Eps 3 Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Jembel - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Jembel - Liang Ie Shen.
"Untuk membuktikan kau tidak serakah apa mesti aku yang disuruh serakah? Mutiara ini jika aku mau sudah sejak tadi kuambil. Aku sudah menyatakan sekali-kali takkan hitam makan hitam, agaknya kau terlampau memandang enteng padaku."
"Kau telah salah memahami maksudku, Laute,"
Kata Susing itu.
"Kau tidak tahu. jika mutiara ini berada padaku akan menimbulkan bencana malah, maka lebih baik kuberikan padamu saja."
"Kalau benda itu dapat mendatangkan bencana, kau lebihlebih tidak pantas kau membikin celaka padaku?"
Jengek Tiokliu. Susing itu mengerut kening seperti ada sesuatu yang sukar diterangkan kepada Kim Tiok-liu. Selang sejenak barulah ia menghela napas dan berkata.
"Kau tidak mau, aku pun tidak dapat memaksa. Begini saja, boleh kau ambil dan diserahkan kepada Kang-tayhiap, bukan mustail beliau akan dapat memanfaatkannya."
Kim Tiok-liu tambah tidak senang, jengeknya pula.
"Masakah Kang-tayhiap mau menerima benda tak halal demikian?"
Air muka Susing itu berubah, mendadak ia bergelak tertawa.
"Hahaha, benda tidak halal! Ya, memang benar juga. Jika kalian toh tidak mau menerimanya, bila ditinggalkan hanya akan merupakan bibit bencana, aku tak bisa mempertahankan barang ini, juga sekali-kali tak boleh diperoleh orang jahat."
Habis berkata ia terus meremas putus tali untaian mutiara itu dan ditebarkan ke tengah kolam, seketika biji-biji mutiara yang besar itu sama tenggelam ke dalam kolam dan menimbulkan buih yang kecil-kecil, dalam sekejap saja permukaan kolam itu kembali tenang lagi.
Walaupun tidak kepingin memiliki mutiara yang tiada ternilai itu, tapi terhadap tindakan si Susing yang tak terdugaduga itu mau tak mau Kim Tiok-liu menjadi tercengang, katanya tanpa terasa.
"Ah, sayang, sayang!"
"Kau toh sudah tidak mau, mengapa mesti disayangkan lagi?"
Ujar si Susing.
"Setelah kubuang seluruhnya ada lebih baik daripada diperoleh orang jahat dan digunakan untuk perbuatan-perbuatan yang tidak baik."
Diam-diam Kim Tiok-liu merasa tindak-tanduk si Susing benar-benar sukar diraba.
Semula ia menyangka jiwa si Susing itu tidak sehat karena telah mencuri belajar ilmu beracun Thian mo-kau, tapi sekarang ia rela membuang seuntai mutiara mestika yang tak ternilai itu, hal demikian sekali-kali tak mungkin diperbuat oleh sembarang orang.
Maka ia lantas bertanya.
"Ucapan saudara rasanya mengandung arti tertentu. Entah dari mana kati asal-usul mutiara tadi, mengapa saudara mengatakannya akan merupakan bibit bencana di kemudian hari?"
"Bicara tentang untaian mutiara tadi mesti menyangkut suatu urusan rahasia,"
Kata Susing itu. Kim Tiok-liu mengerut kening, selanya.
"Jika menyangkut urusan rahasia lebih baik jangan diceritakan saja"
"Terhadap orang lain tentu takkan kuceritakan, tapi Laute adalah sahabat baik Kang-tayhiap, maka tiada halangannya kukatakan. Jadi aku sendiri yang suka bercerita apakah kau mau dengar atau tidak boleh terserah padamu."
"Baiklah, jika kau mau bercerita terpaksa aku akan mendengarkan."
"Apakah kau tahu di dunia Kangouw ada Liok-hap-pang?"
Tanya si Susing.
"Liok-hap-pang? Tidak tahu!"
Sahut Tiok-liu.
"Su Pek-to, Pangtju dari Liok-hap-pang itu sangat terkenal di dunia Kangouw, masakah kau tidak pernah mendengar namanya?"
"Selamanya aku tidak suka bersanak dengan orang-orang ternama juga tidak suka mencari tahu urusan orang lain. Maka aku tidak kenal namanya."
Susing itu menjadi heran, pikirnya "Jika pengemis cilik ini [mengaku sebagai sahabat karib Kang Hay-thian seharusnya dia mmn seorang tokoh tertentu, mengapa dia mengatakan tidak per-pah mendengar nama Su Pek-to?
Padahal bicara tentang tokoh Bu-lim yang ternama, nama tokoh pertama justru adalah Kang-tayhiap, mengapa dia bilang tidak suka kepada orang ternama?
IfBenar-benar terlalu dia!"
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Kim Tiok-liu baru saja pulang dari lautan sana terhadap tokoh-tokoh Bu-lim di daerah Tionggoan memang kurang paham.
Yang diketahui hanya para sahabat ayahnya dahulu, Liok-hap-pang adalah suatu perkumpulan yang baru saja berkembang dan terkenal, dengan sendirinya Kim Tiok-liu tidak tahu menahu.
Kang Haythian sendiri sudah tentu tahu nama Su Pek-to dengan Liokhap-pangnya tapi dia cuma berkumpul satu hari dengan Kim Tiok-liu dan banyak urusan pendng yang harus dibicarakan, dengan sendirinya soal Liok-hap-pang segala tidak sempat diceritakan oleh Kang Hay-Irian.
Biarpun si Susing salah paham dan merasa kurang puas atas jawaban Kim Tiok-liu tadi, tapi ia masih terus melanjutkan.
"Untaian mutiara mestika tadi adalah benda yang diperoleh Su Pek-to dengan susah payah, maksud tujuannya benda ini akan digunakan untuk memikat golongan yang berpangkat dan berkuasa"
"Darimana kau tahu?"
Tanya Tiok-liu.
"Eh, ya aku pun belum mengetahui namamu?"
"Tjayhe she Li dan bernama Tun. Aku adalah seorang juru tulis Su Pek-to."
"O, kiranya demikian. Makanya kau sengaja mencuri mutiara mestika ini untuk merintangi maksud tujuannya itu."
"Tindakanku ini sebenarnya juga karena aku merasa sayang kepada Su Pek-to, pula untuk mencegah pertambahan musuh di antara sesama orang Bu-lim. Tetapi, ai, Su Pek-to ternyata tidak dapat memahami maksud baikku, sebaliknya dia hendak membinasakan aku, terpaksa aku harus kabur dan bersembunyi ke sana-sini."
"O, kiranya demikian,"
Kata Tiok-liu dengan hambar, ia se tengah percaya setengah tidak.
Ia pikir segala urusan tentu akan bisa jelas, bilamana nanti ditanyakan kepada Kangsuheng.
Rupanya si Susing dapat meraba isi hati Kim Tiok-liu, segera ia berkata pula* "Biarpun Tjayhe buronan di Kangouw, tapi juga tidak perlu mohon belas kasihan orang.
Secara kebetulan Kim-siauhiap bertemu dengan aku dan sudi menolong aku satu kali, bagi Kim-siauhiap hal ini hanya secara kebetulan saja, tapi bagiku benar-benar merupakan budi yang tak terlupakan.
Sekarang masakah aku berani merecoki Kimsiauhiap lagi dengan urusan lain.
Baiklah, biar kumohon diri saja, semoga berjumpa pula."
Kim Tiok-liu berbaiik tidak enak mendengar ucapan orang Tapi orang sudah tegas menyatakan tidak ingin bantuannya lagi.
jika sekarang dirinya menyatakan bersedia membantu mungkin malah akan dianggap orang sebagai suatu penghinaan.
Terpikir demikian maka Kim Tiok-liu tidak mencegah kepergian Susing itu.
Untuk sejenak Kim Tiok-liu tertegun, seakan kehilangan sesuatu, pikirnya.
"Tampaknya dia ada maksud mengikat persahabatan dengan aku, tapi sayang aku yang telah mengecewakan maksud baiknya. Dia mengatakan Liok-happang dan Su Pek-to sangat terkenal, jika demikian dengan mudah aku akan dapat mencari tahu kepada para paman sahabat ayah."
Begitulah ia lantas meninggalkan Tji-lay-san dan menuju ke Kangsoh untuk menyambangi teman lama ayahnya.
Orang pertama yang dia tuju adalah Tan Thian-ih.
Tan Thian-ih adalah keturunan bangsawan yang pernah menjadi duta di Tibet.
Kang Lam, ayah Kang Hay-thian, pernah njadi kacung Thian-ih dan kemudian saling mengangkat saudara pula.
Hubungan Kim Si-ih dengan Thianih tidak kurang Karibnya seperti persahabatan-nya dengan Kang Lam dan Tiong iang-thong.
Rumah Tan Thian-ih terletak kira-kira ratusan li di luar ko-Sohtjiu, kampung itu dekat Thay-oh, yaitu danau raya yang gat indah pemandangannya.
Sampai di tempat kediaman Tan Thian-ih itu hari sudah kat magrib, Tiok-liu ingat cerita ayahnya bahwa paman Tan adalah keluarga berpangkat, walaupun Thian-ih sendiri tidak rnah menjabat sesuatu pangkat dan telah menjadi orang Buim, tapi adat-istiadat lama masih tetap diutamakan oleh Thian-.
Maka Tiok-liu tidak berani sembrono lagi kepada kaum tua, a membeli satu setel pakaian di kota dan memangkas pula raminnya.
Habis berdandan barulah ia menuju rumah Tan Thian-ih.
Sementara itu hari sudah malam.
Ia mondar-mandir dulu di depan rumah, pikirnya.
"Jika mengetok pintu mohon bertemu tentu akan banyak makan waktu. Cara demikian tentu akan mengejutkan tetangga sekitarnya. Bagiku tidak menjadi soal, tapi mungkin hal ini tidak di-kehendaki oleh Tan-sioksiok. Biarlah aku masuk dulu ke dalam dan urusan belakang."
Hendaklah maklum, dahulu Kim Si-ih pernah menjadi buronan kerajaan, meski sudah lebih dari 20 tahun Kim Si-ih mengasingkan diri, tapi perkaranya masih belum digugurkan.
Sebab itulah Kim Tiok-liu kuatir Tan Thian-ih merasa segan bila mendadaak kedatangan tamu dan mungkin akan menimbulkan curiga tetangga.
Segera Kim Tiok-liu mengeluarkan Ginkangnya yang tinggi dan melompat ke dalam pekarangan rumah.
Pikirnya.
"Biar aku membikin kaget mereka, baru nanti aku minta maaf, kukira Tan-sioksiok juga takkan marah padaku."
Dengan enteng sekali Kim Tiok-liu melayang lewat pagar tembok tanpa menimbulkan suatu suara, ia mengira Tan Thian-ih dan istrinya pasti tidak tahu akan kedatangannya.
Belum lagi kaki Kim Tiok-liu menyentuh tanah, sekonyongkonyong terdengar suara mencicit beberapa kali, entah benda macam apakah senjata rahasia itu, tampaknya bundar dan sebesar mutiara, mengkilat pula dalam kegelapan, bintik-bintik putih terus berhamburan ke arahnya.
Lekas Tiok-liu memukulkan sebelah telapak tangannya.
Butir-butir senjata rahasia yang mirip mutiara itu mendadak pecah dan menyebarkan hawa di ngin, tanpa merasa Kim Tiok-liu sampai menggigil, keruan ia terkejut.
Yang menyerang dengan senjata rahasia itu adalah Yu Peng, istri Thian-ih.
Senjata rahasia itu bernama 'Peng-pok-sin tan' (peluru sakti inti es), yaitu intisari batu es yang digali dan gunung es sehingga senjata rahasia ini benar-benar hebat dan tiada tandingannya.
Dahulu waktu Yu Peng menjadi dayang istana es, Peng-tjoan Thian-li telah memberikan ratusan butir Peng-pok-sin-tan tersebut.
Sekarang dia masih ada sisa 30-an butir dan sudah lama tidak digunakan.
Jika Kim Tiok-liu terkejut, sebaliknya Yu Peng juga tidak kurang kagetnya.
Ia pikir penjahat cilik ini mampu menahan hawa dingin peluruku, ini menandakan kepandaiannya tidak boleh dipandang ringan.
Diam-diam Kim Tiok-liu mengerahkan Lwekangnya untuk memusnahkan hawa dingin menusuk tulang tadi sehingga seketika tidak dapat membuka suara.
Dalam pada itu dengan cepai Yu Peng memburu maju dengan tusukan pedangnya.
"Bangsal cilik Liok-hap-pang, memangnya kami hendak mencari kalian untuk membikin perhitungan, kebetulan kau datang lebih dulu!"
Demikian dampratnya. Melihat serangan yang lihai itu, terpaksa Kim Tiok-liu mengerahkan Lwekang yang tinggi, jarinya menjentik.
"creng", pedang Yu Peng itu diselentik pergi, karena tenaga dalamnya kalah kuat, Yu Peng sampai tergentak mundur dua tiga tindak.
"Bangsat cilik jangan berlagak!"
Bentak Thian-ih, sekaligus ia pun menusuk tiga kali ke tempat berbahaya di tubuh Kim Tiok-liu.
Ia kuatir istrinya dicelakai sehingga terpaksa menggunakan jurus-jurus serangan mematikan.
Kekuatan Thian-ih jauh lebih hebat dari istrinya, Kim Tiokliu tak berani menjentik pula dengan tenaga jari, terpaksa ia menggunakan Thian-lo-poh-hoat dan dengan gesit menghindarkan dua kali serangan, ketika serangan ketiga Thian-ih tiba pula, Kim Tiok-liu lantas mengebas dengan lengan bajunya.
"Bret", sebagian lengan bajunya terpapas oleh pedang Thian-ih, tapi pedang Thian-ih juga kena dikebas ke samping. Alangkah heran dan kejutnya Thian-ih.
"Siapakah kau?"
Tanyanya dengan pedang siap melintang di dada.
"Buat apa ditanya lagi, selain orang Liok-hap-pang siapa lagi yang berani main gila kepada kita?"
Sela Yu Peng.
"Tampaknya bukan,"
Ujar Thian-ih.
"He, lekas kau mengaku terus terang. Apakah kau orang suruhan Su Pek-to?"
Ubun-ubun kepala Kim Tiok-liu menguapkan kabut putih yang tipis, kini ia telah dapat memunahkan seluruh hawa dingin sang meresap ke dalam tubuhnya tadi.
Maka sambil bergelak tertawa dapatlah ia bicara.
"Tan-sioksiok, cincinku ini rasanya kau dapat mengenalnya bukan? Siautit bernama Kim Tiok-liu dan sengaja datang menyambangi Tan-sioksiok, terimalah hormatku ini."
Cincin yang dipakai Kim Tiok-liu adalah buatan dari panah kemala tinggalan Kiau Pak-beng yang telah dirombak, cincin ini seluruhnya ada tiga bentuk, yang satu telah diberikan Kang Hay-thian, sebuah lagi diberikan kepada orang yang harus ditemui oleh Kang Hay-thian di kotaraja pada hari Tjap-gomeh nanti dan sebentuk lagi diberikan kepada putranya sendiri, yakni Kim Tiok-liu.
Memangnya Thian-ih sudah sangsi ketika melihat Tiok-liu mengeluarkan Thian-lo-poh-hoat tadi, sekarang setelah memperhatikan cincin kemala yang diperlihatkan, seketika pahamlah dia, sungguh girangnya tak terhingga, serunya.
"Ayahmu adalah Kim Si-ih, Kim-tayhiap!"
"Siautit memang diperintahkan ayah agar datang kemari menyambangi Tan-sioksiok,"
Kata Tiok-liu.
"Haya, mengapa tidak kau katakan sejak tadi sehingga kita sampai salah paham,"
Seru Yu Peng sambil mendekati mereka. Diam-diam Tiok-liu berkata di dalam hati.
"Begitu datang kau lantas menyerang aku, darimana aku sempat bicara padamu?"
Segera ia pun memberi hormat dan berkata.
"Siautit kualir mengganggu sehingga tidak mohon bertemu melalui pintu, pantas paman dan bibi salah sangka. Entah mengapa bibi mengira Siautit adalah orang Liok-hap-pang?"
"Hal ini terlalu panjang untuk diceritakan, marilah kita bicara di dalam saja,"
Sahut Yu Peng tertawa.
"Eh, apakah ayah-bundamu baik-baik saja?"
"Berkat doa restu bibi, mereka baik-baik semua,"
Sahut Kim Tiok-liu.
"Ai, dalam sekejap 20 tahun sudah berlalu, kita sudah tua semua,"
Ujar Thian-ih dengan gegetun.
"Sungguh tidak nyana hari ini masih sempat melihat putra sahabat lama."
Lalu Thian-ih membawa Kim Tiok-liu ke kamar tulisnya setelah mengambil tempat duduk masing-masing, kemudian ia berkata.
"Liok-hap-pang adalah suatu perkumpulan rahasia yang baru beberapa tahun berkembang di dunia Kangouw. Pangtju mereka bernama Su Pek-to, konon ilmu silatnya sangat tinggi, tapi aku sendiri belum pernah bertemu."
"Sebab apakah Liok-hap-pang hendak merecoki Tan-sioksiok?"
Tanya Tiok-liu.
"Mestinya aku dan mereka tidak punya sangkut-paut apaapa,"
Tutur Thian-ih.
"Soalnya anakku yang telah bertengkar dengan orang mereka."
"Anak kami yang bernama Tan Kong-tjiau,"
Sambung Yu Peng.
"Beberapa tahun yang lalu ia sudah mulai berkelana, paling akhir lantaran berurusan dengan Liok-hap-pang, dia pernah pulang satu kali. Sayang kau terlambat datang, dia baru saja berangkat lagi kemarin. Sebab itulah ketika kau mondar-mandir di depan rumah tadi, kami menyangka kau adalah orang Liok-hap-pang."
"Bulan yang lalu di jalanan Ek-pak, Kong-tjiau memergoki ferang-orang Liok-hap-pang membegal suatu rombongan peda-pang obat-obatan,"
Demikian Tan Thian-ih melanjutkan.
"Karena membela keadilan, Kong-tjiau membunuh dua anak buah Liok-hap-pang. Tapi di antara mereka ada seorang Hwesio yang Berkepandaian tinggi, dia kena dilukai oleh pedang Kong-tjiau, (sebaliknya Kong-tjiau juga kena sebuah Tau-kut-ting (senjata rahasia paku) dan pulang kemari merawat lukanya selama be-berapa hari. Begitulah terjalinnya permusuhan dengan Liok-hap-lang."
"Jika demikian, Liok-hap-pang itu jelas adalah kaum bandit, tentunya Su Pek-to juga seorang iblis jahat,"
Ujar Tiok-liu.
"Su Pek-to itu pandai berpura-pura, semula dia mendapat aama baik, siapa tahu diam-diam dia berbuat macam-macam kelihatan,"
Kata Thian-ih.
"Cuma kejahatannya baru setahun terakhir ini diketahui oleh kaum pendekar Kangouw, maka sebegitu jauh masih belum diadakan penumpasan kepada mereka."
"Kabarnya Su Pek-to bermaksud memikat kaum pembesar dan mengabdikan diri kepada kerajaan, apakah benar perkara mi?"
Tanya Tiok-liu.
"O, kiranya kau pun mendengar berita demikian,"
Sahut Thian-ih.
"Tanggal sepuluh bulan depan adalah hari ulang tahun ke-60 dari Tailwe Tjongkoan (kepala urusan umum kerajaan) Sat Hok-ting, kabarnya Su Pek-to akan datang sendiri menghaturkan selamat kepadanya, bahkan sedang mengumpulkan macam-macam benda mestika untuk dipersembahkan kepada gem-Bong kerajaan itu. Hal ini tersiar dari anggota Liok-hap-pang jpndiri, kukira dapat dipercaya. Waktu mereka mengadakan pembegalan rombongan pedagang obat-obatan itu juga, katanya di antara bahan obat-obatan yang dibawa mereka itu ada sepotong Ho-siu-oh yang ribuan tahun umurnya. Ho-siu-oh itu katanya adalah pesanan seorang pangeran, tetapi Liok-happang ingin membegalnya untuk dipersembahkan pada Sat Hok-ting."
"Entah di antara kado yang hendak dia sumbangkan itu, adakah seuntai mutiara mestika yang tak ternilai harganya?"
Tanya Tiok-liu.
"Itulah aku tidak tahu,"
Jawab Thian-ih.
"Mengapa Hiantit bertanya tentang ini?"
Maka Tiok-liu lantas bercerita tentang pengalamannya di ruang kelenteng Thian-mo-kau di atas Tji-lay-san itu.
"Orang itu mengaku sebagai juru tulis Su Pek-to, namanya Li Tun, apakah Tan-sioksiok tahu akan orang ini?"
Tanyanya kemudian.
"Aku tidak tahu. Tapi dua orang yang hendak menangkapnya itu rada terkenal. Mereka adalah tokoh-tokoh yang termasuk di antara empat jago pilihan Liok-hap-pang."
"Siapa-siapa saja keempat jago Liok-hap-pang itu?"
Tiok-liu menegas.
"Empat jago Liok-hap-pang itu terdiri dari seorang Hwe-sio, Tosu, Bandit dan seorang lagi Janda,"
Tutur Thian-ih.
"Hwe-sio itu bergelar Wan-hay, si Tosu bernama Djing-hu. Si Bandit bernama Djiau Sik, asalnya adalah bandit besar di daerah Liau-tang, karena kalah bertanding dengan Su Pek-to, lalu ia rela menjadi kaki-tangannya. Adapun si Janda bernama Tang Tjap-sah-nio. Kabarnya di antara keempat jago itu, ilmu silat si Janda terhitung paling tinggi. Sesudah suaminya mati, dia lantas kecantol dengan Su Pek-to dan jadilah Hiangtju perempuan dari Liok-hap-pang. Yang kau ketemukan di Tjilay-san itu adalah si Tosu dan si Bandit."
"Kepandaian si Bandit Djiau Sik itu masih tidak seberapa, tapi Djing-hu Todjin memang cukup lihai, meski aku telah mengalahkan dia, tapi kemenangan itu diperoleh secara tidak mudah. Jika ilmu silat si Janda lebih tinggi daripada si Tosu, maka Liok-hap-pang tampaknya memang tidak sedikit terdapat jago-jago pilihan."
"Kabarnya ilmu silat Su Pek-to sendiri malah lebih tinggi daripada mereka,"
Kata Thian-ih.
"Oleh karena itu untuk menumpas Liok-hap-pang boleh dikata bukan suatu pekerjaan yang gampang."
"Cuma kami suami istri pada suatu kesempatan pasti akan membikin perhitungan dengan Liok-hap-pang,"
Demikian Yu Peng menambahkan.
"Kim-hiantit, apakah Kang-suhengmu pernah bicara tentang Liok-hap-pang padamu."
"Rupanya tempo hari Kang-suheng sangat sibuk melayani tamu-tamunya, sehingga urusan yang tidak terlalu penting tidak dibicarakan padaku,"
Jawab Tiok-liu.
"Suhengmu mantu mestinya kami harus pergi memberi selamat padanya, tapi kebetulan Kong-tjiau pulang menderita luka sehingga kami tidak sempat berangkat, sungguh kami sangat menyesal,"
Kata Thian-ih.
"Cuma, dalam waktu singkat kami tetap hendak pergi menyambangi Suhengmu."
Meski Thian-ih dan istrinya tidak gentar kepada Liok-happang, tapi mereka kuatir kalau Su Pek-to datang sekaligus ber-fiima keempat jagoannya sehingga mereka suami istri kewalahan menghadapi.
Sebab itulah mereka ingin pergi menjenguk Kang Hay-thian untuk minta nasehat cara menghadapi Liok-hap-pang itu.
Segera Tiok-liu berkata.
"Dalam waktu dekat ini mungkin Kang-suheng akan berangkat ke Pakkhia melalui daerah barat laut, jadi mengambil jalan berputar."
"Sebab apa begitu?"tanya Thian-ih.
"Kang-suheng ingin pergi dulu ke Sedjiang untuk menjenguk Tiok Siang-hu,"
Sahut Tiok-liu.
"Kira-kira kapan dia baru bisa sampai di Pakkhia, apakah kau tahu?"
Tanya Thian-ih.
"Pada hari Goan-siau tahun depan Kang-suheng pasti sudah berada di sana,"
Tutur Tiok-liu.
Karena ayahnya cuma menunjuk Kang Hay-thian sendirian pergi ke pertemuan Pitmo-khe, apa urusannya ia sendiri pun tidak tahu, maka tidak dikatakan kepada Thian-ih.
Maka berkatalah Thian-ih.
"Baiklah, jika begitu aku akan pergi ke Pakkhia untuk menemui Suhengmu. Liok-hap-pang sedang sibuk mengatur sumbangan ulang tahun bagi Sat Hokting, rasanya mereka belum sempat mencari perkara padaku untuk sementara."
Begitulah lantas Tiok-liu tinggal dua hari di rumah Tan Thian-ih, hari ketiga ia lantas mohon diri dan berjanji akan bertemu di Pakkhia sesudah hari Tjap-go-meh tahun depan.
Hari ini tepat tanggal 15 bulan sembilan, jadi jarak hari Goan-siau tahun depan masih ada empat bulan persis.
Kim Tiok-liu tidak perlu buru-buru dalam perjalanan.
Pikirnya.
"Sudah lama kudengar bahwa di atas ada surga, di bumi ada Soh (tjiu) dan Hang (tjiu). Kali ini aku sampai di Sohtjiu, maka harus pesiar sepuas-puasnya di sana."
Sepanjang jalan ia menikmati pemandangan alam yang indah permai.
Saking takjubnya sehingga derapan dua ekor kuda dari belakang tak diketahui olehnya, dia baru mengetahui ketika kedua penunggang kuda itu sudah berada disebelahnya.
Waktu ia menoleh, dilihatnya penunggang-penunggang kuda itu yang seorang adalah seorang Hwesio yang berkepala gemuk dan telinga besar, yang lain adalah wanita yang bersolek secara berlebihan.
Hwesio gemuk itu sedang mengangkat cambuk kudanya dan membentak Kim Tiok-liu.
"Hai, anak dungu, minggir!"
Agaknya Hwesio itu melihat Kim Tiok-liu berjalan seperti pelajar sinting, maka sengaja hendak membikin kaget padanya.
Cepat Tiok-liu mengegos ke samping dan bersiap sedia, bila cambuk orang melayang tiba, segera ia akan memberi balasan yang setimpal.
Tapi mendadak terdengar si wanita berseru kepada kawannya itu.
"Jangan sembrono, tampaknya anak ini adalah keluarga orang mampu!"
Hwesio itu sempat menarik kembali cambuknya, sekali menarik tali kendali, secepat terbang kudanya lantas membedal lewat di samping Kim Tiok-liu.
"Kurang ajar, jadi kalian menghormati pakaian daripada orangnya, untung aku telah ganti baju baru, kalau tidak kan aku merasakan cambukmu tadi? Hm, kau tidak jadi merecoki aku, sekarang akulah yang akan mengusik kau,"
Demikian pikir Kim Tiok-liu. Dan baru saja ia bermaksud mengeluarkan Ginkangnya untuk mengejar, tiba-tiba terdengar pula si wanita berkata dengan tertawa.
"Jika, watakmu selalu berangasan begini. Tadi waktu lewat Bok-tok aku menjadi kuatir kalau-kalau kau akan mampir ke sana untuk mencari onar."
"Memangnya kalau tidak karena urusan barang celaka ini, masakah aku tidak mampir ke sana untuk menuntut balas?"
Sahut si Hwesio.
"Ya, sekarang terpaksa harus menunggu pulangnya baru kita membikin perhitungan dengan mereka."
Tiok-liu melengak mendengar percakapan itu, pikirnya, '"Jangan-jangan kedua orang ini adalah si Hwesio dan si Janda idari Liok-hap-pang itu?"
Bok-tok, nama kampung yang disebut itu adalah tempat kediaman Tan Thian-ih.
Jelas yang dimaksudkan dalam percakapan mereka itu adalah mengenai permusuhan Tan Kong-tjiau dengan Liok-hap-pang yang baru saja terjadi.
Dan entah 'barang celaka' yang dikatakan si Hwesio itu benda macam apa maksudnya?
Waktu Kim Tiok-liu tertegun sejenak, sementara itu kedua penunggang kuda itu sudah membedal pergi jauh.
Setelah tenang kembali, Tiok-liu menjadi tertawa sendiri, pikirnya.
"Buat apa aku mesti merecoki urusan mereka dan merunyamkan kesenanganku terhadap pemandangan seindah ini. Peduli mereka itu siapa, yang paling perlu biarlah aku pesiar beberapa hari sepuas-puasnya di Sohtjiu."
Jarak dusun Bok-tok dengan Sohtjiu cuma ratusan li saja, meski Kim Tiok-Hu tidak mempercepat langkahnya toh pada sebelum petang ia sudah sampai di kota itu.
Sohtjiu memang terkenal sebagai kota dengan kebun dan taman yang indah, dimana-mana tumbuh-tumbuhan menghijau permai.
Hati Kim Tiok-Liu menjadi sangat gembira, katanya di dalam hati.
"Biarlah aku beristirahat senikmatnikmatnya selama beberapa hari di Gway-hoat-lim."
Gway-hoat-lim, suatu taman hiburan terkenal, letaknya di sebelah utara kota.
Asalnya tempat ini adalah istana peristirahatan Thio Su-sing, raja pemberontak di zaman Tju Goan-tjiang.
Sesudah kalah perang dan Thio Su-sing mati, istana itu dirampas sebagai barang sitaan dan kemudian dilelang.
Sampai permulaan dinasti Boan-djing, taman hiburan itu telah berganti pemilik beberapa kali, akhirnya jatuh di tangan seorang saudagar besar dan telah merombak istana itu sebagai suatu taman hiburan dengan perlengkapan macammacam permainan serta hotel segala, lantaran perlengkapan yang mewah, maka sewa hotel di situ mahalnya ratusan kali daripada hotel umumnya, maka khusus disediakan untuk kaum saudagar besar serta bangsawan yang kelebihan duit.
Malahan kalau tidak pesan tempat lebih dulu, kalau mendadak ingin mencari kamar sering kali ditolak karena tempat penuh.
Ketika di rumah Tan Thian-ih, pernah Kim Tiok-liu menyatakan hendak pesiar ke Sohtjiu, maka Thian-ih telah memperkenalkan Gway-hoat-lim kepadanya.
Tiok-liu masih cukup membekal uang hasil curiannya, maka ia sengaja hendak menghabiskan uang itu ke Gway-hoat-lim.
Begitu memasuki taman hiburan itu, di hadapannya lantas terbentang sebuah jalan serambi panjang yang berbelakbelok, pada dindingnya banyak dihiasi lukisan-lukisan dan seni tulis kuno yang indah, cuma sayang pemilik 'Taman Hiburan Gembira"
Itu tidak bisa merawat sehingga benda-benda seni itu banyak yang sudah luntur dan rusak.
Dari jalan serambi itu.
kedua sampingnya penuh dengan pepohonan yang rindang, dimana-mana terdapat pohonpohon bunga, bambu dan gunung-gunungan mengitari kolam bunga teratai serta hutan buatan.
Pemandangan demikian hakikatnya tidak mirip sebuah hotel, tapi lebih mirip kediaman kaum bangsawan.
Hati Kim Tiok-liu sangat senang, diam-diam ia mengakui taman hiburan itu memang sesuai dengan namanya dan dirinya harus bisa menikmatinya dengan baik.
Kantor hotel itu terletak di ujung serambi sana.
Waktu Kim Tiok-liu tiba, dari jauh pengurus hotel itu sudah melihatnya.
Karena melihat pakaian Kim Tiok-liu cukup perlente, maka pengurus itu tidak berani ayal, dengan sangat hormat ia menyambut kedatangannya, sapanya.
"Kedatangan tuan sungguh sangat tepat, sore tadi kebetulan ada seorang tamu yang baru berangkat. Kamar ini terhitung salah satu kamar kami yang terbaik, cuma sewanya rada mahalan sedikit."
"Hahaha, tidak menjadi soal, aku justru menginginkan kamar yang paling mewah,"
Kata Tiok-Liu dengan tertawa.
"Berapa sewanya?"
"Lima tail perak sehari,"
Sahut pengurus hotel.
"Ah, terlalu murah, biar bulatkan saja, kubayar sepuluh tail perak,"
Seru Kim Tiok-liu sambil merogoh keluar sepotong uang emas, katanya pula.
"Ini kira-kira bernilai 50 tail perak. Sementara aku ingin menyewa tiga hari, sisanya boleh tahan sebagai uang daNaran, perhitungkan saja nanti."
Tamu-tamu yang biasa datang di Gway-hoat-lim pada umumnya memang adalah orang-orang kaya raya, tapi royal seperti Kim Tiok-liu jarang ada, maka pengurus itu menjadi kegirangan, berulang-ulang ia mengucapkan terima kasih.
lalu mengantar Tiok-liu ke kamarnya.
Sesuai dengan sewanya yang mahal, maka kamar hotel Gway-hoat-lim juga lain daripada yang lain.
Kamar-kamarnya tidak berderet menjadi satu, tapi terpisah dalam bentuk villa dan tersebar di sekitar taman, ada villa yang cukup didiami suatu keluarga, tapi juga ada yang disediakan untuk perorangan dengan segala perlengkapannya.
Sementara itu hari sudah malam, sesudah mandi dan bersantap malam Kim Tiok-liu lantas masuk kamar untuk mengaso.
Ia pikir malam ini harus tidur siangan agar besok penuh semangat dan dapat pesiar sepuas-puasnya.
Baru saja ia berganti pakaian dan hendak tidur, tiba-tiba didengarnya di luar ada suara ribut-ribut, suara itu datangnya dari kantor pengurus.
Tiok-Liu merasa suara orang itu seperti sudah dikenalnya, segera ia melangkah keluar ingin melihatnya.
Kiranya yang membikin ribut adalah si Hwesio dan wanita yang dilihatnya di tengah perjalanan itu.
Dilihatnya pengurus hotel itu sedang membungkukkan badan dan minta maaf.
"Sungguh menyesal, Taysu, memang benar-benar kamarnya sudah penuh semua."
Bahwasanya Hwesio menginap di hotel adalah hal yang jarang terjadi, apalagi si Hwesio membawa seorang perempuan.
Pengurus itu takut terjadi perkara, biarpun ada kamar kosong juga bilang tidak ada.
Rupanya Hwesio itu menjadi gusar, dampratnya.
"Apakah kau mengira aku sebagai orang beragama? Tak peduli kau ada kamar kosong atau tidak, yang jelas aku sudah pasti akan tinggal di sini."
Habis berkata, sebuah kotak cat merah terus ditaruh di atas meja.
Penguasa Gway-hoat-lim itu memang ada menyediakan tukang pukul, maka seorang tukang pukul segera mendekati hendak mengangkat kotak merah itu, maksudnya kotak itu hendak dilempar keluar, lalu Hwesio ini akan digertak agar enyah.
Bentuk kotak merah itu kira-kira setengah meter panjangnya dan lebar belasan senti.
Sudah tentu tukang pukul menganggap soal sepele saja untuk membuang kotak itu.
Siapa tahu ketika hendak mengangkat kotak itu ternyata kotak itu sedikit-pun tidak bergeming.
Segera ia mengeluarkan segenap tenaga dan barulah dapat diangkat.
Keruan tukang pukul itu amat terkejut, sungguh sukar dimengerti mengapa kotak sekecil itu mempunyai bobot sedemikian beratnya, sedikitnya ada ratusan kati.
Yang membikin si tukang pukul terlebih kaget adalah sesudah peti merah itu terangkat, di atas meja terlihat ada dekukan yang dalam, padahal meja itu terbuat dari kayu merah yang amat keras, kalau cuma ditaruh i benda seberat ratusan kati saja rasanya takkan sampai mende-kuk, terang si Hwesio yang telah menggunakan tenaga dalamnya.
Dari samping Kim Tiok-liu terus mengikuti, ia pun rada heran atas kejadian itu.
Pikirnya.
"Kotak merah itu mungkin adalah 'barang celaka' yang dikatakan kepala gundul di tengah jalan itu. Entah apa isi kotak itu. Sekalipun berisi emas perak atau batu permata toh bobotnya tidak sampai begitu berat."
Semula tukang pukul itu bermaksud menggertak dan mengenyahkan si Hwesio, tapi sekarang mukanya menjadi merah guram dan tak berani bersuara. Si Hwesio lantas menjengek.
"Ada apa? Kau mau merebut barangku, ya? Baiklah jika kau suka bolehlah kau ambil saja."
Baru selesai ucapannya.
"biang", tahu-tahu kotak merah itu terjatuh dan tepat menimpa kaki si tukang pukul. Keruan ia berjingkrak dan berkaok-kaok kesakitan. Jatuhnya kotak bukanlah perbuatan si Hwesio, tapi disebabkan tenaga si tukang pukul sendiri yang memang tidak kuat lagi memegangi kotak merah yang berat itu. Mendadak si wanita, teman si Hwesio tersenyum, ketika ujung kakinya mencungkil, tahu-tahu kotak itu lantas meloncat ke atas dan jatuh dalam tangannya. Tampaknya dia sama sekali tidak membuang tenaga, mirip anak kecil bermain bola saja, lalu katanya.
"Maksud kami hendak meninggalkan benda ini sekedar sebagai jaminan supaya kalian tidak kuatir, siapa tahu kalian tidak mau terima, terpaksa kami menyimpannya kembali."
Kaki si tukang pukul yang tertimpa kotak itu pecah dan berlumuran darah, kawannya memayang dia ke samping dan ia sedang merintih kesakitan, tapi tidak berani berbuat apaapa.
Lekas si pengurus tampil dengan tertawa, katanya.
"Mana kami berani memandang hina kepada tuan tamu. Soalnya kamar memang sudah penuh semua dan sekali-kali bukannya kami ku-atir tuan tidak mampu membayar."
Mata si Hwesio tampak mendelik dan agaknya hendak mengumbar amarah lagi, tapi si wanita kembali tersenyum dan berkata.
"Djiko, biarlah aku yang mengurusnya."
Lalu ia membentang sebuah kipas lempit, katanya pula dengan menyeringai.
"Nah, coba kalian ingat-ingat lagi, bisa jadi masih ada kamar kosong yang kalian lupakan."
Di atas kipas lempit itu ada terlukis enam buah tengkorak.
Di antara tukang-tukang pukul yang bekerja di Gway-hoat-lim itu ada anggota perkumpulan rahasia, ia terperanjat melihat tan da tengkorak itu, cepat ia menghadap si pengurus tadi.
Tapi pengurus itu masih berkata pula dengan tersenyum getir.
"Di dalam kota masih cukup banyak hotel, silakan tuan tamu mencari ke sana saja."
"Hm, justru kami ingin mencari hotel yang paling bagus dan banyak orang menunjuk tempatmu ini, maka apapun jugn harus tinggal di sini,"
Dengus si Hwesio. Diam-diam Tiok-Liu baru paham mengapa mereka masuk kota lebih dulu tapi belakangan baru datang ke Gway-hoatlim. rupanya mereka telah mencari hotel dulu di dalam kota.
"Hm, umumnya kaum Hwesio memandang segala apa se bagai khayalan belaka, tapi kepala keledai ini justru bisa mera, sakan kenikmatan hidup,"
Demikian pikir Tiok-liu.
Dalam pada itu si tukang pukul tadi sampai berkeringat saking kuatimya, lekas ia mengedipi si pengurus lagi.
Padahal pengurus itu sudah melihat isyarat si tukang pukul, soalnya un tuk menjaga kehormatan, terpaksa ia pura-pura menolak lapi sembari mencari akal untuk mengakhiri masalah itu.
Selang sejenak barulah si pengurus memperlihatkan sikap terpaksa dan berkata.
"Karena Taysu sedemikian menghargai fcotel kami, betapapun terpaksa aku berusaha bagimu. Ya, memang masih ada sebuah kamar yang telah dipesan langganan kami yang akan datang besok. Biarlah aku menanggung sedikit resiko dan malam ini akan kami berikan kepada Taysu. Cuma kamar ini adalah kamar untuk tamu perorangan, mungkin kurang leluasa bagi kalian berdua."
Si wanita tampak merah mukanya, lalu katanya.
"Coba kau ingat-ingat lagi barangkali masih ada kamar lain."
"Sungguh-sungguh tidak ada lagi,"
Sahut si pengurus dengan muka murung.
"Cuma biarpun kamar untuk perorangan juga dilengkapi dengan kamar tidur dan ruang tamu tersendiri."
"Hahahaha!"
Si Hwesio tertawa.
"Sebagai murid Buddha sudah lama aku menjauhi kehidupan insaniah, soal laki-laki dan perempuan tidak perlu dipikirkan. Jika ada kamar tidur dan ruang tamu itulah paling bagus. Simoay (adik keempat), bolehlah kita terima saja supaya dia tidak serba susah. Berapa uang sewanya?"
Di dalam hati si pengurus mengutuk.
"Murid Buddha macam kau seharusnya masuk neraka!"
Tapi lahirnya dia memaksakan tersenyum dan berkata.
"Pelayanan hamba kurang sempurna, mana kami berani minta lang kepada Taysu?"
"Ya, sudahlah, karena kau tidak mau menerima, aku pun lidak memaksa lagi,"
Kata si Hwesio sambil tertawa.
Melihat tontonan itu sudah selesai, Kim Tiok-liu lantas kembali ke kamarnya lagi.
Tapi celaka, ketika si Hwesio melangkah keluar, ia mengenali Tiok-liu, seketika matanya mendelik.
Syukur si wanita lantas membisiki kawannya itu.
"Djiko, |ingan banyak urusan!"
Walaupun sangat lirih suaranya tapi dapat juga didengar aleh Kim Tiok-liu, pikirnya.
"Memangnya aku takut kalian mencari urusan padaku? Hm, kalian tidak cari urusan padaku, akulah nanti yang akan mencari perkara padamu."
Sesudah pulang ke kamarnya dan mengaso, kira-kira tengah malam, diam-diam Kim Tiok-liu berpikir.
"Enam teng korak yang terlukis di atas kipas lempit wanita siluman itu ten tulah tanda pengenal Liok-hap-pang. Kedua orang itu jelas sekali adalah si Hwesio keparat Wan-hay dan si Janda Tang Tjap-sah-nio. Baiklah, akan kugoda mereka nanti."
Sebelumnya Tiok-liu sudah mengingat dengan baik tempat tinggal kedua orang itu yang terdiri dari sebuah villa yang ter pencil di pojok taman sana, di sebelahnya ada sebuah gunung gunungan buatan.
Dengan hati-hati Kim Tiok-liu bersembunyi di belakang gunung-gunungan itu untuk mendengarkan gerakgerik kedua orang.
"Auuuh, kau minta mampus!"
Mendadak terdengar si wa nita berteriak.
"Aku kan bukan Tan Thian-ih, jika kau ingin mu in tangan dan gerak kaki, bolehlah cari Tan Thian-ih saja."
"Main tangan dengan Tan Thian-ih adalah permainan adu nyawa, mana bisa dibandingkan kesenangan kalau main tangan dengan kau?"
Terdengar si Hwesio menjawab dengan tertawa.
Waktu Tiok-liu mengintip, dilihatnya Hwesio itu duduk st jajar dengan si wanita di atas tempat tidur.
Wanita itu sudah menanggalkan baju luar dan tinggal memakai kutang warna jam-bon saja, tampaknya sangat genit dan menggiurkan.
"Baiklah, boleh kalian senang-senang sekarang, sebentai boleh kalian rasakan pahitnya,"
Demikian diam-diam Tiok-liu menertawakan mereka. Maka terdengar si wanita sedang berkata pula.
"He, apakah kau takut kepada Tan Thian-ih?"
"Kenapa aku takut kepada Tan Thian-ih? Yang aku takuti adalah kau punya.....Hehehe. kau punya teman baik itu,"
Demikian jawab si Hwesio sambil menyengir.
"Hehehe, bila Supang tju mengetahui kita tinggal bersama satu kamar, entah cara bagaimana aku akan ditindak olehnya?"
"Asal kau tahu saja, makanya tahu aturan sedikit, kalau tidak, jika kulapor kepada Pek-to mustail dia tidak membeset kulitmu,"
Kata si wanita.
Mendengar percakapan mereka itu, maka jelaslah bagi Kim Tiok-liu, mereka memang benar adalah Wan-hay dan Tang Tjap-sah-nio dari Liok-hap-pang.
Maka terdengar Wan-hay Hwesio lagi berkata.
"Jika kau berani lapor kepada Pangtju, aku akan bilang kaulah yang menggoda diriku."
"Ngaco-belo,"
Semprot Tang Tjap-sah-nio pura-pura marah.
"Aku memanggilmu untuk bicara urusan dinas, tapi tanganmu lantas main gerayangan. Selesai bicara bolehlah kau lekas enyah dan tidur saja di ruang tamu."
"Baik, baik,"
Sahut Wan-hay.
"Urusan dinas apa yang hendak kau bicarakan, coba silakan bicara, aku siap mendengarkan."
"Apa isi kotak merah ini, kau tahu atau tidak?"
Tanya Tang Tjap-sah-nio.
"Mana boleh kau sembarangan menggunakannya untuk menggertak orang. Jika terjadi sesuatu, apakah kau sanggup bertanggung jawab?"
"Untuk menakut-nakuti sebangsa kaum keroco begitu saja sipa halangannya?"
Ujar Wan-hay tertawa "Kau sendiri menyaksikan, biar kuberikan kepada mereka juga takkan mampu mengangkatnya masakah perlu kualir mereka akan merampas barang ini?"
"Kau jangan takabur,"
Kata Tang Tjap-sah-nio.
"Hendaknya ingat di atas langit masih ada langit, orang pandai ada pula yang lebih pandai. Meski kaum keroco begitu tidak perlu ditakuti, tapi dengan caramu mempertontonkan benda ini, bila di sekitarnya ada orang kosen, bukankah akan terus diketahui isi kotak yang luar biasa ini? Maka kukira ada lebih baik berhati-hati sedikit."
"Nasihatmu ini sudah tentu akan kuingat dengan baik,"
Japab Wan-hay.
"Cuma sesungguhnya aku memang tidak tahu apa isi kotak ini, aku hanya mengetahui ini adalah kado yang akan disumbangkan pada ulang tahun Sat-tjongkoan."
"Kau benar-benar tidak tahu?"
Tang Tjap-sah-nio menegas.
"Pangtju hanya menyuruh aku menjaganya dengan baikj dan tidak memberitahukan apa isinya, dengan sendirinya aku pun tidak berani bertanya,"
Kata Wan-hay.
"Jika Pangtju tidak memberitahu kepadamu, maka kamw pun tidak perlu tahu saja,"
Ujar Tang Tjap-sah-nio dengan tertawa. Dengan menghela napas menyesal Wan-hay Hwesio berkata.
"Sungguh membikin orang kecewa. Padahal kita sama-sama Hiangtju dalam Pang, tugas-tugas sulit saja yang diberikan padaku, sebaliknya kalau ada rahasia hanya kau yang diberi-tahu."
"Kembali kau mengacau lagi,"
Omel Tang Tjap-sah-nio.
"Sudahlah, biar kuberitahukan padamu. Di dalam kotak ini ada sepotong 'Hian-tiat' (besi murni), sebab itulah sedemikian beratnya."
"Hian-tiat apa?"
Tanya Wan-hay.
"Hian-tiat saja tidak tahu, percuma saja kau terhitung tokoh dunia persilatan,"
Ujar Tang Tjap-sah-nio dengan tertawa.
"Ini adalah sejenis logam yang hanya terdapat di Sing-siok-hay di puncak pegunungan Kunlun, besi murni ini sangat sukar dicari. Bobotnya paling sedikit sepuluh kali lipat daripada berat besi biasa."
"Apa gunanya besi murni demikian?"
Tanya Wan-hay.
"Jika ada pandai besi yang mahir, besi murni ini dapat digembleng menjadi sebuah pedang wasiat yang hebat,"
Kata Tang Tjap-sah-nio.
"Ai, jika begitu, benda mestika demikian kan sayang bila diberikan kepada Sat-tjongkoan?"
"Sebenarnya Pek-to telah menyediakan sejenis barang lain sebagai kado untuk Sat-tjongkoan, cuma sayang barang itu hilang sehingga besi murni yang mestinya akan dia pakai sendiri terpaksa digunakan sebagai pengganti."
"Benda mestika apa lagi yang satunya itu? Kenapa sampai hilang?"
"Tentunya kau pun tahu peristiwa kaburnya Li Tun dengan mencuri pusaka?"
"Aku tahu bahwa Pangtju mengutus Djing-hu dan Djiau I Sik untuk menguber bocah itu. Cuma tidak tahu barang apa yang dicuri dan dibawa kabur itu?"
"Benda mestika yang kumaksudkan itu, serenceng mutiara yang besar-besar dan bulat terdiri dari ratusan butir. Setiap butir mutiara besar itu nilainya kira-kira ada tiga ribu tail perak."
Wan-hay menjulurkan lidah, katanya.
"Aduh maki Jika de-I mikian, serenceng mutiara itu bukanlah berharga tiga ratus ribu tail perak?"
"Lebih, sedikitnya lima ratus ribu tail perak!"
Ujar Tang Tjap-sah-nio.
"Sebab teramat sulit untuk mengumpulkan ratusan . butir mutiara yang demikian bagus. Maka kalau tiap butir bermarga tiga ribu tail, sebaliknya kalau terhimpun menjadi satu ka-llung, akan berharga sedikitnya lima ratus ribu tail perak. Mutiara mestika itu diperoleh Su-pangtju dari seorang saudagar Persi de-Ingan macam-macam bujukan dan akhirnya barulah dibelinya. Jika orang biasa, biarpun mempunyai lima ratus ribu tail perak juga belum tentu dapat membeli benda mestika sebagus itu."
"Wah, jika demikian, terlalu enak bagi bocah she Li itu, dia benar-benar telah menjadi orang kaya mendadak. Pantas Supangtju menjadi begitu marah dan bersikeras akan menangkapnya."
"Tapi biarpun bagaimana mutiara adalah benda yang dapat dinilai, sebaliknya besi murni di dalam kotak ini adalah benda yang tak bisa dinilai,"
Kata Tang Tjap-sah-nio, dengan tertawa.
"Bicara sesungguhnya memang besi murni ini jauh lebih bernilai daripada kalung mutiara itu."
"Akan tetapi untuk kado hari ulang tahun, mungkin Sattjongkoan lebih menyukai kalung mutiara itu."
"Memang, dan bagi Pangtju sendiri juga lebih suka memiliki besi murni itu. Tapi justru pada saat kado ulang tahun hendak dikirim, kalung mutiara itu dicuri oleh Li Tun sehingga terpaksa Pangtju menggantinya dengan besi murni mestika itu. Cuma hal yang membuat murka Pangtju bukanlah melulu mengenai kalung mutiara yang dicuri itu."
"Ada soal lain apa lagi?"
Wan-hay menegas.
"Apakah kau mengetahui bahwa Thian-mo-kau memiliki tiga
Jilid Pek-tok-tjin-keng?"
"Kabarnya Thian-mo-kautju dahulu menyimpan kitab pusaka di dalam kelenteng pemujaan di atas Tji-lay-san, konon rahasia ini tersiar keluar dari mulut seorang bekas dayang ketua Thian-mc-kau sendiri dan entah betul atau tidak? Namun apa sangkut pautnya hal mi dengan Li Tun?"
"Memang Su-pangtju juga pernah mendengar berita demikian, hanya tidak mengetahui dimana letak kelenteng Thian-mo-kau yang dimaksudkan itu. Beliau bermaksud mendapatkan tiga
Jilid Pek-tok-tjin-keng itu, siapa tahu bocah she Li itu telah mendahului satu langkah dan dapat mencurinya lebih dulu."
"Dari mana kau mendapat tahu bahwa kitab-kitab pusaka itu telah dicuri Li Tun?"
"Bukankah kau sendiri sudah tahu bahwa Pangtju memerintahkan Djing-hu dan Djiau Sik mengejarnya? Coba kau terka kemana dia kabur? Justru dia lari dan bersembunyi di dalam kelenteng Thian-mo-kau di atas Tji-lay-san."
"Hah, jika begitu masakah Li Tun itu mampu lolos lagi? Bahkan mampu mencari pula Pek-tok-tjin-keng?"
"Soalnya memang kita kena dikibuli,"
Ujar Tang Tjap-sahnio.
"Waktu berada di dalam Pang kita, Li Tun pura-pura berlagak sebagai seorang juru tulis yang tidak paham ilmu silat Padahal ilmu silatnya sangat kuat, mungkin tidak di bawah kita."
"Walaupun begitu, dia takkan mampu mengalahkan Djinghu dan Djiau Sik berdua."
"Nanti dulu, ceritaku belum lagi habis,"
Tutur Tang Tjapsah-nio.
"Ketika Djing-hu dan Djiau Sik menyusul sampai di ketenteng itu, jejak Li Tun ternyata lenyap dan entah dari mana datangnya seorang pengemis cilik, mereka berdua dilabrak dan dibikin keok."
Diam-diam Kim Tiok-liu tertawa geli, pikirnya.
"Aku justru berada di depan matamu, tapi dasar kalian ini sudah buta melek dan tidak kenal padaku."
Dalam pada itu terdengar Tang Tjap-sah-nio sedang menyambung ceritanya.
"Setelah lari keluar dari kelenteng, Djing-hu dan Djiau Sik tidak lantas pergi jauh, tapi mereka sembunyi di tengah semak-semak yang berdekatan. Tidak lama kemudian mereka melihat Li Tun berjalan keluar bersama pengemis kecil itu, tangan Li Tun membawa sebuah genta besar, genta besar itu kemudian dibuang ke dalam kolam yang ratusan meter dalamnya. Bahkan mereka menyaksikan Li Tun membuang pula kalung mutiara itu ke dalam kolam yang dalam dan curam itu, maka terang sukar diketemukan lagi benda-benda mestika itu. Melihat perbuatan Li Tun itu, akhirnya Djing-hu berdua sadar bahwa Pek-tok-tjinkeng itu pasti terukir di dalam genta besar itu. Tentu pula Li Tun bersembunyi di dalam genta itu sehingga terhindar dari pencarian mereka."
"O, jika demikian, jadi Li Tun memang benar-benar telah mendahului satu langkah membaca dan memahami isi Pektok-tjin-keng itu?"
"Yang lebih menggemaskan adalah dia melemparkan genta itu ke dalam kolam sehingga Su-pangtju tidak mungkin mendapatkannya lagi, hal inilah yang membuat Pangtju menjadi murka,"
Kata Tang Tjap-sah-nio.
Baru sekarang Kim Tiok-liu memahami duduk persoalan, pikirnya "Jika begitu akulah yang salah menyangka jelek pada U Tun.
Dia tidak sengaja memonopoli Pek-tok-tjin-keng itu, lapi demi untuk menghindarkan isi kitab pusaka itu tidak jatuh di tangan gembong iblis seperti Su Pek-to, maka dia sengaja melenyapkan genta berukir Pek-tok-tjin-keng itu."
Sementara itu Tang Tjap-sah-nio melanjutkan.
"Tugas Li Tun di dalam Pang kita adalah mengurus segala surat menyurat sehingga tidak sedikit rahasia Pang kita yang diketahuinya. Lantaran ketiga sebab inilah, maka apapun juga Pangtju ingin menangkapnya. Beliau sudah menjanjikan, siapa saja yang mampu menangkap kembali bocah she Li itu, dia akan diangkat menjadi wakil Pangtju."
"Wah, kalau begitu aku akan coba berusaha,"
Kata Wanhay.
"Simoay (adik keempat), pada kesempatan kita mengantar kado ulang tahun ini, kita akan banyak bertemu dengan kawan-kawan Kangouw di kotaraja nanti, kepada mereka kita dapat minta bantuan untuk ikut menyelidiki kemana perginya bocah she Li itu."
"Kukira kau tidak perlu memikirkan soal ini."
"Bukan aku menginginkan kedudukan wakil Pangtju, cuma kita berempat mempunyai nama yang sama tingginya, jika kita berdua dapat melakukan pahala ini, sedikitnya akan dapat menekan Djing-hu dan Djiau Sik ke bawah."
"Persaingan demikian di antara kawan sendiri kukira tidak perlu."
"Apakah kau kuatir aku tidak mampu mengalahkan keparat Li Tun itu?"
"Bukan begitu maksudku,"
Sahut Tang Tjap-sah-nio.
"Habis sebab apa?"
"Biar kukatakan terus terang padamu, bahwasanya Pangtju benar-benar ingin membinasakan bocah she Li itu. Cuma di belakang bocah itu, ada pula yang mendukungnya. Orang yang mendukungnya itu kita sekali-kali tidak boleh menyalahinya."
"Siapa orang itu?"
Tanya Wan-hay heran.
"Masakah kau belum paham? Siapa lagi kalau bukan adik kesayangan Pangtju sendiri, Su-siotjia kita, Su Ang-ing."
"O, kiranya dia! Terhadap budak itu memang benar Pangtju rada-rada mengalah padanya."
"Diam-diam budak itu jatuh hati pada Li Tun, orang lain mungkin tidak tahu, tapi aku tak dapat dikelabui olehnya. Cuma saja aku tidak berani memberitahukan kepada Pangtju."
"Kepandaian budak itu tidak di bawah kakaknya, tapi rasanya dia pun tidak berani melawan kakaknya secara terang-terangan."
"Kau ini memang bebal dan tak dapat menggunakan otak." 'Ai, berada bersama orang pintar seperti kau, masakah aku perlu memutar otak segala?"
Ujar Wan-hay dengan cengarcengir.
"Baiklah, mohon kau memberi penjelasan!"
"Biarpun si budak Ang-ing itu tidak berani terang-terangan membangkang kepada kakaknya, tapi kalau kita menangkap jan-ung hatinya, apakah dia takkan dendam kepada kita? Betapapun ia adalah adik Pangtju, sedangkan Pangtju sendiri pun mengarti padanya. Andaikan bocah she Li itu dapat ditangkap kembali uga mungkin sekali akan dilepaskan lagi oleh budak itu. Lalu buat apa kita mengikat permusuhan dengan budak itu?"
"Dasar pikiran wanita memang lebih cermat,"
Ujar Wan-iay tertawa.
"Baiklah, aku akan menurut padamu, selanjutnya -la aku melibat si Li Tun juga aku akan pura-pura tidak tahu."
"Nah, apa yang kuketahui sudah kuberitahukan padamu, .arang bolehlah kau pergi saja."
Tidak, tidak. Aku masih ingin bicara hal-hal penting pa-Kau jangan main gila. Aku tidak percaya kau ada urusan iting segala."
"Benar-benar ada urusan penting. Coba dengarkan dulu, itu tampaknya rada-rada mencurigakan."
"Omong saja tak genah. Bocah, bocah yang mana?"
"Bocah yang kita ketemukan di tengah jalan itu. Bukankah kita pergoki dia lagi di sini?"
"Orang adalah putra keluarga bangsawan, setiba di Sohtjiu kalau tidak tinggal di Gway-hoat-lim ini mau tinggal dimana?"
"Tapi aku tetap merasa gerak-geriknya sangat mencurigakan. Bukankah kau pun melihat dia sangat memperhatikan diri sekitar."
"Ah, kau sendirilah yang banyak curiga. Tapi, coba katakan, dimana letak gerak-geriknya yang inencurigakan?"
"Bukankah baru saja kau bercerita bahwa Djing-hu dan Djiau Sik telah bertemu dengan seorang pengemis di Tji-laysan dan mereka telah keok dikalahkan oleh jembel cilik itu."
"O, jadi kau menyangsikan bocah itu adalah si pengemis cilik?"
"Memang bukan mustahil mereka adalah orang yang samu Dari sorot matanya yang tajam dapat kulihat dia pasti seorarr yang mahir ilmu silat. Pula seorang putra bangsawan masakah begitu tabah ketika kudaku menyerempet lewat di sampingnya, sama sekali dia tidak kaget atau gugup."
Diam-diam Tiok-liu terkejut dan berpikir.
"Hwesio yanj kusangka dogol ini kiranya juga seorang Kangouw yang ber pengalaman."
"Orang yang mahir ilmu silat apakah juga perlu diheran kan? Sudahlah, kau jangan sembarangan curiga lagi."
"Kupikir akan pergi menyelidiki bocah itu,"
Ujar Wan-hay.
"Jangan banyak urusan lagi, tidur saja Besok kita masih harus menempuh perjalanan jauh."
Wan-hay lantas cengar-cengir, katanya "Baik, baik. Kau mengajak tidur masakah aku berani membantah. Marilah kita lekas tidur saja."
"Persetan, apa yang kau pikir?"
Omel Tang Tjap-sah-nio dengan muka merah.
"Keluar, keluar dan tidur di ruang tamu sa na."
"Hah, kukira kau menyuruh aku tidur di sini. Eeh, jangan main dorong segala!"
Seru Wan-hay dengan tertawa.
"Kau berani sembarangan mengoceh lagi segera kupukul kau."
"Pukul tandanya cinta. Apa halangannya bagiku jika cuma kau pukul saja. Haya jadi kau ingin memukul sungguhan!"
Tadinya Wan-hay duduk di tepi ranjang, sekarang dia su dah diusir keluar kamar tidur.
Tempat berdiri Tang Tjap-sahnio sekarang juga tepat di depan jendela.
Kim Tiok-liu merasa sebal mendengarkan kelakar kedua rang yang sedang main gila itu.
Mesdnya ia bermaksud turun ngan melabraknya tapi lantas terpikir olehnya akan lebih baik enunggu mereka tidur lebih dulu dan kemudian akan mencuri otak merah itu.
Pertama sudah tentu ia menginginkan besi murni itu.
Kedua agar mereka gagal mengantar upeti ulang tahun.
Tak terduga Kim Tiok-liu tidak jadi segera turun tangan, ebaliknya Tang Tjap-sah-nio malah sudah mendahului turun gan, bahkan Kim Tiok-liu hampir menelan pil pahit.
Begitulah, pada saat Kim Tiok-liu sedang menimangnimang, sekonyong-konyong pandangannya menjadi silau.
Tang jap-sah-nio telah menghamburkan segenggam Bwe-hoatjiam, senjata rahasia jarum halus.
Rupanya Tang Tjap-sah-nio sudah mengetahui di luar da orang mengintip, bahkan dia pun sudah menaruh curiga terhadap Kim Tiok-liu.
Sebabnya dia pura-pura tidak mau percaya ocehan Wan-hay tadi justru hendak membikin Kim Tiok-liu lengah.
Cara menyambitkan senjata rahasia Tang Tjap-sah-nio itu sangat lihai.
Kim Tiok-liu bersembunyi di belakang batu gunung-gunungan, jika jarum itu dihamburkan dari depan tentu sukar mengenainya.
Tapi jarum-jarum itu ternyata melayang dulu ke atas batu gunung-gunungan itu, kemudian barulah membelok ke bawah.
Caranya benar-benar sukar dibayangkan orang lain.
Maka ketika Kim Tiok-liu menengadah, tahu-tahu pandangannya silau oleh berhamburnya jarum-jarum halus itu dan sukar menghindar lagi.
Namun Kim Tiok-liu memperlihatkan Ginkangnya yang hebat, mendadak ia meloncat ke samping sehingga jarumjarum itu menyambar lewat di bawah kakinya satu pun tidak ada yang mengenai dia.
Waktu Tiok-liu menarik napas, tiba-tiba tercium bau amis, baru sekarang ia tahu bahwa senjata rahasia yang dihamburkan Tang Tjap-sah-nio itu tidak cuma caranya istimewa, bahkan juga beracun.
"Perempuan keparat yang keji, ingin kulihat kau masih punya kepandaian apa lagi?"
Maki Kim Tiok-liu. Tapi baru saja ia menancapkan kakinya kembali di atas taJ nah, belum sempat bertindak lain, mendadak Wan-hay sudahi menubruk tiba sambil membentak.
"Pengemis cilik, rasakan dulu kepalanku ini!"
Namun Kim Tiok-liu menahan pukulan lawan dengan tela!
pak tangan, berbareng kepalan lawan itu dicengkeramnya.
Terdengar Wan-hay mengerang keras, kepalanya terbelur lima jalur luka oleh cakaran Kim Tiok-liu.
Sebaliknya Tiok-liu juga tergetar mundur dua tiga tindak oleh pukulan Wan-hay itu.
Diam-diam Kim Tiok-liu mengakui tenaga dalam kepala gundul itu tidaklah lemah, malahan menurut paman Tan (Thian ih), katanya kepandaian perempuan siluman itu jauh lebih tinggi lagi dari rekan-rekannya, maka malam ini aku harus melayani mereka dengan sepenuh perhatian dan tidak boleh memandang enteng mereka.
Demikian pikir Tiok-liu.
Dalam pada itu Wan-hay menubruk lagi sambil mengge-ram, kedua kepalan menghantam sekaligus.
Melihat serangan hebat ini, lebih dulu Tiok-liu mengelak dengan langkah ajaib Thian-Io-poh-hoat, dan baru saja ia hendak memutar ke belakang lawan untuk menutuk 'Hong-hu-hiat' di punggungnya, tiba-tiba terdengar suara angin menyambar, Tang Tjap-sah-nio ternyata sudah muncul, belum dekat orangnya namun cambuknya yang panjang sudah menyabet lebih dulu.
Menghadapi kerubutan dua orang itu, Kim Tiok-liu tidak menjadi gugup, ketika cambuk musuh sudah hampir mengenai tubuhnya, cepat Tiok-liu mengerutkan tangannya ke dalam lengan baju, lalu lengan bajunya dikibaskan sehingga cambuk lawan terbelit.
"Lepas!"
Bentak Kim Tiok-liu sambil membetot sekuatnya.
"Belum tentu bisa!"
Jawab Tang Tjap-sah-nio sambil tertawa. Terdengar suara "bret"
Sekali, ternyata sepotong kain lengan baju Kim Tiok-liu kena dirobek oleh cambuknya.
Nyata te-naganya walaupun tidak di atas Kim Tiok-liu, paling sedikit juga cukup kuat untuk menandinginya.
Dengan langkah lebar Kim Tiok-liu melompat ke samping sejauh dua tiga meter.
Dalam pada itu dengan cepat sekali Tang njap-sah-nio menyusul tiba, cambuknya kembali menyambar pula.
Dengan segala kemampuannya, dengan kegesitan serta kepandaian Bik-khong-tjiang (pukulan kosong dari jauh) yang kuat, dengan tidak mudah barulah Kim Tiok-liu dapat menghindarkan tiga kali cambukan berantai yang dilancarkan oleh Tang Tjap-sah-nio itu.
"Aku tidak hendak menganiaya anak muda, boleh kau lolos pedangmu saja!"
Ujar Tang Tjap-sah-nio tertawa ketika hendak berganti serangan lain. Kim Tiok-liu paling benci kalau ada orang memandang kecil padanya, segera ia mencabut pedangnya dan menjengek.
"Aku pun tidak ingin menganiaya kaum wanita, boleh suruh gendakmu itu maju sekalian saja!"
Keruan Wan-hay berjingkrak karena boroknya kena ditonjok, bentaknya murka.
"Anak keparat ini harus dibunuh untuk menutup mulutnya!"
"Ah, buat apa marah kepada seorang pengemis cilik, kau ..."
Baru saja Tang Tjap-sah-nio hendak mengatakan 'kau menyingkir saja', mendadak sinar pedang sudah menyambar, pedang Kim Tiok-liu sudah menusuk ke arahnya.
Tang Tjap-sah-nio terkejut melihat ilmu pedang Kim Tiokliu sangat lihai, ia tidak sempat banyak omong lagi, lekas mengegos ke samping.
Siapa tahu serangan Kim Tiok-liu itu hanya pancingan laja, baru saja Tang Tjap-sah-nio mengegos ke samping, mentodak ujung pedang Kim Tiok-liu membelok ke sebelah lain, g diarah adalah Wan-hay.
Dengan kaget Wan-hay cepat menangkis dengan goloknya, namun luput, tahu-tahu Kim Tiok-liu mendesak maju, pedangnya kembali menusuk dari arah yang sama sekali tak terduga sebelumnya.
Untung Tang Tjap-sah-nio juga cukup gesit.
"serrr", cambuknya kembali menyabet dari samping. Serangan ini memaksa musuh harus menyelamatkan diri lebih dulu. Maka terpaksa Kim Tiok-liu harus mengelak agar tubuhnya tidak sampai terlilit cambuk musuh, dengan gerakan 'Hong-goktjiong-siau' atau burung kuning melayang ke udara, ia meloncat ke atas. Lantaran itu pula tusukan tadi menjadi meleset pula dan menyerempet lewat di atas kepala Wan-hay, hampir saja kulit kepalanya yang gundul itu terkupas sebagian. Keruan Wan-hay berkeringat dingin walaupun terhindar dari tusukan yang hampir menembus lehernya itu. Diam-diam Tang Tjap-sah-nio mengakui kelihaian Kim Tiok-liu, ia menduga dirinya sendiri jika satu lawan satu rasanya sukar memperoleh kemenangan sekalipun juga tidak sampai kalah. Maka maksudnya hendak menyuruh Wan-hay menyingkir tadi tidak jadi diucapkan. Setelah melabrak kedua lawannya itu, Kim Tiok-liu sangat senang. Dilihatnya Wan-hay sedang meraba kepalanya yang gundul itu, segera ia mengejek dengan tertawa.
"Haha, bangsal gundul, jangan kuatir tentang jiwamu, untuk sementara aku masih belum ingin membinasakan kau. Jika kubunuh kau berani aku akan kehilangan bukti dan saksi perbuatan durhaka kalian? Kukira akan lebih menarik bila Su Pek-to sendiri yang akan mengambil tindakan kepada kalian."
Sekalipun Tang Tjap-sah-nio adalah perempuan yang tak bermoral, tapi betapapun juga ia ingin menjaga nama, sudah tentu ia tidak tahan dengan olok-olok Tiok-liu itu.
Dengan menger-tak gigi ia bermaksud membinasakan jembel muda yang dibencinya ini.
Kalau bicara tentang kepandaian sejati sebenarnya belum pasti Tang Tjap-sah-nio mampu mengalahkan Kim Tiok-liu.
Tapi cambuk yang dia pakai itu adalah sejenis cambuk pusaka yang bisa lemas dan bisa keras, uletnya luar biasa dan tak terputus oleh golok atau pedang biasa.
Panjang cambuk itupun dapat mencapai jarak dua tiga meter jauhnya.
Sebaliknya pedang Tiok-liu tiada satu meter panjangnya, dalam hal ukuran senjata saja sudah merugikan Kim Tiok-liu.
Apalagi ilmu permainan cambuk Tang Tjap-sah-nio itu sangat aneh perubahannya, biarpun Kim Tiok-liu banyak mengetahui macam-macam ilmu silat dari berbagai golongan sebagaimana yang pernah didengar dari ayahnya serta Ki Hiau-hong, tapi ilmu cambuk Tang Tjap-sah-nio inilah .
yang masih tetap belum dapat dijajaki olehnya cara mematahkannya.
Di pihak lain Tang Tjap-sah-nio sendiri diam-diam juga terkesiap.
Selama ini entah sudah berapa banyak jago-jago ternama terjungkal di bawah cambuknya itu.
Tapi sekarang hanya seorang bocah ingusan yang tak terkenal saja sampai sekian lamanya masih belum bisa diapa-apakan, bahkan kalau tidak dibantu Wan-hay, ia sendiri mungkin sudah keok sejak tadi.
Ilmu silat Wan-hay meski lebih lemah daripada Tiok-liu dan Tjap-sah-nio, tapi juga bukan jago pasaran.
Ilmu goloknya 'Ngo-hou-bun-to' dimainkan bersama dengan sambaran cambuk Tang Tjap-sah-nio, yang seorang menyerang dari jauh, yang lain mengincar dari dekat, kerja sama mereka ini benar-benar ancaman berbahaya bagi Kim Tiok-liu.
Di tengah pertarungan sengit itu Kim Tiok-liu menemukan kelemahan Wan-hay, baru saja ia hendak mematahkan serangan lawan, tak tersangka tipu serangan Wan-hay itu ternyata pancingan belaka, kiranya ia sengaja memperlihatkan lubang kelemahan agar Kim Tiok-liu memperhatikannya dan kesempatan ini tentu akan digunakan dengan baik oleh Tang Tjap-sah-nio.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang dan bayangan cambuk, kedua pihak sama-sama bergerak dengan amat cepat.
Waktu pedang Kim Tiok-liu menusuk ke arah Wan-hay, saat itu pula cambuk Tang Tjap-sah-nio juga menyambar ke leher Kim Tiofe liu.
Rupanya Tang Tjap-sah-nio sudah biasa bekerja sama dengan Wan-hay, maka Wan-hay berani memberi lubang serangan kepada Kim Tiok-liu untuk memancingnya, dengan demikian Tang Tjap-sah-nio diberi kesempatan bagus untuk menyerang.
Serangan cambuk Tang Tjap-sah-nio ini disebut 'Sok-au pian' (cambuk pengunci leher), bila leher sampai terbelit oleh cambuknya, betapapun lihainya juga pasti akan mati tercekik.
Namun Kim Tiok-liu bukanlah putra Kim Si-ih jika garoj pang dimakan.
Pada detik yang menentukan itulah, mendadak pedangnya masih terus menusuk lurus ke depan tadi terus dite1 gakkan ke atas, sedangkan langkahnya masih terus menumbul ke depan, ke arah Wan-hay.
"Bagus!"
Bentak Tjap-sah-nio sambil menyendal cambuknya sehingga berubah lempeng mirip ujung tombak dan terus menikam dari atas ke bawah.
Cambuk adalah senjata yang lemas, untuk bisa membuatnya lurus dan keras diperlukan saluran tenaga dalam yang kuat, hal ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.
Maka perubahan gerak serangan Tang Tjap-sah-nio ini sampai Kim Tiok-liu sendiri pun tidak menduga sama sekali.
Maka terdengarlah "plok"
Sekali, punggung Kim Tiok-liu tersabet sehinggi menimbulkan satu jalur merah lebam.
Untung sejak kecil Kini Tiok-liu sudah terlatih, otot dagingnya cukup kuat sehingga luku lecet itu tidak menjadi halangan baginya.
Sebaliknya Wan-hay yang juga kena disikut olehnya terpental beberapa langkah sambil berkaok-kaok kesakitan.
Karena cambuknya berhasil mengenai lawan, semangat Tang Tjap-sah-nio lantas terbangkit.
Keruan Kim Tiok-liu mengeluh diam-diam.
Naga-naganya besi mumi yang diincar itu sukar untuk diperoleh, tapi kalau ditinggal pergi begini saja rasanya juga tidak rela.
Sedikit ada rasa bimbang pada diri Kim Tiok-liu, dalam pada itu Wan-hay menerjang maju lagi.
Dikerubut dari dua jurusan, untuk melepaskan diri dari serangan cambuk Tang Tjap-sah-nio saja repot, apalagi hendak melarikan diri.
Masih untung baginya karena Wan-hay tadi kena disikut lelehnya, maka sekarang Hwesio kasar itu masih rada keder I sehingga tidak berani mendesak terlalu rapat, dengan demikian Kim Tiok-liu masih dapat bertahan sekuatnya.
Lambat-laun dahi Kim Tiok-liu berkeringat, diam-diam ia mengeluh bisa celaka.
Ia pikir bila berlangsung 50 jurus lagi mungkin dirinya tidak sanggup bertahan lagi, maksudnya mau untung bisa jadi buntung.
Selagi Kim Tiok-liu merasa kualir, sekonyong-konyong didengarnya Tang Tjap-sah-nio membentak.
"Kawan dari golongan manakah itu? Kenapa tidak tampil saja ke sini secara terang-Iterangan?"
Lantaran sedang mencurahkan perhatian untuk melayani Ikerubutan kedua lawan sehingga Kim Tiok-liu sama sekali tidak j mendengar sesuatu suara apapun.
"Mungkin seseorang tamu yang tidak tahu, terjaga bangun dan hendak mengintip,"
Kata Wan-hay. Segera ia membentak dengan suara keras.
"Orang Liok-hap-pang di sini, jika tahu gelagat lekas menyembunyikan diri ke dalam kolong selimut saja!"
Karena bentakan Wan-hay itu, benar juga lantas terdengar piara jendela ditutup.
Waktu Tang Tjap-sah-nio memandang sekelilingnya, di dalam taman itu tiada nampak suatu bayangan pun.
Maka disangkanya suara yang didengarnya tadi mungkin tenar suara tamu yang terjaga bangun seperti yang dikatakan Wan-hay.
Begitulah, sedikit terpencar perhatian Tang Tjap-sah-nio dan serangannya menjadi kendor, kesempatan itu tidak disiagakan oleh Kim Tiok-liu, dengan cepat sekali kembali ia menerjang Wan-hay.
Lantaran sudah merasakan pil pahit Tiok-liu tadi, rupanya Wan-hay sudah kapok, lekas ia berkelit ke samping.
"Lari kemana!"
Bentak Tang Tjap-sah-nio sambil menya*l betkan pula cambuknya.
Namun Tiok-liu sempat melayang lewat di samping Wanhay dan sekalian ia mendorong tubuh Hwesio yang gede itu-Wan-hay menjerit kaget dan dengan tepat tubuhnya terbelit olehi cambuk Tjap-sah-nio.
Dalam pada itu dengan cepat luar biasai Kim Tiok-liu sudah melayang pergi beberapa meter jauhnya.
Sambil melepaskan Wan-hay, dengan gemas Tjap-sah-niaj menjengek.
"Kurang ajar! Jika malam ini kau sampai lolos dari tanganku, aku bersumpah takkan jadi manusia."
Habis itu segera ia mengejar sembari menghamburkan senjata rahasia susul-menyusul.
Bukan saja permainan cambuk Tjap-sah-nio tiada bandingannya, bahkan kepandaiannya menggunakan senjata rahasia juga merupakan kepandaian tersendiri di dalam dunia persilatan.
Semua senjata rahasianya telah direndam racun, siapa saja yang| kena, asal keluar darah tentu akan binasa.
Namun Kim Tiok-liu sengaja berlari dengan melingkar ke sana kemari.
Sesudah mengitari dua buah gunung-gunungan, ternyata Tjap-sah-nio masih terus mengejarnya.
Tiba-tiba Tiok-liu mendapat akal, ia pura-pura kena senjata rahasia Tjap-sah-nio, sambil berteriak mengaduh ia pura-pura jatuh tersungkur.
Memang Tjap-sah-nio bermaksud menangkap hidup-hidup lawannya untuk ditanyai keterangan asal-usulnya, maka ia tidak menaburkan senjata rahasia lagi ketika melihat sasarannya sudah roboh.
Segera ia memutar cambuknya untuk melindungi tubuh dan mendekat untuk memeriksa.
Sebagai seorang yang berpengalaman Tang Tjap-sah-nio telah bersiap sebelumnya ketika hendak maju memeriksa, tapi tidak urung ia masih kena dikibuli Kim Tiok-liu.
Pada saat dia sudah dekat, mendadak Tiok-liu meloncat bangun, serunya sambil tertawa.
"Menerima tak membalas adalah kurang sopan! Ini, kau pun merasakan aku punya Toat-beng-sin-soa (pasir sakti pencabut nyawa)!"
Mendengar nama senjata rahasia pasir sakti itu kejut Tjapsah-nio sungguh tidak kepalang, lekas ia menahan langkahnya.
Pada saat yang hampir sama, dari depan menghambur datang segerombol debu pasir kekuningkuningan.
Sekalipun dia sudah memutar cambuknya sedemikian kencang sehingga air pun tak menembus, tapi toh sukar menahan hamburan debu pasir itu.
Lekas ia memejamkan mata, berbareng itu lengan baju menge-bas untuk melindungi muka.
Namun demikian toh tidak urung kepalanya juga sudah terkena beberapa butir pasir.
Wan-hay Hwesio lebih konyol lagi, kepalanya yang gundul itu seolaholah ditaburi dengan biji lada, ia terkena secomot biji pasir, rasanya panas kesakitan.
Hanya sekejap itu saja Kim Tiok-liu sudah melayang lewat dua buah gunung-gunungan lagi dan menyusup ke tengah semak bunga yang lebat.
Ketika Tjap-sah-nio membuka kembali matanya, bayangan Kim Tiok-liu sudah menghilang.
Wan-hay tidak memikirkan memburu musuh lagi, ia meraba-raba kepalanya sendiri yang gundul itu dan bertanya pada Tjap-sah-nio dengan perasaan kuatir.
"Simoay, senjata rahasia macam apakah Toat-beng-sin-soa ini? Bagaimana kadar racunnya? Apakah kau dapat memunahkannya?"
Semula Tang Tjap-sah-nio juga mengira pasir sakti itupun berbisa.
Tapi sebagai seorang ahli menggunakan racun, ketika pasir itu mengenai kulitnya segera ia merasakan pasir itu biasa saja, tahulah ia telah tertipu oleh Kim Tiok-liu.
Rupanya Kim Tiok-liu tadi memang sekenanya meraup segenggam pasir di atas tanah dan terus dihamburkan ke arah musuh.
Keruan tidak kepalang mendongkol Tjap-sah-nio, makinya.
"Bangsat cilik, kau berani menipu ibumu ini? Hm, pasir sakti pencabut nyawa apa? Jika kau sudah kubekuk, baru benarbenar nyawamu akan kucabut."
Mendengar makian Tjap-sah-nio itu, barulah Wan-hay yakin bahwa pasir musuh itu tidak berbisa. Dengan mendongkol ia berkata.
"Kurang ajar benar anak keparat itu, bila tertangkap akulah yang akan membeset kulitnya. Melulu mencabut nyawanya masih terlalu murah baginya."
"Dia masih belum kabur dari taman ini,"
Kata Tjap-sah-nio.
"Lekas ikut padaku, mari kita mencarinya ke situ."
Dengan kepandaian mendengarkan suara membedakan arah, biarpun tadi memejamkan mata juga Tjap-sah-nio dapat mendengar kemana arah lari Kim Tiok-liu.
Maka ke situlah mereka lantas mengejar.
Diam-diam Tiok-liu menertawakan lawannya, sebab kalau dia mau kabur tentu sejak tadi ia sudah keluar dari taman itu, soalnya dia tidak mau kembali dengan tangan hampa, yaitu besi murni yang diincarnya itu.
Dengan bersembunyi di tengah semak-semak, Kim Tiok-liu memotong sebuah ranting kayu kecil dan dijentikkan, melayangnya ranting kayu itu menimbulkan suara desiran pelahan yang mirip kebasan kain baju orang.
Benar juga lantas terdengar Tang Tjap-sah-nio membentak.
"Hendak lari kemana?"
Segera ia memburu ke tempat jatuhnya ranting kayu itu.
Tak terduga kembali ia tertipu oleh Kim Tiok-liu.
Menunggu sesudah musuhnya berada di depan sana, diamdiam Kim Tiok-liu lantas menyusup keluar dari tempat persembunyiannya.
Ginkangnya sudah sangat tinggi, jauh lebih hebat daripada Tjap-sah-nio, hanya beberapa loncatan saja Tiok-liu sudah berada kembali di rumah tinggal Tjap-sahnio tadi.
Sebaliknya Tjap-sah-nio sedang mencari jejak Kim Tiok-liu di depan sana sehingga tidak mengetahui kamarnya sedang digerayangi orang.
Tapi Kim Tiok-liu menjadi terkejut ketika masuk di kamar Tjap-sah-nio.
Ternyata kotak merah yang berisi potongan besi murni itu sudah lenyap, pikirnya.
"Sudah jelas kotak itu tadi tertarah di atas meja, mengapa dalam sekejap saja sudah hilang. Tampaknya memang ada orang kosen lain yang muncul."
Walaupun merasa kecewa karena kotak merah yang diincar itu hilang, tapi Kim Tiok-liu tidak putus asa.
Ia pikir besi murni itu sangat berat, sedikitnya ada ratusan kati.
Sekalipun pendatang itu adalah orang kosen juga tidak mudah membawa lari benda berat itu tanpa meninggalkan suatu jejak.
Ia coba mengetik batu api dan memeriksa keadaan kamar, namun sekilas pandang saja segera diketahui bahwa kotak merah itu memang benar sudah digondol lari orang.
Di sebelah sana, karena tidak menemukan jejak Kim Tiokliu, mendadak Tjap-sah-nio tersadar, ia menoleh, kebetulan pada saat itu Kim Tiok-liu sedang mengetik api, kelipan lelatu api dapat dilihat oleh Tang Tjap-sah-nio.
Dengan pengalamannya yang luas segera ia tahu apa artinya kelipan lelatu api itu.
"Celaka, kita tertipu oleh bocah itu!"
Serunya kepada Wan hay. Tak terduga hampir pada saat yang sama Wan-hay juga sedang berteriak.
"Hendak lari kemana anak keparat! Lekas ke-'ar, Simoay! Bocah itu kabur keluar taman!"
Di pihak lain, waktu itu Kim Tiok-liu juga melompat keluar kamar, di bawah sinar bulan yang remang-remang dilihatnya ada sesosok bayangan hitam bara saja melayang lewat pagar tembok.
Tang Tjap-sah-nio dan Wan-hay berbarengan menemukan 'jejak musuh', tapi arahnya berlawanan.
Tjap-sah-nio memburu kembali ke kamarnya, sebaliknya Wan-hay mengejar keluar.
"Kembali ke sini, bocah itu berada di kamar kita!"
Seru Tjap-sah-nio. Tapi Wan-hay lantas menjawab.
"Tidak, kau keliru. Bocah itu sudah lari keluar!"
Kedua orang sama-sama menoleh ke belakang, tapi Tang Tjap-sah-nio tidak sempat melihat bayangan orang yang melayang lewat pagar tembok tadi, sebaliknya Wan-hay sempat melihat Kim Tiok-liu baru saja melompat keluar dari kamar.
Keruan ia menjadi bingung dan tertegun.
Tjap-sah-nio tidak berhenti, sambil tetap memburu maju ia berseru pula.
"Lekas kembali sini, mungkin sekali mestika kita telah dicuri bocah itu."
Namun Wan-hay mendadak teringat sesuatu, ia pun berseru.
"Tidak, kedua tangan bocah ini kosong melompong, jika Hian-tiat itu dicuri orang tentu pencurinya adalah orang yang lari keluar itu!"
Apakah Hian-tiat atau besi murni mereka tercuri atau tidak Tang Tjap-sah-nio sendiri belum tahu pasti, tapi ucapan Wanhay memang masuk diakah Kalau kedua tangan Kim Tiok-liu tidak membawa sesuatu benda, maka besi mumi itu pasti berada pada seorang lain.
Sebaliknya bila besi mumi itu belum tercuri dan Tjap-sah-nio pergi mengejar tersangka itu, maka ini berarti akan memberi kesempatan kepada Kim Tiok-liu untuk menggerayangi kamarnya.
Begitulah Tjap-sah-nio menjadi ragu-ragu, ia tidak tahu siapakah sebaiknya yang harus diubernya.
Sebelum Wan-hay menggabungkan diri dengan Tjap-sahnio, ini adalah kesempatan baik bagi Kim Tiok-liu untuk menggempur mereka satu persatu.
Cepat ia meraup sesuatu di atas tanah terus diayunkan ke depan sambil berseru.
"Awas, pasir pencabut nyawa kembali datang lagi!"
Sudah tertipu satu kali sudah tentu Tang Tjap-sah-nio tak mau tertipu dua kali, kontan ia memaki.
"Anak keparat, kau ingin menipu ibumu lagi?"
Tak terduga mendadak terdengar suara mendesing yang keras, yang dihamburkan Kim Tiok-liu ternyata bukan pasir, tapi adalah kerikil.
Rupanya yang diraup Tiok-liu dari atas tanah adalah sepotong batu yang terus diremas hancur menjadi kerikil, lalu ditebarkan sebagai peluru disertai tenaga dalam yang kuat, pula sangat jitu Hiat-to yang dia incar, sekalipun di tengah malam buta yang ditimpuk adalah Hiat-to mematikan di atas tubuh sasarannya.
Sebagai seorang tokoh, dari suara mendesingnya senjata rahasia itu Tang Tjap-sah-nio lantas tahu bahwa senjata rahasia itu sukar untuk ditangkap, terpaksa ia memutar pula cambuknya untuk melindungi tubuh sendiri.
Namun begitu karena batu kerikil yang menyambar tiba itu terdiri dari belasan biji sekaligus sehingga dia rada repot.
Jika Tjap-sah-nio masih sanggup menghindarkan diri dari berhamburnya batu kerikil itu, adalah Wan-hay yang konyol.
Sebenarnya Wan-hay juga telah memutar goloknya seperti kitiran untuk melindungi tubuhnya, tapi ia tidak tahan akan tenaga Kim Tiok-liu yang kuat itu, hanya beberapa biji batu kerikil yang kena disampuk jatuh dan tangannya sudah terasa pegal.
Sedikit lena saja 'Kiok-ti-hiat' di bagian lengan terkena sebuah kerikil, goloknya lantas terlepas, menyusul itu ia pun menjerit pula dan jatuh tersungkur.
"Haha, kau bangsat gundul ini bukankah tadi mengatakan hendak membeset kulitku?"
Jengek Kim Tiok-liu tertawa.
"Huh, akan kuingat terus ucapanmu ini, lain kali akan kulakukan menurut resepmu itu pada dirimu, sekali ini biarlah aku mengampuni jiwa anjingmu!"
"Anak kurang ajar, jika berani jangan kau lari!"
Damprat Tjap-sah-nio.
"Jika berani cobalah kejar kemari,"
Jawab Tiok-liu tertawa.
"Huh, masakah aku ada tempo untuk menemani kau? Hian-tiat itu jauh lebih berharga daripada kau, yang kuincar adalah besi mumi itu dan bukan dirimu, buat apa aku tinggal di sini? Hah, kau tidak berani mengejar kemari, baiklah aku tidak menunggu lagi!"
Sesudah puas mengolok-olok lawannya, di tengah suara tertawanya Kim Tiok-liu lantas melayang keluar pagar tembok.
Keruan Tjap-sah-nio sangat murka, tapi apa daya, seorang diri ia pun jeri untuk mengejar Kim Tiok-liu, apalagi Wan-hay yang roboh itupun perlu ditolong lebih dulu, terpaksa ia membiarkan Kim Tiok-liu kabur dengan leluasa.
Sekeluarnya Tiok-liu dari taman Gway-hoat-lim, ternyata bayangan orang tadi sudah menghilang.
Syukur di depan situ hanya terdapat sebuah jalan tunggal, ke arah situlah Kim Tiokliu lantas mengejar.
Tidak lama kemudian, benar juga dilihatnya ada seorang sedang berlari-lari di depan sana, tangan orang itu mengempit sebuah kotak, jelas itulah kotak merah yang dibawa Wan-hay dan Tang Tjap-sah-nio itu.
Perawakan orang itu kurus kecil, memakai baju hijau yang agak longgar dan terlalu panjang sehingga hampir menyentuh tanah.
Di waktu lari tungkak kakinya sampai tidak kelihatan.
Kepalanya memakai kopiah anti angin sehingga telinganya tertutup.
Dandanannya itu menyerupai kaum sastrawan, cuma rada janggal nampaknya.
Namun begitu Ginkangnya ternyata sangat lihai.
Diam-diam Tiok-liu membatin.
"Untung orang itu membawa beban Hian-tiat yang ratusan kati beratnya, bila tidak, mungkin aku akan banyak membuang tenaga untuk bisa menyusulnya."
Rupanya orang itupun sudah merasa di belakangnya ada orang mengejar, ia mempercepat langkahnya, mendadak ia meninggalkan jalan besar dan hendak menyusup masuk ke dalam hutan di sebelah sana.
"He, kawan, jangan kuatir, kita adalah satu kaum!"
Seru Tiok-liu tertawa.
Tak terduga, karena ucapannya orang itu malah berlari lebih cepat lagi.
Dengan Ginkang 'Pat-poh-kan-sian' (delapan langkah mengejar tonggeret), hanya beberapa lompatan kilat saja Kim Tiok-liu telah menyusul sampai di belakang orang itu.
Serunya pula sambil tertawa.
"Kawan, aku sudah memukul mundur pengejar-mu, apakah kau tidak ingin berterima kasih padaku? Cuma, kau pun jangan kuatir, aku tidak bermaksud hendak minta bagian rejekimu."
Merasa tidak sanggup berlari lebih cepat dari Kim Tiok-liu, terpaksa orang itu berhenti dan berpaling.
Kiranya dia me-I makai kerudung muka dari sutra hitam, di bawah sinar bulan yang remang-remang sukar untuk mengenali wajahnya yang asli.
"Kawan satu kaum apa? Siapa kau sebenarnya?"
Demikian kata orang itu dengan dingin.
Orang itu sengaja bicara dengan kasar dan membikin serak suaranya, biarpun Kim Tiok-liu bukan orang Kangouw kawakan, juga tahu perbuatan orang yang sengaja tidak mau memperkenalkan suara aslinya.
Namun begitu suara yang sudah dibikin se-I rak itu toh masih kedengaran cukup nyaring dan enak didengar.
Tiok-liu mengerut kening, pikirnya.
"Mengapa orang ini sengaja berlagak begini dan sengaja merahasiakan dirinya, sampai-sampai suaranya pun sengaja dibuat-buat."
Dengan tertawa segera Tiok-liu berkata sambil menunjuk kotak merah itu.
"Buat apa pura-pura tidak tahu? Apa pekerjaanmu, itulah pekerjaanku. Halia, bukankah kita ini satu kaum?"
Agaknya orang itupun tercengang, cuma dia memakai kerudung sehingga air mukanya tidak kelihatan. Sejenak kemudian baru orang itu menjawab.
"O, kiranya kau sudah tahu barang apa i ini?"
"Sudah tentu,"
Kata Tiok-liu.
"Jika cuma barang berharga biasa saja belum tentu menarik perhatianku. Hehe, sungguh tidak nyana, aku yang mati-matian menempur perempuan keparat itu, tapi kau yang mengeduk keuntungannya."
"Hm, jika demikian, jadi kau pasti akan memperoleh Hiantiat ini?"
Jengek orang itu.
"Benar, sebenarnya aku memang menghendaki benda mestika itu,"
Sahut Kim Tiok-liu tertawa.
"Cuma sekarang kau sudah mendahului aku satu langkah, terpaksa aku anggap sial diriku. Karena kita adalah sobat sekaum, maka aku menjadi tidak enak untuk hitam makan hitam."
Orang itu terdiam sejenak, mendadak ia putar tubuh terus melangkah pergi.
"He, he!"
Seru Tiok-liu sambil memburu.
"Kau ini mengapa tidak kenal aturan? Biarpun aku tidak ingin membagi rejeki padamu, sedikitnya kau mesti mengucapkan terima kasih padaku."
"Biar kukatakan terus terang padamu, Hian-tiat ini sebenarnya....."
"Sebenarnya apa? Mengapa tidak kau teruskan?"
Desak Tiok-liu. Orang itu merandek sejenak, kemudian baru menyambungnya.
"Sebenarnya.....sebenarnya akulah....."
"Hm, sebenarnya kaulah pemiliknya, demikian hendak kau katakan padaku bukan?"
Sela Kim Tiok-liu dengan menjengekl "Tapi, haha, untung aku sudah mengetahui asal-usul Hian-tiat itu J sehingga apapun juga kau tak bisa membohongi aku."
"Apa yang kau ributkan? Ucapanku belum habis, kenapa kau memotong dan salah terima?"
Omel orang itu.
"Yang kumaksudkan adalah sebenarnya aku memang sudah lama mengincar besi murni ini, maka apapun juga aku harus mendapatkannya. Cuma malam ini tanpa sengaja kau memang sudah membantu aku, jika kau ingin diberi terima kasih, maka baiklah aku mengucapkan terima kasih padamu."
Diam-diam Tio Liu mendongkol, masakah berterima kasih saja enggan dan dipaksakan. Maka dengan marah ia lantas memburu maju lagi.
"Kenapa, bukankah aku sudah mengucapkan terima kasih?"
Tegur orang itu.
"Kau pun sudah menyatakan tidak ingin membagi rejeki dariku, lalu buat apa kau terus menguntit diriku?"
Sebenarnya Tiok-liu hendak mendamprat orang itu, tapi segera ia mengurungkan maksudnya yang kerdil itu. Dengan tertawa ia berkata.
"Kau kan belum memberitahukan siapakah kau ini? Sebagai kawan dari satu kaum tiada salahnya jika kita bersahabat lebih karib."
"Kau ini memang suka rewel,"
Sahut orang itu.
"Aku tidak suka punya sahabat yang suka mencari tahu seluk-beluk orang lain seperti kau."
Biarpun orang bersuara ketus, tapi Kim Tiok-liu menjadi lebih bandel, seperti bayangan saja kembali ia membayangi pula orang itu. Mendadak orang itu berhenti lagi dan berteriak dengan gusar.
"Sebenarnya apa kehendakmu?"
"Aku takkan tanya asal-usulmu lagi,"
Sahut Tiok-liu.
"Tapi apakah kau tahu asal-usul Hian-tiat ini?"
"Kalau tahu kenapa dan bila tidak tahu mau apa?"
Jengek orang itu.
"Jika kau tahu, maka seharusnya kau ingin aku mengawani kau."
"Huh, apa-apaan ucapanmu ini?"
"Hian-tiat ini adalah hadiah ulang tahun yang dikirimkan oleh Su Pek-to, Pangtju Liok-hap-pang, kepada Sat Hok-ting, Taylwe-tjongkoan di kotaraja."
"Lalu kenapa?"
"Sekarang besi mestika ini jatuh di tanganmu, apakah Su Pek-to mau tinggal diam begini saja? Sudah tentu dia ingin merebutnya kembali. Padahal jago Liok-hap-pang tidak terhitung banyaknya, semuanya adalah gembong iblis yang kejam puia. Sekarang kau membawa Hian-tiat ini, kukuatir benda ini bukan lagi mestika, tapi adalah bencana bagimu."
"O, pahamlah aku sekarang,"
Kata orang itu.
"Jadi kau ingin melindungi aku. Demikiankah maksudmu?"
"Aku tidak berani berkata demikian. Tapi dengan aku sebagai teman perjalananmu, sedikitnya akan lebih menguntungkan daripada seorang diri menghadapi musuh."
"Hm, banyak terima kasih atas perhatianmu,"
Jengek orang itu.
"Tapi aku tidak punya sanak tidak punya kadang, aku pun Kak pernah memberi manfaat apa-apa kepadamu, buat apa kau ingin melindungi aku? Hehe, jangan-jangan yang kau incar jus-tru adalah Hian-tiat ini bukan?"
Berulang-ulang diolok-olok orang itu, mau tak mau Tiok-liu menjadi marah, katanya.
"Kau ini memang tidak tahu maksud baik orang. Sebenarnya aku tidak sudi, lantaran kau sudah menuduh demikian padaku, maka sekarang tidak bisa tidak aku harus mendapatkannya."
"Nah, apa kataku? Akhirnya kelihatan juga belangmu bukan?"
Sindir orang itu.
"Baiklah, jika kau mampu boleh coba mengambilnya!"
Habis berkata, mendadak kotak merah itu terus dilemparkan kepada Kim Tiok-liu malah.
Sebenarnya orang berkedok itu merasa sangsi dan tidak dapat meraba dari golongan mana Kim Tiok-liu.
Lebih-lebih ia tidak percaya bahwa pemuda muda-belia itu mampu mengalahkan Tang Tjap-sah-nio dan Wan-hay Hwesio.
Malahan ia menyangsikan jangan-jangan Kim Tiok-liu adalah komplotan Tang Tjap-sah-nio.
Karena itu ia sengaja melemparkan kotak merah yang berat itu ke arahnya dengan maksud hendak menjajal sampai dimana kepandaiannya.
Meski perawakan orang berkedok itu kurus kecil, tapi tenaga lemparannya itu ternyata luar biasa.
Besi murni itu ratusan kati beratnya, keruan mirip gugur gunung saja dahsyatnya terus menindih ke atas kepala Kim Tiok-liu.
Namun Tiok-liu tenang-tenang saja, sambil terbahak dengan sebelah tangan saja ia menangkap kotak itu dan berkata.
"Syukur saudara sedemikian murah hati, sekali ini akulah yang harus mengucapkan terima kasih padamu."
Keruan orang itu terperanjat, baru sekarang ia insyaf bahwa kekuatan Kim Tiok-liu masih di atasnya. Tapi ia pun tidak tinggal diam, begitu Tiok-liu angkat langkah segera ia pun mengejarnya.
"Katanya kau tidak sudi bersahabat dengan aku dan aku pun tidak ingin bersahabat dengan kau, Iha buat apa kau mengejar aku?"
Demikian Tiok-liu sengaja mengolok-olok.
"Taruh kotak itu lantas kubiarkan kau pergi!"
Bentak orang itu.
"Hahahaha! Sudah memberi sekarang diminta kembali, halia, sungguh aneh, sungguh menggelikan!"
Seru Tiok-liu tertawa.
"Aku tidak main-main dengan kau!"
Bentak pula orang itu sambil memburu maju dengan tergopoh-gopoh.
"Nah, lekas taruh kotak itu!"
Kim Tiok-liu sengaja hendak menggodanya, maka ia pun balas menjengek sambil menarik muka.
"Aku juga tidak mainmain dengan kau, memangnya kau sangka aku terlalu iseng?"
"Baik, jika begitu jangan kau salahkan aku tidak sungkansungkan lagi padamu,"
Bentak orang itu dengan suara bengis.
"Jika mampu, boleh coba kau merebutnya kembali,"
Ujar Tiok-liu. Belum lenyap suaranya.
"sern"", mendadak sinar perak berkilauan, sebuah cambuk beruntir benang perak menyambar ke arahnya.
"Kembali seorang pemain cambuk pula. Entah bagaimana kepandaiannya dibanding Tang Tjap-sah-nio?"
Demikian pikir Kim Tiok-liu.
Dalam pada itu cambuk lemas itu sudah menyabet tiba selincah ular.
Anehnya arah yang diincar seperti di kanan dan seperti di kiri, tapi juga seperti menuju ke tengah.
Sebagai seorang ahli silat segera Kim Tiok-liu tahu serangan lawan itu sekaligus mengincar tiga tempat Hiat-tonya.
Padahal menutuk Hiat-to dengan menggunakan cambuk yang lemas adalah suatu kepandaian yang sangat sukar dilatih.
Keruan ia rada terkejut, namun ia tidak menjadi gentar.
Ketika cambuk itu tampaknya sudah hampir mengenai tubuhnya, dengan cepat Kim Tiok-liu menggunakan Thian-lopoh-hoat untuk menggeser tubuh, sehingga cambuk lawan menyerempet lewat di atas pundaknya.
Tak terduga cambuk orang itu seakan-akan hidup saja, begitu ujung cambuk melengkung, se-iperti ular saja mendadak bisa membalik kepala, bahkan ujung cambuk lantas menjulur keluar sebuah belati kecil yang tajam kedua matanya, terus menikam ke 'Soan-kiat-hiat' di dada Kim Tiok-liu.
Di bawah serangan aneh musuhnya itu, biarpun Thian-lo-poh-hoat juga sukar menghindarkan tikaman itu.
Di sinilah Kini Tiok-liu memperlihatkan kemahirannya, pada saat berbahaya itu segera ia menggunakan tenaga jarinya yang sakti, sekali menyelentik, dengan tepat ujung cambuk kena diselentik sehingga belati kecil itupun melenceng ke samping, hanya bajunya saja yang tertusuk robek, tapi tidak sampai melukai kulit dagingnya.
Walaupun demikian tidak urung Kim Tiok-liu berkeringat dingin juga.
Dalam pada itu dengan gerak tipu 'Hwe-hong-sau-liu' atau angin puyuh menyapu pohon, berturut-turut tiga kali cambukan berantai dilancarkan pula oleh orang itu.
Karena ujung cambuk bersenjata tajam sehingga permainan cambuknya itupun membawa tipu serangan campuran golok dan pedang.
"Keji benar orang itu,"
Pikir Tiok-liu.
"Aku juga harus memberi sedikit rasa padanya agar dia kenal kelihaianku."
Segera ia mencabut pedang untuk memotong belati yang terpasang di ujung cambuk lawan.
Yang digunakan Tiok-liu adalah Tui-hong-kiam-hoat (ilmu pedang pemburu angin) yang cepat dan lihai.
Tak terduga permainan cambuk orang itupun sangat lincah dan gesit, berulang-ulang delapan kali Tiok-liu tidak mampu menabas cambuknya.
Diam-diam Tiok-liu terkesiap, pikirnya.
"Kekuatan orang ini memang tidak lebih unggul dari Tjap-sah-nio, tapi permainan cambuknya ini terang di atas perempuan itu. Dalam semalam saja aku menemukan dua jago main cambuk yang lihai, boleh di-kata pengalaman yang aneh."
Sebaliknya orang itupun terkejut demi melihat ilmu pedang Tiok-liu yang lihai, katanya dalam hati.
"Ilmu pedangnya sedemikian bagus, tenaganya di atasku pula, jika dia meletakkan Hian-tiat itu pasti aku bukan tandingannya."
Dasar sifat Tiok-liu memang kepala batu dan tidak mudah menyerah, karena orang itu tadi membentaknya supaya menaruh kotak berisi Hian-tiat dan dia tidak mau menurut, jika sekarang ia menaruh kotak itu, biarpun menang bertanding juga kalah muka.
Maka ia lebih suka mengalahkan lawan lebih dulu baru kemudian mengembalikan Hian-tiat itu, tapi kalau disuruh menaruh kotak itu begitu saja sekali-kali ia tidak sudi.
Akan tetapi karena kotak itu berisi benda berat, betapapun Ginkangnya menjadi terpengaruh, gerak-geriknya menjadi tidak terlalu leluasa.
Sedangkan senjata lawan lebih panjang dari pedangnya, mau tak mau Kim Tiok-liu menjadi mendongkol, bentaknya mendadak.
"Baik, coba kita menentukan babak terakhir ini!"
Diam-diam ia mengerahkan tenaga mumi, sedikit pedangnya bergerak segera membawa suara deru angin keras.
Ketika cambuk lawan menyambar tiba, kira-kira satu meter di depannya sudah terguncang pergi oleh angin pedangnya.
Dengan demikian cambuk lawan tidak dapat mengenai tubuhnya lagi, walaupun ia sendiri juga tidak mampu mendesak maju karena membawa benda berat.
Namun begitu ia sudah ber-ada dalam posisi yang tak terkalahkan.
Orang itu menjadi kuatir, ia sadar tenaga dalamnya tidak mampu melawan Kim Tiok-liu, jika bertempur lebih lama lagi tentu dia akan terjungkal sendiri.
Belum lagi ia mengambil haluan lain, sekonyong-konyong Kim Tiok-liu bergelak tertawa dan berseru.
"Yang kau inginkan adalah Hian-tiat ini. Baiklah, sekarang akan kukembalikan papamu asalkan kau mampu menyambutnya!"
Habis berkata, Tiok-liu sengaja mengangkat tinggi-tinggi kotak merah itu dan berlagak hendak melemparkannya.
Keruan orang itu terkejut, maklumlah sekarang sudah diketahuinya bahwa tenaga dalam Kim Tiok-liu jauh di atasnya, jika lesi mumi yang beratnya ratusan kati itu terlempar dari tangan Tiok-liu, kalau kena tertindih mustahil badannya takkan hancur.
Tapi orang itu memang gesit dan cekatan pula, begitu melihat Kim Tiok-liu berlagak hendak menimpukkan kotak itu ke arahnya, cepat ia menggeser ke samping, cambuknya terus menyabet dari samping, ia bermaksud mendahului membelit perge-langan tangan Kim Tiok-liu dengan cambuknya, dengan demikian kotak yang terpegang itu akan jatuh dan menimpa kaki Kim Tiok-liu sendiri.
Tak terduga tipu serangannya itu sudah dalam perhitungan Kim Tiok-liu.
Kotak yang diangkat tinggi-tinggi itu hanya gerak gertak sambal belaka dengan maksud memancing tipu serangan yang dilakukan orang itu sekarang.
Dalam keadaan sama-sama cepatnya.
"sret", sedikit Tiok-liu menarik, saat itu pula cambuk lemas orang itupun sudah terlibat di atas kotak merah. Ketika orang itu menarik cambuknya, kotak yang terpegang Kim Tiok-liu itu sedikitpun tidak bergeming, yang terdengar hanya suara "keriat-keriut", yaitu suara makin kencangnya lilitan cambuk lemas orang itu di atas kotak merah ketika Kini Tiok-liu dengan pelahan-lahan menarik ke belakang. Saking kencangnya lilitan itu sampai orang itu ikut terseret maju dua tiga langkah. Dalam keadaan begitu jika lilitan cam buknya tidak segera dilepaskan, akhirnya cambuknya pasti akan putus dan orang itupun tentu akan jatuh menyelonong ke dalam pelukan Kim Tiok-liu. Lekas orang itu melemaskan tubuhnya dan mendoyong ke depan untuk mengendurkan tarikan cambuknya, habis itu dengan cepat ia menyendal sehingga cambuknya melepaskan lilitannya Melihat cara orang melepaskan cambuknya yang indah itu, diam-diam Tiok-liu merasa kagum juga.
"Hahaha! Maksudku hendak memberikan besi murni ini kepadamu, tapi kau sendiri toh tidak mau menerimanya, maku jangan salahkan aku lagi,"
Ejek Tiok-liu sambil bergelak tertawa. Orang itu tidak bersuara apa-apa, ia putar tubuh terus tim? gal pergi. Tiok-liu menjadi tidak enak hati, lekas ia menyusulnya, ka tanya dengan tertawa.
"Aku hanya berkelakar dengan kau. Jika kau benar-benar menginginkan Hian-tiat ini, aku rela menyerahkannya padamu."
Sudah tentu orang itu ridak percaya omongan Kim Tiok-liu, tanpa bersuara ia meneruskan langkahnya tanpa menoleh pula.
"He, he, sekali ini aku memang berkelakar, eh, tidak, tidak, aku tidak berkelakar, tapi benar-benar akan memberikan Hiantiat ini padamu!"
Seru Tiok-liu.
Orang itu merasa tidak unggulan melawan Kim Tiok-liu, pula tidak rela dipermainkan olehnya, maka ia tetap tidak menggubris pada ocehan Kim Tiok-liu, bahkan mempercepat langkahnya ke depan.
Kim Tiok-liu membawa beban ratusan kati beratnya, mau tak mau larinya menjadi lambat, meski Ginkangnya lebih unggul daripada orang itu, tapi sekarang ia menjadi ketinggalan, makin lama makin jauh jaraknya.
Dasar watak muda, diam-diam Kim Tiok-liu berpikir.
"Baik, coba kita berlomba Ginkang saja. Sekalipun hari ini tak dapat menyusul kau, tentu juga besok akan tersusul."
Begitulah ia lantas menguber semakin kencang.
Diam-diam orang itu mengeluh, kelakuan Kim Tiok-liu benar-benar mengherankan dia.
Sudah memperoleh Hian-tiat itu, tapi malah terus menguntitnya tak mau berhenti, entah apa maksud tujuan yang sebenarnya.
Lantaran pikiran begitu, ia menjadi tambah kuatir, segera ia mengeluarkan segenap kemahiran Ginkangnya dengan harapan akan semakin jauh meninggalkan Kim Tiok-liu dan akhirnya terlepas dari kintilannya.
Waktu orang itu menyusup masuk ke dalam hutan, tanpa pikir Kim Tiok-liu terus mengejarnya.
Tidak lama kemudian bayangan orang itu mulai samar-samar dan hampir menghilang di kejauhan.
Lekas Kim Tiok-liu mempergiat langkahnya.
Di tengah hutan yang lebat itu, hanya beberapa kali membelok saja bayangan orang itu lantas lenyap dari pandangan Kim Tiok-liu.
"Celaka, jika dia main kucingkucingan di dalam hutan ini tentu aku akan sukar menemukan dia,"
Demikian pikirnya. Belum lagi lenyap pikirannya, sekonyong-konyong terdengar suara orang membentak.
"Berhenti di situ! Mau apa kau? Siapa namamu?"
Semula Kim Tiok-liu mengira bentakan itu ditujukan kepadanya, ketika ia memandang ke kanan dan ke kiri ternyata tiada seorang pun.
Rupanya suara itu berkumandang dari balik tanah tanjakan sana.
Maka pahamlah dia bahwa bentakan itu tentunya ditujukan kepada orang berkedok yang sedang diubernya itu.
Tiok-liu menjadi geli sendiri, pikirnya.
"Mungkin adalah kawanan begal biasa. Ilmu silat orang itu tidak lemah, bangsat kawanan begal itu rupanya lagi sial. Cuma dengan dihadangnya orang itu menjadi menguntungkan aku. Baiklah, akan kulihat cara bagaimana dia membereskan kawanan begal ini."
Segera ia memburu lebih dekat, lalu meloncat ke atas pohon besar, dari situlah ia memandang jauh ke depan sana.
Saat itu fajar sudah menyingsing, sang surya baru saja muncul sehingga keadaan dapat dilihat dengan jelas.
Nyata ada empat orang laki-laki mengelilingi orang berkedok itu.
Seorang di antaranya yang bergodek agaknya adalah pemimpinnya, terdengar dia sedang membentak.
"Kau bocah ini apakah tuli? Kenapa tidak menjawab pertanyaan kami tadi?"
Seorang lagi yang berwajah kekuning-kuningan lantas membentak juga.
"Lekas mengaku, apakah hadiah ulang tahun yang dikirim oleh Liok-hap-pang ke kotaraja itu berada padamu?"
Orang berkedok itu tidak membuka suara, sepasang matanya mengerling tajam dari balik kain kedoknya, hanya kepalanya saja yang menggeleng pelahan.
Lalu seorang laki-laki setengah tua berwajah putih dan berbaju hijau panjang membuka suara.
"Kudengar besi murni itu ada ratusan kati beratnya, agaknya badan orang ini tidak membawa benda seberat itu."
Orang keempat dari kawanan begal itu berbadan dnggi besar, dengan suara kasar ia menanggapi.
"Peduli dia membawa besi mestika itu atau tidak, sekali sudah kita pergoki dia, kita harus menggeledahnya."
Mendengar ucapan keempat orang itu, baru sekarang Kim Tiok-liu tahu bahwa mereka itu bukan kawanan begal biasa, pikirnya.
"Besar amat nyali kawanan bangsat ini sehingga berani mengincar barang hantaran Liok-hap-pang."
Anehnya, biarpun keempat orang itu membentak dan memaki, namun orang berkedok itu tampak tenang-tenang saja dan tidak membuka mulut. Laki-laki godek itu rupanya orang Kangouw yang sudah "
Erpengalaman, ia pikir lawan tentu mempunyai andalan sesuatu, kalau tidak rasanya tak mungkin sedemikian takabur sikap-ya.
Segera ia mengedip!
kawan-kawannya agar jangan buru-buru turun tangan, dengan nada yang lebih lunak ia berkata pula epada orang berkedok.
"Kau ini sobat dari kalangan mana, apa da hubungan dengan Liok-hap-pang, coba lekas terangkan ke-ada kami. Asal kau bicara terus terang, tentu kami pun takkan membikin susah padamu tanpa alasan."
Walaupun ia telah berganti suara, tapi orang berkedok itu tetap diam saja. Sudah tentu laki-laki godek itu menjadi kurang senang, dengan mengerut dahi ia menjengek.
"Sobat, janganlah kau lebih suka minum arak paksa daripada arak suguhan. Biasanya orang lain ingin bergaul dengan kami saja tidak gampang. Mungkin sekali kau tidak kenal kami. Tapi, kukira sedikitnya kau sudah pernah mendengar nama kami."
Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung sambil menunjuk laki-laki berbadan tinggi besar tadi.
"Nah, biar aku memperkenalkan kami padamu. Ini adalah Pangtju Pek-houpang (gerombolan Harimau Putih) Toh Tay-giap."
Menyusul ia menunjuk laki-laki muka putih.
"Dan ini adati Hiangtju dari Ang-eng-hwe (perkumpulan Bunga Merah) Kiong Peng-hoan. Laki-laki yang berwajah kekuning-kuningan seperti orang penyakitan itu tanpa diperkenalkan sudah bicara terlebih dulu.
"Dan Lotju (bapakmu) duduk tidak ganti nama, jalan tidak mengubah she, pertama bukan Pangtju, kedua juga bukan Hiangtju. Tapi, hehehehe, aku adalah begal yang membunuh orang tidak pernah berkedip. Lotju adalah The Hiong-to dari Ek-pak."
Tampaknya dia berpenyakitan, tapi suaranya ternyata nyaring seperti bunyi genta.
Dengan menyebut namanya sendiri ia mengira orang berkedok itu tentu akan gemetar ketakutan.
Siapa duga orang berkedok itu tetap tenang-tenang saja seperti tidak pernah kenal nama begal besar itu.
Malahan ujung mulurnya di balik kain kedok sutra itu tampak tersenyum menghina.
Akhirnya laki-laki godek itu memperkenalkan dirinya sendiri.
"Dan Tjayhe adalah Pangtju Djing-liong-pang (gerombolan Naga Hijau) Ko Tay-seng. Dari Ginkangmu yang tinggi tadi, kukira kau juga bukan kaum keroco di dunia Kangouw, sedikitnya nama kami berempat tentu sudah pernah kau dengar. Nah, di depan dewa tidak perlu berdusta. Sekarang silakan kau mengaku terus terang saja."
Mendengar nama-nama dan kedudukan keempat orang itu, sampai Kini Tiok-liu ikut terkejut Kiranya Djing-liong-pang dan Pek-hou-pang yang disebut itu adalah gerombolan-gerombolan terkenal di Kangouw, sedangkan Ang-eng-hwe adalah suatu organisasi gelap yang sama kuatnya dengan Liok-hap-pang, Totjg (pemimpin) Angeng-hwe bernama Kongsun Hong, di bawahnya ada delapan Hiangtju (hulubalang) yang semuanya memiliki kepandaian tinggi.
Dan Kiong Peng-hoan yang berwajah putih bersih tanpa jenggot itu adalah kepala dari kedelapan Hiangtju itu.
Mengenai bandit besar The Hiong-to yang berwajah penyakitan itu, memang seorang penjahat yang membunuh orang seperti memotong sayur sesuai dengan pengakuannya sendiri.
Baru beberapa hari yang lalu Kim Tiok-liu mendengar nama-nama mereka itu dari Tan Thian-ih.
Rupanya Thian-ih menganggap Tiok-liu baru datang di daratan dan belum paham seluk-beluk dunia Kangouw umumnya, maka secara luas dia menceritakan segala sesuatunya termasuk jago-jago dari kalangan Hek-to dan pemimpin-pemimpin gerombolan yang terkenal pada masa itu.
Anehnya, biarpun keempat gembong itu sudah memberitahukan nama mereka, toh orang berkedok itu masih tetap diam saja, paling-paling cuma manggut-manggut pelahan saja secara acuh tak acuh.
Sudah tentu sikap angkuhnya ini sangat menyakitkan hati keempat orang pertama.
Dengan gusar The Hiong-to lantas memaki.
"Anak kurang ajar! Buat apa Ko-toako banyak bicara lagi dengan dia? Bekuk dia dan geledah saja badannya."
Sebenarnya orang berkedok itu bukan sengaja ingin bersikap angkuh dan tidak mau bicara, soalnya ia pun kuatir bilamana ia membuka suara, seketika rahasianya akan terbongkar.
Sebab orang berkedok itu bukan cuma mendengar nama mereka, bahkan kenal dengan mereka.
Jadi di dalam hati sebenarnya orang berkedok itupun sangat gelisah meski sikapnya tetap angkuh, diam-diam ia mencari jalan untuk meloloskan diri.
Ia tahu keempat orang itu adalah lawan-lawan tangguh, namun dalam keadaan kepepet, di depan terhadang, dari belakang ada pengejar, mau tak mau ia terpaksa harus turun tangan lebih dulu.
Begitulah maka pada waktu The Hiong-to selesai bicara, tiba-tiba pandangannya menjadi silau, sinar perak berkelebat.
Cambuk beruntir benang perak orang berkedok itu menyabet ke arahnya.
Kontan The Hiong-to mengerang kesakitan, kiranya punggungnya telah termakan.
Sekalipun ia memiliki ilmu Kimtjiong-tok yang kebal, tapi cambukan itu benar-benar tidak ringan, sehingga kain bajunya robek, namun kulitnya tidak sampai lecet, hanya sejalur bekas cambukan itu tertinggal di punggungnya.
Dengan geram The Hiong-to lantas balas menghantam dc ngan kedua telapak tangan.
Namun orang berkedok itu sang*; gesit, sekali cambuknya disendai, kembali ia menyabet pula M arah Ko Tay-sing.
Yang digunakan adalah gerakan 'Sok-ai pian-hoat', ilmu cambuk pengunci leher, jika leher Ko Tay-sini sampai terlilit oleh cambuknya pasti akan mati tercekik.
Ko Tay-sing memakai senjata Long-ge-pang, toya bergigi serigala yang panjangnya hampir dua meter.
Serangan mendadak tadi tidak membuatnya gugup, ia hanya berjongkok ke bawakj berbareng toyanya ditegakkannya.
Dalam keadaan demikian jika cambuk orang berkedok tetap menyambar tiba, maka yang akan terlilit adalah toya yang penuh bergigi itu.
Di bawah keroyokan empat jagoan sudah tentu orang berkedok itu tidak mau mengadu jiwa dengan mereka.
"Serr", dengan cepat cambuknya berganti arah, yang diserang mendadak sekarang adalah Kiong Peng-hoan, jago dari Angeng-hwe. Hampir pada saat yang sama terdengarlah suara gemuruU kiranya pukulan The Hiong-to tadi menghantam roboh sebatang pohon cemara. Nyata yang dia latih adalah sebangsa Tiat-sah tjiang (pukulan pasir besi) yang lihai. Namun sambaran cambuk orang berkedok kepada Kionp Peng-hoan itupun tak kalah lihainya, belati tajam di ujung cam buk juga sudah menjulur keluar dan mengincar tenggorokad Kiong Peng-hoan.
"Bagus!"
Seru Kiong Peng-hoan sambil tersenyum. Bera bareng sinar pedang pun berkelebat, pada saat yang sangat tepai terdengarlah suara "ering"
Sekali, tahu-tahu belati di ujung camH buk orang berkedok itu mengkeret kembali.
Kiranya pedang Kiong Peng-hoan itu mengincar dengan tepat belati lawan terus ditabaskan.
Jika belati itu sampai tertebas tentu akan patah.
Karena itu lekas orang berkedok itu mene kan pesawat cambuknya sehingga belati kecil itu mengkeret ke dalam.
Setelah berhasil dengan langkah pertama, segera Kiong Peng-hoan mendesak maju, pedangnya terus memotong mengi-fkuti tepi cambuk lawan, maksudnya hendak memaksa orang berkedok tidak sempat ganti serangan, tapi lebih dulu harus menyelamatkan jari tangan yang menggenggam cambuk itu.
Diam-diam Kim Tiok-liu memuji, pikirnya.
"Meski Kiong iPeng-hoan itu cuma seorang Hiangtju, tapi jauh lebih lihai daripada seorang Pangtju Djing-liong-pang. Ilmu pedangnya itu benar-benar sangat ganas dan cukup untuk menandingi Toat-beng-kiam-hoat yang tersohor dari Bu-tong-pay."
Dalam pada itu orang berkedok tahu-tahu sudah mengitar ke samping untuk menghindarkan pedang Kiong Peng-hoan tadi, gerakan dan permainan cambuknya ternyata sama-sama indah sekali.
Diam-diam Kim Tiok-liu memuji pula dan mengakui kepandaian orang berkedok dalam hal mematahkan serangan lawan itu, andaikan dirinya juga belum tentu dapat mengelakkan diri dengan cara sedemikian bagus.
Sementara itu dengan cepat luar biasa orang berkedok ber-|anti sasaran lagi, cambuknya menyabet ke arah Toh Taygiap, Pangtju Pek-hou-pang.
Toh Tay-giap memakai senjata sepasang gaetan yang sangat berguna untuk mengunci dan merampas jpenjata golok atau pedang lawan.
Tapi cambuk perak yang digunakan orang berkedok itu cuma sebesar jari, gerakannya cepat fan lincah pula, maka sekali mengacip dengan gaetannya, terdata Toh Tay-giap tidak berhasil mengunci senjata lawan.
Malahan mendadak terdengar suara "plok", berbalik cambuk lawan u tepat menyabet di punggungnya.
Toh Tay-giap memakai baju rangkap tebal, hanya baju luar saja yang robek, tapi tidak sampai terluka.
Namun begitu sebagai ieorang Pangtju, bilakah Toh Tay-giap pernah mengalami ke-cundang seperti ini?
Keruan ia berjingkrak murka dan berteriak, TKo-toako marilah kita binasakan bangsat cilik ini, peduli dia pembawa Hian-tiat atau tidak, mampuskan dia dulu urusan belakang!"
Ko Tay-sing adalah Suheng Toh Tay-giap, sejak tamat dari perguruan, mereka berdua mengepalai dua gerombolan yang berpengaruh di dunia Kangouw.
Namun Ko Tay-sing lebih sabai daripada Toh Tay-giap, dengan tersenyum ia menjawab.
"Jangat terburu napsu, Toh-hiante, bocah ini takkan mampu lolos. Lebih baik kita tangkap dia hidup-hidup untuk ditanyai keterangan s* perlunya."
Walaupun berkata demikian, tapi mengingat kedua kawaffj nya dalam sekejap saja sudah kena cambuk lawan, mau tak mau Ko Tay-sing rada jeri dan ragu-ragu juga.
Segera ia ganti siasat, mereka mengepung dan maju mundur bergantian, tidak berani terlalu mendekat lagi.
Sebabnya cambuk orang berkedok itu dapat mengambil ke* untungan, pertama-tama adalah berkat gerak-geriknya yang lin-cah dan gesit, permainan cambuknya memang indah.
Kedua ada-lah lantaran serangannya mendadak dan tak tersangka oleh la-wan, sebab itulah ia mampu menyerang keempat pengeroyoknya secara berturut-turut dan masih memperoleh keuntungan.
Namun begitu juga terbatas demikian saja keuntungan yang dia peroleh, untuk mengalahkan keempat lawan sudah tentu bukan pekerjaan yang mudah.
Kalau bicara kepandaian sejati melulu Kiong Peng hoan saja mungkin masih di atasnya.
Seperti tadi waktu dia me-nyerang, Kiong Peng-hoan hampir saja yang kecundang.
Begitulah dengan cara mengepung serta bertempur dengan hati-hati dan sabar, pelahan-Iahan keempat orang itu mempersempit lingkaran kepungan mereka, dengan demikian orang berkedok itu menjadi semakin payah, Ginkangnya semakin sukar dikembangkan.
Namun dengan nekat, beruntun orang itu masih mampu mematahkan beberapa kali serangan Kiong Peng-hoan, hampir berbarengan menangkis gaetan Toh Tay-giap, mendesak mundur pukulan The Hiong-to serta menyampuk toya Ko Taysing.
"Permainan cambuk yang bagus!"
Seru Kiong Peng-hoan memuji. Mendadak ia melangkah maju, ujung pedangnya menusuk ke muka orang berkedok itu.
"Srer", tahu-tahu kedok kain sutra tipis itu kena digores robek oleh pedangnya, tapi sedikitpun tidak melukai sasarannya. Saking senangnya ketika kain penutup muka itu robek, Kiong Peng-hoan lantas bergelak tertawa dan berkata.
"Seorang laki-laki sejati kenapa mesti main sembunyi kepala dan tutup muka segala? Apa halangannya kami melihat wajahmu yang sebenarnya?"
Kiranya Kiong Peng-hoan rada tinggi hati, ia merasa tidak berharga memperoleh kemenangan dengan cara mengeroyok, maka dia hanya merobek kedok orang tanpa melukai.
Tapi sesudah kain kedok itu terobek, seketika Kiong Peng-hoan tidak dapat tertawa lagi.
Begitulah ketika Kiong Peng-hoan menusukkan pedangnya, berbareng Toh Tay-giap juga menyerang, hampir pada detik yang sama gaetannya juga telah merobek baju lawan sebelah pinggang.
Seperti juga Kiong Peng-hoan, meski berhasil serangannya, tapi berbalik terkejut malah.
Kiranya muka asli orang berkedok itu bukanlah 'laki-laki sejati' sebagaimana dugaan Kiong Peng-hoan, tetapi adalah wa-.
ah.
cantik seorang wanita muda.
Dengan jelas Kim Tiok-Liu dapat mengikuti hal itu dari tempat persembunyiannya di atas pohon, baru sekarang ia sadar.
Pantas orang itu memakai kedok dan berbaju longgar serta panjang sehingga kakinya yang kecil tidak kelihatan, rupanya maksudnya untuk menutupi penyamarannya.
Setelah mengenali siapa lawannya, Kiong Peng-hoan dan kawan-kawannya menjadi tertegun dan berseru.
"He, kau adalah nona Su! Maaf, jika kami berlaku kasar padamu!"
Terdengar nona itu menjengek.
"Hm, kalian empat laki-laki mengeroyok aku seorang perempuan, kalian malu tidak."
Mendadak Toh Tay-giap berkata dengan suara berat.
"Toako, urusan sudah telanjur, sekalian kita....."
"Kau mau apa?"
Jengek nona cantik itu.
"Baiklah, jika be rani boleh coba bunuh saja diriku. Sudah tahu siapa aku, kau masih berani kurang ajar, mustahil kakak takkan menghajar adai padamu."
Kiranya nona itu tak lain tak bukan adalah Su Ang-ing, adik perempuan Su Pek-to, Pangtju Liok-hap-pang yang berpengaruh dan tersohor itu.
Walaupun keempat orang itu bermaksud merebut hadiali ulang tahun yang dikirim oleh Liok-hap-pang kepada komandan pasukan bayangkara, tapi mereka sama sekali tidak menduga akan kebentur adik perempuan Su Pek-to sendiri.
Soal merebut Hian-tiat dan mesti bermusuhan dengan Liokhap-pang masih belum terlalu gawat, sebab di kalangan Hekto adalah soal biasa hitam makan hitam, tapi kalau Su Ang-ing dilukai, hal ini berarti mereka akan mengikat permusuhan selamanya yang tak terhapuskan dengan Su Pek-to.
The Hiong-to lantas berkata.
"Permusuhan ini betapapun sudah terjadi, aku sih tidak ada artinya, tapi kalian bertiga adalah Pangtju dan Hiangtju, jika bocah ini dilepaskan, apakah orang Kangouw tidak akan mengatakan Djing-liong-pang, Pek-Liong pang, Pek-hou-pang dan Ang-eng-hwe kalian takut semua kepada Su Pek-to dengan Liok-hap-pangnya?"
Dasar bandit, kedatangan The Hiong-to ke daerah Tiong goan memangnya bermaksud mengacau kalangan Hek-to, dengan demikian ia dapat menangkap ikan di air keruh.
Apalagi dia tadi kena dicambuk sekali oleh Su Ang-ing, rasa dongkol ini masih belum terlampiaskan.
Sebab itulah ia sengaja mengeluarkan kata-kata yang bersifat menghasut.
"Benar, sekali berbuat jangan kepalang tanggung,"
Kata Ku Tay-sing dengan menggertak gigi.
"Yang kita tuju adalah Liok hap-pang, maka peduli apa dia ini siapa. Bekuk dulu dara ini baru merebut lagi Hian-tiat itu. Dengan kedua saudara ini masakah Su Pek-to berani main gila pada kita?"
"Betul, jalan inilah yang paling baik,"
Seru Toh Tay-giap tertawa.
"Terpaksa Su Pek-to harus berdamai dengan kita, malahan jika dia minta damai belum tentu kita mau meluluskan permintaannya secara mudah. Bisa jadi kita dapat menelan sekalian Liok-hap-pangnya ke pihak kita. Nah, Kionghiangtju, sekarang soalnya hanya tergantung kau."
Ucapan The Hiong-to yang menghasut tadi rupanya menusuk perasaan Kiong Peng-hoan, sebab Ang-eng-hwa dan Liok-hap-pang tergolong dua organisasi besar yang sama kuatnya di dunia Kangouw.
Jika sekarang Su Ang-ing dilepaskan begitu saja, tentu orang-orang Kangouw akan menganggap Ang-eng-hwa takut kepada Liok-hap-pang dan ini berarti merendahkan derajat Ang-eng-hwa sendiri.
Apalagi ketiga kawannya sudah tegas menyatakan siap mengikat permusuhan dengan Liok-hap-pang, ia sendiri terang kalah suara.
Setelah mempertimbangkan untung ruginya, pada akhirnya Kiong Peng-hoan berkata.
"Nona Su, kau menggertak aku dengan nama kakakmu, sekarang aku terpaksa harus membikin susah padamu."
Ko Tay-sing menjadi girang, serunya.
"Bagus, kita berempat sudah jelas ada rejeki sama dibagi, ada susah sama dipikul. Marilah kita maju beramai-ramai, mungkin Liok-happang akan mendatangkan bala bantuan, kita lekas bekuk dia!"
Karena sudah nekat dan siap akan mengikat permusuhan dengan Su Pek-to, maka sekaligus mereka lantas menerjang maju, serangan mereka bertambah ganas.
Di bawah kerubutan sengit itu Su Ang-ing menjadi kerepotan, meski ia sudah mengeluarkan segenap kepandaiannya Mendadak pedang Kiong Peng-hoan menusuk dari depan.
"serr", cambuk Su Ang-ing cepat menyampuk, meski serangan maut Kiong Peng-hoan itu dapat ditangkis, tapi bagian bawah iganya menjadi luang. Rupanya sebelumnya Kiong Peng-hoan sudah memperhitungkan kemungkinan ini, maka tanpa pikir lagi ujung pedangnya lantas berputar ke bawah untuk menusuk Ih-gi-hiat di bagian iga Su Ang-ing. Tampaknya sukar bagi Su Ang-ing untuk menghindarkan sukan Kiong Peng-hoan. pada detik terakhir itulah sekonyongorryong Kiong Peng-hoan mendengar suara angin menyambar, bias ada senjata rahasia yang menyambar ke arah iganya juga. Ilmu pedang Kiong Peng-hoan sudah sampai tingkatan ternggi dan dapat dimainkan sesuka hati, maka sedikit menggeser angkah, berbareng pedangnya menebas ke belakang sehingga mata rahasia yang menyambar tiba itu terbelah menjadi dua. Kiranya adalah sebiji buah cemara. Keruan Kiong Peng-hoan terkejut.
"Orang kosen darmaakah, silakan tampil ke muka!"
Bentaknya.
Belum lenyap suaranya, Kim Tiok-Liu sudah bersuit pan-g dan melompat turun ke tengah kalangan, serunya tertawa, awanan bandit yang sudah buta, sudah lama aku berada di sini, kenapa kalian tidak tahu?
Kalian berempat mengeroyok se-g perempuan, sudah sejak tadi aku merasa muak!"
"Bagus, jadi kau mau menangguk air keruh ini? Lekas beritahukan namamu?"
Teriak Ko Tay-sing.
"He, Toako, lihatlah apa yang dia bawa itu!"
Tiba Toh Taygiap berseru. Kim Tiok-Liu lantas mengangkat kotak merah yang dibawanya itu, katanya dengan dingin.
"Kau peduli siapa aku ini? Yang kalian inginkan adalah Hian-tiat ini bukan? Nah barangnya berada di sini, tergantung kalian mampu mengambilnya atau tidak?"
Sekali kotak merah itu diperlihatkan, seketika perhatian keempat orang itu berpindah, sasaran yang hendak mereka gempur pun segera berganti.
Sekali menggerung segera Ko Tay-sing mendahului menerjang maju.
"Baik, terimalah mestika ini!"
Seru Tiok-liu dengan tertawa sambil mengangsurkan kotak merah itu ke depan.
Bobot besi murni itu ratusan kati beratnya, toya bergigi serigala yang dipakai Ko Tay-sing sebenarnya juga senjata berat, lapi dibandingkan Hian-tiat itu menjadi tiada artinya lagi.
Maka begitu terbentur, kontan Long-ge-pang terlepas dari tangan Ko Tay-sing dan patah menjadi dua di atas udara.
Tangan Ko Tay-sing sampai lecet berdarah, keruan kagetnya bukan buatan.
Tanpa senjata dengan sendirinya ia tidak berani bertempur lagi, lekas ia mundur teratur.
Toh Tay-giap tidak tinggal diam, sepasang gaetnya berge rak.
cepat ia maju menolong sang Suheng.
Namun Su Ang-ing juga tidak mu menganggur.
"Roboh saja kau!"
Bentaknya. Saat itu Toh Tay-giap sedang berlari lewat di samping Su Ang-ing, tapi dengan cambuknya yang panjang.
"tarrr", dengan tepat Toh Tay-giap kena dipecut olehnya. Sekuatnya Toh Tay-giap melompat ke samping untuk menjauhi jarak capai cambuk lawan. Segera terasa dengkulnya panas sakit, kiranya tulangnya retak tersabet cambuk Su Ang-ing. Untung Toh Tay-giap me yakinkan Gwakang yang kuat, ia terhuyunghuyung dan tidak sampai jatuh. Namun begitu sebelah kakinya sudah cidera, terang tidak sanggup bertempur lagi. Ko Taysing yang juga kehilangan senjata menjadi malu, kedua saudara seperguruan itu lantas berjalan pergi dengan saling memayang. Dalam pada itu Kiong Peng-hoan menyambuti cambuk Su Ang-ing. Di sebelah sana Kim Tiok-liu juga memperoleh lawan lain, yaitu The Hiong-to, kontan kotak merahnya disodokkan ke depan. Tapi sedikit berjongkok, dapatlah The Hiong-to mengelakkan diri, berbareng pukulan pasir besi yang kuat lantas menghantam. Begitu dilihatnya telapak tangan lawan kehitam-hitaman, dengan tertawa Tiok-liu berkata.
"Eh, kiranya kau punya Tiatsah-tjiang berbisa pula. Jika aku tidak kena kau pukul tentu kau akan mengira aku jeri kepada pukulanmu."
Secepat itu pula Kim Tiok-liu lantas menarik kembali kotak merah berisi Hian-tiat itu. berbareng telapak tangan kiri juga memukul ke depan.
"Plak", kedua tangan saling beradu. The Hiong-to merasa telapak tangannya seperti disayat-sayat, sakitnya tidak kepalang. Sambil mengerang The Hiong-to melompat mundur. Waktu telapak tangan sendiri diperiksa, ternyata sudah berlubang dan mengucurkan darah hitam. Kiranya pada waktu mengadu tangan, selain memunahkan I tenaga pukulan lawan, berbareng Kim Tiok-Liu menggunakan jari untuk menjentik telapak tangan lawan dengan 'It-tji-sian-tkang' (ilmu tenaga jari sakti), sehingga pukulan The Hiong-to yang berbisa itu juga dipunahkan. Walaupun tidak sampai cacad, tetapi untuk bisa memulihkan ilmu pukulannya yang berbisa itu sedikitnya The Hiong-to harus berlatih sepuluh tahun lebih. Di antara keempat jagoan Hek-to itu sekarang hanya tertinggal Kiong Peng-hoan saja. Dengan tertawa Kim Tiok-Liu berkata.
"Seorang tamu tidak perlu merepotkan dua orang tuan rumah. Nona Su, biarlah aku membereskan dia sekalian."
Segera Su Ang-ing menarik cambuknya, sedangkan Kiong eng-hoan lantas membentak.
"Lihat serangan!"
Segera serangannya ganti sasaran ke arah Kim Tiok-Liu.
"Sebelum merasakan ilmu pedangku, sesudah kalah kau tentu akan penasaran,"
Kata Tiok-liu tertawa.
"Sret", Kim Tiok-Liu mencabut pedangnya, lalu menangkis dan balas menyerang secepat kilat.
"Bagus!"
Seru Kiong Peng-hoan dengan rada terkejut. Segera tipu serangannya berubah, pedangnya melingkarlingkar, sinar pedangnya bergelombang susul menyusul menyambar ke pdepan.
"Tidak jelek juga kau punya ilmu pedang ini!"
Tiok-liu balas memuji dengan tertawa.
Secepat itu pula pedangnya menusuk lurus ke depan, terlihatlah satu jalur sinar perak menembus ke tengah lingkaran sinar pedang lawan.
Jurus 'Liong-bun-samtiap-lang' atau ombak tiga gelombang di pintu naga, yang dilontarkan Kiong Peng-hoan seketika dipatahkan pula oleh Kim Tiok-Liu.
"Ada ubi ada talas, sudah diberi harus dibalas. Sekarang kau pun lihat aku punya,"
Bentak Kim Tiok-liu.
"Sret-sret-sret", sekaligus ia pun melancarkan serangan kilat susul-menyusul. Terpaksa Kiong Peng-hoan mengeluarkan segenap kemahirannya untuk melayani, namun setiap serangannya selalu didahului oleh Kim Tiok-Liu sehingga dia hanya mampu menangkis saja tanpa bisa menyerang lagi. Padahal sebelah tangan Kim Tiok-liu membawa kotak yang berisi benda berat, maka mau tak mau Kiong Peng-hoan merasa kagum juga atas ilmu pedang Kim Tiok-liu yang lihai itu.
"Awas!"
Mendadak Tiok-liu membentak. Sinar pedang berkelebat, tahu-tahu kopiah Kiong Peng-hoan terbelah menjadi dua.
"Kau pintar merobek kerudung muka orang, sekarang aku pun menabas kopiahmu!"
Demikian Tiok-liu menambahkan dengan tertawa.
Selama hidupnya Kiong Peng-hoan paling membanggakan ilmu pedangnya, sekarang kopiahnya kena ditabas menjadi dua oleh Kim Tiok-liu, kepalanya terasa silir-silu dingin, cepat ia melompat mundur dan berkata dengan menghela napas.
"Sudahlah, ilmu pedangmu memang bagus, orang she Kiong terima mengaku kalah. Numpang tanya siapakah nama tuan yang mulia?"
"Aku cuma seorang Bu-beng-siau-tjut (prajurit tak bernama, keroco) saja, jika kau ingin menuntut balas, kelak kalau bertemu lagi setiap saat kau boleh memberi petunjuk dan pasti akan kuterima dengan senang hati,"
Sahut Tiok-liu tertawa.
"Baiklah, rupanya tuan tidak sudi berkenalan dengan aku, maka sejak hari ini nama orang she Kiong juga akan terhapus di dunia Kangouw,"
Kata Kiong Peng-hoan.
"Tiga tahun lagi bilamana orang she Kiong ada kemajuan tentu akan coba mencari tuan pula."
Dengan ucapan Kiong Peng-hoan ini, maksudnya selama tiga tahun dia akan tirakat meyakinkan ilmu pedang lebih dalam lagi, a&ar tiga tahun kemudian dapat mengukur tenaga lagi dengan Kim Tiok-liu.
Seperginya Kiong Peng-hoan, kini di tengah hutan hanya tertinggal Kim Tiok-liu dan Su Ang-ing berdua.
Setelah mengalami pertempuran sengit, Su Ang-ing sudah lelah sehingga untuk berlari lagi terang tidak sanggup.
Sekarang wajah aslinya sudah kelihatan, di bawah sorot mala Kim Tiokliu yang tajam itu ia menjadi kikuk.
"Bagaimana, sekarang kau percaya tidak kesungguhanku hendak mengembalikan Mian-tiat ini?"
Kata Tiok-liu dengan tertawa.
"Banyak terima kasih atas bantuanmu,"
Ujar Su Ang-ing.
"Sebenarnya kau ini siapa?"
"Meski kita tidak saling kenal, tapi kita mempunyai seorang teman yang sama,"
Kata Tiok-liu.
"Jika kusebut nama teman itu, mungkin kau takkan mencurigai aku lagi."
Su Ang-ing tampak melengak.
"O, aku menjadi ingin tahu siapa teman yang kau maksudkan itu."
"Juru tulis Liok-hap-pang yang bernama Li Tun,"
Kata Kim Tiok-liu sambil memperhatikan gerak gerik Su Ang-ing.
Dilihatnya Su Ang-ing seperti kaget bercampur girang, tapi tiada tanda kemalu-maluan seorang gadis yang mendadak mendengar nama kekasihnya disebut, sebaliknya dengan sikap wajar antas berkata.
"O, pahamlah aku. Jangan-jangan kau adalah si enbel cilik yang menolong Li Tun di puncak Tji-laysan itu?"
"Eh, kau juga mengetahui kejadian itu?"
Tanya Tiok-liu.
Ya, memang akulah si jembel itu.
Tapi tatkala itu aku tidak se-gaja menolong Li Tun, maka aku tidak berani menerima pujian "Hal itu adalah urusan antara kau dan Li Tun, kau terima ujian itu atau tidak bukan urusanku,"
Kata Su Ang-ing.
"Tapi tadi kau membantu aku, untuk ini aku mesti berterima kasih padamu."
Diam-diam ia merasa heran oleh kata-kata Kim Tiok-liu p.
ia tidak mengerti mengapa Kim Tiok-liu menyebut nama Li Tun kepadanya, bahkan memberi penjelasan tentang apa yang dilakukannya.
Dalam pada itu Kim Tiok-liu berkata pula dengan tertawa.
"Kau sudah berterima kasih tadi, maka tidak perlu banyak berterima kasih pula Tapi berita mengenai Li Tun, kau malah belum bertanya padaku."
Kembali Su Ang-ing melengak pula sejenak baru berkata.
"Baiklah, aku mau bertanya Bagaimana keadaan dia sekarang? Dia bersembunyi dimana?"
"Maaf,"
Jawab Tiok-liu sambil mengangkat bahu.
"Aku cuma tahu dia tidak kurang suatu apapun ketika berpisah. Mengenai beritanya lebih lanjut aku tidak tahu."
Su Ang-ing mengerut kening, pikirannya.
"Orang ini bicara dengan plintat-plintut, jangan-jangan rada sinting?"
Lalu ia berkata "Jika kau tidak tahu beritanya mengapa kau ingin aku bertanya padamu?"
"Memangnya apa kau tidak memikirkan Li Tun? Menurut akal sehat sepantasnya kau bertanya padaku bukan?"
Sahut Tiok-liu tertawa.
"Mengenai aku tahu atau tidak keadaannya adalah soal lain. Jika kau tidak bertanya padaku, darimana kau akan mengetahui aku tahu atau tidak keadaan Li Tun?"
"Ya beralasan juga ucapanmu,"
Ujar Su "Ang-ing tertawa. Walaupun begitu diam-diam ia merasa Kim Tiok-liu ini terlalu ceriwis.
"Nah, kau pun percaya omonganku beralasan bukan? Mengenai Li Tun.....Eeh, masih ada yang hendak kukatakan, kenapa kau lantas mau pergi? Apa kau tidak memikirkan keselamatan Li Tun?"
"Ya aku memang memikirkan keselamatannya. Tadi aku sudah bertanya dan kau tidak tahu. Maka boleh silakan saja maaf, aku tidak dapat tinggal lebih lama di sini."
"Tidak, tidak, masih ada yang akan kukatakan. Meski aku tidak tahu dimana beradanya Li Tun, tapi kawan-kawanku di dunia Kangouw sangat banyak, aku dapat bantu mencarikan kabarnya."
"Tidak perlu lagi, aku sendiri dapat mencari kabarnya"
Habis berkata segera Su Ang-ing hendak melangkah pergi pula.
"He, nanti dulu!"
Seru Tiok-liu.
"Apalagi? Tapi aku tidak mau bicara pula tentang Li Tun, aku bosan dengan hal yang bertele-tele!"
Kata Su Ang-ing. Kim Tiok-liu tertegun, katanya kemudian.
"Baiklah, aku takkan menyebut Li Tun lagi. Tapi kau telah melupakan sesuatu."
"Sesuatu apa?"
Tanya Ang-ing sambil mengerut kening.
"Hian-tiat ini, kau sudah lupa membawanya serta"
Seru Tiokliu.
"Aku tidak mau lagi Hian-tiat itu, kau ambil saja."
"Ini kan aneh. Dengan segala daya upaya kau mengambil Hian-tiat ini, memangnya benda ini adalah milik keluargamu pula mengapa sekarang kau tidak mau menerimanya? Apa kau menyangsikan kesungguhanku hendak mengembalikan benda ini?"
"Aku tidak sangsi, aku percaya penuh. Tapi aku pun dengan sungguh hati memberikannya padamu."
"Aneh, mengapa bisa jadi demikian?"
"Ah, kau ini memang suka bicara tak keruan. Apa aku perlu bicara lebih jelas padamu?"
"Lantaran Hian-tiat ini aku sendiri telah berkelahi satu kali, ketika membantu kau kembali aku berkelahi lagi. Demi tenagaku yang terbuang itu kukira tidak berlebihan jika aku minta kau memberi penjelasan padaku bukan?"
"Baiklah, jika demikian akan kuterangkan,"
Sahut Ang-ing.
"Hian-tiat ini adalah hadiah ulang tahun yang dikirim kakakku kepada Sat-tjongkoan di kotaraja hal ini kau sudah tahu. Tapi aku tidak ingin kakakku memelet hati Sat-tjongkoan, aku telah memberi nasihat dan kakakku tetap tidak mau menggubris. Terpaksa secara diam-diam aku mencegat barang antarannya ini, sekarang kau paham tidak?"
"O, kiranya maksudmu serupa dengan Li Tun. Eh, maaf, kembali aku menyebut dia lagi."
Su Ang-ing hanya manggut-manggut seperti tiada menjadi soal tentang Li Tun itu, lalu menyambung pula.
"Ya, kalung mutiara mestika itu memangnya juga aku yang mencuri dan memberikan kepada Li Tun."
"O, jika demikian, jadi dalam urusan ini kau adalah dalangnya. Apa kau tidak takut diketahui oleh kakakmu?"
"Aku tahu kakak tentu akan marah sekali, tapi apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikannya, kukira lambat-laun dia tentu akan paham maksudku ini. Sebenarnya aku hendak sembunyi untuk sementara waktu sesudah aku merampas Hian-tiat ini, setelah amarahnya reda barulah aku akan pulang menemui kakak."
Sampai di sini mendadak terpikir olehnya, Kim Tiok-liu itu baru saja dikenalnya, mengapa dirinya lantas memberitahukan segala isi hatinya kepada pemuda itu?
"Tujuan nona yang luhur ini sungguh harus dipuji,"
Ujar Kim Tiok-liu.
"Cuma Hian-tiat ini adalah mestika yang sukar dicari, jika diberikan padaku apa tidak terlalu sayang?"
"Meski benda mestika, tapi bagiku tiada gunanya. Aku sendiri tidak memakai pedang, buat apa aku memilikinya? Kau ambil saja, kelak kau boleh mencari seorang ahli membuat pedang untuk menggemblengnya menjadi sebatang pedang wasiat yang tiada bandingannya di dunia."
"Banyak terima kasih,"
Kata Tiok-liu.
"Tapi cara bagaimana kau akan menjawab kakakmu jika kehilangan Hian-tiat ini, toh kau pasti akan pulang menemuinya?"
"Ya, ini adalah urusanku, kau tidak perlu kuatir bagiku,"
Sahut Ang-ing. Akhirnya Kim Tiok-liu merasa tidak enak had untuk bertanya lebih banyak lagi. Dengan rikuh ia membawa kotak merah itu dan berkata.
"Baiklah, karena dengan sungguh hati kau memberikannya padaku, kalau menolak akan terasa kurang hormat, terpaksa aku menerimanya dengan terima kasih. Eh, nona Su, kau hendak kemana?"
Walaupun merasa dirinya sudah bertanya terlalu banyak, tapi pada saat hendak berpisah tidak urung ia mengajukan satu pertanyaan lagi. Sambil bertindak pergi Su Ang-ing menjawab.
"Kita cuma bertemu secara kebetulan, budi kebaikan bantuanmu juga telah kubalas. Sekarang kita menuju ke arah masing-masing, aku tidak perlu mengetahui tempat tujuanmu, buat apa pula kau tanya ke arah mana kepergianku?"
Jawaban ketus ini membikin kikuk Kim Tiok-liu, seketika tiada yang bisa dikatakan, terpaksa ia bergelak dan berkata.
"O, kiranya pemberian Hian-tiat ini dimaksudkan sebagai balas budimu?"
"Benar,"
Sahut Ang-ing dengan angkuh.
"Selamanya aku tidak sudi menerima budi kebaikan orang dengan percuma."
"Tapi sayang kau telah melupakan sesuatu,"
Kata Tiok-liu.
"Sesuatu apa lagi?"
Ang-ing menegas.
"Kau lupa bahwa Hiantiat ini memangnya sudah berada di tanganku. Jika aku mengincarnya rasanya tidak perlu kau memberikannya padaku."
Seketika berubah air muka Su Ang-ing, katanya.
"O, baiklah, jika demikian budi kebaikan tuan akan kubalas saja kelak. Nah, sekarang boleh aku berangkat toh?"
Lekas Tiok-Liu menukas.
"Bu.....bukan begitu maksudku, bukan begitu....."
Tapi Ang-ing tidak menggubris lagi padanya, ia terus melangkah pergi dengan cepat.
Dalam keadaan demikian jika Kim iTiok-liu mengubernya lagi terang akan menyerupai pemuda ba-pgor.
Apalagi Ginkang Su Ang-ing selisih tidak jauh dengan dia, Bengan membawa Hian-tiat yang ratusan kati beratnya mungkin juga sukar untuk menyusulnya, terpaksa Tiok-liu mengurungkan maksudnya dan mengantarkan kepergian nona Su itu dengan pandangan yang sayu seakan-akan kehilangan sesuatu.
Sampai akhirnya bayangan Su Ang-ing sudah lenyap dari pandangannya, diam-diam Tiok-liu membatin.
"Entah dia hendak pergi kemana? Mungkin sekali dia pergi mencari Li Tun?"
Tiba-tiba teringat olehnya ucapan Su Ang-ing tadi yang berbunyi "Kita cuma bertemu secara kebetulan, aku tidak perlu tahu kemana kau hendak pergi, kau pun tidak perlu tanya kemana aku hendak pergi".
Tanpa terasa ia tersenyum sendiri, pikirnya.
"Ya, memang tidak salah. Perkenalan yang cuma kebetulan ini buat apa mesti dirisaukan?"
Akan tetapi sungguh aneh, bayangan Su Ang-ing ternyata masih terus muncul di dalam benaknya, susah dihapus dan sukar dilupa.
Kecantikan si nona yang cemerlang, kepandaiannya yang luar biasa serta sikapnya yang menambat hati.....
kesemuanya itu memberi kesan amat mendalam bagi Kim Tiok-liu.
Begitulah sesudah menertawai diri sendiri, kemudian ia menjadi heran sendiri pula.
Mendadak ia menyadari rahasia lubuk hatinya, tanpa terasa hatinya bergetar.
"Aneh, mengapa berulang kali aku menyebut Li Tun di depannya? Ai, bukanlah aku hendak menjajaki perasaannya? Wahai Kim Tiok-liu, jelas kau mengiri kepada Li Tun!"
Setelah menyadari rahasia lubuk hatinya sendiri, Tiok-liu terus berjalan ke depan dengan perasaan linglung. Akhirnya ia mencela dirinya sendiri.
"Istri kawan tidak boleh diganggu, demikian kata peribahasa. Jelek-jelek Li Tun juga seorang kawan, mengapa kau selalu memikirkan kekasihnya? Kim Tiokliu, wahai Kim Tiok-liu, kau harus menjadi seorang laki-laki sejati dengan segala perbuatan yang luhur, mana boleh timbul pikiranmu yang tidak senonoh terhadap kawan? Ai, kau tahu malu atau tidak?"
Berpikir sampai di sini tanpa terasa wajah Kim Tiok-liu menjadi merah sendiri. Setelah berjalan sebentar lagi. tertiup oleh angin dingin, pikiran Tiok-liu menjadi rada jernih. Pikirnya.
"Jika nona Su ini benar-benar adalah istri Li Tun, dengan sendirinya aku tidak boleh punya pikiran yang tidak pantas. Biarpun bukan istrinya, umpama baru kekasihnya juga aku tidak pantas menyela di antara mereka. Tapi melihat sikapnya tadi agaknya perhatiannya terhadap Li Tun hanya perhatian seorang kawan biasa saja."
Begitulah Kim Tiok-liu berpikir dan dibantahnya sendiri, terhadap 'kesimpulan' yang ditariknya sendiri itu sekali-kali ia pun belum berani yakin akan benar atau salahnya. Pikirnya pula.
"Tapi jelas Tang Tjap-sah-nio mengatakan kepada Wanhay tentang permainan asmara antara nona Su itu dengan Li Tun. Sebagai gendak kakaknya sudah tentu Tang Gapsah-nio mengetahui rahasia mereka, apakah mungkin bisa salah? Apalagi dia sengaja mencuri kalung mutiara mestika yang sedianya akan disumbangkan kepada Sat Hok-ting, seumpama hanya teman biasa saja juga jelas hubungan persahabatan mereka ini lain daripada yang lain. Wahai Kim Tiok-liu, janganlah sekali-kali kau menaruh pikiran yang tidak keruan."
Sedapat mungkin Kim Tiok-liu menekan perasaannya sendiri yang bergolak itu dan melanjutkan perjalanan.
Tapi mesti dia menahan perasaan sebisanya agar tidak memikirkan Su Ang-ing, namun persoalan Liok-hap-pang toh tetap dipikirkan olehnya.
Su Pek-to, Pangtju Liok-hap-pang hendak menyampaikan selamat ulang tahun kepada Taylwe-tjongkoan Sat Hok-ting, hari ulang tahun itu akan berlangsung pada bulan depan, waktunya tinggal satu bulan saja.
Kim Tiok-liu menjadi ingin tahu [sesudah hadiah ulang tahun kiriman Liok-hap-pang itu dirampasnya, entah Su Pek-to tetap berangkat ke kotaraja atau tidak, pial inilah yang ingin diketahuinya.
Ia pikir pada hari perayaan itu tentu banyak sampah masyarakat Kangouw akan hadir juga di tempat Sat Hok-ting itu, pada kesempatan mana ada baiknya juga dirinya mengetahui siapa-siapa saja kaum sampah Kang-ouw itu.
Sebenarnya Kim Tiok-liu bermaksud menuju ke kotaraja, Bilamana dia sudah kenyang pesiar di daerah Kanglam yang indah itu.
Tapi kini waktunya tinggal sebulan saja, sudah tentu ia tidak dapat melaksanakan menurut rencana semula.
Maka dari Sohtjiu ia lantas menuju ke utara sekalian pesiar ke Kimsan-si, yaitu kuil yang termashur di kota Tin-kang.
Dari situ ia memutar ke arah barat dan menyeberangi Tiangkang di lembah tambangan Tjay-tjiok-ki.
Tjay-tjiok-ki adalah tempat yang terkenal, karena di sinilah panglima Song, Lu In-bun mengalahkan tentara Kiin secara besar-besaran.
Untuk peitama kalinya Kim Tiok-liu berada di lembah Sungai Panjang (Tiangkang, Changchiang), sejauh mata memandang hanya tertampak ombak bergelombang melulu.
Diam-diam ia mengenangkan syair yang digubah Soh Tong-po tentang kemegahan Tiangkang dalam sejarah, perasaannya menjadi lapang dan semangat segar.
Sampai sekian lama Kim Tiok-liu menyusuri lembah sungai itu dan masih belum ada kapal tambangan.
Ia menjadi heran kemana perginya kapal tambangan, padahal suasana toh aman tenteram.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara dayung menyibak air, sebuah perahu kecil muncul dari balik alang-alang sana.
Tukang perahunya lantas menegur Kim Tiok-liu.
"Apakah tuan tamu hendak menyeberang?"
Sambil membenarkan, tanpa menunggu lagi Kim Tiok-liu terus melompat ke dalam perahu sebelum perahu itu menepi.
Kim Tiok-liu membawa kotak merah yang berisi Hian-tiat dengan bobot ratusan kati.
Waktu hinggap di atas perahu, dengan sendirinya perahu kecil itu lantas berguncang, haluan perahu sampai mendelong ke bawah hampir kemasukan air.
Rupanya tukang perahu itu adalah seorang yang berpengalaman, terdengar ia bersuara heran dan memandang sekejap kepada Kim Tiok-liu, lalu katanya "Eh, tuan tamu, barang apakah yang kau bawa kok begitu berat?"
"Yang terang bukan emas intan,"
Sahut Tiok-liu tertawa.
"Kau bilang barang bawaanku terlalu berat, nanti kuberikan uang tambangan lipat dua."
Tukang perahu tertawa katanya.
"Ini sih tidak perlu, anggaplah penumpangku bertambah satu orang saja. Sekali menye-Iberang ongkos perahunya satu tail perak, seorang atau dua orang (sama saja. Yang kukuatirkan adalah barang berharga yang kau bawa itu bila sampai hilang, maka sukar bagiku untuk menanggungnya"
"Cuaca hari ini aman dan tenang, kukira takkan terjadi apaapa"
Ujar Tiok-liu.
"Agaknya tuan tidak tahu bahwa baru-baru ini Tiangkang telah kedatangan sekawanan bajak yang seringkah mengganggu kaum nelayan dan kapal penumpang. Untuk keselamatan bersama, apakan tuan dapat memberitahukan barang apa yang tuan fcawa itu?"
Kuatir kalau si tukang perahu menjadi rewel dan tak mau menyeberangkan dia, terpaksa Kim Tiok-liu menjawab dengan ftertawa "Kau jangan kuatir, jika terjadi apa-apa aku takkan menyalahkan kau.
Barang yang kubawa ini tiada berguna bagi orang lain, biarpun kawanan bandit merampasnya juga percuma Kukatakan apa barangnya juga kau tidak tahu."
Walaupun merasa si tukang perahu terlalu banyak urusan, lapi Tiok-liu juga tidak menaruh curiga apa-apa.
Ia tidak tahu tahwa si tukang perahu justru sengaja dibuat-buat agar Kim Tiok-liu tidak sangsi untuk menumpang perahunya.
Ketika perahu itu sudah sampai di tengah sungai, saking gembiranya Kim Tiok-liu mulai bersenandung.
Habis bersenanpung, sejenak kemudian baru Tiok-liu merasa perahu itu seperti memperlambat lajunya.
Waktu ia berpaling, dilihatnya si tukang perahu sedang menoleh ke arahnya sambil memasang kuping se-akan-akan sedang mendengarkan nyayiannya tadi.
"Pak tukang perahu, apakah kau juga paham laguku tadi?"
Tanya Tiok-liu dengan tertawa.
"Aku cuma paham mendayung perahu, darimana aku tahu (bolu atau lagu segala?"
Jawab si tukang perahu.
"Tuan tamu tampaknya riang betul, kukuatir jangan-jangan akan memancing datang kaum penjahat."
"Takut apa?"
Ujar Tiok-liu sembari mengangkat teko di atas meja kecil, tapi tidak diketemukan cangkirnya.
"Teh itu baru saja diseduh, tentunya masih panas. Jika tuan haus boleh silakan menuang sendiri. Cuma tidak ada cangkir, jika sudi silakan pakai mangkukku itu,"
Demikian kata si tukang perahu yang biasanya menggunakan mangkuk sebagai pengganti cangkir.
Memangnya Tiok-liu sudah merasa haus, maka tanpa pikir ia terus mengambil mangkuk si tukang perahu yang kelihatan rada kotor itu, teh dituang terus diminumnya.
Pada waktu dia minum teh, tiba-tiba angin meniup kencang, terdengar si tukang perahu berseru.
"Wah, cuaca berubah!"
Tiok-liu melihat tukang perahu itu menatap ke arahnya, di waktu berseru sorot matanya nampak aneh, suaranya juga rada gemetar, suatu perasaan yang girang-girang kuatir segera dapat dirasakan oleh pendengarnya.
Baru saja pikiran Tiok-liu tergugah, terdengar tukang perahu itu sudah bertepuk tangan dan berseru.
"Rebahlah, rebah!"
Namun Kim Tiok-liu tidaklah roboh, sebaliknya ia berkata dengan tertawa dingin.
"Hrn, kiranya penjahatnya adalah kau! Teh beracunmu ini masakah dapat mencelakai aku?"
Menyusul itu, sekali jari telunjuknya menuding, satu arus air panas terus memancur dari ujung jarinya.
Kiranya Kim Tiok-liu keburu mengetahui maksud jahat si tukang perahu, sebelum racun mulai bekerja ia lantas menggunakan Lwekang yang tinggi untuk mendesak teh berbisa itu ke ujung jari dan dipancurkan.
Si tukang perahu cepat mengegos untuk menghindar, tapi tidak urung lengan dan kakinya sudah tersiram air teh itu sehingga panas pedas, untung tidak sampai melepuh dan keracunan.
Segera tukang perahu itu berbangkit, dayung besi diangkat terus dikemplangkan ke atas kepala Kim Tiok-liu sambil berseru tertawa.
"Haha, memang benar aku inilah penjahatnya Sekarang kau baru tahu pun sudah kasip!"
"Huh, hanya sedikit kepandaianmu ini juga ingin mencelakai aku? Masih terlalu jauh!"
Jengek Tiok-liu sambil mengangkat kotak merahnya untuk menangkis.
Isi kotak itu adalah Hian-tiat yang ratusan kati beratnya, payung si tukang perahu mana sanggup menahannya?
"Krak", payung yang berlapis besi itu seketika patah.
Tapi kepandaian si tukang perahu juga tidak serendah dugaan Kim Tiok-liu, dayungnya sudah patah, namun orangnya tidak sampai tergetar jatuh.
Walaupun begitu tentu juga ia insyaf sekali-kali bukan tandingan Kim Tiok-liu.
Mendadak si tukang perahu meloncat ke atas, selagi tubuhnya terapung di udara ia terus menyambitkan tiga buah pisau.
Lekas Tiok-liu memutar kotak merah itu siap untuk menangkis.
Tak terduga pisau terbang itu ternyata tidak diarahkan kepadanya, tapi lantas terdengar suara "krak-krak", tiang perahu itu tertabas patah menjadi beberapa potong.
Rupanya tukang perahu itupun tahu senjata rahasianya tak bisa melukai Kim Tiok-liu, maka dia menggunakan muslihat lain dengan mematahkan tiang layar perahu agar perahu itu tidak dapat melaju lagi.
Dari cara menyambit pisau itu serta mematahkan tiang layar, nyata kepandaian menggunakan senjata rahasia si tukang perahu juga cukup lihai.
Ketika Kim Tiok-liu menyadari apa yang terjadi dan bermaksud membekuk si tukang perahu, namun Riang layar sudah patah dan tukang perahu itupun sudah terjun ke dalam sungai.
Ketika angin meniup, air sungai yang semula tenang itu lantas berombak.
Tiang perahu itu sudah patah, layarnya sudah jatuh ke sungai, perahu kecil itu menjadi oleng dan berputar-putar di tengah sungai yang berarus kencang itu.
Kim Tiok-liu dibesarkan di atas pulau dan sudah biasa bermain di lautan, dengan sendirinya ia pun paham mengemudikan perahu.
Tapi dayungnya juga sudah patah, bahkan dayung patah Itupun sudah dilemparkan ke dalam sungai oleh si tukang pe-rahu, alat pengemudi lain tidak diketemukan lagi di dalam perahu.
Mendadak Tiok-liu mendapat akal, segera ia menggunakan 'Djian-kin-tuF (ilmu memberatkan badan) untuk menahan goncangan perahu kecil itu, tangan digunakan sebagai dayung sehingga perahu itu mulai meluncur.
Perahunya sekarang meluncur melawan arus, yang digunakan sebagai dayung adalah telapak tangannya, sudah tentu sangat berat, tapi pelahan perahu itu dapat melaju ke depan.
Tiba-tiba di tengah deru angin dan gedebur ombak terdengar pula suara "krek-krek", suara pecahnya kayu.
Keruan Tiok-liu terkejut, pikirnya.
"Jangan-jangan tukang perahu itu sedang main gila?"
Benar juga, segera dilihatnya dasar perahu itu retak dan membentuk satu lubang, air sungai terus merembes masuk.
Kiranya tukang perahu itu terkenal sebagai setan air di sungai itu, diam-diam dia menyelam ke bawah dan membobolnya hingga berlubang.
Kim Tiok-liu tidak tinggal diam, sesaat kemudian mendadak kedua kakinya ditekan terus diputar sehingga badan perahu itu ikut oleng, berbareng itu ia membentak sambil memukul ke permukaan sungai.
Karena badan perahu itu mendadak oleng dan berputar, tukang perahu yang bersembunyi di bawah perahu itu seketika tidak sempat ikut berputar sehingga kehilangan pengaling, dengan tepat dia kena dihantam oleh tenaga pukulan Kim Tiok-liu, kontan ia mengambang ke permukaan air dan telentang, matanya mendelik seperti kakap mampus.
Untung dia terpukul di bawah air sehingga isi perutnya tidak sampai tergetar hancur.
Walaupun begitu keadaannya juga sudah payah, dengan telentang di atas air, kalau tidak tertolong dengan segera akhirnya tentu akan mati kelelap.
"Hehe, ini namanya senjata makan tuan, boleh kau segera menghadap kepada Hay-liong-ong (raja naga laut) saja!"
Jengek Kim Tiok-liu.
Namun di tengah damparan ombak, perahu Kim Tiok-liu yang sudah kemasukan air itu mulai membesar lubangnya, tambaknya tak bisa bertahan terlalu lama dan pasti akan tenggelam.
iTiok-liu sebenarnya dapat menyelamatkan diri dengan berenang, napi sukar ditentukan dapat menyeberangi sungai yang luas itu atau tidak, pula ia tidak rela kehilangan besi mestika itu.
Selagi ragu-ragu dan gelisah, tiba-tiba Tiok-liu melihat sebuah kapal layar meluncur ke hilir dengan cepat.
Inilah kesempatan bagus pikir Tiok-liu, maka cepat ia melompat ke haluan perahu sambil berteriak dan memberi tanda.
"Tolong! Tolong!"
Pada saat itu pula, tukang perahu yang mengambang di permukaan air sungai itupun mengeluarkan suara teriakan yang serak-serak lemah.
Laju kapal itu lantas dilambatkan, di atas haluan kapal berdiri seorang laki-laki kekar, katanya dengan tertawa.
"Ya, aku memang hendak menolong orang."
Segera seutas tambang dilemparkan, panjang tambang itu kira-kira beberapa meter dan tepat jatuh di samping si tukang perahu.
Begitu tukang perahu itu memegang tambangnya, laki-laki kekar itu lantas menggertak.
"Naik!"
Sekali ditarik tukang perahu itu lantas terseret ke atas kapal. Tiok-liu tercengang, serunya.
"Dia adalah penjahat, aku hampir dicelakai dia, lekas tolong aku!"
Sesudah menaruh tukang perahu, laki-laki kekar tadi kembali tertawa dan berkata.
"Sabarlah sedikit, segera aku akan menolong kau. Haha, mengingat Hian-tiat yang kau bawa itu masakah aku tidak menyelamatkan kau?"
Benar juga laki-laki kekar itu lantas mengayun pula tangannya, tapi bukan tambang yang dia lontarkan, sebaliknya lantas terdengar suara peletak-peletok berulang-ulang disertai nyala api, dari atas kapal dibidikkan panah berapi, semuanya ditujukan ke perahu Kim Tiok-liu itu.
Keruan Tiok-liu terkejut, baru sekarang ia tahu bahwa orang-orang di atas kapal itu adalah sekomplotan dengan si tukang perahu.
Sudah tentu dirinya bukan ditolong, sebaliknya malah hendak ditenggelamkan.
Berturut-turut Tiok-liu menghantam jatuh beberapa panah berapi yang menyambar ke arahnya, tapi sukar untuk menghadapi hujan panah ini.
Ada beberapa buah panah berapi itu menancap di atas geladak perahu serta layar yang tak bertiang itu sehingga api mulai berkobar dalam sekejap saja.
Malahan lubang di dasar perahu juga semakin membesar, lantaran sibuk memadamkan api sehingga lupa menyumbat lubang yang bocor itu, hanya dalam waktu singkat saja air sudah merembes masuk sebatas dengkul.
Di bawah serangan air dan api itu, selain meninggalkan perahu itu untuk menyelamatkan diri, rasanya tiada jalan lain bagi Kim Tiok-liu.
Jarak kapal besar itu dengan perahu Kim Tiok-liu ada belasan meter jauhnya.
Jika Kim Tiok-liu berenang ke sana, mungkin sampai di tengah jalan dia sudah dihujani anak panah.
Kembali Kim Tiok-liu memperlihatkan ketangkasan dan ketabahannya, pada detik antara mati dan hidup itu, mendadak terpikir olehnya suatu akal yang baik meski sangat berbahaya pula.
Ia hendak menggunakan Ginkangnya yang tinggi itu untuk merampas kapal yang besar itu.
Segera ia mengangkat kotak merah yang dibawanya itu dan berseru nyaring.
"Yang kau incar adalah Hian-tiat ini, soal ini kan mudah, akan kuberikan padamu!"
Habis berkata sekuatnya ia terus melemparkan kotak itu ke arah laki-laki kekar yang berdiri di haluan kapal.
Sebelah tangan melemparkan kotak, tangan Kim Tiok-liu yang lain segera menyempal sepotong papan geladak perahu, terus dilemparkan pula ke tengah sungai.
Kiranya Kim Tiok-liu hendak menggunakan papan itu sebagai tempat berpijak dan sebagai batu loncatan untuk mencapai kapal musuh.
Soalnya jarak kedua kendaraan air itu rada jauh, betapapun hebat Ginkang Kim Tiok-liu juga diperlukan dua kali loncatan baru dapat mencapai kapal itu.
Laki-laki kekar di atas kapal itu dapat menangkap kotak yang dilemparkan Kim Tiok-liu, katanya dengan tertawa.
"Baiklah, terima kasih!"
Tapi mendadak ia terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.
Pada saat itulah dari kabin kapal itu muncul seorang dan sempat menahan punggung laki-laki itu sehingga tidak sampai terjatuh.
Jadi laki-laki itu tetap dapat menangkap Hiantiat itu tanpa terluka apa-apa, hal ini membuktikan kekuatannya yang hebat dan agaknya selisih tidak jauh dibanding Kim Tiok-liu.
Pada saat yang sama itulah Kim Tiok-liu juga meloncat dari perahunya, bagai burung melayang, lebih dulu ia hinggap di atas papan yang dilemparkannya tadi di permukaan air, lalu dengan sekali loncatan pula bagai bola ia membal ke atas terus menubruk ke atas kapal besar itu.
Mendadak orang yang keluar dari kabin kapal dan menahan punggung laki-laki kekar tadi memburu maju sambil membentak.
"Kurang ajar, kiranya kau! Turunlah sana!"
Kiranya orang ini bukan lain daripada Bun To-tjeng yang pernah dikalahkan Kim Tiok-liu di tengah pesta perkawinan pu-|tii Kang Hay-thian tempo hari.
Kekalahan Bun To-tjeng itu lantaran tipu serangannya kalah lihai, tapi kalau bicara tenaga dalam dia masih lebih tinggi daripada Tiok-liu.
Sekarang tubuh Kim Tiok-liu terapung di udara dan kakinya belum lagi sempat menempel di geladak kapal, saat itulah Bun To-tjeng menyodokkan kedua tangannya dengan tenaga sakti Sam-siang-sin kang dengan tujuan menceburkan Kim Tiok-liu ke dalam sungai.
Tapi Kim Tiok-liu sempat berjumpalitan di atas udara, kedua tangannya terpentang bagaikan sayap burung, menyusul jari tangan kanan seperti belati saja terus menusuk ke Thay-yang-hiat di pelipis Bun To-tjeng, sedangkan tehlpak tangan kiri mirip golok lantas membacok ke pundak lawan pula.
Sekali gerakan dua serangan ini memaksa musuh mau tak mau harus menyelamatkan diri lebih dulu, suatu serangan yang nekat dan bila perlu boleh gugur bersama musuh.
Jika bertempur di tempat lapang, seorang lawan seorang mungkin Bun To-tjeng akan jeri mengadu jiwa dengan dia dan terpaksa harus menghindar, tapi sekarang tubuh Kim Tiok-Iiu terapung di atas, hal ini tentu lebih menguntungkan Bun Totjeng, asalkan dia mampu menangkis serangan Kim Tiok-Iiu sehingga pemuda ini tidak sampai menancapkan kakinya di atas geladak kapal, maka pasti Kim Tiok-Iiu akan didesak tercebur ke dalam sungai.
Pula keadaan sekarang bukan satu lawan satu, sebab Bun To-tjeng masih mempunyai bala bantuan, yaitu laki-laki kekar tadi.
Karena yakin kemenangan pasti di pihaknya, maka selangkah pun Bun To-tjeng tidak mau mengalah lagi.
Setelah menangkap kotak merah yang dilemparkan Kim Tiok-Iiu tadi dan terhuyung-huyung mundur, sesudah menenangkan diri, segera laki-laki kekar itu memapak maju lagi sehingga sempat ikut menghadapi Kim Tiok-Iiu yang sedang melompat ke atas kapal itu.
Bahkan dengan kotak merah itu sebagai senjata, segera laki-laki kekar itu balas menghantam ke arah Kim Tiok-Iiu.
Dalam keadaan begitu Kim Tiok-Iiu menjadi tidak dapat melayani Bun To-tjeng dengan kedua tangannya, dalam detik terakhir terpaksa ia berganti serangan, kedua tangan terbagi untuk melayani dua musuh.
Memangnya tenaga Bun To-tjeng masih lebih kuat sedikit di atas Kim Tiok-Iiu, dengan sebelah tangan melawan dua tangan sudah tentu Kim Tiok-Iiu bukan tandingannya, apalagi ditambah laki-laki kekar yang tenaganya juga selisih tidak jauh dari Tiok-Iiu, malahan kotak yang digunakan sebagai senjata untuk menghantam Tiok-Iiu itu sangat berat.
Maka terdengarlah suara "bruk", bagai bunyi guntur, di bawah kerubutan dua jago itu, Kim Tiok-Iiu mirip layang-layang putus benangnya terjungkal ke belakang dan tercebur ke dalam sungai.
Walaupun Kim Tiok-Iiu mahir berenang, namun sekaligus ia kena dihantam oleh tenaga pukulan dua jagoan, di dalam sungai kena damparan ombak yang keras pula, sekalipun Lwekangnya cukup kuat hingga tidak sampai terluka dalam, tapi keadaannya juga rada payah dan hampir kehilangan ingatan.
Dalam keadaan samar-samar Kim Tiok-Iiu masih dapat mendengar suara "plang-plung", suara orang terjun ke dalam air.
Mungkin orang-orang di atas kapal itu menyelam untuk menangkapnya.
Sekuatnya Kim Tiok-Iiu menahan napas dan melolos pedang sambil diobat-abitkan di dalam air.
Terdengar pemimpin bajak di atas kapal tadi membentak.
"Biarkan bocah itu kenyang minum air dulu, baru nanti kita bereskan dia!"
Akhirnya Kim Tiok-Iiu menjadi lemas, meski bertahan sekuatnya, mau tak mau ia mesti membuka mulut untuk mengganti napas, sekali membuka mulut air sungai lantas membanjir ke dalam kerongkongannya, jalan napasnya tertutup dan akhirnya ia tak sadarkan diri lagi.
Entah sudah berapa lama, ketika pelahan-lahan Kim Tiok-Iiu siuman kembali dan membuka mata, ternyata keadaan gelap gulita.
Waktu tangannya meraba-raba, yang terasa adalah dinding batu yang dingin.
Baru sekarang ia mengetahui dirinya terkurung di dalam sebuah kamar batu.
Ia coba menenangkan diri dan berpikir.
"Aneh, mengapa mereka tidak memborgol aku?"
Ia coba mendengarkan dengan menempelkan telinganya ke dinding, sayup-sayup terdengar di luar sana suara orang berjalan mondar-mandir, ia menduga itu pasti penjaga.
Tiba-tiba ia merasa tangan-kakinya tak bertenaga, disangkanya kelelahannya belum pulih, ia bermaksud menghimpun tenaga lebih dulu.
Tak terduga, begitu ia berduduk dan coba mengerahkan tenaga dalam, terasalah pusatnya kosong blong, hawa murni di dalam perut sama sekali tak bisa digerakkan.
Sungguh kejut Kim Tiok-Iiu bukan buatan, mestinya ia bermaksud membobol pintu kamar batu itu dengan tenaga dalamnya yang sakti, apabila tenaga itu sudah dihimpun kembali.
Tapi sekarang tenaga itu telah punah semua, keadaan dirinya sudah mirip orang cacat, sekalipun ilmu silatnya setinggi langit juga percuma.
Sekonyong-konyong terdengar suara dua orang mendekati pintu kamar batu itu.
Terdengar seorang di antaranya sedang berkata.
"Di dalam seperti ada suara apa-apa, jangan-jangan bocah itu sudah siuman. Mari kita coba memeriksanya."
"Kukira tak secepat itu dia dapat siuman,"
Ujar seorang lagi.
"Rupanya kau tidak tahu kelihaian bocah itu,"
Ujar orang pertama tadi.
"Memang seharusnya dia tak bisa siuman secepat itu, cuma bagi bocah ini adalah bukan hal yang mustahil. Totju telah berpesan pada kita agar segera menggiringnya ke sana untuk diperiksa begitu dia siuman kembali."
"Baiklah, mari kita coba melihatnya,"
Sahut kawannya.
Kim Tiok-liu lantas memejamkan mata pura-pura belum sadar.
Kedua penjaga itu lantas mendekati, seorang mengangkat pelita untuk menerangi mukanya, seorang lagi masih kurang percaya dan mendepak sekali di pantat Kim Tiok-liu.
Namun Tiok-liu sedapat mungkin menahan diri dan tetap diam saja, pikirnya.
"Nanti kalau kepandaianku sudah pulih baru kalian tahu akan kelihaianku."
Tapi ia sendiri pun bingung dan tidak habis mengerti mengapa tenaga murninya mendadak bisa punah sama sekali, apakah kepandaiannya akan dapat pulih kembali sesungguhnya ia sendiri pun ragu-ragu.
Sejenak kemudian kedua penjaga itu mengundurkan diri, pintu kamar tahanan itu digembok pula, mereka lantas pasang omong lagi di luar.
"Siapakah bocah ini? Mengapa Totju sedemikian memperhatikan dia, sehingga kita dipesan harus melayani dia sepanjang malam?"
Demikian tanya seorang di antaranya.
"Hah, jadi kau masih belum mengetahui siapakah bocah ini?"
Kawannya menegas.
"Ya, katanya To-lotoa kecundang olehnya, bilamana Totju kita tidak keburu datang pada saat yang tepat, hampir saja jiwanya melayang di dalam sungai."
Rupanya To-lotoa yang mereka maksudkan adalah si tukang perahu yang hendak meracun Kim Tiok-liu itu. Maka kawannya tadi menjadi terkejut dan berkata.
"Wah, begitu lihai dia? Siapakah dia sebenarnya?"
"Nama Kim Si-ih pernah kau dengar belum?"
"Memangnya kau anggap aku ini anak kemarin? Masakah nama Kim Si-ih yang maha termashur itu aku tidak tahu? Dua puluh tahun yang lalu tiada seorang jagoan di jagat ini yang mampu menandingi dia. Sekarang bahkan muridnya yang bernama Kang Hay-thian itu juga diakui sebagai jago nomor satu loleh segenap orang Bu-lim. Cuma kudengar Kim Si-ih sudah lama menghilang, memangnya apa ada hubungannya dengan bo-I cah ini?"
"Kim Si-ih bukan lain adalah ayah si bocah ini!"
"Hah, kiranya demikian! Pantas dia begini lihai. Aku menjadi tidak paham mengapa Totju kita tidak membunuhnya saja, apakah Totju tidak kuatir bocah ini sampai lolos dan kelak akan menuntut balas padanya?"
"Untuk ini boleh jangan kuatir. Biarpun bocah ini memiliki kesaktian setinggi langit sekarang juga sukar kabur sekalipun [tumbuh sayap. Justru mengingat Liok-hap-pang, maka Totju kita tidak mau membunuhnya."
"Lho aneh, bukanlah dia adalah musuh yang sedang dicari [orang Liok-hap-pang?"
"Kau cuma tahu satu tapi tidak tahu dua,"
Ujar kawannya, r Adik pemimpin Liok-hap-pang itu minggat dari rumahnya, kau Bahu tidak kejadian ini?"
"Ada sangkut-paut apa dengan soal ini?"
Balas tanya temannya.
"Kabarnya minggatnya anak dara itu justru digondol oleh bocah ini, Su Pek-to ingin minta pertanggungan jawab bocah ini untuk menemukan adik perempuannya Dia sudah memberitahukan kepada semua perkumpulan dan gerombolan Kangouw agar bantu menyelidiki urusan ini. Totju kita mempunyai persahabatan yang baik dengan Su Pek-to, sekarang bocah ini dapat ditangkap olehnya sudah tentu akan dikirim kepada Liok-hap-pang dan tak dapat membunuhnya begini saja."
Mendengar sampai di sini, diam-diam Kim Tiok-liu menggerutu obrolan penjaga yang ngaco-belo itu, pikirnya "Tidaklah menjadi soal bila aku difitnah.
Tapi kalau berita kotor ini sampai didengar oleh Li Tun tentunya akan tidak enak rasanya.
Su Pek-to itu benar-benar tolol, siapa yang disukai adik perempuannya masa tidak tahu?"
"O, baru sekarang aku paham,"
Demikian kata penjaga kedua tadi.
"Cuma apa sebabnya kau bilang bocah she Kim ini, biarpun sekarang tumbuh sayap dan punya kepandaian setinggi langit juga tak bisa kabur, hal ini aku masih tidak jelas."
"Begini, Bun-totju mempunyai sejenis obat pusaka dari leluhurnya yang disebut 'Soh-kut-san' (puyer pelembek tulang) dan dapat memunahkan kekuatan murni orang, jika diminumkan satu sendok teh saja betapapun lihai Lwekangnya juga akan punah. Waktu bocah she Kim itu ditangkap, Buntotju mencekoki dia dengan secangkir air teh yang dicampur satu sendok obat bubuk itu. Tatkala mana kau tidak di tempat, pantas saja kau tidak tahu. Coba pikir, jika dia tidak dicekoki obat itu, masakah Totju kita berani mengurung dia tanpa diborgol dan cuma memberi penjaga seperti kita berdua?"
Kini Kim Tiok-liu baru sadar duduknya perkara, kiranya dia telah diperlakukan secara licik oleh Bun To-tjeng.
Namun begitu segera timbul juga suatu titik sinar harapan di dalam benaknya, sesudah diketahui sekarang bahwa yang diminumnya adalah Soh-kut-san.
Dahulu ayah Tiok-liu, yaitu Kim Si-ih, juga pernah terjebak oleh kelicinan Bun Ting-bik pada waktu baru saja kenal paman Bun To-tjeng itu.
Bun Ting-bik menipu Kim Si-ih minum seohkut-san, habis itu baru menantang bertanding padanya sehingga Kim Sih-ih cukup menderita pada peristiwa itu.
(Dalam cerita Kisah Pedang di Sungai Es ).
Setelah mengalami kejadian itu, kemudian dengan tekun Kim Si-ih menciptakan semacam ilmu pernapasan khusus untuk memunahkan Soh-kut-san yang melumpuhkan itu.
Begitulah Tiok-liu lantas menjalankan ilmu ajaran ayahnya Itu, ia duduk bersila memusatkan pikiran dan melambatkan pernapasan, ia menghimpun hawa murninya sedikit demi sedikit.
Agak lama juga, lambat laun Kim Tiok-liu merasa hawa murni itu dapat berjalan lancar tanpa halangan.
Cuma Sohkut-san yang diminumnya mungkin kadarnya terlalu banyak, sehingga hawa murni hanya bisa dihimpun sedikit-sedikit dan tidak boleh terburu-buru.
Oleh karena itu, meski sekarang hawa murninya dapat dijalankan, tapi tenaga yang pulih baru satu dua bagian saja.
Kim Tiok-liu merasa girang dan kuatir pula, pikirnya "Semoga di dalam dua jam ini jangan sampai diketahui oleh mereka soal pulihnya tenagaku ini."
Ia menaksir untuk mengembalikan tenaganya seperti semula, kira-kira diperlukan waktu dua jam.
Selagi Kim Tiok-liu asyik memulihkan tenaga, tiba-tiba di-Kengarnya ada seorang datang lagi ke situ, terdengar suaranya Tji Toa Totju memanggil kau, biar aku menggantikan kau sebentar."
Tiok-liu sudah kenal benar suara itu, rupanya adalah Bun Keng-tiong, putra Bun To-tjeng. Kim Tiok-liu terkesiap, pikirnya.
"Sebagai seorang tamu, buat apa dia ikut-ikutan menjaga ke tempat tahanan segala?"
Tji Toa adalah penjaga yang bercerita tentang asal usul kim Tiok-liu tadi, dia adalah seorang kepercayaan sang Totju, arangnya juga cukup cerdik.
Apa yang diragukan Kim Tiok-liu Bu juga terpikir olehnya, maka ia lantas menjawab.
"Bunkong-tju, engkau adalah tamu kami yang terhormat, mana aku berani membikin susah engkau berjaga di sini."
"Aku sendirilah yang suka melakukannya dengan suka rela dan bukan salahmu, jangan kuatir,"
Kata Bun Seng-tiong dengan tertawa.
"Kabarnya bocah she Kim ini banyak mengalahkan jago-jago Bu-lim yang ternama. Aku ingin melihat bagaimana coraknya, apakah dia punya tiga kepala atau punya enam tangan?"
"Ah, dia juga cuma seorang anak manusia biasa saja,"
Jawab Tji Toa dengan tertawa.
Dia sangka Bun Seng-tiong hanya terdorong oleh rasa ingin tahu saja.
la pikir Bun-totju adalah tamu agung sang Totju, tertangkapnya bocah she Kim ini juga berkat bantuan Bun-totju.
Jika sekarang putranya datang ke sini bantu menjaga tentunya tidak sampai terjadi apa-apa.
Karena itu, sesudah mengucapkan terima kasih kepada Bun Seng-tiong, lalu ia pun tinggal pergi tanpa kuatir.
Yang dikuatirkan Tji Toa hanya kaburnya Kim Tiok-liu saja, tapi ia tahu Kim Tiok-liu sudah minum Soh-kut-san, untuk bisa kabur kecuali penjaga-penjaga itu sendiri yang melepaskan dia.
Dan Bun Seng-tiong jelas tidak mungkin membebaskan seterunya itu.
Sebab itulah Tji Toa tidak kuatir apa-apa.
Ia tidak tahu bahwa Bun Seng-tiong memang tidak mungkin membebaskan Kim Tiok-liu, tapi justru datang untuk membunuhnya.
Kiranya Bun Seng-tiong masih dendam dan ingin membalas sakit hatinya kepada Kim Tiok-liu, ia anggap sekarang ini adalah kesempatan yang sukar dicari.
Cuma Pangtju dari Haysoa-pang di sini sudah memutuskan akan mengirim Kim Tiokliu kepada Liok-hap-pang, maka Bun Seng-tiong tidak berani mencelakai Kim Tiok-liu secara terang-terangan, maka ia hendak membunuhnya secara licik.
Apabila kematian Kim Tiok-liu sudah menjadi kenyataan tentu pemimpin Hay-Soapan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Dan langkah pertama adalah Bun Seng-tiong menyingkirkan Tji Toa yang merupakan orang kepercayaan Pangtju Hay-soa-pang itu.
Seperginya Tji Toa, Bun Seng-tiong lantas berkata kepada penjaga yang satunya lagi.
"Coba bukakan pintu, aku ingin melihat bocah itu."
Penjaga yang tertinggal ini cuma kaum keroco saja, ia tidak berani membangkang, setelah mengiakan segera ia membu-, ka pintu penjara dan mengiringi Bun Seng-tiong masuk ke dalam.
Tindak-tanduk Bun Seng-tiong cukup hati-hati juga, sudah jelas diketahuinya bahwa Kim Tiok-liu telah dicekoki Soh-kutsan, tapi ia pun tidak berani sembrono, begitu masuk ke dalam penjara batu itu segera ia menyalakan api dan melolos pedang untuk menjaga diri.
Baca Juga: Pohon Kramat 7
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 5