Eps 4 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.
Kiranya masih ada dua pengiring yang datang bersama, cuma keduanya berjaga di luar dan tidak ikut masuk.
Han Wi-bu lantas membawa Ogotai dan Koai-hoat Thio ke sebuah kamar sunyi, lalu mengundurkan diri.
Begitu Han Wi-bu keluar, seketika Ogotai menarik muka dan berkata.
"Te Sim, besar amat nyalimu, berani kau datangi rumahku dan mengacau?"
"Kurasa Congkoan-taijin juga tidak kurang keberanianmi, barang yang sudah dicari kerajaan selama 70 tahun ternyata berani kau sembunyikan di rumah tanpa dipersembahkan kepada Sri baginda yang sekarang?"
Jawab Koai-hoat Thio dengan ketus. Hati Ogotai tergetar, meski dia berlagak tenang tidak urung suaranya rada gemetar juga.
"Baik, biarlah kita bicara secara blak-blakan saja. Surat wasiat tinggalan kaisar Khong-hi itu apakah dicuri olehmu?"
Kiranya surat wasiat tinggalan kaisar Khong-hi itu menyangkut Keputusan putra mahkota yang diangkatnya, urusan ini sangat penting dan menyangkut kerukunan keluarga kerajaan, ada maksud Ogotai bilamana Liong Leng-cu sudah tertangkap barulah dia akan melaporkan kepada kaisar tentang surat wasiat itu.
Kalau dia cuma mempersembahkan surat wasiat itu saja, bila kaisar tanya dari mana surat wasiat itu diperoleh,, hal ini tentu akan sulit dijawab olehnya.
Meski, dia dapat berdusta bahwa surat wasiat itu direbut dnri keturunan Lian Keng-hiau (kisah Lian Keng-hiau yang jenius dapat dibaca, dalam .."Tiga Dara Pendekar").,.tapi tanpa berhasil menangkap buronan kerajaan tetap merupakan sesuatu yang harus disesalkan, bahkan bisa jadi akan diomeli Sri Baginda karena tidak melaksanakan tugas dengan baik.
Surat wasiat itu olehnya disembunyikan di dalam sebuah peti besi yang ditambah dengan gembok lagi dan ditaruh di kamar tidurnya, tapi pagi tadi waktu dia bangun tidur diketahui di atas meja menancap sebilah belati kecil dengan sehelai surat yang tertulis.
"Harap datang ke Cin-wan-piaukiok untuk bertemu Te Sim". Bahwa ada orang berani menyusup ke rumahnya, bahkan meninggalkan surat dengan belati, hal ini sudah cukup membuatnya terkejut, malahan waktu ia membuka peti besi dan diketahui surat wasiat itu pun sudah terbang tanpa bekas, keruan ia tambah terkejut.
"Jangan kuatir, Congkoan-taijin,"
Demikian ucap Koai-hoat Thio dengan tertawa.
"Meski sudah kubaca isi surat wasiat itu, tapi tidak kucuri surat itu dan masih tertinggal di rumahmu."
Habis berkata ia sengaja membaca di luar kepala isi surat wasiat itu dengan tepat, malahan ia melukiskan pula bentuk kertas surat dan stempelnya segala untuk membuktikan bahwa dia memang benar telah membaca surat itu dan tidak membual belaka.
Air muka Ogotai tampak berubah pucat, sedapatnya ia berlagak tenang, katanya.
"Aku tidak menyangsikan surat itu sudah kau baca, tapi kuragukan ucapanmu tadi. Kau bilang surat itu tidak kau curi, mengapa tidak kutemukan meski sudah kucari."
"Ya, hal itu lantaran kukuatir orang lain akan mencurinya juga, maka telah kusembunyikan di suatu tempat yang sangat dirahasiakan dalam lingkungan kediamanmu,"
Kata Koai-hoat Thio dengan tertawa.
"Sudah tentu, hanya aku sendiri yang tahu tempat itu. Tapi bilamana Congkoan-taijin hendak mencarinya dengan teliti bukan mustahil akan dapat kautemukan juga. Cuma untuk itu kukira diperlukan banyak tenaga dan pikiran."
Ogotai merasa sangsi dan setengah percaya, ucapnya sambil menatap orang dengan tajam.
"Bilamana engkau sudah sengaja mencuri surat wasiat itu, mengapa tidak sekalian kaubawa lari?"
"Kautahu aku biasa berkelana kian kemari, bilamana kubawa benda sepenting itu, kan harus kukuatirkan kalaukalau dicuri lagi oleh orang yang terlebih pandai daripadaku, bahkan juga harus kukuatirkan akan hilang sehingga hatiku senantiasa diliputi rasa kuatir, lalu dapatkah aku, tidur nyenyak dan makan kenyang? Sebaliknya kalau kusembunyikan di tempat Congkoan-taijin tentu lain halnya, sebab hanya aku sendiri yang tahu tempat sembunyinya, satusatunya orang yang kukuatirkan hanya Congkoan-taijin saja. Namun untuk ini aku bersedia bertaruhan untung-untungan denganmu. Kalau saja engkau membongkar setiap jengkal tempat kediamanmu, akhirnya surat wasiat itu pasti akan kau temukan juga, meski akan makan waktu cukup lama."
Dengan sendirinya tidak mungkin Ogotai membongkar rumahnya sendiri, jangankan bukan cara yang baik, malahan kalau ketahuan kaisar dan ditanya, lalu cara bagaimana akan memberi penjelasan?
Karena itulah muka.
Ugotai berubah pucat lagi, sejenak kemudian baru berkata.
"Sebenarnya apa arti perbuatanmu ini?"
"Tidak ada arti apa-apa, hanya kuminta Congkoan-taijin suka rela mengadakan suatu bisnis denganku,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Kalau aku tidak mau, lantas bagaimana?"
Tanya Ogotai.
"Jika begitu, terpaksa akan kulaporkan kepada Hongsiang (sri baginda) tempat sembunyi surat wasiat itu, kukira kau percaya akan kemampuanku ini,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Maka dapat kau pikir sendiri bagaimana akibatnya dan apa yang akan kau terima."
"Jika kuterima permintaanmu, apakah surat wasiat itu akan segera kau kembalikan kepadaku?"
Tanya Ogotai.
"Wah. tidak bisa,"
Jawab Koai-hoat Thio sambil menggeleng.
"Lantas terhitung bisnis macam apa"
Kata Ogotai dengan gusar Aku berjanji takkan melaporkan kepada Hongsiang untuk selamanya,"
Tukas Koai-hoat Thio.
"Selama Hongsiang tidak tahu kejadian ini, tentu engkau pun bebas dari dosa, ku bicara terus terang saja padamu, soalnya kukuatir engkau tidak pegang janji, begitu surat wasiat itu kukembalikan padamu, mungkin engkau akan terus bertindak lain. Padahal bisnis yang akan kita lakukan ini bukan untuk sekali jual-beli saja melainkan harus ditaati bersama dalam jangka panjang."
"Baiklah, coba katakan, sesungguhnya bisnis apa dan bagaimana perjanjiannya?"
Tanya Ogotai.
"Aku hanya ingin kembali menjadi pemegang saham Cinwan-piaukiok dan tidak boJeh pihak pemerintah mencari kesulitan padaku,"
Kata Koai hoat Thio. Karena terdesak, meski mendongkol terpaksa Ogotai menjawab.
"Cin-wan-piaukiok asalnya memang milik keluarga Te dan Han kalian, belasan tahun yang lalu Nyo Bok hanya mewakili keluargamu memimpinnya untuk sementara, sekarang sudah sepantasnya pulang kandang. Cuma perjanjian yang kau sebut juga tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak saia, apakah sudah kau bawa konsepnya?"
"Syarat perjanjian cukup sederhana sehingga tidak gerlu konsep segala,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Cukup engkau berjanji setelah keluarga Te kami memimpin piaukiok ini engkau tak mencari perkara padaku. Dengan sendirinya aku pun takkan sengaja membikin susah padamu."
"Baik, kuterima, cuma kaupun harus menyanggupi permintaanku, yaitu urusan Ubun Lui biar kuselesaikan sendiri dan kalian tidak boleh mencari perkara lain lagi,"
Kata Ogotai.
"Baik, setuju."
Kata Koai-hoat Thio.
Meski mendongkol, terpaksa Ogotai tersenyum dan serupa sahabat lama saja mereka berjalan keluar.
Melihat kemunculan mereka dengan tersenyum dan serupa dua sahabat lama yang baru bertemu, semua orang terheramheran.
Dalam pada itu Ubun Lui yang tak berkutik itu karena tiga tempat hiat-to terserang oleh lwekang Liong-siang-kang Ce Se-kiat tadi, tambah lama tambah menderita dia, keringat dingin mengucur dan napas megap-megap.
Dengan muka masam Ogotai mendekati Ubun Lui.
"plakplok", digamparnya dua kali sambil men-damperat.
"Keparat! Siapa kau? Tidak pernah kukenal orang seperti kau, mengapa kau berani mengaku sebagai sahabatku, pula ada sangkaan kau-bikin dan mengedarkan obat racun, mana boleh diampuni. Mana orangnya, gusur dia untuk diusut lebih lanjut."
Padahal belum lama berselang di depan umum dia telah memintakan kelonggaran kepada Koai -hoat Thio bagi Ubun Lui, sekarang dia menyatakan tidak kenal, jelas saling bertentangan.
Dengan sendirinya semua orang tahu hal itu.
mereka hanya merasa geli saja.
Waktu menggampar Ubun Lui tadi diam-diam Ogotai mengerahkan lwekang untuk membuka hiat-to orang yang tersumbat, siapa tahu Liong-siang-kang memang lain daripada yang lain, usaha Ogotai hanya berhasil sebagian saja, Ubun Lui hanya sekadarnya sanggup berdiri, karena darah belum berjalan lancar, dia belum dapat berjalan.
"Buka saja hiat-to yang kau tutuk muridku,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Suhu,"
Jawab Se-kiat.
"kalau tidak salah Congkoan-taijin pernah menyatakan urusan ini adalah soal kecil, tapi kita tidak dapat memandangnya sebagai soal kecil ...."
"Betul, soal kecil ini bila dalam keadaan biasa tentu takkan dipikir oleh Congkoan-taijin, tapi mengingat hubungan baiknya dengan gurumu, beliau jadi ingin mengurusnya, maka hendaknya kau menurut saja,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Ah, maafkan murid tidak tahu Suhu adalah sahabat baik Congkoan-taijin,"
Tukas Se-kiat.
"Jika begitu, tentu saja murid menurut saja."
Habis itu ia lantas menepuk tubuh Ubun Lui dan membuka ketiga hiat-to yang ditutuknya tadi. Dengan muka masam Ogotai memberi tanda kepada pengiringnya agar membawa pergi Ubun Lui, lalu ucapnya.
"Hah, engkau ternyata mempunyai seorang murid yang hebat, sungguh aku ikut senang bagimu. Oya, mengenai urusan 20 tahun yang lalu, mumpung berada di sini. biarlah kujelaskan sekalian di depan orang banyak."
Ucapan ini sangat menarik, seketika seluruh ruang menjadi senyap, semua orang sama pasang telinga ingin tahu apa yang akan dibicara oleh Ogotai. Pelahan Ogotai lantas berkata.
"Rasanya tidak perlu kurahasiakan lagi urusan ini. 20 tahun yang lalu. Tai-lwe-Congkoan yang lama, yaitu Saifudin, dan komandan pasukan pengawal kotaraja yang lama, Pakkiong Bang, keduanya pernah mencurigai Te-heng berkongkol dengan pemberontak di Siau-kim-joan. waktu itu aku cuma menjabat seorang pengawal biasa sehingga tidak dapat bicara apa pun bagi Teheng. Syukurlah persoalannya kemudian dapat diselidiki dengan jelas bahwa Te-heng tidak tersangkut dalam urusan itu. Sayang selama ini aku tidak bertemu dengan Te-heng sehingga belum sempat kusampaikan berita baik ini kepadanya."
"Hah, jika begitu, sekarang Te-lopiauthau sudah pulang, Ocongkoati juga sudah naik pangkat menjadi Congkoan, perkara ini tentu sudah dapat dihapus,"
Tukas Ma Thian-hoa.
"Haha, sudah tentu,"
Seru Ogotai dengan tertawa.
"Saham atas nama Te-heng pada Cin-wan piaukiok ini dengan sendirinya harus dikembalikan kepadanya."
Semua orang sangat girang, beramai-ramai mereka mengucapkan selamat kepada Te Sim gadungan alias Koaihoat Thio. Han Wi-bu ikut berkata.
"Jika demikian, pejabat Congpiauthau baru secara resmi sekarang juga dapat kuserah terimakan kepada Te-heng. Entah bagaimana pendapat Teheng sendiri, apakah akan dijabat oleh muridmu atau..."
Cepat Se-kiat memotong.
"Ah, kepandaianku belum sempurna,, aku ingin belajar lebih banyak dengan Suhu. Pula aku kan orang luar, jabatan Congpiauthau seyogianya harus dipegang oleh Te-suheng saja."
Keterangan ini membuat semua orang melenggong, dengan girang Han Wi-bu lantas berkata.
"Aha, jadi putra Te-heng juga sudah ikut pulang?"
"Betul,"
Jawab Koai-hoat Thio alias Te Sim palsu.
"Putraku Te Keng saat ini sedang bicara dengan Nyo Toa-koh di ruang belakang.!"
Lalu ia hertepuk tangan dan berseru.
"Anak keng, ayolah keluar!"
Terdengar Te Keng mengiakan dan muncul dari belakang.
Usianya sekarang baru 31, waktu kabur bersama ayahnya 19 tahun yang lalu dia baru berumur 12, maka para paman dan mamak yang hadir di sini lamat-lamat masih kenal wajahnya.
Bahwa dia adalah Te Keng tulen tidak ada yang sangsi lagi.
Tapi Ogotai sengaja hendak menguji tulen dan palsunya, katanya.
"Eh, Te-seheng, apakah masih ingat padaku. Waktu kecilmu pernah kita bertemu."
"Kebaikan Taijin masa dapat kulupakan."
Ujar Te Keng.
"Ketika usiaku baru sepuluh tahun, dalam upacara mengangkat pamam Jui sebagai ayah angkat, hari itu Taijin sudi berkunjung ke rumah ayah angkat, di situ aku disuruh memperlihatkan ilmu pukulan Hok-hou-kun yang kulatih. Betul tidak?"
Habis bicara ia lantas memberi hormat kepada Jui Lip-sing, ayah angkatnya yang menjabat sebagai pemimpin Yang-wi piaukiok."
"Haha, bagus sekali ingatanmu,"
Seru Ogotai dengan tertawa.
"Te tua, selamat engkau mempunyai seorang putra baik, juga mendapatkan murid pilihan."
Jui Lip-sing juga kegirangan dan berseru.
"Ah, anak baik. Hanya sekejap saja sudah berpisah selama hampir 20 tahun, tak tersangka sekarang kita dapat bertemu lagi di sini."
Tiba-tiba Ogotai berseru pula.
"Eh, katanya Nyo Toa-koh juga berada di sini? Han-lopiauthau, kenapa tidak kau pertemukan dia denganku? Betapapun dia adalah angkatan tua dunia persilatan, juga kakak teman sejawatku."
Koai-hoat Thio yakin Ogotai tidak berani mempersulit Nyo Toa-koh, maka sekalian ia lantas membeberkan rahasia kedatangan Nyo Toa-koh ke kotaraja ini.
Padahal Ogotai memang juga sudah tahu Nyo toa-koh sembunyi di Cin-wan-piaukiok, sebelum ini dia malah sedang berpikir cara bagaimana akan menghadapi Nyo Toa-koh.
Tapi sekarang tentu saja ia tidak berani mencari perkara lagi dan berlagak baru saja mendengar kabar tentang datangnya Nyo Toa-koh.
"Eh, kukira tak dapat kau salahkan Han tua ..."
Demikian lantas terdengar Nyo Toa-koh berseru dan muncul dari belakang.
"Soalnya aku memang sungkan bergaul dengan orang kalangan atas, apalagi pembesar seperti Congkoantaijin, tentu saja aku tidak berani menampilkan diri dan terpaksa bersembunyi di belakang."
"Ai, jangan loa-koh berkelakar"
Ucap Ogatai "Hari ini adalah hari bahagia Han-lopiauthau, sahabat mana di kotaraja ini yang tidak hadir untuk mengucapkan selamat kepadanya, eh baru saja adikmu juga berada di sini.
mengapa sekarang tidak kelihatan lagi?"
"Tidak perlu mencari dia lagi,"
Ujar Nyo Toa koh "Jika aku ingin bertemu dengan dia tentu aku sudah muncul sejak tadi."
"Entah mengapa terhadap saudara sendiri saja Toa-koh tak mau menemuinya?"
Tanya Ogotai.
"Bukankah sudah kukatakan,"
Ucap Toa-koh.
"betapapun dia kan juga seorang pembesar, maka aku tidak mau menemuinya. Jika dia menemuiku selaku saudaraku tentu saja kuterima dengan baik. Eh, Te tua, perlu kutegur padamu, tidak pantas kau bongkar jejakku di depan orang banyak."
Koai-hoat Thio berlagak minta maaf padanya.
"Toa-koh, engkau cuma tahu satu dan tidak tahu dua."
"Dua apa?"
Tanya Toa-koh.
"Meski O-congkoan adalah seorang pejabat tinggi, tapi dia juga seorang sahabat, bilamana ada urusan minta bantuannya tentu dia akan membantumu,"
Kata Koai-hoat Thio. Diam-diam Ogotai terkesiap, ia tidak tahu Koai-hoat Thio hendak memberi soal sulit apa padanya, terpaksa ia berkata.
"Ya, belum kutanya kepada Toa-koh, entah ada keperluan apa kedatanganmu ke Peking sekali ini selain menghadiri pesta Han-lopiauthau ini?"
"Terus terang, kudatang untuk mencari suatu kabar kepada adikku,"
Tutur Toa-koh.
"Tapi di mana tempat tinggalnya tidak kuketahui, tadi aku batal menemuinya, terpaksa harus kuminta keterangan kepada orang lain."
"Tak dapat kau salahkan saudaramu,"
Ujar Ogotai.
"Orang yang menjadi pengawal istana memang harus dirahasiakan tempat tinggalnya. Cuma engkau memang bukan orang luar, bila engkau ingin tahu dapat kuberitahu."
"Tidak perlu lagi,"
Kata Toa-koh.
"Engkau adalah sahabat Te tua, asalkan engkau mau membantu, kan lebih baik kutanya padamu. Apalagi engkau adalah atasan saudaraku, apa yang kau ketahui tentu jauh lebih banyak daripada dia."
"Toa-koh ingin tahu urusan apa?"
Tanya Ogotai.
"Selaku Tai-lwe-congkoan. jika mengenai urusan dinas ..."
"Jangan kuatir, takkan kutanya urusan pemerintah, aku cumu ingin tahu sedikit urusan yang menyangkut pribadiku,"
Kala Toa Koh.
"Jika begitu silakan bicara saja."
Kata ogotai.
"Kuingin mencari tahu urusan anakku "
Tutur Toa-koh.
"Bulan yang lalu di Poting ada yang menanyai ke mana perginya, hal ini kutahu dari seorang kawanku, siapa kawanku itu janganlah kau tanya. Pendek kata, menurut kawanku itu, orang yang menyelidiki jejak anakku itu datang dari kotaraja."
Ogotai berlagak tidak paham, katanya.
"O. bisa terjadi begitu? Aku tidak tahu menahu."
"Jika begitu, jadi bukan petugas yang kau-kirim?"
Toa-koh menegas.
"Tentu saja bukan, jika perlu kucari anakmu, tentu akan kusuruh adikmu,"
Ujar Ogotai.
"Kalau betul begitu, aku tidak perlu kuatir lagi,"
Kata Toakoh.
"Tadinya kukira anakku berbuat salah dan Taijin hendak menangkapnya."
"Dari uraian Toa-koh barusan, tampaknya putramu tidak berada bersamamu lagi?"
Tanya Ogotai pula. Ia tidak tahu bahwa putra Nyo Toa-koh sekarang justru berada di samping sang ibu.
"Dia pergi mencari sahabatnya, segera akan pulang dalam waktu singkat,"
Jawab Toa-koh.
"Tentu saja berbeda dengan saudaraku yang sudah pembesar itu, sampai sanak keluarga pun sukar menemuinya."
"Sahabat apa yang dicari putramu?"
Tanya Ogotai.
"Kawan orang muda tentu golongan muda, nenek reyot macamku tidak perlu tahu urusan orang muda,"
Kata Toa-koh.
"Taijin tanya sejelas ini mengenai putraku, apakah kau curigai dia berkomplot dengan orang jahat?"
"Oo, bukan begitu maksudku, cuma anak muda memang gampang tertipu, memilih kawan harus lebih hati-hati,"
Kata Ogotai.
Diam-diam ia menggerutu terhadap sikap Nyo Toa-koh yang berlagak pilon itu, masakah tidak tahu putra sendiri semalam saja bikin onar di rumah adiknya.
Pada saat itu Ce Se-kiat telah memberi tanda kepada Ki Kiam-hong, maka pengemis tua itu lantas berkata.
"Aha, sudah waktunya aku harus berangkat. Eh, Te tua, sekian lama kita berpisah, marilah mempir ke tempat kami untuk berkumpul sebentar. Nyo Toa-koh, apabila engkau sudi mampir tentu akan kami sambut juga dengan senang hati."
"Nenek rudin macam diriku memang tidak banyak bedanya dengan kaum pengemis seperti kalian ini, jika engkau sudi mengundangku, bolehlah kumampir ke sana,"
Seru Nyo Toakoh dengan tertawa.
Liong Leng-cu menyamar sebagai anggota Kai-pang, dengan sendirinya terus ikut pergi bersama Ki Kiam-hong.
Han Wi-bu mengantar mereka keluar piaukiok, ia jabat tangan Koai-hoat Thio dan berucap.
"Te-heng, hendaknya lekas2 engkau pulang ke sini."
"Mungkin aku takkan pulang lagi untuk selamanya,"
Ucap Koai-hoat Thio. Han Wi-bu memang sudah dapat menerka siapa Koai-hoat Thio sebenarnya, katanya pula.
"Ya, kutahu Te-heng sudah biasa hidup bebas dan gembira, mana sudi pulang kemari lagi untuk urusan tetek-bengek ini."
Ketika rombongan pulang ke markas cabang Kai-pang, sementara itu hari sudah dekat magrib.
Kedua gembong Kai-pang, yaitu Honghu Ko dan Suma Hian menyambut kedatangan mereka, melihat koai-hoat Thio, mereka melengak, sebab mereka tahu sudah lama Te Sim meninggal dunia.
"Inilah sahabat yang sudah lama kalian kenal namanya tapi belum pernah berjumpa,"
Tutur Ki Kiam-hong dengan tertawa.
Setelah diperkenalkan barulah Honghu Ko dan Suma Hian tahu siapa Koai-hoat Thio.
Beramai-ramai mereka lantas masuk ke ruang tamu.
di situ Ki Kiam-hong menceritakan secara ringkas apa yang telah terjadi di Cin-wan-piaukiok dan membuat para gembong Kai-pang itu ikut merasa senang.
"Tapi sekarang obat-obatan itu menjadi tambah sulit untuk diangkut keluar,"
Kata Honghu Ko kemudian.
"Sepergiku, apakah ada sesuatu gerak-gerik pihak musuh?"
Tanya Kiam-hong.
"Terlihat bertambah banyak antek kerajaan yang muncul di pegunungan ini,"
Tutur Honghu Ko.
"Agaknya mereka sudah dapat meraba markas cabang kita terletak di sini."
"Bisa jadi pada waktu kuberangkat, jejakku telah dipergoki mereka,"
Kata Kiam-hong.
"Tapi kukira sementara ini mereka pun tidak berani mengganggu kita."
Maklumlah, Kai-pang adalah organisasi terbesar di dunia dan selama ini pun tidak berbuat sesuatu yang melanggar undang-undang.
Jika tidak menemukan bukti kejahatan, pihak kerajaan tentu juga tidak berani sembarangan memusuhi organisasi kaum jembel itu.
"Tapi di bawah pengawasan cakar alap-alap kerajaan, untuk memindahkan kedudukan cabang kita saja sulit, apalagi hendak mengangkut pergi obat-obatan itu,"
Ujar Honghu Ko.
"Selain itu, Kai Hong bertiga juga masih sembunyi di sini, bila waktunya berlarut mungkin . mungkin ..."
"Hahaha,"
Mendadak Koai-hoat Thio tergelak.
"Apakah urusan ini yang kalian risaukan? Kukira kalian tidak perlu kuatir, serahkan saja padaku, aku ada akal bagus."
"Silakan Thio-taihiap memberi petunjuk,"
Pinta Ki Kiamhong dengan girang.
"Rahasia alam tidak boleh dibocorkan."
Ujar Koai-hoat Thio dengan tertawa.
"Sekarang silakan kalian menyiapkan kuda dan keledai, isi obat-obatan itu di dalam peti, selain itu siapkan pula belasan kereta kosong dan pekerja yang dapat diandalkan, Suruh tunggu di bawah gunung, esok juga kita dapat berangkat."
Ki Kiam-hong masih ragu, katanya.
"Soai kuda dan kereta dapat disediakan berapa pun diperlukan, pekerja juga dapat diambilkan dari anggota Kai-pang kami. Tapi cara bagaimana rombongan kita akan mengelabuhi pihak musuh?"
Koai-hoat Thio tertawa.
"Asalkan kalian percaya padaku, tidak nanti kugunakan urusan sepenting ini untuk permainan. Esok tentu akan ketahuan terlebih jelas."
Karena tidak tahu persis apa maksud Koai-hoat Thio, terpaksa Ki Kiam-hong menurut.
Esok paginya, ketika segala sesuatu sudah siap, tapi entah mengapa, mendadak Koai-hoat Thio menghilang.
Padahal dia tinggal sekamar dengan Ce Se-kiat.
menurut keterangan Sekiat, ketika bangun Koai-hoat Thio sudah tidak terlihat lagi.
Menurut anggota Kai-pang yang dinas jaga juga tidak ada yang melihat Koai-hoat Thio turun ke bawah gunung.
Selagi semua orang merasa bingung ke mana perginya copet sakti itu, tiba-tiba ada orang membentak.
"Hai, uutuk apa kawanan pengemis kalian ini sembunyi di sini? Apa kalian hendak memberontak?"
Waktu Ki Kiam-hong berpaling, dikenalinya pendatang adalah We Tiang-jing.
Keruan ia terkejut, seketika ia pun tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Dalam pada itu kedua Hiangcu andalannya, yaitu Honghu Ko dan Suma Hian segera menubruk ke sana.
Honghu Ko adalah murid keluaran Siau-lim-pai, sedangkan Suma Hian adalah ahli waris Liok hap-to, namun pukulan dan golok mereka sama sekali tidak berhasil menyentuh musuh.
Tergerak hati Ki Kiam-hong, cepat serunya.
"Berhenti, dia We Tiang-jing palsu!"
"Palsu?"
Serentak Suma Hian berhenti menyerang dengan melenggong dan tetap sangsi, sebab sudah beberapa kali ia pernah bertemu dengan We Tiang-jing, biarpun orang terbakar menjadi abu juga dikenalnya, masa bisa palsu?
Tapi Honghu Ko lantas menyadari duduknya perkara, serunya.
"Ah, kiranya Thio-siansing adanya. Sungguh kepandaian menyamar yang hebat. sampai kami pun dapat dikelabui."
"Apa katamu? Dia Koai-hoat Thio?"
Suma Hian menegas dengan terkejut.
"Thio-siansing bukan saja copet sakti nomor satu di dunia, kepandaiannya menyamar juga nomor satu, masa tidak pernah kau dengar?"
Kata Ki Kiam-hong dengan tertawa.
"Tajam benar pandangan Ki-tocu,"
Ucap Koai-hoat Thio yang menyamar itu.
"Maafkan jika kedua Hiangcu telah tertipu olehku."
Setelah dia bicara dengan suara aslinya barulah Suma Hian percaya. ---ooo0dw0ooo---
Jilid ke -9 Selagi Koai-hoat Thio hendak memberi penjelasan.
tiba-tiba seorang penyelidik datang melapor bahwa secara ajaib kawanan antek kerajaan menghilang secara mendadak.
Kim Kiam-hong tertawa, katanya.
"Thio-sian-sing, semua ini agaknya hasil perbuatanmu?"
"Betul, akulah yang menyuruh mereka pulang."
Jawab Koaihoat Thio.
"Sepulang mereka ke kotaraja, bukankah sandiwaramu akan segera tersingkap?"
Kata Henghu Siong.
"Sedikitnya tiga hari lagi baru mereka dapat bertemu dengan We Tiang-jing,"
Ujar Koai-hoat-Thio.
"Mengapa bisa begitu?"
Tanya Honghu Siong.
"Kemarin banyak gas racun yang terisap oleh We Tiangjing, meski dia tidak sampai gila karena Iwekangnya tidak lemah, tapi untuk memulihkan kejernihan pikirannya juga perlu tiga atau lima hari,"
Tutur Koai-hoat Thio.
"Sebagai wakil komandan pasukan pengawal istana, tentu dia menjaga gengsi, sepulang di rumah, kukira dia pasti akan pesan anak buahnya agar menjaga rahasia tentang keadaannya yang payah keracunan itu. Dengan waktu tiga hari iai dapatlah kupalsukan dia untuk bergerak ke kotaraja, maka soal pengangkutan keluar obat-obatan itu tentu akan berjalan dengan lancar."
"Tapi bila tiga hari kemudian kepergok penjaga dan diperiksa, lalu bagaimana?"
Tanya Ki Kiam-hong.
"Ogotai seorang yang tahu urusan,"
Ujai Koai-hoat Thio.
"Biarpun dia mendapat laporan tentang pemalsuan We Tiang jing tentu juga tidak berani melakukan penangkapan wakilnya yang gadungan, sebab ia pasti juga dapat menerka pemalsunya adalah diriku. Mengenai prajurit atau penjaga setempat yang jauh dari kotaraja kukira terlebih mudah untuk dilayani. Cuba kau lihat."
Segera ia mengeluarkan sebuah pening yaitu tanda pengenal jago pengawal istana "Apakah barang milik Wi Tiang jing?"
Tanya Ki Kiam-hong.
"Aha, kutahu benda itu bukan milik We tiang jing melainkan kepunyaan adikku yang durhaka itu, betul tidak?"
Tukas Nyo Toa-koh mendadak-"Ya, betul, barang ini memang milik adikmu!"
Jawab Koaihoat Thio dengan tertawa.
"Toa-koh tentu takkan marah karena tindakanku yang membikin susah adikmu ini."
"Kupaham maksud tujuanmu!"
Ujar Toa-koh "Sekali ini engkau telah banyak membantuku, sungguh aku sangat berterima kasih, masa dapat kumarah padamu?"
Liong Leng-cu tidak mengerti percakapan mereka, ia tanya.
"Pening yang dicurinya ini sangat bermanfaat bagi angkutan obat-obatan kalian, hal ini berarti bantuan besar terhadap orang banyak, mengapa Toa-koh menyatakan sangat berterima kasih padanya."
"Soalnya selain membantu orang banyak, tapi juga khusus membantu kesulitanku, sebab ia tahu aku ingin menolong adikku yang durhaka itu kembali kejalan yang benar,"
Kata Toa-koh Baru sekarang Leng-cu menyadari persoalannya.
"Ah, pahamlah aku. Setelah kehilangan tanda pengenal ini, adikmu terlebih harus buron "Kata 'terlebih' itu menimbulkan tanda tanya.
"Aku menjadi ingin tahu, bolehkah memberi penjelasan?"
Kata Suma Hian.
"Sebab pamanku itu mengira aku putranya,"
Tukas Ce Sekiat dengan tertawa. Lalu Koai-hoat Thio menceritakan cara bagaimana mereka mempermainkan Nyo Bok sehingga semua orang sama tertawa geli.
"Identitas seorang jago istana tidak dikenal orang luar,"
Tutur Koai-hoat Thio.
"Sebab itulah bila seorang jago istana dinas keluar dan perlu minta bantuan pembesar setempat, yang dikenalnya cuma pening tanda Pengenalnya saja."
"Jika begitu, dengan memegang pening ini, kita tidak perlu kuatir akan terjadi kesulitan lagi di tengah jalan,"
Ujar Kai Hong dengan gembira "Walaupun begitu, tetap kita harus berjaga akan segala kemungkinan, pendek kata, sebaiknya sedia payung sebelum hujan,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Sedia payung sebelum hujan bagaimana, coba jelaskan,"
Pinta Nyo Toa-koh.
"Pengiriman obat-obatan ke Cadam kali ini jelas Ki-tocu dan kedua Hiangcu tidak leluasa ikut tampil ke muka,"
Tutur Koaihoat Thio.
"Meski ada dirimu bersama kedua Sutitmu, ditambah Kai-heng dan aku, namun kekuatannya terasa belum cukup. Maka paling baik cari tambaban seorang pembantu lagi yang berkepandaian tinggi. Untuk itu, Toa-koh, kupikir.."
Sebelum orang memaparkan permintaannya Nyo Toa-koh sudah paham maksudnya, segera ia menukas.
"Kalian telah membantu kesulitanku, mana boleh kutinggal diam melihat kalian menghadapi kesukaran. Cuma orang kangouw yang kenal aku sangat banyak, kepandaianku juga belum dapat dikatakan tinggi"
"Ah, Lotoaci jangan rendah hati,"
Ujar Koai-hoat Thio dengan tertawa.
"Sudah berpuluh tahun engkau malang melintang di dunia kangouw, baik kalangan hitam maupun golongau putih tiada seorang pun yang tidak kenal Loa-jiukoan-im. Cuma kutahu engkau sendiri sudah bosan menjadi Loa-jiu-koan-im, maka kami tidak berani merepotkanmu."
Nyo Toa-koh tergelak oleh ucapan orang, katanya.
"Koaihoat Thio, mulutmu yang jahil ini bilakah baru bisa berubah? Aku cukup kenal diriku sendiri, maka umpakanmu takkan berlaku bagiku. Tentang orang yang dapat diandalkan untuk membantu kalian, bukan maksudku memuji putraku sendiri, anak Kiat kini sudah jauh lebih tangguh daripadaku, biarpun belum tergolong jago top, untuk membantu kalian kukira masih sanggup. Nah, anak Kiat, boleh kau wakilkan diriku mengiringi perjalanan mereka"
Biasanya Nyo Toa-koh suka melarang anaknya bergaul dengan kaum pendekar yang anti kerajaan, dahulu waktu Ce Se-kiat meninggalkan rumah juga berulang-ulang diperingatkan agar jangan pergi ke Cadam dan mencari Ling Peng-ji.
Siapa tahu sekali ini dia yang melanggar pantangannya sendiri.
Tentu saja Se-kiat sangat girang, katanya.
"Ai, sungguh ibu yang baik, sesungguhnya memang ada maksudku hendak mohon izin ibu, tak terduga ibu sudah buka suara lebih dulu."
Nyo Toa-koh menghela napas, katanya.
"Dahulu selain sayang padamu, aku juga suka membela adikku satu-satunya itu. Tapi sekarang aku tidak boleh lagi memikirkan kepentingan pribadi saja melainkan harus kepentingan orang banyak."
Koai-hoat Thio berusaha mengalihkan pokok bicara, katanya dengan tertawa.
"Demi kepentingan orang banyak Lo toaci rela melepaskan kepergian putramu. kebaikan Lotoaci ini pasti akan mendapatkan ganjaran yang baik, kelak putramu tentu akan pulang dengan membawa seorang istri baik."
Ucapan ini menyentuh pula perasaan Nyo toa-koh. ia pandang Liong Leng-cu sekejap, katanya tiba-tiba.
"Eh, nona Liong, apakah kaupun akan ikut pergi ke Cadam bersama mereka?"
Liong Leng-cu ragu sejenak, lain menjawab.
"Jika Ce-toako sudah bantu mengawal. kukira aku tidak perlu lagi ikut."
"Oo, apakah engkau ada urusan lain?"
Tanya Toa-koh.
"Ya, kupikir akan pergi ke Thian-san,"
Tutur Leng-cu.
"Untuk apa kau pergi ke Thian-san?"
Tanya Toa-koh pula.
"Agaknya ibu belum tahu,"
Sela Se-kiat dengan tertawa.
"Dengan sendirinya dia ingin mencari kemenakan ibu, yaitu adik misanku. Nyo Yam."
Muka Leng-cu menjadi merah dan menunduk.
semua ini dapat dilihat Nyo Toa-koh dengan jelas dengan sendirinya ia tahu apa artinya Rupanya sejak dari lawan berubah menjadi awan, Nyo Toakoh merasa suka kepada liong Leng-cu, ucapan Koai-hoat Thio tadi telah menyentuh perasaannya sehingga timbul semacam pikiran alangkah baiknya jika nona Liong ini dapat menjadi menantunya.
Cuma sayang, pikiran muluk itu segera terbukti tidak mungkin terlaksana ketika mendengar nada ucapan Se-kiat dan sikap Liong Leng-cu, segera juga ia paham bahwa orang yang dicintai "Siau-yau-li"
Ini adalah kemenakanaya, yaitu Nyo Yam. Begitulah sambil terbahak Nyo Toa-koh memegang tangan Liong Leng-cu, katanya.
"Eh, ingin kutanya padamu, setelah bertemu dengan Nyo Yam, mengapa kalian tidak berada bersama, sebaliknya membiarkan dia pergi sendirian ke Thiansan?"
Liong Leng-cu tertawa, jawabnya.
"Kan sudah kusanggupimu akan pulang lagi ke piaukiok, mana boleh kuingkar janji?"
"Terima kasih atas maksud baikmu, namun anak Yam tidak mau lagi kembali ke sini untuk menemui bibinya ini,"
Ucap Toa-koh dengan muram.
"Hendaknya bibi jangan salah paham,"
Cepat Leng-cu menjelaskan.
"Ia minta kusampaikan salam dan permintaan maaf padamu, soalnya dia terkenang kepada budi kebaikan mendiang gurunya dan ingin cepat-cepat pulang ke Thian-san untuk menghadiri upacara sembahyang ulang tahun wafatnya sang guru "
Padahal guru psrtama Nyo Yam, yaitu Tong Keng-thian, ketua Thian-san-pai, sudah wafat selama setabun, Ia tidak ingin Nyo Toa-koh ikut sedih bagi Nyo Yam bila mengetahui sebab sesungguhnya kepulangan Nyo Yam ke Thian-san itu.
Untunglah Nyo Toa-koh tidak tahu persis kapan wafatnya Tong Keng-thian, maka ia cuma manggut-manggut atas keterangan Liong Leng-cu itu.
"Oo, kiranya begitu, tapi engkau.."
"Aku bukan murid Thian-san-pai, dengan sendirinya tidak enak untuk pulang bersama dia, sengaja kuberangkat dua tiga hari lebih lama,"
Kata Leng-cu. Nyo Toa-koh dapat menerima alasan Liong Leng-cu itu, sebab kalau kepulangan Nyo Yam dengan membawa "Sianyau-li"
Ini bisa jadi akan menimbulkan keraguan saudara seperguruan dan omong iseng orang lain serta menganggap dia tidak menghormat gurunya. Setelah terdiam sejenak, tiba-tiba Nyo Toa-koh berkata pula.
"Nona Liong, Ingin kubicara beberapa hal pribadi denganmu."
Lalu ia menarik Leng-cu ke samping dan bertanya dengan suara lirih.
"Konon ada murid perempuan Thian-san-pai yang bernama Ling Peng-ji, tentunya kau kenal dia?"
"Bukan cuma kenal saja,"
Jawab Leng-cu dengan tertawa.
"bahkan kami sahabat karib."
"Bagus sekali,"
Kata Toa-koh.
"Maka ingin kuminta sesuatu bantuan padamu."
"Apakah urusan yang berhubungan dengan nona Ling itu?"
Tanya Leng-cu. Nyo Toa-koh mengiakan.
"Jika begitu, kenapa bibi malah bicara berputar-putar?"
Ujar Leng-cu dengan tertawa. Toa-koh melenggong.
"Apa artinya ucapanmu ini?"
"Sebelum kenal diriku justru putramu sudah kenal dia lebih dulu,"
Tutur Leng-cu.
"Malahan hubungan antara kami tidak lebih erat daripada hubungan putramu dmgan dia."
Toa-koh menghela napas. katanya.
"Ya, ku tahu, justru lantaran itulah kuminta bantuanmu "
Segera Leng-cu dapat menangkap maksud orang, pikirnya.
"Ai, rasanya siapa pun tak dapat membantumu dalam urusan ini. Tidak kau ketahui justru aku sendiri sedang risau karena urusan ini."
Maka dengan sungguh-sungguh ia menjawab.
"Silakan bicara saja, asalkan dapat kukerjakan tentu akan kulaksanakan sebisanya."
"Kuyakin pasti dapat kau lakukan,"
Kata Toa koh.
"Kuminta bantuan jasa-baikmu."
"Jasa baik apa?"
Leng-cu sergaja tanya. Toa-koh merasa kikuk, terpaksa ia bicara terus terang.
"Soalnya aku pernah berbuat sesuatu kesalahan. Mestinya Sekiat suka kepada nona Ling itu, akulah yang tidak pantas sembarangan omong hingga melukai hati nona Ling itu dan membuatnya kabur. Untuk itulah kuminta jasa-baikmu agar mintakan maaf bagiku, bilamana dia dapat damai kembali dengan putraku tentu aku akan sangat berterima kasih."
"Ah, kiranya engkau minta kujadi comblang dan mencarikan menantu baik bagimu,"
Kata Leng cu dengan tertawa.
"Cuma, menjadi comblang memang bukan pekerjaan yang enak. Urusan jodoh harus suka sama suka, melulu jasa baik comblang itu tidak bisa jadi."
Toa-koh sudah kenal perangai Ling-cu. disangkanya si nona lagi berkelakar, tak tahunya ucapan Leng-cu itu memang timbul dari lubuk hatinya. Dengan tertawa Toa-koh berkata pula.
"Ai, nonaku yang baik, janganlah kau guraui nenek reyot ini. Kutahu mereka saling suka, ia pernah menyelamatkan jiwa putraku, anakku juga pernah menolak perjodohan yang kuatur baginya lantaran nona Ling itu."
Diam-diam Leng-cu merasa gegetun akan pikiran Nyo Toakoh yang sederhana itu.
Bahwa putranya suka kepada orang, tapi apakah orang juga suka kepada putranya.
inilah yang masih menjadi pertanyaan.
Cuma ia tidak enak untuk bicara terus terang.
ia sengaja tanya.
"Jika kau tahu mereka saling mencintai, mengapa semula engkau tidak mau Ling Peng-ji menjadi menantumu?"
"Bukannnya tidak suka, tapi disebabkan pamannya ...."
"Ah, kupaham sekarang,"
Tukas Leng-cu.
"Karena pamannya, Ling Thi-jiau yang menjadi pemimpin pasukan pemberontak di Cadam itulah, maka engkau kuatir tersangkut."
"Ya, sekarang kusadari kekeliruanku,"
Kata Nyo Toa-koh.
"Sekarang akan kusuruh putraku ikut bantu mengawal obatobatan ke Cadam, akan kugunakan bukti nyata untuk memperlihatkan penyesalanku, dengan demikian mungkin akan mendapatkan pengertian nona Ling."
Walaupun Ling Peng-ji belum tentu dapat menerima penyesalan Nyo Toa-koh ini, namun Leng-cu tidak enak untuk bicara terus terang, katanya.
"Bila Ling Peng-ji tahu apa yang kau lakukan sekarang, tentu akan pulih rasa hormatnya kepadamu, untuk ini kukira engkau tidak perlu kuatir dan akan kujelaskan padanya. Cuma jasa-baikku dapat terlaksana atau tidak sukar kupastikan. Yang kuharapkan semoga dia belum mendapatkan pacar lain."
Nyo Toa-koh merasa senang oleh jawaban si nona, katanya dengan tertawa.
"Dengan sendirinya kutahu perjodohan tak dapat dipaksakan. Cukup bagiku asalkan kau sampaikan isi hatiku tadi kepadanya."
Menurut jalan pikirannya, biarpun bidadari juga mau diperisiri oleh putranya, asalkan dia mau menerima Ling Pengji sebagai menantu, mustahil nona itu tidak mau.
Ketika melihat Nyo Toa-koh muncul lagi dengan berseri-seri, sebaliknya Liong Leng-cu berkerut kening, tentu saja Ki Kiamhong dan lain-lain sama diliputi tanda tanya karena tidak tahu apa saja yang dibicarakan mereka.
Hanya Ce Se-kiat saja lamat-lamat dapat menduga beberapa bagian.
Akhirnya konvoi pengangkutan obat-obatan itu pun berangkat.
Ce Se-kiat pamit pada ibunya.
"Jaga diri baik-baik, ibu. Pui-suheng, Pui Ho, bukanlah manusia baik-baik, hendaknya waspada padanya dan jangan berhubungan terlampau erat dengan dia."
Nyo Toa-koh tertawa, katanya.
"Jangan kuatir, sebagai orang tua, siapa baik dan siapa busuk cukup jelas bagiku. Cuma tidak pernah kukatakan terus terang saja."
Waktu iring-iringan sudah turun gunung, benarlah tidak terlihat tanda mencurigakan dari antek kerajaan.
Setelah iringiringan sudah meninggalkan kotaraja, Liong Leng-cu lantas mohon diri juga dengan rombongan.
"Nona Liong, biarlah kuantar dirimu?"
Kata Se-kiat sambil melarikan kudanya di samping si nona.
"Setahuku, ayah angkat Nyo Yam juga sudah pulang ke Thian-san, maka setiba di Thian-san hendaknya lebih dulu kau cari dia. Dia tinggal di belakang gunung, bentuk tebing di situ serupa kcpala naga sehingga bernama Liong-un-giam. (Tebing naga bersembunyi), sangat mudah dikenali."
Liong Leng-cu tahu maksud anak muda itu, jawabnya.
"Terima kasih atas maksud baikmu, ku-tahu semuanya."
Se-kiat tanya pula.
"Apa saja yang dibicarakan antara ibu denganmu?"
"Ia minta kujadi comblang bagimu,"
Tutur Leng-cu dengan tertawa.
"Apakah kau mau tahu nona mana yang dipenujui ibumu?"
Se-kiat menggeleng, katanya.
"Ai, ibu sungguh sudah linglung, jangan kau turuti perkataannya."
"O, tampaknya engkau sudah tahu siapa nona yang dimaksudkan,"
Kata Leng-cu.
"Apakah engkau tidak suka padanya?"
Se-kiat raenghela napas.
"Nona Liong, kita tidak perlu main teka-teki lagi, biarlah kita bicara blak-blakan saja. Bukan aku tidak suka kepada nona itu, soalnya yang disukai nona itu bukanlah diriku. Yang kuharapkan hanya orang yang ku sukai mendapat kebahagiaan, maka kuminta engkau tidak perlu lagi banyak urusan. Ai, jangan kau sesalkan aku bicara terus terang, kita boleh dikatakan senasib, semoga engkau pun mempunyai pikiran serupa diriku. Nah, sampai di sini saja, selamat jalan dan sampai berjumpa pula."
Liong Leng-cu sampai melengak oleh ucapan Se-kiat itu.
"Yang kuharapkan hanya orang yang kusukai mendapat kebahagiaan", ucapan ini serupa air dingin yang menyiram kepala Liong Leng-cu dan seketika membuat pikirannya yang kacau itu menjadi sadar. Pikirnya.
"Betul, tanpa pikir apa pun kakak Yam memburu pulang ke Thian-san, memangnya apa sebabnya? Tidak perlu ditanya lagi, jelas lantaran memikirkan Ling-cicinya. Dia rela berkorban, biarpun nama rusak juga ingin hidup bahagia bersama Ling-cici, kalau ada kesulitan juga ingin dipikulnya bersama dari sini dapat diukur betapa mendalam cinta-kasih mereka. Ada cinta murni barn ada bahagia, dan bahagia atau tidak hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Asal mereka merasa bahagia baru benar-bener mencapai bahagia. Dan setelah kutahu mereka saling mencintai dengan hati murni, maka adalah kewajibanku untuk membantu mereka dan tidak boleh merintangi mereka."
Setelah tertegun sejenak, katanya kemudian.
"Ce-toako, terima kasih atas uraianmu yang berharga ini, aku akan selalu ingat kepada ucapanmu. Cuma perjalanan Nyo Yam ke Thiansan mungkin akan menghadapi bahaya, kami berkenalan baik, apabila dia dihukum oleh perguruannya, rasanya aku pun tidak dapat melepaskan tanggung jawab, maka aku pasti takkan tinggal diam."
Se-kiat tahu si nona sudah paham maksudnya, dengan gembira ia berkata.
"Kupaham kesukaranmu. Bilamana bukan karena tugas pengawalan obat yang penting ini, tentu aku akan pergi bersamamu."
"Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya denganmu, biarpun kau pergi ke Thian-san juga tak dapat memberi bantuan apa pun kepada mereka,"
Ujar Leng-cu.
"Ya, kutahu. Makanya terpaksa bikin repot padamu,"
Kata Se-kiat.
"Baiklah, kita berpisah saja di sini."
Ucap Leng-cu.
"Nanti dulu!"
Seru Se-kiat mendadak. Leng-cu melengak.
"Ada urusan apa lagi, Ce-toako?"
"Aku tidak ingin bicara apa-apa lagi, hanya ingin kuberi sesuatu padamu."
Kata Se-kiat.
"Sesuatu apa?"
Tanya Leng-cu.
"Pemberianku ini juga bukan tanpa bersyarat, justru kuminta tukar menukar denganmu,"
Kata Se-kiat. Tentu saja Leng-cu merasa bingung, tanyanya "Tukar menukar apa?"
Se-kiat terus melompat turun dari kudanya dan berkata.
"Tukar menukar kuda!"
Kiranya kuda tunggangan Ce Se-kiat ini adalah pemberian Kang Siang-in, seekor kuda yang sangat gagah dan perkasa, sungguh kuda pilihan yang sukar dicari.
"Ah, hadiahmu ini terlampau besar bagiku, tak berani kuterima,"
Kata Leng-cu.
"Terus terang, kuda ini pun pemberian seorang sahabatku,"
Tutut Se-kiat.
"waktu itu justru lantaran ada urusan penting yang mendesak. maka ia memberikan kuda ini padaku. Sekarang engkau juga ada urusan penting yang mendesak, kan boleh kutirukan dia memberikan kuda ini padamu. Maka kuharap kau sudi menerimanya."
Leng-cu juga kuatir sukar menyusul Nyo Yam dalam waktu yang mendesak ini, maka ia menjawab.
"Baiklah, apapun demi kepentingan Nyo Yam, aku tidak sungkan lagi padamu."
Kuda se-kiat ini berbulu suri warna merah, sedang keempat kaki berbulu putih, sejenis kuda balap terkenal keluaran Toawan.
Dengan kuda bagus itulah Leng-cu terus membedal secepa terbang, pada hari kedua ia sudah lebih 500 li meninggalkan kotaraja.
Tengah ia melarikan kudanya dengan cepat, tiba-tiba dilihatnya di depan ada sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda, larinya juga secepat terbang.
Yang hebat adalah keempat kuda itu semuanya berbulu putih mulas, keempatnya sama besarnya serupa kuda kembar Tentu saja Leng-cu sangat tertarik, pikirnya.
"Kecepatan keempat kuda putih itu tampaknya tidak mau kalah dengan kudaku ini, biarlah aku mengujinya siapa yang lebih unggul."
Agaknya penumpang kereta itu pun sudah menaruh perhatian terhadap kuda berbulu suri merah yang menyusul dari belakang ini, mereka sama menyingkap tirai dan melongok keluar.
Begitu melihat kedua penumpang kereta ini seketika Liong Leng-cu terkesiap.
Kiranya kedua orang ini sudah dilihatnya di Ki-lian-san dahulu, mereka bukan lain daripada kedua murid Pek-tohsancu, yaitu Sikong Ciau dan Buyung Sui.
Jika Liong Leng-cu kenal mereka, Sikong Ciau dan Buyung Sui sebaliknya tidak kenal dia.
Bahwa Leng-cu terkesiap, Sikong Ciau berdua juga terkejut.
"He, kuda tunggangan anak dara ini seperti jauh lebih bagus daripada keempat ekor kuda pemberian O-congkoan kepada kita ini,"
Demikian kata Sikong Ciau.
"Ya, jarang ada anak dara yang mampu menunggang kuda sebagus ini, agaknya nona ini mempunyai asal-usul,"
Ujar Buyung Sui, sembari bicara ia pandang sang Suheng dan minta petunjuknya apakah kuda orang perlu dirampas atau tidak, Dengan sendirinya Liong Leng-cu dapat menangkap maksud ucapan orang, ia pikir kedua orang ini pernah dihajar oleh Nyo Yam dalam belasan jurus saja, dirinya tentu juga tidak perlu gentar kepada mereka, umpama tidak dapat melawan mereka juga dapat melarikan diri mengingat lari kudanya terlebih cepat daripada kereta mereka.
Selagi ia bedal kudanya lebih cepat untuk melampaui kereta, tiba-tiba terdengar suara seorang yang sudah dikenalnya berkata.
"Anak dara macam apa, coba angkat bangun, biar kulihat siapa dia?"
Leng-cu tambah terkejut mendengar suara orang yang dikenal ini.
Dalam pada itu orang sudah menyingkap tirai dan melongok keluar.
Siapa lagi dia kalau bukan Ubun Lui.
Rupanya hiat-to Ubun Lui terganggu oleh, pukulan Liongsiang-kang Ce Se-kiat sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, jangankan berlari dengan ginkang, menunggang kuda pun terasa payah.
Ogotai takut akan timbul kesulitan sehingga tidak berani menahan Ubun Lui merawat lukanya di rumah, kebetulan Pektoh-sancu mengirim dua orang muridnya ke kotaraja untuk mencari berita.
maka Ogotai lantas menyuruh mereka membawa Ubun Lui pulang ke Pek-toh-san dengan menghadiahkan kereta dengan empat ekor kuda bagus-Ubun Lui juga terkejut dan bergirang melihat anak dara yang dimaksud ialah Liong Leng-cu, segera ia berseru.
"He, kalian tidak tahu siapa budak cilik ini? Dia bukan lain adalah Siau-yau-li yang hendak ditangkap Sancu."
Mendengar keterangan itu, tanpa disuruh lagi serentak Sikong Ciau dan Buyung Sui menubruk kearah Liong Leng-cu sambil membentak.
Leng-cu sedang melarikan kudanya dengan cepat, saat itu sudah hampir menyusul kereta mereka.
dalam keadaan membedal cepat sukar lagi menghindar, segera Leng-cu mencambuk kuda dan membiarkan kudanya menerjang terlebih cepat ke depan.
Sikong Ciau dan Buyung Sui menubruk dari atas kereta, mereka hendak menjatuhkan Leng-cu dari kudanya.
Saat itu cambuk Leng-cu menyabet pantat kuda dan membuat binatang itu meringkik kaget dan berjingkrak, tampaknya Sikong Ciau berdua bisa terinjak olehnya.
Pada saat yang sama itulah Leng-cu mendengar angin berkesiur, ia tahu ada serangan senjata rahasia, cepat cambuk berputar untuk menyampuk.
"cring", sebuah mata uang terpukul jatuh, tangan Leng-cu sendiri pun pegal linu Nona itu terkesiap oleh tenaga dalam orang, pada saat yang hampir sama terdengarlah kuda merah itu meringkik dan mendadak roboh. Kiranya meski gerak-gerik Ubun Lui tidak leluasa, tapi tenaga dalamnya tidak banyak terganggu, setelah istirahat dua hari di dalam kereta tenaganya sudah hampir pulih seluruhnya. Dengan sendirinya lwekangnya lebih tinggi daripada Liong Leng-cu, dan kedua senjata rahasia mata uang itu disambitkan olehnya Leng-cu keburu menyelamatkan diri sendiri, tapi tak dapat melindungi kudanya, begitu kuda roboh, kontan Leng-cu terlempar. Untung ginkangnya sangat hebat, sekali melejit dapatlah ia melompat bangun. Dalam pada itu bagai elang menyamber kelinci, segera Buyung Sui menubruk si nona dengan telapak tangannya yang lebar.
"Biar putus kuku anjingmu!"
Bentak Liong Leng-cu, begitu melompat bangun segera pedang sudah dihunusnya dan tepat mengancam hiat-to di tengah telapak tangan musuh.
Buyung Sui terkejut, hiat-to bagian telapak tangan terhitung hiat-to penting, kalau tertusuk pedang tentu bisa celaka.
Untunglah Sikong Ciau lantas membentak "Jangan garang Siau-yau-li!"
Berbareng ia menghantam, sebelum tiba orang-nya, Liong Leng-cu tergetar mundur oleh angin pukulannya yang dahsyat. Karena itulah tusukan pedang si nona tidak mengenai sasaran.
"bret", tidak urung lengan baju Buyung Sui terobek sebagian. Dalam pada itu Sikong Ciau sudah memburu rnaju dengan senjata terhunus. Cepat pedang Leng-cu menyabat ke belakang dan tepat ditangkis oleh senjata Sikong Ciau yang berbentuk Boan-koan-pit atau potlot baja.
"Trang", lelatu api muncrat. Bicara tentang tenaga dalam jelas Sikong Ciau lebih kuat, tapi soal ilmu pedang memang Liong Leng-cu lebih lihay. Begitu pedang terguncang ke samping, sekalian ia tarik untuk menabas. Terpaksa Sikong Ciau tidak dapat menyerang lebih lanjut dan harus tarik kembali potlot baja untuk bertahan. Di pihak lain Buyung Sui yang hampir tertusuk pedang terkejut hingga berkeringat dingin, ia tidak berani meremehkan lawan lagi, cepat ia pun mengeluarkan senjata andalannya dan bergabung dengan sang suheng untuk mengerubut Liong Leng-cu Senjata Buyung Sui juga khusus untuk menutuk hiat-to, yaitu berbentuk cundrik, dan lebih panjang daripada Boankoan-pit Sikong Ciau. Keduanya sudah terlatih dengan baik sehingga dapat bekerja sama dengan rapat. Untung Liong Leng-cu pernah berkumpul cukup lama dengan Nyo Yam dan sering bertukar pikiran sehingga banyak mendapat tambahan pengetahuan ilmu silat kepandaiannya sekarang bukan lagi seperti dulu, maka sekuatnya ia masih sanggup bertahan. Diam-diam Ubun Lui terkesiap menyaksikan pertarungan mereka, ia heran baru berpisah selama setengah tahun, mengapa kungfu Siau-yau-li ini maju sedemikian pesat. Bila sekarang ia sempat lolos, sehingga beberapa tahun lagi tentu Pek Toh San akan bertambah lagi seorang lawan tangguh. Liong Leng-cu tahu tenaga sendiri takkan tahan lama, maka ia menggunakan siasat main putar. dengan kelincahannya ia menghindari serangan lawan dan tidak mau menangkis dengan keras lawan keras. Walaupun begitu ia tetap payah, selang lima puluhan jurus, lambat-laun ia mandi keringat juga. Ubun Lui sudah menyiapkan senjata rahasia mata uang, cuma belum digunakaunya secara sembarangan. Maklumlah, pertarungan ketiga orang itu sangat cepat, terutama Liong Leng-cu terus berputar kian kemari sehingga ketiga sosok bayangan seolah-olah lengket menjadi satu, betapapun Ubun Lui kuatir senjata rahasianya bisa salah timpuk kawan sendiri. Selain itu dapat dilihatnya juga kedua tangannya sudah mulai di atas angin. meski musuh tidak dapat segera dirobohkan, namun tanpa dibantu pun akhirnya dapat juga membekuk nona itu. Mendadak Liong Leng-cu melancarkan serangan kilat tiga kali, selagi Buyung Sui mengelak, peluang itu segera digunakan Leng-cu untuk menerobos keluar.
"Lari ke mana, Siau-yau-li!"
Bentak Sikong Ciau, serupa bayangan saja segera ia mengejar.
Kuda merah Liong Leng-cu menggeletak tak-bisa berkutik, entah sudah mati atau masih hidup.
Leng-cu menyadari tenaga sendiri sudah lemah, untuk lari jelas tidak sanggup, apalagi pihak lawan berkuda bagus, terpaksa ia harus bertempur lagi mati-matian.
Cepat ia melepaskan cambuk benang perak yang terikat di pinggang.
Tadi karena dikerubut ia tidak sempat menggunakan cambuk ini, padahal permainan cambuknya tidak kurang lihainya daripada ilmu pedangnya.
Panjang cambuk itu ada dua tombak lebih, sekali berputar, debu pasir dalam jarak lingkaran beberapa tombak sama berhamburan.
Nyata dalam hal senjata sekarang ia sudah lebih untung.
Senjata Sikong Ciau berdua berukuran pendek.
untuk melawan sabetan cambuk yang panjang itu tentu saja rada kerepotan, seketika mereka pun tidak jelas bagaimana gerak serangan si nona, terpaksa mereka hanya sanggup bertahan dan tidak berani sembarangan mendekat.
Dengan demikian Liong Leng-cu dapat mengubah keadaan menjadi sama kuat, sayang tenaga si nona sudah banyak berkurang, kalau tidak tentu dia bisa unggul dengan memanfaatkan cambuknya yang panjang itu.
Bekernyit juga kening Ubun Lui, sebagai seorang ahli, ia tahu lama-lama tenaga Liong Leng-cu pasti habis dan akhirnya akan dikalahkan oleh kedua sutenya, tapi untuk itu masih diperlukan waktu cukup lama, meski tempat ini tampak sepi, tapi jalan raya, bukan mustahil sebentar lagi ada orang lalu.
Dengan menggunakan cambuk panjang yang menguntungkan itu, kebalikannya juga ada ruginya bagi Liong Leng-cu, sebab sekarang dia harus bertempur dari jarak jauh dan hal ini akan memberi peluang kepada Ubun Lui untuk menggunakan senjata rahasianya.
Begitulah karena kuatir terjadi hal-hal di luar dugaan, segera Ubun Lui menyambitkan lagi mata uang, sekarang ia tidak kuatir akan salah menimpuk kawan sendiri lagi.
Leng-cu putar cambuknya dengan kencang, terdengar suara "cring-cring"
Beberapa kali, mata uang yang dihambutkan Ubun Lui sama tersampuk jatuh, walaupun begitu, saking pedas juga tangan Leng-cu, karena harus menghadapi hujan senjata rahasia, pertahanannya menjadi tidak seketat tadi.
Ubun Lui masih terus menghamburkan senjata rahasia mata uang, sedikit meleng pergelangan tangan kiri Leng-cu tersambit, meski bukan tempat hiat-to, tangan kesakitan juga dan tidak sanggup memegangi senjata lagi.
"trang", pedang jatuh ke tanah. Leng-cu menyerang dengan cambuk dan bertahan dengan pedang. Sekarang pedang jatuh, daya tahannya banyak berkurang. Kesempatan ini segera digunakan Sikong Ciau untuk mendesak maju-Apalagi karena tangan kiri kesakitan, gerak cambuk Leng-cu menjadi agak kacau. kecepatan pun tidak sekuat tadi. Sikong Ciau mengincar suatu kesempatan dan mendadak membentak.
"Lepas tangan!"
Serentak kedua jarinya mencepit ujung cambuk sekuat tanggam.
Ia pernah belajar tanaga jari sakti, sebaliknya Leng-cu sudah hampir kehabisan tenaga.
mana ia sanggup bertahan.
Benar juga, kontan cambuknya terampas.
Cepat Leng-cu melompat mudur, lalu kabur sreepat terbang.
Dengan sendirinya Buyung Sui tidak tinggal diam, segera ia memburu sambil membentak.
"Mau lari ke mana, Siau-yau-li?"
Tampaknya kejar mengejar itu sudah dekat, tiba-tiba suara dingin seorang membentak.
"Hei henti! Siau-yau-li ini bagian kami. orang lain di larang ikut campur!"
Suara itu berkumandang dari jauh. padahal orangnya belum kelihatan dan suaranya sedemikian keras, Sikong Ciau terkejut dan berteriak.
"Awas, Sute!"
Buyung Ciau juga tahu kelihaian lawan, tapi ia mempunyai deking Pek-toh-san, pula wataknya juga pemberang, mana dia mau mengalah hanya karena ucapan orang dan musuh yang segera akan dibekuknya itu dilepaskan begitu saja?
Karena itulah ia tetap mengejar tanpa peduli.
Liong Leng-cu juga kaget mendengar suara orang yang memekak telinga itu, ia merasa seperti sudah kenal suaranya.
Karena harus menyelamatkan diri, ia tidak sempat merenungkan pendatang itu kawan atau lawan.
Dan karena sedikit lengah, kembali belakang kaki tersambit sebuah mata uang, kontan ia terhuyung-huyung dan hampir jatuh tersungkur.
Pada saat itulah terdengar suara derap kuda lari yang ramai, pendatang ini seluruhnya empat penunggang kuda.
Yang paling depan adalah seorang lelaki berusia 30-an, mendadak ia melompat dari atas kudanya, serupa elang menyamber kelinci saja langsung ia menubruk ke arah Liong Leng-cu yang terhuyung hampir jatuh itu.
Pada saat yang sama, dengan cepat sekali Buyung Sui juga sudah menyusul tiba.
"blang", kedua orang saling beradu pukulan satu kali. Sedang Liong Leng-cu sempat berguling, lalu melompat bangun dan segera kabur lagi. Dengan sendirinya Buyung Sui dan orang tadi sama menubruk tempat kosong.
"Siapa kau? Berani mengganggu urusanku?!"
Bentak Buyung Sui dengan gusar. Tak terduga orang itu terlebih kasar daripada Buyung Sui, tanpa bicara, hanya kerongkongannya mengeluarkan suara "grak-grok"
Yang aneh, langsung ia menghantam pula.
Buyung Sui menangkis dan keduanya lantas saling labrak.
Buyung Sui menang tenaga.
sebaliknya ilmu pukulan orang itu terlebih lihai, seketika sukar menentukan kalah dan menang.
"Sesungguhnya siapa kau? Kenapa tidak bicara? Apa kamu gagu?"
Damperat Buyung Sui dengan mendongkol.
Dalam pada itu tiga penunggang kuda yang lain juga sudah menyusul tiba.
Buyung Sui melihat gclagat tidak menguntungkan, ia berharap dapat menggertak pihak lawan dengan nama Pektoh-san, untuk ini pihak lawan perlu dipancing menanggapi pertanyaannya.
Namun orang itu hanya mengeluarkan suara aneh dari kerongkongan tanpa bicara apa pun.
Kiranya orang itu memang benar gagu alias bisu.
Setelah terlepas dari cengkeraman pendatang itu, sekarang Liong Leng-cu juga sudah tahu siapa dia.
Kiranya dia bukan lain daripada murid Thian san-pai yang lidahnya dipotong oleh Nyo Yam dulu, yaitu Ciok Jing-coan yang pernah melamar Ling Peng-ji, tapi tidak berhasil.
Tentu saja Liong Leng-cu mengeluh, sekuat tenaga ia kabur secepatnya.
Ia berharap berhasil meloloskan diri selagi kedua orang itu saling labrak dengan seagit.
Akan tetapi ketiga penunggang kuda yang baru menyusul tiba itu sempat menghadang jalan larinya.
Waktu Leng-cu mengawasi, ketiga orang ini dikenalnya semua.
Yang pertama adalah ayah Ciok Jing-coan, yaitu Ciok Thianhing, seorang lagi adalah Ting Tiau-min yang pernah bergebrak dengan dia dahulu.
Orang ketiga adalah Liok Kamtong, murid Ciok Thian-hing.
Ciok Thian-hing dan Ting Tiau-min adalah tokoh Thian-sanpai, tergolong dua di antara keempat murid utama.
Kungfu Liok Kam-tong agak lemah, tapi kalau dibandingkan Liong Leng-cu juga selisih tidak jauh.
Keruan Leng-cu mengeluh, ia sadar sekali ini pasti sukar lolos.
"Berhenti, Siau-yau-li!"
Demikian Ciok Thian-hmg membentak, suaranya melengking nyaring menusuk telinga.
Nyata yang bersuara dari jauh tadi adalah dia.
Untuk lari terang sukar, Leng-cu sengaja berhenti sesuai kehendak orang, lalu mendengus.
"Hm. selaku tertua Thiansan-pai dan tidak mampu menandingi Sutit sendiri lalu hendak melampiaskan rasa gemas terhadapku, huh, tidak malu! Ayolah maju jika ingin menganiayaku, asal saja tidak takut mulutmu akan digampar lagi oleh Nyo Yam."
Bahwa berhubung cekcok urusan perguruan.
Ciok Thianhing pernah digampar oleh murid kemenakan sendiri, yaitu Nyo Yam, hal ini dirasakannya sebagai suatu penghinaan bcsar selama hidupnya.
Kini hal itu disinggung oleh Liong Leng-cu, keruan meluap amarah Ciok Thian-hing tanpa pikir tua melawan muda segala, kontan ia memaki.
"Siau-yau-li, kamu banyak berbuat kejahatan. justru akan kebekuk dirimu, siapa ingin bicara tentang peraturan kangouw padamu?"
Sambil membentak ia terus melompat turun dari kudanya dan bermaksud menangkap Liong leng-cu.
Nona itu hanya menggeser ke samping, lalu menyongsong maju malah untuk menggampar muka orang.
Dengan sendirinya Leng-cu tahu dirinya bukan tandingan Ciok Thian-hing, tindakannya ini bisa jadi akan mendatangkan maut baginya.
Namun dia justru berbuat nekat, ia pikir asalkan dapat menggampar orang satu kali saja, biarpun mati juga puas.
Gerak tamparan Liong leng-cu itu sangat lihai, pula dilakukan tanpa menghiraukan diri sendiri, dalam keadaan biasa pun Ciok Thian hing mungkin sukar mengelak.
Cuma sayang, keadaan Leng-cu sekarang sudah lemah, meski jurus tamparannya sangat bagus, namun gerak tangannya agak lamban sehingga Ciok Thian-hing sempat menghindar.
Namun begitu tidak urung angin tamparan si nona dirasakan mernbuat mukanya panas pedas.
Dalam gusarnya Ciok Thian-hing terus mencengkeram tangan Liok Lcug-cu sambil membentak.
"Siau-yau-li, kamu yang cari mampus sendiri, biarlah kubereskanmu ...."
Dalam keadaan begitu, asalkan ia mengerahkan tenaga, kontan lengan Leng-cu pasti akan dipuntir patah.
Ia tidak ingin mencelakai jiwa Leng cu, tapi ingin membuatnya cacat.
Apalagi dalam keadaan marah, ia sudah serupa orang gila yang kalap.
Syukurlah Ting Tiau-min keburu berteriak "Tahan dulu, Suheng.
Meski Siau-yau-li ini musuh perguruan kita, tapi dia ada hubungan erat dengan Nyo Yam, kita pun masih perlu mendapatkan pengakuannya.
Kukira seharusnya kita bawa dia pulang ke gunung dulu untuk dimintakan keputusan Ciangbunsute (adik seperguruan pejabat ketua) kita, dengan begitu barulah terlihat Thian-san-pai kita yang mengutamakan keadilan dan kebenaran setiap urusan sehinggga takkan dijadikan omongan iseng orang luar."
Di balik kata-katanya itu seakan-akan hendak menonjolkan bahwa Thian San pay adalah perguruan yang terkenal berbudi luhur dan tidak akan bertindak sewenang-wenang Ciok Thian-hing adalah kepala dari keempat murid utama Thian-san-pay malahan baru saja diangkat sebagai "tianglo"
Atau sesepuh, Dengan dirinya ia cukup paham peraturan perguruan sendiri. Maka ucapan Ting Tiau-min tadi mau tidak mau harus dipertimbangkannya. Betapapun dia benci kepada "Siau-yau-li"
Ini juga tidak boleh kehilangan kehormatan sebagai seorang Suheng merangkap sesepuh perguruan yang pantas memberi suri tauladan, apalagi melanggar peraturan sendiri.
Begitulah ia lantas urungkan niatnya mematahkan tangan Liong Leng-cu, jengeknya.
"Heee, biar sementara ini kuampunimu!"
Tidak urung ia tutuk hiat-tu kelumpuhan Liong Leng-cu, untuk ini perlu menunggu 12 jam kemudian baru akan punah dengan sendirinya dan dapat bergerak bebas.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang menjengek.
"Wah, Kungfu bagus... cuma segala urusan tidak terlepas dari kebenaran. kalau hanya mengandalkan ketinggian kungfu saja tidak nanti dapat menaklukkan orang."
Suara orang ini serupa suara benturan barang logam, sangat menusuk telinga.
Ciok Thian-hing terkesiap, ia pikir Iwekang orang ini mungkin tidak di bawahku.
Yang bersuara itu ialah Ubun Lui, sejak tadi ia sudah menggulung tirai kereta dan duduk di situ Liok Kam-tong, murid Ciok Thian-hing, pernah ikut pergi ke Ki-lian-san, waktu itu tokoh dari berbagai golongan sama hadir di sana hendak menangkap "Siau-yau-li"
Alias Liong Leng-cu, meski di sana Liok Kam-tong tidak bertemu dengan Ubun Lui, tapi pernah dilihatnya Sikong Ciau dan Buyung Sui berdua.
"Anda ini dari golongan mana?"
Begitulah Ciok Thian-hing lantas berpaling ke arah Ubun Lui dan bertanya. Maka Liok Kam-tong mendahului menjawab.
"Awas, Suhu! Meski orang ini belum kukenal, tapi kedua kawannya iui kutahu berasal dari Pek-toh-san. Bila tidak keliru dugaanku, mungkin sekali orang ini adalah kemenakan Pek-toh-sancu yang bernama Ubun Lui."
Orang Pek-toh-san suka memakai racun, kedudukan Ubun Lui di Pek-toh-san hanya di bawah pamannya saja, semua ini sebelumnya sudah diketahui oleh Ciok Thian-hing.
Maka ia lemparkan Liong Leng-cu kepada Liok Kam-tong dan berseru.
"Jaga Siau-yau-li ini, biar aku yang bicara dengan mereka."
Dalam pada itu pertempuran antara Ciok Jing-coan dan Buyung Sui sudah sama menggunakan senjata.
Dengan ilmu pukulannya tadi Ciok Jing-coan agak di atas angin, dengan senjata ternyata tidak lebih hanya sama kuat saja dengan lawan.
Sikong Ciau lebih cermat, sekarang ia pun tahu siapa pihak lawan, ia pikir Ciok Thian-hing adalah sesepuh Thian-san-pai, kabarnya berwatak angkuh, nama suheng mungkin sukar menggertaknya.
Kalau bicara menurut aturan.
mungkin sukar juga mencapai kata sepakat.
Dan bila pakai kekerasan, jelas aku dan sute sukar meloloskan diri.
Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia mengambil risiko, mendadak ia melompat maju sambil berteriak.
"Mundur Sute, biar aku yang belajar kenal dengan tokoh Thian-san!"
Tidak perlu dijelaskan juga Buyung Sui tahu maksud sang suheng bukan menyuruhnya mundur sungguh-sungguh, maka ia berlagak tidak keburu berhenti, sementara itu Sikong Ciau sudah menerjang maju, langsung Boan-koan-pit menutuk hiatto di punggung Ciok Jing-coan.
Menghadapi Buyung Sui saja tidak bisa menang, mana Ciok Jing-coan tahan ditambah lagi seorang Sikong Ciau yang lebih tangguh dan di -kerubut dari muka-belakang.
Maka cuma duatiga jurus saja ia sudah kelabakan dan berkaok-kaok.
Orang yang lidahnya terpotong dengan sendirinya tidak jelas suara yang dikeluarkan, orang lain tidak tahu apa yang diucapkan, tapi ayahnya dapat menangkap perkataannya yang memanggil "ayah"
Segera Ciok Thian-hing berseru.
"Sute."
Belum lanjut ucapannya Tiang Tiau-min sudah memburu maju dan berkata.
"Jangan kuatir Suheng, kedua orang ini serahkan saja padaku."
Sementara itu Boan-koan-pit Sikong Ciau sudah dekat punggung Ciok Jing-coan, namun Ting Tiau-min juga sangat cepat, tahu-tahu Sikong Ciau merasa angin tajam menyambar tiba, ujung pedang Ting Tiau-min telah mengancam iganya.
Sikong Ciau tidak mau menyerempet bahaya, menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting baginya, Cepat ia tarik kembali serangannya untuk bertahan.
Walaupun cepat gerak perubahannya, hampir juga iganya tertusuk, untung cuma baju luar saja yang terobek dan tidak sampai terluka.
Keadaan Buyung Sui terlebih runyam, rambutnya terpapas sebagian.
Sekali serang dua gerakan, hampir berbareng Ting Tiau-min menyerang dua lawan tangguh, betapa cepat dan ganas ilmu pedangnya sungguh sukar dilukiskan.
Melihat putranya sudah terbebas dari bahaya, Ciok Thianhing yakin Sute nya pasti akan menang dengan gampang, maka tanpa sangsi ia lantas mendekati Ubun Lui.
"Apakah kamu ini Ubun Lui dan Pek-toh-san?"
Tanya Ciok Thian-hing dengan ketus. Ubun Lui tetap duduk di dalam kereta, jawab nya.
"Betul, aku inilah Ubun Lui. Agaknya Lo-Chianpwe ini Ciok-tianglo dari Thian-san?"
Melihat sikap dan nada ucapan orang rada menghormat, rasa jenuh Ciok rhian-hing kepadanya rada berkurang, jawabnya dengan pongah.
"Ya, mau apa?"
"Nama Ciong-tianglo termashyur diseluruh jagat, sudah lama kukagumi,"
Kata Ubun Lui.
"Maafkan karena lagi sakit sehingga tidak turun untuk memberi hormat."
Sembari bicara ia mengangsurkan tangan untuk menjabat tangan orang. Sebagai seorang ahli, sekali pandang saja Ciok Thian-hing tahu orang memang tidak leluasa untuk berjalan, pikirnya.
"Apakah dia benar sakit atau tidak belum kuketahui, tapi melihat keadaannya, umpama bukan sakit tentu juga karena belum lama baru saja dicederai oleh lawan tangguh. Mm, untung baginya, aku menjadi tidak bebas untuk membunuhnya."
Maklumlah, selaku seorang tokoh terkemuka suatu aliran, bila lawan kurang sehat dan tidak mampu memberi perlawanan, dengan sendirinya tidak enak baginya untuk membunuh orang yang sakit.
"Ah, jangan sungkan,"
Demikian kata Ciok Thian-hing akhirnya.
ia pun menjulurkan tangan untuk menjabat tangan orang.
Meski gerak-geriknya kurang leluasa, namun tenaga dalam Ubun Lui tidak terganggu.
Setelah mengadu tenaga dalam, Ubun Lui merasa Iwekang sendiri yang dikerahkan serupa kecemplung ke laut, hilang tak berbekas, sebaliknya pihak lawan tetap tampak biasa saja.
Keruan Ubun Lui terkejut, cepat ia lepas tangan dan berkata.
"Pantas nama Ciok-taihiap termasyur, ternyata benar tidak bernama kosong, kagum, sungguh kagum!"
Dia sebentar memanggil "Locianpwe"
Dan lain saat menyebut "Ciok-taihiap", keruan Ciok Thian-hing sangat senang Tak diketahuinya bahwa bukan cuma Ubun Lui saja yang terkejut, Ciok Thian-hing juga tidak kurang herannya ketika dirasakan tangan sendiri pun panas pegal, kungfu lawan yang khas ternyata juga sangat lihai, hanya saja rasa kaget Ciok Thian hing itu tidak tertampak dari luar.
Namun ia cukup menyadari bahwa Iwekang masing-masing sama mempunyai keunggulannya sendiri dan sukar dinilai siapa lebih hebat.
Dan kalau lawan dalam keadaan kurang sehat saja sehebat ini, apalagi kalau dalam keadaan biasa, nyata kungfu Pek-toh-san memang tidak boleh diremehkan Tapi pihak lawan sedemikian segan padanya, ia sengaja berlagak congkak dan menjengek.
"Nah, apa yang akan kau bicarakan denganku."
Dengan tenang Ubun Lui menjawab.
"Terus terang, biasanya Pek-toh-san juga tidak suka banyak bicara dengan siapa pun, tapi terhadap sesepuh Thian-san-pai mau-tak-mau harus diperlakukan lain. Apalagi kutahu orang Thian-san-pai tentu juga suka bicara menurut aturan."
"Bicara menurut aturan apa?"
Tanya Ciok Thian-hing.
"Coba katakan saja!"
Selagi Ubun Lui hendak bicara, sekonyong konyong terdengar suara teriakan diseling suara benda logam patah.
Rupanya pertempuran di sebelah sana sudah berakhir.
Ilmu pedang Ting Tiau-min ternyata paling lihai, meski dia murid ketiga dari keempat murid utama Thian-san-pai.
Dengan jurus "Pai-in-kah-tian"
Atau awan meluncur kilat menyambar, suatu jurus paling lihai dari Tui-hong-kiam-hoat (ilmu pedang pengejar angin) dari Thian-san-pai sekaligus ia telah menusuk Buyung Sui dan Sikong Ciau.
Pergelangan tangan kedua orang itu serentak merasa seperti tertusuk jarum, potlot baja Sikong Ciau mencelat dari cekalan dan cundrik Buyung Sui juga terlepas dan menjatuhi kaki sendiri sehingga sudah luka ditambah luka lagi.
Kejadian ini tidak cuma membuat orang yang bersangkutan ketakutan, bahkan Ubun Lui juga terperanjat, ia pikir ilmu pedang selihai ini bila aku yang diserang tentu juga sukar mengelak.
Maka cepat ia berseru.
"Ciok-locianpwe, harap suruh Sutemu memberi . ."
Ciok Thian-hing tersenyum. serunya.
"Ting sute, kita dari golongan terkemuka dan tahu aturan, kalau sudah unggul bolehlah ampuni orang. Boleh kau lepaskau mereka, biar kubicara dengan Siau sancu mereka."
Ting Tiau-min mengiakan dan menyimpan kembali pedangnya. Sedang Sikong Ciau dan Buyung Sui juga memungut kembali senjata masing-masing dan mengundurkan diri dengan menahan rasa sakit.
"Nah, Ubun-siausancu, apa yang ingin kau bicarakan, silakan,"
Kata Thian-hing. Setelah menenangkan diri, dengan tergagap Ubun Lui berucap.
"Menurut peraturan kangOuw, Siau-yau-li ini tadi sudah akan kami tangkap, maka sepantasnya harus ..diserahkan kepada kami."
"Wah, apa tidak keliru ucapanmu ini,"
Ujar Thian-hing.
"Jelas aku yang menawan Siau-yau-li ini, mengapa kau bilang kalian yang menangkapnya?"
Setelah dipikir barulah Ubun Lui menyadari salah omong, cepat ia berkata pula.
"Ya, betul. Siau-yau-li memang ditangkap sendiri oleh Ciok -locianpwe, cuma sebelum Cioklocianpwe tiba tadi kami sudah hampir membekuknya. Umpama Ciok locianpwe tidak muncul, Siau-yau-li ini pasti juga tidak dapat lolos dari cengkeraman kami."
"Oo, jadi maksudmu kami ambil barang yang seharusnya sudah menjadi milikmu?"
Jengek Ciok Thian-hing.
"Ah, bukan begitu maksudku, cuma...."
"Cuma apa?"
Sela Thian-hing.
"Hendak ku-tanya padamu, bilamana sejak mula Siau-yau-li menghadapiku, apakah aku tidak mampu menawannya?"
"Biarpun tiga orang Siau-yau-li juga bukan tandingan Locianpwe,"
Jawab Ubun Lui.
"Jika begitu, kenapa kau banyak omong lagi?"
"Tapi sedikit banyak kami kan juga keluar tenaga,"
Kata Ubun Lui.
"O, jadi maksudmu ingin minta bagian, begitu?"
Tanya Thian-hing.
"Sayang, golongan kami tidak mau bicara menurut peraturan kalangan hitam bahwa setiap orang yang ikut lihat akan mendapatkan bagian. Apalagi yang menjadi soal sekarang adalah manusia dan bukan barang. Barang dapat di bagi, manusia kan tidak bisa?!"
"Ucapan Locianpwe memang benar,"
Jawab Ubun Lui.
"Dengan sendirinya bukan maksudku ingin minta bagian rejeki kepada Locianpwe, kami hanya mohon kebijaksanaan bahwa Siau-yau-li ini adalah musuh kami, atas perintah Sancu kami hendak menangkapnya dan membawanya pulang."
"Ada permusuhan apa antara kalian dengan dia?"
Tanya Ciok Thian-hing.
"Aku pun tidak begitu jelas, agaknya seperti orang tua Siauyau-li itu pernah berbuat salah terhadap Sancu kami sehingga terikat permusuhan yang sukar didamaikan,"
Tutur Ubun Lui.
"Jadi, ada permusuhan antara ayahnya dengan pamanmu?."
Thian-hing menegas.
"Ya, begitulah,"
Kata Ubun Lui.
"Setahuku ayah Siau-yau-li ini sudah lama mati,"
Kata Ciok Thian-hing.
"Menurut adat, orang mati habis perkara, apalagi permusuhan itu berasal dari orang tuanya dan bukan pribadi Siau-yau-li ini."
"Ucapan Locianpwe memang juga betul, tapikan juga ada pepatah yang menyatakan membabat rumput harus seakarakarnya?"
Ting Tiau-min tidak tahan dan ikut bicara.
"Ucapanmu tidak tepat! Untuk membabat sampai akar-akarnya perlu ditimbang apa kesalahan yang diperbuatnya? Terns terang, aku sendiri pernah terluka akibat muslihat licik Siau-yau-li ini, tapi aku tetap menganggap kesalahannya belum perlu dihukum mati."
Yang dimaksudkannya adalah peristiwa Liong Leng-cu merampas Nyo Yam dari dia dahulu, ucapannya ini sesungguhnya sengaja diperdengarkan kepada Ciok Thianhing.
Keterangan Ting Tiau-min ini kebetulan dijadikan alasan untuk mundur teratur oleh Ubun lui, katanya.
"O, kiranya Ting-taihiap juga ada permusuhan dengan Siau-yau-li ini, maafkan aku tidak tahu."
"Urusan Thian-san kami mestinya tidak perlu diberitahukan kepada orang luar, tapi sengaja kami katakan agar kau tahu duduk perkara yang sebenarnya."
Kata Ciok Thian-hing.
"Nah, permusuhan kalian dengan dia berawal dari orang itu, sedangkan permusuhan kami dengan dia justru terhadap dia sendiri, coba katakan sendiri, siapa yang lebih berhak membereskan dia?"
Ubun Lui memang tidak berharap akan dapat merebut "Siau-yau-li"
Itu, dia ajik berunding hanya sekadar untuk menutupi rasa malu dan jaga gengsi saja. Sampai di sini ia berlagak menyerah lahir batin, katanya.
"Baiklah, jika begitu silakan Ciok locianpwe membawanya pergi, kami mohon diri."
Tiba-tiba Liok Kam-tong menukas.
"Suhu!! nama Pek-tohsan terkenal busuk, masa kita biar kan mereka pergi begitu saja?"
"Sudahlah, tidak perlu banyak urusan lagi,"
Kata Thian-hing, lalu ia berpaling dan berkata kepada Ubun Lui.
"Nah yang tidak tahu tidak perlu disalahkan, bolehlah kalian pergi saja."
Ubun Lui tidak menyangka urusan akan selesai begini saja, dengan girang ia memberi hormat dan berkata.
"Cioklocianpwe sungguh bijaksana, sungguh kagum. Sampai bertemu!"
"Suheng, kuda merah itu ...."
Tiba-tiba Buyung Sui mengincar lagi kuda tunggangan Liong Leng-cu itu. Ciok Thian-hing adalah seorang yang paham kuda bagus, ia menjengek.
"Kuda ini kepunyaan Siau-yau-li itu, memangnya hendak kau bawa?"
Ubun Lui juga merasa sutenya terlalu suka cari perkara, cepat ia menjawab.
"Ah, jangan salah paham, Ciok-locianpwe. Soalnya kuda itu telah kulukai dengan senjata rahasia, maksud Suteku mungkin minta kuobati dulu kuda itu."
"Tidak perlu, kami sendiri sanggup msngobati-nya,"
Ucap Thian-hing. Sesudah rombongan Ubun Lui pergi, Ciok Thian-hing berkata.
"Hing-sute, kuda ini tampaknya bukan kuda biasa, Coba kau periksa."
Rupanya pengetahuan Ting Tiau-min dalam hal perkudaan terlebih mahir daripada Ciok Thian-hing.
Ternyata Ting Tiau-min tidak menjawabnya, waktu Thianhing menoleh, baru diketahuinya sang sute sedang mengawasi Ciok Jing-coan -yang gagu itu.
Saat itu Ciok Jing-coan sedang melototi Liong Leng-cu yang menggeletak tak bisa berkutik di tanah.
Leng-cu adalah teman perempuan Nyo Yam, Jing-coan jadi teringat kepada Nyo Yam yacg telah menganiayanya, kerena sekarang belum dapat menuntut balas kepada Nyo Yam, rasa dendamnya jadi tertuju kepada Liong Leng-cu.
Ia tidak dapat bicara, digunakannya mata sebagai ganti lidah, matanya yang merah membara memperlihatkan rasa gusarnya yang penuh dendam, ia angkat tangannya dan bermaksud menghantam muka Liong Leng-cu, ia tahu anak perempuan paling sayang akan wajahnya, sekali pukul tentu muka si nona bisa dirusaknya.
Tentu saja Leng-cu cemas dan juga gemas, tapi apa daya, sama sekali ia tidak dapat melawan, karena itulah ia menjadi nekat dan menganggap orang sebagai binatang buas yang mengganas, ia sambut pandangan orang dengan sorot mata menghina.
Sebaliknya hati Ciok Jing-coan jadi terguncang oleh sorot mata si nona yang angkuh dan juga menghina itu.
Sorot mata ini lamat-lamat dirasakan seperti sudah dikenalnya.
"Siau-yau-li"
Di depannya sekarang dalam khayalnya mendadak seperti berubah menjadi Ling Peng-ji yang pernah dicintainya dan juga dibencinya itu.
Selama sekian tahun ia memburu cinta Ling Peng-ji, tapi anak dara itu tidak pernah menggubrisnya.
Suatu kali ia memergoki pertemuan gelap antara Nyo Yam dan Ling Pengji, ia pikir dapat memeras anak dara itu agar mau menerima cintanya, sikap dan sorot mata Ling Peng-ji pada waktu itu persis seperti sorot mata Liong Leng-cu sekarang.
Pada waktu itu pula lidahnya dipotong oleh Nyo Yam.
Sikap dan lorot mata yang khas itu sukar di-lupakannya, akan tetapi juga merangsang dendamnya yang semakin berkobar.
Dengan tatapau yang penuh rasa benci ia sedang berpikir.
"Nyo Yam telah rebut gadis yang kucintai, mengapa sekarang tidak kurebut juga gadisnya? Hehe, gadis cantik molek begini, kalau tidak kunikmati sepuasnya kan terlalu bodoh!"
Maka tangan yang sudah terangkat tidak jadi memukul melainkan cuma mencoleknya saja sekali sambil tertawa terkekeh aneh.
"Jangan sembrono anak Jing,"
Bentak Ciok Thian-hing.
"Bagaimana hukuman yang setimpal bagi Siau-yau-li ini harus diputuskan oleh pejabat ketua kita, tidak boleh kau langgar peraturan perguruan kita."
Ia sangka putranya hendak melakukan penyiksaan terhadap Liong Leng-cu, kuatir hal ini disaksikan Ting Tiau-min, terpaksa ia bertindak selaku sesepuh dan mencegah perbuatan Ciok Jing-coan.
Biasanya Jing-coan memang takut kepada paman guru yang kereng ini, karena bentakan sang ayah, kemudian diketahui sang paman guru juga sedang melotot padanya, seketika ia tidak berani bertindak lancang lagi.
Setelah pikirannya jernih kembali, ia pikir Siau-ya-li ini sudah serupa daging di depan mulut, masa kukuatir dia akan kabur?
Tiba-tiba ia mendapat akal, Leng-cu lantas dilepaskannya, lalu berkaok-kaok sambil memberi tanda kepada sang ayah, maksudnya menjelaskan ia cuma menakut-nakuti si nona saja dan tidak bermaksud jahat.
"Jing-ji telah dibikin cacat oleh si binatang cilik Nyo Yam, sedangkan Siau-yau-li ini adalah sekomplotan dengan Nyo Yam, pantas juga dia benci kepada Siau-yau-li ini, tentunya Sute dapat memaklumi perasaannya,"
Demikian kata Thianhing kepada Tiau-min.
Ting Tiau-min mengiakan.
ia sangka tindakan ciok Jing-coan tadi hanya terdorong oleh emosi lantaran dendamnva saja, sama sekali tak terpikir olehnya pemuda gagu itu mempunyai niat jahat lain.
"Sute."
Kata Thian-hing pula.
"engkau mahir mengobati kuda, boleh coba kau periksa kuda tunggangan Siau-yau-li ini. Kuda ini sungguh jarang ada bandingannya, bila sampai cacatkan sayang."
Ting Tiau-min coba mendekat dan memeriksanya dengan teliti, katanya kemudian.
"Betul, kuda ini memang sangat jarang terdapat, mendingan hanya salah urat saja, selekasnya dapat kusembuhkan dia "
Lalu Tiau-min mengeluarkan sebatang jarum panjang untuk mencocok hiat-to bagian paha kuda serta dibubuhi obat, benar juga, tidak sampai setengah jam kuda ini sudah dapat berdiri dan bergerak leluasa.
Kuda ini memang cerdik, ia mendekati Ting Tiau-min dan menggosok-gosok bahu orang dengan moncongnya, lalu mendekali Liong Leng-cu sambil meringkik sedih, tampaknya seperti ingin memohon Ting Tiau-min juga suka menolong majikannya.
Dengan tertawa Ting Tiau-min berkata.
"Majikanmu tidak terluka, boleh kubiarkan dia menunggangimu."
Tiba-tiba Ciok Jing-coan mendekati kuda merah, ia tepuktepuk dada sendiri, lalu menuding Liong Leng-cu dan berkaokkaok terhadap ayah-nya sembari memberi isyarat tangan.
Dengan sendirinya Ciok Jing-coan paham maksud putranya, katanya.
"Maksudmu ingin langsung mengawasi Siau-yau-li dan menunggang kudanya ini?"
Jing-coan mengangguk, lalu memandang ke arah Ting Tiaumin.
"Sute, apakah setuju gagasannya ini?"
Tanya Thian-hing.
"Dia dan Siau-yau-li dapat menyamar sebagai suami-istri dan bersama menunggang kuda merah itu, dengan demikian tentu takkan menimbulkan curiga orang dalam perjalanan."
Sebenarnya ada maksud Ting Tiau-min menyuruh Liok Kam-tong membawa Liok Leng-cu, karena ucapan sang suheng, tidak enak baginya untuk membantah.
Ia pikir tujuan Jing-coan mungkin hendak membalas dmdam terhadap Siauyau-li itu, tapi di depan orang banyak mungkin anak muda itu tidak berani sembarang bertindak.
Ting Tiau-min tergolong seorang ksatria berhati bersih, sama sekali tidak tersangka olehnya Ciok Jing-coan mempunyai maksud jahat lain, maka ia pun mengangguk setuju.
Jing-coan lantas angkat Leng-cu ke atas kuda.
"Nanti dulu!"
Mendadak Ciok Thian-hing berseru, lalu ia mendekati Leng-cu dan menekan sekali pada punggung si nona.
Kiranya ia kuatir Liong Leng-cu dapat membuka hiat-to sendiri yang tertutuk, maka ia sengaja menguji kekuatan si nona, ia merasakan Leng-cu tidak mempunyai tenaga perlawanan lagi, maka legalah hatinya.
"Suheng sungguh sangat teliti,"
Ujar Ting Tiau-min dengan tertawa.
"Bukan soal teliti, hanya kita tidak mau mengulangi kejadian kaburnya Nyo Yam dahulu,"
Jawab Thian-hing.
Dahulu Nyo Yam tertutuk oleh Bing Hoa dan dibawa Ting Tiau-min ke Cadam, tak terduga Nyo Yam maropu melancarkan sendiri hiat-to yang terkutuk, lalu kabur lersama Liong Leng-cu yanr datang menolongnya.
Muka Ting Tiau-min menjadi merah karena urusan dahulu disinggung sang suheng, katanya.
"Tenaga dalam Siau-yau-li ini mana dapat di bandingkan Nyo Yam."
"Tapi ilmu tutukanku juga tidak selihai Bing Hoa, maka kan lebih baik berlaku agak hati-hati,"
Ucap Thian-hing.
Dengan sendirinya ia tidak tahu bahwa sekarang Liong Leng-cu sudah mendapatkan ajaran Iwekang untuk membuyarkan tenaga tutukan dari Nyo Yam.
Hanya sayang, meski kungfu itu sudah dipelajari, namun Iwekang Liong Leng-cu sendiri belum sanggup digunakan untuk membuka hiat-to yang tertutuk itu.
Karena itulah Leng-cu menjadi kecewa dan juga mendongkol.
Itu saja belum, justru masih ada kejadian lain yang membuatnya terlebih gemas dan dongkol.
Rupanya Ciok Jing-coan telah merangkul pinggangnya dengan erat, kepalanya hampir saja dempet dengan pipinya.
Tentu saja Leng-cu sangat gemas tapi apa daya, ia tidak bisa bergerak dan tidak sanggup melepaskan diri dari tindakan bangor orang.
Ciok Thian-hing anggap tidak tahu saja perbuatan anaknya, apakah Ting Tiau-min memperhatikan atau tidak, umpama dilihatnya juga dia takkan menganggap kelakuan Ciok Jingcoan itu sebagai bangor.
Sebab Liong Leng-cu tak bisa berkutik, kalau tidak dipegangi, jelas nona itu akan terperosot ke bawah kuda.
Hanya Leng-cu sendiri saja yang sangat mendongkol, diamdiam ia bersumpah bila dapat meloloskan diri.
katak buduk ini pasti akan dibunuhnya.
Rombongan Ciok Thian-hing terus melanjutkan perjalanan siang dan malam, hanya lima hari saja mereka sudah melintasi propinsi Hopak, Soa-sai dan masuk ke wilayah Siamsai.
Selama lima hari ini setiap 12 jam sekali Ciok Thian-hing tentu menambahi tutukan pada hiat-to Liong Leng-cu sehingga sejauh itu si nona tetap tidak bisa berkutik.
Hari itu mereka sampai di Ji-lim-koan di timur laut propinsi Siamsai.
Tiba-tiba Ting Tiau-min teringat sesuatu, katanya.
"Suheng, hari ini bukankah tanggal 16 bulan delapan?"
"Ya, semalam adalah malam Tiongciu, sayang kita tidak sempat makan kue rembulan,"
Kata Thian-hing dengan tertawa.
"Dan hari ini dengan sendirinya tanggal 16. Memangnya ada apa, Sute?"
"Tanggal 16 bulan delapan adalah hari ulang tahun Kuitaihiap dari Ji-lim, masa Suheng lupa,"
Jawab Tiau-min.
Di daerah Ji-lim ada suatu keluarga persilatan turun temurun, yaitu keluarga Kui dengan perkampungan Hwe-inceng.
Cengcu atau kepala kampung sekarang bernama Kui Goan, seorang pendekar pedang yang terkenal di daerah barat-laut.
Keluarga Kui ada hubungan akrab turun temurun dengan Thian-san-pai, lantaran hari ulang tahunnya sehari sesudah pesta Tiongciu, maka sangat mudah diingat, sebab itulah begitu sampai dl Ji-lim-koan segera Ting Tiau-min teringat kepada Kui Goan.
Serentak Ciok Thian-hing juga ingat, jawabnya.
"Aha, betul, hari ini memang ulang tahun ke-60 Kui-taihiap, apakah maksudmu hendak berkunjung ke sana untuk mengucapkan selamat?"
"Adat kebiasaannya jangan kita lupakan,"
Ujar Tiau-min.
"Jika kebetulan kita lalu di sini, kalau tidak mampir dan menyampaikan selamat. bila kelak ketahuan, kan rikuh?"
"Tapi di tengah pesta pora ulang tahun Kui -taihiap itu tentu banyak tamu yang hadir, kan tidak leluasa kita pergi ke sana dengan membawa Siau-yau-li ini?"
"Mengingat hubungan Kui-taihiap dengan kita, apa pun juga kita berdua harus mampir ke sana,"
Ujar Tiau-min.
"Begini saja, biar Jing-coan dan Kam-tong tetap melanjutkan perjalanan dan menunggu kita di depan sana, mereka orang muda, tidak mampir ke Hwe-in-ceng juga takkan dipersoalkan oleh Kui-taihiap. Di bawah pengawasan mereka berdua, kukira takkan terjadi apa-apa dengan Siau-yau-li itu."
Ilmu silat Ciok Jing-coan sudah hampir menuruni segenap kemahiran sang ayah, sesudah menjadi bisu, ia tambah giat berlatih kungfu Diam-diam Ciok Thian-hing berpikir.
"Anak Coan tergolong jago terkemuka di antara murid angkatan ketiga. Kam-tong juga murid kesayanganku, dibandingkan anak Coan juga selisih tidak banyak, jangankan Siau-yau-li itu tidak bisa bergerak, umpama dalam keadaan biasa pun anak Coan dan Kam-tong sanggup melawannya. Kalau sekarang cuma ditinggal beberapa jam saja mungkin takkan terjadi sesuatu."
Setelah termenung sejenak, akhirnya Thian-hing mengangguk.
"Baiklah, begitu juga boleh. Mari kita berkunjung dan menyampaikan selamat kepada Kui-taihiap sekadar memenuhi kewajiban sesama kawan. Berapa jauh jarak Hwe-in-ceng dari sini?"
Rupanya ia belum pernah berkunjung ke tempat Kui Goan, sebaliknya Ting Tiau-min ada hubungan erat dengan Kui Goan dan pernah be berapa kali berkunjung ke sana.
"Kira-kira belasan li saja dari sini, dengan kuda kita yang cepat, pulang pergi juga tidak sampai satu jam,"
Tutur Ting Tiau-min.
"Termasuk waktu berada di Hwe-in-ceng, ku-kira dua jam pun sudah cukup,"
Kata Ciok Thian hing.
"Nanti kita pakai alasan akan lekas-lekas pulang ke gunung, tentu Kui Goan takkan menahan kita. Cuma mereka tidak leluasa menunggu di sini ...."
Tanpa diberi penjelasan Liok Kam-tong dapat memaklumi maksud sang guru.
Jika mereka menunggu di sini dengan menjaga Liong Leng-cu, hal ini tentu akan menarik perhatian orang lalu lalang.
Selain itu, jika hari ini ada pesta ulang tahun di rumah Kui Goan, tentu banyak orang kaug-ouw akan datang kemari melalui jalan ini, kalau kebetulan ada kenalan menegur mereka kenapa tidak ikut pergi ke Hwee-in-ceng, tentu mereka sukar untuk menjawab.
Karena itulah ia lantas menjawab "Suhu, biarlah kami meneruskan perjalanan dengan perlahan, akan kami tunggu Suhu didepan sana."
Tapi Thian-hing lantas memberi pesan.
"Tidak perlu, terus saja meninggalkan wilayah Ji-Lim Koan ini, sesudah itu barulah memperlambat perjalanan kalian. Hanya 20-an li saja sudah lepas dari wilayah Ji-lim koan, selekas kami akan menyusul. kukira tidak sampai tiga jam kemudian kita dapat bergabung lagi."
Saat ini belum lagi lohor, Leng-cu ditutuknya pada waktu pagi ketika hendak berangkat, maka diperkirakan petang nanti barulah hiat-to nona itu akan bebas dengan sendirinya, maka ia pikir tidak perlu menguatirkan kemungkinan kaburnya orang.
Hanya untuk menjaga bilamana datangnya terlambat, maka ia pesan Jing-coan agar menjelang petang nanti menambahi tutukan pada Hiatto Liong Leng cu.
Tentu saja Jing-coan berharap ayah dan paman gurunya lekas-lekas pergi, maka berulang ia mengangguk.
Kalau Ciok Jing-coan bergirang, diam-diam Liong Leng-cu juga senang.
Selama beberapa hari ini ia telah mengerahkan tenaga murni dengan latihan Iwekang ajaran Nyo Yam, meski hasilnya tidak dapat membebaskan hiat-to yang tertutuk itu dalam 12 jam, namun setiap hari dirasakan ada kemajuan, misalnya sejak kemarin kaki dan tangannya sudah mulai dapat bergerak, cuma hal ini disembunyikannya dan tidak diketahui oleh Ciok Jing-coan.
Dari percakapan Ciok Thian-hing tadi, ia me naksir kalau cuma ada waktu tiga jam, betapapun kemajuan Iwekangnya hari ini tetap juga tak dapat membebaskan hiat-to yang tertutuk.
Hanya saja dengan kepergian Ciok Thian-hing dan Ting Tiau min, sedikit banyak ada harapan untuk meloloskan diri.
Begitulah setelah berpisah dengan ayahnya, segera Ciok Jing-coan melarikan kudanya dengan cepat meninggalkan wilayah Ji-lim-koan.
Sesuai pesan sang ayah barulah ia memperlambat lari kudanya.
Tanpa terasa dua-tiga jam sudah barlalu, namun ayah dan paman gurunya belum lagi kelihatan menyusulnya.
Bagi Ciok Jing-coan, keterlambatan pulangnya ayah dan paman gurunya justru bebetulan malah.
Hanya Liok Kam-tong saja yang agak cemas.
Sementara itu sang surya sudah mulai terbenam, setelah melanjutkan perjalanan sebentar lagi, hari pun mulai gelap, sedangkan Ciok Thian-hing dan Ting Tiau-min masih juga belum kelihatan muncul.
"Sedikitnya sudah lewat empat jam, mengapa Suhu belum kembali?"
Demikian kata Liok Kam tong.
"Apakah perlu kususul ke Hwe-in-ceng untuk mencari kabar?"
Hendaknya maklum, meski Ciok Jing-coan berubah gagu, tapi tidak tuli, masih dapat mendengar secara normal.
Selaku Suheng, maka Liok Kam-tong pasti minta pendapatnya.
Dilihatnya Ciok Jing-coan menggeleng geleng kepala sambil bersuara "ah-uh"
Yang tidak jelas dan memberi isyarat tangan.
"Pendapatmu memang betul,"
Ujar Liok Kim tong.
"Mungkin Kui-taihiap menahan tetamunya makan-minum terlalu lama. sehingga Suhu rikuh untuk mohon diri. Cuma, segala kemungkinan juga bisa terjadi, maka lebih baik kususul saja ke sana "
Kepergian Liok Kam-tong sebenarnya kebetulan bagi Ciok Jing-coan, tapi bila sang paman guru disusul pulang, inilah yang tidak diharapkannya.
Biasanya ia paling takut kepada Ting Tiau-min kalau cuma Liok Kam-toug saja masih dapat di kuasainya, malahan dapat digunakan sebagai penjaga bilamana perlu.
---oo0dw0oo---
Jilid ke -10 Karena pertimbangan untung rugi begitu, kembali ia menggeleng sambil menuding ke atas gunung.
"Maksudmu supaya bermalam di atas gunung?"
Tanya Liok Kam-tong. Ciok Jing-coan melolos pedang dan menulis di atas tanah.
"Kutahu di atas gunung ada sebuah kelenteng kosong."
Liok Kam-tong memandangnya dengan seperti tertawa tapi tidak tertawa, agaknya paham maksud tujuannya, ia pikir.
"Malam ini agaknya Suheng ingin menghindari ayahnya, tapi aku hanya dapat menuruti sebagian keinginannya."
Maka ia lantas berkata.
"Baik, malam ini boleh kita menginap di kelenteng kuno itu. Akan ku tinggalkan kode, supaya kalau Suhu dan Susiok kembali ke sini dapat menemukan kita."
Menyusul itu ia pun melolos pedang dimulai dari kaki gunung, ia memberi tanda rahasia sepanjang jalan.
yaitu tanda panah yang mengarah ke atas gunung Meski Ciok Jing-coan merasa tidak senang atas perbuatan kawannya, namun tidak enak untuk mencegahnya.
Setiba di kelenteng yang dimaksud, Ciok Jing-coan menurunkan Liong Leng-cu, dipandangnya dengan sorot mata yang nanar, keruan Leng-cu ketakutan, sekuatnya ia mengerahkan tenaga dengan harapan sedikit banyak tenaga dalamnya dapat dipulihkan.
Jing-coan menyuruh sang sute membersihkan lantai kelenteng, lalu memberi isyarat tangan menyuruhnya mengambilkan air.
Liok Kim-tong cukup kenal watak Jing-coan, bukan cuma isyarat tangannya dapat dimengerti maksudnya, arti yang tidak terisyarat juga di pahaminya.
Ia tahu Suhengnya itu menghendaki dia mengawasi keadaan, bila Suhu dan Susiok datang harus segera memberi tanda.
Suruh dia mengambilkan air hanya sebagai alasan belaka.
Maka tertawalah Liok Kam-tong, katanya.
"Jangan kuatir. Suheng, akan kukerjakan dengan baik, dan pasti takkan salah."
Melihat kepergian Liok Kam-tong, Ciok Jing-Coan tertawa dan menatap Liong Leng-cu dengan sorot mata yang penuh nafsu binatang.
Waktu itu Leng-cu sedang mengerahkan tenaga dalam sebisanya, selagi hiat-to terasa hampir terbuka, saat itulah serupa binatang buas mendadak Ciok Jing-coan menubruk maju.
Ia menyangka "siau-yau-li"
Ini serupa daging di depan mulut, tinggal dicaplok saja, tak terduga baru saja menyentuh tubuhnya, seketika ia didorong si nona dan hiat-to di bawah dada terasa kemang.
Kiranya hiat-to Liong Leng-cu yang tertutuk sekarang sudah tujuh bagian dapat dilancarkan, kalau mau berdiri sekuatnya sudah sanggup.
Hanya sayang tenaga belum pulih, biarpun ia mendorong sekuatnya tetap tidak membuat Ciok Jing-coan terguling.
Thian-tut-hiat di bawah dada yang didorong Leng-cu sebenarnya merupakan hiat-to maut, tapi lantaran tenaganya belum pulih, biarpun hiat-to tertolak hanya membuat Ciok Jing-coan merasa pegal sedikit saja.
Setelah terkejut, segera Ciok Jing-coan merasakan kekuatan Liong Leng-cu tidak lebih cuma sekian saja dan belum mampu melawannya.
Sebenarnya ia ingin menggunakan tenaga keras untuk menambahi sekali tutukan pada Liong Leng-cu, tapi segera terpikir olehnya tidak ada artinya bermesraan dengan seorang gadis cantik yang serupa patung, kan lebih menyenangkan jika nona itu tetap dapat bergerak.
Karena itulah ia urung memberi tambahan tutukan kepada si nona melainkan cuma mencengkeram kedua tangan Lengcu, menyusul ia merobek sebagian baju atasnya.
Tampaknya Leng-cu pasti sukar terhindar dari perbuatan tidak senonoh, syukurlah pada saat itu juga mendadak terdengar ringkik kuda merah di luar.
Leng-cu tahu kuda itu sangat cerdik, ia pikir jangan-jangan binatang itu mengetahui dirinya terancam bahaya, maka ingin menolongnya.
Namun sekarang ia sudah berada dalam cengkeraman iblis, biarpun kuda itu lari masuk juga sukar baginya untuk melepaskan diri dan naik kuda itu.
Apalagi kepandaian Ciok Jing-coan juga berlebihan untuk menaklukkan kuda itu.
Ternyata kuda merah itu tidak lari masuk ke dalam kelenteng melainkan terdengar detak larinya menuju ke bawah gunung malah.
Leng-cu merasa heran, namun dalam keadaan, gawat tidak sempat baginya antuk memikirkan sebab apa kuda itu lari pergi.
Sementara itu Ciok Jing-coan sudah menindih di atas tubuhnya serupa binatang liar yang kalap, sambil menyeringai ia berusaha mencium si nona.
Untung juga Ciok Jing-coan menganggapnya seperti tikus dalam cengkeraman kucing, ia ingin bertindak seperti kucing mempermainkan tikus, Leng-cu akan dibuat mainan dulu sepuasnya.
Ketika melihat kuda merah itu mendadak kabur, Liok Kamtong yang pasang mata di luar juga sangat heran.
Kuda itu disembuhkan oleh Ting Tiau-min, pula sangat cinta kepada majikan lama.
Selama beberapa hari ini Liok Kam-tong sudah dapat menyelami watak binatang itu, diketahui kuda itu sangat cerdas, tidak nanti meninggalkan sang majikan, makanya ia berani melepaskan kuda itu makan rumput sendiri di hutan tanpa ditambat.
Sebab apakah kuda merah itu "kabur", sungguh sukar dimengarti Ciok Kam-tong.
Ia merasa berat bila kuda merah itu sampai hilang, tanpa pikir ia terus mengejarnya sambil bersuit memanggil kuda itu.
Tak terduga mendadak terdengar juga suitan panjang, sesosok bayangan hitam muncul dengan kecepatan luar biasa.
Kuda merah Itu tepat menyongsong ke arah datangnya orang itu sehingga dalam sekejap manusia dan kuda telah bertemu.
Saat itu sudah menjelang senja, keadaan sudah remangremang.
Lari pendatang itu sangat cepat sehingga sama sekali Liok Kam-tong tidak dapat melihat jelas wajahnya.
Mendadak orang itu membentak.
"Dari mana kau dapatkan kuda ini? Lekas mengaku!"
Belum lagi Liok Kam-tong bersuara, mendadak jeritan melengking minta tolong Liong Leng-cu sudah berkumandang lebih dulu.
Kiranya hiat-to yang tertutuk kini sudah sebagaian besar terbuka, sejak tadi ia sudah sanggup bicara.
Meski dia tidak tahu siapa pendatang itu, tapi serupa seorang yang hampir tenggelam di dalam air, asalkan ada setitik harapan, sebatang rumput pun akan diraihnya untuk menyelamatkan nyawa.
Maka sama sekali tak terpikir olehnya apakah pendatang ini dapat menolongnya atau tidak.
yang penting baginya menjerit sekerasnya untuk miata tolong.
Uutung nasibuya memang lagi mujur, pendatang ini ternyata bukan sembarang orang melainkan seorang tokoh dunia persilatan terkemuka.
Rupanya dia menemukan kode yang ditinggal kan Liok Kam-tong di kaki gunung, hal ini menimhulkan rasa ingin tahunya, segera ia mengikuti arah panah petunjuk dan akhirnya sampai di atas gunung.
Benar juga lantas dipergokinya kejadian aneh ini, malahan jauh lebih aneh daripada dugaannya.
Lebih dulu kuda merah itu berlari menyongsong kedatangamiya, hal ini cukup membuatnya kejut dan heran, malahan menyusul lantas terdengar jeritan perempuan muda minta tolocg.
hal ini terlebih di luar dugaan.
Menolong manusia serupa memadamkan api, Ia tidak sempat tanya lagi, segera ia cemplak ke atas kuda merah.
Kuda itu seperti paham juga tujuannya, tanpa disuruh segera membedal balik ke arah kelenteng kuno tadi.
Jika pendatang itu terkejut heran, tentu saja Liok Kam-tong terlebih terkejut.
Dia memasang mata bagi sang suheng, mana boleh pendatang ini dibiarkan mengganggu keasyikan sang suheng?
Sebenarnya ketika orang ini membentak menegurnya tadi sudah dirasakan orang ini seperti pernah dikenalnya, namun dalam keadaan mendesak tidak sempat baginya untuk berpikir, malahan kalau pendatang ini benar sudah kenal, tentu urusan bisa tambah runyam.
Karena itu segera timbul hasratnya untuk membunuh.
"Kau berani ikut campur urusan orang lain, kau sendiri yang cari mampus!"
Sambil membentak Liok Kam-tong terus menyambitkan tiga batang senjata rahasia.
Suara mendenging senjata rahasia itu membuat orang tadi terkesiap juga.
Cuma yang membuatnya terkejut bukanlah kepandaian menyambitkan senjata rahasia Liok Kam-tong melainkan senjata rahasia itu sendiri.
Kiranya senjata rahasia yang digunakan Liok Kam-tong itu adalah Thian-san-sin-bong, yaitu sejenis tumbuhan-tumbuhan yang berbentuk seperti duri yang cuma tumbuh di lereng Thian-san saja.
Bentuk duri ini seperti anak panah kecil, namun sangat keras serupa batu.
Lantaran senjata rahasia ini teramat lihai, maka ada suatu larangan Thian-san-pai yang tidak tertulis, yaitu pada waktu sang guru mengajarkan kepandaian am-gi atau senjata rahasia ini, si murid berulang diperingatkan agar jangan sembarang menggunakannya.
Pula tidak setiap murid Thiansan-pai diajari ilmu am-gi ini melainkan cuma murid terpilih dengan budi pekerti baik saja yang dapat diajarinya.
Sekarang sekali timpuk Liok Kam-tong meng-hamburkan tiga biji Thian-san-sin-bong, bahkan semuanya mengarah hiatto maut, ia menduga cukup ialah satu sin-bong itu mengenai sasarannya tentu akan membuat lawan roboh terluka parah.
Siapa tahu kepandaian pendatang ini ternyata jauh di atas dugaannya, meski sin-bong itu menyambar ke arahnya, namun dia masih terus melarikan kudanya tenpa berhenti, hanya lengan bajunya saja mengebut, kontan dua biji sinbong tersampuk balik ke sana.
Sin-bong ketiga tergulung oleh lengan bajunyg dan terpegang olehnya.
Kedua sin-bong yang menyambar balik ke sana itu hampir menyerempet lewat kanan-kiri kepala Liok Kam-tong, keruan ia sendiri terkejut sekali, kaki terasa lemas dan "bluk", jatuh terkulai.
Ia cukup mafhum orang sengaja bermurah hati padanya, kalau tidak mustahil jiwanya tidak melayang?
Masih ada lagi yang lebih mengejutkan dia, yaitu ketika berpapasan sekejap itu, seketika teringat olehnya siapa gerangan pendatang ini.
"Kang ... Kang-jikongcu ..maafkan kelancanganku, kukira ... kukira ...."
Begitulah Liok Kam-tong berteriak dengan suara gemetar sambil merangkak bangun.
Orang itu entah mendengar ucapannya atau tidak, yang jelas ia terus membedal kuda merah itu ke atas gunung.
Meski dia tidak bersuara namun asal-usulnya memang tepat diterka oleh Liok Kam-tong.
Kiranya orang ini adalah putra kedua Kang Hai-thian, Kang Siang-hun, yaitu pemilik lama kuda merah itu.
Kang Hai-thian adalah pendekar besar yang paling terhormat di jaman ini, meski ada orang bilang ilmu pedang sutenya, yaitu Kim Tiok-liu, sudah melampaui dia, namun kebanyakan orang kangouw tetap mengakui kungfunya nomor satu di dunia (Kisah Kang Hai-thian dan Kim Tiok-liu dapat dibaoa dalam "Sungai Es"
Dan "Pendekar Jembel").
Kang Hai-thian mempunyai dua orang putra dan seorang putri, putra pertama Kang Siang-hoag berperangai polos dan sederhana, sangat jarang bergerak di dunia kangouw.
Justru putra kedua, Kang Siang-hun berperangai kebalikannya, gemar berkelana menjelajah dunia dan membela keadilan.
Setiap manusia durjana dunia Langouw terhadapnya boleh dikatakan pecah nyalinya bila mendengar nama Kang Siang-hun.
Adapun putrinya bernama Kim Pik-ih, diperistri oleh Beng Hoa yang terhitung murid tidak resmi Thian-san-pai.
Keluarga Kang ada hubungan erat turun temurun dengan Thian-san-pai, maka Liok Kam-tong pernah melihat Kang Siang-hun satu kali, cuma suhengnya, yaitu Ciok Jing-coan justru tidak pernah kenal siapa Kang Siang-hun.
Setelah mengenali siapa pendatang ini, keruan Liok Kamtong terkejut dan mengeluh urusan pasti akan runyam, jiwa sang suheng mungkin bisa melayang.
Cuma, walaupun sangat takut, demi untuk menyelamatkan jiwa suhengnya, terpaksa ia memburu juga ke atas gunung.
Karena hubungan erat keluarga Kang dengan Thian-sanpai, dengan sendirinya Kang Siau-hun juga sudah tahu Liok Kam-tong adalah murid Thian-san, soalnya bukan karena dulu mereka pernah bertemu melainkan dari senjata rahasia yang di-sambitkan Liok Kam-tong itu.
Setelah menangkap Thian-san-sin-bong dan coba diremasnya, diam-diaim Kang Siang-hun merasa gegetun, ia heran mengapa Thian-san-pai mempunyai murid yang berkelakuan buruk begini?
Caranya menyerang tanpa kenal ampun jelas melukiskan pribadinya yang berwatak jahat.
Apalagi merintangiku naik ke atas gunung, bukan mustahil di sana sedang terjadi hal-hal yang tidak boleh dilihat orang?
Karena pikiran itulah, ia membedal kudanya terlebih cepat ke atas.
Saat itu di dalam Kelenteng kuno itu keadaan Ciok Jingcoan sudah berada dalam keadaan kalap, Leng Liong-cu diterkamnya dengan beringas, Leng-cu meronta dan menjerit, hal ini semakin merangsang nafsu berahinya, sebelah tangannya mencekik leher Leng-cu, tangan yang Iain terus meraba dan merobek baju si nona.
Setelah menjerit dan memaki dua-tiga kata, akhiinya Lengcu tidak sanggup bersuara lagi.
Pada detik paling berbahaya itulah sekonyong konyong terdengar suara "blang"
Yang keras, pintu kelenteng yang hanya dirapatkan itu mendadak didepak Kang Siang-hun hingga terpentang. Seketika perbuatan Ciok Jing-coan yang kotor itu terlihat dengan jelas oleh Kang Siang-hun.
"Bangsat yang tidak tahu malu,"
Damperat Kang Siang-hun dengan gusar.
"Lekas lepaskan dia, kalau tidak segera ku . ."
Belum lanjut ucapannya, benar juga Ciok ling coan telah lepaskan Liong Leng-cu.
Tapi lepasnya itu bukan lantaran menyadari kesalahannya melainkan bermaksud menghadapi Kang Siang-hun.
Sebelum Kang Siang-hun bertindak padanya dia justru ingin mengincar nyawa orang.
Maklum, perbuatan kotornya kepergok orang, tentu saja ia malu dan kalap.
"sret"', segera pedang berputar terus menusuk ke tenggorokan Kang Siang-hun. Meski dalam keadaan kalap, namun serangannya ternyata teratur dengan jitu dan cepat, sungguh lihai luar biasa, inilah jurus Pek-hong-koan-jit (pelangi melingkari cahaya matahari), suatu jurus lihai dari Tui-hong-kiam-hoat (ilmu pedang pemburu angin) dari Thian-san-pai. Namun betapa lihai jurus serangannya, jika ditujukan kepada Kang Siang-hun hanya akan membikin susah dia sendiri. Ilmu pedang keluarga Kang berasal dari suatu sumber yang sama dengan Thian-san-pai, tentang kekuatan dan kehebatan gerak perubahan sarangan juga Ciok Jing-coan tak dapat menandingi Kang Siang-hun, maka serangannya itu bagi Kang Siang-hun serupa permainan anak kecil saja. Hanya sedikit bergeser saja, berbareng lengan baju Kang Siang-hun mengcbut. kontan pedang Ciok Jing-coan terbelit.
"Trang", pedang Jing-coan laiitas terlepas dan jatuh ke tanah. Waktu Kang Siang-hun memeriksa lengan bajunya, terdapat juga sebuah lubang kecil, diam-diam ia gcgetun.
"Di antara murid Thian-san angkatan ketiga, orang ini terhitung jago menonjol, cuma sayang dia ternyata seorang pemuda bermoral rendah seperti ini."
Untung juga sekali serang Ciok Jing-coan lantas mengeluarkan jurus serangan asli Thian-san-pai sehingga Kang Siang-hun tidak jadi mencabut nyawanya.
Ketika Kang Siang-hun memukul dan hampir mengenai batok kepala orang, tiba-tiba teringat olehnya hubungan baik turun temurun antara keluarga Kang dengan Thian-san-pai, ia pikir biarkan orang Thian-san-pai saja membersihkan perguruannya sendiri dan aku tidak perlu bertindak melampaui batas wewenangku.
Karena pikiran itu, pukulannya dibelokkan, Ciok Jing-coan hanya digampar saja sekali dengan keras.
Kontan Jing-coan jatuh terkapar dan tepat rebah di samping Liong Leng-cu yang saat itu baru merangkak bangun.
Karena rasa gemasnya terhadap perbuatan Ciok Jing-coan, tanpa pikir Leng-cu menyambar pedang Jing-coan yang dipukul jatuh Kang Siang-hun tadi.
"cret", langsung ia tusuk punggung Ciok Jing-coan. Tanpa ampun Jing-coan menjerit ngeri dan menggeletak bermandi darah. Kang Siang-hun terkejut dan tidak dapat bersuara. Pada saat itulah Liok Kam-tong menyusul tiba sambil berteriak.
"Kang-taihiap, mohon ... mohon kemurahan hatimu dan memberi ampun!"
Tapi ketika melihat keadaan sang suheng, seketika ia melenggong kesima.
Tenaga Leng-cu belum pulih, sekuatnya ia menusuk punggung Ciok Jing-coan, habis itu ia pun merasa lemas dan bermaksud menarik kembali pedangnya, namun lengannya serasa tidak mau menuruti perintah lagi dan berlumuran darah pula.
Setelah melenggong sejenak, mendadak Liok Kam-tong meraung murka dan menubruk maju sambil membentak.
"Siau-yau-li, berani kau bunuh suhengku, biar kubinasakanmu!"
Namun Kang Siang-hun lantas melompat maju dan menghadang di depan Liong Leng-cu.
sekali lengan baju mengebas, seketika Liok Kam-tong terpental serupa bola.
Untung Kang Siang-hun menggunakan tenaga lunak sehingga Liok Kam-tong tidak terluka parah, ia berjumpalitan dua kali di udara, lalu hinggap di tanah.
Meski dia tidak terluka, namun serangan Kang Siang-hun itu membuat pikirannya menjadi sadar.
Dalam pada itu Kang Siang-hun terus bekerja cepat, serentak ia tutuk beberapa tempat hiat-to di tubuh Ciok Jingcoan, berbareng ia tarik Leng-cu ke samping, ia menutuk hiat-to Ciok Jing-coan untuk menghentikan aliran darahnya dan berusaha menyelamatkan nyawanya.
Terdengar Ciok Jing-coan merintih pelahan, Kang Siang-hun merasa lega.
Pada saat itulah Liok Kam-tong baru hinggap kembali di tempatnya.
"Hm, jadi penjahat tidak senonoh ini adalah suhengmu?"
Bentak Kang Siang-hun kepada Liok hingtong.
"Dosa suhengmu tidak cukup ditebus dengan kematian, jika kamu saudara seperguruannya, jelas kaupun tak terhindar dari perbuatan jahatnya." . Keruan Liok Kam-tong ketakutan dan cepat berteriak.
"Kang-taihiap, kami ... kami bukan orang jahat, kami anak murid Thian-san!"
"Omong kosong!"
Bentak Kang Siang-hun pula.
"Thian-sanpai adalah perguruan ternama dan aliran lurus, mana mungkin mempunyai anak murid cabul seperti kalian?"
"Kami betul anak murid Thian-san-pai,"
Tutur Liok Kamtong.
"Guru kami adalah Ciok Thian-hing, tiga tahun yang lampau pernah kuikut Suhu ke Cadam, dalam pertemuan para ksatria di sana pernah kulihat Kang-taihiup. Namaku Ciok Kam tong, Suhengku ini bernama Ciok ling-coan, putra satusatunya guruku."
Kang Siang-hun agak terkejut, pikirnya "Kabarnya watak Ciok Thian-hing memang suka membela anak murid sendiri tanpa membedakan salah atau benar, tampaknya karena penyakitnya itu maka putranya ini menjadi sebusuk ini.
Bila Ciok Thian hng mengetahui kematian putranya tiada ubahnya seperti dibunuh olehku, tentu dia takkan menyudahi urusan ini denganku.
Cuma perbuatau putranya yang tidak senonoh ini memang pantas dihukum mati, andaikan sebelumnya kutahu siapa dia juga tetap akan kutindak.
Tapi mengingat hubungan baik keluarga Kang dengan Thian-san-pai, biarlah aku berdaya sebisanya untuk menyelamatkan nyawa putranya."
Ia berpaling dan menatap Liok Kam-tong dengan sinar mata tajam, serupa memeriksa pesakitan ia tanya.
"Biarpun pangeran, kalau berbuat salah juga akan dihukum, Terlepas dari urusan suhengmu apakah putra Ciok-taihiap atau bukan, yang jelas dia hendak memperkosa gadis, perbuatan ini tidak boleh diampuni. Cuma sekarang dia sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal, bila kalian benar anak murid Ciok Thian-hing, bolehlah mengingat hubungan baik kita akan kuberi kelonggaran padanya."
Liok Kam-tong pikir suhengnya sudah mati, pakai memberi kelonggaran apa segala?
Cuma sekarang dia bukan lagi memohon kelonggaran Kang Siang-hun terhadap suhengnya melainkan kelonggaran terhadap dirinya.
Maka cepat ia berkata pula.
"Kang-taihiap, mana berani kudusta padamu, kami memang betu anak murid Ciok Thianhing dari Thian-san. Sebenarnya kami datang bersama Suhu dan Ting susiok, terus terang, lantaran Siau-yau-li ini adalah musuh perguruan kami, malahan Suhu kami sendiri yang menawannya dan hendak dibawa pulang ke Thian-san."
"Nanti dulu,"
Kata Kang Siang-hun.
"Kamu mengaku datang bersama Ciok-taihiap dan Ting-susiok kalian, mengapa mereka tidak tampak berada di sini? Jika benar nona ini musuh Thiansan-pai seperti keteranganmu, masa Ciok-taihiap menyerahkan kepada kalian begitu saja untuk menggiringnya pulang ke Thian-san?"
"Agaknya Kang-taihiap tidak tahu, hari ini adalah ulang tahun Kui-taihiap, maka Suhu dan Ting-susiok mampir ke sana untuk mengucapkan selamat kepadanya,"
Tutur Liok Kamtiong.
"Bila Kang-taihiap tidak percaya, silakan cari keterangan ke Hwe-in-ceng, tentu segalanya akan menjadi jelas."
"Hm, masa aku tidak tahu"
Jengek Kang Siang-hun.
"Aku justru baru pulang dari tempat Kui-taihiap, tapi di sana tidak kulihat adanya Ciok Thian-hing dan susiok kalian Ting Tiaumin."
Keruan Ciok Kam-tong terkejut.
"Hah, bilakah Kang-taihiap meninggalkan Hwe-in-ceng?"
Tapi Kang Siang-hun berbalik tanya malah.
"Dan kapan gurumu dan paman gurumu berangkat ke Hwe-in-ceng?"
"Kira-kira dekat lohor,"
Jawab Liok Kam-tong.
"Berapa jauhnya tempat keberangkatan mereka ke Hwe-inceng?"
Tanya Kang Siang-hun pula.
"Dari tempat sejauh tiga puluh li jaraknya,"
Tutur Kam-tong.
"Menunggang kuda?"
"Betul,"
Jawab Giok Kam-tong "Jika begitu, seharusnya tidak sampai satu jam mereka akan tiba di Hwe-in-ceng,"
Jengek Kang Siang-hun.
"Padahal dua jam setelah lewat lohor aku baru meninggalkan tempat Kui-taihiap itu."
Tentu saja liok Kam-tong tambah terkejut.
"Wah, mengapa mereka terlambat sampai di Hwe-in-ceng, sungguh aneh. Tapi apa yang Kukatakan memang betul adanya."
Kang Siang-hun juga heran, ia pikir lebih baik tidak bertemu dengan Ciok Thian-hing agar tidak menimbulkan kesulitan, maka ia berlagak termenung, lalu berkata pula.
"Sementara kupercaya kepada keteranganmu, tapi apakah nona ini benar musuh Thian-san-pai kalian atau bukan. jelas perbuatan kalian yang hendak menodai kesuciannya adalah perbuatan yang tidak pantas."
Cepat Liok Kam-tong menjawab.
"Ya, ya, mohon kelonggaran Kang-taihiap."
"Meniang sudah kukatakan akan kuberi longgaran, tapi seharusnya lebih dulu kau minta ampun kepada nona ini. kalau dia tidak mau mengampuni aku pun tidak dapat memaksanya,."
Karena terpaksa Liok Kam-tong lantas menjura kepada Liong Leng-cu dan minta ampun.
"Maaf, nona Liong, sudikan engkau mengampuni kesalahan kami."
"Jiwaku telah diselamatkan Kang-taihiap. maka apa keputusan Kang-taihiap terserah kepadanya."
Kata Leng-cu.
"Nah, Kang taihiap, kupasrahkan kepadamu."
Ia pikir Ciok Jing-coan toh sudah terbunuh olehnya, biarlah kawannya diberi kelonggaran. Kang Siang-hun mengangguk. katanya tiba-tiba "Liok Kamtong, apakah ingin kau toloug jiwa suhengmu?"
Liok Kam-tong terkejut, sahutnya cepat.
"Apakah jiwa suheng dapat ... dapat diselamatkan?"
"Sepantasnya dia mati, cuma kalau dia juga mau mengaku dosa, mungkin ada caraku dapat menyelamatkan jiwanya,"
Kata Kang Siang-hun "Untuk itu kamu harus berjanji akan menjadi saksi."
"Tak berani kuambil keputusan bagi suheng namun bila suheng sendiri setuju, tentu saja aku mau menjadi saksi,"
Jawab Kam-tong. Ia pikir cari selamat paling perlu, umpama harus mewakili suheng mengaku dosa mungkin juga takkan di marahi suhu. Terdengar Kang Siang-hun berkata.
"Baik. sekarang biar kutanyai dia."
"Tapi ..tapi suheng tak dapat bicara,"
Kata Kam-tong.
"Oo, apakah dia gagu?"
Tanya Kang Siang bun.
"Ya, lidahnya dipotong oleh murid murtad perguruan kami yang bernama Nyo Yam."
Tutu Liok Kam-tong.
"Urusan ini ..."
"Tidak perlu kau ceritakan, aku tidak urus hal tersebut,"
Kata Kang Siang-hun.
"Sekalipun di dapat bicara, kalau cuma omong tanpa bukti juga tidak dapat kuterima. Caraku mengharuskan dia mengaku dosa adalah dengan menandatangani surat pengakuan."
Sembari bicara ia lantas merobek sepotong kain baju Ciok Jing-coan, ia gunakan jari untuk mencelup darahnya yang mengucur itu sebagai tinta, lalu menulis "surat pengakuan dosa"
Secara singkat tentang perbuatannya hendak memperkosa Liong Leng-cu, tapi gagal dan berbalik hampir terbunuh oleh si nona.
Karena merasa bersalah.
maka dengan surat pengakuan ini menyatakan sumpahnya selanjutnya takkan membikin susah lagi kepada Liong Leng-cu.
Di bawah "surat pengakuan"
Itu ditulis yang berjanji Ciok Jing-coan dan yang menjadi saksi Ciok Kam-tong, sebagai pengawasnya ialah Kang Siang-hun.
Lebih dulu Siang-hun menyuruh Liok Kam long membubuhkan tanda tangannya, lalu ia menyalurkan Iwekang sendiri melalui punggung Ciok Jing-coan, keadaan Jing-coan sudah mulai sadar.
karena saluran Iwekang itu tangan pun dapat bergerak Ia tahu jiwa sendiri tcrgenggam di tangan orang, Kang Siang-hun menyuruhnya membubuhkan tanda tangannya, terpaksa sekuatnya ia gunakan jari untuk mencelup darah dan diberi garis silang sebagai tanda tangan "Nah, sekarang boleh kau cabut pedang itu,"
Kata Sianghun kemudian kepada Liok Kam-tong.
Untung bagi Ciok Jing-coan, karena tenaga Liong Leng-cu tadi terbatas, maka pedang itu tertusuk sebagian kecil saja dan tidak sampai mengenai jantungnya.
Namun sesudah pedang dicabut, tidak urung darah lantas mengucur, bilamana darah keluar terlampau banyak tentu jiwanya juga akan melayang.
"Apakah darahnya dapat mampet?"
Tanya Liok Kam-tong kuatir.
"Jangan kuatir, percaya padaku,"
Kata Siang hun.
Dengan agak gemetar Liok Kam-tong lantas memegang tangkai pedang dan ditarik, terlihat darah merembes keluar, tapi tidak mengucur deras sebagaimana dlbayangkannya, baru sekarang ia merasa lega.
Diam-diam Liong Leng-cu merasa kagum akan kesaktian Kang Siang-hun yang dapat membikin mampet darah yang mengalir itu dengan tutukannya yang lihai, ternyata bangsat keparat ini benar-benar dapat diselamatkan.
Walaupun darah sudah mampet, tidak urung Ciok Jing-coan mengerang kesakitan setengah mati, kembali ia jatuh pingsan lagi.
Kang Siang-hun lantas mengeluarkan sebiji pil dan dijejalkan ke mulut Ciok Jing-coan, katanya kepada Liok Kamtong.
"Inilah Siau-hoau-tan yang kudapatkan dari tokoh Siaulim-si, khasiatnya dapat menguatkan tenaga dan memulihkan kesehatan. Ilmu silat suhengmu mungkin sukar dipertahankan tapi dengan pil pemberianku ini jiwanya tidak perlu dikuatirkan lagi. Mengenai obat luka luar tentu kau sendiri juga bawa, bukan?"
"Ya, ada,"
Jawab Ciok Kam-tong.
"Jika begitu aku pun tidak perlu banyak urusan lagi,"
Kata Kang Siang-hun.
"Jika kalian memang anak murid Thian-san, obat luka perguruan kalian jelas jauh lebih bagus daripada obatku. Tutukanku untuk membikin mampet darahnya hanya untuk sementara saja, sebentar boleh kau bubuhi obat luka lagi."
Liok Kam-tong coba periksa denyut nadi sang suheng, dirasakan tiada ubahnya seperti orang biasa, jelas masa kritisnya sudah lewat dengan girang ia mengucapkan terima kasih kepada Kang Siang-hun.
Kuda merah mendekati mereka dengan kaki depan berlutut, berjongkok ditengah antara Kang Siang-hun dan Liong Lengcu serta mengeluarkan suara ringkikan yang gembira.
Waktu Leng-cu tertawan, rangsal yang dibawanya terikat di pelana kuda.
Teringat kepada baju sendiri telah dirobek Ciok Jing-coan, muka Leng-cu menjadi merah, cepat ia ambil rangsal dan berkata.
"Kang-taihiap, tunggu sebentar, aku akan ganti baju."
Segera ia berlan ke belakang altar pemujaan untuk ganti pakaian. Kang Siang-hun tepuk-tepuk leher kuda merah itu, tanyanya kepada Liok Kam-tong.
"Dari mana kalian mendapatkan kuda ini?"
Tadi ia sudah tanya tentang kuda ini, meski Liok Kam-tong tidak tahu Kang Siang-hun adalah bekas majikan kuda merah ini, namun ia menduga pasti ada sesuatu yang tidak beres, apalagi dia baru saja menanda tangani surat pengakuan dosa, Leng-cu berada di samping pula, tentu saja ia tambah tidak berani dusta.
"Kuda ini berasal dari nona Liong,"
Demikian tuturnya terus terang.
"Setelah Suhu menawan dia, kuda ini baru diserahkan kepada suheng."
"Hm, bukan aku tidak percaya kepada janji kalian, tapi setelah perbuatan suhengmu yang tidak senonoh itu. dengan sendirinya nona Liong tidak bebas lagi untuk pergi bersama kalian,"
Jengek Kang Siang-hun.
"Maka boleh begini saja, sementara ini kubawa pergi nona Liong, mengenai persengketaan Thian-san-pai kalian dengan dia. kelak boleh kalian menyelesaikan dengan dia. Apa permusuhan dia dengan kalian dan apa yang kalian perlakukan terhadapnya adalah dua hal yang berdiri tersendiri, kau paham maksudku, bukan?". Mana Liok Kam-tong berani menjawab tidak, cepat ia berkata.
"Ya, paham, urusan hari ini memang salah Cioksuheng, banyak terima kasih atas kemurahan hati Kangtaihiap. Bahwa engkau sudi ikut mengawasi no ..nona cilik ini, sungguh sangat baik."
"Hm, jangan kau anggap kuawasi dia bagi kalian, aku hanya dapat menjamin dia takkan kabur."
Jengek Kang Siang-hun. Sementara itu Liong Leng-cu sudah selesai ganti pakaian dan muncul kembali.
"Marilah kita berangkat, nona Liong,"
Kata Kang Siang-hun dan menyilakan Leng-cu naik ke atas kuda. Setiba di dalam hutan sana barulah ia menyuruhnya berhenti, katanya.
"Sekarang boleh kita bicara dulu di sini. Ingin kutanya padamu, dari mana kau dapatkan kuda ini?"
"Terus terang, kuda ini bukan milikku,"
Jawab Leng-cu.
"Kuda ini pemberian Ce Se-kiat, apakah Kang-taihiap tahu Ce Se-kiat?"
"Tahu,"
Kata Kang Siang-hun.
"Apa yang dikatakannya waktu dia memberikan kuda ini padamu?"
"Ia bilang kuda ini bukan miliknya melainkan pemberian seorang sahabatnya bernama Kang Siang-hun,"
Tutur Leng-cu.
"Konon Kang Siang-Hun itu adalah putra kedua Kang Haithian, Kang taihiap. Waktu itu Kang Siang-hun mengetahui Sekiat hendak cepat-cepat menuju ke Cadam, maka diberinya kuda bagus ini."
"Tepatlah jika begitu,"
Kata Siang-hun tersenyum.
"Dan apakah kau tahu siapa diriku? Aku inilah Kang Siang-hun."
Padahal Leng-cu sejak tadi sudah tahu siapa dia, ia sengaja menjawab.
"Pantas kuda ini sedemikian mesra denganmu. Kang-taihiap, terima kasih atas pertolonganmu kepadaku. Tapi tak dapat kubikin susah padamu sehingga menimbulkan sakit hati Thian-san-pai. Bukankah engkau hendak menggusurku ke Thian-san?"
"Apakah kau mau pergi ke Thian-san bersama-ku?". tanya Siang-hun.
"Kubilang pergi bersama dan bukan kugusurmu ke sana sebagai tawanan."
Leng-cu kegirangan, serunya.
"Kang-taihiap, mengapa engkau sedemikian percaya padaku? Masa tidak kau tanya padaku mengapa aku bermusuhau dengan Thian-san-pai?"
"Baik, sekarang juga kutanya padamu, lantaran apa kamu dibenci orang Thian-san?"
TAnya Siang-hun.
"Sebenarnya bukan maksudku sengaja mencari perkara kepada mereka, semua gara-gara ku bela Nyo Yam, lalu mereka menumplekan segala gusarnya padaku."
Lalu ia menuturkan cara bagaimana Nyo Yam dianggap sebagai murid murtad Thian San Pay dan sebagainya.
Kang Siang-hun menghela napas, katanya "Kejadian ini memang juga pernah kudengar selentang-selentingnya, hanya tidak sejelas apa yang kau ceritakan sekarang.
ya, Dalam hal ini meski Nyo Yam juga salah, tetapi perbuatan jahat Ciok Jing Coan jelas terlebih jahat daripada dia."
Leng-cu tambah girang, katanya "Ah, kiranya engkau sudah tahu. Jadi engkau pun mau membantu kesukaran Nyo Yam itu?"
"Perkara ini sudah terlalu meluas, selaku tetua Thian-sanpai, Ciok Thian-hing berkeras ingin membikin bersih anak murid perguruannya, aku sendiri ragu apakah dapat membantu kesukaran Nyo Yam atau tidak, biarlah kita tunggu dan lihat saja setelah sampai di Thian-san."
"Apakah Kang-taihiap sebenarnya memang hendak pergi ke Thian-san?"
Tanya Leng-cu.
"Bukan, yang hendak kutuju adalah Cadam,"
Kata Kang Siang-hun.
"Justru Ce Se-kiat sedang mengawal satu partai obatobatan ke sana,"
Tutur Leng-cu.
"Kutahu, malahan dia dibantu juga oleh Koai-hoat Thio. Lantaran kutahu mereka berdua yang mengawal barang kiriman itu, maka tanpa kuatir dapat kutemanimu ke Thiansan."
"Dari mana kau tahu, Kang-taihiap? Jangan-jangan engkau sudah bertemu dengan Ce Se-kiat?"
Tanya si nona.
"Aku belum bertemu dengan Ce Se-kiat. hanya ibunya, yaitu Loa-jiu-koan-im Nyo Toa-koh memang kulihat dalam perjalanan. Selain itu, ketika di kota raja telah kutemui juga ketua Kai-pang cabang kotaraja, Ki Kiam-hong dan pemimpin Cin-wan-piaukiok yang lama, Han Wi-bu."
Kiranya kedatangan Kang Siang-hun ini mewakili ayahnya menghadiri pesta pengunduran diri Han Wi-bu.
Kebetulan ia datang terlambat satu hari, saat itu Se-kiat sudah berangkat.
Cuma di tengah jalan kebetulan ia memergoki Nyo Toa-koh yang terburu-buru hendak pulang ke kampung asli-nya, yaitu Poteng.
Karena itulah mengenai urusan Nyo Yam dan Liong Leng-cu sedikit banyak juga didengarnya dari tokohtokoh tersebut tadi.
Dan justru karena dia sudah tahu selukbeluk urusan itu, maka ia mau percaya kepada keterangan Liong Leng-cu.
"Sekarang kuda merah ini boleh kukembalikan kepada pemilik aslinya, harap Kang-taihiap menerimanya kembali,"
Kata Leng-cu. Kang Siang-hun tertawa.
"Kuda ini diberikan psdamu oleh Ce Se-kiat, barang yang sudah kuberikan mana boleh kuamhil kembali. Maka bolehlah kau gunakan dia, aku sendiri masih mempunyai kuda lain."
Ia lantas bersuit memanggil kudanya.
Rupanya pada waktu mendaki gunung ini, kuatir kedatangannya diketahui orang, maka sengaja kuda ditinggalkan di kaki gunung.
Meski kudanya tidak lebih bagus dari pada kuda merah, namun juga terhitung kuda pilihan.
Mestinya tidak enak bagi Leng-cu untuk membawa kuda merah itu, tapi setelah dipikir, kuda ini mungkin berguna baginya, maka ia tidak menolak lagi, katanya dengan tertawa.
"Baiklah, bila dalam perjalanan nanti kepergok Ciok Thianhing, dengan kuda ini tentu lebih leluasa bagiku untuk kabur."
"Tidak perlu kau kabur, masa kutakut kepada Ciok Thianhing?"
Ujar Siang-hun.
"Dengan sendirinya engkau tidak perlu gentar terhadap orang she Ciok itu, namun aku tidak ingin mempersulit Kangtaihiap,"
Ujar Leng-cu dengan tertawa.
"Maka bila kebetulan kepergok dia, lebih baik kulari saja."
Ucapan Liong Leng-cu ini kena di hati Kang Siang-hun, sebab ia cukup kenal watak Ciok Thian-hing, maka diam-diam ia pun siap siaga menghadapi Ciok Thian-hing bilamana perlu, tapi kalau bisa tentu akan lebih baik tanpa terjadi kekerasan.
Dalam perjalanan pertama turun ke bawah gunung paling besar kemungkinan akan kepergok Ciok Thian-hing untung sejauh itu tidak bertemu.
Selang tiga hari kemudian juga tidak kepergok.
Dengan kecepatan lari kuda mereka, umpama Ciok Thianhing mengejar mereka dari belakang juga takkan tersusul lagi.
Baru sekatang hati Kang Siang-hun-merasa lega.
Yang tertinggal dalam benaknya sekarang cuma suatu tanda tanya, yaitu mengapa tidak melihat Ciok Thian-hing dan Thing Tiau-min di Hwe-in-ceng, ke manakah pergi mereka?
Ya, ke mana perginya Ciok Thian-hing?
Hal ini tidak cuma ingin diketahui Kang Siang-hun, Liok Kam-tong terlebih-lebih ingin mengetahuinya, Dari kepandaiannya mendengarkan dengan mendekam di tanah diketahuinya Kang Siang-hun dan Liong Leng-cu sudah pergi jauh, ia merasa senang dan juga sedih.
Senangnya karena bahaya sudah lepas, sedihnya adalah mengenai suhengnya yang terluka parah itu.
Ia membubuhi luka sang suheng dengan obat luka, meski darah sudah mampet, namun tubuh Ciok jing-coan masih sangat lemah, bergerak saja tidak bisa.
Maklumlah, meski tusukan pedang Liong Leng-cu tidak sampai mengenai hulu hatinya dan Kang Siang-hun telah menyeretnya kembali dari pintu neraka, namun lukanya cukup parah, bilamana tidak mendapat perawatan yang memadai setiap saat masih ada kemungkinan menuju ke akhirat.
Memandangi sang suheng yang rebah di tanah serupa orang mati itu.
mau-tak-mau Liok Kam tong merasa sedih.
Bilamana sang guru dan paman guru tidak datang seterusnya, cara bagaimana ia sendirian mampu membawa sang suheng pulang ke Thian-san?
Jangankan sang guru dan paman guru pergi tak kembali lagi, umpama terlambat kembali beberapa hari pun akan membikin repot padanya Umpamanya sekarang, ia sendiri kehausan, mulut terasa kering seperti dibakar, namun ia tidak berani meninggalkan sang suheng untuk mencari air.
Sementara itu sang dewi malam sudah menghiasi cakrawala, gurunya serta paman guru belum kelihatan muncul.
Cahaya bulan sangat terang, ia pikir suhu dan susiok adalah tokoh kawakan kangouw, mustahil tidak melihat kode rahasia yang kutinggalkannya di sepanjang jalan.
Kelenteng di atas gunung ini pun diketahui mereka, sekalipun tidak sempat melihat tanda yang kutinggalkannya pasti juga mereka akan teringat kepada kelenteng ini dan mencari ke sini.
Tanpa terasa rembulan sudah mulai doyong Ke barat, sudah tepat tengah malam, dan Ciok Thian-hing serta Ting Tiau-min tetap belum kembali.
Ia heran apakah Kui-taihiap sengaja menahan guru dan paman gurunya agar tinggal semalam di sana, kalau tidak, jarak 30-40 li dari Hwe-in-ceng ke sini masakah tak dapat dicapainya setengah malam.
Cuma kemungkinan demikian sangatlah kecil, umumnya bila sang tamu masih ada urusan penting tidak nanti tuan rumah berkeras menahannya.
Rembulan semakin doyong ke barat, pikiran Ciok Kam-tong juga semakin gelisah.
Mengapa sang guru belum lagi kembali, sungguh sukar dimengerti oleh Ciok Kam-tong, lamat-lamat ia merasakan firasat tidak enak.
Tiba-tiba terdengar detak lari kuda dari bawah gunung, waktu didengarkan dengan cermat, agaknya pendatang ada lima-enam penunggang kuda.
Rasanya tidak mungkin guru dan paman gurunya membawa orang luar kembali?
Habis, apakah masuh yang datang?
Ia serupa burung yang sudah kapok terhadap pelintang, asal mendengar suara jepretan lantas ketakutan.
Ia tidak berani bersuara memanggil, terpaksa tiarap untuk mendengarkan.
Ia mendengar suara sang guru, cuma tidak jelas apa yang dikatakan gurunya, suaranya terasa gugup dan juga samarsamar, seperti sedang memaki orang.
Menyusul luntas terdengar serentetan suara tertawa orang, suara tertawa orang perempuan yang kegirangan, angkuh dan congkak, mengandung nada menggoda dan mengejek.
Kiranya Ciok Thian-hing dan Ting Tiau-min memang terjungkal di tangan perempuan ini.
Hal ini terjadi ketika mereka sudah dekat dengan Hwe-inceng, kira-kira lima li sebelum tempat tujuan itu mereka kepergok orang yang sama sekali tak tersangka.
Meski tak tersangka, tapi tiga di antara empat orang itu belum lama berselang baru dilihatnya, Mereka ialah Ubun Lui, Suma Ciau dan Buyung Sui.
Selain itu masih ada seorang nyonya yang tidak dikenal.
Usia nyonya ini antara 30-an, bergelung besar dihiasi tusuk kundai bermutiara, kepala memakai ikat rarabut emas, bajunya dirangkap dengan mantel merah bersulam, matanya besar.
alisnya lentik, sinar matanya memikat, belum bicara sudah tertawa sungguh sukar dilukiskan genitnya.
"Darr mana datangnya perempuan siluman seperti ini?"
Kening Tiau-min bekernyit melihat rombongan orang itu.
Belum habis terpikir, dilihatnya sang suheng sudah membedal kuda ke depan untuk menyapa mereka.
Meski Ciok Thian-hing juga rada jemu terhadap nyonya genit tadi, tapi ia juga rada suka terhadap sikap hormat Ubun Lui kepadanya, maka ketika Ubun Lui turun dari kudanya dan memberi hormat padanya, terpaksa ia pun turun dari kudanya untuk pasang omong.
Karena sang suheng sudah turun dari kudanya, terpaksa Ting Tiau-min mengikuti jejaknya.
Setelah memberi hormat, Ubun Lui menyapa dulu.
"Orang hidup di mana-mana selalu bertemu. kembali kita berjumpa pula di sini. Eh, bibi cilik, kedua inilah Ciok-tianglo dan Tingtaihiap dari Thian-san yang pernah kuceritakan itu. Silakan berkenalan."
"Huh, bibi cilik apa?"
Nyonya muda itu berlagak kurang senang.
"Memangnya aku tidak setimpal menjadi bibimu yang benar?"
"Eh, jangan salah paham, bibi cilik,"
Kata Ubun Lui.
"Justru mengingat engkau masih muda dan cantik, jika kupanggil dengan kata lain kan engkau akan kelihatan tua."
Mendengar percakapan mereka. segera Ciok Thian-hing tahu siapa perempuan itu, pikirnya.
"Kiranya psrempuan ini adalah bini muda Pek-toh-sancu. Konon Pek-toh-sancu mempunyai seorang istri dan dua bini muda. Kedua bini muda itu yang seorang berasal dari kalangan hiburan (pelacuran), yang lain bekas tukang jamu kelilingan. Pek-toh-sancu sendiri sangat jarang turun gunung, tapi kedua bini mudanya sering berkeluyuran di dunia kangouw. Melihat lagak lagu perempuan ini, mungkin dia si bini muda yang berasal dari dunia hiburan."
Nyonya muda tadi merasa senang karena sikap merendah Ubun Lui tadi, ia tertawa, lalu tampil untuk bicara dengan Ciok Thian-hing, katanya.
"Ciok-tianglo, lakiku sering bicara tentang dirimu, aku sendiri sangat suka berkenalan dengan tokoh ternama, sebab itulah sengaja kutunggu kedatanganmu di sini, hehe, sudah cukup lama kutunggu. Terus terang, Ciok-tianglo. Semula kusangka kamu sudah kakek-kakek, ternyata engkau masih muda dan kuat, kukira usiamu belum lebih dari 50. Dalam usia setengah baya demikian sudah diangkat menjadi sesepuh Thian-san-pai, sungguh aku sangat kagum."
Ia bicara mencerocos seperti mitraliur, Ciok Thian-hing menjadi serba kikuk, tidak enak untuk memperlihatkan rasa jemu, juga tidak tahu cara bagaimana pasang omong dengan perempuan semacam ini.
Tapi dari ucapannya Ciok Thian-hing dapat memahami satu hal, yaitu pernyataan Ubun Lui yang bilang kebetulan bertemu lagi adalah tidak benar melainkan mereka sengaja menunggu kedatangannya.
Semula Ciok Thian-hing melenggong, tapi segera ia paham duduknya perkara, bisa jadi mereka bukan mengetahui lebih dulu jejaknya melainkan karena hari ini adalah ulang tahun Kui Goan, mereka yakin aku dan Ting-sute tentu akan datang juga memberi selamat.
Hanya saja entah sebab apa mereka sengaja mencegat diriku di sini?
Meski perangai Ciok Thian-hing suka diumpak orang, tapi dia bukan orang bodoh, pula ia seorang yang suka gengsi, lantaran timbul curiga, ia pun tidak sudi berbasa-basi dengan perempuan yang dipandangnya tidak terhormat ini.
Dengan ketus ia lantas menjawab.
"Maaf, kami masih harus mengunjungi Kui-taihiap, tidak sempat banyak bicara dengan kalian."
Dia tidak sudi bicara dengan perempuan itu, maka ia bicara dengan berpaling ke arah Ubun Lui.
Namun perempuan itu ternyata tidak tahu diri, Ia malah melangkah maju dengan berlenggok dan menukas ucapan Thian-hing.
"Ah, kiranya engkau hendak menyampaikan selamat kepada Kui Goan yang berulang tahun. Sungguh bagus, aku juga lagi hendak berkenalan dengan dia. Cioktianglo, bagaimana kalau kuminta engkau memperkenalkan kami kepadanya? Jika nama suamiku disebut, ku -kira Kui Goan juga tahu."
Ciok Thian-hing hanya mendengus saja, ucapnya ketus sambil menengadah tak acuh.
"Menurut peraturan kangouw, pergaulan setiap orang bebas kepada kesukaan masingmasing, nama Sancu kalian cukup termasyhur, masakah perlu kuperkenalkan segala?"
"Aduh, jadi Ciok-tianglo tidak sudi membantu,"
Kata nyonya itu.
"Jika begitu, baiklah kita mohon diri, aku pun tidak ingin berkenalan dengan Kui-taihiap apa segala."
Dengan sendirinya Ciok Thian-hing tahu orang merasa mendongkol, namun ia tidak peduli, katanya.
"Maaf, jika ada sikapku yang kurang pantas."
Mendadak nyonya itu terkikik.
"Hihi. masa engkau kurang pantas apa padaku? Hanya saja, hehe ... hanya saja ."
Waktu ia bicara, tiba-tiba Thian-hing mengendus semacam bau harum yang meresap hati, rasanya sangat nikmat.
Sebagai seorang tokoh kangouw ulung segera ia tahu dirinya telah kena disergap lawan.
Ia meraung gusar, langsung ia menerkam ke depan.
"Hehe, hanya saja Siau-yau-li yang kau rampas itulah yang bersalah kepada suamiku,"
Demikian perempuan itu menyambung ucapannya tadi, habis itu ia pun menghindari terkaman Ciok Thian-hing yang serupa singa kalap itu.
Tiba-tiba Thian-hing merasakan gerak tubuhnya tidak segesit biasanya, padahal ginkang perempuan itu juga cuma biasa saja, jika pada waktu biasa, tentu dapat dibekuknya dengan mudah, tapi sekarang tubrukannya justru mengenai tempat kosong, Tanpa pikir ia terus melolos pedang sambil membentak.
"Perempuan siluman, kalau bukan kamu yang mampus biarlah aku yang gugur!"
Selagi ia hendak menyambitkan pedang untuk menghabisi nyawa perempuan itu namun Ubun Lui keburu melompat maju, pedang Thian-hing terpukul jatuh.
"Hehe, tempo hari karena aku kurang sehat, terpaksa aku mengalah padamu, hehe, memangnya kau kira aku takut padamu? Biarlah sekarang boleh kau rasakan kelihaianku!"
Jengek Ubun Lui sambil melancarkan serangan, tenaga pukulannya membuat Ciok Thian-hing tergetar dan hampir jatuh.
Sebenarnya Thian-hing berharap dengan Iwekangnya yang sempurna sedapatnya merobohkan musuh sebelum racun bekerja.
Tapi sekarang baru dirasakan racun yang terisap olehnya ternyata jauh lebih lihai daripada perkiraannya, sebab tenaganya mendadak habis.
Kiranya yang digunakan perempuan itu adalah Soh-kut-sinhiang (dupa sakti pelemas tulang) buatan khusus Pek-toh-san.
Sin-sian-wan atau pil dewa alias candu juga mengandung racun semacam ini.
Hmya saja kadar Sin-sian-wai itu sangat sedikit, kadar racun seratus biji Sin-sian-wan saja juga cuma setitik saja, padahal obat bius yang diisapnya tadi jauh lebih keras daripada kadar yang terkandung seratus biji Sin-sianwan, keruan ia tidak tahan.
Dugaan Ciok Thian-hing mengenai pribadi nyonya genit itu memang tidak salah, ia bernama Bok Him him, gundik kedua Pek-toh-sancu yang berasal dari rumah hiburan.
Lantaran ia sendiri menyadari soal ilmu silat dirinya baru mulai belajar pada usia sudah dewasa, pondasinya kurang kuat, betapapun berlatih tetap sukar mencapai tingkatan sempurna, maka terpaksa ia mengambil jalan lain, khusus belajar menggunakan racun.
Dia memang cerdas dan trampil, tidak lebih sepuluh tahun ia sudah menjadi tokoh nomor satu Tek-toh-san dalam hal menggunakan racun, bukan saja melampaui Ubun Lui, bahkan melebihi suaminya sendiri, yaitu Pek-toh-sancu Ubun Pok.
Tadi waktu ia memberi hormat, di luar tahu lawan Soh-kutsin-hiang telah disebarkan dari lengan bajunya, sekalipun Ciok Thian-hing berpengalaman luas juga kena dikerjai olehnya.
Kekuatan racun Soh-kut-sin-hiang melebihi kadar seratus biji Sin-sian-wan.
maka dalam sekejap saja tenaga Ciok Thianhing lantas lenyap, kepala pun terasa berat seperti mabuk dan ingin tidur.
Namun biarpun Soh-kut-sin-hiang jauh lebih lihai daripada Sin-sian-wan, tapi lantaran berbeda cara meraciknya, akibat keracunan juga tidak sama.
Bila minum Sin-sian-wan kelewat takaran.
lama-lama yang keracunan dapat mencapai keadaan serupa terbang, bahkan serupa orang gila.
Sedangkun cara bekerja Soh-kut-sin-hiang sangat cepat, tapi tidak dapat membuat orang kalap, pikiran orang tetap sadar, hanya seluruh tubuh terasa lemas seakanakan tak bertulang, sedikit pun tidak bertenaga.
Demi merasakan tenaga sendiri lenyap sama sekali, kejut dan gusar pula Ciok Thian-hing, jengeknya.
"Hm, lihai benar! Kungfu Pek-toh-san yang hebat baru sekarang kukenal, ternyata cuma sebangsa kungfu kotor begini."
"Haha. peduli kungfu kotor atau bersih, yang penting harus berguna menaklukkan musuh,"
Seru Ubun Lui dengan tergelak.
"Percuma berpuluh tahun kamu berlatih, masa tidak paham dalil ini?"
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong cahaya dingin menyambar tiba, kiranya pedang Ting Tiau-min telah nienusuknya sambil membentak.
"Boleh kau belajar kenal juga dengan Thian-san-kiam-hoat!"
Cepat Ubun Lui menangkis dengan pedangnya, tapi belum lagi kedua pedang beradu, dirasakan lengan kiri nyes dingin, Ting Tiau-min tahu-tahu melayang lewat di sebelahnya lalu lengan terasa sakit, nyata kulit daging terpapas sebagian.
Rupanya semula Ting Tiau-min bermaksud menusuk hiat-to Ubun Lui, tapi kemudian dirasakan Ubun Lui bukan lawan empuk meski ilmu pedang lawan tidak lebih kuat daripadanya, sebab itulah sctelah melukai lengan lawan segera ia ganti sasaran dan menerjang Bok Him-him.
Cuma sayang dia salah sasaran, bilamana sejak mula ia menyerang Bok Him-him dahulu sangat besar kemungkinan nyonya genit itu dapat dibekuk-nya, tapi sekarang sudah terlambat.
Mendadak Bok Him-him bergeser dengan cepat, tusukan Ting Tiu-min tidak sampai menyentuh sasarannya.
"Hehe, cepat amat pedangmu,"
Kata Bok Him-him dengan tertawa genit.
"Ilmu pedang pemburu angin Ting-taihiap terkenal sangat cepat dan bergelar jago pedang nomor satu dari Thian-san, ternyata memang tidak bernama kosong, cuma, hehe ...."
Ting Tiau-min tidak sanggup menjawab lagi, sebab diamdiam ia sendiri lagi mengeluh karena dirasakan tenaga sendiri sedang lenyap dengan cepat.
Di tengah tertawa ejek Bok Him-him, mendadak ia membalik dan cambuknya menyabat, kontan pedang Ting Tiau-min terpukul jatuh.
"Hehe, sayang kamu sudah serupa arsak panah yang hampir jatuh di tempat sasaran, betapa lihai pedangmu juga tidak ada gunanya, lebih baik kamu menyerah saja,"
Ejek Bok Him-him.
"perempuan siluman, boleh kau bunuh saja diriku!"
Teriak Ting Tiau-min dengan suara parau. Kembali Bok Him-him terkekeh, katanya.
"Ting-taihiap, jangan marah dulu. Maksudku hanya ingin bersahai-at dengan kalian dan tidak ingin mencelakai kalian. Lantaran kuatir kalian tidak sudi berkawan dengan kami. terpaksa kugunakan cara demikian."
Dalam pada itu Ciok Thian-hing baru berdiri tegak, namun tenaga tetap sukar dikerahkan, terpaksa ia cuma memaki saja dengan gusar.
"perempuan siluman, setelah kujatuh di tanganmu, mau bunuh boleh bunuh, buat apa banyak omong. Hm, kawanan siluman Pek-toh-san kalian masa setimpal bersahabat dengan kami?!"
"Ciok-tianglo, kuharap engkau jangan sembarang memaki orang,"
Kata Bok Him-him.
"Jika tetap bandel, terpaksa akan kusuguh kau makan sesuatu dulu. Nah, Buyung Sui ."
Sambil mengiakan Buyung Sui tampil ke depan, tanyanya.
"Jinio ada perintah apa?"
"Coba lihat kudamu itu, agaknya baru saja berak, bukan?"
Tanya Bok Him-him.
"Betul,"
Jawab Buyung Sui.
"Nah, jangan takut kotor, ambil sebungkus tahi kuda, bilamana Ciok-tianglo ini masih terus mencaci orang sebagai siluman segala boleh kau sumbat mulutnya dengan kotoran kuda itu."
Kejut dan marah Ciok Thian-hing, ucapnya.
"Seorang lelaki sejati boleh dibunuh tapi tidak mau dihina, ka ..kalian ..."
Ia tidak berani mencaci maki lagi.
"Nah, sekarang boleh kita bicara secara baik-baik, kita jualbeli secara adil, bicara tentang sesuatu bisnis,"
Kata Bok Himhim dengan tertawa.
"Perundingan sesuatu harus didasarkan kepada saling menghargai, kamu menghormati kami, dengan sendirinya kami pun menghormatimu."
Dalam keadaan lemas tak bertenaga, ingin membunuh diri pun sulit bagi Ciok Thian-hing, terpaksa ia berkata.
"Kalian ingin berunding apa?"
"Asal kau serahkan Siau-yau-li itu kepadaku, segera kubebaskan kalian,"
Jawab Bok Him-him.
"Seorang perempuan siluman cilik ditukar dengan dua jago Thian-san-pai, satu di antaranya malahan baru saja diangkat menjadi sesepuh, bisnis ini tentu jauh lebih menguntungkan kalian bukan?"
"Siau-yau-li itu memang sudah berada di tangan kami,"
Kata Thian-hing.
"Eh, Ciok-tianglo, janganlah kau lupa, Siau-yau-li itu kan dirampas olehmu dari tangan kami,"
Jengek Ubun Lui.
"Sudahlah, tidak perlu berdebat dengan dia,"
Sela Bok Himhim.
"Yang kita bicarakan sekarang adalah bisnis dan bukan tentang pihak mana yang benar atau salah. Cukup kita tanya dia, dia terima tawaran kita atau tidak?"
"Kalau tidak kuterima, lantas bagaimana?"
Tanya Thianhing.
"Juga tidak apa,"
Sahut Bok Him-him.
"Engkau kan hendak mengunjungi Kui Goan untuk mengucapkan selamat? Nah, tetap boleh kau pergi ke sana, malahan kami akan ikut mengantarmu ke sana."
Thian-hing melengak, ia pikir perempuan siluman ini tadi minta kuperkenalkan dia dengan Kui-taihiap dan telah kutolak, jangan-jangan dia mengulangi permintaannya ini.
Hm, selaku sesepuh Thian-san-pai mana boleh berkawan dengan perempuan siluman yang berasal dari kalangan rendah ini.
Jika kuperkenalkan dia kepada Kui-taihiap, akulah yang akan kehilangan pamor.
Cuma, jika inilah syaratnya boleh dikatakan mendingan juga, bila ditanya oraug dapat kuberi alasan tidak kukenal asal -usulnya, karena bertemu secara kebetulan sama-sama hendak menuju Hwe-in-ceng.
Begitulah ia berpikir yang baik-baik saja, siapa tahu ucapan Bok Him-him selanjutnya serupa menyiram air dingin kepadanya dan menyadarkan impiannya.
Bok Him-him seperti tahu maksudnya, ia berkata pula.
"Jangan kuatir. Ciok-tianglo, bukan maksudku minta kau perkenalkanku kepada Kui-taihiap, justru kebalikannya, akulah yang akan memperkenalkan dirimu kepada Kui-taihiap dan para tamunya."
"Sudah lama kami bersahabat dengan Kui-taihiap, masa perlu diperkenalkan olehmu?"
Jawab Thian-hing.
"Ciok-tianglo, engkau memang tidak paham atau pura-pura tidak mengerti?"
Tanya Bok Him-him.
"Persahabatanmu dengan Kui-taihiap sebelum ini adalah dalam kedudukanmu sebagai sesepuh Thian-san. Tapi sekarang kedudukanmu sudah lain, justru akan kuperkenalkan kedudukanmu yang baru ini kepada para ksatria dunia."
Apakah "kedudukan baru"
Yang dimaksud, tanpa dijelaskan juga Ciok Thian-hing tabu, yaitu sebagai "tawanan".
Tergetar hati Thian-hing, ia pikir bila aku digusur ke Hwein-ceng sebagai tawanannya, lalu mukaku akan kutaruh di mana selanjutnya?
Tak tahunya tidak cuma begitu saja, dengan tergelak Bok Him-him menyambung lagi.
"Maksudku supaya Ciok-tianglo yang hebat dapat dikenal lebih luas oleh umum, berbareng itu aku pun dapat unjuk beberapa jurus cakar kucing yang ku latih itu di depan para ksatria... ."
Tiba-tiba ia jemput pedang Ciok Thian-hing yang dipukulnya jatuh tadi, ia selentik batang pedang dan berkata pula.
"Tentu kau ingin tahu kungfu apa yang kulatih tapi tidak berani bertanya, bukan? Baiklah, akan kucoba satu-dua jurus di depanmu, tampaknya pedangmu ini cukup tajam juga."
Sekali sinar pedang berkelebat. seketika Ciok Thian-hing merasa bibirnya agak semilir, lalu terlihat Bok Him-him meniup ujung pedang, beberapa utas janggut bertebaran tertiup.
"Ilmu pedangku tentu saja jauh dibandingkan kalian,"
Kata Bok Him-him pula.
"Aku hanya ingin memotong janggut Cioktianglo, lalu mencukur ke-limis alismu, bisa jadi lantaran ilmu pedangku kurang tinggi dan akan melukaimu. Namun kuyakin pasti takkan terluka parah, engkau pun tidak perlu kuatir."
Thian-hing menjadi gusar, tcriaknya.
"Kau .... kau perempuan siluman kcji, seorang lelaki sejati lebih baik mati daripada dihina olehmu!"
"Cuma sayang, biarpun sekarang kau minta mati pun tidak dapat lagi,"
Jengek Bok Him-him.
Thian-hing sudah kehilangan tenaga sehingga tidak mampu membunuh diri, umpama berusaha membenturkan kepala pada batu gunung rasanya juga kurang tenaga, apabila gagal membunuh diri dan cuma meiiimbulkan luka ringan saja, kan malah menjadi buah tertawaan orang?
Terdengar Bok Him-him berkata puitis kepada-nya.
"Cioktiang-lo, engkau ingin pergi ke Hwe-in-ceng atau rela menyerahkan saja Siau-yau-li itu kepada kami?"
Akhirnya Ciok Thian-hing mengertak gigi dan menjawab.
"Baiklah, boleh kalian ikut padaku, akan kuserahkan Siau-yauli itu kepada kalian."
"Suheng ..."
Belum lanjut ucapan Ting Tiau-min, tahu-tahu hiat-to bisunya sudah tertutuk oleh Ubun Lui.
"Ting-taihiap, biarkan suhengmu saja yang memutuskan bisnis ini,"
Kata Ubun Lui.
"Nah, Ciok-tianglo, meski tidak bertenaga, untuk menunggang kuda kukira tidak menjadi soal. Silakan naik ke atas kuda."
"Sute,"
Ucap Thian-hing dengan pedih.
"kata pribahasa, selama gunung tetap menghijau, jangan kuatir tidak ada kayu bakar. Sementara biarlah kita terima nasib saja."
Habis berucap ia mendekati sang sute dan menyeretnya ke atas kuda.
Watak Ting Tiau-min cukup keras, betapapun pantang menyerah, tapi dalam keadaan tak berdaya, terpaksa ia menuruti kehendak sang suheng.
-oo0dw0oo--Harapan Liok Kam-tong akan lekas kembalinya sang guru dan paman guru akhirnya terkabul juga.
Tapi tak tersangka olehnya bahwa datangnya mereka justru di bawah gusuran orang Pek-toh-san.
"Engkau sudah kembali, Suhu!"
Baru saja ia menyongsong maju kontan ia dipersen sekali cambukan oleh Bok Him-him. Bok-Him-him menoleh dan tanya dengan dingin.
"Kau main gila apa, Ciok-tianglo? Kau bilang akan menyerahkan Siau-yauli itu, kenapa tidak terlihat orangnya di sini?"
Karena kena dicambuk sekali dan sang guru tidak membelanya, segera Liok Kam-tong tahu gelagat tidak enak.
Apalagi didengarnya pula ucapan Bok Him-him sekasar itu dan sang guru kelihatan lesu serupa jago aduan yang keok, betapa bodohnya segera ia tahu juga gurunya berada dalam cengkeraman musuh.
Ia tidak tahu bahwa tidak cuma ia sendiri yang cemas, gurunya justru jauh lebih terkejut daripada dia.
Soalnya ia lihat anaknya yang gagu itu penuh berlepotan darah.
"Anak Coan,"
Segera Thian-hing berteriak.
"Engkau kenapa?"
Dengan sendirinya ia tahu anaknya tak dapat menjawab, tapi saking gugupnya tanpa terasa ia berseru begitu.
Baru saja ia hendak menerjang ke sana untuk memeriksa keadaan anaknya, mendadak cambuk Bok Him-him berputar dan membelit lengannya terus diseret kembali.
"Ingat, kedatanganku bukan untuk urusan anakmu,"
Jengek Bok Him-him.
"Lekas kau serahkan Siau-yau-li itu kepada kami."
"Tidakkah kaulihat anakku terluka parah dan entah hidup atau mati,"
Teriak Ciok Thian-hing.
"Kuharap boleh kuperiksa keadaannya dulu."
"Anakmu sudah mampus atau masih hidup aku tidak peduli,"
Jengek Bok Him-him.
"Yang jelas kamu sudah berjanji akan menyerahkan Siau-yau-li itu kepadaku, jika orangnya tidak kau serahkan, hm, jangan menyesal bila aku bertindak kasar padamu."
Sembari meronta Thian-hing berteriak pula.
"Terserah apa kehendakmu, memangnya aku tidak ingin hidup lagi!"
Ubun Lui berlagak baik hati, ia mendekati Ciok Jing-coan dan memeriksanya, lalu berkata.
"Ciok-tianglo, anakmu takkan mati. Cuma lukanya memang tidak ringan, caramu bergembargembor begitu kukira takkan bermanfaat bagi anak mestikamu ini."
Sedapatnya Ciok Thian-hing menenangkan diri, gumamnya.
"Apa betul dia masih hidup?"
Dengan nanar ia pandang sang sute.
"Lapor Suhu, sudah kububuhi obat luka pada suheng, keadaan. suheng memang tidak berbahaya lagi,"
Tutur Liok Kam-tong. Ubun Lui menyela.
"Bibi cilik, biarkan dia melihatnya sejenak, supaya hatinya tentram."
Tadi Bok Him-him kuatir anak orang sudah mati, maka melarangnya mendekatinya.
Setelah tahu keadaan Ciok Jingcoan tidak gawat, ia tidak merintangi lagi.
Setelah Ciok Thian-hing memeriksa denyut nadi putranya, meski keadaannya lemah, namun tidak gawat, barulah hatinya merasa lega, cuma pedih perasaannya ketika melihat luka anaknya begitu berat.
"Siapa yang melukai suhengmu?"
Tanya Thian hicg kepada Liok Kam-tong. Belum lagi Kam-tong menjawab, segera Bok Him-him menyeret Ciok Thian-hing ke sana, katanya.
"Aku tidak peduli mengapa anakmu terluka segala, juga tidak ada waktu untuk mengikuti obrolan kalian guru dan murid. Setelah jelas anakmu tidak mati, sekarang lekas kau selesaikan janjimu kepadaku. Di mana Siau-yau-li itu?"
"Aku pun tidak tahu,"
Kata Thian-hing.
"Silakan tanya saja kepada muridku itu."
"Lapor Suhu, Siau-yau-li itu sudah kabur,"
Belum di tanya segera Liok Kam-toag melapor. Keruan Bok Him-him dan Thian-hing sama terkejut dan menegas.
"Kabur katamu?"
"Ya, dia sudah kabur sejak tadi,"
Tutur Kam tong pula.
"Justru suheng dilukai oleh Siau-yau-li itu."
Mendadak Ubun Lui menjengek.
"Ciok-tianglo, jika berani kau serahkan Siau-yau-li itu di bawah penjagaan anakmu. kukira sebelumnya tentu kau tutuk dia."
"Betul,"
Kata Thian-hing.
"Jika begitu, masakah dia mampu kabur, betapa tinggi kepandaiannya aku cukup tahu,"
Kata Ubun Lui.
"Hehe, memangnya kau sangka kami dapat kau tipu begitu saja?"
"Untuk apa kutipu kalian?"
Jawab Thian hing penasaran.
"Sebelum ini kan tidak pernah terduga kalian akan memergoki kami, apalagi sama sekali, hehe, tak kusangka kungfu Pektoh-san kalian memang lain daripada yang lain!"
Di balik ucapannya jelas ingin menyindir lawan yang menggunakan cara licik dengan membius mereka.
Dengan sendirinya Bok Him-him paham maksudnya, setelah dipikir, memang betul juga ucapan Ciok Thian-hing itu, apalagi anaknya memang betul terluka parah, jelas tidak dusta.
Namun apa yang terjadi juga sangat mencurigakan.
Segera ia mendengus lagi.
"Ciok tua, asal kau tahu kedudukanmu sekarang, maka hendaknya suruh muridmu bicara sejujurnya."
"Apa yang kukatakan memang benar-benar terjadi,"
Tukas Liok Kam-tong.
"Baik sekarang ku minta kau beri penjelasan, cara bagaimana Siau-yau-li itu dapat melukai su-hengmu?"
Dengan sendirinya Liok Kam-tong tidak berani bicara terus terang, dalam keadaan mendadak sukar juga baginya untuk mengarang cerita yang tidak betul tapi masuk di akal.
Selagi ragu, dilihatnya Bok Him-him berlagak hendak menggampar Ciok Thian-hing, katanya.
"Jika kamu tidak mau bicara sejujurnya. terpaksa kuhajar dulu gurumu!"
Walaupun pribadi Liok Kam-tong juga ada cacatnya, namun kesetiaannya kepada sang guru harus dipuji.
Jika cuma ia sendiri yang terancam mungkin dia takkan menyerah begitu saja.
Tapi sekarang musuh hendak menganiaya dan menghina sang guru di depannya, mau-tak-mau ia harus menimbangnya.
Maka cepat ia menjawab.
"Baik, akan kukatakan terus terang, memang betul, kalau melulu kepandaian Siau-yau-li itu saja takkan melukai suheng, tapi karena dia dibantu Kang Siang-hun, keadaan tentu saja lain."
Keterangan ini tidak hanya mengherankan Bok Him-him dan Ubun Lui, juga membuat Ciok Thian-hing terkejut.
"Apa katamu? Kang Siang-hun maksudmu?"
Thian-hing menegas tanpa terasa.
"Betul, Kang Siang-hun yang memukul roboh suheng, kesempatan itulah digunakan Siau-yau-li itu untuk melukai suheng,"
Tutur Liok Kam-tong.
Sebenarnya Ciok Thian-hing hendak tanya sebab apa Kang Siang-hun memukul roboh putranya, tapi sebagai ayah dia cukup kenal pribadi anak sendiri, segera terpikir olehnya tentu ada sesuatu perbuatan anaknya yang tidak pantas dan terlihat oleh Kang Siang-hun.
Karena itulah ia cuma ternganga saja dan tidak sanggup bicara lagi.
Di sebelah sana Ubun Lui juga ingin tahu, segera ia menggantikan Thian-hing bertanya kepada Liok Kam-tong.
"Kang Siang-hun yang kau maksudkan itu apakah putra Kang Hai-thian?"
"Betul, putra kedua Kang Hai-thian,"
Jawab Kam-tong.
"Huh, kukira kamu sembarangan mengoceh, kalau mau bohong hendaknya belajar lebih dulu."
Jengek Ubun Lui.
"Masa caramu dusta ini dapat dipercaya orang?"
"Aku bicara dengan sesungguhnya, bila engkau tidak percaya, apa boleh buat!"
Ujar Liok Kam-tong.
"Ya, dengan kepandaian Kang Siang-hun memang dengan mudah dapat menyelamatkan Siau-yau-li itu, sekali pukul ia pun sanggup merobohkan suhengmu,"
Kata Ubun Lui.
"Cuma sayang. dia kan putra Kang Hai-thian?!"
"Jika dia putra Kang Hai-thian lantas kenapa?"
Bok Him-him sengaja menanggapi.
"Kalau benar dia putra Kang Hai-thian menjadi tidak masuk akal,"
Ucap Ubun Lui.
"Masa bibi cilik tidak tahu hubungan antara keluarga Kang dan Thian-san-pai?"
"Ya, rasanya pernah kudengar cerita pamanniu, aku menjadi ingat sekarang,"
Ujar Bok Him-him.
"Katanya mereka ada hubungan baik turun temurun, guru Kang Hai-thian, yaitu Kim Se-ih, mempunyai hubungan sangat erat dengan ketua Thian san-pai dua angkatan yang lalu, yaitu Tong Hiau-lan. Konon hubungan mereka berdiri di antara guru dan sahabat. Bahwa ilmu silat Kang Hai-thian sekarang dapat disebut nomor satu di dunia, walau pun kenyataannva belum tentu begitu, tapi sebabnya dia dapat mencapai tingkatan sctinggi sekarang kabarnya lantaran Kim Se-ih dahulu pernah mendapat petunjuk dari Tong Hiau-lan, lalu oleh Tong Hiau-lan diajarkan kepada Kang Hai-thian."
"Betul,"
Kata Ubun Lui.
"Nah, kalau begitu lantas mengapa putra Kang Hai-thian berbalik membantu musuh Thian-san-pai dan menghantam putra sesepuh Thian-san-pai malah?"
Kembali Bok Him-him angkat sebelah tangannya mengancam pula, jengeknya.
"Nah, Ciok-tianglo, muridmu berani berdusta padaku, seharus kugampar mulutnya. tapi dia adalah murid didikmu. kau pun tak terlepas dari tanggung jawah. Maaf, harus kutempeleng dulu padamu sebagai hukuman percobaan."
Dengan gugup Liok Kam-tong berteriak.
"Jangan kau hina guruku, kalian cuma tahu satu dan tidak tahu dua."
Bok Him-him menurunkan tangannya dan ber tanya.
"Hanya tahu satu tidak tahu dua bagaimana, coba lekas ceritakan."
Dengan sendirinya Liok Kam-tong tidak berani berkisah tentang maksud sang suheng hendak memperkosa Liong Leng-cu dan dipergoki Kang Siang-hun segala, tiba-tiba ia msndapat akal dan dapat mengarang ccrita bohong, katanya.
"Kalian memang cuma tahu yang satu dan tidak tahu yang kedua. Memang betul keluarga Kang ada hubungan erat dengan Thian-san-pai kami, tapi apakah kalian tahu antara Kang Siang-hun ada perselisihan paham dengan seorang murid Thian-san? Bahkan boleh dikatakan bermusuhan. Malahan murid Thian-san itu bukan murid biasa."
"Oo, siapakah dia?"
Tanya Bok Him-him.
"Dia adalah murid tidak resmi Thian-san-pai, yaitu Beng Hoa,"
Tutur Liok Kam-tong.
"Meski dia tidak terhitung sesepuh, namun tingkatannya cukup untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan ketua perguruan kami."
"Dengan sendirinya kutahu Beng Hoa,"
Ujar Ubun Lui.
"Dia kan ada hubungan famili dengan keluarga Kang?"
"Betul,"
Jawab Kam-tong.
"Istri Beng Hoa adalah putra Kim Tiok-liu yang terkenal sebagai jago pedang nomor satu di dunia itu, sedang kim Tiok-liu adalah sute Kang-hai-thian."
"Jika begitu seharusnya Beng Hoa menyebut Kang Sian-hun sebagai suheng, mengapa bisa terjadi permusuhan antara mereka?"
Tanya Ubun Lui.
"Betul, Kang Siang-bun adalah suheng Kim-Pek-ki yang diperistri oleh Beng Hoa."
Tutur Kam tong.
"Menurut aturan, seharusnya antara mereka adalah serupa saudara sekandung. Sayangnya justru lantaran Kim Pek-ki itulah timbul permusuhan antara mereka.""
"Oo. lantaran Kim Pek-ki? Memangnya sebab apa?"
Tanya Ubun Lui pula.
"Sebab tadinya Kim Pek-ki adalah calon istri Kang Sianghun."
Sahut Liok Kam-tong. ---ooo0dw0ooo---
Jilid ke-11
"Ya, pernah juga kudengar kejadian itu,"
Kata Hok Him-him.
"Kabarnya semula Kim Tiok-liu bermaksud menjodohkan putrinya kepada Kang Siang-Hun. tapi belum dibicarakan secara resmi."
"Apakah dibicarakan secara resmi atau tidak, namun kenyataannya Kang Siang-hun cinta sepihak terhadap Sumoaynya memang bukan rahasia lagi,"
Kata Liok Kam-tong.
"Engkau banyak mengetahui urusan keluarga Kang dan Kim, tapi ada suatu hal mungkin belum kau ketahui."
"Hal apa?"
Tanya Him-him.
"Yaitu tentang Kang Siang-hun pernah bertanding pedang dengan Beng Hoa dan dikalahkan oleh Beng Hoa, lantaran itu pula sekali pukul Beng Hoa menarik tiga keuntungan,"
Tutur Ciok Kam-tong.
"Sekali pukul tiga keuntungan apa?"
Tanya Ubun Lui.
"Pertama, karena kemenangannya Kang Siang-hun telah membuat namanya terkenal dan mendapat julukan sebagai jago pedang nomor salu di dunia. Kedua, mendapat perhatian si cantik, dan ketiga, ia jadi disukai oleh Kim Tiok-liu."
Padahal, sekali pukul tiga keuntungan segala adalah pendapat pribadi Liok Kam-tong sendiri.
Tentang bertanding antara Kang Siang-hun dan Beng Hoa memang benar terjadi, Kim Pik-ih sebenarnya memang juga jatuh cinta terhadap Beng Hoa dan disukainya Beng Hoa oleh Kim Tiok-liu juga terjadi pada sebelum pertandingan itu.
Cuma bualannya itu membuat Bok Him-him percaya penuh, katanya.
"Ya, kutahu kejadian itu, kabarnya kekalahan Kang Siang-hun itu cukup mengenaskan, sampai pedang juga kena dirampas Beng Hoa. Pertandingan mereka itu karena saling cemburu, hal ini kupercaya. Hanya saja cemburu mereka masa ada sangkut-pautnya dengan urusan hari ini?"
"Kan Kang Siang-hun menganggap kekalahannya itu sebagai suatu penghinaan besar,"
Kata Liok Kam-tong.
"Meski dia tidak berani menuntut balas secara terang-terangan, tentu ingin juga membalas dendam secara diam-diam, betul tidak?"
"Ya, cuma untuk apa Kang Siang-hun membantu Siau-yau-li itu menccderai Suhengmu? Apakah cara ini dapat dianggap sebagai balas dendam kepada Beng Hoa?"
Tanya Bok Him-him.
"Memang bukan balas dendam secara langsung, tapi-kan juga terhitung balas dendam secara tidak langsung,"
Ujar Liok Kam-tong.
"Apa artinya?"
Tanya Him-him.
"Soalnya Nyo Yam dan Beng Hoa adalah saudara satu ibu lain ayah,"
Tutur Liok Kam-tong.
"Namun Berg Hoa tidak memikirkan hubungan persaudaraan mereka, ia pernah menawan adik sendiri di Ki-lian-san dan hendak membawa Nyo Yam ke Cadam. Kemudian berkat pertolongan Siau-yau-li itulah Nyo Yam dapat dibebaskan."
"Jadi maksudmu lantaran Kang Siang-hun dendam kepada Beng Hoa, maka dia sengaja membantu Nyo Yam yang juga berlawanan dengan Beng Hoa itu?"
Tanya Him-him.
"Ya, tidak cuma begitu saja, sebab sendirian Nyo Yam bukan tandingan Beng Hoa, tapi bila bergabung dengan Siauyau-li mereka justru merupakan maut bagi Beng Hoa. Pernah Beug Hoa dikalahkan mereka, hal ini diketahui orang banyak."
"Ah, tahulah aku sekarang,"
Kata Him-him.
"Sebabnya dia merampas Siau-yau-li itu bukanlah karena dia menyukainya melainkan ingin tetap mempertahankan seteru targguh bagi Beng Hoa "
"Betul, kecuali itu juga masih ada suatu alasan lain,"
Kata Kam-tong.
"Masih ada alasan lain?"
Bok Him-him menegas.
Baca Juga: Pendekar Cacad 6
Baca Juga: Laron Pengisap Darah Huang Ying