Pendekar Jembel 2

Eps 2 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.

"Suhu, Ong-siansing yang datang bersama Tjinsiauhiap itu masih belum diketemukan."

"Wah, kawanku itu memang badannya kurang enak, kukira tak perlu lagi menunggu dia,"

Ujar Bun To-tjeng.

"Baiklah, bila perlu carilah tabib Han agar memeriksa tamu kita itu,"

Pesan Kang Hay-thian kepada Yap Boh-hoa.

Di sebelah sana It yang-cu dan Tiong Tiang-thing masih terus sibuk saling mengalah menduduki tempat utama.

Sedangkan tempat duduk yang lain juga masih lowong satu karena ke-tidak hadiran Hong Tju-tjiau.

Yap Boh-hoa masih berdiri di samping menunggu perintah sang guru siapa lagi yang mesti diundang menduduki tempat terhormat itu.

Melihat kedua jago tua itu tetap menolak, dengan tertawa Kang Hay-thian lantas berkata.

"Sudahlah, kedua Lotjianpwe tidak perlu saling mengalah lagi. Kukira lebih baik ditentukan menurut umur saja. Tampaknya It-yang Totiang agak lebih lanjut usianya daripada Tiong-pangtju, entah dugaanku betul atau tidak?"

"Benar, dia lebih tua lima tahun daripadaku,"

Kata Tiangthong dengan tertawa.

"Nah, sekarang kau Tosu tua ini tak bisa omong lagi bukan? Hayo lekas duduk di sana, araknya jangan sampai dingin."

"Ini mana boleh jadi,"

Ujar It-yang-cu.

"Kay-pang adalah organisasi terbesar, menurut peraturan Bu-lim, yang diutamakan adalah keluhuran dan kewibawaan. Tanpa hadirnya Tay-pi Sian-su dari Siau-lim-si, dengan sendirinya tempat duduk utama ini menjadi hakmu untuk mendudukinya."

"Hahahaha, mana ada peraturan begitu,"

Seru Tiang-thong tertawa.

"Jika menurut peraturan, pengemis tua atau muda dari Kay-pang hanya pintar minta-minta saja, dimana pernah ada pengemis menduduki tempat terhormat demikian?"

Di luar dugaan siapa pun juga, di tengah gelak tertawa orang banyak karena ucapan Tiong Tiang-thong itu, mendadak Kim Tiok-liu melompat ke depan dan mendekati meja utama itu dengan lagak tuan besar, serunya dengan tertawa.

"Aha, aku lagi kebingungan tidak mendapat tempat duduk, kiranya di sini masih ada tempat lowong. Pengemis cilik paling mengutamakan makan minum besar, kalian boleh tolak-menolak, tapi aku tidak sungkan-sungkan lagi."

Habis berkata tanpa rikuh ia terus duduk di tempat utama itu.

Ketika Kim Tiok-liu mendekat, diam-diam Boh-hoa sudah membisiki sang guru bahwa jembel muda ini tidak boleh dipandang rendah, menurut ujiannya tadi ilmu silat jembel ini sukar dijajaki dan tak diketahui pula asal-usulnya.

Tindakan Kim Tiok-liu yang dianggap sembrono ini keruan membikin geger para hadirin, termasuk It-yang-cu dan Tiong Tiang-thong.

Dengan gusar Tiang-thong lantas membentak.

"Darimana datangnya pengemis cilik seperti kau ini? Apakah kau tahu siapa aku?"

Dengan cengar-cengir Kim Tiok-liu menjawab.

"Siapakah kau? Darimana aku bisa tahu? Tapi kudengar mereka memanggil Pangtju padamu, entah kau Pangtju dari Pang apa?"

"Aku adalah Pangtju dari Kay-pang, setiap pengemis di dunia ini ada di bawah perintahku,"

Jawab Tiang-thong dengan menahan gusar.

"O, jika demikian kau tak dapat memerintah aku,"

Ujar Tiok-liu dengan tertawa.

"Aku menjadi pengemis hanya sebagai sambilan saja, aku adalah pengemis pocokan. Biar kukatakan terus terang, aku malahan merangkap menjadi pencuri dan pencopet. Di kala tidak berhasil mencopet barulah aku minta-minta nasi segala Kelak saja bilamana aku sudah bertekad menjadi pengemis penuh barulah aku akan memohon pengemis tua seperti kau untuk menerima aku sebagai anggota Eh, Kang-tayhiap, sebagai tuan rumah tentunya kau tidak menolak pengemis cilik merangkap menjadi pencopet untuk makan satu meja bersama kau bukan? Nah, tuan rumahnya toh tidak mengusir aku, maka siapa pun tidak ada hak buat mengusir aku lagi. Aku tak mau sungkan-sungkan lagi dan ingin minum arak lebih dulu."

Sebenarnya Kang Hay-thian juga merasa pengemis cilik ini rada-rada kurang ajar.

Cuma dia paling suka kepada anak muda yang berkepandaian tinggi, dari Yap Boh-hoa ia telah dikisiki bahwa ilmu silat jembel muda ini 'dalamnya sukar dijajaki', hal ini sangat mengherankan.

Apalagi kini melihat keberanian jembel muda yang luar biasa itu, semuanya ini sangat menarik perhatiannya.

Maka sekalipun para hadirin sama gusar lantaran tingkah-laku Kim Tiok-liu yang kurang ajar itu, sebaliknya Kang Hay-thian tenang-tenang saja atas pertanyaan Kim Tiok-liu tadi ia memanggut dan berkata "Baiklah, silakan saudara Kim minum sesukanya."

"Terima kasih,"

Sahut Tiok-liu sambil mengangkat cawan arak.

"Memang arak harus diminum mumpung masih panas. Silakan, silakan!"

Mendadak Tiong Tiang-thong tertawa sambil menepuk pundak Kim Tiok-liu dan berseru.

"Haha pengemis cilik seperti kau ini benar-benar hebat. Tempat duduk ini aku saja tidak berani menduduki, tapi pengemis cilik seperti kau ternyata berani. Baiklah, hendaklah kau duduk yang kuat."

Maksud Tiang-thong hendak membikin malu Kim Tiok-liu, maka tepukannya itu menggunakan setengah kekuatan Kungoan-it-ki-kang.

Melihat Tiong Tiang-thong mendadak menepuk pundak Kim Tiok-liu, keruan Kang Hay-thian terkejut, ia cukup kenal betapa lihainya Kun-goan-it-ki-kang, sekalipun jago kelas satu juga sukar menahan tenaga pukulannya itu.

Maka cepat Kang Hay-thian juga menepuk pundak Kim Tiok-liu yang sebelah dan berkata dengan tertawa "Aku paling suka kepada ksatria muda yang suka berterus terang.

Saudara Kim, kau benarbenar mencocoki seleraku "

Tujuan tepukan Tiong Tiang-thong adalah hendak menggetar hancur kursi yang diduduki Kim Tiok-liu agar jembel muda itu jatuh terjungkal dan dibikin malu di depan orang banyak.

Dengan Kun-goan-it-ki-kang yang sudah mencapai tingkat sempurna Tiong Tiang-thong sanggup memukul sepotong tahu yang ditaruh di atas batu, batunya akan hancur lebur dan tahu di atasnya itu takkan rusak sedikitpun.

Jadi tujuannya sekarang hanya membikin hancur kursi yang sedang diduduki tanpa melukai Kim Tiok-liu, dengan demikian jembel muda itu hanya akan dibikin malu saja.

Sebaliknya Kang Hay-thian tak tahu maksud tujuan Tiong Tiang-thong itu.

Ia kuatir dalam gusarnya ketua Kay-pang itu akan melukai Kim Tiok-liu.

Maka tepukannya menggunakan ilmu 'Keh-but-thoan-kang' (menyalurkan tenaga melalui benda lain), tujuannya hendak membantu Kim Tiok-liu menolak tenaga tepukan Tiong Tiang-thong itu.

Cuma dia menepuk lebih lambat daripada Tiong Tiang-thong sehingga dia hanya berharap dapat mengurangi kemungkinan luka si jembel muda.

Ketika tepukan Tiong Tiang-thong mengenai sasarannya, tiba-tiba dirasakan pundak jembel muda itu empuk lunak seakan-akan memukul di atas gumpalan kapas, sedangkan jembel muda itu masih enak-enak duduk di tempatnya, kursinya juga tidak remuk.

Keruan kejut Tiong Tiang-thong tak terhingga, selagi dia hendak menambah tenaga, dalam pada itu tepukan Kang Haythian juga sudah tiba.

Seketika Tiong Tiang-thong berseru kaget, badannya tergeliat dan terduduk kembali di atas kursinya seakan kena didorong orang, kursinya ikut tergetar goyang, untung tidak sampai terjungkal.

"Eh, pengemis tua, hendaklah kau pun duduk yang kuat."

Kata Kim Tiok-liu dengan tertawa.

Sudah tentu Kang Hay-thian mengetahui si jembel muda itu telah memperalat tepukannya tadi untuk menggetar mundur Tiong Tiang-thong.

Semula Hay-thian hanya bermaksud memunahkan tenaga tepukan Tiong Tiang-thong untuk membantu si jembel muda, siapa tahu kekuatan si jembel sendiri sudah cukup kuat untuk melawan Tiong Tiang-thong, ditambah lagi tenaga tepukan Kang Hay-thian, dengan sendirinya melebihi tenaga tepukan Tiong Tiang-thong.

Hal ini tidak membikin heran dan kejut Kang Hay-thiang, yang membuatnya heran adalah Lwekang jembel muda itu ternyata serupa dengan Lwekang Hay-thian sendiri, ketika tenaga tepukan itu kena pundaknya, si jembel ternyata tidak mengeluarkan tenaga perlawanan, sebaliknya Lwekang kedua orang ternyata bisa terbaur menjadi satu.

Untuk bisa tercampur-baur Lwekang kedua orang itu harus memenuhi dua syarat, pertama si jembel harus mengetahui lebih dahulu bahwa Kang Hay-thian hanya bermaksud membantunya dan bukan hendak menyerangnya.

Kedua, aliran Lwekang kedua harus sama-sama dari satu perguruan.

Padahal Lwekang Kang Hay-thian dipelajari dari Kim Si-ih yang tiada cabang keduanya, sebab itulah Kang Hay-thian menjadi terkejut dan terheran-heran.

Di lain pihak diam-diam Kim Tiok-liu juga merasa bersyukur dan mengakui Kun-goan-it-ki-kang si pengemis tua benarbenar sangat lihai, bila ketua Kay-pang itu menggunakan segenap tenaganya, andaikan tidak terluka juga dirinya akan dibikin malu di depan orang banyak.

Untung Kang-suheng membantu aku, demikian pikirnya.

Tiong Tiang-thong menjadi sangat kagum terhadap Kim Tiok-liu, pikirnya.

"Meski dia menggetar mundur aku dengan meminjam tenaga Kang Hay-thian, tapi tubuhnya sendiri sanggup menahan tepukanku tadi, Lwekangnya juga pasti luar biasa. Maka dengan tertawa Tiong Tiang-thong lantas berkata.

"Kalau bicara tentang tingkatan, kau tidak pantas menempati tempat duduk ini, tapi dengan usiamu semuda ini sudah memiliki ilmu silat sedemikian hebat, di zaman ini mungkin sukar dicari orang kedua. Maka tiada halangannya tempat duduk utama ini diberikan padamu. Baiklah, aku pengemis tua dapat mengalah padamu. Eh, kau ini she apa?"

Diam-diam Kim Tiok-liu menertawakan penilaian Tiong Tiang-thong yang menganggap tingkatannya lebih muda dan rendah, namun ia pun sudah menaruh kekaguman terhadap ketua Kay-pang itu, maka sikapnya yang ugal-ugalan tadi juga lantas berubah, dengan sungguh-sungguh ia menjawab.

"Aku she Kim bernama Tiok-liu."

"Ehm, namamu sungguh sangat bagus,"

Ujar Tiang-thong dengan tertawa.

"Guru Kang-tayhiap, Kim-tayhiap, Kim Si-ih, ketika baru muncul di Kangouw, beliau juga menyaru sebagai kaum pengemis. Sekarang kau juga she Kim dan berkelana sebagai kaum jembel. Sayang sekarang Kim-tayhiap tidak diketahui jejaknya, apabila beliau mengetahui mempunyai penganut seperti kau ini pasti beliau akan sangat senang, eh, boleh jadi beliau akan menerima kau sebagai anakangkatnya."

"Tidak, aku tak ingin menjadi anak-angkat Kim-tayhiap,"

Kata Kini Tiok-liu sambil menggeleng.

Ucapan ini membikin para tamu saling pandang dengan1 bingung, mereka anggap jembel cilik ini terlalu tidak tahu diri.

Hanya Kang Hay-thian saja yang berpikiran lain.

Teringat gurunya Kim Si-ih, sudah 21 tahun tak diketahui berada dimana, jika beliau mempunyai anak, maka usia anaknya itu boleh dikata sebaya dengan jembel cilik ini.

Seperti diketahui, Kim Si-ih dan Kang Hay-thian menikah pada tahun yang sama (Dalam Kisah Pedang di Sungai Es).

Maka kalau Kim Si-ih punya anak, seharusnya umurnya sebaya dengan putri Kang Hay-thian sendiri, yaitu Kang Hiau-hu.

Dalam pada itu Yap Boh-hoa lantas menyela.

"Biar kuperkenalkan kalian. Yang ini adalah Hun-siansing dan yang itu adalah Tjin-siauhiap dari Bu-tong-pay. Eh, Tjin-siauhiap mungkin kau belum tahu bahwa Kim-heng ini datang bersama saudaramu."

Keruan Bun Seng-tiong terperanjat.

"Darimana aku mempunyai saudara?"

Demikian pikirnya.

Bun To-tjeng juga tahu gelagat tidak menguntungkan, ia tidak tahu jembel muda itu akan main gila cara apa.

Cuma ia yakin jembel muda itu tentu tidak kenal asal-usulnya, maka sebisanya ia berlaku waspada.

It-yang-cu adalah sahabat karib Lui Tjin-tju, ketika mendengar keterangan Yap Boh-hoa tadi ia menjadi heran, sebab ia hanya mengetahui Lui Tjin-tju cuma punya seorang murid she Tjin, bahwasanya Tjin Goan-ko masih punya saudara lagi selamanya tak pernah didengar olehnya.

Walaupun penyamaran Bun Seng-tiong cukup pandai sehingga sekilas sukar dibedakan, tapi It-yang-cu pernah beberapa kali melihat Tjin Goan-ko di atas Bu-tong-san, kini tanpa terasa ia pandang beberapa kejap kepada Bun Seng-dong dan samarsamar ia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada diri pemuda itu.

Watak It-yang-cu justru berlawanan dengan Tiong Tiangthong.

Jika Tiong Tiang-thong paling suka ikut campur urusan tetek-bengek, adalah It-yang-cu paling tidak suka ikut campur urusan orang lain, cuma sekali timbul curiga, betapapun ia juga ingin melihat bagaimana macamnya adik Tjin Goan-ko itu.

Tapi sebelum It-yang-cu membuka suara, tiba-tiba terdengar pengatur acara berseru kedua pengantin baru telah keluar menyuguh arak kepada para tamu.

Terpaksa It-yang-cu menahan maksudnya hendak bicara sambil menunggu saat yang baik.

Perkawinan Kang Hiau-hu dan Ubun Hiong ini dapat berlangsung sesudah mengalami banyak peristiwa dan rintangan.

Wajah Hiau-hu yang cantik itu tampak rada malumalu pula ketika muncul di tengah orang banyak.

Waktu sampai di meja utama ia menjadi melengak sejenak.

Menurut aturan, Hiau-hu harus menyuguh arak lebih dulu kepada tamu yang menduduki tempat utama.

Tak terduga olehnya bahwa tamu agung yang duduk di situ ternyata adalah seorang pengemis cilik.

Di sampingnya adalah dua Lotjianpwe yang kedudukannya sangat dnggi serta ada hubungan rapat dengan ayahnya sendiri, yaitu Tiong Tiangthong dan It-yang-cu.

Keruan ia menjadi bingung harus menyuguh arak lebih dulu kepada siapa?

Tiba-tiba ia mendapat akal sambil menyodorkan nampan yang berisi cawan-cawan arak dan dengan suara lembut ia berkata.

"Silakan para tamu yang mulia sudi minum secawan."

Dengan cara demikian ia maksudkan sebagai penghormatan yang sama kepada para tamu di situ dan supaya masing-masing mengambil cawan arak sendiri.

Para tamu lantas berdiri, hanya Kang Hay-thian dan Kok Tiong-lian sebagai orang tua masih tetap duduk di tempatnya.

Bun To-tjeng mendadak berkata.

"Terima kasih!"

Berbareng pelahan ia menolak nampan arak yang disodorkan Kang Hiau-hu itu.

Tampaknya saja ia mendorong pelahan, tapi sesungguhnya telah mengerahkan kekuatan Sam-siang-sin-kang yang lihai, tujuannya hendak menggetar luka Kang Hiau-feu, menyusul nona itu terus hendak dibekuk untuk dijadikan barang sandera.

Mimpi pun Kang Hay-thian tidak menyangka akan terjadinya peristiwa itu.

Namun Kim Tiok-liu yang sebelumnya sudah siap sedia.

Sekejap itu juga sekonyong-konyong Kim Tiok-liu juga mendorong pelahan nampan yang masih dipegang Kang Hiau-hu itu, seketika cawan-cawan arak di atas nampan itu sama berloncatan sehingga isinya berhamburan, sampai-sampai Kang Hay-thian juga ikut terciprat.

Dengan demikian tenaga Sam-siang-sin-kang Bun To-tjeng yang lihai itu dipunahkan oleh Kim Tiok-liu.

"Hahaha! Kedua mempelai bukan menyuguh arak kepadamu saja, kenapa kau mendahului berterima kasih segala? Aku kang duduk di tempat utama, aku sendiri malah belum mencicipi pak suguhannya,"

Demikian seru Kim Tiok-liu sambil bergelak tertawa.

Kang Hiau-hu melongo kaget, ia tidak tahu bahwa nyawanya tadi hampir saja melayang.

Bahkan para tamu juga tidak paham duduknya perkara, siapa pun tidak menduga bahwa Bun jTo-tjeng itu sebenarnya mempunyai rencana keji hendak membikin celaka putri jago nomor satu Kang Haythian.

Sebaliknya Kang Hay-thian sendiri cukup mengerti, cuma bukan dia sendiri yang memunahkan Sam-siang-sing-kang Bun [To-tjeng itu, maka sampai kini ia masih belum jelas siapakah pun To-tjeng itu.

Maka untuk sementara ia tetap tinggal diam aja.

Begitu pula Tiong Tiang-thong juga tidak enak ikut campur urusan karena tuan rumah sendiri tidak mengambil sesuatu tin-takan.

Dalam pada itu Bun To-tjeng menjadi gusar di samping terkejut, dengan lagak seperti tidak terjadi apa-apa ia membentak.

"Pengemis cilik, kurang-ajar benar kau ini! Tuan rumah su-Ika mengalah dan membiarkan kau duduk di tempat utama itu, lantas kau berani berlagak sombong?"

Ia tahu bahwa rencananya sukar terlaksana pula, hendak kabur juga tidak mudah, maka dia pura-pura bersikap garang sekadar menutupi maksud tujuannya yang keji tadi.

Maka dengan tertawa Kim Tiok-liu menjawab.

"Eh, jadi kau tidak mau mengalah padaku? Jika demikian bolehlah kita coba-coba mengukur tenaga. Jika aku kalah biar kau yang duduk di tempat utama ini."

Bahwasanya ada tamu hendak berkelahi di tengah perjamuan benar-benar sesuatu yang tidak pantas.

Kok Tionglian mengira kedua orang itu cuma saling mempertahankan kehormatan masing-masing saja, maka dengan suara lirih ia membisiki sang suami.

"Hay-thian, kau memisah mereka saja. Sama-sama tamu kita, buat apa saling bertengkar?"

"Berkenalan dengan menggunakan ilmu silat masingmasing adalah kejadian yang biasa,"

Kata Hay-thian dengan tertawa.

"Jika kedua tamu kita memang punya minat, boleh juga kita menambah pengalaman pula. Anak Hu, tak perlu lagi kau menyuguhkan arak."

Kang Hiau-hu baru saja bisa menenangkan diri, maka setelah menaruh nampannya, ia lantas duduk di samping sang ibu.

Kok Tiong-lian sendiri masih belum tahu bahwa putrinya tadi hampir saja kena serangan gelap, kini melihat Hiau-hu rada pucat dan suaminya berkata demikian, maka tahulah dia tentu ada sesuatu yang tidak beres.

Hay-thian tahu bahwa Kim Tiok-liu telah menyelamatkan putrinya, dengan sendirinya ia pun tahu Bun To-tjeng tidak bermaksud baik.

Cuma ia tidak mau mengutarakan hal itu dan sengaja hendak melihat dulu ilmu silat kedua orang.

Ia pikir sekali mereka bergebrak tentu akan mudah diketahui asal-usul mereka dan bila si jembel muda tak sanggup menandingi lawannya tentu pula dirinya akan membantunya.

Begitulah karena tuan rumahnya tidak mencegah pertengkaran kedua tamunya, maka hadirin yang lain juga senang melihat pertarungan ramai.

Segera di tengah taman diluangkan suatu kalangan, semua orang sama mengalihkan pandangan kepada pertandingan kedua orang itu.

Bun To-tjeng benar-benar gemas terhadap si jembel muda, kalau bisa sekali hantam ia ingin mampuskan dia.

Tapi mau tak mau ia harus berlagak tenang dan berkata.

"Hm, kau pengemis cilik ini punya kepandaian apa, kau ingin bertanding cara bagaimana, apa mesti mati-matian atau cukup asal kena tutuk saja."

"Hihi, terserah padamu,"

Jawab Tiok-liu dengan mengikik tawa. Bun To-tjeng menjadi gusar, bentaknya.

"Baiklah, silakan serang lebih dulu."

"Aku yang duduk di tempat utama dan paling terhormat, maka seharusnya aku mengalah dga kali serangan padamu,"

Sahut Tiok-liu dengan tertawa. Tanpa bicara lagi, dengan murka Bun To-tjeng membelah dengan sebelah telapak tangannya. Tapi dengan sangat gesit Kim Tiok-liu berkelit ke samping.

"He, tidak kena!"

Serunya dengan tertawa mengejek. Belum lenyap suaranya, tiba-tiba pukulan Bun To-tjeng yang kedua sudah menyusul pula, yaitu suatu jurus Kim-nadjiu-hoat yang amat lihai. Terdengar suara "bret"

Sekali, sepotong lengan baju Kim Tiok-liu kena dirobek, namun Kim Tiok-liu masih sempat menghindarkan diri.

Yang seorang menyerang dengan cepat dan ganas, yang lain berkelit dengan indah dan gesit, tanpa terasa para hadirin sama bersorak, tapi diam-diam juga berkuatir bagi si jembel muda ini.

Jika pada serangan kedua saja jembel muda itu telah kena dirobek lengan bajunya, maka serangan ketiga mungkin sukar mengelakkan diri pula.

Tiong Tiang-thong juga berbisik kepada Kang Hay-thian.

"Kulihat kepandaian mereka berdua mungkin tidak selisih jauh, hanya teramat berbahaya bagi si pengemis cilik yang sengaja mengalah tiga jurus serangan kepada lawannya."

Rupanya Tiong Tiang-thong berkesan baik dan timbul rasa sukanya kepada Rim Tiok-liu, Kang Hay-thian hanya tersenyum saja tanpa memberi komentar apa-apa atas ucapan Tiong Tiang-thong itu.

Dalam pada itu terdengar Kini Tiok-liu sedang berkata dengan tertawa.

"Ya, memang pakaian kaum pengemis itu harus robek-robek, banyak terima kasih atas bantuanmu!"

Sudah hampir kecundang, tapi mulutnya masih menerocos seenaknya.

Bun To-tjeng juga sangat terkejut karena dua kali serangannya dapat dihindarkan Kim Tiok-liu.

Maka dengan murka lantas serangan ketiga dikeluarkan, pukulan mematikan yang paling diandalkan, yaitu Sam-siang-sin-kang.

Seketika bayangan pukulan Bun To-tjeng seakan berlapis-lapis datangnya, sekitar Kim Tiok-liu seakan tertutup semua oleh serangan lawan.

Angin kencang berjangkit sehingga debu pasir ikut bertebaran.

Para tamu yang berdekatan sama menyingkir mundur kuatir kalau kelilipan matanya oleh debu pasir itu, tetapi sedapat mungkin mereka pun ingin mementang mata untuk menyaksikan dengan cara bagaimana Kim Tiok-liu berusaha menghindarkan serangan maut itu.

Di tengah kabut debu yang remang-remang dan tak jelas itu tahu-tahu Kim Tiok-liu sudah mengelakkan serangan lihai itu dan berdiri di bawah sebatang pohon, serunya sambil tertawa.

"Lihai amat! Sayang masih tetap tak bisa mengenai diriku."

Bagi tamu-tamu yang berilmu silat rada rendah sama sekali tidak mengetahui cara bagaimana Kim Tiok-liu menghindarkan serangan tadi, tapi di antara para hadirin itupun tidak sedikit tokoh kelas satu.

Segera ada orang berteriak.

"Hah, yang digunakan adalah Thian-lo-poh-hoat!"

"Eh, pengemis cilik ini pun mahir Thian-lo-poh-hoat, apakah dia anak murid Djing-sia-pay?"

Teriak yang lain.

"Benar, yang dia gunakan adalah langkah ajaib Thian-lopoh-hoat,"

Sambung yang lain lagi.

"Tapi dia bukanlah orang Djing-sia-pay!"

Orang yang bicara terakhir ini adalah jago Djing-sia-pay, yaitu Siau Tji-wan.

Kakeknya, Siau Hing-hong, adalah jago Djing-sia-pay yang paling mahir Thian-lo-poh-hoat.

Thian-lo-poh-hoat memang berasal dari Djing-sia-pay, cuma yang mahir menggunakan tidak terbatas orang Djingsia-pay saja.

Guru Kang Hay-thian, yaitu Kim Si-ih justru telah mengambil sari Thian-lo-poh-hoat itu untuk digabungkan dengan ilmu silat yang diperolehnya dari kitab pusaka tinggalan Kiau Pak-beng, sehingga hasilnya jauh lebih bagus daripada Thian-lo-poh-hoat aslinya.

Sekarang Kang Hay-thian menyaksikan Kim Tiok-liu mengeluarkan Thian-lo-poh-hoat dari perguruannya sendiri, sungguh kejut dan girangnya tak terhingga.

Seketika ia pun dapat menarik kesimpulan siapa sebenarnya Kim Tiok-liu.

Sesudah mengelakkan tiga kali serangan lawan, mendadak Kim Tiok-liu berteriak.

"Jika menerima tanpa memberi adalah kurang hormat. Lihatlah seranganku!"

Mendadak tangan kanannya berputar setengah lingkaran, flari tangan kiri lantas menutuk ke depan mengarah Hiat-to di dada Bun To-tjeng.

Cepat Bun To-ceng menangkis dan balas penyerang, setelah saling gebrak satu kali, keduanya lantas melangkah mundur.

Pada jari Kim Tiok-liu sudah terjepit secarik robekan kain.

katanya dengan tertawa.

"Sekarang satu-satu, kau merobek bajuku, aku pun merobek bajumu. Nah, boleh kita coba lagi!"

Kiranya Kim Tiok-liu tidak berhasil menutuk sasarannya, namun dengan cepat sekali jarinya berhasil mengait robek baju Bun To-tjeng.

Melihat telapak tangan Kim Tiok-liu yang berputar tadi gayanya mirip Tay-seng-pan-yak-tjiang, diam-diam Yap Bohhoa merasa sangsi, ia coba bertanya pada Kang Hay-thian.

"Apakah yang dimainkannya tadi adalah Tay-seng-pan-yaktjiang? Gayanya tampaknya rada mirip dengan cara kita. Ilmu tutukan-nya tadi agaknya aku pun pernah melihat Suhu memainkannya."

"Ya, itu adalah Keng-sin-tji-hoat (Ilmu tutukan pengejut malaikat) yang belum pernah kau pelajari,"

Kata Kang Haythian.

"Keng-sin-tji-hoat si jembel muda ini ternyata lebih pandai daripadaku, cuma sayang masih kurang latihan, kalau tidak, orang she Hun itu tentu sudah terjungkal."

Mendengar gurunya mengatakan ilmu tutukan si jembel itu lebih hebat, kejut Yap Boh-hoa benar-benar luar biasa.

Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, di sebelah sana Kim Tiok-liu dan Bun To-tjeng sudah mulai bergebrak lagi.

Setelah saling gebrak lagi, masing-masing sudah tidak berani sembrono lagi.

Meski Bun To-tjeng cukup kuat menahan serangan Tay-seng-pan-yak-tjiang, namun tenaga getaran waktu menangkis tadi membuat dadanya sesak, bahkan cara menutuk Kim Tiok-liu tadi membuatnya lebih terkejut.

Sebagai seorang ahli segera ia mengetahui pengetahuan lawannya sangat luas dan macam-macam, selanjutnya entah jurus serangan aneh apalagi yang hendak dikeluarkan.

Sebaliknya sesudah bergebrak tadi, Kim Tiok-liu juga merasa napasnya kurang lancar.

Pikirnya.

"Pantas ayah mengatakan Sam-siang-sin-kang keluarga Bun terhitung suatu ilmu terpuji di dunia persilatan. Tampaknya tenaga orang ini masih lebih tinggi setingkat daripada aku."

Kini setelah bergebrak lagi, Kim Tiok-liu lantas menggunakan akal, selalu ia mengeluarkan jurus serangan baru yang aneh.

Karena sukar menangkap kemana arah serangan lawannya, terpaksa Bun To-tjeng berlaku lebih hatihati, ia bertahan dengan rapat dan tidak berani sembarangan balas menyerang.

Cukup lama juga pertarungan kedua orang itu dan masih tetap sukar ditentukan menang atau kalah.

Sedangkan daun pohon di samping mereka sampai rontok dan hampir gundul terkena angin pukulan kedua orang.

Sambil memegangi cawan arak dan mengikuti pertandingan itu, diam-diam Kang Hay-thian merenung.

"Selama 20 tahun ini kiranya Suhu sudah menciptakan pula berbagai jurus serangan baru yang aneh. Ilmu memang satu angkatan lebih maju dan lebih tinggi daripada angkatan yang lain, sesuatu ilmu harus dikembangkan dan diciptakan yang baru daripada ajaran angkatan tua. Tapi selama 20 tahun ini apa yang kuciptakan terlalu sedikit bila dibandingkan dengan Suhu. Sungguh aku harus merasa malu."

Melihat sang suami termenung-menung, Kok Tiong-lian lantas bertanya.

"Aneh benar kepandaian jembel muda ini, cuma sayang masih kurang latihan agar lebih matang lagi. Mengapa engkau diam saja, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir, selama ini kawan-kawan Bu-lim selalu menyanjung puji padaku, aku disanjung sebagai jago nomor satu di dunia ini, maka aku ingin tahu apakah aku dirasuki oleh sebutan kosong itu sehingga tanpa terasa aku pun menganggap sebutan itu memang pantas bagiku?"

Sementara itu pertarungan kedua orang sudah mencapai ratusan jurus, Bun To-tjeng masih tetap tak bisa menang, ia menjadi gelisah.

Ia dapat melihat tenaga Kim Tiok-liu kurang kuat dibandingkan dirinya, maka pada suatu saat ia sengaja memancing serangan Kim Tiok-liu untuk diajak adu tenaga.

Kim Tiok-liu juga tidak kalah cerdik, ia menggunakan akal orang untuk mengakali orang itu sendiri.

Mendadak ia melangkah maju dan menghantam.

Pada saat itulah Bun Totjeng lantas membentak.

"Kena!"

Berbareng tangannya lantas memotong ke bawah. Tak terduga Kim Tiok-liu ternyata segesit belut, di tengah jalan serangannya lantas ditarik kembali sambil menggeser ke samping, sahurnya dengan tertawa.

"Apanya yang kena? Kaulah yang kena kugerayangi!"

Di tengah suara gelak-tawanya, ketika ia membuka tangannya, terdengarlah suara gemerincing nyaring, macammacam uang tembaga dan uang perak berhamburan jatuh di atas tanah.

Hanya tertinggal sebuah botol porselen kecil yang masih terpegang di tangannya.

Lalu katanya pula dengan tertawa.

"Siok toan-ko (koyok sambung tulang) keluaran Bubeng-to adalah obat yang sukar dicari, ini mesti kusimpan baik-baik."

Kiranya pukulan Kim Tiok-liu tadi adalah serangan purapura saja, yang benar adalah sebelah tangannya ketika mendekat dan menggeser ke samping ia terus menggerayangi saku lawan sehingga isi kantong Bun To-tjeng kena dikuras habis olehnya.

Walaupun serangannya tidak mengenai Bun To-tjeng, tapi berhasil mencopet barangnya, hal ini terang Bun To-tjeng yang kecundang.

Keruan Bun To-tjeng sangat gusar tapi mati kutu, wajahnya sampai berubah merah padam tak bisa bicara lagi, sebaliknya para hadirin tertawa terbahak-bahak.

Sampai di sini Tiong Tiang-thong juga heran, diam-diam ia tanya Kang Hay-thian.

"Kang-tayhiap, cara pengemis cilik itu mencopet sungguh sangat indah, jangan-jangan dia adalah murid si copet sakti Ki Hiau-hong?"

Seperti diketahui (Dalam Kisah Pedang di Sungai Es), pada 30-an tahun yang lampau Ki Hiau-hong termashur sebagai copet sakti yang tiada bandingannya.

Sifatnya sangat jenaka dan suka bercanda dengan sesama kawan Bu-lim, sering ia mencuri kitab-kitab pusaka atau mencopet obat mujarab atau senjata tunggal mereka.

Tiong Tiang-thong sendiri dahulu juga pernah mengalaminya, sebab itulah ia kenal cara pencopetan Ki Hiau-hong.

Maka Kang Hay-thian menjawab.

"Ilmu copetnya ini memang benar ajaran Ki Hiau-hong, tapi dia pasti bukan muridnya. Ilmu silat Ki Hiau-hong sekali-kali tidak sehebat jembel muda ini."

"Jika demikian, jangan-jangan kau sudah mengetahui asalusul perguruannya?"

Tanya Tiang-thong "Benar, aku sudah tahu,"

Sahut Hay-thian.

"Cuma, saat ini masih tidak boleh kukatakan. Sebentar nanti bila aku sudah bertanya padanya, bila dugaanku tidak melesset, biarlah aku akan mengundang kalian untuk minum beberapa cawan arak gembira lagi."

"Arak yang kau suguhkan sekarang ini bukankah juga arak gembira?"

Ujar Tiong Tiang-thong dengan teratwa.

"Ya, tapi hal ini lebih luar biasa lagi, jauh lebih menggembirakan daripada peristiwa perkawinan putriku ini,"

Kata Hay-thian.

"Betulkah begitu? Jika demikian aku menjadi ingin pertandingan ini lekas berakhir agar guci wasiat ini bisa lekas kau pecahkan,"

Kata Tiang-thong.

Ketika dilihatnya Kang Haythian lantas termenung seperti sedang mengingat sesuatu, maka ia pun tidak enak untuk bertanya lebih jauh.

Kiranya disebabkan oleh ilmu mencopet Kim Tiok-liu itulah hingga menimbulkan kenangan Kang Hay-thian terhadap Ki Hiau-hong, bahkan menimbulkan rasa rindunya pula kepada sang guru, yaitu Kim Si-ih.

Ki Hiau-hong pernah mengangkat saudara dengan Kang Lam, ayah Hay-thian, juga terhitung sahabat paling karib gurunya, yaitu Kim Si-ih.

Pada 20 tahun yang lalu, waktu Kim Si-ih dan Kok Tji-hoa mengasingkan diri keluar lautan bebas, tidak lama kemudian jejak Ki Hiau-hong juga menghilang.

Ada orang mengatakan copet sakti itu telah mengembara ke negeri Thian-tiok (kini India) dan ada orang berceritera dia pergi mencari Kim Si-ih.

Mana yang benar, tiada seorang pun yang tahu dengan pasti.

Yang jelas, seperti halnya Kim Si-ih, sejak itu jejak Ki Hiau-hong juga tak diketahui lagi.

Lantaran menghilangnya seorang copet sakti yang suka membikin onar, maka sejak hu dunia persilatan menjadi sepi juga.

Diam-diam Kang Hay-thian berpikir.

"Tampaknya jembel muda itu memang Suteku, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Dia mahir ilmu mencopet Ki-pepek, agaknya paman Ki juga tinggal satu tempat bersama Suhu. Cuma entah beliau masih hidup tidak? Bila paman Ki masih hidup maka umurnya sekarang juga sudah hampir 80 tahun. Usia ayahku lebih muda beberapa tahun daripada paman Ki. tapi ayah sudah meninggal dunia lebih dulu. Bila ayah dapat hidup sampai hari ini dan mendapat kabar tentang kawan baiknya itu, entah betapa akan girangnya beliau."

Kemudian Hay-thian berpikir pula.

"Tahun ini tepat ulang tahun Suhu yang ke-60, ilmu silat beliau tiada bandingannya, tentu badan beliau tetap sehat walafiat. Sungguh cepat sekali lewatnya sang waktu, sudah 20-an tahun aku tidak mendengar petuah beliau."

Sebagaimana diketahui, Kang Hay-thian hanya putra seorang kacung pada keluarga pembesar negeri, berhasilnya dia menjadi seorang pendekar besar adalah berkat didikan Kim Si-ih, maka Kang Hay-thian senantiasa terkenang kepada gurunya yang berbudi itu.

Kini melihat Kim Tiok-liu dengan sendirinya teringat pula kepada gurunya itu.

Selagi Hay-thian termenung, terdengar Tiang-thong berseru.

"Bagus! Jurus ilmu pedang itu kau melihatnya tidak, Kang-tayhiap?"

Waktu Hay-thian memandang ke depan, dilihatnya Bun Totjeng sedang terdesak mundur, tapi Kim Tiok-liu tetap bertangan kosong tanpa memegang pedang segala.

Yap Boh-hoa yang berdiri di samping gurunya menjadi heran mendengar seruan Tiong Tiang-thong tadi, ia tanya.

"Tiong-pangtju, kau bilang dia memainkan ilmu pedang?"

"Ya, aku ingin minta keterangan gurumu, yang dimainkan pengemis cilik itu seperti ilmu pedang Thian-san-pay,"

Sahut Tiang-thong. Kang hay-thian manggut-manggut, katanya.

"Memang benar, yang dia mainkan sekarang adalah jurus Si-mi-kiamhoat dari Thian-san-pay. Jurus yang tadi, aku tidak memperhatikan."

Kiranya jari Kim Tiok-liu digunakan sebagai pedang dan memainkan gaya ilmu pedang perguruannya.

Ilmu pedang ajaran Kim Si-ih disarikan dari ilmu pedang Thian-san-pay, hanya saja caranya menggunakan jari sebagai ujung pedang serta gerak perubahannya adalah tambahan dan ciptaan Kim Si-ih sendiri.

Maka murid Kang Hay-thian belum pernah mendapat ajaran ilmu setinggi ini, maka dari itu Yap Boh-hoa tidak kenal permainan silat Kim Tiok-liu.

Dalam pada itu It-yang-cu juga sudah dapat mengenali Thian-san-kiam-hoat yang dimainkan Kim Tiok-liu, padahal jalgo muda Thian-san-pay, yaitu Tong Ka-gwan justru berdiri di sebelahnya, segera ia menoleh dan bertanya padanya.

"Tongsiauhiap, apakah orang ini adalah anak murid Thian-san-pay kalian?"

Tong Ka-gwan tampak kebingungan dan menjawab.

"Bukan. Entah darimana dia dapat belajar Si-mi-kiam-hoat, tampaknya sama, tapi berbeda banyak pula."

Tiba-tiba It-yang-cu merasakan sesuatu yang tidak beres, ia melengak dan bertanya.

"He, kemanakah Tjin-siauhiap dari Bu-tong-pay tadi?"

Tadi tempat duduk Bun Seng-tiong diatur di sebelah Tong Ka-gwan, kemudian sesudah Bun To-tjeng bertanding dengan Kim Tiok-liu, Ka-gwan dan Bun Seng-tiong berdiri berdekatan untuk menyaksikan berlangsungnya pertarungan itu.

Baru sekarang juga Tong Ka-gwan mengetahui menghilangnya 'Tjin Goan-ko' di sebelahnya, sahutnya.

"Ya, aneh, barusan saja aku masih bicara dengan dia. Kemanakah perginya?"

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara ribut di serambi depan sana. Kiranya Bun Seng-tiong yang mengikuti kejadian-kejadian di tengah pesta itu, ia menjadi semakin ketakutan. Pikirnya.

"Ra-isanya peristiwa ini lebih banyak bahayanya daripada selamat-inya. Ayah tidak berhasil menyergap anak Kang Haythian, tentu sebentar rahasianya akan diketahui musuh. Hongpepek sudah kabur lebih dulu, buat apa lagi aku tinggal di sini?"

Rupanya dia hanya memikirkan keselamatannya sendiri sehingga ayahnya juga tak terpikirkan lagi.

Maka di tengah perhatian orang banyak sedang dipusatkan ke gelanggang pertandingan, diam-diam ia lantas mengeluyur pergi.

Tapi untuk keluar dari taman itu harus melalui suatu serambi yang panjang.

Tatkala itu Tjin Goan-ko juga sedang memperhatikan pertandingan di ujung serambi.

Ketika Bun Seng-tiong lewat di situ secara kebetulan kena dipergoki olehnya.

Tanpa ayal lagi, segera Goan-ko melompat maju dan mengadang di depan Bun Seng-tiong sambil berkata dengan dingin.

"Bun-heng, sudah waktunya kita harus bertukar baju lagi."

Keruan Bun Seng-tiong terkejut. Tapi ia pun cukup cerdik, segera ia mendorong ke depan dan berkata.

"Loji (adik kedua), kau ribut apa di sini? Diam-diam kau berani ikut ke sini, untuk ini belum lagi aku mengomeli kau."

Dorongan Bun Seng-tiong itu menggunakan Sam-siang-sinkang.

Cuma latihannya belum matang, sudah tentu tak dapat dibandingkan Sam-siang-sin-kang ayahnya.

Namun demikian tenaganya juga sudah cukup untuk membikin hancurnya batu.

"Kau mengoceh apa?"

Bentak Goan-ko sembari mengelak ke samping, berbareng jarinya lantas menutuk ke siku lawan.

Lekas Bun Seng-tiong menurunkan tangannya ke bawah, menyusul dengan cepat tangannya menolak ke depan lagi.

Rupanya kepandaian kedua orang ini masih sama kuatnya, Bun Seng-tiong tidak dapat melukai Tjin Goan-ko dengan Sam-siang-sin-kang, sebaliknya Goan-ko juga tidak mampu membekuk Seng-tiong.

Pertarungan mereka itu dengan sendirinya membikin kaget tamu-tamu yang lain.

Waktu Yap Boh-hoa membawa masuk Goan-ko tadi, ada beberapa tamu di antaranya mendengar pembicaraan mereka, maka sekarang mereka pun menyangka kedua saudara yang wajahnya memang rada mirip itu telah bertengkar sendiri.

Segera ada seorang tamu berkata dengan tertawa.

"He, kalian berdua saudara mengapa membikin ribut di sini? Kangtay-hiap mengadakan pesta, adikmu ikut meramaikan perayaan ini, mengapa sebagai kakak kau menyalahkan dia?"

Ia tidak tahu duduknya perkara dan menyangka kedua saudara itu sedang bertengkar sendiri.

Dan baru saja Goan-ko hendak mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, tiba-tiba para penonton di sebelah sana menjadi gempar, kiranya Kim Tiok-liu berhasil menyobek baju Bun To-tjeng, tapi ia pun kena dipukul satu kali oleh lawannya itu.

Sebagai seorang tokoh kelas wahid sudah tentu Bun Totjeng merasa malu karena bajunya dirobek orang, tapi Kim Tiok-liu kena dipukul olehnya, hal ini membuat para penonton ikut kuatir baginya.

Tjin Goan-ko terkejut juga, betapa licin Bun Seng-tiong, selagi Goan-ko tertegun segera ia menerobos lewat.

Orangorang di serambi situ sedang memperhatikan kejadian di tengah kalangan pertandingan sehingga sungkan ikut mengurus pertengkaran di antara 'kedua bersaudara' itu.

Sebenarnya kalau mau Goan-ko masih sempat membongkar kedok Bun Seng-tiong dan orang-orang Kang Hay-thian tentu tidak akan membiarkan Seng-tiong kabur begitu saja.

Tapi lantaran Goan-ko tidak tahu asal-usul Bun To-tjeng yang sebenarnya, sehingga dia tidak tabu segala tipu muslihat yang diatur ayah dan anak she Bun itu.

Disangkanya sengketa To-tjeng dan Kang Hay-thian hanya percekcokan biasa orang Kangouw, maka hari ini sengaja datang hendak mengukur tenaga dengan Kang Hay-thian, adapun Kim Tiokliu tahu-tahu tampil ke depan bertanding dengan Bun Totjeng, hal ini sama sekali di luar dugaan Goan-ko.

Sebab itulah ia pun tidak ingin membikin susah Bun Seng-tiong dan membiarkan dia kabur begitu saja.

Waktu ia berpaling lagi memperhatikan pertandingan di tengah kalangan, dilihatnya Kim Tiok-liu sedang menggunakan potongan kain baju yang dirobeknya dari lawan untuk mengerudung pula ke atas kepala Bun To-tjeng sambil tertawa dan mengolok-olok.

"Pengemis cilik berhasil mencopet sebagian baju robek ini dan sebagai persennya kena digebuk satu kali, kukira ini masih setimpal juga."

Kiranya Kim Tiok-liu memang sengaja hendak memancing kemarahan Bun To-tjeng, maka dengan menempuh bahaya ia terus menubruk maju dengan kecepatan luar biasa, ia jambret baju lawannya, la menaksir dengan langkah ajaib Thian-lopoh-hoat dirinya tentu sempat menghindarkan serangan lawan, andaikan kena dipukul juga takkan terlalu berat.

Hasilnya memang sesuai dengan perhitungannya.

Maka legalah had Goan-ko melihat Kim Tiok-liu tidak sampai terluka.

Sebabnya Kim Tiok-liu sengaja memancing kemarahan Bun To-tjeng, bukanlah dia sengaja hendak menggodanya, soalnya pertandingan di antara jago kelas wahid, bila salah satu pihak menjadi gopoh, dalam hal pengetahuan macam-macam ilmu silat Kim Tiok-liu lebih luas daripada Bun To-tjeng, ia hanya kalah ulet, kalah kuat.

Sebab itulah meski dia sudah mengeluarkan macam-macam serangan aneh, setelah sekian lamanya masih tetap tak bisa menang.

Untuk mencapai kemenangan hanya dengan memancing amarah Bun To-tjeng.

Ternyata Bun To-tjeng masuk perangkap, ia merasa kepandaiannya boleh dikata setanding dengan Kang Haythian, sekarang di depan orang banyak bajunya kena dirobek oleh seorang jembel cilik, keruan ia menjadi malu dan murka.

Begitulah dengan berjingkrak murka Bun To-tjeng menggertak keras, kedua tangannya menghantam turun sehingga kain baju yang dikerudungkan Kim Tiok-liu ke atas kepalanya tadi hancur menjadi potongan kecil-kecil.

Memang tujuan Kim Tiok-liu justru ingin membikin murka lawannya, sekali Bun To-tjeng menyerang secara kalap, kesempatan ini segera digunakan olehnya dengan baik.

Segera Kim Tiok-liu mengeluarkan langkah Thian-lo-poh-hoat yang indah, secepat kilat ia menggeser kian kemari, terkadang memukul dengan telapak tangan, lain saat menutuk dengan jari, selalu ia mencari lubang kelemahan Bun To-tjeng.

Maka hanya sekejap saja Bun-To-tjeng berulang-ulang mengalami serangan berbahaya Terkesiap juga Bun To-tjeng, lekas ia menenangkan diri dan melayani serangan musuh dengan cermat.

Namun sudah terlambat, sekali Kim Tiok-liu berhasil menduduki tempat penyerang segera ia melancarkan serangan lebih gencar sehingga sama sekali Bun To-tjeng tidak sempat balas menyerang, terpaksa ia harus menjaga diri serapat mungkin.

Suara gempar para penonton tadi sudah tenang kembali dan asyik mengikuti pertarungan sengit itu.

It-yang-cu mendekati Yap Boh-hoa dan berkata "Tadi aku melihat 'Tjin Goan-ko' pergi, adiknya masih berada di serambi sana tampaknya kedua saudara itu seperti bertengkar sesuatu.

Coba kau undang adiknya kemari, aku ingin bertanya sesuatu padanya."

Sekilas tadi Yap Boh-hoa juga melihat kehebohan yang terjadi di serambi sana cuma dia sedang memperhatikan pertarungan sengit antara Kim Tiok-liu dan Bun To-tjeng, sehingga tidak sempat mengurusnya sekarang keadaan sudah mereda, setelah mendengar ucapan It-yang-cu itu segera ia pergi mencari Tjin Goan-ko.

Bun To-tjeng sendiri lagi melayani serangan Kim Tiok-liu dengan segenap tenaganya sehingga dia sama sekali tidak ambil pusing terhadap segala kejadian di sekitarnya.

Tentang pertengkaran putranya dengan Tjin Goan-ko juga tidak diketahui olehnya.

Tapi kini setelah Yap Boh-hoa membawa datang Goan-ko dan berlalu di depannya biarpun dia tidak mau ambil pusing terhadap kejadian di sekitarnya, mau tak mau sekarang ia melihat juga diri Goan-ko.

Keruan kejut To-tjeng tak terkatakan, diam-diam ia mengeluh bisa celaka.

Dengan datangnya Goan-ko tentu kedoknya akan terbongkar.

Memangnya ia sedang dicecar oleh Kim Tiok-liu, sekarang sedikit terpencar lagi perhatiannya keruan ia tambah kelabakan sehingga menangkis saja menjadi kacau.

Terdengarlah "biang"

Satu kali, ia kena dihantam dengan keras oleh Kim Tiok-liu dan terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.

Kim Tiok-liu menggunakan tenaga sekuatnya sekalipun tidak sampai terluka dalam juga Bun To-tjeng menjadi kesakitan dan matanya berkunang-kunang.

"Kau sudah tahu belum asal-usul jembel muda itu, dan dapatkah kau memperkirakan asal-usul orang she Hun itu?"

Demikian Tiong Tiang-thong saat itu sedang bertanya pada Kang Hay-thian. Pada saat itu pula Bun To-tjeng kena dihantam mundur, maka Tiong Tiang-thong lantas berseru girang.

"Aha, si jembel cilik itu sudah menang!"

"Hab, pukulan dibayar pukulan, aku pun belum bisa dianggap menang. Marilah maju lagi!"

Seru Kim Tiok-iiu sambil tertawa. Segera ia menubruk maju lagi dan bermaksud menambahi satu pukulan dahsyat untuk merobohkan Bun To-tjeng, tibatiba terdengar seruan Kang Hay-thian.

"Sute, biarkan dia pergi saja!"

Kata-kata Kang Hay-thian itu seketika membikin para hadirin melongo heran, Tiong Tiang-thong menjadi girang, katanya.

"Eh, kiranya dia adalah putra Kim-tayhiap. AL, pengemis tua benar-benar sudah pikun. Dia bernama Kim Tiok-liu, dari namanya ini kenapa sejak tadi aku tidak teringat kepada beliau?"

Di sebelah sana, sambil menahan sakit Bun To-tjeng masih pasang kuda-kuda dan siap menghadapi serangan lain, dengan tersenyum Kang Hay-thian berkata padanya.

"Bunsiansing bolehlah sudahi saja pertandingan ini. Selama 20 tahun tidak bertemu, terimalah ucapan selamat dariku atas berhasilnya Sam-siang-sin-kang yang kau yakinkan itu. Apakah pamanmu baik-baik saja?"

Wajah Bun To-tjeng pucat pasi dan lesu seperti kematian orang tua, jawabnya.

"Orang she Kang, kau tidak perlu membual. Aku tidak mampu menandingi Sutemu, dengan sendirinya lebih-lebih bukan tandinganmu. Sekarang mau bunuh mau sembelih boleh silakan sesukamu."

"Ai, kenalan lama sudi berkunjung ke rumahku, masakah aku tega membikin susah kepada tamuku?"

Sahut Kang Haythian.

"Jika kau suka, marilah minum tiga cawan lagi. Tapi kalau kau ingin pergi, ya, tidak nanti aku merintangi kau."

Sebagai seorang pendekar besar, ucapan Kang Hay-thian adalah laksana emas.

Tapi Bun To-tjeng menilai jiwa ksatria dengan jiwa manusia rendah, dia masih belum yakin akan ucapan Kang Hay-thian dan ragu-ragu, karena itu seketika ia masih tidak berani angkat kaki.

Goan-ko kuatir Kang Hay-thian belum tahu duduknya perkara, segera ia berseru.

"Kang-tayhiap, orang ini sengaja datang ke sini untuk mencari perkara. Bocah yang baru saja kabur tadi adalah putranya. Dia telah mencuri kartu undanganku dan memalsukan diriku ke sini."

"Ya, sudahlah. Toh aku pun tidak menderita kerugian apaapa, malahan aku harus berterima kasih padanya, karena perbuatannya ini Suteku ikut terbawa kemari,"

Demikian sahut Kang Hay-thian. Maka Goan-ko tidak berani bicara lagi. Sebaliknya Tiong Tiang-thong lantas menimbrung.

"Masakah begitu enak membiarkan dia pergi begitu saja?"

Ucapan Tiong Tiang-thong ini tepat mengenai perasaan Bun To-tjeng yang ragu-ragu itu, maka kembali ia merasa tegang lagi. Namun Kang Hay-thian tertawa, katanya.

"Pada 20 tahun yang lampau guruku pernah melepaskan Bun Ting-bik di puncak Bin-san, peristiwa itu cukup diketahui oleh kawankawan Bu-lim. Aku orang she Kang adalah orang bodoh dan tidak dapat mewariskan pelajaran apa-apa dari guruku, cuma dalam hal cara hidup sebagai manusia seperti guruku itu, sedapat mungkin aku ingin meniru beliau. Jika dahulu guruku dapat mengampuni Bun Ting-bik, kenapa sekarang aku tidak melepaskan pula keponakannya ini? Apa lagi kedatangan Bunsiansing hari ini adalah untuk menghadiri pestaku, rasanya tidaklah layak bila aku membikin susah tamuku sendiri pada hari yang bahagia ini?"

Setelah merandek sejenak, lalu Hay-thian melanjutkan.

"Ilmu silat Bun-siansing dilatih dengan susah payah, kelak tentu dapat menjadi maha guru dari suatu aliran tersendiri. Tujuan guruku melepaskan pamanmu dahulu justru ingin mempertahankan! aliran ilmu silat kalian itu. Aku masih ingat nasihat guruku yanf diberikan kepada pamanmu yang antara lain diharapkan pamaiM mu dapat kembali ke jalan yang benar dan jangan sampai ter"

Sesat lebih jauh. Sekarang aku pun ingin menasihati kau dengan kata-kata yang sama itu. Semoga kau jangan menyia-nyiakan harapan kami. Nah, silakan pergi saja."

Ucapan Kang Hay-thian yang simpatik dan setulus hati itu benar-benar membikin para hadirin ikut terharu, setiap orang s* ma memuji keluhuran budi Kang Hay-thian.

Tapi Bun To-tjeng ternyata berpikir lain dan tetap tidak sadar.

Dia terjungkal di depan orang banyak, betapapun ia merasa malu dan dendam.

Pikirnya.

"Kang Hay-thian purapura bersikap luhur budi di depan orang banyak, tujuannya kan ingin memupuk nama baiknya sebagai seorang pendekar budiman. Dia, tidak turun tangan sendiri, sebaliknya membiarkan Sutenya mengalahkan aku, hinaan ini betapa pun harus kutuntut balas."

Meski dalam hatinya penuh kebencian dan dendam, tapi air mukanya tidak berubah, segera Bun To-tjeng memberi hormat kepada Kang Hay-thian dan berkata.

"Bilamana kelak aku ada kemajuan tentu akan datang lagi mengucapkan terima kasih kepada Kang-tayhiap di sini."

Habis itu ia lantas melangkah pergi.

Ia telah mendengar cerita Tjin Goan-ko tadi tentang kaburnya sang putra, maka ia.

tidak perlu kuatir apa-apa lagi.

Sebaliknya diam-diam Goan-ko merasa kuatir, dengan kepergian Bun To-tjeng tentu mereka akan bergabung lagi dengan Hong Tju-tjiau, entah mereka akan membikin susah lagi kepada Hong Biau-siang atau tidak.

Akan tetapi perasaannya disembunyikan di dalam hati sendiri dan tidak berani diutarakan kepada orang lain.

Baru saja Kim Tiok-liu hendak memberi hormat kepada; sang Suheng, mendadak Hay-thian berkata.

"Nanti dulu. Anak Hu, kemarilah kalian berdua mempelai, kalian harus mengucapkan terima kasih dulu atas pertolongan Susiokmu tadi."

Hiau-hu melengak. seketika ia masih belum paham duduknya perkara. Dengan tertawa Hay-thian berkata pula.

"Tadi waktu kau menyuguhkan arak, diam-diam Susiok telah menolong kau, bila tidak mungkin kau sudah terluka parah oleh serangan Bun To-tjeng."

Kang Hiau-hu dan Ubun Hiong menjadi terkejut dan sadar apa yang telah terjadi tadi. Lekas mereka menghaturkan terima kasih kepada Kim Tiok-liu.

"Ah, usia kita sebaya, buat apa mesti banyak adat,"

Ujar Tiok-liu dengan tertawa.

"Perguruan kita hanya bicara tentang angkatan dan tidak menurutkan umur. Kenapa kau main sungkan dengan kaum muda?"

Kata Kang Hay-thian.

Mestinya Kim Tiok-liu hendak membungkuk badan sebakgai balas hormat kepada Ubun Hiong berdua, tapi ia kena di tahan dengan pelahan oleh tangan Kang Hay-thian sehingga se-Mikitpun tak bisa bergerak.

Terpaksa ia duduk tegak di tempatnya dan menerima sembah hormat kedua mempelai.

Diam-diam tam Tiok-liu amat kagum, pikirnya.

"Kang Haythian benar-benar tidak malu menjadi Suhengku. Untuk bisa mencapai ting-rtcatan kepandaiannya mungkin aku harus berlatih sepuluh tahun lagi."

Walaupun sudah menjadi pengantin, tapi Kang Hiau-hu masih tetap kekanak-kanakan, sesudah menjura dan berbangkit, felu ia berkata sambil tertawa.

"Susiok cilik, ayahku bilang ilmu iSilat perguruan kita, kau lebih hebat daripada beliau. Untuk se-jmjutnya engkau harus banyak memberi petunjuk kepada kami lho."

"Nah, kau dengar tidak, tidaklah enak menerima penghormatan orang bukan?"

Ujar Hay-thian menyahut pula dengan tertawa.

"Eh, anak Hu, kau pun terlalu tidak tahu aturan, panggil Susiok saja mengapa mesti pakai embel-embel 'cilik' segala?"

Biasanya Kang Hay-thian tidak suka bercanda, rupanya hari ini ia terlalu gembira sehingga dengan sendirinya ikut berkelakar.

Para tamu serentak juga bergelak tertawa.

Baru sekarang Goan-ko mengetahui asal-usul dan siapa sebenarnya Kim Tiok-liu itu.

Pikirnya.

"Pantas dia bilang guruku masih lebih muda satu angkatan daripada dia, kiranya memang benar."

Maklumlah bahwa tingkatan Kim Si-ih dalam dunia persilatan memang amat tinggi.

Guru Kim Si-ih, yaitu Tokliong Tjuntjia masih lebih tua satu angkatan daripada Lu Sinio, ketua Bin-san-pay pada dua angkatan yang dahulu, jadi Tok-Liong Tjuntjia sama tingkatannya dengan Tok-pik Sin-ni, Nikoh sakti bertangan satu yang merupakan cikal-bakal Binsan-pay (tokoh-tokoh tersebut dapat diketemukan dalam cerita Tiga Dara Pendekar).

Cuma perguruan Kim Si-ih itu tiada hubungan kekeluargaan dengan aliran persilatan di Tionggoan, maka biasanya Si-ih tidak suka bicara tentang tingkatan dengan berbagai tokoh Bu-lim itu.

Pula lantaran istri Si-ih, yaitu Kok Tji-hoa, adalah murid Lu Si-nio, dia mestinya sama tingkatan dengan Lu Si-nio dan Tong Hiau-lan dari Thian-san, tapi selama itu ia menganggap dirinya lebih muda satu angkatan seperti istrinya.

Jadi kalau diurutkan benar-benar, paling-paling ketua Thian-san-pay sekarang, yaitu Tong Keng-thian, juga cuma sama tingkatannya dengan Kim Tiok-liu.

Padahal Peng-tjoan Thian-li, istri Keng-thian adalah angkatan tua yang lebih tinggi satu tingkat daripada Lui Tjin-tju, dengan sendirinya Kim Tiokliu terhitung lebih tua dua angkatan daripada murid Lui Tjintju, yaitu Tjin Goan-ko.

Begitulah di tengah gelak tawa orang banyak, Tiong Tiangthong ternyata masih penasaran, katanya.

"Kang-tayhiap, sesungguhnya kau terlalu baik hati. Keparat Bun To-tjeng itu hendak membikin susah putrimu, tapi kau malah melepaskan dia. Sayang baru sekarang aku mengetahui hal itu, bila tahu sejak tadi betapapun aku yang tidak mau mengampuni dia. Paling sedikit akan kutiru gurumu terhadap Bun Ting-bik dahulu, yaitu memunahkan ilmu silatnya."

"Sudahlah, hanya percekcokan pribadi saja, toh dia belum sempat mengapa-apakan putriku,"

Ujar Hay-thian. la tidak tahu bahwa munculnya Bun To-tjeng ini adalah undangan pihak ke-rajaan dan tidak melulu hendak menuntut balas soal pribadi saja. Kemudian Kang Hay-thian berkata pula.

"Hari ini aku benarbenar dilimpahi kegembiraan, tentang sedikit keonaran tadi tak perlu dipikir lagi. Sute, aku ingin bertanya padamu, apakah u baik-baik saja?"

"Baik,"

Sahut Kim Tiok-liu.

"Beliau menyuruh aku menyampaikan sepucuk surat dan sesuatu benda kepadamu."

Sudah ada 20 tahun Kang Hay-thian tidak melihat tulisan tangan gurunya, segera ia menjura dan kemudian membuka surat dan barang kiriman sang guru.

Benda itu kiranya adalah sebuah Pek-giok-tji-goan (cincin kemala putih).

Begitu cincin itu dipegang lantas tangan terasa dingin.

Seera Kang Hay-thian tahu gelang itu terbuat dari kemala kristal yang hanya terdapat di dasar laut.

Di antara benda-benda peninggalan Kiau Pak-beng yang iperoleh Kim Si-ih dahulu ada sepasang kemala, satu busur degan tiga batang panah kemala dan baju kemala pusaka.

Baju usaka itu oleh Kim Si-ih telah diwariskan kepada Kang Hay-ian, sedangkan busur dan panah kemala masih disimpan Kim i-ih sendiri.

K wali tas cincin kemala ini terang serupa dengan baju kemala pusaka yang diwariskan kepada Kang Hay-thian itu.

Lalu Kim Tiok-liu berkata.

"Ayah telah mengubah ketiga ah kemala itu menjadi tiga bentuk cincin, aku disuruh mem-rikan sebuah kepada engkau sebagai tanda pengenal. Maafkan aru sekarang aku sempat menyerahkan kepadamu."

Habis itu barulah ia memberi hormat sebagai adik seperguruan.

Kang Hay-thian sangat berterima kasih atas perhatian sang guru kepadanya, tapi ia merasa heran pula mengapa Sute yang disuruh mencarinya itu mesti pakai benda tangan pengenal segala, bukankah sudah cukup dengan membawa surat tulisan tangan sang guru sendiri.

Tapi sesudah dia membaca isi surat gurunya, barulah ia mengerti persoalannya bahwa cincin kemala itu bukan melulu digunakan oleh Kim Tiok-liu sebagai tanda pengenalnya untuk menemui saudara seperguruan.

Kiranya surat gurunya itu telah memberi tiga tugas kepada Kang Hay-thian.

Pertama Kang Hay-thian diminta mengawasi Sutenya itu.

Kedua, dia diberitahu bahwa iparnya, yaitu Yap Tiong-siau akan pulang dari lautan sana dan Hay-thian ditanya apakah sudah menerima putra Yap Tiong-siau sebagai murid, jika belum menemukan pemuda itu maka harus selekasnya dicari.

Ketiga, Kang Hay-thian diharuskan datang pada ke Pitmo-khe di Se-san (gunung barat) kota Pakkhia untuk menemui seseorang pada hari Tjap-go-meh tahun depan, dan cincin kemala itu harus dipakai sebagai tanda pengenal, sebab pada jari orang yang akan ditemuinya itu pun akan memakai sebentuk cincin yang serupa.

Di antara tiga tugas itu, hal ketiga itulah yang paling penting, cuma di dalam surat tiada dijelaskan siapakah gerangan yang harus dite-muinya itu.

Dalam pada itu Kok Tiong-lian lantas bertanya.

"Suhu, ada pesan apa?"

"Kata beliau kau punya Toako selekasnya akan pulang kemari,"

Sahut Hay-thian tertawa.

"Rupanya Suhu tidak mengetahui bahwa sudah sekian lamanya Boh-hoa berada di rumah kita."

"Wah, jika Toako sudah pulang, entah betapa girangnya bila mengetahui hasil pergerakan Boh-hoa yang telah dilakukannya selama beberapa tahun ini,"

Kata Tiong-lian senang.

"Eh, Kim-sute, kau dan Suhu tinggal dimana, apakah aku punya Toako sering pergi menyambangi kalian? Bagaimana keadaannya terakhir?"

"He, makanlah dahulu araknya sudah dingin,"

Sela Haythian. Kini Kim Tiok-liu tidak duduk di tempat utama lagi, katanya dengan tertawa.

"Tadi aku mewakili ayah untuk menyampaikan selamat kepada Kang-suneng, sekarang surat beliau sudah kuserahkan, aku hanya dapat hadir sebagai Sute saja. Tempat utama itu silakan Tiong-pangtju yang menduduki."

Karena tak bisa menolak, terpaksa Tiong Tiang-thong mendudukinya. Katanya dengan tertawa.

"Kim-laute, sifatmu rada-rada mirip ayahmu tapi juga ada bedanya sedikit. Waktu mula-mula ayahmu berkecimpung di Kangouw beliau suka angin-anginan dan ditakuti orang. Sifatmu yang ugal-ugalan tadi memang menyerupai ayahmu, tapi kau tidak anginanginan, hanya sekejap saja kau telah berubah menjadi sopan santun lagi, sungguh hal ini rada di luar dugaanku. Hehe, aku adalah sobat lama ayahmu, janganlah kau anggap aku sembarang omong ya."

"Tentang pengalaman ayah dahulu terlalu sedikit yang kuketahui, cuma ibu sering mengatakan sifatku memang radarada mirip ayah,"

Sahut Tiok-Liu tertawa.

"Menurut penglihatanku, sifatmu ada sebagian mirip ayahmu dan sebagian mirip ibumu,"

Ujar Tiong Tiang-thong.

"Kau tidak tahu bahwa di waktu mudanya, ayahmu berpuluh kali lebih nakal daripadamu. Kemudian setelah kenal ibumu barulah sifatnya banyak berubah."

Apa yang dikatakan Tiong Tiang-thong memang tidak salah.

Sejak kecil Kim Tiok-liu banyak dipengaruhi ayahbunda-nya sehingga sifatnya juga menyerupai kedua orang tuanya.

Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, kemudian Kim Tiok-liu menyeret Tjin Goan-ko agar duduk di sebelahnya dan sebelah lainnya bertetangga dengan Tong Kagwan, tempat Goan-ko ini adalah tempat yang diduduki Bun Seng-tiong tadi.

"Yang palsu sudah kabur, sekarang sudah seharusnya tempat ini diduduki yang tulen, kau jangan sungkan-sungkan lagi,"

Kata Tiok-liu tertawa. Goan-ko rada kikuk, katanya dengan tergagap.

"Kim..... Kim-siauhiap, aku tidak kenal asal-usulmu sehingga banyak berlaku kasar, harap kau jangan marah. Di sini masih banyak kaum Lotjianpwe, aku mana berani lancang melampaui mereka?"

Sekarang Goan-ko sudah tahu Kim Tiok-liu memang lebih tua dua angkatan daripadanya sehingga tidak enak untuk menyebutnya saudara lagi.

Tapi umur Kim Tiok-liu sebaya dengan dia, ia tidak enak pula memanggilnya 'Lotjianpwe' terpaksa ia menyebutnya sebagai 'Siauhiap' (Pendekar muda) saja.

Dengan tertawa Kim Tiok-liu menjawab.

"Suhengku memang sesuai disebut sebagai Tayhiap (Pendekar besar), tapi aku baru saja muncul di dunia ramai, mana aku berani dipanggil sebagai 'Pendekar' segala? Sudah kukatakan padamu bahwa hubungan kita adalah persahabatan belaka dan tidak perlu bicara tentang tingkatan dan angkatan. Maka kita tetap saling sebut saudara saja. Aku paling jemu kepada orang yang suka sungkan-sungkan, nah, Tjin-toako, silakan lekas duduk saja."

"Benar, orang Kangouw lebih mengutamakan pergaulan pribadi masing-masing dan terlalu ruwet bila satu sama lain selalu bicara tentang urusan angkatan segala,"

Ujar Hay-thian dengan tertawa.

"Sudahlah, tempat ini memangnya kusediakan bagimu, sekarang kau jangan sungkan-sungkan lagi."

Mendengar tuan rumah juga membujuk, tiada jalan lain lagi bagi Goan-ko untuk tidak mendudukinya.

Tapi diam-diam hatinya sedang memikirkan sesuatu, jika tamu-tamu semeja sama asyik mengobrol dengan senangnya, adalah dia yang bungkam saja dengan sikap yang bingung-bingung cemas.

Di antara hadirin semeja memang kedudukan Goan-ko terhitung paling muda.

Kang Hay-thian mengira dia merasa rikuh sehingga tidak berani ikut bicara.

Hanya Kim Tiok-liu saja yang dapat meraba perasaan Goan-ko, maka diam-diam ia membisiki pemuda itu.

"Kau jangan kuatir, dua hari lagi aku akan mengiringi kau mencari kabar ke Tji-lay-san sana, pasti aku takkan membiarkan kau punya nona Hong itu menderita."

Muka Goan-ko menjadi merah, dengan menundukkan kepala ia pura-pura minum arak.

"Kalian main bisik-bisik segala, apa sih yang kalian bicarakan?"

Tiba-tiba Tiong Tiang-thong menegur mereka.

"O, tidak apa-apa, Tjin-toako sedang memikirkan seorang temannya?"

Sahut Tiok-liu.

"Dan aku berjanji akan mengiringi dia pergi mencarinya."

"Tentunya teman perempuan bukan?"

Kata Tiang-thong tertawa.

"Jangan kuatir, selamanya aku pengemis tua ini paling suka menjadi comblang, bila kau ada kesukaran apa boleh katakan padaku, pasti aku akan berdaya untuk memenuhi cita-citamu."

Kiranya bisik-bisik Kim Tiok-liu tadi meski tak didengar seluruhnya oleh Tiong Tiang-thong, tapi sayup-sayup ia mendengar kata-kata "Tji-lay-san".

"nona Hong"

Dan sebagainya. Keruan muka Goan-ko menjadi merah jengah, jawabnya kikuk.

"Ah, Lotjianpwe suka bercanda saja."

Dasar watak Tiong Tiang-thong memang paling suka ikut campur urusan orang lain, diam-diam ia membatin, di Tji-laysan pasti ada keluarga persilatan she Hong segala, untuk ini aku justru akan pergi menyelidiki ke sana.

Maka dia tidak mendesak lebih lanjut persoalan itu.

Ia terbahak-bahak dan berkata pula.

"Kim-laute, agaknya kau tidak tahu bahwa aku sudah terkenal sebagai orang yang paling suka menjadi comblang. Perlu kau ketahui bahwa perjodohan ayah ibumu dahulu juga akulah yang menjadi perantaranya."

Padahal Kim Si-ih dan Kok Tji-hoa dahulu telah saling mencintai selama beberapa tahun, hanya banyak mengalami macam-macam rintangan dan mereka baru menikah setelah Kim Si-ih berumur 40 tahun.

Tiong Tiang-thong memang pernah menganjurkan Kim Si-ih lekas mengambil keputusan yang tetap, jadi perjodohan Si-ih dan Tji-hoa itu bukan melalui dia sebagai perantara.

Memang Tiong Tiang-thong biasanya suka membesar-besarkan sesuatu yang dianggap membanggakan dia.

Lalu dengan tertawa ia menyambung lagi.

"Ayahmu dan Suhengmu dahulu menikah pada saat yang sama, peristiwa itu telah tersiar sebagai sesuatu yang menggemparkan Bu-lim, sungguh cepat amat lewatnya sang waktu, dalam sekejap saja 20 tahun sudah berlalu. Apakah ayah bundamu baik-baik saja? Mengapa mereka tidak pulang ke Tionggoan? Apakah mereka sudah melupakan semua sobat lamanya?"

Baru sekarang Kim Tiok-liu sempat menjawab berbagai pertanyaan orang, tuturnya.

"Ayahku tinggal di Hwe-soa-to (Pulau gunung berapi) yang dahulu didiami oleh Kiau Pakbeng Tjosuya. Kira-kira pada 15 tahun yang lalu Ki-pepek juga datang tinggal bersama kami. Tatkala itu aku belum genap lima tahun. Katanya Ki-pepek baru pulang dari negeri Thiantiok, beliau banyak membawa pulang barang-barang curian dan aku diberi macam-macam mainan yang bagus."

"Ki-pepek memang paling getol dengan kepandaian copetnya, kemana pun perginya tentu dia akan melakukan tangan panjang,"

Kata Hay-thian dengan tertawa.

"Tapi selama 15 tahun dia tinggal di Hwe-soa-to boleh dikata dia sudah cuci tangan. Entah cara bagaimana dia melewatkan hari-hari sepanjang itu?"

"Di pulau itu tiada keluarga kedua, dengan sendirinya dia tidak sempat menggunakan tangan panjangnya,"

Tutur Tiokliu.

"Cuma dia pun tidak kesepian, dia sendiri tidak mencopet, tapi akulah yang diajarkan mencopet. Sudah tentu dia mengajar aku di luar tahu ibu."

"Apakah juga di luar tahu Suhu?"

Tanya Hay-thian tertawa.

"Tidak, malahan ayah menganjurkan aku banyak-banyak minta belajar kepada Ki-pepek,"

Jawab Tiok-liu.

"Kata ayah, dengan mengajar aku, Ki-pepek dapat mengobati penyakit copetnya yang setiap saat bisa ketagihan. Padahal ibu juga tahu, cuma beliau pura-pura tidak tahu."

Semua orang tertawa geli mendengar cerita itu. Kata Tiong Tiang-thong.

"Sungguh hebat! Ilmu silatmu tidak lebih lemah daripada ayahmu di masa mudanya, bahkan kau lebih banyak memiliki sejenis ilmu, yaitu ilmu mencopet. Siapa lagi orang Kangouw yang berani main gila padamu?"

Kemudian Kim Tiok-liu melanjutkan lagi.

"Beberapa kali Yap-toako (Tiong-siu) pernah datang ke Hwe-soa-to, kabarnya mereka suami istri berdiam di suatu pulau tak bernama di lautan timur. Terkadang ayah juga pesiar ke tempat mereka itu, cuma aku sendiri tidak pernah ikut. Paling akhir ayah baru pulang dari sana setelah lewat tahun baru. Menurut cerita ayah, katanya Yap-toako selekasnya akan pulang kemari."

Tentu saja cerita ini sangat menggirangkan Yap Boh-hoa dan Kok Tiong-lian.

"Dan ayahmu sendiri akan pulang kemari tidak?"

Demikian Tiang-thong menambahkan.

"Ayah bilang beliau juga sangat ingin pulang ke sini, cuma beliau baru dapat mengambil keputusan setelah Tjap-go-meh tahun depan,"

Sahut Tiok-liu.

Hari pesta Kang Hay-thian ini adalah tepat Tiong-tjhiu (tanggal 15 bulan delapan), jadi tinggal lima bulan lagi datangnya hari Tjap-go-meh tahun depan.

Jika Kim Si-ih baru pulang ke Tionggoan selewatnya Tjap-go-meh, maka kira-kira setengah tahun lagi dapatlah mereka bertemu.

Keruan Tiong Tiang-thong dan lain-lain ikut bergirang juga demi mengetahui ada harapan akan bertemu dengan Kim Si-ih dalam waktu tidak terlalu lama.

Sebaliknya hati Kang Hay-thian tergerak, pikirnya.

"Menurut surat Suhu tadi aku disuruh pergi menemui seorang di Pit-mokhe di gunung barat Pakkhia, beliau sendiri juga baru dapat mengambil keputusan akan pulang kemari atau tidak tepat pada hari Tjap-go-meh. Entah kedua urusan ini satu sama lain ada hubungannya atau tidak?"

Sesudah pesta selesai, Kang Hay-thian menyuruh Boh-hoa membawa Tiok-liu ke ruang belakang untuk mengaso dan berganti pakaian. Dengan tertawa Tiok-liu berkata.

"Perintah Suheng, terpaksa aku tidak dapat menjadi pengemis lagi."

"Kau boleh bercanda sesukamu di luar Kangouw, tapfl menghadapi tamu di rumah ada lebih baik resik sedikit,"

Ujar Hay-thian tertawa.

Kim Tiok-liu mengiakan, lalu ikut Boh-hoa ke ruang behj kang.

Li Kong-he dan Lim To-kan juga lantas ikut menemani Susiok cilik yang baru dikenalnya itu.

Di antara empat murid Kang Hay-thian, umur Boh-hoa darlj Ubun Hiong lebih tua daripada Kim Tiok-liu, sedangkan Konghe dan To-kan lebih muda beberapa tahun daripada Tiok-liu.

Maka mereka menjadi ingin bergaul rapat dengan Kim Tiok-liu mengingat usia mereka sebaya.

Karena perjamuan yang diadakan Kang Hay-thian itu bergelombang, maka dia masih perlu melayani tamu yang datang belakangan.

Setelah membawa Kim Tiok-liu ke belakang, Yap Boh-hoa lantas keluar pula membantu gurunya, sehingga Kong-he dan To-kan yang diserahi menemani Kim Tiok-liu bisa mengobrol di ruang belakang.

Kong-he dan To-kan lantas mengajukan macam-macam pertanyaan tentang suasana di luar lautan, mereka pun asyik mengobrol dengan senang sekali.

Kim Tiok-liu tahu Tiong Tiang-thong dan tokoh-tokoh angkatan tua lain tentu masih akan tinggal di tempat Kang Hay-thian ini, ia pikir sesudah tamu-tamu yang lain sudah pergi baru akan bicara pula dengan para Lotjianpwe itu.

Tidak lama kemudian kedua mempelai pun masuk kembali ke ruang belakang diiringi oleh Kheng Siu-hong.

Setelah membuka kerudung pengantinnya, Kang Hiau-hu lantas bercanda dengan kedua Sutenya, katanya.

"Susiok cilik, j^ukur kau datang sehingga mereka mau bergembira seperti sekarang ini. Kau tidak tahu, mereka sepanjang hari terus murung saja."

Kim Tiok-liu berlagak heran dan bertanya.

"Kenapa begitu? Wah, jika demikian kalian ini salah. Hari bahagia Suheng dan Sucimu mengapa kalian merasa murung?"

"Mungkin Susiok cilik tidak tahu, justru karena pernikahan Suheng dan Suci mereka hari ini, maka mereka menjadi iri karena tidak tahu bilakah baru mereka mendapat giliran,"

Sela Kheng Siu-hong dengan tertawa.

"Ah, Susiok cilik, jangan kau percaya kepada ocehan mereka,"

Kata Kong-he dan To-kan berbareng dengan muka merah.

"Ocehan apa? Kalian berani bilang tidak merindukan jantung hatimu?"

Tanya Hiau-hu.

"Eh, usia kalian masih kecil sudah punya jantung hati segala?"

Ujar Tiok-liu tertawa.

"Kecil apa? Yang satu sudah 19 tahun dan yang lain 18 tahun,"

Tutur Hiau-hu.

"Jantung hati Li-sute adalah putri Tiok Siang-hu, maha guru ilmu silat yang terkemuka. Dan jantung hati Lim-sute adalah putri Siangkoan Thay, penguasa puncak Thian-tju-hong yang terkenal itu. Maksud ayah sebenarnya hendak menetapkan perjodohan mereka pada hari ini juga, cuma sayang sampai saat ini orang-orang dari kedua keluarga masih belum nampak datang."

Selanjutnya Kheng Siu-hong lantas memberi penjelasan.

"Tiok Siang-hu dan Siangkoan Thay berdua Lotjianpwe mempunyai hubungan sangat baik dengan Suhu, kartu undangan kita * sudah dikirim dua bulan yang lalu kepada mereka, seharusnya hari ini mereka ayah dan anak sudah mesti tiba di sini. Suhu sudah siap menanti kedatangan mereka dan akan meminang serta menetapkan perjodohan Li dan Lim-sute berdua sehingga pesta yang sudah meriah akan tambah semarak. Tapi meski sudah ditunggu sampai saat ini, orang-orang kedua keluarga itu masih belum nampak datang, sebab itulah Lim dan Li-sute menjadi murung."

Karena isi hati mereka dengan jitu kena dikorek, wajah Kong-he dan To-kan tambah merah dan tak bisa bersuara.

"Hari ini sudah petang, agaknya mereka takkan datang. Cuma kalian juga tidak perlu terburu-buru, orang Kangouw sering kali banyak urusan, kalau datang terlambat sehari dua hari adalah kejadian biasa. Besok mereka tentu akan muncul,"

Demikian kata Hiau-hu tertawa.

Memang di dalam batin Kong-he dan To-kan sama heran mengapa Tiok Siang-hu dan Siangkoan Thay masih belum tiba, hati berpikir dengan sendirinya lantas kentara pada sikap mereka.

Dengan tertawa Kheng Siu-hong lantas menggoda lagi.

"Kenapa kalian kuatir? Apa kuatir anak dara yang sudah di tangan itu akan terbang lagi? Meski perjodohan kalian belum ditetapkan, tapi secara ddak resmi perjodohan kalian sudah terikat. Tiok Djing-hoa mendapatkan Li-sute dan Siangkoan Wan mendapat Lim-sute, orang tua kedua pihak sudah samasama setuju pula. Eh, kalau kalian tetap ddak sabaran, biarlah aku keluar sana untuk pasang mata bagi kalian, sebentar bila mereka datang segera aku akan memberi kabar baik padamu."

Belum selesai ucapannya, tampak Yap Boh-hoa masuk dan memberi tahu.

"Siangkoan-lotjianpwe sudah datang."

"Nah, itu dia, kau dengar tidak Lim-sute? Hayo, kenapa tidak lekas keluar menyambut kedatangan bakal mertua?"

Seru Kheng Siu-hong dengan tertawa. Tapi ketika dilihatnya wajah Yap Boh-hoa tiada tanda-tanda merasa girang, mendadak Kheng Siu-hong menyadari sesuatu, tanyanya cepat.

"He, apakah cuma Siangkoan-tjianpwe sendiri yang datang?"

"Ya, kenapa ayah dan anak keluarga Tiok tidak datang? Dan bagaimana dengan Siangkoan Wan, mestinya dia kan ikut datang bersama ayahnya?"

Sela Hiau-hu.

"Tidak,"

Sahut Boh-hoa.

"Siangkoan Wan juga tidak datang, hanya ayahnya saja yang datang sendiri. Siangkoan-cian-pwe, dia.....dia....."

"Dia kenapa?"

Tanya To-kan tak sabar.

"Sssst,"

Tiba-tiba Boh-hoa mendesis.

"Suhu sudah datang bersama Siangkoan-tjianpwe, kau tak perlu keluar lagi. Sebentar tentu kau akan jelas persoalannya."

Bahwasanya tuan rumah mengiringi seorang tamu masuk ke ruang belakang adalah sesuatu yang jarang terjadi.

Sekalipun Siangkoan Thay sudah akan berbesanan dengan Kang Hay-thian, yaitu putrinya akan menjadi istri murid Haythian, tapi di luar sana masih banyak pula kawan-kawan Bulim, padahal Siangkoan Thay baru saja tiba, ia tidak beramahtamah dulu dengan teman-teman Bu-lim yang lain dan terus dibawa masuk ke dalam oleh Kang Hay-thian, betapapun hal ini rada luar biasa.

Diam-diam Lim To-kan juga merasakan gelagat yang tidak enak.

Dalam pada itu terlihat Siangkoan Thay sudah masuk bersama Kang Hay-thian.

Wajah Siangkoan Thay kelihatan pucat kuning seperti orang habis sakit berat dan belum lagi sembuh betul.

Keruan To-kan terperanjat, lekas ia melangkah maju memberi hormat.

Lalu Kang Hay-thian memperkenalkan mereka.

"Ini adalah Suteku Kim Tiok-liu. Tentunya kalian belum saling kenal. Nah, sekarang yarg berada di sini adalah orang sendiri, rasanya bolehlah Singkonn-tjianpwe menerangkan. Cuma apakah engkau perlu mengaso saja dahulu?"

Baru sekarang To-kan mengetahui bahwa Siangkoan Thay ada urusan penting yang harus diberitahukan kepada gurunya, karena tidak enak bicara di depan para tamu, maka gurunya telah membawanya masuk ke ruang belakang.

Dengan tersenyum getir kemudian Siangkoan Thay berkata.

"Aku tidak apa-apa, lukaku tidak berat hanya perjalanan jauh berhari-hari telah melelahkan aku."

"Siapakah yang melukai engkau, paman Siangkoan?"

Tanya To-kan kuatir.

"Tentang ini akan kuceritakan nanti, sekarang aku ingin bercerita tentang diri Tiok-toako,"

Kata Siangkoan Thay.

"Ya, ada urusan apakah sehingga Tiok-lotjianpwe tak dapat datang kemari?"

Tanya Kang Hay-thian.

"Sungguh malang, Tiok-toako, dia.....dia telah mengalami kecelakaan,"

Tutur Singkoan Thay sambil menghela napas. Ucapannya ini bukan saja membikin kaget Lim To-kan dan lain-lain bahkan Kang Hay-thian juga terkejut. Cepat ia bertanya.

"Tiok-lotjianpwe mengalami kecelakaan apa?"

"Ia diserang orang secara gelap dan terluka parah,"

Tutur Siangkoan Thay.

Mendengar Tiok Siang-hu cuma terluka parah dan masih hidup, barulah Kang Hay-thian merasa lega.

Tapi tidak urung ia pun terperanjat dan kualir.

Maklumlah Tiok Siang-hu adalah maha guru ilmu silat yang diakui oleh dunia persilatan cuma di bawah Kang Hay-thian saja, jadi boleh dianggap jago nomor dua di dunia ini.

Sekalipun diserang secara gelap, namun penyergap itu mampu melukainya benar-benar suatu hal yang tidak mudah.

"Siapakah penyerang itu dan dengan cara bagaimana dia melukai Tiok-lotjianpwe?"

Tanya Hay-thian pula. Menurut perkiraannya penyergap itu pasti gembong iblis dari dunia persilatan. Siapa tahu keterangan Siangkoan Thay selanjurnya sama sekali di luar dugaannya.

"Sesudah Tiok-toako menduduki kota Sedjiang,"

Tutur Siangkoan Thay lebih lanjut.

"Dari berbagai penjuru telah datang tidak sedikit para ksatria yang menggabungkan diri dengan, beliau. Suatu hari datang seorang laki-laki yang mengaku dari Kengciu, namanya Swe Beng-hiong, usianya kira-kira baru 40-an tahun. Kang-tayhiap, nama orang ini pernah kau dengar atau tfdak?"

Kang Hay-thian mengerut kening, jawabnya.

"Belum pernah. Apakah dia yang melukai Tiok-lotjianpwe?"

Siangkoan Thay memanggut, katanya.

"Sesudah orang itu datang, dia bicara tentang ilmu silat dengan Tiok-toako dan satu sama lain tampak sangat cocok. Dia tidak ikut masuk dalam pasukan pergerakan Tiok-toako, tapi hanya berhubungan dengan beliau secara sahabat karib, kira-kira setiap bulan sekali dia suka berkunjung kepada Tiok-toako."

Diam-diam Kang Hay-thian berpikir.

"Tiok Siang-hu juga terlalu gegabah, mana boleh membiarkan seorang yang baru di-kenal dan belum diketahui asal-usulnya masuk keluar di dalam pasukannya?"

Sementara itu Siangkoan Thay menyambung.

"Kira-kira [hampir dua tahun Tiok-toako bergaul dengan orang itu dan selamanya tidak menaruh curiga apa-apa kepadanya. Orang itu pu-fca-pura menyukai orang kosen yang menjauhkan diri dari per-gaulan, yang dia bicarakan dengan Tiok-toako selalu mengenai macam-macam persoalan ilmu silat yang sukar dipecahkan, selama itu tidak pernah ia menyinggung soal-soal lain. Tiok-toako juga sangat menghargai dia dan menganggap pengetahuan ilmu silatnya dapat dimasukkan di dalam lima tokoh terkemuka pada paman ini. Justru karena pergaulan mereka selama dua tahun ini tanpa terjadi sesuatu apapun, maka Tiok-toako dengan mudah dapat diserang olehnya tanpa menduga sebelumnya."

"Cara bagaimana dia membokong Tiok-lotjianpwe?"

Tanya Kang Hay-thian.

"Pada hari kejadian itu, kami ayah dan anak kebetulan bernada di Sedjiang, yaitu tepat pada hari kami menerima kartu un-jdanganmu,"

Tutur Siangkoan Thay pula.

"Tiok-toako dan Swe Beng-Hiong itu sedang bicara tentang ilmu silat lagi. Swe Beng-hiong berkata, 'Sedap orang sama mengatakan ilmu silat Kang-tayhiap nomor satu di dunia ini, apakah Tiok-toako pernah bertanding dengan dia?', kemudian Tiok-toako menjawab, 'Belum pernah bertanding secara resmi, cuma pernah saling gebrak satu kali. Waktu itu aku sedang mengadu Lwekang dengan Tay-pi Siansu dari Siau-lim-si, kejadian itu di puncak Bin-san, tapi |SKang-tayhiap telah memisahkan kami dan tenaga kami berdua pama memukul di atas badannya, tapi dia sanggup bertahan. Dari sini dapatlah dinilai bahwa ilmu silatnya sedikitnya masih satu tingkat lebih tinggi daripadaku.'."

"Maka Swe Beng-hiong menghela napas gegetun dan berkata, 'Ai, di dunia ini ternyata ada orang kosen sedemikian hebatnya, sungguh sayang aku tidak punya rezeki untuk berkenalan dengan dia.'. Dengan tertawa Tiok-toako berkata, 'Kang-taybiap suka mengasingkan diri dan menyepi, biarpun kau bertemu dengan dia juga sekali-sekali dia takkan menguji ilmu silat dengan kau.'. Tiba-tiba Swe Beng-hiong berkata, 'Kita sudah terlalu banyak bicara tentang ilmu silat, tapi selamanya kita tak pernah mencobanya, bagaimana kalau sekarang kita menjajalnya? Aku tidak punya rezeki buat bertemu dengan jago nomor satu di dunia ini, sedikitnya citacitaku setengahnya sudah terkabul bila dapat belajar kenal kepandaian jago nomor dua.'."

Pada umumnya tokoh-persilatan sekali-sekali tidak mudah mau bertanding dengan orang, biarpun mencoba-coba saja juga jarang terjadi.

Diam-diam Kang Hay-thian heran, jika Tiok Siang-hu tidak menganggap orang she Swe itu sebagai sahabat karib, pasti sekali-sekali tidak mau mencoba ilmu silat dengan dia.

Rupanya orang itu telah bersabar selama dua tahun untuk memikat kepercayaan Tiok Siang-hu padanya, usahanya itu boleh dikata usaha jangka panjang secara rapi.

Terdengar Siangkoan Thay melanjutkan lagi.

"Sedikitpun Tiok-toako tidak menaruh curiga apa-apa padanya, hari itu kebetulan Tiok-toako sedang senang hati maka tanpa pikir ia lantas menerima ajakan Swe Beng-hiong itu. Kedua orang lantas bergebrak di tengah pekarangan. Gerak serangan orang itu sangat aneh, aku sendiri tidak tahu dia dari aliran atau golongan mana. Kira-kira ada 30-an jurus mereka bertanding, ketika akhirnya Tiok-toako berhasil mengunci serangan 'Thaydjiu-hoat' (gerak memotong) orang she Swe itu dengan 'Imyang-siang-tjiong-tjiang' (kedua telapak tangan bersilang secara berlawanan), lalu katanya dengan tertawa, 'Sebutan jago nomor dua di dunia ini aku tidak berani menerimanya, cuma aku lebih tua beberapa tahun darimu dan kekuatanmu sedikit lebih tinggi saja.'."

"Dengan rendah hati Swe Beng-hiong menjawab, 'Benar, aku terima mengaku kalah.'. Sambil bergelak tertawa Tioktoako pelahan-lahan lantas menarik kembali tenaga pukulannya, katanya, 'Gerak seranganmu sesungguhnya sangat bagus, cuma sayang tidak banyak kembangannya, kalau tidak, tentu aku sukar mematahkan seranganmu tadi.'. Di luar dugaan, pada saat itulah mendadak Swe Beng-hiong berseru, 'Apakah benar begitu? Tapi jurus seranganku ini masih ada perubahannya!'. Dan sekonyong-konyong terdengarlah 'biang' yang keras, tahu-tahu Tiok-toako telah dihantam terjungkal.'."

"Sungguh aneh, kekuatan Tiok-pepek jauh leibh tinggi dari dia, kenapa malah kena dihantam terjungkal?"

Tanya Kong-he heran.

"Pertandingan di antara jago-jago yang kekuatannya seimbang, ketika menarik kembali tenaga serangan harus dilakukan dengan pe lahan agar supaya tidak melukai diri sendiri,"

Tutur Hay-thian.

"Bisa jadi lantaran Tiok-lotjianpwe sudah mendengar orang she Swe itu menyatakan 'mengaku kalah', maka sama sekali ia tidak siap siaga lagi. Sebaliknya keparat itu lantas mengerahkan segenap tenaganya ketika Tiok-lotjianpwe menarik kembali tenaganya, jadi dua arus tenaga sekaligus menghantam ke arah Tiok-lotjianpwe, tentu saja beliau tak tahan dan terluka parah."

"Memang begitulah yang terjadi,"

Kata Siangkoan Thay.

"Tatkala itu Tiok-toako menggerung keras dan membentak, 'Bagus.....kau!'. Cepat ia berdiri kembali terus melancarkan satu pukulan dari jauh. Kini sikap Swe Beng-hiong berubah 180 derajat, dengan tertawa dingin ia berkata, 'Sudah tentu aku bagus, sebaliknya kau yang bakal tidak bagus! Jika kau ingin mampus lebih cepat boleh silakan kau bertempur lagi dengan aku.'."

"Ai, rupanya Tiok-lotjianpwe terburu-buru ingin menuntut balas, padahal saat mana tidak boleh lagi dia mengerahkan tenaga dalam, sebab akibatnya pasti akan menambah parah lukanya,"

Ujar Hay-thian dengan gegetun.

"Dugaan Kang-tayhiap memang tidak salah, setelah menyerang kembali, tubuhnya sempoyongan dan akhirnya roboh lagi. Tapi Swe Beng-hiong itupun terhuyung-huyung mundur dan hampir jatuh terkena pukulan Tiok-toako tadi. Cepat aku memburu maju dengan maksud hendak menawan dia. Tapi, ai, sungguh memalukan....."

Kepandaian Siangkoan Thay masih jauh di bawah Tiok Siang-hu, tak usah ditanya lebih lanjut juga Kang Hay-thian dapat mengetahui bagaimana hasil pertarungannya dengan Swe Beng-hiong.

Maka ia coba menghiburnya.

"Kalah atau menang adalah kejadian biasa di medan pertempuran. Biarpun jago terkemuka dunia persilatan juga tiada seorang pun yang takkan terkalahkan selama hidupnya, maka Siangkoantjianpwe juga tidak perlu menyesal."

"Aku merasa malu karena keparat she Swe itu sudah terkena satu pukulan Tiok-toako, tapi aku toh masih tak sanggup melawannya,"

Kata Siangkoan Thay.

"Ya, mungkin kalau dia tidak terkena dulu pukulan Tiok-toako itu pasti akulah yang ter-luka parah kalau jiwaku tidak melayang."

"Kau telah bergebrak dengan dia, apakah kau dapat meraba dari aliran manakah ilmu silat orang she Swe itu?"

Tanya Kang Hay-thian.

"Waktu kedua tangan beradu, aku merasa telapak tangannya sangat panas seperti besi terbakar, rasanya lebih lihai daripada Lui-sin-tjiang yang diandalkan Auwyang Pek-ho itu. Entah orang dari aliran apakah dia itu?"

Demikian jawab Siangkoan Thay.

"Orang yang memiliki tenaga pukulan panas berbisa dan lebih lihai daripada Lui-sin-tjiang-nya Auwyang Pek-ho, rasanya cuma ilmu silat dari golongan iblis angkatan tua Djiksin-tiu,"

Ujar Hay-thian.

"Bisa jadi keparat she Swe itu adalah ahli waris Djik-sin-tju."

Djik-sin-tju adalah gembong iblis yang sangat ditakuti pada zaman Kim Si-ih, usianya jauh lebih tua dari Si-ih.

Pada 30 tahun yang lalu, ia hendak mencari sejenis rumput obat di puncak Tjumulangma, puncak tertinggi di pegunungan Himalaya.

Lantaran tidak tahan hawa dingin membeku, akhirnya ia mati terhanyut di sungai es 'atap dunia' itu.

"Sudahlah, sementara ini kita tak perlu mengurus siapakah dia, yang penting adalah keselamatan Tiok-lotjianpwe, bagaimana keadaannya?"

Kata Kang Hay-thian kemudian.

"Keadaan Tiok-toako sangat parah, untung Lwekangnya sangat kuat sehingga tak membahayakan jiwanya,"

Sahut Siangkoan Thay.

"Tapi terpaksa ia harus berbaring saja di tempat tidurnya dan tak dapat berjalan."

"Mengapa tanpa sebab keparat she Swe itu melukai Tiokpepek? Apakah asal-usulnya telah dapat diketahui?"

Sela Kong-he.

"Semula kita tidak tahu, tapi beberapa hari kemudian menjadi jelas,"

Tutur Siangkoan Thay.

"Ternyata keparat itu memang sengaja hendak mencelakai Tiok-toako, di dalam persoalan ini terkandung suatu intrik keji dan tidak cuma urusan dendam pribadi saja."

"Kemudian terjadi urusan apa lagi?"

Tanya Hay-thian.

"Tiga hari kemudian pasukan kerajaan lantas melakukan serangan secara habis-habisan,"

Tutur Siangkoan Thay.

"Karena Tiok-toako dalam keadaan sakit, semangat pasukan kita menjadi banyak terpengaruh, akibatnya Sedjiang kembali kena direbut oleh musuh. Anak buah Tiok-toako tidak sedikit yang menjadi korban dan kini seluruhnya mengundurkan diri ke Tay-liang-san, mungkin dalam waktu singkat sukar untuk dipulihkan kembali kekuatannya."

"Siangkoan-tjianpwe,"

Kata Hay-thian.

"Selama dalam perjalanan jauh ini, tampaknya engkau juga merasa kurang sehat, bukan?"

"Penglihatan Kang-tayhiap tidak salah,"

Sahut Siangkoan Thay dengan tersenyum getir.

"Pukulan keparat she Swe itu benar-benar lihai sehingga meninggalkan penyakit di atas tubuhku. Lantaran buru-buru hendak menyampaikan berita ke sini, aku pernah menggunakan Lwekang untuk mendesak keluar rasa panas berbisa pukulan itu, tapi sisa bisa masih belum bersih dan menggumpal di bagian dengkul sehingga rasanya seperti retak. Cuma lukaku ini tidak penting, paling-paling sebelah kakiku saja menjadi cacat. Sebaliknya luka dalam Tiok-toako yang perlu lekas diobati, kalau tidak, besar kemungkinan segenap ilmu silatnya itu akan punah. Kang-tayhiap, engkau mempunyai hubungan baik dengan Siau-lim-si, Tiok-toako juga pernah berkenalan dengan ketua Siau-lim-si di atas Binsan, apakah engkau sudi memohonkan dua biji Siau-hoan-tan yang mujizat kepada Tay-pi Siansu."

Siau-hoan-tan adalah obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam, dengan obat itu ditambah lagi Lwekang Tiok Siang-hu sendiri yang tinggi tentu lukanya akan cepat disembuhkan.

"Soal ini tidak sulit, hanya saja mesti makan tempo;' ujar Kang Hay-thian.

"Sebaliknya lukamu meski tidak parah, tapi obat yang tepat justru sukar diketemukan sekarang. Aku masih sedia Pik-ling-tan yang dapat membersihkan sisa racun dalam tubuhmu itu, tapi masih diperlukan obat baik untuk memulihkan otot tulang dengkulmu barulah penyakitnya dapat disembuhkan benar-benar. Sekarang silakan engkau tinggal dulu di sini, aku tentu akan berdaya upaya mencarikan obat bagimu."

"Rasanya tidak boleh membuang waktu terlalu lama lagi,"

Sahut Siangkoan Thay sambil mengerut kening.

"Aku tidak penting, yang kukuatirkan adalah keadaan Tiok-toako."

"Habis bagaimana? Untuk pulang pergi ke Siau-lim-si sedikitnya juga diperlukan waktu sepuluh hari sampai setengah bulan,"

Ujar Hay-thian.

"Jangan kuatir, Suheng,"

Tiba-tiba Tiok-liu menanggapi dengan tertawa.

"Kedua macam obat yang diperlukan Siangkoan-tjianpwe itu sekarang juga ada padaku."

"Hah, kau punya?"

Seru Siangkoan Thay kegirangan dengan nada ragu-ragu pula.

Soalnya dia melihat usia Kim Tiok-liu masih sangat muda sehingga tidak percaya penuh kepada apa yang diucapkannya.

Kim Tiok-liu lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya, katanya.

"Tiga biji Siau-hoan-tan ini adalah pemberian Ki-pepek."

Siangkoan Thay terkejut, tanyanya heran.

"Apakah Kipepek yang kau maksudkan itu adalah si copet Ki Hiau-hong yang termashur pada 30 tahun yang lampau?"

"Benar, memang dia,"

Sela Kang Hay-thian.

"Guruku dan Ki-lotjianpwe tinggal bersama di Hwe-soa-to yang pernah didikami Kiau Pak-beng dahulu. Sute baru saja pulang kemari atas perintah guruku."

Baru sekarang Siangkoan Thay tahu bahwa Kim Tiok-liu adalah putra Kim Si-ih, sudah tentu ia lantas memberi penilaian lain.

"Siau-hoan-tan ini dicuri dari Siau-lim-si oleh Ki-pepek pada 30 tahun yang lalu, entah masih dapat digunakan tidak?"

Kata pula Tiok-liu dengan tertawa.

"Siau-hoan-tan itu tak bisa rusak, biar lewat seratus tahun juga masih bisa digunakan,"

Ujar Siangkoan Thay.

"Meski keadaan Tiok-toako cukup parah, tapi dua biji Siau-hoan-tan juga sudah cukup. Sisa satu biji lagi boleh kau simpan saja."

Menyusul Kim Tiok-liu mengeluarkan lagi sebuah botol porselen kecil, katanya.

"Ini baru saja kusambar dari saku Bun |To-tjeng, isinya adalah Siok-toan-ko. Menurut cerita ayahku, katanya Siok-toan-ko buatan keluarga Bun ini sangat mustajab untuk sambung menyambung tulang dan jauh lebih bagus daripada obat sejenis yang lain."

"Banyak terima kasih atas pemberian obatmu ini, Kimsiauhiap,"

Kata Siangkoan Thay kemudian.

"Entah cara bagaimana aku harus membalas budi kebaikanmu ini."

"Terima kasih apa, obat-obat ini hasil curian dari orang lapi,"

Sahut Kim Tiok-liu dengan tertawa.

"Baiklah, Kim-siauhiap suka berterus terang, maka aku pun tidak sungkan-sungkan lagi untuk menerimanya. Kapan-kapan jika engkau mampir ke Tay-Iiang-san, biarlah aku dan Tioktoako akan sekadar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah,"

Kata Siangkoan Thay.

"Aku pasti akan pergi mengunjungi Tiok-lotjianpwe, cuma waktunya mungkin harus setengah tahun lagi,"

Sahut Kim Tiok-liu.

Tiok Siang-hu dan Siangkoan Thay adalah tokoh yang tegas membedakan budi dan dendam, lebih-lebih Tiok Siang-hu, sebagai seorang maha guru ilmu silat dia tidak gampang menerima kebaikan orang lain.

Sebab itulah kelak Kim Tiok-liu akan banyak memperoleh balas jasa dari dia.

Setelah menyatakan terima kasihnya kepada Kim Tiok-liu, kemudian Siangkoan Thay berkata pula kepada Kang Haythian.

"Kang-tayhiap, masih ada dua persoalan yang akan kurunding-kan dengan engkau."

Kang Hay-thian sudah dapat menduga beberapa bagian persoalan apa yang dimaksudkan Siangkoan Thay itu, maka dengan tertawa ia berkata.

"He-ji, dan Kan-ji, kalian boleh duduk lebih dekat ke sini untuk ikut mendengarkan."

Maka bicaralah Siangkoan Thay.

"Kali ini mestinya aku akan membawa serta anak Wan ke sini, tapi Tiok-toako telah mengalami cidera yang di luar dugaan, Djing-hoa harus merawat ayahnya, terpaksa aku pun berangkat kemari sendirian."

"Ah, usia mereka toh masih terlalu muda, tidaklah menjadi soal bila pertunangan mereka ditangguhkan sedikit waktu lagi,"

Ujar Kang Hay-thian.

"Sebenarnya Tiok-toako juga sangat memikirkan Kong-he, dia mempunyai maksud agar aku membawa Kong-he dan Tokan ke sana, kelak mereka boleh menikah saja di sana, entah bagaimana pendapat Kang-tayhiap?"

"Usulmu sungguh sangat baik, memangnya aku ada maksud menggembleng mereka di tengah pasukan Tioklotjianpwe,"

Sahut Hay-thian.

Keruan dalam hati Kong-he dan To-kan girang tak terkatakan, memangnya mereka sudah terlalu merindukan kekasih masing-masing, yang seorang merindukan Tiok Djing-hoa dan yang lain merindukan Siangkoan Wan.

"Menantu adalah seperti putra sendiri, tidaklah menjadi so-i al jika mereka ikut kepada sang mertua,"

Kata Kok Tiong-lian dengan tertawa.

"Cuma kedua murid ini sudah sekian lamanya | berkumpul dengan kami, sungguh rasanya sangat berat jika mendadak mesti berpisah."

"Haha, Kang-hudjin, malahan kami masih ingin pinjam la-, gi seorang muridmu,"

Seru Siangkoan Thay.

"Ya, soal kedua apakah yang akan kau rundingkan dengan aku?"

Tanya Hay-thian.

"Soal ini adalah urusan dinas,"

Kata Siangkoan Thay dengan air muka prihatin.

"Sedjiang dan Siau-kim-djwan masih saling bantu membantu meski kedua tempat terputus oleh rin-Ltangan pasukan musuh. Setelah Tiok-toako terluka dan Sedjiang jatuh kembali di tangan musuh, selain Tioktoako terpaksa masuk gunung lagi untuk mempertahankan diri, juga situasi Siau-Ikim-djwan ikut genting pula. Saat ini yang paling kita butuhkan .adalah seorang ahli yang berbakat memimpin pasukan sebagai ganti Tiok-toako. Leng Tiat-djiau dari Siau-kim-djwan pernah I mengirim utusan dan minta kita dapat mengusahakan suatu seorangan kilat untuk memperbaiki situasi yang tidak menguntungkan kita ini, mereka malahan mengemukakan calon pimpinan yang tepat. Untuk ini, Kang-tayhiap, tentu kau sudah tahu siapakah yang mereka usulkan itu."

"O, jadi kalian telah penujui Boh-hoa,"

Ujar Hay-thian tertawa.

Seperti diketahui, tiga tahun yang lalu Yap Boh-hoa pernah penjadi pimpinan pemberontak yang bekerja sama rapat dengan Leng Tiat-djiau (dalam cerita Geger Dunia Persilatan).

Jika sebarang dia yang menggantikan Tiok Siang-hu memang benar-benar suatu pilihan yang tepat.

Maka tanpa ragu-ragu Siangkoan Thay lantas membenarkan.

Kapan kau akan kembali ke sana?"

Tanya Hay-thian. Kukira besok juga aku mesti berangkat,"

Sahut Siangkoan Thay.

"Kau datang dari jauh, seharusnya kau tinggal beberapa hari lagi. Tapi di sana Tiok-lotjianpwe tentu sedang menantikan kepulanganmu, maka aku pun tak menahan kau lagi,"

Kata Kang Hay-thian.

"Nah, Boh-hoa, Siu-hong, kalian suami istri malam ini juga boleh bebenah seperlunya agar besok pagi lantas ikut berangkat bersama Siangkoanlotjianpwe. Kedua Sutemu yang masih muda itu selanjutnya adalah kewajibanmu untuk mengawasinya."

Boh-hoa dan Siu-hong sama mengiakan, lalu mengundurkan diri lebih dulu.

"Karena pernikahan putriku ini, sehingga banyak kedatangan tamu, mungkin aku mesti sibuk beberapa hari lagi dan besok tak dapat berangkat bersama kalian,"

Kata Kang Hay-thian lebih lanjut "Kau mengijinkan kepergian ketiga orang muridmu, hal ini saja sudah membuatku merasa sangat berterima kasih,"

Sahut Siangkoan Thay.

"Tiok-lotjianpwe terluka, seharusnya aku ikut pergi menjenguk beliau,"

Kata Hay-thian pula.

"Kukira sebelum akhir tahun ini aku akan dapat datang ke Tay-liang-san sana."

Menurut rencana Kang Hay-thian, ia akan melewatkan pergantian tahun di rumah Tiok Siang-hu, dari sana kemudian dia akan menuju ke kotanya untuk memenuhi perintah gurunya, yaitu untuk menemui tokoh yang dirahasiakan itu pada hari Goan-siau (Tjap-go-meh).

Setelah mengadakan perjanjian dengan Siangkoan Thay, lalu Hay-thian menyuruh To-kan membawa calon mertuanya itu masuk kamar untuk mengaso.

Kong-he juga lantas mengundurkan diri.

Hanya tertinggal Kim Tiok-liu saja yang masih diajak bicara.

"Sute, bagaimana pula dengan langkahmu selanjutnya?"

Tanya Hay-thian kemudian.

"Aku bermaksud menjelajahi Kangouw sekalian menjenguk beberapa teman ayah,"

Sahut Tiok-liu.

"Baik. Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang sudah jarang ada tandingannya lagi sehingga tidak perlu aku memikirkan kau. Cuma hendaklah diingat betul jangan sekalikali pamer atas kepandaianmu itu."

Sekarang Kim Tiok-liu benar-benar rada hormat dan segan kepada Suhengnya itu, jawabnya.

"Siaute akan ingat baik-baik petuah Suheng."

"Dan kapan kau akan berangkat?"

"Aku pikir akan berangkat bersama Tjin Goan-ko. Mungkin besok."

"Mengapa mesti tergesa-gesa? Di sini masih banyak kawankawan Bu-lim, tiada jeleknya kau belajar kenal dengan mereka. Memangnya aku pun bermaksud menahan Tjin Goanko | untuk tinggal sehari dua hari lagi agar dia bisa bergaul lebih banyak dengan sesama angkatan muda."

Tiok-lir tidak berani menceritakan urusan pribadi Goan-ko kepada sang Suheng, ia pikir Hong Tju-tjiau tentu tak sampai hati membikin susah putrinya sendiri, biar terlambat sehari dua hari rasanya Goan-ko masih dapat mencari nona itu.

Maka ia lantas menerima baik usul Kang Hay-thian itu dan hendak pergi memberitahukan kepada Goan-ko.

"Nanti dulu, aku masih ingin bertanya sesuatu padamu,"

Kata Hay-thian.

"Suhu menyuruh aku pergi menemui seseorang di Pit-mo-khe di kotaraja pada hari Tjap-go-meh yang akan datang, apakah kau mengetahui urusan ini?"

"Ayah tidak pernah menceritakan soal ini kepadaku."

"Pada hari Goan-siau tahun depan, bila kau sempat boleh juga kita bertemu lagi di kotaraja,"

Kata Hay-thian pula.

Ia pikir orang yang disuruh menemui di kotaraja menurut perinlah gurunya itu tentu tiada halangannya diketahui sang Sute, maka ia menjanjikan pertemuan lagi dengan Sutenya di sana.

Dasar watak Kim Tiok-liu memang suka bergerak dan senang keramaian, ia tidak tahu orang macam apakah yang akan ditemui oleh sang Suheng atas perintah ayahnya, lantaran ingin tahu, maka dengan senang hati ia menyanggupi akan datang ke kotanya pada waktunya.

Malam itu Kim Tiok-liu tidur sekamar dengan Goan-ko dan memberitahukan maksud Kang Hay-thian yang minta mereka tinggal lagi sehari dua hari itu.

Memangnya kedatangan Tjin Goan-ko yang mewakili gurunya itu ialah agar Goan-ko menggunakan kesempatan baik ini untuk berkenalan dengan kawan-kawan Bu-lim, apalagi tuan rumah menahannya dengan sesungguh hati, maka terpaksa ia menerima juga biarpun dalam hati sebenarnya sangat merindukan Hong Biausiang.

Siok-toan-ko hasil copetan Tiok-liu dari saku Bun To-tjeng itu ternyata sangat manjur, besok paginya dengkul Siangkoan Thay sudah merasa kuat, sisa racun juga telah dipunahkan hingga bersih.

Segera ia berangkat bersama Yap Boh-hoa suami istri serta Kong-he dan To-kan.

It-yang-cu, Tiong Tiang-thong dan tokoh-tokoh lain berturut-turut juga mohon diri kepada Kang Hay-thian.

Pada hari ketiga Kim Tiok-liu dan Tjin Goan-ko baru berangkat.

Dengan cepat malamnya mereka telah sampai di lereng Tji-lay-san.

"Harap kau suka mengintai sejenak rumah keluarga Hong itu, asalkan tahu keadaan nona Hong tidak kurang apa-apa, maka cukuplah sudah,"

Kata Goan-ko.

"Tidak, tidak bisa,"

Sahut Kim Tiok-liu tertawa.

"Dengan maksud baik si nona mengharapkan kau, mana boleh kau malah tidak mau pergi menemui dia lagi."

Muka Goan-ko menjadi merah, katanya.

"Macam apa jadinya jika aku mendatangi dia secara begini. Kan tidak enak rasanya."

"Hahaha!"

Tiok-liu bergelak tertawa.

"Sungguh aneh, kau bocah ini tidak berani pergi sendiri, tapi suruh aku mewakilkan kau, lalu terhitung macam apa jadinya nanti? Perbuatan seorang laki-laki sejati harus berani blak-blakan tanpa tedeng aling-aling, kalau mau pergi hendaklah pergi secara terangterangan, kenapa mesti takut?"

"Habis cara bagaimana aku harus bicara dengan Hong Tju-"iau?"

Ujar Goan-ko.

"Adalah berkat kau sehingga sekali ini Hong Tju-tjiau tidak mengalami nasib seperti Bun To-tjeng. Jika dia mempunyai perasaan, tentu dia akan menganggap kau sebagai tuan penolongnya dan harus mengucapkan terima kasih padamu, masakah kau malah takut menemui dia? Baiklah, mungkin kau merasa tidak punya alasan untuk pergi ke rumahnya bukan? Mari, kau ikut aku saja, nanti aku yang bicara."

"Ini, ini....."

Goan-ko masih ragu-ragu.

Kalau watak Kim Tiok-liu tidak kenal rikuh segala, adalah Goan-ko sendiri yang merasa kikuk.

Maka sebelum dia bicara lebih lanjut, Kim Tiok-liu sudah lantas menyeretnya sampai di depan pintu rumah Hong Tjutjiau, dengan suara keras ia lantas berteriak.

"Hai, kawanku telah minum arakmu yang sangat enak itu, aku menjadi ketagihan dan ingin minta bagian satu cawan padamu. Tjin Goan-ko sudah kalian jamu, sekarang kami datang lagi tentu takkan kau tolak bukan?"

Yang digunakan Tiok-liu adalah ilmu 'Thoan-im-djip-bit' (mengirimkan gelombang suara) sehingga bila di dalam rumah ada orang pasti akan mendengar semua.

Akan tetapi aneh, ternyata tiada sesuatu jawaban dari dalam.

Kim Tiok-liu tertawa, serunya lagi.

"Kalian mau meladeni atau tidak, sekali aku sudah datang sudah pasti akan minum. Jika kau tidak membuka pintu masakah aku sendiri tak bisa masuk?"

Baru saja Goan-ko hendak mencegah, tahu-tahu badannya terasa enteng, dia telah diseret oleh Kim Tiok-liu dan melayang lewat pagar tembok.

Sebenarnya Kim Tiok-liu sudah siap siaga bila diserang, lapi di luar dugaan, di dalam rumah ternyata tiada bayangan seorang pun.

Waktu Tiok-liu pasang kuping, juga tiada sesuatu suara yang terdengar.

Ketika diperiksa, terlihat di pekarangan situ ada bekas telapak kaki yang banyak.

Tiok-liu mengerut kening, katanya.

"Melihat keadaannya, mungkin mereka sudah pergi semua. Cuma, sekali sudah datang marilah coba kita melihatnya ke dalam."

Segera mereka menyusur kian kemari, kamar-kamar yang pernah ditempati tuan rumah dan tamu-tamunya telah diperiksa, tapi tiada nampak seorang pun.

Di dalam sebuah kamar, Tiok-liu menemukan sebuah botol arak dan coba diciumnya, lalu katanya dengan tertawa.

"Ini arak Kui-hoa-tjiu sungguh-sungguh."

Arak itu lantas diminumnya hingga puas, ia mencari sebuah buli-buli lagi, setelah penuh diisi arak dan dibawa sebagai bekal. Katanya dengan tertawa.

"Menurut peraturan ajaran Kipepek, bilamana sudah masuk rumah orang, seorang pencuri tidak boleh pulang dengan tangan hampa."

Sampai di pekarangan belakang, tiba-tiba Goan-ko menemukan sesuatu, ia bersuara heran dan berkata.

"He, apa artinya beberapa batang bambu yang ditancapkan di sini ini?"

Ternyata di dalam pekarangan itu tertancap sembilan batang bambu, bambu yang di tengah telah dibacok satu kali sehingga terbelah menjadi dua.

Padahal lantai pekarangan itu terbuat dari adukan batu dan pasir, maka dapat diduga orang yang mampu menancapkan batang-batang bambu itu pasti jago Lwe-kang yang lihai.

"Kiranya Tiong-pangtju sudah datang kemari,"

Kata Tiok-liu tertawa.

"Orang Kay-pang melakukan tancapan bambu adalah sama artinya seperti orang Kangouw menancapkan belati di atas meja, yaitu sebagai tanda peringatan bagi orang lain. Hanya Pangtju mereka saja yang berhak menancapkan sembilan batang bambu."

Meski Kim Tiok-liu baru saja pulang ke Tionggoan, tapi lantaran Ki Hiau-hong sudah sering menceritakan macammacam peraturan Kangouw padanya, maka pengetahuannya menjadi jauh lebih luas daripada Goan-ko yang masih hijau.

Maka Goan-ko menjadi terkesiap, katanya.

"O, ini sarrtl artinya seperti menancapkan belati untuk memberi peringatan'1 Jika demikian tentu Tiong-pangtju sudah tahu siapakah Hong Tju-tjiau itu? Tapi batang bambu yang di tengah itu telah dibelai orang, entah apa artinya lagi?"

"Itu tandanya ada orang menantang padanya,"

Kata Tioki liu.

"Bukankah Bun To-tjeng sudah terluka? Masakah Hong! Tju-tjiau punya keberanian menantang Tiong-pangtju?"

"Bisa jadi masih ada orang lain lagi dan tidak mesti Honl Tju-tjiau atau Bun To-tjeng."

Diam-diam Tiok-liu juga tidak mengerti apakah Hong Tjul tjiau lari lantaran takut kepada Tiong Tiang-thong atau memand tidak berani pulang lagi ke sini.

Kalau dilihat dari berbagai bekal kaki di pekarangan tadi agaknya yang pernah datang ke rumah Hong Tju-tjiau ini tidak terbatas pada satu orang saja.

"Jika mereka sudah pergi, marilah kita keluar saja,"

Ajakj Goan-ko.

"Kenapa mesti buru-buru?"

Ujar Tiok-liu tertawa.

"Marilah kita coba memeriksa kamar nonamu yang manis itu."

Muka Goan-ko menjadi merah, katanya.

"Ah, Kim-henf suka bercanda saja."

Tiba-tiba air muka Kim Tiok-liu berubah kereng, katanya.

"Ini bukan bercanda, boleh jadi di sana akan diketemukan sesud atu yang dia tinggalkan untukmu."

Terpaksa Goan-ko menurut dan mengiringnya ke sana.

Kamar Hong Biau-siang terletak di bagian belakang berdekatan dengan taman.

Setiba di situ, Tiok-liu lantas membuka pintunya.

Terlihat kelambu tempat tidur terurai, suasana kamarj rada guram, meja rias berdebu.

Dengan tertawa Tiok-liu berkata.

"Tjin-heng, nonamu itu tampaknya sudah pergi dari sini beberapa hari lamanya dan tidak meninggalkan sesuatu apapun bagimu, apakah kau merasa kecewa? Tapi baik juga jika dia sudah pergi, terang dia tidak ikut serta bersama ayahnya, maka kau tidak perlu kuatir lagi."

Apa yang dikatakan Kim Tiok-liu itu adalah berdasarkan keadaan kamar yang tidak teratur dan tidak dibersihkan itu, ia menaksir Hong Biau-siang tentu sudah meninggalkan rumahnya beberapa hari yang lalu, andaikan Hong Tju-tjiau pernah pulang juga pasti tidak menemukan putrinya itu.

"Jika begitu buat apa lagi kita masuk kemari?"

Kata Goanko, karena pada saat itu pula Kim Tiok-liu menariknya masuk ke dalam kamar.

"Coba kau singkap kelambu itu dan memeriksanya,"

Tibatiba Tiok-liu membisikinya. Muka Goan-ko menjadi merah, katanya.

"Ini mana boleh?"

Namun Kim Tiok-liu sudah lantas mendorongnya maju, | katanya.

"Kukatakan singkap kelambunya, kenapa mesti takut?"

Kiranya sayup-sayup Kim Tiok-liu mendengar di balik kelambu tempat tidur itu seperti ada suara pernapasan yang sangat lemah.

Ini ada dua kemungkinan.

Bisa jadi Hong Biausiang terluka dan tertenung di atas tempat tidurnya dan tak bisa bicara.

Kemungkinan lain adalah di situ bersembunyi seorang jagoan yang memiliki Lwekang lumayan sehingga dapat mengekang pernapasannya, makanya Tjin Goan-ko tidak dapat mendengar suara napas yang pelahan itu, tapi Kim Tiok-liu dapat mendengarnya.

Lantaran tidak tahu orang di balik kelambu itu Hong Biaufciang atau bukan, Kim Tiok-liu sendiri tidak enak menyingkap kelambunya, maka Goan-ko yang disuruh.

Goan-ko juga tidak paham maksud Kim Tiok-liu, ia hanya penurut saja.

Tapi baru saja tangannya memegang kain kelam-pu, sekonyong-konyong dari tempat tidur itu meloncat keluar seorang dengan menerobos kelambu terus mencakar ke muka fcoan-ko sambil membentak.

"Kiranya kau inilah bocah she Tjin Itu, kau telah menculik nona Hong kemana?"

Sebagai murid Bu-tong-pay pilihan, biar pun menghadapi krangan mendadak Goan-ko tidak bingung, ia pun balas membentak.

"Siapa kau?"

Berbareng tangannya lantas menangkis sehingga serangan orang itu dapat dihindarkan.

Ketika kedua tangan beradu, tangan orang itu terasa sedingin es sehingga Goan-ko menggigil sendiri.

Dalam pada itu dengan cepat sekali Kim Tiok-liu juga sudah bertindak, suatu pukulan yang enteng dilontarkan, tampaknya tidak bertenaga, tapi sebenarnya membawa bermacam-macam perubahan yang indah.

Usia penyergap itu kira-kira baru 30-an, mukanya pucat seperti mayat, kaku tak berperasaan.

Dengan nada dingin ia berkata.

"Kau pengemis cilik ini juga berani mengacau, mi rasakan kelihaianku!"

Tampaknya orang itu seperti berpenyakitan, tapi tenaga dalamnya ternyata tidak lemah dan sanggup menghadapi serangan Kim Tiok-liu tadi.

Akan tetapi tangan Kim Tiok-liu lantas berputar ke bawah, tenaga pukulannya dikerahkan pula.

"plok", pukulan susulan yang hebat ini tepat mengenai sasarannya, kontan orang itu menumpahkan darah segar. Ia tidak berani menyambut serangan Kim Tiok-liu lagi, cepat ia melompat keluar melalui jendela. Aneh juga, pada saat orang itu muntah darah, tanpa merasa Kim Tiok-liu sendiri juga tergetar mundur dua tindak dan menyaksikan orang itu kabur dengan begitu saja. Goan-ko terkejut dan bertanya.

"Kenapakah kau Kimheng?"

"Hahaha! Setelah kau kenal kelihaianku, biarlah kau boleh kabur juga. Jika mau, tentunya aku cukup mampu menguber dan membekuk kau!"

Seru Kim Tiok-liu sambil tertawa dengan tenaga yang penuh sebagai pamer kekuatan kepada musuh yang melarikan diri itu.

Mendengar suaranya, barulah Goan-ko merasa lega karena tahu Kim Tiok-liu tidak mengalami cidera apa-apa.

Habis berseru tadi baru kemudian Kim Tiok-liu berpaling dan berkata kepada Goan-ko.

"Aku tidak apa-apa, sebaliknya aku yang menguatirkan dirimu. Bagaimana, apakah kau masih menggigil kedinginan?"

"Ya, aneh, badan orang itu seperti bukan terbuat dari darah dan daging, aku benar-benar menggigil kedinginan. Tapi saat ini sudah baik kembali."

Segera Tiok-liu memegang tangan Goan-ko dan menyalurkan hawa hangat ke badan pemuda itu. Katanya dengan tertawa.

"Hian-im-tji yang dilatih orang itu sudah mencapai enam tujuh bagian sempurna. Hian-im-tji adalah ilmu dari Sia-pay yang berasal dari Siu-lo-sat-kang, hanya tidak selihai Im-sat-kang itu sendiri dan lebih mudah dilatih. Jika dia berhasil meyakinkan Im-sat-kang mungkin aku akan gentar padanya, tapi kalau cuma Hiau-im-tji saja, apa yang dia bisa perbuat atas diriku?"

Karena dapat bantuan tenaga dalam Kim Tiok-liu, hanya sebentar saja badan Goan-ko sudah terasa hangat kembali, rasa dingin tadi telah punah seluruhnya.

"Kau mampu menyambut serangannya tanpa terluka. kepandaianmu inipun sudah lumayan,"

Puji Tiok-liu tertawa.

"Aku pernah mendengar cerita Suhuku, katanya 30 -40 tahun yang lalu, gembong Sia-pay yang bernama Beng Sin thong pernah merajai dunia persilatan dengan ilmu yang disebut Siu-lo-im-sat-kang. Keparat tadi mahir Hian-im-tji, jangan-jangan dia adalah cucu murid Beng Sin-thong."

"Tidak pasti. Menurut cerita ayahku, selain kakek-luarku sendiri, beliau masih punya seorang Sute she Yang yang juga pernah meyakinkan Siu-lo-im-sat-kang sampai tingkat kedelapan. Siu-lo-im-sat-kang itu berasal dari negeri Thiantiok, bisa jadi di sana masih ada kaum ahli ilmu tersebut dan telah mengajarkan murid bangsa Han kita."

Baru sekarang Goan-ko ingat bahwa ibu Tiok-liu, yaitu Kok Tji-hoa adalah putri Beng Sin-thong. Pikirnya.

"Pantas dia paham asal-usul Hian-im-tji."

Kemudian Kim Tiok-liu berkata pula.

"Ya, andaikan orang itu bukan aliran dari kakek-luarku, gurunya tentu juga seorang jagoan dari Sia-pay. Selain Hian-im-tji orang tadi pun mahir Thian-mo-kay-te-hoat yang paling aneh dari Sia-pay."

Ilmu Thian-mo-kay-te-hoat akan bertambah lebih kuat bilamana menumpahkan darah.

Dari tanda ini barulah Goan-ko paham mengapa sesudah orang tadi tumpah darah dipukul Tiok-liu, lalu Kim Tiok-liu berbalik tergetar mundur.

Tiba-tiba Tiok-liu pasang kuping dan mendengarkan dengan cermat, sejenak kemudian ia berkata.

"Di atas gunung ada orang sedang bertempur, mari kita coba pergi melihatnya."

Mereka lantas masuk ke tengah hutan sana dan mencari menurut arah datangnya suara.

Tidak lama kemudian terdengarlah suara bentakan ramai orang yang tengah berkelahi.

Dengan tertawa Kim Tiok-liu berkata.

"Kiranya Tiong-pangtju yang sedang berkelahi dengan orang di sini. Kepandaian lawannya ini jauh lebih tinggi daripada orang yang menyergap kita tadi. Yang membelah tongkat bambu Tiongpangtju itu pasti dia pula."

Sesudah dekat, terlihat orang yang bertempur sengit melawan Tiong Tiang-thong adalah seorang laki-laki setengah umur, tenaga pukulan kedua orang sama-sama sangat keras, debu pasir dalam lingkaran beberapa meter sekeliling mereka sama beterbangan.

Angin pukulan orang itu masih ada tanda-tanda lain yang aneh, yaitu seperti angin panas yang dipanaskan dari anglo sehingga rasanya seperti terbakar.

Lwekang Goan-ko paling lemah, dia sampai berkeringat menghadapi angin yang membawa suhu panas itu, lekas ia melangkah mundur.

Diam-diam Tiok-liu berpikir.

"Tampaknya Lui-sin-tjiang orang ini tidaklah lemah, namun dia tetap bukan tandingan Tiong-pangtju sehingga aku tidak perlu membantu."

Pertarungan di antara tokoh-tokoh kelas tinggi panca-inderanya selalu waspada.

Maka kedatangan Kim Tiok-liu dan Goan-ko sejak tadi sudah diketahui oleh Tiong Tiang-thong dan laki-laki setengah umur itu.

Tiong Tiang-thong seperti anggap tidak tahu saja dan masih bertempur dengan sengit.

Sebaliknya laki-laki itu menjadi kuatir, pikirnya.

"Jembel cilik itu tidak gentar pada angin pukulanku, terang Lwekangnya juga sangat tinggi. Kabarnya Bun To-tjeng kecundang oleh seorang pengemis cilik di rumah Kang Hay-thian, janganjangan jembel cilik inilah orangnya."

Lantaran kuatir Kim Tiok-liu turun tangan membantu Tiong Tiang-thong, maka laki-laki itu lantas mendahului melancarkan serangan kilat secara mati-matian.

Di tengah pertarungan sengit itu tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang bersuit panjang, suaranya berat dan lemah pada akhirnya.

Bagi seorang ahli segera dapat mendengar suara itu iurang kuat, tentu orang yang bersuit itu baru saja terluka dalam "hingga napasnya tidak cukup.

Diam-diam Tiok-liu merasa geli di dalam hati.

"Siapa suruh kau menggunakan Thian-mo-kay-te-hoat, kau tidak mampu mencelakai aku, ("baliknya kau yang terluka sendiri."

Kiranya Kim Tiok-liu dapat mendengar suara suitan itu berasal dari orang yang menyergap mereka di rumah Hong Tju-tjiau itu, mungkin sekali dia dan laki-laki lawan Tiong Tiang-tfiong ini adalah sekomplotan, maka sekarang sedang memanggil kawannya agar lekas melarikan diri.

Laki-laki yang sedang melawan Tiong Tiang-thong itu tampaknya sangat terkejut demi mendengar suara suitan, pikirnya.

"Entah Bo-losam dilukai oleh jembel cilik ini atau bukan? Ai, tahu begini seharusnya aku tidak meninggalkan dia di rumah long Tju-tjiau. Tadinya aku kira dapat mengalahkan pengemis tua ini, siapa duga ternyata begini keras, sampai melepaskan diri .uja bagiku terasa sukar."

Segera ia menyerang mati-matian dengan maksud mendelik mundur lawannya.

Hanya sebentar saja ia sendiri sudah mandi keringat, sebaliknya Tiong Tiang-thong masih tetap tenang-tenang saja dan melayani dia dengan seenaknya.

"Tenaga laki-laki ini tidak melebihi Tiong-pangtju, cara menyerangnya ini hanya akan mempercepat kekalahannya,"

Demikian pikir Kim Tiok-Iiu.

Belum selesai ia berpikir, mendadak terdengar bentakan Tiong Tiang-thong yang menggeledek, kedua lengannya terangkat ke atas, laki-laki lawannya itu terpental mundur enam tujuh tindak dengan sempoyongan.

Pikir Kim Tiok-Iiu pula.

"Asal Tiong-pangtju menambahi lagi sekali pukul tentu orang itu akan menggeletak terluka parah Eh, aneh, kesempatan sebagus ini mengapa tidak digunakan Tiong-pangtju?"

Kiranya Tiong Tiang-thong tidak memburu musuh meski sudah menang, sebaliknya ia malah menyudahi pertarungan itu.

Rupanya hal itupun di luar dugaan laki-laki itu, dengan terbelalak ia memandang Tiong Tiang-thong.

"Auwyang Kian,"

Kata Tiong Tiang-thong dengan nada di ngin.

"Kau punya Lui-sin-tjiang sudah hampir menyamai mendiang ayahmu, tapi untuk bisa mengalahkan aku si pengemis tua ini mungkin masih jauh daripada mampu."

Kiranya laki-laki itu adalah putra Auwyang Pek-ho, na manya Auwyang Kian. Tiga tahun yang lalu Auwyang Pek-ho dikalahkan Tiong Tiang-thong dan ilmu silatnya dipunahkan. Maka berkatalah Auwyang Kian.

"Ya, tadinya aku mc mang mengira dapat mengalahkan kau, sekarang aku baru tahu bahwa aku masih bukan tandinganmu. Tapi aku baru setengah umur, sebaliknya kau sudah tua renta, pada suatu hari aku pasti akan mengalahkan kau. Tatkala mana sekalipun aku tidak mem bunuh kau juga tentu akan kupunahkan ilmu silatmu seperti caramu sendiri. Maka untuk kepentinganmu, bilamana kau taktil kelak aku akan menuntut balas lagi padamu, sebaiknya sekaran kau membunuh aku saja."

"Hahahaha!"

Tiang-thong tertawa.

"Untuk bisa mengalah kan aku, sedikitnya kau harus berlatih sepuluh tahun lagi. Tat kala mana bisa jadi pengemis tua sudah pulang ke dunia nirwana. Tapi apapun juga semangat jantanmu harus dipuji dan lebih gagah daripada ayahmu dahulu. Aku sudah memunahkan ilmu silat ayahmu, aku tidak ingin memunahkan ilmu silatmu pula. Aku ingin kau tahu bahwa tindakan pengemis tua yang terkenal tidak kenal ampun adalah tergantung kepada lawannya dan tidak selalu mesti dibabat habis-habisan. Maka baiklah, boleh kau pergi saja."

"Kau melepaskan aku begini saja, apakah kelak kau takkan menyesal?"

Tanya Auwyang Kian.

"Hahaha apa yang kulakukan selamanya tak pernah menyesal!"

Seru Tiong-tiang-thong dengan bergelak tawa. Diam-diam Auwyang Kian bergirang, tapi ia tidak memperlihatkan sesuatu tanda, katanya hambar.

"Semoga sepuluh tahun lagi kau masih hidup di dunia ini, kalau tidak, tentu akulah yang akan kecewa."

Habis berkata ia lantas memutar tubuh dan tinggal pergi.

Kiranya Auwyang Kian sudah kenal watak Tiong Tiangthong, jika dikalahkan pengemis tua itu, daripada minta ampun ada lebih baik berlagak berani mati.

Maka dia sengaja menonjolkan soal menuntut balas kelak, betul juga Tiong Tiang-thong lantas melepaskan dia malah.

Sesudah Auwyang Kian pergi, Kim Tiok-Iiu dan Tjin (ioanko lantas maju menemui Tiong Tiang-thong.

"Kalian ini tentunya sudah pergi ke rumah keluarga Hong Itu bukan?"

Tanya Tiong Tiang-thong.

"Betul aku malah sudah melihat sembilan batang bambu yang kau tancapkan di sana,"

Sahut Tiok-Iiu.

"Hm, tentunya kalian pergi ke sana hendak mencari anak perawan orang bukan? Dan kau sudah menemukannya belum?"

Dengus Tiang-thong. Wajah Goan-ko menjadi merah. Dengan tertawa Tiok-Iiu lantas menjawab.

"Tidak, tidak ketemu, tapi di kamar nona liong sana kami memergoki seorang laki-laki yang mahir Hianlin-tji, entah siapa dia?"

"Dia adalah murid Yang Gak, namanya Kiong Peng-ya. terhitung jagoan kelas dua dari golongan Sia-pay,"

Tutur Tiang-thong.

"Yang Gak itu adalah putra Yang Djik-hu, yaitu Sulc kakek-Iuarmu Beng Sing-thong. Yang Djik-hu pernah juga meyakinkan Siu-lo-im-sat-kang hingga mencapai tingkatan kedela pan. Aku pun tidak tahu mengapa Kiong Peng-ya itu bisa ikui Auwyang Kian ke rumah Hong Tju-tjiau. Tapi Auwyang Kian itu masih boleh juga, dia menantang aku bertempur di luar dan tidak mau dibantu oleh Kiong Peng-ya. Kalau tidak, dengan gabungan mereka berdua rasanya sukar bagiku untuk menang walaupun aku pun tidak sampai dikalahkan oleh mereka."

"O, kiranya begitu,"

Kata Tiok-liu tertawa.

"Jika demikian orang she Kiong itu seharusnya malah ada hubungan keluarga dengan aku. Tadi aku cuma memberi sedikit hajaran padanya tanpa memberikan pukulan mematikan, tindakanku ini dapni dikatakan tepat."

Segera ia pun menuturkan apa yang dialaminya.

"Haha, pengemis cilik dan pengemis tua seperti kita ter nyata mempunyai sifat yang sama, yaitu sama-sama suka ikm campur urusan orang lain, apakah tindakanmu benar atau salah aku tidak ambil pusing. Tapi Goan-ko yang telah salah bertindak, untuk ini aku ingin mengurusi. Apakah kau tahu perbuatanmu yang salah, Goan-ko?"

Sifat Goan-ko adalah halus luar keras di dalam, ia tahu apa yang hendak ditegurkan Tiong Tiang-thong, tapi dia merasa pc nasaran, dengan berlagak pilon ia coba menjawab.

"Tetju tidak tahu dimana letaknya kesalahan, mohon Lotjianpwe memberi penjelasan."

Dengan muka kereng Tiong Tiang-thong berkata.

"Hon-Tju-tjiau adalah sampah dunia persilatan yang pernah menjadi bayangkara kerajaan. aku sudah menyelidiki seluk-beluknya dengan jelas. Di dunia ini tidak kurang anak gadis dari keluarga baik, kenapa kau mesti penujui putri Hong Tju-tjiau itu?"

Dengan wajah merah Goan-ko membantah.

"Tetju tiada mempunyai hubungan istimewa dengan nona Hong itu, bersahabat saja belum. Tetju cuma kasihan kepada keadaannya yang serba susah, maka ketika lewat di sini, Tetju coba mampir menjenguknya."

Tapi Tiong Tiang-thong hanya setengah percaya, katanya.

"Kau benar-benar tiada hubungan pribadi yang karib dengan dia?"

"Pengemis tua, mencampuri urusan orang rasanya kali ini kau yang salah langkah,"

Timbrung Tiok-liu tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mencela kau, sebaliknya kau malah mengomeli aku?"

Sahut Tiong Tiang-thong dengan melotot.

"Baiklah, coba kau katakan dimana letak kesalahanku?"

"Kau bilang telah menyelidiki seluk-beluk Hong Tju-tjiau, tapi apakah kau juga telah menyelidiki seluk-beluk putrinya itu?"

Tanya Tiok-liu.

"Pertanyaanmu ini sama sekali tidak beralasan?"

Jawab Tiang-thong.

"Mengapa tidak beralasan?"

"Habis seluk-beluk apanya seorang anak perempuan begitu yang perlu diselidiki?"

"Jawabanmu inilah yang tidak beralasan,"

Ujar Tiok-liu.

"Apakah seluk beluk seorang anak perempuan lalu tidak dapat diselidiki? Sedikitnya dia juga sudah perawan berumur 18 tahun kalau tidak ada 20 tahun, sehingga tidaklah pasti bahwa dalam segala hal dia tentu berbuat salah seperti ayahnya. Apakah kau sudah tahu jelas nona itu orang baik atau orang jahat? Mengapa kau tidak mencari tahu sedikitpun lantas menuduh Goan-ko yang bersalah?"

"Mulutmu yang tajam tampaknya lebih lihai daripada ayahmu,"

Kata Tiang-thong.

"Baiklah, anggap aku kalah omong padamu, memang aku rada teledor sedikit. Tapi kau sendiri juga baru saja pulang ke Tionggoan, masakah kau sendiri begitu cepat lantas mengetahui seluk beluk nona itu?"

"Walaupun belum jelas seluruhnya, sedikitnya sudah tahu beberapa bagian,"

Kata Tiok-liu tertawa "Pertama aku mengetahui hati-nuraninya cukup baik dan sangat berbeda daripada ayahnya.

Goan-ko telah dicekoki Djian-tjhit-ljui oleh ayahnya sesudah mengetahui nona itu sangat sedih dan diamdiam bermaksud mencuri obat pemunah ayahnya untuk menolong Goan-ko.

Kedua, dia dan Goan-ko pernah bersamasama mengalahkan dua jago kerajaan yang merupakan bekas kawan sejawat Hong Tju-tjiau, kedatangan kedua jago pengawal itupun maksudnya hendak mengundang Hong Tjutjiau agar kembali pada tugas yang lama.

Lantaran itulah aku dan Goan-ko kuatir nona Hong itu akan menderita siksaan ayahnya maka sengaja datang kemari mencari kabarnya Akulah yang menyeret Goan-ko ke rumah Hong Tju-tjiau, jadi kalau mau menegur, lebih baik kau tegur aku saja."

Tiong Tiang-thong menjadi kikuk mendengar penjelasan Kim-tiok-liu itu, katanya dengan tertawa ewa "Jika demikian, jadi akulah yang salah wesel."

"Memang kau yang salah. Ayah adalah ayah, anak adalah anak, mana boleh antara ayah dan anak dicampur-baurkan persoalannya"

Ujar Tiok-liu.

Watak Tiong Tiang-thong memang suka blak-blakan, setelah merasa dirinya bersalah, dengan terus terang ia berani mengaku salah.

Katanya dengan tertawa "Memang tepat ucapanmu, ayah adalah ayah dan anak adalah anak.

Dahulu kakek-luar-mu adalah gembong nomor satu di kalangan Siapay, sebaliknya ibumu adalah seorang pendekar wanita yang dikagumi orang.

Memang aku yang sudah pikun sehingga contoh ini sampai ku-lupakan.

Malahan perjodohan ayahibumu adalah aku yang menjadi perantaranya.

Haha!"

Habis itu, lalu ia berpaling dan menghibur Goan-ko.

"Baiklah, anggap teguranku tadi salah. Selanjurnya aku tidak urus lagi biar bagaimana hubunganmu dengan nona Hong itu."

Habis berkata, kembali ia terbahak-bahak lagi. Kemudian ia bertanya pula "Goan-ko, kau akan terus pulang ke Bu-tongsan atau masih akan meneruskan mencari nonamu itu?"

Dengan wajah merah Goan-ko menjawab.

"Aku dan nona Hong sama sekali tiada hubungan apa-apa, harap Lotjianpwe jangan salah paham. Sekarang setelah diketahui dia pergi sendiri, maka aku pun dapatlah merasa lega."

"Kau bilang tiada punya hubungan apa-apa tapi mengapa kau mesti merasa lega segala atas kepergiannya?"

Ujar Tiangthong dengan tertawa.

"Tapi, kau jangan kuatir, aku pasti takkan memberitahukan gurumu. Tampaknya kau akan terus pulang gunung bukan?"

"Benar,"

Sahut Goan-ko.

"Tetju hendak pulang dulu untuk melaporkan pengalaman perjalananku ini kepada Suhu, habis itu barulah berkelana lagi di Kangouw."

"Baiklah, aku justru akan pergi ke tempat gurumu sana bolehlah kau berangkat bersama aku. Dan kau bagaimana pengemis cilik?"

"Pengemis cilik tidak betah terikat oleh pengemis tua, maka biarkan aku berbeda arah saja dengan kalian,"

Jawab Tiok-liu tertawa.

"Hahaha memang benar,"

Seru Tiang-thong terbahak.

"Kau baru saja pulang, memang seharusnya menjelajah Kangouw sendirian untuk menyebarkan namamu."

"Menyebarkan nama bukanlah tujuanku,"

Ujar Tiok-liu.

"Cuma aku merasa lebih bebas bila sendirian."

"Sifatmu ini benar-benar serupa ayahmu,"

Kata Tiang-thong tertawa.

"Tidak, tidak. Ayah sekali-kali tidak mengharapkan aku mirip dia, tapi begitu menghendaki aku menurut gelombang mengikuti aliran, entah aku melakukannya atau tidak. Cuma aku memang ingin sekali bergaul dengan macam-macam golongan dari dunia Kangouw."

Sampai di sini mendadak ia menggoda Goan-ko, katanya "Kau pura-pura suci, tapi di dalam batinmu selalu memikirkan anak gadis orang.

Rasanya kau perlu bantu-anku.

Dalam perjalananku nanti akan kubantu memperhatikan nonamu yang selalu terkenang itu."

Muka Goan-ko kembali merah jengah lagi dan kedua pengemis tua dan muda sama bergelak tertawa.

"Sesungguhnya sudah lama pengemis tua tidak pernah mendapatkan teman yang mencocoki seleraku seperti kau,"

Kata Tiang-thong kemudian kepada Tiok-liu.

"Sebenarnya aku merasa berat untuk berpisah dengan kau. Tapi apa boleh buat, mau tidak mau kita harus berpisah."

"Nanti dulu, pengemis cilik masih ada sesuatu ingin bertanya kepada pengemis tua,"

Kata Tiok-liu.

"Soal apa? Asal kau tanya tentu pengemis tua akan menerangkan segala apa yang kuketahui."

"Kabarnya di atas Tji-lay-san ini dahulu pernah ada suatu agama yang disebut Thian-mo-kau, entah dimana tempatnya?"

"Hal ini sudah hampir 30 tahun yang lalu, ketua agama itu adalah seorang wanita cantik, kemudian diperistri oleh wakilnya she Le. Mereka pun seperti ayah-ibumu, sudah lama mengasingkan diri di lautan lepas. Kau menanyakan Thianmo-kau, apakah karena pernah mendengar cerita dari ayahmu?"

"Ayah tidak pernah membicarakan, tapi Ki-pepek yang mengatakan padaku. Sekarang aku berada di pegunungan Tjilay-san, seketika ingat dan segera kutanyakan padamu."

"O, benarlah kalau begitu,"

Kata Tiang-thong.

"Benar, tentang apa?"

Tanya Tiok-liu heran.

"Bicara tentang Thian-mo-kau sebenarnya masih ada sangkut-paut sedikit dengan keluargamu,"

Tutur Tiang-thong tertawa.

"Di waktu kecil, Toasuhengmu pernah diculik oleh Thian-mo Kautju wanita itu, kemudian Ki Hiau-hong yang menolongnya keluar. Tapi waktu Ki-pepekmu menolong Toasuhengmu, dia pun pernah menelan pil pahit dari Thianmo Kautju. Kukira Ki-pepekmu masih belum melupakan peristiwa itu."

"Ki-pepek pernah bercerita tentang peristiwa ini, cuma beliau tidak mengatakan pernah menelan pil pahit dari Kautju itu."

"Letak markas besar Thian-mo-kau itu adalah di puncak kutara Tji-lay-san. Nah, itulah, di atas puncak yang tertampak dari kini, puncak yang dikelilingi awan itu. Cuma bangunanbangun-an di sana sudah lama terbakar menjadi puing. Sesudah bubar, selama 20-an tahun ini orang Thian-mo-kau sudah tak ketahuan Lkemana perginya. Aku pun tidak pernah lagi naik ke sana."

"Aku menjadi ingin naik ke sana untuk melihatnya,"

Kata Tiok-liu.

"Hanya tumpukan puing belaka, apanya yang dilihat?"

Ujar Tiang-thong.

"Orang tua suka terkenang kepada hal-hal lama, maka aku [ingin menjenguk sekadarnya ke sana agar kelak kalau pulang aku dapat mengobrol dengan Ki-pepek."

"Kau benar-benar pemuda yang berperasaan, pantas Ki Hiau-hong begitu sayang kepadamu sehingga kepandaian yang paling dia banggakan juga diajarkan padamu. Cuma aku tidak [punya minat ikut memanjat gunung hanya untuk menonton tumpukan puing, maka maafkan aku tak dapat mengiringi kau."

Begitulah mereka lantas berpisah, hanya Kim Tiok-liu sendirian yang naik ke puncak utara Tji-lay-san itu.

Mendadak terengat olehnya ucapan Tiong Tiang-thong tadi yang mengatakan Thian-mo-kau ada hubungan dengan keluarganya, tapi yang diuraikan hanya tentang Ki Hiau-hong dan Kang Hay-thian saja, tampaknya masih ada sesuatu yang sungkan diceritakan lagi, lintah apa sebabnya.

Kemudian Tiok-liu teringat pula kepada Ki Hiau-hong |ang tidak pernah membicarakan tentang Thian-mo-kau kepada byahnya.

Padahal Ki Hiau-hong dan Kim Si-ih boleh dikata "obat paling karib dan segala apa selalu dibicarakan tanpa tedeng BUng-aling, mengapa melulu dalam hal Thian-mo-kau saja papan Ki itu merasa pantang membicarakannya?

Demikianlah, lantaran heran terhadap sikap Ki Hiau-hong itu sehingga Tiok-liu semakin tertarik oleh persoalan Thian-mokau ini.

Kim Tiok-liu tidak tahu bahwa cikal-bakal Thian-mo-kau, yaitu Le Seng-lam adalah bekas kekasih ayah Kim Si-ih.

Kemudian Le Hok-sing yang kawin dengan Thian-mo Kautju itu adalah keponakan Le Seng-lam.

Kim Si-ih adalah seorang yang paling mengutamakan perasaan, berhubung dengan persoalannya dengan Le Seng-lam, pernah ia menunda-nunda perkawinannya dengan Kok Tji-hoa selama hampir 20 tahun.

Oleh sebab Ki Hiau-hong tidak ingin menyinggung perasaan Kim Si-ih, maka di depan suami istri Kim Si-ih tak pernah ia menyebut nama Thian-mo-kau.

Karena tidak tahu selukbeluknya, Kim Tiok-liu menjadi heran dan merasa di balik hal itu ada sesuatu rahasianya lagi, maka ia sangat ingin melihat bekas-bekas markas Thian-mo-kau itu.

Ketika sampai di atas puncak, sementara itu hari sudah dekat magrib.

Dilihatnya di situ tumpukan puing belaka.

Hanya masih ada sebuah rumah, walau pun keadaannya sudah bobrok, bahkan temboknya juga berlumut, tapi masih berbenruk rumah yang rada lengkap.

Dari dalam rumah itu terlihat ada cahaya api, terang di dalamnya ada orang.

Kim Tiok-liu menjadi heran siapakah gerangan yang bersembunyi di situ?

Segera ia mengeluarkan Ginkangnya yang tinggi, dengan enteng dan tanpa mengeluarkan suara ia memutar ke jendela belakang dan coba mengintip ke dalam rumah.

Dilihatnya ada seorang laki-laki berusia 30-an sedang duduk di lantai dan membuat api unggun.

Laki-laki itu memakai baju panjang yang sudah kumal dan mirip seorang pelajar miskin kampungan.

Dalam rumah itu kosong melompong, hanya ada sebuah genta besar yang menelungkup di tengah ruangan.

Rupanya ruangan itu adalah bekas ruang pendopo Thianmo-kau, karena mengalami kebakaran dan perusakan, patungpatung pemujaan di dalam ruangan sudah sama hancur, meja sembahyang juga sudah dipreteli orang untuk digunakan sebagai kayu bakar.

Agaknya laki-laki itu tidak tahu di luar ada orang mengintip.

Saat itu ia sedang mengeluarkan segenggam barang dari sakunya dan ditaruh di atas lantai.

Seketika Kim Tiok-liu terkesiap.

Kiranya di antara barang-barang itu ada seuntai mutiara yang bercahaya mengkilap, jelas mutiara itu adalah benda mestika yang tiada ternilai.

Selain untaian mutiara mestika itu ada belasan mata uang tembaga dan sebilah belati.

Diam-diam Kim Tiok-liu membatin.

"Rupanya adalah seorang pencopet yang sedang memeriksa hasil gerayangannya."

Terlihat laki-laki itu memegang untaian mutiara mestika biru dan dipandang sejenak, lalu geleng-geleng kepala dan tersenyum getir. Pikir Kim Tiok-liu.

"Rupanya dia merasa hasil curiannya itu masih kurang berharga, dia benar-benar terlalu serakah."

Pakaian laki-laki itu sangat jelek, di dalam sakunya hanya berisi belasan mata uang tembaga, tetapi mempunyai seuntai mutiara mestika tak ternilai begitu, tidaklah heran kalau Kim Tiok-liu menyangka dia sebagai seorang pencuri.

Tiok-liu merasa tiada jeleknya berteman dengan seorang pencuri, maka dengan mengikik geli ia lantas mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam.

Keruan orang itu terperanjat dan buru-buru menyimpan kembali barang-barangnya, lalu dengan mata melotot ia memandang Kim Tiok-liu.

"Hahaha, kau tidak perlu gugup, kita adalah satu kaum,"

Seru Tiok-liu sambil tertawa.

"Kau bilang apa?"

Laki-laki itu menegas.

"Kau adalah pencuri, aku pun pencuri,"

Sahut Tiok-liu.

"Di antara kaum kita memang ada sebagian yang tidak kenal setia kawan sesama orang Kangouw, tapi sekali-kali aku bukan orang yang suka hitam makan hitam, maka kau tidak perlu kuatir palaku."

Diam-diam laki-laki itu merasa geli, pikirnya pula.

"Pengemis cilik ini melangkah masuk barulah aku mengetahui kedatangannya, dari Ginkangnya ini aku harus mengaku bukan tandingannya. Untung dia bukan musuhku. Baiklah, dia menyangka aku sebagai maling, maka biarlah aku mengakui saja"

Segera ia memberi salam dan menjawab.

"O, kiranya kawan sesama kaum, maafkan aku tidak dapat menyuguhkan apa-apa, silakan duduk untuk memanaskan badan saja, nanti kusuguh kau makan ubi bakar."

Tiok-liu juga tidak sungkan-sungkan, dengan seenaknya saja ia lantas duduk.

Setelah menarik napas panjang, lalu katanya "Wah, alangkah sedap baunya Tapi mungkin ada sebuah ubi telah hangus.

Perutku memang lagi lapar, harap berikan lebih dulu padaku."

Laki-laki itu lantas menyingkap api unggun itu dan mencomot keluar sebuah ubi, katanya "Awas, sangat panas!"

Berbareng itu ubi bakar yang masih panas itu terus dilemparkan kepada Kim Tiok-liu, padahal jaraknya dengan Kini Tiok-liu sangat dekat, tangan diangsurkan saja sudah sampai, namun dia justru sengaja melemparkan ubi bakar itu.

Kim Tiok-liu tahu orang sengaja hendak mengujinya segera tangannya meraup sehingga ubi panas itu tepat jatuh di telapak tangannya.

Tanpa bicara lagi ia lantas menggerogoti ubi bakar itu dan berkata.

"Ehm, walaupun rada hangus sedikit masih boleh juga rasanya. Banyak terima kasih ya."

Semula laki-laki itu merasa kuatir kalau Kim Tiok-liu tidak sanggup menangkap ubi yang dia lemparkan itu dan akan terluka Tapi sekarang dia menjadi terperanjat sendiri. Pikirnya.

"Usia pengemis cilik ini masih begini muda, mengapa memiliki kepandaian sedemikian lihai? Tampaknya Lwekangnya juga berada di atasku."

"Eh, tampaknya hari ini rejekimu tidak jelek, keluarga mana yang telah kau gerayangi?"

Tanya Tiok-liu kemudian.

"Satu keluarga kaya yang tidak berbudi, mestinya aku dapat menguras lebih banyak, di luar dugaan baru seuntai mutiara kusambar lantas ketahuan penghuninya terpaksa aku buru-buru melarikan diri."

"Manusia itu janganlah terlalu serakah. Hanya seuntai mutiara itupun sudah cukup untuk kau makan tidur tiga turunan takkan habis."

"Ucapan Laute rada kurang tepat. Jika melulu soal makan I saja untuk apa aku bersusah payah pergi mencuri seuntai mutiara ini."

"O, apa barangkali kau adalah maling budiman yang suka merampas milik orang kaya untuk disedekahkan kepada kaum miskin? Wah, maafkan aku kurang hormat kalau begitu."

"Sebutan budiman tidak berani kuterima"

Sahut laki-laki itu tertawa.

"Tapi aku tidak sudi mencuri hanya untuk kepentingan makan minum besar saja. Yang kulakukan ada alasannya sendiri."

"O, alasan apakah itu? Sudilah memberi penjelasan?"

Tanya Tiok-liu.

"Apakah kau orang yang baru masuk kaum kita?"

Tanya laki-laki yang menyerupai pelajar miskin itu.

"Barangkali kau tidak tahu bahwa pekerjaan seperti kita ini, lama-lama kita akan menjadi kecanduan dan sukar mencuci tangan. Kalau dengan gampang saja kita mengundurkan diri sesudah mendapatkan rejeki yang lumayan, kan sia-sia saja kepandaian yang telah kita pelajari ini."

"Haha betul juga ucapanmu! Memang Ki-pepek juga pernah berkata demikian,"

Kata Tiok-liu sambil tergelak. Laki-laki itu terkejut, tanyanya.

"Apakah kau punya Kipepek juga melakukan pekerjaan seperti kita ini? Entah Lotjian-pwe yang manakah beliau?"

"Dia adalah kakek moyang dari kaum kita"

Ujar Tiok-liu.

"Si maling sakti Ki Hiau-hong, apakah kau pernah mendengar nama ini?"

"Ki-lotjianpwe tak pernah kulihat, tapi namanya sudah laina kudengar dan kupuja di dalam hati,"

Sahut orang itu.

"Apakah Laute adalah murid Ki-lotjianpwe?"

"Aku bukan muridnya, cuma, ya, aku pernah belajar kepandaian mencuri padanya"

Kata Tiok-liu. Melihat umur Tiok-liu masih sangat muda, maka orang itu merasa ragu-ragu atas keterangannya itu. Dan baru ia bermaksud bertanya nama Kim Tiok-liu, mendadak Tiok-liu mendesis.

"Ssst, dengarkan! Seperti ada orang datang lagi. Apakah teman sekomplotanmu?"

Laki-laki itu tidak menjawab, tapi lantas pasang kuping dengan cermat. Sekonyong-konyong air mukanya berubah hebat, katanya.

"Yang datang ini mungkin hendak menangkap aku. Laute, dapatkah kau membantu aku?"

"Cara bagaimana membantu?'* sahut Tiok-liu. la pikir kalau berkelahi saja tidak menjadi soal baginya, soalnya baru saja kenal, cara bagaimana dirinya harus membantu seorang yang belum diketahui asal-usulnya? Mendadak orang itu berbangkit, didekati dan diangkatnya genta raksasa yang menelungkup di tengah ruangan itu, katanya.

"Aku tidak mampu melawan mereka, terpaksa aku harus bersembunyi. Sesudah mereka pergi nanti, tolong kau melepaskan aku keluar dari sini."

Habis itu ia lantas menyusup ke bawah dan menutup kem bali genta besar itu.

Ia telah menjajal kepandaian Kim Tiok-liu.

maka ia yakin Tiok-liu cukup mampu mengangkat genta raksasa itu.

Genta raksasa itu kira-kira bobotnya ada 500 -600 kati, diam-diam Kim Tiok-liu harus mengakui tenaga laki-laki itu yang tidak kecil.

Tapi dengan Lwekang dan Gwakangnya yang lumayan mengapa begitu ketakutan.

Entah kedua orang yang datang hendak menangkapnya itu jagoan lihai macam apa?

Padahal dia baru kenal aku dan ternyata sudah percaya sepenuhnya padaku, mau tak mau aku mesti menganggapnya juga sebagai sobat pula.

Demikian pikir Tiok-liu.

Belum lenyap pikirannya, terlibat dua orang sudah melangkah masuk.

Yang seorang adalah Tosu, tangannya memegang Hud-tim (kebut) dan yang lain laki-laki bersenjata Kui-thau-to (golok tebal berkepala setan).

Kedua mata si Tosu tampak bersinar tajam, segera Kim Tiok-liu mengetahui dia pasti seorang ahli Lwekang, sedangkan muka laki-laki bergolok itu tampak kuning kecokJat-coklatan kedua pelipisnya menonjol, tampaknya juga seorang jago tangguh golongan Sia-pay.

"Hei, siapa kau?"

Segera laki-laki bergolok itu menegur.

"Pengemis cilik yang kebetulan lewat di sini,"

Sahut Tiok-liu.

"Huh, seorang pengemis mengapa datang ke pegunungan sunyi yang tak berpenduduk begini?"

Jengek laki-laki itu.

"Persetan!"

Jawab Tiok-liu dengan ketus.

"Kau sendiri siapa? Berdasarkan apa kau mengurus diriku? Aku suka datang dan tidur di sini, peduli apa dengan kau?"

Rupanya Tosu baju hijau tadi melihat Kim Tiok-liu bukanlah sembarangan pengemis, segera ia menyela dengan tertawa.

"Eh, engkoh cilik, kau jangan marah. Kami hanya ingin mencari seorang, seorang laki-laki yang berdandan sebagai pelajar miskin, tadi berada di sini bukan? Tentunya kau mengetahui dia bersembunyi dimana?"

"Pelajar miskin apa? Tidak tahu, tidak lihat!"

Sahut Tiok-liu kaku. Laki-laki tadi mengorek api unggun dengan goloknya, lalu 'berkata dengan tertawa dingin.

"Hm, kau pengemis cilik ini memang pendusta, tapi jangan kira bisa membohongi aku. Siapa tadi yang makan ubi bakar bersama kau?"

"Siapa dia, peduli apa dengan kau? Biar tahu juga takkan kukatakan padamu!"

Jawab Tiok-liu ketus. Laki-laki itu menjadi gusar dan segera hendak melabrak Tiok-liu. Tapi si Tosu mencegahnya, katanya.

"Melihat gelagatnya si tengik itu pasti berada di sekitar sini, coba kita menggeledahnya. Buat apa bertengkar dengan seorang pengemis cilik begitu?"

"Ya, geledah saja dahulu, bisa jadi dia masih berada di dalam rumah ini,"

Kata laki-laki kecil gesit itu.

Rumah berhala bobrok ini memangnya tidak banyak isinya, sekali pandang saja sudah tampak semuanya dengan jelas.

Soalnya laki-laki itu masih gemas kepada Kim Tiok-liu, maka sengaja hendak cari perkara sebagai alasan untuk melabrak pe* muda itu.

Sebaliknya si Tosu tidak ingin membikin onar, dia coba melongok sudut ruangan sana, lalu putar balik dan berkata.

"Bayangan setan saja tidak ada. Marilah kita pergi saja!"

Saat itu Tiok-liu sedang berbaring kemalas-malasan di atas lantai dengan sebelah tangan menyanggah kepala dan sebelah tangan lain mengupas ubi bakar untuk dimakan. Katanya dengan tertawa.

"Ya, benar, sebaiknya kalian lekas enyah dari sini. Setelah makan kenyang segera aku akan tidur."

"Kurang ajar kau pengemis cilik ini, aku tidak menyuruh kau enyah sebaliknya kau malah suruh kami enyah!"

Teriak laki-laki itu dengan gusar.

"Hm, apa barangkali kau....."

"Mau apa?"

Jengek Tiok-liu dengan melirik menghina. Lekas si Tosu menarik kawannya dan berkata.

"Djiau-losam, apa artinya bertengkar dengan seorang pengemis cilik begitu? Hayolah berangkat!"

Si Tosu adalah seorang Kangouw kawakan, diam-diam m merasa sangsi terhadap sikap Kim Tiok-liu yang acuh tak acuh tanpa gentar itu, ia pikir, sebabnya pengemis cilik ini sedemikian kepala batu tentu dia mempunyai andalan sesuatu.

Seumpamg ilmu silat si pengemis sendiri tidak tinggi, tapi gurunya pasti bukan sembarangan orang.

Tosu itu adalah Toako dari komplotan mereka, maka lakilaki bergolok itu tidak berani membantah, terpaksa ia ikut menyingkir.

Tapi ketika berlalu di samping genta raksasa itu mendadak ia berhenti lagi, ia mengetok genta itu beberapa kali.

"Rasanya si tengik itu tidak nanti bersembunyi di dalam genta ini,"

Ujar si Tosu dengan tertawa.

Nyata, walaupun si Tosu menyangsikan Kim Tiok-liu, tapi penilaiannya terhadap si jembel cilik ini masih kurang, ia mengira dengan tenaga pengemis ini mana mampu mengangkat genta sebesar itu.

Kalau pelajar tengik itu bersembunyi di dalam genta dan tiada orang yang mengeluarkannya lagi bukankah dia akan mati kelaparan di dalam situ.

la kenal pelajar miskin itu ladalah orang cerdik, rasanya tidak sampai berbuat sebodoh itu.

Tapi laki-laki tadi agaknya belum terlampiaskan rasa dongkolnya, kembali ia mengetok berulang kali genta itu dengan goloknya, katanya.

"Jika dia bersembunyi di dalam biar kubikin anak telinganya pecah tergetar."

Mendadak Kim Tiok-liu membalik tubuh, dengan setengah "berbaring dan setengah berduduk ia menegur.

"Hai, sudah kukatakan aku akan tidur, aku tidak ingin diganggu orang. Jika kau mengetok lagi genta itu, jangan kau salahkan aku bila aku tidak sungkan-sungkan lagi padamu."

Laki-laki itu benar-benar tidak tahan lagi terhadap sikap Kim Tiok-liu yang takabur itu.

Tanpa bicara lagi ia terus melompat maju, jarinya seperti pisau terus menjojoh ke punggung Kim Tiok-liu.

Agaknya laki-laki itupun tidak ingin mematikan Kim Tiokfliu, yang dia arah adalah Moa-yang-hiat di punggung yang bisa membikin sasarannya menjadi gatal pegal tak tertahankan.

Laki-laki itu sengaja hendak menyiksa Kim Tiokliu, dengan cara demikian ia akan dimintai keterangan.

"Djiau-losam!"

Mestinya si Tosu hendak mencegah, tapi ludah terlambat.

"Biar pengemis cilik ini merasakan kelihaianku!"

Bentak lakilaki itu dan jarinya sudah mengenai badan Kim Tiok-liu.

"Agaknya juga tidak terlalu lihai,"

Kata Tiok-liu dengan tertawa dan masih tetap setengah berbaring secara kemalasmalasan seperti tadi, bergerak sedikitpun tidak dan tetap makan ubi bakarnya.

Baru lenyap suaranya mendadak terdengar laki-laki itu mengaduh kesakitan, tanpa kuasa tubuhnya terjerembab ke samping -chingga menginjak gundukan api unggun.

Kiranya Kim Tiok-liu sama sekali tidak balas menyerang, tapi badannya terlindung oleh Hou-keh-sin-kang yang sakti, ketika jari laki-laki itu mengenai punggungnya, laki-laki itu sendiri merasa seperti kena aliran listrik.

Keruan laki-laki itu berjingkrak dan berkaok-kaok keriku kedua kakinya menginjak gundukan api.

"Eh, kau kepingin makan ubi barangkali? Tidak perlu berebut, ini kuberi!"

Kata Tiok-liu dengan tertawa.

Berbareng ia comot sepotong ubi yang masih panas penuh arang berapi itu tem dijejalkan ke mulut laki-laki tadi.

Tentu saja laki-laki itu tambah kelabakan dan gelagapan karena mulutnya terbakar oleh ubi yan panas, sampai-sampai aii matanya meleleh keluar.

"Nah, bagaimana? Enak tidak?"

Ejek Tiok-liu tertawa. Laki-laki itu menjadi murka, golok yang masih dipegang nya itu terus dibacokkan sambil menggerung.

"Biar kumampus-kan kau!"

Permainan golok laki-laki itu benar-benar secepat kilat, baru saja mulutnya mengucapkan satu kalimat itu, sekaligus goloknya sudah membacok dan menahas secepat kilat sebanyak enam kali enam sama dengan 36 kali.

"He, he, jangan main-main, ini bukan guyon, jika kena gt> lokmu ini bisa berabe!"

Seru Tiok-liu. Sekaligus menyerang 36 kali, tapi ujung baju Kim Tiok-liu saja tidak dapat disenggolnya, laki-laki kecil cekatan itu menjadi terkesima sendiri.

"Aha, ternyata kau memang benar hanya berguyon saja dengan aku,"

Seru Tiok-liu tertawa.

"Baiklah, kalau terima pantasnya balas memberi juga, marilah kita main-main lagi."

Berbareng itu tangannya terus mengusap ke depan.

Belum sempat laki-laki itu menghindarkan diri, tahu-tahu mukanya su dah kena diusap oleh tangan Kim Tiok-liu yang penuh lem ubi bercampur debu arang, keruan seketika muka laki-laki itu berubah menjadi seperti badut.

Melihat Kim Tiok-liu berulang-ulang mengunjukkan kepandaiannya yang hebat, kejut si Tosu sungguh tak terperikan.

la kualir Tiok-liu menyerang lagi maka cepat ia memburu maju, kebutnya digentak sambil membentak.

"Jangan berlagak, pengemis cilik!"

Kebut yang digentak itu benang-benang kebutnya lantas mekar sehingga Kim Tiok-liu seperti terkurung oleh beribu-ribu jarum tajam yang mengancam seluruh Hiat-to di tubuhnya.

Terkesiap juga Kim Tiok-liu, diam-diam ia mengakui Tosu itu seorang jago pilihan juga.

Maka ia pun tidak berani memandang enteng pada musuh, mendadak ia bersuit, kebut si Tosu kena ditiup sehingga kusut bertebaran membalik.

"Kepandaian bagus!"

Seru si Tosu sambil menggertak lagi kebutnya sehingga ujung kebut dapat dihimpun kembali.

Lalu digunakannya sebagai Boan-koan-pit untuk menusuk Ih-gi-hiat di dada Kim Tiok-liu.

Kebut adalah benda lemas, tapi si Tosu mampu menggunakannya sebagai Boan-koan-pit untuk menutuk, maka dapatlah diduga Lwekangnya pasti cukup lihai.

Segera Kim Tiok-liu juga memuji 'bagus', berbareng lengan bajunya mengebut untuk mematahkan tutukan si Tosu.

Laki-laki bergolok tadi tidak tinggal diam, segera ia pun maju lagi dan berseru.

"Pengemis cilik ini pasti begundal si tengik itu, jangan kita lepaskan dia!"

"Sudah tentu, mana bisa kubiarkan kau dirugikan mentahmentah olehnya!"

Ujar si Tosu.

Walaupun gentar juga terhadap kepandaian Kim Tiok-liu, lapi demi membela kehormatan kawannya, terpaksa ia mengeluarkan segenap kemampuannya untuk mengembut Kim Tiok-liu.

Meski kepandaian laki-laki itu jauh di bawah Kim Tiok-liu, tapi ilmu silat si Tosu sangat tangguh, Kim-tiok-liu dipaksa menghadapi serangan lihai si Tosu sehingga golok laki-laki itu lambat-laun merupakan ancaman juga baginya.

Suatu ketika si lelaki melihat ada kesempatan baik, segeni ia membacok dari belakang.

Tapi dengan mendengarkan suara angin, tanpa menoleh Kim Tiok-liu lantas menjentik ke bel-kang.

"Creng", golok laki-laki itu terpental. Dalam pada itu dengan cepat luar biasa kebut si Tosu menyambar pula dari de-pan, ternyata suatu tipu mengebut Hiat-to yang amat lihai. Lekas Tiok-liu menggeser ke samping dengan Thian-la pohhoat, berbareng kedua telapak tangan dengan tenaga Im dan Yang diputar terus didorong ke depan, tenaganya menjadi saiojj lemas dan satu kuat, kedua tangan saling bertarikan sehingga laki-laki bergolok itu terseret maju dengan sempoyongan, goloknya membacok tapi hampir mengenai temannya sendiri. Tosu baju hijau mendadak bersuara heran dan cepat mi* langkah mundur, bentaknya.

"Pengemis cilik, apakah kau anak murid Thian-mo-kau?"

"Huh, Thian-mo-kau apa? Tidak nanti aku sudi menjadi murid agama liar begitu?"

Jengek Kim Tiok-liu.

"Kau berani sembarangan omong, ini rasakan pukulanku!"

Alangkah heran dan kejut si Tosu. Setelah mematahkafc serangan Kim Tiok-liu itu, kembali ia bertanya pula.

"Kau bukan murid Thian-mo-kau, tapi mengapa mahir ilmu silat ajaran Thian-mo-kau?"

"Haha, sungguh lucu, kau tidak kenal ilmu silatku selm-rusnya jangan sembarangan mengoceh!"

Sahut Tiok-liu sambil bergelak tertawa.

Berbareng pukulan berantai dilontarkan lagi sehingga si Tosu kerepotan menangkisnya.

Kim Tiok-liu tidak tahu bahwasanya bukan tidak beralasaf si Tosu baju hijau mengira dia adalah murid Thian-mo-kau, karena Le Seng-lam juga pernah meyakinkan ilmu silat warisan Kiau Pak-beng, sedangkan ilmu silat Kim Si-ih adalah peleburan dari berbagai inti ilmu silat macam-macam aliran, terutama ilnm silat tinggalan Kiau Pak-beng adalah sakagurunya dan Lwekang Thian-san-pay sebagai dasar latihan.

Tadi Kim Tiok-liu menggu-nakan jurus 'Im-yang-siang-tjiongtjiang"

Yang merupakan ilmu silat ciptaan Kiau Pak-beng, jurus ini pernah dilihat si Tosu dari Tmainan Thian-mo Kautju pada kira-kira lebih 20 tahun yang alu. Begitulah si Tosu menjadi lebih sangsi, pikirnya.

"Jika pegemis cilik ini adalah murid Thian-mo-kau rasanya dia takkan rani mencaci-maki kepada perguruannya sendiri. Tapi aneh liga mengapa ilmu silatnya serupa dengan golongan Thianmo-u?"

Karena rasa sangsinya itu, si Tosu semakin ingin menang-p hidup-hidup Kim Tiok-liu untuk ditanyai asal-usulnya, la u kepandaian Kim Tiok-liu tidak lebih rendah daripadanya, i ia juga dapat melihat kelemahan Kim Tiok-liu yang kurang engalaman, maka dia memakai siasat mengulur waktu dengan ijuan melemaskan tenaga Kim Tiok-liu, lama kelamaan tentu an ada kesempatan baik dan sebagai pihak pengeroyok tentu pat memanfaatkannya.

Di luar dugaan bahwa Kim Tiok-liu juga tidak bodoh, ia u pihak lawan hendak membikin tenaganya habis, maka se-era ia mengubah cara bertempurnya, ia mengeluarkan Thian-loboh-hoat untuk main petak-umpet dengan kedua pengerubutnya.

Sejenak kemudian, diam-diam Kim Tiok-liu berpikir.

"To-busuk ini berkepandaian tidak lemah, aku ridak tahu seluk-luknya pula, jika aku mengeluarkan jurus-jurus mematikan n salah membunuh dia, mungkin malah bisa membikin ru-yam urusan."

Melihat keraguan Kim Tiok-liu itu, si lelaki kecil gesit la-nya mengira Kim Tiok-liu sudah mulai keder sehingga dia bah gencar menyerang. Tiba-tiba Kim Tiok-liu mendapat akal, pikirnya.

"Keparat i sangat kurang ajar, biar aku bercanda dengan dia."

Mendadak ia pura-pura sempoyongan dan memberi lubang gi lawan.

Laki-laki kecil itu menjadi girang, ia menubruk maju dan membacok.

Sebenarnya gabungan mereka berdua boleh dikata dapat bekerja sama dengan sangat rapat, sehingga Kim Tiok-liu agak repot untuk menjatuhkan mereka satu persatu, tapi sekarang dia menerjang maju sendirian, seketika ia menjadi kehilangan bala bantuan, hal ini memang yang diharapkan Kim Tiok-liu.

Lekas si Tosu berseru.

"Awas!"

Namun sudah terlambat, sedikit menggeser, secepat kilat Kim Tiok-liu sudah memutar ke belakang laki-laki itu.

Ketika laki-laki itu merasa bacokannya mengenai tempat kosong, tahu-tahu kuduknya terasa panas gatal tak terkatakan.

Kiranya dengan pelahan Kim Tiok-liu mencubit tengkuknya.

Waktu kebut si Tosu menyambar untuk menolong sudah tidak keburu lagi, Kim Tiok-liu sempat menangkisnya dengan kebasan lengan bajunya, serunya tertawa.

"Sudah lama juga kita bertempur dan sudah waktunya kita mendapat hiburan, sebentar boleh kau menonton joget monyet."

Mendadak laki-laki tadi berjingkrak-jingkrak dengan lagak sangat lucu sambil mengeluarkan suara dengusan aneh, seluruh badannya terasa penuh kutu, gatalnya tidak kepalang.

Keruan si Tosu terperanjat, serunya.

"Djiau-losam, kenapa kau?"

Namun laki-laki itu masih terus berjingkrak-jingkrak seperti orang gila, mana dia sempat menjawab? "Hahaha tidak apa-apa. masakah jiwanya sampai celaka? Kau jangan kuatir,"

Demikian Kim Tiok-liu mengolok-olok dengan tertawa "Aku cuma membalas kebaikannya tadi sekalian menyuruh dia main joget monyet bagimu."

Kiranya Djiau-losam itu telah ditutuk Ih-gi-hiatnya oleh ilmu Tiam-hiat Kim Tiok-liu yang tiada bandingannya Tadi laki-laki itu pernah menyergap Kim Tiok-liu dan bermaksud me-nutuk Ih-gi-hiat di punggungnya, sekarang dia sendiri berbalik kena ditutuk oleh Kim Tiok-liu pada Hiat-to yang sama maka Tiokliu mengatakan hanya untuk 'membalas kebaikannya'.

Saking tak tahan akan rasa gatalnya, akhirnya laki-laki itu melepaskan goloknya kedua tangannya mencakar badannya sendiri sehingga baju terobek dan kulitnya babak belur.

"Djiau-losam, kita tak bisa mengalahkan orang, jangan membikin malu lagi di sini,"

Kata si Tosu kemudian. Segera ia menyeret laki-laki itu dan berlari pergi.

"Hahaha selamat jalan ya aku tidak mengantar lho!"

Seru Kim Tiok-liu sambil terbahak-bahak. Lalu ia berpaling kembali dan berkata.

"Nah, kawan copet, sekarang kau sudah boleh keluar!"

Habis itu ia lantas mengangkat genta raksasa itu.

Tiba-tiba terlihat berkelebatnya sinar api yang dipadamkan.

Kiranya orang itu memegangi sebuah batu api, wajahnya tampak termenung-menung seperti orang linglung dan masih duduk di situ.

"He, kenapakah kau?"

Tegur Tiok-liu. Susing atau pelajar itu seperti baru sadar dari bermimpi, sejenak baru berkata.

"Harap kau menelungkupkan genta itu lagi, biar aku bersembunyi sebentar pula."

Keruan Kim Tiok-liu bertambah heran, katanya "Musuhmu sudah lari semua buat apa kau ingin bersembunyi lagi?"

"Penyakit malingku kambuh,"

Sahut Susing itu tertawa. Tergerak pikiran Kim Tiok-liu, di luar tahu sasarannya ia merogoh saku Susing itu dan mendapatkan sepotong batu api tens diketik bersinar.

"He, apa yang kau lakukan?"

Seru Susing itu ketika sadar barangnya telah dicopet.

"Jangan kuatir,"

Kata Kim Tiok-liu dengan tertawa "Bukan maksudku hendak hitam makan hitam, mutiara masih berada Di dalam sakumu, aku hanya pinjam pakai batu api ini saja"

Susing itu melengak, tapi lantas berkata pula "O, pahamlah aku. Tentu kau menduga adanya rahasia itu. Banyak terima kasih atas bantuanmu tadi, memangnya aku tidak bermaksud menutupi rahasia ini."

"Kau paham tapi aku tidak paham, namun kau pun tidak perlu menjelaskan, aku membantu kau hanya berdasarkan setia lawan sesama golongan dan tidak ingin memperoleh sesuatu balas jasa rahasia apa-apa."

"Rupanya kau salah paham maksudku, Laute,"

Kata Susing itu.

"Hahaha, kau pun salah paham agaknya,"

Sahut Tiok-liu.

"Aku tidak ingin penjelasanmu, aku tidak ingin mendapat balas jasamu. Sebab, hehe, masakah aku sendiri tidak dapat melihatnya sendiri?"

Habis berkata ia terus membalik genta raksasa itu dan diterangi dengan batu api tadi, lalu jengeknya.

"Hah, kiranya demikian!"

Kiranya di dalam dinding genta raksasa itu banyak terukir tulisan, setelah membaca beberapa baris saja Kim Tiok-liu lantas tahu tulisan itu adalah Tok-kang-pit-kip (rahasia ilmuilmu berbisa) tinggalan Thian-mo-kau.

Rupanya si Susing menemukan rahasia ilmu itu di dalam genta sehingga dia kesengsem membacanya.

"Thian-mo-kau memiliki tiga

Jilid Pek-tok-tjin-keng (kitab pelajaran seratus bisa) yang diukir semua di dinding dalam genta itu,"

Kata si Susing.

"Ilmu silat Thian-mo-kau sangat luas dan tidak cuma terbatas ilmu menggunakan racun saja. Namun ilmu silat yang lain belum tentu dapat mengungguli ilmu silat dari aliran-aliran persilatan terkemuka yang lain, hanya Pek-tok-tjin-keng ini benar-benar merupakan ilmu yang tiada bandingannya di dunia persilatan. Laute, boleh kau menurunnya dengan lengkap. Kau sendiri yang menemukan ukiran itu dan tidak dapat dianggap sebagai balas jasaku kepadamu."

Pek-tok-tjin-keng milik Thian-mo-kau itu asalnya adalah sebagian dari rahasia ilmu silat ciptaan Kiau Pak-beng, tapi waktu Kim Si-ih mengambil kembali kitab itu dari Le Seng-lam, karena dia bercita-cita mencintakan ilmu silat yang baik dan jujur, maka Pek-tok-tjin-keng yang ganas itu lantas dimusnahkan olehnya, hanya intisari kitab itu telah disaring dan diambil.

Kemudian sesudah ia menjadi seorang pencipta tersendiri, kitab ilmu peninggalan Kiau Pak beng itu dibakarnya di depan makam Le Seng-lam.

Kim Si-ih sendiri tidak pernah mempelajari Pek-tok-tjinkeng itu, dengan sendirinya Kim Tiok-liu juga tak pernah mendengar nama kitab itu.

Hanya dalam pandangan Tiok-liu betapapun Thian-mo-kau adalah suatu agama golongan jahat, sudah tentu ia ddak sudi mencuri belajar ilmu silat dari golongan Sia-pay itu.

Begitulah Tiok-liu lantas mendengus dan berkata.

"Meski aku suka mencuri, tapi barang yang kuincar juga mesti pilihan. Kalau barang demikian rasanya masih tiada harganya buat dicuri olehku."

"Tidak, kau belum melihatnya dengan jelas,"

Kata Susing itu.

"Di dalamnya tidak melulu berisi ilmu dari golongan rendah saja. Sudah tentu kita tidak sudi mencelakai orang dengan racun, tapi tiada jeleknya mempelajari sedikit agar bila kita diserang dapat balas menyerang dengan cara yang sama"

"Jika kau suka belajar boleh kau mempelajari sendiri, aku tidak punya minat,"

Sahut Tiok-liu hambar.

"Jika demikian, jadi kau pun tidak mau membantu aku lagi?"

Tanya si Susing.

"Dengan gampang aku dapat bantu menelungkupkan lagi enta itu, tapi aku tidak ada tempo buat menunggui kau,"

Sahut Tiok-liu.

"Toh sekarang genta ini sudah terbalik, kau boleh merangkak ke dalam dan membaca sepuas-puasmu."

Tapi mendadak Susing itu memejamkan mata, mulurnya pak komat-kamit sejenak, kemudian ia membuka mata dan berkata dengan tertawa "Untung aku sudah dapat mengingat semuanya.

Aku tidak perlu membacanya lagi."

Tampaknya tadi dia kuatir melupakan sebagian isi Pek-toktjin-keng itu, maka ia ingin membacanya sekali lagi.

Tapi kini sesudah dia dapat menghapalkan di luar kepala dengan sendirinya ia tidak memerlukan bantuan Kim Tiok-liu lagi.

Kim Tiok-liu berbalik terkejut, pikirnya "Sungguh tidak nyana orang ini memiliki daya ingatan sedemikian bagus.

Tapi dia berani mencuri belajar ilmu racun dari Sia-pay sehingga sukar untuk dipastikan apakah jiwanya baik atau jahat.

Ai, sobat yang sukar diduga begini ada lebih baik tidak kudekati saja."

Tiba-tiba Susing itu berkata pula.

"Bagaimana kalau kauj membantu suatu urusan lain padaku?"

"Bantu urusan lain apa?"

Tiok-liu menegas.

"Musnahkan genta ini,"

Sahut si Susing.

"Sendirian rasd nya aku tidak sanggup."

"Mengapa genta ini harus dimusnahkan?"

"Supaya tidak diketemukan orang jahat."

Diam-diam Kim Tiok-liu tertawa dingin, pikirnya.

"Kauj sendiri baik atau jahat juga belum kuketahui. Mungkin ini cuma alasanmu agar kau sendiri yang dapat mengangkangi ilmu racuM dari Thian-mo-kau ini."

Lantaran umbul rasa sangsinya sehingga Kim Tiok-lii tambah memandang hina kepada Susing itu, segera ia menggeleng dan menjawab.

"Tidak, aku tidak mau membagi rejeki dengan kau, pekerjaan memusnahkan bukti juga aku tidak mau berbuat."

"Memusnahkan bukti, ucapan ini sungguh menarik,"

Ujari Susing itu tertawa.

"Tapi ini adalah bukti yang berbisa, apa sa-lahnya kalau dimusnahkan? Cuma, ya, kalau kau tidak suat membantu juga aku tidak dapat memaksa, terpaksa harus kula-kukan sendiri."

Habis berkata ia lantas mengangkat genta itu dan keluar dari kelenteng bobrok itu.

Timbul juga rasa ingin tahu Kim Tiok-liu, cara bagaimana Susing itu akan memusnahkan genta raksasa itu.

Belum lenyap pikirannya, tiba-tiba Susing itu menoleh dan memanggil.

"Hari"

Masih belum terang tanah, tentunya kau tidak buru-buru hendak berangkat bukan? Aku tidak minta kau memusnahkan genta ini, tapi mengundang kau mengantar layonnya saja, bagaimana?"

Mendengar ucapan yang jenaka itu Kim Tiok-liu menjadi tertawa, katanya.

"Baiklah, bukan mengantar layonmu, tapi mengantar layon genta adalah sesuatu yang serba baru, akan kuiringi kau."

Sambil berjalan Susing itu menghela napas, katanya.

"Bicara terus terang, sesungguhnya aku siap untuk mati setiap waktu, apakah ada orang akan mengantar layonku atau tidak bukan soal bagiku. Laute, tadi kalau tidak mendapat pertolonganmu tentu jiwaku sudah melayang di tangan kedua orang itu. Sebab ' itu, meski kau cuma menolong aku satu kali saja dan kelak tidak sudi menolong lagi, toh aku tetap sangat berterima kasih padamu. Ya, aku menjadi pikun, masakah sampai sekarang aku masih belum mohon tahu namamu yang terhormat?"

"Aku toh tidak ingin balas jasa d arimu, buat apa tanya namaku segala? Pertemuan secara kebetulan saja, sudah berpisah Iya sudah."

"Tidak, tidak, aku tidak bermaksud membalas budimu. Tapi aku pikir, hehe, kupikir....."

"Apa yang kau pikirkan? Katakan saja terus terang!"

Kata nTiok-Iiu dengan melotot.

"Begini, kepandaianmu dalam hal menggerayangi barang [orang lain jauh lebih mahir daripada aku, aku tidak iri, sebaliknya aku terima mengaku kalah. Maka aku pikir, kepandaianmu yang hebat ini kalau tidak dipergunakan dengan baik, kan sarang rasanya?"

"Eh, barangkali kau bermaksud berkomplot dengan aku, bukan?"

"Benar, tapi aku tidak tahu nama dan tempat kediamanmu, kemana aku harus mencari kau?"

"Banyak teman banyak bagian, kalau ada rejeki masakah Iku sendiri tak bisa mencurinya, buat apa berkomplot denean kau?" 6

"Ah, rupanya kau terlampau memandang remeh padaku. Memang kepandaian mencuri kau lebih hebat dari aku, tapi lubang-lubangnya, sasarannya aku lebih paham. Jadi kalau kau berkongsi dengan aku, bukankah akan menguntungkan kau?"

Karena tidak tahu orang bersungguh-sungguh atau cuma berkelakar, diam-diam Kim Tiok-Iiu merasa Susing itu rada aneh dan sukar diraba.

Tiba-tiba ia mendapat akal untuk mengetahui asal-usul Susing itu dengan menumpang alamat Kang Hay-thian, coba apakah Susing ini berani mencarinya ke sana atau tidak.

Maka ia lantas berkata.

"Jejakku tidak menentu, jika kau ingin mencari aku juga tidak sukar, kau boleh datang ke rumah Kang Hay-thian di Tong-peng-koan, di sana setiap saat kau dapat mencari kabar tentang diriku. Namaku Kim Tiok-liu, Kang Hay-thian adalah sobatku yang paling karib."

Karena melihat umur Kim Tiok-liu masih sangat muda, Susing itu merasa sangsi, dengan tertawa ia berkata.

"Hahaha, kiranya saudara adalah sahabat baik Kang-tayhiap, maafkan jika aku kurang hormat."

"Apakah kau kira aku membual, ya?"

Tanya Tiok-liu dengan kurang senang.

"Tidak, sekali-kali aku tidak punya pikiran demikian,"

Sahut Susing itu tertawa.

"Eh, ada urusan lagi yang akan kubicarakan dengan kau bila kita sudah menyelesaikan genta ini."

Melihat orang dapat berlari secepat terbang meski dengan mengangkat genta sebesar itu, mau tak mau timbul rasa suka Kim Tiok-liu, pikirnya.

"Kepandaian orang ini cukup hebat juga. Silatnya yang suka bebas lepas ini sangat mencocoki seleraku, cuma sayang asal-usulnya belum diketahui dan tidak enak untuk diajak bergaul."

Dalam pada itu mereka sudah tiba sampai di suatu ujung tebing, di bawahnya ada sebuah kolam yang dalam, berdiri di tepi tebing itu si Susing berkata.

"Aku tidak mampu menghancurkan genta ini, tapi aku dapat membuatnya lenyap dan takkan diperoleh orang."

Habis berkata ia terus saja melemparkan genta raksasa itu.

"Blung", air kolam muncrat bergelombang.

"Air mati bergelombang, selesai sudah, puaslah aku!"

Katanya tertawa.

"Sejak kini di dunia ini hanya kau sendiri yang tahu ilmu berbisa Thian-mo-kau, sudah tentu kau merasa puas!"

Jengek Tiok-liu. Mendadak wajah orang itu berubah serius, katanya.

"Laute, apakah kau sangka aku adalah manusia yang serakah? Seuntai mutiara yang kucuri ini tiada dapat kumanfaatkan, silakan kau menerimanya."

"Hah, sungguh aneh,"

Seru Tiok-liu.

Baca Juga: Pohon Kramat 1

Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger