Durjana Dan Ksatria 7

Eps 7 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen

Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen

Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.

Dengan sendirinya kisah itu kebanyakan cuma cerita dari mulut ke mulut, dalam cerita Tian Lam -beng dilukiskan sebagai tokoh yang berdiri antara jahat dan baik.

Ada sementara orang merasa penilaian "segala kejahatan diperbuatnya"

Agak berlebihan, tapi Tian Lam-beng memang tokoh dua angkatan, siapa pun tidak berani mengaku tahu kisah hidupnya dengan benar, sebab itu juga tidak ada yang membela kisahnya itu.

Di tengah berisik orang banyak Ciok Thian-hing bicara lagi.

"Apakah Nyo Yam satu komplotan jahat dengan ayahnya atau tidak, baik kuturuti perintah Ciangbun dan tidak membicarakannya sementara. Tapi bahwa Nyo Yam berkomplot dengan Siau-yau-li ini jelas adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Siau-yau-li ini berasal dari keluarga bajak besar, kakek dan ayahnya masih banyak meninggalkan sisa anak buah yang masih hidup. Sekarang Nyo Yam berkomplot dengan dia, adakah intrik keji yang merugikan perguruan kita, hal inilah yang kita usut dan tidak boleh diremehkan."

Bicara sampai di sini, ia berpaling dan membentak.

"Siauyau-li, jika kau ingin kuberi kelonggaran atas dosamu, maka lekas mengaku terus terang. Adakah komplotanmu yang lain, sekarang Nyo Yam berada di mana? Pula, kejahatan apa lagi yang diperbuatnya, harus kau tuturkan semua yang kau ketahui."

"Hm, panjang lebar ucapanmu, aku cuma ingin memberi komentar satu kalimat saja, yaitu mulut anjing tidak mungkin tumbuh gading,"

Ejek Liong Leng-cu. Mnka Ciok Thian-hing kembali merah padam saking murka, bentaknya.

"Siau-yau-li, kau-berani ...."

"Kau berani memaki leluhurku, tentu aku pun berani memakimu,"

Jengek Leng-cu.

"Kamu tidak mengaku salah, sebaliknya berani main gila padaku, terpaksa kulaksanakan hukuman bagimu,"

Bentak Ciok Thian-hing sambil melontarkan pukulan.

Tampaknya tulang pundak Liong-cu akan dipukul hancur olehnya.

Lantaran yang dimakinya adalah sesepuh Thian-sanpai, sekali ini Ling Peng-ji pun tidak berani menolongnya.

Pada detik tarakhir yang menentukan itulah, sekonyongkonyong ada orang membentak.

"Tahan! Dia cuma tertuduh ikutan saja, aku inilah tertuduh utamanya. Kalau mau periksa boleh peribsa saja diriku!"

Suaranya tidak keras, tapi menggetar anak telinga Ciok Thian-hing hingga terasa mendengung.

Nyata pendatang itu adalah Nyo Yam, yang di-gunakannya adalah ilmu gelombang suara yang baru saja berhasil diyakinkannya.

Tergetar hati Ciok Thian-hing, tanpa terasa tangan yang memukul itu ditarik kembali.

Pada kejap lain, tahu-tahu Nyo Yam sudah muncul di depan mereka.

Betapapun Iwekang Ciok Thian-hing memang sangat kuat, meski hati tergetar, segera pulih biasa lagi, teriaknya.

"Tangkap murid murtad ini!"

Serentak tiga orang melompat maju.

Mereka adalah Pek Eng-ki, Ho Eng-yang dan Han Eng-hoa.

Mereka adalah murid Thian-san-pai angkatan ketiga yang paling tangguh, karena nama mereka sama memakai "eng", maka diberi julukan pula sebagai Thian-san-sam-eng atau tiga ksatria Thian-san.

Di antara mereka bertiga, ilmu pedang Pek Eng-ki paling cepat dan gsnas, dia kemenakan Pek Kian-sing, ilmu pedangnya juga ajaran sang paman.

Pek Kian sing adalah salah satu dari keempat murid utama angkatan kedua, kehebatan ilmu pedangnya cuma di bawah Ting Tiau-min.

Tapi kemenakan ajarannya itu ternyata jauh lebih pandai daripada murid didik Ting Tiau-min, bahkan di antara murid angkatan ketiga itu tiada seorang pun yang dapat melebihi dia.

Ketiga orang itu serentak turun tangan, pedang Pek Eng-ki menyambar paling cepat.

Nyo Yam berteriak.

"Pek ."

Namun Pek Eng-ki telah membentak.

"Kami cuma melaksanakan perintah dan tidak kenal ampun!"

Ia tidak peduli seruan Nyo Yam, secepat kilat pedangnya menabas.

Jantung Peng-ji hampir melompat keluar dari rongga dadanya saking kuatirnya, ia berharap serangan Pek Eng-ki itu menggunakan tusukan, kalau tidak, tabasan itu pasti akan membuat putus pergelangan tangan Nyo Yam.

Tak terduga, pada detik itu juga terdengar Suara "cring"

Sekali disertai meletiknya lelatu api, dua pedang sama mencelat.

kiranya Eng Hoa juga memakai pedang, dia menyerang dengan jurus Tui-hong-kiam-hoat, cuma gerakannya agak lambat daripada Pek Eng-ki.

Jika serangan Pek Eng-ki menabas pergelangan tangan Nyo Yam, serangan Han Eng-hoa menusuk Ciang-bun-hiat di punggung anak muda itu.

Ciang-bun-hiat adalah hiat-to kelumpuhan.

Karena diserang dari muka dan belakang, JNyo Yam sendiri bertangan kosong sehingga tak-dapat menangkis, dalam keadaan demikian sungguh keadaannya sangat berbahaya.

Siapa tahu gerab Nyo Yam terlebih cepat daripada mereka, sekali jari menjentik, lebih dulu ia menjentik punggung pedang Pek Eng-ki.

Betapa tinggi ilmu pedang Eng-ki ternyata tidak tahan tenaga jari sakti selentikan Nyo Yam itu.

Dan sekali menjentik, secepat kilat Nyo Yam raembalik tubuh, pedang Pek Eng-ki yang terpental itu kebetulan membentur pedang Han Eng-hoa yang menusuk dari belakang.

Rupanya bekuatan kedua orang seimbang, maka benturan pedang membuat pedang mereka terlepas dari cekalan disertai letikan api.

Di antara hadirin tidak sedikit jago pedang ternama, semuanya sama melongo.

Anak murid Thian-san-pai juga sama terkesiap.

Tak terduga, belum lenyap kejut mereka, tontonan menarik muncul lagi.

Sekali ini bukan pedang mencelat melainkan orang roboh.

Ho Eng-yang tidak berlatih ilmu pedang melainkan meyakinkan ilmu pukulan, soal tenaga dalam juga dia paling kuat.

Di antara ketiga orang serangannya tiba paling belakang, namun pukulannya justru tepat mengenai Nyo Yam.

letapi yang roboh bukanlah Nyo Yam melainkan Ho Engyang sendiri.

"Blang", tubuh Eng-ysng pendek gemuk kontan mencelat. Keruan Ciok Thian-hing terkejut. cepat ia memburu maju untuk memegangnva. Siapa tahu tenaga getaran yang dialami Ho Eng-yang itu terlampau keras sehingga tangan Ciok Thian-hing pun tergetar sakit.

"bluk". Ho Eng-yang tetap jatuh terbanting. Rupanya Nyo Yam sengaja hendak pamer kekuatan, ia sudah menduga Ciok Thian-hing akan tampil untuk menolong, sebab itulah pada waktu mengerahkan tenaga dalam ia juga menggunakan kungfu "Keh-but-toan-kang", yaitu menyalurkan tenaga dalam melalui tubuh lawan uutuk menyerang pihak ketiga, sebaliknya tubuh yang di saluri tenaganya tidak sampai cedera. Sebenarnya dengan kekuatan Ciok Thian-hing rnasih sanggup menahan tenaga serangan Nyo Yam, tapi pertama lantaran dia tidak tahu Nyo Yam sudah menguasai kungfu istimewa itu, juga tidak terpikir siap siaga sebelumnya sehingga karena terkejutnya ia kena dikerjai Nyo Yam. Dia adalah kepala keempat murid andalan Thian-san-pai angkatan kedua merargkap sebagai sesepuh penegak hukum, kejadian ini tentu membuatnya kehilangan muka. Dengan kejut dan gusar segera ia siap menyerang. Tapi Nyo Yam telah membentak.

"Kau bilang aku murid murtad, ini penilaian pribadimu dan belum diputuskan oleh perguruan. kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk bicara?"

Nyo Yam mendahului menuduh orang, mau tak-mau Ciok Thian-hing harus berpikir dua kali, sebagai orang tua, bila terjadi pertarungan dan dirinya tidak mampu mengatasi Nyo Yam alau berbalik kecundang, tatkala mana mukanya akan ditaruh di mana dan tentu tidak cocok untuk menjadi sesepuh penegak hukum lagi.

Ia bisa melihat gelagat.

ia urung menyerang, katanya.

"Kamu mengkhianati guru dan durhaka kepada leluhur, bukti nyata sudah jelas, apa yang akan kaukatakan lagi?"

"Hm, tuduhanmu biar sebentar lagi akan ku-bantah,"

Jengek Nyo Yam.

"Sekarang ingin kutanya dulu padamu, ada hubungan apa urusanku dengan nona Liong? Mengapa kau hina dia? Orang tua menganiaya orang mada, sungguh tidak tahu malu?"

"Dia begundalmu, aku sedang memeriksa dia, jika dia tidak mau mengaku, dengan sendirinya aku harus bertindak padanya,"

Jawab Thian-hing dengan gusar.

"Hm, masakah ada harganya ka uperiksa dia? Kalau mau periksa kukira harus periksa dulu anakmu,"

Jengek Nyo Yam.

"Kau ... kau ..,."

Saking kejut dan gusar sampai ucapan Thian-hing menjadi tidak lancar.

"Aku kenapa?"

Tanya Nyo Yam.

"Dengan sendirinya aku ada bukti dan ada saksi. makanya aku berani bicara demikian."

Habis berucap, ia berpaling dan memberi hormat kepada Tong Kah-goan, lalu berkata pula.

"Mohon Ciangbunjin memberi keadilan!"

Melihat apa yang dikatakan Nyo Yam sama dengan apa yang diucapkan Liong Leng-cu tadi. timbul juga rasa sangsi Tong Kah-goan, katanya.

"Kau punya bukti dan saksi apa coba perlihatkan padaku!"

Nyo Yam menyodorkan surat pengakuan dosa itu, katanya.

"Jangankan nona Liong tidak ikut berbuat kejahatan apa pun, seumpama pernah, kan juga keterialuan jika ilmu silatnya dimusnahkan. Setelah Ciaugbunjin membaca surat pengakuan dosa ini tentu akan tahu jelas sesungguhnya siapa, yang teraniaya."

Sekadarnya Tong Kah-goan membaca surat pengakuan dosa yang ditulis dengan darah itu, mendadak air mukanya berubah kelam dan tidak bersuara. -ooo0dw0ooo-

Jilid 16 Melihat sikap sang ketua, para anak murid sama bisik-bisik membicarakan hal ini.

"Surat Pengakuan Dosa? Siapa yang mengaku dosa?"

Dalam pada itu Ciok Thian-hing menjadi gusar, teriaknya.

"Hm, binatang cilik ini sengaja membuat surat dosa apa mengenai diriku?"

Nyo Yam balas mendengus.

"Mengingat engkau adalah sesepuh perguruan, maka masih ku-hormatimu beberapa bagian. tapi bila engkau sembarang memaki orang, jangan menyesal bila aku..."

Cepat Tong Kah-goan mencegahnya.

"Nyo Yam, jangan kurang sopan terhadap orang tua. Ciok-suheng, kesalahannya belum jelas, maka untuk sementara hendaknya kau perlakukan dia sebagai anak murid perguruan kita serupa yang lain."

Di balik ucapannya jelas bernada mencela caci-maki Ciok Thian-hing tadi agak keterlaluan. Nyo Yam, tetap tersenyum ejek, katanya pula.

"Atas perintah Ciangbun, biar sementara aku mengalah padamu. Cuma, apa yang kau katakan jelas tidak betul. Pertama, dari mana kautahu aku sengaja membuat sesuatu bukti? Kedua, dari mana pula kau tahu ini bukti dosamu? Benarkah engkau berbuat dosa, aku sendiri pun tidak tahu. Kukira engkau tidak perlu ketakutan jika memang tidak bersalah."

Sebenarnya maksud Ciok Thian-hing hendak menyatakan Nyo Yam sengaja membuat bukti dosa putranya, secara di bawah sadar ia anggap putra sama dengan dirinya, sebab itulah ia salah omong sehingga hal ini dipakai oleh Nyo Yam sebagai senjata untuk menyerangnya, keruan seketika mukanya menjadi merah padam, ingin mengumbar kemarahan, tapi tidak tahu cara bagaimana harus berbuat.

Segera Tong Kah-goan membentak.

"Nyo Yam, ada urusan apa boleh dibicarakau dengan baik dan jangan berlaku kasar. Untuk kedua kali-nya kuperingatkan, kalau melanggar lagi tentu tidak ada ampun."

Habis bicara ia sodorkan surat pengakuan dosa itu kepada Ciok Thian-hing, katanya.

"Ciok suheng, silakan baca sendiri."

Ciok Thian-hing sudah menduga beberapa bagian isi surat itu, tapi setelah dihaca, tidak urung ia rada gemetar dan muka pucat serupa mayat.

Kedua tangan gemetar, sungguh ia ingin merobek hancur lebur surat pengakuan itu, tapi tidak berani.

Jelas terbaca olehnya pengakuan Ciok Jing-coan tentang gagal memperkosa Liong Leng-cu dan berbalik dilukai oleh nona itu.

Karena itu ia mengaku salah dan bersumpah selanjutnya takkan membikin susah Liong Leng-cu lagi.

Sebagai saksi tertanda di situ Liok Kam-tong dan sebagai pengawas di situ ditanda tangani Kang Siang-hun.

Kang Siang-hun dan Liok Kam-tong berdua membubuhkan tanda tangan dengan jelas, hanya Ciok Jing-coan yang memberi tanda tangan dengan tanda X saja.

Ciok Thian-hing sendiri sebenarnya belum tahu kejadian ini, cuma sekarang pun dapat dirabanya.

teringat olehnya kejadian tempo hari ketika ia mengetahui Liong Leng-eu telah kabur dan anaknya terluka, menurut keterangan Liok Kam-tong waktu itu, katanya Kang Siang-hun membantu Liong Leng-cu menghajar luka anaknya-Maka ia mengaitkan urusan itu dengan seiisih paham antara Kang Siang-hun dengan Beng Hoa.

Waktu itu ia pun merasa urusan agak janggal, cuma ia tidak ingin mengusut lebih lanjut, terpaksa menerima penjelasan yang menguntungkan anaknya itu.

Dan urusan yang menyangkut Kang Siang hun itu, setiba di Thian-san ia pun tidak berani lapor kepada Tong Kah-goan.

Sekarang setelah membaca surat pengakuan tersebut barulah ia tahu duduk perkara.

Mau-tak-mau ia harus percaya apa yang terurai dalam surat pengakuan itu memang kejadian nyata.

Cuma, meski dalam hati percaya kejadian itu, namun di mulut tidak bisa tidak ia harus menyangkal bagi anaknya.

"Lapor Ciangbun,"

Katanya kemudian.

"murid murtad Nyo Yam menyadari dosanya yang tak terampunkan karena membikin susah sesama saudara seperguruan maka surat pengakuan dosa ini bukan mustahil cuma karangan belaka untuk menfitnah."

"Huh, sejak tadi bukankah Ciok-tianglo minta bukti dan saksi segala?"

Jengek Liong Leng-cu.

"Sekarang buktiku sudah diperlihatkan oleh Nyo Yam, saksi juga sudah ada, tapi engkau malah menuduh Nyo Yam memfitnah dan memhuat bukti palsu, memangnya untuk engkau sendiri mempunyai bukti? Kalau melulu berdasarkan perkiraan saja tentu tidak dapat diterima. Umpamanya .kalau boleh berdasarkan perkiraan, maka aku pun dapat menyatakan engkau sendiri seorang ksatria munafik yang berbaju pendekar, tua bangka yang membela anak sendiri yang melakukan kejahatan, apakah tuduhanku ini juga akan kau terima?"

Sampai gemetar Ciok Thian-hing saking gusar-nya, bentaknya.

"Siau-yau-li, kou ... kau berani sembarang omong dan memaki diriku?"

Leng-cu tertawa, jawabnya.

"Aku kan cuma memakai perumpamaan saja. Jika engkau bukan orang begitu, buat apa mesti marah? Hehe, tentu sekarang kau tahu melulu berdasarkan perkiraan saja sukar untuk diterima."

Dengan susah payah Ciok Thian-hing menemukan sesuatu alasan, serupa orang yang karam dan mendadak dapat meraih sesuatu, dengan alasan saksi ia berkata.

"Nyo Yam tidak hadir pada waktu itu, umpama berdasarkan bukti surat pengakuun ini, maka saksi utama kan seharusnya Kang Siang-hun adanya."

"Putra kesayanganmu itu bukankah sudah membubuhkan tanda tangan di atas surat pengakuan? Dan putramu itulah saksinya!"

Kata Leng-cu.

Surat pengakuan itu diserahkan Nyo Yam kepada Tong Kahgoan, lalu diteruskan kepada Ciok Thian-hing untuk dibaca, sejauh itu surat pengakuan itu tidak pernah dipegang oleh Liong Leng-cu Tapi nona ini toh tahu juga di atas surat pengakuan itu terdapat tanda tangan pengakuan Ciok Jingcoan, jadi jelas Leng-cu tahu benar isi surat pengakuan tersebut Berdasarkan hal-hal ini, Tong Kah-goan menarik kesimpulan bahwa surat pengakuan dosa itu memang ditanda tangani Ciok Jing-coan di depan Liong Leng-cu.

Maka dia mulai percaya kepada keterangan Leng-cu dan Nyo Yam.

Segera ia minta kembali surat pengakuan itu dari Ciok Thian-hing dan coba dibaca lagi lebih teliti.

Karena surat itu tidak dibacakan secara ter-buka, maka para tamu dan anak buah Thian-san-pai sama berbisik membicarakan hal ini dan ingin tahu sesungguhnya Ciok Jingcoan berbuat kcsalahan apa.

Tong Kah-goan lantas memberi tanda agar semua orang jangan ribut, serunya.

"Urusan ini belum jelas duduk perkaranya, Nyo Yum telah menyerahkan bukti kesalahan Ciok Jing-coan ini, isi surat pengakuan ini untuk sementara tidak dapat diumumkan."

Jika sang ketua sudah memberi keputusan demikian, anak murid terpaksa menurut, para tamu juga tidak enak untuk ikut ribut.

Tapi meski mereka tidak bicara lagi, rasa saugsi dalam hati tambah besar.

Kcbanyakan orang sama menduga di balik urusan ini tentu terdapat sesuatu kejadian yang memalukan untuk diketahui umum.

Namun bantahan Liong Leng-cu tadi berbalik memberi kesempatan kepada Ciok Thian-hing untuk menemukan suatu alasan.

Segera ia mendengus.

"Mohon Ciangbun maklum, hdah putraku terpotong oleh Nyo Yam, ia tidak dapat memberi bantahan. Apa yang diienut surat pengakuan ini tidak terdapat tanda tangannya, yang ada cuma sebuah tanda silang, ini kan dapat dilakukan oleh siapa pun. Jika ingin membubuhkan surat pengakuan ini benar atau palsu, terpaksa harus minta kesaksian Kang Siang-hun."

"Kang-taihiap terluka waktu bertempur dengan pasukan Boanjing, sekarang masih merawat luka di ruiuah Lohai,"

Kata Nyo Yam.

"Namun paling lama sebulan atau mungkin cukup sepuluh hari lagi beliau pasti akan datang kemari."

"Jika begitu perlu tunggu akan kedatangannya untuk memutuskan perkara ini,"

Kata Thian-hing.

"Sekarang psrlu selesaikan dulu perkara yang menyangkut Nyo Yam."

Ia tidak punya jalan lain, terpaksa harus menggunakan akal ulur waktu. Namun Nyo Yam tidak memberi kesempatan padanya, segera ia berkata pula.

"Lnpor Ciangbun, perkaraku berhubungan erat dengan perkara Ciok Jing-coan, maka kumohon urusan ini perlu diputuskan dulu barulah akan kubeberkan segala apa yang menyangkut perkaraku."

"Tapi Kang Siang-hun tidak dapat hadir untuk memberi kesaksian, lalu cara bagaimana perkara ini dapat diputuskan?"

Ujar Tong Kah-goan. Nyata nadanya sudah jauh lebih lunak terhadap Nyo Yam, bahkan tanpa terasa ia sudah langsung mewakili Ciok Thian-hing melaksanakan tugas tebagai penuntut. Nyo Yam berkata pula.

"Meski Kang-taihiap tidak dapat hadir sekarang, tapi surat pengakuan dosa itu dibubuhi tanda tangannya selaku pengawas pada waktu Ciok Jing-coan mengakui kesalahan pada surat tersebut."

"Hm, siapa tahu tanda tangan itu asli atau palsu?"

Jengek Ciok Thian-hing.

"Untuk membedakan tulen atau palsu kan. tidak sulit,"

Sela Ping-ji tiba-tiba.

"Ayah Kang Siang-hun. Kang Hai-thian Kangiaihiap kan sahabat karib Lociangbun (mendiang ketua lama) kita, di antara msreka sering surat menyurat. Setelah Kangtaihiap berusia lanjut, surat beliau sering ditulis oleh Kang Siang-hun. Kukira surat menyurat itu masih tersimpan baik oleh Ciangbunjin."

"Dari mana kau tahu Kang Siang-hun yang menulis bagi ayahnya?"

Tanya Thian-hing. Tong Kah-goan tersenyum, ucapnya.

"Api yang dikatakan Peng-ji memang tidak salah. Maklumlah, beberapa tahun terakhir surat Kang-taihiap kepada ayahku memang betul dijelaskan bahwa surat itu ditulis oleh putranya Kang Sianghun Selain itu, ketika Kang Siang-hun bertamu kemari dahulu, ia pun pernah menulis sepasang tui-lian (sanjak bias) dan disumbangkan padaku. Kukenal gaya tulhannya memang sama dengan tulisan surat ayahnya kepada ayahku."

"Jika begitu, asalkan sekarang Ciangbunjin mencocokkan gaya tulisan surat lama dengan tanda tangannya dalam surat pengakuan ini, kan segalanya menjadi jelas?"

Ujar Ling Pengji.

"Kang-taihiap adalah tokoh ternama, nama Kang Siang-hun sendiri juga terkenal di dunia persilatan,"

Kata Thian-hing penasaran.

"Gaya tulisan orang terkenal biasanya lebih mudah dipalsukan. Terlebih seperti ueapanmu, sesudah lanjut usia, surat Kang-taihiap sering diwakilkan Kang Siang-hun untuk menulisnya, dengan begitu orang yang pernah melihat gaya tulisannya tentu tarnbah banyak dan semakin mudah pula orang memalsukannya."

Cara bicara Ciok Thian-hing ini bagi orang yang sedikit dapat berpikir tentu makium Ciok Thian-hing sengaja membantah asal membantah, namun bantahannya juga tidak dapat dikatakan tidak beralasan.

Dengan ketus Nyo Yam lantas berkata.

"Baik, kau bilang tulisan orang terkenal mudah dipalsukan maka biar kuberi bukti gaya tulisan orang yang, bukan tokoh ternama."' Muka Ciok Thian-hing tampak pucat, sedapat-nya ia bersikap tenang dan membentak.

"Siapa yang kaumaksudkan?"

"Jauh di ujung langit, dekat di depan mata, orang ini taklain-tak-bukan adalah muridmu sendiri Liok Kam-tong,"

Teriak Nyo Yam dengan suara lantang.

"Dia juga salah satu saksi yang ikut menanda tangani surat pengakuan tersebut."

Di antara anak murid Thian-san-pai angkatan ketiga, urutan pertama diduduki Pek Eng-ki.

Liok Kam-tong termasuk nomor sembilan.

Jadi di antara murid angkatan ketiga yang berjumlah lebih 30 orang itu kedudukan Liok Kam-tong tidak terlalu rendah.

Namun di dunia kangouw ia termasuk bu-bengsiau-cut atau prajurit tak bernama alias keroco.

Ia tidak banyak sekolah, biasanya selain sekadar merulis surat keluarga, jarang ia berlatih menulis.

Sebab itulah tidak ada saudara seperguruan yang memperhatikan gaya tulisannya.

Tapi lantaran itu juga Nyo Yam pasti tidak dapat memalsukan gaya tulisannya.

Supaya makium, sejak kecil Nyo Yam tinggal di Thian-san dan meninggalkan perguruan ini pada usia 11 tahun, waktu tinggal di Thian-san, ada tiga orang yang mengajar dia membaca dan menulis, mereka adalah ayah angkatnya, yaitu Ki Tiang-hong, lalu Ling Peng-ji dan Toan Kiam-jing.

Jadi sama sekali Liok Kam-tong tidak ada kesempatan berdekatan dengan Nyo Yam, umpama waktu itu Nyo Yam pernah melihat gaya tulisannya, waktu itu dia baru anak kecil dan tidak mungkin sengaja menirukan gaya tulisannya.

Memang sejak tadi ada pikiran Tong Kah-goan hendak mencocokkan gaya-tulisan Liok Kam-tong, cuma lantaran dia adalah murid Ciok Thian-hing, tidak enak bagi Tong Kah-goan untuk mengemukakan maksudnya itu.

Sekarang Nyo Yam yang mengusulkan hat ini, segera Kahgoan berkata, menurut keterangan Kam-tong tadi, agaknya banyak yang berbeda daripada apa yang tertulis dalam surat pengakuan ini, sesungguhnya bagaimana duduknya perkara memang perlu tanya dia lebih lanjut.

Dalam surat pengakuan ini juga terdapat tanda tangannya, asalkan dicocokkan segera akan ketahuan tulen atau palsu.

Maka ia lantas memberi perintah agar Liok Kam-tong dihadapkan.

Siapa tahu.

Liok Kam-tong yang tadi masih "dekat di depan mata"

Itu sekarang mendadak menghilang, Kiranya pada waktu Nyo Yam mengeluarkan surat pengakuan tadi, Liok Kam-tong menduga anak muda itu pasti akan bertindak demikian, ia pikir duduknya perkara akhirnya pasti akan tersingkap, maka selagi keadaan agak rihut, diamdiam ia kabur.

Begitulah setelah kacau sekian lamanya, murid yang disuruh mencari Liok Kara-tong akhirnya kembali tanpa hasil.

Tong Kah-goan menjadi marah, katanya.

"Liok Kam-tong tidak mendapatkan sesuatu tugas, mengapa dia tidak hadir di sini?"

Meski dia tidak terang-terangan mengatakan Liok Kam-tong melarikan diri karena merasa berdosa, namun nadanya jelas mengandung maksud demikian. Dengan wajah masam Ciok Thian-hing lantas berkata.

"Dia adalah muridku, urusan ini pasti akan kuusut menurut peraturan. Tapi kuyakin dia tidak kabur, sebab kemarin dia terlampau giat berlatih kungfu, mungkin kurang enak badan, maka pulang ke kamarnya untuk mengaso. Entah dia mengambil jalan kecil mana sehingga tidak heran tidak dapat diketemukan dengan segera."

Tong Kah-goan tahu orang sengaja mengulur waktu belaka, tapi lantaran Ciok Thian-hing terhitung suheng, terpaksa ia harus memberi muka. katanya.

"Baiklah, lantas cara bagaimana perkara ini harus diadili menurut psndapat Suheng? Apa kah baru akan berlangsung lagi setelah Kamtong ditemukan?"

Untuk mengalihkan perhatian orang, terpaksa Thian-hing berkata.

"Menurut pendapatku, nona Liong ini boleh dibebaskan untuk sementara. Tapi perkara ini sebenarnya menyangkut Nyo Yam sebagai pemeran utama, jika tertuduh utama sudah ada, rasanya Nyo Yam saja yang harus diperiksa lebih dulu."

Ciok Thian-hing sendiri adalah sesepuh penegak hukum, menurut peraturan dunia persilatan, perkara punting yang menyangkut anak murid perguruan harus diadili oleh dia.

Sesudah menghasilkan keputusan.

Ciangbunjin berhak mcaghukum atau meringankan menurut keputusan yang dijatuhkan.

Tapi dalam persidangan Ciangbunjin yang diagungkan juga cuma hadir sebagai hakim anggota saja.

Cuma keadaan sekarang memang agak istimewa, yaitu lantaran perkara putra Ciok Thian-hing yang dituduh berbuat tidak senonoh itu masih ditunda dan belum ada penyelesaian, maka Thian-hing sen diri rada kuatir sehingga ucapan Tong Kah-goan terasa seperti penuntutnya.

Apakah Nyo Yam yang harus diperiksu dulu atau tidak,.

ini menyangkut tata cara peradatan urusan begini!

mestinya tidak perlu Thian hing minta persetujuan Ciangbunjin.

Tong Kah-goan juga tahu Ciok Thian-hing sengaja hendak membela putra sendiri sehingga tugasnya sebagai penuntut takkan berlaku adil lagi.

Tapi demi untuk menjaga kehormatan sang suheng, terpaksa ia berkata.

"Baiklah, cara bagaimana urusan ini akan disidangkan. boleh Suheng tentu kan saja cara yang paling baik."

Thian-hing berdehem untuk menutupi rasa kikuknya, lalu berkata.

"Sekarang aku bertindak merangkap penuntut, maka akan kuumumkan dulu kesalahan apa yang diperbuat Nyo Yam ."

Belum habis ucapannya. mendadak Nyo Yam tertawa dingin, katanya.

"Sudahlah, tidak perlu lagi engkau membuang tenaga untuk bicara lagi. Kesalahan yang akan kau tuduhkan padaku sudah ku-ketahui dengan jelas, apalagi kalau bukan sebangsa khianat terhadap perguruan dan durhaka terhadap leluhur, membikin celaka saudara seperguruan dan sebagainya."

"Asal kau tahu saja,"

Teriak Thian-hing dengan gusar.

"Dan semua itu apakah belum cukup?"

Nyo Yam tidak menggubrisnya, ia menyambung lagi.

"Guruku sudah wafat, betapa hormatku terhadap guru, baik semasa hidup beliau dan sesudah wafat tetap sama. Maka tuduhan khianat dan durhaka terhadap perguruan segala sama sekali tidak benar."

"Bukan begitu pengertian tentang khianat dan durhaka terhadap perguruan,"

Kata Tong Kah -goan.

"Umpama tidak menghormati orang tua sesama perguruan juga termasuk pasal kesalahan ini."

"Ya, kutahu,"

Kata Nyo Yam.

"Bahwa ku berani terhadap Ciok Thian-hing, jelek atau baik dia adalah orang tua seperguruan, maka dia dapat menuduh aku dengan pasal ini. Namun aku pun herhak membela diri."

"Betul,"

Kata Kah-goan.

"Dan sekarang perkara ini belum diputus, kamu memang berhak membela diri. Cuma diperlukan alasan yang cukup."

"Ini menyangkut sesepuh penegak hukum, apakah alasanku cukup atau tidak, siapa yang akan menentukan hal ini?"

Tanya Nyo Yam.

"Kamu tidak perlu kuatir, perkara yang menyangkut kehormatan perguruan kita sendiri pasti akan diputuskan oleh peradilan bersama seluruh anggota perguruan, soalnya tinggal alasanmu cukup kuat atau tidak?"

Kata Tong Kah-goan.

Hati Thian-hing kurang senang.

tapi Toh Kah-goan bicara menurut peraturan.

baik peraturan perguruan maupun peraturan yang berlaku di dunia persilatan umumnya, terpaksa ia tidak dapat membantah melainkan cuma mendengus saja.

"Baik, coba katakan saja. ingin kutahu apa alasanmu?"

"Biarlah kukatakan saja kedua tuduhan yang kau kemukakan tadi, cuma urutannya perlu diputar balik,"

Kata Nyo Yam.

"Tuduhan khianat dan durhaka terhadap perguruan harus terletak di belakang tuduhan membikin celaka sesama saudara seperguruan, ini berarti sebabnya kulukaimu adalah gara-gara kucederai lebih dulu putra kesayanganmu itu. Betul tidak?? Nah, untuk itu hendak kujelaskan dulu sebab apa timbul perkelahianku dengan putramu."

"Hmnn, berkelahi kalamu?"

Jengek Thian-hing.

"Memangnya begitu ringan persoalannya? Sesudah dia terluka malahan kau potong lidahnya. Jadi cuma perkelahian antar saudara seperguruan, apakah perlu pakai cara keji begitu? Aku justru ingin tanya padamu, sesungguhnya ada permusuhan besar dan dendam kesumat apa antara Jing-coan denganmu?"

"Hm, keteranganku belum lagi kupaparkan kepada Ciangbunjin dan kamu sudah omong sebanyak ini, memangnya ini persidangan yang adil?"

Jengek Nyo Yam.

"Pokoknya begini, aku di bolehkan bicara atau tidak?"

"Nyo Yam,"

Bentak Tong Kah-goan dengan kening bekernyit.

"saat ini kamu adalah tertuduh, kamu dilarang bertengkar dengan sesepuh penuntut. Nah, bicara saja, sebab apa kau cederai Jing-coan?"

Ucapan Tong Kah-goan ini kedengarannya mendamperat Nyo Yam, padahai juga mencela sikap Ciok Thian-hing yang suka ribut itu. Tentu saja Thian-hing mendongkol dan marah, pikirnya.

"Jabatan Ciangbun ini seharusnya bagianku, tapi aku mengalah padamu, namun kamu tidak tahu terima kasih padaku, sebaliknya membikin rikuh padaku. Pada suatu hari tewtu akan kubuatmu terjungkal dari singgasana kedudukanmu sekarang."

Kalau dia mendongkol sendiri, di sebelah lain Nyo Yam lantas berkata menghadapi Tong Kah-goan, teriaknya.

"Ada ucapan Ciok-tianglo yang benar, yaitu persoalannva bukan perkelahian biasa. Harap Ciangbun maklum, waktu itu bila tidak kulukai Ciok Jing-coan tentu akulah yang akan dibunuh olehnya."

"Sebab apa Jing-coan hendak membunuhmu?"

Tanya Kahgoan.

"Dia ... dia tidak senang melihat aku berada bersama Lingcici, dia ..dia datang dan .. dan mengganggu Ling-cici, aku berusaha mencegahnya agar jangan menggunakan kata-kata kotor, tapi dia berbalik hendak membunuhku."

Nyo Yam tidak ingin menceritakan kejadian tempo dulu, namun apa yang diuraikannya bukanlah karangan belaka.

Tapi bagi pendengaran anak murid Thian-san-pai, keterangan Nyo Yam itu menimbulkan pikiran mereka ke arah yang bukanbukan sehingga menambah rasa curiga mereka, bahkan banyak yang memperlihatkan sikap seperti memahami apa yang terjadi.

Supaya makium, tentang lamaran Ciok Jing-coan terhadap Ling Peng-ji dan gagal, hal ini sama diketahui saudara seperguruannya.

Meski surat pengakuan Jing-coan yang gagal memperkosa Liong Leng-cu tidak dibacakan di depan orang banyak oleh Tong Kah-goan, tapi setelah mengikuti tanya jawab tadi, sedikit banyak isi surat pengakuan itu pun dapat diterka mereka.

Paling tidak semua.

orang percaya tuduhan berbuat tidak senonoh sudah dapat dijatuhkan atas diri Ciok Jing-coan.

Sebab itu pula banyak orang berpendapat gangguan Ciok Jingcoan terhadap Ling Peng-ji mungkin sama dengan perbuatannya terhadap Liong Leng-cu.

Tong Kah-goan juga mempunyai kecurigaan seperti ini, cuma ia tidak mau tanya sejelasnya, ia hanya tanya Ling Pengji.

"Apa yang dikata-kan Nyo Yam apakah kejadian sebenarnya?"

"Ya, waktu itu Ciok-suko memang melolos pedang dan bermaksud membunuh Myo Yam,"

Tutur Peng-ji.

"Ia memang juga banyak bicara yang tidak enak didengar dan tidak ingin kutirukan. Cuma, Ciok-suheng belum sampai berbuat apa-apa terhadapku cuma memaksaku ikut pulang kemari bersamanya."

Tuduhan Ling Peng-ji terhadap Ciok Jing-coan tidak segawat Nyo Yam, tapi derm mendengar ceritanya bahwa Ciok Jing-coan hendak membunuh Nyo Yam dan memaksa dia pulang ke Thian-san, mau-tak-mau timbul pendapat mereka bisa jadi waktu itu Ciok Jing-coan memang tidak bertindak sesuatu yang tidak senonoh, tapi berpikiran busuk jelas tidak perlu disangsikan.

Mungkin karena dapat meraba maksud jahat Ciok Jingcoan, maka Ling Peng-ji waktu itu menolak ikut pulang bersama dia.

Dan Nyo Yam tentu saja membela Peng-ji, maka Ciok Jing-coan menjadi marah dan hendak membunuh Nyo Yam.

Mengingat banyak tamu yang hadir di situ, Tong Kah-goan pikir bila perkara ini terus di sidangkan, mungkin urusan akan tambah memalukan.

Terpaksa ia berlagak mengomeli Nyo Yam sebelum mendapat cara pemecahan yang baik, katanya.

"Apa pun juga tidak pantas kau potong lidah Ciok Jing-coan."

Namun ucapan ini bagi pendengaran Ciok Thian-hing justru terasa tidak enak, sebab di balik ucapan itu seakan-akan hendik mengatakan tindakan Nyo Yam itu agak terlampau keras dan perbuatan Ciok Jing-coan yang tidak senonoh itu memang pantas diberi hukuman.

Begitulih muka Ciok Thian-hing sebentar pucat sebentar merah, akhirnya ia melototi Ling Peng-ji dan berkata.

"Lapor Ciangbun, Ling Peng-ji dan Nyo Yam berkumpul sejak kecil dan erat seperti saudara sekandung, tidaklah heran bila antara mereka berdua saling membela. Maka ku kira kesaksian mereka tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar, sebab menurut keterangan putraku jelas tidak sama dengan cerita mereka."

"Oo, cara bagaimana dia lapor padamu??"

Jengek Nyo Yam.

"Ya, memang, dia telah kau potong lidahnya sehingga tidak dapat bicara, tapi sayang kamu tidak potong sekalian jarinya sehingga dia dapat menggunakan jari tangan sebagai lidah,"

Kata Thian-hing dengan gusar.

"Ciangbun-sute, kejadian yang memalukan ini tidak ingin kukatakan di depan umum, tapi dapat kusuruh putraku menulis bagimu."

Karena Ciok Jing-coan masih harus merawat lukanya, maka dia tidak hadir dalam pertemuan ini. Dengan gusar Nyo Yam menyanggah.

"Aku tidak takut apa yang akan kalian katakan, tapi aku keberatan bila kalian ayah dan anak sengaja memfitnah dan menuduh tidak-tidak."

Tong Kah-goan mengira dari malu Ciok Thian-hing menjadi marah, maka ingin balas mengggigit, segera ia berkata.

"Memberi pengakuan dengan tertulis memang boleh juga, cuma akan lebih baik lagi bila disertai bukti dan saksi di samping keterangan tertulis Jing-coan."

Yang berkeras menghendaki bukti dan saksi adalah usul Ciok Thian-hing sejak permulaan siding tadi, sekarang alasan ini digunakan Tong kah-goan, sama halnya senjata makan tuan bagi Ciok Thian-hing.

Maksud Tong Kah-goan cuma tidak ingin mencari perkara lain, jika Ciok Jing-coan memberi keterangan tertulis, meski tidak perlu dibacakan di depan umum, toh persidangan tetap harus berlangsung, dan cara bagaimana pula menyembunyikan kebusukan perbuatan orang sendiri.

Namun jalan pikiran Ciok Thian-hing ternyata tidak begitu.

Ciok Thian-hing banyak tipu akalnya dan cukup licin, dari nada ucapan Tong Kah-goan dapat dirasabannya makin lama makin tidak menguntungkan dia.

mau-tak-mau timbul pikirannya bahwa kesempatan ini akan digunakan Tong Kahgoan untuk menghantamnya.

Ia pikir kedudukan Ciangbunjin seharusnya haknya agar kedudukan Tong Kah-goan bisa tambah kukuh tentu berusaha menjatuhkannya.

Dan bila perkara ini sampai berhasil dimenangkan Nyo Yam, lalu cara bagaimana aku harus menjatuhkan hukuman kepada anak sendiri?

Cara bagaimana pula aku dapat menjadi sesepuh penegak hukum lagi?

Ai, sungguh serba susah dan munukul diri sendiri.

Karena pikirannya yang sok curiga itu.

terpaksa ia mencari jalan mundur teratur, katanya.

"Lapor Ciangbun, tentang bukti dan saksi sukar diperoleh dalam waktu siugkat, tentang saksi utama pihnk Nyo Yam, yaitu Kang Siang-hun juga belum jelas kapan akan datang kemari. Sekarang aku pun tidak tahu putraku akan mengajukan siapa sebagai saksi, untuk ini biar kutanyai dia dulu baru dapat memberi keputusan."

Kembali ia gunakan akal ulur waktu, diam-diam ia mencari tindakan yang lebih keji, yaitu cara bagaimana mencelakai Tong Kah-goan tanpa memperlihatkan sesuatu bekas, bahkan bilamana perlu dia tidak segan mencari bantuan dari luar.

Tong Kah-goan sendiri justru ingin lekas menyele&aikan perkara ini, maka apa yang dikatakan.

Ciok Thian-hing itu dirasakan cocok dengan maksudnya, segera ia berkata.

"Ya, lantaran di dalam perkara ada lagi perkara, bila ingin menyelesaikannya secara tuutas memang perlu ada persiapan lebih dulu. Kukira begini saja, untuk sementara ini Nyo Yam ditahan dulu dan sidang ditunda, apakah Ciok-suheng setuju?"

Di dalam hati Ciok Thian-hing seribu kali setuju, cuma sebagai sesepuh penegak hukum ia pun ingin menjaga gengsi, maka ia berlagak ragu dan tidak segera memberi jawaban.

Siapa tahu ketika ia angkat kepala dan hendak memberi jawaban, tiba-tiba ada orang berseru lantang.

"Lapor Ciangbun, Kang-taihiap datang!"

Kejut dan girang Tong Kah-goan, tanyanya.

"Kang-taihiap yang mana?"

"Kang-jikongcu,"

Jawab murid penyambut tamu.

"Dia sudah sampai di gardu penerima tamu di depan."

Orang persilatan sama tahu Kang-jikongcu adalah putra kedua Kang Hai-thian, yaitu Kang Siang-hun.

Keluarga Kang ada hubungan erat dengan Thian-san-pai, namun Kang Siang-hun tetap memakai tata cara yang sopan, ia berhenti dulu di gardu tamu dan minta petugas menyampaikan laporan akan kedatangannya untuk mohon bertemu, apalagi saat itu diketahui pihak Thian-san pai sedang rapat, maka ia harus menjaga sopan santun.

Dengan girang Tong Kah-goan lantas berseru.

"Kam-sute, silakan wakilkan aku keluar menyambut Kang-taihiap kemari."

Kam Bu-wi adalah tokoh nomor dua di antara keempat murid utama angkatan kedua, kecuali murid angkatan pertama yang masih hidup, yaitu Ciong Tian, dan Tong Kah-goan yang menjabat ketua, serta Ciok Thian-hing, ke bawah lagi adalah Kam Bu-wi Segera Tong Kah-goan berpaling dan tanya Thian-hing.

"Jika Kang-taihiap sudah datang, maka tulen atau palsunya surat pengakuan dosa itu segera akan ketahuan. Perkara ini mestinya hendak kutunda sementara, tapi keadaan sekarang berubah lagi, bagaimana pendapat Suheng bila urusan ini kita selesaikan saja sekarang?"

Karena tidak dapat menolak, terpaksa Thian-hing menjawab.

"Jika Kang-taihiap sudah datang, perkara yang menyangkut nona Liong itu dengan sendirinya dapat terus disidangkan. Cuma, pertemuan hari ini sebenarnya hendak memeriksa perkara Nyo Yam yang mendurhakai perguruan. Sesuatu perkara tentu harus dibedakan mana yang lebih penting, jika perkara utama belum bisa diselesaikan karena saksi dan bukti belum lengkap, kukira boleh meneruskan keputusan tadi, biarlah kedua perkara disidangkan bersama kelak bila saksi dan bukti sudah lengkap seluruhnya."

Pek Kian-seng, satu di antara keempat murid utama Thiansan-pai, berwatak keras dan jujur, mendengar ucapan Ciok Thian-hing ini, ia pun merasa orang sengaja hendak menang sendiri, ia tidak tahan dan ikut bicara.

"Ya, memang di dalam perkara ini masih ada perkara, dua perkara juga ada perbedaan perkara induk dan perkara ikutan. Tapi snksi dalam perkara induk belum lengkap, bila perkara sampingannya diperiksa dulu kan juga boleh."

Tong Kah-goan diam saja, sebaliknya karena merasa salah.

Ciok Thian-hing juga tidak berani menolak.

Sebelum dia menanggapi, sementara itu Kang Siang-hun sudah diajak datang Kam Bu-wi.

Cepat Tong Kah-goan tampil untuk menyambut, katanya.

"Kang-jikongcu, angin apa yang membawamu ke sini? Sungguh sangat kebetulan kedatanganmu ini!"

Kang Siang-hun tidak kenal Nyo Yam, tapi Liong Leng-cu pernah bersama dia menghadapi musuh, maka begitu melihat Leng-cu juga berada di situ, tanpa banyak basa-basi lagi dengan Tong Kah-goan, buru-buru ia membalas hormat ketua Thian-san-pai itu, lalu menyapa kepada Liong Leng-cu, katanya.

"Nona Liong, engkau juga datang kemari. Setelah terpencar diterjang pasukan musuh tempo hari, susah payah juga ku-cari dirimu. Engkau tidak apa-apa bukan?"

"Ya, tidak apa-apa,"

Jawab Leng-cu.

"Sangat kebetulan kedatangan Kang-taihiap, aku memang sangat mengharapkan kehadiranmu ini."

Diam-diam Kang Siang-hun sudah dapat meraba beberapa bagian maksud ucapan Leng-cu itu, tapi ia sengaja tanya.

"Oo, Tong-ciangbun bilang kebetulan kedatanganku ini, kaupun mengatakan sangat mengharapkan kedatanganku, sesungguhnya ada urusan apa?"

"Kuharapkan kedatanganmu untuk menjadi saksi bagiku!"

Kata Leng-cu.

"O, jadi saksi apa?"

Tanya Siang-hun.

"Sekarang aku sedang meaghadapi sidang pemeriksaan sesepua penegak hukum Thian-san-pai sebagai tertuduh,"

Tutur Leng-cu hainbar.

"Tentang duduk persoalannya, kukira biar sesepuh kami ini saja memberitahukan langsung padamu. kalau tidak mungkin aku akan dituduh tidak tahu aturan."

"Siapakah gerangan sesepuh penegak hukum?"tanya Kang Siang-hun. Muka Ciok Thian-hing merah padam dan diam saja. Segera Tong Kah-goan menanggapi.

"Yang dimuksud adalah Ciok-suheng. Urusan ini demikian awalnya.."

Selagi ia hendak menutur, tiba-tiba ada orang berteriak.

"Nanti dulu, mohon Ciangbun tunggu sebentar, biar kujadi saksi bagi Ciok Jing-coan!"

Entah dari mana munculnya orang ini, kedatangannya cepat luar biasa.

Belum lagi anak murid Thian-san-pai melihat julas siapa pendatang ini, namun Ling Peng-ji sudah mengenali suaranya.

Sesaat itu tidak kepalang marahnya hingga tubuh pun gemetar.

"Toan Kiam-jing,"

Segera Nyo Yam membentak.

"Kamu tidak malu pulang kemari?"

Kontan ia papaki pendatang itu dengan sekali cengkeraman maut.

Pendatang ini memang betul Toan Kiam-jing, dengan Liongsiang-kang tingkat delapan ia hindarkan cakar naga Nyo Yam, berbareng ia balas membentak.

"Jika kalian boleh datang kenapa aku tidak boleh?"

"Aku ingin nyawamu!"

Bentak Nyo Yam pula, ia cuma buka satu kalimat, namun kedua tangan berturut-turut sudah menyerang tujuh kali.

Serangan berantai tujuh kali ini sangat lihail dan belum pernah dilihat Toan Kiam-jing, meski ia dapat menangkisnya.

tidak urung rada kelabakan juga.

"Hm, Nyo Yam, apakah kamu ingin membunuhku untuk menutup mulutku?"

Jengek Toan Kiam-jing. Ciok Thian-hing juga membentak.

"Nyo Yam, negara ada undang-undang, rumah ada peraturan, kau berani bertindak kasar di tengah rapat ini. memangnya Ciangbuniin sudah tidak terpandang lagi olehmu?"' Kening Tong Kah-goan bekernyit, serunya.

"Nyo Yam, berhenti dulu untuk bicara sejelasnya."

Terpaksa Nyo Yam harus tunduk kepada perintah sang ketua dan berhenti, tapi ia pun mendengus terhadap Ciok Thian-hing.

"Ciok-tianglo, sungguh adil benar hukum yang kau tegakkan!"

"Aku melaksanakan tugas seadil-adilnya menurut peraturan, memangnya apa perlu disanggah oleh anak ingusan seperti dirimu ini?"

Teriak Thian-hing dengan gusar. Nyo Yam berteriak lantang pula.

"Engkau tidak membedakan ini dan itu lantas meruduh aku mendurhakai perguruan, sekarang orang yang benar-henar berkhianat dan mendurhakai perguruan berada di depanmu, kenapa engkau tidak mengurusnya?"

"Dalam hal apa aku berkhianat dan mendurhakai perguruan?"

Tanya Toan Kiam-jing dengan ketus.

"Hm, sekarang kamu bekerja bagi pemerintah Boanjing dan sedang menyerbu Lodan, kamu adalah anak buah panglima Boanjing, yaitu Ting Tiau-yong, memangnya kau berani menyangkal?"

Damperat Nyo Yam.

"Numpang tanya Ciok-tianglo, adakah sesuatu pasal dalam peraturan perguruan kita yang melarang anak muridnya bekerja bagi pemerintah?"

Tanya Toan Kiam-jing tiba-tiba.

"Keluargaku turun temurun menjadi raja negeri Taili, sampai abad ini barulah gelar kerajaaa dihapus. Sebagai keturunan bangsawan, waktu kumasuk perguruan kita, asal-usulku kan cukup diketahui oleh guru dan sesepuh yang lain."

Perlu diketahui, meski Thian-san-pai juga anti pemerintah Boanjing, tapi pada waktu pendirian perguruan, demi menghindari pengawasan pemerintah, hanya turun temurun dipesankan secara lisan kepada anak muridnya agar jangan lupa pada penjajahan orang Boanjing (Mancu), hanya pesan ini tidak tertulis secara terang.

Pada waktu ia masuk perguruan Thian-san dan menjadi murid terakhir Ciong Tian, yang menjadi sponsornya adalah pamannya, yaitu Toan Siu-seh.

Sejak lama Toan Siu-seh sudah melepaskan gelar bangsawannya dan menggabungkan diri dengan kaum pejuang yang melawan kerajaan Boarjing.

Setelah loan Kiam-jing meninggalkan Thian-san-pai, pimpinan Thian-san-pai bukan tidak tahu bahwa diam-diam bekas muridnya itu membantu pihak kerajaan, pernah juga pimpinan Thian-san-pai bermaksud menangkapnya puling ke Thian-san untuk diminta pertanggungan jawabnya.

Tapi lantaran keluarga Toan hanya mempunyai keturunan satusatunya, maka Toan Siu-seh mintakan ampun baginya, Toan Siu-seh mohon Ciong Tian memberi izin agar ia diperbolehkan memberi nasihat kepada kemenakan itu agar mau menyadari kesalahannya, ia bersedia membawa kemenakan itu pulang ke Thian-san untuk menerima ganjarnn setimpal.

Ciong Tian memang orang tua yang baik, ia meluluskan permintaan Toan Siu-seh.

Akan tetapi Toan Kiam-jing justru berusaha menghindari bertemu dengan sang paman.

Ciong Tian sendiri akhir-akhir ini tidak banyak ikut campur urusan lagi lantaran sudah lanjut usia, maka perkara Toan Kiam-jing lantas tidak terurus lagi.

Dalam pada itu Toan Kiam-jing juga pernah menulis surat kepada Tong Keng-thian, pejabat ketua Thian san-pai yang lalu, ia menyatakan tindakannya tidak disukai oleh perguruan, maka ingin masuk perguruan lain dan mohon Ciang bunjin memaafkan keinginannya keluar dari Thian san-pai.

Sebenarnya tidak ada peraturan demikian di dunia persilatan, tentu saja waktu itu Tong Keng-thian sangat marah, tapi lantaran suhengnya, yaitu Ciong Tian sudah ada Janji kbih dulu dengan paman Toan Kiam-jing, maka surat itu tidak pernah diumumkan.

Ciok Thian-hing sendiri tahu sudah sejak lama Toan Kiamjing dipandang sesama saudara seperguruan sebagai murid khianat.

Tapi demi kepentingan anaknya sekarang, kedatangan Toan Kiam-jing merupakan jalan selamat baginya.

nmka sedapatnya ia berusaha membelanya.

Setelah berpikir sejenak Thian-hing berkata.

"Menurut kebiasaan perguruan, selama ini memang tidak ada seorang anak murid pun yang menjadi pembesar negeri. Cuma peraturan perguruan kita memang juga tidak ada sesuatu pasal yang jelas-ielas melarang perbuatan demikian."

Nyo Yam menjadi murka, teriaknya.

"Berulang-ulang ia hendak membunuh Ling Peng-ji, apakah itu bukan perbuatan mencelakai saudara seperguruan. Bukaukah hal itu termasuk salah satu tuduhanmu kepadaku? Apakah peraturan hanya berlaku terhadap orang tertentu saja?"

Toan Kiam-jing memperlihatkan sikap serba susah, katanya.

"Urusanku dengan Peng-ji sebenarnya tidak boleh kukatakan di depan umum. Ai, antara dia dan aku sebenarnya ada janji setia sehidup-semati, masa aku tega membikin susah dia?"

Sampai gemetar Ling Peng-ji saking marahnya, teriaknya.

"Kau dorong aku ke dalam danau, apakah kau berani menyangkal perbuatanmu ini?"

"Pokoknya, apakah kamu yang ingkar janji atau aku yang tidak setia, kukira kamu sendiri cukup tahu,"

Kata Toan Kiamjing.

"Kata pribahasa, kalau cinta tentu menghendaki hidupnya-jika benci menginginkan kematiannya. Sekarang kamu sudah punya kekasih baru, tentu aku hendak kau matikan, ya, apa boleh buat, tak dapat kusalahkan dirimu."

Ia tidak membantah apakah benar ada maksud membunuh Peng-ji atau tidak, tapi berlagak masih cinta kepada nona itu untuk menarik simpati orang.

Hampir kelengar Ling Peng-ji saking gemasnya.

Tong-hujin, istri Tong Kah-goan atau guru Ling Peng-ji, memegangi tangan nona itu dan membisikinya.

"Jangan marah Peng-ji, sabar! Ku tahu perasaanmu, kami pasti akan menegakkan keadilan bagimu. Cuma sekarang belum tiba saatnya."

Meski lirih ia bicara kepada nona itu, namun dapat didengar oleh Ciok Thian-hing, segera ia berkata.

"Urusan rumah tangga memang serba susah diputuskan orang luar, apalagi soal cinta kasih remaja, tentu saling ngotot pada pendirian masing-masing. Tentang tindak tanduk Toan Kiam-jing setelah meninggalkan Thian-san mungkin ada yang tidak dapat dibenarkan, tapi kedatangannya sekarang hanya untuk menjadi saksi, perkara utama hari ini adalah pemeriksaan Nyo Yam dan tidak boleh menyimpang dari ini. Bila perkara ini selesai diperiksa barulah nanti meminta guru Toan Kiam-jing dan Ciong-supek untuk memutuskan apakah dia bersalah atau tidak."

Dengan kereng Tong Kah-goan berkata.

"Toan Kiam-jing memang pernah mengirim surat pribadi kepada pejabat ketua yang lalu dan mohon izin untuk masuk perguruan lain, menurut peraturan, anak murid yang minta melepaskan diri dari perguruan harus diuji dulu oleh ssng ketua akan jasa dan salahnya, kalau berjasa akan diizinkan melepaskan diri disertai pujian. Bila berbuat salah harus menerima hukuman setimpal dahulu, baru kemudian dipecat."

"Sekarang aku bertindak atas kedudukanku sebagai pejabat ketua dan meluluskan permintaannya, tapi sementara ini belum sempat menguji jasa dan salahnya, cara bagaimana menentukan permintaannya biar ditunda sementara. Sekarang dia hanya boleh memberi keterangan selaku saksi dan dilarang mengaku sebagai anak murid perguruan kita."

Cara bekerja Tong Kah-goan tidak sebijak dan setegas sang ayah, tapi dalam bal menghadapi urusan besar dia tidak pernah ngawur.

Ia tidak ingin mengakui Town Kiam-jing sebagai murid Thian-san-pai di depan orang banyak, maka lebih dulu ia meluruskan dulu kedudukan resmi Toan Kiamjing.-Tapi bagi Toan Kiam-jing, persoalan diakui atau tidak sebagai murid Thian-san sudah bukan soal lagi, ia pikir aku memang tidak ingin menjadi murid Thian-san, betapapun keputusanmu atas diriku nanti masakah aku takut?

Nyata kedatangannya ini sudah siap menghadapi segala kemuugkinan.

Ciok Thian-hing berlagak jujur dan adil, ia memberi hormat kepada Kang Siang-hun, katanya.

"Acara pokok hari ini adalah memeriksa perkara Nyo Yam yang khianat dan mendurhakai perguruan serta membikin celaka sesama saudara seperguruan. Lantaran perkara ini menyangkut perkara yang lain pula, terpaksa ditunda sementara. Sekarang saksi utama perkara induk sudah tiba, bttgnimana kalau Kang-taihiap sudi menunggu sebentar."

Dengan hambar Kung Siang-hun menjawab.

"Nyo Yam adalah anak murid perguruan kalian, cara bagaimana aku disidangkan perkaranya adalah urusan kalian pula, aku tidak ingin ikut campur. Kedatanganku ini hanya ingin minta keadilan bagi nona Liong, jika kau anggap perkara nona Liong tidak begitu penting, dan kapan kau minta aku menjadi saksi, setiap saat aku siap hadir."

Belum lagi menjadi saksi nadanya sudah jelas ingin membela Liong Leng-cu yang difitnah orang.

Ia menyatakan ingin minta keadilan bagi nona itu, ucapan ini serupa suatu tamparan keras bagi Ciok Thian-hing.

Muka Thian-hing terasa panas, terpaksa ia harus memikirkan apa yang segera akan terjadi, ia menaruh harapan atas diri Toan Kiam-jing.

Terdengar Toan Kiam-jing mulai memberi pengakuan sebagai saksi.

"Pada waktu terjadinya perkara Nyo Yam itu aku hadir di tempat, sebab itulah kutahu dengan sangat jelas."

"Nanti dulu, ingin kutanya padamu, sebab apa kau hadir di tempat?"

Tanya Tong Kah-goan mendadak.

"Menurut pengakuan Nyo Yam tadi sama sekali tidak menyebut kehadiranmu waktu itu."

"Nyo Yam tidak melihat diriku,"

Tutur Toan Kiam-jing.

"namun sesudah itu seharusnya ia tahu aku hadir di situ, sebab tidak mungkin Peng-ji tidak memberitahukan padanya. Tong-ciangbun, jika engkau sangsi atas keteranganku boleh kau tanya Peng-ji, adakah dia bertemu denganku pada hari sebelum dia kepergok Ciok Jing-coan itu."

Sampai gemetar Ling Peng-ji saking gemasnya. katanya.

"Betul, hari itu kamu memang membuntuti aku, kau.. kau lebih rendah daripada binatang ..."

"Peng-ji."

Bentak Thian-hing.

"Jika kamu mengaku hari itu dia benar hadir, maka hal ini cukup memenuhi syarat baginya untuk menjadi saksi. Jika ada tuduhan kepadanya, boleh kau kemukakan nanti setelah dia memberi kesaksian."

Tong-hujin merangkul pelahan Ling Peng-ji, ucapnya lirih.

"Peng-ji, kutahu persaanmu, sabarlah sedikit. Apa yang dikatakan Ciok-tianglo juga betul, pemeriksaan ini harus dilakukan tahap demi tahap."

Toan Kiam-jing sangat senang, sambungnya lagi.

"Peng-ji, kutahu sudah lama kamu tidak suka lagi padaku, tapi caci makimu padaku kan keterlaluan ..."

"Apa yang tidak ada sangkut paut dengan perkara ini tidak perlu dikemukakan,"

Bentak Tong Kah-goan. Kiam-jing mengiakan dulu, lalu berkata pula.

"Lapor Ciangbun, soalnya tadi Ciangbun tanya padaku soal apa aku hadir waktu itu, untuk menjawab pertanyaan ini terpaksa harus ku singgung sedikit hubunganku dengan Peng-ji."

"Baik, coba katakan terus,"

Jengek Kah-goan kurang senang.

"Hari ini aku bertemu dengan Peng-ji, ku minta dia berbaik kembali denganku dan dia menolak, ia mengusirku dengan Peng-pok-sin-tan,"

Tutur Toan Kiam-jing.

"Setelah aku tidak disukai lagi olehnya, kutahu juga tiada gunanya memaksa, maka aku pun pergi. Namun aku masih penasaran, meski menyingkir, diam-diam kusembunyi di tempat yang tak terlihat olehnya."

"Apa maksud tujuanmu dengan bersembunyi begitu?"

Tanya Kah-goan.

"Sebab baru saja kupergi segera Nyo Yam muncul,"

Tutur Toan Kiam jing.

"Melihat gerak-geriknya yang mencurigakan, agaknya ada sesuatu perbuatannya yang tidak boleh dilihat orang. Sikapnya terhadap Ling Peng-ji juga tidak serupa hukuman antara kakak dan adik. Agaknya perhatiannya cuma tertuju kepada Ling Peng-ji sehingga tidak tahu aku pun bersembunyi di sekitar situ. Maka aku pun sengaja sembunyi lebih lama di situ untuk mendengarkan apa yang dibicarakan mereka. Kutahu juga perbuatanku itu tidak pantas, tapi waktu itu terdorong oleh rasa cemburu sehingga aku tidak dapat menguasai perasaan sendiri, bilamana hal ini disalahkan oleh Ciangbun, kurela menerimanya."

Belum lagi Tong Kah-goan bertuara sudah didahului oleh Ciok Thian-hing.

"Perbuatanmu itu benar atau salah biarlah ditentukan nanti setelah sidang perkara ini selesai. Sekarang tidak perlu lagi bicara urusan lain, lekas jelaskan, apa yang kau dengar di tempat sembunyimu itu, apa pula yang mereka lakukan?"

"Aku ..aku tidak sanggup menceritakan,"

Kata Kiam-jing.

"Sebab apa?"

Tanya Thian-hing. Toan Kiam-jing sengaja berlagak serba susah, jawabnya kemudian.

"Ciok-tianglo, tidak perlu kau paksa diriku. Memang sedang kupikir cara bagaimana harus kuceritakan padamu. Begini saja, biar kuceritakan dulu kejadian putramu memergoki perbuatan mereka, dengan begitu tentu engkau akan paham apa yang dilakukan mereka."

"Boleh juga,"

Kata Thian-hing.

"Pokoknya jangan kau sembunyikan apa yang kau lihat dan tuturkan sejujurnya, soal urusan kejadiannya kukira tidak penting."

Toan Kiam-jing mengiakan dan menyambung lagi.

"Tidak lama setelah mereka sembunyi di balik semak rumput, lalu datanglah putramu. Kulihat..."

"Lihat apa?"

Tukas Thian-hing tidak sabar.

"Kulihat putramu memang ..memang melolos pedang hendak membunuh Nyo Yam!"

Tutur Kiam-jing. Muka Ciok Thian-hing merah padam, semula ia menyangka pengakuan Toan Kiam-jing pasti akan menguntungkan dia. Tak terduga ucapan Toan Kiam-jing itu mendadak bersambung, katanya pula.

"Namun agar Ciok Ting-coan tidak terfitnah, betapapun harus kuceritakan kejadian yang sebenarnya pada waktu itu. Bahwa waktu itu dia hendak membunuh Nyo Yam tentu ada alasannya. Tadi Nyo Yam bilang Jing-coan mengganggu dan menista Peng-ji, keterangan ini tidak betul. Yang benar terjadi adalah ..."

"Apa?"

Tanya Jhian-hing dengan menahan napas.

"Jika mesti memakai istilah nista, maka yang nista Peng-ji bukan Jing-coan melainkan Nyo Yam,"

Tutur Kiam-jing pelahan.

"Kentut busuk!"

Bentab Nyo Yam dengan gusar.

"Jangan sembarang memaki orang!"

Bentak Ciok Thianhing. Nyo Yam juga berteriak.

"aku berhak membantah fitnahnya, enci Peng-ji berada di sini, boleh kau tanya dia siapa yang menista dia?"

Saking marahnya Peng-ji sampai tidak dapat bicara. Tong Kah-goan berkata.

"Tapi Peng-ji sudah bicara, waktu itu Nyo Yam memang membela dia sehingga berkelahi dengan Jiog coan. Cuma Peng ji juga menyatakan meski sikap Jingcoan tidak baik, namun tidak sampai bertindak sesuatu yaitu menista dia. Coba Peng-ji, jika kamu tetap pada keteranganmu hendaknya kamu mengangguk "

Maka Peng-ji telah menangguk. Dengan muka kereng Kah goan lantas berkata.

"Nah, Nyo Yam jelas tidak melakukan sesuatu yang tidak patut, hal ini sudah diberi kesaksian oleh Peng-ji. Apa yang dapat kau katakan pula, Toan Kiam-jing?"

Cepat Thian-hing menyela.

"Hubungan Peng ji dan Nyo Yum serupa saudara sekandung, bukan maksudku menuduh dia membela Nyo Yam, tapi mau-tak-mau kita harus memandang keterangannya sebagai pengakuan sepihak saja."

"Betul, memang keterangan sepihak tidak dapat dibuat patokan,"

Ucap Kah-goan dengan dingin.

"Tapi, Ciok-suheug, engkau adalah sesepuh penegak hukum, aku tidak enak bertindak melampaui wewenangmu, bilamana kau pandang perlu keterangan pihak lain, boleh kau suruh Toan Kiam jing juga memberi kesaksian sanggahan."

Cara bicara Tong Kah-goan mskin ketus terhadap Ciok Thian-hing, meski resminya ia masih sependapat dengan Ciok Thian-hing, namun sebenarnya hendak menuduh Thian-hing juga cuma ingin menggunakan keterangan sepihak dari Toan Kiam-jing.

Setelah Toan Kiam-jing menukas.

"Ya. aku mengaku tadi aku salah omong."

Keruan Thian-hing terkejut, cepat ia menegas.

"Apa? Kamu mengaku salah?"

"Ya tadi kubilang Nyo Yam menista Peng ji, keterangan ini kutarik kembali,"

Jawab Toan Kiam-jing-Ucapan ini tidak cuma membuat.

Ciok Thian-hing terkejut, Nyo Yam juga heran, ia pikir apakah mungkin mendadak hati nurani Toan Kiam-jing tersentuh dan merasa berdosa terhadap Ling -cici?"

Segera Thian-hing menarik muka, katanya.

"Toan Kiamjing, pengakuanmu plungkar-plungker, apakah kamu sengaja hendak mempermainkan sidang ini?"

"Harap Ciok-tianglo makium,"

Sahut Toan Kiam-jing.

"semula kuharap tidak salah omong, baru sekarang kutahu aku memang salah omong. Harapanku cuma khayalan belaka "

Dari ucapan orang Thian-hing menemukan setitik cahaya terang, cepat ia membentak.

"Kau bicara dengan samarsamar, apa artinya berharap tidak salah omong, sungguh aku tidak mengerti maksudmu. coba beri penjelasan."

Toan Kiam-jing menghela napas, katanya.

"Kesalahanku adalah karena aku masih ada setitik rasa cintaku pada Peng-ji, apa pun juga dia dan aku pernah bersumpah setia sehidup semati, biarpun sekarang ia ingkar janji, tetap kuharap dia akan menjaga diri dengan suci bersih. Sebab itulah kuharapkan apa yang kulihat itu bukan atas kehendakuya melainkan dipaksakan oleh Nyo Yam, inilah yang merupakan nista terhadapnya. Tapi, ai, jika dia sendiri menyangkal nista Nyo Yam itu. apa pula yang dapat kukatakan lagi."

"Apakah maksudmu antara mereka berdua ada .."

"Kalian jangan kentut!"

Bentak Nyo Yam mendadak. Karena bentakan ini, kata-kata "ada perzinahan"

Yang hampir diucapkan Ciok Thian-hiug jadi terputus. Muka Thian-hing merah padam, ia balas membentak.

"Nyo Yam, kau berani membangkang terhadap sidang ini?"

Di tengah ribut-ribut itulah Toan Kiam-jing sengaja berteriak lantang.

"Betul, justru lantaran Jing-coan memergoki perzinahan mereka, maka Nyo Yam sengaja memotong lidah Jing-coan. Dan pada waktu lidah Jing-coan belum terpotong, dalam keadaan kepepet, dia memang juga berniat membunuh Nyo Yam."

"Creng", serentak Nyo Yam melolos pedang saking murkanya. Pada saat yang sama beramai Kam Bu-wi, Pek Kian-seng, Ting Tiau-min dan lain-lain juga sama melolos pedang dan mengadang di antara Nyo Yam dan Ciok Thian-hing. Bentak Ting Tiau-min.

"Nyo Yam, jika kamu tidak salah. masa kau kuatir akan tuduhan orang? Bila kau pakai kekerasan dulu berarti kamu mengaku salah."

Hampir meledak dada Nyo Yam saking gemasnya, sedapatnya ia menahan perasaannya dan simpan kembali pedangnya. Toan Kiam-jing sangat senang, katanya.

"Nyo Yam, apakah kamu bermaksud membunuh saksi untuk menghilangkan jejak? Apa pun juga takkan tercapai tujuanmu itu. Kuberi nasihat akan lebih baik kamu mengakui dosamu saja."

"Aku tidak berdosa, yang bersalah adalah kamu sendiri!"

Teriak Nyo Yam.

"Hm, kau bilang tidak berdosa, jika begitu maksudmu aku yang berdusta?"

Jengek Toan Kiam-jing.

"Sebenarnya juga tidak sulit jika ingin menguji kebenaran keteranganku. Kita sama tahu, Ciangbun-hujin adalah guru Ling Peng-ji, antara guru dan murid tentu tidak perlu pantang apa pun, maka mohon Ciangbun-hujin membawa Peng-ji ke kamar dan silakan periksa siu-kiong-seh (andeng andeng cecak) pada tubuhnya, nanti segalanya tentu akan menjadi jelas."

Tidak kepalang gusar Ling Peng-ji, dalam hati ia menganjurkan diri sendiri agar sabar dulu jangan sampai dibuat mati gusar, akhirnya dengan suara terputus-putus ia berkata.

"Ciok ... Ciok-tianglo. apakah sekarang aku boleh ... boleh bicara? Aku ingin mengadu difitnah Toan Kiam-jing secara rendah dan kotor ..."

"Apa yang kau katakan, Ling Peng-ji, keras sedikit, aku tidak dengar,"

Demikian Ciok Thian hing sengaja menggoda.

Dalam keadaan demikian, bilamana Ling Peng-ji tidak roboh dan runtuh sudah terhitung tabah, mana ia sanggup bicara keras lagi.

Dengan gusar Tong-hujin ikut bicara.

"Ciok-suheng, kau lihat sampai kelengar dia saking gemasnya. dan engkau masih tega mendesak dia."

"Hm aku tahu urusan busuk ini memang tidak enak untuk dibeberkan, tapi persoalannya cukup penting, jika tidak diperiksa dengan tuntas, cara bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap perguruan?"

Mendadak Nyo Yam berteriak.

"Biar kubicara bagi Ling-cici. Ini urusan menyangkut kami berdua, aku pun berhak bicara baginya."

Namun Ciok Thian-hing tetap ngotot, tanyanya.

"Ling Pengji, apakah kamu setuju hanya Nyo Yam saja yang bicara?"

Dengan menahan air mata Peng-ji memandang Nyo Yam sekejap, kebetulan anak muda itu sedang memandang ka arahnya, dilihatnya sorot mata Nyo Yam penuh rasa lembut seperti lagi bilang padanya agar jangan takut, biarpun langit runtuh tetap akan kubela dirimu.

Sebenarnya Peng-ji kuatir watak Nyo Yam terlampau emosional dan entah apa yang akan di-ucapkannya.

Kini di bawah dorongan dan hiburan sorot matanya, tanpa terasa ia balas mengangguk.

"Baik,"

Kata Thian-hing.

"Peng-ji sudah setuju. Nah, boleh kau katakan saja."

Nyo Yam melototi Toan Kiam-jing dengan benci, sorot matanya mencorong serupa akan menyemburkan api, mendadak ia mendamperat.

"Toan Kiam-jing, kamu manusia berhati binatang ..."

"Dilarang memaki orang,"

Bentak Thian-hing.

"Apakah cuma dia saja boleh bicara kotor dan aku dilarang memaki dia?"

Teriak Nyo Yam dengan murka, suaranya terlebih keras daripada Ciok Thian-hing sehingga anak telinga terasa mendengung, dada pun serasa dihantam orang, meski tahan, namun rasanya tidak enak.

Kiranya Nyo Yam telah menggunakan ilmu raungan singa ajaran ayah angkatnya, ia sengaja menggunakan lwekang tinggi ini untuk meruntuhkan semangat lawan.

Dengan adu kekuatan secara diam-diam ini, orang lain tidak tahu, namun Ciok Thian-hing sendiri paham bahwa Iweekang anak muda itu sudah jauh di atasnya.

Pelahan Tong Kah-goan berkata.

"Sikap Nyo Yam tidak benar, ini soal kecil. Yang lebih penting adalah memahami urusan yang sebenarnya, maka biarkan dia bicara terus."

Suaranya halus, namun suara raungan dan bentakan gusar Nyo Yam dan Ciok Thian-hing seakan-akan tertelan oleh suara ucapan Kah-goan itu.

Aneh juga, suaranya yang halus seakan-akan cocok untuk menghapus raungan keras Nyo Yam, dalam pendengaran Ciok Thian-hing terasa sangat enak.

Rasa sesak napasnya akibat raungan Nyo Yam tadi segera banyak berkurang, Nyo Yam menggunakan suara biasa, tanpa menghiraukan Ciok Thian-hing ia berkata pula.

"Toan Kiam-jing, kamu manusia berhati binatang, sudah beberapa kali kamu bermaksud mencelakai Ling-cici, muak rasanya untuk kuceritakan. Sekarang aku cuma ingin memberitahukan orang banyak, cara keji apa yang kau gunakan sekali ini, yaitu cara paling rendah dan kotor. Kau gunakan obat bius untuk menodai Ling-cici, aku dan Ling-cici senasib dan sama-sama menjadi korban kekejianmu, dan sekarang kamu malah memfitnah kami."

"Kubilang kamu yang memfitnahku,"

Jengek Toan Kiamjing.

"Kau bilang aku membiusnya dan hendak menodai dia, apa buktinya? Apakah kau berani bicara terus terang, sesungguhnya ada main antara aku dengan Peng-ji atau ada hubungan zinah antara Peng-ji denganmu?"

"Saking gemasnya hampir saja Ling Peng-ji jatuh kelengar. Dengan gusar Tong-hujin berkata.

"Urusan ini menyangkut kesucian seorang murid perempuan perguruan kita, aku tidak mengizinkan muridku dinista di depan umum. Persoalan ini menyangkut urusan pribadi dan masing-masing pihak tetap pada keterangan sendiri sehingga tidak mungkin menarik kesimpulan dalam waktu siagkat."

"Habis bagaimana menurut pendapat Suso". tanya Thianhing dengan ketus.

"Apakah sidang pemeriksaan ini harus dihentikan sampai di sini?"

Dengan gusar Tong-hujin menjawab.

"Sebagai sesepuh penegak hukum, terserah kepadamu apa yang akan kau lakukan, yang jelas tidak boleh muridku yang tak berdosa ini diperiksa olehmu serupa pesakitan, Biarlah kupergi saja bersama Peng-ji."

"Ah, janganlah berkata demikian, Suso,"

Ucap Thian-hing.

"Sidang ini belum berakhir, kesimpulanmu bahwa muridmu tidak berdosa kukira agak terlalu dini."

Setelah diurut oleh Tong-hujin, pelahan Peng-ji sadar kembali.

"Mari kita pergi, Peng-ji!"

Ajak Tong-hujin.

"Jangan pergi, Ling-cici!"

Mendadak Nyo Yam berteriak.

"Biar kukatakan sejelasnya kepada mereka, yang salah bukanlah kita."

Peng-ji berhenti, ucapnya dengan suara parau.

"Baik, aku memang sudah dirusak olehnya. Aku bersumpah takkan hidup jika sakit hati ini tidak kubalas."

"Jangan bicara demikian, Peng-ji,"

Ki Tiang-hong juga mendekati nona itu dan membujuknya "Kamu belum lagi runtuh, betapapun nama baik-mu tak dapat dirusak begitu saja oleh kata-kata orang."

Seketika Tong-hujin tersadar, sedapatnya ia tahan rasa gusarnya, ia pikir memang benar, jika kupergi begini saja dengan Peng-ji kan malah akan kelihatan kita yang salah.

Ciok Thian-hing berlagak tidak dengar percakapan mereka, dengan menarik muka ia berseru.

"Sidang dilanjutkan!"

"Baik,"

Seru Toan Kiam-jing.

"Nah, Nyo Yam, bagus sekali jika kamu mau bicara dengan jelas, Peng-ji adalah murid kesayangan Ciangbun-hujin mengingat nyonya ketua, biarlah kuberi kemurahan hati bagi kalian dan takkan kugunakan lagi istilah parzinahan segala. Aku cuma ingin tanya padamu, dengan jelas kudengar sendiri kau minta menjadi suami istri dengan Ling Peng-ji, kau bilang bertekad akan memperistrikan dia, semua ini betul tidak?"

"Betul, sedikit pun tidak salah, aku memang bertekad memperistrikan Ling Peng-ji,"

Teriak Nyo Yam.

Jawaban Nyo Yam ini membuat Toan Kiam-jing sangat senang.

Tapi bagi anak murid Thian-san-pai termasuk Ciangbunjin Tong Kah-goan istrinya, semuanya terkejut.

Dari tuduh menuduh kedua pihak tadi Tong Kah-goan dan istrinya sudah dapat meraba sebagian duduknya perkara, mereka pun dapat menerka antara Nyo Yam dan Peng-ji mungkin sudah ada hubungan yang melampaui batas, tapi perbuatan mereka itu akibat obat bius Toan Kiam-jing, dalam keadaan kehilangan akal sehat, biarpun berbuat salah juga tak dapat menyalahkan mereka.

Karena pada hakikatnya mereka tidak menyangka Nyo Yam akan menikah dengan Ling Peng-ji secara resmi, maka pernyataan tekad Nyo Yam itu membuat mereka sama terkejut.

Toan Kiam-jing sangat senang, ia terbahak dan berseru.

"Nah, jika kamu sudah mengaku begitu, maka aku pun tidak perlu bicara lagi."

"Aku mengaku apa?"

Tanya Nyo Yam dengan bersitegang.

"Aku dan Ling Peng-ji sepakat terikat menjadi suami-istri adalah perkara lain lagi."

"Tutup mulut!"

Bentak Ciok Thian-hing.

"Masa kamu tidak malu membeberkan perbuatan kalian yang rendah itu?"

"Kami tidak berbuat sesuatu yang memalukan, yang berbuat busuk adalah Toan Kiam-jing, juga putra kesayanganmu itu?!"

"Yang diperiksa sekarang adalah dirimu, kesalahan yang diperbuat orang lain nanti tentu akan kuperiksa secara adil dan tidak perlu kau sangkutpautkan sekarang,"

Bentak Ciok Thian-hing.

"Ingin kutanya padamu, sekalipun kupercaya kepada keteranganmu bahwa waktu itu kesadaran-mu terpengaruh obat bius, tapi kamu memang sudah ada maksud memperistrikan Peng-ji, itu berarti pikiran jahatmu memang sudah timbul sebelum itu, apakah kesalahanmu akan kau alihkan kepada orang lain?"

"Hm. engkau yang bicara campur aduk tidak jelas,"

Sahut Nyo Yam dengan gusar.

"Aku berniat memperistrikan Peng-ji, mengapa dikatakau bermaksud jahat?"

"Sudahlah, kalau sudah mengaku tidak perlu banyak omong lagi,"

Kata Thian-hing.

"Apa pun yang kau lakukan, salah atau benar, sebentar tentu akan diputuskan dengan adil, tidak perlu kau bantah sekarang."

Dengan sikap garang seorang peuuntut ia suruh Nyo Yum berdiri di samping, lalu berpaling dan tanya Ling Peng-ji pula.

"Nah, Peng-ji, menurut pengakuan Nyo Yam, ia pernah melamar langsung padamu, apakah betul hal ini?"

"Betul."

Jawab Peng-ji lirih.

"Dan kau terima?"

Desak Thian-hing.

"Aku . aku belum terima... ."

"Ling-cici,"

Seru Nyo Yam "Bukan begitu jawabanmu. Meski semula engkau tidak terima, tapi kemudian ...."

"Diam,"

Bentak Ciok Thian-hing.

"Dilarang mengganggu pengakuan Peng-ji, jika kamu mengacau lagi, terpaksa kuambil tindakan tegas."

"Sabar, adik Yam, biar kubicara dulu,"

Kata Peng-ji.

Tidak nanti Nyo Yam takut ditindak oleh Ciok Thian-hing, namun dia harus menurut kepada permintaan Peng-ji, dengan sorot mata penuh rasa dongkol ia pandang Peng-ji dan mundur ke samping.

Thian-hing melanjutkan pertanyaannya.

"Jika demikian, jadi dia yang memaksa dirimu, begitu? Hm, memang sudah kuduga, sejak awal hingga akhir perkara ini memang kesalahan Nyo Yam-Kau sendiri banyak membaca dan tahu adat, mana kau mau menjadi istrinya?"

Maksudnya sangat jelas, ia ingin memancing pengakuan Ling Peng-ji agar melimpahkan semua kesalahan atas diri Nyo Yam.

Semula Peng-ji bicara dengan menunduk, mendadak ia angkat kepala, dengan sikap tegas ia berkata pula,"

"Tidak, dia tidak memaksa diriku, sejak awal hingga akhir ia melamar padaku secara baik dan terang-terangan."

"Bukankah kau bilang tidak menerima lamarannya?"

Thianhing menegas.

"Kuterima atau tidak adalah soal lain, tapi aku tidak bilang dia bersalah karena melamar diriku,"

Jawab Peng-ji.

"Betul,"

Seru Nyo Yam dengan senang.

"Dengan sendirinya aku berhak melamar padamu. Apakah kau terima atau tidak adalah urusan kita berdua, orang lain tidak berhak ikut campur."

Dengan muka masam Ciok Thian-hing bertanya pula.

"Ling Peng-ji, coba katakan sekali lagi, lamaran Nyo Yam padamu sesungguhnya kau terima atau tidak?"

Maklum, keterangan Ling Peng-ji tadi sebenarnya menyatakan "belum menerima"

Dan itu berarti masih ada lanjutannya.

"Aku tidak segera menerima, tapi juga tidak lantas menolak,"

Jawab Peng-ji.

"Apa artinya itu?"

Tanya Thian-hing pula.

"Kusuruh dia jangan menemuiku dalam waktu tujuh tahun,"

Kata Peng-ji.

"Jadi urusan pernikahan baru boleh dibicarakan lagi tujuh tahun kemudian."

Nyo Yam tidak tahan, katanya.

"Ciangbun. bagaimana bila kutambah sedikit keterangan yang benar?"

"Bagaimana Ciok-suheng,"

Tong Kah-goan tanya pendapat Ciok Thian-hing. Karena kesaksian memang harus dikumpulkan dari kedua pihak, terpaksa Ciok Thian-hing menjawab.

"Baiklah, boleh katakan. Namun keteranganmu harus berdasarkan kejadian nyata."

"Ling-cici,"

Kata Nyo Yam kemudian.

"ku-ingat demikianlah ucapanmu, yaitu tujuh tahun kemudian bila aku tetap bertekad memperistrikan-mu, maka engkau akan menerima lamaranku."

Muka Peng-ji tampak merah, katanya.

"Itu kan sama saja seperti perkataanku bahwa persoalan tersebut baru kita bicarakan lagi tujuh tahun kemudian."

"Tidak, tidak sama,"

Seru Nyo Yam.

"Ucapanmu yang pertama itu boleh dikatakan tidak jelas atau samar-samar, sedang ucapan yang lain berarti kamu pasti akan menerima lamaranku, masa kau katakan sama? Ling-cici. ingin kukatakan padamu, kedatanganku ini adalah karena aku ingin membela diri dan juga tidak ingin membikin susah padamu, maka kupulang ke Thian-san untuk menghadapi sidang pemeriksaan ini. Jadi pertemuan kita hari ini tidak berarti aku telah melanggar laranganmu untuk bertemu denganmu."

Mendadak Thian-hing membentak.

"Pengakuan ini sebagian sudah kau katakan tadi. Sekarang tidak perlu diulangi. Berhenti dan tunggu keputusanku."

"Baru saja Ciangbun bilang setelah mendengarkan kesaksian, aku berhak mengemukakan dalilku sendiri. Sekarang engkau menyatakan sudah selesai mendengarkan kesaksian, mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk bicara?"

"Dari mana kau tahu akan kuputuskan kamu bersalah, nanti boleh kau bantah lagi jika keputusan sudah dijatuhkan,"

Kata Thian-hing. Nyo Yam melengak, katanya.

"Aku tidak percaya engkau takkan menyalahkan diriku."

"Hm, tampaknya kaupun menyadari kesalahan sendiri,"

Jengek Thian-hing.

"Ya, memang betul akan kujatuhkan keputusan kamu bersalah. Sekarang biar kukatakan sebagian dulu, kamu dan Ling Peng-ji tidak tahu malu, diam-diam mengikat perjodohan sendiri, kalian berdua sama berdosa."

"Apa dasarnya?"

Teriak Nyo Yam gusar.

"Dasarnya. pertama, kalian bergaul melampaui batas di luar perkawinan sah dan melanggar pantangan berzinah,"

Seru Thian-hing.

"Omong kosong!"

Teriak Nyo Yam kalap.

"Itu kan fitnah Toan Kiam-jing kepada kami, mengapa kau percaya kepada keterangannya dan tidak percaya kepada pengakuan kami?"

Muka Ciok Thian-hing sebentar pucat sebentar merah, bentaknya.

"Sikapmu yang tidak hormat kepada sesepuh perguruan sudah cukup diberi hukuman."

"Engkau bertindak tidak adil, masa aku di salahkan kurang hormat padamu?"

Bantah Nyo Yam Toan-hujin juga tidak tahan, segera berdiri dan berkata.

"Nyo Yam bersikap kasar, dia memang pantas dihukum. Tapi apa hukumannya biar tunggu setelah sidang perkara ini selesai. Sekarang urusan pokok lebih dulu, bukan maksudku membela murid sendiri bahwa kau beri tuduhan padanya berzinah tanpa nikah, kukira tuduhan ini agak berlebihan. Apakah mereka benar berzinah atau tidak jangan dipersoalkan dulu, yang jelas Toan Kiam-jing lebih dulu membius dia, mengapa hal ini tidak kau usut?"

Thian-hong membantah.

"Harap Suso maklum, persoalan ini masing masing pihak sama mempunyai pengakuan sendiri dan sukar diusut sehingga jelas..Tadi Suso dengar sendiri, Toan Kiam-jing menyangkal menggunakan obat bius."

"Hm, ia bilang begitu lantas kau percaya?"

Jengek Tonghujin.

"Menurut persoalannya, kita lebih condong mempercayai keterangan Nyo Yam dan Peng-ji karena pengaruh obat bius, sekalipun mereka berbuat salah juga kesalahan itu tidak dapat ditimpakan atas diri mereka. Mereka hanya orang yang terperangkap saja."

Namun Ciok Thian-hing tetap pada pendirian nya, katanya.

"Aku juga tidak percaya seluruh keterangan Toan Kiam-jing. tapi juga tidak dapat kupercaya kepada keterangan sepihak Nyo Yam saja."

"Kalau keputusan yang pasti belum dapat di putuskan seharusnya jangan sembarangan kau beri kesimpulan,"

Teriak Tong-hujin marah. Ciok Thian-hing sukar membantah lagi, dengan muka merah ia berkata.

"Baik, jika begitu biar kutarik kembali dulu tuduhan berzinah tanpa nikah tuduhan ini pun tidak penting, yang, lebih penting adalah pikiran mereka sendiri apakah melanggar pantangan itu atau tidak. Nyo Yam dan Peng-ji sudah mengakui bahwa antara mereka pernah ada pembicaraan tentang pernikahan, berdasarkan apa yang diakui mereka itu sudah boleh kujatuhkan tuduhan tidak kenal malu dan saling mengikat jodoh secara diam-diam kepada mereka." -ooo0dw0ooo-

Jilid 17

"Sungguh aneh,"

Tukas Nyo Yam.

"Soal perkawinan adalah urusan jamak, jika kami saling mengikat perjodohan, sangkutpaut apa denganmu?"

Ciok Thian-hing tidak menanggapi, ia berseru pula.

"Semua orang tahu hubungan Nyo Yam dan Peng-ji serupa saudara sekandung. Sejak kecil Nyo Yam tinggal di Thian-san, sampai dia meninggalkan perguruan pada usia sebelas, sedikitnya delapan tahun dia tinggal di sini, selama itu Peng-ji yang melayani segala keperluannya, mereka selain saling sebut sebagai taci dan adik, malahan juga serupa seorang ibu terhadap anaknya. Coba, antara taci dan adik mana boleh menikah, apalagi kalau antara ibu dan anak?"

Nyo Yam berteriak.

"Mengapa tidak boleh? Aku dan dia bukan taci dan adik benar. Memang, sejak kecil dia menjaga diriku, selama ini kupandang dia sebagai kakak, namun kami bukan saudara sekandung. Sungguh aku tidak mengerti mengapa kami dianggap tidak tahu malu jika kami ingin menjadi suami-istri? Kami adalah saudara seperguruan, menurut peraturan perguruan juga tidak ada larangan menikah antara sesama saudara seperguruan,"

Pada umumnya orang persilatan memang tidak banyak memperhatikan ajaran dan adat istiadat kolot. Tapi Ciok Thian-hing lantas mendengus.

"Hm, tahun ini kamu berumur berapa dan berapa usia Peng-ji? Apalagi pada waktu kamu masih bayi dia telah mengatur segala keperluanmu. Meski bukan taci dan adik, namun kenyataannya serupa saudara sekandung. Boleh kau tanya semua orang, pernikahan antara taci beradik begini apakah pantas?"

Meski anak murid Thian-san-pai merasa keterangan Nyo Yam itu cukup beralasan, tapi tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa antara Nyo Yam dan Ling Peng-ji akan menikah.

Mereka sudah terbiasa perjodohan antara lelaki perempuan harus setimpal antar keluarga, usia dan wajah.

Maka mereka merasa agak janggal jika Nyo Yam akan memperistri Ling Peng-ji yang lebih tua.

Begitulah karena pertanyaan Ciok Thian-hing ini, seketika ramai orang membicarakannya, tapi tiada seorangpun menanggapi apakah urusan ini pantas atau tidak.

Dengan suara lembut Tong-hujin berkata.

"Nyo Yam, usiamu masih muda belia, urusan perjodohanmu harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Watakmu juga lebih emosional, kutahu kami menaruh simpati terhadap Lingcicimu, juga berterima kasih atas kebaikannya yang telah menjaga dirimu selama ini. Tapi bicara soal kawin, ini ..."

Ucapan Tong-hujin ini kena di lubuk hati Nyo Yam, tapi saat ini anak muda itu diliputi emosi, mana ia dapat tenang dan pikirkan apakah benar persoalannya serupa apa yang dikatakan?

Maka tanpa pikir ia lantas memotong ucapan Tong-hujin.

"Yang jelas aku tidak memperbolehkan Ling-cici dinista oleh siapa pun, aku bertekad akan membelanya. Tapi sama sekali bukan lantaran aku berterima kasih atau kasihan padanya maka kulamar dia. Tidak, bukan begitu halnya. Dia adalah anak perempuan terbaik yang pernah kulihat, kuhormati dia dan mencintainya, aku tidak segan untuk bicara terus terang di depan kalian, dengan setulus hatiku ingin kujadikan Ling-cici sebagai istriku."

Waktu la meayatakan Ling Peng-ji adalah anak perempuan terbaik yang pernah dilihatuya, tiba-tiba teringat olehnya akan Liong Leng-cu, tanpa terasa ia melirik ke tempat gadis itu berdiri tadi, namun tidak terlihat orangnya.

Dalam emosinya ia bicara panjang lebar, habis itu baru teringat akan Liong Leng-cu, ia pikir apakah Leng-cu akan marah padaku karena uraianku ini?

Setelah merandek, lalu ia berkata pula.

"Sekarang usiaku sudah 18 tahun dan tidak kecil lagi. Aku yatim piatu, Suhu juga sudah meninggal, lalu urusan perjodohanku harus kutanyakan kepada siapa? Cuma, masih ada seorang ayah angkatku, untuk urusan ini sudah kulaporkan kepada Gihu (ayah angkat)."

Dengan dingin Ciok Thian-hing lantas berkata.

"Ki-taihiap, Nyo Yam mengaku telah lapor kepadamu, engkau adalah ayah angkatnya, coba katakan, apakah engkau menyetujui pernikahan Nyo Yam dengan Ling Peng-ji?"

Sebetulnya Ki Tiang-hong seorang yang terbuka, tidak memperhatikan adat istiadat kolot, cuma terhadap perkawinan Nyo Yam dan Peng-ji mula mula ia pun tidak segera setuju, namun mengingat perjodohan itu akan lebih baik daripada Nyo Yam beristrikan Liong Leng-cu, maka urusan ini pun tidakbegitu diperhatikan olehnya.

Tapi sekarang, ketika mendengar uraian Nyo Yam yang gagah berani.

lalu terdesak oleh berbagai pertanyaan Ciok Thian-hing, ia ikut mendongkol sehingga berubah sikapnya semula yang tidak menyetujui maksud Nyo Yam itu.

Ia tidak menjawab, sebaliknya balas tanya dengan tersenyum.

"Ciok-tianglo, apakah baik baik istrimu?"

Thian-hing melengak, jawabnya.

"Istriku di rumah dan menjaga anakku, maka tidak hadir dalam sidang ini. Terima kasih atas perhatian Ki-taihiap."

"Kuingat kalian suami-isteri juga saudara seperguruan, di antara sesama saudara seperguruan-mu istrimu seperti murid yang paling kecil?"

Kata Ki Tiang-hong pula.

"Betul."

Kata Thian-hing.

"Tapi sekarang lebih penting membereskan urusan anak angkatmu, urusan lain biarlah dibicarakan nanti saja."

"Tidak, bukan maksudku bicara iseng denganmu,"

Kata Tiang-hong.

"Aku justru ingin tanya padamu, tahun ini istrimu berumur berapa dan berapa tahun selisih umurmu dengan istrimu sendiri?"

"Aku lebih tua 11 tahun daripada dia, ada apa?"

Jawab Thian-hing dengan mendongkol.

"Kabarnya kamu mengangkat guru pada umur 13, waktu itu istrimu baru berusia dua tahun, mungkin waktu kecilnya kaupun bantu menjaga istrimu bukan?"

Tidak kepalang gemas Ciok Thian-hing, ia mendengut.

"Hm, aku tidak ingat lagi, memangnya ada apa?"

"Tidak apa-apa,"

Kata Tiang-hong.

"Cuma ingin kukatakan padamu, tahun ini Nyo Yam berusia 18 dan Peng-ji 27. Jadi Peng-ji lebih tua sembilan tahun daripada Nyo Yam, selisih umur mereka kan tidak lebih banyak daripada selisih umur kalian suami-istri."

"Urusan kami mana boleh disamakan dengan mereka,"

Teriak Thian-hing. Mendadak Ki Tiang-hong berteriak terlebih keras daripada dia, bentaknya dengan ilmu Sai-cu-ho.

"Mengapa tidak dapat disamakan?"

Tergetar anak telinga Ciok Thian-hing, cepat ia mengerahkan lwekang untuk bertahan, dengan demikian ia seperti tidak berani membantah lagi karena wibawa Ki Tianghong itu.

Tiang-hong lantas tergelak, katanya pula.

"Ya, kutahu apa yang hendak kau katakan, maksudmu tidak dapat disamakan tentulah kamu lebih tua daripada istrimu, sebabnya dalam hal Nyo Yam dan Peng-ji lebih tua yang perempuan. Padahal, lelaki atau perempuan kan sama-sama manusia, asalkan mereka sukarela mau menjadi suami-istri kenapa tidak boleh dipersoalkan bersama? Kau-tanya padaku apakah menyetujui perkawinan mereka atau tidak dapat ku jawab sudah lama aku setuju. Cuma dulu hanya kukatakan padanya saja sekarang biar kukatakan di depan umum, aku setuju!"

Seketika Nyo Yam melonjak girang, serunya.

"Gihu, sungguh bagus sekali ucapanmu ini, jauh lebih kuat daripada perkataanku!"

Meski ada sebagian hadirin yang setuju dan sebagian lagi tidak sependapat dengan ucapan Ki Hang-hong itu, tapi baik setuju atau tidak toh ada suatu titik persamaan, yaitu semua orang menganggap "mengikat perjodohan secara diam-diam"

Antara Nyo Yam dan Ling Peng-ji itu tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk menjatuhkan hukuman kepada mereka.

Pendapat ini jelas tertampak dari pembicaraan ramai di antara hadirin itu.

Maka Ki Tiang-hong menyambung lagi.

"Soal Nyo Yam dianggap masih terlalu muda dan mungkin jalan pikirannya belum cukup masak, dalam hal ini syukurlah Peng-ji sudah memberi batas waktu tujuh tahun kepadanya. Sesudah tujuh tahun jika pikiran Nyo Yam tidak berubah, kenapa kita harus merintangi perjodohan mereka?"

Sampai di siui, mau-tak-mau Tong-hujin harus melepaskan juga pendiriannya, katanya sambil mengangguk.

"Ki-taihiap, pandanganmu yang bijaksana membuat pikiranku terbuka juga, tampaknya batas waktu tujuh tahun itu bila perlu boleh juga di-perpendek."

Jika dia ikut setuju, maka yang dikuatirkan justru jangka tujuh tahun itu akan terlampau lama sehingga membikin susah masa muda Ling Peng-ji.

Meski Ciok Thian-hing adalah sesepuh pelaksana hukum juga tidak boleh melawan opini umum, melihat orang yang bersimpati kepada Nyo Yam makin lama makin banyak, mautak-mau ia jadi gugup, pikirnya.

"Wah, jika Nyo Yam tidak dapat dijatuhi hukuman, tentu anak Coan sendiri yang akan menjadi tertuduh."

Pada waktu Nyo Yam sedang berjingkrak kegirangan dan memuji ucapan sang Gihu yang tepat, mendadak Thian-hing mendengus.

"Hm, sayang Ki-taihiap hanyalah Gihumu saja."

Dengan aendirinya ucapan ini menarik perhatian semua orang. Dengan gusar Nyo Yam berseru.

"Memang-nya apa maksudmu, apa yang dikatakan Gihu apakah tidak betul?"

"O, bukan begitu maksudku."

Kata Thian-hing dengan dingin.

"Dengan sendirinya perkataan Gihumu sangat hebat biarpun aku tidak setuju, betapapun harus memuji ucapannya, Cuma sayang, ada perkataanmu sendiri yang salah."

"Apa kesalahan ucapanku?"

Tanya Nyo Yam.

"Tadi kau bilang sejak kecil sudah yatim piatu,"

Ujar Thianhing.

"Memang betul sudah lama ibumu, yaitu In Ci-lo telah meninggal. Tapi ayahmu, Nyo Bok, sampai saat ini masih hidup segar bugar. Lebih sayang lagi, ayah kandungmu ternyata tidak sama dengan ayah angkatmu yang pantas untuk disebut sebagai Taihiap."

Cukup jelas maksud ucapannya, yaitu ia sengaja mengalihkan titik hangus persoalan kepada hubungan antara Nyo Yam dengan ayah kandungnya. Dengan gusar Nyo Yam menjawab.

"Dia bukan aku dan aku bukan dia, sudah lama Ling-cici menjadi saksi bagiku bahwa jalan yang kutempuh sama sekali tidak sama dengan dia."

Sampai di sini, ia menghela napas, lalu menyambung dengan muram.

"Ya, memang betul dia, Nyo Bok, masih hidup, namun dalam pandanganku dia sudah lama mati."

"Namun kenyataannya dia belum lagi mati,"

Kata Thianhing.

"Bahwa Ling Peng-ji mau menjadi istrimu, dengan sendirinya dia juga siap menjadi saksi bagimu. Tapi siapa pula yang percaya bahwa sebabnya kamu mengkhianati perguruan bukan atas kehendak ayah kandungmu sendiri?"

Ia menyangka bila Nyo Bok ditonjolkan hubungannya dengan Nyo Yam, tentu tidak ada orang lain yang berani bicara membela anak muda itu.

Tak terduga, baru selesai ia berkata serentak ada orang tampil ke muka dan berseru.

"Aku percaya padanya."

Ternyata orang ini adalah Kang Siang hun.

"Aku baru datang dari Lodan,"

Kata Kang Siang-hun lantang.

"Beberapa urusan yang kuketahui rasanya boleh kugunakan untuk menjawab tanda tanya Ciok-tianglo itu. Entah Ciok-tianglo memperbolehkan kubicara atau tidak?"

Tentu saja Ciok Thian-hing merasakan gelagat tidak enak, namun Kang Siang-hun tampil untuk menjadi saksi dalam perkara pokok ini, bahkan tegas-tegas menyatakan ingin memberi jawaban atas kesangsiannya, betapapun tidak layak ia tolak maksud orang, terpaksa ia menjawab.

"Boleh, silakan bicara."

Segera Kang Siang-hun berkata.

"Waktu di Lodan aku bertemu dengan Koai-hoat Thio dan Ce Se-kiat yang baru datang dari Cadam, mereka bercerita beberapa urusan yang dilakukan Nyo Yam di Poting dan Pakkhia."

Ia lantas bercerita tentang cara bagaimana Nyo Yam membela Kai Hong dan Pui Liang dan tidak segan bermusuhan dengan ayah kandung sendiri.

Kemudian cara bagaimana Nyo Yam membantu pihak Kai-pang mengangkut satu partai obatobatan bagi laskar perjuangan.

Beberapa kejadian itu sudah pernah diceritakan oleh Liong Leng-cu, sekarang Kang Siau hun memberi kesaksian tambahan, tentu saja bobotnya sangat berbeda.

Apalagi cerita kedua orang memang cocok satu sama lain, hal ini lebih membuktikan apa yang mereka ceritakan memang kejadian nyata.

Selaku Ciangbunjin, lebih dulu Tong Kah-goan mengangguk dan berkata.

"Jika demikian, Nyo Yam dan ayah kandungnya memang tidak menempuh jalan yang sama."

"Setelah Ce Se-kiat dan Koai-hoat Thio ikut mengawal obatobatan ke Cadam, segera mereka menyusul ke-Lodan untuk mencari kabar Nyo Yam,"

Tutur Kang Siang-hun pula.

"Dan sekarang Ce Se-kiat masih berada di Lodan untuk membantu Lohai melawan serbuan pasukan Bonjing, sedang Koai-hoat Thio berangkat bersamaku kemari untuk menjadi saksi bagi Nyo Yam. Ia berlari lebih cepat daripadaku, sekarang dia tidak berada di sini, tentu di tengah jalan ia telah bertemu dengan Nyo Yam. Betul tidak?"

Karena pertanyaannya ini, secara tidak langsung ia telah mengalihkan pokok persoalan kepada urusan "surat pengakuan dosa"

Yang ditulis Ciok Jing-coan.

"Betul,"

Jawab Nyo Yam cepat.

"Surat pengakuan itu justru hasil curian Koai-Hoat Thio dan diserahkan padaku. Semula surat pengakuan ini jatuh di tangan komplotan Toan Kiamjing."

"Tidak, sama sekali aku tidak tahu surat pengakuan apa segala, terlebih tidak tahu siapa yang memegang surat itu,"

Tukas Toan Kiam-jing.

"Ya, urusan surat pengakuan dosa memang tidak ada hubungan dengan Toan Kiam jing,"

Kata Tong Kah-goan.

-"Tapi cukup asalkan surat pengakuan ini tidak palsu, sementara ini tidak perlu diusut soal hilang lalu diketemukan lagi.

Yang penting sekarang, Ciok-suheng, jika tidak ada keterangan lain lagi, kukira boleh kau putuskan dulu perkara Nyo Yam apakah benar berkhianat dan durhaka terhadap perguruan."

Ucapannya cukup jelas maksudnya, jika keterangan Kang Siang-hun tadi diterima kebenarannya, itu berarti Nyo Yam berkomplot dengan ayahnya dan intrik lain sama sekali tak dapat dibuktikan.

Scdangkan tuduhan "menganiaya sesama saudara seperguruan"

Juga akibat pikiran jahat Ciok Jing-coan terhadap Ling Peng-ji, bahkan lantaran Jing-coan lebih dulu hendak membunuh Nyo Yam. Air muka Ciok Thian-hing tampak masam, seketika ia tidak dapat bersuara.

"Betul,"

Kata Tong Kah-goan pula.

"Kang-heng jelas tertulis dalam surat pengakuan itu sebagai pengawas, sesungguhnya bagaimana duduknya perkara, rasanya perlu kuminta keteranganmu."

"Begini,"

Tutur Kang Siang-hun.

"Pada tanggal 16 bulan delapan tempo hari, di pegunungan dekat Jilim terjadi murid perguruanmu Ciok Jing-coan bermaksud berbuat tidak senonoh terhadap nona Liong Leng-cu, kebetulan waktu itu kulewat di sana dan memergoki kejadian itu, akulah yang menghentikan perbuatannya yang kotor itu dan membantu nona Liong melukai dia, Ketika itu sebenarnya nona Liong ingin membunuhnya untuk melampiaskan dendam, mengingat hubungan baik kalian denganku, kubujuk dan cegah tindakan keras nona Liong itu, atas persetujuannya juga Ciok Jing-coan diperbolehkan mengakui dosanya dan berjanji takkan berbuat lagi, untuk itulah aku menjadi saksi pengawasnya, surat pengakuan dosa itu pun aku yang membuat konsepnya. Tindakanku yang lancang menghukum anak murid kalian, mohon Tong-ciangbun dan Ciok-tianglo suka memberi maaf padaku."

Muka Ciok Thian-hing tampak pucat dan termenung serupa patung, mana ia sanggup bicara lagi.

"Ah, Kang-taihiap sudi mewakili diriku menghukum murid yang menyeleweng, aku justru sangat berterima kasih,"

Kata Tong Kah-goan sambil memberi hormat kepada Kang Sianghun, lalu menyambung.

"Cuma, pelanggaran yang diperbuat Ciok Jing-coan teramat gawat dan tidak boleh di-selesaikan hanya dengan sepucuk surat pengakuan dosa saja. Untuk itu perguruan kami akan mengadakan keputusan tersendiri."

Sembari bicara pandangannya tertuju Ciok Thian-hing.

Maklumlah, kedudukan Ciok Thian-hing adalah sesepuh pelaksana hukum, bagaimana akan memberi penyelesaian tentu dia yang harus menjelaskannya.

Thiau-hing kelihatan lesu serupa orang yang habis sakit berat, katanya.

"Ai, perkara ini, kalau benar Jing-coan .."

Makin lirih suaranya sehingga hampir tak terdengar.

"Akulah yang membuat konsep surat pengakuan dosa putramu itu,"

Kata Kang Siang-hun dengan dingin.

"apakah perlu kubacakan kembali isinya untuk membuktikan kebenaran keteranganku?"

"Tidak, tidak perlu,"

Ujar Thian-hing sambil menyengir.

"Jika begitu, bila masih ada yang meragukan dirimu boleh kau tanya saja padaku,"

Kata Siang-hun. Thian-hing tidak dapat bicara lagi melainkan cuma menggeleng kepala.

"Ciok-suheng,"

Kata Tong Kah-goan.

"jika engkau tidak ragu lagi, hendaknya engkau suka memutuskan perkara ini secara adil."

"Apa ..apa yang dapat kukatakan lagi, apa yang dapat kukatakan lagi?"

Gumam Ciok Thian-hing.

Nyata pikirannya menjadi kacau, seperti lupa akan kewajibannya selaku sesepuh pelaksana hukum.

Sebenarnya kalau dia ingin menghindari prasangka orang, seharusnya ia mengundurkan diri dari kedudukannya itu, namun dia justru tidak mau berbuat demikian.

Melihat sikap Ciok Thian-hing yang tidak pantas itu, terpaksa Tong Kah-goan berkata lagi.

"Ciok-suheng, orang yang bersangkutan dengan perkara ini selain anak murid perguruan kita sendiri juga masih ada seorang nona Liong, dia orang luar dan teraniaya tanpa dosa, kedatangannya sebenarnya hendak mengadukan perkara ini, tapi kita salah sangka dia sebagai orang yang berdosa, maka pertama-tama kukira kita harus minta maaf padanya. Bagaimana pendapatmu, Ciok-suheng?"

Belum lagi Thian-hing menjawab, mendadak Nyo Yam berseru heran.

"Hei, Leng-cu, Leng-cu! mana perginya Lengcu?!"

Tadi waktu berdebat, karena ketegangannya, ia tidak memperhatikan nona itu, baru sekarang diketahuinya Leng-cu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Tidak cuma dia saja, perhatian semua orang juga terpusat pada Nyo Yam dan Ling Peng-ji, siapa pun tidak tahu bilakah Liong Leng-cu pergi.

segera Nyo Yam berteriak pula.

"Leng-cu. kita sudah menangkan perkara ini, Leng-cu, lekas kembali!"

Namun Liong Leng-cu sudah pergi sejak tadi, mana Nyo Yam bisa mendapatkan jawabannya. segera Ki Tiang-hong menarik anak muda itu, katanya.

"Anak Yam. jangan emosi. Meski perkaramu sudah jelas, namun belum selesai. Bila perkara sudah diputus tentu kami akan membantu-mu menemukan nona Liong."

Waktu Nyo Yam memandang ke sana, dilihat air mata Pengji berlinang, entah menangis karena mendadak menghilangnya Liong Leng-cu atau karena sikap Nyo Yam yang luar biasa itu dan membuatnya berduka.

Ia coba mendekati nona itu, katanya lirih.

"Ling-cici, bagi kita sekarang boleh dikatakan habis pahit datanglah manis. Hendaknya engkau jangan terduka, akan kudampingimu di sini."

Mendadak Tong Kuh-goan berdehem, lalu berkata.

"Kuanggap Nyo Yam boleh kembali ke dalam perguruan kita. cuma caranya menganiaya saudara seperguruan memang agak kelewatan, maka tetap harus diberi hukuman, yaitu dihukum bersamadi di ruang tersendiri selama tiga bulan. Tapi ada sesuatu urusan mungkin perlu kusuruh dia mengerjakannya, maka bila hukuman itu harus dilaksanakan boleh diputuskan kelak. Nah. bagaimana pendapatmu hukuman bagi Nyo Yam menurut gagasanku itu?"

Karena melihat Ciok Thian-hing berdiri diam saja, terpaksa ia mendahului memberi keputusan dalam kedudukan selaku Ciangbunjin. Namun Ciok Thian-hing serupa orang linglung dan tetap berucap.

"Apa yang dapat kukatakan pula?"

Menurut peraturan, jika ia tidak menyatakan anti, itu berarti menyetujui keputusan sang ketua. Dengan wajah kereng Tong Kah-goan lantas berseru.

"Bagaimana Ciok Jing-coan harus dituntut, dia kan putramu, tidak enak bagiku untuk ikut bicara, hendaknya kau nyatakan dulu pendirianmu agar diputuskan orang banyak."

Sikap Tong Kah-goan ini jelas memaksa Thian-hing harus menjelaskan sikapnya. Wibawa Ciok Thian-hing sama sekali runtuh, dengan muka pucat ia berkata lemah.

"Tak tersangka olehku anak ini dapat berbuat demikian, aku cuma mohon Ciangbunjin mengampuni kematiannya."

Dengan kening bekernyit Kah-goan berkata.

"Aku tidak menyatakan hendak menghukum mati dia, cara bagaimana dia harus dihukum kan kewajibanmu untuk memutuskannya."

Watak Pek Kian-sing keras dan jujur, meski mereasa kasihan pada Ciok Thian-hing, namun ia tetap tidak tahan, segera ia ikut bicara.

"Ciok-suheng, bagaimana engkau ini? engkau bersikap seakan-akan tertuduh malah? Yang harus minta ampun adalah tertuduh dan bukan dirimu selaku Cit-hoat-tianglo."

Ciok Thian-hing melenggong, mendadak ia memukuli dada sendiri sambil berteriak.

"Jangan kalian mendesak padaku, jangan mendesak diriku!"

Pada saat itulah tiba-tiba seorang berlari masuk sambil berteriak.

"Wah, celaka, celaka, Suhu!"

Orang yang lari masuk dengan menggeh-menggah ini bakan lain daripada murid tertua Ciok Thian-hing sendiri, yaitu Liok Kam-tong.

Dengan alasan mencari Ciok Jing-coan tadi Liok Kam-tong meninggalkan sidang.

Keruan Thian-hing terkejut, cepat ia tanya dengan suara gemetar.

"Ada apa?"

"Ciok ... Ciok-suheng bunuh diri dengan terjun ke jurang!"

Seru Liok Kam-tong.

"Hahh, apa katamu Sia ..siapa bunuh diri?!"

Teriak Ciok Thian-hing, sungguh ia tidak percaya kepada telinga sendiri.

"Maksudku Jing-coan Suheng,"

Jawab Liok Kam-tong dengan suara gemetar.

"Tecu tidak becus dan tidak keburu menolongnya."

"Kau lihat sendiri dia terjun ke jurang?"

Tanya Tong Kahgoan.

"Betul,"

Tutur Kam-tong.

"Tecu diperintahkan memanggilnya tadi. kutemukan jejaknya di belakang gunung dan memanggilnya. Tapi dia tidak terima perintah, sebaliknya berlari ke tepi jurang terus terjun begitu saja. Karena Tecu harus cepat lapor kemari sehingga tidak sempat mencari jenazahnya. Inilah bukti sepotong bajunya yang robek tercantol batu karang di tepi jurang, silakan Suhu dan Ciangbun memeriksanya."

Jurang di belakang gunung itu sangat curam.

betapa dalamnya sukar diukur, jika benar Ciok Jing-coan terjun begitu saja, tidak perlu disangsikan lagi pasti akan mati.

Mendadak Ciok Thian-hing berieriak, Liok Kam-tong yang sedang menyodorkan robekan baju itu di depaknya hingga terjungkal, ratapnya.

"Anak Coan, tunggu, anak Coan, biar kupergi bersamamu!"

"Tenanglah Ciok-suheng,"

Seru Kah-goan.

"Engkan adalah Cit-hoat-tianglo"

"Tidak, aku tidak menjadi Cit-hoat-tianglo lagi, aku cuma menghendaki putraku."

Nyo Yam berdiri di depannya dan juga terdorong mundur olehnya. Dengan benci ia pelototi Nyo Yam sekejap sambil memaki.

"Kalian telah membikin celaka anak Coan, terlebih kamu bangsat cilik ini. Jika dia mati, pasti takkan kuampuni jiwamu!"

Sebenarnya kungfu Nyo Yam sudah di atas Ciok Thian-hing, tapi demi melihat keadaannya yang serupa orang gila itu, ia rada kasihan padanya, sebab itulah ia tidak melawan dan membiarkan orang mendorongnya.

Setelah mendorong minggir Nyo Yam, segera Ciok Thianhing berlari ke belakang gunung.

Betapa kerengnya dia selaku Cit-hoat-tianglo, sekarang mendadak berubah serupa orang gila, keruan semua orang sama melongo dan juga tidah ada yang berani mencegahnya.

"Ting-sute, sementara ini boleh kau jabat Cit-hoat-tianglo,"

Kata Kah-goan.

"Meski perkara Nyo Yam sudah selesai diperiksa, tapi masih ada perkara sampingannya, boleh kau teruskan pemeriksaan ini."

Dengan ucapan Tong Kah-goan ini, semua orang tahu yang dimaksudkan "perkara sampingan"

Jelas adalah tuduhan Ling Peng ji terhadap Toan Kiam-jing itu.

Dahulu Ting Tiau-min pernah diperintahkan Tong Kengthian ke daerah Siukiang untuk menyelidiki perbuatan jahat Toan Kiam-jing.

Wataknya juga membenci pada perbuatan jahat, segera ia membentak.

"Toan Kiam-jing, jika kamu tahu dosamu, lekas berlutut dan mendengarkan tuduhan!"

"Hahahaha!"

Toan Kiam-jing terbahak-bahak.

"Sudah lama aku bukan lagi murid Thian-san-pai. siapa yang mau terima pemeriksaanmu. Maaf, sampai bertemu lagi!"

Dengan gusar Ting Tiau-min membentak.

"Tangkap dia!"

Tapi pada saat yang sama Toan Kiam-jing juga sudah beraksi. di tengah gelak tertawanya sebelah tangannya terangkat.

"blang", sebuah granat berasap tebal dan mengandung jarum meledak dan bertebaran. Anak murid Thian-san-pai yang berdiri di sekitarnya banyak yang terluka karena tidak sempat menghindar, hanya sekejap saja asap tebal memenuhi ruangan. gerakan kedua pihak hampir terjadi pada saat yang sama, dalam pada itu, dengan cepat luar biasa Nyo Yam terus menerjang ke tengah kabut tebal dan mencengkeram. Yang digunakan adalah ilmu Liong-jiau jiu cakar naga ajaran kakek Liong Leng-cu. Rupanya Toan Kiam jing sudah mengatur jalan lolos, harus dilakukan pada saat keadaan kacau di tengah kabut tebal. maka pada saat kabut belum buyar ia berlagak terhuyung oleh cengkeraman Nyo Yam dari jauh itu, mendadak ia menghantam ke belakang sambil membentak.

"Nyo Yam, biar kuadu jiwa denganmu!"

Nyo Yam kenal kelihayan Liong-siang-kang orang yang sudah mencapai tingkatan kedelapan, terpaksa ia ganti mencengkeram jadi menghantam dari jauh, segera telapak tangan membelah ke depan.

Pukulan kedua orang beradu, berbareng Toan Kiam-jing meloncat ke atas.

"Lari ke mana?!"

Bentak Nyo Yam.

Sekonyong-konyong dirasakan telapak tangan sendiri kaku gatal, menyusul tangan yang menghantam ke depan itu terasa lemah tak bertenaga lagi.

serentak Ki Tiang-hong juga melompat maju, kedua lengan baju berputar sehingga asap tebal di depan terkebas buyar, sekali lompat lagi segera Toan Kiam-jing tersusul olehnya.

Ia tahu Toan Kiam-jing banyak tipu akal licik, juga mahir menggunakan racun, untuk menghindari dikibuli lawan, ia tidak mau beradu tangan dengan dia, dengan lengan baju yang longgar menyelubungi tangannya, ia gunakan serupa ruyung lemas untuk menyabat Toan Kiam-jing.

"Jiwa anak angkatmu tidak kau pikirkan lagi?"

Bentak Toan Kiam-jing.

Ia tahu kepandaian Ki Tiang-hong jauh di atas Nyo Yam, mungkin Liong-siang-kang sendiri tidak sauggup menahan kebutan lengan bajunya.

Di tengah bentakannya segera ia lolos pedang dan sekuatnya menabas kebelakang.

Mendadak terdengar suara "trang", pedang Toan Kiam-jing terlepas dan mencelat ke udara, batang pedang pun tampak berubah bengkok.

Untung Toan Kiam-jing tidak mengadu tangan dengan lawan, namun tergetar sakit juga.

Segera ia melompat ke sana dan membaurkan diri di tengah orang banyak.

dengan cepat ia pukul rohoh beberapa murid Thian-san-pai, menyusul dua granat berkabut dan berjarum diledakkan lagi.

Lengan baju Ki Tiang-hong juga terobek sedikit oleh pedang Toan Kiam-jing sehingga ilmu lengan baju sakti tak dapat digunakan lagi.

Ia tidak gentar terhadap kabut beracun itu, mestiya ia hendak mengejar, tapi setelah dipikir lagi, teringat olehnya gertakan Toan Kiam-jing tadi, segera ia menoleh.

Dan sekali pandang terbuktilah ucapan Toan Kiam-jing itu bukan cuma gertakan belaka, sebab Nyo Yam yang mengikut di belakangnya tampak sempoyongan dan hampir roboh.

Sebagai seorang ahli silat segera Ki Tiang-hong tahu anak muda itu keracunan dan sedang mengerahkan tenaga dalam sekuatnya sehingga tidak sampai jatuh seketika.

Kiranya pada telapak tangan Toan Kiam-jing tersembunyi jarum berbisa yang lembut serupa bulu, waktu beradu tangan dengan Nyo Yam tadi jarum berbisa telah menusuk tepat di telapak tangan anak muda itu.

Karena lebih penting menolong anak angkatnya, terpaksa Ki Tiang-hong melepaskan Toan Kiam-jing dan putar balik untuk menolong Nyo Yam.

Dengan bantuan tenaga dalam Ki Tiang-hong begera Nyo Yam dapat mendesak keluar jarum lembut berbisa itu dari telapak tangannya, katanya.

"Aku tidak beralangan, Gihu, lekas tangkap bangsat she Toan itu."

Tiang-hong merasa lega, katanya.

"Anak Yam, tak terduga lwekangmu sudah maju sejauh ini, namun ...."

Mnklumlah, meski berkat bantuannya Nyo Yam dapat menahan menjalarnya racun.

tapi belum dapat mengusir seluruh racun dari dalam tubuh, dengan sendirinya Ki Tianghong tidak berani segera meninggalkan dia.

"Anak masih sanggup tahan,"

Cepat Nyo Yam berkata pula.

"Jika Gihu tidak lekas mengejarnya sebentar bangsat itu akan kabur."

Sementara itu kabut berbisa sudah buyar, dalam keadaan kacau Toan Kiam-jing sudah kabur sehingga sekarang memang betul tidak terlihat lagi bayangannya.

Ada belasan anak murid Thian-snn-pai yang pingsan keracunan, yang terluka oleh jarum berbisa juga ada tujuh delapan orang.

Tidak sedikit pula tetamu yang terkena getahnya.

Tong Kah-goan berkata dengan gusar.

"Pek-sute dan Busute, boleh kalian ikut aku mengejar murid khianat itu. Tingsute boleh tinggal untuk menolong para tamu."

Sembari bicara ia puu menyerahknn sebotol kecil Pik-lengtan, pil yang terbuat dari teratai salju Thian-san kepada Ting Tiau-min.

Pik-leng-tan adalah obat mujarab anti racun, setiap tokoh Thian-san-pai tentu selalu membawn obat luka ini, Tong Kahgoan kuatir tidak cukup, maka ia beri sebotol yang dibawanya.

Begitu menerima obat itu, lebih dulu Ting Tiau-min menjejalkan satu biji Pik-leng tan ke mulut Nyo Yam Dengan sendirinya Ki Tiang-hong tahu kemanjuran Pik-Leng-tan, ia pikir meski obat ini tidak tepat untuk menyembuhkan luka terkena jarum berbisa, tapi dengan lwekang anak Yam, ditambah minum Pik-leng-tan, dalam waktu 12 jam dapat terjamin racun dalam tubuhnya takkan meluas.

Dan jika enak Yam mau duduk tenang dan mengerahkan tenaga dalam, tidak lama racun tentu dapat didesaknya keluar sebagai keringat.

Maka ia berkata.

"Tong-ciangbun, silakan engkau tinggal saja di sini untuk mengatasi kemelut ini. Bangsat itu adalah musuh anak angkatku, akulah yang wajib menangkapnya, untuk itulah kuminta aku diperbolehkan mewakili dirimu."

Hendaknya diketahui bahwa pertemuan Thian-san ini meski titik beratkan urusan pembersihan perguruan, namun resminya para tamu diundang hadir menyaksikan upacara penobatan Tong Kah-goan sebagai ketua, banyak tetamu yang datang dari jauh bertujuan mengikuti upacara ini.

jadi seyogianya Tong Kah-goan mesti mendampingi para tamu sebelum pertemuan ini usai.

Sebelum Tong Kah-goan menanggapi saran Ki Tiang-hong, tiba-tiba terdengar bunyi genta berdentang dari atas gunung.

Pek Ki-sing berteriak kaget.

"Wah, celaka, seperti tanda kebakaran di Thian it-kok!"

Sejak didirikan, sampai sekarang Thian-san-pai sudah bersejarah lebih 200 tahun, makin lama anak muridnya makin banyak, mereka tinggal berkumpul di puncak selatan Thiansan, bangunan yang paling tinggi adalah Thian-it-kok yang dihuni sesepuh paling diagungkan sekarang, yaitu Ciong Tian.

Karena Ciong Tian sendiri sedang menyepi maka ia tidak hadir dalam pertemuan ini.

Di bawah puncak tempat Thian-itkok adalah daerah penting Thian-san-pai, di antara tiga ratusan anak murid Thian-san, kira-kira 50-an orang berjaga di situ.

Bahwa mendadak timbul kejadian luar biasa jangankan anak murid Thian-san sama terkejut, sekalipun Tong Kah-goan selaku ketua juga sukar mempertahankan ketenangannya lagi.

Maklumlah, Thian-it-kok terletak di puncak teratas dan merupakan bangunan yang paling tinggi, jika Thian-ik-kok saja terbakar, maka tempat kediaman sang ketua yang terletak di bawahnya serta beberapa kompleks tempat tinggal anak murid mungkin juga sudah menjadi lautan api.

Di antara lebih 300 murid Thian-san-pai sebagian besar ikut hadir dalam pertemuan besar ini, namun masih 50-60 orang murid yang bertugas jaga di atas.

Di antara sekian puluh orang juga banyak jago kelas tinggi, mengapa mereka tidak mampu menahan serbuan musuh sehingga perlu membunyikan tanda bahaya untuk minta bantuan, memangnya dari mana munculnya musuh selihai ini?

Yang harus dipikirkan adalah genta besar itu tergantung di atas Thian-it-kok, kalau tidak terjadi perkara luar biasa tidak nanti dibunyikan.

Selama Thian-san-pai berdiri genta itu cuma pernah dibunyikan satu kali, yaitu kejadian belasan tahun yang lalu ketika jago Thian-tok mencari perkara, berbareng itu jago pengawal istana Boanjing juga mengambil kesempatan itu menyerbu kemari bersama begundalnya.

Setelah peristiwa itu, sudah lama Thian-san-pai bersahabat dengan paderi Thian-tiok yang pernah mencari perkara itu, anak murid Thian-san-pai juga mengira peristiwa serupa pasti takkan terjadi lagi.

Karena perasaan aman itulah, demi menghormati sesepuh yang seangkatan dengan ayahnya, yaitu Cong Tian, maka Tong Kah-goan minta orang tua itu tinggal di Thian-it-kok agar dapat menyepi dan meyakinkan ilmu lebih tinggi.

Thian-it-kok terletak di puncak Thian-san yang tertinggi dan terpisah dari tempat tinggal anak murid, bila tidak mendapat perintah tiada anak murd yang boleh naik ke Thian-it-kok.

Pada waktu Ciong Tian menyepi hanya dua murid angkatan ketiga yang tinggal di situ untuk melayani dia.

Dalam keadaan begitu, lalu siapakah yang membunyikan genta sebagai tanda bahaya itu, hal inilah yang mengejutkan Tong Kah-goan.

Sebab kalau Ciong Tian yang membunyikan genta, itu menandakan orang tua itu sudah terkepung musuh dan sukar lolos keluar karena merasa tidak sanggup menahan serbuan lawan yang lebih tangguh.

Mendingan begitu, sebab kalau Ciong Tian tidak membunyikan genta, urusannya tentu akan lebih gawat.

Maklum, Ciong Tian sedang menyepi, bersemadi, dan meyakinkan ilmu, pada saat begitu keadaannya boleh dikatakan tidak mau lihat dan tidak mendengar, bila mengalami gangguan luar bisa jadi akan "Cau-hwe-jip-mo", yaitu sesat latih dan mengalami kelumpuhan.

Sebab itulah bila yang membunyikan genta itu kedua murid penjaga, maka keselamatan Ciong Tian harus dikuatirkan.

Selagi Tong Kah-goan hendak minta maaf kepada para tamu dan memburu ke sana untuk menghadapi musuh, belum lagi ia bicara, dua orang tamu yang berkedudukan paling tinggi, yaitu Bu-gi Taisu dari Siau-lim-pai dan Tan-ciu-sing, ketua Kong-tong-pai, serentak berseru.

"Tuan rumah ada perkara, sebagai tamu tidak pantas kami berpeluk tangan. Tong-ciangbun, hendaknya jangan sungkan, biarkan kami membantu sekadarnya."

Jika tetamu berpikir sama dengan tuan rumah, dengan sendirinya Tong Kah-goan tidak perlu banyak bicara lagi.

"Dan aku bagaimana, Gihu?"

Tanya Nyo Yam. Ki Tong-hong tahu maksud anak muda itu. yaitu serba susah untuk memilih di antara dua urusan. Setelah berpikir sejenak Tiang-hong menjawab.

"Anak Yam, atas persetujuan Ciangbun kamu sudah diterima kembali sebagai murid Thian-san. Sekarang perguruanmu sedang menghadapi serbuan musuh kuat, dengan sendirinya kamu harus berjuang bagi perguruanmu. Bagaimana apakah kamu dapat bergerak?"

"Rasanya ginkangku tidak banyak terganggu dan masih sanggup lari,"

Jawab Nyo Yam.

"Baik jika begitu, ayolah kita ikut Tong-ciangbun ke atas, betapa banyak kamu dapat berbuat boleh kerjakan sebisanya, yang penting harus senasib dan setanggungan bersama para saudara seperguruan menghadapi persoalan apa pun,"

Pesan Tiang hong.

"Apakah Gihu juga akan ikut ke atas?"

Tanya Nyo Yam.

"Dan bagaimana dengan si bangsat cilik Toan Kiam-jing itu, apakah dilepaskan begitu saja?"

"Urusan ada yang penting dan ada yang ringan, meski jahat bangsat cilik itu, lebih penting menghadapi serbuan musuh dulu,"

Ujar Tiang-hong.

"Aku dan Thian-san-pai serupa orang sebeluarga, dengan sendirinya aku tidak dapat tinggal diam."

Habis berkata ia gandeng tangan Nyo Yam dan diajak berlari ke atas gunung.

Padahal bukan Ki Tiang-hong tidak mau mengejar dan menangkap Toan Kiam-jing, soalnya ia menguatirkan kesehatan Nyo Yam.

Racun dalam tubuh Nyo Yam belum punah seluruhnya, meski dapat diatasi Pik-leng-tan, betapapun kungfunya tidak dapat pulih dengan segera.

Dalam keadaan begini, jangankan menghadapi lawan selihai Toan Kiam-jing, meski jago kelas dua-tiga dunia kangouw saja sukar menang baginya.

Padahal musuh yang menyerbu Thian-san-pai ini jelas mampu menyusup ke daerah terlarang seperti Thian-it-kok dan membakarnya serta membuat Ciong Tian terpaksa harus membunyikan genta untuk minta bala bantuan, maka di antara musuh yang datang ini mungkin tidak cuma satu saja yang kungfunya lebih hebat daripada Toan Kiam-jing.

Karena itulah Ki Tiang-hong tidak dapat meninggalkan Nyo Yam.

Sehaliknya jika anak muda itu disuruh ikut mengejar Toan Kiam-jing.

karena belum kuat mengerahkan ginkang sepenuhnya, bisa jadi beban baginya malah dan pasti juga tidak mampu menyusul Toan Kiam-jing.

Begitulah ia gandeng tangan Nyo Yam menyusul rombongan orang banyak, untuk menyusul Tong Kah-goan yang barada paling depan tentu juga sukar.

Tong Kah-goan bersama Ting Tiau-min, Pek Kian-sing, Kam Bu-wi beserta Bu-gi Taisu dan Tan-ciu-sing berlari paling depan.

hanya sebentar saja mereka sudah tiba di Thian-it-kok yang merupakan tempat kediaman para ketua masa lampau.

Terlihat ruang Hwe-beng-tong, Bwe-hong-tong Lan-cu-wan, semuanya sudah terjilat api, cuma tidak begitu gawat sebagaimana dibayangkannya.

Meski api tampak berkobar belasan tempat, namun tidak terlalu gawat.

Thian-it kok terbakar bagian atas dan api sedang menjalar ke bawah, namun belum meluas, hanya di antara asap yang tersiar tercium semacam bau yang istimewa.

Sebenarnya baunya tidak terlalu busuk.

cuma setelah tercium rasanya membuat orang seakan-akan terbang Anak murid Thian-san yang lwekangnya agak kuat masih tahan, yang lwekangnya rendah, begitu mengedus bau asap itu seketika kepala pusing dan hendak roboh.

Begitu mencium bau asap itu, seketika Nyo Yam kaget dan gusar, teriaknya.

"Ini bau Sin-sian-wan, yang mengacau ini pasti kawanan siluman dari Pek-toh-san!"

Di antara tetamu ada yang tahu asal-usul orang Pek-tohsan dan tahu kawanan siluman itu mahir menggunakan racun, tentu saja mereka terkejut dan cepat menyuruh kawan yang terada di depan lekas menyingkir.

Namun di tengah kekacauan sudah ada beberapa orang roboh pingsan.

Untung Nyo Yam masih membawa belasan biji obat penawar Sin-sian-wan, segera ia keluarkan obat itu dan diberikan kepada Ting Tiau-min dan dibagi-bagikan untuk menolong kawan yang keracunan paling parah.

Tong Kah-goan dan beberapa tokoh kelas tinggi tidak gentar terhadap asap beracun itu dan masih terus maju ke atas.

Kah-goan memberi perintah agar anak murid sama mundur untuk menghindari arah angin yang membawa asap berbisa itu.

Nyo Yam lebih kenal cara bekerja Sin-sian-wan yang dapat membius orang hingga kehilangan kesadaran, namun bukan racun yang mematikan.

Bau itu cuma terisap saja sehingga tambah ringan kadar racunnya.

Di puncak Thian-san banyak juga terdapat sungai es yang melingkar di sebeliling lereng gunung.

Teringat oleh Nyo Yam Peng-pok-sin-tan juga dapat membuyarkan hawa berbisa Sin-Man-wan, cepat ia memberi petunjuk kepada saudara seperguruan agar mereka mundur dalam jarak tertentu ke tepi sungai, gunakan air sungai untuk mencuci muka atau dibasahi dengan es, tentu akan mengurangi kadar racun dan memulihkan kejernihan pikiran.

"Gihu,"

Kata Nyo Yam.

"aku tidak takut racun Sin-sian-wan, cuma sayang saat ini aku cuma dapat menyelamatkan diri sendiri dan tidak mampu menghadapi musuh. Tidak perlu Gihu menjaga diriku, silakan maju membantu Tong ciang-bun."

Ki Tiang-hong kenal kelihaian Pek-toh-sancu Ubun Pok, ia pun kuatir Tong Kah-goan bukan tandingan iblis tua itu, maka cepat ia menyusul ke depan sesuai aujuran Nyo Yam.

Rombongan Tong Kah-goan sementara itu sudah sampai di bawah Thian-it-kok sehingga keadaan di atas bangunan bertingkat itu terlihat dengan jelas.

Thian-it-kok itu berdiri di puncak tertinggi dan curam, untuk naik ke atas harus melalui sebuah jalan panjang beranak tangga 30-an, jalan tembus ini sempit, hanya cukup dilalui satu orang saja.

Saat itu di ujung undak undakan teratas sana ada dua orang sedang bertempur sengit.

Yang berdiri di bagian atas adalah seorang kakek dengan alis jenggot putih seluruhnya, sedang orang di bawah adalah seorang lelaki kekar berusia 50-an, perawakan lelaki ini sedikitnya satu kepala lebih tinggi daripada si kakek, sebab itulah meski ia berdiri di undakan bawah tampaknya tidak lebih pendek daripada lawan.

Serangan lelaki kekar itu sangat gencar, namun si kakek bertahan begitu kukuh di bagian atas, selangkah pun lelaki itu tidak mampu mendesak maju.

Kakek itu bukan lain daripada Ciong Tian, sesepuh Thiansan-pai yang paling tua sekarang.

Tidak meleset juga dugaan Ki Tiang-hong, lelaki kekar itu memang betul Pek-toh-sancu Uoun Pok adanya.

Ikut di belakang Ubun Pok masih ada 20 an orang, cuma lantaran Ciong Tian bertahan di ujung undsk undakan dan sedang menempur Ubun Pok dengan sengit, sedangkan jalan undak undakan itu cuma cukup dilalui satu orang saja, maka pengiring Ubun Pok itu sama tertahan di bagian bawah dan tidak dapat berbuat lain.

Di antara orang Pek-toh-san itu ada tiga orang dikenal Nyo Yam, yang seorang adalah Bu Ek, wakil komandan pasukan Boanjing yang menyerang wilayah Sinkiang, dua orang lagi adalah murid Ubun Pok, yaitu Sukong Ciau dan Buyung Sui.

Anak murid Thian-san-pai yang jaga Thian-it-kok ada 50-60 orang sehingga jumlahnya hampir dua kali lipat daripada pihak Pek-toh-san.

Cuma diantara sskian puluh murid Thian-san-pai sudah sebagian besar roboh pingsan oleh asap berbisa, yang tidak keracunan memang lwekangnya lebih tinggi, tapi kalau dibandingan tokoh kelas wahid seperti Ciong Tian dan Ubun Pok juga masih selisih jauh sehingga mereka pun serupa anak buah Pek-toh-san, tidak ada yang mampu ikut bertempur.

saat itu mereka lagi sibuk memadamkan api.

Tingkat atas Thian-it-kok terbakar dan api sedang menjalar ke bawah, tingkat tengah baru saja terjilat api.

Di atas gunung banyak es batu.

anak murid Thian-san-pai yang tidak keracunan itu sibuk melemparkan es batu ke atas untuk mencegah menjalarnya api.

Maka waktu rombongan Tong Kah-goan mulai naik ke undak-undakan sempit itu, api yang berkobar di Thian-it-kok sudah makin kecil dan hampir padam.

Kiranya penyergapan Thian-san-pai ini sebelumnya sudah direncanakan, orang yang mengatur rencana penyergapan ini adalah Bu Ek dan Toan Kiam-jing.

Kemudian mereka berhasil mergikut-sertakan Ubun Pok sehingga rencana mereka tambah sempurna.

Di tengah jalan waktu Ubun Pok hendak pulang ke Pek-tohsan tempo hari kebetulan bertemu dengan Bu Ek dan Toan Kiam-jing.

ia terbujuk dan mendahului menyelundup ke Thiansan.

Sesuai dengan waktu yang telah diperhitungkan Toan Kiam-jing muncul sebagai saksi di tengah persidangan Thiansan-pai, tujuannya untuk memfitnah Nyo Yam.

kalau gagal Toan Kiam-jing akan mengacau di tengah sidang yang panik oleh granat berkabut itu.

Berbareng dengan itu Ubun Pok membawa begundalnya ditambah jago istana serentak menyerbu ke sarang Thian-sanpai.

Api yang berkobar di ruang Hwe-beng tong, Bwe hong-tong dan lain-lain akibat dipanah dengan panah berapi, di bagian ekor setiap panah berapi itu tersembunyi beberapa biji Sinsian-wan setelah api berkobar, Ubun Pok menyuruh anak buahnya melemparkan pula daun ganja yang di-bawanya ke tengah api sebagai bahan bakar.

Ganja adalah bahan utama pembuatan Sin-sian-wan, sebab itulah meski nyala api tidak hebat namun asap berbisa yang ditimbulkan daun ganja yang terbakar cukup memunahkan kekuatan tempur anak murid Thian-san-pai.

Saat itu Ciong Tien sedang menyepi di tingkat atas Thian-itkok, dan memasuki detik genting.

Masih untung juga kedatangan rombongan Ubun Pok terlebih dini sedikit.

kalau terlambat sebentar sehingga Ciong Tian memasuki taraf "hening"

Keseluruhan sehingga tidak dengar dan tidak lihat segala apa, yang terjadi di sekelilingnya, maka seorang anak kecil saja cukup membikin celaka dia.

Dan karena kedatangan Ukun Pok lebih dini sedikit, Ciong Tian sempat terjaga sadar, cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk mengembalikan keadaannya secara normal dan siap menghadapi musuh.

Di antara beberapa puluh anak murid Thian-san-pai yang berjaga di situ ada separoh yang keracunan, pada waktu permulaan mereka masih dapat bergerak, maka mereka sempat dibantu kawan yang lwekangnya agak tinggi dan belum keracunan untuk menyingkir ke bagian yang strategis untuk menghadapi serbuan musuh.

Thian-ik-kok berdiri di atas puncak, untuk memanah ke atas melalui undak-undakan sejauh itu, hanya Ubun Pok saja yang memiliki tenaga yang cukup.

Sebabnya Thian-it-kok terbakar juga akibat anak panah yang dibidikkan Ubun Pok sendiri.

Tapi panah berapi itu hanya membuat Thian-it-kok terjilat api.

untuk melemparkan daun ganja ke sana sukarlah dilaksanakan.

Walaupun panah berapi itu pun membawa Sinsian-wan, tapi asap yang tersiar dari beberapa biji Sin-sianwan dengan cepat buyar tarbawa angin sehingga tidak berguna merobohkpn musuh.

Saat itu-Ciong Tian sedang menempur Ubun Pok sepenuh tenaga, angin pukulannya menderu dahsyat, Bu Ek yang ikut di belakang Ubun Pok ikut merasakan guncangan angin pukulan yang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegap di-undak-undakan sempit itu.

Jika Bu Ek saja tidak dapat berbuat apa-apa apalagi begundalnya yang lain.

Yang berdiri di bawah undak-undakan sempit itu cuma beberapa jago istana kelas tinggi saja, orang lain termasuk kedua murid kesayangan Ubun Pok, yaitu Sukong Ciu dn Buyung Sui semuanya terdesak menyingkir di kaki dinding karang.

Ketika rombongan Tong Kah-goan tiba, saat itulah Ciong Tian sedang gawat, namun selangkah pun dia tidak mau mundur, cuma dalam sepuluh jurus ada tujuh jurus Ubun Pok melakukan serangan, jelas Ciong Tian terdesak di bawah angin.

Kiranya Ciong Tian kalah dalam hal usia, kalau bicara tentang keuletan.

mestinya dia di atas Ubun Pok, namun usia mereka selisih 30-an tahun, bila bertempur lama tentu meuguntungkan Ubun Pok.

Selain itu Ciong Tian habis menyepi sekian lama dan belum berhasil meyakinkan ilmu sakti lagi.

dengan sendirinya kekuatannya juga banyak berkurang.

Lantaran kedua hal itulah Ubun Pok bisa lebih unggul, namun begitu Ciong Tian tetap bertahan sekuatnya sehingga lawan tetap tidak dapat lewat Girang dan kejut Tong Kah-goan melihat Ciong Tian tidak beralangan, keadaau ternyata tidak seburuk apa yang di pikirnya.

Namun keadaan Ciong Tian yang berbahaya itu membuatnya merasa kuatir juga.

Sambil membentak segera ia menerjang ke atas undakan batu, kontan dua jago istana kena digenjot terjungkal dan menggelinding ke bawah.

Bu Ek berada agak bawah di belakang Ubun Pok, ia memegang senjata tongkat baja sepanjang lebih setombak, dari atas segera tongkatnya mengemplang kepala Tong Kahgoan.

Namun lengan baju Keh-goan lantas mengebut sambil membentak.

"Kamu mujid Kai-pang, mengingat hubungan baik Thian-san-pai dengan Kai-pang, jiwamu kuampuni!"

Sekali lengan bajunya menarik dan melempar, seketika tongkat Bu Ek terlepas, bahkan Bu Ek sendiri ikut mencelat be atas.

Untung dia sempat berjumpalitan di udara untuk menahan daya turunnya, lalu jatuh ke lereng dan tergelincir ke bawah.

Mendingan Tong Kah-goan sengaja bermurah hati padanya, kalau tidak pasti jlwanya sudah melayang.

Pek Kian-sing dan Kam Bu-wi ikut dibelakang Tong Kahgoan, dua jago istana mendadak menerobos tiba dia menyerangnya, keduanya memakai pedang, berbareng mereka membentak.

"Kabarnya kalian adalah pendekar pedang Thian-san terkenal, biarlah kita belajar kenal."

Kedua orang ini adalah ahli pedang dari Lam-hai-pai, kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada kedua kawannya tadi.

Sebenarnya kalau bicara tentang ilmu pedang, tidak nanti Pek Kian-sing berdua di bawah mereka, cuma lantaran ilmu pedang Lam-hai-pai ada juga jurus serangan yang aneh dan berbeda dengan ilmu pedang daerah Tionggoan, sedangkan Pek Kian-sing berdua tidak pernah melihat ilmu pedang aneh seperti ini, apalagi lawan berdiri di tempat lebih tinggi, maka beberapa jurus permulaan mereka agak kerepotan.

"Kedua antek ini boleh serahkan padaku saja,"

Kata Tuncin-sing.

dan sekali ia melangkah maju, terlihat sinar kilat berkelebat, kontan kedua jago istana itu melarikan diri.

Orang lain belum lagi mengetahui cara bagai mana lan-ciusing mengalahkan mereka, terdengar tokoh Kong-tong-pai itu mendengus.

"Hm, hanya sedikit kepandaian begini saja berani pamer di Thian-san, lekas ganti baju dulu supaya tidak malu!"

Baru sekarang orang yang berdiri di bawah melihat apa yang terjadi, ternyata baju kedua orang tadi sudah terkoyak belasan jalur lubang, seorang di antaranya malah memegangi celana yang hampir melorot.

Kiranya Tan-ciu-sing menggunakan satu jurus serangan andalan Kong tong-pai mereka yang di-sebut Oh-kah cap-pekpah, tampaknya cuma satu jurus, tapi sekaligus menisuk ke kanan dan kiri dan baju kedua lawan terkoyak delapan belas jalur robekan.

Malahan ikut pinggang salah seorang ikut terpotong putus sehingga celananya kedodoran.

Ki Tiang-hong berada di belakang Tan-ciu-jing dan dapat melihat jelas jurus serangan hebat itu, tanpa terasa ia berteriak memuji.

"Bagus! Selamat Tan-heng telah berhasil meyakinkan ilmu pedang sedemikian sempurna. Sayang Beng Hoa tidak hadir di sini."

Ia memuji ilmu pedang Tan ciu-sing, tapi nama Beng Hoa ikut disinggung, tentu saja anak murid Thian-san sama bingung, hanya Nyo Yam saja yang tahu maksudnya.

Dahulu Nyo Yam pernah tertawan Beng Hoa karena tidak sanggup melawan jurus serangannya Oh-kah-cap-pek-pah, tiga hiat-to tertutuk dan tertawan.

Karena kekalahan itu Nyo Yam senantiasa penasaran.

Nyo Yam memang suka unggul, sekalipun Beng Hoa adalah kakaknya, namun diam diam ia berusaha pada suatu hari kelak ia pasti akan mengungguli kakaknya sendiri.

Karena itulah, ketika Tan-ciu-sing melancarkan jurus serangan tadi diam-diam Nyo Yam menaruh perhatian terhadap jurus sakti itu.

Setelah menyaksikan apa yang terjadi, mau tak-mau ia harus mengakui betapapun dirinya berlatih sampai tua tetap sukar melawan kepandaian Beng Hoa.

Teringat kepada-jurus serangan Beng Hoa itu, tersentuh pula kenangannya terhadap orangnya.

Beng Hoa pernah mendamperatnya, bahkan pernah melukai dan menangkapnya.

Namun semua itu di lakukan Beng Hoa karena kasih sayangnya kepada saudara sekandung sendiri, hal ini juga dapat dirasakan Nyo Yam.

Sekarang ia pulang kc Thian-san dan tidak melihat Beng Hoa, betapapun timbul juga rasa kesal seperti kehilangan sesuatu..

Maka demi mendengar ayah angkatnya menyebut nama Beng Hoa ia lantas berpikir.

"Kiranya dia memang tidak berada di sini. Aneh, masa ia tidak tahu ada sidang besar perguruannya, ke mana perginya? Ai, kejadian yang sudahsudah adalah salahku, sejauh itu aku tidak mau mengakui dia sebagai kakak, jika sekarang dia berada di sini, entah dia sudi mengaku adik padaku atau tidak!!!"

Setelah terkenang pada Beng Hoa, tanpa terasa teringat juga akan Liong Leng-cu, nona itu pernah bergabung dengan dirinya mengerubut Beng Hoa, sekarang selain sang kakak tidak terlihat, Liong Leng-cu juga sudah pergi.

Ia tahu betapapun Beng Hoa akan pulang juga ke Thiansan, sekarang tidak bertemu kelak pasti akan bertemu, ia yakin tidak sulit untuk bertemu lagi dengan Beng Hoa, tapi untuk bertemu pula dengan Liong Leng-cu, inilah yang sulit di ramalkan, mungkin selama hidup ini takkan berjumpa lagi dengan nona itu.

Namun sekarang bukan waktunya untuk memikirkan macam-macam urusan itu, tiba-tiba ia merasakan suasana sunyi senyap, wuktu ia menengadah, terlihat Tong Kan goan sudah mendaki sampai di ujung unduk-udakan dan sedang menantang Pek-toh-sancu.

"Susiok,"

Kata Kah-goan kepada Ciong Tian.

"menyembeleh ayam tidak perlu pakai golok, biarkan Tecu saja yang melayani dia."

Selaku ketua Thian-san-pai, dengan sendirinya Tong Kahgoan tidak dapat menurunkan derajat sendiri dan main kerubut bersama Ciong Tian.

Seoab itulah sebelum turun tangan ia bicara lebih dulu agar terhindar dari tuduhan menyerang dari belakang.

Segera Ciong Tian menjawab.

"Baik, kamu adalah ketua perguruan kita, memang seharusnya kamu yang membereskan siluman ini."

Pelahan ia menarik diri untuk menjaga Ubun Pok melancarkan serangan lebih lanjut.

Ubun Pok tahu mereka pasti takkan main keroyok, segera ia mendesak maju satu undakan dan menduduki tempat Ciong Tian semula, lalu menghantam ke belakang sambil membentak.

"Jangan omong besar! Baik, ingin kulihat betapa kehebatanmu!"

Seketika Tong Kah goan merasa angin dahsyat menyambar tiba dengan hawa dingin. ia terkejut. pikirnya.

"Apakah yang dilatih siluman ini juga Siau-lo-im-sat-kang?"

Siau-lo-im-sat-kang adalah semacam Iwekang golongan jahat yang amat lihai, 50 tahun yang lalu seorang gembong ibhs bernama Beng Sin-thong berhasil mcyakinkan ilmu itu dan malang melintang di dunia kangouw Kakek Tong Kah-goan, yaitu Tong Hiau-lan pernah beberapa kali bertempur dengan Beng Sin-thong dan hanya sedikit lebih unggul saja, selamanya belum pernah dapat mengalahkannya dengan telak.

Sesudah Beng Siau-thong meninggal, Siu-lo-im-sat-kang itu pun putus turunan.

Dari sang kakek dan ayahnya pernah Tong Kah-goan mendengar tentang ilmu maha lihai itu, sekarang setelah adu tangan dengan Han-peng-ciang Ubun Pok, ia menjadi curiga karena rasa dingin kungfu lawan ini serupa Siu-lo-im-sat-kang yang didengarnya dari sang kakek.

Dalam pada itu dengan cepat Ubun Pok sudah membalik, menyusul tangan yang lain menghantam pula.

Buat itu Tong Kah-goan sedang menggunakan pukulan Simi-ciang~hoat untuk menangkis Han-peng-ciang lawan sehingga tepat kedua tangan beradu.

"Blang", Kah goan merasa tangan beradu dengan sepotong besi yang terbakar. Terdengar Ubun Pok menggertak sekali dari atas, Tong Kah-goan terdorong sempoyongan. Akan tetapi cepat tangan Kah-goan berputar sehingga tenaga dorongan lawan dipatahkan. Malahan Kik-ti-hiat di siku tangan Ubun Pok lantas terasa kesemutan, ia terkejut, pikirnya.

"Menurut cerita orang, kepandaian Tong Kah-goan katanya biasa-biasa saja, jauh dibandingkan ayahnya, tapi tampaknya sekarang kungfunya juga tidak lemah. Kalau bicara tenaga dalam tampaknya lebih kuat malah daripada paman gurunya tadi."

Untuk ketiga kalinya Ubun Pok menyerang lagi, sekarang kedua tangan menghantam sekaligus, tangan kiri membawa angin panas dan tangan kanan menghamburkan hawa maha dingin.

Tong Kah-goan sudah tahu kungfu lawan bukan Siu-lo-imsat-kang, tapi Pek-toh-sancu sekaligus menggunakau Hoanpeng-ciang dan Hwe-yam-to, betapa hebat tenaga tempurnya rasanya tidak di bawah Siu-lo-im-sat-kang mendiang Beng Sinthong.

Tong Kah goan kalah tempat.

juga didahului oleh lawan.

terpaksa ia bertahan sekuatnya.

Untung Si-mi-ciang-hoamya memang sangat bagus untuk bertahan sehingga beberapa kali Ubun Pok main terjang selalu seperti tertahan oleh dinding baja yang tak berwujud, sama sekali tidak mampu mendesak mundur Tong Kah-goan.

Pertarungan sengit ini membuat penonton kedua pihak sama kebat-kebit.

Melihat keadaan, Ubun Pok lebih sering menyerang daripada bertahan, dia seperti lebih unggul.

Tapi pertahanan Tong Kah-goan sangat kuat dan mantap, umpamakan kalah akhirnya paling sedikit diperlukan lagi dua-tiga ratus jurus.

Bicara situasi secara umum, meski banyak anak murid Thian-san-pai yang keracunan, namun jumlahnya jauh lebih banyak daripada pihak lawan, apalagi di antara tetamu terdapat juga tokoh kaum wahid seperti Bu-gi Taisu dari Siau lim-pai dan Tan-ciu-sing dari Kong-tong-pai, jelas kekuatan mereka sukar ditandingi pihak lawan.

Di pihak Ubun Pok yang lebih dulu timbul pikiran untuk kabur adalah Bu Ek.

Ia terlempar dan jatuh terguling ke bawah lereng oleh sengkelitan Tong Kah-goan tadi rasa jerinya masih menghinggapi benaknya, diam-diam ia membatin.

"Jumlah musuh lebih banyak, sekalipun Pek-tohsancu dapat menang, akhirnya kedua pihak pasti juga akan banyak jatuh korban. tatkala mana siapa yang mampu melawan Ki Tiang hong dan Tan-ciu sing yang tangguh itu? Dan ingin lari pun pasti sudah kasip."

Karena itulah, pada waktu pertarungan Tong Kah-goan dm Ubun Pok sedang memuncak sengit, diam diam ia mengeluyur pergi.

Di antara jago istana juga sudah ada dua orang terluka, kedua orang ini diam diam juga ikut melarikan diri, menyusul beberapa jago istana lain dan jago gebernuran juga ikut kabur.

Paling akhir, pihak Ubun Pok tertinggal kedua muridnya saja, yaitu Sukong Ciau dan Bu-yung Sui yang masih mengikuti pertarungan sang guru.

Sama halnya, anak murid Thian-san-pai juga merasa kuatir bagi ketua mereka.

Maklumlah, Kah-goan tampil selaku ketua Thian-san-pai, jangankan mereka tidak dapat ikut mnju, umpama ikut menerjang maju juga tidak dapat main kerubut.

Padahal kalah menang sang ketua menyangkut nama baik perguruan, tentu saja mereka berkuatir.

Di antara para tamu yang berkepandaian tinggi seperti Bugi Taisu dan Tan-ciu-ting, karena terikat oleh peraturan bulim, mereka pun tidak enak untuk membantu.

Dalam pada itu Bu-gi Taisu telah menggunakan ginkangnya yang tinggi untuk mengitar ke atas, langsung menuju ke puncak tertinggi untuk membantu Ciong Tian menolong para nnak murid yang terluka.

Ia seorang paderi saleh, terhadap pertarungan seru dua tokoh terkemuka yang jarang terjadi ttu dipandangnya kejadian biasa, di antara ratusan orang hadir mungkin dia yang paling belakang.

Tan-jiu-sing seorang yang keranjingan ilmu silat, maka pertarungan menarik itu tidak disia-siakan olehnya, ia asyik menonton, pikirnya.

"Pek-toh-sancu ini memang sangat hebat, meski Tong Kah-goan menghadapinya pasti akan besar harapan untuk menang, Namun dapatkah Tong Kah-goan bertahan lagi satu jam? Seumpama tidak kalah, rasanya kedua pihak akan gugur bersama. Apalagi sekalipun perhitungannya berjalan lancar. kemenangaanya nanti juga kuraag gemilang-Nama baik sendiri tidak menjadi soal, mungkin Tong Kah-goan juga tidak mau mundur dan digantikan olehnya. Paling baik kalau ada anak murid Thian-san pai yang menggantikan ketuanya menghadapi musuh, lalu dirinya menggantikan pula murid Thian-san itu, dengan demikian takdapat diangggap melanggar etika kangouw. Teringat juga olehnya Peng-pok-sin-tan di-tambah Pengpok-han-kong-Liam dapat menahan hawa dingin Hin-pangciang musuh, jika Peng-ji maju bersama Nyo Yam, rasanya akan mampu melawan Ubun Pok. Cuma sayang, Nyo Yam terkena jarum berbisa, senientara ini belum pulih kesehatannya. Apa-lagi Ling Peng-ji tampaknya juga tidak ikut datang. Berpikir sampai di sini, ia coba memandaug sekelilingnya, benar juga tidak terlihat bayangan nona itu. Malahan Tong hujin juga tidak kelihatan. Ia pikir mungkin Peng ji terlampau keras terpukul perasaannya oleh kejadian ini, maka Tong-hujin yang sayang kepada muridnya itu ikut tinggal di rumah untuk menjaga Peng-ji. Sementara itu serangan Pek-toh-sancu bertambah dahsyat, Ki Tiang-hong tarnbah gelisah, tapi selain menunggu sungguh ia tidak berdaya meski ingin membantu Tong Koh-goan. Kedua murid Ubun Pok, yaitu Buyung Sui dan Sukong Ciau, tampaknya setia juga terhadap sang guru, mereka tidak mau tinggal pergi selagl sang guru scdang bertempur. Mereka pun cemas dan juga tidak tahu cara bagaimana harus membantu sang guru. Nyo Yam menonton dari tempat yang agak jauh, ia menguasai lwekang khas ajaran Liong Cik-leng (kakek Liong Leng-cu) sehingga tidak perlu semadi dan tetap dapat mengerahkan tenaga untuk mendesak keluar racun dalam tubuhnya. Yang mendampingi dia adalah Pek Eng bu dan Han Eng-hoa. Pek dan Han adalah jago muda angkatan ke-tiga Thian sanpai, lwekang mereka cukup kuat, waktu datang tadi mereka menghisap sedikit asap berbisa dan terasa pening, namun sekarang tidak menjadi alasan lagi. Dahulu mereka pun pernah salah paham terhadap Nyo Yam sehingga dalam hati kecil merasa menyesal, sebab itulah sekarang mereka pun sangat baik kepada anak muda itu. Ki Tiang-hong menyuruh mereka mendampingi Nyo Yam, maksudnya supaya mereka dapat menjaganya. Sekarang mereka pun sedang memperhatikan pertempuran. Meski di antara murid Thian-san angkatan ketiga Pek dan Han tergolong jago pilihan. tapi melihat jurus serangan yang mujizat mereka pun belum dapat memahami seluruhnya. Maka sembari menonton Nyo Yam berusaha memberi penjelasan kepada mereka. Watak Pek En-bu sangat jujur, kagumnya kepada Nyo Yam sekarang sungguh tidak ada taranya, katanya.

"Siau susiok, engkau meninggalkan Thian-san pada usia 11, kukira engkau sudah lupa pada kungfu perguruan sendiri. siapa tahu engkau tetap sedemikian hebat, Menurut pandanganku, beberapa Susiok yang lebih tua juga tidak lebih hebat dari padamu."

Umur Nyo Yam masih kecil, namun tingkatannya dalam perguruan cukup tinggi, dahulu Pek Eng-bu tidak pernah memandangnya sebagai paman guru, baru sekarang dengan kagum lahir batin ia menyebutnya Susiok, meski ditambah dengan ambel-embel "siau"

Atau kecil, hal ini pun cocok dengan kenyataan.

"Aku terhitung apa? Selisih jauh bila dibandingkan Beng ... Beng Hoa,"

Ucap Nyo Yam. Pek Eng-bu meLenggong.

"Hah, rupanya engkau masih dendam kepada kakakmu dan tidak mau mengaku kakak padanya. Sebahnya dia menangkapmu dahulu adalah atas perintah..."

"Ya, kutahu, dia terpaksa,"

Tukas Nyo Yam "Namun bukan aku tidak mau mengakui dia, justru kukuatir dia tidak mau mengaku adik padaku.

Pernah nona liong bersamaku mengerubuti dia di Ki-lian-san.

Kutahu, waktu itu dia sangat sedih."

"Semua itu hanya salah paham belaka,"

Kata Pek Eng-bu tertawa.

"Jangan kuatir. tidak nanti kakakmu dendam padamu."

Selagi Nyo Yam hendak tanya mereka sebab apa Beng Hoa tidak kelihatan datang, tiba-tiba diketahui Pek Eng-bu berdua seperti agak aneh, serupa orang yang mabuk, tubuh sempoyongan dan sinar mata buram.

Dengan lwekang mereka, biarpun minum satu biji Sin-sianwan juga takkan terpengaruh seperti sekarang.

Tapi melihat gelagatuya, jelas mereka terbius oleh racun Sin-sian-wan.

keruan Nyo Yam terkejut, mendadak ia sendiri juga merasa ringan seperti mau terbarg.

Ia tahu gelagat tidak enak, dan belum sempat ia ber-buat sesuntu, tahu-tahu dua orang sudah muncul di depannya.

Kedua oraug ini tak-lain tak-bukan adalah Buyung Sui dan Sukong Ciau.

Sejak tadi mereka tidak tahu cara bagaimana bisa membantu gurunya, kemudian mereka melihat Nyo Yam sedang menonton di lereng samping hanya ditemani Pek Engbu dan Han Eng-hoa berdua serta jauh tertinggal dari kawannya.

Melihat ada kesempatan, segera mereka turun dan bermaksud menawan Nyo Yam dan dijadikan sebagai sandera.

Di atas dan di bawah lereng gunung banyak orang yang asyik mengikuti pertarungan sengit itu Buyung Sui berdua merunduk ke depan, begitu mendekat serentak menyergap.

Mereka menggunakan semacam bubuk obat bius, sifat racunnya serupa Siu-sian-wan.

namun kadarnya jauh lebih lihai.

Yang lebih hebat adalah bubuk ini tidak berbau.

"Sin-sian-san"

Atau bubuk dewa ini tidak berbau dan tidak berwarna, cukup dicukit sedikit dengan kuku dan diselentikkan, dalam jarak sekitar sepuluh tombak dapat membuat lawan jatuh pingsan.

Untung Nyo Yam sudah menguasai Iwekang tinggi, meski belum pulih kesehatannya berhubung terkena jarum berbisa, namun bau Sin sian-san yang diisapnya seketika tidak membuatnya roboh.

Maka cepat ia melolos pedang, ia tidak sempat bersuara, langsung ia menusuk kedua lawan dengan jurus "Sing-goatceng-hui"

Atau biatang dan rembulan berlomba terang "Sing goat ceng-hui"

Ini adalah satu diantara ketujuh jurus lihai Tui-hong-kiam boat atau ilmi pedang pemburu angin, satu jurus dua gerakan sekaligus.

Seketika Buyung Sui dan Sukong Ciau merasa ujung pedang yang mengkilat menyambar ke tenggorokan mereka.

Cuma sayang, meski bagus jurus serangannya namun tenaga kurang.

Maka sekali Buyung Sui menjelentik dengan Kim kong-ci atau jari sakti "creng", batang pedang terjentik dan terlepas.

berbareng itu Sukong Ciau juga mencengkeram Pi-pe-kut, yaitu tulang lemas pada pundak anak muda itu sambil menjengek.

"Hm, biar kupunahkan dulu kungfumu, coba kamu dapat lagi berlagak garang tidak?"

Cepat Nyo Yam menggeser langkah dan ganti tempat, namun tetap karena tenaga kurang, meski cengkeraman musuh dapat dihindari, tidak urung langkahnya terhuyung dan hampir jatuh.

Dalam pada itu Buyung Sui juga menyerang lagi, dari kanan dan kiri, mereka terus mencengkeram pula.

Sekali ini tampaknya Nyo Yam pasti sukar mengelak lagi.

Bilamana kedua tulang pundaknya tercengkeram remuk, bukan saja ilmu silatnya punah seluruhnya, selama hidup Nyo Yam pun akan menjadi cacat.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 18 Nyo Yam tidak menghindar lagi, jengeknya dengan angkuh.

"Huh, kukira siapa, rupanya jago yang pernah keok di bawah tanganku. Hm, tidak tahu malu, main sergap pada waktu aku terluka."

Kedua orang ini memang pernah dipermainkan oleh Nyo Yam di Ki-lian-san, tentu saja mereka ingin membalas dendam, sembari terbahak Su-gong Ciau telah menutuk, menyusul pundak Nyo Yam lantas hendak dicengkeram, ejeknya.

"Anak jadah, tentu sudah kau dengar suara remuk tulang pundakmu!"

Siapa tahu, belum lagi suara remuk tulang terdengar, tahu tahu suara mendesing senjata rahasia sudah bergema.

Senjata rahasia ini hanya terdiri dari dua biji batu kecil saja.

Cepat jari Buyung Sui menjentik, meski batu terpental, namun lengan sendiri pun tergetar kesemutan sehingga tidak bertenaga untuk mencengkeram pundak Nyo Yam.

Sugong Ciau terlebih celaka, ia menangkap senjata rahasia itu dengan tangan sehingga hiat-to telapak tangan tertimpuk.

seketika ia menggeletak tak bisa berkutik.

Menyusul tibanya senjata rahasia itu juga muncul seorang, ternyata Beng Hoa adanya.

"Hm kalian hendak memusnahkan ilmu silat adikku, terpaksa kupunahkan juga ilmu silat kalian,"

Jengek Beng Hoa, sekali depak ia singkirkan Sugong Ciau, menyusul Buyung Sui lantas dicengkeramnya.

Karena tertimpuk oleh batu tadi lwekang Sugong Ciau sudah punah, namun tenaga luar masih cukup.

Beng Hoa tidak berniat mengambil nyawanya, maka sekali depak membuatnya mencelat dan jatuh terguling, ia menjerit terus merangkak bangun dan lari sipat kuping.

Nasib Buyung Sui terlebih jelek, tulang pundaknya kena dicengkeram Beng Hoa dan dilemparkan, ia kehilangan tenaga seluruhnya dan tidak ubahnya seperti orang biasa saja.

Setelah merangkak bangun, terpaksa ia harus menggunakan tongkat dan melangkah pergi dengan terpincang-pincang.

Pek-toh-sancu Ubun Pok yang sedang bertempur sengit melawan Tong Kah-goan itu mendengar jeritan kedua muridnya..

tentu saja ia kaget, sedikit meleng ia terbawa putar oleh tenaga putaran Si-mi-ciang-hoat Tong Kah-goan yang lihai itu.

Terpaksa sekalian ia menubruk maju ,dan menghantam dan ditangkis Kah-goan, setelah bergebrak satu kali, keduanya ganti posisi, sekarang Tong Kah-goan menduduki anak tangga atas dan Ubui Pok terdesak turun di tempat Kah-goan semula.

Ubun Pok menjadi murka, ia menyerang terlebih gencar sehingga Kah-goan terpaksa harus bertahan pula sekuatnya, hal ini membuat anak murid Thian-san sama kebat-kebit mengikuti pertarungan dahsyat itu.

Rupanya setelah ditinggal begundal, pula kedua muridnya telah kabur dengan menanggung cedera, Ubun Pok menyadari hari ini nasibnya pasti juga akan celaka, maka ia menjadi nekat, ia berharap dapat melukai Tong Kah-goan, andaikan diri sendiri juga terluka, asalkan tidak parah, yang keluar sebagai pemenang kan dirinya.

Untuk ini dia dapat menuntut janji dan pergi dengan selamat.

Kini Tong Kah-goan juga sudah kenal kelihaian kungfu lawan, melihat orang menjadi nekat, tentu saja Kah-goan dapat menerka maksudnya.

Maka ia sengaja bertahan dengan lebih rapat sambil mencari kesempatan untuk balas menyerang.

Beberapa tokoh terkemuka dapat mengikuti pertarungan yang memuncak itu, tampaknya Ubun Pok menyerang lebih hebat, padahal kesempatan menang jelas berada di pihak Tong Kah-goan, mereka hanya kuatir bilamana terjadi serangan maut dan mengakibatkan kedua pihak sama cedera, ini tentu saja tidak dikehendaki mereka.

Dengan sendirinya anak murid Thian-san tidak banyak yang tahu keadaan itu, mereka melihat Ciangbunjin sendiri terserang, tentu saja mereka ikut kuatir.

Kemampuan kungfu Beng Hoa sekarang sudah tidak di bawah sang guru, tapi melihat keadaan pertarungan yang sedang berlangsung, tidak urung ia pun terkejut.

Saat itu Nyo Yam sudah berdiri dan bermaksud mendekati Beng Hoa, dia memang pemuda dengan perasaan mudah terguncang, bahwa dalam keadaan demikian dia bertemu kembali dengan Beng Hoa, tanpa terasa air mata berlinang linang.

Beng Hoa lantas menyongsongnya dan bertanya.

"Bagaimana lukamu, adik Yam?"

"Koko. aku ... ."

Tergegap Nyo Yam dan tak sanggup meneruskan. Beng Hoa sahu apa yang hendak dikatakan adiknya itu, tukasnya.

"Kamu penasaran, kutahu. Sebulan ini perbuatan kita pun ada yang kurang benar, aku tidak marah padamu, kuharap kaupun jangan menyesali diriku."

"Lukaku tidak menjadi soal,"

Jawab Nyo Yam.

"Orang itu adalah Pek-toh-saucu, kungfunya sangat lihai, harap Koko mencari jalan untuk.."

Rupanya Beng Hoa juga sama cemasnya seperti dia, katanya cepat.

"Baik, boleh kau istirahat sebentar, biar coba kutempur Pek-toh-sancu."

Karena tekanan batin persoalannya dengan Nyo Yam kini telah memperoleh saling pengertian, hatinya terasa lega sehingga langkahnya juga terasa cepat dan enteng, begitu ia mendaki undak-undakan sana segera ia berseru lantang.

"Ada urusan biarlah Tecu yang bertugas, mohon Ciangbunjin memberi kesempatan pada Tecu untuk menumpas siluman ini."

"Hahaha, apakah kalian orang Thian-san-pai ingin main kerubut?"

Teriak Ubun Pok dengon terbahak "Baiklah, boleh kamu maju sekalian."

Padahal ia tahu orang Thian-san-pai tidak mungkin main keroyok.

di undakan sempit begitu juga tidak mungkin digunakan main kerubut.

apa yang diucapkannya itu tiada lain hanya ingin memaksa Tong Kah-goan dan Beng Hoa menuruti cara yang akan dikemukakannya.

Benarlah, segera Beng-hoa berseru.

"Hai, memangnya kamu ini apa, berani omong besar? Biar aku menghadapimu satu lawan satu."

"Anggota Thian-san-pai kalian berjumlah ratusan, jika satu kalah lalu maju lagi yang lain, sampai kapan harus kulayani kalian?"

Jengek Ubun Pok.

"Kau dengar jelas tidak? Kubilang akan ku-hadapi satu lawan satu!"

Teriak Beng Hoa dengan gusar.

"Dan cukup dengan pertarungan satu babak ini saja untuk menentukan kalah dan menang."

"O, jadi kamu hendak menggantikan ketua kalian untuk duel menentukan denganku?"

Ubun Pok menegas.

"Tapi pertarungan demikian menyangkut nama baik Thian-san-pai kalian, apakah kamu berwenang mewakilinya?"

"Asalkan Ciangbun memheri mandat pada-ku tentu dapat kujadi wakil beliau,"

Kata Beng Hoa. Diam diam Tong Kah goan gedang berpikir.

"Rasanya aku tak sampai kalah menempur dia, tapi juga tidak yakin dapat mengalahkan lawan. Kungfu Beng Hoa tidak di bawahku, dia belum kehilangan tenaga, jika dia mewakili aku tentu lebih untung daripada aku bertempur lagi. Dia adalah murid angkatan lebih muda, jika dia menang, selain dapat memupuk namanya, bagi Thian-San pai juga terhormat."

Dalam pada itu Ciok Kian sing dan lain lain juga ikut bersuara.

"Betul, menghadapi seorang iblis kelas rendahan. kenapa Ciangbunjin harus maju sendiri?"

Ubun Pok juga mempunyai perhitungan sendiri, ia memang dapat menahan perasaan, ia cuma menatap Ton Kuh-goan dan berucap.

"Anak muridmu akan maju mengganti dirimu, memangnya bagaimana pendapatmu?"

Ia tidak tahu bahwa Beng Hoa adalah murid Thian san tidak resmi dan bukan murid Tong Kih-goan sendiri.

"Apakah kau kuatir murid Thian-san-pai kami akan menarik keuntungan atas dirimu?"

Demikian Kah-goan sengaja bertanya.

"Sama sekali aku tidak ingin diberi kemurahan. biar aku yang menberi tiga jurus padamu,"

Sambung Beng Hoa mendadak. Ubun Pok terbahak-bahak.

"Haha, anak muda, jangan kau kira karena dua muridku yang tak becus itu dapat kau lukai, lalu kamu berlagak sombong. Aku pun tidak ingin diejek orang sebagai tua menganiaya muda, biarlah kalau dalam seratus jurus tidak dapat kukalahkan dirimu, anggaplah aku yang kalah."

Hendaknya maklum.

ilmu silat Beng Hoa sekarang meski sudah cukup untuk menandingi tokoh kelas satu mana pun, tapi orang yang tahu betapa tinggi kungfunya tidaklah banyak, apalagi Pek-toh-sancu, ia lihat Beng Hoa cuma seorang pemuda berusia 30-an, betapa hebat kepandaiannya juga tidak lebih tinggi dari pada Tong Kah-goan.

Kalau dia memberi batas seratus jurus baginya sudah cukup menghargai Beng Hoa.

Setelah menempur Tong Kah-goan sekian lama, Ubun Pok menyadari bilamana berlangsung lebih lama, akibatnya kedua pihak pasti akan hancur bersama.

Siapa yang lebih parah juga sukar diramal.

Sebab itulah ia justru berharap Beng Hoa akan menggantikan Tong Kah-goan, ia tidak percaya seorang murid Thian-san-pai yang muda juga tidak mampu mengalahkannya.

Dengan gusar Beng Hoa lantas menjawab.

"Aku yang memberi tiga jurus padamu, siapa yang minta kelonggaran dirimu?"

Tiba tiba tokoh Jing-sia-pai, Siau Jinghong menyela dengan tertawa.

"Hah, yang satu hendak memberi tiga jurus, yang lain memberi batas seratus jurus, mana bisa terjadi jual-beli ini? Begini saja, biar aku menjadi penengah, Pek-loh-sancu sudah bertarung dua babak, namun Beng Hoa adalah murid Thiansan angkatan muda. maka kedua pihak tidak perlu lagi saling mengalah. boleh di-anggap sama kuat, siapa pun tidak perlu memberi kelonggaran kepada pihak lain."

Kedua pihak menyatakan setuju, Tong Kah-goan lantas mengundurkan diri.

"Nanti dulu,"

Kata Ubun Pok pula.

"Jika kamu bertempur mewakili ketua kalian, segala sesuatu harus dibicarakan di muka dengan jelas."

"Boleh coba berikan syaratmu,"

Ucap Beng Hoa.

"Siau-yau-li she Liong itu adalah musuhku, jika kamu kalah, dia harus diserahkan kepadaku,"

Kata Ubun Pok "Liong Leng-cu bukan anak murid Thian-san. aku tidak dapat mengambil keputusan atas dirinya,"

Sahut Kah goan.

"Bukan maksudku menyuruhmu menangkapnya dan menyerahkannya kepadaku melainkan jangan kalian merintangi bila aku hendak membekuk dia,"

Kata Ubun Pok Pula.

"Baik, jika begitu dapat kuterima syaratmu ini,"

Ujar Kahgoan.

"Selain itu, murid Thian-san-pai kalian, yaitu bocah she Nyo, dia adalah komplotan Siau-yau-li itu, jika aku menang, dia juga harus diserahkan dan kubereskan dia."

Kah-goan memandang Beng Hoa, tampaknya anak muda itu penuh keyakinan pasti akan menang, tapi urusan menyangkut nasib adiknya, betapapun ia tidak berani menyanggupi begitu saja.

Mendadak Nyo Yam berseru di bawah sana.

"Huh, memangnya kamu pasti dapat mengalahkan kakakku? Jika kamu menang, biarlah kuserahkan kepalaku sendiri."

"Aku cuma minta kamu ikut ke Pek-toh-san dengan baikbaik, siapa yang minta kepalamu?"

Ujar Ubun Pok dengan ketus.

"Baik, jika kamu menang, segera kupotong dulu urat tanganku dan boleh kau bawaku pergi kamana pun sesukamu,"

Sahut Nyo Yam tegas.

"Betul, tidak menyesal?"

Bentak Ubun Pok.

"Haha, aku justru kuatir kamu yang tidak pegang janji, memangnya kau kira anak murid Thian-San suka dusta?"

Jawab Nyo Yam dengan terbahak.

"Dan sekarang ingin kutanya juga padamu, apa yang akan kau lakukan jika kamu kalah?"

"Aku selalu mengutamakan keadilan,"

Kata Ubun Pok.

"Jika Beng Hoa kakakmu, pertarunganku dengan dia juga menggunakan dirimu sehagai taruhan, maka selayaknya kamu pun mendapatkan hadiahnya. Maka kalau aku kalah, kuserahkan juga diriku untuk diperlakukan sesuka kalian. Nah, puas bagimu?"

Di balik ucapannya itu jelas ia pun menggunakan matihidup sendiri sebagai taruhan. Tanpa pikir Nyo Yam menanggapi dengan tertawa.

"Bagus. bagus sekali! Kuterima dengan baik. Nah, Koko, jika aku pun tidak kuatir, masa engkau takut? Mumpung ada lawan empuk, jatuhkan saja taruhanmu."

Ia bicara dengan santai, suatu tanda penuh kepercayaan.

Padahal ia tidak tahu pasti apakah sang kakak mutlak akan menang.

Apa yang dikatakannya itu tidak lain hanya untuk mendorong semangat tempur sang kakak saja.

Beng Hoa sendiri memang penuh kepercayaan terhadap kemampuan sendiri, apalagi dorongan semangat Nyo Yam itu tentu saja menambah tekadnya harus menjatuhkan musuh supaya tidak mengecewakan adik sendiri.

Segera ia berkata.

"Baik, aku setuju!"

Selagi kedua orang hendak bertempur, tiba-tiba suara seorang perempuan berseru.

"Nanti dulu"

Kiranya bukan lain diripada istri Tong Kah-goan.

"Soso ada pesan apa?"

Tanya Beng Hoa.

"Boleh kau ganti sebatang pedang,"

Kata Tong-hujin.

"Ubun-sancu, apakah engkau keberatan aku ganti pedang?"

Tanya Beng Hoa. Ubun Pok terbahak.

"Haha, pertanyaanmu ini agak berlebihan, bagiku tidak menjadi soal senjata apa pun yang akan kau gunakan, tetap kulayanimu dengan tangan kosong."

Tong-hujin tidak bicara lagi, sambil tertawa ia lemparkan pedangnya kepada Beng Hoa.

Waktu Beng Hoa melolos pedang itu, terlihatlah cahaya gamerdep menyilaukan mata.

Biarpun Iwekang Pek-toh-sancu sangat tinggi juga merasakan hawa dingin pedang yang merasuk tulang.

Kiranya pedang Tong hujin ini adalah pedang pusaka yang tidak ada tandingannya di dunia ini, yaitu pedang inti es bercahaya dingin Peng-pok-han-kong-kiam.

Pedang ini adalah gemblengan Peng-coan-thian-li dahulu yang diambilnya dari inti es di pegunungan Tangra.

Letak keampuhan pedang ini tidak pada tajamnya melainkan pada hawa dinginnya yang luar biasa.

Semula Pek-toh-sancu menyangka pedang itu paling-paling juga cuma pedang pusaka yang tajam, baru sekarang ia tahu terperangkap.

Namun lwe-kangnya tinggi, ia sendiri berlatih Han-peng-ciang yang dingin, maka ia tidak gentar meski diduga-nya pedang lawan mungkin merupakan lawan maut Hwe-yam-to dan Han-peng-ciang.

Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam untuk menghalau rasa dingin, lalu liriknya dan mendengus.

"Hm, pedangmu ternyata luar biasa, sungguh menambah pengalamanku. Baik, akan kulihat pedangmu lebih lihai atau kedua tanganku lebih hebat. Nah, kenapa tidak menyerang?!"

Beng Hoa memegang pedang dengan ujung menghadap ke atas, katanya.

"Pedangku sudah bergerak, sekarang giliranmu menyerang dulu."

Jelas sikap yang mengalah. Keruan Pek-toh-sancu sangat gusar, bentaknya.

"Baik, kau sendiri yang cari mampus dan jangan menyesali diriku!"

"Brak", segera sebelah tangan menghantui. lnilah pukulan maut Hwe-yam-to, nyata ia ingin menguji betapa lihai Pengpok-han-kong-kiam lawan. Berpuluh orang yang berdiri di bawah undak-undakan sana sama menyaksikan pertarungan sengit ini, hanya Nyo Yam saja tidak ikut memandang mereka, pandangannya justru tertuju ke tempat Tong-hujin sana. Tapi yang terlihat hanya Tong-hujin saja dan tidak kelihatan Ling Peng-ji. Peng-pok-lian-kong-kiam itu diwariskan oleh Peng-tjoauthian-li kepada Tong-hujin, lalu dari Tong hujin diwariskan kepada Ling Peng-ji. Mengapa Tong-hujin hanya mengambii kembali pedang inti es itu dan Peng-ji tidak tampak ikut datang? Apakah karena pukulan batin telah membuatnya jatuh sakit sehingga tidak dapat datang? Dengan sendirinya ia tidak dapat tanya Tong-hujin dalam keadaan demikian. Suasana sunyi senyap, mungkin jatuhnya jarum saja akan terdengar. Pertarungan sengit di atas undakan sana sudah mulai, terpaksa Nyo Yam harus kesampingkan dulu rasa kuatirnya atas diri Ling Peng-ji. Pukulan Hwe-yam-to membawa hawa panas, tapi Beng Hoa lautas bergerak juga, Peng pok-han-kong-kiam menusuk pergelangan tangan lawan. Dengan sendirinya Ubun Pok tidak membiarkan tertusuk, namun dirasakan ujung pedang lawan membawa hawa dingin yang luar biasa, hawa panas pukulannya ternyata tidak dapat melawan arus panas pedang lawan Segera Ubun Pok ganti serangan lagi, sekali ini ia menggunakan Han-peng-ciang yang juga berhawa dingin untuk melawan pedang pusaka lawan. Ia yakin lwekang Beng Hoa tidak melebihinya, ia ingin tahu siapa yang akan beku kedinginan lebih dulu. Di puncak Thian-san memangnya merupakan dunia es dan salju, pukulan maha dingin ditambah hawa dingin pedang pusaka, tentu saja sudah bertambah dingin luar biasa. orang yang berdiri di bawah sama menggigil. Karena tenaga Ubun Pok tadi sudah terkuras sebagian, kekuatannya sekarang jadi sama kuat dengan Beng Hoa. Anak muda ini menyakinkan Siau-yang-sin-kang sehingga cukup kuat menahan serangan hawa dingin. Ubun Pok juga menguasai Han-peng-ciang, biarpun tubuh tersentuh inti es juga takkan membuatnya beku. Maka betapa dingin pedang pusaka Beng Hoa cuma membuatnya merasa agak dingin sedikit. Bicara kekuatan masing-masing memang sembabat sekarang, namun Beng Hoa mendapat keuntungan karena memegang pedang inti es itu. Setelah mencoba dua kali serangan dan tidak dapat melukai Beng Hoa, diam-diam Ubun Pok terkesiap, terpaksa harus dipikirnya lagi kemungkinan gugur bersama, sekuatnya ia mengeluarkan segenap kemahiranya dan melancarkan serangan susul menyusul. Ia memang tokoh ajaib dunia persilatan sehingga mampu meyakinkan dua macam ilmu sakti yang sama sekali berlawanan. Tangan yang satu mengeluarkan angin pukulan panas, tangan yang lain membawa hawa dingin luar biasa. Untung Beng Hoa memiliki ilmu pelindung badan Siau-yangsin-kang, pula memegang Peng-pok-han-kong-kiam yang anti kedua macam ilmu jahat lawan itu sehingga dia tidak sampai kalah. Namun karena dicecar belasan jurus sejak mula, mautak-mau Beng Hoa terdesak di bawah angin. Selagi semua orang merasa kuatir bagi Beng Hoa, mendadak permainan pedang anak muda itu berubah. Kini gerak pedangnya tampak ringan dan lincah, sebentar sinar pedang bergulung-gulung serupa tali kusut, lain saat berhamburan bagai amukan ombak. Thian-san-pai mengutamakan ilmu pedang, banyak di antara anggotanya terhitung jago pedang kelas tinggi. Melihat permainan Beng Hoa itu semua orang sama merasa kagum. Mereka pikir kecepatan pedang Bong Hoa rasanya tidak di bawah Tui-hong-kiam-hoat dan Si-mi-kiam-hoat. Akan tetapi keganasannya justru melebihi kedua macam ilmu pedang tersebut. Kiranya Beng Hoa mempunyai tiga orang guru, ia pun pernah memperoleh ilmu sakti ajaran paderi Thian-tiok, selama belasan tahun ini tekun belajar sehingga berbagai ilmu pedang dapat dileburnya menjadi satu, kepandaiannya sekarang boleh dikatakan merupakan suatu aliran tersendiri. Pertarungan antara Beng Hoa dan Ubun Pok boleh dikatakan menemukan tandingan setimpal, di sini pula keduanya benar-benar mengeluarkan kemampuan masingmasing. Keduanya sama menyerang dengan cepat dan dahsyat. Selagi semua orang asyik mengikuti pertempuran mereka, tiba-tiba terlihat kedua tangan Ubun Pok terpentang sehingga pertahanannya terbuka. Setiap orang persilatan tahu gaya ini adalah gerak pancingan, tapi jago silat kelas tinggi pun beran, sebab gaya pancingan demikian hanya boleh ditujukan kepada lawan yang empuk, menghadapi ilmu pedang pemburu angin Beng Hoa, keterbukaan demikian justru akan memberi kesempatan baginya untuk menyerang. Kecepatan pedang Beng Hoa sungguh sukar dilukiskan, baru tangan lawan terpentang, dengan jurus "Tai-boa-kohyan"

Atau asap mengepul di gurun raya langsung ia menusuk. Pek Eng-ki dan Han Eng-hoa yang berdiri di samping Nyo Yam terus bersorak.

"Bagus ...

"Siapa tahu baru saja bersuara, terlihat ujung pedang Beng Hoa yang hampir menembus dada lawan itu mendadak ditarik kembali, sekali putar, dari gaya menyerang berubah menjadi gerakan bertahan.

Semula semua orang berharap jurus serangan Beng Hoa ini akan membereskan lawannya, tapi tanpa sebab mendadak pedang ditarik kembali, tentu saja mereka kecewa, Pek Eng-ki berdua pun berteriak.

"Wah ... sayang!"

Hanya Tan-ciu-sing saja yang tidak ikut bersorak tadi, sekarang baru berseru memuji.

"Bagus!"

Guru memuji murid, sungguh jaraag terjadi, bahkan berbau meninggikan pamor sendiri. Ki Tiang-hong yang berdiri di samping Tan-ciu-sing berkata dengan tertawa.

"Serang mudah, tarik kembali sulit. Tapi semua itu dapat dilakukan dengan cepat oleh muridmu, kalau aku boleh memberi komentar, tampaknya muridmu sudah hijau melebihi biru (artinya murid melebihi guru)."

"Tampaknya apa, sesungguhnya memang begitu."

Ujar Tanciu-sing terbahak.

"Apabila murid didik tidak melebihi guru, mana ilmu silat bisa maju? Engkau kan tahu pepatah yang menyatakan ombak di sungai Tiangkang selalu dari belakang mendorong ke muka?"

Kiranya gaya Ubun Pok tadi meski cuma gaya pancingan, namun di dalamnya tersembunyi gerak susulan yang sangat lihai.

dengan gaya terbuka begitu dia sengaja memancing Beng Hon masuk perangkap.

Jika Beng Hoa masuk perangkap.

akibatnya paling tidak pasti akan gugur bersama musuh.

Karena tidak tahu hal ini, semua orang hanya merasa sayang karena anak muda itu tidak meneruskan serangannya.

Kepandaian Nyo Yam lebih tinggi daripada Pek Eng-ki berdua, sedikit banyak ia tahu sebabnya Beng Hoa menarik kembali serangannya.

Cuma ia pun tidak percaya pujian Tan ciu-sing terhadap Beng Hoa itu benar seluruhnya, ia pikir meski ilmu pedang Koko sangat hebat, tapi bila dikatakan sudah melebihi sang guru, agaknya terlampau berlebihan.

Setelah serangan tadi, permainan pedang Beng Hoa berubah lagi, kini ujung pedang seperti diganduli sesuatu yang berat, gerakannya lamban tapi mantap, sama sekali berbeda daripada gaya cepat tadi.

"Wah, gerak pedang Beng-suheng mulai lambat,"

Bisik Han Eng-hoa dengan kuatir.

Kuatir didengar Tan-ciu-sing, maka ia tidak berani bicara dengan suara keras.

Apakah Tan ciu-sing mendengar tidak, yang jelas Ki Tiang-hong seperti mendengarnya.

Dengan tertawa mendadak Ki Tiong-hong berseru.

"Haha, Tan-heng, selamat!"

"Selamat apa?"

Tanya Tan-ciu-sing.

"Selamat karena engkau mendapatkan seorang murid bagus!"

Kata Tiang-hong.

"Wah, mana berani kuterima jasa ini,"

Ujar Tan-ciu-sing.

"Sebabnya dia mendapatkan kemajuan sepesat ini, meski sebagian memang ajaran-ku, namun yang lebih penting adalah karena hasil ceramahmu kepadanya."

Pek Eng-ki dan lain-lain merasa bingung. berbareng mereka tanya.

"Ki-taihiap, ceramah apakah yang pernah engkau berikan kepada Beng Hoa, bolehkah dijelaskan?"

"Ah, ceramah apa, sebenarnya apa yang kukatakan juga sudah pernah kalian dengar,"

Tutur Tiang-hong.

"Pada 13 tahun yang lalu, waktu Beng Hoa bertanding pedang denganku, pernah kubicarakan tiga gerak kunci 'berat, lamban dan besar' kepadanya. Waktu itu ia pun tahu ketiga gerak kunci itu, hanya saja belum mendalami dengan baik, pengertiannya terhadap ketiga gerak waktu itu kini tampaknya malah sudah melebihi aku. Hehe. sekarang aku jadi rada kuatir bagi Kim Tiok-liu."

"Eh, kembali kamu sembarangan omong lagi,"

Ujar Tan-ciusing.

"Kim Tiok-liu adalah jago pedang nomor satu di dunia, masakah perlu kau-kuatirkan dia?"

Baca Juga: Perguruan Sejati 4

Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 9

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger