Durjana Dan Ksatria 9

Eps 9 Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen

Baca online Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen

Cersil Durjana Dan Ksatria - Liang Ie Shen.

Tutur Beng Hoa dengan tertawa.

"Benarkah kedatangan Beng-taihiap ingin bersahabat denganku,"

Ubun Pok menegas lagi dengan ragu. Beng Hoa berlagBk melengak, lalu menjawab dengan serius.

"Dengan sendirinya begitulah maksudku, namun apakah berhasil atau tidak tentu saja bergantung kepada Sancu sendiri."

"Jika benar Beng-taihiap sudi berkawan denganku, tentu saja aku merasa sangat beruntung,"

Kata Ubun Pok.

"Hanya saja sukar begitu untuk mempercayai kesungguhan hati Bengtaihiap."

"Oo, cara bagaimanakah baru kau mau percaya?"

Tanya Beng Hoa.

"Bicara terus terang, sedikit banyak antara perguruanmu denganku kan ada sengketa,"

Ucap Ubun Pok.

"Maka kupikir kedatangan Beng-taihiap ini mungkin bukan untuk bicara persahabatan denganku."

"O, kiranya kau sangsi akan kebenaran ucapanku."

Kata Beng Hoa tertawa.

"Ya, bilamana engkau tidak mau bicara terus terang, itu berarti engkau tidak menganggap sahabat padaku."

"Jika kupuji keindahan pemandangan di sini dan kehebatan kungfu Sancu, semua itu kan juga bicara sebenarnya."

Kata Hong Hoa dengan tertawa.

"Cuma, kedatanganku tentu saja tidak hanya untuk bicara pemandangan dan kungfu denganmu, memang ada dua urusan yang sekaligus hendak kurundingkan dengan Sancu."

Ubun Pok pikir ini dia sudah mulai, jawabnya.

"Jika kedua urusan ini tidak diperoleh kesatuan pendapat, lantas Bengtaihiap takkan menganggap sahabat lagi padaku?!"

"Itu pun bergantung betapa jarak perbedaan pendapat kita,"

Ujar Beng Hoa.

"Baik, coba katakan, dua urusan apa?"

Tanya Ubun Pok.

"Pertama, mengenai Sin-sian-wan,"

Tutur Beng Hoa.

"Bahaya Sin-sian-wan sangat besar, diharap Sancu jangan lagi meracik Sin-siau-wan untuk membikin susah orang."

"Rupanya Beng-taihiap cuma tahu satu dan tidak tahu dua,"

Kata Ubun Pok.

"Sebab Sin-man-wan kan juga dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit orang."

"Memang benar, namun orang yang tidak sakit bila terbiasa minum Sin-siau-wan akan menjadikannya ketagihan. dan sekali kecanduan akan jadilah dia orang tidak berguna, jadi bahayanya lebih besar daripada manfaatnya."

Ubun Pok pikir urusan ini boleh juga mengalah, maka ia berkata.

"Baik, kuterima permintaanmu, selanjutnya obat yang kubuat hanya kugunakau untuk mengobati orang sakit dan takkan dijual kepada umum. Lalu apakah urusan yang kedua?"

"Kudengar suatu kabar bahwa seorang anak murid Thiansan-pai kami, yaitu Ling Peng-ji, telah ditawan oleh Sancu, entah betul tidak hal ini? JiKa betul, maka kumohon Sancu sudi membebaskan dia dan akan kubawanya pulang."

Ia sengaja menyatakan "mendengar kabar", maksudnya memberi kesempatan kepada Ubun Pok untuk menyangkal, sebab jelas ia tahu orang takkan melepaskan Ling Peng-ji begitu saja, maka tujuannya sekarang hanya untuk mengulur waktu belaka.

Dengan sendirinya Ubun Pok tidak tahu maksud tujuannya, ia pikir jika orang datang berdamai.

tentu juga akan menerima syaratnya, maka ketika bola matanya berputar, segera ia mendapat akal.

Di luar dugaan Beng Hoa.

ternyuta Ubun Pok tidak menyangkal, dengan tertawa ia menjawab.

"Wah, berita Bengtaihiap ternyata sangat tajam, memang betul Ling Peng-ji dari perguruan mu memang berada padaku, tidak sulit bila kau minta kulepaskan dia, cuma ..."

"Cuma apa?"

Tanya Beng Hoa.

"Asalkan kau suruh Ling Peng-ji menyalin suatu berkas Peng-coan-kiam-hoat bagiku, segera dia akan kubebaskan."

Beng Hoa berlagak haran.

"Mengapa kau-minta Peng-coankiam-hoatnya?"

"Hm, tampaknya sudah tahu kamu sengaja tanya,"

Jengek Ubun Pok.

"Aku benar-benar tidak tahu,"

Kata Beng Hoa sambil membentang tangan..

"Baik, anggap kamu tidak tahu,"

Jengek Ubun Pok.

"Pendek kata, itulah syaratku, tidak perlu kuberi penjelasan."

Selagi Beng Hoa berlagak hendak tawar menawar dan mengulur waktu, pada saat itulah seorang anak buah Ubun Pok lari masuk dengan napas tersengal-sengal serta berteriak dengan suara parnu.

"Wah, eei ... celaka! Ada perusuh membobol ... membobol penjara dan ... dan Siau-sancu telah dilukai!"

"Siau-sancu"

Yang dimaksudkan orang ini adalah kemenaknn Ubun Pok sendiri, yaitu Ubun Lui.

Padahal ilmu silat Ubun Lui terhitung jago nomor tiga di Pek-toh-san, ia ditugaskan mengawasi Ling Peng-ji.

Keruan Ubun Pok terkejut, seketika tak terpikir lagi olehnya hadirnya orang luar di situ, cepat ia berteriak.

"Siapa perusuh itu?!"

Dengan megap-megap anak buahnya melapor.

"Katanya orang itu adalah Beng Hoa!"

Pelapor ini ikut menjaga Ling Peng-ji di belakang bersama Ubun Lui, ia tidak tahu datangnya "Beng Hoa"

Yang sedang bercengkerama dengan sang Sancu. Maka tergelaklah "Beng Hoa"

Yang bicara tadi, teriaknya.

"Wah. maaf, yang asli sudah datang, biarlah kupamit dulu!"

Akan tetapi Ubun Pok lantas membentak, kontan sebelah tangan menghantam sambil membentak.

"Lekas hamburkan am gi!"

Siapa tahu ginkang Beng Hoa palsu ini jauh lebih hebat daripada Beng Hoa tulen, sedikit bergeser pukulan jarak jauh Ubun Pok itu dapat dihindarkannya, kedelapan anak muridnya juga sukar mencegatnya.

Kedelapan anak murid itu sekaligus hendak merogoh am-gi, tapi serentak juga melongo ketika dirasakan kantung am-gi mereka telah kosong melompong, entah sejak kapan senjata rahasia mereka telah hilang semua.

"Hahnhaha! Ini kukembalikan kepada kalian!"

Teriak Beng Hoa gadungan dengan gelak tertawa, sekali tangan bergerak, berhamburanlah senjata rahasia laksana hujan.

Cepat Ubun Pok menghantam dari jauh dengan tenaga pukulan dahsyat untuk menyampuk jatuh hujan senjata rahasia itu, walaupun begitu tidak urung dua anak muridnya terluka juga.

Bentak Ubun Pok dengan murka.

"Kiranya kamu ini Koaihoat Thio yang pernah menipuku itu!"

"Memang betul,"

Beng Hoa gadungan ini adalah samaran Koai-hoat Thio.

Ia datang ke Pek-toh-san bersama Beng Hoa, kemudian kedua orang membagi tugas untuk bekerja.

Ubun Pok pernah ditipu dan menyerahkan surat pengakuan dosa Ciok Jing-coan waktu Koai hoat Thio menyaru sebagai Bu Ek, sekarang Beng Hoa gadungan ini ternyata juga sedemikian mirip, dengan sendirinya ia lantas menduga siapa dia.

Merasa berulang dipermainkan Koai-hoat Thio, keruan gusarnya tidak kepalang.

"Hehe, surat pengakuan dosa dahulu itu kan juga hasil perampasanmu dari orang lain,"

Seru Koai-hoat Thio dengan tergelak.

"Kamu merampas dan aku menipu, sama sama dan satu-satu. Hehe. rupanya baru sekarang kau tahu siapa diriku, kan sudah kasip. Maka kuberi nasihat padamu agar lekas kau tulis saja surat pengakuan dosa bagi dirimu sendiri."

Teriak Ubun Pok murka.

"Kurang ajar"

Memangnya kau kira dapat lari cepat lantas aku tidak dapat berbuat apa-apa? Hm, rebahlah!"

Senjata rahasia Ubun Pok sendiri juga telah dicuri oleh Koaihoat Thio ketika ia memberikan tube salep tadi.

Akan tetapi bubuk obat yang dapat menimbulkan reaksi berantai itu terbungkus kertas timah yang sangat tipis dan tersembunyi di selah-selah kuku jarinya, rahasia ini tidak diketahui oleh Koaihoat Thio.

Maka pada waktu Koai-hoat Thio dikejarnya, sebelum mendekat segera ia menjentikkan obat bubuk itu dengan tenaga jari sakti.

Sementara itu Koai-hoat Thio sudah melompat turun ke bawah undakan, tapi segera ia dipapak oleh dua murid Ubun Pok.

Begitu melihat Koai-hoat Thio, mereka melengak kaget dan berteriak.

"Hah, barangkali ada setan! Kenapa di sini juga ada seorang Beng Hoa?"

Kiranya kedua orang ini adalah Sikong Ciau dan Buyung Sui yang dulu pernah ikut Ubun Pok mencari perkara ke Thiansan, tempo hari mereka sendiri terluka oleh pedang Beng Hoa, bilamana tidak diobati oleh guru mereka hampir saja kungfu mereka musnah.

Sekarang pun kungfu mereka belum pulih seluruhnya.

Maka mereka serupa burung yang sudah ketakutan bila mendengar suara jepretan pelinteng bila melihat Beng Hoa, walau-pun disadari Beng Hoa palsu yang mereka hadapi, tidak urung kaki pun terasa lemas.

Koai-hoat Thio memegang tube salep yang diterimanya dari Ubun Pok tadi.

dengan gerakan secepat kilat ia poles salep itu pada lubang hidung Buyung Sui berdua.

Menyusul itu dengan cepat sekali bubuk yang dilemparkan Ubun Pok tadi pun meledak di depan mereka, bubuk itu berubah menjadi lapisan kabut tipis.

Akibat reaksi berantai obat bubuk dengan salep pada lubang hidung mereka, kontan Buyung Sui dan Sikong Ciau bersuara tertahan dan jatuh pingsan.

Dangan terbahak bahak Koai-hoat Thio berkata.

"Haha, caramu memang lihai, sekali bentak lantas merobohkan orang. Cuma sayang caramu ini hanya dapat merobohkan anak muridmu sendiri."

Di tengah gelak tertawanya, Pek-toh-sancu telah ditinggalkannya jauh di belakang.

Terdengar suara genta berdentang.

Pek toh-sancu dan rombongannya serentak mengejar keluar.

Tiba tiba terlihat Beng Hoa berlari di tengah kerumunan orang banyak, tapi orang banyak itu segera lari terpencar dan ada yang mendadak roboh terjungkal.

Kiranya rombongan orang itu mestinya hendak mengejar dan menangkap Beng Hoa, tapi begitu berhadapan mereka lantas tunggang langgang disengkelit roboh oleh kungfu Beng Hoa.

jadinya bukan mereka yang mengejar Beng Hoa melainkan mereka yang dikejar anak muda itu.

Padahal Beng Hoa tidak sempat mengurus mereka lagi, sebab ia terburu-buru ingin bergabung dengan Koai-hoat Thio sehingga terpaksa ia harus menerjang di tengah orang banyak yang semula bermaksud mencegatnya.

Tentu saja Koai-hoat Thio sangat girang dan terkejut pula begitu cepat bertemu dengan Beng Hoa, cepat ia tanya.

"Di mana Ling Peng-ji?"

Ia sangka Beng Hoa sudah dapat menyelamatkan Peng ji dan nona itu sudah pergi dulu, jika demikian halnya mereka pun tidak perlu terlibat bertempur dengan musuh.

Tak tersangka Beng Hoa juga lagi tanya padanya.

"Di mana iblis Ubun Pok itu? Hanya bila gembong iblis ini kita tangkap baru Peng-ji dapat diselamatkan."

Kiranya meski dia telah melukai Ubun Lui yang menjaga Peng-ji, namun belum tahu tempat dikurungnya nona itu.

Mestinya ia hendak menawan Ubun Lui untuk memaksa keterangannya, namun kungfu Ubun Lui tidak lemah, terpaksa sekali gebrak ia lukai lawan dan belum sempat menawannya.

Dalam keadaan kepepet Ubun Lui meledakkan granat berjarum dan berasap racun, namun baik jarum maupun asap berbisa itu tidak dapat mencederai Beng Hoa, cuma kesempatan itu pun digunakan Ubun Lui untuk kabur di balik asap tebal.

Dari seorang penjaga yang ditangkapnya Beng Hoa dapat mengetahui Ling Peng-ji ditahan di gua bawah tanah.

Gua itu banyak alat perangkap, cara bagaimana masuk gua bawah tanah dan membuka kamar tahaaan itu hanya diketahui Ubun Pok dan Ubun Lui saja.

Beng Hoa tidak sempat banyak bicara dengan Koai-hoat Thio, ia cuma mendesak Koai-hoat Thio lekas membawanya kembali mencari Ubun Pok.

Koai-hoat Thio sendiri juga belum sempat bertutur dan sudah terdengar suara meraung murka Ubun Pok yang memekakkan anak telinga, lalu muncul gembong iblis itu.

"Ubun Pok,"

Bentak Beng Hoa.

"apa yang kau katakan sendiri masa sudah lupa?"

Seperti diketahui, ketika Ubun Pok bertanding dengan Beng Hoa di Thian-san tempo hari, ia sendiri pernah menyatakan bilamana ia kalah, maka ia rela diperlakukan sesuka Beng Hoa.

Inilah borok yang memalukan, Ubun Pok kuatir Beng Hoa membeberkannya di depan anak muridnya, maka dengan muka merah ia berteriak murka.

"Anak keparat, ada jalan menuju surga tidak kau tuju, neraka tanpa pintu justru akan kau-terobos! Biarlah hari ini boleh coba kita menentukan matihidup lagi, apakah kamu yang mampus atau aku yang mati!"

Sembari berteriak ia terus menerjang maju, kedua tangan menghantam sekaligus.

Beng Hoa sengaja hendak menguji kungfu sendiri, maka kedua tangannya juga menghantam sekaligus, maka terjadilah keras lawan keras.

Benturan keempat tangan menimbulkan suara gemuruh.

Beng Hoa tergetar mundur dua-tiga tindak, sebaliknya Ubun Pok juga tergeliat.

Tampaknyu Ubun Pok sedikit di atas angin dalam adu pukulan ini.

Tapi harus dimaklumi, tangan kiri Ubun Pok menggunakan Han-peng-ciang.

pukulan maha dingin, dan tangan kanan menggunakan Hwe-yam to yang maha panas.

Bilamana kedua macam ilmu sakti itu di-gunakan, seketika pihak lawan akan merasakan siksaan panas dingin, sedangkan Beng Hoa cuma mengandalkan lwekangnya yang murni dan dapatlah mematahkan kedua macam ilmu sakti lawan, kalau cuma mengadu Iwekang, biarpun dia tidak diatas Pek tohsancu Ubun Pok pasti juga takkan dikalahkan olehnya.

Setelah saling gebrak sekali, mau-tak-mau Ubun Pok terkejut, pikirnya.

"Wah, tampaknya tempo hari seumpama aku tidak bertanding dua babak lebih dulu mungkin juga sukar mengalahkan dia."

Beng Hoa sendiri diam-diam juga mengeluh, pikirnya.

"Hari ini aku tidak menggunakan Peng pok-han-kong-kiam, untuk dapat menawan dan rasanya harus memeras tenaga lebih dari seribu jurus."

Belum habis pikir, dilihatnya Ubun Pok sudah menubruk tiba pula.

Cepat Beng Hoa melolos pedang, sekali berputar, serentak ia menyerang ke kanan dan ke kiri, kedua macam ilmu sakti lawan dapat ditahannya, bahkan pedang kelihatan bergetar dan masih ada sisa tenaga untuk siap balas menyerang.

Meski Pek-toh-sancu Ubun Pok bukanlah jago pedang kelas tinggi.

tapi dia juga seorang ahli ilmu silat, begitu melihat gaya pedang Beng Hoa segera ia tahu anak muda itu lagi mencari kesempatan untuk menusuk hiat-to maut.

Celakanya sukar diketahuinya hiat-to mana yang akan diincar lawan.

Dalam keadaan tubuh sendiri sudah terkurung di bawah cahaya pedang lawan, sedikit lengah saja setiap hiat-to mana pun sanyat mungkin akan tertusuk.

Kuatir kecundang, cepat Ubun Pok bergeser dan kedua tangan menghantam pula, dengan tenaga pukulan dahsyat digunakannya sebagai perisai tidak berwujud.

Sekonyong-konyong terdengar orang menjerit dua kali, kiranya dua muridnya yang berdiri agak dekat entah tergetar oleh tenaga pukulan Ubun Pok sendiri atau dicederai oleh hawa pedang Beng Hoa yang lihai, tahu-tahu keduanya menggeletak terluka dalam sekejap itu.

Untung tidak terluka parah, mereka masih sanggup menggelinding jauh ke sana untuk melepaskan diri dari tampat bahaya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 21 Beng Hoa melancarkan serangan kilat untuk merebut posisi yang lebih baik.

Mendadak gerak pedangnya berubah, ujung pedang serupa diganduli sepotong timbel yang berat, ia menggores lingkaran dengan pelahan, terjadi lingkaran besar.

lingkaran kecil, lingkaran besar membungkus lingkaran kecil, setiap lingkaran sama membungkus bayangan tubuh Pek-toh-sancu.

Maka air muka Pek-toh-sancu Ubun Pok pun kelihatan mulai prihatin.

Kiranya Beng Hoa telah menggunakan Si-mi-Kiam-hoat Thian-san-pai yang ampuh, inilah puncaknya ilmu pedang yang paling lihai.

Beng Hoa mengerahkan segenap tenaga dalam ke ujung pedang, jangan sangka gerak pedangnya cuma menuding pelahan begitu saja, kenyataannya membawa daya tekanan yang luar biasa dahsyatnya.

Biarpun lwekang Ubun Pok sangat tinggi juga merasakan daya tekan yang berat.

Diam diam Pek-toh-sancu Ubun Pok terkejut, baru sekarang ia tahu biarpun tanpa memegang Peng-pok-han-kong-kiam Juga dirinya sukar mengalahkan Beng Hoa.

Terpaksa Ubun Pok bertahan dengan hati-hati dan penuh semangat, yang diharapkannya sekarang cukup asalkan tidak kehilangan muka di depan anak muridnya.

Makin lama makin luas lingkaran sinar pedang Beng Hoa, sebaliknya Ubun Pok terus menyurut mundur selangkah demi selangkah.

Walau-pun begitu masih belum ada tanda-tanda akan kalah.

Sekaligus ia keluarkan kedua ilmu saktinya, yaitu Hwe-yamto dan Han-peng-ciang, bila tangan kiri bergerak, seketika timbul angin dahsyat maha dingin.

Kalau tangan knnan menampar, serentak menyambar hawa maha panas yang menyengat.

Anak muridnya jangankan hendak ikut campur, untuk berdiri saja dalam jarak dekat pun sukar bertahan.

Namun anak murid Pek-toh-san lantas mengalihkan sasaran mereka terhadap Koai-hoat Thio, segera mareka hendak menangkap maling sakti itu.

Dengan gesit Koai-hoat Thio mengeluarkan ginkangnya yang tinggi untuk berputar kian ke mari di tengah orang banyak, digodanya kawanan murid Pek-toh-san itu, sebentar di colek muka seorang, lain saat ia jewer telinga seorang lagi.

Terkadang ia sempat menggerayangi saku lawan sehingga benda berharga dapat dicopetnya serta dilemparkan ke lanlai.

Sebenarnya banyak kesempatan baginya untuk kabur, tapi dia justru tidak mau lari.

Selagi Koai-hoat Thio merasa senang mempermainkan musuh, sekonyong-konyong terasa angin mendesir, seorang menyergapnya dari belakang sambil membentak.

"Bangsat, jangan mentang-mentang paling hebat, ini rasakan kelihaianku!"

Terkesiap Koai-hoat Thio, tak tersangka olehnya di Pek-tohsan ada tokoh selihai ini. Cepat ia mengegos, terdengar suara "blang blung"

Dua kali, dua orang murid Pek-toh-san kontan menggeletak menjadi korban pukulan orang itu.

Meski sempat menghindar, tidak urung punggung Koai-hoat Thio terasa panas pedas terserempet oleh angin pukulan orang.

Kiranya penyerang itu adalah jago nomor dua Pek-toh-san.

yaitu wakil Ubun Pok yang bernama Suma Thi.

Dia adik seperguruan Ubun Pok, meski Han-peng-ciang belum sempurna dilatihnya, namun Hwe-yam-to sudah dikuasai dengan baik.

Ginkang Koai-hoat Thio nomor satu di dunia, kepandaiannya mencuri juga nomor satu, namun ilmu silatnya yang sejati belum masuk hitungan kelas satu.

Jika satu lawan satu jelas dia belum lagi dapat menandingi Suma Thi.

Cuma berkat ginkangnya yang maha tinggi, meski tidak dapat menang, paling tidak juga takkan terkalahkan.

Sambil mendesak lawan Suma Thi berseru kepada anak murid Pek-toh-san.

"Jangan gugup, pasang barisan dan kepung musuh!"

Dalam sekejap saja kawanan murid Pek-toh-san lantas pasang barisan, setiap tujuh orang satu kelompok dan terbentuklah 28 Jit-sing-tin atau barisan bintang tujuh.

Dengan daya kepung Jit-sing-tin ini, tidak mudah lagi bagi Koai-hoat Thio untuk menerjang keluar.

Karena terdesak, mendadak Koai-hoat Thio melompat masuk ke tengah kalangan pertempuran Beng Hoa dan Pektoh-sancu.

Suma Thi yang mendesak terlampau kencang juga sukar mengerem dan ikut masuk ke dalam kalangan itu.

Meski jarak mereka dengan kedua tokoh besar yang sedang bertempur itu ada dua-tiga tombak jauhnya, namun tenaga pukulan yang dingin dan panas serta hawa pedang tanpa wujud itu cukup membuat sesak napas.

Namun dengan gerakan secepat kilat Koai-hoat Thio dapat menyelinap lewat sehingga daya tekan yang dirasakannya tidak sehebat Suma Thi.

Panca indera Beng Hoa sangat tajam, begitu Suma Thi memasuki kalangan pertempuran mereka segera ia membaliki tangan kiri dan menghantam ke belakang, sedang pedang di tangan kanan tetap menusuk Pek-toh-sancu.

Pukulan ke belakang ini hanya memakai sebagian tenaga Beng Hoa dan sudah cukup membuat Suma Thi tergetar mundur beberapa langkah, untung tidak sampai terbanting roboh, namun dada pun serasa digodam dan isi perut berputar.

Keruan Suma Thi terperanjat.

Koai Hoat Thio tidak berani tinggal lama di dalam kalangan pertempuran, cepat ia melompat keluar lagi.

Tapi dia tidak melarikan diri, cara demikian terus digunakan lagi, bila ia terdesak oleh musuh segera ia menghindar ke dalam kalangan pertempuran Beng Hoa dan Ubun Pok.

Tanpa terasa pertarungan Ubun Pok dan Beng Hoa sudah berlangsuug lebih 300 jurus dan tetap belum terjadi kalah dan menang.

Tiba-tiba datang seorang murid Pek-toh-san, melihat sang guru sedang bertempur sengit.

ia tahu kedatangannya tidak tepat waktunya, tapi urusannya cukup gawat, tidak boleh tidak harus melapor kepada sang guru.

Ia tidak berani mendekati kalangan pertempuran, maka dari jauh ia berseru.

"Lapor Suhu, ada orang luar menerobos ke lorong bawah tanah, kami tidak boleh masuk ke sana, meski Toasuheng berada di dalam sana, namun bisa jadi ... bisa jadi..."

Toa suheng yang disebutnya adalah Ubun Lui.

Pek tohsancu sudah tahu Ubun Lui terluka, tanpa diberitahu lebih lanjut oleh murid ini juga ia tahu maksudnya.

Maklumlah, pintu jalan di bawah tanah itu hanya dapat dibuka oleh Ubun Pok sendiri dan Ubun Lui, seharusnya orang luar sukar mengetahui rahasia ini.

Tapi sekarang tidak ada waktu baginya untuk menanyai muridnya, ia cuma menegas.

"Musuh datang berapa banyak? Terdiri dari tokoh macam apa?"

"Musuh cuma datang seorang saja, seorang pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya,"

Lapor murid tadi..

Hanya seorang pemuda saja dapat menerobos ke lorong bawah tanah yang sangat dirahasiakannya, hal ini tentu saja membuat Ubun Pok sangat terkejut.

Pertarungan di antara tokoh kelas tinggi mana boleh meleng sedikit pun, mendadak Beng Hoa memainkan Tui hong-kiam-hoat, terdengar suara "crit crit"

Beberapa kali, tahu-tahu baju Pek-toh-sancu terobek tiga tempat.

Bilamana dia tidak cepat menarik kembali tangannya untuk bertahan, mungkin ia sudah dilukai pedang Beng Hoa Memangnya Pek-toh-saucu sedang kuatir akhirnya akan dikalahkan oleh Beng Hoa bilamana pertempuran berlangsung lebih lama lagi, maka berita tdak menguntungkan yang dibawa muridnya itu justru ada baiknya untuk dia, sebab hal ini dapat digunakan sebagai alasan untuk melepaskan diri dari serangan Beng Hoa sehingga tidak sampai kehilangan muka di depan anak muridnya.

Bukan saja gengsinya dapat dipertahankan, malahan keadaan yang tidak menguntungkan dapat berubah menjadi menguntungkan.

Otak Ubun Pok dapat bekerja cepat, ia yakin pemuda yang menerobos ke lorong bawan tanah yang merupaban tempat rahasia itu tentu bertujuan hendak menolong Ling Peng-ji, seumpama bukan anak murid Thian-san-pai tentu juga orang yang berhubungan erat dengan Beng Hoa.

Dan bilamana orang ini dapat ditawannya, akan bertambahlah sandera yang dupat digunakan untuk mengancam Beng Hoa.

Berpikir demikian, ia ambil keputusan cepat, langsung ia putar tubuh dan lari.

"Lari ke mana?!"

Bentak Beng Hoa.

Pek-toh-sancu mengayun tangan ke belakang, dari kuku jarinya terselentik seutas asap hitam, inilah asap berbisa yang merupakan senjata pembela dirinya yang terakhir, bubuk berbisa tersembunyi di kuku jari, begitu terselentik lantas berubah menjadi asap.

Lwekang Beng Hoa sangat tinggi, segera ia menghantam dari jauh, dengan angin pukulan ia buyarkan api berbisa, walaupun terisap juga setitik asap itu juga tidak beralangan baginya.

Namun sedikit ayal itulah telah digunakan oleh Pektoh-sancu untuk kahur.

"Suma-sute,"

Seru Pek-toh-sancu.

"hendakya gunakan barisan tujuh bintang itu untuk mengurung musuh. setelah kutangksp bangsat cilik itu segera kukembali ke sini."

Sehabis memberi pesan ini, segera ia kabur pergi.

Meski pesan itu hanya untuk menjaga gengsi saja, tapi juga bukan sama sekali tidak ada alasannya.

Terhadap anak murid yang tidak menurut perintah biasanya dia memang bertindak keji tanpa ampun.

Para muridnya takut mendapatkan hukuman, terpaksa mereka merintangi Beng Hoa dengan matimatian, ke-28 barisan bintang tujuh mengepung dengan rapat dan sukar diterobos begitu saja.

Apa yang terpikir oleh Pek-toh-sancu Ubun Pok dengan sendirinya juga terpikir oleh Beng Hoa.

Siapa pemuda yang menerjang ke lorong bawah tanah itu?

Yang terpikir oleh Ubun Pok adalah orang itu pasti sangat erat hubungannya dengan Beng Hoa dan Ling Peng-ji andaikan bukan anak murid Thian-san-pai.

Dan Bong Hoa malahan langsung yakin pemuda itu pasti Nyo Yam adanya.

Ia cukup kenal watak Nyo Yam yang tidak gentar menghadapi apa pun itu.

Demi Ling Peng-ji, pernah Nyo Yam bertindak mengejutkan, tanpa peduli adat istiadat dan tidak takut dicemooh orang, bahkan ia tidak sayang bermusuhan dengan Tianglo perguruan sendiri dan tidak gentar dipandang sebagai murid murtad.

Kecuali Nyo Yam, siapa pula yang rela menghadapi risiko sebesar itu bagi Ling Peng-ji.

Setelah Bang Hoa yakin yang datang itu pasti adiknya, dengan sendirinya ia wangat cemas sebab betapa lihai kungfu Pek-toh-sancu sudah diketahuinya, jelas Nyo Yam bukan tandingannya.

Dari manakah Nyo Yam tahu lorong bawah tanah rahasia itu dan dapat masuk ke sana dengan leluasa, adakah perangkap di lorong itu, semua ini tidak diketahui Beng Hoa.

Cuma menurut tafsiran umum, biarpun Nyo Yam tahu jalan masuk ke lorong bawah tanah itu, betapapun perangkap rahasia di situ tidak mungkin diketahui seluruhnya.

Terkilas dalam benak Beng Hoa adegan apa yang terjadi.

terbayang Nyo Yam terkurung di bawah tanah dan akhirnya tertawan.

saat itu seakan-akan sedang disiksa oleh Ubun Pok.

Ia perlu bergerak cepat untuk menerjang keluar kepungan dan baru sempat menyelamatkan adiknya.

Akan tetapi ke 28 barisan bintang tujuh itu tetap mengerubutnya selapis demi selapis, seketika Beng Hoa mana mampu membobol kepungan.

Sekilas lirik terlihat Koai-hoat Thio telah terkurung oleh sebuah Jit-sing-tin, Suma Thi sedang melabraknya, sehingga dia terdesak agak kelabakan dan cuma dapat menghindar kian kemari dan tidak sanggup balas menyerang.

Mendadak Beng Hoa membentak, ia terjang ke tengah kalangan, dengan tendangan berantai ia membuat dua anak murid Pek-toh-san mencelat keluar kalangan.

Dalam pada itu, dengan cepat barisan kedua lantas membanjir tiba dan mengurung Koai-hoat Thio, sedang Suma Thi membalik tubuh untuk menghadapi Beng Hoa.

"Jangan temberang, biar ku . ..."

Ia sangka setelah bertempur sengit sekian lama, kekuatan Beng Hoa tentu sudah banyak berkurang, betapa pun dirinya pasti sanggup melayani belasan jurus, asalkan anak muda itu ditahan sementara, segera barisan Jit-sing-tin akan membanjir tiba untuk membantunya.

Siapa tabu baru saja ia menyebut "ku", tahu-tahu sinar pedang berkelebat, kontan Suma Thi roboh terkapar.

Belum lanjut ucapannya tubuhnya sudah berlubang dan binasa.

Hanya tekali gebrak saja Suma Thi terbunuh, keruan anak murid Pek-toh-san sama terkejut.

Menurut aturan, ketujuh Jitsing-tin lapis pertama harus mendesak maju selangkah demi selangkah dan makin menyempitkan lingkaran kepungan.

Namun ketujuh Jit-sing-tin lapis pertama ini ditelah dibobol oleh Beng Hoa, lapis kedua sedang mengepung Koai-hoat Thio.

setelah Suma Thi mati, dengan gugup mereka lantas menyurut mundur sehingga kepungan terhadap Koai-hoat Thio lantas bobol dengan sendirinya.

Sisa lima lapis Jit-sing-tin yang lain terdiri dari 35 anak murid Pek-toh san, mereka sama tertegun menyaksikan apa yang terjadi sehingga tidak segera bergerak.

"Haha, Thian Maha Pengasih, Beng-taihiap, biarkan kuwakilkan engkau membereskan mereka saja!"

Seru Koaihoat Thio dengan tertawa.

Sembari bergelak kedua tangannya bekerja cepat, seketika cahaya emas gemerdep dan asap berhamburan.

Rupanya tadi ia tidak berani sembarangan menggunakaa senjata rahasia karena Beng Hoa sedang bertempur sengit melawan Ubun Pok, pantangan ini sekarang sudah tidak perlu dipikir lagi.

Maka Sin-sian-wan, Tok-bu-tan (granat kabut berbisa), linghing-ciam (sejenis jarum lembut).

Tau-kut-ting (paku penembus tulang) dan lain-lain berbagai senjata rahasia khas Pek-toh-san yang dicopetnya tadi serentak dihamburkan.

Walaupun anak murid Pek-toh-san sendiri membawa obat penawar racun, akan tetapi mereka terisap kabut berbisa lebih dulu sehingga tahu-tahu mereka sama roboh pingsan.

Koai-hoat Thio mengulum obat penawar dalam mulut, tapi ia pun tidak berani tinggal lama di situ, ketika anak murid Pektoh-san sama roboh, segera ia menerjang keluar dengan ginkang yang tinggi.

"Haha, itu namanya senjata makan tuan, sungguh bagus!"

Seru Beng Hoa dengan tertawa seraya menyusul ke arah Koaihoat Thio.

Namun di depan sana masih ada rintangan, mereka harus menelusuri sebuah jalanan sempit baru dapat mencapai belakang gunung.

Puncak gunung ini dijaga 20-30 murid Pektoh-san, serentak mereka memapak Beng Hoa berdua dengan panah dan batu.

Mendingan cuma panah dan batu, yang paling lihai adalah alat semprot api yang mereka gunanya, api berbisa itu dapat disemburkan sejauh belasan tombak, lidah api yang hebat itu mengalangi Beng Hoa menerobos ke atas puncak.

Tiba-tiba Beng Hoa mendapat akal, katanya.

"Paman Thio, masih tersisa granat kabut berbisa padamu atau tidak?"

"Masih ada dua buah "

Sahut Koai-hoat Thio.

"Baik, berikan padaku,"

Kata Beng Hoa pula dan menerima kedua buah granat asap berbisa itu, segera dilemparkannya dengan tenaga selentikan.

Granat kecil serupa peluru itu mestinya sukar mencapai jauh, tapi karena tenaga selentikan Beng Hoa yang kuat itu sehingga kedua biji granat itu seperti dibidikkan melalui laras bedil dan meletus di atas kepala kawanan pengejar.

"Serang api dengan api, serang racun dengan racun, ini namanya menerima harus memberi, bagus, bagus sekali!"

Kata Koai-hoat Thio dengan tertawa.

Tengah bicara, kontan ada beberapa orang menggelinding ke bawah, dengan sendirinya alat semprot api tidak dapat bekerja lagi.

Setelah menerobos rintangan ini, di depan tidak ada pengalang lagi.

Namun perasaan Beng Hoa yang tertekan belum lagi lenyap.

Yang dikuatirkan adalah setelah tertunda sekian lama, apakah masih keburu menyelamatkan Nyo Yam?

Begitulah hati Beng Hoa berdetak keras.

kuatir adiknya telah mengalami nasib malang di bawah tangan keji Pek-tohsancu.

Apalagi Nyo Yam terkurung di bawah tanah, andaikan belum celaka juga sukar melepaskan diri dari Pek-toh-sancu.

Dan bila Nyo Yam tidak sempat membuka pintu rahasia bawah tanah, tentu juga Bong Hoa tidak mampu masuk ke sana.

Sekarang harapan Beng Hoa hanya terletak pada Koai-hoat Thio, sebagai copet sakti nomor satu di dunia, Koai-hoat Thio dapat keluar masuk ke tempat mana pun seperti keluar masuk di rumah sendiri, pintu bergembok sekukuh apa pun bukan soal baginya.

Bisa jadi ia dapat menyelami rahasia lorong di bawah tanah, berdasarkan pengalamannya yang luas dapatlah ia membuka pesawat buka-tutup lorong rahasia itu.

Sudah tentu, harapannya yang utama adalah scmoga Nyo Yam tidak mengalami cedera apa-apa, namun kedua harapannya itu rasanya tetap sangat tipis.

Sementara itu Pek-toh-sancu Ubun Pok sudah masuk ke lorong bawah tanah.

Sejak tadi Ia pun sudah bertarung dengan pemuda pemberani itu.

Pemuda itu ternyata bukan Nyo Yam.

Anak muda ini berhasil membekuk Ubun Lui ycng bersembunyi di lorong bawah tanah itu.

Pada waktu Pek-tohsancu masuk ke situ, ketika itu dia sedang mengancam Ubun Lui agar membawanya pergi menolong Ling Peng-ji.

Pek-toh-sancu pernah bergebrak dengan Nyo Yam, maka begitu melihat pemuda ini bukan Nyo Yam adanya, legalah hatinya.

Hendaknya maklum, setelah bertempur sengit melawan Beng Hoa sekian lamanya, paling sedikit tenaganya sudah terkuras lebih sepertiga.

Ia pikir jika pendatang ini Nyo Yam adanya, mungkin aku harus banyak membuang tenaga lagi, asalkan dia bukan Nyo Yam, tokoh angkatan muda umumnya siapa kiranya yang mampu melawan aku?

Jalan pikirannya ini tidaklah berlebihan atau terlalu sombong, pemuda setangguh Nyo Yam, bahkan pemuda yang lebih tua dari pada Nyo Yam juga jarang yang memiliki kungfu setinggi Nyo Yam, andaikan ada juga dapat dihitung dengan jari.

Waktu itu pemuda berani itu sedang mengancam Ubun Lui.

"Ayo, ingin hidup atau mati? Jika ingin hidup lekas mengunjuk jalan bagiku...."

Belum habis ucapannya, secepat terbang Pek-toh-sancu Ubun Pok telah menerjang tiba dan mendadak muncul di hadapannya.

"Hahahaha!"

Pek-toh-sancu terbahak-bahak.

"Aku saja yang menjadi penunjuk jalan bagimu, akan.. knubawa dirimu ke pintu neraka!"

Sambil tergelak segera ia menghantam, sasarannya bukan pemuda itu melainkan Ubun Lui malah.

Ia menggunakan ilmu pukulan secara tidak langsung, yang dipukul udalah tubuh Ubun Lui, tapi yang terkena gentaran tenaga pukulannya justru adalah pemuda itu.

Dengan pukulan yang dahsyat ini ia sangka andaikan pemuda itu tidak mati juga pasti akan terluka parah, sispa tahu hasilnya justru sama sekali diluar dugaannya.

Baru saja telapak tangannya mengenai punggung kemenakan sendiri, terasakan suatu arus tenaga maha dahsyat serentak mengbantam balik "Blang", Ubun Lui jatuh ke tanah, sedangkan pemuda itu tergetar mundur beberapa langkah, Pek-toh-sancu sendiri juga tidak sanggup berdiri tegak dan berputar dua kali baru dapat berdiri tegak lagi.

Sungguh sama sekali di luar dugaan bahwa pemuda ini pun menguasai ilmu menyalurkan tenaga melalui tubuh orang lain, bahkan sanggup melawan Ubun Pok dengan sama kuat.

Yang digunakan sebagai perantara untuk mengadu tenaga mereka adalah tubuh Ubun Lui, mestinya benda yang menjadi perantara itu takkan cedera, namun tubuh manusia tidak dapat di-bandingkan dengan benda mati, dengan sendirinya Ubun Lui yang kena getahnya, meski tidak sampai binasa, keadaannya tampak payah juga.

Pek-toh-sancu adalah orang yang berpengalaman luas, setelah tergetar tenaga murni lawan, tentu saja ia terkejut, ia pikir,"Agaknya inilah Liong-siang-kang dari negeri Thian-tiok, setahuku jago Tionggoan yang menguasai Liong-siang-kang asli hanya Toan Kiam-jing saja, mengapa pemuda ini juga mahir menggunakan Liong-siang-kang, bahkan tidak di bawah Toan Kiam-jing."

Segera ia membentak.

"Siapa kamu ini? Ada hubungan apa antara dirimu dengan Toan Kiang-jing? Apakah kamu diminta datang kemari untuk mencari orang? Jika begitu hendaknya berunding secara baik-baik denganku, mengapa sembarangan menerobos di rumah orang? Memangnya kamu tidak tahu, di hadapanku juga Toan Kiam-jing menghormatiku sebagai orang tua."

Tempo hari Toan Kiam-jing dilukai oleh senjata rahasia Liong Leng-cu, kesempatan itu di-gunakan oleh Pek-toh-sancu untuk membawa lari Ling Peng-ji dan tidak urus mati-hidup Toan Kiam-jing, kawan yang terluka itu ditinggal lari sendirian.

Disangkanya Toan Kiam-jing masih dendam atas kejadian itu dan sengaja mengutus saudara seperguruannya untuk datang mencari perkara padanya.

Setelah tergetar mundur, pemuda tadi juga terkejut, ia pikir.

"Liong-siang-kang tingkat kedelapanku ternyata tidak dapat mengalahkan dia, tampaknya hari ini terpaksa harus bertempur mati-matian.""

Segera ia melolos pedang, jengeknya.

"Memang sudah kuduga kamu ini pasti berkomplotan dengan si bangsat Toan Kiam-jing, tidak perlu kamu mengaku lagi. Awas pedang!"

Begitu mengenali jurus serangan pemuda itu, kejut Pek-tohsancu bukan kepalang.

Jalan di bawah tanah yang gelap itu gemeredep oleh cahaya pedang yang diputar pemuda itu dan bertebaran serupa bintang di langit.

Yang dimainkan adalah Peng-coan-kiam-hoat, meski yang dipakai bukan Peng-pok-han-kong-kiam, hawa dingin yang merasuk tulang dapat juga dirasakan oleh Pek-toh-sancu.

Karena sibuk melayani ilmu pedang lawan, Pak toh-sancu tidak sempat mengurusi kemenakan sendiri yang sekarat itu.

Lebih dulu ia menghantam dangan telapak tangan kanan, Hwe-yam-to dilancarkan sehingga membawa angin dahsyat yang panas.

"Eh, enak segar!"

Kata pamuda itu, gerak pedangnya sama sekali tidak terpengaruh, tetap menyerang dengan gencar.

Cepat Pok toh-sancu menggunakan Han-peng-ciang tangan kiri, angin mendesir membawa hawa maha dingin..

Mendadak pemuda itu bersin dan gerak pedang tampak agak lambat.

Pek-toh-sancu kegirangan, pikirnya.

"Kiranya bocah ini meski mahir Peng-coan-Kiam-hoat, tapi belum sempurna sehingga tidak mampu menahan hawa dingin Han-peng-ciang. Jika demikian, biarpun dia memegang Peng pok-han-kongkiam juga tidak dapat digunakannya."

Segera ia kerahkan tenaga pukulan lagi, Hwe yam-to tidak digunakan, tapi menghimpun tenaga pada tangan kiri dan mengeluarkan segenap daya serang Han-peng-ciang.

Meski pemuda itu terdesak sehingga cuma sanggup bertahan saja, namun belum kelihatan tanda tanda akan kalah.

Pek-toh-sancu menjadi tidak sabar, pikirnya.

"Entah mengapa ia tahu cara membuka pintu rahasia di sini, jika dia dapat membukanya, bukan mustahil ada begundalnya yang ikut ke sini. Untuk mengalahkan dia rasanya harus kuserang hingga ratusan jurus, lantas bagaimana baiknya?"

Tiba-tiba ia mendapat akal, ia pikir kalau Han-peng ciang sendiri dapat mengatati lawan, kenapa tidak memancingnya ke gua es, jika lawan memang tidak dapat menahan hawa dingin, kan tidak sulit lagi untuk menangkapnya.

Setelah ambil keputusan, Pek-toh-sancu lantas putar tubuh dan lari.

"Lari ke mana!"

Bentak pemuda itu.

"Hm, seharusnya kau tahu diri, kamu bukan tandinganku, jadi tidak nanti kulari karena takut padimu,"

Jengek Pek-tohsancu.

"Aku cuma kuatir kamu penasaran selama belum melihat Ling Peng-ji, kan sia sia kedatanganmu dengan menyerempet bahaya sebesar ini. maka sengaja hendak kucari kesempatan padamu untuk bertemu dulu dengan Ling Peng-jl, habis itu baru kukirim dirimu menghadap raja akhirat."

Pemuda itu balas mendengus.

"Hmm, siapa percaya kepada ocehanmu, memangnya kamu punya maksud baik hendak membawaku menemui Peag-ji?"

"Sebenarnya kamu tidak dapat menandingiku, buat apa kutipu dirimu? Jika kamu tidak herani sebaiknya jangan mengejar kemari."

"Kenapa kutakut padamu, biarpun kau lari ke langit pun akan kukejar ke sana,"

Bentak si pemuda dengan murka, ia benar-benar mengejarnya-Tiba-tiba suara seorang nona berseru.

"Se-kiat, jangan tertipu olehnya. Aku terkurung di dalam gua es, tidak bisa kau tolong diriku. Jangan sia-siakan nyawamu, lekas lari saja."

Kiranya pemuda ini bukan lain dari pada Ce Se kiat.

kakak misan Nyo Yam.

Suara si nona berkumandang dari bawah tanah, terdengar agak parau.

tapi Se-kiat dapat mengenalnya sebagai suara Ling Peng-ji.

Diam-diam Se-kiat merasa geli, ia pikir Pek-toh-sancu sengaja hendak, memancingnya ke gua es, kenapa tidak kuturuti dia dan berbalik memperalat akalnya itu.

Cuma Lengcu tahu kepandaianku, Pek-toh-sancu memancingku ke gua es seharusnya ia bergirang bagiku, mengapa ia malah merintangiku?

Ah, betul, mungkin ia kuatir kungfu lawan teramat lihai, jika selisih kepandaianku dengan lawan sangat jauh.

kematianku di dalam gua es bisa tambah cepat.

Padahal apa pun kepandaianku takkan selisih jauh dengan musuh.

cuma sayang saat ini tak dapat kujelaskan kepada Ling-cici."

Ia terus mengejar dengan kencang dan ikut Pek-toh-sancu masuk ke sebuah gua di bawah tanah.

Aneh juga, begitu memasuki gua itu, pandangannya justru bertambah terang.

Kiranya gua ini adalah batang sungal es berumur jutaan tahun, karena perubahan pada kerak bumi, sudah lama sungai es purba ini kehilangan daya kerjanya sehingga berubah menjadi sungai es mati, serupa gunung api mati, sungai es mati selamanya tidak dapat cair.

Dari sungai es berubah lagi menjadi gua es dan penuh lapisan es abadi.

Cahaya terang di dalam gua es ini hanya cahaya pantulan dinding es.

Begitu masuk koe dalam gua es, segera di-rangsang hawa dingin yang merasuk tulang, darah pun rasanya seperti mau beku.

Mendadak Pek-toh-sancu membentak.

"Jika kamu ingin menemui Ling Peng-ji, kamu harus memusnahkan ilmu silat sendiri lebih dulu,"

"Hm, memang sudah kuduga ucapanmu tidak dapat dipercaya,"

Jengek Ce Se-kiat.

"Jika mampu, boleh coba kau punahkan ilmu silatku."

"Haha, anak keparat, kau sendiri yang bilang demikian, jangan menyesal jika kubinasakanmu,"

Jengek Pek-toh-sancu, berbareng tenaga pukulan Pian peng-ciang yang dahsyat terus mendampar ke sana.

Sekali lagi terjadi di luar dugaan Pek toh-san-cu, ternyata Ce Se-kiat tidak beku kedinginan seperti dugaannya, sebaliknya kelihatan bersemangat malah.

Peng-coan-kiamhoat yang dimainkan juga bertambah kuat .

Sementara itu Nyo Yam dan Liong Leng-cu sedang menempuh perjalanan cepat menuju Pek-toh-san dengan kuda pilihan pemberian Lohai.

Mereka kuatir kuda tunggangan tidak tahan hawa maha dingin di puncak punung, maka setiba dl lereng gunung, mereka lantas meninggalkan kuda dan mendaki gunung dengan berjalan kaki.

Selagi mereka mendaki ke atas, tiba-tiba terlihat seorang pengemis perempuan, badan bungkuk, rambut semrawut, baju compang camping dan dekil, langkahnya lemah dan sempoyongan.

Bahwa di pegunungan Pek-toh san ini bisa muncul seorang pengemis perempuan serupa ini sungguh mengherankan, malahan pengemis perempuan ini seperti sengaja hendak menghindari mereka, hal ini tentu saja menimbulkan rasa curiga mereka.

Sasudah dekat, Leng-cu membentak.

"Angkat kepalamu, akan kuberi sedekah, kalau tidak tentu kau tahu sendiri akibatnya."

Dengan gemetar pengemis perempuan itu mengangkat kepala dan ternyata mukanya penuh noda darah.

"Hai, parempuan ini seperti pernah kulihat entah di mana?"

Leng-cu bsrsuara heran. Nyo Yam coba mengamat amatinya sejenak, mendadak ia membentak.

"Hah, perempuan siluman she Bok, kau kira dengan menyamar begini akan dapat mengelabui kami?"

Kiranya pengemis perempuan ini adalah gundik kesayangan Pek-toh-sancu Ubun Pok, yaitu Pok Him-him adanya.

Biasanya Bok Him-him suka berdandan rapi dan bersolek berlebihan, sungguh mimpi pun Nyo Yam tidak menyangka orang bisa berubah semacam ini.

Bok Him-him menyurut mundur beberapa langkah, mendadak ia berlutut dan memberi hormat, ratapnya.

"Mohon belas kasihan kalian, coba lihat, aku telah disiksa sedemikian rupa oleh Pek-toh-sancu."

"Oo. jadi kamu telah diusir oleh lakimu?"

Tanya Nyo Yam dengan heran.

"Apa sebabnya."

Dengan air mata bercucuran Bok Him-him bertutur.

"Dia ... dia bukan suamiku, dia seorang lalim. aku dianggapnya seperti budaknya. Pada waktu dia suka padaku, aku dipandangnya serupa burung kenari, bila tidak disukai, aku diinjak-injaknya seperti sampah. Sungguh aku tidak . tidak tahu ... huk, huk .."

Akhirnya ia menangis sedih sehingga sukar menceritakan sebab apa ia diusir Pek-toh-sancu Ubun Pok.

Rupanya Pek-toh-sancu benci padanya karena perempuan ini masih main gila dengan lelakl lain, bahkan mengkhianati suami sendiri, maka Ubun Pok menyuruh orang menangkapnya pulang dan memunahkan ilmu silatnya serta merusak wajah-nya, habis itu baru diusir pergi, membiarkan perempuan ini hidup atau mati sendiri.

Meski Liong Leng-cu pernah dikerjai oleh perempuan jahat ini, tapi sekarang mau-tak-mau timbul juga rasa simpatinya sebagai orang perempuan terhadap sesama jenisnya, segera ia menarik bangun orang, tanyanya.

"Dan selanjutnva apa yang akan kau lakukan?"

Bok Him-him mengusap air mata, ucapnya sedih.

"Aku tidak tahu masih sanggup tahan hidup berapa hari lagi, mana kuberani memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya? Ai, kutahu pernah berbuat salah terhadap kalian, biarpun kalian membunuhku pun aku tidak menyesal. Yang kuharapkan hanya supaya kalian membunuhku dengan cepat saja."

"Kami takkan membunuhmu, kami cuma menghendaki kau suka membeantu sesuatu urusan bagi kami,"

Kata Leng-cu.

"Urusan apa?"

Tanya Bok Him-him.

"Bicara terus terang, kedatangan kami ini hendak menolong Ling Peng-ji, apakah kau tahu dia dikurung dimana?"

Tanya Nyo Yam.

"Yang datang hanya ... hanya kalian berdua?"

Tanya Bok Him-him dengan sangsi. Nyo Yam tahu perempuan itu merasa takut, segera ia acungkan Peng-pok han-kong-kiam, katanya.

"Kakakku pun segera menyusul tiba. Se-umpama kakak tidak datang, dengan pedang ini pun kusanggup menandingi dia, daya serang pedang ini tentu sudah kau rasakan."

Bok Him-him diam saja tanpa menanggapi, agaknya dia masih sangsi.

"Jika kau takut, aku pun tidak mau memaksa-mu,"

Kata Nyo Yam.

"Tapi kuminta kau beritahukan padaku tempat tahanannya, biar kami sendiri yang mencarinya."

Seketika timbul rasa dendam Bok Him-him, pikirnya.

"Bangsat tua itu menyiksaku seperti ini, biarpun mati juga harus kubalas sakit hati ini."

Segera ia mendongak dan berkata dengan ikhlas.

"Tempat itu sukar didatangi orang luar, biar kubawa kalian ke sana."

Memang betul juga, kecuali Ubun Pok dan Ubun Lui berdua, di Pek-toh-aan hanya Bok Him-him saja yang tahu cara bagaimana membuka pintu rahasia lorong di bawah tanah itu.

Pada waktu Pek toh-sanca Ubun Pok mengusirnya, hal ini tidak terpikir olehnya.

Yang lebih tidak terpikir oleh Pek-toh-saucu adalah bekas gundik kesayangannya ini sekarang bisa berubah menjadi penunjuk jalan bagi musuh.

Begitulah Bok Him-him lantas membawa Nyo Yam dan Leng-cu ke atas Pek-toh-san.

Meski yang ditempuh Bok Him-him adalah sebuah jalan rahasia, namun Sepanjang jalan ia selalu kebat-kebit, kuatir kepergok orang.

Siapa tahu sepanjang jalan aman tentram tanpa terjadi sesuatu, di luar dugaan mereka dapat mencapai pintu masuk lorong rahasia itu dengan aman.

Kiranya pada saat itu segenap anak murid Pek-toh-san sedang berkumpul di depan gunung dan membantu sang guru menghadapi Beng Hoa.

ia berhenti di depan sebuah dinding batu, tampaknya dinding batu itu tiada bedanya serupa batu gunung lain, tiada sesuatu tanda yang mencurigakan.

Tapi bila diperhatikan dengan cermat akan ketahuan ada sepotong batu aneh.

Itulah sepotong batu yang berbentuk serupa mimbar berbunga teratai, enam ujung kelopak bunga yang menonjol ke atas serupa kelompok bunga teratai.

"Hei, rasanya seperti pernah kulihat batu semacam ini entah di mana,"

Kata Leng-cu.

"Batu ini dipahat dengan tenaga manusia, mana mungkin pernah kau lihat di tempat lain?"

Kata Bok Him-bim.

"Ya, betul, ingatlah aku,"

Kata Leng-cu.

"Pernah kulihat batu semacum ini di sebuah kelenteng kuno di Mo kui-sia (kota hantu), yaitu mimbar bunga teratai di bawah sebuah patung budha, patung budha sudah lama ambruk, hanya tertinggal mimbar bunga teratai saja yang masih bertengger di sana. Mimbar teratai itu terukir dari batu, bentuknya sama serupa batu ini."

"Oo. apa betul begitu?"

Tanya Bok Him-him.

"Tapi batu ini justru adalah pesawat rahasia untuk masuk ke lorong bawah tanah."

Sembari bicara ia pun menarik dan menggoyangkan kolompak bunga batu, namun batu itu tetap tidak bergeming. Nyo Yam teringat sesuatu, tanyanya.

"Bilakah kau pergi ke Mo-kui-sia?"

"Waktu kecil pernah kudatang ke sana bersama ibu, tatkala itu usiaku kiia kira baru tujuh -delapan tahun,"

Kata Leng-cu. Tengah bicara, terdengar suara "kriet-kriut", batu berbenluk mimbar teratai itu mendadak terbuka kekanan-kiri dan muncul sebuah lubang gua.

"Pernah kudengar dari bangsat tua, katanya di bawah tanah ada sebuah gua es yang biasa di-gunakan mengurung anak murid yang melanggar peraturan,"

Tutur Bok Him-him.

"Aku sendiri tidak pernah masuk ke gua itu besar kemungkinan nona Ling terkurung di sana, maka bolehlah kalian mencarinya sendiri, aku tidak dapat mengiringi lebih jauh."

Habis bicara buru-buru ia melangkah pergi sehingga lupa menutup kembali pintu lorong rahasia itu.

Suhu dingin dalam gua es segera menyerang, meski gua es terletak di ujung lorong sana, jaraknya masih sangat jauh dengan pintu masuk.

tapi begitu mereka masuk ke lorong bawah tanah segera terasa dingin luar biasa.

"Adik Cu, apakah engkau kedinginan?"

Tanya Nyo Yam. Leng-cu tertawa, jawabnya.

"Aku dibesarkan di negeri es, betapa dingin tetap kutahan, aku justru menguatirkan dirimu yang tidak tahan."

Nyo Yam tertawa, katanya.

"Meski lwekang-ku ini tidak seberapa hebat, rasanya hawa dingin begini saja takkan menggangguku. Oya, urusan kota hantu belum selesai kubicarakan. Apakah kau tahu Ce Se-kiat juga pernah datang ke kota hantu itu?"

"Kan sudah lama kudengar dari ceritamu bahwa di bawah kota hantu itu ada juga sebuah gua es, dia terkurung di gua es itu selama tiga tahun,"

Kata Leng-cu.

"Kemudian terjadi gempa bumi yang menghancurkan kota hantu itu, di bawah reruntuhan puing itulah dia lolos dengan selamat."

"Masih ada sedikit yang belum pernah kuceritakan, yaitu apakah kau tahu sebab apa terjerumus ke dalam gua es itu?"

Tanya Nyo Yam.

"Mimbar bunga teratai yang pernah kau lihat itu justru adalah pesawat rahasia tempat masuk ke dalam gua es. Waktu itu ia sedang bertempur sengit melawan seorang padri asing, padri itu mendadak membuka pesawat rahasia dan mendorong Se-kiat terjerumus ke dalam gua es itu."

"mengapa engkau teringat kepada peristiwa itu?"

Tanya Leng-cu.

"Se-kiat sendiri sudah tahu cara membuka pesawat rahasia."

Kata Nyo Yam.

"Apabila pesawat rahasia di kota hantu itu serupa dengan pesawat rahasia ini ...."

"O, rupanya engkau berharap Ce Se-kiat juga akan datang kemari untuk menolong Ling-cicimu,"

Ucap Leng-cu dengan tertawa.

"Ling-ciciku kan juga Ling-cicimu?"

Ujar Nyo Yam.

"Pada waktu aku berada di Lodan sudah kuketahui dia bermaksud ke Pek-toh-san sini. Ia mahir Peng-coan kiam-hoat, sedang Peng pok-ban-kong-kiam berada padaku, kebetulan dapat kuserahkan pedang ini untuk digunakan dia, dengan demikian kemungkinan untuk menang bagi kita menghadapi Pek-toh sancu akan bertambah besar."

"Meski Se-kiat bilang mau ke sini, masakah kedatangannya bisa sedemikian kebetulan?"

Ujar Leng-cu dengan tertawa.

Akan tetapi kejadian terkadang memang sangat kebetulan.

Justru baru saja lenyap suara Liong Leng-cu lantas terdengar suara yang berkumandang dari gua es.

Itulah suara pertarungan sengit yang sedang berlangsung antara Ce Se-kiat melawan Pek-toh-sancu Ubun Pok.

Diam-diam Pek-toh-sancu lagi mengeluh, tak tersangka sudah bergebrak lebih seratus jurus, meski dirinya sudah di atas angin, namun tetap belum dapat mengalahkan Se-kiat.

Sebaliknya anak muda itu semakin lama semakin bersemangat malah, justru Ubun Pok sendiri yang terasa mulai kehabisan tenaga.

Kiranya pertarungan yang berlangsung dalam gua es justru sangat diharapkan oleh Ce Se kiat.

Dahulu Se-kiat pernah berlatih kungfu selama tiga tahun di dalam gua es di bawah kota hantu, ilmu sakti ajaran padri Thian-tiok dulu ternyata jauh lebih tahan dingin daripada lwekang ajaran Thian-san-pai.

Arus dingin gua es di bawah kota hantu dulu setiap hari berjangkit dua kali, malahan jauh lebih dingin daripada arus dingin gua es di Pek-toh-san ini.

Beribu kali ia diterjang arus dingin di dalam gua es kota hantu, maka arus dingin yang terdapat di Pek-toh-san ini bukan soal lagi baginya.

Ketika Nyo Yam menerjang ke dalam gua es, segera Liong Leng-cu juga menerjang ke dalam.

Akan tetapi sulit bagi Nyo Yam untuk menyerahkan Pengpok-han-kong-kiam kepada Ce Se-kiat.

Maklumlah, waktu itu mereka sedang bertempur sengit di atas mimbar bunga teratai yang terletak di tengah goa, kelihatannya Pek Toh sancu berada di atas angin, Nyo Yam tidak berani melemparkan Hankong-kiam kepada Se-kiat, sebab besar kemungkinan pedang itu akan dirampas oleh Pek-toh sancu.

Untuk membantu Se-kiat, ia pikir tiada jalan lain kecuali dirinya ikut terjun ke tengah kalangan pertempuran.

Biarpun Nyo Yam menguasai Siau-yang-sin-kang yang kuat, berada di tengah gua es itu terasa kedinginan juga.

Terpaksa ia harus mengerahkan lwekang untuk menahan arus dingin, ia pun tidak paham Peng-coan-kiam-hoat, dengan sendirinya tidak banyak bantuannya untuk Ce Se-kiat.

Pada saat itulah dari ujung lorong sana tiba-tiba berkumandang suara langkah orang.

terdengar suara Beng Hoa sedang berseru.

"Adik Yam, apakah kamu berada di situ?"

Dengan girang Leng-cu berseru.

"Hah, itu dia kakakmu datang, lekas kau jawab dia!"

Namun Nyo Yam serupa orang linglung saja, memandang seperti tidak melihat, mendengar serupa tidak tahu.

Maklumlah, saat itu pertarungan Ce Se-kiat melawan Ubun Pok sedang memuncak pada titik yang menentukan.

Mendadak Pek-toh-sancu menggigit ujung lidah terus menubruk sekuatnya ke arah Ce Se-kiat.

Rupanya ia menyadari gelagat tidak enak dengan datangnya Nyo Yam, jalan terbaik adalah mengadu jiwa dan melakukan serangan terakhir.

Ia menggigit pecah ujung lidah sendiri, ia hendak mengeluarkan Thian-mo-kai-te tai-hoat, semacam lwekang yang berkekuatan maha dahsyat dari Siapai, golongan jahat.

Thian-mo-kai-te tai-hoat dapat membuat tenaga sendiri mendadak bertambah sekali lipat, tapi juga paling banyak mengganggu hawa murni sendiri.

Dua bulan yang lalu ketika bertempur di Thian-san, dengan lwekang golongan Sia-pai inilah dia berhasil menyelamatkan diri di bawah pedang Beng Hoa.

Scbsnarnya tenaganya baru saja pulih dan tidak cocok untuk menggunakan lwekang jahat ini, namun sekarang ia menghadapi detik yang menentukan mati-hidupnya, jika jiwa saja mungkin melayang, tentu risiko lain tidak dapat dipikir lagi.

Menurut perhitungannya, mumpung Beng Hoa belum tiba, lebih dulu ia hendak membinasakan Ce Se-kiat, sekalipun untuk itu tenaga murni sendiri akan banyak terbuang, ia yakin Nyo Yam dan Liong Leng-cu juga sukar merintanginya, dan dia masih dapat kabur melalui lorong rahasia.

Siapa tahu perhitungan manusia tetap tidak sama dengan ketentuan takdir.

Selagi ia melakukan gempuran terakhir itulah, tahu-tahu Beng Hoa sudah masuk ke gua es dengan bentakan keras.

"Ubun Pok, jangan temberang, hadapi saja aku!"

Yang digunakan Beng Hoa adalah ilmu raungan singa, orang yang meyakinkan lwekang dan golongan jahat paling gampang terpengaruh oleh suara raungan menggelegar ini.

Beng Hoa baru saja masuk ke gua es itu.

jaraknya dengan mimbar yang terletak di tengah gua masih ada ratusan langkah, untuk menyelamatkan Ce Se-kiat sudah tidak keburu lagi, terpaksa ia coba menggunakan suara dahsyat ini untuk mengguncangkan pikiran Pek-toh-sancu.

Maka ketika beradu tangan.

"blang", Ce Se-kiat kontan tumpah darah dan roboh di atas mimbar, sebaliknya Pek-toh -sancu Ubun Pok serupa layangan yang putus benang dan terjungkal ke bawah. Nyo Yam yang sejak tadi menaruh perhatian penuh dan menunggu kesempatan di samping segera bertindak, memang saat demikian inilah yang sedang ditunggunya. Dengan cepat luar biasa segera ia menusuk dengan jurus Oh-kah-cap pekpah yang lihai. Tubuh Pek-toh-sancu yang jatuh ke bawah itu masih terapung sehingga tidak mampu menangkis. sckaligus tubuhnya terkena tujuh kali tusukan, baru kemudian jatuh ke tanah. Pedang Nyo Yam tidak urung juga terselentik tiga kali oleh tenaga jari Pek-toh-sancu, meski tenaga sisa ternyata tetap sangat lihai. Berturut-turut Nyo Yam tergetar mundur beberapa langkah dan belum dapat menahan diri.

"bluk", akhirnya ia jatuh terduduk. Pek-toh sancu masih sempat berguling-guling ke sana, namun cambuk Liong Leng-cu lantas menyambar dan tepat menjerat lehernya, tanpa ampun napasnya lantas putus. Beng Hoa memburu tiba, dengan tersenyum ia berseru.

"Selamat nona Liong. sakit hati ayah-mu sudah dapat kau balas."

"Semua ini adalah jasa kakak Yam,"

Kata Leng cu.

"Ah, entah bagaimana keadaannya. coba lekas kau perikta dia."

Beng Hoa tidak sempat bertanya di mana Ling Peng ji, cepat ia mendekati Nyo Yam dan menempelkan telapak tangan pada punggung adik-nya untuk membantunya menghimpun tenaga dalam dan menahan arus hawa dingin.

"Bagaimana dengan Ce-toako?"

Terdengar suara Ling Pengji berkumandang dari dalam gua es.

Se kiat bertempur mati-matian demi dia, apakah Nyo Yam terluka atau tidak Peng-ji tidak tahu.

Bahwa Ce Se kiat terluka parah, dari daya pendengarannya dapat diketahuinya.

Sebab itulah orang pertama yang diperhatikan oleh Liong Leng-cu adalah Nyo Yam, sedang orang yang diperhatikan Peng-ji tidak dapat tidak ialah Ce Se kiat.

Sementara itu Se-kiat sudah bangun duduk, katanya.

"Aku tidak apa-apa."

Meski di mulut ia bilang tidak apa apa, namun kelainan pada suaranya yang gemetar dan gemeretuk giginya terdengar dengan jelas.

Maklumlah, ia sudah terluka dalam, meski tidak membahayakan jiwanya, namun tenaga dalam telah banyak hilang, dengan sendirinya sukar menahan serangan hawa dingin.

Ling Peng-ji bersuara sangsi, jelas memperlihatkan kecemasannya.

Selang sejenak, ia coba tanya lagi.

"Bagaimana dengan adik Yam?"

Dari suara panggilan si nona yang mesra itu, entah mengapa timbul perasaan Nyo Yam yang aneh.

Dia anak nakal, waktu kecil suka lari-lari dan lompat lompat, bilamana kebetulan jatuh, asalkan Ling Peng-ji berada di sekitarnya, tentu Peng-ji akan cepat membangunkan dia dan mengomelinya dengan nada menegur dan juga kesih sayang.

Sekarang meski dia bukan terjatuh, namun panggilan "adik Yam"

Telah menggugah kenangan masa kanak-kanak dulu, setiap ia jatuh waktu kecil dan dipanggil Ling Peng-ji dengan nada sayang, rasa perhatian seorang kakak terhadap adiknya.

Seketika Nyo Yam merasa bimbang dan lupa menjawab.

Maka Beng Hoa mewakilkan menjawab.

"Dia tidak apa-apa, si iblis Ubun Pok sudah terbinasa olehnya."

Baru sekarang Nyo Yam seperti tersadar dari mimpi, ucapnya.

"Koko. silahkan kau perti membantu Ce-piauko, aku memang tidak apa-apa "

Beng Hoa sudah dapat mengujinya dan jelas tenaga Nyo Yam sudah terkumpul kembali, sahut-nya.

"Baiklah, boleh kau buka pintu ruang tahanan dan mengeluarkan Ling-cici."

Kamar tahanan itu merupakan ruang pojok di dalam gua, Pek-toh-sancu telah menambahkan pintu besi tebal pada ruangan khusus itu, Nyo Yam tidak sanggup membukanya.

Selagi Nyo Yam berkutak-kutek dan tetap tak-bisa membukanya, tiba-tiba ada orang berseru.

"Biar kucoba membukanya."

Waktu Nyo Yam berpaling, kiranya Koai-hoat Thio adanya.

Cara copet sakti ini membuka gembok memang lihai, hanya sejenak saja gembok sudah dilepaskannya.

Dan begitu pintu penjara terbuka, seketika Nyo Yam melenggong.

Yang keluar memang betul Ling Peng-ji adanya, namun sudah bukan lagi bentuk Ling Peng-ji yang dulu.

Ling Peng-ji kini telah berubah menjadi seorang Nikoh atau rahib perempuan.

Kiranya di kamar tahanan Ling Peng-ji telah menggunakan es batu yang diasah menjadi pisau es untuk mencukur rambut sendiri sehingga pelontos, baju yang dipakainya sekarang juga sudah berubah bentuk menjadi jubah pertapaan kaum Nikoh.

"Ling-cici,"

Teriak Nyo Yam kaget.

"mengapa engkau berubah menjadi begini?"

Peng-ji tidak menjawabnya, ia coba memandang ke arah Ce Se-kiat. Air muka anak muda itu tampak sudah mulai merah, namun tubuh masih menggigil.

"Beng-toako, bolehlah engkau istirahat sebentar,"

Seru Peng-ji. Cepat ia naik ke atas mimbar dan berpegangan tangan dengan Ce Se-kiat. Selang sebentar lagi, Se-kiat tidak menggigil pula, ia menghela napas dan berkata.

"Sudah cukup sekarang!"

Peng-ji melepas tangan dan menariknya bangun.

Se-kiat mengucapkan terima kasih, lalu pelahan melangkah turun dari mimbar batu.

Kiranya Ling Peng-ji telah mendapatkan ajaran Peng coan-Kiam hoat dari Tong-hujin.

Bahkan mendapatkan Peng Pok han kong kiam dari nyonya Tong kah Goan itu.

maka Siauyang-sin kang yang dilatihnya terhitung paling tinggi dibandingkan saudara seperguruannya yang lain.

Maklumlah, Siau-yang-sin-kang dapat mengatasi hawa maha dingin, jika Siau-yang-sin kang belum sempurna, pada hakiketnya tidak dapat menggunakan Peng-pot-han-kongkiam.

Sebab itulah biarpun Iwekang Beng Hoa sangat tinggi, namun Siau-yang-sin-kang yang dilatihnya justru tidak sehebat Ling Peng-ji.

Peng ji lantas ikut turun dari mimbar batu itu.

Nyo Yam memandang si nona dengan ter-mangu-mangu, beribu kata entah cara bagaimana harus diucapkannya.

"Adik Yam,"

Ucap Peng-ji dengan tersenyum.

"tadi kau tanya padaku mengapa berubah menjadi begini, biarlah sekarang kuterangkan. Aku suka rela meninggalknn dunia ramai dan kembali kepada Budba. Guruku yang pertama memang juga seorang Nikoh, pada waktu kecilku juga aku pernah tirakat dan sekarang tidak lebih hanya bertambah dengan mencukur diri saja."

Semula Ling Peng-ji adalah murid Hui-sim Suthai dari Jingsia-pai, kemudian baru masuk ke Thian-san-pai.

"Bagaimana kalau kau ikut kami pulang ke Thian-san?"

Ajak Beng Hoa.

"Sekarang aku sudah menjadi nikoh, aku tidak ingin lagi pulang ke Thian-san bersama kalian,"

Jawab Peng-ji. Hati Nyo Yam terguncang hcbat, teriaknya tak tahan.

"Lingcici, mengapa engkau menjadi nikoh? Mengapa?". Ling Peng-ji berbalik tanya padamu.

"Memang, apa jeleknya menjadi nikoh?"

"Adik Yam,"

Sambungnya kemudian.

"kamu tidak taat pada larangan tujuh tahun yang kutetapkan dulu, mestinya ingin kumarah padamu. Namun sekarang aku sudah orang beragama, segala urusan masa lampau kuanggap sudah punah, maka laranganku itu pun boleh kuhapus."

Di balik ucapannya itu seakan akan hendak menyatakan setelah janji larangan itu dihapus, maka janji memperbolehlah Nyo Yam melamarnya tujuh tahun kemudian juga dibatalkan.

"Ling-cici,"

Leng-cu ikut bicara.

"usiamu masih muda, memangnya engkau rela mengasingkan diri begini saja untuk memasuki kehidupan yang sunyi?"

"Ya,"

Seru Nyo Yam.

"memangnya engkau belum cukup menderita? Memang begitulah ingin kutanyakan padamu."

Peng-ji tertawa, jawabnya.

"Dari mana kalian tahu kehidupanku selanjutnya akan kulewatkan dengan sunyi? Aku menjadi nikoh juga tidak berarti akan hidup terasing dari dunia ramai."

Merasa ada kata kata di balik ucapan itu, Beng Hoa coba tanya.

"Habis apa,yang akan kau-lakukan selanjutnya?"

"Paman memberitahukan padaku bahwa waktu mereka meninggalkan Siau-kim-joan dulu pernah mereka tinggalkan satu pasukan sukarelawan,"

Tutur Peng-ji.

"Sekarang pasukan itu dipimpin oleh Li Kong-he dan sudah bertambah besar dan kuat. Maka ada niatku pulang ke Siau-kim-joan untuk membantu mereka mendirikan laskar wanita serta melatih prajurit perempuan. Dalam kedudukanku sebagai seorang nikoh kan lebih leluasa untuk mendekati kaum wanita khalayak ramai. Kuyakin kehidupanku selanjutnya tentu akan terasa hangat dan pasti takkan kesepian dan terpencil."

Keadaan yang diuraikan ini sama sekali tidak terpikir olen Nyo Yam, tentu saja ia tidak tahu apa yang perlu diucapkan. Peng-ji tersenyum, katanya pula.

"Bukankah pernah kau katakan mengharapkanku bahagia? Apa itu bahagia memang berbeda antara seorang dengan yang lain. Dan apa yang kulakukan ini bagiku sudah mencapai kebahagiaan, selain ini tiada lain lagi yang kuharapkan."

Nyo Yam tidak dapat bicara apa-apa lagi. Beng Hoa mengangguk, katanya.

"Ya, jalan harus ditempuh sendiri. Peng-ji, jika kau suka bertindak demikian bolehlah terserah padamu, aku pun takkan memaksamu pulang ke Thian-san. Cuma, ada suatu permintaanku, yaitu tentang keadaan Se-kiat yang terluka itu, hendaknya sekalian suka kau antar dia pulang ke rumah. Setahuku, ibunya juga sangat berharap bertemu denganmu. Nah, adik Yam. bagaimana dengan dirimu? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Pikiran Nyo Yam sangat kusut, dengan tergagap ia menjawab.

"Aku ... aku ..."

Dengan tersenyum Peng-ji berkata.

"Setahuku. ia pun ada janji dengan nona Liong. Sekarang sakit hati nona Liong sudah terbalas, ia harus ikut nona Liong pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan kakeknya "

Teringat kepada budi kebaikan sang kakek, dengan sendirinya Nyo Yam menurut saja.

Setelah berpisah selama tiga tahun, akhirnya Nyo Yam pulang kembali ke Leng-ciu-hong, tempat kediaman kakek Liong Leng-cu.

SUasana masih seperti dahulu, pemandangan tidak banyak berubah, tetumbuhan tampak hijau permai, bunga mekar mewangi.

Yang berbeda adalah tiga tahun yang lalu ia meninggalkan pegunungan ini sendirian dan sekarang di sampingnya telah bertambah seorang teman.

Leng-cu terkesima menghadapi pemandangan yang indah serupa berada di surgaloka.

"Kakek sedang menunggumu, jangan lupa daratan menikmati pemandangan di sini,"

Kata Nyo Yam dengan tertawa. Ia membawa Leng-cu pulang ke tempat lama, belum masuk rumah segera berteriak.

"Yaya, (kakek), aku udah pulang! Ada kabar baik, Yaya!"

Ia merasa heran, sebab kakek tidak terlihat keluar, juga tidak terdengar suaranya. Cepat Nyo Yam memhuru masuk ke rumah batu itu dan barulah terdengar suara sang kakek yang berat bertanya.

"Anak Yam. kamu sudah pulang?"

Kakeknya rebah di pembaringan, seperti baru terjaga bangun oleh suara Nyo Yam dan bangun duduk dengan lemah.

"Yaya, coba lihat, siapa itu yang datang!"

Seru Nyo Yam pula. Orang tua itu kucek kucek mata dan serentak berseru.

"Hah, Ming-ming, akhirnya kau pulang juga kemari!"

Ming-ming adalah nama kecil putrinya, yaitu ibu Leng-cu.

"Dia bukan Ming-ming, Yaya, tapi cucu perempuanmu, namanya Liong Leng-cu,"

Tutur Nyo Yam. Baru teringat oleh Liong Cik-eng, sang kakek, bahwa putri dan menantunya sudah meninggal. Ia menjadi berduka dan bergirang pula, katanya.

"Anak Cu, coba kemari, biar kulihat dirimu. Ah, kamu sangat mirip ibumu!"

Air mata Leng-cu berlinang-linang langsung ia menubruk ke dalam pangkuan sang kakek, katanya.

"Yaya, ibu tidak punya rejeki untuk pulang mendampingi Yaya."

"Ah, bagus sekali asalkan kamu sudah pulang, bagus sekali!"

Gumam Liong Cik-Ieng.

"Anak Cu, ingin kutanya satu urusan padamu. Dahulu aku berbuat salah dan membikin susah ibumu, entah dia mau memaafkan ayahnya yang berhati jahat ini atau tidak?"

Leng-cu mengusap air mata, katanya.

"Sebelum meninggal ibu pernah wanti-waati memberi pesan agar kupulang menjenguk Yaya. Jadi ibu senantiasa ingat kepada Yaya. Aku diberi she Liong juga atas kehendak ibu."

Tanpa penjelasan lagi dapatlah Liong Cik-eng memahami betapa putrinya sayang padanya sehingga tidak cuma memaafkan saja apa yang terjadi dahulu.

Setelah ikatan batin terbuka, meski air mata Liong Cik-leng belum kering, dengan tersenyum ia berkata.

"Sekarang hanya tersisa suatu urusan saja ."

Ia pegang tangan Nyo Yam dan di-genggam bersama tangan Leng-cu, katanya pula.

"Kalian sudah datang, mungkin aku pun akan mangkat, sebagai pesan terakhir, ingin kumohon suatu hal kepada anak Yam."

Melihat napas si kakek agak memburu, Nyo Yam tahu gelagat tidak enak, ucapnya.

"Yaya, istirahat saja dulu, bicaralah nanti!"

"Tidak, waktu tidak banyak lagi,"

Ujar Liong Cik-Ieng.

"Manusia akhirnya harus kembali pada-Nya, sekarang usiaku sudah lebih 80 tahun, hidup-ku sudah cukup panjang. Yang kutunggu hanya kepulangan kalian ke sini, makanya kutahan sampai hari ini."

"Jika begitu, bicaralah, Yaya,"

Kata Nyo Yam dengan menahan air mata.

"Apa yang kau minta, kukerjakan pasti akan kulaksanakan."

Pelahan Liong Cik-lsng berkata pula.

"Akan kuserahkan cucu perempuanku ini kepadamu, hendaknya kau jaga dia selama hidup. Apakah kau terima permintaanku?"

Kusut sekali pikiran Nyo Yam, namun yang mengajukan permohonan ini adalah kakek yang berbudi padanya, mana boleh ia menolaknya? "Baiklah, Yaya, kuterima,"

Jawab Nyo Yam.

"Cuma harus tanya dulu kepada adik Cu."

Liong Cik Ieng sendiri sudah lemah, hanya pandangnya beralih ke arah Liong Leng cu, nona itu mengangguk tanpa bersuara. Wajah yang keriput menampilkan senyuman puas, ucapnya lemah.

"Ba ... bagus, jika begitu dapatlah kupergi dengan lega."

"Yaya! ..."

Jerit Leng-cu sampil merangkul sang kakek.

"Jang ... jangan menangis, mati pun aku tidak menyesal lagi,"

Ucap Liong Cik-Ieng dengan lemah dan terputus putus.

"Kamu ha ... harus gembira bagiku, sungguh aku .... aku sangat gembira!"

Ia benar-benar wafat dengan gembira.

Nyo Yam dan Leng-cu sebenarnya tulus dan terbuka, siapa pun tidak akan merahasiakan isi hati masing masing.

Namun aneh juga, sesudah kakek mereka meninggal, mereka seperti jauh lebih renggang, meski bertemu setiap hari.

namun sama menghindari menyebut pesan tinggalan sang kakek.

sampai pada suatu hari, ketika Beng Hoa dan ketiga tertua Thian-san-pai, yaitu Ting Tiau-min, Pek Kian-seng dan Kam Bu-wi, berkunjung ke Leng-ciu hong.

Tentu saja Nyo Yam merasa heran, sebelum anak muda itu tanya maksud kedatangan mereka, lebih dulu Beng Hoa berkata padanya.

"Adik Yam, masa kamu lupa? Setelah kau bunuh Pek-toh-satcu, seharusnya kau jadi ahli waris perguruan kita. Jadi kedatangan kami atas perintah Ciangbunjin untuk memapak engkau pulang ke Thian-san, diharap nona Liong dapat pulang bersamamu." -oooooo-Malamnya, Nyo Yam dan Liong Leng-cu berjalan-jalan di tepi sungai es. Tiba-tiba Leng-cu berkata.

"Aku tidak ingin ikut ke Thiansan. Kesanggupanmu terhadap Yaya tidak perlu kau pikirkan. Kutahu janjimu itu hanya sekadar menyenangkan hatinya saja."

"Tidak,"

Kata Nyo Yam.

"sama sekali bukan hendak kuhibur hati Yaya. Namun, kita memang masih muda belia, usiamu baru 18, aku pun belum genap 20 ."

"Ya, kutahu maksudmu,"

Potong Leng-cu.

"Namun bukan karena aku takut ... takut engkau tidak mau menikahiku. maka aku tidak mau ikut ke Thian-san .."

Bicara sampai di sini. tiba-tiba ia memperlihatkan sikap nakal anak perempuan masa lampau, dengan mengedip ia menyambung.

"Kakak Yam, aku pun ingin mengadakan perjanjian denganmu "

"Perjanjian apa?"

Tanya Nyo Yam.

"Perjanjian tujuh tahun,"

Tutur Leng-cu.

"Tujuh tahun kemudian, apabila engkau masih suka padaku, tatkala mana bolehlah kita berziarah ke makam Yaya untuk memberi laporan kepada beliau.."

Sampai di sini, ia mengikik tawa dan lari pergi. Nyo Yam tidak dapat tertawa, sebab ini merupakan "janji tujuh tahun"

Yang kedua baginya. Apa yang akan terjadi selama tujuh tahun itu siapa dapat meramalnya? Ia memandang bayangan rembulan di dalam sungai es, siapa pun tidak tahu apa yang sedang dipikirnya? TAMAT

Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 4

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger