Eps 8 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen
Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.
"Aku justru kuatir bila lewat beberapa tahun lagi, gelar jago pedang nomor satu bukan mustahil harus dia serahkan kepada orang lain,"
Ucap Ki Tiang-hong dengan tertawa.
"Ah. engkau terlampau memuji muridku,"
Kata Tan-ciu-sing dengan tergelak, namun dalam hati sesungguhnya sangat senang.
Nyo Yam juga tahu adanya tiga gerak kunci itu, cuma karena wataknya agak dugel, tidak selugas Beng Hoa, maka pengertiannya terhadap ketiga gerak kunci itu tidak sedalam Beng Hoa.
Setelah mendengar komentar Ki Tiang-hong sekarang barulah ia coba menaruh perhatian terlebih tekun.
Makin dipandang makin tertarik, tanpa terasa ia terkesima dan seperti lupa daratan.
Pada saat Tan-ciu-sing bergelak tertawa tadi.
Beng Hoa telah mengeluarkan jurus andalan ajaran Tan-ciu-sing.
Yaitu Oh-kah-cap-pck-pah!
Oh-kah-cap-pek-pah ini sesuai dengan namanya, satu jurus meliputi 18 gerakan, kalau bicara kecepatan ilmu pedang, maka jurus ini boleh dikatakan nomor satu di dunia.
Permainan pedang Beng Hoa semula berubah sangat lambat, siapa tahu pada saat lambat itulah mendadak berubah secepat kilat.
Bagi Nyo Yam yang sudah pernah menyaksikan Tan-ciusing memainkan jurus ampuh ini, ilmu pedang Nyo Yam sendiri juga sudah mencapai kelas satu, sebab itulah meski satu jurus dengan 18 gerakan itu dilakukan secepat kilat tetap dapat diikutinya dengan terang.
Sama-sama satu jurus itu, ternyata ada perbedaan juga antara guru dan murid.
Dalam sekejap itu Nyo Yam merasa terkejut dan juga kegirangan.
pikirnya.
"Dahulu Koko pernah mengatasi diriku dengan jurus ini, tampaknya sekarang dahulu dia tidak mengeluarkan seluruh kemahirannya atau kemudian kemajuannya yang teramat pesat. Jurus serangannya ini umpama belum melebihi Tan-ciu-sing, sedikitnya pasti juga sama lihainya."
Belum habis berpikir, terjadi lagi perubahan yang sama sekali tak tersangka, oleh siapa pun termasuk Nyo Yam.
Terlihat cahaya pedang menari di udara dan menyambar bagai kilat, tahu-tahu Peng-pok-han-kong-kiam terlepas dari tangan Beng Hoa.
Jika senjata sendiri terpukul jatuh oleh lawan menurut peraturan umum, dengan sendirinya harus mengaku kalah.
Padahal sejenak sebelumnya semua orang mengira jurus serangan kilat Beng Hoa itu pasti akan menang, siapa tahu hasilnya jadi begini.
Semua orang menyesal.
Nyo Yam juga cemas, dapat dilihatnya dengan jelas jurus serangan Beng Hoa yang ampuh itu sudah mengurung Ubun Pok, betapa tinggi kepandaian lawan itu pasti juga akan roboh.
Sungguh sukar dimengerti mengapa dalam keadaan terdesak Ubun Pok bisa berbalik menang malah.
Yang terlebih aneh ternyata masih ada di belakang.
Pada saat pedang Beng Hoa terlepas itu, selagi semua orang cemas dan kuatir kalau Ubun Pok melancarkan serangan susulan dan mencelakai Beng Hoa, tahu-tahu terdengar Ubun Pok bersuara tertahan, dia tidak menyerang lagi selagi menang, sebaliknya malah jatuh ke bawah undakundakan.
Cuma Pek-toh-sancu itu memang sangat hebat, ia cuma terguling turun dua anak tangga saja, begitu kaki menyentuh tanah, serentak tubuh melejit ke atas, ia tidak terbanting jatuh lagi melainkan melayang turun dengan ginkang yang tinggi.
Beng Hoa tetap berdiri di atas sana dan tidak mengejar.
Apakah dia terluka dalam?
Karena sangsi, cepat Tong Kah-goan berseru.
"Bagaimana keadaanmu, Beng Hoa?"
Namun anak muda itu tidak menjawab melainkan cuma menggeleng saja.
Meski tidak bersuara, tapi cukup jelas maksudnya, yaitu menyatakan dirinya tidak terluka.
Dan mengapa Beng Hoa tidak bicara?
Apakah karena hiatto bisu tertutuk?
Bila benar demikian leher anak muda itu akaa kaku, tapi dia masih dapat menggoyang kepala.
Apalagi orang keji serupa Ubun Pok, jika hiat-to Beng Hoa dapat ditutuknya tentu tidak cuma hiat-to bisu yang ditutuk Yang terpikir lebih dulu oleh Tong Kah-goan adalah Beng Hoa sudah kehabisan tenaga sehingga tidak dapat bergerak lagi.
Belum habis terpikir, tahu-tahu Ubun Pok sudah hinggap dl bawah, terlihat darah merembes dari ujung mulutnya, baju pun robek di beberapa tompat, melihat keadaannya agaknya dia terluka.
Begitu berdiri, tanpa bicara Ubun Pok terus melarikan diri.
Dengan sangsi Kah-goan membentak.
"Urusan belum lagi kau pertanggungjawabkan lantas hendak kabur begitu saja?"
"Tong Kah-goan,"
Teriak Ubun Pok dengan suara berat.
"Sebagai seorang ketua, apa yang sudah kau katakan tetap kau pegang apa tidak?"
"Memangnya apa ucapanku yang tidak kupatuhi?"
Teriak Kah-goan dengan gusar.
"Tadi kau bilang Beng Hoa mewakili dirimu, sekarang kalahmenang antara dia dan aku sudah jelas, mengapa kau rintangi kepergianku? Hm, apakah kau ingin bertempur lagi denganku?"
Bicara sampai di sini, segera Ubun Pok hendak men-dorong Tong Kah-goan yang mencegatnya.
Maksud Tong Kah-goan hanya ingin tanya saja, tapi Ubun Pok salah tangkap maksudnya dan mendadak mendorong, dengan sendirinya terpaksa Tong Kah-goan menangkisnya.
"Blang", kedua tangan beradu, Tong Kah-goan tergetar mundur dengan terkejut, ia heran mengapa tenaga dalam lawan seperti tambah kuat dari pada tadi. Melihat gelagatnya, jangan-jangan Beng Hoa yang kecundang? Sementara itu Beng Hoa masih berdiri diam di atas sana, Han-kong-kiam yang jatuh pun tidak segera dipungutnya, ia tetap tidak bersuara. Melihat sang ketua tergetar mundur, sedang keadaan Beng Hoa juga menyangsikan, anak murid Thian-san-pai menjadi lesu dan berpikir.
"Melihat gelagatnya, jelas kalah menang sudah berakhir, tanya apa lagi?"
Tiba-tiba Ki Tiang-hong berteriak.
"Kau bilang kalah -menang sudah jelas, sesungguhnya siapa yang menang dan siapa yang kalah?"
"Boleh kau tanya Beng Hoa,"
Jawab Ubun Pok.
"Kubilang kamu yang bicara,"
Bentak Tiang hong. Baru sekarang Beng Hoa berjongkok menjemput pedangnya dan pelahan melangkah turun dua anak tangga, katanya dengan pelahan.
"Kamu yang naik kemari atau aku yang turun ke situ?"
Atas ucapannya cukup jelas dan dapat dipahami oleh siapa pun, yaitu Beng Hoa tidak mengaku kalah melainkan menantangnya bertanding lagi.
Menurut peraturan umum, jika yang seorang terluka dan senjata yang lain terlepas dari tangan, maka kedudukan boleh dikatakan draw alias seri.
Asalkan mereka masih sanggup bertempur lagi dan kedua pihak sama mau, tentu saja pertandingan dapat dilanjutkan.
Namun keadaan Beng Hoa sekarang apakah sanggup bertempur lagi?
Jangankan anak murid Thian-san sama kuatir bagi Beng Hoa, sekalipun pucuk pimpinan Thian-san yang tinggi kepandaiannya seperti Tong Kah-goan juga merasa tindakan Beng Hoa itu terlampau besar risikonya.
Dapat dihhatnya sekarang Beng Hoa tidak terluka, tapi juga dapat melihat anak muda itu telah kehilangan tenaga, buktinya waktu melangkah turun kelihatan sempoyongan, mana mungkin dia bertempur lagi.
Disangkanya Beng Hoa ingin menjaga nama baik perguruan dan terpaksa bertindak demikian.
Selagi hcndak mencegahnya, sekilas pandang terlihat Ubun Pok juga serupa anak muridnya, air muka kelihatan berubah pucat.
Seketika Kah-goan merasa sangsi sehingga urung mencegah tindakan Beng Hoa.
Mendadak Ki Tiang-hong membentak.
"Sudah jelas kamu kalah, Beng Hoa boleh menempurnya lagi."
Ucapan ini membuat anak murid Thian-san-pai sama kaget, mereka merasa keadaan Beng Hoa itu tidak mungkin dapat bertempur lagi.
Satu-satunya orang tidak kuatir cuma Tan-ciusing saja.
Ia pikir Ki Tiang-hong pasti tidak linglung, jika ia berani menantang bagi Bong Hoa tentu mempunyai alasan dan dasar yang kuat.
Rasanya aku pun tidak saluh lihat.
Benar juga, terlihat muka Ubun Pok sebentar merah sebentar pucat.
akhirnya berkata.
"Baiklah, boleh dianggap saja aku yang kalah."
"Kalah ya kalah, pakai dianggap apa segala?"
Bentak Ki Tiang-hong. Terpaksa Ubun Pok menjengek.
"Baik, aku kalah, memangnya mau apa?"
Kiranya tadi Beng Hoa menyerang dengan jurus Oh-kahcap-pek-pah, ia pusatkan tenaga pada ujung pedang, bilamana kena bagian fatal musuh tentu Ubun Pok akan terluka parah atau binasa.
Tapi karena timbul rasa kasihannya, seketika berubah pikiran, hanya kungfu Ubun Pok saja yang hendak dipunahkannya, maka ia tidak menusuk bagian mematikan, tenaga tusukan juga di kurangi.
Siapa tahu, lantaran rasa kasihan itulah membuatnya berbalik dikerjai Ubun Pok.
Maklumlah, Ubun Pok menguasai tiga macam ilmu sakti golongan jahat, yaitu selain Hwe-yam to dan Lian-peng-ciang, ia pun mahir Thian-mo kai-te-tai-hoat, semacam ilmu gaib yang dapat merangsang timbulnya daya tahan maha kuat dari tubuh sendiri.
Untuk menggunakan ilmu gaib itu barus menggigit ujung lidah sendiri hingga berdarah, seketika tenaga sendiri akan bertambah sekali lipat.
Keadaan Ubun Pok sekarang sebenarnya lebih lemah daripada Beng Hoa, tapi lantaran ia menggunakan Thian-mobui-te-tai-hoat tenaga mendadak bertambah lipat sehingga dia berbalik lebih kuat daripada anak muda itu.
Akibatnya meski jurus serangan Oh-kah-cap, pok-pah tadi dapat Beng Hoa melukai Ubun Pok namun tidak berhasil memunahkan kungfunya.
Setelah terkena tusukan pedang, Ubun Pok tidak dapat berdiri tegak di undak-undakan sehingga niatnya melancarkan serangan balasan pun gagal total.
Tapi meski maksudnya tidak tercapai seluruhnya, sedikitnya juga telah membuat Beng Hoa mengalami kecundang.
Beng Hoa tergetar oleh tenaga pukulan lawan dan banyak mempengaruhi gerak-geriknya, jika dia mengejar dan menyerang lagi, ia sendiri tentu akan terluka parah.
Sebab itulah ia berdiri diam untuk mengatur napas baru kemudiau berani bicara.
Dan benapa pula Ubun Pok tidak berani menerima tantangan Beng Hoa untuk bertempur lagi?
Kiranya Thian-mo-kai-te-tai hoat itu sangat ganas, sekali digunakan, tsnaga dalam sendiri juga akan terkuras habis.
Bahwa tenaga sendiri mendadak bisa bertambah lipat hanya terjadi dalam waktu sementara saja, bila berlangsung lama tenaga aslinya pun akan ikut lenyap, bahkan kemudian akan jatuh sakit parah.
Waktu Ubun Pok mendorong minggir Tong Kah-goan tadi sudah dirasakan tenaga dalam sendiri sedang merembes keluar serupa tanggul yang dadal.
Yang diharapkannya sekarang asalkan dapat melarikan diri dari Thian-san sebelum tenaga habis, mana ia berani bertempur lagi?
Ia menyadari bahaya mengancam, namun tetap bersikap tenang, meski mengaku kalah, tapi tidak memperlihatkan sikap takut.
Lantaran ilmu gain Thian-mo-kai-te-tui-hoat itu memang sangat aneh sehingga tokoh terkemuka semacam Tong Kahgoan, Ki Tiang-hong, lun-ciu-sing dan lain-lain juga tidak dapat melihat keadaan Ubun Pok yang keras di luar dan keropos di dalam itu.
Malahan dengan angkuh Ubun Pok mendengus.
"Hm, kalah. lalu kau mau apa?"
"Apa yang kau katakan tadi akan kau patuhi tidak? Memangnya kau mau kabur begitu saja?"
"Kamu she Beng atau she Nyo?"
Mendadak Ubun Pok bertanya.
"Memangnya apa maksudmu?"
Jawab Tiang-hong dengan gusar.
"Memang, tadi kukatakan akan kuserahkan diriku diperbuat sesukanya oleh Beng Hoa dan Nyo Yam bilamana aku kalah, tapi bukan ku-maksudkan dirimu,"
Sahut Ubun Pok ketus.
"Kecuali mereka, siapa pun tidak berhak merintangi aku."
Sembari mendengus ia terus melangkah pula ke depan.
Untuk sementara Beng Hoa belum dapat mengerahkan ginkang.
ia sedang menuruni anak tangga.
Kekuatan Nyo Yam juga baru pulih sebagian kecil, dengan sendirinya tidak dapat merintangi Ubun Pok.
"Haha, Nyo Yam dan Beng Hoa, boleh silakan kalian yang membereskan diriku? Biar kutunggu kalian di Pek-toh-san!"
Seru Pek-toh-sancu dengan tergelak sambil berlari pergi. Baru sekarang semua orang menyadari apa yang dikemukakan Ubun Pok itu ternyata ada buntutnya. Saking gemasnya Ki Tiang-hong mencaci maki.
"Kurang ajar! Jelek-jelek kamu kan seorang pemimpin, perbuatanmu ini lebih mirip bajingan tengik."
Segera Beng Hoa juga membentak.
"Kubilang berhenti, tunggu keputusanku membereskanmu!"
Tanpa berhenti Ubun Pok berkata.
"Aku menyanggupi akan dibereskan oleh kalian, tapi tidak pernah berjanji untuk dibereskan di Thian-san sini. Kau tahu perkara ini adalah urusan kita bertiga, aku tidak sudi dihina di depan orang lain. Jika perlu boleh saja kau kejar diriku asalkan mampu!"
Waktu ia lari lewat di depan Nyo Yam, kontan anak muda itu meludahi dia sambil memaki.
"Huh, tidak tahu malu!"
Ubun Pok tahu anak muda itu tidak mampu merintanginya, ia pikir biarlah hari ini kuterima dihina bocah ini, kelak tentu akan kubikin perhitungan denganmu.
Nyo Yam berhak menentukan mati-hidupnya, ia tidak berani membuatnya marah, terpaksa ia terima diludahi begitu saja.
Tanpa berhenti ia malah berseru.
"Menurut peraturan kangouw, sesuatu urusan perlu ada batasan waktu. Maka kuberi waktu sepuluh hari, lewat waktu terpaksa aku tidak menunggu dan kelak boleh kita bertempur lagi."
Habis bicara, bayangannya lantas lenyap, namun suaranya yang berkumandang dari kejauhan tetap menggetar anak telinga orang.
Semua orang tidak tahu sesungguhnya betapa tinggi kungfu iblis itu, semuanya sama terkejut.
Tidak ada yang tahu bahwa tenaga yang timbul dari Thian-mo-kai-te-tai-hoat kini sudah mulai lenyap.
Keadaan Ubun Pok tidak lebih serupa anak panah yang sudah hampir jatuh.
Bilamana Nyo Yam berani mengejaruya, dalam waktu tidak lama tentu dapat menyusulnya, dan dengan mudah anak muda itu sebenarnya dapat membinasakannya.
Selang sejenak pula, semua orang mendeknti Tong Kahgoan dan Beng Hoa untuk mengucapkan selamat atas kemenangan mereka.
Dalam pertempuran ini meski pihak Thian-san-pai tiga kali berganti jago akhirnya baru mencapai kemenangan, tapi Beng Hoa sendiri cuma murid tidak resmi dan dapat mengalahkan iblis nomor satu di jaman ini, betapapun kehormatan Thiansan-pai tetap dapat dipertahankan.
"Iblis itu tidak dapat kubinasakan, sungguh aku malu terhadap perguruan,"
Ucap Beng Hoa.
"Jurus serangan Oh-Kah Cap Pek-pah tadi sungguh hebat sekali, aku merasa malu tidak melebihimu,"
Ucap Tan cin Hong "Bahwa iblis itu tidak kau binasakan, soalnya bukan terletak pada ilmu pedangmu, tapi mungkin hatimu yang tidak tega."
Karena, isi hatinya tepat dikatai sang guru, muka Beng Hoa menjadi merah dan menunduk. Tong Kah goan tergelak.
"Murid didik Tan-heng telah dapat membuat Pek-toh-sancu mengaku kalah di depan umum, hati ini pun sudah luar biasa."
"Muridku ini kan juga murid Thian-san-pai?"
Ujar Tan-ciusing dengan tertawa.
"Menurut kebiasaan bu-lim, seorang murid hanya mempunyai seorang guru, seorang guru juga tidak suka muridnya belajar ilmu silat orang lain. Pikiran sempit seperti ini kukira selanjutnya perlu diubah."
"Pendapat Tan-heng memang tepat,"
Kata Kah-goan.
"Eh, di mana Ciong-tianglo, mengapa tidak kelihatan?"
Segera seorang murid melapor.
"Ciong-tianglo masuk ke Thian-it-kok, seperti hendak mengobati luka Hoa-sute berdua."
Hoa Cing-ih dan Ki Tui-hong adalah dua murid yang tinggal dan melayani Ciong Tian di Thian-it-kok.
Usia keduanya baru 17-18 tahun kepandaiannya rendah, maka keracunan agak berat.
Tong Kah-goan kuatirkan kesehatan Ciong Tian, cepat katanya.
"Beng Hoa, mari kita coba menjenguk Susiok dan menyampaikan berita gembira padanya."
Begitu mereka masuk Thian-it-kok segera terlihat Hoa Cingih berdua menyambut kedatangan mereka.
"Apakah sudah sembuh kalian?"
Tanya Kah-goan.
"Berkat Ciong-tianglo menghalau racun kami dengan Siauyang-sin-kang, sejak tadi kami sudah sehat kembali,"
Tutur Hoa Cing-ih.
"Dan di mana Ciong-tianglo?"
Tanya Kah-goan pula.
"Sehabis menyembuhkan kami, beliau lantas masuk kamar latihan, mungkin hendak semadi,"
Tutur Hoa Cing-ih.
Kah-goan pikir waktu Ciong Tian masuk ke Thian-it-koh tepat pada saat ia menempur Ubun Pok, selagi menghadapi musuh tangguh dan belum jelas kalah atau menang, aneh kalau mendadak Ciong Tian hendak bersemadi malah, kalau tidak, mengapa sampai sekarang orang tua itu tidak keluar Iagi.
Masakah suara sorak sorai kemenangan Beng Hoa di luar juga tidak didengar olehnya?
"Mari coba kita menjenguknya di dalam, adik Hoa,"
Ajak Kah-goan kepada Beng Hoa.
Pelahan ia mendorong pintu, terlihat Ciong Tian sedang mengukir huruf di dinding dengan pedang.
Kah-goan tidak berani mengejutkan orang tua itu.
ia diam saja.
Selang sekian lama, terdengar Ciong Tian berucap dengan suara gembira.
"Syukur akhirnya selesai juga suatu citacitaku."
Habis berkata barulah ia menoleh sambil membuang pedangnya.
Dan sekali orang tua itu menoleh, seketika Tong Kah goan dibuatnya terkejut.
Usia Ciong Tian kini sudah 82 tahun, tapi lantaran lwekangnya tinggi dan pandai merawat diri, maka wajahnya masih tetap bersemu merah serupa orang muda, tampaknya baru berumur 50an saja.
Tapi tekarang air mukanya kelihatan pucat, semangat lesu, mendadak berubah jauh lebih tua sesuai dengan usianya.
Yang lebih mengejutkan Tong Kah-goan adalah keadaan Ciong Tian yang kelihatan loyo itu.
sebagai seorang ahli ilmu silat, sekali pandang saja Kah-goan tahu orang tua itu telah kehilangan tenaga murni dan sekarang sedang membuyarkan lwekang sendiri dengan harapan lekas meninggal dengan tenang.
Karena kejutnya, Kah-goan tidak sempat lagi menyampaikan berita gembira segala, cepat ia memburu maju dan merangkul Ciong Tian sambil berseru.
"Jangan, Supek!"
Ciong Tian tersenyum, ucapnya.
"Usiaku sudah lebih 80, sudah tergolong panjang umur, umpama aku bisa hidup lebih tua lagi, paling-paling juga cuma satu-dua tahun lagi, buat apa kau bikin aku menderita lebih lama? Lepaskan aku, ada yang hendak kubicarakan denganmu."
Kah-goan coba meraba nadi orang tua itu, terasa denyutnya sudah iemah serupa pelita yang sudah kehabisan minyak, tenaga murni Ciong Tian sudah hampir buyar seluruhnya.
Kahgoan tahu sukar lagi mengubah nasib orang tua itu, terpaksa ia lepas tangan dengan menahan air mata.
"Bagaimana keadaan di luar?"
Tanya Ciong Tian.
"Lapor Supek, iblis itu sudah dipukul lari oleh Beng Hoa,"
Tutur Kah-goan.
"Anak murid kita pun tidak ada seorang pun yang cedera, hanya beberapa orang keracunan dan selekasnya dapat disembuhkan."
"Bagus, bagus,"
Ucap Ciong Tian.
"Kutahu kalian pasti mampu mengalahkan iblis itu, sebab itulah tanpa kuatir kuselesaikan suatu pekerjaanku yang terakhir. Inilah hasil penyelamanku selama bersemadi di sini mengenai Toa-si-mikang, meski belum sempurna, tapi sudah menguras segenap kemampuanku. Aku kurang berbakat, tidak banyak membawa kemajuan ilmu silat perguruan kita, hanya sedikit nasil jerih payahku ini saja yang dapat kutinggalkan untuk kalian sekadar melunasi cita-citaku yang kukandung selama ini."
Kiranya tadi Ciong Tian menyudahi semadinya sebelum waktunya sehingga tenaga murni dalam tubuh bergolak dan terluka sendiri.
Setelah bertempur dengan Ubun Pok, luka dalamaya bertambah parah lagi.
Kemudian ia menyembuhkan pula beracunnya Hoa Cing-ih berdua, keadaannya sudah serupa pelita yang kehabisan minyak.
Dengan sisa tenaganya sekuatnya ia mengukir lagi istilah kunci Toa-si-mi-kang hasil pendalamannya sehingga setitik tenaga terakhir pun terkuras habis, keadaannya sekarang boleh dikatakan sudah kering benar-benar.
Bahwa sebelum ajalnya orang tua itu masih sempat berbuat dua macam kebaikan, tentu saja Kah-goan dan Beng Hoa sangat terharu.
Sambil memberi penghormatan terakhir, Kah-goan memuji.
"Orang yang mengaku tidak berbakat justru sering menimbulkan kekaguman orang. Susiok. adalah orang demikian, beliau boleh dikatakan meninggal tanpa penyesalan."
"Ciong-tianglo memang tidak perlu menyesal, tapi akulah yang menyesal,"
Ucap Beng Hoa.
"Betul, sakit hati ini harus kita balas,"
Kata Kah goan dengan berlinang air mata. Keduanya lantas keluar dari Thian-it-bok, Kah-goan mengumumkan berita duka tersebut dan berseru.
"Barang siapa dapat membalas sakit hati Ciong-tianglo dan menumpas iblis Ubun Pok itu. dia akan kuangkat sebagai pewaris ketua Thian-san-pai."
Karena kebaikan hati Beng Hoa sehingga Pek-toh-sancu tidak dibunuhnya, diam-diam Beng Hoa merasa menyesal, maka ia mendahului menerima perintah sang ketua, katanya.
"Ciong-tianglo menjadi korban keganasan iblis, setiap anak murid perguruan kita wajib monuntut balas baginya. Mengenai kedudukan Ciangbun, kukira perlu dipertimbangkan lagi dan jangan menggunakan kedudukan ini sebagai imbalan."
"Soal ini menyangkut martabat perguruan kita,"
Ujar Kah goan.
"Barang siapa dapat membalas sakit hati Ciong-tianglo berarti berjasa besar, sebagai penggantiku rasanya tidak bertentangan dengan pendapatmu."
Kiranya keputusan Tong Kah-goan ini justru sengaja membuat Beng Hoa sukar menolak untuk diangkat sebagai pengganti Kah-goan sendiri, yaitu menjadi ketua Thian-sanpai.
Maklumlah, sampai sekarang Beng Hoa belum resmi sebagai murid Thian-san, kalau bicara tentang perguruan, Beng Hoa lebih dekat dengan Kong-tong-pai yang diketuai Tan-ciu-sing itu.
Kah-goan tahu Tan-ciu-sing juga ingin Beng Hoa menjabat ketua Kong-tong-pai dan dengan sendirinya tidak mau melepaskan Beng Hoa.
Mengingat sakit hati sesepuh harus dibalas, perintah sang ketua juga tidak boleh dibantah, terpaksa Beng Hoa tidak bicara lagi.
Sehabis pertemuan itu barulah Nyo Yam sempat mencari Tong-hujin.
Begitu berhadapan dengan anak muda itu segera Tonghujin berkata.
"Anak Yam, aku memang ingin memberitahukan padamu. Peng-pok-han-kong-kiam itu memang dari Peng-ji dan minta kuserahkan padamu. Waktu itu aku tidak sempat banyak bertanya, cuma dapat kuraba maksudnya, mungkin ia kuatir Pek-toh-sancu akan mencederaimu, maka pedang pusaka itu sengaja diberikan padamu. Tadi kupinjamkan kepada kakakmu dan belum sempat bicara denganmu. Sekarang bolehlah kau ambil kembali untuk diserahknn kepada Ling-cicimu."
Rupanya Tong-hujin kasihan kepada sejarah Peng-ji yang mengenaskan, pula melihat Nyo Yam benar-benar cinta padanya, maka pendiriannya sekarang sudah berubah, ia pikir kedua muda-mudi itu hanya dalam usia saja tidak cocok, kalau keduanya mengikat perjodohan dapat meringankan beban batinnya.
Peng-pok-han-kong-kiam sudah diterima kembali dari Beng Hoa, maka sekarang ia suruh Nyo Yam mengembalikan langsung kepada Ling Peng-ji.
"Aku sangat berterima kasih atas maksud baik Ling-cici, entah bagaimana keadaannya?"
Tanya Nyo Yam cepat.
"Dia sedang istirahat, di pondok sana, saat ini mungkin sudah pulih,"
Tutur Tong-hujin.
"Cuma hari ini ia mengalami pukulan batin yang berat, janganlah kau singguug lagi perasaannya. Berita meninggalnya Ciong-tianglo sementara ini juga jangan diberitahukan padanya."
"Ya, kutahu,"
Jawab Nyo Yam.
Pondok yang dimaksudkan Tong-hujin terletak di samping lapangan pertemuan tadi, segera Nyo Yam berlari ke sana secepat terbang.
Siapa tahu, setiba di pondok itu, ternyata Ling Peng-ji sudah menghilang.
Sejak tadi nona itu sudah pergi, hanya sepucuk surat ditinggalkan untuk Nyo Yam.
Isi surat menyatakan meski kedatangan Nyo Yam ke Thiansan ini berarti telah melanggar larangan Peng ji, nimun nona itu tidak menyalahkannya.
Cuma janji tujuh tahun itu tetap harus dipatuhi oleh Nyo Yam.
Sekarang Liong Leng-cu sudah pergi, Nyo Yam diharuskan mencarinya lagi.
Tujuh tahun kemudian barulah Nyo Yam bersama Liong Leng-cu boleh menemui Peng ji.
Peng-pok-haa-kong-kiam minta perantaraan Nyo Yam untuk dihadiahkan kepada Ce Se-kiat, sebab Se-kiat sudah berhasil menyakinkan Peng tjoan-kiam-hoat dan pedang ini dapat menambah daya tempur Peng-tjoan-kiam hoat, adalah pantas pedang inti es itu diserahkan kepadanya.
Habis membaca surat itu, Nyo Yam berdiri termenung sejenak, mendadak ia berteriak parau.
"Ling-cici, mana boleh kau perlakukan diriku cara demikian? Kepulanganku ini meski benar untuk nona Liong, tapi juga demi dirimu. Mengapa aku diharuskan menunggu lagi tujuh tahun?"
Tiba-tiba suara lembut seorang menyambungnya.
"Betul, jangan lagi membiarkan dia menunggu tujuh tahun. Anak Yam, carilah dia dan bawa kembali ke sini. Jika dia marah padamu, biar kubela dirimu. Aku gurunya, tentu dia akan menurut padaku."
Kiranya Tong-hujin telah menyusul tiba.
"Tapi be ..ke mana harus kucari dia?"
Sahut Nyo Yam dengan bingung. Kembali sebuah suara yang sudah dikenalnya menukas.
"Anak bodoh, dengan sendirinya Ling-cicimu takkan kau temukan di pegunungan ini. Ke mana dia akan pergi, hendaknya gunakan pikiran-mu sedikit."
Orang yang bicara ini ternyata Ki Tiang-hong adanya, ia pun menguatirkan anak angkatnya dan ikut Tong-hujin ke sini.
"Gihu, menurut perkiraanmu, apakah Ling-cici pulang ke Cadam, ke tempat pamannya?"
Tanya Nyo Yam.
"Saat ini pasukan Boanjing sedang menggempur daerah Sinkiang, setahuku laskar Cadam juga sudah bergerak dan membantu kaum muslim melawan kerajaan Boanjing. maka boleh coba kau-pergi ke Lodan lebih dulu.."
Tong-hujin mengangguk, katanya.
"Betul, sebenarnya Kah goan sudah berunding denganku dan bermaksud mengirim anak muridnya untuk membantu Lohai. Soalnya Kah goan baru saja menjabat ketua, pula timbul kasus Ciong tianglo ini, mungkin dia masih harus mengurus dulu perguruannya baru dapat berangkat. Maka hendaknya kau pergi lebih dulu."
Nyo Yam menerima Peng-pok-han-kong-kiam katanya.
"Jika begitu biarlah segera kuberangkat."
"Nanti dulu,"
Tiba-tiba berkumandang suara ketiga yang sudah dikenalnya. Kiranya Beng Hoa juga menyusul tiba.
"Ini Siau-hoau-tan yang baru kuminta dari Bu-gi Taisu, kuberikan padamu,"
Kata Beng Hoa kepada Nyo Yam.
Siau-hoa-tan adalah obat mujarab buatan Siau-lim-si, obat paling manjur untuk menyembuhkan luka dalam.
Nyo Yam keracunan dan banyak mengganggu tenaga murni, kekuatannya sekarang baru pulih tiga bagian saja, maka Siau hoan tan itu sangat berguna baginya.
Dengan air mata berlinang Nyo Yam berkata.
"Koko, engkau terlampau baik padaku. Apa yang terjadi dulu semuanya kesalahanku."
"Ai, masakah kita masih perlu bicara sungkan serupa orang luar,"
Ujar Beng Hoa dengan tertawa.
"Jika bertemu dangan Lohai, sampaikan permintaan maafku kepadanya. Mestinya aku hendak pergi ke sana untuk membantunya, tapi terpaksa kutunda niatku ini karena untuk sementara ini harus kuselesaikan urusan lain yang penting."
Nyo Yam tahu urusan penting lain yang di maksudkan sang kakak adalah urusan membalaskan sakit hati Ciong Tian, katanya segera.
"Baik. biarlah kita membagi tugas. Tentu akan kusampaikan pesanmu ini."
Beng Hoa baru saja saling mengaku saudara dengan Nyo Yam, ia merasa berat untuk segera berpisah, katanya pula.
"Untuk membalas sakit hati Ciong-tianglo memang juga tidak harus ku lakukan dengan segera, biarlah kuantar keberangkatanmu."
Waktu diam-diam Ling Peng-ji meninggalkan Thian-san, ia melanjutkan perjalanan dengan pikiran kusut.
Tiba-tiba terdengar suara kresak-kresek, menyusul suara pletak-pletok retaknya gumpalan es seperti bunyi kacang goreng meletus, keras memekak telinga.
Peng-ji terkejut.
waktu ia pandang ke depan.
tertampak debu bergulung-gulung dan kabut berhambur.
Kiranya di depan ada sebagian lereng gunung sedang terjadi salju longsor.
Di lereng gunung yang penuh berserakan salju dan es, sedikit mengalami guncangan saja akan terjadi es dan salju longsor.
Peng-ji sudah sering melihat kejadian demikian.
dengan sendirinya tidak heran.
Dilihatnya keadaannya tidak begitu gawat, ia rada tenang, ia bersyukur bukan gugur salju yang dahsyat.
Siapa tahu, belum habis terpikir, di tengah suara pletakpletok retak gumpalan es itu sayup-sayup seperti terseling jeritan orang minta tolong.
Meski salju longsor itu tidak terlalu gawat, tapi kalau kebetulan orang lalu kepergok suasana demikian pasti juga akan terpendam hidup hidup oleh salju yang longsor itu.
Peng-ji kuatir yang tertimpa musibah itu jangan-jangan tamu undangan Thian-san-pai, tanpa pikir segera ia keluarkan ginkang yang tinggi, menghindari longsoran dari depan dan lari turun kesana untuk menolong orang.
Ginkang Peng-ji terhitung nomor satu di antara anak murid Thian-san-pai angkatan muda, kalau melulu soal ginkang ia hampir setinggi Beng Hoa dan sudah melampaui Nyo Yam.
Ia berlari di lereng es yang licin secepat terbang, hanya sekejap saja sudah sampai di bagian yang datar.
Karena kelongsoran itu tidak gawat, sampai di pinggang gunung yang tidak datar, gerakan longsor itu sudah mereda, bahkan berhenti.
tertampak gumpalan es yang pecah dan debu pasir tertimbun setinggi manusia.
Benar juga, di bawah gundukan es itu terdengar ada suara rintih orang.
Gundukan pasir campur es itu tampak menjumbul ke atas, sekali pandang dapat diketahui orang yang teruruk di bawah itu pun memiliki kungfu yang tidak lemah, saat itu sedang berusaha menyelamatkan diri sekuatnya.
Menolong orang serupa memadamkan api, dengan sendirinya Peng-ji tidak mau tinggal diam dan membiarkan orang meronta sebisanya.
Cepat ia bantu menyingkirkan gumpalan es yang menguruk di atas orang itu dan menyeretnya keluar.
Dan begitu bentuk tubuh orang itu dapat dilihat, seketika Peng-ji serupa melihat hantu, hampir saja ia tidak percaya kepada pandangan sendiri.
Meski muka orang itu masih berlepotan tanah, tubuh juga kotor, namun Peng-ji sudah dapat mengenali siapa dia.
Nyata dia bukan lain daripada orang yang paling dibenci Peng-ji, yaitu Toan Kiam-jing adanya.
Pada saat Peng-ji sedang melenggong, segera Toan Kiamjing melompat ke sampiug sehingga si nona terlambat satu langkah.
Begitu melompat minggir, dangan cengar-cengir Toan Kiam-jing lantas menyapa.
"Peng-ji, terima kasih atas kebaikanmu yang mengingat pada hubungan kita dahulu sudi menyelamatkan diriku."
Tidak kepalang gemas Peng-ji karena salah menolong musuh, segera ia mendamperat.
"Bangsat, hari ini kalau bukan kamu yang mampus biarlah aku yang gugur!"
Sembari memaki ia terus melolos pedang dan menusuk.
Karena hampir terkubur hidup-hidup oleh longsoran salju, napas saja masih tersengal, Toan Kiam-jing tidak sanggup melawan, terpaksa ia gunakan lengan bajunya untuk mengebas.
Tapi segera terdengar "bret", lengan baju terobek oleh pedang Peng-ji.
Diam-diam Toan Kiam-jing mengeluh, namun ia tetap cengar-cengir.
katanya.
"Peng-ji, tampaknya kamu ingin menjadi pasanganku yang senasib dan setanggungan? Memang, andaikan kita tidak dapat lahir pada tahun, bulan dan hari yang sama, biarlah kita mati bersama pada saat yang sama."
Peng-ji terpancing oleh akal bulus Toan Kiam-jing, saking gusarnya tangan pun gemetar, meski tusukan kedua kalinya dilontarkan, namun karena marahnya sasarannya kurang tepat.
Namun pada waktu Toan Kiam-jing menghindar, tidak urung langkahnya juga sempoyongan.
Serangan mengenai tempat kosong berbalik membuat pikiran Peng-ji menjadi jernih, ia tahu kesempatan baik sukar dicari, sedapatnya ia menahan omosi, ia incar dengan baik.
"sret", kembali pedang menusuk lagi. Karena gerak-gerik belum leluasa, Toan Kiam-jing sukar mematahkan serangan lawan. Terpaksa ia sambut serangan Peng-ji dengan keras. Ia keluarkan Liong-siang-kang dengan memukul dari jauh sebelum pedang si nona menyambar tiba. Liong-siang-kangnya sudah mencapai tingkat kedelapan, dalam keadaan biasa pedang Peng-ji pasti akan tergetar jatuh. Tapi sekarang tenaganya tersisa tingkat kedua saja, untuk mengguncang ujung pedang lawan saja tidak kuat. Maka serangan Peng-ji telah menggores luka pada punggung tangan Toan Kiam-jing. Untung dia masih sisa dua bagian tenaga. kalau tidak mungkin telapak tangan pun akan terkutung. Toan Kiam-jing menghela napas, katanya.
"Baiklah, kumohon kemurahan hatimu agar aku membereskan nyawaku sendiri. .Jelek-jelek kita pernah berhubungan baik, aku cuma minta diberi kelonggaran agar kepala tidak berpisah dengan tubuhku."
Habis bicara ia terus menjatuhkan diri dan menggelinding ke bawah lereng yang landai itu.
Peng-ji menyangka orang sudah kehabisan tenaga dan percaya dia benar-benar hendak bunuh diri, betapapun hatinya menjadi lunak dan tidak tega memotong kepala orang, ia pikir tidak ada ruginya membiarkan orang mati dengan tubuh lengkap.
Setelah menggelinding ke bawah dan sampai di tempat yang agak datar, Toan Kiam-jing terus mendekam tanpa bergerak.
Tanah bersalju cukup rata dan licin sehingga untuk menggelinding ke bawah tidak sampai menimbulkan luka.
Peng-ji tidak tahu dengan cara bagaimana orang akan membunuh diri, ia coba mendekatinya, dilihatnya ubun-ubun kepala orang mengepulkan kabut tipis.
Toan Kiam-jing masih ada sisa tenaga, untuk memutus urat nadi sendiri dan membunuh diri tidaklah sulit.
Tapi melihat keadaan orang, Peng-ji menjadi sangsi.
Tiba-tiba nona itu sadar jangan-iangan cuma pura-pura saja, maka ia coba menggertak.
"Ah, kukira lebih baik kubereskanmu saja, cukup pedangku bekerja pelahan dan segera kamu akan terbebas dari segala siksa derita."
Belum lenyap suaranya, benar juga Toan Kiam-jing lantas melompat bangun. Segera Peng-ji memaki.
"Bangsat yang tidak tahu malu, berani menipuku dengan pura-pura mati?!"
"Hahahaha, aku merasa berat meninggalkanmu, maka mendadak tidak mati,"
Seru Toan Kiam-jing dengan tergelak. Dalam pada itu, secepat kilat ujung pedang Peng-ji telah mengancam di depan tenggorokannya sambil mendengus.
"Hm manusia kotor semacam dirimu untuk apa hidup di dunia ini."
Tampaknya ujung pedang si nona segera akan menembus leher lawan, siapa duga mendadak jari Toan Kiam jing menyelentik.
"tring", pedang Peng-ji tergetar ke samping.
"Kamu salah omong,"
Kata Toan Kiam jing dengan cengarcengir.
"Masih ada gunanya kuhidup di dunia ini, yaitu dapat menemanimu. Menurut pendapatku, lebih cocok kau kawin saja denganku. Sebelum ini aku memang berbuat kurang baik padamu, aku tahu salah. Padahal bocah she Nyo itu terlebih brengsek daripadaku. masa tidak kau lihat dia sedang memikat Siau-yau-li she Liong itu. Hm, bocah she Nyo itu agaknya ingin sekali tembak dua burung,"
Gemas tambah murka Peng-ji oleh ocehan Toan Kiam-jing, serentak ia menyerang lagi belasan kali.
Namun gerakan Toan Kiam-jing sekarang ternyata tidak lamban lagi, kedua tangan bekerja cepat dan seluruh serangan Peng-ji dapat dipatahkan.
"Haha, Peng-ji, sudah terlambat jika sekarang kamu ingin membunuhku?!"
Seru Toan Kiam-jing dengan terbahak.
Kiranya tadi meski Toan Kiam-jing hampir kerpendam hidup hidup, namun dia tidak mengalami luka apa pun.
Sebabnya tenaganya banyak berkurang, yang utama adalah akibat pertarungannya melawan Nyo Yam.
Pada jurus terakhir, meski dengan jarum berbisa Nyo Yam dapat dilukainya, tapi tenaga Toan Kiam-jing sendiri juga tersisa separoh saja.
Justru lantaran itulah ginkangnya juga terpengaruh, akibatnya langkahnya kurang lincah dan ringan dan menimbulkan salju longsor serta tergelincir ke bawah.
Toan Kiam-jing masih menguasai semacam Iwekang istimewa, namanya "Ku-sit-Kang"
Atau ilmu tahan napas cara kura-kura.
Lwekang ajaran seorang paderi Thian-tok hasil bujuk rayu dan tipu liciknya.
Ilmu inilah yang sekarang dilaksanakannya.
Rupanya pada waktu ia mendekam di bawah dan pura-pura mati tadi, dalam waktu tidak terlalu lama itu ia sempat mengatur pernapasan dengan Ku-sit-kang sehingga memulihkan setengah tenaganya.
Cuma tenaga yang terkuras akibat pertempuran dengan Nyo Yam tidak dapat dipulihkan seluruhnya dalam waktu singkat.
Untung juga tenaganya baru pulih separoh saja sehingga Ling Peng-ji masih sedikit lebih unggul.
Toan Kiam-jing juga kuatir anak murid Thian-san-pai yang lain akan menyusul tiba, maka setelah mematahkan belasan jurus serangan Peng-ji, pada suatu kesempatan, segera ia menjentikkan puyer Sin-sian-san dengan kuku jarinya.
Mendingan ia tidak menggunakan Sin-sian-san, sekali ia menggunakan obat bius itu, seketika memancing digunakannya Peng-pok-sin-tan oleh Ling Peng-ji Peng-pok-sin-tan atau peluru es sakti dapat membuyarkan gas racun Sin-sian-san, maka ketika merasa kepala pening segera Peng ji ingat padanya masih tersimpan puluhan biji Peng-pok-sin-tan.
Lebih dulu ia melompat mundur beberapa tombak jauhnya, menyusul peluru es sakti lantai dihamburkan.
Karena hujan peluru es itu, Iwekang Toan Kiam-jing yang baru pulih separoh itu tentu saja tidak tahan.
meski tidak sampai kaku terbeku, tidak urung giginya gemertak.
Tiada jalan lain terpaksa ia menyerempet bahaya dan melancarkan serangan lagi.
Toan Kiam-jing pernah belajar tiga tahun di Thian-san, ia cukup apal terhadap ilmu pedang Thian-san, malahan lebih mahir daripada Ling Peng-ji.
Dengan menahan rasa dingin ia balas menyerang mati-matian sehingga dari terserang kini berubah menjadi penyerang.
Terpaksa Peng-ji harus memainkan Peng-tjoan-kiam-hoat barulah mampu bertahan.
Sayangnya Peng-tjoan-kiam-hoat Peng-ji adalah ajaran Tong-hujin dan belum terlatih sempurna, yang lebih sayang lagi pedang yang digunakan bukan Peng-pok-han-kong-kiam, kalau tidak, tidak mungkin Toan Kiam-jing sanggup melawannya dari jarak dekat.
Namun terdesaknya Peng-ji oleh serangan balasan Toan Kiam-jing itu hanya untuk sementara saja, hal ini dipahami Peng-ji, juga disadari Toan Kiam-jing.
Jika pertempuran berlangsung lama, selain Toan Kiam-jing harus menghadapi Peng-tjoan-kiam-hoat yang masih asing baginya, ia juga harus melawan hawa dingin yang timbul dari Peng-pok-sin-tan, maka sisa tenaganya yang tinggal separoh itu pasti akan susut dan akhirnya pasti kalah.
Setelah serangan cepat gagal, timbul nafsu bunuh Toan Kiam-jing.
Waktu perang tanding dengan Nyo Yam tadi ia melukai anak muda itu dengan jarum berbisa dan dari terdesak menjadi menang.
Sekarang ia hendak mengulangi akal liciknya itu, diam-diam ia siapkan sebatang jarum berbisa.
la tahu kalau melulu berdasarten tenaga sekarang, bila jarum ini dilemparkan tentu akan disampuk jatuh oleh pedang Ling Peng-ji, satu-satunya jalan agar jarum langsung mengenai tubuh lawan harus menyerempet bahaya mendekati si nona.
Setelah ambil keputusan, serentak ia menubruk maju dengan gerakan ilmu yoga yang aneh.
Perhitungannya cukup tepat, saat itu Ling Peng-ji sedang menggunakan jurus "Peng-ho kai-tang"
Atau sungai es mencair, pedang bergerak ke depan sehingga pertahanan terbuka, dalam keadaan demikian bila ia maju tentu pedang si nona sukar melukainya.
Tapi apa yang terjadi sama sekali di luar dugaannya, tusukannya meleset.
Justru pada detik terakhir yang menentukan, tiba-tiba dirasakan Kik-ti-hiat pada sikut kanannya kesemutan sehingga cengkeramannya melenceng, pedang Ling Peng ii terus putar balik dan menyayat luka panjang pada lengan kirinya.
Untung selisih beberapa senti dan tidak melukai tulang belikatnya.
Toan Kiam jing meraung kesakitan sambil melompat mundur, bentaknya.
"Siapa itu , ."
Belum lanjut ucapannya, kembali ujung pedang Ling Peng ji menuding lagi dadanya.
Diam-diam Peng ji juga bersyukur, ia tidak mengerti mengapa pada detik menentukan itu Toan Kiam-jing bisa berbuat kesalahan.
Ketika didengarnya bentakan Toan Kiam jing bertanya "siapa"
Barulah teringat olehnya jangan-jangan di luar tahunya ada orang telah membantunya?
Ia coba memandang sekitarnya dan tidak melihat bayangan seorang pun.
Ia tidak sempat pikir lagi, asalkan pedangnya putar balik lagi tentu Toan Kiam jing dapat dibinasakan, buat apa mesti minta bantuan orang lain pula?
Siku Toan Kiam-jing terbena senjata rahasia kecil, menurut perasaannya dapat diketahui sejenis jarum yang lembut, dan entah berbisa atau tidak.
Dalam keadaan terdesak, ucapannya tadi tidak sanggup diteruskan, ia ngeri dan mengira sekali ini jiwanya pasti melayang.
Siapa tahu mendadak terdengar "tring"
Sekali, entah dari mana datangnya sebutir batu menimpuk jatuh pedang yang dipegang Ling Peng-ji.
Lolos dari cengkeraman elmaut, seketika Toan Kiam-jing lemas lunglai serupa orang habis sakit berat dan menggeletak terkapar di tanah.
Berbareng itu ia pun sempat melihat kemunculan si penolong.
Kiranya tak-lain tak bukan adalah Pek-toh-sancu adanya.
Dalam sekejap itu selain kejut dan girang, malahan Toan Kiam-jing juga merasa sangsi.
Sebab, bilamana Ubun Pok telah menolongnya jelas dia pasti bukan orang yang menyergapnya tadi.
Lantas siapa pula orang itu?
Melihat kemunculan Ubun Pok, tidak kepalang gemas dan pedih Ling Peng-ji, teriaknya.
"Bangsat she Toan. biarpun hari ini tidak dapat kubunuhmu, menjadi setan pun akan kutuntut balas padamu."
Habis berkata demikian segera ia bermaksud memutuskan urat nadi sendiri untuk membunuh diri.
Akan tetapi Ubun Lok bertindak lebih cepat daripada Pengji, baru saja nona itu mulai mengerahkan tenaga dalam, kembali sebiji batu kecil ditimpukkan Ubun Pok dan tepat mengenui hiat to Peng-ji, seketiku nona itu berdiri kaku dan tak bisa berkutik.
"Nona Ling, kau cari mati,"
Kata Ubun Pok dengan tertawa.
"Jika kamu tidak ingin jatuh dalam tangan Toan Kiam-jing, biarlah kubawa diri-mu pulang ke Pek-toh-san."
Luka Kinm-jing tidak ringan, baru sekarang ia dapat merangkak bangun, dengan sangsi ia berkata.
"Ubun-sancu, apakah benar engkau hendak membawanya pulang?"
Padahal yang ingin ditanyakan adalah mengapa tidak kau serahkan dia padaku, soalnya ia tidak berani bertanya secara terang-terangan, maka ia sengaja main putar dan tanya secara tidak langsung.
Dengan hambar Ubun Pok menjawab.
"Betul, anak dara ini sangat berguna bagiku, ingin kuambil dia sebagai murid. Toan cilik, untuk menjadi suami-istri perlu saling sayang, anak dara ini benci dan ingin membunuhmu, jika kau paksa dia kawin denganmu, selama bidupmu tentu akan selalu kebat-kebit kuatir melulu, lalu apa artinya hidupmu beristrikan dia?"
Tentu saja Toan Kiam-jing sangat mendongkol, tapi saat ini ia perlu pertolongan Ubun Pok untuk bisa meninggalkan Thian-san, dalam keadaan kepepet mana ia berani membantah.
Setelah agak tenang, dengan menyengir ia menjawab.
"Ucapan Sancu memang betul. Seorang lelaki masakah kuatir tidak mendapatkan istri. Jika Sancu suka kepada anak dara ini, terserahlah kepada kehendakmu. Cuma, di sekitar sini seperti tersembunyi seorang begundalnya, hendaknya Sancu waspada bilamana disergap."
Ubun Pok memandang sekitarnya, mendadak ia menghantam beberapa kali ke segenap penjuru sehingga menimbulkan batu pasir beterbangan, namun tidak tampak bayangan seorang pun. Dengan terbahak ia berkata.
"Aku tidak sempat mencarl lagi, biarpun ada begundalnya kuyakin juga tidak berani menyergapku."
Habis bicara segera ia angkat Peng-ji dan dibawa pergi. Keruan Toan Kiam-jing terkejut dan kuatir, cepat teriaknya.
"Hei, Ubun-saucu. kan aku pun perlu pertolonganmu!"
Dengan ketus Ubun Pok menjawab.
"Aku cuma dapat menbawa satu orang, jika sementara ini kamu belum sanggup berjalan, boleh istirahat sementara di sini."
Saking gemasnya hampir saja Toan Kiam jing jatuh kelengar, tapi apa daya, terpaksa ia hanya menyaksikan kepergian orang.
Tapi baru beberapa langkah, mendadak Ubun Pok berhenti dan berdiri di atas sepotong batu padas yang tinggi serta memandang sekelilingnya, lalu beriuit panjang.
Hanya sebentar saja terdengar suara suitan lain menyahut dari kejauhan, suaranya kecil bening mendenging di angkasa raya.
Meski suara suitan orang itu tidak sekuat suitan Ubun Pok, namun betapa tinggi lwekangnya jelas masih di atas Ubun Pok.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 19 Diam-diam Ubun Pok terkesiap, namun tetap bersikap tenang saja, ia berpaling dan teigelak, katanya kepada Toan Kiam-jing.
"Betul juga keterangan anru u, memang benar masih ada orang lain. Tapi tidak perlu kuatir, ini kan orang kita sendiri. Hche, jika ada orang datang, tentu kamu akan dibantunya, maka boleh kautunggu di sini ' Meski kehilangan teuaga, apa pun juga Toan Kiam-jing seorang ahli suat, dapat didengarnya suara suitan itu berku r nd i g dari lima-enam li jauhnya, betapa tinggi ginkaug pendatang ini juga memerlukan sementara waktu. Sebenarnya ia hendak memberitahukan Ubun Pok bahwa perver^p tadi tenu masih sembunyi di sekitar sini dan bu La n orang yang bersuit ini. Tapi belum lagi ia cei takan pengalamannya disergap tadi, Ubun Pok sudah telanjur pergi. Ubun Pok tidak n enuju ke arah datangnya suara melainkan ke arah yang berlawanan, bahkan cepat sekali langkahnya, hanya sekepap saja sudah lenyap. Mau-tak-mau timbul juga curiga Toan Kiam-jing, jika orang sendiri, mengapa Ubun Pok malah menghindarinya? Janganjangan karena menggondol Ling Peng ji sehingga malu menemui orang sendiri. Toan Kiam-jing mengira dugaannya itu cukup masuk di akal, tak tahunya urusannya s*?ma sekali bukan begitu. Maksud tujuan Ubun Pok justru jauh lebih keji daripada perkiraannya. Pada hakikatnya Ubun Pok tidak tahu siapa yang datang itu, yang d ketahuinya hanya pasti "bukan orang sendiri."
Dan karena bukan orang sendiri, maka besar kemungkinan orang pihak Tbian-san-pai, jika begitu, maka dia harus lekaslekas melarikan diri.
Kiranya Thian-mo-kai-te-tai-hoat yang dikerahkan untuk menambah tenaganya itu sekarang mulai lenyap.
Menurut perhitungan, paling lama satu jam lagi keadaannya akan pulih kembali serupa dia bertempur melawan Beng Hoa tadi, yaitu cuma setengahnya kekuatannya semula.
Sisa setengah tenaga ini levvct tiga hari lagi tentu akan tinggal sebagian kecil saja.
Dalam keadain bagifu, jika dalam rcpuluh hari ia dapat pulang ke Pefe-toh-san, maka untunglah baginya , kalau tidak, tentu dia akan menggeletak di tengah jalan.
Sebab itulah ia justru berharap yang datang ini adalah orang sendiri.
Tapi begitu mendengar suara suitan fadi, segera ia tahu pasti bukan orang sendiri.
Betapa tinggi lwekang pendatang ini, biarpun keadaannya sehat juga tidak dapat melebihi orang ini.
Ia bersuit juga cuma untuk menguji pihak lawan saja, setelah jelivs.
""a pikir Toan Kiam-jing sudah tiada gunanya lagi bagiku, jika tidak kubunuh dia fudah cukup baik baginya, jika pen-dat ng ini benar orang pihak Thian-san, tentu Toai Kiam-jing akan dibunuhnya. Dia memang murid khianat Thiansan, jika dibunuh orang seperku ruannya tentu setimpal juga. Ternyata dugaan Ubun Pok ini kembali meleset. Sobab orang yang datang ini bukan orang Thian-san-pai. Seorang lagi yang sembunyi di sekitar situ begitu Ubun Pok pergi segera muncul "membereskan"
Toan Kiam-jing juga bukan orang Thian-san-pai melainkan Liong Ieng-cu.
Pada waktu terjadi salju longsor, Leng-cu sembunyi di bawah celah-celah batu karang yang tepat terletak di belakang Toan Kiam-jirg sehingga apa yang terjadi dapat disaksikannya.
Ia tidak ingin bsrtemu dengan Ling Peng-ji, maka ia cuma membantunya dengan sergapan jarum sehingga Toan Kiamjing dirobohkan.
Siapa tahu, meski bantuan Leng-cu secara diam-d>ara itu berhasil, tapi sebelum Ling Peng-ji sempat membunuh Toan Kiam-jing, tahu tahu Ubun Pok keburu muncul.
Leng-cu tahu dirinya pasti bukan tandingan Ubun Pok, terpaksa ia saksikan Ling Peng-ji dibawa lari oleh Ubun Pok.
Dan begitu Ubun Pok pergi, seorang lagi selekasnya juga akan muncul, yaitu orang yang bersuit nyaring itu.
Waktu sudah mendesak, tidak boleh tidak dia harus lekas bertindak membereskan Toan Kiam-jing, maklumlah, suara suitan itu pun tidak dikenalnya suara siapa.
Pada saat yang sama Toan Kiam-jing juga mera a sangsi dan bermaksud bangun.
Tapi kedua bahunya lantas dirasakan kesakitan sekali, tanpa ampun ia menjerit dan jatuh pingsan.
Tulang bahu Toan Kiam-jing ditembus oleh jarum Liong Leng-cu, semula nona itu bermaksud t mencabut nyawanya, tapi terpikir olehnya dendam Ling Peng-ji kepada orang she Toan itu sedalam lautan, lebih baik biarkan Peng-ji sendiri yang membunuhnya kelak.
Karena perubahan pikiran itulah, ia hanya memunahkan kungfu Toan Kiam-jing dengan membuat cacat tulang bahunya.
Lalu timbul pikiran Leng-cu akan kembali ke Thian-san untuk menyampaikan berita diculiknya Ling Peng-cu oleh Ubun Pok.
Agar tidak dipergoki pendatang yang bersuit itu, segera ia ambil arah yang lain dan putar balik ke Thian-san Mungkin sudah suratan nasib, karena ke pergiannya itulah ia kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Nyo Yam sehingga harus berselang agak lama baru kemudian Nyo Yam menerima kabar tentang diculiknya Ling Peng-ji itu.
Entah sudah berselang berapa lama, akhirnya Toan Kiamjing siuman kembali.
Dan begitu sadar segera ia melihat orang yang sekian lama ingin dihindari, tapi sekarang justru sangat diharapkannya.
Rupanya dugaan Liong Leng-cu bahwa pendatang ini adalah begundal Toan Kiam-jing ternyata keliru.
Kebohongan Ubun Pok berbalik tepat malah.
Orang ini bukanlah begunda1.
Toan Kiam-jing melainkan satu-satunya sanak keluarga Toan Kiam-jing yang terdekat, yaitu pamannya, Toan Siu-seh.
Walaupun bukan "orang sendiri"
Seperti apa yang dimaksudkan Ubun Pok, namun memang betul orang sendiri.
Kedatangan Toan Siu-seh ini justru ingin mencari dan menangkap Toan Kiam-jing untuk dibawa pulang dan diberi hajaran setimpal.
Kedatangannya ini sebenarnya untuk memenuhi undangan Tong Kah-goan.
di tengah perjalanan ia bertemu Koai-hoat Tnio yang menyampaikan sebuah kabar padanya, yaitu tentang ber-komplotnya Toan Kiam-jing dengan Pek-toh-sancu Ubun Pok, bahkan diberitahu bahwa kedua orang itu saat ini sedang menuju ke Thian-san.
Biarpun Toan Siu-seh sangat gemas terhadap kemenakan yang durhaka itu, tapi berita itu membuatnya kaget dan juga cemas.
Maklumlah, karena patah hati pada waktu muda, sudah lama Toan Siu-seh bertekad takkan menikah.
Maka Tcan Kiam-jing merupakan satu-satunya bibit keluarga Toan yang berkewajiban meneruskan keturunan.
Karena itulah ia kuatir Toan Kiam-jing akan menimbulkan bencana dan di bawah kemurkaan orang banyak, bukan mustahil orang Thian-san-pai akan menghukum mati kemenakannya itu.
Tak terduga sebslum hadir di tengah upacara besar Thiansan-pai, di sini sudah ditemui Toan Kiam-jing vang terluka parah.
Cepat ia memberikan obat luka serta membalut tulangnya yang remuk.
Jadi Toan Kiam-jing siuman karena kesakitan waktu sang paman melakukan pertolongan padanya.
Begitu siuman, Toan Kiam-jing hanya sempat bersuara minta tolong pada sang paman, lalu tidak sanggup meneruskan lagi.
Padahal umpama sanggup bicara juga apa yang dapat dikatakannya kepada sang paman?
Pedih juga hati Toan Siu-seh dan juga gemas, la gemas karena kemenakannya yang durhaka itu, pedih juga karena kemenakan yang diharapkan meneruskan keturunan keluarga Toan ini kini telah menjadi cacat selama hidup.
Ia sangka dipunahkannya kungfu kemenakan itu adalah hukuman yang diberikan pihak Thian-san-pai.
Ia tidak berani dendam kepada Thian-san-pai.
cuma dianggapnya hukuman demikian agak terlalu berat.
Dalam keadaan demikian, apa pula yang dapat dikatakannya?
Mencaci maki kemenakan itu atau menghiburnya, ia merasa serba salah, yang dilakukannya hanya berusaha menyelamatkannya saja.
Dan begitulah, sesudah Nyo Yam berpisah dengan Beng Hoa, iayup-sayup lantas didengarnya di tempat yang tidak jauh seperti ada orang me-rintih.
Mestinya ia tidak menuju ke arah sana, demi mendengar suara rintihan itu, kuatir kalau yang terluka itu Ling Peng-ji maka cepat ia memburu ke sana.
Dari sama sekali di luar dugaannya bahwa Toan Kiam-jing yang ditemuinya dalam keadaan terluka.
Ia tidak kenal Toan Siu-seh, melihat orang tua ini sedang membalut luka Kiam-jing, disangkanya Toan Siu-seh adalah kawanan siluman Pek-toh-san.
Segera ia melolos pedang dan menerjang ke sana.
"Kamu mau apa?"
Bentak Toan Siu-seh. Nyo Yam balas membentak.
"Jika kamu tidak ingin mati bersama jahanam ini, hendaknya lekas enyah dari sini!"
"Apakah atas perintah ketua kalian kamu memburu kemari untuk membunuhnya?"
Tanya Toan Siu-seh.
"Urusan Thian-san-pai tidak perlu kautanya,"
Jengek Nyo Yam.
"Jika ingin nyawa lekas enyah dan jangan banyak cingcong."
Memangnya Toan Siu-seh sudih kurang puas, ia merasa hukuman pihak Thian-san-pai terhadap kemenakannya agak terlalu berat.
Sekarang Nyo Yam menghadapinya dengan katakata keras, mau tak-mau ia menjadi marah juga.
Jawabnya.
"Maaf, aku justru ingin ikut campur urusan ini. Boleh kau pulang dan lapor kepada ketua kalian, katakan sebentar akan kukunjungi dia dengan membawa Kiam-jing."
Nyo Yam tidak sabar lagi, bentaknya.
"Baik, boleh coba cara bagaimana kamu akan ikut campur?!"
Habis berucap, kontan pedangnya menusuk.
Serangan ini menggunakan Liong-sang-kiam-hoat, cepat lagi ganas.
Toan Siu-seh terkejut, ia pikir sudah sepuluh tahun tidak berkunjung ke Thian-san, tak tersangka tunas Thian-san-pai sudah tumbuh secepat ini, sampai seorang murid ingusan begini juga menguasai ilmu pedang sehebat ini.
Namun ia sendiri adalah seorang maha guru persilatan, meski tidak kenal Liong-siang-kiam-hoatt untuk melayaninya tentu tidak sulit.
Sekali lengan baju mengebas, segera pedang Nyo Yam tersampuk ke samping.
Jika dia mengeluarkan sepenuh tenaga, bisa jadi Nyo Yam yang belum pulih kembali kekuatannya itu akan kewalahan dan pedang terlepas dari tangan.
Sekali gagal menusuk, segera pula Nyo Yam ganti jurus serangan, yang digunakan sekali ini adalah Si-mi-kiam-hoat, dari menyerang berubah menjadi bertahan.
Kembali Toan Siu-seh terkejut dan mengakui kelihaian Nyo Yam, biarpun belum sehebat Tong Kah-goan, jelas sudah di atas keempat murid utama Thian-san-pai.
Hanya tenaga dalam anak muda ini kelihatan lemah, jangan-jangan tadi Kiara-jing sudah bergebrak dengan dia.
Belum habis berpikir, kembali serangan Nyo Yam nerubah lagi, yang digunakan sekarang adalah jurus Oh-kah-cap-pekpah yang baru saja dipelajarinya.
Meski tidak selihai Tan-ciusing dan Beng Hoa, namun sekaligus ia sudah mampu menyerang ke-18 tempat hiat-to Toan Siu-seh.
Sebagai sahabat lama Tan-ciu-sing, dengan sendirinya Toan Siu-seh kenal jurus andalan kawan itu dan tidak nanti sampai kecundang oleh jurus serangan ini.
Tentu saja ia tambah heran dan kejut.
"cring", ia selentik pedang Nyo Yam sambil membentak.
"Siapa kamu ini? Siapa yang mengajarkan jurus Oh-kah-cap-pek-pah ini kepadamu?"
Nyo Yam terkesiap, diam-diam ia mengaku pengetahuan orang yang luas dan dapat mengeral jurus Oh-kah-cep-pekpeh. Jawabnya sambil mendengus.
"Hm, antara yang benar dan jahat tidak dapat hidup bersama. Biarpun bukan tandinganmu tetap akan kulawan, jika kamu mampu, silakan bunuh saja diriku dan tidak perlu banyak omong."
Dan ketika pedang Nyo Yam menusuk lagi, tiba tiba seorang membentak.
"Jangan bertindak kasar, adik Yam!"
Orang ini menggunakan gelombang suara dan tersiar dari jarak beberapa li jauhnya, namun kedengarannya serupa orang bicara berhadapan.
Nyo Yam terkejut karena ia kenal suara orang, ia tidak percaya kepada telinga sendiri, ia heran mengapa kakak berbalik membela kawanan siluman ini.
Belum habis terpikir, terlihat Beng Hoa sudah muncul di depannya.
Kiranya sehabis Beng Hoa berpisah dengan Nyo Yara, belum seberapa jauh lantas didengarnya suara suitan Toan Siu-seh yang dikenalinya sebagai suara sang guru, maka cepat ia memburu kemari untuk menyongsongnya.
Tak terduga dilihatnya sang guru sedang bertempur dengan adiknya, maka dari jauh ia lantas bersuara agar kedua orang tidak saling cidera.
Toan Siu-seh adalah guru pertama Beng Hoa, bahkan yang membesarkan anak muda ini.
Segera Beng Hoa memberi hormat, katanya.
"Suhu, mohon dimaafkan kesembronoan adik murid yang kurang pengalaman ini."
"Hah, dia gurumu?"
Tanya Nyo Yam terkejut.
"Nah, tidak lekas kauminta maaf kepada Su pok?' bentak Beng Hoa. Namun Nyo Yam tidak menurut, jawabnya.
"Jika benar ia gurumu, mengapa dia sengaja membela si jahanam Toan Kiam-jing ini?"' "O, kiranya dia adikmu,"
Kata Siu-seh kepada Beng Hoa.
"masih muda belia dan sudah memiliki kepandaian setinggi ini, sungguh harus dipuji. Ia tidak tahu asal-usulku, maka dia tidak dapat disalahkan."
Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas dan berkata pula.
"Memang kemenakanku ini yang salah, seumpama dia tidak menghormatimu juga tidak kumarah padamu. Beng Hoa, sekarang bukan kewajibanmu mintakan maaf bagi adikmu, justru akulah yang ingin mohon kemurahan hati kalian bersaudara."
Keruan Beng Hoa gugup, ucapnya.
"Mengapa Suhu bicara demikian, sungguh murid merasa malu. Ada urusan apa, silakan Suhu bicara saja."
"Aku tidak dapat ikut campur urusan dalam perguruan Thian-san,"
Ucap Toan Siu-seh.
"Cuma kungfu binatang cilik ini sekarang sudah punah, maka kuharap kalian suka mengampuni kematian nya."
Beng Hoa semula menyangka tulang pundak Toan Kiamjing dihancurkan sendiri oleh sang paman, ia pikir umpama Toan Kiam-jing dibawa pulang din dijatuhi hukuman, paling berat juga cuma apa yang terjadi sekarang.
Maka jawabnya.
"Suhu maha adil tanpa pandang bulu, tentu urusan ini akan kulaporkan kepada Tong-ciangbun dan tentu beliau akan memaklumi kehendak Suhu."
"Aku ... aku ingin pulang ke Taili, biar mati saja di ... di rumah. Paman, mohon engkau membawaku pulang ...."
Habis bicara.
Kiam-jirg pura-pura pingsan.
Tentu saja lagak pingsannya itu sukar mengelabui mata Toan Siu-seh, namun punahnya kungfu Kiam-jing adalah nyata, dengan sendirinya ia dapat membayangkan derita kemenakannya itu jika harus disekap di Thian-san yang bersuhu maha dingin.
Setelah ragu sejenak, akhirnya Toan Siu-seh berkata.
"Anak Hoa, mestinya aku hendak menyampaikan selamat kepada Tong-ciangbun, tapi sekarang ... ."
"Jika Suhu ada urusan lain boleh silakan saja,"
Tukas Beng Hoa.
"Biarlah nanti kusampaikan pesan Suhu ini kepada Tong ciangbun."
"Kamu memang murid yang baik,"
Kata Toan Siu-seh sambil memanggul Toan Kiam-jing dan dibawa peigi Setelah kedua orang itu pergi, Nyo Yam berkata, 'Koko, engkau sungkan kepada gurumu, tapi terlalu enak bagi jahanam Toan Kiam-jing itu."
"Jangan berkata demikian,"
Ujar Beng Hoa.
"Manusia mana yang tidak ... ."
"Manusia mana yang tidak pernah berbuat salah, kalau salah berani memperbaikinya itulah jalan paling baik,"
Sambung Nyo Yam.
"Demikian bukan yang hendak kaukatakan? Namun aku tidak percaya manusia semacam Toan Kiam-jing benar-benar dapat menyadari kekeliruannya?"
"Tapi tulang bahunya sudab dihancurkan pamannya dan kungfunya sudah punah?"
Ujar Beng Hoa.
'"Umpama sampai mati pun dia tidak sadar, lalu apa yang mampu diperbuatnya lagi?
Keadaannya sudah sedemikian rupa, kupercaya Lingcicimu pasti juga akan mengampuni dia.
Sekarang lekas kaususul ke Lodan untuk.
mencari Ling cicimu." -* -Tanpa alangan Nyo Yam menempuh per-jalanan dan tidak sampai sebulan ia sudah masuk wilayah suku bangsa Lodan.
Di luar dugaannya, Ling Peng-ji tidak ditemukan, tapi sahabat baik Peng-ji yang dilihatnya lebih dulu, yaitu pasangan suamiistri Sindal dan Romana Luka Sindal sudah sembuh, dia datang dari kampungnya.
Romana sendiri karena menguatirkan keselamatan sang suami, maka sengaja memimpin sepasukan prajurit wanita bertolak dari Lodan untuk memapak Sindal Pertemuan dengan Nyo yam tanpa terduga ini membuat mereka semua gembira.
Kembali Sin-dal mengucapkan terima kasih atas pertolongan Nyo Yam tempo hari, ia tanya.
"Nyosiauhiap, urusan engkau difitnah orang jahat itu tentu sudah dibereskan bukan?"
"Terima kasih atas perhatianmu,"
Tutur Nyo Yam.
"Sekarang Ciangbunjin baru sudah berkenan menerimaku kembali ke dalam perguruan."
"Lalu dagaimana dengan Ling-cici, mengapa tidak datang bersamamu?"
Sela Romana. Nyo Yam terkejut.
"Justru hendak kutanya kepadamu, memangnya dia belum sampai di sini?"
"Tiga hari yang lalu waktu kutinggalkan Lo dan belum lagi melihat kedatangannya,"
Tutur Romana.
"Tadi baru kutanya. seorang prajurit pengintai yang baru keluar dari kota. katanya beberapa orang yang baru datang juga tidak terdapat ' Lingcici."
Ling Peng-ji adalah sahabat baik Romana, jika nona itu sudah datang tentu akan d laporkan prajurit pengintai itu kepadauya. Keterangan ini sangat mengecewakan Nyo Yam, ia coba tanya lagi.
"Lalu bagaimana dengan Ce Se-kiat? Kaharnya sejak bulan yang lalu ia sudah berangkat dari Cadam menuju ke Lodan ... ."
"Betul, dia memang suciah datang, tapi juga lantas berangkat lagi,"
Sahut Romana.
"Tadinya kukira dalam perjalanannya akan bertemu denganmu."
"Apakah dia berangkat ke Thian-san?"
Tanya Nyo Yam.
"Betul, begitu dia datang dan mendengar berita keberangkatanmu ke Thian-san bersama Ling-cici, segera ia pun menyusul ke sana,"
Tutur Romana.
"Eh. bukankah pedang yang kaubawa ini adalah Peng pok-han-kong-kiam milik Lengcici?"
"Betul, justru Ling-cici yang minta kuserahkan pedang ini kepadanya,"
Kata Nyo Yam.
"Sayang, kembali tidak dapat bertemu dengan dia."
Diam-diam ia pikir.
"Ce Se-kiat juga jatuh hati kepada Lingcici, apabila dahulu tidak dialang-alangi ibunva, sebenarnya mereka dapat menjadi pasangan suami-istri yang baik. Ai, semuanya gara-garaku sehingga urusan menjadi runyam."
Mendadak perasaannya tergetar.
"Mengapa aku menyesal kegagalan hubungan mereka? Bukankah kuyakin hanya, diriku saja yang dapat membuat bahagia Ling-cici? Mengapa sekarang kepercayaanku sendiri goyah?"
Karena pikiran ini, seketika ia termenung dengan pikiran kusut.
"Eh, bagaimana dengan nona Liong itu?"
Tanya Romana tiba-tiba.
"Aku pun tidak tahu dia berada di mana sekarang,"
Jawab Nyo Yam bingung. Romana menggeleng kepala, katanya.
"Masih ingatkah apa yang pernah kukatakan padamu tempo hari?"
"Apakah maksudmu kata kiasan suku Kasak yang memgumpamakan cinta dengan gembok dan anak kunci itu?"
Jawab Nyo Yam.
"Betul,"
Kata Romana "Kata kiasan itu menyatakan hanya sebuah anak kunci yang dapat membuka sebuah gembok."
Melihat sikap Nyo Yam yang linglung itu Sin-dal juga menggeleng kepala, katanya.
"Peperangan di sini hampir dimulai, untuk apa kalian bicara tentang gembok dan kunci segala? Kukira urusan penting yang perlu kita bicarakan sekarang adalah tentang cara bagaimana harus kita bobol kepungan pasukan Boanjing kepada kita."
"He, bukankah kalian sudah menang suatu pertempuran?"
Tanya Nyo Yam.
"Peperangan tidak dapat ditentukae dengan sekali dua kali kemenangan saja,"
Ujar Sindal.
"Pihak Boanjing sudah mendatangkan bala bantuan dari Lamling, mungkin dalam waktu singkat mereka akan melancarkan serangan besarbesaran.' "Coba terka mengapa kutanya kata nona Liong padamu?"
Kata Romana.
"Soalnya ada seorang kawan lain juga ingin tahu keadaannya."
"Siapa?' tanya Nyo Yam.
"Orang ini pun kaukenal."
Tutur Romana.
"Dia adalah tokoh laskar rakyat Cadam Sau Ho-lian adanya."
Dahulu atas permintaan Beng Hoa pernah Sau Ho-lian menggiring Nyo Yam ke Cadam, di tengah jalan tawanannya dirampas Liong Leng-cu. 'Apakah dia masih dendam pada nona Liong dan diriku?"
Tanya Nyo Yam.
"Kebalikannya,"
Tutur Romana.
"Dia sudah tahu kalian adalah kawan seperjuangan yang membantu kami melawan pasukan Boanjing. Dia diutus oleh laskar rakyat untuk mengadakan kontak dengan kami, sekarang dia masih berada di tempat kami. Kabarnya Beng Goan-ciau Beng-taihiap segera akan tiba membawa sepasukan sukarelawan."
"Apa betul?"
Nyo Yam menegas dengan perasaan terguncang sehingga suara pun berubah parau.
"Tentu saja betul,"
Ucap Romana.
"Eh, ada apa?"
Pada saat itulah terlihat di puncak gunung sekeliling mengepul asap tebal, itulah isyarat pengintai yang berada di pos pengintai puncak gunung itu menemukan jejak musuh.
"Hm, kedatangan pasukan musuh ternyata lebih cepat daripada dugaan kita,"
Jengek Smdal "Ya, bukan waktunya buat kita bicara urusan pribadi, marilah lekas kita pulang untuk siap tempur,"
Ajak Romana.
-odwo-Perkemahan sudah memenuhi loreng gunung, pada tanah luang di depan setiap kemah terpancang tiang bendera, slang hari bendera tanda kesatuan berkibar, malam hari tiang bendera digunakan sebagai gantungan lampu.
Itulah kemah markas besar panglima pasukan Boanjing.
Waktunya tepat tengah malam, tempatnya di pegunungan Pangkra, tepat sebelah timur ibukota Lodan.
Disiplin militer memang sangat keras, meski berlaksa prajurit bercokol d-'lereng gunnng itu, namun suasana sunyi senyap, Hanya terkadang terdengar alat tiup tanda waktu dan desir angin yang menggoyangkan tabir kemah.
Beribu lampu yang tergantung di tiang bendera sebentar guram sebentar terang laksana bintang-bintang di langit sehingga pegunungan yang srnyi itu terhias semarak serupa perempuan keluarga miskin yang mendadak bermandikan batu manikam.
Sayangnya tidak ada orang yang menikmati kemegahannya.
Yang ada cuma mondar-mandirnya prajurit yang dinas ronda.
Panglima perang pasukan Boanjing sudah ganti orang.
Putranya tidak becus, sekarang bapaknya yang maju.
Ting Tiau-yong sendiri yang menggantikan Ting Hian-bu yang cuma namanya saja gagah tapi sesungguhnya goblok.
Namun kekuasaan yang lebih besar justru berada di tangan komisaris pasukan yaitu We Tiaug-jing.
Dalam kedudukannya sebagai wakil komandan pasukan pengawal istana, We Tiangjing memegang pedang berkuasa penuh dari kaisar Sekarang We Tiang-jing berada dalam kemah sendiri dan lagi bicara dengan seorang perwira.
Tidak rendah juga pangkat perwira ini, dia memiliki kedudukan ganda, pertama dia adalah ahliwaris Liok-yang-jiu keluarga Nyo di Poting kedudukan yang lain adalah jago pengawal istana kelas satu.
Dia bukan lain daripada ayah Nyo Yam, yaitu Nyo Bok.
Namun kedua tokoh yang dipuja ini sekarang duduk berhadapan dan kelihatan resah.
Sudah sebulan lamanya pasukan Boanjing mengepung dan menyerang Lodan, meski puncak gunung sekitarnya telah diduduki, bahkan pasukan sudah berada di luar kota dan mengepungnya rapat, namun selama ini belum mampu membobolnya.
Ucap We Tiang-jing dengan menyesal.
"Sebenarnya kota ini tidak terhitung kuat, tembok kota t.dak lebih cuma tiga tombak tingginya, tak tersangka orang Katak ini selain mahir menyerang juga pandai bertahan, Kabarnya kawanan penjabat di Cadam sudah dikerahkan, juga bala bantuan dari beberapa kelompok suku akan datang kemari. Jika dalam beberapa hari kita tidak mampu menduduki kota ini. mungkin kita harus menghadapi lawan dari muka dan belakang."
Nyo Bok berusaha memberi semangat, katanya.
"Meski bala bantuan dari beberapa kelompok suku itu pandai bertempur, tapi mereka tidak terlatih, mereka tidak kompak dan tidak perlu ditakuti. Lawan kita yang harus diperhatikan justru adalah kawanan bandit dari Cadam itu Namun dari Cadam kemari harus menembus tujuh lapis garis pertahanan kita, memangnya begitu gampang dapat mereka lakukan' Apalagi puncak gunung di sekeliling sini sudah kita duduki, jika mereka ingin bergabung dengan pasukan yang bertahan di dalam kota, sedikitnya mereka harus berkorban besar."
"Apakah kau tahu siapa panglima mereka?"
Tanya Wo Tiang-jing dengan menyengir.
"Kalau bukan Ling Thi-jiau, bisa jadi adalah Siau Ci-wan."
Ujar Nyo Bok Ling Thi-jiau dan Siau Ci-wan adalah pe-mimpin dan wakil pemimpin Iaskar pemberontak di Cadam, dugaannya memang masuk di akal.
Namun ia tahu dugaannya itu pasti keliru, cuma ia sengaja berlagak tidak tahu.
"Salah,"
Kata We Tiang-jing.
"Bukan Ling Thi-jiau, juga bukan Siau Ci-wan, tapi dpimpin musuh bebuyutanmu, yaitu Beng Goan-ciau."
Nyo Bok berlagak terkejut dan berseru.
"Hah, dia?"
"Betul, dia,"
Ucap We Tiang-jing dengan tegas.
"Ia cuma tokoh nomor tiga di Cadam, tapi bicara tentang memimpin pasukan dan perang, dia lebih kuat daripada Ling dan Siau berdua. Apalagi usia kedua orang ini sudah lanjut, kekuasaan sesungguhnya sudah diserahkan ktpada Beng Goan-ciau dan tokoh muda yang lain seperti Song Ting-siau yang berasal dan keluarga terpelajar dan banyak membaca kitab militer, dia memang seorang tokoh yang lihai. Namun Beng Goan-ciau terlebih gagah dan cerdik daripada yang lain, dia terlebih sukar dilayani, maka ketujuh lapis garis pertahanan kita mungkin juga sukar menahannya "
Nyo Bok hanya menyengir saja, katanya.
"Ah, Taijin terlampau memuji kekuatan musuh dan melemahkan pamor sendiri. Betapa lihai Beng Goan-ciau juga belum tentu selihai itu. Apalagi dia datang dari tempat jauh, kekuatan pasukannya juga jauh lebih lemah daripada kita. Betapapun kita tak perlu gentar terhadap mereka."
"Sudah tentu kita tidak perlu gentar,"
Kata We Tiang jing.
"Cuma sedemikian banyak tambahan kekuatan musuh, sedikit banyak kan merepotkan juga.' Bicara sampai di sini, ia pandang Nyo Bok sekejap, tiba-tiba ia tanya dengan dingin.
"Apakah sudah kaudapatkan berita tentang putramu?"
Nyo Bok memang kuatir urusan ini ditanyakan orang, terpaksa ia menjawab dengan gelagapan.
"O, bel ... belum."
"Kan kautugaskan putramu membunuh Beng Goan-ciau, tampaknya anakmu itu tidak tunduk kepada perintahmu, sebaliknya malah mengakui musuh sebagai ayah,"
Jengek We Tiang-jing. Nyo Bok tahu sebabnya dirinya masih dimanfaatkan adalah karena pihak atasan masih berharap memperalat Nyo Yam, terpaksa ia berusaha membela anaknya, katanya.
"Meski tindak-tanduk putraku itu kurang terkontrol, tapi bilang dia mengakui musuh sebagai ayah kukira takkan terjadi. Di depanku dia pernah bersumpah akan membunuh Beng Goanciau, mungkin dia belum memperoleh kesempatan yang baik."
Air muka We Tiang-jing tampak agak cerah, tanyanya pula.
"Apakah dia masih berada di Cadam?"
"Kurang jelas. Jika dia ke Cadam, tentu sukar bagiku mengadakan kontak dengan dia."
"Baik, akan kukirim orang untuk menyelidiki, jika sekali ini putramu datang bersama Beng Goan-ciau, selanjutnya mungkin masih diperlukan tenagamu "
Nvo Bok mengusap keringat, jawabnya.
"Asalkan Taijin perlukan jasa hamba, tentu akan ku-laksanakan sebaiknya."
"Kamu memang setia padaku, tentu akan kuperlakukan dirimu dengan baik pula."
"Terima kasih atas perhatian Taijin,"
Kata Nyo Bok.
"Kutahu O-congkoan menjadi bekingmu, tapi orang kepercayaannya juga tidak cuma dirimu saja-jika ada tugas baik mungkin sukar mend patkan giliran bagimu."
Kiranya We Tiang-jing semula adalah wakil Tai-lwecongkoan Ogotai, baru beberapa bulan yang lalu dipindah tugasnya menjadi wakil komandan pasukan istana.
Dasar ambisi orang ini memang besar, dia selalu penasaran karena ke sana-sini hanya menduduki tempat wakil melulu.
Sebab itulah ia ingin banyak merangkul orang kepercayaan, dan Nyo Bok termasuk salah seorang sasarannya.
Orang tua licin sebagai Nyo Bok tentu saja dapat meraba maksud orang, dengan tertawa ia berkata.
"Betapapun hamba tidak berani mengharapkan tugas enak dari O-congkoan, malahan hamba berharap beliau melupakan diriku saja. Yang diperhatikan olehnya sekarang adalah Pek-toh-sancu, bulan yang lalu delapan jago istana telah dikirim untuk membantu Pek-toh-sancu untuk menumpas pihak Thian-san-pai. Tapi kedelapan orang sampai sekarang tidak ada kabar beritanya, besar kemungkinan sudah dibereskan orang. Coba tugas semacam ini apakah enak? Kan lebih baik tidak."
"Apakah kautahu sebabnya kamu bebas dari penugasan ini?'' tanya We Tiang-jing.
"Mestinya kamu sudah masuk daftar tugas, akulah yang pindahkan dirimu ke sini dengan atasan untuk menghadapi Beng Goan-ciau. karena tidak ada alasan untuk menolak, terpaksa ia luluskan permintaanku."
Nyo Bok berlagak sangat terharu dan mengucapkan terima kasih, dalam hati ia pikir jika benar anak Yam telah mengaku musuh sebagai ayah, sekali ini aku sendiri yang berbalik akan celaka.
Selagi pikirannya mefuyang memikirkan Nyo Yam, tiba-tiba seorang penjaga masuk melapor kepada We Tiang-jing bahwa Ting Tiau-yong mengundangnya ke markas untuk berunding.
Petugas yang mengundang ini bernama Lok Hong, orang kepercayaan Ting Tiau-yong, bertugas sebagai ajudan yang menyampaikan perin-tah panglima.
We Tiang-jing minta Nyo Bok tunggu dulu dalam perkemahannya, ia sendiri mendahului menuju ke tempat Ting Tiau-yong.
Lok Hong harus menurut tatacara dan mengambil tanda pengenalnya yang ditinggalkan di bagian piket.
Perwira piket dinas malam ini bukan lain daripada Bin Sing-liong, murid Nyo Bok.
Rupanya We Tiangjing ingin merangkul Nyo Bok, maka sengaja mengangkat Bin Sing-liong sebagai pengawal kepercayaannya.
Bin Sing liong juga kenal Lok Hong, sambil menyelesaikan tatacara, dengan tertawa ia coba mengajak Lok Hong minum arak dulu.
Namun Lok Hong mengucapkan terima kasih karena harus segera pulang untuk melayani Ting Tiau-yong.
Setelah meninggalkan perkemahan, belum terlalu jauh, tiba-tiba muncul seorang yang membentak dan menyuruhnya menyebut kata sandi Lok Hong melihat yang menegurnya adalah seorang prajurit peronda, ia merasa curiga, ia balas tanya.
"Masa kamu tidak kenal diriku?"
"Aku bertugas ronda, tidak peduli siapa pun harus bisa menyebut kata sandi malam ini,"
Jawab prajurit itu.
"Hm, kamu tidak lihat aku baru keluar dan kemah We-taijin, sudah kutemui juga Bin Sing-liong, kamu hendak menanyai aku?"
Jengek Lok Hong Prajurit yang masih muda ini diam-diam ber-girang. rupanya di sinilah kemah We Fiang-jing, sungguh sangat kebetulan. Cuma dia rnasih sangsi akan sesuatu, ia coba tanya.
"Mengapa Bin Sing-liong berada di situ?"
Tentu saja Lok Hong curiga, katanya.
"Bin Sing-liong dinas piket di situ, masa kamu tidak tahu. Hm, jangan-jangan kamu ini ... ."
Belum sempat ia menyebut mata-mata musuh, prajurit muda itu sudah turun tangan secepat kilat, tahu-tahu hiat-to Lok Hong sudah tertutuk.
"Hehe, dugaanmu memang tidak salah,"
Kata pemuda itu dengan tertawa.
"Bagi kalian, aku memang benar mata-mata musuh."
Sembari bicara ia seret Lok Hong dan dilemparkan ke dalarn semak-semak.
Rupanya pemuda ini baru datang sehingga tidak melihat We Tiang-jing meninggalkan kemahnya dan disangka orang masih berada di dalam.
Cepat ia menggunakan ginkang yang tinggi dan menyusup ke dalam kemah We Tiang-jing.
Saat itu Nyo Bok sedang duduk di dalam kemah dengan pikiran kusut, ketika tiba-tiba dirasakan angin berkesiur dan tabir kemah tersingkap oleh orang.
Nyo Bok duduk termenung dengan menunduk, d bawah cahaya lampu yang guram pemuda ini tid ik melihat jelas wajahnya, maka kontan ia lolos pedang dan menusuknya.
Pada detik terakhir itulah Nyo Bok mengangkat kepala dan menegur.
"Apakah Sing-Fong ....tahu-tahu terlihat ujung pedang orang sudah mengancam di depan lehernya, keruan kejutnya tak terkatakan Ujung pedang terasa menempel tenggorokannya, asalkan didorong sedikit aja pasti akan menembus lehernya. Namun aneh juga, pada saat begitu orang itu justru melenggong, ujung pedang gemetar dan tusukan tidak diteruskan. Meski bukan tokoh kelas wahid, namun kungfu Nyo Bok cukup hebat, pada detik yang menentukan mati-hidup itu, begitu ada kesempatan, segera ia mengegos dan menutuk Koh-cing-hiat orang. Tanpa perlawanan.
"bruk", kontan orang itu terjungkal. Waktu Nyo Bok mengamati, ia sendiri me-lenggong juga. Meski penerangan kurang, namun remang-remang wajah orang masih dapat dilihatnya dengar, jelas Siapakah prajurit muda ini? Kiranya tak-lain-tak-bukan adalah putranya sendiri alias Nyo Yam. Rupanya ketika Nyo Yam membantu Lohai bertahan di dalam kota, makin hari makin gawat suasananya. Tanpa terasa mereka sudah terkurung hampir sebulan dan bala bantuan belum tampak tiba. Sedang perbekalan di dalam kota semakin tipis. Setelah dipikir, akhirnya Nyo Yam mengambil suatu keputusan, ia rela mengorbankan sendiri dan menyusup ke markas besar musuh untuk membunuh panglima musuh. Di luar tahu Lohai ia ganti pakaian seragam prajurid musuh yang tertawan, malamnya lantas menyusup ke perkemuhau pasukan musuh. Berkat ginkangnya yang tinggi, jejaknya tidak sampai diketahui orang. Kemah memenuhi lereng gunung, ia tidak tahu di mana letak kemah panglima musuh, yaitu Ting Tiau-yong Selagi bimbang, kebetulan juga dilihatnya Lok Hong keluar diri perkemahan tadi, maka ia coba menggertaknya. Siapa tahu kebetulan kemah panglima musuh yang dicarinya terletak di depannya sekarang. Maka setehih melemparkan Lok Hong ke dalam semak, segera ia menyuap ke dalam kemah, lebih dulu Bin Sing-liong disergapnya. namun orang yang duduk di dalam kemah ternyata bukan We Tiangjing yang hendak dibunuhnya melainkan ayah sendiri, yaitu Nyo Bok. Dasar ajal Nyo Bok belum tiba, ia bersuara lebih dulu. Mengenali suara sang ayah, tusukan Nyo Yam tidak jadi diteruskan. Dengan kungfu Nyo Yam sebenarnya sudah jauh di atas sang ayah, dalam keadaan biasa, sekalipun dia tidak sampai hati mencelakai ayah sendiri, betapapun Nyo Bok juga sukar hendak menutuk roboh dia. Tapi sekarang, karena kaget, maka dengan mudah sekali ia ditutuk roboh oleh Nyo Bok. Kejadian tak terduga ini sama sekali tidak terpikir oleh Nyo Yam, juga sama sekali tak tersangka oleh Nyo Bok. Nyo Bok hanya mempunyai seorang putra kandung ini, pula anak ini tadi pun tidak tega mencelakai dia, apakah sekarang ia sendiri sampai hati menggunakan anaknya untuk menukar kedudukan dan kejayaan yang diharapkannya? Namun ia juga tidak berani menghadapi ke hancuran masa depannya, bahkan risiko amblasnya nyawa sendiri jika anaknya dilepaskan. Begitulah timbul pergolakan pikirannya antara kedudukan dan anak kandung sendiri,-akhirnya ia pikir harus menyelesaikan Bin Sing-liong dulu, semoga We Tiang-jing akan pulang agak lambat, kalau anak Yam dapat dibujuk untuk menuruti kehendaknya, tentu segala urusan akan beres. Ia coba keluar, benar juga terlihat Bin Sing-liong menggeletak tcrtutuk. Ia bebaskan hiat-to murid yang tertutuk itu dan berkata.
"Sing-liong, bagaimana selama ini kuperlakukan dirimu?"
Hati Bin Sing-liong kebat kebit, jawabnya.
"Suhu sangat berbudi padaku, jika bukan dukungan Suhu, mana murid mempunyai kedudukan seperti sekarang?"
"Baik, jika begitu, ada suatu urusan ingin kuminta bantuanmu, apakah sanggup?"
"Asalkan Suhu memberi perintah, biarpun terjun ke lautan mendidih juga takkan kutolak."
"Tidak perlu terjun ke lautan segala, cukup kaututup mulut mengena; apa yang baru terjadi ini,"
Kata Nyo Bok.
"Nanti kalau We-taijin pulang, jangan kaulaporkan tentang kedatangan perusuh."
"Baik, murid paham,"
Jawab Bin Sing-liong lirih.
"Suhu, cara bagaimana akan kaubebaskan Sute?"
"Aku belum ambil keputusan. Akan coba ku-bujuk dia ke perkemahanku."
Karena tertutuk, Nyo Yam tidak dapat berkutik, namun mulutnya dapat bicara.
Tapi ketika sang ayah mengajak bicara padanya dan membujuknya dengan berbagai cara, Nyo Yam tetap membungkam tanpa bicara sepatuh kata pun.
"Anak Yam,"
Bujuk Nyo Bok lebih lanjut.
"Jika kamu tidak mau membantu ayahmu, jelas nyawa ayah sukar diselamatkan, kamu sendiri juga sukar lolos dari sarang musuh. Memangnya kamu tega gugur bersamaku begini saja?"
Entah karena terharu atau ingin melunakkan hati anaknya. bicara sampai di sini beberapa butir air mata Nyo Bok benarbenar menitik keluar. Baru sekarang Nyo Yam tidak tahan dan buka mulut.
"Ayahku sudah lama mati. Soal diriku, jika aku sayang akan jiwaku, tentu aku tidak berani datang kemari."
Nyo Bok tersenyum kecut, ia hendak membujuk lagi, tibatiba terdengar suara orang, ternyata We Tiang-jing sudah pulang.
Nyo Bok terkejut, cepat ia tambahi Nyo Yam dengan tutukan hiat-to bisunya dan mendorong anak muda itu ke kolong ranjang.
Kolong ranjang yang dimaksudkan disini adalah "ranjang"
Khas orang utara, yaitu terbuat dan tanah liat.
Karena hawa udara yang dingin di daerah utara, biaranya kolong ranjang diberi arang atau bahan bakar lain untuk menggarang ranjang tanah liat agar menimbulkan rssa banget.
We Tiang-jing berkedudukan sebagai komisaris atau inspektur pasukan, tempat tidurnya tentu iuga lebih bagus daripada orang lain.
Kolong ranjang-nya lebih longgar, arang yang dibakar hanya terdapat di bagian tengah, kedua sisi masih ada tempat luang untuk menaruh arang.
Karena sisa tempat itulah Nyo Bok dapat menggunakannya untuk menyembunyikan Nyo Yam.
Dan baru selesai Nyo Bok bekerja, We Tiang-jing sudah masuk ke dalam kemah, tentu saja hati Nyo Bok berdebardebar, cepat ia mengucapkan selamat malam.
"Bagus sekali kamu, Nyo Bok!"
Kontan We Tiang-jing mendengus. Keruan Nyo Bok terkejut, ucapnya, dengsn suara agak gemetar.
"Hamba ... hamba tidak"
Belum lanjut ucapannva, sambil menjengek We Tiang-jing lantas menutuk hiat-to dan merobohkan Nyo Bok.
Yang tertutuk hanya hiat-to kelumpuhan sehingga mulut Nyo Bok masih dapat bicara, dengan ketakutan ia berseru.
"Selama ini hamba selalu setia kepada Taijin, entah dalam hal apa hamba barbuat salah, mohon ... mohon Taijin memberi petunjuk, supaya mati pun hamba tidak penasaran."
"Hm, kamu bagus sekali,"
Jengek We Tiang-jing pula.
"Tapi aku justru ikut terembet susah oleh perbuatanmu."
"Maaf, hamba tidak paham maksud Taijin, mohon diberi penjelasan,"
Pinta Nyo Bok.
"Apakah kautahu untuk apa Ting Tiau-yong mengundangku ke sana?"
Tanya We Tiang-jing, tapi sejenak kemudian ia menjawab sendiri.
"Ternyata bukan untuk berunding sesuatu urusan penting segala melainkan cuma memberitahukan tingkah-polah anak kesayanganmu itu."
Nyo Bok tambah terkejut, ia pikir jangan-jangan waktu anak Yam datang tadi telah dilihat orang Ting Tiau-yong.
Tapi setelah dipikir lagi, jika benar We Tiang-jing tahu anak Yam sudah datang kemari, begitu kembali tentu dia akan tanya Bin Sing-liong dan tidak mungkin masuk ke dalam kemah begitu saja.
Maka sedapatnya ia tenangkan diri, lalu berkata pula.
"Apakah yang telah dilakukan binatang kecil itu, sungguh hamba tidak tahu."
"Kamu benar tidak tahu atau cuma pura-pura tidak tahu?"
Jengek We Tiang-jing pula.
"Supaya mengerti, bahwa kau bilang anakmu tidak nanti mengaku musuh sebagai ayah, kenyataan justru kebalikannya. Sudah lama ia mengaku musuh sebagai ayah. Bukannya ia bunuh Beng Goan-ciau, sebaliknya ia berkomplot dengan dia dan merusak rencana besar kita. Hm, mendingan kupercaya tiada persekutuan antara kalian ayah dan anak, tapi Ting Tiau-yona; tidak mempercayaimu lagi. Jika tidak kujamin akan dirimu, saat ini mungkin kepalamu sudah dipenggal."
"Terima kasih atas budi pertolongan Taijin,"
Seru Nyo Yam.
"Apa yang diperbuat binatang kecil itu sungguh hamba tidak tahu menahu dan tidak ada sangkut pautnya denganku."
"Apakah benar kamu tidak tahu saat ini Nyo Yam berada di mana?"
Tanya We Tiang-jing. Tergetar hati Nyo Bok, dengan nekat ia menjawab.
"Hamba memang tidak tahu."
"Dia tidak berada di Cadam, juga tidak berada dalam pasukan Beng Goan-ciau, tapi dia sekarang berada di Thiansan."
Nyo Bok menghela napas lega, katanya.
"Untuk apa binatang kecil itu pergi ke Thian-san? Setahuku dia sudah dipecat oleh Thian-san-pai dan dia tidak berani pulang ku sana, sungguh sangat di luar dugaan."
We Tiang-jing mendengus, katanya.
"Jadi kamu memang tidak tahu? Padahal anak itu sudah berjasa bagi Thian-san-pai din sekarang Tong Kah-goan sudah mengizinkan dia masuk kembali kedalam perguruan."
Nvo Yam tambah terkejut, maklumlah, tentang Nyo Yam berjasa bagi Thian-san-pai, bagi mereka sesungguhnya adalah "dosa"
Nyo Yam. Maka untuk menghindar agar dirinya tidak tersangkut, cepat Nyo Bok bertanya.
"Sesungguhnya apa yang telah diperbuat binatang cilik itu?"
"Menurut cerita Bu Ek bertiga yang baru pulang dari sana, mereka bertiga bergabung dengan Pek-toa-sancu dan menyergap pihak Thion-sun-pai, rencana mereka sebenarnya teratur sangat rapi, siapa tahu entah mengapa pihak Thiausau-pai sudah siap sedia lebih dulu, akibatnya usaha mereka gagal total. Sebabnya Thian-sen-pai merdapat kemenangan adalah karena dua orang andalan mereka. Yang satu Beng Hoa dan yang laia udalah putramu Nyo Yam. Beng Hoa mengalahkan Pek-toh-sancu dan Nyo Yam juga pernah bergebrak dengan Ubun Pok, lalu bertempur lagi dengan Toan Kiam-jing. Mereka mendengar sendiri Nyo Yam memanggil Koko kepada Beng Hoa. Jika dia dapat menyebut kakak kepada Beng Hoa, dengan sendirinya juga dapat memanggil ayah kepada Beng Goan-ciau. Coba, bukankah itu berarti tu sudah mei gakui musuh sebagai ayah?"
Nyo Bok tidak berani menanggapi, ia cuma mencaci-maki.
"Dasar binatang, sungguh aku bisa mati gusar karena tingkahnya itu."
"Hm, mendingan jika dia cuma mengakui musuh sebagai ayah,"
Jengek We Tiang-jing.
"Mungkin sekali gagalnya rencana ini juga karena perbuatannya. Bu Ek sudah melaporkan apa yang terjadi itu kepada Ting Tiau-yong dan minta diusut siapa yang membocorkan rahasia kepada musuh."
Bu Ek dan begundalnya baru pulang dari kekalahan mereka di Thian-san, dengan sendirinya mereka mencari alasan untuk menutupi rasa malu mereka.
Sebab itulah mereka sengaja mengalihkan kekalahan mereka dengin alasan ada orang membocorkan rahasia rencana mereka kepada pihak Thiansan-pai.
Dan karena itulah Nyo Bok yang menjadi sasaran curiga mereka.
Nyo Bok sendiri adalah jago pengawal istana, ia pun tahu rencana sergapan terhadap Thian-san-pai itu.
Keruan mukanya menjadi pucat, cepat ia mengeluh.
"Wah, padahal sejak tahun yang lalu ku libat binatang kecil itu di kotaraja, sampai sekarang belum pernah lagi kulihat dia. Pertemuan dnlu itu juga atas perintah O-congkoan, hamba menyuruhnya membunuh Beng Goan-ciau, siapa tahu justru kebalikannya yang dilakukan."
Sebenarnya Nyo Yam sudah tidak mempunyai sesuatu ilusi terhadap sang ayah, tapi kini mendengar sendiri pengakuan Nyo Bok itu, mau-tak-mau timbul juga rasa gusar dan dukanya akan jiwa sang ayah yang kotor itu.
Terdengar We Tiang-jing berkata pula, 'Kan sudah kukatakan, kupercaya padamu, namun Ting taiswe yang tidak mau percaya padamu."
"Mohon Taijin suka bicara bagiku di depan Ting-taijin,"
Mohon Nyo Bok. We Tiang-jing menggeleng, katanya.
"Bu Ek bertiga sudah menyatakan pasti kamu y"ng membocorkan rahasia kepada musuh, maka Ting Tiau yong hendak meringkusmu dan memeriksa sendiri urusan ini. Kecuali kamu menjamin akan mencari pahala untuk menebus dosa, kalau tidak, betapapun tidak kutolong dirimu."
Cepat Nyo Bok berseru.
"Baik, hamba berjanji... ."
"Jangan terlalu cepat bicara,"
Jengek We Tiang-jing.
"Mencari pahala untuk menebus dosa, untuk ini harus ada tindakan nyata baru orang mau percaya padamu. Maka setelah jelas apa yang akan kaulakukan bolehlah kaubicara lagi padaku."
Berdebar-debar hati Nyo Bok, ia pikir bila sekarang kuserahkan anak Yam, tentu jiwaku dapat diselamatkan.
Tapi jiwa anak Yam yang akan menjadi korban.
Selagi Nyo Bok sukar mengambil keputusan tanpa diundang tampak Bin Sing-tiong muncul di situ.
"Tanpa kupanggil, kenapa kautinggalkan tempat tugas, untuk apa kaudatang kemari?"
Bentak We Tiang-jing.
"Hamba ingin bicara urusan Suhu,"
Jawab Sing-liong.
"Hm, hanya dirimu saja dapat membela Nyo Bok?"
Bentak We Tiang-jing gusar.
Nyo Bok tidak tahu apa kehendak Bin Sing-liong, namun lamat-lamat dirasakan gelagat tidak anak, cepat ia pun membentak agar muridnya itu lekas enyah.
Tapi Bin Sing-liong mendadak berlutut dan berkata.
"Maafkan Suhu, jika urusan ini tidak kukatakan, rasanya aku berdosa terhadap We-taijin."
Nyo Bok terkejut, cepat bentaknya.
"Kauberani semb ...."
Belum lanjut ucapannya ia sendiri sudah tidak sanggup meneruskan.
Betapa licin dan pengalaman We Tiang-j "Jangan takut, bicaralah yang jelas. Apikah ada sesuatu urusan yang dia rahasiakan padaku?" "Hamba utang budi terhadtp guru, sebenarnya tidak layak kulapor kesalahan guru sendiri," Tutur Bin Sin-liong. "Tapi urutan ini sangat luas sangkut-pautnya, maka.." "Jangan melantur, lekas bicara urusan pokok," Bentak Tiang-jing. "Dugaan Taijin memang tepat, memang betul ada sesuatu yang dirahasiakan Suhu terhadap Taijin," Tutur Sing-liong. "Urusan apa?" Tanya We Tiang-jing. "Tadi Nyo Yam masuk ke sini hendak menyergap Taijin dan dapat dipergoki Suhu, sejauh ini hamba tidak melihat bocah itu keluar dari sini, kukira dia masih disembunyikan di sini oleh Suhu." Keruan We Tiang-jing terkejut, serunya. "Apa katamu? Nyo Yam berada di sini?" "Ya, silakan Taijin menggeledah kemah ini." Kata Sing-liong. Segera We Tiang-jing mencengkeram Nyo Bok dan berkata, '"Baik, boleh kaugeledah segenap pelosok kemah ini. Jika bocah itu berani melawan. segera kumampuskan ayahnya." Rupanya We Tiang-jing tidak tahu Nyo Yam juga tidak dapat berkutik karena hiat-to tertutuk oleh sang ayah. untuk mencari selamat, lebih dulu ia pegang Nyo Bok sebagal tameng, lalu menyuruh Bin Sing-liong melakukan penggeledahan. Bin Sing-liong tahu asalkan tempat sembunyi Nyo Yam ditemukan, denpan mudah dapatlah anak muda itu dibekuk. Diam-diam ia bergirang, disangkanya mendapat kesempatan baik untuk mencari pahala. Agar sandiwara Ini dapat dimainkan dengan baik, ia berlagak bekerja giat dan cermat, setiap sudut kemah itu diperiksanya dengan tenti Tak disadarinya bahwa caranya mengulur waktu itu justru memberi kesempatan kepada Nyo Yam untuk meloloskan diri dari lubang jarum. Karena di dalam kemah tidak banyek tempat yang tersembunyi, dengan sendirinya Nyo Yam dapat ditemukannya di dalam kolong ranjang. "Aha, ini dia!' serunya dengan tertawa begitu berjongkok dan melongok ke kolong. Siapa tahu, belum lenyap suaranya, tahu-tahu tubuhnya terlempar serupa bola. Kiranya pada saat itu juga Nyo Yam berhasil mengerahkan tenaga murni dan menjebo hiat-to yang tertutuk. Lwekangnya memang sudah melebihi sang ayah, tutukan Nyo Bok juga tidak menggunakan tenaga berat. Maka begitu hiat-to terbuka seketika tenaga Nyo Yam pun pulih. Baru saja Bin Sing-liong berjongkok, kontan perutnya didepak Nyo Yam hingga mencelat Sangat kebetulan jugi, arah mencelat tubuh Bin Sing-liong itu justru menuju tempat We Tiang-jing yang sedang menubruk maju. Perubahan kejadian ini datangnya terlalu mendadak, We Tiang-jing kaget dan menyangka Nyo Bok bersekongkol dengan muridnya untuk menjebaknya. Ketika mendadak tubuh Bin Sing-liong menyambar tiba, tanpa banyak pikir segera ia menghantam sehingga Bin Sing-liong terbanting ke lantai, sedang Nyo Bok yang terpegang olehnya berbalik terlempar. Sudah terdepak, ditambah lagi luka pukulan We Tiang-jing, tanpa ampun lagi Bin Sing-liong menjerit dan binasa. Dalam pada itu, dengan cepat sekali Nyo Yam lantas menerjang keluar laksana harimau menerkam. Ilmu silat mereka berdua memang mempunyai keunggulan sendiri, ketika bergebrak di kotaraja dahulu juga belum dapat ditentukan kalah dan menang. Tapi pertama lantaran selama setengah tahun ini kungfu Nyo Yam mengalami kemajuan pesat, kedua, We Tiang-jing diserang secara mendadak sehingga dia kaget dan agak gugup. Maka di bawah serangan gencar Nyo Yam, setelah 30 jurus kemudian We Tiang-jing mulai kewalahan. Sembari bertahan sekuatnya We Tiang-jing lantas berteriakteriak memanggil anak buah, akan tetapi aneh, sampai sekian lama tidak ada jawaban dan juga tidak ada seorang pun yang muncul. Dengan suara parau We Tiang-jing berteriak lagi, segera ada orang menjawab, ' We taijin, jangau kuatir, kudatang membantu!" Anehnya, yang menanggapi ini suara orang perempuan. Yang kegirangan adalah Nyo Yam, serunya. "Leng-cu, kiranya engkau!" Dalam sekejap itu, Nyo Yam dan We Tiang-jing sama sama melenggong. Pada saat itulah tabir kemah tersingkap dan seorang menerobos masuk sambil ayun sebelah tangan. Pendatang ini memakai seragam prajurit Boanjing meski berdandan sebagai lelaki, betapapun tetap dikenali Nyo Yam, jelas orang ini samaran Liong Leng-cu. Dalam girangnya segera Nyo Yam ingat keadaan masih gawat, segera ia melancarkan serangan dahsyat lagi terhadap We Tiang-jing. Karena harus melayani sana-sini dan menyadari apa yang terjadi, namun sudah terlambat, tahu-tahu dengkul terasa kesemutan terkena sebuah jarum yang disambitkan Liong Leng cu. Nona itu pun sudah mengeluarkan cambuk perak dan langsung menyabet bagian kaki We Tiang-jing. Kerja sama Nyo Yam dan Liong Lcng-cu sangat bagus, We Tiang-jing hanya sempat menangkis pukulan Nyo Yam dari depan dan sukar menghindari cambuk Liong Leng-cu, apalagi kaki terkena jarum, tanpa ampun ia tertutuk hiat-to kelumpuhan oleh Nyo Yam, dapatlah kedua muda-mudi itu menawan gembong kerajaan Boanjing ini. Nyo Yam tidak sempat tanya Liong Leng cu, segera ia mendekati sang ayah dan membuka hiat-to yang tertutuk. Lunak juga hati Nyo Yam, ia pikir betapapun ayah masih punya perasaan dan tidak sampai bati menjual diriku. Seketika ia pun tidak tahu apa yang harus diucapkan. Ia keluarkan sebiji obat dan dijejalkan ke mulut Nyo Bok, katanya. "Inilah Siau-hoan-tan buatin Siau-lim-si, minumlah, nanti kita cari akal untuk lari." "Bumi ini sudah tiada tempat berpijak untukku, barlah kalian saja lekas lari, jangan urus diriku lagi," Ucap Nyo Bok dengan menyengir. Ia tahu luka dalam sendiri sargat parah, biarpun diberi Shuboau tan juga sukar hidup lama lagi. Apalagi luka batinnya jauh lebih parah daripada luka badan, ia malu untuk mencari selamat di bawah pertolongan anandanya. Nyo Yam dan Leng-cu tidak tahu separah itu luka Nyo Bok, Leng-cu coba membujuk. "Paman, jangan engkau berpikir demikian, asalkan seterusnya engkau mau meninggalkan tempat musuh dan tidak kembali lagi, betapapun kita tetap sanak keluarga. Yang diharapkan kami justru datangnya hari seperti ini, meski sudah lama kami tunggu, tapi belum terlalu terlambat Betul tidak, kakak Yam?" Kerongkongan Nyo Yam seresa tersumbat, ia hanya mengangguk saja. "Beberapa prajurit di luarsudah kurobohkan." Tutur Leng-cu. "Mumpung hari belum terang, marilah kita lekas berangkat Apakah paman sanggup berjalan?" Selagi Nyo Yam hendak memanggul sang ayah untuk melarikan diri, tiba-tiba terdengar suara gemuruh meriam berkumandang dari jauh. Menyusul suara tambur bertalu-talu dengan ramai disertai ringkik kuda dan teriak manusia Serentak perkemahan pasukan menjadi ramai sekali. Waktu Nyo Bok menyingkap ujung tabir kemah, terlihat beberapa pasukan sudah mulai bergerak menjadi barisan panjang dengan obor yang terang benderang. Nyo Bok sudah lama berkecimpung dalam pasukan perang, katanya. "Melibat gelagatnya, besar kemungkinan patukan musuh hendak menyerang di tengah malam." Meski kurang senang kata "musuh" Yang diucapkan sang ayah itu, namun Nyo Yam lantas berseru kegirangan. "Ah, bagus sekali, tentu laskar Cadaai yang menyerbu tiba." "Walaupun bagus, tapi sekarang pasukan di luar sedang siap tempur dengan obor terang benderang, betapapun kalian sulit menerjang keluar," Kata Nyo Bok. Belum lenyap suaranya, terdengar suara lari kuda, dua penunggang kuda tampak mendekati kemah We Tiang-jing ini. Pengalaman Nyo Bok sangat banyak, ia menduga yang datang ini mungkin petugas yang hendak menyampaikan perintah Ting Tiau-yong. Segera ia ambil keputusan cepat, katanya. "Lekas ringkus diriku, We-taijin, maaf, hendaknya kita main sandiwara satu babak." Buru-buru ia mengitur tipu dan menyuruh Nyo Yam dan Liong Leng-cu melaksanakannya. Nyo Yam dan Leng-cu memakai seragam prajurit Boanjing, segera Leng-cu meringkus Nyo Bok dan pura-pura sebagai penjaga. Sedang Nyo Yam menyaru sebagai anak buah We Tiang-jing dan berdiri di sebelahnya. Nyo Yam membuka hiat-to We Tiang-jing, tapi dengan cara yang khas, yaitu hanya membuat Wo Tiang-jing dapat bergerak bebas, namun tidak bertenaga. Lalu Bin Sing-liong dilemparkan ke dalam kolong. "Jangan sembarang omong jika tidak ingin kusiksa dirimu," Bisik Nyo Yam di tepi telinga Tiang-jing. Baru sekaii ia membisiki We Tiang-jing kedua orang pendatang pun masuk. Meski kedua orang ini pernah melihat Nyo Yam di Thiansan, tapi sekarang anak muda ini dalam keadaan menyamar dan berseragam prajurit, dengan sendirinya tidak dapat dikenali mereka. Kiranya kedua orang ini adalah Ho Tiu dan To Lian yang baru pulang.Pecundang dari Thian-san bersama Bu Ek itu. Mereka heran ajudan We Tiang-jing bukan Bin Sing-liong, tapi sudah ganti orang lain, namun demi melihat keadaan Nyo Bok, mereka pikir jika Nyo Bok saja sudah ditangkap, dengan sendirinya Bin Sing-liong yang menjadi murid Nyo Bok juga tidak dapat dipakai lagi. Segera Ho Tiu bsrkata. "Cara bekerja Wetajin sungguh amat cepat, kiranya sejak tadi mata-mata mu"uh ini sudah tertngkap di sini." "Memang baru saja hendak kugusur dia ke tempat Tingtaijin," Kata We Tiang-jing. "Ting-taijUi tidak ada waktu untuk memeriksa mata-mata musuh, beliau menyuruh kami mengawasinya untuk sementara, bolehlah We-taijin menyerahkan dia kepada kami saja," Tukas To Lian. "Betul juga, belum kutanya untuk urusan apa kalian datang kemari," Kata We Tiang-jing. "Selain mengambil tawanan, juga hendak melaporkan keadaan," Tatur Ho Tiu. "Genderang berbunyi riuh di luar, entah ada terjadi urusan gawat apa?" Tanya We Tiang-jing pula. "Musuh melancarkan serangan malam," Tutur Ho Tiu. "Pertempuran sedang berlangsung di lembah bawah, malahan sebagian musuh sudah menyerbu ke atas. Menurut laporan, pasukan penyerbu ini selain kaum pemberontak dari Cadam, terdapat juga beberapa kelompok suku bangsa daerah Sinkiang. Pentolan laskar pemberontak Cadam, yaitu Beng Goan-ciau, sudah terlibat di tengah pasukan musuh." Nyo Yam yang berdiri di samping We Tiangjing sedapatnya menahan perasaan gembiranya, tapi tetap tidak tahan dan terlihat dari air mukanya yang berseri-seri. Terdengar To Lian ikut bicara. "Saat ini Ting taijin sibuk mengatur siasat, mestinya beliau hendak datang dan bicara sendiri dengan We-taijin, tapi karena keadaan cukup genting sehingga terpaksa We-taijin diminta ke sana sekarang juga." Habis bicara segera mereka siap untuk membawa pergi Nyo Bok. Tiba-tiba We Tiang-jing berkata. "Untuk mengawal tawanan penting ini, biarlah kedua pem-bantuku ini ikut pergi bersama kalian." Sembari bicara ia pun memberi kedipan. Karena berdiri di samping, Nyo Yam tidak melihat perbuatan We Tiang-jing itu. Ho Tiu berdua memang sudah menaruh curiga terhadap Nyo Yam, kedipan mata We Tiang-jing membuat mereka waswas, serentak mereka melolos senjata dan hendak menyeret Nyo Bok sambil membentak. "Biarkan kami sendiri yang membawa tawanan ini." Belum lenyap suara mereka, Nyo Yam telah menyambut mereka dengan terbahak. "Haha, sudah terlambat!" Sekali melompat, langsung ia papaki kedua jago istana itu dan menyerang secepat kilat. Di tengah suara gemerincing dan cahaya perak vang menyilaukan, kedua jago istana kontan roboh. Kiranya yang digunakan Nyo Yam adalah jurus "Oh-kahcap-pek-pak". Setelah menyaksikan Tan-ciu-sing dan Beng Hoa menggunakan jurus ini tempo hari, dalam waktu singkat Nyo Yam pun dapat mendalaminya dengan baik. Sebenarnya Ho Tiu berdua terhitung jago pedang kelas tinggi di antara jago istana, dalam keadaan biasanya mestinya Nyo Yam sukar mengalahkan mereka. Tapi lantaran kedua orang itu sudah pernah kecundang oleh jurus serangan itu di Thian-san, mereka masih ngeri mambayangkan jurus serangan maut itu, pula sama sekali tidak mereka duga bahwa se'am Tan-ciu-sing dan Beng Hoa ternyata masih ada seorang anak muda yang mampu menggunakan jurus serangan lihai itu. We Tiang jing juga melongo kaget, ucapnya. "Sungguh hebat. Nyo Yam, boleh kaubunuhku dengan jurus ini. Biarpun mati pun berharga jika gugur di bawah jurus serangan ini." Nyo Yam tidak menggubisnya, ia mendekati Nyo Bok dan hendak membuka ringkusannya. "Tidak perlu," Teriak Nyo Bok dengan gusar. "Sebab apa?" Nyo Yam melenggong. "Biarkan We Tiang-jing membawaku menemui Ting Tiauyong," Kata Nyo Bok. "Jangan, ayah," Seiu Nyo Yam. "mana boleh engkau mandah dibinasakan erang? Apapun juga kita harus menerjang keluar." "Selelah membuka ringkusanku, apakah kita dapat menerjang keluar?" Ucap Nyo Bok. "Caraku ini adalah biarkan mati untuk kemudian mencari hidup. Dengan sendirinya bukan melulu We Tiang-jing saja yang menggusurku ke sana, kalian tetap dapat menyamar sebagai anak buahnya. Nah, anak Yam, masa kamu belum paham maksudku?" Tersadar juga Nyo Yam, ia pikir memang betul, hanya dengan cara demikian baru dapat mendekati Ting Tiau-yong. Tatkala mana, secara mendadak Ting Tiau-yong dapat dibekuk dan dijadikan sandera, dengan begitu mungkin ada harapan untuk lolos. Padahal tidak semua jalan pikiran Nyo Bok tepat dipahami Nyo Yam. Rupanya Nyo Bok menyadari jiwanya takkan bertahan lama, maka ia bertekad akan mengorbankan nyawa sendiri untuk memberi kesempatan hidup bagi putranya. Meski keputusannya itu akan mengakibatkan siksa badaniah baginya, caman perataannya justru terasa puas. ia pikir sudah sekian iama kuharapkan dan baru sekarang dia sudi memanggil ayah padaku, maka mati pun aku tidak escayesal lagi. Segera Nyo Yam mendengus terhadap We tiang-jing. "Hm, kamu ingin mati dengan enak, mana boleh begitu mudah bagimu?" Sekali jarinya menjojoh tubuh orang, seketika We Tiang-jiag merasakan segenap ruas tulangnya seperti ditusuk beribu jarum, penderitaan demikian sungguh melebihi alat siksaan apa pun di dunia ini. Yang lebih celaka adalah tenaga dalamnya sudah hilang, ingin membunuh diri pun sukar, terpaksa ia memohon, engkau menghendaki apa, biarlah aku menurut saja, harap mengampuni aku." "Menurut perintahku dan menemui Ting Tiau-yong," Kata Nyo Yam. "Hra, jika berani main gila, masih banyak berbagai cara penviksaan yang dapat kaurasakan." Habis berkata ia lemparkan mayat To Lian dan Ho Tiu ke kolong, lalu We Tiang-jing dipaksa menurut perintahnya. Pertempuran sedang berlangsung dengan sengit, malam yang semula cerah mendadak diliputi awan mendung tebal, bahkan berjangkit angin keras. Selesai mengatur siasat, saat itu Ting Tiau-yong sedang memimpin satu pasukan pribadi dan mengontrol garis pertahanan bagian belakang. Melihat malam gelap, dengan kening be kernyit ia berkata. "Sungguh cuaca yang sukar diduga, tampaknya segera akan hujan lebat." Maklumlah, bilamana terjadi hujan di tengah malam gelap, itu berarti lebih menguntungkan se raigan musuh. "Hanya kawanan bandit, paling-paling hanya bersif it mengacau saja, ujar Seng Thian-tik, komandan pengawal pribadi. "Betapapun mereka tidak mampu membobol garis pertahanan kita yang berlapis-lapis." Baru selesai ucapannya, tiba-tiba api berkobar di puncak bukit depan sana, suara pertempuran kedengarannya cukup dekat dan terseling jerit prajurit yang terluka atau binasa Jarak puncak bukit itu cuma tiga li dari kemah markas panglima itu dan sudah termasuk garis pertahanan terakhir. Keruan Ting Tiau-yong terkejut, katanya. "Mengapa begini cepat kemajuan musuh, lekas kirim ornng untuk mencari berita." "Ketiga jurusan yang lain tidak teriadi sesuatu, tampaknya cuma kelompok kecil kaum bandit yang berusaha menyergap Hek-hou-kong," Tutur Seng Thian-tik. Hek-hou-kang atau bukit harimau hitam adalah puncak bukit terapat perkemehan pasukan Boanjing yang terbakar itu. "Hek-hou-kang cukup curam dan sukar dibobol musuh, mana mungkin kawanan bandit mampu menerjang ke situ secara mendadak, apakah mungkin mereka bisa terbang?" Ujar Ting Tiau-yong dengan bingung sehingga menambah rasa waswasnya. Sementara itu angin puyuh teiah berjangkit, sekonyongkoayong terdengar suara gemuruh, tiang bendera di depan markas besar patah tertiup angin, panji kebesaran panglima pun jatuh. Itulah alamat tidak baik. Tentu saja perasaan Ting Tiau-yong tambah tidak enak, bentaknya. "Mengapa dari Hek-hou-kang belum datang laporan, lekas kirim orang uatuk menyelidiki." Bu Ek hadir di situ, tiba tiba ia berkata. "Itu dia, kelihatan beberapa orang datang!" Ting Tiau yong berpaling dan bertanya. "Di mara?" "Tampaknya bukan orang dari Hek-hou-kang melainkan dari bukit di sebelah sana," Tutur Bu Ek. Baru sekarang Ting Tiau-yong melihat lamat-lamat di lereng bukit sana ada beberapa sosok bayangan orang "He, tampaknya kungfu beberapa orang itu tidak lemah?" Seru Seng Thian-tik dengan heran Ting Tiau-yong merasa curiga, bentaknya "Lekas tegur siapa mereka?!" Maklumlah, bilamana benar utusan dari garis depan yang hendak menyampaikan berita, senarus nva mereka naik kuda. Lwekang Bu Ek jauh lebih kuat daripada Seng Thian-tik, segera ia membentak dengan lantang untuk menegur kawanan pendatang itu. Ting Tiau-yong tidak dapat mendengar jawaban orang, tapi Bu Ek melapor, kedengaran pihak sana menjawab We-taijin yang datang untuk berunding dengan Ting-taijin dan sekaligus menggiring tiba tawanannya. Namun yang bicara itu bukan We Tiang-jing sendiri. Hai inilah yang menimbuikan curiga Bu Ek ia pikir Iwekang We Tiang-jing tidak di bawahku, mengapa dia tidak menjawab dengan kata sandi. Sementara itu rombongan Nyo Yam sudah semakin dekat, ia tidak sabar, maka waktu berlari ia setengah menyeret We Tiang-jing, setelah sekian jauh barulah dilepaskan. Dan hal ini sudah sempat dilihat oleh'Bu Ek. Tentu saja Bu Ek heran, kedatangan We Tiang-jing seyogianya naik kuda lebih dulu, malahan pengiringnya itu bisa berlari lebih cepat daripada We Tiang-jing sendiri, ia pikir tentu ada sesuatu yang tidak beres. Selagi Ting Tiau-yong hendak turun kuda untuk menyambut, Bu Ek membisikinya. "Taiswe jangan turun dulu, biar hamba bicara dulu." Dan baru saja Bu Ek dan SeDg Thian-tik melompat turun, sementara rombongan Nyo Yam juga sudah tiba. Ting Tiau-yong menahan kuda dan bertanya. "Baru saja kukirim Ho Tiu dan To Lian ke tempatmu ,untuk mengambil tawanan, apakah sudah kaulihat mereka?" We Tiang-jing menjawab sesuai pesan Nyo Bok. "Karena situasi cukup genting, maka kusuruh mereka memeriksa ke garis depan. Tawanan kubawa sendiri kemari untuk menghemat waktu dan tenaga." "Sekarang juga akan kuperiksa pertahanan kita dan tidak sempat memeriksa tawanan, harap We-taijin maafkan penyambutan yang kurang layak ini," Ucap Ting Tiau-yong. Komisaris pasukan sama tingginya dengan ke-dudukan panglima, tapi karena We Tiang jing adalah utusan langsung kaisar, biasanya Ting Tiau-yong suka mencari muka padanya. Maka Tiang-jing menjawab. "Mana hamba berani minta disambut segala, janganlah Ting-taijin rendah hati." Ucapan ini terlebih ganjil, seorang yang berkedudukan sejujur masakah msnyebut diri sendiri sebagai "hamba". Nyo Yam masih hijau, ia tidak tahu keganjilan itu, tapi Nyo Bok lantas terkejut, pikirnya. "Jelas keganjilan ini sengaja dibikin We Tiang-jing." Karena dia adalah tawanan sehingga tidak dapat memperingatkan Nyo Yam, dan ketika anak muda itu menyadari persoalannya, namun sudah terlambat. Tiba-tiba terdengar Ting Tiau-yong membentak. "Kukira mata-mata musuh tidak perlu lagi diperiksa, binasakan saja sekarang juga." Seng Thian-tik mengiakan, serentak golok membacok "Nyo Bok yang kedua tangan diringkus ditelikung itu. Pada saat yang sama Bu Ek juga menghantam We Tiangjing. Liong Leng-cu menyamar sebagai pengawal We Tiang-jing dan bertugas menggiring Nyo Bok, sebelumnya ia sudah siap tempur, maka cepat ia tangkis golok Seng Thiau-tik dengan pedang. Sebaliknya hantaman Bu Ek itu sama sekali di luar dugaan Nyo Yam. Ia berdiri di samping belakang We Tiang-jing, meski segera ia cengkeram We Tiang jing, namun segera pula terasa suatu arus tenaga maha dahsyat menyambar tiba, We Tiangjing jatuh ke samping dan hantaman Bu Ek langsung menuju kepala Nyo Yam. Bu Ek juga tidak menduga bahwa pengiring We Tiang-jing yang dicurigai ini bisa sedemikian tinggi kungfunya, apalagi ginkang Nyo Yam juga lebih tinggi diri dia, sedikit mengegos dapatlah hantaman Bu Ek terhindar. Hanya satu jurus itu saja Bu Ek belum dapat mengenali Nyo Yam. Meski sebelum ini mereka pernah bergebrak. Sekonyong-konyong cahaya perak kemilauan, sambil menghindar Nyo Yam terus melolos pedang, secepat kilat ia balas menabas pergelangan tangan Bu Ek. Betapapun cepatnya Bu Ek menarik tangan, tidak urung dua ujung jari tertabas juga. Tui hong kiam-hoat memang sangat cepat dan lihai. Dalam kagetnya cepat Bu -Ek menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, dengan begitu dapatlah serangan maut susulan Nyo Yam dapat dihindarinya. Tapi ketika ia menggelinding di tanah itulah, We Tiang-jing yang baru jatuh itu ditumbuknya hingga terguling ke bawah lereng. Tenaga dalam We Tiang-jing sudah hilang, karena getaran tenaga pukulan Bu Ek tadi sudah membuatnya terluka parah, sekarang kena ditumbuk lagi dan tergelincir ke bawah gunung, tanpa ampun lagi jiwanya melayang. -ooo0dw0ooo-Jllid 20 llmu silat Seng Thian-tik tidak dapat menandingi Liong Leng-cu, cuma selisihnya juga tidak jauh. Mestinya ia dapat bertahan untuk sementara dan menunggu datangnya bala bantuan. Tak tersangka Bu Ek bisa dikalahkan secepat itu. Jeritan We Tiang-jing sebelum ajal itu pun membuat Seng Thian-tik gugup. Maka sekali cambuk perak Liong Leng-cu menyabat, seketika lehernya terjirat. Dalam pada itu, dengan cepat sekali dua jago pengawal Ting Tiau-yong juga lantas menerjang ke arah Liong Leng-cu. Akan tetapi Nyo Yam terlebih cepat daripada mereka, sebelum Liong Leng-cu bertindak, tahu-tnhu cahaya perak berkelebat dan kedua jago pengawal itu sudah terjungkal di bawah pedang Nyo Yam. Sekali cambuk peiak Leng-cu menyendal, kontan Seng Thian-tik dilemparkan ke jurang, lalu ia labrak kawanan pengawal yang lain. "Leng-cu, terjang keluar lebih dulu!" Seru Nyo Yam. Tengah bicara. sebatang tombak menusuk ke arahnya. Nyo Yam lantas menloncat ke atas, ujung kaki menahan ujung tombak. dengan tenaga pinjaman lawan ia terus melayang lewat di atas kepala beberapa jago pengawal dan langsung menubruk Ting Tiau-Yong yang masih bertengger di atas kudanya. Mana Ting Tiau-yong pernah melihat ginkang sehebat ini, biarpun dia sudah berpengalaman, tidak urung menjadi gugup juga. Dan belum lagi dia sempat menggunakan gerakan mengelak, tahu-tahu Nyo Yam sudah menubruk tiba. Kuatir serangannya tidak berhasil, maka begitu menyerang, Nyo Yam lantas menggunakan jurus Oh kah cap-pek-pah yang ampuh. Sekali tusuk mengincar ke-18 hiat-to maut di tubuh Ting Tiau-yong. Jika tokoh bekas murid Kai-pang serupa Bu Ek saja tidak mampu menahan jurus serangan maut ini apalagi Ting Tiauyong yang biasa hidup enak. ting Tiau yong hanya pandai mengatur siasat perang, tapi tidak paham kungfu yang maha dalam. Maka tusukan Nyo Yam Ini jelas pasti akan membuat jiwanya melayang. Siapa duga kejadian di luar dugaan kembali muncul. Pada saat itulah sesosok bayangan mendadak juga msnubruk anak muda itu. Kaki Nyo Yam masih terapung di udara, kedua orang lantas saling gempur dengan keras orang itu telah membentang mantel yang di-pakainya sehingga terwujud sebuah perisai lemas dan digunakan untuk menahan jurus Oh-kah-cap-pek-pah yang lihai itu. Dengan begitu Ting Tiau-yong sempat menjatuhkan diri ke bawah kuda. Nyo Yam dan orang itu juga sama hinggap di atas tanah. Sekilas pandang orang itu melihat mantel sendiri sudah penuh lubang kecil seperti sarang tawon. Bilamana ia diberi waktu untuk menghitung. lubang itu seluruhnya justru berjumlah delapan belas. Keruan ia terkejut, diam-diam ia mengakui ilmu pedang ini sungguh tidak di bawah Beng Hoa dahulu. Ia terkejut, Nyo Yam juga terkejut, tak di-sangkanya di samping Ting Tiau-yong masih ada seorang pengawal berkepandaian setinggi ini, rasanya We Tiang-jing dan Bu Ek pun tidak dapat membandinginya. Nyo Yam tidak tahu asal-usul orang ini tidak sembarangan, bukan saja ilmu silatnya lebih tinggi daripada We Tiang-jing, bicara tentang sejarah juga dia lebih tinggi daripada We Tiang-jing. Ia bukan lain daripada We Tok-peng yang terkenal sebagai jago istana nomor satu pada belasan tahun yang lampau. Soalnya pernah satu kali ia gagal menunaikan tugas yang diberikan oleh kerajaan, ia dikalahkan oleh Beng Hoa sehingga kehilangan pamor, terpaksa ia diberi tugas luar dan dipindahkan ke tengah pasukan Ting Tiau-yong. Rupanya sekarang We Tok-peng ingin mendapatkan pahala untuk menebus kesalahannya dulu, maka dengan ganas ia terjang Nyo Yam. Nyo Yam terus menempurnya dengan tangkas, hanya sekejap saja sudah berubah tiga macam ilmu pedang. Jurus pertama ia gunakan gaya San-yap-Ciang Hoat ajaran Siau Yatkek, jurus kedua bergaya ilmu pedang ajaran kakek Liong Leng-cu dan jurus ketiga berubah secepat kilat, yaitu Tuihong-kiam hoat perguruan Thian-san sendiri. Tiga jurus serangan maha lihai, namun tetap dapat dipatahkan oleh We Tok-peng, ia putar mantelnya yang penuh berlubang itu sehingga serupa perisai baja saja yang tidak tembus air. Setelah menjatuhkan beberapa jago pengawal, baru saja Liong Leng-cu hendak memburu ke sana untuk bergabung dengan Nyo Yam, mendadak Bu Ek yang menggeletak tadi melompat bangun, di rampasnya tombak seorang prajurit dan menghadang di depan Liong Leng-cu. Rupanya cuma dua jarinya saja tertabas oleh pedang Nyo Yam, lukanya tidak parah. Karena dia lebih kuat daripada Liong Leng-cu, karena tidak mampu menerjang lewat, terpaksa Leng-cu hanya bertahan. Awan mendung mengalingi cahaya bulan, mendadak terdengar guntur menggclegar, hujan segera turun dengan lebatnya. Semula pasukan Ting Tiau-yong ini diterangi belasan obor, karena hujan, sebagian besar obor lantas padam. Tinggal dua lentera kurung saja, meski tidak sampai padam, tapi guram sehingga sukar menerangi tempat jauh. Tiba tiba teringat oleh We Tok-peng baru saja Ting Tiauyong jatuh dari kudanya, entah terluka atau tidak, cepat ia berseru menyuruh anak buahnya mencari sang panglima. "Aku berada di sini!" Terdengar Ting Tiau-yong berteriak, Ia jatuh dan patah tulang iga, saking kesakitannya hampir saja kelengar dan saat itu sedang meronta berusaha bangun. Kedua prajurit pengawal pribadinya lekas mendekatinya untuk memayangnya. Beberapa jago pengawal yang mengerubuti Liong Leng-cu juga lari balik untuk menjaga sang panglima. "Aku tidak apa-apa... lekas tangkap kawanan bangsat itu," Teriak Ting Tiau-yong dengan menahan sakit. Pada saat itulah terlihat rombongan orang muncul dari arah Hek-hou-kang, wakil komandan pasukan pengawal Ih Ban-san merasa lega, ucap-nya. "Syukurlah bala bantuan kita sudah datang. masakah beberapa bangsat kecil ini dapat kabur!" Tiang Tiau-yong sudah luas pengalaman tempurnya, tergerak hatinya dan berkata. "Ah, tampaknya tidak beres. Hek-hou-kang disergap musuh, pasukan kita yang lolos seharusnya tidak teratur lagi, padahal rombongan ini kelihatan berbaris dengan teratur baik." Kedua prajurit tadi mengangkat tinggi lentera yang dipegangnya, kelihatan rombongan itu sudah sedemikin dekat dan cukup jelas, dengan girang kedua prajurit itu berteriak. "Jangan kuatir, Tai-Kue, mereka memang kawan kita!" Mendadak angin meniup keras, pasir batu berhamburan, kedua lentera itu serentak padam. Padahal kedua lentera itu berkerudung kaca dan dilindungi ram kawat, sepantasnya tidak mudah pecah terkena batu. Ting Tiau-yong merasa gelagat tidak baik, selagi hendak memberi perintah agar waspada, sekonyong konyong kedua bahu terasa sakit, tahu tahu tulang pundak telah diremas orang. Cengkeraman orang itu begitu kuat laksana kaitan dan membuatnya kesakitan setengah mati. meski Ting Tiau-yong ingin menjaga gengsi sebagai seorang panglima, tapi saking tidak tahannya, tidak urung ia menjerit kesakitan serupa babi hendak disembelih. Karena kejadian mendadak dan membingungkan ini, dalam kegelapan para pengawal Ting Tiau-yong tidak berani sembarangan bertindak. Mendengar jeritan sang panglima, We Tok-peng tidak berani bertempur lebih lama lagi, cepat ia putar balik. Dalam kegelapan Leng-cu juga melepaskan diri dari Bu Ek dan bergabung dengan Nyo Yam. Hujan badai berlangsung dengan dahsyat, obor padam sama sekali, saat demikian sebenarnya kesempatan baik untuk meloloskan diri bagi mereka. Tapi Nyo Bok belum diketemukan, mana boleh mereka kabur begitu saja? Diam-diam Nyo Yam berkata kepada Leng-cu. "Ting Tiauyong menjerit serupa babi hendak disembelih, agaknya dia terluka atau ditawan orang, mari kita coba melibatnya." Belum habis ucapannya, di sebelah sana Ih Ban-san sudah menyalakan obor yang selalu di-bawanya. Begitu sinar api berkelebat, segera terlihat jelas orang yang mencengkeram Ting Tiau yong itu. Dengan kejut dan gusar Ih Bun-san lantas membentak. "Nyo Bok, berani kau gunakan Taiswe sebagai sandera?" Kiranya orang yang menangkap Ting Tiau-yong itu adalah Nyo Bok. Tali yang meringkusnya ternyata sudah terbuka. Dalam kegelapan siapa pun tidak memperhatikan dia, pada waktu lentera padam tadi segera ia berhasil mencengkeram tulang pundak Ting Tiau-yong. Cara mencengkeram keluarga Nyo merupakan kungfu khas persilatan dan tentu saja sangat lihai. Meski Nyo Bok sudah terluka, tapi sergapan nekat membuat tenaganva tetap sangat kuat, sekali cengkeram segera Ting Tiau-yong digunakannya sebagai tameng. "Jika jiwa Ting Tiau-yong tidak kalian pikir lagi, silakan coba maju." Bentak Nyo Bok. "Hm, memangnya aku hendak dibunuhnya, biarlah ku-gugur bersama dia." Anak buah Ting Tiau-yong siap menerjang maju, tapi tiada seorang pun berani turun tangan begitu saja. Setelah saling bertahan sebentar, sementara itu pasukan tadi sudah dekat. Perwira pasukan itu mendadak bersuara heran, obor dinyalakan, segera ia menerjang ke arah Nyo Bok. Nyo Yam sudah mencampurkan diri di tengah orang banyak, disangkanya perwira itu hendak menolong panglimanya, kuatir ayahnya diserang, tanpa pikir pedang Nyo Yam lantas menusuk dengan jurus Oh-Lah-cap-pek-pah. Terdengar suara dering nyaring memecah telinga, jurus serangan Nyo Yam yang lihai ini telah dapat dipatahkan oleh golok lawan, sama sekali tidak dapat mengenai tubuh orang. "Beng Goan-ciau, kiranya kau!" Seru Nyo Yam kaget di tengah dering nyaring itu. Pada saat yang sama Beng Goan-ciau juga berseru. "Anak Yam, kiranya kau!" Rupanya pasukan yang menyergap Hek-hou-kang tadi di bawah pimpinan Beng Goan-ciau, mereka memakai seragam pasukan Boanjing sehingga dapat mengelabui musuh dan melintasi jalan pegunungan yang curam Beng Goan-ciau juga yang menyambit padam kedua lentera tadi. Ia pun kejut dan heran atas perbuatan Nyo Bok. Setelah bergebrak satu jurus dengan Nyo Yam, segera Beng Goan-ciau berhenti. Tapi di belakang Nyo Yam ada lagi seorang yang menyergapnya. Orang ini ialah We Tok-peng. We Tok-peng memang pandai menggunakan kesempatan baik, pada saat Nyo Yam bertempur dengan Beng Goan-ciau, mendadak ia menubruk maju, sekali hantam langsung ia incar hiat-to pada punggung anak muda itu. Kungfu andalan We Tok-peng adalah Tai-lik-eng-jiau-kang, ilmu cakar elang bertenaga raksasa, pukulannya ini sungguh sangat dahsyat. Jurus Oh-kah-cap-pek-pah yang dilancarkan Nyo Yam tadi telah dipatahkan oleh golok kilat Beng Goan-ciau, selain pedang tergetar dan tangan pegal, sebelum sempat menarik kembali pedangnya tahu tahu sudah dihantam We Tok-peng, dalam keadaan demikian jelas dia tidak dapat menghindarkan sergapan dari belakang. Tampaknya Nyo Yam segera akan binasa di bawah pukulan lawan, pada detik menentukan itulah Beng Goan-ciau menerjang maju, Nyo Yam ditubruk ke pinggir dan pukulan We Tok-peng itu ditangkisnya. Tenaga kedua orang sama kuat, keduanya sama mengerahkan tenaga sepenuhnya, We Tok-peng tergetar mundur beberapa tindak, Beng Goan-ciau juga tergeliat dan tumpah darah. Lahirnya kelihatan Beng Goan-ciau kecundang, tapi darah We Tok-peng yang hampir tersembur keluar ditelan kembali mentah-mentah. Dia ingin jaga gengsi dan darah tidak ditumpahkan. Karena t"dak ditumpahkan, luka dalamnya tambah parah. Cara Beng Goan-ciau menumbuk minggir Nyo Yam dengan tenaga lunak sehingga anak muda itu tergetar mundur beberapa tindak, meski darah pun terasa sesak terguncang oleh tenaga pukulan Wo Tok-peng, namun tidak sampai terluka. Setelah tenangkan diri segera ia menubruk maju, kembali jurus Oh-kah-cap-pek-pah dilancarkan lagi. Dalam pada itu dengan cepat Beng Goan-ciau telah melolos golok pusakanya dan membacok ke arah We Tok-peng. Diserang dari muka dan belakang, memangnya We Tok-peng sudah kewalahan, apalagi golok Beng Goan-ciau secepat kilat. kontan ia terbacok menjadi dua. Di tengah jalan jurus serangan Nyo Yam berganti arah dan tepat memapak Ih Ban-san, seketika tubuh Ih Ban-san tertusuk belasan lubang. Hujan badai datangnya cepat berhentinya juga cepat. bulan sabit yang bersembunyi di balik awan kembali menongol lagi. Dan setelah kendur pegangannya, segera Nyo Bok terhuyung huyung, keadaannya serupa pelita yang kehabiaan minyak. Sementara itu Nyo Yam sempat mencengkeram Ting Tiauyong yang akan terjungkal., sedang Beng Goan-ciau memegangi Nyo Bok yang keadaannya kelihatan payah, muka pucat dan napas lemah. "Istirahatlah sebentar," Kata Goan-ciau. Selagi ia hendak melakukan pertolongan pertama, dengan tersenyum getir Nyo Bok berkata. "Sudahlah Goan-ciau, tidak perlu buang tenaga lagi. Aku ... aku berdosa padamu, semoga engkau memandang anak Yam serupa anakmu sendiri dan legalah hatiku." Nyo Yam terkejut dan cepat mendorong pergi Ting Tiauyong untuk diawasi oleh anak buah Beng Goan-ciau, cepat ia mendekat dan berseru. "Ayah, jangan ... jangan engkau ......" Belum lagi kata "mati" Terucapkan Nyo Bok benar-benar sudah mengembuskan napas terakhir. Rupanya setelah menyatakan "legalah hatiku", lalu putus napasnya. Nyo Yam merangkul jenazah sang ayah, ketika jenazah mulai dingin, dalam hatinya justru mulai merasakan hangatnya ayah dan anak. Ia ingin menangis, tapi tidak keluar air mata. Ia cuma bergumam. "O, ayah, sayang engkau ter ... terlambat datang." Semua orang paham arti "terlambat" Yang dimaksudkan, seketika tidak ada yang dapat menghiburnya. Sejenak kemudian barulah Beng Goan-ciau berkata. "Sebenarnya juga tidak terlalu terlambat, sekarang dia kan masih hidup di dalam lubuk hatimu." Mendengar ucapan Beng Goaa-ciau ini barulah Nyo Yam mengeluarkan suara tangis. "Anak Yam, saat ini bukan waktunya untuk menangis," Ucap Beag Goan-ciau perlahan. "kita masih memerlukan bantuanmu untuk membobol kepungan musuh. Serahkan ayahmu kepadaku saja." Segera ia mengangkat jenazah Nyo Bok dan memerintahkan anah buahnya menguburnya di situ juga serta diberi tanda, lalu katanya pula. "anak Yam, setelah mengalahkan musuh, kelak kita datang lagi memindahkan layon ayahmu. Sekarang kamu harus membangkitkan semangat dan bersama kami melabrak musuh." Nyo Yam mengusap air mata, katanya. "Ucapan ayah memang tepat, anak menurut!" Untuk pertama kalinya ia panggil Beng Goan-ciau sebagai ayah, dari Beng Goan-ciau akan diterimanya kasih sayang seorang ayah untuk mengurangi rasa dukanya. Ia pikir dirinya jauh lebih berutung dari orang lain, setelah mati seorang ayah masih ada lagi ayah lain. Beng Goan-ciau lantas menarik bangun Ting Tiau-yong, katanya. "Ting-taiswe, marilah, kawanan bandit seperti kami ini akan mengiringimu memimpin peperangan." Ting Tiau-yong patah tulang iga, dengan menahan sakit ia mendamperat. "Sebagai seorang panglima, mati pun aku pantang dihina. Beng Goan-ciau, boleh kau bunuh diriku, tidak nanti aku nuu dipermainkan olehmu." "Hahaha, urusan sudah begini, memangnya Ting-taiswe masih berkuasa?" Seru Beng Goan-ciau dengan terbahak. Segera ia menutuk hiat-to kelumpuhan Ting Tiau-yong, katanya. "Karena kita masih memerlukan panglima semacam ini, biarkan dia tetap menjadi panglima dan harus kita perlakukan dengan hormat boleh dia menunggang kudaku ini." Cara tiam-hiat Beng Goan-ciau sangat bagus, setelah Ting Tiau-yong ditutuk otot dagingnya keras dan kaku sehingga ketika ditaruh di atas kuda ia dapat duduk tegak tanpa bergerak, kalau tidak diamat amati dari dekat sukar untuk mengetahui kelainannya. Dengan tertawa Leng-cu berkata. "Lagaknya ini memang sangat mirip seorang panglima perang yang gagah perkasa, cuma dia mungkin takkan sanggup duduk mantap di atas pelana." "Ada caraku untuk mengatur dia," Kata Goan-oiau Segera ia mengeluarkan segulung tali sutera, Ting Tiau-yong diikat erat di atas kuda. Tali sutera itu sangat halus separti benang jahit, di bawah cahaya lampu hampir sukar di bedakan oleh mata telanjang. Panjang tali sutera itu ada tujuh atau delapan tombak, Beng Goan-ciau memegangi ujung tali yang lain, katanya dengan tertawa. "Panglima kita ini sudah menjadi boneka, mau-tidakmau dia harus mandah kudalangi" Segera pasukan Beng Goan-ciau ini menyamar sebagai pasukan pengawal pribadi Ting Tiau-yong, beramai-ramai mereka terus menuju ke medan perang. Beng Goan-ciau telah ganti seekor kuda dan dilarikan berjajar dengan Ting Tiau-yong. Kudanya yang semula adalah kuda yang sudah terlatih, dari samping ia tetap dapat mengendalikan kuda itu sesukanya. Medan perang sudah bergeser menuju ke lereng gunung, beribu prajurit sedang bertempur dengan sengit. Pasukan Boan-jing sebagian besar sudah terjun di medan perang, tapi ada tiga kompi pasukan berkuda pilihan yang tertinggal untuk melindungi Ting Tiau-yong. Hanya dalam keadaan luar biasa saja ketiga kompi tentara ini boleh bergerak, yaitu pada waktu musuh menyerbu tiba dan bilamana panglima sendiri yang memberi perintah. Meski medan parang sudah meluas sampai lereng gunung, tapi belum mendekati perkemahan panglima, ini berarti keadaan darurat pertama tadi belum terjadi. Waktu Beng Goan-ciau memandang dari ketinggian, ternyata keadaan baru muncul lagi. Terlihat puncak gunung di sekitar situ sama mengepulkan asap tebal, arah yang menuju kota Lodan sana ada barisan obor yang panjang. Melihat gelagatnya, segera Bang Goan-ciau dapat menduga paling sedikit beberapa di antara ke-18 kelompok suku bangsa di daerah Sinkiang telah mengirim bala bantuan. Selain itu, bahkan pasukan Lodan yang mempertahankan Lodan sekarang juga sudah menyerbu ke luar kota. Perang semakin sengit, bala bantuan juga sudah ikut dalam medan perang. Di bawah cahaya api terlihat gemerlap senjata dan kuda perang yang berlari kian kemari. Beng Goan-ciau tahu jumlah pasukan musuh terlampau besar, betapapun pihak sendiri ditambah dengan bala bantuan tetap kalah kuat, apalagi daya tempur pihak sendiri kurang pengalaman, jelas sukar menandingi pasukan Boanjing yang terlatih. Cepat ia ambil keputusan, Ting Tiau-yong di-giring menembus markas yang dipertahankan ketiga kompi pengawal pada garis terakhir itu, bentaknya lantang. "Atas perintah Taiswe, ketiga kompi lekas mundur ke belakang gunung. Pasukan yang masih bertahan harus segera meninggalkan medan perang. sebelum fajar tiba sedikitnya harus meninggalkan medan perang sejauh 30 li." Ia berteriak dengan tenaga dalam yang kuat sehingga dapat didengar oleh ketiga komandan kompi. Pada umumnya prajurit juga ingin mencari selamat. Demi mendengar perintah itu, mereka kegirangan dan segera melaksanakan tugas. Meski ada juga perwira yang merasa curiga, tapi siapa pun tidak mau cari susah untuk tanya sang panglima Sementara itu fajar sudah menyingsing, pertempuran di medan laga semakin dahsyat. Sejauh mata memandang di mana-mana arus manusia belaka yang sedang saling bunuh. Kedua pihak sudah sukar d bedakan lagi dan tiada garis pertahanan tertentu. Dalam keadaan demikian, untuk memerintahkan mundur jelas sangat sulit, namun Ting Tiau-yong yang bertengger di atas kuda segera dapat dliihat. Pasukan musuh segera menghujaninya desing panah, sebagian perwira Boanjing menerjang datang untuk membela sang panglima. Sembari merontokkan panah yang menyambar tiba, Beng Goan-ciau memberi perintah kepada kawanan perwira yang memburu datang agar lekas mundur membawa sisa anak buahnya. Cuma sayang medan perang terlampau luas, perintah itu sukar disebarluaskan dengan cepat sehingga pertempuran sukar dihentikan. Tiba-tiba datang satu regu dipimpin seorang perwira muda, begitu datang lantas berteriak. "Ayah, pasukan kita tidak kalah, mengapa di-perintahkan mundur?!" Kiranya perwira muda ini adalah Ting Hian-bu, putra Ting Tiau-yong. Ia merasa curiga terhadap perintah mundur pasukan itu, maka sengaja datang tanya sang ayah. Sebagai anak Ting Tiau-yong, dengan sendirinya Beng Goan-ciau tidak dapat merintangi pertemuannya dengan sang ayah, dan bila sampai berhadapan, seketika rahasianya akan terbongkar. Namun sebelumnya Beng Goan-ciau sudah mengambil keputusan. Begitu orang mendekat, mendadak ia membentak dan menyuruh Nyo Yam menawannya. Keruan pasukan Ting Hian-bu terkejut melihat komandannya ditangkap, belum lagi mereka menyadari apa yang terjadi sudah diterjang oleh pasukan Beng Goan-ciau hingga kocar-kacir sehingga sebagian besar sama melarikan diri untuk mencari selamat. Cuaca sudah terang, perubahan yang tak terduga ini dapat dilihat pasukan kedua pihak. Laskar dari Cadam segera tahu duduknya perkara, berbagai pasukan bala bantuan semua merasa bingung, tapi segera mereka pun tahu pasukan yang dipimpin Beng Goan-ciau itu bukan musuh mereka, segera mereka berhenti memanah. Akan tetapi Beng Goan-ciau masih terus melarikan kudanya berjajar dengan kuda Ting Tiau-yong, pasukan Boanjing yang berdekatan merasa sangsi, meski timbul rasa sangsi, namun tidak berani mendekat dan merintangi. Tidak jauh di sana ada sebuah tanjakan yang agak tinggi, di atas tanah ketinggian ini ada sepotong batu karang besar yang rata dan licin serupa kaca, di atas batu karang besar itu belasan prajurit laksar sedang dikerubut berpuluh prajurit Boanjing. Setelah menumpas berpuluh prajurit musuh itu, Beng Goanciau berseru dengan tertawa. "Nah, sekarang bolehlah kalian memperlihatkan wajah asli kita!" Begitu perintah diberikan, beratus anak buahnya lantas melepaskan seragam pasukan Boanjing dan kembali dalam dandanan sebagai laskar rakyat. Ia menunggang kuda dan berada di atas batu karang besar itu, Ting Tiau-yong diangkatnya tinggi-tinggi. Sang surya sudah menyinari bumi raya ini dengan cahayanya yang gemilang, hujan lebat semalam membuat cuaca pagi ini terlebih cerah. Beng Goan-ciau berada di tempat ketinggian sehingga dapat dilihat jauh oleh setiap prajurit. Kejadian ini datangnya terlampau mendadak. tanpa terasa prajurit kedua pihak sama berhenti bertempur dan memperhatikan apa yang terjadi lagi. Goan-ciau putar tawanan yang dipegangnya sambil berteriak. "Ini, lihatlah yang jelas! Panglima pasukan Boanjing ini sekarang sudah kita tawan. Maka saya anjurkan prajurit Boanjing lekas letakkan senjata dan menyerah. Kami tidak akan membunuh tawanan perang. Yang tidak mau menyerah boleh segera tinggalkan tempat ini, selaku panglima perang laskar rakyat kujamin keselamatan kalian!" Ular tanpa kepala tidak biss jalan, apalagi kebanyakan prajurit dan perwira itu tidak rela menjual nyawa bagi raja Boanjing-Demi melihat panglima sendiri tertawan musuh siapa lagi yang mau mengadu jiwa? Maka baru saja selesai ssruan Beng Goan-ciau, seketika senjata bertumpuk membukit, sebagian pasukan Boanjing segera menyerah, yang tidak mau menyerah juga boleh meninggalkan medan perang. Berita menggemparkan ini dalam waktu singkat tersebar ke seluruh medan laga, hanya sebentar saja suasana perang itu lantas berakhir. Para kepala kelompok suku lautas mendekati Beng Goanciau dan mengucapkan terima kasih. "Beng-taihiap, untunglah engkau berhasil menawan panglima musuh, kalau tidak tentu sukar diduga bagaimana akhir dari peperangan ini," Kata Lohai. "Ini bukan jasaku," Tutur Goan-ciau dengan tersenyum. "Ayahnya yang menawan Ting Tiau-yong dan bukan aku." Sambil bicara ia pun menuding Nyo Yam. Lohai sudah tahu ayah Nyo Yam adalah Jago istana yang bernama Nyo Bok, ia melengak oleh keterangan itu. Goan ciau lantas menyambung. "Ayahnya juga merupakan sahabatku sejak dulu sudah belasan tahun kami berpisah dan baru saja berjumpa kembali. Cuma sayang, setelah dia berjasa besar bagi kita, sokarang dia tidak dapat lagi merayakan kemenangan ini dengan kita." Lohai terharu, setelah memberi perintah anak buahnya membersihkan medan perang, lalu bersama rombongan Beng Goan-ciau pulang ke Lo-dan. Di tengah jalan barulah mereka saling bercerita, kesempatan ini baru digunakan Nyo Yam untuk tanya Liong Leng-cu mengapa bisa sampai di sini, Belum lagi Leng-cu menjawab, Soa Liau lantas menukas dengan tertawa. "Nyo-siauhiap, engkau benar tidak tahu atau berlagak tidak tahu? Dengan sendirinya dia datang kemari untuk mencarimu." Muka Leng-cu menjadi merah, katanya. "Cis, masakah kudatang mencari dia." "Haha. masih menyangkal," Kata Soa Liau tertawa. "Begitu datang engkau lantas tanya apakah Nyo-siauhiap datang kemari atau tidak. Ketika mendapat keterangan Nyo-siauhiap diam-diam sudah meninggalkan kota untuk menyelidiki markas musuh, segera pula engkau menyusul berangkat sehingga aku sendiri tidak sempat menahan dirimu. Nah, masih kau bilang bukan lantaran Nyo-siauhiap?" Nyo Yam sendiri kurang percaya oleh keterangan itu, ia pikir. "Tempo hari waktu terjadi kekacauan di atas gunung dan dia tinggal pergi tanpa pamit, kusangka dia benci padaku dan tidak mau bertemu lagi denganku, mengapa dia bisa datang kemari mencariku? Jangan-jangan dia datang untuk mencari Ling-cici? Tapi lenyapnya Ling-cici terjadi sesudah dia pergi, apakah mungkin ia putar balik lagi ke atas gunung, kalau tidak darimana ia mendapatkan kabar ini?" Karena tidak leluasa untuk bicara urusan pribadi di depan orang banyak, rasa sangsinya cuman dapat ditanyakan begini saja. "Dan dari mana kau tahu kudatang kemari?" Sekali ini Liong Leng-cu menjawabnya langsung. "Waktu turun gunung tempo hari kebetulan bertemu dengan kakakmu." Nyo Yam melenggong. "Oo, engkau berjumpa dengan kakak, mengapa aku tidak tahu" "Sebab waktu itu engkau sudah berpisah dengan kakakmu dan berangkat sendirian," Tutur Leng-cu. Nyo Yam tetap merasa heran, katanya. "Aneh juga engkau dapat bertemu dengan Koko waktu itu? Memangnya ketika itu engkau belum meninggalkan Thian-san?" Leng-cu seperti berpikir, sejenak kemudian baru menjawab. "Terlampau banyak kau tanya. aku pun tidak tahu cara bagaimana harus bercerita. Biarlah nanti setelah perayaan kemenangan usai baru kita bicara lagi." Malamnya Lohai mengadakan pesta kemenangan, segenap anggota laskar sama makan-minum dengan ria gembira Dengan seudirinya Nyo Yam juga sangat gembira, tapi ia ingat pada janji pertemuan dengan Liong Leng-cu, supaya tidak mabuk, ia tidak berani sembarangan minum. Dan sebelum pesta usai diam-diam ia lantas menarik pergi Liong Leng-cu. Setiba dl luar, melihat sekitarnya tiada orang lain, dengan suara tertahan Nyo Yam bertanya. "Leng-cu, agaknya banyak urusan yang hendak kau bicarakan denganku, betul tidak?" "Betul." Jawab si nona. "Coba kutanya dulu padamu. Engkau memikirkan Ling-cicimu atau tidak?" "Oo, kiranya kaupun sudah tahu menghilangnya Ling-cici," Tukas Nyo Yam. "Kedatanganku ke sini justru hendak mencari dia. Tapi dia tidak pernah datang kemari. Sampai saat ini belum lagi kuketahui dia berada di mana." "Lantas apa yang akan kau lakukan?" Tanya Leng-cu. "Dengan sendirinya akan terus kucari dia," Jawab Nyo Yam. "Ah, tidak, harus kuantarmu pulang lebih dulu." "Mengantarku pulang?" Leng-cu menegas. "Pulang ke mana?" Baru dirasakan oleh Nyo Yam bahwa ucapannya itu agak janggal, katanya dengan tertawa. "Maksudku hendak kuantarmu ke tempat kakekmu, dia tinggal di Leng-ciu-hong di Tai-kiat-nia, meski selama ini kamu beiam pernah ke sana, tapi dia adalah engkongmu, jika kau pergi ke sana menemani beliau kan sama seperti pulang ke rumah." "Tidak, aku tidak mau," Ucap Leng-cu sambil menggeleng. "Apakah masih kau benci padanya?" Tanya Nyo Yam. "Meski dulu ia pernah berbuat salah terhadap ayah-bundamu, tapi lantaran kejadian ini dia menyesal selama hidup dan sudah cukup tersiksa batin. Sekarang dia adalah orang tua yang hidup sebatang kara, masa belum dapat kau maklumi kesusahannya? Kamu juga sudah berjanji padaku akan pulang untuk menghibur masa akhir hidupnya." "Aku takkan ingkar janji, aku juga akan pulang ke sana untuk menemani dia, tapi tidak sekarang," Kata Leng-cu. "Maksudmu akan membantuku mencari Ling-cici?" Tanya Nyo Yam. "Tapi sukar dipastikan bilakah baru dapat menemukan dia. Kakekmu sudah terlampau tua, mungkin tidak taban lama lagi, akan lebih baik kuantarmu pulang untuk menemani kakek, biar aku sendiri yang mencari Ling-cici." "Ingin kupergi dulu ke suatu tempat, paling lama, cuma sebulan segera kukembali," Kata Leng-cu. "Ke mana?" Tanya Nyo Yam. "Pek-toh-san!" Nyo Yam terkejut. "Hah, kamu hendak menuntut balas terhadap Pek-toh-sancu? Wah, tidak boleh jadi. Umur Pek-tohsancu baru lima puluhan, dia takkan mati dengan cepat, boleh kau tunggu beberapa tahun lagi." "Aku tidak melulu ingin menuntut balas sakit hati sendiri, juga tidak dapat menunggu beberapa tahun lagi," Ujar Leng cu. "Habis untuk apa kau pergi ke sana jika bukan untuk menuntut balas?" Belum lagi Leng-cu menjawab, tiba-tiba dua orang mendekati mereka, kiranya Sindal dan Romana. "Eh, Nyo-siauh-ap, belum lagi kuminum bersamamu," Kata Sindal. "Kebetulan pesta kemenangan ini dapat kugunakan untuk menyuguh secawan padamu sebagai tanda terima kasih atas pertolonganmu tempo hari. Sejak tadi kucari kalian kiranya kalian sembunyi di sini." "Ah, soal kecil begitu buat apa diungkit lagi," Ujar Nyo Yam. "Ayolah, bawa arak kemari, boleh kita minum satu cawan. Tapi hanya untuk merayakan kemenangan dan jangan kau sebut lagi tentang tanda terima kasih segala." Sindal dan Romana lantas minum secawan bersama Nyo Yam berdua. Dengan tertawa Romana berkata. "Tadi kulihat kalian meninggalkan perjamuan, maka sengaja kami mencari ke sini, janganlah kalian anggap kami mengganggu keasyikanmu." "Ah, janganlah bercanda," Ujar Nyo Yam. "Kukira kedatangan kalian ini tentu ada urusan lain lagi." "Ce Se-kiat itu saudara misanmu bukan?" Tanya Romana. "Kuingat waktu kau datang segera kau tanya kabar dua orang, seorang di antaranya adalah Ce Se-kiat." "Apakah ada beritanya?" Tanya Nyo Yam cepat. "Betul, baru saja kudengar berita tentang dia. Tadi dalam perjamuan ada orang menyinggungnya, sayang Ce Se-kiat tidak hadir dalam perayaan tadi, padahal dia telah banyak membantu kesusahan kami. Kukatakan kepada kawan kawan tadi bahwa Ce Se-kiat pergi ke Thian-san, tapi kepala suku Rajawali bilang padaku dia telah bertemu dengan Ce Se-kiat di tengah jalan selatan Thian-san, katanya Ce Se-kiat tidak jadi ke Thian-san." "Habis apakah dia tahu Ce Se-kiat menuju ke mana?" Tanya Nyo Yam. "Ce Se-kiat mengatakan kepada kepala suku Rajawali, katanya hendak pergi ke Pek-toh-san, kalau tidak salah letak Pek-toh-san di tapal batas Tibet." Nyo Yam terkejut. "Hih, jadi dia juga ...juga pergi ke Pektoh-san?" "Adakah lesuatu yang tidak benar?" Tanya Romana. "Oo, tidak. Cuma kuingin tahu untuk apa dia pergi ke Pektoh-san," Kata Nyo Yam. "Ia berangkat dengan tergesa gesa dan tidak menjelaskan apa maksud kepergiannya itu!" Tutur Romena. Nyo Yam menjadi sangsi dia tidak enak hati. "Oya, ada juga pesannya untukmu," Kata Romana. "Pesan apa?" Tanya Nyo Yam cepat. "Ia bilang diketahuinya nona Liong hendak datang ke Lodan, maka kepala suku Rajawali di-minta menyampaikan pesannya bilamana engkau juga datang kemari, maka engkau diminta menunggu nona Liong di sini dan tidak perlu kuatir baginya. Apa yang hendak kau lakukan juga dapat dia kerjakan bagimu. Hanya begitu pesannya, habis itu dia lantas berangkat dengan terburu buru. Tak tersangka olehnya kedatangan nona Liong terlebih dulu daripada kepala suku Rajawali dan sebelum pesannya disampaikan, kalian sudah bertemu dulu." Seketika pikiran Nyo Yam menjadi kusut dan termangumangu. "Sudahlah, kami tidak mengganggu kalian lagi," Kata Romana. "Ayolah kita kembali ke sana untuk makan minum, Sindal." Waktu ia membalik tubuh, entah sengaja atau tidak, seikat anak kunci pada pinggangnya bergoyang dan menerbitkan suara nyaring. Nyo Yam paham maksudnya, sebuah anak kunci hanya untuk sebuah gembok. Si nona minta dia hanya boleh memilih seorang teman hidup saja dan tdak boleh bercabang pikiran. Setelah Romana pergi, dengan suara agak gemetar Nyo Yam tanya Liong Leng-cu. "Sebab apakah kalian sama-sama ingin pergi ke Pek-toh-san?" Leng-cu menghela napar, katanya. "Masakah engkau belum lagi mengerti, soalnya Ling-cici saat ini berada di sana." Tentunya Ling Peng-ji tidak mungkin pergi ke Pek-toh-san tanpa sebab, tidak perlu lagi diuraikan lebih banyak, dari ucapan Leng-cu saja sudah dapat diketahuinya Ling Peng-ji tertawan oleh Pek-toh-sancu. Sekalipun hal itu sudah dapat diterkanya, kini diperoleh kejelasannya dari Liong Leng-cu, mau-tak mau ia termenung cemas. Setelah Leng-cu menceritakan apa yang di lihatnya ketika Ling Peng-ji tertawa tempo hari, lalu ia menghiburnya. "Kakakmu sudah pergi ke sana, sekarang Ce Se-kiat juga pergi membantunya, kuyakin mereka pasti dapat menyelamatkan Ling-cici." Rada lega juga perasaan Nyo Yam. Waktu ia menengadah, terlihat rembulan sudah jauh condong di ufuk barat, agaknya subuh sudah hampir tiba. "Baiklah, begitu terang tanah segera kita berangkat!" Kata Nyo Yam. Waktu mengucapkan kata "kita", ia berhenti sejenak seperti memikirkan sesuatu, sejenak kemudian ia berkata pula. "Tapi Iebih baik kupergi sendirian saja, dan kamu pulang dulu untuk menemui kakek." "Huh, apa artinya ini?" Ujar Leng-cu. "Jangan kau lupa, Pektoh-sancu adalah musuh yang membunuh ayahku." "Kutahu. Cuma ilmu silatmu ... ." "Ya. kutahu ilmu silatku selisih sangat jauh dibandingkan dia, tapi sakit hati terbunuhnya ayah harus kubalas, biarpun aku tidak dapat membantu apa-apa terhadap kalian juga harus kulakukan sekuat tenagaku." "Dengarkan dulu," Kata Nyo Yam. "Bukan maksudku merintangi maksudmu menuntut balas. Soalnya ilmu silat Pektoh-sancu terlampau lihai, sekali ini terjadi lagi disarangnya, meski Koko dan aku ditambah lagi Ce Se-kiat juga mungkin sukar dapat menumpasnya sekaligus. Tujuan utama kita adalah menyelamatkan Ling-cici, mengenai menuntut balas, biarlah nanti setelah kamu bertemu dengan kakek, bila kungfu keluargamu sudah berhasil kau yakinkan dengan baik, tatkala mana barulah kita menuntut balas, kan belum terlambat." Leng-cu memandang Nyo Yam, ucapnya dengan senyum tak senyum. "buat apa mesti dibagi menjadi dua kali, apakah karena engkau tidak ingin bersamaku menemui Ling-cici?" Karena isi hatinya tepat dikatai, muka Nyo Yam menjadi merah. Selagi ia hendak mencari alasan untuk menjawab, terdengar Leng-cu telah menyambung. "Jangan kuatir, aku takkan cemburu hubunganmu dengan Ling cici. Kita bertiga memang bernasib buruk, namun Ling-cici terlebih kasihan dari padaku. Aku pun serupa dirimu, cuma mengharapkan dia hidup bahagia. Dia adalah Ling-cicimu, juga Ling-ciciku, aku cuma berharap selamanya kalian akan menganggap aku sebagai adik perempuan kalian dan itu pun sudah cukup bagiku." Ia bicara dengan tulus lkhlas, habis berucap kedua orang sama berlinang air mata. Nyo Yam memegang tangan si nona dengan erat, ucapnya. "Adik Cu, engkau sungguh sangat baik." Kata "baik" Itu mengandung berbagai arti, soalnya banyak yang sukar dikatakannya, terpaksa hanya dapat digunakan satu kata "baik" Untuk melukiskan rasa terima kasihnya kepada Leng-cu. -o(((dw)))o-Di Pek-toh-san waktu itu Pek-toh-sancu Ubun Pok sedang mondar mandir di kamarnya. Sudah lebih sebulan ia pulang ke Pek-toh san, sudah lama kungfunya pulih seperti sediakala, namun sukar memulihkan rasa percaya kepada diri sendiri. Ia telah berhasil meyakinkan Han-peng ciang dan Hwe-yam to, tadinya ia mengira dengan dua macam ilmu saktinya itu akan cukup untuk malang melintang di kolong langit ini, tapi setelah mengalami pertempuran di Thian-san, kepercayaan atas kemampuan sendiri itu menjadi goyah. Hal ini bukan melulu lantarun dia dikalahkan oleh Beng Hoa, alasan yang lebih kuat adalah karena dia menemukan seteru mautnya, seteru maut ini bukan seseorang melainkan benda yang anti kedua ilmu saktinya itu, atau dengan perkataan yang lebih jelas adalah Peng pok han kong-kiam, Peng-poksin-tan dan Peng coan-kiam-hoat, lebih lebih ilmu pedang yang tersebut terakhir itu. Sebabnya Beng Hoa dapat mengalahkan dia, sckalipun karena sebelumnya Pek-toh-sancu telah bertempur dua babak dengan melawan tokoh Thian san, yaitu Ciong Tian dan Tong Kah-goan, namun bila waktu itu Beng Hoa tidak menggunakan Peng-pok-hau-kong-kiam, ia yakin dirinya pasti takkan dikalahkan pemuda itu. Yang lebih membuatnya gentar adalah Peng-coan-kiamhoat, meski Ling Peng-ji juga pernah menggunakan ilmu pedang itu ditambah Peng-pok-sin-tan dan akhirnya toh dapat ditawan olehnya. namun setelah bertempur dua kali, daya tempur Ling Peng-ji juga membuatnya terkejut. Bahwa Ling Peng-ji dapat dirasakan olehnya sebagai tekanan yang berat, dengan sendirinya berkas Peng-coanhiam-hoat. Untung Beng Hoa tidak mahir Peng-coan-kiamhoat sehingga tempo hari dia dapat kabur dengan selamat. Bilamana ada seorang yang sama kuatnya serupa Beng Hoa dan mahir Peng coan-kiam-hoat pula, senjata yang digunakan juga Peng-pok-han-kong-kiam, maka sukariah dibayangkan bagaimana akibatnya. Sebab itulah ia sengaja menawan pulang Ling Peng-ii dengan maksud hendak memaksa si nona membeberkan rahasia Peng-coan-kiam-hoat, lalu akan berdaya merampas lagi Peng-pok-han-kong-kiam. Ia tahu pedang inti es itu sekarang berada di tangan Nyo Yam, bilamana rahasia Peng-coan-kiam-hoat sudah dipahaminya, ia yakin akan dapat menambal kelemahan kedua macam ilmu saktinya, paling tedikit dapat juga diketahui cara bagaimana menghadapi ilmu pedang itu. Akan tetapi Ling Peng-ji seperti tahu maksudnya, meski sudah lebih sebulan tertawan, selama itu ia rela mati daripada memberitahukan rahasia Peng-coan-kiam-hoat. Mendingan sekarang Ling Peng-ji sudah jatuh di tangannya, tapi masih ada seorang nona lagi yang membuatnya gregeten dan sekarang tidak diketahui di mana berada. Nona ini bukan lain dari-pada Liong Leng-cu yang lebih muda daripada Ling Peng-ji. Terhadap Liong Leng-cu, hatinya tidak rela bilamana nona itu tidak dapat ditangkapnya, tujuannya tidak cuma membabat rumput hingga akar-akarnya, tapi ada juga dua alasan lain. alasan pertama adalah ingin mendapatkan harta karun tinggalan kakek Liong Leng-cu. Kakek Leng-cu, yaitu Tian Lam-an, adalah seorang pentolan bajak yang pernah malang melintang di laut timur pada 40-an tabun lalu. Ayah Leng-cu adalah anak buah Tian Lam-an, waktu Leng-cu berusia 12, ayahnya bersama Tiau Lam-an sama cedera ketika terjadi pertempuran dengan pasukan pemerinteh, akhirnya mereka pun gugur. Ia pernah dengar dari sang ayah bahwa Tian Lam-an memiliki satu partai harta karun yang di sembnnyikan di suatu pulau kecil yang tidak diketahui namanya. Walaupun nama pulau kecil itu tidak diketahui, namun partai harta karun ini tidak pernah dilupakannya. Ia yakin rahasia tempat penyimpanan harta karun itu pasti diketahui keturunan Tian Lam-an, besar kemungkinan ada lagi sehelai peta rahasia tempat harta karun. Sebab itulah belaran tahun yang lalu begitu ia mendengar putra Tian Lam-an, yaitu Giok-liong Taicu Tian Leng-kun, tinggal sembunyi di suatu pedusunan, segera ia datang kedusun itu untuk membunuh Tian Leng-kun. Akibatnya meski sergapannya berhasil, namun ia sendiri juga terluka parah. Sedang istri Tian Leng-kun sempat kabur dengan membawa anak perempuannya dan peta rahasia harta karun tetap tidak diperolehnya. Ia yakin peta pasti dibawa lari juga oleh istri Tian Leng-kun. Bilamana ibunya sudah mati, dengan sendirinya peta itu diserahkan kspada putrinya. Alasan kedua adalah karena rasa jerinya. Meski ia berhasil menyergap dan membinasakan Tian Leng-kun, namun ia cukup maklum ilmu silat orang jauh di atasnya, sebabnya ia meyakinkan Hwe-yam-to dan Han-peng-ciang justru hendak digunakan untuk menghadapi kungfu keluarga Tian. Tapi apakah sanggup menang, ia sendiri tidak tabu dengan pasti. Sebab itulah setelah dikctahui sekarang kungfu Liong Lengcu bukan tandingannya, ia ingin menawannya, serupa caranya memperlakukan Ling Peng-ji, Leng-cu hendak dipaksanya membeberkan rahasia ilmu silat keluarganya. Kalau tidak menurut, bila perlu Leng-cu akan dibunuhnya. Karena dua alasan itulah, betapapun hatinya takkan tentram bila tidak mendapatkan Liong Leng-ji. Namun sekarang paling ditakutinya tetap Beng Hoa adanya. Teringat kepada pemuda ini, sungguh ia sangat gusar dan gemas, bilamana tidak dikalahkan oleh Beng Hoa, tentu Liong Leng-cu sudah berada dalam cengkeramannya sekarang. Ia tahu dengan ditawannya Ling Peng-ji, lambat atau cepat Beng Hoa pasti akan mencarinya. Sekalipun kungfunya sudah pulih kembali, namun ia tidak yakin akan dapat mengalahkan pemuda itu. Tengah mondsr mandir dengan bimbang, tiba-tiba seorang anak murid masuk menyampaiktn kartu nama, jelas terbaca nama pengunjung itu tercantum "Beng Hoa". Meski sebelumnya ia sudah siap menghadapi kedatangan Beng Hoa. namun tidak tersangka akan begitu cepat datangnya pemuda itu. Keruan air mukanya berubah seketika. "Apakah ditolak atau ... atau diterima, mohon petunjuk Suhu," Kata muridnya dengan tergagap. Setelah terima kartu nama itu dan berpikir sejenak, lalu Ubun Pok berkata. "Silakan dia masuk." Segera ia mengatur seperluuya menurut rencana. Baru selesai teratur, terlihat Beng Hoa masuk dengan langkah lebar. Anehnya Beng Hoa datang dengan tersenyum simpul, wajah berseri-seri, sama sekali tidak ada tanda orang yang datang untuk menuntut balas. Sesuai rencana yang sudah diatur, Pek-toh-sancu duduk di tengah, delapan anak murid andalannya berdiri dua baris di samping. Kedelapan anak murid itu mahir menggunakan amgi atau senjata rahasia berbisa, bila Beng Hoa melakukan sesuatu, sekali Pek-toh-sancu memberi tanda, serentak kedelapan murid akan bertindak serentak, hamburan senjata rahasia dari berbagai penjuru itu pasti akan membuat Beng Hoa tak berdaya dan sukar mengelak. Padahal senjata rahasia berbisa itu hanya dapat ditoLong oleh obat penawar khas buatan Pektoh-sancu sendiri Begitulah Beng Hoa lantas menyapa dengan tergelak. "Haha, perjumpaan sahabat lama, kenapa sungkan." Sembari tegur sapa dengan Pek-toh-sancu ia pun mengangguk terhadap anak murid yang menyamhut kedatangannya. Mendadak ia tepuk pundak murid pertama yang berdiri di sebelah kiri sambil berkata. "jangan banyak adat, kita-kan kenalan lama!" Kedelapan anak murid Pek-toh-san sebenarnya sama waswas dan berjaga-jaga bilamana mendadak Beng Hoa melancarkan serangan. Namun gerak tangan Beng Hoa itu sungguh terlampau cepat, bukan saja anak murid itu tidak sempat menghindar, bahkan ketujuh kawannya tidak tahu sebelumnya akan tindakan Beng Hoa itu. Segera ketujuh murid yang lain bermaksud menghamburkan am-gi, tapi sebelum mendapat perintah sang guru, serentak mereka berpaling memandang orang tua itu dengan senjata rahasia siap di tangan. Pada detik yang tegang itulah, terlihat murid yaug pundaknya ditepuk Beng Hoa itu lagi tersenyum dan memberi hormat serta berkata. "Ah, Jangan sungkan, jangan sungkan!" Pek-toh-sancu menghela napas lega, ia pikir dengan kedudukan Beng Hoa memang cuma pantas bergebrak denganku, tidak nanti ia main sergap terhadap anak muridku. Maka dengan tertawa ia pun menyapa. "Beng-taihiap, engkau sendirilah yang terlampau sungkan. Engkau adalah tamu agung. adalah pantas muridku menyambut dengan bormat." Ternyata tepukan Beng Hoa tadi sama sskali tidak menggunaken tenaga, tindakannya itu cuma membuat orang terkejut saja. Melihat muridnya tidak kurang sesuatu apa pun, lega juga hati Pek-toh-soncu, ia sangka perbuatan Beng Hoa itu memang betul cuma semacam penghormatan terhadap tuan rumah saja sebagai umumnya orang berjabat tangan sebagai tanda keakraban. Karena pikiran ini, mau-tak-mau ia pun bersikap sungkan terhadap Beng Hoa. "Haha, saling menghormati adalah adat yang terpuji, biarlah aku pun menyataknn sedikit rasa terima kasihku kepada para muridmu," Seru Beng Hoa sembari mendekati ketujuh murid yang lain, ada yang diajak berjabatan tangan, ada yang di tepuk tepuk pula pundaknya sembari mengucapken kata kata bersahabat. Meski di dalam hati ketujuh murid itu memandang Beng Hoa sebagai musuh, tapi dirasakan juga bila dapat bersahabat dengan tokoh muda itu kan suatu kehormatan besar bagi mereka, sebab itulah sikap ramah tamah Beng Hoa itu diterima mereka dengan baik. Ubun Pok tetap duduk di tempatnya, melihat sikap Beng Hoa, yang sopan itu terhadap anak muridnya, diam-diam ia pikir orang ternyata cukup menghormatinya, mau-tak mau sikap permusuhannya rada berkurang, maka sebelum Beng Hoa mendekatnya, lebih dulu ia meninggalkan tempat duduknya untuk menyambut Ia tidak berani berjabat tangan dengan Beng Hoa, maklumlah, ia masih jeri kepada anak muda itu. Sebab kedudukannya berbeda dengan anak muridnya, mungkin Beng Hoa tidak sudi menyergap anak muridnya, tapi sangat mungkin menggunakan alasan berjabatan tangan untuk mengadu lwekang dengan dia. Padahal ia tidak yakin akan mampu mengalahkau lawan, bilamana terlibat adu lwekang tentu sukar melepaskan diri. Bcgitulah maka ia cuma saling hormat dengan Beng Hoa dari jauh, meski dapat juga menggunakan tenaga pukulan jarak jauh, namun tidak nanti terlibat pertarungan dengan lawan. Keadaan sekarang adalah Beng Hoa tclah jauh memasuki sarang musuh, sedangkan Pek-toh-sancu sudah mengatur rencana lebih dulu. pertama Pek-toh-sancu merasa Iwekang sondiri tidak pasti lebih tinggi daripada Beng Hoa, pula segala sesuatu sudah diaturnya sehingga tidak terburu-buru bertindak lebih dulu. Sebab itulah ia cuma siap siaga saja, jika Beng Hoa bertindak lebih dulu dengan menyerangnya dari jauh, untuk bertahan saja ia merasa takkan kewalahan. Begitulah, setelah kedua orang saling menghormati dari jauh, keduanya pun merasa lega. Ubun Pok pikir jangan-jangan orang memang datang untuk berdamai denganku, agakaya aku-lah yang terlampau banyak curiga. Kiranya hormat Beng Hoa tadi memang benar penghormatan biasa, sedikit pun tidak membawa tenaga serangan. Sebaliknya Beng Hoa juga merasa geli, pikirnya. "Untung dia kena kugertak sehingga tidak berani melancarkan serangan jarak jauh, kalau tidak, tentu rahasiaku akan terbongkar." Dengan perasaan tidak tentram Ubun Pok lantas tanya. "Numpang tanya, ada urusan apakah Beng taihiap sudi berkunjung kemari?" "Haha, tidak berkelahi tidak kenal ... aciih -aciih .." Sembari bicara, berbareng Beng Hoa bersin beberapa kali. Ubun Pok melenggong, dipandangnya Bong Hoa, seperti mau omong apa apa, tapi tidak jadi. Beng Hoa seperti merasa kikuk, katanya pula. "Ah, barangkali aku tidak cocok dengan hawa pegunungan di sini, rasanya aku rada masuk angin ..Aciih, aciih" "Lwekang Beng-taihiap maha tinggi, masakah cuma hawa saja dapat membuatmu masuk angin?" Ujar Ubun Pok. "Oya, ingin kuminta petunjuk sesuatu padamu , . aciih-aciih, ahh, maaf, telah kutahan sebisanya, tapi rasa bersin tetap terjadi," Ucap Beng Hoa sambil menarik napas dengan lagak menahan bersin. "Apa barangkili kau lihat sesuatu tumbuhan di Pek toh-san sini yang tidak terdapat di tempat lain?" Tanya Ubun Pok. "Aha, betul", seru Beng Hoa. "Memang ku lihat semacam bunga yang khas. bunga warna emas dan berduri, kelihatan sangat menarik. Siapa tahu belum lagi kupetik, baru tersentuk serbuk bunga lantas hidung terasa gatal dan ingin bersin." "Bunga itu beraroma bunga duri emas, serbuk bunganya ada suatu keistimewaan, yaitu untuk sementara orang bisa mendadak hidung merasa gatal dan ingin bersin, tapi ada sementara orang tidak merasakan apa apa meski berlepotan serbuk bunga eraas itu," Tutur Ubun Pok. Apa yang diceritakan itu adalah penyakit alergi yang kita kenal jaman ini, ada yang peka terhadap sesuatu benda, ada yang tidak. Ilmu kedokteran jaman ini pun belum tuntas menyelidiki dengan jelas penyakit alergi, maka pada jaman dahulu tentu saja dipandang sebagai gejala yang aneh. "Wah, jika begitu, agaknya bunga ajaib itu telah penujui diriku," Ucap Beng Hoa sambil menyengir. Diam-diam Ubun Pok membatin. "Pantas suaranya agak berlainan daripada dulu, rupanya karena hidungnya tidak lancar." Dengan tertawa ia lantas berkata. "Serbuk bunga itu tidak beralangan bagi kesehatan manusia, hanya akan menimbulkan rasa tidak enak saja, Ada obat penawar penyakit itu, bila Beng-taihiiip percaya padaku ...." "Jika aku tidak percaya padamu, masakah aku mau berkunjung sendirian ke sini?" Kate Beng Hoa. Ubun Pok mengeluarkan sebuah tube kecil, katanya. "Boleh kau pencet keluar sedikit salep ini, dan masukkan ke lubang hidung, segera bersin akan hilang. Cuma hidung tidak bisa segera lancar, harus diobati selama dua-tiga hari baru dapat sembuh seluruhnya." Beng Hoa mengucapkan terima kasih dan menerima tube obat itu, di depan orang ia salepi hidung sendiri, lalu berkata. "Ehm, rasanya memang sangat enak." Sama sekali tak tersangka oleh Pek-toh-sancu Ubun Pok bahwa begitu tube obat berada di tangan Beng Hoa, dengan cara yang sukar dibayangkan sudah segera ditukarnya dengan obat lain. Ubun Pok sendiri merasa senang, pikirnya. "Akhirnya kamu dapat juga kukibuli." Kiranya salep itu bukan melulu obat penawar serbuk bunga etnas, tapi telah dicampurnya pula semacam obat racun lain. Racun ini tidak segera bekerja, tapi bila Ubun Pok menghamburkan semacam bubuk lagi dan Beng Hoa mengendus bau obat bubuk itu. seketika racun itu akan bekerja dan membuatnya pingsan. Itulah semacam kepandaian khas cara menggunakan racun Pek-toh-sancu yang disebut "obat reaksi sccara berantai". Bilamana benar Beng Hoa akan bersahabat dengan dia, maka obat bubuk kedua tidak digunakannya dan racun pertama pun takkan bekerja. Beng Hoa sendiri diam-diam juga merasa senang, pikirnya. "Uutung kukenal semacam bunga duri emas sehingga dapat kutipu dia. Kalau tidak, caraku menirukan suara Beng Hoa akhirnya pasti akan terbongkar." Begitulah kedua orang diam-diam telah bertarung mengadu akal. Sesuduh ambil tempat duuuk, lalu Pek-toh-sancu tanya pula maksud kedatangan Beng Hoa. "Kan sudah kukatakan, aku dan Sancu dari berkelahi menjadi kenalan baik, maka sengaja kudatang kemari untuk monyampaikan salam," Baca Juga: Panji Wulung 5 Baca Juga: Telapak Setan 7