatan jika Tiong Tiang-thong diundang oleh Kang Haythian untuk duduk di meja terhormat itu.

It-yang-cu adalah murid Kim-kong Siangdjin (ketua Go-bipay angkatan terdahulu) dari keluarga partikelir, adalah Sute dari Eng-hun Tianglo, ketua Go-bi-pay yang sekarang.

Selain Tiong Tiang-thong boleh dikata terhitung paling tinggi kedudukan atau menurut angkatannya, sebab itulah Kang Hay-thian juga memandangnya sebagai tamu agung.

Setelah diisi oleh kedua tamu terhormat ini, kini masih lowong empat tempat duduk yang entah harus diduduki oleh tamu yang mana.

Selagi Kang Hay-thian merasa bingung, tiba-tiba istrinya, Kok Tiong-lian berkata dengan tertawa.

"Biasanya kau sangat menyukai jago-jago dari angkatan muda, mengapa kau tidak mengundang beberapa ksatria muda ke meja ini agar mereka pun dapat bergaul dengan para angkatan tua."

"Benar juga,"

Seru Hay-thian dengan tertawa.

"Coba undanglah Tong-siauhiap."

Pemuda she Tong yang disebut Kang Hay-thian ini adalah putra Tong Keng-thian, ketua Thian-san-pay sekarang, namanya Tong Ka-gwan.

Sesungguhnya tingkatan Tong Kagwan cukup tinggi dan dapat dikata setingkat dengan Kang Hay-thian, cuma umurnya baru 30-an.

Maka di antara tokohtokoh yang sudah Icrmashur, dia masih dipandang sebagai ksatria angkatan muda.

Kini tinggal tiga tempat duduk yang masih lowong.

Setelah berpikir sejenak kemudian Kang Hay-thian berkata.

"Dari surat Lui Tjin-tju, ketua Bu-tong-pay, yang kuterima, dia memuji murid kesayangannya yang bernama Tjin Goan-ko untuk berkenalan dengan aku. Kabarnya dia sudah datang, malahan datang bersama dua orang teman. Maka boleh silakan mereka bertiga saja duduk kemari."

Sebabnya Kang Hay-thian berpikir demikian adalah karena dia sangat mengindahkan persahabatannya dengan Lui Tjintju serta kesukaannya terhadap kaum angkatan muda.

Selain itu ada pula suatu sebab lain, yaitu dia mendapat laporan dari Yap Boh-hoa bahwa seorang di antara teman yang datang bersama 'Tjin Goan-ko' itu memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi siapakah dia tiada dikenal.

Lantaran itu Kang Hay-thian sengaja mengundang mereka bertiga duduk satu meja sekaligus agar bisa mengetahui siapa jago lihai yang tak dikenal ini.

Bahwasanya Kang Hay-thian tiba-tiba mengundangnya duduk bersama satu meja hal ini pun sama sekali di luar dugaan hin To-tjeng, keruan saja ia terkejut.

Tapi setelah dipikir lagi, dirinya toh sudah berada di sarang macan, sekalipun hendak menghindar juga tidak bisa lagi.

Pula dengan duduk satu meja dengan tuan rumah akan berarti lebih banyak kesempatan untuk menyerang secara mendadak bilamana perlu.

Maka tanpa ragu-ragu lagi segera ia berbangkit dan mengucapkan kata-kata merendah diri ketika Yap Boh-hoa datang mengundang mereka.

"Tjin-siauhiap bertiga disilakan duduk semeja dengan Suhu,"

Kata Yap Boh-hoa.

"Eh, dimanakah Ong-siansing tadi?"

Bun To-tjeng dan Hong Tju-tjiau dalam pada itu telah memakai she palsu, masing-masing mengaku she Hun dan she Ong.

Kalau Bun To-tjeng tidak memperlihatkan sesuatu perasaan gugup karena dia memang sudah berpengalaman dan licin, berlainan halnya dengan Bun Seng-tiong yang masih hijau, seketika ia kelabakan, lebih-lebih ketika diketahui Hong Tjutjiau telah menghilang.

Bun To-tjeng juga tidak tahu Hong Tju-tjiau mengeluyur kemana.

Tiba-tiba ia mendapat akal dan menjawab.

"Ah, Ongsiansing tiba-tiba merasa perutnya sakit, mungkin.....mungkin dia.....hehe, sudahlah, kita tak usah menunggu dia."

Begitulah samar-samar ia hendak mengatakan bahwa Hong Tju-tjiau perutnya sakit dan sedang pergi ke kakus.

"Tak apalah, silakan Hun-siansing berdua pindah dulu ke sana,"

Undang Boh-hoa. Dengan ragu-ragu Bun Seng-tiong hendak menolak, tapi Bun To-tjeng diam-diam memberi isyarat kepada putranya itu, katanya.

"Karena tuan rumah bermaksud baik, terpaksa kita menurut saja."

Maka kedua orang itu lantas ikut Yap Boh-hoa untuk menemui Kang Hay-thian.

"Tjin-siheng,"

Sambut Kang Hay-thian.

"Gurumu mempunyai persahabatan berpuluh tahun dengan aku, engkau adalah murid kesayangannya, tentu kupandang kau sebagai anak muridku sendiri, maka hendaklah kau jangan sungkansungkan lagi. Sungguh sangat kebetulan, kalian berdua yang satu adalah jago muda dari Thian-san-pay, yang lain adalah ksatria muda dari Bu-tong-pay, silakan kalian duduk berdampingan agar bisa bergaul lebih akrab."

Begitulah ia lantas mengatur tempat duduk Bun Seng-tiong di sebelah Tong Ka-gwan.

Kepandaian merias muka Bun To-tjeng memang sangat pintar, setelah berpisah 20-an tahun Kang Hay-thian menjadi pangling padanya.

Dengan ramah Hay-thian menyambut pula.

"Hun-siansing datang dari jauh, maafkan aku tidak menyambut secara wajar."

"Ah, akulah yang mesti minta maaf karena kedatanganku yang lancang ini tanpa diundang,"

Ujar Bun To-tjeng.

Sebelumnya Kang Hay-thian sudah dilapori oleh Yap Bohhoa bahwa ilmu silat orang she Hun ini sangat tinggi.

Sebagai seorang guru besar ilmu silat merangkap tuan rumah, untuk so-pan-santun Kang Hay-thian tidak enak untuk menguji tamunya.

Tapi dari ucapan Bun To-tjeng itu, mau tak mau ia menjadi curiga.

Menurut dugaannya, jika dia datang bersama Tjin Goan-ko, maka dia tentu mempunyai hubungan baik dengan Bu-tongpay.

Tapi selama bersahabat puluhan tahun dengan Lui Tjintju, seingat Kang Hay-thian toh tidak pernah mendengar Lui Tjin-tju membicarakan seorang kawan she Hun yang berkepandaian setinggi ini, hal ini rada mengherankan.

Meski merasa sangsi, tapi sebagai seorang yang berhati tulus, terutama terhadap seorang tamu yang baru dikenalnya, sudah tentu Kang Hay-thian tak enak menanyakan asal-usul orang.

Ia tidak tahu bahwa tamu yang disangka baru pertama kali kenal ini sesungguhnya adalah musuh yang pernah bertarung dengan dirinya pada masa 20 tahun yang lampau.

Dalam pada itu ketua Kay-pang Tiong Tiang-thong sedang saling mengalah dengan It-yang-cu dari Go-bi-pay dalam hal tempat duduk utama.

Kini Kang Hay-thian hendak mengundang Bun To-tjeng ke tempat duduk mereka, tiba-tiba Tiang-thong mendapat pikiran.

"Kang Hay-thian tidak enak menjajal tamunya, kenapa aku tidak mewakilkan dia untuk mengujinya?"

Maka sambil tertawa segera Tiang-thong mengulur tangan untuk menarik Bun To-tjeng dan berkata.

"Hun-siansing adalah tamu dari jauh, lebih tepat silakan Hun-siansing saja yang duduk di tempat utama ini."

"Ah, mana aku berani melampaui hak kedua Lotjianpwe?"

Cepat Bun To-tjeng menolak dengan mengangkat sebelah tangannya.

Ilmu andalan Tiong Tiang-thong adalah Kun-goan-it-ki-kang yang maha lihai, tapi di tengah tarikan dan tolakan kedua orang itu hanya baju Bun To-tjeng saja yang tampak bergerak melambung seperti tertiup angin kencang.

Sebaliknya jenggot Tiong Tiang-thong yang memutih panjang itu pun tergetar bergoyang.

Nyata pertandingan Lwekang yang dikerahkan kedua orang tadi boleh dikata sama kuatnya.

'Sam-siang-sin-kang' yang menjadi andalan Bun To-tjeng itu berbeda dengan berbagai Lwekang dari kalangan Tionggoan, maka Tiong Tiang-thong menjadi heran dan terkejut karena tak dapat menjajaki asal-usul lawannya.

Dalam pada itu Bun To-tjeng sudah berduduk, katanya.

"Tempat duduk utama itu silakan Tiong-pangtju saja yang menempatinya."

Sementara Li Kong-he datang memberitahukan Yap Bohhoa bahwa Hong Tju-tjiau yang dicari itu tak bisa diketemukan meski beberapa buah kakus telah didatangi.

Kiranya tadi waktu Hong Tju-tjiau mengetahui f jin Goan-ko asli juga sudah datang, ia menjadi ketakutan dan lekas mencari kesempatan untuk kabur, yaitu pada waktu Bun Totjeng tengah mencurahkan perhatiannya ketika Yap Boh-hoa datang mengundangnya duduk di meja tuan rumah, maka menghilangnya Hong Tju-tjiau juga di luar tahu Bun To-tjeng.

Begitulah Yap Boh-hoa menyuruh Li Kong-he coba mencarinya lebih lanjut, ia sendiri lantas melapor pada Kang Hay-thian.

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 10

Baca Juga: Legenda Kematian 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger