Eps 2 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.
Sing-liong adalah murid yang paling tahu jalan pikiran sang guru, tentu saja ia tahu apa maksud Nyo Bok dan tidak bersuara meski dipukul.
Kemudian Nyo Bok berlagak keluar untuk membereskan mayat Bin Sing-liong, yang benar dia justru memberi tugas rahasia kepada muridnya itu.
Dalam pada itu setelah Nyo Toa koh mengetahui tempat pondokan Liong Leng-cu dari Han Wi-bu, ia justru mendahului mendatangi nona itu daripada Nyo Yam.
Meski watak Toa-koh sudah jauh lebih sabar dari pada waktu mudanya.
tapi setelah kecundang oleh kemenakan sendiri, betapapun ia mendongkol.
Demi menemukan kemenakan ini dia telah banyak membuang tenaga dan pikiran, setelah berhadapan, bukannya kemenakan ini segera mengakuinya sebagai bibi, sebaliknya malah menutuk hiat-to dan menyerangnya.
Namun mengingat Nyo Yam adalah satu-satunya keturunan keluarga Nyo, biarpun keki terhadap anak muda itu tetap dapat memaafkannya.
Jika gemasnya terhadap Nyo Yam cuma sebagian kecil.
gemasnya terhadap "siluman perempuan kecil"
Itu justru tambah besar. Soalnya bukan lantaran "siluman perempuan kecil"
Itu pernah bersikap kasar padanya, bahkan hampir saja menamparnya dahulu. dianggap sebabnya Nyo Yam sampai bertindak demikian adalah gara-gara salah bergaul dengan "siluman cilik"
Itu, maka dia ingin melampiaskan rasa gemasnya terhadap Liong Leng-cu.
Sementara itu sudah hampir sehari semalam Liong Leng-cu menunggu dan belum nampak Nyo Yam pulang.
Tentu nona itu geiisah serupa semut di dalam wajan yang panas, tidur tidak pulas, duduk atau berdiri pun tidak tenang.
"Sudah lama dia meninggalkan Cin-wan-piaukiok, kenapa sampai sekarang belum lagi pulang?"
Demikian pikirnya dengan cemas.
Malam gelap tanpa bintang dan bulan, ia berdiam di dekat pintu dan memandangi kegelapan yang pekat itu.
Ia sangsi dan kuatir, apa yang terjadi atas diri Nyo Yam?
Tengah termenung, tiba-tiba didengarnya suara kresek seperti daun jatuh.
"Ah, engkoh Yam sudah pulang ...."
Belum habis berpikir didengarnya suara itu bukan suara ginkang Nyo Yam yang tinggi.
"Siapa?"
Segera ia membentak, dengan waspada ia lantas melepaskan ruyung lemas yang membelit pinggangnya.
"Jangan gugup nona Liong,"
Terdengar seseorang bersuara.
"Meski kami bukan Nyo Yam, tapi kami sengaja menyampaikan berita atas permintaan Nyo Yam."
Segera dua orang muncul di hadapannya, seorang berbaju kuning dan yang lain berbaju hijau. Karena berkepandaian tinggi, hati Liong Leng-cu pun tabah, tanpa gentar ia menegur.
"Kalian mengaku datang atas permintaan engkoh Yam. apa buktinya?"
Dengan suara yang sengaja ditahan si lelaki berbaju hijau mendesis.
"Nona Liong, hadiahmu kepada Nyo Yam itu sudah disampaikannya kepada ayah kandungnya."
"Hadiah apa maksudmu?"
Tanya Leng-cu.
"Ai, nona ini sudah tahu sengaja tanya lagi,"
Ujar si baju hijau.
"Yang kumaksudkan adalah surat wasiat kaisar Khong-hi itu."
Bahwa orang ini dapat mengungkap rahasia demikian, Leng-cu tidak curiga lagi akan kebohongan orang, ia coba tanya lagi.
"Mana surat engkoh Yam?"
"Tidak ada surat tertulis, Nyo-kongcu menyuruh kami menyampaikan surat lisan."
Jawab si baju hijau.
"Bagaimana pesannya?"
Tanya Leng-cu pula.
"Nyo kongcu minta nona menemui dia,"
Tutur orang itu.
"Pesan yang minta kami sampaikan hanya pesan selamat saja. Urusan lain tentu akan diceritakan setelah kalian bertemu."
"Kalian akan membawaku ke sana?"
Tanya Leng-cu. Si baju kuning merasa pertanyaan si nona rada aneh, jawabnya.
"Betul, silakan nona segera berangkat saja."
"berapa orang rombonganmu?"
Tiba-tiba Leng-cu tanya lagi. Dalam sekejap itu dilihatnya kedua orang itu sama melengak. malahan air muka si baju kuning rada berubah. Terdengar si baju hijau menjawab "Hanya kami berdua."
Ia berlagak tenang, namun karena lagak yang dibuat-buat itu lantas menambah rasa curiga Leng-cu.
"Apa betul?"
Sambil berkata mendadak Liong Leng-cu melompat keluar jendela. Keruan kedua orang itu terkejut dan membentak.
"He, Siauyau-li (siluman perempuan cilik), mau lari ke mana?"
Serentak yang satu menghamburkan senjata rahasia dan yang lain menyabatkan senjata ruyungnya.
Dengan tindakan mereka ini tentu saja pemalsuan mereka sebagai utusan Nyo Yam lantas terbongkar.
Padahal meski Leng-cu sudah menaruh curiga, namun dia masih percaya kepada mereka dan bukan bermaksud hendak kabur.
Rupanya karena kungfu Leng cu jauh di atas perkiraan orang-orang itu, maka ketika ia bicara dengan kedua orang itu sudah didengarnya di luar jendela ada orang lain lagi.
Semula Leng-cu tidak berani memastikan orang yang mengintai di luar itu adalah komplotan kedua orang ini, ketika melihat perubahan air muka mereka barulah timbul rasa curiganya, maka mendadak ia menerobos keluar hendak membekuk musuh.
Kedua orang itu mengira rahasia mereka telah diketahui Leng-cu, serentak si baju hijau menghamburkan segenggam jarum Bwe-hoa-ciam dan si baju kuning menyabat kaki si nona dengan ruyung.
Syukur Leng-cu juga sudah siap siaga, ruyung emas sudah dipegangnya, kontan ia balas menyabet ke belakang sehingga kedua ruyung saling melibat.
berbareng itu lengan bajunya mengebut sehingga serangkum jarum musuh tersampuk jatuh.
Mestinya tenaga Leng-cu terlebih kuat daripada lawan, tapi lantaran satu melawan dua sehingga dia terseret ke dalam lagi.
"Bagus, kalian berani menipuku,"
Bentak Leng cu.
"Lekas mengaku, sesungguhnya siapa kalian? Kalau tidak, jangan menyesal bila aku tidak kenal ampun lagi."
"Ai, nona cilik jangan omong besar,"
Kata si baju hijau dengan tertawa.
"Biarpun kau-mau lari pun sukar lolos dari cengkeraman kami. Cuma dapat kukatakan terus terang padamu, kami sesungguhnya memang kawan Nyo Yam dan tidak berdusta."
"Hmm, kaukira aku ini anak kecil umur tiga?!"
Jengek Liong Leng-cu dengan gusar.
"memangnya dapat kupercaya ocehanmu. Baiklah, boleh coba lihat aku yang tak bisa lolos dari cengkeraman kalian atau jiwa kalian yang akan melayang di bawah ruyungku. Eh, kaupun memakai ruyung, nah, rasakan dulu ruyungku."
Leng-cu memakai ruyung terbuat dari benang perak yang lemas, dapat berputar cepat dan lincah, jurus serangannya aneh, tenaganya di atas lelaki baju kuning, maka ruyung orang itu tidak berani berlibatan dengan ruyung Leng-cu.
Lelaki berbaju hijau bertangan kosong dan segera menghantam dengan telapak tangan, angin pukulannya menderu, meski tak-dapat memotong putus ruyung Leng-cu tapi nona ini pun sukar membelit tangan orang.
Tampaknya si baju hijau lebih tangguh dari-pada kawannya, bukan saja senjata rahasianya lihai, ilmu pukulannya juga hebat.
Dengan satu lawan dua Leng-cu labrak mereka tanpa kenal ampun.
Mendadak terdengar suara "Tring", orang ketiga yang mengintai di luar itu menyambitkan sebuah Tau-kut-ting, paku penembus tulang.
Dia tidak memperlihatkan mukanya, namun pandangannya seperti dapat menembus dinding, bidikan senjata rahasianya cukup jitu Kiranya dia mahir mendengarkan suara angin untuk membedakan senjata, meski seorang kawannya juga memakai ruyung lemas, namun ruyung kawannya jauh lebih berat sehingga suara yang ditimbulkannya juga berbeda daripada suara ruyung Leng-cu.
Sedang tenaga pukulan kawannya yang lain jelas terlebih mudah lagi dibedakan, Sampai sekian lama satu lawan dua keadaan masih sama kuat, ketika dikacau oleh senjata rahasia orang ketiga, Lengcu menjadi agak kerepotan, walaupun paku lawan dapat dikebut jatuh oleh lengan bajunya, naman dia terpaksa perhatiannya harus terpencar.
Sejauh itu orang di luar hanya menyambitkan senjata rahasia saja dan tidak ikut menyerbu ke dalam.
Meski usia Lang-cu belum banyak, namun pengalaman kangouwnya cukup luas, dari keadaan ini ia tahu orang di luar itu pasti bertugas juga mengawasi kemungkinan di luar, kalau tidak terpaksa tidak nanti ikut menerjang ke dalam.
Tiba-tiba Leng-cu mendapat akal, segera ia geser ke ke sana dengan ccpat, sekali ruyungnya menyabat dari jauh, lentera di dalam kamar seketika dipadamkannya.
Keruan kedua lelaki tadi menjadi kelabakan.
jika satu lawan satu jelas mereka bukan tandingan Leng-cu, dalam keadaan gelap gulita mereka tidak berani lagi sembarangan bergerak.
Leng-cu juga berdiam di pojok ruangan untuk menunggu kesempatan baik bila mendadak dapat menyerang lawan.
Dalam keadaan begitu orang yang di luar itu tentu saja terlebih tidak berani masuk ke situ, Sebab kalau dia menerjang masuk begitu saja akan berarti menjadi sasaran lawan yang berada di tempat gelap.
Oleh karena itulah suasana seketika berubah menjadi sunyi, semuanya diam saja menanti kesempatan baik.
Dalam keadaan begitulah Nyo Toa-koh sampai di tempat pondokan Liong Leng-cu ini.
Di luar tiada cahaya bulan dan bintang, di dalam rumah juga tidak ada sinar lampu.
Kepandaian Toa-koh tinggi dan nyali besar, tanpa pikir ia depak pintu rumah terus menerjang ke dalam-Cuma sayang, ia hanya berjaga kemungkinan disergap musuh di dalam rumah dan tidak menyangka di luar rumah juga ada musuh.
Ketika mendadak terasa angin tajam menyambar tiba, sekali pukul ia bikin rontok secomot jarum yang disambitkan oleh si baju hijau Tapi pada saat yang hampir sama, tahu tahu dari belakang juga menyambar tiba angin tajam.
ingin menghindar sudah tidak keburu lagi, lengan terkena sebuah Tau kut-ting.
Dengan murka Toa-koh mernbentak.
"Keparat, berani kau sergap diriku!"
Segera ia putar balik dan menubruk keluar.
Sekali hantam, orang yang mengintai di luar itu digenjotnya hingga terpental.
Tangkas juga orang itu, begitu melompat bangun kembali ia menyambitkan tiga buah paku maut.
Dengan sendirinya sekali ini Nyo Toa-koh sukar berjaga, kedua tangan menghantam sekaligus, angin pukulannya menggetar senjata rahasia musuh sehingga mencelat balik.
Orang itu lantas berteriak.
"Maaf, Nyo toa-koh, aku salah serang, kita ."
"Jika sudah tahu siapa aku, kenapa kau serang terus menerus? Siapa kau?"
Bentak Toa-koh.
Mestinya orang itu hendak menyatakan sebagai "orang sendiri", tapi mengingat antara Nyo Bok dan tacinya saja sudah bukan lagi orang sendiri, mana dia berani menerangkan siapa dia.
Terpaksa ia menghamburkan lagi Tau-kut-ting sambil berteriak.
"Nyo Toa koh. engkau sudah terkena senjata rahasiaku yang berbisa, jika ingin selamat lekas duduk tenang dan merawat lukamu dengan baik. Kalau tidak. bila banyak mengeluarkan tenaga, racun pasti akan menjalar terlebih cepat."
Sehabis bersuara ia terus lari. Ternyata Toa-koh tidak menghiraukan gertakannya, tahutahu ia sudah melayang ke sana dan menghadang di depan orang.
"Biarpun keracunan juga akan kubinasakanmu!"
Bentak Toa-koh sambil menubruk maju serupa elang menyambar kelinci.
Sebenarnya kepandaian orang itu juga tidak lemah, kalau melawan dengan cermat mungkin takkan kalah dalam sepuluh jurus.
Tapi sekarang ia sudah keder lebih dulu, maka satu jurus pun tidak mampu melawan.
Terdengar suara "krak", begitu kedua tangan beradu, kontan tangan orang itu terkilir, cepat ia berteriak minta tolong kepada kedua kawannya.
"Hm, baru sekarang kau minta tolong kan sudah terlambat, mampus kau!"
Bentak Toa-koh, serentak ia melancarkan serangan Liok-yang-jiu pula.
Tanpa ampun orang itu menjerit ngeri, tulang rusuk dadanya sama patah dan roboh terkapar bermandi darah.
sehabis membinasakan lawan, Nyo Toa-koh sendiri pun merasa lemas lunglai serupa habis sakit berat, kepala terasa pusing dan mata berkunang-kunang.
Mendingan cuma lemas saja, lengan yang terkena Tau-kutting itu terasa kaku dan mati rasa, dalam waktu singkat rasa kaku itu sudah menjalar hampir setengah badan.
Ternyata benar paku orang memang beracun.
Cepat Toa-koh mengatur napas dan mengerahkan tenaga dalam untuk menahan menjalarnya racun.
Tapi ia tahu cara demikian hanya dapat tahan sementara, tenaganya sekarang sisa sedikit saja, tanpa serangan dari luarpun sukar baginya untuk mengadakan penyembuhan diri sendiri.
Sebagai seorang kangouw kawakan.
meski tahu bahaya sedang mengancam, sedapatnya mengambil risiko dengan main gertak.
Ia hentikan melawan menjalarnya racun, dengan sisa tenaganya ia membentak.
"Ayo, Keparat, masih ada berapa kawanmu. lekas menggelinding keluar semua! Biar kumampuskan kalian satu per satu! Hehe, jangan coba lari!"
Ketika mendengar jeritan ngeri kawannya idi, kedua orang yang berada di dalam telah sama ketakutan setengah mati.
Mereka tidak tahu antara Liong Leng-cu dan Nyo toa-koh juga ada pertengkaran, mereka cuma tahu Leng-cu pacar Nyo Yam, sedangkan anak muda itu juga kemenakan iblis perempuan yang berjuluk Loa-jiu-kwan-im ini.
Setelah kawannya dibereskan di luar, bila Nyo Toa-koh masuk lagi ke dalam rumah.
jelas mereka berdua akan mati kutu.
Karena itulah kedua orang lantas lari keluar dengan menyerempet bahaya, pada saat itulah kebetulan Nyo Toa-koh lagi membentak menyuruh mereka menggelinding keluar.
Toa-koh tidak tahu dengan pasti mereka lari keluar karena ketakutan, maka ia tetap main gertak dengan lagak hendak menubruk maju sambil membentak.
"Jangan lari!"
Entah karena tegang atau memang tidak kuat lagi, baru saja ia melangkah kaki lantas terasa kaku, hampir saja ia jatuh terjungkal.
Sebenarnya kedua orang itu hendak melarikan diri, melihat keadaan Toa-koh itu.
mereka kegirangan dan segera menyerangnya.
Namun pukulan Toa-koh tetap sempat dilontarkan, tampaknya hendak menghantam si baju kuning, di tengah jalan mendadak berubah arah dan memukul dada si baju hijau.
Dengan sendirinya si baju hijau tidak mudah diserang, cepat ia pasang kuda-kuda dan iut pukulan itu sambil membentak.
"Tua koh, kalau bukan engkau yang mampus biar aku yang binasa."
Berbareng ia pun melancarkan pukulannya.
Rupanya ia menjadi nekat, ia pikir Toa-koh sudah keracunan, baru saja juga kelihatan mau jatuh, diduganya tenaga orang sudah banyak berkurang, ia harap sekali pukul dapat merobohkan Toa-koh dan dapatlah mereka melarikan diri.
Jika dalam keadaan biasa, dengan kepandaian Nyo Toa-koh itu, cara mengadu jiwa si baju hijau ini tentu akan cari mampus sendiri.
Sekarang racun sudah menjalar dalam tubuh Toa-koh, sisa tenaganya tidak ada tiga bagian lagi, jelas dia tidak sanggup menahan pukulan si baju hijau.
Menyadari keadaan sendiri, cepat Nyo koh ganti siasat, pukulannya berubah menjadi tutukan, dengan cepat jarinya menutuk jalan darah tik-hiat di punggung tangan lawan.
si baju hijau merasa tangan seperti di gigit nyamuk, meski cuma merasa sakit pegal itu dan daya pukulannya tetap dilontarkan, namun gerakannya sedikit lebih lamban.
Rupanya tangannya berkulit kasar dan berdaging tebal, karena tenaga dalam Nyo Toa-koh sudah habis sehingga tutukannya kurang kuat, maka sukar membuat lumpuh lawan.
Si baju hijau bergirang, cepat ia berseru kepada kawannya.
"Lekas maju, jangan takut, tua bangka ini sudah keracunan!"
Sembari mendesak kawannya ia terus ganti serangan, dari pukulan berubah menjadi tebasan telapak tangan untuk memotong jari Nyo Toa-koh.
"Baik, kau mau adu jiwa biarlah kulayani kau!"
Bentak Toakoh.
Ia pun ganti serangan menjadi pukulan dahsyat.
Si baju hijau terkejut, ia pikir jangan-jangan perempuan tua ini sengaja main licik.
Ia bermaksud ganti serangan lagi, tapi sudah terlambat, terpaksa ia pentang tangan yang lebar itu untuk mencengkeram kepalan lawan.
Karena kepepet, Toa-koh telah mengerahkan segenap sisa tenaganya pada serangan terakhir ini, si baju hijau tergetar mundnr tiga tindak dan hampir saja terjungkal.
Baru berdiri tegak, tenaga pukulan Nyo Toa koh membanjir tiba pula, tapi sekali ini ia cuma tergetar mundur dua tindak.
Merasakan gejala demikian, rasa takut si baju hijau seketika lenyap, teriaknya.
"Tenaga perempuan tua ini memang betul sudah lemah, kenapa takut padanya, ayo lekas gunakan ruyungmu membelit lehernya!"
Sebagai teman sejawat Nyo Bok, meski tidak menguasai kungfu Liok yang-jiu, namun ia cukup kenal cirinya ia tahu jurus serangan Nyo Toa koh itu seharusnya susul menyusul menghantam tiga kali dan satu lebih kuat daripada yang lain.
Akan tetapi sekarang diketahuinya tenaga pukulan Toa-koh justru bertambah lemah pada pukulan berikutnya.
Karena seruan si baju hijau, segera teman-ya si baju kuning melihat juga kelemahan Toa-koh itu, tanpa ayal ia terus memutar ruyungnya dan melancarkan jurus serangan maut, yaitu ruyung membelit leher.
Mana bisa Nyo Toa koh membiarkan lehernya dijerat, mendadak ia menunduk, berbareng lengan baju kiri terus mengebut.
Cuma sayang tenaga kurang, kebutan maut ini tidak berhasil.
Walaupun lehernya tidak sampai terjerat ruyung musuh, tidak urung pergelangan tangannya terbelit.
Tangan Toa-koh kesakitan, tapi si baju kuning juga tidak mampu menariknya roboh.
Dengan sisa tenaga sekuatnya Toa-koh bertahan dan tetap tak dapat melawan dua orang.
yang satu menarik kepalannya, yang lain menyeret pergelangan tangan.
Diam-diam Toa-koh mengeluh sekali ini pasti akan celaka, tiba-tiba terdengar orang tertawa dan menyindir.
"Hehe, Loajiu-kwan-im rupanya juga kewalahan menghadapi dua orang kroco, kenapa tanganmu yang pedas tidak kau gunakan sekarang?"
Ternyata Liong Leng cu sudah di samping dan sedang menonton pertarungan mereka dengan tertawa. Mendelik Toa-koh saking gemasnya, bentaknya.
"Siau-yauli"
"Hah, masih berani kau maki diriku? Lihat ruyung!"
Jengek Leng-cu sambil ayun ruyungnya.
"Betul, nona Liong."
Seru si baju kuning dengan girang.
"Akan lebih baik kau bantu kami saja. Bicara terus terang, kami dan ayah Nyo Yam adalah teman sejawat, kami samasama jago pengawal istana. Nyo Yam telah . kenapa ...."
Ia mengira Liong Leng-cu hendak melabrak Nyo Toa-koh, tak tersangka ruyung Liong Leng-cu mendadak menyabet ke arahnya dan tepat membelit lehernya.
"Haha, kau gagal menjerat lehernya, sekarang lehermu yang kujerat, bagaimana, enak bukan rasanya?"
Jengek Leng cu sambil nenarik ruyungnya terlebih erat, karena tak bisa bernapas, seketika si baju kuning tercekik mampus.
Biasanya si baju kuning suka membunuh lawannya dengan cara begitu, tak tersangka sekarang ia pun mati dengan cara yang sama.
Di sebelah sana karena tekanan lawan hilang satu, segera Nyo Toa-koh menghantam sekuatnya, kontan tulang rusuk si baju hijau digenjotnya hingga remuk, sambil menjerit orang itu terpental dan binasa.
Toa-koh sudah kehabisan tenaga sehingga sekujur badan lemas lunglai, teriaknya.
"Siau-au-li, boleh ... boleh kau bunuh aku saja!"
"Kenapa harus kubunuhmu?"
Ujar Leng-cu.
"Masa tidak kau ketahui untuk apa kudatang kemari?"
"Kau datang mencari Nyo Yam bukan?"
Tanya Leng cu.
"Betul, kudatang mencari kemenakanku, tapi juga bukan melulu untuk menyuruhnya pulang saja."
"Kutahu, maksudmu menyuruh dia jangan bergaul denganku, bukan?"
"Hm, rupanya kaupun tahu aku tidak suka padamu."
Kata Toa-koh.
"Jika kau ingin menjadi istri Nyo Yam tanpa rintangan, kenapa tidak kau bunuh diriku sekarang?"
"Bicara terus terang, aku juga jemu padamu,"
Ucap Leng-cu dengan tertawa.
"Hm. tidak kau katakan juga kutahu, ayolah lekas turun tangan,"
Seru Toa-koh.
"Aku tidak sama dengan watakmu, bila kubenci seorang tidak harus kubunuh dia."
"Engkau tidak ingin lagi kawin dengan Nyo Yam?"
"Belum kupikirkan hal itu. Cuma, kalau aku ingin kawin dengan dia, biarpun hendak kau rintangi juga kakak Yam takkan menurut kepadamu."
Sampai mendelik Nyo Toa-koh saking marahnya, damperatnya.
"Anak Yam sudah terpikat oleh siluman cilik seperti kau ini, pandangan dia juga berubah menjadi busuk."
"Aku yang menolong jiwamu, tapi engkau berbalik memaki diriku?"
Tegur Leng cu dengan tertawa. Nyo Toa-koh berteriak parau.
"Aku tidak terima kebaikanmu, aku lebih suka mati tanganmu."
Mendadak Leng-cu juga menarik muka, katanya.
"Baik. rupanya engkau ini memang orang yang tidak tahu kebaikan, jika begitu mari kusempurnakan kehendakmu,"
Sembari bicara ia terus pencet mulut Nyo Toa-koh sehingga terbuka, lalu menjejalkan sebiji obat ke dalam mulutnya, dalam keadaan lemas Toa-koh tidak sanggup melawannya.
Disangkanya obat itu pasti racun sudah keracunan dilolohi racun lagi, tentu matinya akan tambah cepat.
Siapa tahu, begitu obat itu tertelan masuk ke dalam perut, segera terasa hawa segar mengalir keseluruh tubuh, rasa kaku kemang tadi lantas lenyap dan dapatlah dia bergerak dengan bebas.
"Obatmu ini ..."
Tanya Toa koh dean ragu.
"Engkau tidak mau terima kebaikanku, aku justru hendak memaksamu menerima kebaikanku,"
Kata Leng-cu dengan tertawa.
"Obat itu terbuat dari teratai salju yang hanya tumbuh di Thian-san, khasiatnya dapat menawarksn segalu macam racun. Pada waktu kemenakanmu meninggalkan Thian-san dahulu gurunya memberi tiga biji pil ini kepadanya, sekarang tersisa satu biji ini saja dan diberikannya kepadaku, kini kugunakan untuk menyelamatkan jiwamu. Jika engkau tetap tidak mengaku menerima budiku, anggaplah aku mewakili kemenakanmu yang menolongmu."
Penuturan ini membuat Nyo Toa-koh tidak dapat bersuara lagi. Dengan tertawa Leng-cu menyambung.
"Bila mana engkau tetap ingin mati, ya terserah padamu. Bila perlu boleh kau benturkan kepalamu di dinding, umpamanya, atau boleh kau jerat lehermu dengan ruyung di tanah ini. Jika kau takut sakit, silakan gantung diri atau terjun ke sungai. Pendek kata sekarang tenagamu sudab pulih dan sanggup membunuh diri sehingga tidak perlu minta kubunuhmu lagi."
"Hm, kau ingin kumati, aku justru tidak mau mati,"
Terpaksa Toa koh mencari alasan. Leng-cu tertawa, katanya.
"sebenarnya kita pun ada kepentingan bersama, buat apa mesti saling bermusuhan."
"Ada kepentingan bersama apa antara kita?"
Tanya Toa-koh dengan mendongkol, tampaknya sekarang ia tidak memaki si nona sebagai "Siau-yau-li"
Lagi.
"Sedikitnya ada suatu persamaan,"
Kata Leng-cu.
"yaitu kita sama-sama memperhatikan Nyo Yam dan berharap dia akan kembali dengan selamat. Betul tidak?"
Mau-tak-mau Nyo Toa-koh harus mengaku.
"betul. Memang hendak kutanya padamu, adakah dia kembali ke sini?"
"Aku pun hendak tanya padamu, dia telah mengunjungi Cin-wan-piaukiok, masa engkau tidak bertemu dengan dia?"
Jawab Leng cu. Berdebar hati Toa-koh, katanya.
"Jika demikian, jadi engkau belum lagi mengetahui bagaimana hasil kepergiannya ini. Baik akan kukatakan padimu, bukan saja sudah kulihat dia di piaukiok, bahkan sudah kulihat dia di rumah Bin Sing-liong."
Terkejut juga Leng-cu.
"Oo, dia pergi ke rumah Bin Sing liong? Ia pernah bicara tentang orang she Bin itu kepadaku, katanya Bin Sing-liong adalah satu di antara keenam murid ayahnya yang terbusuk."
"Ketika melihat dia, aku lantas tahu siapa dia,"
Sambung Toa-koh.
"Tapi dia justru tidak mau mengaku bibi padaku-"
Dengan tak sabar Leng-cu tanya lagi.
"Lalu bagaimana setelah kau lihat dia berada di rumah Bin Sing-liong."
Toa-koh menjadi marah pula, jawabnya.
"Dia membantu Bin Sing-liong memusuhiku."
"Cara bagaimana dia memusuhimu?"
Tanya si nona. Sebenarnya Toa-koh tidak mau menjelaskan, tapi lantaran dia ada permintaan kepada nona itu, terpaksa ia bicara.
"Pendek kata aku telah kecundang olehnya, ketika hendak kubunuh Bin Sing-liong dia justru menutuk hiat-toku dan membawa lari orang she Bin itu."
"Lalu. apakah engkau curiga aku yang menyuruhnya berbuat begitu?"
Tanya Leng-cu dengan tertawa.
"Jika bukan lantaran suruhanmu, maka jelas dia hanya kenal ayah kandungnya dan tidak mau tahu masih ada seorang bibi seperti aku ini,"
Kata Toa-koh.
"Memangnya apa arti ucapanmu ini?"
Tanya Leng-cu.
"Meski ayahnya adalah satu-satunya saudaraku, tapi karena tamak harta dan serakah pangkat, dalam banyak hal saudaraku ini menganggap aku suka merintangi hari depannya,"
Tutur Toa-koh.
"Maka ingin kutanya padamu, Apakah Nyo Yam sengaja hendak menempuh jalan serupa ayahnya?"
"Justru terbalik."
Jawab Leng-cu.
"Kedatangannya ini adalah ingin membujuk ayahnya agar jangan mau lagi menjadi antek kerajaan Boanjing."
"Jika begitu, mengapa dia bertindak begitu kepadaku? Kenapa pula dia membantu Bin Sing-liong jika sudah jelas mengetahui yang juga antek kerajaan yang busuk?"
"Ah. kupaham sekarang!"
Seru Leng-cu mendadak.
"Kau paham apa?"
Tanya Toa-koh.
"Kakak Yam tentu ... tentu berada di rumah ayahnya,"
Kata Leng-cu.
"Ai, sayang, sungguh sayang!"
Karena seruan si nona, Toa-koh lantas menyadari juga apa yang dimaksudkan si nona, katanya.
"Betul juga, dia tidak sengaja membantu Bin Sing-liong melainkan cuma menipu orang she Bin itu agar membawanya menemui ayahnya. Mungkin begitu pula maksud tujuannya dia mencari Oh Lian kui dan Song Peng ki di piaukiok. Cuma aku tidak tahu apa maksud yang yang kau katakan?"
Leng-cu lantas bertutur.
"Tadi waktu kedua keparat yang mampus itu datang dengan mengaku orang suruhan kakak Yam, dia bilang padaku bahwa kakak Yam cudah bertemu dengan ayahnya, dengan sendirinya tadi aku menyangsikan keterangan mereka."
"Adalah tepat jika engkau tidak mau terperangkap oleh mereka, sekalipun benar mereka membawamu ke rumah ayahnya mungkin juga bukan mempertemukan kalian melainkan justru akan membikin celaka padamu,"
Tanpa terasa ucapan Toa-koh ini sudah bernada membela Leng-cu.
"Sayang yang kumaksudkan adalah kita telah terlanjur membunuh mereka sehingga tidak diperoleh keterangsn lain yang kita perlukan,"
Kata si cona. Sampai di sini, mendadak ia tertawa dan berseru.
"Ah, sungguh aku ini sudah lingiuug. Engkau adalah kakak Nyo Bok, tentunya kau-tahu tempat tinggalnya. Hendaknya lekas kau katakan alamatnya, biar kususup ke rumahnya untuk mencari kakak Yam."
"Tidak, aku tidak tahu,"
Jawab Toa koh.
"Masa engkau tidak tahu tempat tinggal adik sendiri?"
Leng cu menegas.
"Tentunya kau tahu saudaraku itu adalah jago pengawal istana dengan sendirinya tempat tinggalnya harus dirahasiakan."
Maka Leng-cu tidak dapat tertawa lagi. Sebaliknya hati Nyo Toa koh merasa lebih tentram, katanya.
"Ayahnya mungkin ingin membunuhmu, bahkan sangat mungkin juga takkan sungkan terhadapku sebagai kakaknya namun terhadap putra sendiri masa juga akan dicelakainya?" ---ooo0dw0ooo---
Jilid 4
"Ai, tidak. tidak betul!"
Seru Leng-cu tiba-tiba "Tidak betul apa? Kata pribahasa, sebuas-buasnya harimau juga takkan makan anak sendiri, masa kaukira ..."
"Aku tidak bilang ayahnya membunuhnya, cuma tujuannya semula adalah hendak membujuk sang ayah agar jangan lagi menjadi antek kerajaan. Tampaknya sekarang bukan saja ayahnya tidak mau menurut nasihatnya, sebaliknya hendak memperalat dia malah. Jika begitu halnya, aku menjadi kuatir bila kakak Yam berada di rumah ayahnya."
Mau-tak-mau Nyo Toa-koh gelisah juga mendengar keterangan ini, ia pikir sekarang adiknya sudah telanjur kemaruk harta dan pangkat, bukan mustahil Nyo Yam bisa dicelakainya jika tidak mau tunduk kepada ayahnya.
Umpama sang ayah tidak sampai hati membikin susah padanya, rasanya kawanan jago pengawal istana yang lain juga takkan melepaakan dia jika mengetahui siapa dia.
Maka Toa-koh lantas berkata.
"Nona Liong aku ingin mohon sesuatu padamu."
Bahwa Loa-jiu-kwan-im yang terkenal berwatak keras ini sekarang juga menyatakan mohon bantuan padanya, hal ini sungguh di luar dugaan Liong Leng-cu.
"Kuterima kasih engkau tidak menganggap-ku sebagai Siauyau-li lagi, mengingat hal ini, urusan apa yang dapat kulakukan pasti akan kubantumu, silakan bicara saja,"
Kata Leng-cu dengan tertawa.
"Kumohon engkau lekas pergi menolong kemenakanku itu,"
Kata Toa-koh. Leng-cu melengak, tapi lantas bergelak tertawa.
"Haha, justru urusan inilah akan kubicarakan denganmu. Kita kan tidak tahu dimana tempat tinggal ayahnya, jadi tidak ada gunanya kuminta bantuanmu atau kau minta bantuanku."
"Dengarkan dulu,"
Ucap Toa-koh.
"Orang lain mungkin tidak tahu alamat adikku, namun Bin Sing-Hong dan anaknya pasti tahu. Bin Sing-liong sudah dibawa pergi oleh anak Yam, putranya kan masih tertinggal di rumahnya?"
Terbeliak mata Leng-cu.
"Hah, maksudmu kau minta kucari putra Bin Sing-liong dan memaksa dia membawaku ke rumah Nyo Bok?"
"Betul", sahut Toa-koh.
"Tenagaku belum pulih. terpaksa kuminta engkau suka melakukan perjalanan ini. Biar kuberitahukan tempat tinggal Bin Sing-liong ...."
Belum habis ucapannya mendadak seorang menukas.
"Sudahlah, tidak perlu banyak repot lagi!"
Cukup cepat reaksi Liong Leng-cu, ruyung bergerak lurus menyabat.
Ia sudah tertipu sekali, disangkanya orang ini pun serupa kedua lelaki tadi hendak menipunya.
bukan mustahil Nyo Yam telah memberitahukan tempat pondokannya ini.
Dan orang ini dapat mencari kemari, besar kemungkinan orang ini teman sejawat Nyo Bok.
Dari kecepatan orang yang muncul itu, Leng-cu menduga kepandaian pendatang ini jauh lebih tangguh daripada kedua lelaki tadi, sebab itulah sekali serang segera menggunakan jurus serangan maut andalannya.
Akan tetapi dengan cekatan sekali pendatang ini dapat mematahkan tiga kali serangan Liong Leng-cu, malahan tenaga pukulannya sempat mengguncang ruyung si nona sehingga melingkar balik.
"Permainan ruyung bagus!"
Seru orang itu. Mendadak Nyo Toa-koh juga berteriak.
"hei, Han tua, kiranya kau!"
Waktu Leng-cu mengawasi, kiranya Han Wi bu adanya. pemimpin Cin-wan-piaukiok yang sudah pernah dilihatnya.
"Jangan kuatir, Lo toaci, (enci tua),"
Seru Wi-bu.
"Eh, engkau kenapa?"
Rupanya dapat dilihatnya Nyo Toa-koh seperti terluka.
"O, tak apa-apa,"
Jawab Toa-koh.
"Cuma terkena sebiji jarum kecil yang tak berarti dan sudah diberi obat oleh nona Liong ini. Eh, lekas katakan, alamat adikku yang busuk itu sudah kau dapatkan bukan?"
"Betul, baru saja kutahu,"
Jawab Wi-bu.
"Darimana kau dapat tahu?"
Tanya Toa-koh dengan girang.
"Peng-ki baru saja pulang,"
Tutur Wi-bu. Seketika Toa-koh tidak tahu apa yang terjadi, ia tercengang dan bertanya.
"Kenapa kalau Peng-ki sudah pulang? Dia kan juga tidak tahu alamat gurunya?"
"Sekarang dia sudah tahu, justru dia baru pulang dari rumah gurunya itu,"
Tutur Wi-bu pula.
"Cara bagaimana dia bisa pergi ke rumah gurunya? Dia bertemu dengan anak Yam tidak?"
Tanya Toa-koh.
"Anak Bin Sing-liong minta mereka menyampaikan berita kepada kakek gurunya, maka ia memberitahukan alamatnya kepada mereka,"
Tutur Wi-bu.
"Anak Bin Sing-liong baru ditolong oleh Peng-ki berdua dari tutukan Nyo Yam, karena ketakutan, maka dia minta bantuan kedua paman gurunya ...."
"Nanti dulu. Kau bilang mereka, lantas bagaimana dengan Lian-kui?"
Sela Toa-koh.
"Lian-kui masih tinggal di rumah gurunya, hanya Peng-ki sendirian yang pulang ke piau-kiok, yang jelas Peng-ki telah melihat Nyo Yam di sana."
"Lantas di mana Peng-ki sekarang, kenapa tidak ikut kemari?"
Tanya Toa-koh.
"Ia terluka,"
Jawab Wi-bu.
"Hah, terluka? Kenapa bisa terjadi begitu?"
Toa-koh terkejut dan kuatir.
"Mereka sampai di rumah gurunya, pengurus rumah tangga adikmu yang menerima mereka,"
Tutur Wi-bu pula.
"Peng-ki berdua ditanya apa keperluannya, mereka mengaku atas permintaan putra Bin Sing-liong ingin menyampaikan urusan penting kepada sang guru."
"Pengurus rumah tangga itu menyatakan rasa herannya, ia bilang Bin Sing-liong sudah datang lebih dulu, kenapa putranya perlu menyampaikan berita apa pula? Maka ia minta Peng-ki berdua menunggu sebentar, ia lantas melaporkan hal itu kepada Nyo Bok.
"Untung juga pengurus rumah tangga itu menyebut tentang kedatangan Bin Sing-liong di situ, seketika Peng-ki merasa curiga dan segera timbul pikirannya untuk meninggalkan rumah adikmu itu, hanya Lian kui yang ditinggalkan di situ."
"Dia tersusul orang suruhan gurunya sehingga dilukai?"
Tanya Toa koh.
"Bukan, dia dilukai oleh dua orang yang tak dikenal,"
Sahut Wi-bu.
"Umpama bukan orang suruhan gurunya tentu juga antek kerajaan. Orang yang bertempat tinggal di sana memang kebanyakan adalah tokoh serupa adikmu itu."
Toa-koh tambah terkejut.
"Wah, melihat gelagatnya, tampaknya urusan sudah cukup gawat, adikku yang busuk itu rupanya tidak segan bertindak juga terhadap anaknya sendiri. Lekas kau katakan tempat tinggalnya kepadaku."
"Sabar dulu, Lo toaci,"
Ujar Wi-bu.
"Tenagamu belum lagi pulih, mana boleh engkau pergi ke sana, lebih baik ...."
Mestinya ia hendak bilang "lebih baik aku Saja yang pergi", tapi bilamana teringat kepergiannya berarti mentaruhkan segenap harta benda dan jiwa sendiri dan anggota keluarga, bahkan Cin-wan-piaukiok juga akan menjadi korban, seketika ia rada tergegap.
Toa-koh lantas memotong ucapannya.
"Aku memang belum sanggup pergi, nona Liong inilah yang akan menggantikanku ke sana."
"Hah, nona Liong yang menggantikanmu pergi?"
Wi-bu menegas dengan melenggong. Nyata hal ini sama sekali tak terduga olehnya, tapi juga membuatnya merasa lega. Dengan tertawa Leng-cu berkata.
"Aku tidak menggantikan dia melainkan aku sendiri yang mau pergi ke sana. Cuma, bila kuminta Han-congpiautiau memberitahukan alamat Nyo Bok, mungkin engkau belum mau percaya padaku."
"Belum tentu,"
Jawab Wi-bu dengan tertawa.
"Tadi begitu kau datang ke piaukiok segera kulihat perhatianmu terhadap Nyo Yam pasti tidak kurang daripada perhatian Lo toaci kami ini terhadap kemenakannya."
"Sudahlah, jangan bicara bertele-tele lagi, lekas kau beritahukan padanya,"
Kata Toa-koh.
Wi bu tahu Liong Leng-cu tidak paham jalan kotaraja, sembari bicara ia lantas melukiskan sebuah peta di tanah.
Dengan penuh perhatian Leng cu mengikuti penjelasan orang dan diingatnya dengan baik.
Kemudian peta di tanah itu dirusak, katanya.
"Semuanya sudah kuingat di luar kepala. Dengan mendapat penjagaan Han-congpiauthau aku pun tidak perlu kuatir lagi atas keselamatan Toa-koh. Sekarang marilah kita menuju ke tempat masing-masing, maaf!"
Habis bicara ia terus angkat kaki.
"Setelah bertemu dengan Nyo Yam hendaknya kalian menemuiku di piaukiok,"
Seru Toa-koh.
"Kutahu,"
Jawab Leng-cu, suaranya berkumandang dari jauh, hanya sekejap saja bayangannya sudah menghilang.
"Sungguh luar biasa anak muda jaman sekarang,"
Ucap Wibu dengan gegetun.
"Melulu ginkang anak dara ini saja harus diakui tak-dapat kutandingi dia."
"Makanya kubilang kepergiannya jauh lebih baik daripada aku yang pergi, sekarang engkau tidak perlu kuatir lagi bukan?"
Kata Toa koh.
"Bukankah semula engkau hendak membikin perhitungan dengan Siau-yau-li ini?"
Wi-bu berseloroh.
"Tapi tampaknya sekarang ada maksudmu hendak memungut Siau-yau-li ini sebagai menantu kemenakan"
"Kau heran bukan?"
Jawab Toa koh "Bahwa urusan bisa berakhir begini sungguh sukar untuk dimengerti. Cuma, rasanya masih terlampau dini bila kau bilang aku ingin dia menjadi menantu kemenakanku."
"Meski heran, tapi apa yang terjadi ini membuatku kegirangan,"
Kata Wi-bu.
"Sungguh aku tidak tahu cara bagaimana kalian bisa berdamai seperti ini."
"Kau tahu perhatiannya terhadap Nyo Yam tidak di bawahku, maka apa yang terjadi sekarang kan tidak perlu diherankan?"
Ujar Toa-koh dengan tertawa.
lalu ia pun menceritakan pengalamannya tadi.
Sembari bicara sambil jalan, tanpa terasa mereka sudah sampai di Cin-wan-piaukiok.
Pekerjaan pertama dengan sendirinya memeriksa luka Song Peng-ki.
Luka Peng-ki tidak terhitung parah, tapi juga tidak ringan.
Sesudah dibubuhi obat luar, kini sudah dapat duduk dan bicara.
Begitu melihat Toa-koh segera ia berseru.
"Wah. Sukoh, sayang engkau pulang terlambat sedikit."
"Memangnya terjadi peristiwa apa?"
Toa-koh terkejut.
"Peristiwa menyenangkan dan bukan urusan jelek."
Tutur Peng-ki.
"Urusan menyenangkan apa, lekas ceritakan, tidak perlu duduk, berbaring saja,"
Kata Toa-koh.
"Baru saja adik Se-kiat datang kemari. bilamana kalian datang lebih cepat setengah jam yang lalu tentu dapat berjumpa dengan dia."
"Hih, untuk apa dia datang ke kotaraja?"
Seru Toa-koh terkejut dan girang.
"Dia telah mengunjungi Cadam, tentang ini, dia minta kumintakan maaf kepadamu,"
Tutur Peng-ki.
"Ia tahu engkau tidak suka dia pergi ke tempat itu?"
Karena terburu-buru ingin tahu berita anaknya, Toa-koh tidak sabar, katanya.
"Sudahlah, toh dia sudah pergi ke sana. Lekas ceritakan, untuk apa dia datang kemari?"
"Ia ingin mencari Nyo Yam,"
Tutur Peng-ki.
"Menurut ceritanya, sebelumnya ia sudah tahu kedatangan Nyo Yam ke kotaraja sini, tapi dia tidak sempat bicara lebih lanjut."
"Dan sempat kau ceritakan padanya apa yang dilakukan Nyo Yam di sini?"
Tanya Toa-koh.
"Sudah. Alamat Suhu juga sudah kuberitahukan padanya. Begitu mendengar keteranganku segera ia pergi. Apakah salah tindakanku ini, Sukoh?"
"Tidak, engkau tidak salah, justru salah apa yang kulakukan sebelum ini "
Ujar Toa-koh. Belum pernah Peng-ki melihat sang bibi guru ini mengaku salah, keruan ia melenggong dan tidak berani tanya persoalannya. Segera Toa-koh berkata pula.
"Han tua, harap sediakan sebuah kamar, aku perlu menghimpun tenaga, siapa pun jangan mengganggu."
Sungguh kalau bisa ia ingin sekarang juga menyusul ke rumah adiknya.
Nyata ia tidak ingin anak sendiri mendatangi rumah adiknya dan menyerempet bahaya, akibatnya antara paman dan kemenakan pasti akan cekeok.
Tapi sekarang jelas ia tidak dapat lagi mencegah pertengkaran antara putranya dan adiknya, bahkan ia pun tidak segan-segan bertindak terhadap adiknya itu.
Saat itu di rumah ayahnya Nyo Yam justru telah mendapatkan kegembiraan yang belum pernah diperoleh selama hidup ini.
Fajar sudah hampir menyingsing dan anak muda iti belum lagi tidur sanking gembiranya.
Sebab ayahnya telah berjanji padanya, esok juga akan pulang dari istana dengan membawa berita menyenangkan baginya.
Pada waktu sebelum ayahnya pulang, ia harus taat kepada pesan orang tua itu, tidak boleh sembarangan keluar melainkan harus tetap tinggal di dalam kamar rahasia yang sempit itu.
Namun begitu hatinya sudah terbang jauh ke sana.
Maklumlah, rasa girangnya itu ingin dinikmatinya bersama dengan sanak familinya, dengan sahabat baiknya, dengan orang yang memperhatikan dia dan orang yang sayang padanya.
Orang pertama yang terpikir olehnya untuk diberitahu berita baik ini ialah Ling Peng-ji.
"Akan kukatakan kepada Ling-cici bahwa ayah tidaklah sebusuk sebagaimana dikatakannya. Tentu saja kutahu Lingcici tidak sengaja menyebarkan desas-desus, ia hanya mendengar dari orang lain dan apa yang didengarnya di sangkanya benar. Akan kukatakan padanya bahwa ayah memang telah berbuat busuk, tapi apa yang dilakukannya juga ada alasannya.
"Orang yang menyiarkan kebusukan ayah mungkin sengaja membumbui lagi, atau mungkin mereka juga salah mengerti terhadap ayah. Ai, ini pun tak dapat menyalahkan orang. bukankah aku sendiri pun pernah salah paham terhadap ayah? "Antara manusia dan manusia memang tidak mudah saling mengerti, bukankah antara aku dan Ling-cici juga telah disalah pahami orang? Bilamana kugunakan contoh antara hubunganku dengan Ling-cici dan kubicarakan dengan dia, kuyakin Ling-cici juga akan menyadari jalan pikirannya yang salah."
"Cuma sayang Ling-cici telah mengadakan janji tujuh tahun denganku, sekarang dia tidak mau menemuiku. lantas bagaimana baiknya? Ayah dan Leng cu mungkin takkan mengizinkan kucari dia. Tapi, ai, biarpun tak dapat melihat dia tentu ada jalan untuk menyampaikan berita gembira ini kepadanya."
Orang kedua yang terpikir olehnya adalah ayah angkatnya, yaitu Ki Tiang-hong.
Untuk memperoleh pengertian ayah angkatnya rasanya terlebih sederhana, sebab sang ayah angkatnya pernah bilang asalkan ayahnya mau kembali ke jalan yang benar, tentu saja diharapkan hubungan antara kami ayah dan anak dapat akrab Ayah angkat juga menjamin takkan mengusut lagi perbuatan ayah yang lalu, soalnya sekarang ayah masih tetap memandang Beng Goan-ciau sebagai musuh, ayah juga pasti takkan setuju kutemui mereka kecuali kepergianku ke sana untuk memenggal kepala Beng Goan-ciau.
Ai, untuk membujuk ayah mungkin akan makan waktu cukup panjang.
bahkan bisa jadi takkan berhasil untuk selamanya."
Menyusul yang terpikir olehnya adalah "kakek"
Dan Liong Leng-cu.
Bila dirinya disuruh memilih, terpaksa untuk sementara ia harus meninggalkan ayah angkat.
Ayah sudah bilang ingin mengasingkan diri di tempat jauh dan hidup berkeluarga dengan tenang tanpa macam macam persoalan lagi dengan dunia kangouw Umpamanya dapat kuajak ayah tirakat di Tai-kiat-nia bersama kakek.
Leng-cu juga sudah setuju untuk pulang bersamaku.
Dengan demikian anggota kedua keluarga jadi akan berkumpul dengan baik."
Begitulah selagi terbayang kehidupsn selanjutnya yang muluk muluk, tiba-tiba didengarnya di luar jendela seperti ada sesuatu suara pelahan.
"Apakah ayah sudah pulang? Tapi ginkang ayah kan tidak setinggi ini?!"
Demikian pikir Nyo Yam.
Selagi ia hendak berseru menegur, terdengarlah orang itu sudah bicara, yang digunakan adalah semacam lwekang untuk mengirim gelombang suara sehingga kedengaran serupa orang berbisik di tepi telinganya.
Orang itu berkata padanya.
"Jangan bersuara, aku adanya!"
Begitu mendengar suara orang ini, teketika hampir saja Nyo Yam berjingkrak kegirangan.
Kiranya orang ini tak-lain-tak-bukan adalah Ce Se-kiat yang diharapkannya.
Sedapatnya Nyo Yam menahan perasaan sendiri, pelahan ia membuka pintu kamar dan menyilakan orang masuk.
Ia pun balas tanya dengan ilmu gelombang suara.
"He, kenapa dapat kau susul kemari?"
"Aku sudah mengunjungi Cin-wan-piaukiok dan sudah bertemu dengan Song Peng-ki,"
Tutur se-kiat. Selagi Nyo Yam hendak tanya dari mana Song Peng-ki mengetahui dia datang ke tempat tinggal ayahnya ini, lebih dulu Se-kiat sudah bicara lagi.
"Kutahu banyak yang hendak kau-tanyakan, tapi ceritanya terlalu panjang, sekarang bukan waktunya untuk kita bicara. Biarlah kubawamu melihat berbagai urusan dan barang aneh, mari ikut."
Timbul rasa ingin tahu Nyo Yam, ia coba tanya lagi.
"Ke mana? Urusan aneh apa?"
"Aku cuma tahu akan terjadi hal aneh, tentang tempatnya masih harus kita cari,"
Jawab se-kiat.
"Bilamana kita dapat tiba tepat waktunya mungkin masih dapat melihatnya."
Jawaban demikian sudah cukup aneh, malahan Se-kiat lantas menambahkan.
"Jika kau-percaya padaku boleh kau ikut pergi."
Dengan sendirinya Nyo Yam percaya padanya, maka tanpa tanya lagi ia lantas ikut berangkat.
Belum seberapa jauh.
di bawah remang bulan Nyo Yam melihat di tengah semak bunga sana bersembunyi satu orang, serupa patung, hanya berdiri saja tanpa bergerak.
"Orang ini mungkin diperintahkan mengawasi dirimu, sudah kututuk kaku dia,"
Kata Se-kiat.
"Penghuni beberapa rumah di sekitar sini juga sudah kututuk hingga tertidur pulas, sebelum siang esok mereka pasti takkan sadar kembali. Cuma bukan mustahil masih akan datang jago kelas tinggi, peronda malam juga entah akan berganti jaga kapan, maka kita perlu hati hati sedikit."
Bahwa Se-kiat telah menutuk orang itu tidak membuat Nyo Yam heran, menurut dugaannya mungkin anak muda itu tidak suka kedatangannya diketahui orang.
Tapi bahwa sekian banyak orang yang ditutuknya, ini membuat Nyo Yam terheran-heran juga.
Ayah Nyo Yam, yaitu Nyo Bok, terhitung Kuku (paman.
adik ibu) Ce Se-kiat.
Mengapa Se-kiat merasa seperti mengunjungi tempat musuh terhadap tempat kediaman sang paman?
Ia pun merasa kurang sonang terhadap ucapan Se-kiat tadi bahwa orang yang ditutuknya ini sedang mengawasi dia atas perintah orang.
Memangnya atas perintah siapa?
Masa ayahku juga perlu mengirim orang untuk mengawasi gerak-gerikku?
Karena percaya sang ayah pasti akan cuci tangan dan kembali ke jalan yang benar.
bila-mana yang bicara begitu bukan Ce se-kiat, tentu dia akan mencurigai orang sengaja hendak memecah belah mereka ayah dan anak.
Tapi yang bicara demikian adalah Se-kiat, mau tak mau membuatnya sangsi juga.
Ia tahu Se-kiat adalah pemuda yang suka bertindak cermat, jika dia bicara demikian tentu ada alasannya.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan sebuah gardu di samping gunung gunungan yang setengah tersembunyi.
jika bukan tamu yang biasa mengunjungi rumah keluarga Nyo pasti takkan tahu di sini ada sebuah gardu taman.
"Apakah pernah kau datang ke sini?"
Nyo Yam coba tanya.
"Tidak pernah,"
Jawab Se-kiat. Nyo Yam tambah heran. Namun Se-kiat sudah lantas mendahuluinya masuk ke gardu itu "Apakah gardu ini tempat rahasia yang kau maksudkan?"
Tanya Nyo Yam.
"Betul,"
Jawab se-kiat.
"Di mulai dan sinilah kita akan mencari rahasianya selangkah demi selangkah."
Nyo Yam tidak tahu apa arti ucapannya.
Ia coba mengawasi gardu itu, terlihat di tengah ada sebuah meja batu.
di atas meja tertaruh papan catur dengan biji catur yang belum selesai dimainkan.
Papan catur itu diukir di permukaan meja.
lantai gardu juga terbuat dari batu dan kaki meja batu itu itu pun seperti lengket dengan lantai.
Dengan sangsi Nyo Yam berkata.
"Bayangan setan pun tidak ada di sini, yang ada cuma permainan catur yang belum selesai, memangnya teka-teki apa yang kau simpan?!"
"Sebentar mesti kau tahu,"
Jawab Se-kiat.
"Sekarang hendaknya kau teliti permainan catur ini dan ingat dengan baik letak setiap biji caturnya."
Walaupun agak ruwet letak biji catur itr, untung daya ingat Nyo Yam sangat bagus.
ia mengawasi sebentar dan dapatlah diingat seluruhnya dengan baik.
Di dalam gardu masih ada semacam barang aneh, yaitu pada pilar batu tergantung dua buah gelang besi.
entah apa gunanya.
Lantaran harus mengingat baik posisi catur yang belum selesai termainkan itu.
Nyo Yam tidak begitu menaruh perhatian terhadap gelang besi pada pilar itu.
"Sudah ingat betul?"
Tanya Se-kiat kemudian. Dengan cepat Nyo Yam memandang lagi sekali, lalu menjawab.
"Ya, rasanya dapat ku-pasang kembali pada tempatnya bilamana biji catur ini diangkat."
"Dipasang kembali mungkin tidak perlu, paling-paling cuma beberapa biji saja yang bergeser,"
Kata Se-kiat dengan tertawa.
Selagi Nyo Yam merasa bingung, tiba-tiba dilihatnya Ce Sekiat menarik tiga kali gelang besi sebelah kiri pada pilar batu tadi.
Lalu gelang besi sebelah kanan juga ditariknya empat kali.
Menyusul meja batu berikut batu landasannya mendadak bergerak sehingga kelihatan sebuah liang.
Kiranya di sinilah letak sebuah jalan masuk ke bawah tanah.
Kejut dan girang Nyo Yam, tapi juga rada heran, tanyanya "Dari mana kau tahu rahasia pesawat ini?"
Se-kiat hanya tertawa saja tanpa menjawab, sebaliknya berkata.
"Coba lihat papan catur tadi."
Waktu Nyo Yam memeriksa papan catur itu setelah meja batu bergeser, ternyata benar ada beberapa biji catur di atasnya juga berubah tempat.
Dengan sangat mudah Nyo Yam lantas mengembalikan biji catur itu ke tempat semula sebagai telah diingatnya tadi.
Sebagai anak muda yang cerdik segera ia tahu duduknya perkara.
Rupanya catur yang dipasang di atas meja ini adalah semacam penjagaan bilamana pesawat rahasia ini diketahui orang.
Bahwa sekarang Ce Se-kiat tahu caranya membuka lubang rahasia di bawah tanah ini tentu karena dia pernah mengintip rahasia ini.
Benar juga, segera didengarnya Se-kiat berkata.
"Kau tahu, sebabnya aku dapat membuka lubang rahasia ini adalah karena kebetulan saja kulihat. Cuma sesudah membuka jalan masuk rahasia ini segera orang itu masuk dan meja batu ini pun segera kembali pada tempat semula, biji catur pada papan catur ini juga tidak ada yang bergeser. Meski kutirukan dia caranya membuka lubang rahasia ini, tapi aku tidak tahu betapa keras tarikan pada gelang besi supaya tidak membuat biji caturnya bergerak pada waktu meja batu bergeser. makanya kuminta kau ingat betul letak biji catur semula."
Bicara sampai di sini, meja batu tadi kembali bergerak lagi pelahan.
"Mari kita lompat ke bawah, cuma harus hati-hati bila terdapat perangkap di bawah,"
Pesan Se-kiat. Nyo Yam mengiakan. Segera mereka siap siaga dan melompat ke bawah. Namun mereka dapat mencapai permukaan tanah di bawah tanpa terjadi sesuatu. Nyo Yam merasa lega, pikirnya.
"Ayah membuat lorong di bawah tanah ini mungkin disediakan bilamana terancam bahaya dan segera dapat menyelamatkan diri. Dengan memasang catur di atas meja itu, jika ada orang menyusup ke sini, sekali lihat perubahan biji catur segera akan diketahuinya."
Teringat demikian, segera ia tanya Se-kiat.
"Siapa oiang yang kau katakan tadi? Apakah ayahku?"
"Bukan,"
Jawab Se-kiat.
"Cuma dia juga sudah kau kenal dengan baik."
"Siapa?"
Nyo Yam menegas.
"Sabar dulu,"
Ucap Se-kiat.
"Sebentar lagi tentu kau tahu sendiri. Aku hanya ingin kau lihat kejadian yang sebenarnya."
Setelah meja di atas menutup kembali, keadaan di bawah menjadi gelap gulita.
Apa di depan ada lagi pesawat rahasia juga tidak diketahui oleh Se kiat.
Dengan hati-hati keduanya lantas merambat maju dalam kegelapan, setelah melalui sebuah lorong panjang, untung tidak menemukan sesuatu perangkap.
"Sebentar tidak peduli apa pun yang kau lihat atau dengar, hendaknya engkau menahan diri dan jangan bersuara,"
Bisik Se kiat.
Belum habis ucapannya sudah dilihat mereka di depan sana ada sebuah ruang bawah tanah dan kelihatan ada cahaya lampu, bahkan mulai terdengar suara bicara orang.
Sungguh kejut sekali Nyo Yam demi mengenali suara orang, ternyata dia adalah murid buncit ayahnya, yaitu Oh Lian-kui.
Ia tambah terkejut demi mendengar percakapan orang.
"Huh, tampaknya engkau ini orang jujur, ternyata jadi mata-mata musuh,"
Demikian terdengar lagi suara seorang lain yang dikenali adalah suara Bin Sing-liong.
Padahal Bin Sing liong diketahuinya sudah terpukul mati oleh ayahnya, kenapa bisa hidup lagi?
Terdengar Se-kiat berbisik lagi padanya.
"Justru karena kulihat Oh Lian kui di-giring ke lorong bawah tanah ini oleh Bin Sing-liong, maka dapat kutemukan pesawat rahasia di atas tadi."
Lamat-lamat Nyo Yam merasa di balik ini pasti ada intrik keji tertentu dan ayahnya sangat mungkin adalah perencana intrik ini dan Bing Sing-liong berkomplot dengan ayahnya untuk menipunya, Ia menahan perasaannya dan coba mendengarkan lagi, terdengar Oh Lian kui sedang berseru penasaran.
"Kau bilang aku mata-mata musuh, memang mata-mata musuh siapa?"
Bin Sing-liong tidak langsung menanggapi, katanya pula.
"Baik, akan kutanya padamu. Song Peng-ki datang bersamamu, kenapa setelah kalian tahu aku berada di sini dan segera Peng-ki lari pulang?"
"Suheng."
Kata Lian-kui.
"bukankah sudah kukatakan padamu, sebabnya kami dapat mencari ke tempat Suhu ini justru atas permintaan anakmu."
"Lantas kenapa jika begitu?"
Kata Sing-liong.
"Waktu anakmu minta kami menyampaikan berita ke sini tidak kami ketahui engkau berada di sini dengan selamat, sebab itulah Song-suheng buru-buru pulang ke sana untuk menyampaikan kabar baik kepada anakmu."
Padahal Song Peng-ki pulang ke piaukiok dan bukan kembali ke rumah Bin Sing-liong, Oh Lian-kui sengaja mengarang alasan agar tidak dianiaya. Bin Sing-liong mendengus.
"Hm, jadi engkau masih jujur terhadap Suhu. Ya, memang seharusnya begitu, nasib hari depanmu terletak di tangan Suhu, adalah pantas jika engkau setia kepada beliau. Baik, kupercaya padamu. Dan untuk lebih membuktikan kesetiaanmu, atas nama Suhu ingin kusuruh kau lakukan sesuatu."
"Silakan Suheng memberi petunjuk,"
Jawab Lian-kui dengan perasaan tidak tentram, karena tidak tahu persoalan sulit apa yang harus dilakukannya.
"Kutahu Sukoh agak sayang kepadamu dan Peng-ki, tentu dia takkan mencurigai kalian, maka ketiba kembali di piaukiok hendaknya kau cari kesempatan untuk menaruh setitik Soh kut-san dalam air minumnya."
"Wah. aku ... aku tidak berani,"
Ucap Lian-kui dengan tarkejut.
"Hin, kau bilang jujur terhadap Suhu, kenyataannya engkau tidak mau bekerja bagi Suhu. memangnya engkau lebih dekat dengan Sukoh?"
Jengek Sing-liong.
"Suhu dan Sukoh kan bersaudara, sungguh aku tidak mengerti arti ucapan Suheng?"
Kata Lian-kui.
"Hm, tidak perlu berlagak bodoh,"
Jengek Sing-liong.
"Kedatangan Sukoh ke kotaraja ini jelas hendak mencari perkara kepada Suhu, hal ini sudah terus terang dikatakannya di rumahku, masa tidak kau dengar? Hm, waktu itu engkau berlagak membantuku, mungkin juga cuma sandiwara belaka."
"Tapi..tapi apakah benar Suhu menyuruhku berbuat demikian terhadap Sukoh?"
Tanya Lian-kui.
"Memangnya kau kira aku memalsukan perintah Suhu?"
Kata Sing liong dengan gusar.
"Mana kuberani menuduh begitu kepada Suheng,"
Ucap Lian-kui.
"Cuma kuingin bertemu dengan Suhu, entah boleh tidak?"
Baru bicara sampai di sini, tertampak sebuah daun pintu rahasia terbuka dan muncul satu orang, siapa lagi kalau bukan gurunya, Nyo Bok.
"Sing-liong, sudah kau jelaskan belum kepada Lian-kui?"
Tanya Nyo Bok.
"Sudah,"
Jawab Sing-liong dengan hormat.
"Tapi dia masih sangsi."
"Apa yang dikatakan Lian-kui tadi sudah kudengar semua,"
Ujar Nyo Bok.
"Kupikir engkau belum cukup memberi penjelasan kepadanya. Aku hanya mempunyai seorang taci kandung, tidak heran jika dia sangsi."
Mendengar ini, Nyo Yam yang mencuri dengar di luar merasa ada harapan lagi semoga sang ayah tidak sebusuk sebagaimana di-sangkanya. Tapi perasaan Lian kui justru tambah tertekan, katanya.
"Suhu, jadi engkau benar menyuruhku mengerjai sukoh dengan Soh-kut-san?"
"Betul, itu memang kehendakku,"
Kata Nyo Bok.
"Itu pun demi kebaikan Sukohmu. Dia kan satu satunya Ciciku, dengan sendirinya takkan kubikin susah dia. Tapi dia ada hubungan dengan orang di Cadam, sekali ini ia pun datang ke Cin-wanpiaukiok dan ikut campur urusan Han Wi-bu, kukuatir dia akan tertimpa bahaya. maka sengaja kugunakan cara licik ini untuk mengirim dia pulang ke rumah. Nah, paham tidak sekarang?"
"Watak Sukoh sangat keras, mungkin beliau tidak mau pulang, lantas bagaimana nanti?"
Tanya Lian-kui.
"Makanya kusuruh menggunakan Soh-kut-san untuk membuat ilmu silatnya lenyap sementara, selain itu juga membuatnya tak sadar dan baru akan siuman kembali dua hari kemudian, tatkala mana kaupun sudah dapat pulang ke Poting."
"Tapi bila sadar kembali tentu Sukoh akan marah padaku, bisa jadi aku akan dilabraknya,"
Ucap Lian-kui.
"Sesudah sadar, sedikitnya tiga hari kemudian baru kekuatannya akan pulih,"
Tutur Nyo Pok.
"Jika kau katakan apa yang kupesan dan membujuk dia jangan ikut campur urusan orang lain lagi. Tentu juga kukenal wataknya, bila dia tetap tidak mau menurut, maka boleh ... boleh ...."
"Boleh apa?"
Tanya Lian-kui.
"Ya, apa boleh buat, tidak ada jalan lain, terpaksa membuat kungfunya hilang untuk selamanya,"
Sambung Nyo Bok dengan menyesal. Lian-kui terkejut.
"Hah, maksud Suhu hendak memunahkan ilmu silat Sukoh?"
"Ya, terpaksa,"
Kata Nyo Bok.
"Kuberi jarum berbisa ini, bila dia tidak mau menurut bujukanmu, boleh kau tusuk dengan jarum ini. Katakan padanya, akulah yang memberi perintah, jika dia marah dan menyesal, biarlah dia marah padaku saja."
"Tapi Suhu ...."
"Ada apa lagi? Apakah tidak mau menurut perintahku?"
Tanya Nyo Bok. Lian-kui tidak berani bicara lagi, ia pikir paling penting sekarang harus cari selamat lebih dulu, terpaksa katanya.
"Baik, tentu saja murid laksanakan sesuai perintah Suhu. Kuharap Sukoh akan menurut kepada nasihat Suhu."
"Jika begitu boleh simpan Soh-kut san dan jarum ini,"
Kata Nyo Bok.
"Ingin kuperingatkan. jika di luar kau tunduk, tapi di dalam hati membangkang, maka akibatnya kau tahu sendiri."
"Tecu tidak berani,"
Jawab Lian-kui gemetar. Nyo Yam yang mendengarkan di luar terlebih gemetar daripada Oh Lian-kui. Selang sejenak, terdengar Nyo Bok menyambung pula.
"Sing-liong, sebentar kau antar Sute ke luar. Tentang urusan itu apakah sudah kau bicarakan dengan Congkoan."
"O, ini ... ini ...."
Sing liong tergagap.
"Lian-kui bukan orang luar, boleh kau-bicara saja,"
Ujar Nyo Bok.
"Sudah Tecu bicarakan dengan beliau, Congkoan sangat senang."
Demikian tutur Bing Sing-liong.
"Congkoan sudah berjanji akan menyampaikan barang itu kepada Hongsiang, ia bilang kalau ada hadiah tentu akan dibagi sama rata dengan Suhu. Selain itu Cin wan piaukiok akan diserahkan seluruhnya kepada Suhu. Ia suruh kutanya kepada Suhu apa puas tidak dengan keputusannya?"
Oh Lian kui tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka, tapi Nyo Yam paham.
"Barang"
Yang dimaksudkan Bin Singliong itu jelas adalah surat wasiat kaisar Khong-hi yang diserahkannya kepada sang ayah itu. Terdengar Nyo Bok mendengus.
"Hm, jasa ini diperolehnya tanpa keluar tenaga, dengan sendirinya dia yang kegirangan. Cuma kalau tidak melalui dia, mungkin sukar bagiku menemui Hongsiang secara langsung. Umpama dapat menemui Hongsiang juga rahasia ini akhirnya akan diketahui juga olehnya. Jika demikian jadinya, bukan mustahil akan mendatangkan bahaya maut malah bagiku. Sing-liong, ingin kuajarkan kuncinya untuk menjadi pembesar. Jika ada jasa harus kau persembahkan dulu kepada atasanmu dan jangan berusaha hendak melangkahinya, untuk mencapai kedudukan lebih tinggi, harus tunggu bilamana pondasinya sudah terpupuk kuat barulah kau singkirkan dia dan gantikan kedudukannya. Nah, mengerti?"
"Banyak terima kasih atas petunjuk Suhu, sungguh sangat berguna bagi bekal hidup Tecu selanjutnya,"
Jawab Sing-liong.
Sungguh tidak kepalang rasa gusar Nyo Yam, diam diam ia mencaci maki kerendahan jiwa sang ayah, tahu begini lebih baik tidak punya ayah, sungguh ia menyesal atas perjalanannya ini.
Terdengar Nyo Bok berkata pula.
"Boleh katakan kepada Congkoan bahwa aku sangat puas, bahkan sangat terima kasih kepada beliau."
"Suhu, tidak perlu kusampaikan lagi kepadanya,"
Tutur Singliong.
"Congkoan sudah berjanji akan bertemu dengan Suhu di rumah Wi-hu congkoan (wakil congkoan)."
"O, kenapa dia terburu-buru begitu?"
Ujar Nyo Bok.
"Kapan dia akan berada di sana."
"Semalam beliau dinas piket, katanya setelah lepas dinas segera akan menuju ke rumah Wi-hu congkoan,"
Tutur Sing liong.
"Jika begitu mungkin pada waktu pagi nanti,"
Kata Nyo Bok.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Nah, kaupun antar Lian-kui keluar melalui pintu belakang, sekalian katakan kepada Ong cilik, kalau di tanya anak Yam, katakan aku belum bangun tidur."
Ong cilik yang dimaksud adalah pelayan kepercayaan Nyo Bok.
Habis memberi pesan Nyo Bok lantai membuka sebuah pintu rahasia dan masuk ke sana, itulah jalan keluar pada ujung lain lorong bawah tanah.
Melihat semuanya sudah pergi, Se-kiat berbisik kepada Nyo Yam.
"Sabar, jangan beraksi dulu, tunggu sampai di luar nanti."
Tengah bicara Bin Sing-liong dan Oh Lian-kui sudah keluar, dengan menahan napas mereka sembunyi di belakang pilar.
Terlihat Sing-liong menyulut obor kecil dan diberikan kepada Lian-kui dan menyuruh sute itu berjalan di depan.
Rupanya ia kuatir saudara seperguruan itu akan menyergapnya dari belakang.
Lian-kui tahu maksud orang, ia sengaja berkata.
"Suheng, sungguh kukuatir di sini tersembunyi musuh, obor ini tidak cukup terang, hendaknya Suheng waspada."
"Di tempat ini masa bisa dimasuki musuh, jangan berpikir macam-macam,"
Ujar Sing-liong.
"Betul juga ucapan Suheng, jika sembarangan curiga, apa artinya hidup baginya,"
Kata Lian-kui. Sing-liong tahu sute ini sengaja menyindirnya secara tidak langsung, ia hanya mendengus saja tanpa menanggapi, namun dalam hati ia pikir.
"Saat ini Suhu masih perlu memperalat dirimu, sebentar bila perempuan tua itu sudah dienyahkan baru kubikin kau tahu rasa akan kelihaianku."
Setiba di ujung lorong, Sing-liong membuka pesawat rahasia, terdengar suara krek krek beberapa kali, batu di atas bergeser dan terlihat sebuah lubang.
Diam-diam Nyo Yam berpikir untung Bin Sing-liong menunjuk jalan baginya.
jika tidak, tentu sukar baginya untuk keluar lagi.
Sesudah Sing-liong dan Lian-kui menerobos keluar lubang lorong dan berada di dalam gardu, sebelum meja batu itu berputar kembali, ketika melihat catur di atas meja, seketika air muka Bin Sing-liong berubah dan bersuara heran.
"Ada apa SuhengT"
Tanya Lian-kui.
"Seperti ada orang datang kemari,"
Ucap Sing-liong.
Rupanya meski Nyo Yam telah mengatur kembali biji catur yang bergeser, tapi waktu mereka turun ke bawah, karena tidak tahu harus berbuat lagi sesuatu sehingga ada dua-tiga biji catur yang belum kembali lagi ke tempatnya semula.
Segera Lian-kui berkata.
"Suheng, tadi engkau bilang jangan sembarangan curiga, kenapa sekarang Suheng sendiri curiga macam-macam?"
Sing-Hong masih sangsi. katanya.
"Kan ada baiknya berhati hati?!"
Selagi ia hendak berseru memanggil orang, mendadak terdengar suara angin berkesiur, tahu-tahu di dalam gardu sudah bertambah dua orang.
Nyata Nyo Yam dan Se kiat telah menerobos keluar.
Begitu mereka berdiri tegak dan batu penutup itu pun tepat merapat.
"Eh, Bin-suko, engkau memang tidak salah duga. memang sejak tadi kami berada di sini,"
Sapa Nyo Yam dengan tertawa.
Bin Sing-liong menyadari gelagat tidak enak, seketika timbul niat jahatnya.
Ia tahu kelihaian Ce Se kiat, jika Kwantang taihiap Utti Keng yang lihai itu pun tidak mampu mengalahkan anak muda itu, apalagi dirinya, jelas selisih sangat jauh.
meski ia pun tahu Nyo Yam pernah belajar kungfu di Thian-san, tapi usia Nyo Yam baru 17-18 tahun, ia menduga betapa tinggi kungfunya tentu juga terbatas.
Maka ia memutuskan akan memilih lawan yang empuk saja, mendadak ia turun tangan dan mencengkeram hiat-to di dada Nyo Yam.
Tak diketahuinya bahwa meski usia Nyo Yam masih muda belia, namun kungfunya justru terlebih tinggi daripada Ce Sekiat.
Selagi ia bergirang dapat mencengkeram dada Nyo Yam, tiba-tiba dirasakan tenaga sendiri serupa batu kecemplung ke laut, sukar digunakan.
Yang terpegang olehnya terasa seperti segumpal kapas yang lunak, bahkan timbul semacam daya isap yang kuat, seketika tangannya melengket dan sukar ditarik kembali "Hehe, Bin Sing-liong, mau apa?
Apa memijat tubuhku?"
Ejek Nyo Yam. Keruan kejut Sing-liong tak terkatakan, sukmanya seakan akan terbang meninggalkan raganya saking kagetnya, serunya.
"Ampun Sute, mengingat ayahmu sudilah mengampuniku!"
"Betul, engkau ini memang murid paling setia terhadap Suhu,"
Ucap Nyo Yam dengan dingin. Timbul setitik cahaya harapan Sing-liong, dengan cepat serunya.
"Betul, meski pernah kudustai mu, tapi hal itu atas perintah Suhu sendiri dan sebenarnya juga demi kebaikanmu."
"Tidak perlu banyak bicara,"
Jengek Nyo Yam.
"Pembicaraan kalian di kamar rahasia itu sudah kudengar seluruhnya."
Seketika Bin Sing-liong menggigil ketakutan.
"Oh-suheng, silakan pulang dulu dan katakan kepada bibi agar jangan kuatir bagiku,"
Kata Nyo Yam kepada Oh Lian-kui.
Sesudah Lian-kui pergi barulah Nyo Yam melepaskan tangan Bin Sing-liong yang melengket pada tubuhnya itu.
Sing-liong lantas berlutut dan memohon "O, Sute, sudilah engkau mengampuni diriku."
"Bukankah sudah kulepaskanmu, kalau engkau tidak mau pergi kan urusanmu,"
Kata Nyo Yam.
Hampir Sing-liong tidak percaya kepada telinga sendiri, ia pikir masa urusan bisa beres begini saja?
Ia coba berdiri dengan tubuh gemetar dan menyurut mundur selangkah demi selangkah.
Ia kuatir kalau Nyo Yam mendadak menyerangnya dan sengaja mempermainkannya kerupa kucing menangkap tikus.
"Bin Sing-liong,"
Kata Nyo Yam mendadak.
"memang sepantasnya kau pergi pelahan begini, bila terlampau cepat memang tidak menguntungkanmu, tahu?"
Sing-hong melengak, katanya.
"Berjalan cepat juga ada bahayanya, sungguh aku tidak mengerti, dapatkah kuminta penjelasanya?"
"Coba engkau bernapas agak keras, jika Soan-ki hiat tidak terasa sakit berarti tidak berhalangan bagimu,"
Ucap Nyo Yam.
Segera Bin Sing-liong bernapas sesuai perkataan Nyo Yam seketika ia merasa Soan-ki-hiat bagian dada serupa dicocok jarum, sakitnya tidak kepalang setengah badan bagian atas serasa kaku seluruhnya.
Keruan ia terkejut, serunya.
"Hei, Sute, ken ...."
"Hm, siapa mengaku sebagai sutemu?"
Jengek Nyo Yam.
"Bukankah tadi kau tutuk diri-ku dan sekarang kubalas tutuk dirimu dengan cara yang sama. Cuma caraku menutuk berlainan denganmu, aku hanya mengerahkan tenaga dalam untuk mengatasi setiap hiat-to yang kutuju, atau dengan lain perkataan, hiat-to-mu tersumbat oleh tenaga dalamku."
Bin Sing-liong lagi kesakitan setengah mati, mana dia sempat mendengarkan uraian Nyo Yam itu, yang ingin diketahuinya adalah bagaimana akibatuya bila hiat-to tertutuk.
Agaknya Nyo Yam juga tahu isi hatinya, segera ia berkata pula.
"Cuma kaupun tidak perlu terlalu sedih, jiwamu takkan segera amblas. Hanya pada bulan pertama nanti, setiap hari hiat-to yang tertutuk itu akan kambuh rasa sakitnya, dalam bulan kedua setiap hari akan kambuh dua kali dan bulan ketiga setiap hari kambuh tiga kali, makin lama makin sakit. Setelah genap tiga bulan, seluruh otot tulang tubuhmu akan berubah lunak, dan akhirnya mengkeret dan mati. Selama waktu tiga bulan engkau tidak boleh terlampau menggunakan tenaga supaya penyakitmu tidak bekerja terlebih cepat. Makanya kusuruh jalanmu jangan terlampau cepat, maksudku supaya engkau tidak mati lebih cepat. Nah. jelas sekarang?"
Sungguh tidak kepalang rasa takut Bin Sing-liong, kaki pun terasa lemas dan tanpa kuasa terus berlutut dan menyembah. katanya.
"O. Su .... ah, tidak, Nyo-kongcu, Nyo-siau-hiap, ampun, aku memang sudah bermaksud menyergap dirimu, aku pantas mampus. Mohon belas kasihanmu, ampun, selanjutnya aku tidak berani lagi."
"Hm, keji amat caramu terhadap saudara seperguruan, mengapa kau minta orang kasihan padamu!"
Jengek Nyo Yam.
"Pula, aku pun tidak berani mengharapkan engkau akan memperbaiki diri, mengapa harus kuampunimu?"
Bin Sing liong merasa ucapan orang ada tanda boleh tawar menawar, cepat ia berkata.
"Nyo-siauhiap, engkau menghendaki apa, asalkan dapat kulakukan tentu akan kuturuti keinginanmu"
"Boleh juga jawabanmu,"
Kata Nyo Yam.
"Baik, sekarang boleh kita bicara bisnis. Coba katakan di mana tempat tinggal We-hucongkoan?"
Sembari bicara ia terus tepuk pelahan di tubuh Sing-liong, rasa sakitnya seketika berhenti.
Sing liong menghela napas lega, ia pikir kebetulan jika mereka mau masuk jaring sendiri ke sana, maka ia menjawab.
"Rumah terbesar di sebelah timur jalan ini ialah tempat kediaman We-hucongkoan. Mohon Nyo-siau-hiap suka mengobati lukaku."
"Boleh juga, akan kusembuhkan sebagian, sebagian lagi harus tunggu sampai aku kembali lagi ke sini,"
Kata Nyo Yam sembari memencet dagu Bin Sing-liong sehingga mengap mulutnya, lalu dijejalkan sebiji pil ke dalam mulutnya. Sing-liong masih sangsi, tanyanya.
"Apakah pil ini dapat menyembuhkan sebagian racun dalam tubuhku?"
"Ya, pil ini akan mengurangi sebagian penderitaanmu dan memperpanjang jarak waktu kambuhnya,"
Kata Nyo Yam.
"Wah. lantas bagaimana jika ... jika engkau tidak ... tidak kembali,"
Karena kuatir tanpa pikir ia menegas.
"Makanya harus kau doakan aku pulang dengan selamat,"
Ujar Nyo Yam dengan tertawa.
"Berdoa juga tidak ada gunanya, bilamana di rumah Wehucongkoan kita juga penuh pesawat rahasia dan alat perangkap, maka besar kemungkinan engkau takkan dapat kembali lagi ke sini,"
Demikian Se kiat menimbrung dengan tertawa.
"Betul juga, semoga nasib kita tidak seburuk ini,"
Ujar Nyo Yam.
Kedua orang tanya jawab seperti main sandiwara, biarpun orang bodoh juga akan tahu.
apalagi Bin Sing-liong yang licik dan licin.
Cuma dalam keadaan begini ia tidak berani bertindak jahat, katanya.
"Di rumah We-hucongkoan tidak ada jalan di bawah tanah, biasanya beliau suka menerima tamu di ruang depan sebuah gedung di tengah taman, di bawah gedung susun itu memang ada pesawat rahasia, untuk menghindari perangkap di situ dapat kuberitahu kepada kalian, sebab pernah juga kupergi ke sana."
"Meski pernah kau tipu aku satu kali, tapi sekali ini kupercaya penuh padamu,"
Ucap Nyo Yam dengan tertawa.
"Maka bolehlah kau bicara sejelasnya, kalau bisa coba lukiskan sebuah peta."
Sing-liong menurut saja. ia dapatkan sepotong ranting kayu dan dilukisnya sebuah peta di atas tanah. Sesudah orang memberi penjelasan barulah Nyo Yam berucap dengan tertawa.
"Bagus, sekarang ingin kucoba secara untung-untungan, boleh kau tunggu saja di sini."
Cahaya rembulan sudah redup, malam sudah hampir lalu, fajar selekasnya akan tiba.
Namun hati Nyo Yam justru terasa gelap dan tenggelam serupa malam larut.
Meski apa yang terjadi sebenarnya sudah mulai timbul di badapannya, namun apa yang muncul itu bukan cahaya terang baginya melainkan kegelapan belaka.
Hubungan keluarga yang erat tiada yang melebihi anak dan ayah, tapi kalau sang ayah saja menipunya, bahkan hendak mencelakainya, lalu ke mana lagi dia akan mendapatkan cahaya terang?
Untung sekarang dia didampingi seorang Ce Se-kiat.
Se kiat seperti tahu perasaannya, ia genggam erat tangan Nyo Yam, katanya.
"Jangan lupa engkau masih mempunyai Leng-cici, masih ada ayah angkat, juga masih ada nona Liong. Mereka semua sayang padamu dengan sepenuh hati. Memang, di dunia ini terlampau banyak orang busuk, tapi engkau harus percaya, orang baik terlebih banyak daripada orang jahat. Sebentar tidak peduli kejadian menakutkan apa pun yang kau lihat, hendaknya engkau jangan putus asa. Manusia harus tetap hidup, ingatlah kepada sanak kerabat yang, benar-benar kasih sayang kepadamu itu."
Nyo Yam menarik napas panjang, katanya.
"Betul, demi Leng-cici, demi nona Liong dan demi ayah angkat, akan kuhadapi apa pun dengan tabah. Cuma engkau kurang menyebut satu orang. seorang yang telah menuntun aku keluar dari jalan sesat."
"Siapa?"
Tanya Se-kiat.
"Ialah engkau sendiri,"
Kata Nyo Yam-"Engkau adalah Piaukoku, juga sahabatku. Malahan pernah kusakiti hatimu, apakah Piauko tidak marah padaku?"
Dalam hati Se-kiat tertawa getir, jawabnya.
"Engkau tidak berbuat sesuatu yang salah padaku, apa yang sudah lalu jangan kau sebut lagi. Yang penting sekarang, kuharap apa yang telah kau katakan dapat kau laksanakan."
"Aku tidak berani bilang takkan berduka, tapi aku berjanji pasti akan bertahan hidup dengan kukuh,"
Kata Nyo Yam sambil menggenggam erat tangan Se kiat, dirasakannya sinar mata Ce Se-kiat penuh mengandung kekuatan mendorong.
Entah mengapa, tiba tiba teringat olehnya akan Beng Goanciau.
Beng Goan ciau tidak pernah memberi ajaran apa pun kepadanya, tapi sejak dia gagal membunuh Beng Goan-ciau dahulu ia mendapatkan dorongan semangat tak terhingga dari Beng Goan ciau walaupun tidak diucapknnnya secara jelas.
Tiba tiba timbul semacam pikiran yang aneh.
"Sayang Beng Goan ciau bukan ayahnya."
Namun orang yang bukan ayahnya ini bukankah terlebih pantas menjadi ayahnya dari pada ayah kandungnya yang sebenarnya?
Cuma sekarang ia tidak sempat benyak pikir lagi, sebab mereka sudah sampai di depan rumah We hucongkoan.
Sementara itu Nyo Bok memang sudah berada di rumah keluarga We, cuma dia tidak bertemu dengan Wehucongkoan.
Di suatu kamar rahasia ia hanya bertemu dengan Tai-lwecongkoan Ustai, kepala rumah tangga istana.
Kejut dan girang Nyo Bok.
cepat ia memberi hormat.
"Hamba datang terlambat. mohon Congkoan-taijin memaafkan."
Ustai tertawa.
"Bukan kau datang terlambat melainkan terlalu dini kudatang kemari. Kukuatirkan urusanmu, terpaksa berangkat lebih dini dengan risiko akan didamperat Hongsiang. Cuma, kukira Hongsiang takkan tahu kedatanganku ini."
Nyo Bok memperlihatkan sikap sangat berterima kasih, katanya.
"Congkoan-taijin sedemikian menghargai diriku, biarpun hancur lebur pun sukar kubalas budimu."
"Ah, kita kan saudara sendiri, buat apa bicara sungkan,"
Ujar Ustai.
"Kau tahu sebab apa kuingin cepat bertemu denganmu?"
"Mohon Taijin memberi petunjuk,"
Jawab Nyo Bok.
"Yaitu mengenai surat wasiat yang dapat kau temukan bagi Hongsiang itu,"
Tutur Ustai.
"Hongsiang sangat senang, bahkan beliau akan tambah gembira bilamana engkau dapat menyelesaikan suatu urusan lain dengan baik, untuk jasamu itu tentu Hongsiang akan menganugrahimu dengan pangkat sedikitnya wakil komandan Han lim-kun."
Tergelitik hati Nyo Bok oleh janji ini. katanya.
"Silakan Congkoan memberi pesan, biarpun terjun ke lautan api juga takkan kutolak."
"Urusan ini dikatakan sulit juga tidak sulit, dibilang gampang juga tidak gampang,"
Tutur Ustai.
"Maksudku hendak menyuruhmu menangkap satu orang."
Kebat-kebit juga perasaan Nyo Bok, ia pikir jangan-jangan orang yang dimaksud adalah anak Yam. Ia coba tanya.
"Entah siapa yang dimaksudkan Taijin?"
"Kabarnya anakmu datang ke kotaraja bersama seorang anak perempuan, surat wasiat itu juga berasal dari anak perempuan itu?"
"Betul, apakah orang yang hendak ditangkap Taijin ialah anak dara itu?"
Tanya Nyo Bok. Ustai tidak segera menjawab, tapi berkata pula.
"Kau tahu siapa dia?"
"Dia she Liong, di dunia kangouw terkenal sebagai Siau yau-li,"
Jawab Nyo Dok. Ustai tertawa.
"Jika demikian, tampaknya pengetahuanmu terhadapnya tidak lebih banyak daripadaku. Hanya sebagian saja tepat ucapanmu. Dia memang betul Siau-yau-li yang akhir-akhir ini membuat onar dimana-mana. Tapi sesungguhnya tidak she Liong melainkan she Lian, dia adalah keturunan Lian Keng-hiau." (Kisah tentang Lian keng-hiau yang jenius itu dapat dibaca dalam cerita "Tiga Dara Pendekar" -Gan K. L ) "Oo, dia keturunan Lian Keng-hiau?"
Nyo Bok terkejut, baru sekarang ia mengerti duduknya perkara, katanya pula.
"Pantas dia menyimpan surat wasiat kaisar."
"Dahulu Lian Keng hiau bersalah terhadap kaisar Yong-cing dan dihukum mati beserta segenap anggota keluarganya, namun ada seorang putranya berhasil melarikan diri. Namun begitu titah raja pada 70 tahun yang lalu itu tetap berlaku sampai sekarang. Artinya asalkan keturunan Lian Keng-hiau tetap akan dihukum mati oleh kaisar sekarang."
Mendengar sampai di sini, diam diam Nyo Yam merasa ngeri, ia pikir kiranya mereka hendak meneelakai adik Lengcu.
padahal urusan sudah 70 tahun yang lalu dan mereka tetap hendak membabat rumput sampai akar-akarnya, sungguh keji, dan entah ayah akan menuruti permintaannya atau tidak?
Terdengar Nyo Bok berkata pula.
"Kabarnya Ubun-sancu dari Pek-to-san juga ada sengketa dengan Siau-yau-li itu."
Ustai tertawa.
"Berita yang kau terima ternyata juga luas. Betul, memang ada maksudku sekaligus membalaskan sakit hati sahabatku terhadap Siau-yau-li itu. Engkau berjuang bagi Hongsiang sama juga membantuku. tentu aku pun takkan melupakan jasamu kepadaku."
"Ah, mana berani kuharapkan apa-apa dari Taijin."
Ucap Nyo Bok dengan tertawa.
"Asalkan Congkoan-taijin mau mengerjakanku sudah suatu kehormatan bagiku. Apalagi urusan ini demi kepentingan Hongsiang."
"Bagus, jadi kau terima tugas ini?"
Tanya Ustai.
"Urusan ini sudah kulaksanakan, apakah belum dilaporkan oleh We-hu congkoan?"
Jawab Nyo Bok.
"O, kau laksanakan, memangnya apa yang telah kau lakukan?"
Tanya Ustai.
"Dari keterangan anakku sudah kuketahui jejak Siau-yau-li itu,"
Tutur Nyo Bok.
"Jadi sudah kulaporkan kepada Wehucongkoan agar mengirim orang untuk menangkapnya. Kukira pagi nanti Siau-yau-li dapat dibawa ke sini."
Mendadak Ustai menarik muka, jengeknya.
"Hm. Siau-yau-li takkan diantar ke sini, bukan saja dia takkan datang, malahan ketiga orang yang kau kirim itu pun takkan kembali untuk selamanya."
Nyo Bok terperanjat, serunya.
"Hah. apakah mereka ter ... terbunuh seluruhnya oleh Siau-yau-li itu?"
"Aku tidak tahu mereka terbunuh oleh siapa, pendek kata mereka sudah binasa seluruhnya."
"O. jadi Congkoan-taijin sudah mengirim orang ke sana dan telah melihat mayat mereka?"
Tanya Nyo Bok dengan suara gemetar.
"Tampaknya kau sangsikan kebenarannya bukan?"
Jengek Ustai.
"Hm, adalah pantas kalau We-hu congkoan tidak tahu betapa tinggi kepandaian Siau-yau-li itu. tapi dia adalah kawan baik anakmu, masakah kaupun tidak jelas seluk-beluknya?"
Sungguh sukar bagi Nyo Bok untuk menuturkan, padahal siapa namanya saja tidak pernah didengarnya dari Nyo Yam, dari mana dapat diketahui betapa tinggi kepandaian anak dara itu?
"Tampaknya antara anakmu dan dirimu belum ada kesatuan pikiran, agaknya masih banyak urusannya tidak dibicarakan terus terang kepadamu,"
Kata Ustai dengan dingin. Dengan gugup Nyo Bok menjawab.
"Harap Taijin maklum, sejak keeil hamba sudah berpisah dengan anak sehingga tak berani kujamin dia takkan bergaul dengan orang jahat. Cuma setelah urusan ini selesai, sedapatnya tentu akan kunasihati dia ..."
Air muka Ustai mendadak berubah ramah lagi, ucapnya dengan tertawa.
"Engkau tidak perlu memberi penjelasan padaku. Urusan mengenai anakmu mungkin kutahu lebih banyak daripadamu. Dengan sendirinya kutahu juga engkau memang setia mengabdi kepada Hongsiang sehingga sengaja kau dustai anakmu agar bekerja bagi kerajaan."
Dari kuatir Nyo Bok berubah senang, jawabnya cepat.
"Banyak terima kasih jika Taijin maklum akan hal ini."
Tubuh Nyo Yam yang mencuri dengar di luar bergemetar saking gusarnya. Terdengar Ustai lagi beikata.
"Tapi kalian tidak seharusnya menyingkap rumput mengejutkan ular dan sembarangan mengirim orang untuk menangkap Siau-yau-li itu. Memang, begitu menerima laporan We-hucongkoan segera kukirim bala bantuan ke tempat itu, akibatnya ternyata cocok dengan dugaanku, orang yang kukirim ke sana hanya menemukan tiga sosok mayat dan Siau-yau-li itu sudah menghilang entah ke mana."
Nyata Ustai sangat cerdik, sekaligus ia menggunakan cara halus dan keras sehingga Nyo Bok dibuat sebentar takut dan sebentar senang.
Sekarang hatinya kembali kebat-kebit.
Terdengar Ustai mendengus dan menyambung.
"Nyo-heng, jasamu sekali ini sebenarnya tidak kecil, cuma sayang buronan kerajaan berhasil lolos, bilamana Siau-yau-li itu tidak tertangkap, jasamu mungkin akan berubah sia-sia belaka. Mendingan tidak jadi berjasa, bilamana Hongsiang mengusut perkara ini. ai, sukar bagiku untuk menguraikan bagaimana akibatnya nanti."
Seketika Nyo Bok seperti kejeblos kedalam liang es, dengan suara gemetar ia berkata.
"Mungkin... mungkin hamba masih ada jalan lain."
"Jalan lain apa?"
Tanya Ustai.
"Sudah disepakati aku dan anakku akan pulang kampung halaman, biarlah jalan ini kutempuh dan begitu ada kesempatan dapat kutawan Siau-yau li itu dengan menggunakan Soh-kut-san."
"Apakah putramu setuju tindakanmu ini?"
Jengek Ustai. Dengan nekat Nyo Bok menjawab.
"Kalau perlu akan kukerjai juga binatang kecil itu supaya tidak sadar. Hanya mohon Taijin suka memberi kelonggaran hukuman padanya, nanti akan kubawa pulang untuk mendidiknya lebih lanjut"
"Baik mengingat jasamu, tentu saja dapat kuberi kelonggaran kepada anakmu."
Kata Ustai.
"Cuma, cara bagaimana hukuman baginya belum dapat kukatakan. Menurut pendapatku, caramu ini mungkin juga sukar terlaksana."
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula.
"Kesalahanmu terletak pada tindakanmu yang telah mengejutkan Siau-yau-li itu, dia bukan orang bodoh, tentu saja terpikir olehnya anakmu yang memberitahukan tempat pondokannya kepadamu sehingga orang datang menangkapnya. Jika dia bertemu dengan anakmu dan menyingkap apa yang terjadi, kukira anakmu juga takkan percaya lagi kepadamu."
Nyo Bok juga menyadari urusan kurang sempurna, tapi sekadar mengulur waktu, terpaksa ia berkata.
"Biarlah hamba pikirkan lagi, mungkin dapat kukarang cerita yang dapat dipercaya mereka."
"Hm, jangan kau kira usia mereka masih muda dan dapat kau tipu, aku tidak suka bertindak jika tidak nyata akan berhasil,"
Ujar Ustai. Dipandang orang dengan tajam, Nyo Bok rada gugup, katanya.
"Jika begitu, mohon Taijin memberi petunjuk, apa yang harus kulakukan tentu akan kulaksanakan."
"Baik,"
Terdengar Ustai berkata, menyusul Nyo Bok lantas menjerit "Aduh!"
Keruan hal ini sangat diluar dugaan Nyo Yam dan Co Se-kiat yang mencuri dengar di luar.
Terlebih Nyo Yam, disangkanya sang ayah telah dikerjai Ustai secara keji.
Meski dia malu untuk mengaku ayah lagi padanya, tapi hubungan ayah dan anak adalah naluri manusia, dalam sekejap itu hampir saja ia menerjang ke dalam tanpa pikir.
Syukurlah Se-kiat sempat mencegahnya sambil berbisik.
"Jangan emosi, dia takkan membunuh ayahmu, tentu ada tipu musnhat tertentu."
Dugaan Se-kiat memang tepat. Belum selesai ucapannya sudah terdengar Nyo Bok sedang berseru.
"Ampun Congkoan taijin, selama ini aku selalu setia kepadamu, umpama anak-ku bersalah. dapat juga kuserahkan dia kepadamu."
Ustai terbahak.
"Hahaha, kutahu kesetiaanmu, tidak ada maksudku hendak membikin susah padamu."
"Habis mengapa Congkoan-taijin menutuk hiat-toku?"
Tanya Nyo Bok dengan ragu.
Kiranya Ustai hanya menutuk hiat-to kelumpuhannya saja dan tidak membahayakan jiwanya, suaranya tetap biasa saja.
Cuma hiat-to mendadak tertutuk, dengan sendirinya Nyo Bok kaget.
"Maaf, Nyo-heng, terpaksa bikin susah padamu sedikit,"
Ucap Ustai kemudian.
"Tiada maksud lain kututuk hiat-tomu, hanya untuk mengurangi sedikit penderitaanmu saja."
Nyo Bok merasa bingung, pikirnya.
"Aku menderita apa, masa perlu ditutuk segala?"
Walaupun sangsi, ia tidak berani sembarangan tanya. Dilihatnya Ustai menanggalkan sebatang ruyung lemas yang tergantung di dinding, katanya.
"Maafkan saja, sandiwara harus dimainkan seperti sungguhan. Hendaknya Nyo-heng tahan sedikit, mungkin akan kuhajarmu hingga babak-belur. Cuma hiat-tomu sudah tertutuk, tentu takkan terasa terlampau sakit."
Ruyung itu berbentuk sisik ikan.
kalau dihajar oleh ruyung seperti ini pasti terluka parah dan sukar disembuhkan, meski diberi obat luka dan takkan sampai cacat, namun lukanya takkan sembuh dalam waktu singkat.
Apalagi Ustai sudah menyatakan akan menghajarnya hingga babak-belur, Dengan suara gemetar Nyo Bok memohon.
"Ampun Congkoan-taijin, sesungguhnya apa kesalahan hamba sehingga harus dihajar seberat ini?"
"Eh, biasanya engkau cerdik, kenapa jadi linglung sekarang?"
Ucap Ustai.
"Kan gudah kukatakan. kuhajarmu bukan lantaran engkau berbuat salah melainkan cuma sandiwara belaka. Masa belum paham?"
Nyo Bok sudah dapat menduga beberapa bagian, dengan gugup ia tanya pula.
"Maafkan kebodohan hamba, mohon Taijin suka memberi penjelasan."
"Baiklah, jika benar engkau tidak paham, boleh kukatakan padamu,"
Tutur Ustai dengan pelahan.
"Maksudku akan kugunakan dirimu menukar Siau-yau-li itu."
"Wah. ini ... ini ..."
Nyo Bok kelabakan setengah mati.
"Masa kau takut?"
Tanya Ustai.
"Kau takut kuhajarmu hingga cacat atau kuatir anakmu tidak mau memikirkan hubungan ayah dan anak, lalu tidak pedulikan dirimu lagi?"
"Demi Hongsiang, biarpun jiwa hamba harus melayang juga rela,"
Ujar Nyo Bok.
"Cuma, anak hamba sudah terpikat oleh Siau-yau-li itu hingga lupa daratan, mungkin dia tidak .... tidak mau mengadakan tukar menukar."
"Hm, sedikitnya cara ini kan lebih baik daripada gagasanmu tadi,"
Ucap Ustai.
"Apa pun juga dia adalah putra kandungmu. Sebab itulah aku juga harus berbuat seperti sungguhan, biar dia melihat lukamu yang babak-belur ini. Asalkan dia masih mempunyai perasaan seorang anak terhadap orang tua, kuyakin dia takkan melihat engkau tersiksa tanpa peduli. Apalagi di dunia ini masih banyak anak perempuan cantik, masa tukar menukar cara demikian takkan diterimanya? Pula engkau sudah rela berkorban bagi Hongsiang, umpama gagal caraku ini juga tidak menjadi soal."
Karena hiat-to tertutuk, Nyo Bok tak bisa berkutik, ketika ruyung orang mulai menyabet, cepat ia berteriak.
"Nanti dulu Taijin, akan kupikirkan lagi upaya yang lebih bagus."
Ustai tertawa.
"Kukira tidak perlu pikir lagi, sudah kusuruh We-hu congkoan pergi mencari anakmu. Kukuatir bila cari jalan lain, nanti Siau-yau-li itu keburu kabur. Maka jangan Nyo-heng takut, cara hajarku tentu pakai takaran, takkan membuat cacat padamu."
"Brak", segera ruyungnya yang bersisik itu menghajar sekali di punggung Nyo Bok. Meski hiat-to tertutuk, tidak urung punggung Nyo Bok terasa sakit pedal, bahkan rasa takutnya melebihi rasa sakit fisiknya, seketika ia melolong. Nyo Yam tidak tega mendengarkan lagi, segera ia melangkah balik. Semula ada maksudnya hendak menerjang ke dalam untuk menghentikan keganasan Ustai, tapi segera terpikir olehnya pesawat rahasia di situ tak mungkin dapat dibobolnya, sedangkan ayahnya sudah rela menjadi budak kerajaan musuh, jika dia menderita juga boleh dikatakan ganjaran yang setimpal. Kini hanya ada suatu pikirannya, yaitu selekasnya pulang untuk mencari Liong Leng-cu, tentang ayah kandungnya itu akan dianggapnya sebagai sudah mati. Sayang ia tidak tahu bahwa pada saat itu Liong Leng-cu sudah berada di rumah ayahnya. Tempat tinggal Nyo Bok dan rumah Ustai terletak di suatu jalan yang sama, hanya terpisah beberapa rumah saja, Maka ketika mereka keluar dari gang itu, Se-kiat lantas berkata.
"Adik Yam, apakah kau mau pulang dulu?"
"Pulang?"
Nyo Yam menegas.
"Pulang ke mana"
"Ke rumah Kuku,"
Kata Se-kiat.
Ia tidak bilang ayah Nyo Yam melainkan mengatakan Kuku atau paman, hal ini disebabkan ia dapat memahami perasaan Nyo Yam saat itu agar tidak menyinggungnya.
Kening Nyo Yam bekerenyit, katanya.
"Urusan sudah selesai, untuk apa kupulang ke sana? Tempat yang kau maksudkan ini adalah tempat yang paling memuakkan bagiku, selamanya aku takkan pulang lagi ke sana."
"Kukira urusan belum lagi selesai,"
Ujar Se-kiat.
"Meski kau muak terhadap tempat itu, tapi di sana mungkin ada seorang yang ingin kau temui."
Karena pikiran lagi kacau, seketika Nyo Yam tidak dapat menangkap arti ucapan Se-kiat, disangkanya yang dimaksudkan ialah Bin Sing liong.
"Hiat-to Bin Sing-liong tidak perlu kubuka sendiri, apa yang kukatakan itu hanya untuk menggertaknya saja,"
Katanya kemudian.
"Pil yang kucekoki dia juga cuma daki yang kupelintir dari tubuhku untuk menipunya, tidak nanti dia mati"
Se-kiat tertawa.
"Haha, bagus sekali caramu menakuti dia. sebelum mendapatkan obat penawar darimu, selama tiga bulan ini dia pasti tak bisa tidur nyenyak dan makan enak. Cuma ...."
"Cuma apa?"
Tanya Nyo Yam.
"Cuma yang kumaksudkan bukan dia,"
Kata Se-kiat.
Selagi Nyo Yam hendak tanya siapa yang , dimaksudkannya.
tiba-tiba dilihatnya langkah Se-kiat dipercepat dan sekaligus berlari ke depan rumah ayahnya serta menggapai padanya sembari memberi tanda lagi agar jangan bersuara, lalu mendahului masuk ke sana dengan melintasi pagar tembok.
---ooo0dw0ooo---
Jilid ke 5 Kiranya sayup-sayup Se-kiat mendengar di dalam rumah itu ada suara teriakan dan bentakan, jelas itu suara pertempuran.
Dalam keadaan pikiran kacau, sudah berada di depan rumah pun Nyo Yam belum lagi mendengar.
Rupanya karena gertakan Nyo Yam itu.
Sing-liong benarbenar ketakutan dan tidak berani sembarangan bergerak, terpaksa ia duduk bersila menunggu di gardu itu.
Dalam keadaan begitulah tiba-tiba ia dengar seorang bersuara heran.
"He. Bin Sing-liong. apa yang sedang kau lakukan? Berlatih Iwekang kan bukan di sini tempatnya?"
Waktu Sing-liong berpaling, terkejut dan bergirang. Kiranya pendatang ini adalah We-Tiang jing, Hucongkoan atau wakil komandan pasukan pengawal istana. Cepat Sing-liong memberi hormat sambil menyapa.
"Maaf, tidak kusambut kedatangan We-taijin. Guruku sudah berkunjung ke tempat Taijin."
"Kedatanganku bukan untuk mencari gurumu melainkan ingin kucari anaknya,"
Kata We-Tiang jing. Karuan Sing-liong terkejut.
"Hei, apakah ... apakah We Taijin hendak menangkap Nyo Yam?"
Ia membatin apakah bocah itu telah membuat onar di rumahnya dan tidak tertangkap di sana, maka sekarang We Tiang-jing menyusulnya ke sini.
"Betul,"
Demikian terdengar We Tiang-jing menjawab.
"Aneh juga, dari mana kau-tahu aku ingin menangkap dia?"
Sing-liong merasa lega, dari ucapan orang dapat diduga Nyo Yam belum lagi kepergok, cepat ia menjawab pula.
"Ai, lantaran sejak kecil kurang terdidik sehingga kelakuan suteku itu tidak benar, semoga dia tidak sampai berbuat sesuatu yang melampaui batas."
"Engkau salah dengar, tapi tidak salah duga, aku memang hendak membekuknya,"
Kata We Tiang-jing dengan tertawa.
"Hehe, jangan gugup, meski tindak-tanduk Sutemu itu tidak benar, tapi bukan hendak kubekuk dia untuk dihukum melainkan Congkoan-taijin ingin mencari dia untuk memainkan sesuatu peranan."
Sebentar bilang hendak membekuknya, sebentar lagi mengatakan mencarinya, Bin Sing-liong menjadi bingung dibuatnya. Ia terdiam sejenak, lalu berkata.
"Sungguh hamba tidak mengerti, memainkan peranan urusan apa maksudnya?"
We Tiang-jing tahu Bin Sing liong bisa dipercaya, maka terus terang ia beriiahukan tipu muslihat yang telah diatur Ostai itu, lalu ditambahkannya.
"Ini berarti pura-pura menjudi sungguhan, paham tidak? Dengan sendirinya skenario sandiwara ini tidak boleh diketahui Nyo Yam, juga dia tidak harus dibekuk benar-benar. Nah, urusan ini sudah kujelaskan padamu, hendaknya segera kau pergi mencarinya. Bisa jadi aku akan bergebrak dengan dia setengah pura-pura dan setengah sungguhan, habis itu segera kau datang untuk melawak denganku."
Sampai di sini mau-tak-mau Bin-Sing-liong harus bicara terus terang, katanya.
"Tai jin, sayang kedatanganmu agak terlambat, sebab Nyo Yam itu sudah ...."
"Kenapa dengan dia?"
Tanya We Tiang-jing cepat.
"Dia ... dia sudah kabur,"
Tutur Sing-liong. Keruan We Tiang jing terkejut.
"Hah, kenapa sampai dia kabur? Kan tidak nanti dia menaruh curiga bahwa ayahnya hendak bertindak sesuatu padanya?"
"Hamba tidak tahu sebab apakah dia kabur,"
Jawab Singliong.
"Cuma hamba sudah berusaha merintanginya sekuatnya, tapi .... tapi hamba sendiri kena ditutuknya."
Dengan sendirinya ia tidak berani mengaku terus terang melainkan mengarang cerita yang membesarkan jasa sendiri.
"O. kiranya begitu, pantas kau duduk saja di sini sejak tadi tanpa bergerak,"
Kata We Tiang jing.
"Hiat-to bagian mana yang ditutuknya?"
"Kungfu hamba terlampau rendah sehingga tidak tahu jelas hiat-to mana yang ditutuknya."
Jawab Sin-liong.
"Hamba cuma tahu bagian yang tertutuk itu dalam tiga bulan akan kambuh penyakitnya, dan bila kambuh jiwa hamba selalu terancam."
"Oo. masa begitu lihai? Coba kulihat!"
Kata We Tiang-jing, lalu ia memeriksn nadi Bin Sin.-liong dan memeriksa penyakitnya dengan teliti.
Habis memeriksa, tersembul senyum pada wajahnya.
Dengan sendirinya hati Bin Sing-liong kebat kebit, cepat ia tanya.
"We-taijin, apakah jiwa hamba ... ."
Pelahan We Tiang jing menepuk pundak orang, katanya.
"Jangan gelisah, coba kau tarik napas panjang."
Sing-liong menurut dan tarik napas, dirasakan Gi-hai-hiat bagian perut rada perih serupa ditusuk jarum, bahkan dalam sekejap, saja setengah badan atas terasa kaku.
Sungguh kejut Sing-liong tak terperikan, serunya.
"Hah, setelah bangsat cilik itu menutukku, ia juga menyuruhku menarik napas dan rasanya serupa sekarang ini. Hanya bagian hiat-to tidak sama."
Diam diam We Tiang jing merasa geli karena Bin Sing-liong tidak menyadari telah tertipu oleh Nyo Yam.
Kiranya ilmu silat We Tiang-jing cukup tinggi, malahan boleh dikatakan masih di atas Ostai.
Cuma dia bangsa Han, maka dia diperbantukan kepada Ostai.
Rupanya We liang-jing juga dapat menguji Bin Sing Liong memang pernah ditutuk orang dengan lwekang yang lihai, cuma hiat-to itu sudah lancar kembali, cara menutuk hiat-to Nyo Yam memang berbeda dengan cara We Tiang-jing sendiri, namun pada dasarnya tidak mungkin mengakibatkan kematian dalam waktu tiga bulan.
Mestinya ia hendak bicara terus terang kepada Bin Sinliong, tapi setelah dipikir lagi, rasanya lebih baik jika hal ini tidak dikatakan, maka ia berlagak ragu sejenak dengan prihatin.
Tentu saja Bin Sing-liong merasa kebat-kebit, ia coba tanya lagi.
"Bagaimana, We-taijin, mohon memberi penjelasan terus terang."
Karena didesak barulah We Tiang-jing menjawab.
"Ai, cara menutuk hiat-to bangsat cilik itu memang sangat lihai, dalam waktu tiga bulan jiwamu memang terancam bahaya, cuma ...."
"Cuma apa?"
Cepat Sing-liong tenya lagi.
"Jangan gelisah,"
Ujar We Tiang-jing.
"betapapun aku masih sanggup menyembuhkan penyakitmu. Cuma tenagaku harus terkuras cukup banyak. Jangan kuatir, dalam beberapa hari ini penyakit itu takkan bekerja. Nanti kalau pekerjaan kita sudah beres baru akan kuiembuhkan dirimu."
Bin Sing liong kegirangan, cepat ia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. Diam-diam We Tiang jing merasa geli, pikirnya.
"Jika bocah she Nyo itu dapat menipu dia, kenapa aku tidak boleh membohonginya. Hehe, aku dianggapnya sebagai tuan penolongnya, masa dia berani membangkang setiap perintahku?"
Maka ia sengaja bergelak tertawa, katanya.
"Ah. orang sendiri, jangan sungkan. Kubantu kesulitanmu, tentu jupa berharap kau bantu kesukaranku."
"Silakan We-taijin bicara saja,"
Cepat Sing liong berseru.
"Begini,"
Desis We-Tiang jing dengan suara tertahan.
"Sekarang juga ada kesempatanmu untuk berjasa". Sing-liong bergirang dan juga berduka, tak diketahuinya urusan apa yang We Tiang jing hendak menyuruhnya berbuat. Ia pikir berjasa memang baik, kalau harus menjual nyawa, inilah yang tidak klop. Dalam keadaan serba susah, terpaksa ia berlagak menurut dan berucap.
"Silakan We-taijin memberi petunjuk seperlunya."
"Meski bocah Nyo Yam itu sudah kabur, tapi Siau-yau-li itu ...."
Bicara sampai di sini We Tiang-jing sengaja berhenti dan memperlihatkan rasa sangsi.
Selagi Bin Sing-liong hendak bertanya, mendadak We Tiang jing memberi tanda agar jangan bersuara, lalu ia menuding meja batu di dalam gardu tadi dan memberi isyarat pula agar dia membuka pesawat rahasianya untuk memancing musuh masuk perangkap.
Bin Sing-liong dapat menangkap maksud isyaratnya tapi tidak mendengar sesuatu suara tentang kedatangan musuh.
Ia tidak mengerti mengapa We Tiang-jing tampak tegang dan menyuruhnya berbuat demikian, ia pikir apakah mungkin orang memperhitungkan Nyo Yam akan kembali lagi ke sini?
Belum selesai berpikir, dilihatnya We Tiang-jing telah bersembunyi ke balik gardu.
Dan baru saja We Tiang-jing bersembunyi di depan Bin Sing liong lantas muncul satu orang.
Seorang gadis muda belia, usianya paling-paling baru 17-18 tahun.
Kiranya Liong Leng cu adanya.
Setelah menerjang ke dalam rumah Nyo liok, Leng-cu mengira pasti akan mengalami pertempuran sengit, siapa tahu keadaan justru sunyi senyap.
Sepanjang jalan tiada rintangan apa pun.
Dilihatnya centing keluarga Nyo sama tertutuk kaku.
Ia tidak tahu semua ini perbuatan Ce Se-kiat, disangkanya perbuatan Nyo Yam sehingga menimbulkan rasa ragu dan sangsinya.
Sampai di gardu pemandangan inilah baru ditemukannya seorang yang dapat bergerak, yaitu Bin Sing liong.
Meski Sing-liong tidak pernah melihat Leng-cu dan Leng-cu juga tidak pernah melihat Sing-liong, tapi begitu bertemu keduanya lantas tahu tiapa pihak lain.
Segera Leng-cu membentak.
"Kutahu kamu ini Bin Sinliong, murid pertama Nyo Bok, aku juga tahu kamu ini orang maha busuk, tapi aku tidak takut kau main gila di hadapanku. Ingin kutanya padamu, harus kau jawab sejujurnya."
Karena Bin Sing liong bermuka burik, sebelumnya Leng cu sudah diberitahu oleh Nyo Yam, maka sekali lihat saja lantas dikenalinya.
Dengan sendirinya Bin Sing liong juga lantas menduga si nona pastilah "Siau-yau-li"
Itu. Cuma melihat usia Liong Leng cu masih semuda ini mau tak mau ia rada meremehkannya. Maka ia lantas balas mendengus.
"Hm, cuma seorang Siauyau li macam kau juga berani ...auhh ...."
Belum habis ucapannya segera ia melancarkan puaulan, tapi sebelum tangan menyentuh tubuh Liong Leng-cu tahutahu tangan sudah terpegang dulu oleh si nona, hanya menggunakan sebagian tenaga saja Leng-cu meremas tangan Bin Sing-liong dan membuatnya menjerit kesakitan.
"Hm, melulu sedikit kepandaianmu ini juga berani melawanku?"
Jengek Leng-cu.
"Kau minta mampus atau ingin hidup?"
Sing-liong kesakitan atau meratap.
"Oo, ampun nona, aku tidak berani lagi."
"Baik, sekarang hendaknya mengaku terus terang, kalau tidak, jangan menyesal jika aku tidak kenal ampun lagi,"
Kata Leng-cu sambil melepaskan pegangannya. Setelah jiwa selamat, cepat Sing-liong menjawab.
"Nona ingin tanya apa, silakan bicara saja, apa yang kutahu pasti akan kukatakan."
"Hm, masakah kau berani dusta,"
Jengek Leng-cu.
"Ayo lekas katakan, Nyo Yam berada di mana sekarang? Hm, dia mengampuni jiwamu, tentu karena dia ingin kau insaf kembali."
Leng-cu pernah saling belajar lwekang dengan Nyo Yam, maka kepandaian Nyo Yam cukup dikenalnya, meski Bin Sing liong hanya ditutuk satu kali oleh Nyo Yam, tapi akibat tutukan itu dapat diketahui oleh Leng cu.
Ucapan Leng-cu hanya karena dia ingin tahu di mana beradanya Nyo Yam, tapi justru menimbulkan sangsi Bin Sing liong terhadap janji wo Tiang-jing yang menyatakan akan menyembuhkan penyakitnya.
Cuma We Tiang-jing masih sembunyi di situ, betapapun ia tidak berani mengaku terus terang bsgitu saja kepada Liong Leng-cu.
Karena keraguannya, Leng-cu tidak sabar menunggu lagi, bentaknya.
"Bin Sing-liong, kau mau mengaku atau tidak?"
Sing-liong pikir "jika tidak menurut perintah We Tiang jing, setelah Siau-yau-li ini pergi tentu aku akan dibunuhnya.
Tapi kalau ku bantu dia menangkap Siau-yau-li ini, mana mungkin Nyo Yam akan memberi obat penawar padaku?
Ah ...
ada akalku."
Dalam keadaan kepepet timbul akalnya, segera in memberi isyarat kedipan mata kepada Liong Leng-ou dan berkata.
"Tentang Nyo-sute, dia ... dia ...."
Dengan sendirinya Leng-cu merasa heran apa maksud orang memberi isyarat.
"Dia kenapa?"
Bentaknya pula.
"Setelah dia menutuk hiat toku segera ia turun ke bawah,"
Sambung Sing liong.
"Turun ke bawah, apa maksudmu?"
Desak Leng-cu.
"Maksudku, dia turun ke bawah gardu ini,"
Sembari bieara Sing-liong lantas menekan tombol pesawat rahasia sehingga meja balu itu pelahan bergeser dan terlihatlah lubang manuk ke bawah tanah.
"Apa itu di bawah? ...."
"Lorong bawah tanah,"
Tutur Sing-liong.
"Di situ ada sebuah kamar rahasia guruku. Nyo-sute sudah mencurigai ayahnya sendiri, maka aku ditutuknya dan dipaksa mengaku tempat rahasia ini, katanya Nyo-sute ingin tanya langsung kepada ayahnya."
Diam-diam Leng cu terkejut, pikirnya.
"Rupanya Nyo-toako masih ingin memberi nasihat kepada ayahnya untuk terakhir kalinya. Ai, kan mimpi belaka. Semoga Nyo Bok masih mempunyai perasaan dan tidak membikin celaka kepada anak sendiri."
"Di bawah lubang ini ada perangkap apa?"
Tanyanya kemudian.
"Tidak ... tidak ada, benar tidak ada,"
Jawab Sing-liong.
Padahal tujuan We Tiang jing justiu ingin memancing Liong Leng-cu ke dalam lorong untuk menjebaknya.
Paling sedikit dapat mengurungnya beberapa hari di situ dan membuatnya kelaparan, dengan begitu baru kemudian akan dibekuknya.
Cuma cara bicara Bin Sing liong yang berlebihan itu justru menimbulkan curiga Leng-cu.
"Benar perkataanmu?"
Si nona menegasi. Sing-liong kuatir si nona tidak tahu maksudnya, ia coba berkata pula.
"Mana kuberani dusta, silakan turun saja dan segera dapat menemukan Nyo Yam."
Sembari bicara jarinya menggores huruf "lari"
Di udara, ia pikir gerak tangannya itu pasti takkan dilihat jelas oleh We Tiang-jing, namun ia pun tidak tahu apakah Liong Leng-cu paham maksudnya atau tidak.
Dilihatnya Leng-cu tidak pergi, sebaliknya malah mendekati lubang itu, tampaknya masih ragu.
Tentu laju hati Bin Sing-liong tambah kebat-kebit dan serba salah, serunya pula.
"Percayalah padaku, tidak nanti kudustaimu."
Ia menandaskan kata "percayalah padaku"
Dengan harapan Leng-cu paham maksudnya.
Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar deru angin, sesosok bayangan serupa burung terbang melayang tiba, belum sampai orangnya segera melancarkan pukulan lebih dulu, tenaga pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Liong Leng-cu.
Orang yang menyergap secara mendadak ini tak-lain-takbukan ialah We Tiang-jing.
Ia lihat Leng-cu hanya melongok lubang bawah tanah itu, seperti mau melompat ke bawah, tapi urung.
Ia kuatir kehilangan kesempatan baik, maka segera melompat keluar dan menyergap si nona.
Tak tahunya Leng-cu sudah siap sedia, dia memang sengaja memancing keluarnya musuh.
Meski tidak tahu ada lawan tangguh bersembunyi di sekitar situ, tapi dari gerak tangan dan cara bicara Bin Sing-liong itu depat diduganya pasti ada sesuatu yang tidak beres, sebab itulah ia sengaja berlagak sangsi dan berdiri di depan lubang gua itu untuk menunggu perkembangan selanjutnya.
Meski mendadak sergapan We Tiang-jing itu, namun juga sudah dalam dugaannya.
Begitu terasa angin menyambar tiba, cepat ia ayun tangannya ke belakang, tiga buah Tau-kui-ting (paku penembus tulang) yang sudah disiapkannya terus disambitkan.
"Tring-ting", dua paku itu tersampuk jatuh oleh angin pukulan, paku ketiga agak mencong dan mengenai bahu We Tiang-jing. Meski We Tiang-jing menguasai kungfu Tiat-poh-gam. semacam lwekang kelas tinggi yang kebal senjata, tidak urung terasa sakit juga, namun paku itu tetap tergetar mencelat oleh tenaga dalamnya. Walaupun terkejut, namun lega juga perasaan We Tiangjing, ia pikir Siau~yau-li yang terkenal lihai ini ternyata juga cuma begini saja. Dalam pada itu Liong Leng-cu juga sudah berputar, tahutahu ia sudah mengeluarkan senjatanya berwujud ruyung lemas, bentaknya.
""Kalian mengapakan Nyo Yam? Kalau tidak serahkan dia dengan baik, jiwamu akan kucabut sebagai gantinya!"
"Haha, ikut saja padaku, aku berbalik tidak menghendaki nyawamu,"
Jawab We Tiang-jing dengan tergelak, berbareng ia melompat maju. dengan jurus "Eng-kik-ting kong"
Atau elang menyambar dari udara, krdua tangannya segera mencengkeram sekaligus.
"Cret", ruyung lemas Liong Leng-cu terjepit oleh jarinya dan putus sebagian, sebaliknya betisnya juga tersabet oleh ruyung, meski tidak terluka, kesakitan juga.
"Kurang ajar! Lihat senjataku!"
Bentak We Tiang-jing dengan gusar, segera ia pun mengeluarkan senjatanya sepasang Poan-koan pit, ditempurnya Liong Leng-cu dengan sengit.
Bin Sing-liong tidak menyangka akan menimbulkan akibat demikian, ia menjadi gugup, serunya.
"We-taijin, tahan dulu sementara, akan kupanggilkan bala bantuan!"
Ia menggunakan alasan untuk menyingkir. Cuma sayang sudah terlambat. Ketika itu We Tiang-jing sedang menubruk maju dan tepat melayang di depan Bin Sing-liong, mendidik ia membentak.
"Bin Sing-liong, jangan main gila di hadapanku!"
Berbareng We Tiang-jing terus mendepak sehingga Bin Sing-liong terpental.
Rupanya meski We Tiang-jing tidak tahu isyarat apa yang diberikan oleh Bin Sing-liong kepada Liong Leng-cu, tapi jalan pikiran Sing-liong sudah dapat diterkanya.
Leng-cu tidak suka kepada Sing liong, tapi sekarang ia tidak tega menyaksikan orang mati lantaran dirinya.
Pada saat hampir sama ketika We Tiang-jing mendepak tadi, ruyungnya juga lantas menyabet.
Ginkang Leng-cu terlebih hebat daripada We Tiang-jing, mestinya dia sempat kabur kalau mau, tapi karena serangannya ini, ia sendiri lantas terhalang malah, ruyung yang bermaksud melilit kaki lawan berbalik membelit Poankoan-pit.
"Kembali!"
Bentak We Tiang jing sambil membetot.
Tenaga Leng-cu memang kalah kuat, ia terseret dua langkah lebih dekat dan "plok", ruyung lemas yang terbuat dari benang perak itu putus bagian tengah.
Tapi karena tindakennya itulah jiwa Bin Sing-liong tertolong.
Depakan We Tiang-jing menjadi berkurang kerasnya, Bin Singlioug terpental serupa bola dan tepat jatuh ke dalam lubang.
Meski terbanting hingga kepala pusing tujuh keliling, isi perut pun terasa berjungkir balik, namun jiwa selamat.
Terdengarlah suara gemuruh, meja batu berputar kembali ke tempat semula sehingga lubang rahasia itu tertutup rapat.
We Tiang-jing tidak lagi menghiraukan mati hidup Bin Singliong, ia tarik kembali Poan-koan-pit dan digabung pada tangan kanan, dengan tangan kiri ia lancarkan pukulan pula untuk mengurung Liong Leng-cu.
Kungfu We Tiang-jing memang tinggi, ditambah lagi berpengalaman luas, hanya bergebrak beberapa jurus saja sudah diketahuinya kekuatan lawan.
Segera ia ganti cara bertempur, di tengah serangan Poan-koan-pit disertai pula pukulan dahsyat.
Seketika Leng-cu terkurung dengan rapat di bawah bayangan Poan koan-pit dan angin pukulan.
Terpaksa Leng-cu lolos pedangnya, tapi karena kehilangan ruyung, daya tempurnya jauh berkurang sehingga agak kewalahan menghadapi lawan.
Di tengah pertarungan sengit, mendadak Leng-cu melancarkan serangan berbahaya, ia menubruk maju dengan nekat.
Diam-diam We Tiang jing bergirang, pikirnya.
"Jika engkau tidak nekat begini mungkin dapat bertahan lebih lama, d"ngan cara begini engkau akan mati lebih cepat."
Tak terduga tindakan Liong Leng-cu itu justru memang disengaja, menyerang untuk mundur.
Ketika We Tiang-jing menyambut tubrukan Leng-cu itu dengan suatu cengkeraman maut, tahu-tahu nona itu melompat mundur malah lebih setombak jauhnya.
Gerak perubahan si nona yang cepat dan gesit itu sungguh di luar dugaan We Tiang jing.
Cuma sayang juga jurus Liong Leng-cu ini juga agak terlambat.
Bilamana siasat ini dikeluarkan sejak tadi tentu dia masih cukup tenaga untuk kabur.
Sekarang keadaannya sudah agak lemah, ginkangnya tidak dapat melebihi We Tiang-jing lagi.
"Ingin lari ke mana, Siau yau-li?"
Bentak We Tiang-jing sambil mengejar.
Baru melintasi sebuah gunung-gunungan, beberapa kali lompatan lagi ia sudah menyusul sampai di belakang Leng-cu.
Campaknya si nona segera akan kena di-cengkcramnya dari belakang.
Syukurlah pada detik itu juga tiba tiba seseorang membentak.
"Mau lari ke mana, Siau-yau-li!"
Mendengar suara ini, seketika Leng-cu rnelenggong malah.
Hal ini sama sekali di luar dugaannya.
Sebab orang yang membentaknya bukan lain daripada Nyo Yam.
Dengan sendirinya Leng-cu tidak percaya Nyo Yam, hendak memusuhinya, tapi bentakan "Siau yau-li""
Itu benar-benar keluar dari mulut Nyo Yam, sebab itulah ia melengong.
Kejadian terlebih cepat daripada diceritakan, pada saat itu dia sudah terpegang oleh We Tiang jing.
Tiba-tiba Nyo Yam melayang tiba secepat terbang sambil berteriak.
"Hei, siapa kau, lekas serahkan Siau yau-li ini kepadaku?"
"Kenapa harus kuserahkan padamu?"
Tanya We Tiang-jing. Dengan marah Nyo Yam menjawab.
"Akan kugunakan dia untuk menyelamatkan jiwa ayahku! Kau tangkap dia di rumah ayahku, tentu kau pun sahabat ayah. Ayolah lekas kau serahkan dia kepadaku!"
We Tiang-jing menghela napas lega, pikirnya.
"Kiranya bocah ini telah tertipu oleh Congkoan-tiaijin. Tentu dia baru pulang dari rumahku dan sudah menyaksikan ayahnya sedang dirangket di sana."
Tipu daya Ostai yang sengaja menyiksa Nyo Bok untuk mengancam Nyo Yam menyerahkan "Siau-yau-li"
Memang adalah hasil rundingannya dengan We Tiang-jing. Maka tertawalah We Tiang-jing.
"Haha, Hiantit tidak perlu susah payah lagi, aku inilah We Tiang jing, wakil Congkoan jago pengawal istana, biarlah Siau-yau-li ini akan kuserahkan sendiri kepada Congkoan taijin."
Tapi Nyo Yam lantas menggeleng, katanya.
"Peduli siapa engkau, pokoknya Siau-yau-li ini harus kuserahkan langsung kepada Cong-koan-taijin dan urusan beres."
"Maksudmu ini harus dipuji, cuma ... ."
Belum lanjut ucapan We Tiang-jing, tahu-tahu Nyo Yam sudah menerjangnya sambil membentak.
"Tidak perlu banyak omong, kalau tidak kau serahkan dia kepadaku, biar kuadu jiwa denganmu."
"Hei, jangan ngacau, masa jiwa Siau-yau-li ini tidak kau pikirkan lagiT"
Seru We Tiang-jing-"Mati atau hidup tak kupeduli, Congkoan-taijin kan tidak menyatakan harus kuserahkan dia dengan hidup,"
Bentak Nyo Yam.
Liong Leng-cu adalah buronan kerajaan, dengan sendirinya We liang-jing ingin mendapat jasa besar dan hendak menangkap si nona dengan hidup.
Maka ia sendiri berbalik kuatir kalau Nyo Yam mencelakai "Siau-yau-li"
Ini.
"He, jangan ngawur!"
Bentaknya pula, sambil memeluk Liong Leng cu, dengan tangan lain ia hadapi serangan Nyo Yam. Kungfu We Tiang-jing sembabat dengan Nyo Yam, tapi sekarang dia harus "membela"
Liong Leng-cu, jadinya sukar menandingi Nyo Yam malah. Tiba tiba Leng-cu berteriak.
"Betul, engkoh Yam, aku lebih suka mati di tanganmu daripada jatuh dalam cengkeraman musuh. Asalkan kalian ayah dan anak dapat berkumpul, mati pun aku rela!!"
Ucapan Leng-cu ini sebenarnya semacam pelampaisan rasa dongkolnya saja.
Tapi demi mendengar teriakan si nona, hati We Tiang-jing lantas tergerak malah, timbul pikirannya untuk mengujinya.
Segera ia gunakan Leng-cu sebagai tameng untuk menangkis pukulan Nyo Yam.
Tak terduga pukulan Nyo Yam benar-benar dihantamkan ke tubuh Liong Leng-cu.
Kontan tangan We Tiang-jing tergetar, dada juga terguncang keras, tanpa terasa ia melemparkan Liong Leng cu.
"Haha, engkau tertipu!"
Nyo Yam terbahak-bahak sembari berputar, secepat terbang ia memburu ke sana dan tepat menangkap tubuh Liong Leng-cu sebelum jatuh ke tanah, segera pula ia buka hiat to si nona yang tertutuk.
Sedikitpun Leng-cu tidak terluka, dengan girang ia mendekap Nyo Yam, katanya.
"Engkoh Yam, tipu seranganmu tadi harus kau ajarkan kepadaku."
Kiranya kungfu yang digunakan Nyo Yam tadi disebut "Kehsan-tah-gu"
Atau memukul kerbau dari balik gunung, yaitu semacam lwekang tinggi yang dapat menghantam musuh melalui saluran benda lain.
Dengan kungfu khas ini, biarpun benda yang dijadikan jembatan itu adalah tubuh orang ketiga juga takkan menjadi soal.
Sebau itulah meski pukulan Nyo Yarn tadi disalurkan melalui tubuh Ling Leng-ru, namun Sasarannya adalah We Tiang-jing dan Leng-cu tidak mengalami cedera apa pun.
Maklumlah, dalam keadaan gawat tadi jelas Liong Leng-cu sukar lolos dari cengkeraman We Tiang-jing.
Terpaksa Nyo Yam mengambil risiko dan pura-pura hendak minta Liong Leng-cu untuk digunakan menukar jiwa ayahnya, bahkan nadanya seakan-akan tidak segan mengorbankan nyawa Lengcu.
Sebab kalau dia tidak bicara demikian, tentu We Tiang jing akan menggunakan Liong Leng-cu sebagai sandera untuk mengancam Nyo Yam sendiri.
Begitulah setelah menyadari dirinya tertipu, sungguh gusar We Tiang jing tak terlukiskan, segera ia membentak.
"Bangsat cilik, biar kuadu jiwa denganmu. Jangan kau mimpi akan lari bersama Siau~yau-li itu."
Dalam pada itu hiat-to Leng-cu baru saja dilancarkan oleh Nyo Yam, tenaganya belum lagi pulih.
We Tiang-jing menaksir dirinya cukup kuat menandingi Nyo Yam, sedangkan orang di sekitar ramah Nyo Bok adalah begundalnya, asalkan dia bersuara tentu akan datang bala bantuan dengan segera.
Tak tahunya, belum lagi bala bantuannya datang, tahu-tahu bala bantuan Nyo Yam yang tiba lebih dulu.
Kiranya sejak tadi Ce Se-kiat sudah masuk ke taman itu dan baru sekarang ia menampakkan diri.
Waktu We Tiang-jing memburu maju, saat itulah Ce Se-kiat melompat keluar dari semak-semak dan membentak.
"Hendak kau bikin susah mereka? Hm, kaupun jangan mimpi!"
"Keparat dari mana, berani temberang di sini?!"
Bentak We Tiang-jing dengan gusar.
Ia lihat Ce Se-kiat juga masih muda belia, disangkanya kaum kroco yang tidak berarti, maka ia yakin serangannya yang dahsyat pasti akan merobohkan lawan dengan mudah.
Tapi lawan yang disangkanya kaum kroco ini telah membuatnya terkejut.
Ce Se-kiat hanya membuat suatu gerak tangkisan dan tangan didorong dengan perlahan, tampaknya tak bertenaga, tapi sebenarnya mengandung enam gerakan yang tidak sama.
Segera terjadi adu tenaga pukulan.
"blang". Ce Se-kiat juga tergeliat sedikit, sebaliknya We Tiang jing tergetar mundur dua langkah, bahkan tenaga pukulan Ce Se-kiat terus berubah menjadi tenaga tabasan ke bawah sehingga ujung lengan baju We Tiang-jing terbatas robek sebagian. We Tiang-jing kenal jurus serangan Ce Se-kiat ini adalah Liok-yang-jiu keluarga Nyo, keruan ia terkejut, cepat ia membentak.
"Ada hubungan apa antara Nyo Toa-koh denganmu?"
Melihat orang mengenali kungfunya, terus terang Se-kiat menjawab.
"Beliau ibuku!"
We Tiang-jing tambah terkejut.
"Hah, jadi engkau ini Ce Sekiat?!"
Ia pikir pantas bocah ini konon dapat menandingi Utti Keng dengan sama kuatnya, ternyata memang betul begini lihai.
Jelas Liok-yang jiu bocah ini terlebih hebat daripada Nyo Bok, malahan tenaga dalamnya juga lebih tinggi daripada Nyo Yam.
Padahal soal tenaga dalam antara Nyo Yam dan Se-kiat boleh dikatakan setingkat, cuma lantaran We Tiang-jing habis menempur Nyo Yam tenaganya sudah banyak terkuras, dengan sendirinya Cc Se-kiat dirasakan lebih sukar dihadapi.
Begitulah Se-kiat pun menjawab.
"Betul, akulah Ce Se-kiat, mau apa?"
"Nyo Bok adalah pamanmu, dia telah dibikin susah oleh Siau yau-li ini, jika Siau-yau-li ini tidak tertangkap, jiwa pamanmu itu tentu akan melayang. Nah, coba, akan kau-bela pamanmu atau membela Siau-yau li ini?"
"Hm, aku tidak peduli perkataanmu betul atau tidak, yang jelas bagiku tidak nanti ku-bantu antek kerajaan musuh semacam dirimu ini?"
Jengek Se kiat, berbareng ia menghantam pula, sekali ini dengan ilmu pukulan Liong-siangkang tingkat delapan yang dahsyat.
"Biang", kembali beradu tangan dan sekali ini We Tiang-jing terpental hingga tujuh delapan tangkah jauhnya baru dapat menahan diri. Se-kiat sendiri juga merasakan darah bergolak dalam dada dan harus mengatur pernapasan sejenak baru bisa tenang kembali. Namun begitu jelas keadaan We Tiang-jing terlebih payah, pikirnya.
"Tampaknya Se-kiat terlebih kuat daripada Nyo Yam, jika mereka bergabung tentu aku bisa celaka, kalau tidak lekas lari tentu aku bisa mati konyol."
Segera ia bersuit dan hendak kabur.
Dalam pada itu Nyo Yam telah bantu mengurut tubuh Leng cu yang tertutuk sehingga darah sudah lancar kembali, tenaga pun mulai pulih.
Si nona masih gemas oleh hinaan We Tiang jing tadi, segera ia berteriak.
"Engkoh Yam, keparat itu mau lari, lekas kau balaskau dendam bagiku."
"Baik, akan kutahan dia, cara bagaimana engkau akan membalas dendam boleh silakan sesukamu,"
Kata Nyo Yam dengan tertawa.
Berbareng ia melompat ke sana dan menghadang di depan We Tiang-jing.
Cepat We Tiang-jing menghantam, tapi Nyo Yam juga menyambut dengan Liong-jiau-kang ajaran kakek Liong Lengcu.
Sekali cengkeram dapatlah Nyo Yam mematahkan serangan lawan, sebaliknya gerak lari We Tiang-jing tertahan oleh tenaga cengkeraman Nyo Yam itu.
Keruan Tiang-jing kaget dan gusar, bentaknya.
"Biarlah kuadu jiwa denganmu!"
Karena dia baru saja mengadu tenaga pukulan dengan Ce Se-kiat, dengan sendirinya dia rada kewalahan, namun begitu dapat juga dia menahan dua tiga kali serangan Nyo Yam, cuma tetap sukar menerjang lewat ke sana.
Saat itu Liong Leng-cu sudah jemput kembali ruyungnya yang putus sebagian dan memburu maju, jengeknya.
"Hm, coba berani lagi kau hina diriku?!"
Kontan ruyungnya menyabat dua tiga kali dengan keras.
Karena harus melayani Nyo Yam, We Tiang-jing tidak sampai menghindari sabetan ruyung Liong Leng-cu, namun untung juga baginya, lantaran Nyo Yam sengaja membiarkan si nona melampiaskan gemasnya, maka daya serangannya dilancarkan tidak sepenuhnya, hal ini dimanfaatkan oleh We Tiang jing untuk menerjang lewat ke sana dengan menahan rasa sakit sabetan ruyung Leng cu.
"Engkoh Yam, adakah urusanmu yang belum beres?"
Seru Leng cu.
"Tidak ada,"
Jawab Nyo Yam.
"Marilah Leng-cu, kita pulang saja mengawasi kakekmu di rumah, aku tidak biasa hidup di tempat semacam ini."
Mereka tidak ingin mengejar We Tiang-jing, tapi ketika mendengar suara langkah orang di belakang.
We Tiang-jing ketakutan setengah mati, sembari lari ia terus berteriak minta bala bantuan.
Tetangga Nyo Bok kebanyakan juga orang yang berkedudukan serupa Nyo Bok, segera ada dua orang berlari keluar.
Yang seorang ialah perwira Han lim kun, namanya Loh Su, seorang lagi jago pengawal istana bernama Ciu Pa.
Mereka terkejut ketika melihat We Tiang jing lari terbirit-birit serupa dikejar setan.
Biasanya kedua orang ini hanya tunduk kepada komandan masing masing dan mengira kepandaian teman sejawat yang lain tidak ada yang lebih tinggi dari pada mereka termasuk We Tiang-jing, apalagi sekarang terlihat yang mengejar We Tiangjing adalah dua anak muda, tentu saja mereka meremehkan lawan, segera mereka melompat maju sambil membentak.
"Enyah!!"
Bentak Se-kiat, ia tidak ingin membunuh orang yang tak bersalah.
Tapi Ciu Pa tidak tahu diri, ia memakai senjata ruyung baja, kontan ia menyabet kepala lawan.
Se-kiat tetap bertangan kosong dan menggunakan ilmu pukulan Liong-siang-kang untuk menahan senjata musuh.
Betapa tangkas Ciu Pa juga tidak dapat menahan Liongsiang-kang yang ampuh itu.
begitu ruyung tersampuk tangan Se-kiat, seketika tangan Ciu Pa tcigetar lecet,, ruyung pun mencelat ke udara.
Loh Su lebih licin dan tidak gegabah, melihat kawannya kecundang, cepat ia urungkan maksudnya untuk menyerang.
Akan tetapi Nyo Yam tidak suka banyak omong lagi, bentaknya segera.
"Pergi!"
Berbareng Liong jiu-kang terus dikeluarkan Cuma dia tidak mencengkeram melainkan hanya mendorong saja sehingga Loh Su terlempar oleh tenaga yang tidak kelihatan dan tepat jatuh terguling di depan rumah sendiri.
Kebetulan saat itu We Tiang-jing baru lari sampai di situ juga, dia terluka pukulan Liong siang kang dan tumpah darah.
Cepat Loh Su merangkak bangun dan menyeret We Tiang jing ke dalam rumah.
Beberapa penghuni rumah juga isma melongok keluar, melihat Ciu Pa dan Loh Su kecundang, semuanya ketakutan dan cepat menutup pintu pula.
"Haha. sebaiknya kalian menjadi kura-kura saja,"
Seru Nyo Yam dengan terbahak.
"Aku memakai patokan, orang tidak menggangguku, aku pun tidak mengganggu orang. Jika aku diganggu, kontan akupun balas mengganggu."
Belum lenyap suaranya, mendadak seorang membentak.
"Hm, jangan temberang, anak muda yang suka omong besar!"
Tahu-tahu seorang telah muncul di depan Nyo Yam, meski Nyo Yam segera mencengkeram dengan Liong-jiau-kang, tapi luput.
Malahan pendatang ini kontan balas mencengkeram juga..
Nyo Yam sempat mengelak, tapi Liong Leng-cu yang ikut di belakangnya cepat melompat mundur.
Pada saat lain barulah Nyo Yam dapat melihat jelas pendatang ini tak lain tak-bukan ialah Tai-lwe-congkoan Ostai adanya.
Nyo Yam tahu menghadapi lawan tangguh, jengeknya.
"Baik, ini berarti lebih dulu kau ganggu diriku, apa yang kukatakan selalu kupenuhi."
Cepat ia melolos pedang, sambil membentak, pedang berkelebat terus menuiuk.
"Hm, anak muda yang tidak tahu diri,"
Jengek Oitai, kedua tangan bergerak, jari serupa kait, langsung ia hendak merampas pedang Nyo Yam.
Ia tahu Nyo Yam tidak lemah, tapi ia menaksir anak muda itu tetap bukan tandingannya, ia pikir dalam dua-tiga gebrakan Nyo Yam dapat ditawannya, paling tidak pedang orang akan direbutnya.
Siapa tahu apa yang terjadi tidak semudah dugaannya.
Justru di tengah jalan serangan Nyo Yam telah berubah dan tahu-tahu menusuk dari arah yang tak tersangka.
Di tengah sambaran angin pukulan dan bayangan pedang, terdengar suara "cring"
Sekali, segera bayangan orang dan cahaya pedang sirna, kedua orang sama molompat mundur, tangan Nyo Yam terasa kaku pegal, kulit kepala Ostai juga terasa dingin.
Kiranya pada detik berbahaya itu kedua pihak sama mengeluarkan kemahiran masing-masing, dengan tangkas Ostai menggunakan tenaga jari untuk menjentik batang pedang Nyo Yam, walaupun serangan maut anak muda itu dapat dihindarkan, tidak urung secomot rambutnya terpapas juga.
Diam diam Nyo Yam juga terkejut, Tui-hong-kiam-hoat (ilmu pedang pemburu angin) adalah ilmu pedang Thian sanpai yang ampuh, tapi hasilnya cuma memapas secomot rambut lawan, malahan pedang sendiri hampir terlepas kena selentikan jari musuh.
Dengan sendirinya Ostai terlebih terkejut, ia pikir pantas Pek toh-sancu juga gentar terhadap anak muda ini.
rupanya kungfu bocah ini memang jauh lebih tinggi daripada ayahnya.
"We Tiang-jing sudah terluka, pembantu ku terkuat sudah tidak ada, mungkin bocah ini sukar kubekuk sekarang, semoga tipu akal Nyo Bok yang menyiksa diri itu akan berhasil."
Selagi berpikir, tahu-tahu Ce Se-kiat sudah menerjang tiba pula.
"Bagus, kaupun berani main gila padaku?!"
Bentak Ostai gusar. Begitu beradu tangan, kedua orsng sama tergetar mundur, sekalian Ostai lantas melompat mundur tambil berteriak.
"Nyo Yam, apa jiwa ayahmu tidak kau pikirkan lagi? Tinggalkan Siau yau li itu dan akan kulepaskan kau pergi, ayahmu juga dapat diampuni"
Pada saat itu juga terlihat dua Busu menggusur Nyo Bok muncul di ujung jalan sana.
"Anak Yam,"
Segera Nyo Bok berseru dengan suara parau.
"tolanglah aku, anak Yam, tolong!"
Bajunya kelihatan robek dan punggung pun babak-belur bekas dirangket. Nyo Yam mcngertak gigi, ia berpaling ke sini dan tidak memandang sang ayah.
"Hm, manusia bukan binatang. Nyo Yam, masa ayah pun tidak kau pikir lagi?"
Jengek Ostai.
"Kau sendiri binatang!"
Bentak Nyo Yam dengan murka.
"Hajar,"
Segera 0stai memberi perintah.
Salah seorang Busu itu segera menghajar Nyo Bok lagi dengan cambuknya sehingga Nyo Bok melolong kesakitan, teriaknya dengan serak "Anak Yam.
masa kau tega menyaksikan ayah menderita?
Anak Yam, tolonglah, selamatkan jiwaku!"
Liong Leng-cu merasa tidak tega, katanya.
"Engkoh Yam, gara-garaku sehingga membuat, ayahmu ...."
"Tidak, bukan urusanmu,"
Kata Nyo Yam.
"Kita tolong dia dan menerjang musuh mati matian,"
Kata Leng-cu. Meski pelahan pembicaraan mereka, namun dapatlah didengar Ostai, segera ia menjengek.
"Hm, jangan mimpi kalian hendak merampas orang dariku. Sekali kalian bergerak segera kubunuh Nyo Bok. Jika kalian minta kulepaskan dia juga boleh asalkan Siau yau-li itu kau tinggalkan di sini."
"Bagaimana, Engkoh Yam?"
Tanya Leng-cu. Tapi Nyo Yam lantas membentak.
"Ostai, dengarkan! Aku takkan menolong orang melainkan ingin membunuh orang. Anak buahmu hendak kau bunuh adalah urusanmu sendiri. Tapi jika hal ini kau lakukan, kelak pasti ku-bunuhmu untuk menuntut balas bagi dia."
Ucapan ini ditujukan kepada Ostai, tapi juga diperdengarkan kepada Nya Bok.
Ia tidak sudi lagi memanggil Nyo Bok sebagai ayah melainkan menggunakan kata ganti "dia".
Dia bicara dengan rasa duka.
jelas masih ada jalinan perasaan antara anak dan ayah.
Betapapun hati Nyo Bok tergetar, pikirnya.
"Apapun juga dia masih mau menuntut balas bagiku. Cuma sayang tuntut balas yang di-katakannya berbeda dengan tuntut balas yang kumaksudkan."
Setelah bicara tadi segera Nyo Yam menarik Liong Leng-cu dan mengajaknya pergi.
Keduanya pernah berlatih ginkang bersama, dengan tangan bergandeng tangan mereka dapat berlari lebih cepat.
Mereka melompat ke atas wuwungan rumah penduduk, hanya sekejap saja beberapa rumah sudah dilintasi mereka Dengan sendirinya Ce Se-kiat ikut pergi bersama mereka.
Karena ginkangnya memang tak dapat menandingi mereka, pula tiada pembantu yang dapat diandalkan, terpaksa Ostai menyaksikan mereka kabur begitu saja.
Tanpa terasa mereka sudah lari sampai di tempat yang sepi, sementara itu hari masih belum terang.
Leng-cu menghela napas lega dan memperlambat larinya, katanya dengan tertawa.
"Sungguh aku sangat senang, kakak Yam, engkau sangat baik padaku."
Nona ini memang polos, apa yang terpikir itu pula yang dikatakannya. Nyo Yam rnelengak.
"Apa kebaikanku kepadamu? Engkau yang telah membantuku, sebaliknya aku hampir membikin susah padamu."
"Engkau tidak mau menggunakan diriku untuk menukar ayahmu, coba, kan harus kuterima kasih padamu?"
"Hal ini jangan kau singgung lagi, pendek kata tidak ada sesuatu di dunia ini yang berharga kutukar dengan dirimu,"
Ucap Nyo Yam dengan tersenyum getir. Rasa dukanya belum lagi hilang, bicaranya menjadi rada tersendat.
"Ai, kita ini memang sama bernasib malang, penderitaan masa lampau juga sangat banyak, apa yang sudah lalu memang tidak perlu kita singgung lagi,"
Ujar Long cu, Nyo Yam sudah putus asa, katanya.
"Apa yang sudah kusanggupi padamu pasti takkan berubah. Apa yang kau janjikan padaku juga hendaknya kau patuhi. Kakek sedang menantikan kepulangan kita, marilah kita segera berangkat pulang saja."
"Masa sekarang juga hendak pulang?""
Tanya Leng-cu.
"Memangnya masih ada urusan apa?"
Kata Nyo Yam.
"Engkau tidak ingin menemui dulu bibimu? Co toako kan juga tidak dapat pergi begitu saja"
Ujar Leng-cu. Baru sekarang Nyo Yam menyadari kecerobohannya yang selalu memikirkan urusan sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Didengarnya Se kiat telah mendesis.
"Bila engkau tidak suka menemui ibuku, silakan kalian berangkat lebih dulu."
Leng-cu tertawa "Dia mau kembali ke Cin-wu-piaukiok atau tidak adalah urusannya, aku justru ingin pergi ke sana untuk menemui bibi."
Se-kiat tahu antara ibunya dan Leng-cu ada sengketa, dengan sendirinya ucapan si nona membuatnya melenggong malah.
"Nona Liong,"
Katanya kemudian.
"akhir-akhir ini perangai ibuku rada kasar. Bahwa engkau sudi menemui ibu tanpa memikirkan urusan dahulu, biarlah aku mengucapkan terima kasih saja di sini."
Leng cu tertawa.
"Mungkin engkau sendiri belum bertemu dengan ibumu?"
"Dan mana kau tahu?"
Tanya Se-kiat.
"Sebabnya dapat kutemukan kakak Yam justru atas petunjuk ibumu,"
Tutur Leng-cu.
"Bicara terus terang, dahulu aku memang kurang jenang terhadap ibumu, tapi sekarang kutahu beliau ternyata tidak sejelek apa yang pernah kubayangkan. Salah paham yang sudah sudah sebenarnya juga sebagian salahku."
"Baik juga, mumpung Ostai belum sempat mengusut ke piaukiok sana, marilah lekas kita pergi, apa yang baru terjadi juga perlu diberitahukan kepada Han-congpiauthau,"
Seru Nyo Yam. Setelah tenang kembali barulah teringat olehnya perlu tanya Ce Se-kiat.
"Kabarnya engkau telah mengunjungi Cadam, apakah engkau baru pulang dari sana?"
"Betul."
Jawab Se-kiat.
"Engkau bertemu dengan Ling-cici?"
Tanya Nyo Yam pula.
"Bertemu,"
Kata Se kiat.
Kejadian lalu terasa serupa impian, Nyo Yam merasa hampa.
Ia sangat borharap mengetahui hal-hal mengenai Ling Peng ji, tapi entah cara bagaimana mengemukakannya.
Sekilas pandang Leng-cu seperti sedang menatapnya, muka Nyo Yam menjadi panas, ia coba tanya Se-kiat.
"Bagaimana dengan Ling-cici, baik-baikkah dia?"
"Baik, dia sangat baik,"
Jawab Se-kiat dengan hambar.
"Seharusnya Piauko mendampingi dia di Cadam. mengapa engkau lari ke sini?"
Tanya Nyo Yam pula.
"Kedatanganku ini justru lantaran dia,"
Ujar Se kiat.
"Kenapa bisa begitu?"
Melengak juga Nyo Yam.
"Apa yang terjadi sekarang memang sudah dalam dugaannya,"
Tutur Se kiat.
"Ia sangat menguatirkan keselamatanmu yang mungkin akan tertipu di kotaraja, namun dia tidak dapat datang sendiri."
Nyo Yam diam saja tanpa bersuara lagi. Leng-cu tertawa.
"Ai. Engkoh yang bodoh, masa engkau belum lagi paham? Kedatangan Ce-toako ini adalah untuk menjaga dirimu."
Padahal tanpa dibumbui Liong Leng cu juga Nyo Yam sudah mengerti, lantaran ucapnya ini, ada kata lain membuat Nyo Yam dan Se-kiat tidak enak untuk menguraikannya.
Tapi ada satu hal akhirnya dikatakan juga oleh Se-kiat.
"Sesungguhnya saat ini Peng-ji tidak berada lagi di Cadam."
"Hah, dia ke mana?"
Tanya Nyo Yam dengan melengak.
"Pada waktu kuberangkat, dia bilang dalam waktu singkat akan pulang ke Thian-san,"
Tutur Se-kiat.
"Benar ....benar Ling-cici hendak pulang ke Thian-san?"
Nyo Yam menegas dengan terkejut.
"Betul, dia hendak membelamu,"
Kata Se-kiat.
"Tapi mungkin orang di sana tidak mau percaya kepada keterangannya. Ciok Thian-heng dan lain-lain menganggap aku sebagai pengkhianat yang tak terampunkan, apa Ling-cici takkan ikut susah jika membela diriku."
"Hal ini pun sudah terpikir olehnya, namun dia rela menerima akibatnya,"
Kata Se-kiat. Mau-tak-mau Nyo Yam menjadi gelisah, katanya.
"Tapi tidak dapat kubikin susah padanya."
"Syukurlah ayah-angkatmu pergi bersama dia, kukira takkan sampai terjadi keributan yang melampaui batas."
"Eh, bukankah kakak Yam ingin pulang keThian-san dulu?"
Tanya Leng-cu tiba tiba. Cepat Se kiat menyela.
"Jika sekarang kau pulang ke Thianian tentu urusan akau tambah runyam, menurut pendapat ayah-angkat-mu, untuk sementara sabaiknya engkau jangan pulang ke sana."
Pikiran Nyo Yam menjadi kusut, ia menunduk dan tidak bicara lagi.
Leng-cu juga tidak dapat bersenyum lagi.
hati pun diliputi bayangan gelap.
Mereka mempercepat langkah, ketika hari baru terang mereka sudah sampai di Tin-wan-piaukiok.
Melihat putranya pulang bersama Nyo Yam, tentu saja Nyo Toa koh sangat girang dan juga heran.
Setelah memanggil "bibi", Nyo Yam dan Nyo Toa-koh tanpa terasa sama mencucurkan air mata.
"Kemenakan yang baik, sudah kau temui ayahmu?"
Tanya Toa-koh. Air muka Nyo Yam seketika berubah kelam, katanya.
"Sejak kecil aku yatim piatu, sekarang juga begitu, aku tidak punya ayah."
Hati Tao-koh serupa disayat-sayat, Ucapnya.
"Nyo Bok memang tidak berharga menjadi ayahmu Aku ... aku juga salah padamu "
Karena ucapan Nyo Yam yang menyatakan "yatim piatu sejak kecil,"
Seketika teringat olehnya meski ibu Nyo Yam bukan dicelakai olehnya, tapi boleh dikatakan dia yang harus bertanggung jawab atas kematiannya, mau-takmau ia merasa pedih.
Nyo Yam menahan air matanya dan berkata.
"Tidak, meski aku tidak punya ayah, namun aku tetap she Nyo."
Yang selalu menekan pikiran Nyo Toa-koh adalah kekuatirannya keluarga Nyo akan putus turunan, maka ia merasa lega mendengar pernyataan Nyo Yam itu, katanya.
"Anak Yam, asalkan engkau mengaku sebagai anak-cucu keluarga Nyo Kiat, maka biarpun engkau tidak mengaku bibi padaku dapatlah tentram hatiku."
"Tidak, bibi cukup baik padaku, kutahu hal ini,"
Kata Nyo Yam.
"Setiap orang tentu pernah berbuat salah. Dulu aku pun pernah bersalah kepada bibi. Asal bibi mau mengakui aku sebagai kemenakanmu, mana bisa tidak kuakui engkau sebagai bibi."
Air mata Nyo Toa-koh berlinang disertai tertawa senang, ia genggam tangan Nyo Yam dan berkata.
"Kemenakan yang baik, terima kasih padamu-Coba katakan, selama dua hari ini engkau berada di mana? Cera bagaimana dapat bertemu dengan Piaukomu dan apa ..apa yang terjadi?"
Padahal sudah diketahuinya Nyo Yam berada di rumah ayahnya, tapi supaya tidak menusuk perasaan kemenakan itu. terpaksa ia bertanya secara tidak langsung.
"Kukira Piauko saja yang bercerita,"
Kata Nyo Yam. Se-Kiat lantas menuturkan pengalaman mereka, katanya.
"Maafkan kecerobohan kami, Ibu, karena tidak menurut pesanmu sehingga menimbulkan kesukaran bagimu."
"Tidak, aku tidak mrnyalahkanmu, kalian tidak bersalah,"
Kata Toa-koh dengan muram.
"Kalsu ada yang salah, maka akulah yang salah. Ai, sungguh aku sangat menyesal."
Apakah ia menyesal dahulu terlampau sayang dan memanjakan adiknya, atau menyesal caranya menyelesaikan urusan sekarang ini yang salah seluruhnya, semuanya tidak dijelaskannya.
Namun betapa berat perasaannya jelas kelihatan dari nada luapannya.
"Marilah kita pergi bersama, Ibu,"
Kata Se kiat.
"Pergi ke mana?"
Tanya Toa koh.
"Dunia seluas ini, masakah tidak ada tempat bernaung?"
Ujar Se-kiat.
Mestinya ia hendak membujuk sang ibu agar ikut pergi ke Cadam, namun ia tahu dendam sang ibu terhadap Beng Coan ciau belum lagi lenyap, maka yang utama ia hanya berharap ibunya mau ikut meninggalkan kotaraja saja.
Nyo Toa koh kelihatan murung, mendadak ia berucap dengan tegas.
"Kalian boleh pergi saja, aku tetap tinggal di sini."
Se-kiat terkejut, tanyanya cepat.
"Kenapa ibu tidak pergi saja? "
"Akulah yang mendidik pamanmu sejak kecil selaku kakak merangkap tugas ibu,"
Kata Toa-koh "Maka betapapun pribadinya dia tetap adikku. Terhadapnya aku tetap harus menunaikan setitik tugasku yang terakhir."
"Ibu sudah menderita selama hidup bagi Kuku, mungkin Kuku tidak ingat lagi akan hubungan persaudaraan denganmu,"
Kata Se-kiat.
"Bila dia sampai hati membikin celaka padaku, biarlah anggap saja itu ganjaran yang pantas kuterima,"
Kata Toa-koh dengan ihklas. Terangsang juga emosi Nyo Yam. katanya.
"Bibi akulah yang berdosa, apa yang hendak kau kerjakan biarlah kuwakilkan dirimu untuk melakukannya."
"Tidak, engkau tidak berdosa, engkau meninggalkan keluarga Nyo sebelum kau lahir,"
Kata Tom-koh.
"Maka kesalahan ayahmu dan kesalahanku tidak boleh dibebankan kepada mu."
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung.
"Pula, meski sudah sekian tahun aku mengasingkan diri, baik atau jelek aku tetap tokoh terkemuka dunia kangouw, kaum kita paling mengutamakan janji, kan sudah kusanggupi kepada Hancongpiauthau akan berusaha mempertahankan Cin wanpiaukiok, mana boleh aku ingkar janji."
Baru bicara sampai di sini, tertampak Han Wi bu melangkah masuk.
"Ai, Lotoaci, kuterima maksud baikmu di dalam hati saja,"
Kata jago tua itu.
"Sebaiknya engkau menyingkir saja dari sini, apakah Cinwan-piaukiok dapat diselamatkan atau tidak biarlah kuterima naiib saja."
Mendadak Nyo Toa koh tergelak, katanya.
"Haha, kutahu sahabat kangouw sama memberi nama poyokau Loa-jiu-koanim kepadaku, dengan julukanku itu masakah aku takut menghadapi urusan? Mungkin kau, Han tua. engkau yang kuatir aku membikin susah padamu."
Han Wi-hu terpancing jiwa ksatrianya oleh ucapan Nyo Toakoh, serunya,"
Baik, kalau Lotoaci tidak takut urusan, masakah aku harus takut ini dan gentar itu? Biarlah kupertaruhkan jiwaku yang tua ini untuk menghadapi mereka. Nah, Lotoaci, marilah kita bekerja sama."
"Kata pribahasa, miskin jangan bertengkar dengan kaya, yang kaya jangan bermusuhan dengan pembesar. Kutahu sebuah piaukiok kecil serupa Cin-wan-piaukiok ini tak mungkin dapat melawan mereka. Cuma segala urusan pasti juga takkan terlepas dari keadilan, bila mana mereka sengaja memfitnah dan hendak sembarangan menuduhku, kuyakin masih ada manusia yang akan bicara dan membela keadilan bagiku."
Serentak Toa-koh tersadar, serunya.
"Betul, piaukiok adalah perusahaan umum dan tidak boleh mencari tahu asal-usul orang yang memberi order pekerjaan. Sekalipun ada patriot yang pernah berhubungan dengan piaukiok dan kemudian ditangkap mereka, hal ini pun tidak dapat dijadikan saksi untuk menuduh piiukiok ikut tersangkut dalam sesuatu pergerakan. Apalagi pada hakikatnya mereka pun tidak punya bukti. Jika mereka berani sembarangan menuduh, tentu saja engkau dapat mengirim kartu undangan kepada para ksatria di kotaraja untuk menuntut keadilaan kepada, mereka. Kuyakin apa pun juga mereka harus menimbang segala kemungkinan ini."
"Esok lusa adalah hari pengunduan diriku! sudah kusebarkan kartu undangan untuk minta kehadiran para sahabat Bu-lim. biarlah undanganku itu kuanggap sebagai undangan kepada para ksatria untuk memberi keadilan,"
Kata Han Wi bu.
"Menurut aturan, umpama Anak Kiat dan anak Yam dicurigai ada kontak dengan kaum pengkhianat toh kesalahan mereka tidak perlu merembet sampai dengan sanak kaluarganya"
Kata Toa-koh.
"Cumi, memang juga ada baiknya berhati-hati sedikit. Nah, anak Kiat dan anak Yam, kalian dan nona Liong janganlah tinggal di piaukiok, minta saja Han tua mencarikan pondokan lain bagi kalian."
"Tidak perlu membikin repot Han-lopiau hau, kami sudah ada tempat tujuan yang dapat dipercaya,"
Kata Se-kiat.
Sebagai orang tua yang berpengalaman, Han Wi-bu tidak tanya lebih lanjut tempat yang dimaksudkan Se kiat itu "Eh.
Han tua, ada suatu kejadian yang tidak kau ketahui, hal ini rada mengantungkan pihak piaukiokmu,"
Kata Toa-koh tiba tiba.
"Urusan apa?"
Tanya Han Wi bu.
"Bin Sing-liong terpukul luka parah oleh We Tiang jing. adikku yang murtad itu pun dirangket berpuluh kali aleh Ostai, kukira selama beberapa hari dia perlu merawat dulu lukanya."
"He, kenapa bisa terjadi begitu?"
Hau Wi-bu merasa heran.
"Ostai dan We Tiang-jing adalah kepala dan wakil Congkoan istana. juga atasan adikmu, biasanya adikmu cukup setia kepada mereka, apalagi Bin Sing liong. Kenapa mereka menghajar orangnya sendiri?"
"Kalau diceritakan, hal ini termasuk kualat bagi mereka,"
Kata Toa-koh, lalu ia menuturkan secara ringkas apa yang didengarnya dari Se-kiat tadi. Tanpa terasa hari sudah terang benderang, Se-kiat lantas mohon diri.
"Sekarang kami akan berangkat, harap ibu menjaga diri dengan baik."
"Kalian tidak perlu cari berita lagi ke sini,"
Ujar Toa koh.
"Hari lusa boleh juga kalian datang dengan mencampurkan diri di antara tetamu. Kalau kalian dapat menyamar tentu saja terlebih baik lagi."
"Ya, anak paham,"
Kata Se-kiat. Han Wi-bu lantas memberikan alamat penghubung kepada mereka, lalu mereka pun pamit dan berangkat.
"Biar kuantar kalian keluar,"
Kata Wi-bu. Tiba-tiba Se-kiat ingat sesuatu, tanyanya.
"Bagaimana keadaan luka Song-suheng?"
Selama dia berada di piaukiok tidak dilihatnya Song Peng-ki dan Oh Lian-kui, maka ia tanya.
"Luka Pengki agak parah, untunglah tidak membahayakan jiwanya,"
Tutur Wi bu.
"Lian-kui juga terluka oleh cambukan Bin Sing-liong, cuma terluka luar saja. Saat ini dia yang sedang merawat Suhengnya."
"Ada pribahasa yang sangat tepat, yaitu orang jahat pasti terima ganjaran jahat,"
Ujar Se kiat dengan gegetun.
"Secara kejam Bin Sing liong menghajar Sute sendiri, sekataeg kontan dia mendapatkan ganjarannya."
Han Wi-bu juga teringat sesuatu, katanya.
"Jika mereka mau menggeledah piaukiok, saat ini tentu sudah datang. Namun sepanjang jalan tidak kelihatan ada pemeriksaan, agaknya mereka tidak berani bertidak terlampau kasar."
Begitulah rombongan mereka terus berangkat.
Se-kiat di depan dan membawa mereka keluar kota dari gerbang barai.
Nyo Yam merasa ragu, cuma di tengah jalan yang cukup ramai tidak leluasa untuk bertanya.
Setiba di tempat sepi di luar kota, Nyo Yam merasa lega, ia coba tanya.
"Piauko, spakah sahabatmu tinggal di luar kota?"
"Aku pun tidak tahu tempat tinggal mereka, yang pasti, cuma kutahu ke mana harus mencari mereka,"
Jawab Se-kiat.
"Siapakah kawanmu, apakah dapat dipercayai"
Tanya Nyo Yan pula.
"Sangat dapat dipercaya,"
Jawab Se-kiat.
"Kalau dibicarakan, kaupun kenal mereka, bahkan pernah kau selamatkan jiwa mereka."
Nyo Yam menyadari siapa yang dimaksud, katanya.
"Ah, kutahu, agaknya yang kau makdudkan ialah Pui Liang den Hoen Gui berdua."
"Betul, dan harus ditambah lagi Kai Hong,"
Kata Se-kiat. Leng-cu tahu Pui Liang dan Hoan Gui adalah murid Nyo Bok, ia tanya.
"Siapakah Kai Hong itu?"
Se-kiat menjawab.
"Kai Hong adalah orang yang ditugaskan oleh pasukan pemberontak di Cadam untuk membeli obatobatan di kota-raja. Pui Liang dan Hoan Gui adalah pembantunya."
Kiranya dua bulan yang lalu Kai Hong bertiga pernah ditawan pihak Kerajaan, tapi berhasil diselamatkan oleh Nyo Yam, hal ini diceritakan Se kiat kepada leng cu.
"Ah, jangan kau taruh semua jasa itu kepadaku,"
Kata Nyo Yam.
"Padahal waktu itu bila tidak kau bantu secara diamdiam tentu tiada seorang pun dari mereka dapat kuselamatkan."
"Jika begitu, jelas mereka dapat dipercaya,"
Kata Leng-cu.
"Engkoh Yam, kenapa kejadian itu tidak pernah kau ceritakan padaku."
"Kukuatir diomelimu bahwa aku suka campur urusan orang,"
Jawab Nyo Yam tertawa.
"Aku sendirikan juga paling suka ikut campur urusan orang lain!!"
Kata Leng cu.
"Tapi urusan yang kuikut campur ini sedikit banyak berbeda dengan urusan orang lain,"
Kata Nyo Yam Leng-cu sangat cerdik, sekali dengar ia tahu makna di balik ucapan orang.
Urusan orang lain yang dimaksud jelas menyangkut pasukan pemberontak di Cadam itu, sekali sudah tersangkut, mungkin akan mendatangkan bahaya di kemudian hari yang tak terkirakan.
Dengan ikhlas ia lantas berkata.
"Engkoh Yam, urusan apa pun yang kau maksudkan, asalkan kau berani mengurusnya, tentu aku akan membantumu."
Nyo Yam tertawa, katanya kepada Se-kiat.
"Piauko, belum lagi kau katakan padaku, sesungguhnya Kai Hong bertiga berada di mana."
"Aku pun belum tahu dengan pasti di mana mereka berada, yang jelas dapat kita cari kabar tentang mereka di pegunungan ini,"
Tutur Se-kiat.
"Markas cabang Kai pang di Peking terletak di kaki sebuah tebing gunung di lereng Se-san ini. Umpama mereka tidak tinggal di markas Kai-pang, kuyakin anggota Kai-pang pasti tahu di mana mereka."
"Aha, dari mana kau tahu sejelas ini?"
Seru Nyo Yam girang.
"Masa kau lupa aku pun pernah pergi ke Cadam?"
Ujar Sekiat dengan tertawa.
"Paman Ling Peng ji, Ling Tai-jiau, yang memberitahukan padaku. Cuma aku sendiri belum pernah mengunjungi Se-san, meski Ling Thi-jiau sangat jelas memberi keterangan padaku, mungkin perlu kita cari dulu sekian lamanya."
"Jika begitu marilah lekas kita cari."
Kata Nyo Yam.
Se san atau gunung barat yang dimaksud sebenarnya terdiri dari gabungan tiga bukit yang terletak di barat kota Peking, sambil bicara saat itu mereka sudah mendaki salah satu bukit Jui wi san yan?
berpemandangan indah dan terkenal dengan kuil Tiang an si.
Ketika mereka lewat di kuil itu, tiba-tiba beberapa orang hwesio memburu keluar sambil membentak "Kurang ajar.
berani kau datang mencuri ke tempat suci ini?"
Waktu Nyo Yam memandang ke sana, dilihatnya seorang yang dikejar itu berlari dengan kencang menuju ke lereng bukit.
Mestinya Nyo Yam tidak berniat ikut campur urusan kecil, tapi dilihatnya lari "maling"
Itu sedemikian cepatnya, tergerak juga hatinya, jelas orang ini pernah berlatih ginkang, masa mau menjadi maling kecil begini? Benar juga. segera terdengar "maling"
Itu menjawab.
"Omong kosong! Siapa yang mencuri barang di kuil kalian? Jangan sembarangan memfitnah, kalau sampai aku gemas, bisa kubakar ludes kuil bobrok kalian ini."
Kawanan hwesio itu lantas memaki.
"Baik, jika bukan maling, untuk apa kau masuk ke ruangan belakang, kenapa menyusup ke dalam ruangan perpustakaan kami yang dilarang untuk umum itu?"
Salah seorang hwesio yang menguasai ginkang lebih tinggi daripada si "maling"
Sudah dapat menyusulnya. Mendadak si "maling"
Menyambitkan sepotong batu ke belakang sambil membentak.
"Dalam kuil kaliankan tidak menyembunyikan orang perempuan, masa takut kuintip?"
Ilmu silat si hwesio tidak lemah, tapi sama sekali tidak berpengalaman tempur, maka dengan tepat ia tertimpuk oleh batu itu, kontan ia jatuh tersungkur, meski tidak parah lukanya, seketika tak sanggup merangkak bangun.
"Maling"
Itu terbahak-hahak.
"Haha, coba keledai gundul kalian berani lagi sembarangan memfitnah orang atau tidak?"
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong sesosok bayangan melayang tiba secepat kilat dan sekali cengkeram segera tulang pundaknya kena terpegang. Pendatang ini tak lain-tak-bukan ialah Nyo Yam.
"Lepas, lepaskan!"
Teriak "maling"
I!u.
"Aku bukan maling, kenapa kaum hwesio yang suka mengaku welas-asih sekarang hendak menangkap orang untuk disiksa?"
Kurnya kedatangan Nyo Yam itu terlampau cepat dan mencengkeramnya dari belakang sehingga dia tidak tahu jelas wajah Nyo Yam. Tentu saja Nyo Yam merasa geli, katanya dengan tertawa.
"Coba lihat yang jelas, aku ini bukan hwesio. tapi aku tidak suka kepada perbuatanmu, mau-tak mau aku harus ikut campur urusan ini."
"Dari mana kau tahu aku yang salah?"
Jawab orang itu.
"Baik, jika benar engkau tidak bersalah, coba katakan apa yang kau lakukan, mereka menuduh kau masuk ke ruangan belakang kuil mereka dan menyusup ke ruangan yang terlarang,"
Kata Nyo Yam.
"Apakah engkau hakim? Aku tidak mau diadili olehmu,"
Seru orang itu.
"Setiap orang yang berbuat salah harus memberi penjelasan,"
Kata Nyo Yam.
"Tapi engkau justru bicara kasar terhadap pihak yang dirugikan olehmu, malahan menyerangnya. Apapun juga engkau tetap bersalah. Nah. jika engkau tidak memberi keterangan yang jelas, hm, terpaksa aku bertindak kepadamu."
Dan sedikit mencengkeram, seketika orang itu menjerit kesakitan serupa babi hendak disembelih.
Pada saat itulah tiba tiba terdengar suara "Omitohud", setelah menyebut nama Budha, lalu orang itu berkata.
"Harap Sicu mengampuni dia saja."
Waktu Nyo Yam berpaling, dilihatnya seorang hwesio tua sedang mendekatinya.
"Taisu ini ...."
"Ketua kuil ini,"
Tukas hwesio tua itu.
"Orang ini mencuri barang di kuil kalian, tapi engkau malah mintakan ampun baginya?"
Tanya Nyo Yam.
"Sudah kuperiksa, syukur tidak kehilangan sesuatu apa pun."
Kata si hwesio tua.
"Nah, ketua pimpinan kalian yang bicara sendiri, sekarang tentu kalian mau percaya bahwa aku bukanlah maling sebagaimana kalian menuduhku."
Jengek orang tadi. Nyo Yam menjadi sangsi, ia coba tanya si hwesio tua.
"Diam-diam orang ini menyusup ke ruangan terlarang dalam kuil kalian, betulkah terjadi demikian?"
"Betul. dia masuk ke sana tanpa izin,"
Kata hwesio tua.
"Cuma dia memang juga tidak melakukan pencurian, maka aku tidak ingin mengusutnya lebih lanjut."
"Apakah tidak perlu ditanyai dulu dia berasal dari mana dan untuk apa berbuat begitu?"
Tanya Nyo Yam.
"Perbuatan yang tidak baik ini kan sudah diberi hukuman oleh Sicu,"
Kata hwesio tua.
"Jika dia tidak suka bicara, kukira biarkan saja."
Kalau menuruti watak Nyo Yam, tentu dia ingin tanya sejelasnya duduknya perkara.
Tapi sekarang hari sudah dekat petang, ia masih harus mencari markas Kai-pang, urusan cukup penting, terpaksa ia tidak sempat tanya sejelasnya.
Segera ia berkata.
"Lohwesio, engkau adalah orang yang berkepentingan, jika engkau tidak mau mengusut lebih lanjut perkara ini boleh terserah padamu. Nah, maling cilik, untung bagimu, lekas enyah!"
Setelah melepaskan orang itu, Nyo Yam lantas hendak melangkah pergi.
"Sicu, engkau suka membela keadilan, sungguh aku sangat berterima kasih padamu,"
Kata si hwesio tua.
"Kalau sudi, silakan bersama kawan kalian mampir sebentar dan minum teh dulu dalam kuil kami."
"Terima kasih, biarlah lain kali saja,"
Kata Nyo Yam.
"Cuma, maafkan jika aku bicara terus terang. Lohwesio memang berhati welas asih, tapi perlu juga hati-hati terhadap manusia yang sukar disadarkan dan tetap jahat."
"Terima kasih atas nasihat Sicu,"
Kata si hwesio tua. Setelah melampiaskan isi hatinya, Nyo Yarn mempercepat langkah menyusul Se-kiat dan Leng-cu yang sudah mendahului jalan di depan. ---ooo0dw0ooo---
Jilid ke -6
"Engkoh Yam, tak tersangka engkau juga 1 orang yang sangat suka ikut campur urusan,"
Kita Leng-cu dengan tertawa.
"Padahal persoalan kecil begitu buat apa diurus?"
"Maling cilik itu jelas bukan pencuri biasa,"
Tutur Nyo Yam.
"Dia menyusup ke dalam kuil dan tidak mencuri sesuatu barang, jelas sangat mencurigakan. Tapi hwesio tua itu pun aneh, tidak tahu maksud baik orang."
"Apa yang terpikir olehmu tentu juga terpikir oleh hwesio tua itu,"
Ujar Se-kiat.
"Justru orang itu bukan pencuri biasa, maka si hwesio tua tidak ingin cari penyakit."
"Piauko, pengalamanmu jauh lebih luas daripadaku, menurut pendapatmu, apakah pencuri itu ...."
"kukira maksud kedatangannya ke Se-san sini serupa juga dengan kita,"
Kata Se-kiat. Nyo Yam baru sadar persoalannya, katanya.
"Maksudmu tujuan pencuri itu masuk ke kuil itu adalah untuk mencari tahu apakah ada orang bersembunyi di situ?"
"Itu cuma dugaanku saja, semoga meleset perkiraanku ini,"
Ujar Se-kiat.
"Aku justru berharap dugaanmu tepat kena sasarannya,"
Kata Nyo Yam.
"Sebab apa?"
Tanya Leng cu.
"Terus terang, bilamana benar dugaan Piauko. orang yang hendak dicarinya mungkin sekali adalah Kai Hong dan kedua Pui dan Hoan-suheng. Dan kalau mereka masih terus dicari oleh kawanan anjing pemburu kerajaan, ini menandakan sampai saat ini mereka masih dalam keadaan selamat."
"Sudahlah, kita tidak perlu banyak menduga ini dan itu, toh setiba di atas gunung segalanya akan menjadi jelas."
Ujar Leng-cu.
Setelah melintasi Cui-wi-san.
keadaan pun sunyi sepi tiada kelihatan bayangan manusia, mereka tidak pantang lagi dan segera mengeluarkan ginkang masing-masing, tidak lama sampailah mereka di Loh-su-san.
Meski Se-kiat tahu markas cabang Kai-pang berada di bawah Pit-mo-kai atau "tebing iblis gaib"
Di pegunungan Loh su-san, juga keadaan Pit-mo-kai pernah didengarnya dari Beng Goan-ciau, namun dia tidak pernah mendatangi tempat tersebut, jadi untuk menemukan tebing itu di pegunungan yang luas ini masih perlu buang tenaga dan waktu lagi.
Selagi mereka berusaha mencari tempat yang dituju, tibatiba terdengar suara percakapan dua orang.
Seorang sedang berkata.
"Mereka bilang markas cabang Kui-pang terletak di Se-san, padahal Se-san ini meliputi tiga puncak gunung, entah di mana letak markas kaum pengemis itu. Padahal kita sudah menjelajahi hampir seluruh puncak gunung di sini dan tidak kelihatan bayangan seorang pengemis pun, rasanya berita itu tidak seluruhnya benar."
Lalu seorang menanggapi.
"Tapi Congkoan menugaskan kita menyelidiki urusan ini dan sedapatnya harus menemukan sesuatu berita. Walaupun pegunungan ini sudah hampir rata kita jelajahi, tapi sebenarnya cuma sambil lalu belaka "
Kedua orang Ini bicara di balik pengkolan sana. sama sekali mereka tidak menyangka ada orang mendengar kata kata mereka. Diam-diam Nyo Yam membatin.
"Dugaan Piauko ternyata tidak salah, anak buah Ostai yang dikirim ke sini untuk menyelidiki Kai Hong ternyata tidak cuma satu kelompok saja."
Terdengar orang pertama tadi berkata pula.
"Tampaknya engkau memang sangat setia terhadap Congkoan-taijin, cuma, apakah pernah kau pikirkan satu hal?"
"Hal apa""
Tanya kawannya.
"Pertama, markas cabang Kai-pang belum pasti berada di Se san sini,"
Kata orang pertama.
"Kedua, seumpama betul berada di sini, setelah kita temukan, lalu mau apa? Bilamana menimbulkan curiga mereka, lantas bagaimana? Padahal meski kepandaianmu lebih hebat daripadaku mungkin juga bukan tandingan kawanan pengemis itu?"
Kawannya menjawab.
"Ya, dengan sendirinya kedatangan kita jangan sampai diketahui mereka, bilamana kepergok, apa boleh buat, rasanya kita masih ada cara menghadapi mereka."
"Cara apa?"
Tanya orang pertama.
"Bicara terus terang saja siapa kita,"
Tutur kawannya.
"Rasanya kawanan pengemis itu toh tidak berani bermusuhan dengan jago pengawal istana seperti kita ini."
"Hm, kukira engkau mempunyai cara yang bagus, tak tahunya hanya cara main gertak saja,"
Jengek orang tadi.
"Ya, memang, kawanan pengemis itu mungkin dapat kau gertak mundur, tapi engkau kan juga melanggar pantangan, masa kau lupa apa yang Congkoan-taijin pesan kepada kita?"
"Ya, Congkoan-taijin menyuruh kita sebaiknya menyelidiki secara diam-diam dan jangan tanya secara terang-terangan.."
"Itu dia! Kalau bertanya secara terang-terangan saja tidak boleh. lalu apa boleh kau katakan terus terang siapa dan apa kedudukan dirimu?"
"Kan sudah kukatakan, hal ini kita lakukan jika terpaksa,"
Ujar kawannya.
"Atau terlebih jelas, jimat penyelamat ini hanya kita keluarkan bilamana keselamatan kita terancam."
"Jiwamu mungkin dapat diselamatkan, tapi kedudukanmu pasti akan amblas,"
Ujar orang tadi.
"Baik, Jika begitu coba ingin kudengar gagasanmu, engkau mempunyai cara baik apa?"
"Menurut pendapatku, akan lebih baik kita pulang ke kotaraja saja dan habis perkara."
"Hah, pulang ke kotaraja? Tanpa mendapatkan sesuatu informasi lantas pulang begitu saja? Padahal batas waktu yang diberikan Congkoan-taijin kepada kita adalah lima hari, kan masih ada waktu dua hari?"
"Ai. kenapa engkau selugas ini? Dua hari kan dapat kita gunakan untuk pesiar ke mana saja kan beres,"
Kata orang tadi.
"Sampai waktunya nanti kita lantas pulang untuk menyampaikan laporan, katakan saja tiada bayangan seorang pengemis pun yang kita temui di Se-san. Sesungguhnya hal ini memang nyata juga dan bukan kita sengaja bohong. Betul juga. jika pulang dengan tangan hampa tentu tak terhindar dari damperatan Congkoan, tapi kan jauh lebih aman daripada menyerempet bahaya dihajar oleh kawanan pengemis?"
Selang sejenak barulah kawannya menghela napas dan berkata.
"Baiklah, tidak perlu cari jasa. asal saja tidak berbuat salah. Inilah kuncinya orang menjadi amtenar."
Dari nadanya, agaknya dia masih agak penasaran. Dengan suara pelahan Leng-cu berbisik.
"Engkoh Yam, kau dengar tidak pembicaraan kedua orang itu?"
"Dengar."
Jawab Nyo Yam.
"Marilah kita merunduk ke sana dan bekuk mereka,"
Ajak si nona.
"Jangan cari perkara,"
Ujar Nyo Yam.
"Bukankah kau dengar mereka mau pulang saja untuk memberi laporan sekadarnya."
Dalam pada itu kedua orang itu sudah muncul dari balik pengkolan sana, meski jaraknya masih ratusan langkah jauhnya, namun mereka pun sudah melihat rombongan Nyo Yam. Salah seorang lantas mendesis.
"Ssst, lihat di sana ada tiga orang, satu di antaranya adalah anak gadis malah. Ketiga orang ini berkeliaran di sini, sekalipun bukan orang ynng tersangka, tapi pasti juga bukan orang baik. Jika kawanan pengemis tidak berani kau ganggu, bolehlah tangkap saja, ketiga orang ini dan bawa pulang."
Kawannya tampak bekernyit kening atas gagasan demikian, jawabnya kemudian.
"Ah, daripada banyak urusan, lebih baik jangan cati penyakit."
Tapi kawannya bicara lagi.
"Yang perempuan itu kelihatan lumayan parasnya, ai, buat apa berlagak alim, beberapa hari yang lalu kaupun pernah mengganggu seorang gadis keluarga baik-baik."
"Hm, jangan keblinger, Losam, masa kau anggap nona ini seperti perempuan kampung umumnya, bisa jadi kau ...."
Belum habis ucapannya tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang, siapa lagi kalau bukan si nona yang mereka bicarakan?
Kiranya Leng-cu merasa tersinggung oleh pembicaraan mereka, tanpa peduli nasihat Nyo Yam, dengan murka ia memburu maju untuk melabrak kedua orang itu.
Sekarang si "Losam"
Juga sudah tahu nona cilik yang dibicarakan ini bukanlah anak perempuan biasa, tapi dia anggap kepandaian sendiri cukup tinggi, tanpa gentar ia hadapi Liong Leng-cu dengan cengar-cengir, katanya.
"Eh, matahari sudah hampir terbenam, nona cantik kecil seperti dirimu mengapa masih berkeluyuran di pegunungan sepi ini?"
"Kau sendiri kenapa berada di pegunungan sunyi ini?"
Tanya Leng-cu malah. Orang itu menjawab.
Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 9
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 2