Eps 5 Pisau Kekasih - Gu Long
Baca online Pisau Kekasih - Gu Long
Cersil Pisau Kekasih - Gu Long.
"Mengapa tidak? Ketika aku berada di keluarga Lim aku menyamar menjadi putri keluarga Lim, namaku menjadi Lim Siau-ceng, dengan begitu aku tidak mengaku adanya Nona Lim di dunia ini!"
"Karena waktu itu kau dan Siau-kai terkena ilmu sihir, maka ingatan kalian kadang benar kadang kabur!"
"Benar, kadang ingat kadang tidak, kadang jelas kadang kacau!"
"Benar! Karena itu Siau-kai kadang menganggapmu Seebun Long, Seebun Long adalah dirimu, ilmu sihir seperti itulah, dia akan membuatmu melakukan hal yang ingin dia lakukan, umpamanya Siau-kai merindukankanmu, ingin menikah denganmu, dan ingin memiliki anak darimu, maka Seebun Long yang ada di hati Siau-kai dianggap dirimu, dan sudah punya seorang anak!"
Akhirnya Seebun Long menangkap Siau-kai dan menyerahkan dia kepada Kao Hie danTonghong Ta-cing.
"Seebun Long juga sama terkena ilmu sihir dan dia diatur untuk melakukan hal apa pun!"
Kata Loo Cong. Leng-ji terdiam.
"Apakah pernah terpikir olehmu, mengapa tidak pernah bertemu lagi dengan Tonghong Ta-cing, Kao Hie juga Liauw In serta Cia Peng, dua memperbutkan harta?"
Tanya Siau-loo. kelompok yang "Pernah terpikir!"
"Sebab dua kasus perebutan harta itu berawal dari mereka yang masing-masing mempunyai rencana dan diketahui oleh anak buah Seng Kong-kong lalu mereka diperalat, setelah berhasil mereka dibunuh supaya tutup mulut!"
Jelas Siau-loo.
"Karena itu aku bilang aku telah banyak ber-buat dosa!"
Kata Leng-ji.
"Leng-ji, itu bukan salahmu! Kau dan Siau-kai hanya korban!"
"Aku ingat waktu itu kadang-kadang aku tahu kalau aku bukan putri Lim Put-hoan yang bernama Lim Siau-ceng, kadang aku juga tahu kalau aku Leng-ji tapi aku tidak berani untuk memastikannya!"
"Siau-kai juga pasti seperti itu!"
"Waktu itu dia mencegat keretaku tapi dia tidak tahu siapa aku!"
"Sulit untuk diungkapkan! Waktu itu dia mengatakan kalau dia mempunyai perasaan aneh!"
"Perasaan aneh seperti apa?"
"Seperti mengenalmu tapi setelah dipikir-pikir sepertinya tidak!"
"Apakah benar anak Seebun Long bukan anak Siau-kai?"
"Bukan!"
Jawab Siau-loo.
"Mengapa Bu Si-cin berkata seperti itu?"
"Karena ingin membuat Sangguan Lie terpukul juga ingin membuatnya jadi rendah diri dan berkecil hati, dia akan kecewa berat hingga kehidupannya terbengkalai."
"Semua itu sudah berada dalam perkiraan Seng Kongkong, Sangguan Lie mati di tangan seorang perempuan jalang berilmu tidak tinggi!"
Kata Leng-ji.
"Dari sini dapat diketahui bagaimana jahatnya Seng Yan-kong."
"Kau!"
"Apakah bukan? Setan tanpa kepala itu diperintahkan Seng Kong-kong untuk menguasai Liauw In, Cia Peng, Tonghong Ta-cing, Suma Hen serta Kao Hie!"
Kata Siauloo.
"Apa arti 'Oh-tiap-go'?" (Sarang kupu-kupu) Leng-ji mengerutkan alis.
"Itu hanya simbol saja!"
"Simbol apa?"
"Bukankah ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu? Harta orang lain bukankah bisa berubah menjadi harta milik kita?"
"Apa arti persilatan). 'Bu-lim-to-hoat'?" (Ilmu golok rimba "Kipas lipat milik Siau-kai adalah To-hoat, Seng Kongkong menyuruhnya menggunakan kipas supaya bisa menutupi identitas sebenarnya, sewaktu Siau-kai masuk Pie-ya dia sudah menguasai ilmu itu!"
Leng-ji terdiam lagi.
"Singkat kata, waktu itu pikiran kalian benar-benar tidak normal, ingatan kalian hilang sebagian, kadang-kadang malah sangat kacau, kadang-kadang mengira kau Leng-ji kadang-kadang merasa bukan, kadang-kadang malah merasa menjadi putri keluarga Lim. Siau-kai pun demikian, kadang-kadang mengira dirinya Siau-kai kadang-kadang bukan. Bisa dikatakan dia menjadi dungu dan bebal, dari sini terbukti kalau ilm sihir Seng Kong-kong belum sempurna."
Leng-ji menundukkan kepala.
Pikiran manusia tidak pernah berhenti.
Walau kau tidak ingin memikirkannya tapi pikiran ini akan terus mengganggumu.
Leng-ji ingin untuk sementara melupakan semuanya, tapi apakah itu mungkin?
"Kata Siau-kai kedatanganku membuat keada-an lebih baik, berarti aku bisa merawatmu."
Leng-ji tertawa tapi wajahnya sudah bersimbah air mata.
Siau-loo datang menghampiri untuk meng-hapus air mata Leng-ji.
Dia melihat Leng-ji.
Leng-ji tidak berani tertawa lagi.
Karena dia sadar tawanya akan memukul perasaan Siauloo juga Siau-kai.
Kolam tidak begitu luas tapi sangat dalam.
Karena ada air terjun di atasnya, bila air di kolam sudah penuh air akan mengalir keluar.
Maka air di kolam itu bukan air yang terus diam.
Kolam seperti itu akan banyak ikannya.
Loo Cong dan Leng-ji berada di sisi kolam.
Leng-ji duduk di atas batu, dia terus melemparkan batu kerikil ke dalam kolam, sepertinya berniat mengusir ikan ke arah sana.
Siau-loo berdiri di tengah air, celananya di-gulung tinggi.
Dia ingin menangkap ikan dengan tangan kosong.
Lengji tidak bersemangat melempar batu.
Dia tahu kalau Siauloo sedang menatapnya.
Tiba-tiba Leng-ji bertanya.
"Apakah dia punya perempuan lain?"
Siau-loo bengong sejenak lalu jawabnya.
"Tidak ada!"
"Kau yang paling dekat dengannya!"
"Leng-ji, dengan cara apa supaya bisa membuat hatimu lebih tenang?"
Leng-ji melempar batu dengan sekuat tenaga. Batu kecil itu masuk ke dalam kolam. Kemudian dengan dingin dia menjawab.
"Aku membenci diriku yang tidak bisa tenang."
Siau-loo melihatnya kemudian melihat ke arah air kolam, tiba-tiba seekor ikan berhasil ditangkapnya.
Dia melempar ikan itu ke darat.
Ikan itu meloncat-loncat.
Tapi meloncat seperti apa pun nasib ikan itu sudah bisa diketahui.
"Leng-ji, kau mulai menguasai ilmu-ilmu perladangan!"
Leng-ji menggelengkan kepala.
Mereka pulang ke pondok yang mereka tempati untuk sementara.
Karena sudah sore hari, burung pun telah kembali ke sarangnya.
Leng-ji melihat sarang burung yang ada di atas pohon.
Di manakah sarangnya?
Di manakah rumah-nya?
Mereka masuk ke rumah kecil itu.
Apakah ini bisa disebut rumah?
Rumah itu sangat sederhana juga tua.
Bisa tinggal berapa lama mereka di rumah kecil ini?
Di manakah tempat mereka bisa tinggal lebih lama?
"Aku akan memasak ikan untukmu!"
"Biar aku yang memasak,"
Kata Leng-ji.
Dia membawa ikan itu ke dapur.
Ikan masih terus memberontak.
Ikan itu tidak tahu kalau dia akan mati dan akan dimasak.
Sepertinya ikan itu memberontak karena ingin hidup.
Siau-loo berdiri di pinggir melihat Leng-ji membersihkan ikan.
Tiba-tiba di luar ada yang berteriak.
"Leng-ji, Leng-ji..."
Leng-ji dan Siau-loo dikatakan malah bergetar. benar-benar terkejut, Di luar ada yang berteriak lagi.
"Siau-loo!"
Boleh Suaranya begitu merdu.
Di dunia ini tidak ada suara yang semerdu itu.
Di dunia ini tidak ada suara yang bisa membuat orang bergairah kecuali suara itu.
Beberapa pagi dan malam.
Leng-ji selalu merindukan suara yang dikenal-nya ini.
Dia tidak sedang bermimpi.
Hal yang terjadi tiba-tiba benar-benar di luar dugaan, Leng-ji merasa curiga, apakah karena dia terlalu rindu hingga salah dengar?
Hari Leng-ji bergejolak.
Dia menolak kalau semua ini karena pikirannya yang salah.
Benar itulah Siau-kai, tidak mungkin dia pergi dan tidak kembali lagi.
Siau-kai adalah orang yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya.
"Siau-kai..."
Teriak Leng-ji seperti gila.
Siau-kai bisa kembali lagi, itu adalah hal yang menyenangkan.
Tidak mungkin Loo Cong tidak merasa senang.
Dia memang menyukai Leng-ji.
Tapi tidak mungkin berharap Siau-kai tidak kembali lagi.
Dia dan Siau-kai bukan tipe orang seperti itu.
Walaupun ketika kecil selalu berebut ingin menjadi pengantin lelaki.
Leng-ji lari berhambur keluar rumah.
Karena terlalu senang semua ini hampir membuat Lengji jadi gila.
Siau-loo lebih tenang.
Teriakan tadi tidak salah, memang teriakan Siau-kai tapi setelah memangil nama mereka berdua, dia tidak masuk ke dalam rumah.
Kalau benar Siau-kai kembali, mana mungkin dia tidak masuk?
Mana mungkin harus mereka yang keluar?
Kalau tidak ada perubahan aneh pada diri Siau-kai, mungkin dia tidak mau diam di luar, dia akan masuk dan memeluk Leng-ji.
Karena itu Siau-loo menarik Leng-ji.
Awalnya Leng-ji tidak mengerti dan terkejut.
Dia tidak tahu mengapa Siau-loo menariknya.
Tapi begitu melihat wajah Siau-loo yang serius dan penuh perhatian dia segera mengerti maksud Siau-loo.
Benar, Siau-kai sangat aneh.
Siau-kai yang baru berpisah tidak lama dengannya mengapa sekarang tiba-tiba menjadi sombong?
Tidak, tidak akan.
Kalau begitu, dia bukan Siau-kai.
Mereka buru-buru melihat dari sela pintu.
Keadaan di luar membuat Leng-ji sakithati.
Siau-loo pun terkejutbukan kepalang, Ada apa dengan Siau-kai?
Apakah dia masih Siau-kai yang dulu?
Meng-apa Siaukai bisa melakukan hal ini?
Di luar memang ada Siau-kai.
Baru satu bulan tidak bertemu dia masih seperti Siau-kai yang dulu.
Tapi dirinya terlihat takut dan tidak ber-semangat, sombong dan lupa diri.
Karena di sisinya ada putri raja Kao Tong yang mengenakan baju dengan leher rendah, juga berdandan dengan warna semarak.
Masih ada Mo Ki-thian dan 10 orang pembunuh dari Eng-hong-pie-ya.
Keadaan ini terlihat begitu jelas.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Leng-ji.
"Dia kembali ke Eng-hong-pie-ya."
Tiba-tiba tubuh Leng-ji bergetar.
Karena kata-kata Siau-loo seperti pisau yang menancap di hatinya.
Benar, pasti seperti itu.
Siau-kai telah kembali ke Eng-hong-pie-ya.
Mengapa dia kembali ke sana?
Leng-ji tidak mengerti.
Karena Leng-ji paling mengerti Siau-kai dia bukan tipe penakut.
Dikejar dan akan dibunuh tidak akan membuat Siau-kai bergetar, malah akan memunculkan niat melawan.
Kalau begitu mengapa bisa seperti itu?
Siau-loo sangat mengerti perasaan Leng-ji.
Dia sedih melihat kesedihan Leng-ji.
Dia sangat berharap Leng-ji bisa membagi kesedihannya.
Siau-loo menariknya.
"Tenanglah, jangan takut, Leng-ji!"
"Tidak, aku tidak percaya... aku tidak percaya, aku ingin keluar!"
"Jangan!"
Cegah Loo Cong.
Kalau Leng-ji tidak percaya bisa dimaklumi.
Kalau dia segera percaya malah terlihat dia tidak mengerti Siau-kai, juga tidak benar-benar menyukai Siaukai.
Maka Leng-ji pun memberontak, dia membuka pintu dan berhambur keluar.
Loo Cong terkejut.
Dia tahu akibatnya akan seperti apa.
Maka dalam waktu singkat golok diambilnya dia juga ikut keluar.
Dia berdiri di sisi Leng-ji.
Leng-ji sedang menarap Siau-kai dan melihat putri Kao Tong yang berdiri di sisi Siau-kai, putri Kao Tong terlihat seperti sedang tertawa, tawanya meng-andung arti seorang perempuan yang berhasil memenangkan pertarungan cinta, merasa senang juga bangga.
Wie Kai masih seperti dulu.
Dia tertawa gembira dan genit.
Yang pasti saat baru kembali ke Eng-hong-pie-ya dia disiksa sampai babakbelur.
Tangan Mo Ki-thian melambai, anak buahnya segera mengepung mereka.
Walau tidak terucap sepatah kata pun, tapi sudah cukup membuktikan semuanya!
Dalam hidup Leng-ji belum pernah dia merasa semarah ini.
Sekarang dia mengingkari janji.
berhadapan dengan orang yang Yang paling menakutkan adalah perempuan itu yang berdiri dengan sikap seperti seorang istri sambil menatap Leng-ji, sorot matanya seperti sedang mengadili.
Seperti saat dia menatap ikan yang ada di dalam jala.
Wie Kai berkata kepada Loo Cong.
"Karena kau datang maka aku kembali!"
"Siau-kai!"
Tiba-tiba Loo Cong menutup mulut Leng-ji. Dia ingin Wie Kai terus bercerita. Walaupun bukti sudah ada di depan mata tapi dia harus menjelaskannya.
"Orang yang benar-benar cocok denganmu adalah Siauloo, kalian sangat serasi, aku tidak mau terus berlari, aku tidak mau hidup seperti itu! Aku mewakili Eng-hong-pie-ya menjodohkan kalian!"
Sorot mata Mo Ki-thian tidak pernah meninggal kan Wie Kai.
Dia sepertinya sudah punya tugas menguji kesetiaan Wie Kai.
Kesetiaan seseorang yang pernah bermasalah selalu akan dicurigai.
Leng-ji pernah merasa dirinya akan hancur berkepingkeping.
Dia seperti terbuat dari serpihan salju, begitu terguncang akan hancur.
Semua masa lalu tampaknya sudah tidak berarti lagi.
Semua tiba-tiba berubah menjadi tidak terlihat dan tidak bisa diraba.
Leng-ji berteriak histeris.
"Wie Kai..."
Dia datang ingin memukul Wie Kai.
Setiap pagi dan malam dia merindukannya sekarang yang dia dapat hanya kalimat yang tidak bertanggungjawab.
Wie Kai menghindar.
Putri Kao Tong mundur beberapa langkah untuk menyaksikan adegan yang akan terjadi.
Putri Kao Tong selalu menunggu-nunggu kejadian seperti hari ini.
Dia sangat berharap Wie Kai membunuh perempuan yang ada di depan mata.
Loo Cong marah dan berusaha melindungi Leng-ji lalu berteriak.
"Awas!"
Pembunuh yang dibawa Mo Ki-thian mulai menyerang.
Mo Ki-thian tetap berada di pinggir mengawasi.
Bukan hanya Seng Kong-kong yang masih mencurigai Wie Kai, Mo Ki-thian pun masih tidak percaya kepadanya.
Tapi karena putri Kao Tong selalu menaruh rasa percaya penuh kepada Wie Kai, maka Seng Kong-kong tidak bisa terus menahan pendapatnya dan Mo Ki-thian pun lebih tidak berani mengemukakan ketidak puasannya.
Beberapa kali Wie Kai memukul mundur serangan Lengji yang ganas.
Terlihat tidak ada sedikit pun rasa sayang kepada Lengji.
Loo Cong melawan 5-7 orang pembunuh, dia melihat Leng-ji sekarang yang sudah seperti gila, sama sekali tidak peduli pada bahaya, hati Loo Cong pun seperti meneteskan darah.
Hubungan seperti itu pun tidak bisa dipercaya.
Hubungan persahabatan antara 3 orang yang sejak kecil dan tumbuh bersama, perasaan seperti itu pun bisa berubah.
Apakah di dunia ini masih ada yang bisa dipercaya?
Tiba-tiba Leng-ji seorangpembunuh.
merebut golok dari tangan Sekali lagi dia menyerang dan membacok Wie Kai.
Darah Leng-ji sudah naik sampai ke ubun-ubun yang dia lihatbukan bayangan manusia lagi.
Yang dilihatnya adalah bayangan setan yang tubuhnya penuh dengan darah merah.
Hidup adalah siksaan.
Maka Leng-ji merasa ingin mati bersama dengan orangyang telah ingkar janji dan ingkar hati.
Walaupun dia terus menyerang Wie Kai tapi karena terlalu marah maka serangannya tidak tepat.
Pihak Mo Ki-thian pun mulai bergerak.
Pembunuh hanya mendengarkan kata-kata Seng Kongkong, tidak peduli dengan persahabatan dulu yang terjalin.
Setiap kali Leng-ji mengalami bahaya Loo Cong akan segera datang untuk menolong.
Tapi Loo Cong sadar walaupun mereka sangat berani tapi akhirnya mereka akan kehabisan tenaga dan tertangkap.
Loo Cong sangat berani dan tidak kenal takut.
Leng-ji hanya ingin mati bersama Wie Kai.
Pertarungan seperti itu tidak akan meng-hasilkan apa-apa.
Lawan yang datang sangat banyak, ditambah Mo Kithian dan putri Kao Tong.
Keadaan sangat berbahaya.
Leng-ji berguling menghindari serangan Mo Ki-thian berturut-turut.
Belum lagi berdiri tegak dua pembunuh lainnya telah datang, berbareng Mo Ki-thian menendangnya hingga mundur 5-6 langkah.
Kemudian datang 3 pembunuh lagi.
Wie Kai berhadapan dengan Loo Cong, tidak ada yang kalah dan menang.
Ditambah seringnya Mo Ki-thian membantu menyerang, walaupun Loo Cong bisa mengeluarkan kepiawaian golok aneh pemberian Seng Kong-kong, dia tetap kesulitan menghadapi musuhnya yang banyak.
Tapi Loo Cong tidak mau ditangkap begitu saja.
Lebih-lebih tidak mau Leng-ji jatuh ke tangan laki-laki yang hatinya sudah berubah.
Mungkin jatuh ke tangan laki-laki yang hatinya sudah berubah lebih baik, yang dia takutkan adalah Leng-ji jatuh ke tangan perempuan Tibet itu.
Benar-benar tidak terbayangkan.
Mo Ki-thian berteriak.
"Saudara-saudara, hidup atau mati sama saja. Demi membalas budi Seng Kong-kong kita harus menukar dengan nyawa kita!"
Perkataan nyawa ditukar dengan nyawa dikeluarkan, supaya anak buahnya berbuat dengan cara semut membelit lipas, dengan mempertaruhkan nyawa untuk mencapai tujuan.
Pertarungan bergeser dari pekarangan ber-pindah ke dalam rumah.
Dari dalam rumah berpindah ke dapur.
Dengan pedangnya Mo Ki-thian menusuk jala yang berisi ikan hingga berlubang, seekor ikan akan tergilincir terjatuh ke bawah dan terus meloncat-loncat.
Loo Cong mengeluarkan jurusnya yang paling hebat.
Golok anehnya tidak ada yang bisa bertahan, 7-8 orang pembunuh telah terluka.
Lalu dia memeluk Leng-ji.
"Kita harus pergi dari sini!"
"Tidak!"
Leng-ji tidak mau pergi dia terus memberontak. Sekarang mereka telah terkurung oleh cahaya golok dan pedang. Loo Cong melindunginya, dia masih terus memukul musuh sambil mundur dan berkata.
"Hari-hari akan datang masih panjang, kalau sekarang kita tidak pergi, selamanya kita tidak akan bisa pergi dari sini!"
Leng-ji masih memberontak.
Mo Ki-thian membentak dan datang untuk menyerang lagi.
Golok aneh milik Loo Cong mengeluarkan cahaya asap seperti es serut, Mo Ki-thian terpaksa mundur beberapa langkah.
Dia juga telah melukai dua orang pembunuh dengan golok anehnya.
Wie Kai benar-benar tidak punya perasaan dia terus menyerang Loo Cong!
Itu alasannya Leng-ji tidak ingin hidup lagi.
Dia ingin mati bersama Wie Kai.
Leng-ji tidak pernah terlihat begitu ganas, Pembunuh yang mati di tangannya sudah ada 4-5 orang.
Tapi orang yang ingin dibunuhnya adalah Wie Kai dan putri Kao Tong.
Loo Cong sadar kalau mereka tidak pergi sekarang begitu tenaga mereka habis mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk melarikan diri lagi, dia membunuh dua orang lagi dan meninggalkan garis pisau di pinggang Mo Ki-thian.
Lalu dari belakang dia memeluk pinggang Leng-ji dan berkata.
"Kita pergi!"
"Tidak!"
Leng-ji menjawab dengan dingin. Tiba-tiba Loo Cong menotok nadi di belakang leher Leng-ji dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Jangan biarkan mereka kabur!"
Teriak putri Kao Tong Loo Cong meloncat masuk ke dalam rumah melalui atap yang telah berlubang lalu naik ke atas genting.
Atap rumah di sini memang sudah banyak lubangnya karena sudah usang.
Mo Ki-thian dan Wie Kai masih mengejar masuk.
Empat pembunuh lainnya juga ikut masuk.
Loo Cong menjepit Leng-ji yang sudah pingsan lalu meloncat, mereka sudah berada di atap rumah yang lain.
Pembunuh masih mengikuti mereka dari belakang, mereka ikut meloncat karena menginginkan banyak emas, bermain dengan nyawa pun tidak masalah!
Tapi ilmu meringankan tubuh mereka terlalu buruk dan atap rumah memang sudah bobrok, dari 4 orang ada 3 orang yang terjatuh.
Ketika Mo Ki-thian, Wie Kai, dan lain-lainnya mengejar sampai di sana, Loo Cong dan Leng-ji entah sudah pergi ke arah mana.
Hanya terdengar derap kaki kuda yang berlari menjauh.
Itulah kelompok kuda milik Wie Kai dan putri Kao Tong.
-ooo0dw0oooBAB IV Suara orang memukul ikan kayu (Bhoki) terdengar.
(Bhoki biasa dipukul di kuil oleh hweesio atau Nikoh).
Suara itu tidak terlalu keras, tapi setiap ketukan yang keluar masuk ke dalam telinga dan bisa tersebar hingga beberapa Li jauhnya.
Sekarang waktunya lonceng kuil berdentang, membuat orang sadar dan membuat orang berpikir dalam.
Manusia hidup di dunia.
Sering bertarung dan berkelahi Demi apa sebenarnya semua itu?
Apakah demi cinta?
Apakah demi nama dan keuntungan?
Atau demi balas dendam?
Suara ketukan ikan kayu bisa menjawab semua itu tapi mereka berdua belum tentu mengerti.
Leng-ji telungkup di anak tangga.
Dia ingin masuk ke dalam kuil.
Pintu kecil tertutup rapat.
Loo Cong berdiri di tempat agak jauh meng-awasi situasi.
Loo Cong tidak tahu mengapa manusia harus hidup?
Apa lagi sekarang dia kewalahan dan tidak karuan, seperti binatang yang terjebak.
Karena kata 'cinta', huruf ini dia bisa bertahan di dunia ini dan huruf 'bakat' akan menghiasi alam semesta...
Loo Cong berkata pelan-pelan kepada dirinya sendiri.
Dia percaya huruf-huruf itu dari dulu hingga sekarang semua terangkai dari air mata dan darah.
Cinta di dunia ini juga bisa dikatakan terangkai dari darah dan air mata.
Sebuah rumah kecil yang terletak di gunung.
Di sekeliling tumbuh pohon-pohon hijau.
Seperti jaman purba.
Leng-ji dan Loo Cong terus melarikan diri.
Mereka bukan hanya harus berlari, mereka juga masih harus bermain umpet-umpetan dengan musuh.
Mereka harus berhati-hati, sebab sekali salah menduga, pasti akan terjadi pertarungan sengit lagi.
Sekarang Loo Cong sedang duduk di atas batu di luar rumah Dia sedang berpikir.
Leng-ji sudah berubah seperti orang asing.
Sehari berkata tidak lebih dari 2 kalimat.
Apakah Siau-kai sudah gila?
Apakah dia ular berkepala dua?
Apakah dia dan Leng-ji salah menilai dirinya?
Dia selalu mengira dengan kata-kata, bisa membaca wajah, walau tidak tahu isi hati..Untuk melukiskan keadaan Wie Kai bahwa semua itu tidak benar.
Apakah karena kecantikan dan kegenitan putri Kao Tong Atau karena wibawa, kekuatan, dan keun-tungan besar hingga membuatnya tunduk kepada Seng Kong-kong?
Walaupun Siau-loo berpikir sampai kepalanya pecah, dia tetap tidak mengerti.
Dari dalam rumah keluar suara pecutan.
Mengapa terdengar suara pecutan?
Siau-loo terkejut dan meloncat bangki t.
Apakah putri Kao Tong dan Mo Ki-thian datang lagi?
Dia segera berlari masuk ke dalam rumah, hatinya menjadi dingin.
Ternyata Leng-ji sedang memecut dirinya.
Kebencian yang paling menakutkan di dunia ini bukan membenci orang lain, melainkan membenci diri sendiri.
Leng-ji tidak mengerti apa salahnya.
Hanya memecut dirinya sendiri baru bisa mengurangi rasa sakit di dalam hatinya.
Siau-loo masuk dan berteriak.
"Leng-ji... apa yang kau lakukan?"
Begitu Siau-loo mendekat dia terkena pecutan Leng-ji. Tapi Siau-loo tetap memeluknya. Leng-ji memberontak.
"Leng-ji... Leng-ji..."
Loo Cong seperti tertawa kepada seorang anak, menepuk-nepuk pundaknya. Leng-ji seperti gila terus memberontak.
"Aku tidak percaya... tidak percaya!"
"Leng-ji, percaya atau tidak, kita tetap harus meneruskan kehidupan dan harus membuat kehidupan menjadi lebih baik!"
"Aku tidak percaya!"
Leng-ji berteriak histeris.
"Kalau kau mau membuktikan ini, kau harus berani hidup lebih baik!"
"Aku tidak percaya... aku tidak percaya..."
Dia tetap berteriak histeris, kalau terus begitu dia bisa gila. Kejadian ini memang membuat orang tidak gampang percaya. Loo Cong dengan pelan berkata.
"Aku juga tidak percaya! Leng-ji, emas harus dilebur dalam waktu lama, panah tidak mudah dilepaskan, mungkin..."
Leng-ji tidak mendengar dua kalimat yang diucapkan oleh Loo Cong.
Sekalipun dia mendengar mungkin dia tidak akan mengerti maksud kalima t itu.
Loo Cong seperti tertular oleh Leng-ji.
Dia sering minum arak.
Dia tahu arak akan membawanya ke dunia yang berbeda.
Arak akan membawanya terlepas dari kenyata-an.
Sepertinya dia sudah mempercayai arak yang bisa membuatnya buta.
Sekarang dia minum sendiri.
Di sisi telinganya dia seperti mendengar kata-kata Seng Kong-kong.
"Di dunia ini kalau laki-laki dan perempuan jatuh cinta, patut untuk dipertimbangkan!"
Apakah Seng Kong-kong mengerti seperti apa hubungan antara laki-laki dan perempuan?
Kalau di dalam semesta ini jumlah banyak yang mempunyai perasaan yang patut dipertimbangkan, mungkin hanya cinta, bukan laki-laki dan perempuan.
Tentu saja Loo Cong tidak mengerti prinsip yang begitu dalam.
Di rumah La-ma masih terang benderang.
Putri Kao Tong berada di dalam kamar rahasia yang penuh dengan corak budaya.
Kata Wie Kai.
"Aku tidak setuju dengan kata-kata Kong-kong tadi!"
"Kata-kata yang mana?"
"Di dunia jika laki-laki dan perempuan terikat cinta patut untuk dipertimbangkan!"
Putri Kao Tong setengah bersandar di ranjang besar.
Wie Kai berbaring sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
Terhadap hal di mana dulu dia penah melari-kan diri dalam ingatan putri Kao Tong semua itu sudah memudar.
Kebencian antara laki-laki dan perempuan begitu naik ke atas ranjang sangat mungkin akan mencair.
Paling tidak untuk sementara waktu bisa di-tutup dan dikesampingkan dulu.
Apa lagi Wie Kai adalah orang yang pandai bermain cinta!
"Dialah Kong-kong, itulah cara dia melatih orang untuk menghadapi perubahan yang tidak biasa, dia benar-benar membutuhkan orang berbakat!"
Kata putri Kao Tong.
"Aku bukan orang biasa?"
Tanya Wie Kai. Mata genit putri Kao Tong terus berputar.
"Kau memang bukan orang biasa, kalau tidak, aku tidak akan memaksa Kong-kong membunuhmu!"
"Dimana kau berada saat melihat kami menjalankan eksekusi?"
"Di ruangan rahasia!"
"Bagaimana kalau kepalaku benar-benar dipenggal?"
"Apakah benar tidak mau dipenggal?"
"Dari mana kau melihat aku bukan orang biasa?"
"Kau... kapan aku bilang kau bukan orang biasa?"
Putri Gai Tang balik bertanya.
"Kata-katamu sungguh tidak berpangkal!"
Dengan jari telunjuknya putri Kao Tong membereskan rambut Wie Kai.
"Aku ingin memenggal laki-laki yang tidak berperasaan!"
Kegenitannya benar-benar membuat laki-laki tidak bisa menahan diri.
Semua perempuan di dunia ini sama saja, apakah dia adalah si cantik dari selatan atau gadis biasa, atau putri orang kaya, atau gadis-gadis dari perbatasan.
Asalkan dia perempuan, dari lahir sudah mempunyai naluri untuk membujuk dan merayu laki-laki.
"Mengapa kau menatapku terus?"
Tanya putri Kao Tong.
"Kalau bulan sedang terang, kita harus melihat ke atas, kalau gelap kita menundukkan kepala!"
"Mengapa waktu menikmati keindahan bulan purnama malah bermain bulan?"
"Menikmati, kata ini dipakai di sini terlalu lemah lembut, lebih baik dikatakan 'bermain', itu lebih menarik!"
"Aku tidak mengerti!"
Kata putri Kao Tong..
"Aku ingin tanya, kalau bermain di atas ranjang kita saling sopan seperti tamu, apakah akan seru?"
Putri Kao Tong memijit hidungnya.
Wie Kai sudah menarik putri Kao Tong ke dalam pelukannya.
Dan mereka bergulingan di atas ranjang.
Anak muda, laki-laki dan perempuan bila sudah menjadi sepasang kekasih, banyak cara bermain cumbu-cumbuan!
Baju putri Kao Tong terlalu tipis, hampir tembus pandang.
Terlihat dua gunung tinggi dan montok.
Bagi seorang perempuan Tibet hal seperti ini memang jarang terlihat.
Pantas dia begitu berharap dan begitu genit.
Wie Kai menggelitik ketiaknya.
Dia tertawa genit dan menghindar.
Wie Kai menarik kembali tangannya.
"Kalau dari awal aku tahu kau begitu tidak berperasaan, aku lebih memilih dipenggal!"
Sambil terengah-engah putri Kao Tong membereskan rambut panjangnya dan bertanya.
"Mengapa?"
"Bersekongkol dengan La-ma, mengacaukan ibu kota, dan berencana memberontak, bila tertangkap oleh pihak kerajaan, tetap akan dihukum mati..."
Kata Wie Kai.
"Bagaimana kalau kita berhasil?"
Pelan-pelan Wie Kai mengelus-elus paha putri Kao Tong. Tiba-tiba putri Kao Tong memeluknya.
"Bocah! Kau memang pandai!"
"Aku?"
"Betul, aku tidak bisa mengungkapkannya, yang pasti kau benar-benar mempesona!"
Tangan Wie Kai mulai bergerak-gerak lagi. Putri Kao Tong mencengkeram tangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?"
"Pertanyaan apa?"
"Bagaimana kalau kita berhasil?"
"Apakah bisa berhasil?"
"Mengapa kau tidak percaya kepadaku?"
Tiba-tiba Wie Kai membalikkan tubuh dan menindih putri Kao Tong lalu berkata.
"Nanti kau dari seorang putri menjadi seorang ratu, aku adalah kesatria yang akan menjadi suamimu!"
"Ha ha ha!!..."
Kali ini putri yang membalikkan tubuh menindih Wie Kai.
"aku benar-benar ingin memenggal kepalamu!"
Wie Kai balik menindih lagi.
"Kalau kepalaku benar-benar dipenggal siapa yang di atas rubuhmu sekarang?"
Putri Kao Tong memijit hidung Wie Kai.
Wie Kai mengelus-elus paha putri Kao Tong.
Keindahan di dalam kamar semakin kental.
Keindahan di gunung lebih indah lagi.
Bunga-bunga liar entah bernama apa.
Mereka mekar dengan indahnya.
Burung-burung tampak berpasangan.
Warna hijau di gunung mulai terlihat.
Bumi yang luas penuh dengan kehidupan.
Wajah Leng-ji sangat pucat, sinar matanya pun hilang.
Semua seperti berhenti di musim dingin.
Kebencian yang terus melanda.
Kesedihan tanpa batas terus menggerogoti hati Leng-ji.
Kalau dia bisa mengerti mengapa semua terjadi, dia akan segera mati.
Tapi sebelum mengerti dia tidak akan mati.
Tapi mata memang mudah saja melihat, hidup malah terasa lebih sulit.
Bila seseorang merasa hidup ini sulit, coba kau pikir, hidup seperti apa yang akan dia jalankan?
Sekarang Leng-ji berada di hutan bambu.
Saat merasa benci dengan sekuat tenaga dia akan menepisbambu.
Dia harus menyiksa dirinya mengurangi beban di hatinya.
sendiri, baru bisa Tiba-tiba dia mematahkan sebatang pohon bambu besar.
Dia menjepit tangannya di tengah-tengah bam-bu itu.
Darah mengalir keluar melalui bambu.
Dia masih mengira semua itu belum cukup untuk membuatnya sakit.
Leng-ji ingin merusak sepasang tangannya.
Sepasang tangan yang pernah membuat iri dan kagum banyak gadis!
Tapi sekarang dia malah tidak menyayangi sepasang tangannya ini.
Berkali-kali dia melakukannya.
Sambil bicara sendiri.
"Lupakan dia... lupakan dia..."
Dia pingsan.
Keadaan Loo Cong tidak lebih baik dari Leng-ji.
Karena dia tidak tahu harus dengan cara apa menghadapi Leng-ji.
Keadaan Leng-ji membuatnya sedih dan sakit.
Walaupun dia mati tetap tidak akan bisa mengobati luka hati Leng-ji.
Loo Cong minum araknya lagi.
Hanya arak yang bisa membuatnya menikmati waktu yang sebentar ini.
Dari hutan terdengar suara amarah.
Juga bisa terlihat pohon bambu tinggi ber-goyanggoyang dengan cepat.
Leng-ji seperti sudah gila.
Dia tidak mau merepotkan Siau-loo lagi.
Leng-ji sangat tahu di hati Siau-loo yang ter-dalam terkubur cinta yang dalam, cintanya tidak kalah dengan Wie Kai.
Tapi Leng-ji tidak bisa menerima cintanya.
Cinta yang bisa diterimanya sudah berada dalam pelukan orang lain.
Mengapa Langit begitu kejam?
Dia meloncat dan menabrakkan diri ke pohon bambu.
Bambu yang batangnya sebesar mangkuk.
Tubuhnya terpental dan terlempar kebawah.
Tangannya sudah berdarah, bajunya pun banyak yang koyak.
Berkali-kali dia menabrakkan tubuhnya dan berkali-kali pula terpental dan terbanting ke bawah.
Ada bambu yang ditabrak hingga patah.
Tangannya berdarah, sudut mulutnya pun keluar darah, terlihat dia sudah terluka dalam.
Dia terus menabrakkan diri dan terlempar.
Tubuhnya terasa semakin sakit, tapi dia semakin tidak berhenti.
Lebih baik aku mati!
Di dunia ini apa pun bisa terjadi.
Perempuan dari luar bangsa.
Uangnya banyak dan kekuasaannya hebat, masih ada perjanjian antara Kong-kong dan perempuan itu yang digunakan sebagai umpan.
Siau-kai akan melakukan apa pun.
Sudahlah, lebih baik aku mati!
Siau-loo terhuyung-huyung masuk hutan.
Leng-ji baru terpental dan terlempar ke bawah.
Semua itu membuat hati Siau-loo sakit.
"Leng-ji... Leng-ji... jangan..."
Teriak Soau-loo histeris.
Leng-ji terpental lagi.
Luka dalam Leng-ji sangat menghabiskan banyak tenaga.
berat, dia sudah Sorot matanya tersiksa dan pandangannya lurus.
Dia berhenti di sebatang pohon bambu yang sudah patah.
Patahan pohon bambu itu sangat tajam.
Tiba-tiba dia berhenti memikirkan untuk menabrakkan diri ke pohon bambu tinggi itu.
Siau-loo hampir mabuk.
Dia datang dengan terhuyung-huyung sambil membawa golok anehnya.
Tadinya dia ingin menggendong Leng-ji.
Dia seorang laki-laki, dia tidak akan memikir-kan kematian.
Hanya kadang-kadang dia merasa tertarik.
Jika bisa mati bersama Leng-ji di sini...
Bukankah ini hal yang tidak pernah dia pikir-kan?
Tiba-tiba Leng-ji datang sambil menabrakkan diri lagi.
Saat akan terlempar ke bawah, Siau-loo merasa hatinya bergetar, sebab di bawah ada potongan bambu yang sangat tajam.
Dalam waktu yang menggulingkan diri.
sangat mendesak Siau-loo Golok anehnya menyapu ke depan.
Dan bambu yang lancip sudah ditebang rata oleh Loo Cong.
Hampir dalam waktu bersamaan Leng-ji ter jatuh.
di atasnya.
"Leng-ji..."
Siau-loo berteriak histeris.
"untuk apa kau melakukan semua ini?"
Leng-ji tidak menjawab apa-apa.
Sudut mulutnya masih mengeluarkan darah, air mata masih mengalir di wajahnya yang cantik.
Loo Cong menggendong sambil memungut sebotol obat.
Di bawah sinar lampu.
Leng-ji telungkup di atas ranjang.
Punggung-nya telajang karena penuh dengan luka.
Wajahnya bersimbah air mata.
Punggung penuh luka, siapa pun tidak tega melihatnya.
Pundaknya juga terluka dan di beberapa tempat menjadi merah keunguan karena darah yang membeku.
Tangan Loo Cong mengobati lukanya.
sampai gemetar saat sedang "Kau benar-benar pemberani dan percaya diri!"
Leng-ji tidak menjawab.
"Kalau kau tidak mempunyai keberanian dan rasa percaya diri, kau tidak akan berani melarikan diri."
Leng-ji tetap diam.
"Perasaan manusia bisa berubah, jalan di dunia ini berliku-liku, bila sudah tidak ada jalan, kau harus bisa mundur, bila jalan masih ada teruslah berjalan, kita harus berjalan dengan cepat, Leng-ji, kau adalah gadis pintar."
"Siapa bilang aku pintar?"
Leng-ji bertanya dengan bingung.
"Kalau kau bukan gadis pintar, di dunia ini tidak akan ada orang yang lebih pintar lagi."
"Kalau aku pintar mana mungkin aku bisa salah menilai orang!"
"Leng-ji, masalah itu jangan di ungkit dulu untuk sementara waktu!"
"Sebenarnya aku pun tidak mau mengungkit masalah ini, tapi kalau kau menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan?"
"Leng-ji, apa yang kukatakan ini mungkin akan kau anggap teori saja, tapi aku tetap harus membicara-kan, orang yang ingin menaklukkan siluman harus bisa menaklukan hatinya sendiri dulu, kalau hati terus bergejolak siluman akan tahu, menaklukan mereka harus dengan nafas kuat dan tenang, maka siluman tidak akan menyerang balik kepada kita!"
Lama Leng-ji baru menarik nafas panjang.
"Siau-loo, kau benar-benar guru dan teman yang baik!"
Siau-loo tertawa kecut.
"Aku tahu, aku sendiri juga sulit menaklukkan diriku, tapi jangan anggap kita tidak sanggup lantas menularkan kepada orang lain!"
"Siau-loo, maafkan merepotkanmu!"
Aku, aku benar-benar telah Kesedihan Siau-loo sudah hilang separuh lebih karena kata-kata iniDia mulai mengobati luka di tangan Leng-ji.
"Leng-ji, kalau kau kasihan kepadaku, jangan menyiksa dirimu lagi!"
Leng-ji mengangguk.
Di Eng-hong-pie-ya.
Malam sudah larut.
Di pekarangan tidak ada suara apa pun.
Hanya ada Seng Kong-kong dan Mo Ki-thian.
Seng Yan-kong sedang berjalan mondar mandir, dia tampak sedang berpikir.
Mo Ki-thian berdiri di sisinya menunggu.
Dia selalu seperti itu.
Di mana pun Seng Yan-kong berada, dia selalu berada di sisinya.
Apa pun yang diperintahkan oleh Seng Yan-kong, dia selalu mengiyakan.
Dia tidak perlu berpikir dan mengambil keputusan.
Seng Yan-kong akan memikirkan mewakili dia mengambil keputusan.
semuanya dan Mo Ki-thian adalah orang seperti itu.
Seng Kong-kong percaya kepadanya.
Dia dipercaya karena dia tidak pernah punya pendapat sendiri!
Artinya tidak ada rasa percaya diri.
Katanya orang yang ingin menjadi hweesio harus bisa melakukan semua hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, sesudah itu baru bisa mencari hal lain.
Tapi ingin menjadi manusia biasa tidak bisa seperti itu, harus mempunyai pendapat sendiri.
Tiba-tiba Seng Yan-kong berhenti berjalan, dia melihat langit.
Langit penuh dengan bintang, tidak ada yang aneh.
Tapi Mo Ki-thian pasti mengira di langit ada sesuatu, ada rahasia.
Kong-kong bisa melihatnya.
Atau dewa-dewa di langit sedang melambaikan tangan kepada Kong-kong.
Atau Kong-kong adalah dewa yang diutus langit?
Kong-kong bukan manusia biasa, pandangan ini sudah dari awal ditanamkan dalam pikirannya.
Jika dewa yang diutus dari langit, apa yang dia lakukan pasti bukan hal biasa.
Mo Ki-thian sangat percaya.
Bila seseorang sudah menjadi dewa, ayam dan anjing yang dipeliharanya akan ikut menjadi dewa.
Maka dia sedang menunggu datangnya hari itu.
Di dunia ini Kong-kong akan melakukan hal besarbesaran dan berkobar-kobar.
Mo Ki-thian memang bukan orang pintar dan berbakat, dalam beberapa waktu ini dia mempunyai banyak masalah kecil.
Hubungan Kong-kong dan putri Kao Tong sangat akrab.
Hubungannya dengan rumah La-ma pun akrab.
Kongkong sedang melakukan hal penting.
"Ki-thian!"
Seng Yan-kong berteriak.
"Ada!"
"Menurutmu, kali ini kepulangan Wie Kai..."
Mo Kithian terpaku.
Karena dia benar-benar tidak menyukai Wie Kai.
Perasaan ini mulai ada ketika Wie Kai datang ke Enghong-pie-ya.
Dan tidak sukanya bukan hanya sekarang saja tapi sudah sangat lama.
Wie Kai pintar, dia sangat berbakat dalam ilmu silat.
Dia juga ceria, berjiwa besar, tampan pula.
Semua perempuan menyukainya.
Awal-awalnya yang mengetahui hubungan akrab Wie Kai dengan Leng-ji juga dia.
Yang melapor dan mengadu kepada Kong-kong juga dia.
Agar Kong-kong percaya, dia diam-diam membawa Kong-kong melihat Wie Kai dan Leng-ji yang bertemu secara rahasia, maka Kong-kong segera menyusun rencana merebut harta benda milik Seng-yan-koan-nu, dia menjadi lakon penting.
Mo Ki-thian bukan orang yang selalu berada di bawah orang lain.
Kadang-kadang dia bisa pintar.
Dia tahu setelah Kong-kong melihat pertemuan antara kekasih itu pasti akan ada reaksi!
Karena paman Mo Ki-thian juga seorang kasim.
Dia sangat tahu bagaimana kehidupan pribadi seorang kasim dan isi hati mereka.
Maka rasa sayang Seng Yan-kong kepada Wie Kai dan Ling segera hancur.
Setelah berhasil merebut harta dengan tuduhan kejahatan kepada mereka maka mereka diganjar hukuman penggal.
Kong-kong masih melihatlangit.
"Bagaimana pendapatmu, Ki-thian?"
Dia bertanya.
"Kong-kong, aku merasa seorang Wie Kai terlalu licik!"
"Oh!"
"Dan aku menganggap dengan kembalinya dia seorang diri, ada sedikit janggal!"
"Janggal?"
"Betul, Kong-kong!"
"Coba kau jelaskan lebih detail!"
"Baik, Kong-kong!"
Mo Ki-thian mendekati Kong-kong, sambil membungkukkan tubuh dia berkata.
"Lapor Kongkong, aku sangat mengerti seorang Wie Kai."
"Maka aku minta pendapatmu!"
"Kong-kong, dengan adanya hubungan antara Wie Kai dan Leng-ji, ditambah dengan sifat Wie Kai, aku yakin tidak mungkin dia mengkhianati Leng-ji!"
Alis Seng Yan-kong segera berkerut. Dia benar-benar tidak bisa membantah kata-kata Mo Kithian.
"Tapi mengapa setelah kabur dari Eng-hong-pie-ya, seharusnya dia bebas, tapi mengapa dia kembali dengan menempuh bahaya?"
Semua orang tidak mengetahui jawabannya.
Siapa yang menjamin setelah kembali ke Pie-ya, Wie Kai masih bisa mempunyai kesempatan untuk hidup lagi?
Tapi Seng Yan-kong tetap menghargai pen-dapat Mo Kithian.
Karena Mo Ki-thian pernah berkata.
"Siau-loo adalah anak petani dan dia sangat lugu."
Tidak lama kemudian orang yang diperintah-kan mencari Siau-loo dan Leng-ji menemukan mereka di sebuah desa. Walaupun akhirnya mereka tetap bisa kabur.
"Kata-katamu memang tidak salah. Hanya saja mengapa dia kembali lagi kemari?"
Tanya Seng Kong-kong.
"Dia mempunyai rencana busuk!"
"Rencana busuk seperti apa?"
"Aku... aku tidak berani menebaknya!"
"Apa kau menduga dia benar-benar menyesal dan bosan dikejar-kejar?"
Mo Ki-thian berpikir sebentar.
"Kong-kong, aku selalu merasa dia mempunyai rencana terselubung dan bukan karena cintanya kepada putri Kao Tong."
"Apakah kau curiga dia mempunyai suatu hubungan dengan putri Kao Tong..."
Tanya Seng Yan-kong. Mo Ki-thian bukan orang bodoh, hubungan Kong-kong dan putri Kao Tong juga dekat rnaka dia tidak banyak bercerita tentang hal ini.
"Kong-kong, menebak!"
Hambamu tidak berani sembarangan "Oh!..."
Seng Yan-kong mulai mondar mandir lagi.
Ini benar-benar masalah yang harus diperhatikan.
Terlihat Wie Kai benar-benar bosan, bosan terus berlari dan dia ingin mengubah kesalahannya.
Ditambah lagi dengan adanya jaminan dari putri Kao Tong, maka Kong-kong pun memaafkan Wie Kai.
Dia harus mengikuti kemauan putri Kao Tong.
"Saat kau, Wie Kai, dan putri Kao Tong pergi menangkap Loo Cong dan Leng-ji, apakah kau melihat ada yang lain pada Wie Kai?"
Dengan gugup Mo Ki-thian menjawab.
"Kong-kong, waktu itu aku tidak melihat ada kelainan, Wie Kai pun seperti benar-benar bertarung dengan Loo Cong, tapi kalau dia melepaskan mereka, orang luar sulit melihatnya."
"Oh!...."
"Dan mereka benar-benar bisa kabur!"
Seng Kong-kong mengangguk lagi.
Paling sedikit dia menganggap pendapat Mo Ki-thian benar, walau tidak ada bukti sedikit pun.
Waktu itu Loo Cong dan Leng-ji berebut seekor kuda.
Sampai-sampai Loo Cong menotok Leng-ji hingga pingsan lalu membawanya pergi.
Dalam keada-an seperti itu Wie Kai sepertinya tidak berusaha sekuat tenaga untuk menghadang.
Seng Kong-kong tahu bahwa di antara Wie Kai dan Leng-ji sudah terjadi hubungan suami istri.
Walaupun akhirnya Wie Kai mengkhianati Leng-ji, dia tidak akan bertindak terlalu kejam dan ini adalah hal yang wajar.
Atau karena Wie Kai melihat Leng-ji dan Loo Cong, dia jadi marah dan pergi, tapi tidak akan dalam waktu singkat berubah total.
Perasaan hangat bukan orang biasa yang bisa memberi kesan.
"Ki-thian!"
Panggil Seng Kong-kong.
"Hamba di sini!"
"Pasang meja untuk sembahyang!"
"Pasang di sebelah mana?"
"Di kebun ini."
"Siap!"
Mo Ki-thian membalikkan tubuh dan pergi.
Meja senbahyang sudah siap.
Tidak ada plakat hanya ada lilin besar, arak, dan buah-buahan.
Seng Kong-kong memasang dupa dan berlutut untuk sembahyang, kemudian berdiri untuk berdoa.
Apa isi doadoanya?
Semua ini hanya Seng Kong-kong sendiri yang tahu.
Setelah lama dia baru menuang arak katanya.
"Aku pasti bisa menangkap kalian..."
Nada terakhirnya seperti membeku di udara.
Tapi Mo Ki-thian menganggap bila Kong-kong bisa mengeluarkan kalimat seperti itu, dia pasti bisa melakukannya, karena setiap perkataan Kong-kong, dia tidak pernah merasa curiga dan percaya begitu saja.
Leng-ji dan Loo Cong masih melarikan diri.
Mereka terus berganti lingkungan.
Siau-loo menggendongnya naik gunung.
Juga membawanya menyeberangi sungai.
Di atas gunung terlihat jejak kaki mereka.
Di sungai juga terpantul bayangan mereka.
Di bawah terik sinar matahari.
Di bawah siraman hujan dan terpaan angin.
Mereka saling menghibur dan saling memberi semangat.
Senang dan duka ditanggung bersama, mereka tidak pernah meninggalkan lawan.
Siau-loo tidak pernah mengomel.
Tapi Leng-ji harus sering menghindari sorot mata Siauloo.
Sorot mata Siau-loo lurus dan tidak mengandung sesuatu.
Tapi sikap perhatian dan mengasihi membuat Leng-ji tertekan.
Leng-ji takut dia akan luluh karena kasih sayangnya.
Manusia adalah makhluk yang paling penuh dengan perasaan.
Sungai ini lebarnya hanya sekitar 30 tombak.
Tidak ada perahu untuk menyeberang, tapi sungainya tampak tidak dalam.
Mereka sering menyeberang sungai seperti ini.
Siau-loo menggendongnya lalu selangkah selangkah berjalan ke tengah-tengah sungai.
demi Air sungai mengalir sangat keras dan semakin dalam, pinggang Siau-loo sudah terendam air.
Leng-ji sama sekali tidak bisa berenang, dia bertanya.
"Siau-loo, apakah airnya akan sampai ke atas kepala?"
"Aku tidak tahu air sungai ini sedalam apa, tapi kalau sampai terendam melebihi kepala, itu tidak mungkin."
"Kalau kita terpeleset, bagaimana?"
"Jangan takut, ada aku!"
"Apakah benar kau bisa berenang?"
"Disebut bisa juga tidak, tapi tidak akan membuatmu berada dalam bahaya.
Tiba-tiba mereka terpeleset dan tenggelam.
Leng-ji berteriak.
Tapi air hanya merendam sampai ke dada Leng-ji, Siauloo terapung lagi dan terus bergeser ke seberang sungai.
"Siau-loo, sepertinya dibandingkan tadi."
Kau berjalan lebih cepat "Karena aku sedang berenang maka kakiku menginjak air."
"Menginjak air?"
Leng-ji melihat ke bawah ternyata dia sedang maju sedikit demi sedikit, air pun hanya setinggi dada Siau-loo. Karena kedua kaki Siau-loo sedang bergoyang-goyang di bawah air.
"Siau-loo, tidak kusangka kau menguasai teknik seperti ini."
"Ini tidak ada apa-apanya!"
"Tidak, kau memangl ihai!"
"Sebenarnya teknik berenang Siau-kai lebih bagus dariku!"
"Tidak! Jangan bicarakan tentang dia lagi!"
Leng-ji memukulnya.
"Baik, kita buat perjanjian, mulut tidak bicara di dalam hati pun jangan memikirkan dia,"
Kata Siau-loo.
"Baik, kita berjanji!"
Di depan hutan ada bayangan berkelebat tapi mereka berdua tidak melihatnya.
Untuk mengusir rasa sepi Siau-loo sering mengajarkan pengetahuan tentang bertani kepada Leng-jiMatahari belum terbit mereka sudah berangkat, udara belum panas.
Mereka berjalan di gunung sambil mengobrol.
"Leng-ji, tentang cara bercocok tanam, apakah kau masih ingat?"
"Aku selalu lupa, aku sangat bodoh!' "Di antara kita bertiga, akulah yang paling bodoh!"
Kata Siau-loo.
"Tidak, kau tidak bodoh!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Melihatmu melayani Seng Kong-kong d< mengatur kami melarikan diri terbukti kalau kau pin* dan berbakat!"
Siau-loo tertawa, dia tidak bicara apa-apa lagi.
"Siau-loo, kau tiba-tiba seperti memikirkan sesuatu?"
"Kalau aku sepintar Siau-kai, alangkah baik-nya!"
"Kau harus didenda sebab di antara kita sudah ada perjanjian, tidak membicarakan tentang dia lagi!"
"Kau juga didenda kepada dirimu sendiri!"
Leng-ji tibatiba menarik nafas panjang!
-ooo0dw0ooo-BAGIAN IV BAB I Sebuah sungai menghadang lagi di depan.
Sepanjang perjalanan mereka sudah melewati banyak sungai.
Tapi sungai ini sangat lebar juga terlihat dalam.
Leng-ji mencuci tangan dan membasuh muka-nya ditepi sungai.
Karena siang malam terus melarikan diri, Leng-ji sadar sekarang dia sudah bukan Leng-ji yang dulu lagi.
Dia melihat bayangannya di permukaan air.
Rambutnya bersemangat.
berantakan, kedua matanya tidak Wajahnya tidak seperti dulu lembut dan bercahaya.
Sekarang dia kurus.
Sekarang dia bukan perempuan montok.
Sekarang dia benar-benar terlihat kurus.
Air sungai sangat dingin, setelah mencuci muka dia merasa lebih nyaman dan segar.
"Leng-ji, duduklah sebentar di sini ber-istirahat."
"Bagaimana denganmu?"
Loo Cong melihat sekeliling.
"Sebenarnya di sini ada perahu untuk menyeberang!"
"Betul, pasti ada!"
"Coba ku lihat ke sebelah sana, di sana seperti-nya ada pelabuhan kecil."
Sungai itu lebarnya 30 tombak, lebih, apa lagi kalau sedang musim hujan bisa sampai 60 tombak lebih.
Seharusnya ada perahu untuk menyeberang.
Loo Cong berjalan ke sebuah pohon bambu di sana.
Dia menoleh melihat Leng-ji masih duduk.
Sekali-sekali membersihkan wajahnya dengan lengan baju.
Udara terasa panas Matahari berada di tengah-tengah.
Dia sering berpikir.
'Kalau aku perempuan lemah seperti Leng-ji, apa yang akan kulakukan?' Kalau dia adalah Leng-ji, belum tentu dia lebih kuat darinya.
Maka Loo Cong melambaikan tangan, berteriak.
"Lengji... Leng-ji... kemarilah!"
Leng-ji menoleh. Dia terlalu lelah, sesudah duduk, dia begitu malas berdiri. Loo Cong harus beberapa kali memanggil, baru dia mau berdiri.
"Di sini ada pohon, udaranya lebih sejuk!"
Leng-ji berdiri dan berjalan ke sana.
Di sana memang ada tempat seperti pelabuhan kecil.
Loo Cong melihat ke dalam hutan bambu, dia merasa senang karena di sana ada sebuah sampan.
Ternyata bambu-bambu besar itu tumbuh di dalam air.
Hanya saja air di sini sangat dangkal, paling-paling dalamnya 3-4 kaki.
Di atas sampan ada seorang pak tua yang sedang tidur, dengkurannya terdengar jelas.
Loo Cong tertawa.
Orang yang hidup di sini lebih santai dibanding kan orang yang hidup di kota yang ramai.
Dia berpikir.
'Kalau masalahnya sudah selesai dan tidak dikejar-kejar lagi, dia ingin mencari tempat sepi dan indah, belajar kepada pak tua itu, bukankah itu adalah hal yang sangat menyenangkan?' "Siau-loo, ada apa?"
Leng-ji sud ah berada di belakangnya. Loo Cong menatap Leng-ji dan menunjuk ke arah sampan.
"Leng-ji, apakah kau mengagumi pak tua itu?"
"Benar, buat kita sekarang ini kehidupannya seperti dewa!"
"Hidupnya seperti hidup di luar dunia, apakah benar?"
"Benar membuat orang iri!"
Loo Cong membangunkan pak tua itu.
Dia belum begitu tua, paling-paling usianya bai sekitar 50 tahun.
Romannya sehat dan sangat bersemangat.
Dia menggosok-gosok matanya dan melihat orang yang ada di depannya lalu tertawa.
"Baik sekali! Ji-wie yang agung, apakah kalian berdua sudah lama menunggu?"
"Kamibaru tiba!"
"Ada yang datang berarti ada uang masuk, itu sangat baik!"
"Apakah biasanya jarang ada tamu yang menyeberangi sungai?"
"Benar, tempat terpencil seperti ini terkadang sehari hanya ada 2-3 orang, terkadang sehari penuh tidak ada yang menyeberang sama sekali!"
Dia mulai mendayung sampan. Setelah naik sampan, pak tua itu mulai mendayung dengan bambunya, lalu katanya.
"Kalian berdua adalah tamu yang jarang ada!"
"Apa artinya?"
Tanya Leng-ji.
"Aku sudah lama menunggu!"
Loo Cong, Leng-ji terkejut.
"Pak tua menunggu kami?"
Tanya Loo Cong.
"Benar,"
Pak tua itu sudah mendayung hingga keluar dari hutan, mereka mulai berada di tengah-tengah sungai, di sini dalamnya sekitar satu setengah tombak.
Karena bambu untuk mendayung panjangnya sekitar 3 tombakhanya separuhnya berada di atas air.
"Yang aku tunggu adalah tamu kaya seperti kalian berdua."
"Lo-pek, penampilan kami seperti ini, mengatakan kami berdua adalah tamu kaya?"
Mengapa Pak tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Anak muda, di dunia ini siapa yang punya harga jual lebih tinggi dari kalian?"
Loo Cong termangu lalu katanya.
"Lo-pek terlalu memuji!"
"Kalian berdua tidak perlu merendahkan diri, coba kau pikir, berapa harga jual seorang tuan muda kaya, pesilat muda, apakah bisa mencapai 10 ribu tail emas?"
Leng-ji dan Loo Cong terkejut.
Nyata Seng-yan-kong telah masuk sampai ke lubanglubang yang sangat kecil.
Sebenarnya bukan Seng-yan-kong yang bisa masuk ke lubang-lubang kecil.
Melainkan nilai 10 tail emas itu sangat menyilaukan, bisa bersinar hingga ke semua penjuru!
Loo Cong segera memegang goloknya, bersiap.
"Ternyata kau orang yang sengaja menunggu kami!"
"Di bawah kilauan uang puluhan ribu tail emas, bisa tidak sengaja, bisa juga disengaja!"
"Siapakah Tuan? Berani sekali mencegat kami, aku yakin kau bukan orang yang tidak bernama!"
"Kami bukan orang terkenal, kami dua bersaudara biasanya mengandalkan air mencari makan, ilmu silat kami tidak begitu tinggi, tapi ilmu di dalam air harus melihatbagaimana nasib kalian berdua!"
Wajah Leng-ji berubah. Tapi Loo Cong tetap dengan tenang tanyanya.
"Nama kalian berdua adalah..."
"Aku adalah ular air, In Hai, adikku adalah tikus air, In Kang!"
"Berarti ular dan tikus berada dalam satu sarang?"
"Apakah kau Loo Cong?"
"Benar!"
"Bocah, hargamu tidak sampai 5 ribu tail emas!"
"Oh ya?"
"Apakah perempuan itu Lim Leng-ji, Harganya 6 ribu tail emas!"
Perahu sudah berada di tengah-tengah sungai.
Bila melihat ke dasar sungai, air mengalir dengan cepat, warna airnya hijau tua, berarti airnya sangat dalam.
Loo Cong berencana menangkap hidup-hidup orang ini, agar semuanya menjadi lebih baik.
Tapi begitu Loo Cong bergerak In Hai mem-bawa bambu panjang itu langsung terjun ke dalam sungai lalu menghilang.
Perahu kecil itu mengikuti arus sungai mengalir ke hilir.
"Siau-loo, celaka!"
"Jangan takut, ada aku!"
"Siau-loo, aku sama sekali tidak bisa berenang!"
"Jangan jauh-jauh dariku, kedua orang itu punya nama jahat juga ganas, ilmu mereka di dalam air sangat bagus..."
Tiba-tiba bambu panjang datang dari dalam air.
Awalnya melubangi dasar perahu kemudian menye-rang mereka.
Loo Cong mencengkeram bambu itu.
Orang-orang yang ada di bawah air menarik dengan sekuat tenaga, sedangkan yang ada di atas tidak melepaskan cengkeramannya.
Perahu mulai tenggelam.
Leng-ji berteriak.
Loo Cong segera melepaskan cengkeramannya.
Dia segera memegang Leng-ji dan berkata.
"Kita pasti jatuh ke dalam air sungai begitu aku menyuruhmu menahan nafas, kau harus menahan nafasmu, tapi sebelumnya kau harus mengambil nafas dalam-dalam dulu."
"Siau-loo, walaupun aku mengambil nafas dalam-dalam, tapi tidak akan bisa bertahan lama!"
"Leng-ji, jangan takut, secepatnya aku akan keluar dari air dan membawamu ke permukaan air untuk mengambil nafas..."
Bambu datang lagi tapi dengan cepat ditarik kembali.
Sampan sudah dilubangi dengan 2 lubang besar, air segera masuk ke dalam perahu.
Sampan mulai tidak seimbang.
Orang yang tidak bisa berenang, di saat seperti ini pasti sangat takut kepada air.
Leng-ji mulai gemetar.
"Jangan takut, melakukannya..."
Mereka tidak akan mudah Sampan tiba-tiba miring.
"Leng-ji, aku akan menghitung 1.2.3, kita sama-sama meloncat ke dalam air dan berenang ke seberang sana. Kita sebisanya meloncat sejauh mungkin, kalau sudah jatuh ke dalam air, di dalam air ada aku!"
Mereka sekuat tenaga meloncat ke seberang sungai.
Yang pasti mereka meloncat ke dalam air yang mengalir, apa lagi dengan sampan yang hampir ter-guling sulit menjaga keseimbangan tubuh, juga sulit menggunakan tenaga.
Mereka meloncat tidak lebih dari 7 tombak lalu terjatuh ke dalam air.
Loo Cong cepat-cepat mencengkeram rubuh Leng-ji yang terus tenggelam.
Orang yang tidak bisa berenang begitu terjatuh ke dalam air cukup repot jika ingin menolongnya, orang itu akan sembarangan memukul dan menggapai-gapai sesuatu.
Kalau bukan orang yang berpengalaman menolong orang seperti itu dari dalam air, mungkin dia sendiri akan ikut tenggelam.
Loo Cong bukan orang seperti itu.
Loo Cong mencengkeram Leng-ji dan segera memberi tahu.
"Leng-ji, tanganmu jangan terus bergerak, kau harus percaya kepadaku, sekarang tahan nafas..."
Loo Cong melihat ada orang sedang mendekati mereka di dalam air, maka Loo Cong segera masuk ke dalam air lagi.
Ternyata orang itu adalah tikus air, In Kang, dia datang membawa golok dan berniat akan menyerang Leng-ji.
Loo Cong menghindari serangan ular air, In Hai dari belakang.
Loo Cong sadar Leng-ji tidak bisa bertahan lama di dalam air.
Maka dia menyerang In Kang dulu.
Dia melihat ilmu silat mereka tidak tinggi.
Tapi ilmu di dalam air mereka sangat hebat, Loo Cong masih kalah oleh mereka tapi perbedaannya tidak jauh.
In Kang ingin menghindar tapi sulit meng-hindari pukulan mautitu.
Golok aneh turun dan naik.
Ketiak kiri In Kang terluka, tangan kirinya hampir tertepis.
In Hai terkejut, pisau belatinya segera menye-rang dari belakang.
Loo Cong menghindar, dia terus naik ke atas.
Setelah muncul ke permukaan air Leng-ji terus terbatuk.
Karena menahan nafas terlalu lama dia minum air sungai itu.
"Leng-ji, sekali lagi tahan nafas!"
"Tidak, Siau-loo... aku akan mati kehabisan nafas dan minum air sampai mati!"
"Leng-ji, bertalianlah, tidak ada cara lain lagi?"
Terpaksa Leng-ji mengambil nafas dalam-dalam.
Sekali lagi mereka masuk ke dalam air.
Saat pisau belati In Hai datang, dia berniat menyabet kaki kanan Loo Cong.
Loo Cong menarik kakinya, In Hai tidak bisa menghentikan laju tubuhnya, dia naik ke permukaan.
Golok aneh milik Loo Cong ditarik dan di-dorong, tapi kakinya telah tertusuk oleh pisau belati.
Bertarung dengan golok di dalam air tidak bisa menepis atau menyapu, hanya bisa menarik dan mendorong, sebab terhalang oleh pusaran air.
Orang yang biasa bermain dengan air selalu menggunakan mayonet yang bisa melemahkan pusaran air.
Dua bersaudara ini seumur hidup mereka selalu berbuat kejahatan.
Orang yang mati dibunuh mereka di dalam air sudah banyak.
Tapi mereka bukan lawan Loo Cong.
Dalam waktu yang sangat singkat belatinya berhasil dipukul.
Bertarung dengan kekuatan tangan kekuatan-nya berbeda jauh dengan Loo Cong!
Begitu Golok aneh ditarik, leher In Hai terpotong separuh.
Leng-ji terus memuntahkan air di darat sana.
Dia minum banyak air.
"Leng-ji, aku benar-benar menyulitkanmu!"
"Siau-loo, kalau kau seperti aku tidak bisa berenang, apa yang akan terjadi?"
Loo Cong tertawa kecut.
Banyak kejadian di dunia ini yang sulit diduga.
Tapi mereka percaya yang di atas akan mem-beri jalan.
Seng Kong-kong dan putri Kao Tong semakin akrab.
Ini membuktikan kalau rencana mereka sudah berada pada tahap matang.
Seng Kong-kong adalah orang yang bisa bekerja mengurusi hal penting.
Maka semua rencananya berjalan sangatlancar.
Putri Kao Tong sedang berada di ruang rahasia Kongkong.
Dia duduk di sisi meja panjang, melihat Kong-kong sedang mengcap perjanjian yang ditulis di atas kertas.
Cap nya terbuat dari batu giok, bisa diketahui milik siapa.
Di atas sutra yang bercorak naga dan burung Hong berwarna kuning tua, terdapat bahasa Han dan bahasa Tibet.
Ke dua belah pihak siap menggunakan cap nya.
"Putri, setelah beberapa bulan kita bekerja keras baru sekarang ada hasilnya,"
Kata Seng Kong-kong. Putri Kao Tong merasa sangat senang, katanya.
"Yang jelas hubungan kita yang akrab baru terasa hari ini."
Seng Kong-kong membawa kain yang tertulis perjanjian katanya.
"Kita bersulang, pekerjaan kita berjalan lancar dan sukses!"
Saat mereka baru mengangkat cangkir.
Tiba-tiba Seng Kong-kong seperti melihat sesuatu.
Dia duduk tidak bergerak kemudian terbang ke atas.
Wie Kai sedang berdiri di teras, siap berlari.
Tapi Seng Kong-kong sudah turun dari atas dan menghadangnya.
Wie Kai sangat terkejut.
'Penjahat tua ini benar-benar tidak bisa di angga enteng,' pikirnya Mo Ki-thian segera datang menjilat.
Dia menangkap Wie Kai.
Keadaan benar-benar menyulitkan Wie Kai.
Dia tertangkap, dan bukti sudah ada di tangan.
Seng Kong-kong tertawa sinis.
Kalau tidak sengaja untuk apa diam-diam melihat.
Kalau bukan karena mengetahui rencana besar ini dan mengerti rencana ini, mengapa bisa kebetulan lewat di sini?
Kalau masalah ini sampai bocor sebelum terjadi, apa akibatnya?
Seng Kong-kong marah besar.
"Wie Kai, apa yang kau lakukan?"
"Cepat katakan!"
Bentak Mo Ki-thian.
Wie Kai membuka kedua tangannya, berarti dia tidak tahu apa-apa.
Dia juga menyatakan kalau sudah memaafkan dan tidak mencurigai dia lagi, memberinya kebebasan, mengapa dia tidak boleh lewat sini?
Tanpa perasaan Seng Kong-kong berkata.
"Kalau kau tidak bisa menjelaskan alasanmu berada di sini, aku akan membereskanmu sekarang juga!"
Tiba-tiba Wie Kai terpikir sebuah pertolongan.
Dia melihat putri Kao Tong.
Tapi sikap putri Kao Tong seperti menyalahkan dia yang terlalu mengurusi banyak hal, tidak tahu besar atau kecilnya permasalahan.
Banyak tempat Wie Kai bisa pergi, mengapa sengaja datang kemari?
Setiap saat dia bisa kemari, tapi mengapa sengaja datang di saat ini.
Melihat Wie Kai seperti itu putri Kao Tong pun mencemaskan keadaannya.
Putri Kao Tong khawatir, jika Wie Kai dipaksa berkata jujur, dia pun tidak akan bisa menolong Wie Kai lagi.
Sebab saat bercanda Wie Kai pernah berkata.
"Bersekongkol dengan La-ma membuat kerusuhan di ibu kota, bila tertangkap oleh pemerintah pasti akan mati..."
Putri Kao Tong mengira Wie Kai hanya iseng saja, diam-diam melihat juga mendengar. 'Wie Kai, kau benar-benar tidak tahu bahaya!' pikir putri Kao Tong. Wie Kai tertawa kecut.
"Apa yang akan kulakukan? Kali ini aku kembali ke sini, untung Kong-kong tidak memenggal-ku, malah memberikan tugas besar, budi ini belum terbalas, apa yang bisa kulakukan?"
"Ini bukan alasan tepat!"
Bentak Kong-kong. Mo Ki-thian mengayunkan tangannya ingin menampar, tapi Wie Kai menghindar. Mo Ki-thian terus membentak.
"Kau masih mau membantah?"
"Aku membantah apa? Putri menyuruhku datang ke sini untuk menjemputnya, apakah aku tidak boleh menunggu di sini?"
"Ini..."
Mo Ki-thian melihat putri Kao Tong Seng Kong-kong juga melihat putri Kao Tong.
Putri Kao sembarangan.
Tong tahu Wie Kai hanya bicara Tapi Wie Kai pandai dan pintar, walau sedikit menyimpang dari kebenaran.
Putri Kao Tong jadi semakin menyukainya.
Putri Kao Tong sudah tidak peduli pada banyak orang.
Wie Kai sudah menunjukkan hubungan mereka yang tidak biasa dan hati Wie Kai sudah beralih kepada nya.
Wie Kai tidak menutupi rasa cinta dan sikap setianya kepada putri Kao Tong, sekalipun di depan Kong-kong.
Seorang perempuan jika sudah mencintai laki-laki, dia bisa memaafkan semua kesalahannya, ter-masuk kebohongan juga kejahatan lainnya.
Seorang perempuan jika tidak mencintai, dia tidak akan peduli pada siapapun, sekalipun pernah menanam budi yang banyak kepadanya.
Sekarang putri keperhatinan.
Kao Tong harus punya sedikit Sebab dia menduga Wie Kai sudah tahu rahasia nya dengan Kong-kong.
Tapi putri Kao Tong menganggap Wie Kai tidak akan lolos dari genggamannya.
"Aku yang menyuruhnya menunggu di sini, dan kami akan pulang bersama-sama,"
Katanya.
Seng Kong-kong sepertinya tidak percaya.
Apa lagi Mo Ki-thian, tidak percaya juga harus percaya.
Apa boleh buat!
Rahasia ini bukan hanya Seng Kong-kong saja yang tahu putri Kao Tong pun tahu.
Tapi dia tidak peduli, dia seperti sanggup menguasai Wie Kai.
Mereka berdua sudah seperti perangko.
Tidak pernah berpisah.
Putri Kao Tong menyuruh Wie Kai menunggu, itu bukan tidak mungkin.
Laki-laki dan perempuan bila sudah saling jatuh cinta, langit runtuh pun belum tentu akan mem-buat mereka bergetar.
Yang di atas sudah mengatur semua seperti itu.
Karena Yang di atas khawatir manusia tidak bisa melanjutkan keturunnannya!
Mo Ki-thian tahu Wie Kai sedang berbohong.
Dia sedang berpikir mau membongkar kebohongannya, tiba-tiba Seng Kong-kong melambaikan tangan.
"Sudahlah!"
Terpaksa Mo Ki-thian menurunkan tangannya.
Wie Kai membereskan bajunya, dia tertawa pada putri Kao Tong.
Tadi dia merasa sudah berputar-putar di depan pintu dewa kematian.
Putri Kao Tong terus melihatnya.
Di bawah sinar bulan.
Di sebuah gubuk.
Loo Cong duduk di atas rumput kering, Leng-ji sedang membubuhkan obat ke luka pada Loo Cong.
"Apakah terasa sakit?"
"Hanya bencana kecil!"
Kakinya ditusuk oleh ular air In Hai.
"Bila ada kesempatan, aku ingin belajar ilmu air kepadamu!"
"Bisa ilmu di dalam air, pasti akan ada guna-nya!"
Lengji diam.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada!"
"Kau sudah mulai belajar berbohong!"
Leng-ji tertawa kecut.
"Apakah benar aku sering berbohong?"
"Kau tidak hanya pandai berbohong, kau juga pandai menutupi kebohonganmu!"
Tiba-tiba Leng-ji tertawa. Kaki Loo Cong sudah dibalut, diabertanya.
"Apakah luka di tubuh dan tanganmu sudah sembuh?"
Leng-ji mengangguk.
"Coba tebak, sekarang Seng Kong-kong sedang melakukan apa? Dan ingin melakukan apa?"
Tanya Loo Cong.
"Sedang marah dan sedang mengomel!"
"Menurutku, dia sedang menyusun rencana dengan Mo Ki-thian, dan berbisik-bisik dengan putri Kao Tong!"
"Pengkhianat itu...."
Kata Leng-ji sambil menganguk. Loo Cong ingin melarang tapi sudah tidak sempat.
"Kau mengungkit tentang dia lagi!"
"Tidak apa-apa kita mengobrol tentang dia?"
"Leng-ji, kebesaran jiwamu tidak seluas seperti yang kukira!"
"Sekarang aku bisa!"
"Apakah benar kau bisa?"
"Benar!"
"Apakah sudah bisa melihat jelas semua masa-lah ini?"
"Belum sampai pada tahap itu! Tapi punya cermin sendiri, jika dia tidak bisa melihat dirinya sendiri, pedang pun tidak bisa memukul dirinya!"
Loo Cong menyambung.
"Puisi tidak bisa dibaca sendiri, indah tidak bisa dirasakan sendiri, kejahatan tidak bisa ditutupi sendiri, apakah benar?"
"Yang terakhir, kejahatan tidak bisa ditutupi sendiri, semua sudah terungkap, untuk apa kita harus merasa sedih?"
Tanya Leng-ji.
"Leng-ji, kebesaran jiwamu sudah mencapai tingkat baru!"
"Tidak seperti yang kau katakan!"
Tiba-tiba Loo Cong terlihat serius.
Bersamaan waktu mereka berdua terpaku.
Ini gubuk.
Gubuk terbuat dari rumput kering atau dari batangbatang padi dan daun gandum yang sudah mengering.
Kadang pemburu menginap di sini untuk menghindari hujan dan angin.
Kadang petani sementara waktu tinggal di sini, atap dan dinding gubuk terbuat dari rumput-rumput kering.
Gubuk seperti ini ada kebaikan juga ada keburukannya.
Bila ada yang menyentuh gubuk ini, suaranya akan segera terdengar jelas.
Sekarang mereka berdua bersamaan berdiri.
Mereka saling pandang dan memasang kuda-kuda, pengalaman memberitahu mereka di luar ada orang.
Tiba-tiba di sekeliling sudah banyak tombak yang menerjang masuk.
Ruangan gubuk sangat kecil.
Hanya ada satu tempat untuk meletakkan ranjang d an tempat sebesar ranjang yang masih kosong.
Ingin menghindar serangan 3 serangan benar-benar sulit.
Makan mereka bersamaan waktu meloncat ke atas hampir menempel di atap gubuk.
Gubuk itu dari bawah sampai atap tingginya tidak lebih dari 5 depa.
10 buah tombak yang menusuk masuk panjangnya 3 sampai 5 kaki, tapi tidak mengenai sasaran.
Hanya sebuah tombak yang berhasil menyobek baju Leng-ji.
Gubuk terlihat sempit lagi.
Jika ingin keluar dari sana satu-satunya jalan harus menginjak tombak supaya bisa mental keluar.
Tapi orang-orang di luar hampir tidak memberi mereka waktu untuk bernafas.
"Kita pergi dari sini,"
Loo Cong dan Leng-ji menginjak tombak yang masuk dan keluar dari gubuk itu.
Gubuk sudah disiram minyak dan mulai dibakar.
Di luar ada 17-18 orang sedang berdiri, mereka adalah San-hiang Cong-to, Tong-cu atau Hiang-cu.
Satu dari 2 orang itu Loo Cong pernah bertemu dengannya.
Yang paling depan adalah Tong-cu dengan tinggi 8 kaki, bernama Cian-siu, orang itu selalu menggunakan tombak panjang.
Maka anak buahnya yang berjumlah 10 orang lebih semua menggunakan tombak panjang.
"Aku hanya tanya, apakah kalian mau ikut kami pergi?"
Tanya Cian-siu.
Loo Cong meludah ke bawah sebagai jawaban.
Jawaban seperti itu sudah cukup.
Waktu itu puluhan tombak datang menyerangDengan goloknya Loo Cong menyapu, tiba-tiba dia mencengkeram sebuah tombak dia menendang.
Terdengar suara dari atas, lagi 5 buah tombak panjang menerobos masuk.
Mereka berdua berputar di atas udara.
Baju Loo Cong sudah berlubang, dan daging di pantatnya teriris.
Baju Leng-ji bagian ketiak pun sudah ber-lubang.
orang yang memegang tombak dan tombaknya langsung dirampas.
"Leng-ji, sambut ini!"
Leng-ji pernah berlatih ilmu tombak.
Karena tombak itu panjang maka orang yang membawa tombak jenis ini hanya sedikit.
Mereka berdua, yang satu memakai golok yang satu lagi memakai tombak, mereka bergabung rapi maka dalam waktu singkat bisa membuat 2 orang terluka lagi.
Cian-siu sendirian menyerang, keadaan agak genting.
Karena mereka mempunyai formasi tombak yang handal.
Puluhan orang menyerang dari semua penjuru, ada beberapa yang menyerang dari bawah ke atas.
Gerakannya benar-benar sangat sadis.
"Leng-ji, di atas...."
Loo Cong berteriak, tiba-tiba dia meloncat menepis tangan seorang musuh, tapi punggung Leng-ji sudah tergores panjang.
Melihat anak buahnya mati 4-5 orang dan banyak yang terluka, Cian-siu segera menyuruh anak buahnya mundur.
Tidak lama kemudian mereka sudah meng-hilang ke dalam hutan.
"Bagaimana dengan lukamu, Leng-ji?"
"Tidak begitu parah, tadi aku sangat terkejut melihat puluhan tombak datang menyerang ke gubuk.
"Yu Tai-jin sudah mati! Mereka sulit menang tapi masih ingin mencoba-coba."
"Emas senilai 10 ribu tail adalah mimpi setiap manusia, pantas kalau mereka seperti itu!"
Loo Cong mulai mengobati luka Leng-ji. Gubuk sudah terbakar habis dan masih mengeluarkan asap.
"Apakah betul Seng Kong-kong akan menepati janjinya, memberikan hadiah 10 ribu tail emas kepada mereka yang berhasil menangkap kita, aku masih ragu!"
Kata Loo Cong.
Di Eng-hong-pie-ya.
Malam sudah larut.
Angin berhembus besar dan hujan turun.
Dari jendela Seng Kong-kong melihat langit yang terlihat mendung.
Mo Ki-thian berada di belakangnya.
Usia Seng Kong-kong sudah tua, tapi tidak pernah melihatnya lelah atau tidak bersemangat.
Mo Ki-thian tidak pernah mendengar Seng Kong-kong menghela nafas.
Tanya Seng Kong-kong.
"Ki-thian, hari ini tanggal berapa?"
"Lapor Kong-kong, bulan lima tanggal satu!"
"Sudah tiga bulan lebih..."
Seng Kong-kong berkata dengan pelan.
"Benar, Kong-kong, sudah tiga bulan lebih, hanya saja mereka tidak akan bisa kabur!"
"Tapi mereka bisa hidup lebih dari 100 hari!"
Kata Sengyan-kong. Mo Ki-thian tidak bersuara. Menyuruhnya mengejar pelarian dia benar-benar tidak tahu di mana keberadaan mereka. Tiba-tiba Seng Kong-kong tertawa terbahak-bahak.
"Mereka benar-benar orang yang dididik oleh Seng-yankong, anak buah Seng-yan-kong tidak terkalahkan! Ha ha ha..."
"Tenanglah, Kong-kong, ku pikir sekarang mereka pasti sangat kelelahan,"
Kata Mo Ki-thian.
"Sangat lelah! Bagaimana dengan kita?"
Demi mengejar beberapa pengkhianat ini, Eng-hong-pie-ya pun merasa sangat lelah.
Awalnya dia menolak dibantu oleh La-ma.
Sekarang bila ingin meminta bantuan sulit untuk membuka mulut.
Tapi dia tetap berniat seperti itu, dia berteriak.
"Aku ingin kalian lihat! Sekarang kalian bisa bersenang-senang.
"Aku ingin kau bersenang-senang dan merasa puas, Wie Kai dan putri Kao Tong sedang berada di kamar sedang bercumbu."
Wie Kai memeluk putri Kao Tong sambil mengatakan kalimat itu.
Dari ujung alis, ujung mata, terlihat kegenitannya.
Dia pura-pma memukul Wie Kai.
Tapi putri Kao Tong percaya kalau Wie Kai bisa membuatnya senang dan puas.
Kehilangan dirinya beberapa hari itu sudah tergantikan.
Di luar tenda, angin dan hujan terus turun dengan lebat.
Di dalam tenda, bayangan dari lilin merah terus bergoyang-goyang, perasaan dalam seperti laut Putri Kao Tong benar-benar merasa kalau kali ini dia sangat beruntung sudah datang ke Tionggoan.
Tanpa bercerita dulu tentang rencana penting nya, orang yang ada di depan matanya ini benar-benar membuatnya senang!
Tionggoan adalah dunia yang menyenangkan.
Lakilakinya pun lebih baik dari pada laki-laki Tibet.
Matahari terbit, matahari terbenam.
Bulan naik juga terbenam.
Siang hari mereka harus mencari makan.
Malam hari mereka harus berhati-hati, takut akan ada musuh datang menyerang.
Hari-hari seperti ini tidak ada habis-habisnya.
Sewaktu mereka kabur dari Eng-hong-pie-ya, mereka tidak pernah terpikir tentang hal ini, setelah keluar dari Enghong-pie-ya mereka baru merasakan, dunia memang luas, tapi bila ingin menghindari orang-orang seperti itu tetap sulit.
Mereka tiba di sebuah kota.
Mereka benar-benar membutuhkan makan dan membeli beberapa potong baju, apa lagi sepatu dan kaos kaki.
Sejak melarikan diri, sudah ada beberapa pasang sepatu yang dipakai hingga robek.
Kota ini sangat sederhana.
Hanya ada sebuah jalan raya yang membentang dari timur ke barat, yang lainnya hanya jalan kecil dan ganggang.
Setelah lama tidak melihat kota mereka merasa semua itu sangat ramah dan mesra.
Pelan-pelan Loo Cong berkata.
"Leng-ji, manusia memang tidak bisa hidup sendiri?"
"Kecuali orang.. .orang luar kota sana!"
"Lebih baik kita ke tempat yang tidak terlalu ramai untuk makan, setelah makan kita bawa bekal sedikit,"
Usul Loo Cong.
"Mungkin kita bisa singgah selama beberapa hari di sini, mereka tidak akan menyangka kita berada di sini."
"Mungkin kau benar, tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling aman, tapi pejabat dan anak buah mereka yang berada di sini semua adalah orang-orang Seng Kong-kong!"
Leng-ji mengangguk.
Mereka masuk ke sebuah rumah makan sambil menundukkan kepala.
Rumah makan itu sangat sederhana dan tidak begitu besar, tapi tersedia jenis sayur yang komplit.
Di menu yang digantung di dinding tertulis Hoa-koan (Bapau kosong yang ditabur bawang daun) ada bapau dan beraneka macam kuah, mie goreng, serta masakan yang lain-lain.
Sudah jadi dan siap disajikan.
Masih ada sayur-sayur yang siap dipesan serta arak.
Setelah sampai di sana mereka harus terus menahan air liur.
Mereka mencari tempat di dekat jendela.
Pelayan datang dan bertanya.
"Ji-wie, ingin makan nasi atau minum arak?"
Loo Cong memesan 4 macam sayur juga Man-tou, sayur asin, dan kue-kue, ada sebagian makanan yang akan dibawa pergi.
Mereka masih memesan arak.
Mereka seperti baru merasakan ternyata arak begitu wangi dan menggoda.
Tapi mereka waspada selalu melihat sekeliling apakah ada orang yang mencurigakan.
Tamu di sana paling-paling hanya ada 4-5 orang.
Tidak terlihat, mereka orang apa.
Sampai-sampai ada seorang perempuan umurnya sekitar 35-36 tahun, berdandan sederhana, sangat bersih juga lincah.
Dia sedang makan mie.
"Kita tetap harus berhati-hati!"
Nasihat Loo Cong.
Lengji mengangguk.
Semacam sayur sudah diantar berikut araknya Loo Cong terburu-buru menuang arak dia ingin segera minum arak.
Tapi Leng-ji menghalanginya, dia mencabut tusuk konde yang terbuat dari perak dan memasukkan tusuk konde itu ke dalam cangkir arak.
Hal yang mendebarkan hari sudah terjadi.
Arak terus bergejolak kemudian keluar suara CES, CES, buih keluar dari dalam gelas.
Mereka benar-benar terkejut.
Loo Cong segera memasukkan kue dan sayur asin ke balik bajunya.
Sewaktu dia melihat, perempuan itu sedang tertawa dan berkata.
"Orang Eng-hong-pie-ya memang luar biasa!"
"Tidak juga, melainkan otak tikus adalah otak yang terlalu sederhana!"
Perempuan itu meletakkan mangkok mienya membersihkan mulut dengan sapu tangan, pelan-pelan berkata.
"Marga Loo, kalian tidak bisa kabur lagi!"
"Apakah kau mempunyai kekuatan menahan kami?"
"Anak gadis, kalau beradu kecantikan, aku mengaku kalah, tapi apakah kau pernah mendengar nama Hun-si Popo?" (nenek Hun-si). Loo Cong dan Leng-ji benar-benar terkejut. Orang yang paling sering menggunakan racun adalah perempuan itu, bisa dikatakan sampai tubuhnya beracun. Loo Cong dan Leng-ji saling melihat kemudian mereka meloncat keluar melalui jendela. Mereka tidak menyangka kalau Hun-si Po-po tidak akan mengejar mereka keluar. Hun-si Po-po hanya berdiri, ada 4 laki-laki duduk di sebelah meja, mereka juga berdiri melihat Hun-si Po-po. Dengan suara kecil Hun-si Po-po berpesan.
"Timur, barat, selatan, dan tengah."
Mereka berempat segera keluar dari rumah makan itu, setelah itu mereka segera berpisah, masing-masing ke arah yang disebut Hun-si Po-po tadi.
Hun-si Po-po dengan tenang keluar dari rumah makan itu!
Setelah keluar dari rumah makan itu Leng-ji dan Loo Cong terus berlari sejauh 5-6 Li baru berhenti.
Dengan nafas terengah-engah Leng-ji berkata.
"Hari ini aku benar-benar kagum kepada Seng-yan-kong!"
"Maksudmu, Hun-si Po-po bisa dibeli oleh Seng-yankong?"
"Dulu aku pernah mendengar bahwa Hun-si Po-po dan Seng-yan-kong sangat akrab!"
"Berarti tidak salah lagi! Tapi apakah kau tidak merasa ada sedikit keanehan?"
"Keanehan apa?"
"Hun-si Po-po tidak mengejar kita!"
"Mungkin dia akan mengejar kita sekarang!"
"Apakah...."
Tiba-tiba Loo Cong mengerutkan alis.
"Leng-ji, apakah kau merasa tidak enak tubuh?"
Mereka saling berpandangan wajah mulai terlihat pucat. Mereka merasa sakit perut dan pusing.
"Kita harus segera mencari tempat untuk... untuk bersembunyi... memaksa racun yang ada di dalam tubuh kita keluar... keluar..."
Kata Leng-ji.
Loo Cong melihat sekeliling.
Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Terpaksa mereka masuk ke balik semak-semak setinggi pinggang.
Perut mereka semakin sakit.
Mereka tidak bisa mengeluarkan racun dari dalam perut.
Sebab racun Hun-si Po-po sangat sulit dikeluarkan.
Tidak diragukan lagi, sayur asin dan kue yang ada di balik baju pasti sudah diracun, bencana ini tampaknya sulitbisa dihindari lagi.
Mereka benar-benar merasa sedih.
Selama pelarian beberapa bulan ini mereka sudah mengalami banyak bahaya tapi mereka berhasil melewatinya.
Tapi sekarang perempuan itu.
mereka akan terjatuh ke tangan "Leng-ji, mati pun aku tidak akan menutup mata...
karena aku tidak bisa melindungimu dengan baik..."
Dahi Leng-ji penuh dengan keringat.
"Siau-Ioo... lebih baik kita mati di sini... dari pada... dari pada kita harus naik panggung untuk dipenggal kepala kita..."
Loo Cong menggelengkan kepala.
"Aku tidak rela mati karena racun... tidak rela... karena tidak ada kesempatan untuk bertarung dengan Hun-si Popo..."
"Siau-loo, apakah kau merasa semua ini menggelikan?"
"Meng... menggelikan?"
"Betul..."
Leng-ji tertawa.
"awalnya kita ditipu oleh Siaukai... sekarang jatuh ke tangan Hun-si Po-po... di dunia ini harus memakai cara menipu... mungkin Seng Kong-kong juga menipu putri Kao Tong... atau putri Kao Tong menipu Seng Kong-kong, semua orang di dunia ini semua penipu..."
Leng-ji tertawa air matanya pun bercucuran.
Mati dengan cara seperti ini benar-benar menyedihkan!
Loo Cong ingin menghibur tapi tidak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat.
Perut yang sakit membuat kepalanya pusing.
"Leng-ji... Leng-ji... jangan menangis... jangan..."
"Aku tidak menangis... aku hanya merasa... kehidupan ini benar-benar menggelikan... Siau-loo... kalau bukan demi diriku, kau tidak akan keluar dari Eng-hong-pie-ya!"
Kata-kata ini sudah lama disimpan di dalam hati. Bila akan mati dia akan mengutarakan isi hatinya.
"Betul, demi dirimu!"
Loo Cong mengangguk. Rasa sakit membuat wajah Leng-ji berubah.
"Siau-loo... aku minta maaf... sayang aku tidak bisa... aku tidak bisa...."
Loo Cong memegang perutnya dengan bibir bergetar dia berkata.
"Leng-ji... kata-katamu tadi sudah cukup... Leng-ji... sebelum mati... apakah kau punya permohon an padaku?"
"Tidak... tidak ada... asal kau terus menyebut namaku... aku juga akan terus menyebut namamu..."
"Betul... di jalan... menuju dunia sana... kita jangan berpisah... Leng-ji... Leng-ji... Leng-ji..."
Leng-ji sudah tergeletak di atas padang rumput, dia berkata.
"Siau-loo... Siau-loo... Siau-loo..."
Seseorang sudah berdiri di sisi mereka, kedua tangannya diletakkan di pinggang, dia tertawa ter-bahak-bahak.
Dialah Hun-si Po-po.
Dia tertawa terbahak-bahak.
300 kati, emas bisa membuat dua manusia emas.
Siapa pun orangnya, di saat sekarang ini akan tertawa.
Yang penting bukan ini saja.
Mereka berdua terbaring di atas rumput.
Sudut mulut mereka mengeluarkan darah.
Nyawa mereka seperti matahari sore tetap membuat orang merasa rindu pada masa silam!
Seperti apa dunia sana?
Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Empat anak buah Hun-si Po-po sudah datang.
Salah satu dari mereka berkata.
"Si Po-po akan terkenal di dunia persilatan, di depan Seng Kong-kong, Anda pasti akan dianggap orang penting!"
"Sebenarnya bukan demi emas puluhan ribu tail juga bukan karena ingin mendapat kepercayaan dari Seng-yankong, melainkan bila rencana Seng-yan-kong berhasil, aku adalah..."
Dia tidak meneruskan kata-katanya. Tapi sudah ada yang menjawab.
"Kau akan menjadi permaisurinya?"
Hun-si Po-po dan anak buahnya benar-benar terkejut. Mereka baru melihat kalau di sisi mereka berdiri seseorang. Hun-si Po-po bergetar.
"Setan tua Put-pian, apakah kau ingin membagi hasil?"
Ternyata orang itu adalah Put-pian-yan-gwa, seseorang berbaju aneh.
"Gampang, gampang!"
Jawab Put-pian-yan-gwa.
"Kau datang kemari untuk tujuan apa?"
"Aku kan orang yang berpengalaman, kau tentu sudah tahu itu!"
Jawab Put-pian-yan-gwa. Kaki Hun-si Po-po pelan-pelan bergerak, segera Put-pianyan-gwa berkata.
"Hun-moi, bila kau ingin menggunakan racun, jangan tergesa-gesa, biar aku selesai bicara dulu baru kau taburkan racunnya, singkat kata, aku tidak bisa lari, kau juga tidak akan bisa kabur!"
Hun-si Po-po tertawa dingin.
"Put-pian, orang lain mungkin takut kepadamu, tapi aku, Hun-si Po-po tidak akan pernah takut kepada mu!"
"Tentu saja, tentu saja!"
"Put-pian, apa yang kau inginkan, katakan cepat! Biar aku sekalian mengantarkanmu ke alam kematian!"
"Kenapa tergesa-gesa? Waktunya tidak akan berbeda jauh."
"Kau mau apa?"
Put-pian-yan-gwa tertawa.
"Aku sudah mengtakan tadi kalau aku kan orang yang sudah berpengalaman, maka aku meng-inginkan sepuluh ribu tail emas semuanya! Kalau kau mau namaku, biar kau ambil nama ini!"
"Kentut!"
Hun-si Po-po berteriak.
"apakah kau pernah mengukur kepandaianmu?"
"Sudah, kalau aku mundur 30 tahun, kau mundur 20 tahun. Ha ha ha! Mungkin aku bisa jatuh cinta kepadamu..."
Hun-si Po-po memberi isyarat, kelima orang itu mulai menyerang.
Mereka sama sekali tidak terpikir kalau Put-pian-yangwa akan datang dengan persiapan matang.
Kalau tidak apakah dia akan takut dengan racun perempuan itu?
Begitu mereka berlima bergerak, kedua tangan Put-pianyan-gwa terayun, 4 cahaya terang berkelebat.
Berkelebat tapi tidak terjadi apa-apa.
Atau tidak mengenai sasaran?
Tentu saja bukan, kalau tidak mengenai sasaran, nyawa Put-pian-yan-gwa akan melayang!
Ternyata 4 senjata rahasia itu dengan sangat tepat mengenai jalan darah penting 4 orang yang ada di depan.
"Kao... Kao-pie-ciam!'" (Jarum perpisahan), Hun-si Popo pernah mendengar senjata rahasia milik Put-pian yang membuatnya terkenal adalah Kao-pie-ciam juga disebut 'Put-pian-kao-ciam', begitu jarum dilepaskan belum pernah meleset dari sasaran. Hun-si Po-po pun jika menaburkan racun tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari sasarannya. Hanya saja dari awal Put-pian-yan-gwa sengaja berdiri di belakang angin, karena tempat di mana dia berdiri lebih tinggi dari Hun-si Po-po. Apa lagi hari ini angin gunung berhembus sangat kencang. Semua racun, semua cara menebar racun harus berada di atas angin, kecuali senjata rahasia yang sudah dibubuhi racun. Saat Hun-si Po-po bersiap-siap melepaskan senjata rahasia beracun untuk memaksa Put-pian-yan-gwa meninggalkan posisinya, Put-pian-yan-gwa sudah bergerak lebih cepat darinya. Kekuatan tangan Put-pian-yan-gwa sangat besar, 4 buah Kao-pie-ciam sudah menancap di jalan darah ke empat orang itu. Keempat orang itu setelah bergoyang-goyang beberapa kali lalu tersungkur.
"Put-pian... bagaimana kalau kita bicara baik-baik..."
Hun-si Po-po seperti masih berupaya berdamai karena dia belum mati. Tangan Put-pian-yan-gwa terayun, katanya.
"Upacara perpisahan sudah dilaksanakan, tidak perlu banyak omong lagi!"
"Put-pian.. kalau kau melepaskanku.. di depan Seng Kong-kong aku akan mengangkatmu..."
"Tidak perlu! Bila aku ingin berlindung kepada Seng Kong-kong, aku sudah mempunyai hadiah yang sudah disiapkan!"
Hun-si Po-po melihat ke arah Loo Cong dan Leng-jjBenar!
Ini adalah hadiah yang sangatberharga.
Siapa pun yang ingin berlindung kepada Seng Kongkong, asal membawa dua hadiah ini pasti akan diterima.
Kata-kata ini terdengar oleh Loo Cong dan Leng-ji, sebelum mati mereka merasa tidak enak.
Di dunia ini hanya cara yang bisa membedakan mana orang yang baik dan mana orang yang jahat?
Hun-si Po-po dan ke empat anak buah sudah mati, dengan memuntahkan darah.
Put-pian-yan-gwa tertawa senang.
Setelah tertawa tiba-tiba dia melihat kedua anak muda itu.
Godaan nama dan harta benda, siapa yang bisa menolaknya?
Beberapa waktu yang lalu, karena sadar kekuatannya terbatas, dia tidak akan bisa mencapai tujuannya, maka dia pergi begitu saja.
Yang pasti Put-pian-yan-gwa bukan orang jahat atau mempunyai nama jahat di dunia persilatan.
Apa yang sedang dia pikirkan sekarang?
Dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Kesempatan menjadi kaya dan terkenal ada di depan mata, sungguh sayang jika ditolak.
Ini adalah nasib mujurnya mengapa harus ditolak?
Tapi melihat dua anak muda yang bermain umpetumpetan dengan dewa kematian, sekarang mereka berdua terlihat begitu lelah, mereka juga mempunyai ilmu dan budi pekerti, dia merasa tidak tega.
Tidak tega dan keuntungan adalah dua masalah besar.
Dua kekuatan besar ini sedang berperang di dalam hatinya dan perasaan tidak tega berada di bawah angin.
Kata Put-pian-yan-gwa.
"Kalian terkena racun berat, kematian pasti akan terjadi, aku hanya memungut keuntungan saja!"
Seseorang jika ingin melakukan kejahatan dia harus mencari alasan untuk dirinya sendiri.
Loo Cong merasa nyawanya sedang melayang-layang, kadang-kadang terputus, kadang-kadang tersambung lagi.
Ternyata kematian seperti itu rasanya.
Tapi dia tetap merasa yakin kalau Put-pian-yan-gwa bukan orang jahat.
Di dunia ini orang sejenis dia paling banyak.
Orang jenis ini hanya orang biasa, dia bukan orang yang sangat jahat juga bukan orang yang sangat baik.
Hanya saja orang baik kadang-kadang akan melakukan kejahatan, orang jahat kadang-kadang akan berbuat kebaikan.
Loo Cong memikirkan semua ini bukan untuk dirinya sendiri melainkan demi Leng-ji, dia masih mempunyai sedikit harapan.
Harapan harus dicoba untuk diraih.
Asal masih bernafas harapan masih tetap ada.
Keadaan Leng-ji dan Loo Cong hampir sama.
Hanya karena dia makan dengan perlahan, maka nasi yang masuk sedikit demi sedikit, ditambah dia mengunyah dengan pelan maka racunnya lebih ringan dari Loo Cong.
Tapi hanya itu saja, paling-paling dia mati lebih lama setengah jam dari Loo Cong.
Dengan sulit Loo Cong berkata.
"Lo-cianpwee... apakah Anda tahu mengapa kami harus... harus melarikan diri?"
"Katanya karena kalian melanggar aturan Eng-hong-pieya!"
Jawab Put-pian-yan-gwa.
"Sebenarnya... bukan seperti itu... aku... aku tidak melanggar aturan Pie-ya..."
"Bocah, apakah kau sudah gila? Kau kira ber-seberangan dengan Seng-yan-kong adalah untuk main-main?"
"Tentu saja tidak..."
Dengan terengah-engah Loo Cong menjawab.
"Seng-yan-kong... dan putri Kao Tong... berencana... mengkhianati kerajaan... mereka sedang menyusun rencana rahasia... semua anak cucu Yan Hong... apakah aku bisa duduk diam untuk melihat negara diambil alih?" (Yan Hong adalah nama Yan Ti dan Hong Ti, mereka adalah orang Han paling awal yang tinggal di daerah Huang-ho, mereka berdua adalah nenek moyang suku Han! Maka biasanya orang Tionggoan disebut anak cucu dari Yan Hong). Tiba-tiba Put-pian-yan-gwa menengadah ke atas langit, dia menarik nafas panjang.
"Apakah Cianpwee tidak percaya?"
Tanya Leng-ji.
Put-pian Yuan terdiam.
Masa dia tidak percaya?
Dari awal dia sudah tahu, putri Kao Tong datang ke Tionggoan pasti untuk melakukan sesuatu.
Kemudian dia dilayani oleh Seng Kong-kong.
Walaupun hal ini dilakukan secara rahasia tapi tidak akan bisa menutupi niat orang-orang ingin mencari tahu.
Dulu Put-pian-yan-gwa memang merasa curiga tapi dia tidak punya bukti yang cukup kuat.
Dia memang rakus juga ingin terkenal, tapi dia masih mempunyai rasa perikemanusiaan.
Bila rasa rakus melampaui rasa kemanusiaan, dia adalah orang jahat dan sudah tidak ada obat yang bisa menolongnya lagi.
Put-pian-yan-gwa melihat kedua anak muda itu.
Yang satu sangat tampan wajahnya memancarkan kebenaran.
Yang satu lagi cantik alamiah, begitu melihat-sudah tahu kalau dia adalah gadis yang baik.
Put-pian Yuan tiba-tiba berjalan ke arah mayat Hun-si Po-po tergeletak.
Dia mencari obat penawar di tubuh Hun-si Po-po.
Dia memasukkan 4 butir obat ke dalam mulut mereka masing-masing, kemudian duduk di sisi memejamkan mata untuk beristirahat.
Kedua anak muda itu benar-benar tidak bisa melukiskan bagaimana perasaan mereka.
Kali ini mereka bisa lolos dari maut hingga jantungnya berdebar-debar, dibandingkan sewaktu lolos dari pisau pemenggal.
Paling sedikit Leng-ji berpikiran seperti itu.
Sebab ketika melarikan diri dari panggung eksekusi dia masih bertarung.
Kali ini mereka kesempatan.
sama sekali sudah kehilangan Put-pian-yan-gwa memejamkan mata.
Anehnya keringatnya terus mengucur keluar.
Dia bukan sedang memaksakan racun keluar, dia juga tidak sedang mengatur nafas, tapi mengapa dia mengeluarkan keringat begitu banyak?
Sebenarnya alasannya sangat sederhana, itulah keringat karena dia merasa malu.
Ketika seseorang menghentikan lari kudanya di sisi jurang dan menemukannya hampir melakukan kesalahan kepada Langit, rasa malu kepada bumi juga malu kepada nenek moyang, ditambah rasa malu kepada dirinya sendiri, apakah dia tidak akan mengeluarkan keringat begitu banyak?
Dengan takjub dua anak muda itu melihat Put-pian-yangwa.
Mereka mengira Put-pian-yan-gwa terkena racun.
Tapi mengapa dia tidak minum obat penawarnya?
Tidak lama kemudian Put-pian-yan-gwa baru membuka mata.
Bajunya basah oleh keringat seperti baru keluar dari dalam air.
Put-pian-yan-gwa melihat kedua anak muda itu lalu bertanya.
"Bagaimana keadaan kalian?"
Mereka berdua baru merasa bahwa kalau perut mereka sudah tidak sakit lagi.
"Terima kasih Lo-cianpwee sudah menolong kami, seumur hidup kami tidak akan melupakan budi Cianpwee!"
Jawab Loo Cong.
"Tidak perlu!"
Put-pian-yan-gwa meloncat berdiri, pesannya.
"ini adalah obat penawarnya, bila masih sakit, minum 2 butir lagi!"
Dia meletakkan obat penawar itu di sisi kedua anak muda itu. Leng-ji yang sudah lolos dari kematian, karena terlalu senang dia meneteskan air mata dan berkaca.
"Lo-cianpwee sepertinya terkena racun juga, mengapa tidak minum obat penawarnya?"
Put-pian-yan-gwa menarik nafas panjang.
"Aku tidak terkena racun, tapi keadanku sama seperti terkena racun!"
Kedua anak muda itu tidak mengerti maksud-nya. Dengan nada berat dia berkata.
"Awalnya aku berencana tidak baik, aku berjalan di jalan sesat, untung aku sadar dan bisa berputar arah, antara hidup dan mati kalian telah memutar bencana menjadi kemujuran, sayangilah nyawa kalian, jangan mudah dilepaskan..."
Setelah itu dia menghilang di dalam kegelapan.
OodwoO BAB II Kedua anak muda itu lama...
tidak bergerak juga tidak bersuara.
Nyawa yang tadi telah terbang ditarik kembali, perjalanan hidup mereka begitu berliku-liku dan berbahaya.
Kejahatan dan kebaikan umat manusia perbedaannya begitu tipis.
Sekarang mereka baru mengerti mengapa Put-pian-yangwa berkeringat terus!
Sebab tadi Put-pian-yan-gwa telah berbaik hati, dia menarik kembali mereka dari pintu kematian!
Dengan pelan Leng-ji duduk kembali.
"Siau-loo, bagaimana perasaanmu?"
"Sedang dalam pemulihan!"
"Kalau kita tidak mengatakan Seng Kong-kong bersekongkol dengan putri Kao Tong, apa yang akan terjadi?"
Tiba-tiba Loo Cong menarik nafas panjang.
"Mengapa menarik nafas? Bila sekarang tidak mati, kelak nasib kita akan mujur, ini adalah pepatah yang sangat baik,"
Kata Leng-ji.
"Kau tahu kalau dia sudah menolong nyawa kita, tapi bila dipikir lebih dalam lagi, aku merasa kita pun sudah menolongnya bukan?"
"Benar!"
"karena itu setelah dia berubah pikiran dia mengucurkan banyak keringat!"
"Orang seperti Put-pian-yan-gwa saja tidak bisa menahan diri, apa lagi orang biasa!"
"Leng-ji, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Tidak ada masalah lagi, tapi kita butuh istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga!"
Untung rumput di sini tumbuh tinggi, tinggi-nya ada 3-4 kaki, maka mereka bisa duduk beristirahat dan tidakmudah terlihat orang.
Mereka berada di tempat di mana mereka tidak tahu ada di mana.
Setelah lolos dari maut mereka benar-benar merasa terharu.
Dalam pelarian seperti ini walaupun Seng Kong-kong tidak bisa mengejar mereka, tapi entah sampai kapan mereka harus berlari.
Dan harus berlari ke manalagi?
Untuk sementara mereka bisa hidup, walau berbahaya dan sulit tapi tidak bisa selamanya selalu hidup dalam pelarian.
Di bawah sinar lampu.
Loo Cong mengobati luka di tangan dan luka di punggung Leng-ji.
Luka Leng-ji hampir sembuh.
Tapi luka hatinya bukan semakin sembuh melainkan semakin berat.
"Leng-ji, coba ulangi lagi hafalanmu mengenai musimmusim bercocok tanam padi Leng-ji seperti sedang memikirkan sesuatu, dia terkejut dan menjawab.
"Sepertinya aku tidak hafal semuanya!"
"Cobalah, Leng-ji!"
"Siau-han, Ta-han, Li-chun, U-sui, Keng-ce..." (semua adalah musim-musim untuk bertani). Tiba-tiba Leng-ji bertanya.
"Apa artinya Keng-ce?"
"Keng-ce artinya membangunkan serangga yang sedang tidur di musim dingin!"
"Siau-loo!"
"Apa?"
"Apakah benar sebagian serangga sulit dibangunkan?"
Loo Cong menjawab asal-asalan.
"Itu karena dia serangga bodoh!"
Tiba-tiba Leng-ji tertawa. Sudah lama dia tidak tertawa seperti itu. Lama dia baru bertanya.
"Mengapa kau terus menatapku?"
Loo Cong menghentikan gerakan tangannya.
"Kau lihat apa?"
Loo Cong terdiam, sorot matanya mengandung arti.
Loo Cong mulai mengobati luka Leng-ji lagi.
Tiba-tiba Leng-ji menarik nafas.
Loo Cong tahu mengapa Leng-ji sering menarik "Siau-loo, aku harus dihukum!"
Loo Cong terdiam.
"Siau-loo, apakah kau melihatku lagi?"
Betul Siau-loo memang sedang melihatnya. Melihat dengan termangu, tidak bicara, juga tidak bergerak.
"Demi diriku, kau keluar dari Eng-hong-pie-ya, demi diriku juga kau tidak mau kembali ke Eng-hong-pie-ya!' "
Aku tidak tahu mengapa!"
Jantungnya berdebar semakin kencang. Suhu rubuhnya terus naik.
"Kau tidak tahu mengapa?"
Leng-ji masih telungkup di atas ranjang.
Dia seperti mengetahui sesuatu.
Di antara mereka bertiga semua tahu bagai-mana hubungan dan perasaan masing-masing, tidak bisa dihalangi juga tidak bisa ditutupi.
Bila risau hati perasaan lebih mudah muncul.
Sekarang mereka butuh dihibur.
Termasuk ada penghibur yang lengkap.
Mereka berdua terdiam.
Sebab sekarang mereka butuh ketenangan.
Yang satu adalah laki-laki sejati.
Yang satu adalah gadis berbudi pekerti baik.
Waktu itu tiba-tiba Leng-ji membalikkan tubuh.
Bagian atas tubuhnya telanjang.
Tiba-tiba Loo Cong seperti jatuh ke dalam api yang sedang berkobar.
Dia menatap Leng-ji, sorot matanya penuh dambaan yang tulus dan perasaan yang serius.
Inilah perasaan yang tersimpan lama di lubuk hatinya yang terdalam.
Mereka saling memandang.
Dari sorot mata masing-masing bisa didapatkan penjelasan dan saling pengertian yang tidak terucap-kan.
Pelan-pelan Loo Cong membungkukkan tubuh atasnya, ini adalah ciuman mesra antara laki-laki dan perempuan di waktu yang sangat tepat.
Mereka menunggu kesempatan ini mungkin sudah sangat lama.
Loo Cong dengan lugu berkata.
"Leng-ji... Leng-ji..."
Penantian yang panjang akhirnya berakhir juga.
Loo Cong memeluk.
Leng-ji pelan-pelan berbaring.
Malam sudah larut.
Gunung begitu hening.
Hanya air sungai yang terdengar mengalir dengan pelan dan mengeluarkan suara seperti sedang bertepuk tangan.
Tapi sekarang ini mereka merasakan langit dan bumi mengawasi mereka.
Mereka benar-benar merasakan seakan sudah memiliki semua yang ada di dunia ini.
Sinar lampu tempel meloncat-loncat.
Dua hati pun sedang meloncat-loncat.
Tidak ada yang berpura-pura menutupi rasa cinta.
Tidak ada dnta pun tidak bisa berpura-pura menjadi cinta.
Sekarang bukan mulut, gambar, atau pena yang bisa mengungkapkannya.
Tapi secara tiba-tiba mereka berpisah karenfc mereka tidak bisa dan tidak boleh melakukan ini.
Seng-yan-kong datang lagi menemui putri Kao Tong.
Wajah putri Kao Tong tampak berseri-seri.
Dia datang ke Tionggoan demi sebuah rencana besar itu.
Semua dijalankan sesuai dengan rencana dulu, waktu itu dia tidak terpikir ada hal lain.
Hanya saja setelah membuat perjanjian rahasia dengan Seng Kong-kong, dia malah tidak terburu-buru menjalankan rencananya.
Karena dia sudah tenggelam dalam pusaran cinta.
Cinta bisa membuat seseorang khawatir dan melupakan waktu.
Boleh dikatakan cinta adalah nafsu yang menuntun.
Kecuali pelacur, hubungan antara laki-laki perempuan harus ada cinta baru bisa ada nafsu.
Pelayan mengantarkan teh panas.
dan Dengan senang putri Kao Tong bertanya.
"Kong-kong, ada keperluan apa?"
"Bukan hal penting tapi juga bukan hal yang tidak penting!"
"Katakan, Kong-kong."
Seng-yan-kong berdiri dan berjalan sebentar.
Dia tahu hubungan putri Kao Tong dengan Wie Kai sedang panas-panasnya, sekarang ini bila dia menyiram air dingin kepada mereka, sangat tidak pantas.
Tapi keadaan sekarang sangat mendesak dia harus mengungkapkannya.
Tanya Seng-yan-kong.
"Apakah putri pernah terpikir kali ini dengan kembalinya Wie Kai apakah dia mempunyai suatu tujuan?"
"Tujuan apa?* "Mungkin diasudah tahu rencana kita?"
"Dari mana diabisa tahu?"
"Apakah putri lupa, Loo Cong yang menjadi pengkhianat pernah hidup dengan mereka, Loo Cong tahu rencana kita walaupun tidak semuanya!"
Putri Kao Tong tetap tidak bersuara.
"Apakah putri tidak percaya?"
"Mengapa aku harus percaya?"
Seng-yan-kong terpaku.
"Mengapa Putri tidak percaya?"
"Alasanku tidak percaya padamu ada dua. Pertama, walaupun dia tidak sejalan dengan kita tapi apakah hanya mengandalkan kekuatan sendiri bisa melakukan sesuatu? Kedua, dia kembali ke sini berarti dia punya perasaan cinta kepadaku, itulah alasan yang membuatnya kembali!"
"Kalau dia benar-benar menyukaimu, mengapa dari awal dia kabur?"
"Maksudmu, dia kabur dari Pie-ya?"
"Benar....! Apakah putri tahu hubungan Wie Kai dengan Leng-ji?"
"Tahu sedikit"
"Putri hanya tahu sedikit saja, itu tidak cukup!"
"Berapa banyak baru disebut cukup?"
Putri terdengar tidak suka.
"Leng-ji berlatih menari di rumah La-ma, Wie Kai diamdiam sering mengawasinya, karena itulah mereka bisa saling mengenal sampai terjalin hubungan asmara..."
Putri Kao Tong seperti tidak senang mendengarnya.
Dalam perang cinta tidak ada yang mau meng-aku kalau dia adalah pecundang.
Apa lagi sekarang putri Kao Tong sangat puas dengan gairah dan nafsu birahi Wie Kai.
Putri Kao Tong berpikir.
"Di dunia ini aku tidak akan bisa mendapatkan laki-laki yang lebihbaik dari Wie Kai.' Lebih-lebih tidak ada seorang laki-laki pun seperti Wie Kai, yang begitu setia dan menunjukkan perhatian mesra kepadanya.
Maka mendengar kata-kata Kong-kong tadi dia jadi tidak senang.
Tapi Kong-kong lebih tua darinya, apa lagi kerja sama di antara dua belah pihak belum selesai, paling baik jangan membuat Kong-kong marah.
Tiba-tiba putri Kao Tong tertawa.
Bukan waktunya untuk tertawa, kalau bukan karena berbeda pendapat, itu tidak sopannya.
Seng Kong-kong tahu tentang ini.
Tiba-tiba Seng Kong-kong menarik nafas.
Bukan waktunya untuk menarik nafas dia malah menarik nafas, akibatnya seperti bukan waktu-nya tertawa dia malah tertawa.
Seng Kong-kong menarik nafas lagi.
Sekarang semakin putri tertawa, Seng Kong-kong hanya bisa menarik nafas.
Perubahan perasaan manusia sering menimbulkan dampak besar terhadap hubungan antara sesama manusia.
"Mengapa Kong-kong menghela nafas?"
Seng Kong-kong terdiam lama baru menjawab.
"Banyak orang seumur hidupnya menghabis-kan banyak waktu untuk melihat bayangannya sendiri, karena itu dia akan menghilang dalam bayangannya sendiri!"
Putri Kao Tong tidak segera menangkap arti perkataan Seng Kong-kong.
Putri Kao Tong sekarang tidak perlu mengerti seorang Seng Kong-kong.
Karena begitu berhasil rencana mereka, posisi-nya akan lebih tinggi dari Kong-kong.
Dia menganggap Kong-kong berpikiran sempit juga aneh, tidak mengerti hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Ini adalah sebuah pelajaran penting.
Yang tidak bisa Kong-kong mengerti adalah pelajaran ini, tapi dia sengaja mencampuri masalah ini.
Putri Kao Tong merasa dia adalah orang yang paling pintar dalam masalah ini.
Seng Kong-kong ingin menjadi muridnya pun tidak layak.
Maka dia tertawa lagi.
Menarik nafas dan tertawa pasti berhubungan erat.
Seng Kong-kong tahu mengapa putri tertawa terus.
Dia tahu kalau putri mengira dirinya adalah pemenang dalam perang cinta.
Perubahan pikiran manusia sulit ditebak, perang cinta hanyalah bagian kecil dari medan besar dalam kehidupan manusia.
Maka Seng Kong-kong tidak mengeluarkan suara.
"Mengapa Kong-kong tidak bicara lagi?"
"Rasanya aku bicara juga percuma!"
"Tidak, aku selalu menganggap Kong-kong seorang guru, teman, dan orang yang lebih tua!"
"Apakah benar?"
"Kita bekerja sama, tidak perlu ada rahasia, mengapa Kong-kong tidak percaya kepadaku?"
Sekarang Kong-kong baru tertawa.
Seng-yan-kong benar-benar khawatir.
Putri Kao Tong terlalu sayang dan percaya kepada Wie Kai.
Sekarang Kong-kong tidak lagi meremehkan kekuatan tiga anak muda itu.
Kalau tidak meremehkan mereka berarti dia harus berhati-hati menghadapi mereka.
"Silakan, katakan!"
Kata putri Kao Tong.
"Aku takut putri akan menyalahkanku karena terlalu mengada-ada dan mengeluarkan kata-kata yang tidak ada buktinya!"
"Kita sudah bekerja sama, maka semua masalah bisa kita ungkapkan!"
Kata putri Kao Tong.
"Kesombongan dan rasa rendah hati adalah hal sebaliknya. Kedua-duanya seperti sebuah pedang tajam. Kedua-duanya akan membuat orang terluka!"
Putri Kao Tong menutupi rasa tidak sukanya kepada Seng Kong-kong. Rasa tidak senangnya terpaksa disimpan di dalam hatinya.
"Maafkan atas kebodohan dan tidak setiaanku, putri!"
"Kong-kong tidak perlu sungkan, aku tahu Kong-kong benar-benar berbaik hati kepadaku!"
"Baik! Aku berharap putri lebih berhati-hati!"
"Aku tahu!"
"Lebih baik jangan tinggal dengan Wie Kai, bila rencana kita sudah berhasil, semua akan lancar-lancar saja!"
Wajah putri terlihat lagi tidak suka.
"Apakah Kong-kong tidak merasa sudah kelewat batas?"
"Putri belum mengerti tentangku...."
"Ini adalah masalah pribadiku juga masalah rumah Lama!"
Seng-yan-kong melihat putri, dia tertawa kecut dan menggelengkan kepala lalu berkata sendiri.
"Benar-benar di luar dugaanku. Laki-laki dan perempuan bila sudah jatuh cinta sulit melihat jelas semuanya!"
"Kong-kong jangan marah, aku adalah orang yang tahu batas!"
"Aku harap begitu! Aku pamit dulu!"
"Hati-hati, Kong-kong!"
"Apakah putri masih ada pesan?"
"Walaupun usiaku tidak setua Kong-kong, tapi aku bisa memberitahu Kong-kong!"
"Tentang apa?"
"Jangan melakukan perbuatan jika tidak yakin"
"Baik, putri benar-benar sangat baik, aku kagum kepada putri, aku pamit dulu!"
Setelah mengantar Seng-yan-kong keluar. Terlihat Wie Kai sudah berada di dalam kamar.
"Apakah kau mendengar semuanya?"
"Mendengar apa?"
Tanya Wie Kai.
"Apakah kau tidak mendengar pembicaraan antara aku dan Kong-kong?"
"Kalian sedang membicarakan apa?"
"Apakah kau tidak diam-diam mendengar semua percakapan kami?"
Wie Kai merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Semua sudah kau berikan kepadaku, hanya ada semacam benda yang tidak kau berikan kepada-ku!"
"Apa?"
"Kau tidak percaya pada hatiku!"
"Bocah, kau benar-benar tidak punya hati nurani!"
"Apa maksudmu?"
"Seng-yan-kong selalu curiga kepadamu, kalau bukan karena aku selalu melindungimu, seperti kemarin ini, kau tertangkap di depan pintu ruang rahasia Seng Kong-kong, kalau bukan karena aku buru-buru melindungi dan mengaku akulah yang menyuruh mu menunggu di luar, mungkin kau sudah berada di atas panggung eksekusi!"
"Aku sangattahu jelas masalah ini, maka dari awal aku sudah memberikan hatiku kepadamu!"
"Apakah benar?"
"Apa? kau masih juga tidak percaya?"
"Kalau aku tidak percaya, aku tidak akan terus membantah Seng Kong-kong?"
"Kau membantahnya, apa yang kau katakan?"
"Dia curiga kepadamu!"
"Curiga tentang apa?"
"Tidak jujur dan tidak bisa dipercaya!"
"Oh Langit! Rupanya manusia tidak boleh berbuat kesalahan, sekali saja berbuat kesalahan akan terus diingat, padahal orang suci pun bisa berbuat salah!"
"Coba berikan contohnya!"
"Menurut Kong-hu-cu, '40 tahun tidak mudah ditipu', menurut Beng-cu,'40hati tidak bergerak', itu jelas-jelas memberitahu kita sebelum usia 40 tahun bila melihat emas hati manusia akan bergerak, melihat wanita secantik dirimu, tentu akan jatuh cinta juga." (Kong-hu-cu atau Beng-cu adalah orang bijak atau pelajar terkenal dari jaman Tiongkok kuno).
"Bocah, aku sulit berdebat denganmu, aku selalu kalah!"
Wie Kai membuka tangannya diam-diam ber-jalan keluar. Putri terkejut dan berteriak.
"Wie Kai, kau mau ke mana?"
"Ada apa?"
Wie Kai berhenti melangkah tapi dia tidak membalikkan tubuh.
"Apa yang terjadi padamu? Mengapa tiba-tiba marah?"
"Mengapa aku marah?"
"Apakah aku sudah berbuat kesalahan?"
"Walaupun kau sudah salah bicara atau marah, bahkan memukulku, aku tidak akan menyalahkanmu, aku masih ingat sewaktu aku baru kembali, di penjara kau menendangku, memukulku."
"Apa? Kau masih menaruh di hati semua perlakuanku itu?"
"Tidak, aku tidak menyalahkanmu, kalau kau tidak marah atau memukulku, aku malah merasa malu dan bertambah sedih!"
Putri Kao Tong terpaku, tapi segera dengan terharu menempelkan wajahnya ke wajah Wie Kai, lalu mengeluselus wajah Wie Kai. Wie Kai terpaku.
"Bocah, sifatmu benar-benar keras!"
"Bila melukai orang jangan melukai hatinya, melukai pohon jangan melukai akarnya!"
Kata Wie Kai.
"Tadi kau ada di mana?"
"Putri, aku harus pergi dari sini!"
"Pergi? Pergi ke mana?"
"Meninggalkanmu!"
"Kau benar-benar tidak punya hati nurani, kau...kau..."
"Kalau aku tidak pergi dari sini, Seng-yan-kong akan terus mengganggumu!"
"Asal ada aku, kau takut apa?"
Dengan lembut putri Kao Tong bicara.
"Bukan seperti itu maksudku, kecurigaan Seng-yan-kong terlalu besar, aku takut suatu hari nanti kau akan lebih percaya padanya dibandingkan aku, waktu itu aku sudah tidak bisa membela diri lagi, aku akan mati!"
"Aku tidak mengijinkanmu mengatakan mati!"
Putri Kao Tong menutup mulut Wie Kai dengan jari-jarinya yang lembut.
"Kalau kau tadi mendengar pembicaraanku dengannya, kau tidak akan pergi!"
"Kalian tadi membicarakan apa?"
"Aku sudah membangkang kepadanya."
"Demi diriku?"
"Kalau bukan demi dirimu, lalu demi siapa?"
"Putri, kau benar-benar istri yang baik, apakah aku layak mendapatkan hal seperti itu?"
Mata genit putri Kao Tong benar-benar indah, dia meleleh dalam pangkuan Wie Kai.
"Bocah, kalau kau tidak layak, lalu siapa yang layak?"
Tiba-tiba Wie Kai mengendongnya.
Putri Kao Tong seperti seekor kucing jinak berada dalam pelukan Wie Kai.
Dia mencium putri Kao Tong dan menggendongnya masuk ke dalam kamar.
Malam.
Loo Cong sedang mengobati luka di punggung Leng-ji.
Luka pecut di punggung Leng-ji sebenarnya sudah hampir sembuh, tapi karena sudah beberapa hari tidak diobati, ditambah dengan udara panas, maka lukanya belum sembuh benar, apa lagi terkena goresan tombak Cian-siu.
"Hati-hati, setiap hari harus selalu diobati!"
"Luka di punggung sulit sembuh, bila tidur secara tidak sengaja akan tertindih!"
"Berusahalah tidur dengan posisi miring!"
"Bagaimana dengan kita?"
"Apa maksudmu dengan kalimat bagaimana dengan kita?"
Loo Cong menghentikan gerakan tangan nya dan bertanya.
"Apakah seumur hidup akan seperti ini?"
"Apa boleh buat, dari pada kepala kita melayang!"
Leng-ji menarik nafas dan tidak bersuara lagi.
"Kita ceritakan hal lain!"
"Cerita apapun tidak bersemangat!"
"Aku tahu, kau merindukan Siau-kai."
"Tidak... tidak."
Leng-ji dengan cepat membela diri.
"aku tidak merindukan dia, aku tidak akan menyiksa diriku lagi."
"Tapi kau selalu terlihat tidak gembira!"
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Siau-loo, aku tahu kau sangat baik kepadaku, memperhatikanku, semua ini melebihi perhatianmu kepada dirimu sendiri..."
Loo Cong terdiam, Leng-ji bertanya.
"Kau melihatku lagi?"
Loo Cong masih diam, Leng-ji membalikkan tubuh, mereka saling berpandangan.
Tiba-tiba Loo Cong memeluknya.
Ini terjadi secara alamiah.
Tapi Leng-ji mendorongnya.
Sebenarnya Loo Cong adalah pasangan yang sangat ideal.
Mereka bersahabat, apa lagi dalam beberapa waktu ini dia selalu melindungi dan menyayanginya.
Semua terukir di hati Leng-ji tapi hatinya sudah milik Siau-kai.
Walaupun Siau-kai sudah membuat hatinya hancur.
mengkhianatinya dan Tapi saat sekarang dia tidak bisa menampung orang kedua.
Leng-ji tidak mungkin menampung orang kedua lagi.
Maka Leng-ji turun dari ranjang.
"Tidak, Siau-loo..."
Betul, tidak bisa, mereka tidak bisa melakukan ini.
Loo Cong mengaku mereka tidak bisa melaku-kan hal ini.
Kesadaran yang muncul di saat yang tepat adalah benar.
Di waktu yang tepat saat api sudah padam, hal yang akan membuat orang merasa menyesal seumur hidup sudah terhindar.
Walaupun Siau-kai sudah mengkhianati dan membuat Leng-ji terbuka, tapi mereka tetap tidak bisa melewati batas ini.
"Leng-ji... maaf... maafkan... aku!"
Mereka sangat tegas dan tangguh.
Nafsu tidak bisa mengalahkan mereka.
Mereka berlari keluar.
Ada yang di depan ada yang di belakang.
Hanya ada lampu kecil dengan api yang masih terus berloncatan.
Api nafsu adalah api bintang.
Api ini bisa meluas juga bisa membakar apa yang ada di dunia ini.
Dengan baju tidak rapi, Leng-ji berlari keluar dari rumah itu.
Dia berlari dengan cepat seperti orang gila.
Hanya berlari baru bisa menghentikan api nafsu.
Mematikan nafsu bukan hal yang gampang.
Api nafsu mereka tidak di depan lawan jenis mana pun akan muncul.
...
Hanya Leng-ji yang ada di depan Loo Cong maka hal ini bisa terjadi.
...
Hanya Loo Cong yang berada di sisi Leng-ji maka bisa begitu.
Mereka saling merasa berhutang budi juga saling memikat.
Perasaan ini ada di hati mereka yang kecil, memang sulit menahan perasaan yang diketuk-ketuk.
Loo Cong pun merasa seperti itu.
Sudah lama mereka bersama-sama melewati pagi dan malam, walaupun mereka berusaha menahan diri dan berusaha tidak membuat semangat lawan berkobar, tapi perasaan ini sulit dimengerti.
Dia akan merasakannya.
mengganggu, di waktu kau tidak Dia akan membuatmu kalang kabut.
Dia juga akan membuatmu merasa malu dan menyesal.
Loo Cong mengejar dari belakang.
"Leng-ji... Leng-ji..."
Leng-ji berlari dengan cepat sambil melafalkan musimmusim untuk bertani.
"Li-chun, Siau-yu."
Loo Cong di belakang juga melafalkan.
"Siau-cu... Tacu..."
Mereka benar-benar seperti berada dalam pusaran udara panas.
Keringat membasahi baju, wajah memarah nafas pun ngos-ngosan.
Tapi mereka sangat beruntung.
Mereka tidak melakukan kesalahan.
Tidak semua pasangan pemuda pemudi bisa melakukan hal ini.
-ooo0dw0oooBAB III Air terjun itu tidak begitu besar.
Tingginya sekitar 10 tombak.
Ada mata air yang mengalir dari atas gunung.
Ada sebuah kolam kecil, airnya terus ber-ceceran saat air terjun turun.
Di sekeliling sana banyak batu yang ditumbuhi lumut.
Air kolam sangat bening.
Mereka berdua tertawa di dalam kolam.
Mereka berdua mengerti arti tawa ini.
Setelah bisa lolos dari bahaya mereka merasa beruntung maka cara terbaik mengungkapkannya adalah dengan tertawa.
"Leng-ji, aku yang salah!"
"Tidak, jangan salahkan siapa pun!"
"Untung kepalamu lebih dingin dan kau lebih punya akal sehat!"
"Kau lebih dingin dan lebih punya akal sehat,"
Sambung Leng-ji. Loo Cong yang berada di kolam mencuci kepala dan mukanya. Air kolam yang dingin menyiram api nafsu itu hingga padam.
"Kepalaku lebih dingin dan lebih sehat dari siapapun"
"Kau bisa ramah dan tenang, lebih gampang menolak!"
"Hal seperti apa yang sulit ditolak?"
"Perasaan yang bisa meleburkan besi!"
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Tapi...
suara tawa mereka tiba-tiba berhenti.
Mereka seperti tahu akan terjadi sesuatu.
Karena itu mereka saling berpelukan di dalam kolam.
Mungkin inilah pelukan mereka yang terakhir.
Mereka bertekad menjaga rasa persahabatan yang suci.
Ini adalah hal yang membanggakan mereka.
Sekarang dengan saling memeluk bukan hal yang keterlaluan.
Karena bahaya mulai mendekat.
Mereka mendengar ada suara.
Mereka mencium ada bau darah.
"Mereka lagi!"
Kata leng-ji dengan dingin. Dengan serius Loo Cong berkata.
"Tidak ada yang lain!"
Mereka melihat ke atas air terjun, bayangan orang sangat banyak.
Seng Kong-kong paling depan, masih ada Mo Ki-thian dan banyak La-ma, mereka sudah mengelilingi Leng-ji dan Loo Cong.
Dalam keadaan seperti itu walaupun mereka mempunyai semangat tinggi, tapi dalam hati mereka sadar kalau malan ini mereka akan habis.
Apa lagi mereka tidak membawa senjata.
Hari seperti ini pasti akan datang.
Mereka sadar apa yang tersimpan di dalam hati tidak akan bisa diungkapkan.
Mereka memisahkan diri dari pelukan.
Walaupun begitu mereka tidak akan tunduk.
"Leng-ji, Loo Cong, Seng Kong-kong datang menjemput kalian untuk mati!"
Teriak Mo Ki-thian.
"Terima kasih, Kong-kong!"
Kata Loo Cong.
"Loo Cong!"
Teriak Seng Kong-kong.
"Siap, Kong-kong!"
"Apa aku tidak baik kepadamu?"
"Baik!"
"Kalau aku mengkhianatiku?"
Baik padamu, mengapa kau "Yang kumaksud dengan kebaikan Kong-kong diartikan lain!"
"Diartikan apa?"
"Apakah manusia?"
Kong-kong pernah menganggap kami Seng-yan-kong marah.
"Apa salahku kepada kalian?"
"Demi rencana busukmu, kau mengumpulkan uang di sana sini, merebut harta orang lain, juga menggunakan ilmu sihir menyuruh kami melakukan hal yang merugikan..."
Mo Ki-thian membentak.
"Berani sekali kau..."
Dia turun dari atas air terjun menjatuhkan diri ke tengah-tengah air kolam.
Dia ingin membuat jasa besar di depan Kong-kong.
Dia mengira lawan tidak bersenjata sedangkan dia memegang senjata.
Apa lagi kalau dia kalah, pasukan yang sangat banyak akan datang dan bisa segera ke sana.
Leng-ji dan Loo Cong sudah tidak bisa mundur.
Mereka sudah tidak segan-segan lagi.
Baru saja Mo Ki-thian turun Loo Cong segera menyerang.
Mo Ki-thian menyapu dengan pedang baru turun.
Loo Cong menendang ke atas.
Mo Ki-thian terpelanting beberapa meter.
Belum sempat turun tapi sudah memuntahkan darah.
Dua La-ma ikut turun.
La-ma ini mengira ilmu ketiga anak muda yang mereka pelajari dari La-ma bisa gampang mereka tangani.
Tapi mereka tidak tahu kalau ke tiga orang itu sewaktu masuk Eng-hong-pie-ya sudah menguasai ilmu silat dari aliran lain.
Apa lagi Wie Kai, diam-diam sering mengajar-kan mereka.
Karena Wie Kai adalah salah satu keturunan 'Bu-lim-topit' (Golok dan pena dunia persilatan), dia mempunyai dasar ilmu silat yang sangat kuat.
Dua La-ma masing-masing bertarung dengan Leng-ji dan Loo Cong.
Loo Cong sengaja memaksa La-ma masuk ke dalam air yang dalam.
Leng-ji memancing La-ma yang lain keluar dari kolam.
Karena dia tidak bisa berenang.
Loo Cong menggunakan kekurangan musuh.
keahliannya menyerang La-ma itu tidak bisa berenang.
Dengan air sebatas pinggang, bagi yang tidak bisa berenang merupakan kerugian besar.
Loo Cong memukulnya sampai pingsan.
Leng-ji dan La-ma yang ada di luar kolam masih bertarung, sampai sekarang belum tahu siapa yang kalah atau menang.
Loo Cong bertarung dengan dua La-ma lagi.
Dua La-ma itu sepertinya mengerti tentang teknik berenang.
Mereka berani keluar untuk bertarung dengan Loo Cong.
La-ma yang datang ke Tionggoan selalu menganggap ilmu silat mereka paling lihai.
Mereka menganggap remeh ilmu silat Tionggoan.
Tapi sekarang mereka telah kehilangan beberapa La-ma berilmu tinggi, maka mereka tidak ragu-ragu lagi membunuh.
Dua La-ma yang agak mengerti tentang teknik berenang memandang enteng Loo Cong.
Ketika Loo Cong memancing mereka masuk ke air yang lebih dalam, tanpa sadar mereka masuk ke tempat itu.
Begitu sampai di air yang dalam, Loo Cong tiba-tiba menghilang.
Sewaktu dua La-ma sedang mencari-carinya, salah satu La-ma tiba-tiba berteriak aneh kemudian dia tenggelam ke dalam air.
Sedangkan yang satu lagi merasakan ada hal yang aneh, terpaksa dia turun kedalam air.
Karena Seng Koiig-kong dan La-ma lain berada di atas gunung, mereka bisa melihat pertarungannya.
Begitu masuk ke dalam air La-ma segera di-totok oleh Loo Cong.
Saat dia akan memberontak sebelah tangan Loo Cong masuk ke dalam pautnya.
Mayat La-ma tadi sudah terapung.
Leng-ji berhasil memukul jatuh seorang La-ma, tapi nafasnya terengah-engah.
Kekhawatiran bisa membuatnya terluka.
Setiap hari dia selalu sedih dan merasa khawatir, jarang berlatih ilmu silat yang pasti kemam-puan ilmu silatnya menurun.
Paling sedikit kekuatan tubuhnya menurun.
Seorang La-ma menghadangnya.
ingin turun tapi Seng-yan-kong Bila ada yang ingin bertarung, dia mempunyai orang yang berani berebut bertarung.
Di atas gunung atau di bawah gunung tidak ada suara.
Ilmu silat Seng-yan-kong sangat tinggi, tidak ada yang meragukannya.
Tapi tidak ada yang pernah melihat dia pernah bertarung dengan seseorang.
Dulu ketiga anak muda itu berlatih silat dan Seng-yankong yang mengajar mereka, tapi itu bukan benar-benar melawan musuh.
Sekarang semua orang bisa melihat ilmu silat Seng-yankong.
Mo Ki-thian terluka berat, dia tidak sanggup mengatur anak buahnya lagi.
Dia dibawa oleh anak buahnya keluar dari kolam itu.
Mayat-mayat La-ma yang terapung di kolam sudah dipindahkan oleh La-ma lain.
Setelah membunuh beberapa orang Loo Cong terluka.
"Loo Cong, Leng-ji."
Teriak Seng-yan-kong.
"Siap!"
Sahut Loo Cong. Tapi Leng-ji tidak mengeluarkan suara.
"Kalian berdua sama sekali tidak menyesal!"
"Tidak melakukan kesalahan mengapa harus merasa menyesal?"
Tubuh Seng-yan-kong sedikit bergetar.
"Loo Cong!"
"Kong-kong tidak perlu banyak bicara?"
"Apa kesalahan Kong-kong kepadamu? Sebutkan!"
"Kong-kong bisa bertanya kepada diri sendiri, merebut harta orang, membunuh keturunannya, apa-kah itu perilaku seorang laki-laki sejati?"
Dengan penuh kemarahan Seng-yan-kong berkata.
"Bila mau sukses cara yang dia gunakan adalah mengumpulkan uang!"
"Apa maksud perkataan Kong-kong?"
Tanya Loo Cong.
"Kalau yang dibunuh adalah keturunan Kong-kong, harta yang direbut adalah harta Kong-kong, bagaimana perasaanmu? Anak perempuan LimPut-hoan mati karena golokmu, apa salah mereka?"
Tubuh Seng-yan-kong bergetar oleh tiupan angin malam. Loo Cong dengan nada getir berkata lagi.
"Masih ada lagi, apa yang sedang di kerjakan Kong-kong dan Kao Tong? Apakah bisa menutupi mata orang lain? Kong-kong, kalau Loo Cong mati tidak apa-apa, tapi aku harus menasehati Kong-kong, kedudukan tidak perlu tinggi-tinggi, malah akan berbahaya, melakukan sesuatu jangan terlalu kejam, kalau tidak akan jatuh!"
Dengan dingin Seng Kong-kong berkata.
"Loo Cong, aku benar-benar mengagumi keberanianmu!"
"Keadilan ada di depan, mati atau hidup tidak perlu ditakuti."
Tiba-tiba Seng Kong-kong mengeluarkan raungan besar.
Terlihat dia sangat marah.
Sebab tidak ada orang yang pernah berkata seperti ini.
Sekarang orang yang bicara adalah terpidana yang sedang menunggu hukuman mati.
Tiba-tiba dia tertawa aneh!
Tawanya belum selesai, dia sudah turun dari atas dengan jurus 'Han-tong-ho-to'!
(Di kolam dingin bangau menyeberang).
Dari gunung begitu tinggi dia meloncat turun, semua butuh tenaga pinggang ekstra kuat.
Tapi Seng-yan-kong adalah Seng-yan-kong.
Dia berlari di atas air seperti sedang bermain es skating, tiga langkah meluncur dia sudah berdiri di atas batu.
Sepatunya sama sekali tidak basah.
Loo Cong dan Leng-ji benar-benar terkejut.
Tapi apa boleh buat mereka sudah mencapai tahap ini, merasa takut pun sudah tidak ada gunanya lagi, mereka segera siap siaga.
Seng-yan-kong berharap mereka menyerahkan diri.
Paling sedikit bisa memberikan muka kepada-nya.
Terlihat mereka berdua akan bertarung mati-matian.
"Baik! Kalian berdua bertarunglah denganku!"
Dengan dingin Seng-yan-kong berkata.
"murid yang kuajar malah balik mencakarku! Ha ha ha!...."
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Berikan golokku kepadanya!"
Loo Cong memegang golok Seng Kong-kong.
Dulu dia sering memegang golok ini untuk berlatih silat.
Hari ini dengan golok Seng Kong-kong dia akan menyerang Seng Kong-kong.
Leng-ji memungut sebuah pisau belati.
Dalam pikirannya walaupun hanya sebuah pisau belati, ini lebih baik dari pada tangan kosong.
Kalau mereka berdua bisa mengalahkan Seng-yan-kong dalam 1-2 jurus, itu sudah sangat beruntung.
Paling sedikit Seng Kong-kong tidak akan segera membunuh mereka.
Lawan terlalu kuat.
Walaupun mereka akan bertarung mati-matian tapi mereka tetap tahu semua ini harus mengandalkan nasib mujur!
"Kalian berani bertarung denganku, benar-benar membuatku ingin melihat kalian dari sisi yang lain.
Kalau kalian berdua bisa menerima 20 jurus dan tidak kalah, aku tidak akan membunuh kalian sekarang dan, setelah kalian menyesali perbuatan kalian aku akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk menebus kesalahan!"
"Terima kasih!"
Kata Loo Cong.
"Mulailah!"
Kata Seng Kong-kong.
Loo Cong dan Leng-ji saling berpandangan.
Mereka tidak perlu bersuara sudah mengerti apa keinginan lawan.
Loo Cong menyerang dulu.
Ini adalah jurus golok yang penuh dengan perubahan.
Jurus golok ini adalah gabungan jurus golok Seng Kongkong juga jurus golok Wie Kai, dan jurus yang diteliti oleh Loo Cong sendiri!
Boleh dikatakan jurus golok ini adalah inti sari jurus goloknya.
Dia menyerang Seng Kong-kong dengan jurus ini supaya Seng Kong-kong memperhatikannya dan Leng-ji bisa menyerangnya dari belakang.
Leng-ji sudah melihatnya pada saat yang tepat dia menyerang dengan pisau belati.
Jurus pisau belati ini dianggap Leng-ji sebagai jurus yang paling membuatnya merasa puas.
Setiap pesilat pasti mempunyai jurus yang dianggapnya paling dibanggakan.
Bila seseorang telah menyukai sesuatu, dia akan bertambah perhatian pada hal itu.
Maka saat mereka mengeluarkan jurus pertama keluarlah jurus yang dahsyat.
Seng Kong-kong sangat percaya diri.
Kalau tidak dia tidak akan meminjamkan senjatanya kepada Loo Cong.
Tadinya golok itu digantung di rumah mereka, Seng Kong-kong ke rumah mencari mereka dia mengambil golok itu.
Setelah Seng Kong-kong menerima jurus mereka, hatinya bergetar.
Ini alasanya mengapa mereka dikejar oleh kekuatan besar selama pelarian tapi mereka tetap bisa membunuh musuh yang kuat dan bisa lolos.
Sampai-sampai Yu Tai-jin pun tidak terkecuali.
Ini bukan suatu kebetulan.
Seng Kong-kong tidak menyangka mereka bisa sekuat itu, dia dipaksa mundur oleh kedua anak muda itu.
Tiba-tiba Seng Kong-kong tertawa terbahak-bahak.
Sebagai seorang Seng Kong-kong?
Tentu saja dia sudah melihat jurus golok Loo Cong tadi merupakan gabungan dari kelebihan beberapa aliran golok di gunia persilatan.
Jurus Leng-ji tadi juga mengandung banyak darah dan keringat, sudah menghabiskan banyak pemikiran baru terangkai menjadi jurus ini.
Yang dikatakan jurus andalan adalah jurus-jurus di mana orang lain belum terpikirkan, berlatih ilmu silat yang orang lain belum pernah berlatih, dengan ilmu yang tinggi menyerang kekurangan musuh.
Semua orang merasa terkejut.
Apa lagi Mo Ki-thian, dia lebih-lebih merasa malu.
Walaupun Seng Kong-kong meminjamkan golok itu kepadanya dan dia berlatih 10 tahun lagi, tapi dia tetap tidak akan mungkin bisa menghasilkan jurus seperti mereka!
Seng Kong-kong mulai menerima jurus kedua dan ketiga, tiba-tiba dia berteriak.
"Bagus!"
Mengapa dia berseru bagus!
Karena jurus yang bisa memaksanya mundur merupakan kemuliaan baginya.
Siapa yang tahu dalam serangan Loo Cong terkandung ilmu orang lain?
Apa lagi dengan tangan kosong dia menyambut serangan 2 anak muda itu, bila dipaksa mundur itu bukan masalah besar!
Bukankah ini adalah contoh baik bagi seorang yang terkenal?
Tiba-tiba rasa percaya diri Leng-ji muncul kembali..Dia belajar lebih banyak dari Siau-kai dan banyak mengikuti petunjuk Siau-kai.
Hanya sayang tenaganya tidak sekuat Loo Cong, apa lagi senjatanya pendek, maka ilmu yang dia pelajari dari Siaukai tidak bisa keluar secara maksimal.
Mereka bergabung dengan kompak dan serangan mereka ganas.
Walaupun Seng Kong-kong adalah pesilat tangguh, tapi setelah 5-7 jurus dia masih belum bisa menangkap mereka.
Walau sudah berumur, Seng Kong-kong punya ilmu meringankan tubuh yang tidak kalah dari anak muda, dia bisa bergerak cepat.
Dalam 20 jurus dengan tangan kosong dia harus mengalahkan mereka berdua.
Sayangnya ilmu andalan kedua anak muda itu tidak banyak.
Jurus yang mereka kuasai hanya 5-7 jurus.
Jurus-jurus yang membuat mereka merasa percaya diri sudah habis digunakan, sedangkan pertarungan baru 12-13 jurus, sekarang mereka mulai merasa tertekan.
Mereka bertiga bertarung dalam kolam.
Air setinggi merugikannya.
pinggang, bagi Leng-ji itu sangat Tapi Loo Cong bisa berenang, Kong-kong pun demikian.
Tiba-tiba Seng-yan-kong membentak, telapak tangannya menyapu.
Pisau belati Leng-ji jatuh ke dalam air.
Loo Cong menyerang, dia ingin menolong Leng-ji yang berada dalam bahaya.
Tapi Seng-yan-kong mulai mengeluarkan jurus-jurus yang belum pernah dia keluarkan.
Hanya sekelebat dia sudah berhasil mencengkeram pergelangan tangan Leng-ji.
Rasa kecewa dan sedih, dirasakan oleh kedua anak muda itu.
Loo Cong hanya terlambat sedikit.
Sebab di dalam air dibandingkan di luar air.
gerakannya lebih lambat Seng Kong-kong meraung.
Dia mengangkat tubuh Leng-ji.
Loo Cong tidak berani menyerang, dia takut goloknya akan membuat Leng-ji terluka.
Seng-yan-kong mengangkat dan menceburkan Leng-ji kedalam air.
Satu kali...
dua kali...
tiga kali...
"Aku tidak takut, biarkan aku mati!"
Teriak Leng-ji.
Sekali lagi dia memperlihatkan kegagahan dan sifatnya yang keras seperti saat di depan pisau pemenggal.
Hati Seng-yan-kong diam-diam memuji.
Tapi api kemarahan sudah memenuhi dadanya, dia sudah tidak bisa menghentikannya.
Terlihat tubuh Leng-ji terus dibanting ke dalam air.
Membuat air kolam yang dalamnya 4 kaki lebih karena kekuatannya menjadikan tiang air tinggi hingga bisa melihat dasar kolam.
Bisa di bayangkan tenaganya sekuat apa.
Baca Juga: Lembah Nirmala 13
Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 9