Eps 6 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.
"Sendirian Leng-cu menuju ke Thian-san, bila ia tersusul oleh Alcu Yung dan perempuan siluman itu, tentu bisa celaka,"
Demikian Nyo Yam berpikir dari arah yang paling buruk, hal ini membuatnya cemas. Lohai sedang bercerita lagi tentang suatu berita baik yang menarik, lebih dulu ia tanya putri-nya.
"Romana, bukankah nona Liong hendak mencari kabar Kang Siang-hun, dia sudah pergi atau belum?"
"Sudah pergi siang tadi, karena kesibukan ayah, maka keberangkatannya tidak kuberitahukan,"
Jawab Romana.
"Apakah ayah mendapat kabar baru mengenai Kang-taihiap?"
"Ya,-menurut kabar yang kuterima, besok juga dia akan datang kemari,"
Tutur Lohai. Romana kegirangan.
"Bukankah dia terluka parah?"
"Ia terluka panah, lukanya memang tidak ringan, untung tidak mengenai tempat fatal, setelah dirawat dua hari, kemarin sudah dapat bergerak. inilah berita yang baru kuterima, katanya Sindal juga sudah pulang ke kampung dengan selamat."
"Memangnya Sindal juga mengalami sesuatu bahaya?"
Tanya Romana kaget.
"Ya, dia mengalami bahaya apa, boleh kau-tanya saja kepada saudara Nyo,"
Ucap Lohai.
"Tadi saudara Nyo bilang padaku bertemu dengan Sindal dalam perjalanan dan menggantikan dia ke sini, sebab ia minta Sindal kembali ke sana untuk menjaga Kang-taihiap,"
Kata Romana.
"Dia kuatir kita cemas, maka bilang begitu,"
Ujar Lohai.
"Betul, menurut tabiat Sindal, jika hendak melaksanakan sesuatu tugas tidak nanti di tengah jalan diwakilkan kepada orang lain. Lekas katakan padaku, saudara Nyo, Sindal terluka tidak?"
Tanya Romana kuatir.
"Tidak, seujung rambutnya saja tidak terganggu,"
Tutur Nyo Yam.
"Ia cuma dikibuli orang, sempat minum arak susu kuda yang dicampur Sin-sian-wan."
"Sin-sian-wan itu barang apa?"
Tanya Romana.
"Kau tahu candu, ganja dan sebangsanya?"
Tanya Nyo Yam. Romana menggeleng kepala.
"Jika begitu biarlah kujelaskan sebagai berikut,"
Kata Nyo Yam dengan tertawa.
"Sin-sian-wan adalah barang yang dapat membuat manusia menjadi makhluk tak berguna, cuma hal itu baru akan terjadi bila orang meminumnya dalam jangka panjang, bila cuma minum sedikit saja tentu tidak bahaya."
Romana merasa lega, tanyanya.
"Apakah kau tahu siapa yang mengerjai dia?"
"Menurut ceritanya, seorang perempuan setengah umur dengan dandanan genit,"
Tutur Nyo Yam.
"Maka menurut dugaanku, besar kemungkinan adalah perempuan siluman yang muncul di lereng Angin Hitam itu."
"Sungguh keji amat perempuan siluman itu,"
Omel Romana dengan gemas.
"Cuma aneh juga, jika Sindal sampai pingsan dikerjai dia, mengapa dia tidak menawan Sindal sekalian."
"Ya! aku pun tidak mengerti,"
Kata Nyo Yam.
"Masakah perempuan siluman itu mempunyai maksud baik? Tidak perlu kita menerkanya lagi,"
Kata Lohai.
"Kau tahu berita. yang dikirim Sindal, katanya besok ia bersama Kangtaihiap akan pulang ke sini."
"Yaah, bagus sekali, sungguh kabar baik,"
Kata Romana gembira.
"Nyo-siauhiap, engkau jangan terburu-buru pergi, petang esok pada saat sekarang mereka tentu akan datang kemari."
Kata Lohai pula.
"Tapi aku -..aku ."
Seketika Nyo Yam sukar memberi ala"an.
"Engkau masih ada urusan lain?"
Tanya Lohai.
"Sudahlah, jangan ayah menahannya, ia justru gelisah dan ingin lekas pergi."
Sela Romana dengan tertawa.
"Apakah betul?"
Tanya Lohai Nyo Yam mengangguk.
"Tinggal satu hari lagi juga tidak bisa? Besok juga engkau dapat bertemu dengan Kang-taihiap,"
Kata Lohai.
"Ai, rupanya ayah sama sekali tidak dapat meraba isi hati orang,"
Ujar Romana dengan tertawa.
"Oo. Nyo-siauhiap ada isi hati apa?"
Tanya Lohai. Muka Nyo Yam menjadi merah, jawabnya tergagap.
"Ah. Keke bercanda denganku."
"Jika kau anggap aku bercanda, baiklah kuminta kau tinggal sehari lagi di sini,"
Kata Romana dengan tertawa. Muka Nyo Yam tambah merah dan tidak bersuara.
"Sudahlah, Romana, jangan kau goda orang lagi, coba kau jelaskan baginya,"
Kata Lohai.
"Ayah tahu, jika Nyo-siauhiap tinggal lagi di sini untuk menemui Kang-taihiap, hal ini berarti dia tidak dapat menyusul dan bertemu dengan nona Liong,"
Tutur Romana.
"Barangkali ayah tidak tahu bahwa kedatangan nona Liong adalah karena ingin mencari Nyo-siauhiap, sebabnya nona Liong tidak mau menunggu Kang-taihiap di sini juga ingin menyusul Nyosiauhiap yang disangkanya sudah berada di depan sana, tak tahunva Nyo-siauhiap justru tertinggal di belakang, sekarang nona Liong sudah berangkat, dengan sendirinya sekarang ia yang harus menyusul nona Liong."
"O, kiranya begitu, hal ini seharusnya ku-pikirkan sejak tadi, sungguh aku sudah pikun,"
Seru Lohai sambil mengetuk dahi sendiri.
"Sebenarnya aku pun tidak terlalu kenal Kang Siang-hun,"
Kata Nyo Yam "Jika dia sudah lolos dari bahaya, dapatlah aku merasa lega.
Kalian telah menang perang, dalam waktu tiga bulan pasti tidak akan terjadi apa-apa lagi.
Sebab itulah peluang ini akan kugunakan untuk pulang dulu ke Thian-san, kelak aku pasti akan datang lagi untuk membantu kalian."
"Baik, jika begitu aku tidak menahan dirimu lagi,"
Kata Lohai.
"Nah, Romana, lekas siapkan santapan. biar kita ucapkan selamat jalan kepada saudara Nyo."
Esok paginya, Romana menyediakan seekor kuda pilihan bagi Nyo Yam, ia antar sendiri keberangkatan anak muda itu sampai di luar kota Nyo Yam terus berangkat dengan cepat, enam tujuh hari kemudian ia sudah sampai di lorung selatan pegunungan Thian.
Lereng Thian-san memanjang sejauh tiga ribu li lebih, meski puncak gunung yang terlihat oleh-nya termasuk lereng pegunuagan Thian itu, namun jaraknya dengan puncak utara tempat Thian-san-pai itu masih tujuh-delapan ratus li jauhnya.
Memandang pegunungan Thian itu dari kejauhan di padang rumput dapat melihat pemandangan aneh dengan berbagai jalur es yang malang melintang serupa naga perak.
Meski masih harus menempuh perjalanan jauh, demi melihat pemandangan pegunungan es yang indah dan cukup dikenalnya itu, di atas kudanya yang dibedal secepat terbang di padang rumput.
dirasakan oleh Nyo Yam seakan-akan sudah berada di rumah.
Cuma di antara rasa senangnya juga ada rasa kuatir, sepanjang jalan Liong Leng-cu tidak tersusul dan juga tidak diperoleh kabar beritanya.
Teringat kepada Liong Leng-cu, tanpa terasa ia pun terkenang kepada Ling Peng-ji.
Tiba-tiba telinganya serasa mendenging ucapan.
"Ingat, sebuah anak kunci hanya untuk sebuah gembok!"
Itulah pesan Romana kepadanya waktu mengantar keberangkatannya.
Dipandang dari padang rumput, di kaki gunung sana bunga hutan sudah sama mekar, di pinggang gunung juga sudah mulai mengalir air sungai yang mulai cair meski di atas gunung bunga salju masih bertebaran.
Suasana pada sebuah pegunungan ternyata membawa pemandangan tiga musim.
Dalam benak Nyo Yam juga timbul dua bayangan anak dara yang membuat bimbang pikirannya.
Tiba-tiba dilihatnya di semak rumput tepi jalan ada bangkai kuda, daging kuda sudah hampir bersih dimakan elang, namun masih terlihat bahwa kuda ini mati belum lama, bisa jadi baru mati kemarin saja.
"Entah musafir pengelana mana yang kehilangan kuda ini? Saat ini apakah dia masih melanjutkan perjalanan atau sudah istirahat selamanya serupa kudanya ini?"
"Ai, sejak lahir aku tidak mempunyai rumah, Meski sekarang kupulang ke Thian-san, tetap tak dapat kuanggap Thian-san sebagai rumahku. Aku memang ditakdirkan menjadi seorang musafir pengelana."
Begitulah teringat kepada nasib sendiri dan suasana setempat, tanpa terasa Nyo Yam berduka, dengan pelahan ia bernyanyi kecil membawakan sebuah lagu rakyat gembala yang berjudul "nyanyian kaum pengelana".
Selesai berdendang.
dirasakan di jagat raya ini seakan-akan cuma tinggal dia sendiri yang sedang melangkah.
"Ai, Ling-cici, di manakah dikau sekarang? Apakah kau tahu saudaramu ini telah pulang mencarimu?"
"Ah, adik Leng-cu, di manakah dikau? Tahukah saat ini aku sedang menyusulmu?"
Begitulah sekaligus ia terkenang kepada dua orang, mendadak bayangan khayal kedua nona itu lenyap sekaligus dari benaknya.
Ia coba mendengarkan dengan cermat, sayup-sayup terdengar di kejauhan ada orang sedang meniup seruling.
dari suaranya yang melengking tajam itu dapat diketahui suara tiupan dari seruling batang gelagah.
Seruling gelagah itu dibuat dari semacam tetumbuhan khas yang cuma tumbuh di tepi danau es di puncak Thian-san.
Meski gelagah di Thian-san ini sejenis dengan gelagah yang tumbuh diperairan umumnya, namun seruling yang dibuat dari batang gelagah Thian-san yang juga berbentuk serupa bumbung itu akan mengeluarkan suara terlebih nyaring, terkadang suaranya dapat berkumandang sampai beberapa li jauhnya.
Nyo-Yam hanya mendengar suara seruling dan tidak melihat peniupnya, maka sukar diketahui orang berada berapa jauhnya dari situ, Ia pikir lwekang orang ini sungguh tidak lemah, entah paman guru mana yang sedang meniup seruling?
Tiba-tiba tergerak hatinya, sebab lagu yang dibawakan suara seruling itu tiada lain adalah lagu "nyanyian kaum pengelana."
Seketika Nyo Yam melonjak girang, teriaknya.
"Ling-cici, Ling-cici! Ya, dia pasti Ling-cici!"
Sementara itu lagu "nyanyian kaum pengelana"
Sudah selesai dibawakan oleh suara seruling, menyusul lantas terdengar suitan panjang serupa lengking naga.
"Hah, itu dia Gihu (ayah angkat),"
Seru Nyo lam.
"Gihu. Ling-cici, dapatkah kalian mendengar suaraku?"
Ayah angkat Nyo Yam, Ki Tiang-hong, bersuit dengan Iwekang "Sai-cu-hong"
Atau auman singa, suara suitannya dapat mencapai beberapa li jauhnya, lwekang Nyo Yam sendiri masih belum mencapai setaraf itu.
Karena itulah suara teriakannya tidak dapat mencapai jauh, segera ia pun menyadari suaranya takkan didengar mereka, terpaksa ia harus menyusulnya dengan membedal kudanya terlebih cepat.
Sementara itu suara di kejauhan sudah lenyap.
Nyo Yam tidak salah lihat, bangkai kuda yang dilihatnya tadi memang baru mati kemarin, penunggangnya tak-lain-takbukan adalah Liong Leng-cu.
Pada waktu nona itu membedal kudanya dengan cepat, mendadak kuda itu jatuh terjungkal, setelah meringkik panjang lalu binasa.
Meski berlari sepanjang hari, namun kuda ini jelas bukan mati kelelahan, sebab sebelumnya tidak ada tanda larinya yang semakin lambat.
Keruan Leng-cu terkejut dan melompat ke samping.
Untung apa yang terjadi keburu diketahuinya, sebab segera dilihatnya pada perut kuda yang sudah mati itu hinggap seekor kalajengking loreng, itulah kalajengking gurun berbisa yang jarang ada bandingannya, pada perut kalajengking itu adalah alat pengisap, ketika kuda kebetulan lari di sampingnya, kalajengking itu terus merambat ke atas perut kuda.
Sekali tuauk dengan pedangnya Leng-cu membunuh kalajengking itu, namun kudanya tetap tak tertolong lagi.
Yang lebih runyam adalah perbekalannya ikut terlempar ke tanah berbaur dengan pasir.
Ia kuatir pasir ada sisa racun kalajengking, ia tidak berani menjemput kembali rangsum yang berserakan itu.
Diam-diam ia menyesali kejadian ini, sungguh sudah jatuh tertimpa tangga lagi, Kalau melulu mengandalkan jalan kaki, entah berapa lama baru akan sampai di Thian-san.
Tapi apapun juga dia harus meneruskan perjalanan, sekalipun harus merangkak juga harus sampai di Thian-san.
Keuntungan di tengah kemalangannya adalah dia sudah sampai di ujung gurun ini, maju ke sana lagi tidak terlalu jauh sudah memasuki padang rumput yang ada sumber airnya.
Ia dibesarkan di padang rumput dan gurun pengalamannya mencari makanan di tempat semacam ini bahkan lebih cekatan daripada rakyat gembala setempat.
Ia tahu ada beberapa jenis buah hutan sedang berbuah pada musim demikian, maka dapatlah ia menggunakan buah liar untuk mengisi perut dan melepas dahaga sehingga sehari pun lalu.
Ia terus berjalan, menjelang lohor esoknya, dari jauh sudah terlihat puncak salju lereng Thian san.
Selagi ia hendak mengumpulkan buah lagi dan memasuki lereng gunung, tiba-tiba terlihat di tepi jalan dekat kaki gunung sana ada sebuah tenda, seorang nenek berdiri di luar tenda sedang berseru kepadanya dengan bahasa setempat.
"Air manis, kue lapis, juga ada arak susu kuda!"
Kiranya sekarang ini menjelang musim semi, salju pegunungan mulai cair, kaum pemburu mulai berburu binatang ke pegunungan.
Setelah mengalami musim dingin yang panjang, binatang yang kelaparan pun ingin keluar mencari makan, maka pemburu yang masuk gunung pada musim demikian seringkali akan mendapatkan hasil di luar dugaan.
Pada saat demikian, sementara orang tua yang sudah lemah tenaga kerjanya lantas pasang tenda di kaki gunung dan menjual makanan kasar kepada kaum pemburu.
Air manis yang dimaksud adalah air sumber pegunungan yang juga sangat diperlukan pemburu, sebab meski di padang rumput tidak kekurangan air minum.
tapi sumber airnya kebanyakan di-benami oleh kotoran sebangsa daun kering dan ranting lapuk, dengan sendirinya tidak segar lagi serupa air sumber.
cuma karena sasaran jualan merek adalah kaum pemburu yang tidak banyak jumlahnya, penjual makanan dan minuman sampai seharian berjalan tidak ada seorangpun.
Semangat Leng cu terbangkit melihat neke penjual makanan itu, cepat ia mendekat kesana.
Nenek itu menatapnya dengan heran dan sangsi, katanya "Nona cilik, dimanakah orang tuamu?
Kamu juga hendak masuk gunung untuk berburu bukan?"
Kiranya Lengcu pandai menyamar, ia kuatir dikenali anak murid Thian-San pai, maka sejak beberapa hari lalu dia sudah menyamar sebagai gadis dusun setempat, malahan sengaja berdandan dengan buruk rupa.
Leng-cu menjawab sapaan si nenek dengan bahasa daerah.
"Awak cuma punya seorang kakak, dia masuk gunung dan berburu, sudah beberapa hari belum pulang, persediaan makanan dirumah sudah habis, maka ingin kucari kakak. Eh, apakah nenek melihat kakakku?"
"Bagaimana bentuk kakakmu?"
Tanya si nenek Secara ngawur Leng-cu menjawab. Nenek itu menggeleng kepala, katanya.
"Tidak kulihat orang semacam itu. Apakah kalian bersaudara dan dari daerah lain?"
"Betul, kami datang dari Lodan,"
Kata Leng-cu, Suku bangsa gembala memang rakyat yang hidupnya berpindah kian kemari menurut situasi dan kondisi tempat, seorang pemburu mencari rejeki ke tempat lain adalah kejadian yang jamak.
Apalagi di pegunungan ini memang banyak binatang langka sebangsa badak bercula satu dan menjangan loreng.
setiap musim semi banyak pemburu dari daerah lain yang berburu ke sini.
Meski si nenek merasa nona buruk rupa ini agak aneh, tapi juga tidak curiga lagi, katanya.
"O, kiranya kau cari kakakmu lantaran persediaan makanan di rumah sudah habis. Sungguh kasihan. Cuma, kamu seorang nona cilik, kan berbahaya jika sembarangan terobosan di hutan lebat. Begini luas pegunungan ini, cara bagaimana akan kau cari kakakmu?"
Leng-cu berlagak melenggong bingung, lalu dengan muka murung ia bergumam.
"Wah, lantas bagaimana lagi?"
"Begini saja,"
Kata si nenek.
"boleh kau tinggal disini dan membantuku berjualan, boleh makan tidur di sini, cuma tidak ada upah."
Leng-cu minum seteguk air manis, lalu berkata.
"Wah, tidak, tidak bisa."
"Mengapa tidak?"
Tanya si nenek "Pertama, aku tidak pandai berhitung, hitung lima duit saja sering keliru,"
Ujar Leng-cu.
"Kedua, kakak bilang mukaku buruk dan kotor, memangnya engkau tidak kuatir pembeli akan lari bila melihat diriku?"
Ia minum air dengan beberapa jarinya yang kotor terbenam dalam mangkuk yang dipegangnya, air dalam mangkuk yang jernih telah berubah kotor, mau-tak-mau kening si nenek bebernyit juga, ia pikir kalau melihat nona yang kotor ini, memang pembeli bisa lari dan tidak sudi minum dan makan barangnya.
Begitulah Leng-cu sengaja berlagak bodoh dan pura-pura tolol, tiba-tiba ia berseru pula.
"Ah, betul, betul!"
"Betul apa?"
Tanya si nenek.
"Di rumahku kehabisan makanan, di tempat ini ini justru sangat banyak. bila diberikan padaku, biar kumakan setengah bulan juga takkan habis,"
Kata Leng-cu.
"Namun aku hanya memerlukan persediaan makanan untuk tujuh hari saja. Biarlah kubawa pulang rangsum untuk tujuh hari saja, selama itu tentu kakak akan pulang."
"Nona cilik,"
Kata si nenek.
"umpama aku mau memberikan makanan ini padamu, tapi aku sendiri juga orang miskin, jika kuberikan padamu orang di rumahku tentu juga akan menderita lapar. Kau paham tidak maksudku?"
"Ya. paham,"
Kata Leng-cu.
"Makanan yang kau jual ini perlu modal, jika kau berikan padaku berarti habislah modalmu."
"Asal kau tahu saja,"
Kata si nenek. Leng-cu terbahak, katanya.
"Tapi engkau jangan kuatir, aku tidak mau mengambil percuma barangmu. Boleh kau berikan persediaan tujuh hari semua jenis makanan yang kau jual ini, dan akan kubayar. Nah. sepotong uang perak ini cukup atau tidak?"
Si nenek terkejut, ia pegang uang perak itu dan ditimbang, katanya kemudian.
"Uang perak ini sedikitnya ada tiga tahil beratnya, boleh kau bayar uang receh saja."
"Apakah maksudmu tidak cukup? Akan ku-tambah lagi!"
Kata Leng-cu sambil mengeiuarkan kantung uang, seluruh isi kantung dituang keluar semua.
Maka terdengarlah gemerincing riuh, bangku panjang tempat taruh makanan itu bertambah dua potong lantakan emas dan beberapa potong pecahan uang perak serta dua renceng mata uang tembaga.
Ada lagi berpuluh mata uang berhamburan jatuh ke tanah.
Kesemua harta benda itu kalau dijumlah sedikitnya bernilai belasan tahil perak.
Jumlah ini tentu tidak banyak artinya bagi orang kaya, tapi dalam pandangan orang miskin boleh dikatakan sejumlah harta yang merangsang.
Si nenek terkejut dan berkata.
"Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini?"
"Pemberian kakak"
Tutur Leng-cu.
"Ini merupakan seluruh kekayaan kakak. Pada waktu dia mau berangkat berburu, ia kuatir mati dicaplok binatang buas, maka seluruh harta kekayaannya diserahkan padaku. Padahal kakak adalah seorang pemburu yang berkepandaian tinggi, setiap temannya yang kukenal juga bilang demikian. Kakak tidak pernah cedera. selama ini aku pun tidak perlu kuatir baginya, aku cuma kuatir dengan uang sebanyak ini tetap sukar membeli makanan."
"Kiranya kakakmu bukan orang bodoh, dia justru bisa berpikir panjang, terutama bagi kepentinganmu,"
Ujar si nenek.
"Eh, dengan sejumlah uang ini apakah cukup bagimu?"
Tanya Leng-cu.
"Bukan demikian maksudku,"
Jawab si nenek.-"Tadi kutanya apakah kau punya uang receh, soalnya makanan yang kujual ini tidak berharga, persediaan uatuk tujuh hari paling banyak cuma berharga tujuh duit saja, sedangkan uang perak yang kau berikan padaku ini berbobot tiga tahil lebih."
Sembari bicara ia terus bantu Leng-cu memunguti mata uang yang tercecer tadi.
"Paha rusa asap ini pun dijual saja padaku, boleh? Kubayar dengan uang perak itu,"
Kata Leng-cu.
"Sebenarnya paha rusa asap ini sengaja ku sediakan untuk kaum pemburu yang gemar minum arak,"
Tutur si nenek.
Maklumlah, paha rusa asap ini merupakan barang paling berharga dari seluruh barang yang dijajakannya.
Ada seorang langganannya suka minum arak dengan ham tiruan paha rusa ini.
Sebagai imbalannya si pemburu sering memberikan hasil buruannya bcberapa kali lipat kepada si nenek daripada paha rusa yang dimakannya.
Maka-Leng-cu coba membujuk.
"Aku sendiri gemar makan daging rusa, jual saja padaku. akan kubayar berapa saja menurut permintaanmu."
"Kasihan benar tampaknya kamu ini,"
Kata si nenek dengan tertawa.
"Baiklah, boleh kau bawa pulang, aku pun tidak minta lebih, satu tahil perak sudah cukup. Sisa uangmu boleh kau terima kembali."
Bicara sampai di sini, sebagai orang tua ia coba memberi nasihat.
"Harta benda tidak boleh diperlihatkan dengan terlalu menyolok, mendingan di sini, kalau di tempat lain yang banyak orang, bisa jadi harta bendamu akan diincar orang jahat"
"terima kasih atas perhatian nenek,"
Kata Leng-cu.
Selagi dia bebenah, tiba-tiba muncul dua penunggang kuda, seorang lelaki dan yang lain perempuan.
Yang lelaki berhidung bengkok dan bermata cekung, yang perempuan berdandan berlebihan seperti perempuan nakal.
Melihat kedua orang ini, hati Leng-cu berdetak, sungguh sial, kembali kepergok mereka di sini, ia berharap orang tidak kenal lagi padanya.
Kiranya kedua orang ini bukan lain daripada Alcu Yung dan Bok Him-him adanya.
Dengan kedua orang ini Liong Leng-cu pernah bergebrak.
Dengan langkah lebar Alcu Yung telah masuk ke dalam tenda dan menegur.
"Jual arak tidak?!"
"Ada, ada!"
Jawab si nenek.
"Potong setengah paha rusa panggang ini untuk minum arak,"
Kata si nenek sambil menuding paha rusa asap yang telah dibeli Leng-cu tadi.
"Wah, maaf."
Jawab si nenek.
"Paha rusa ini baru saja dibeli nona ini."
Alcu Yung melirik sekejap pada Liong Leng-cu.
Saat itu Leng-cu baru saja memasukkan belasan mata uang terakhir ke dalam kantung, tanpa terasa jarinya rada gemetar karena lirikan orang.
Pandangan Alcu Yung memang tajam, sekilas lirik sudah dapat dilihatnya sebuah mata uang yang dipegang Leng-cu tadi bertuliskan tanda "Mata uang Khong-hi".
Padahal mata uang raja Khong-hi ini tidak mungkin beredar sampai di daerah Sinkiang, apalagi digunakan sebagai alat pembayaran di tempat terpencil seperti ini.
Sedang nona buruk rupa ini bukan bangsa Han, dari mana dia pegarg mata uang sebanyak ini.
Sementara itu Bok Him-him sudah ikut masuk, katanya.
"Bagi setengah potong kepada kami, masa tidak boleh?"
"Wah, bukan barangku lagi, silakan kalian berunding dengan nona ini,"
Kata si nenek. Alcu Yung mendengus.
"Hm, aku justru tidak mau setengah potong, tapi harus sepotong bulat, berapa kau jual kepadanya, akan kubayar lipat."
"Maaf, menurut aturan aku tidak berhak menjual lagi barang yang sudah dibeli orang."
Jawab si nenek.
"Aku ttdak peduli aturan apa segala, pokok-nya paha rusa ini tetap kuminta,"
Bentak Alcu Yung sambil menggebrak meja.
Ia menggebrak dengan telapak tangan sehingga ujung meja sempal sebagian, namun makanan yang tertaruh di atas meja tiada satu pun yang jatuh.
Habis berbuat demikian, diam-diam ia melirik Liong Lengcu, ingin tahu reaksinya.
Nona itu memang terkejut, tapi tetap berlagak tidak mengerti kungfu segala, sikapnya yang kelihatan gugup dilakukannya sangat mirip, sorot matanya cuma menampilkau rasa bingung dan bukan terkejut.
Dengan suara gemetar ia berkata.
"Sudahlah, nenek. paha rusa ini tidak jadi kubeli. boleh berikan padanya saja."
Ia tidak tahu bahwa Alcu Yung dan Bok Him-him sudah merasa curiga, terutama Bok Him-him, kini sudah diketahui penyamaran Leng-cu.
Maklumlah, Bok Him-him juga ahli rias dan pandai menyamar, sekali pandang riasan muka Leng-cu dan melihat lagi perawakannya, segera Him-him tahu orang adalah bangsa Han yang menyamar.
Setelah minum dan makan kuwe serta bungkusan makanan yang dibelinya, lalu Leng-cu berkata.
"Terima kasih atas kebaikan nenek, kumohon diri saja sekarang."
Namun sebelum ia bergerak, tahu-tahu bayangan orang berkelebat, Bok Him-him sudah menghadang di depannya.
"Eh, nona cilik, marilah kita berkawan,"
Ucap Him-him dengan tertawa.
"Siapakah namamu?"
"Aku tidak kenal dirimu, aku mau pulang saja,"
Kata Lengcu.
Lengan baju Bok Him-him lantas mengebas, ia cuma menggunakan tiga bagian tenaga dalam untuk merintanginya.
Kalau bicara Iwekang, jelas Bok Him-him tidak dapat menandingi Liong Leng-cu, ia cuma mahir menggunakan racun dan senjata rahasia berbisa saja.
Walaupun begitu, mana Leng-cu berani memperlihatkan kungfunya di depan mereka Maka ketika kebasan lengan baju Bok Him-him menyambarnya, ia berlagak tergetar mundur beberapa langkah dan menubruk meja sehingga beberapa potong makanan jatuh berserakan.
Dengan tertawa Bok Him-him berkata lagi "Rasanya pernah kulihat dirimu entah di mana, umpama belum kenal, kita juga sama orang Han."
"Nona cilik ini bukan orang Han,"
Tanpa di-minta si nenek memberi komentar.
"Jangan urus,"
Kata Him-him dengan bengis, lalu bentaknya kepada Leng-cu.
"Nona cilik, hendaknya tahu diri sedikit. Sekarang ingin kutanya lagi, siapa namamu!!. Supaya kau tahu, biasa-nya aku tidak pernah tanya untuk ketiga kalinya."
Liong Leng-cu berlagak terpaksa dan menjawab.
"Namaku Marsa."
Marsa adalah nama anak perempuan bangsa Kazak yang sangat umum.
"Hm, apa benar namamu Marsa? Kau datang dari mana?"
Jengek Him-him.
"Aku . aku . .."
Leng-cu berlagak gelagapan.
"Lekas mengaku, kau datang dari mana?"
Alcu Yung ikut membentak.
Meski ia tidak pandai urusan menyamar segala, tapi dari nada ucapan Bok Him-him dapat diduganya juga gadis udik yang buruk rupa ini tentu samaran orang Han.
Si nenek berhati welas-asih, melihat kebengisan Alcu Yung, meski takut, tidak urung ia ikut bicara lagi.
"Janganlah tuan menakuti nona cilik ini. Biarlah kukatakan padamu, dia datang dari Lodan."
Alcu Yung mendengus.
"Hm, Daerah Lodan sedang perang, seorang nona cilik seperti dirimu bisa lari ke sini dari Lodan?!"
Sembari bicara ia lantas mengangkat semangkuk air minum terus disiramkan ke muka Liong Leng-cu, berbareng itu tangan yang lain juga memukul.
Cepat Leng-cu berkelit, namun tidak seluruh air siraman itu dapat dihindarkannya, riasan pada mukanya agak luntur, meski tidak kelihatan wajah aslinya, namun kulit mukanya samar-samar kelihatan juga.
Yang lebih runyam adalah hidungnya yang sengaja dibuat lebih mancung dengan adonan tepung yang mengeras, karena pukulan Alcu Yung tadi meski tidak terkena tepat, damparan tenaga pukulannya sempat membuat hidungnya yang mancung berubah menjadi pesek, untung tidak cedera.
Karena kejadian ini, dapatlah Bok Him-him mengenalnya, serunya dengan tertawa.
"Haha, kukira siapa, rupanya Siauyau-li ini! Hehe, sungguh kebetulan, dicari-cari tidak ketemu, tidak dicari kepergok sendiri."
Leng-cu berlagak takut dan meratap.
"Aku orang udik dan..."
"Huh, kaukira kami dapat kau kelabuhi?"
Jengek Alcu Yung. Selagi ia hendak membekuk Liong Leng-cu, tiba-tiba terdengar suara orang datang lagi, terdiri dari dua orang. Seorang di antaranya sedang bicara.
"Sialan, nama pembesar brengsek di Seling itu serupa nama saudaraku, orang yang tidak tahu bisa jadi akan mengira kami memang saudara sekandung."
Waktu bicara jarak kedua orang itu masih ratusan langkah dari tenda si nenek, mereka bicara dengan bahasa Han, suaranya juga tidak keras, tak terduga pembicaraan mereka dapat terdengar tiga orang yang berada di dalam tenda.
Alcu Yung terkesiap mendengar perkataan orang, ia heran nama siapa yang serupa dengan nama Ting-taiciangkun?"
Karena itulah pukulan yang akan dilancarkan tidak jadi diteruskan.
Bukannya dia takut kepada kedua pendatang itu melainkan karena tidak enak untuk turun tangan pada saat demikian.
Mestinya Bok Him-him juga hendak menggunakan asap bius, sekarang pun tidak jadi, sebab bukan cuma suara orang itu dikenalnya, bahkan ia sendiri pernah kecundang di bawah pendatang ini.
Sedang Liong Leng-cu merasa girang dan juga kuatir, ia pikir beruntung kedatangan penolong, celakanya penolong ini juga musuhku, dia juga ingin menawan diriku.
Lantas bagaimana baiknya?
Belum sempat berpikir banyak, terlihat dua orang sudah masuk ke dalam tenda.
Ternyata orang yang baru saja bicara itu ialah Ting Tiaumin dan yang datang bersama dia adalah sute atau adik perguruannya, Kam Bu-wi Sebagaimana diketahui, panglima kerajaan Boan yang berkuasa di Seling.
kota tapal batas, bernama Ting Tiau-yong.
Meski asalnya berlainan tempat dengan Ting Tiau-min, juga sama sekali tidak ada hubungan keluarga.
Namun kalau melulu melihat namanya saja keduanya memang mirip saudara.
Ting liau-min baru pulang dari tempat kelompok suku Thian-long bersama Kam Bu-wi dan mengetahui pasukan Boan sedang menggempur suku Lodan, sebab itulah terjadi prrcakapannya tadi dengan sang sute.
Bok Him-him lantas menyongsongnya dan menegur.
"Aha, sungguh di mana-mana selalu berjumpa, Ting-taihiap, kembali kita bertemu di sini."
Namun Ting Tiau-min justru sedang memandang Liong Leng-cu, meski tidak mengenalnya, terasa juga seperti sudah kenal. Tergerak hatinya, ia berpaling dan menjawab sapaan Him-him.
"Ehm, ya, memang sangat kebetulan!"
"O, jadi Anda ini satu di antara keempat murid utama Thian-san, Ting-taihiap adanya? Selamat bertemu, dan yang ini ... ."
Alcu Yung sengaja hendak pamer lwekangnya, meski cara bicaranya seperti pelahan, namun suaranya menggetar anak telinga.
Diam-diam Ting Tiau-min heran mengapa orang yang mendampingi perempuan siluman ini bergant1 lagi, malahan kungfu orang ini tampaknya lebih tinggi dari pada Ubun Lui.
Ia tidak mau kurang adat.
maka jawabnya dengan hambar.
"Dia suteku, Kim Bu-wi. Anda sendiri siapa, maaf, rasanya seperti belum pernah kenal."
"Hahaha, kalau dibicarakan boleh juga dikatakan kita ini orang sendiri,"
Seru Alcu Yung dengan tergelak "Oo, bagaimana penjelasannya?"
Tanya Ting Tiau-min.
"Sebab lain daripada yang lain hubunganku dengan Cioktianglo kalian, bahwa Ciok-tianglo adalah kepala dari keempat murid utara Thian-san-pai, dia kan suheng kalian. Jadi kalau diurutkan, aku dan kalian kan juga terhitung kawan."
"Hm, sudah sekian banyak Anda bicara dan belum lagi kuketahui namamu,"
Dengus Ting Tiau-min.
"Suhengmu tahu siapa diriku, setelah bertemu dengan suhengmu bolehlah kau tanya padanya, kan sama saja."
"O, rupanya namamu tidak boleh disebut di tempat terbuka, jika begitu aku pun tidak perlu tanya lagi kepada Cioksuheng,"
Jengek Ting Tiau min.
"Sebab selama ini Ciok-suheng tidak pernah bicara denganku tentang seorang kawan yang namanya perlu disembunyikan."
Kara Bu-wi ikut bicara.
"Bstul, setiap kawan Ciok-suheng cukup kami kenal, hanya tidak diketahui ada sahabatnya yang namanya harus di rahasiakan."
Alcu Yung tidak marah, ucapnya tak acuh.
"Jika kalian tidak percaya, ada suatu cara sederhana dapat kuberi bukti."
"Cara bagaimana?"
Tanya Tiau-min.
"Terus terang, sekarang kami hendak pergi ke Thian-san untuk mencari suhengmu,"
Tutur Alcu Yung.
"Aku tidak pernah ke sana sehingga agak bingung cara bagaimana dapat mencarinya. Jika sekarang mendapat kawan seperjalanan seperti kalian tentu kami tidak perlu susah payah lagi."
Ting Tiau-min merasa sangsi, pikirnya.
"Jangan-jangan dia antek kerajaan Boanjing dan bermaksud mencari informasi seluk-beluk perguruan kami. Tapi langkahnya ini juga berbahaya baginya, begitu berhadapan dengan Ciok-suheng tentu kedoknya akan terbongkar, masakah dia berani bertindak gegabah begini?"
Agaknya Alcu Yung dapat menerka jalan pikirannya, katanya pula.
"Boleh kau tunjuk suatu tempat dan di sana akan kutunggu suhengmu. Begitu bertemu dengan suhengmu segera kupergi tidak perlu kau sangsikan ada maksudku ingin mencampuri urusan perguruanmu "
Dengan sendirinya Ting Tiau-min tidak mau percaya begitu saja, seketika ia tidak mengerti maksud tujuan orang.
Melihat Ting Tiau-min seperti ragu dan tidak bisa mengambil keputusan, Liong Leng-cu menjadi gelisah, pikirnya.
"Biarpun orang she Ting ini juga ingin menangkap kakak Yam, tapi di antara ke-empat murid utama Thian-san, betapapun dia paling sayang kepada kakak Yam."
Karena keadaan sudah terdesak, mendadak Leng-cu mendekati Ting Tiau-min dan membisiki-nya.
"Orang ini adalah musuh besar Nyo Yam, waktu kecilnya Nyo Yam pernah ditawan dia. Namanya Alcu Yung, seorang alap-alap kerajaan Boanjing."
Ting Tiau-min terkejut dan bertanya.
"Engkau ini siapa?"
Liong Leng-cu mengusap mukanya sehingga kelihatan wajah aslinya, lalu menjawab.
"Aku inilah Siau-yau-li yang hendak kalian tangkap itu."
"Di mana Nyo Yam?"
Bentak Ting Tiau-min.
"Mungkin sudan dicelakai mereka,"
Kata si nona.
"Jangan percaya ocehan Siau-yau-li ini, Ting-taihiap, dia sengaja mengadu domba kita,"
Cepat Alcu Yung menyela.
"Biar kubekuk dia dulu, siapa yang akan membawanya pergi nanti tidak menjadi soal."
"Apa yang dikatakannya betul atau tidak?"
Bentak Tiau-min pula.
"Betul,"
Jawab Alcu Yung.
"Waktu kecilnya memang Nyo Yam pernah kutangkap atas perintah, sebab dia adalah putra pemberontak. Tapi Nyo Yam kan juga murid murtad perguruau kalian!! Asalkan kalian tidak membangkang terhadap pemerintah, boleh saja kuserahkan Nyo Yam kepadamu. Juga Siau-yau-li ini boleh kau bawa pergi."
"Ting-taihiap, aku mau ikut pergi bersamamu, tapi tidak sudi ikut pergi dengan dia,"
Kata leng cu.
"Baik, Kam-sute, boleh kau berangkat dulu bersama dia,"
Kata Tiau-min.
"Kan sudah kukatakan boleh ku serahkan dia kepada mu, marilah kita membawanya bersama ke Thian-san,"
Kata Alcu Yung.
"Apa yang kukatakan tadi pasti kutepati, aku memang sahabat baik Ciok-tianglo kalian."
"Omong kosong, minggir!"
Bentak Tiau-min mendadak. Muka Alcu Yung menjadi merah.
"Jadi kalian sengaja hendak membela Siau-yau-li ini?"
"Kalau betul mau apa?"
Jawab Tiau-min ketus-Dari malu Alcu Yung menjadi gusar, bentaknya.
"Aku cuma mengingat atas diri Ciok Thian hing dan ingin bekerja sama dengan kalian, memangnya kau kira aku takut kepadamu?"
Selagi bicara Tiong Leng-cu sudah lari keluar tenda. Segera Alcu Yung melancarkan suatu pukulan dari jauh sambil membentak.
"Lari ke mana?"
Kam Bu-wi yang berangkat bersama Leng-cu tidak dapat menahan tenaga pukulannya, ia tergetar sempoyongan.
"Urusan perguruan kami adaiah urusan kami sendiri, kau berani mengganggu Nyo Yam, justru aku ingin bikin perhitungan denganmu,"
Bentak Ting Tiau-min sambil menyambut pukulan Alcu Yung itu sekali itu kedua tangan beradu dengan keras, berbeda dengan adu pukulan dari jauh, bukan saja segera terlihat pihak yang kuat dan lemah, bahkan seketika bisa menimbulkan korban jiwa.
"Blang", di tengah suara keras adu pukulan itu Ting Tiau min tergetar mundur tiga tindak, darah segar yang hampir tersembur keluar ditelan-nya kembali sekuatnya. Kiranya di antara keempat murid utama Thian-san-pai, ilmu pedang Ting Tiau-min memang paling, lihai, namun Iweekangnya kalah kuat daripada Ciok Thian-Hing dan cuma setingkat dengan Kam Bu-wi. Sebaliknya Liong-siang-kang, ilmu tenaga sakti gajah dan naga yang dilatih Alcu Yung sudah mencapai tingkatan kedelapan (paling tinggi tingkat kesembilan), sekalipun Ciok Thian-hing juga bukan tandingannya, apalagi Ting Tiau-min. Keruan Kam Bu-wi terkejut, cepat ia putar balik dan balas menyerang. Namun Alcu Yung kembali menghantam pula dengan dua tangan sekaligus. tangan kanan menendangi Ting Tiau-min, tangan kiri melawan Kam Bu-wi. Sekali ini Ting Tiau-min yang tergetar mundur dua tindak, sedang Kam Bu-wi dan Alcu Yung sama tergeliat. Hal ini disebabkan Tiau-min dan Alcu sama-sama sudah mengeluarkan tenaga tadi, sedangkan Kam Bu-wi baru saja mulai bertempur. -ooo0dw0ooo-
Jilid 14 Sekuatnya Ting Tiau-min menahan darahnya yang hampir tersembur, ucapnya dengan parau.
"Sute, awasi perempuan siluman itu!"
Ia berniat menempur Alcu Yung satu lawan satu, maka Kam Bu-wi disuruh mengawasi Bok Him-him agar tidak mengganggu konsentrasinya.
"Pada mukaku kan tidak ada belangnya, apa-nya yang perlu diawasi?"
Bok Him-him berolok-olok dengan tertawa.
Mendadak cahaya perak menyilaukan mata, Ting Tiau-min dan Kam Bu-wi serentak sudah melolos pedang.
Ada kontak batin di antara kedua saudara seperguruan, yang mereka gunakan sama Tui-hong-kiam-hoat, cuma lawan yang seharusnya di-tuju Kam Bu-wi telah berlawanan dengan kehendak sang suheng.
Jika pedang Ting Tiau-min terus menusuk ke arah Alcu Yung, sasaran yang ditusuk Kam Bu-wi bukan Bok Him-bim melainkan juga Alcu Yung.
Jadi Kam Bu-wi juga mengincar lawan yang sama dituju Ting Tiau-min, malahan serangannya mendahului sang suheng.
Maklumlah, dengan kedudukan mereka, dalam keadaan biasa tidak nanti mereka main dua lawan satu.
Tapi sekarang urusan luar biasa.
Alcu Yung juga bukan lawan empuk.
Kam Bu-wi sudah tahu kelihaian Alcu Yung, ia merasa kuatir bila sang suheng sendirian menghadapi lawan tangguh, maka ia mendahului bertindak dan begitu menyerang lantas menggunakan jurus "hong-ya-tian-ci"
Atau angin mendesir dan kilat berkelebat, dari nama jurusnya dapat di-bayangkan inilah jurus serangan yang cepat lagi ganas.
"Haha, Thian-saa-kiam-hoat tidak lebih juga cuma begini saja!"
Ejek Alcu Yung dengan tergelak.
berbareng golok sabitnya juga sudah di-keluarkan.
Dia baru saja beradu pukulan dengan Kam Ho wi, diketahuinya kekuatan Bu-wi masih jauh di bawahnya, maka ia yakin dengan mudah lawan dapat ditundukkannya.
Ia putAr goloknya dengan kencang, menurut perhitungannya, bila pedang kilat Kam Bu-wi itu masuk garis pertahanannya, maka sekali balas serang dapatlah ia merobohkan Kam Bu-wi.
Tak terduga perhitungannya ternyata juga meleset.
Serangan Ting Tiau-min yang lebih belakang justru tiba lebih dulu, belum lenyap suara tertawa Alcu Yung tadi.
"sret", tahu lahu pedang Ting Tiau-min menyambar tiba dari arah yang tak terduga, keruan Alcu Yung dibuat kerepotan.
"Cret", tanpa ampun pundak kiri Alcu Yung tertusuk. Namun ia memang lihai, golok berputar, serangan Kam Bu-wi sempat ditangkisnya. Diam-diam Ting Tiau-min msrasa sayang, sebab serangannya tadi menurut perkiraannya dapat menembus tulang pundak lawan, namun tidak berhasil.
"Hehe, bagus. disuguh arak kalian tidak mau minum, terpaksA harus kupaksa kalian racun,"
Seru Bok Him-him dengan terkekeh.
Mendadak jarinya menyelentik, setitik asap tipis lantas menyambar ke tengah cahaya golok dan sinar pedang, itulah asap bius yang dibuat dari ganja, untuk ini Ting Tiau-min dan Kam Bu-wi tidak mempunyai obat penawarnya.
Cepat Tiau-min menahan napas, secepat kilat ia menusuk beberapa kali.
Alcu Yung jeri juga terhadap serangan hebat itu dan terpaksa main mengelak.
Mendadak Tiau-min melompat mundur sambil berteriak.
"Untuk membalas dendam, sepuluh tahun lagi juga belum terlambat. Sute, mari kita pergi!"
Kam Bu-wi sempat mengisap sedikit asap itu, kepalanya pusing serupa orang mabuk, ia tahu kelihaian asap itu dan tidak berani bertempur lagi, terpaksa menuruti anjuran sang suheng.
"Hahaha, memangnya kalian ingin kabur?"
Teriak Alcu Yung dengan terbahak.
"Betapapun kalian lari juga takkan terlepas dari cengkeramanku!"
Waktu Ting Tiau-min berdua lari keluar tenda ternyata kuda mereka sudah hilang seekor, sisa seekor itu pun kelihatan tidak sehat, mulut berbusa dan megap-megap.
Selagi Bu-wi bermaksud merampas kuda lawan, namun Alcu Yung dan Bok Him-him keburu mengejar keluar.
Diam-diam Bu-wi mengeluh.
Tiba-tiba Bok Him-him berteriak dengan gemas.
"Wah, sungguh nenek 80 tahun dikerjai anak kecil, tak terduga kita bisa dikibuli Siau-yau-li itu."
Kiranya kaki belakang kuda mereka ditubles jarum oleh Liong Leng-cu, dipandang dari luar tidak ada sesuatu tanda, tapi baru lari beberapa langkah kuda lantas ambruk.
Lega juga hati Ting Tiau-min, segera ia mengeluarkan ginkang tinggi Pat-poh-kan-sian atau delapan langkah memburu tonggeret, dalam sekejap sudah setengah li jauhnya.
Kam Bu-wi segera menyusul kencang di belakang sang suheng.
Terkejut juga Bok Him-him melihat kecepatan lari orang setelah terluka parah.
Alcu Yung mendengus.
"Baik, biar coba kita berlomba ginkang, umpama hari ini tidak dapat kususulmu, besok juga pasti akan kususul. Besok tidak dapat masih ada lagi hari lusa. Memangnya dapat kau capai Thian-san?"
Ucapannya ini bukan cuma omong kosong atau gertakan belaka.
Kalau bicara ginkang memang Ting Tiau-min lebih tinggi dari pada Alcu Yung, tapi Alcu Yung cuma terluka ringan dan tidak berpengaruh terhadap tenaganya, sebaliknya Ting Tiau-min terluka dalam cukup parah, bila jangka panjang jelas tidak tahan.
Dalam tiga hari jelas takkan sampai di Thian-san, mungkin dalam waktu tiga hari ia akan ambruk aendiri.
Mula-mula memang Ting Tiau-min dapat meninggalkan musuh jauh di belakang.
malahan bayangan pun tidak terlihat lagi.
"Sute, mari kita lari ke dua jurusan,"
Kata Tiau-min. Bu-wi paham maksud sang suheng, yaitu suruh dia menyelamatkan diri sendiri, maka ia menggeleng, sahutnya tegas.
"Sesama saudara seperguruan harus sehidup semati menghadapi bahaya."
"Baik jika begitu, Marilah kita pasrah nasib saja,"
Kata Tiaumin Setelah berlari lagi sekian jauh, tiba-tiba terlihat Liong Leng-cu datang dari depan menyongsong mereka, Kam Bu-wi berteriak dengan gusar.
"Semua gara-garamu Siau-yau-li ini yang membikin susah suhengku"
"E-eh kalian jangan marah dulu, dengarkan ... ."
Selagi Leng-cu hendak memberi penjelasan, tahu tahu pergelangan tangannya sudah dicengkeram Ting Tiau-min. Leng-cu berteriak.
"Meski kucuri kuda kalian, tapi juga telah membantu kalian, masa kalian tidak tahu aturan."
"Bagus, coba katakan, bantuan apa yang kau-berikan kepada kami?"
Teriak Tiau-min dengan gusar.
"MasA kalian tidak tahu, kuda tunggangan Alcu dan perempuan siluman itu justru aku yang membuatnya cacat,"
Kata Leng-cu.
"Hah, cuma begitu saja kau bilang membantu kami?"
Teriak Bu-wi gusar.."Seekor kuda kami telah kau curi.
seekor lagi mati keracunan, jelas sengaja hendak kau paksa kami bertarung dengan kedua siluman itu agar gugur bersama.
Hm, masih muda belia usiamu, tapi caramu sudah sekeji ini."
"Sialan, usiamu sendiri sudah tua, mengapa tidak tahu urusan?"
Jengek Leng-cu.
"Jika ada maksud jahatku, mengapa aku tidak kabur sendiri saja, dan putar balik untuk mencari kalian?"
Kam Bu-wi melenggong, katanya kemudian.
"Siapa tahu isi hatimu baik atau busuk?"
"Kau kembali ke sini bukan mustahil lantaran kamu sendri menyadari tidak mampu lolos lagi,"
Jengek Ting Tiau-min.
"Betul. jika kali ini tidak dapat menandingi kedua keparat itu, jelas aku pun tidak dapat lolos,"
Kata Leng-cu.
"Tapi apakah kau tahu sebab apa aku tidak dapat kabur. Coba kalian melihatnya ke sana."
Benar juga, setelah mereka maju lagi tidak jauh, terlihat di tepi jalan ada seekor kuda mati, jelas itulah kuda tunggangan Ting Tiau-min.
"Nah, sekarang tentu kalian paham bukan, aku serupa kalian, juga dikibuli perempuan siluman itu,"
Kata Leng-cu.
"Kuda kalian diracuni dia, setelah kucuri kudamu ini, hanya beberapa li saja kulari, lalu racun bekerja dan kuda mati. Memang betul sengaja kutinggalkan kalian, tapi sekaligus kuda kedua bangsat itu juga kubikin cacat, hal ini berarti sedikit banyak telah kubantu kalian, bukan? Melihat gelagatnya, tampaknya kalian telah dikalahkan mereka bukan?"
"Siapa bilang kami kalah?"
Bantah Kam Bu-wi.
"Kami cuma kena sergapan perempuan siluman itu."
"Perempuan siluman itu mahir menggunakan racun, barangkali kalian telah mengisap obat biusnya, begitu?"
Tanya Leng-cu. Bu-wi mangangguk.
"Jangan kuatir, aku punya obat penawar,"
Ucap Leng-cu pula.
"Aku tidak mau,"
Kata Tiau-min dengan gusar.
"Engkau sedemikian kepala batu, memangnya sengaja cari mati?"
Kata si nona.
"Obat penawarmu tidak berguna bagiku, kau-pabam tidak?"
Sahut Tiau-min gusar "Mengapa tidak berguna?"
Tanya Leng-cu.
"Sudahlah, jangan banyak omong, aku tidak menghiraukan mati-hidup lagi, tapi juga takkan kulepaskan dirimu."
Maklumlah, ting Tiau-min terluka dalam cukup parah, satusatunya jalan selamat baginya adalah semoga selekasnya dapat pulang ke Thian-san sebelum racun bekerja.
Meski harapan ini sangat tipis, namun makin mendekati Thian-san tentu akan makin baik baginya.
Ia mendapat tugas menangkap Nyo Yam, sedang Liong Leng-cu termasuk "komplotan"
Nyo Yam, tentu saja ia tidak mau melepaskan nona itu. Cuma ia pun mafhum Liong Leng-cu memang tidak bermaksud jahat padanya, sebab itulah ia berkata.
"Sute, betapapun Siau-yau-li ini tidak berani mencelakai kita, aku tidak sudi menerima kebaikannya, boleh Sute terima saja obat penawarnya."
Leng-cu tidak tahu bahwa obat penawar sendiri itu memang tidak berguna bagi Ting Tiau-min, katanya dengan mendongkol.
"Kalau tidak mengingat diri kakak Yam mustahil kupeduli mati hidupmu."
Setelah Leng-cu memberikan sebutir obat kepada Kam Buwi, segera Tiau-min mencengberam lagi pergelangan tangannya.
Obat yang diberi Leng-cu itu adalah obat penawar Sin-sianwan, meski asap yang diisap Kam Bu-wi itu dibuat dari ganja oleh Bok Him-him, biarpun kadar racun tidak sama, namun tergolong sejenis, apalagi yang diisap Bu-wi hanya sedikit saja, maka habis minum pil pemberian Leng-cu, dalam waktu singkat saja tenaganya pulih dan semangatnya segar.
Ting Tiau-min berlari secepatnya, setelah sekian jauhnya, karena harus menyeret Liong Leng-cu, mau-tak-mau napasnya terengah-engah.
"Suheng, serahkan saja kepadaku Siau-yau-li ini,"
Kata Kam Bu-wi. Belum lagi Tiau-min menjawab, tiba-tiba terdengar suara alat tiup yang sayup-sayup merdu bagai keluh-kesah seorang gadis. Kam Bu-wi melengak.
"Ho, siapakah yang sedang meniup seruling gelagah. apakah mungkin Site (adik keempat)?"
Batang gelagah yang khusus tumbuh di tepi danau di puncak Thian-san itu memiliki suara yang nyaring merdu, dapat berkumandang jauh dari pada batang gelagah umumnyn.
Di antara keempat murid utama Thian-san, murid keempat, yaitu Pek Kian-seng paling gemar meniup seruling gelagah semacam ini.
Dari suara seruling sekarang dapat dirasakan oleh Kam Bu-wi bahwa Iwekang peniupnya pasti tidak lemah, maka disangkanya Pek Kian-seng adanya.
"Tidak, bukan Site,"
Kata Tiau-min.
"Meski Site suka meniup seruling, tapi dia takkan membawakan lagu semacam ini. Coba kau dengarkan, suara serulingnya merdu merayu, sepantasnya peniup seruling itu seorang perempuan."
Kiranya lagu yang dihawakan peniup seruling itu adalah lagu rakyat gembala yang paling populer, yaitu "nyanyian musafir kaum pengelana". Bu-wi coba mendengarkan dengan cermat, katanya kemudian.
"Ya, betul. Tapi batang gelagah itu hanya terdapat di Thian-san kita, meski peniup saruling itu bukan Site, kuyakin pasti murid perempuan perguruan kita. Eh, siapakah murid perempuan perguruan kita yang menguasai Iwekang setinggi itu?"
Belum teringat olehnya siapa peniup seruling itu, mendadak Liong Leng-cu mendahului berteriak.
"Ling-cici, Ling-cici! Lekas bemari!"
Rupanya ia pernah mendengar Ling Peng-ji meniup seruling gelagah dengan lagu yang sama.
Peniup seruling itu memang betul Ling Peng-ji adanya.
Baru saja lenyap suara seruling, menyusul lantas terdengar suara suitan panjang, ternyata yang datang bersama Ling Peng-ji adalah Ki Tiang-hong.
Ling Peng-ji terkejut melihat Leng-cu diseret ling Tiau-min, cepat ia berseru.
"He, Ting-susiok, nona Liong ini bukan orang busuk. Meski ia pernah berbuat sedikit kesalahan dengan membantu Nyo Yam, tapi bukan dia yang bertanggung-jawab, hendaknya kau lepaskan dia."
Tiau-min mendengus dan tetap mencengkeram pergelangan tangan Liong Leng-cu, tanpa bicara ia terus lari lewat di depan Ling Peng-ji.
Tentu saja keadaan menjadi serba kikuk, Ling Peng-ji merasa rikuh sendiri.
Maklumlah, biasanya Ling Peng-ji bergaul baik dengan siapa pun, di antara angkatan tua perguruan sendiri, kecuali Ciok Thian-hing yang kurang puas padanya gara-gara urusan lamaran anaknya yang tidak terkabul, tokoh Thian-san yang lain umumnya sangat sayang padanya, malahan Ting Tiau-min memandangnya serupa kemenakan sendiri dan tidak pernah kasar padanya.
Siapa tahu ucapan Ling Peng-ji tadi sama sekali tidak dijawabnya, bahkan tidak digubrisnya, tentu saja nona itu merasa malu.
Peng-ji tidak tahu bahwa saat itu Ting Tiau-min dalam keadaan payah, ia harus bertahan sekuatnya-untuk bisa berlari-ke depan, bicara baginya berarti harus membagi tenaga.
Jadi dia mempunyai kesulitan yang tidak diketahui Ling Peng-ji.
Ki Tiang-hong merasa heran juga melihat kelakuan Ting Tiau-min itu, kalau Ling Peng-ji tidak digubrisnya, masakah aku pun tidak disapa?
Cuma Ki Tiang-hong memang lebih luas pengetahuannya dari pada Ling Peng-ji, dari gerakan Ting Tiau-min yang agak berat segera dapat di-lihatnya ada sesuatu yang tidak beres.
Ia terkejut dan cepat tanya.
"Kam-heng, apa yang terjadi? Apakah Ting-suheng terluka?"
"Betul,"
Sahut Bu-wi.
"Ada dua musuh sedang mengejar kemari, harap engkau suka bantu menahan mereka sebentar."
Ia kuatirkan keadaan Ting Tiau-min, maka sambil bicara ia tetap menyusul ke sana.
"Kedua siluman itu yang lelaki bernama Alcu Yung dan beberapa kali pernah membikin susah Nyo Yam,"
Seru Liong Leng-cu.
"Dan yang perempuan itu bernama Bok Him-him, dia mahir menggunakan racun, hendaknya Ki-taihiap waspada."
"Di manakah Nyo Yam?"
Cepat Ki Tiang-hong menegas.
"Entah. bisa jadi telah dicelakai mereka,"
Sahut Leng-cu.
Mestinya Ling Peng-ji merasa sangsi apakah harus meinburu ke sana untuk merawat sang susiok atau tinggal saja untuk membantu Ki Tiang-hong.
Setelah mendengar keterangan Liong Leng-cu itu, ia pikir Kam-susiok tampaknya tidak terluka sehingga dia tentu sanggup menjaga Ting susiok.
Ki Tiang-hong tahu maksudnya, katanya.
"Jangan gelisah. nona Liong itu mungkin minta kubasmi kedua siluman itu. Ia tahu aku ayah angkat Nyo Yam, maka membesar-besarkan urusan anak Yam. Kau tahu kepandaian anak Yam tidak lemah, orangnya juga cerdik, aku tidak percaya dia dapat dicelakai orang semudah itu."
Hati Peng-ji rada lega, katanya.
"Ki-sioksiok. sebentar hendaknya kau tawan salah seorang lawan itu"
"Kutahu apa yang harus kulakukan,"
Kata Ki Tiang-hong dengan tertawa.
"Itu dia mereka sudah datang!"
Benar juga, Alcu Yung dan Bok Him-him ledang berlan tiba, mendadak seorang membentak "Berhenti!"
Aneh juga, Alcu Yung yang biasanya tidak gentar terhadap siapa pun, demi mendengar bentakan itu, leperti mendapat titah raja, seketika ia berhenti.
Kiranya Ki Tiang-hong menggunakan ilmu Sai-cu-hong yang lihai, semakin kuat Iwekang semakin keras pula daya reaksinya.
Alcu Yung adalah murid paderi Thian-tiok, tentu saja ia kenal betapa lihainya ilmu Sai-cu-hong yang juga berasal dari kalangan Budha itu.
Ki Tiaug-hong juga heran melihat lawan dapat berhenti tanpa cedera, ia pikir pantas juga Ting Tiau-min dikalahkan, ternyata lawan ini memang lain dari pada yang lain.
Alcu Yung kenal Ling Peng-ji, tapi tidak tahu siapa Ki Tianghong.
ia pikir ilmu silat si nona di bawah Nyo Yam, Jika aku dibantu Bok Him-him, tentu takkan dikalahkan kedua lawan ini.
Segera ia bertanya.
"Siapakah Anda, mengapa merintangi jalan kami?"
"Tidak perlu kau tahu siapa diriku, aku cuma ingin tanya satu hal padamu,"
Jawab Ki Tiang-hong.
"Urusan apa?"
Jawab Alcu Yung.
"Apakah kamu ini yang pada 11 tahun yang lalu itu pernah menawan Nyo Yam itu?"
"Kalau betul mau apa?"
Jawab Alcu Yung dengan angkuh.
"Tidak mau apa-apa, aku cuma minta kau-lepaskan Nyo Yam dan segera kulepaskanmu pergi,"
Kata Ki Tiang-hong.
"Hah, lucu,"
Jawab Alcu Yung dengan terfawa.
"Dari mana kutahu Nyo Yam berada di mana? Kutawan dia, itu kejadian 11 tahun yang lampau. bocah itu sangat licin, sudah lama dia kabur."
"Tidak perlu omong koseng di depanku, yang benar sekarang Liong Leng-cu yang sedang kau-incar bukan? Ia bilang padaku, katanya Nyo Yam sudah tertawan lagi olehmu,"
Kata Ki Tiang-hong.
"Hah, masa kau percaya kepada ocehan Siau -yau-li itu?"
Him-him terbahak.
"Benar apa tidak, sedikitnya kawanmu ini memang pernah membikin susah Nyo Yam, cukup untuk urusan ini saja harus kuminta pertanggung-an jawab kawanmu ini."
"Anda tampaknya bukan orang Thian-san-pai, mengapa kau bela murid buangan Thian-san-pai?"
Tanya Alcu Yung. Ki Tiang-hong membentak.
"Aku justru ingin ikut campur urusan ini, bukan cuma ikut campur &aja, bahkan kularang kamu bertingkah di kaki gunung ini. Nah, kau mau apa?"
Tiba-tiba Bok Him-him berkata.
"Ah, kutahu, rupanya engkau inilah ayah angkat Nyo Yam, Ki Tiang-hong, betul?"
"Asal kau tahu saja,"
Jawab Ki Tiang-hong.
"Jika kamu tidak ikut terambat oleh perbuatannya hendaknya lekas enyah dari sini."
Bok Him-him sudah terbisa disegani orang, dia bini muda kesayangan Pek toh-sancu, belum pernah dihina orang seperti sekarang.
Meski ia sadar ilmu silatnya tidak dapat menandingi Ki Tiang-hong mau-tak-mau ia menjadi marah juga.
Segera ia menjengek.
"Hm, apakah kau tahu siapa aku ini? Betul, mungkin kepandaianku bukan tandinganmu, tapi tokoh yang lebih lihai juga tidak sedikit yang pernah kulihat. Ingin kukatakan padamu, tokoh-tokoh lihai itu pun tidak terpandang sebelah mata oleh suamiku, apalagi dirimu. Jika kau berani menganggu seujung rambutku, mustahil suamiku takkan membinasakanmu."
"Hahaha, siapakah suamimu!"
Seru Ki Tiang-hong dengan tertawa.
"Bukankah orang ini gendakmu, rupanya kau masih mempunyai suami lagi?"
Muka Him-him menjadi merah, teriaknya.
"Kakak Yung, lekas turun tangan, akan kubantu-mu, takut apa lagi?"
Tiba-tiba Alcu Yung berkata.
"Tidak perlu terburu-buru, biarlah kita pakai aturan dulu baru kemudian menggunakan kekerasan. Nah, Ki Tiang-hong, apakah benar kau ingin tahu keadaan Nyo Yam?"
"Mau kau katakan?"
Jengek Tiang-hong.
"Baiklah, biar kukatakan terus terang padamu, anak angkatmu itu sudah terbunuh oleh Tai-hwe-congkoan Ogotai."
Sungguh kejut Ling Peng-ji tak terkatakan, seketika tubuhnya sempoyongan.
Ki Tiang-hong juga melenggong demi mendadak mendengar berita buruk itu meski pada dasarnya ia tidak percaya kepada keterangan orang.
Kesempatan bagus ini tidak dilewatkan oleh Alcu Yung, segera ia melancarkan pukulan dahsyat ke arah Ki Tiang-hong.
Rupanya ia sengaja membuat berita dusta untuk mengacaukan pikiran lawan, lalu menyergapnya.
Cepat Ki Tiang-hong mendorong Peng-ji kesamping, berbareng telapak tangan kanan menolak ke depan.
"Blang", tenaga pukulan kedua pihak saling bentur dan menerbitkan getaran keras. Peng-ji terhuyung-huyung beberapa tindak karena dorongan Ki Tiang-hong itu. Dalam keadaan pikiran kacau tadi ia tidak sempat menahan tenaga pukulan Alcu Yung, kalau tidak didorong Ki Tiang-hong tentu dia akan terluka parah. Alcu Yung mengeluarkan tenaga Liong-siang-kang tingkat kedelapan, Ki Tiang-hong hanya menggunakan sebelah tangan, ia tergetar mundur setindak.
"Hm, kiranya Ki-taihiap yang termashur tidak lebih cuma begini saja kepandaiannya!"
Ejek Bok Him-him. Belum lenyap suaranya mendadak Ki Tiang-hong membalik tubuh dan kedua tangan menghantam sekaligus. Dada Alcu Yung serupa kena digodam, sekali lompat ia berjumpalitan ke sana.
"Lari ke mana?!"
Bentak Ki Tiang-hong dari segera membayanginya dan menyerang lagi.
Gerak tubuh Alcu Yung aneh sekali, mendadak ia terjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, lengannya mendadak serupa beberapa inci lebih panjang dan mencengkeram bagian yang tak terduga oleh Ki Tiang-hong.
Kiranya ia mahir ilmu yoga, otot dagingnya dapat mulur mengkeret sesukanya.
caranya berjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas justru merupakan kepandaian dasar yoga.
Namun Ki Tiang-hong tidak heran akan kelakuan lawan, ia tetap mematahkan serangan Alcu Yung yang aneh itu.
Malahan ketika lawan melompat bangun lagi, segera ia serang lagi untuk ketiga kalinya Lwekang Ki Tiang-hong memang sudah mencapai tingkatan sempurna, betapa tenaga sakti Liong-siang kang tingkat kedelapan Alcu Yung tidak mampu melawannya.
Hanya sebentar saja Alcu sudah mandi keringat dengan napas megap-megap serta berulang menyurut mundur.
Bok Him-him melihat gelagat tidak enak, segera ia turun tangan.
Sekali mengebaskan lengan bajunya, dua rangkum asap segera terpancar ke arah Ki Tiang-hong dan Ling Peng-ji.
Alcu Yung sebelumnya sudah mengulum obat penawar sehingga tidak takut akan keracunan.
Bok Him-him tahu lwekang Ki Tiang hong sangat tinggi dan mungkin sukar merobohkannya, tapi Ling Peng-ji yang dia incar, ia pikir nona yang kepandaiannya tidak lebih tinggi daripada Nyo Yam ini bisa tersembur asap pasti akan jatuh pingsan seketika.
Siapa tahu akibatnya justra terbalik daripada dugaannya, sekali tangan Ling Peng-ji bergerak, asap berbisanya seketika juga dibuyarkan malah.
Hal ini bukan lantaran lwekang Ling Peng-ji terlebih lihai daripada Ki Tiang-hong melainkan karena padanya kebetulan terdapat semacam "jimat"
Anti asap berbisa itu.
Jimat itu adalah Peng-pok-sin-tan, peluru inti es yang sakti.
Pcluru es ini adalah ciptaan Peng-coan-thian-li dahulu dengan es kristal yang terdapat di istana-nya, bilamana peluru es itu meletus, seketika timbul hawa dingin yang membuyarkan asap berbisa itu sehingga Ling Peng-ji tidak gentar terhadap asap lawan.
Malahan Pek-pok-sin-tan yang ditimpuk Ling Peng-ji itu secara tidak langsung juga membantu Ki Tiang-hong.
Biarpun lwekang Ki Tiang-hong sangat tinggi, ketika menciurn asap berbisa itu, tidak urung kepalanya rada pusing juga, tapi kejadian itu cuma berlangsung waktu singkat, begitu hawa dingin Peng-pok-sin-tan menyebar, semangat Ki Tiang-hong lantas segar kembali.
Perubahan kekuatan kedua pihak berbalik membuat Alcu Yung kerepotan menghadapi pukulan Ki Tiang-hong yang dahsyat, akhirnya terdengar suara "plak", Alcu terkena pukulan dan cepat putar tubuh dan kabur.
Anehnya Bok Him-him tidak ikut lari, keruan Alcu Yung sangat kuatir, sembari lari ia berteriak.
"Lekas lari, Him-him, lekas!"
Tapi Him-him tetap berdiri diam saja bagai patung.
Terpaksa Alcu Yung mencari selamat diri sendiri lebih dulu dan tidak urus Bok Him-him lagi.
Kiranya lwekang Him-him kurang kuat, karena pengaruh hawa maha dingin Peng-pok-sin-tan, ia terbeku kaku.
Peng-ji lantas memegangnya sambil membentak.
"Lekas mengaku. bagaimana keadaan Nyo Yam?"
"Bila kau ingin jawabsnnya, mungkin perlu menunggu satu jam lagi,"
Kata Tiang-hong. Peng-ji tersadar, katanya.
"Ya, rupanya dia kaku terbeku dan tidak sanggup bicara. Silakan paman menyadarkan dia dengan lwekangmu yang hebat!"
"Tidak, biarkan perempuan siluman itu menderita lebih lama,"
Kata Tiang-hong.
"Tapi. ."
"Tentu kamu ingin lekas mengetahui berita Nyo Yam?"
Tanya-Tiang-hong. Peng-ji -mengangguk.
"Namun aku tidak percaya kepada keterangan keparat tadi,"
Ujar Tiang-hong dengan tertawa.
"Aku cukup kenal kepandaian anak Yam. Mungkin keempat murid utama Thiansan-pai saja tidak labih kuat daripada dia. Dengan kepandaian anak Yam, mustahil dia bisa terbunuh oleh Ogotai semudah itu. Baiklah, melihat kecemasanmu, bolehlah kupenuhi permintaanmu."
Tapi sebelum dia menggunakan lwekangnya untuk menyadarkan Bok Him-him, mendadak terjadi lagi sesuatu di luar dugaan.
Saat itu Alcu Yung sedang kabur dengan cepat, ia sudah lari satu-dua li jauhnya, dari padang rumput yang hijau itu dapat melihat jelas larinya itu.
Tiba-tiba muncul seorang berbaju putih mengadang jalan lari Alcu Yung.
Kejut Alcu sungguh jauh lebih hebat daripada kepergok Ki Tiang-hong tadi.
"Hm, bagus sekali perbuatamu, Alcu Yung,"
Jengek orang bsrbaju putih itu. Dengan suara gemetar Alcu Yung menjawab.
"Ubun.....ubun-sancu, mohon jangan ...."
"jangan salah paham. Hanya secara kebetulan saja aku bertemu dengan istrimu, saat ini dia .... dia ada kesulitan, kedatangan Sancu sangat kebetulan, silakan lekas ... lekas . ..."
Kiranya orang berbaju putih ini adalah Pek-toh-sancu Ubun Pok.
Dari jauh Ubun Pok sudah melihat Bok Him-him ditangkap Ling Peng-ji, seruan Peng-ji yang minta Ki Tiang-hong menyadarkan bini mudanya itu pun didengar olehnya, maka ia tidak perlu menguatirkan keselamatan Bok Him-him untuk sementara ini.
Ia mendengus atas keterangan Alcu Yung.
"Hm, memangnya kau kira telingaku sudah tuli dan mata-ku buta? Kau kira perbuatan kalian dapat mengelabuiku? Hm, memang betul kedatanganku sangat kebetulan!"
Bicara sampai di sini, sebelah tangannya lantas menabas kepala Alcu Yung.
Diam-diam Alcu juga sudah siap siaga, segera ia sambut dengan kedua tangan.
Terdengarlah jeritan ngeri, tahu-tahu kepala Alcu Yung terpukul hancur dan roboh binasa.
Meski Alcu Yung baru saja bertempur sehingga tenaganya banyak terbuang, tapi tidak ada yang menyangka juga sekali gebrak saja Ubun Pok dapat membunuhnya.
Melihat orang yang ngeri itu.
terkesiap juga Ki Tiang-hong.
Dalam pada itu, hanya sekejap saja Ubun Pok telah menggunakan ginkangnya yang tinggi berlari ke depan Ling Peng-ji.
Sebelumnya Peng-ji sudah siap, serentak ia menebarkan tiga butir Peng-pok-sin-tan.
Ki Tiang-hong juga tidak tinggal diam, ia membentak dengan Sai-cu-hong dan memukul dengan Tai-lik-kim-kong-jiu yang dahsyat.
"Huh, mutiara sebesar beras juga bisa memancarkan cahaya?!"
Jengek Ubun Pok dengan lengan baju mengebas.
Baru saja Peng-pok-sin-tan meletus dan hawa dingin belum terpancar, tahu-tahu sudah digulung ke dalam lengan baju Ubun Pok.
Segera Peng-ji merasakan angin dahsyat mendampar, Bok Him-him yang terpegang olehnya tahu-tahu sudah dirampas oleh Pek-toh-sancu.
Mendingan Ubun Pok menjaga gengsi dan tidak mempersulit orang muda, kalau tidak tentu Ling Peng-ji bi"a terluka parah.
Pada saat yang hampir sama sebelah tangan Ubun Pok juga beradu dengan pukulan Ki Tiang-hong.
"Bagus!"
Bentak Ubun Pok dengan tergeliat.
Ki Tiang-hong sendiri menyurut mundur selangkah, Namun sebelah tangan Ubun Pok yang lain tetap menahan di punggung Bok Him-him.
Dengan watak Ki Tiang-hong, sebenarnya dia tidak mau menyerang pada saat lawan tak dapat menghadapinya dengan baik.
Tapi lantaran lawan sekarang adalah tokoh paling lihai dari golongan jahat, pula Bok Him-him juga bukan perempuan baik-baik, keadaan Ki Tiang-hong tendiri sebenarnya juga lebih gawat daripada Ubun Pok, jika ia tidak menyerang, sebentar bila Ubun Pok sudah memulihkan kebekuan bini mudanya itu, mungkin Ki Tiang-hong sendiri akan kerepotan, umpama ia dapat lari, tentu Ling Peng-ji yang akan mcnjadi korban.
Maka sekuatnya Ki Tiang-hong mengerahkan segenap tenapa dalam, sekaligus ia menyerang belasan kali.
Dengan tangan kiri Pek-toh-sancu merangkul Bok Him-him, telapak tangan menahan di punggung bini muda itu, berturut ia mundur beberapa tindak, namun pukulan Ki Tiang-hong itu tiada satu pun yang mengenai sasaran, malahan Bok Him-him juga tidak cedera di bawah lindungannya.
Sekonyong-konyong Bok Him-him tertawa latah tiga kali, habis itu lantas menangis tergerung.
Nyata, meski dia tidak tercederai, tapi lantaran cara Ubun Pok menyalurkan tenaga dalam itu harus terbagi perhatiannya untuk melayani musuh sehingga saluran lwekangnya terganggu, hal ini mempengaruhi saraf Bok Him-him.
Diam-diam Ubun Pok terkejut, ia pikir bila berlarut-larut lagi pikiran Him-him mungkin bisa terganggu, umpama jiwa dapat diselamatkan, mungkin pikirannya akan kurang waras.
Dengan sendirinya ia tidak nnnginginkan bini muda kesayangan kurang waras, cepat ia lemparkan Him-him sehingga kedua tangannya dapat di-gunakan menghantam sekaligus.
Setelah keempat tangan beradu, segera Ki Tiang-hong terasa kewalahan, muka berubah merah dan tubuh agak sempoyongan.
Tangan kiri Ubun Pok panas seperti besi bakar, sebaliknya tangan kanan dingin seperti es, meski tidak sedingin Pengpok-sin-tan, tapi karena dikerahkan oleh Iwekang Ubun Pok dan langsung tersalur ke tubuh Ki Tiang-hong, kelihaiannya jadi lebih hebat daripada Peng-pok-sin-tan.
Kiranya kedua tangan Ubun Pok yang panas dan dingin ini merupakan dua macam ilmu sakti yang dilatihnya selama 30 tahun.
Tangan kiri yang panas itu disebut Hwe-yam-to, golok api membara, dan tangan kanan adalah Han-peng-ciang, pukulan es maha dingin, betapapun lawan sukar bertahan bila mana lwekangnya belum sempurna.
Ki Tiang-hong juga kewalahan, cuma karena lwekangnya sudah cukup sempurna, maka untuk sekian lama ia masih sanggup bertahan.
Dengan bedua macam ilmu sakti digunakan sekaligus, Ubun Pok mengira Ki Tiang-hong dapat dibinasakannya, tak tersangka olehnya lawan masih mampu bertahan.
Melihat Ki Tiang-hong ada tanda akan kalah, tentu saja Ling Peng-ji sangat cemas.
Pen ji menyadari tenaga sendiri selisih sangat jauh dengan musuh, tapi keadaan mendesak, tak terpikir lagi olehnya akan keselamatan sendiri, cepat ia mengeluarkan Peng-pok-han kong-kiam, pedang inti es, pemberian Tong-hujin, nyonya Tong Keng-thian.
Pedang mestika ini gemblengan dari inti es berlaksa tahun umurnya, jauh lebih lihai daripada Peng-pok-sin-tan.
Begitu dia menerjang maju dan pedang diputar, seketika Ubun Pok merasakan hawa dingin merasuk tulang sehingga menggigil.
Sebenarnya dengan lwekangnya yang sempurna.
hawa dingin Peng-pok-han-kong-kiam itu sanggup ditahannya, dan tidak sampai menggigil, soalnya tenaganya telah banyak terkuras, berbareng ia pun harus menghadapi Ki Tiang-hong, mau-tak-mau ia merasa payah.
Diam-diam Ubun Pok berpikir biarpun akhirnya dapat mengalahkan lawan umpamanya, itu pun perlu makan waktu lama, sedang jiwa Him-him mungkin sukar diselamatkan, diri sendiri sedikitnya juga akan jatuh sakit.
Ia dapat ambil tindakan cepat, sebelum Ling Peng-ji menerjang lebih jauh, segera ia melompat mundur, gerak tubuhnya sungguh cepat sekali, ia dapat susul Bok Him-him yang dilemparkan tadi, segera ia angkat bini mudanya itu tents dibawa lari secepat terbang.
Lega hati Ling Peng-ji melihat musuh kabur, tanyanya.
"Bagaimana keadaanmu, paman Ki?"
Ki Tiang-hong mengatur pernapasan dulu, habis itu baru menjawab.
"Tidak beralangan, untung juga setan tua itu gentar terhadap pedang mestikamu, kalau bertarung dalam jangka panjang jelas aku yang akan celaka. Akan lebih bagus lagi jika tadi kau tawan dulu perempuan siluman itu."
"Alcu Yung sudah mati, biarkan saja perempuan itu lari,"
Kata Peng-ji.
"Yang kukuatirkan justru nona Liong "
"Baik, kutahu engkau terburu ingin tahu keadaan Nyo Yam, apa yang dikatakan nona Liong tadi juga belom tentu benar, biarlah kita bembali ke sana untuk tanya lebih jelas padanya."
"Meski tindak-tanduk nona Liong agak aneh, tapi kutahu hatinya cukup baik. Sekali ini ikut tertimpa malang demi membela Nyo Yam, sebentar kuharap paman harus berusaha membelanya."
"Ya, kutahu, jangan kuatir,"
Kata Tiang hong.
"Menurut pandapatku, Ting Tiau-min juga karena rasa gusar seketika saja dan takkan membikin susah padanya."
Jika Ling Peng-ji sangat menguatirkan keselamatan Nyo Yam, tak diketahuinya anak muda itu justru dalam perjalanan di belakangnya.
Waktu Nyo Yam mendengar suara seruling gelagah, cepat ia menyusul kemari.
Ia tidak sempat bertemu dengan Ling Peng-ji, tapi kepergok Pek-toh-sancu.
Saat itu Ubun Pok berlari cepat hendak puking ke Pektohsan dengan mengempit bini muda kesayangannya itu, sebelah tangan yang mengempit Bok Him-him itu tetap menahan di punggungnya dengan bantuan Iwekang untuk melancarkan darah dan mengusir hawa dingin baginya.
Ketika mendadak Nyo Yam melihat orang tua ini berlari datang dengan mengempit Bok Him-him, ia terkejut dan bergirang.
Ia tidak kenal Pek-toh-sancu, disangkanya Bok Him-him ditawan orang tua ini.
ia pikir jika orang tidak gentar terhadap kawanan siluman Pek-toh-san, malahan sanggup menawan perempuan siluman ini, tentu orang tua ini juga tokoh kalangan pendekar, bisa jadi sahabat salah seorang paman gurunya.
Segera Nyo Yam berteriak.
"Silakan Cianpwe berhenti sebentar, Cayhe anak murid Tong Keng-thian, pejabat ketua Thian-san-pai yang lalu, Ki-taihiap Ki Tiang-hong adalah ayah angkatku."
"Hm, jadi kamu ini Nyo Yam?"
Jengek Ubun Pok sambil menghentikan langkahnya.
"Betul, tecu inilah Nyo Yam,"
Sahut Nyo Yam dengan girang.
"Kau tahu siapa aku?"
"Maaf cayhe tidak tahu daa justru ingin tahu siapa Cianpwe yang mulia. Namun kukenal perempuan siluman ini."
"Kau tahu apa tentang dia ini?"
Tanya Ubun Pok.
"Kutahu dia adalah bini muda makhluk tua aneh Pek-tohsan itu,"
Jawab Nyo Yam.
"Terus terang, memang hendak kucari dia."
Ubun Pok meliriknya sekejap dan menjengek pula.
"Untuk apa kau cari dia?"
"Kuingin minta sesuatu barang padanya!"
Tutur Nyo Yam. Sebenarnya ia hendak menjelaskan yang di-maksud adalah "surat pengakuan dosa"
Ciok Jing-coan itu, tapi Ciok Jing-coan dikenal sebagai putra Ciok Thian-hing, tokoh Thian-san-pai, disangkanya Ubun Pok juga tokoh kalangan pendekar, bilamana minta penjelasan urusan ini tentu bisa bertele-tele, sebab itulah ia bertutur secara samar-samar.
Mendadak Ubun Pok menjadi gusar, bentak-nya "Kurang ajar!
Ayah angkatmu saja tidak mampu melawan diriku, tapi kau berani main gila padaku.
Hm, harus kucabut nyawamu!"
Sembari bicara serangan lantas dilancarkan, langsung ia hantam kepala Nyo Yam.
Pek-toh-sancu menggunakan tangan kanan yang kuat dan panas, seketika Nyo Yam merasakan tubuh seperti dikakar meski belum terkena pukulan lawan, napas pun terasa sesak.
Keruan Nyo Yam terkejut, baru sekarang ia tahu salah sangka, orang jahat dikiranya orang baik.
Untung kepandaiannya juga sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, meski terkejut tidak menjadi bingung, cepat ia menggeser ke samping dan segera balas menghantam dengan Si-mi-ciang-hoat yang lihai, Melihat anak muda itu tidak lemah, Ubun Pok menjadi gusar, bentaknya.
"Kau sendiri yang cari mampus, rasakan pukulanku ini!" , Berbareng ia hantam dengan dua tangan sekaligus. Nyo Yam berteriak, tubuh mencelat beberapa tombak jauhnya serupa layangan putus. Pada saat yang sama, mendadak Bok Him-him juga menjerit dan sempoyongan hendak roboh Kiranya Nyo Yam sekaligus juga telah mengeluarkan dua macam kungfu andalannya, telapak tangan kanan menggunakan Si-mi-ciang-hoat yang lunak untuk melawan pukulan dahsyat Pek-toh-sancu. seding tangan kiri menggunakan "Kim-liong-coa,"
Ilmu cengkeram naga, kungfu ajaran Liong Cek-leng (ayah Lioog Leng-cu), untuk mencengkeram dari jauh.
Meski Bok Him-him berada di bawah lindungan Ubun Pok, tidak urung bajunya terobek oleh cengkeraman Nyo Yam itu.
Waktu Nyo Yam berdiri tegak kembali, terasa darah bergolak dalam rongga dada, tubuh panas serupa dipanggang, sebagian tubuh lain justru kedinginan seperti jatuh ke dalam liang es, serangan hawa panas-dingin membuatnya sukar bernapas, keruan ia sangat terkejut.
Ia tidak tahu Ubun Pok juga tidak kurang kejutnya ketika melihat Nyo Yam tidak roboh, sebaliknya baju bini mudanya malah terobek oleh cengkeraman dari jauh itu.
Kalau melulu bicara soal kekuatan, sebenarnya Nyo Yam tidak mungkin sanggup melawan kedua macam ilmu sakti Pektoh-sancu itu.
Soalnya Ubun Pok tadi sudah bertempur sengit melawan Ki Tiang-hong diiamping harus menyalurkan tenaga murni ke tubuh bini mudanya, sisa tenaganya sudah tidak ada separuh lagi.
Nyo Yam tidak mau kalah, segera ia lolos pedang dan siap tempur pula.
Hal ini ternyata dapat membuat gentar lawan sehingga Pek-toh-sancu tidak berani menyerang lagi.
Maklumlah, pada waktu mulai bertempur tadi tenaga Ubun Pok tinggal separoh daripada biasa-nya, kini sisa tenaganya tidak lebih daripada tiga bagian saja, dengan sendirinya ia tidak berani membuang tenaga lagi.
"Anak kurang ajar, biarlah jiwamu kuampuni hari ini, balau berani boleh coba mencariku ke Pek-to-san,"
Setelah memberi beberapa kata basa-basi, lalu ia angkat Bok Him-him dan dibawa lari, hanya sekejap saja sudah menghilang di kejauhan.
Diam-diam Nyo Yam bersyukur, teringat olehnya iblis tua ini mengatakan ayah angkatnya telah dicederainya, entah benar atau dusta, ia pikir harus lekas mencari sang ayah angkat.
Sementara itu sudah sekian lama Ubun Pok membawa lari Bok Him-him dari telapak tangan dapat dirasakan napas Himhim sudah mulai pulih maka dilepaskannya turun.
Di bawah tatapan Ubun Pok, air mata Him-him hampir menitik.
"Hm, bagus sekali perbuatanmu, hanya membikin malu saja, pakai berlagak hendak menangis segala?"
Jengek Ubun Pok.
"Padahal antara Alcu dan aku juga tidak terjadi apa-apa,"
Ucap Him-him dengan tersendat.
"Salahku tidak pikir menghindari prasangka orang. Waktu ia menemukan jejak Siau-yau-li itu, ternyata Siau-yau-li itu sudah jatuh dalam cengkeraman orang Thian-san-pai, maka ia minta bantuanku untuk merampas Siau-yau-li itu."
"Mengapa yang kulihat tadi hanya Ki Tiang-hong dan tidak terdapat Siau-yau-li itu?"
Kata Ubun Pok.
"Siau-yau-li itu sudah dibawa pergi oleh Ting Tiau-min, jika engkau tidak percaya, boleh silakan kau kejar ke sana, bisa jadi dapat menyusul mereka."
"Hm, sengaja kausuruh kupergi agar kamu dapat memikat pemuda lain lagi,"
Jengek Ubun Pok. Akhirnya Bok Him-him menangis, ratapnya.
"O, tuanku, engkaulah yang mengangkat diriku dari pecomberan, jiwaku juga diselamatkan oleh-mu, masa aku mengkhianatimu? Jika engkau tidak percaya kepadaku, boleh kau bunuh saja diriku."
Lunak juga hati Ubun Pok oleh air mata Bok Him him, katanya.
"Baiklah, toh Alcu Yung sudah kubinasakan, umpama dusta keteranganmu juga tidak perlu kuusut lagi. Nah, lekas usap air mata-mu, jangan menangis lagi."
Segera Bok Him-him berhenti menangis, katanya.
"Terima basih atas budi kebaikan Loya ku, betapapun hamba pasti akan membalas kebaikanmu dan tidak berani timbul pikiran busuk terhadap-mu."
"Tidak perlu kau gunakan kata-kata manis ter-hadapku,"
Ucap Ubun Pok.
"Sekarang ingin ku-tanya .suatu urusan padamu."
"Apa yang Loyacu ingin tahu?"
Tanya Him-him.
"Alcu Yung sudah mampus, urusanmu dengan dia tidak perlu kupikir lagi, cuma . ."
"Cuma apa?"
Tanya Him-him.
"Ada hubungan apa antara Nyo Yam dengan-mu?"
Tanya Ubun Pok dengan dingin.
"Ai, kenapa Loyacu bicara demikian,"
Seru Him-him.
"Tampaknya rasa curiga Loyacu teramat besar. Memangnya berapa usia Nyo Yam, aku kan pantas menjadi ibunya?"
Air muka Ubun Pok tambah dingin, katanya.
"Memangnya kaukira aku tidak tahu selama ini kau suka memikat anak muda"
"Jika benar antara kalian tidak ada sesuatu urusan, mengapa dia menyusulmu?"
Kata Ubun Pok.
"Barang apa pula yang dia inginkan darimu?"
Tergerak hati Him-him, pikirnya.
"Tua bangka ini telah mengetahui hubunganku dengan Alcu Yung, meski sekarang dia tidak tega membunuh-ku, namun kasih sayangnya padaku jelas takkan pulih kembali seperti semula. Setiba di rumah mungkin juga kedudukanku akan banyak merosot dalam pandangan orang. Sekarang Alcu sudah mati, biarlah kuambil hatinya dengan menyerahkan surat pengakuan dosa Ciok Jingcoan itu, karena jasaku ini mungkin dia akan mengampuni kesalahanku."
Setelah ambil keputusan, Him-him menengadah dan tertawa, katanya.
"Kukira ada apa, kiranya engkau salah paham terhadap urusan ini. Hihi, sungguh lucu."
"Lucu apa?"
Tanya Ubun Pok dengan menarik muka.
"Memang betul, padaku memang ada sesuatu barang yang sangat diincar Nyo Yam,"
Tutur Him-him.
"Bukan saja Nyo Yam mengincar, bahkan Alcu Yung, dan orang Thian-san-pai sama menghendakinya. Tidak kuberikan kepada Alcu Yung, juga tidak gentar menghadapi risiko akan dikejar orang Thian-sanpai, selama ini kusimpan barang itu, tujuanku justru hendak kubawa pulang untuk dipersembahkan kepada orang yang kucintai. Loyacu tidak memahami maksudku, sebaliknya marah padaku. Ai, sungguh aku menyesal dan berduka."
Ubun Pok menjadi sangsi, katanya.
"Sekian banyak kau bicara, sesungguhnya barang apa yang dimaksud?"
"Sepucuk surat pengakuan dosa,"
Tutur Him-him. Ubun Pok melengak.
"Surat pengakuan dosa? Siapa yang mengaku dosa? Dosa apa yang diakui?"
"Surat pengakuan desa Ciok Jing-coan,"
Tutur Him-him pula.
"Ciok Jing-coan itu siapa?"
Tanya Ubun Pok.
"Loyacu tidak tahu Ciok Jing-coan, kalau Ciok Thian-hing tentu tahu bukan."
"Maksudmu Ciok Thian-hing dari Thian-san yang baru saja diangkat menjadi sesepuh itu?"
"Betul, Ciok Thian-hing yang merupakan orang pertama dari keempat murid utama Thian-san-pai, kedudukannya dalam Thian-san-pai sekarang hanya di bawah pejabat ketua yang baru Tong Kah-goan, Ciok Jing-coan adalah putranya. Surat pengakuan dosa apa yang dibuat Ciok Jing-coan boleh silakan kau baca sendiri."
Ubun Pok menerima surat itu dan dibaca dengan teliti, ia menjadi girang, katanya.
"Aha, bagus, sungguh bagus! Tak tersangka seorang sesepuh Thian-san-pai seperti Ciok Thianhing dapat mengeluarkan seorang anak berkelakuan busuk seperti itu. kebetulan yang hendak diperkosanya justru Siauyau-li itu."
"Dengan memegang surat ini, masa Loyacu tak dapat menundukkan Ciok Thian-hing?"
Kata Him-him.
"Dalam keadaan demikian, selain dapat Loyacu suruh dia menyerahban Siau-yau-li pada-mu, Thian-san-pai tentu juga akan tergenggam oleh-mu."
"Ciok Thian-hing kan bukan ketuanya, untuk menggenggam Thian-san-pai mungkin tidak gampang,"
Kata Ubun Pok dingan tertawa.
"Cuma, untuk mengacau perselisihan antara Thiansan-pai dengan pihak kerajaan akan sangat mungkin tercapai."
"Bila Loyacu dapat membantu kerajaan, jasa mu tentu tidak kecil,"
Kata Him-him.
"Bukan tujuanku ingin mencari kedudukan dan nama, tapi bila dapat kuberikan sumbangan ini kepada Ogotai, tentu dia akan memberi balas jasa juga kepada kita."
"Betul, jika Ogotai mendukung pihak kita, tentu Pek-toh-san kita juga dapat merajai dunia persilatan, maju lagi selangkah dapatkah kita berebut pimpinan Bu-lim dengan Siau-lim-pai dan Bu-tong-pai,"
Tukas Him-bim dengan senang. Ubun Pok terbahak, ia sengaja tanya.
"Tadi kau bilang surat ini hendak kau persembahkan kepada orang yang kau sayangi, memangnya siapa, kan belum kau jelaskan."
"Ai, Loyacu ini, sudah tahu sengaja tanya jagi,"
Ucap Himhim dengan aleman.
"Siapa lagi yang kumaksudkan kalau bukan Loyacu sendiri."
"Ya, sudah,"
Ucap Ubun Pok sambil merangkul Bok Himhim.
"Kamu memang jantung hatiku dan istriku yang baik."
"Tapi hamba tidak punya rejeki sebesar itu, kan masih ada Toanio (istri tua) dan Jinio (istri kedua) di atasku,"
Kata Himhim menyesal.
"Nanti akan kuceraikan Toanio dan kuangkat dirimu sebagai istri pertama,"
Kata Ubun Pok tertawa.
"Mari lekas kita pulang, apakah kamu sudah dapat berjalan?"
Him-him mejawab.
"Rasanya sudah dapat berjalan."
Tidak jauh mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba datang seorang penunggang kuda dari depan, ternyata seorang perwira.
"Ai, kiranya Ubun-sancu, angin apakah yang membawamu ke sini?!"
Seru perwira itu sambil melompat turun demi mengenali Pek-toh-sancu.
"Eh, Bok Sam-nio, kebetulan aku hendak mencari diri-mu, mengapa .."
Sampai di sini agaknya dirasakan ada yang perlu dihindari, maka segera ia putar haluan dan menyambung.
"Tak tersangka bertemu dengan kalian di sini, sungguh kebetulan sekali."
Ubun Pok kenal perwira ini adalah wakil Ting Hian-bu yang memimpin pasukan tentara Boanjing menggempur Sinkiang, yaitu Bu Ek.
Guru Bu Ek adalah Tiong Bu-yong, bekas murid Kai-pang yang membrontak, Tiong Bu-yong ada hubungan baik dengan Ubun Pok, kalau di-hitung sebenarnya masih terhitung angkatan tua Ubun Pok.
Maka Ubun Pok menjadi curiga oleh ucapan Bu Ek, katanya.
"Bu-taijin, kabarnya kalian sedang bersiap-siap menyerbu Lodan, mengapa engkau berada di sini sendirian dan hendak mencari Him-him? Memangnya ada urusan penting apa?"
"Aku diperintahkan komandan kami untuk minta sesuatu barang kepada Sam-nio,"
Jawab Bu Ek.
"Barang apa?"
Tanya Ubun Pok. Bu Ek memandang Bok Him-him sekejap, tampaknva seperti kuatirkan sesuatu. Dengan serius Ubun Pok berkata.
"Aku dan Him-him kan suami-istri, ada urusan apa boleh katakan saja."
"Ah, sebagai suami kan pantas jika kuminta persetujuan Sancu, maka tadi kukatakan sangat kebetulan,"
Kata Bu Ek.
"Barang yang kumaksud adalah sepucuk surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan, apakah Sam-nio belum bicara denganmu?"
"Ya, sudah,"
Kata Ubun Pok.
"Tapi dari mana kalian mengetahui surat pengakuan dosa itu berada padanya? Selain itu, jika kalian sudah tahu sebelumnya, mengapa baru sekarang kalian minta padanya?"
Bu Ek ragu sejenak, katanya kemudian.
"Sancu, apakah engkau sangsi akan perintah palsu komandanku?"
"Bukan kusangsi padamu, tapi perlu kutahu seluk-beluk urusan ini baru dapat memberi keputusan."
"Wah, ini ... ini ... ."
Bu Ek tergegap.
"Memangnya ada hal yang tidak enak kau katakan?"
Tanya Ubun Pok kurang senang.
"Oo, ti ... tidak, cuma agak panjang jika kuceritakan urusan ini."
"Kan tiada urusan lainnya, apa alangannya kau katakan saja,"
Ucap Ubun Pok.
"Asal urusannya jelas kuketahui sudah cukup bagiku, maka tidak perlu kau sangsi."
"Baiklah, akan kuceritakan sejelasnya,"
Ucap.
Bu Ek.
Pada waktu Bu Ek bicara, hati Bok Him-him berdetak keras, kuatir bila Bu Ek menceritakan hubungan gelapnya dengan Alcu Yung.
Ubun Pok sendiri juga tidak enak hati, sebab apa pun juga perbuatan Bok Him-him itu menyangkut nama baik keluarganya, bila yang di-ceritakan Bu Ek itu menyangkut perbuatan bini mudanya, lalu ke mana mukanya akan ditaruh.
Karena prasangka ini, tanpa terasa timbul maksudnya untuk membunuh, untuk menjaga gengsi hanya ada dua jalan dapat ditempuhnya, yaitu Bu Ek dibunuhnya untuk menghilangkan saksi hidup atau perempuan hina ini yang dibinasakan untuk mempertahankan kehormatanku.
Tapi sekarang tenagaku cuma tersisa tiga bagian saja, entah dapat membunuh Bu Ek atau tidak, untuk membereskan perempuan hina ini sih tidak susah, hanya terasa agak sayang saja.
Begitulah dengan ringkas Bu Ek bercerita tentang munculnya surat pengakuan dosa itu dan cara bagaimana mereka mendapat kabar hal ini, lalu ia menambahkan.
"Hari itu Alcu Yung telah menjelaskau rencananya kepada Toan Kiam-jing, lantaran dia tidak sempat pulang untuk lapor kepada komandan, maka dia minta perantaraan Toan Kiamjing untuk mcneruskan gagasannya itu dan minta izin komandan supaya dia boleh bertindak dengan bebas."
"Nanti dulu,"
Kata Ubun Pok.
"laporan apa yang dia minta diteruskan oleh Toan Kiam-jing?"
"Waktu itu Siau-yau-li Liong Leng-cu baru kabur belum terlalu lama, kami juga tahu Siau yau-li itu adalah musuh Sancu,"
Kata Bu Ek.
"Betul, berita kalian ternyata cukup cepat. Jika begitu, lalu ada kehendak Alcu Yung, coba ceritakan lagi."
"Alcu minta komandan memperbolehkan dia bergabung dengan nyonyamu untuk memburu Siau-yau-li itu,"
Sambung Bu Ek. Hati Bok Him-him merasa lega oleh keterangan ini, pikirnya.
"Syukur ceritanya cocok dengan keteranganku kepada si tua tadi. Em, tampaknya dia juga tidak berani membongkar rahasia pribadiku."
Bu Ek merandek sejenak, seperti teringat suatu urusan, tiba-tiba ia berkata pula.
"Eh, ya, ke mana perginya Alcu Yung, mengapa tidak kelihatan."
"Dia sudah terbunuh oleh orang Thian-san-pai,"
Kata Ubun Pok dengan dingin. Ia sengaja berdusta, tujuannya supaya rahasia keluarganya yang busuk itu tidak tersiar. Tentu saja Bok Him-him tambah lega oleh ucnpan Ubun Pok itu.
"Ah, jika begitu, ternyata cocok juga dengan dugaan komandan,"
Kata Bu Ek.
"Tentang nyonyamu mendapatkan surat pengakuan dosa ini, hal ini juga sudah dilaporkan Alcu kepada komandan melalui Toan Kiam-jing. Demi mengetahui surat itu sangat berguna bagi kami, maka komandan ingin minta surat ini. Mengingat urusan ini sangat penting, maka komandan memberi pesan harus di-laksanakan dengan hatihati."
"Haha, kiranya kami bicara dengan tergegap tadi adalah karena kuatir kami membocorkan rahasia kalian ini?"
Tanya Ubun Pok dengan tergelak. Ia sangka dugaannya tidak salah, maka rasa waswasnya seketika lenyap sebagian besar.
"Meski komandan sudah mengetahui Alcu Yung bermaksud menggunakan surat pengakuan dosa itu untuk memeras Ciok Thian-hing, tapi dia juga anggap cara demikian terlalu gegabah maka aku disuruh menyusulnya pulang,"
Kata Bu Ek pula.
"Berbareng itu komandan menyuruhku minta surat pengakuan dosa itu, kata komandan, apa imbalan yang Sancu kehendaki pasti akan dilaporkan komandan kepada Sri Baginda."
"Hah, kiranya kalian ingin menarik keuntungan enak dalam urusan ini."
Kata Ubun Pok dengan tertawa.
"Kutahu hubungan O-congkoan dengan Sancu cukup erat, dengan sendirinya Sancu juga dapat memberi surat itu kepada O-congkoan kami. Tapi akhirnya O-congkoan pasti juga akan menyerahkan surat itu kepada komandan kami untuk diurus lebih lanjut. Maka kukira lebih baik Sancu serahkan surat itu untuk kubawa pulang, selain Sancu tidak perlu menempuh perjalanan jauh, sekaligus juga mengikat hubungan baik. Kan sama saja surat itu diserahkan kepada O-congkoan atau komandan kami."
"Tapi masih ada satu hal yang lupa kau-katakan,"
Tukas Ubun Pok dengan tertawa.
"Bila-mana dapat kaulaksanakan tugas dengan baik bagi komandanmu, kan kamu juga berjasa."
"Haha, bicara terus terang memang aku pun ingin membonceng sedikit jasa,"
Ujar Bu Ek dengan terbahak.
"Maka mohon Sancu mengingat hubungan baikmu dengan guruku dahulu, sudilah memberi sedikit kebaikan padaku."
Anak telinga Ubun Pok tergetar sakit oleh suara tertawa Bu Ek, ia terkesiap, pikirnya.
"Rupanya dia sudah berhasil menyakinkan lwekang tinggi, pantas berani pamer di depanku."
Ia habis kecundang, maka rasa curiganya juga tambah besar, pikirnya pula.
"Jangan-jargan dia tahu tenagaku banyak terganggu, maka bukan cuma ingin pamer saja, malahan sengaja hendak menggertak diriku, kalau minta secara halus tidak dapat mungkin akan memakai kekerasan. Lantas surat pengakuan dosa ini harus kuberikan atau tidak?"
Sudah tujuh-delapan tahun Ubun Pok tidak bertemu dengan Bu Ek, maka yang menarik perhatiannya adalah lwekang Bu Ek yang lihai itu.
sebaliknya yang mengherankan Bok Him-him justru suara tertawa Bu Ek yang aneh itu, lamat-lamat dirasakannya ada sesuatu yang tidak beres.
la pikir suara tertawa Bu Ek biasanya mengilukan serupa benda logam yang digosok dan sangat menusuk telinga, mengapa sekarang berubah melengking-tajam dan menggetar sukma?
Meski anak telinga serasa pekak, tapi suaranya tidak terlalu menusuk?
Namun dari depan ia tidak melihat sesuatu perubahan atas diri Bu Ek, meski merasa sangsi namun Him-him tetap tidak berani memastikan Bu Ek ini palsu.
Apalagi cirinya tergenggam di tangan Bu Ek, dengan sendirinya ia tidak berani cari perkara, malahan ia ikut membujuk agar Ubun Pok mau menyerahkan surat pengakuan dosa yang diminta.
Ubun Pok merasa ragu, setelah dipertimbangkan lagi sejenak, akhirnya ia keluarkan juga surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan itu.
Menurut pertimbangannya.
jika surat itu ia serahkan kepada Ogotai, meski lebih besar faedah-nya, tapi jelas akan menimbulkan rasa dendam Ting Tiau-yong dan ling Hian-bu, manfaat yang diperolehnya nanti mungkin tidak cukup untuk menambal kerugian.
Apalagi sekarang bill Bu Ek main kekerasan, dirinya juga belum tentu bisa menang.
Kalau Bu Ek sudah mau bicara dengan baik akan lebih baik kuturuti kehendaknya saja untuk hubungan baik selanjutnya.
Setelah ambil keputusan, Ubun Pok lantas menyerahkan surat itu, katanya dengan tertawa.
"Haha, jika kau datang kemari untuk minta barang ini, umpama tidak ada perintah komandan kalian juga akan kupenuhi permintaanmu."
Bu Ek terima surat itu, katanya.
"Aku terburu-buru akan pulang untuk melaporkan urusan ini, bila semuanya beres nanti kami akan berkunjung ke Pek-toh-san untuk mengucapkan terima kasih kepada Sancu. Maaf, kupergi dulu."
Habis berkata ia terus tinggal pergi, hanya sekejap saja sudah lenyap. Kembali Ubun Pok terkesiap, katanya.
"Entah penemuan aneh apa yang dialami Bu Ek, semula ginkangnya tidak begitu tinggi, sekarang dia ternyata menguasai ginkang yang maha tinggi."
Bok Him-him juga terheran-heran, belum ada sebulan dia berpisah dengan Bu Ek, Bagaimana bisa ginkang Bu Ek terlebih tinggi daripada Ubun Pok, tidak mungkin terjadi dalam sebulan Bu Ek berhasil menyakinkan ginkang setinggi itu.
Tapi saat ini yang diharapkannya asalkan Ubun Pok tidak mengusut kesalahannya dia sudah puas, apalagi ia juga perlu lekas pulang ke Pek toh-san untuk merawat lukanya, bila ia kemukakan rasa curiganya dan Ubun Pok mengadakan pengejaran terhadap Bu Ek dan meninggalkan dia begitu saja, kan urusan bisa runyam?
Dalam pada itu Bu Ek sudah berlari cukup jauh, di situlah baru ia bergelak tertawa keras.
Belum lenyap suara tertawanya, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang tiba.
Keruan Bu Ek terkejut, disangkanya Pek-toh-sancu mengejar kemari.
Tapi setelah diawasi baru di-ketahui orang ini bukan Ubun Pok, melainkan Nyo Yam adanya.
Setelah Nyo Yam beradu pukulan dengan Ubun Pok, dirasakan kungfu Pek-toh-sancu Pek-itu memang sangat lihai, setengah badan Nyo Yam terasa panas seperti dipanggang, tapi setengah badan lain justru kedinginan serupa kejeblos ke dalam gua es.
Untuk menghilangkan kedua macam perasaan tak enak dalam tubuhnya ia perlu mengerahkan tenaga dalam untuk mengatur napas, sampai sekian lama barulah pulih kembali.
Selagi pikirannya kusut dan melanjutkan perjalanan dengan bimbang, pada saat itulah didengarnya gelak tertawa keras Bu Ek, ia merasa suara orang seperti sudah dikenalnya.
Cepat ia memburu ke tempat suara tertawa itu dan dapatlah dilihatnya Bu Ek sedang terbahak-bahak sendirian di situ.
Belum lama Nyo Yam baru bergebrak dengan Bu Ek di Lodan, maka ia merasa kecewa dan juga terkejut melihat Bu Ek herada di sini.
Nyo Yam sudah kenal kungfu Bu Ek tidak lemah, dalam keadaan tenaga sendiri baru mulai pulih, bila harus keras lawan keras lagi mungkin sukar menandingi orang.
Namun watak Nyo Yam memang tidak mau kalah, ia pikir biarpun bukan tandingannya juga akan kulabrak dia.
Segera ia berlari mendekat sambil membentak.
"Hah, tentu tidak kausangka akan kepergok aku di sini. Nah, boleh kita coba-coba lagi, kalau bukan kamu yang mampus biarlah aku yang hidup!"
Selagi Nyo Yam merasa heran mengapa ginkang Bu Ek bisa mendadak bertambah setinggi ini, didengarnya Bu Ek sedang tergelak dan ber-kata.
"Haha, memang tidak salah, sungguh tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini. Cuma kutahu kau mau pergi ke Thian-san, aku memang sedang mencari dirimu."
Girang dan kejut Nyo Yam demi mengenali suara orang, serunya.
"Hah, kiranya engkau Thio..."
"Bu Ek"
Tertawa, sahutnya.
"Betul, aku paman Thio..."
Ia mengusap muka sendiri sehingga terlihatlah wajah aslinya. Kiranya "Bu Fk"
Iui adalah samaran Koai-hoat Thio. Maling sakti itu memandang Nyo Yam sekejap, katanya.
"Agaknya kamu baru saja berkelahi dengan orang, betul tidak? Ginkangmu sebenarnya dapat lari terlebih cepat, tentunya lawan-mu itu sangat kuat dan sukar dilayani7"
"Ya memang seorang lawan tangguh yang belum pernah kulihat, hampir saja aku dilukai oleh pukulannya,"
Tutur Nyo Yam sambil menyengir.
"Siapakah orang itu?"
Tanya Koai-hoat Thio terkejut.
"Seorang kakek yang tidak diketahui asal-usulnya,"
Tutur Nyo Yam. Koai-hoat Thio mengangguk, katanya.
"Ya, kutahu, kakek itu berada bersama dengan siluman Bok Him-him itu, betul tidak?"
"Dari mana kau tahu? Ah, rupanya kaupun pergoki mereka?"
Kata Nyo Yam.
"Tadi baru saja kupergoki mereka dan sengaja kukerjai mereka,"
Tutur Koai-hoat Thio dengan tertawa. Nyo Yam tidak sempat tanya cara bagaimana orang mengerjai musuh, ia buru-buru ingin tahu keadaan ayah angkat dan Ling Peng-ji, cepat ia tanya pula.
"Entah siapa iblis tua itu, tapi ia bilang ayah angkat pun kena dicederai olehnya, entah betul atau tidak? Paman Thio, sudahkah kau lihat ayah angkat dan Ling-cici?"
"Iblis tua itu tak-lain-bukan adalah Pek-toh-sancu Ubun Pok,"
Tutur Koai-hoat Thio.
"Ah, sejak mula seharusnya kuingat akan dia,"
Seru Nyo Yam.
"Pantas ia bilang bila berani boleh kucari dia di Pek-tohsan, kiranya dia Pek-toh-sancu sendiri."
"Kamu tidak perlu gugup, meski ayah angkat-mu tak dapat mengalahkan Pek-toh-sancu, tapi juga takkan kecundang,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Nyo Yam.
"Bila benar Pek-toh-sancu sudah mencederai ayah angkatmu, tentu dia tidak perlu terburu buru lari pulang,"
Tutur Koai-hoat Thio.
"Maka menurut pendapatku, agaknya dia sendiri tidak sedikit kehilangan tenaga murni, besar kemungkinan dia yang kecundang."
Nyo Yam merasa lega, katanya.
"Ling-cici berada bersama ayah angkat, tapi entah bagaimana keadaannya?"
"Aku tidak bertemu dengan mereka, tapi ku yakin nona Ling pasti tidak apa-apa, sebaliknya perempuan siluman itulah yang kecundang olehnya."
"Mengapa bisa terjadi begitu?"
Tanya Nyo yam.
"Soalnya pada waktu kupergoki Ubun Pok dan bini mudanya itu, wajah perempuan siluman itu kelihatan pucat kuyuh, semangat lesu, sekali pandang saja dapat kuduga dia terluka oleh hawa dingin Pek-pok-sin-tan,"
Tutur Koai-hoat Thio-"Untung juga Pek-toh-sancu dibebani perempuan siluman itu sehingga banyak membuang tenaga lagi.
Secara tidak langsung kaupun telah membantuku, kalau tidak tentu aku tidak berani menyerempet bahaya mengibuli mereka."
"Ganti rupa dan ubah wajah kan merupakan kepandaian khas paman Thio, masa engkau kuatir diketahui mereka?"
Koai-hoat Thio tertawa, katanya.
"Kamu tidak tahu, hampir saja penyamaranku diketahui perempuan siluman itu, ia juga ahli dalam bidang, ini, bila bukan lantaran pikirannya belum sadar, mungkin begitu kumuncul sudah ketahuan olehnya. Selain itu, jika tidak kulihat iblis tua itu terganggu tenaga murninya, tentu aku pun tidak berani menipu barangnya dengan cara mengibul."
Berdetak juga hati Nyo Yam, cepat ia tanya "Barang apa yang kau tipu dari dia?"
"Mungkin barang ini juga sangat kau harapkan,"
Sahut Koaihoat Thio tertawa.
"Oo, kau tahu barang apa yang kucari?"
Tanya Nyo Yam.
"Bukankah kedatanganmu ini hendak mencari nona Liong."
"Betul, jadi paman tahu keadaannya?"
Koai-hoat Thio tidak menjawab, sebaliknya tanya Nyo Yam.
"Untuk apa hendak kau cari nona Liong?"
"Kutahu demi untuk kepentinganku, maka ia sengaja ke Thian-san untuk membela diriku,"
Kata Nyo Yam.
"O, maka kau kuatir nona Liong akan tersangkut oleh urusanmu?"
"Paman Thio,"
Kata Nya Yam cepat.
"bila engkau mengetahui dia, hendaknya lekas kau katakan padaku. Sungguh aku sangat kuatir baginya."
"Aku tidak bertemu dsngan dia,"
Tutur Koai-hoat Thio.
"Cuma dari pembicaraan perempuan siluman itu dengan Pektoh-sancu dapat kuterka sedikit beritanya, yaitu dia seperti kena ditawan oleh orang Thian-san-pai." , Kejut Nyo Yam tidak terhingga serunya.
"Ah, ternyata betul dia mengalami sesuatu, lantas bagaimana baiknya."
"Di antara orang Thian-san-pai, adakah yang kau ketahui siapa yang tidak senang padanya, maksudku yang suka memusuhi dia?"
"Tidak perlu disangsikan lagi, jelas Ciok Thian-hing adanya,"
Tutur Nyo Yam.
"Sebab kupotong lidah anaknya, tentu dia dendam merasuk tulang padaku. Dalam pandangannya nona Liong itu adalah komplotanku, paling sedikit dianggap ikut mengakibatkan cacat anaknya, maka dia pasti juga tidak mau melepaskan nona Liong begitu saja."
"Baik, jika begitu barang yang kuambil ini justru sangat berguna bagimu,"
Kata Koai-hoat Thio dengan tertawa.
Segera ia mengeluarkan surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan itu dan diserahkan kepada Nyo Yam.
Meski Nyo Yam tahu adanya surat pengakuan itu, tapi tidak diketahuinya bagaimana isinya, setelah membaca, ia kejut dan girang, katanya.
"Tak tersangka prilaku Ciok Jing-coan terayata begitu busuk. Baik, akan kuserahkan surat ini kepada Ciangbunjin (pejabat ketua), ingin kulihat cara bagaimana Ciok Thian-hing akan membela diri dan berbalik akan memfitnah aku melanggar peraturan perguruan."
Bicara sampai di sini barulah teringat olehnya perlu tanya Koai-hoat Thio, katanya.
"Paman Thio, dari mana pula kau tahu aku menghendaki barang ini sehingga perlu kau curi bagiku? Sebab apa pula engkau datang ke sini?"
"Apalagi kalau bukan lantaran dirimu,"
Tutur Koai-hoat Thio dengan tertawa.
"Nona Liong dan bibimu dari permusuhan sudah berubah menjadi kawan, hal ini kan sudah kauketahui. Tempo hari tanpa pamit kau tinggalkan kotaraja, bibimu tahu tentu kau pergi menyusul nona Liong, ia merasa kuatir dan membicarakan hal ini denganku. Kutahu maksudnya, maka kukatakan akau srgera menyusup ke Thian-san, akan kulihat apa yang sekiranya dapat kulakukan untuk membantu kalian. Tak terduga, belum tiba di Thian-san lebih dulu kupergoki Pektoh-sancu dan perempuan siluman itu, maka aku lantas menyamar sebagai Bu Ek untuk menipu barang ini."
"Wah, jika begitu, urusan jangan ditunda lagi, marilah kita lekas berangkat ke Thian-san!"
Seru Nyo Yam girang.
"Sekarang tidak perlu lagi kuikut ke Thian-san,"
Ujar Koaihoat Thio.
"Kautahu aku ini cuma seorang pencuri, biasanya tidak suka bergaul dengan tokoh dari golongan ternama dan perguruan terkemuka."
"Ah, paman Thio ini, biarpun engkau menyebut diri sendiri sebagai pencuri, namun dalam pandangan orang banyak paman Thio tetap seorang pendekar sejati,"
Kata Nyo Yam.
"Mendingan kamu memuji diriku, bila ucapan mu ini kau kemukakan di depan orang Thian-san pai, tanggung ada gigi orang akan copot tertawa geli."
"Gigi siapa yang akan copot tertawa geli?"
Tanya Nyo Yam.
"Paling sedikit Ciok Thian-hing,"
Kata Koai-hoat Thio.
"Hm, orang munatik semacam Ciok Thian-hing, untuk apa digubris,"
Jengek Nyo Yam.
"Sekalipun dia tidak akan mentertawai paman Thio, tentu juga akan kuhantam dia hingga copot giginya. Ayah angkatku dan Ting-susiok serta Kam-susiok tentu memandang paman Thio sebagai kawan sendiri,"
"Kau tahu tabiatku,"
Ucap Koai-hoat Thio dengan serius.
"Aku sudah terbiasa hidup behas, hanya suka bergaul dengan orang yang sepaham denganku. Betul, orang Thian-san-pai kebanyakan memang ksatria sejati dan lelaki tulen, tidak munafik serupa Ciok Thian-hing, namun aku justru tidak suka bergaul dengan mereka. Sekarang kamu memegang surat pengakuan dosa ini, kukira tidak perlu lagi bantuanku, lalu untuk apa aku ikut pergi ke Thian-san? Yang benar, bibimu mungkin sedang resah karena urusanmu, maka lebih baik kupulang saja untuk menyampaikan kabar kepadanya agar dia tidak selalu dirundung rasa kuatir."
Karena ucapan orang ini.
Nyo Yam tidak memaksanya lagi.
Segera ia meneruskan perjalanan ke Thian-san.
Saat itu Pek-toh-sancu juga sedang melanjutkan perjalanan cepat, sesudah pulang ia bermaksud mengerahkan segenap kekuatannya untuk melabrak Thian-san-pai.
Maklumlah, watak Ubun Pok ini memang suka unggul, sejak berhasil meyakinkan dua macam kungfu tinggi Han-pengciang dan Huo-yam-to, ia mengira dirinya tidak ada tandingan di kolong langit ini.
Siapa tahu kepergiannya sekali ini justru hampir saja kehilangan istri muda dan mengalami kekalahan pula.
Meski bertiirut-turut ia bergebrak dengan Ki Tiang-hong dan Nyo Yam, ia tidak kecundang tapi juga tidak menarik sesuatu keuntungan.
Sedang Bok Him-him justru cedera ketika berada di bawah perlindungannya dan ini sama dengan menjatuhkan gengsinya.
Apalagi Nyo Yam tergolong anak kemarin, sedang Liong Leng-cu juga tiduk berhasil dibawa kembali, ia merasa kehilangan muka sehingga sangat gemas.
Ki Tiang-hong ada hubungan erat dengan Thian-san-pai, sekalipun Nyo Yam diketahui sebagai murid murtad Thian-san, tapi jelas belum putus hubungan sama sekali dengan Thian San pai dan Liong Leng-cu sekarang malahan berada di tangan pihak Thian-san Pai.
Ia ingin membikin perhitungan dengan Ki Tiang Hong dan Nyo Yam, juga hendak merampas kembali Liong Leng Cu, untuk itu tdak mungkin terhindar bentrok dengan pihak Thian San pai.
Begitulah sembari berjalan ia terus memikirkna semua itu, terutama cara bagaimana akan menghimpun kekuatan dari golongan sendiri untuk mengatasi Thian-san-pai.
Masih ada lagi satu orang, meski kalau di urutkan tidak terhitung "musuh", tapi bila teringat kepadanya, Ubun Pok juga gemas tidak kepalang, bahkan rasa bencinya terhadap orang ini tidak di bawah gemasnya terhadap Ki Tiang-hong dan Nyo Yam.
Orang yang sangat dibencinya ini tidak perlu dijelasban lagi adalah Bu Ek.
Ia benci kepada Bu Ek karena tidak pantas mengambil surat pengakuan dosa itu pada saat dia tidak berdaya.
Saking tidak tahan ia berkata kepada Him-him.
"Mendingan aku terjungkal di tangan orang Thian-san-pai, tapi bocah she Bu juga berani main gila padaku, sungguh celaka." -oo0dw0oo-Tindakan apa yang akan diambil Ubun Pok untuk menuntut balas kepada pihak Thian-san-pai? Cara bagaimana Nyo Yam akan meng-hadapi peradilan di depan ketua Thian-san-pai dan apa yang akan dilakukannya dengan surat pengakuan dosa Ciok Jing Coan yang dipegangnya itu? -Bacalah
Jilid ke-15 -
Jilid 15
"Aku pun penasaran atas perbuatan Bu Ek,"
Tukas Bok Himhim.
"Cuma, meski surat itu di-rampas olehnya, paling tidak juga ada kebaikan yang harus dia balas. Maka jangan Loyacu marah, anggap saja surat itu kita sumbangkan kepada Ting Tiau-yong."
Namun Ubun Pok masih marah, katanya.
"Aku tidak persoalkan manfaat apa yang akan kita peroleh, aku cuma gemas karena bocah she Bu itu berani main gila padaku. Pendek kata, perbuatannya itu takkan kulupakan. suatu ketika tentu akan kubikin perhitungan dengan dia."
Bok Him-him teringat pada tindak-tanduk Bu Ek yang mencurigakan itu. ia mau bicara, tapi urung. Melihat air muka Him-him agak Iain, segera Ubun Pok tanya.
"Kamu kenapa?"
Pada saat itulah tiba-tiba datang dua penunggang kuda, berbareng mereka beneru heran.
"He, kiranya Ubun-sancu? Hah, sungguh sangat kebetulan!"
Kiranya mereka adalah Toan Kiam-jing dan seorang lagi bukan lain daripada Bu Ek. Sebelum ini Toan Kiam-jing memang sudah kenal Ubun Pok. Keruan Ubun Pok menjadi murka, bentak-nya.
"Bu Ek, kamu tidak lekas pulang untuk melaporkan jasamu, untuk apalagi kaukembaii ke sini?"
Tentu saja Bu Ek merasa bingung, namun air muka Ubun Pok yang marah itu jelas terlihat, dengan sendirinya ia terkejut dan cepat melompat turun dan memberi hormat, jawabnya.
"Kudatang dari markas Ting-taijin, tugasku belum lagi selesai, dari mana datangnya jasa segala?"
"Hm, kamu ada tugas apa lagi?"
Jengek Ubun Pok. Berulang ditegur dengan kata "lagi", tentu saja Bu Ek tambah bingung, terpaksa ia bicara dengan terus terang.
"Tentang tugasku ini memang perlu kuminta bantuan kepada Sancu dan Sam-nio, yaitu tentang surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan itu.."
Belum habis ucapannya Ubun Pok tidak tahan lagi rasa gusarnya, teriaknya.
"Surat itu sudah kuberikan padamu, masa kau curiga surat tadi itu palsu?"
"Wah, janganlah Sancu bergurau,"
Kata Bu Ek dengan melenggong.
"Surat itu sama sekali tidak pernah kulihat, bilakah kau serahkan padaku?"
Ubun Pok terbesiap.
"Habis tadi ... tadi itu siapa?"
Langsung Bu Eb menyatakan penasarannya, katanya.
"Sepanjang jalan kularikan kudaku ke sini, tak tersangka dapat bertemu dengan Sancu di sini. Kalau tidak percaya boleh minta Toan-heng sebagai saksi."
"Betul, Ubun-sancu,"
Sambung Toan Kiam-jing.
"Kami memang bersama berangkat dari Lo-dan dan sepanjang jalan tidak pernah ia tinggalkan diriku."
Mendadak Ubun Pok mendengus.
"Hm, aku justru tidak percaya!"
Sembari bicara, secepat kilat ia terus menghantam batok kepala Bu Ek.
Keruan kejut Bu Ek tak terkatakan, Toan Kiam-jong juga melongo kaget, ia berani menjadi saksi bagi Bu Ek, tak tersangka Ubun Pok lantas hendak mencahut nyawa Bu Ek .
Diam-diam ia mendongkol, ia pikir seumpama kamu tidak percaya kepada Bu Ek seharusnya dapat mempercayaiku.
Cuma lantaran serangan Ubun Pok itu sangat cepat, pula Toan Kiam-jing tidak berani menyerempet bahaya kemungkinan akan dilukai Ubun Pok bila ia menolong Bu Ek, terpaksa ia hanya berdiri melongo saja serupa patung.
Betapapun Bu Ek memang jago kelas satu, meski terkejut toh tidak sampai kelabakan.
Jika Ubun Pok menyerangnya tanpa kenal ampun, cepat ia pun mengeluarkan kungfu andalannya untuk menangkis.
Kedua tangan bergerak serentak dan menggaris sebuah lingkaran, inilah jurus "Luitian-kau-hong" (guntur dan kilat menyambar) paling dahsyat dari Hok-mo-ciang-hoat (ilmu pukulan penakluk iblis) yang terkenal dari Kai-pang.
Sisa tenaga Ubun Pok memang tinggal tiga bagian saja setelah dikuras dalam pertempuran dengan Ki Tiang-hong dan Nyo Yam, cuma setelah lewat beberapa jam, tenaganya kini sudah pulih separoh.
Lantaran ia yakin masih mampu mengatasi Bu 1 k, maka ia berani turun tangan mengujinya.
liok-mo-ciang-hoat dari Kai-pang itu sama hebatnya daripada Tai-lik-kim-kong-jiu (pukulan bertenaga raksasa) dari Siau-lim-pai, namun jurus Lui-tian-kau-hong yang dahsyat ini tetap tidak mampu melawan Ubun Pok.
Dalam sekejap itu Bu Ek merasa tenaga pukulan lawan seakan-akan gugur gunung dahsyat nya sehingga membuatnya hampir tidak dapat bernapas, keruan ia terkejut, ia mengeluh bisa mati penasaran.
Selagi ia mengira jiwanya pasti akan melayang, sekonyongkonyong daya tekanan lawan lenyap begitu saja, ternyata Ubun Pok telah menarik kembali pukulannya.
Seketika Bu Ek kehilangan imbangan badan, berdirinya kurang mantap dan ambruk ke depan, cepat Ubun Pok meraihnya berdiri kembali.
"Maaf Bu-heng, maksudku cuma sekedar menguji saja dirimu ini tulen atau palsu,"
Kata Ubun Pok dengan tertawa. Toan Kiam-jing merasa lega, tanyanya.
"Ubun-sancu, jadi engkau telah bergebrak dengan orang itu?"
"O, tidak,"
Jawab Ubun pok.
"Cuma telah kusaksikan ginkangnya yang hebat dan sukar di-bandingi diriku. Ia pun memperlihatkan Iwekangnya di depanku, bicara tentang kekuatan Iwekang dia bukan tandinganku, namun lwekangnya jelas berbeda aliran daripada lwekang Bu-heng."
Dengan keterangannya ini, dengan sendirinya Toan Kiamjing dan Bu Ek tahu sebab apa segera Ubun Pok dapat mengetahui tulen dan palsunya orang yang diujinya.
Maklumlah, dalam keadaan jiwa terancam, siapa pun pasti akan mengeluarkan segenap kepandaian sendiri yang paling diandalkan, umpama tidak sanggup melawan juga pasti akan berusaha kabur.
Tapi tadi Bu Ek sama sekali tidak mampu mengelak, dengan sendirinya dia bukan Bu Ek gadungan yang memiliki ginkang maha tinggi itu.
Setelah napasnya rada tenang maka Bu Ek berkata.
"Entah siapa penipu yang memalsukan diriku itu?"
"Toan-heng,"
Kata Ubun Pok.
"kaupernah tinggal sekian tahun di Thian-san, tentu tidak sedikit tokoh-tokoh golongan sana yang kau kenal, hendaknya kauberi saran dan pendapatmu."
"Berdasarkan keterangan Sancu tadi, kukira orang itu adalah Koai-hoat Thio,"
Kata Toan Kiam-jing-"Kaumaksudkan si pencuri nomor satu di dunia ini, Thio Siau-yau?"
Ubun Pok menegas.
"Ya, pernah juga kudengar namanya, cuma tidak ku-ketahui dia juga seorang tokoh persilatan kelas tinggi." .
"Ya, Koai-hoat Thio terkenal ginkangnya nomor satu dan kepandaiannya menyamar nomor dua di dunia ini,"
Kata Toan Kiam-jing.
"Kabar-nya ia pernah banyak mencuri kitab putaka ilmu silat, habis dibaca diam-diam dikembalikan lagi kepada pemiliknya. Lwekangnya mungkin di peroleh dari peyakinan sendiri berdasar kitab pusaka yang banyak dibacanya itu."
"Ia menipu surat pengakuan dosa itu dariku, tentu dia pergi ke Thian-san dan menyerahkannya kepada ketua Thian-sanpai Tong Kah-goan,"
Kata Ubun Pok.
"Tempat ini sudah dekat kaki gunung Thian, satu-dua hari lagi sudah dapat kalian mendaki pegunungan itu, namun ginkang Koai-hoat Thio tidak lebih larnbat daripada kuda, mungkin sukar bagi kalian untuk menyusulnya."
Dugaan Ubun Pok itu berdasarkan kewajaran umum, tak diketahuinya surat pengakuan dosa itu oleh Koai-hoat Thio telah diberikan kepada Nyo Yam.
"Tak apalah jika dia cuma memalsukan diriku, tapi Sancu juga ditipunya, kalau tersiar tentu narai baik Sincu akan tercemar,"
Kata Bu Ek.
"Hwesio dapat lari kelentengnya tidak (maksudnya orangnya bisa kabur, tapi tempatnya tetap bisa dicari), apakah Sancu tidak ingin membalas sakit hati ini?"
Ubun Pok tahu maksud orang, ia pikir orang sengaja menghasutnya supaya naik ke Thian-san untuk minta orangnya kepada Tong Kah-goan, tapi urusan tidak boleh ddakukan dengan gegabah maka ia pura-pura tidak paham dan berkata.
"Maling she Thio itu sudah tentu takkan kuampuni, tapi untuk menuntut balas juga tidak perlu terburu nafsu. Sekarang aku perlu lekas pulang ke Pek-toh-san bersama Him-him, biarlah kelak akan kubikin perhitungan dengan dia."
Tiba-tiba Toan Kiam-jing ikut bicara.
"Hanya seorang Koaihoat Thio saja masakah perlu Sancu turun tangan sendiri. Dengan kedudukan Sancu, kalau mau turun tangan harus bekerja sesuatu urusan besar yang mengguncang dunia, untuk ini mungkin harus menyerempet bahaya, tapi kuberani menjamin, umpama tidak berhasil juga takkan me-rugikan Pek-toh-san."
Ia dapat meraba jalan pikiran Ubun Pok yang serba susah, tupi juga tahu jiwa Pek-toh-sancu itu yang suka diumpak dan ingin kuasa.
Benar jugs ucapannya itu telah menggoyahkan pendirian Ubun Pok, segera ia tanya.
"Urusan besar apa yang hendak kau lakukan?"
Toan Kiam-jing sengaja mundur selangkah, katanya.
"Panjang bila kuceritakan urusan ini, sayang Sancu terburuburu hendak pulang, andaikan kuceritakan juga tidak ada gunanya."
"Baik, silakan kalian tunggu sebentar,"
Kata Ubun Pok.
"Mari Him-him, ikut padaku."
Ia tarik Him-him dan menyingkir agak jauh ke sana, lalu bertanya dengan suara tertahan.
"Sejak mula kau tahu Bu Ek tadi palsu, mengapa tidak kaukatakan padaku?"
Him-him tahu tak dapat membohongi lagi, terpaksa bicara terus terang.
"Memang timbul curiga-kru tadi, cuma tidak keburu kukatakan dan tahu-tahu Bu Ek yang asli sudah muncul."
"Hm, masih juga kau bicara bohong padaku,"
Jengek Ubun Pok.
"Yang kukatakan adalah sejujurnya, Loya,"
Kata Him-him.
"Jujur? Hm, ingin kutanya lagi, belum lama baru saja kaulihat Bu Ek, umpama seketika tak dapat membedakan tulen atau palsu, memangnya tinggi rendah ilmu silatnya juga tidak dapat kau-bedakan? Terlebih ginkang Koai-hoat Thio itu tentu tidak dikuasai sembarang orang, masa dalam hal ini pun tidak kau ketahui?"
"Kan sudah hamba katakan, sejak mula curiga, hanya belum sempat kukatakan ."
"Hm. begitu curiga seharusnya segera katakan padaku, masa tidak keburu segala?"
Jengek Ubun Pok.
"Kukira soalnya bukan tidak keburu melainkan dalam hatimu ada pertimbangan lain."
Karena isi hatinya kena dikatai, Him-him gugup dan malu, ia menangis dan berkata.
"Loyacu. hamba selalu setia padamu, jika engkau masih juga tidak percaya, silakan pukul mampus diriku saja. Mana ada pertimbanganku segala, janganlah hamba dibuat penasaran."
"Apa jalan pikiranmu tentu kau tahu sendiri,"
Jengek Uoun Pok.
"Cuma di depan orang luar, tidak enak bagiku untuk bicara terus terang, memangnya pakai menangis segala. Lekas usap air matamu dan tunggu perintahku."
Him-him tahu Pek-toh-sancu sok jaga gengsi, di depan orang luar rasanya dirinya takkan di-jatuhi sesuatu hukuman, maka ia tetap berlagak penasaran dan mengusap air mata, ucapnya lirih.
"Baiklah, silakan Loyacu bicara dengan Toankongcu, biar kutunggu di sini saja."
Ubun Pok kembali mendekati Toan Kiam jing dan Bu Ek, katanya.
"Sudah kurundingkan dengan Him-him, dia akan pulang sendirian. Nah. apa yang hendak kalian kerjakan, boleh katakan padaku."
"Begini, bukan tidak dapat kukatakan padamu, cuma ada satu hal perlu kujelaskan di muka."
Kata Toan Kiam-jing.
"Baik, lekas katakan,"
Ucap Uhun Pok.
"Terus terang, urusan ini dirancang oleh O-congkoan sendiri,"
Tutur Toan Kiam-jing.
"Ia telah memberi pesan, hanya orang yang ikut dalam pekerjaan ini saja yang boleh diberitahu."
"Bagaimana hubunganku dengan O-congkonn tentu kaupun tahu bukan?"
"Sancu adalah sahabnt karib O-congkoiin, tentu saja kutahu,"
Jawab Toan Kiam-jing.
"Malahan orang yang paling diandalknn oleh O congkoan juga Ubun-sancu, ia bilang ada maksud minta Sancu mengemudikan pekerjaan ini. cuma Pektoh-san jauh terletak di perbatasan Tibet, untuk pcrgi datang diperlukan waktu berhulan bulan. kuatir urusan terhambat, maka tidak jadi menghubungi Sancu. Tapi pada waktu kami berangkat, Congkoan juga memberi pesan bilamana kebetulan bertemu dengan Sancu, maka tetap perlu minta Sancu yang mengemudikan pekerjaan ini. Jika Sancu setuju, maku engkaulah yang menjadi kepala kami dan rahasia pekerjaan ini dengan sendirinya akan kuceritakan seluruhnya."
Disanjung puji begitu, seketika Ubun Pok berseri-seri, ucapnya dengan tertawa.
"Urusan O-congkoan sama juga urusanku, silakan bicara saja sejelasnya."
"Jika Sancu sudah setuju, maka bolehlah kita bicara sambil berjalan,"
Ujar Toan Kiam-jing.
"Cerita ini cukup panjang, kita tetap melanjutkan perjalanan supaya tidak menghambat waktu."
"Baik,"
Kata Ubun Pok, lalu ia berpaling dan berseru.
"Himhim, ada urusan perlu kupergi bersama Toan-kongcu dan Bu taijin, kukira kesehatanmu selekasnya akan pulih, bolehlah kau pulang sendirian ko Pek-tok-san."
"Silakan Sam-nio pakai kudaku ini,"
Tukas Toan Kiam-jing. Setelah berpikir, Bu Ek juga berkata.
"Betul, sekarang sudah dekat kaki gunung Thian, kudaku juga tidak ada gunanya-lagi. Ambil sekalian kudaku ini agar dapat kau gunakan bergantian dalam perjalanan."
Sekarang Bok Him-him memang berharap semakin cepat meninggalkan Ubun Pok akan makin baik baginya.
Maka tanpa sungkan ia terima kedua kuda dan berangkat dengan cepat.
Diam-diam ia sudah ambil keputusan takkan pulang lagi ke Pek-toh-san.
-ooo(00000)ooo-Pada saat yang sama Nyo Yam juga sedang melanjutkan perjalanan.
Lereng pegunungan Thian membentang ribuan li panjangnya, separjang mata memandang hanya pepohonan lebat dan puncak terjal belaka diliputi awan tebal.
Pada hari kedua Nyo Yam mulai mendaki gunung, tiga hari kemudian, puncak selatan Thian-san tempat berkumpul Thiansan-pai sudah terlihat di kejauhan.
Semakin tinggi mendaki semakin dingin hawa pegunungan, karena tipisnya zat asam, makin tinggi juga makin sulit pernapasan seorang.
Bagi orang biasa, jangankan sulit mencapai puncak gunung, umpama dapat mencapainya akhirnya kalau tidak mati kedinginan juga akan mati sesak napas.
Untung sejak kecil Nyo Yam sudah tinggal di Thian-san, lwekangnya sekarang juga sudah mencapai tingkatan kelas satu, dengan sendirinya cara mendaki sekali ini jauh lebih cepat daripada dahulu waktu Ki Tiang-hong membawanya ke atas.
Namun, meski caranya mendaki gunung sangat enteng dan cepat, perasaannya justru tertekar seperti ditindih timbel beribu kati beratnya.
Ia menguatirkan Liong Leng-cu yang jatuh dalam cengkeraman Ciok Thian-hing itu, sekalipun tidak berbahaya bagi jiwanya, mungkin akan kenyang tersiksa.
Ia sangsi apakah keburu tiba pada waktunya untuk membebaskan Lengcu dari siksa derita?
Ia pun teringat kepada Ling Peng-ji, ia pikir saat ini Lengcici tentu sudah pulang sampai di puncak selatan dan bertemu dengan Ciangbunjin.
la pasti akan membela diriku dan dapatkah Ciangbunjin percaya kepada keterangannya?
Jika Ciok Thian-hing sengaja memfitnah diriku, mungkinkah Lingcici ikut terambat susah?
Yang dikatakan tidak melulu urusan sendiri saja, bahkan juga tidak terbatas keselamatan Liong Leng-cu dan kcbemhan Ling Peng-ji, dalam hatinya masih ada suatu ikatan mati yang sukar di-buka.
Tali pati yang sukar dibuka itu adalah ucapan Romana, yaitu.
"Sesungguhnya siapa yang kau-cintai?"
Pertanyaan itu kembali mengiang di tepi telinganya.
Ia dan Ling Peng-ji sudah pernah mengikat janji tujuh tahun, di dalam tujuh tahun ini ia di larang menemui si nona.
Jika bertemu secara kebetulan, meski tidak terhitung pelanggaran, tapi juga dilarang bicara yang berhubungan dengan cinta mereka melainkan cuma terbatas bergaul sebagai kakak dan adik saja.
Selalu itu ia harus mencari Liong Leng-cu lebih dulu, jika tidak menemukan nona itu, sekalipun janji tujuh tahun tercapai Ling Peng-ji juga takkan mau kawin dengan dia.
Tujuan Ling Peng-ji tentu saja dipahami Nyo Yam, yaitu disamping herusaha melepaskan diri dari keteriibatan cinta Nyo Yam, sekaligus juga ingin menjodohkan anak muda itu dengan Liong Leng-cu.
Sekarang sang waktu sudah berlalu satu tahun, mengalami masa setahun yang penuh pergolakan, Nyo Yam pun sudah mulai dewasa, sifat kekanak-kanakannya sudah lenyap.
Dia sudah jauh lebih masak dibandingkan setahun yang lalu, sebab itulah cara berpikirnya juga tambah mendalam.
"Mengapa Ling-cici sengaja menjauhi diriku, tentu dia kuatir akan komentar orang luar, jadi bukan dia tidak mencintaiku melainkan karena tidak berani mencintaiku."
"Ia anggap aku masih bersifat anak kecil, maka memberi batas waktu tuiuh tahun untuk menggemblengku. Tapi dipandang dari sudut lain bukankah ini pun suatu ujian bagiku, untuk menhuji keteguhan dan kemurnian cintaku?"
Mutlak ia tidak meragukan kejujuran Ling Peng-ji yang hendak menggabungkan perjodohannya dengan Liong Lengcu, tapi ia pun paham pertentangan batin Ling Peng-ji.
Apakah dia dan Liong Leng-cu bisa terikat menjadi suami-istri adalah soal lain, tapi ia tidak ingin memupuk kebahagiaan sendiri di atas penderitaan Ling-cici yang dihormat dan dicintainya itu.
Namun ia sudah berjanji kepada Liong Leng-cu akan mengiringinya pulang untuk mendampingi kakeknya.
Kakek Leng-cu selain pernah menyelamatkan jiwanya, juga mempunyai perasaan kasih sayang sebagai seorang kakek terhadap cucunya.
Selamanya Leng-cu tidak pernah bertemu dengan kakeknya, kalau dibandingkan, jelas Nyo Yam terlebih dekat dengan oraug tua itu Terlampau banyak Nyo Yam utang budi kepada orang tua itu, maka ia pun mengerti apa maksud si kakek minta dia mencarikan cucu perempuannya.
Bahwa dia berjanji akan mengiringi Liong Leng-cu untuk pulang dan mendampingi sang kakek melulu karena merasa kasihan terhadap orang tua yang banyak menolongnya itu, kasihan kepada-nya karena pada masa tua hidup merana sendirian.
Ling Peng-ji dan Liong Leng-cu sama-sama rela berkorban segalanya bagi Nyo Yam, anak muda ini sukar membedakan siapa di antaranya yang lebih mencintai dia.
Sama halnya, biarpun dia sudah bersumpah dan rela mempersembahkan hidupnya kepada Ling-cici yang dihoimat dan dicintainya itu, ingin membela dan berbuat apa pun baginya, tapi ia juga pernah terharu oleh cinta murni Liong Leng-cu terhadapnya, ia tidak sanggup menjawab apakah lantaran itulah dia juga mencintai Leng-cu.
Dalam setahun ini sebenarnya dia sudah pernah bertemu satu kali dengan Ling Peng ji, atau dengan lain perkataan bukan dia yang menemui Peng-ji melainkan nona itu yang menemuinya.
Kejadian itu waktu berada di pegunungan dekat Cadam, Nyo Yam terluka dan dalam keadaan tidak sadar.
Hal ini diketahui Nyo Yam dari cerita Liong Leng-cu.
Waktu Leng-cu memberitahukan kejadian itu tanpa tedeng aling-aling Leng-cu telah menyatakan rasa cintanya kepadanya, berbareng itu juga terus terang ia merasakan cinta Ling Peng-ji kepada Nyo Yam.
Begitulah pikiran Nyo Yam terasa sangat kusut, ia pikir apa pun juga takkan mengingkari cinta Ling-cici, tapi janjinya terhadap Leng-cu betapapun hendak dipenuhinya.
Ia hanya berharap semoga mereka dapat memaklumi perasaannya.
"Sekarang urusan sudah berlalu satu tahun dan masih ada waktu enam tahun, akan kuiringi Leng-cu mendampingi kakeknya selama enam tahun, dengan begitu dapatlah kubalas budi kebaikan mereka,"
Demikian pikir Nyo Yam pula, ia pun gegetun, sebenarnya untuk apa berpikir sebanyak itu?
Padahal sepulangnya di Thian-san, apakah Ciangbunjin mau percaya kepada keterangannya juga masih merupakan tanda tanya, begitu juga ia tidak tahu apakah sanggup menghadapi Ciok Thian-hing.
Bisa jadi jiwanya akan melayang di Thian-san.
Tapi apa pun jadinya ia bertekad takkan membikin snsah Peng-ji dan Leng-cu ikut terembet oleh urusannya.
Begitulah sukar bagi Nyo Yam untuk membuka ikatan batin yang tertekan itu, terpaksa untuk sementara tidak dipikirnya dan biarkan berkembang sewajarnya.
Berpikir demikian, perasaannya menjadi banyak lebih longgar.
Segera ia percepat langkahnya dan menuju be puncak selatan.
Makin lama makin tinggi, puncak selatan yang menjulang tinggi itu sudah terlihat.
Sungai es di atas gunung merupakan pemandangan ajaib yang jarang terlihat, di tenguh sungai penuh lapisan es yang beku dan ditimbun pula oleh salju yang tebal.
Kecuali pada musim panas, sungai es tidak pernah mengalir.
Sekalipun musim panas juga cuma lapisan .salju bagian atas saja yang cair, biarpun tidak mengalir, namun lapisan es yang menggelantung dari ketinggian pun setiap saat dapat bergerak dan longsor.
Waktu itu sudah akhir musim panas dan menginjak musim rontoh, banyak sungai es yang masih bergerak.
Terlihat di kejauhan sana ada tempat pertemuan dua sungai es, di sekitarnya mendadak seperti timbul beratus pagoda kebiruan dan gemerlapan tertimpa cahaya matahari.
Nyo Yam tahu selewatnya barisan pagoda es itu akan sampai di tempat bermukim orang Thian-san-pai.
Di bagian tengah yang dikelilingi pagoda es itu adalah sebidang padang rumput.
Meski sudah terlihat oleh mata, namun jaraknya masih jauh, di bawah sinar matahari yang gemilang tiba-tiba Nyo Yam merasa silau, ia kucek-kucek matanya dan coba memandang lagi lebih jelas ke depan, ternyata di padang rumput yang dikelilingi pagoda es sana banyak bayangan orang.
"Barangkali bekas saudara seperguruan asyik berlatih di lapangan hijau itu, entah di antara mereka terdapat Ling-cici atau tidak?"
Demikian pikir Nyo Yam.
Belum habis terpikir, tiba-tiba terdengar suara genta bertalu.
Tempat kediaman Thian-san-pai bukanlah biara atau kelenteng, jika suara genta berkumandang dari biara tentu tidak mengherankan, tapi dari tempat ketinggian di puncak Thian-san berkumandang suara gentar, ini rada-rada aneh.
Nyo Yam pernah dengar dari Ling Peng-ji bahwa satusatunya genta besar di atas gunung baru dibunyikan bilamana tsrjadi sesuatu urusan genting dan perlu mengumpulkan segenap anggota.
Selama 11 tahun Nyo Yam tinggal di Thiansan dahulu belum pernah mendengar suara genta itu.
"Aneh, terjadi urusan penting apa? Apakah lantaran berhasil menawan Liong Leng-cu yang di-pandang Ciok Thian-hing dan lain-lain sebagai Siau-yau-li itu? Memang, adik Cu memang membelaku sehingga dianggap menentang orang Thian-sanpai tapi dengan bobotnya rasanya belum cukup untuk membunyikan genta dan mengumpulkan segenap anggota seperguruan."
Begitulah Nyo Yam tidak habis mengerti.
Terpaksa ia tabahkan hati dan maju lebih dekat.
Mestinya ia hendak menemui pejabat ketua baru untuk membela diri setelah bertemu dengan ayah angkatnya, tak tersangka begitu datang lantas kebentur pada peristiwa luar biasa sehingga mengacaukan semua rencananya.
Ia tidak tahu bahwa peristiwa besar yang sedang dihadapi Thiau-san-pai ini adalah upacara pengukuhan Tong Kah-goan yang diangkat menjadi ketua Thian-san-pai baru.
Maklumlah, penjabat ketua yang dulu, Tong Keng-thian, adalah ayah Tong Kah-goan, dalam masa berkabung upacara pengangkatan ketua baru itu belum dilangsungkan.
Menurut tata cara, selama itu Tong Kah-goan belum resmi diakui sebagai ketua, dalam hubungan keluar Tong Kah-goan juga cuma dianggap sebagai "penjabat sementara"
Saja Menurut tata cara ajaran Khongcu, bila ayah mati, anak harus berkabung selama tiga tahun.
Dalam masa berkabung tidak boleh bertugas.
Tapi orang persilatan umumnya cuma berkabung selama setahun dan dalam masa berkabung boleh melakukan pekerjaan umum.
Sekarang batas waktu setahun sudah penuh maka menurut peraturan Thian-san-pai hendak mengukuhkan jabatan Tong Kah-goan sebagai ketua Thian-san-pai yang resmi, maka diadakan upacara susulan.
Letak Thian-san sangat jauh dan terpencil sehingga kawan dunia persilatan yang hadir tidaklah banyak.
Sebab lain adalah karena semua orang sudah tahu diangkatnya Tong Kah-goan sebagai ketua memang sudah fakta nyata, maka yang hadir kebanyakan cuma tokoh yang ada hubungan erat saja dengan Thian-san-pai.
Ada juga beberapa tokoh dunia persilatan terkemuka yang hadir dalam upacara ini, mereka memang mempunyai hubungan khusus dengan Thian-san-pai.
Seorang di antaranya adalah ketua Kong-tong-pai, Tan jiu sing, ia adalah guru Beng Hoa, murid Thian-san tidak resmi.
Seorang lagi adalah ketua Bu-tong-pai, Lui-ancu, ia sahabat karib mendiang Tong Keng-thian.
Ada lagi Siau Jing-hong, sesepuh Jing-sia-pai, dia juga sahabat baik mendiang Tong Keng-thian, juga paman Siau Ciwan, panglima pasukan pemberontak di Cadam.
Siau-lim-pai juga mengirim utusan seorang sesepuh yang menjaga ruang kitab Dharma, sesepuh ini bergelar Bu-gi, dia ahli agama, tapi namanya di dunia persilatan tidak terlalu menonjol, malahan jauh di bawah ketiga tokoh yang disebut lebih dulu.
Selain itu ada lagi seorang tamu beken, ialah ayah angkat Nyo Yam, Ki Tiang-hong.
Cuma dia pernah tinggal di Thiansan hampir 20 tahun lamanya sehingga boleh dikatakan dia terhitung orang sendiri.
Namun dugaan Nyo Yam juga boleh dibilang kena sebagian, yaitu selain upacara susulan untuk mengukuhban kedudukan Tong Kah-goan, acara ikutannya justru hendak memeriksa Liong Leng-cu.
Liong-cu pernah mencederai anak murid Thian san-pai, sebabnya dia diperiksa sekarang karena dia dianggap sebagai komplotan Nyo Yam.
Tong Kah-goan adalah pejabat ketua Thian-san-pai yang baru, sedang Ciok Thian-hing adalah sesepuh penegak hukum yang baru diangkat.
Sebenarnya kalau menuruti usul Ciok Thian-hing, soal pembersihan perguruan akan dilaksana-kan sekaligus bersama pengukuhan pejabat ketua.
Perlu diketahui, soal Nyo Yam dipecat dari perguruan meski sudah lama dikemukakan oleh Ciok Thian-hing dan disetujui Tong Kah-goan.
tapi keputusan itu belum pernah diumumkan secara resmi.
Alasan Ciok Thian-hing adalah Thian-san-pai belum pernah melahirkan murid murtad, sedang dosa Nyo Yam yang dianggap mendurhakai perguruan itu sangat gawat, maka menurut aturan pemecatan itu harus diumumkan pejabat ketua baru di depan umum, dengan demikian nama baik Thian-san-pai dapat dipertahankan.
Sebenarnya Tong Kah-goan masih sayang kepada sute terkecil ini, tapi karena terdesak oleh keadaan, terpaksa ia harus menuruti kehendak Ciok Thian-hing.
Maklumlah, Ciok Thian-hing adalah murid pertama gurunya Ciok Tian, jika harus mengikuti peraturan, pejabat ketua Thian-san-pai seharusnya hak Ciok Thian-hing.
Cuma Ciok Thian-hing juga tahu dirinya tidak mendapatkan dukungan saudara seperguruan yang lain, pula Tong Kah-goan adalah putra ketua yang lalu, makaia lantas mengalah menuruti keadaan.
Apalagi perbuatan Nyo Yam yang mencederai Ciok Thianhing, Kam Bu-wi dan lain-lain serta iris lidah Ciok Jing-coan, semua itu pun terbukti nyata.
Mestinya Tong Kah-goan mau menuruti pendapat Ciok Thian-hing, setelah resmi dia menjadi psjabat ketua, segera dia akan mengumumkan pemecatan Nyo Yam.
Jika terjadi demikian berarti urusan ini tidak dapat berubah lagi.
Cuma pada saat terakhir telah terjadi sesuatu yang telah mengubah pendiriannya, yaitu pulang-nya Ki Tiang-hong ke Thian-san bersama Ling Peng-ji pada malam sebelum upacara.
Ki Tiang-hong dan Ling Peng-ji telah mintakan ampun bagi Nye Yam, semula Tong Kah-goan tidak mau mengingat peraturan perguruan sendiri, terutama juga disebabkan pengaruh Ciok Thian-hing, tapi kemudian Ling Peng-ji terpaksa membeberkan persoalan itu sebenarnya ada latar belakang yang dirahasiakan, diharap setelah Nyo Yam datang supaya Tong Kah-goan mengadakan pertemuan rahasia dahulu dengan mereka.
Juga Ki Tiang-hong memberi jaminan Nyo Yam pasti akan pulang, kalau tidak pulang ia yang bertanggung jawab akan membekuk anak muda itu.
Menurut peraturan yang layak, orang yang bersangkutan juga harus diberi hak untuk mengemukakan pendapat dan membela diri, bilamana Nyo Yam pulang dan tidak mampu memberi keterangan yang pantas barulah ditindak.
Tong Kah-goan menerima usul Ki Tiang-hong itu dan urusan tidak segera diputuskan begitu saja.
Berdasarkan pengaduan Ciok Thian-hing, Liong Leng-cu adalah komplotan Nyo Yam, menurut pendapatnya, khianat Nyo Yam tentu ada intrik lain yang lebih keji, maka Liong Leng-cu yang dianggap sebagai komplotan Nyo Yam tentu juga ikut dalam intrik itu.
Sebab itulah Tong Kah-goau mengubah rencana semula dan tidak segera memberi keputusan terhadap kasus Nyo Yam itu, tapi mendahulu-kaa pemeriksaan terhadap Liong Leng-cu.
Ia memberi alasan kepada Ki Tiang-hong bukannya tidak percaya kepada jaminan Ki Tiang-hong, soalnya bila dari keterangan Liong Leng-cu dapat dikorek keterangan di mana beradanya Nyo Yam, kan di lebih sederhana?
Liong Leng-cu memang benar pernah membantu Nyo Yam mencederai orang Thian-san-pai, jika sekarang nona itu diperiksa, betapapun Ki Thian-hong tak dapat mencegahnva.
Dengan sendirinya Ki Tiang-hong tidak tahu bahwa pada saat itu juga Nyo Yam sedang menyusul pulang ke Thian-san.
Sementara itu upacara pengukuhan pejabat ketua sudah selesai dan sidang pemeriksaan terhadap Liong Leng-cu baru dimulai.
"Siau-yau-li, kau tahu dosamu tidak?"
Demikian Ciok Thianbing selaku sesepuh penuntut mendahului pertanyaannya dengan membentak. Leng-cu mendengus.
"Ciok-tianglo, engkau melaksanakan tugas keadilan bagi setiap orang Thian-san-pai, apakah engkau dapat bertindak secara adil tanpa pandang bulu?"
"Dengan sendirinya aku akan bertindak adil tanpa pandang bulu, masa perlu disangsikan?"
Jawab Ciok Thian-hing gusar.
"Baik, jika engkau mengaku adil, maka hendaknya lebih dulu memeriksa putra kesayanganmu sendiri!"
Kata Leng-cu.
Ciok Thian-hing tidak tahu peristiwa gagalnya Ciok Jingcoan yang hendak memperkosa Liong Leng-cu, namun sebagai ayah ia cukup kenal prilaku anaknya.
Diam-diam ia terkejut oleh ucapan Leng-cu itu, bentaknya pula.
"Siau-yau-li, jangan sembarang omong, berani kau sebut-scbut anakku segala? Bahwa lidahnya sampai dipotong oleh binatang cilik Nyo Yam itu, kaupun tidak terlepas dari dosa."
Tanpa terasa Ling Peng-ii berkata dengan suara pelahan.
"Ketika hal ini terjadi nona Liong tidak hadir."
Ciok Thian-hing melototi Peng-ji sekejap, bentaknya pula.
"Biarpun waktu itu Siau-yau-li ini tidak hadir, tapi kita sama tahu dia memang komplotan Nyo Yam, jadi urusan ini dia juga ikut tanggung jawab."
"Kuminta jangan kaucari perkara lain dan menyimpang, sekarang bukan Nyo Yam yang diperiksa, tapi kuminta anakmu perlu diperiksa dulu,"
Kata Leng-cu. Merah padam muka Ciok Thian-hing, bentaknya.
"Siau-yauli, tampaknya kamu sengaja meng-hina kami ayah dan anak. Apa belum cukup kau -bikin dia-bisu "Dia berubah bisu, aku kan tidak bisu,"
Jengek Leng-cu.
"Dia tidak dapat bicara, tapi menulis dan tanda tangan kan dapat dilakukan."
Tong Kah-goan merasa di balik ucapan Liong Leng-cu iui seperti ada sesuatu yang belum terungkap, ia melengggong, tanyanya kemudian.
"Nona Liong, apa artinya ucapanmu itu?"
"Ciok-tianglo selalu menyebut diriku sebagai perempuan siluman, entah dia tahu tidak bahwa kejahatan anaknya justru tak dapat diampuni, kejahatan yang diperbuatnya jauh lebih berat daripada Nyo Yam,"
Tutur Leng-cu.
"Oo, kautahu dia berbuat jahat apa?"
Tanya Tong Koh-goan.
"Dengan sendirinya kutahu, sebab aku sendiri hampir menjadi korbannya,"
Jawab Leng-cu. Selagi Tong Kah-goan hendak tanya lebih jelas, terdengar Ciok Thian-hing memotong dengan dingin.
"Hm, sebenarnya sekarang yang diperiksa Siau-yau-li ini atau memeriksa anakku? Jika anak ku yang diperiksa, pertama sudah jelas anakku sukar disuruh meuguraikan apa yang terjadi, pula aku juga perlu menghindari prasangka dau mohon Ciangbunjin menunjuk penuntut yang lain."
Tong Kah-goan bukan orang bodoh, dengan sendirinya ia tahu Ciok Thian-hing merasa dirinya terlalu banyak tanya. Diam-diam Kah-goan kurang senang, terpaksa ia berkata.
"Selamanya Ciok-suheag terkenal jujur dan adil, hal ini diketahui setiap &audara perguruan kita. Maka kupercayakan kepada Ciok-suheng cara bagaimana sidang pemeriksaan ini dapat berlangsung."
Rada tenang perasaan Ciok Thian-hing, katanya pula.
"Keterangan Siau-yau-li iai mana dapat dipercaya, cuma, bila dia dilarang bicara, mungkin aku disangka sengaja memojokkan dia dan bukan mustahil aku dituduh sengaja membela anak sendiri"
Belum habis ucapannya, ada anak muridaya segera memberi dukungan.
"Betul perkataan Suhu, keterangan Siauyau-li ini mana dapat dipercaya. Kukira dia sengaja memfitnah Ciok-suheng karena suheng tidak dapat dikonfrontasikan dengan dia, dia sengaja merusak nama baik Thian-san-pai kita."
Lihai juga ucapan orang ini, dengan begitu ia telah mengalihkan ujung tombak yang terarah kepada Ciok Jingcoan dan berpindah kepada Thian-san-pai secara keseluruhan.
Karena itulah banyak anak murid Thian-san-pai lantas berteriak-teriak menyatakan setuju dan membentak menuduh Liong Leng-cu sengaja mencari perkara.
Ciok Thian-hing membiafkan suara berisik itu sirap lebih dulu, lalu berucap pula.
"Pandangan semua orang memang beralasan, memang tidak boleh Siau-ysu-li ini sembarangan mengoceh, tapi kalau dia tidak diberi kebebasan bicara mungkin ada kawan yang menganggap kita sewenang-wenang dan mau menang sendiri. Kukira begini saja, jika dia menuduh anakku berbuat kejahatan dan dia pernah menjadi korbannya, biarkan dia kemukakan bukti dan saksi. Bila bukti dan saksi ada barulah bicara lagi kebenaran apa yang terjadi. Dengan demikian tentunya persidangan ini benar-benar berlangsung dengan adil."
Gagasan Ciok Thian hing ini tentu saja diterima dengan suara bulat oleh anak murid Thian-san-pai. Para tamu undangan juga merasa tidak enak untuk ikut campur. maka semua orang sama mengangguk setuju.
"Kau minta bukti dan saksi apa?"
Tanya Leng-cu.
"Umpamanya bila pada tubuhmu ada bekas luka? Jika ada, dari situ akan terlihat apakah bekas serangan orang Thian-san atau bukan, itulah antara lain bukti yang kumaksudkan."
"Hm, mencelakai orang dengan cara yang kotor dan rendah, memangnya begitu sederhana hanya melubai tubuh orang saja?"
Jengek Leng-cu.
"Jika begitu, jadi kamu tidak ada buktinya,"
Dengus Ciok Thian-hing.
"Lantas adakah saksi?"
Waktu Liong Leng-cu diajukan dalam persidangan, ia sudah melihat di antara tamu yang hadir itu tidak terdapat Kang Siang-hun.
Tempo hari waktu ia dan Kang Siang-hun membobol kepungan musuh, Kang Siang-hun menghalaukan pasukan pengejar baginya supaya nona itu kabur lebih dulu.
Meski Leng-cu tidak melihat sendiri Kang Siang-hun terkena panah, tapi setelah ditunggu di Lodan dan Kang Siang-hun tetap tidak menyusul, ia menduga orang tentu mengalami cedera.
Meski ia tidak berani berpikir yang paling buruk.
namun juga tidak berani mengharapkan lagi datangnya penolong itu.
Sekalipun Kang Siang-hun tidak mati melainkan cuma terluka saja juga tidak tahu kapan baru akan datang ke Thian-san.
Dan kalau Kang Siang-hun tidak datang sendiri untuk menjadi saksi baginya, apa yang di-uraikannya tentu juga takkan dipercaya orang banyak.
Apalagi soal dia gagal diperkosa orang segala masakah enak dijelaskan begitu saja di depan umum, meski dia dikenal sebagai Siau-yau-li yang suka bertindak dugal, namun apa pun juga dia tetap seorang anak gadis.
Maka terpaksa ia tidak dapat menjawab lagi.
"Bagaimana, saksi juga tidak ada?"
Bentak Ciok Thian-hing. Leng-cu berpikir sejenak, ia berpaling dan berkata kepada Tong Kah-goan.
"Tong-ciangbun, ku-mohon sesuatu padamu, tapi bukan minta ampun."
"Kau minta apa?"
Tanya Tong Kah-goan.
Meski dia rada sungkan terhadap Ciok Thian-hing, tapi iiwa ksatrianya tetap teguh, ia lihat bentuk Liong Leng-cu tidak mirip orang yang sengaja bohong dan berusaha bebas dari perkara, sekalipun ia tidak berani memastikan putra Ciok Thian-hing pernah berusaha membikin susah si nona.
tapi juga timbul curiga di balik urusan ini memang terjadi sesuatu yang tidak beres.
Maka tanpa dihiraukan lagi ketidak puasan Ciok Thian-hing kepadanya dan memberi kebebasan kepada Liong Leng-cu untuk bicara.
Maka berkatalah Leng-cu.
"Aku cuma memohon engkau suka memberi waktu padaku untuk menunggu kedatangan seorang."
"Menunggu siapa?"
Tanya Tong Kah-goan.
"Maaf, sementara ini tidak dapat kukatakan,"
Jawab Lengcu.
Hubungan keluarga Kang dengan Thian-san-pai sangat erat, Kang Siang-hun juga pernah bilang urusan ini akan langsung dibicarakan dengan ketua baru Thian-san-pai.
Jika sekarang ia sebut nama Kang Siang-hun, jangankan tidak ada yang percaya Kang Siang-hun adalah kawannya, bahkan Tong Kahgoan juga akan salah sangka dia sengaja mengadu domba keluarga Kang dengan Thian-san-pai.
Dengan kening bekernyit Tong Kah-goan lantas tanya.
"Apakah Nyo Yam yang kau tunggu?"
"Bukan,"
Jawab Leug-cu.
"Kau minta waktu berapa lama?"
Tanya Tong Kah-goan pula.
"Entah, tidak kuketahui berapa lama harus kutunggu. Aku bersama dia kepergok pasukan musuh dalam perjalanan, ia terluka. Tapi kupercaya, bila dia masih hidup dia pasti akan datang kemari untuk menemuimu."
Ciok Thian-hing menjengek.
"Huh, omong kosong belaka! Biarlah kita anggap dustamu ini dapat diterima, tapi tanpa batas waktu, kan sama juga omong kosong?"
Karena ucapan ini, dengan sendirinya tidak enak bagi Tong Kah-goan untuk meluluskan permintaan Liong Leng-cu.
"Tanpa bukti dan saksi, nona Liong, tampaknya permintaanmu mungkin sukar diterima,"
Kata Kah-goan dengan kening bekernyit. Ciok Thian-hing berlagak menimbang sejenak, lalu berkata.
"Agar urusan bisa menjadi jelas, silakan Ciangbun-sute tanya padanya, di mana dan kapan terjadinya peristiwa dia dicelakai menurut pengakuannya tadi."
Tong Kah-goan paham maksudnya ingin menghindari anggapan orang akan ketidak-adilan persidangan ini, maka ingin mengusutnya dan wakiu dan tempat kejadian untuk membantah tuduhan Liong Leng-cu itu sebagai kebohongan belaka.
Semula Tong Kah-goan juga rada percaya terhadap keterangan Liong Leng-cu, sekarang menjadi berkurang dan lebih banyak curiganya.
Ia pikir kalau Ciok-suheng berani tanya demikian, jangan-jangan ia yakin putranya pasti bersih tanpa dosa.
Selaku ketua Thian-san-pai, dengan sendirinya ia berharap anak murid perguruannya bersih tanpa cacat, maka katanya.
"Nona Liong. boleh kau katakan kapan dan di mana terjadinya, tidak perlu kuatir."
Meski mendongkol, terpaksa Leng-cu menjawab.
"Hari kejadian itu adalah tanggal 16 bulan delapan, tempatnya di Jilim."
Tanggal yang disebut itu dihubungkan dengan nama tempat Ji lim, seketika Tong Kah-goan teringat, katanya.
"Hah, tanggal 16 bulan delapan bukan-kah hari ulang tahun Ji-limtaihiap Kui Goan? Ciok-iuheng, hari itu kalian lalu di Ji-lim, apakah kalian mampir menyampaikan selamat kepada Kuitaihiap?"
"Hm, dia memang pergi, tapi putra mestikanya itu tidak ikut,"
Jengek Leng-cu. Pelahan Ciok Thian-hing menjawab.
"Betul, aku dan Tingsute berkunjung ke Hwe-in-ceng untuk mengucapkan selamat kepada Kui-taihiap, kusuruh Liok Kam-tong dan Jing-coan menggiring Siau-yau-li ini pulang kemari. Mungkin Siau-yau-li ini menganggap aku tidak berada di sana sehingga dia berani sembarangan omong memfitnah anakku, tak disadarinya keterangannya ini justru merupakan kelemahannya. Sute adalah orang bijaksana, setelah kau pikirkan tentu kautahu persoalannya."
"Betul, pada waktu Kui-taihiap mengadakau pesta ulang tahun, perjalanan Ji-lim tentu sangat ramai orang berlalu lalang,"
Kata Kah-goan, di balik ucapannya hendak menunjukkan bilamana Ciok Jing-coan mau berbuat jahat tentu takkan dilakukan pada hari dan tempat itu.
Perangai Liong Leng-cu memang kurang lembut, semula ia masih menghormati Tong Kah-goan, sekarang orang juga bicara demikian, rasn percayanya menjadi rada goyah, pikirnya.
"Umpama tanpa malu kuceritakan perbuatan kotor Ciok Jing-coan itu tentu Tong Kah-goan juga takkan percaya, lalu untuk apa aku mengadu padanya?"
Dengan gemas ia lantas berkata.
"Baikiah, sandiwara yang kalian mainkan sudah tamat belum? Nah, mau bunuh atau mau sembelik boleh terserah kepada kalian, kukira tidak perlu lagi kalian berlagak orang suci."
Dengan kurang senang Tong Kah-goan lentas berkata.
"Liok Kam-tong, coba kemari. Terus terang katakan padaku, apakah hari itu kamu selalu berada di samping Jing-coan dan tidak berpisah?"
Liok Kam-tong sangat setia terhadap sang guru, segera ia berlagak marah dan menjawab.
"Hari itu satu langkah pun aku tidak pernah meninggalkan Ciok-sute, cuma keterangan Siauyau-li ini juga tidak salah, pada hari itu memang terjadi sesuatu yang di luar dugaan, Cuma bukan Ciok-sute membikin susah padanya melainkan Siao-yau-si ini yang hampir membikin celaka Ciok-sute."
"Oo, terjadi apa?"
Tanya Kah-goan.
"Suhu menyuruh kami menggiring dia pulang kemari, kami menganggap dia orang perempuan dan tidak menambahi tali ringkusan, malahan membiarkan dia naik kuda sendiri. Siapa tahu pada waktu Ciok-sute sedikit meleng, mendadak ia menusuk Ciok-sute satu kali sehingga dada Ciok-sute hampir ditembus olehnya. Karena kuatir dan menolong Ciok-sute, kesempatan itu digunakan Siau-yau-li ini untuk kabur. Syukur jaring takdir masih cukup rapat sehingga akhirnya dia tetap dapat ditawan oleh Cianpwe kita sendiri."
Rombongan Ciok Thian-hing baru pulang ke Thian-san tiga hari yang lalu, luka Ciok Jing-coan, belum sembuh, Tong Kahgoan sendiri pernah melihat bekas lukanya.
Lantaran sikuk, waktu-itu ia tidak tanya lebih jelas.
Karena itulah Tong Kah-goan tambah percaya, katanya kepada Ciok Thian-hing.
"Kiranya cara begitulah Jing-coan terluka. Kenapa tidak kau katakan padaku sejak mula, Cioksuheng?"
Thian hing merasa senang, dengan hormat ia menjawab.
"Ah, soalnya aku tidak ingin membikin risau Ciangbun-sute, pula hari ini Siau-yau-li akan diperiksa, maka sengaja kutunda sampai sekarang baru urusan ini dibeberkan."
Pada waktu Liong Kam-tong dan Ciok Thian-hing bicara, Leng-cu hanya tertawa dingin saja tanpa menanggapi. Tong Kah-goan lantas menarik muka dan herkata.
"Nona Liong, tak tersangka engkau bisa berdusta, numun berdasar fakta yang ada sekarang sungguh tidak dapat kupercayai keteranganmu. Karena itu tentu tuduhanmu terhadap Ciok Jing-coan terpaksa tidak dapat kuterima. Jika engkau tidak terima, silakan kemukakan bukti baru."
Namun Leng-cu tetap tertawa dingin saja tanpa menjawab. Salah seorang mucid utama Thian-san-pai, yaitu Pek Kiansing, dia berwatak keras, melihat sikap Leng-cu itu, ia tidak tahan dan segera membentak.
"Siau-yau-li, kau tertawa dingin apa? Sebagai tertuduh, kamu berani bersikap kasar ter hadap Ciangbunjin?"
"Dia kan Ciangbunjin kalian dan bukan Ciangbunjin ku,"
Jengek Leng-cu.
"Kutertawa sendiri, peduli apa denganmu? Betul, aku tertuduh, tapi tertuduh bagi pandangan kalian yang sok anggap diri sebagai kaum pendekar segala,"
"Apa katamu, jadi dalam pandanganmu kami ini pendekar gadungan?"
Bentak Pek Kian-sing dengan murka. Cepat Tong Kah-goan melarai.
"Pek-sute, huat apa engkau bertengkar dengan dia?"
Lalu ia berpaling kepada Ciok Thian-hing, katanya "Cioksuheng, sekarang kunyatakan tuduhan nona Liong terhadap Jing-coan batal dan engkau pun tidak perlu banyak pikir lagi, silakan melanjutkan pemeriksaan ini."
Ciok Thian-hing merasa mendapat angin, tapi ia berlagak menjunjung kebenaran, katanya pula.
"Tentang Jing-coan dicelakai Sisu-yau-li ini, untung Jing-coan tidak meninggal, pula kalau dibandingkan dengan dosa Siau-yau-li ini kejadian itu terhitung urusan kecil, maka takkan kuusut lebih lanjut. Tapi dia mencegat dan merampas murid murtad perguruan kita, juga melukai Ting-sute, perkara ini tetap harus diberi hukuman yang sctimpal."
"Hm, mau korek atau mau sembelih boleh silakan!"
Jengek Leng-cu dengan angkuh. Ciok Thian-hing menjadi murka, teriaknya
"Dasar Siau-yau-li kepala batu, biar kau rasakan dulu hukuman setimpal, ayo seret ."
Melihat gelagat tidak enak, cepat Ling Peng-ji tampil ke muka untuk minta kelonggaran bagi Liong Leng-cu, katanya.
"Ciok Susiok, mohon engkau jangan marah dulu. Meski nona Liong ini bersalah tapi setahuku akhir-akhir ini ia juga pernah membantu orang Kasak melawan Boanjing, jadi kukira jasanya cukup untuk menambal kesalahannya dan berikan keringanan."
Ciok Thian-hing mendengus.
"Kedua urusan ini jangan dicampurbaurkan. Yang sedang berlangsung sekarang adalah sidang pemeriksaan musuh yang bersangkutan dengan perguruan kita, adalah pantas kulaksanakan peraturan perguruan. Ia berjasa membantu Lohai, pimpinan laskar di Cadam boleh memberi pujian padanya, itu bukan urusanku."
Tiba-tiba Ki Tiang-hong ikut bicara.
"Aku orang luar, mestinya tidak perlu ikut campur. Tapi bicara tentang urusan ini, apa yang dilakukan nona Liong kukira sesuai dengan tujuan suci kaum pendekar kita. Sekalipun Thian-san-pai tidak menganggapnya sebagai kawan seperjuangan juga pantas memberi keringanan hukuman."
Ki Tiang-hong adalah sabahat karib Tong Keng-thian, mendiang ketua Thian-ran-pai yang lalu atau ayah Tong Kahgoan, kedudukannya di dunia persilatan juga sukar dibandingi Ciok Thian-hing, dengan sendirinya perkataannya cukup berbobot.
Meski Ciok Thian-hing kurang senang orang tua ini juga ikut campur, tapi tidak dapat ia bersikap keras serupa terhadap Ling Peng-ji, seketika Ciok Thian-hing merasa kikuk, Untuk menghilangkan rasa kikuk Ciok Thian-hing, terpaksa Tong Kah-goan ikut bicara.
"Ya, mengiagat nona Liong ini cuma ikut-ikutan saja, juga Ki-taihiap telah mintakan ampun baginya, maka bolehlah Ciok-suheng menunda tindakan padanya, nanti kalau pemeriksaan sudah jelas barulah ditentukan apakah hukuman baginya perlu dilaksanakan atau tidak."
Kesempatan ini digunakan Ciok Thian-hing untuk mundur teratur, katanya.
"Ucapan Ciangbun tidak salah, penaran pokok perkura ini adalah Nyo Yam, asalkan Siau-yau-li ini mau mengaku terus terang, tentu dapat kita beri kelonggaran padanya."
Bicara sampai di sini, dengan lantang ia berkata kepada Leng-cu.
"Sekarang ada dua jalan boleh kau pilih. Pertama, mengaku saja apa intrik Nyo Yam dan dosamu akan diampuni. Jika kamu tetap tidak sadar, maka terpaksa jalan kedua harus kau tempuh dan itu berti kau rela berkorban bagi Nyo Yam. Hehe, bila kamu pilih jalan ini, tentu kami pun akan memenuhi harapanmu dan segera kumusnakan ilmu silatmu."
"Ciok-susiok,"
Peng-ji menyela pula.
"aku menyaksikan dibesarkannya Nyo Yam, jika kau bilang dia berwatak aneh, suka ugal-ugalan, semua ini takkan kubantah. Tapi bila dikatakan ada intrik, kurasa dia masih anak yang belum mengerti seluk beluk orang hidup, apakah ..."
"Hm, apakah terlampau berat tuduhanku?"
Jengek Ciok Thian-hing.
"Padahal kaupun mengtilami akibat perbuatannya, tapi kau bela dia malah?"
Ling Peng-ji merasa penasaran. tanpa terasa air mata berlinang. Namun Ciok Thian-hing anggap tidak tahu, katanya pula.
"Kau bilang dia belum paham seluk-beluk orang hidup, huh, kukira kamulah yang terlampau ceroboh."
Ciok Thian-hing mengomeli anak murid perguruan sendiri dalam bedudukannya sebagai pelaksana hukum, dengan sendirinya Ki Thian-hong tidak enak ikut bicara, Terpaksa Ling Pang-ji juga menerima dengan penasaran, ucapnya dengan hormat.
"Mohon Susiok memberi petunjuk."
"Siapa ayah Nyo Yam, orang lain mungkin tidak tahu, masa kaupun tidak tahu?"
Jengek Thian-hing.
Tentang asal-usul Nyo Yam, biarpun orang Thian-san-pai sendiri yang tahu juga cuma tokoh tingkat tinggi saja, jumlahnya paling banyak cuma sepuluh orang.
Tamu luar tentu saja terlebih sedikit yang tahu.
Maka ucapan Ciok Thianhing ini sangat menarik perhatian orang, mereka saling bertanya.
Dengan suara lantang Thian-hing berkata pula.
"Mungkin Nyo Yam benar anak dugal yang tidak paham seluk-beluk orang hidup seperti ucapanmu tadi, tapi ayah kandungnya justru anjing pemburu kerajaan Boanjing yang kejam dan keji, jabatannya adalah jago pengawal istana, namanya Nyo Bok!"
Semua orang sama berseru kaget demi men dengar rahasia ini, menyusul lantas ramai mereka membicarakannya.
Ki Tiang-hong kurang senang terhadap tindak an Ciok Thian-hing ini.
Maklum, tentang rahasia asal-usul Nyo Yam, sejak masih kecil dan dibawanya ke Thian-san, sejak mula ia sudah minta pejabat ketua Thian-san waktu itu, yakni Tong Keh-thian, agar rahasia ini disimpan baik-baik, keduanya sepakat bilamana Nyo Yam sudah berumur 18 barulah Ki Tiang-hong akan memberitahukan langsung kepada anak muda itu.
Sekarang Ciok Thian-hing menyingbap rahasia itu di depan umum, hal ini jelas melanggar persepakatan.
Demi hubungan baik, tidak enak bagi Ki Tiang-hong untuk mendamperat di depan orang luar, namun tidak urung ia bicara juga dengan mendongkol.
"Anak naga pun bermacam-macam dan tidak ada yang sama, ayahnya begitu, belum tentu anaknya juga begitu."
"Ssmoga benar sesuai ucapan mu,"
Kata Thian-hing dengan hambar.
"Tapi menurut pendapatku mungkin tidak begitulah halnya Selaku pelaksana hukum Thian-san-pai, urusan yang besar hubungannya dengan wibawa perguruan, tidak boleh tidak harus kuusut."
Ia merandek sejenak, melihat Ki Tiang-hong tidak menimbrung lagi, segera ia sambung.
"Nyo Yam membikin celaka sesama perguruan, juga menghina orang tua, berbagai kejahatannya itu tidak boleh diampuni. Tapi kalau melulu sendirian mungkin dia takkan berani bertindak demikian, kukira sebabnya dia berani berbuat khianat, besar kemungkinan ada yang membeking di belakangnya, dan orang ini tidak perlu disangsikan lagi pastilah ayah kandungnya sendiri. Itu berarti mereka ayah dan anak sudah kumpul kembali, jadi dia telah diperalat ayahnya untuk memusuhi perguruan kita. Ayahnya tidak mau tampil sendiri mslainkan menyuruh Nyo Yam yang berbuat, siapa berani membantah di belakang perbuatannya ini tidak tersembunyi intrik keji?"
Memang tidak ada yang berani membantah.
Meski jelas Ki Tiang-hong tahu Nyo Yam tidak sehaluan dengan ayahnya, tapi Nyo Yam memang pernah berusaha membunuh Beng Goan ciau atas perintah ayahnya.
Urusan ini pun cukup diketahui Ciok Thian-hing.
Bila ia bela Nyo Yam pula dan Ciok Thian-hing menyingkap hal ini.
mungkin bisa bikin urusan tambah runyam.
Seketika keadaan menjadi sunyi.
Dengan senang Ciok Thian-hing menyambung lagi.
"Sebab itulah sekarang bukan perkara yang menyangkut Nyo Yam seorang saja, tapi harus diselidiki hingga jelas apa hubungannya dengan intrik keji yang diatur oleh ayahnya yang menjabat jago pengawal istana itu. Nah, Liong Leng-cu, kamu adalah komplotan Nyo Yam, kukira kamu pasti tahu?"
Ujung mulut Leng-cu memperlihatkan senyum ejek dan tetap tidak bersuara. Ciok Thian-hing membentak.
"Akan kuulangi sekali lagi. Jika kamu mau mengaku intrik keji Nyo Yam itu segera akan kami lepaskanmu, kalau tidak, jangan menyesal bila kami bertindak tegas!"
Sebenarnya melirik saja Leng-cu tidak sudi, tetapi sekarang ia berpaling dan menatapnya dengan tajam. Thian-hing mengira nona itu telah berubah pikiran, bentaknya pula.
"Kau mau bicara tidak, aku tidak dapat menunggu lagi. Akan kuhitung tiga kali, jika kamu tetap tidak mengaku, terpaksa kulaksanakan hukuman dan memunahkan ilmu silatmu. Nah, satu, dua . ..."
"Baik, jika engkau tetap menghendaki jawabanku, aku cuma dapat menyebut dua kalimat saja!"
Kata Leng-cu mendadak. Ciok Thian-hing melengak.
"Hanya dua kalimat?"
"Ya, hanya dua kalimat, kau mau dengar atau tidak terserah padamu!"
"Baik, katakan saja, dua kalimat apa?"
Tanya Thian-hing.
"Nah, dersgarkan. fitnah orang tanpa dasar bikin kotor mulut sendiri?"
Merah padcm muka Ciok Thian-hing saking-gemasnya, sebelah tangannya terangkat dan segera hendak menghantam kepala nona itu.
"Nanti dulu!"
Seru Peng-ji mendadak.
"Biar kuwakili dia untuk bicara."
Thian-hing tidek menyangka akan tindakan Ling Peng-ji ini, dengan melenggong ia tarik kembali tangannya dan bertanya.
"Hendak kau wakilkan dia bicara apa?"
"Bukankah Susiok ingin tanya dia ada hubungan apa antara Nyo Yam dengan ayah kandungnya? Tentang ini kutahu,"
Kata Peng-ji. Thian-hing menjadi sangsi, ucapnya kemudian.
"Baik, lekas katakan jika kautahu."
"Memang betul Nyo Yam sudah tahu rahasia asal-usulnya dan sudah bertemu dengan ayah kandungnya,"
Tutur Peng-ji.
"Tapi setahuku, dia dan Nyo Bok tidaklah sehaluan."
"Nyo Yam yang berkata demikian padamu?"
Jengek Thianhing.
"Bukan,"
Jawab Peng-ji.
"Habis dari mana kautahu antara mereka ayah dan anak tidak sehaluan?"
"Nyo Yam pernah menyelamatkan Kai Hong dari laskar pemberontak Cadam, waktu itu Kai Hong ditugaskan mencari obat-obatan di kotaraja dan tertangkap di Poting serta dipenjarakan. Nyo Bok ditugaskan komandannya untuk menyelesaikan perkara ini ke Poting, tapi pada malam dia tiba di kota itu, sebelum sempat dia memeriksa Kai Hong, lebih dulu Nvo Yam sudah membongkar penjara dan melarikan Kai Hong. Padahal datangnya Nyo Bok juga diketahui Nyo Yam, namun dia tetaip bertindak demikian. Ini membuktikan antara mereka ayah dan anak tidak sepaham."
"Dari mana pula kau tahu kejadian itu?"
Tanya Thian-hing.
"Aku diberitahu oleh Ce Se-kiat."
"Siapa pula Ce Se-kiat?"
"Dia putra Loa-jiu-koan-im Nyo Toa-koh."
"Loa-jiu-koan-im Nyo Toa-koh kan taci Nyo Bok?"
Thianhing menegas.
"Betul,"
Jawab Peng-ji.
"Hah, itu dia, kiranya mereka adalah orang sekeluarga, pantas!"
Jengek Ciok Thian-hing. Di balik ucapannya ini ia ingin menunjukkan tidaklah heran jika Ce Se-kiat juga membela Nyo Yam sehingga keterangannya tidak boleh dipercaya.
"Lapor Susiok,"
Kata Peng-ji.
"meski Ce Se-kiat terhitung kemenakan Nyo Bok, tapi lantaran dia juga pernah mengalami dianiaya Nyo Bok, dia tidak sanggup bercokol lagi di kotaraja dan kabur ke tempat laskar pemberontak di Cadam. Tiga bulan yang lalu pernah kulihat dia di sana, hal Nyo Yam bantu membereskan urusan Kai Hong justiu dia yang lapor kepada pamanku, waktu aku berada di samping paman."
Paman Ling Peng-ji adalah pemimpin besar laskar pemberontak di Cadam, yaitu Ling Tiat-jiau.
"Ketika hadir dalam pesta ulang tahun Kui taihiap juga pernah kudengar berita tentang Ce Se-kiat,"
Ucap Thian-hing dengan hambar.
"Ada orang pernah melihat dia hadir dalam upacara Han Wi-bu, pemimpin besar Tin-wan-piaukiok yang mengundurkan diri itu. Kejadian itu sebulan sebelumnya. Jadi berita yang didengar Peng-ji itu sudah basi, sebaliknya berita yang kudengar itu lebih baru."
Liok Kaui-iong sengaja tanya sang guru.
"Tin-wan-piaukiok yang dimaksud Suhu apakah piaukiok terbesar di kotaraja itu?"
"Betul, dan itu berarti Ce Se-kiat sudah pulang ke kotaraja lagi dari Cadam,"
Jawab Thian-hing.
"Aku juga ada berita yang paling baru, Suheng,"
Seru Ting Tiau-min tiba-tiba. Thian-hing melengak, tanyanya.
"Oo, berita baru apa?"
"Kutinggalkan Cadam pada tanggal 27 bulan yang lalu, hari ini tanggal delapan, jadi baru 13 hari yang lalu, pada waktu kutinggalkan Cadam itulah Koai-hoat Thio dan Ce Se-kiat. Kai Hong, Pui Liang dau Iain-lain sama pulang ke sana, mereka pulang dengan mengawal satu partai besar obat-obatan."
Ting Tiau-min pernah telan pil pahit ketika Leng-cu merampas Nyo Yam dari tangannya, meski dia tidak mengalami cedera, tapi sudah dikerjai oleh mereka sehingga tidak mungkin ia membela Nyo Yam.
Jadi ucapannya jelas lebih berbobot daripada keterangan Ling Peng-ji.
Ciok Thian-hing menjadi serba susah, ucapnyu kemudian.
"Sekalipun Ce Se-kiat bukan sehaluan dengan Nyo Bok, hal ini juga tidak dapat membuktikan Nyo Yam tidak sekomplotan dengan ayahnya. Nyo Bok sangat licin dan banyak tipu muslihatnya, siapa berani bilang semua ini bukan tipu dayanya? Bukan mustahil dia sengaja menyuruh anaknya membobol penjara untuk melepaskan Kai Hong demi intrik yang telah diaturnya."
"Kata-kata sang suheng yang cuma berdasar dugaan belaka, tidak enak bagi Tong Kah-goan untuk membantah."
Agar suasana tidak tambah tegang, Tong Kah-goan berkata selaku pejabat ketua.
"Apakah Nyo Yam diperalat oleh ayahnya atau tidak dan adakah intrik keji, saat ini masih belum ada buktinya, maka boleh dikesampingkan untuk sementara. Tapi dia mencelakai sesama perguruan dan tindakan menghina orang tua jelas telah terbukti. Nona Liong ini juga membantunya berbuat jahat, dia tergolong tertuduh ikutan. Menurut pendapatku, bolehlah Ciok-suheng mulai menanyai dia dari segi ini."
Ternyata Ciok Thian-hing tidak melanjutkan pemeriksaan melainkan bicara lebih dulu.
"Ciang-bun-sute, mungkin engkau belum tahu asal-usul Siau-yau-li ini?"
"Oo, bagaimana asal-usulnya?"
Tanya Tong Kah-goan.
"Dia ikut she ibunya, padahal ayahnya she Tian, kalau dibicarakan sungguh sangat terkenal," *utur Thian-hing.
"O, siapakah ayahnya?"
"Ayahnya tak-lain-tak-bukan adalah gembong iblis yang termashur pada 30 tahun yang lalu, namanya Tian Ling-kun bergelar Giok-liong-taicu,"
Tutur Thian-hing."
Ayah Tian Lingkun bergelar Giok-bin-liong-ong (raja naga wajah kemala), seorang bajak laut terbesar yang melakukan segala macam kejahatan.
Dia merajai pulau selatan, namanya Tian Lambcng.
Orang angkatan tua mungkin masih banyak yang kenal dia."
Giok-liong-taicu (putra mahkota naga kemala) Tian Ling-kun sangat tinggi ilmu silatnya, cuma lantaran pada waktu berumur Iikuran dia telah di-pukul ayah mertuanya hingga cacat, lalu hidup mengasingkan diri di pedusunan, orang yang kenal dia tidak banyak, Tapi bila nama Giok-bin-lion-ong Tian lam beng disebut, orang yang kenal dia tidaklah sedikit.
Bukan cuma kaum tua saja yang tahu, tokoh angkatan muda juga banyak yang pernah mendengar kisahnya pada masa lampau.
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 10
Baca Juga: Telapak Emas Beracun 3