Eps 6 Pisau Kekasih - Gu Long
Baca online Pisau Kekasih - Gu Long
Cersil Pisau Kekasih - Gu Long.
Leng-ji sudah jatuh pingsan.
Walaupun Mo Ki-thian sudah terluka berat dia masih sempat berpesan kepada anak buahnya untuk membawa Leng-ji keluar air dan mengikatnya dengan tali.
"Loo Cong, apakah kau masih ingin bertarung lagi?"
"Hanya mengikuti keinginan hati saja!"
"Aku mengira kau adalah orang jujur dan lugu, berbeda dengan Wie Kai!"
"Aku merasa aku masih seperti ini!"
"Kalau kau menyerah dan mengaku bersalah, aku akan berpikir-pikir lagi!"
"Anda tidak perlu dipikir-pikir lagi!"
Kata Loo Cong dengan serius.
"Apa maksudmu?"
Semua orang akan mengira Seng Kong-kong begitu baik masih berniat menasehati, seharusnya Loo Cong berterima kasihkepadanya.
Tapi Seng Kong-kong mempunyai pemikiran sendiri.
Rencana besar akan dimulai, maka orang yang berbakat sulit didapatkan.
Seperti Wie Kai, Loo Cong, dan Leng-ji, mereka anak muda yang berbakat dan penuh gairah hidup, jarang ada di dunia ini.
Asal mereka mau bertekuk lutut kepadanya, dia akan menjadi seperti harimau tumbuh sayap.
Maka Seng-yan-kong berusaha menahan diri dan memperlihatkan kebesaran jiwanya.
Tapi Loo Cong dan Wie Kai berbeda prinsip menjadi orang.
Cara mereka satu adalah satu, dua adalah dua.
Dia tidak akan berubah menjadi satu ditambah satu menjadi dua, dua dikurangsatu adalah satu.
Mereka mempunyai pola pikir sendiri.
"Kalau kau benar-benar bisa memaafkan kami, itu adalah kesedihan kami!"
"Apa maksudmu?"
"Sangat sederhana, dimaafkan!"
Karena kami tidak pantas "Aku menganggap kalian pantas, itu sudah cukup!"
"Kami tidak memberontak!"
Akan menjadi alat membantumu Seng-yan-kong mulai merasa kecewa.
Dia diam dan bersiap-siap menyerang Loo Cong.
Loo Cong tahu hidup atau matinya sudah berada di depan mata.
Menyerang dengan jurus lain dia merasa tidak yakin.
Dia mulai menggunakan jurus-jurus ke-2 dan ke-3.
Karena dia menganggap beberapa jurus ini adalah inti sari jurus dari ilmu silatnya.
Seng-yan-kong menghindar.
Kemudian terlihat kedua tangan Seng-yan-kong seperti kilat dan berkelebat.
Loo Cong berteriak terkejut.
Golok aneh tahu-tahu sudah berada di tangan Seng-yankong.
Di sekeliling sana terdengar seruan dan suara tepuk tangan.
Semua orang yang ikut datang, dari pihak Seng Kongkong atau dari La-ma dari rumah La-ma adalah pesilat tangguh terpilih.
Mereka benar-benar pesilat tangguh.
Mereka melihat dari sisi dan orang luar.
Tapi mereka tidak melihat jelas dengan cara apa Seng Kong-kong bisa merebut golok itu!
Loo Cong tidak menyukai cara Seng Kong-kong memperlakukannya.
Walaupun hati tulusnya mengagumi ilmu silat Seng-yankong.
Jaman sekarang ini sulit ada pesilat yang lebih tinggi ilmunya dari Shen Kong-kong.
"Loo Cong!"
Teriak Seng-yan-kong.
"Ada!"
Jawab Loo Cong.
"Maju selangkah, kau akan hancur, mundur selangkah terbentang dunia yang indah!"
Kata Seng-yan-kong dengan dingin.
"Maju selangkah adalah kebajikan, mundur selangkah melihat kehidupan gelap yang sudah berlalu 25 tahun, membuat nenek moyang merasa malu!"
Rambut Seng-yan-kong yang putih berkibar-kibar, walau tidak ada angin.
Semua ini membuat hati dan tubuhnya bergetar, kedua tangannya mengepal, keluarlah suara keras.
Tidak ada orang yang pernah membuatnya menahan diri dan terus mundur.
Dia benar-benar sangat menyukai anak-anak muda ini.
Seperti Wie Kai, karena perasaan sayang kepada orang berbakat maka berkali-kali dia mundur.
Menutup sebelah mata dan membuka sebelah mata, dia menaruh Wie Kai di sisi putri Kao Tong.
Bila dia ingin membunuh Wie Kai, tidak bisa secara terang-terangan melakukannya.
Diam-diam dia akan menyingkirkan Wie Kai seperti membalikkan telapak tangan.
Seng-yan-kong menarik nafas panjang.
Suaranya sedikit bergetar.
Semua orang mengira kalau kesabaran Seng-yan-kong sudah kelewat batas dan abnormal Tidak ada orang yang mengerti mengapa dia bisa seperti itu!
"Loo Cong, Kong-kong sudah tua...."
Nadanya penuh kesedihan.
Loo Cong sama sekali tidak terpengaruh.
Hanya saja Loo Cong adalah orang yang berprinsip.
Kong-kong terus mundur dan tidak melukai-nya, dia ingin memperalat Loo Cong, selain itu Seng Kong-kong tidak tega menghancurkan orang berbakat yang dilatihnya sendiri!
Semua ini membuat semua orang terharu.
Kalau Loo Cong terpengaruh, dia akan di-peralat, dia akan bersekongkol menjual negaranya kepada bangsa lain dan tenggelam dalam rencanabusuk itu!
Dengan serius Loo Cong berkata.
"Kong-kong tidak memikirkan kesalahanku dan bermaksud memaafkan aku, aku merasa terharu, tapi sayang aku tidak bisa diperalat lagi oleh Kong-kong, hingga negara kita hancur..."
Seng-yan-kong melotot marah. Kesabarannya sudah sampai di batas akhir. Loo Cong menatap langit dan berkata.
"Kita berhenti melakukan hal tidak baik bila sudah sadar! Kalau Kong-kong bisa berhenti menerus-kan rencana ini, seumur hidup Loo Cong akan meng abdi kepada Kongkong!"
"Kau tidak pantas bicara seperti itu, kau tidak pantas menguliahi aku..."
Bentak Seng Kong-kong, matanya menjadi merah.
Sekali lagi dia menyerang.
Dia melempar golok aneh itu.
Golok tampak berkilauan, kilauannya melesat terus ke arah tembok batu, golok menancap ke dalam batu sedalam 5-6 inchi.
Lemparan golok benar-benar membuat orang terkejut.
Seng-yan-kong sekali lagi menyerang dengan tangan kosong, dia tidak butuh golok untuk menundukan Loo Cong.
Rasa percaya diri Loo Cong semakin hancur.
3 jurus belum sampai pergelangannya sudah dicengkram oleh Seng-yan-kong.
Dia mengangkat tubuh Loo Cong.
Dan membantingnya ke dalam air.
Leng-ji berteriak, kebetulan dia sudah sadar.
Loo Cong dan Leng-ji bernasib sama.
Air kolam sedalam 5 kaki karena tubuh Loo Cong dibanting ke dalam air membuat air menjadi tiang setinggi beberapa depa.
Terlihat batu yang ada di dasar kolam.
Loo Cong diikat dan dilempar ke sisi kolam.
Mo Ki-thian tidak lupa memuji dan menjilat.
"Ilmu silat Kong-kong sangat tinggi, di dunia persilatan tiada duanya, kalau dari dulu Kong-kong sendiri yang menaklukkan mereka para pengkhianat ini sudah tertangkap sejak lama!"
Semua orang setuju.
"Hati pengkhianat-pengkhianat ini keras seperti besi, terhadap budi Kong-kong yang besar seperti gunung, mereka membalasnya dengan cara seperti ini, hhhhhh!..."
Keluh Mo Ki-thian. Ada juga yang mengikutinya menarik nafas. Kata Mo Ki-thian lagi.
"Mereka sudah gila dan tidak ada obat yang bisa menolong mereka, lebih baik sekarang Kong-kong bunuh mereka,"
Usul Mo Ki-thian. Tiba-tiba ada yang ikut memberi komentar.
"Pengawas Mo benar, orang-orang ini banyak akal dan licik, dari pada kabur lagi dan harus bersusah payah baru bisa ditangkap lagi, lebih baik bunuh mereka di sini!"
Seng-yan-kong terdiam.
"Harap Kong-kong segera mengambil keputusan!"
Mo Ki-thian mendesak. Tiba-tiba Seng-yan-kong bertanya.
"Ki-thian, apakah alat-alat siksa di Eng-hong-pie-ya hanya dipindahkan sementara dan belum dihancurkan?"
"Terhadap pengkhianat-pengkhianat ini tidak perlu menggunakan alat siksa, harap Kong-kong ber-pikir dengan matang!"
Seng-yan-kong berpikir sebentar. Tiba-tiba dia melayangkan tangan.
"Kembali ke markas!"
Hanya dua kata ini sudah cukup.
Kong-kong sudah mengambil keputusan membawa mereka kembali ke markas.
Seng-yan-kong seperti bersikukuh ingin mereka mati dengan cara dipenggal dan ingin melihat kepala mereka terguling masuk ke dalam keranjang.
Mo Ki-thian melayangkan tangan, dia memerintahkan orang membawa jalan.
Dia sendiri butuh digotong baru bisa berjalan.
Eng-hong-pie-ya berdiri dalam tiupan angin malam.
Eng-hong-pie-ya bagian belakang mengarah gunung dan depan menghadap air, pemandangannya sangat indah.
Dia masih tetap seperti dulu tidak ada yang berbeda.
Kalau ingin mengatakan ada beberapa yang berbeda adalah lampu malam ini bersinar lebih terang dan lebih berkilau.
Sudah lama tempat itu tidak menyalakan lampu begitu banyak!
Seperti ada pesta besar atau akan tahun baru.
Malam ini.
Sepertinya malam ini lebih penting dari pesta besar dan hari imlek.
Waktu itu dari Pie-ya tiba-tiba terdengar suara orang berteriak memilukan!
Suara ini membangunkan malam yang sepi.
Seng-yan-kong duduk di kursinya.
Di kamar sepi tidak ada suara.
Mo Ki-thian diam berdiri di sisi, dia melihat keluar kamar.
Di luar terdengar suara orang berjalan.
Wie Kai muncul di depan pintu, sorot matanya yang lincah melihat ke dalam kamar.
"Kong-kong memanggil Wie Kai, ada apa?"
Tanya Wie Kai.
"Masuklah!"
"Baik!..."
Wie Kai masuk dengan wajar dan lugas.
Dia melihat Mo Ki-thian.
Tampak dengan melihat dia sebentar Wie Kai bisa menebak maksud Kong-kong menyuruhnya datang, apakah ada hal baik atau hal buruk.
Apakah hal buruk itu membuat Mo Ki-thian senang, bisa terlihat dari luar.
Betul saja, terlihat kegembiraan Mo Ki-thian yang tidak bisa ditutupi lagi.
Seng Kong-kong duduk ke pinggir, dia tidak melihat langsung ke arah Wie Kai tapi melihat cermin yang tergantung di dinding.
Kaca ini memantulkan kaca lain lagi, maka ekspresi Wie Kai terlihat jelas.
Dengan santai SengKong-kong berkata.
"Dua pengkhianat itu sudah tertangkap!"
Hati Wie Kai bergetar, tapi dia sepertinya sangat bisa menahan diri, dengan terkejut dia berkata.
"Loo Cong dan Leng-ji tertangkap?"
"Bagaimana perasaanmu?"
Tanya Seng Kong-kong.
"Mereka tidak mau mendengar nasehatku, akhirnya tertangkap juga!"
Kata Wie Kai.
"Tadinya aku akan menghapus dosa dan melepaskan mereka, tapi mereka keras kepala!"
Kata Seng Kong-kong.
"Apakah Kong-kong bisa memaafkan mereka?"
Tanya Wie Kai.
"Sepertinya seperti itu, tapi mereka sepertinya tidak takut mati!"
Wie Kai membuka kedua tangannya.
"Di dunia ini apakah ada orang yang benar-benar tidak takut mati?"
"Betul! Hal dibereskan!"
Ini aku serahkan kepadamu untuk "Menyerahkannya kepadaku?"
"Benar!"
"Aku merasa belum tentu bisa melaksanakan tugas ini dengan baik!"
"Menasehati atau gunakan siksaan, semua kau yang putuskan, aku percaya kepadamu, aku percaya kau bisa melakukan tugas ini dengan baik."
Wie Kai tertawa.
"Kong-kong percaya kepada Wie Kai, Wie Kai pasti akan berusaha semampunya!"
Mo Ki-thian terus melihatnya.
Dia benar-benar tidak mengerti Wie Kai.
Dia tidak percaya apakah Wie Kai bisa melupa-kan Leng-ji begitu saja.
Ingin membuktikan hal ini tidak sulit, semua akan segera melihat.
OoodwooO BAB IV Kamar tempat hukuman di Pie-ya sangat besar.
Di sana banyak jenis alat siksaan.
Semuanya komplit di sini.
Siapa pun yang masuk ke kamar hukuman akan merasakan kalau orang yang masuk ke kamar hukuman, seperti uang masuk ke tempat judi!
Bila-manusia sudah sampai di tempat ini sudah tidak akan menjadi manusia lagi.
Di bawa dinding penuh dengan bekas darah, angin yang masuk ke kamar ini pun terasa dingin.
Banyak yang sudah mati di sini, banyak yang cacat karena tempat ini.
Apakah semua yang dihukum di sini semua adalah orang yang bersalah?
Kalau hukumannya benar berarti tidak ada hukuman fisik, kalau dihukum tidak benar hasilnya sebaliknya.
Loo Cong dan Leng-ji terlihat sangat lelah.
Dulu walaupun hidup di hutan dan dikejar-kejar seperti binatang, mereka tidak pernah merasa begitu lesu, lelah, juga putus asa!
Orang harus hidup dalam harapan.
Di luar kamar hukuman terdengar langkah.
Mereka berdua segera melihat keluar dengan waspada.
Wie Kai berdiri di luar terali besi, seorang laki-laki membukakan pintu besi untuknya.
Sekarang di sini dan di tempat ini mereka bisa bertemu Wie Kai.
Apakah mereka senang atau marah?
Cinta atau benci?
Loo Cong dan Leng-ji sudah tidak bisa membedakannya lagi.
Karena hubungan di antara mereka terlalu erat.
Seharusnya mereka mempunyai rasa sedikit beruntung atau sedikit harapan.
Karena mereka punya hubungan erat begitu hubungan tidak harmonis, dendam akan semakin dalam.
Apalagi Wie Kai pergi karena Loo Cong masuk di antara mereka.
Apakah ada badai perasaan?
Antara dendam dan cinta biasanya sangat dalam dan sulit dicairkan.
Wie Kai membawa pecut, dia melihat mereka.
Kalau dulu begitu melihat keadaan mereka berdua seperti itu, dia akan merasa sedih, matanya akan berkacakaca!
Tapi sekarang pelan-pelan dia memukul telapak kanannya dengan pegangan pecut, dia melihat mereka seperti melihat orang yang tidak dikenalnya, kemudian dengan santai berkata.
"Aku tidak akan banyak bicara, aku hanya ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian akan menerima kesempatan terakhir yang diberikan Kong-kong?"
"Tidak perlu banyak bicara lagi!"
Jawab Leng-ji.
"Bagaimana denganmu?"
Tanya Wie Kai "Apa yang Leng-ji katakan, sudah mewakiliku juga!"
Jawab Loo Cong.
"Jangan salahkan aku karena tidak punya perasaan!"
"Apakah kau orang yang punya perasaan?"
Tanya Lengji.
Wie Kai mulai memainkan pecutnya, wajahnya sudah tidak berseri.
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong melihat dari luar.
Wie Kai tidak perlu membalikkan tubuh dia sudah bisa menduga, mereka pasti ada di sana.
Karena mereka harus melihat dengan jelas, semua ini adalah cara mereka mendikte Wie Kai.
Dengan tegas WieKai berkata lagi.
"Aku ulangi sekali lagi, ini adalah kesempatan yang diberikan Kong-kong."
"Kata-kata ini sudah pernah ditanyakan Kong-kong untuk apa diulangi lagi? Kami tidak sudi membantu orang jahat!"
Jawab Loo Cong.
"Bagaimana denganmu?"
Tanya Wie Kai pada Leng-ji.
"kau bisa menahan berapa kali pecutanku?"
"Paling-paling aku tinggal mati!"
Jawab Leng-ji.
"Ingin mati pun tidak mudah!"
Bentak Wie Kai.
Pecut panjang melayang, baju bagian punggung Loo Cong sudah sobek.
Pecutan kedua jatuh ke pinggang Leng-ji.
Wie Kai sepertinya tidak merasa kasihan sedikit pun kepada perempuan.
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong terus melihat kejadian itu, sorot mata mereka hampir bisa mengukur kekuatan tangan Wie Kai.
Setiap kali Wie Kai memecut Leng-ji, alis putri Kao Tong pasti bergerak sekali.
Putri Kao Tong menganggap Wie Kai tidak akan mengkhianatinya.
Setelah Mo Ki-thian melihat semua itu, dia malah merasa kecewa.
Dia berharap Wie Kai sedikit ringan memukul Leng-ji dan jangan terlalu menjilat Kong-kong serta putri Kao Tong.
Tapi pikiran itu seperti membuatnya kecewa.
Sebab setiap kali memecut Wie Kai benar-benar memecut mereka dengan sekuat tenaga.
Baju hancur, kulit sobek, dan darah mengalir keluar.
Dalam suara pecutan mereka menghindar dengan cara berguling-guling di bawah, tapi tidak ada yang mengeluarkan suara.
Mereka benar-benar berusaha menahan rasa sakit ini.
Tidak mengerutkan alis, tidak berteriak, adalah jawaban paling kuat untuk melawan Kong-kong.
Wie Kai memecut semakin kuat.
Sekarang Mo Ki-thian dengan aneh baru melihat kalau ternyata Wie Kai adalah orang yang tidak punya perasaan, boleh dikatakan berdarah dingin.
Sekarang Mo Ki-thian malah merasa tidak tega.
Kalau dia menjadi Wie Kai, dia tidak akan begitu kejam memecut Leng-ji, karena posisi Leng-ji di dalam hatinya seperti dewi, bukan orang biasa.
Tiba-tiba Mo Ki-thian membenci Wie Kai.
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong yang berdiri di luar saling pandang, mereka merasa puas!
PAK!
Wajah Leng-ji terkena pecutan dan meninggalkan bekas pecutan yang sangat jelas.
Leng-ji marah.
"Siau-kai... kau benar-benar kejam!"
Benar, sampai Mo Ki-thian sendiri pun punya perasaan seperti itu. Wie Kai dengan dingin berkata.
"Pu-to-put-ciang-hu!" (Kalau tidak kejam bukan suami). Leng-ji tertawa terbahak-bahak.
"Suami? Ha ha ha... suami..."
Loo Cong tidak mau menunggu dipukul begitu saja.
Dia mulai balik menyerang.
Tapi apa boleh buat setelah mereka dibawa kembali ke sini mereka disiksa dengan kejam, setelah tertangkap jalan darah mereka selalu ditotok, baru diangkut kembali ke Enghong-pie-ya.
Orang yang sudah lama tersiksa, tidak mungkin bisa mengeluarkan ilmu silat yang dimilikinya dengan sempurna, paling-paling hanya bisa mengeluarkan tenaga 50% saja.
Walaupun dia menyerang tidak ada gunanya, dia tetap terkena pecutan.
Leng-ji hanya menyerang tidak mau bertahan, Loo Cong juga membantu menyerang.
Setiap pecutan terkena daging membuat mereka terluka.
Begitu tangan Leng-ji dan tangan Wie Kai saling bersentuhan Leng-ji terkejut.
Wie Kai masih melayangkan pecut memukul gila-gilaan.
Pelan-pelan Seng Kong-kong berkata.
"Mari, kita pergi dari sini, Putri!"
Dengan perasaan puas putri Kao Tong mengangguk.
Asal Wie Kai memecut dengan sekuat tenaga seperti saat melayaninya di ranjang dengan sekuat tenaga, dia akan merasa sombong apa lagi di depan Kong-kong.
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong sudah pergi.
Semakin dilihat MoKi-thian semakin marah.
Harapannya tidak terkabul, kejadian yang muncul malah membuatnya marah.
Dia membalikkan tubuh siap pergi.
Sebab kalau Wie Kai berada di sisi Kong-kong, dia tidak akan dipandang lagL Setelah beberapa jurusnya meleset keadaan Loo Cong semakin parah.
Dia terkena pukulan dan tersungkur, belum sempat merangkak berdiri dia ditendang hingga ke pojok dinding.
Leng-ji menyerang dari belakang.
Tapi Wie Kai memukulnya.
Dengan wajah tanpa perasaan Wie Kai berkata.
"Petani, kau memang lebih berani dariku!"
"Untuk apa... Saudara..."
Kata Loo Cong.
"Saudara? Dulu kita memang saudara sekarang bukan! Sudahlah! Lebih baik mengaku!"
Dia memukul Loo Cong dan menendangnya sampai ke pojok tembok.
Tidak ada perasaan, ini terlihat kelemahan manusia.
Sambil menelan kekecewaannya Mo Ki-thian pun pergi.
Wie Kai memukul Loo Cong lagi.
Loo Cong menangkap kepalan Wie Kai.
Wie Kai membuka kepalannya, Loo Cong merasa memegang sesuatu.
Dia terkejut dan bingung.
Karena dia tidak percaya pada mujizat yang muncul.
Wie Kai berkata dengan dingin.
"Tunggulah kematianmu!"
Dia segera membalikkan tubuh dan pergi.
Jeruji besi sekali lagi digembok.
Loo Cong bercuit di pojok yang gelap, tangan-nya memegang sesuatu.
Dia curiga kalau dia sedang bermimpi, belum sadar %.
Di tangannya ada sesuatu, apakah itu?
Dia melihat jeruji besi tidak ada bayangan seorang pun.
Tiba-tiba dia membuka genggaman tangannya.
Leng-ji melihat di dalam genggaman tangan Loo Cong ada sebuah uang koin, dengan terkejut dia bertanya.
"Apa itu?"
"Uang koin!"
"Apa maksudnya?"
Loo Cong memegang koin itu, di tempat terang dia melihat dengan jelas, di atas koin ada huruf 'Jin' (Bertahan) berwarna merah. Mereka berdua terpaku dan berkata bersamaan.
"Jin?"
"Apa maksudnya dengan huruf Jin ini? Siau-kai ingin kita Jin!"
"Kalau tidak, lambang apa uang koin ini?"
Muncul pikiran ingin bertahan hidup.
Setelah mengalami rasa sakit yang luar biasa, sekarang bisa membuktikan sesuatu, rasa senang mereka mulai terlihat di wajah.
Mana mungkin Siau-kai akan mengkhianati mereka?
Hubungan mereka begitu erat!
Mana mungkin?
Tapi dia terlalu serius melakukan semuanya!
Membuat mereka sedih atas kekejaman tanpa perikemanusiaan.
Tapi ingin mendapatkan kepercayaan dari Seng Kongkong dan putri Kao Tong, kecuali harus melalui jalan seperti ini tidak ada cara lain lagi!
Apa lagi Wie Kai sendiri yang harus melaksanakan hukuman, mereka sengaja menguji kesetiaan Wie Kai kepada mereka.
Pukulan ringan dan pukulan berat, perbedaannya memang sangat besar dan tidak sedikit rasa sakit yang diderita, tapi bisa muncul sakit berkepanjangan atau sakit yang singkat.
Waktu itu rasa sakit yang dilakukan oleh Wie Kai di dalam hati atau pada tubuh seakan hilang semua.
Mereka tidak membenci Siau-kai lagi malah mengagumi dia.
Saat wajah mereka muncul senyum mengerti, tiba-tiba Leng-ji terkejut.
Harapan tadi yang baru muncul tadi, sekarang hampir musnah.
Leng-ji melihat di tempat tinggi di atas dinding itu ada sebuah celah, ada sepasang mata melihat secara diam-diam.
Harapan yang mereka kira datang begitu lambat tapi yang baru didapat seperti sebuah cangkir teh berharga terjatuh ke bawah dan hancur berantakan.
Siapa?
Mata siapakah itu?
Siapa pun yang melihat di sana pasti akan tahu, rahasia ini akan terbongkar bocor!
Siapa pun yang diam-diam mengintip mereka, dia akan memberi tahu Seng Kong-kong dan putri Kao Tong.
Leng-ji benar-benar terkejut juga putus asa.
Dalam rasa terkejut dan kecewa tiba-tiba muncul sebuah ide.
Saat paling cemas dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, sering kali ide datang secara tiba-tiba.
"Kong-kong... Kong-kong..."
Teriak Leng-ji.
Loo Cong terkejut.
Loo Cong tidak tahu mengapa Leng-ji terus berteriak, sebab dia tidak melihat mata dari celah itu.
Loo Cong benar-benar tidak mengerti.
Baru muncul sedikit harapan mengapa dia tega melakukan ini?
Bukankah ini akan membuatnya di usung ke panggung ekeskusi?
Loo Cong mencengkeramnya, menghentikan teriakan Leng-ji!
berharap bisa Mungkin masih sempat.
"Leng-ji... Leng-ji... apa yang terjadi padamu?"
Kedua mata dari celah dinding itu masih terus melihat mereka.
"Kau bisa menahannya, tapi aku tidak, aku akan menyerahkan diriku kepada Kong-kong, aku ingin balas dendam kepadanya. Kong-kong... Kong-kong... aku ingin melaporkan sebuah rahasia!"
Teriak Leng-ji.
Dalam pikiran Loo Cong semua orang di dunia ini sudah gila.
Kalau tidak siapa yang ingin di saat seperti ini berteriak dan berteriak begitu keras seperti takut orang tidak bisa mendengarnya?
Padahal baru muncul sedikit harapan!
Dia ingin menghentikan Leng-ji tapi Leng-ji terus memberontak sambil berteriak.
Loo Cong seperti ikut gila juga.
Kalau gila bisa menular Loo Cong pasti sudah tertular, dia pun berteriak.
"Leng-ji, Leng-ji..."
Leng-ji berteriak terus dan berusaha meng-hindar dari Loo Cong, agar tidak ditangkap oleh Loo Cong.
Mo Ki-thian segera membawa anak buahnya datang ke tempat mereka.
Mimpi-mimpi indah putri Kao Tong hancur berantakan.
Laki-laki dati Tionggoan ternyata bukan yang terbaik!
Dia benci!
Rasa benci yang tidak terlihat, dia sepertinya juga jadi gila!
Sepertinya semua orang sudah gila.
Dia segera menemui Wie Kai.
Wie Kai masih belum tahu rahasianya telah bocor!
Sekarang putri Kao Tong masih bisa menahan diri, sepertinya dia sedang belajar dari huruf yang ada di koin itu.
"Menahan diri!"
Katanya.
"Kau benar-benar bisa melakukan kekejaman!"
"Aku?"
Wie Kai mulai bisa menangkap kemarahan tertahan yang tersisa di wajah putri Kao Tong.
"Kau benar-benar tidak berperasaan, memecut bekas kekasihmu yang sudah berjuang bersama dengan mu!"
Kata Kao Tong. Penciuman Wie Kai sangat bagus, dia mulai merasa tidak tenang katanya.
"Aku sudah sadar dan menyesal, supaya tidak mengecewakan Kong-kong dan kau, aku tidak bisa memandang kekasih lama."
Kelopak mata putri Kao Tong terus berkedut Akhirnya dia bisa melihat dengan tuntas dan jelas lakilaki yang ada di depan matanya.
Dia benar-benar bisa memainkan opera dengan baik, dia benar-benar terlihat seperti sangat setia.
"Apakah kau mengira Kong-kong akan melepas kan mereka?"
"Tidak mungkin, mereka keras kepala!"
Jawab Wei Kai sambil melihatnya.
"Mengapa? Apakah budi pekerti mereka lebih bersih hingga tidak mau bersekongkol denganmu?"
"Apakah aku punya.... budi pekerti?"
"Apakah kau seorang manusia atau bukan?"
Putri Kao Tong meraung.
Begitu tahu dia telah tertipu, putri Kao Tong segera merasakannya.
Tiap malam mengubar nafsu birahi, posisi seperti apa dirinya di hati Wie Kai?
Mungkin dia seperti pelacur di rumah pelacur-an.
Atau menganggap dia mesin untuk melampiaskan nafsu birahinya.
Tapi dia merasa sangat senang dan mengira dengan kekuasaan tinggi dan harta yang banyak bisa menguasai Wie Kai.
Wie Kai mulai mencium bahaya.
Tapi sewaktu dia menyerahkan koin itu dia sudah sangat berhati-hati.
Itulah saat Seng Kong-kong dan putri Kao Tong sudah meninggalkan tempat.
Apakah Mo Ki-thian diam-diam yang sudah melihatnya?
Wie Kai masih ingin berpura-pura.
"Putri, apa yang terjadi padamu?"
"Lihat apa ini?...."
Bentak putri KaoTong.
Di tangan putri Kao Tong ada sebuah koin, di tengahtengah koin ada huruf yang ditulis dengan warna merah yaitu "Jin".
Putri Kao Tong tertawa sinis.
Tawa Wie Kai yang biasa terlihat luwes dan cuek, semakin menghilang dari sudut mulutnya.
Wie Kai yang ceria tidak bisa terlepas dari nasibnya.
Dia tidak ingin membela diri lagi.
Untuk menyerang balik pun sudah tidak ada kesempatan lagi.
Di sekelilingnya para La-ma sudah datang seperti gelombang air.
Wie Kai menatap putri Kao Tong, dia percaya putri Kao Tong hanya seorang perempuan jalang.
-ooo0dw0oooBAB V Di kamar Seng Kong-kong lampu masih menyala terang.
Seng-yan-kong duduk di depan meja.
Putri Kao Tong berada di sisinya.
Mo Ki-thian berada di belakang mereka berdua.
Pesilat-pesilat Eng-hong-pie-ya tampak siap siaga.
Leng-ji berlutut di depan Seng Kong-kong, air mata memenuhi wajahnya.
Sikapnya berbeda dengan sikapnya yang dulu, keras kepala dan tidak takut pada apa pun.
Sekarang putri Kao Tong berpose mengadili melihatnya.
Putri Kao Tong menganggap sekarang adalah waktu untuk menghibur hatinya.
Semenjak mengenal Wie Kai dan Leng-ji.
Walaupun dia sangat membenci Leng-ji dan menganggap enteng kepadanya, tapi kecantikan Leng-ji tetap tidak hilang.
Dia tidak mengerti mengapa dia bisa salah tafsir kepada perempuan ini?
Mo Ki-thian sekarang merasa paling gembira.
Karena dia tidak punya cita-cita tinggi, dia hanya berharap bisa bekerja di bawah pimpinan Kong-kong.
Bila ada mereka bertiga, dia tidak bisa menonjol kan diri.
Sekarang dia bisa memastikan tidak butuh 3 hari, mereka bertiga akan naik panggung eksekusi.
Melihat kepala musuh jatuh ke bawah, itu adalah hal yang sangat menyenangkan dalam hidup-nya.
"Leng-ji, mengapa kau mengadukan dia? Dia benarbenar ingin menolong kalian bukan?"
"Kong-kong, aku benci dia!"
"Benci? Apa karena dia pernah mengkhianatimu?"
"Benar!"
"Maksudmu juga mengenai hubungannya dengan putri Kao Tong?"
"Itu hanya salah satu alasannya, dulu dia pernah bersumpah sehidup semati denganku!"
"Apakah dia sudah berubah?"
"Diam-diam dia meninggalkan aku dan Loo Cong, curiga kalau kami mempunyai hubungan khusus!"
"Apakah hubunganmu dengan Loo Cong?"
"Betul, Kong-kong, dia meninggalkan sepucuk surat, nadanya sangat menyakitkan, menggunakan bahasa hina, walaupun hubungan kami bersih, itu karena aku selalu waspada, kalau tidak, aku sudah terhina, maka aku benci semua laki-laki, laki-laki di dunia ini tidak ada yang baik!"
"Mungkin itu hanya kesalahpahaman!"
Seng Kong-kong bukan laki-laki tulen.
"Tidak! Kong-kong, dia berani berbuat, menghinaku dan Siau-loo, yang penting dia ingin melepas-kan kesalahannya, ingin mencari tangga supaya dia bisa memanjat menuju putri Kao Tong!"
"Mungkin juga!"
Putri Kao Tong membentak.
"Dia memberi koin uang itu kepada Loo Cong, apa maksudnya?"
"Inilah kejahatan dan kesadisannya, dia tidak segansegan memukul kami, takut orang lain akan marah, dia tidak berperasaan, maka dia mencari kesempatan lain lagi supaya orang lain mengubah pandangan kepadanya."
"Dengan cara apa dia mengubahnya?"
Tanya putri Kao Tong.
"Bila keberadaan koin itu diketahui orang lain, dia tidak akan mengaku, kalau orang lain tidak tahu paling sedikit dia bisa menipuku dan Siau-loo, berarti dia tidak melupakan hubungan kami dulu!"
"Apa gunanya untuk kalian?"
Teriak putri Kao Tong. Leng-ji tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya tidak ada gunanya, tapi dia mengira ada gunanya, dia ingin menipu kami supaya naik panggung ekeskusi, sampai kami hampir mati pun masih mengira dia telah sangat berbaik hati kepada kami dan akan melepaskan kami!"
"Mimpi! Dia sendiri juga harus naik panggung eksekusi!"
Teriak putri Kao Tong.
"Apakah dia juga akan dipenggal?"
"Apa? Kau mengira dia tidak akan dipenggal?"
"Aku mengira Anda akan melindunginya!"
Putri Kao Tong tertawa terbahak-bahak. Leng-ji juga tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya putri Kao Tong.
"Aku tertawa karena semua ini percuma dan sia-sia, akhirnya dia pun tidak bisa lolos dari kematian? kau menertawakan apa?"
Tanya Leng-ji.
"Apakah kau mengira bisa dengan cara seperti ini aku akan melepaskan dia?"
Tanya putri Kao Tong. Leng-ji tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.
"Kalau bisa aku akan memakan dagingnya, mengelupas kulitnya, semenjak dia membawa kalian menangkap kami, aku sudah merencanakan akan membalas dendam!"
"Kalau tahu akan terjadi seperti ini, untuk apa dulu berpacaran dengannya?"
Tanya Seng-yan-kong.
"Kong-kong, Leng-ji lolos dari bencana ini, tapi sudah terlambat menyadarinya!"
Putri Kao Tong melihat koin yang ada di tangannya. Kemudian dia memegang dan menghancurkannya menjadi beberapa keping.
"Begitu masuk arena percintaan, tidak bisa melihat dengan jelas, Kong-kong, maafkan aku, karena kau, aku sudah sadar dan mulai hari ini aku akan meninggalkan Enghong-pie-ya dan mencari makan di luar!"
Putri Kao Tong merasa terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka. Melepaskan perempuan ini berarti berseberangan dengannya.
"Kong-kong, perempuan ini pengkhianat, dia telah membunuh banyak anak buahku dan Kong-kong, jika dengan beberapa kalimat tadi Kong-kong akan melepaskannya, mungkin akan membuat bencana dan membuat siapa pun tidak bisa terima!"
"Putri, kau belum mengerti!"
"Aku tahu semuanya!"
"Putri tidak perlu banyak bicara, aku tahu batas!"
Tibatiba Leng-ji berlutut "
Leng-ji ingin ikut Kong-kong, seumur hidup mengabdi pada Eng-hong-pie-ya, aku sudah tertipu dan dikhianati, maka aku merasa tidak rela.
Kong-kong sangat baik kepada Leng-ji, budi Kong-kong dalam seperti orang tua sendiri, aku berharap Kong-kong bisa mengambil keputusan untuk Leng-ji, membantu Leng-ji membalas dendam!"
"Membalas dendam kepada siapa?"
"Aku akan membunuh Wie Kai dan Loo Cong, karena aku benci dan kecewa kepada laki-laki!"
Seng Kong-kong dan Kao Tong terpaku. Tiba-tiba Seng-yan-kong tertawa terbahak-bahak.
"Baik!"
Putri Kao Tong memuji.
Seng-yan-kong masih tertawa terbahak-bahak.
Leng-ji yang akan membunuh kedua orang itu, ini adalah kerugian Seng-yan-kong.
Putri Kao Tong ingin membalas dendam, dia bisa menyaksikan perempuan itu membunuh Wie Kai dan Loo.
Cong.
Kemudian dia baru akan membunuh perempuan!
ini, tidak ada keinginan lain bagi putri Kao Tong.
"Baik! Aku akan memberimu kesempatan!"
Kata putri Kao Tong.
Alis putri Kao Tong penuh dengan hawa membunuh.
Sorot mata Leng-ji pun penuh dengan hawa membunuh bahkan lebih kental.
Dini hari yang masih gelap.
Eng-hong-pie-ya penuh dengan hawa membunuh.
Tempat memasang pisau penggal sangat tinggi, alat itu tertutup oleh sehelai kain merah dan berdiri di dalam kegelapan, seperti seorang terpidana mati berdiri dan sedang menunggu.
Semua masih sama seperti dulu.
Tapi di panggung diletakkan pisau pemenggal dan ada 2 kursi.
Itu adalah tempat duduk Seng Kong-kong dan putri Kao Tong.
Sekali lagi akan dilaksanakan hukuman, banyak orang mengira ini sangat tidak berharga, walaupun mereka berhasil kabur beberapa bulan dan bisa hidup lebih lama beberapa bulan, tapi hidup lebih lama beberapa bulan hanya akan menambah 2 kali bencana dan ketakutan.
Orang lain mengira semua itu tidak berharga, tapi bagi Wie Kai, Loo Cong, dan Leng-ji semua ini ada penjelasan lain.
Dalam kegelapan terlihat banyak bayangan terus bergerak.
Banyak pembunuh berlari untuk mendapatkan tempat dan posisi.
Kemudian mereka berdiri di sana.
Eng-hong-pie-ya tidak mengijinkan hal dahulu terulang lagi.
Berarti kepala terpidana yang mati harus dipenggal dan jatuh ke dalam keranjang.
Supaya semua anak buahnya bisa melihat, kepala manusia dalam waktu singkat terlepas dari leher, ini sulit diungkapkan dengan bahasa!
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong sangat menikmati melihat 3 kepala orang jatuh ke bawah.
Ini adalah hal yang seumur hidup mereka tidak akan melupakannya dan hal yang menyenangkan.
Memenggal kepala terpidana bukan hanya dengan menghukum, tapi terasa sangat menyenangkan hati.
Luka Mo Ki-thian belum sembuh total, tapi dia harus ikut menyaksikan kejadian itu, dia ingin melihat secara suka rela.
Orang semakin banyak.
Walaupun orang sangat banyak di sana, Pie-ya yang begitu luas tetap saja seperti sebuah kota mati.
Algojo sudah naik ke atas panggung, dia menarik kain merah yang menutupi golok besar itu.
Cahaya yang memantul dari golok terus mengeluarkan kilauannya.
Wie Kai dan Loo Cong berdiri di atas panggung eksekusi.
Wie Kai tetap terlihat tenang.
Wajah Loo Cong terlihat serius.
Loo Cong selalu seperti itu, Wie Kai pun seperti biasanya bersikap masa bodoh.
Ribuan mata menatap kedua orang itu juga melihat ada 2 keranjang bambu di bawah mereka.
Sorot mata putri Kao Tong terlihat sangat tajam, dia melihat Wie Kai yang ada di atas panggung.
Wie Kai tertawa tipis, sewaktu pandangan matanya beradu dengan sorot mata putri Kao Tong, terlihat ada sedikit keanehan.
Sorot mata putri Kao Tong dingin, dia menoleh ke tempat lain.
Sekarang siapa yang bisa mengerti pikiran putri Kao Tong?
Mungkin hanya Wie Kai saja.
Ada orang yang membawakan air dalam ember.
Bila orang itu tiba berarti hukuman akan segera dilaksanakan.
Dia akan membasahi leher Wie Kai dan Loo Cong, karena ini sudah menjadi aturan.
Air dingin yang membasahi leher akan mem-buat mereka bertambah sadar.
Mereka percaya sewaktu golok besar jatuh ke bawah, mereka tidak akan merasakan apa-apa karena golok bergerak dengan kecepatan tinggi dan tenaga yang dikeluarkan pun sangat besar.
Ada yang berteriak.
"Semua diam!"
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong su dah tiba.
Di belakang mereka ada pengawal, para La-ma dan pelayan-pelayan dengan jumlah hingga sepuluh orang lebih.
Tapi tidak akan terasa dingin seperti saat leher dibasahi air.
Yang menakutkan adalah saat algojo menarik tali sebelum kepala meninggalkan leher.
Tapi kali ini bukan algojo yang melakukan tugas-tugas itu, melainkan Leng-ji.
Leng-ji sudah berdandan cantik dan datang dengan cepat.
Di belakangnya ada 8 pelayan yang melayani-nya.
Semua mata memandang Leng-ji.
Leng-ji sekarang ini selain cantik, terlihat kejam dan bengis, siapa pim yang melihatnya akan bergetar.
Dia memegang golok Seng-yan-kong.
Hati putri Kao Tong benar-benar terlihat risau Sekarang Seng Kong-kong merasa kejayaan sudah berada di puncaknya.
Sekarang Leng-ji berdiri di depan Wie Kai dan Loo Cong.
Leng-ji sekarang ini tidak hanya terlihat kejam dan bengis, masih terasa hawa membunuh yang terlihat dari alisnya, sudut mata, dan sudut bibirnya.
Loo Cong dengan sikap serius melihatnya.
Di wajah Wie Kai seperti ada tawa tipis.
Dia selalu seperti itu, walaupun kepalanya sebentar lagi akan terlepas dari lehernya, dia tetap seperti itu.
Tiba-tiba Leng-ji berteriak.
"Wie Kai, Loo Cong!"
Wie Kai dan Loo Cong tidak bersuara. Leng-ji mengayunkan golok aneh menyapu ke arah Wie Kai, dia berteriak dengan keras.
"Lihatlah golok ini!"
Golok aneh turun dari pundak kiri Wie Kai juga dari dada, baju Wie Kai sobek dan darah terus mengalir.
Wie Kai mengerutkan alis.
Serangan golok tidak terlalu keras, tapi bila ingin pelanpelan membuat mereka berdua mati sabeten ini terlalu berat.
Luka Wie Kai terus mengeluarkan darah, setelah alisnya berkerut dia jadi seperti biasa lagi.
Sekarang Leng-ji membawa tombak panjang.
Dia berteriak dan menusuk Loo Cong.
Tempat di mana dia menancapkan tombak kepada Loo Cong sama dengan posisi di mana dia menusuk Wie Kai, di pundak kiri dan di dada kiri.
Tombak masuk ke dalam rubuh Loo Cong.
Tapi Leng-ji belum berhenti dan tidak punya sedikit pun rasa kasihan, dia masih terus menusuk malah lebih dalam.
Wie Kai melihat itu, alisnya berkerut lagi.
Hati semua orang ditarik hingga kencang dan sudah mencapai puncak.
Tombak yang ditusukkan ke tubuh Loo Cong karena terlalu kuat hingga melengkung, seperti busur yang sedang ditarik dengan kencang.
Suaranya yang keras menggetarkan gunung yang masih gelap.
Sikap Loo Cong tetap serius Tapi masih terlihat kesakitan.
Waktu itu Seng Kong-kong tiba-tiba berdiri.
Dia berteriak.
"Mengapa sampai sekarang kau masih belum membunuh mereka?"
Benar, putri Kao Tong yang di sisi merasakan hal yang sama, berpikiran yang sama.
Wie Kai hanya terkena sekali sabetan, setelah itu Leng-ji segera menyerang Loo Cong.
Tapi putri Kao Tong tidak puas melihatnya.
Teriakan Seng Kong-kong penuh kemarahan.
Leng-ji menoleh melihat Seng Kong-kong.
Perutnya yang menahan serangan tombak tampak melengkung, tiba-tiba tubuhnya bergerak miring.
Tombak itu sudah terlepas dari tubuh Loo Cong secepat kilat terbang ke arah Seng-yan-kong.
Ini benar-benar di luar dugaan.
Seng-yan-kong sendiri pun tidak menyangka sama sekali.
Gerakan di luar dugaan ini menghasilkan hal yang tidak terduga.
Tombak panjang meluncur lebih cepat dari anak panah, dengan tapat menancap di dada kanan Seng-yan-kong.
Perubahan besar yang terjadi tiba-tiba benar-benar membuat banyak hati orang bergetar.
Putri Kao Tong sendiri ikut bergetar.
Di bawah panggung terlihat kacau balau.
Pie-ya yang tadinya sepi seperti kota mati sekarang berubah total.
Keributan besar membuat orang kalang kabut dan berputar-putar di sana, karena tidak ada yang tahu apa yang harus mereka lakukan!
Sekali lagi rencana yang tadinya sangat sempurna sekarang kacau.
Kesombongan Seng-yan-kong dan kekejaman putri Kao Tong, membuat mereka menjadi sasaran serangan.
Kalau bicara dengan ketat kesempatan mereka sangat tipis, tadi Leng-ji membalikkan kepala adalah untuk mengukur jarak sebelum membidik.
Leng-ji meminjam golok Seng-yan-kong untuk melakukan serangan, karena dia, Wie Kai, dan Loo Cong paling mahir menggunakan golok.
Dia meminta agar membereskan Wie Kai dan Loo Cong satu per satu, karena itu baru ada alasan bisa menggunakan golok dan tombak serta senjata yang lain.
Diam-diam dia membawa kipas lipat Wie Kai.
Setelah Seng-yan-kong terkena lemparan tombaknya, dia masih bisa berteriak.
"Tangkap mereka!"
Tapi Leng-ji dengan cepat menghampiri dan memotong tali yang mengikat Wie Kai dan Loo Cong sambil berkata.
"Siau-kai, Siau-loo, apakah aku tadi membacok kalian terlalu keras?"
"Bencana kecil! Ayo kita lawan..."
Ajak Wie Kai.
Putri Kao Tong segera mengatur para La-ma menyambut mereka.
Pertarungan senjata pun terjadi.
Tiga orang anak buah terkuat mati di panggung eksekusi.
Hanya golok besar yang siap memenggal kepala masih tergantung tinggi.
Tidak digunakan, juga tidak ada darah yang menempel.
Luka Mo Ki-thian belum sembuh tapi mulutnya tidak terluka, maka dia memerintah anak buahnya bertarung.
Wie Kai sudah naik ke tempat di mana Seng Kong-kong.
Seng Yan-kong benar-benar seorang pesilat tangguh.
Setelah dada kanannya berlubang darah terus mengalir, dia masih bisa menendang Wie Kai sampai terpelanting.
Walaupun dia akhirnya mundur 3 langkah dengan terhuyung-huyung, dia juga bisa menghantam Loo Cong yang sedang menyerangnya dengan telapak.
Seng-yan-kong benar-benar seperti seekor binatang terluka.
Hari ini tiga orang muda itu baru melihat ilmu silat Seng Kong-kong yang sebenarnya.
Seseorang bisa berlatih ilmu silat sampai pada tahap seperti itu benar-benar tidak mudah.
Leng-ji pun ikut naik ke atas panggung.
Seng-yan-kong diserang dari tiga arah, dia terjatuh sekali.
Tapi dia masih bisa berguling di bawah unluk menghindari serangan Loo Cong dengan tombak panjangnya, kipas lipat Wie Kai dan golok Leng-ji.
Pembunuh dari Pie-ya dan La-ma datang seperti air bah.
Manusia jika sedang berada dalam kesulitan atau dalam keadaan sangat berbahaya, dia akan mengeluarkan tenaga dan kekuatan yang tersimpan.
Keadaan Wie Kai, Leng-ji, dan Loo Cong seperti itu.
Loo Cong dan Wie Kai sudah terluka dan mengeluarkan banyak darah, dalam keadaan biasa mungkin mereka tidak bisa bertahan lama, tapi sekarang mereka terlihat begitu gagah.
Walaupun salah satu dari mereka ada yang mati, mereka tidak akan menyerah.
Manusia dalam keadaan seperti itu selalu gagah berani.
Seng-yan-kong terjatuh lagi.
Siapa pun tidak akan kuat setelah terluka parah, apalagi masih harus menahan serangan dari tiga pesilat tangguh yang terus menyerang.
Dari rumah La-ma, 8 orang La-ma terkuat sudah datang.
Kekuatan mereka sangat menakutkan.
Hanya sebentar Leng-ji sudah terluka oleh golok seorang La-ma.
Wie Kai segera datang dengan kipasnya, dia menggorok putus leher La-ma itu.
Mo Ki-thian masih terus mengatur anak buah-nya, dia hanya bisa berteriak-teriak.
Walaupun dia setia tapi dia tetap mempertahankan nyawanya, karena dia ingin menikmati hasil kerja kerasnya.
Loo Cong seorang diri melawan dua La-ma dan 3 anak buah Seng-yan-kong.
Kecuali pundak yang ditusuk oleh Leng-ji, di tubuhnya ada luka di 5-7 tempat.
Keadaan Wie Kai tidak lebih baik, dia melawan 3 orang La-ma dan 4 anak buah Seng-yan-kong, wajahnya penuh dengan darah musuh.
Sekarang Seng-yan-kong sedang bersiap-siap menyerang, dia mulai menyerang Wie Kai.
Wie Kai terkena pukulan dan mundur ter-huyunghuyung, seorang La-ma menyerang dari belakang dengan pedang.
Dari jauh Leng-ji melihat kejadian itu, dia ingin membantu tapi sudah tidak keburu, dia berteriak.
"Siau-kai, di belakang..."
Refleks Wie Kai termasuk nomor satu.
Tubuhnya sudah seperti ketepel melesat ke kiri depan.
Tapi bagian pinggang dan tangannya masih-sempat tergores oleh pedangmusuh.
Sekarang putri KaoTong ikut bertarung.
Dia tidak rela Wie Kai kabur dari Eng-hong-pie-ya lagi.
Tapi dia melihat Kong-kong bersimbah darah kebiasaan dia yang terlihat galak dan sombong sudah tidak terlihat.
Sekarang dia mulai kebingungan kalau Seng Kong-kong mati, bagaimana dengan nasibnya?
Sebenarnya sekarang adalah saat paling tenang dalam hidup Seng-yan-kong.
Kariernya sudah mencapai puncak, seharusnya dia merasa sudah cukup, tapi dia tidak ingin berhenti, dia ingin terus naik!
Seperti air sudah memenuhi gelas, jika di tambah lagi tentu akan tumpah keluar, walaupun hanya setetes.
Seseorang bila sudah mendapat karier dan kedudukan begitu tinggi masih ingin mencari apa lagi?
Anehnya manusia yang sadar dan tahu batas untuk bisa berhenti sangat jarang!
Seng Kong-kong sangat menyesal, pertama kali tertipu sekarang terulang lagi!
Dengan pemikirannya yang begitu teliti ternyata masih bisa terulang lagi, dia terkena tipuan 3 anak muda itu, mati pun dia tidak akan menutup mata.
Penglihatan Seng Kong-kong mulai buram, suaranya mulai tidak terdengar.
Sekarang dia merasa lebih jelas dan lebih tahu dari siapa pun, apa yang dia inginkan hanya akan menjadi ilusi, akan hilang juga akan mengikuti kepulangan putri Kao Tong ke Tibet dan melupakan semuanya.
Rencana besar hanya karena sedikit kesalahan semua jadi hancur berantakan!
Dua orang La-ma mati dan seorang terluka parah.
Pembunuh dari Pie-ya yang mati di tangan ketiga anak muda itu sudah mencapai 25 orang lebih, belum lagi yang terluka.
Bersamaan waktu luka di tubuh ketiga anak muda itu bertambah juga.
Dengan sisa kekuatannya Seng Yan-kong menendang Loo Cong sejauh 3 langkah dan dia juga mencengkeram kerah leher Wie Kai, siap dilempar.
Tapi Leng-ji sudah datang menyerang, dia bisa menolong Wie Kai, tiba-tiba Seng-yan-kong berguling-guling di bawah.
Mungkin orang akan mengira dia mengguna-kan tenaga terlalu besar dan tubuhnya tidak seimbang, mungkin juga akan mengira dia sudah sekarat.
Wie Kai mendekat ingin merebut benda yang ada di balik baju Seng Kong-kong.
Tapi siapa yang menduga, tiba-tiba Seng-yan-kong memencet tombol rahasia di bawah, maka pada tangga naik panggung eksekusi segera terdengar suara TING!
TING!
Keluarlah pisau-pisau tajam sepanjang 5-6 inchi, jumlahnya sangat banyak.
Wie Kai ditarik oleh Seng-yan-kong, walaupun belum sampai terlempar keluar, tapi Wie Kai tetap tertarik hingga ke bawah panggung eksekusi yang penuh dengan pisau, tenaga Wie Kai sudah habis.
Dia tidak sanggup lagi meloncat dari gunung pisau itu.
Leng-ji berteriak histeris.
Sebuah tombak panjang datang, tepat melesat di bawah kaki Wie Kai, itulah perbuatan Loo Cong.
Wie Kai menginjak ke arah tombak panjang itu, dan terbang ke atas seperti seekor elang, dengan kipas lipatnya dia menyapu Seng Yan-kong yang sedang setengah berlutut.
Sebenarnya Wie Kai sedang berusaha mengambil surat perjanjian putri Tibet Kao Tong yang berada di dadanya.
Kondisi Seng-yan-kong sebenarnya sudah sangat kritis, tapi dia tetap bisa menghindar pukulan kipas lipat Wie Kai dan berusaha melempar surat perjanjian itu ke dalam api.
Tapi dia tidak menyangka, sapuan kipas Wie Kai ternyata gerak tipuan, tendangan kaki berikutnya baru yang sebenarnya.
Tubuh Seng-yan-kong jadi tertendang ke atas dan jatuh menancap di atas gunung pisau, beberapa pisau menancap di dada dan keluar dari punggung.
Seng-yan-kong tidak bergerak lagi.
Sekali lagi Wie Kai meloncat mengambil surat perjanjian yang terjatuh ke dalam kobaran api, keadaan di sana benarbenar membuat orang terkejut.
Kematian Seng-yan-kong membuat anak buahnya menghentikan pertarungan, hanya beberapa La-ma yang masih terus bertarung.
Tiba-tiba ketiga anak muda itu meloncat ke atas, ke tempat tertinggi dari panggung eksekusi, Wie Kai membuka surat perjanjian dan memperlihatkannya kepada semua orang, lalu teriaknya.
"Kalian jangan bertarung lagi! Inilah bukti Seng-yankong bersekongkol dengan putri Tibet mengkhianati kerajaan, kalian seharusnya mengganti tujuan, membantu raja membasmi pemberontak..."
Mo Ki-thian adalah orang yang tidak punya pendirian, dia adalah orang yang pandai mengikuti arus.
Melihat Seng Kong-kong dengan mata melotot tertancap di atas formasi pisau, dia merasa Seng-yan-kong benar-benar bernasib jelek, rasa sinis, wibawa yang dulu, dan kejayaannya dulu sudah menghilang tidak berbekas.
Sudah lama dia juga tahu, Kong-kong sedang mengatur recana, sekarang bila dia tidak berbalik pikir dia akan seperti Seng Kong-kong, mati pun tidak ada tempat untuk dikubur.
Maka dia mengangkat tinggi-tinggi tangannya.
"Kita bantu berantas pengkhianat..."
Saat putri Kao Tong dan kelompoknya di tangkap oleh Mo Ki-thian dan anak buahnya, La-ma yang tersisa pun menjatuhkan senjata mereka.
Semua ini karena kematian Seng Kong-kong sehingga masalah menjadi terang.
Putri Kao Tong melihat Wie Kai yang berada di tempat tertinggi, dia tetap luwes, tampan, tapi jarak mereka sudah begitu jauh, dia begitu tinggi dan dirinya begitu rendah seperti langit dan bumi.
Mo Ki-thian dan anak buahnya seperti berseru kepada Seng Kong-kong dulu, perubahannya begitu tiba-tiba dan memusingkan.
Tiga anak muda yang penuh perasaan.
Dua kali lolos dari kematian.
Apa yang mereka andalkan?
Tentu keberanian dan percaya diri.
Sekarang kalau dipikir-pikir mereka 2 kali hampir dieksekusi, walaupun semua sudah direncanakan, dengan gabung-an kekuatan Eng-hong-pie-ya dan kekuatan La-ma mereka tetap bisa menang itulah suatu keberuntungan.
Sekarang mereka bertiga berada di tepat tertinggi, Leng-ji berada di tengah-tengah, Wie Kai di kanan sedangkan Loo Cong di kiri.
Loo Cong melihat Leng-ji dan Wie Kai, dia siap akan pergi karena dia pernah mengatakan kepada Leng-ji saat dalam pelarian, setelah bisa membereskan masalah, mereka berdua harus menikah ...
Sekarang waktunya untuk membuktikan, tapi Leng-ji menariknya dengan kencang, sedangkan sebelah tangannya yang lain menarik Wie Kai.
Begitu mereka bertiga saling bertukar pandang, masingmasing seperti mengerti apa maksudnya, yang satu adalah pengantin laki-laki, sedangkan yang satu lagi adalah sahabat karib.
Mengapa tidak bisa ber-kumpul bersama?
Tamat Bandung, 14 Desember 2009 Salam Hormat.
(See Yan Tjin Djin
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 11
Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal 3