Eps 1 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen
Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen
Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.
Seri Thiansan JALA PEDANG JARING SUTRA KIAM BONG CIAN SIE Karya . Liang Ie Shen Saduran . Liang YL Sumber djvu . Manise Dimhader EBook. Dewi KZ
http.//kangzusi.com.
Jilid 1.
BAB PERJODOHAN YANG BAIK WANITA CANTIK DAN PENDEKAR TERJADI HAL TIDAK TERDUGA LILIN MERAH MENJADI BUTIRAN ES BURUNG WAN-YO BERSUKA RIA SIA SIA BERBAGI RASA PERJODOHAN SEPERTI ALIS DAN BULU MATA BIJI TERATAI DAN DAUN EMAS BEREBUT LUMUT DI MUSIM GUGUR SEPATU HUJAN BERAPA KALI DIPAKAI BAYANGAN DINDING DAN SINAR BULAN YANG PUTIH SEPERTI BUNGA YANG BERTUMPUK KATA LEMBUT MEMBUAT TAKUT DAN TERKEJUT DUPA DAN TULISAN DI KAIN MEMENUHI KERANJANG HUJAN MEMBUAT UDARA DINGIN MALAM BERMIMPI DI JEMPUT ROH Su Ta Cu Secangkir Mutiara A.
Pernikahan Yang Mewah Semua orang persilatan sedang berkumpul di Tiong-ciu.
Hari ini adalah hari yang meriah, di kota Lok-yang di depan rumah Hie Tiong-gwee, Hie Tayhiap sudah penuh sesak oleh kereta kuda.
Mereka datang untuk memberi ucapan selamat kepada Hie Tiong-gwee karena hari ini dia sedang merayakan pernikahannya yang kedua.
Walaupun ini adalah pernikahannya yang kedua tapi pernikahannya tidak kalah hebat dengan pernikahannya yang pertama, malah mungkin lebih meriah.
Pengantin perempuannya adalah si Cantik dari Lok-yang, sedang pengantin prianya pun sudah tidak asing lagi Delapan belas tahun yang lalu, sewaktu Hie Tiong-gwee dengan istri pertamanya menikah, dia adalah 'orang kecil' yang tidak mempunyai nama, walaupun tidak miskin dia hanya mempunyai beberapa petak sawah, itu pun adalah warisan dari nenek moyangnya.
Tapi sekarang...
siapa yang tidak kenal dengan Hie Tiong-gwee?
Sekarang dia adalah Bengcu 5 propinsi, orang-orang menjuluki dia sebagai 'Tiong-ciu Tayhiap', dia mempunyai sawah beribu hektar dan kekayaan yang tidak terhitung.
Orang yang mempunyai kekayaan dan nama di dunia persilatan, pasti banyak orang yang ingin datang untuk menghormat sampai menjilat.
Setelah mendengar kabar pernikahan Hie, merekapun segera juga datang untuk memberikan selamat.
Lilin merah dipasang di dalam rumah yang sudah penuh sesak oleh tamu-tamu.
Untungnya di dalam rumah ada sebuah taman bunga, bila tidak bagaimana bisa menampung begitu banyak tamu yang tidak diundang tapi datang berduyun-duyun.
Tamu yang tidak bisa masuk ke ruang tamu, semua dipersilahkan masuk ke taman bunga, mereka ini adalah orang yang diangap kedudukannya rendah.
Tapi ada sebagian tamu dengan status sosial tinggi juga berjalan ke arah taman bunga.
Taman bunga keluarga Hie di Lok-yang juga mempunyai nama.
Katanya ada orang yang terkenal memberi nama taman bunga ini adalah 'Kim-kok-hwan'.( lembah taman emas ) Di taman Kim-kok, bunga yang paling banyak ditanam adalah bunga Bo-tan, sekarang adalah saatnya bunga Botan mekar.
Di taman itu tamu-tamu melakukan hal yang mereka senangi dan mereka pilih sendiri.
Yang senang minum sedang minum, yang senang bunga tampak sedang melihat bunga.
Mereka bebas melakukan apa saja, karena itu tamu-tamu lebih senang berada di taman bunga daripada di ruang tamu yang sumpek.
Suasana di ruang tamu pun tidak sama, tamu-tamu yang berada di ruang tamu kebanyakan orang-orang yang terkenal.
Mereka tertawa-tawa dan suasana sangat ramai, tamu-tamu itu memuji tuan rumah.
Tapi di taman bunga sebaliknya terdengar pembicaraan yang sedikit mengejek tuan rumah.
Kim-kok-hwan terkenal dengan bunga Bo-tan karena itu mereka juga banyak bercerita tentang Bo-tan, setelah itu baru memuji kecantikan pengantin perempuan dan royalnya pengantin pria.
Di antara mereka ada seorang pelajar, dia hanya datang seorang diri.
Sambil melihat-lihat bunga dia menggelengkan kepala.
Ada seorang tamu yang menyapanya dan berkata.
"Coh Toako, ada apa denganmu? Bunga Bo-tan di taman bunga ini mekar begitu indah, bukankah kau menyukai bunga? Tapi mengapa kau tidak terlihat begitu gembira?"
Si pelajar ini datang dari Yang-ciu bernama Coh Thian-su, dijuluki Thiat-pit-su-seng (Sastrawan pena besi).
Tapi jangan salah menilai, sepasang pena nya selain berguna untuk menulis sajak juga bisa di pakai untuk menotok urat nadi orang, namanya di dunia persilatan pun lumayan terkenal.
Sebenarnya Hie Tiong-gwee sendiri tidak mengenal Coh Thian-su, dia hanya kenal dengan namanya, dia menitipkan undangan untuknya.
Orang yang mengantar undangannya adalah orang yang baru menyapanya.
Dia bernama Sin Kong-ta, yang pergaulannya sangat luas, dan paling suka mengurusi masalah orang lain.
Dia pun berasal dari dunia persilatan, dia dijuluki 'Sun-hong-ji' (Telinga segala penjuru), sebab bila ada orang bertanya kepadanya tentang semua hal yang terjadi di dunia persilatan, dia pasti akan tahu, kadang-kadang bila dia bercerita ludahnya bercipratan kemana-mana.
Tapi orang-orang sangat percaya kepada ceritanya.
Dengan ringan Coh Thian-su berkata.
"Aku melihat ada yang tidak pantas."
"Apa yang tidak pantas?"
Tanya Sin Kong-ta bengong.
"Bunga Bo-tan ini."
Dengan terkejut Sin Kong-ta berkata lagi.
"Bunga Bo-tan yang paling terkenal di Lok-yang adalah bunga Bo-tan yang berada di Kim-kok-hwan. Bo-tan yang berwarna Ma-nao (berwarna seperti getah pohon pinus) dan Bo-tan yang berwarna putih sangat bagus dan indah. Dan Bo-tan hitam ini di tempat lain tidak ada, hanya ada di Lok-yang, apakah semua ini tidak cukup baik?"
"Semua sangat baik, jujur bicara, di tempat lain aku belum pernah melihatnya."
Kata Coh Thian-su.
"Kalau begitu, mengapa kau masih menganggap semua ini tidak pantas?"
"Karena di taman ini hanya ada bunga Bo-tan."
Sin Kong-ta mengerutkan dahi dan berkata.
"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu, memangnya kalau semua bunga Bo-tan, tidak baik?"
"Bukan bunganya yang tidak baik, tapi bunga itu tidak cocok dengan status tuan rumah."
Kata Coh Thian-su.
"Kau semakin aneh, apa hubungan antara bunga dan tuan rumah?"
"Hubungannya sangat erat, seumpama Tho Hoan-beng senang dengan bunga Chrysan, Souw Toan-sian senang dengan bunga teratai..."
"Mereka dari aliran mana?"
Kata Sin Kong-ta. Coh Thian-su tertawa, jawabnya.
"Mereka bukan orang persilatan, mereka adalah sastrawan dari jaman dulu."
"Pantas saja aku tidak tahu, sekarang katakanlah bunga Bo-tan sebenarnya cocok dengan orang yang bagaimana?"
"Bo-tan adalah bunga yang melambangkan kekayaan, orang yang senang dengan bunga Bo-tan status sosialnya pun bermacam-macam, apalagi untuk orang kaya dan pedagang-pedagang besar."
"Bo-tan adalah bunga perlambang kekayaan, itupun aku tahu, tapi mengapa Bo-tan tidak cocok dengan Hie Tayhiap?"
Kata Sin Kong-ta.
"Karena Hie Tiong-gwee adalah 'Hie Tayhiap'."
Jawab Coh Thian-su. Sin Kong-ta seperti mengerti maksud kata-kata Coh Thian-su.
"Aku mengerti maksudmu, Hie Tayhiap senang bunga, seorang pesilat tidak seharusnya menyerupai orang-orang biasa."
Kata Coh Thian-su.
"Mungkin aku salah menilai, bukannya aku menghina orang yang senang bunga Bo-tan, tapi aku merasa bila Hie Tayhiap menyukai bunga Bo-tan, itu agak sedikit kampungan."
Sin Kong-ta tertawa dan bertanya lagi.
"Kau masih melihat ada hal lain yang tidak pantas?"
"Kim-kok-hwan, 3 huruf ini."
Kata Coh Thian-su.
"Yang memberi nama ini adalah seorang yang terkenal, apakah dia tidak cukup berpengetahuan?"
Tanya Sin Kong-ta. Coh Thian-su tertawa dan menjawab.
"Ujian pelajar pun aku tidak lulus, mana berani menandingi orang itu, tapi.....apakah kau tahu mengapa dia memakai huruf-huruf itu?"
"Aku tidak begitu mengerti huruf-huruf itu, seharusnya kau yang memberitahu aku."
"Memang aku tidak pintar seperti orang lain tapi aku tahu orang itu mengambil nama dari nama taman orang lain, orang yang pertama menggunakan nama Kim-kok-hwan adalah Su Cong."
"Siapa Su Cong itu?"
"Su Cong adalah orang yang paling kaya jaman dinasti Kim."
"Kalau begitu nama taman itu sangat cocok untuk Hie Tayhiap, karena dia adalah orang paling kaya di Lok-yang."
"Benar, kau memang benar, aku mengatakan tidak pantas, mungkin aku salah menilai."
Sin Kong-ta tampak senang dan berkata.
"Kau pun mengakui kesalahanmu."
Coh Thian-su menarik nafas.
"Sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan Hie Tiong-gwee, mungkin aku salah menilainya."
"Apa artinya?"
Tanya Sin Kong-ta bingung.
"Tidak berarti apa-apa, Hie Tayhiap namanya terkenal seperti guntur di siang hari bolong, memang aku tahu sekilas tentang dia bahwa dia adalah seorang pendekar, tapi tidak tahu bahwa dia adalah orang terkaya di Lok-yang."
Sin Kong-ta bukan orang bodoh, dengan tertawa dia berkata.
"Aku sudah mengerti maksudmu, kalian para pelajar bila bicara selalu berputar-putar, jadi kira-kira kau menganggap Hie Tayhiap tidak pantas menjadi orang terkaya? Adik Coh, aku nasihati dirimu, pendapatmu tidak cocok."
Karena Coh Thian-su adalah tamu yang dibawa olehnya maka dia tidak sungkan mengubah panggilan "kakak"
Menjadi "adik.
"Aku selalu tidak benar dalam menilai orang, harap kau banyak mengajarku."
"Menjadi pendekar harus memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi uang pun tidak boleh kekurangan. Bila tidak, bagaimana bisa berbuat amal?"
"Mungkin ayah Hie Tayhiap adalah orang kaya?"
"Salah, sewaktu ayahnya masih hidup, aku lebih kaya darinya, jadi kembali kau salah menduga?"
"Sebab seorang pendekar selalu beramal maka harus memakai uang yang banyak."
Tentu, aku sendiripun melihat dalam waktu sehari dia memberi 3000 tail perak untuk teman-temannya, uangnya mengalir seperti air."
"Melihat dia setiap tahun memakai begitu banyak uang, sekarang masih menjadi orang terkaya di Lok-yang, seharusnya ayahnya lebih kaya lagi dari dia. Kalau aku mengatakan ayahnya adalah orang terkaya di propinsi Holam sepertinya malah merendahkan, apakah tebakanku dengan kenyataan yang ada tidak cocok? Ini sungguh aneh?"
"Orang menjadi kaya belum tentu mendapat dari warisan, untuk dia memang dia bisa mencari uang sendiri."
Kata Sin Kong-ta.
"Setahun penuh dia beramal dan menolong orang, dia bukan perampok juga bukan pedagang, dari mana dia mendapat uang begitu banyak?"
Sin Kong-ta tertawa.
"Aku bilang kau tidak kenal dengan keadaan di sini, tapi kata-katamu sedikit pun tidak salah, ada pepatah yang mengatakan 'orang baik pasti ada pahalanya, dia beramal walaupun tidak ingin orang membalas budinya, tapi yang ingin membalas budinya juga pasti banyak"."
"Oh, jadi begitu."
Coh Thian-su mengangguk. Sin Kong-ta takut Coh Thian-su salah paham kepada Hie Tiong-gwee dan dia berkata lagi.
"Aku akan menceritakan beberapa cerita untukmu, dalam beramal dia tidak menharapkan balasan, baik menerima 1 tail pun, dari sini saja kau sudah bisa tahu bahwa pribudinya sangat tinggi."
Saat ingin melanjutkan ceritanya, Coh Thian-su sudah memotong kata-katanya.
"Cerita-cerita lain mengenai Hie Tiong-gwee, aku sudah tahu, dia pernah mengalahkan Huang-ho-sam-sat (3 penjahat Huang-ho), pernah melukai penjahat yang berada di jalan San-kan, dengan satu kelingking dia bisa mengalahkan tombak yang beratnya 72 kati milik Souw Ta, pendekar-pendekar Kun-lun, Bu Tong dan Siauw-lim pun kalah di tangannya. Aku sampai bosan mendengarnya, apakah kau bisa menceritakan hal yang lain?"
"Memang hal itu sudah diketahui oleh orang-orang, tapi ada satu hal yang aku kira kau pun belum tahu."
Kata Sin Kong-ta.
"Apa?"
"Apakah kau tahu beberapa tahun belakangan ini ada seseorang yang berjuluk Hui-thian-sin-liong (Naga sakti terbang ke langit), dia adalah seorang gembong penjahat yang baru muncul."
Kata Coh Thian-su.
"Kau sungguh mengetahui cerita-cerita yang terbaru, memang aku pernah mendengar ada seorang penjahat yang sangat menggegerkan dunia persilatan."
Coh Thian-su melanjutkan bertanya.
"Lalu apa yang kau ketahui?"
"Katanya penjahat ini datang dan perginya seperti seekor ular naga terbang, terlihat kepala tidak terlihat ekor. Banyak orang persilatan yang pernah menjadi sasarannya tapi tidak ada yang tahu bagaimana wajahnya."
Kata Sin Kong-ta lagi.
"Bukan hanya menjadi sasarannya, banyak orang terkenal yang dipotong menjadi beberapa bagian, ada juga yang ditusuk hingga matanya menjadi buta, ada juga yang kepalanya dipenggal, tapi semua tidak berani membicarakannya, mereka segera pindah ke tempat lain. Setiap kali bila sudah melakukan kejahatan dia selalu memakai darah korban melukis seekor naga. Karena terlihat kepala dan tidak terlihat ekor, maka dia selalu memakai naga sebagai lambangnya, hingga dia dijuluki 'Hui-thian-sin-liong'. Dalam 2 tahun belakangan ini dia sudah melukai banyak pendekar ternama. Orang-orang sangat benci dan takut kepadanya, tapi tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak berani melakukan apa-apa, bila ada yang tahu dia berada di mana, orang akan langsung bersembunyi dan menghindar ke tempat jauh."
"Memang dunia persilatan sudah diaduk-aduk olehnya, tapi dalam keadaan bergolak itu tiba-tiba dia menghilang."
Kata Coh Thian-su.
"O-mie-to-hud, mengapa kau mengatakan seperti itu? Dia sudah membuat orang ketakutan selama 2 tahun, bila diteruskan lagi tidak terbayang bagaimana akibatnya. Apakah kau tahu kapan dan mengapa dia tiba-tiba menghilang?"
"Tidak tahu."
Dengan jujur Coh Thian-su menjawab.
"Kau tidak tahu, tapi aku tahu."
"Bila kau tahu, coba ceritakan!"
"Kau tidak percaya bahwa aku tahu jawabannya bukan? Kau sudah berteman denganku sekian lama, seharusnya mengenal bagaimana diriku, bila aku sudah tahu semuanya, baru aku akan bercerita."
Coh Thian-su menahan tawa, dia memang ingin tahu dan dalam hatinya dia berkata, 'Baiklah, coba kupancing dia akan cerita apa?' Maka cepat Coh Thian-su berkata.
"Baiklah, baiklah, aku memang salah, hayo cepat katakan!"
Sin Kong-ta baru berkata.
"Adik, aku hanya bercerita kepadamu, jangan sampai kau ceritakan pada orang lain. Hui-thian-sin-liong sudah dikalahkan oleh Hie Taybiap, dia dipaksa oleh Hie Tayhiap untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan."
"Mengapa kau bisa tahu?"
"Hie Tayhiap yang memberitahuku, bila tidak selamanya aku sendiri tidak akan tahu."
"Sungguh aneh?"
"Apa anehnya?"
"Hui-thian-sin-liong sudah menghilang selama 3 tahun, apakah Hie Tiong-gwee hanya memberitahu kepadamu? Karena Hui-thian-sin-liong sudah membuat banyak kekacauan, seharusnya banyak yang tahu kabar ini."
Kata Sin Kong-ta.
"Benar, Hie Tiong-gwee hanya memberitahuku, dia bilang seperti ini, 'Sin Toako, aku berteman baik denganmu, maka aku beritahu kepadamu, rahasia ini jangan sampai bocor'."
Coh Thian-su tidak tahan dan tertawa.
"Sin Toako, kata-kata ini pun tadi kau ucapkan kepadaku."
Sin Kong-ta masih tidak tahu malu, berkata lagi.
"Karena kita adalah teman baik, tidak apa aku membocorkan rahasia ini kepadamu."
Coh Thian-su makin ingin tertawa, dia berkata.
"Terima kasih. Aku ingin tanya apakah Hui-thian-sin-liong itu laki-laki atau perempuan? Gemuk atau kurus?"
"Dia laki-laki, perempuan tidak akan begitu berani. Kurus atau gemuk aku tidak tahu, karena Hie Tiong-gwee tidak mengatakannya, mungkin kurus karena orang gemuk ilmu meringankan tubuhnya tidak akan hebat seperti itu."
"Apakah dia tua atau muda? Hie Tiong-gwee pasti mengatakannya."
"Benar, dia kira-kira berumur 50 tahun, bila masih muda tidak akan cocok dengan predikat Hui-thian-sin-liong, lagi pula kalau masih muda, mana bisa mengalahkan begitu banyak orang terkenal."
Kata Sin Kong-ta lagi.
"Kepandaiannya sangat lihai, dia bisa menggunakan daun menjadi senjata rahasianya, kepandaian jarinya juga sangat hebat, dia sangat hebat, Hie Tiong-gwee sudah memberitahuku tapi aku lupa apakah dia bisa..."
Coh Thian-su sudah tidak tahan lagi dan dia tertawa terbahak-bahak. Sin Kong-ta sangat marah dan bertanya.
"Kau menertawakan apa?"
"Mengapa tidak sekalian kau katakan pada saat mereka bertarung kau pun ada di sana."
Sin Kong-ta tampak marah dan berkata.
"Apakah kau mengira aku berbohong?"
"Tidak, aku hanya bergurau. Kau benar-benar pintar bicara, aku kagum kepadamu."
"Kejelekanmu adalah kau orang terpelajar tapi sering bergurau tidak melihat orang dan tempat."
"Apa boleh buat, gunung saja bisa dipindahkan, tapi sifat orang tidak dapat diubah. Aku minta maaf."
Kata Coh Thian-su.
"Kau pasti masih curiga, mengapa Hie Tiong-gwee hanya memberi-tahuku, sebab Hie Tiong-gwee menganggap aku adalah temannya."
"Tadi kau mengatakan bahwa teman Hie Tiong-gwee sangat banyak tapi mengapa hanya dirimu yang menjadi sahabatnya?"
Sin Kong-ta tertawa dan berkata.
"HieTiong-gweebenar-benarmenganggapkusebagai sahabatnya, dia tidak memberitahu orang lain karena 2 hal, pertama dia sangat menyukai ilmu silat dan dia sangat kagum pada kehebatan Hui-thian-sin-liong, dia hanya memaksa Hui-thian-sin-hong mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak mau membunuhnya. Bila hal ini diketahui oleh orang lain, pasti mereka akan marah. Kedua, Hie Tiong-gwee adalah orang yang rendah hati, dia tidak mau orang lain tahu bahwa dia berjasa besar kepada dunia persilatan."
"Kalau begitu, Hie Tiong-gwee adalah orang yang sangat sempurna dan sangat dikagumi, tapi aku tidak tertarik kepada Hie Tayhiap."
Sin Kong-ta menjadi bengong.
"Laku kau tertarik dengan apa?"
"Aku tertarik dengan pengantin perempuannya."
Sin Kong-ta lebih bengong lagi dan dia bertanya.
"Apa maksudmu? Kau tertarik kepada pengantin perempuannya?"
Jawab Coh Thian-su dengan tertawa.
"Pikiranmu jangan ngawur lagi, kata orang dia adalah si Cantik dari Lok-yang, aku adalah orang biasa, pasti lebih tertarik kepada perempuan, aku hanya ingin tahu lebih banyak saja."
Jawab Sin Kong-ta.
"Aku tidak ngawur. Aku malah takut kau yang ngawur. Si Cantik she Kang, bernama Hiat-kun, dia cantik tapi dingin. Perempuannya cantik, laki-lakinya gagah, mereka adalah jodoh yang serasi."
"Dia anak siapa?"
Tanya Coh-thian-su.
"Pepatah mengatakan 'jangan tanya riwayat pahlawan', aku kira perempuan pun seperti itu, asalkan cantik dia tidak akan susah terbang tinggi untuk menjadi burung Hong."
"Ayahnya bekerja sebagai apa?"
Tanya Coh Thian-su "Katanya dia juga orang persilatan."
"Apa artinya *katanya dia juga orang persilatan'?"
"Ayahnya, Kang Guan-yang, dia membuka perguruan silat di kota Lok-yang, Kang kausu hanya bisa beberapa jurus silat pasaran karena itu muridnya pun hanya ada beberapa orang. Untung saja dia mempunyai putri yang cantik, kalau tidak mungkin satu murid pun dia tidak akan punya."
Coh Thian-su tampak terkejut, ternyata kabar itu benar, Kang Guan-yang bersembunyi di Lok-yang menjadi kausu, tapi kabar yang satu lagi entah benar atau bohong. Coh Thian-su berkata.
"Aku ingin bertemu dengan Kang kausu, aku pikir kau pasti mengenal nya, bisakah kau mengusahakan aku bertemu dengannya?"
Sin Kong-ta tertawa dan berkata.
"Bila kau mau bertemu dengannya, harus menunggu beberapa puluh tahun lagi."
"Mengapa?"
"Kau belum berusia 30 tahun, aku harap kau bisa panjang umur, kalau panjang umur kau harus menunggu 70 tahun lagi baru bisa bertemu dengannya."
Coh Thian-su sangat terkejut dan bertanya.
"Kang Guan-yang sudah meninggal? Kapan meninggalnya, Sungguh sangat disayangkan? Sin Kong-ta merasa aneh dan berkata.
"Walaupun Kang Guan-yang memiliki putri yang cantik tapi dia sendiri orang biasa-biasa saja. Kau begitu perhatian kepadanya, apakah kau kenal dengannya?"
"Aku pernah mendengarnya, tapi bukan temannya."
Dalam hati Sin Kong-ta berpikir, 'Kalau tidak mendengar nama Kang Hiat-kun dia tidak akan tahu bahwa ayahnya bernama Kang Guan-yang, kemudian dia bertanya.
"Mengapa kau bisa kenal dengan orang yang tidak ternama?"
"Aku juga tadinya tidak ingat, entah teman mana yang memberitahuku. Temanku dengan temanmu tidak sama, temanmu orang-orang terkenal dan teman-temanku hanya orang biasa."
Sin Kong-ta menggelengkan kepala dan berkata.
"Kau jangan bergurau."
"Aku tidak bergurau, aku selalu tidak ingin berteman dengan orang terkenal, apakah kau tidak tahu? Sebenarnya kali ini pun aku enggan ke sini, hanya karena undangannya dititipkan kepadamu, demi dirimu aku berusaha datang."
Walaupun Sin Kong-ta masih belum mengerti tapi dia berpikir walaupun Coh Thian-su telah membohonginya, bahwa dia tidak kenal dengan Kang Guan-yang, tapi tidak apa-apalah, dia tetap tertawa dan berkata.
"Terima kasih kau sudah menyelamatkan mukaku."
"Seharusnya aku yang berterimakasih,bila kau tidak mengantarkan undangan, aku juga malu datang kemari."
Sin Kong-ta tampak senang, dia berkata.
"Tadi aku melihatmu seperti menyesali sesuatu, mengapa sekarang sudah tidak lagi?"
"Karena tadi aku belum tahu bahwa pengantin perempuannya adalah si Cantik Lok-yang dan juga belum tahu bahwa dia adalah putri Kang Guan-yang. Kang Guan-yang adalah teman dari temanku."
Ini tidak jadi masalah, yang penting dia bisa melihat si Cantik dari Lok-yang.
Padahal sebenarnya keadaan ini terbalik.
Yang utama adalah dia harus mencari tahu keadaan Kang Guan-yang baru melihat si Cantik.
Sebenarnya pada saat dia menerima undangan dari tangan Sin Kong-ta, dia ingin tidak pergi bersama-sama Sin Kong-ta, dia hanya berjanji bertemu di Lok-yang.
Setelah sampai di Lok-yang, Sin Kong-ta terlihat sangat 'sibuk' berteman, tidak ada waktu bercerita mengenai pengantin perempuan, sampai sekarang karena statusnya tidak diperbolehkan mengobrol di ruang tamu.
Karena itu dia pindah ke taman bunga.
Coh Thian-su adalah tamu yang memiliki status sosial tinggi, otomatis Coh Thian-su mengajak dia mengobrol dahulu.
Sin Kong-ta berkata.
"Sebentar lagi pengantin akan bersembahyang, kau harus menjaga sikap, jangan bergurau."
"Aku mengatakan bahwa pengantin perempuannya sangat cantik, tentu bukan gurauan. Kau belum memberitahu kapan Kang Guan-yang meninggal?"
"Tahun lalu, kira-kira pertengahan Oktober."
"Itu baru 3 bulan yang lalu."
"Benar, sudah 4 bulan."
"Ya, bisa dihitung 4 bulan, sebenarnya saat mi masih berkabung, mengapa..."
Sin Kong-ta tertawa dan berkata.
"Kalian orang sekolah sangat aneh, bila masih berkabung tidak boleh menikah, ini hanya aturan kalian saja. Kalau orang persilatan tidak ada aturan seperti itu, masih ada 1 hal yang kau tidak tahu."
"Apa?"
"Sebelum Kang Guan-yang meninggal, dia selalu menerima bantuan Hie Tayhiap, dia berpesan kepada keluarganya bila dia sudah meninggal, putrinya harus menikah dengan Hie Tayhiap. Setelah 3 bulan Hie Tiong-gwee baru boleh memiliki putrinya. Ini merupakan penghormatan bagi keluarga Kang."
"Berapa umur Kang Guan-yang?"
Tanya Coh Thian-su "Kurang lebih berumur 40 tahun lebih. Sebelum meninggal, dia dan Hie Tiong-gwee seperti saudara angkat, sehingga dia menjadi sederajat dengan Hie Tiong-gwee."
"Kalau begitu, paman menikahi keponakan angkatnya."
"Demi membalas budi Hie Tiong-gwee, Kang Guan-yang ingin putrinya mempunyai sebuah keluarga yang bahagia, terpaksa dia melanggar peraturan dan sebelum dia meningggal dia menitipkan putrinya kepada Hie Tiong-gwee. Lagipula Hie Tiong-gwee belum begitu tua."
"Dia sudah lama terkenal dan sederajat dengan Hie Tiong-gwee, berarti umurnya juga sudah 40 tahun lebih."
"Mungkin tidak ada, biar aku yang menghitung. Pertama kali Hie Tiong-gwee menikah adalah 20 tahun yang lalu, tiga tahun kemudian mendapat anak perempuan, pada saat itu dia mulai terkenal. Tahun ini putrinya berumur 15 tahun, artinya umur Hie Tiong-gwee sudah berumur 38 tahun."
Sebenarnya dengan satu kalimat saja sudah bisa menjelaskan semuanya, tapi Sin Kong-ta malah berputar-putar menjelaskannya.
Itu semua dia lakukan hanya ingin menunjukkan bahwa dia mempunyai hubungan yang dekat dengan Hie Tiong-gwee.
"Apakah kau tahu berapa tahun usia mempelai perempuan?"
"Tentu saja aku tahu, tahun lalu pada saat dia berumur 18 tahun, aku mengirim kado untuknya, umurnya setengah dari umur Hie Tiong-gwee."
"Pengantin pria berumur 38 tahun, pengantin perempuan berumur 19 tahun, umurnya setengah dari umur Hie Tiong-gwee."
Sin Kong-ta mengerutkan dahi dan berkata.
"Itu tidak menjadi masalah. Umur 38 tahun adalah umur yang masih produktif, orang kaya yang lain meski sudah berumur 70 tahun masih menikahi gadis berumur 16 tahun."
Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Benar, Hie Tayhiap adalah orang terkaya di Lok-yang, menikahi si Cantik dari Lok-yang. Dia adalah laki-laki kaya yang gagah dan perempuannya adalah perempuan cantik. Benar-benar jodoh yang serasi."
Di sudut taman ada pula yang membicarakan pernikahan ini.
Mereka adalah murid-murid Hie Tiong-gwee yang bernama Kwee Goan-cay, yang satu lagi adalah anak laki-laki orang persilatan yang bernama Po Tiong-ie, nama anak laki-lakinya adalah Po Leng-hoi.
Mereka berusia sekitar 20 tahun.
Keluarga Po dulu adalah keluarga pesilat yang terkenal, karena Po Tiong-ie tidak pandai mengurus perkumpulan, pada saat dia mulai tua hidupnya menjadi susah.
Namanya tersisih oleh nama Hie Tiong-gwee.
Sekarang hanya ada beberapa orang saja yang masih mengenalnya, yang lain hanya tahu bahwa di Lok-yang hanya ada Hie Tiong-gwee.
Tapi Hie Tiong-gwee sangat menghormati orang yang lebih tua.
Setiap Imlek dia pasti akan mengantar hadiah besar untuk Po Tiong-ie, tapi anehnya Po selalu tampak angkuh, tidak pernah berkunjung ke rumah Hie Tiong-gwee.
Kadang-kadang bila Hie Tiong-gwee berkunjung ke rumahnya pun, Po Tiong-ie selalu menolak untuk bertemu.
Setelah beberapa kali diperlakukan seperti itu, Hie Tiong-gwee tidak berani datang lagi.
Pada pernikahan Hie Tiong-gwee yang kedua, Po Tiong-ie pun tidak datang untuk memberi selamat.
Tapi hanya putranya yang datang untuk mewakili dia, tampaknya itu pun sudah membuat Hie senang.
Tapi ada satu orang yang tahu bahwa Po Leng-hoi datang ke pesta bukan untuk mewakili ayahnya melainkan karena keinginan dia sendiri.
Orang ini adalah Kwee Goan-cay.
Mereka berdua adalah teman baik, mereka pernah berpura-pura bahwa mereka adalah musuh.
Sekarang mereka berdua sedang tertawa kecut.
"Siau Kwo, mengapa kau tidak membantu gurumu melayani tamu-tamu? Bukankah kau murid kesayangannya?"
Tanya Po Leng-hoi.
"Orang-orang di sana pasti sudah dilayani dengan baik, tidak perlu aku yang turun tangan lagi, aku tahu kau pasti akan datang karena itu aku harus menemanimu,"
Kata Kwee Goan-cay.
"Mengapa kau tahu aku pasti akan datang?"
"Apakah kau tidak ingin bertemu Hiat-kun untuk terakhir kalinya?"
Tanya Kwee Goan-cay.
Pengantin perempuan yang bernama Kang Hiat-kun adalah bakal istri gurunya, tapi dia sudah terbiasa memanggil langsung namanya, apalagi di depan teman baiknya.
Hie Tayhiap walaupun bukan keluarga raja, tapi kekayaannya bisa menandingi keluarga raja.
Bagi Po Leng-hoi bila Hiat-kun sudah masuk dalam keluarga Hie, dia akan kesepian, walaupun Hiat-kun tidak tahu dia akan merasa kesepian.
Kata-kata Kwee Goan-cay sangat tepat mengena pikirannya, kecuali hanya tertawa kecut, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia balas berkata.
"Siau Kwo, apakah kita ini teman?"
"Dulu teman, nantinya pun masih akan tetap menjadi teman,"
Jawab Kwee Goan-cay.
"Kalau begitu, mengapa kau tidak jujur dengan teman baikmu sendiri?"
"Kapan aku pernah berbohong?"
"Yang baru kau katakan adalah kata-kata bohong, kau keluar dari ruang tamu bukan karena tamu, apa betul?"
"Kalau begitu, menurutmu aku keluar dari sana karena apa?"
"Kau iri kepada gurumu, kau terus mendengar tamu-tamu memuji mereka adalah pasangan serasi, kau sakit hati kemudian keluar dari ruang tamu supaya telingamu tidak terasa panas."
Kwee Goan-cay pun ternyata menyukai Hiat-kun. Dengan wajah merah Kwee Goan-cay berkata.
"Sembarangan! Kau berani mengatakan bahwa kaupun tidak pernah merindukannya?"
"Tapi aku tidak iri kepada guruku."
Jawab Kwee Goan-cay.
"Kau tidak berani untuk iri, tapi kau harus jujur bila Hiat-kun menikah dengan gurumu, apakah kau setuju? Jujur bicara, kiraku bila Hiat-kun tidak menikah denganmu tentu menikah denganku."
"Jangan katakan lagi!"
Kwee Goan-cay tertawa kecut.
"Baiklah, aku janji. Setelah ini aku tidak akan mengatakan lagi, tapi bila hari ini tidak mengatakannya, seperti sebuah tulang yang masih menyangkut di tenggorokan, sungguh tidak enak."
"Baiklah, baiklah, tapi tidak usah bicara keras-keras."
"Siau Kwo, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, mengapa Hiat-kun bisa menikah dengan gurumu? Apakah kau setuju?"
Po Leng-hoi merasa sangat jengkel, dia ingin mencari orang untuk bicara tentang masalah ini.
"Jujur saja, bila Hiat-kun menikah dengan orang lain, mungkin aku akan marah, tapi bila menikah dengan guruku, aku setuju. Karena guruku adalah seorang pendekar, jadi aku setuju, dia cocok untuk Hiat-kun."
Entah Kwee Goan-cay sengaja menyiram air dingin kepada Po Leng-hoi atau benar-benar tulus mengatakannya, sengaja dia tidak mau sependapat dengan Po Leng-hoi.
"Sepadan, sepadan! Tapi aku tidak setuju!"
Kata Po Leng-hoi.
"Mengapa tidak setuju? Kalau tidak setuju berarti kau menghina guruku!"
"Siapa yang berani memandang enteng kepada Hie Tayhiap, dia kaya dan mempunyai kedudukan, tidak seperti kita-kita ini, kalau tidak seperti itu, Hiat-kun tidak akan mau menikah dengan orang yang pantas menjadi ayahnya."
Kwee Goan-cay juga marah, dia berkata.
"Bila kau iri kepada guruku, aku bisa memaafkan. Tapi kata-katamu yang lain aku tidak setuju."
"Yang mana kau tidak setuju?"
Tanya Po Leng-hoi dengan dingin.
"Kau anggap Hiat-kun mau karena uang, dia bukan orang seperti itu."
Po Leng-hoi berkata lagi.
"Aku mengatakan, dia terpaksa menikah karena kekayaan dan kekuasaan gurumu, bukan karena dia rela menikah dengan gurumu."
"Guruku bukan orang yang suka menggunakan uang dan kekuasaan memaksa Hiat-kun menikah dengannya."
Kata Kwee Goan-cay.
"Apakah kau tahu Hiat-kun sebenarnya tidak mau menikah?"
"Aku tahu, sebab kemarin aku secara sembunyi-sembunyi telah menengoknya, air matanya pun belum habis, orang tuanya pun tidak setuju dengan pernikahan ini."
Karena marah Po Leng-hoi bicara semakin keras. Tiba-tiba ada yang memanggil.
"Siau Po, Siau Kwo, mengapa kalian bersembunyi di sini?"
Orang itu adalah wartawan berjalan Sin Kong-ta. Sin Kong-ta dan 'Pelajar pena besi' Coh Thian-su sedang berjalan ke arah mereka. Po Leng-hoi dengan senang berkata.
"Coh Tayhiap, angin apa yang membawa Anda kemari?"
Dia tidak menyapa Sin Kong-ta. Dengan tertawa Coh Thian-su menjawab.
"Seperti dirimu, aku datang untuk memberi ucapan selamat kepada Hie Tayhiap."
Walaupun Coh Thian-su belum pernah datang ke kota Lok-yang, tapi dia sudah lama kenal dengan ayah dan anak keluarga Po.
Pada saat Coh Thian-su baru terjun ke dunia persilatan dia sudah bertemu dengan Po Tiong-ie, Po pun sangat menghormati Coh Thian-su.
Coh pun pernah membantu Po Tiong-ie sehingga Po Tiong-ie sangat menghormatinya.
Tahun lalu Po Leng-hoi pun pernah berkunjung ke tempat Coh Thian-su karena disuruh oleh ayahnya.
Sin Kong-ta sangat terkejut dan bertanya.
"Kalian sudah saling kenal?"
"Seharusnya kau sudah tahu, sebab kau adalah orang yang paling tahu segala hal."
Jawab Po Leng-hoi.
"Aku sudah lama kenal dengan mereka, aku ke sini pun sekalian untuk mengunjungi teman lama."
Kata Coh Thian-su. Dia belum menjelaskan alasan lain datang ke Lok-yang selain mengu-capkan selamat, sebenarnya dia pun ingin tahu keadaan Kang Guan-yang.
"Baiklah, bila sudah selesai memberi selamat, kuundang ke rumahku untuk menginap beberapa hari."
Kata Po Leng-hoi.
"Kita lihat saja nanti, aku masih ada keperluan lain, tapi aku akan berusaha mengunjungi ayahmu."
Sin Kong-ta merasa tidak enak hati karena Po Leng-hoi tidak menyapa dan tidak mengajaknya bicara, tiba-tiba dia berkata.
"Siau Po, aku dengar kalian sedang membicarakan pengantin perempuan, sebenarnya ada apa?"
"Apa aku salah bicara?"
Kata Po Leng-hoi.
"Tadi kau mengatakan orang tua pengantin perempuan tidak setuju dengan pernikahan ini, desas desus ini dari mana?"
"Siapa yang mengatakan desas desus itu ?"
"Sebelum ayahnya meninggal, dia sendiri yang menjodohkan putrinya"
Kwee Goan-cay yang diam sejak tadi akhirnya tertawa. Sin Kong-ta merasa tidak senang, dengan marah dia berkata.
"Kau menertawakan apa?"
"Pada saat Kang Guan-yang meninggal, seharian aku berada di sana, aku tidak melihatmu. Yang menjodohkan guruku juga bukan Tuan, pernikahan ini ditentukan oleh paman dari istri baru guru yang bernama Kiam-ta."
Wajah Sin Kong-ta memerah dan berkata.
"Kau tahu apa? Kang Guan-yang punya penyakit yang mematikan, dua bulan sebelumnya, dia tahu dia akan meninggal maka dia menitipkan putrinya kepadaku. Soal yang menjodohkan adalah karena Tuan Kian lebih tua, maka aku memberi kesempatan kepada dia untuk menjadi comblangnya."
Kala Kwee Goan-cay.
"Salah! Tuan Kang belum pernah sakit, sehari sebelum meninggal dia masih seperti biasa, mengajar ilmu silat pada murid-muridnya. Hari itu dia mendadak mendapat penyakit aneh dan tiba-tiba meninggal, bila dari 2 bulan yang lalu dia sudah sakit, apakah keluarganya tidak tahu?"
"Mengapa kau tahu? Keluarganya saja tidak tahu."
"Bila dia mendapat penyakit yang mematikan, keluarganya pasti akan merasa sedih, tapi mereka sebelumnya tidak seperti itu."
Dengan tawa dingin Sin Kongta berkata.
"Kau anak kecil tahu apa? Bila dia punya penyakit mematikan dia tidak akan memberi tahu kepada keluarganya."
"Kalau begitu, apa dia hanya memberitahu kepadamu saja?"
"Mungkin ya, mungkin..."
Belum habis kata-katanya, Coh Thian-su sudah melanjutkan.
"Pasti karena Hie Tiong-gwee dan Sin Toako mempunyai hubungan erat."
Dengan marah Sin Kong-ta berkata.
"Semua yang kukatakan benar, terserah mau percaya atau tidak."
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Percaya, aku percaya. Bila tidak percaya, siapa lagi yang akan percaya kepadamu? Tidak perlu meributkan soal kematian Kang Guan-yang lagi, itu tidak baik? Eh siapa adik ini?"
Sekarang Po Leng-hoi baru bisa mengenalkan mereka.
"Dia adalah murid Hie Tiong-gwee yang paling disayang, dari kecil sudah tinggal di rumah gurunya."
Sengaja Coh Thian-su berkata.
"Kalau begitu Kwee Goan-cay juga bukan orang lain."
"Apa maksud Coh Tayhiap?"
Tanya Po Leng-hoi.
"Tadi Sin Toako mengatakan dia ingin bercerita mengenai Hie Tiong-gwee tapi dia bilang tidak boleh ada orang lain yang mendengar."
Sin Kong-ta tampak malu, dengan cepat dia berkata.
"Mungkin mengenai hal itu Hie Tiong-gwee belum cerita kepada murid-muridnya."
"Mengapa kau tahu dia belum sempat cerita?"
Dengan tergagap-gagap dia menjawab.
"Dia... tidak ingin..."
Sin Kong-ta tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Lebih baik aku mewakilimu mengatakannya, ini juga karena kau pernah berkata Hie Tayhiap tidak ingin orang luar tahu, maka dia hanya bercerita kepadamu dan dia berpesan agar jangan cerita kepada orang lain."
Dia berhenti sebentar kemudian melanjutkan.
"Sampai sekarang aku belum mengenal Hie Tiong-gwee, hanya aku saja yang orang luar, sekarang mari kita tanya kepada Kwee Goan-cay karena dia adalah murid Hie Tiong-gwee."
Walaupun Sin Kong-ta sangat pandai bicara tapi sekarang dia tidak dapat berbuat apa-apa, wajahnya menjadi merah.
Untung saja temannya banyak, dia berkelit dengan menghampiri mereka dan mengobrol, semua teman-temannya bertanya.
"Kemarilah, kami semua sedang menunggu berita mengenai dunia persilatan."
"Baiklah, baiklah! Mari kita pergi ke sebelah sana, disana ada Botan yang indah, lebih enak mengobrolnya"
Kata Sin Kong-ta. Begitu Sin Kong-ta pergi, mereka bertiga langsung tertawa. Po Leng-hoi berkata.
"Terima kasih, kau sudah membuat dia pergi dari sini."
Tanya Kwee Goan-cay.
"Apakah Coh Tayhiap mendengar cerita mengenai guruku?"
"Sebaliknya aku mendengar cerita-cerita yang membuat nama gurumu lebih terkenal lagi."
"Cerita apa?"
"Hal yang menggegerkan dunia persilatan, tapi sampai sekarang masih menjadi teka-teki."
Tanya Po Leng-hoi.
"Apakah hal ini mengenai menghilangnya Hui-thian-sin-liong?"
"Benar, 3 tahun yang lalu Hui-thian-sin-liong menghilang, tidak ada yang tahu apa sebabnya."
"Lalu apa hubungannya dengan guruku?"
Tanya Kwee Goan-cay.
"Kata Sin Kong-ta, Hie Tiong-gwee mengalahkan Hui-thian-sin-liong, dan memaksa dia mengundurkan diri dari dunia persilatan."
"Aku belum pernah dengar guru bercerita tentang itu, berarti ini adalah cerita bohong."
Kata Kwee Goan-cay.
"Belum tentu, sebab aku juga pernah mendengar cerita ini di luaran."
Kata Po Leng-hoi.
"Aku pun pernah mendengar ceritanya, tapi yang membuat gosip seperti ini pasti orang-orang seperti Sin Kong-ta, bila bukan karena guruku punya nama di dunia persilatan, ada kejadian apapun orang dengan sembarangan akan menghubungkannya."
Kata Kwee Goan-cay.
"Memang ada orang seperti itu, tapi tidak semua."
Mungkin hal ini yang membuat Kwee Goan-cay ragu. Po Leng-hoi tidak suka dengan gurunya Kwee Goan-cay, dan Kwee Goan-cay juga tahu, dia pun tidak ingin membela gurunya.
"Bila menurutmu benar, mengapa kau bisa tahu?"
Tanya Kwo.
"Aku tidak bilang itu benar atau salah, aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah 3 tahun yang lalu gurumu pernah pergi ke Siong-san?"
"Benar."
"Semenjak pulang dari Siong-san, apakah dia berbeda dengan hari-hari biasanya?"
"Waktu itu dia berdiam diri saja selama beberapa hari, bila ada tamu yang berkunjung, dia pun menolak untuk bertemu."
"Kalau begitu, ini benar."
"Bila guruku sudah mengalahkan Hui-thian-sin-liong, mengapa dia tidak terlihat gembira?"
Kata Kwee Goan-cay.
"Aku hanya dengar dia pernah bertarung dengan Hui-thian-sin-liong, tapi apakah kalah atau menang, aku tidak tahu."
Kata Po Leng-hoi.
"Siapa yang memberitahumu?"
Tanya Kwee Goan-cay.
"Beberapa hari lalu ayah memberitahuku, dia dengar dari mana aku pun tidak tahu."
"Ayahmu mengatakan apa?"
Tanya Coh Thian-su.
"Ayah mengatakan bahwa 3 tahun yang lalu Hie Tayhiap pernah bertarung dengan Hui-thian-sin-liong di Siong-san. Waktu itu ada 3 orang yang menjadi saksi, berakhirnya bagaimana, tidak ada yang tahu."
"Apakah ada yang mengenal 3 orang saksi itu?"
"Yang satu dari Siauw-lim, Tay-suhu Ko Tan, yang satunya lagi adalah orang yang menjodohkan Hie Tiong-gwee bernama Tuan Kiam-ta, yang satu lagi..."
Tiba-tiba Po Leng-hoi tertawa dan melanjutkan.
"Kau kenal dengannya, kau tanya sendiri saja."
"Siapa dia?"
Tanya Coh Thian-su tidak Sabar.
"Dia adalah It Piau cinjin."
Jawab Po leng-hoi.
"Apakah It Piau cinjin, juga jauh-jauh datang hanya untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee?"
Kata Coh Thian-su bengong.
"Coh Tayhiap, kata-kataku belum selesai, yang aku maksud bukan It Piau cinjin, melainkan muridnya."
Coh Thian-su sangat gembira.
"Bila Yu Yong yang datang itu bagus. Dia pasti akan mengatakan yang sebenarnya, walau tidak sering bertemu tapi kami adalah sahabat karib."
Coh Thian-su tampak berpikir kemudian berkata lagi.
"Masih ada satu hal lagi yang tidak boleh ditanyakan tapi aku merasa aneh tapi bila kau tidak ingin membicarakannya juga tidak apa-apa bagiku."
Kwee Goan-cay sudah dapat menebaknya, dia tertawa dan berkata.
"Jangan sungkan, apa yang ingin Anda ketahui?"
"Tadi kau mengatakan bahwa orang tua pengantin perempuan tidak menyetujui pernikahan ini, kau tahu dari mana?"
"Sin Kong-ta mengatakan bahwa sebelum ayahnya meninggal dia menitipkan putrinya kepada Hie Tiong-gwee, ini adalah cerita bohong, sebab perjodohan ini terjadi setelah ayahnya meninggal. Bila ayahnya masih hidup, dia pasti tidak akan setuju."
Jawab Po Leng-hoi.
"Itu hanya pemikiranmu saja."
Kata Kwee Goan-cay. Wajah Po Leng-hoi mebjadi merah dan berkata.
"Kau pernah mendengar, Kang Guan-yang mengatakan bahwa dia hanya mempunyai seorang putri, kelak dia harus mencari seorang pemuda yang baik untuk menikahkan putrinya dan pemuda itu harus masuk ke dalam keluarganya."
"Aku juga ingat tapi waktu itu dia sedang mabuk, itu pun dia hanya mengatakannya satu kali."
Kata Kwee Goan-cay.
"Orang bila sudah mabuk kata-kata yang diucapkan adalah kata-kata yang sebenarnya, apakah kau lupa pepatah ini?"
"Mengapa kau juga tahu bila ibunya juga tidak setuju?"
"Bila dia menyetujui pernikahan ini, ibunya pasti akan hadir. Tapi sekarang ibunya pun tidak ada."
"Sebenarnya ibu mertua Hie Tiong-gwee yang baru ini tidak ada di Lok-yang atau memang tidak mau hadir?"
Tanya Coh Thian-su.
"Setelah Kang Guan-yang meninggal setengah bulan, istrinya mem-bawa abu suaminya pulang ke Soa-tang, kampung halamannya. Dari Lok-yang ke Soa-tang tidak begitu jauh juga tidak dekat, pulang pergi tidak perlu setengah bulan, bila ibunya menyetujui pernikahan ini, seharusnya dia sudah ada di sini."
"Kalau begitu, siapa yang mewakili pihak perempuan?"
Tanya Coh Thian-su.
"Pamannya yang mewakili tapi dia juga bukan adik kandung dari ibunya, hanya saudara sepupu saja."
Coh Thian-su pura-pura tidak tahu keadaan keluarga Kang Guan-yang, dia berkata.
"Artinya Kang Guan-yang bukan asli orang Lok-yang? Apakah mereka pindah ke sini sudah lama?"
"Hiat-kun mengatakan waktu dia berumur 3 tahun sudah pindah ke Lok-yang, sekarang tinggal di Lok-yang sudah 16 tahun tapi tidak pernah pulang kampung."
"Kalau begitu Kang hujin membawa abu suaminya pulang memang sudah sepantasnya, sebab sudah lama meninggalkan kampung halaman. Begitu pulang pasti banyak teman dan sanak saudara yang berkunjung, mungkin juga harus menyelesaikan banyak masalah"
"Hiat-kun mengatakan, di desa ayahnya sudah tidak punya keluarga lagi."
Kata Po Leng-hoi.
"Mungkin ibunya juga tidak tahu bahwa Hie Tayhiap dengan terburu-buru akan menikahi putrinya, sebelum dia pulang kampung, hari TT pernikahan putrinya belum ditentukan."
Kata Kwee Goan-cay.
"Aku juga baru tahu sebulan yang lalu, tapi Tayhiap lebih banyak pengalaman. Walau bagaimana pun bila sudah lama tidak pulang akan tertinggal banyak hal, apalagi dia harus membereskan abu suaminya dulu."
Walaupun orang yang dicintai oleh Kwee Goan-cay sudah menjadi istri gurunya, tapi dia tetap hormat kepada gurunya, juga tidak mau orang lain menyangka Hiat-kun menikah dengan Hie Tiong-gwee karena harta dan kekuasaan.
Pada saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar suara alunan musik dan tandu pengantin perempuan ternyata sudah datang.
Tamu-tamu di taman bunga tampak sangat ribut karena ingin melihat pengantin.
"Coh Tayhiap, apakah kau ingin melihat pengantinnya?"
Tanya Po Leng-hoi.
"Pengantin perempuan adalah si Cantik dari Lok-yang, aku harus melihatnya."
Kata Coh Thian-su tertawa. Po Leng-hoi tertawa kecut dan berkata.
"Kalau begitu, kita ramai-ramai ke sana. Kwo Toako apakah kau tidak mau ikut melihat gurumu dan istrinya mengikat janji?"
Kwee Goan-cay juga tertawa kecut dan berkata.
"Bila kau ingin pergi, aku akan menemanimu."
Hal yang lebih diperlihatkan oleh Coh Thian-su adalah apakah Yu Yong sudah datang atau belum. Maka dia bertanya pada Kwee Goan-cay.
"Orang seperti dia, bila sudah datang pasti aku langsung tahu, sekarang mungkin dia belum sampai."
Kata Kwee Goan-cay. Coh Thian-su mengerutkan dahi.
"Sudah waktunya pengantin bersembahyang, tapi dia belum sampai juga"
Tanya Kwee Goan-cay.
"Po Toako, mengapa kau bisa tahu Yu Yong akan datang hari ini?"
"Gurumu sudah menitipkan 4 undangan untuk It Piau cinjin."
It Piau cinjin sudah hampir berusia 70 tahun, sedang ketiga muridnya sangat terkenal di dunia persilatan.
Apalagi murid tertuanya yang bernama Yu Yong, dia sangat dihormati dan disegani oleh orang-orang persilatan.
Mamanya hanya berada di bawah nama Hie Tiong-gwee, sedangkan Hie Tiong-gwee dan It Piau cinjin memiliki status dan derajat yang sama, oleh karena itu undangannya ada 4 buah.
Demi menghormati It Piau cinjin, semua undangan ditujukan kepada It Piau cinjin.
"Empat buah undangan sudah diantar kesana oleh orang, apakah mereka akan datang, kita pun tidak tahu. Walaupun hanya datang seorang murid saja, Hie Tiong-gwee tantu akan merasa senang, apalagi bila Yu Yong yang datang."
Kata Kwee Goan-cay.
"Gurumu tidak tahu tapi ayahku tahu, dia sudah menitipkan kabar kepada ayah, dia akan mewakili gurunya untuk memberi selamat kepada Hie fiong-gwee, dia pun akan mengunjungi ayahku."
Kata Po Leng-hoi. Kata Coh Thian-su.
"Kata-kata Yu Yong biasanya bisa dipegang, bila dia mengatakan hari ini datang, dia pasti akan tiba hari ini. Orangnya sangat kalem jarang berbuat tidak sopan, tapi bila ingin memberi selamat, mengapa sekarang datang terlambat?"
"Kau tidak perlu khawatir kepada Yu Yong, bila dia mengatakan datang, dia pasti akan datang. Kita terlambat sedikit mendengar cerita Hui-thian-sin-liong pun tidak apa."
"Bila sekarang dia sudah datang, kita pun tidak ada waktu untuk mendengar ceritanya."
"Benar, mari kita melihat pengantin bersembahyang." -ooo0dw0ooo-B Gadis Penunggang Kuda Satu jam yang lalu, sewaktu Sin Kong-ta bercerita tentang Hui-thian-sin-liong, Yu Yong sedang dalam perjalanan ke Lok-yang. Dia mewakili gurunya datang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee, yang datang bersama dia masih ada 2 orang lagi. Yang satu bernama Bong Cong-kian, yang satu lagi adalah seorang perempuan bernama Leng Giok-yan. Mereka pun seperti Yu Yong mewakili perguruan mereka untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee. Bong Cong-kian dan Leng Giok-yan usianya hampir sama sekitar 20 tahun, Yu Yong sendiri sudah berumur 40 tahun, tapi Yu Yong senang berteman dengan anak muda. Dia dan Giok-yan masih ada ikatan saudara karena Leng Giok-yan dan Bong Cong-kian menganggap Yu Yong sebagai Toako mereka sehingga mereka terlihat akrab. Leng Giok-yan meminta agar Yu Yong menceritakan sebuah dongeng.
"Yu Toako, kau telah menceritakan mengenai pendekar-pendekar yang ada di Tiong-ciu, kami sudah tahu, tapi hal yang kami ingin tahu kau malah tidak menceritakannya"
"Kalian ingin tahu apa lagi?"
"Katanya Hui-thian-sin-liong dipaksa oleh Hie Tiong-gwee untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan, apakah itu benar?"
"Maaf, aku tidak tahu."
"Kau bohong, kau pasti tahu."
"Kenapa kau yakin bahwa aku pasti tahu hal ini?"
"Karena yang menjadi saksinya, salah satunya adalah gurumu, bagaimana kau bisa tidak tahu?"
"Bila guru tidak memberitahu aku, mana aku bisa tahu?"
"Aku tidak percaya. Yu Toako, kau jangan berbohong, jadi orang harus jujur, ini juga kata-katamu, apakah kau sudah lupa?"
Bong Cong-kian tertawa.
"Giok-yan, ingatlah. Yu Toako pernah mengatakan, bila berteman harus jujur, bila kau menghadapi musuh harus menggunakan segala cara. Ini yang dinamakan, bila bertemu orang terpelajar kita memakai musik, bila bertemu orang yang bukan terpelajar, kita memakai senjata."
"Benar,"
Kata Giok-yan.
"Katanya Yu Toako selalu menganggap kita adalah adik-adiknya, ternyata semua bohong belaka, teman pun bukan, dalam hatimu, kau menganggap kami adalah orang jahat."
Mereka berdua seperti menyanyi, Yu Yong tidak bisa 'bersembunyi' lagi, terpaksa dia berkata.
"Aku tidak bohong, aku tidak tahu mengapa Hui-thian-sin-liong bisa mengundurkan diri dari dunia persilatan, bila tentang pertarungan dengan Hie Tayhiap, guru pernah menceritakannya, tapi lebih baik kau jangan tanya."
"Mengapa?"
"Aku takut kalian tidak bisa menjaga rahasia."
Giok-yan dan Bong Cong-kian dengan berbarengan berkata.
"Kami akan menjaga rahasia."
Tapi Yu Yong tetap menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba Giok-yan tepuk tangan dan berkata.
"Kau tidak perlu memberitahu pun aku sudah tahu, bila sudah tiba di rumah Hie Tiong-gwee, aku akan mengatakan pada semua orang."
Yu Yong sangat terkejut dan berkata.
"Jangan sok pintar! Kau tahu apa!"
"Aku tahu bagaimana akhir dari pertarungan itu, yang kalah adalah Hie Tiong-gwee."
"Kau tahu dari mana?"
"Kau sendiri yang mengatakannya."
"Kapan aku pernah mengatakannya?"
"Baru saja. Kau bilang hasil akhir dari pertarungan itu bila diketahui oleh orang lain akan merusak nama seseorang. Hui-thian-sin-liong adalah orang jahat dan namanya juga tidak baik, bila pertarungan itu merusak nama seseorang, pasti bukan nama dia yang rusak. Yu Toako, kata-kata tadi sudah membuktikan kepada kami bahwa yang kalah adalah Hie Tayhiap, bila tidak mengapa bisa merusak namanya?"
Yu Yong tertawa.
"Kau sok pintar, ini pemaksaan namanya."
"Apakah Hui-thian-sin-liong yang kalah? Mengapa kau harus menjaga nama baiknya?"
"Aku pun tidak bilang bahwa Hui-thian-sin-liong yang kalah."
"Kalau begitu, siapa yang kalah? Baiklah, bila kau tidak mau memberitahu, aku akan bilang bahwa aku yang mengatakannya, aku ingin tahu apakah orang lain juga sependapat denganku."
Yu Yong menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Gadis nakal, aku tidak mempunyai cara lagi, baiklah aku akan memberitahumu yang aku tahu, tapi kau harus menjaga rahasia ini."
Giok-yan tertawa dan berkata.
"Baiklah, kebetulan di sini tidak ada orang, cepat katakan, walaupun nanti ada pedang di leherku, aku tidak akan mengatakannya kepada orang lain."
Yu Yong terlihat ragu-ragu, akhirnya dia berkata.
"Lebih baik aku bercerita pada waktu pulang saja, mari kita segera ke sana memberi selamat. Pengantin perempuannya adalah si Cantik dari Lok-yang, kita harus melihat mereka bersembahyang."
"Biasanya waktu sembahyang adalah siang, apakah benar?"
"Benar, kecuali di tanggalan tercatat bahwa siang hari tidak baik untuk sembahyang."
"Apakah kita harus tiba di sana sebelum siang?"
Tanya Giok-yan. Ini adalah pesan Yu Yong dia harus mengakuinya.
"Masih ada l jam lagi. Ini adalah tempat yang datar dan jalan yang sering aku lewati menuju rumah keluarga Hie, sebentar lagi kita akan riba, apakah kau takut tidak dapat melihat pengantin bersembahyang?"
Yu Yong tidak dapat berkata apa-apa lagi, lalu bercerita.
"Sebenarnya pertarungan di Siong-san, mereka hanya bertarung setengah saja..."
Yu Yong hanya mengatakan 2 kalimat, tiba-tiba terdengar suara kuda berlari dengan cepat, berlari ke arah mereka.
Yu Yong berhenti berbicara.
Penunggang kuda itu berbaju hitam memakai topi hitam yang lebar, kepalanya ditutup oleh kain tipis berwarna hitam hingga tidak terlihat wajahnya, hanya terlihat sepasanga matanya yang bersorot tajam.
Jalan di gunung sangat sempit dan terjal, bila tidak hati-hati, kuda dan orang akan terjatuh Yu Yong cepat-cepat kepinggir menghindar, tapi Leng Giok-yan dan Bong Cong-kian tidak sempat menghindar.
Mereka masih sangat muda.
Melihat orang yang tidak sopan, mereka jadi marah, walau tadi mereka bisa menghindar mereka pun tidak akan mau, mengalah, apalagi saat ini mereka tidak sempat menghindar.
Bong Cong-kian berteriak dan telapak tangannya mendorong kuda, jurus yang dipakainya adalah ilmu silat Kun-lun, gerakannya tidak memukul, hanya mendorong kuda itu, tapi bisa mencegah kuda terus berlari.
Kepandaian Giok-yan tidak sehebat Bong Cong-kian, dia mencabut pedang, bersiap-siap kalau memang dia terpaksa harus menusuk mati kuda itu.
Dalam keadaan kritis seperti ini, kuda si baju hitam ternyata dapat meloncat sangat tinggi melewati kepala mereka.
Si baju hitam berlari lebih kencang lagi, ternyata dia bisa membawa kudanya berlari melewati kepala mereka, ketrampilannya sangat tinggi.
Tapi yang membuat Yu Yong terkejut adalah bukan cara berkudanya melainkan ketingggian ilmu silatnya.
Karena pada saat dia melewati kepala mereka, pedang Giok-yan sudah melayang ke atas.
Lebih-lebih Bong Cong-kian, telapak tangannya ternyata tidak bisa menghentikan larinya kuda, malah dia sendiri yang terjatuh dari kudanya.
Dua hal ini terjadi dalam sekejap mata, mereka masih terbengong-bengong, tapi Yu Yong sudah melihat pedang Giok-yan terlepas karena ayunan pecut dari si baju hitam dan pada saat yang sama pecutnya juga menggetarkan tubuh Bong Cong-kian sehingga terjatuh dari kudanya.
Yu Yong sangat terkejut, dia segera turun dari kudanya dan menolong Bong Cong-Kiam-tapi sudah terlambat, kak) Bong Cong-kian sudah berada di atas tanah tapi dia tidak jatuh "Bagaimana keadaanmu?
Tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, aku seperti diangkat kemudian diturunkan lagi, sangat aneh."
Yu Yong memegang nadinya Bong Cong-kian untuk memeriksa, untung ternyata tidak terluka, hati Yu Yong menjadi tenang.
Giok-yan mengambil kembali pedangnya yang terjatuh, kemarahan membuat wajahnya menjadi merah dan berkata.
"Aku tidak pernah menderita kerugian sebesar ini, aku juga belum pernah melihat orang semacam itu, Yu Toako, kau benar-benar..."
Yu Yong tertawa.
"Aku benar-benar apa?"
Dengan marah Giok-yan berkata.
"Kau pengecut, melihat adik-adikmu dihina oleh orang lain, kau tidak mau membantu kami."
Yu Yong tertawa kecut.
"Jangankan membantu kalian dengan kemampuan yang kumiliki sekarang apa bisa mengalahkan dia, apalagi dia tidak menghina kalian."
Giok-yan masih marah.
"Dia menjatuhkan pedangku, Bong-ko juga terjatuh dari kuda, apakah hal itu masih dibilang tidak menghina?"
Bong Cong-kian berkata.
"Apakah kau ingin meminta Cianpwee dari keluarga Hie atau Cianpwee lainnya untuk bertarung dengan orang itu? Aku pikir lebih baik kau jangan cari gara-gara."
Giok-yan lebih marah lagi.
"Kau dan aku sama-sama sudah dirugikan, kau tidak berani membalas malah balik memarahiku, kau pengecut, aku tidak mau bicara lagi denganmu."
Giok-yan tidak tahu bahwa Yu Yong dan Bong Cong-kian mencurigai orang itu.
Bong Cong-kian dan Leng Giok-yan walau belum menikah tapi mereka adalah sepasang kekasih.
Pada saat Bong Cong-kian sedang membujuk, tiba-tiba terdengar lagi suara derap kaki kuda yang lebih kencang dari derap kuda tadi.
Kali ini mereka bertiga sudah membuat persiapan, Yu Yong dan Bong Cong-kian sudah berada di pinggir jalan, begitu pula dengan Giok-yan.
Pada saat Giok-yan sudah berada di pinggir jalan, orang yang menunggang kuda sudah terlihat wajahnya, ternyata penunggang kudanya adalah seorang gadis yang lebih muda dari dia.
Si gadis berteriak.
"Wie Toako, tunggu....!"
Pikir Giok-yan, 'Pemuda yang baru lewat tadi, pasti orang yang dicari oleh gadis itu.' Tenaga dalam gadis itu lumayan tinggi sebab suara teriakannya tidak besar tapi sudah menggetarkan gunung-gunung di sekelilingnya Mereka adalah orang dunia persilatan, mereka tahu bahwa ini adalah 'ilmu pengantar suara', dalam jarak 2 hingga 3 lie orang akan mendengar suara ini dengan jelas.
Walaupun dari jauh masih terlihat sosok si baju hitam tapi dia tidak menjawab, dengan kepandaiannya yang begitu tinggi, pasti dia bisa mendengar tapi dia tidak menjawab.
Si gadis itu tampak tergesa-gesa, dia berteriak lagi.
"Walaupun kau akan ke rumah Hie, berhentilah dulu, dengarkan kata-kataku!"
Orang itu ternyata akan pergi ke rumah Hie juga, rupanya si baju hitam adalah kekasih si gadis.
Orangnya begitu kasar mengapa mempunyai kekasih yang begitu cantik dan dia tidak mau mendengar kata-kata si gadis, benar-benar sangat aneh.
Tiba-tiba terdengar suara kuda yang meringkik, Bong Cong-kian melihat si gadis terjatuh dari kudanya.
Kudanya pun ikut terguling ke bawah gunung dan tidak bergerak lagi.
Yu Yong sudah melihat dengan jelas.
Mereka bertiga segera turun dari gunung, Giok-yan paling depan dan Yu Yong paling belakang.
Walaupun jalan gunung berliku-liku tapi si gadis tetap berlari dengan cepat, karena Yu Yong berjalan paling belakang dia tidak bisa melihat dengan jelas.
Dia melihat si gadis makin dekat dengan si baju hitam, bila jalan itu lurus, paling membutuhkan beberapa ratus langkah lagi.
Kuda yang ditunggangi oleh gadis itu sudah terguling mati tapi si gadis terbang seperti burung.
Mengapa kuda itu bisa mati?
Yu Yong tidak melihat tapi dia sudah dapat menduga.
Itu bukan karena kudanya sakit atau kelelahan melainkan karena senjata rahasia dari si baju hitam.
Senjata rahasianya bukan pisau atau panah, mungkin batu kecil atau koin.
Ini adalah dugaan Yu Yong.
Dalam jarak ratusan langkah dengan batu kecil bisa membuat kuda mati dan harus tepat pada sasaran, tentu membutuhkan tenaga dalam yang tinggi, dia berpikir, 10 tahun lagi pun belum tentu dia bisa mencapai kepandaian setinggi itu.
Giok-yan tidak melihat jelas dia pun tidak bisa melihat si baju hitam dengan jelas, apa yang sudah terjadi di sana.
Giok-yan berteriak.
"Mari kita tolong gadis itu, dia terkena perangkap orang jahat itu!"
Dia berlari kemudian disusul oleh Bong Cong-kian, Yu Yong tidak tahu apakah gadis itu terluka atau tidak.
Tapi dia yakin si baju hitam bukan orang jahat, dia tidak membunuh Giok-yan dan Bong Cong-kian, apalagi gadis itu adalah temannya.
Dia menggunakan batu untuk membunuh kudanya mungkin dia tidak mau dikejar oleh gadis itu.
Tapi kuda itu sangat bagus walau dia bukan orang jahat tapi tindakannya juga tidak benar, tiba-tiba dia teringat kepada seseorang.
Dia langsung gemetar.
"Apakah dia...apakah dia?"
Hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee, dia tidak berani berpikir lagi, dengan cepat dia mengejar Bong Cong-kian.
Giok-yan sudah tiba di tempat gadis itu, gadis itu tidak bergerak hanya tampak bengong.
"Cici, apakah kau terluka?"
Tanya Giok-yan.
"Apakah kau bertanya kepadaku?"
Gadis itu balik bertanya. Giok-yan tertawa.
"Di sini hanya ada aku dan dirimu, yang aku tanya pasti dirimu."
Giok-yan sudah melihat bahwa gadis itu tidak terluka.
"Terluka? Mengapa aku bisa terluka?"
Si gadis malah bertanya seperti itu.
"Syukurlah, kau tidak terluka. Tidak kusangka kepandaianmu begitu tinggi."
Kata Giok-yan.
"Mengapa kau tahu kepandaianku tinggi?"
Tanya gadis itu.
"Aku bisa menebak pada saat kudamu terkena oleh senjata rahasia"
"Benar, batu kecil itu mengenai kepala kudaku, dan langsung mati. Apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
Sepertinya dia tidak suka Giok-yan banyak bertanya Karena Giok-yan tidak bisa melihat wajahnya, dia masih bertanya.
"Apakah ini adalah ilmu sentilan jari? Aku pernah mendengarnya tapi belum pernah melihat. Cici, umurmu dan umurku hampir sama, ilmu sentilan jari orang jahat itu begitu hebat dan bisa mengenai kudamu, ualaupun kepandaianmu tidak sehebat dia, itu sudah membuatku kagum."
"Mengapa kau tahu dia orang jahat? Dan mengapa kau tahu dia tidak akan melukaiku?"
"Dia tidak tahu aturan, orang seperti itu apakah bukan orang jahat? Cici, kau terlalu baik, kudamu pun kuda yang bagus, walaupun dia tidak sengaja melukaimu dan membunuh kudamu, kau harus membencinya."
Giok-yan sebenarnya bukan gadis yang cerewet, tapi dia sering mengasihani orang.
Giok-yan juga bukan gadis bodoh.
Dia pun seperti Yu Yong bisa menebak bahwa si baju hitam adalah kekasih gadis itu.
Tapi di mata Giok-yan si baju hitam adalah orang jahat.
Karena itu Giok-yan menasehati gadis itu dan berkata.
"Cici, aku tidak tahu apakah dia itu temanmu? Lebih baik jangan berteman lagi dengan orang seperti itu."
"Aku tidak mau dengar lagi kata-katamu yang tidak pantas. Aku lunya mau tanya, mengapa kau tahu dia itu orang jahat?"
Giok-yan selalu dipuji orang, dia selalu senang dengan kata-kata pujian, tapi sekarang dia dibentak oleh gadis itu. Wajahnya langsung menjadi merah, dengan tertawa dingin Giok-yan berkata.
"Kalau bukan orang jahat memangnya kenapa? Aku hanya menasehati mu, bila kau menganggap dia barang kesayanganmu, terserah."
Tadinya dia ingin mengatakan kekasih tapi takut melukai hati gadis itu maka dia mengubah kata "kekasih' menjadi 'barang kesayangan'.
Pada saat itu Bong Cong-kian dan Yu Yong sudah tiba di tempat itu, tapi mereka tidak bicara.
Bong Cong-kian dengan isyarat mata memberitahu kepada Giok-yan agar jangan banyak bertanya.
Dengan dingin gadis itu bertanya.
"Dia siapa? Apa kalian tahu?"
Dia menunjuk Bong Cong-kian dan berkata.
"Walaupun tidak begitu jelas, tapi aku sudah dengar kalian seperti sedang membicarakan Hie Tiong-gwee, kau masih membohongiku tidak kenal dengannya?"
Bong Cong-kian menjawab.
"Kami hanya menebaknya, siapa dia sebenarnya tidak ada yang tahu."
Giok-yan tampak marah, dia sudah lupa bahwa tadi dia dan Bong Cong-kian sedang mengobrol apa.
Dia memberhentikan kuda berhenti di sisi gadis itu dan mendekatinya.
Giok-yan berasal dari perkumpulan Ceng-seng, pedang Ceng-seng sangat cepat dan ganas, segera pedangnya dikeluarkan dari sarungnya tapi belum sempat digerakan, sudah lepas dari tangannya.
Sekarang Giok-yan lebih rugi lagi karena gadis itu sudah mendorongnya hingga terjatuh dari kuda.
Yu Yong dan Bong Cong-kian sangat terkejut, mereka menghampiri tempat Giok-yan jatuh, tapi gadis itu sudah merebut dan menunggang kuda Giok-yan pergi.
Mereka tidak tahu apakah Giok-yan terluka, karena itu mereka tidak bisa mengejar gadis itu.
Giok-yan meloncat dan marah.
"Aku kasihan padanya, tapi dia malah curang, benar-benar siluman."
Angin mengantar suara tawa gadis itu, dia berkata.
"Nona, terima kasih untuk kebaikanmu, kebetulan aku membutukan seekor kuda. Di antara kalian bertiga hanya kau yang perempuan, aku malu mendorong laki-laki jatuh dari kuda."
Tawanya belum habis tapi dia sudah pergi jauh.
Yu Yong dan Bong Cong-kian melihat Giok-yan memakai jurus Le-hi-ta-ting (ikan lehi melentik), mereka tahu dia tidak terluka "Ini adalah pelajaran buatmu, kelak bila bertemu orang jangan cerewet dan jangan sepenuh hati memberi pertolongan, apalagi dengan orang yang tidak kau kenal.
Jangan terlalu banyak mengurusi masalah orang."
Kata Bong Cong-kian.
"Aku dirugikan kau malah menertawakan, baiklah aku akan selalu mengingatnya, bila nanti bertemu orang lagi aku tidak akan bicara yang jujur, termasuk dirimu!"
Giok-yan berkata dengan marah. Bong Cong-kian tertawa dan berkata.
"Aku kan bukan orang lain, kau harus memanggilku koko."
"Aku tidak akan memanggilmu koko."
Bong Cong-kian seperti merayu anak kecil dan berkata.
"Kau sudah kehilangan kuda, kau boleh pakai kudaku, jadi jangan marah lagi."
Karena kuda hanya tinggal 2 ekor. Bong Cong-Kiam-tahu bahwa (iiok-yan tidak akan mau menunggang kuda berdua dengannya, jadi dia harus memberi kudanya kepada Giok-yan.
"Kalian jangan bertengkar lagi, kita harus mengejar waktu menuju rumah Hie Tayhiap."
Kaya Yu Yong. Giok-yan sudah tidak marah lagi dan berkata.
"Bong koko, kata-katamu tadi masuk akal juga."
Bong Cong-kian tertawa dan berkata.
"Kata-kataku memang masuk akal."
"Kau jangan memuji diri sendiri, aku merasa ada 2 kalimat yang masuk akal."
"Kalimat yang mana?"
"Bila bertemu dengan orang lain, jangan sepenuh hati."
"Dari kalimat ini, kau mengerti apa? Aku ingin tahu."
Kata Yu Yong.
"Aku sepenuh hati berbuat baik kepada gadis itu, menasehati agar jangan berteman dengan orang jahat. Sebaliknya dia merebut kudaku penyebabnya adalah aku sudah menghina kekasihnya."
"Akhirnya kau mengerti juga, biarpun menghadapi orang atau masalah apapun, setiap orang pasti tidak sama, pandangannya juga tidak snma."
Giok-yan berpikir, tiba-tiba dia membalikkan kepala dan bertanya kepada Bong Cong-kian.
"Siluman itu berkata kita sudah tahu siapa si jahat itu, apa maksudnya? Karena sebelum dia datang yang sedang kita obrolkan adalah tentang Hie Tiong-gwee bertarung dengan Hui-thian-sin-liong?"
"Betul, aku menebak si baju hitam itu adalah Hui-thian-sin-liong, apa pendapatmu?"
Kata Bong Cong-kian. Giok-yan terkejut dan berkata.
"Apakah betul si jahat itu Hui-thian-sin-liong atau bukan? Yang jelas dia pergi ke rumah Hie Tiong-gwee, apakah untuk memberi selamat atau membuat keributan. Yu Toako, kau belum menceritakan bagaimana akhir pertarungan mereka?"
"Tidak perlu cerita lagi, mari kita ke rumah Hie Tiong-gwee, kita ukan segera mengetahuinya."
Giok-yan sangat terkejut.
"Kalau begitu si baju hitam itu Hui-thian-sin-liong?"
"Aku juga belum pernah bertemu dengan Hui-thian-sin-liong. Marilah kita ke rumah Hie Tiong-gwee bila terlambat tidak bisa melihat mereka bersembahyang lagi."
"Aku berharap dia adalah Hui-thian-sin-liong. Biarpun dia mempunyai 3 kepala 6 tangan, kalau sudah sampai di rumah Hie Tiong-gwee dia pasti akan kalah."
Karena dia dirugikan oleh si baju hitam maka dia berharap Hie Tayhiap bisa mengalahkan dia Tapi mereka bertiga sudah tidak sempat melihat pengantin sembahyang karena mereka bertiga hanya mempunyai 2 ekor kuda.
Biarpun mereka tidak sempat melihat pengantin sembahyang tapi mereka masih bisa menonton sebuah sandiwara.
--ooo0dw0oo--C.
Hui-thian-sin-liong Suara musik sangat ramai.
Tandu sudah tiba.
Coh Thian-su, Kwee Goan-cay, Po Leng-hoi, mereka bertiga berada di dalam bergabung dengan orang-orang melihat pengantin.
Lebih-lebih Sin Kong-ta, dia sudah berada paling depan.
Dia menganggap dia adalah pengawal keluarga Hie, maka dengan suka rela dia menjaga keamanan di sana.
Pengantin perempuan dituntun oleh pamannya keluar dari tandu, walaupun wajahnya ditutup oleh kain merah tapi tubuhnya yang indah menarik perhatian para tamu.
Tamu laki-laki merasa iri kepada Hie Tiong-gwee, karena dalam pernikahannya yang kedua masih bisa mendapatkan si Cantik dari Lok-yang.
Tamu-tamu perempuan pun iri kepada pengantin perempuan karena istilah nya dia bisa terbang ke atas pohon untuk menjadi seekor burung Hong.
Dia bisa menikah dengan orang yang kaya, mempunyai kekuasaan juga orang terkenal di dunia persilatan.
Dalam hati Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay, mereka merasa tidak enak.
Apalagi Kwee Goan-cay, dia nanti akan menjadi canggung bertemu dengan orang yang sangat dia cintai, yang sekarang akan menjadi istri gurunya.
Begitu suara ribut berhenti, pengantin masuk ke dalam aula Tiba-tiba di belakang ada suara seorang gadis berteriak.
"Ibuku sudah meninggal, kalian menyuruhku berlutut kepada ibu baruku, terpaksa aku hanya berlutut pada papan sembahyang saja!"
Pengantin laki-laki Hie Tiong-gwee sangat marah, wajahnya sangat merah, karena yang berteriak tadi adalah putrinya Hie Kim-giauw yang berumur 16 tahun.
Semua tamu saling pandang, tidak ada yang berani bicara.
Tamu yang berada di dalam juga jelas mendengar suaranya Kemudian terdengar seorang perempuan tua berkata.
"Nona, harap menurut, bila tidak mau berlutut, berilah secangkir teh untuk ibu barumu."
Walaupun keluarga Hie bukan termasuk keluarga terpelajar tapi semenjak menjadi orang terkaya di Lok-yang, dia pun belajar aturan-aturan orang terpelajar.
Tadinya dia ingin putrinya bertemu dengan ibu barunya setelah selesai bersembahyang, sedang perempuan tua itu adalah pengasuh putrinya.
Hie Kim-giauw tidak mau berlutut bahkan memberi teh pun dia tidak sudi.
"Mengapa aku harus memberi teh untuknya? Aku selalu memanggil-nya cici Hiat-kun, bukan ibu."
Hie Tiong-gwee sangat marah, tapi karena di sana banyak tamu, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kepala Hiat-kun menunduk lebih dalam lagi, membuat Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay sangat sedih.
Untung saja pembawa acara langsung berteriak.
"Musik! Musik!"
Suara musik segera menutupi suara ribut para tamu. Hiat-kun dituntun oleh pamannya menghampiri pengantin laki-laki, kemudian pamannya berkata.
"Hie Tayhiap, aku serahkan Hiat-kun, keponakanku kepadamu."
Pembawa acara berteriak lagi.
"Satu Pai... kepada bumi dan langit..."
Dua huruf terakhir belum sempat diucapkan sudah terdengar suara orang yang berteriak seperti guntur.
"Nanti dulu!"
Suaranya menutupi suara musik, suara itu juga membuat telinga tamu-tamu mendenging.
Tamu-tamu yang berada di dalam dan di luar aula seperti merasakan ada gelombang yang mendorong mereka ke pinggir.
Seseorang telah masuk ke dalam aula, berjalan mendekati pengantin laki-laki dan perempuan.
Dia memakai topi yang berpinggiran lebar, memakai jubah hitam.
Wajahnya ditutupi oleh sehelai kain, hanya terlihat sepasang matanya yang menyorot tajam.
Pengantin laki-laki menjadi terkesima, tampak dia sangat marah tapi begitu dia melihat sepasang mata si baju hitam, dia langsung merasa gentar.
Tangan yang sudah dikeluarkan langsung menarik pengantin perempuan ke belakangnya Tiba-tiba ada 2 orang langsung menyerang.
Orang yang menyerang pertama bernama Thiat Leng-hu, dan yang lainnya bernama Ong Tian-eng.
Thiat Leng-hu penampilannya seperti namanya, bertubuh kuat dan bertenaga besi.
Ong Tian-eng bertubuh kurus kering dan terlihat orangnya ramah dan mempunyai tenaga dalam yang kuat, serangannya pun sangat kejam.
Dia cukup terkenal di dunia persilatan.
Sambil menyerang Ong Tian-eng dengan suara kecil dan lembut berkata.
"Hari ini adalah hari pernikahan Hie Tayhiap, Tuan jangan membuat keonaran di sini."
Suara yang keluar cepat, tapi gerakannya ternyata lebih cepat.
Thiat Leng-hu sama sekali tidak bicara, tapi begitu dia bersuara sepasang telapak tangannya sudah mendorong si baju hitam.
Yang menjadi mak comblang adalah Tuan Kiam-ta, dia masih duduk di kursinya kemudian dia berdiri seperti ingin membantu tapi entah mengapa dia mengurungkan niatnya.
Bila dilihat dengan teliti, sepintas terlihat sangat tenang, tapi alis dan matanya sudah bergetar, apakah karena dia menganggap Thiat Leng-hu dan Ong Tian-eng sudah cukup kuat untuk menghadapi si baju hitam, ataukah di dalam hatinya dia merasa sedikit takut?
Tapi tidak ada yang memperhatikan perubahan wajahnya, padahal dia memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara tamu-tamu yang hadir, dan dia pun orang yang terkenal di dunia persilatan.
Semua orang memperhatikan si baju hitam, mereka ingin melihat dengan cara bagaimana si baju hitam mengatasi serangan dari kedua pesilat tangguh itu.
Akhir dari semua ini akan segera terlihat!
Tenaga telapak tangan Thiat Leng-hu sangat kuat, dia mampu memecahkan sebuah batu yang kokoh, sedang telapak tangan Ong Tian-eng menggunakan Pat-kwa-kun.
Ilmunya bisa membuat tubuh musuh tulang dan ototnya terlepas, begitu mereka mulai bergerak semua sudah tahu dan punya pikiran seperti itu.
Si baju hitam yang tidak tahu diri, bila dia dibanting oleh Thiat Leng-hu akan menjadi daging cincang, sedang otot dan tulangnya akan terlepas dari tubuhnya oleh Ong Tian-eng.
Mereka berpikir dan berpendapat secara singkat pertarungan akan selesai, tapi mereka tidak bisa menduga siapa yang akan menang.
Sekejap terlihat tubuh Thiat Leng-hu seperti pagoda besi sudah melayang keluar dari aula, terbanting ke bawah dan jatuh tepat di tangga, lalu terguling dari anak tangga ke 24 hingga ke anak tangga paling bawah.
Walaupun tidak menjadi daging cincang, tapi kepalanya sudah terluka, tubuhnya penuh dengan darah, tergeletak di bawah tidak bisa .
bergerak lagi.
Lain lagi dengan Ong Tian-eng Sepertinya Ong Tian-eng lebih bernasib baik, dia hanya seperti orang mabuk, dengan sempoyongan berjalan ke kiri dan ke kanan, menabrak beberapa orang kemudian berdiri lagi.
Sebenarnya luka yang diderita Ong Tian-eng lebih parah dari Thiat Leng-hu, dia biasa menggunakan tangan kosong, sekarang jari tangannya sudah putus tiga, berarti mulai sekarang telapak tangan kirinya sudah tidak bisa digunakan lagi.
Dia hanya bisa mengandalkan tangan kanannya, dia hanya memiliki kepandaian yang tersisa separuh.
Walau Thiat Leng-hu terluka parah, tapi dia hanya luka di luar.
Ong Tian-eng adalah pesilat terkenal, tapi tidak bisa melihat gerakan lawannya, tahu-tahu dia sudah terluka parah, hal itu membuat para tamu sangat terkejut dan sangat menyayangkan.
Orang-orang merasa kasihan kepadanya tapi di dalam hatinya berkata.
"Untung saja."
Sebab bukan tangannya yang hancur, dia hanya putus sebanyak Kecuali terkejut semua tamu menjadi terdiam.
Akhirnya ada orang yang berani berbicara, dia adalah wartawan berjalan Sin Kong-ta.
Dia bersembunyi di balik punggung orang yang tinggi besar dan kerkata.
"Siapa itu? Berani membuat keributan disini? Mengapa tidak herani memperlihatkan wajahmu?"
Sebetulnya semua orang juga ingin tahu tapi tidak ada seorang pun yang berani berbicara.
Pertanyaan ini memang tidak keterlaluan, tapi Sin Kong-ta malah bersembunyi di balik punggung orang lain.
Bila di tempat lain mungkin Sin Kong-ta tidak akan berbuat seperti itu, tapi di sini ada Hie Tayhiap dan Tuan Kiam-ta, mereka pun belum mengeluarkan serangan.
Pikirnya meskipun si baju hitam sangat lihai, tapi juga tidak akan bisa menandingi mereka berdua.
Sin Kong-ta hanya ingin mencari muka saja.
Dengan tertawa si baju hitam bertepuk tangan ke arah Sin Kong-ta "Kau siapa?
Apa kau pantas menanyakan diriku?"
Sekali lagi si baju hitam bertepuk tangan.
Orang yang berada di depan Sin Kong-ta merasa ada tenaga yang mendorong mereka, hingga mereka tidak tahan tergeser.
Mereka tergeser kedua arah hingga Sin Kong-ta terlihat, dia tidak bisa bersembunyi lagi.
Karena tubuhnya sudah terpental melewati kepala para tamu, terpental ke luar pintu.
Dia tidak terluka parah, hanya dua gigi depan terlepas dan kepalanya lecet-lecet.
Dengan tertawa dingin si baju hitam berkata.
"Aku paling benci dengan orang yang suka menjilat, karena kau ndak begitu jahat, aku hanya meminta 2 buah gigimu tapi kau harus ingat, menjadi orang jangan terlalu banyak bicara !"
Di luar aula masih banyak orang, tentu saja mereka bisa melihat dengan jelas keadaan Sin Kong-ta.
Orang berbaju hitam itu bisa langsung menghajar orang yang memang harus dihajar.
Dia menghukum orang dengan sangat tepat, walau hanya meminta dua buah gigi depan.
Kepandaiannya benar-benar sangat mengagumkan, setelah menghajar Sin Kong-ta, dia langsung membuka topi dan tutup wajahnya, memperlihatkan wajah aslinya Kali ini orang-orang terkejut bukan karena ilmunya melainkan karena usianya.
Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan.
Walaupun di sudut dahinya ada luka bekas pisau tapi itu tidak menganggu penampilannya, umurnya tidak lebih dari 25 tahun.
Dalam hati para tamu timbul pikiran, Biasanya orang yang memiliki keahlian silat yang begitu tinggi, pasti usianya sekitar 40 tahun keatas.
Sedang pemuda ini begitu muda usianya, Apakah semenjak dalam kandungan ibunya dia sudah berlatih silat?
Bila tidak mana mungkin dia bisa memiliki tenaga dalam yang begitu hebat?
"Kau benar-benar sudah datang,"
Kata Hie Tiong-gwee, dia sudah tidak begitu terkejut lagi.
"Hui-thian-sin-Hong, kau datang kemari ada urusan apa?"
Yang bicara adalah Tuan Kiam-ta, dia pun sudah tidak begitu terkejut lagi.
"Wie Thian-hoan hari ini datang untuk menepati janji,"
Jawabnya Hui-thian-sin-liong, 4 buah kata yang keluar dari mulut Kiam-ta, membuat para tamu menjadi terkejut.
Sebelumnya tidak pernah ada orang yang melihat dirinya.
Sekarang setelah melihat, mereka tahu bahwa yang dikatakan siluman besar itu ternyata adalah seorang pemuda yang begitu tampan, semua tamu menjadi terpaku.
Hui-thian-sin-liong berhadapan dengan Tuan Kiam-ta, dia berkata.
"Tuan Kiam-ta pasti tahu, mengapa aku datang kemari?"
Tiga tahun yang lalu Hui-thian-sin-liong dikalahkan oleh Hie Tiong-gwee dan memaksanya mengundurkan diri dari dunia perseliatan, kabar ini sudah tersebar ke mana-mana.
Yang sudah tahu kabar ini mengira bahwa Hui-thian-sin-liong datang untuk membalas dendam.
Walaupun mereka takut terhadap ilmu silat Hui-thian-sin-liong tapi begitu tahu bahwa dia pernah dikalahkan oleh Hie Tiong-gwee, maka mereka pun menjadi lebih tenang.
Apalagi di sana masih ada Tuan Kiam-ta.
Keluarga Kiam adalah keluarga ahli silat, Tuan Kiam-ta nama aslinya adalah Kian-yan Adiknya bernama Ih San, sifat mereka tidak sama.
Sang kakak terjun ke dunia persilatan tapi adiknya lebih senang berada di rumah dan jarang berkelana di dunia persilatan.
Mereka berlatih ilmu silat yang berbeda dan sudah mencapai tingkat kesempurnaan.
Ilmu yang dilatih oleh Kian-yan adalah ilmu telapak tangan kanan yang bersifat keras (Yang) dan telapak tangan kiri bersifat lembut (Ini).
Sedang Ih-san mempunyai tenaga dalam yang sangat hebat, tapi orang-orang hanya tahu kehebatan ilmu Kian-yan dan belum pernah melihat ilmu silat Ih-san.
Karena kakak beradik ini terkenal di dunia persilatan maka orang-orang menyebutnya mereka Tuan Kiam-ta (Kiam pertama) dan Tuan Kiam-ji (Kiam kedua), tapi orang-orang lebih hormat pada Tuan Kiam-ta.
Keluarga Hie mengira karena di sana ada Tuan Kiam-ta dan dia yang menjadi comblang Hie Tiong-gwee maka mereka yakin Tuan Kiam-ta akan memihak kepada Hie Tiong-gwee.
Kemudian mereka bertanya kepada Hie Tiong-gwee.
"Hie Tayhiap, apakah tuan sudah berjanji sesuatu padanya pada hari ini?"
Hie Tiong-gwee tidak menjawab, dia hanya tertawa kecut, menggelengkan kepala. Ada seseorang yang bertanya.
"Hei, Orang she Wie, kau mempunyai janji dengan siapa?"
Mereka sengaja bertanya demikian hanya karena ingin melihat Hui-thian-sin-liong bertarung dengan Hie Tiong-gwee.
Tapi Hui-thian-sin-liong tidak menghiraukan mereka, dia tetap berkata kepada Tuan Kiam-ta.
"Tuan Kiam-ta, saat itu aku sudah berjanji dengan Hie Tiong-gwee kau yang menjadi saksi, kau tidak menganggap aku omong kosong bukan?"
Tuan Kiam-ta terlihat sangat bingung, dia menggaruk-garuk kepalanya dan berkata.
"Benar, perjanjiannya tidak ada jangka waktu, kapan pun kau bisa datang untuk menagihnya tapi mengapa harus hari ini?"
Masih banyak yang ingin dia tanyakan tapi dia tidak bisa berkata lagi.
Ada 3 orang yang tiba-tiba keluar mewakili dia bicara.
Yang pertama adalah Bwee Ceng-hong, yang satu lagi adalah murid Siauw-lim bernama Hun Sim-boh, dan yang satu lagi adalah murid Bu-tong bernama Yap Jin-tong.
Mereka bertiga adalah teman baik Hie Tiong-gwee.
"Benar, hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee, kau sengaja memilih hari ini, kau benar-benar keterlaluan!"
Seru Bwee Ceng-hong.
"Benar, biar ada masalah apapun harus menunggu hingga Hie Tiong-gwee habis sembahyang. Kau memaksa Hie Tiong-gwee menepati janji, walau pun Hie Tiong-gwee mengijinkan tapi keluarga Hie tidak akan membiarkanmu membuat keributan."
Walaupun Hun Sim-boh adalah murid Siauw-lim tapi dia adalah seorang yang bertemperamen tinggi.
"Aku tidak tahu kalian mempunyai perjanjian apa, tapi demi para tamu, pikirlah sekali lagi apakah bisa mengganti waktunya?"
Tanya Yap Jin-tong, orangnya ramah seperti namanya.
Walaupun dia tidak suka ada yang membuat keribuatan tapi dia masih bisa menahan diri.
Walaupun mereka bertiga mengatakan dengan cara yang berbeda, tapi Hui-thian-sin-liong tidak meladeni mereka Hui-thian-sin-liong bertanya kepada Tuan Kiam-ta.
"Apakah Ko Tan taysu dan It Piau cinjin sudah datang?"
Jawab Kiam-ta.
"Mereka tidak akan datang."
"Kalau begitu hanya ada seorang saksi/juri."
"Benar, aku adalah comblang mereka, aku harus hadir."
Tuan Kiam-ta tampak sangat tenang, Hun Sim-boh sudah merasa bahwa Tuan Kiam-ta sangat takut dan tidak dapat mencegah hal buruk yang bisa terjadi.
Yang tidak disangka oleh Hun Sim-boh adalah Tuan Kiam-ta juga takut kepada Hui-thian-sin-liong, dia seperti disiram oleh seember air dingin, tidak berani mengubar amarah dan hanya diam saja.
"Tuan Kiam-ta, di dunia persilatan namamu sangat terkenal, aku menghormati tuan seperti aku menghormati Ko Tan taysu dan It Piau cinjin, karena itu aku setuju kalian menjadi saksi/juri,"
Kata Hui-thian-sin-liong. Tuan Kiam-ta tertawa kecut dan berkata.
"Terima kasih."
Dia begitu sopan, membuat para tamu kembali terkejut. Tuan Kiam-ta sungguh keterlaluan, tapi tidak ada yang berani bicara. Kata Hui-thian-sin-liong.
"Yang menjadi saksi/juri tidak boleh memihak kepada siapapun, aku percaya kau tidak akan seperti itu, walaupun kau menjadi comblang bagi mereka."
Tanya Kiam-ta.
"Kalau begitu, kau menepati janji datang hari ini, apakah aku boleh bertanya..."
"Kau tidak perlu bertanya apa-apa lagi, aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah aku mempunyai hak kemari?"
Tuan Kiam-ta dengan terpaksa menjawab.
"Ya."
"Kalau begitu aku beritahu kepadamu bahwa aku memang sengaja datang hari ini, karena It Piau cinjin dan Ko Tan taysu tidak berada di sini."
Kata Kiam-ta.
"Aku hanya meminta kau jangan datang hari ini, bila kau tidak mau, baiklah aku akan kembali menjadi saksi lagi pada pertarungan kali ini." 'Pertarungan' kata ini yang keluar dari mulut Kiam-ta, berarti 3 tahun yang lalu memang sudah terjadi pertarungan. Dalam hati para tamu berpikir, 'Hui-thian-sin-liong datang untuk balas dendam.' Mereka merasa senang sekaligus khawatir. Alasan tamu-tamu itu senang karena mereka bisa menyaksikan kembali pertarungan 3 tahun yang lalu dan sekarang mereka bisa melihat dengan jelas. Tapi tamu-tamu juga ada yang khawatir dan takut apakah Hie Tayhiap masih bisa mengalahkan Hui-thian-sin-liong? Mereka merasa ragu dan curiga dengan kabar yang didengar selama ini, apakah kabar itu benar atau hanya isapan jempol belaka. Bila dalam pertarungan kali itu yang kalah adalah benar Hui-thian-sin-liong dan dia sudah bersumpah akan mengundurkan diri dari dunia persilatan, dia tidak akan berani datang pada hari pernikahan Hie Tayhiap dengan begitu terang-terangan. Dan yang menjadi saksi pertarungan itu yakni Tuan Kiam-ta pun tentu akan marah. Tapi Tuan Kiam-ta mengakui bahwa Hui-thian-sin-liong mempunyai hak memilih hari untuk menepati janjinya. Para tamu merasa bahwa pertarungan 3 tahun lalu yang kalah belum tentu Hui-thian-sin-liong. Setelah mendapat jawaban dari Tuan Kiam-ta, dia baru membalikkan kepalanya dan berkata.
"Sebenarnya perjanjian ini adalah antara aku dan Hie Tiong-gwee, tapi jika keluarganya tidak suka dan ingin membalas dendam, maka aku akan mengikuti keinginan mereka tapi walau bagaimanapun perjanjian antara aku dan Hie Tiong-gwee tidak akan terhapus begitu saja."
Ini artinya bahwa bila ada orang yang membantu Hie Tiong-gwee dalam pertarungan ini maka dia akan dinyatakan kalah.
Sorot mata Hui-thian-sin-liong dengan pelan melihat Bwee Ceng-hong dan Yap Jin-tong, akhirnya berhenti di tubuh Hun Sim-boh.
Hun Sim-boh hanya berkata.
"Aku tidak tahu perjanjian yang terjadi di antara kalian, tapi Hie Tiong-gwee adalah pengantin laki-laki, aku tidak mau dia diganggu..."
Hui-thian-sin-liong bertanya.
"Bila dia tidak mau diganggu, lalu apa maumu?"
Terpaksa Hun Sim-boh berkata.
"Apakah perjanjian itu bisa diwakili olehku?"
Hie Tiong-gwee langsung bicara.
"Perjanjian ini hanya antara aku dan Wie Thian-hoan, hidup atau mati aku yang akan menanggungnya, kebaikan teman-teman dan handai laulan, aku terima di dalam hati saja."
Para pendekar Tiong-ciu dan para tamu setelah mendengar ucapan Hie Tiong-gwee segera tepuk tangan, tapi setelah mendengar ucapan Hie Tiong-gwee sepertinya masalah yang terjadi sangat berat, mereka pun tampak khawatir.
Banyak orang yang berbisik-bisik.
"Perjanjian apakah itu? Bagaimana akhir dari pertarungan 3 tahun lalu? Mengapa sekarang mereka harus bertarung lagi?"
Mereka juga berharap bisa tahu lebih banyak lagi. Suara tepuk tangan segera berhenti, dengan pelan Hui-thian-sin-liong berkata.
"Tuan Kiam-ta, silahkan tuan jelaskan isi dari perjanjian yang kita sepakati ini, supaya para tamu tahu bahwa aku bukan datang ke tempat ini bukan tanpa sebab."
Tuan Kiam-ta mengangguk.
"Ini memang tugasku, tidak perlu Adik Wei yang memberitahu."
Di dalam hatinya dia berkata, 'Bila sekarang tidak menjelaskan dengan baik, Hie Tiong-gwee akan mendapat serangan dari Wie Thian-hoan.' Semua orang jadi terdiam, seolah-olah seperti lupa bernafas.
Demi menghindari gangguan dari keluarga Hie, maka Tuan Kiam-ta mulai menjelaskan.
"Tiga tahun yang lalu, pertarungan antara Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan terjadi di gunung Siong-san, mereka berdua setuju yang menjadi saksi/juri adalah 3 orang, mereka adalah It Piau cinjin, Ko Tan taysu dan aku. Mereka berjanji untuk bertarung sebanyak 3 ronde untuk menentukan siapa yang kalah dan yang menang."
Kiam-ta benar-benar menjelaskan dengan terperinci. Kiam-ta berhenti sebantar, dia seperti mengingat-ingat kejadian 3 tahun lalu.
"Lalu bagaimana dengan pertarungan mereka?"
Para tamu mulai penasaran.
"Yang pertama adalah menguji senjata rahasia, kedua adalah tangan kosong, dan yang ketiga adalah bertanding pedang. Tapi mereka mempunyai aturan yang berbeda. Pertarungannya bukan seperti 'kau menyerang aku menangkis'. Walaupun sudah terbagi menjadi 3 ronde pertandingan, dalam satu ronde pun bisa langsung berhenti, tapi mungkin juga bisa terjadi 6 ronde kalau belum ketahuan siapa yang menang atau kalah."
Senjata rahasia, beradu tangan kosong dan pedang, 3 ilmu ini merupakan kepandaian unggulan dari Hie Tiong-gwee.
Dalam hati para tamu berkata, 'Pasti Hie Tiong-gwee yang menang.' Begitu dijelaskan aturan pertandingan, para tamu malah merasa kebingungan.
Bwee Ceng-hong berkata.
"Mengapa aturannya begitu aneh? Apakah Tuan Kiam-ta bisa menjelaskannya."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Pertarungan ini terbagi menjadi dua bagian, yang satu menyerang yang satu lagi bertahan. Pertandingan pertama bila penyerang melancarkan serangan, yang diserang tidak boleh membalas. Bila pada pertandingan pertama yang diserang mati atau terluka oleh senjata rahasia, pertarungan ini tidak akan diteruskan, berarti orang yang menyerang yang menang. Kedua adalah pedang, yang menyerang menunggu saksi menghitung dari angka satu hingga sepuluh, dia hanya boleh menyerang 3 jurus, bila dia tidak dapat membunuh lawan, akan dilanjutkan ke babak berikutnya yaitu bertanding tangan kosong. Dalam bertanding tangan kosong kedua belah pihak hanya boleh satu kali menyerang, bila yang diserang bisa mengelak, artinya pertarungan ini sudah selesai. Ini hanya pertarungan pertama, bila tidak bisa langsung menentukan siapa yang kalah atau menang, pada pertarungan bagian kedua, yang tadi diserang sekarang menjadi penyerang, aturan masih seperti tadi, tapi tempat dan waktu ditentukan oleh dia. Bila dalam 3 kali pertarungan adalah seri, semua akan berakhir. Dalam pertarungan itu bila kedua belah pihak terluka, akan ditentukan oleh saksi, yang mendapat luka yang paling berat dia yang kalah."
Ini benar-benar pertarungan yang aneh tapi setiap babak pasti mengadu jiwa. Setelah mendengar cerita ini para tamu sangat terkejut dan takut. Kata Hun Sim-boh.
"Dalam pertandingan pertama yang jadi penyerang pasti Hui-thian-sin-liong."
Kata Hun Sim-boh Kata Tuan Kiam-ta.
"Sebaliknya, para saksi mengundi siapa yang menjadi penyerang tapi Wie Thian-hoan dengan rela mengalah, dia memberi kesempatan pada Hie Tiong-gwee untuk menjadi penyerang dulu."
Tuan Kiam-ta mengatakan yang sebenarnya, ini membuat keluarga Hie sangat terkejut dan wajah Hie Tiong-gwee langsung menjadi merah. Dengan sengaja Coh Thian-su bertanya.
"Jadi Wie Thian-hoan rela memberi kesempatan pada Hie Tiong-gwee? Dan Hie Tiong-gwee pun dengan senang hati menerimanya?"
Begitu selesai bicara, semua tamu tahu bahwa dia sedang mentertawakan Hie Tiong-gwee. Kali ini Hun Sim-boh tidak berani bicara lagi, hanya ada 2 hingga 3 orang yang berkata.
"Untuk memusnahkan orang jahat, tidak perlu sungkan-sungkan."
Coh Thian-su tertawa kemudian berkata.
"Apakah Wie Thian-hoan adalah orang jahat di dunia persilatan? Ini hanya omongan dari orang yang tidak bisa dipercaya. Mungkin Hie Tiong-gwee adalah pendekar tapi dia juga belum tentu begitu, apakah benar Tuan Kiam-ta?"
Kata-kata Coh Thian-su seperti membela Hui-thian-sin-liong, keluarga Hie jadi sangat tidak senang mendengarnya, tapi mereka hanya bisa menekan amarahnya, tidak berani bertindak.
Kebanyakan dari para tamu hanya ingin tahu hasil akhirnya.
Tuan Kiam-ta mulai bercerita.
"Pertarungan pertama adalah pertandingan senjata rahasia, aturannya hanya menyerang satu kali, tapi tidak melarang berapa banyak senjata rahasia yang boleh digunakan. Lawan hanya boleh menerima tidak boleh membalas."
Tanya Yap Jin-tong.
"Menyerang dan membalas, apa bedanya?"
"Bila membalas artinya menyerang balik, menyerang untuk bertahan artinya, kau boleh menggunakan tangan untuk menahan serangan senjata rahasia tapi tidak boleh balas menyerang balik, kau pun boleh menggunakan tenaga telapak tangan untuk memukul serangan senjata rahasia tapi hanya dalam jarak 3 meter, kau tidak boleh melukai lawan menggunakan tenaga dalam."
"Masuk akal juga."
Kata Hun Sim-boh sambil mengangguk.
"Tuan Kiam-ta, masih ada yang tertinggal."
Kata Hui-thian-sin-liong.
"Yang mana?"
"Bila dalam pertandingan senjata rahasia tapi kedua belah pihak tidak ada yang terluka, yang menjadi pemenang adalah yang tidak menggunakan tenaga telapak tangan untuk menahan senjata rahasia."
"Benar, hal ini diusulkan oleh Hie Tiong-gwee."
Kata Tuan Kiam-ta.
Tidak dapat dipungkiri lagi semua tamu sudah tahu maksud Hie Tiong-gwee, karena dia yang menjadi penyerang, dia sangat beruntung jika bisa mengelak dari senjata rahasia.
Tapi segera terpikir lagi, Hui-thian-sin-liong pun setuju dengan hal ini, artinya dia pun tidak menggunakan tenaga telapak tangan.
Benar juga.
Tuan Kiam-ta terus berkata.
"Pertama-tama, senjata rahasia yang dilepaskan oleh Hie Tiong-gwee ada 13 buah, tapi Wie Thian-hoan tidak menggunakan telapak tangannya untuk melencengkan arah senjata rahasia. Dia bisa menangkap dengan tangannya sebanyak 7 buah dan mengelak dari senjata itu sebanyak 3 buah, yang tiga lagi mengenai tubuhnya."
Biasanya senjata rahasia Hie Tiong-gwee sangat tepat pada sasaran dan lawan bisa langsung mati.
Tokoh di dunia persilatan yang bisa melepaskan senjata rahasia sebanyak 7 buah sudah sangat jarang, apalagi dia bisa melepaskan sekaligus sebanyak 13 buah, belum pernah ada orang yang mendengarnya.
Keluarga Hie mendengar ada 3 senjata rahasia yang mengenai tubuh lawan, mereka merasa bersyukur.
Tapi Kiam-ta berkata lagi.
"Walaupun ada 3 senjata rahasia yang mengenai tubuh Wie Thian-hoan, tapi bajunya tidak sobek."
Setelah habis bicara, para tamu menjadi ribut, ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya.
"Biasanya senjata rahasia Hie Tiong-gwee bisa menembus mengenai tulang, mengapa baju Hui-thian-sin-liong tidak sobek? Apakah dia memiliki ilmu hitam?"
Guru mereka tidak bisa menjawab hanya berkata.
"Itu bukan ilmu hitam, tapi entah ilmu silat apa, kita pun tidak tahu "
Coh Thian-su kebetulan berada di dekat mereka, dengan tersenyum dia berkata.
"Ilmu seperti ini dinamakan Cap-ie-cap-pwee-tiap (Menyentuh baju terjatuhkan 18 kali) Orang yang mengusai ilmu ini, bila tubuhnya dipukul oleh lawan, maka yang memukulnya yang akan jatuh terpental. Jatuhnya pun ada 18 cara, oleh karena itu dinamakan 'Cap-ie-cap-pwee-"Seharusnya yang jatuh adalah dia bukan?"
Kata orang itu.
"Benar, yang bisa melatih ilmu hingga seperti itu sudah sangat jarang, tapi kepandaian semacam ini ada yang lebih tinggi lagi tingkatnya, kalau ada orang yang menyentuh baju orang juga berlatih ilmu itu, pasti dia yang akan langsung jatuh Tapi apakah bisa membuat senjata rahasia sampai jatuh, aku tidak tahu."
Apakah Hui-thian-sin-liong mendengar perkataan Coh Thian-su, tidak ada yang tahu. Dengan tersenyum Hui-thian-sin-liong berkata kepada Tuan Kiam-ta.
"Tuan Kiam-ta, kau jangan memujiku terus, sebenarnya bajuku ada juga yang sobek."
Dia menggulung lengan bajunya memperlihatkan kepada Tuan Kiam-ta.
"Begitu aku terkena 3 buah senjata rahasianya, salah satunya telah membuat bolong bajuku, hanya saja lubangnya tidak lebih kecil dari ujung lanun. Belakangan aku baru mengetahuinya."
Senjata rahasia Hie Tiong-gwee lebih besar dari jarum, bila baju Hui-thian-sin-liong berlubang pasti bukan sebesar jarum.
Orang persilatan pasti sudah tahu apa penyebabnya.
Sebenarnya senjata rahasia Hie Tiong-gwee tidak mengenai tangan Hui-thian-sin-liong hanya karena tenaga dalam Hie Tiong-gwee sangat besar.
Salah satu senjata rahasia pasti mengenai bajunya dengan ringan sehingga kain bajunya ada sedikit rusak dan berlubang sebesar lubang jarum.
Ini membuktikan bahwa ilmu Hui-thian-sin-liong belum sempurna betul.
Kata Hui-thian-sin-liong.
"Demi pertarungan yang adil, aku sengaja mengenakan bajuku yang lama, harap saksi bisa memeriksanya dulu."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Terima kasih sudah mengingatkanku pada kesalahan yang telah kubuat, aku akan mengingatnya. Bila nantinya senjata rahasiamu tidak mengenai baju Hie Tayhiap dan tidak membuat bolong bajunya, kau yang akan kalah."
"Ini memang seperti yang kumaksud."
Kata Hui-thian-sin-liong. Dalam bayangan orang-orang Hui-thian-sin-liong adalah penjahat kelas kakap, sekarang banyak orang jadi bertanya-tanya.
"Apakah berita yang beredar tidak benar? sebab dia dengan Hie layhiap, dia terlihat lebih jujur."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Sekarang kita beralih kepada cerita pertarungan pedang. Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan 3 jurus serangan, tapi bajumu sama sekali tidak terkena sabetan pedangnya, apakah benar?"
"Ilmu pedang Hie Tiong-gwee sangat tinggi, aku masih bisa mengelak, itu pun sudah sangat beruntung."
Keluarga Hie sangat terkejut, sebab ilmu pedang Hie Tiong-gwee sangat tinggi, mengapa sampai baju Hui-thian-sin-liong pun tidak bisa kena? Pasti ilmu silat Hui-thian-sin-liong sangat tinggi."
Kata Hie Tiong-gwee.
"Caramu mengelak lebih cepat dari pedangku, kau tidak perlu memuji diri sendiri."
Dengan sungguh-sungguh Hui-thian-sin-liong berkata.
"Aku benar-benar kagum terhadap ilmu pedangmu, waktu itu bila kau mau langsung menusuk ke tubuhku, aku pasti akan terluka. Tapi sayang kau agak sedikit kurang baik memegang pedangnya, bila tenagamu dikurangi sedikit lagi maka jurus pedangmu akan lebih cepat dan akan membuatku terluka parah."
Para pesilat tahu bahwa Hie Tiong-gwee sebagai penyerang jadi dia berusaha membunuh Hui-thian-sin-liong dalam satu kali serangan sehingga tenaga dalam yang dikeluarkan sangat besar.
Pedang yang ringan berubah menjadi senjata yang berat, tapi kecepatannya pun berkurang.
Keluarga Hie mulai berpikir, 'Sekarang kau baru menunjukkan kesalahannya?
Padahal pertarungan kali itu bila kau menjadi penyerang, Hie Tiong-gwee pasti tidak mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan pedang."
Ada yang berkata.
"Semua orang sebenarnya ingin tahu cara Hie Tiong-gwee memainkan pedangnya, hal yang lain tidak perlu diberi komentar."
Kata Hui-thian-sin-liong.
"Hie Tayhiap mengira aku mengejeknya, karena itu aku harus menambah beberapa kata dari Tuan Kiam-ta, bahwa aku sangat mengagumi jurus pedang Hie Tiong-gwee."
"Ada yang tertinggal?"
Tanya Tuan Kiam-ta "Aku hanya menerima 2 setengah dari 3 jurus Hie Tiong-gwee."
Wajah Hie Tiong-gwee sudah sangat merah, dia berkata.
"Kau tidak perlu menutupi kekuranganku, sebenarnya aku sudah mengeluarkan 3 jurus."
Coh Thian-su tahu saat ini pasti mereka akan saling menyalahkan, maka dengan tertawa Coh Thian-su bertanya.
"Hie Tayhiap, katanya dia hanya menerima dua setengah dari 3 jurusmu, ini merupakan keberuntungan untukmu, biarkan saja dia terus bicara"
Kata Tuan Kiam-ta.
"Hari ini bila terjadi pertarungan hanya ada seorang saksi. Peraturan harus diperketat dan adil. Bila ada yang ingin tahu kejadian sebenarnya, aku akan bicara yang sebenarnya. Benar, Hie Tiong-gwee mengeluarkan 3 jurus untuk menyerang tapi pada saat masuk jurus ketiga, I lui-thian-sin-liong meloncat mundur dengan cepat, Hie Tiong-gwee tidak dapat menghentikan tubuhnya sehingga saat jurus yang ketiga baru Jillancarkan setengah, ujung pedang sudah menusuk ke dalam pohon. Karena Wie Thian-hoan berada di balik pohon, walaupun keadaan sudah seperti itu tapi Wie Thian-hoan tidak melanggar peraturan. Kalau Wie Niian-hoan mengatakan dua setengah jurus dan aku pun menyetujuinya. Bila nantinya dia mengeluarkan 3 jurus artinya dia yang kalah."
"Aku yang menentukan 3 jurus."
Kata Hie Tiong-gwee.
"Tidak bisa, aku tidak boleh mengambil keuntungan dari mu, karcna aku hanya menerima dua setengah jurus."
Kata Wie Thian-hoan.
"Tidak bisa harus tetap dihitung 3 jurus."
Sebenarnya itu merupakan keberuntungan bagi Hie Tiong-gwee, sekarang mereka sama-sama tidak mau mengambil keuntungan. Ada yang berpikir.
"Benar-benar, Hie Tiong-gwee adalah seorang pendekar."
"Kedua belah pihak saling mempertahankan pendapatnya, sehingga aku sulit untuk menutuskan."
Kata Tuan Kiam-ta. Kata Coh Thian-su.
"Tuan Kiam-ta, menurutku lebih baik kau menceritakan keadaan pertarungan itu, tidak perlu meributkan lagi dua setengah jurus atau 3 jurus."
"Bukankah cerita mengenai pertarungan pedang sudah habis? Hie liong-gwee menganggap dia sudah mengeluarkan 3 jurus, tapi dia tidak berhasil melukai lawannya."
Kata Hun Sim-boh. Dia tahu akhir pertarungan seperti ini akan dimenangkan oleh Hui-iliian-sin-liong, tapi dia juga berpikir Coh Thian-su tidak akan memihak kepada Hie Tiong-gwee.
"Kau bukan saksi mata, mengapa tahu Tuan Kiam-ta sudah selesai l>ercerita?"
Kata Coh Thian-su. Benar saja wajah Tuan Kiam-ta tampak malu, dia berkata.
"Betul, aku harus menceritakan semuanya agar tidak merugikan pihak mana pun. Walaupun mereka rela membiarkan jurus yang ketiga. IYdang Hie Tiong-gwee memang masuk kedalam pohon karena dia terlalu kuat mengeluarkan tenaga."
Sengaja Coh Thian-su bertanya.
"Lalu Hie Tiong-gwee sendiri bagaimana?"
"Kepalanya terbentur pohon, dan langsung benjol."
"Apakah mengeluarkan darah?"
"Sedikit."
Hie Tiong-gwee tampak sangat malu, wajahnya menjadi merah hingga ke telinga.
Sekarang semua orang tahu mengapa dia mengatakan sudah melancarkan 3 jurus, dia takut saksi mata mengatakan bahwa setengah jurus lagi adalah jurus yang memalukan.
"Sekarang sudah jelas, bahwa Hie Tiong-gwee mengeluarkan 3 jurus tapi tidak mengenai Wei Tian Shu, malah kepalanya sendiri mengeluarkan darah, dan dia sudah kalah, apakah benar Tuan Kiam-ta?"
"Benar."
"Pertarungan yang ketiga adalah beradu tenaga telapak tangan, kali ini ceritanya sangat singkat. Hie Tiong-gwee memukul Wie Thian-hoan dan mengenai punggung Wie Thian-hoan, tapi yang terluka malahan Hie Tiong-gwee."
"Bagaimana terlukanya?"
Tanya Coh Thian-su.
"Tidak begitu berat, tapi sempat muntah darah sebanyak 1 kali."
Dia menjelaskan dengan ringan tapi sudah menghebohkan para tamu, karena Hie Tiong-gwee adalah ahli senjata rahasia, pedang, dan tenaga telapak tangan, tidak disangka malah terluka sendiri.
Tiba-tiba ada suara perempuan berkata.
"Tiga tahun lalu pertarungan begitu rumit, pantas saja Yu Toako tidak bisa menceritakan akhir dari pertarungan itu. Yang pertama saja sudah sedemikian parah, apalagi yang belakang."
Yang berbicara tidak lain adalah Leng Giok-yan, walaupun datang terlambat tapi mereka akhirnya tiba juga di rumah keluarga Hie.
Karena Giok-yan sudah dirugikan oleh Hui-thian-sin-liong maka dia ingin Hie Tiong-gwee yang menang.
Setelah mendengar cerita Tuan Kiam-ta dia tahu harapannya sia-sia belaka.
Dengan suara kecil Yu Yong berkata.
"Hie Tiong-gwee hanya salah langkah."
"Salah langkah bagaimana? Bicaralah dengan suara agak keras, aku tidak dapat mendengar dengan jelas."
Dia tahu bahwa Hie Tiong-gwee kalah tapi bila dapat menutupi sedikit saja hal yang memalukan, itu pun sudah lumayan.
"Guruku berkata, ronde pertama dan kedua Hie Tiong-gwee mengeluarkan tenaga terlalu besar, bila tidak pada ronde yang ketiga dia tidak akan terluka."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Aku sudah menceritakan pertarungan 3 tahun lalu, karena takut salah omong, pertarungan ini akan dilanjutkan lagi nanti, pendekar lain bisa membantuku menjadi saksi. Sekarang pertarungan segera akan dimulai, Wie Thian-hoan, apa syarat darimu?"
Menurut aturan pertarungan, kedua belah pihak harus berjanji, bagaimana bila dia kalah juga sebaliknya bagaimana bila dia menang.
Bila kedua belah pihak setuju, maka pertarungan akan dimulai.
Bagitu Tuan Kiam-ta berkata seperti itu, orang-orang baru tahu bahwa pertarungan 3 tahun yang lalu Hui-thian-sin-liong belum meminta persyaratan apa pun.
Ada yang bertanya.
"Hie Tiong-gwee meminta persyaratan apa?"
"Bila Wie Thian-hoan kalah, dia akan menyetujui apa yang diminta oleh Hie Tiong-gwee, termasuk bila harus bunuh diri."
"Waktu itu mengapa Wie Thian-hoan tidak mengajukan syarat?"
Hui-thian-sin-liong menjawab.
"Karena pada waktu itu aku ada di pihak yang diserang dan harus melewati 3 babak pertarungan, aku kira aku tidak akan bisa lolos, karena itu aku tidak mengajukan syarat apapun tapi aku ingat Hie Tiong-gwee pernah berkata, bila aku tidak mati, aku boleh meminta syarat apapun, dan dia setuju, apakah benar Tuan Hie?"
"Benar, kau boleh mengajukan syarat apapun."
Kata Hie Tiong-"Tidak perlu tergesa-gesa, aku cuma minta 2 syarat dulu."
Hie Tiong-gwee tampak marah.
"Kau jangan main-main, orang she Wie, kau jangan keterlaluan, apakah kau yakin bisa membuat keadaanku bertambah sulit?"
Bila kali ini Wie Thian-hoan yang kebagian menyerang, maka nyawa Hie Tiong-gwee sudah berada dalam genggaman Wie Thian-hoan.
"Mengapa kau tahu ini merugikanmu? Aku kira Tuan Kiam-ta yang menentukan semuanya."
"Aku adalah juri, aku akan bertindak adil."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Bila tidak adil, aku tidak akan mengajukannya."
"Baiklah, apa maumu? Bila aku salah mengambil keputusan, kalian bisa membantuku membetulkannya."
"Pertama, aku minta susunan pertarungan diganti."
"Diganti seperti apa?"
"Pertama, pertarungan masih tetap sama, tapi pertarungan kedua ,dan ketiga ditukar."
"Pertama adalah pertandingan senjata rahasia, kedua adalah beradu tenaga telapak tangan, dan ketiga baru bertanding pedang."
"Mengapa harus ditukar?"
"Pertarungan 3 tahun lalu, bila bukan karena Tuan Hie kehabisan tenaganya di ronde kedua, pada ronde ketiga pada saat beradu tangan, wulaupun dia tidak bisa melukaiku, paling sedikit dia tidak akan terluka, ini bukan aku yang mengatakannya, melainkan Yu Tayhiap."
"Celaka! Mengapa melibatkanku?"
Kata Yu Yong dalam hati. Dia segera berdiri dan berkata.
"Benar, guruku yang berkata seperti itu."
"Karena gurumu adalah saksi/juri di antara ketiga orang itu maka permintaanku menurutmu masuk akal bukan?"
Orang-orang di sana berpikir dalam hati, 'Tenaga telapak tangan Wie Thian-hoan pasti lebih hebat dari pedangnya."
Hun Sim-boh dengan dingin berkata.
"Ketika Hie Tayhiap kebagian yang menyerang, tapi dia malah kalah. Kau dan dia tentu sudah memetik pelajaran dari sana, kau sangat pintar."
"Siapa yang berkata hari ini aku sebagai penyerang?"
Tuan Kiam-ta tampak terkejut dan berkata.
"Apa arti dari kata-katamu?"
"Aku harap pertarungan ini dimulai dari awal lagi, tidak perlu diundi, Hie Tayhiap tetap bagian yang menyerang."
"Apakah ini permintaanmu yang kedua?"
"Benar, hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee, seharusnya aku membawa kado, maka aku membiarkan dia yang menjadi penyerang, anggap saja ini adalah kado dariku. Apalagi 3 tahun yang lalu taktik serangannya salah dan dia menderita kerugian, jadi aku harus memberinya kesempatan sekali, bukan?"
Berarti dia harus membuat Hie Tiong-gwee kalah dengan pantas.
Sebenarnya Hie Tiong-gwee adalah seorang pendekar, dia tidak boleh menerima kado seperti ini, tapi ini adalah cara satu-satunya supaya dia bisa selamat, apakah karena gengsi dia menolak dan demi nyawa dia menerima?
Hie.
Tiong-gwee sendiri sulit menjawabnya.
Si wartawan berjalan Sin Kong-ta sudah ribut-ribut di luar.
Dia berkata.
"Hei orang she Wie, kau sengaja memilih hari ini untuk membuat keributan dan menghina Hie Tayhiap, juga menghina keluarga Hie, kado ini hanya dianggap sebagai kado permintaan maafmu."
Kata Coh Thian-su.
"Kado ini, diibaratkan satu pihak ingin memberi di lain pihak menerimanya, hal ini harus diputuskan oleh juri, tidak boleh secara pribadi menentukan."
Walaupun Tuan Kiam-ta selalu mengatakan harus adil, tapi dia tetap memihak kepada Hie Tiong-gwee, dia berkata demikian.
"Betul, aku sebagai saksi mengatakan tidak boleh merugikan pihak mana pun, sewaktu mereka bertarung di Siong-san, semua prasyarat sudah dibicarakan, tapi masih ada hal-hal kecil yang terlewatkan, asal kalian setuju, aku tidak bisa berkata apa-apa."
"Mulai dari awal bukan berarti harus berubah tanpa batas.
"Coh Tayhiap jangan salah paham, aku belum selesai bicara, sebagai saksi kita ketiga pernah ada perjanjian seperti ini, bila ada salah satu pihak yang bertarung merasa syaratnya tidak cocok atau telah terjadi perubahan paling sedikit harus disetujui oleh 2 saksi/juri lainnya, karena itu permintaan Wie Thian-hoan untuk menukar pertandingan aku bisa menerimanya, tapi yang kedua yaitu mulai dari awal lagi aku tidak berani mengambil keputusan."
Kata Wie Thian-hoan.
"Untung murid It Piau cinjin sudah datang, jadi dia bisa mewakili gurunya menjadi juri."
Segera Tuan Kiam-ta melihat Yu Yong, dengan pelan dia berkata.
"Yu Tayhiap, kejadian pertarungan di Siong-san gurumu pasti sudah menceritakannya, kali ini kau mewakili gurumu untuk mengucapkan selamat kepada Hie Tiong-gwee, apakah gurumu ada pesan lainnya?"
"Ada, dia berpesan..."
Hun Sim-boh, Bwee Ceng-hong dan teman baik Hie Tiong-gwee yang lain bertanya.
"Beliau berpesan apa?"
Giok-yan berdiri di belakang Yu Yong, menarik bajunya memberi isyarat agar Yu Yong bisa membantu Hie Tayhiap.
"Sepertinya guru sudah tahu akan terjadi hal seperti sekarang, beliau berpesan agar Wie Thian-hoan bisa mengganti waktu, bila Wie Thian-hoan tidak menurut..."
Tanya Coh Thian-su.
"Bila tidak menurut bagaimana?"
"Wie Thian-hoan mempunyai hak untuk menentukan waktu dan tempat, bila dia tidak mau, biarlah dia bertarung dengan keluarga Hie, bila terjadi keributan aku akan mewakili guruku membantu Tuan Kiam-ta menjadi juri."
Perkataan Yu Yong adalah karangan sendiri, padahal sebenarnya It Piau cinjin berkata.
"Bila tidak bisa dinasehati, lebih baik lepas tangan."
Dari tadi dia berkata terus 'mewakili guruku' padahal itu hanya pendapatnya, tapi itu juga bukan suatu kebohongan.
Dia sengaja bicara tidak jelas, maka orang-orang menyangka dia memang benar mewakili gurunya, keluarga Hie pun tidak banyak komentar.
Karena Coh Thian-su tahu bahwa Hui-thian-sin-liong pasti menang, dia ingin menyaksikan pertarungan ini.
Jadi dia diam saja.
"Yu tayhiap, menurutmu bagaimana dengan permintaan Wie Thian-hoan?"
Kata Tuan Kiam-ta.
"Seperti yang dikatakan oleh Wie Thian-hoan, hari ini memang hari yang istimewa, aku bisa menerima permintaannya jangan mengulur-ulur waktu lagi, karena kedua belah pihak tidak ada yang terluka, maka hari ini boleh melanjutkan pertarungan lagi."
"Tapi harus disetujui oleh Wie Thian-hoan."
Wie Thian-hoan segera berkata.
"Ini memang keinginanku. Tiga tahun yang lalu karena Hie Tiong-gwee terluka, aku menyetujui permintaan juri, aku yang memilih waktu dan tempat, maka pertarungan itu ditunda. Aku harap kali ini jangan terulang lagi, lebih cepat selesai lebih baik."
"Bila terulang lagi, bagaimana?"
"Bila aku terluka pada pertarungan pertama, asalkan aku masih hisa bernafas, boleh dilanjutkan."
Persyaratan ini tentu saja menguntungkan Hie Tiong-gwee, pada NU Hie Tiong-gwee menyerang, dia bisa terluka lagi atau sebaliknya.
Bila Wie Thian-hoan sebagai penyerang dia memiliki harapan untuk menyelamatkan nyawanya.
"Semua sudah setuju, silahkan Wie Thian-hoan katakan persyaratanmu."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Bila aku kalah, aku akan menyerahkan kepalaku, bila aku menang, aku hanya minta Hie Tayhiap menyetujui satu hal."
"Apa?"
"Nanti kujelaskan."
"Hie Tayhiap, apa ada yang ingin ditanyakan?"
Hie Tiong-gwee bertanya.
"Bila ada hubungannya dengan dunia persilatan, aku rela bunuh diri "
Dia begitu tegas, membuat para tamu memuji sikapnya, ada yang berkata .
"Walau dia kalah tapi dia benar-benar seorang ksatria."
Kata Wie Thian-hoan.
"Bicaramu sangat indah, aku hanya ingin tahu apa yang disebut dengan ksatria."
Keluarga Hie sangat marah.
"Hie Tayhiap selalu membantu orang dan menolong yang lemah, soal status pendekar yang disandangnya tidak butuh persetujuan darimu."
Wie Thian-hoan tertawa dingin membuat wajah Hie Tiong-gwee berubah.
"Banyak hal sulit untuk memutuskan, bila kalian percaya kepadaku dan Yu Tayhiap, kami berdualah yang menutuskannya."
Semua orang setuju dengan kata-kata Tuan Kiam-ta, mereka tahu Tuan Kiam-ta akan membela Hie Tiong-gwee. Kata Tuan Kiam-ta.
"Menurut aturan, setelah disetujui oleh saksi/ juri, kedua belah pihak harus patuh kepada juri, kecuali bila dia ingin bunuh diri."
"Bila aku menang, Hie Tayhiap tidak boleh menikah dengan Nona Kang hari ini."
Begitu kata-kata ini dikeluarkan, para tamu menjadi marah.
Ini adalah hal pribadi, tidak ada kaitan dengan dunia persilatan, tapi dia hanya mengatakan hari ini, bukan selamanya.
Giok-yan yang berada di dalam kumpulan orang-orang jadi marah.
"Tidak tahu malu! Pantas dia memilih hari ini, dia ingin merusak hubungan baik antara suami istri."
Dengan marah Hie Tiong-gwee berkata.
"Wie Thian-hoan, kau sungguh keterlaluan!"
"Hie Tiong-gwee, kau adalah seorang Tayhiap, bila bicara seperti itu, apakah kau tidak takut ditertawakan orang-orang. Belum juga bertarung kau sudah takut kehilangan istri, bila aku kalah aku akan memenggal kepalaku sendiri."
Kata-kata Wie Thian-hoan membuat keluarga Hie terdiam.
Hie Tiong-gwee merasa ragu dan malu.
Syarat Wie Thian-hoan hanya hari ini tidak boleh menikah, tapi pamor Hie Tiong-gwee akan hilang bila kalah di tangan Wie Thian-hoan dan tidak bisa menikah hari ini, entah dia harus berbuat bagaimana?
Tapi 'hilang kepala' dan 'hilang istri tercinta' yang lebih berat adalah yang pertama, bila tidak disetujui akan membuat musuh merasa menang.
"Pertarungan ini menyangkut pihak ketiga dan harus disetujui oleh pihak ketiga."
Kata Tuan Kiam-ta.
"Benar, ini harus disetujui oleh Nyonya Hie."
Kata Yu Yong.
Sejak Wie Thian-hoan masuk, Kang Hiat-kun belum mengeluarkan sepatah katapun, sekarang pun dia masih diam.
Dia tidak menjawab, menurut aturan, biasanya istri ditanya oleh suaminya, tapi Hie Tiong-gwee malu untuk menanyakannya.
"Dia takut kehilangan suami yang kaya dan berkuasa, mana mau dia mengangguk."
Entah siapa yang berkata. Po Leng-hoi dengan marah berkata.
"Siapa yang berkata seperti itu, keluarlah!"
"Apa hubungannya denganmu, kau keluarga dari pihak mana?"
Po Leng-hoi ingin bergerak tapi karena banyak orang dia mengurungkan niatnya, dia pun tidak tahu yang bicara itu siapa.
"Nyonya Hie, apakah kau takut suamimu kalah? Sebenarnya dia orang terkenal, kau tidak perlu khawatir."
Kata Wie Thian-hoan. Dengan marah Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong berkata.
"Wie Thian-hoan, Nyonya Hie setuju atau tidak, hanya juri yang boleh bertanya, jangan berlaku tidak sopan."
"Bila syarat Wie Thian-hoan tidak disetujui oleh Nyonya Hie, harus diganti dengan syarat lain."
Kata Tuan Kiam-ta. Belum habis bicaranya, tiba-tiba pengantin perempuan mengangguk.
"Bila Nyonya Hie setuju, pertarungan boleh dimulai."
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan."
Kata Yu Yong.
"Silahkan."
"Karena menyangkut pihak ketiga (calon istri Hie), pihak ini akan memilih berdiri dipihak yang mana?"
"Benar, aku lupa, pihak ketiga ini akan memilih yang mana?"
"Melihat keadaan saat ini, pihak ketiga harusnya masuk ke dalam pihak Hie Tiong-gwee, karena pihak ketiga ini adalah calon istrinya."
"Syarat yang diajukan Wie Thian-hoan ada hubungannya dengan Nyonya Hie, artinya Wie Thian-hoan mengajak mereka berdua bertarung dengannya, karena itu Nyonya Hie pun mempunyai hak untuk bertarung, atau suami istri bergantian bertarung, tapi..."
"Istriku tidak bisa silat, jadi masalah ini hanya antara aku dan Wie Thian-hoan."
Kata Hie Tiong gwee.
Semua orang tahu bila ayah Nyonya Hie adalah seorang guru silat biasa, di mata orang-orang dia mengajar silat sekedar mencari makan Sebenarnya Tuan Kiam-ta bukan lupa kepada aturan ini, dia tahu bahwa pengantin perempuan bisa sedikit silat, tapi sangat terbatas, jadi dia tidak ingin Nyonya Hie ikut bertarung.
Tapi Yu Yong sudah berpendapat seperti itu, karena itu Tuan Kiam-ta harus menjelaskannya.
Tapi pihak ketiga pun bisa memilih, mau ikut atau tidak dalam pertarungan ini.
"Aku sendiri yang akan bertanding dengan Wie Thian-hoan."
"Walaupun suami istri adalah suatu keluarga tapi menurut aturan harus Nyonya Hie sendiri yang menetukan baru diangap sah."
Kata Yu Yong.
Yang membuat orang-orang aneh, maksud Yu Yong sebenarnya ingin suami istri ini bergabung, apakah dia tidak tahu bahwa pengantin perempuan tidak bisa silat?
Hie Tiong-gwee merasa aneh dalam hati berkata, 'Apakah Yu Yong sudah tahu siapa Kang Guan-yang?' Karena aturan ini ditentukan oleh pihak pengantin perempuan, Hie Tiong-gwee terpaksa diam.
Pengantin perempuan pun tetap terdiam.
"Pengantin perempuan masih malu berbicara, bila pihak laki-laki setuju ikut bertarung, kau anggukkan kepala, bila tidak setuju kau gelengkan kepatamu."
Kata Tuan Kiam-ta.
Semua perhatian tertuju kepada pengantin perempuan, dia mengangkat kepala dengan pelan dia mengangguk.
Begitu dia mengangguk, membuat para tamu menjadi geger, semua tamu berpikir, 'Dia tidak bisa silat tapi berani ikut bertarung, pasti ingin sehidup semati dengan suaminya.' Kwee Goan-cay dan Po Leng-hoi berdiri dipinggir melihat pengantin mengangguk, Kwee Goan-cay berkata.
"Kau lihat, Hiat-kun bukan terpaksa menikah dengan guru."
"Menurutmu, dia ikut bertarung berarti dia setuju dengan pernikahan ini. Menurutku, dia itu sedang memberontak!"
Kata Po leng-hoi.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak mengerti bahwa dia membenci gurumu, dia mengambil keputusan ini tanpa bertanya dulu kepada gurumu."
"Kau bukan dia, mengapa kau tahu jalan pikirannya seperti itu?"
Pada saat yang sama Tuan Kiam-ta mulai bicara lagi, Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay terpaksa diam. Dengan tertawa Wie Thian-hoan berkata.
"Baiklah, silahkan suami istri Hie bergabung."
Tawanya terlihat marah sekaligus sedih. Kata Tuan Kiam-ta.
"Wie Thian-hoan, kau tidak boleh seperti itu, aku sudah menjelaskan bila Nyonya Hie ikut bertanding, dia tidak boleh bertarung bersama suaminya. Dan kalian juga pikir, dia boleh memilih untuk ikut bertanding atau tidak, itu adalah haknya Apakah kalian mengerti?"
Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan berbarengan menjawab.
"Ya, mengerti."
"Pertarungan boleh dimulai. Pertama adalah bertanding senjata rahasia. Hie Tiong-gwee sebagai penyerang."
Di dunia persilatan memang selalu terjadi gelombang perselisihan, darah bisa bercucuran di pesta pernikahan hanya untuk mencegah terjadinya pernikahan ini.
Apakah yang akan terjadi?
--ooo0dw0ooo--BAB Kekasih membalas dendam Telapak tangan melukai pendekar Pengantin wanita bertarung Darah berceceran di aula mewah A.
Tiga Pertandingan Hie Tiong-gwee sudah berdiri, tapi pengantin perempuan masih tetap menundukkan kepalanya, bergerak pun tidak.
Tuan Kiam-ta bertanya.
"Nyonya Hie, apakah untuk babak ini kau mau ikut bertanding?"
Kang Hiat-kun menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang Wie Thian-hoan dan Hie Tiong-gwee bertanding sendiri-sendiri. Nyonya Hie, aku tidak akan bertanya lagi babak mmia yang kau pilih untuk bertanding."
Tuan Kiam-ta tidak bertanya lagi, sebab dia akan kehilangan wibawa. Tuan Kiam-ta bertanya kepada Wie Thian-hoan.
"Wie Thian-hoan, kau mempunyai hak untuk memilih tempat."
"Sudah kukatakan, masalahnya harus diselesaikan hari ini."
"Yang ingin kutanyakan adalah kau mau bertarung di taman atau..."
Tanya Tuan Kiam-ta.
"Di aula saja sudah cukup."
"Hie Tiong-gwee, apakah kau tahu aula ini memiliki panjang dan lebarr berapa? Apakah harus diukur lagi?"
Kata Yu Yong.
"Tidak perlu."
Segera orang orang ribut mengeluarkan kata aneh, terus bicara.
"Aku rasa, aula Hie, harus berganti nama."
Belum sempat perkataan itu mendapat jawaban terdengar suara Tuan Kiam-ta berkata.
"Karena pertarungan akan terjadi di aula ini, harap para tamu keluar dulu untuk sementara."
Segera para tamu keluar, tapi mereka keluar tidak jauh, mereka mengelilingi aula untuk menonton, sekarang di dalam aula hanya tertinggal 2 orang saja.
Lilin merah masih menyala, tapi sekarang aula sudah berganti fungsi.
Tidlak ada tanda tanda keramaian pernikahan lagi.
"Pertarungan dimulai!"
Teriak Tuan Kiam-ta.
Hie Tiong-gwee segera meloncat menjauh, kemudian tubuhnya dibungkukkan, seperti memberi hormat, segera terdengar suara senjata rahasia melesat.
Hie Tiong-gwee sudah melemparkan 7 senjata rahasia dari tangan kiri dan 8 senjata rahasia dari tangan kanannya, ditambah 2 buah panah pendek.
Panah ini disembunyikan di kerah bagian belakang kepala, begitu memberi hormat panah langsung menjepret meluncur dengan deras.
Wie Thian-hoan melihat serangan di balik gerakan itu tapi dia sudah waspada dan dengan tenang dia berkata.
"Hie Tayhiap, kau tidak perlu begitu hormat kepadaku, aku tidak bisa menerimanya."
Hie Tiong-gwee sangat terkenal dengan ilmu pedang dan pukulan tangan kosongnya.
Untuk senjata rahasia dia jarang sekali menggunakannya, karena itu sangat jarang orang pernah melihat ilmu melempar senjata rahasianya.
Cara senjata itu menyerang sungguh aneh, ada yang terbang miring, ada yang saling beradu sesudah beradu tiba-tiba arah terbangnya berubah, ada yang miring ada juga yang terbang lurus, semua sejata itu meluncur kepada Wie Thian-hoan.
Hui-thian-sin-liong sambil tertawa dengan tangannya dia menjulur mencoba menangkap beberapa senjata rahasia, hampir semua senjata rahasia itu tertangkap oleh telapak tangannya, tapi ada 2 buah senjata yang lolos melewati kepalanya yang tidak tertangkap olehnya.
Kedua senjata itu sesudah berada di belakang tubuhnya tiba-tiba berbalik menyerang ke arah belakang kepalanya.
Hie Tiong-gwee ternyata melemparkan senjata rahasia itu dengan tenaga berputar.
Sedikit sekali orang yang bisa menguasai tenaga berputar apalagi bisa sangat cepat dan tepat.
Ketika Hui-thian-sin-liong sedang menyambut senjata rahasia, dia tidak tahu ada dua buah senjata yang lolos dan kembali menyerang kepadanya.
Urat nadi pada kepala bagian belakang adalah urat nadi yang paling lemah walaupun Hui-thian-sin-liong mempunyai ilmu kebal sekalipun, bila terkena, kepalanya akan pecah.
Hun Sim-boh berteriak.
"Jurus Sin-liong-tiauw-wie (Naga sakti mengibas ekor) yang sangat indah sekali!"
Pada saat bersamaan dua panah pendek dari kerah Hie juga sekaligus dikeluarkan dan menyambar ke arah Hui-thian-sin-liong.
Dua senjata rahasia dan dua panah melesat dengan sangat tepat.
Para tamu menahan nafas melihatnya.
Hui-thian-sin-liongdengan ringan segera mengebutkan tangannya, lengan bajunya diangkat ke atas bahu, dia sudah membelokkan arah dua macam senjata rahasia, dua buah senjata yang di belakang terjatuh dan dua panah yang menyerang di depan terbang kembali, lebih cepat dan lebih kuat dari serangan tadi.
Begitu melihat panahnya balik menyerang, Hie Tiong-gwee mencoba mengelak tapi sudah tidak sempat Dua buah panah pendek masih meluncur dari kiri dan kanan menuju bagian urat nadi Tay-yang-hiat nya.
Tai-yang-hiat mempunyai nadi yang penting bila terkena bisa membuat orang bisa langsung mati.
Hie Tiong-gwee sangat terkejut, dia berpikir, 'Apakah aku akan mati hari ini?' Di dalam bayangannya kematian akan segera menjemput, Hie Tiong-gwee memejamkan mata.
Tiba-tiba Hie Tiong-gwee mendengar suara teriakan terkejut dan ada pula teriakan memuji.
Hie Tiong-gwee merasa dua panah itu melewati dahinya dengan selisih jarak yang sangat tipis, tapi dia sama sekali tidak merasa terluka.
Dia menjadi ingin tahu dan membuka matanya, kemudian ada dengar ada yang berkata.
"Lelucon Hui-thian-sin-liong sungguh mengejutkan, untung Hie tayhiap tidak terluka, tapi upacara sembahyang sudah tidak dapat dilanjutkan lagi."
Kata yang lainnya.
"Bila memaksa dilanjutkan maka hal ini akan membawa sial."
Senjata rahasia Hie Tiong-gwee membuat semua terkagum-kagum, tapi dia tetap telah kalah.
Lawannya tidak membalas menyerang hanya dengan senjata rahasia Hie Tiong-gwee, dia telah mematikan api lilin merah.
Coh Thian-su yang berdiri di sisi Hun Sim-boh berkata.
"Jurus 'Hui-liong-cai-thian' (Naga terbang dilangit) yang sungguh mengagumkan."
"Kapan ada jurus 'Hui-liong-cai-thian'?"
Kata Hun Sim-boh "Ini hanya istilah dariku saja, jika ada jurus 'Sin-long-tiaw-wie' boleh juga ada jurus 'Hui-liong-cai-thian' sebab Wie Thian-hoan dijuluki Hui-thian-sin-liong', nama ini memang cocok untuknya "
Kata Hun Sim-boh.
"Kedua belah pihak tidak terluka, artinya belum ada yang kalah atau menang, mengapa Coh Tayhiap sudah menentukan sendiri?"
Coh Thian-su tertawa.
"Rupanya telingamu ada sedikit masalah, aku hanya memuji jurus-jurus Hui-thian-sin-liong, mengapa yang masuk ke telingamu menjadi suatu Keputusan tentang siapa yang kalah atau yang menang? Bukankah yang menentukan adalah juri."
Tidak ada orang yang berani menggoda Hun Sim-boh karena dia memiliki sifat berangasan, bila sudah naik darah pasti dia akan menyerang jidat orang yang menggodanya.
Tapi karena dia tahu Coh Thian-su adalah pesilat tangguh, dia hanya bisa menahan diri.
Tuan Kiam-ta hanya mengumumkan bahwa kedua belah pihak tidak terluka.
Bila kedua belah pihak tidak terluka, artinya keadaan lebih menguntungkan bagi Hie Tiong-gwee.
Hun Sim-boh terlihat lebih senang Ada 5 senjata rahasia yang tidak mengenai Wie Thian-hoan, dan mengenai dinding.
Ada 2 buah yang mengenainya tapi Wie Thian-hoan tidak terluka.
Yang menempel di dinding bisa dihitung oleh tamu-tamu.
Yang terjatuh pun bisa dihitung.
Tapi berapakah senjata rahasia yang dikeluarkan oleh Hie Tiong-gwee?
Tidak ada yang tahu karena itu Tuan Kiam-ta harus menanyakannya.
"Berapa buah senjata rahasia yang kau tangkap?"
"Aku juga tidak tahu ada berapa?"
Dia membuka tangannya dan yang terlihat hanya serpihan dan kepingan senjata rahasia yang sudah tidak berbentuk.
Karena digenggam oleh telapak tangannya maka semua senjata rahasia menjadi berbentuk logam-logam yang tidak beraturan.
Terpaksa Hie Tiong-gwee berkata.
"Aku mengeluarkan 15 buah senjata rahasia berbentuk paku."
Tuan Kiam-ta bertanya kepada Wie Thian-hoan.
"Apakah benar?"
"Mungkin benar, bila dia berkata sebanyak itu, anggaplah sejumlah itu."
"Lima belas senjata rahasia dikeluarkan oleh Hie Tiong-gwee ditambah 2 buah panah pendek,"
Kata Tuan Kiam-ta.
"Sungguh hebat, 3 tahun yang lalu dia hanya bisa mengeluarkan 13 buah senjata rahasia, sekarang menjadi 17 buah. Hie Tayhiap ilmu silatmu benar-benar telah maju pesat,"
Kata Coh Thian-su.
Dalam pertandingan senjata rahasia Hie Tiong-gwee sudah mengunakan senjata paku begitu banyak tapi lawan sama sekali tidak terluka, hal ini sungguh memalukan.
Kata-kata Coh Thian-su tadi membuat Hie Tiong-gwee menjadi malu, tapi keluarga Hie hanya bisa menahan amarah, tapi tidak berani bertindak apapun.
Sekarang pertandingan menggunakan tangan kosong dimulai, dan Hie Tiong-gwee juga sebagai penyerang.
Hie Tiong-gwee menarik nafas mengumpulkan tenaga dalamnya, kemudian dia mendorong telapak tangannya dengan ringan ke arah Hui-thian-sin-liong.
Melihat ini orang-orang terkejut, semua orang tahu tenaga telapak tangan Hie Tiong-gwee sangat dahsyat, mengapa sekarang malah terlihat tidak bertenaga?
Semua orang memang tidak tahu akan kehebatan pukulan ini, tapi Tuan Kiam-ta tahu, ini adalah pukulan keras dan lembut yang digabungkan.
Hie Tiong-gwee benar-benar hebat, dalam 3 tahun dia sudah bisa menguasai ilmu ini.
Menurut peraturan, yang diserang hanya boleh menerima tidak boleh mengelak.
Terlihat Hie Tiong-gwee dengan enteng memukul dan dengan tidak menimbulkan suara telah mengenai bagian dada Wie Thian-hoan.
Begitu mengenai tubuh Wie Thian-hoan.
Hie Tiong-gwee merasa seperti memukul segumpal kapas, tidak ada tenaga tolakan.
Tadi ketika bertanding senjata rahasia dengan tenaga dalamnya Wie Thian-hoan telah merusak senjata rahasia yang berbentuk paku, tenaga dalam yang dimilikinya sangat tinggi.
Walaupun Hie Tiong-gwee beruntung karena menjadi penyerang, tapi dia tetap berhati-hati dan karena dia mempunyai rencana lain.
Rencananya adalah, 'Bila dia menyerang dengan tenaga yang enteng, Wie Thian-hoan pun akan membalikkan dengan enteng.
Jadi tenaga yang di kembalikan tidak akan melukai dirinya.
Wie Thian-hoan seperti sudah tahu cara berpikir Hie Tiong-gwee, tangan Hie Tiong-gwee yang menempel di dadanya tiba-tiba bergeser turun ke perutnya, dia merasa seperti memukul gumpalan kapas.
Tangannya tidak bisa ditarik kembali, Wie Thian-hoan pun tidak membalas dia telah menggunakan tenaga mennyedot untuk menarik tangan Hie.
Hie Tiong-gwee tidak menyangka Wie Thian-hoan bisa berbuat seperti itu, sekarang Wie Thian-hoan berada di atas angin, tapi apakah dia masih bisa menaruh kasihan, atau apakah ada hal lain yang lebih dahsyat lagi yang akan dilakukannya?
Tangannya sudah tidak bisa ditarik, terpaksa dia mengeluarkan tenaga dalam untuk menariknya, seperti gelombang samudra yang mendampar tenaga dalamnya telah dikerahkan sepenuhnya.
Wie Thian-hoan berpikir, 'Bila aku tidak melepaskan tangannya, dia pasti akan menghabiskan tenaga dalam untuk menarik tangannya.
Dan dia pasti mati, buatku paling-paling aku hanya terluka sedikit, tapi sekarang belum waktunya aku mengambil nyawanya."
Coh Thian-su berkata.
"Mengapa tangan Hie Tiong-gwee terus menempel di tubuhnya? Apakah dia sedang menggaruk tubuhnya yang gatal?"
Belum habis perkataannya, terdengar suara dinding roboh, dindingnya sudah berlubang, akhirnya Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan terpisahkan.
Rupanya begitu Hie Tiong-gwee menambah tenaga dalamnya, Wie Thian-hoan segera mengempiskan perutnya dan mengeser ke samping.
Tenaga Hie Tiong-gwee menjadi tergeser memukul ke depan.
Di depannya adalah sebuah tembok dinding, tembok dinding menjadi jebol berlubang, untung tidak mengenai orang yang sedang menonton di luar.
Terdengar ucapan orang yang suka berkata besar.
"Seharusnya tenaga dalam Hie Tiong-gwee jangan dikatakan bisa menghancurkan batu, tapi harus diganti dengan perkataan bisa membelah batu bata."
"Karena kali inipun tidak ada yang terluka, dan tetap seri maka sekarang menginjak ke babak ketiga, dari pihak Hie Tiong-gwee, Hie Tiong-gwee akan bergabung dengan istrinya."
Kata Tuan Kiam-ta.
Kang Hiat-kun masih tidak memberikan reaksi, sehingga tetap saja Hie Tiong-gwee bertanding seorang diri.
Kali ini adalah beradu ilmu pedang.
Apakah Hie Tiong-gwee bisa mengalahkan Hui-thian-sin-liong dalam 3 jurus?
Jika bisa melewati 3 jurus maka giliran Hui-thian-sin-liong yang akan berganti menjadi penyerang.
Keluarga Hie sudah tidak bisa tenang, mereka sangat khawatir.
Tapi Hie Tiong-gwee masih tetap tenang, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, dengan dingin dia menatap Hui-thian-sin-liong.
Hui-thian-sin-liong pun melihat kearah ujung pedang Hie Tiong-gwee, katanya.
"Hie Tayhiap, kau masih mengenalku bukan? Wajahku tidak berubah selama 3 tahun ini."
Pedang Hie Tiong-gwee berkilauan seperti kilat, memang dia sedang menunggu kesempatan Wie Thian-hoan bicara supaya Wie Thian-hoan hilang konsentrasinya, begitu Wie Thian-hoan berbicara dia langsung menyerang.
Tamu-tamu yang berada di pinggir kalangan hanya bisa melihat bunga-bunga pedang yang naik dan turun, bayangan orang yang berkelebatan berubah-ubah arah, bagi yang ilmunya masih rendah sama sekali tidak terlihat Hie Tiong-gwee memakai jurus apa dan sudah mengeluarkan berapa jurus.
Yu Yong sebagai salah seorang juri, dia juga seorang ahli pedang, orang lain tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi dia sangat jelas melihatnya, dia merasa sangat kagum.
"Lihat bagian depan, lupa bagian belakang, lihat ke kiri, lupa bagian kanan."
Ilmu pedang Hie Tiong-gwee benar-benar sangat tinggi, karena Yu Yong sangat kagum sehingga lupa bahwa dia juga adalah salah satu juri. Tiba-tiba Tuan Kiam-ta berteriak.
"Berhenti!"
Tapi Hie Tiong-gwee terus menyerang, dia sudah lupa pada aturan "harus berhenti dalam 3 jurus', nafsu ingin membunuh tampak sekali?
Sekarang dia sudah mengeluarkan 4 jurus.
Seharusnya Yu Yong dari awal sudah tahu, karena dia adalah seorang ahli pedang Ketika mendengar teriakan Tuan Kiam-ta, dia seperti baru tersadar, wajahnya menjadi merah karena malu.
Tiba-tiba terdengar suara 'TING', dan terlihat sinar kilat berwarna putih naik ke atas.
Sinar yang ke atas adalah pedang Hie Tiong-gwee, pedangnya sudah menancap di atas tiang pengari, gagang pedang masih bergetar bergoyang-goyang.
Hie Tiong-gwee seperti ayam jantan yang kalah bertarung, dia terlihat lesu dan lemas, dalam serangan terakhir dia telah dikalahkan oleh ilmu sentilan jari Hui-thian-sin-liong, sehingga pedang terlepas dari tangannya.
Tuan Kiam-ta tampak ragu-ragu, dia bertanya kepada Yu Yong.
"Yu Tayhiap, bagaimana cara memutuskan hasil akhir dari pertarungan ini?"
"Menurutku, kita harus menunggu Hui-thian-sin-liong menyerang. Sekarang Hie Tiong-gwee sudah memakai 4 jurus bila Hui-thian-sin-liong nanti sampai 5 jurus maka Hui-thian-sin-liong dianggap kalah."
Kata-kata Yu Yong terdengar sangat memihak kepada Hie Tiong-gwee, tapi siapa yang bisa berpikir lain, jika Wie Thian-hoan sebagai penyerang, dengan hanya cukup mengeluarkan 2 jurus, tidak perlu melukai Hie Tiong-gwee dia sudah menang.
Buat apa mengeluarkan 5 jurus?
Kecuali Kalau dia memang sudah gila.
Terlihat Yu Yong memihak sekali pada Hie Tiong-gwee.
Tujuannya hanya ingin menjaga nama baik Hie Tiong-gwee, agar dia tidak kehilangan muka.
"Wie Thian-hoan, apakah kau setuju dengan usul Yu Yong?"
"Bila Yu Tayhiap mempunyai alasan ini, aku setuju saja."
"Kali ini apakah bajumu berlubang?"
Wie Thian-hoan membalikkan tubuhnya.
"Silahkan lihat."
Tuan Kiam-ta mengumumkan.
"Dalam pertarungan ini Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan 4 jurus, tapi Wie Thian-hoan sama sekali tidak terluka, bajunya pun tidak berlubang."
Kesempatan Hie Tiong-gwee sebagai penyerang sudah selesai, tapi yang belum dikembalikan adalah pedang Hie Tiong-gwee.
Pedang itu masih tertancap di tiang pengari.
Hie Tiong-gwee berdiri di bawahnya, dia merasa sangat malu.
Coh Thian-su dengan tertawa bertanya.
"Hie Tayhiap, silahkan jadi tuan di atas tiang."
Tiang rumah sebenarnya tidak begitu tinggi, dengan ilmu meringankan tubuh Hie Tiong-gwee yang sangat lihai, pasti tidak susah mengambilnya, tapi sekarang dia berada di depan banyak orang dan diberi milikan sebagai TUAN TIANG, hal ini membuatnya sangat malu.
Tiba-tiba Tuan Kiam-ta meloncat dan berkata.
"Hie Tiong-gwee, kuambilkan pedangmu!"
Kata-katanya belum habis, pedang sudah diturunkan. Wie Thian-hoan memuji.
"Benar-benar ilmu yang hebat."
Wie Thian-hoan memuji apalagi keluarga Hie.
Tuan Kiam-ta tahu bahwa pujian Wie Thian-hoan hanya merupakan rasa hormat kepadanya.
Walaupun ilmu mencengkram pedangnya disebut sebagai ilmu 'Liong-jiauw' (Cakar naga) tapi bila dibandingkan dengan ilmu menghancurkan senjata rahasia Wie Thian-hoan, masih sangat jauh.
Hie Tiong-gwee mengambil pedangnya, dia sangat malu.
Dia terlihat ingin bunuh diri, tiba-tiba pengantin perempuan melambaikan tangan ke arah Hie Tiong-gwee.
Hie Tiong-gwee mendekatinya, terdengar suara Hiat-kun seperti dengungan nyamuk.
"Berikan pedangmu itu."
Hie Tiong-gwee sangat terkejut dan senang, di dalam hati dia berpikir, 'Apakah Hiat-kun sudah tahu keinginanku? dan tidak rela meninggalkanku? Apakah dia mau bergabung denganku melawan musuh?"
Dalam pandangannya bila benar-benar pandangannya sama berada dalam benak Hiat-kun, dia akan merasa bahagia.
Dia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.
Dia memasukkan pedang ke dalam sarungnya dan menyerahkan kepada Hiat-kun, dalam hati Hie Tiong-gwee berpikir, 'Bila Hiat-kun mau bergabung denganku menghadapi Wie Thian-hoan, kami belum tentu kalah."
Keluarga Hie tidak ada yang tahu bahwa Hiat-kun bisa silat.
Di antara mereka ada juga yang berpikir seperti Hie Tiong-gwee, berpikir bahwa dia akan bergabung dengan suaminya melawan musuh.
Yu Yong sudah melihat perubahan yang terjadi antara Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan, hatinya berpikir bila Wie Thian-hoan dikalahkan olehnya dia akan senang, sebaliknya muka Wie Thian-hoan tampak sedih.
Yu Yong tahu ayah Hiat-kun adalah Kang Guan-yang, dalam hati berpikir, 'Sebenarnya pernikahan ini tidak serasi, tapi karena Wie Thian-hoan membuat keributan mungkin pasangan yang tidak cocok akan menjadi pasangan yang cocok, ini bukan hal yang tidak baik' Tuan Kiam-ta melihat pengantin perempuan mengambil pedang, dia tampak khawatir, apakah pengantin perempuan ini ingin sehidup semati bersama suaminya?
Karena dia adalah salah seorang juri, terpaksa dia mengumumkan.
"Sekarang Wie Thian-hoan adalah penyerang, semua peraturan seperti peraturan tadi."
Kata Hun Sim-boh.
"Pertarungan sebanyak 3 babak antara Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan dalam sehari pasti melelahkan, karena mata penonton pun sudah lelah, apakah boleh mengganti waktu?"
Orang aneh yang sering mengatakan hal aneh berkata.
"Bila matamu lelah jangan menonton."
Walaupun Tuan Kiam-ta berpihak kepada Hie Tiong-gwee tapi karena alasan Hun Sim-boh tidak masuk akal, dia terpaksa berkata.
"Keadaan tidak sama, yang diserang tidak mempunyai hak meminta pergantian waktu, Hie Tiong-gwee dan juri sudah setuju, Wie Thian-hoan mempunyai hak untuk menentukan waktu dan tempat."
Hun Sim-bohpun tahu alasannya tidak tepat tapi dia masih berkata.
"Karena hari ini adalah hari pernikahan Hie Tiong-gwee, bila darah bercipratan di aula, tidak enak dilihat."
Dalam keadaan seperti itu yang berhak berkata adalah Wie Thian-hoan.
Tuan Kiam-ta berharap Yu Yong bisa mengatakan hal ini kepada Wie Thian-hoan tapi Yu Yong pura-pura tidak tahu.
Tuan Kiam-ta terlihat ragu, melihat Hie Tiong-gwee dan berkata.
"Tuan berkata satu kali, seperti kuda lari dicambuk tidak dapat di hentikan, kebaikan sanak keluarga aku terima, hidup atau mati aku tidak peduli. Keadaan sudah tidak dapat diubah."
Tuan Kiam-ta melihat Hie Tiong-gwee yang penuh tekad, terpaksa dia berkata.
"Baiklah, pertarungan akan dimulai, Hie Tiong-gwee apakah kau..."
Pengantin perempuan masih diam.
Hie Tiong-gwee terkejut dan dia menyesali kata-katanya terlalu sombong, jadi terpaksa dia harus menerima serangan senjata rahasia Wie Thian-hoan.
Tapi Wie Thian-hoan tidak mengeluarkan senjata rahasianya, malah berjalan menghampiri Kang Hiat-kun.
Tuan Kiam-ta tampak terkejut.
"Kau mau apa?"
"Aku tidak membawa senjata rahasia di tubuhku, juga tidak ada benda yang dapat dijadikan senjata, terpaksa aku harus mencarinya."
"Apakah kau mau mencari di meja sembahyang?"
"Benar, dan aku sudah mendapat barang yang cocok."
Di meja sembahyang ada sebuah babi panggang dan 4 dus buah-buahan, sepasang lilin merah yang apinya sudah padam.
Para tamu merasa aneh, apakah benda-benda itu bisa dijadikan senjata rahasia?
Paling-paling tempat lilin, itu pun hanya ada sepasang dan sangat berat, jika digunakan dapat dengan mudah ditangkis musuh.
Tuan Kiam-ta pun merasa aneh, dia berkata.
"Kau mencari apa?"
Ternyata yang dicari oleh Wie Thian-hoan adalah lelehan lilin vang menempel di batang lilin dan masih tampak lembek. Wie Thian-hoan mengambilnya dan membentuknya menjadi 2 bulatan kecil. Dia berkata.
"Apakah aku boleh memakai lelehan lilin ini menjadi senjata rahasia?"
Peristiwa ini belum terpikir oleh siapapun, karena itu terjadi keriibutan di dalam dan di luar ruangan.
Bila Wie Thian-hoan tidak membawa senjata rahasia paling sedikit dia membawa uang logam.
Uang logam lebih baik dari bulatan lilin.
Kata Tuan Kiam-ta.
"Memakai senjata apapun, aku tidak akan melarang. Tapi itu adalah benda milik keluarga Hie, bila ingin minta harus kepada suami istri Hie baru kau bisa memakainya."
Hie Tiong-gwee menjadi bengong.
Mengapa Wie Thian-hoan memakai bulatan lilin menjad senjata rahasia?
Jawabannya hanya satu, dia menganggap remeh kepada Hie Tiong-gwee.
Hie Tiong-gwee masih bengong, dia menyadarinya "Bila dia setuju memakai lelehan lilin sebagai senjata rahasia, itu membuat nama 'pendekar' nya tercemar, tapi bila Wie Thian-hoan memakai senjata rahasia lain, keadaan ini akan membahayakan dia."
"Hie Tayhiap, bila kau keberatan, katakanlah."
Kata Yu Yong. Hie Tiong-gwee tidak menjawab, kemudian Yu Yong bertanya kepada Hiat-kun, dia pun tidak menjawab.
"Pihak Hie tidak keberatan, baiklah kau boleh memakai lelehan lilin jadi senjata rahasia. Aturan pertandingan ini kau harus berdiri dengan jarak 5 meter dari Hie Tiong-gwee."
Kata Yu Yong.
"Baiklah!"
Kata Wie Thian-hoan.
Aula ini cukup besar sebagai tempat untuk bertanding Di dalam dan di luar aula, orang-orang melihat Wie Thian-hoan memakai bulatan lilin menjadi senjata rahasia.
Segera terlihat Wie Thian-hoan mengayunkan tangannya, bulatan lilin sudah disambitkan, jalannya tidak mendatar melainkan melesat ke atas udara.
Kedua bulatan itu meluncur hampir mengenai atap rumah/ Orang-orang yang melihat merasa aneh.
"Permainan apa ini?"
Sebenarnya bulatan kecil ini yang begitu ringan dan lembek, bisa melayang begitu tinggi, sudah merupakan hal yang benar benar sulit Waktu itu 2 bulatan lilin melesat seperti bintang jatuh, menyerang kearah dada Hie Tiong-gwee.
Tuan Kiam-ta, Yu Yong dan Coh Thian-su, sudah tahu rahasia di balik semua ini.
Begitu melemparkan bulatan lilin itu, Wie Thian-hoan sudah mengerahkan tenaga dalamnya dengan sangat kuat.
Cara melemparkan senjata rahasia memang bermacam-macam, tapi cara yang dilakukan oleh Wie Thian-hoan, tidak pernah dilihat sebelumnya Ada yang bicara.
"Ini bukan ilmu senjata rahasia, ini adalah gabungan tenaga dalam dan senjata rahasia. Bulatan lilin pertama-tama naik dan kemudian meluncur dengan pesat turun dari udara, hal ini benar-benar di luar dugaan Hie Tiong-gwee. Dalam keadaan ini, secepat kilat Hie Tiong-gvvce mengambil 2 keputusan. Untuk mengelak, mungkin masih bisa, tapi apakah lilin tidak akan menempel di bajunya, Hie Tiong-gwee tidak yakin. Dia adalah seorang pendekar, kalau dia tidak beiani menyambut 2 bulatan lilin itu, mukanya akan ditaruh di mana? Dengan sinis Hie Tiong-gwee berkata.
"Hui-thian, kau menghinaku!"
Dia segera menyambut lilin itu, tangannya di ulurkan ke depan menyambut datangnya lilin itu.
Tapi ternyata lilin itu sudah berubah arah, tangannya hanya mengenai udara kosong.
Dua bulatan lilin itu membelok menyerang dari arah yang tidak disangkanya, semula mengarah dada kemudian bergeser ke arah muka langsung mengenai mata lawannya, Hie Tiong-gwee merasa kelopak matanya menjadi panas seperti ditempel oleh tepung ketan, basah dan licin yang membuatnya ingin muntah.
Karena dia takut matanya menjadi buta dan dia segera memejamkan mata.
Dua bulatan lilin yang telah menempel di kelopak matanya langsung meleleh.
Mata Hie Tiong-gwee tidak buta tapi wajahnya sudah berlepotan lilin.
Orang yang suka berkomentar berkata.
"Lucu, sangat lucu, seorang pendekar berlepotan lilin. Pertarungan seperti ini belum pernah kulihat!"
Hie Tiong-gwee tahu dia tidak terluka, buru-buru dia menyeka wajahnya memakai lengan baju. Tuan Kiam-ta mengumumkan.
"Dua senjata rahasia mengenai Hie Tiong-gwee, tapi dia tidak terluka artinya pertarungan ini seri."
Coh Thian-su tahu Tuan Kiam-ta memihak Hie Tiong-gwee, sengaja dia berkata.
"Siapa yang menang? Siapa yang kalah?"
"Seri, tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang."
Tuan Kiam-ta menjelaskan lagi.
"Bulatan lilin dan senjata paku memang tidak sama tapi keduanya adalah senjata rahasia bukan tenaga dalam. Masing-masing terkena senjata rahasia lawan dan masing-masing tidak terluka karena itu babak ini hasilnya adalah seri."
Kata-kata Tuan Kiam-ta terdengar seperti adil, keluarga Hie pun memuji dia. Wie Thian-hoan pun tidak protes. Kata Coh Thian-su.
"Aku jarang melihat pertarungan yang begini seru, bila masih ada kelanjutannya, mengapa tidak?"
Segera Tuan Kiam-ta mengumumkan babak kedua dimulai, Wie Thian-hoan tetap menjadi penyerang.
Kali ini adalah adu tenaga dalam.
Hie Tiong-gwee harus menahan pukulan tangan kosong sebanyak satu kali dari Wie Thian-hoan, tidak boleh membalasnya.
Keluarga Hie mulai gelisah.
Ilmu tangan kosong Wie Thian-hoan sangat lihai, tadi mereka sudah melihatnya sendiri.
Tenaga tangan Hie Tiong-gwee tidak sekuat Wie Thian-hoan.
Bila mengenai tubuh Hie Tiong-gwee, dan dia tidak boleh membalas, apa yang akan terjadi?
Mungkin saja nyawa Hie Tiong-gwee akan terancam.
Hiat-kun tetap tidak bicara Tiba-tiba ada yang menangis sambil berteriak keluar dari dalam rumah.
Dia adalah putri Hie Tiong-gwee dari istri pertama, namanya Hie Kim-giauw.
Sambil menangis Hie Kim-giauw berteriak.
"Kang Hiat-kun, mengapa kau mencelakai ayahku? Apakah setelah dia terluka kau baru merasa senang?"
Hie Tiong-gwee tampak marah dan berkata.
"Kim-giauw, jangan sembarangan bicara, masuklah! Kau jangan ikut campur urusan ayah!"
"Aku harus bicara, bila ayah tidak menikahi siluman rubah ini, tidak akan terjadi hal seperti ini. Hui-thian-sin-liong tidak ingin kau menikah hari ini. Mungkin Hui-thian suka kepadanya, mungkin mereka adalah sepasang kekasih."
Wajah Hie Tiong-gwee menjadi merah, dia berkata.
"Kim-giauw, kau sudah gila!"
Sebenarnya banyak orang sudah memperkirakan hal ini, hanya saja mereka tidak berani bicara terang-terangan seperti Hie Kim-giauw, walaupun mereka bukan sepasang kekasih paling sedikit Hui-thian-sin-liong tentu suka dengan kecantikan Hiat-kun, karena itu terjadilah keributan ini.
Hie Kim-giauw masih berteriak.
"Ayah, bila kau mengatakan aku gila, kau sendiri sudah pikun. Coba pikir, bila dia benar-benar mau menikah denganmu, mengapa dari tadi dia diam saja?"
Tiba-tiba dia seperti orang gila sekuat tenaga mendorong Hiat-kun dan berteriak.
"Kau setuju berada di pihak ayah, ayahku sudah 4 ronde bertarung, kali ini kau yang harus bertarung, keluarlah untuk menerima serangan Hui-thian-sin-liong dan aku akan mengakui kau sebagai ibu tiriku, berlutut pun tidak masalah. Bila tidak jangan salahkan aku mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar."
Dengan marah Hui-thian berkata.
"Aku tidak sependapat dengan nona kecil ini. Tuan Kiam-ta, mohon laksanakan tugasmu sebagai juri!"
Dalam aturan dunia persilatan, yang menjadi juri mempunyai hak yang sangat kuat.
Tugasnya bukan hanya sebagai wasit, tapi mempunyai hak untuk menghukum orang yang membuat keonaran.
Dari awal Tuan Kiam-ta sudah memerintahkan agar orang-orang keluar dari aula.
Sekarang Hie Kim-giauw masuk ke dalam aula, ini sudah melanggar ketentuannya.
Wie Thian-hoan ingin dia melaksanakan tugasnya sebagai juri, artinya menyuruhnya mengusir Hie Kim-giauw dari aula.
Tuan Kiam-ta menjadi serba salah, terpaksa dia berkata.
"Hie Tiong-gwee tolong cegah tingkah laku putrimu!"
Artinya bila Hie Tiong-gwee tidak sanggup, dia yang akan bertindak.
"Aku akan memanggil muridku."
Kata Hie Tiong-gwee.
"Kwee Goan-cay, bawalah adik seperguruanmu masuk bila dia tidak mau menurut, patahkan saja kakinya!"
Hie Tiong-gwee menyerahkan tugas ini kepada Kwee Goan-cay, karena dia paling sayang kepada muridnya ini.
Dan putrinya pun paling menurut kepada Kwee Goan-cay.
Pada saat mereka bicara, Kim-giauw masih mendorong Hiat-kun.
Tapi walaupun Hiat-kun duduk di kursi tubuhnya tetap tidak bergerak.
Orang lain merasa tidak aneh tapi Hie Tiong-gwee merasa sangat terkejut.
Walaupun putrinya baru berusia 16 tahun, tapi dari kecil Hie Tiong-gwee sudah mengajarkan tenaga dalam kepadanya.
Walaupun baru menguasai 50% tapi di antara murid-muridnya kecuali Kwee Goan-cay, dialah yang paling kuat.
Dalam hati Hie Tiong-gwee heran bahwa ilmu silat Hiat-kun lebih hebat dari putrinya.
Bila Kim-giauw mendorongku seperti itu kepadaku, paling sedikit tubuhku akan bergoyang.
Karena Kim-giauw tidak bisa menjatuhkan Hiat-kun, dia tampak lebih marah lagi, kemudian dia menangis.
"Kau tidak mau membela ayahku, lebih baik kita sama-sama mati di sini."
Kwee Goan-cay segera masuk ke dalam aula dan berkata.
"Adik, Subo tidak bisa ilmu silat, kau jangan memaksanya bertarung dengan Wie Thian-hoan, itu bisa mengantarkan kematian."
Po Leng-hoi yang berada di luar juga dengan dingin berkata.
"Nona Hie, kau peduli dengan nyawa ayahmu tapi tidak peduli dengan nyawa orang lain. Ayahmu adalah seorang pendekar, tapi ibu barumu sama sekali tidak bisa bertarung, orang lain akan menertawakan ayahmu."
Hie Kim-giauw sangat marah dan berkata.
"Kau dan Kwee Goan-cay sama-sama brengsek..."
Kata-katanya belum habis, dia merasa tubuhnya kaku.
Kwee Goan-cay melihat tangan Kim-giauw yang bergeser dari tubuh Hiat-kun, kemudian melihat Kim-giauw yang berdiri mematung.
Dia malah mengira adik seperguruannya sudah sadar dia salah dan malu, dengan lembut Kwee Goan-cay berkata.
"Mari kita masuk, di sini banyak keluarga guru, dia tidak akan dicelakai oleh orang laia"
Dia mengatakan ini sebenarnya ditujukan pada Wie Thian-hoan, bila terjadi apa-apa akan banyak yang menolong.
Sekarang Tuan Kiam-ta sudah tahu bahwa kepandaian Hiat-kun sangat tinggi tapi tetap bukan tandingan Wie Thian-hoan.
Bila dia menggantikan suaminya bertarung, bukankah tubuhnya akan tersentuh oleh Wie Thian-hoan?
Ini tidak boleh terjadi.
Terpaksa Tuan Kiam-ta berkata.
"Kali ini bagaimana cara kalian akan bertarung?"
Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata.
"Nyonya Hie, bila kau ingin putri Hie Tiong-gwee memanggilmu ibu, silahkan bergabung dengan suamimu."
Dalam hati Hiat-kun berpikir, 'Bila aku bergabung dengan Hie Tiong-gwee, orang-orang akan menyangka aku rela menikah dengan Hie Tiong-gwee.
Wie Thian-hoan bermaksud agar aku tidak menikah dengan Hie Tiong-gwee.' Tapi harapannya hanya sampai sini.
Orang yang senang berkomentar itu berkata lagi.
"Nyawa seorang pendekar lebih berharga dari perempuan."
Hiat-kun tetap diam tidak berkata apa-apa.
"Apakah Nyonya Hie mau bergabung atau tidak, dia sendiri yang menentukan, siapapun tidak boleh memaksa!"
Kata Tuan Kiam-ta. Tuan Kiam-ta berkata kepada Wie Thian-hoan.
"Sekarang aku sebagai seorang pesilat akan bertanya, apakah di antara kau dan Hie Tiong-gwee punya dendam? Pepatah mengatakan 'lebih baik berteman daripada bermusuhan'. Aku harap permusuhan kalian berakhir di sini."
Jawab Wie Thian-hoan.
"Tuan Kiam-ta cepat lupa, dulu di Siong-san, Hie Tiong-gwee pernah mengatakan bahwa golongan hitam dan golongan putih tidak dapat berdiri bersama-sama. Di dalam benaknya aku adalah golongan hitam, karena itu dia harus bertarung denganku, apakah kata-kata seorang pendekar dapat dirobah-robah?"
Kata-kata Wie Thian-hoan sangat tepat, Hie Tiong-gwee pun tidak bisa membantah.
"Kalian tidak mendengarkan kata-kataku, terserah kalian!"
"Bukan aku tidak mau mendengar kata-kata Tuan Kiam-ta, aku sudah mengatakan bila aku kalah, kepalaku akan kupenggal sendiri, lebih baik kau nasehati Hie Tayhiap."
Tiba-tiba Coh Thian-su berkata.
"Tuan Kiam-ta, hal yang menjadi hak juri, kami tidak bisa ikut campur, tapi ini adalah hal umum. Apakah kami boleh ikut bicara?"
"Silahkan!"
Kata Tuan Kiam-ta terpaksa.
"Kata-kata Wie Thian-hoan salah!"
"Apa yang salah?"
Tanya Wie Thian-hoan.
"Sampai matipun orang persilatan tidak akan mau dicoreng nama baiknya. Nama lebih penting dari pada nyawa. Bila kau kalah hanya kepalamu yang hilang, tapi Hie Tayhiap pernah berkata bahwa golongan putih dan hitam tidak dapat berjalan beriringan, mengapa kau masih menyuruh Tuan Kiam-ta menasehati Hie Tayhiap? Mengapa mengatakan seolah-olah Hie Tayhiap mempunyai jiwa kerdil? Sungguh kurang ajar!"
Hie Tiong-gwee tidak kuat disindir, segera dia berteriak.
"Bila Tuan sudah berkata seperti itu, seperti kuda lari dicambuk tidak dapat ditarik lagi, baiklah Wie Thian-hoan, bila kau ingin mengambil nyawaku, keluarkanlah jurusmu!"
"Baik, kali ini aku akan menotok dadamu, berhati-hatilah!"
Walaupun kakinya tidak bergeser dan terlihat asal-asalan.
Tapi terasa ada suatu tenaga menghimpit dada Hie Tiong-gwee.
Hie Tiong-gwee mendorong telapak tangan dan membalas.
Menurut aturan harus disambut tidak boleh membalas, tapi karena ini sudah menyangkut nyawanya, Hie Tiong-gwee sudah lupa pada aturan ini.
Tenaga dalam Wie Thian-hoan membuat orang-orang terkejut.
Hie Tiong-gwee melanggar aturan, dia membalas, akhirnya malah membuat orang-orang itu menjadi bengong.
Terlihat Hie Tiong-gwee roboh dengan kepala di bawah kaki di atas dan dia telah muntah darah.
Wie Thian-hoan berkata.
"Tuan Kiam-ta, aku tidak perlu menggunakan tenaga dalam besar untuk mengambil nyawanya, sekarang dia terluka tidak ringan juga tidak berat. Bila ada yang punya obat, dia hanya perlu beristirahat 10 hari hingga setengah bulan dan akan sembuh, nyawanya tidak akan hilang."
Semua orang tahu yang dikatakan Wie Thian-hoan bukan kata-kata bohong, bila dia mau mengambil nyawa Hie Tiong-gwee sekali mengeluarkan tenaganya, dia bisa mencabut 10 nyawa Hie Tiong-gwee sekaligus.
Waktu itu keluarga Hie merasa terkejut.
Begitu Wie Thian-hoan habis berkata-kata, Hun Sim-boh baru ingat bahwa dia adalah tamu, dia diperbolehkan menolong Hie Tiong-gwee.
Karena Hun Sim-boh adalah murid Siauw-lim, dia pasti mempunyai obat.
Segera dia mendekati Hie Tiong-gwee dan memasukkan obat ke dalam mulurnya.
Tuan Kiam-ta pun sudah menyelesaikan tugasnya menjadi juri.
Karena Hie Tiong-gwee terluka begitu parah, dia tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan.
Semua masalah ada awal pasti akan ada akhir karena itu Tuan Kiam-ta harus mengumumkan siapa yang kalah dan siapa yang menang.
Tuan Kiam-ta berkata.
"Bagian pertarungan adu tenaga dalam, karena Hie Tiong-gwee melanggar peraturan dan terluka, maka Hie Tiong-gwee yang kalah"
Dan dia harus bertanya kepada Hie Tiong-gwee lagi.
"Apakah kau mengaku kalah?"
Hie Tiong-gwee baru menelan satu butir obat, harus menunggu dia pulih, baru bisa bicara.
Hie Tiong-gwee sudah menelan sebutir obat, tapi mulutnya masih keluar sedikit darah, matanya tidak terbuka tapi Tuan Kiam-ta tahu luka Hie Tiong-gwee tidak seberat itu.
Dia hanya malu kepada keluarga Hie jadi dia memejamkan mata, pura-pura tidak sadar.
Pikir Kiam-ta, 'Hia Tiong-gwee sangat malu, lebih baik aku mengumumkan pertarungan sudah selesai."
Belum selesai berpikir, tiba-tiba Kwee Goan-cay keluar dan berkata.
"Wie Thian-hoan, kalau berani kau jangan pergi!"
Kata Wie Thian-hoan dengan tertawa.
"Pertarungan antara aku dan gurumu sudah selesai, mengapa aku harus terus di sini? Jujur bicara aku adalah seorang penakut, sangat takut melihat wajah yang sedih, kecuali bila kau mempunyai cara supaya aku tidak pergi, bila tidak aku harus tetap akan pergi sekarang."
"Pertarungan belum selesai, aku harus membalas dendam guruku!"
Tuan Kiam-ta sangat terkejut, dengan cepat dia berkata.
"Gurumu tidak apa-apa, jangan berlebihan!"
"Bila ada yang menghina ayah, anaknya harus membela sampai mati. Guru seperti ayah, aku harus membela nama baik perguruan kami."
Orang persilatan selalu menganggap perguruan mereka tidak boleh dihina, sekarang Kwee Goan-cay sudah berkata seperti itu, Tuan Kiam-ta tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata.
"Kau ingin membela gurumu. Baiklah! Syarat apa yang ingin kau ajukan?"
Kwee Goan-cay memberi hormat terlebih dahulu kepada juri dan berkata.
"Aku harus membalas dendam guru, Wie Thian-hoan sudah melukai guruku, dia adalah musuh kami. Kami tidak perlu bertarung satu lawan satu. Bila ada Suheng atau Sute ingin membalas dendam, silahkan keluar!"
Hie Tiong-gwee mempunyai 8 orang muridd, dia adalah murid keenam.
Hanya dia yang berteriak-teriak sedangkan yang lain hanya diam.
Toa-suheng yang bernama Leng Cong-goan dalam hati sangat marah kepada Kwee Goan-cay karena tidak tahu diri, terpaksa dia keluar, sebab bila dia tidak keluar, lain waktu bila dia berkelana di dunia persilatan, dia akan di cemooh kan orang.
Dia berkata.
"Sekarang guru mati atau hidup kami belum tahu. Golongan hitam atau putih bisa berdiri bersama atau tidak sudah tidak ada aturannya lagi. Harap keluarga Hie bisa membantu."
Dia lebih pintar dari Kwee Goan-cay, untuk membalas dendam dia seolah-olah meminta bantuan kepada orang lain, sebab bila ingin mendapat nama baik harus membantu dia membalas dendam Pertama-tama Bwee Ceng-hong berdiri dan beikala "Hie Tiong-gwee pernah menolongku, sekarang aku akan menolongnya."
Yap Jin-tong juga ikut berdiri, Hun Sim-boh pun sudah ikut berdiri ditambah masih ada beberapa orang, guru Hie Tiong-gwee sebenarnya ada 2 orang tapi entah di mana mengasingkan diri.
Wie Thian-hoan hanya melihat tingkah mereka, lalu berkata.
"Masih ada lagi yang mau membantu membalas dendam? Aula ini masih bisa memuat 20 hingga 30 orang lagi. boleh maju sekaligus, tidak perlu aku membereskannya satu per satu."
Matanya bersinar kejam, bicaranya pun sangat dingin.
Sekali melihat sudah tahu, nafsu membunuhnya mulai timbul Tamu-tamu di luar sudah banyak yang bubar, mereka tidak ingin melihat lagi.
Delapan orang yang berada di aula jadi merasa tidak tenang.
Wie Thian-hoan bertepuk tangan dan berkata.
"Apakah masih ada orang lagi? Aku tidak punya banyak waktu lagi, mulailah!"
Tiba-tiba Tuan Kiam-ta berseru.
"Tunggu!"
"Apakah Tuan Kiam-ta juga ingin ikut?"
"Tulang tuaku sudah tidak kuat, tapi aku ingin bertanya dulu kepada Hie Tiong-gwee baru bisa memulai pertarungan ini, bagaimana?"
"Benar, walau dia tidak bisa bicara tapi persilahkan dia masuk dulu, aku tidak akan membunuhnya."
Tuan Kiam-ta tahu bahwa Hie Tiong-gwee hanya pura-pura tidak sadar, segera dia menekan ketiaknya, dan Hie Tiong-gwee berteriak, dengan terpaksa dia membuka matanya.
"Mereka akan membalas dendam demi dirimu, apakah kau setuju?"
Tuan Kiam-ta berharap Hie Tiong-gwee bisa menghentikan niat mereka.
Bila mereka benar-benar bertarung, ke delapan orang ini akan teriempar ke luar, walaupun mereka bisa melukai Wie Thian-hoan, nyawa mereka pun tidak bisa dijamin.
Hie Tiong-gwee sudak tahu kelihaian Hui-thian-sin-liong, hampir saja nyawanya tidak tertolong, dia mengerti keadaan ini.
Tiba-tiba terpikir olehnya suatu cara yang licik, bila Hui-thian-sin-liong bertarung, pasti akan banyak orang yang terluka atau mati, termasuk Hun Sim-boh, Bwee Ceng-hong, dan Yap Jin-tong.
Mereka berasal dari perguruan yang besar dan ternama di dunia persilatan.
Tamu-tamunya pun masih banyak yang punya hubungan dengannya, bila mereka terluka atau mati di tangan Hui-thian-sin-liong, akan membuat orang persilatan menjadi marah.
Dan Hui-thian-sin-liong tidak akan bisa melawan orang-orang dunia persilatan yang begitu banyak.
Hie Tiong-gwee pura-pura terluka parah dan tidak dapat bicara.
Tuan Kiam-ta tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata.
"Suruh pengantin perempuan membawanya masuk, di sini sudah tidak diperlukan lagi kehadirannya."
Kata-katanya belum selesai, pengantin perempuan tiba-tiba berdiri dan berkata.
"Tuan Kiam-ta, jalankan tugasmu sebagai juri, harap suruh orang yang tidak ada hubungan dengan kejadian ini untuk keluar."
Pertama kalinya pengantin perempuan bicara di hadapan orang-orang. Mereka merasa terkejut. -ooo0dw0ooo-B. Pengantin Wanita Bertarung Tuan Kiam-ta tampak terkejut dan berkata.
"Nyonya Hie, maksudmu adalah..."
"Aku ingat masih ada satu babak yang tersisa, yaitu bertarung pedang, apakah benar?"
"Benar."
"Kalau begitu, pertarungan belum selesai, siapa yang kalah atau menang masih belum bisa ditentukan. Aku minta penegasanmu sekali lagi, tidak boleh lagi ada yang mengganggu pertarungan kali ini."
"Suamimu sudah terluka parah, kelihatannya pertarungan ini tidak dapat dilanjutkan lagi."
"Dia tidak bisa tapi aku bisa, kau pernah berkata, aku punya hak untuk bertarung di babak manapun."
Walaupun Tuan Kiam-ta sudah tahu maksud Hiat-kun, tapi kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Hiat-kun membuatnya terkejut. Lalu Tuan Kiam-ta mengumumkan.
"Baiklah,pertarunganbolehdilanjutkan, yang tidak berkepentingan harap ke luar dari ruangan ini."
Baca Juga: Legenda Kematian Gu Long
Baca Juga: Perguruan Sejati Khu Lung