Durjana Dan Ksatria 3

Eps 3 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen

Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen

Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.

"O, panjang juga bila kuceritakan ...."

"Ceritaku juga panjang, bagaimana kalau kita duduk dan berbicara dengan pelahan?"

Kata Leng-cu dengan tertawa manis.

Keruan sukma orang itu seakan-akan melayang meninggalkan raganya oleh senyuman Leng-cu yang memikat itu, baru saja ia hendak berseru menerima ajakan si nona, mendadak seruannya berubah menjadi jeritan.

Pada saat yang sama kawannya juga berteriak.

"Wah, celaka!"

Kiranya sekaligus mereka telah kena di-kerjai Liong Lengcu.

Mendadak si Losam merasa dengkulnya kesemutan dan "bluk", kontan ia roboh terjungkal.

Temannya, si "Lotoa".

agak mendingan, namun mendadak dada juga terasa pegal, entah terkena senjata rahasia apa.

Lotoa itu tahu kepandaian nona cilik ini jauh lebih tinggi daripada mereka, ia tidak berani melawan, tapi cari selamat lebih utama, cepat ia mengangkat kawannya yang tak bisa berkutik itu terus dibawa menggelinding ke bawah bukit.

"Hei, bukankah kau ingin bicara denganku, kenapa lari?"

Seru Leng-cu dengan tertawa ngikik. Nyo Yam mendekatinya dan berkata.

"Ai, buat apa merecoki kaum kroco begitu?"

"Aku gemas terhadap ocehan mereka,"

Kata Leng cu.

"Mereka berani menyelidiki tempat Kai pang, kan pantas bila kuberi sedikit hukuman."

"Bukannya tidak pantas, cuma ...."

"Cuma apa? Kan tidak kubunuh mereka, ini pun untung bagi mereka. Losam itu terkena tiga jarum yang kusambitkan, kukira dia akan cacat selama hidup. Lotoa itu tidak terlalu jahat, hanya kupersen sebuah jarum saja. Kau lihat sendiri, engkoh Yam, hebat tidak senjata rahasiaku? Orang yang kuserang juga bergantung kepada besar-kecil kesalahannya."

Dia serupa anak kecil yang minta dipuji, cara bicaranya riang gembira. Pada saat itulah mendadak dari semak-semak sana berkumandang suara tertawa orang.

"Siapa itu? Silakan keluar!"

Bentak Nyo Yam. Hampir pada saat yang sama orang itu berkata pula.

"Sungguh hebat kepandaian nona menggunakan am-gi (senjata gelap, rahasia), bolehlah aku pun berkenalan dengan kepandaianmu!!"

Pada detik itu juga serentak Nyo Yam dan Liong Leng-cu turun tangan berbareng. Dari jauh Nyo Yam mencengkeram ke arah datangnya suara dengan "Liong-jiau-jiu"

Atau ilmu cakar naga.

Sedangkan Liong Leng-cu menghamburkan tiga buah paku.

Terdengarlah suara "iring tring", ketiga paku itu terpental balik dan hampir saja menyerempet kulit kepala Liong Lengcu.

Serentak orang itu menampakkan diri dan berlari ke atas gunung sambil berseru.

"Wah, sungguh kungfu yang hebat. Kalau berani ayolah naik ke atas gunung, boleh kita coba-coba di sana."

Larinya sangat cepat, dipandang dari belakang seperti seorang lelaki setengah umur. Tergerak hati Nyo Yam. cepat ia membentak.

"Hai, kawan, siapa kau?"

"Kalau berani ayolah menyusul kemari, nanti pasti kuberitahukan padamu,"

Ucap orang itu dengan tertawa.

Nyo Yam merasa ragu.

pikirnya "Waktu kuserang dengan Liong-jiau-jiu tadi hanya dari jarak belasan langkah saja, tapi orang ini sama sekali tidak cedera, sebaliknya segera mampu melarikan diri.

Nyata umpama kepandaiannya tidak dapat melebihiku, agaknya juga tidak dibawahku.

Pula.

ketiga buah paku Leng-cu dapat ditangkisnya terpental kembali, menurut kemampuannya ini, jika dia mau mencelakai Leng-cu agaknya juga tidak sulit, entah mengapa hal ini tidak dilakukannya?"

Karena sedikit mengalami kecundang, Leng-cu merasa malu dan marah, segera ia mendahului mengejar ke sana.

Ginkangnya ternyata lebih tinggi daripada orang itu, tidak lama kemudian sudah dapat disusulnya.

Segera Leng-cu melolos pedang dan membentak.

"Ayolah, kalau mau coba-coba boleh di sini saja. Memangnya kau kira nonamu ada waktu iseng untuk berlomba ginkang denganmu? Kalau tidak lekas berhenti, segera akan kuserang dari belakang!"

Jawaban orang itu sungguh di luar dugaan Leng-cu, katanya.

"Ya, di sini pun boleh. Cuma, bukan maksudku hendak menguji kepandaianmu."

Leng-cu menjadi gusar.

"Maksudmu tidak sudi bergebrak denganku? Baik, jika kau pandang rendah diriku, boleh coba bertanding dengan kawanku."

"Ah, mana berani kupandang rendah nona,"

Ucap orang itu.

"Hmu am-gi nona justru sangat kukagumi, hal ini bukankah sudah kukatakan tadi? Mengenai kawanmu ini, ilmu silatnya jelas melebihiku, mana kuberani bertanding dengan dia."

Leng-cu sangsi terhadap ucapan oranq yang cuma berseloroh saja, tapi orang memujinya terus terang, betapapun ia tidak dapat mendampratnya lagi, katanya.

"Bukankah tadi kau bilang akan coba coba dengan kami di atas gunung, kenapa kau jilat kembali ucapanmu?"

"Memang akan kucoba bicara dengan kalian di atas gunurg dan bukan coba coba kungfu kaiian,"

Ujar orang itu dengan tertawa. Keruan Leng-cu jadi melenggong. Dalam pada itu Se-kiat dan Nyo Yam iu-dah menyusul tiba. Tiba-tiba Nyo Yam menimbrung dengan tertawa.

"Leng-cu, masa engkau belum tahu siapa dia? Haha, dicari setengah mati tidak bertemu, tak tahunya didapatkan tanpa susah payah. Leng-cu, nyata sekali ini penglihatan kita telah meleset."

Leng-cu melengak, katanya.

"Maksudmu dia ini ...."

Mendadak Se-kiat tanya orang itu.

"Numpang tanya. Anda ini Hiangcu Kai pang yang mana?"

Leng cu tambah heran.

"Hei. dari mana kalian tahu dia Hiangcu dari Kai pang?"

"Coba lihat yang teliti!"

Kata Nyo Yam sambil menuding.

Waktu Leng-cu memandang apa yang di tunjuk itu, baru sekarang dilihatnya pada baju orang itu ada beberapa bagian bertambalan.

Menurut peraturan Kai-pang, betapapun tinggi jabatannya tetap harus memakai baju robek.

Biarpun baju baru juga harus dibuatkan tambalan.

Terdengar orang itu menjawab.

"Jeli benar pandanganmu? Kalian datang dari mana dan ada keperluan apa mengunjungi pegunungan ini?"

"Kudatang dari Cadam. atas perintah Beng-taihiap, ingin kutemui pimpinan cabang kalian,"

Jawab Se-kiat.

"O, jika demikian, jadi kita ini sahabat sendiri,"

Ucap orang itu sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Ce Sekiat. Sekali berjabatan tangan, kedua orang saling tergeliat dan lepas tangan lagi sambil bergelak tertawa. Kata orang itu.

"Bilamana tidak salah dugaanku, engkau inilah Ce Se-kiat yang pernah bertanding sama kuat dengan Utti-taihiap."

"Ah. mana kuherani,"

Kata Se-kiat.

"Padahal dulu sekuat tenaga kutahan seratus jurus melawan Utti-taihiap, hal itu karena beliau sengaja mengalah padaku."

"Eh, pandanganmu juga sangat tajam, cara bagaimana kau tahu akan dia?"

Tanya Leng-cu.

"Liok-yang-jiu yang dikuasai Ce-siauhiap nomor satu di dunia, meski pengalamanku tidak banyak, tentang kekuatan Liok-yang-jiu sedikit banyak telah kukenal,"

Tutur orang itu dengan tertawa.

"Aha, Pui Liang dan Hoan Gui kukira pasti berada di tempat kalian?"

Seru Nyo Yam mendadak dengan girang.

Sekali ini Leng-cu dapat menduga sebab apa Nyo Yam bertanya demikian, jelas karena orang ini kenal Liok-yang-jiu dari Pui Liang dan Hoan Gui yang murid Nyo Bok itu.

Benar juga, orang itu lantas menjawab.

"Betul, malahan Kai Hong juga ada di sana."

Selagi Nyo Yam hendak tanya nama orang, didengarnya Sekiat sudah berkata.

"Bila tidak salah dugaanku, Anda tentunya Honghu Siong, Honghu-hiangcu dari cabang Kai-pang di Peking."

Kiranya Se-kiat pernah mendengar dari Beng Goan-ciau bahwa Kai-pang cabang Peking ada dua orang Hiangcu (hulubalang), yang seorang bernama Honghu Siong, bekag anak murid Siau-lim-pai dengan kungfu andalannya, yaitu Kimkong-jiu yang kuat.

Seorang lagi bernama Suma Hian, berasal dari perguruan Liok hap-bun dan terkenal dengan permainan goloknya yang lihai.

Meski kedua orang ini hanya hulubalang cabang Kai-pang.

usianya juga belum ada 40-an, tapi ilmu silat mereka sudah tergolong kelas satu.

Sedangkan ketua cabang Kai-pang, Ki Kiam-hong, usianya sudah lebih 60, maka dengan tepat dapat ditebaknya siapa Honghu Siong.

Begitulah Honghu Siong menjawab.

"Tajam juga pandangan Ce siauhiap, sungguh kagum.. Maaf, kedua saudara ini ...."

"O, dia adik misanku Nyo Yam dan nona Liong itu adalah kawan karibnya,"

Tutur Se-kiat. Honghu Siong terkejut, tapi lantas berseru dengan tertawa.

"Aha, kiranya kalian berdua adalah kedua ksatria muda yang belum lama ini telah membikin geger di Ki-lian-san, pantas kepandaian kalian sedemikian hebat."

"Terima kasih atas pujian Honghu-hiangcu,"

Kata Leng-cu dengan tertawa.

"Ada satu hal ingin kuminta petunjuk kepada Honghu-hiangcu."

"Nona Liong jangan sungkan, silakan bicara saja,"

Jawab Honghu Siong.

"Aku tidak bermaksud sungkan, tapi harus diakui kepandaianmu sesungguhnya lebih tinggi d&ripadaku. sebab itulah ada yang ingin kutanyakan, sebab apakah Honghu hiangcu tidak membereskan kedua antek kerajaan itu? Engkau bersembunyi di sana, apakah diam diam menguntit mereka?"

"Betul,"

Jawab Honghu Siong "Memang diam diam kuawasi gerak gerik mereka, tapi lantaran mereka tidak menemukan tempat kami, maka aku pun tidak perlu mengejutkan mereka. Betul tidak?"

Baru sekarang Leng-cu sadar personlannya, katanya.

"Jadi engkau memancing kami ke sini tentu juga lantaran kuatir mereka belum pergi jauh dan kuatir didengar oleh mereka?"

"Bertindak hati hati sedikit kan lebih baik?"

Ujar Honghu Siong.

"Tentu nona tidak menyesali gurauanku tadi bukan?"

"Nah, sekarang tentunya kau paham mengapa kucegah engkau menghajar kedua kroco tadi,"

Sela Nyo Yam dengan tertawa.

"Ya, sekarang kupaham,"

Kata Leng-cu dengan menyesal.

"Lantaran perbuatanku yang usil sehingga menambah kesulitan bagi Kai-pang kalian."

"Sesungguhnya akhir-akhir ini kami pun sedang berusaha memindahkan pangkalan kami,"

Tutur Honghu Siong.

"Lebih cepat pindah juga lebih baik, maka nona tidak perlu menyesal."

Meski hambar saja caranya bicara, tapi dari nada orang dapatlah Leng-cu mengetahui apa yang dilakukannya tidak cuma menimbulkan sedikit kesukaran saja bagi Kai-pang.

"Wah. sekali ini aku benar-benar salah tindak, cuma kedua antek kerajaan itu juga sudah terkena senjata rahasiaku, yang terluka agak ringan setelah pulang juga perlu rebah selama beberapa hari baru dapat bergerak lagi,"

Terpaksa ia menghibur Honghu Siong dengan cara demikian, sekaligus juga menghibur diri sendiri.

Maklumlah, biarpun kedua orang itu tidak dapat segera kembali ke kotaraja untuk melapor dan umpama Ostai tetap curiga markas cabang Kai-pang berada di Se-san, sedikitnya juga diperlukan beberapa hari lagi baru dapat mengirim lagi anak buahnya yang lain.

Begitulah sembari bicara sambil berjalan, tanpa terasa mereka sudah sampai di kaki tebing Pit-mo-kai.

Dilihatnya sepotong batu karang raksasa mencuat dari bagian atas dan di bawahnya ada sebuah tanah lapang sehingga serupa mulut singa yang terpentang lebar.

Selagi Se-kiat heran tidak melihat sesuatu bangunan apa pun dan di manakah letak markas cabang Kai pang yang dimaksud, tiba-tiba terdengar Honghu Siong bersuit panjang, lalu berseru.

"Tamu datang!"

Selagi suara suitannya masih bergema di udara, mendadak bagian bawah batu karang raksasa yang dekat permukaan tanah lapang itu terbuka sebuah pintu, lalu muncul seorang pengemis tua.

Dari Beng Goan-ciau pernah Se-kiat diberitahu bagaimana wajah Ki Kiam-hong, Tocu atau kepala cabang Kai-pang di Peking, maka sekali pandang saja ia lantas tahu pengemis tua inilah Ki Kiam-hong.

Melihat kedatangan orang tak dikenal, segera Ki Kiam-hong m"nyapa "Tamu agung dari manakah?"

Belum lagi mendapat jawaban, tiba-tiba ada lagi orang berseru.

"Aha, Ce-sute yang datang!"

Ternyata sekaligus ikut muncul juga dari belakang Ki Kiamhong, yaitu Hoan Gui, Pui Liang dan Kai Hong.

"Haha, kiranya Ce-siauhiap yang akhir-akhir ini sangat terkenal di dunia kangouw, benar benar kedatangan tamu agung,"

Seru Ki Kiam-hong dengan terbahak.

"Eh, apakah Osiauhiap baru datang dari Cadam?"

Honghu Siong tertawa, katanya.

"Kedua ksatria muda ini akhir-akhir ini juga telah mengguncangkan dunia kangouw berhubung beberapa urusan yang mereka lakukan, bahkan mereka juga datang dari Cadam."

Kai Hong mengamat amati Nyo Yam sejenak, tiba-tiba ia bertanya.

"Tentu engkaulah Tuan penolong yang menyelamatkan diriku dari penjara di Poting tempo hari itu, sungguh aku sangat berterima kasih."

Kiranya malam itu Nyo Yam dapat menyelamatkan Kai Hong dari penjara, namun sejauh itu tidak bicara sekata pun dengan dia.

"Kita kan saudara seperguruan dan bertingkatan sama, mana boleh Suheng menyebutku sebagai tuan penolong segala,"

Ujar Nyo Yam dengan tertawa.

"Hah, jadi engkau ini Nyo Yam, Nyo-sute,"

Seru Hoan Gui melengak.

"Betul, aku inilah Nyo Yam. Kita kan orang sendiri, jadi tidak perlu sungkan,"

Jawab Nyo Yam. Rupanya sumber berita Ki Kiam hong memang sangat cepat, dia sudah tahu apa yang terjadi di Ki lian san itu, ia sangat senang, ucapnya dengan tertawa.

"Nyo-laute, engkau telah mengalahkan berbagai tokoh kalangan hitam di Ki-lian san, meski aku tidak tahu seluk-beluk persoalannya, tapi kupercaya kepada macam-macam caci maki orang kepada kalian. Tidak peduli kalian benar atau salah, bahwa kalian berani bertindak begitu, sungguh aku sangat kagum kepada kalian. Nona ini tentunya nona Liong adanya?"

Leng-cu merasa cocok dengan watak Ki Kian-hong yang suka blak blakan itu. jawabnya dengan tertawa.

"Betul, aku inilah Liong Leng-cu yang dipandang sebagai Siau yau-li itu."

"Bagus, marilah bicara saja di dalam,"

Kata Ki Kiam-hong. Setelah masuk dan duduk, Ce Se-kiat lantai menguraikan makrud kedatangannya.

"Terima kasih atas perhatian kalian,"

Kata Kai Hong.

"Mengenai obat-obatan yang diperlukan laskar rakyat, berkat bantuan Ki-tocu semuanya sudah kubeli dengan lengkap. Cuma sementara ini belum dapat mengangkutnya pulang."

"Tentang pihak Gikun (pasukan pemberontak) mengirim utusan mencari obat-obatan di kotaraja, hal ini sudah diketahui juga oleh pihak kerajaan,"

Tutur Ki Kiam-hong.

"Syukur dari bantuan beberapa kawan, segala kebutuhan sudah dapat kubeli lengkap. Cuma untuk membawanya ke Cadam, inilah yang sulit sebab akhir-akhir ini pemeriksaan cukup ketat, dalam perjalanan setiap saat mungkin jaga bisa dicegat."

"Di mana obat-obatan itu disembunyikan?"

Tanya Se kiat.

"Untung sudah lama kuangkut keluar kota. sekarang tersimpan di gua rahasia sini,"

Tutur Ki Kiam-hong.

"Cuma daerah sini masih termasuk wilayah kotaraja dan tentu berkeliaran peronda antek kerajaan. Umpama rintangan di sini dapat kita tembus, sepanjang perjalanan juga perlu pengawalan."

Bicara sampai di sini ia jadi tertawa sendiri, katanya.

"Kukira tiada yang berani menjadi pengawal kiriman ini, terpaksa mungkin aku yang harus tampil sendiri. Cuma sayang saat ini aku belum sempat pergi dari sini, harus tunggu pulangnya Suma-hiangcu dulu."

"Tidak, tidak, urusan ini kami tidak berani membikin repot Kai-pang kalian,"

Kata Kai Hong.

"Bantuan kalian kepada kami sudah terlalu banyak dan cukup sampai di sini saja."

Pui Liang kuatir Nyo Yam tidak paham seluk beluk urusan ini, maka ia coba memberi penjelasan.

"Meski Kai-pang ada hubungan dengan pasukan pemberontak kita, tapi belum memusuhi pihak kerajaan secara terang-terangan. Maka urusan ini sedapatnya jangan sampai melibatkan Kai-pang secara keseluruhannya, hal ini akan banyak menimbulkan kesulitan di kemudian hari."

"Eh, bagaimana kalau perbolehkan aku melamar untuk menjadi pengawal?"

Kata Se-kiat tiba tiba.

"Ce-laute,"

Kata Ki Kiam-hong.

"meski kepandaianmu sangat tinggi, tapi melulu engkau orang ..."

Ia tidak melanjutkan, tapi Nyo Yam sudah tahu apa yang hendak dikemukakannya. Namuu ia pun tidak menanggapi. Tampaknya Ki Kiam-hong rada kecewa, katanya.

"Sudahlah, urusan ini boleh kita bicarakan lagi nanti. Oya, bicara tentang pengawalan, aku jadi teringat kepada Cin-wan-piaukiok. Cesiauhiap, kabarnya ibumu sekarang berada di piaukiok sana?"

"Betul, aku pun sudah bertemu dengan ibu,"

Sahut Se-kiat.

"Terus terang, lantaran kami tidak leluasa tinggal di piaukiok, maka kami sengaja datang ke sini untuk menghindar beberapa hari."

"Memangnya terjadi urusan apa dengan piaukiok?"

Tanya Ki Kiam-hong. Se-kiat menghela napas tanpa menjawab dan dipandangnya Nyo Yam.

"Bicara saja, tidak menjadi soal,"

Kata Nyo Yam. Segera Ki Kiam hong mengerti persoalannya, katanya.

"Sudahlah, Ce-siauhiap, tidak perlu kau jelaskan lagi, kukira pasti pamanmu mempersulit Cin-wan piaukiok."

Se-kiat mengangguk.

"Ya, esok lusa adalah hari Hancongpiauthau meresmikan pengunduran dirinya, maka harus kutunggu lagi beberapa hari baru dapat melaksanakan urusan lain."

"Sudah kuterima kartu undangan Han-lopiauthau,"

Kata Ki Kiam hong.

"Biarlah esok lusa kupergi bersamamu."

Se kiat kegirangan.

"Hah, bagus sekali."

Mendadak Ki Kiam hong berkata kepada Liong Leng cu.

"Pada 20 tahun yang lalu ada seorang Tian-taihiap berjuluk Giok-liong-thaysu (putra makota naga kemala), adakah sesuatu hubungan antara dia dengan nona?"

Leng-cu melengak, ia heran dari mana orang tahu asal usulnya, maka ia pun tidak perlu merahasiakan diri lagi, jawabnya.

"O, beliau adalah ayahku Cuma aku ikut she ibu. Entah ada urusan apa Tocu tanya tentang ayah?"

"Dahulu aku pernah berjumpa satu kali dengan ayahmu."

Tutur Ki Kiam bong.

"Tentang permusuhan Pek toh lancu dengan ayahmu aku pun tahu. Akhir-akhir ini pun kuketahui apa yang dialami nona di Ki-lian-san itu sebenarnya juga didalangi oleh Pek-toh sancu."

Baru sekarang Leng-cu tahu orang mengetahui asal-usulnya dari kejadian di Ki-lian-san dulu. Ia coba tanya.

"Tentang permusuhan ayah dengan Pek-toh-sancu apakah Ki tocu dengar langsung dari mendiang ayahku?"

"Bukan, kudengar dari sumber lain,"

Jawab Ki Kiam-hong.

"Sebenarnya tidak mengherankan bahwa Pek-toh-sancu hendak menangkap nona. Hanya suatu urusan lain yang membuatku tidak mengerti. Yaitu kabarnya ada anak murid Thian-san-pai juga berusaha hendak menangkap nona, masa bisa terjadi pihak Thian-san-pai berkomplot dengan Pek-tohsan?"

"Sebabnya Thian-san-pai memusuhiku adalah karena urusan lain dan tidak ada langkut-pautnya dengan Pek tohsan,"

Tutur Leng-cu tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Malamnya, karena macam-macam pikiran, Nyo Yam tidak dapat pulas.

Tiba-tiba didengarnya suara suitan panjang sayup sayup berkumandang dari kejauhan.

Ia terkejut, jelai lwekang yang bersuit tidak lemah.

Ia bangun dan mengenakan baju, dilihatnya Ki Kiam-hong sudah membuka pintu rahasia gua.

Suara suitan itu sebenarnya sangat lirih kedengaran, karena lwekang Nyo Yam sangat tinggi, daya pendengarannya sangat tajam, maka dapat didengarnya.

Liong Leng cu tertidur nyenyak dan tidak mendengar.

Ce Se-kiat baru saja terjaga bangun juga.

"Tocu, biar kuikut keluar,"

Desis Nyo Yam kepada Ki Kiamhong. Pengemis tua itu mengangguk, tapi berkata kepada Ce Sekiat.

"Ce-siauhiap, harap engkau menjagakan sarangku."

Setelah meninggalkan tebing, segera Ki Kiam-hong berlari cepat.

Meski ginkang Nyo Yam tidak kalah dibandingkan pengemis tua itu, tapi perlu juga mengerahkan tenaga baru dapat menyusulnya.

Apalagi dilihatnya pengemis tua itu berlari dengan ringan saja tanpa banyak keluarkan tenaga, mau-tak mau Nyo Yam merasa kagum.

Setelah menyusulnya, Nyo Yam coba tanya dia.

"Siapakah lawan ini?"

"Bukan lawan, tapi orang sendiri,"

Jawab Ki Kiam-hong. Jawaban ini berbalik di luar dugaan Nyo Yam, ia coba tanya lagi.

"Orang sendiri siapa?"

"Suma Hian, Suma-hiangcu kami,"

Jawab Ki Kiam-hong.

Keterangan ini membuat Nyo Yam tambah heran.

Hiangcu sendiri pulang, buat apa memberitahu dengan bersuit segala?

Mengapa sikap Ki Kiam-hong serupa bakal menghadapi musuh tangguh dan kelihatan tegang?

Apalagi bersuit di tengah malam buta, jika ada antek kerajaan yang mengintai di sekitar situ, bukankah rahasia sarang Kai-pang akan ketahuan?

Selagi sangsi, terdengar suara suitan tadi bergema pula, sekali ini terdengar dengan lebih jelas.

Ki Kiam-Long seperti terkejut, serunya.

"Wah, celaka!"

"Celaka bagaimana?"

Tanya Nyo Yam dengan bingung.

"Suma Hian kepergok musuh tangguh dan terluka,"

Tutur Ki Kiam-hong. Nyo Yam terkejut, tanyanya.

"Dari mana kau tahu?"

"Dari suitannya yang pertama tadi sudah kudengar tenaganya tidak cukup, suara suitan kedua semakin lemah, jelas dia sudah terluka."

Namun Nyo Yam justru tidak merasakan kelainan pada suara suitan orang, maka ia merasa sangsi.

Ia juga pernah belajar cara mendengarkan suara untuk menentukan arah senjata, dapat didengarnya tempat datangnya suara suitan sedikitnya lebih dari satu li jauhnya.

Kumatidang suara suitan dari jarak sejauh itu dapat diketahui suara siapa, bahkan diketahui orangnya terluka, sungguh sukar untuk dipercaya.

Padahal ia tahu Suma Hian sama tangkasnya dengan Honghu Siong, di dunia persilatan sudah tergolong jago kelas satu, kecuali berhadapan dengan musuh setingkat Ostai atau We Tiang-jing, kalau orang lain jarang yang mampu melukainya.

Padahal dalam keadaan genting di kotaraja, rasanya Ostai dan We Tiang-jing takkan datang ke Se-san di tengah malam buta begini.

Dalam pada itu Ki Kiam-hong tidak sempat bicara lagi dengan Nyo Yam.

segera ia percepat langkahnya menuju ke arah datangnya suara.

Benar juga, sejenak kemudian segera terdengar suara bentakan, suara dua orang sedang bertempur dengan sengit.

Dari jarak antara setengah li mendadak Ki Kiam-hong juga mengeluarkan suara suitan panjang.

Tentu saja Nyo Yam heran apakah suara Ki Kiam-hong ini takkan mengejutkan musuh dan membuatnya lari ketakutan?

Menurut jalan pikiran anak muda ini, seharusnya Ki Kiam-hong merunduk datang secara diam-diam dan sedapatnya menawan musuh hidup-hidup.

Belum lagi lenyap pikirannya, benarlah terlihat sesosok bayangan hitam muncul di lereng bukit sana dan lari ke bawah.

Pada saat yang sama lantas terdengar suara seorang berseru.

"Tocu, jangan urus diriku, tangkap musuh dulu!"

Suaranya serak, dari suaranya dapatlah Nyo Yam mendengar orang ini memang terluka parah.

Baru sekarang ia sadar duduknya perkara.

Rupanya suara suitan Ki Kiam-hong tedi sengaja digunakan untuk menggertak lari musuh.

Soalnya ia tahu Suma Hian terluka dan kuatir tidak keburu menolongnya, maka lebih dulu ingin menggertak lari musuh.

Begitulah, dengan cepat luar biasa Ki Kiam-hong tepat mencegat di depan orang yang sedang kabur itu sambil membentak.

"Lari ke mana tawanan antek!!"

Sekali tangan bergerak, kontan ia tampar muka orang secepat kilat.

Cepat orang itu mengegos, namun tidak urung muka terasa panas pedas tersambar oleh angin pukulan.

Keruan lelaki itu menjadi gusar, bentaknya.

"Pengemis tua, apakah kau ini Ki Kiam-hong?"

"Kalau betul mau apa?"

Jawab Kiam-hong. pukulan kedua segera dilontarkan.

"Baik, ingin kulihat betapa tinggi kepandaian-mu, kalau berani ayolah bertempur tiga ratus jurus denganku!!"

Jengek orang itu, sembari bicara sambil menggeser dan segera balas menghantam.

Ki Kiam-hong juga mengalak dengan ringan, serangan lawan seperti sudah terduga sebelumnya, menyusul telapak tangan lain berputar dan menghantam pula.

Namun orang itu pun menangkis dan menyerang lagi dengan cara yang tepat, setiap serangan Ki Kiam hong dapat dipatenkannya dengan cepat dan tepat.

Di tengah sambaran angin pukulan lawan, tiba tiba Ki Kiamhong mengendus bau harum, tanpa terasa timbul rasa mabuk yang membuatnya mengantuk.

Terkesiap hati Ki Kiam-hong, bentaknya.

"Kiranya siluman dari Pek-toh-san!"

Kembali tangannya menampar lagi, sekali ini hampir seluruh tenaganya dikerahkan. Begitu kedua tangan beradu.

"blang", orang itu tergetar mundur beberapa langkah. Namun Ki Kiam hong tidak menyerang lebih lanjut meski di atas angin, ia cuma mendengus.

"Biarlah utangmu sementara kucatat dulu dan akan kutagih lagi kelak."

Kiranya setelah bergebrak tiga jurus dengan orang itu.

Siam hong sendiri harus sekaligus berjaga-jaga terhadap racun pukulan musuh.

Jika begitu mungkin dalam tiga ratus jurus juga takkan menang.

Apabila ia harus, menolong kawan lebih dulu maka dia tidak berani ayal lagi.

Sebaliknya orang itu pun rada jeri setelah bergebrak tiga jurus, ia tertawa dan berkata "Ki Kiam-hong, masa cuma tiga jurus saja pertarungan kita?

Baiklah, sisa 297 jurus biarlah kucoba lagi padamu kelak."

Habis bicara segera ia hendak angkat kaki begitu saja. Mendadak Nyo Yam membentak.

"Aku saja yang menandangimu 297 jurus lagi!"

Tahu tahu anak muda ini sudah mengadang di depan lelaki itu. Tentu saja dia terkejut atas kecepatan Nyo Yam, tapi dilihatnya lawan masih muda belia sehingga tidak begitu diperhatikannya, katanya.

"Hrn, anak kecil ingin mampus, boleh kupenuhi permintaanmu."

Sembari bersuara sekaligus ia menghantam dengan kepalan dan telapak tangan, jurus serangan serupa yang digunakannya terhadap Ki Kiam hong tadi.

Akan tetapi Nyo Yam juga lantas bergerak, kedua tangan berputar melingkar dan menimbulkan daya gempur yang dahsyat.

Inilah Toa-si-mi ciang-hoat dari Thian san-pai yang terkenal, tenaga pukulan Toa-si-mi-ciang-hoat sangat ajaib, bilamana serangan rnusuh kuat, daya tahannya juga kuat.

Padahal tenaga orang itu jelas di atas Nyo Yam, tapi entah mengapa tetap tidak dapat menembus garis pertahanan Nyo Yam.

Setelah menyerang dengan keras dan tidak berhasil, mendadak orang itu berganti jurus serangan, dengan jari tangan kiri ia mencengkeram dengan jurus "Yu-kong-tam-jiu"

Atau mencengkeram kosong ke udara, tulang lemas pundak Nyo Yam hendak dicengkeramnya.

Berbareng tenaga pada tangan kiri diperkeras, tujuannya ingin membuat Nyo Yam tidak sempat berjaga di sana-sini sekaligus.

Tak terduga Nyo Yam manyambutnya dengan tergelak.

"Haha, boleh kita coba!"

Ia pun menirukan gerakan orang dengan mencengkeram, cuma cengkeramannya ini adalah Liong jiau-jiu ajaran Liong Leng cu.

jauh lebih lihai dibandingkan cengkeraman lawan.

Merasa angin tajam menyambar tiba, lelaki itu tahu gelagat tidak menguntungkan, cepat ia ganti cengkeram menjadi pukulan tangan untuk menghadapi serangan Nyo Yam dengan keras lawan keras.

"Biang", Nvo Yam tergeliat dan tergetar mundur juga dua tindak. Namun lelaki itu pun sangat terkejut, sebab tenaga dalam Nyo Yam ternyata jauh di atas dugaannya. Kecuali itu ada dua hal lagi yang membuatnya terkejut, yaitu pertama, ia sendiri adalah seorang ahli ilmu silat, namun kedua jurus serangan Nyo Yam ternyata tidak dikenalnya. Kedua, yang membuatnya terlebih terkejut adalah pukulannya yang berbisa, yaitu padi telapak tangannya dipoles semacam obat yang dapat membuat orang lemas dan kehilangan daya perlawanan. Tapi sekarang Nyo Yam tetap dapat menangkis serangannya tanpa cedera sedikit pun, bahkan tenaganya tidak kelihatan terpengaruh sedikit pun, dengan sendirinya hal ini sangat mengejutkan orang itu. Begitu mundur segera Nyo Yam mendesak maju iagi sambil membentak.

"Kalau menerima tanpa memberi kurang hormat, ini, kaupun sambut pukulanku!"

Berbareng kedua telapak tangannya berputar melingkar, di tengah lingkaran besar tercipta pula lingkaran lingkaran kecil dan membuat pandangan lawan menjadi kabur.

Seketika orang itu seperti tenggalam dalam pusaran yang kuat dan terdampar oleh tenaga pukulan dari berbagai penjuru.

Jurus serangan Nyo Yam ini dikenal oleh lelaki itu malah, ia terkejut dan berseru "Hei, apakah Siau Yat-khek adalah gurumu?"

Kiranya jurus yang dilontarkan Nyo Yam ini adalah jurus serangan "Sau yap-ciang-hoat"

Atau ilmu pukulan menyapu daun ciptaan Siau Yat-khek yang dulu pernah bertempur dengan lelaki ini di Ki lian-san.

Lelaki ini tak-lain-tak-bukan adalah Ubun Lui, keponakan Pek-toh-sancu, namun Ubun Lui tidak kenal siapa Nyo Yam.

Dengan tertawa Nyo Yam menjawab.

"Siau-locianpwe tidak sudi menjadi guruku beliau mengajarkan jurus ini kepadaku dengan syarat, apakah kau ingin tahu?"

"Hm, syarat apa?"

Jengek Ubun Lui.

"Hari itu dengan tipu licik engkau telah melukai dia, maka dia menyuruhku membunuhmu dengan kungfu ajarannya,"

Tutur Nyo Yam.

"Hm, anak ingusan seperti kau dapat membunuhku?"

Jengek Ubun Lui, meski demikian bicaranya, namun kaki segera tancap gas dan kabur dengan cepat.

"Jika kau bilang aku tidak dapat membunuhmu, kenapa kita tidak coba-coba lagi?"

Teriak Nyo Yam. Lari Ubun Lui secepat terbang, suaranya berkumandang dari jauh.

"Aku tidak sudi bergebrak dengan anak muda macammu. Pulang saja dan sampaikan kepada Siau Yat-khek, bila dia ingin menuntut balas, setiap saat boleh cari padaku di Pek-toh-san."

Dengan sendirinya ucapannya cuma untuk menutupi rasa malunya saja.

Soalnya karena pukulannya yang berbisa tidak dapat mencederai Nyo Yam, betapapun ia menjadi jeri, kalau melulu berdasarkan kepandaian sejati jelas dia tidak dapat menang, apalagi saat itu Ki Kiam-hong sedang menolong Suma Hian yang terluka, sebentar lagi kalau sempat ikut mengerubutnya, tentu sukar baginya untuk lari, dengan sendirinya ia tidak berani tinggal lebih lama di situ dan cepat angkat langkah seribu.

"Haha, kiranya engkau hanya sanggup bergebrak sekadarnya denganku tapi masih berani, omong besar,"

Seru Nyo Yam dengan tertawa.

"Mungkin manusia yang berkulit muka paling tebal di dunia ini adalah dirimu dan tidak ada orang lain."

Setelah memperolokkan Ubuh Lui, untuk membela Ki Kiamhong, ia pun tidak mengejar Ubun Lui lagi.

Dalam pada itu Ki Kiam-hong sudah selesai membalut luka Suma Hian, namun keadaan Suma Hian masih belum sadar, bahkan kelihatan berjingkrak serupa menari.

"Tocu, jangan ... jangan hiraukan diriku,"

Teriaknya meracau.

"Oo, aku ... aku sangat susah ... ah. tidak, sangat ... sangat enak ... enak .. terbang ... terbang ke sorga."

Bermula ucapannya masih jelas, tapi kemudian lantas tak keruan jentrungannya, serupa orang kuras waras. Ki Kiam-hong tak berdaya, katanya.

"Nyo-laute, syukur engkau lelah membantu mengusir siluman dari Pek-toh-san itu. Keparat itu berlatih sejenis ilmu pukulan berbisa, setelah bergebrak dengan dia, tampaknya Nyo-laute tidak gentar teihadap racun pukulannya?"

"Ya soalnya aku mempunyai obat penawar. Tocu jangan kuatir,"

Kata Nyo Yam. Kejut dan gembira Ki Kiam-hong.

"Hah, Nyo-lacte sungguh hebat, mengapa obat penawar khas Pek-toh san berada padamu?"

"Pek-toh san memang mempunyai semacam obat istimewa, namanya siu-sian wan. kekuatan pil ini tiada ubahnya seperti candu, dapat membuat orang ketagihan. Ada dua orang, yaitu In-tiong siang-sat, yang ikut mengedarkan Sin-sian wan keluaran Pek toh san itu salah seorang di antaranya pernah ku bekuk dan dari dia kudapatkan obat penawar ini."

Sembari bicara ia terus memberi minum satu biji pil yang dimaksud kepada Suma Hian.

Obat penawarnya memang sangat mujarab hanya sebentar saja Suma Hian sudah siuman, setelah menghela napas lega, lalu berkata.

"Sungguh siluman yang lihai, syukur Tocu datang tepat pada waktunya sehingga jiwaku tertolong"

"Yang menyelamatkan jiwamu adalah Nyo-siauhiap ini,"

Tutur Ki Kiam-hong. Cepat Suma Hian mengucapkan terima kasih kepada Nyo Yam.

"Ah, orang sendiri, tidak perlu banyak adat,"

Kata Nyo Yam.

"Nyo-siauhiap ini orang sendiri, maka tidak perlu lagi kupantang bicara,"

Kata Suma Hian, Lalu ia menuturkan pengalamannya kepergok musuh ketika pulang sampai di dekat Pit-mo-kai.

"Racun yang dipoles pada telapak tangan keparat tadi adalah cairan Sin-sian-wan,"

Tutur Ki Kiam-hong.

"O, jadi siluman ini dari Fek-toh-san?"

Kata Suma Hian.

"Betul, tapi sesungguhnya apa kedudukannya di Pek-tohsan belum diketahui,"

Ujar Ki Kiam-hong.

"Orang ini pernah bergebrak satu kali denganku,"

Tutur Nyo Yam.

"Dia adalah kemenakan Pek-toh-sancu."

Suma Hian terkejut.

"Umpama tidak menggunakan pukulan berbisa juga kepandaiannya tidak di bawahku. Tak tersangka kemenakan Pek-toh-sancu saja sedemikian lihai, pantas Tan jiu-sing minta bergabung dengan kita untuk menghadapi Pektoh-sancu."

Tan-jiu-sing adalah tokoh Kong-tontg-pai guru Beng Hoa. Seketika Nyo Yam menaruh perhatian demi mendengar nama Tan-jiu-sing disebut. Suma Hian seperti dapat merasakan sikap Nyo Yam itu. katanya.

"Nyo-siauhiap adalah orang sendiri, tidak ada alangannya kukatakan padamu. Atas perintah Tocu. kepergianku kali ini adalah untuk memenuhi undangan Tanjiu-sing untuk berunding cara bagaimana menghadapi Pektoh-san. Tan-jiu-sing telah mengetahui rahasia cara Pek tohsan membikin susah kaum pendekar kita dengan obat racunnya, terutama korban yang ketagihan sehingga lahir batin manyerah di bawah kekuasaan mereka. Sudah diketahui ada beberapa anak murid Kong-tong-pai berada di bawah pengaruh siluman dari Pek toh-san."

Hal ini sudah diketahui oleh Nyo Yam, ia pikir tentang persekongkolan keluarga Lau bersaudara dengan pihak Pektoh-san ternyata sudah diketahui oleh Tan jin sing, padahal mereka mengira dapat mengelabui perguruannya.

Suma Hian menyambung lagi.

"Ketika di Kong-tong-san, di luar dugaan telah kutemui seorang tokoh yang termasyhur."

"Oo. siapakah dia?"

Tanya Ki Kiam-hong-"Beng Hoa, murid Tan-jiu-sing,"

Tutur Suma Hiau.

"Beng Hoa pulang ke kong-tong san untuk menjenguk sang guru, kan tidak perlu diherankan,"

Ujar Kiamu liong "Tidak, dia pulang ke Kong tong san adalah untuk melaporkan suatu peristiwa aneh yang bersangkutan dengan Thian tun-pai dan dia datang selaku murid tidak resmi dari Thian-san-pai."

Hati Nyo Yam berdebar, sebab ia tahu yang dimaksud pesti urusan yang menyangkut dirinya. Benar juga, didengarnya Suma Hian menyambung lagi.

"Menurut cerita Beng Hoa, Thian-san pai ada seorang murid murtad, namanya Nyo Yam. usianya antara 20 an, namun sangat tabah dan juga tinggi kepandaiannya sehingga seorang Tianglo (tertua) perguruannya juga dilukainya. Thian-san pai sudah memutuskan akan memecatnya, sebab itulah semua golongan dan aliran akan diberitahu agar selanjutnya tidak menganggapnya sebagai murid Thian-san-pai. Beng Hoa minta kusampaikan urusan itu kepada Pang kita supaya mengetahuinya."

"Apakah Thian-san-pai minta berbagai aliran lain membantu mereka menangkap murid murtad itu?"

Tanya Nyo Yam "Tidak,"

Jawab Suma Hian.

"Tokoh Thian san pai tak terhitung banyaknya, untuk membersihkan perguruan sendiri mereka tidak perlu bantuan orang luar. Thian-san-pai cuma kuatir murid murtad ini akan mencemarkan nama baik Thiansan-pai, maka sesuai peraturan umum setiap aliran dan golongan perlu di-beritahu."

Bahwa Ciok Thian-heng pasti takkan mengampuni dirinya, hal ini memang sudah dalam dugaan Nyo Yam.

Tapi sekarang ketua Thian-san-pai juga percaya kepada keterangan sepihak dari Ciok Thian-heng, bahkan secara resmi menyiarkannya kepada aliran lain Meski Nyo Yam tidak berharap lagi menjadi murid Thian san-pai, tapi demi mengetahui urusan berlarut sejauh itu, hatinya menjadi panas juga.

Waktu Suma Hian bicara tadi, berulang Si Kiam-hong berdebum, namun tidak di-perhatikan oleh kawannya itu.

Maka Suma Hian berkata lagi.

"Beng Hoa tidak menjelaskan apa kedudukan murid murid itu, tapi kemudian dari Tan jiusing kudapat tahu bahwa murid murtad yang bernama Nyo Yam itu adalah saudara Beng Hoa sendiri berlainan ayah. Coba, bukankah urusan ini rada di luar dugaan, padahal nama baik Beng Hoa termashur, tak tersangka saudaranya bisa .."

Kembali Ki Kiam-hong berdehem beberapa kali, sekali ini barulah dirasakan oleh Suma Hian, cepat ia mengalihkan pokok pembicaraan, katanya.

"Oya, saudara Nyo, sejauh ini belum lagi kuminta petunjuk siapa namamu yang terhormat."

Ia pikir masakah urusan begini kebetulan? Dengan menggigit bibir, pelahan Nyo Yam berkata.

"Aku tak-lain-takbukan adalah murid murtad Nyo Yam yang telah dipecat oleh Thian-san-pai itu. Mestinya sejak tadi kukatakan kepada kalian bahwa anda ialah wesel bilamana kalian menganggapku sebagai orang sendiri."

Keruan Suma Hian serba kikuk, ucapnya dengan tergegap.

"Oo, ma ... maaf, Nyo-heng, sungguh aku ... aku tidak tahu . ."

"Baru sekarang kau tahu kan juga belum terlambat,"

Ucap Nyo Yam.

"Biar kumohon diri saja."

Mendadak Ki Kiam-hong tergelak dan menarik Nyo Yam, katanya.

"Ai, saudara Nyo, Thian san-pai bukan Kai-pang dan Kai-pang bukan Thian-san-pai, bahwa engkau melanggar peraturan Thian-san-pai sendiri, bagaimana duduk perkara yang sebenarnya tidak enak baginya untuk bertanya, juga kami tidak ingin ikut campur. Tapi bagi Kai-pang kami, engkau adalah tuan penolong saudara kami. Nyo siauhiap, apabila engkau tidak memandang rendah padaku, maka hendaknya engkau tetap sahabat kami."

Segera Suma Hian menukas.

"Ya, saudara Nyo, janganlah engkau salah paham akan maksudku. Aku menyesali kecerobohanku sendiri, aku tidak tahu Nyo Yam adalah engkau sendiri, tadi waktu kubicara juga menyinggung perasaanmu, untuk itu hendaknya engkau jangan marah. Engkau adalah tuan penolong jiwaku, tidak nanti kupercaya kepada keterangan sepihak dari Thian-san pai."

"Tapi orang Thian san pai memang tidak salah omong, aku memang betul telah bersalah seperti keterangan mereka,"

Kata Nyo Yam. Mendadak Suma Hian menepuk dada, terusnya.

"Saudara Nyo, biarpun benar engkau berbuat salah, engkau tetap juga tuan penolongku. Seorang lelaki harus tegas membedakan budi dan benci, bilamana tenagaku diperlukan, terjun ke lautan api pun takkan kutolak. Yang kuharap hanya sudilah engkau jangan marah padaku."

"Saudara Nyo,"

Ki Kiam-hong menambahkan.

"dilihat dari kebesaran jiwamu ini, aku pun tidak percaya tuduhan Thiansan-pai atas dosamu. Menurut pendapat ku, tentu engkau ada alasan yang sukar dijelaskan, maka tidak mau membela diri."

Mendengar ucapan mereka yang tulus itu, Nyo Yam menghela napas, ucapnya.

"Baiklah, terima kasih banyak atas kepercayaan kalian terhadapku. Urusan ini sebaiknya jangan kita bicarakan lagi."

Ki Kiam-hong mengira anak muda itu sudah batalkan maksud kepergiannya, maka ia pun tidak bicara lebih lanjut.

Setiba kembali di Pit mo kai, Ce Se-kiat, Liong Leng cu, Honghu Siong dan lain-lain sudah sama bangun dan mengetahui telah terjadi kegemparan di luar mereka sedang menunggu kepulangan Ki Kiam-hong dengan cemas, maka ketika melihat Suma Hian ikut pulang bersama mereka, mereka terkejut, yang seorang tanya Suma Hian dan yang lain tanya Nyo Yam apa yang terjadi dan apakah mereka terluka?.

Honghu Siong adalah seorang tokoh kelas tinggi, dapat dilihatnya keadaan Suma Hiau yang terluka, sedangkan Liong Leng cu juga melihat wajah Nyo Yam yang pucat dan berbeda daripada biasanya, disangkanya anak muda iiu juga terluka.

"Tidak, aku tidak terluka,"

Jawab Nyo Yam dengan singkat. Dengan tertawa Suma Hian juga berkata.

"Justru berkat pertolongan Nyo-siauhiap, kalau tidak jiwaku pasti sukar dipertahankan. Sedikit luka yang masih kurasakan tidak menjadi soal lagi."

Lalu Suma Hian menguraikan apa yang terjadi tadi.

"Kembali perbuatan Ubun Lui lagi,"

Ucap Leng cu dengan gemas. Ketika di Ki lian san dia hampir tertangkap oleh Ubun Lui, hal ini juga diketahui oleh Ce Se-kiat.

"Jangan kuatir, nona Liong,"

Kata Se-kiat.

"Meski tinggi juga kepandaian Ubun Lui, ku-yakin aku dan adik Yam masih sanggup melayani dia. Bilamana kepergok dia lagi kami pasti akan hajar dia untuk melampiaskankan dendammu."

"Tocu,"

Sela Honghu Siong.

"jejak kita sudah diketahui Ubun Lui, apakah kita tidak perlu bersiap-siap seperlunya?"

"Obat-obatan itu tersimpan di gua belakang, seketika sukar untuk diangkut pergi terpaksa kita harus untung-untungan,"

Ujar Ki Kiam-hong.

"Bilamana mereka mencari kemari, kukira gua dibelakang juga sukar ditemukan. Cuma sekarang beberapa orang di antara kita sebaiknya pergi dulu dari sini."

Ia pikir sejenak, lalu menyambung.

"Kai-pang tidak pernah memusuhi kerajaan Jing secara terpaksa, yang dikuatirkan sekarang adalah obat-obatan dan buronan yang mereka cari itu. Begini saja. esok boleh engkau membawa Kai Hong bertiga menyingkir dulu ke Peng po-san, berbareng itu akan kuberitahukan kepada anggota Pang kita agar dalam beberapa hari ini jangan berkunjung kemari."

Karena urusan terjadi secara mendadak, terpaksa hanya langkah ini yang dapat diambil.

Malamnya Nyo Yam tidak dapat pulas, hatinya kusut dan pikiran bimbang.

Maklumlah, dia memang seorang anak muda yang emosinal, demi mengetahui Thian-San-pai telah memecatnya secara resmi, pergolakan batinnya tentu saja sukar ditenangkan.

Sebenarnya dia tidak merasa gnsar atau dendam sebab keputusan demikian memang sudah dalam dugaannya.

Ia tidak sedih bagi dirinya sendiri melainkan kuatir bagi Ling Peng-ji.

Saat itu Ling Peng ji memang sedang memburu kembali ke Thian-san untuk mengadakan pembelaan baginya.

Dapat dibayangkan olehnya Ciok Thian-heng dan lain-lain pasti akan paksa Peng-ji bicara hal-hal kejelekannya, bahkan menyuruh Peng-ji mengaku diganggu oleh Nyo Yam.

Jika sekarang Ling Peng-ji berbalik membelanya, maka akibatnya dapatlah dibayangkan, umpama Peng ji takkan dibebani dosa yang sama, tentu si nona juga akan ikut terembet dan sangat mungkin akan mendapat malu besar, Ling Peng ji adalah gadis yang dicintai dan dihormati Nyo Yam, teringat kepada kemungkinan si nona akan mendapat malu, seketika darahnya bergolak.

Semalam suntuk itu ia tidak bisa tidur, pagi pagi sekali ia lantai bangun dan menarik Liong Leng-cu keluar.

Setiba di tempat yang sepi.

dengan tertawa Lena-cu mendahului menegur.

"Sepagi ini kau-tarikku keluar, apakah ada yang hendak kau-bicarakan denganku sendirian?"

"Betul, kumohon dua hal padamu,"

Kata Nyo Yam.

"Ai, kenapa engkau jadi sungkan padaku seperti baru kenal saja?"

Ujar Leng-cu dengan tertawa.

"Ayolah katakan saja."

"Pertama, kumohon engkau pulang untuk menemani kakekmu,"

Ucap Nyo Yam.

"Pulanglah setelah hadir dalam perayaan mengundurkan diri Han-lopiauthau."

"Urusan ini kan sudah kusanggupi?"

Bata Leng-cu dengan bingung.

"Baik, tidak peduli apa pun hendaknya pendirianmu ini jangan berubah,"

Kata Nyo Yam tegas.

"Tentu saja pendirianku takkan sembarangan berubah, tidak nanti kujilat kembali perkataanku sendiri,"

Kata si nona.

"Bagus,"

Seru Nyo Yam.

"Dan ketahuilah aku tak dapat pulang bersamamu. Kakekmu berdiam di Leng-ciu-hong (puncak elang) diTai-kiat-nia, puncak itu sesuai namanya serupa elang yang pentang sayap hendak terbang, sangat mudah dikenali, tentu akan kau temukan puncak gunung itu."

"Mengapa engkau tidak takut pulang bersamaku?"

Tanya Leng-cu dengan terkejut.

"Ada suatu urutan perlu kuselesaikan dulu sehabis melaksanakan pekerjaan ini segera ku-pulang,"

Jawab Nyo Yam.

"Urusan apa?"

"Maaf, tak dapat kujelaskan sekarang."

Mulut Leng-cu menjengkit, katanya kurang senang.

"Tidak kau katakan terus terang, aku pun tak mau pulang."

"Ai, baru saja kau bilang takkan menjilat kembali ucapan tendiri,"

Kata Nyo Yam. Leng cu menghela napas.

"Rupanya aku telah terjebak olehmu. Tapi aku cuma ingin tahu pekerjaanmu ini apakah akan menghadapi bahaya? harap kau katakan terus terang "

"Aku tidak tahu,"

Jawab Nyo Yam.

"Hendaknya kau percaya padaku, asalkan aku masih hidup di dunia ini, aku pasti akan pulang ke Leng-ciu hong untuk berkumpul denganmu dan takkan berpisah untuk selamanya."

Terasa manis dan juga getir hati Leng-cu, ucapnya dengan gegetun.

"Padahal aku tidak perlu tanya padamu, bilamana urusan ini tidak berbahaya, tentu engkau takkan menolak aku ikut serta. Kutahu engkau tidak mau aku tersangkut dalam persoalanmu ini."

"Dan hal kedua, hendaknya sampaikan kepada Ki-tocu dan mintakan maaf kepergianku tanpa pamit ini,"

Sambung Nyo Yam.

"Esok lusa bila bertemu dengan bibiku, harap juga engkau suka memintakan maaf bagiku."

Tiba-tiba Leng-cu merasa punya alasan, katanya.

"Aha, betul esok lusa adalah hari peresmian pengunduran diri Haulopiauthau, urusan ini sangat erat hubungannya dengan bibimu, masa engkau tidak memikirkan lagi bibimu, kenapa tidak tunggu sampai dia meninggalkan kotaraja dengan selamat barulah engkau berangkat?"

Perasaan Nyo Yam bergolak hebat, meski sedapatnya ditahan, namun derita batinnya tetap tertampak pada wajahnya, sebab tanpa dia toh masih ada Han Wi-bu.

Ki Kiam hong dan Ce Se-kiat yang akan membantu sang bibi, bilamana benar bibinya terancam bahaya dan Han Wi-bu dan lain-lain tidak mampu menolong, maka biarpun dia tinggal di situ juga tetap tidak berguna.

Begitulah Leng-cu lantas diam, agaknya ia dapat memahami perasaan Nyo Yam.

Hendaklah maklum, orang yang hendak merampas kekuasaan Cin-wan piaukiok bukan lain adalah ayah Nyo Yam sendiri.

Kedatangan Nya Toa koh untuk membantu Hanlopiau-liiau sama juga diam-diam memusuhi adiknya sendiri.

Memang betul juga, sengketa Cin-wan-piaukiok hanya sebagai sebab awal saja, namun di balik itu menyangkut urutan lain yang terlebih penting, yaitu urusan politik, urusan antara pasukan membrontak dengan pihak kerajaan Boan jing, Nyo Bok sendiri tidak lebih juga cuma alat kerajaan saja.

Namun yang tampil ke muka toh tetap ayah Nyo Yam.

Maka ia ingin mengelak, ingin menghindari bertemu dengan sang ayah supaya tidak terlibat dalam pusaran bentrokan antara bibi dan ayahnya.

Diam-diam leng cu merasa gegetun, pikirnya.

"O. kakak Yam, kusangka engkau jauh lebih kuat daripadaku. tanpa tahu engkau ada kalanya juga lemah, buktinya sekarang juga engkau akan menjadi prajurit yang desersi."

Sayang ia kuatir melukai perasaan Nyo Yam, apa yang dipikirnya tak berani dikatakannya terus terang.

Jika dia berani bicara terus terang, pada waktu emosi Nyo Yam sedang bergejolak bukan mustahil pendiriannya akan berubah.

Begitulah Nyo Yam berkata lagi dengan perasaan bergolak.

"Sebenarnya aku bermaksud membantu Kai Hong membawa obat-obatan itu ke Cadam, tapi sekarang, ai, terpaksa harus kubatalkan niatku ini. Ini pun alasanku mengapa kutinggalkan kawan Kai-pang tanpa pamit."

"Mengapa engkau membatalkan niatmu ini?"

Tanya Leng-cu.

"Tugas mengawal barang dapat dilakukan Ce Se-kiat, tentu orang lain juga sanggup. Sebaliknya urusanku ini tidak dapat digantikan siapa pun."

"Kutahu urusan apa yang hendak kau lakukan, kuharap engkau suka pikir lagi masak-masak dan ...."

Belum lanjut ucapan Leng-cu, mendadak Nyo Yam menutuk hiat-to kelumpuhannya, lalu bersuit panjang, katanya.

"Apakah dugaanmu tepat atau tidak mengenai urusanku, cuma engkau sudah berjanji padaku, engkau harus pulang ke tempat kakekmu dan tidak boleh ikut padaku."

Rupanya ia kuatir setelah hiat-to Leng-cu ditutuknya nanti akan kepergok musuh, jika terjadi demikian mungkin si nona akan celaka, maka ia sengaja bersuit untuk memanggil kedatangan orang Pit mo-kai.

Waktu Ki Kiam-hong dan Ga Se-kiat memburu tiba, sementara itu Nyo Yam sudah pergi.

Tentu saja Se-kiat dan lain-lain terkejut, cepat mereka membuka hiat-to Leng-cu dan bertanya apa yang terjadi.

Tengah bicara Honghu Siong dan Suma Hian juga sudah datang.

Dalam hati Suma Hian cukup maklum persoalannya, ucapnya dengan menyesal.

"semuanya gara garaku."

Lekas Se kiat menariknya ke samping dan bertanya.

"Semalam apa yang kau katakan kepadanya?"

"Aku tidak tahu dia Nyo Yam, tanpa sengaja kubicara tentang dia dipecat oleh Thian san-pai,"

Tutur Suma Han. Se-kiat terkejut.

"O, pantas dia segera pergi dari sini. Menuruti wataknya, terang dia tidak dapat membiarkan orang lain menanggung susah lantaran perbuatannya."

"Siapa yang menanggung susah karena perbuatannya?"

Tanya Suma Hian dengan bingung.

"Seorang yang paling baik dengan dia, juga orang yang disukainya,"

Jawab Se-kiat dengan menghela napas. Suma Hian tetap tidak paham, tapi tidak tanya lebih lanjur, ia cuma berkata.

"Ce liau-hiap, menurut pendapatmu, dia pergi ke mana?"

"Kukira besar kemungkinan dia pulang ke Thian-san,"

Ucap Se-kiat dengan gegetun.

"Hah. jika begitu kan berarti masuk jaring sendiri?"

Suma Hian terkejut.

"Ssst,"

Desis Se-kiat.

"Jangan sampai didengar oleh nona Liong Sebentar bila urusan di sini sudah selesai, biar kucari Beng-taihiap dan Utti-taihiap agar berdaya untuk membantunya."

Liong Leng-cu berlagak memejamkan mata dan terluka, meski tidak seluruhnya ia dengar pembicaraan mereka, tapi sebagian dapat didengarnya.

Padahal sekalipun tidak mendengar, apa yang dapat diduga oleh Ce Se-kiat dengan sendirinya juga terpikir olehnya.

Bahwasanya Liang Peng-ji rela menanggung susah bagi Nyo Yam masa aku mandah tinggal diam saja?

Begitulah perasaan Leng-cu menjadi kusut.

Tapi dia sudah menyanggupi Nyo Yam, sedikitnya harus menunggu lagi beberapa hari, bilamana sudah jelas kabar tentang sang bibi barulah dapat meninggalkan kotaraja.

Cuma dia sudah ambil keputusan untuk sementara ini takkan pergi ke Leng ciu-hong untuk mencari kakeknya.

-ooo0dw0ooo-Upacara pengunduran diri Han Wi-bu terlaksana sesuai jadwal yang ditentukan.

Hampir setiap pimpinan perusahaan pengawalan di kotaraja dan kawan dunia persilatan serta tokoh ternama dari daerah lain sama hadir.

Ki Kiam-hong juga hadir dalam pertemuan ini selaku pimpinan cabang Kai-pang di kotaraja.

Sedangkan Ce Se kiat dan Liong Leng-cu juga ikut hadir sebagai pengiring Ki Kiamhong dengan menyamar.

Ki Kiam-hong terhitung tamu terhormat, dia duduk satu meja bersama tuan rumah, sedangkan Se-kiat dan Leng cu bercampur dengan orang banyak.

Nyo Toa-koh tidak nampak hadir, Nyo Bok juga tidak kelihatan.

Selesai Han Wi-bu melakukan upacara cuci tangan di baskom emas, menyusul ia akan mengumumkan nama calon Congpiauthau yang akan menggantikannya.

Pada saat itulah tiba tiba datang laporan bahwa We taijin dan Nyo-taijin datang.

Maka tertampaklah We Tiang-jing dan Nyo Bok jalan berendeng masuk ke situ, di belakang mereka mengikut pula satu orang, cuma orang ini tidak dikenal oleh Han Wi-bu.

Namun sikap orang ini tanpa sungkan-sungkan, juga tidak perlu diladeni Han Wi-bu, langsung ia ikut We Tiang-jing dan Nyo Bok duduk di meja tamu yang diagungkan.

Air muka Ki Kiam hong tampak berubah demi melihat orang ini.

Kiranya orang ini bukan lain ialah Ubun Lui yang malam kemarin habis bergebrak dengan dia.

Han Wi-bu menjadi ragu juga melihat sikap angkuh tamu yang tak dikenalnya ini.

Segera ia memberi hormat dan menyapa.

"Sahabat ini ...."

Segera We Tiang jing mewakili menjawab.

"O, dia adalah sahabat kami, she Ubun dan bernama Lui."

Pengalaman dan pengetahuan Hau Wi-bu sangat luas.

bahwa Pek toh-sancu she Ubun sudah diketahuinya Cuma nama Ubun Lui selama ini belum pernah didengarnya sehingga seketika tak terpikir olehnya tamu asing she Ubun ini adalah orang Pek-toh-san.

Karena harus menghormati We Tiang-jing, sekadar sopan santun dan basa-basi ia menyatakan rasa kagum dan hormatnya terhadap Ubun Lui.

Lalu ia memperkenalkan Ki Kiam-hong kepada mereka.

"Inilah Ki tocu, pimpinan Kai-pang di Peking."

Ubun Lui menirukan caranya memberi salam sekadarnya terhadap Ki Kiam-hong sambil mengucap kagum dengan hambar, berlagak seperti sebelum ini tidak pernah mengenalnya.

Dengan sendirinya Ki Kiam hong tidak ingin mencari perkara, maka kebetulan baginya untuk diam saja, kedua pihak sama-sama tidak menyinggung apa yang pernah terjadi.

Setelah basa basi sejenak, lalu Han Wi-bu berkata.

"Nyotaijin, kenapa murid Nyo-taijin tidak ikut datang?"

"O, sungguh tidak beruntung, mendadak Sing-liong jatuh sakit sehingga tidak dapat ikut hadir, maaf,"

Jawab Nyo Bok. Perasaan Han Wi-bu merasa lega, ia tahu cerita Ce Se-kiat memang betul. Bin Sing-liong ternyata benar telah dilukai oleh Nyo Yam. Ia pura-pura menyatakan rasa menyesal.

"Ai, sayang! Bin-siauhiap sebenarnya adalah kawan sekerja kita yang lama, sungguh harus disesalkan tidak dapat ikut hadir. Akhir-akhir ini Nyo-taijin tentu sehat walafiat dan banyak rejeki."

"Aku sudah tua, akhir-akhir ini sering encok,"

Ucap Nyo Bok dengan menyengir.

"Karena itulah gerak-gerikku agak kurang leluasa."

Padahal dia terluka oleh pukulan ruyung, terpaksa ditutupinya dengan alasan sakit encok. Diam-diam Han Wi-bu tertawa geli. namun ia bicara dengan lagak serius.

"Nyo-taijin, engkau adalah pemegang saham piaukiok, syukur engkau sudi datang dalam keadaan kurang sehat, maka bolehlah kita bicara dulu mengenai urusan dinas. Setuju?"

"Kedatanganku juga untuk urusan piaukiok,"

Jawab Nyo Bok.

"Maka silakan bicara saja." ---ooo0dw0ooo---

Jilid ke -7

"Usiaku sudah lanjut, maka kuputuskan akan cuci tangan dan mengundurkan diri hari ini,"

Demikian tutur Han Wi-bu.

"Tentang jabatan Cong piauthau perusahaan pengawalan ini, masih ku ingat dahulu Nyo-taijin. pernah mengemukakan, seperti ingin mengangkat muridmu Bin Sing-liong untuk menggantikanku. Sayang, sekarang Bin-liong jatuh sakit dan entah kapan baru akan sehat kembali, maka hal ini ... ini"

"Jabatan Congpiauthau memang tidak boleh terkatungkatung tarlampau lama, andaikan sakit Sing-liong sudah sembuh juga sukar baginya untuk memangku jabatan ini, maka tidak perlu lagi mempertimbangkan dia,"

Ujar Nyo Bok. Diam-diam Han Wi-bu bergirang, disangkanya orang tahu diri dan mau mundur teratur, maka ia berkata pula.

"Nyotaijin, sebenarnya bila engkau sudi kembali ke piaukiok dan menjabat Congpiauthau, jalan inilah kurasa paling baik. Cuma Taijin sekarang adalah orang kepercayaan Hongsiang (sri baginda), biarpun kami mengharapkan demikian juga tidak berani merendahkan, martabat Nyo-taijin untuk menjadi Congpiauthau di sini."

"Ah, dengan sendirinya tak dapat kukembali ke sini untuk menjabat Congpiauthau,"

Kata Nyo Bok.

"Pula, hanya dengan sedikit kepandaianku ini juga tidak sesuai untuk menjadi pemimpin umum piaukiok nomor satu di kotaraja ini."

Sebenarnya kalau melulu bicara tentang ilmu silat dan kedudukan Nyo Bok di dunia persilatan, sebagai ahli waris keluarga Nyo yang terkenal dengan Liok-yang-jiu, meski ilmu silatnya memang rada di bawah Han Wi-bu, tapi untuk menjabat pemimpin unum Cin-wan-piaukiok rasanya masih jauh dari cukup memenuhi syarat.

Maka apa yang diucapkannya tadi selain terasa rendah hati dan munafik, bahkan juga kontradiktif.

Sebab orang tahu dia bermaksud memupuk muridnya sendiri untuk menjadi Congpiauthau.

masa sang guru dikatakan tidak sesuai malah?

Sebab itulah semua orang dapat merasakan perkataannya itu hanya untuk melampiaskan rasa dongioi saja.

Maklumlah, muridnya gagal menjadi Congpiauthau, ia sendiri tak berani meninggalkan jabatan jago pengawal istana sehingga piaukiok tersebar di kotaraja ini akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Han Wi-bu sendiri, masa tidak heran perasaannya tidak enak.

Han Wi-bu sendiri hanya berharap orang takkan mencari perkara, tentu saja ia tidak mau menyinggung kelemahan ucapan orang, malahan cepat ia menanggapi "Ah, Nyo-taijin saka berkelakar saja.

Bahwa Nyo-taijin tidak sudi menduduki tempat yang rendah di sini, tentu kami tidak berani memaksa, cuma, cara bagaimana kami harus memilih calon pengganti.

untuk ini mohon Taijin suka memberi gagasan yang berharga."

"Sesungguhnya aku pun tak mempunyai gagasan apa-apa, cuma mengingat Cin-wan-piaukiok ada hubungan erat denganku, biarlah pada hari Han-congpiautbau hendak mengundurkan diri ini aku pun akan menyampaikan sedikit pesan,"

Kata Nyo Bok.

"Tentang cara bagaimana akan memilih calon pengganti Congpiauthau, rasanya tidak enak bagiku untuk ikut bicara dan boleh terserah kepada keputusan Hancongpiauthau sendiri,"

Han Wi-bu merasa ucapan orang rada aneh, tapi tetap dianggapnya sebagai pelampias dongkol saja, maka katanya pula.

"Ah, janganlah Nyo-taijin sungkan terhadapku. Bilamana Nyo-taijin tidak mau mengajukan calon, biarlah kita lakukan menurut peraturan piaukiok umumnya, apakah Nyo-taijin setuju?"

"Setiap jenis usaha mempunyai peraturannya masingmasing, bekerja menurut peraturan adalah cara yang patut dipuji, tentu saja aku setuju,"

Kata Nyo Bok. Tak tersangka oleh Han Wi-bu bahwa orang langsung menyatakan setuju begitu saja, dengan girang ia lantas berseru.

"Jika begitu biarlah ku-uraikan sekadarnya peraturan piaukiok umumnya tentang mundurnya Congpiauthau, bilamana tiada pendapat lain dari para pemegang saham, maka penggantinya akan dipilih dari pengurus piaukiok yang paling lama bekerja dan paling tinggi kungfunya serta paling dihormati,"

Tiba-tiba We Tiang-jing ikut bicara.

"Aku adalah orang luar, tapi maafkan jika aku menimbrung. Ingin kutanya, apa yang disebut orang lama piaukiok apakah juga termasuk pemegang saham?"

"Tentu saja termasuk,"

Jawab Han Wi-bu.

"Misalnya aku sendiri, aku menjabat Congpiauthau dan juga sebagai pemegang saham."

"Dan bagaimana bila pemegang saham itu selama ini tidak pernah aktif menjadi jago pengawal di sini?"

Tanya We Tiangjing.

"Tidak perlu pemegang saham, sekalipun orang yang diusulkannya, asalkan memenuhi syarat juga akan dipilih dengan hak utama, apalagi si pemegang saham sendiri,"

Ujar Han Wi-bu.

Ia pikir pemegang saham Cin-wan-piaukiok hanya terdiri dari dia dan Nyo Bok berdua, sekarang Nyo Bok dan muridnya sudah mengundurkan diri dari pencalonan, tentu tidak perlu lagi kuatir akan terjadi hal-hal yang tak diharapkan.

Maka soal yang diajukan We Tiang-jing itu sama dengan cari-cari belaka.

Terdengar We Tiang-jing berkata pula.

"Tadi Hanlopiauthau seperti menyatakan syarat calonnya lebih mengutamakan nama dan ilmu silatnya,, apa betul begitu?"

"Betul,"

Jawab Han Wi-bu.

"Tentang kebesaran nama seseorang sangat sukar dinilai,"

Kata We Tiang-jing.

"Sebab pada umumnya orang tentu menganggap nama sendiri terlebih besar sehingga sukar memberi patokan. Maka menurut pendapatku, akan lebih baik ditentukan menurut ilmu silat saja, siapa lebih kuat dan siapa lebih lemah kungfunya, sekali bertanding segera akan ketahuan."

Pertama lantaran kedudukan We tiang-jing adalah wakil komandan pasukan pengawal istana, kedua, apa yang diuraikan juga cukup beralasan, Han Wi-bu pikir asalkan pihak mereka tidak ikut campur, cara bagaimana akan memilih penggantinya kan sama saja, maka ia lantas menyalakan setuju.

Maklumlah, tentang calon perggantinya memang sudah ada kepastian di antara orang-orang Cin-wan-piaukiok.

Maka seorang piausu tua bernama Oh Tiong-gDan lantas buka suara.

"Aku mendukung Hiu-piausu, bicara tentang ilmu silat, kecuali Han-lopiauthau, dia terhitung jago nomor satu dalam piaukiok ini, segegap anggota piaukiok ini sama kagum padanya. Selama sekian tahun sudah sering dia mengawal dan tidak pernah terjadi sesuatu, dari golongan hitam maupun kalangan putih dia cukup dihormati, bicara tentang nama baik pun cukup terpuji."

"Apakah Hiu-piausu ini menantu Han-congpiau-thau?"

Tanya We Tiang-jing. Han Wi-bu sudah menduga akan pertanyaan ini, segera ia menjawab.

"Betul. Cuma pencalonannya datang dari mereka. Padahal menantuku itu masih terlalu muda dan kurang pengalaman, aku pun tidak tahu apakah dia mampu memenuhi kewajiban atau tidak?"

Pimpinan Yang-wi-piaukiok, Jui Lip-sing, seorang piausu tua, ikut bicara.

"Ucapan Han-lo piauthau kurang tepat. Kata pepatah, tugas tidak sangkut-paut dengan keluarga. Asalkan menantumu memang mempunyai segi baik yang memenuhi syarat, apalagi segenap anggota piaukiok menghormati dia, kenapa Lopiauthau sendiri malah sungkan sendiri?"

Salah seorang piausu tua dari Cin-wan-piaukiok sendiri bernama Jui Beng-lun juga ikut bicara "Betul, Hiu-laute memang bukan tertua di dalam piaukiok kita, tapi pribadinya cukup terpuji, sabar dan, cekatan, setiap tugas selalu dilaksanakannya dengan baik.

Kami orang-orang yang lebih tua sama merasa kagum padanya."

Nyata beberapa pembicara ini nadanya sama mendukung pencalonan Hiu Thian-Ian, menantu Han Wi-bu. Sambil tergelak Nyo Bok berkata.

"Haha, tampaknya menantu Han-congpiauthau memang dihormati dau didukung orang banyak, sungguh hebat. Cuma, ingin juga kubicara beberapa patah kata."

Cepat Han Wi-bu menukas.

"Sesungguhnya Thian-lan tidak cukup memenuhi syarat, bilamana Nyo-taijin mempuuyai calon yang lebih .cocok, silakan ."

"Jangan salah terima. Han-lopiauthau,"

Kata Nyo Bok.

"Bukan maksudku tidak setuju menantumu menggantikanmu menjadi Congpiauthau. Biasanya aku pun nanti urusan yang suka bicara tentang usia dan pengalaman, kan lebih baik biarkan saja seorang tua bangka yang hampir masuk liang kubur sebagai Congpiauthau jika bicara tentang usia, buat apa Han-congpiiuthau harus pensiun pula?"

Meski nadanya sinis, tapi menguntungkan Han Wi-bu. Maka Wi-bu menanggapi.

"Betul juga ucapan Nyo-taijin, tua bangka semacam diriku memang sudah lama harus menyerahkan jabatanku kepada orang muda. Cuma Thian-lan merupakan calon yang tepat atau tidak adalah soal lain. Mohon petunjuk, Nyo-taijin."

"Engkau salah, Han-lopiauthau,"

Kata Nyo Bok pula dengan terbahak.

"Piaukiok kalian akan mengangkat siapa sebagai Congpiauthau, persoalan ini tidak perlu ditanyakan kepadaku."

Ucapan "piaukiok kalian"

Keluar dari mulut Nyo Bok, hal ini cukup membual orang banyak sama melengak. Jui-congpiauthau dari Yang-wi-piaukiok tahu Han Wi-bu tidak leluasa bicara, maka ia menggantikannya buka suara.

"Nyo-taijin, engkau kan pemegang saham Cin-wan-piaukiok, setiap urusan penting yang menyangkut piaukiok, baik mengenai pekerjaan maupun mengenai personalia kan pantas minta persetujuanmu. Apa yang engkau katakan tadi rasanya terlampau rendah hati."

Dia mempunyai pikiran yang sama dengan para piausu Cinwan-piaukiok, yaitu mengira ucapan Nyo Bok itu bermakna "terbalik", maka ia sengaja coba memancingnya.

Siapa tahu ucapan Nyo Bok itu sama sekali tidak bermakna sebaliknya.

Terlihat Nyo Bok lantas menarik Ubun Lui dan berdiri, serunya dengan tergelak.

"Haha, aku bukan pemegang saham Cin-wan-piaukiok lagi, semua separo yang kupegang sekarang sudah kupindahkan hak dan kewajibannya kepada Ubun-siansing ini."

Tindakan yang terlampau mendadak ini membuat semua orang sama terkesiap. Hubungan Jui Lip-sing paling akrab dengan Han Wi-bu, saking gugupnya ia terus berseru tanpa pikir.

"Hei, pemindahan sero sebuah perusahaan adalah urusan penting, kenapa harus sekarang Nyo taijin mengemukakannya?"

Nyo Bok menjawab dengan ketus.

"Soal pemindahan hak sero adalah urusan pribadi. Menurut undang-undang kan juga tidak ada larangan untuk memindahkan pemilikan sero sesuatu perusahaan. Bilamana ada yang mencurigai aku bertindak manipulasi, biarlah kuminta We-taijin menjadi saksi."

"Ya, transaksi mereka itu memang kusaksikan sendiri, keduanya sudah menandatangani kontrak jual-beli dengan sah,"

Tukas We Tiang-jing.

"Menurut peraturan dagang, seharusnya aku dan ke dua pihak yang jual-beli melaporkan kejadian ini kepada pemegang saham piaukiok yang lain, cuma kebetulan beberapa hari ini aku terlalu sibuk sehingga urusan ini tidak segera terselesaikan. Mumpung sekarang kita sama berkumpul di sini, secara resmi urusan tersebut kukemukakan sekalian, tentu Han-lopiauthau takkan marah padaku karena terlambat."

Terhadap seorang wakil komandan pasukan pengawal istana, dengan sendirinya Han Wi-bu tidak dapat berbuat apaapa meski hati gemas, terpaksa ia berkata.

"We-taijin sibuk urusan dinas, bahwa hari ini sudi meluangkan waktu untuk berkunjung kemari sungguh kami merasa sangat berterima kasih."

"Begitu masuk ke sini sebenarnya segera akan kuselesaikan urusan ini,"

Sambung Nyo Bok.

"Cuma lantaran semua orang kelihatan lagi gembira berhubung dengan pemilihan Congpiauthau baru, maka tidak enak untuk kuganggu urusan penting kalian. Baik, sekarang urusan yang harus kupertanggungjawabkan sudah kuselesaikan, selanjutnya maafkan aku tidak tahu-menahu lagi persoalan piaukiok ini, Nah, Han-lopiauthu dan Ubun-heng, seterusnya silakan kalian berhubungan dengan lebih akrab."

Terpaksa Han Wi-bu mengalihkan pembicaraannya dan tanya pendapat Ubun Lui. Dengan acuh-tak-acuh Ubun Lui menjawab.

"Aku bukan ahli dalam urusan piaukiok, maka segala urusan kuturut saja kepada Han-lopiauthau. Terus terang, justru lantaran kagum terhadap Han lopiauthau, maka kuberani membeli setengah bagian dari seluruh saham Cin-wan-piaukiok. Ai. sungguh tidak nyana begini cepat Han-lopiauthau hendak mengundurkan diri."

Kalimat terakhir itu jelas mengandung makna tertentu. Dengan kening bekernyit Jui Lip-sing ikut bicara.

"Sekarang Han-congpiauthau sudah memutuskan akan mengundurkan diri atau pensiun, bilamana Ubun-siansing kuatir rugi, saham yang kau-pegang boleh dijual lagi, mungkin beberapa kawanku siap mengopernya, asalkan saja syarat, pembayaran diberi kelonggaran."

"Haha, orang dagang kan pantas kalau menyerempet bahaya rugi,"

Ujar Ubun Lui dengan terbahak.

"apalagi usaha pengawalan barang yang selalu harus menghadapi macammacam bahaya. Terus terang, selain kagum terhadap kebesaran nama Han-lopiauthau, selebihnya juga lantaran tertarik oleh merek Cin-wan-piukiok yang terkenal ini."

Kuatir orarg lain belum lagi paham maksud Ubun Lui. segera Wi Tiang-jing menambahkan.

"Ya, memang, dengan papan merek emas Cin-wan-piaukiok, andaikan Congpiauthau baru nanti tidak setenar Han-lopiarhnan, tapi asalkan kepandaiannya tidak terlampau rendah, kuyakin papan merek emas ini tetap akan bertahan."

Nyata ucapannya sudah memberi gambaran cukup terang bahwa titik persoalannya toh tetap terletak pada calon Congpiauthau baru.

"Ubun-siansing,"

Kata Han Wi-bu tiba-tiba.

"Apakah sudah ada calon Congpiauthau baru yang lebih cocok menurut pandanganmu, bilamana betul silakan bicara saja terus terang."

"O, tidak, sama sekali tidak ada,"

Jawab Ubun Lui.

"Hanlopiauthau, hendaknya engkau jangan salah paham seakanakan aku tidak setuju atas pencalonan menantumu. Cuma soalnya...."

"Soal apa?"

Tanya Han Wi-bu.

"Segenap anggota piaukiok ini sama memuji kehebatan ilmu silat menantumu, aku pun yakin kungfu menantumu pasti tidak rendah. Soalnya aku sendiri tidak pernah melihatnya ...."

Sampai di sini mendadak Ubun Lui berhenti sambil melirik Hiu Thian-lan. Orang muda dengan sendirinya berdarah panas, seketika Hiu Thian-lan naik pitam, serunya.

"Apakah Ubun-siansing bermaksud menguji kepandaianku?"

"Ahh... jangan bicara terlalu serius,"

Ujar Ubun Lui dergan tersenyum.

"Cuma, bila Anda sudi memperlihatkan padaku .."

Selagi Hiu Thian-lan hendak menanggapi lagi, tiba-tiba Han Wi-bu mencegahnya dan berkata.

"Sesungguhnya apa maksud Ubun-siansing, hendaknya engkau suka bicara secara blakblakan saja."

"Ubun-siansing tidak leluasa untuk bicara, biarlah kuwakili dia bicara,"

Sela We Tiang-jing.

"Bahwa dia telah mengeluarkan berpuluh laksa tahil perak untuk membeli sebagian saham Cin-wan piaukiok, dengan sendirinya dia berharap ada seorang yang berkepandaian tinggi untuk menjadi Congpiauthau yang dapat dipercaya. Mungkin para hadirin akan bertanya, lantas orang macam apa yang dapat dipercaya? Untuk ini sebelumnya dia sudah memberi patokan padaku."

"Jika begitu silakan We-taijin suka memberi penjelasan,"

Kata Han Wi-bu.

"Maksudnya begini,"

Tutur We Tiang-jing.

"asalkan orang itu sanggup menahan tiga puluh gebrakannya, maka dapatlah ia mempercayai orang itu. Syarat ini cukup pantas bukan?"

Segera Hiu Thian-lan melompat ke depan, serunya.

"Bukan maksndku harus menjadi Congpiauthau, aku cuma ingin belajar kenal dengan kepandaian Ubun-siansing ini juga tidak perlu terbatas dalam 30 jurus saja."

"Eh, nanti dulu, ucapanku belum lagi habis,"

Seru We Tiangjing tertawa.

"Soal siapa yang akan menjabat Congpiauthau, bagi Ubun-heng memang bukan soal. Cuma kalau orang piaukiok benar tidak ada seorang pun mampu bergebrak 30 jurus. dengan dia, tentunya dia akan penasaran bilamana jabatan Congpiauthau dipangku sembarang orang."

Hati Hiu Thian-lan tambah panas, katanya.

"Aku hanya ingin belajar kenal dengan kungfu Ubun-siansing yang tinggi, meski Ubun-siansing memandang rendah diriku tetap aku tidak ingin minta diberi kelonggaran."

Ubun Lui tersenyum, katanya.

"Ah, Hiu-piausu jangan terlalu serius, mana kuherani memandang rendah dirimu, tentang pembatasan 30 jurus hanya patokan sekadarnya saja. Bilamana Hiu-piausu mampu mengalahkanku dalam 10 jurus, hal ini tentu akan lebih menggembirakAnku dan bersyukur piaukiok ini akan mendapatkan pemimpin yang tepat,"

"Baik, jika begitu tidak perlu pakai pembatasan 30 jurus,"

Teriak Hiu Thian-lan.

"Jika aku kalah biarlah kami akan mengakui engkau sebagai-Congpiauthau."

Seketika We Tiang-jing memegang janji Hiu Thian-lan ini, tukasnya.

"Apa yang kaukatakan ini apakah dapat disetujui oleh Han-lopiauthau dan kawan-kawan yang lain?"

Han Wi-bu tidak kenal asal-usul Ubun Lui, melihat usia orang juga baru 30-an, tidak banyak lebih tua daripada Hiu Thian-lan, ia pikir.

"Thian -lan adalah keturunan keluarga persilatan, akhir akhir ini juga banyak mendapat petunjukku dan maju pesat, rasanya 30 jurus saja dia pasti dapat bertahan."

Maka ia lantas berkata.

"Apabila Ubun-siansing dapat mengalahkan menantuku dalam 30 jurus, maka aku pun bersyukur akan mendapatkan pengganti yang berbakat dan dapat melepaskan tugas dengan hati lega."

Dua orang piausu tua, yaitu Oh Tiong-goan dan Jui Benglun juga ikut bicara.

"Hiu-piausu dalam piaukiok kami diakui paling tinggi kungfunya, apabila Ubun-siansing dapat mengalahkan dia, dengan sendirinya kami pun bersedia mendukung dia sebagai pimpinan baru Kami."

Ubun Lui lanlas tampil ke tengah kalangan, katanya.

"Baik, silakan Hiu-heng memberi petunjuk. Bagi Hiu-heng tidak perlu pakai pembatasan, sebaliknya untukku tetap dibatasi 30 jurus, bila melampaui 30 jurus, anggaplah aku yang kalah."

Ki Kiam-horg tahu Hiu Thian-lan bukan tandingan Ubun Lui, diam-diam ia merasa kuatir.

Ia bermaksud membongkar rahasia pribadi Ubun Lui adalah orang jahat dari Pek-toh-san, tapi pertama karena orang mendapat dukungan We Tiangjing, pula sekarang Kai Hong masih sembunyi di tempat Kaipang, hal ini membuatnya serba susah.

Ketiga, meski orang persilatan.

Tionggoan memandang Pek-toh-san sebagai golongan jahat, tapi piaukiok tidak boleh berpandangan serupa kaum pendekar umumnya.

Apalagi sekarang Ubun Lui berebut Congpiauthau dalam kedudukannya sebagai pemegang saham Cin-wan-piaukiok, soal bagaimana asalusulnya siapa pun tidak boleh urus.

Melihat sikap ragu Ki Kiam-hong, segera We Tiang-jing tahu apa yang sedang dipikir orang, ia sengaja bertanya malah.

"Kitocu, engkau seperti ingin bicara sesuatu, silakan bicara saja."

"Ah, tidak,"

Jawab Ki Kiam-hong.

"Aku cuma ingin tanya We-taijin, orang perguruan dan aliran manakah Ubun-siansing ini?"

"Sahabat Kai-pang sangat banyak, kukira Ki-tocu juga tidak seluruhnya kenal asal usul sahabatmu?"

Ujar We Tiang-jing dengan tertawa, nyata ucapan yang bernada ganda, seakanakan hendak mengatakan dia juga tahu ada orang yang asalusulnya tidak jelas bersembunyi di tempat Kai pang.

Hanya saja kalau Ki Kiam-hong tidak membongkar asal-usul Ubun Lui, maka ia pun takkan mengusut soal Kai-pang menyembunyikan buronan kerajaan.

Hati Ki Kiam-hong sangat mendongkol, tapi mengingat urusannya cukup gawat, terpaksa ia diam saja sambil memikirkan akal lain.

We Tiang-jing mengira orang sudah kena digertak, dengan senang ia tanya.

"Ki-tocu tidak ingin bicara lagi bukan? Jika tidak, bolehlah kita mulai menyaksikan mereka bertanding."

Sementara itu Hiu Thian-lan sudah berhadapan dengan Ubun Lui untuk saling gebrak. Tiba-tiba Ki Kiam-hong berseru.

"Nanti dulu, ada yang hendak kubicarakan!"

"Ki-tocu ingin memberi petunjuk apa?"

Tanya Ubun Lui. Diam-diam ia terkejut dan kuatir jangan-jangan pengemis tua ini hendak membongkar rahasianya tanpa menghiraukan segala akibatnya. Pelahan Ki Kiam-hong berucap.

"Petunjuk sih tidak berani. Aku cuma ingin mengemukakan suatu usul pada sebelum kalian bertanding, apakah akan diterima atau tidak terserah kepadamu."

Serentak Ubun Lui dan Hiu Thian-lau berkata.

"Kami siap mendengarkan pendapat Ki-tocu,"

Ki Kiam hong lantas menyambung.

"Ubun-siansing, pertandinganmu dengan Hiupiausu ini tujuannya cuma untuk menguji kepandaiannya, begitu bukan?"

"Betul,"

Jawab Ubun Lui dingin pongahnya.

"Antara kalian, yang satu adalah pemegang saham Cin wanpiaukiok, yang lain adalah petugas piaukiok tersebut, jika cuma uji kepandaian aatara orang sendiri, maka menurut pandanganku pertandingan ini cukup diakhiri setelah jelas siapa lebih kuat dan siapa lebih lemah sehingga tidak perlu bergebrak mati-matian. Apakah kalian sependapat denganku?"

"Kuharap begitu."

Ujar Ubun Lai.

"Cuma bila terjadi kecelakaan dan ...."

Hiu Thian-lan juga berkata.

"Mana kuberani mencelakai pemegang saham terbesar piaukiok kita, hanya saja kepalan memang tidak bermata"

Ki Kiam-hong menggoyang tangan dan memotong.

"Jika kalian sama setuju akan diakhiri bilamana salah seorang tertutuk, umpama terjadi kecelakaan tentu tak dapat meuyalahkan pihak lawan, tapi kuyakin kecelakaan yang akan terjadi pasti juga takkan parah. Cuma dalam pertandingan nanti senjita rahasia dan menggunakan racun hendaknya tidak dilakukan. Apakah kalian setuju dengan pembatasan ini?"

Ubun Lui merasa lega, pikirnya.

"Kiranya pengemis tua ini kuatir kuganakan pukulan berbisa. Hm, tanpa menggunakan pukulan berbisa juga dapat kukalahkan dia."

Padahal ia sendiri juga kuatir pukulan berbisanya nanti akan membuat asal-usulnya dikenali orang, maka kebetulan baginya untuk menerima saran Ki Kiam-hong itu.

Hiu Thian-lan sendiri pada hakikatnya tidak kenal pemakaian racun segala, juga tidak mahir menggunakan senjata rahasia, dengan sendirinya segera ia menyatakan setuju.

Cuma antara tetamu yang hadir di situ sebagian besar adalah orang kangouw kawakan, mereka tahu sebabnya Ki Kiam-hong khusus mengadakan pembatasan demikian tentu ada alasannya.

Karena itulah mereka menjadi curiga terhadap asal-usul Ubun Lui.

Merasa pandangan orang banyak berubah aneh terhadapnya, segera Ubun Lui mendengus.

"Sudah kukatakan terbatas dalim 30 jurus, maka silakan kalian suka ikut menghitung, lewat 30 jurus anggaplah aku kalah. Nih, Hiuheng, silakan mulai dulu!"

Panas hati Hiu thian-lan, serunya.

"Aku tidak ingin menarik keuntungan untuk menyerang lebih dulu. Tapi lantaran engkau sudah omong besar. aku justru ingin tahu cara bagaimana engkau akan mengalahkanku dalam 30 jurus. Nah, inilah jurus pertama!"

Habis berkata, segera kaki kanan melangkah maju, kepalan kiri terus menjotos muka lawan.

Kepalannya berbentuk segi tiga dan lain daripada orang biasa, kepalan segi tiga yang khas ini dapat digunakan untuk menghantam hiat-to di tubuh musuh, kepandaian ini termasuk kungfu khas keluarga Hiu.

Banyak di antara tetamu itu adalah ahli ilmu pukulan, maka mereka, sama bersorak memuji melihat pukulan yang jarang terlihat ini.

Ubun Lui tampak sabar melayani serangan lawan, katanya dengan tersenyum.

"Koh-nau-kun (Ilmu pukulan susah dan kesal) keluarga Hiu mempunyai gaya tersendiri, tampaknya memang tidak bernama kosong. Cuma entah siapakah yang akan kesal dan susah?"

Kiranya pukulan yang khusus untuk menghantam hiat-to lawan ini sangat sulit dilatih, orang ynng melatihnya sebelum berhasil dengan baik akan mengalami derita batin susah dan kesal.

Tapi bilamana sudah terlatih sempurna dan digunakan menghadapi musuh, maka lawanlah yang akan dibuat susah dan kesal.

Sangat sedikit orang persilatan yang kenal nama ilmu pukulan "Koh-nau-kun", kebanyakan jago yang tahu ilmu pukulan juga tidak kenal namanya.

Tapi sekarang sekali serang segera lawan kenal sama ilmu pukulannya, keruan Hiu Thian-lan terkejut.

Pikirnya.

"Luas juga pengetahuan keparat ini, ia kenal ilmu pukulan khas perguruanku. Tapi dia sendiri dari aliran mana sama sekali tidak kuketahui."

Berpikir demikian, dalam hati ia merasa malu.

Begitulah pelahan Ubun Lui menangkis sehingga pukulan Hiu Thian-lan dapat ditolak ke samping.

Menyusul telapak tangan Thian-lan lantas menghantam pula, sekali ini yang digunakan adalah "Thi-pi-pa-jiu"

Ajaran ayah mertuanya, yaitu Han Wi-bu.

"Bagus, pukulan ini sudah mencapai enam tujuh bagian sempurna,"

Kata Ubun Lui sambil menangkis dan balas menyerang, kedua tangan mendadak terpentang dan menabas kedua pundak Hiu Thian-lan.

Terpaksa Thian-lan menyurut mundur dan ganti serangan lagi, nyata dua kali pukulan Hiu Thian-lan dengan mudah sekali telah dipatahkan Ubun Lui.

Para penonton yang terdiri dari jago kelas tinggi sama melenggang setelah menyaksikan dua kali gebrakan itu, sebab cara yang digunakan Ubun Lui untuk menangkis serangan Hiu Thian-lan itu justru ilmu silat yang sangat umum di dunia kang-ouw.

Namun begitu ternyata dapat mengatasi jurus pukulan yang khas dari keluarga Hiu dan kungfu terkenal ajaran Han Wi-bu.

Kiranya ada sebabnya Ubun Lui menggunakan ilmu silat yang sangat umum itu, yaitu karena kuatir asal-usulnya dikenali orang, maka tidak memakai kungfu keluarganya sendiri.

Tapi lantaran lwekangnya sudah cukup sempurna, biarpun ilmu pukulan biasa juga membawa daya serang yang sangat kuat bilamana dimainkan olehnya.

Cuma kalau tetap menggunakan ilmu pukulan umum.

itu, meski dapat digunakan melayani Hiu Thian-lan, untuk menang juga sulit.

Maka hanya sekejap saja belasan jurus sudah berlalu, di antara belasan jurus sebagian besar justru serangan yang datang dari pihak Hiu Thian-lan.

Para jago yang menyaksikan itu sama merasa lega, disangkanya kelihaian orang tidak lebih hanya sekian saja, jika pertandingan diteruskan akhirnya tetap sukar menahan serangan Hiu Thian-lan yang lihai itu.

Hanya Ki Kiam-hong dan Han Wi-bu saja yang diam-diam merasakan gelagat tidak enak, mereka menjadi kuatir bagi Hiu Thian-lan.

Setelah belasan jurus, Ubun Lui tahu kekuatan sendiri memang lebih unggul, tapi untuk menang rasanya harus mengeluarkan kungfu perguruan aslinya.

Ia pikir "biarpun nanti asal-usulku diketahui otang, namun jabatan Congpiauthau toh sudah pasti akan kududuki."

Maka jurus ke-I7, mendadak ilmu pukulannya berubah, serupa kepalan dan mendadak berubah telapak tangan, tibatiba mencengkeram, tahu-tahu menutuk juga.

Makin lama makin cepat jurus serangannya dan makin aneh sehingga pandangan semua orang sampai berkunang-kunang, dua gulung bayangan terbaur menjadi satu dan sukar lagi dibedakan.

Padahal ilmu pukulan yang digunakan Ubun Lui itu belum pasti dapat mengalahkan Koh-nau-kuu dan Thi-pi-pa-jiu keluarga Han, cuma dia menarik dua macam keuntungan, yaitu, pertama ia kenal Koh-nau-kun dan Thi-pi-pa-jiu, sebaliknya Hiu Thiau-lan tidak kenal ilmu silat Pek-toh-san.

Kedua, kekuatan Ubun Lui memang lebih tinggi setingkat katimbang Hiu Thian-lan, dengan ilmu silat umum saja ia dapat menandinginya sama kuat, apalagi sekarang menggunakan kungfu perguruan aslinya yang lebih dikuasainya, dengan sendirinya dia lebih unggul.

Maka begitu ia ganti siasat, hanya beberapa jurus saja ia sudah berada di atas angin.

Banyak jago tua belum merasakan gawatnya, namun Han Wi-bu dan Ki Kiam-hong sudah tahu gelagat tidak menguntungkan.

Diam-diam Ki Kiam-hong gelisah, pikirnya.

"Selain aku tidak ada orang lain yang tahu asal-usul keparat ini, jika tak kuuraikan segera piaukiok nomor satu di kotaraja ini akan jatuh ke tangan kaum iblis dari Pek-toh-san."

Padahal meski dibeberkannya, berdasarkan undang-undang juga tak dapat merintangi Ubun Lui memiliki saham Cin-wanpiaukiok.

setelah dia mengalahkan Hiu Thian-lan, sesuai persetujuan kedua pihak tadi.

Ubun Lui berhak untuk menjadi Cong piauthau.

Namun undang-undang tentu tidak bisa dicampurkan dengan opini, bilamana asal-usul Ubun Lui dibongkarnya, para tokoh persilatan yang hadir di sini tentu akan serentak melawannya biar pun tidak berhak ikut campur urusan piaukiok, paling tidak juga akan memandang hina padanya.

Namun bila tak dibeberkannya, Kai-pang cabang Peking tentu akan mengalami tekanan dan ancaman besar, karena pertimbangan untung-rugi inilah Ki Kiam-hong merasa serba susah untuk mengambil keputusan.

Ki Kiam-hong tidak tahu bahwa selain dia masih ada seorang lagi yang kenal Ubun Lui, bahkan jauh lebih jelas mengenal sejarah Ubun Lui daripada dia.

Orang ini ialah Liong Leng-cu Setelah Leng-cu dan Se-kiat masuk ke dalam piaukiok, lebih dulu ia menemui ibu Se-kiat, yaitu Nyo Toa-koh, di ruang belakang.

Nyo Toa-koh sudah berjanji kepada Han Wi-bu takkan muncul di depan umum kecuali dalam keadaan luar biasa, yaitu bila Nyo Bok datang mencari perkara dan Han Wi-bu sukar menghadapnya, maka Nyo Toa-koh yang akan tampil untuk mengatasinya.

Mestinya Hai Wi-bu tidak ingin membikin susah Nyo toakoh, namun hal itu adalah syarat yang diminta Nyo Toa-koh ketika Wi-bu minta dia jangan muncul di depan umum, terpaksa ia menurutinya.

Begitulah waktu Nyo Toa-koh bertemu dengan putranya di kamar yang tersembunyi, Liong Leng-cu juga mendampingi mereka.

Tentang keadaan di luar, secara bergiliran Song Peng-ki dan Oh Lian-kni masuk ke belakang untuk memberi laporan.

Ketika semula mengetahui kedatangan Nyo Bok tidak bermaksud ikut campur pencalonan Congpiauthau.

Toa-koh mengira adiknya itu tahu diri dan mau mundur teratur, betapapun ia senang dan bersyukur.

Tak terduga Nyo Bok mempunyai permainan lain dan menyerahkan sahamnya kepada Ubun Lui dan menonjolkan penggantinya ini untuk berebut jabatan Congpiauthau.

Setelah mengetahui hal ini, mestinya segera ia hendak keluar, tapi kedua sutitnya minta dia agar jangan memperlihatkan diri dulu, sebab mereka yakin Hiu Thian-lan.

akan mampu mengalahkan orang asing yang tak dikenal asalusulnya itu.

Jadinya Nyo Toa-koh tetap tinggal di kamar, hanya Liong Leng-cu saja yang keluar untuk menonton pertandingan itu Dahulu di Ki-lian-san hampir saja Liong Leng-cu tertawan oleh Ubun Lui, dengan sendirinya sekali pandang ia kenali orang.

Leng-cu sendiri sudah menyamar, ia bercampur pula di tengah orang banyak, sukar bagi Ubun Lui untuk mengenalinya.

Waktu Leng-cu keluar, Ubun Lui dan Hiu Thian-lan sudah mulai bergebrak.

Tapi tanpa mengikuti lebih lama juga Lengcu tahu Hiu Thian-lan sukar menandingi lawannya, malahan ia pun menaksir Han Wi-bu juga bukan tandingan Ubun Lui, kecuali Ki Kiam-hong sendiri yang turun tangan.

Tapi ia pun tahu Ki Kiam-hong pasti takkan turun tangan, tiada akal lain, terpaksa ia lari balik ke kamar untuk berunding dengan Ce Se-kiat.

Setiba di kamar rahasia, dilihatnya di dalam kamar sudah bertambah dua orang, yang seorang ialah Song Peng-ki, yang lain tidak dikenalnya.

Didengarnya Song Peng-ki sedang bicara.

"Te-kongcu, hendaknya engkau jangan tampil ke sana, tidak dapat kubiarkan engkau menghadapi bahaya."

Orang tak dikenal yang disebut "Te-kongcu"

Itu menjawab.

"Habis apakah kita harus tinggal diam dan membiarkan Cinwan-piaukiok direbut olehnya? Sedikitnya harus kautemukan Han-lopiauthau kepadaku."

"Tidak, saat ini wakil komandan pasukan pengawal istana We Tiang-jing dan guruku sama berada di luar sana,"

Tutur Peng-ki. Tiba-tiba Nyo Toa-koh berkata.

"Te-kongcu, bilamana kau percaya padaku, barangmu ini boleh serahkan padaku saja."

"Maksud Locianpwe ... ."

"Masa Peng-ki belum memberitahukan akan diriku? Aku taci Nyo Bok. Tapi engkau jangan kuatir, aku membela kebenaran dan tidak membela saudara sendiri."

Te-kongcu itu tampak terkejut, kiranya meski dia tahu Loajiu-koan-im Nyo Toa-koh adalah sahabat Han Wi-bu, tapi betapapun dia juga taci Nyo Bok, sedangkan barang yang dibawanya ini sangat penting urusannya, seketika ia merasa sangsi untuk memenuhi permintaan Nyo Toa-koh Dengan sendirinya Toa-koh merasa kurang senang, katanya.

"Baik, jika engkau tetap kuatir. silakan berpikir dan menimbang lagi."

Lalu ia berpaling kepada Liong Leng-cu yang baru masuk ke situ, tanyanya.

"Bagaimana keadaan di luar sana?"

"Wah, runyam!"

Jawab Leng-cu.

"Orang yang bergebrak dengan Hiu Thian-lan itu adalah kemenakan Pek-toh-sancu Ubun Pok, namanya Ubun Lui."

"Apakah ilmu silat Ubun Lui ini sangat lihai?"

Tanya Toa-koh.

"Di antara jago pengawal Cin-wan-piaukiok rasanya tiada seorang pun dapat menandingi dia, termasuk Han-lopiauthau,"

Tutur Liong Leng-cu. Bekernyit kening Nyo Toa-koh, ucapnya.

"Baik, jika begitu biarlah aku yang akan melayani dia."

"Wah, jangan,"

Seru Leng-cu.

"Kenapa? Kan dapat kuminta Han Wi-bu memindahkan hak sahamnya kepadaku, lalu aku akan tampil menggantikan dia."

"Soalnya tidak cuma urusan saham belaka,"

Tutur Leng-cu.

"Habis soal apa?"

Tanya Toa-koh.

"Aku pernah bergebrak dengan Ubun Lui. sungguh memalukan, aku ternyata bukan tandingannya, padahal dia habis bertempur dengan paman Siau, yaitu Ki-lian-kiam-khek Siau Yat-kek, Malahan aku hampir saja tertawan olehnya. Kebetulan Beng Hoa waktu itu juga hendak menangkap diriku dan datang pada saat yang samu, dia tidak mampu melawan Beng Hoa, dengan begitu barulah aku sen pat kabur. Maaf, jika kubicara terus terang, Nyo-locianpwe, meski tinggi kepandaian-mu kukira masih tidak dapat menandingi Beng Hoa. Ai, sayang Nyo Yam tidak berada di sini, kalau ada, bisa jadi Nyo Yam akan mampu menghadapi keparat ini."

Tanpa panjang lebar uraian Leng-cu juga Nyo Toa-koh tahu arti ucapannya.

Maklumlah, Nyo Toa-koh sendiri sudah pernah beberapa kali bergebrak dengan Liong Leng-cu, meski ia lebih unggul sedikit tapi tetap tak dapat mengalahkannya, lantas mungkinkah dia menandingi Ubun Lui yang hampir saja menawan Liong Leng-cu?

Ketika menyebut Nyo Yam tadi.

pandangan Leng-cu justru terarah kepada Ce Se-kiat, apa maksudnya tentu juga dipahami Nyo Toa-koh.

Segera ia terbahak.

"Haha, anak Kiat, bolehlah kau lampiaskan gemasku, ayolah ikut keluar bersamaku."

Biasanya ia berharap anaknya takkan mencari perkara dan banyak menimbulkan urusan seperti pengalamannya, tapi sekarang pada saat gawat mendadak pendiriannya berubah dan menyuruh, anaknya mewakili dia melabrak musuh, hal ini sungguh di luar dugaan orang banyak.

Se-kiat juga terkejut dan bergirang, jawabnya.

"Anak menurut saja."

Tiba-tiba Song Peng-ki berkata.

"Meski Ce-sute dapat mengubah situasi yang tidak menguntungkan kita, namun tampilnya tidak mempunyai alasan yang kuat, bagaimana dia memberi alasan nanti?"

Walaupun ucapannya ditujukan kepada Nyo Toa-koh dan Ce Se-kiat, yang benar sekaligus juga diperdengarkan kepada pemuda yang disebut "Te kongcu"

Tadi. Kiranya "Te-kongcu"

Ini bukan lain adalah cucu Te Kin, salah seorang pendiri Cin-wan piaukiok.

namanya Te King.

20 tahun yang lalu keluarga Te dituduh bersekongkol dengan musuh dan khianat, segenap keluarga melarikan diri dari kotaraja.

Tak terduga cucu Te Kin mendadak muncul pada hari pengunduran diri Han Wi-bu ini.

Waktu dia datang di piaukiok, Han Wi-bu lagi sibuk bicara dengan We Tiang-jing dan begundalnya, dengan sendirinya Song Peng-ki tak dapat mempertemukan dia dengan Hau Wibu, maka lebih dulu membawanya menemui Nyo Toa-koh.

Begitulah Te King tampak ragu-ragu atas permintaan Nyo Toa-koh tadi, ia menjawab.

"Barangku ini bukannya kukuatir diserahkan kepada Nyolocianpwe, soalnya aku tidak ingin urusannya merembet Nyolocianpwe. Terus terang, aku sudah berjanji dengan seorang Cianpwe, yaitu seorang sahabat mendiang ayahku, untuk bertemu di sini. Kukira sebentar lagi bila dia datang ..."

Belum selesai ucapannya, mendadak terlihat Oh lian-kui berlari datang dengan napas terengah. Sambil berseru.

"Wah, celaka! Hiu-piausu tidak mampu menandingi orang itu, mungkin sebentar lagi akan kalah."

Cepat Nyo Toa-koh berdiri dan berseru.

"Anak Kiat. Ayo kita keluar!"

"Tunggu sebentar, Nyo-locianpwe,"

Ucap Te King dengan gugup.

"Te-kongcu, biarlah kita bertindak menurut caranya masingmasing,"

Kata Nyo Toa-koh dengan dingin.

"Aku membela Han tua dan tidak ada sangkut-pautnya denganmu."

Di balik ucapannya ingin menyatakan dia tidak perlu bantuan Te King, dia bertindak membela . Cin-wan-piaukiok juga tidak perlu Te King merasa utang budi padanya. Tapi Te King lantas menambahkan.

"Nyo-locianpwe, bungkusan barang ini biarlah kuserahkan kepadamu."

Tanpa penjelasan lebih lanjut ia lantas menyodorkan sebungkus barang kepada Nyo Toa-koh. Selagi Toa-koh merasa ragu apakah harus menerima atau tidak, sekonyong-konyong seorang berseru.

"Barang ini harus diserahkan padaku saja!"

Begitu terdengar suarrnya, di dalam kamar segera pula bertambah satu orang.

Nyata orang ini melompat masuk melalui jendela belakang.

Padahal Nyo Toa-koh dan Liong Leng-cu adalah jago silat pilihan, Ce Se-kiat juga sudah tergolong tokoh kelas utama, tapi kedatangan orang ini sungguh mirip setan iblis tanpa memberi sesuatu tanda sebelumnya, hanya terdengar kesiur angin dan orang ini sudah berada di depan mereka.

Setelah mengawasi orang, seketika Nyo Toa-koh terperanjat serupa melihat setan, terperanjatnya bukan lantaran kehebatan ginkang orang melainkan karena merasa kenal wajah orang ini.

Ia tertegun, segera teringat olehnya.

"Haha, inilah Te Sin. Tapi mengapa anaknya baru saja menyebutnya mendiang?"

Kiranya Te Sin ini adalah putra Te Kin yang merupakan salah seorang pendiri Cin-wan-piaukiok, jadi ayah Te King.

Nyo Toa-koh baru pertama kali ini bertemu dengan Te King, tapi dengan ayahnya, yaitu Te Sin, sudah saling kenal sejak 20 tahun yang lampau.

Waktu itu Han Wi-bu sudah menjabat Congpiauthau dan Te Sin kabur bersama keluarganya karena dituduh tersangkut perkara pengkhianatan dan berkomplot dengan musuh.

Sejak itulah Nyo Toa-koh tidak pernah lagi berjumpa dengan dia.

Walaupun sudah berpisah 20 tahun, namun wajah orang setengah baya umumnya takkan banyak berubah, maka sekali pandang saja segera Nyo Toa-koh mengenalinya.

Selagi Nyo Toa-koh terkejut, Te King sudah mendahuluinya membentak.

"Kurang ajar! Siapa engkau, berani memalsukan mendiang ayahku?"

Orang itu terbahak-bahak, katanya.

"Aha. engkau tidak kenal padaku lagi? Eh, maaf, bukan maksudku ingin menjadi ayahmu, soalnya urusan hari ini terpaksa aku harus menyaru sebagai ayahmu. Nah, tidak perlu banyak bicara, hendaknya kau percaya padaku. Lekas serahkan barang itu kepadaku."

Te King melengak, baru sekarang ia tahu siapa orang ini, ucapnya dengan tertawa.

"Ah, kiranya engkan . ."

"Hah, engkau Koai-hoat Thio!"

Sekali ini Nyo Toa-koh yang mendahului berteriak. Orang itu tertawa.

"Betul, Toa-koh, tajam benar pandanganmu. Aku memang Koai-hoat Thio adanya. Sedikit sengketa kita dahulu hendaknya jangan kau pikirkan lagi. Biarlah lain hari akan ku minta maaf padamu."

Te King menepuk kepala sendiri, omelnya dengan tertawa.

"Aku sudah pikun barangkali, seharusnya sejak mula dapat kuduga paman Thio adanya."

Kiranya Koai-hoat Thio inilah orang yang ditunggunya, yaitu orang yang berjanji akan bertemu dengan dia di sini.

Koai-hoat Thio atau si Thio gembira ini memiliki dua macam kungfu khas, yang semacam adalah kepandaian mencuri atau mencopet, dia diakui sebagai si pencuri nomor satu di dunia.

Kepandaian lain adalah menyamar dan ganti rupa, untuk kepandaian kedua ini dia hanya di bawah seorang kosen lain, yaitu Li-moacu, Li si burik.

Koai-hoat Thio adalah sahabat karib Beng Goan-ciau.

dahulu ketika terjadi urusan pernikahan Nyo Bok dengan In Cilo yang gagal itu.

si Thio gembira pernah diminta Beng Goanciau agar membantu In Ci-lo melarikan diri dari rumah keluarga Nyo.

Sebab itulah tadi dia bilang ada sedikit sengketa dengan Nyo Toa-koh.

Urusan itu sudah 20 tahun berselang, Nyo Toa-koh sendiri juga menyesal atas sikapnya yang keras sehingga membuat In Ci-lo minggat dari rumah maka dengan tertawa ia berkata pula.

"Asalkan pencuri konyol seperti dirimu ini mau membantu Cin-wan-piaukiok, untuk apa taci tua dendam. Nah, bolehlah kita keluar bersama!"

"Ah, tidak perlu Nyo-toaci keluar, aku cuma ingin minta tolong kepada putramu,"

Kata Koai-loat Thio, Ia pandang Sekiat, lalu menyambung dengan tertawa.

"Kepandaianmu merias muka hebat juga, bilakah kau belajar sebagus ini?"

"Nona Liong inilah yang membantuku merias muka palsu ini,"

Jawab Se-kiat. Koai-hoat Thio tidak sempat banyak bicara lagi ia hanya mengangguk kepada Liong Leng-cu, katanya.

"Nona Liong, engkau tidak kenal diriku, tapi aku pernah melihatmu. Pada waktu engkau berumur setahun pernah kudatang ke rumahmu."

Sembari bicara ia terus mengeluarkan satu biji pil dan dilebur deigan air putih untuk memperbaiki samaran wajah Ce Se-kiat.

Caranya cepat dan mahir, hanya sebentar saja Se-kiat sudah berlainan daripada tadi.

"Aha, rupanya Thio-siansing kenal mendiang ayahku,"

Seru Leng-cu girang.

"Terhadap urusan ayahku memang sangat sedikit kuketahui..."

"Urusan lama biarlah sebentar kubicarakan denganmu,"

Koai-hoat Thio, sementara itu dia sudah selesai mendandani muka Se-kiat.

segera mereka berdua keluar.

Di luar pertandingan Hiu Thian-lan melawan Ubun Lui sudah mendekati berakhir.

Serangan Ubun Lui makin lama makin gencar, ketika melihat pukulan lawan sangat dasyat cepat Thian-lan mengegos ke samping kedua tangan digunakan menangkis.

Siapa tahu tipu serangan Ubun Lui sangat keji, mendadak sebelah tangannya berputar dari samping ke bawah terus menerobos lagi ke tengah, dalam keadaan demikian kalau pelipis Thian-lan tidak terpukul, tentu sebelah tangannya akan terpuntir patah.

Para anggota Cin-wan-piaukiok sama menjerit kuatir.

Terdengarlah suara "blang"

Yang keras, tubuh Hiu Thian-lan terlempar ke atas serupa bola.

Kiranya lantaran dia menghindari pelipis terserang, terpaksa ia memutar tubuh sedikit dan menerima pukulan lawan mentah-mentah sehingga tubuhnya terpental.

Begitu cepat sehingga tampaknya tubuhnya akan menumbuk pilar.

Kalau tertumbuk, andaikan tidak mati juga kepala akan bocor.

Kedua piausu tua, yaitu Oh Tiong-goan dan Jui Beng-lun, ikut mengasuh Hiu Thian-lan sejak masih kecil, dengan sendirinya mereka tidak dapat tinggal diam, sambil berteriak kuatir serentak mereka memburu maju untuk menolongnya.

Tapi kecepatan mereka ternyata tidak membandingi kecepatan Ubun Lui, begitu dia memukul Thian-lan hingga terpental, menyusul ia pun melayang ke atas.

Secepat anak panah terlepas dari busurnya, dengan tepat ia menyusul tiba sedetik sebelum Hiu Thian-lan tertumpuk pilar, tungkak kaki Thian-lan dapat dipegangnya serta ditarik kembali mentahmentah dan diturunkannya.

Rasa kejut para anggota Cin-wan-piaukiok belum lagi hilang, semuanya sama kesima.

Oh Tiong-goan dan lui Beng-lun sama mengusap keringat dingin dan termangu serupa patung sambil memandangi Ubun Lui, mereka tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Maklumlah, bilamana Ubun Lui tidak lebih cepat daripada mereka, jelas mereka tidak keburu lagi menyelamatkan Hui Thian-lan.

Semula mereka tidak senang terhadap tindakan Ubun Lui yang hendak berebut kedudukan Congpiauthau, sekarang mau-tak-mau timbul kesan baik mereka terhadapnya, Mereka tidak tahu bahwa justru inilah cara Ubun Lui "menarik simpati orang".

Ia tahu Hiu Thian-lan adalah piausu muda yang didukung para kawan sekerjanya, baginya tidak sulit untuk mengambil nyawa Thian-lan, tapi akibatnya tentu akan mendatangkan rasa permusuhan orang banyak.

Sebab itulah dia sengaja menggunakan tenaga yang sudah diperhitungkan, prdi detik terakhir sebelum Hui Thian-lan tertumbuk pilar sempat diselamatkannya tanpa terluka sedikit pun.

Setelah menurunkan Thian-lan ke lantai, dengan tertawa Ubun Lui berkata.

"Maaf, karena ceroboh sehingga hampir membikin susah padamu. Hui-heng tidak apa-apa bukan?"

Muka Thian-lan tampak merah padam, dengusnya.

"Hm hebat benar kungfumu, orang she Ubun!"

Dari suaranya semua orang tahu Thian-lan tidak cedera apa pun, legalah semua orang.

Setelah Ubun Lui memperlihatkan kelebihan kungfunya jika mau mencabut nyawa Hiu Thian-lan, namun hal itu tidak dilakukannya, tentu saja para piausu dapat melihat hal ini dengan jelas, terutama Han Wi-bu sebagai ayah mertua Hiu Thian-lan.

Han Wi-bu berpengalaman luas.

tentu saja ia tahu maksud tujuan Ubun Lui.

Tapi meski diketahuinya tujuan Ubun Lui ini sengaja pamer kekuatan untuk menegakkan wibawa, selaku Congpiauthau dan mertua Thian-lan, mau-tak-mau ia harus memberi hormat dan mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Ubun Lui itu.

"Haha, kan kita sudah setuju hanya saling uji saja,"

Sahut Ubun Lui dengan tertawa.

"Selanjutnya masih banyak yang perlu kumintakan bantuan Hiu-heng. Kita kan orang sendiri, kejadian barusan hendaknya jangan kau singgung lagi."

Hiu Thian-lan sangat mendongkol, dengan muka merah ia mendengus.

"Ubun Lui, selamatlah engkau akan menjabat Congpiauthau piaukiok ini, aku merasa tidak becus dan tidak berani cari makan lagi di sini. Kumohon engkau mengabulkan permohonanku untuk mengundurkan diri."

"Ah, kenapa Hiu-heng bicara demikian ..."

Belum lanjut ucapan Ubun Lui, tiba-tiba seorang menanggapi.

"Huh, Hiu Thian-lan, masa perlu kau minta keluar dari piaukiok ini? Aku justru minta kau tinggal tetap di sini."

Wuktu Thian-lan berpaling, ternyata di depannya sudah berdiri dua orang, seorang tua dan yang lain muda.

Yang tua dirasakan sudah pernah dikenalnya.

Setelah melenggong jenenak, tiba-tiba teringat olehnya, dengan terkejut ia berseru.

"Aha, bukankah engkau ini paman Te?"

Tidak perlu dijelaskan lagi, kedua orang ini adalah Se-kiat dan Koai-hoat Thio yang menyaru sebagai Te Sin.

Dalam keadaan menyamar tidak ada yang kenal lagi pada Ce Se-kiat.

Tapi Koai-hoat Thio yang menyaru sebagai Te Sin tidak begitu halnya sebab kebanyakan yang hadir di sini sama kenal Te Sin.

Tentu saja kemunculannya yang mendadak ini membuat gempar seluruh hadirin, serentak mereka sama berdiri, Dan justru karena hal ini tidak tersangka sama sekali, maka dalam sekejap itu tiada seorang pun bersuara menyapanya.

"Hiu-hiantit, syukur engkau masih kenal padaku,"

Seru Koaihoat Thio dengan tertawa.

"Kuingat waktu kupergi dari sini, saat itu umurmu baru tujuh atau delapan tahun."

Dengan nekat Han Wi-bu coba tampil ke muka, katanya.

"Te-laute, bagus sekali kepulanganmu ini. Cuma sayang, piaukiok ini bukan lagi milik kita, selanjutnya biarlah kita hidup tenang dan tentram saja."

Karena Han Wi-bu sudah mendahului bicara, jago yang lain segera bertegur sapa juga dengan "Te Sin", cuma lantaran We Tiang-jing dan begundalnya hadir di situ, mereka hanya menyapa sekadarnya saja dan tidak berani bertanya.

Dengan tertawa Koai-hoat Thio lantas berkata.

"Terima kasih para kawan masih ingat padaku. Hanya saja, apa yang diucapkan Han-toako barusan membuatku bingung."

"Bingung bagaimana?"

Tanya Wi-bu.

"Kau bilang Cin-wan-piaukiok bukan milik kita lagi, apa artinya ini?"

Tanya Koai-hoat Thio.

"Sebab aku tidak menjabat Congpiauthau lagi,"

Tutur Han Wi-bu.

"Hari ini secara resmi aku mengundurkan diri, tentu sudah kau ketahui."

"Justru lantaran Lau toako hendak mengundurkan diri, maka sengaja kupulang kemari,"

Ujar Koai-hoat Thio.

"Cuma, biarpun tidak menjabat Congpiauthau lagi, setengah bagian dari Cin-wan-piaukiok kan tetap milikmu. Mengapa kau bilang bukan lagi milik kita?"

Ia sengaja menandaskan kata-kata "kita"

Sehingga membuat Han Wi-bu merasa sangsi, ucapnya dengan tersenyum getir.

"Tapi sudah kuputuskan takkan mengurus lagi setengah bagian saham Cin-wan-piaukiok milikku itu, ada maksudku hendak kuberikan . ..."

Kiranya dia menjadi putus asa, setelah menantunya kalah bertanding, sudah diputuskannya sahamnya hendak diserahkan sekalian kepada Congpiauthau baru, yaitu Ubun Lui, hanya saja maksud ini belum sempat dikemukakannya.

Tak terduga Koai-hoat Thio lantas menukas.

"Lautoako, jangan sekali-kali kau berikan sahammu kepada orang lain. Piaukiok ini adalah usaha bersama orang tua kedua keluarga kita, betapapun aku tidak mau berkongsi dengan orang lain."

Keruan Han Wi bu terperanjat dan melongo, pikirnya.

"Dari nada ucapan Tc Sin ini agaknya dia bermaksud merebut setengah bagian sahamnya. Dahulu dia kabur karena takut ditangkap, mengapa hari ini dia seberani ini malah?"

Sungguh ia merasa sahabat lama ini telah berubah sama sekali, entah mengembara ke mana saja selama 20 tahun ini, bukan cuma suaranya rada berubah, bahkan wataknya juga berubah.

Kiranya Koai-hoat Thio ini masih mempunyai kepintaran lain, yaitu mahir menirukan suara orang, hanya saja tidak semahir Li si burik.

Namun hanya sahabat lama saja seperti Han Wi-bu yang pernah tinggal bersama yang dapat mengenali suaranya.

Ubun Lui mendongkol karena tak diacuhkan, ia tidak tahan dan akhirnya bersuara.

"Kutahu Te-siansing ini mempunyai hubungan erat dengan Cin-wan-piaukiok. Cuma, sebaiknya urusan penting di-selesaikaa dulu baru nanti bercengkerama lagi antara kenalan lama."

Segera Koai-hoat Thio menukas.

"Betul kedatanganku ini justru demi urusan penting piaukiok kita. Selama 20 tahun aku tidak berjasa apa pun bagi piaukiok, sungguh harus disesalkan. Tapi sekarang Han-toako sudah menyatakan mengundurkan diri, urusan penting yang menyangkut jaya dan runtuhnya piaukiok mau-tak-mnu aku harus ikut campur,"

Bicara sampai di sini, tangan Hui Thian-lan dipegangnya dan berkata pula.

"Orang yang menjabat Congpiauthau memang penting ilmu silatnya harus tinggi, tapi yang lebih penting kepribadiannya harus baik pula, harus dihormati dan disegani sahabat kangouw. Kalau tidak, siapa yang mampu menjelajahi seluruh negeri itu tanpa gangguan hanya dengan sehelai panji pengenalnya? Maka itu Hiu-hiantit, aku tidak tahu sebab apa engkau bertanding dengan orang, tapi kutahu kungfumu tidak rendah, kepribadianmu pun terpuji, jika kalah seketika juga tidak menjadi soal. Apakah engkau akan berhasil menjadi Congpiauthau atau tidak, pendek kata kuminta engkau tetap tinggal di Cin-wan-piaukiok."

Hiu Thian-lan tenenyum getir, ucapnya "Paman Te, sayang Cin-wan-piaukiok tidak dapat dipimpin olehmu, kalau tidak, kami rela menjadi anak buahmu."

Mendadak Ubun Lui mendengus.

"Hm, apa yang diucapkan Te-siansing cocok juga dengan pikiranku. Aku pun berharap Hiu-piausu suka tetap tinggal di sini, cuma untuk ini kukira tidak perlu minta jasa baikmu untuk bicara melainkan harus kukatakan sendiri."

Koai-hoat Thio berlagak melengak dan memandang Ubun Lui dengan terbelalak, sahutnya.

"Wah, kalau aku tidak berhak bicara bagi Cin-wan-piaukiok, memangnya engkau berhak? Engkau ini ada sangkut-paut apa dengan piaukiok ini?"

Dengan tegak angkuh Ubun Lui menjawab.

"Maaf, aku ini pemegang enam bagian sero Cin-wan-piaukiok."

Kiranya dahulu waktu terjadi kasus Cin-wan-piaukiok, Nyo Bok selain mencaplok setengah bagian saham yang dimiliki keluarga Te, bahkan atas prakarsa komandan Han-lim-kun dahulu, yaitu Lamkiong Bang, Han Wi-bu didesak untuk memberikan satu daripada lima bagian saham yang dipegangnya kepada Nyo Bok sebagai balas jasa diselamatkannya Cin-wan-piaukiok.

Sekarang seluruh saham yang menjadi milik Nyo Bok itu dipindahkan kepada Ubun Lui, makanya dia berani mengaku memegang enam bagian saham.

We Tiang-jing merasakan gelagat tidak enak, tapi ia pikir Te Sin juga belum tentu bertindak melampaui batas, maka ia coba menengahi.

"Te-siansing, engkau baru saja pulang dan belum tahu duduknya perkara. Ubun-siansing ini sekarang adalah pemegang saham terbesar Cin-wan-piaukiok, bahkan dalam pertandingan tadi dia telah mengalahkan Hiu-piausu yang dipandang kungfunya paling kuat di antara anggota piaukiok. atas persetujuan Han-lopiauthau dan kawan piausu yang lain. Ubun-siansing telah menjabat Congpiauthau yang baru."

Koai-hoat Thio tidak merghiraukan keterangan We Tiangjing itu sebaliknya bicara terhadap Han Wi-bu.

"Hei, Hantoako, jika demikian halnya, maka engkaulah yang salah. Perusahaan yang didirikan leluhur kita dengan susah payah mana boleh dipersembahkan kepada orang lain begitu saja?"

Begitulah Koai-hoat Thio berlagak kurang senang dan mengomel, Han Wi-bu jadi mcLenggong. katanya.

"Aku ... aku tidak ..."

"Saham yang dipegang Ubun-siansing bukan diberikan olehmu?"

Tanya Koai-hoat Thio.

"Sebenarnya tadi mamang ada niatku seperti itu, tapi belum terjadi,"

Ujar Wi-bu "Itu kan aneh,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Baru saja ia bilang memegang enam bagian dari seluruh saham Cin-wan-piaukiok, lantas dan mana dia memperoleh enam bagian saham tersebut?"

"Tentang itu aku pun tidak tahu,"

Terpaksa Han Wi-bu menjawab dengan menyengir. Mendadak Ubun Lui berdiri, katanya.

"Saham yang kumiliki ini adalah pemberian Nyo-taijin ini kepadaku dengan We-taijin sebagai saksi."

"Wah, itu tambah aneh lagi,"

Seru Koai-hoat Thio.

"Cinwan-piaukiok didirikan bersama oleh keluarga Te dan keluarga Han. Jika saham yang dipegang keluarga Han masih tetap berada pada Han Wi-bu, lantas dari mana orang lain bisa memegang saham Cin-wan-piaukiok? Seumpama saham keluarga Han diserahkan seluruhnya kepadanya juga tidak mungkin berjumlah enam bagian, apalagi Han-toako menyatakan tidak pernah memindahkan sahamnya kepada orang lain."

"Saham atas namaku hanya ada satu bagian kuberikan kepada Nyo-taijin ini,"

Tukas Han Wi-bu.

"Jika demikian, paling banyak Nyo-taijin ini kan cuma memiliki satu bagian saham piaukiok ini, darimana pula dia dapat menyerahkan enam bagian saham kepada Ubunsiansing? Sungguh aneh!"

Muka Nyo Bok tampak merah padam, katanya.

"Te Sin, tampaknya engkau ini memang sengaja mencari perkara tanpa sebab?"

"Huh, tidak kutuduh engkau sengaja mengangkangi hak orang lain, sekarang berbalik engkau mencela diriku?"

Jengek Koai-hoat Thio.

"Coba, ingin kutanya padamu, di mana kebenaranmu dalam urusan ini?"

"Begini, pada waktu engkau pergi dulu, aku lantas masuk Cin-wan-piaukiok dan menjabat wakil Congpiauthtau,"

Jawab Nyo Bok.

"Beberapa tahun aku bertugas, lalu mengundurkan diri. Setiap anggota piaukiok ini tahu aku adalah pemegang saham merangkap menjadi wakil Congpiauthau."

"Apa yang kau katakan itu adalah dua urusan yang berlainan,"

Ujar Koai-hoat Thio.

"Aku tidak peduli berdasarkan apa engkau menjadi wakil Congpiauthau piaukiok ini, tapi engkau sebagai pemagang saham Cin-wan Piaukok, untuk itu harus ada buktinya. Dan bukti apa yang dapat kau perlihatkan padaku?"

Hendaknya dimaklumi, dahulu waktu Te Sin melarikan diri bersama keluarga dari kota raja, sahamnya tidak pernah dipindahkan kepada orang lain secara resmi, sebab itulah menurut keadaan nyata, hak sahamnya hanya boleh dikatakan "beku untuk sementara"

Dengan hak milik tetap dipegang olehnya.

Bahwa Nyo Bok diberi hak saham untuk menggantikan Te Sin, hal ini hanya berdasarkan usul komandan Han-lim-kun waktu itu.

yaitu Lam kiong Bang, sebagai syarat pertukaran takkan mengusut tersangkutnya Cin-wan-piankiok dengan perkara pengkhianatan.

Perkara yang dituduhkan kepada keluarga Te waktu itu juga tidak pernah di usut oleh pihak kerajaan secara terbuka, maka apa yang menjadi hak milik keluarga Te lantas dicaplok begitu saja masuk saku pribadi Lamkiong Bang, Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa nggota keluarga Te masih berani lagi pulang, maka tanpa gentar Nyo Bok lantas menganggap dirinya pemegang saham terbesar Cin-wan-piaukiok, siapa tahu sekarang bisa timbul kericuhan.

Jika Nyo Bok hendak menggunakan alasan "feit acompli"

Untuk memperkuat haknya, yaitu menurut kenyataan yang sudah telanjur terjadi, maka Koai-hoat Thio justru menggunakan kelemahan lawan yang korupsi dan manipulasi itu dan minta orang memberi bukti.

Keruan seketika Nyo Bok tidak dapat omong.

We Tiang-jing berdehem, lalu berkata.

"Te-siansing, kejadian 20 tahun yang lalu mungkin engkau tidak ingat lagi seketika. Tapi kuingat waktu itu seperti . seperti ditangani oleh pemerintah .. , ."

Di balik ucapannya sebenarnya dia hendak memperingatkan agar "Te Sin"

Jangan melupakan perkaranya dan supaya mundur teratur. Tak terduga Koai-hoat Thio justru berlagak tidak mengerti akan maksudnya, ia berbalik menjengek.

"Ya, kuingat waktu itu We-taijin juga belum dinas di kotaraja, entah dari mana Taijin mengetahui urusan Cin-wan-piaukiok. Kalau tidak salah, waktu itu We-taijin seperti .... seperti masih menjadi ."

Kiranya pada 20 tahun yang lalu We Tiang-jing adalah tokoh kalangan hitam, dengan sendirinya ia kuatir orang membeberkan boroknya itu.

Ia tidak menyangka orang berani berbantah terangterangan dengan dia, keruan ia mendongkol, dengan muka merah ia berkata.

"Urusan Cin-wan-piaukiok kudengar dari komandan Han-lim-kun dahulu, yaitu Lamkiong Bang."

"Tapi aku tidak tahu apa betul Lamkiong-taijin pernah...."

Belum lanjut ucapan Koai-hoat Thio.

dari malu We Tiongjing menjadi gusar, jengeknya "Hm, Lamkiong-tongling sudah lama meninggal, apakah maksudmu hendak menuduh aku berdusta dan sengaja menjadi saksi palsu?"

Nyata ia hendak menakuti "Te Sin"

Dalam kedudukannya sebagai wakil komandan pasukan pengawal istana. Akan tetapi Koai-hoat Thio tetap tidak gentar, katanya.

"Ah, mana kuberani. Maksudku jika hanya menunjukkan saksi bicara saja tanpa bukti nyata, inilah yang tidak dapat kuterima."

Sampai di sini, pelahan ia lantas membuka bungkusannya dan berkata pula.

"Nah, coba lihat, tiap jual beli tentu harus ada buktinya. Beli rumah ada kuitansi, beli tanah ada sertifikat. Jual-beli saham piaukiok terlebih harus melalui kantor pemerintah yang berwenang membuat kontrak jual-beli secara resmi dan terdaftar di jawatan yang bersangkutan."

Begitulah ia mengeluarkan semua bukti dokumen yang dibawanya dan ditaruh di atas meja, lalu katanya pula.

"Inilah akte pendirian Cin-wan-siaukiok antara keluarga Te kami dan keluarga Han dengan saham-sahamnya, semuanya terdaftar secara resmi dan dibuat rangkap dua, masing-masing dipegang oleh keluarga Te dan Han. Sekarang kalau Ubunsiansing menyatakan dia memiliki enam bagian dari keseluruhan saham Cin-wan-piaukiok, maka kuminta dia juga memperlihatkan semua buktinya."

Tentu saja We Tiang-jmg sangat gemas karena orang tak dapat digertak, ia pikir.

"Baik, sementara ini engkau boleh mentang-mentang, selang hari ini bilamana engkau tetap berada di Cin-wan-piaukiok tentu ada caraku akan mengerjaimu."

Menghadapi daging yang tinggal dimakan dan mendadak terlepas, tentu saja Ubun Lui tidak tahan, segera ia berteriak.

"Aku tidak peduli apa buktimu, yang jelas saham yang kubeli dengan berpuluh laksa tahil perak ini kulakukan secara sah dengan saksi mata We-taijin."

"Itu kan urusan jual-beli antara Nyo-taijin denganmu, aku terlebih tidak peduli,"

Jengek Koai-hoat Thio. Seorang jago tua dari Hui-ma-piaukiok bernama Be Thianhoa ikut bicara.

"Ubun-siansing, hendaknya engkau jangan gelisah. Di kotaraja yang merupakan pusat pemerintahan ini segala urusan tentu harus menurut undang-undang. Jika penjual tidak dapat menyerahkan barangnya engkau ada hak untuk minta uang kembali dan ganti rugi. Apalagi jual-beli disaksikan oleh We-taijin, masa perlu kuatir?"

"Apa katamu? Kau anggap aku jual kosong tanpa memiliki sesuatu barang?"

Mendadak Nyo Bok berteriak dengan muka merah.

"Ah, kukira ada sedikit salah paham dalam urusan ini, aku sendiri pun tidak jelas."

Sela We Tiang-jing.

"Cuma, apa pun juga Nyo-taijin tak dapat kau anggap menjual barang yang tidak ada, sedikitnya dia kan memegang satu bagian saham pemberian Han-lopiauthau, satu bagian saham ini jelas dibuktikan dengan surat resmi."

Ubun Lui disadarkan oleh ucapan We Tiang-jing itu, segera ia ngotot lagi, katanya.

"Betul, mengenai lima bagian saham yang lain sesungguhnya hak milik siapa, sengketa ini biarlah nanti saja diputuskan oleh pihak yang berwajib. Namun aku jelas memiliki satu bagian saham paling sedikit, maka aku tetap pemegang saham Cin-wan-piaukiok ini."

"Baiklah, boleh kuakui engkau adalah pemegang saham kecil, lalu apa yang hendak kau-kemukakan?"

Kata Koai-hoat Thio.

"Tentang calon Congpiauthau tentu aku berhak ikut menentukan,"

Jawab Ubun Lui.

"Tadi Han-lopiauthau sudah menyatakan hal ini dan disetujui orang banyak, bahwa jabatan Congpiauthau harus diserahkan kepada orang piaukiok yang paling tinggi kungfunya."

"Betul, aku setuju,"

Seru Koai-hoat Thio.

"Aku kan pemegang saham terbesar, tentu aku terlebih ingin mendapatkan Congpiauthau andalan sehingga piaukiok ini akan tambah maju dan jaya."

We Tiang-jing berdehem, katanya.

"Baiklah, jika soal ini sudah disepakati semua orang, maka urusan akan mudah diselesaikan. Baru saja Ubun-siansing ini telah mengalahkan Hiu-piausu, anggota piaukiok yang lain juga menyerah. Cuma semua itu terjadi sebelum Te-siansing muncul di sini, entah sekarang engtau juga ingin bertanding dengan Ubun-siansing atau engkau akan mengajukan seorang jagomu untuk bertanding dengan dia?"

"Bicara terus terang, bukan maksudku anti Ubun-siansing menjadi Congpiauthau bila dia memang menguasai kungfu tinggi,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Untuk mengujinya, akan kusuruh muridku bertanding dengan dia, jika dia dapat mengalahkan muridku, tentu dapat kupercayai dia."

Tanpa disuruh lagi segera Ce Se-kiat tampil ke depan, ia memberi hormat kepada hadirin dan berseru.

"Selamat para Cianpwe. Jabatan Congpiauthau sebenarnya tidak berani kuharapkan. Tapi atas perintah guru, terpaksa kuminta petunjuk beberapa jurus kepada Ubun Siansing."

Terhadap Te Sin sedikit banyak Ubun Lui masih gentar, sekarang murid orang yang disuruh maju, seketika hati merasa lega, pikirnya.

"Bocah ini baru berumur likuran, umpama dia mulai berlatih sejak berada dalam rahim ibunya juga takkan melebihiku."

Ia tidak membantah, diam-diam ia merasa senang, mengira dirinya telah berhasil membantu Ubun Lui.

Ubun Lui juga cukup cerdik, ia dapat menangkap maksud ucapan We Tiang-jing, segera ia pasang kuda-kuda dan berseru.

"Bagus, sudah lama kudengar kelihaian Liok-hap-kun keluarga Te, silakan Nyo-heng memberi petunjuk dengan Liokiap-kun!"

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Koai-hoat Thio mencegah dengan tersenyum.

"Te-siansing ada petunjuk spa?"

Tanya Ubun Lui dengan melengak.

"Apakah engkau ingin menjadi pemegang saham terbesar?"

Tanya Koai-hoat Thio. Ubun Lui kurang senang, jawabnya ketus.

"Menanya apa maksudmu?"

"Aku ingin bertaruh sedikit denganmu,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Begini, jika muridku dapat kau kalahkan, segera akan kuberikan lima bagian saham Cin-wan-piaukiok milikku kepadamu. Sebaliknya jika muridku menang, satu bagian sahammu itu pun harus kau berikan kepada muridku."

Ubun Lui yakin pasti akan menang, maka ia tergelak sambil mendongak, katanya.

"Ah, cara begini apakah tukik tidak terlampau menguntungkan diriku."

"Haha, terimu kasih atas penghargaanmu terhadap Liokhap-kun kami, untuk itu harus ku balas maksud baikmu,"

Sahut Koai hoat thio dengan tertawa.

"Berbareng itu pertaruhan ini boleh dikatakan menambah sedikit dorongan kepada muridku. Meski Liok-hap kun yang di latihnya belum cukup sempurna, tapi bila beruntung dia menang adalah satu kejutan baginya. Pendek kata, apakah engkau akan mendapatkan lima bagian sahamku atau sebagian sahammu akan jatuh kepada muridku, yang jelas aku telah memberi jasa-jasa baik kepada kedua pihak. Betul tidak?"

"Hm, bagus, kuterima jasa baikmu ini,"

Jengek Ubun Lui.

"Nah, tidak perlu banyak omong lagi, suruh muridmu maju saja."

Tanpa disuruh Se-kiat lantas tampil ke depan, katanya.

"Tadi engkau sudah bertanding, biarlah kuberi tiga jurus padamu."

Ubun Lui menarik muka, ucapnya dengan menyeringai.

"Hm, besar amat suaramu."

Meski bicara demikian, ia pun tidak sungkan lagi, kontan ia menghantam. Dengan enteng Se-kiat mengegos sehingga pukulan Ubun Lui mengenai tempat kosong. Diam-diam We Tiang-jing terkejut, ia pikir.

"Ginkang bocah ini ternyata jauh lebih hebat daripada Te Sin. tapi tampaknya belum setinggi Nyo Yam."

Te Sin yang dikenalnya 20 tahun yang lalu memang hebat, tapi ginkang "Te Sin"

Sekarang apakah jauh lebih maju tidaklah diketahuinya.

Sebab itulah meski curiga ia tetap tidak berani menuduh Se-kiat memalsukan diri sebagai murid keluarga Te.

Karena pukulannya mengenai tempat kosong Ubun Lui juga terkesiap, diam-diam ia mengakui lawan muda ini tidak boleh dipandang ringan.

Mendadak gerak tubuhnya berubah, ia menyerang dengan kepalan dan telapak tangan bergantian, dikeluarkannya jurus serangan maut Pek-toh-san.

---ooo0dw0ooo---

Jilid ke -8 Di tengah pertarungan sengit itu, tiba-tiba Ce Se-kiat menggeser ke samping sehingga pukulan Ubun Lui tidak mencapai sasaran.

Walaupun begitu, saking cepatnya, tangan Ubun Lui tampaknya seperti menyerempet pundak Se-kiat.

Diam-diam Se-kiat merasa lega setelah terhindar dari serangan maut lawan.

Ma Thian-hoa, pemimpin Hui-ma-piaukiok, merasa penasaran melihat serangan Ubun Lui itu, jengeknya.

"Hm, orang sengaja mengalah tiga jurus-padamu, tapi kau serang sekeji itu, sungguh tidak tahu malu."

Maklumlah, tulang pundak adalah bagian yang penting, bilamana remuk, selama hidup sukar lagi berlatih ilmu silat.

Ubun Lui berlagak tidak mendengar ejekan Ma Thian-hoa tadi, kembali ia menyerang lagi dengan cepat, tetap dengan pukulan telapak tangan dan kepalan sekaligus, malahan bertambah aneh gerak perubahannya.

Maka terdengarlah suara "blang"

Yang keras, dengan cepat punggung Ce Se-kiat terkena pukulan.

Kiranya ginkang Se-kiat meski cukup tinggi, tapi belum mencapai tingkatan kelas satu, jangankan tidak dapat membandingi Nyo Yam, dibandingkan Liong Leng-ca juga masih kalah.

Betapa lihai tenaga pukulan Ubun Lui sudah disaksikan orang banyak ketika menempur Hiu Thian-lan tadi.-Sekarang Ce Se-kiat terkena pukulannya, hal ini membuat semua orang sama terkejut, mereka mengira andaikan Se-kiat tidak mati juga pasti akan terluka parah.

Siapa tahu tubuh Se-kiat hanya bergeliat sedikit.

Sebaliknya Ubun Lui malah tergetar mundur dua tindak.

Rupanya meski Ce Se-kiat tidak balas menyerang, namun ilmu sakti pelindung tubuhnya cukup kuat untuk menggetar mundur Ubun Lui.

"Kalau menerima tanpa memberi kurang sopan,"

Bentak Sekiat mendadak.

"Tiga jurus sudah kuberikan, sekarang akan kubalas serang. Nah, awas!"

Habis berkata ia melancarkan suatu pukulan yang sangat umum.

Dengan sendirinya Ubun Lui dapat menangkisnya dengan mudah.

Berturut-turut Se-kiat menyerang lagi beberapa jurus yang jamak dari berbagai aliran.

Tampaknya Ubun Lui tidak sabar, bentaknya.

"Aku ingin belajar kenal dengan Liok-hap-kun. kenapa Nyo-heng tidak berani memainkannya? Apa barangkali Liok-hap-kun kalian malu diperlihatkan kepada orang?"

Hendaknya maklum, setelah saling gebrak, Ubun Lui sudah merasakan kekuatan lawan berada di atas sendiri, ia pikir bila lawan menggunakan Liok-hap-kun yang belum masak terlatih, tentu dirinya ada kesempatan untuk mengalahkannya.

Tiba-tiba Se-kiat mendengus.

"Hm, potong ayam masakah perlu pakai golok jagal? Cuma, jika benar kau ingin belajar kenal Liok-hap-kun baik, akan kuperlihatkan padamu."

Habis bicara sekaligus ia melancarkan tiga jurus "Kim-kehtoat-bi" (ayam emas berebut beras).

"Beng-hou-tiau-kan" (harimau buas melompati sungai) dan "Su-ih-hok-pin" (menjelajah segenap penjuru menaklukkan musuh), semuanya memang benar jurus serangan Liok-hap-kun. Kiranya Liok-hap-kun adalah sejenis ilmu silat yang sangat popiler pada waktu itu, meski Se-kiat tidak pernah mempelajarinya secara khusus, tapi gerak tipunya pernah dilihatnya. Sekarang ditirunya begitu saja dan ternyata cukup memadai juga. Cuma para jago yang menyaksikannya sama bekernyit kening, mereka sama pikir mengapa ahli waris keluarga Te sedemikian konyol? Namun begitu permainan Ce Se-kiat itu memang benar Liok-hap-kun dan takdapat disangkal oleh siapa pun juga. Tapi lantaran dia hanya memainkan secara lahiriah tanpa menghayati intisarinya, maka Se-kiat harus lebih banyak mengeluarkan tenaga dan banyak juga kesempatan untuk menang diabaikannya. Untung dasar lwekangnya didukung oleh ilmu sakti Liongsiang-kang tingkat kedelapan yang telah dilatihnya, biarpun di sana-sini ada titik kelemahan Liok-hap-kun yang dimainkannya, namun sukar juga begi Ubun Lui untuk menjatuhkannya. Ubun Lui sangat cerdik, sedapatnya ia menghindari bentrokan keras lawan keras, tapi mencari peluang untuk menyerang dengan Beng-toh-ciang-hoat yang lihai. Ia terus berputar kian kemari, selalu mengincar tempat maut di tubuh Se-kiat, bilamana terpukul dengan telak, biarpun Se-kiat memiliki ilmu sakti pelindung badan juga akan terluka parah. Diam-diam bekas sahabat Te Sim dulu sama berkuatir bagi guru dan murid itu, mereka sama pikir.

"Te tua ini sungguh terlalu tinggi hati, jika ia maju sendiri mungkin ada kesempatan untuk menang. Tapi permainan Liok-hap-kun muridnya ini jelas sangat jelek, mana bisa mengalahkan Ubun Lui?"

Dalam pada itu Han Wi-bu sudah dapat meraba sedikit maksud tujuan Ce Se-kiat, demi mendengar keluhan jago-jago tua itu, ia sengaja tanya Te Sim gadungan.

"Eh, Te-laute, dari mana kau -dapatkan murid yang sudah punya dasar ilmu silat ini?"

We Tiang-jing juga ikut tanya.

"Dahulu dia dari perguruan mana?"

"Ah, dari perguruan apa?"

Jawab Te Sim ga dungan alias Koat-hoai Thio.

"Dia memang pernah belajar beberapa jurus cakar kucing dari beberapa orang, tapi semuanya cuma jurus yang sering terlihat di dunia kangouw, dia belajar dengan guru silat kampungan saja."

"Oo, kiranya begitu, pantas ..."

"Pantas apa?"

Sela Koai-hoat Thio sebelum lanjut ucapan Han Wi-bu. Ma Thian-hoa, pemimpin Hui-ma-piaukiok itu juga seorang yang berwatak lugu, ia ikut bicara.

"Maafkan jika kubicara terus terang. Te tua, tampaknya latihan Liok-hap-kun muridmu ini belum cukup masak. Jika benar dia berguru padamu dengan membawa dasar ilmu silat golongan lain, kenapa sekarang tidak kau suruh dia mengeluarkan segenap kemahirannya?"

Koai-hoat Thio bicara dengan lagak serius.

"Sekali bicara seorang lelaki sejati betapapun tidak boleh dijilat kembali. Betapapun dia sekarang adalah muridku, mana boleh dia bertanding dengan orang lain tanpa menggunakan Liok-hapkun ke hiarga Te kami?"

"Bagus, memang tepat!"

Seru We Tiang-jing sambil memperlihatkan ibu jari.

"Seorang Piauthau terkemuka tetap berjiwa ksatria. Pertandingan muridmu ini boleh dikatakan demi nama baik perguruan, juga berusaha berebut kembali saham Cin wan-piaukiok yang jatuh di tangan orang luar. Bilamana dia menang dengan menggunakan kungfu perguruan lain, apa pun tidak gemilang kemenangannya itu."

Sembari bicara, sikapnya jelas memperlihatkan ejekan. Ma Thian-hoa sangat mendongkol, segera ia bermaksud menyindirnya, namun Han Wi-bu keburu mencegahnya.

"Ehh, apakah We-taijin juga merasa Liok-hap-kun muridku ini terlampau di bawah ukuran?"

Tanya Koai-hoat Thio "Ah, masa begitu?"

Jawab We Tiang-jing.

"Kutahu permainan muridmu itu adalah Liok-hap-kun tulen, baru setahun ia belajar dan sudah sehebat ini. sungguh harus dipuji."

Ia kuatir Ce Se-kiat akan terdesak hingga ganti ilmu silat kemahirannya, maka ia sengaja memuji Liok-hap-kun yang dimainkannya.

Tapi karena pujiannya ini sama juga dia telah mengaku Ce Se-kiat memang benar murid Te Sim.

Selagi mereka bicara itulah orang lain juga ramai membicarakannya.

Meski para tamu itu kebanyakan adalah sahabat karib Han Wi-bu dan Te Sim, tapi sebagian juga manusia yang suka mengekor menurut arah angin.

Orang-orang mi hendak pamer pengetahuan sendiri dalam hal ilmu silat, sekaligus juga memberi angin kepada Ubun Lui, maka ramai menyebut berbagai kelemahan Liok-hap-kun yang dimainkan Ce Se-kiat itu, malahan ada yang memberi contoh gerakan tangan untuk menyatakan cara permainan yang benar.

Padahal Liok-hap-kun pada waktu itu adalah ilmu silat yang sangat umum, setiap orang yang bekerja di piaukiok kebanyakan pernah mempelajarinya.

Mereka tidak tahu bahwa pada hakikatnya Ce Se-kiat tidak pernah belajar Liok-hap-kun segala, apalagi belajar pada Te Sim.

Dengan sendirinya olok-olok mereka itu kebetulan malah bagi Ce Se-kiat.

Mendadak Se-kiat tertawa panjang dan berseru.

"Haha, ada yang memuji kebagusan Liok-hap-kun yang kumainkan, tapi ada juga yang mengejek. Aku sendiri tidak tahu apakah permainanku memang bagus atau jelek, yang jelas telah kukeluarkan segenap kemampuanku sebagai tanda terima kasihku atas perhatian hadirin padaku."

Sembari bicara, sekaligus ia menghantam tiga kali dan menahas tiga kali pula dengan telapak tangan sehingga Ubun Lui dipaksa mundur beberapa tindak.

Seketika orang-orang yang mengoceh tadi sama cep-klakep alias bungkam, mereka sama pikir.

"Bocah ini sungguh rada aneh. Sekalipun dia menirukan petunjukku, sedikitnya kan perlu berlatih dulu, kenapa begitu saja meniru lantas berhasil dengan baik?"

Mereka tidak tahu bahwa Ce Se-kiat mempunyai dasar Liong-siang-kang (ilmu sakti gajah dan naga) tingkat ke delapan, meski dia memainkan Liok-hap-kun secara biasa saja Ubun lui tidak mampu mengalahkannya, apalagi sekarang dia menyerang dengan mengerahkan tenaga dalam, kutu saja Ubun Lui semakin kewalahan, Akhirnya Ubun Lui merasa gemas juga, mendadak ia melompat ke atas dan menghantam batok kepala Se-kiat dari atas.

Cepat Se-kiat menggeser ke samping, tangan kanan menangkis dan tangan kiri balas menabas.

Melihat kelihaian Se-kiat, mau-tak-mau We Tiang-jing berkerut kening, beberapa jago tua juga bersorak tanpa terasa.

Tipu serangan Ubun Lui tadi sebenarnya masih ada beberapa gerak ikutan, tapi karena tangkisan dan serangan Se-kiat, semua gerak ikutannya menjadi buyar, bahkan tergetar mundur dan hampir saja jatuh terjungkal.

Segera Jui Lip-sing berdehem, serunya.

"Eh, katanya pertandingan ini akan berakhir bilamana salah satu pihak tersentuh jatuh, tampaknya sekarang sudah dapat diakhiri saja."

Mendadak Ubun Lui melompat maju lagi sambil berteriak.

"Siapa bilang aku kalah?"

Berbareng We Tiang-jing juga berkata.

"Dalam pertandingan adalah jamak bilamana terdesak selurus dua. Bahwa sampai sekarang Nyo-laute ini baru lebih unggul satu jurus, kukira belum waktunya untuk diputuskan sudah menang. Betul tidak, Te siansing?"

"Siapa yang bilang pertandingan berakhir bila mana salah satu pihak tersentuh saja?"

Tanya Koai-hoat Thio.

"Tadi hal ini telah dikemukakan orang ketika menantu kesayangan Han-lopiauthau bertanding dengan Ubun Lui,"

Kata We Tiang-jing, ia mempertegas "telah dikemukakan", artinya belum mendapat kesepakatan bersama sebagai peraturan pertandingan. Koai-hoat Thio menggeleng kepala dan berucap.

"Watakku suka berterus terang dan lugas, kalau mau bertanding, maka biarlah berhantam secara tuntas dan menentukan kalah menang dengan jelas, masa pakai berakhir bila tersentuh segala, kan terlampau bertele-tele seperti orang perempuan saja. Aku tidak setuju!"

"Hahahaha!"

We Tiang-jing tergelak.

"Ucapan Te-siansing sungguh menyenangkan. Memang betul, jika pertandingan harus dibatasi dengan macam macam peraturan, jelas banyak kungfu sejati yang tidak dapat dikeluarkan. Bicara terus terang, tadi aku pun tidak setuju. Cuma aku orang di luar garis sehingga tidak enak untuk ikut bicara "

Maksud Jui Lip-sing sebenarnya ingin membla Te Sim, tak terduga "Te Sim"

Sendiri malah bicara demikian, keruan ia mendongkol.

Dalam pada itu Ubun Lui sudah mulai mendahului menyerang lagi, meski tidak sampai kelabakan, namun jelas Ce Se-kiat lebih banyak bertahan daripada balas menyerang.

Selagi Jui Lip-sing gemas terhadap keceroboh dan Te Sim dan juga berkuatir bagi Ce Se-kiat, tiba-tiba tercium olehnya semacam bau harum yang aneh.

Kiranya pada waktu ia melompat mundur tadi, ketika bergerak hampir roboh, di luar perhatian orang diam-diam ia mengeluarkan dua biji "Sin-sian-wan"

Yang berkadar tinggi dan digenggam erat.

Setelah melancarkan beberapa kali pukulan, suhu panas genggamannya telah mencairkan kedua biji obat itu.

Dengan demikian biarpun yang di latihnya bukan pukulan berbisa, namun tangannya serupa sudah dipoles racun.

Sin-sian-wan atau pil malaikat dewata itu berbau yang membuat orang mengantuk.

Orang yang langsung mencium baunva seketika akan merasa lemas.

Segera Jui Lip-sing bersuara heran.

"Hei, bau apa ini? Apakah kalian juga menciumnya?"

Ma Thian-hoa juga berkerut kening, katanya.

"Ya, bau ini serupa bau obat yang biasa digunakan orang Pek-toh-san untuk meracuni orang. Meski aku tidak pernah makan pil semacam itu, tapi pernah kudengar orang bercerita, katanya kadar racunnya serupa candu, bahkan jauh lebih lihai daripada candu."

"Hah, itu namanya Sin-sian-wan!"

Seorang jago tua yang berjuluk "serba tahu"

Berseru.

"Konon obat ini dibuat dari sejenis tumbuhan bernama ganja, dan lebih keras daripada candu. Di Pek loh-san banyak tanaman ganja, ada sekawanan penjahat bersembunyi di sana dan khusus membuat obat racun semacam ini untuk mencari keuntungan dan membikin celaka manusia. Sejak tahun yang lalu di dunia Kangouw sudah beredar obat racun buatan kawanan penjahat dari Pektoh-san ini."

Meski orang piaukiok biasanya berpengalaman luas juga, tapi cuma sedikit yang kenal Pek-toh-san dan Sin-sian-wan yang disebut-sebut itu, maka beramai beberapa orang lantas tanya.

"Eh, di manakah letak Pek-toh-san? Siapakah pemimpin kawanan penjahat itu?"

Si "serba tahu"

Tampik gembira, jawabnya dengan tertawa.

"Aku pun baru mendengar akhir akhir ini, kabarnya Pek-tohsan adalah sebuah gunung yang terletak antara perbatasan Tiongkok dan India, penguasa pegunungan itu bernama Ubun Pok."

Ma Thian-hoa berlagak terkejut, lalu pura-pura baru tahu duduknya perkara, katanya.

"Orang yang she Ubun sangat sedikit, kiranya Pek-toh sancu itu juga she Ubun?"

Ia sengaja menekan kata "juga", maka biarpun orang yang berpikiran lamban pasti juga akan berpikir mengenai Ubun Lui yang sedang bergebrak dengan Ce Se-kiat ini.

Tentu saja We Tiang-jing kurang senang, ia menarik muka dan menegur si "serba tahu".

"Memangnya kau sendiri pernah makan Sin-sian-wan? Pernah kau lihat Pek-toh-sancu?"

Biarpun serba tahu, namun nyalinya kecil, apalagi bermusuhan dengan pembesar, tiba-tiba teringat olehnya Ubun Lui datang bersama We Tiang jing, jika benar Ubun Lui orang Pek-toh-san, jelas We Tiang-jing juga ada hubungan erat dengan Pek-toh-san.

Karena pikiran itu ia menjadi gugup, dengan gelagapan ia menjawab.

"O, kan sudah sudah kukatakan, aku cuma mendengar cerita orang saja!"

Dalam pada itu Ubun Lui sedang terdesak oleh serangan Ce Se-kiai, namun semua percakapan orang itu dapat didengarnya dengan jelas, mau tak-mau ia pun rada gugup.

Segera ia gunakan Iwekang untuk menahan hawa berbisa obatnya itu agar tidak buyar.

Sin-sian-wan itu serupa candu, termasuk racun yang bekerja lambat, kalau dimakan akan membuat orang ketagihan, lama-lama orang yang sudah keracunan ini menjadi sampah yang tak berguna, cuma tidak keracunan dengan segera.

Setelah dia menghentikan buyarnya bau Sin sian-wan, rasa mengantuk orang lantas banyak berkurang, ketika mengerahkan tenaga juga tidak ada tanda keracunan, maka legalah hati mereka.

Malahan sebagian orang lantas meragukan keterangan si "serba tahu"

Tadi dan menganggapnya cuma membual belaka. We Tiang-jing lantas mendengus.

"Hm, kabar-nya, cuma kabarnya lantas kau anggap sungguhan? Apakah ada kawanan penjahat Pek-toh-san seperti ceritamu tadi tidak jelas bagiku, aku cuma tahu Ubun-heng ini adalah sahabat Congkoan-taijin kami. Dan sahabat Cong-koan-taijin apakah mungkin penjahat?"

Dengan kening bekernyit Jui Lip-sing menanggapi.

"Dengan sendirinya kami percaya penuh kepada Congkoan-taijin dan juga We-taijin, mustahil sahabat Congkoan adalah kaum penjahat. Hanya saja tadi aku memang mencium semacam bau yang sangat aneh."

"Hm, mungkin hidangmu jauh lebih tajam daripada orang lain, padahal aku tidak mencium bau apa pun,"

Jengek We Tiang-jing.

"Kalau ada bau, kukira paling-paling cuma bau keringat orang banyak."

"Betul, aku pun tidak mencium bau apa pun."

Timbrung Koai-hoat Thio tiba-tiba.

"Nah, betul tidak,"

Seru We Tiang-jing deng girang.

"Tesiansing juga tidak mencium sesuatu bau, bilamana benar Ubun-siansing memakai Sin sian-wan segala, masa Te-siansing tidak kuatir muridnya akan keracunan?"

Sungguh bingung dan tambah mendongkol Ji Lip-sing karena berulang-ulang "Te Sim"

Justru bicara membela pihak lawan. Dengan gemas ia mendengus terhadap Koai-hoat Thio.

"Hm, setelah berpisah berpuluh tahun, apakah baik-baik saja engkau?"

"Baik, baik sekali, aku senantiasa sehat walafiat,"

Jawab Koai-hoat Thio.

"Tapi aku meragukan jangan-jangan engkau mengidap sakit linglung."

Ucap Jui Lip-sing dengan mendongkol.

"Ah, jangan Jui-toako bercanda,"

Ujar Ke hoat Thio.

"Bicara terus terang, jika benar muridku sampai keracunan, rasanya aku pun tak menyalahkan orang yang menggunakan racun !"

"Oo, dalil macam apakah itu? Coba jelaskan"

Sela Ma Thianhoa.

"Cukup sederhana,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Bila mana engkau kepergok bandit yang merampas barang kawalanmu, apakah engkau dapat melarang bandit itu menggunakan racun?"

"Tapi yang sedang bertanding kan orang piau-ok sendiri?"

Ujar Ma Thian-hoa.

"Apa tujuan pertandingan ini?"

Tanya Koai hoat Thio mendadak "Bukankah karena kita ingin encari seorang yang paling cocok untuk menjadi congpiauthau?

Maka pertandingan ini bebas untuk berbuat apapun, boleh menggunakan am-gi (senjata hasia), boleh juga memakai racun, kalau calon congpiauthau kita sanggup menahan semua serangan itu bukankah terlebih bagus buat kita?"

"Tapi tadi kita sudah menyatakan di muka umum bahwa tidak boleh menggunakan racun,"

Ma sian-hoa.

"Yang kau maksudkan tadi apakah waktu terjadi pertandingan antara Hiu Thian-lan dengan Ubun-siansing?"

Tanya Koai-hoat Thio Betul,"

Jawab Ma Thian-hoa.

"Haha, tadi urusan tadi, sekarang urusan sekarang,"

Seru Koai-hoat Thio dengan tertawa.

"Sekarang yang bertanding adalah Ubun-siansing dengan muridku, yang kuharapkan adalah Cin-wan-piaukiok akan dipimpin seorang Congpiauthau perkasa, maka menurut pendapatku, biarkan saja meereka bertanding secara bebas."

"Haha, tepat sekali ucapan Te-lopiauthau, sungguh bijaksana, haha .."

Mendadak suara tertawa We Tiang-jing terhenti dan terbatuk-batuk.

Rupanya selagi bicara mendadak ia mencium bau harum yang menusuk hidung dan napas pun terasa sesak.

Saat itu Ubun Lui sedang menghimpun gas racun dari pil yang digenggamnya itu dan menyerang Ce Se-kiat secara langsung.

Bau Sin-sian-wan ini sangat harum dan memabukkan, cukup terisap sedikit saja akan membuat orang kemalasan serupa mabuk arak, bila terisap banyak bahkan bisa menimbulkan khayalan serupa terbang ke surga dan membuat orang menjadi gila.

Akan tetapi sudah sekian lamanya Ce Se-kiat tetap bertempur dengan bersemangat, sedikit pun tidak kelihatan keracunan atau terpengaruh oleh bau Sin-sian-wan.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa Ce Se-kiat sudah punya obat penawarnya, yaitu obat penawar berasal dari Nyo Yam yang diperoleh dari In-tiong-siang-sat.

In-tiong-siang-sat atau kedua elmaut dari Inlam, masingmasing bernama Ma Kiu dan Dian Keng, keduanya adalah pengedar racun buatan Pek-toh san itu.

Dahulu waktu Nyo Yam berusaha menolong seorang yang kecanduan ganja itu, di Ki-lian san dia dapat membekuk Ma Kiu yang sedang beraksi, dari Ma Kiu berhasil digeledah sebotol Sin sian-wan bersama obat penawarnya.

Obat penawar itu sebenarnya cuma obat pencegah racun bagi orang yang terlampau banyak minum Sia-sian-wau dan bukan obat penawar mujurab, tapi untuk menyembuhkan orang yang cuma terbius oleh bau Sin-sian-wan saja masih cukup efektif.

Ketika Ce Se-kiat mengetahui asal-usul Ubun Lui dari cerita Liong Leng-cu, sebelum turun ke kalangan tadi dia sudah mengulum sebiji obat penawar.

Sisa obat penawar juga telah diserahkan kepada Koai-hoat Thio.

Tadi waktu Koai-hoat Thio berlagak menyuguh arak, diamdiam sebenarnya arak telah ditaruhi obat penawar.

Sebagai seorang copet nomor satu di dunia ini, sedikit permainan itu tentu bukan soal baginya sehingga tidak diketahui siapa pun.

Waktu Ce Se-kiat berdiam di dalam gua es selama tiga tahun, dia pernah mendapat ajaran lwekang maha sakti dari paderi Hindu, dengan lwekang itu dapatlah dia menggunakan tenaga pukulan lawan untuk dialihkan untuk menyerang pihak ketiga.

Sekarang juga Se-kiat telah menggunakan IWekang sakti yang bernama "Tai-nah-ih-sin-kang"

Itu untuk mengalihkan gas racun yang dilancarkan Ubun Lui itu untuk menyerang We Tiang-jing.

We Tiang-jing duduk di ujung yang paling dekat dengan tempat bertanding, namun Iwekangnya lebih kuat daripada Ubun Lui sehingga daya serangan Se-kiat tidak dirasakan olehnya, tapi bau harum yang diisapnya itu yang membuatnya tidak tahan.

Mestinya dia dapat menghalau gas racun itu, tapi dengan berbuat demikian akan terbukti Ubun Lui menggunakan racun, padahal baru saja ia mengaku tidak mencium sesuatu bau Begitulah dia telan pil pahit tanpa bisa bersuara, terpaksa ia mengerahkan lwekang untuk melawan.

Sekonyong-konyong pikirannya terguncang, kedua orang yang sedang bertanding itu dalam pandangannya sekarang seakan-akan berubah menjadi dua wanita cantik yang sedang menari.

Cawan arak di atas meja dan sumpit juga berubah serupa benda emas, tanpa terasa ia tertawa cengar cengir sendiri, Nyo Bok yang duduk di sebelahnya merasakan gelagat tidak enak, dengan kuatir cepat ia berseru.

"We-taijin!"

Betapapun We Tiang-jing memang, seorang tokoh kelas tinggi, pada detik pikirannya hampir terpengaruh oleh obat bius itu, karena seruan Nyo Bok, meski tidak sadar seketika, sedikitnya pikiran behat memberi reaksi.

Segera ia menggigitlidah sekerasnya, rangsangan rasa sakit membuatnya tersadar "Wah, celaka, aku terkena racun Sin-sian-wan!"

Setelah merasakan gelagat jelek, seketika bayangan khayalnya lenyap sehingga terlepas dari pembiusan. Demi menjaga gengsi, ia tetap tidak mau mengaku keracunan, ia berbalik tanya Nyo Bok.

"Ada apa?"

Nyo Bok pan serupa We Tiang-jing, belum lagi minum arak yang mengandung obat penawar itu.

Syukur Se-kiat mengingat dia adalah pamannya sendiri, maka gas racun yang telah dipindahkan arahnya itu melulu ditujukan kepada We Tiang-jing dan sedapatnya menghindari menyerang Nyo Bok.

Walaupun begitu, sedikit banyak Nyo Bok mencium juga bau harum tadi, sekarang ia buka mulut berbicara, gas racun yang terisap bertambah banyak, cepat ia berkata.

"Lihat Wetaijin. betapa sengit pertarungan mereka, pertarungan antara dua harimau pasti ada satu yang akan cedera!"

Waktu bicara sudah dirasakan kepala pening, ia cuma sanggup bertahan hingga menyelesaikan ucapannya. We Tiang-jing memang licik dan licin, segera ia tahu maksud ucapan Nyo Bok, ia sengaja tanya.

"Ah, betul juga. Aku tidak hitung teliti, sampai sekarang sudah berlangsung berapa jurus?"

"Wah. paling sedikit mungkin sudah ada seratus jurus,"

Jawab Nyo Bok.

"Ya, kulihat keduanya sama kuat, supaya tidak cedera bersama, bolehlah pertandingan ini disudahi sampai di sini,"

Kata We Tiang-jing.

"Eh. Te-siansing kan pemegang saham terbesar, maka bolehlah Ubun-laute mengalah saja kepada muridnya untuk menjadi Congpiauthau, setuju?"

Dalam keadaan demikian yang diharapkannya adalah pertandingan kedua orang itu segera dihentikan agar dirinya tidak terserang lagi oleh gas racun, tentang rencana merebut Cin-wan-piaukiok boleh ditunda sementara.

"We-taijin,"

Segera Koai-hoat Thio menanggapi.

"Bukankah engkau sendiri menyatakan tidak setuju pertandingan harus diakhiri bilamana salah satu pihak sudah tersentuh, maksudmu pertandingan harus jelas ada yang kalah dan menang. Maka kukira boleh berlangsung terus, tampaknya sebentar lagi juga akan ketahuan siapa yang unggul dan Siapa yang asor."

Mendadak Ce Se-kiat berteriak.

"Tidak, aku tidak ingin menarik keuntungan sebagai pemegang saham terbesar, apa yang sudah kukatakan tidak nanti kujilat kembali!"

Di balik ucapannya seakan-akan menyindir We Tiang-jing yang mencla-mencle.

Keruan muka We Tiang-jing menjadi merah, tapi ia pun tidak sudi minta kelonggaran kepada Te Sim dan muridnya, yang diharap adalah Ubun Lui mau mengaku kalah dengan sendirinya.

Ia tidak tahu bahwa waktu itu biarpun Ubun Lui ingin mengaku kalah pun tidak dapat lagi.

Sembari bicara serangan Ce Se-kiat tidak mengendur, ia tambah tenaganya sehingga digunakan tenaga Liong-siangkang tingkat kedelapan secara penuh.

Tentu saja Ubun Lui terdesak hingga sukar bernapas, jangankan hendak bicara, Sekuatnya ia berusaha bertahan, ingin menyudahi pertandingan dan menyerah kalah pun sukar.

Makin sengit pertarungan mereka, tambah kuat juga gas racun yang menyerang We Tiang-jing.

Rasa sakit lidah yang digigitnya hanya membuatnya bertahan sadar sejenak, akan tetapi rasa pusing kepala dan mata bcrkimang tambah hebat.

Meski tidak banyak gas racun yang diisap Nyo Bok, tapi lwekangnya kalah tinggi daripada We Tiang-jing, sekarang ia pun mulai merasakan napas sesak dan mengantuk, ia pikir sebentar lagi dirinya pasti juga akan roboh keracunan.

Segera ia berdiri.

"Eh, Nyo-taijin mau apa?"

Tanya Han Wi-bu.

"Oo, aku hendak buang air,"

Jawab Nyo Bok pelahan.

"Pertarungan mereka tampaknya segera akan berakhir,"

Ujar Han Wi-bu.

"Wah, sayang, aku tidak tahan lagi,"

Kata Nyo Bok.

Ucapannya memang tidak bohong, hanya saja bukan tidak tahan kebelet saja.

Habis berkata cepat ia melangkah keluar.

Karena semua orang asyik mengikuti pertarungan di tengah kalangan sehingga tidak ada orang lain yang memperhatikannya.

Setelah mengeluyur keluar dan menyelinap ke halaman belakang, legalah hatinya melihat tidak ada orang yang mengawasinya, cepat ia mengerahkan lwekang untuk mengembus hawa racun yang diisapnya dan menarik udara segar.

Tiba-tiba ada orang menepuk pelahan pundaknya sambil menegur dengan tertawa.

"Eh, Nyo-taijin, kamar kecil tidak di sebelah sini. Kan dulu engkau pernah tinggal lama di sini, masa sampai kesasar?"

Kedatangan orang ini tanpa suara dan tanpa tanda, meski cuma tepukan pelahan, namun cukup membuat Nyo Bok berjingkat kaget. Waktu ia menoleh, terlihat "Te Sim"

Sudah berdiri di situ. Keruan Nyo Bok terkejut, pikirnya.

"Tak tersangka kepandaian Te Sim ternyata jauh lebih lihai daripada apa yang pernah kudengar. Barusan jika dia bermaksud mencelakaiku, sekali tepuk tadi mungkin dapat menghancurkan tulang pundakku. Kedatangannya ini tentu juga tidak berniat baik."

"Ada apa engkau menguntit diriku, Te Sim?"

Segera Nyo Bok bersikap garang sebagai seorang pejabat. Agaknya Koai-hoat Thio dapat meraba jalan pikirannya, jawabnya dengan tertawa.

"Nyo-taijin, janganlah engkau sembarang curiga. Sesungguhnya aku memang bermaksud baik. Sengaja kudatang mencarimu supaya pulang."

"Masa aku sampai tersesat, tidak perlu bikin repot padamu,"

Jengek Nyo Bok. Dengan tersenyum aneh Koai-hoat Thio berkata pula.

"Aku justru kuatir Nyo-taijin akan tersesat, bahkan bisa jadi akan memasuki jalan buntu, kan susah!"

Berubah air muka Nyo Bok.

"Apa artinya ucapanmu ini, Te Sim? Sudah lama engkau menjadi buronan, kepulanganmu ini kan sama dengan masuk jaring sendiri?"

"Haha, dulu urusan dulu, sekarang urusan sekarang, jaman selalu berganti, sekarang kukira engkau juga akan meniru jalanku dulu,"

Kata Koai-hoat Thio dengan tertawa.

"Sesungguhnya apa maksudmu?"

Tanya Nyo Bok pula.

"Maksudku memberi jalan hidup padamu, jika engkau tidak mau pulang, lebih baik kabur saja sejauhnya,"

Sambung Koaihoat Thio.

"Urusanmu sekarang mungkin jauh lebih gawat dibandingkan diriku dahulu, sekali ini rencana perebutan Cinwan-piaukiok kalian gagal, jelas Ogotai akan minta pertanggungan jawab kepadamu, mungkin hukuman yang akan kau terima tidak cuma dicambuk saja."

Diam-diam Nyo Bok terkejut, ia heran dari mana orang tahu tentang hukuman cambuk yang diterimanya dari Ogotai itu? Maka bicaranya sekarang tidak berani garang lagi, katanya pula.

"Dahulu engkau dituduh berkhianat, kesalahanku paling banter cuma tidak melaksanakan tugas dengan baik, masa perlu kuatir?"

"Huh, engkau sengaja berlagak pilon barangkali? Memangnya tidak kauketahui siapa orang yang sedang bergebrak dengan Ubun Lui sekarang?"

Terkesiap Nyo Bok.

"Hah, dia bukan muridmu?"

"Muridku itu barang palsu, tapi dia adalah sanak keluargamu, ini jelas tulen,"

Kata Koai-hoat Thio.

Sejak tadi Nyo Bok memang menyangsikan Ce Se-kiat adalah putranya sendiri, yaitu Nyo Yam, maka ucapan Koaihoat Thio ini membuatnya mengeluh.

Ia tidak tahu bahwa yang dimaksudkan Koai-hoat Thio adalah Ce Se-kiat, bahwa kemenakan juga terhitung sanak keluarga, dalam hal ini Koaihoat Thio memang tidak salah omong.

Maka Nyo Bok berkata dengan suara agak gemetar.

"Sekalipun benar binatang kecil itu, tapi dia adalah dia dan aku adalah aku ...."

"Haha, jangan kau tipu diri sendiri,"

Tukas Koai-hoat Thio dengan tertawa.

"Tentunya kau-tahu, Ubun Lui adalah kemenakan Ubun Pok, Pek toh-sancu, dan Ubun Pok adalah sahabat Congkoan-taijin kalian. Adapun tujuan muridku yang palsu ini tidak melulu hendak menggagalkan ambisi Ubun Lui yang ingin menjadi Congpiauthau, bahkan juga akan membongkar rahasia pribadinya. Jika tidak percaya boleh kau tinggal sebentar lagi di sini dan segera akan kau saksikan permainan lucu. Hehe, mendingan kalau Ubun Lui hanya dihajarnya setengah mati saja, tapi -kalau rahasia hubungannya dengan Congkoan-taijin kalian terbongkar, coba pikir, apakah Congkoan-taijin kalian takkan marah padamu? Engkau tidak lebih hanya budaknya Ogatai, sedangkan Pektoh-sancu adalah sahabat baribnya. Memangnya kau kira dia akan mengampuni kesalahanmu yang tidak melaksanakan tugas dengan baik? Hm, jangan engkau berpikir seperti anak kecil."

Diam-diam Nyo Bok merasa ngeri juga bilamana urusan ini meluas. Walaupun begitu ia tetap merasa sangsi, katanya.

"Terima kasih atas penjelasanmu ini, tampaknya engkau memang bermaksud baik padaku. Tapi aku tidak mengerti, aku adalah orang yang telah mengangkangi sahammu, kenapa engkau bertindak baik malah padaku."

Mendadak Koat-hoat Thio berganti suara aslinya, ucapnya dengan tersenyum.

"Haha, muridnya palsu, gurunya juga palsu. Coba lihat ...."

Bicara sampai di sini.

tahu-tahu ia memperlihatkan semacam barang, yaitu sepotong pening tanda pengenal Nyo Bok sebagai jago pengawal istana, benda itu dicurinya dari saku Nyo Bok.

Keruan Nyo Bok tercengang, serunya.

"Hah, engkau Koaihoat Thio"

"Betul, mengingat Cicimu, maka sengaja kuberitahukan hal ini padamu,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Mengingat Ciciku?"

Nyo Bok menegas.

"Antara Cicimu denganku sudah damai dan menjadi sahabat, masa antara dirimu dengan Cicimu malah akan berubah menjadi musuh?"ujar Koai-hoat Thio. Pada saat itulah mendadak Nyo Toa-koh memperlihatkan diri, katanya.

"Ucapan Koai-hoat Thio padamu adalah katakata emas, apa pula yang kau sangsikan? Ayo lekas pulang dan tunggu aku di sana!"

Sebenarnya Nyo Bok merasa kuatir sang Taci tak mau mengampuni kesalahannya, ucapan Nyo Toa-koh ini membuat hatinya lega, pikirnya.

"Biarlah sementara ini aku menghindar dulu, jika urusan sudah selesai barulah aku bertindak menurut arah angin. Jika Congkoan mau memakai tenagaku lagi akan kuterima kalau dia hendak menangkapku, dapat kugunakan Cici sebagai pelindung dan mengasingkan diri di dunia Kangouw, rasanya kawanan pendekar Kangouw pun sungkan mempersulitku lagi."

Dalam pada itu terdengar suara gemuruh sorak-sorai di ruang bertanding, Nyo Bok tahu sebagian besar tetamu yang hadir di sana berdiri di pihak Han Wi-bu dan Te Sim, begitu riuh suara sorak-sorai itu, tidak perlu ditanyakan lagi pasti "putra"

Sendiri segera akan menang. Maka ia tidak berani ayal lagi, cepat ia kabur melalui pintu belakang.

"Semoga seterusnya dia akun kembali ke jalan yang benar,"

Ucap Nyo Toa-koh dengan menghela napas. Tapi Koai-hoat Thio tidak yakin hal itu akan terjadi, namun ia pun tidak ingin menyinggung perasaan Nyo Toa-koh, katanya.

"Lakon adikmu sudah selesai, permainan putramu mungkin juga mendekati tutup layar. Sekarang tiba giliranku untuk naik pentas."

Dugaannya ternyata tidak meleset, tidak berapa Isma sandiwara baru sudah mulai main.

Waktu itu Ubun Lui sudah terdesak oleh Ce Se-kiat sehingga tiada jalan mundur lagi, jangankan balas menyerang, ingin menangkis pun tidak sanggup lagi.

Benak We Tiang-jing serasa disumbat sepotong timbel, terasa tertekan dengan berat.

Ia tahu tidak ringan dirinya keracunan.

Namun meski pandangannya sudah terasa kabur, pikirannya masih rada sadar, dari suara sorak-sorai orang banyak ia tahu Ulun Lui pasti akan kalah.

Pertama dia memang tidak mau menyaksikan Ubun Lui kecundang di depan orang banyak, pula ia sendiri memang tidak tahan lagi, terpaksa ia berdiri dan berkata.

"Maaf, rasanya aku kurang sehat, biar kumohon diri dulu"

Pads saat itulah terdengar suara "bret". baju Ubun Lui telah terobek oleh Ce Se-kiat.

"trang". sebuah botol perak jatuh ke lantai. Dengan langkah terhuyung Ubun Lui bermaksud memungut kembali botol perak itu, tapi dia keburu dicengkeram oleh Ce Se-kiat sehingga tidak dapat berkutik lagi. Dengan tongan yang lain Se-kiat lantas memungut botol perak itu. Pada saat itulah Koai-hoat Thio juga muncul di depan orang banyak. Serentak orang bersorak gembira dan mengucapkan selamat kepada Koai-hoat Thio.

"Te lopianthau, selamat atas murid lihaimu ini, dia telah berhasil merebut kedudukan Congpiauthau dari saingannya."

Han Wi-bu kuatir urusan merembet menjadi besar, dengan sangsi ia berseru.

"Nyo-seheng, engkau sudah menang, boleh lepaskan Ubun-siansing saja."

Tapi Se-kiat lantas mengacungkan botol perak ke atas, serunya lantang.

"Tidak, dia tidak boleh dibebaskan. Apakah kalian tahu apa isi botol ini?"

Dengan rasa kuatir We Tiang-jing saat itu bermaksud menyelinap keluar, mendadak Koai heoi Thio menariknya sambil berseru.

"Hei, We taijin, Ubun-siansing adalah sahabatmu, jual-beli saham antara dia dan Nyo Bok juga atas perantaraanmu, kukira engkau tidak boleh tinggalkan dia di sini."

"Oo, aku aku kurang sehat,"

We Tiang-jing berlagak mengeluh "Ya, kutahu engkau kurang sehat, tapi demi kawan kan pantas menderita sedikit, kuharap engkau suka menunggu dulu sampai urusan beres seluruhnya,"

Kata Koai-hoat Thio tanpa menghiraukan kedudukan We Tiang-jing, tanpa sungkan ia memegangnya dengan erat.

Kungfu We Tiang-jing sebenarnya di atas Koai-hoat Thio, tapi sekarang ia keracunan obat bius dan hilang tenaga, mana ia mampu melepaskan diri?

Ubun Lui juga tidak dapat meronta dan sedang memohon kepada Ce Se-kiat.

"Nyo-seheng, biarlah kuserahkan sahamku kepadamu dan harap kembalikan botol itu."

"Hm, saham itu memang milik kami, siapa yang minta pemberianmu?"

Jengek Se-kiat.

"Boleh saja kukembalikan botol ini, tapi harus kau katakan dulu teras terang apa isi botol ini."

Tentu saja Ubun Lui tidak berani menjawab.

"Hm, kutahu takkan kau katakan, biarlah kukatakan bagimu,"

Jengek Se-kiat pula.

"Isi botol ini adalah Sin-sianwan, racun buatan Pek-toh-san kalian yang biasa digunakan untuk membikin celaka orang."

"O, tidak, bukan, ini ... ini cuma obat kuat saja,"

Seru Ubun Lui dengan suara agak gemetar-Ce Se-kiat memencet mulut Ubun Lui sehingga mau-takmau harus mengap, lalu jengeknya pula.

"Baik, jika benar ini obat kuat, maka boleh kau-minum seluruh belasan biji obat kuat ini."

Habis bicara segera ia bergerak seperti hendak menuang belasan biji obat itu ke dalam mulut Ubun Lui, namun pencetannya agak dikendurkan upaya orang dapat bicara.

Padahal kadar Sin-sian-wan itu sangat kuat, satu biji saja sudah dapat membuat orang kehilangan kesadaran, apalagi belasan biji diminum sekaligus, bisa amblas nyawanya.

Meski Ubun Lui membawa obat penawar, tapi dalam keadaan tak berdaya di bawah cengkeraman lawan, mana mungkin Ce Se-kiat membiarkan dia mengambil obat penawar?

Dalam detik yang menentukan mati dan hidup ini, dengan sendirinya mencari selamat lebih penting, ia pikir dirinya mendapat dukungan Ogotai.

biarpun mengaku mengedarkan obat racun dan akan diusut oleh pihak yang berwajib nanti tentu juga akan dibela oleh Ogotai.

Maka ia lantas mengaku.

"Ya, memang betul Sin-sian-wan."

"Pek-toh-sancu Ubun Pok itu pamanmu bukan?"

Tanya Sekiat pula sambil mengerakan tenaga pencetannya. Karena kesakitan, terpaksa Ubun Lui mengaku lagi.

"Betul, dia pamanku."

"Nah, We-taijin, sudah kau dengar sendiri bukan?"

Tukas Koai-hoat Thio mendadak.

"Dia kan sahabatmu, urusan ini tidak boleh tidak harus kau selesaikan."

Jika Koai-hoat Thio cuma menghadapi We Tiang-jing, orang banyak sudah lantas mencaci-maki, meski yang dimaki adalah Ubun Lui, tapi sama halnya memaki We Tiang-jing.

Karena tubuhnya memang tidak tahan lagi oleh racun Sinsian-wan, pula ia menyadari kemarahan umum sukar dihadapi, cepat ia berkata.

"Wah, Te-siansing, engkau mungkin salah dengar. Aku pernah menyatakan Ubun Lui adalah sahabat Congkoan-taijin, soalnya dia adalah sahabat atasanku, pula dia datang menemuiku bersama teman se-jawatku Nyo Bok, makanya aku mau menjadi saksi bagi transaksi mereka."

Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia berusaha mengelakkan tanggung jawab.

"Baik, jika begitu marilah kita coba tanya langsung kepada Congkoan-taijin,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Silakan kalian tanya kepada beliau, Aku benar-benar kurang sehat, maaf kuingin pulang istirahat dulu dan tak dapat mengiringimu,"

Kata We Tiang-jing.

"Beliau sudah datang kemari, tidak pergi lagi menemuinya ke sana,"

Ujar Koai-hoat Thio. Benar juga, segera terdengar suara orang melapor di luar.

"Congkoan-taijing berkunjung tiba!"

Pada saat itu juga terlihat Ogotai sudah melangkah masuk dengan muka masam serupa orang yang menahan rasa gusar.

"Aha, kebetulan kedatangan Congkoan-taijin kita, menurut cerita wakilmu, katanya Ubun Lui, kemenakan Pek-toh-sancu ini adalah sahabatmu. Sekarang ia membikin onar di sini, kami minta perkara ini dapat diselesaikan olehmu."

Seru Koai-hoat Thio. Kejut dan gugup We Tiang-jing, karena itulah racun yang tershiap bekerja lebih keras, kontan ia Jatuh pingsan.

"Apakah kau ini Te Sim?"

Tanya Ogotai.

"Betul,"

Jawab Koai-hoat Thio.

"Kudatang memenuhi janji undauganmu."

Kata Ogotai pula.

"Kukira janji pertemuan kita ini tentu bukan untuk urusan Ubun Lui yang terjadi sekarang ini?"

Semua orang sama merasa heran demi mendengar bahwa kedatangan Ogotai ini adalah untuk memenuhi janji pertemuan dengan Te Sim, mereka tidak mengerti mengapa Te Sim sedemikian berani, masa seorang buronan berani berjanji bertemu dengan komandan jago pengawal istana, bahkan sang komandan benar-benar memenuhi undangannya.

Terdengar Koai-hoat Thio manjawab.

"Betul, maksudku memang ingin berunding suatu urusan dengan Congkoantaijin. Untuk itu apakah Congkoan-taijin berminat?"

"Baik, boleh kita bicara bisnis kita dulu, habis itu baru urus soal kecil ini, sekarang kuharap kalian membebaskan dia dulu,"

Kata Ogotai. Se kiat berlagak minta persetujuan sang guru, katanya.

"Suhu, keparat ini membuat racun dan membikin susah orang, dengan susah payah dapat kutangkap tangan dia dengan bukti nyata, mana boleh ... ."

"Ya, kutahu,"

Kata Koai-hoat Thio, lalu ia bicara kepada Ogotai.

"Congkoai-taijin, jika kita mau bieara bisnis, urusan bisnis harus dirundingkan secara cermat, bila ada sesuatu yang kurang jelas kan boleh kutanya terus terang?"

"Kau mau tanya apa?"

Jawab Ogotai dengan menahan rasa dongkol.

"Numpang tanya Congkoan-taijin, jika engkau minta kami membebaskan dia. bebas yang kau maksudkan adalah dilepaskan dengan segera supaya dia pergi atau cuma menyuruh muridku melepaskan cengkeramannya? Hendaknya Taijin bicara yang jelas."

Dengan menyatakan harapannya supaya Ubun Lui dibebaskan saja sudah cukup menurunkan pamor Ogotai, siapa tahu Koai-hoat Thio malah sengaja mempersoalkan istilah "bebas"

Segala, jelas orang sengaja hendak membikin kikuk padanya.

Tapi karena dia memang ada permintaan, terpaksa ia bersabar, jawabnya dengan kurang senang "Bukankah sudah cukup jelas ucapanku Sehabis berunding bisnis baru bicara urusan kecil ini.

Dengan sendirinya bukan maksudku menyuruh, kalian melepaskan dia supaya pergi sekarang juga,"

"Ah, jika begitu urusan jadi cukup jelas,"

Kata Koai-hoat Thio.

"Nah, muridku, Congkoan*-taijin sedemikian ramah padamu, betapapun harus kau ingat kehormatan Congkoantaijin kita."

"Perintah Suhu tentu akan murid turut,"

Jawab Se-kiat.

"Baiklah, takkan kubikin susah padanya, meski kulepaskan dia kukira dia juga takkan mampu kabur."

Habis bicara ia lantas melepaskan cengkeramannya.

Tapi sebelumnya diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam, dengan lwekang tingkat delapan Liong-siang-kang ia serang tiga hiatto Ubun Lui sehingga membuatnya lumpuh.

"Bluk", Ubun Lui jatuh terkulai dengan megap-megap. Ogotai mendengus.

"Hm, baik juga hatimu, marilah kita berkawan!"

Mendadak ia menepuk pilahan pundak Ce Se-kiat, lagaknya seperti orang tua yang sayang kepada anak muda. Cepat Se-kiat mengangkat sebelah tangan untuk menangkis, katanya.

"Terima kasih atas kebaikan Taijin."

Begitu kedua tangan beradu, seketika tangan Ogotai terasa panas pedas, sebaliknya Ce Se-kiat merasa dada sesak.

Keruan Ogotai terperanjat, sungguh tak terpikir olehnya bahwa murid Te Sim saja selihai ini.

apalagi sang guru?

"Han-lopiaathu,"

Katanya segera.

"Bolehkah kuminta sebuah kamar tersendiri?"

"Tentu saja boleh,"

Jawab Han Wi-bu.

"Apakah We-taijin perlu kusuruh orang mengantarnya pulang dulu?"

Rupanya sampai saat itu We Tiang-jing belum lagi siuman dari pingsannya. Dengan mendongkol Ogotai menjawab.

"Tidak perlu, tentu dia akan dilayani pengiringku."

Baca Juga: Lembah Nirmala 2

Baca Juga: Pohon Kramat 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger