Eps 1 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com/.
Durjana dan Ksatria (Jue Sai Zhuan Feng Lu) ~~Seri Thiansan~~ Karya .
Liang Ie Shen Saduran .
Gan KL.
Nyo Yam di seri lain adalah Nyo Yan Ce Se-kiat di seri lain adalah Ki See-kiat.
Jilid 1.
Menjelang lohor, pada saat paling ramai di jalan Ong-huceh, suatu jalan yang paling terkenal di kota Peking, muncul seorang perempuan tua berwajah kurus.
Usianya belum terlalu tua, kira-kira baru 50-an lebih, namun wajahnya sudah penuh diliputi keriput menandakan betapa kenyangnya mengenyam asam-garam kehidupan ini.
Perempuan tua ini bukan nenek biasa melainkan sempat termasyhur, bahkan pernah ditakuti orang kangouw, yaitu Lojiu-koan-im.
Nyo toa-koh, si Buddha Kwan-im bertangan pedas.
Putra Nyo Toa-toh, yakni Ce Se-kiat, seorang pendekar muda yang paling menonjol di kalangan angkatan muda itu dua tahun yang lalu telah pergi ke perbatasan utara dan sejauh ini belum pulang.
Adik Nyo Toa-koh, yaitu Nyo Bok, adalah guru silat terkenal di kota Poting, sekarang telah menjabat sebagai jago pengawal istana kesayangan kaisar dan kini bermukim di Peking.
Tapi kedatangan Nyo Toa-koh kali ini bukan hendak mencari adiknya si Nyo Bok.
kunjungannya ini adalah atas undangan Han Wi-bu, itu pemimpin umum perusahaan pengawalan Cin-wan-piaukiok yang terkenal.
Mereka adalah sahabat kental sejak muda.
Begitu bertemu dengan Han Wi-bu, langsung Nyo Toa-koh menegur.
"Hai, Han tua, sesungguhnya ada permainan apa kau panggil diriku kemari?"
Pertanyaan ini sangat kasar, meski Han Wi-bu sudah kenal watak si nenek, tidak urung ia melenggong juga, jawabnya kemudian dengan tertawa.
"Memang sengaja kuundangmu kemari, mengapa bagitu datang lantas mengomel? Di depan bibi besar (Toa-koh) kita memangnya siapa yang berani main gila?"
"Baik, jika begitu coba katakan, kan undanganmu kepadaku ini bukan untuk datang makin minum dan berfoya-foya tentunya!!"
"Eh, Toaci yang baik, rupanya engkau marah karena tidak kujelaskan maksud undanganku kepadamu,"
Ucap Han Wi-bu dengan tertawa.
"Bicara terus terang, aku memang ingin minta pertolonganmu, untuk ini justru tidak leluasa disampaikan melalui perantara, maka sengaja kuundang Toaci kemari."
"Mendingan engkau tidak bicara demikian, sekarang aku ingin tanya lagi sesuatu padamu,"
Kata Nyo Toa-koh.
"Silakan bicara,"
Kata Wi-bu.
"Song Peng-ki dan Oh Lian-kui, kedua monyet itu apakah kau tugaskan keluar, kenapa keduanya tidak kelihatan?"
Tanya Toa-koh.
Kedua orang yang disebut itu adalah Sutit atau murid keponakan Nyo Toa-koh atau tegasnya murid Nyo Bok, mereka bekerja sebagai tukang kawal di Cin-wan-piaukiok ini.
Maka Han Wi-bu lantas menjawab.
"Tidak, keduanya tidak kutugaskan keluar."
"Habis, apakah keduanya jatuh sakit?"
Tanya Toa-koh pula.
"Tidak, keduanya sehat sehat saja, masuk angin saja tidak pernah."
"Bagus, coba jawab lagi, tentunya kaupun tahu mereka adalah Sutitku bukan?"
"Tentu saja kutahu, malahan kutahu juga mereka dibesarkan di rumahmu."
"Nah, kalau mereka tidak dinas luar, juga tidak jatuh sakit, mengapa tidak kau suruh mereka saja yang mengundang diriku? Mereka kan bukan orang asing? Memangnya ada urusan rahasia apa sehingga mereka pun tidak kau percayai untuk menyampaikan undangan ini kepadaku?"
"Terus terang, pekerjaan lain tentu saja dapat kutugaskan kepada mereka, hanya mengenai undangan kepada Toaci ke kotaraja yang maha penting ini tidak berani kutugaskan mereka."
"Sebab apa?"
Tanya Nyo Toa-koh.
"Sebab ada orang lagi mengincar mereka,"
Tutur Wi-bu.
"Memangnya apa kesalahan mereka?"
"Tidak ada."
"Oo, kukira mereka diintai petugas pemerintah. Jika tidak, siapa pula yang berani mengutik mereka, sampai jago pengawal piaukiok nomor satu di kotaraja ini tidak berani meninggalkan tempat pekerjaannya?"
"Orang ini juga murid keponakanmu."
Kata Wi-bu mendadak. Seketika berubah air muka Nyo Toa-koh. katanya.
"Apa kau maksudkan Bin Sing-liong?"
Bin Sing-liong adalah murid tertua Nyo Bok, sekarang menjabat perwira menengah pasukan pengawal kotaraja.
"Betul,"
Jawab Wi-bu dengan sinis.
"Memang murid keluarga Nyo kalian yang terhormat ini, Bin Sing-liong, tuan besar Bin kita."
Dulu Bin Sing-liong juga pernah bekerja di Cin-wan piaukiok dan menjabat wakil pemimpin umum. sekarang Han Wi-bu menyebut wakilnya dulu itu dengan istilah "tuan besar,"
Jelas bukan sebutan menghormat melainkan sengaja mengejeknya untuk melampiaskan rasa dongkolnya.
Namun bagi pendengaran Nyo Toa-koh, ucapan Han Wi-bu ini membuatnya teringat pada urusan lain.
Disangkanya Han Wi-bu sengaja mengingatkan dia agar jangan lupa kepada kedudukan Sutitnya yang kini sudah menjadi pembesar negeri itu.
Ia membatin.
"Jangan-jangan apa yang dilakukan anak Kiat di Poting itu telah diketahui oleh adik Bok. Karena hubungan anak Kiat sangat baik dengan Peng-ki dan Lian-kui, maka adik Bok menyuruh murid kepercayaannya ini untuk mengawasi Peng-ki dan Lian-kui dan mencari rahasia perbuatan anak Kiat, sekaligus juga menyelidiki gerak-gerik anak Kiat?"
Maka ia menjawab dengan mendengus.
"Hm, kiranya Bin Sing-liong hendak membikin susah kedua Sutenya sendiri, begitu? Hendaknya kau katakan terus terang padaku, apakah dalam hal ini masih menyangkut lagi urusan lain? Apakah lantaran engkau merasa tidak berdaya membela mereka, maka mengundangku ke sini?"
"Urusan lain memang juga ada,"
Jawab Wi-bu.
"Cuma bukan lantaran Bin Sing-liong hendak membikin susah kedua Sutenya, sebaliknya dia justru menyanggupi berbagai bantuan kepada Peng-ki dan Lian kin."
"Hm, setelah berkecimpung sekian tahun di kalangan pembesar, mungkin Sing-liong sekarang juga ketularan penyakit main iicik dan licin,"
Jengek Nyo Toa koh.
"Memangnya dia menyanggupi bantuan apa kepada Lian-kui dan Pcng-ki?"
Mendengar nada ucapan Nyo Toa-koh yang tidak puas terhadap tindak-tanduk Bin Sin liong itu, diam-diam Han Wi-bu merasa senang, pikirnya.
"Tampaknya langkahku ini kena pada sasarannya. Lo toaci (kakak tua) ini meski terkenal sebagai bertangan pedas, tapi juga tidak suka menangmenangan sebagai-mana disangka orang. Bardasarkan hubunganku dengan dia, sekalipun tidak berani kuharapkan dia membantuku secara langsung, kalau ku-minta dia menjadi juru damai kiranya akan diterimanya juga."
Maka dengan tertawa ia berkata.
"Sudah kusuruh orang memanggil kedua Sutitmu itu, janji apa yang disanggupi Bin Sing-liong kepada mereka boleh kau tanya mereka. Dan sebelum mereka tiba, biarlah kuberitahu apa yang kuharapkan bantuanmu."
Nyo Toa-koh tahu urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan putranya, maka hati pun rada lega, katanya.
"Han tua, kau tahu pribadiku. Meski secara resmi aku tidak mengumumkan mengundurkan diri dari dunia kangouw, tapi selama sepuluh tahun terakhir ini pada hakikatnya aku sudah mengundurkan diri. Maka urusan tetek-bengek dunia kangouw aku tidak mau ikut campur lagi."
"Jangan kuatir, Lo toaci,"
Kata Wi-bu dengan tertawa.
"bukan maksudku mengundangmu membantu berkelahi, aku cuma ingin mohon pertolonganmu agar mencegah Bin Singliong menghancurkan Cin-wan-piaukiok."
Seketika Nyo Toa-koh merasa gusar, katanya.
"Apa? Masa Sing-liong begitu berani dan hendak menghancurkan piaukiokmu ini? Hm, hanya seorang perwira Han-lim-kun saja, biarpun dia pejabat pemerintah juga tidak boleh berbuat demikian."
"Dia tidak bermaksud menutup piaukiok ini, tapi ulahnya itu sama dengan menghancurkan piaukiok ini,"
Tutur Wi-bu.
"Lo toaci, jangan terburu-buru, dengarkan dulu ceritaku. Sudah sekian puluh tahun aku membuka perusahaan ini, berkat bantuan para kawan kangouw sehingga selama ini tidak pernah terjadi sesuatu yang memalukan. maka merek perusahaan Cin-wan-piaukiok ini dapat bertahan sekian puluh tahun. Sekarang sudah kuputuskan akan mengundurkan diri saja, bahkan keputusanku ini sudah kuberitahukan segenap anggota piaukiok ini. Sudah kutetapkan pada hari ulang tahunku yang ke-60 akan kuundang segenap sahabat yang berada di kota ini dan secara resmi kutimbang-terimakan jabatan Congpiauthau yang sudah kujabat sekian lama ini."
"Ah, jika tidak kau ceritakan aku menjadi lupa malah,"
Seru Toa-koh.
"Memang betul, hari ulang tahunmu jatuh pada akhir bulan ini bukan?"
"Betul, pada tanggal 28 bulan ini, lima hari lagi,"
Jawab Wibu.
"Wah, jika begitu, kedatanganku ini sangat kebetulan, harus kumakan dulu mi ulang tahunmu baru kupulang,"
Kata Toakoh.
"Cuma, Han tua, badanmu cukup sehat, umur 60 tidak terhitung loyo, kenapa engkau terburu-buru mengundurkan diri?"
"Manusia tidak selamanya sehat. bunga tidak senantiasa mekar, Lo toaci tidak bekerja di bidang ini, tentu engkau tidak merasakan suka dukanya,"
Kata Wi-bu.
"Kau tahu, pekerjaan seperfi kami ini serupa halnya menjadi perampok, kehidupannya selalu berkutetan di ujung golok. Malahan kukira menjadi bandit akan lebih baik daripada kami."
Nyo Toa-koh tertawa.
"Bekerja di bidang apa pun tentu ada suka-dukanya, tapi kau-bandingkan Piausu (pengawal barang) dengan bandit, sungguh baru pertama kali ini kudengar. Aku jadi ingin tahu apa yang menjadi dasar pikiranmu ini."
"Kau tahu menjadi bandit melulu berdasarkan kekuatan dan kekerasan saja, kalau kepandaian kalah tinggi, paling-paling kepala terpenggal dan habis perkara,"
Tutur Wi-bu.
"Sebaliknya menjadi Piausu selain harus berkepandaian cukup, bahkan makan hati. Dia perlu mempunyai hubungan luas dengan kalangan hitam maupun putih, harus bisa mengatur segala sesuatu, bilamana hari raya atau tahun baru tidak boleh lupa antar kado, kurang sedikit saja atau melupakan satu orang pun bisa menimbulkan kesulitan. Sudah sekian puluh tahun aku bekerja di bidang ini, banyak juga sengketa yang kualami. sungguh boleh dikatakan sudah lelah lahir dan batin. Selama beberapa tahun terakhir ini di dunia kangouw muncul pula beberapa tokoh kelas tinggi kalangan hitam yang buru-buru ingin mendapat nama, maka sering main sikat saja tanpa pandang bulu."
"Tahun yang lalu aku mengawal sendiri satu partai barang ke Sengtoh dan kepergok seorang bandit yang bekerja seorang diri dan tidak kukenal asal-usulnya, hampir saja aku terjungkal di tangannya. Setelah kupikir pergi-datang, akhirnya kuputuskan sebelum terjungkal habis-habisan, lebih baik kutiru seperti Lo toaci saja dan mengundur diri sebelum kasip."
"Caramu ini tampaknya cukup bijaksana, aku tidak berani lagi mencegah niatmu,"
Ujar Nyo Toa-koh dengan tertawa.
"Tapi entah calon penggantimu apakah sudah kau pilih atau belum?"
"Justru dalam hal inilah timbul kesulitan,"
Kata Wi-bu.
"O kesulitan apa?"
Tanya Nyo Toa-koh.
"Kau tahu sejarah Cin-wan-piaukiok,"
Tntur Wi-bu.
"Pendiri perusahaan ini semula terdiri dari dua pesero, seorang adalah almarhum ayahku, seorang lagi adalah guru silat Te Kin. Kirakira 20 tahun yang lalu, To Kin tersangkut perkara kawanan pemberontak di Siau-kim-joan dan menjadi buronan pemerintah, untunglah di bawah pimpinan adikmu Cin-wanpiaukiok tidak sampai tersangkut urusan itu."
"Ya, kutahu,"
Kata Nyo Toa koh.
"Justru pada waktu itulah Bin Sing-liong diperkenalkan adikku dan dipekerjakan di piaukiok ini."
"Sesudah Bin Sing-liong masuk perusahan ini, belum sampai dua tahun kedudukannya sudah menanjak menjadi wakil pemimpin umum dan sehagai wakilku,"
Tutur Wi-bu.
"Lo toaci. tentunya engkau pun paham, hal ini bukan disebabkan ilmu silatnya tinggi maka dipilih menjadi wakilku."
"Ya, kutahu urusan ini adalah karena tanda hormatmu kepada adikku,"
Kata Toa-koh.
"Engkau hanya menjawab tepat sebagian saja, Lo toaci,"
Ujar Wi-bu.
"Oo, apa masih ada alasan lain?"
Tanya Toa-koh.
"Soalnya Te Kin tersangkut perkara pemberontakan dan buron, sejauh itu tidak ada kabar beritanya. Padahal Cin-wanpiaukiok didirikan oleh keluarga Te dan Han, modal gabungan. Dengan perginya Te Kin, andilnya dalam perusahan ini lantas menjadi kehilangan pemiliknya,"
Tutur Wi-bu. Nyo Toa-koh sudah menduga apa maksud cerita orang, ia sengaja tanya lagi.
"Memangnya ada sangkut-paut apa antaran urusan ini dengan kenaikan pangkat Bin Sing-liong?"
"Masa adikmu tidak pernah bercerifa padamu?"
Tanya Wibu.
"Kukira sudah lama kau tahu urusan ini."
"Tahu apa?"
Toa-koh menegas.
"Begitu Te Kin kabur, adikmu lantas menjadi pesero terbesar Gin-wan-piaukiok ini,"
Tutur Wi-bu.
"Masa begitu?"
Heran juga Wi-bu.
"Dia tidak pernah bicara hal ini denganku. Memangnya cara bagaimana dia mewarisi hak Te Kin itu?"
"Sesudah Te Kin buron, pihak pemerintah lantas memutuskan dosanya yang berkomplot dengan kaum pemberotak itu. Mestinya Cin-wan-piaukiak sukar terhindar dari tuduhan semua itu. berkat usaha adikmu dengan pihak yang berwajib sehingga perkara ini dibekukan dan tidak diusut, maka piaukiok ini dapat bertahan sampai sekarang. Tapi apa yang di katakan "dibekukan"
Hanya tuduhan pemerintah kepada Te Kin tidak diumumkan saja secara terbuka, sedangkan haknya sebagai pesero piaukiok ini harus berganti tangan.
Sebagai orang yang menyingkap perkara ini, juga orang yang berusaha membebaskan piaukiok dari pengusutan.
maka sesudah urusan beres.
secara otomatis dia lantas menggantikan Te Kin sebagai pesero Piaukiok ini."
Toa-koh berkerut kening. katanya.
"Jika demikian. jadi dia mengangkangi hak Te Kin secara paksa, pantas dia tidak berani memberitahukan hal ini kepadaku. Pada 20 tahun yang lalu watakku jauh lebih keras daripada sekarang, bilamana kutahu hal ini ketika itu pasti tidak kuizinkan dia berbuat demikian."
Han Wi-bu tersenyum getir, katanya.
"Malahan waktu itu adikmu berlagak ogah ogahan, kami sampai memohonnya dengan sangat baru dia mau menjadi pesero piaukiok ini. Cuma urusan ini menyangkut perkembangan perusahan Cin wan piaukiok, maka kedudukan adikmu dalam perusahaan sampai sekarang belum diketahui orang luar."
Toa-koh manggut-manggut, katanya.
"Ya, kupaham, bilamana diketahui orang kangouw bahwa seorang perwira pasukan pengawal menjadi pesero besar Cin-wan-piaukiok, mungkin perusahaan ini akan dipandang hina oleh orang persilatan."
"Andil yang dikuasai adikmu tidak sedikit, seluruhnya ada 60 persen,"
Tutur Wi-bu.
"Tadi kau bilang keluarga Te dan keluarga Han kalian kongsi mendirikan piaukiok ini, dengan sendirinya andil kalian separo-separo, lalu kelebihan satu bagian adikku itu diperoleh dari siapa?"
Tanya Toa-koh. Wi-bu tersenyum gctir, tuturnya.
"Akulah yang memberikan kepadanya sebagai tanda terima kasih atas bantuaunya yang telah sudi menyelamatkan piaukiok ini dari pengusutan pihak yang berwajib, jadi aku yang memberikan secara sukarela dan bukan dia yang minta padaku, cuma aku pun mendapat isyarat dari Pak kiong Bang yang menjadi komandan pasukan pengawal kotaraja waktu itu dan kumohon adikmu sudi menerima."
Ia merandek, lalu menyambung.
"Selaku pemegang andil terbesar Cin-wan-piaukiok, bila dia mengutus murid tertua Bin Sing-long menjadi wakilku, hal ini sudah cukup menghormati aku. Kalau tidak, umpama dia minta kuangkat Bin Sing-liong sebagai Congpiauthau, terpaksa harus kuserahkan juga kedudukanku ini kepadanya."
Nyo Toa-koh menghela napas, katanya.
"Mempunyai adik semacam itu, sungguh aku merasa malu. Cuma, sekarang Bin Sing-liong sudah menjadi pembesar, urusan piaukiok tentu boleh kau atur dengan kuasa penuh."
"Tidak,"
Kata Wi-bu.
"Sekarang dia ingin kembali ke piaukiok lagi. Bahkan tidak cuma menghendaki wakil Congpiauthau saja."
"Habis dia minta kedudukan apa?"
Tanya Nyo Toa-koh. Bicara sampai disini kelihatan Song Peng-ki dan Oh Lian-kui sudah datang. Segera Wi-bu berkata pula.
"Nah, silakan Lo toaci tanya sendiri kedua Sutitmu?"
Nyo Toa-koh lantas tanya.
"Kabarnya beberapa hari yang lalu kalian dicari Bin Sing liong dan kalian dijanjikan berbagai fasilitas, memangnya fasilitas apa saja?"
"Bin-suko bilang, nanti kami akan diangkat menjadi wakil Congpiauthau perusahaan ini,"
Tutur Song Peng-ki.
"O, berdasarkin apa dia dapat mengangkat kalian sebagai wakil Congpiauthau?"
Tanya Toa koh.
"Katanya tidak lama lagi dia akan bekerja lagi di piaukiok dan menjadi Congpiauthau, diharap kami mendukungnya,"
Tutur Oh Lian-kui.
"Kiranya dia menghendaki kalian menjadi begundalnya,"
Kata Toa-koh.
"Secara mendadak kalian akan diangkat menjadi wakil pemimpin perusahaan pengawalan paling besar di kotaraja ini, sungguh fasilitas yang diberikannya kepada kalian memang tidak sedikit."
Cepat Peng-ki dan Lian-kui menjawab.
"Sukoh (bibi guru), berapa bobot kami tentu Sukoh sendiri cukup maklum. Mana kami berani sembarangan menerima kebaikan Toa suko itu. Bicara sejujurnya, kami pun penasaran bagi Congpiauthau bilamana Toa suko jadi ambil alih tugas pimpinan Cin-wanpiaukiok. hanya saja kami tidak berani ikut bicara."
"Mengapa tidak berani bicara?"
Tanya Toa-koh. Peng-ki berdua menjawab dengan gelagapan.
"mengenai ini, sungguh kami .... kami tidak.."
"Ya, tahulah aku,"
Kata Toa-koh.
"Tentu Sin-Hong bilang kepada kalian bahwa guru kalian yang mengambil keputusan begitu, bukan?"
Peng-ki dan Lian-kui menunduk tanpa bersuara, diam berarti membenarkan.
"Menurut kebiasaan perusahaan piaukiok besar, calon Congpiauthau harus orang lama yang sudah berpuluh tahun berkecimpung di bidangnya, selain ilmu silatnya harus tinggi, juga diperlukan pergaulan yang luas,"
Demikian tutur Han Wibu.
"Dengan begitu barulah akan mendapatkan dukungan anak buah dan perusahaan dapat berkembang."
"Tapi sangat jauh bagi Bin Sing-liong untuk memenuhi persyaratan itu,"
Kata Toa-koh.
"Namun menurut peraturan, calon Congpiauthau selain harus mendapat dukungan para kerabat perusahaan, yang lebih penting calon itu harus disetujui dulu pihak pemegang andil perusahaan, juga harus seorang tokoh yang terhormat di dunia persilatan. Jelek-jelek Bin Sing-liong kan pernah menjabat wakil Congpiauthau selama dua tahun di sini, jika adikmu selaku pemegang saham mencalonkan dia untuk menggantikan diriku kan tidak dapat kutolak dia?"
"Lantas maksudmu mengundangku ke sini, apakah ingin minta bantuanku untuk mencegah pencalonan Bin Sing-liong menjadi Congpiauthau di sini, begitu?"
"Bukan maksudku hendak menyatakan Sutitmu itu tidak sesuai untuk menjabat Congpiauthau di sini, soalnya dia sekarang adalah perwira Han-lim-kun, sekalipun dia mengundurkan diri dari jabatannya, lalu pindah ke sini dan memimpin perusahaan ini, namun bila hal ini diketahui kawan kangouw, tentu piaukiok akan dipandang hina oleh mereka."
"Tidak perlu kau beri penjelasan padaku,"
Kata Toa-koh.
"Biar kukatakan, bila kau jadikan Bin Sing-liong sebagai penggantimu, maka engkau pun akan kupandang hina dina."
Wi-bu bergirang.
"Ah Lo toaci, jadi engkau mau membantuku mencegah adikmu melaksanakan kehendaknya ini."
"Bukannya aku tidak mau membantu, soalnya biarpun kubicara dengan dia tetap tidak berguna."
Ujar Toa-koh.
"Ai, tentunya Lo toaci tidak sengaja menolak permohonanku,"
Kata Wi-bu.
"Kakak perempuan serupa ibu, apalagi adikmu memang dididik oleh kakaknya yang merangkap menjadi kewajiban ibu, engkau yang telah membesarkan dia, mustahil dia tidak tunduk kepada ucapanmu. sedangkan Bin Sing-liong tidak lain hanya boneka adikmu. asalkan adikmu menarik kembali keputusannya, mau tak-mau Bin Sing-liong akan mundur teratur."
Nyo Toa-koh tidak ingin orang lain mengetahui perselisihan antar anggota keluarganya, terpaksa ia menjawab.
"Baiklah, kuterima permintaanmu untuk ikut campur urusan ini, tapi hendaknya jangan kau pedulikan cara bagaimana akan kulakukan. Untuk itu aku ingin tahu dulu, apakah sekarang engkau sendiri sudah mempunyai calon Congpiauthau pilihanmu?"
"Ini ... ini ...."
Han Wi-bu tergagap.
"Aneh, kenapa begini caramu bicara, memangnya ada sesuatu yang kau kuatirkan?"
Tanya Toa-koh.
"Sukoh,"
Tiba-tiba Peng-ki menimbrungi "kami yang bekerja di sini, kecuali terhadap Han-congpiauthau, orang yang paling kami kagumi dan hormati sekarang ialah Hiu-hucong-piauthau, bahwa Han congpiauthau bermaksud mengundurkan diri, serentak kami mendukung Hiu hucong piauthau sebagai penggantinya."
"Wakil Congpiauthau yang kaumaksudkan itu apakah Hiu Thian-lan adanya?"
Tanya Nyo Toa-koh.
"Betul,"
Jawab Peng-ki.
"Hiu hucongpiauthau ini tak-laintak-bukan juga menantu kesayangan Han-congpiauthau."
Nyo Toa-koh baru tahu duduknya perkara, ucapnya dengan tertawa.
"Ah, tahulah aku. Han tua, rupanya kau kuatir orang menuduhmu mengangkat orang kepercayaan sendiri, begitu bukan?"
"Orang lain takkan punya anggapan begitu, jika ada tentu datangnya dari Bik-suko,"
Ujar Peng-ki.
"Sebenarnya jabatan wakil Congpiauthau saja tidak ingin kuberikan kepada menantuku, tapi lantaran beberapa kali dia berjasa bagi perusahaan, mau-tak-mau harus kuberi promosi kepadanya,"
Tutur Wi-bu.
"Tapi bila sekarang kuangkat dia sebagai penggantiku, mungkin adikmu akan menyangka aku sengaja berebut kedudukan dan menarik keuntungan dengan dia. Coba pikir, dia penujui muridnya untuk menggantikan diriku, sekarang kupilih menantuku sendiri, kan lama mementingkan pihak sendiri?"
"Tampaknya memang begitu, tapi sesungguhnya tidak sama,"
Ujar Toa-koh.
"Ilmu silat dan kehormatan Bin Singliong mana dapat di-bandingkan dengan Hiu Thian-lan."
"Apa pun juga kan lebih baik menghindari komentar orang yang tidak-tidak,"
Kata Wi-bu.
"Maka menurut pandanganku masih ada seorang calon lain, entah Lo toaci setuju atau tidak?"
"Aneh juga, calon pilihanmu untuk perusahaanmu sendiri, kenapa perlu minta persetujuanku?"
Tanya Toa-koh dengan tertawa.
"Soalnya calon pilihanku ini perlu mendapatkan anggukanmu."
Kata Wi-bu dengan tersenyum.
"Dengan begitu baru mungkin dia mau menjadi Congpiauthau kami. Bilamana engkau tidak mengizinkan, kemungkinan yang kuharapkan bisa jadi akan gagal sama sekali."
"Sesungguhnya siapa yang kau maksudkan?"
Tanya Toa-koh dengan heran.
"Ialah putramu!"
Kata Wi-bu.
"Ah, kenapa timbul pikiranmu yang lucu ini, mana Se-kiat mampu memikul tugas berat ini?"
Kata Toa-koh.
"Aku justru menganggap cuma dia yang sanggup memikul tugas perusahaan,"
Ujar Han Wi-bu.
"Putramu pernah bertempur sama kuat dengan Kwan-tang-taihiap Utti Beng, hal ini sudah tersiar luas di dunia kangouw, bicara tentang kebesaran nama dia lebih dari cukup untuk menjabat Congpiauthau sebuah piaukiok."
"Tapi Cin-wan-piaukiok bukanlah piaukiok biasa melainkan piaukiok paling besar di kotaraja ini!"
Kata Toa-koh.
"Justru lantaran Cin-wan-piaukiok, maka baru cocok Congpiauthaunya dijabat oleh putramu,"
Kata Wi-bu mantap.
"Ya, kupaham maksudmu, tentu hal ini disebabkan pemegang saham terbesar perusahaanmu ini adalah paman Se-kiat, begitu bukan?"
"Memang, keponakan kan lebih dekat daripada murid, ditambah lagi hal ini diusulkan olehmu sendiri kepada adikmu, tentu dia sungkan untuk menolak. Dan bila jadi putramu menjadi penggantiku, segalanya tidak perlu kukuatirkan lagi."
"Oo, memangnya kau percaya penuh se-kiat takkan membantu pamannya mencaplok seluruh perusahaanmu ini,"
Tanya Toa-koh.
"Sedikit banyak cukup kukenal pribadi saudara Se-kiat,"
Kata Wi-bu dengan tertawa.
"Kuyakin dia tidak dapat dipersamakan dengan Bin Sing-liong. Apalagi dia adalah anak didikmu sendiri, ibu baik tentu mengeluarkan anak bagus, bila tidak kupercayai dia kan sama saja aku tidak percaya padamu? Dan kalau aku tidak percaya padamu, untuk apa kuundang engkau datang kemari untuk memberi keadilan?"
"Huh, tidak perlu kau sanjung puji diriku,"
Jawab Toa-koh dengan tertawa.
"Terus terang kukatakan padamu. Se kiat dan pamannya tidak mungkin cocok. Se-kiat tidak akan membonceng nama pamannya. sebaliknya pamannya juga takkan percaya kepada Se-kiat."
"Jika engkau mengemukakan gagasan ini tentu adikmu akan menurut,"
Ujar Wi-bu.
"Tidak,"
Kata Toa-koh.
"Pertama sesuai dengan watakku yang keras, jelas aku tidak suka kepada perbuatan adikku dan dengan sendirinya takkan kuminta dia mengangkat anakku, seumpama aku mau minta persetujuannya, Se-kiat juga takkan datang kemari, sebab sudah sekian lamanya dia pergi, aku sendiii tidak tahu saat ini berada di mana dan kapan akan pulang."
Wi-bu rada kecewa, katanya.
"Jika demikian. terpaksa usulku ini dianggap tidak pernah ada."
"Biarlah kugunakan caraku sendiri saja,"
Ujar Toa-koh.
"Menurut pendapatku, sebaiknya menantumu saja diangkat sebagai penggantimu. Bolehkah sekarang juga suruh dia menemuiku?"
Selagi Han Wi-bu merasa ragu, tahu-tahu menantunya, yaitu Hiu Thian-lan sudah datang tanpa dipanggil.
"Aha, sungguh kebetulan, baru disebut orangnya sudah muncul,"
Kata Toa-koh.
"Maaf jika wanpwe mengganggu,"
Kata Hiu Thian-lan.
Han Wi-bu merasa heran juga Hiu Thian-lan datang tanpa dipanggil, padahal ia sudah memberi pesan kepada penjaga agar orang lain dilarang masuk tanpa izinnya.
Tapi ia pun tidak enak untuk menegur menantu sendiri, segera ia berkata.
"Boleh kau duduk, memang sedang hendak kupanggilmu."
Thian-lan melengak, tanyanya.
"Suhu, apakah engkau sudah tahu hal ini?"
Wi-bu menjadi heran juga, ia balas tanya.
"Hal apa?"
"Di luar ada seorang tamu yang minta kita mengawalkan barangnya,"
Tutur Hiu Thian-lan.
"Tamu ini kelihatan rada aneh."
Baru sekarang Wi-bu dan Toa-koh tahu kedatangan Hiu Thian-lan ini karena ada urusan lain, dengan kening bekernyit Wi-bu berkata.
"Urusan perusahaan boleh suruh Li-koansu melayaninya."
"Justru Li koansu tidak tahu cara bagaimana melayani tamu aneh itu, maka dia minta petunjuk kepada Congpiauthau,"
Tutur Thian-lan.
"O, jika begitu coba jelaskan, syarat berat apa yang dikehendaki tamu itu"
Tanya Wi-bu "Syaratnya sih tidak berat, cuma rada aneh,"
Lapor Thianlan.
"Dia tegas-tegas menyebut nama dua jago pengawal kita dan minta mereka yang mengawalkan barangnya."
Menurut peraturan perusahaan pengawalan barang, setiap tamu boleh menunjuk nama jago pengawalnya terkecuali Congpiauthau sendiri.
Tamu demikian biasanya pasti sudah kenal seluk-beluk piaukiok ini dan kenal jago pengawal mana yang berkepandaian tinggi dan bergaul luas, demi keselamatan barang kawalannya maka jago pengawal yang dikaguminya itu diminta turun tangan sendiri.
Cuma meski berlaku peraturan begitu di perusahaan pengawalan, nemun selama ini Cin-wan-piaukiok tidak pernah menerima order pekerjaan begini.
Hal ini disebabkan, pertama Cin wan-piaukiok adalah perusahaan pengawalan nomor satu di kotaraja, asalkan panji perusahaan sudah dipasang, setiap jago pengawalnya dapat menjelajah kemana pun tanpa gangguan.
Selain itu, menurut peraturan, bilamana menunjuk jago pengawal, biayanya harus bertambah lipat.
Maka Wi-bu lantas bertanya.
"Kedua piausu siapa yang ditunjuknya?"
"Ialah kedua adik Peng-ki dan Lian-kui,"
Tutur Thian-lan. Keterangan ini membuat Song Peng-ki dan Oh Lian-kui sama terkejut, seru mereka.
"Hah, jelas kedua tamu ini sengaja mencari gara-gara kepada kami."
Hendaklah maklum.
pengalaman Peng-ki dan Lian-kui belum banyak, nama mereka belum terkenal, di dunia perusahaan pengawalan juga termasuk orang baru, bicara tentang ilmu silat dan nama jelas mereka tidak masuk hitungan.
"Pantas kau bilang kedua tamu itu rada aneh,"
Kata Toakoh kemudian.
"Dan tampaknya memang rada aneh. Hm, jangan-jangan tamu ini menghargai kalian lantaran mengingat kepada gurumu."
"Sesungguhnya macam apa tamu itu? Dan barang apa yang akan dikirim?"
Tanya Wi-bu.
"Dia berdandan sebagai Kongcu perlente, usianya masih sangat muda, tampaknya belum ada 20,"
Tutur Thian-lan.
"Barang yang di-tanggungkan kepada kita adalah barang rahasia, yang penting dia bersedia memberi biaya seribu tahil emas."
Barang kawalan umumnya dibagi menjadi barang terang dan barang gelap atau rahasia, artinya tidak dijelaskan barang apa yang di tanggungkan itu.
Honorarium untuk barang kawalan terang tentu saja menurut tarip umum yang berlaku sesuai jenis barangnya.
Sedangkan barang kawalan yang dirahasiakan pihak piaukiok tidak perlu tahu apa jenis barang kawalannya, barang rahasia itu terdiri dari benda mestika dan ditutup rapat serta disegel.
Biaya pengawalan ditentukan menurut perundingan, dan srbagai harga tanggungan adalah satu banding srpuluh, artinya bila biaya pengawalan seribu tahil emas.
bila barang dibegal dan hilang.
maka pihak piaukiok harus ganti rugi sepuluh kali Hpat, jadi sepuluh ribu tahil emas.
Keruan Han Wi-bu terkejut, katanya.
"Sungguh luar biasa, biarpun seluruh kekayaan Cin-wan-piaukiok juga tidak ada sepuluh ribu tahil emas."
"Jika begitu, biarlah kujawab dia bahwa kita tidak menerima barang kirimannya ini, begitu?"
Tanya Thian-lan. Wi-bu menggeleng kepala, katanya.
"Nanti dulu, selama ini Cin-wan-piaukiok tidak pernah menolak rezeki yang disodorkan kepadanya. Urusan ini bukan soal honorarium melulu melainkan kita harus jaga gengsi, harus jaga nama baik dan merek Cin-wan-piaukiok, paham tidak?"
"Ya, kupaham, justru lantaran malah Li-koansu dan aku merasa serba sulit untuk menghadapi mereka,"
Kata Thian-lan.
"Cuma, setelah dia menunjuk kedua adik Oh dan Song sebagai pengawal, rasanya memang rada......."
"Tidak perlu bicara tergegap,"
Kata Toa koh.
"Padahal bukan cuma kalian saja, aku sendiri pun tidak percaya bilamana barang kawalan penting diserahkan kepada kedua Sutitku."
"Sudahkah Li-koansu berunding dengan dia dan minta dia menunjuk piausu yang lain?"
Tanya Wi-bu.
"Sudah, malahan aku sendiri mendapat malu."
Tutur Thianlan.
"Mendapat malu bagaimana?"
Tanya Wi-bu pula.
"Li-koansu mengusulkan aku yang tampil sebagai pengawal dan menjelaskan aku adalah wakil Congpiauthau perusahaan ini,"
Kata Thian lan.
"Siapa tahu tamu itu malah berolok dan menyindir."
"O, dia memandang rendah padamuf"
Tanya Wi bu, dari ucapannya ini jelas ia sendiri cukup menghargai menantu kesayanganuya ini. Thian-lan bertutur pula.
"Ia menyatakan bahwa yang diutamakannya bukan cuma nama kosong belaka melainkan kepandaian sejati. Ia bilang wakil Congpiauthau di sini mungkin bukan manusia yang cuma bernama kosong saja, tapi sebelum dikenalnya, yang dipercaya hanya kedua piausu yang telah ditunjuknya itu."
"Apakah kau hadir pada waktu dia bilang begitu?"
Tanya Wi bu "Tidak, aku berada di ruang dalam. tapi semuanya kudengar dengan jelas,"
Jawab Thian-Lan.
"Mendergar itu, tentu saja engkau penasaran bukan?"
Tanya Wi-bu dengan tertawa.
"Masa tidak?!"
Sahut Thian-lan.
"Kemudian si koancu masuk dan berunding denganku, ku bilang bilamana tidak ada larangan piaukiok agar tidak boleh bertengkar dengan pihak tamu, sungguh aku ingin mencobanya langsung. Tapi Likoansu mencegah agar jangan sembarangan kucoba dia."
"Mengapa Li-koansu bicara begitu"?"
Tanya Wi-bu pula.
"Sebab dia bilang ilmu silat pemuda itu sukar diukur, selaku wakil pemimpin umum perusahaan, bila kecundang, tentu nama baik akan runtuh,"
Tutur Thian-lan. Tergerak hati Nyo Toa-koh, tanyanya.
"Dari mana dia tahu ilmu silat pemuda itu sukar diukur?"
"Meski kepandaian Li-koansu ksmi ini tidak tergolong kelas satu, tapi pandangannya memang lain daripada yang lain,"
Tutur Thian-lan. Bicara sampai di sini, tiba-tiba di luar ada orang berseru.
"Congpiauthau, ada urusan hendak kulaporkan!"
Orang itu berseru di luar, namun suaranya seperti bergema di tepi telinga setiap pendengarnya. Tentu saja Nyo Toa-koh melengak, pikirnya.
"Tidak lemah juga lwekang orang ini, entah siapa dia?"
"Kembali datang lagi seorang yang baru di singgung dan segera muncul orangnya,"
Kata Wi-bu dengan tertawa.
"Itu dia Li-koansu-Silakan masuk Li-koansu!"
Maka terlihatlah masuk seorang lelaki bermuka burik, lebih dulu ia memberi hormat kepada Nyo Toa-koh, lalu berkata.
"Sudah lama tidak berjumpa, Toa-koh, semoga engkau sehatsehat saja."
"Eh, Li burik, kiranya kau."
Seru Toa-koh.
"Mengapa engkau tidak menjadi copet lagi, tapi menjadi pegawai piaukiok?"
Si burik she Li itu menyengir, jawabnya.
"Habis menjadi pencopet terlalu banyak saingan, terutama si Thio gembira yang sukar di tandingi, terpaksa aku ganti profesi."
Kiranya Li burik ini adalah si copet sakti nomor dua di dunia ini, sudah lama terkenal kepandaiannya merogoh saku orang tanpa diketahui pemiliknya, dia juga mahir ilmu merias muka.
Belasan tahun yang lalu Li burik pernah berlomba dengan Thio gembira, dalam hal kepandaian mencopet Li burik memang kalah cekatan sedikit daripada Thio gembira, tapi soal menyamar justru Li burik teerlebih hebat.
Kedua orang yang sama profesinya itu merasa sangat cocok satu sama lain, mereka bertukar pikiran dan terikat menjadi sahabat baik.
Nyo Toa-koh sendiri dahulu pernah dipermainkan oleh Thio gembira, waktu itu Li burik yang telah membantunya sehingga mengurangi kesukarannya.
Maka bibi besar kita ini berkesan baik terhadap si burik.
"O, rupanya kalian sudah lama kenal,"
Kata Han Wi-bu kemudian.
"Jika begitu urusan tambah lebih baik. Li-koansu, tamu itu belum pergi bukan? Apakah perlu aku tampil sendiri untuk melayani dia?"
Li burik menjawab.
"Tamu itu masih menunggu di luar, sementara ini sudah kusabarkan dia, mungkin takkan timbul perkara. Maka ingin kulaporkan dulu suatu urusan penting lain."
"O, ada urusan lain apa lagi?"
Tanya Wi-bu.
"Bin Sing-liong mengirim orang kemari dan mengundang Peng-ki dan Lian-kui ke rumahnya,"
Tutur Li burik. Dengan serba susah Peng-ki berkata.
"Ai, entah soal sulit apa pula yang hendak Toa-suko berikan kepada kami. Coba Sukoh, kami harus penuhi panggilannya atau tidak?"
"pergi saja, kenapa tidak?"
Kata Toa-koh.
"Biar kupergi bersamamu."
"Tapi tamu itu minta mereka mengawal barangnya, lalu cara bagaimana melayaninya?"
Ujar Thian-lan.
"Akan kuselesaikan dia."
Kata Toa-koh. Lekas Wi-bu menyela.
"Maksud baik Lo toaci sungguh harus dipuji, Cuma urusan piaukiok kami ini, kukira ...."
"O, engkau tidak ingin kuikut campur urusan piaukiok kalian?"
Tanya Toa-koh.
"Harap Lo toaci jangan salah paham,"
Kala Wi-bu.
"Kami hanya tidak ingin membikin marah tamu itu, kecuali dia memang sengaja mencari perkara, tentu lain persoalannya."
"Keparat itu sengaja menunjuk piausu kroco tanpa menghiraukan piausu lain yang sudah terkenal, jelas dia sengaja mencari perkara, masa kau bilang tidak?"
"Ya, tujuannya memang harus diragukan,"
Kata Wi-bu.
"Cuma dia menyewa jago pengawal kita menurut peraturan, terpaksa kami harus meladeni menurut aturan juga, untuk itu kami akan mencari akal untuk mengenyahkan dia."
Nyo Toa-koh merasa kurang senang, katanya.
"Baik, jika begitu silakan kau cari akal, namun kukira Bin Sing-liong tak dapat menunggu lagi lebih lama."
Han Wi-bu berpaling dan tanya Li burik.
"Li-koansu, apakah sudah kau coba kepandaian tamu itu?"
"Mana kuberani melanggar peraturan piaukiok?"
Jawab Li burik.
"Menurut cerita Thian-lan, agaknya sudah kau ketahui betapa kepandaiannya?"
Kata Wi-bu.
"Hanya berdasarkan penglihatanku saja, entah tepat tidak, untuk itu diharap Congpiauthau sendiri yang menentukannya,"
Jawab Li burik.
"Sebentar akan kutemui dia, coba uraikan dulu pandanganmu,"
Kata Wi-bu.
"menilai orang harus dimulai dari matanya,"
Tutur Li burik.
"Sinar mata orang ini mencorong dan sangat berbeda daripada orang biasa."
"Betul, setiap orang yang menguasai kungfu tinggi kebanyakan bersinar mata tajam, tapi melulu ini saja tidak dapat menentukan gegalanya,"
Ujar Wi-bu.
"Tapi bila ditambah lagi sesuatu keistimewaannya rasanya hampir dapat memastikan kehebatannya,"
Tukas Li burik.
"Ada keistimewaan apa lagi?"
Tauya Wi-bu.
"Dia tidak menemui kita dengan wajah aslinya, untuk hal ini aku yakin takkan keliru,"
Tutur Li burik.
"Maksudrnu dia menyamar?"
Tanya Wi-bu.
"Ya, engkau adalah ahli rias, bila bocah itu main menyamar, tentu saja sukar mengelabui pandanganmu."
"Menurut dugaanku, besar kemungkinan dia bukan kaum kroco,"
Kata Li burik.
"Karena kuatir dikenali orang, maka dia menyamar."
"Menurut pandanganmu, apakah usianya yang sebenarnya jauh lebih tua daripada samarannya?"
Tanya Nyo Toa-koh tiba tiba.
"Menurut cerita Thian-lan tadi, usianya kira-kira Cuma 20-an."
"Betul, bilamana benar dia tokoh yang sudah ternama, tentu takkan berusia semuda itu,"
Ujar Wi-bu. Tak terduga Li burik lantas menjawab.
"Menurut pandanganku usianya justru lebih muda daripada samarannya, mungkin sekali belum ada 20 tahun. Dan di sinilah letak keanehan yang kuherankan. Bila tidak salah pandanganku, tenaga dalamnya justru menyerupai tokoh yang mempunyai latihan selama 30 tahunan."
"O, bisa terjadi begitu,"
Kata Thian-lan dengan heran.
"Memangnya dia sudah berlatih kungfu sejak masih berada dalam kandungan ibunya?"
"Tapi bisa jadi pandanganku keliru, untuk itu silakan Congpiauthau menilainya sendiri,"
Ujar Li burik. Wi-bu berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Kupercaya penuh kepada pandanganmu, jika demikian, maksud tujuan kedatangan pemuda ini menjadi lebih sukar dijajaki. Begini saja, Peng ki dan Lian kui tetap pergi menemui Toa suhengmu tesuai rencana dan tamu muda ini biar kulayani sendiri."
Song Peng-ki dan Oh Lian-kui mengiakan, lalu mereka tanya Nyo Toa-koh.
"Sukoh, engkau akan pergi bersama kami atau biarkan kami berangkat lebih dulu?"
"Aku justru menghendaki kalian tunggu sebentar lagi,"
Jawab Toa koh mendadak.
"Eh, Han tua, aku jadi ingin tahu orang macam apakah anak muda itu, habis itu baru akan kuputuskan tindakan selanjutnya. Adakah tempat yang dapat kugunakan mengintip agar tidak diketahui bocah itu?"
"Ada siih ada, Cuma, apakah yang akan diputuskan oleh Lo toaci?"
Tanya Wi-bu.
"Jangan kuatir "
Jawab Toa-koh dengan terfawa.
"Tidak nanti kubikin susah tamu kalian, jika sudah kuiihat, bisa jadi akan kuizinkan krdua Sutitku ini menerima permintaannya untuk mengawal barangnya."
Wi-bu melengak, katanya.
"Jadi maksud-mu, engkau merasa yakin akan mampu melihat asal-usul bocah ini?"
"Aku tidak merasa pasti mampu, tapi aku pun tidak bermaksud setelah mengetahui dengan pasti dia memang orang baik, lalu kuizinkan Peng-ki dan Lian-kui mengawalkan barangnya. Cuma saja kuminta engkau menyerahkan urusan ini kepadaku untuk memutuskannya."
Wi-bu tidak tahu apa kehendak orang, tapi mengingat meski julukan orang adalah Kwan-im bertangan pedas, dengan pengalaman kangouw selama berpuluh tahun, rasanya takkan sembarangan bertindak.
Setelah berpikir sejenak, lalu ia berkata.
"Baiklah, nasib Cinwan-piaukiok selanjutnya kuserahkan kepada Lo toaci, cara bagaimana baiknya urusan ini boleh kau kerjakan saja."
"Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku,"
Kata Toakoh.
"Sekarang boleh kita berunding dulu. Sebentar hendaknya kau kerjakan menurut keputusanku."
Sesudah berunding, Nyo Toa-koh bersama Peng-ki dan Lian-kui lantas bersembunyi di suatu ruangan belakang kamar tamu, ruangan itu terletak di atas loteng yang dapat memandang dengan jelas keadaan di kamar tamu, sebaliknya sukar pihak tamu akan melihat mereka.
Han Wi-bu sendiri lantas menuju ke ruang tamu bersama Li burik.
Kongcu muda berdandan perlente itu tampaknya agak gelisah menunggu, begitu melihat Li burik muncul, seketika ia berkerut kening dan menegur.
"Kenapa tidak mempertemukan aku dengan Song dan Oh berdua piausu kalian?"
Dari ucapan orang, Wi-bu pikir jelas orang sudah kenal Peng-ki dan Lian-kui. Namun ia berlagak tidak tahu dan diam saja. Dengan tertawa Li burik lantas menjawab.
"Kuperkenalkan dulu, inilah Han-toaya, Congpiauthau kami."
Cin-wan-piaukiok adalah perusahaan pengawalan nomor satu di kota raja, kedudukan Congpiauthau tentu sangat terhormat, sekalipun ketua sesuatu golongan atau perguruan ternama juga merasa segan bila berhadapan dengan Han Wibu.
Siapa tahu anak muda ini seperti tidak mengacuhkannya, jawabnya dengan hambar.
"Han-congpiauthau sendiri menemuiku. Sungguh suatu kehormatan besar bagiku. Cuma yang kuminta adalah pengawalan barangku oleh kedua piausu kalian, tidak berani kuharapkan jasa Congpiauthau sendiri."
Meski dia bilang mendapat kehormatan besar, padahal sikapnya justiu sangat kaku. Diam-diam Han Wi-bu mendongkol juga, namun dia sengaja tersenyum dan berucap.
"O, apakah tidak boleh jika kutampil sendiri mengawal barangmu?"
"Tidak berani kuharapkan jasa Congpiauthau, cukup kuminta peraturan umum yang berlaku saja di dunia perusahaan pengawalan,"
Kata pemuda itu.
"Betul juga, menurut peraturan memang pemberi order boleh menunjuk piausu yang dikehendaki, tapi kan juga bisa dikecualikan."
"Kutahu, hanya dalam dua keadaan saja harus dikecualikan,"
Kata pemuda itu.
"Pertama, kalau piausu yang diminta itu tidak berada di tempat. Kedua, bila Congpiauthau memutuskan mereka dilarang mengawal. Tapi bila disebabkan keadaan kedua ini, Congpiauthau harus mengemukakan alasan yang cukup melalui orang yang dapat dipercaya. Kalau tidak, Congpiauthau dan piausu yang ditunjuk itu yang harus meninggalkan kedudukannya."
"Tampaknya Anda memahami benar peraturan yang berlaku di dunia piaukiok,"
Kata Wi-bu.
"Dan Li-koansu kalian tadi sudah mengatakan padaku bahwa Song dan Oh berdua piausu berada di sini,"
Kata pula pemuda perlente itu.
"Memang betul,"
Jawab Wi-bu.
"Jika begitu, jadi engkau melarang mereka mengawal barangku ini?"
"Aku tidak bicara demikian, Cuma ...."
"Bila Congpiauthau mengizinkan mereka, maka kuharap tidak perlu buang-buang waktu lagi,"
Kata pemuda itu.
"Kumohon mereka dipanggil kemari untuk berunding denganku mengenai tugasnya dan tidak perlu lagi ini dan itu."
"Kukira Anda juga tidak perlu terburu-buru,"
Ujar Wi-bu.
"Silakan duduk dan minum dulu, biar kuberitahukan dengan pelahan."
Sementara itu pelayan sudah membawakan teh panas, Wibu mengangkat poci untuk menuang teh. Poci diangkatnya tinggi-tinggi, katanya tanpa memandang cangkir.
"Inilah teh pilihan dari Kangsai, minum secangkir kecil saja dapat menghilangkan dahaga."
Cangkir itu sudah tertuang penuh, tapi Wi-bu masih terus menuang.
Malahan air teh sudah meluber ke permukaan cangkir, tapi aneh juga, setitik pun tidak tercecer.
Padahal air teh itu dituang dari ketinggian, bilamana tenaga dalam Wi bu tidak terkuasai dengan benar, tentu air teh yang meluber itu akan tumpah keluar cangkir.
Tapi sekarang setitik saja tidak tercecer, siapa pun dapat melihatnya bahwa Han Wi-bu memang sengaja pamer kekuatan, dengan alasan menyuguh teh hendak memperlihatkan kehebatan lwekangnya.
Sebenarnya menurut peraturan, piaukiok dilarang keras menguji kepandaian tamunya.
Tapi pamer kekuatan sendiri, hal ini tidak pernah dilarang secara tertulis, bahkan dalam keadaan tertentu malahan dianjurkan.
Sebab dengan cara demikian hati pemberi order dapat dibuat mantap, jika tamu percaya penuh barulah transaksi bisa terlaksana.
Namun tujuan Han Wi-bu pamer kepandaian jelas bukan untuk terlaksananya transaksi.
Sebaliknya maksud tujuannya justru untuk menolak dan menyuruh anak muda itu mundur teratur.
Jika Li burik dapat melihat anak muda ini menguasai kungfu yang tinggi, dengan sendirinya Han Wi-bu juga dapat melihatnya.
Meski dia tidak dapat memastikan betapa tinggi kepandaian pemuda ini, namun dapat diperkirakan pasti jauh lebih tinggi daripada Song Peng-ki dan Oh Lian-kui.
Dari sini tentu saja dapat ditarik kesimpulan kedatangan pemuda ini memang sengaja hendak cari perkara.
Kalau tidak untuk apa dia menunjuk kedua piausu yang berkepandaian jauh lebih rendah daripada dia ini.
Maka sekarang ia telah memperlihatkan lwekang sendiri yang cukup sempurna, maksudnya supaya anak muda itu tahu diri dan boleh coba mengukur kepandaian sendiri dan segala kemungkinannya.
Begitulah terdengar Li burik berkata.
"Cangkir sudah penuh. Conspiauthau."
Baru sekarang Han Wi-bu berlagak menyadari hal itu, serunya.
"Wah, celaka, aku asyik bicara, sampai lupa isi cangkir meluber. Awas, harap Tuan tamu menerima dengan hati-hati."
Selagi ia hendak mengangkat cangkir itu dan diberikan kepada tamunya, tahu-tahu pemuda itu sudah bergerak lebih dulu, katanya.
"Terima kasih!"
Berbareng kedua jarinya memegang cangkir dan diputar sedikit, cangkir seperti lengket saja pada jarinya dan terangkat.
Han Wi-bu dan Li burik berpengalaman luas, tapi cara orang memegang cangkir itu sungguh istimewa, tanpa terasa mereka sama melongo.
Ketika cangkir mendekat mulut, sebelum menempel bibir air teh sudah terserot ke dalam mulut.
Pemuda itu hanya minum setengah cangkir saja, katanya.
"Ehm, teh sedap!"
Ia berkecap-kecap bibir, lalu berkata pula.
"Pahit tanpa getir, di tengah pahit terasa manis, sungguh teh bagus. Teh bagus tidak boleh diminum ala kerbau, tapi harus dirasakan dengan nikmat, sisa setengah cangkir biar kuminum dengan pelahan."
Jika pihak piaukiok dilarang menguji kepandaian pihak tamu, tapi sekarang kungfu anak muda itu sudah teruji dengan jelas. Terdengar pemuda itu berkata pula.
"Terima kasih atas hadiah teh sedap ini. Dan sekarang tentunya Congpiauthau dapat memberitahukan padaku, alasan apa Song dan Oh berdua piauthau tidak boleh mengawal barangku?"
"Mungkin mereka tidak dapat menerima pekerjaanmu ini, sebab kebetulan hari ini mereka ada urusan lain dan entah sampai kapan baru mereka dapat menyelesaikan tugasnya,"
Tutur Wi-bu. Baru bicara, terlihat Song Peng-kui dan Oh Lian-kui melangkah masuk.
"Aha, tentu keduanya inilah Song-piausu dan Oh-piausu,"
Seru anak muda itu.
"Betul, urusan pekerjaanmu itu boleh kau rundingkan dengan mereka langsung saja,"
Kata Wi-bu. Setelah diamati, Peng ki dan Lian-ki merasa sudah kenal pemuda ini, Cuma di mana sesungguhnya pernah bertemu sukar teringat. Song Peng-ki adalah juheng, dia yang bicara lebih dulu.
"Maaf, kelambatan kedatangan kami. Siapakah nama Anda yang mulia?"
"Aku she Tong."
Jawab pemuda itu. Ia hanya menyebut she saja tanpa menerangkan namanya, hal ini makin menambah rasa sangsi Han Wi-bu, pikirnya.
"Jangan-jangan dia anggota keluarga Tong dari Sujoan?"
Keluarga Tong di propinsi Sujoan terkenal sebagai keluarga persilatan yang dipandang misterius.
Keluarga Tong mahir membuat am-gi atau senjata rahasia yang direndam dengan racun, ilmu silatnya juga sangaf aneh, biasanya anak murid keluarga Tong suka pergi datang sendirian dan jarang berhubungan dengan orang kangouw.
"Rasanya kami belum pernah kennl Tong-heng, entah mengapa Tong-heng justru menaruh perhatian terhadap kami?"
Tanya Song Peng-ki. Pemuda yang mengaku she Tong itu menjawab.
"Orang terkenal namanya, pohon besar karena bayangannya. Lantaran kagum kepada nama kebesaran kalian berdua, maka sengaja kuminta kalian suka mengawal barangku."
Peng-ki menjawab.
"Tong-heng sengaja menyanjung puji diriku, tapi kulit muka kami rasanya tidak begitu tebal untuk menerimanya. Terus terang, kedudukan kami dalam Cin wanpiaukiok tidak lebih Cuma pegawai biasa saja dan belum pernah memikul tugas yang berat. Piausu serupa kami ini hanya terhitung Bu-beng-siau-cut (perajurit tak bernama atau kroco) saja."
"Ah, aku tidak peduli kalian ini Bu-beng-siau-cut atau tokoh terkenal, cukup asalkan aku menaruh kepercayaan kepada kepandaianmu dan semuanya tidak perlu dipikirkan,"
Kata pemuda itu.
"Tapi kepandaian kami sesungguhnya memang rendah, apakah Tong-heng tidak salah informasi?"
Ujar Song Peng-ki. Oh Lian-kui lebih muda, timbul rasa ingin tahunya, ia coba tanya.
"Selama ini kami tidak kenal Tong-heng, entah dari mana engkau mengetahui kemampuan kami?"
"Kudatang untuk memberi pekerjaan dan bukan untuk minta ditanya."
Jawab pemuda itu.
"Pendek kata, tidak perlu kalian tanya dari mana kuterima informasi, aku Cuma ingin tahu, kalian mau mengawal barang kirimanku atau tidak? Kesudian biayanya senbu tahil emas."
"Anda sedemikian menghargai kami. Sepantasnya biarpun terjun ke lautan api juga harus kami bekerja bagimu,"
Jawab Peng-ki.
"Cuma sayang, hari ini kebetulan kami mempunyai tugas lain dan segera harus berangkat, susahnya tidak tahu kapan tugas kami ini akan selesai, maka maksud baik Anda terpaksa tak-dapat kami terima."
"Dapatkah kau terangkan kalian ada urusan lain apa yang lebih penting?"
Tanya pemuda itu.
"Boleh, soalnya kami dipanggil Toa suheng kami, katanya ada urusan penting,"
Tutur Peng-ki.
"Toa suheng kalian bernama Bin Sing-liong bukan?"
"Betul,"
Jawab Peng-ki terus terang, jawaban lugu ini di luar dugaan Han Wi-bu juga. Terdengar Peng ki menyambung lagi.
"Menurut peraturan piaukiok, seharusnya tidak boleh kami tolak pekerjaan langganan, tapi panggilan Suheng kami juga tidak dapat dibantah, kepergian kami pun tidak tahu makan waktu berapa lama, daripada mombikin runyam urusan Anda, maka lebih baik silakan Anda mencari piausu lain saja."
"Niatku hanya memakai tenaga kalian saja, piausu lain pasti aku tidak mau,"
Kata pemuda itu setelah berpikir sejenak.
"Tapi kami memang serba susah,"
Ujar Peng-ki.
"Bilamana Anda tetap menghendaki tenaga kami, maka silakan Anda mencarikan akal yang baik bagi kami."
Pemuda itu minum habis sisa teh tadi, tiba-tiba ia berkata.
"Kutahu Suheng kalian adalah seorang pembesar, kata pribahasa, orang miskin takkan bermusuhan dengan orang kaya, orang kaya takkan bertengkar dengan pembesar. Nah, baiklah, anggap aku yang lagi sial, urusanku ini kubatalkan."
Kata "batal"
Dari mulut pemuda itu sungguh di luar dugaan Peng-ki berdua.
Rupanya tanya jawab mereka ini dilaksanakan menurut petunjuk Nyo Toa-koh, menurut perkiraan Nyo Toa-koh mungkin sekali pemuda itu masih akan ngotot minta pengawalan Peng-ki berdua.
Dengan alasan Peng-ki tadi, mestinya pemuda itu dapat mengusulkan, misalnya bersedia menunggu beberapa hari lagi sesudah Song Peng-ki berdua menyelesaikan urupannya dengan Suheng mereka, atau mereka berdua boleh melaksanakan pekerjaan secara membagi tugas, yang seorang memenuhi panggilan suhengnya, yang lain sementara tinggal di sini untuk berunding dengan dia.
Bilamana pemuda itu ngotot minta mereka mengawal barangnya cara begitu, maka Nyo Toa-koh sudah mengizinkan mereka menerima tawarannya.
Tak terduga, hanya suara geledeknya saja yang keras, air hujan ternyata Cuma menetes saja.
Begitu mereka menonjolkan nama Bin Sing-liong, anak muda itu kena digertak dan mundur teratur.
Tapi dengan mundurnya anak muda itu, Han Wi-bu berbalik merasa terbebas dari beban berat.
Segera ia berdiri dan berkati.
"Banyak terima kasih atas penghargaan Anda terhadap piausu kami, walanpun transaksi tidak jadi kami tetap berterima kasih."
Dia berdiri dengan lagak mengantar tamu. Pemuda itu juga tidak rewel lagi, ia merogoh keluar sepotong emas dan berkata.
"Sayang tidak berhasil minta jasa baik kedua piausu di sini dan telah banyak mengganggu waktu kalian yang berharga. Lima puluh tahil emas ini bukanlah hadiah melainkan sekadar tanda hormatku saja."
"Ah, mana boleh jadi,"
Seru Peng-ki.
"Kami tidak dapat bekerja bagi Anda, tanpa berjasa mana boleh menerima hadiah. Mohon Anda suka menerimanya kembali."
Pemuda itu tertawa, katanya.
"Sedikitnya kalian sudah dua tahun bekerja di sini bukan? Masa engkau belum lagi paham peraturan piaukiok?"
"Biarpun menurut peraturan piaukiok juga tidak perlu bayar sebanyak ini,"
Tukas Han Wi-bu.
"Uang pemberian tidak pada tempatnya kami tidak mau terima."
Kiranya menurut peraturan kangouw, barang siapa minta pengawalan dengan menunjuk nama piausu yang dikehendaki, kalau urusan tidak jadi demi menghargai piausu yang ditunjuknya itu, sedikit banyak si tamu harus membayar "uang kopi"
Sekadarnya. Biasanya "uang kopi"
Ini kira-kira sama dengan satu persen dari pada honor yang dijanjikannya.
Maka menurut perhitungan, pemuda itu cukup memberi sepuluh tahil emas, padahal ini pun menurut kebiasaan saja dan bukan peraturan tertulis.
Tak terduga, mendadak pemuda itu menjawab "Aku tidak membawa uang receh, bila mana kalian mau pakai hitungan begitu, maka bolehlah kalian memotong saja lantakan emas ini."
Terkesiap Wi-bu, pikirnya.
"Rupanya dia hendak menguji kepandaianku lagi."
Kiranya ketika pemuda itu menaruh lantakan emasnya di atas meja, sekali gabruk emas itu lantas ambles dan terjepit rata di permukaan meja.
Tidak sulit bagi Han Wi-bu untuk mengeluarkan lantakan emas itu, tapi untuk itu diperlukan juga waktu, untuk memotong lantakan emas itu begitu saja jelas tidak mungkin terlaksana.
"Wah, rasanya aku tidak sempat menunggu lagi, biarlah sisanya kutitip saja di sini,"
Ujar pemuda itu dengan tertawa.
"Ai, jadi manusia kan juga jangan terlalu serius dalam segala hal."
Lalu ia melangkah pergi.
Ketika Han Wi-bu menggabruk meja sehingga Kim goan po atau lantakan emas itu mencelat keluar dan disambarnya, cepat ia memburu ke luar, namun bayangan pemuda itu sudah tidak kelihatan lagi.
Tertampak di luar berhenti sebuah kereta kuda, menantunya, yaitu Hiu Thian-lan tampak berdiri di samping kereta.
Wi-bu kenal kereta itu milik piaukiok, sebuah kereta yang diberi perlengkapan khusus.
Tergerak hatinya, cepat ia tanya.
"Thian-lan, siapa yang menyuruhmu menyiapkan kereta ini?"
Belum lagi Thian-lan menjawab, Tampak Song Peng-ki dan Oh Lian-kui juga ikut keluar. Mereka pun buru-buru tanya Thian-lan.
"Ke mana perginya Sukoh kami?"
"Dia sudah berangkat, ia suruh kalian jangan menunggunya lagi, beliau yang menyuruh kusiapkan kereta ini bagi kalian,"
Tutur Thian-lan.
"Buat apa kereta ini?"
Tanya Peng-ki.
"Untuk ditumpangi kalian ke tempat Bin Sing-liong,"
Jawab Thian-lan.
"Aneh "
Peng-ki mjlengik.
"Kenapa perlu menumpang kereta? "
Tempat tinggal Bin Sing-liong terletak di barat kota, suatu kompleks perumahan orang gede, jaraknya dari piaukiok antara tujuh-delapan li, jarak sejauh ini sebenarnya tidak perlu menumpang kereta.
Maka Han Wi-bu juga merasa heran, pikirnya.
"Jika ingin memburu waktu, suruh mereka menunggang kudakan terlebih cepat?"
Terdengar Thian lan lagi menjawab.
"Entah, aku pun tidak tahu maksudnya. Aku Cuma menuruti pesan Sukoh kalian. Boleh kau tanya dia nanti kalau bertemu."
Hati Wi-bu tergerak, segera ia tanya.
"Apa pula yang dikatakan Nyo Toa-koh?"
"Dia bilang asal-usul pemuda itu sudah dapat diterkanya beberapa bagian, nanti bila beliau pulang kemari baru akan bicara dengan Congpiauthau,"
Tutur Thian-lan.
"Selain itu beliau juga menyuruhku menya,paikan pesannya kepada Song dan Oh berdua, katanya apa pun yang kalian jumpai nanti hendaknya jangan kuatir dan gugup. Kalau bertemu dengan Bin Sing-Iiong hendaknya jangan bilang Sukoh kalian berada di kotaraja sini."
Wi-bu tertawa.
"Jika dia sudah memberi pesan begini. Bolehlah kalian pergi dan tidak perlu kuatir, Eh, Thian-lan, sekali ini mungkin kita pun membonceng kehormatan Nyo Toa-koh sehingga mendapat rezeki tidak kecil."
Begitulah Peng ki dan Lian-kui terus berangkat dengan menumpang kereta, tidak lama mereka sudah meninggalkan pusat kota yang ramai dan sampai di bagian kota yang agak sepi.
Hari sudah dekat magrib, saat itu kereta melalui tepi sebuah kolam, tidak jauh di samping kolam sana ada sebuah gardu, itulah To yan-ting, sebuah gardu pemandangan yang terkenal di kota Peking.
Pada saat itulah tampak dua orang muncul dari arah gardu sana.
Waktu Peng-ki memandang ke sana, tiba-tiba ia menggeleng dan berucap.
"Ah, tidak betul, tidak betul,"
"Tidak betul apa?"
Tanya Lian-kui.
"Keduanya adalah orang yang sudah berumur,"
Kata Pengki.
Tengah bicara, kedua orang itu sudah pergi melalui jalan kecil sana.
Lian-kui lantas berkata pula "Pemuda itu mungkin benar telah digertak lari oleh nama Bin suko, dugaan Sukoh sekali ini tampaknya tidak tepat ...."
Belum habis ucapannya, sekonyong konyong bayangan orang berkelebat dari balik gardu. Peng ki tertawa, katanya.
"Sute, sekali ini kukira engkau yang salah duga."
Cepat amat kedatangan orang itu, baru saja Peng-ki membelokkan keretanya dan mergitar ke samping gardu, tahu-tahu orang itu sudah sampai di depan kereta, sekali pegang seketika kereta itu dihentikan.
Meski sebelumnya Song Peng-ki sudah siap kiaga, tapi lantaran belum jelas asal-usul orang, ia menjadi rada gugup juga.
Segera ia menghentikan keretanya, katanya dengan tertawa.
"Tong-heng, sesungguhnya kau datang untuk minta dikawal atau hendak merampas, dalam keretaku ini tidak terdapat barang berharga."
Pemuda itu tertawa, jawabnya dengan tertawa.
"Terus terang, kedatanganku bukan untuk minta dikawal juga tidak ada maksud merampas. Cuma, ada suatu urusan justru ingin kuminta bantuan kalian. Harap berhenti sebentar dan akan kujelaskan."
Peng-ki berdua turun dari kereta, katanya.
"Ilmu silat Anda berpuluh kali lebih tinggi daripada kami, mana perlu bantuan kami?"
"Jangan kuatir, bukan maksudku minta bantuan kalian untuk berkelahi,"
Kata pemuda itu.
"Tapi selamanya kita tidak kenal ...."
"Haha,"
Pemuda itu tergelak dan memotong ucapan Pengki.
"Tadi kudatang ke piaukiok dan mencari kalian, tentu kalian terheran-heran dan sangsi bukan?"
"Ya, memang, kami heran dari mana engkau kenal kami yang tergolong kaum kroco ini,"
Ujar Oh Lian-kui. Pemuda itu memandang mereka dengan geli.
"Coba pandang yang jelas, masa tidak pernah kau lihat diriku?"
"Rasanya tidak kenal,"
Ujar Lian-kui.
"Tapi, eh, seperti juga sudah pernah melihatmu. Sesungguhnya engkau ini siapa?"
Pemuda itu menjawab dengan tertawa.
"Apakah kalian masih ingat pengemis kecil yang kalian lihat di kelenteng malaikat gunung di daerah Hwe dulu?"
Serentak Peng-ki dan Lian-kui berseru.
"Ah, kiranya engkau adalah pengemis kecil itu? Jika begitu, jadi ... jadi engkau ini Siaute kami yang belum pernah saling kenal itu, Nyo Yam Nyo sute?"
"Betul, memang aku inilah Nyo Yam,"
Jawab pemuda itu.
"Hanya sebelum ini kita memang tidak kenal."
Kiranya Nyo Yam ini adalah putra Nyo Bok, guru mereka. Baru sekarang Lian-kui sadar duduknya perkara, katanya dengan tertawa.
"Ai, sungguh lucu, orang sendiri tidak saling kenal. Cuma waktu itu kami pun sudah curiga dibantu olehmu, Cuma kami tidak tahu mengapa engkau tidak mau memberitahukan asal-usulmu. Engkau tidak tahu bahwa susah payah bibimu mencarimu, kedatangannya ke daerah Hwe dahulu juga khusus hendak mencarimu."
Dulu, di kelenteng gunung itu Peng-ki berdua kepergok bandit bernama The Hiong-toh, selagi terancam bahaya, entah mengapa mendadak The Hiong toh terjatuh, karena itulah mereka sempat kabur dengan selamat.
Kini setelah dibicarakan baru diketahui waktu itu Nyo Yam yang telah menolong mereka.
Kemudian Nyo Toa-koh datang dan membuat The Hiongtoh kabur dengan terluka parah, hal itu disaksikan juga oleh Nyo Yam, namun sejauh itu Nyo Yam yang menyamar sebagai pengemis cilik tidak memperlihatkan asal-usulnya.
"Waktu itu kutahu bibi lagi mencariku."
Tutur si pemuda alias Nyo Yam.
"Tapi urusan yang sudah lalu tidak ingin kubicarakan lagi. Sekarang ada suatu urusan yang sangat penting bagiku dan ingin kuminta bantuan kalian."
"Sute,"
Jawab Peng-ki,"
Engkau pernah menyelamatkan jiwa kami, umpama bukan Sute sendiri juga kami wajib membantumu, Silakan bicara saja, jangan sungkan "
"Soalnya aku ingin mencari guru kalian, kuharap kalian suka mencarikan akal cara bagaimana supaya dapat kutemui dia?"
Kata Nyo Yam.
Hendaknya maklum, Nyo Bok adalah jago pengawal istana, dia tinggal di dalam istana, meski di luar dia juga punya tempat tinggal, namun tempat kediamannya tentu juga dirahasiakan.
Sekali ini Nyo Yam datang ke kota raja bersama kawan perempuannya, yaitu Liong Leng-cu, untuk mencari ayahnya, kesulitan pertama yang dihadapiuya adalah tidak tahu tempat tinggal sang ayah.
Dan keterangan Ce Se-kiat diketahuinya bahwa Song Pengki dan Oh Lian kui lebih dapat dipercaya.
Sebab itulah setelah dipikir ia lalu menempuh jalan ini dan berusaha menghubungi kedua Suhengnya itu.
Agar dapat digunakan alasan untuk minta Peng-ki berdua menjadi pengawal barang kiriman mereka, Nyo Yam dan Liong Leng-cu malahan sengaja melakukan beberapa kali pencurian dan berhasil menyikat berapa ribu tahil emas milik kaum pembesar korup.
Setelah mengctahui tujuan Nyo Yam mencari mereka adalah karena anak muda itu ingin mencari guru mereka, walaupun urusan ini sudah dalam dugaan, tapi juga rada di luar dugaan.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 2 Maklumlah, guru mereka adalah juga ayah Nyo Yara.
Sekarang Nyo Yam tidak menyatakan hendak mencari ayah, jelas karena sekarang dia belum sudi mengakui Nyo Bok sebagai ayahnya.
Maka dalam hati Peng-ki berdua sama berpikir.
"Dari nada ucapan Nyo sute ini, bukan saja dia merasa sirik terhadap Sukoh, tampaknya dia juga tidak puas terhadap ayahnya sendiri. Cuma, apa pun juga adalah ayah dan anak, rasanya dia takkan bertindak sesuatu yang tidak menguntungkan ayahnya sendiri."
Walaupun tikak tahu apa maksud tujuan Nyo Yam sehingga Peng-ki berdua merasa tidak tentram.
Tapi sekarang mereka berdiri satu garis dengan Sukoh sendiri yang hendak membantu Han Wi-bu dan mencegah tindakan Bin Sing-Liong yang bermaksud mengangkangi Ciri-wan-piaukiok sebagai milik pribadinya.
Sedangkan beking Bin Sing-liong tak lain-tak bukan adalah guru mereka sendiri.
Sebab itulah bilamana Nyo Yam berjiwa sama dengan ayahnya, hal ini tentu akan menimbulkan waswas mereka.
Tapi dengan ucapan Nyo Yam tadi dapatlah mereka merasa lega dan benar benar menganggapnya sebagai "orang sendiri".
Begitulah setelah Peng-ki berpikir sejenak lalu ia berkata.
"Kami sendiri tidak mempunyai jabatan apa pun sehingga tidak berani mencari beliau di kantornya. Terus terang, selama dua tahun tinggal di kofaraja hanya dua kali saja kami bertemu dengan Suhu di piaukiok."
Nyo Yam kelihatan kecewa, katanya.
"Jika demikian, jadi kalian juga tidak berdaya mencari dia?"
"Bukannya tidak berdaya sama sekali, soalnya cuma ...."
"Cuma apa?"
Tanya Nyo Yam. Song Peng-ki tidak langsung menjawab, tapi katanya.
"Sute, tentunya kautahu kami hendak pergi ke rumah Binsuheng atas panggilannya?"
Nyo Yam menjawab.
"O, apa maksudmu kalian akan membantuku mengadakan janji pertemuan dengan gurumu melalui panggilan Bin Sing-liong kepada kalian ini?"
"Betul,"
Jawab Peag-ki.
"Toasuheng adalah perwira Han-limluin, dia juga murid pewaris kesayangan Suhu, tentu saja setiap saat dia boleh menemui Suhu."
"Terus terang, ketika kutahu kalian hendak pergi ke rumahnya, pernah juga timbul pikiranku untuk menemuinya dan minta bantuan padanya,"
Kata Nyo Yam.
"Tapi, aku tidak percaya kepada pribadi Bin Sing-liong ini."
"Ya, yang kukuatitkan juga begitu,"
Kata Peng-ki.
"Bilp dia tanya untuk apa kita mencari Suhu. apakah boleh kukatakan mengenai pesanmu ini?"
"Tidak,"
Jawab Nyo Yam "Jika begitu terpaksa harus untung-untungan,"
Ujar Peng-ki.
"Dalam piaukiok sekarang sedang menghadapi suat u urusan besar, urusan ini dirancang oleh Suhu sendiri, yakni menyuruh Bin-suheng tampil bekerja baginya. Bin-suheng lantas menyuruh kami bekerja untuknya. Panggilannya kepada kami ini bisa jadi akan membawa kami menghadap Suhu."
"Tapi aku tidak sabar menunggu kabar kalian."
Kata Nyo Yam.
"Biar begini saja, aku pun ikut kalian pergi ke tempat Bin Sing-liong, aku akan bertindak menurut keadaan dan pasti takkan membikin susah kalian."
"Tapi bila Sute tidak menjelaskan siapa dirimu, cara bagaimana bisa masuk ke rumah Bin-suheng?"
Tanya Peng-ki.
"Biarlah aku dianggap sebagai seorang piausu yang ikut pergi bersama kalian,"
Ujar Nyo Yam.
"Tidak bisa jadi, Bin-suheng kenal setiap piausu Gin wanpiaukiok ini,"
Kata Peng-ki.
"Baik, jika begitu biarlah aku masuk sendiri ke rumahnya, cukup kalian membawaku sampai di depan rumahnya saja,"
Ucap Nyo Yam. Peng-ki menggeleng.
"Kurasa tidak enak."
"Kurang enak apa*"
Tanya Nyo Yam.
"Meski jabatan Bin-suheng tidak tinggi, tapi dia r.dalah perwira Han-Iim-kun yang cukup berkuasa, di rumahnya juga banyak penjaga, bila engkau tidak mau memberi tahu apa hubunganmu dengan Bin-suheng, jelas juga tidak dapat menerjang masuk begitu saja. Pula umpama engkau dapat menyusup ke dalam secara diam-diam, untuk dapat menemui Bin-suheng juga perlu tanya kepada anak buahnya. Dan cara bagaimana engkau akan menghadapi mereka?"
Nyo Yam menggeleng.
"Aku tidak peduli bagaimana caranya, biarlah nanti aku bertindak menurut keadaan bila sudah masuk ke rumahnya."
Tiba-tiba Oh Lian-kui menimbrung.
"Kalau cuma mau masuk ke rumah Bin-suheng dan juga dapat bebas dari pertanyaan penjaga, aku mempunyai suatu akal."
"Oo, engkau mendapat akal bagus apa?"
Tanya Peng-ki.
Hendaknya maklum, Oh Lian-kui adalah murid Nyo Bok yang terkecil, biasanya tidak banyak bicara dan tidak mempunyai sesuatu gagasan.
Sekarang dia bicara dengan penuh keyakinan, tentu saja Song Peng-ki merasa heran dan ragu.
Tapi Lian-kui lantas bertutur.
"Sebenarnya akal ini pun bukan berasal dari pikiranku sendiri. Cuma kupikir bila Sukoh sengaja menyediakan kereta ini bagi kita, kuyakin pasti mempunyai tujuan tertentu dan sangat mungkin sebelumnya Sukoh sudah menduga akan kejadian ini."
Pengki merasa keterangan Lian-kui ini cakup beralasan, segera ia berkata.
"Betul juga. Ayolah Sute. silakan naik kereta."
Waktu itu cuaca tibe-tiba berubah mendung dan mulai hujin gerimis.
"Kebetulan bagiku, tidak sampai kehujanan,"
Ucap Nyo Yam dengan tertawa.
"Sungguh rapi pemikiran Bibi bagi kalian."
"Meski kereta ini serupa kereta kuda umumnya, tapi biasanya kereta ini kami gunakan juga dalam perjalanan waktu mengawal barang, kegunaannya bukan cuma untuk ber-teduh saja."
"Baik. aku jadi ingin tahu apa kegunaannya,"
Kata Nyo Yam.
"Akal yang kumaksudkan justru hendak menggunakan kereta ini,"
Tutur Lian-kui.
"Cuma. untuk itu terpaksa harus membikin susah Sute sebentar."
Waktu dia bicara, Song Peng-ki lantas membuka sepotong papan, kiranya kereta ini memakai lapisan rangkap rahasia.
"Inilah tempat rahasia yang kami gunakan untuk menyimpan barang berharga,"
Tutur Peng-ki.
"Di sini dipasang pesawat rahasia yang di buat oleh ahli pesawat yang mahir, orang awam tidak tahu di kereta ini ada lapisan rangkap. Cuma luang lapisan rangkap ini sangat sempit, engkau harus meringkuk di situ."
"Hanya tersiksa sebentar saja tidak menjadi soal, biarlah kucatat atas utang Bin Sing-liong,"
Kata Nyo Yam dengan tertawa.
---ooo0dw0ooo---Saat itu Bin Sing-hong sedang menunggu kedatangan kedua Sutenya di kamar rahasia.
Bilamana hari mendung, penyakit encok-nya selalu kumat, mukanya juga suka gatal-gatal.
Apa yang dirasakan ini memang dua macam penyesalan selama hidupnya.
Kedua urusan ini ada sangkut-pautnya dengan ibu gurunya dahulu, yaitu In Ci-lo.
Pertama, yaitu terjadi waktu dia masih muda.
Meski dia tidak terhitung pemuda cakap, tapi wajahnya cukup baik, namun akhirnya berubah menjadi burik.
Buriknya itu bukan lantaran sakit cacar melainkan buatan manusia.
Waktu In Ci-lo diusir oleh Nyo Toa-koh, kebetulan waktu itu Song Ting-siau diminta Beng Goan-ciau agar menjenguk In Cilo.
Antara ketiga orang itu memang bersahaba-karib.
Ketika datang, kebetulan pula Song Ting-siau menghadapi peristiwa In Ci-lo diusir Nyo Toa-koh itu sehingga terjadi salah paham dan Song Ting-siau bergebrak dengan Nyo Toa-koh' Dalam pertarungan itu Nyo Toa-koh menghamburkan segenggam Thi lian-ci atau biji teratai besi, tapi Song Ting siau sempat menyampuknya dengan tenaga pukulan yang dahsyat, biji teratai besi itu berhamburan dan sebagian menghujani muka Bin Sing-liong yang sedang bersorak memberi semangat kepada sang bibi guru.
Setelah biji teratai besi dikeluarkan, bekas luka itu lantas berubah serupa sarang tawon yang menghiasi mukanya.
Berubih menjadi burik masih mendingan, ada urusan lain yang membuatnya cedera bahkan hampir mengakibatkan dia cacat selama hidup.
Peristiwa itu terjadi pada tahun meninggalnya In Ci-lo, karena ada urusan waktu itu Bin Sing-liong pergi ke negeri Taili.
Dalam perjalanan perbatasan Inlam dia kepergok In Ci lo dan Ki Tiang-hong.
Ki Tiang-hong benci kepada Bin Sing-liong karena berulang kali dia membantu gurunya membikin susah In Ci-lo, terlebih benci lagi karena Bin Sing-liong rela menjadi antek ke-rajaan yang memusuhi kaum patriot, maka sekali serangan ia bermaksuk meremukkan tulang pundak Bin Sing-liong, bilamana In Ci-lo tidak mintakan ampun baginya, tentu waktu itu juga Bin Sing-liong sudah CAcat selama hidip.
Tidak lama setelah kejadian itu, In Ci-lo lantas gugur dalam suatu pertempuran di Siau-kim-joan.
Sepulangnya Bin Sing-liong di kotaraja, dengan berbagai obat mujarab istana dapatlah dia menyembuhkan tulang pundaknya yang patah sehingga terhindar dari cacat selama hidup, walaupuu begitu kungfunya juga banyak terpengaruh.
Meski atas bantuan gurunya dia diangkat sebagai perwira Hanlim-kun, tapi kalau kungfunya kurang becus tentu juga akan berpengaruh kepada karirnya (kisah kejadian masa lampau itu dapat dibaca dalam "Kelana Buana").
Adapun terhadap Ki Tiong-hong dan Song Tin-siau yang lihai itu.
biarpun gurunya juga bukan tandingannya, tentu saja ia terlebih tidak mampu membalas dendam.
Sebab itulah meski In Ci-lo sudah mati tetap ia benci kepadanye Terlebih pada waktu cuaca lembab, kalau muka gatal dan encok kumat, selalu timbul rasa gemasnya terhadap In Ci-lo yang dianggapnya sebagai pokok pangkal penyakitnya itu.
Hari ini rasa sakit encok itu terlebih berat daripada biasanya, cuma untung ada suatu peristiwa menyenangkan yang akan dihadapinya sehingga banyak mengurangi rasa bencinya terhadap In Ci-lo.
"Selekasnya aku akan menjadi Conjjpiau-hau dari piaukiok nomor satu di kotaraja ini, kedud'ikan ini jauh lebih menyenangkan daripada menjadi perwira menengah."
Demikian ia berpikir.
"Bilamana aku dapat berbuat bebeiapa hal yang menyenangkan hati Suhu, tentu kedudukanku akun bertambah kukuh."
Begitulah selagi ia dibuai lamunan yang muluk-muluk, tibatiba terdengar suara pinta diketuk, suara seorang anak muda berkati-.
"Ayah, paman Song dan Oh sudah datangi"
Pemuda ini adalah putra Bin Sing-liong, namanya Bin Tingkau. Usianya tahun ini baru 20, jadi selisih tidak banyak dengan usia Oh Lian-kui, Segera Bin Sing-liong membuka pintu kamar dan berseru.
"Kedua Sute, sudah kutunggu kedatangan kalian."
Lalu ia memberi pesan kepada anaknya. Jaga di luar dan awasi orang yang keluar masuk, siapa pun dilarang menggangguku."
Segera ia menutup kamar dan menyilakan Peng-ki dan Liankui duduk.
"Entah ada urusan apa Suheng memanggil kami?"
Peng ki lantas tanya.
"Sabar dulu,"
Jawab Sing-liong dengan tertawa.
"Aku justru ingin tanya dulu kepada kalian, adakah akhir-akhir ini terjadi sesuatu urusan istimewa di piaukiok kalian?" 'Tidak ada,"
Jawab Peng-ki.
"Kuharap Su-heng jangan kuatir. Meski Han-congpiauthau sayang kepada anak menantunya, tapi sampai saat ini belum pernah kami dengar bahwa beliau hendak mengangkat menantunya untuk menggantikan dia."
Inilah urusan yang paling diperhatikan Bin Sing-liong, dia pernah pesan kepada Pengki dan Lian-kui agar mengawasi gerak gerik setiap perubahan piaukiok, terutama mengenai menejemennya, sebab itulah sebelum ditanya Peng-ki lantas bertutur dulu.
Tak terduga Bin Sing-liong lantas tertawa, katanya.
"Kausalah, Sute."
Peng-kijadi melengak, tanyanya dengan tidak enak hati.
"Aku salah omong apa, Suheng?"
Ia kuatir kalau Bin Sing-liong mengetahui dia lagi berdusta. Maka Sing-liong berkata pula dengan tertawa.
"Bukan itu yang kutanyakan, jika Suhu menjadi bekingku, masakah cuma jabatan Congpiauthau sebuah piaukiok saja tidakbisa kupegang' Memangnya Hau Thian-lan itu berani berebut denganku?"
Peng-ki merasa lega, katanya.
"Ya, kiranya aku 3alah tampa. Jadi urusan yang Suheng tanyakan ...."
"Urusan pertama yang ingin kuketahui adalah dua hari terakhir ini apakah piaukiok ada kedatangan tamu yang tak dikenal? Atau meski bukan orang asing, tapi terhitung tokoh kangouw dari daerah lain?"
Pertayaan ini membuat hati Peng-ki berdua berdebur lagi, mereka menjadi ragu apakah mungkin Bin Sing-liong sudah tahu akan kedatangan Nyo Yam? Cepat mereka menjawab.
"Tidak, rasanya tidak ada' "Etnah ada apa Suheng tanya urusan ini?"
Peng-ki coba menambahi bertanya.
"Masa kalian tidak tahu berita besar yang timbul di kotaraja akhir-akhir ini?"
"Pergaulan kami kurang luas. apa yang terjadi di luar rumah sangat sedikit yang kami katahaui. Memangnya ada berita besar apa? Dapatkah Suheng memberitahu?"
Jawab Pengki.
"Akhir-akhir ini terjadi beberapa perkara pencurian yang aneh,"
Tutur Sing-licng.
"Orang yang kehilangan kebanyakan adalah pembesar dan bangsawan, antara lain adalah The kokkong. ada lagi Su-silong dari kementerian kehakiman. Cukup kusebut dua orang korban saja sudah dapat kaubayangkan betapa brutalnya pencuri itu."
Peng-ki terkejut, katanya.
"Kementrian Kehakiman bertugas mengadili penjahat, Su-silong adalah orang kedua dari kementerian itu, biasanya dikenal dengan julukan Hoat-giainlo (raja akhirat hidup) yang suka menjatuhkan hukuman berat bagi setiap penjahat. Bahwa dia sendiri kemalingan, ini sungguh peristiwa luar biasa. Entah berapa banyak harta bendanya yang hilang?" 'Tidak sedikit, tapi juga tidak terlalu banyak, beberapa korban itu seluruhnya cuma kehilangan belasan laksa tahil perak saja,"
Tutur Sing-liong.
'"Cuma, korban pencurian itu kebanyakan adalah pembesar dan bangsawan, maka instansi yang bertugas di bidang keamanan mau-tak-mau harus berusaha membongkar kasus pencurian brutal ini.
Meski komandan Han-lim-kun kami tidak ditugaskan di bidang pencurian, tapi kami pun diminta membantu instansi yang bersangkutan untuk membongkar pencurian ini.
Dan atas perintah komandan, aku pun termasuk salah seorang yang ikut menyelidiki kafus ini,"
"Memangnya ada sangkut-paut apa antara piaukiok dengan kasus pencurian ini?"
Tanya Peng-ki. Ia benar benar rada kuatir kalau Bin Sing-liong membikin susah Han Wi bu dengan alasan kasus pencurian ini. Tapi Bin Siog-liong lantas menjawab.
"Aku pun tahu piaukiok tidak ada sangkut-paut dengan urusan pencurian, betapa berani Han Wi-bu juga tidak berani berkomplot dengan kawanan bandit. Cuma, sudah berpuluh tahun ia menjadi Congpiauthau, pergaulannya luas, bila ada orang ternama datang ke kota-raja sangat mungkin diketahui olehnya. Bahkan tokoh-tokoh itu mungkin akan berkunjung padanya. Sebab itulah kuminta keterangan kepada kalian."
"Tidak ada, setahu kami selama dua hati terakhir ini Congpiauthau tidak menerima tamu, dalam pembicaraan juga tidak pernah menyinggung nama itu orang ternama yang berkunjung ke kotaraja sini,"
Tutur Pengki.
"Baiklah, jika begitu utusan ini boleh dikesampingkan sementera."
Kata Sing-liong. 'Cuma tetap kuminta kalian mengamati urusan ini bagiku."
"Tentu saja kami takkan melupakan pesan Toasuheng,"
Jawab Peng-ki dan Lian-kui berbareng.
Bin Sing-liorg seperti dapat menyelami pikiran kedua Sutenya, katanya pula, 'Aku cuma minta Han Wi bu menyerahkan jabatan Congpiauthau kepadaku dan tidak perlu ku-bikin susah dia dengan alasan berbagai perkara pencurian ini.
Tapi bilamana dia tetap tidak tahu diri tentu akan lain persoalannya."
Peng-ki berdua tidak berani menanggapi. Maka Sing-liong menyambung lagi.
"Mengenai beberapa perkara pencurian itu, ada satu hal yang perlu diperhatikan dan lupa kukatakan kepada kalian.
"Bahwa beberapa perkara pencurian itu dilakukan oleh satu orang yang sama, hal ini dapat kutarik kesimpulan dari cara bekerjanya. Yang disukai pencuri itu adalah Kirn-goan-po (lantakan emas), seperti kejadian di istana pangeran The, banyak barang antik berharga tidak disentuhnya, yang diambil cuma beberapa puluh potong Kimgoan-pe. Untuk itu, orarg piaukiok kalian tentu lebih tajam mata telinga kalian, maka kalau melihat atau mendengar ada orang menghamburkan duit secara royal di kota ini hendaknya segera aku diberi lapor."
Baru sekarang Peng-ki berdua tahu duduknya perkara, mereka pikir kiranya si pencuri yang jahil ini adalah Nyo-sute.
Nyo Yam.
Dengan sendirinya pikiran mereka itu tidak diutarakan, mereka cuma mengiakan saja setiap pesan sang Suheng.
Terdengar Bin Sing-liong berkata lagi.
"Perkara lain justru lebih penting daripada beberapa perkara pencurian ini. Apakah kalian tahu urusan yang diperbuat Se kiat Sute di Poting tempo hari?"
Peng-ki menjawab, 'Konon di rumah Pui-suheng dia mengalahkan bandit terkenal dari Kwantang, apakah Toasuheng maksudkan kejadian ini?"
Urusan ini sudah lama tersiar luas di dunia kaugouw, dengar, sendirinya Peng ki berdua tidak dapat berlagak tidak tahu.
"Ya,"
Jawab Sing-liong.
"Cuma, mungkin yang kalian ketahui cuma serba sedikit daripada apa yang terjadi sesungguhnya."
"O, ada masalah apa lagi?"
Tanya Pengki.
"Meski dia pernah bergebrak dengan Utti Keng, tapi sebenarnya mereka adalah satu komplotan,"
Kata Sing-liong.
"Masa begitu?"
Peng-ki terperanjat.
"Kau tidak percaya ucapanku?"
Tanya Sing-liong.
"Bukan tidak percaya, hanya saja entah Suheng berdasarkan bukti apa?"
"Bukti nyata belum kupegang, hanya banyak tanda-tanda yang mencurigakan. Untuk ini tidak ingin kubi arakan dengan kalian, aku cuma minta kalian membantuku melakukan sesuatu,"
"Silakan Suheng bicara,"
Jawab Peng ki dengan sangsi.
"Sesudah kejadian di tempat keluarga Pui itu, tidak lama Ce Se-kiat lantas menghilang,"
Tutur Sing-liong.
"Yang kami ketahui hanya dia sudah meninggalkan kota Poting, tapi tidak tahu ke mana perginya."
"Apakah Suhtng menghendaki kami menyelidiki jejaknya?"
Tanya Peng ki.
"Tapi sayang mungkin sementara ini kami tidak dapat, meninggalkan piaukiok."
"Piaukiok memang lagi banyak urusan umpama kalian mau pergi juga tidak kuizin-kan,"
Ujar Sing-liong.
"Cuma di antara sesama saudara seperguruan hubungan kalian dengan Se-kiat terhitung paling karib, maka kalian perlu bersiap-siap."
"Bersiap-siap bagaimana?"
Tanya Peng ki dengan tidak enak.
"Bila Se-kiat datang ke kotaraja, sangat mungkin diam-diam akan menemui kalian,"
Tutur Sing-liong.
"Apakah Ce-sute sudah datang kemari?"
Tanya P<-ng-ki.
"Aku tidak bilang dia sudah datang, tapi bukan mustahil dia memang berada di sini. Pendek kata, kemungkinan kedatangannya ke kotaraja ini sangat besar."
"Sebab apa?"
Tanya Peng ki dan Lian-kui berbareng.
"Kami meacurigai dia yang melakukan pembongkaran penjara di Poting dahulu, orang yang membawa lari Pui Liang di rumah Pui Ho itu juga dia ...."
Hubungan Oh Lian-kui cukup akrab dengan Ce Se-kiat, tanpa terata ia membelanya.
"Kukira tidak sampai terjadi begitu. Dengan menyerempet bahaya waktu itu Ce-sute bergebrak dengan Utti Keng, tujuannya justru membela Puijisuheng. mana bisa diam-diam ia memusuhi Pui-jisuheng malah? Apa!agi setahuku, Sukoh mendidiknya dengan keras, mana dia berani membongkar penjara sehabis menolong Puisansuheng? Mendingan kalau-dia cuma diam-diam memusuhi Jisuheng, kalau membongkar penjara berarti melawan pemerintah Padahal Suhu kita adalah orang kepercayaan Sri Baginda sekarang, betapapun Sukoh takkan membiarkan putra sendiri sem-barangan bertindak."
Bin Sing-liong kurang senang karena penuturannya dipotong Lian kui jengeknya.
"Sudah selesai belum ocehanmu?"
"Maaf Suheng,"
Kata Lian-kui "Siaute orang bodoh, ingin omong apa lantas kukatakan begitu saja, bila ada yang keliru mohon Suheng memberi petunjuk."
"Uraianmu memang beralasan, tapi apa yang terjadi justru sering menyimpang dari kebiasaan."
Kata Sing-liong dengan dingin.
"Mengapa kita sampai mencurigai Se kiat, untuk sementara tidak dapat kuberitahukan secara terperinci. Tapi dapat kukatakan padamu, yang mencurigai dia bukan aku melainkan juga Suhu kita."
Lian-kui terkejut.
"Apa, Suhu juga mencurigai dia? Suhu kan masih paman Se kiat sendiri?"
"Betul,"
Kata Sing liong.
"Justru Suhu menganggap keponakan sendiri itu yang paling mencurigakan. Apakah kalian merasa ragu terhadap pikiran Suhu?' Lian-kui tidak berani bersuara lagi. Sing-liong lantas bicara pula.
"Kami sudah mendapatkan info yang jelas, penjahat yang dibawanya lari dari penjara Poting itu bernama Kai Hong, seorang mata mata yang dikirim ke kotaraja oleh pemberontak Citamu. Sute kita yang murtad Pui Liang dan Hoan Gui pembantunya Ketiga orang ini kuduga s.id.ih masuk dulu ke kotaraja, tapi sekarang kami belum ingin membekuknya kembali. Menurut perhitungan kami, sebabnya Ce Se-kiat menghilang secara mendadak bisa jadi karena dia ingin mengelabuhi ibunya dan diam diam menyusul rombongan Kai Hong ke kotaraja sini untuk membantu mereka.
"Se-kiat tidak mempunyai kenalan lain di kotaraja. hanya kalian saja adalah sahabatnya yang dibesarkan bersama sejak kecil. Setiba di sini. tentu dia harus mencari kenalan yang dapat dipercaya, maka bila dia mencari kalian kan tidak perlu diherankan."
Peng-ki tidak berani mendebatnya, lcr-paksa ia coba memancing.
"Adalah pantas jika Toasuheng memikirkan halhal demikian. Bilamana benar Ce-sute mencari kami nanti, lantas apa yang harus kami lakukan?"
Sing-liong mengeluarkan sebuah botol kecil berisi semacam obat bubuk warna jambon, kacanya.
"Sudah kusiapkan bagi kalian. Bila Se-kiat datang ke piaukiok kalian, cukup kalian taruh setitik obat bubuk ini dalam minumannya dan semuanya akan beres."
"Ini obat apa?"
Tanya Pengki.
"Obat pelemas tulang. Soh-kut-san namanya."
Tutur Sing liong "Cukup dicukit setitik dengan kuku saja dan dapat membuat seorang yang berkungfu tinggi mati kutu dan dapat kauperbuat sesukamu.
Tapi kalian jangan kuatir, Soh kui-san ini tidak membahayakan jiwa manusia."
"Lalu bagaimana?"
Tanya Peng-ki.
"Sesudah dia pingsan, masukkan dia ke dalam karung dan segera diantar kepadaku."
Kata Sing-liong.
"Sudah kusediakan juga bagi kalian sebuah kantung kulit yang sangat kuat."
Sambil bicara ia tuding sebuah kantung kulit yang dibuat secara khusus dan tergantung di dinding "Kemudian bagaimana?"
Tanya Lian-kui.
"Urusan selanjutnya tidak perlu kalian urus lagi,"
Jawab Sing-liong dengan kening bekernyit.
"Toasuheng."
Kata Lian-kui.
"Mengingat urusannya cukup penting, maafkan jika kutanya lagi. Apabila Ce-sute jadi kami antar ke tempatmu, lalu apakah Toasuheng akan menjamin keamanannya?"
"Bagaimana nasibnya nanti perlu dilihat dulu bagaimana sikapnya nanti,"
Jawab Sing-liong.
"Kalau dia mau mengaku di mana beradanya Kai Hong, Pui Liang dan begundalnya, dengan sendirinya kami takkan membikin susah dia."
"Jika dia tidak mau mengaku, lalu bagaimana?"
Tanya Liankui.
"Kalau begitu, sulit kukatakan bagaimana jadinya."
"Wah, kan keselamatan Ge-sute harus di-kuatirkan kalau begitu?"
Sing-liong mendengus.
"Hm, sesungguhnya kalian mau setia padaku atau membela orang lain? Apakah kalian berpihak pada bocah Se-kiat itu' Kalian harus tahu, dia juga dicurigai berkomplot dengan kaum pemberontak."
Nyata nada bicaranya bertambah keras dan bengis. Song Peng-ki lebih pintar melihat gelagat, cepat ia menyela.
"Kutahu maksud Oh-sute, bukan dia tidak mau bekerja bagi Suheng melainkan karena takut terhadap Sukoh. Bilamana urusan ini diketahui Sukoh, tentu kami bisa susah."
"Kita bertindak dengan rahasia, sekarang dia berada di Poting, dari mana dia mendapat tahu?"
Ujar Sing-liong.
"Pula, umpama dia tahu juga ada orang akan tampil bertanggung jawab, tidak perlu kita kuatir,"
Oh Lian-kui menggeleng, katanya.
"Tapi Sukoh hanya mempunyai seorang putra, guru kila juga cuma mempunyai seorang taci, Suhu sendiri utang budi kepada taci yang telah membesarkannya itu sehingga hubungan mereka tidak seperti taci dan adik umumnya. Bilamana kita berbuat sesuatu yang tidak baik terhadap Sukoh, mungkin Suhu juga takkan membela kita."
Mendadak Bin Sing-liong bergelak tertawa . Tentu saja Lian-kui merasa bingung, tanyanya.
"Kau tertawa apa, Toasuheng?"
"Kutertawai dirimu,"
Jawab Sing-liong.
"Meski sudah dua tahun kau bekerja sebagai piausu, namun jalan pikiranmu masih serupa anak kecil."
"Mohon Toasuheng memberi petunjuk,"
Kata Lian-kui. Dengan hambar Sing-liong berkata.
"Apakah kau tahu siapa yang memberi gagasan ini?"
Terkesiap hati Lian-kui, tanyanya, '"Memangnya bukan gagasan Toasuheng?' "Mana aku memenuhi syarat menggunakan cara seperti ini?"
Ujar Sing-liong.
"Coba kau terka lagi."
"Aku tidak tahu,"
Jawab Lian-kui, namun dalam hati sudah cukup jelas. Sing-liong terbahak, katanya.
"Biar kukatakan terus terang, gagasan ini datang dari Suhu sendiri. Kalau tidak, dari mana kudapatkan Soh-kut-san yang cuma terdapat dalam istana ini?"
Meski ssbelumnya Oh Lian kui sudah menduga akan hal ini, tapi dibuktikan langsung dari mulut orang, tidak urung membuatnya terkejut juga. Katanya dengan tergegap.
"Suhu .. masa Suhu menyuruh kita memperlakukan keponakan sendiri secara demikian?"
"Hahaha, makanya kubilang engkau masih anak kecil dan tidak tahu urusan,"
Seru Sing-liong dengan tertawa.
"Di kalangan pembesar, yang diutamakan adalah untung dan rugi, apalagi Suhu adalah orang kepercayaan Hongsiang, mana boleh membela sanak famili sendiri dan melanggar undangundang ke-rajaan."
Muka Lian-kui menjadi pucat dan tidak herani bersuara lagi. Bin Sing-liong sangat senang, katanya pula.
"Jangankan Ce Se-kiat ini cuma seorang keponakannya, sekalipun putra kandungnya bila berbuat durhaka terhadap negara mungkin Suhu juga akan menindaknya dengan cara yang sama."
Sedapatnya Song Peng-ki bersikap tenang, tapi tidak urung juga kebat-kebit. Pikirnya, 'Siausute yang disinggungnya justru jauh di ujung langit dan dekat berada di depan mata di luar tahunya."
Melihat Peng ki termenung, Sing-liong menyangka orang meragukan ucapannya, dengan tertawa dingin ia berkata pula.
"Apa kalian tidak percaya kepada ucapanku? Hendaknya tahu, aku tidak sembarangan bicara, biar kalian tahu, boleh kuberi lagi sedikit info. Tentang perkara yang terjadi di Poting itu, mungkin sekali Siausute kita yang belum pernah kita lihat itu juga ambil bagian." 'Cuma, karena dia adalah satu satunya putra kandung Suhu, dengan sendirinya Suhu berharap dia dapat kembali ke jalan yang benar. Namun sejak kecil Siausute itu sudah ikut si bangsat tua Ki Tiang-hong. Kata pribahasa, dekat dengan tinta merah akan menjadi merah, dekat hitam akan menjadi hitam. Maka menurut pandanganku, harapan Suhu atas diri Siausute itu mungkin sangat tipis terkabul."
"Suhu sendiri juga memakai perhitungan bila terjadi yang paling buruk, maka apa yang kukatakan tadi hanya ingin menyadarkan kalian, yaitu bila benar Nyo Yam sampai di kotaraja, untuk mencari ayahnya mungkin akan menemui kalian lebih dulu. Dan kalian harus waspada, jangan sekali bertemu lantas menganggapnya sebagai orang sendiri."
"Apakah kami juga perlu melayani dia dengan Soh-kutsan?"
Tanya Peng-ki. 'Itu urusan nanti, kutaksir saat ini belum berada di kotaraja, biarlah dua-tiga hari lagi kuberi petunjuk pula,"
Kata Singliong.
"Cuma, untuk menjaga segala kemungkinan, bilamana di luar dugaan dia sudah mencari kalian sebelum kuberi petuujuk kepada kalian, maka bolehlah kalian melayani dia dengan cara yang kalian harus mengerjai Ce Se-kiat. Tuh Sohkut-san yang kuberikan itu cukup untuk mengerjai belasan tokoh yang paling lihai sekalipun Kalian jangan kuatir, pekerjaan kalian ini sudah direstui Suhu, tidak nanti beliau menyalahkan kalian. Jelas bukan?" 'Jelas,"
Jawab Peng-ki.
Dalam hati ia pikir tentu Siausute yang sembunyi di luar pasti juga dapat mendengar dengan jelas.
Lalu Bin Sing-lir-ng beilata pula.
'Baiklah, sekarang siaplah menghadapi Ce Se-kiat, sebab kami sudah mendapatkan berita, dalam waktu satu-dua hari ini sangat mungkin dia akan masuk kotaraja."
Peng-ki dan Lian-kui merasa seperti terbebas dari beban yang berat. Selagi mereka hendak keluar, mendadak terdengar suara 'pletak-pletok", suara serupa genteng pecah. Sing-liong terkejut, bentaknya.
"Siapa?"
Belum lenyap suaranya tahu-tahu seorang menolak daun pintu dan melangkah masuk.
"Aku!"
Jawab pendatang ini dengan dingin, ternyata Nyo Toa-koh adanya.
Kiranya menurut perhitungan Nyo Toa-Loh pasti Nyo Yam akan mendatangi Bin Sing-liong, maka lebih dulu ia sembunyi di luar dan menunggu kedatangan kereta itu, lalu ia menerjang masuk begitu saja.
Penjaga di luar selain tahu siapa sang bibi besar kita, juga tehu dia adalah Kwan-im bertangan pedas yang tidak kenal ampun, maka tidak seorang pun berani merintanginya.
Setiba di dalam rumah semula koarikeh atau kepala rumah tangga bermaksud memanggil majikan muda untuk menemui Nyo Toa-koh, tapi sang bibi besar lantas mendamperat-nya.
"Kau sendiri kenal siapa diriku, betapa tinggi kedudukan Bin Sing-liong juga tetap berasal dari didikan keluarga Nyo kami, memangnya dia berani berlagak padaku? Jika aku ingin menemui dia. masakah perlu pakai laporan segala?"
Koankeh tidak mampu merintanginya, terpaksa membiarkan Nyo Toa-koh menerjang ke ruangan dalam.
Setiba di ruang belakang, di situ dijaga sendiri oleh anak Bin Sing liong yaitu Bin Ting-kau.
Justru lantaran mengingat majikan mudanya betjaga sendiri di situ, maka koankeh tadi tidak rewel lagi.
Siapa tahu saat itu Bin Ting-kau juga sudah dikerjai orang dan dilemparkan ke dalam selokan.
Hal ini tidak diketahui koankeh itu, bahkan Nyo Toa-koh juga tidak tahu.
Karena tidak ada rintangan lagi di dalam, langsung Nyo Toa-koh sampai di luar kamar rahasia.
Di situ dia tidak menemukan Nyo Yam tapi kebetulan mendengar Bin Singliong sedang memberi pesan kepada Peng-ki dan Lian-kui cara bagaimana harus menghadapi Ce Se-kiat.
Walaupun watak Nyo Toa koh sekarang sudah jauh lebih sabar daripada masa mudanya, tapi demi mendengar maksud Bin Sing-liong hendak membikin celaka anaknya, rasa gusarnya seketika berkobar dan meledak, pintu segera didobraknya.
Keruan Bin Sing-liong terperanjat, cepat ia menyapa dengan tertawa.
"Ah, kiranya Su-koh adanya, angin apakah yang membawamu kemari?"
"Angin siluman yang kau terbitkan yang membawaku ke sini,"
Jengek Nyo Toa-koh.
"Ai, Sukoh, apakah arti ucapanmu ini?"
Tanya Sing-liong berlagak bingung.
"Huh, tidak perlu berlagak pilon,"
Jengek Nyo Toa-koh.
"Coba jawab, kenapa hendak kau bikin celaka anak Kiat?"
Diam-diam Sing-liong mengeluh bisa celaka, terpaksa ia menjawab.
"Ai, kenapa Sukoh bicara demikian? Tadi baru saja kami memuji adik Se-kiat yang pernah mengalahkan Kwantang-tai-hiap di rumah Pui Liang, kalau tidak percaya silakan Sukoh tanya mereka."
Ia berharap Peng-ki berdua akan membantu dustanya itu, maka berulang ia mengediti mereka. Namun Pcng-ki dan Lian-kui berlagak tidak tahu. Segera Toa-koh mendengus lagi.
"Hm, apa yang kaubicarakan tadi sudah kudengar semuanya. Pengki, bukankah padamu sekarang terdapat sebotol Soh-kut-san?"
"Betul,"
Jawab Peng ki sambil mengeluarkan botol kecil pemberian Bin Sing-liong tadi.
"Kau terima dari siapa?"
Tanya Toa-koh.
"Dari Toasuheng,"
Jawab Peng-ki.
"Untuk apa dia memberikan obat itu kepadamu?"
Tanya Toa-koh pula. Sing-liong tahu sukar menyangkal lagi, sebelum Song Pengki mengaku segera ia mendahului bicara.
"Sukoh, jika engkau sudah tahu, maka tidak seharusnya engkau menyalahkan diriku. Suhu yang memberi gagasan hendak menangkap Sckiat, jika mau malah silahkan Sukoh marah kepada adikmu."
"Aku tidak percaya adikku bisa lupa budi dan khianat seperti ini?"
Ucap Nyo Toa-koh.
Padahal ia percaya, tetapi lantaran dia sedang marah dan harus mencari sasaran pelampias, maka ia tidak membiarkan Bin Sing-liong memindahkan semua tanggung jawab kepada gurunya.
Selain itu Toa koh juga ingin menjaga gengsi keluarga Nyo sendiri, maka ia tidak mau membongkar pertentangan di antara tici dan adik di depan kaum muda.
Apakah betul atau salah.
Bin Sing-liong yang akan dijadikan sasaran lebih dulu.
Dengan sendirinya Sing-liong tidak tahu pikiran Toa-koh, ia cuma berseru penasaran.
"Harap Sukoh maklum, tidak nanti kuberani sembarangan memalsukan perintah Suhu. Kalau tidak percaya, silakan Sukoh tanya sendiri padanya."
"Piok", kontan Sing-liong digampar oleh Nyo Toa-koh sehingga pipi merah bengkak.
"Keparat,"
Damprat Nyo Toa-koh.
"Aku tidak peduli apakah gurumu yang memberi perintah atau bukan. Yang jelas, selama ini kupandang dirimu seperti anggota keluarga sendiri, kenapa kau tega membikin susah putraku?"
Kuatir dihajar lagi, cepat Bin Sing-liong berlutut dan minta ampun.
"Maaf, Sukoh, kutahu kesalahanku. Mohon ampun!"
"Baik, jika minta kuampuni jiwamu, hendaknya segera kau ikut pergi bersamaku,"
Kata Toa-koh.
"Sukoh hendak ... hendak kemana?"
Tanya Sing-liong dengan suara gemetar.
"Akan kutemukan kalian guru dan murid untuk membuktikan siapa yang salah,"
Kata Toa-koh.
Kiranya pada kesempatan ini dia hendak bicara blak-blakan dengan adiknya, ia ingin tahu apakah adiknya berani mengaku terus terang atau tidak.
Betapapun dia masih berilusi kalaukalau adiknya akan mundur teratur dan tidak berani lagi membikin susah Ce Se-kiat.
Bin Sing-liong memang cukup cerdik, apa yang terpikir oleh Nyo Toa-koh tentu juga terpikir olehnya.
Jika untuk urusan ini Nyo Toa-koh tidak segan cekcok dengan adiknya sendiri, yaitu Nyo Bok, maka apakah nanti gurunya akan mengakui perbuatannya atau tidak, yang jelas, akhirnya yang ketimban pulung pasti dirinya.
Karena itulah dia tidak berani ikut Nyo Toa-koh untuk dipertemukan dengan gurunya.
"Sukoh,"
Ia coba mengulur waktu.
"Semua ini sungguh cuma salah paham saja. Harap sabar dan jangan marah dulu, dengarkan penjelasanku ..."
"tutup mulut,"
Bentak Toa-koh sebelum lanjut ucapannya.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan ocehanmu yang bohong belaka, jika mau bicara boleh dikemukakan setelah berhadapan dengan gurumu nanti."
"Jika begitu, kumohon izin berganti pakaian dulu,"
Pinta Sing liong dengan serba susah.
"Kan bukan hendak menghadiri pesta, untuk apa ganti pakaian?'' ujar Toa koh.
"Ting-kau, Ting-kau'"
Sing-liong berseru memanggil anaknya.
"Kau mau apa?"
Tanya Toa koh.
"Ada sedikit pekerjaan harus kuberi petunjuk padanya."
Kata Sing-liong.
"Hm, hendak kau minta bantuan anakmu? Baik, biar kuseret dia pergi sekalian'"
Jengek Toa-koh.
"Ah, mma kuberani, engkau terlampau banyak curiga, Sukoh,"
Kata Sing-liong.
"Ting-kau, tidak perlu masuk kemari, sediakan kereta saja bagiku. Cuma ada sedikit urusan harus kau ...."
Meski masih muda belia anaknya, namun Bin Ting-kau sangat cerdik dan pintar melihat gelagat, dengan teriakannya itu ia menduga putranya pasti dapat mengerti ayahnya lagi terancam bahaya.
Meski tidak banyak bergundalnya, tapi di rumah Bin Sing liong juga terdapat beberapa puluh tukang pukul, bila semuanya teratur dengan baik, sukar juga bagi Nyo Toa-koh untuk menerjang begitu saja dan hal ini berarti gagal untuk membawa pergi Bin Sing-liong.
Tak terduga pada saat itu juga ada orang berteriak.
"Wah, celaka! Bagaimana Siauya ini'? Ayolah, lekas kalian kemari!"
Kiranya hiat-to Bin Ting-kau ditutuk Nyo Yam dan dilemparkan ke selokan, baru sekarang in ditemukan anak buahnya.
Keruan kejut Bin Sing liong tak terperikan, segera ia hendak lari keluar.
Namun Toa-koh keburu membentak.
"Keparat, kau mau kabur? Memangnya begitu gampang?!"
Berbareng ia terus mencengkeramnya.
Tampak Bin Singliong pasti akan dibekuk kembali, mendadak dari jendela menyambar tiba senjata rahasia, dari suara mendengingnya yang keras dapat diketahui tenaga sambitan senjata rahasia ini sangat lihai.
Toa-koh terkejut, ia tahu ketemu lawan tangguh.
Betapapun cepat gerak perubahan toh sukar mengelak.
Terdengar suara "crit-crit"
Yang keras, tiga mata uang yang disambitkan orang itu, yang sebuah dapat dihindarkan Nyo Toa-koh, yang kedua diselentik jatuh, mata uang ketiga tetap mengenai sikunya.
Seketika lengan kanan Toa-koh lantai terkulai lemas "Bangsat kecil dari mana, berani menyergap bibimu'!"
Bentak Toa-koh dengan murka.
Dalam pada itu dengan cepat luar biasa orang itu sudah menerobos masuk melalui jendela.
Belum lagi Toa-koh melihat jelas siapa pendatang ini, tahu-tahu angin pukulan sudah menyambar tiba.
"Biar kuadu jiwa denganmu, bangsat!"
Teriak Toa-koh, berbareng ia sambut pukulan dengan pukulan yang dahsyat.
Meski ia Cuma menggunakan tangan kiri, tapi tenaga pukulannya juga lihai sekali.
Meski sasarannya bukan Bin Sing liong, tapi karena getaran tenaga pukulan itu, dia yang kena getahnya, kontan ia terpental jatuh.
Orang itu langsung diterjang pukulan Nyo Toa-koh.
dia tidak bergeming sedikit pun, ia seperti tak acuh dan menangkis sekenanya, tahu-tahu pukulan Nyo Toa koh yang lihat ini sudah dipatahkannya.
Pukulan Nyo Toa koh yang disebut Liok-yang jiu itu mengandung enam macam perubahan, sudah dilatihnya dengan sempurna, dalam keadaan murka ia menghantam sekuatnya, boleh dikatakan dikeluarkan segenap kemampuannya, setiap gerak tangkis lawan juga sudah diperhitungkannya.
Tak terduga, tangkisan lawan sekenanya itu ternyata juga bergaya Liok-yang jiu keluarga Nyo, bahkan tenaga dan caranya seperti tidak kalah lihai dibandingkan Nyo Toa-koh, Marasa tenaga pukulan sendiri tidak dapat mengenai lawan, sebaliknya malah kena dikuasai, keruan Nyo Toa-koh terkeuap.
keluhnya.
"Wah, tamatlah aku sekali ini!"
Siapa tahu, lawan hanya mematahkan tenaga pukulannya dan tidak balas menyerang lagi Jelas lawan sengaja mengalah dan tidak ingin melukai Nyo Toa-koh.
Setelah saling gebrak satu jurus, baru sekarang Toa-koh dapat melihat jelas wajah lawan, serunya melenggong.
"Hah, kiranya..."
Belum sempat "kau"
Diucapkan, tahu-tahu hiat-so sudah tertutuk lawan, meski masih sadar namun sudah tidak bisa bicara dan tak dapat bergerak lagi.
Kiranya orang yang muncul mendadak ini tak-lain-tak-bukan adalah pemuda yang dilihatnya di piaukiok tadi.
Hati Toa-koh terkesiap pikirnya.
"Rasanya aku tidak salah lihat lagi, dia pasti Nyo Yam adanya. Ai, betapapun hubungan bibi dan keponakan memang lain daripada hubungan ayah dan anak. Pada detik menentukan toh dia tetap membantu ayahnya."
Ia tidak tahu, memang betul pandangannya tidak salah, pemuda ini memang Nyo Yam adanya.
Tapi sebabnya Nyo Yam menutuknya bukanlah sebagaimana disangkanya.
Jatuh Bin Sing liong tadi ternyata tidak enteng sehingga saat itu belum lagi merangkak bangun.
Namun Nyo Toa koh ditundukkan Nyo Yam, hal ini dapat dilihatnya, walaupun tidak diketahui dengan jelas bahwa Nyo Toa-koh tertutuk.
Dengan sendirinya ia kegirangan, disangkanya pemuda ini adalah penyelamat jiwanya, segera ia berseru.
"Wah, perempuan tua ini terlampau lihai, lekas tambahi sekali pukul padanya!"
Selama hidupnya dia paling takut terhadap bibi guru yang berjuluk Kwan-im bertangan pedas ini.
karena melihat Nyo Toa-koh belum lagi roboh, dengan kuatir ia menganjurkan Nyo Yam lekas menambahi suatu pukulan lagi.
Nyo Yam memang segera menambahi pukulan lagi, tapi bukan tertuju Nyo Toa-koh melainkan Bin Sing-liong yang terus dicengkeramnya, pelahan ia hantam punggung Bin Singliong dan membuatnya seketika pinggan.
Song Peng-ki dan Oh Lian-kui sama melongo oleh kejadian yang mendadak ini, kini mereka pun dapat mengenali Nyo Yam, maka rasa kaget mereka pun hilang.
Segera mereka berseru.
"Su ...."
Tapi belum lanjut ucapan mereka, tahu-tahu "plak-plok", mendadak mereka digampar oleh Nyo Yam, sekaligus hiat-to pun tertutuk. Nyo Yam lantas mendengus.
"Hrn, Suheng apa? Masih berani kalian menjagoi Suheng lagi? Tapi sayang suheng kalian ini cuma pandai berlagak sebagai pembesar, kepandaian berkelahi ternyata tidak becus. Hehe, tentu sekarang kalian kenal kelihaianku, biarpun kau panggil Sukohmu juga tidak ada gunanya, apalagi hendak minta tolong kepada suhengmu yang tak becus ini?!"
Sembari mendamperat, berbareng ia pun memberi tanda kepada Peng-ki dan Lian-kui dengan main mata, malahan ia terus mengobrak-abrik perabotan di dalam kamar, Tadi Peng-ki dan Lian-kui mestinya hendak memanggi "Sute"
Kepada Nyo Yam.
namun oleh Nyo Yam telah diubah seakan-akan mereka hendak memanggil Suheng, yaitu Bin Sing-liong dan minta tolong padanya.
Karena di dalam kamar hanya ada seorang suhengnya, jelas yang dimaksud ialah Bin Sing-liong.
Dalam pada itu beberapa tukang pukul sewaan Bin Singliong sudah ada yang mendekati kamar.
Peng-ki berdua bukan orang bodoh, segera, ia tahu maksud Nyo Yam supaya anak buah Bin Sing-liong itu tetap menganggap mereka sebagai orang sendiri dan tidak mencurigai mereka.
Nyo Yam lantas mengambil kantung kulit yang tergantung di dinding itu, ucapnya dengan terbahak.
"Haha, kantung ini kebetulan cocok untuk kugunakan."
Segera Bin Sing-liong yang sudah ditutuk-nya dan tak sadar itu dimasukannya ke dalam kantung kulit itu.
Sekilas pandang dilihatnya Song Peng ki masih memegangi botol Soh-kut-san itu, segera ia mengambilnya dan berkata.
"Ini juga cocok untuk kupakai."
Menyusul ia tertawa panjang, katanya pula.
"Maaf, akan kubawa Suheng kalian. Rasanya kalian belum memenuhi syarat untuk menjadi pendampingnya, maka boleh istirahat saja sebentar di sini."
Habis berkata, kantung kulit itu dipanggulnya.
"blang", pintu kamar didepak terus menerjang keluar. Saat itu beberapa tukang pukul baru memburu tiba, tapi semuanya kena disapu terguling oleh kantung kulit yang disabetkan Nyo Yam. Di dalam Nyo Toa-koh hanya mendengar suara gedebukan dan jeritan beberapa orang, sejenak kemudian baru suasana tenang kembali. Dapat dirasakan oleh Nyo Toa-koh bahwa Nyo Yam hanya menutuknya dengan cara yang ringan, setelah dia mengerahkan tenaga dalam, lambat laun hiat-to yang tertutuk itu terbuka sendiri. Tentu saja ia sangsi, diduganya tindakan Nyo Yam itu pasti ada maksud tertentu, tapi di depan kedua murid keponakan ia kena di-tutuk orang, biarpun orang yang mengerjainya ini adalah kemenakan sendiri, tetap dirasakan malu dan juga gusar. Maka sambil berteriak segera ia menerobos keluar melalui jendela. Dengan tindakannya tadi, Nyo Yam yakin Song Peng-ki dan Oh Lian-kui pasti tidak akan ikut tersangkut perkara lagi, maka dapat ditinggal pergi tanpa kuatir. Dugaannya memang tepat, setelah suasana tenang kembali, tidak lama kemudian dua penjaga yang tidak tahu apa yang terjadi coba melongok mereka Meski Peng-ki dan Lian kui juga tertutuk dan belum dapat bergerak, namun sekarang mereka sudah dapat bicara. Kedua anak buah Bin Sing-liong juga bukan orang bodoh, segera mereka tahu Peng-ki berdua tertutuk hiat to kelumpuhannya, mereka saling pandang tanpa berdaya. Peng-ki berlagak malu, katanya.
"Ai, sungguh runyam, sama sekali kami tidak mampu membantu kesukaran Toasuheng, sebaliknya malah kena dikerjai bangsat cilik itu. Bagaimana dengan bangsat cilik itu, apakah kalian dapat membekuknya?"
"Kami pun harus merasa malu, sudah banyak dirobohkan tetap tidak dapat merintangi bangsat cilik itu, malahan majikan kami pun diculik olehnya,"
Tutur kedua penjaga itu. Mereka mengira Peng-ki berdua sudah lebih dulu tertutuk sehingga tidak tahu diculiknya Bin Sing-liong. Maka Peng-ki menjawab.
"Syukurlah Sukoh kami sudah mengejar ke sana, mungkin akan dapat menyelamatkan Toasuheng. Dan bagaimana dengan majikan muda kalian?"
"Majikan muda kemi juga tertutuk hiat-tonya oleh bangsat cilik itu, saat ini dia belum lagi sadar,"
Tutur penjaga itu.
"Kami pun tidak mampu membuka hiat-tonya dan sebenarnya ingin ..."
Bicara sampai di sini, tanpa terasa kedua orang itu saling pandang dengan menyengir.
Kiranya mereka bermaksud minta tolong Peng-ki berdua untuk membuka hiat-to majikan mudanya yang tertutuk, sekarang melihat Peng-ki berdua juga mengalami musibah yang sama, dengan sendirinya mereka urung minta tolong.
Namun Peng-ki berdua tahu maksud mereka, katanya.
"Mungkin dalam waktu tidak lama hiat-to kami akan lancar dengan sendiri. Tapi bila kalian dapat menolong dan kami bisa bergerak lebih cepat, mungkin kami pun dapat menolong Binsutit."
"Tapi ... bagaimana caranya?"
Kata kedua penjaga.
"Bagaimana caranya dapat kuajari kalian,"
Kata Peng-ki.
Benar juga, setelah diberi petunjuk dan dicoba, hiat-to Peng-ki yang tertutuk segera lancar kembali.
Lalu Peng-ki membuka juga hiat to Oh Lian-kui.
Dalam pada itu centeng keluarga Bin telah membawa datang Bin Ting-kau yang tidak bisa berkutik itu.
Setelah diperiksa, Peng-ki tahu Ting-kau ditutuk dengan Liok-yang-jiu oleh Nyo Yam, pikirnya.
"Rupanya Nyo-sute sengaja memberi jasa baik kepada kami, bila dia menggunakan cara menutuk lain tentu kami tidak berdaya."
Maka dengan gampang saja dapatlah ia membuka hiat to Bin Ting kau yang tertutuk.
Dengan sendirinya anak muda itu sangat berterima kasih.
Lantaran gerak-geriknya masih kaku, terhadap anak buahnya yang tidak becus itu ia pun kehilangan kepercayaan, terpaksa ia memberitahukan tempat tinggal Nyo Bok kepada Peng-ki dan minta bantuan kedua Su-siok itu lekas menyampaikan berita kepada kakek gurunya itu.
Mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa bangsat cilik yang menyerangnya tak lain tak-bukan adalah putra kakek gurunya, bahkan juga ingin mencari tempat tinggal sang kakek guru.
---ooo0dw0ooo---Sementara itu cuaca sudah gelap, bulan sudah menongol di ufuk timur dengan cahayanya yang terang.
Namun perasaan Nyo Yam justru tertutup oleh bayangan gelap.
Ia mempunyai Soh-kut-san.
Bin Sing-liong juga takkan pengaruhi ginkangnya yang tinggi.
Namun Bin Sing-liong sendiri ditambah botol Soh-kut-san yang kecil itu justru membuat tekanan berat bagi perasaannya.
Terpikir olehnya.
"Jika apa yang dikatakan Bin Sing-liong betul, bukankah ayahku menjadi lebih ganas dan keji daripada bibi yang berjuluk Kwan-im bertangan pedas. Padahal ayah pernah berkata padaku, lantaran menghindari pencarian musuh, maka beliau terpaksa menjadi jago pengawal istana.
"Tapi bila apa yang dikatakan Bin Sing-liong itu benar, itu berarti ayah memang sengaja hendak menjadi budak setia raja bangsa asing ini. Sungguh aku tidak percaya bahwa ayah adalah manusia serendah ini, sampai darah-daging sendiri juga tidak diakui lagi dan akan dicelakai? "Apakah bibi orang baik atau orang buruk, yang jelas ayah sendiri utang budi atas mendidik dan membesarkannya, mana boleh ayah menyuruh muridnya mengerjai kakak Se-kiat dengan Soh-kut-san, bahkan dengan cara yang sama aku pun hendak dikerjai juga."
Seperti kata pribahasa, seganas-ganasnya harimau juga tidak makan anak sendiri, sungguh Nyo Yam tidak percaya ayah kandungnya itu bermaksud keji terhadapnya.
Akan tetapi intrik ayahnya yang keji itu didengarnya langsung dari mulut murid ayahnya, hal ini membuatnya mautak-mau percaya juga beberapa bagian.
Karena itu ia ingin menemui ayahnya, ingin menguji orang tua sendiri.
Untuk menemui ayahnya ia peria mencari jalan melalui Bin Singliong.
Inilah yang menjadi alasannya mengapa dia "meyelamatkan"
Bin Sing-liong.
Begitulah ia membuka kantung kulit itu di tepi kolam dan membebaskan Bin Sing-liong serta membuka hiat-to yang ditutuknya tadi.
Sing-liong seperti habis mimpi buruk, dengan mata terbelalak ia pandang Nyo Yam.
"Engkau mungkin terkejut, Bin-taijin?"
Sapa Nyo Yam dengan tertawa. 'Engkau masih kenal diriku?" 'Siapa kau ini? Tempat apakah ini?"
Tanya Sing-liong.
"Apa yang baru saja terjadi, rasanya tidak sampai kau lupakan sama sekali,"
Ujar Nyo Yam.
"Aku inilah orang yang menyelamatkan dirimu dari tangan Loa-jiu kwan-im. Engkau kan penduduk kota ini, lihat gardu pemandangan di tepi kolam itu, masa tempat ini tidak kau kenal lagi? Eh, Bin-taijin, jangan takut, sekarang engkau sudah bebas dari bahaya."
Dengan sendirinya Bin Sing-liong masih kenal dia, sesudah menenangkan diri, Umpama pun dikenalnya.
Yang tidak habis dimengerti adalah mengapa orang yang asing baginya ini mau menolongnya?
Kalau menolongnya kenapa meski menutuk hiai-to dan memasukkannya ke dalam kantung dan dibawa ke sini?
Dengan penuh rasa curiga terpaksa ia mengucapkan terima kasih kepada Nyo Yam, katanya.
"Terima kasih atas budi pertolonganmu, dan entah bagaimana keadaan di rumahku tadi?"
"Aku pun tidak tahu,"
Jawab Nyo Yam.
"Cuma menurut perkiraanku, meski Sukohmu berjuluk Kwan-im bertangan pedas, yang dibencinya cuma dirimu saja, kukira dia tidak akan membikin susah anggota keluargamu."
"Walaupun kegitu, hatiku tetap tidak tentram karena tidak berada di rumah,"
Ucap Sing liong.
"Apakah engkau menyesal caraku memaksamu meninggalkan rumah?"
"Ah, mana kuberani. Cuma ada satu hal tidak jelas bagiku, untuk itu ingin kuminta penjelasanmu."
"Silakan bicara,"
Kata Nyo Yam.
"Bila perempuan jahat itu bukan tandingan Anda, kenapa Aada berbalik menghindari dia?"
Tanya Siug liong.
"Hah, kukira engkau tidak cuma ingin tahu hal ini saja, tentu masih banyak tanda tanya lain Umpamanya mengapa kututuk hiat-tomu dan memasukanmu ke dalam kantung kulit? Dari mana kutahu hari ini engkau ada kesulitan. lalu datang ke rumahmu untuk menolong mu? Kenapa pula hanya dirimu saja yang kutolong dan tidak menolong sekalian anakmu dan sebadainya, begitu bukan?"
Yang sedang dikuaiirkan Bin Sing-liong memang cuma keselamatan anaknya, maka cepat ia menjawab.
"Betul, pada waktu perempuan jahat itu melabrakku dapat kudengar suara jeritan di luar, rasanya seperti terjadi sesuatu atas diri putraku. Bilamana Anda tahu apa yang terjadi, mohon memberi penjelasan."
"Akan kuberitahukan semuanya, dan yang pertama hendak kukatakan adalah engkau salah tindak,"
Kata Nyo i am. Sing-liong terkejut.
"Masa Anda menganggap ada sesuatu perbuatanku yang tidak benar?"
"Engkau setia kepada guru, setia kepada kerajaan, engkau orang yang memenuhi kewajiban, caramu bekerja sangat baik."
Kata Nyo Yam.
"Yang kumaksudkan bukan berbuat salah melainkan dugaanmu yang salah. Mengapa kausangka Loa-jiu kwan-im bukan tandinganku? Bukankah engkau terlalu menilai rendah kepada Sukohmu?"
Hati Sing-liong agak lega, pikirnya.
"Dari nada ucapannya, bilamana dia bukan jago istana yang baru datang tentu adalah sahabat Suhu."
Maka ia menjawab.
"Kutahu Sukoh berjuluk Loa-jiu-kwanim dan pasti bukan cuma bernama kosong belaka. Tapi kungfu Anda terlebih hebat daripadanya, meski cuma kulihat satu jurus saja, namun melulu satu jurus pun engkau sudah mengungguli dia, kuyakin pandanganku pasti tidak keliru."
Diam diam Nyo Yam merasa geli, katanya dengan tertawa.
"Terima kasih atas penghargaanmu kepadaku. Tapi hendak kukatakan terus terang padamu, bilamana pertarungan berlanjut lebih lama, meski aku tidak bakalan kalah, untuk menangkan dia juga tidak mudah-Satu jurus seranganku tadi hanya berhasil secara kebetulan sehingga dapat menyelamatkanmu dari keganasannya. Bahwa aku segera kabur pula dengan membawa dirimu adalah karena dia juga membawa begundalnya."
"Apa kaumaksudkan kedua Suteku itu?"
Tanya Sing liong. Nyo Yam menjawab.
"Song dan Oh berdua sangat ingin menjadi wakil Cungpiauthau Cin-wan-piaukiok, untuk itu diperlukan dukunganmu, mustahil mereka berani tidak setia kepadamu. Mereka hanya takut kepada Sukoh kalian, kalau dibilang sekomplotan dengan Sukohmu rasanya mereka belum memenuhi syarat. Apalagi cuma mereka berdua, biarpun benar mereka membela Loa-jiu-kwan-im juga tidak perlu kutakuti,"
Diam-diam Bin Sing-liong merasa heran mengapa sedemikian jelas orang mengetahui urusan yang diaturnya?
Tapi dasar manusia licik yang suka mengukur orang lain dengan diri sendiri, disangkanya kedua Sutenya juga serupa dirinya, melulu mengutamakan kepentingan pribadi, pihak mana yang menguntungkan, ke sana pula akan mendoyong.
Sebab itulah ia pun tidak sangsi lagi setelah diberi penjelasan oleh Nyo Yam.
"Habis siapa pula yang kau maksudkan sebagai komplotan perernpuan tua?"
Tanya Sing liong kemudian "Masa tidak dapat kau terka"
Jawab Nyo Yam dengan tertawa.
"Orang ini tidak boleh tidak harus membantu Sukohmu, seharusnya dapat kau duga siapa dia?"
"Jika Anda saja merasa perlu menghindari dia. rasanya kepandaiannya pasti berada di atas Sukoh kami,"
Kata Singliong.
"Memang betul,"
Ujar Nyo Yam. Sing-liong menjadi tambah sangsi, katanya.
"Apakah mungkin Han Wi-bu? Namun rasanya Han Wi-bu tidak nanti berani bertindak demikian."
"Tentu saja bukan dia,"
Kata Nyo Yam.
"Kungfu orang ini justru lebih tinggi lagi daripada Han Wi-bu."
"Wah, tidak dapat kuterka,"
Kata Sing-liong.
"Dia bukan lain daripada putra Sukoh-mu sendiri,"
Tutur Nyo Yam dengan tertawa. Sing liong melenjak. katanya.
"Masa Ce Se kiat sudah berada di kotaraja?"
"Orang yang menutuk hiat-to anakmu ialah dia,"
Kata Nyo Yam.
"Mereka ibu dan anak sekaligus mendatangi rumahmu."
Baru sekarang Sing liong tahu duduknya perkara, pikirnya.
"Pantas anak Kau tidak sempat bersuara sama sekali dan kena dikerjai orang, kiranya perbuatan bocah she Ce itu. Jika Utti Keng saja gentar kepada bocah itu, dengan sendirinya kungfunya lebih tinggi daripada ibunya. Karena itu ia tidak sangsi lagi terhadap bualan Nyo Yam. Segera Nyo Yam menyambung.
"Aku bukan tandingan Ce Se-kiat, terpaksa sebelum dia muncul lekas kubawa lari dirimu. Dalam keadaan terburu-buru tidak sempat kuberi penjelasan kepadamu, pula kuatir engkau berteriak, terpaksa kututuk dirimu, untuk itu harap engkau jangan marah."
Penjelasannya cukup beralasan, tentu saja Bin Sing-liong tidak berani marah kepadanya, sebaliknya dia mengucapkan terima kasih pula.
"Sekarang mereka ibu dan anak mungkin sudah meninggalkan rumahmu, tapi segala urusan akan lebih baik bila berlaku hati-hati, engkau tidak terburu-buru pulang bukan?"
Tanya Nyo Yam. Betapapun hati Bin Sing-liong masih kebat kebit, mana dia berani menyerempet bahaya, katanya.
"Betul, sementara ini jangan pulang dulu. Dan entah Anda hendak menuju ke mana?"
"Engkau ingin ke mina, boleh ku pergi bersamamu,"
Jawab Nyo Yam. Sing liong diam saja. Maka Nyo Yam berkata pula.
"Sukohmu hendak mencari perkara padamu, jika engkau tidak sanggup melayaninya, lalu siapa orang pertama yang hendak kau cari, masa belum kau pikirkan?*' Hal ini sengaja ditanya, padahal jelas diketahuinya yang hendak diberi lapor oleh Bin Sing-liong pasti gurunya, yaitu Nyo Bok. Nyo Bok adalah jago pengawal istana, tempat kediamannya tidak boleh sembarangan diketahui orang luar. Bin Sing-liong sendiri tidak berani membawa orang asing ke sana sebelum mendapat izin sang guru. Maka Sing-liong menjawab dengan gelagapan.
"Aku ... aku ...."
"Apakah tempat itu tidak leluasa bagimu membawaku ke sana?"
Tanya Nyo Yam dengan tertawa.
"Juga tidak mutlak tidak boleh pergi ke sana,"
Jawab Singliong ragu.
"Cuma, nama Anda yang mulia saja belum kuketahui sampai saat ini."
"Namaku tidak perlu kau tanya,"
Ujar Nyo Yam.
"Tapi dapat kukatakan padamu, aku dan gurumu mempunyai hubungan yang erat, kita boleh dikatakan orang sendiri."
Ucapannya memang tidak omong kosong, jelek jelek Bin Sing liong kan murid ayahnya.
"Entah Anda bekerja di mana? Maaf, jika kutanya macammacam, sebab ... sebab ... ,"
"Tidak perlu kau jelaskan juga kutahu sendiri,"
Ujar Nyo Yam dengan tertawa.
"Asal-usul dan kedudukan diriku bila tidak kukatakan sedikit, tentu engkau merasa waswas."
Sing-liong merasa lega, jawabnya.
"Anda memang seorang bijaksana."
"Ya, ada beberapa pertanyaan belum lagi kujawab, biarlah sekarang kujelaskan seluruhnya. Pertama hendak kukatakan padamu, kedudukanku rada-rada mirip dengan gurumu."
"Hahh, engkau juga Si-wi-taijin (tuan besar jago pengawal istana)?"
Tanya Sing-liong dengan terkejut.
"Meski aku bukan jago pengawal istana, tapi aku mendapat tugas khusus dari Tai-lwe-congkoan (kepala rumah tangga istana). Malahan dapat kuberitahukan padamu, Pang Tai-yu yang mengundang diriku atas perintah Tai-Iwe-congkoan. Sebulan yang lalu aku bertemu dengan Pang Tai-yu di Tioya, mestinya dia hendak pulang ke kotaraja bersamaku, cuma sayang ia terluka, saat ini mungkin sedang merawat lukanya. Siapa itu Pang Tai-yu kukira engkau cukup tahu."
Pang Tai-yu yang disebut Nyo Yam itu adalah jago pengawal istana yang tidak diumumkan secara terbuka, hal ini diketahui Bin Sing-liong.
Bahwa Nyo Yam dapat menyebut nama Pang Tai-yu, mau-tak-mau Sing-liong tambah percaya.
"Urusan Cin-wan-piaukiok juga sangat diperhatikan Congkoan taijin,"
Kata Nyo Yam pula.
"Tugas pertama yang diberikannya kepadaku adalah supaya diam-diam kuawasi gerak-gerik Cin-wan-piaukiok."
Sing-liong berkeringat dingin, pikirnya.
"Jangan jangan Congkoan-taijin juga ingin ikut campur urusan Cin-wanpiaukiok? Pantas orang ini sangat kenal seluk-beluk piaukiok. Perlu kuingatkan Suhu agar jangan lupa memberi sedikit manfaat bagi Congkoan-taijin."
Didengarnya Nyo Yam menyambung lagi.
"Diam diam kuawasi Cin wan piaukiok, setiap orang yang keluar masuk piaukiok tidak lolos dari pengamatanku, serupa tokoh ternama Loa-jiu-koan-im itu tentu saja terlebih menarik perhatianku."
"Hm, kiranya di luar tahuku Han Wi-bu mengundangnya, langkah ini sungguh tidak kuduga,"
Jengek Sing-liong.
"Aku juga tahu Loa-jiu-kwan-im adalah sahabat baik Han Wi-bu, kedatangannya ke Cin-wan-piaukiok adalah urusan biasa, cuma kedatangannya ternyata begitu kebetulan, hal inilah yang menimbulkan rasa sangsiku. Dari nada ucapanmu, agaknya kaupun mencurigai mereka mempunyai maksud tertentu?"
"Kutahu Han Wi-bu tidak ingin membiarkanku menjadi Congpiauthau,"
Kata Sing-liong dengan gemas.
"la mengundang Sukoh kemari, jelas ditujukan untuk menghadapi diriku. Apakah kau dengar pembicaraan mereka?"
"Aku tidak berani terang-terangan masuk ke piaukiok untuk mendengarkan pembicaraan mereka, aku hanya mengikuti jejak mereka secara diam-diam,"
Tutur Nyo Yam.
"Tidak lama setelah Nyo Toa-koh dan anaknya masuk ke dalam piaukiok, lalu kau panggil kedua Sute-mu, kemudian Han Wi-bu menyediakan kereta bagi kedua Sutemu, dari situ dapat kutemukan suatu rahasia."
"Rahasia apa?'' tanya Sing-liong.
"Yaitu pada waktu kedua Sutemu belum keluar, lebih dulu Ce Se-kiat telah menyusup ke dalam kereta, bahkan ibunya sudah mendahului meninggalkan piaukiok,"
Tutur Nyo Yam.
"Jelas kulihat Ce Se-kiat naik ke dalam kereta, tapi kemudian waktu kereta diberangkat-nya, penumpangnya yang kulihat hanya Song Pengki dan Oh Lian-kui saja.
"Hal itu disebabkan kereta itu memang dipasang lapisan rahasia, bocah she Ce itu bersembunyi di situ,"
Kata Singliong.
"Melihat gelagatnya, tentang Han Wi-bu mengundang kedatangan mereka ibu dan anak juga dilakukan di luar tahu kedua Suteku. Selama ini Peng-ki dan Lian-kui memang kurang mendapat kepercayaan Han Wi bu, bisa jadi rahasia dalam kereta itu juga tidak diketahui mereka."
Nyo Yam mengarang cerita, apa yang diperbuatnya sendiri dikatakan sebagai perbuatan Ce Se-kiat, rasa sangsi Bin Singliong terhadap Peng-ki berdua lantas lenvap, bahkan cerita karangannya itu dipercaya sepenuhnya.
Maka Nyo Yam menyambung lagi.
"Urusan ini sangat aneh, diam diam aku lantas membuntuti kereta itu dan langsung sampai di rumahmu, tentu sekarang dapat kupahami mengapa mendadak aku dapat muncul di sini, bukankah kedatanganku tepat pada waktunya? Ini bukan kebetulan, juga bukan lantaran aku dapat meramal apa yang belum terjadi."
Sing-liong memandangnya sekejap seperti lagi berpikir, tiba tiba ia berkata.
"Kupaham sskarang. Engkau datang dari tempat yang jauh bukan? Maksudku sebelum engkau sampai di Tioya semula engkau tinggal di suatu tempat yang jauh dari daerah Tionggoan, bukan?"
Berderak juga hati Nyo Yam, tanyanya dengan tersenyum.
"Dari mana kau tahu?"
"Jika tidak salah dugaanku, Anda ini datang dari Pek-tohsan bukan'"
Tanya Sing-liong. Nyo Yam berlagak tak acuh, tidak mengaku, juga tidak menyangkal, ia memandang ke atas dan balas bertanya.
"O, kaupun tahu Pek-toh-ian segala?"' Diam-diam Sing liong merasa tenang karena mengira dugaannya tidak keliru, dengan berseri ia berkata pula.
"Guruku terhitung juga orang kepercayaan Congkoan-taijin dan Congkoan-taijin sering bicara dengan guruku tentang Ubun sancu dari Pek-toh-san."
"O, kiranya begitu,"
Ucap Nyo Yam.
"Engkau adalah murid pertama kesayangan gurumu, pantas kau tahu berbagai urusan."
Sing-liong tambah gembira, katanya.
"Kutahu hubungan baik Sancu dan Congkoan-taijin adalah suatu urusan rahasia, jago pengawal umumnya tidak nanti mengetahui rahasia ini. Tapi engkau jangan kuatir, tidak nanti kubocorkan rahasia ini." ---ooo0dw0ooo---
Jilid 3
"Tampaknya engkau ini seorang yang biasa bekerja hatihati,"
Kata Nyo Yam.
"Terima kasih atas pujianmu,"
Jawab Sing-liong.
"Setelah bertugas sekian tahun, sudah lama menjadi kebiasaanku untuk menjaga rahasia. Kutahu apa yang tidak boleh kukatakan pasti takkan kusinggung di depan orang lain."
"Bagus,"
Ucap Nyo Yam.
"Tapi ingin kutanya pula, dari mana dapat kau terka bahwa aku ada hubungan dengan Pek toh san?"
"Usia Anda masih muda belia dan kung-fumu selihai ini. kecuali anak murid Ubun-sancu, dari golongan dan perguruan mana lagi yang mempunyai tokoh muda serupa Anda ini?"
Kata Sing-liong.
Ada alasan lain lagi yang tidak diutarakannya, yaitu ia tahu Pang Tai-yu adalah penghubung rahasia antara Ubun-sancu dari Pek-toh-san dengan Tai-lwe-congkoan, ia pun tahu ada utusan Pek toh san yang ikut hadir dalam pertemunn di Tioya.
Meski Nyo Yam pernah melihat Pang Tai yu di Tioya, bahkan orang she Pang itu yang menyampaikan undangan Tai-lwe-congkoan kepadanya (sebagaiman keterangan Nyo Yam tadi), maka menurut kesimpulan Bin Sing-liong anak muda ini pastilah anak mund Pek-toh-san.
Nyo Yam tidak menyangka kebohongannya yang dikarsng sekenanya dapat menimbulkan salah paham demikian, diam diam ia merasa geli, segera ia menambahi sekalian.
"Eh, kau kira aku ini siapa dan ada hubungan apa dengan dia?"
"Melihat kepandaian Anda setinggi ini, jangan jangan engkau inilah Siaucecu dari Pek-to-san. Ubun-kongcu, Ubun ..."
Rupanya Bin Sing Hong mengira Nyo Yam adalah Ubun Lui dari Pek to-san, yaitu kemenakan Ubun Pok, namun dia tidak kenal Ubun Lui dan juga tidak tahu berapa usianya.
Padahal saat ini Ubun Lui sudah berumur di atas 30, sudah terhitung orang setengah baya.
Diam diam Nyo Yam berpikir tidak sudi mengaku bangsat tua Ubun Pok sebagai orang tua, kalau mau memalsu juga tidak sudi mengaku sebagai Ubun Lui.
Maka sebelum ucapan orang selesai, segera ia mendelik dan mendengus.
"Hm, jika kau tahu ada yang tidak boleh dikatakan, hendaknya jangan kau katakan lagi. Maka hal yang tidak perlu kau tanya tentu juga tidak boleh kau tanya."
Keruan Bin Sing liong ketakutan, cepat ia menjawab.
"Ya, ya."
Benar juga ia tidak berani banyak tanya lagi dan segera membawa Nyo Yam ke rumah gurunya.
Ketika Nyo Yam ikut Sing liong memasuki Kamar rahasia ayahnya, hampir saja ia mendengar detak jantung sendiri.
Sesungguhnya orang macam apakah ayahnya, sebentar lagi tentu dapat diketahuinya.
Ia masih menyimpan surat wasiat pemberian kaisar Khonghi yang diterimanya dari Liong Leng-cu itu, diam diam ia berpikir.
"Demi usahaku agar ayah dapat mengundurkan diri dari jabatannya dengan aman, dengan susah payah kami telah berdaya dan membuat rencana rapi baginya. Bilamana beliau tetap mabuk pada kedudukan dan tidak mau sadar sehingga hubungan darah daging sendiri pun tidak dipikirkan lagi, lalu apa dayaku dan apa yang harui kulakukan?"
Sungguh ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi, maka ia pun tidak berani berpikir lagi.
---ooodwooo---Sementara itu Nyo Toa-koh sudah kembali sampai di Cinwan piaukiok.
Han Wi-bu telah memberitahukan padanya bahwa tamu yang aneh itu tidak pernah datang lagi.
Song Peng ki dan Oh Lian kui ternyata juga belum pulang.
Toa koh tidak tahu bahwa Song dan Oh telah pergi mencari adiknya, tapi ia tahu setelah tindakan Nyo Yam itu, anggota keluarga Bin tentu menganggap mereka sebagai orang sendiri, maka keselamatan mereka tidak perlu dikuatirkan.
Namun Han Wi-bu sangat terkejut ketika mendengar cerita Toa-koh tentang apa yang terjadi di rumah Bin Sing-liong.
"Tidak perlu kau takut. Han tua,"
Kata Toa koh dengan gagah berani serupa masa mudanya.
"Akulah yang berbuat. tentu segalanya aku yang bertanggung jawab. Bilamana adikku yang tidak genah itu berani datang mencari perkara padamu. biarlah aku yang akan tampil menghadapi dia."
Han Wi-bu tersenyum getir. katanya.
"Paling-paling kuserahkan piaukiok ini kepadanya, masakah dia berani membunuhku? Cuma ada sesuatu, entah pantas kukatakan padamu atau tidak?"
"Bicara saja. dengan hubungan baik kita ini, masa ada yang perlu dirahasiakan?"
Kata Toa-koh.
"Kutahu maksudmu, kau kira dalam pandangannya aku sebagai tacinya tidak lebih dekat daripada muridnya si Bin Sing-liong sehingga mungkin dia takkan memikirkan hubungan antara taci dan adik dan akan bertindak keji padaku."
"Sesungguhnya aku tidak berani berprasangka demikian, cuma kalau berlaku lebih waspada kan juga baik,"
Kata Han Wi-bu.
"Terima kasih atas perhatianmu,"
Toa-koh tertawa.
"Cuma ada suatu hal kaupun tidak tahu."
"Oo Urusan apa?"
Tanya Wi-bu.
"Ada lagi seornng yang tersangkut dalam urusan mempunyai hubungan terlebih dekat dengan dia daripada diriku,"
Tutur Toa-koh.
"He. siapa dia?"
Tanya Wi-bu terkejut.
"Yaitu orang aneh yang minta barangnya dikawal Peng-ki dan Lian-kui itu,"
Kata Toa-koh.
"O apakah dia dan adikmu ..."
"Dia adalah putra adikku,"
Tutur Toa-koh-"Nah, hubungan antara anak dan ayah bukankah jauh lebih dekat daripada hubungan antara taci dan adik?"
"Apakah kalian sudah bertemu secara terbuka antara bibi dan kemenakan?"
Tanya Wi-bu.
"Belum, malahan dia telah menutuk hiat-toku,"
Ucap Toakoh.
"Lantas darimana kau tahu dia adalah putra adikmu?"
"Dia menggunakan kungfu keluarga Nyo, bahkan tempo hari sudah pernah kulihat dnia satu kali. Meski sekali ini dia dalam keadaan menyamar, sedikit banyak dapat kukenali raut wajahnya."
Nyo Toa-koh memang mempunyai suatu kepandaian khas, yaitu barangsiapa asal pernah dilihatnya satu kali, biarpun berselang berapa lama pun tetap akan dikenali wajah dan suara orang itu.
Sekalipun orang itu menyamar dan ganti rupa, asalkan sedikit memperlihatkan cirinya pasti sukar terhindar dari pandangannya.
Baru sekarang Wi-bu paham duduknya perkara.
katanya.
"Pantas engkau membiarkan Sutitmu bicara terus terang kepadanya. bahkan menyiapkan sebuah kereta baginya Rupanya apa yang terjadi selanjutnya juga sudah berada dalam perhitunganmu."
Toa-koh tertawa.
"Ya sudah kuduga dia akan ikut Peng-ki dan Lian-kui pergi mencari Bin Sing-liong. Tapi kemudian dia membantu Bin Sing-liong melawanku, hal ini sama sekali di luar dugaanku."
"Tapi menurut ceritamu, meski dia bergebrak denganmu, agaknya dia tetap rada mengalah,"
Ujar Wi-bu.
"Betul. bilamana dia menutukku dengan cara yang keras. tentu aku tak dapat lagi pulang ke sini,"
Kata Toa-koh.
"Makanya sesungguhnya dia kawan atau lawan. sampai saat ini belum dapat kuraba. Aku hanya dapat menyatakan orang ini sangat mungkin ialah Nyo Yam dan tidak berani memastikannya."
"Menurut dugaanku, apa yang diperbuatnya di rumah Bin Sing-liong meski sukar untuk dimengerti, tapi pasti ada alasannya. Kelak dia pasti akan memberi penjelasan kepadamu."
"Kupulang ke sini justru berharap dia akan datang lagi,"
Kata Toa-koh.
"Tapi sekarang malam sudah tiba dan belum nampak jejaknya, agaknya harapanku ini akan sia-sia belaka."
"Masih ada suatu arusan tadi belum sempat kubicarakan denganmu,"
Kata Wi-bu tiba-tiba.
"Meski pernuda aneh itu tidak datang lagi, tapi kawannya sudah datang."
"Sahabatnya?"
Toa-koh menegas.
"Orang macam apakah sahabatnya itu?"
"Seorang pemuda yang berusia sebaya dia,"
Tutur Wi-bu.
"Dia datang ke sini mencari keterangan apakah kawannya itu sudah pergi atau belum."
"seorang pemuda?"
Tukas Toa-koh dengan heran. Han Wi-bu juga melengak.
"Enci tua, apakah kau tahu siapa orang itu?"
"Tidak. aku tidak tahu,"
Jawab Toa-koh.
"Tapi sedikitnya engkau tahu dia menyembunyikan wajah aslinya, kalau tidak masakah engkau bertanya demikian. Pada hakikatnya dia bukan pemuda segala."
"O, maksudmu dia gadis yang menyamar sebagai pemuda?"
Toa-koh menegas.
"Betul, namun kepandaiannya menyamar sungguh sangat bagus, bilamana tidak dibantu Li si burik sama sekali tidak dapat kulihat penyamarannya itu."
"Li burik adalah seorang ahli menyamar pada jaman ini, bahkan dia fasih berbagai bahasa daerah, dengan sendirinya bocah yang menyamar ini sukar mengelabui matanya. Tapi entah ada apa lagi yang dapat dilihatnya?"
"Ia bilang wajah asli nona itu pun tak dapat diketahuinya,"
Tutur Wi-bu.
"Cuma menurut perkiraannya, usia si nona mungkin terlebih muda daripada pemuda samarannya, mungkin sekali belum ada 18 tahun. selain itu meski logat bicaranya berbau daerah Kolam, namun dapat dipastikan dia adalah orang Han yang dibesarkan di benua barat."
"Aha, sudah kutahu siapa dia,"
Kata Toa-koh dengan girang.
"Oo, siapa dia?"
Tanya Wi-bu.
"Ialah si perempuan siluman cilik yang datang bersama Nyo Yam itu,"
Tutur Toa-koh.
"Han tua, adakah jejaknya sudah kau ketahui sekarang?"
"Sudah kuketahui,"
Jawab Wi-bu "Begitu bocah itu pergi, segera Li burik memberi-tahukan padaku bahwa bocah itu adalah samaran anak perempuan.
Segera juga kukirim orang membuntuti dia.
Sekarang kedua orang yang kukirim menguntitnya itu baru saja pulang."
Pada saat Nyo Toa-koh pergi mencari Liong Leng cu, sementara itu Nyo Yam juga sudah bertemu dengan ayahnya.
Cuma Nyo Bok seperti sama sekali tidak dapat melihat samaran Nyo Yam itu, ia tidak tahu yang berhadapan dengan dia ini adalah putranya.
Dengan melenggoug ia tanya.
"Anda ini..."
"Dia adalah sahabat yang diundang Cong koan-taijin dari Pek-to-san,"
Sela Bin Sing-liong. Nyo Bok terkejut, katanya.
"Hah. apa Congkoan taijin hendak menyampaikan sesuatu persoalan padaku?"
"Tapi kedatanganku ini bukan atas perintah Congkoantaijin."
Kata Nyo Yam. Nyo Bok tambah terkejut, katanya.
"Jika demikian tentu karena ada urusan pribadi Anda sendiri? Dan eulah ada persoalan apa yang perlu kukerjakan?"
"Bukan persoalanku melainkan urusan muridmu,"
Nyo Yam.
"Hanya tanpa sengaja ku-pergoki kejadian ini."
Kejut dan sangsi Nyo Bok. ia pandang Bin Sing-liong dengan penuh tanda tanya.
"Lapor Suhu."
Ucap Seng-Hong deugangu-gup "Sukoh . .. dia ...."
"Dia kenapa?"
Sela Nyo Bok.
"Sukoh ... mendadak beliau datang ke rumah Tecu dan hendak membunuhku. syukur sahabat dari Pek-to san ini telah menyelamatkanku,"
Tutur Sing-liong. Nyo Bok mengamati Nyo Yam sekejap, lalu berpaling dan berkata kepada Bin Sing-liong.
"o, bisa terjadi urusan begitu, coba tuturkan lebih jelas."
Dengan perasaan tidak tentram Sing-liong bertutur.
"Tecu telah bekerja menurut pesan Suhu, tapi entah tepat atau tidak hasilnya, maka Tecu datang untuk mohon petunjuk kepada Suhu."
"Betul, betul. pekerjaanmu sangat tepat,"
Kata Nyo Bok.
"Kita adalah abdi Hong Siang, dengan sendirinya harus setia kepada beliau. mana boleh mementingkan keluarga sendiri."
Bin Sing-liong merasa lega, katanya pula.
"Terima kasih atas pujian Suhu."
Sebaliknya perasaan Nyo Yam tambah tertekan setelah mendengar ucapan Nyo Bok itu. Lalu Nyo Bok berkata kepada putranya.
"Sahabat, banyak terima kasih atas bantuanmu kepada muridku yang tidak becus ini."
Pedih hati Nyo Yam, namun pada lahirnya ia berlagak tenang, ucapnya.
"Kita kan orang sendiri, kenapa pakai terima kasih segala?"
Ia bertekad akan menguji sang ayah lagi. Terdengar Nyo Bok berkata pula.
"Sahabat, engkau adalah orang kepercayaan Congkoan-taijin, segala sesuatu kuharap engkau sudi bicara yang baik di hadapan Congkoan taijin agar kami tidak ikut tersangkut urusan ini."
"Nyo taijin telah menujukkan kesetiaan dan kejujuran tanpa menghiraukan anggota keluarga sendiri, dengan sendirinya akan kulaporkan kepada Congkoan-taijin segala apa yang kulihat dan kudengar. Tentang perbuatan taci dan kemenakanmu, tidak nanti sampai Nyo-taijin disangkut pautkan."
"Jika begitu lebih dulu kuhaturkan terima kasih,"
Kata Nyo Bok.
"Tapi kupikir kedatangan Anda ini tentu tidak melulu untuk urusan itu saja. Muridku ini bukan orang luar, ada urusan apa silakan bicara saja."
Ia mengira kedatangan Nyo Yam adalah atas perintah Congkoan yang ingin membagi rejeki yang diperoleh dari Cin wan-piaukiok.
Malahan setelah menyaksikan kejadian di rumah Bin Sing Liong itu, bukan mustahil orang akan memerasnya pula.
Didengarnya Nyo Yam menjawab.
"Dugaan Nyo-taijin memang tepat. Terus terang, kedatanganku ini selaia nienemui Nyo taijin memauy ada lagi urusan lain, yaitu mengcnai suatu hnl yang perlu minta petunjuk padamu."
"Ah, jangan Anda bicara demikian, mana berani kuterima kata petunjuk segala?"
Cepat Nyo Bok merendah.
"Ada pesan apa, silakan bicara saja."
Tiba-tiba Nyo Yam berkata.
"Taijin boleh tidak memikirkan hubungan keluarga dengan taci dan kemenakanmu, tapi bagaimana terhadap anak kandung Nyo-taijin sendiri?"
Nyo Bok terkejut, katanya.
"Apa artinya ucapan Anda ini? Maaf akan kebodohanku, dapatkah Anda bicara dengan lebih jelas?"
"Nyo Yam itu putramu bukan? Urusan yang hendak kukatakan justru ada sangkut pautnya dengan putramu itu,"
Tutur Nyo Yam.
Ia bicara dengan suara yang dibuat serak, ketika menyebut nama sendiri tidak urung suaranya rada gemetar.
Nyo Bok memandangnya lagi sejenak dan seperti merasa soal ini tidak dapat mengelabui orang, terpaksa ia menjawab.
"Ya, betul, Nyo Yam adalah putra kandungku, namun kami ayah dan anak selamanya belum pernah bertatap muka. Memangnya apa yang telah diperbuatnya?"
Ia bicara dengan sebagian benar dan sebagian palsu. Sebagian yang palsu itu dikemukakannya dengan tepat. Diam-diam Nyo Yam berpikir.
"Ia menyangka aku adalah orang kepercayaan Congkoan-taijin, dengan sendirinya ia tidak berani mengaku pernah berjumpa denganku."
Dengati sengaja ia bertanya.
"Meski engkau tidak pernah berjumpa dengan putramu ini, tapi perasaan antara darah daging sendiri tentu ada bukan?"
"Sebagai manusia, siapakah yang tidak mempunyai perasaan antara darah-daging sendiri? Apa lagi aku hanya mempunyai seorang anak ini saja,"
Ucap Nyo Bok.
"Cuma bilamana urusannya demi Hongsiang dan Congkoan-taijin, dengan sendirinya tidak boleh lagi kupikirkan hubungan darah daging sendiri."
Semakin tenggetam perasaan Nyo Yam, namun ia berlagak tak acuh dan berkata pula.
"Soalnya juga tidak begitu gawat, cuma kutahu putramu kini sudah berada di kotaraja, juga kutahu dia tidak menghendaki engkau menjadi antek kerajaan.
Hehe, kata-kata ini ku-pinjam dari ucapan putramu dan bukan sengaja hendak kumaki dirimu."
"Masa ... masa dia berani berontak?"
Tanya Nyo Bok dengan rada gemetar.
"Apakah dia berani memberontak atau tidak belum kuketahui dengan pasti, tapi kutahu dia dan Ce Se-kiat adalah sehaluan. Bagaimana, kau anggap dosanya masih dapat diampuni, begitu?"
"O, tidak, bukan,"
Cepat Nyo Bok menjawab.
"Jika ada niatnya memberontak terhadap kerajaan, dosanya itu pantas dihukum mati."
"Baik, jika kaupun anggap putramu pantas dihukum mati, apakah sekarang kau mau membantuku?"
Tanya Nyo Yam.
"Bantu urusan apa?"
Tanya Nyo Bok.
"Membantuku menghadapi putramu,"
Tutur Nyo Yam.
"Sudah kuketahui tempat tinggalnya, tapi aku tidak sempat memberi lapor kepada Congkoan-taijin."
"Maksudmu minta bantuanku memb ....membunuh binatang kecil itu!"
Tanya Nyo Bok dengan suara gemetar. Diam diam Nyo Yam berpikir apapun juga hati sang ayah toh tidak tega membunuh anaknya sendiri. namun hal ini masih belum cukup, segera ia mengujinya lagi.
"Tanpa kau ikut turun tangan juga belum pasti kubunuh dia."
Tampaknya Nyo Bok rada lega, katanya.
"Habis kau minta kubantu apa?"
"Soalnya kepandaianku tidak dapat menandingi putramu, pula aku tidak sempat melaporkannya kepada Congkoan-taijin untuk minta bala bantuan."
Kata Nyo Yam.
"Tapi kutahu engkau menyimpan Soh-ku-san yang lama terdapat di dalam istana. kumohon di-beri setitik obat bubuk itu dan ada caraku sendiri akan meracuni dia. Cuma ingin kukatakan di muka, penangkapan putramu ini hendak kupersembahkan kepada Congkoan-taijin, bila nanti Congkoan-taijin memberi hukuman mati kepadanya. hal ini tidak ada sangkut-pautnya denganku dan jangan kau sesalkan diriku. Nah, hendaknya kau pikirkan dulu, akan kau beri Soh-kut-san kepadaku atau tidak?"
Ia pandang sang ayah dengan dingin dan menunggu jawabannya.
"Wah, ini ... ini ..."
Nyo Bok gelagapan dan ragu.
"Ini dan itu apa?"
Jengek Nyo Yam "Hendaknya jawab terus terang saja. Soh kut-san akan kau berikan padaku atau tidak?"
Betapa duka hatinya, asalkan Nyo Bok memberikan Sohkut-san padanya, seketika juga ia akan memperlihatkan wajah aslinya dan memutuskan hubungan antara ayah dan anak. Didengarnya Nyo Bok lagi menjawab.
"Baik, akan kuberi. Cuma silakan tunggu sebentar, ada sedikit urusan harus kubicarakan lebih dulu dengan muridku ini."
"Baik, akan kutunggu,"
Jawab Nyo Yam.
"Hendaknya cepat sedikit."
Nyo Bok berpaling dan berkata.
"Sing-liong, muridku yang baik, setelah berjasa sebesar ini, sungguh harus kuberi hadiah padamu."
Sing-liong melengak, jawabnya cepat.
"Ah, adalah pantas tecu bekerja bagi Suhu, mana berani kuminta hadiah segala."
"Selamanya aku tegas membedakan antara yang salah dan berjasa, hasil kerjamu sesuai dengan kehendakku, tidak boleh tidak harus kuberi hadiah sebesarnya padamu,"
Kata Nyo Bok pula. Sampai di sini mendadak sebelah telapak tangan menghantam sambil membentak.
"Inilah hadiahku, kamu harus mati!"
Yang digunakan adalah pukulan maut Liok-yang-jiu, ilmu pukulan andalan keluarga Nyo yang lihai.
Tindakan mendadak ini sama sekali di luar dugaan Nyo Yam.
bahkan mimpi pun tak terpikir oleh Bin Sing-liong.
Umpama dia bersiap sebelumnya juga tidak mampu menangkis, apalagi sama sekali tidak siap siaga.
Maka terdengarlah suara "bluk"
Yang keras, kontan tubuh Bin Sing-liong mencelat keluar pintu, tanpa bersuara langsnng ia binasa.
"He. Nyo . Nyo taijin, kenapa kau bunuh muridmu sendiri?"
Tegur Nyo Yam dengan melenggong juga.
"Bukan dia saja yang kubunuh, juga akan kubunuhmu!"
Bentak Nyo Bok, berbareng itu susul menyusul ia menghantam pula tiga kali, semuanya pukulan maut Liok-yang-jiu.
terpaksa Nyo Yam menangkis.
Kekuatannya memang di atas sang ayah, maka dengan enteng dapatlah ia mematahkan semua pukulan Nyo Bok, namun caranya menggunakan tenaga diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai mencederai sang ayah.
"Nyo Bok, apa kau gila?"
Bentak Nyo Yam.
"Masa engkau tidak percaya aku ini utusan Congkoan-taijin?"
Ia ingin menguji sang ayah lagi "Justru kamu orang kepercayaan Congkoan, maka tidak boleh tidak harus kubinasakanmu,"
Teriak Nyo Bok.
"Sebab apa?"
Tanya Nyo Yam.
"Sebab apa?"
Nyo Bok menukas.
"Hm, memangnya kau kira aku benar mau membantumu mencelakai putra kandungku? Jika tidak kubunuhmu, tentu anakku yang akan kau bunuh."
"O, jadi maksudmu hendak membunuhku untuk menghilangkan saksi?"
Kata Nyo Yam.
"Tapi seharusnya kaupun tahu dengan kepandaianmu saja belum mampu membunuhku."
"Kutahu tidak dapat menandingimu,"
Jawab Nyo Bok dengan mengertak gigi.
"Tapi biarpun mati di tanganmu juga akan kulabrak-mu dengan mati-matian."
Ucapannya sesuai dengan perbuatannya, dia benar-benar terus menyerang terlebih gencar serupa orang kalap tanpa menghiraukan jiwa sendiri.
Semakin kalap serangan Nyo Bok, semakin senang pula Nyo Yam.
Pukulan sang ayah tidak sampai mengenai tubuhnya, namun beban berat yang menekan perasaan anak itu telah terpukul lepas.
Pada suatu kesempatan, Nyo Yam menggunakan daya lengket, ketika keempat tangan beradu, seketika dua pasang tangan saling tahan tak terpisahkan.
Dengan mata merah Nyo Bok membentak.
"Bangsat cilik Ubun. boleh kau bunuh saja diriku untuk lapor kepada Congkoanmu."
Baru sekarang Nyo Yam bergelak tertawa serunya.
"Ayah, maaf atas kekurang-ajaran anak!"
Keruan Nyo Bok terkejut, serunya.
"Apa katamu? Kau ... siapa kau?"
"Masa ayah tidak kenal padaku lagi?"
Jawab Nyo Yam dengan tertawa.
"Aku bukan Ubun Lui melainkan anak Yam "
Segera ia mengendurkan tenaganya sehingga keempat tangan yang melengket itu terlepas. Nyo Bok masih sangsi, kembali ia menegas.
"Apa ... apa benar kau anak Yam?"
Nyo Yam tidak lantas menjawab, ia ambil teko dan mencuci mukanya dengan air teh sehingga kelihatan wajah aslinya.
"Ah, engkau memang benar anak Yam,"
Seru Nyo Bok.
"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi, sungguh aku kaget sekali."
"Ayah, dari cerita Bin Sing liong. katanya ayah hendak membikin susah Se-kiat Piauko...."
Kening Nyo Bok bekernyit dan memotong ucapannya.
"Anak Yam, masa sampai sekarang engkau belum lagi percaya kepadaku?"
"Jika demi membela diriku Toa suko saja ayah bunuh, mana kuberani lagi meragukan ayah? Cuma Piauko -..."
"Anak Yam,"
Sela Nyo Bok.
"pantas juga kau sangsi padaku. Tapi hendaknya kau paham, yang tahu jelas jalan pikiranku hanya engkau saja. Selama aku masih menjabat sebagai pengawal kerajaan, selama itu pula tidak boleh kukatakan isi hatiku kepada orang lain, biarpun Bin Sing-liong juga tidak terkecuali. Bahwa pernah kuberi Soh-kut-san padanya dan menyuruhnya mengerjai Se-kiat, namun tujuanku sesungguhnya demi kebaikan Se-kiat. Kukuatir begitu dia tiba di kotaraja segera jatuh dalam cengkeraman mereka, sebab itulah sengaja kuatur demikian untuk menyelamatkan Se-kiat, sebab kalau Se-kiat terperangkap, tentu Sing-liong akan membawanya kepadaku, di sini barulah akan kulepaskan dia secara diam diam.
"Namun Sing-liong ternyata mempunyai niat lain, ia juga berambisi dan baru tadi kuketahui jelas. Kutahu biarpun dia tunduk kepada perintahku, tentu dia juga akan memberi laporan rahasia kepada Tai-lwe-congkoan, sebab, itulah tidak sayang kubinasakan dia, tindakan ini tidak seluruhnya lantaran membelamu, alasan lain adalah karena aku ingin menyelamatkan Se-kiat. Nah, kau paham sekarang?"
Nyo Yam seorang yang emosional, setelah terjadi percobaan ini, kini dia tidak sangsi sedikit pun terhadap sang ayah, ditambah lagi penjelasan Nyo Bok tadi, tanpa terasa ia mencucurkan air mata terharu, serentak ia memeluk sang ayah dan berkata.
"O, ayah, aku telah salah paham padamu, mereka juga salah sangka terhadapmu."
"Asalkan kau tahu jalan pikiranku sudah cukup bagiku,"
Kata Nyo Bok dengan tertawa.
"Sekarang kupergi dulu membereskan urusan Sing-liong, nanti kita bicara lagi. Hendaknya jangan kau tinggalkan kamar ini."
Nyo Yam tersadar, katanya.
"Betul. bila anak buah ayah melihat mayat Suheng tentu ...."
"Jangan kuatir,"
Sela Nyo Bok dengan tersenyum.
"Tanpa izinku anak buahku tidak berani sembarangan masuk ke ruangan belakang sini. Apa yang kulakukan juga mereka tak berani sembarang omong di luar. Namun segala sesuatu kan lebih baik berlaku hati-hati. Boleh kau tunggu sebentar di sini."
Tidak lama kemudian ia sudah kembali lagi ke kamar dan berkata.
"Mayat Sing-liong sudah kulemparkan ke dalam liang dan telah kumusnahkan dengan obat bubuk. Sekarang boleh kau tinggal di sini tanpa kuatir lagi."
Meski Nyo Yam tidak suka terhadap pribadi Bin Sing-liong, tapi mendengar kematiannya yang mengerikan itu, tanpa terasa ia pun merinding.
Cuma tindakan sang ayah adalah demi keamanannya, dengan sendirinya ia tak dapat menyalahkan orang tua itu.
"Apa yang kau pikir, anak Yam?"
Tanya Nyo Bok tiba-tiba.
"Oo, tidak apa-apa, cuma anak merasa tidak dapat tinggal di sini,"
Jawab Nyo Yam "Sebab apa?"
Tanya Nyo Bok.
"Anak harus pulang."
"Pulang? Pulang ke mana?"
"Anak datang ke kotaraja bersama seorang kawan dan tinggal di suatu tempat di barat kota, kupikir akan pulang ke sana sebelum fajar."
Bekernyit kening Nyo Bok, katanya.
"Kita ayah dan anak baru saja berjumpa kembali, banyak urusan yang hendak kubicarakan denganmu, seharusnya kan juga banyak yang harus kau katakan padaku."
"Ya, memang ada suatu urusan penting hendak kubicarakan dengan ayah, tentu saja kupergi setelah kujelaskan urusan ini,"
Jawab Nyo Yam.
Diam-diam ia heran mengapa sang ayah tidak ingin lekas mengetahui hasil perjalanannya ke Cadam, yaitu sesuai tujuan Nyo Bok yang menyuruhnya ke Cadam untuk membawa pulang kepala Bong Goan-ciau, pemimpin pasukan peberontak di sana.
Baru sekarang Nyo Bok berlagak seperti baru ingat urusan itu, katanya "Aha, betul, saking senangnya karena dapat bertemu lagi denganmu, hampir saja kulupakan urusan penting ini.
Padahal bagiku masakah ada urusan lain yang lebih penting daripada berkumpulnya serta saling mmgertinya kita ayah dan anak.
Jika dibandingkannya urusan kepala Beng Goan-ciau menjadi tidak terlalu panting lagi.
Walaupun begitu tanpa kepala orang she Beng itu mungkin kita ayah dan anak tetap tidak dapat berkumpul untuk selamanya."
"Ayah, kepala Beng Goan-ciu tidak berhasil kubawa pulang,"
Kata Nyo Yam. Nyo Bok melengak.
"Sebab apa? Sudah kau katakan ...."
"Betul, pernah kukatakan takkan pulang sebelum mendapatkan kepala Beng Goan-ciau, namun ... ."
Begitu mengucapkan perkataan tadi Nyo Bok lantas merasa tidak enak dan berusaha memperbaikinya, maka sebelum habis ucapan Nyo Yam segera ia memotong.
"Anak Yam, jangan kau salah paham. Asalkan kita sudah berkumpul, biarpun tidak dapat kulepaskan diri dari lingkungan seperti ini hatiku tetap sangat senang. Beng Goan-ciau terkenal nomor satu ilmu goloknya, sejak mula memang tidak kuharapkan engkau akan membunuhnya."
"Betul, kepandaian Beng Goan-ciau memang terlampau tinggi dan sukar kutandingi dia,"
Cepat Nyo Yam menukas.
"Maka urusan ini biarlah kita tunda dulu. Cuma anak mempunyai sesuatu barang lain, bagi ayah mungkin barang ini jauh lebih berguna daripada kepala Beng Goan-ciau"
Seperti diketahui.
berhubung sengketa pribadi, antara Nyo Bok dan Beng Goan-ciau terjadi permusuhan yang tak terselesaikan.
Biarpun Nyo Yam bersimpatik kepada ayahnya, tapi setelah psngalamannya di Cadam, salah pahamnya terhadap Beng Goan-ciau telah banyak berkurang, cuma ia tidak dapat bicara terus terang bahwa dia tidak dapat lagi membunuh Beng Goan-ciau bagi sang ayah, sebab itulah terpaksa ia berdusta dan merahasiakan pengalamannya di Cadam.
Tentu saja Nyo Bok itu tidak tahu pertentangan batin anaknya itu, sesudah mendengar penuturan Nyo Yam itu, ia terkejut dan girang.
Cepat ia tanya pula.
"Ada barang lain apa yang lebih penting daripada kepala Beng Goan ciau?"
"Sepucuk surat wasiat tinggalan kaisar Khong hi pada 70 tahun yang lampau,"
Tutur Nyo Yam.
"Ayah, sudah belasan tahun engkau menjadi jago pengawal istana, tentu engkau pernah mendengar cerita tentang surat wasiat ini dan paham betapa besar nilainya."
Habis berkata ia lantas mengeluarkan surat wasiat yang selalu dibawanya itu dan di serahkan kepada sang ayah.
Nyo Bok menerimanya dan membacanya dengan teliti, dilihatnya surat wasiat ini memang asli dan bukan palsu.
saking senangnya sampai kedua tangannya bergemetar.
"Ayah, bukankah surat wasiat ini sangat berguna bagimu?"
Tanya Nyo Yam dengan tertawa.
"Ya. kutahu, sangat berguna,"
Jawab Nyo Bok.
"Meski urusan sudah berselang 70 tahun, tapi kutahu Sri Baginda sekarang tetap ingin menemukan surat ini."
"Jika begitu, bila ayah berjasa besar bagi raja bangsa asing itu, apa yang ayah mintakan dapat diluluskan?"
Ujar Nyo Yam.
"Ya, kukira beliau pasti akan meluluskan permintaanku,"
Kata Nyo Bok dengan tertawa.
"Lantas, apa sekiranya ayah akan memohon kepada raja?"
Tanya Nyo Yam. Saking senangnya sampai Nyo Bok tidak dapat segera menjawab, sejenak kemudian barulah ia berkata.
"Dengan sendirinya akan ku mohon agar aku diperbolehkan pensiun dan pulang kampung. sejak itu kita ayah dan anak dapatlah berkumpul selamanya."
Diam-diam Nyo Yam merasa lega, sebab sang ayah ternyata belum melupakan janjinya dahulu.
"Jika begitu, harap ayah lekas menyelesaikan urusan ini,"
Pinta Nyo Yam.
"Tentu, tidak perlu kau gelisah bagiku,"
Ujar Nyo Bok dengan tertawa. Tiba-tiba ia tanya.
"Anak Yam, cara bagaimana engkau memperoleh surat wasiat ini?"
"Surat wasiat ini kuterima dari sahabatku yang kusebut tadi,"
Tutur Nyo Yam.
"Mengenai siapa sahabatku ini dan cara bagaimana pula dia mendapatkan turat wasiat ini, kuharap sementara ini ayah jangan tanya. Nanti kalau ayah sudah pensiun, pada waktu kita berangkat meninggalkan kotaraja barulah akan kuceritakan padamu."
"Baik,"
Kata Nyo Bok.
"Jika rahasia ini tak dapat kau beberkan sekarang. aku pun tidak perlu tanya lagi. Terhadap Hongsiang tentu dapat kukarang suatu cerita."
Padahal tidak perlu lagi dia tanya siapa sahabat Nyo Yam ini juga sudah cukup diketahuinya.
Sudah lama ia tahu tentang Nyo Yam dan kawannya siluman perempuan cilik itu menolak penangkapan di Ki-liansan dahulu, sedangkan mongenai kakek siluman perempuan cilik itu adalah keturunan Lian Keng hiau juga sudah diketahui dari Tai-hwe congkoan belum lama ini.
Nyo Yam lantas berkata pula.
"Nah, silakan ayah menyelesaikan urusan ini, sekarang anak mohon diri dulu."
"Engkau terburu-buru pulang karena sahabatmu itu?"
Tanya Nuo Bok.
"betul,"
Jawab Nyo Yam.
"sejak pagi kukeluar sehingga sudah hampir sehari semalam lamanya. Bila aku tidak pulang tentu akan membuatnya kuatir dan cemas."
"Ai, belum ada satu hari engkau berpisah dengan dia dan sudah terburu-buru ingin menenemui dia,"
Ucap Nyo Bok dengan gegetun.
"Sedangkan kita justru sudah berpisah pada waktu engkau belum lagi lahir, dan baru saja kita ayah dan anak bertemu, sekarang juga engkau juga meninggalkanku begitu saja?"
"Aku masih akan kembali lagi ke sini, ayah,"
Kata Nyo Yam.
"Kutahu beberapa keluarga yang tinggal di sini sama kedudukannya sebagai jago pengawal seperti diriku, maka tempat ini sebenarnya tidak boleh sembarangan didatangi siapa pun."
"Ya, anak sudah diberi lahu oleh Bin Sing liong,"
Kata Nyo Yam "Jika sudah tahu.
apakah pernah kau pikir bahwa orang lain tahu kau datang bersama Bin Sing liong, sekarang cuma kau sendiri yang keluar, apakah hal ini takkan menarik perhatian orang lain?"
"Biarpun akan dikuntit orang juga aku tidak takut,"
Ucap Nyo Yam "Kutahu engkau cukup mampu menandingi mereka,"
Kata Nyo Bok.
"Soalnya, bila sampai terjadi keributan, kan rencana kita bisa kacau-balau? Kukira lebih baik kita tinggalkan tempat ini secara terang-terangan, bilamana Hong-siang sudah meluluskan permintaanku untuk pensiun. lalu kita pun dapat meninggalksn kotaraja bersama sahabatmu itu. Tatkala mana semua pembesar kawan sejawat sama tahu aku telah berjasa besar bagi Hongsiang, biarpun asal-usulmu dan hubungan ayah dan anak kita diketahui orang, kuyakin mereka pun tak berani lagi banyak urusan."
Nyo Yam merasa gagasan sang ayah cukup masuk akal, ia menjadi serba salah Pikirnya.
"Jika sekarang aku pergi begitu saja mungkin akan membikin susah ayah. Tapi sampai kapankah baru urusan ini akan diselesaikan ayah? Jika aku diharuskan menunggu lama, tentu Leng-cu akan menyangka terjadi sesuatu atas diriku. lalu betapa akan cemasnya dia, sungguh sukar kubayangkan."
Belum habis pikirnya, terdengar ayahnya lagi menghela napas dan berkata.
"Sebelum kau lahir kita ayah dan anak sudah terpisah, kuharapkan siang dan malam semoga pada suatu hari ayah dan anak dapat berkumpul Kembali seperti ini. Sejak kau lahir hingga sekarang, bagaimana pengalamanmu, sedikitpun tidak kuketahui, betapa ingin kutahu semua itu. Banyak juga yang hendak kubicarakan denganmu, masa engkau tidak sudi menginap semalam saja di sini agar dapat bercengkerama denganku."
Nyo Yam adalah seorang pemuda yang emosional, mudah terangsang perasaannya demi mendengar perkataan sang ayah, tanpa terasa air matanya bercucuran.
Dengan lagak terharu Nyo Bok juga menitikkan air mata, katanya pula.
"Ya, hal ini pun tidak dapat menyalahkanmu. seorang anak kalau sudah besar. dalam pandangannya kedudukan sahabat terkadang terlebih penting daripada ayahibu. Apalagi antara kita belum pernah tinggal bersama, tentu saja aku terasa asing bagimu."
"Sudahlah ayah, jangan bicara lagi, anak tidak jadi pergi,"
Ucap Nyo Yam dengan pedih.
"Ayah bilang tinggal semalam saja, lantas besok boleh kupergi?"
"Esok pagi segera kuhadap Hongsiang di istana, bilamana urusan berjalan lancar, mungkin besok juga kita dapat meninggalkan kotaraja, tentu kawanmu tidak beralangan menunggu lebih lama sehari lagi,"
Kata Nyo Bok.
"Hendaknya urusan bisa lancar seperti ucapan ayah,"
Ujar Nyo Yam.
"Yang jelas bila, malam ini aku tidak pulang ke sana, tentu kawanku itu akan gelisah sekali."
"Tadi kau bilang kalian tinggal di barat kota. tempat macam apa itu?"
Tanya Nyo Bok.
"Kami menyewa rumah penduduk setempat,"
Tutur Nyo Yam. Nyo Bok sengaja berkerut kening dan berkata.
"Ai, kalian juga terlampau gegabah, apakah penduduk itu dapat dipercaya?"
"Kami menyewa rumah kosong bekas keluarga petani kaya, tidak ada yang tinggal bersama kami."
"Bolehkah kau katakan di mana lefak tempat itu, kukuatir kawanmu tidak sabar menunggu dan ingin mengirim orang menyampaikan kabar kepadanya."
"Watak kawanku itu rada aneh, dia tidak suka bertemu dengan orang yang tidak di kenalnya."
Diam-diam Nyo Bok berpikir "setelah kau beri petunjuk tempat padaku, mustahil tidak dapat kutemukan tempat itu mengingat di barat kota tidak padat penduduknya dan sedikit sekali rumah petani kaya, sekali cari pasti dapat kutemukan."
Maka ia lantas berkata.
"Baiklah, jika begitu biarkan saja. Sekarang perlu kukirim orang ke rumah Sing-liong unluk memberi suatu alasan bahwa malam ini dia tidak bisa pulang agar anaknya tidak ribut."
Nyo Yam merasa kasihan bagi putra Bin-Sing-liong, ia pikir meski dosa Bin Sing-liong pantas diberi ganjaran setimpal, namun belum sampai pada hukuman mati.
Anaknya yang tidak tahu urusan pun harus dikasihani.
Ia tidak tahu bahwa Bin Sing-liong sesungguhnya tidak mati, bahkan sudah sejak tadi meninggalkan rumah sang guru, cuma dia tidak pulang ke rumah sendiri melainkan langsung pergi melapor kepada Tai-lwe congkoan Kiranya pukulan Nyo Bok itu menggunakan tenaga pas yang cuma untuk membuat terpental saja tanpa mencelakainya.
Sebelum menghantam Nyo Bok sudah mengedipi Bin Sing-liong lebih dulu.
Baca Juga: Pisau Kekasih 6
Baca Juga: Tengkorak Maut 13