Eps 5 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.
"Yaitu, agar bisa mendapatkan nama, tentang pembersihan perguruan kami sekali ini seluruhnya telah ditugaskan kepada Beng Hoa. Sekarang Kang Siang-hun membawa lari Siau-yauli, secara tidak langsung berarti suatu pukulan bagi Beng Hoa."
"Uraianmu rasanya masuk diakal, cuma bila kupikirkan lagi, ada juga bagian yang tidak dapat dimengerti,"
Kata Bok Himhim.
"Apakah Kang Siang-hun tidak kuatir ketua Thian-san menegur-nya atas perbuatannya membantu Siau-yau-li dan melukai Suhengmu?"
"Dia kan dapat pakai alasan tidak kenal siapa Siau-yau-li itu?"
Ujar Liok Kam-tong.
"Sebab Suhengku seorang bisu. Ia juga dapat memfitnah Ciok-suheng telah merampas gadis, bahkan menuduhnya dengan perbuatan yang tidak senonoh. Dia dan Ciok-suheng agakuya belum kenal sebelum ini."
Ia sengaja menutupi perbuatan busuk sang suheng di depan gurunya sehingga uraiannya itu membuat Ciok Thianhing mempercayainya, juga berulang Ciok Thian-hing mengangguk dan berkata.
"Ya, betul, tentu begitulah!"
Lalu ia menyambung pula.
"Sekarang Siau-yau-li itu sudah direbut oleh Kang Siang-hun, maafkan, tak dapat lagi kuserahkan dia kepada kalian. Sekarang bolehlah kita berangkat saja."
Di depan muridnya tak enak baginya ia memohon Bok Himhim membebaskannya, ia berharap Him-him mau memberi obat penawar dan menjaga beberapa bagian kehormatannya. Bok Him-him lantas tanya Ubun Lui.
"Eh, Titsiauya, bagaimana pendapatmu?"
"Aku cuma setengah percaya kepada keterangan mereka,"
Kata Ubun Lui.
"Cuma, biarpun Siau-yau-li itu telah digondol Kang Siang-hun, betapa pun kita tetap akan minta pertanggungan jawab mereka ini."
"Betul, setuju,"
Kata Him-him.
"Nah, Ciok tianglo, harap engkau ikut kami pulang ke Pek to-san, kapan-kapan kalau muridmu menggiring Siau-yau-li itu ke tempat kami, segera juga kami akan membebaskanmu."
"Siau-yau-li berada di tangan Kang Siang-hun melulu kepandaianku mana bisa merebutnya kembali?"
Cepat Liok Kam-tong menukas.
"Semua itu adalah urusanmu, kami tidak peduli,"
Ujar Himhim.
"Jika kau tahu kepandaianmu tidak becus, boleh kau minta bantuan sesama saudara seperguruanmu. Pendek kata, kami tidak urus cara apa yang akan kau gunakan. Yang penting Siau-yau-li itu dibawa kepada kami. Maksudku satu tukar satu."
"Mana ada aturan begitu,"
Teriak Ciok Thian-hing.
"Masa kalian hendak menggunakan diriku sebagai sandera?"
"Memangnya kau kira kamu ini apa?"
Jengek Him-hirn.
"Kalau bukan sandera, memangnya masih tetap Tianglo?"
Sedih dan gemas Ciok Thian-hing tak terhingga, teriaknya dengan suara parau.
"Kam-tong, harus kau lakukan sesuatu bagi gurumu."
"Silakan Suhu bicara,"
Jawab Liok Kam-tong "Lekas lolos pedangmu dan bunuhlah aku!"
Teriak Thianhing. Liok Kam-tong melenggong, belum lagi ia lolos pedang, tahu-tahu ia sudah dicengkeram Ubun Lui dan dilempar hingga jauh.
"Hm, sudah jelas kau tahu murid mustikamu iiu tidak becus menolongmu, buat apa kau bikin main dia?"
Ejek Bok Himhim.
"Hehe, dia kan sengaja berlagak supaya dilihat muridnya,"
Ubun Lui ikut berolok-olok.
"Jika dia diam saja dan ikut pergi bersama kita, mungkin murid sendiri pun akan memandang hina padanya. Demi menjaga gengsi seorang guru, mau-takmau dia harus berlagak berani mati."
"Haha, bagus, Ciok-tianglo, kamu ingin jaga gengsi, aku justru tidak jual muka kepadamu,"
Seru Him-him dengan tertawa.
"Nah, lekas merangkak!"
Mendadak Ting Tiau-min berteriak.
"Lepaskan Suhengku, biarlah aku saja yang menjadi sandera bagi kalian."
Tadi hiat-to bisunya tertutuk, karena sudah 12 jam, meski masih kaku, namun kini sudah bisa bersuara.
"Ting Tiau-min,"
Jengek Bok Him-him.
"ku kira tulangmu cukup keras, rupanya ada kalanya kamu memohon juga padaku."
"Aku tidak memohon, tapi satu tukar satu, hal ini kau katakan sendiri tadi,"
Jawab Ting Tiau-min dengan gusar.
"Betul. tadi kukatakan boleh satu tukar satu, tapi tidak kukatakan orang mati boleh tukar orang hidup,"
Ujar Him-him dengan tertawa.
"Apa maksudmu?"
Bentak Tiau-min.
"Kamu benar tidak mengerti atau berlagak bodoh?"
Tanya Him-him.
"Baiklah, jika kamu memang tidak tahu, biar kukatakan terus terang. Soalnya watakmu terlebih buruk daripada Ciok Thian-hing, kutahu pula kamu terlampau benci padaku, bila kamu dibiarkan hidup, tentu akan kau tuntut balas padaku. Maka sudah kuputuskan takkan memberi hidup padamu."
"Hahahaha! Bagus sekali!"
Tian-min bergelak tertawa.
"Justru itulah yang kuminta. Nah, boleh lekas kau turun tangan."
"Nanti dulu,"
Kata Him-him dengan tertawa.
Soalnya sekarang timbul pula belas kasihanku aku tidak ingin bertindak melampaui batas.
Untuk membuatmu tidak dapat menuntut balas kan masih bauyak cara lain.
Nah, Titsiauya, hendaknya kau-hancurkan tulang pundaknya saja."
"Betul, musnahkan llmu silatnya, tentu dia tidak mampu bertingkah lagi selama hidup,"
Ucap Ubun Lui dengan tertawa. Selagi Ubun Lui mendekati Ting Tiau-min dan Bok Him-him juga mengangkat tangannya hendak menggampar Ciok Thianhing sambil membentak.
"Apakah tidak kau dengar ucapanku tadi, lekas merangkak ke bawah gunung!"
Namun sebelum gamparannya mengenai muka Ciok Thianhing, sekonyong-konyong suara raungan dahsyat membuatnya tergetar.
"Di tengah siang bolong, kawanan tikus dan mana berani berbuat malang melintang di sini?"
Belum kelihatan orangnya, suara bentakan menggelegar itu sudah cukup membuat pecah nyali musuh yang mendengarnya.
Suara gertakan dahsyat itu membuat perasaan Bok Himhim berdebar, cepat ia tenangkan diri, ia tidak sempat lagi menggampar Ciok Thian-hing.
Lwekang Ubun Lui lebih tinggi, tapi di bawah gertakan dahsyat itu jantungnya juga berdetak tenaga pun sukar dikeluarkan.
Kiranya pendatang ini tak-lain-tak-bukan adalah tokoh yang ditakuti mereka, yaitu Beng Hoa yang di Ki-lian-san dahulu pernah mengalahkan Ubun Lui.
Suara raungan Beng Hoa itu disebut Sai-cu hung atau auman singa, semacam kungfu kaum budha yang dulu dipelajarinya dari Yu~in Taisu dari negeri Thian-tiok (India), setelah berlalu belasan tahun.
baru pertama kali ia pergunakan kungfu ini, suaranya ternyata maha dahsyat dan mengguncang sukma.
Apalagi Ubun Lui adalah bekas jago yang sudah keok di tangan Beng Hoa, dengan sendirinya suara Beng Hoa ini raembuatnya gugup dan bingung.
Saat itu Ting Tiau-min sudah hampir terpegang olehnya, tahu-tahu dengan cepat luar biasa Beng Hoa sudah muncul dan langsung menghantamnya.
Ubun Lui kenal kelihaian lawan, cepat ia mengegos ke samping dan balas menyerang sembari berjaga.
Namun Beng Hoa tidak menyerang lebih lanjut begitu lawan didesak mundur, segera ia menarik Ting Tiau-min ke samping, Dan begitu membalik tubuh, dengan cepat ia menyerang Bok Him-him.
Setelah menenangkan diri, Him-him tahu pen-datang ini adalah Beng Hoa, jengeknya.
"Beng Hoa, orang lain takut padamu, tidak nanti nyonya besar takut padamu!"
Dengan lagu lama, kembali ia mengebaskan lengan baju untuk menyebarkan dupa bius.
Tak terpikir olehnya tenaga pukulan Beng Hoa sudah membanjir tiba sedahsyat gugur gunung, dupa bius pelemas tulang andalannya sama sekali tidak dapat mengganggu Beng Hoa.
Sebaliknya sambaran angin pukulan Beng Hoa telah merobek lengan baju Bok Him-him sehingga kelihatan kulit badannya yang putih bersih.
Him-him kaget dan malu, cepat ia melompat mundur, untung juga ginkangnya tidak lemah sehingga terluput dari cengkeraman Beng-hoa.
Namun karena guncangan angin pukulan, dupa.
bius itu lantas menyebar, Sikong Ciau dan Buyung Sui yang agak lemah Iwekangnya dan kebetulan berdiri di arah angin, mereka langsung terkena bisa itu.
"bluk-bluk"
Kontan mereka jatuh tersungkur, tenaga hilang, merangkak bangun pun tidak sanggup.
Beng Hoa lantas menarik Ciok Thian-hing kesana dan diserahkan di bawah penjagaan liok Kam-tong.
Lalu ia putar tubuh dan dilihatnya Ubun Lui hendak kabur.
Untuk menjaga pamor, Bok Him menjengek.
"Beng Hoa, memangnya apa gunanya kau rebut kembali dua orang cacat?"
Beng Hoa tidak menghiraukannya, belum lenyap suara orang ia sudah melompat ke sana dan menggadang di depan Ubun Lui.
"Mau lari ke mana?"
Bentak Beng Hoa.
"Ayolah kita cobacoba lagi! Sekali ini cukup lima jurus saja!"
Habis berkata, kontan ia menghantam dengan pukulan Simi-ciang, jurus kedua menggunakan jari sebagai pedang dan menyerang dengan jurus llmu pedang Kong-tong-pai.
Jurus ketiga ia gunakan pukulan sakti Tiam-jong-pai ajaran gurunya yang pertama, yaitu Toan Se-siu.
Hanya tiga jurus itu saja langsung Ubun Lui kena dibekuknya.
"Hm, apakah cuma kalian saja yang mampu menawan sandera dan aku tidak bisa?"
Ejek Beng Hoa. Cepat Ubun Lui memohon.
"Ada urusan apa boleh dirundingkan dengan baik-baik, apa kehendakmu, Bengtaihiap?"
"Tidak menghendaki apa-apa, aku cuma ingin mengadakan jual-beli dengan kalian,"
Jawab Beng Hoa.
"Jual-beli bagaimana?"
Tanya Ubun Lui.
"Suruh bibi kecilmu memberikan dua biji obat penawar dan segera kulepaskanmu,"
Kata Beng Hoa. Maka cepat Ubun Lui memohon kepada Bok Him-him.
"Bibi cilik, tolonglah diriku!"
Bok Him-him berhenti agak jauh di sebelah sana dengan lagak seperti sangsi dan tidak segera menjawab.
"Aku tidak dapat menunggu, kalau obat penawar tidak kau serahkan, terpaksa kupunahkan dulu kungfu Siausancu kalian,"
Ancam Beng Hoa. Ubun Lui ketakutan, cepat ia memohon pula.
"Bibi cilik, hendaknya mengingat hubungan baik kita, tolonglah jiwaku!"
Kiranya antara Ubun Lui dan Bok Him-him ada hubungan gelap. hal ini diketahui oleh Buyung Sui dan Sikong Ciau, hanya Pek-toh-sancu saja yang terkelabui. Keruan Bok Him-him malu. omelnya.
"Kenapa berteriakteriak? Mau jual-beli kan harus cocok dulu harganya. Dagang yang merugikan tidak nanti kulakukan."
Beng Hoa menjengek.
"Hm, dua biji obat tukar satu orang hidup, jual beli yang menguntungkan. seperti ini ke mana lagi akan kau cari.? Nah. terserah padamu, mau atau tidak, kalau tidak. ya sudah!"
"Untuk apa terburu-buru?"
Kata Him-him.
"Kamu sudah buka harga, aku kan belum menawar?"
"Hargaku itu harga mati, tidak ada korting dan tidak boleh ditawar,"
Jawab Beng Hoa ketus.
"Aku tidak minta korting, hanya jual-beli ini harus adil,"
Kata Him-him.
"Akan kuberi obat penawarnya kepadamu, tapi kalian tidak boleh lagi mengusik kami seujung rambut pun."' "Baik, kuterima,"
Kata Beng Hoa.
"Hanya engkau terima, dan bagaimana dengan mereka berdua? Kau tahu, setelah minum obat penawar segera tenaga mereka akan pulih."
Ting Tiau-min menjadi gusar, teriaknya.
"Hari ini takkan kubikin susah padamu, tapi kelak kami pasti akan mencari dan bikin perhitungan padamu."
"Apakah Ciok-tianglo juga berpendirian demikian?"
Tanya Him-him. Ciok Thian-hing tidak enak hati untuk bicara, dengan muka masam ia cuma mengangguk saja.
"Nah, urusan hari ini memang lain dengan urusan esok,"
Kata Him-him dengan tertawa.
"Selewatnya hari ini, umpama kalian tidak mencari padaku, tentu juga suamiku akan mencari dim membikin perhitungan dengan kalian. Baiklah, ku terima tawaranmu, kuserahkan barang dan kalian pun serahkan orang."
Segera ia menyodorkan dua biji obat kepada Beng Hoa. Beng Hoa juga lantas melepaskan Ubun Lui-selagi ia hendak membuka hiat-to kelumpuhannya. tiba-tiba Ciok Thian-hing berkata.
"Tidak boleh segera dibebaskan!"
Meski tidak dapat bergerak, namun Ubun Lui dapat bicara, ia terkejut dan berseru.
"Kalian bicara tentang kepercayaan tidak? Apakah ucapan kalian seperti kentut belaka?"
"Dari mana kutahu obatmu ini tulen atau palsu? Harus tunggu setelah terbukti obat ini manjur baru kau dilepaskan,"
Kata Thian-hing.
"Kami tidak percaya padaku, memangnya ku percaya padamu?"
Ucap Him-him.
"Tapi aku percaya penuh kepada Beng-taihiap. Nah, Beng-taihiap, terimalah obatku."
Beng Hoa terima kedua biji obat itu dan dibagikan kepada Thian-hing dar Tiau-min, sekalian ia bantu mereka dengan tenaga dalam sendiri.
Selang tidak lama, mendadak Ciok Thian-hing melompat bangun dan kontan ia hantam Ubun Lui "Hei, kau mau apa?"
Bentak Bok Him-him.
Terlihat pukulan Ciok Thian-hing mendadak beralih ke samping sehingga sebatang pohon di sebelah Ubun Lui terpukul patah dahannya.
Barulah Bok Him-him tahu maksud Ciok Thian-hing hanya untuk mencoba kekuatan apakah sudah pulih atau belum.
"Nah, obat penawar sudah terbukti tidak palsu, sekarang kami boleh pergi bukan?"
Tanya Ubun Lui setelah Beng Hoa membuka hiat-to kelumpuhannya. Teringat pada penghinaan waktu tertawa tadi, sungguh Ciok Thian-hing sangat mendongkol, tapi apa boleh buat, terpaksa ia hanya membentak.
"Untung bagimu, lekas enyah!"
Sesudah rombongan Ubun Lui pergi, berkata lah Ciok Thian-hing.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Beng-hiantit. Dari mana kautahu kami berada di sini?"
"Sebenarnya aku diperintahkan ketua untuk menyampaikan selamat kepada Kui-taihiap di Hwe in-ceng,"
Tutur Beng Hoa.
"Dalam pesta sana ku-dengar cerita orang bahwa ada yang melihat rombonganmu dalam perjalanan, kukira selekasnya kalian pun akan sampai di Hwe-in-ceng. Siapa tahu sampai hari sudah gelap belum kelihatan kalian muncul. Kukuatir terjadi sesuatu, maka cepat mohon diri kepada Kui-taihiap dan ingin mencari kalian. Semula aku salah jurusan, kemudian kutemukan kode yang kalian tinggalkan sehingga terlamlat sampai di sini."
Ting Tiau-min juga bertutur.
"Sebenarnya kami pun akan mengunjungi Kui-taihiap untuk mengucapkan selamat padanya, justru di tempat lima li sebelum Hwe-in-ceng kami disergap aleh perempuan siluman itu."
"Sudahlah, tidak perlu banyak omong lagi, yang penting, tentang pengalaman kami yang penasaran ini, diharap Benghiantit suka bicara sejujurnya bagi kami,"
Kata Ciok Thianhing.
"Kawanan siluman dari Pek-toh-sau itu tidak nanti kudiamkan,"
Ujar Beng Hoa.
"Maksudku bukan kawanan siluman dari Pek-toh-san itu, tapi tentang dilukuinya Jing-coan, dia bukan dilukai oleh kawanan siluman Pek-toh-san. Ai, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus bicara. Kejadian ini pun tidak pernah kusangka. Coba kau terka siapakah orang yang membantu Siauyau-li she Liong itu mencelakai Jing-coan? Dia . ."
Belum lagi Ciok Thian-hing menyebut nama Kang Sianghun, tiba-tiba Beng Hoa memotong.
"Aku tidak percaya hal itu dilakukan Kang Siang-hun,"
Thian-hing melenggong, ucapnya.
"O, jadi Beng-hiantit sudah tahu?"
"Aku tidak tahu, aku cuma mendengarnva saja,"
Kata Beng Hoa.
"Liok-suheng, apa yang kau katakan kepada siluman Pektoh-san itu apakah benar?"
Liok Kam-tong menjadi gugup terpandang oleh sorot mata Beng Hoa yang tajam, terpaksa ia menjawab.
"Apa yang kukatakan itu juga di dengar oleh Suhu dan Susiok, masa aku berani berdusta."
Baru sekarang Ting liau-min ikut bicara.
"Liok-sutit, bukan maksudku menuduh kamu dusta, cuma bicara tentang prilaku Kang Siang-hun, aku pun tidak begitu percaya bahwa dia dapat berbuat demikian."
Diam-diam Ciok Thian-hing mendongkol, pikirnya.
"Kiranya sejak tadi Beng Hoa sudah datang tapi sengaja sembunyi di samping untuk mendengarkan. dan membiarkan aku dihina musuh."
Tak terpikir olehnya bahwa Beng Hoa justru ingin tahu duduknya perkara karena tadi Liok Kam-tong menyebut namanya dan bilang perkara ini berawal dari dia, dengan sendirinya ia ingin mendengarkan urusan apa sebenarnya.
Apalagi pada waktu ia dengar suara Liok Kam-tong tadi juga masih berjarak sekian jauhnya, mana bisa memburu tiba secepat itu?
Meski mendongkol, tapi lantaran Thian-hing ingin bantuan Beng Hoa, terpaksa tidak dapat mengumbar perasaannya, hanya sang sute yang dijadikan alat pelampias.
segera ia menjengek.
"Hm, bagaima ia dengan prilaku Kang Siang-hun? Memangnya aku tidak tahu dia? Hanya karena dia panya seorang ayah yang tokoh nomor satu di dunia, lalu sombong dan sok menang sendiri, siapa pun tak terpandang olehnya, bilakah dia tahu oraog tua seperti kita ini? Dia berjiwa sempit, contohnya ketika dahulu dia mencari Beng-hiantit dan mengajaknya bertanding."
Dengan sendirinya Beng Hoa dapat menangkap maksud ucapan orang ditujukan kepadanya, segera ia menanggapi.
"Kang Siang-hun memang pernah berselisih paham denganku. Tentang pribadinya, ya, memang sedikit angkuh, tapi setiap tindak-tanduk-nya cukup terpuji."
"Kam-tong adalah mundku, biarpun dia tidak becus, tapi ada suatu segi baiknya yang cukup kukenal, yaitu dia sangat setia kepada perguruan, selama ini tidak pernah berdusta padaku,"
Kata Thian-hing dengan ketus.
"Maksudku bukan tidak percaya kepada ucapan Lioksuheng,"
Tukas Beng Hoa tertawa.
"Namun sejak bertanding denganku dahulu, seterusnya salah paham antara aku dan Kang Siang-hun sudah selesai, sebab itulah aku tidak percaya dia masih dendam padaku."
"Kenal orangnya, kenal mukanya, tidak kenal hatinya. Masa Beng-hiantit lupa pada pepatah ini?"
Ujar Thian-hing.
"Juga ada pepatah yang bilang sakit hati sukar disembuhkan. Kukira engkau juga tahu artinya."
Meski tidak jelas diungkapkan, namun Beng Hoa tahu yang dimaksudkan orang adalah mengenai perebutan Kim Pik-ih antara Kang Siang-liun dengan dia.
Beng Hoa tidak ingin bertengkar, ia hanya diam saja.
Liok Kam-tong yang panik oleh tatapan Beng Hoa yang tajam itu serupa maling yang kuatir terbongkar perbuatannya, supaya terhindar dari pertanyaan, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berkata.
"Beng-suheng, supaya eagkau percaya, sekarang juga dapat kuberi bukti nyata."
"Oo, bukti nyata apa?"
Tanya Beng Hoa.
"Yakni, sebelum Ciok-suheng dilukai Siau-yau-li itu, lebih dulu dia dipukul sekali oleh Kang Siang-hun, pada tubuh Cioksuheng saat ini masih ada bekas luka pukulan,"
Tutur Liok Kam-tong.
"Memang betul, Beng-hiantit,"
Tukas Thian hing.
"Terhadap kungfu keluarga Kang tentu Beng-hiantit terlebih paham daripada kami. Caranya Kang Siang-hun melukai orang tentu juga dapat kau bedakan, untuk itu boleh kau periksa sendiri."
Sesudah Beng Hoa memeriksa dengan teliti luka Ciok Jingcoan, katanya kemudian dengan mengangguk.
"Ya, betul, luka Ciok-suheng ini memang berasal dari pukulan keluarga Kang, bila Kang Siang-hun memukul sekuatnya mungkin jiwa Cioksuheng sukar dipertahankan. Sekarang cuma sebuah tulang iganya yang patah, kukira tidak terlalu parah, asalkan ditaburi obat luka selekasnya akan sembuh."
"Hm, jika begitu, agaknya aku barus berterima kasih malah atas kemurahan hati Kang Siang-hun?"
Jengek Ciok Thianhing.
"Yang jelas jika sudah terbukti Kang Siang-hun yang berbuat, maka apa yang dikatakan muridku ini bukanlah dusta."
Karena Beng Hoa tidak ingin berdebat dengan Ciok Thianhing, pula tindakan Kang Siang-hun melukai Ciok Jing-coan dan membawa lari Liong Leng-cu memang juga fakta nyata. betapa-pun ia tidak sangsi lagi.
"Aku sendiri tidak mengerti mengapa Kang Siang-hun bertindak demikian,"
Katanya kemudian.
"tapi aku tidak pcduli apakah aku yang menjadi tujuannya atau bukan, pokoknya urusan ini pasti juga akan kuusut hitigga jelas."
Dari marah barulah Ciok Thian-hing berubah gembira, katanya.
"Padahal, fakta nyata sudah terpampang di depan mata, kan tidak perlu diusut lagi. Yang kukuatirkan adalah, bila Ciangbuniin (ketua) rikuh kepada ayahnya, mungkin tidak mau ikut campur urusan ini."
"Tentang ini, kukira Ciok-susiok tidak perlu kuatir,"
Kata Beng Hoa.
"Biarpun Ciangbun rikuh terhadap Kang-taihiap, namun Kang-taihiap sendiri pasti bukan orang yang suka membiarkan anak sendiri berbuat sewenang-wenang. Urusan ini boleh kau serahkan padaku. Sudah berapa lama Kang Siang-hun pergi dari sini?"
"Kira-kira setengah hari,"
Jawab Liok Kiam-tong.
"Baik, segera kususul mereka,"
Kata Beng Hoa.
"Jika tidak dapat kususul, biar langsung kupulang dan lapor kepada Ciangbun "
Maklumlah, Ciok Jing-coan terluka, jika Beng Hoa berjalan bersama mereka tentu akan banyak terhambat.
"Begitu pun baik,"
Kata Ciok Thian-hing.
"Meski aku sesepuh perguruan kita, tapi di hadapan Ciangbujin kukira ucapanmu akan lebih berbobot dari padaku. Nah. bolehlah kuberangkat dulu." -ooo0dw0ooo-Dalam pada itu Kang Siang-hun dan Liong Leng-cu sedang memacu kuda masing-masing secepat terbang, mereka jauh tcrgesa-gesa daripada Beng Hoa dan ingin lekas-lekas sampai di Thian-san. Karena perjalanan cepat itu, tidak sampai sebulan mereka sudah keluar Giok-bun-koan (ger bang tembok besar di ujung barat) dan memasuki wilayah Sin kiang. Hari ini selagi mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba pandangan di depan terbeliak, tertampak sebuah danau es di depan, gumpalan es mengambang di permukaan danau serupa batu permata dan saling bentur serta menerbitkan suara nyaring. Bagian yang beku tampak putih bagai kemalu, di bawah sinar matahari memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Dari pinggang gunung hingga kaki gunung diliputi pepohonan yang hijau sehingga sampai tepi danau, pemandangan indah permai dan sukar dilukiskan.
"Ah, indah benar pemandangan di sini, sayang kita harus meneruskan perjalanan,"
Ucap Leng-cu.
"Tempat ini bemama Wana, suku Wana terhitung salah satu suku kelompok Kazak. Kepala suku mereka bernama Lohai, kukenal dia. Jika tidak terburu-buru ingin lekas sampai di Thian-san, memang seharusnya kita mampir ke tempatnya,"
Tutur Kang Siau-hun.
"Bukankah kepala suku Lohai mempunyai seorang putri bernama Romana?"
Tanya Leng-cu.
"Benar. Romana adalah gadis tercantik di wilayah Sinkiang ini. Kau kenal dia?"
"Selain kenal, malahan pernah bercanda dengan dia,"
Tutur Leng cu.
"Perkenalanku dengan Nyo Yam justru berawal dari mereka ayah dan anak. Waktu itu Nyo Yam menyaru sebagai pengemis cilik dan kugoda dia, siapa tahu aku berbalik dipermainkan olehnya."
Lalu Leng-cu menuturkan secara ringkas pengalamannya dulu.
"Haha, jika begitu, psrkenalan kalian justru dimulai dari perkelahian dulu," .kata Kang Siang-hun dengan tertawa.
"Memang,"
Kata Leng-cu.
"Perkenalanku dengan Romana juga begitu. Kulihat dia sangat cantik, timbul pikirauku seperti anak kecil, kugoda dia. Waktu itu hampir saja aku disangka orang jahat oleh Nyo Yam. Untung kemudian kubantu Lohai mengalahkan musuh yaug mengejar mereka, lantaran itulah Nyo Yam jadi baik padaku."
Setelah kejadian itu apakah kau lihat lagi Lohai dan putrinya?"
Tanya kang Siang-hun.
"Kabarnya Lohai sudah diangkat sebagai pemimpin gabungan suku bangsu kazuk"
"Kutahu kejadian itu,"
Jawab Leng-cu "Waktu itu Lohai sedang menuju ke Lugan untuk menunaikan jabatannya itu. Cuma aku tidak bertemu dengan dia, terhadap putrinya juga aku belum sempat minta maaf."
"Baik, bila pulang nanti biarlah kita dan Nyo Yam bersama mengunjungi mereka,"
Kata Kang Siang-hun.
"Semoga terlaksana seperti janjimu ini,"
Tukas Leng-cu.
Bila teringat olehnya saat ini Nyo Yam sedang menghadapi bahaya di Thian-san.
biarpun sekarang Kang Siang-hun akan mintakan ampun kepada ketua Thian-san-pai, mungkin sukar juga mendapatkan pengertian saudara seperguruannya yang tidak sedikit itu.
Sedangkan kepulangan Nyo Yam ke Thian-san kali ini adalah lantaran Leng Ping-ji, hal ini pun membuat Leng-cu merasa sedih.
Kang Siang-hun seperti tahu pikirannya, katanya.
"Meski aku tidak yakin akan dapat membebaskan Nyo Yam dari kesukaran, tapi sekarang kupegang surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan, betapapun bertambah besar harapanku. Maka jangan sembarangan berpikir, cepat melanjutkan perjalanan saja."
Tengah bicara. tiba-tiba tampak debu mengepul di depan, beribu pasukan berkuda tampak muncul berbondong-bondong dan sangat menakutkan. Siang-hun terkejut, katanya heran.
"Yang datang ini tampaknya pasukan kerajaan Jing!"
Sementara itu pasukan berkuda itu sudah dekat, ternyata benar, dari panji pengenalnya jelas terlihat pasukan Boan jing.
"Jangan sampai keterjang mereka, lekas lari!"
Seru Sianghun.
Di tengah pasukan itu terlihat ada seorang yang berdandan sebagai susing atau terpelajar yang sangat menyolok, kudanya lari berjajar dengan seorang perwira.
Sekilas pandang Leng-cu merasa orang seperti sudah dikenalnya, tapi di bawah kepulan debu tebal tak terlihat dengan jelas.
Dalam pada itu pasukan itu sudah melihat mereka juga, ada yang berteriak.
"He di depan ada seorang perempuan cantik?"
"Hah cepat amat lari kudanya, tampaknya kuda jenis istimewa!"
"Bu -ciangkun, bagaimana kalau kita menangkapnya?"
Semula perwira itu membentak.
"Kita ada tugas, setelah menduduki Lugan, masakah di sana kekurangan gadis? Dilarang . ."
Belum lanjut ucapannya ia sendiri sudah mendekat dan tiba-tiba ia pun bersuara heran.
"Eh, kukira siapa, kiranya Siau-yau-li she Liong ini?"
Dan begitu ia bersuara segera Liong Leng-cu mengenalnya.
Perwira ini tahun yang lalu ketika berada di Cadam pernah bertempur dengan Ce Se-kiat, namanya Bu Ek.
Waktu itu Leng-cu sendiri hadir.
Cuma ketika itu Bu Ek berdandan sebagai pengemis dan bukan pakai seragam perwira.
Sementara itu susing tadi juga sudah menyusul tiba, kuda tunggangnya juga kuda bagus, maka dalam sekejap ia malah sudah mendahului di depan Bu Ek.
"Aha. sungguh orang hidup selalu berjampa di mana-mana, tak tersangka kita bertemu lagi di sini, nona Liong,"
Seru susing itu.
"Hah, mengapa engkau ikut lelaki lain lagi, apakah engkau sudah di-buang oleh si bocah Nyo Yam itu?"
Dia bicara dengan cengar-cengir dengan kata-kata yang menusuk perasaan, kiranya dia ini Toan Kiam-jing yang kosen itu.
Sembari berkata ia terus menghamburkan segengam mata uang.
Ia menguasai Liong-siang-kiang (ilmu naga dan gajah) yang sempurna, biarpun daun dan bunga yang dipetiknya seketika juga dapat digunakan sebagai senjata rahasia.
Dengan sendirinya mata uang yang dihamburkan ini tidak kalah dahsyatnya daripada hujan anak panah.
Cepat Leng-cu lolos cambuknya dan diputar dengan kencang.
Terdengar suara denting nyaring yang riuh, berpuluh mata uang itu kena disampuknya jatuh.
Toan Kiam-jing terkejut, pikirnya.
"Hanya dalam waktu setahun ini kepandaian Siau-yau-li ini sudah maju sepesat ini, agaknya tidak boleh di remehkan lagi."
Ia tidak tahu bahwa Liong Leng-cu juga mengeluh tak terkatakan, meski mata uang lawan kena disapu rontok semua, namun tangannya juga tergetar sakit.
Betapapun kemajuan ilmu silatnya selama setahun ini dan banyak mendapat petunjuk dari Nyo Yam sehingga dia masih mampu menyapu rontok senjata rahasia orang, namun kalau di bandingkan Toan Kiam-jing sesungguhnya memang masih selisih jauh.
Begitulah karena terhalang oleh hamburan senjata rahasia mata uang, dia dapat disusul oleh Toan Kiam-jing.
Melihat gelagat jelek, Kang Siang-hun terkejut, cepat ia memburu maju.
Beberapa perajurit musuh bermaksud merintanginya, namun Kang Siang-hun tidak berhenti, hanya pedangnya berputar, kontan dua-tiga orang lawan tertusuk roboh.
"Thian-san-kiam-hoat yang hebat!"
Mendadak ada orang berteriak.
"Biar kubelajar kenal beberapa jurus denganmu."
Begitu terdengar suaranya, pada saat yang hampir sama orangnya juga sudah menerjang tiba, tongkat terus menyabat ke arah Kang Siang-hun.
Terdengarlah suara trang-tring nyaring memekak telinga disertai muncratnya lelatu api.
Dalam sekejap itu tongkat dan pedang telah beradu belasan kali.
Kang Siang-hun ternyata sukar menyerang dengan leluasa, apalagi pedang lebih pendek dari pada tongkat, dalam hal senjata lebih dulu ia sudah kalah.
Untung pedang Kang Sianghun adalah gemblengan baja murni sehingga tidak sampai terbentur patah oleh tongkat lawan.
Setelah benerapa gebrakan, diam-diam Kang Siang-hun terkesiap, pikirnya.
"Tak terduga di tengah pasukan Boanjing selain Toan Kiam-jing terdapat pula jago selihai ini. Sungguh aneh, mengapa ia mahir memainkan Hang-liong-tiang-hoat (permainan tongkat penakluk naga) dari Kai-pang?"
Kiranya perwira bersenjata tongkat ini bukan lain daripada Bu Ek.
Pada 30 tahun yang lalu ikut gurunya kabur ke daerah utara.
Guru Bu Ek bernama Tiong Bu-yong, putra tunggal Tiong Tiang-thong, ketua Kai-pang sekte selatan.
Lantaran dendam karena ayahnya tidak mewariskan kedudukan Pangcu padanya, dengan marah Tiong Bu-yong minggat jauh ke daerah Sinkiang.
Bu Ek adalah murid kesayangannya yang telah mendapatkan ajaran segenap kepandaiannya.
Kalau bicara kungfu sejati sebenarnya Bu Fk bukan tandingan Kang Siang-hun, tapi bertempur dengan naik kuda, ia menarik keuntungan dari senjatanya yang lebih panjang dan berat, maka posisi menjadi sama kuat sekarang.
Di sebelah sana Liong Leng-cu juga sudah dapat disusul oleh Toan Kiam-jing.
"Haha, kita terhitung juga sahabat lama, mengapa engkau terburu-buru tanpa tegur sapa, apakah tidak kenal lagi,"
Ejek Toan Kiam-jing.
Tidak kepalang gusar Liong Leng-cu, tapi ia kenal kelihaian orang dan tidak berani gegabah, dengan pedang dan cambuk ia melawan mati matian.
Tapi cuma belasan jurus saja dia sudah kewalahan, sekali jari Toan Kiam-jing terjulur dan tepat menjepit ujung cambuknya.
"Nona Liong, marilah kita bicara dulu untuk mengenang masa. lalu, sebaiknya kamu tahu gelagat,"
Ujar Toan Kiam-jing dengan tertawa, sekali tarik, Liong Leng-cu bersama kudanya tidak dapat bergerak lagi.
Nyata Toan Kiam-jing telah mengeluarkan tenaga sakti Liong-siang-kang, bila Leng-cu membuang cambuknya, bisa jadi orang dan kudanya akan terluka parah tergetar tenaga saktinya.
Di sebelah sana Kang Siang-hun menjadi gelisah karena tidak dapat menerjang maju, mendadak ia keluarkan jurus serangan mati-matian, ia melompat dari kudanya, dengan gerakan menubruk langsung ia tusuk batok kepala Bu Ek.
Tentu saja Bu Ek terkejut, cepat ia memberosot ke samping pelana sambil angkat pedangnya.
"trang", serangan Kang Siang-hun ditangkis-nya. Tapi tubrukan Kang Siang-hun itu sekaligus mengincar kudanya, Bu Ek tidak berani melawannya dengan nekat, terpaksa ia menjatuhkan diri ke bawah. Maka kudanya dapat dirampas Kang Siang-hun yang terus memburu ke sana. Kedatangannya tepat pada waktunya Liong Leng-cu terancam bahaya, terpaksa Toan Kiam-jing melepaskan nona itu dan menghadapi serangan Kang Siang-hun. Waktu kedua pedang beradu, Kang Siang-hun merasakan ujung pedang lawan membawa semacam daya lengket yang tidak kelihatan, ia menerjang lewat sekuatnya sehingga serangannya tidak mencapai sasaranuya.
"Haha, kungfu keluarga Kang memang tidak bernama kosong,"
Kata Toan Kiam-jing.
"Sungguh beruntung sekarang dapat berjumpa. maka ingin kucoba lagi beberapa jurus."
Kuda Kang Siang-hun semuia sudah diberikan kepada liong Leng-cu, kuda rampasannya ini juga kuda pilihan, namun kalah tangkas bila dibandingkan kuda Toan Kiam-jing, maka dalam sekejap saja ia dapat tersusul lagi.
Cepat Kang Siang-hun berteriak.
"Nona Liong lekas lari, jangan tunggu diriku!"
Dalam pada itu pasukan sudah membanjir tiba, terpaksa Liong Leng-cu mendahului kabur sekencangnya.
Kang Siang-hun menyerang dengan pedang dan pukulan dari jauh, beberapa perwira musuh yang memburu tiba dapat dirobohkannya.
"Kalau menerima tanpa memberi adalah kurang sopan, biar kaupun berkenalan dengan pukulanku jarak jauh!"
Bentak Toan Kiam-jing.
Liong-siang-Ciangnya sudah terlatih hingga tingkat kedelapan (tinggat tertinggi adalah tingkat ke-sembilan), tenaga pukulannya yang dahsyat membawa suara gemuruh serupa guntur mejen.
Kang Siang-hun tahu kelihaian pukulan lawan, ia menyambutnya dengan Si-mi-ciang yang lunak.
tenaga pukulannya yang hebat tidak membawa sesuatu suara, tapi tubuh Toan Kiam-jing tampak tergeliat dua-tiga kali, akhirnya baru dapat duduk tegak lagi di atas kudanya.
Sebaliknya Kang Siang-hun tidak tergetar.
namun kudanya yang tidak tahan dan langsung roboh terkapar.
Kiranya tenaga pukulan kedua orang mempunyai keunggulan masing-masing, meski Kang Siang-hun sendiri sanggup menahan tenaga Liong-siang-kang tingkat kedelapan, namun kudanya tidak tahan.
Pada saat kudanya hampir roboh itulah Kang Siang-hun sempat melompat ke atas dan merampas pula kuda seorang perwira musuh, sebelum Toan Kiam-jing memburu maju lagi ia terus menerjang pergi.
Toan Kiam-jing sendiii merasa darah dalam rongga dada bergolak dengan hebat dan hampir tidak sanggup duduk tegak di atas kudanya.
Cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk mcngatur napasnya yang sesak.
Baru sekarang ia merasakan tenaga pukulan Si-mi-eiang dari Thian-san-pai itu memang tidak dapat diremahkan.
Waktu tenaganya sudah pulih, dilihatnya Kang Siang-hun sedang menerjang keluar kepungan.
"Lepas panah!"
Bentak Toan Kiam-jing.
Seketika terjadi hujan panah, kontan kuda Kang Siang-hun menjadi sasaran panah dan berubah serupa landak serta roboh binasa.
Kang Siang-hun sempat melompat lagi ke atas dan terbanting jatuh.
Dengan girang loan Kiam-jing berteriak.
"Aha, dia terkena panah!"
Tempat terpanahnya kuda Kang Siang-hun itu sudah dekat kaki gunung.
maka begitu jatuh segera ia merangkak bangun dau lari secepatnya ke atas gunung.
Sesudah manjat ke atas, betapa kuatnya panah sukar mencapainya.
Maka cuma sebentar saja bayangannya sudah menghilang di tengah pepohonan lebat.
Karena tadi dikalahkan Kang Siang-hun.
Bu Ek sangat penasaran, katanya.
"Keparat itu sudah terkena panah, betapapun dia takkan lari jauh apakah perlu kubekuk dia?"
Toan Kiam-jing menjawab setelah berpikir.
"Meski terkena panah, namun hutan cukup tebal untuk menemukan dia rasanya tidak mudah. Apa lagi kita masih ada tugas penting untuk menyerang Lugan, bila terlambat lama mungkin bisa bikin runyam urusan."
"Untung bagi bocah she Kang itu,"
Omel Bu Ek dengan mendongkol.
"Boleh juga kau suruh muridmu membawa empat jago panah untuk mencarinya ke dalam hutan dan tidak perlu diberi batas waktu."
Kata Toan Kiam-jing.
"Boleh juga gagasan Toan-kongcu,"
Kata Bu Ek.
"Dengan begini perjalanan pasukan kita tak kan terhambat, keparat itu tentu juga dapat di-bekuk."
Segera ia panggil muridnya dan memberi pesan.
"Lwekang Kang Siang-hun tidak dapat di-remehkan, jika kalian menemukan dia harus memanahnya dari jauh dan jangan mendekat. Hati-hati jika dia mengadakan perlawanan nekat. Pendek kata, kalau tidak dapat menawannya hiddp boleh juga menangkapnya dalam keadaan mati."
Muridnya bernama Eng Gui-goan, kungfunya sudah mewarisi setengah kepandaiannya.
Ia pikir Kang Siang-hun sudah terluka parah dan manjat gunung pula, biarpun tubuhnya gemblengan baja juga takkan tahan sekarang.
Maka untuk membunuh Kang Siang-hun dengan panah rasanya tidak sulit, asal saja jangan menempurnya dari dekat Dugaannya ternyata tidak salah, keadaan Kang Siang-hun sekarang memang sudah kempas-kempis, bahkan lebih gawat daripada perkiraan Bu Ek.
Dia mendaki gunung sekuatnya karena menghadapi detik antara mati dan hidup.
Setiba di atas gunung, melihat pasukan musuh tidak mengejar, hati merasa lega dan seketika ia pun roboh terkulai.
Ia terpanah yang menancap cukup dalam, dengan menahan sakit ia cabut panah itu dan sekuatnya membubuhi obat iuka, darah pada luka itu tidak dapat segera berhenti.
tenaga pun habis dan tidak dapat berkutik lagi.
Dalam keadaan sadar-tak-sadar tiba-tiba terdengar suara langkah orang mendekat, terdengar seorang berucap.
"He, parah juga luka orang ini, tapi bukan serdadu Boanjing, juga bukan bangsa Han penduduk sekitar sini. Adakah yang tahu siapakah dia?"
Yang diucapkan, adalah bahasa Wana.
Kang Siang-hun hanya paham sebagian, bagian lain hanya dapat diraba artinya saja.
Namun suara orang yang bicara itu rasanya sudah dikenalnya.
Mendadak terdengar orang itu berteriak.
"Hei, bukankah ini Kang-ji kongcu? Aku Sindal. Apakah engkau masih ingat padaku?"
Sindal adalah suami Romana, pada mereka menikah Kang Siang-hun tidak sempat hadir, tapi ia tahu tentang perkawinan mereka.
Tentu saja ia girang dan kuatir, girangnya karena ketemu penolong.
Kuatirnya mengapa Sindal muncul dipegunungan sepi ini, mungkin juga bukan untuk urusan yang baik.
Sebisanya Kang Siang-hun menenangkan pikiran, tanyanya kemudian.
"Apakah ayah mertua-mu berada di sini?"
"Ayah mertuaku dan Romana berada di Lugan, baru kemarin dulu kupulang kemari sendirian karena ada urusan,"
Tutur Sindul.
"Kang-jikongcu, tampaknya lukamu ...."
"Jangan urus lukaku,"
Kata Siang-hun.
"lekas kau pulang dan laporkan situasi di sini, pasukan ini hendak menyerang Lugan."
"Jangan kuatir, Kang-kongcu,"
Ujar Sindal.
"Berita tentang akan diserangnya negeri ini oleh kerajian Boanjing sudah kami terima sebelumnya Pimpinan juga sudah menerima kabar itu, maka aku mendapat perintah untuk menyampaikan pesan pimpinan agar segenap suku bangsa di sini berjaga-jaga segala kemungkinan."
Hati Kang Siang-hun merasa lega, katanya "Meski pihak kalian sudah siap siaga, tapi tidak ada buruknya lekas kau laporkaa situasi yang gawat ini agar pihak kalian tidak disergap oleh musuh."
"Di atas bukit di depan sana juga terdapat pos pengintai kami,"
Tutur Sindal.
"Sebelumnya sudah kupesan mereka, bila melihat pasukan musuh harus segera membakar kotoran kuda di puncak gunung, dari asap tebal yang mengepul tinggi sebagai kode berita dapat diteruskan satu pos demi satu pos."
"Rapi juga cara pengaturan kalian,"
Kata Siang-hun.
"Sayang aku terluka, selain tidak dapat membantu kalian, sebaliknya malah merepotkan saja."
"Kang-kongcu telah melabrak mereka hingga terluka. sedikit banyak kemajuan pasukan musuh sudah terhambat, hal ini pun berarti banyak membantu kami,"
Ujar Sindal.
"Dan entah ada urusan lain lagi yang perlu kukerjakan atau tidak?"
Dari nada ucapan Kang Siang-hun itu dapat ditebaknya orang seperti masih ingin minta bantuannya mengerjakan sesuatu, ia tahu watak Kang Siang-hun tidak nanti minta bantuan demi untuk keselamatan sendiri, tapi pasti ada urusan penting lain.
Kang Siang-hun ragu sejenak, katanya kemudian.
"Sekarang tentu banyak urusan penting yang harus dikerjakah kalian, aku ."
"Suku bangsaku sekarang sama berkumpul di atas gunung sini, kalau ditarik beberapa orang untuk bekerja kukira takkan beralangan"
Ujar Sindal dengan tertawa.
"Oo, suku bangsa kalian berkumpul di sini?"
Siang-hun menegas.
"Betul. Kami sengaja menyingkir ke sini untuk menghindari pasukan musuh. Lantaran pasukan musuh belum pergi jauh mereka tidak berani keluar."
"Kudatang bersama seorang nona Liong,"
Tutur Siang-hun.
"Mungkin kaupun kenal nona Liong ini, namanya Liong Lengcu."
"Oya, kutahu. Ada seorang nona Liong yang berperangai aneh, tapi dia pernah membantu kami,"
Tukas Sindal.
"Ada apakah dengan nona Liong?"
Selagi Kang Siang-hun hendak bicara lagi, tiba-tiba terdengar orang berseru.
"He, lihat bekas darah ini! Bocah she Kang itu pasti bersembunyi di sekitar sini."
Kiranya Eng Gui-goan dan keempat pemanah tadi telah menyusul tiba. Dari suara orang segera Siang-hun tahu lwekang Eng Guigoan cukup lihai, ia terkejut, cepat ia mendesis.
"Awas, orang ini bukan jago silat rendahan. Jangan urus diriku, lekas kau pergi dari sini dan bersembunyi saja."
Tak terduga Sindal lantas melompat ke atas sepotong batu karang, dari ketinggian ia pun berteriak.
"Betul, Kang-kongcu berada di sini bersama-ku, ayolah kalian kemari!"
Melihat Sindal cuma seorang Kazak yang masih muda, Eng Gui-goan tidak memandang sebelah mata padanya, dengan girang ia berkata pula.
"Aha, bocah she Kang itu pasti terluka dan tidak dapat bergerak lagi. Hendaknya kalian panah mampus dulu keparat ini."
Keempat pemanah itu memang sudah menyiapkan busur dan panahnya, begitu Eng Gui goan memberi perintah, serentak panah mereka bidikkan.
"Bagus, boleh kita coba bertanding ilmu memanah!"
Bentak Sindal.
Terdengarlah suara jepretan ramai, kontan Sindal juga melepaskan empat anak panah lawan yang menyambar tiba.
Seketika kedelapan panah sama jatuh ke tanah.
Keempat serdadu itu meski terkenal sebagai ahli panah dalam pasukan Boanjing, namun belum pernah mereka melihat cara memanah selihai Sindal, seketika mereka melongo kaget.
"Kalau menerima tanpa memberikan kurang sopan, ini, biar kalian juga merasakan kelihaian ku!"
Bentak Sindal.
Berulang ia melepaskan beberapa panah lagi.
Keempat pemanah musuh cepat menjatuhkan diri dan menggelinding ke bawah bukit.
Begitu mendengar suara bidikan busur seketika mereka menjatuhkan diri dan menggelinding ke bawah, meski cara kabur mereka agak runyam dan pasti akan babak belur, namun terhindarlah daripada mati tertembus panah.
Padahal Sindal sudah menduga mereka pasti akan lari, panah berantai itu diarahkan kepada Eng Gui-goan.
Umpama mereka tidak lari juga tidak perlu kuatir jiwa akan melayang.
Cuma tentu saja mereka tidak berani bergurau dengan jiwa sendiri, kalau sempat kabur tentu mencari selamat lebih dulu.
Eng Gui-goan terus putar goloknya untuk melindungi tubuh, begitu rapat berlahannya juga cuma tiga datang panah saja dapat disampuknya, panah keempat menyerempet lewat kulit kepalanya, saking kagetnya cepat ia pun lari sipat kuping.
Senang sekali Kang Siang-hun menyaksikan kejadian itu.
semangatnya terbangkit, serunya dengan tertawa.
"Sindal, sungguh aku sudah linglung, sampai lupa engkau ini seorang ahli panah tiada bandingan!"
"Ucapanmu tadi temyata benar, perwira musuh itu memang sangat lihai,"
Kata sindal.
"Untung nusih berjarak sejauh ini sehingga dapat kugunakan panahku. Bilamana dia sempat menerjang tiba tentu keadaan berbahaya. Eh, Kang-kongcu, tadi kau sebut nona Liong, kenapa dengan dia?"
"Dia tadi bersamaku dan kepergok pasukan mu;uh ini, kudanya berlari cepat dan mendahului kabur,"
Tutur Sianghun.
"Cuma tidak kuketahui apakah dia terluka atau tidak? Sebelum meiihat kemunculanku, entah dia akan menungguku di tengah jalan?"
"Kami utang budi kepada nona Liong, biar-lah kucari keterangan tentang keadaannya,"
Kata Sindal.
"Akan kuambil jalan pintas yang singkat untuk mendahului di depannya. Umpama dia tidak menunggumu di depan, tentu dia akan kami pergoki nanti."
"Aku pun berpikir demikian,"
Kata Siang-hun.
"Saat ini Lugan diliputi suasana perang, jika dia langsung menuju ke depan pasti akan bertemu dengan kalian. Asalkan dia bicara terus terang. kukira takkan timbul salah paham. Sebab itulah ingin kuminta bantuanmu membawa berita lisan kepadanya bila dia sudah selamat sampai di Lugan."
"Baiklah, silakan bicara, tentu akan kusampaikan padanya,"
Kata Sindal.
"Kuminta dia menungguku di Lugan,"
Tutur Siang-hun.
"Jika dia tidak mau menunggu disitu . -.."
"Engkau terluka lantaran dia, masa dia tanpa menunggumu terus pergi begitu saja?"
Ujar Sindal.
"Soalnya dia harus cepat pergi menolong seorang,"
Kata Siang-hun.
"Jika dia tidak tahu aku telah lolos dengan selamat, mungkin dia akan menungguku. Dan kalau dia menerima berita keselamatanku, tentu dia tidak perlu kuatir lagi-dan akan buru-buru berangkat ke tempat tujuan untuk menolong orang."
"Apakah kepergiannya itu akan menyerempet bahaya besar?"
Tanya Sindal.
"Betul, maka kukuatirkan kepergiannya itu,"
Jawab Sianghun.
"Tapi kalau dia berkeras mau pergi, seyogianya aku pun tidak dapat mencegahnya. Sebab orang yang ingin ditolongnya itu adalah kekasihnya."
"Baik, jika begitu boleh kau katakan padaku. apa yang harus kulakukan?"
Tanya Sindal.
"Begini,"
Tutur Siang-hun.
"Bila dia berkeras akan pergi. boleh kau serahkan barang ini kepadanya."
Yang dimaksudkan adalah "surat pengakuan dosa"
Ciok Jing-coan itu, di situ ada tanda tangan Ciok Jing-coan dan Liok Kam-tong sebagai saksi.
"Surat pengakuan dosa"
Ini ditulis dengan darah dan menggunakan kain robekan baju Ciok Jing-coan.
Ketua Thian san-pai sekarang.
yaitu Tong Ka-goan, cukup kenal tulisan tangan Ciok Jing-coan, apalagi di situ juga ada tanda tangan Liok Kam-tong.
Sebab itulah kalau Leng-cu menyerahkan "Surat pengakuan dosa"
Itu kepada Tong Ka-goan, tentu ketua Thian-san pai itu akan percaya kepada keterangannya.
"Barang ini sangat penting bagi nona Liong, hcndaknya kau pesan supaya disimpan dengan baik dan jangan sampai diketahui orang lain."
Demikian berulang Kang Siang-hun memberi pesan.
"Jangan kuatir, Kang-kongcu."
Ucap Sindal.
"Barang ini pasti akan kuserahkan dengan baik. Hendaknya engkau istirahat saja di sini, beberapa hari lagi akan kukembali ke sini untuk memberi kabar padamu."
Habis berkata, sekali bersuit hanya sebentar saja dua pemuda Kazak sudah muncul di depannya.
Setelah menitipkan Kang Siang-hun untuk dirawat anak buahnya, Sindal lantas berangkat dengan perasaan lega.
Sindal menggunakan kuda tangkas pilihan dan mengambil jalan lintas yang singkat.
Hari pertama tidak kepergok pasukan musuh, juga tidak menemukan Liong Leng-cu.
Hari kedua ia sedang melarikan kudanya dengan cepat di padang rumput, tiba tiba dilihatnya di depan juga ada seekor kuda sedang membedal secepat terbang, penunggangnya adalah seorang perempuan.
Dipandang dari potongan tubuhnya yang ramping, sekali pandang saja dapat diduga pasti seorang nona bangsa Han.
Di tengah padang rumput seluas ini dan dalam keadaan tidak aman, seorang nona bangsa Han berani berkeliaran sendirian di sini, siapa lagi dia kalau bukan Liong Leng-cu.
Karena pikiran demikian, segera ia berseru memanggil.
"Hai. nona di depan itu, harap tunggu!"
Mendadak perempuan itu menahan kudanya dan menoleh, jawabnya.
"Apakah Toako ini memanggilku? Ada urusan apa ..."
Terlihat perempuan ini bersolek dengan sangat berlebihan, namun kerut pada ujung matanya sukar ditutupi, jelas usianya sudah lebih dari 30 tahun, dengan sendirinya dia bukan Liong Leng-cu.
Sindal menjadi kikuk, diam-diam ia bersyukur tidak memanggil nama Liong Leng-cu.
maka jawabnya dengan rada gelagapan.
"Oo, aku ..aku tidak maksudkan nona."
Perempuan itu tertawa, katanya.
"Kau panggil nona di depan itu, padahal di depan sanakan tidak ada nona lain, bahkan bayangan orang lain pun tiada satu pun. Lantas memanggil siapa kalau bukan diriku? Eh, anak muda, jangan malu, memang sudah kurasakan engkau sedang menguntit diriku."
Muka Sindal menjadi merah, jawabnya.
"O. maaf, aku salah lihat. Mohon aku boleh lewat ke sana."
"Eh, kiranya engkau mencari seorang nona lain?"
Tanya perempuan itu.
"Apakah boleh beri tahukan padaku siapa nona itu?"
Sembari bicara pandangannya tiada hentinya mengamatamati Sindal. Sindal menjawab.
"Kukatakan juga tidak kau kenal. Maaf, aku terburu-buru hendak meneruskan perjalanan, takdapat kubicara iseng denganmu."
"Ah, tidak kau katakan juga kutahu,"
Kata perempuan itu tiba-tiba.
"Bukankah nona yang kaucari itu she Liong?"
Sindal terkejut, ia menegas.
"Dari mana kau tahu?"
"Aku adalah sahabat karibnya,"
Jawab perempuan itu.
"Belum lama berselang kami baru saja berada bersama. Tentu saja kutahu segala urusan-nya."
"Apakah benar engkau sahabatnya?"
Sindal menegas.
"Dia she Liong bernama Leng-cu, betul tidak?"
Tanya perempuan itu.
"Usianya antara 18-19 tahun, mukanya berbentuk bulat telur, cukup cantik, betul tidak? Sebenarnya dia berada bersama seorang lelaki she Kang, kemudian mereka terpencar karena diterjang pasukan, benar tidak?"
Berulang tiga kali ia tanya "benar tidak"
Sehingga berulang pula Sindal mengangguk.
"Nah, dengan demikian tentu kau percaya aku tidak dusta bukan?"
Ucap perempuan itu dengan tertawa, diam-diam ia bersyukur penegasan yang terakhir itu ternyata tepat juga.
Kiranya perempuan setengah baya ini bukan lain daripada bini muda Pek-toh-sancu, yaitu Bok Him-him.
Di tengah ialan ia mendapat kabar tentang masuknya pasukan Boanjing ke wilayah Sinkiang, ia lantas menyuruh Ubun Lui mengantar pulang dulu Buyung Sui dan Sikong Ciau yang terluka.
Lalu ia sendiri mendatangi pasukan Boanjing, sebab ia mempunyai seorang kenalan lama seorang perwira, teman sejawat Bu Ek, ia menduga bekas pacar ini mungkin juga berada di tengah pasukan.
Pula ia juga kenal Bu Ek.
Maksudnya ingin miuta bantuan pasukan Boan-jing untuk merebut kembali Liong Leng-cu, tak terduga di sini ia kepergok Sindal yang juga hendak mencari Leng-cu.
Karena Leng-cu pernah menjadi tawanannya, dengan sendirinya ia apal akan bentuk wajah nona itu.
Bahwa Kang Siang-hun telah menolong Leng-cu, .hal ini juga sudah didengarnya dari Liok Kam-tong.
Hanya tentang terpencarnya Leng-cu dan Kang Siang-hun adalah perkiraannya saja.
tak terduga juga cocok dengan kejadiannya.
Melihat Sindal manggut-manggut percaya kepada keterangannya, tiba-tiba timbul lagi akal licik nya.
Namun Sindal juga tidak lupa pada pesan Kang Siang-hun yang wanti-wanti, meski ia percaya kepada keterangan orang, namun belum berani bicara terus terang padanya, ia hanya berkata.
"Ku-percaya engkau adalah sahabat nona.Liong, tapi dari mana pula kau tahu aku adalah sahabatnya?"
"Bahwa engkau hendak mencari dia, dengan sendirinya kalian bersahabat, masa hal ini tidak dapat kuterka?"
Ujar Bok Him-him dengan tertawa-"Tapi hal ini tidak kukatakan padamu melainkan kau terka sendiri,"
Kata Sindal.
"Betul, kamu tidak katakan padaku, namun dandanan dan logat bicaramu telah memberitahu-kan padaku."
Sindal melengak.
"Apa artinya ini?"
"Kamu suku Wana bukan?"
Tanya Him-him.
"Tempat ini memang wilayah suku Wana kami, tidak perlu melihat dandananku juga dapat kau terka aku orang Wana."
"Nona Liong bilang padaku, dia dan suku Wana kalian adalah sahabat,"
Kata Him-him.
"Terus terang, dia yang minta kucarikan sahabatnya dari suku Wana. Maka ketika kulihat kamu orang Wana dan juga terburu-buru ingin mencari seorang nona, kan terlampau bodoh jika aku tidak dapat menerka siapa engkau."
Sampai di sini Sindal percaya seluruh ucapannya, cepat ia tanya pula.
"Saat ini nona Liong berada di mana? Mengapa pula dia menyuruhmu mencari suku Wana kami?"
Bok Him-him berbalik berlagak tidak dapat percaya sepenuhnya kepada Sindal, katanya.
"Hendaknya Kau katakan lebih dulu, mengapa kamu terburu-buru mencari dia? Siapa yang bilang padamu dia mengalami sesuatu urusan?"
"Oo, terjadi apa atas dirinya?"
Tanya Sindal terkejut.
"Jawab dulu pertanyaanku,"
Kata Him-him.
"Biarlah aku pun bicara sejujurnya padamu,"
Kata Sindal.
"Kang-kongcu yang datang bersama dia itu terluka, dia yang minta kucari kabar nona Liong, tapi belum diketahui dia mengalami sesuatu. Apa yang terjadi atas dia, apakah dia tertawan pasukan musuh?"
Him-him sengaja menghela napas, katanya "Sungguh malang tidak sendiri-sendiri, dia juga terluka serupa Kangkongcu itu."
"Parah tidak lukanya?"
Tanya Sindal cepat.
"Tidak terlalu parah, tapi juga tidak ringan,"
Ujar Him-him.
"Dia terluka tiga panah, sudah ku-bubuhi obat luka, kuharap dia tahan satu-dua hari."
"Wah, begitu parah lukanya?"
Seru Sindal kaget.
"Lantas Siapa yang menjaga dia setelah kau-tinggalkan dia?"
"Bilamana ada orang menjaganya tentu aku tidak perlu keluar mencari kalian,"
Ujar Him-him.
"Cara bagaimana dapat kau tinggalkan dia sendirian di pegunungan sunyi?"
Kata Sindal.
"Engkau tidak memikirkan keadaan kami, sebaliknya malah menyalahkan aku,"
Ujar Him-him.
"Coba kau pikir sendiri, lukanya begitu parah, sekalipun dirawat oleh tabib pandai juga diperlukan sebulan dua baru dapat sembuh. Apakah mungkin lukanya dapat disembuhkan di pegunungan sunyi? Perbekalan kami paling lama juga cuma tahan dua hari saja jika aku tidak keluar mencari pertolongan, apakah aku takkan ikut mati kelaparan bersama dia? Apalagi kami juga harus berjaga-jaga kalau kepergok pasukan musuh."
"Engkau jangan marah,"
Kata Sindal cepat "Akulah yang salah omong. Dia berada di mana sekarang? Harap kaubawaku mencarinya sekarang."
"Dia berada di atas gunung sana, telah ku-tinggalkan dia di sebuah gua yang tiba cukup untuk berteduh."
Meski pegunungan itu kelihatan jelas, namun jaraknya ada empat atau lima puluh li jauhnya.
karena pegunungan itu jauh daripada jalan lintas pasukan, maka di sana tidak diadakan pos pengintai.
Meski Sindal rada sangsi masakah Liong Leng-cu yang terluka itu bawa lari ke atas gunung, tapi mengingat mungkin si nona kebingungan dan tidak kenal jalan di sini, maka sembarangan lari asalkan selamat sehingga kesasar ke atas gunung.
Begitulah Him-him lantas membawa Sindal ke arah yang dimaksud.
Ia sengaja berlagak lelah, lari sebentar mengaso sejenak, beberapa kali berhenti dan lari lagi, jarak 40-50 li itu ditempuhnya lebih satu jam.
Tentu saja Sindal sangat gelisah, tapi tak dapat berbuat apa-apa.
Setiba di tempat tujuan, mereka menyusuri hutan, tiba-tiba Him-him melompat turun dan berkata.
"Kita harus mendaki gunung yang curam, kuda harus ditinggalkan di sini. Marilah kita mengaso sebentar baru berangkat lagi."
Karena harus minta petunjuk jalan padanya dengan sendirinya Sindal menurut saja.
"Kubawa arak dan sedikit dendeng, silakan minum sedikit untuk menambah tenaga,"
Kata Him-him.
"Aku sendiri membawa kantung air, biarlah kuminum air saja,"
Jawab Sindal.
"Ini arak susu kuda buatan suku kalian, tentu sudah biasa kau minum, air kan tidak sebaik arak?"
Ujar Him-him. Sindal teringat kepada pesan Kang Siang-hun agar berlaku hati-hati, maka meski ia percaya kepada Bok Him-him toh dia tetap menolak.
"Aku masih segar, silakan kau minum sendiri saja."
Him-him berlagak kurang senang, katanya.
"Memangnya kau takut kutaruh racun dalam arak? Nah, biar kau lihat, akan kuminum dulu, jika engkau tidak mau minum berarti memandang hina padaku"
Suku Kazak adalah bangsa yang suka bersahabat, terutama sangat menghormati tamunya, bila menolak suguhan arak tuan rumah dianggap sikap yang tidak sopan Sejak kecil Sindal terpengaruh oleh adat kebiasaan ini, sekarang setelah melihat Bok Him-him sudah minum lebih dulu, ia pikir bila dirinya tetap menolak kan berarti curiga dan kurang sopan pula.
Terpaksa ia terima kantung arak Bok Himhim dan menghabiskan sisa arak susu kuda itu.
Rasa arak itu kecut dan sepat, tidak ada bedanya seperti arak susu kuda yang biasa di-minumnya.
Tapi tidak seberapa lama habis minum tiba-tiba dirasakan ruas tulang seakan-akan sama longgar, tubuh pun terasa enteng.
Rasa enteng dan seperti mau terbang itu makin menjadi, Sindal mulai merasakan hal ini tidak beres.
Mestinya ia bermaksud segera berangkat habis minum arak, ternyata sekarang ia merasa malas untuk berdiri.
"Wah, arakmu ini seperti ada ... ."
Belum lanjut ucapannya, baru saja ia berdiri, mendadak ia sempoyongan.
"Ada apa?"
Tanya Him-him.
"Aku ..aku merasa pusing dan ... ."
"Ah, kiranya kamu memang benar tidak biasa minum arak. Kamu mabuk!"
Kata Him-him. Sindal masih sadar beberapa bagian, katanya.
"Tidak, biasanya kusanggup minum satu kantung penuh."
"Oo, kalau begitu mungkin kamu terlalu cape-, boleh mengaso saja sebentar,"
Kata Him-him pula. Dengan lidah agak kaku Sindal berkata.
"O, mengaso ... ya, baik juga ... Tapi, ah, tidak, aku tidak boleh mengaso, harus kutemukan dulu nona Liong itu."
Meski pikirannya sudah mulai kabur, namun dia masih belum melupakan pesan Kang Siang-hun.
Sekuatnya ia bertahan, namun tenaga sukar dikerahkan, badan terasa lemas dan ingin tidur, namun selalu teringat olehnya tugas yang harus dilaksanakannya, karena itulah sebagian kesadaran-nya masih terus bertahan.
Kiranya di luar tahu orang Bok Him-him telah menaruh sebiji Sin-sian-wan di dalam arak, ia sendiri sudah minum obat penawar sebelumnya.
Diam-diam ia heran melihat Sindal sanggup bertahan sekian lamanya dan belum terpengaruh sama sekali oleh obat bius itu.
Ia tatap mata Sindal.
ucapnya lembut.
"Kamu terlampau lelah, silakan mengaso saja dulu. Tempat berada nona Liong sudah tidak jauh lagi dari sini, biarlah kusampaikan dulu kabar baik padanya. Oya, pesan apa dari Kang-taihiap yang harus disampaikan padanya, boleh kau katakan padaku dan akan kusampaikan padanya kan sama saja."
Begitu sorot matanya kebentrok sinar mata Him-him, tanpa terasa Sindal terpikat, tapi ia masih menjawab.
"O, tidak, pesan Kang-taihiap agar jangan kukatakan kepada orang lain."
Walaupun rahasia tidak dibocorkannya, namun ucapannya ini seakan akan mengakui bahwa dia memang membawa pesan Kng Siang-hun.
Him-him tertawa, katanya "Coba mendongak, pandanglah Aku.
Akukan sahabat nona Liong, juga sahabatmu.
mamasa kau anggap aku sebagai orang luar?"
Sindal seperti tersihir, ia ikut bicara.
"Betul. engkau bukan orang luar. Engkau sahabat nona Liong. Betul, sahabat nona Liong juga sahabatku."
Kiranya Bok Him-him telah menggunakan "Bi-hun-sut"
Atau ilmu pengabur sukma, yaitu sejenis ilmu hipnotisme jaman kini.
Ilmu ini digunakan mempengaruhi pikiran orang lain dengan kekuatan batin, bila mana bertemu dengan orang yang berpikiran kuat kebanyakan ilmu ini takkan manjur, tapi bila orang yang dihipnotis tidak teguh pikirannya, maka dengan sangat mudah akan ditundukkan dan akan melakukan apa pun menurut perintah lawan.
Sebenarnya Sindal bukan orang yang berpikiran lemah, apalagi pesan Kang Siang-hun sudah sangat mendalam terukir dalam benaknya, seyogianya tidak gampang terpengaruh oleh ilmu hitam Bok Him-him.
Cuma sayang, lebih dulu ia terbius racun dalam arak yang mempengaruhi pikirannya, ditambah lagi kekuatan sihir Him-him se-hingga bobol daya tahannya.
Dengan suara lembut Him-him berkata pula, Ehm, betul.
asal kau tahu saja.
Hendaknya kau-bicara terus terang padaku, apa pesan Kang Siang-hun padamu?"
"Oa suruh kusampaikan pesan kepada nona Liong agar menunggu sampai sembuh lukanya baru berangkat bersama,"
Tutur Sindal tanpa sadar.
"Dan bila nona Liong tidak mau menunggunya?"
Tanya Himhim "Ia suruh aku ..."
Hanya sampai di sini saja ia lantas ragu dan tidak melanjutkan.
"Dia suruh kau apa? Aku kan sahabatmu, beritahukan padaku!"
Tak terduga Sindal seperti tambah sadar malah, gumamnya.
"Tidak, tidak dapat kukatakan padamu."
"Mengapa tidak? Kan sudah jelas aku ini sahabatniu?"
"Dengan wanti-wanti Kang-kongcu sudah pesan padaku jangan dikatakan kepada siapa pun. Dia tidak bilang kepada sahabat boleh diberitahu-kan."
"Mengapa sahabat baik pun tidak boleh di-beritahukan?"
Ujar Him-him dengan tertawa.
"Cukup asalkan kau katakan Sebabnya dan takkan kutanya lebih lanjut."
Tanpa terasa Sindal terpikat oleh pancingannya, katanya.
"Kang-kongcu bilang barang itu sangat penting bagi nona Liong, maka tidak boleh diketahui orang luar."
Him-him menatap matanya, mendadak membentak dengan nada memerintah.
"Barang apa? Lekas mengaku!"
Sindal seperti orang serba susah karena pengaruh dua macam kekuatan, dengan muram ia menjawab.
"Ah, jangan kau paksa diriku. tidak tidak dapat kukatakan!"
Dia kelihatan tegang dan tanpa terasa tangan meremas ujung jaket kulitnya.
"Baiklah, tak apa jika tidak mau kaukatakan,"
Kata Him-him.
"Ai, kamu terlampau lelah. ayolah tidur saja sayang!"
Sindal tampak mengembus napas lega. ia rebah dan tertidur pulas. Him-him lantas menyingkap jaketnya dan menemukan "surat pengakuan dosa"
Itu.
Rupanya kuatir hilang, Sindal sengaja menyembunyikan surat itu dalam lapisan jaketnya.
Setelah membaca surat itu dengan teliti, Him-him sangat girang.
serunya dengan tergelak "Haha, pantas Kang Sianghun melukai Ciok Jing coan.
Kiranya begini duduknya perkara.
He-he, dengan surat pengakuan ini, Ciok Thian-hing yang sok gengsi itu mustahil takkan tunduk padaku jika dia tidak ingin kubeberkan perbuatan busuk anaknya nanti..
Dan karena kehilangan surat ini kepergian Siau Yau li ke Thian-san berarti antar kematian belaka."
Ia simpan baik "Surat pengakuan dosa"
Itu, dipandangnya Sindal yang tidur pulas itu.
ia masukkan lagi pedang sudah dilolosnya sebagian.
malahan muka Sindal diciumnya sekali, Katanya dengan tertawa "Mimpi pun anak muda ini mungkin tidak mengira dia sudah hampir menuju ke gerbang Akhirat.
Baiklah, silakan tidur yang nyenyak.
Nonyamu bermurah hati dan mengampunimu."
Rupanya semula Him-him bermaksud membunuh Sindal untuk menghilangkan saksi, tapi dia mempunyai semacam hobi, yaitu suka memikat anak muda yang cakap.
Meski sekarang ia tidak sempat melaksanakan kesukaannya terhadap Sindal, Ia merasa tidak tega juga untuk membunuhnya.
-ooo0dw0ooo-Entah berselang berapa lama lagi, akhirnya Sindal siuman Ia lihat bulan sabit menghias cakrawala, ia merasa dirinya menggeletak sendirian di padang luas, ia sangsi apakah dirinya bukan berada di alam mimpi.
"Ke mana perginya perempuan yang mengaku sebagai sahabat nona Liong itu? Kuingat waktu bertemu dengan dia tepat waktu siang hari, sekarang bulan sudah di tengah langit, umpama benar dia pergi mencari nona Liong, saat ini seharusnya sudah kembali lagi ke sini. Mengapa tanpa terasa aku tidur sekian lama di sini. apakah memang masih dalam mimpi?"
Dengan sendirinya segera ia merasakan bukan dalam mimpi. Sesudah mendusin, yang segera teringat olehnya adalah "surat pengakuan dosa"
Itu, waktu ia periksa jaketnya, bagian ujung jaket itu sudah robek, surat itu sudah hilang.
Keruan ia terkejut, cepat ia membalik jaket kian kemari dan tetap tidak menemukan surat itu.
Angin malam mendesir membawa hawa yang dingin.
Bukan lantaran tubuhnya tidak tahan dingin.
soalnya hatinya sudah kedinginan mengingat kepada apa yang terjadi.
---ooo0dw0ooo---
Jilid ke -12 Setelah menenangkan pikiran, lambat-laun teringat olehnya sedikit kejadian sebelum pingsan, akhirnya jernih seluruh pikirannya.
Nyata ia telah tertipu oleh perempuan itu.
surat penting telah dicuri dan dibawa lari.
Sampai sekian lama ia termenung, mendadak ia melompat bangun dan berteriak sambil memukuli dada sendiri.
"Aku berdosa terhadap Kang-kongcu, aku membikin susah nona Liong. Manusianya hidup barangnya utuh, manusianya gugur barangnya runtuh. Ini sudah kunyatakan dengan tegas. Lalu apa gunanya lagi kuhidup di dunia ini?"
Terdorong oleh rasa menyesal dan putus asa, mendadak ia lolos golok terus menikam dada sendiri. Syukurlah entah darimana datangnya, tahu tahu batu menyambar tiba.
"Trang"
Golok terpuluk jatuh, suara seorang seperti sudah dikenalnya menegur "Sindal, inilah sahabat lama sudah datang. Jika ingin mati, seharusma kau bicara dulu dengan sahabat lama."
Sindal terkejut, waktu ia mengawasi, terlihat seorang anak muda yang rasanya telah dikenalnya sudah beradanya di depannya dan sedang menjemput goloknya yang jatuh itu.
"Apakah kamu sudah pangling padaku, Sindal?"
Tanya anak muda itu.
"Golok ini harus kau-gunakan untuk membunuh musuh, mana boleh dipakai membunuh diri. Ayolah, lekas disimpan saja."
Sembari bicara, dengan tertawa anak muda itu menggantungkan golok itu di pinggang Sindal. Sampat sekian lama Sindal melenggong, katanya kemudian.
"Jadi engkau ..engkau ini si pengemis itu? ...."
Kiranya anak muda yaag menyelamatkan jiwa-nya ini taklain-tak-bukan adalah Nyo Yam.
Meski berangkat dua hari lebih dulu dari kotaraja daripada Liong Leng-cu, tapi lantaran kuda tunggangan Nyo Yam kalah cepat daripada kuda merah Leng-cu, di tengah jalan ia kepergok pula pasukan Boanjing, maka perjalanannya agak terganggu dan baru sekarang sampai di sini.
Nyo Yam terbahak-bahak.
"Haha, mendingan kamu masih kenal kepada sahabat lama. Tempo hari kalian telah sudi menerima pengemis cilik macam diriku ini, sekarang kamu ada kesulitan, kan pantas juga kubalas membatumu. Lekas katakan padaku, sesungguhnya apa yang terjadi?"
Sindal merasa ragu, ia pikir tempo hari pengemis cilik itu pergi bersama nona Liong, tampaknya dari berkelahi mereka lantas menjadi sahabat baik.
Apapun juga pengemis cilik ini memang lebih dapat dipercaya daripada perempuan siluman tadi.
Tapi aku sudah tertipu satu kali, selanjutnya aku harus lebih hati-hati.
Seketika ia menjadi sangsi dan tidak tahu apa harus bicara terus terang kepada pengemis cilik ini atau tidak.
Nyo Yam meajadi tidak sabar, ia coba tanya lagi.
"Tadi kau bilang telah bikin susah nona Liong, sesungguhnya apa yang terjadi?"
"Oo, jadi engkau sudah mendengar?"
Tanya Sindal.
"Betul, apa yang kaukatakan sebelum bunuh diri telah kudengar semua,"
Jawab Nyo Yam.
"Apakah benar nona Liong mendapat halangan?"
Melihat kecemasan anak muda itu, Sindal menduga orang tidak bermaksud jahat, segera ia menutur.
"Tidak perlu kuatir, nona Liong tidak mengalami kesusahan. Hanya saja aku yang telah berbuat salah sehingga tidak menguntungkan dia. bukan mustahil lantaran itulah akan membikin celaka padanya."
"Apakah maksudmu telah kehilangan sesuatu barang titipan orang lain yang harus kau serahkan kepada nona Liong?"
Tanya Nyo Yam.
"Eh, dari mana kautahu?"
Tanya Sindal.
Tapi segera teringat olehnya apa yang diucapkan ketika mau bunuh diri tadi tentang "manusianya hidup barangnya utuh, manusianya gugur barangnya hancur", tentu kata-kata itu telah didengar oleh "pengemis cilik"
Ini.
"Dari ucapan itu dapat kau terka, jika barangnya sudah hihng, maka kaupun tidak perlu kuatir akan kutipu barangmu itu, mengapa engkau tetap tidak berani memberitahukan duduknya perkara kepadaku?"
Sindal pikir beralasan juga ucapan Nyo Yam itu, segera ia tanya.
"Siapakah namamu, sampai sekarang belum kuketahui. Mengapa engkau sedemikian memperhatikan urusan nona Liong?"
"Sejak kejadian dahulu, kamu tidak pernah bertemu dengan nona Liong bukan?"
"Betul, dari mana kau tahu?"
Tanya Sindal.
"Jika sudah kautemui dia, tentu kau tahu siapa diriku,"
Kata Nyo Yam.
"Biarlah kukatakan terus terang, namaku Nyo Yam, semula anak murid Thian-san-pai. Sebulan yang lalu nona Liong masih berada bersamaku. Cuma aku tidak mau pulang ke Thian-san bersama dia, maka kami lantas berpisah. Menurut taksiranku, kedatangannya ke wilayah barat sekali ini tentu juga hendak mencari diriku ke Thian-san."
"Kepergianmu ke Thian-san ini apakah akan menghadapi bahaya besar?"
"Betul, bahkan boleh dikatakan mungkin akan menghadapi bahaya yang menyangkut keselamatan jiwaku."
"Oo, kiranya engkau inilah buah hatinya yang hendak ditolongnya,"
Tukas Sindal. Sekali ini giliran Nyo Yam yang menyatakan rasa herannya, tanyanya.
"Siapa yang bilang pada mu bahwa aku ... aku . ..."
Ia tidak enak untuk menyatakan dirinya adalah "buah hati"
Yang dimaksud Liong Leng-cu. Sampai di sini Sindal tidak sangii lagi, katanya.
"Kangjikongcu yang bilang padaku."
"Kang-jikongcu yang mana?"
Tanya Nyo Yam heran.
"Dari mana pula ia tahu urusanku dengan nona Liong?"
"Di dunia ini mana ada Kang-jikongcu lebih dari satu, dengan sendirinya dia adalah putra kedua Kang Hai-thian, Kang-taihiap. Kabarnya Kang-taihiap adalah jago nomor satu di antara bangsa Han kalian, tentu kau kenal dia?"
Nyo Yam mengangguk.
"Ya, kutahu. Cuma aku tidak tahu dia dan nona Liong juga bersahabat."
"Beberapa hari yang lalu mereka bertemu, pantas engkau tidak tahu,"
Lalu Sindal menceritakan cara bagaimana Kang Siang-hun dan Liong Leng-cu terpencar keterjang pasukan Boanjing dan Kang Siang-hun terluka, dia diminta mencari Liong Leng-cu dan seterusnya.
Kejut dan girang pula Nyo Yam, katanya.
"Secarik kain pemberian Kang-jikongcu kepada-mu itu kau bilang ada bekas darah, apa yang tertulis "Aku tidak tahu,"
Tuka-Sindal.
"Kang-jikongcu cuma bilang padaku bahwa barang itu sangat penting bagi nona Liong, dari nada ucapannya agaknya dengan membawa tulisan berdarah itu nona Liong pasti akan dapat menyelamatkan kekasihnya. Ahi, betul, engkaulah kekasih yang di-katakannya, coba kau renungkan lagi, mungkin engkau akan paham persoalannya."
Mana ia tahu bahwa hal ini pun sukar di-mengerti Nyo Yam.
Cuma meski Nyo Yam merasa bingung, tapi mengingat barang itu direbut orang, tentu sesuatu barang penting.
Dari cerita Sindal tentang caranya diberjai oleh perempuan siluman itu, agaknya yang digunakan adalah racun sebangsa Sin-sian-wan, Nyo Yam pikir jangan-jangan perempuan siluman yang dimaksud itu berasal dari Pek-toh-san?
"Baiklah, boleh kau pulang saja,"
Kata Nyo Yam kemudian.
"Kedua urusan ini boleh serahkan saja kepadaku."
"Kedua urusan yang kau maksudkan?"
"Pertama tangkap perempuan silumm itu dan rebut kembali barang yang dibawa lari olehnya itu. Kedua, mencari nona Liong, setelah bertemu segera kami berangkat ke Thian-san bersama. Demi kepentinganku sendiri kukerjakan kedua urusan ini, tentu kau percaya akan ketulusan hatiku."
"Ya, kupercaya,"
Jawab Sindal.
"Urusan kedua takkan kupersoalkan. Tapi urusan pertama mestinya harus kukerjakan."
"Antara sahabat kan harus saling membantu bukan?"
Ujar Nyo Yam.
"Umpama Kang-jikongcu, kepandaiannya begitu tinggi, tapi dia terluka dan perlu mendapat pertolonganmu. Pula, maaf jika kukatakan terus terang, biarpun kamu dapat menyusul perempuan siluman itu, toh tak dapat kau lawan dia."
"Ya, perempuan siluman itu seperti pandai ilmu sihir, aku memang tidak rnampu menghadapinya, maka ku .."
"Makanya kau mau bunuh diri bukan?"
Potong Nyo Yam.
"Mestinva kau pikirkan, apa pengaruhnya kematianmu terhadap perempuan siluman itu? Jika perbuatan busuknya tidak di ketahui orang lain, kan untung baginyn?'"
Sindal menunduk dan diam saja.
"Dengan semacam obat bius yang sangat lihai kamu telah dikerjai perempuan itu "
Sambung Nyo Yam.
"Terang di luar kelompotan mereka, hanya aku saja yang mampu memunahkan obat bius andalannya itu.Ilmu silat Kang Sianghun mungkin lebih tinggi daripadaku, tapi bicara soal menghadapi perempuan siluman itu, mungkin dia tidak dapat melebihiku. Jika kau-sampaikan apa yang kukatakan ini kepadanya, tentu dia dapat menerima."
"Kupercaya kepada ucapanmu, cuma aku malu untuk menemui Kang-jikongcu,"
Ujar Sindal dengan menghela napas.
"Apakah perlu kuulangi lagi keteranganku?"
Kata Nyo Yam pelahan.
"Ingat, golokmu harus digunakan untuk membunuh musuh, bukan untuk membunuh diri. Kamu telah dikerjai musuh, engkau sendiri tidak salah. Maka jangan berpikir yang tidak-tidak, lekas pulang saja."
"Betul, golokku ini harus kusimpan untuk membunuh musuh,"
Gamara Sindal, pikirannya terbuka, ia mengucapkan terima kasih kepada Nyo Yam, lalu pergi menuju ke arah datangnya tadi.
Legalah hati Nyo Yam setelah dapat menyadarkan Sindal, tapi satu soal pelik lantas timbul lagi.
Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menyelesaikan kedua urusan yang harus dikerjakan itu.
Perempuan siluman itu entah menuju ke mana, malahan Liong Leng-cu juga entah berada di mana?
Tapi kalau dibandingkan, masih ada jalan untuk mencari Liong Leng-cu.
Ia tahu Lohai berada di ibukota Lodan, ia pikir umpama Liong Leng-cu tidak pergi ke Lodan untuk mencari Lohai, dalam perjalanan nanti tentu juga akan bertemu dengan anak buahnya.
Dan bila bertemu dengan Lohai, dari dia akan kudapatkan berita tentang Leng-cu.
Begitulah ia ambil keputusan akan menuju ke ibukota Lodan dulu Perkiraan Nyo Yam memang tidak meleset, namun urusan seringkali tidak cocok seperti apa yang diharapkannya.
Secara kebetulan, Liong Leng-cu justru mengambil suatu jalan yang lain.
Tempo hari, berkat kudanya dapatlah Leng-cu menerjang keluar kepungan musuh, ia terus melarikan kudanya dengan cepat dan meninggalkan pasukan musuh jauh di belakang.
Cuma, meski musuh sudah ditinggalkannya, sahabatnya justru terpencar.
Sesuai juga dugaan Sindal dan Nyo Yam, meski sudah ditunggu dan dinanti, tetap tidak terlihat Kang Siang-hun menyusulnya.
Maka ia pun mengambil keputusan akan menuju ke ibukota Lodan dahulu.
Sekian jauh ia melanjutkan perjalanan, tertampak di atas bukit depan mengepul asap tebal.
Tempat itu sebenarnya pos pengintai anak buah Lohai, asap itu berasal dari onggokan kotoran kuda kering yang dibakar dan digunakan sebagai isyarat.
Akan tetapi Liong Leng-cu tidak kenal cara saling memberi kabar antara suku Kazak itu, di sangkanya pasukan Roanjing sudah menduduki bukit itu dan asap itu berasal dari dapur umum pasukan.
Untuk menghindari kepergok lagi dengan pasukan musuh, terpaksa ia mengitari jalan lain untuk menuju ke Lodan.
Sebuah jalan setapak sunyi yang dipilihnya.
Tanpa terasa hari sudah mulai gelap, sesudah bertempur sengit dan menempuh perjalanan jauh pula, selain orangnya lelah, kudanya juga letib, perut pun kelaparan.
Rupanya rangsum kering yang dibawa.
oleh Kang Siang-hun yang tergantung di pelana kuda Leng-cu hanya setengah kantung air minum saja.
Air hanya dapat menghilangkan dahaga dan tak dapat mencegah lapar.
Maka ia pikir perlu mencari makanan.
Ia menemukan rumah penduduk di atas gunung, tapi tidak ada penghuninya.
Untung juga.
meski rumah itu tidak ada penghuni, tapi terdapat beberapa potong ubi.
Leng-cu pikir mungkin penghuni rumah ini terburu-buru lari karena kedatangan pasukan Bean-ling.
Akan kutinggalkan sepotong uang perak di sini setelah kumakan ubi mereka.
Segera ia mengumpulkan kayu bakar dan membuat api untak membakar ubi.
Baru saja ia mulai menikmati ubi bakar, tiba-tiba terdengar seorang berseru.
"Aha, sedap amat bau ubi bakar, bagi satu untukku, boleh bukan?"
Waktu Leng-cu menengadah, tertampak masuk-lah seorang perwira.
Karena kagetnya sampai ubi bakar yang dipegangnya terjatuh.
Dia terkejut bukan karena yang datang ini perwira musuh melainkan karena perwira ini bukanlah perwira biasa.
Perwira ini tak-lain-tak-bukan adalah orang yang pernah menawan Nyo Yam waktu kecil itu.
Kemudian kakek Nyo Yam telah menyelamatkan anak muda itu, perwira ini pun sempat kabur.
Jadi perwira ini boleh dikatakan merupakan musuh pertama Nyo Yam.
Sejak Nyo Yam mulai berkecimpung di dunia kangouw, pernah juga ia bermaksud mencarinya untuk menuntut balas.
Cuma sayang ia tidak tahu siapa nama musuhnya dan asalusulnya.
Sampai tahun yang lalu barulah musuh itu kepergok lagi di Cadam, tapi kembali Nyo Yam kena dikerjai pula oleh musuh itu, untung dapat ditolong oleh Liong Leng-cu, dengan tenaga gabungan dua orang barulah musuh dapat dikalahkan.
Juga dari cerita Nyo Yam baru Leng-cu tahu perwira ini pun pernah bersengketa dengan kakak Leng-cu sendiri.
"Haha, sekarang dapat kau kenali diriku bukan?"
Demikian perwira itu tergelak.
"Tapi jangan takut, meski pernah kau bantu si bocah she Nyo itu mengeroyok diriku, sekarang takkan kubikin susah padamu. Kebetulan . bertemu, biarlah kita mengobrol saja."
Diam-diam Leng-cu berpikir dirinya jelas bukan tandingan orang, terpaksa harus pakai jalan mengulur waktu untuk mencari akal lain. Maka ia berlagak kegirangan dan bersciu.
"Hah, memang betul. Taijin ini memang orang bijaksana, syukurlah jika engkau tidak berniat membikin susah padaku."
"Hm, membikin susah padamu juga perlu lihat dulu apakah kau mau bicara sejujurnya tidak kepadaku,"
Jengek perwira itu.
"Apa yang ingin kau ketahui?"
Tanya Leng-cu.
"Di mana bocah she Nyo itu?"
Tanya perwira itu.
"Terus terang, sebulan yang lalu kami memang berada bersama di kotaraja,"
Tutur Leng-cu.
"Tapi sudah lama kami berpisah, sekarang dia berada di mana tidak kuketahui."
"Asal-usulmu sudah kuketahui,"
Kata perwira itu.
"Tapi apakah kau tahu kakekmu juga pernah ada hubungan denganku?"
"Apa betul?"
Tanya Leng-cu.
"Tapi itu adalah urusan kakek dan tidak ada sangkut-pautnya denganku."
"Apakah kakekmu masih berada di Leng-ciu hong?"
Tanya perwira itu.
"Apakah dia baik-baik saja?"
"Banyak terima kasih atas perhatianmu terhadap kakekku,"
Kata Leng-cu.
"Tapi sejak lahir aku sendiri tidak pernah melihat kakek, apakah sekarang dia masih hidup atau sudah mati sama sekali tidak kuketahui."
"Apa yang kau katakan tidak dapat kupercaya,"
Jengek perwira itu.
"Tapi yang kukatakan ini adalah sesungguhnya, bila perlu aku berani sumpah,"
Kata Leng-cu.
"Tidak perlu pakai sumpah segala. Pendek kata, apakah keteranganmu benar atau dusta, vang jelas kamu karus kubawa pergi." .
"Kenapa perlu kau bawa diriku? Kan sudah kau katakan takkan membikin susah padaku?"
"Aku tidak akan membikin susah padamu,"
Ucap perwira itu.
"Cuma, terus terang saja, lantaran aku pernah dibikin susah oleh kakekmu, maka dendam ini akan kulampiaskan atas dirimu."
"Itu kan sama dengan aku akan dijadikan sasaran balas dendam olehmu?"
"Bukan, kedua hal itu tidak sama. Jika aku mau balas dendam atas dirimu, sekarang juga sekali hantam dapat kubinasakanmu."
"Jika begitu. untuk apa kau bawaku pergi,"
Tanya Leng-cu.
"Supaya kakekmu nanti minta maaf padaku dan mintakan ampun bagimu, dengan demikian dendamku dapat terlampias,"
Jawab perwira itu.
"Sebelum ini sudah kuselidiki dengan jelas. Kakekmu cuma mempunyai seorang sanak keluarga saja, yaitu dirimu. Mau-tak-mau dia menuruti kehendak-ku. Maka kaupun jangan kuatir akan kubikin susah."
"Urusan orang tua seperti kalian kenapa aku ikut disangkutkan, kan aneh,"
Ujar Leng-cu.
"Jika engkau memang seorang gagah ksatria . ..."
"Aku bukan ksatria, tidak perlu dinilai oleh-mu,"
Seru perwira itu dengan gusar.
"Kesabaranku terhadapmu sudah melampaui batas. Jika kamu tidak ikut pergi bersamaku dengan menurut, jangan menyesal jika aku bertindak tegas padamu."
Leng-cu mengikik tawa, katanya.
"Hihi, kenapa engkau jadi tergesa gesa, masa lupa kepada apa yang kau katakan sendiri?"
"Oo, aku berkata apa?"
Tanya perwira itu. Ia sangka nona itu hendak mempersoalkan lagi tentang orang tua membikin susah orang muda segala. Sembari menguliti sepotong ubi bakar, Leng-cu berkata pula dengan tertawa.
"Begitu masuk kemari, bukankah engkau lantas berkaok-kaok minta bagian ubi bakar?"
"Sekarang aku tidak ingin makan lagi,"
Kata perwira itu.
"Engkau tidak mau makan, aku sendiri belum kenyang, tentunya boleh tunggu sampai kumakan kenyang baru berangkat bersamamu."
"O, jadi kamu mau ikut pergi bersamaku?"
"Kepandaianmu jauh di atasku, apa mungkin aku membangkang kehendakmu?"
Jawab Liong Leng-cu.
"Padahal asalkan aku tidak dibikin susah, biarlah kau minta kulayani juga kumau."
Perwira itu pikir seorang anak dara saja mampu berbuat apa? Maka dengan tertawa ia berkata.
"Ehm, mulutmu memang manis, lalu apa yang dapat kau kerjakan bagiku?"
"Banyak urusan yang dapat kukerjakan, aku mahir menjahit, pintar masak, cuma sayang, di sini hanya ada ubi. Namun boleh coba kau cicipi, bukankah ubi bakar ini juga sangat lezat, sebab ku-bakar dengan cara yang khas."
"Baik, akan kucoba makan sepotong, kuminta yang kau pegang ini,"
Kata si perwira.
Ubi yang telah dikuliti oleh Leng-cu ini sedianya akan dimakan sendiri, menurut jalan pikiran perwira itu, ubi yang hendak dimakan si nona sendiri tentu tidak perlu dikuatirkan.
Leng-cu tertawa, katanya.
"Wah, tampaknya engkau ingin ubi yang tinggal dimakan saja. Baiklah, kuberi!"
Sembari makan perwira itu memuji.
"Ehm, anak perempuan memang boleh juga, ubi bakar ini memang harum dan enak."
"Apakah perlu tambah satu lagi?"
Tanya Leng-cu. Air muka si perwira berubah mendadak dan membentak.
"Hei, kenapa rasa lezat ubi ini ada kelainan?"
Leng-cu menjawab dengan tertawa.
"Engkau jarang makan barang kasar semacam ini, tentu saja tidak kenal rasanya yang asli."
"Ah, tidak benar!"
Mendadak perwira itu melompat bangun dan membentak.
"Dari mana kau-peroleh Sin-sian-wan beluaran Pek-toh-san? Berani kau gunakan obat ini untuk meracuni aku?"
Kiranya dalam keadaan kepepet mendadak Leng-cu mendapat akal, diam-diam ia meremas se-biji Sin-sian-wan sehingga menjadi bubuk, pada waktu perwira itu tidak menaruh perhatian, ketika ia menguliti ubi bakar itu, diamdiam bubuk Sin-sian-wan ditaburkan pada ubi itu.
Dengan cepat bubuk halus itu cair oleh panas ubi bakar sehingga tidak kelihatan sesuatu bekasnya.
Sia-siau-wan itu dahulu diperoleh Leng-cu dari Nyo Yam, waktu itu lantaran tertarik saja, ia minta satu biji untuk mainan.
Siapa tahu-sekarang kebetulan dapat dimanfaatkan.
"Sin-sian-wan apa?"
Tanya Leng-cu berlagak pilon.
"Hm, masa perlu kamu pura-pura bodoh?"
Sembari membentak perwira itu terus mencengkeram dengan telapak tangannya yang lebar. Cepat Leng-cu berkelit, ucapnya dengan tertawa.
"Aku tidak tahu Sin-sian-wan apa segala, jika engkau ingin naik surga dan menjadi dewa memang dapat kubantu!"
Segera ia lolos pedangnya terus menikam dada musuh. Terdengar suara "creng"
Sekali, sambil mengegos perwira itu menyelentik batang pedang dengan jarinya sehingga menceng ke samping, akan tetapi berbareng juga terdengar "bret"
Sekali, saking cepat serangan Leng-cu sehingga lengan baju perwira itu terobek.
Bahwa perwira itu sudah keracunan Sin-sian-wan, tapi masih mampu menggunakan tenaga jari sakti selihai itu, sungguh kejut Leng-cu tak ter-katakan.
Ia tidak tahu bahwa pihak lawan juga tidak kurang kejutnya.
Perwira itu mengira dengan gampang Leng-cu dapat ditawannya, tak terduga ia sendiri hampir tertusuk malah, ia heran cuma berpisah setengah tahun saja kepandaian Leng-cu sudah maju sepesat ini.
Ia pikir harus cepat menawan nona itu sebelum racun bekerja lebih meluas, kalau tidak tentu diri sendiri yang akan celaka.
Maka begitu cengkeramannya lupat, serentak ia melolos goloknya yang berbentuk melengkung sambil membentak.
"Siau-yau-li, masa kamu dapat kabur?"
Segera ia melancarkan serangan lihai. Sembari lari Leng-cu terus menaburkan segenggam jarum ke belakang, serunya dengan tertawa.
"Kamu sudah makan Sin-sian-wan, kenapa tidak tiduran saja untuk menikmati hidup sebagai dewa yang naik surga? Untuk apa kau recoki diriku, barang-kali kamu ingin cepat bertemu dengan nenek moyangmu?"
Sekali berputar goloknya, segera terdengar suara gemerincing nyaring, hujan jarum itu tersampuk jatuh semua, bentaknya.
"Huh, hanya sebiji Sin-sian-wan saja bisa mengapakan diriku? Boleh lihat saja apakah kamu yang menuju ke akhirat atau aku yang akan naik surga?"
La terus mengejar.
Ginkang Liong Leng-cu sebenarnya tidak lemah, tapi hanya beberapa kali lompatan saja sudah dapat disusulnya.
ia menggigit ujung lidah untuk menyadarkan pikirannya yang mengantuk akibat pengaruh Sin-sian-wan, ia keluarkan segenap kemahirannya dan mengurung Leng-cu di tengah cahaya goloknya.
Untung Liong Leng-cu sekarang tidak seperti dulu lagi, sedangban pengaruh Sin sian-wan masih tetap bekerja meski perwira itu sekuatnya bertahan dengan lwekangnya yang tinggi.
Karena itulah seketika perwira itu pun tidak mampu mengalahkan si nona.
Mau-tak-mau Leng-cu menjadi gentar juga oleh serangan lawan yang gencar, disangkanya lwekang orang sudah mencapai tingkatan paling sempurna sehingga tidak terpengaruh oleh racnn Sin-sian-wan.
Ia pikir jalan paling selamat adalah kabur saja.
Dengan susah payah akhirnya ia mendapat kesempatan ketika serangan lawan agak kendur, secepat kilat ia melompat keluar dari lingkaran sinar golok musuh.
Entah karena gugupnya atau karena terburu-buru, setelah melompat scjauh dua tiga tombak ke sana, berdirinya kurang mantap sehingga jatuh terjerembab.
"Haha, kan sudah kukatakan masakah kamu mampu lolos dari tanganku, lihat "
Belum lanjut ucapan perwira itu, tahu tahu nona itu sudah melompat bangun.
"Hm, belum tentu dapat kau bekuk diriku!"
Ejek Leng-cu, berbareng ia menghamburkan lagi segenggam jarum bercampur pasir.
"Hm, sudah kepepet masih berani main gila!"
Jengek perwira itu, golok berputar sehingga jarum sama rontok, namun tidak urung dahinya keciprat beberapa butir pasir.
"Hihi, sungguh orang goblok yang tidak bisa lihat gelagat!"
Ejek Leng-cu pula dengan terkikik.
"Kematianmu sudah di depan mata, masih berani sembarang mengoceh!"
Bentak perwira itu dengan murka.
"Siapa yang akan mati, masa kamu sendiri tidak tahu?"
Ejek Leng-cu.
"Tunggu lagi sebentar setelah pasir perenggut nyawaku yang baru saja mengenai tubuhmu itu."
"Pasir perenggut nyawa apa?"
Bentak perwira itu dengan melengak. Sembari lari Leng-cu menjawab.
"Pasir perenggut nyawa yang baru kuhamburkan itu direndam dengan tujuh macam racun yang paling jahat, barang siapa terkena sebiji saja segera akan mampus. Meski Iwekangmu cukup hebat, paling lama juga cuma tahan satu jam saja. malahan seharusnya tidak boleh keluar tenaga terlalu banyak jika tidak ingin mati terlebih cepat."
Karena orang bicara tentang pasir maut, tanpa terasa timbul juga rasa gtal pada dahi perwira itu, dengan sangsi ia membentak pula.
"Kurang ajar! Kamu sengaja hendak menakuti diriku supaya kamu bisa kabur? Huh. jangan mimpi!"
"Jika tidak percaya, boleh saja kau kejar lagi diriku!"
Kata Leng-cu dengan tertawa.
Tengah bicara, jarak kedua orang sudah semakin jauh.
Diam-diam perwira itu terkejut karena kenyataan dirinya memang tidak mampu menyusul si noha.
Pudahal apa yang dirasakan perwira itu sebenarnya adalah akibat bekerjanya Sin-sian-wan.
Pasir maut yang dikatakan Leng-cu itu tidak lain hanya pasir yang dirraupnya sekalian pada waktu ia jatuh tadi.
Karena tidak mampu menyusul Leng-cu, tidak lama nona itu pun menghilang, perwira itu mulai merasakan kepalang pusing dan mata berkunang-kunang, tenaga pun mulai lenyap, ia menjadi sangsi apakah pasir maut itu memang benar atau cuma gertakan belaka, namun pengaruh racun Sin-sian-wan jelas tidak boleh diremehkan.
Segera ia duduk bersila, kembali ia gigit ujung lidah sendiri untuk membangkitkan semangat, sekuatnya ia membuka kelopak matanya lebar-lcbar supaya tidak sampai tertidur.
Dalam keadaan demikian ia berharap Lioug Leng-cu tidak berani putar balik dan hal ini pun beruntung baginya.
mana ia berani berpikir akan mengejar lagi.
Entah berselang berapa lama pula, selagi pikirannya melayang-layang di antara sadar-tak-sadar, tiba-tiba terdengar suara detak kuda lari.
Dipandang dari jauh samar-samar terlihat penunggang kuda itu seperti seorang perempuan.
Ia sangka Liong Leng-cu telah putar balik untuk melihat apakah ia mati atau tidak, ia terkejut sehingga pikirannya berubah sadar malah.
Dalam pada itu penunggang kuda itu dengan cepat sudah mendekat Terdengar seruan seorang.
"Aha, kafeak Yung, ternyata benar engkau adanya. Eh, kenapa engkau jadi begini? Apakah terluka?"
Demikian perempuan penunggang kuda itu melompat turun sambil bertanva dengan kejut dan girang. Perwira ini juga tidak kepalang girangnya. cepat ia berteriak.
"Him-him, jangan tanya lagi, lekas kau punahkan racun Sin-sian-wan yang kuminum!"
Kiranya perempuan ini tak-lain-tak-bukan adalah Bok Himhjm, bini muda Pek-toh-sancu yang genit itu. Sembari memberi obat penawar kepada perwira itu ia berkata pula.
"Mengapa engkau salah minum Sin-sian-wan? Siapa pula yang memberikan pil itu kepadamu?"
Perwira itu merasa lega setelah minum obat penawar, katanya.
"Jangan kau tanya dulu, hendaknya kau periksa lagi diriku, apakah aku terkena pasir perenggut nyawa yang berbisa itu?"
Bok Him-him melengak.
"Pasir perenggut nyawa apa? Tidak pernah kutahu ada senjata rahasia semacam ini."
Perwira itu tambah terkejut.
"Hah, sampai engkau juga tidak tahu? Tapi engkau kan ahli pemakai racun, akan kukatakan dan berharap dapat kau tolong diriku. Konon pasir peranggut nyawa itu dibuat dengan pasir yang direndam dengan tujuh jenis racun ."
Daya ingatnya ternyata tidak jelek, ia dapat mengulangi apa yang diucapkan Liong Leng-cu tanpa salah.
Selesai ia menutur, Bok Him-him pun sudah memeriksa denyut nadinya serta memeriksa dengan teliti apakah dia terluka, setelah jelas keadaannya, ia tertawa geli.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tanya perwira itu dengan sangsi.
"Kutertawa karena kamu tertipu,"
Tutur Bok Him-him.
"Kekuatan Sin-sian-wan itu sekarang sudah punah, tubuhmu juga tidak ada tanda keracunan atau terluka."
"Sungguh kurangajar Siau-yau-li itu,"
Damperat perwira itu. Terbeliak Bok Him-him, tanyanya.
"Apakah yang kau maksudkan adalah Siau-yau-li she Liong itu? Aku justru sedang mencari jejaknya, di mana kau pergoki dia?"
"Betul, kupergoki dia,"
Jawab si perwira dengan marahmarah.
"Justru hendak kutanya padamu, apakah dia telah kau terima sebagai murid?"
"Masa kau tanya demikian? Mana mungkin kuterima dia sebagai murid?"
Jawab Him-him.
"Habis dari mana ia memperoleh Sin-sian-wan dari Pek-tohsan kalian?"
"Ah, kiranya kamu tertipu oleh Siau-yau-li itu,"
Kata Himhim.
"Kuingat, dulu Nyo Yam pernah mendapatkan sebotol Sin-sian-wan dari orang yang jual-beli dengan Pek-toh-san kami. Tentu Siau-yau-li itu mendapatkan Sin-sian-wan dari orang she Nyo itu."
"Apakah kaupun bermusuhan dengan Siau yau-li itu?"
Tanya si perwira.
"Bukan aku yang bermusuhan dengan dia, tapi lakiku yang bermusuhan dengan mendiang ayahnya,"
Tutur Him-him.
"Lakiku itu ingin membabat rumput sampai akar-akarnya, maka aku diperintahnya menangkap Siau-yau-li itu,"
"Dan cara bagaimana kau datang ke sini?"
"Apalagi jika bukan lantaran dirimu,"
Jawab Him-him dengan tertawa.
"Kutahu kau bawa pasukan menyerang wilayah Sinkiang ini, maka sementara ini kutunda kepulanganku."
Kiranya perwira ini bernama Alcu Yung bekas pacar Bok Him-him yang hendak dicarinya itu. Dengan tertawa Alcu Yung berkata.
"Kukira kamu sudah punya pacar baru lagi, maka auhh, jangan main pukul Baiklah anggap aku salah omong, kuminta maaf padamu. Tapi aku tetap tidak percaya ..."
"Huh, orang sudah memberikan segalanya, padamu, tapi masih kurang terima, sungguh tidak punya perasaan,"
Omel Him-him.
"Jangan marah, aku hanya bergurau saja denganmu,"
Kata Alcu Yung.
"Cuma aku tidak mengerti, mengapa kamu tidak mencariku di markas tapi lari ke sini? Memangnya kamu dapat meramal apa yang belum terjadi dan tahu aku berada di sini?"
"Kepandaianku meramal sesuatu yang belum terjadi sama pintarnya denganmu,"
Kata Bok Him-him. Alcu Yung melenggong, tanyanya.
"Apa arti-nya ucapanmu?"
"Cara bagaimana kau datang kemari, lantaran itu pula kudatang ke sini,"
Kata Him-him dengan tertawa.
"Kudatang kemari karena menenma laporan dari pengintai kami bahwa terlihat seorang perempuan lari menuju ke jalan sini, lari kudanya sangat cepat dau sukar disusul, maka aku sendirilah yang mengejar kemari."
"Tentu sudah kau duga, besar kemungkinan perempuan yang melarikan kudanya dengan cepat tentu si Siau-yau-li itu?"
"Ya, kalau tidak buat apa aku mengejar sendiri?"
Kata Alcu Yung. Sampai di sini baru ia tahu duduknya perkara, serunya.
"Ahh, jadi kamu juga...."
"Memang betul. Mestinya hendak kucari dirimu di markasmu, tapi di tengah jalan kulihat pengintaimu itu dan kutanyai, katanya melihat seorang perempuan lari ke jurusan sini, maka aku lantas menguntit ke sini."
"Wah, jika begitu memang sangat kebetulan, uutung kaupun bertemu dengan pengintai kami, kalau tidak tentu aku bisa mati konyol,"
Ujar Alcu Yung.
"Sekali ini kita dapat bertemu lagi, kita harus berkumpul beberapa hari dengan baik."
"Cuma sayang Siau-yau-li itu sempat kabur."
Kata Him-him.
"Dengan kecepatan kudanya, mungkin saat ini dia sudah memasuki daerah pertahanan bangsa Kazak."
"Kenapa Sancu kalian begitu ingin menangkap Siau-yau-li itu?"
Tanya Alcu Yung.
"Rupanya engkau tidak tahu, ayah Siau-yau-li itu adalah Giok-liong-thaycu Tian Leng-kun dan kakeknya adalah Giokbin-liong-ong Tian Lam-an."
"Memangnya kenapa jika punya ayah dan kakek begitu?"
Tanya Alcu Yung.
"Kau tahu, Giok-bin-liong-ong (si raja naga berwajah putih) adalah raja bajak laut beberapa puluh tahun yang lalu, konon dia meninggalkan harta karun yang tak terhitung jumlahnya di suatu pulau karang. Tempat harta karun ini hanya diketahui putranya saja. Tapi sekarang Giok-bin-liong-ong sendiri dan putranya Giok-liong-thaycu sudah mati semua."
"Ah, kutahu sekarang,"
Kata Alcu Yung dengan tertawa.
"Tentu Sancu kalian mengira yang tahu rahasia harta karun itu sekarang tinggal Siau-yau-li itu saja, maka dia sangat ingin menangkapnya. Padahal kamu kan tidak perlu ikut terburuburu seperti Sancu kalian. Jika aku menjadi dirimu, biarpun ada kesempatan untuk membekuk Siau-yau-li itu juga akan kulepaskan dia lari, selang beberapa tahun lagi baru tangkap dia."
"Sebab apa?"
Tanya Him-him.
"Bukankah kamu ingin menjadi suami istri abadi dengan Ubun Pok (Pek-toh-sancu)?"
"Kaukira selama hidupku ingin menjadi bini mudanya?"
Omel Him-him.
"Soalnya aku belum tahu rasa bagaimana untuk melepaskan diri dari dia."
"Baik juga kalau bukan begitu halnya "
"Lantas ada sangkut paut apa dengan urusan menangkap Siau-yau-li itu?"
"Kamu kan orang cerdik, masa tidak terpikir? Ubun Pok sudah lanjut usia, dengan sendirinya ia berharap pada waktu masih hidup dapat menemukan harta karun itu, sebab itulah dia ingin lekas-lekas menemukannya. Sebaliknya usiamu masih muda kan masih dapat menunggu lagi."
"Ahh, maksudmu tunggu setelah dia meninggal..."
"Begitulah, sesudah dia mati, kita berdua dapat bergabung dan tentu tidak sulit menangkap Siau-yau-li itu. Tatkala mana -harta karun tinggalan Giok-bin-liong-ong akan seluruhnya menjadi milikmu."
"Kiranya demikian maksudmu,"
Kata Him-him.
"Milikku kan sama juga milikmu."
"Ya, tidak perlu lagi kita membedakan antara milikmu atau milikku."
"Tapi engkau tidak tahu, kecuali harta karun masih ada alasan lain Ubun Pok ingin lekas membekuk Siau-yau-li itu."
"Alasan apa?"
Tanya Alcu Yung.
"Kabarnya kakek luar Siau-yau-li itu mempunyai semacam barang yang sangat ingin diperoleh kaisar sekarang. Kakek luarnya cuma mempunyai seorang anggota keluarga saja, yaitu Siau-yau-li itu sendiri, bila dapat menangkapnya tentu dapat digunakan sebagai alat pemeras untuk memaksa kakek luarnya menyerahkan benda mestika itu. Ubun Pok dan Tailwe-congkoen Ogotai adalah sahabat baik. meski Ubun Pok tidak kemaruk pangkat. tapi dia sangat berharap dapat membantu maksud tujuan Ogotai itu sebab hal ini akan bermanfaat bagi Pek-toh-san. Apa manfaatnya kukira kaupun tahu tanpa kujelaskan."
"Ya, kutahu,"
Kata Alcu Yung.
"Jika diam-diam Ogotai memberi bantuan, paling tidak perdagangan racun pihak Pektoh-san akan banyak berkurang rintangannya."
"Rasanya engkau pernah bilang bahwa dahulu engkau pernah kecundang oleh seorang kakek yang tinggal di Tai-kiatnia, sekarang sudah kuketahui dengan jelas. kakek inilah engkong dari Siau-yau-li itu."
"Betul. Urusan yang menyangkut kakek Liong ini mungkin kutahu terlebih jelas daripada Sancu kalian. Kakek Liong ini malahan juga buronan kerajaan. Terus terang, tujuanku menangkap Siau yau-li itu justru hendak kugunakan sebagai umpan untuk memancing keluarnya Liong tua itu."
"Jika begitu, maksudmu sekarang hendak melepaskan Siauyau-li itu?"
Tanya Him-him.
"Agaknya kamu belum paham seluruh maksud-ku. Aku cuma tidak menghendaki kau tangkap Siau-yau-li itu. Bila penangkapan ini tidak sampai diketahui Ubun Pok, tentu saja kuharap sekarang juga dapat menangkapnya."
"Kau kuatir Ubun Pok akan minta orangnya padamu jika urusan ini diketahuinya?"
"Ya, ilmu silatnya lebih tinggi dari padaku, hubungannya dengan Ogotai juga lebih erat daripadaku, betapapun aku harus mengalah padanya. Jika ia tahu Siau-yau-li itu telah kutangkap, biar-pun dia tidak berani berebut jasa denganku, paling tidak dia tentu akan minta bagian harta karun itu."
"Jika engkau dapat membekuk Siau-yau-li itu, ada akalku untuk memancing pengakuannya tentang harta karun itu, bahkan dapat mengelabuhi Ubun Pok."
"Oo, apa akalmu?"
Tanya Alcu Yung.
"Dapat kupancing pengakuannya dengan Bi-hun-tai-hoat (semacam ilmu sihir). Soal jangan sampai diketahui Ubun Pok juga tidak sulit, asal saja engkau sendiri tidak kemaruk harta dan ingin naik pangkat."
"Maksudmu, bila sudah berhasil mengorek pengakuannya, lalu secara diam-diam membunuhnya untuk menghilangkan saksi?"
"Betul, dan bila kita sendiri tidak memberi tahukan kepada Ubun Pok, dari mana pula ia bisa tahu?"
"Haha, untuk mendapatkan kedua-duanya rasanya sulit, terpaksa harus pilih satu saja di antaranya. Bila harta karun Giok-bin-liong-ong dapat kita temukan, untuk apalagi aku memikirkan pangkat segala?"
"Tapi sebelum berhasil hendaknya jangan berpikir mulukmuluk, untuk menangkap Siau-yau-li itu mungkin masih perlu banyak membuang tenaga lagi,"
Ujar Him-him dengan tertawa.
"Kukira dia kabur ke tempat Lohai, asalkan pasukanku berhasil menduduki ibukota Lodan tentu ada harapan dapat menawannya."
"Beium tentu dia mau tinggal di sana dan menunggu sampai datangnya pasukan kita."
"Ia kan kekasih Nyo Yam,"
Kata Alcu Yung.
"Sedang Nyo Yam adalah murid murtad Thian-san-pai, antara Siau-yau-li itu dengan Thian-san-pai juga ada permusuhan, kuyakin dia tidak berani kabur ke Thian-san. Sebab itulah kukira lebih besar kemungkiuan dia tetap tinggal di sana untuk membantu Lohai. Umpama dia tidak di sana, kita masih tetap dapat melacak jejaknya, soalnya hanya waktu saja "
"Memangnya harus menunggu sampai kapan?"
Ujar Himhim dengan kesal.
"Hah, apakah kau terburu-biuu ingin pulang untuk berkumpul dangan Ubun Pok?"
"Kembali kau bicara yang tidak-tidak lagi,"
Omel Him-him.
"Habis apakah ada urusan penting lain?"
Him-him menunduk tanpa menjawab, agaknya sedang merenungkan sesuatu. Tergerak hati Alcu Yung, katanya dengan suara lembut.
"Kita kan kenalan lama, memangnya ada urusan apa yang tidak boleh kuketahui?"
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Him-him berkata.
"Baik, biar kukatakan padamu. Kemarin kupergoki seorang pemuda Kazak, dari bajunya dapat kugeledah sesuatu, barang ini adalah titipan orang lain yang minta disampaikan kepada Siauyau-li itu."
"Oo, barang apa, bolehkah kulihat?"
Tanya Alcu Yung.
"Barang ini sangat penting urusannya, coba beri pendapatmu setelah kau lihat,"
Kata Him-him sambil menyerahkan "surat pengakuan dosa"
Yang ditulis Ciok Jingcoan itu. Habis membaca surat itu, Alcu Yung kegirangan, serunya.
"Hah, barang ini jauh lebih berharga daripada Siau-yau-li itu."
Him-him tertawa, katanya.
"Melihat rasa gembiramu, memangnya barang ini terlebih bernilai daripada harta karun tinggalan Giok-bin-liong-ong?"
"Ya, memang begitu,"
Jawab Alcu Yung.
"Kutahu benda ini sangat bermanfaat bagi kita, cuma tidak kupikirkan sedemikian besar nilainya, untuk itu coba beri penjelasan."
"Ini kan surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan sendiri, kau tahu Ciok Jing-coan adalah putra satu-satunya Ciok Thianhing, sedangkan Ciok Thian-hing adalah sesepuh Thian-sanpai yang berkuasa, betul tidak?"
"Betul, lalu ada apa?"
"Dengan memegang surat pengakuan dosa ini kan dapat kita gunakan untuk memeras Ciok Thian-hing?"
"Apa yang akan kita peras dari dia?"
"Baik urusan pribadi maupun urusan umum dapat kita pojokkan dia."
"Wah, dari ceritamu ini, agaknya rahasia ini juga ada hubungannya dengan urusan politik kenegaraan kalian?"
"Memang hetul. Coba dengarkan. Penyerbuan kami ke wilayah Sinkiang sekali ini adalah untuk melaksanakan tipu sekali timpuk dua burung. Kawanan bandit di Cadam yang memberontak terhadap kerajaan itu bersekutu dengan ke-13 ke-lompok suku yang dikepalai Lohai. Jika kita menghancurkan Lohai akan berarti memotong jalur bantuan perbekalan bagi kawanan bandit di Cadam itu."
"Tapi Lohai juga mempunyai sandaran kuat, yaitu Thiansan-pai. Meski jumlah orang Thian-san-pai tidak banyak, tapi setiap orangnya berkepandaian tinggi, bila Thian-san-pai membantunya tentu peperangan ini sulit. untuk mencapai kemenangan. Nah, sekarang kau paham?"
"Soal politik aku tidak paham,"
Jawab Him-him tertawa.
"Tapi dari uraianmu ini aku mengerti akan maksudmu. Rupanya engkau bermaksud memojokkan Ciok Thian-hing, dan bila Lohai minta bantuan kepada Thian-san-pai, dapat kau minta Ciok Thian-hing berusaha merintanginya. Umpama gagal merintangi, dapat pula menyabotnya secara diam-diam. Tidak berhasil menyabot, sedikitnya dia dapat mengirim berita rahasia kepada kita."
"Kamu memang cerdik, semuanya telah dapat kau terka dengan jitu,"
Kata Alcu Yung dengan tertawa.
"Dan selanjutnya Ciok Thian-hing terpaksa akan menjadi budak kita, bila kita minta dia ke timur, tidak nanti dia berani ke barat,"
Sambung Him-him.
"Bukankah Thian-san-pai mereka ingin menangkap Nyo Yam? Siau-yau-li itu pun terhitung orang yang perlu dibekuk juga, maka dapat kita peralat Ciok Thian-hing agar dia menyerahkan Siau-yau-li kepada kita. Dengan bantuan Thian-san-pai, harapan untuk menangkap Siau-yau-li itu menjadi tambah besar. Setelah Siau-yau-li tertangkap, serupa uraianmu tadi, dengan sendirinya harta karun itu pun akan jatuh ke tangan kita."
"Wah, kiranya surat itu sedemikian besar manfaatnya, tampaknya engkau bisa segera naik pangkat dan dapat rejeki,"
Ucap Him-him.
"Betul, makanya surat ini boleh kau berikan saja kepadaku, akan kujadikan bukti agar Bu Ek mau memberi tugas luar kepadaku, kalau tidak, dalam keadaan genting begini sukar bagiku untuk meninggalkan pasukan dan mencari Ciok Thianhing."
"Jika surat itu sedemikan berharga, kukira akan lebih baik kusimpan sendiri saja,"
Kata Him-him.
"Aku pernah kenal Bu Ek, dapat kita temui dia. Kuyakin dia akan percaya kepada keterangan-ku"
Melihat orang sangsi, Alcu Yung tidak berani memabsa, ia pikir nanti kalau urusan sudah selesai baru berdaya melepaskan diri dari perempuan ini. Maka dengan tertawa ia berkata.
"Baiklah! Terserah bagaimana keputusanmu. Yang penting, seterusnya kita tetap bersama dan tidik perlu berpisah lagi."
"Ai, jangan merayu dulu, marilah kita menemui atasanmu itu,"
Ajak Him-him.
"Nanti dulu,"
Kata Alcu Yung tiba-tiba.
"Tampaknya ada seorang sedang datang kemari."
"Apakah prajurit pengintai yang hendak mencarimu,"
Ujar Him-him.
"Agaknya bukan,"
Kata Alcu Yung. Sejenak kemudian, dari balik bukit pasir sana muncul seorang.
"Ahh, kiranya seorang pengemis cilik,"
Kata Him-him.
"Di tengah kekacauan peperangan ini dan di pegunungan sunyi bisa muncul seorang pengemis cilik, sungguh aneh. Coba kita lihat dulu orang macam apakah pengemis cilik ini."
"Mungkin orang yang telantar karena perbuatan pasukan kalian yang merampok dan membunuh sepanjang jalan, seorang anak yang kehilangan rumah dan keluarga."
"Tidak, bukan."
Kata Alcu Yung.
"Tidak bukan bagaimana?"
"Pengemis cilik ini orang Han dan bukan suku Kazak. Jika anak gelandangan seperti ucapanmu tentu dia seorang Kazak."
Sementara itu pengemis cilik itu sudah mendekat.
Meski mukanya kelihatan dekil.
tapi jelas kelihatan dia memang bangsa Han.
Tergerak hati Alcu Yung, ia pikir pengemis clik itu seperti sudah pernah dikenalnya, cuma seketika tidak teringnt di mana pernah melihatnya.
Segera ia mengedipi Bok Him-him, maksudnya supaya jangan turun tangan dulu dan coba cari tahu apa mabsud kedatangan pengemis cilik ini.
Dengan napas terengah pengemis cilik itu sudah berhadapan dengan mereka dan memohon.
"Kasihan tuan dan nyonya, berikan sedikit air minum kepadaku."
"Mengapa kamu tidak mengemis makanan?"
Tanya Alcu Yung.
"Bilamana tuan sudi memberi makanan, tentu saja melebihi daripada harapanku,"
Kata pengemis cilik itu.
"Cuma dahaga terlebih menyiksa daripada lapar, kerongkonganku sangat kering dan tidak tahan lagi, maka mohon diberi seteguk air minum dulu."
"Kukira kamu habis makan dua biji ubi bakar, betul tidak?"
Tanya Him-him mendadak.
Terkesiap hati pengemis cilik itu, diam-diam ia mengakui ketajaman hidung perempuan bejat ini, ternyata dapat mengendus bau ubi bakar.
Ia tidak tahu pertanyaan Him-him itu hanya gcrtak sambel belaka untuk memancingnya.
Maka ia menjawab.
"Betul, kucuri makan dua biji ubi bakar di rumah penduduk, tapi tidak mendapatkan air minum, maka kerongkonganku tambah kering habis makan ubi bakar."
"Kamu kelihatan kasihan, baiklah, akan kuberi air minum,"
Kata Him-him dengan tertawa.
Sambil bicara ia sudah membuka kantung airnya dan setitik obat bubuk yang tersembunyi di antara kukunya diselentikkan ke dalam kantung air.
Obat bubuk ini adalah obat bius yang dapat membuat orang lantas lunglai.
Terhadap seorang pengemis cilik begitu mestinya dia tidak perlu menggunakan racun, tapi lantaran Alcu Yung sudah memberi isyarat lebih dulu, maka dia menaruh perhatian khusus.
"Ia pikir biarpun kamu tokoh kelas satu, bila mana sudah minum seteguk airku, mustahil kamu takkan roboh di bawah telapak kakiku."
Terdengar pengemis cilik itu mengucapkan terima kasih.
Pada saat yang sama mendadak seorang berteriak dan seorang pun menyerang.
Yang berteriak ternyata Alcu Yung dan yang menyerang adalah si pengemis cilik.
"Awas, bocah ini adalah Nyo Yam!"
Teriak Alcu Yung.
Dan pada saat orang belum menyebut namanya, serentak pengemis cilik itu telah mencengkeram tulang pundak Bok Him-him.
Kiranya kedatangan Nyo Yam ke sini adalah karena mengikuti jejak Liong Leng-cu.
Di rumah penduduk sana ia menemukan jarum yang ditebarkan Leng-cu itu, dilihatnya jarum sama hancur, sekali pandang saja ia lantas tahu uona itu telah ketemukan lawan tangguh.
Ia lantas menyamar sebagai pengemis dengan ilmu rias ajaran Leng-cu, karena memang belum cukup mahir, pula tergesa-gesa cara penyamarannya, maka untuk sementara saja ia dapat mengelabui Alcu Yung, tapi sebentar kemudian penyamarannya lantas ketahuan.
Sebelumnya Nyo Yam sudah siap siaga, begitu pula Bok Him-him, meski Nyo Yam tidak sampai terjebak oleh racun, sebaliknya Him-him juga tidak tertawan.
Waktu jari tangan Nyo Yam menyentuh pundak Him-him, ia merasakan licin dan sukar terpegang.
Kiranya meski kungfu Bok Him-him tidak tinggi, tapi dia mempunyai semacam ilmu bela diri yang tidak diketahui Nyo Yam, yaitu Ni-jiu-kang, ilmu belut.
Reaksi kedua pihak sama cepat sekali, begitu terlepas dari cengkeraman Nyo Yam, serentak Him-him ayun tangannya, sebuah granat meletus di udara dan menaburkan asap tebal disertai hujan jarum lembut.
Asapnya beracun, jarumnya juga berbisa, ia yakin sekalipun Nyo Yam dapat menghindarkan jarum berbisa juga akan mengisap asap beracun.
Begitu menaburkan senjata rahasia tersebut, serentak Himhim melompat ke sana sambil berseru.
"Nah, rebahlah, pengemis cilik! Hm, kau-berani menyergap diriku, itu sama halnya main gila dengan uyonya besar!"
Tak terduga, Nyo Yam sama sekali tidak rebah bahkan berkelit pun tidak.
Terlihat hujan jarum itu bertebaran ke samping, tanpa susah dapatlah Nyo Yam menerjang keluar dari kurungan asap tebal.
Kiranya sebelumnya Nyo Yam sudah berjaga kemungkinan lawan akan menggunakan racun.
maka sebelum granat asap itu meletus ia sudah tahan napas.
Mengenai jarum berbisa itu telah sama terpental oleh getaran Iwekangnya yang kuat.
Apa yang terjadi ini tidak cuma membuat kejut Bok Himhim, Alcu Yung juga tidak kurang kagetnya, diam-diam ia mengakui kelihaian pengemis cilik ini dan tidak boleh diremehkan.
Setelah menerjang keluar dari tebaran asap barulah Nyo Yam bersuara.
"Hm, kepandaian setan Pek-toh-san kalian sudah kukenal. Sekarang silakan kau sendiri yang rebah saja, perempuan siluman!"
Begitu selesai bicara, serentak pukulan dahsyat lantas dilancarkan sehebat gugur gunung, ketika tersampuk oleh angin pukulan, napas Him-him segera terasa sesak.
Tadi Nyo Yam bermaksud menawan Him-him untuk dijadikan sandera, tapi sekarang pukulannya dilontarkan tanpa ampun sehingga daya serangnya sangat berbeda.
Ilmu belut Bok Him-him yang licin itu tiada gunanya terhadap pukulan dahsyat ini, jangankan sampai terkena pukulan dengan telak, cukup ke-serempet angin pukulannya saja dapat membuat isi perutnya hancur.
Cuma Him-him juga tidak roboh, sebab baru saja pukulan Nyo Yam dilancarkan, saat itu juga Alcu Yung memburu tiba dan masih dapat menangkiskan baginya.
"Blang", kedua tangan beradu, Nyo Yam tergeliat, diamdiam ia terkejut, ia heran mengapa keparat ini juga mahir Liong-siang-kang? Bahkan terasa lebih kuat daripada Ce Se kiat. Ia tidak tahu bahwa ibu Alcu Yung juga orang Thian-tok (India), ayahnya adalah orang Han yang dibesarkan di Tibet. Ia sendiri pernah menjadi hwesio beberapa tahun di Lan-to-si, gurunya yang mengajarkan Liong-siang-kang adalah salah seorang ketiga paderi sakti Lan-to-si, yaitu Boro Hoat-su, cuma Liong-siang-kang andalannya memang masih kalah setingkat daripada Ka siang Hoat-su. yaitu guru Ce Se-kiat. Begitulah Alcu Yang merasa senang karena lebih unggul, segera ia mengerahkan tenaga dalam untuk melengketi tangan Nyo Yam, bentaknya.
"Hm, jangan harap kamu dapat terlepas dari tanganku. Jika kau ingin selamat, lekas menyerah saja!"
Waktu Nyo Yam menolak sekuatnya, kontan ia terdesak mundur dua-tiga langkah.
Pada saat itu Him-him baru sempat menenangkan diri, dirasakan dada rada kesakitan.
Teringat keadaan bahaya tadi, bila Alcu Yung terlambat sedetik tentu jiwanya sudah melayang.
Setelah mengatur napas dan terasa tidak terluka barulah ia merasa lega.
Namun rasa gusarnya tak terlampias, segera ia berteriak.
"Jangan kau-bunuh pengemis cilik ini, tinggalkan dia untukku."
"Untuk apa kau minta dia?"
Tanya Alcu Yung dengan tertawa.
"Mukanya tidak jelek, akan kukebiri dia untuk meladeni diriku,"
Kata Him-him.
"Haha, kiranya kau penujui dia, justru takkan kuberikan dia padamu,"
Kata Alcu Yung dengan tertawa.
Tanya jawab mereka menganggap Nyo Yam seakan-akan sudah menjadi isi saku mereka, tentu saja Nyo Yam sangat mendongkol.
Rupanya mereka sengaja membuat gusar anak muda itu, dengan demikian Alcu Yung akan lebih mudah menundukkannya.
Namun Nyo Yam cukup sabar dan menghadapi lawan dengan tenang.
Dirasakan oleh Alcu Yung kekuatan lawan seperti makin lemah, tapi justru sukar merobohkannya, hal ini membuatnya heran.
Maiahan mendadak dirasakan Nyo Yam mulai melancarkau serangan balasan dengan tenaga dalam yang kuat, dalam kejutnya cepat Alcu Yung lepas tangan.
"Boleh lihat siapa yang bisa lepas dari siapa? Lihat pedang!"
Bentak Nyo Yam tiba-tiba.
Begitu Alcu Yung tergetar mundur, serentak Nyo Yam melolos pedang dan menubruk maju, beberapa gerakan dilakukannya sekaligus.
tenaga pukulannya terlebih sebat daripada serangan Alcu Yung tadi.
kiranya yang menyebabkan dia kewalahan atas pukulan Alcu Yung tadi adalah karena dia baru saja menahan napas untuk menolak asap berbisa yang ditebarkan oleh Him-him.
Sekarang tenaganya sudah pulih, lebih dulu ia perlihatkan tenaga sendiri sudah lemah, tapi mendadak melancarkan serangan balasan yang dahsyat.
Sehabis mengadu tenaga, kini Nyo Yam pun tahu lwekang sendiri dibanding Alcu Yung mempunyai keunggulan masingmasing, jika keras lawan keras dilanjutkan, akibatnya kedua pihak pasti akan gugur bersama.
Sekarang ia ganti memakai pedang, dengan ilmu pedang Thian-san-pai yang hebat menundukkan musuh.
Namun Alcu Yung memang hebat juga, meski terkejut tidak menjadi bingung.
Mendadak ia berputar, golok melengkung juga lantas dilolosnya, bentaknya.
"Jangan membual, kau kira Thian-san-kiam-hoatmu dapat menggertak diriku?"
Di tengah serangan goloknya terseling pula pukulan. Akan tetapi Nyo Yam juga tidak kalah lihainya, ia pun mengeluarkan ilmu pedang "dewa mabuk"
Keluarga Liong, ilmu pedang ini banyak ragam perubahannya sehingga seketika Alcu Yung pun tidak memperoleh keuntungan sedikit pun meski keduanya sudah saling serang berpuluh jurus, berbalik ia malah berulang menghadapi serangan maut anak muda itu.
Sambil menyurut mundur Alcu Yung membentak.
"Huh, Thian-san-kiam-hoat macam apa ini? Masa Thian-san-kiam hoat dimainkan secara kacau balau seperti ini?"
Nyo Yam tertawa.
"Masa kamu setimpal untuk kulayani dengan Thian-san-kiam-hoat? Kau ingin minta petunjuk padaku, lebih dulu perlu menyembah dan mangangkut guru padaku, kalau tidak, buat apa menerima murid goblok semacam dirimu?"
Sembari bicara serangannya membuat Alcu Yung rada kerepotan dan melompat mundur.
Kebat-kebit juga Bok Him-him menyaksikan pertarungan sengit itu, ia mengeluarkan tiga buah piau kupu-kupu dan disambitkan ke arah Nyo Yam.
Ia pikir sekalipun senjata rahasia itu tidak dapat melukai anak muda itu, asalkan dapat membuatnya lengah tentu Alcu Yung ada kesempatan untuk memperoleh kemenangan.
Siapa duga, segera.
terdengar suara "tring tring-tring"
Tiga kali, ketiga piau kupu-kupu itu terpental balik, untung Bok Him-him cukup cepat mengelak, kalau tidak hampir saja ia terluka oleh senjata rahasia sendiri. Cepat Alcu Yung berseru.
"Jangan ikut campur, kusanggup hadapi bocah ini. Bila perlu boleh kau pulang dulu dan menyampaikan berita ke markas."
"Tapi engkau sendiri ...."
"Jangan kuatir, biarpun tidak dapat kubinasakan bocah ini juga takkan dikalahkan olehnya. Bisa jadi pada waktu kau kembali ke sini nanti sudah dapat kubekuk dia."
"Huh, tanpa kugunakan Thian-san-kiam-hoat saja sudah membuatmu kerepotan, tapi masih berani membual?!"
Jengek Nyo Yam sambil mendesak maju, pedang terus menusuk tengorokan lawan.
Alcu Yung sedang melangkah maju untuk menyerang, karena tusukan Nyo Yam itu, tampaknya sukar baginya untuk menghindar, saking kagetnya sampai Bok Him-him menjerit kuatir.
Nyo Yam juga tidak mengira serangan akan berhasil semudah itu, tapi mendadak lawan menunduk dan ujung pedang Nyo Yam seperti menyerempet lewat pundaknya.
Hampir pada saat yang sama, golok melengkung lawan ternyata dapat berputar ke belakangnya untuk menyabit belakang lehernya.
Menurut aturan, golok melengkung Alcu Yung lebih pendek dari pada pedang Nyo Yam.
mestinya tidak mungkin dapat terjulur sepanjang ini sehingga dapat menyabit dari belakang, hal ini sungguh sangat di luar dugaan Nyo Yam.
Kiranya ilmu silat Alcu Yung memang bukan kungfu daerah Tiongkok, ia pernah berlatih ilmu yoga dari Hindu, sekujur badan dapat berubah lunak serupa tak bertulang, otot daging di seluruh tubuh dapat mulur mengkeret sesukanya.
Dalam sekejap tadi ia telah menarik dada dan mendekuk perut sehingga tubuh menyurut beberapa senti ke belakang dan tusukan Nyo Yam dapat terhindar, sebaliknya lengannya yang memegang golok sabit mendadak terjulur beberapa senti terlebih panjang.
Justru setelah memahami gaya serangan ilmu pedang "dewa mabuk"
Yang dilancarkan Nyo Yam barulah mendadak Alcu Yung menggunakan ilmu andalannya, ia mengira serangan aneh. sekali ini pasti akan berhasil, maka sembari menabas ia pun berteriak dengan tergelak.
"Hah, kan sudah kukatakan kamu bukan tandinganku, coba .."
Siapa tahu, perubahan di luar dugaan berturut-turut lantas terjadi.
Alcu Yung hanya sempat gembira sebentar saja tertawanya lantas beku mendadak.
Kiranya ilmu yoga Alcu Yung meski tak terduga oleh Nyo Yam, tapi bukannya anak muda itu sama sekali tidak waspada, begitu tergerak pikirannya seketika tipu serangannya berubah di tengah jalan.
Walau tangan Alcu Yung dapat mulur beberapa senti lebih panjang secara mendadak, namun gerak pedang Nyo Yam terlebih cepat, bahkan menusuk dari arah yang sama sekali tak terpikir oleh Alcu Yung.
"Nah, kau ingin belajar kenal dengan Thian-san-kiam-hoat, sekarang boleh kau lihat,"
Bentak Nyo Yam. Rupanya permainan ilmu pedang "dewa mabuk"
Kini telah berubah menjadi Thian-san-kiam-hoat, yaitu ilmu pedang pemburu angin, sesuai namanya, gerak pedang Nyo Yam secepat angin, sambil membentak sekaligus ia melancarkan belasan jurus serangan.
Terpaksa Alcu Yung bertahan sekuatnya, ia keluarkan Liong-siang-kang bergabung dengan ilmu yoga, jurus serangannya juga aneh dan lihai sehingga serangan Nyo Yam dapat dipatahkan.
Begituldh keduanya sama mengeluarkan segenap kepandaiannya sehingga terjadi pergulatan sengit.
Cuma Liong-siang-kang terlebih banyak makan tenaga, diam-diam Alcu Yung menyadari bila berlangsung lama pertarungan mereka, akhirnya diri sendiri pasti akan kecundang.
Selagi pertarungan berlangsung dengan sengitnya, tiba-tiba terdengar suara detak kuda lari cepat mendatangi.
Terdengar penunggang kuda itu berseru heran.
"He, saudara Yung, engkau berkelahi dengan siapa?"
Alcu Yung yang sedang repot menangkis serangan Nyo Yam sehingga tidak sempat menjawab. Tapi Bok Him-him lantas berseru.
"Hah, kebetulan sekali kedatanganmu, Toan-kongcu, coba lihat siapa pengemis cilik itu? Tentunya kau kenal dia bukan?"
Kiranya pendatang ini bukan lain daripada Toan Kiam-jing, Sudah lama Him-him kenal Toan Kiam-jing dan tahu hubungannya dengan Nyo Yam pada masa lampau, yaitu keduanya sama di-anggap sebagai murid durhaka Thian-sanpai.
Karena ucapan Bok Him-him tadi, Toan Kiam-jing coba mengamati Nyo Yam, dirasakan pengemis cilik ini memang seperti dikeaalnya.
segera ia tahu juga siapa dia.
Maklumlah, dahulu waktu Nyo Yam masih tinggal di Thiansan, lantaran dia sangat disayang oleh penjabat ketua Thiansan-pai, demi untuk menyenangkan hati sang ketua, sering Toan Kiam-jing mengajar membaca dan menulis kepada Nyo Yam.
selain Leng Peng-ji, orang yang paling erat bergaul dengan Nyo Yam boleh dikatakan Toan Kiam-jing.
Sebab itulah betapa bagus kepandaiaa menyamar Nyo Yam tetap tak dapat mengelabuhi dia.
Setelah tahu penyamaran Nyo Yam, dengan tergelak Toan Kiam-jing berkata.
"Haha, kukira siapa, rupanya si bocah she Nyo ini. Hehe, bukan saja kenal, malahan dia pernah memanggilku sebagai Toako."
Him-him tahu maksud orang, ia sengaja main sandiwara dengan dia, meski tahu ia sengaja tanya.
"Oo, ia pernah memanggilmu sebagai Toako, memangnya kapan kalian pernah mengangkat saudara."
"Bukan angkat sandara, tapi adik seperguruan,"
Jawab Toan Kiam-jing.
"O, kiranya kalian saudara seperguruan,"
Kata Him-him.
"Jika begitn, kukira agak keterlaluan Sutemu iai. Sudah jelas ia dengar kau panggil saudara kepada kakak Yung, mengapa dia masih terus melawannya. Hendaknya kau beri pengajaran kepadanya!"
Tengah bicara Toan Kiam-jing sudah berada di antara mereka.
Waktu ia mengawasi, tertampak pertarungpn antara Nyo Yam dan Alcu Yung berlangsung seru, ia pikir permainan pedang Nyo Yam sudah kelihatan lamban dan berat.
"selang sebentar lagi baru kubekuk dia tentu tidak perlu banyak buang tenaga."
Maklumlah, pernah beberapa kali ia bergebrak dengan Nyo Yam, ia merasa tidak pasti akan mengalahkan anak nuida itu.
Padahal biasanya ia suka mengagulkan kungfu sendiri, wataknya sombong, apalagi dia mengaku sebagai suheng Nyo Yam, jika ia mengerubuti Nyo Yam bersama Alcu Yung, biarpun menang juga kurang gemilang.
Toan Kiam-jing lantas melompat turun dari kudanya, katanya pelahan.
"Bocah ini memang pantas diberi hajar adat, cuma lebih dulu akan kucoba membujuknya."
"Engkau kan suhengnya, masa perlu pakai bujuk segala?"
Ujar Him-him tertawa.
"Dahulu aku memang suhengnya, sekarang bukan lagi,"
Kata Toan Kiam-jing. Him-him sengaja tanya pula.
"Sebab apa?"
"Dia serupa diriku, sekarang sudah dipecat oleh Thian-sanpai."
"Hah, salah ucapanmu ini,"
Kata Him-him dengan tertawa.
"Salah bagaimana?"
Tanya Kiam-jing.
"Jika kalian sama-sama murid pemberontak dan senasib, kan sebarusnya hubungan kalian bisa lebih erat serupa saudara sekandung?"
"Betul, ucapanmu cukup beralasan,"
Kata Kiam-jing.
"Nah, Nyo Yam, kamu bukan anak becil lagi, seharusnya kau gunakan pikiranmu."
Nyo Yam mencurahkan segenap perhatian untuk menghadapi musuh.
kedatangan Toan Kiam-jing sama sekali tak dihiraukannya.
Diam-diam ia memperhitungkan cara bagaimana akan meloloskan diri.
Ia pura-puia kehabisan tenaga.
maksudnya hendak menjebak Alcu Yung, siapa tahu lawan berpengalaman luas dan tak mau tertipu.
Malahan cara bertempur Alcu Yung sangat tenang dan mantap, betapapun Nyo Yam mencari kesempatnn untuk meloloskan diri tetap sukar.
"Kan perlu kau pikirkan, dahulu kamu adalah murid buncit kesayangan Ciangbunjin, sekarang kita sama-sama murid murtad Thian-san yang tak terampunkan,"
Demikian Toan Kiam-jing coba membujuk lagi.
"Meski banyak perbuatanmu yang tidak baik padaku, tapi aku bersedia memaafkanmu. Jika Thian-san-pai tidak mau menerimamu lagi, dunia seluas ini adakah tempat berpijak bagimu? Satu-satunya jalan terbaik adalah ikut padaku saja, bergabung dengan pasukan yang kupimpin. Asalkan kau panggil Toako padaku, segala apa kubela bagimu."
"Kentutmu busuk!"
Damperat Nyo Yam dengan gusar.
"Dasar budaknya budak. memangnya kau-bangga? Huh, dalam pandanganku kamu tidak lebih berharga dari pada binatang, tidak perlu banyak bacot."
Ia berlagak seperti meleng karena berbicara dan tidak dapat menahan serangan balasan Alcu Yung, ia terdesak mundur dan mendadak sempoyongan dan jatuh terjengkang.
Kejadian ini sangat di luar dugaan Alcu Yung, Toan Kiamjing juga tidak menyangka.
Ia tidak tahu Nyo Yam cuma purapura kehabisan tenaga, disangkanya paling tidak masih sanggup bertahan untuk sementara waktu.
Diam-diam ia menyesal telah memberi kesempatan kepada Alcu Yung untuk berjasa dengan menangkap Nyo Yam.
Namun Alcu Yung justru melenggong oleh jatuhnya Nyo Yam, ia heran mengapa anak muda itu jatuh begitu saja tanpa terpukul?
Ia pikir bocah ini banyak tipu akalnya, jangan sampai aku tertipu olehnya.
Seketika ia menjadi ragu dan tidak berani menubruk maju untuk menangkap Nyo Yam.
Ia tidak tahu, karena sedikit ragunya justru kebetulan bagi Nyo Yam.
Meski jatuhnya cuma pura-pura saja, tapi bilamana kesempatan itu di-gunakan oleh Alcu Yung untuk membacok dengan goloknya, dalam keadaan telentang tentu Nyo Yam tidak sanggup menangkisnya, andaikan tidak mati tentu juga akan terluka parah.
Perbuatan Nyo Yam itu sungguh merupakan pertaruhan terakhir.
Tapi karena keraguan Alcu Yung itu telah memberi kesempatan untuk melepaskan diri.
Begitu dia berguling, sebelum berdiri lagi senjata rahasianya lantas disambitkan lebih dulu.
Selarik cahaya hitam segera menyambar dengan membawa suara mendenging.
Keruan Toan Kiam-jing terkejut, serunya.
"Awas, inilah Thian-san-sin-bong!"
Thian-san-sin-bong adalah senjata rahasia semacam duri tumbuhan yang cuma terdapat di pegunungan Thian, kerasnya serupa besi, daya serangnya lebih kuat daripada senjata rahasia lain.
Dahulu waktu meninggalkan Thian-san sempat Nyo Yam membawa tiga biji duri sakti itu, tahun yang lalu sebuah digunakan untuk melukai Toan Kiam-jing, sebuah lagi tidak mengenai sasaran sehingga tersisa sebuah yang sekarang digunakan ini.
Karena jaraknya sangat dekat, senjata rahasia itu menyambar secara mendadak, betapa tangkas jago kelas satu serupa Alcu Yung juga kelabakan dibuatnya.
Mestinya Alcu Yung hendak menubruk maju, untung Toan Kiam-jing keburu memperingatkan dia.
Begitu nundengar nama Thian-san-sin-bong daya terjangnya seketika berubah menjadi lompatan ke samping.
Gerak perubahan ini tidak mudah dilakukan oleh sembarang orang.
Meski Alcu Yung sangat tinggi ginkangnya, tidak urung agak kerepotan juga, cepat ia putar golok untuk melindungi tubuhnya.
Terdengar suara "tring"
Yang nyaring, golok sabitnya terbentur Thian-san-sin-bong dan memercikkan lelatu api.
Daya sambit sin-bong itu belum lagi lemah dan menyerempet lewat pundaknya dan membuat lecet kulit dagingnya.
Untung dia dapat menghadapi dengan tangkas, bilamana Toan Kiam-jing terlambat memperingatkan dan dia bertindak gegabah, mungkin tulang pundaknya sudah dttembus oleh senjata rahasia sakti itu.
Dalam pada itu secepat terbang Toan Kiam-jing telab memburu maju, Alcu Yung sendiri juga bermaksud menerjang lagi sehingga keduanya hampir saja saling tabrak.
Cepat Toan Kiam-jing mengegos dan memegang Alcu, katanya.
"Engkau tidak terluka bukan, saudara Yung?"
Alcu Yung mendengus.
"Hm, terima kasih atas perhatianmu. Cuma lecet sedikit, tidak berhalangan."
Ia tidak puas terhadap sikap Toan Kiam-jing yang cuma menonton saja tanpa membantu sehingga ia kecundang.
Cuma Toan Kiam-jing juga berjasa telah memperingatfean dia, maka tidak enak baginya untuk mengumbar marah.
Toan Kiam-jing tidak sempat lagi memikirkan nada ucapan orang yang marah itu, ia meraga lega melihat orang tidak terluka, katanya.
"Baiklah, boleh engkau mengaso saja, biar kubekuk bocah itu."
Ia yakin setelah mengalami pertarungan sengit ini, keadaan Nyo Yam tentu sudah lemah, biarpun punya Thian-san-sinbong yang ampuh juga tidak perlu ditakuti lagi.
"Bocah yang tidak tahu diri, mau lari ke mana?"
Demikian ia lantas membentak.
"Di wilayah kekuasan pasukan pemerintah ini memangnya kamu dapat kabur?"
Sembari berteriak ia terus mengejar, ia pikir ginkang sendiri cukup mampu menyusul anak muda itu.
Tapi untuk menjaga segala kemungkinan, segera ia melepaskan panah berapi ke udara untuk memanggil regu bala bantuan yang berpangkalan di sekitar itu.
Siapa tahu Nyo Yam tidak melarikan diri, in bergaya lari ke depan, tapi mendadak berputar balik malah.
Ia menerjang Bok Him-him yang berdiri sendiri di samping.
Dengan ginkangnya yang tinggi, hanya dua-tiga kali lompatan saja sudah sampai di depan nyonya genit itu.
Bok Him-him juga tidak menduga anak muda itu sedemikian beraninya putar balik lagi, ia menjerit terkejut.
"Tolong, lekas kalian kemari!"
Namun sudah agak lambat selangkah.
"Hm . perempuan busuk, tadi kau bilang hendak mengebiri diriku, sekarang kucukur dulu rambutmu supaya menjadi nikoh (paderi perempuan)."
Jengek Nyo Yam dengan pedang menabas secepat kilat.
Seketika Him-him merasa kulit kepalanya dingin, taha-tahu rambutnya yang panjang sudah terpapas bersih.
Dengan cepat Nyo Yam lantas merampas kudanya sambil membentak.
"Tiada harganya ku-bikin kotor pedangku dengan darahmu. biarlah jiwamu kuampuni sekali ini."
Caranya memapas rambut orang dan merampas kuda untuk lari, cepatnya sungguh sukar dilukiskan.
Tapi karena sedikit merandek itulah Toan Kiam-jing pun memburu tiba.
Namun selisih sedikit itu sudah memberi kesempatan kepada Nyo Yum untuk melompat ke atas kuda, jengeknya.
"Toan Kiam-jing, kalau berani ayolah kejar kemari! Setiba di tempat sepi nanti boleh kita bertarung satu lawan satu, coba saja siapa yang lebih unggul dan siapa asor?" -ooo0dw0oo-
Jilid 13 Bok Him-him meraba kepalanya yang gundul, takut dan berduka, juga marah, dengan muka memelas ia memohon.
"Toan-kongcu, selama hidupku tidak pernah dihina seperti ini, hendaknya mengingat suamiku, sukalah . ."
Toan Kiam-jing tidak sempat menghiburnya, cepat selanya.
"Ya. kutahu, tentu akan kubalaskan sakit hatimu."
Sementara itu satu regu pasukan Boanjing sudah datang.
Toan Kiam-jing lantas mencemplak ke atas kuda sendiri dan memimpin pasukan ini untuk mengejar Nyo Yam.
Saat itu Nyo Yam lagi sibuk putar pedangnya merontokkan panah yang menyambar tiba bagai hujan, meski ia tidak terluka, namun jaraknya dengan pengejar menjadi makin dekat.
Dan karena makin dekat, ancaman hujan panah itu tentu juga tambah gawat.
Nyo Yam dapat melindungi tubuh sendiri dan sukar menyelamatkan kudanya, beberapa panah hampir saja mengenai kudanya, sungguh sangat berbahaya.
Jika kuda roboh, sedang tenaganya belum pulih, tentu sukar menandingi Toan Kiam-jing.
Selagi keadaan tambah gawat, tiba-tiba tampak debu mengepul, dari depan muncul juga sepasukan tentara.
Diamdiam Nyo Yam mengeluh, jika digencet dari muka dan belakang tentu dirinya bisa celaka.
Tiba-tiba terdengar seorang berseru.
"Hei. bukankah engkau ini si pengemis cilik itu?"
Waktu Nyo Yam mengawasi, kiranya pasukan dan depan ini bukan pasukan Boanjing melainkan laskar berkuda suku Kazak, perwira yang memimpin di depan adalah ajudan Lohai, namanya Sali.
"Ah, terima kasih bahwa engkau masih ingat padaku,"
Seru Nyo Yam dengan tertawa.
Setahun yang lalu, di Lodan pernah Toan Kiam-jing hendak melakukan pembunuhan terhadap Lohai, samar-samar Sali pernah melihat bayangan tubuhnya sehingga rasanya masih kenal padanya, segera ia tanya Nyo Yam.
"Siapa pembesar anjing ini ...."
"Siapa lagi dia kalau bukan si pembunuh yang dulu pernah kau halau itu, namanya Toan Kiam-jing,"
Tutur Nyo Yam.
"Aha, kiranya bangsat keparat itu,"
Kata Sali. Tengah bicara. pasukan Toan Kiam-jing pun sudah mendekat. Dengan gusar Sali lantas membentak.
"Bangsat she Toan, kau berani melakukan pembunuhan terhadap pemimpin kami, sekarang kau datang lagi mengganggu kawan kami. Beiklah, kita sama-sama main panah, boleh kita coba-coba siapa lebih tangkas!"
Sekali memberi perintah, serentak anak buah-nya menghamburkan panah bagai hujan.
Suku Kazak terkenal ahli menunggang kuda dan main panah, kepandaian panah mereka jauh di atas prajurit Boanjing.
Jumlah prajurit Kazak yang dipimpin Sali ini berjumkih lebih 30 orang hampir sekali lipat daripada prajurit Boanjing.
Terpaksa pasukan Boan-jing balas memanah, Toan Kiamjing sendiri berkepandaian tinggi sehingga tiada terluka, tapi belasan prajurit yang dipimpinnya itu dalam sekejap saja sudah binasa terpanah, tinggal sendirian tentu saja Toan Kiam-jing tidak tahan.
cepat ia putar kuda dan kabur.
Sali bermaksud mengejar, tapi wakilnya yang bernama Kasi mencegahnya.
"Pasukan induk musuh berkemah tidak jauh dari sini, jangan sampai kita terjebak musuh. Kita sudah menang, biarlah kita gempur musuh lagi besok. Biarkan keparat she Toan ini sempat kabur, lain kali bila kepergok lagi pasti akan kita bekuk dia. Sekarang kita kedatangan tamu agung, marilah kita layani tamu dahulu."
"Ah, aku kan cuma seorang pengemis cilik tamu agung apa?"
Ujar Nyo Yam dengan tergelak.
"Tetapi pengemis seperti dirimu ini lain dari-pada kaum jembel umumnya,"
Ujar Sali dengan tertawa.
"Eh, ya, saudara Nyo, ingin kutanya padamu, mengapa dalam suasana kacau begini engkau datang kemari?"
"Dari mana kau tahu aku she Nyo?"
Tanya Nyo Yam dengan melenggong.
"Malam itu di tempat pemimpin meski tidak kulihat mukamu, tetapi kudengar suaramu,"
Tutur Sali.
"Waktu itu kau gunakan semacam senjata rahasia aneh untuk menyerang bangsat she Toan tadi, ada sebuah senjata rahasia itu jatuh ke tanah dan kutemukan. Kemudian kutahu senjata rahasia itu bernama Thian-san-sin-bong."
"Siapa yang memberitahukan padamu?"
Tanya Nyo Yam.
"Tidak lama seielah kejadian malam itu, Ling Peng-ji, Linglihiap dari Thian-san datang ke tempat kami, dari dia kami mendapat penjelasan tentang Thian-san-sin-bong itu."
"O, kiranya dia yang bercerita, kemudian apakah kalian melihat dia lagi?"
Tanya Nyo Yam.
"Kira-kira sebulan yang lalu, Ling-lihiap pulang dari Cadam bersama Ki Tiang-hong Ki-taihiap, mereka lalu di sini dan bilang hendak menuju ke Thian-san,"
Tutur Sali.
"Sekarang aku pun hendak pulang ke Thian-san,"
Kata Nyo Yam.
"Di tengah jalan tadi aku bertemu dengan menantu pemimpin kalian, yaitu Sindal, maka ada sedikit persoalan ingin kubicarakan dengan kepala suku kalian."
"Bagus sekali, marilah kita pulang bersama,"
Seru Sali gembira.
"Ingin kutanya lagi padamu tentang seorang,"
Kata Nyo Yam pula.
"Tentang siapa?"
Tanya Sali.
"Seorang nona she Liong, usianya sebaya denganku, entah dia sudah sampai di Lodan atau belum?"
"Kami berangkat kemarin pagi-pagi, waktu di rumah tidak kulihat nona yang kau maksudkan,"
Tutur Sali.
Karena ingin tahu seluk-beluk apa yang terjadi, segera Nyo Yam bersama rombongan meneruskan perjalanan dengan cepat, menjelang petang mereka pun sampai di ibukota kelompok Lodan.
Menerima kabar, Lohai sendiri menyambut keluar, ia pegang tangan Nyo Yam dan berseru.
"Aha, adik cilik, kiranya engkaulah tuan penolong jiwaku, namun sama sekali aku tidak tahu dan tetap menganggap dirimu cuma seorang pengemis cilik, sungguh terlalu."
"Engkau juga banyak membantu kesukaran-ku, Coktiang (kepala suku),"
Jawab Nyo Yam.
"Tadi waktu aku dikejar pasukan musuh juga berkat pertolongan ajudanmu ini."
"Pemimpin pasukan musuh tadi bukan lain daripada orang she Toan yang malam itu hendak membunuh Coktiang itu, sayang tadi dia keburu kabur,"
Tutur Sali.
"Nyo-siauhiap bilang bertemu dengan Sindal dalam perjalanan dan ada urusan perlu dibicarakan Coktiang, maka terpaksa kami putar kembali ke sini."
"Kalian hanya ditugaskan patroli saja, memang tidak perlu mengejar musuh yang sudah kabur,"
Ujar Lohai. Lalu ia tanya Nyo Yam.
"Apakah Sindal menitip sesuatu pasan kepada Nyosiauhiap untuk disampaikan padaku?"
"Dia menyelamatkan seorang Han bernama Kang Sianghun, ia tahu Kang Siang-hun itu juga kenal Coktiang,"
Tutur Nyo Yam. Seketika Lohai kelihatan bersemangat, seru-nya.
"Hah, tidak cuma kenal saja, Kang-taihiap ini pun serupa dirimu, juga banyak membantu perjuangan kami. Memangnya terjadi apa atas dirinya?"
"Kabarnya ia terluka ringan dan tidak berhalangan,"
Tutur Nyo Yam.
"Ia minta menantumu untuk menyelidiki seorang, kebetulan bertemu denganku di tengah jalan, kubilang akan menggantikan dia melaksanakan tugas penyelidikan itu karena aku pun akan datang kemari, dia kusuruh kembali ke sana untuk menjaga Kang-taihiap."
Ia tidak bercerita tentang Sindal yang keracunan agar Lohai tidak kuatir.
"Siapakah orang yang hendak diselidiki Kang-taihiap?"
Tanya Lohai.
"Kukira Coktiang juga mengenalnya, yaitu nona cilik yang dahulu pernah kita pergoki di-pandang rumput itu. Waktu itu dia hendak menemui putrimu dsngan nama samaran, tapi kebetulan dia telah membantu kita malah."
"Betul, bicara tentang peristiwa dulu, aku memang telah salah lihat,"
Ucap Lohai tertawa.
"Waktu itu engkau menyamar sebagai pengemis cilik, sedikit pun aku tidak menyangka engkau memiliki kepandaian tinggi. Datang-datang nona Liong itu lantas bercanda dengan Romana, kuanggap dia nona cilik yang nakal. Pada saat itulah seorang antek kerajaan Jing yang memiliki kungfu tinggi menculik Romana, berkata bantuan kalian dapat-lah penculik itu diusir."
"Tidak, aku tidak bertindak apa-apa pada kejadian itu,"
Ucap Nyo Yam.
"Sebab malam sebelumnya meski kulukai si pembunuh gelap itu dengan Thian-san-sin-bong, tetapi aku pun terkena pukulannya dan terluka."
"Ah, jangan engkau rendah hati,"
Kata Lohai dengan tertawa.
"Kutahu meski tenagamu waktu itu belum pulih. tapi diam-diam engkau telah memberi bantuan kepada nona Liong itu."
Kembali Nyo Yam melengak, ia heran dari mana kepala suku ini tahu hal itu, waktu itu Leng-cu juga berangkat dengan tergesa gesa, dari mana pula orang tahu si nona she Liong?
Namun ia tidak sempat tanya, katanya pula.
"Nona Liong itu bersama Kang Siang-hun kepergok pasukan musuh, Kang Siang-hun terluka dan berhasil lolos dari kepungan musuh, entah nona Liong itu lolos atau tidak, aku merasa kuatir baginya."
"Haha, nona Liong pun lolos dengan selamat, saat ini dia bersama kami sedang mencari keterangan tentang jejak Kang Siang-hun,"
Seru Lohai dengan tertawa.
"Hah, jadi nona Liong berada . berada di sini?"
Tanya Nyo Yam dengan girang. Bicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara lengking alat tiup. Kasi masuk melnpor.
"Di kaki gunung Gotu di luar kota terjadi pertempuran dua pasukan, tampaknya seperti pasukan kita terkepung oleh pasukan Boanjing. Selain itu asap tebal tampak mengepul di beberapa puncak bukit, agaknya pasukan Boanjing bermaksud menyerang secara besar-besaian."
"Baik, kita membagi pasukan menjadi tiga jurusan, bagian tengah membantu pasukan sahabat, kedua barisan kanan dan kiri menyerang sayap musuh,"
Kata Lohai.
"Nah, Sali, lekas kau pimpin 500 pemanah sebagai pasukan pelopor."
"Coktiang, biar kujadi pengawalmu,"
Kata Nyo Yam.
"Rasanya kami belum perlu minta tamu ikut perang,"
Kata Lohai tertawa.
"Betapa kekuatan pasukan Boanjing sudah kuketahui, kuyakin kami pasti dapat mengatasi mereka."
"Kalian sibuk perang, mana boleh kutinggal diam saja?"
Kata Nyo Yam.
"Kita tidak perlu sungkan, bilamana kami memerlukan bantuanmu tentu kami akan minta terus terang,"
Lalu Lohai memberi perintah.
"Panggil keluar Keke (tuan putri). Bila Nyo siauhiap ingin tahu urusan nona Liong, sebentar Romana dapat memberitahukan padamu."
Karena terburu-buru ingin tahu kabar Liong Leng-cu, terpaksa Nyo Yam menerima maksud baik tuan rumah. Dan baru saja rombongan Lohai berangkat masuklah Romana.. Begitu masuk segera si nona berkata.
"Nyosiauhiap, sayang engkau datang terlambat selangkah."
"Mengapa kau bilang kedatanganku terlambat selangkah?"
Tanya Nyo Yam dengan hati bergetar.
"Sudah kuketahui engkau datang untuk mencari nona Liong, dia sudah berangkat siang tadi,"
Tutur Romana. Rada lega hati Nyo Yam, katanya.
"Mengapa dia pergi dengan tergesa gesa?"
Romana tertawa.
"Apalagi kalau bukan lantaran dirimu? Urusan kalian sudah diceritakannya kepadaku. Ia kuatir ketinggalau olehmu, tak terduga engkau justru tertinggal di belakangnya."
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung.
"Urusan Kang Siang-hun juga sudah diceritakan kepada-ku. Ia bilang menyaksikan Kang Siang-hun lolos dari kepungan musuh, dengan kepandaian Kang Siang-hun yang tinggi ia yakin dapat lolos dengan selamat. Yang dikuatirkan dia justru adalah dirimu. maka ia tidak menunggu Kang Siang-hun lagi."
Nyo Yam merasa terharu dan juga kuatir, katanya.
"Dia menuju ke Thian-san sendirian, ku rasa tidak akan menyelesaikan urusan, sebaliknya mungkin akan membikin susah dia sendiri."
"Saudara Nyo, jangan kau kuatir takkan dapat menyusul si nona kekasihmu, engkau takkan tertahan di sini,"
Kata Romana.
"Ayah bilang dapat menang dalam peperangan ini, tentu hal ini akan terlaksana dengan tepat. Dan begitu ayah pulang, bolehlah engkau berangkat esok. Akan kuminta ayah menyediakan seekor kuda terbagus."
"Ai, kalian sedemikian baik kepadaku, sungguh aku merasa malu,"
Kata Nyo Yam menyesal.
"Oo, malu apa?"
Tanya Romana.
"Malu karena tidak dapat membantu kalian,"
Kata Nyo Yam, padahal malu yang dirasakannya tidak cuma hal ini saja.
"Ah, bangsa Han kalian memang suka bicara sungkan semacam ini, padahal engkau sudah banyak membantu kesukaran kami,"
Sampai di sini, tiba-tiba Romana tanya dengan tertawa.
"Eh, saudara Nyo, begitu tergesa nona Liong menyusulmu. dari ucapannya dapat dibayangkan seakan-akan engkau akan tertimpa bahaya bila pulang ke Thian-san. Sesungguhnya ada persoalan apa sehingga engkau lari turun Thian-san tanpa izin?"
"Bukan begitu urusannya, soalnya aku berbuat salah, ia kuatir aku akan mendapat hukuman,"
Tutur Nyo Yam.
"Kuyakin takkan terjadi urusan gawat, andaikan engkau berbuat salah kan juga serupa perbuatan anak kecil saja,"
Ujar Romana dengan tertawa. Nyo Yam tidak menyangka orang akan berpikir begitu, tapi bila dibayangkan, tindak-tanduk sendiri memang mirip perbuatan anak kecil, katanya kemudian dengan tersenyum getir.
"Kesalahan yang kulakukan memang tidak besar, tapi juga tidak kecil. Namun ada sementara orang yang menganggap kesalahanku tak dapat diampuni. Apakah eugkau ingin kuceritakan?"
"Tidak perlu,"
Sahut Romana.
"Pendek kata, apa pun pendapat orang lain, kutetap percaya eagkau adalah orang baik."
"Dari mana pula kau tahu aku orang baik? Apakah lantaran tempo dulu kubantu ayahmu mengusir pembunuh gelap itu?"
Tanya Nyo Yam dengan tertawa.
"Terus terang, kejadian dulu itu sebenarnya bukan maksudku hendak membantu ayahmu melainkan karena pembunuh gelap itu adalah orang yang kubenci."
"Kutahu,"
Ucap Romana dengan serius.
"Bangsat she Toan itu pun pernah membikin susah padaku. Dia adalah manusia paling busuk di dunia ini. Bahwa kubilang engkau orang baik juga melulu karena kejadian dulu itu."
Kembali Nyo Yam melenggong.
"Habis ada sebab apa lagi?"
"Sebab Ling-cici bilang engkau orang baik,"
Jawab Romana.
"Ah, aku tidak percaya. Masa Ling-cici sendiri yang berkata demikian padamu?"
"Tidak perlu ia ucapkan sendiri. Kutahu dia pernah mencarimu ke mana-mana, dulu juga dia datang kemari beberapa hari sesudah engkau bantu ayah mengusir pembunuh gelap itu. Dua bulan yang lalu Ling-cici bersama ayah angkatmu Ki-taihiap lalu di sini, ia pun bicara denganku mengenai dirimu. Cuma sekali ini dia kelihatan sedih. agaknya ia pun serupa nona Liong, kuatir engkau menerbitkan keonaran dan akan dihukum bila pulang ke Thian-san. Cuma, baik suka atau duka, dia tetap sangat memperhatikan dirimu. Ling-cici adalah orang baik, engkau tentu tidak menyangkal bukan?"
"Dia memang orang paling baik di dunia ini,"
Sahut Nyo Yam.
"Itu dia, jika jelas dia orang baik, maka orang yang diperhatikan orang baik masakah tidak baik?"
"Terhadap anak nakal, seorang Cici (kakak) tetap akan sayang padanya,"
Ujar Nyo Yam tertawa. Tiba tiba Romana menggeleng, dengan mata yang bening ia tatap Nyo Yam, katanya.
"Ia tidak sama denganku. Aku boleh menjadi Cicimu, tapi dia tidak memandAnginu sebagai adik belaka. Meski kutahu pada waktu berada di Thian-san kalian pernah tinggal bersama serupa kakak dan adik."
Hati Nyo Yam terkesiap, tanyanya.
"Mengapa timbul tafsiranmu seperti ini?"
"Sebab aku dan dia sama-sama orang perempuan,"
Jawab Romana.
"Ketika dia bicara tentang dirimu, begitu kulihat sinar matanya dan mendengar suaranya segera kutahu perasaannya terhadapmu tidak terbatas antara kakak dan adik belaka. Cuma, mungkin ia sendiri tidak menyadari akan hal ini. atau mungkin ia tahu, tapi sengaja menipu diri sendiri dan tidak mau mengaku bahwa dalam lubuk hatinya telah mencintaimu."
Terguncang perasaan Nyo Yam, ia pikir Romana ini suci bersih bagai butiran embun di puncak es, tak tersangka pandangannya sedemikian terang dan dapat menerawang jalan pikiran Ling cici sejelas ini.
Beberapa kali Ling-cici ingin menghindariku, aku sendiri tidak dapat menyelami perasaannya.
Bilamana isi hati Ling-cici memang betul seperti apa yang dikatakan Romana, maka legalah hatiku.
Tapi apakah benar "lega"
Hatinya? Ketika mendadak bayangan Liong Leng-cu timbul dalam benaknya, tanpa terasa pikirannya kusut lagi.
"Kau tahu apa yang kukuatirkan?"
Tanya Romana tiba-tiba.
"Kau kuatir apa?"
Nyo Yam merasa bingung.
"Aku tidak kuatir kesalahan yang pernah kau-lakukan, tapi kuatir kelak engkau akan berbuat salah."
"Aku akan berbuat salah apa?"
Tanya Nyo Yam Romana menatapnya tajam, katanya.
"Hendaknya terus terang kau katakan padaku, sesungguhnya engkau suka kepada nona Liong atau Ling-cici?"
"Ini ..ini ."
"Kau rasakan sulit untuk menjawab?"
"Ya, aku tidak tahu cara bagaimana harus kukatakan,"
Jawab Nyo Yam.
"Rasanya Ling-cici seperti sanak keluargaku, ia pernah banyak mengalami kemalangan. aku ingin membuatnya bahagia."
"Jika demikian, jadi engkau mau memperistrikan dia?"
Tanya Romana. Muka Nyo Yam berubah merah dan mengangguk.
"Lalu bagaimana pikiranmu terhadap nona Liong?"
Tanya Romana pula.
"Tidak pernah terpikir olehku akan memperistrikan dia, cuma aku pun sangat suka berada bersama dia."
"Jika demikian, Sebenarnya kau sendiri pun tidak tahu dengan pasti sesungguhnya siapa di antara mereka yang kau sukai,"
Ucap Romana dengan gegetun.
"Namun kutahu mereka sama-sama suka padamu. Tak dapat kupaksa dirimu harus menyukai yang mana, cuma ingin kukatakan padamu, ada papatah bangsa Kazak kami bahwa sebuah anak kunci hanya dapat membuka sebuah gembok. Maka mereka sama sama nona yang sukar dicari dan pantas dicintai olehmu, namun engkau juga cuma boleh mencintai satu di antaranya."
"Sebuah anak kunci hanya untuk sebuah gembok?!"
Gumam Nyo Yam.
"Ehm, Cici yang baik, akan selalu kuingat kepada ucapanmu ini."
"Asalkan jangan lupa saja, adik cilik,"
Ucap Romana.
"Kalau tidak, bisa jadi engkau akan berbuat kesalahan bssar."
Bicara sampai di sini, lamat-lamat terdengar suara perang di kejauhan. Nyo Yam mendengarkan dengan cermat, sangsi dan kuatir dia.
"Kau kira pasukan Boanjing menyerbu kemari?"
Ucap Romana dengan tertawa.
"Tidak, itu suara pasukan yang mundur dan bunyi tambur itu tanda kemenangan. Pejuang kami telah pulang dengan kemenangan,"
"Hah, begitu cepat mereka menang perang, sungguh tidak terduga,"
Seru Nyo Yam dengan gembira.
"Maka lekas kau ganti baju, sebaiknya mandi dulu,"
Ucap Romana dengan tertawa.
"Sebentar engkau harus ikut hadir dalam pesta kemenangan, bila seorang pengemis cilik yang duduk di tempat tamu agung. meski kita tidak menjadi soal, bagi pandangan umum kan kurang sedap."
Muka Nyo Yam menjadi marah, katanya.
"Tapi aku tidak mempunyai baju lain."
"Sudah kusiapkan,"
Kata Romana.
"Perawakan Sindal kan tidak banyak berbeda daripadamu."
Lalu ia tepuk tangan dan menyuruh seorang pelayan membawa Nyo Yam pergi mandi.
Setelah mandi dan berganti baju, benar juga kelihatan Lohai dan Sali sudah pulang dari medan perang dengan kemenangan besar.
Dengan berseri-seri Lohai bercerita peperangan tadi, kiranya dari suku Thian-long (serigala) dan suku Ki-him (beruang) datang pula bala bantuan.
Kedua kelompok suku ini mahir perang di tanah bersalju.
Gabungan kedua bala bantuan itu cuma enam-tujuh ribu orang pasukan, yang jaga kota juga cnma selaksa lebih, namun pasukan Boanjing yang berada di luar ada 30 laksa jumlahnya.
Panglima tentara Boanjing bernama Ting Hian-bu.
usianya kurang-lebih 30, sebabnya dia dapat menjabat panglima perang bukan lantaran dia tangkas dan perkasa melainkan karena dia mempunyai seorang ayah yang baik.
Ayah nya adalah panglima panjaga tapal batas yang berkedudukan di Seling, yaitu Ting Tiau-yong.
Ting Tiau-yong adalah seorang prajurit karir, mulai dari prajurit hingga menjadi panglima, semua itu hasil perjuangannya di medan perang.
Meski dia tidak tergolong panglima maha pintar, sedikitnya dia adalah panglima yang sudah kenyang asam garam di medan perang.
Tetapi putranya itu adalah seorang pemuda yang cuma belajar ilmu militer di belakang meja saja, sama sekali belum ada pengalaman praktek.
Pernah terjadi lelucon di tengah pasukan, katanya nama mereka ayah dan anak mestinya harus saling tukar.
Sebab Ting Hian-bu artinya pamer ketangkasan, sedang Ting Tiauyong arti-nya Ting si bodoh.
Sekali ini Ting Tiau-yong sendiri telah mengatur siasat perang terhadap Lodan dan akan menyerbunya secara mendadak, ia yakin sekali gempur pasti akan berhasil, sebab itulah ada maksudnya hendak memupuk jasa bagi putranya dan sengaja memberi kesempatan kepada anaknya itu untuk memimpin pasukan.
Panglima bawahannya yang sudah berpengalaman dan dapat diandalkan, yaitu Bu Ek, malahan cuma ditugaskan menjadi wakil Ting Hian-bu.
Cuma meski Bu Ek resminya cuma wakil komandan, namun prakteknya dia yang memimpin pasukan.
Hal ini memang sudah dibicarakan oleh Ting Tiauyong di depan Bu Ek dan Ting Hian-bu.
Dengan sendirinya Bu Ek mafhum Ting Tiau-yong sengaja hendak membantu anak sendiri, bila dia mendapat kehormatan yang layak dan memegang kekuasaan menurut kenyataannya, maka ia pun tidak merasa terhina menjadi wakil komandan.
Dasar nasib pasukan Boanjing memang harus mengalami kekalahan, ketika bala bantuan kedua suku Thian-long dan Kihim sampai di kaki gunung di luar kota Lodan, hal ini diketahui oleh Ting Hian-bu.
ketika mendapat laporan bahwa bala bantuan musuh cuma berjumlah enam-tujuh ribu orang, timbul pikirannya meremehkan musuh.
Menurut perhitungan Ting Hian-bu,-pada waktu bala bantuan musuh itu melalui selat gunung, di situlah dia akan menggempurnya dengan separoh dari jumlah pasukaunya yang dipimpinnya sendiri.
Pasukan Boanjing berjumlah 30 ribu jiwa, meski cuma separoh juga jumlahnya lebih banyak sekali lipat dan pada bala bantuan kedua kelompok suku itu.
Sisa pasukan Boanjing yang separoh dibagi lagi menjadi tiga jurusan, dua jurusan berlagak menyerang kota dengan berteriak-teriak, satu barisan lagi menjaga markas.
Menurut perhitungan Ting Hian-bu, cukup berteriak-teriak saja pasukannya di luar kota sudah cukup membuat pasukan musuh kuncup dan tidak berani keluar.
Dengan begitu separoh pasukan yang dipimpinnya itu tentu takkan sukar untuk menumpas pasukan musuh yang cuma berjumlah enam-tujuh ribu jiwa itu.
Meski Bu Ek diberi kekuasaan mutlak dalam praktek oleh Ting Tiau-yong, tapi resminya Ting Hian-bu tetap komandannya, karena tidak dapat mencegahnya, terpaksa Bu Ek masa bodoh.
Menutut teori memang siasat Ting Hian-bu itu tidak salah, cuma sama sekali ia tidak memperkirakan semangat perang prajurit lawan jauh lebih kuat, juga geografis lebih paham daripada pasukan Boanjing, berperang di tempat yang khas juga lebih tangkas daripada dia.
Yang paling celaka adalah perkiraannya pasukan penjaga Lodan yang tidak berani menerjang keluar itu justru di-kerahkan oleh Lohai untuk menyerbu keluar sehingga pasukan Boanjing menjadi kalang kabut.
Perang di selat gunung bersalju.
meski jumlah pasukannya sekali lipat dari lawan ternyata berbalik terdesak di pihak terserang melulu.
Terpaksa Bu Ek harus mengerahkan cadangan pasukan yang berjaga di markas itu baru sanggup menahan serbuan musuh Pasukan Boanjing yang cuma berteriak-teriak itu tidak menyangka musuh berani menerjang ka luar, keruan seketika mereka pun kacau-balau di-serbu pasukan Lohai.
Dalam keadaan gawat, mana mereka mampu merintangi pasukan musuh, langsung Lohai membawa pasukannya menuju ke selat gunung.
Waktu itu sebagian pasukan Bu Ek baru masuk selat gunung, tapi pasukan berkuda suku Ka-sik di bawah pimpinan Sali sudah menyusup dari samping, orang Kazak ini semuanya ahli panah, serentak sebagian pasukan Ba Ek yang berada di belakang meajadi karban hujan panah dan ekor nya dapat dipatahkan.
Dengan bergabung dengan bala bantuan dari kedua kelompok suku, pasukan Lohai lantas balas msnggencet pasukan musuh dari luar-dalam, hanya dalam setengah jam saja pasukan Boanjing dibuat kocar-kacir.
Begitulah Lohai bercerita tentang kemenangannya yang gemilang ini, katanya.
"Setelah mengalami kekalahan ini, kutaksir kerugian mereka sedikitnya ada separoh yang mati dan luka. Sekali pun mereka dapat minta bala bantuan lagi dari Seling, hal itu baru akan terkabul sedikitnya tiga bulan kemudian. Cuma ..."
Sampai di sini, mendadak nadanya berubah berat, sikap gembiranya tadi mendadak lenyap.
"Cuma apa?"
Tanya Romana cepat.
"Cuma kita juga mengalami berugian yang tidak terduga,"
Tutur Lohai.
"Sebuah pos pengintai kita di lereng Angin Hitam, dari 30-an saudara kita hanya seorang saja yang lolos dengan selamat."
Nyo Yam coba menghiburnya.
"Musuh rugi sekian ribu dan pihak sendiri cuma kehilangan sekian orang, di medan perang memang sukar terhindar dari korban. Apalagi kerugian kita boleh dikatakan tidak ada artinya dibandingkan korban musuh."
"Dalam jumlah kerugian memang tidak ada artinya, tapi kau tahu, ke-30 orang itu adalah saudara yang kubawa dari kampung halaman, pejuang suku bangsa Wana yang paling tangkas. Sebab lereng Angin Hitam adalah tempat strategis maka kusuruh mereka berjaga di sana."
"Pegunungan bersalju tempat pertempuran itu bukankah terletak belasan li di selatan kota?"
Tanya Romana mendadak.
"Betul,"
Jawab Lohai.
"Sedang lereng Angin Hitam terletak belasan li di utara kota, mengapa begitu cepat pasukan Boanjing menyerbu ke sana? Sepanjang jalan pe-gunungan sampai lereng itu adalah daerah pertahanan kita, sepantasnya pasukan musuh tidak mungkin tiba di sana sebelum kota diduduki mereka."
"Mereka tidak menyerang lereng Angin Hitam dengan pasukan. mereka cuma terdiri dari dua orang, seoraag lelaki dan seorang perempuan."
"Hanya dua orang saja dapat menyikat 30 orang pejuang kita yang terbaik?"
Tanya Romana dengan heran.
"Yang-perempuan itu seorang Han. Menurut bintara yang jaga lereng itu, katanya ada seorang nona Liong datang ke tempat kita, cuma ia sendiri tidak melihat nona Liong, hanya diketahui nona Liong itu serupa Ling-lihiap, juga sahabat yang pernah membantu kesukaran kita."
"Ia kira orang perempuan itu adalah nona Liong?"
Tanya Romana.
"Ia tidak memperhatikan siapa mereka, cuma lantaran melihat mereka adalah bangsa Han, maka ia menaruh hormat kepada mereka, dianggapnya orang baik seperti nona Liong dan Ling-lihiap."
"Ah, orang Han ada yang baik dan juga ada yang busuk,"
Ujar Nyo Yam.
"Apakah perempuan bangsa Han itu berkepandaian tinggi?"
Tanya Romana.
"Katanya selain tinggi ilmu silatnya juga mahir ilmu sihir,"
Tutur Lohai.
"Ilmu sihir?"
Romana melengak.
"Masa di dunia ini benar ada ilmu sihir?"
"Sesungguhnya juga bukan ilmu sihir, ia hanya mahir menaburkan semacam asap berbisa,"
Tutur Lohai.
"Cuma pejuang kita tidak kenal senjata rahasianya yang aneh itu, maka disangkanya ilmu sihir."
"Coba ceritakan senjata rahasia yang digunakan itu?"
Nyo Yam ikut tanya.
"Menurut cerita pejuang kita yang berhasil lolos, konon perempuan itu berusia 30-an, berpupur tebal, dandanannya genit,"
Tutur Lohai pula.
"Setiba di pos pengintai kita di lereng terjal itu, dia tetap tertawa saja, tapi mendadak ia melemparkan sesuatu yang meletus di udara, seketika asap bertebaran dan pejuang kita sama roboh pingsan, yang tidak pingsan juga merasa sekujur badan lemas tak bertenaga. Hanya seorang pejuang kebetulan sedang buang air di balik batu, begitu mengendus bau tidak enak, segera ia tahu gelagat jelek, cepat ia menggelinding ke bawah lereng sehingga terlepas dari maut."
"Apakah yang lelaki itu bersenjata golok melengkung?"
Tanya Nyo Yam.
"Betul,"
Jawab Lohai.
"Eh, tampaknya engkau sudah tahu siapa mereka?"
"Ya, yang lelaki itu adalah musuhku,"
Kata Nyo Yam dengan gregetan.
"Kemarin baru kuketahui dia adalah salah seorang perwira yang memimpin pasukan Boan-jing . itu, namanya Alcu Yung. Dan yang perempuan itu adalah bini muda Pektoh-sancu."
"Pek-toh-sancu itu orang macam apa?"
Tanya Lohai.
"Seorang gembong iblis yang selalu memusuhi kaum pendekar, juga diam-diam menjadi antek kerajaan Boanjing dan bekerja baginya."
"Aneh juga, mengapa seorang perwira Boanjing membawa minggat bini muda orang?"
"Dari mana ayah tahu mereka minggat?"
Tanya Romana.
"Pada waktu mereka minggat sampai lereng Angin Hitam, pertempuran di pegunungan sana belum lagi terjadi, tapi pada saat itulah dia meninggalkan pasukannya bersama seorang perempuan dengan mengitar kota, apa maksud mereka kalau bukan sengaja minggat bersama?"
"Mereka memang orang busuk semua, andaikan benar minggat juga tidak mengherankan,"
Ujar Romana.
"Ilmu silat perwira itu sangat tinggi, pangkat-nya tentu juga tidak rendah,"
Kata Lohai lagi-"Dia punya pangkat dan berkuasa, prajurit Boanjing biasanya juga tidak mengutamakan disiplin, bila dia main gila dengan bini muda orang kan juga tidak perlu membawanya minggat segala."
"Ah, buat apa ayah mengurus perbuatan kotor begitu,"
Kata Romana dengan muka merah.
Nyo Yam juga merasa heran, tapi ia tidak dapat menerima penjelasan Lohai itu.
Sebab ia tahu pada perempuan siluman itu terdapat sepucuk surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan.
Meski ia tidak mengerti untuk apa mereka merampas surat pengakuan dosa itu, namun dapat diduganya pasti tidak menguntungkan Liong Leng-cu.
Apalagi mereka katanya menuju ke utara, sedang letak Thian-san kan di utara sana.
Baca Juga: Tujuh Pedang Tiga Ruyung 8
Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 11