Jala Pedang Jaring Sutra 2

Eps 2 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

Babak pertama adalah pertarungan senjata rahasia, hasil akhir adalah seri.

Babak kedua adalah duel tangan kosong hasil akhir Hie Tiong-gwee yang kalah.

Babak ketiga adalah pertarungan pedang, Nyonya Hie yang bertahan dan Wie Thian-hoan sebagai penyerang.

Hiat-kun membuka tutup wajahnya, dia meloncat, gerakan tubuhnya sangat luwes, dia berdiri di tengah aula dan berkata.

"Wie Thian-hoan, keluarkanlah jurusmu!"

Hiat-kun adalah si Cantik dari Lok-yang, banyak tamu yang sengaja datang hanya ingin memberi selamat dan sekaligus ingin melihat kecantikan pengantin perempuan.

Sekarang dia sudah membuka tutup wajahnya, karena itu banyak orang yang kembali lagi untuk melihat si pengantin perempuan.

Ada pepatah yang berkata 'perempuan cantik selalu membuat keributan', hal ini benar-benar tidak salah.

Wajah Hui-thian menjadi pucat, matanya terus memandang pengantin perempuan ini.

Kulit pengantin perempuan ini sangat putih dan dia sangat cantik tapi dia juga sangat dingin, membuat hati orang ikut menjadi dingin.

"Keluarkanlah jurusmu!"

Kata Hiat-kun dingin.

"Mengapa kau menjual nyawamu demi Hie Tiong-gwee, apakah kau benar-benar ingin menikah dengannya?"

"Kau tidak boleh bertanya seperti itu, kau hanya boleh mengeluarkan 3 jurus menghadapi dia."

Kata Tuan Kiam-ta "Wie Thian-hoan, lebih baik kau sekaligus membunuhku, bila tidak aku yang akan membunuhmu!"

Hati Wie Thian-hoan sangat sedih, dia berkata.

"Mengapa kau jadi begini? Aku tidak percaya kau mau menikah dengan Hie Tiong-gwee."

Begitu dia memantapkan hati, dia mengeluarkan pedang dengan pelan dan kemudian mengangkatnya.

Hiat-kun melihat ujung pedang, dia menjadi terpaku.

Apa yang ada di dalam pikirannya?

Apakah Hui-thian tega membunuh orang yang begitu cantik dan lemah lembut?

Wie Thian-hoan tidak berani menatap mata Hiat-kun tapi pedang sudah diangkat melalui kepalanya Tiba-tiba Yu Yong berkata.

"Dulu pada saat bertarung pedang, Wie Thian-hoan tidak terluka walaupun Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan 4 jurus."

Sebenarnya hasil pertarungan sudah diumumkan oleh Tuan Kiam-ta, mengapa dalam keadaan seperti ini Yu Yong mengatakannya?

Apa maksudnya?

Apakah dia takut Wie Thian-hoan lupa?

Atau sengaja mengingatkan?

Semua orang sudah mengerti maksudnya, tidak lain adalah jangan melukai pengantin perempuan.

Dan juga memberitahu Wie Thian-hoan agar jangan keterlaluan dalam pertarungan ini.

Hie Tiong-gwee sudah melanggar aturan dan Wie riiian-hoan bisa dengan mudah memenangkan pertarungan ini.

Dia hanya perlu memainkan pedang tidak perlu melukai lawan, asal tidak melanggar peraturan, dia pasti menang.

Hanya ada 2 kemungkinan Hiat-kun bisa menang.

Pertama, Wie Thian-hoan mengeluarkan 5 jurus atau lebih tapi tidak melukai lawan.

Kedua, dalam 3 jurus itu tidak mengenai lawan tapi dia sendiri yang terluka.

Tapi dia adalah penyerang, tidak mungkin dia terluka kecuali Hiat-kun memiliki ilmu yang tinggi.

Begitu pedang mengenainya, dia bisa membalikkan pedang.

Tapi walau dia mempunyai ilmu silat setinggi itu bila Wie Thian-hoan tidak menyerangnya, diapun tidak akan bisa memakai ilmunya.

Setelah Yu Yong bicara, semua menunggu.

Sepertinya Wie Thian-hoan tidak melihat juga tidak mendengar, dia tetap mengangkat pedangnya dengan tinggi, dia maju selangkah.

Semua mengerti maksud Yu Yong, tapi dia kelihatan tidak mengerti.

Apakah dia pura-pura tidak mendengar?

Tuan Kiam-ta mengira Wie Thian-hoan tidak akan melukai pengantin perempuan tapi sekarang dia rada terkejut.

Mata Hui-thian-sin-liong penuh dengan kemarahan, apakah dia akan menjadi gila?

Kiam-ta mengambil keputusan, bila Hui-thian-sin-liong melakukan hal yang tidak pantas, dia akan membantu bertarung.

Tiap orang tampak tidak tenang, hanya mendengar Wie Thian-hoan berkata.

"Baiklah Kang Hiat-kun, kau tidak rela meninggalkan suamimu, aku akan membantumu."

Begitu dia bicara, jurusnya pun dilancarkan, pedang diangkat lebih tinggi, tiba-tiba terjatuh.

Terdengar Hiat-kun berteriak, peristiwa yang tidak terpikirkan oleh siapapun terjadi.

Orang-orang di luar mengira yang terluka adalah pengantin perempuan, tapi sebaliknya malah yang terluka adalah Hui-thian-sin-liong.

Tapi Wie Thian-hoan bukan terluka karena ditusuk oleh Hiat-kun.

Pedang diangkat tinggi dan jatuh.

Dia tidak menusuk ke depan tapi menusuk ke dadanya sendiri.

Sebenarnya Yu Yong sedang bersiap-siap menolong pengantin perempuan, tapi perubahan ini membuat dia terkejut dan bengong.

Perubahan yang berturut-turut membuat semua orang terkejut.

Teriakan Hiat-kun juga membuat orang-orang terkejut.

Tuan Kiam-ta juga berteriak.

"Siapa kau?"

Seseorang secepat kilat sudah masuk melalui jendela, Tuan Kiam-ta melihatnya, dia adalah seorang gadis berbaju hitam dan dia sedang berjalan ke arah Wie Thian-hoan.

Yu Yong belum tahu apa yang telah terjadi.

Karena dia memiliki ilmu silat yang tinggi, begitu ada angin lewat, dia bersiap-siap untuk menjaga serangan mendadak.

Dia hanya melihat gadis berbaju hitam mengayunkan lengan bajunya, tenaga yang dikeluarkan oleh Yu Yong jadi tertahan, malah tubuh Yu Yong terdorong mundur beberapa langkah.

Gadis itu pun tergetar juga oleh getaran tenaga yang dikeluarkan Yu Yong.

Waktu itu Wie Thian-hoan telah menusuk dirinya sendiri.

Wie Thian-hoan sepenuh hati memperhatikan Hiat-kun, pada waktu gadis baju hitam itu datang dia sama sekali tidak melihatnya.

Dia tidak melihat sekelilingnya juga tidak mendengar.

Tapi teriakan Hiat-kun sudah menggetarkan hatinya.

Orang lain tidak merasakan teriakan itu tapi dia benar-benar sangat merasakan, Hiat-kun ternyata memperhatikannya.

"Seperti tidak cinta tapi ada cinta."

Wie Thian-hoan sekarang baru tahu bahwa Hiat-kun tidak seperti yang disangkanya.

Hati bergetar, jari pun ikut bergetar.

Sehingga pedangnya tidak terlalu dalam menusuk ke dalam dadanya.

Walaupun tidak begitu dalam tapi dadanya sudah terluka, darah merembes membasahi bajunya.

Gadis baju hitam itu berkata.

"Kau bodoh Wie Thian-hoan, demi perempuan ini kau ingin mati!"

Dia merebut pedangnya.

Hal yang tidak terduga berdatangan.

Keadaan menjadi kacau, Leng Giok-yan dan Bong Cong-kian lari mendekati Yu Yong, mereka takut Yu Yong terluka.

Bong Cong-kian bertanya kepada Yu Yong.

"Toako, bagaimana keadaanmu?"

Dada Yu Yong masih sedikit sakit, dia sangat terkejut.

"Aku sudah berlatih ilmu silat selama puluhan tahun, tapi masih tidak bisa menahan tenaga dalam gadis yang masih begitu belia Kelihatannya aku harus lebih awal mengundurkan dari dunia persilatan."

Tapi dia malu mengatakannya kepada mereka, dia hanya berkata.

"Tidak apa-apa."

Giok-yan masuk ke dalam aula, dia melototi gadis baju hitam itu. Gadis itu seperti sebuah misteri, membuat dia susah mengerti, Giok-yan lalu berkata kepadanya.

"Kau bilang dia orang bodoh tapi kau juga bodoh, apakah kau belum puas mengejar Wie? Padahal dalam hatinya sama sekali tidak ada dirimu..."

Gadis itu adalah gadis yang merebut kuda Giok-yan.

Dada Wie Thian-hoan masih mengeluarkan darah, si gadis ingin mengobatinya, tapi ditolak oleh Wie Thian-hoan.

Gadis itu kesal mendengar omelan Giok-yan, dia menjadi marah dan berkata "Jangan mengurusi masalah orang lain, Toakoku jadi begini, ini semua karena kalian!"

Giok-yan juga marah.

"Dia melukai dirinya sendiri, mengapa kami yang disalahkan?"

"Bila bukan karena Yu Yong yang menghalangiku, aku bisa menghalangi dia melukai dirinya sendiri. Aku ingin kalian menggantinya dengan nyawa kalian."

Dia sudah marah dia tidak peduli siapa itu Yu Yong. Tiba-tiba Wie Thian-hoan berkata.

"Jangan buat keributan, aku hanya terluka sedikit, tidak akan mati."

Gadis itu masih mendengar suara Wie Thian-hoan yang masih kuat, tahu bahwa lukanya tidak berat, dengan lembut dia berkata.

"Kakak Wie, mari kita pergi!"

"Baiklah, kau tunggu dulu sebentar!"

Dia membalikkan tubuh dan berkata.

"Nyonya Hie, selamat kau sudah menang."

Hiat-kun masih dalam keadaan terkejut, dia masih bengong.

Begitu Wie Thian-hoan selesai berkata, dia sudah pergi secepat angin topan, orang yang tidak sempat menyingkir ditabraknya hingga jatuh.

Setelah lama gadis baju hitam itu baru bisa mengikuti Wie Thian-hoan, gadis itu berkata.

"Kakak Wie, kau tenanglah!"

Wie Thian-hoan memuntahkan darah dan pingsan, dia terluka bukan di tubuhnya saja tapi di hatinya juga.

Si gadis melihat keadaan Wie Thian-hoan jadi ikut merasa sedih dan membantunya naik ke atas kuda.

Wie Thian-hoan keluar dari aula, Tuan Kiam-ta baru mengumumkan hasil pertarungan adalah satu kali menang dan satu kali kalah, serta satu kali seri, jadi kesimpulannya adalah pertarungan antara Hui-thian-sin-liong dan Hie Tiong-gwee adalah seri.

Semua orang pun tahu dalam pertarungan pedang, Wie Thian-hoan sendiri yang melukai dirinya, tapi karena peraturan dunia persilatan adalah begitu jadi yang terluka tetap dinyatakan kalah.

Karena Hie Tiong-gwee terluka, upacara sembahyang tidak dapat dilanjutkan.

Murid tertuanya mewakili dia meminta maaf kepada semua orang, perkawinan yang meriah akhirnya menjadi pemandangan yang menakutkan.

Hie Kim-giauw keluar untuk memapah ayahnya masuk, dia menoleh pun tidak ke arah 'ibu tirinya' yaitu Hiat-kun yang masih duduk di kursi pengantin diam terpaku.

Di atas kertas dia adalah istri Hie Tiong-gwee, tapi dia seperti orang luar.

Nona Hie tidak menghiraukan dia, pendamping pengantin pun tidak berani membawa dia masuk ke kamar pengantin.

Kwee Goan-cay sangat sedih, dia mendekati Hiat-kun dan berkata.

"Subo, beristirahatlah!"

Hiat-kun dengan dingin berkata.

"Kwee Toako, kedua kata ini terlalu dini kau sebut padaku, sebab dia belum sembahyang kepada ayahku."

Hie Kim-giauw masuk ke dalam, dengan dingin dia memandang Kwee Goan-cay.

Kwee Goan-cay hanya bisa memanggil pengasuh Kim-giauw untuk membawa Hiat-kun masuk ke kamar pengantin.

Pengasuh itu tahu bahwa Nona Hie paling akrab dengan Kwee Goan-cay jadi dia menuruti kemauan Kwee Goan-cay.

Semua keluarga Hie sudah pulang, hanya Coh Thian-su yang masih tertinggal di aula melihat Hiat-kun yang dibawa meninggalkan aula.

Dalam hatinya Po-Leng-hoi ingin tertawa, tidak disangka Thiat-pit-su-seng juga terpikat oleh kecantikan Hiat-kun, dia sendiri juga terpikat oleh kecantikan Hiat-kun, dia mengira orang lain pun akan seperti itu.

Walau dia ingin tertawa, tapi dia tidak merasa aneh, dia menarik lengan baju Coh Thian-su dan berkata.

"Coh Tayhiap, kita harus pergi, silahkan mampir ke rumahku. Bila ayahku bertemu denganmu, dia pasti akan senang."

"Apakah kau mau pergi?"

"Bila tidak pergi, mau menunggu apa lagi?' "Apakah kau tidak mau memberitahu temanmu dulu?"

"Yang kau maksud Kwee Goan-cay?"

"Dia adalah murid Hie Tiong-gwee, kita tidak permisi kepada Hie Tiong-gwee, kita bisa memberitahu kepada Kwee Goan-cay."

"Tidak perlu banyak aturan."

"Kau adalah tamu yang dikenal, dan aku bukan. Aku ingin menanyakan dia satu hal."

"Mengenai apa?"

Coh Thian-su berbisik di telinga Po Leng-hoi, kelihatannya Po Leng-hoi sangat terkejut dan berkata.

"Apakah benar? Aku sudah mengenalnya selama 8 tahun, aku juga tidak tahu dia bisa ilmu silat."

"Aku juga tidak tahu apakah tebakanku benar atau salah? Bila di sini tidak ada orang, tanyakanlah pada Kwee Goan-cay."

"Aku akan menanyakannya sekarang."

Kwee Goan-cay sedang merayu adik seperguruannya, tiba-tiba ada yang mengetuk jendela, Kwee Goan-cay bertanya.

"Siapa?"

"Aku."

Jawab Po Leng-hoi.

"Silahkan masuk, di sini hanya ada Kim-giauw dan aku."

Mereka bertiga adalah teman dari kecil.

"Aku tidak akan masuk, kau keluarlah sebentar, ada yang mau aku tanyakan."

Kata Kim-giauw dengan dingin.

"Sobatmu sudah datang, cepatlah pergi menghibur Hiat-kun, jangan pura-pura di sini."

Maksud dari kata 'sobat' adalah mereka sama-sama menyukai Hiat-kun, Kwee Goan-cay tidak mau banyak mulut dia buru-buru keluar.

Mereka berdua sudah tiba di tempat yang tidak ada orang, Po Leng-hoi lalu bertanya.

"Sepertinya adik seperguruanmu sangat marah?"

"Benar, karena dia dirugikan, dia sekarang sangat marah."

"Dia dirugikan apa?"

"Ini...ini..."

Dia tampak sedang berpikir, apakah dia harus memberitahu atau tidak.

"Kalau tidak salah, dia dirugikan oleh Hiat-kun."

"Mengapa kau bisa tahu?"

"Aku tahu dia sudah dirugikan apa. Apakah dia sudah memberitahumu?"

Kwee Goan-cay merasa aneh dan berkata."

"Dia sudah mengatakannya, coba kau beritahu sekali lagi, apakah cocok dengan kata-kata Kim-giauw?"

"Dia telah mendorong Hiat-kun dan dia merasa tubuh bagian atasnya kaku, seperti ada yang menotok nadinya."

Kwee Goan-cay tampak terkejut dan berkata.

"Benar, mengapa kau bisa tahu? Apakah Hiat-kun yang memberitahu..."

"Kau jangan cemburu, dia tidak memberitahu kepadaku, dia juga tidak memberitahu bahwa dia ternyata bisa ilmu silat."

"Lalu, mengapa kau bisa tahu?"

Tanya Kwee Goan-cay.

"Coh Thian-su yang memberitahu, dia ingin tahu apakah semua ini benar? Karena itu dia menyuruhku membuktikannya."

"Kita berteman dengannya sudah 8 tahun, entah mengapa Chu yang tinggal di Yang-ciu dan belum pernah bertemu dengan Hiat-kun, bisa tahu?"

"Aku juga tidak tahu, Coh Thian-su sedang menungguku di luar. Bila nanti aku sudah menanyakan kepadanya, besok kau ke rumahku, aku akan memberitahu padamu."

"Nanti dulu!"

Kata Kwee Goan-cay.

"Ada apa lagi?"

"Yu Yong mencarimu."

"Dia adalah orang terkenal di dunia persilatan, walaupun aku mengenalnya, aku sungguh tidak pantas berteman dengannya, ada apa dia mencariku?"

"Sepertinya dia ingin bertamu ke rumahmu, untuk mencari tahu tentang seseorang."

"Siapa?"

"Gadis berbaju hitam itu, aku hanya dengar dia berbicara kepada Tuan Kiam-ta."

Po Leng-hoi merasa aneh lagi, dia berkata.

"Teman ayahku yang paling muda adalah Coh Thian-su, dia pun sudah hampir berumur 30 tahun. Umur gadis berbaju hitam itu hampir sama dengan Hiat-kun, ayahku pasti tidak mengenalnya."

"Aku pun tidak tahu, dia hanya tahu bahwa kau dan aku adalah teman. Dia berpesan untuk mencarimu dan meminta agar dia diundang ke rumahmu."

"Baiklah, tolong beritahu kepadanya, aku menunggu di pintu luar."

Sebenarnya Po Leng-hoi ingin mencarinya tapi karena Coh Thian-su sedang menunggu, terpaksa dia mengurungkan niatnya.

Coh Thian-su tampak sedang menunggu, begitu dia melihat Po Leng-hoi keluar dia langsung bertanya.

"Bagaimana?"

"Semua seperti dugaanmu, Coh Tayhiap, mengapa kau bisa tahu?"

"Itulah yang dinamakan ilmu tenaga dalam menggetarkan nadi, gjni pemah berlatih ilmu silat ini. karena tadi aku berada di luar jadi tidak begitu jelas melihatnya, dan aku tidak berani memastikannya."

Po Leng-hoi tampak terkejut dan berkata.

"Tidak kusangka, Hiat-kun masih begitu muda sudah punya ilmu yang begitu tinggi, kami menjadi malu dibuatnya. Sudah mengenal begitu lama tapi bisa tidak tahu bahwa dia mempunyai ilmu yang begitu tinggi."

Sebenarnya 'Tenaga dalam menggetarkan nadi' dan 'Pena besi nienotok nadi' adalah satu aliran.

Ilmu itu adalah ilmu rahasia yang hanya dimiliki oleh perguruan Coh Thian-su, ilmu ini pun jarang ada yang bisa menguasainya.

Kang Hiat-kun dan Coh Thian-su sebenarnya adalah saudara seperguruan yang belum pernah bertemu.

Kali ini Coh Thian-su sengaja datang dari Yang-ciu bukan hanya ingin memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee dan juga bukan hanya untuk melihat bunga Bo-tan, dia hanya ingin mencari Supek dan Sumoinya.

Dia sudah curiga bahwa Hiat-kun adalah Sumoinya yang belum pernah dia kenal, sekarang dia sudah yakin.

Hati Coh Thian-su gembira sekaligus terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Kang Guan-yang adalah Kang Ci-ki, dia adalah Supeknya.

Dia ke Lok-yang menyamar menjadi guru silat biasa bernaung di bawah lindungan Hie Tiong-gwee, mungkin ini ada hubungan dengan kejadian 10 tahun yang lalu.

Hui-thian-sin-liong kelihatannya adalah salah satu korban dari kejadian 10 tahun yang lalu.

Tapi anehnya, mengapa Kang Supek menikahkan putrinya dengan Hie Tiong-gwee.

Apakah dia percaya bahwa Hie Tiong-gwee adalah seorang 'pendekar'?

Mengapa dia meninggal dengan tiba-tiba?

Po Leng-hoi mengatakan bahwa dia mati secara aneh...

sayang aku terlambat datang 3 bulan."

Po Leng-hoi melihat dia seperti sedang memikirkan sesuatu kemudian dia bertanya.

"Coh Tayhiap, kau sedang memikirkan apa?"

"Aku sedang berpikir mengenai kejadian hari ini, pertama tentang Hui-thian-sin-liong, kemudian gadis baju hitam, mereka masih begitu muda tapi dapat melakukan semua itu."

Po Leng-hoi kembali bertanya kepada Coh Thian-su.

"Coh Tayhiap, pergaulanmu luas, apakah kau tahu gadis berbaju hitam itu berasal dari perguruan mana?"

"Dia hanya mengeluarkan satu jurus, aku tidak berani mengatakannya."

"Sekali mengayunkan lengan baju, dia dapat mengatasi tenaga dalam Yu Yong. Ilmu lengan baju besi hanya ada di Siauw-lim dan perguruan Swat San."

"Benar, orang persilatan memang berkata seperti itu. Aku mendengar kabar dari orang lain, ada seorang yang aneh di dunia persilatan, dia mempunyai ilmu 'lengan baju besi', terlihat lembut tapi sangat bertenaga. Dia bisa memakai lengan baju menjadi telapak tangan, dan lembut seperti air mengalir, karena itu dinamakan'Liu-in-hui-siu'(Awanmengalirlenganbaju beterbangan)."

"Orang aneh ini siapakah namanya?"

"Dia she Kie, bernama Yan-gan. Gunung Yan-gan berada di daerah Mongolia, orang-orang curiga bahwa Kie Yan-gan adalah orang Mongolia karena di selatan tidak ada yang kenal dengannya."

Po Leng-hoi jadi teringat sesuatu.

"Aku mengerti."

Coh Thian-su ingin bertanya lagi, apa yang dia maksudkan sudah mengerti, tapi Yu Yong sudah datang.

Yu Yong melihat Po Leng-hoi bersama-sama Coh Thian-su, hatinya merasa sedikit tidak enak dan dia berkata.

"Adik Po, kau sudah kenal dengan Coh Tayhiap?"

Jawab Po Leng-hoi.

"Coh Tayhiap adalah teman ayahku, dia jarang ke Lok-yang, aku dipesan oleh ayah agar mengundang dia datang ke rumah."

Pertarungan antara Hie Tiong-gwee dan Hui-thian-sin-liong, hampir semua orang berpihak kepada Hie Tiong-gwee kecuali kedua orang ini.

Yang satu bersembunyi di dalam kerumulan orang-orang tapi sering mengejek Hie Tiong-gwee, dan satu lagi adalah Coh Thian-su.

Coh Thian-su tidak seperti orang itu, dia sopan, tapi dia tetap tidak menghormati Hie Tiong-gwee.

Dia lebih memihak kepada Hui-thian-sin-liong, Yu Yong tahu bahwa dia adalah tamu dari keluarga Po, dia tampak sedikit ragu.

Karena itu dengan agak terpaksa dia berkata.

"Baiklah! Coh Tayhiap, mari kita pergi bersama-sama."

Sifat Yu Yong sangat polos. Walaupun dia tidak menyukai Coh Thian-su tapi pembicaraannya tidak menyinggung perasaan Coh Thian-su.

"Ayahmu terkenal di Kanglam tapi sayang aku belum pernah bertemu, hari ini aku bisa bertemu dengan Coh Toako, aku sudah merasa senang."

Kata Yu Yong.

"Yu Tayhiap, kau dan ayahku sederajat, tidak perlu sungkan, bila tidak aku akan merasa malu."

"Belajar silat jangan membeda-bedakan lebih awal atau lebih akhir, yang paling penting yang paling berhasil adalah menjadi guru. Walaupun akn lebih tua beberapa tahun darimu, tapi ilmu silatku jauh denganmu. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan."

Kata Yu Yong.

"Silahkan katakan!"

Kata Coh Thian-su.

"Ayahmu adalah Kanglam Tayhiap, menurut orang-orang, beliau dapat menotok urat nadi dengan sebuah pena. Menurut kabar Ilmu silat ini berasal dari daerah utara, apakah benar?"

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Rubah tua ini sepertinya bukan bertanya tentang 'pena menotok urat nadi' melainkan ingin tahu identitas keluarga Hiat-kun.' Yu Yong melihat Coh Thian-su yang terdiam, dia merasa sedikit malu, kemudian dia menjelaskan lagi.

"Aku hanya mendengar orang-orang persilatan berkata seperti itu karena merasa aneh aku jadi ingin tahu dan bertanya kepadamu. Bukan ingin bertanya tentang rahasia perguruanmu, jangan salah paham."

"Aku tidak paham, apa yang dikatakan oleh orang-orang itu?"

"Ada 2 versi."

"Coba anda ceritakan."

"Yang pertama, ilmu 'pena besi menotok nadi' adalah ilmu turun temurun dari keluarga Coh. yang kedua adalah yang tadi aku katakan kepadamu, dari sungai Huang-ho hingga ke utara, sepertinya tidak ada yang bisa ilmu ini, karena itu semua orang menjadi curiga, apakah ayahmu masih mempunyai saudara seperguruan?"

Benar saja, perkiraan Coh Thian-su tidak meleset. Yu Yong sudah tahu ilmu Hiat-kun dan ilmu 'pena besi menotok nadi' berasal dari satu perguruan. Maka dengan santai Coh Thian-su menjawab.

"Yang aku tahu, ayahku memang pernah belajar kepada seorang aneh yang berasal dari utara, orang aneh ini tidak ingin orang lain tahu namanya, juga tidak memberitahu identitasnya. Apakah dia pernah memberitahu kepada ayahku, aku tidak tahu, dia hanya mengajarkan ayahku bagaimana cara menulis, tapi ayah bukan murid yang dia akui. Apakah dia mempunyai murid yang lain, aku juga tidak tahu!"

Jawaban Coh Thian-su setengah benar setengahnya lagi tidak benar.

Yu Yong tahu, Chu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, dia juga tidak berani memaksa, mereka pun mengganti topik pembicaraan.

Mereka sudah tiba di rumah Po Leng-hoi, Po Tiong-ie melihat anaknya pulang dengan Coh Thian-su dan Yu Yong, dia terkejut juga sekaligus gembira, dia berkata.

"Adik Coh, aku sungguh rindu padamu, angin apa yang membawamu kemari? Yu Tayhiap, katanya kau mewakili perguruan memberi selamat kepada Hie Tayhiap, apakah pesta dengan cepat sudah selesai? Apakah kau tidak tinggal dulu di rumah Hie Tiong-gwee? kau ke sini apa juga untuk menengokku? Aku sungguh jadi terkejut?"

Walau dia menyambut Coh Thian-su dan Yu Yong dengan sama ramah, tapi dari kata-kata yang dikeluarkan kelihatan bahwa dia lebih dekat dengan Coh Thian-su, dia hanya hormat kepada Yu Yong saja.

Dari kata-katanya juga ada sedikit mengandung ejekan.

Yu Yong adalah orang yang agak pengertian, mendengar itu dalam hatinya berpikir, 'Pak tua ini ternyata tidak menyukai Hie Tiong-gwee, dulu aku tidak percaya, sekarang aku sudah melihatnya Untung hari ini aku sudah bertemu dengannya, bila tidak aku akan terus salah sangka' "Aku pun datang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee, sayang pernikahannya batal."

Kata Coh Thian-su tertawa. Mata Po Tiong-ie membesar, dia bertanya.

"Apakah dia tidak menyambut dengan baik karena kau adalah pelajar miskin? Tidak apa-apa walaupun keluarga kita miskin tapi aku masih sanggup mentraktirmu minum arak.

"Bukan begitu, pernikahannya terlalu meriah, sehingga semua orang sudah tidak berniat menghadiri pesta pernikahan."

Po Tiong-ie merasa aneh.

"Biasanya Hie Tiong-gwee bisa mengambil hati orang-orang, mengapa sekarang tidak ada yang mau menghadirinya?"

"Bukan tidak mau, tapi karena Hie Tiong-gwee tidak bisa melakukan upacara sembahyang dengan pengantin perempuannya."

Po Tiong-ie semakin heran dan berkata.

"Ada apa ini?"

"Yu Tayhiap adalah salah satu saksinya, lebih baik dia yang menceritakan hal ini."

"Mengapa ada saksi? Aku semakin tidak mengerti, Yu Yong cepatlah ceritakan kepadaku."

Kata Po Leng-hoi.

"Ayah, tamu belum dipersilahkan masuk untuk minum teh."

Po Tiong-ie tersipu segera mempersilahkan Coh Thian-su dan Yu Yang masuk. Setelah masuk baru Yu Yang berkata.

"Jangan tergesa-gesa, aku akan menceritakan semuanya."

"Baiklah! Coba kau ceritakan pelan-pelan."

Yu Yong menceritakan kejadian semuanya dari awal, terakhir Yu Yong berkata.

"Hie Tiong-gwee terluka dan diputuskan hasil akhirnya adalah seri, tapi dia akan malu berkelana di dunia persilatan lagi. Toako, bagaimana pendapatmu?"

"Jujur bicara, Hie Tiong-gwee selalu ingin mendapat nama baik tapi sebenarnya dia lebih mementingkan uang dan kekuasaan, aku tidak suka kepadanya. Tapi Hui-thian-sin-liong sampai mengacau di hari pernikahannya, itu pun keterlaluan."

Kata Po Tiong-ie Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Kecuali haus akan uang dan kekuasaan, sebenarnya dia itu siapa dan berasal dari mana?

aku harus pelan-pelan menyelidikinya supaya semuanya jelas.' Kata-kata Po Tiong-ie membuat Yu Yong sangat senang, dia mengira Po Tiong-ie tidak kasihan kepada Hie Tiong-gwee.

---ooo0dw0ooo---C.

Kie Yan-gan "Benar, dia datang merusak hubungan pasangan suami istri, sungguh keterlaluan,"

Kata Yu Yong. Tanya Po Tiong-ie.

"Yu Toako, apakah kau ingin mengajakku ikut membalas dendam demi Hie Tiong-gwee? Terus terang aku tidak akur dengan Hie Tiong-gwee, tapi juga tidak ingin membela Hui-thian-sin-liong Kali ini Hie Tiong-gwee kalah karena ilmu silatnya jelek, pertarungan mereka terbuka dan tidak licik, tapi bila dia berada di Lok-yang membuat keonaran, aku akan ikut Yu Toako untuk menghukumnya."

Yu Yong berkata.

"Pertarungan sudah selesai dan hasilnya adalah seri. Hui-thian-sin-liong pun terluka, dia pun sudah pergi entah ke mana."

"Kalau begitu aku sudah salah tafsir, apakah kau jauh-jauh ke sini hanya untuk menengok dan bercerita kepadaku?"

Yu Yong tertawa terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya dan dia berkata.

"Aku hanya ingin bertanya tentang seseorang."

"Siapa?"

"Seorang Cianpwee persilatan, dia sudah jarang berkelana di dunia persilatan, tapi 20 hingga 30 tahun yang lalu, ada seorang aneh yang dinamakan 'Manusia aneh dunia persilatan'."

"Apakah yang kau maksud itu adalah Kie Yan-gan?"

"Apakah Po Toako dan dia adalah teman baik?"

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Benar saja, dia ingin mencari tahu tentang orang ini.' Po Tiong-ie dalam hatinya juga berpikir, 'Apakah mereka ingin mengundang Kie Yan-gan untuk menghadapi Hui-thian-sin-liong?

Hui-thian-sin-liong sangat jahat, masih muda tapi ilmu silatnya sudah tinggi, bila tidak cepat dibasmi akan lebih berbahaya lagi.

Sekarang ini hanya Kie Yan-gan yang bisa melawan dia.

Yu Yong adalah murid It Piau cinjin karena itu aku harus sedikit memberinya muka.' Lalu dia berkata.

"Yu Toako, kau jangan terlalu tinggi menilaiku, aku tidak pantas menjadi teman Kie Yan-gan, aku dan dia adalah teman biasa."

"Po Toako, jangan sungkan, karena Toako pernah bertemu dengan Kie Yan-gan, apakah ilmu silatnya memang seperti yang diceritakan oleh orang-orang? Begitu lihai?"

"Aku akan menceritakan bagaimana aku bisa mengenalnya, dan bisa mengenal sedikit ilmu silatnya."

Lalu Po Tiong-ie bercerita sambil minum teh.

"Waktu masih muda aku pernah menjadi Piausu, mengantar barang ke tempat-tempat lain. Suatu kali aku mengantar obat dari Pak-kia ke kota Pau-to, karena pada waktu itu di Pau-to terjadi wabah besar, hingga perlu obat-obatan. Di jalan aku bertemu dengan segerombolan penjahat, ketuanya adalah Golok Besar, Han Pa. Goloknya sangat besar dan beratnya kurang lebih 24 kati. Tenaganya juga sangat besar, ketua yang kedua adalah Thio Ang, dia adalah seorang pemanah jitu, apakah kau pernah mendengar nama mereka?"

"Saat aku baru mulai berkelana, aku sering mendengarnya, tapi belakangan ini sudah tidak."

Kata Yu Yong.

"Benar, ini adalah kejadian 30 tahun yang lalu, aku adalah orang terakhir yang melihat mereka, sebelum mereka menghilang."

"Mereka menghilang? Apakah ada hubungannya dengan perampokan barang Po Toako?"

Tanya Yu Yong. Po Tiong-ie mengangguk, dan melanjutkan.

"Orang-orang yang kubawa hampir semuanya terluka karena terpanah oleh Thio Ang, aku sendiri harus bertarung dengan Han Pa. Waktu itu aku sudah mempunyai sedikit nama tapi Han Pa sangat sombong, dia bilang bila aku bisa menerima 30 jurus ilmu goloknya dia akan melepaskanku dan barang-barangku."

Aku berusaha menahan serangannya, tapi belum sampai 20 jurus, aku sudah tidak kuat.

Ketika aku hampir kalah, tiba-tiba datanglah seseorang menghentikan pertarungan, bajunya terbuat dari kain kasar, memakai sepatu yang dipakai oleh orang desa.

Wajahnya biasa, semua orang pasti akan menyangka bahwa dia adalah orang desa yang sangat biasa.

Orang desa itu berkata kepada Han Pa.

"Obat-obatan ini akan dikirim ke Pau-to untuk menolong orang-orang, kalian tidak boleh mengambilnya!"

Perampok itu tertawa dan berkata.

"Siapa kau? Harap beritahu she dan namamu!"

Orang desa itu dengan sungguh-sungguh berkata.

"Benar juga, aku bukan siapa-siapa tapi aku ingin ikut campur mengurus masalah ini. Aku ingin membantunya, maka aku harus memberitahu namaku."

Perampok itu mengira nama orang desa itu biasa, seperti si kucing, si anjing, dan lain-lain. Tapi begitu mengatakan namanya, semua perampok sangat terkejut."

Kata Coh Thian-su.

"Orang desa itu pastilah jago persilatan, Kie Yan-gan."

"Benar, tapi perampok-perampok itu tidak begitu saja mempercayai bahwa orang desa itu adalah Kie Yan-gan. Pertama-tama Han Pa mengajaknya bertarung.

"Peraturan golongan hitam, adalah tidak boleh pulang dengan tangan kosong bila tidak mendapat uang, paling sedikit harus bertarung, kau sendiri mengatakan bahwa kau adalah Kie Yan-gan, mari kita coba bertarung."

Kata HanPa.

"Ilmu silatku tidak seberapa, tapi bila kalian ada peraturan seperti itu, aku menurut saja."

Kata Kie Yan-gan. Kemudian dia membalikkan kepalanya menghadapi mereka dan bertanya kepadaku.

"Apakah tadi Han Pa menyatakan harus menahan serangannya dalam 30 jurus? Kau sendiri sudah mengeluarkan berapa jurus?"

"Tadi karena aku kalang kabut, jadi aku tidak ingat sudah mengeluarkan berapa jurus, kurang lebih mungkin ada 18 jurus."

"Tidak benar, sudah 20 jurus kukeluarkan, aku tidak mau kau dirugikan."

Kata Han Pa.

"Kalau begitu tinggal 10 jurus lagi."

Kata Kie Yan-gan.

"Apakah Tuan ingin meneruskan 10 jurus lagi?"

Kie Yan-gan tertawa dan berkata.

"Han Pa sudah kehilangan banyak tenaga, begini saja asal kau bisa menahan 3 jurusku, aku akan memberikan kepalaku, tapi bila dalam 3 jurus aku bisa menang dari mu, aku mempunyai satu permintaan yaitu aku minta kau melepaskan Po Tiong-ie."

Han Pa sudah curiga bahwa orang itu adalah Kie Yan-gan yang palsu, bila dia memang benar-benar Kie Yan-gan, Han Pa juga tidak akan percaya bahwa Kie Yan-gan akan mengalahkannya dalam 3 jurus, dengan marah dia berkata.

"Bila aku kalah dalam 3 jurus, dalam dunia persilatan tidak pernah akan ada Han Pa lagi."

Sekarang masalahnya apakah kau bisa mengalahkanku?"

Selesai berkata seperti itu, golok besar Han Pa sudah menyabet mengarah kepada Kie Yan-gan. Kie Yan-gan pun mengelak dan berkata.

"Benar-benar sangat kuat, jurus golokmu lumayan juga, kalau berlatih hingga 10 tahun lagi, kau akan menjadi pesilat tangguh."

Han Pa lebih marah lagi dan berkata.

"Kalau berani, keluarkan senjatamu, jangan disembunyikan!"

Gerakan tubuh Kie Yan-gan sangat cepat, Han Pa pun dengan sama cepat mengayunkan goloknya, tapi baju Kie Yan-gan secuil pun tidak tersentuh.

Han Pa merasa takut serangan tersembuyi dari Kie Yan-gan karena itu dia menyuruh Kie Yan-gan memakai senjata agar dia bisa melihat jenis senjatanya.

Agar keras bisa dilawan keras lagi.

Kie Yan-gan tertawa dan berkata.

"Untuk menyambut golok yang terbuat dari besi jelek ini, tidak perlu memakai senjata."

Dia berdiri disebelah Han Pa, Han Pa membuka matanya yang besar dan dengan konsentrasi melihatnya, tapi dia tetap tidak bisa melihat Kic Yan-gan memakai jurus apa.

Hanya melihat suatu benda yang berkilau putih mendekati dan ternyata goloknya sudah berpindah tangan."

Yu Yong terkejut dan berkata.

"Hanya dalam 3 jurus, golok sudah berpindah tangan."

"Benar, kemudian dia berkata ini jurus kedua, dia memukul bagian belakang golok, kemudian dia berkata lagi ini jurus ketiga, terdengar suara ? yang menusuk telinga, golok seberat 24 kati sudah hancur berkeping-keping dan jatuh."

Po Leng-hoi ternyata juga pertama kalinya mendengar cerita ini, dan dia berkata.

"Ilmu silat apa yang begitu hebat itu!"

"Yang lebih hebat lagi ada di cerita bagian belakang."

Kemudian dia meneruskan ceritanya.

"Wajah Han Pa pucat seperti kertas, kemudian dia mundur ke pinggir, aku melihat dengan terkejut, senang, sekaligus bengong."

Kie Yan-gan tertawa dan berkata.

"Tuan Po, kau sudah diganggu begitu lama, kau harus pergi."

Di sana sudah tidak ada tontonan yang menarik lagi, aku seperti baru terbangun dari sebuah mimpi, kemudian aku segera membereskan anak buahku dan pergi. Tapi Kie Yan-gan berkata.

"Mari kuantar hingga jalan besar."

Aku mengira sudah tidak ada masalah, tapi begitu kereta mulai berjalan, perampok-perampok itu mulai memanah, puluhan anak panah dilepaskan oleh anak buah Thio Ang, tapi yang paling dahsyat adalah 3 panah yang dilepas berturut-turut, itulah panah yang dilepaskan oleh Thio Ang.

Yang dijadikan sasaran adalah bagian belakang kepala Kie Yan-gan, dia mengira Kie Yan-gan tidak mempunyai ilmu untuk melindungi dirinya, juga tidak ada yang bisa melatih kepala menjadi sekeras batu.

Padahal jika dia memanah, batu pun bisa hancur, apa lagi kepala."

Tanya Po Leng-hoi.

"Tidak tahu malu! Apakah Kie Yan-gan terkena panah itu?"

"Tidak, aku akan menyelesaikan ceritaku. Aku mendengar suara panah dan membalikkan tubuh, siap memakai golok menangkis panah-panah itu, tapi Kie Yan-gan dengan ringan membantuku membereskannya."

Tanya Po Leng-hoi.

"Ayah, panah bukan manusia, mengapa memakai bahasa 'membereskan'?"

Po Tiong-ie tertawa dan berkata.

"Aku tidak salah memakai kata ini, dia membereskan panah juga membereskan perampok-perampok itu. Aku membalikkan kepala dan hanya melihat dia sedang mengibaskan lengan bajunya, dan anehnya panah-panah yang datang tidak teratur, termasuk panah yang mengarah padaku, semua berbalik arah Ini belum dikatakan sakti, yang sakti adalah panah-panah itu bisa mengenali orang,-siapa yang memanah, panah itu balik lagi mencari pemiliknya. Hanya terdengar teriakan Thio Ang dan anak buahnya yang sudah roboh, tapi yang tidak memanah tidak terluka."

Po Leng-hoi tertawa dan berkata.

"Kalau begitu panahnya memiliki sepasang mata"

"Benar, sambil mengibaskan lengan bajunya, Kie Yan-gan berkata "benda kembali lagi kepada pemiliknya, panah datang dari mana, akan berbalik lagi ke sana'. Yang paling parah adalah Thio Ang, panahnya berbalik lagi kepadanya, memanah kepalanya dan tembus hingga ke otak."

Kata Po Tiong-ie lagi.

"Dua orang kepala perampok, yang satu mati mengenaskan yang satu lagi senjatanya hancur berkeping-keping, sejak itu Golok Besar Han Pa menghilang dari dunia persilatan. Dan Ceritanya selesai sampai di sini."

Yu Yong adalah orang yang terkenal di dunia persilatan, setelah mendengar cerita ini dia berkata.

"Bila bukan Po Toako yang mengalaminya sendiri aku tidak akan percaya di dunia ini ada ilmu silat yang begitu hebat."

Kata Po Leng-hoi.

"Ayah, kau belum menceritakan ilmu silat apa yang dipakai oleh Kie Yan-gan?"

"Aku hanya kagum, tidak tahu dia memakai ilmu silat apa. Ilmu silatnya adalah ilmu rahasia, hanya dimiliki oleh perguruan mereka. Dia memakai tenaga telapak tangan menghancurkan senjata Han Pa yang dinamakan 'ilmu Hun-hoan' Aku merasa ilmu silat ini lebih dahsyat daripada ilmu silat Hoa-san yaitu 'Hun-thian'."

Dua dari rahasia ilmu silat Kie Yan-gan sudah dia ceritakan satu, yang kedua pasti akan diceritakannya lagi. Yu Yong berkata.

"Mengayunkan lengan baju membalikkan panah itu, seperti apa ilmu silatnya?"

"Ilmu silat itu dinamakan Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan baju beterbangan). Ilmu silat ini hampir sama dengan ilmu silat Siauw-lim dan Swat-san, tapi tenaga dalamnya tidak sama."

Kata Yu Yong.

"Sepertinya aku pernah mendengar ilmu Liu-in-hui-siu?"

Coh Thian-su dan Po Leng-hoi sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Yu Yong, tapi Po Tiong-ie tidak tahu. Tanya Po Tiong-ie.

"Apakah kau curiga bahwa dia adalah murid Kie Yan-gan?"

Yu Yong mengangguk.

"Bukankah kau sudah mengatakan bahwa ilmu itu adalah ilmu rahasia dari perguruan itu?"

"Orang yang dicurigai itu berapa usianya?"

Tanya Po Yiong-ie.

"Tidak sampai 20 tahun."

"Kalau begitu dia bukan murid Kie Yan-gan, yang aku tahu dia hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang murid, anaknya mati muda, sudah meninggal 20 tahun yang lalu."

"Bagaimana dengan muridnya?"

"Aku tidak pernah bertemu dengan muridnya, tapi katanya 10 tahun yang lalu sudah meninggal. Kie Yan-gan tidak mempunyai cucu murid."

Tanya Coh Thian-su.

"Apakah Po Toako tahu she dan nama murid itu?"

"Anehnya, Kie Yan-gan belum pernah menceritakan tentang muridnya, aku juga tahu dari orang lain. Orang itu pun tidak tahu nama murid Kie Yan-gan."

Sepertinya Coh Thian-su masih ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba Po Tiong-ie menatapnya dan dia mengurungkan niatnya.

"Aku tidak tahu banyak tentang Kie Yan-gan karena dia tidak menetap di satu tempat, aku baru mengenalnya selama beberapa tahun, kecuali secara kebetulan bertemu, dia hanya satu kali ke rumahku, itu pun sudah lama."

Kata Po Tiong-ie.

"Apakah Po Toako masih berhubungan dengannya?"

Tanya Yu Yong.

"Sudah lama tidak, pada saat dia datang ke rumahku, itu 13 tahun yang lalu. Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi, apalagi orang lain."

"Apakah dia tiba-tiba menghilang?"

"Aku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan sedikit kabar dari dia pun tidak ada. Apakah dia masih hidup atau sudah mati, aku pun tidak tahu, bila kalian mencari dia untuk menghadapi Hui-thian-sin-liong, aku tidak dapat membantu."

"Walaupun Hui-thian-sin-liong mempunyai nama buruk di dunia persilatan, tapi tidak permusuhan denganku. Aku hanya bersahabat dengan Hie Tiong-gwee, tidak harus membalas dendam demi Hie Tiong-gwee."

"Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?"

"Mengenai Kie Yan-gan."

"Coba katakan!"

"Dia tidak mempunyai cucu laki-laki, apa dia mempunyai cucu perempuan?"

"Kau bertanya apakah dia mempunyai cucu perempuan?"

Sekarang Po Tiong-ie baru mengerti dan berkata.

"Apakah gadis berbaju hitam itu yang datang tiba-tiba dan menyuruh Hui-thian-sin-liong meninggalkan rumah keluarga Hie? Dia pernah bertarung denganmu satu jurus dan kau tahu bahwa ilmu silatnya lebih tinggi darimu."

"Benar."

"Dia menggunakan ilmu silat apa?"

"Dia hanya mengibaskan tangannya, sudah bisa menahan telapak tanganku. Aku jadi malu kecuali tenagaku terasa lenyap, nadi-nadiku juga seperti ditotok."

Po Tiong-ie menjadi terkejut.

"Ini adalah ilmu Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan beterbangan) dan ilmu ini pun bisa menotok urat nadi. Gerakannya terlalu cepat, kau terkena totokannya atau tidak, kau ternyata juga masih tidak tahu."

Yu Yong tampak berpikir kemudian berkata.

"Dia datang seperti setan gentayangan, aku belum melihat dengan jelas, aku mengerahkan tenaga dalam dan di balik telapak tanganku terasa ada sesuatu yang tidak enak. Tadinya aku mengira terkena senjata rahasia, setelah kuperiksa ternyata bukan. Walaupun ilmu silatnya tidak sekuat Kie Yan-gan tapi aku juga belum pernah melihatnya."

Kata Po Tiong-ie.

"Sekarang kau tidak perlu curiga lagi yang dia gunakan adalah ilmu silat Kie Yan-gan, hanya saja dia belum setinggi Kie Yan-gan."

"Kalau begitu, apa dia adalah cucu Kie Yan-gan?"

"Aku tidak tahu, tidak mengerti dan tidak bisa menebaknya."

Melihat keadaan Po Tiong-ie, seperti seorang murid tidak bisa menjawab soal ulangan.

Dengan terkejut dia mengenang masa lalu.

Hujan darah dan bau darah, angin kembali lagi.

Apakah yang akan terjadi?

---ooo0dw0ooo---Bab Pulang pada malam tahun baru Tidak berdosa tapi mengalami musibah Malam-malam menepati janji Kesucian tertutup oleh prasangka A.

Seperti Adik Kakak Seperti Sepasang Kekasih Yu Yong permisi pulang dan berkata.

"Po Toako. kau sudah memberitahuku banyak, terima kasih."

Po Leng-hoi melihat ayahnya dan bertanya.

"Ayah, kenapa denganmu?"

"Tidak apa-apa, hanya saja semua masalah ini datang secara tiba-tiba, membuatku terkejut dan tidak mengerti."

"Po Toako, istirahatlah! Aku pulang dulu."

Kata Coh Thian-su.

"Kita berdua jarang bertemu, paling sedikit kau harus tinggal 3 sampai 5 hari di sini. Duduklah!"

Dia minum teh, sepertinya masih ada yang ingin dia katakan. Tanya Po Leng-hoi.

"Ayah belum menceritakan, apakah Kie Yan-gan punya cucu perempuan?"

"Benar, dia mempunyai cucu perempuan, ayahnya sudah meninggal sebelum dia dilahirkan. Pada saat dia ke rumahku, dia membawa cucunya."

"Berapa usianya waktu itu?"

Tanya Coh Thian-su.

"Kira-kira berusia 6 hingga 7 tahun. Rambutnya dikepang dua, sepasang matanya seperti bisa bicara, dia adalah gadis kecil yang pintar."

"Itu adalah kejadian 10 tahun yang lalu, kalau begitu sekarang dia sudah berumur kurang lebih 20 tahun."

"Menurut perkiraanku, gadis berbaju hitam tadi adalah gadis kecil itu, karena itu aku merasa aneh."

"Apa yang aneh?"

Tanya Po Leng-hoi.

"Sifat Kie Yan-gan sangat aneh, tapi dia adalah seorang Tayhiap, dia pun berjiwa pendekar, tidak seperti Hie Tiong-gwee, cucu Kie Yan-gan dari kecil sudah mengikutinya. Mengapa bisa berteman dengan Hui-thian-sin-liong? Adik Coh, kau melihat hubungan mereka seperti apa?"

"Seperti adik kakak yang tumbuh bersama."

Kata Po Leng-hoi.

"Menurut Giok-yan dan Bong Cong-kian, mereka pernah bertemu dengannya di tengah perjalanan, dia seperti perempuan yang sedang jatuh hati kepada si pemuda, tapi pemuda itu tidak mempedulikannya."

"Bila mereka adalah adik kakak yang tumbuh bersama, itu lebih aneh lagi."

Kata Po Tiong-ie.

"Po Toako, apakah kau tahu mengapa niiiiid Kie Yan-gan bisa meninggal?"

Kata Coh Thian-su.

"Sebenarnya ini rahasia, dia dibunuh oleh K orang pengawal istana, 7 orang diantaranya sudah mati dan satu lagi Icrluka parah."

Coh Thian-su tampak terkejut dan bertanya.

"Sebenarnya siapa murid Kie Yan-gan itu?"

"Aku tidak tahu, mengapa pengawal istana sampai ingin menangkapnya, mungkin dia adalah buronan istana."

Tanya Po Leng-hoi.

"Ayah, bila ini sangat rahasia, mengapa ayah bisa tahu?"

"Aku diberitahu seseorang."

Kata Po Tiong-ie lagi.

"Karena aku tidak suka berteman dengan orang pemerintahan, maka aku tidak bisa meneruskan pekerjaanku."

Kata Po Tiong-ie lagi.

"Yang memberitahu adalah temanku yang bernama Tong Hwie-yan, teman Tong Hwie-yan ada sedikit pangkat di kalangan pengawal istana, dia membocorkan rahasia ini kepada Tong Hwie-yan, maksudnya ingin Tong Hwie-yan membantunya mencari tahu tentang buronan itu dari perguruan mana. Walaupun buronan sudah mati lapi identitasnya tetap harus dicari, bila dia adalah penjahat kelas kakap, saudara-saudara seperguruannya akan ikut terancam. Pengawal berpangkat itu sudah curiga bahwa buronan adalah murid Kie Yan-gan, Tong Hwie-yan ingin membuktikannya, bersamaan dengan itu dia menanyakan keadaan Kie Yan-gan padaku. Dia tidak memberitahu nama tersangka, juga tidak memberitahu dia sudah melanggar hukum apa Yang dia jelaskan hanya ilmu silat yang digunakannya, cerita ini berasal dari pengawal yang masih hidup. Di antara 7 pengawal yang mati itu, tiga di antaranya terkena tenaga telapak tangan hingga kepalanya pecah, 2 orang terkena tusukan pedang, satu terkena totokan nadi yang berai, satu lagi leikena panah yang membalik. Yang satu masih hidup tapi matanya buta sebelah. Tulang hidungnya patah dan dia terluka parah. Sebelum bertarung, pengawal islana pernah menyerang dengan senjata rahasia, tapi semua ditahan oleh lengan bajunya dan dikembalikan ke asalnya."

Coh Thian-su sudah tahu jawabannya. Ilmu ini disebut 'Hun-hoan' dan 'Liu-in-hui-siu'.

"Peristiwa itu terjadi 10 tahun yang lalu. Tong Hwie-yan tahu aku mengenal Kie Yan-gan, maka dia sengaja dalang ke liok-yang mencariku.' Kata Po Tiong-ie.

"Pantas saja."

Kata Po Leng-hoi.

"Apanya yang pantas?"

"Waktu Tong Hwie-yan datang ke Liok-yang, pada hari kedua waktu itu aku dan Kwee Goan-cay bersembunyi di kamar belakang, Hie Tiong-gwee juga datang. Kwee Goan-cay bersembunyi karena dia tidak ingin gurunya tahu dia ada di sana. Kami hanya mendengar ayah Hiat-kun bicara kepada Hie Tiong-gwee. Mereka sedang membicarakan tentang hal itu, Hie Tiong-gwee merasa aneh mengapa Tong Hwie-yan yang begitu terkenal di ibukota, bisa berkunjung ke Lok-yang."

"Dia hanya bertanya keadaan Kie Yan-gan dan muridnya, sekalian mengunjungiku."

Kata Po Tiong-ie. Tanya Coh Thian-su.

"Waktu itu apakah Kang Guan-yang sudah ada di Lok-yang?"

"Benar, dia baru pindah dari kota lain ke Lok-yang. Adik, mengapa kau menanyakan hal ini? Kang Guan-yang seperti namanya, dia sangat biasa hanya seorang guru silat kampungan."

"Sekolahku tidak setinggi dirimu, apa pun sama. Yang penting dia memang tidak punya keahlian apa pun, hanya sebagai guru silat kampungan."

Kata Po Leng-hoi. Dalam hati, Coh Thian-su merasa geli, dalam hati berkata, 'Supek memang tidak sehebat Kie Yan-gan, tapi bila bertarung denganmu, ilmu silatnya jauh lebih lebih hebat darimu."

Dan Coh Thian-su berkata.

"Aku merasa aneh, dia adalah guru silat yang biasa dan baru pindah ke Lok-yang Mengapa Hie Tayhiap bisa mencarinya? Dan malah bersahabat dengannya?"

Po Tiong-ie belum pernah memikirkan hal ini, dia menjawab.

"Mungkin dia senang dengan putrinya Kang Guan-yang."

Po Leng-hoi tertawa dan berkata.

"Ayah, kau mulai pikun waktu itu Hiat-kun baru berumur 10 tahun."

"Mungkin mereka cocok dan Kang Guan-yang yang pintar menjilat Hie Tiong-gwee."

Po Leng-hoi tidak senang dengan penjelasan ayahnya dan dia berkata.

"Ayah, kau salah lagi. Aku sering pergi ke rumah Kang, aku sendiri melihat bagaimana sikap guru Kang menghadapi Hie Tiong-gwee, dia seperti sikap ayah menghadapinya, lebih pantas dikatakan Hie Tiong-gwee yang menjilat guru Kang."

"Mengapa Hie Tiong-gwee harus menjilat dia?"

"Aku juga tidak mengerti, tapi bagaimana cara mereka bisa kenal itu aku tahu, karena adik sepupu guru Kang ada di Lok-yang, dia sering ke rumah keluarga Hie, bisa dikatakan dia adalah tamu Hie Tiong-gwee."

Coh Thian-su tidak puas dengan penjelasan Po Leng-hoi, tapi dia tidak ingin Po Tiong-ie tahu bahwa Kang Guan-yang adalah Supeknya, karena itu dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Po Tiong-ie tampak tidak senang dan dia berkata.

"Hal mengenai keluarga Kang, kau pasti tahu. Dulu kau boleh berkunjung ke rumah Kang, sekarang jangan berkunjung lagi ke rumah keluarga Hie!"

Maksud ayahnya itu, anaknya pasti mengerti karena Hiat-kun sudah menjadi istri Hie Tiong-gwee. Po Leng-hoi tidak boleh mencari Hiat-kun lagi, wajah Po Leng-hoi menjadi merah dan dia berkata.

"Perkataan ayah terlalu jauh!"

Kata-kata Po Tiong-ie memang sudah melantur terlalu jauh.

"Tadi ayah berkata bahwa Tong Hwie-yan datang ke Lok-yang untuk mencari ayah, dan untuk mengetahui keadaan Kie Yan-gan dan muridnya, apakah ayah menceritakan semuanya?"

"Kau kira ayahmu ini sudah pikun, walaupun Tong Hwie-yan adalah temanku, tapi aku tidak akan menceritakannya. Dia pernah bertanya kepadaku, sebenarnya aku ingin sekali tertawa karena Kie Yan-gan pemah datang ke tempatnya sambil membawa cucunya. Waktu itu Aku sedang berada di ruang kerja dan Kie Yan-gan pun masuk ke dalam ruangan, hanya saja waktu itu dia tidak tahu bahwa dia adalah Kie Yan-gan."

Coh Thian-su merasa terkejut karena Tong Hwie-yan adalah orang yang sangat pintar.

Apabila tempat kerjanya kedatangan tamu asing, apakah dia tidak bertanya?

Dua masalah yang terjadi dalam waktu 3 tahun, apakah dia cepat lupa?

Atau dia menganggap Po Tiong-ie adalah tamunya sehingga dia merasa tidak enak untuk bertanya?

Kata Po Tiong-ie lagi.

"Untuk jiwa Tong Hwie-yan aku bisa mempercayainya, karena pekerjaanlah maka dia harus berurusan dengan orang pemerintahan, tapi dia tidak akan menganggap mereka sebagai teman baik Dia hanya ingin tahu dan bertanya kepadaku karena merasa aneh."

"Tapi walaupun begitu aku harus tetap hati-hati, hanya memberitahu bahwa aku kenal dengan Kie Yan-gan dan itu sudah 30 tahun yang lalu. Dan dia memang sudah tahu, aku memastikan buronan itu adalah murid Kie Yan-gan tapi aku tidak memberitahu kepada Tong Hwie-yan."

Kata Po Leng-hoi.

"Dia belum pernah melihat ilmu silat Hwie-yan dan ilmu 'Awan mengalir lengan baju beterbangan', walaupun dia merasa curiga pun tidak apa-apa karena murid Kie Yan-gan sudah meninggal dan Kie Yan-gan pun menghilang, dia dapat menebak pun tidak apa-apa."

Tanya Coh Thian-su.

"Apakah murid Kie Yan-gan langsung mati? Apakah itu dilihat oleh pengawal istana?"

"Tidak, sebelum pengawal itu pingsan, buronan itu sudah terluka di tujuh hingga delapan tempat, matanya buta dan dadanya terluka oleh telapak tangan Siauw-um yang digunakan oleh salah satu pengawal, walaupun dia bisa lari, dia tidak dapat bertahan dalam waktu 3 hari."

"Ilmu silatnya begitu tinggi, mayat pun tidak diketemukan, apakah dia benar-benar sudah mati?"

Tanya Coh Thian-su.

"Apakah kau curiga dia "belum mati?"

"Aku tidak berani bicara, tapi hari ini aku melihat sendiri ilmu silat Hui-thian-sin-liong dan ada sedikit aneh."

"Apa yang aneh?"

"Dia bisa menghancurkan 7 hingga 8 senjata rahasia berupa paku, dan juga dalam jarak 5 meter dengan ringan mengibaskan tangannya dan melukai Hie Tiong-gwee, lukanya cukup parah."

Coh Thian-su menambah cerita yang tidak dikatakan oleh Yu Yong "Berapa usia Hui-thian-sin-liong?"

"Kurang lebih 24 hingga 25 tahun."

"Dia pasti bukan murid Kie Yan-gan karena murid-muridnya 10 tahun yang lalu sudah menjadi buronan istana. Pepatah mengatakan 'tidak perlu menggambar ular yang ditambah kakinya'. Siapa pun tahu, anak berumur 14 hingga 15 tahun tidak akan jadi buronan istana.

"Menurut Po Toako, apakah tenaga telapaknya seperti kepandaian 'Hun-hoan'?"

"Ini sulit ditebak karena 'telapak Kim-kong' dari Siauw-lim dan 'tangan Liu-yang' dari keluarga Yang hampir mirip, hanya cara memakai tenaga dalamnya tidak sama."

"Ini hanya mirip saja."

Kata Coh Thian-su.

"Benar."

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.

Coh Thian-su adalah orang yang sangat pintar, melihat cara bicaranya, Coh Thian-su sudah mengerti, sebenarnya dia sudah tahu ini adalah ilmu 'Hun-hoan' hanya dia sendiri tidak ingin mempercayainya, karena dia masih takut pada satu hal.

Kata Po Leng-hoi.

"Ayah, kau dan Kie Yan-gan sudah puluhan tahun tidak ada hubungan, bagaimana kau tahu bahwa Hui-thian-sin-liong bukan muridnya, apakah muridnya mempunyai anak laki-laki, atau dia sendiri juga sudah mati?"

Po Tiong-ie berkata sendiri.

"Dia diserang oleh pengawal istana, dia sendiri sudah tcrluka parah, walaupun mempunyai anak laki-laki, apakah dia bisa melindungi anaknya?"

Tiba-tiba Po Tiong-ie seperti bola yang sudah kempes, dia menarik nafas dan berkata "Bila Hui-thian-sin-liong dan Kie Yan-gan mempunyai hubungan yang erat, apakah dia murid yang tidak terdaftar?

Atau malah terdaftar semua akan membuat keadaan lebih kacau lagi."

"Mengapa?"

Tanya Coh Thian-su.

"Kau adalah orang yang pintar, mengapa tidak mengerti?"

"Coba Toako jelaskan!"

"Pertama, nama baiknya akan tercemar oleh Hui-thian-sin-liong. Kedua, bila dia mendapat ilmu langsung dari Kie Yan-gan, kecuali Kie Yan-gan yang bisa mengalahkannya, siapa lagi yang sanggup? Kie Yan-gan paling sayang kepada cucu perempuannya tapi apakah dia masih hidup, aku tidak tahu. Bila dia masih hidup dia tidak akan tega membunuh cucu muridnya yang disukai oleh cucu perempuannya."

Dengan pelan Coh Thian-su berkata.

"Kata orang-orang nama Hui-thian-sin-liong sudah tercemar, tapi belum tentu dia seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa dia adalah penjahat yang sadis."

"Apakah kau pernah bertemu dengannya?"

"Benar."

"Mengapa kau tahu bahwa dia bukan orang seperti itu?"

"Aku pernah mendengar kejahatannya dari orang lain tapi belum pernah mendengar dia membunuh orang dari golongan putih. Yang dia lakukan adalah memotong telinga ketua Lui, menusuk hingga buta ketua Li, dan lainnya, sebab mereka adalah orang-orang tidak lurus. Walaupun tidak mengacaukan dunia persilatan tapi mereka lebih banyak melakukan kejahatan dari pada kebaikan."

"Kau bilang dia tidak pernah membunuh orang dari golongan putih? Belum tentu, Ho Cing-kim dipotong telinganya. Ho Cing-kim adalah seorang Lo-hiap di dunia persilatan dan sangat terkenal."

Kata Coh Thian-su.

"Hie Tiong-gwee juga adalah seorang pendekar dari Tiong-ciu, nama Hie lebih besar dari Ho Cing-kim di dunia persilatan."

Po Tiong-ie tampak terkejut dan bertanya.

"Maksudmu Ho cing-kim dan Hie Tiong-gwee mirip? Hanya ingin nama baik? Mengapa kau bisa tahu?"

"Aku tidak kenal dengan Ho Cing-kim, bahkan tidak tahu orangnya seperti apa dan kelakuannya seperti apa Tapi aku percaya bila dia memang pantas dijuluki sebagai Lo-hiap dari dunia persilatan, Hui-thian tidak akan memotong telingannya."

"Kalau begitu kau lebih percaya kepada Hui-thian bahwa dia adalah pesilat yang bersih?"

"Paling sedikit aku tidak percaya bahwa dia adalah penjahat yang sadis."

"Aku pun demikian."

Kata Po Leng-hoi "Kau mempunyai bukti apa?"

"Ayah, menurutmu apakah Tuan Kiam-ta mempunyai hati seorang pendekar?"

"Aku kenal dengan dia, ada sedikit celah itu tidak aneh, dia mempunyai hati seorang pendekar."

"Kalau begitu Tuan Kiam-ta yang ayah hormati juga hormat kepada Hui-thian, paling sedikit dia tidak menganggapnya sebagai seorang penjahat yang sadis."

"Mengapa kau bisa tahu?"

"Sebelum jadi saksi, dia memanggil Hui-thian 'adik', paling sedikit tidak menganggap dia musuhnya."

Dalam hati Po Tiong-ie berpikir.

"Benar juga. Tuan Kiam-ta tidak akan memanggil seorang penjahat dengan sebutan 'adik'."

"Apa yang ayah pikirkan?"

"Aku ingin Hui-thian adalah orang yang seperti kalian duga."

Kata Coh Thian-su.

"Toako, malam ini aku akan mencari teman dan tidak akan pulang ke tempatmu, apakah anakmu bisa menemaniku?"

"Silahkan, kau mau mencari siapa?"

"Dia teman yang masih muda, anakmu pun mengenalnya."

Dalam hati Po Tiong-ie berpikir, 'Teman baik Leng-hoi adalah Kwee Goan-cay, orang itu adalah murid kesayangan Hie Tiong-gwee, apakah Coh ingin mencari tahu rahasia antara Hie dan Hui-thian."

Po Tiong-ie adalah orang yang berpengalaman, keluarga Coh adalah keluarga pesilat, Coh Thian-su adalah seorang pendekar yang masih muda, tidak mungkin ke Lok-yang hanya ingin melihat Bo-tan dan memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee, dia sangat memperhatikan Hui-thian juga masalah Kie Yan-gan, sepertinya dia mempunyai hubungan yang erat dengan Hui-thian, tapi menyelidiki rahasia orang lain adalah hal yang pantang di dunia persilatan, karena itu walaupun Po Tiong-ie curiga tapi dia tidak bertanya lagi.

Po Leng-hoi dan Coh Thian-su segera pergi, Po Leng-hoi bertanya.

"Di mana tempat tinggal temanmu?"

"Ke rumah keluarga Hie."

"Apakah kau akan ke rumah Hie lagi?"

Coh Thian-su mengangguk.

"Benar."

"Apakah kau mau mencari Kwee Goan-cay?"

Coh Thian-su menggelengkan kepala.

"Bukan, lebih baik Kwee Goan-cay tidak tahu kita akan ke sana."

Po Leng-hoi dengan terkejut bertanya.

"Kau mau mencari siapa?"

Dengan ringan Coh Thian-su berkata.

"Mencari teman baikmu yang satu lagi"

"Yang kau maksud adalah..."

Coh Thian-su langsung menyambung.

"Mencari pengantin perempuan, Kang Hiat-kun."

"Apa? Kau mau mencari Hiat-kun?"

Po 1 xng-hoi melotot seperti tidak percaya dengan pendengaran telinganya Coh Thian-su tertawa.

"Apakah tidak boleh?"

"Sekarang dia adalah istri Hie Tiong-gwee."

"Benar, tapi dia belum bersembahyang bukan? Apa kau takut dicurigai oleh orang-orang?"

Po Leng-hoi tidak menjawab. Kata Coh Thian-su lagi "Tadi kau pun sudah melihat bahwa keluarga Hie tidak menganggap dia adalah istri Hie Tiong-gwee."

Po Leng-hoi teringat pada saat Hie Tiong-gwee terluka, keluarga Hie tidak ada yang mempedulikan Hiat-kun. Nona Hie malah memarahi dan menghinanya, karena itu Po Leng-hoi marah dan berkata.

"Benar, Hiat-kun mana bisa tahan hidup seperti itu, aku tidak mau dia dihina oleh orang lain lebih baik tinggalkan saja keluarga Hie, paling tidak aku harus menengoknya."

Po Leng-hoi baru ingat bila dia memperhatikan Hiat-kun sepertinya masih pantas, tapi Coh Thian-su bukan saudara Hiat-kun juga bukan temannya, mengapa malam-malam begini harus secara sembunyi-sembunyi bertemu dengan Hiat-kun?

Sepertinya Coh Thian-su tahu pikiran Po Leng-hoi, dia tertawa dan berkata.

"Apakah kau mengira aku tertarik dengan kecantikan Hiat-kun?"

Wajah Po Leng-hoi menjadi merah.

"Coh Tayhiap, kau jangan bercanda terus, aku akan membantumu mengajak Hiat-kun keluar."

Di mulut tidak curiga tapi hatinya bertanya-tanya, 'Mengapa Coh Thian-su begitu misterius?"

Coh Thian-su berkata.

"Tadinya aku ingin meminta bantuan kepada gadis berbaju hitam, tapi sekarang dia dan Hui-thian sudah meninggalkan Lok-yang, aku hanya bisa meminta bantuanmu."

"Apakah gadis itu adalah cucu Kie Yan-gan?"

"Sepertinya begitu."

"Kau ingin bantu mencarinya, apakah kau kenal dengannya?"

"Tidak."

Po Leng-hoi bertanya lagi.

"Hari ini Hui-thian membuat kekacauan di keluarga Hie dan bertarung dengan Hiat-kun, semua tahu bahwa Hui-thian cinta kepada Hiat-kun. Gadis berbaju hitam tidak bertarung dengan Hiat-kun, tapi dia sangat membenci Hiat-kun, apakah menurutmu seperti itu?"

"Sepertinya benar."

Dan dia menambahkan lagi.

"Dia benci kepada Hiat-kun, begitu pun sebaliknya."

"Mereka saling bermusuhan, apakah kau bisa mencarinya untuk membantu mencari Hiat-kun?"

"Asal aku bertemu dengannya, dia tidak akan bermusuhan dengan Hiat-kun."

"Makin dibicarakan aku semakin bingung, kau tidak kenal dengannya, tapi yakin bisa membuatnya tidak membenci Hiat-kun,ini.... ini"

"Kau akan segera mengerti separuhnya."

"Hanya separuh?"

"Benar, sekarang bila kita bertemu dengan Hiat-kun, baru kau akan mengerti, paling sedikit separahnya. Begitu juga dengan gadis berbaju hitam"

Po Leng-hoi tertawa kecut "Kalau begitu aku harus cepat-cepat menculik pengantin perempuan orang lain keluar dari rumahnya."

Coh Thian-su tertawa.

"Benar, harus seperti itu."

Benar, semua tidak salah, semua yang diperkirakan oleh Coh Thian-su adalah benar.

Gadis berbaju hitam itu bernama Kie Su-giok, dia adalah cucu perempuan dari Kie Yan-gan.

Sekarang mereka sedang berada di luar kota Lok-yang.

Darah Hui-thian sudah berhenti mengalir, entah lelah atau hatinya sedih dia tertidur di atas kuda.

Cara Kie Su-giok menunggang kuda sangat ahli, satu tangan memegang pinggang Hui-thian agar tidak terjatuh dari kuda.

Dan kudanya masih berlari dengan cepat Kuda berlari dengan cepat, pikirannya pun berlari lebih cepat lagi.

Tapi yang satu berlari ke arah depan, yang satu lagi mundur ke belakang.

Karena dia memikirkan masa lalu.

Walaupun dia masih muda, umurnya hampir sama dengan Hiat-kun, yaitu 19 tahun, pengalaman hidupnya masih sedikit tapi banyak hal yang dia kenang.

Seperti hal ini...

Tahun Baru Membawa Petaka Sepuluh tahun yang lalu malam sebelum Imlek, (tahun baru) Keluarganya yang hanya ada 4 orang, kakeknya, Paman Ting dan Ong Toanio.

Paman Ting berumur hampir sama dengan kakeknya, dia adalah pelayan di rumah mereka, tapi kakeknya tidak pernah menganggapnya sebagai pelayan, mereka sering sama-sama minum arak Tapi dia tidak menyukai Paman Ting, malah kadang-kadang juga takut kepadanya, Paman Ting jarang bicara, wajahnya pun menyeramkan.

Ong Toanio adalah inang pengasuh ibunya, juga pengasuhnya.

Semenjak dia lahir, Ong Toanio sudah mengurusnya, memasak, dan mendongengkan cerita-cerita, serta membuatkan dia baju sulaman.

Dia menyukai Ong Toanio, hanya satu yang tidak disukai dari dia yaitu bila ditanya mengenai ibunya, Ong Toanio tidak pernah mau memjawab dan menceritakannya.

Ayahnya sudah meninggal sebelum dia dilahirkan, dia tahu ibunya masih ada, hanya entah ke mana dan ada di mana.

Dia tidak ingat lagi kepada ibunya.

Karena pada saat ibunya pergi dia baru berumur 3 tahun.

Mengapa ibunya meninggalkannya?

Dimana sekarang dia berada?

Kakeknya pun tidak mau memberitahu, begitu pula dengan Ong Toanio.

Kakek sangat sayang kepadanya, tapi kalau ditanya mengenai ibunya, kakek menjadi marah.

Kakek mengatakan bahwa ibunya tidak pantas menjadi ibu, kakek menyuruh menganggap ibunya sudah meninggal, karena itu dia tidak berani bertanya lagi Ong Toanio tidak marah bila ditanya, tapi dia tidak mau memberitahu hal yang menyangkut ibunya.

Dia hanya mengatakan bahwa ibunya sangat cantik, pandai menyulam, pandai membuat puisi.

Apakah puisinyanya bagus?

Ong Toanio tidak tahu, tapi dia tahu bahwa ibunya dijuluki 'Perempuan Berbakat'.

Apa artinya 'Perempuan berbakat'?

Ong Toanio tidak tahu.

Sekarang ternyata Kie Su-giok tidak bisa membuat puisi, dia juga tidak tahu apakah puisi ibunya bagus?

Dia hanya ingin tahu ibunya di mana?

Tapi sayang tidak ada yang mau memberitahu.

Anggota keluarganya memang sedikit tapi pada saat tahun baru suasananya tetap ramai.

Rumah sudah dicat, di atas meja kakek ditambah 2 pot bunga Sui-cian di ruang tamu masih ada pot besar dan di dalamnya ada bunga Bwe.

Wajah Paman Ting pun berseri-seri, Su-giok lebih senang lagi karena pada saat tahun baru, dia boleh memasang petasan.

Malam menjelang tahun baru, seperti tahun-tahun sebelumnya, teman-teman kakeknya datang untuk 'jaga tahun', dan kakeknya mengijinkan dia tidur lebih malam, tapi bukan menemani kakek 'jaga tahun' sampai pagi.

Tapi tahun ini, dia benar-benar bisa "begadang"

Sampai pagi-Kakek minum arak terus seperti malam menjelang tahun baru di tahun-tahun lalu. Teringat ada sebuah puisi yang terbaca.

"Setahun penuh sudah akan berlalu Tapi orang yang ditunggu, belum pulang juga."

Pada umur 6 tahun dia sudah mulai mengenal huruf, pada umur 7 tahun dia mulai sekolah, umur 8 tahun kakeknya mengajarkan 300 puisi dinasti Tang.

Tahun itu dia berumur 9 tahun, setelah malam menjelang tahun baru ini dia akan berumur 10 tahun.

Hal-hal yang tidak dia mengerti tahun lalu, tahun ini akan lebih dimengerti olehnya.

Dia mengerti arti 2 baris puisi itu.

Tapi mengapa kakeknya selalu niembacakan puisi itu, hal itu yang membuat dia tidak mengerti.

"Malam menjelang tabiin baru Imlek menunggu keluarga yang datang dari jauh."

Mungkin maksud kakek seperti itu.

Tapi siapa yang ditunggu olehnya?

Ayah sudah meninggal sebelum dia lahir, orang yang sudah meninggal tidak akan pulang.

Ketika dia bertanya apakah yang dimaksud oleh kakek adalah ibunya?

Kakek tampak marah, orang yang ditunggu pasti bukan ibunya.

Siapa yang ditunggu kakeknya?

Dia tahu kakek sedang menunggu muridnya, Supek Wie, yang belum dikenalnya.

Kakek sering bercerita mengenai Supeknya.

Tahun ini kakek bercerita lebih banyak lagi.

Kakek bercerita kepada Paman Ting dan dia.

Kakek tetap bercerita walau dia belum pernah bertemu dengan Supeknya.

Paman Wie adalah pahlawan terkenal di dunia persilatan, dia mengetahuinya dari cerita antara kakek dan Paman Ting, tapi dia tidak suka mendengar hal tentang dunia persilatan.

Dia menyukai ketenangan, senang melihat Ong Toanio menyulam, dan juga senang mendengar kakeknya mendongeng tentang 7 orang dewi.

Dia tidak ingin tahu mengenai dendam dan saling bunuh di dunia persilatan.

Apalagi ada banyak istilah dunia persilatan yang tidak dimengerti olehnya.

Tapi dia senang mendengar cerita tentang Supek pada saat masih kecil.

Pada umur 7 tahun, Supek sudah belajar ilmu silat kepada kakeknya.

Umur yang lebih kecil dari dia sekarang.

Supek sangat nakal, tapi pada saat belajar ilmu silat dia sangat serius dan gesit.

Yang membuatnya tidak mengerti, mengapa kakeknya sangat sayang kepada muridnya?

Sedangkan kepada anaknya sama sekali tidak rindu Kakek tidak pernah bercerita tentang ibunya juga tentang ayahnya karena itu dia lebih kenal dengan Supek yang belum pernah ditemui.

Apakah karena ayahnya sudah meninggal dan kakek tidak ingin terus bersedih hingga tidak mau bercerita?

Ada suatu kali, kakek sedang minum-minum dengan Paman Ting, dia sedang bermain di halaman rumah, sebenarnya dia tidak ingin mendengar percakapan mereka, tapi tetap saja terdengar.

Cerita awal tidak terdengar olehnya, dia hanya mendengar kata 'tuan muda', hanya dua kata itu.

Dia tahu yang dimaksud 'tuan muda' oleh Paman Ting adalah ayahnya.

Setelah mendengar dua kata ini, disusul oleh suara cangkir yang dibanting oleh kakeknya hingga pecah.

Paman Ting terkejut, dia pun langsung bersembunyi di halaman.

Mula-mula dia menyangka kakek marah kepada Paman Ting, dia merasa aneh, selama ini kakeknya sangat baik kepada Paman Ting dan menganggapnya sebagai teman lama, mana mungkin kakek marah kepada Paman Ting.

Akhirnya dia tahu juga bahwa kakeknya marah kepada ayahnya.

"Anak durhaka! Kalau dia benar-benar mati, itu memang pantas dan aku tidak akan sedih Lebih-lebih tidak akan membalaskan dendamnya."

Kakek membanting cangkirnya dan sangat marah.

Paman Ting tidak berani bicara lagi Dia pun langsung ke kamar.

Tapi dia tahu, walaupun kakek bicara seperti itu, tapi sebenarnya kakek sangat sedih.

Suara kakek sudah serak, pada saat makan malam mata kakek masih merah.

Waktu itu dia masih kecil, tidak bisa berpikir mengapa kakek bisa seperti itu.

Sekarang bila dipikir-pikir lagi, hatinya timbul satu pertanyaan lagi.

Kata-kata kakek pada saat itu 'kalau benar-benar mati', apakah ayahnya belum meninggal?

Sekarang dia sudah berumur 19 tahun.

Selama 19 tahun belum pernah dia mendengar cerita tentang ayahnya.

Apakah ayahnya benar-benar sudah meninggal?

Dia kembali berpikir pada malam menjelang tahun baru Imlek.

Waktu itu kakek sedang bercerita tentang murid tersayangnya kepada Paman Ting, membuat dia cemburu kepada Supeknya yang belum pernah dia kenal.

"Orang yang disayang oleh kakek adalah Supek atau aku?"

Dia sudah sering mendengar Supek belajar ilmu silat, dia menjadi bosan dan mengantuk kemudian tertidur.

Tiba-tiba terdengar ada suara tongkat.

Malam menjelang tahun baru, sekarang sudah hampir dini hari, mnegapa masih ada orang yang berada di jalan?

Tapi suara tongkat terdengar sangat cepat dan tergesa-gesa menuju pintu rumahnya.

Terdengar suara pintu diketuk.

"Siapa?"

"Guru, ini aku Seng-kong sudah pulang."

Suaranya serak membuat hati orang bergetar.

Terdengar suara cangkir arak milik kakek terjatuh dan pecah persis seperti yang dilihatnya saat itu.

Kali ini bukan karena dilempar, tapi tangan kakek gemetar dan cangkirnya terjatuh.

Dia terkejut, seperti orang yang terbangun dari tidur.

"Oh, Kong-ji, akhirnya kaupulangi"

Kakek berdiri dan keluar ke halaman rumah.

Tidak perlu diberitahu oleh kakek, dia sudah tahu siapa yang sudah datang.

Dia tahu orang itu adalah orang yang tiap tahun ditunggu oleh kakeknya selama ini, tahun ini dia ternyata pulang.

Tapi...

Kakek sebelum membuka pintu, Supek yang tidak pernah dikenalnya, sudah masuk sendiri.

Yang pertama masuk bukan dia seorang saja.

Mereka ternyata berdua, yang berada di depan paman gurunya adalah seorang remaja berusia antara 14 hingga 15 tahun.

Dia menuntun Supeknya masuk.

Pada malam menjelang tahun baru Imlek, halaman tampak terang seperti siang karena lampu digantung di atas genting.

Paman guru tampak kurus, bajunya compang camping, jalannya pincang dan menggunakan tongkat, dalam mimpi pun dia tidak menyangka, pahlawan yang sering diceritakan kakek adalah orang seperti ini?

Dengan seksama dia mencoba melihat, tapi dia langsung berteriak, di wajah paman gurunya ada 2 lubang, di kelopak matanya ternyata tidak ada biji matanya, wajahnya penuh dengan darah.

Dengan gemetar kakek bertanya.

"Kong-ji, kau mengapa?"

Supeknya berlutut, pemuda beralis tebal dan bermata besar pun ikut berlutut.

"Kong-ji, apa yang telah terjadi?"

"Guru, aku minta maaf tentang satu hal. Guru, budi Anda belum terbalas, tapi sekarang aku ada permohonan..."

"Bicaralah, aku pasti mengabulkannya."

"Aku berharap Guru mau melatih anak ini menjadi orang yang berguna."

"Anakmu adalah cucuku, tidak perlu sungkan, tapi kau...kau..."

Kakek memeluk Supek, kepala Supek ditundukkan, seperti tidak bisa diangkat lagi, dia mendengar percakapan antara kakek dan Supek, walau hanya sepotong-potong.

"Guru, budimu belum kubalas, sekarang harus merepotkanmu lagi, aku menjadi tidak enak hati, mengenai masalahku, nanti anakku akan menceritakannya."

Setelah itu Supek meninggal, dia memakai tenaga terakhirnya yang tersisa memutuskan nadi-nadinya.

Sifatnya sangat keras dia tidak ingin hidup dengan tubuh cacat dan dengan ilmu silat yang sudah punah.

Semenjak itu dia mempunyai seorang kakak yang mempunyai she berbeda, nama anak dari Supek adalah Wie Thian-hoan.

Awalnya dia cemburu kepada anak itu, karena kakek lebih sayang kepadanya.

Tapi entah sejak kapan, rasa cemburunya semakin lama semakin berkurang, dan dia senang bermain dengannya.

Tapi Wie Thian-hoan tidak senang bermain, dia hanya suka dengan ilmu silat, bila diajak bermain terus Wie Thian-hoan akan marah.

Anehnya dulu bila kata-kata dari kakeknya dia tidak pernah mau mendengar tapi kata-kata dari kakak Wie selalu diturutinya, dia sekarang mau bersama-sama berlatih silat.

Bila dia rajin latihan, kakek dan kakaknya sangat senang, bila dia berlatih dengan bagus.

Kakak Wie akan menemaninya bermain, menangkap burung dan memetik bunga yang dia sukai.

Dia tidak takut dimarahi oleh Wie Thian-hoan, hanya takut bila Wie Thian-hoan tidak mau bicara dengannya.

Dia melihat bila sedang asyik bermain, Wie Thian-hoan akan diam sambil melihat awan putih, matanya terlihat sangat sedih.

Pernah dia menanyakan alasannya tapi dia tidak menjawab.

Sekarang dia baru tahu, lebih tahu dari 3 tahun yang lalu.

Lima tahun yang lalu Wie Thian-hoan meninggalkan rumahnya, 2 tahun kemudian baru pulang.

Saat itu dia baru berumur 16 tahun, dia mulai diberitahu mengenai masalah orang dewasa.

Dia tahu Wie Thian-hoan mencari orang yang membunuh ayahnya, dia pun tahu pertarungan antara Wie Thian-hoan dan Hie Tiong-gwee.

Dia juga tahu bahwa Hie Tiong-gwee bukan orang yang membunuh ayah Wie Thian-hoan.

Bila tidak Wie Thian-hoan dengan segera akan membunuh Hie Tiong-gwee dengan segala keahliannya.

Tapi Wie Thian-hoan sangat ingin tahu mengenai Hie Tiong-gwee.

Karena itu dia pulang hanya untuk bertanya mengenai Hie Tiong-gwee kepada kakeknya.

Wie Thian-hoan tinggal hanya 10 hari, kemudian dia pergi lagi.

Sebelum pergi kakek sempat bicara 4 mata dengannya.

Dia mendengar dari tempat persembunyiannya.

Bila teringat kepada perbuatannya, wajahnya menjadi merah.

Dia menghentikan pikirannya karena malu.

Wie Thian-hoan sudah siuman dari pingsannya.

Dia menghentikan kuda, bersiap memapah Wie Thian-hoan tapi Wie Thian-hoan sudah turun sendiri, mereka beristirahat di hutan.

Kie Su-giok bertanya.

"Kakak Wie, bagaimana dengan lukamu?"

Wie Thian-hoan tertawa.

"Hanya luka luar, tidak apa-apa."

"Waktu aku melihatmu muntah darah, aku sangat terkejut, benarkah kau tidak terluka dalam?"

"Waktu itu hatiku tidak enak, setelah muntah darah keadaanku lebih enak."

Kie Su-giok menarik nafas.

"Kakak, demi seorang perempuan yang mengingkari janji, kau merusak tubuh sendiri, apakah itu pantas?"

"Dia bukan perempuan yang mengingkari janji, karena dia tidak pernah berjanji apa pun."

"Itu malah membuatku lebih khawatir lagi, mengapa kau begitu mencintai dia?"

"Adik, kau tidak mengerti, dia adalah teman baikku, aku tidak ingin dia menikah dengan Hie Tiong-gwee.", Apakah benar demikian? Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi, mungkin dia hanya membohongi dirinya sendiri. Kie Su-giok tidak berani bicara apa-apa lagi, dia hanya memandangi Wie Thian-hoan dengan khawatir. Begitu Wie Thian-hoan memandangnya, Wie Thian-hoan merasa bersalah, dengan pelan dia mendekati Kie Su-giok dan berkata.

"Adik, kau sangat baik kepadaku, aku akan memberitahu sesuatu padamu, waktu itu aku menusuk dadaku sendiri, bukan ingin bunuh diri. Tapi mengapa aku melakukannya, jangan tanya alasannya."

Setelah mendengar kata-kata Wie Thian-hoan, dengan senang Kie Su-giok berkata.

"Kalau memang bukan demi dirinya kau mau bunuh diri, aku tidak akan khawatir lagi. Terima kasih kau mau memberitahuku."

Wie Thian-hoan merasa tidak enak, dalam hati dia berpikir, 'Aku bersalah kepadamu, walaupun aku bukan mau bunuh diri, tapi hatiku sudah kuserahkan pada Hiat-kun."

Kata Wie Thian-hoan.

"Adik, tolong berjaga-jaga, kalau ada keluarga Hie yang datang, usirlah mereka Aku ingin menenangkan diri sebentar."

"Tenanglah, kecuali Tuan Kiam-ta, yang lain tidak jadi masalah bagiku."

Wie Thian-hoan duduk bersila dan memejamkan mata, dia segera mengatur nafasnya, tidak lama kemudian terlihat di atas kepalanya keluar asap putih seperti uap panas.

Melihat itu dengan gembira Kie Su-giok berkata.

"Toako sekarang sudah bisa Tay-ceng-khi-kang, aku tidak perlu khawatir lagi."

Meski dia sudah tidak khawatir tapi malah beban dalam pikiran Kie Su-giok malah bertambah berat.

"Lukanya memang sudah tidak apa-apa, tapi apakah setelah sembuh dia akan pulang? Dia berkata hanya ingin bertemu satu kali lagi dengan Nona Kang, sekarang keinginannya sudah tercapai hutang budi atau balas budi, seharusnya masalah sudah berakhir sampai di sini."

Melihat persahabatan mereka, tidak seperti persahabatan 'biasa'.

Nona Kang adalah 'teman baik' dari kecil, kali ini mereka bertemu kembali dan tidak disengaja.

Apakah Kakak Wie bisa mengatasi beban pikirannya?"

Ingatan 3 tahun lalu yang terputus sekarang sudah menyambung kembali.

Wie Thian-hoan hanya tinggal setengah bulan kemudian pergi lagi.

Pada malam dia akan pergi, dia mendengar percakapan antara kakek dan Kakak Wienya, dari percakapan mereka, dia baru tahu nama Kang Hiat-kun.

Dia hanya mendengar kakek menarik nafas dan berkata.

"Aku tahu kau pasti ingin melindungi adikmu, aku juga percaya demi dia kau akan mempertaruhkan nyawamu, lapi yang aku maksud bukan seperti itu."

Kata Wie Thian-hoan;

"Kakek, aku mengerti maksudmu, lapi balas dendamku belum selesai, aku tidak berani..."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya, tapi kakek juga tahu ini hanya cara Wie Thian-hoan menolak 'kebaikan' kakek. Kakek terdiam dan tiba-tiba bertanya.

"Kau sudah pergi selama 2 tahun, apakah sudah menemukan paman Kang?"

"Tidak ada berita mengenai Paman Kang."

"Katanya dia mempunyai seorang putri, siapa namanya dan berapa usianya?"

"Dia bernama Kang Hiat-kun, dia seumur dengan adik."

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan, karena kau adalah cucuku, kau harus jujur."

Kata kakek lagi meneruskan.

"Ayahmu dan Kang Ci-hoan adalah sahabat dan tetangga dekat. Apakah kalian sudah dijodohkan sejak kecil?"

"Tidak."

Kakek tersenyum.

"Tidak perlu tegang, mengapa kau tidak tahu?"

"Karena terjadi peristiwa itu, pada saat ayah dan aku dalam perjalanan kemari, dalam waktu 10 hari itu ayah telah memberitahu aku semua yang terjadi dalam hidup ayah, budi siapa yang belum dibalas, semua diberitahu oleh ayah. Mengenai Paman Kang, ayah menyuruhku mengingat budinya, tapi tidak menyuruhku membalasnya, ayah tidak membicarakan hal lainnya."

Kata kakek.

"Benar, tahun itu kau sudah berumur 14 hingga 15 tahun, kau adalah anak yang tahu balas budi. Waktu itu bila kau sudah dijodohkan kau pasti akan tahu, apalagi bila Paman Kang berhutang budi kepada ayahmu. Ayahmu juga pasti tahu, begitu terjadi musibah, keluarga Kang pasti akan terkait. Ayahmu tidak menyuruh membalas budi kepada Kang, karena sudah dibalas, bukan tidak harus dibalas."

Wie Thian-hoan berkata.

"Aku mengerti."

Su-giok sebenarnya tidak mengerti maksud kakek. Terdengar kakek berkata lagi.

"Hoan-ji, kau tidak perlu malu, apakah kau menyukai putri Paman Kang? Walaupun kalian tidak dijodohkan tapi bila kau suka kepadanya aku akan berusaha mencari mereka, supaya cita-citamu tercapai, pernikahan tidak boleh dipaksakan. Aku tidak boleh mementingkan kepentingan cucuku saja."

"Kakek jangan lupa, waktu itu putri Paman Kang belum berusia 10 tahun, perasaanku kepadanya seperti kepada seorang adik saja. Tapi jujur bicara, aku memang ingin bertemu dengannya, juga berharap dia bisa mendapat suami yang baik. dengan begitu aku akan merasa tenang."

"Aku mengerti maksudmu, pergilah! Aku harap bila lain kali kau nulang, bawalah kabar baik tentang Nona Kang yang sudah bersuamikan orang baik."

Kata kakek. Kie Su-giok teringat kepada percakapan kakek dan Kakak Wie, dia tertawa kecut.

"Hiat-kun menikah dengan Hie Tiong-gwee tapi belum sempat sembahyang sudah dibuat kacau oleh Kakak Wie. Apakah ini yang disebut keluarga yang baik?"

Dia kasihan kepada Hiat-kun.

"Hie Tiong-gwee terluka parah dan dihina oleh orang-orang, apakah dia masih bisa menikah dengan Hiat-kun?"

Belum habis berpikir, Wie Thian-hoan sudah berdiri dan membuka mata.

"Adik, kau tidak perlu khawatir, aku sudah katakan aku hanya terluka sedikit."

Mulut masih bicara, tapi tenaganya sudah mendorong pohon di depannya, dan patah.

"Kau lihat, ilmu silatku sudah pulih kembali."

Kie Su-giok sangat senang dan berkata.

"Mari kita pulang. Kakek tidak tahu aku keluar, bila bisa pulang lebih awal itu lebih baik."

"Kau harus pulang lebih awal."

Kata Wie Thian-hoan.

"Urusanmu di sini sudah selesai, kakek juga khawatir padamu, jadi kau juga harus pulang."

"Adik, kau pulang dulu, jangan pedulikan diriku."

"Bila kau tidak pulang, kau mau ke mana?"

"Aku akan ke rumah Hie."

Wajah Kie Su-giok seperti tertutup awan hitam, dia berkata.

"Kau tidak tega meninggalkan Nona Kang bukan?"

"Kali ini aku ke sana bukan demi dia, tapi mungkin aku bisa bertemu dengannya. Kie Su-giok terdiam, dia tidak percaya dengari kata-katanya. Wie Thian-hoan merasa bersalah dan berkata.

"Adik, aku tidak bohong, aku betul-betul ada keperluan penting di sana."

"Kau jangan lupa, Nona Kang sudah berumur 19 tahun bukan adik kecilmu lagi."

"Kau harus percaya kepadaku."

Kata Wie Thian-hoan.

"Ada perlu apa kau ke sana? Apa aku boleh tahu?"

"Ini ada hubungannya dengan Hie Tiong-gwee."

"Bukankah dia sudah terluka?"

"Masih ada satu hal yang belum aku cari tahu dengan jelas, apakah kau ingat sewaktu aku pulang, aku pernah bertanya kepada kakek mengenai Hie Tiong-gwee?"

"Aku ingat, kau ingin tahu pada saat keluargamu diserang oleh kuku garuda (pasukan pemerintah), Hie Tiong-gwee berada di mana? Kakek memberitahumu bahwa waktu itu Hie Tiong-gwee berada di dekat Huang-ho. Jarak antara Huang-ho dan rumahmu sangat jauh, karena itu kakek berkata bahwa Hie Tiong-gwee bukan orang yang membunuh ayahmu."

Sebenarnya masih ada lagi yang ingin dia katakan.

"Bahwa Kau juga cemburu kepada Hie Tiong-gwee dan memukulnya hingga terluka parah."

Tapi hal itu tidak dia katakan.

"Kau salah."

Kata Wie Thian-hoan. Kie Su-giok terkejut dan berpikir.

"Mengapa Wie Thian-hoan bisa tahu apa yang aku sedang pikirkan?"

"Hie Tiong-gwee adalah orang yang licik, orang pintar seperti kakekmu pun bisa kena tipu dayanya."

"Maksudmu?"

"Mengapa sepertinya kau tidak berkonsentrasi?"

"Kau bilang aku salah, sebenarnya pada waktu itu Hie Tiong-gwee berada di mana?"

"Waktu keluargaku mendapat musibah, dia tidak sedang membasmi Tluang-ho-sam-kui' (3 penjahat sungai Huang Hc)."

"Tapi kakek sudah mencari tahu, kau jangan lupa, membasmi Huang-ho-sam-kui juga peristiwa besar, mana mungkin dipalsukan?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Sebenarnya sangat mudah, dia dan Huang-ho-sam-kui adalah teman baik, dia menyuruh Huang-ho-sam-kui mengeluarkan kabar bahwa dia sendiri yang bertarung melawan mereka, karena mereka kalah jadi mereka harus tunduk kepada Hie Tiong-gwee. Di dunia persilatan jarang ada orang yang mau mengakui dirinya kalah. Waktu itu tidak ada saksi, 3 penjahat itu mengatakan seperti itu, orang-orang pasti akan percaya, apalagi waktu itu nama Hie Tiong-gwee sedang naik daun."

Kie Su-giok baru tahu dan berkata.

"Pantas saja sejak pertarungan di Siong-san, 3 tahun kemudian kau baru meneruskan pertarungan ini. Dalam waktu 3 tahun ini kau berusaha mencari tahu hal yang sebenarnya."

"Benar, aku pun baru tahu peristiwa yang sebenarnya "

"Kau tahu Hie Tiong-gwee adalah musuhmu, mengapa hari ini kau tidak membunuhnya?"

"Aku hanya tahu dia tidak ada di dekat Huang-ho waktu itu. Apakah dia musuhku? Aku belum tahu pasti tapi aku merasa pada saat keluargaku mendapat musibah, dia adalah orang yang memakai topeng. Karena itu aku ingin mencari tahu. Hari ini Tuan Ki.iin ia dan yang lainnya ada di sini, bila aku membunuhnya, aku akan jadi orang jahat dan dibenci 0l6h dunia persilatan."

"Apakah sangat sulit untuk mencari bukti?"

"Dikatakan mudah juga tidak, dikatakan susah juga tidak. Harus melihat kesempatan yang tepat. Aku sudah memberitahumu, kau harus percaya bahwa aku tidak berbohong kepadamu. Hal ini hanya bisa dilakukan olehku sendiri, maka dari itu kau pulang saja dulu."

Terpaksa Kie Su-giok mengiyakan, tapi dalam hati dia mempunyai pemikiran lain.

Wie Thian-hoan segera mendatangi rumah Hie, hatinya sangat gundah, masalahnya ini kelihatannya harus meminta bantuan Hiat-kun, tapi apakah dia mau membantu?

Tiba-tiba dia baru tahu bahwa dia bukan hanya menylidiki Hie Tiong-gwee ke rumahnya.

Di kamar pengantin, tidak ada pengantin laki-laki.

Hanya ada pengantin perempuan yang belum bersembahyang, apakah dia sudah menjadi Nyonya Hie?

Hiat-kun pun tidak mengerti hukumnya juga tidak tahu aturan-aturan yang berlaku.

Ada seorang pelayan yang memapahnya masuk ke kamar pengantin, dia takut melukai perasaan Nona Hie.

Bila bukan karena Kwee Goan-cay, mungkin dia tidak bisa masuk ke kamar pengantin ini.

Tapi Kwee Goan-cay juga tidak menengoknya, apakah dia takut dicurigai atau sedang mengurus gurunya, Hiat-kun tidak tahu.

Bagaimana dengan luka pengantin laki-laki?

Tidak ada yang memberitahu dan dia sendiri pun tidak ingin tahu.

Dia hanya merasa keadaan ini sangat lucu.

Di kamar pengantin tidak ada orang, hanya ada sepasang lilin yang sedang menyala.

"Mungkin hanya aku yang menjadi pengantin seperti ini."

Dia tidak menyalahkan nasib, dia hanya merasa lucu, dia ingin tertawa tapi tawanya tidak bisa keluar.

Sewaktu dia masih kecil, dia senang tertawa.

Wie Thian-hoan paling senang bila melihatnya tertawa.

Sekarang karena Wie Thian-hoan, dia tidak bisa tertawa.

Hati yang ringan tiba-tiba menjadi berat.

Darah bercipratan di aula, masih terbayang di matanya, tangannya masih berbau darah Wie Thian-hoan.

Walaupun sekarang tangannya sudah bersih tapi Hiat-kun merasa Wie Thian-hoan pada saat melukai dirinya sendiri seperti dia yang melukainya.

"Aneh, mengapa aku tidak memikirkan pada Hie Tiong-gwee yang terluka parah."

Sekarang dia baru ingat 'pengantin laki-laki yang malang' itu.

Bila Wie Thian-hoan terluka demi Hiat-kun, apakah demikian juga dengan Hie Tiong-gwee.?

Ini adalah mimpi buruk, tapi mimpi buruk ini bukan untuk pertama kalinya.

Mimpi buruk 10 tahun yang lalu, lebih dahsyat dari sekarang.

Bayangan Wie Thian-hoan berada di pelupuk matanya bergoyang-goyang kemudian berubah menjadi anak berusia antara.

14 atau 15 tahun.

Mereka telah tumbuh bersama.

Wie Thian-hoan lebih tua 5 tahun darinya.

Mereka dari kecil seperti adik kakak.

Wie Thian-hoan tumbuh besar di dalam keluarga Kang, hubungan mereka sangat dekat.

Ayah Wie sering pergi, berapa lama dia tinggal di rumah bisa dihitung dengan jari, 1 tahun pun tidak ada 1 bulan, anaknya dititipkan kepada ayah Hiat-kun.

Wie Thian-hoan tinggal di rumahnya.

Bila ayahnya pulang dia baru pulang ke rumahnya sendiri, selama 4 tahun 11 bulan, dia berada di rumah Kang, dia sudah menganggap rumah Kang seperti rumahnya sendiri.

Setelah umur Hiat-kun agak besar, dia pernah bertanya kepada ayahnya.

"Paman Wie itu apa pekerjannya?"

Ayahnya selalu berkata.

"Anak kecil jangan banyak tanya masalah orang dewasa."

Dia pun pernah bertanya kepada Thian-hoan, katanya ayahnya mempunyai banyak teman di luar, karena itu dia sering pergi untuk mencari teman.

Dia merasa aneh tapi Wie Thian-hoan juga tidak bisa menjelaskannya, karena Wie Thian-hoan pun seperti dirinya tidak jelas.

Dia ingat, terakhir kali Paman Wie pulang adalah menjelang malam tahun baru Imlek.

Sesudah Paman Wie makan malam bersama, dia baru menjemput Thian-hoan untuk pulang.

Dia ingat waktu itu untuk pertama kalinya dia mendengar nama Hie Tiong-gwee.

Paman Wie sesudah minum banyak arak baru bercerita tentang Pendekar Tiong-ciu itu.

Paman memberi tahu bahwa dia sekarang berteman baik dengan Pendekar Tiong-ciu; yang bernama Hie Tiong-gwee.

Ayah pernah bercanda dengan Paman Wie.

"Biasanya kau paling tidak suka berteman dengan yang kau katakan 'pendekar' karena mereka hanya ingin menjaga nama baik saja. Mengapa sekarang berbalik?"

Kata paman Wie.

"Karena Pendekar Tiong-ciu tidak sama dengan pendekar lainnya, dia benar-benar pendekar yang tidak mementingkan uang, sayangnya dia punya banyak uang."

Waktu itu umurnya masih kecil, tidak mengerti kata-kata ini, tapi percakapan antara Paman Wie dan ayahnya dia bisa mengerti maksud paman Wie.

Dia lebih senang berteman dengan orang miskin daripada orang kaya, berteman dengan orang kaya membuatnya takut.

Sebenarnya paman Wie takut apa?

Dia tidak tahu, juga tidak berani bertanya.

Setelah ayahnya mendengar penjelasan paman Wie, baru merasa tenang.

Ayahnya berkata.

"Bila baru berteman dengan seseorang, jangan terlalu percaya semuanya walaupun nama Hie Tiong-gwee terkenal di dunia persilatan, tapi kau baru mengenalnya. Menurutku apa yang kau kerjakan jangan beritahu dulu semua kepadanya."

Paman Wie tertawa dan berkata.

"Aku tahu, belum tentu dia sepaham dengan kita. Aku tidak akan membuka rahasiaku."

"Aku takut, kau ceroboh dan cepat percaya kepada teman bila kau bisa berhati-hati, aku juga akan tenang."

Dia bosan mendengar pembicaraan orang dewasa, kemudian dia menarik Thian-hoan dan berkata.

"Ayo kita membuat boneka tanah dan membuatkan baju untuknya."

Mereka sering bicara di sudut tapi ibunya sering mendengar dan tertawa.

"Kau jangan mengira Thian-hoan masih kecil, sekarang dia sudah setinggi ayahnya."

"Memangnya mengapa bila dia sudah tinggi?"

"Dia sudah tidak pantas bermain boneka. Kali ini Paman Wie pulang dan akan segera pergi, Paman Wie sekarang ada di rumah, kau dan Thian-hoan harus banyak belajar kepada Paman Wie."

"Karena Kakak Thian-hoan, aku setiap hari berlatih ilmu silat, dan dia juga banyak mengajari aku, aku harus memberi hadiah kepadanya, Kakak Thian-hoan tidak ingin hadiah yang dibeli dengan uangku, maka aku akan membuatkan boneka tanah liat untuk Kakak Thian-hoan. Sekarang dia akan menerima hadiah dariku."

Terpaksa Thian-hoan berkata.

"Aku menyukainya."

"Besok setelah kau beri baju baru untuknya, aku baru akan mengambilnya."

"Tidak, kau harus membawanya sekarang, taruhlah di pinggir bantal, nanti begitu matamu terbuka kau bisa langsung melihatnya, dan kau akan ingat harus lebih pagi mencariku."

Ibunya tertawa dan berkata.

"Kau tidak bisa meninggalkan Kakak Thian-hoan, aku harus lebih awal bicara dengan Paman Wie."

Paman Wie bertanya.

"Kakak ipar, kau mau bicara apa?"

Kata ibunya dengan tertawa.

"Hiat-kun tidak mau ditinggalkan oleh Thian-hoan bagaimana bila dua keluarga dijadikan satu saja."

Paman Wie tertawa dan menjawab.

"Sekarang kita sudah satu keluarga, nanti pun akan seperti itu, mereka masih kecil nanti kita bicarakan lagi. Aku dan Thian-hoan harus pulang. Di rumah masih berantakan."

Hiat-kun tidak tahu saat Thian-hoan pulang, itu adalah terakhir kali dia bisa melihat Thian-hoan lagi karena pada malam itu juga mereka menghilang tidak tahu kabar beritanya.

Malam itu dia terbangun dari mimpi.

Dia seperti mendengar suara Thian-hoan berteriak, begitu terbangun dia melihat kamarnya sudah terang.

Ibunya sudah rapi dan duduk di sisinya, dia dibangunkan oleh ibunya.

Dia terkejut dan meloncat, matanya dibuka lebar-lebar melihat ibunya.

Di luar terdengar suara senjata saling beradu, dia masih mendengar suara Paman Wie, tapi tidak terdengar suara Kakak Wie.

"Jangan takut, Paman Wie dan ayah bisa mengatasi penjahat-penjahat itu, ibu akan menjagamu, tidak akan membiarkan penjahat-penjahat itu melukaimu."

Ibu memeluknya dengan erat. Ibu tidak tahu dia bukannya takut, dia berontak.

"Kau mau apa?"

Ibunya bertanya.

"Aku ingin lihat Kakak Thian-hoan."

"Kau jangan ribut, bila kau keluar tidak akan bisa membantu mereka, malah menambah beban mereka. Sebentar lagi mereka akan datang untuk melihatmu."

Benar saja, suara orang bertarung sudah tidak terdengar, ayah sudah kembali ke rumah. Tapi hanya ada ayah, Kakak Thian-hoan tidak ada "Ayah, mana Kakak Thian-hoan, aku ingin..."

Baru bicara separuh, dia melihat baju ayahnya sudah penuh dengan darah, dia terkejut dan tidak bertanya lagi. Dengan tersenyum ayah berkata.

"Kakak Thian-hoan tidak apa-apa, penjahat-penjahat itu sudah mati dibunuh oleh Paman Wie."

"Ayah, apakah kau terluka?"

"Jangan terkejut, darah di bajuku adalah darah penjahat itu. Ayah tidak terluka."

"Ayah bohong, aku melihat luka ayah mengeluarkan darah."

Tiba-tiba dia jadi dewasa, dia mengambil obat dan mengoleskan ke luka ayahnya.

"Luka ayah adalah luka ringan, tidak apa-apa,"

Ibunya juga berkata.

"Jangan menghabiskan waktu untuk mengobatiku, cepatlah lari, tinggalkan tempat ini!"

Ayah bercerita kepada ibunya, tapi hatinya sangat cemas. Hiat-kun bertanya.

"Bukankah penjahat-penjahat itu sudah mati semua?"

Tadinya dia ingin berkata.

"Penjahat sudah mati, mengapa Kakak Thian-hoan tidak juga datang?"

Tapi ayahnya sudah memotong kata-katanya.

"Paman Wie dan Kakak Thian-hoan sudah pergi, kau jangan ribut, sekarang dengar kata-kata ayah dan ibu, kelak kau akan bisa bertemu dengan mereka lagi."

Dia ingin menangis pun tidak bisa.

"Cepatlah, bakar ini semua! Hiat-kun bantu ayah membakarnya!"

Ayah seperti sudah gila, buku gambar dan benda kesayangan yang dia sayangi, semua habis terbakar.

Sepertinya ibunya juga terkejut, cahaya api menyinari wajahnya yang pucat, hanya terdengar dia berkata.

"Penjahat tidak membakar rumah, tapi kita sendiri yang membakarnya! Kau juga tidak ingin aku menyisakan barang, kelak hidup kita bagaimana?"

Ayah menarik nafas dan berkata.

"Dewasalah sedikit, penjahat ini bukan penjahat biasa, kita sudah terlibat dalam masalah ini, walaupun penjahat itu sudah mati, kita tetap tidak bisa melepaskan diri. Tidak ada cara lain kecuali membakar rumah. Walaupun mereka menyangka kita sudah mati terbakar, kita tetap harus ganti nama dan pergi ke tempat jauh, mungkin kita bisa lolos dari perangkap ini, kau lihat keluarga Wie, mereka pun seperti kita mengganti nama."

Ibunya menjawab.

"Aku mengerti, ada pepatah berkata 'bila tinggal di gunung yang hijau, tidak perlu takut tidak punya kayu bakar'. Maka kita harus membakar rumah sendiri. Tapi Hiat-kun tidak ingin meninggalkan rumah ini, tempat dia tumbuh besar bersama Thian-hoan."

Dalam kobaran api terlihat mereka meninggalkan rumah, dalam hati Hiat-kun berkata.

"Bila nanti kita mempunyai rumah lagi, apakah Kakak Thian-hoan masih mau menjadi tetangga?"

Sejak itu dia tidak pernah pulang ke kampung halamannya, tapi kenangan masa lalu masih menempel dalam ingatannya.

Dia semakin rindu dengan rumahnya yang dulu.

Dia tahu, walaupun dia pulang ke kampung halamannya, dia tidak akan tahu di mana letak rumahnya karena rumahnya sudah menjadi reruntuhan.

Rumahnya sudah hilang, tapi kenangan tidak bisa hilang.

Sekarang dia mempunyai 'rumah' lagi, tapi apakah ini adalah rumahnya?

Dia tidak bisa bertemu dengan Kakak Thian-hoan semenjak itu.

Tapi setelah dia tinggal di rumah baru ini, 10 tahun kemudian dia baru bisa bertemu dengan Kakak Thian-hoan lagi.

Mata merah Wie Thian-hoan seperti memelototinya.

Sudah lama dia ingin bertemu dengan Kakak Thian-hoan, tapi setelah bertemu dengannya, tempat dan suasananya tidak menyenangkan.

Benar-benar keadaan mempermainkan orang, dia harus menangis atau tertawa?

"Kakak Thian-hoan pasti marah kepadaku, apakah dia masih mau menengokku?"

Dia mendekati jendela akan membukanya, ingin memandang ke arah kampung halamannya. Tiba-tiba ada yang mengetuk jendelanya. Apakah Kakak Thian-hoan kembali lagi? Dengan suara gemetar dia bertanya.

"Siapa?"

Suara yang dikenalnya menjawab.

"Po Leng-hoi."

Hiat-kun merasa kecewa, dia membuka jendela dan bertanya.

"Kakak Po, ada apa datang kemari?"

"Mereka memperlakukanmu seperti ini, apakah kau masih mau tinggal di sini?"

Hiat-kun menarik nafas dan berkata.

"Nasibku tidak baik, aku hanya bisa menerima saja. Kakak Po, pergilah! Nanti orang lain akan curiga."

"Kau keluarlah sebentar, aku ada perlu."

"Bicaralah, aku akan mendengar."

"Hiat-kun, percayalah padaku, aku tidak berniat jahat."

"Kalau begitu, cepatlah bicara!"

"Aku disuruh teman datang ke sini, dia sangat ingin bertemu denganmu."

"Siapa dia?"

"Dia blang bila kau sudah bertemu dengannya, pasti akan tahu. Dia bilang hal ini menyangkut nasibmu seumur hidup. Kau dalam keadaan bahaya, dia tidak bisa berpangku tangan, dia tidak menjelaskan alasannya, tapi aku percaya kepada temanku ini."

Hiat-kun terkejut dan dia tidak bertanya lagi, dia berkata.

"Aku percaya kepada temanmu, dia ada di mana?"

Dalam hati dia berpikir, 'Kecuali Thian-hoan, masih ada siapa lagi?' "Dia menunggumu di dekat kolam teratai "

Tempat itu adalah tempat yang paling sepi.

"Baiklah, tapi kau harus menemaniku "

"Tidak, dia ingin bertemu denganmu sendirian, apalagi aku harus ada di kamarmu."

Setelah mendengar penjelasan Po Lcng-lioi, Hiat-kun jadi terkejut Po Leng-hoi berkata lagi.

"Dia takut keluarga Hie akan menengokmu jadi aku harus ada di sini untuk menghadapi mereka."

Hati Hiat-kun menjadi kacau, terpaksa dia berkata.

"Baiklah! Jika sampai lilin terbakar habis dan aku belum kembali, kau pulang saja, aku harap orang lain tidak mencurigaimu."

Begitu Hiat-kun tiba di kolam teratai, dia melihat bayangan seorang laki-laki, orang itu berkata.

"Nona Kang, terima kasih kau percaya kepada orang yang tidak kau kenal sebelumnya."

C Berjumpa dengan seperguruan Ternyata dia bukan Kakak Thian-hoan.

Tapi suaranya terasa tidak asing, dia mengenal suara itu.

Pada waktu pertarungan antara Hui-thian-sin-liong dan Hie Tiong-gwee di antara tamu-tamu ada ada seorang yang berpihak kepada Hui-thian.

Seseorang yang berkata aneh dan sering mengejek Hie Tiong-gwee, tapi dia bersembunyi di belakang orang-orang.

Dia juga tidak berdiri terus di satu tempat, nadanya juga sangat aneh, mungkin dia menggunakan "bahasa perut', tapi dari mula hingga akhir tidak ada yang tahu siapa dia.

Salah seorang adalah Coh Thian-su, banyak orang mengenal Coh Thian-su.

Waktu itu wajah Hiat-kun ditutup oleh kain merah, dia tidak bisa melihat Coh Thian-su, tapi dia kenal dengan suaranya.

'Orang ini pasti teman Kakak Tian-hoan, mungkin Kakak Thian-hoan terluka, dan menyuruhnya ke mari,' pikir Hiat-kun.

"Siapa yang menyuruhmu kemari?"

Tanya Hiat-kun langsung.

"Aku sendiri."

Hiat-kun terkejut dan bertanya.

"Siapa kau?"

"Aku Coh Thian-su dari Yang-ciu."

Setelah mendengar jawaban dari Coh Thian-su, Hiat-kun lebih terkejut.

"Kau adalah keluarga Coh dari Yang-ciu?"

Jawab Coh Thian-su senang.

"Benar, apakah ayahmu pernah bicara tentang keluarga Coh dari Yang-ciu? Kalau aku tidak salah tebak, kau adalah..."

Tiba-tiba Hiat-kun mematahkan sebuah ranting pohon dan langsung menyerang Coh Thian-su.

Ranting pohon ditusuk dengan lurus, tapi Coh Thian-su tahu itu adalah salah satu jurus menotok urat nadi.

Terlihat sangat sederhana, tapi perubahannya tidak dapat ditebak dan mengarah di 4 titik urat nadi.

Coh Thian-su memuji.

"Jurus yang sangat indah."

Segera dia menggambar 3 bulatan.

"Bila aku tidak salah tebak, kau adalah Sumoiku"

Ranting yang dipegang oleh Hiat-kun jadi terjatuh, tapi jari tengah Coh Thian-su ternyata sudah ada bekas sobekan. Hiat-kun pun memuji.

"Jurus Sam-cuan-hoat-lun (Tiga roda berputar) yang bagus."

Dia melemparkan ranting dan bertanya.

"Coh Kim-sung dari Yang-ciu, siapamu?"

"Dia adalah ayahku."

Hiat-kun segera memberi hormat kepada Coh.

"Coh Tayhiap adalah Susiok yang belum pernah kukenal, maafkan aku karena sudah tidak sopan."

"Tidak perlu sungkan. Apakah kalian sekeluarga pindah ke Lok-yang setelah terjadi musibah itu?"

"Benar, mengapa Suheng bisa tahu?"

"Ayahku pernah mencari kalian, setelah itu baru tahu bahwa 10 tahun yang lalu, kalian tinggal di sebuah desa bertetangga dengan keluarga she Wie. Ketika terjadi musibah rumahmu dan rumah keluarga Wie habis terbakar, ayah mengira kalian semua sudah meninggal. Hingga satu bulan yang lalu aku dengar dari Sin Kong-ta mengenai Kang Goan-yang aku mencocokan umur, bentuk wajah, dan waktu kalian pindah ke Lok-yang. Orang ini seperti orang yang ayah cari, karena itu aku dari Yang-ciu datang ke Lok-yang untuk memberi selamat kepadamu."

Kata Hiat-kun.

"Benar, malam itu tetanggaku diserang oleh kuku garuda. Keluargaku juga ikut terlibat, sedangkan rumah, kami sengaja membakarnya."

"Mengapa kalian tidak ke Yang-ciu?"

"Waktu itu aku masih kecil hanya mendengar perkataan ayah, kalau kita pindah ke Yang-ciu akan menarik kalian ke dalam masalah ini, apakah paman Coh baik-baik saja?"

"Ayahku dalam keadaan baik, dia belum tahu keadaan supek, dia berpesan harus mencari tahu keadaan kalian, tidak kusangka..."

"Apakah kalian tidak setuju..."

"Tempat ini tidak cocok untuk kita mengobrol, maafkan aku tidak sopan. Jauh-jauh kalian pindah ke Lok-yang, mengapa harus berhubungan dengan keluarga Hie?"

"Ayahku tidak mau merepotkan kalian, adik sepupu ibuku sering keluar masuk rumah keluarga Hie, ayah juga pernah mendengar nama baik Hie Tiong-gwee, paling sedikit dia bukan orang jahat, kita bisa berteduh di bawah pohon besar, tapi tidak tahunya malah peristiwa seperti sekarang."

"Adik, aku harus memberitahumu, kemungkinan Hie Tiong-gwee adalah orang jahat."

Kata Coh Thian-su. Hiat-kun terkejut dan berkata.

"Mengapa kau bisa tahu dia orang jahat?"

"Tadinya aku hanya menebak saja, tapi melihat keadaan tadi dan mengambil kesimpulan, perasaanku menjadi khawatir."

Hiat-kun merasa aneh dan bertanya.

"Kau melihat apa? Sehingga membuatmu khawatir terhadapku?"

"Kau bilang tetanggamu adalah Hui-thian."

"Benar, ada apa?"

"Apakah kau pernah memberitahu kepada Hie Tiong-gwee tentang musibah yang terjadi 10 tahun yang lalu yang telah melibatkan dua keluarga kalian?"

"Tidak."

Tapi dalam hati Hiat-kun ingin memberitahu kepada Chu, bahwa Hie Tiong-gwee sudah tahu tentang musibah itu. Belum sempat bicara, Coh Thian-su berkata lagi.

"Musibah itu erat hubungannya dengan Hie Tiong-gwee."

Hiat-kun terkejut dan bertanya.

"Kau tahu dari siapa?"

"Di sini walaupun sepi tapi masih rumah Hie, banyak hal yang ingin aku katakan, bila kau percaya kepadaku, ikuti aku meninggalkan tempat ini."

Po Leng-hoi menghadapi kejadian yang tidak disangkanya, dia mendengar ada yang mengetuk pintu.

Dia tidur di ranjang pengantin dan selimut menutupi kepalanya, sengaja dia mengeluarkan suara dengkuran.

Ada suara yang berkata.

"Nona Kang, ini aku, ayah terluka parah dan ingin bertemu denganmu."

Dia adalah putri Hie Tiong-gwee, Kim-giauw. Po Leng-hoi tidak tahu apakah benar seperti itu? Dia tetap mendengkur dan lebih keras lagi. Terdengar suara Kim-giauw.

"Bibi, dia sudah tidur, apakah kita harus membangunkan dia?"

Terdengar suara perempuan setengah baya berkata.

"Aku ingin dia tertidur nyenyak, tapi kita harus benar-benar memastikannya dulu, takutnya dia hanya pura-pura, jangan terburu-buru masuk."

Po Leng-hoi tahu siapa perempuan itu. Dia sangat terkejut apakah perempuan ini datang karena disuruh oleh Hie Tiong-gwee? Dari pembicaraan mereka, nasib Hiat-kun benar-benar tidak beruntung."

"Baiklah, aku akan lihat permainan mereka."

Perempuan itu adalah kakak dari istri Hie Tiong-gwee yang sudah meninggal, shenya Tio, istri pertama Hie Tiong-gwee bernama Ceng-bi dan kakaknya bernama Ang-bi.

Tio bersaudara ini bisa ilmu silat, apalagi Tio Ang-bi, hatinya kejam, tidak pernah memberi ampun kepada orang lain, di dunia persilatan dia dijuluki 'pembunuh berwajah cantik'.

Hie Tiong-gwee bisa terkenal juga karena bantuan dari mereka berdua.

Tio Ang-bi sekarang sudah berusia 36 tahun tapi belum menikah karena dia terlalu pilih-pilih.

Sejak adiknya meninggal, dia sering keluar masuk keluarga Hie.

Begitu mendengar langkah mereka, Po Leng-hoi sudah meniup lilin, dia menunggu di dalam kegelapan.

Tiba-tiba dia mencium wewangian, membuat orang seperti ingin tidur.

Dalam kegelapan dia melihat ada asap putih masuk dari jendela.

Hie Kim-giauw di luar juga merasa terkejut, dia bertanya.

"Bibi, kau mau apa?"

"Aku akan membuat dia pingsan.

"Mengapa?"

"Aku bisa memalsukan dia."

"Mengapa bibi ingin memalsukan dia?"

"Anak ini sangat bodoh, Hui-thian memilih hari ini untuk membuat keonaran, dari sini kita tahu dia adalah kekasih lama Hui-thian-sin-liong."

"Aku juga marah, tapi aku tidak mengerti apa maksudmu memalsukan dia."

Kata Kim-giauw.

"Luka Hui-thian tidak berat, aku mengira malam ini dia akan kembali."

"Aku mengerti apa tujuanmu memalsukan Hiat-kun, supaya Hui-thian tidak waspada, kita dapat menyerang dia dari tempat yang tidak diduga."

"Kau masih sedikit pintar, mereka sudah 10 tahun tidak bertemu, Hui-thian akan sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengannya. Pada saat mereka bicara pasti suaranya tidak keras, aku akan biarkan wajah Hiat-kun tidak tertutup dan aku akan meniru suaranya supaya Hui-thian mendekat dan terpancing."

Po Leng-hoi terkejut dan marah, dalam hati dia berpikir.

"Rencana yang busuk!"

Segera dia mengambil kapas untuk menutup hidungnya dan dengan pelan bernafas, tenaga dalamnya tidak begitu dalam, tapi dia sudah mempunyai dasar.

Kepalanya ditutup oleh selimut dan hidungnya disumbat oleh kapas.

Dengan ini dia tidak akan cepat pingsan.

Tapi sekarang bagaimana dia bisa keluar dari kamar?

Sampai sekarang belum terpikir olehnya.

Obat yang dipakai oleh Ang-bi adalah Ngo-kok-hoan-hun-hiang (5 asap pembalik roh).

Setelah itu tidak terdengar lagi suara mereka.

Mereka mengira Hiat-kun sudah pingsan.

Segera pintu didobrak.

Dalam kegelapan hanya terlihat kilauan pisau putih.

Hie Kim-giauw berteriak.

"Bibi, mengapa kau mau membunuhnya?"

Kim-giauw menarik tangan Ang-bi.

"Kau marah terhadap ayahmu yang bisa tertarik kepada perempuan yang tidak berharga ini? Mengapa sekarang jadi berbaik hati?"

"Aku hanya tidak suka dia menjadi ibu tiriku, tapi bila dia sampai dibunuh itu keterlaluan."

Ang-bi tertawa dingin dan berkata.

"Kau tidak menyukainya, tapi ayahmu suka, bila tidak dibunuh apakah ayahmu akan berhenti menyukainya?"

Pikir Po Leng-hoi.

"Nona Hie walaupun tabiatnya jelek tapi hatinya tidak jahat, dia pasti bisa menghentikan perbuatan perempuan jahat ini, bagaimana cara aku melarikan diri dari sini?"

Belum habis dia berpikir, terdengar ada orang yang terjatuh karena Kim-giauw tidak mau melepas tangannya, Ang-bi terpaksa menotok nadinya.

Po Leng-hoi secepat kilat menutup kepala Ang-bi dengan selimut, begitu Ang-bi akan memotong selimut itu seperti perisai yang menutupi pisau tajam Tenaga Ang-bi tidak sebesar Po Leng-hoi maka Ang-bi terjatuh.

Pada saat Po Leng-hoi ingin keluar dari jendela, siapa sangka Ang-bi mengait kaki Po Leng-hoi dengan kakinya yang kecil.

Po Leng-hoi pun terjatuh.

Mereka berdua jadi saling bergumul seru, Po Leng-hoi ingin menotok nadinya, tapi tidak berhasil, jadi dia tidak bisa membuat perempuan itu pingsan.

Tiba-tiba Ang-bi mencium bau laki-laki, dia berteriak.

"Siapa kau? Mengapa tidak sopan?"

Po Leng-hoi yang terpaksa mengadakan perlawanan dengan dia.

ketika dia dimarahi, wajahnya menjadi merah, dia pun mengendorkan pelukannya, mendapat kesempatan ini Ang-bi menyikut tempat ke arah jantung karena kesakitan Po Leng-hoi melepaskan Ang-bi.

Ang-bi mengambil pisau yang terjatuh dan berteriak.

"Kau adalah selingkuhan Hiat-kun..."

Belum habis teriakannya, dia tiba-tiba pingsan, sebenarnya Po Leng-hoi sedang bersiap menunggu serangan dari Ang-bi, tapi setelah lama menunggu dia tidak melihat Ang-bi bergerak, dia mulai merasa aneh.

Dia melihat di dalam kegelapan Ang-bi masih memegang pisau dan pisaunya masih berkilau tapi Ang-bi masih berada dalam posisi seperti tadi.

Bergerak pun tidak.

Po Leng-hoi menjadi bengong dia berpikir, 'Aku tidak merasa menotok nadinya, apakah tadi ada yang membantuku?' Dia tidak berpikir hal lain lagi, langsung kabur meninggalkan Kim-giauw yang belum terbuka totokannya.

Hati Hiat-kun merasa sangat risau, dia mengikuti Coh Thian-su meninggalkan kolam teratai.

Tiba-tiba Coh Thian-su menarik dia dan berbisik.

"Tiarap!"

Tapi sudah terlambat. Hiat-kun masih berdiri bengong di sana, terdengar suara seperti gong pecah yang berkata.

"Coh Thian-su, kau mau sembunyi di mana?"

Tiba-tiba di depan mereka ada 3 orang.

Mereka adalah Bwee Ceng-hong, Hun Sim-boh, dan Yap Jin-tong.

Mereka bertiga adalah teman baik Hie Tiong-gwee, yang bersuara seperti gong pecah adalah Yap Jin-tong.

Kata Yap Jin-tong.

"Coh Thian-su, kau adalah seorang pendekar, seharusnya kau tahu, istri teman tidak boleh dihina, apakah kau tidak tahu?"

Kata Yap Jin-tong lagi.

"Mungkin kau tidak menganggap teman terhadap Hie Tiong-gwee, tapi kami adalah teman-temannya, kau sudah melihatnya terluka malah masih ingin membawa istrinya. Kami tidak akan berdiam diri."

Hiat-kun marah dan gemetar dia berkata.

"Kalian jangan sembarangan bicara, aku dan kakak Coh terang-terangan..."

Hun Sim-boh berkata.

"Kakak ipar, kita memandang nama baik Hie Tiong-gwee tidak mencari masalah denganmu, tapi bila kau terus melindunginya, kami akan berbuat tidak sopan."

Kata Coh Thian-su.

"Aku tidak perlu banyak bicara kepada kalian!"

Mereka bertiga mengurung Coh Thian-su, selangkah demi selangkah mereka mendekat, tiba-tiba pena besi Coh berkelebat menotok ke arah dada Hun Sim-boh. Teriak Hun Sim-boh.

"Kau mau membunuh orang untuk menutup mulut!"

Dia memakai tongkat besi dan menggunakan jurus Siauw-lim-hong-ciang-hoat (tongkat gila) dan satu jurus Thiat-suo-heng-ciu (Besi menyerang datar perahu kecil) melintangkan tongkatnya di depan dadanya.

Siapa sangka ternyata pena besi Coh Thian-su sangat sakti, Hun Sim-boh bisa melindungi dadanya tapi tidak bisa melindungi pundak bagian belakang yang terbuka terkena pena sakti.

Tiba-tiba dia merasa pundaknya kaku dan tongkat besinya terjatuh ke bawah.

Bwee Ceng-hong merasa di belakangnya ada angin berkesiur, tanpa membalikkan kepala , dia sudah mendorongkan telapak tangannya ke belakang.

Ilmu silatnya memang lebih tinggi dari Hun Sim-boh, begitu telapak tangan didorong ke belakang tepat pada pena besi Coh Thian-su yang sedang mencoba menotok di belakangnya sehingga penanya tergeser kesamping oleh tenaga telapak tangan.

Dengan cepat Coh Thian-su membalikkan tubuh, sepasang penanya sudah kembali menusuk secara bersilang.

Dalam sekejap mata 3 pesilat tangguh sudah diserang oleh Coh Thian-su dengan kecepatan yang sulit ditukiskan.

Pedang Yap Jin-tong berputar seperti lingkaran, mengunci sepasang pena besi dan dia berteriak.

"Lepas!"

"Tidak bisa"

Coh Thian-su yang merasa penanya tidak bisa digerakkan. Sepasang penanya terbawa oleh tenaga pedang. Coh Thian-su terkejut, dalam hati dia berpikir, 'sungguh hebat kepandaian Bu-tong-pay."

Segera dia ikut memutar ujung penanya, dengan jurus Ya-cia-tan-0ai (malam membagi mencari tahu laut) segera di keluarkan.

Sepasang pena Coh makin masuk ke dalam lingkaran pedangnya.

Terlihat cahaya pedang menjadi pecah, lingkaran pedang yang bulat sudah berubah menjadi seperti bulan sabit.

Tapi Yap Jin-tong juga merubah jurusnya dengan cepat, lingkaran pedang berubah menjadi lurus, kecepatannya sangat tinggi.

Dengan dingin Coh Thian-su berkata.

"Kau adalah murid Bu-tong, aku beri nasihat, jangan tertipu oleh Hie Tiong-gwee."

Mulutnya masih bicara tapi sepasang penanya sudah menotok kearah dadanya.

Memaksa Yap Jin-tong terus mundur.

Waktu itu pun Bwee Ceng-hong datang untuk membantu Yap Jin-tong menyerang Coh Thian-su.

Bwee Ceng-hong adalah seorang angkatan tua.

Ilmu silatnya tidak kalah dengan Coh Thian-su, melihat Yap Jin-tong yang hampir kalah, dalam 7 langkah dia sudah menggerakan kepalan tangannya tapi Coh Thian-su sudah berpindah tempat, mengelak tenaga kepalan itu.

Yap Jin-tong langsung menyerang 13 kali tanpa berhenti, semua gerakan pedangnya mengarah pada bagian yang berbahaya.

Perguruan Bu-tong mempunyai dua jurus pedang yang hebat.

Yang satu bernama Ru-in-kiam-hoat (jurus roh pedang seperti awan).

Jurus ini berinti tenaga dalam dan memakai tenaga lembut untuk mengalahkan tenaga keras.

Yang satu lagi bernama Lian-hoan-tui-beng-kiam-hoat (pedang berantai merengut nyawa) ilmu pedang ini jurus-jurusnya sangat cepat dan tepat.

Dua ilmu pedang ini yang satu lembut yang satu keras.

Bila ilmu ini sudah dilatih hingga tingkat tertinggi, lembut dan keras ini bisa di gabungkan dan akan menjadi ilmu pedang yang sangat hebat.

Yap Jin-tong adalah salah satu diantara 4 murid yang ilmunya belum mencapai tingkat tertinggi.

Dia tahu ilmu silatnya tidak dapat menandingi lawannya tapi karena ada Bwee Ceng-hong yang membantu, dia hanya bisa membantu menyerang dari samping, jurus Ru-in-kiam-hoat sama sekali tidak dikeluarkan.

Coh Thian-su agak tenang, dalam hati dia berpikir, 'Untung ilmu pedangnya belum mencapai tingkat kesempurnaan, sehingga pena ku bisa dengan tepat mengatasi jurus Lian-hoan-tui-beng-kiam-hoat."

Tapi Coh Thian-su lupa satu hal, benar kalau dia bertarung satu lawan satu, dia pasti menang tapi Yap Jin-tong masih dibantu oleh pesilat tangguh lainnya.

Dalam waktu singkat, Coh Thian-su sudah menemukan kelemahan Yap Jin-tong memainkan pedang tapi karena ada Bwee Ceng-hong yang membantu, maka tiap ada celah yang kosong selalu dapat ditutupi oleh Bwee Ceng-hong.

Kalau Coh Thian-su memaksa menyerang malah bisa membahayakan dirinya.

Yap Jin-tong sekarang agak tenang, dengan dingin dia berkata.

"Kau adalah pendekar palsu dan cabul, kami belum menasihatimu, kau malah sudah mengadu domba. Hie Tayhiap adalah seorang pendekar sejati, aku tidak akan membiarkanmu menghinanya!"

Hiat-kun berada di sisi Coh Thian-su, melihat ini dia sangat takut, dengan tidak sengaja dia mendekati Coh Thian-su. Dengan dingin Yap Jin-tong berkata.

"Nyonya Hie, apakah kau mau melarikan diri bersama laki-laki cabul ini? Demi nama baikmu, kembalilah kepada suamimu, dan kami akan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa."

Mereka takut Hiat-kun akan mengikuti laki-laki yang dia cintai dan bermusuhan dengan mereka.

Hal ini membuat mereka serba salah, karena itu mereka memaksa Hiat-kun jangan ikut campur, tapi mereka malah mendapat hal yang sebaliknya.

Hiat-kun sangat marah hingga tubuhnya gemetar dan berteriak.

"Kalian jangan sembarangan bicara! Jangan salahkan aku! Tutup mulut kalian!"

Dalam kemarahannya dia membuka ikat pinggang sutranya. Kata Yap Jin-tong.

"Menyuruhku tutup mulut? Kecuali kau membunuhku untuk tutup mulut, kau..."

Kata-kata Yap Jin-tong belum habis, di depannya tiba-tiba ada sinar pelangi yang berwarna warni, tali pinggang sutra itu tiba-tiba berubah seperti pedang tajam yang bercahaya darah.

Yap Jin-tong segera memutar pedangnya untuk melindungi dirinya tapi dia merasa tangannya kesemutan, terdengar suara sobekan, tali pinggang sutra Hiat-kun sudah terbelah separuh.

Tapi pedang panjang Yap Jin-tong pun terlepas, Hiat-kun seperti sedang memakai ilmu sihir saja membuat tali pinggang sutranya menjadi Poan-koan-pit (hakim pena), dia sudah berhasil menotok nadi pelemas tubuh Yap Jin-tong tapi jurus pedang Yap Jin-tong juga bukan sembarangan ilmu pedang, ketika tenaga dalam hampir habis, dia masih bisa memotong ikat pinggang sutra milik Hiat-kun.

Yap Jin-tong berteriak.

"Nyonya Hie, kau... kau..."

Tubuhnya sudah jatuh ke bawah. Bwee Ceng-hong terkejut "Ingin melarikan diri?"

Teriak Coh Thian-su.

"Kau mau lari ke mana?"

Bayangan Coh Thian-su sudah mendekat, Bwee Ceng-hong segera membalikkan tubuh, mendorong tenaga telapak tangannya tapi dia tidak bisa menahan ujung pena Coh Thian-su, dia merasa pinggangnya kaku, kemudian dia pun terjatuh ke tanah.

Kata Coh Thian-su.

"Adik, demi diriku kau dihina orang, maafkan aku. Tapi sekarang karena sudah terjadi hal ini, kita harus cepat-cepat meninggalkan rumah Hie, apakah kita harus membunuh mereka yang sudah menghinamu?"

"Suheng, sebenarnya akulah yang merepotkanmu, Hie Tiong-gwee sudah curiga kepada kita, membunuh mereka pun sudah tidak berguna."

Tiba-tiba ada suara rendah yang bicara.

"Tunggu!"

Di depan mereka keluar seseorang.

Orang ini adalah Tuan Kiam-ta yang terkenal di dunia persilatan.

Ilmu silat Tuan Kiam-ta tidak seperti Bwee Ceng-hong dan kawan-kawan.

Coh Thian-su terpaksa berhenti.

Kata Coh Thian-su.

"Tuan Kiam-ta, apakah kau percaya kepada berita burung itu?"

"Aku tidak percaya berita burung, aku percaya pada kepala dan mataku sendiri,"

Jawab Tuan Kiam-ta.

"Kadang-kadang yang dilihat mata juga bukan kejadian sebenarnya.

"Baiklah, tolong jelaskan, larut malam begini, kau bersama istri orang lain sedang berbuat apa?"

"Tuan, dia adalah Sumoiku."

"Kalau kalian Suheng Sumoi, mengapa kau harus bertemu dengannya malam-malam begini?"

Dalam hati Coh Thian-su berpikir.

"Kalau Hie Tiong-gwee adalah orang yang berpura-pura, pasti dia sangat jahat, dia pasti tidak akan mau percaya, apalagi aku tidak punya bukti, aku tidak boleh membocorkannya."

Dia tidak bisa menjelaskan hanya berkata.

"Nanti kau pasti akan tahu, sekarang aku mohon Cianpwee percaya kepadaku, biarkanlah kami pergi!"

Dengan dingin Tuan Kiam-ta berkata.

"Coh Thian-su, mukamu sungguh tebal, masih berani minta aku melepaskan kalian kawin lari."

Hiat-kun yang dari tadi diam berbarengan dengan Coh Thian-su menjawab.

"Kami bukan kawin lari."

Tuan Kiam-ta tidak melihat kepada Coh Thian-su, tapi bicara kepada Hiat-kun.

"Nyonya Hie, walaupun kau belum sembahyang, tapi sudah masuk ke rumah Hie, bagi perempuan paling penting adalah menjaga nama bila kau tidak setuju dengan pernikahan ini, tetap harus meminta ijin kepada Hie Tiong-gwee, baru boleh keluar dari keluarga Hie, sekarang sudah larut kembalilah ke kamarmu."

Lalu Dengan dingin dia berkata kepada Coh Thian-su.

"Ikut aku!"

"Kemana?"

"Bertemu dengan Hie Tiong-gwee, meskipun kau tidak mengajak kawin lari istrinya, tetap kau harus menjelaskan kepada Hie."

"Aku tidak akan pergi, karena tidak ada yang harus aku jelaskan kepada dia."

"Bila kau tidak mempunyai salah, mengapa harus takut bertemu dengannya? Baiklah, bila kau tidak mau pergi, aku akan memaksamu pergi" 'Memaksakan' disini berarti bukan mengundang. Coh Thian-su tertawa kecil dan berkata.

"Bila Cianpwee tidak mau mengerti, aku pergi sendiri." 'Pergi' juga bukan berarti permisi pergi, melainkah harus bertarung dulu dan baru bisa pergi dari sana. Tuan Kiam-ta sangat marah.

"Selama aku masih di sini, aku tidak akan membiarkanmu pergi!"

Tuan Kiam-ta menggerakan telapak tangannya yang membawa angin keras dan mencengkram.

Coh Thian-su juga sudah siap sedia, pena yang kiri melindungi dada, pena yang sebelah kanan menyambut dan mencoba menotok telapak tangan lawannya.

Dicurigai terus menerus, gosip terus menerus mengalir tapi tidak bisa berbuat apa-apa....

---ooo0dw0ooo---Bab Mimpi lama seperti debu Teman kecil hatinya tenang seperti air Kapas terbang seperti teratai yang tidak berakar A.

Pengantin Diculik Tuan Kiam-ta menjadi marah.

"Baiklah, kau berani bertarung denganku? Aku ingin melihat kehebatan sepasang pena besi menotok nadimu itu seperti apa "

Mulutnya masih bicara tapi tangannya sudah mencoba mencengkram pena Chu.

Coh Thian-su tahu bahwa tenaga dalam Tuan Kiam-ta sangat tinggi, di dalam hati berpikir, 'Tadi aku belum bertarung, aku masih bisa melayani dia, sekarang aku terpaksa harus menggunakan siasat.' Dia tidak berani membiarkan sepasang penanya dicengkram oleh Tuan Kiam-ta, sekarang dia mengerakan penanya dengan sangat enteng dan lincah.

Dia mencoba menotok Tuan Kiam-ta.

Lengan baju Tuan Kiam-ta diayunkan menyambut totokan pena, ternyata sepasang pena bisa dihalau tapi lengan bajunya juga bolong.

"Sungguh hebat!"

Kata Tuan Kiam-ta.

Selesai berkata dia membungkukkan tubuh mengelak totokan ke arah pundaknya, kemudian 5 jari dikembangkan, siap mencengkram sasarannya, dia sudah mengeluarkan jurus cakar naga.

Coh Thian-su tahu jurus ini sangat hebat, diapun segera mengubah jurusnya, telapak tangan kiri Tuan Kiam-ta mengeluarkan serangan iagi.

Ujung pena Coh Thian-su terkena getaran tenaga dalam tuan Kiam-ta hingga bengkok, penanya hampir saja terampas.

Kata Tuan Kiam-ta.

"Mana jurus pena penotok nadimu, mengapa tidak dikeluarkan?"

Coh Thian-Su merasa ilmu silatnya bukan tandingan Tuan Kiam-ta, kalau sepasang penanya segera menyerang secara bersamaan, mungkin malah akan memberikan lowongan kepada lawan, karena itu dia menjalankan siasat satu pena melindungi tubuh dan pena lain menyerang lawan.

Dia berharap bisa memperlambat waktu, membiarkan Hiat-kun melarikan diri Tapi Hiat-kun seperti tidak mengerti maksudnya, dia hanya bengong di sana, tidak membantu Coh Thian-su juga tidak melarikan diri.

Terpaksa Coh Thian-su berkata.

"Sumoi, pergilah! Jangan menungguku!"

Kata Tuan Kiam-ta.

"Nyonya Hie, jangan dengarkan dia, kalau kau keluar dari rumah Hie, hidupmu akan lebih hancur, kembalilah pada suamimu!"

Hati Hiat-kun sangat kacau, dia tidak bisa mengambil keputusan.

Tuan Kiam-ta adalah Cianpwee yang dia hormati, kalau harus bertarung dengannya sangat tidak sopan dan masih harus merepotkan Coh Thian-su.

Karena Tuan Kiam-ta sudah curiga kepada mereka mempunyai hubungan khusus.

Bila bergabung dengan Coh Thian-su nantinya malah akan menyusahkan dia, bila melarikan diri Tuan Kiam-ta juga tidak akan bisa berdamai dengan Coh Thian-su.

Kecuali membunuh Tuan Kiam-ta bila tidak namanya dan nama Coh Thian-su akah hancur, tapi dia tidak bisa membunuh Cianpwee yang dia hormati, apalagi Tuan Kiam-ta mempunyai kepandaian yang tinggi.

Bila mereka bergabungpun belum tentu bisa menang.

Karena dia tidak bisa memutuskan.

Keadaaan Coh Thian-su sekarang juga sudah berbahaya.

Kiam-ta sudah mengeluarkan jurus Ta-sik-pek-jiu (Telapak tangan penghancur batu).

Dia tahu bila terus bertarung Coh Thian-su akan mati di tangan Tuan Kiam-ta.

Coh Thian-su sudah berkali-kali berada dalam keadaan berbahaya, dia berteriak, 'cepat pergi!' tapi Hiat-kun tidak lari, malah melangkah ke depan.

Kiam-ta mengayunkan lengan bajunya dan berkata.

"Nyonya Hie, harap kau bisa jaga diri!"

Hiat-kun hanya merasa ada tenaga lembut yang mendekatinya sehingga dia mundur beberapa langkah Lututnya terasa kesemutan, dia pun terjatuh.

Coh Thian-su tidak tahu mengapa Hiat-kun bisa seperti itu, dia sangat terkejut dan berteriak.

"Aku akan adu jiwa denganmu!"

Sepasang pena besinya berbarengan menyerang, dalam satu jurus dia sudah mencoba menotok 4 jalan darah Kiam-ta, dia ingin segera menyelesaikan pertarungan.

Setelah itu dia baru akan menolong Hiat-kun untuk keluar dari tempat berbahaya.

Sebenarnya Kiam-ta juga khawatir Hiat-kun akan bergabung dengan Coh Thian-su bila Hiat-kun sudah sadar dari lemasnya, maka dia sekarang lebih dahsyat lagi menyerang Coh Thian-su.

Telapak tangan kiri berputar menggambar satu lingkaran telapak tangan kanan bergerak dituar dari lingkaran yang digambarnya.

Angin dahsyat terasa berhembus keras seperti guntur.

Jurus ini dinamakan Kai-san-pi-sik (Membuka gunung membelah batu).

Ini adalah salah satu jurusnya yang paling dashyat.

Terdengar suara 'TING' sepasang pena besi Coh Thian-su sudah terlepas dari tangan nya dan melayang ke udara Tuan Kiam-ta tertawa terbahak-bahak.

"Sepasang pena penotok nadi memang hebat, tapi tetap tidak bisa mengalahkanku!"

Bila Coh Thian-su tadi tidak bertarung dulu, kemudian dia bertarung dengan Kiam-ta paling sedikit dia bisa menotok di satu bagian jari tubuh Kiam-ta, kedua-duanya akan kalah atau mungkin terluka.

Atau mungkin Coh Thian-su akan terluka lebih parah.

Tapi dia masih beruntung sebab sebelum menyerang Coh Thian-su sudah kalah, sebelum Kiam-ta mengeluarkan seluruh tenaga, Coh Thian-su sudah kelelahan.

Coh Thian-su tahu dia tidak akan bisa lolos dari Kiam-ta dan dia berkata.

"Lebih baik aku mati daripada dihina bila kau mau menghinaku di depan Hie Tiong-gwee, lebih baik nyawa ini kuserahkan padamu!"

Hiat-kun berteriak.

"Toako, jangan...!"

Dia ingin berdiri tapi tidak ada tenaga. Kiam-ta tertawa dingin.

"Coh Thian-su, kau jangan mengancamku!"

Dia pikir sekarang Coh Thian-su belum bisa memakai tenaga dalam untuk memutuskan nadinya, maka segera dia mencengkram tangan Coh.

Tapi begitu dia melangkah, dia merasa lututnya kaku hampir tidak dapat berdiri.

Kiam-ta berkata.

"Siapa yang berani..."

Sebelum mengeluarkan kata-kata "Menyerang secara sembunyi-sembunyi", di depan mata sudah ada seseorang.

"Siapa? Kau?"

Kata Tuan Kiam-ta terkejut. Orang itu berkata.

"Benar, ini aku. Aku hanya mengikuti apa yang dilakukan olehmu dan membalaskan ini kepadamu, biar kau pun merasakan ilmu Thiat-siu."

Kiam-ta pun sekarang rugi karena dia barusan sudah bertarung dengan Coh Thian-su, lututnya juga terkena lemparan batu kecil dari orang itu.

Sekarang begitu orang itu mengayunkan lengan bajunya, dia mengeluarkan sedikit gerakan, tapi Kiam-ta juga tidak bisa menahannya.

Orang itu mengibaskan lengan bajunya, Tuan Kiam-ta berputar 3 kali dan terjatuh, seperti Hiat-kun yang sudah roboh.

Sepasang pena penotok sudah terjatuh ke bawah.

Coh Thian-su menjadi bengong, tapi dia tidak memungut senjatanya dan langsung memuji jurus Liu-in-hui-siu (Awan mengalir lengan baju beterbangan) yang hebat.

Tapi orang itu sedikitpun tidak meliriknya, dia langsung menghampiri Kang Hiat-kun.

Hiat-kun yang tergeletak di tanah, dia sedang berusaha bangun, orang itu dengan pelan menghampirinya Hiat-kun belum dapat, melihat, dengan jelas, dia hanya mendengar Coh Thian-su mengatakan Liu-in-hui-siu, hatinya langsung bergetar dan berteriak.

"Apakah Hoan Toako?"

Benar, yang datang memang Hoan Toakonya.

"Toako, kau sudah datang!"

Saking senang dia meloncat, entah tenaganya datang dari mana, dia sendiri pun tidak tahu. Wie Thian-hoan tertawa.

"Benar, lihat inilah aku, aku pasti kembali menengokmu, bagaimana dengan keadaanmu? Hati-hati!"

Karena totokan nadi di lututnya belum terbuka secara seluruhnya maka dengan sempoyongan Hiat-kun terjatuh ke dalam pelukan Wie Thian-hoan Wie Thian-hoan membantunya menggosok-gosok lututnya, tidak lama kemudian jalan darahnya sudah terbuka sempurna.

Kesemutannya pun sudah hilang.

Wajah Hiat-kun memerah, dia berkata.

"Hoan Toako, lepaskan aku!"

Coh Thian-su sudah ingin mendekati mereka, tapi karena Hui-thian-sin-liong tidak menghiraukannya, membuat Coh Thian-su serba salah. Kata Hiat-kun.

"Dia adalah Coh Tayhiap dari Yang-ciu. Dia juga adalah..." 'Suheng', kata itu belum keluar dari mulut Hiat-kun, Wie Thian-hoan, sudah berkata.

"Aku tahu siapa dia."

Coh Thian-su membalas.

"Aku juga tahu siapa dirimu, walaupun kita belum pernah bertemu."

Hati Coh Thian-su tidak enak, selagi dia berkata seperti itu, dia berpikir, 'Kita sama-sama terkenal di dunia persilatan, mengapa kau begitu sombong?' Hui-thian sangat sombong, dia tertawa dingin dan berkata.

"Kau tahu siapa aku, tidak apa-apa tapi aku juga tahu kau juga bukan orang baik-baik, kau berbaring saja di sini."

Hiat-kun terkejut dan berteriak.

"Hoan Toako, kau tidak boleh memukul dia!"

Hiat-kun menarik tangan Wie Thian-hoan.

"Dia adalah Suhengku!"

Hiat-kun baru habis bicara, Coh Thian-su sudah roboh di tanah karena dia sudah ditotok oleh Wie Thian-hoan di 3 tempat.

"Karena dia adalah Suhengmu, aku tidak akan membunuhnya, mari kita pergi!"

Kata Wie Thian-hoan.

"Tidak, aku tidak mau pergi, kau harus membuka totokannya, mengapa kau begitu tidak sopan kepadanya?"

"Aku tahu dia Suhengmu, tapi aku tidak mau kehilangan dirimu! Baiklah katakan, kau lebih suka dia atau aku?"

Hiat-kun menjadi bengong dengan marah dia berkata.

"Hoan Toako, ada apa dengan dirimu? Begitu bertemu sudah cemburu. Apakah kau juga mengira aku akan kawin lari dengan Coh Toako?"

Pada waktu itu ada yang berteriak.

"Tuan Kiam-ta! Tuan Kiam-ta!"

Hiat-kun tahu itu adalah Kwee Goan-cay, kecuali dia masih ada yang lain-Hiat-kun tidak ingin Kwee Goan-cay tahu peristiwa yang terjadi, dia juga ingin menjelaskan masalahnya kepada Wie Thian-hoan, tapi dia terpaksa berhenti bicara.

Tiba-tiba Wie Thian-hoan mengendong dia sambil berkata .

"Aku malas meladeni mereka satu persatu, mari kita pergi!"

Tenaga Hiat-kun belum pulih seluruhnya dan orang yang mengajaknya adalah Hoan Toakonya, dia jadi tidak ingin memberontak.

Tapi Wie Thian-hoan tetap tidak tenang, dia menotok Hiat-kun supaya tidak bisa bicara.

Wie Thian-hoan bukan takut Hiat-kun akan berteriak tapi takut dia cerewet, meminta dia mengajak pergi bersama Coh Thian-su.

Wie Thian-hoan ingin bercerita banyak kepada Hiat-kun, dia tidak ingin ada orang ketiga yang mendengar.

Benar, Coh Thian-su memang terkenal di dunia persilatan tapi sekarang kecuali kakek guru dan Sumoinya, Wie Thian-hoan tidak punya siapa-siapa lagi, termasuk Hiat-kun tentunya.

"Hiat-kun mau menikah dengan Hie Tiong-gwee, apa yang telah terjadi?"

Pikir Wie Thian-hoan.

Dia segera menggendong Hiat-kun dan berlari.

Walaupun dia menggendong Hiat-kun tapi langkahnya tetap tidak bersuara.

Ilmu meringankan tubuhnya benar-benar sudah mencapai tingkat kesempurnaan.

Dia menotok Hiat-kun supaya dia tidak bisa bicara, kemudian dia berbisik ke telinga Hiat-kun.

"Coh Thian-su dan Hie Tiong-gwee bersahabat, Tuan Kiam-ta pun melihat sendiri bahwa yang menculikmu adalah aku, mereka pasti tidak akan membuat susah Coh Thian-su walau mereka pernah mencurigainya. Kalau kali ini aku salah paham kepada Coh Thian-su, aku minta maaf. Sekarang kau tidak perlu mengkhawatirkan dia, kau tenang saja dan ikut denganku!"

Dia bicara dengan pelan kepada Hiat-kun tapi langkahnya tidak pelan, sambil menggendong Hiat-kun, mereka 'terbang' melewati pagar dan keluar dari kediaman Hie.

Hiat-kun tahu bahwa Coh Thian-su bukan teman Hie Tiong-gwee, tapi dia tidak bisa bicara hanya bisa berharap bahwa Coh Thian-su tidak akan disalahkan karena yang menculik dia bukan Coh Thian-su melainkan Wie Thian-hoan.

Coh Thian-su ingin bicara pun tidak bisa, dia ditotok oleh Wie Thian-hoan di 3 tempat, untung Hiat-kun menarik tangan Wie Thian-hoan sehingga tenaga dalamnya hanya digunakan 30% saja.

Tenaga dalam Coh Thian-su juga lumayan, maka dia tidak pingsan hanya tidak dapat bergerak.

Tuan Kiam-ta yang berada di sisinya masih pingsan terkena pukulanThiat-siu yang dikeluarkan oleh Wie Thian-hoan, walaupun ilmu silatnya lebih tinggi dari dia, tapi Tuan Kiam-ta tetap pingsan.

Tiga orang yang pingsan adalah Hun Sim-boh, Yap Jin-tong, dan Bwee Ceng-hong.

Coh Thian-su mencoba mengatur nafasnya berharap sebelum Tuan Kiam-ta dan yang lainnya siuman, dia sudah bisa membuka totokannya bila tidak mereka akan menuduh macam-macam.

Tubuhnya sudah mulai bergerak tapi dia belum bisa berdiri, pada saat itu dia mendengar Kwee Goan-cay memanggil-manggil Tuan Kiam-ta.

Yang pasti Tuan Kiam-ta tidak akan bisa menjawab, tapi langkah Kwee Goan-cay dan teman-temannya sudah berjalan ke arah mereka.

Karena Coh Thian-su terburu-buru, tubuhnya malah tidak bisa bergerak lagi.

Po Leng-hoi melarikan diri dari kamar pengantin, baru berjalan beberapa puluh langkah, tiba-tiba melihat ada seseorang yang ingin bunuh diri di bawah pohon.

Matanya segera membesar dan mulutnya terbuka lebar melihat Po Leng-hoi, bentuk wajahnya aneh dan membuat dia terkejut sekaligus takut.

Orang itu adalah murid Hie Tiong-gwee yang tertua bernama Leng Cong-goan.

Pikirannya bergerak yang pertama ingin dilakukan adalah.

harus menyerang dulu kemudian baru menotoknya.

Kedua adalah.

mengapa dia tidak bergerak juga tidak bicara?

Apakah takut keburukan keluarga Hie akan ketahuan oleh orang lain?

Atau ada alasan lain?

Po Leng-hoi tahu bahwa ilmu silat Leng Cong-goan lebih tinggi dari dia, bila bertarung dengannya tidak akan terbayang akibatnya.

Pikiran yang kedua menutupi pikirannya yang pertama-lebih baik lihat keadaan dulu.

Dia memanggil.

"Kakak Leng."

Seruannya tidak dijawab, kemudian Bao mendorong pelan-pelan tubuh Leng , dia malah jatuh ke tanah.

Benar, ternyata ada yang menotok dia.

Sekarang baru terpikir olehnya, Leng Cong-goan pasti disuruh oleh Hie Tiong-gwee untuk menjaga Hiat-kun.

Yang menotok dia, pasti juga orang yang membantu dia sewaktu berada di kamar pengantin.

"Satu kecurigaan sudah terbuka! Pantas aku dengan mudah mendekati kamar pengantin dan sepanjang jalan ke tempat ini tidak pernah bertemu dengan murid-murid Hie Tiong-gwee dan para tamu, mungkin mereka ditotok oleh orang misterius itu."

Pemikiran Po Leng-hoi memang tidak salah...

Dia berjalan ke tempat yang dijanjikan oleh Coh Thian-su dan Hiat-kun, ada 4 orang yang terbaring di bawah, mereka adalah murid-murid Hie Tiong-gwee dan para tamu, mereka tidak mati tapi hanya ditotok oleh orang lain Fo Leng-hoi sangat terkejut.

"Orang ini dengan mudah keluar masuk, sepertinya Coh Tayhiap pun tidak sehebat dia, siapakah dia? Mengapa dia masuk ke kamar Hiat-kun'"

Dengan tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah bisa menebak.

Tiba-tiba ada yang berteriak.

suara ini datang darii arah kolam.

Ya Ini adalah kakak ketiga.

Dan ini adalah Pendekar Yap.

Kemudian terdengar suara ribut-ribut dan suara langkah kaki, yang datang adalah murid-murid Hie Tiong-gwee di antara mereka ada juga Kwee Goan-cay.

Salah satu murid berkata.

"Adik Kwee, hayo kita langsung melapor kepada guru!"

Dia terlihat sangat ingin langsung lari dari tempat itu. Kata Kwee Goan-cay.

"Mengapa kalian takut? Sesudah sampai di sini, kita coba periksa mereka dulu."

Jawab salah satu dari mereka.

"Tuan Muda Kwee, kau pikir saja bila terjadi sesuatu pada Tuan Kiam-ta, apakah kita bisa mengatasi semua masalah, bila tidak terjadi sesuatu padanya mungkin dia bisa menangkap penjahatnya dan akan kembali ke sini, kita tidak butuh mencarinya kemana-mana."

Mereka sangat menghormati Kwee Goan-cay, karena mungkin Kwee Goan-cay akan menjadi menantu Hie Tiong-gwee.

Bila mereka ingin kembali harus dengan persetujuan Kwee Goan-cay.

Kolam teratai tanahnya datar, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Po Leng-hoi sangat berharap mereka segera meninggalkan tempat ini "Disebelah sana belum diperiksa, baiklah bila kalian takut aku sendiri yang akan ke sana."

Kata Kwee Goan-cay.

Untung Kwee Goan-cay seorang diri ke sana, dia melihat Po Leng-hoi dan sangat terkejut.

Po Leng-hoi memberi isyarat supaya Kwee Goan-cay tidak bicara.

Dan Po Leng-hoi menunjuk ke arah sana.

Walaupun Kwee Goan-cay masih ragu tapi dia sudah mengerti maksud Po Leng-hoi.

Segera Kwee Goan-cay berlari ke arah kolam teratai.

Kwee Ooan-cay kembali lagi kepada mereka, mereka sengaja bertanya.

"Di mana Tuan Kiam-ta?"

"Bayangannnya pun tidak terlihat."

Ada yang berkata.

"Ilmu silat Tuan Kiam-ta sangat tinggi, tidak perlu mencari dia, apakah kami boleh pulang?"

Kata Kwee Goan-cay.

"Benar, dia pasti sedang pergi untuk menangkap pengkhianat itu, mari kita laporkan hal ini kepada guru."

Po Leng-hoi mengeluarkan keringat dingin, dia akan ke kolam teratai untuk mencari seseorang, tiba-tiba terdengar suara orang.

Po Leng-hoi terkejut dalam hati dia berpikir, 'Apakah Coh Tayhiap juga ditotok?' Dia mengikuti suara itu untuk mencari, di dalam semak-semak orang yang pertama dilihatnya adalah Tuan Kiam-ta, tenggorokan Tuan Kiam-ta mengeluarkan suara.

"Kru...kru..."

Tuan Kiam-ta sudah siuman dan sedang mengatur nafas, tapi totoknya belum terbuka, bicara pun belum bisa.

Kemudian Po Leng-hoi melihat Coh Thian-su yang sudah bisa duduk, dia berada di sisi Kiam-ta, Coh melambaikan tangan ke arahnya.

Po Leng-hoi melihat masih ada Yap Jin-tong, Bwee Ceng-hong dan Hun Sim-boh.

Ilmu silat mereka lebih rendah daripada Tuan Kiam-ta, karena itu mereka belum siuman.

Hal ini membuat Po Leng-hoi terkejut, jantungnya terasa copot.

Mereka adalah pesilat tangguh apalagi Tuan Kiam-ta, bila bukan melihat dengan mata kepala sendiri, dia tidak akan percaya bahwa Tuan Kiam-ta bisa dibuat tidak berdaya dan begitu memalukan.

Dalam keterkejutannya, Po Leng-hoi mulai tenang karena dia melihat sepertinya Coh Thian-su tidak terluka.

Dia berlari ke arah Coh Thian-su dan bertanya.

"Coh Tayhiap, ada apa yang terjadi?"

Coh Thian-su tertawa kecut dan berkata.

"Terima kasih, karena Hui-thian tidak membunuhku, dia hanya menotok di 3 tempat karena aku salah mengatur nafas sekarang totokanku belum terbuka dengan sempurna. Adik bantu aku membuka totoknya, menuruti cara yang akan kuberitahu."

Meskipun totokan Coh Thian-su belum terbuka secara sempurna, tapi dengan cepat dia sudah bisa berdiri dan loncat. Dengan tertawa Coh Thian-su berkata.

"Tuan Kiam-ta, aku pergi dulu."

Po Leng-hoi bertanya.

"Coh Tayhiap, apakah kau tidak membantu Tuan Kiam-ta membuka totoknya?"

Dengan tertawa Coh Thian-su menjawab.

"Tuan Kiam-ta bukan orang jahat, tapi dia terlalu mengurusi masalah orang lain, lagi pula kita tidak akan sanggup membantunya."

Yang dikatakan Coh Thian-su memang benar karena Tuan Kiam-ta sudah ditotok oleh Hui-thian dengan totok yang berat.

Bila ingin membantu dia membuka totoknya harus mempunyai cukup tenaga dalam dan tenaga dalam Coh Thian-su belum pulih.

Po Leng-hoi belum sampai taraf seperti itu.

Bila dipaksa melakukannya, hasilnya malah sebaliknya Walaupun Po Leng-hoi masih tidak mengerti, tapi dia tetap mengikuti Coh Thian-su meninggalkan kediaman Xu.

Setelah keluar dari kediaman Xu, Po Leng-hoi bertanya.

"Dimana Hiat-kun?"

"Sudah dibawa oleh Hui-thian-sin-liong."

"Dia adalah Hiat-kun punya..."

Po Leng-hoi ingin bertanya tapi dia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.

"Aku tidak tahu dia adalah siapanya Hiat-kun. Tapi Hiat-kun Hui-thian?"

Po Leng-hoi tertawa kecut dan menjawab.

"Coh Tayhiap, kau bercanda lagi, aku hanya mengkhawatirkan dia, takut Hui-thian akan melukai Hiat-kun."

Sebenarnya setelah dia menyaksikan keributan di aula tadi, dia sudah tahu bahwa Hui-thian tidak akan melukai Hiat-kun. Coh Thian-su masih marah dan berkata.

"Dia memukul dan menotok Tuan Kiam-ta serta yang lainnya karena mereka tidak ingin Hiat-kun meninggalkan keluarga Hie, dia menotokku, dia tidak mau bila Hiat-kun bersamaku meninggalkan keluarga Hie, dia hanya ingin berdua bersama Hiat-kun, mana mungkin dia melukai Hiat-kun?"

"Kalau begitu, kita tidak perlu mencarinya lagi! Mari kita pulang saja ke rumahku."

Coh Thian-su menarik nafas dan berkata.

"Aku juga tidak tahu harus pergi ke mana, tapi aku harus segera meninggalkan Lok-yang, tolong sampaikan salamku untuk ayahmu."

Bintang-bintang sudah hampir menghilang, hari sudah mulai terang.

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Mungkin Hiat-kun dan Hui-thian sudah ada di luar Lok-yang, yang harus aku sampaikan kepada Hiat-kun kerewelan lagi di sini."

Dia tidak mencari masalah tapi masalah yang dibuatnya tidak akan berhenti sampai di sini.

Dan dia tidak dapat berbuat apa-apa, dengan hati yang tidak enak dia meninggalkan Lok-yang.

---oo0dw0ooo---B.

Cinta Lama bersemi Lagi Hiat-kun dan Hui-thian sudah berada di pegunungan di luar kota Lok-yang.

Sinar matahari pagi menyinari hutan, begitu indah, angin pagi mengantarkan wanginya bunga gunung, dan suara air mengalir.

Burung-burung berkieau di atas pohon membuat paduan suara yang pas, keadaan ini memabukkan orang.

Hiat-kun masih digendong oleh Hui-thian di belakang punggungnya, nafas Hiat-kun begitu harum dan tenang, membuat Wie Thian-hoan merasa mabuk.

Wie Thian-hoan seperti kembali ke masa kecil, dia adalah seorang kakak yang membawa adik kecilnya, berlarian di pegunungan.

Hiat-kun mcmctikkan bunga untuknya dan dia menangkap burung untuk Hiat-kun.

Kadang-kadang bila Hiat-kun kelelahan dia akan menggendongnya seperti sekarang ini.

Begitu tiba di hutan, dia menurunkan Hiat-kun dan membuka totokannya.

"Hiat-kun, tidak kusangka, kita bisa bersama lagi, apakah kau merasa senang?"

Tanya Wie Thian-hoan.

Hiat-kun duduk di bawah pohon tidak mau memandangnya.

Wie Thian-hoan merasa hatinya menciut, apakah masa lalu yang indah, akan seperti daun yang berguguran dari pohon?

Daun yang berguguran tidak akan bisa kembali lagi ke pohonnya, apakah masa kecil tidak dapat terulang kembali?

"Hiat-kun, ada apa denganmu?

Kau tidak suka bersamaku lagi?"

Wie Thian-hoan merasa sedih tapi dia ingin tahu. Hiat-kun tampak marah dan berkata.

"Aku sudah menunggu selama 10 tahun, tapi begitu bertemu denganmu, kau malah menghinaku!"

"Hiat-kun, aku terpaksa memakai cara ini supaya kau bisa meninggalkan keluarga Hie, harap jangan marah!"

Kata Wie Thian-hoan. TapiHiat-kuntetaptidak bicara. Wie Thian-hoan membungkukkan tubuh dan berkata.

"Maaf bila aku sudah melakukan banyak kesalahan, banyak hal yang ingin aku ceritakan, tolonglah jangan marah lagi."

Dengan dingin Hiat-kun berkata.

"Tuan Wei, mana aku berani marah padamu, sekarang kau sudah menjadi Hui-thian-sin-liong yang terkenal. Di hadapan banyak tamu kau menghinaku, kemarin malam kau tidak sopan telah menotok Suhengku, aku tidak berani marah. Apakah aku masih bisa bicara?"

Wie Thian-hoan menarik nafas dan berkata.

"Kau tidak mau memaafkanku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Baiklah aku tidak akan memaksamu, kalau kau mau kembali lagi ke rumah Hie atau kau mau mencari Suhengmu, terserah!"

Dia mulai melangkah. Hiat-kun menjadi terkejut dan berdiri.

"Wie Thian-hoan, sekarang sudah terjadi seperti ini, kau masih mau membuatku marah! Kembali!"

Wie Thian-hoan tertawa kecut dan berkata.

"Aku bersalah padamu, kau tidak mau memaafkan aku, bila aku tidak pergi, aku harus bagaimana lagi? Adik Hiat, sekali lagi aku bertanya kepadamu, apakah kau mau memaafkan aku?"

Mereka saling memandang, darah yang menempel di baju Wie Thian-hoan membuat Hiat-kun menjadi tidak tahan, tiba-tiba dia menangis sekeras-kerasnya dan memeluk Wie Thian-hoan "Hoan Toako, aku bersalah kepadamu, aku pun mempunyai banyak hal yang ingin diceritakan, kau jangan pergi!"

Air mata masih bercucuran. Wie Thian-hoan dengan senang berkata.

"Kalau kau sudah memaafkan aku, sekarang tertawalah!"

Hiat-kun mulai tenang, wajahnya menjadi merah, pelan-pelan dia melepaskan pelukannya dan tertawa. Wie Thian-hoan sangat senang, dia membalikkan tubuh dan berteriak.

"Aku tahu, kau masih adikku Hiat-kun, aku jadi merasa tenang."

"Apakah kau mengira aku sudah berubah?"

"Tadinya aku tidak curiga tapi ketika aku mendengar kau memangilku 'Hoan Toako' aku baru bisa tenang."

Hiat-kun menghapus air matanya dan berkata.

"Semua yang sudah terjadi susah diduga, pantas bila kau mencurigaiku. Baiklah tidak usah bengong, kau ingin menceritakan apa? Duduklah!"

Wie Thian-hoan duduk dan berkata.

"Kau dulu yang bercerita."

"Baiklah, aku yang akan bercerita dulu. Pertama, aku akan memberitahukanmu bahwa Coh Thian-su datang untuk menolongku, aku juga baru tahu dia adalah Suhengku."

Wie Thian-hoan menjadi bengong dan berkata.

"Dia datang untuk menolongmu? Apakah dia tahu kau berada dalam bahaya? Bagaimana dia bercerita kepadamu?"

"Dia bilang aku dalam bahaya bila terus diam dalam keluarga Hie, dia curiga bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang berbahaya."

"Mengapa dia bisa curiga ?"

"Dia belum sempat mengatakannya, dia juga seperti dirimu, menyuruhku keluar dari kediaman Hie baru akan bicara."

"Kalau bagitu aku salah menilainya, tapi bila dia jatuh ke tangan Hie Tiong-gwee, Hie tidak akan berani membunuhnya, nanti aku akan mencarinya "

"Hoan Toako, aku punya pertanyaan, harap kau menjawabnya."

"Apa yang kau ingin tahu?"

Hiat-kun agak malu tapi dia tetap bertanya.

"Apakah Hie Tiong-gwee orang jahat?"

"Sekarang aku belum begitu yakin, bila kau ingin tahu apakah itu benar, kau harus membantuku."

"Bagaimana cara membantumu?"

"Kau jawab dulu, apakah kau sendiri yang ingin menikah dengan Hie Tiong-gwee?"

"Apakah aku harus jujur menjawabnya?"

Wie Thian-hoan tertawa kecut dan berkata.

"Kalau begitu, aku tidak akan tanya lagi."

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah mengerti."

"Kau mengerti apa?"

"Kau sendiri yang ingin menikah dengan Hie Tiong-gwee."

"Aku tidak berkata seperti itu, mengapa kau menduga sendiri?"

Wie Thian-hoan sangat senang dan berkata.

"Kau bertanya apakah aku harus jujur menjawabnya, aku kira kau mau membohongiku lagi..."

Belum habis bicara, Hiat-kun sudah tertawa dan berkata.

"Memang aku tidak mau membohongimu, tapi aku tidak tahu ke mana arah pikiranmu, bila aku tidak membohongimu, apakah itu artinya aku mau menikah dengan Hie?"

"Kalau begitu, kau dipaksa oleh Hie."

"Tidak juga."

Dua kata ini membuat Wie Thian-hoan bengong, Tanyanya.

"Apakah kau tidak mau membantah perintah ayah dan ibumu lagi?"

"Tidak juga."

"Ini bukan, itu bukan, sebenarnya bagaimana?"

"Karena itu, kau minta aku mengatakan yang sebenarnya?"

"Cepat katakan, aku sudah tidak sabar."

"Jujur saja aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya."

"Kalau begitu kau pelan-pelan saja bercerita."

"Banyak peristiwa yang sampai sekarang aku tidak mengerti."

Di bawah ini adalah cerita Hiat-kun.

Begitu keluarganya tiba di Lok-yang, mereka mencari paman sepupu, ayahnya berganti nama dari Kang Cu-goan menjadi Kang Goan-yang.

Mereka membuka tempat kursus ilmu silat.

Pamannya Kang Cu-si sering pergi ke rumah Hie Tiong-gwee.

Sebenarnya Kang Cu-si sudah lama tidak pernah bertemu dengan sepupunya, hanya Kang Cu-si tahu bahwa sepupunya bisa ilmu silat tapi dia tidak tahu bahwa Kang Cu-goan adalah seorang pesilat tangguh.

Kang Guan-yang di mata Hie Tiong-gwee adalah guru silat yang sangat biasa.

Hie Tiong-gwee juga tidak pernah terlalu memperhatikan Kang Guan-yang.

Sesudah beberapa tahun pamannya semakin sering keluar masuk keluarga Hie, dan Kang Guan-yang baru mulai berhubungan dengan Hie Tiong-gwee.

Wie Thian-hoan bertanya.

"Hie Tiong-gwee yang datang berkunjung dulu atau kalian dulu yang mengunjunginya?"

"Dia datang ke tempat ayah mengajar silat, semakin lama semakin sering, tapi ayah jarang ke rumahnya."

"Mengapa kalian yang sudah sampai ke Lok-yang tidak mengunjungi dia?"

Hiat-kun balik bertanya.

"Mengapa kami harus mengunjungi dia?"

"Apakah kau ingat, waktu keluargamu mendapat musibah, ayahku pernah mengatakan, dia baru berkenalan dengan seorang teman baru bernama Hie Tiong-gwee."

"Ya, aku ingat. Apakah kau mengira gara-gara ini jadi kami ke Lok-yang dan mencarinya?"

Kata Hiat-kun.

"Memang aku pernah berpikir seperti itu."

"Kau tidak salah. Ayahku adalah orang yang sangat berhati-hati, rahasia dua keluarga ini sudah beberapa tahun tidak pernah dibicarakan dengan siapa pun. Apalagi terhadap Hie Tiong-gwee, tapi karena ayahku tahu bahwa Hie Tiong-gwee adalah teman dari ayahmu, kadang-kadang dia bersikap longgar kadang-kadang juga minta dilindungi olehnya."

"Kalau begitu, sepertinya dia belum tahu identitas asli dari ayahmu."

"Paling sedikit dia tidak tahu identitas asli ayah."

Tiba-tiba Wie Thian-hoan bertanya.

"Pamanmu adalah orang yang sering keluar masuk rumah Hie?"

"Katanya memang seperti itu."

"Kemudian dia dipercaya oleh Hie Tiong-gwee, apakah kejadian ini setelah kalian sudah tiba di Lok-yang?"

"Benar, begitu kami tiba di Lok-yang, dia sudah dipercaya menjadi penanggung jawab rumah makan Hie Tiong-gwee, begitu juga dengan beberapa tokonya diurus oleh paman."

"Apakah kau tidak merasa aneh, Hie Tiong-gwee adalah Pendekar Tiong-ciu dan orang terkaya di Lok-yang, dia mau saja menjilat seorang guru silat biasa, semua ini belum tentu untuk dirimu "

Wajah Hiat-kun agak menjadi merah dan berkata.

"Pada waktu pertama kali dia datang ke rumahku aku baru berusia 13 tahun."

Hiat-kun berpikir sebentar dan berkata.

"Mungkin dia sudah tahu identitas ayah. hanya pura-pura ridak tahu."

Wie Thian-hoan bertanya.

"Tadi kau mengatakan, pertama kali kau mengira dia tidak tahu, bagaimana dengan sekarang?"

"Sudah tahu."

Jawab Hiat-kun.

"Mengapa kau yakin dia sudah tahu?"

Hiat-kun menarik nafas dan berkata.

"Aku mendengar pamanku mengatakannya kepada ayah."

Wie Thian-hoan tahu yang dimaksud oleh Hiat-kun adalah Kang Cu-si, tapi dia tidak tahu mengapa Hiat-kun menarik nafas.

Karena Wie Thian-hoan ingin tahu hal sebenarnya walaupun dia merasa aneh tapi dia juga tidak ingin bertanya mengapa Hiat-kun menarik nafas.

Karena hal ini ada hubungannya dengan pernikahannya, hari itu pamannya datang mencari ayahnya untuk membicarakan pernikahannya.

Tahun bertambah, dia sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik, bahkan dijuluki si Cantik dan Lok-yang.

Pemuda-pemuda yang mengelilinginya semakin hari semakin banyak, Hie Tiong-gwee pun lebih rajin datang ke rumahnya.

Ditempat ayahnya juga ada menjual obat untuk patah tulang dan obat gosok untuk bagian yang terkilir.

Pemuda-pemuda yang hanya ingin dekat dengan Hiat-kun, mereka sengaja membeli obat itu.

Terhadap pemuda semacam itu dia tidak pernah meladeni mereka.

Tapi terhadap Hie Tiong-gwee, dia sama sekali tidak ada persiapan karena Hie Tiong-gwee adalah teman ayahnya, juga Cianpwee di dalam hatinya.

Hingga pada suatu hari, dia melihat Hie Tiong-gwee memandanginya seperti pemuda-pemuda lain memandangnya, pandangan mata seperti ini sudah sering dia lihat.

Karena 'sama', dia baru merasa "berbeda' setelah dia tahu pandangan Hie Tiong-gwee kepadanya sekarang berbeda.

Hal lain yang bersamaan terjadi adalah biasanya pemuda-pemuda yang membeli obat, semakin berkurang dari hari ke hari, hingga benar-benar tidak ada lagi yang datang, tempat ayah mengajar silat pun menjadi sepi.

Temannya adalah Po Leng-hoi dan Kwee Goan-cay walau mereka termasuk pemuda yang mendekatinya tapi mereka berdua tidak seperti pemuda-pemuda lainnya, paling sedikit tidak membuat Hiat-kun membenci mereka, malah menganggap mereka sebagai teman.

Dia bertanya semua yang terjadi kepada Po Leng-hoi, Po Leng-hoi tertawa kecil, tapi Kwee Goan-cay berkata.

"Mungkin orang-orang kecil takut kepada dewa kematian."

Dia bertanya lagi.

"Apa yang dimaksud dengan dewa kematian?"

Tapi Kwee Goan-cay tidak memberitahu.

Walaupun Po Leng-hoi tidak bicara, tapi Hiat-kun sudah tabu.

Dewa kematian yang bisa membuat orang kecil di Lok-yang hanya ada berapa orang.

Dari pandangan Hie Tiong-gwee yang aneh, dari kata-kata Kwee Goan-cay dan tertawa kecutnya, dari kata-kata Po Leng-hoi yang penuh rasa cemburu, tidak perlu diberitahu pun dia sudah dapat ditebak, siapa yang dimaksud dengan dewa kematian.

Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu, dan hari itu pun datang dengan cepat.

Hari itu Hie liong-gwee tidak datang, yang datang adalah oarnannya, semenjak pamannya menjadi pengurus toko-toko dan rumah Jnakan Hie Tiong-gwee, dia jarang ke rumah Hiat-kun.

Tidak seperti biasanya hari itu dia membawa banyak hadiah, membuat mereka merasa terkejut.

Bila paman mencari ayahnya itu tidak aneh tapi kali ini lain, wajahnya seperti ingin mengatakan sesuatu.

Begitu masuk dia sudah bicara serius dengan ayahnya.

Pintu kamar ditutup, suara yang keluar juga kecil.

Hiat-kun hanya mendengar beberapa kata sudah diusir oleh ayahnya.

Begitu ayahnya keluar dia sudah sembunyi di kamarnya tapi ayahnva sudah tahu bahwa Hiat-kun sedang mendengar.

Tapi entah karena tidak mempunyai waktu untuk memarahi Hiat-kun atau memang ayahnya tidak mau marah, dia hanya disuruh keluar untuk membeli sesuatu dan baru boleh pulang satu jam kemudian.

Dia hanya mendengar kata-kata.

"Di ibukota ada yang datang.... masalah itu..."

Ini adalah perkataan pamannya.

"Berterima kasih karena dia sudah membantuku menutupi..."

Ini adalah kata-kata ayahnya.

"Kalau kau membalas budi kepadanya, pasti ada caranya."

Ini adalah kata-kata pamannya.

Masalah itu dia sudah tahu apa yang dimaksud dengan 'membalas budi', dia tidak tahu apa yang dimaksud paman, apakah paman menyuruh ayah membalas budi?

Tapi kepada siapa?

Bagaimana cara membalasnya?

Sampai hari kedua, ibunya baru memberitahu.

"Kau tahu paman datang bermaksud apa?"

"Aku ingin tahu, tapi ayah melarangku mendengarkan pembicaraan mereka, mengapa begitu misterius?"

Kata Hiat-kun. Dia mengira ibu bertanya kepadanya dan akan memberitahu jawabannya, tapi ibunya malah bertanya.

"Apakah kau masih merindukan Hoan Toakomu?"

Wajah Hiat-kun menjadi merah, tapi dengan jujur ia berkata .

"Aku tetap berharap bisa bertemu dengan mereka. Apakah ayah dan ibu tidak ingin bertemu dengan mereka?"

Ibu menghela nafas katanya.

"Kita merindukan mereka tapi 10 tahun sudah berlalu, tidak ada kabar berita dari mereka Malam itu ketika Paman Wie melarikan diri dia sudah terluka sangat parah, aku mengkhawatirkan mereka. Apakah mereka masih..."

Kata Hiat-kun.

"Pepatah mengatakan 'orang baik pasti dilindungi Tuhan'. Aku percaya mereka tidak akan mengalami hal-hal buruk."

Sebenarnya kata-kata ini hanya untuk menghibur dirinya sendiri. Sudah 10 tahun tidak ada kabar berita dari mereka, dia sudah beberapa kali mengalami mimpi buruk. Ibu menghela nafas lagi dan berkata.

"Kita berharap semuanya akan baik-baik saja, tapi kita juga jangan terlalu berpikir yang baik-baik saja..."

"Ayah pernah mengatakan bahwa Hoan Toako hanya luka ringan, walaupun terjadi sesuatu pada paman, tapi Hoan Toako pasti masih hidup."

"Kita juga berharap mereka masih hidup, tapi dunia begitu luas, di manakah dia sekarang? Kita sudah menunggu selama 10 tahun, kau juga sudah dewasa, tahun ini kau sudah berumur 19 tahun."

"Bila sudah 19 tahun memangnya kenapa?"

Jawab ibunya.

"Gadis-gadis lain sudah menikah."

Waktu itu kebanyakan gadis-gadis menikah di usia muda, bila sudah berumur 18 tahun belum menikah, keluarganya akan sangat khawatir. Wajah Hiat-kun memerah dan berkata.

"Apakah ibu mau mengusirku? Aku tidak ingin menikah, aku mau menemani ibu."

Ibunya tertawa dan berkata.

"Anak bodoh, perempuan harus menikah. Ibu bertanya kepadamu, bila pemuda yang bernama Po Leng-hoi, dia bagaimana?"

"Apa bagaimana? Aku tidak mengerti maksud ibu?"

"Bukankah kau akrab dengannya? Maksud ibu, apakah kau menganggapnya seperti Hoan Toako?"

"Hoan Toako tidak dapat digantikan oleh siapa pun, kebaikan Hoan Toako juga tidak dapat digantikan oleh orang lain."

"Maksud ibu, bila Hoan Toako tidak pernah pulang lagi, apakah kau mau menikah dengannya?"

Hiat-kun merasa aneh dan berkata.

"Apakah paman datang untuk menjadi mak comblang? Dia tahu bahwa keluarga Po sangat miskin, paman selalu tidak pernah menganggap mereka."

"Memang paman ingin mencomblangimu tapi bukan dari keluarga Po, aku hanya ingin tahu apakah kau sudah mempunyai seseorang yang kau sukai? Jangan malu untuk mengatakannya, bila kami sudah tahu keinginanmu kami bisa mengambil keputusan untuk pernikahanmu."

"Memang aku akrab dengan Po Leng-hoi, tapi sedikit pun aku tidak berpikir akan menikah dengannya."

Ibunya tersenyum dan berkata.

"Siau Po sangat baik hanya dia cepat marah orangnya, aku senang bila dia jadi menantuku tapi bila kau tidak suka tidak apa-apa, bagaimana dengan Kwee Goan-cay?"

Hiat-kun mengerutkan dahi dan berkata.

"Apakah semua yang menjadi temanku, ibu harus menanyakan mereka satu per satu? Kwee Goan-cay adalah calon menantu Hie Tiong-gwee. Aku tidak mau berurusan dengan Nona Hie."

"Baiklah, bila kau belum mempunyai seseorang yang kau sukai, kau boleh memikirkan keinginan pamanmu. Walaupun umur Hie Tiong-gwee agak tua tapi orangnya bisa dipercaya."

Paman mewakili Hie Tiong-gwee melamar Hiat-kun. Ini tidak aneh, tapi dia melamar begitu tiba-tiba membuat Hiat-kun menjadi bengong, dia berkata kepada ibunya.

"Bu, aku selalu memanggil Hie Tiong-gwee dengan sebutan paman, putrinya pun sebaya dengan diriku."

Ibunya tersenyum dan berkata.

"Kau harus menjadi ibu tiri orang lain, memang terlalu berat untukmu, tapi Hie Tiong-gwee bukan orang biasa, dia adalah Pendekar Tiong-ciu. Umurnya pun belum 40 tahun, kau sudah tahu bagaimana keadaan kita..."

"Ibu dan ayah ingin mendapat perlindungan, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi."

Ibunya menarik nafas dan berkata.

"Karena itulah ayah tidak mau memaksamu, dia menyuruh ibu meminta persetujuanmu, bila kau tidak mau menikah dengannya, kita harus segera meninggalkan Lok-yang dan mencari tempat lain untuk bersembunyi. Ayah dan ibu siap berkorban untukmu."

Hiat-kun tahu ibunya masih menyembunyikan sesuatu, dengan terkejut dia bertanya.

"Bukankan Hie Tiong-gwee adalah Pendekar Tiong-ciu? Apakah dia berani mengancam ayah?"

"Dia tidak mengancam, tapi bila ayah tidak menyetujui pernikahan ini, ayah akan merasa serba salah."

"Apakah ibu bisa menjelaskan lebih rinci lagi?"

"Paman datang untuk melamarmu, tapi yang paling penting dia memberitahu ayah suatu hal."

"Tentang apa?"

"Hie-Tiong-gwee sudah tahu indentitas ayahmu, musibah malam itu pun dia sudah tahu, dia juga tahu bahwa ayah terlibat, pengawal istana pun sudah tahu keberadaan ayah. Untung saja Hie Tiong-gwee berhasil menyembunyikan identitas ayah. Dia menyuruh paman memberitahu hal ini kepada ayah, bahwa dia juga teman Paman Wie, bila dia datang ke Lok-yang, dia tidak mungkin mari. Melamarmu ini semua adalah ide paman "

Hiat-kun tahu luka dalam ayahnya belum sembuh total, bila dia memikirkan dirinya sendiri dia akan merasa bersalah kepada ayahnya.

'Tenaga dan semangat ayah sudah tidak seperti dulu, apalagi membangun dan menghidupi sebuah keluarga di sini pun tidak mudah.

Bila demi diriku harus pindah ke tempat lain, apakah aku bisa tenang?' Dia tidak bisa langsung memberi jawaban, hatinya kacau dan gelisah.

Baca Juga: Setan Harpa 2

Baca Juga: Telapak Emas Beracun 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger