Jala Pedang Jaring Sutra 3

Eps 3 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

"Bila paman melamarku bukan karena disuruh oleh Hie Tiong-gwee dan ayah menolaknya mungkin tidak akan merusak persahabatan antara Hie Tiong-gwee dan ayah. Mungkin Hie Tiong-gwee tidak tahu bahwa paman sudah mewakili dia melamarku."

Terakhir dia memikirkan sebuah cara untuk menolak pernikahan ini.

"Anak bodoh, walaupun paman bilang seperti itu tapi ibu sudah tahu bahwa Hie Tiong-gwee sangat menyukaimu. Karena dia adalah seorang Cianpwee jadi dia tidak enak menyampaikan kepadamu, pamanmu sudah tahu pikiran Hie Tiong-gwee. Memang dia tidak memaksa tapi selama ini kita sudah dilindungi olehnya, bila kita menolak pernikahan ini, bagaimana dengan perasaan ayah? Kecuali 'lari' tidak ada cara lain untuk 'membayar hutang"."

Kata ibunya lagi.

"Ayah sangat menyayangimu, dia ingin kau yang mengambil keputusan."

Hati Hiat-kun sangat kacau.

"Aku tidak punya gagasan lain, lebih baik ayah yang mengambil keputusan."

Setelah dia selesai bicara dengan ibunya, ayahnya masuk dengan menarik nafas, dia berkata.

"Aku tahu kau pasti bisa mengambil keputusan yang tepat, aku tidak mau memaksamu, tapi aku juga tidak bisa langsung meninggalkan Lok-yang. Kita mengulur waktu saja agar tidak melukai hati Hie Tiong-gwee, aku sudah memberitahu pamanmu, aku harus benar-benar memikirkan nya baru bisa mengambil keputusan."

Beberapa hari kemudian dia baru tahu bahwa ayahnya tidak bisa meninggalkan Lok-yang karena penyakit lamanya kambuh lagi.

Ayah sakit sudah hampir 10 hari, paman juga datang beberapa kali untuk menengoknya.

Hie Tiong-gwee menyuruh tabib yang terkenal di Lok-yang untuk mengobati ayah, tapi tabib itu tetap tidak mau datang.

Tiap kali paman datang untuk menengok ayah, pintu pasti ditutup, begitu dia pergi, ayah dan ibu pasti ribut tapi suara mereka sangat kecil.

Suatu kali saat dia mengantarkan teh masuk ke kamar ayahnya, mungkin karena ayah sedang sakit dia tidak tahu Hiat-kun masuk, terdengar ibunya berkata.

"Mengapa kau selalu tidak suka kepada Hie Tiong-gwee?"

Bisa ditebak sebelum Hiat-kun masuk, mereka sudah berbeda pandangan terhadap Hie Tiong-gwee. Kata ayahnya.

"Aku tidak punya bukti, juga tidak bilang bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang jahat Tapi bila dia dipanggil pendekar, sepertinya tidak pantas."

"Apa yang tidak pantas?"

"Bukan aku mengukurnya karena mempunyai lapang dada yang sempit, bila dia tidak mengancam dengan pernikahan ini, tidak perlu menyuruh adik untuk menyampaikan kepadaku. Dia sudah tahu rahasiaku, dan dia Pernan melindungiku, sudah berbuat baik, berusaha memberitahu Kepada orangnya ini disebut sudah melakukan kebaikan berharap orang lain harus membalas budinya."

"Kau terlalu berpikir sempurna, kalau dia memang bermaksud seperti itu, dia hanya suka kepada putri kita."

Dengan dingin ayah berkata.

"Terlalu berfikir demikian Aku hanya berkata 70%..."

Hanya sampai di sana pembicaraan antara ayah dan ibunya, karena ayahnya sudah melihat Hiat-kun masuk.

"Yang dimaksud 70% itu apa? Apa yang dimaksud oleh ayah?"

Dia ingin menunggu hingga ayahnya sembuh baru akan menanyakannya, tapi Hiat-kun sudah tidak mempunyai kesempatan lagi.

Pada malam kedua, tiba-tiba dia dikejutkan oleh tangisan ibunya.

Dia seperti mendengar ayah dan ibunya berbarengan berkata "Tidak bisa!"

Sepertinya mereka sedang ribut, begitu mendengar 'tidak bisa', suara mereka tercampur aduk tidak jelas mendengarnya. Ibunya seperti berkata.

"Tidak bisa, aku tidak bisa mengganggu pernikahan Hiat-kun lagi!"

Ayah seperti berkata.

"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan kau melakukannya, kau harus mengantar aku pulang, biar Hiat-kun...tidak ada cara lain..."

Hanya terdengar sepatah-sepatah kata, tapi dia tahu karena urusan pernikahan ini, ayah dan ibunya ribut terus.

Biasanya dia pasti akan mendengar, tapi sekarang dia sudah sangat terkejut karena penyakit ayahnya, sambil mengeluh ayahnya berteriak.

Tiba-tiba suara mereka berhenti, kemudian mendengar ibunya menangis dan berkata.

"Koko, aku yang salah, aku akan mendengar kata-katamu."

Setelah mendengar teriakan ibunya, Hiat-kun tergesa-gesa masuk. Ayah membuka mata dan berkata.

"kemarilah ada yang harus kukatakan kepadamu."

Dia memegang erat tangan ayahnya, dia merasa tubuh ayahnya semakin dingin dan membeku.

Hati Hiat-kun pun dingin seperti es.

Suara ayah seperti semut, berbisik di telinganya "Penyakit jantungku tiba-tiba kambuh, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi, aku sudah menyetujui pernikahanmu dengan Hie Tiong-gwee.

Aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi ini pun terpaksa harus kau lakukan.

Maafkan ayah, mungkin masih bisa diubah, tapi...

tapi..."

Tapi apa? Ayahnya tidak bicara lagi, karena sudah tiba waktunya ayah pergi. Padahal masih banyak yang ingin dia bicarakan tapi ayah sudah tidak bisa berkata-kata lagi.

"Kau harus mendengar kata-kata ibumu, ibu akan mengantarkanku pulang, kau harus tinggal di sini..."

Begitu ayah meninggal, paman dan Hie Tiong-gwee segera datang.

Hie Tiong-gwee selama ini tidak pernah datang menjenguk ayahnya.

Dia datang pada saat ayah sudah meninggal sepertinya sengaja datang untuk mengantar kematian ayahnya.

Hiat-kun lebih sedih dari ibunya.

Ibu selalu baik kepada Hie Tiong-gwee, tapi hari itu sikapnya berubah.

Dia tidak meladeni Hie Tiong-gwee bahkan seperti tidak kenal dengannya.

Tapi ibu tetap memberitahu paman bahwa ayah memutuskan menerima Hie Tiong-gwee sebagai mantunya.

Pada hari saat dia membawa mayat Kang Cu-goan ke kampung halamannya, ibu menyerahkan Hiat-kun kepada pamannya.

Hiat-kun menangis terus, tapi ibu malah terlihat tenang.

Dia masih ingat ibu berpesan kepada paman.

"Bila aku sudah beres mengubur kakakmu, aku akan kembali. Kau harus mengurus Hiat-kun dengan baik, tidak boleh merugikannya. Bila tidak aku tidak akan memaafkanmu, aku tidak akan melepaskanmu!"

Paman tertawa kecil dan berkata.

"Enso terlihat sangat khawatir, Hiat-kun adalah keponakanku, aku pasti akan mengurusnya dengan baik, apalagi Hie Tiong-gwee adalah menantumu, kau jangan khawatir, Hiat-kun tidak akan dirugikan."

Dengan dingin ibu berkata.

"Aku tidak berharap Hie Tiong-gwee bisa baik kepada Hiat-kun, aku menyuruhmu mengurus Hiat-kun, juga bukan dalam arti sebenarnya, kau harus mengerti!"

Dengan cepat paman berkata.

"Benar, Enso, aku mengerti."

Tapi Hiat-kun tidak mengerti tapi paman juga tidak menjelaskannya lagi.

Paman hanya menyuruhnya menikah, alasannya karena sekarang ini Hiat-kun hanya tinggal sendiri jadi harus segera mempunyai keluarga.

Ayahnya sudah meninggal, masalah 10 tahun yang lalu belum beres, bila dia cepat menikah, dia akan hidup tenang.

Begitulah, pada saat baju duka belum ditanggalkan, dia sudah seperti boneka, semua diatur oleh pamannya menjadi pengantin Hie Tiong-gwee.

Hiat-kun bercerita sambil menangis.

Wie Thian-hoan menghapus air matanya kemudian memeluknya Dia tertawa dan berkata.

"Untung saja kau belum menjalankan upacara sembahyang dengannya. Nama "Nyonya Hie' juga belum disetujui oleh keluarganya." ---ooo0dw0ooo---C. Orang Yang Membunuh Ayah "Sekarang apa yang lebih penting?"

Tanya Hiat-kun. Wie Thian-hoan berkata.

"Sekarang kau sudah mengerti, aku menikah dengan Hie Tiong-gwee bukan karena aku setuju juga bukan aku tidak menyetujuinya. Aku tidak mendapat kabar darimu dan ayah sudah meninggal, ibu pergi meninggalkanku. Aku hanya sendiri di Lok-yang. Bagaimana dengan masa depanku? Aku sudah tidak memikirkannya lagi, aku seperti pohon yang terkena salju, hati kosong, perasaan pun sudah mati. Aku tidak mau juga tidak bisa, semua masalah yang terjadi aku terima dengan pasrah. Paman menyuruhku menikah. Ya aku menurutinya. Karena hatiku sudah mati. Dia hanya menikah dengan ragaku saja."

Wie Thian-hoan merasa hatinya sangat pedih, sekarang Hiat-kun sudah tidak menangis, tapi di sudut mata Wie Thian-hoan sudah ada air mata. Dia memeluk Hiat-kun dengsn erat dan berkata.

"Aku yang salah! Sampai sekarang aku baru mencarimu."

"Aku tidak menyalahkanmu, bila ilmu silatmu belum tinggi, kakek gurumu tidak akan mengijinkanmu berkelana di dunia persilatan. Tapi hari ini kau bisa menemukanku, itu pun sudah cukup."

Sambil meneteskan air mata Wie Thian-hoan berkata.

"Apakah hatimu yang sekarang sudah hidup kembali?"

Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata.

"Aku tidak mau memberitahu, aku ingin kau memberitahu kepadaku..."

"Memberitahu apa?"

"Kau yang bilang, mengapa bisa lupa?"

Wie Thian-hoan tampak berpikir dan berkata.

"Benar, aku akan memberitahu mengenai Hie Tiong-gwee, kau juga ingin tahu apakah dia orang jahat atau baik, bukankah begitu?"

Hiat-kun sedikit malu dan berkata.

"Aku sudah memutuskan tidak akan menjadi istrinya. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya. Ayah belum sempat mengatakan apa-apa kepadaku dan tiba-tiba ibu berubah sikap kepada dia. Coh Toako pun mencurigainya, banyak hal yang ingin ditanyakan, aku harap kau bisa membantuku memecahkan masalah-masalah ini."

"Menurutku, selama beberapa tahun mencari kabar di dunia persilatan, mungkin Hie Tiong-gwee adalah orang yang sengaja melakukan kebaikan untuk dipuji oleh orang-orang, tapi ini belum seberapa, dia memalsukan banyak hal, aku akan menceritakannya padamu, sekarang bercerita lebih penting untuk kita."

"Dengan orang yang membunuh ayah, kita tidak akan bisa hidup di langit yang sama."

Hiat-kun tampak terkejut dan bertanya.

"Apakah kau curiga bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang membunuh ayahmu?"

"Benar, aku curiga bahwa Hie Tiong-gwee bila bukan dalang, setidaknya dia ikut membantu kejahatan. Sekarang ini aku sedang mengumpulkan bukti."

"Mengapa kau bisa curiga kepadanya?"

"Dia adalah teman ayah yang terakhir dan ayah mengenalnya sebelum meninggal. Waktu ayah dan dia berpisah, dan ayah segera pulang. Dia juga satu-satunya orang yang tahu pekerjaan ayah. Pada saat ayah pulang pada malam itu, 8 pengawal istana segera menyusulnya. Apakah semua ini bukan suatu hal yang terlalu kebetulan?"

"Karena itu kau curiga bahwa dia yang melaporkan?"

"Mungkin bukan hanya melapor saja."

"Apakah kau curiga bahwa dia adalah salah satu di antara pembunuh-pembunuh itu?"

"Kedelapan orang pengawal istana dia yang membawanya. Menuduh dia sebagai pembunuh juga tidak salah."

"Kalau begitu kau sudah tahu bahwa pada malam itu dia berada disana?"

"Aku belum bisa memastikannya, tapi aku sudah yakin 90%."

"Malam itu, ayahku juga ada di sana tapi aku belum pernah mendengar ayah pernah melihat Hie Tiong-gwee, walaupun ayah tidak mengenal Hie Tiong-gwee tapi setelah tiba di Lok-yang, pada saat melihat Hie dia pasti akan tahu, mana mau ayah tinggal di Lok-yang."

"Benar, bila ayahmu tahu, dia tidak akan setuju kau menikah dengan Hie, bila ayahmu pernah bertarung dengan Hie saat itu, dia pasti akan langsung tahu."

"Apa? Kau bicara apa? Malam itu ayah pernah bertarung dengan Hie Tiong-gwee?"

Tanya Hiat-kun.

"Apakah ayahmu pernah berkata ada seseorang di antara mereka, ada yang ditutup wajahnya?"

"Ayah pernah mengatakannya, pada waktu dia keluar dia melihat kau ditangkap oleh orang yang ditutup wajahnya. Orang itu kurang kuat menangkapmu kemudian ayah menyerangnya dan kau bisa meloloskan diri dari cengkraman orang itu tapi ayah mengira orang yang ditutup wajahnya itu adalah pengawal istana."

Kata Wie Thian-hoan.

"Tidak, 8 pengawal istana semua menyerang ayah, waktu ayahmu keluar sudah ada beberapa orang yang mati karena pukulan ayah. Dalam kegelapan ayahmu tidak jelas melihat mayat-mayat itu. Belakangan dia tahu 8 pengawal itu datang dari ibukota. Dia mengira orang yang wajahnya ditutup itu adalah pengawal istana."

"Apakah orang yang ditutup wajahnya itu adalah Hie Tiong-gwee?"

"Sekarang aku hanya mengatakan yang aku tahu, tapi orang yang paling kucurigai adalah dia."

Kata Wie Thian-hoan. Kata Hiat-kun.

"Ada 2 sebab mengapa kau mencurigainya. Pertama, dia adalah teman terakhir ayahmu yang dikenalnya juga orang yang paling tahu pekerjaan ayahmu. Kedua, kau tahu bahwa dia adalah orang yang senang dipuji"

Wie Thian-hoan melanjutkan.

"Ketiga, hatinya takut maka dia sering membuat pernyataan bahwa dia tidak berada di tempat itu."

"Dari mana kau tahu?"

"Sewaktu dia berpisah dengan ayah, dia bilang dia harus ke Huang-ho untuk bertarung dengan Huang-ho-sam-kui. Benar saja, belakangan ini ada kabar yang mengatakan bahwa dia sudah bertarung dengan mereka dan dialah yang menang."

"Ini bisa membuktikan bahwa pada malam itu dia tidak berada di rumah kita."

"Tapi aku sendiri yang mencari tahu semua yang dikatakan olehnya bahwa dia telah mengalahkan Huang-ho-sam-kui. Semua dia sendiri yang mengarang-ngarang berita ini, sebenarnya Huang-ho-sam-kui adalah teman-temannya."

"Dia membuat kepalsuan, ini sangat mencurigakan tapi belum bisa membuktikan bahwa dia adalah orang yang ditutup wajahnya."

Wie Thian-hoan berkata.

"Musuh yang menyerang pada malam itu hanya dia sendiri yang ditutup wajahnya, mengapa takut orang lain akan mengenali wajahnya karena dia takut ayah akan mengenalinya, ini adaiah alasan ke 4. alasan ke 5. tiga tahun yang lalu dia mengajakku bertarung di Siong-san, di dunia persilatan menyebar berita bahwa yang tidak beruntung adalah aku, dia berkata bahwa aku adalah seorang penjahat kelas kakap, dan dia adalah seorang pendekar keadilan. Jadi aku sering disalah sangka oleh orang-orang, tapi mengapa dia berbuat begitu, mengapa dia begitu gesit membasmi penjahat kelas kakap? Mungkin ini bukan hanya menjaga nama baiknya, aku mengira dia sudah tahu siapa diriku, dia mengira karena umurku masih muda, ilmu silatku belum tinggi dia ingin membunuhku hingga tidak ada lagi keluargaku yang tersisa, seperti pepatah yang mengatakan. 'mencabut rumput harus sampai keakarnya' "

"Apakah hanya 5 alasan ini?"

Tanya Hiat-kun. Walaupun dia tidak bicara, tapi Wie Thian-hoan tahu 5 alasan ini bukan bukti yang kuat. Kata Wie Thian-hoan.

"Sebelum sampai ke Lok-yang, hanya 5 alasan ini cukup mencurigakan."

Tanya Hiat-kun.

"Setelah tiba di Lok-yang, apakah kau menemukan bukti baru?"

"Benar!"

"Apa itu?"

"Keadaan keluargamu."

Hiat-kun bengong, tiba-tiba dia terpikir sesuatu dan berkata.

"Hal yang paling penting adalah tidak bisa hidup bersama pembunuh ayah dalam satu langit yang sama, masih ada satu lagi, sepertinya tadi kau mengatakan kita'?"

Dengan pelan Wie Thian-hoan berkata.

"Benar, aku bilang 'kita'."

Dengan gemetar Hiat-kun berkata.

"Kau bilang ayahku..."

"Ayahmu sebenarnya tidak menyetujui pernikahan ini, tapi begitu dia akan meninggal, tiba-tiba dia berubah pikiran dan mengharuskan kau menikah dengannya, apakah kau tidak merasa aneh?"

"Tapi pada saat itu aku tidak mempunyai kesempatan bertanya kepada ayah."

"Ibumu juga begitu, tadinya setuju kau menikah dengan Hie Tiong-gwee, belakangan malah berubah sikap..."

"Benar, sikap ayah dan ibu jadi berbalik, aku juga tidak mengerti."

Hiat-kun masih gemetar dan dia berkata.

"Hoan Toako, kau tahu apa lagi? Cepat kau beritahu aku!"

"Aku tidak tahu apa-apa lagi, aku menebak dari ceritamu."

"Coba ungkapkan pikiranmu!"

Sebenarnya dia bukan tidak bisa berpikir melainkan tidak berani berpikir.

"Aku menebak ayahmu diracuni oleh Hie Tiong-gwee hingga mati."

Kata Wie Thian-hoan. Teriak Hiat-kun.

"Mengapa ayah menyuruhku menikah dengan musuh?"

"Karena dia ingin melindungi ibumu dan dirimu, juga membiarkan ibumu meninggalkan Lok-yang, dengan demikian baru bisa mempunyai kesempatan untuk membalas dendam."

"Aku masih tidak mengerti, apakah kau bisa menjelaskannya?"

"Lok-yang adalah daerah kekuasaannya, bila kau tidak menikah dengannya, ibumu tidak akan bisa meninggalkan Lok-yang, aku menebak dia sudah membicarakan syarat-syarat ini dengan ayahmu. Ayahmu adalah orang yang bisa menahan diri, terakhir dia sudah mengetahui bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang sangat jahat kemudian dia sadar Hie Tiong-gwee lambat laun akan membunuhnya juga, dia takut kau tidak bisa menahan diri, maka ayahmu memutuskan tidak memberitahumu. Ibumu juga menahan penghinaan ini, hanya tidak mau Hie Tiong-gwee tahu bahwa dia sudah tahu penyebab kematian ayahmu tapi tebenciaannya kepada Hie Tiong-gwee tidak dapat dipendam, karena inilah sikapnya yang baik tiba-tiba berubah"

Hiat-kun berkata.

"Tadinya aku tidak berani menyangka bahwa Hie Tiong-gwee begini jahat, tapi penjelasanmu sungguh masuk akal dan aku harus mempercayainya, kalau dugaan kita benar, aku harus membalas dendam!"

"Memang, aku juga curiga kepadanya tapi aku belum mempunyai bukti yang kuat, karena itu.."

"Karena itu kau hanya melukai dia tapi tidak mengambil nyawanya."

"Dia boleh mengatakan bahwa aku adalah penjahat kelas kakap, tapi aku tidak pernah salah membunuh orang."

Kata-kata ini juga ingin disampaikan oleh Hiat-kun, dia bertanya.

"Hoan Toako, kau mencari bukti kuat seperti apa?"

"Adik, apakah kau bisa membantuku? Membantuku mencari orang yang ditutup wajahnya saat itu, apakah benar dia adalah Hie Tiong-gwee?"

"Bagaimana caranya?"

"Malam itu ketika orang itu menangkapku, aku sempat menggigit pundaknya walaupun tidak meremukkan tulangnya tapi paling sedikit ada belas luka di pundaknya."

Wie Thian-hoan tidak perlu menjelaskan, Hiat-kun sudah tahu untuk melihat bekas luka ini. Hie Tiong-gwee harus membuka bajunya baru bisa terlihat. Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata.

"Apakah aku masih bisa membantumu? Bila aku pulang lagi ke rumah Hie untuk menipunya, dia pun tidak akan menganggapku sebagai istrinya lagi."

Wie Thian-hoan memeluk Hiat-kun dan berkata.

"Aku tahu bagaimana hatimu, kau kembaii ke sana untuk menipunya aku juga tidak mau kau menyandang nama Nyonya Hie."

"Bila kita tidak bisa menipunya kita pakai cara keras saja tapi banyak orang yang melindunginya walaupun ilmu silatmu tinggi juga tidak akan tahan terhadap serangan mereka, apalagi rumah Hie sangat besar, kita tidak tahu dia bersembunyi di kamar mana "

Wie Thian-hoan tertawa kecut.

"Aku juga tidak mau merusak nama baikmu, walaupun kita menggunakan cara keras supaya Hie Tiong-gwee keluar dari rumahnya tapi orang-orang akan memandangku sebagai selingkuhanmu, dan menganggapmu sebagai perempuan genit Bila dia bukan orang yang ditutup wajahnya, nama baikmu akan tercemar."

"Begitu aku keluar dari rumah Hie, aku sudah siap dicemooh orang-orang, aku hanya khawatir gara-gara aku namamu yang tercemar. Hoan Toako, malam ini aku bisa bertemu denganmu, dan tahu kau masih baik seperti dulu, mati pun aku tidak akan menyesal. Aku tidak bisa merusak kebahagiaanmu lagi."

Wie Thian-hoan melotot dan bertanya.

"Apa maksudmu?"

"Aku harus memikirkan perasaan Sumoimu, aku tidak mau dia salah paham"

"Aku selalu menganggap dia adalah adik kecilku."

"Dulu waktu aku kecil aku juga menganggapmu sebagai kakak."

Walaupun bicaranya berputar-putar, tapi artinya sangat mudah ditebak Waktu kecil dia menganggap Wie Thian-hoan sebagai kakaknya tapi sekarang dia bukan kakaknya, begitu pula dengan perasaan Kie Su-giok.

Kata Wie Thian-hoan.

"Dia tahu aku mencarimu."

"Aku juga perempuan karena itu aku mengerti perasaan Sumoimu, dia tidak mau mendengar bahwa orang yang dia cintai menikah dengan perempuan lain."

Kata Wie Thian-hoan.

"Apakah kita akan melepaskan Hie Tiong-gwee begitu saja? Aku tidak mau memikirkan dia lagi."

"Kelak kalian akan menjadi suami istri, mengapa kau tidak mau memikirkan dia?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Siapa bilang aku akan menikah dengannya? Aku akan menikah dengan..."

Hiat-kun menutupi mulut Wie Thian-hoan dan kata "kau' tidak dapat keluar dari mulutnya "Hoan Toako, aku sudah memberitahumu bahwa setelah bertemu denganmu, mati pun aku tidak menyesal, aku tidak bisa menjadi istrimu, kau harus menikah dengan gadis lain.

Hoan Toako, aku minta kita hanya sebagai adik dan kakak yang berbeda she saja."

Teriak Wie Thian-hoan.

"Mengapa tidak bisa?"

"Aku tidak mau berdebat denganmu, berdebat tidak akan berguna, kau mempunyai prinsip sendiri begitu pun dengan diriku, masing-masing tidak akan bisa berubah"

Wie Thian-hoan terdiam, dia sudah tahu untuk merubah pikiran Hiat-kun tidak mudah.

"Dendam ayah harus dibalas tapi harus memikirkan siasat yang lebih baik."

Wie Thian-hoan mengganguk dan berkata.

"Aku tidak akan ceroboh, kita berdua masuk ke dalam kediaman Hie kemudian membunuhnya."

Tiba-tiba Hiat-kun berkata.

"Bila kita mencari pamanku bagaimana?"

Mata Wie Thian-hoan menjadi bercahaya dan berkata.

"Benar, paling sedikit dia tahu penyebab kematian ayahmu."

"Dia adalah orang yang sangat setia kepada Hie Tiong-gwee, mungkin dengan bantuan pamanku, kita bisa menangkap Hie Tiong-gwee."

Kata Wie Thian-hoan.

"Kalau begitu lebih baik kita kembali ke kota Lok-yang."

Tiba-tiba Hiat-kun bertanya.

"Aku lupa bertanya, ke mana Sumoimu?"

"Dia sudah pulang."

"Mengapa dia tidak bersamamu ? apakah dia tidak khawatir kau hanya sendiri berada di sini?"

"Aku menyuruhnya pulang, dan dia selalu mendengarkan kata-kataku"

"Lebih baik begitu, bila tidak dia juga akan terlibat."

Apakah benar Kie Su-giok sudah pulang?

Walaupun Wie Thian-hoan mengatakan demikian tapi hatinya tetap khawatir.

Memang benar biasanya dia menurut kepada kata-kata Wie Thian-hoan, apakah sekarang juga demikian?

Dia sendiri juga tidak terlalu percaya.

Tapi bila ada Hiat-kun di sisinya, musibah yang menimpa dua keluarga membuat mereka bersatu lebih erat lagi, yang paling penting adalah membalas dendam, walaupun dia mengkhawatirkan Sumoinya, tapi dia tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh lagi.

---ooo0dw0ooo---D.

Siapakah Pembunuhnya?

Kang Cu-si tampak bengong.

Di jalan terdengar bunyi gong subuh, tapi dia masih belum mengantuk sama sekali.

Kemarin terjadi cipratan darah di aula, peristiwa itu membuat dia sangat terkejut.

Keponakannya belum menjalankan upacara sembahyang dengan Hie Tiong-gwee, membuat hatinya tidak tenang.

Dia ingin pernikahan keponakannya membuatnya naik status sosialnya Tapi apakah bebek yang sudah matang bisa terbang lagi?

Tiong-gwee terluka, keluarga Hie tidak mengijinkannya menengok Hie Tiong-gwee.

Bila terjadi apa-apa dengan Hie Tiong-gwee, kehilangan dukungan masih tidak apa-apa tapi nyawanya mungkin akan melayang.

Dia merasa semua tidak sejalan dengan pikirannya Sudah hampir dini hari.

dia ingat dia sudah menyuruh orang menyediakan kuah ginseng Sebelum tidur dia akan meminumnya dulu.

Mengapa begitu sunyi?

Pelayan-pelayan berada di manakah semua?

Kalau bos belum tidur, biasanya terdengar orang yang berjalan di luar, mengapa hari ini sangat sepi seperti di kuburan?

"Cun-lan, kau ada di mana?

Cepat ambilkan kuah ginseng untukku!"

Saat itu walaupun tidak ada angin tapi jendela bisa terbuka dengan sendirinya.

Di hadapannya sudah berdiri seorang perempuan, dia bukan Cun-lan, pelayannya.

Perempuan itu mengenakan baju duka, Kang Cu-si seperti melihat hantu.

Dia sangat terkejut, perempuan berbaju hitam itu dengan dingin berkata.

"Kau tidak menyangka aku akan cepat kembali bukan?"

Benar, Kang Cu-si tidak menyangka, mulutnya melongo, tidak dapat keluar sepatah kata pun. Dia tidak bisa bicara tapi perempuan berbaju hitam itu memaksanya bicara.

"Apakah kau senang menjadi orang bisu?"

Mata perempuan itu sangat tajam seperti sebuah pedang. Kang Cu-si menggelengkan kepalanya.

"Baiklah, bila tidak mau menjadi orang bisu, jawablah pertanyaanku, sebelum pergi, kau ingat aku sudah berpesan apa kepadamu?"

Tanya si baju hitam itu.

"Aku ingat!"

Jawab Kang Cu-si.

"Coba kau ulangi!"

Kata si baju hitam.

"Kau menyuruhku mengurus keponakanku, tidak boleh merugikan dia, bila tidak..."

"Bila tidak bagaimana?"

"Bila tidak, kau tidak akan melepaskanku."

"Waktu itu aku bertanya kepadamu, apakah kau mengerti maksudku, kau bilang kau sudah mengerti, apakah benar?"

"Benar,"

Kang Cu-si seperti seorang tersangka menjawab pertanyaan hakim, tubuhnya sudah gemetar, tapi dia harus mengaku.

Perempuan berbaju hitam itu tertawa dingin.

Hari hampir subuh, Hiat-kun dan Wie Thian-hoan sudah hampir tiba di rumah paman Hiat-kun, Kang Cu-si.

Mereka tidak mau masuk dari arah pintu depan, dengan ilmu meringankan tubuh mereka memanjat dinding dan masuk dari samping.

Begitu masuk mereka menemukan penjaga pintu yang sudah mati.

Walaupun sinar bulan sudah tidak terlalu terang, seperti Wie Thian-hoan dia juga sudah tahu bahwa penjaga pintu mati oleh pukulan oleh tenaga telapak tangan.

Kepalanya tidak pecah tapi melengkung ke arah dalam, dapat diketahui bahwa tenaga dalam orang ini sangat kuat.

Hiat-kun terkejut dan hampir berteriak.

Pengalaman Wie Thian-hoan lebih banyak, dia melambaikan tangan menyuruh Hiat-kun jangan berteriak.

Melihat situasi ini, pasti ada seorang pesilat tangguh yang datang dan membalas dendam kepada Kang Cu-si.

Mayatnya masih hangat, orang itu pasti masih ada di dalam rumah Pesilat tangguh ini pastilah musuh Kang Cu-si, tapi dia juga belum tentu teman mereka.

Dalam kegelapan penuh dengan bahaya, karena itu jebih baik jangan mengeluarkan suara.

Kali ini Wie Thian-hoan bisa melihat lebih jelas lagi, dalam hati dia berpikir.

"Tenaga telapak tangan ini adalah campuran dari Bian-ciang (telapak kapas) dan Ta-sik-pek-jiu (Telapak Tangan Penghancur Batu) ini adalah campuran tenaga dalam keras dan lembut, orang terkenal di dunia persilatan yang menggunakan tenaga telapak tangan bisa dihitung dengan jari. Siapakah dia?"

Dalam waktu dekat ini hanya ada 5 orang yang bisa.

Yang pertama adalah Cianpwee Siauw-lim, kedua adalah Ketua Bu-tong, kedua orang ini masih bisa dipercaya oleh Wie Thian-hoan.

Yang ketiga adalah pemilik pulau Li-ho, dia tidak mungkin datang ke Lok-yang.

Yang keempat, orang ini jarang keluar di dunia persilatan.

Kelima adalah orang ini berada di Lok-yang, orang ini sangat dijunjung tinggi oleh sesama pesilat, bagaimana pun Wie Thian-hoan tidak percaya dia adalah seorang pembunuh.

Di lantai atas di sudut terlihat masih ada lampu yang masih menyala.

Kamar Kang Cu-si ada di sana.

Hiat-kun sangat senang pamannya belum tidur, dia memberi isyarat kepada Wie Thian-hoan.

Hiat-kun segera berjalan ke depan melewati barang-barang yang bisa menutupi bayangan mereka menuju loteng.

Di bawah loteng ada sebuah gunung buatan, Hiat-kun merasa kakinya basah, ternyata ada sebuah cangkir yang diisi kuah ginseng sudah pecah dan kuahnya sudah tumpah.

Wie Thian-hoan dengan ilmunya, mengantar suara ke telinga Hiat-kun dan berkata.

"Orang yang mengantar kuah ginseng untuk pamanmu, orang ini mungkin sudah dibunuh, mari kita cari."

Hiat-kun tahu keadaan dan situasi rumah pamannya, dia mendekati gunung buatan itu.

Benar di sana ada sesosok mayat perempuan.

Hiat-kun tahu itu adalah pelayan pamannya yang bernama Cun-lan.

Cun-lan mati seperti 2 pelayan lainnya.

Kepalanya tidak pecah tapi melengkung ke dalam.

Cairan otak keluar dari luka itu.

Hiat-kun hampir muntah mulutnya terasa mual-mual, pembunuh itu terlalu kejam sudah membunuh penjaga pintu dan pelayan laki-laki.

Gadis berumur 16 tahun yang bernama Cun-lan pun telah dibunuh.

Wie Thian-hoan segera menggosok bagian dada Hiat-kun supaya dia bisa bernafas lehih lancar Kemudian Hiat-kun memberi isyarat kepada Wie Thian-hoan supaya naik ke loteng.

Wie Thian-hoan mengangguk.

Begitu mereka akan naik, tiba-tiba terdengar di dalam kamar ada yang tertawa dingin.

Suara ini adalah suara seorang perempuan.

Suara ini membuat mereka terkejut, dan lebih terkejut lagi karena dia mengenali suara ini.

Ini adalah suara ibu Hiat-kun.

Wie Thian-hoan menarik Hiat-kun dan menutup mulutnya.

Hiat-kun tahu ibunya bisa ilmu Bian-ciang, tidak perlu disangsikan lagi oleh Wie Thian-hoan pun dia sudah terkejut hingga bengong.

Perasaan dingin menusuk hingga ke jantungnya, dalam hati Hiat-kun berpikir.

"Pasti bukan ibu, ilmu silat ibu memang baik tapi hanya bisa memotong ayam saja."

Tangan Hiat-kun gemetar.

"Ibu mana mungkin bisa begitu kejam membunuh seorang gadis baik seperti Cun-lan."

Wie Thian-hoan seperti mengetahui pikirannya, dia berbisik kepada Hiat-kun.

"Bibi bukan pembunuh, dia tidak menghakimimu, kau tenang saja, dengarkan baik-baik."

Sebenarnya Wie Thian-hoan bukan hanya menenangkan Hiat-kun, dia tahu ibu Hiat-kun pernah berlatih Bian-ciang tapi tidak pernah berlatih Ta-sik-pek-jiu (Telapak tangan penghancur batu), Hiat-kun tidak tahu apakah kematian Cun-lan karena gabungan ilmu ini?

Perempuan berbaju hitam itu berkata.

"Bila kau ingat pesanku sebelum aku pergi, mengapa kau tidak menungguku kembali? Malah segera memaksa Hiat-kun menikah?"

Sekarang jelas itu adalah ibu Hiat-kun.

"Mengapa ibu tidak memberitahuku bahwa ibu pemah berpesan kepada paman?"

Kecurigaannya segera terjawab. Kang Cu-si masih terkejut dan berkata.

"Aku... aku..."

Ibu Hiat-kun marah.

"Aku... aku... apa? Karena kau takut Hiat-kun akan curiga, bila dia sudah curiga, sikapnya pasti akan terlihat oleh Hie Tiong-gwee, karena itu aku tidak diberitahu, tapi kau tidak menungguku untuk mencari tahu hal sebenarnya, kau sudah memaksa Hiat-kun menikah. Kau merugikan dia seumur hidup."

Kang Cu-si tertawa kecut dan berkata.

"Enso, aku tidak tahu kapan kau bisa mencari penjelasan mengenai kematian Cu-goan..."

Ibu Hiat-kun lebih marah lagi.

"Aku sudah berpesan, bagaimana pun kau harus menunggu paUng lama 1 tahun, paling cepat setengah tahun dan aku akan kembali. Apakah kau tidak bisa menunggu?"

"Bukan aku tidak bisa menunggu, tapi Hie Tiong-gwee yang tidak bisa menunggu, dia memaksaku menikahkan Hiat-kun untuknya."

"Bagaimana pun kau bersalah kepadaku juga Hiat-kun dan juga Toakomu, apakah kau tahu mengapa aku cepat kembali?"

Kang Cu-si tidak bisa menjawab juga tidak berani menjawab.

"Pertama, aku melarangnya menikah, kedua aku sudah tahu hal yang sebenarnya."

Kata Ibu Hiat-kun. Dengan suara gemetar Kang'Cu-si bertanya.

"Tentang apa?"

Dengan dingin ibu Hiat-kun berkata.

"Aku mencari teman baik Toakomu, dia adalah seorang tabib. Tabib itu membuka peti mati kemudian memeriksa mayat Toakomu, apakah kau ingin tahu bagaimana dia bisa mati ?"

Hati Hiat-kun hampir meloncat keluar, Wie Thian-hoan memegang tangannya dengan erat. Mereka terus mendengarkan. Ibu Hiat-kun tertawa dingin dan berkata.

"Mungkin tidak perlu kuberitahu, kau pun sudah tahu. Sekarang apakah kau masih mau menipuku lagi?"

"Enso, mungkin kau belum tahu bahwa putrimu belum sembahyang dengan Hie Tiong-gwee, mereka tidak jadi menikah."

Dia sengaja mengalihkan topik supaya ibu Hiat-kun bisa reda amarahnya. Segera ibu Hiat-kun bertanya.

"Mengapa?"

"Karena Hui-thian-sin-liong tiba-tiba membuat keonaran di aula, dan melukai pengantin pria."

"Siapa Hui-thian-sin-liong itu?"

"Dia she Wie, bernama Thian-hoan."

Ibu Hiat-kun terdiam lama, kemudian dia dengan senang berteriak.

"Apakah benar dia Thian-hoan? Dia sudah kembali! Apakah dia yang melukai Hie Tiong-gwee?"

"Setelah peristiwa itu, aku belum bertemu dengan Hie Tiong-gwee lagi."

"Cepat katakan yang sebenarnya kepadaku!"

"Katanya dia terluka parah tapi tidak mati."

"Baiklah kalau begitu kau..."

Pada waktu itu tiba-tiba terdengar suara Kang Cu-si berteriak, lampu di loteng tiba-tiba mati.

"Enso, ampun..."

Tidak perlu melihat lagi, Wie Thian-hoan dan Hiat-kun tahu bahwa Cu-si akan meminta maaf kepada ibu Hiat-kun tapi ibu Hiat-kun sudah membunuhnya Tapi Wie Thian-hoan curiga mengapa ibu Hiat-kun begitu cepat membunuh paman Hiat-kun?

Baru saja dia berpikir seperti itu, terlihat sesosok bayangan keluar dari kamar, meloncat ke atap dan lari.

Mereka tidak tahu apakah bayangan itu perempuan atau laki-laki.

Hanya tahu ilmu meringankan tubuhnya lebih tinggi dari ibu Hiat-kun.

Orang itu mendengar suara Hiat-kun, dia melambaikan tangan dan sudah meloncati 2 rumah.

Hiat-kun yang masih di bawah loteng, melihat dia melemparkan senjata rahasia yang cepat seperti petir.

Tiga buah koin telah mengarah di 3 tempat di tubuh Hiat-kun.

Dalam kegelapan ternyata dia masih bisa melihat jalan darah Hiat-kun dengan jelas.

Wie Thian-hoan begitu mendengar suara senjata rahasia, dia sudah tahu bahwa Hiat-kun tidak akan sanggup menyambutnya, dengan cepat dia mendekati Hiat-kun.

Dia menggerakan jarinya ke kiri dan kanan Hiat-kun, terdengar suara dua buah koin yang jatuh, koin ketiga melewati rambut Hiat-kun sehingga membuat Hiat-kun keluar keringat dingin, dalam hati dia berpikir, 'Bila Hoan Toako tidak membantuku, aku tidak akan bisa lolos dari serangan itu!"

Dia seperti mengenali bayangan itu, siapakah dia? Wie Thian-hoan memungut dua koin itu, dia merasa tangannya sedikit kesemutan. Dia terkejut dan dalam hati dia berpikir.

"Ilmu silat orang itu berada di atasku apakah di antara keluarga Hie ada orang seperti itu? Siapakah dia?"

Dia tidak tahu siapa orang itu tapi ketika mendengar suara Hiat-kun orang itu masih melemparkan senjata rahasianya, berarti orang itu bukan ibu Hiat-kun, melainkan orang yang berpihak kepada Hie Tiong-gwee.

Mengingat hal ini, Wie Thian-hoan berkata.

"Mari kita masuk untuk memeriksa, biarkan saja orang itu pergi!"

Ilmu meringankan tubuh orang itu sangat tinggi dan orang itu sudah menghilang Hiat-kun teringat kepada ibunya, dia tidak bisa mengejar orang itu, walau bisa mengejar dia tidak punya waktu, dia berlari ke atas loteng dan berteriak.

"Ibu..ibu...!"

Tapi ibunya tidak menjawab.

Hiat-kun merasa sangat kacau, dia menendang pintu kamar, Wie Thian-hoan mengikuti dari belakang, lampu segera dinyalakan.

Lampu sudah dinyalakan, di dalam lampu cahaya api belum begitu terang, mereka melihat Kang Cu-si sudah mati tergeletak di depan pintu.

Kematian Kang Cu-si seperti mayat-mayat di bawah.

Hiat-kun menarik nafas walaupun dia tidak tahu siapa pembunuhnya tapi dia tahu yang membunuh Cun-lan dan pamannya bukan ibunya, terdengar suara rintihan.

Hiat-kun berteriak.

"Ibu, kau kenapa?"

Wie Thian-hoan membawa lampu untuk melibat keadaan ibu Hiat-kun. Terlihat ibu sedang duduk bersila.

"Nak, kalian sudah datang berbarengan. Baik, sangat baik, aku mati pun sudah bisa menutup mata,"

Kata ibunya. Dari mulut ibunya sudah meleleh keluar darah dengan perlahan. Hiat-kun sangat terkejut, dengan gemetar dia bertanya.

"Ibu, bagaimana perasaanmu? Jangan banyak bicara dulu."

Ibu Hiat-kun menjawab.

"Aku harus bicara, aku tidak punya waktu lagi. Hiat-kun dengarkan dengan jelas. Ayahmu..."

Wie Thian-hoan memegang tangan kirinya, Hiat-kun memegang jangan kanannya, membuat ibunya terlihat agak tenang.

Wie Thian-hoan mengalirkan tenaga ke dalam tubuh ibu Hiat-kun, ilmu silat Hiat-kun tidak begitu tinggi tidak sanggup membantu mengalirkan tenaga dalam.

Tapi anak perempuan itu selalu dekat di hati ibunya, dia memegang tangan ibunya, membuat hati ibunya yang hampir berhenti kemudian hidup lagi.

Tenaga bantuan seperti ini dengan tenaga dalam Wie Thian-hoan sama.

Begitu nafas ibu Hiat-kun mulai tenang, dia berkata.

"Hiat-ji, ayahmu mati karena racun, racun itu didatangkan dari propinsi Suchuan dari keluarga Tong."

Ayahnya mati karena diracun, ini tidak membuatnya terkejut, yang membuatnya terkejut adalah bahwa racun ini ternyata datang dari keluarga Tong.

"Katanya racun keluarga Tong tidak beredar di luaran, kita juga tidak kenal dengan keluarga Tong, mengapa ayah bisa terkena racun itu?"

Tanya Hiat-kun.

"Karena itulah harus kita cari tahu, mengapa racun keluarga Tong bisa berada di luaran, tapi aku tahu tabib itu dicari oleh Hie Tiong-gwee. Ayahmu terkena racun keluarga Tong itu sudah pasti, karena inilah yang dikatakan oleh Yap-sin-ih (Tabib Sakti Yap). Nama asli Yap-sin-ih adalah Yap In-nong, secara turun temurun dia adalah dari keluarga tabib, Yap In-nong memiliki ilmu lebih tinggi dibandingkan dengan nenek moyangnya, dan dia masih menguasai ilmu silat yang tinggi. Dia adalah teman ayah Hiat-kun."

Wie Thian-hoan pun tahu bahwa Yap In-nong adalah tabib yang terkenal. Kata Wie Thian-hoan.

"Bila Yap-sin-ih sudah menentukan seperti itu, aku percaya."

Kemudian ibu melanjutkan lagi.

"Kata tabib itu, racun itu tidak berwarna juga tidak berbau, racun ini jarang terlihat. Untuk meracuni pesilat tangguh, obat inilah yang paling cocok. Tabib yang dipanggil oleh Hie Tiong-gwee setiap hari mencampuri racun ini ke dalam obat ayah. Begitu penyakitnya kambuh sudah tidak akan bisa tertolong lagi, sampai mati pun dia tidak akan tahu. Menjadi hantu pun masih jadi hantu yang linglung. Bila ayahmu tidak selalu curiga kepada Hie Tiong-gwee. ayahmu juga tidak akan menyuruhku mencari Yap-sin-ih untuk memeriksa mayatnya."

Kata Hiat-kun.

"Aku dan Hoan Toako datang ke rumah paman juga ingin tahu penyebab kematian ayah. Hoaan Toako juga curiga bahwa Hie Tiong-gwee pun adalah pembunuh keluarganya."

"Apakah dia adalah orang yang wajahnya ditutup?"

"Banyak bukti yang mengarah kepadanya, tapi aku masih mencari satu bukti yang kuat."

Kata Wie Thian-hoan.

"Apa buk...buk...pembunuh..."

Kata-katanya semakin mengecil, tiba-tiba pembunuh 2 huruf itu dia teriakan.

Tapi Wie Thian-hoan sudah tahu apa yang dikatakan oleh ibu Hiat-kun.

Wie Thian-hoan terus memberikan tanaganya kepada ibu Hiat-kun tapi sekarang tangan ibu Hiat-kun sudah dingin, dia sudah tidak dapat menerima tenaga lagi.

Hal ini menjelaskan satu hal lagi, daya hidup untuk ibunya sudah habis.

Seperti minyak lampu sudah habis.

Lampu tidak dapat menyala lagi.

Tenaga luar pun sudah tidak dapat membantunya.

Dia tidak dapat mengatakan hal lain lagi.

Dia harus mengatakan orang yang membunuhnya.

Hiat-kun memegang tangan ibunya dengan erat dan bertanya.

"Pembunuh itu adalah..."

"Pembunuhnya adalah Kiam, Kiam-kin..."

Suara ibunya seperti suara nyamuk, tapi dapat didengar oleh Hiat-kun. Seperti mendengar guntur di siang hari bolong. Hiat-kun tidak percaya dengan telinganya sendiri, dia terdiam dan berteriak.

"Apa! Pembunuhnya Tuan Kiam-ta!"

Nama Tuan Kiam-ta di dunia persilatan sangat terkenal dan dia sangat disegani oleh orang-orang, walaupun dia adalah teman baik Hie Tiong-gwee tapi persahabatan mereka dilandaskan karena mereka adalah sama-sama pendekar.

Bila Hie ingin membunuh ayah dan ibu Hiat-kun pasti dia akan melarangnya, mana mungkin dia membantu Hie Tiong-gwee menjadi seorang pembunuh dan cara-caranya yang begitu kejam.

Hiat-kun berharap ibunya bisa berkata sekali lagi, biar dia bisa mendengar lebih jelas, tapi selamanya dia tidak bisa mendengar suara ibunya lagi.

Minyak sudah habis dan lampu sudah mati.

Ibunya sudah meninggal.

Hiat-kun menangis tapi air matanya tidak bisa keluar.

"Hiat-kun, menangislah!"

Kata Wie Thian-hoan, Tiba-tiba Hiat-kun berteriak.

"Aku tidak mau menangis, aku akan balas dendam!"

"Kalau kau mau membalas dendam, kau harus tenang dulu."

"Aku sudah tidak ingin apa-apa lagi, kau harus membantuku membalas dendam, aku bisa menghadapi Hie Tiong-gwee, tapi aku tidak dapat mengalahkan Tuan Kiam-ta."

"Musuhmu adalah musuhku juga, aku pasti akan membantumu membalas dendam, tapi Tuan Kiam-ta, apakah dia..."

"Tadi kau sudah dengar dengan jelas, pembunuhnya adalah Tuan Kiam-yan."

"Benar, yang ibumu katakan adalah Kiam-ta."

"Apa masih ada lagi yang kau curigai?"

"Menurutku, Tuan Kiam-ta bukan orang seperti itu walaupun dia dan Hie Tiong-gwee adalah teman lama, tapi dia beium tahu siapa Hie Tiong-gwee sebenarnya."

"Aku juga berpikir seperti itu, tapi tiba-tiba aku teringat kepada satu hal."

"Apa?"

Apakah kau tahu, antara Kiam-ta dan keluarga Tong bukan teman biasa, aku pernah mendengar dari ayah, anak kedua dari keluarga Tong yaitu Tong Keng-souw dan Kiam-ta adalah sahabat karib."

"Aku juga pernah mendengarnya dari kakek guru, aku juga tahu Tong Loji dengan Kiam-ta adalah saudara angkat. Karena Kiam-ta pernah menolong Tong Le-ji."

Dua puluh tahun yang lalu, Tong Lo-ji pernah salah melukai orang di kota Lok-yang dia adalah anak ketua Wan, bila bukan karena Kiam-ta yang menjadi perantaranya, Tang Lo-ji hampir mati di bawah serangan pisau LoWan.

Tiba-tiba Wie Thian-hoan bertanya.

"Hiat-kun, apakah kau curiga bahwa kematian ayahmu ada hubungannya dengan Kiam-ta?"

"Benar, dia adalah dewa penolong bagi Tong Loji, dia bisa memberikan racun keluarga Tong kepada Kiam-ta, itu tidak aneh."

Wie Thian-hoan terdiam, kepercayaannya kepada Kiam-ta mulai goyah, tapi dia masih berpikir, kemudian berkata.

"Itu tidak benar."

"Apa yang tidak benar?"

"Kemarin aku pernah bertarung dengan Tuan Kiam-ta, ilmu silatnya berada di bawah si baju hitam."

"Kemarin maiam pun Tuan Kiam-ta sudah bertarung dengan Coh Toako saat itu kau baru tiba."

"Aku tahu, bila si baju hitam sudah bertarung dengan Coh Thian-su, dia pasti masih bisa menerima 3 jurusku."

"Bayangan orang itu seperti Kiam-ta."

Benar, sampai sekarang yang mana yang palsu dan yang mana yang asli, aku pun tidak tahu."

"Untuk membuka rahasia tidak sulit, kita kuburkan dulu ibu, baru mencari tabib itu."

Kata Hiat-kun.

Benar-benar dia penjahat, atau pembunuh.

Yang benar atau yang salah, sulit ditebak Apa yang akan terjadi ?

---ooo0dw0ooo---Bab Tidak ada jejak Seperti benar seperti tidak tahu isi hati Bukan teman bukan musuh A.

Kecurigaan di dalam hati Hari sudah terang, Kie Su-giok turun dari gunung, hatinya sangat kacau Dia disuruh pulang oleh Wie Thian-hoan, tapi dia tidak berjalan menuju rumahnya, hatinya sangat kacau, dia berjalan sendiri.

Tiba-tiba dia baru sadar dia berjalan ke arah Lok-yang lagi.

Dalam hati dia berpikir, 'Wie Toako pergi untuk mencari kekasih lamanya, mengapa aku harus mengikutinya ke Lok-yang?' Tapi segera dia berpikir lagi, 'Mungkin Wie Toako hanya bertepuk sebelah tangan, walaupun Nona Kang adalah teman kecilnya, tapi sekarang dia sudah menjadi Nyonya Hie.

Kemarin Hie Tiong-gwee terluka dan dia bertarung mewakili suaminya.

Wie Toako terluka oleh pedangnya sendiri.

Memang benar dia tidak tega melukai Wie Toako dan kelihatannya Wie Toako masih mencintai dia.

Tapi cintanya tidak dapat menandingi cinta antara suami istri, bila tidak dia tidak akan tega melukai hati Wie Toako.

Wie Toako masih berharap dia dapat mencari bukti-bukti bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang jahat, apakah ini bukan disebut bertepuk sebelah tangan?"

Apakah benar bertepuk sebelah tangan? Hanya Hiat-kun yang bisa menjawab, sebenarnya Kie Su-giok juga bertepuk sebelah tangan.

"Walau bagaimana pun perlakuan Nona Kang terhadap Wie Toako tapi kalau datang ke Lok-yang sendirian sungguh berbahaya. Aku merasa tidak tenang. Bila aku tidak membantunya, siapa yang bisa membantunya? Aku akan secara sembunyi-sembunyi kembali ke Lok-yang."

Akhirnya dia kembali ke Lok-yang.

Keadaan menjadi begitu rumit, entah dengan cara bagaimana baru bisa membantu Wie Thian-hoan, dia tidak punya rencana apa-apa.

Dia sedang kebingungan, tiba-tiba dia melihat ada seseorang di jalan, orang itu menarik nafas dan berkata.

"Sebenarnya aku memberikan hati kepada sinar bulan, tapi sinar bulan menyinari sungai kecil. Benar-benar aku mencari kesulitan sendiri."

Kie Su-giok merasa kenal dengan orang ini, dilihatnya dengan seksama, dia ingat orang itu adalah salah seorang di antara para tamu Hie, tapi dia memihak kepada Wie Thian-hoan.

Kie Su-giok sangat senang dalam hati dia berpikir, 'Apa arti dari puisi yang dibacanya?

Dia memihak kepada Wie Toako, dia pasti teman Wie Toako.' Segera dia mempercepat langkahnya mendekati orang itu.

Orang itu ternyata adalah Coh Thian-su.

Coh Thian-su juga sudah melihat Kie Su-giok berjalan mendekatinya.

Kemarin bila dia bertemu dengan Kie Su-giok pasti akan senang seperti keadaan Kie Su-giok sekarang, sebenarnya semenjak kemarin dia ingin mencari Kie Su-giok.

Tapi hari ini sudah tidak sama, karena dia sudah tahu bahwa Hiat-kun adalah Sumoinya, juga tahu keadaan Hiat-kun dan Wie Thian-hoan, jadi tidak perlu bertanya lagi kepadanya Kemarin malam dia mendapat perlakuan 'air susu dibalas dengan air tuba', dia dihina oleh Wie Thian-hoan dan ditotok pula.

Benar-benar merugikan dia.

Wie Thian-hoan sangat sombong kejengkelannya masih terpendam di hati belum bisa dikeluarkan.

Jalan di gunung berliku-liku, Kie Su-giok meloncat dan menghalangi Coh Thian-su.

Kie Su-giok tidak mengerti aturan dunia persilatan, langsung berkata.

"Jangan takut, aku datang bukan untuk mencari gara-gara hanya ingin berbincang denganmu."

Coh Thian-su sedang tidak enak hati, dengan dingin dia berkata.

"Aku tidak kenal denganmu, apakah kau mempunyai pesan?"

Dalam hati dia berpikir, 'Meskipun kau cucu Kie Yan-gan, aku Coh Thian-su tidak takut kepadamu.' Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau tidak kenal denganku tapi aku mengenalmu."

Mendengar kata-katanya Coh Thian-su menjadi terkejut dan dalam hati dia berpikir, 'Ayah dan keluarga Kie sepertinya mempunyai suatu hubungan yang khusus, tapi aku tidak tahu hubungan seperti apa, lebih baik aku mendengarkan dulu kata-katanya.' Coh Thian-su sengaja bertanya.

"Kau mengenalku, kalau begitu coba jawab apa she ku dan siapa namaku?"

"Aku tidak tahu she dan namamu, tapi aku tahu kau adalah teman Wie Toako."

Sengaja Coh Thian-su bertanya.

"Siapa itu Wie Toako?"

Kie Su-giok menjadi terkejut, 'Apakah dia itu pikun atau pura-pura pikun?

Nama Wie Thian-hoan saja dia tidak kenal, tapi karena aku mempunyai kepentingan dengannya aku harus bersabar.' "Wie Toako dijuluki Hrn-thian-sin-liong, dia adalah orang yang membuat Hie Tiong-gwee batal menikah."

"Mengapa kau tahu bahwa aku adalah teman Hui-thian-sin-liong? Apakah dia yang memberitahumu?"

Tanya Coh Thian-su. Kie Su-giok sudah merasa bahwa Coh Thian-su sedang mempermainkannya, tapi dia tetap menahan diri.

"Karena semua tamu keluarga Hie mendukung Hie Tiong-gwee, hanya ada 2 orang yang tidak sependapat dengan Hie Tiong-gwee dan salah satunya adalah dirimu, bila kau bukan teman Wie Toako, kau tidak akan tanpa alasan membuat orang menjadi marah karena telah berpihak kepada Wie Toako."

"Aku selalu melihat masalah bukan melihat orang, tapi membantu yang benar, aku membantu orang itu bukan berarti aku harus kenal dengan orang itu."

Kata Coh Thian-su.

"Paling sedikit kau kenal dengan Wie Thian-hoan."

Dia sudah mulai jengkel. Coh Thian-su ingat bahwa Wie Thian-hoan pernah menghina dia, langsung dia tertawa dan berkata.

"Bila kau berpendapat seperti itu, aku tidak bisa berkata apa-apa."

"Kalau begitu apakah kau bisa memberitahuku kabar mengenai Wie Toako..."

"Kau salah mencari orang."

"Bukankah kau baru dari Lok-yang?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku kira kau adalah temannya, mungkin bisa tahu keadaannya, karena itu aku bertanya, bila kau tidak tahu, tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku!"

Kata Coh Thian-su.

"Aku harus bagaimana terhadapmu? Apakah harus menjilatmu?"

Kie Su-giok dengan marah berkata.

"Mengapa kau begitu tidak sopan? Siapa yang mau kau jilat? Kau berteman dengan Wie Thian-hoan, paling sedikit bersikap sopanlah, apakah kau tidak tahu..."

"Aku tahu hubunganmu dengan Hui-thian-sin-liong, tapi bukan aku yang bersalah."

"Dimana salahku?"

Dengan dingin Coh Thian-su menjawab.

"Hui-thian-sin-liong adalah orang terkenal, aku mana bisa menandinginya. Bila kau ingin mencari teman Hui-thian kau salah mencari orang, aku bukan temannya, dengan temannya pun aku tidak berani berkenalan."

Kie Su-giok dari kecil disayang oleh kakeknya, dia sangat manja dan senang berbuat sesuka hati, belum pernah dia dipermainkan oleh orang lain.

Dia adalah orang yang sangat lincah, begitu melihat Coh Thian-su marah dia sudah tahu kejadian sebenarnya.

Terpaksa dia berkata.

"Baiklah! Kau bukan teman Wie Toako, kau tidak mau memberitahu keberadaan Wie Toako, apakah dia pernah menyinggung perasaanmu?"

"Tidak perlu mengurusi masalah orang lain!"

Kie Su-giok sudah tidak tahan lagi akhirnya dia marah.

"Dia bersalah kepadamu, tapi aku tidak!"

"Memang kau tidak bersalah kepadaku, tapi aku pun tidak berhutang kepadamu. Nona, aku tidak suka bicara denganmu, apakah itu tidak boleh?"

Wajah Kie Su-giok menjadi pucat dan berkata.

"Tidak boleh! Bila kau tidak menjelaskannya, aku tidak akan melepaskanmu."

Coh Thian-su tertawa dingin.

"Aku ingin tahu kau akan memakai cara apa menyuruhku untuk tetap tinggal?"

Sambil tertawa dia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melewati kepala Kie Su-giok.

Kie Su-giok mengibaskan lengan baju dan menggulung kakinya, dia mengeluarkan ilmu silat turun temurun dari keluarganya yaitu 'Lo-ie-tiat-siu'.

Coh Thian-su sudah tahu Kie Su-giok akan mengeluarkan jurus ini, di tengah-tengah udara dia membalikkan tubuh, dua telapak tangan beradu, terdengar suara 'Bek'.

Lengan baju tidak dapat menggulung dia.

Coh Thian-su pun tidak dapat mengelak dari serangan Kie Su-giok.

Tenaga dalam telapak tangannya beradu dengan kibasan lengan baju Kie Su-giok, begitu Coh Thian-su turun Kie Su-giok sudah menghalangi jalannya lagi.

Coh Thian-su marah dan berkata.

"Belum pernah aku melihat orang sepertimu begitu tidak tahu aturan dari tadi sudah kukatakan aku tidak pernah tahu mengenai Hui-thian. Sekarang kau minggirlah!"

"Tidak bisa!"

"Baiklah! Aku tidak akan sungkan lagi!"

Segera dia mengeluarkan ilmu dari keluarganya yaitu ilmu pena menotok urat nadi.

Kie Su-giok memutar-mutar lengan baju tangan kirinya ke arah belakang pundak Coh, seperti seekor ular ingin mencekik leher Coh Thian-su.

Coh Thian-su mengerakan tangannya mencoba menangkap lengan baju Ki dan mengbalikkannya.

Tapi lengan baju kanan Ki juga membantu gerakan, lengan baju kanannya digerakan mengarah ke belakang lehernya, Coh Thian-su membungkukan tubuh, dengan tubuh miring, dia menusuk, menotok titik nadi di ketiak.

Kie Su-giok menggulung lengan baju sebelah kanan.

Kali ini dia memakai lengan baju sebagai pecut tetap menyerang ke bagian leher Coh Thian-su.

Coh Thian-su tetap tidak mengganti jurus, dia meneruskan gerakannya dengan lengan bajunya yang panjang, dan jan pendek di gerakan, bila jari berhasil menotok nadinya, lehernya juga akan dijerat oleh jurus Ting-coa-can-su' ( ular rotan melilit pohon).

Dua belah pihak masing-masing mengeluarkan jurus andalan keluarga masing-masing, sebentar saja mereka sudah mengeluarkan 30 hingga 50 jurus.

Lengan baju Kie Su-giok bisa dijadikan pecut juga bisa untuk menyapu debu dan menotok jalan darah, jurus menotok jalan darah ini di dunia persilatan sangat jarang dan sudah dianggap sebagai ilmu gaib.

Lengan baju itu masih bisa dipakai seperti pisau begitu dikibaskan, angin sangat kencang seperti sebuah pisau baja.

Tapi jari Coh Thian-su juga seperti pena, jurusnya sangat aneh, dalam jurus Poan-koan-pit sebenarnya terdapat istilah bila senjata lebih pendek 1 inchi maka lebih bahaya 1 inchi lagi.

Pertarungan sangat sengit, lengan baju Kie Su-giok sudah berlubang ditotok oleh Coh Thian-su.

Coh Thian-su berteriak.

"Apakah kau masih belum mengaku..". 'Kalah' kata ini belum dikeluarkan, lengan baju Kie Su-giok sudah dikebutkan ke tangan kiri Coh Thian-su. Coh Thian-su saat itu sedang menggunakan jurus Si-siung-tiauw-hoan-in (Dada kecil membalik awan), sudah dikeluarkan bisa terasa desiran anginnya kira-kira 15 meter.

"Pena saktimu memang hebat, tapi jurus Liu-in-hui-siu (awan mengalir lengan baju beterbangan) ku pun tidak kalah hebatnya,"

Kata Kie Su-giok dengan tertawa.

Sebenarnya bila Coh Thian-su memegang Poan-koan-pit, ujung penanya pasti sudah melubangi lengan bajunya dan bisa menotok nadinya, mana mungkin dapat dikibaskan dengan lengan baju Kie Su-giok?

Tapi, Coh Thian-su malas meributkan menang atau kalah, dia hanya heran Kie Su-giok dapat mengenali serangan penanya Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kita masing-masing sudah dirugikan, kita hitung seri saja, seharusnya kita menjadi teman, tidak perlu bertarung lagi!"

"Aku tidak mengerti maksudmu?"

"Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung itu siapamu? Kalau tidak salah dia adalah ayahmu, apakah benar?"

"Tebakanmu benar, memangnya mengapa?"

"Bila benar, kau adalah putranya, seharusnya kau tahu hubungan keluarga kita seperti apa kakekku adalah Kie Yan-gan."

Dia sudah menyebut nama kakeknya, Coh Thian-su tidak enak berkata macam-macam lagi Coh Thian-su hanya berkata.

"Ki Cianpwee sudah terkenal lama, tapi aku tidak tahu ada hubungan apa di antara keluarga kita."

"Apakah ayahmu tidak pernah bercerita mengenai ini?"

"Tidak pernah."

Kie Su-giok sepertinya tidak percaya.

"Apa benar ayahmu belum pernah cerita? Mengapa kau bisa tahu nama kakekku?"

"Ayahku pemah memberitahu nama besar kakekmu. Dia mengatakan bahwa ilmu silat kakekmu adalah nomor satu di dunia persilatan, tapi belum pernah mengatakan apa hubungannya dengan kakekmu?"

Kie Su-giok mengerutkan dahi dan berkata.

"Apakah hanya itu?"

Coh Thian-su berpikir sebentar dan berkata.

"Mendengar kata-kata ayahku, sepertinya dia kenal dengan kakekmu tapi dia sadar tingkatan dia lebih rendah maka dia tidak berani mengatakan bahwa dia adalah teman kakekmu."

Coh Thian-su tidak bohong, tapi dia menutupi apa yang dia tahu.

Mengenai Kie Yan-gan dia hanya tahu sebanyak itu, tapi dia pun mendengar berita mengenai ibu tirinya.

Ibu kandungnya sudah meninggal, ayahnya menikah lagi pada saat dia berumur 7 tahun.

Saat itu adalah saat Ceng-beng ( waktu ziarah ke kuburan ), ibu tirinya baru masuk ke dalam keluarganya sekitar 1 bulan, ayah membawa nyonya barunya dan bersembahyang kepada istrinya yang sudah meninggal, Coh Thian-su pun ikut pada waktu itu.

Ibu tirinya sangat baik terhadapnya, waktu itu dia berusia 7 tahun terhadap ibu barunya ini dia sangat iri.

Setiba di kuburan ibunya, dia sembahyang kemudian pergi mencari jangkrik.

Dia mencari jangkrik di balik semak-semak, terdengar ibu tirinya menarik nafas.

Dia iri karena ayahnya lebih sayang kepada ibu barunya.

Mendengar ibu tirinya menarik nafas, dia merasa aneh, 'Ayah sangat sayang kepadanya, mengapa dia masih belum puas?' Dia terus mendengar, ayah ibunya tidak tahu dia menguping.

Kata ibu tirinya.

"Dengar-dengar katanya dia (lelaki) sudah mati."

Kata ayahnya.

"Apakah karena hari ini kau sembahyang kepada istriku jadi teringat kepadanya (bekas kekasihnya)?"

Ibu tirinya mengatakan sesuatu tapi dia tidak dapat mendengar, hanya mendengar ayahnya juga ikut menarik nafas dan berkata.

"Masalah hari itu aku dan kau tidak menyangka bakal terjadi, walau dia tidak baik, tapi dia tetap..."

Ibu tirinya seperti marah dan berkata.

"Aku tidak menyesal menikah denganmu!"

Dengan lembut ayahnya berkata.

"Bila mengenal seseorang yang penting hatinya, artinya kau berkorban sedemikian besar untukku, aku tahu di antara kita tidak perlu merasa sungkan lagi."

Kata ibu tirinya.

"Song Koko, terima kasih sudah mempercayaiku."

"Karena itu jangankan sudah meninggal walaupun dia masih hidup bila kau merindukannya, aku tidak akan menyalahkanmu."

"Aku pun bukan orang yang tidak punya perasaan, tapi perasaan ini kepadanya dengan perasaanku kepadamu tidak sama."

Ayah sepertinya sangat senang dan dia berkata;

"Adik, aku mengerti."

Mereka berdua terdiam, hanya Coh Thian-su yang bertanya-tanya.

"Ibu baruku mengatakan tentang seseorang, siapa dia? Mengapa berkata seperti itu di depan kuburan ibuku?"

Setelah lama baru terdengar suara ayahnya.

"Menurut orang-orang, kepandaian pak tua itu nomor satu di dunia persilatan, apakah benar?"

"Pepatah mengatakan 'di luar langit masih ada langit', orang yang memiliki ilmu silat paling tinggi, pasti masih ada yang lebih tinggi lagi. Apakah ilmu silat pak tua itu paling tinggi, aku tidak tahu. Tapi menurutku memang dia tidak terkalahkan. Aku hanya belajar 3 jurus silat dari keluarganya, tapi 3 jurus ini sudah dua kali menolong diriku, kejadian itu tentu kau sudah tahu."

"Aku tahu, kalau begitu walaupun pak tua itu bukan nomor satu, tapi dapat dikatakan ilmu silatnya sangat tinggi hingga tidak dapat diukur."

Ibu tirinya tertawa dan berkata.

"Apakah kau takut pak tua itu mencarimu?"

"Kita bisa menjadi suami istri, walaupun mengalami banyak rintangan, aku tidak menyesal, hanya takut kau..."

Ibu tirinya tertawa dan berkata.

"Song Koko, jangan khawatir, dia mempunyai kesan baik terhadapmu juga pernah memujimu."

Ayahnya seperti terkejut dan berkata.

"Apakah benar? Apa katanya?"

"Dia mengatakan ilmu silatmu sangat baik, orangnya pun baik, bila dia punya anak sepertimu, dia akan sangat senang."

Ayahnya tertawa kecut.

"Sayang aku tidak bisa menjadi putranya, pada saat dia berkata seperti itu, dia belum tahu..."

"Benar, waktu itu dia belum tahu."

"Apakah dia sekarang sudah tahu?"

Ibu tirinya tertawa dan berkata.

"Kau juga tidak perlu takut, dia menyayangiku seperti putrinya sendiri, aku percaya dia tidak akan menyusahkan ku, sekarang aku adalah istrimu, aku percaya dia juga sayang kepadamu."

Coh Thian-su keluar dari semak-semak, pembicaraan ayah dan ibunya sudah berhenti.

Coh Thian-su adalah anak yang cepat dewasa walaupun dia tidak mengerti urusan pria dan wanita, tapi dia sudah tahu mana yang boleh dan tidak boleh ditanyakan.

Yang dimaksud ibu tirinya itu entah laki-laki atau perempuan, tua atau muda, dia tidak tahu, dia hanya tahu orang itu sudah meninggal dan ibu tirinya masih merindukan orang itu.

Dia tidak berani bertanya kepada ayahnya, lapi dia ingin tahu.

Dia ingin tahu siapa yang dianggap sebagai pesilat nomor satu di dunia persilatan.

Pada hari kedua dia mendapat kesempatan, waktu itu ibu tinnya tidak berada di sisi ayahnya, dia segera bertanya kepada ayahnya.

Ayahnya hanya bengong dan menjawab.

"Kita belajar ilmu silat, semua ada kelebihan dan kekurangan, sulit dikatakan siapa yang disebut nomor satu."

Coh Thian-su kecil sangat marah dan berkala.

"Ayah bohong!"

"Aku bohong apa?"

"Kemarin aku mendengar ayah bicara dengan ibu baru mengenai pak tua itu, katanya pak tua itu adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan."

"Kau masih mendengar apa lagi?"

"Aku hanya mendengar itu saja."

Ayahnya tahu dia berbohong, tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa, hanya berkata.

"Baiklah, aku akan memberitahumu, walaupun kemarin kau sudah mendengar, kau tidak boleh memberitahu kepada orang lain."

"Asalkan ayah tidak berbohong, aku tidak akan sembarang bicara kepada orang lain."

Ayahnya tertawa kecut dan berkata.

"Dasar anak nakal, aku tidak punya cara menghadapimu."

Sebenarnya ayahnya tidak berbohong, orang itu di dalam hatinya adalah dianggap pesilat nomor satu, tapi apakah dia benar-benar pesilat nomor satu di mata orang lain, dia tidak tahu.

Ini adalah pertama kalinya dia mendengar nama Kie Yan-gan, keluar dari mulut ayahnya Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Kie Yan-gan itu siapa?"

Ilmu silat Kie Yan-gan yang diceritakan ayah hampir sama dengan cerita yang dibicarakan oleh ibu tirinya.

Tidak kurang tidak lebih, satu-satunya yang diperoleh Coh Thian-su adalah nama 'Kie Yan-gan'.

Coh Thian-su ingin tahu lebih banyak maka dia bertanya lagi.

"Ayah, Kie Yan-gan itu tinggal di mana?"

Ayahnya marah dan berkata.

"Aku tidak tahu! Mengapa kau menanyakan hal ini?"

"Ayah, aku hanya ingin berkenalan dengannya. Ilmu silatnya nomor satu, bila dia tidak mau mengajarkanku tidak apa-apa yang penting aku bisa berkenalan dengannya."

Setelah ayahnya mendengar kata-kata Coh Thian-su, dia sangat pdak senang "Kau tidak boleh mencari dia, walaupun nanti kau bisa bertemu dengannya di dunia persilatan, kau tidak boleh bilang bahwa kau adalah anakku."

Hati Coh Thian-su penuh dengan pertanyaan, dia bertanya.

"Mengapa?"

"Aku tidak mau kau naik status sosial karena kenal dengan pesilat nomor satu di dunia persilatan."

"Bila dia yang bertanya dulu mengenai keadaan keluargaku dan aku menyebut namaku, apakah itu juga disebut naik status sosialnya?"

Ayahnya marah dan berkata.

"Tidak boleh kau katakan, kau harus menurut, jangan banyak tanya lagi."

Ayahnya sangat marah, Coh Thian-su sangat kesal dan hampir menangis. Ayahnya merasa bersalah dan berkata.

"Main sana, jangan tanya-tanya lagi!"

Ayahnya menarik nafas dan berkata.

"Anak ini seperti aku waktu kecil, sangat berpegang teguh pada pendapatnya sendiri."

Mata Coh Thian-su kecil sudah berkaca-kaca, dia tidak mau bicara juga tidak pergi bermain. Kata ayahnya.

"Sekarang kau tidak mengerti kata-kata ayah, kelak kau akan mengerti."

Coh Thian-su mendengar ibu tirinya marah kepada ayahnya.

"Anakmu mirip denganmu, apakah itu tidak baik? Jangan galak terhadapnya!"

Ayah terdiam. Kata ibu tirinya.

"Kau tidak perlu khawatir, pak tua itu hampir berusia 70 tahun. Pada saat Thian-su berkelana di dunia persilatan, walaupun pak tua itu masih hidup dia tidak akan berkelana lagi, tidak perlu khawatir bila Thian-su bertemu dengannya."

Ibu tirinya sangat baik terhadapnya, Coh Thian-su semakin hari semakin berkurang rasa permusuhan kepada ibu tirinya, tetapi dua pertanyaan itu tetap tersimpan di dalam hatinya Pada saat dia sudah semakin dewasa dia lebih-lebih tidak berani bertanya lagi kepada ayahnya Tidak disangka, dia tidak bertemu dengan Kie Yan-gan malah bertemu dengan cucunya "Kakekku tidak akan bicara seperti itu."

Kata Kie Su-giok.

"Lalu bagaimana dia akan bicara?"

"Ayahmu selalu menganggap dia hebat, kakekku menganggap bahwa ayahmu adalah teman baiknya."

"Apakah mereka begitu bersahabat?"

"Baru pertama kali berjumpa tapi sudah seperti teman lama."

"Apakah mereka sangat akrab?"

Tapi hatinya masih ragu, 'Bila benar seperti yang dia katakan, mengapa ayah harus mengelak dia kenal dengan kakek Kie Su-giok?

Hingga takut bila aku bertemu dengan kakeknya bahkan tidak mengijinkan aku mengakui sebagai anak ayah.' Sepertinya Kie Su-giok tahu pikiran Coh Thian-su, kemudian dia berkata.

"Pepatah ini sangat cocok untuk kakek dan ayahmu, hanya bertemu sebanyak 2, 3 kali tapi kakek sering berkata bahwa orang yang terkenal di dunia persilatan bila mempunyai teman seperti ayahmu sungguh membanggakan, kakek pun sering memuji bahwa ilmu silat ayahmu bagus, orangnya baik, tapi sayang dia tidak mempunyai anak sebaik ayahmu!"

Kie Su-giok tertawa dan berkata lagi.

"Anak kakek adalah ayahku, kau harus percaya aku tidak membuat berita burung, merendahkan ayahku sendiri dan mengangkat tinggi ayahmu."

Sebenarnya, dia tidak membuat berita burung, ini hanya ungkapan pikirannya.

Sebenarnya dia tidak tahu apakah kakeknya pernah bertemu dengan ayah Coh Thian-su.

Pada waktu dia mendengar nama Coh Kim-sung pertama kali adalah pada saat berumur 7 tahun.

Hari Ceng-beng bagi keluarganya tidak mempunyai arti khusus.

Kampung halamannya sangat jauh, makam nenek moyangnya semua berada di sana.

Di sini tidak ada yang bisa disembahyangkan.

Walaupun tidak sembahyang tapi hari itu tidak seperti hari-hari biasanya.

Pada hari Ceng-beng, wajah kakeknya selalu gelap dan selalu diam, kadang-kadang dalam sehari tidak mengatakan sepatah kata pun Ceng-beng tahun itu kakeknya pun seperti tahun-tahun biasanya, minum arak sendirian.

Yang tidak sama pada tahun itu adalah kakeknya mengatakan beberapa kalimat.

Paman Ting berbincang-bincang dengan kakeknya, pada saat berkata 'tuan muda', kakek sudah berteriak.

"Apakah kau sudah lupa dengan pesanku? Tidak boleh bicara tentang ayah Su-giok di depanku!"

Paman Ting menundukkan kepalanya dan berkata.

"Aku bukan berkata 'Siauya', yang aku katakan tadi adalah orang yang ada hubungannya dengan Siauya..."

Kakek terdiam, tiba-tiba dia mengerti maksud Paman Ting. Kakek berkata.

"Yang kau katakan adalah..., baiklah, aku juga ingin tahu di mana dia berada sekarang, apakah kau tahu kabarnya?"

"Ada yang mengatakan dia berada di Yang-ciu di keluarga Coh."

"Apakah keluarga Coh di Yang-ciu yang terkenal dengan ilmu totok nadinya?"

"Katanya mereka dalam 3 generasi hanya mempunyai anak tunggak 4 pena totok dan titik, sepertinya hanya nama saja "

"Bila ada satu orang yang bisa menggunakan dengan dua pena menotok 4 nadi pasti dia adalah jago silat penotok nadi nomor satu, sepertinya Coh saja yang bisa ilmu totok ini, tapi aku tidak pernah melihatnya."

Kata Paman Ting.

"Kehebatan pena Coh Kim-sung, aku pernah melihat beberapa jurus bila ada waktu aku akan memperlihatkannya kepada tuan."

Sepertinya Paman Ting ingin bercerita tentang ilmu silat tapi kakek tampaknya tidak tertarik, kakek mengerutkan dahi dan berpikir lama lalu bertanya.

"Dia itu siapanya keluarga Coh?"

Pertanyaan ini sangat tiba-tiba, tidak ada hubungannya dengan pembicaraan sebelumnya. Tapi Paman Ting sepertinya mengerti karena dia segera menjawab.

"Dia adalah Coh Kim-sung."

Kie Su-giok menjadi aneh dalam hatinya dia berpikir, Kakek sudah pikun, tadi baru bercerita tentang Coh Kim-sung bahwa dia adalah satu-satunya keluarga Coh yang bisa menggunakan pena sakti, mengapa bertanya lagi dia adalah siapanya keluarga Coh.' Waktu itu dia baru berumur 7 tahun dan Wie Thian-hoan belum datang ke rumahnya, dia baru senang dengan ilmu silat setelah Thian-hoan datang.

Pada waktu dia ingin bermain di tempat lain, tiba-tiba dia mendengar kata-kata kakeknya yang aneh.

"Baik, sangat baik, dia benar-benar punya pandangan yang baik!"

"Apakah kita harus mencari Coh Kim-sung?"

Tiba-tiba kakek melotot, dia membanting gelas araknya dan berkata.

"Untuk apa mencari Coh Kim-sung? Dia unggul dalam ilmu silat, dia orang baik, menurutku dia unggul dalam segala hal, aku tidak mau mencari dia, kau juga tidak boleh mencarinya!"

Ini membuat Kie Su-giok bertambah aneh terhadap kakeknya.

"Coh Kim-sung adalah orang yang unggul dalam segala hal, mengapa tidak boleh mencarinya?"

Kata-kata kakeknya bertambah aneh, hanya mendengar kakeknya menarik nafas dan berkata.

"Sayang, aku tidak mempunyai putra seperti Coh Kim-sung, jangan salahkan dia, jangan salahkan dia!"

Kakek menghela nafas panjang, dia menundukkan kepala dan minum arak lagi.

Su-giok pernah bertanya kepada kakeknya apa yang tidak dimengerti olehnya tapi kakek tidak menjawabnya malah melarang dia berbicara hal-hal yang menyangkut keluarga Coh.

Hingga tahun kemarin pada saat dia ingin keluar jalan-jalan, kakek baru bercerita Tapi kakek tidak menghapus larangannya, malah mengingatkan larangannya.

"Apakah kau keluar untuk mencari Thian-hoan?"

Tanya kakek sambil tertawa. Wajah Kie Su-giok memerah, dia tidak menjawab hanya tertawa.

"Aku tidak melarangmu mencari Thian-hoan tapi karena umurmu masih kecil dan Thian-hoan pernah berkata, paling lambat tahun depan dia akan pulang, bila dia tidak pulang baru kau boleh mencarinya,"

Kata kakek. Dia setuju tapi dengan terpaksa, kakeknya tahu tentang itu, kemudian kakek tertawa dan berkata.

"Kau jangan melarikan diri."

Segera Su-giok menjawab.

"Belum tentu."

"Aku tahu kau akan menjawab seperti itu, tapi kau sudah mengatakannya dulu, itu lebih baik."

Dengan manja dia berkata.

"Kakek, kau tahu aku akan melakukannya, lebih baik kakek ljmkan aku pergi."

Kakek sengaja memasang wajah seram dan berkata.

"Tidak boleh. Kau tidak boleh tawar menawar, tapi bila kau melarikan diri, ada sebuah syarat yang harus kau tahu."

"Apa?"

"Tidak boleh berteman dengan keluarga Coh di Yang-ciu."

Segera dia teringat kepada pembicaraan kakek waktu dia masih kecil, dia berkata.

"Kakek, kau berkata keluarga Coh di Yang-ciu adalah keluarga pesilat, dan orang yang bernama Coh Kim-sung adalah orang yang berkualitas baik, ilmu silatnya pun baik."

"Benar, walaupun keluarga Coh sangat baik tapi aku tidak ingin kau berteman dengan mereka, bila aku sudah meninggal, tanyakanlah kepada Paman Ting."

Dia setuju, tapi tetap merasa sangat eneh.

Sekarang dia sudah bertemu dengan salah satu keluarga Coh, orang itu adalah Siauya keluarga Coh.

Walau ilmu silat kakeknya nomor satu tapi dia tidak mengerti perasaan anak muda.

Anak muda selalu melakukan hal yang dilarang oleh orang tua, apalagi bila orang tua tidak bisa menjelaskan alasannya.

Walaupun Su-giok bukan anak-anak tapi rasa ingin tahunya masih seperti pada saat dia masih kecil.

Pertama, dia ingin tahu antara dia dan keluarga Coh ada hubungan apa.

Kedua, dia ingin mencari Wie Toako dan orang yang berada di hadapannya adalah Siauya keluarga Coh, dia bisa meminta menolongnya.

Kakek tidak mengijinkan' berteman dengan keluarga Coh, dia malah sengaja berteman dengan Coh Thian-su.

Setelah Kie Su-giok menceritakan hubungan antara dua keluarga mereka yang sudah ditambah bumbu-bumbu, dengan tertawa dia berkata.

"Kakekku belum pernah memuji orang lain kecuali ayahmu, aku berkata bahwa kakek menganggap ayahmu adalah teman akrabnya, aku ndak salah bukan?"

Kata Coh Thian-su.

"Pahlawan dunia persilatan sangat bangga bila dipuji oleh kakekmu, bila ayahku tahu dia dipuji oleh kakekmu, dia akan sangat senang. Terimalah rasa hormatku!"

Orang tua kedua belah pihak sudah saling mengenal, Coh Thian-su harus menuruti aturan dunia persilatan. Su-giok tertawa dan berkata.

"Mengapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? Baiklah, kau mewakili ayahmu, mengaku dia berada di bawah kakek, artinya kita satu derajat bukan?"

Terpaksa Coh Thian-su menjawab.

"Benar!"

Kata Coh Thian-su lagi.

"Terima kasih Nona sudah menghargaiku, tapi..."

Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau mulai lagi, apakah kau seperti ayahmu selalu bicara tidak sama derajat sosialnya. Aku hanya ingin bertanya, apakah aku pantas menjadi temanmu?"

Hati Coh Thian-su masih banyak pertanyaan, dia juga ingin tahu kata-kata dari ibu tirinya bahwa kakek Su-giok menganggap dia seperti anak perempuannya, tapi dia tidak mengatakan hubungan antara ayah dan kakeknya, bila dia tidak kenal dengan Su-giok tak pantas untuk bertanya kepada Su-giok.

Kemarahan Coh Thian-su sudah mulai berkurang, dia juga merasa tidak boleh melampiaskan kekesalannya kepada Su-giok.

Segera dia tertawa dan berkata.

"Baiklah, kita berteman."

"Kalau begitu kau harus memberitahu kabar mengenai Wie Thian-hoan? Aku menanyakan ini karena aku sekarang adalah temanmu."

Coh Thian-su menatapnya dan berkata.

"Lebih baik kau jangan tahu."

"Mengapa?"

"Karena kau memang tidak perlu mencarinya lagi."

"Apa arti dari kata-katamu?"

"Apakah kau benar ingin tahu?"

"Aku ingin tahu, tapi kau harus menceritakannya dengan jelas. Kau sudah menganggapku teman, kau tidak bisa mungkir lagi."

Coh Thian-su tertawa kecut dan berkata.

"Baiklah, aku akan jujur menceritakan semuanya, Wie Toako mu sudah pergi dengan perempuan lain."

"Apakah dia Hiat-kun?"

Coh Thian-su mengangguk.

"Kau tahu dari mana?"

"Kemarin malam aku melihat mereka pergi dari kediaman Hie."

"Kau ada perlu apa pergi ke rumah Hie?"

Coh Thian-su tidak suka Su-giok banyak tanya, tadinya dia ingin berkata, 'Ini adalah masalahku, kau tidak perlu tahu!' Tapi Coh Thian-su tahu Kie Su-giok mempunyai sifat seperti itu, bila dijawab, masalah akan ditanyakan terus, karena itu Coh Thian-su hanya diam.

Coh Thian-su hanya diam, tapi Kie Su-giok tetap memaksa bertanya.

Tiba-tiba Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau tidak mau bicara, tapi aku sudah tahu lebih baik kau katakan saja, bila aku yang menceritakannya, kau akan malu."

"Kau tahu apa?"

"Kau ke sana untuk mencari Hiat-kun, apakah benar? Aku sudah tahu di aula tadi kau begitu perhatian kepada pengantin orang lain."

"Jangan bicara sembarangan!"

Kata Coh Thian-su. Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Pengantin perempuan sangat cantik, aku saja senang melihatnya, apa lagi kau!"

Coh Thian-su menarik nafas dan berkata.

"Baiklah, aku akan memberitahumu, supaya kau tidak salah sangka, Hiat-kun adalah Sumoiku, aku juga baru tahu setelah tiba di Lok-yang."

"Kalau begitu kau ke sana untuk bertemu dengan Sumoimu, waktu ada di kamar pengantin, apakah di sana ada Wie Toako?"

"Tidak, aku bertemu dengan Sumoi dulu."

"Aku sudah tahu, karena Wie Thian-hoan melihatmu dengan Hiat-kun, dia tidak suka, kemudian dia mengusirmu dan dia yang membawa Hiat-kun pergi, apakah begitu?"

Dengan marah Coh Thian-su berkata.

"Tidak benar, hanya tertebak sebagian, aku dan Hiat-kun dihalangi oleh teman-teman Hie Tiong-gwee dan Wie Thian-hoan membantu Hiat-kun lari dari keluarga Hie"

"Apakah Wie Toako bisa mengalahkan mereka?"

"Ya!"

"Apakah kau bersama-sama dengan mereka melarikan diri?"

"Hiat-kun sudah ditolong oleh orang terkenal yaitu Hui-thian-sin-liong, dia sudah tidak memerlukan aku lagi."

Sengaja Kie Su-giok bertanya.

"Lalu bagaimana?"

"Maksudmu?"

"Apakah mereka berhasil lari dari keluarga Hie? Bila mereka berhasil keluar dari sana, tentu ada sarnbungan ceritanya."

Coh Thian-su mengerutkan dahi dan berkata.

"Akhirnya terjadi apa, aku tidak tahu"

"Kau tidak tahu, tapi aku tahu"

"Kau tahu apa?"

"Kau pingsan karena ditotok oleh Wie Toako, bila tidak kau sudah ditangkap oleh teman-teman Hie Tiong-gwee dan kau meminta kepada Hie Tiong-gwee agar dia melepaskanmu, kalau tidak..."

Coh Thian-su jadi ingin tertawa, agar tidak keliru Coh Thian-su menjelaskan.

"Kau jangan membuat-buat cerita aku tidak tahu akhirnya terjadi apa, karena ketika aku tidak siaga, Wie Thian-hoan menotokku."

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Keluarga Coh dari Yang-ciu terkenal dengan pena sakti penotok nadi, malah kau yang ditotok, pantas kau begitu marah."

Dua kata ini tepat mengenai perasaan Coh Thian-su, membuat Coh Thian-su bertambah marah. Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau jangan marah, tadi aku sudah sembunyi-sembunyi memperhatikan caramu menotok orang. Nanti bila bertemu dengan Wie Thian-hoan, aku akan balas menotoknya, membalaskan dendammu!"

"Apa hubungannya denganku?"

"Kita sekarang adalah teman baik, aku menotok dia sama juga dengan bila kau yang menotoknya, kemudian aku akan memarahinya kan ini cara balas dendam kepadanya."

"Kau jangan bercanda!"

"Aku tidak bercanda, aku akan balas dendam untukmu. Jadi kau harus membantuku mencari mereka!"

"Aku sudah memberitahumu bahwa mereka sudah melarikan diri, aku benar-benar kagum kepadamu, masih bisa tertawa."

"Apakah aku harus menangis?"

"Kakakmu pergi dengan perempuan lain, kau tidak sedih?"

"Aku tahu mereka tidak kawin lari, walaupun dia mencintai adikmu, aku pun harus memberi selamat kepada mereka, mengapa aku harus sedih?"

Dia tidak berpura-pura demi Wie Thian-hoan, dia rela berkorban. Bila dibilang tidak sedih, itu bohong, dia hanya tidak mau diketahui oleh orang yang baru dia kenal.

"Apakah mereka kawin lari? Aku tidak tahu, mereka hanya pergi bersama, aku ingin membantumu tapi harus mencari mereka ke mana?"

"Aku percaya dan yakin bahwa mereka masih di kota Lok-yang."

"Karena apa?"

"Karena Wie Toako masih ingin membalas dendam ayahnya."

Coh Thian-su baru mengerti dan berkata.

"Pantas! Hui-thian-sin-liong tahu bahwa Hie Tiong-gwee adalah musuhnya. Pantas dia membuat aula bercipratan darah tapi mengapa dia tidak langsung membunuhnya?"

"Sudah lama Wie Toako curiga kepada Hie Tiong-gwee, tapi belum mendapat bukti yang kuat, dia ingin Hiat-kun membantunya mencari bukti yang kuat."

"Kukira Hiat-kun adalah kekasih lamanya."

Tiba-tiba dia teringat pada saat mereka bertemu, sikap Wie Thian-hoan penuh dengan rasa cemburu, dia pikir lagi.

"Membalaskan dendam ayahnya dan bertemu kekasih lama memang tidak sama, tapi tentu saja bisa bersama-sama menjalankannya."

Dia merasa aneh kepada dirinya sendiri, mengapa dia berharap Sumoinya bukan kekasih lama Hui-thian-sin-liong? Kie Su-giok tertawa kecut dan berkata.

"Aku tidak tahu, apakah Hiat-kun adalah kekasih lamanya, aku hanya tahu bahwa Wie Toako sekarang bisa memastikan bahwa Hie Tiong-gwee adalah musuhnya."

"Mengapa kau bisa mempunyai pikiran seperti itu?".

"Bila tidak, dia tidak akan membawa Hiat-kun lari, Hiat-kun pun tidak akan mau mengikutinya untuk keluar dari kediaman Hie Tiong-gwee."

Sebenarnya dia hanya menghibur dirinya sendiri, dia percaya bahwa Wie Toako ingin membalas dendam untuk ayahnya dulu, baru lari dengan Hiat-kun. Kata Kie Su-giok lagi.

"Karena mereka sudah keluar dari rumah Hie Tiong-gwee tapi dendam belum dibalas Wie Toako tidak akan lepas tangan."

"Karena itu kau memperkirakan mereka belum meninggalkan Lok-yang?"

"Hie Tiong-gwee adalah orang terkenal di Lok-yang bila dia dibunuh oleh Wie Toako, Lok-yang akan gempar, keluarga Hie pun harus menjaga rahasia ini dan paling hanya bisa bertahan selama dua hingga tiga hari."

"Apakah kau ingin aku menemanimu kembali ke Lok-yang?"

"Keluarga Hie terkenal dan mempunyai kekuasaan, setelah terjadi peristiwa kemarin, pasti penjagaan akan lebih kuat. Ilmu silat Wie Toako walaupun sangat tinggi belum tentu dengan mudah dapat membalas dendam. Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi aku dan dia tumbuh bersama, aku khawatir bila dia hanya seorang diri di Lok-yang, itu sangat berbahaya."

Coh Thian-su ingin berkata.

"Mereka berdua sekarang!"

Tapi dia tidak tega melukai hati Kie Su-giok, dia berkata.

"Apakah kau ingin demi dirimu aku membantu Wie Thian-hoan?"

"Aku tidak mau memaksamu untuk melakukannya."

Dengan ringan Coh Thian-su berkata.

"Orang terkenal seperti Hui-thian-sin-liong, tidak mungkin dia dibantu oleh orang lain, apalagi aku adalah orang kecil."

"Sebenarnya aku juga tidak mau kau membantu Wie Toako membalaskan dendam, ini adalah masalahnya, aku dan Wie Toako adalah adik kakak, juga aku hanya bisa membantu dia dari sisinya. Aku tidak tahu jalan aku hanya berharap kau bisa membantuku mencari tahu keberadaan Wie Toako, bila kau masih tidak enak hati, tidak apa-apa."

Coh Thian-su sengaja berkata.

"Bukan aku tidak enak hati, tapi Hui-thian-sin-liong menganggapku orang kecil, aku tidak suka menjilat, memang benar di kota Lok-yang aku mempunyai teman, jika ingin tahu keberadaan Hui-thian-sin-liong tidak sulit tapi bila aku mencarinya, dia mengira aku sedang menjilatnya."

Kie Su-giok marah dan berkata.

"Aku sudah beritahu kepadamu, aku tidak butuh bantuanmu, mengapa masih cerewet seperti itu?"

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Aku hanya bilang tidak ingin menjilat Hui-thian-sin-hong tapi bukan tidak mau membantumu, aku akan membantumu mencari tahu, bila kau membutuhkan bantuan, aku akan membantumu."

Dengan dingin Kie Su-giok berkata.

"Kau tidak takut orang lain akan bilang bahwa kau sedang menjilatku?"

"Apakah kau lupa dengan kata-katamu tadi?"

"Apa yang sudah kukatakan?"

"Kau bilang kita adalah teman, di dunia persilatan ini ada pepatah yang mengatakan. Demi teman tulang rusuk di tikam pun tidak masalah. Apalagi itu hanya kata-kata orang, memang benar nama kakekmu lebih terkenal dari Hui-thian-sin-liong. Kakekmu bisa menganggap teman kepada ayahku, berarti aku juga tidak lebih rendah darimu, berarti tidak perlu mengejek bukan?"

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Benar, kalau kau masih berpikiran kerdil, gadis yang menikah denganmu pasti sial."

"Pertama, aku tidak kerdil. Kedua, aku bukan orang yang sangat jelek."

"Kau sangat banyak aturan, dan kau pun sangat kerdil. Tapi memang benar kau tidak jelek, malah sangat tampan, tapi bila pikiranmu kerdil, istrimu tidak akan bisa menerima, benar tidak?"

Mereka sekarang saling mengejek, mereka merasa dekat seperti sudah kenal lama.

Tapi candaan Kie Su-giok membuat Coh Thian-su menjadi banyak pikiran, keluarganya adalah keluarga pesilat, walaupun tidak sekaya Hie Tiong-gwee tapi mereka adalah keluarga menengah ke atas.

Nama ayahnya yang terkenal di dunia persilatan, bisa dikatakan keluarganya terkenal di mana-mana.

Keluarga seperti dia dan orang seperti Coh Thian-su, pasti banyak ingin menikahkan putrinya dengannya dan orang yang datang untuk melamarnya juga sangat banyak.

Coh Thian-su sudah berusia 28 tahun, tapi sampai sekarang belum mempunyai tunangan, mungkin persyaratan yang dia ajukan terlalu tinggi.

Orang biasa-biasa saja akan dipandang sebelah mata olehnya Ayahnya membebaskan dia untuk memilih calon istri, hanya kadang-kadang menyuruh dia agar cepat-cepat berkeluarga.

Dia sudah menolak banyak orang yang ingin berbesan dengan ayahnya.

Setelah 2 tahun ini yang melamarnya semakin berkurang.

Tidak disangka, begitu tiba di Lok-yang dia bertemu dengan 2 perempuan yang begitu menarik dan cantik.

Kang Hiat-kun dan Kie Su-giok adalah 2 tipe perempuan yang berbeda, tapi mereka tetap sangat cantik.

Umur mereka sebaya, berwajah cantik, ilmu silatnya pun sangat tinggi, tapi kehidupan mereka tidak sama.

Hiat-kun lebih banyak mengalami gelombang kehidupan, dia lebih dewasa dan itu membuatnya terlihat dingin seperti es.

Tapi dia sangat cantik.

Di dalam es yang paling dalam tersembunyi sebuah bola api.

Kie Su-giok adalah gadis yang jarang bergaul dengan masyarakat.

Dia nakal dan masih polos, sifatnya jujur, tapi senang mempermainkan orang.

Dia seperti bunga, walaupun sedang marah, tapi membuat orang di depannya seperti dihembus oleh angin musim semi.

Coh Thian-su baru berkenalan dengan mereka, masih jauh untuk mengatakan 'cinta'.

Masih banyak hal yang dia pikirkan, dia sudah bertahun-tahun mencari untuk mendapatkan seorang perempuan yang cocok dengannya.

Sekarang dia sudah menemukan dua orang gadis yang begitu cantik dan baik.

Tapi kedua gadis ini sama-sama mencintai Hui-thian-sin-liong.

Dia tertawa kecut dan dalam hati berkata, 'Pantas saja aku dikatakan kerdil oleh Kie Su-giok, sebenarnya dalam hati aku iri kepada Hui-thian-sin-liong.' Tiba-tiba Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Mengapa kau jadi diam? Kau sedang memikirkan apa?"

"Aku sedang berpikir, kadang-kadang perubahan di dunia ini sungguh tidak terduga."

"Yang mana?"

"Banyak hal, contoh seperti sekarang. Pada saat itu aku ingin segera keluar dari Lok-yang dan sekarang ternyata harus kembali lagi ke sana."

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau tidak menjawab dengan jujur, tapi walaupun kau tidak mengatakannya aku tahu kau sedang memikirkan apa?"

"Kau tahu aku sedang memikirkan apa?"

"Kau sedang memikirkan Hiat-kun, Sumoimu."

"Jangan bercanda, bila tidak ada orang lain tidak masalah, tapi kalau terdengar oleh orang lain, akan terjadi salah paham."

Sebenarnya Kie Su-giok tidak salah, dia memang sedang memikirkan Hiat-kun, dia mau membantu Kie Su-giok, di satu sisi memang jngin berteman dengannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di hatinya tapi di sisi lain dia ingin tahu keadaan Hiat-kun.

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Sepertinya kau sudah mengakuinya."

"Aku sudah mengakui apa?"

"Kau bukan takut orang lain salah paham padamu."

"Aku tidak berpikir seperti itu..."

Kie Su-giok tertawa lagi dan berkata.

"Aku tidak mengatakan bahwa kau mempunyai pikiran yang tidak baik terhadapnya, aku hanya berkata bahwa kau merindukan dia. Apakah kau kembali ke Lok-yang tidak takut diketahui oleh keluarga Hie Tiong-gwee?"

"Benar ini adalah hal yang harus dibereskan, bila aku sudah berjanji akan membantumu, hal lain aku tidak akan peduli. Tapi kau pernah membuat keributan di kediaman Hie, kau juga harus berhati-hati,"

Kata Coh Thian-su.

"Tidak perlu diberilahu pun aku sudah siap-siap."

Kemudian dia mengeluarkan sebuah topeng, dengan tertawa Kie Su-giok berkata.

"Bila kau sudah memakai topeng ini, aku akan mengubah wajahmu, pasti tidak akan ada yang mengenalimu aku masih memiliki sebuah topeng kulit yang hampir sama, aku akan menyamar menjadi aclikmu"

"Topeng ini buatannya sangat halus dan bagus, apakah kau selalu membawa topeng-topeng ini? Tanganmu sungguh terampil."

"Orang yang bertangan terampil bukan aku tapi pelayanku yang bernama Paman Ting. Topeng kulit ini dia yang buat, ketrampilan mengubah wajah orang, dia yang ajarkan."

Coh Thian-su merasa terkejut dan bertanya.

"Apakah Paman Ting adalah pelayan keluargamu?"

"Benar, sebelum aku lahir, dia sudah mengikuti kakek, mengapa kau merasa aneh?"

"Memang aku merasa aneh, dia bertangan terampil dan berbakat, mengapa dia hanya menjadi pelayan?"

"Katanya dia berhutang budi kepada kakek. Kakek juga tidak menganggapnya pelayan."

"Siapa namanya?"

"Aku tidak tahu, dari kecil aku sudah memanggilnya dengan sebutan Paman Ting."

"Apakah ilmu silat Paman Ting didapat dari kakekmu?"

"Tidak, ilmu silatnya bervariasi, walaupun tidak setinggi kakek tapi ilmu silatnya bisa menandingi kakek, mengapa kau begitu tertarik dengan pelayanku?"

Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dia bertanya dan dia pula yang menjawab.

"Sepertinya ayahmu pernah mengatakan tentang Paman Ting?"

"Mengapa kau bisa menebak seperti itu?"

"Mungkin Paman Ting adalah teman ayahmu, sebab aku pernah mendengar Paman Ting mengatakan bahwa dia pernah melihat pena sakti milik ayahmu."

"Dia masih mengatakan apa lagi?"

"Tidak ada, kau jangan bertanya terus, kau belum menjawab pertanyaanku, kau bertanya begitu mendetil, apakah kau sudah tahu identitas Paman Ting melalui ayahmu?"

Sebenarnya masih ada yang belum dikatakan oleh Kie Su-giok, waktu itu pada saat Paman Ting mengatakan tentang pena sakti, pernah mengatakan juga tentang seseorang, dia ada di keluarga Coh di Yang-ciu, masih bertanya apakah perlu mencarinya ke sana?

Kemudian kakek menjawab dengan aneh.

Yang membuatnya ingat terus adalah kakek melarang Paman Ting ke sana mencari ribut dengan orang itu.

Kie Su-giok berpikir orang ini pasti ada hubungan erat dengan keluarga Coh, karena itu dia belum memberitahu kepada Coh Thian-su semua yang dia tahu.

"Ilmu silat yang paling dikuasainya apakah Telapak tangan penghancur batu?"

"Benar, dia pernah menaruh sebuah tahu di atas batu, batu itu hancur, tetapi tahunya tidak hancur."

"Tidak salah lagi, dia adalah Ting Po."

"Ting Po itu siapa?"

"Dia adalah penjahat kelas kakap sekitar 20-30 tahun yang lalu, dia pernah membuat geger dunia persilatan."

"Pantas saja dia hafal semua jurus silat dan benar-benar menguasainya. Walaupun dia adalah penjahat kelas kakap tapi dia tidak banyak bicara, sikapnya pun tidak sombong dan sangat penurut. Hanya pada waktu minum arak dia akan lebih banyak bercerita bila yang tidak tahu identitas aslinya, pasti akan disangka pak tua biasa dari sebuah desa. Dia sangat menghormati kakek."

Setelah Kie Su-giok tahu identitas Paman Ting sepertinya dia tidak begitu terkejut.

"Orang seperti Ting Po menjadi seorang pelayan. Bila kabar ini menyebar, akan jadi berita yang paling menghebohkan dunia persilatan tapi bila dia menjadi pelayan kakekmu itu tidak aneh, karena kakekmu adalah orang nomor satu di dunia persilatan. Walaupun nama Ting Po cukup terkenal tapi bila dibanding kakekmu, dia hanya seperti terang kecil dibanding dengan terang matahari dan bulan."

"Aku mewakili kakek berterima kasih kepadamu atas pujian-oiijian ini, tapi kau belum menjawab pertanyaanku."

"Tebakanmu benar, Ting Po dan ayahku adalah teman, tapi mereka tidak begitu akrab, seingatku sewaktu dia datang ke rumahku, itu pun hanya setengah jam, kemudian dia pergi lagi."

"Kapan kejadiannya?"

"Mungkin sudah ada 13 tahun lalu."

"Apakah dia mengatakan tentang kakek?"

"Sepertinya tidak, sekarang aku baru tahu hubungannya dengan keluargamu."

Kie Su-giok terdiam, tapi dalam hati dia sedang menghitung waktu saat Paman Ting bicara dengan kakek tentang keluarga Coh di Yang-ciu, kira-kira itu adalah 12 tahun yang lalu.

Coh Thian-su pun ingat sewaktu Ting Po datang ke rumahnya, waktu itu dia sudah berumur 16 tahun, ibu tirinya melahirkan adik perempuan, dan adiknya sudah berumur 5 tahun waktu itu.

Hari itu dia sedang bermain bersama adiknya, ibu tirinya pun ada di samping mereka.

Ting Po datang berkunjung ke rumah, bertemu dengan ayahnya.

Ayah menemaninya kemudian ayah masuk, menyuruh dia dan ibu tirinya bertemu dengan tamu itu.

Ayah memberitahu kepada ibu bahwa Ting Po adalah teman lama yang sudah lama tidak bertemu.

Mendengar dia sudah menikah lagi dia datang berkunjung.

Ayah tertawa dan berkata.

"Walaupun sudah lama tidak bertemu dengannya, tapi pembicaraan kami masih pas dan dia bilang ingin bertemu dengan Enso. Kau temuilah dia."

Begitu ibu tirinya mendengar nama Ting Po, wajahnya langsung berubah.

"Apakah kau menyebut namaku?"

Kata Ibu "Belum, mengapa kau menanyakan ini..."

Ibu menarik nafas dan berkata.

"Kalau begitu, jangan beritahu dia. Katakan saja aku sedang tidak enak badan. Aku tidak ingin bertemu dengannya."

Waktu itu dia sudah berumur 16 tahun, dia pasti tahu pasti ada alasan lain, tapi tidak tidak bertanya. Walaupun adiknya baru berumur 5 tahun, tapi dia juga ingin tahu dan dia bertanya kepada ibu.

"Ibu, tadi ibu baru menangkap kupu-kupu, mengapa sekarang sakit?"

"Ibu bukan sakit, hanya tidak enak badan."

Jawab ibu.

"Tidak enak badan sama dengan sakit, biasanya orang dewasa selalu berkata seperti itu."

Kata adik lagi.

"Tidak enak badan itu sakit ringan."

Adik mengira ibu membohonginya, sakit besar menjadi sakit kecil.

Tapi Coh Thian-su mengerti.

Terlihat wajah ibu pucat seperti benar-benar sakit dan adiknya memapah ibu masuk ke kamar.

Coh Thian-su tahu ibunya tidak sakit, hanya mendengar nama Ting Po saja sudah membuat dia tidak enak tubuh.

Mengapa ibu tidak mau bertemu dengan Ting Po?

Pertanyaan ini sudah lama tersimpan di hatinya, sekarang pun hanya tahu sedikit.

Dia teringat kepada pesan ayahnya, 'Tidak boleh berteman dengan keluarga Kie.' Dalam hati dia berpikir.

"Ibu sudah tahu bahwa Ting Po adalah pelayan Kie Yan-gan, kalau begitu ibu pasti bermusuhan dengan keluarga Kie."

Waktu kecil dia iri kepada ibu tirinya sekarang sudah tidak lagi.

Karena ibu tirinya sangat baik kepadanya.

Dari kecil dia sudah kehilangan ibu kandungnya dia sudah bisa menganggap ibu tirinya seperti ibu kandungnya sendiri.

Di satu sisi dia merasa aneh, di sisi lain dia juga berharap ada kesempatan untuk membalas kebaikan ibu tirinya.

"Aku berteman dengan Kie Su-giok, mungkin bisa membuka teka-teki ibu tiri, bila dia memang mempunyai urusan dengan keluarga Qi "

Sekarang Coh Thian-su rela menemani Kie Su-giok kembali ke Lok-yang.

---ooo0dw0ooo---B.

Kembali Kerumah Hie Ketika Po Tiong-ie melihat Coh Thian-su datang dengan seorang gadis, dia sangat gembira sekaligus terkejut.

"Hai, mengapa wajahmu tidak sama? Aku hampir tidak mengenalimu. Dan siapa gadis ini?"

"Dia adalah cucu Kie Yan-gan. Paman Po, aku tahu kau berteman dengan kakeknya, karena itu aku membawa dia mengujungimu, harap kau jangan marah,"

Kata Coh Thian-su.

"Adik, aku sangat berterima kasih kepadamu bisa membawanya ke sini, mengapa harus marah?"

Kata Po Tiong-ie "Untuk apa kau berterima kasih?"

Tanya Coh Thian-su.

"Seumur hidup aku sangat kagum kepada Pendekar Kie dan ini adalah cucunya, tamu agung seperti ini tidak tiap hari bisa datang, berharap dia datang pun sungguh sulit."

"Kakek, kau tidak perlu sungkan, aku bukan nona yang anggun, aku adalah gadis pengelana di dunia persilatan."

Kata Kie Su-giok.

"Sifatnu cocok dengan sifatku, mengapa kalian kembali ke Lok-yang?"

Sewaktu Kie Su-giok membantu Hui-thian-sin-liong membuat keributan di kediaman Hie, Po Tiong-ie sudah tahu, yang membuatnya aneh adalah mengapa mereka bisa datang bersama-sama? Kata Coh Thian-su.

"Apakah Po Leng-hoi belum memberitahumu?"

Po Tiong-ie terkejut dan bertanya.

"Mengenai apa?"

Kebetulan saat itu Po Leng-hoi baru keluar. Po Tiong-ie baru mengerti dan berkata.

"Aku tahu Po Leng-hoi menyembunyikan kejadian malam itu."

Malam itu karena takut ayahnya khawatir, Po Leng-hoi hanya mengatakan bahwa dia mengantar Coh Thian-su keluar dari Lok-yang.

"Ayah, jangan marah! Karena aku sudah berjanji kepada Coh Toako untuk menjaga rahasia ini."

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Aku menyuruhmu menjaga rahasia kepada orang lain bukan kepada ayahmu."

Po Tiong-ie tidak marah, dengan serius dia berkata.

"Kalau kita sudah berjanji kepada teman, tidak ada kecuali juga kepadaku, aku tidak menyalahkannya. Adik Coh, bila ini adalah rahasianya, tidak perlu kau beritahu kepadaku."

Kata Coh Thian-su dengan tertawa.

"Toako, kau tidak menyalahkan ku, aku tetap harus minta maaf. Saat itu aku tidak memberitahumu karena khawatir kau tidak setuju karena mengajak putramu melakukan hal yang tidak pantas, sekarang kejadian itu sudah lewat, aku harus memberitahumu."

Dia menjelaskan apa yang terjadi pada malam itu, dan dengan singkat bercerita bagaimana dia dan Kie Su-giok bisa bertemu. Po Tiong-ie tertawa dan berkata.

"Kalian ingin kembali lagi ke kediaman Hie dan pengantin perempuan adalah Sumoimu yang belum pernah bertemu. Hie Tiong-gwee adalah orang yang munafik, aku sudah menduga sebelumnya. Adik, kau tidak melakukan hal yang tidak pantas."

Po Tiong-ie tertawa lagi dan berkata.

"Adik, kau takut aku menjadi terkejut jadi kau tidak memberitahuku, artinya kau belum mengenal sifatku. Memang benar, keluarga Hie kaya dan berkuasa, orang she Po tidak berani mencari gara-gara dengannya, walaupun aku miskin dan sudah tua tapi masih memiliki tulang yang keras. Orang seperti dia tidak akan berani mencari gara-gara denganku tapi sedikit banyak aku bisa menyentil dia. Bila tahu dari dulu, aku akan membantu kalian membuka kedok Hie Tiong-gwee."

Kata Kie Su-giok.

"Terima kasih, Po Cianpwee. Tapi Hie Tiong-gwee adalah musuh Wie Toako, aku yang menjadi Sumoi yang akan membantunya, tidak berani merepotkan Cianpwee."

"Aku tahu kalian tidak membutuhkan ban tuanku, lapi bila perlu pertolonganku, kalian jangan sungkan."

"Aku hanya ingin tahu di mana Wie Toako sekarang? Apakah dia masih ada di Lok-yang?"

Jawab Po Tiong-ie.

"Menurut perkiraanku, Wie Thian-hoan dan I hal kun masih ada di Lok-yang, tapi kakakmu dijuluki Hui-thian-sin-liong benar-benar seperti naga sakti yang terlihat kepala tapi tidak terlihat ekor. Teman-teman dunia persilatan tidak kenal dengannya, karena itu sulit mencari keberadaannya, tapi aku akan bantu sebisa mungkin."

Tanya Coh Thian-su.

"Dalam waktu 2 hari ini, apakah ada berita dari keluarga Hie?"

Jawab Po Tiong-ie.

"Aku tidak mendengar berita apa pun, bila ada tentunya akan menggegerkan dunia persilatan, apalagi pengantin perempuan adalah si Cantik dari Lok-yang."

Kata Coh Thian-su.

"Mungkin keluarga Hie ingin menutupi keborokan ini, tapi bila Hie Tiong-gwee mati, tidak akan bisa ditutup-tutupi lagi."

"Aku dengar, lukanya semakin sembuh."

Kata Po Leng-hoi. Kata Kie Su-giok.

"Lukanya memang tidak begitu berat, Wie Toako berkata pada saat dia bertarung dengannya, dia belum yakin bahwa Hie Tiong-gwee adalah pembunuh ayahnya. Karena itu dia tidak mau membunuh Hie Tiong-gwee dulu, hanya membuatnya terluka saja. Dia pingsan saat itu. Itu pun hanya pura-pura seban dia merasa malu dan dia tidak ingin membuka mulut"

"Kalau begitu dapat dipastikan dendam Hui-thian-sin-liong belum tercapai."

Kata Coh Thian-su. Ini adalah perkiraan mereka, tapi semenjak tadi jawaban yang mereka inginkan belum terjawab. Kata Po Tiong-ie.

"Aku mendengar suatu berita yang aneh, memang tidak ada hubungannya dengan Hie Tiong-gwee, tapi ini terjadi di rumahnya."

Tanya Coh Thian-su.

"Sudah terjadi hal apa? Dan terjadi pada siapa?"

"Dia adalah Kiam-ta, Wie Thian-hoan sudah bertarung 2 kali dan dia adalah jurinya. Di dunia persilatan dia sangat dijunjung tinggi, walaupun kepandaiannya bukan yang tertinggi tapi sudah setara dengan Ketua Siauw-lim, Bu-tong Go-bi dan Kong-tong, perguruan yang terkenal."

Coh Thian-su terkejut dan bertanya.

"Apa yang telah terjadi pada Tuan Kiam-ta?"

"Sepertinya kau sangat perhatian kepadanya."

Kata Kie Su-giok.

"Kemarin aku terpaksa bertarung dengannya, memang benar d-sekuat tenaga membantu Hie Tiong-gwee, sebab dia belum tahu siapa sebenarnya Hie Tiong-gwee itu. Tapi dia dan Hie tidak sepaham, walaupun jja dibohongi oleh Hie dan pernah bertarung denganku, aku tetap menghormatinya."

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Aku tahu kau bukan orang yang mengingat terus kesalahan orang lain. Tapi tidak perlu memuji Tuan Kiam-ta di depanku. Mari kita dengar cerita Po Cianpwee."

Kata Po Tiong-ie.

"Bukan Tuan Kiam-ta yang mengalami sesuatu tapi dia melakukan sesuatu yang aneh."

"Apa yang dia melakukan?"

Tanya Kie Su-giok.

"Sejak Toakomu membuat keributan di kediaman Hie, karena tamu-tamu takut kepada Toakomu, mereka semua meninggalkan rumah Hie, tapi teman-teman baik Hie seperti Tuan Kiam-ta, Bwee Ceng-hong, Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong masih tinggal di sana."

Kata Coh Thian-su.

"Itu aku sudah tahu, mereka menghalangi Hiat-kun keluar dari kediaman Hie."

Po Tiong-ie terus berkata.

"Kemarin pagi Tuan Kiam-ta pamit pulang. Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong masih tinggal di sana. Kepergian tuan Kiam-ta membuat keluarga Hie kecewa."

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Ini tidak aneh karena dia kalah terus dari Wie Toako, dia malu untuk terus tinggal di rumah Hie."

"Tidak, ada hal yang aneh di belakang cerita ini. Kemarin dia pamit pulang, tapi malam-malam dia kembali lagi secara sembunyi-sembunyi."

Tanya Kie Su-giok.

"Apa yang dia sembunyikan? Paman Po, apakah paman bisa menceritakannya lebih detil lagi?"

"Dia kembali setelah larut malam, pakaiannya pun seperti yang dipakai pada saat keluar malam, melewati tembok dan masuk masuk ke rumah Hie."

Kata Coh Thian-su.

"Ini sangat aneh, dia kembali ke rumah Hie, mengapa harus sembunyi-sembunyi? Apakah dia sudah curiga kepada Hie Tiong-gwee? Dan dia kembali lagi untuk mencari tahu?"

"Sebaliknya, dia kembali dengan sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan Hie Tiong-gwee, dia tidak ingin diketahui oleh orang lain."

Tanya Kie Su-giok.

"Paman, mengapa bisa tahu begitu detil?"

"Jangan terburu-buru, dengarkan ceritaku dulu, begitu Tuan Kiam-ta masuk ke rumah Hie, hal itu diketahui oleh seseorang dan orang itu adalah Bwee Ceng-hong yang sedang berjaga malam dengan suka rela di rumah Hie. Dia mengira matanya mulai rabun, dia langsung mengejarnya dan sempat bertanya 'Kian...', baru keluar kata 'Kian' dia segera ditotok oleh Tuan Kiam-ta"

Kata Kie Su-giok.

"Ini sangat aneh, sebenarnya mereka boleh dibilang satu komplotan."

Coh Thian-su pun mengerutkan dahi, dia mulai curiga kemudian berkata.

"Ilmu silat Bwee Ceng-hong hanya sedikit di bawah Tuan Kiam-ta mengapa dalam 1 jurus bisa ditotok oleh Tuan Kiam-ta?"

Kata Po Tiong-ie.

"Dia tidak berhadapan muka dengan Tuan Kiam-ta jaraknya dengan Tuan Kiam-ta ada kira-kira 15 meter, tapi hanya menunjuk ke arah Bwee Ceng-hong, tahu-tahu jalan darahnya sudah dapat ditotok"

Coh Thian-su merasa lebih aneh lagi dan berkata.

"Itulah ilmu menotok jalan darah dari jauh."

"Benar,"

Kata Po Tiong-ie.

"Kau mencurigai apa?"

"Aku pernah bertarung dengan Tuan Kiam-ta, walaupun ilmunya di atasku, tapi sepertinya belum mencapai tahap itu."

Kata Po Tiong-ie.

"Mungkin dia tidak mau menggunakan jurus ini untuk bertarung denganmu, orang yang memiliki ilmu tinggi biasanya tidak akan memperlihatkan jurus yang mematikan. Kemarin malam karena dia takut Bwee Ceng-hong menyebarkan berita ini, maka dalam 1 jurus dia sudah membuat Bwee Ceng-hong kaku."

Penjelasan ini sepertinya masuk akal tapi Coh Thian-su tidak mempercayainya, dia merasa curiga tapi dia tetap mendengar cerita Po Tiong-ie. Kata Po Tiong-ie lagi.

"Setelah lama Bwee Ceng-hong baru sadar, dia merasa ada di sebuah ruang rahasia, pada saat membuka mata sudah melihat Hie Tiong-gwee, dan dia hanya seorang diri."

Begitu Hie Tiong-gwee melihat Bwee Ceng-hong sudah sadar langsung berkata.

"Tidak usah memberitahuku apa yang sudah terjadi padamu, kau tidak perlu tahu juga tidak perlu bertanya siapa orang itu, aku hanya minta agar kau memandang wajahku, jangan tanya-tanya dan jangan sebarkan berita ini keluar."

Po Tiong-ie tertawa dan berkata.

"Walaupun Hie Tiong-gwee berpesan seperti itu tapi Bwee Ceng-hong tetap memberitahuku."

Kie Su-giok seperti baru sadar dan berkata.

"Bwee Ceng-hong yang memberitahumu? Pantas paman bisa cerita begitu detil, yang membuatku tidak mengerti mengapa Bwee Ceng-liong begitu mempercayaimu?"

"AKo Tan dia sudah bersahabat selama 20 tahun lebih. Walaupun jarang bertemu, tapi bila sudah bertemu malah bertengkar karena sering berbeda pendapat. Tapi kami mengerti sifat-sifat masing-masing, dia selalu menganggapku orang yang lebih tua."

Kata Kie Su-giok.

"Mengapa dia bisa menjadi teman baik Hie? Mengapa paman tidak menasehatinya?"

Kata Po Tiong-ie.

"Walaupun Hie adalah orang yang haus akan nama baik tapi dia juga memberikan persahabatan dan kebaikan, bila dia tidak pernah berbuat baik, julukan Pendekar Tiong-ciu akan sulit didapatnya."

Kata Kie Su-giok.

"Aku mengerti, dia berbuat baik kepada orang lain supaya orang-orang dekat dengannya."

"Benar,orang-orangpersilatanlebihmementingkan persahabatan, mereka akan sangat berterima kasih dan membalas budi."

Po Tiong-ie terus berkata.

"Bwee Ceng-hong adalah anak yang berbakti, pernah satu kali dia pergi ke tempat jauh, ibunya sakit berat di rumah, tidak mempunyai uang untuk berobat. Hie Tiong-gwee mencarikan tabib dan mengobati ibunya hingga sembuh. Tuan Kiam-ta yang disegani oleh orang-orang pun bisa bersahabat dengan Hie Tiong-gwee, apalagi Bwee Ceng-hong, dia tidak akan bisa menolak pendekatan Hie Tiong-gwee. Betul, aku curiga bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang sering memalsukan bukti tapi caranya sangat sempurna. Aku tidak dapat mencari buktinya, bagaimana Bwee Ceng-hong bisa mempercayai kata-kataku?"

"Sekarang sudah terjadi hal seperti ini, apakah Tuan Kiam-ta masih bisa dikatakan orang yang terhormat?"

Kata Kie Su-giok.

"Karena Bwee Ceng-hong menemukan hal yang begitu aneh, dia menjadi ragu. Dia memberitahuku, sekarang dia mau mendengar kata-kataku, tidak akan mengurusi hal-hal yang menyangkut Hie Tiong-gwee. Dia sudah kembali ke desanya."

Kata Po Tiong-ie. Hal yang terjadi pada Tuan Kiam-ta hanya membuat Coh Thian-su dan Kie Su-giok bertambah hati-hati tapi tidak membantu apa pun. Kata Kie Su-giok.

"Waktu itu Tuan Kiam-ta juga menerima sebuah jurus Hui-thian-sin-liong kelihatannya ilmu silatnya tidak begitu tinggi. Tidak disangka dia mempunyai ilmu hebat yang lain, bila benar dia bisa dari jarak jauh menotok, apakah Wie Toako dapat mengalahkannya? Bila Wie Toako belum membalas dendam, dia pasti akan ke rumah Hie Tiong-gwee, kita harus mencarinya di sana."

Tebakan Kie Su-giok tidak meleset, malam itu Hui thian-sin-liong untuk ketiga kalinya masuk ke dalam kediaman Hie Tiong-gwee, kedua kali dia datang sendiri, sekarang di sisinya ada pembantu yang cantik Walaupun dia belum sembahyang dengan Hie Tiong-gwee tapi mereka juga belum benar-benar bercerai, di atas nama, Hiat-kun masih istri Hie Tiong-gwee dan dia adalah nyonya rumah ini.

Tapi sekarang yang mempunyai rumah harus secara sembunyi-sembunyi 'pulang'.

Hal ini sangat lucu jadinya.

Beberapa hari yang lalu, dia adalah seorang pengantin yang ingin dilihat banyak orang, sekarang dia mengikuti seorang laki-laki masuk ke rumah orang dan takut ketahuan orang-orang.

Perubahan yang drastis, membuat semuanya menjadi lucu dan ingin tertawa.

Kemarin dia masuk ke rumah Hie Tiong-gwee, seperti sebuah boneka yang diatur oleh orang lain.

Kali ini dia masuk ke rumah Hie sesuai dengan keinginannya, tapi hatinya bertambah berat.

Siang hari, dia pernah mencari tabib yang mengobati ayahnya, tapi hasilnya nihil, mereka sudah terlambat datang.

Yang mereka temui hanyalah mayat tabib itu.

Kematiannya seperti kematian pamannya.

Kepala tidak pecah tapi sudah melengkung ke dalam.

Dia dibunuh dengan kekuatan telapak tangan yang kuat.

Sebelum ibunya meninggal, pernah menyebut nama si pembunuh.

Pembunuh itu membunuh paman dan juga ibunya.

Nama yang disebut adalah orang yang terkenal di dunia persilatan, membuat mereka tidak percaya tapi mau tidak mau harus percaya, dan dia adalah Tuan Kiam-ta.

Tenaga telapak tangannya adalah campuran antara Bian-ciang dengan tenaga Ta-sik-pek-jiu, inilah ilmu andalan Tuan Kiam-ta.

Bukti mengarah pada Tuan Kiam-ta dan mereka tidak ragu lagi.

Apakah Hie Tiong-gwee adalah pembunuh ayah Hiat-kun?

Mereka masih belum bisa memastikan, tapi yang pasti Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibunya.

Dia juga yang merencanakan menaruh racun keluarga Tong ke dalam obat ayah Hiat-kun.

Sekarang bukti-bukti itu sudah kuat, tapi dalangnya ada satu atau dua (ditambah Hie Tiong-gwee) masih harus diselidiki lagi.

Akhirnya mereka bisa tahu siapa pembunuhnya karena mereka sudah menemukan orangnya Di taman bunga, ada sebuah bangunan, lampunya masih menyala dari luar jendela terlihat ada 2 bayangan orang.

Mereka adalah Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta, hanya terdengar Hie Tiong-gwee berkata.

"Aku pernah menyelamatkan Bwee Ceng-hong pasti dia tidak akan berani tidak mendengar pesan-pesanku, tapi bila kau masih khawatir juga kau ingin membunuhnya juga tidak apa-apa."

Kata Tuan Kiam-ta.

"Aku tahu dia adalah satu komplotan denganmu dan dia juga adalah ketua satu perguruan, bila dia mati di rumah ini, akan merepotkanmu "

Kata Hie Tiong-gwee.

"Aku tidak takut direpotkan, hanya saja dia adalah seorang ketua, masih berguna untukku, tapi kalau kau..."

Kata Tuan Kiam-ta.

"Aku tidak takut dia bicara kepada orang lain karena yang mereka katakan itu bukan diriku."

Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata.

"Benar, bila dia tidak mendengar pesanku, aku akan menjalankan cangkokan. Mungkin ini akan berguna untuk kita, kau tidak merasa aku terlalu jujur bukan?"

Kata Tuan Kiam-ta.

"Kau dan aku sama-sama punya hubungan, kau selalu memperhatikan aku, aku tidak akan menyalahkanmu. Kita tidak perlu membunuh dia untuk tutup mulut."

Percakapan mereka membuat Wie Thian-hoan dan Hiat-kun menjadi bingung.

Tapi dari percakapan mereka membuktikan bahwa Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee adalah sahabat karib.

Dalam hati Wie Thian-hoan berpikir, 'Dulu aku mengira Tuan Kiam-ta dibohongi oleh Hie Tiong-gwee, tidak tahu siapa Hie Tiong-gwee sebenarnya.

Sekarang aku baru tahu mereka ternyata bersekongkol.' Begitu juga dengan penularan Hiat-kun, 'Tuan Kiam-ta lebih licik dari Hie Tiong-gwee semua sikap sopannya adalah pura-pura untuk menipu orang-orang.

Sekarang sudah pasti bahwa Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibu.' Terdengar Hie Tiong-gwee berkata lagi.

"Biarkan Bwee Ceng-hong pergi, tapi sayang..."

Tuan Kiam-ta tertawa dan berkata.

"Tapi sayang istrimu yang cantik itu, apakah itu yang hendak kau katakan? Jangan khawatir kita pikirkan cara lain."

"Dia sudah ikut Hui-thian-sin-liong melarikan diri, masih ada cara apa lagi?"

"Asal kita bisa menyingkirkan Hui-thian-sin-liong, pasti ada cara untuk menipunya, waktu itu aku menjadi orang jahat dan kau jadi orang baik, semua kesalahan kau bebankan kepadaku."

Kata Hie Tiong-gwee.

"Ilmu silat Hui-thian-sin-liong begitu tinggi, siapa yang bisa mengalahkan dia?"

"Benar, ilmuku dengan ilmunya sama tinggi, mau menyingkirkan dia tidak mudah, meskipun aku tidak bisa menyingkirkan dia, bukan berarti tidak ada orang yang bisa menyingkirkan dia."

Dalam hati Hiat-kun tertawa geli, 'Apakah silatmu sama tinggi dengan Hoan Toako?

Benar-benar tidak tahu malu.' Dua hari yang lalu dia baru bertarung dengan Kiam-ta, ilmu silat Tuan Kiam-ta hanya sedikit lebih tinggi dari Hiat-kun.

begitu Wie Thian-hoan datang segera bisa menotok jalan darahnya, sekarang dia sudah tahu bahwa Tuan Kiam-ta menguasai Bian-ciang.

Malam itu dia tidak menggunakannya tapi bagaimana pun Hiat-kun tidak percaya dia bisa melawan Hoan Toako.

"Benar, di luar langit masih ada langit lagi, di luar orang masih ada orang lain lagi. Orang yang memliki ilmu silat yang lebih tinggi dari Hoan Toako pasti ada, tapi air yang jauh tidak bisa memadamkan api yang dekat Malam ini aku akan mengambil nyawamu, kalian sudah tidak ada waktu untuk mengundang pesilat tangguh,"

Hati Hiat-kun sudah tidak sabar lagi. Wie Thian-hoan berbisik kepadanya.

"Tunggu sebentar lagi, mereka tidak akan bisa lolos."

Wie Thian-hoan ingin tahu dari percakapan mereka bisa mendapat banyak rahasia lagi. Terdengar Hie Tiong-gwee berkata.

"Benar, aku percaya pasti ada orang yang bisa mengalahkan Hui-thian-sin-liong, tapi orang yang bisa mengalahkannya belum tentu ingin membantuku, yang mau membantuku tidak bisa mengalahkan dia, dalam waktu singkat ini sepertinya kita akan susah mencari orang itu."

Kata Tuan Kiam-ta.

"Sebenarnya tidak perlu merasa begitu takut kepada Hui-thian-sin-liong, kita hanya harus hati-hati, lebih baik kau tinggalkan Lok-yang untuk sementara."

Kata Hie Tiong-gwee.

"Apakah aku harus mencari Jenderal Bok?"

"Benar, kalau kau merasa seperti itu."

Hiat-kun bertanya kepada Wie Thian-hoan dengan suara kecil.

"Hoan Toako, siapa itu Jenderal Bok?"

"Dia adalah pemimpin pasukan kerajaan yang bernama Jenderal Bok Ci-giauw."

Mereka tahu sebuah rahasia lagi, Tuan Kiam-ta yang terkenal di dunia persilatan dan disegani oleh orang-orang persilatan, mempunyai hubungan yang erat dengan pemimpin pasukan kerajaan.

Wie Thian-hoan mendengar percakapan mereka juga sangat terkejut dan berpikir, 'Kian-yan ternyata lebih menakutkan dari Hie Tiong-gwee, bila tidak mendengar sendiri, mimpi pun tidak akan menyangka bahwa dia adalah orang semacam itu.

Bila dia tidak mempunyai hubungan erat dia tidak akan menyuruh Hie Tiong-gwee pergi mencari Bok Ci-giauw."

Tebakan Wie Thian-hoan tidak meleset, terdengar Hie Tiong-gwee berkata lagi.

"Memang hubunganku cukup dekat dengan Jenderal Bok tapi belum bisa untuk tinggal selamanya di rumahnya."

Tuan Kiam-ta tertawa.

"Aku tidak bisa berkata bahwa hubunganku dengan Jenderal Bok lebih dekat dari dirimu, tapi aku pernah bicara dengannya dan dia pun berjanji akan membantu kita membasmi Hui-thian. Bila kau masih ragu kita bisa pergi ke ibu kota mencarinya."

Kata-kata Tuan Kiam-ta membuktikan bahwa dia memang bersekongkol dengan Hie Tiong-gwee.

Wie Thian-hoan menarik nafas dan berpikir, 'Benar-benar Tuan Kiam-ta bersekongkol dengan Hie Tiong-gwee, pura-pura menjadi orang baik dan ilmu silatnya pun tidak di tunjukkan.' Tapi Wie Thian-hoan lebih teliti dari Hiat-kun, walaupun dia mendengar percakapan antara Hie Tiong-gwee dan Kiam-ta, tapi dia merasa curiga.

Yang dia curigai sebab Tuan Kiam-ta terkenal di dunia persilatan maka orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee sangat menghormatinya.

Tapi semenjak tadi dia tidak mendengar Hie Tiong-gwee memanggil dia dengan sebutan Tuan Kiam-ta, hanya menyebut 'kau' dan 'aku'.

Cara bicara Hie Tiong-gwee pun tidak begitu hormat kepadanya.

Tapi kecurigaan ini tidak dapat mengubah pandangan Wie Thian-hoan terhadap Tuan Kiam-ta, dia berpikir mungkin mereka adalah sahabat karib, jadi dalam bercakap-cakap Hie Tiong-gwee tidak perlu sangat menghormatinya.

Pada saat Wie Thian-hoan sedang berpikir tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berjalan ke arahnya.

Hiat-kun takut keadaan akan berubah dan dia berkata.

"Hoan Toako, mari kita bergerak,"

Terlihat ada cahaya perak, Hiat-kun memegang pedang masuk melalui jendela. Wie Thian-hoan berteriak.

"Kau tangkap Hie Tiong-gwee, Kiam-ta bagianku!"

Karena ilmu silatnya lebih tinggi dari Hiat-kun dan dia pernah bertarung 2 kali dengan Tuan Kiam-ta.

Terakhir dia hanya melihat punggung Tuan Kiam-ta, sekarang dia melihat Tuan Kiam-ta.

Tidak seperti yang dikatakan oleh Hiat-kun.

Hie Tiong-gwee belum terbukti bersalah, Hiat-kun lebih benci kepada Tuan Kiam-ta.

Tapi karena Wie Thian-hoan ada di depannya terpaksa dia berjalan ke arah Hie Tiong-gwee.

Karena gerakan mereka sangat cepat, Hie Tiong-gwee terkejut dan meloncat kemudian mundur beberapa langkah Tapi Tuan Kiam-ta malah sebaliknya, dia berjalan menghampiri mereka.

Terdengar suara TENG', ini adalah suara Hui-thian-sin-liong dan Tuan Kiam-ta beradu tenaga telapak tangan.

Tubuh Hui-thian bergoyang, Tuan Kiam-ta mundur beberapa langkah, dua pasang telapak telah saling beradu.

Hui-thian merasa seperti terkena besi yang panas terbakar.

Tenaga telapak tangan Tuan Kiam-ta adalah gabungan tenaga Bian-ciang dan tenaga Ta-sik-pek-jiu, tapi sepertinya dia juga pernah berlatih 'Lui-sin-ciang' (Pukulan guntur sakti) dari Tibet.

ilmu silatnya sangat aneh, membuat Hui-thian merasa aneh.

"Penjahat tua ini ilmu silatnya lebih tinggi dari perkiraanku."

Lengan baju Hui-thian dikibaskan, lengan baju itu sebenarnya adalah benda yang lembek, tapi begitu dikibaskan oleh Hui-thian seperti sebuah pisau yang membelah angin, dia menggunakan ilmu silat yang diturunkan dari Kie Yan-gan―yaitu ilmu Tiat-siu-hui-thian Tapi Tuan Kiam-ta bisa menghadapinya dengan tenaga telapak tangan, dengan tertawa dingin Kiam-ta berkata.

"Bila sudah diberi aku tidak membalasnya, namanya tidak sopan, kau pun boleh menyaksikan ilmu totok ku."

Dia juga melambaikan lengan bajunya, menutupi pandangan Hui-thian, membalikkan jari dan menunjuk tapi yang dia tunjuk adalah Hiat-kun.

Dua langkah lagi Hie Tiong-gwee hampir mendekati dinding.

Di dinding sudah dipasang tombol rahasia, sekali tekan akan keluar pintu rahasia.

Tapi sudah tidak sempat karena sebelum tangan Hie Tiong-gwee menekan tombol itu, pedang Hiat-kun sudah ada di jantung bagian belakang.

Hie Tiong-gwee berteriak.

"Hiat-kun, walau kita belum sembahyang tapi kita adalah suami istri, ampuni aku!"

Pedang Hiat-kun menusuk sedikit, walaupun tidak mengambil nyawanya tapi bisa membuat Hie Tiong-gwee terluka parah dan tertangkap.

Hiat-kun juga bisa menotoknya dengan pedang tapi dia jarang menotok jalan darah di belakang tubuh.

Jalan darah itu terletak antara sebuah jalan darah kematian bila tenaga Hiat-kun tidak tepat, Hie Tiong-gwee akan mati di bawah pedangnya.

Pertama, Hie Tiong-gwee belum terbukti dosa-dosanya harus dipertanyakan lagi tentang hal yang terjadi.

Kedua, dia bukan orang sekejam itu.

Dia tidak yakin bisa menotok jalan darah menggunakan pedang karena itu Hiat-kun mencari jalan darah lain untuk ditusuk dan membuat dia menjadi kaku.

Hiat-kun masih ragu-ragu, tiba-tiba dia merasa tangannya kesemutan dan pedangnya terjatuh.

Ternyata Hiat-kun telah ditotok oleh Tuan Kiam-ta dari jarak jauh, jari Tuan Kiam-ta seperti angin.

Pertama, dia menotok tangan, kedua dan jarak jauh menotok jalan darah di lutut.

Pedang terlepas, orang pun terjatuh.

Hie Tiong-gwee sangat gembira, segera membalikkan tangan menangkap Hiat-kun, untung dasar tenaga dalam Hiat-kun sudah kuat.

Ilmu totok jarak jauh milik Tuan Kiam-ta'pun belum begitu tinggi, walau sudah ditotok di dua titik tapi Hiat-kun masih bisa bergerak sedikit.

Dia menggulingkan tubuh di bawah, menghindari cengkeraman Hie Tiong-gwee, telah terjadi sesuatu yang tidak diduga oleh kedua pihak.

Hui-thian pun tertotok di satu tempat oleh Tuan Kiam-ta dari jarak jauh, tapi karena silat Hui-thian sudah kuat hanya membuat Hui-thian sedikit kesemutan, tapi tidak tertutup jalan darahnya.

Dia mengayunkan pukulan tangan kosong menggetarkan Tuan Kiam-ta dan dia pun tergetar mundur.

Hie Tiong-gwee tidak dapat menangkap Hiat-kun, malah ditangkap oleh Hui-thian.

Waktu Hui-thian merasa senang, tiba-tiba mendengar tawa dingin Tuan Kiam-ta.

"Hui-thian-sin-liong, kau mau istri orang ini, atau mau orang itu?"

Sewaktu Hui-thian menangkap Hie Tiong-gwee, Tuan Kiam-ta pun menangkap Hiat-kun. Kata Wie Thian-hoan.

"Bila kau berani menyentuk satu helai rambutnya saja aku akan mengambil nyawa Hie Tiong-gwee."

"Kalau begitu, yang kau mau bukan suaminya melainkan istrinya. Baiklah, mari kita berunding, kau lepaskan Hie Tiong-gwee dan aku akan melepaskan Nona Kang."

Wie Thian-hoan sudah tahu kemauan mereka, dalam hati dia berpikir, 'Bila aku membiarkan Hie Tiong-gwee pergi ke ibu kota untuk mencari Jenderal Bok, maka akan lebih sulit untuk menangkapnya.

Tapi Hiat-kun ada di tangan Kiam-ta, apakah aku bisa meninggalkan dia begitu saja?"

Dia tampak ragu, tiba-tiba dia merobek baju atas Hie Tiong-gwee.

Waktu itu hatinya sangat kacau, bila dia bisa membuktikan bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang ditutup wajahnya dan dia yang membawa pengawal istana untuk membunuh ayahnya, apakah dia akan melepaskan Hie Tiong-gwee atau tidak.

Dia harus mencari tahu teka teki ini, tapi dia takut bila teka teki ini terbongkar.

Tapi pundak Hie Tiong-gwee tidak ada bekas gigitan, bekas luka pun tidak ada.

Tuan Kiam-ta marah dan berkata.

"Kau mau apa!?"

Hie Tiong-gwee pun terkejut karena perbuatan Wie Thian-hoan. Dari teriakan Hie Tiong-gwee, Tuan Kiam-ta tahu bahwa Hie Tiong-gwee tidak terluka, dia berkata.

"Jangan sembarangan bertindak, masih ada sandera di tanganku, kalau kau tidak melukai Hie aku juga tidak akan melukai Nona Kang."

Walaupun Wie Thian-hoan sudah mendapat jawaban dari teka teki ini tapi hatinya tetap kosong.

Dia mengira bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang ditutup wajahnya ternyata bukan.

Walaupun Hie bukan orang yang dimaksud tapi masih banyak yang dicurigai dari dirinya, dia masih tidak percaya bahwa Hie tidak ada hubungan dengan kematian ayahnya.

Tapi bukti yang kuat tidak ada di tubuh Hie Tiong-gwee.

Sekarang dia punya alasan untuk melepaskan Hie Tiong-gwee.

Dia tidak merasa malu kepada ayahnya yang sudah meninggal.

Tuan Kiam-ta melihat dia tampak ragu, dia merasa agak sedikit terburu-buru.

"Bagaimana ini? Jadi atau tidak?"

Tanya Tuan Kiam-ta.

"Tidak perlu terburu-buru, kedua belah pihak saling tidak percaya bila mau menukar sandera, harus ada persyaratannya."

Wie Thian-hoan sedang memikirkan syarat-syaratnya. Tiba-tiba ada yang berkata.

"O-mi-to-hud."

Kemudian ada yang berkata.

"Apa kabar Tuan Wei, aku di sini memberi hormat."

Wie Thian-hoan terkejut dan membalikkan tubuh, dia melihat ada seorang hweesio yang kurus sudah berada di hadapannya.

Hweesio itu lebih terkenal lagi dibanding Tuan Kiam-ta, dia adalah Ko Tan Taysu dari Siauw-lim.

Pertama kali dia bertarung dengan Hie Tiong-gwee di Siong-san, biksu ini adalah saksi juri pertama.

Di dunia persilatan namanya terkenal dan dia juga tahu identitas asli dari Wie Thian-hoan karena Ko Tan Taysu dan kakek gurunya adalah teman baik.

Setelah terjadi insiden itu, Hie Tiong-gwee mengundang dia untuk datang ke Lok-yang tapi masih dalam batas wajar.

Tapi dia bisa datang pada waktu sekarang ini, Wie Thian-hoan menjadi curiga.

"Dia dan kakek bukan teman biasa, walaupun dia datang karena diundang oleh Hie Tiong-gwee, tapi aku berharap dia tidak hanya mendengar dari satu pihak,"

Pikir Wie Thian-hoaa Wie Thian-hoan pun memberi hormat kepada Ko Tan Taysu.

"Apakah Cianpwee datang untuk diriku? Cayhe sangat berterirna kasih, apakah ada petunjuk untukku?"

Kata Ko Tan.

"Wie Sicu, apakah kau sudah melihat dengan jelas? Jujur katakan kepadaku, apakah Hie Tayhiap adalah orang yang kau curigai?"

Wie Thian-hoan tampak terkejut dan berkata.

"Apakah Anda sudah tahu semua?"

"Benar, kau mau mencari bukti, kakek gurumu sudah memberi-tahu bila benar orang itu adalah Hie Tayhiap, aku tidak berani campur tangan"

Wajah Tuan Kiam-ta seperti terkejut setelah mendengar kata-kata ini apakah dia memang pura-pura atau memang tidak tahu? Dengan marah dia berkata.

"Mengapa Hie Tayhiap dicurigai sebagai pembunuh?"

"Ini adalah urusan keluarga mereka, Tuan Kiam, maaf aku tidak bisa memberitahumu."

Kata Ko Tan. Dia bertanya lagi.

"Kelihatannya kau tidak mendapat bukti itu di tubuh Hie Tiong-gwee, apakah benar?"

"Bukti tidak kudapatkan, tapi..."

Kata Wie Thian-hoan.

"Tapi apa?"

Wie Thian-hoan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Bila tidak ada bukti, apakah orang lain akan percaya? Dengan pelan Ko Tan berkata.

"Kecurigaanmu belum terhapus, apakah benar? Kau dan Hie Tiong-gwee sudah salah paham, sekarang tidak ada bukti, aku mengatakannya dengan adil, jangan membuat susah Hie Tayhiap."

Di dalam kata-kata Ko Tan terkandung makna bahwa dia memarahi Wie Thian-hoan agar jangan mencurigai Hie Tiong-gwee, dan juga marah karena Wie Thian-hoan masih tertarik kepada Hiat-kun.

"Aku punya mulut pun susah untuk menjelaskannya,"

Pikir Wie Thian-hoan.

"Baiklah!"

Kata Wie Thian-hoan.

"Tuan Kiam-ta, kau buka totok Hiat-kun, kita berbarengan melepaskan sandera."

Dengan ada Ko Tan Taysu, Wie Thian-hoan tidak takut Tuan Kiam-ta akan main licik.

"Baiklah!"

Tuan Kiam-ta berkata.

"Kita hitung sampai 3 kemudian berbarengan melepaskan sandera. Satu, dua, tiga, lepas!"

Hiat-kun sangat malu tapi juga berterima kasih, malu karena disalah sangka oleh Ko Tan Taysu, berterima kasih karena Wie Thian-hoan sangat sayang kepadanya.

Dia tahu demi balas dendam Wie Thian-hoan telah banyak menghabiskan tenaga dan pikiran.

Demi dia, Wie Thian-hoan harus melepaskan musuhnya.

Hiat-kun menjadi terharu, dia memanggil.

"Hoan Toako!"

Begitu dia memanggil, orang-orang menganggap dia perempuan murahan tapi dia tetap berlari ke arah Wie Thian-hoan.

Tuan Kiam-ta pun tidak berani berlaku licik, dia membuka totokannya, tapi ada hal aneh yang terjadi.

Hie Tiong-gwee dan Hiat-kun berlari ke teman masing-masing, mereka bertemu di tengah-tengah, di sisi mereka ada gunung buatan.

Hiat-kun merasa ada angin yang berhembus dari gunung itu dan dia merasa lututnya kaku, dia sudah jatuh di pelukan Hie Tiong-gwee.

Hie Tiong-gwee langsung mencengkram dan menotoknya hingga Hiat-kun pingsan.

Hiat-kun pingsan dalam pelukan Hie Tiong-gwee, pura-pura Hie Tiong-gwee berkata.

"Istriku, kau ingin kembali ke dalam pelukanku, aku sangat senang, kau tidak perlu banyak cerita lagi, aku akan memaafkan kesalahanmu yang dulu."

Wie Thian-hoan sangat terkejut, tubuhnya seperti disengat api dan dia berteriak.

"Orang tidak tahu malu! Lepaskan dia!"

Waktu itu Tuan Kiam-ta sudah menghampiri Hie Tiong-gwee dan melindunginya, dan terjadi lagi adu tenaga telapak tangan.

Mereka tahu kemampuan ilmu silat masing-masing, walau Tuan Kiam-ta tidak bisa memukul mundur Wie Thian-hoan, setidaknya bisa menghalangi dia.

Hie Tiong-gwee tertawa dingin.

"Kurang ajar! Kau merebut istriku, malah masih sempat memarahiku! Walaupun ilmu silatmu tinggi, tapi tetap harus tahu aturan, ada Tuan Kiam-ta dan Ko Tan Taysu, mereka akan memberikan keadilan, aku tidak pantas bicara dengan orang sepertimu!"

Dia pura-pura takut Wie Thian-hoan akan merebut Hiat-kun lagi, maka dia segera kembali ke ruang rahasia dan menekan tombol kemudian masuk.

Dari luar Wie Thian-hoan hanya mendengar suara dinding yang terbuka, karena tidak bisa melewati hadangan Kiam-ta hanya bisa melibat Hiat-kun digotong oleh Hie Tiong-gwee, kemudian masuk dan menghilang di depan matanya.

Seorang pesilat bila sedang bertarung harus berkonsentrasi dan tenang, pada saat Wie Thian-hoan tidak berkonsentrasi jari Kiam-ta sudah melewati pundak kirinya dan Wie Thian-hoan merasa sangat kesakitan Untung dia segera mengibaskan ilmu Tiat-siu, bisa menahan tulang pundaknya tidak sampai patah.

Wie Thian-hoan sangat marah, segera menyerang dengan 3 jurus.

Tuan Kiam-ta yang licik segera meloncat keluar dan mundur ke sisi Ko Tan Taysu.

Wie Thian-hoan sangat marah.

"Kian-yan, kau tidak menepati janji."

"Yang mana yang tidak kutepati?"

Wie Thian-hoan masih marah.

"Kita sudah membuat perjanjian, bersama-sama melepaskan sandera."

Dengan tergesa-gesa dan marah Wie Thian-hoan berkata lagi.

"Kau tidak tahu malu! Orang yang kau inginkan sudah kembali, mana orang yang aku inginkan!"

Kiam-ta tertawa dingin.

"Apakah kau meninginkan Nona Kang? Sungguh tidak tahu malu! gila kau tidak tahu malu itu urusanmu, aku Kiam-ta harus menepati janjiku, sudah melepaskan Nona Kang, tapi Hie Tiong-gwee ingin istrinya kembali, itu urusan Hie Tiong-gwee, tidak ada hubungannya denganku!"

Walaupun dia licik tapi kata-katanya masuk akal, dalam waktu yang sangat tergesa-gesa, Wie Thian-hoan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Ko Tan Taysu yang sudah lama terdiam, kemudian berkata.

"Tuan Kiam-ta, hal ini ada hubungannya denganmu!"

Wie Thian-hoan segera bersemangat, seperti orang yang sudah hampir tenggelam, tiba-tiba mendapat sebuah kayu, Wie Thian-hoan berkata.

"Benar, Ko Tan Taysu. Coba Anda jelaskan dengan adil..."

Ko Tan Taysu mengatupkan telapak tangan dan berkata.

"O-mi-to-hud!"

Dengan pelan dia berkata lagi.

"Wie sicu, aku nasihati dirimu, buanglah pikiran yang tidak benar, jangan memikirkan istri orang lain, kembalilah ke tempat asal."

Wie Thian-hoan terkejut dan bertanya.

"Taysu mengatakan itu, apa artinya?"

Ko Tan Taysu membalikkan tubuh dan berkata kepada Tuan Kiam-ta.

"Tuan Kiam-ta, kali ini perselisihan antara Hie Tiong-gwee dan Wie Sicu, kau selalu berada di tempat kejadian, kau melihat lebih jelas dari diriku, Wie Sicu minta keadilan, kau tidak boleh pura-pura tidak tahu, mari bantu aku menjelaskan kepadanya."

Wie Thian-hoan sangat marah hampir tidak bisa bicara. Tuan Kiam-ta malah tersenyum dan berkata.

"Wie Thian-hoan baru saja bertarung denganku, lebih baik aku pergi dulu, Anda adalah Cianpwee di dunia persilatan, Anda saja yang mengurusnya, tidak akan ada yang berani membantah."

Kata Ko Tan Taysu.

"Wie Sicu, tolong dengan tenang dengarkan kata-kataku!"

Ko Tan Taysu sudah menerima usul Kiam-ta. Terpaksa Wie Thian-hoan berkata.

"Silahkan beri petunjuk!"

"Aku tidak berani memberikan petunjuk, hanya saja aKo Tan kakek gurumu adalah teman baik, aku nasihati dirimu, Nona Kang adalah istri sah dari Hie Tiong-gwee, tidak boleh merebut istri orang."

"Nona Kang tidak ingin menikah dengan Hie Tiong-gwee, aku tidak merebut istri orang lain..."

Kata Wie Thian-hoan. Ko Tan Taysu berkata lagi.

"Ini adalah perintah ayah dan ibunya agar dia menikah dengan Hie Tiong-gwee, walaupun dia tidak mau, tapi tubuhnya sudah menjadi milik Hie Tiong-gwee, apalagi, bila dia tidak mau mengapa dia datang untuk menjalankan adat pernikahan? Wie Sicu, pandanglah kakek gurumu, kembalilah ke tempatmu. Aku tidak ingin marah kepadamu, kelakuanmu sudah merusak norma-norma. Bila kau tidak sadar, kau akan dihukum oleh masyarakat. Waktu itu yang marah mungkin bukan aku saja."

Ko Tan Taysu makin bicara kata-katanya semakin memberatkan, Wie Thian-hoan pun semakin mendengarnya semakin marah "Kau belum mengetahui kejadian sebenarnya, semua hal belum terbuka dan aku sulit untuk menjelaskannya, tapi Tuan Kiam-ta semalam sudah melakukan suatu hal, aku harus menyampaikan ini kepada Taysu,"

Kata Wie Thian-hoan.

Ko Tan mengerutkan dahi dan menatap Tuan Kiam-ta, karena mereka adalah teman yang saling menghormati, bila belum mendapat persetujuan dari teman, membiarkan orang lain menjelekkan Tuan Kiam-ta, itu adalah tindakan tidak sopan.

Karena itu dia mengerutkan dahi dan memandang Kiam-ta.

Ada 2 arti dari pandangannya, pertama, dia tidak percaya kepada Wie Thian-hoan.

Kedua, minta ijin kepada Tuan Kiam-ta.

Kata Kiam-ta.

"Seumur hidupku, tidak ada masalah yang tidak bisa kukatakan, aku tidak pernah melakukan hal yang merugikan orang lain. Walau kau bilang seperti itu tidak menjadi masalah bagiku."

"Baiklah, coba ceritakan!"

Kata Ko Tan. Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata.

"Apa benar, kau tidak melakukan kejahatan? Benar-benar bermuka tebal, sepasang tanganmu penuh dengan darah, kau masih tampak tenang seperti itu."

"Aku membunuh orang yang jahat."

Dengan marah Wie Thian-hoan berkata.

"Apakah itu benar?"

"Wie Sicu, jangan menyerang orang terus, cepat katakan saja yang sebenarnya!"

Kata Ko Tan Taysu. Dengan suara besar Wie Thian-hoan berkata.

"Kemarin malam dia membunuh ibu Hiat-kun dan pamannya, walaupun pamannya adalah orang yang berpikiran sempit tapi tidak harus dibunuh. Ibu Hiat-kun pun tidak dapat disebut sebagai orang jahat."

"Kita tidak bicara tentang baik atau jahat. Aku bertanya kepadamu, kemarin malam kau katakan dia membunuh orang?"

"Benar."

"Kapan?"

"Menjelang subuh."

"Apakah kau sendiri yang melihatnya?"

"Sebelum meninggal ibu Hiat-kun mengatakan nama pembunuhnya, aku mendengar dengan jelas, dia bilang Kiam-ta dan dia menggunakan ilmu Bian-ciang."

Ko Tan membaca lagi.

"O-mi-to-hud!"

Dengan pelan dia berkata.

"Wie Sicu, aku berharap kau jangan berbohong, apakah ibu Hiat-kun tidak salah melihat orang?"

Wie Thian-hoan sangat sedih sekaligus marah, dia berkata.

"Apakah Anda tidak percaya?"

Ko Tan melambaikan tangan, melarangnya bicara terus, dan Ko Tan berkata.

"Aku tidak percaya, karena kau sendiri yang dengar tapi aku sendiri yang melihat."

Wie Thian-hoan menjadi bengong dengan suara besar dia bertanya.

"Anda melihat apa?"

Wie Thian-hoan sudah tidak sabar lagi. Dengan pelan Ko Tan Taysu berkata.

"Kemarin malam aku dan Tuan Kiam-ta main catur hingga dini hari, setelah itu dia kembali ke kamar tidur."

Wie Thian-hoan yang mendengar perkataan ini menjadi bengong.

Tidak mungkin Tuan Kiam-ta dalam waktu yang bersamaan menemani Ko Tan Taysu main catur dan pada waktu itu juga di rumah paman Hiat-kun membunuh orang.

Malam itu walaupun dia tidak jelas melihat wajah pembunuhnya tapi dari bayangan belakang punggungnya dapat dipastikan bahwa itu adalah Tuan Kiam-ta, apalagi dia sendiri yang mendengar ibu Hiat-kun menyebut nama pembunuhnya.

Apakah Tuan Kiam-ta bisa terbagi dua?

Dan itu sama sekali tidak mungkin.

Apakah Ko Tan Taysu juga berbohong?

Dan itu juga tidak mungkin.

Dia seperti tidak percaya kepada telinganya sendiri, dia hanya bengong menatap Ko Tan Taysu.

Kata Wie Thian-hoan.

"Bila Anda bisa membuktikan Tuan Kiam-ta kemarin malam bermain catur dengan Anda, walaupun aku mempunyai banyak pertanyaan tapi aku tetap menyimpannya karena sulit untuk menjelaskannya."

Sepertinya Ko Tan Taysu tidak senang dan dia berkata.

"Wie Sicu, bila kau tidak percaya kepadaku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

"Aku tidak berani..."

"Dosa adalah kau sendiri yang membuatnya, kejahatan tumbuh dari hatimu sendiri, aku ingin kau mengingat kata-kata ini, bila tidak berani, berhentilah sampai di sini! O-mi-to-hud, kau pulang saja!"

"Masih ada satu hal lagi yang belum Anda ketahui."

Dengan dingin Ko Tan Taysu berkata.

"Ada apa lagi?"

Sikapnya dingin, sepertinya dia takut Wie Thian-hoan berubah pikiran lagi.

"Anda mau percaya atau tidak, terserah pada Anda, aku baru dengar Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee sedang berunding akan pergi ke ibukota untuk mencari Jenderal Bok!"

Kata Ko Tan Taysu.

"Aku berteman dengan Tuan Kiam-ta sudah puluhan tahun selalu tahu sikapnya. Wie Sicu, sebenarnya aku sangat berharap kepadamu tapi kali ini sikapmu sungguh mengecewakanku, aku berharap ini hanya untuk sementara kau seperti mi, kelak kau jangan asal bicara!"

Benar, dia sudah tidak percaya kepada Wie Thian-hoan dan kata-katanya bertambah tajam.

Sekarang keluarga Hie sudah banyak yang datang, ada murid Hie Tiong-gwee yang bernama Leng Tiang-goan, dan lain-lain.

Dan tamu yang belum pulang seperti Hun Sim-boh, Yap Jin-tong, dan lain lain.

Hun Sim-boh adalah murid Siauw-lim.

Malam itu dia sudah dirugikan oleh Wie Thian-hoan sekarang kebetulan Ko Tan Taysu sudah datang, dia berkata kepada Ko Tan Taysu.

"Supek, orang ini merebut istri orang lain, tidak tahu malu dan sangat sombong, bila tidak menghukumnya, Siauw-lim mana bisa memimpin dunia persilatan lagi?"

Ko Tan Taysu membaca ayat-ayat yang berada di dalam kitab suci, artinya.

Budha selalu sayang kepada manusia, termasuk orang jahat.

Yang galak seperti elang dan harimau, Budha tetap memotong dagingnya sendiri untuk memberi makan kepada mereka, apalagi kepada manusia Dua kata terakhir jelas ditujukan kepada Hun Sim-boh agar dia tidak memikirkan balas dendam.

Setelah membaca ayat kitab suci, Ko Tan Taysu menyuruh Wie Thian-hoan meninggalkan tempat itu.

Wie Thian-hoan merasa ada tenaga lembut yang mendorong dia hingga mundur beberapa langkah, dia merasa terkejut dan marah.

Dia terkejut karena tenaga dalam Ko Tan Taysu begitu hebat, walau dia sudah berlatih ilmu silat yang begitu tinggi, tetapi tetap tidak bisa menahan dorongan tenaga dalam dari Ko Tan Taysu.

Yang membuat Wie Thian-hoan marah adalah bahwa dia ditipu oleh Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee.

Dalam keadaan seperti ini, dia tidak ada cara lain, satu-satunya adalah dia harus pergi dari sini.

Wie Thian-hoan memberi hormat kepada Ko Tan Taysu dan berkata.

"Terima kasih anda sudah menasehati aku, mana yang salah dan mana yang benar."

Hun Sim-boh tahu bahwa tadi Ko Tan Taysu membaca ayat kitab suci untuk menasihati dia, tapi dia tahu bagaimana pun Supeknya pasti perada di pihaknya, dia pura-pura tidak mengerti dan berkata.

"Supek sangat welas kasih, tapi kau tidak mau menerimanya, masih berani melawan, Supek bisa menerima sikapmu, tapi aku tidak bisa!"

Sehabis berkata itu Hun Sim-boh menyerang Wie Thian-hoan dengan tongkatnya Wie Thian-hoan segera mengeluarkan jurus Liu-in-hui-siu, tongkat yang dipegang oleh Hun Sim-boh jadi terlepas dari tangannya, dan jatuh ke dalam gunung buatan, dengan tertawa lepas dia meninggalkan tempat itu.

Ko Tan Taysu marah.

"Hun Sim-boh, aku sudah menyuruhmu jangan ikut campur, mengapa kau tidak dengar?"

Hun Sim-boh mengira bila dia bertarung, Supeknya pasti akan membantunya, siapa tahu pada malam itu dia sudah kalah dalam satu jurus dan Wie Thian-hoan tidak membunuhnya, tongkatnya ditancapkan ke dalam batu.

Ujung tongkat masih bergoyang, Hun Sim-boh terkejut sampai bengong.

Kata Tuan Kiam-ta.

"Orang ini tidak bisa mendengar perkataan orang lain, guru sudah menasihati juga tidak akan berhasil, lebih baik aku melindungi Hie Tayhiap, meninggalkan Lok-yang untuk bersembunyi sementara waktu."

Ko Tan Taysu menarik nafas dan berkata.

"Wie Thian-hoan tidak tahu aturan, aku tidak menyangkanya, menurut aturan aku harus membantu Hie Tiong-gwee tapi aku adalah pengawas Siauw-lim, tidak dapat meninggalkan Siauw-lim lama-lama. Aku menyesal, sekarang Kiam Toako bisa menanganinya. Itu lebih baik."

Karena pertarungan di Siong-san Ko Tan Taysu pernah beberapa kali memuji Wie Thian-hoan.

Waktu itu dua orang menganggap saksi lain karena terlalu percaya kepada kata-kata orang-orang persilatan, mereka menganggap Wie Thian-hoan adalah penjahat kelas kakap.

Hanya Ko Tan Taysu yang tidak mempercayainya dan selalu membantu dia, karena itu Tuan Kiam-ta dan It Piau berjanji akan adil menjadi juri karena itu sekarang Ko Tan Taysu agak menyesal.

Dia tidak tahu yang dikatakan oleh Tuan Kiam-ta adalah alasan untuk meninggalkan Lok-yang dengan Hie Tiong-gwee untuk pergi ke ibukota, asal Ko Tan tidak mencurigainya.

Walaupun dia dapat ditemui di ibukota, orang-orang tidak akan percaya Hui-thian dan mencurigainya melakukan kejahatan di ibukota.

Karena Ko Tan Taysu merasa malu, dia tidak pamitan kepada Hie Tiong-gwee, langsung pergi dengan Hun Sim-boh.

Tuan Kiam-ta yang sudah berhasil menipu hatinya sangat senang, tapi dia juga agak khawatir.

"Hie Tiong-gwee sudah mendapatkan kembali istrinya, besok tentu tidak mau meninggalkan Lok-yang, mungkin Hie Tiong-gwee akan berbulan madu beberapa hari di sini." ---ooo0dw0ooo---C. Main Gila dengan Kakak Ipar Dia tidak tahu bahwa Hie Tiong-gwee pun mempunyai kesulitan, si cantik tidur di sisinya, tapi dia tidak bisa menikmatinya. Hiat-kun perlahan mulai agak sadar, samara-samar dia mendengar ada suara genit yang sedang tertawa dan berkata.

"Hie Tiong-gwee, aku sudah merebut kembali istrimu, bagaimana caramu berterima kasih kepadaku?"

Hiat-kun mengenali suara ini, dia merasa aneh mengapa dia ada di sini?

Biasanya dia dingin seperti es, mendengar kata-katanya tadi, apa maksudnya?

Hiat-kun curiga dia salah dengar, pelan-pelan dia membuka matanya dan mencuri-curi pandang melihat keadaan sekitarnya.

Untung Hie Tiong-gwee dan perempuan itu membelakangi Hiat-kun dan mereka tidak melihat Hiat-kun yang sudah sadar.

Tapi Hiat-kun dapat dengan jelas melihat mereka.

Hiat-kun tidak salah mendengar, perempuan itu adalah kakak ipar dari istri Hie Tiong-gwee yang sudah meninggal, di dunia persilatan dia dijuluki 'Yu-bin-lo-sat' (Pembunuh berwajah giok), dia bernama Tio Ang-bi.

Dia adalah seorang perawan tua berumur 36 tahun dan selalu tinggal di rumah Hie Tiong-gwee.

Dengan tertawa Hie Tiong-gwee berkata.

"Cici, bagaimana caraku berterima kasih kepadamu?"

"Kau harus tahu sendiri!"

Kata Tio Ang-bi.

"Aku tahu, kau ingin aku sebagai adik ipar menjadi suamimu, tenanglah pada suatu hari aku akan menjadikanmu sebagai Nyonya Hie yang sah!"

Dengan tertawa dingin Tio Ang-bi berkata.

"Aku sudah bosan mendengarnya!"

"Kali ini aku tidak akan berbohong lagi kepadamu."

Tio Ang-bi marah.

"Pada suatu hari, pada suatu hari, kau menyuruhku menunggu sampai kapan?"

Dengan tertawa Hie Tiong-gwee menjawab.

"Kali ini tidak perlu lama-lama, asal kau dapat menunggu dengan sabar, paling lama setengah tahun paling cepat 3 bulan, cita-citamu akan tercapai."

"Mengapa kau malah menikahi Hiat-kun?"

"Aku hanya pura-pura kepadanya, berbeda denganmu, kau harus percaya kepadaku!"

"Aku tidak percaya, Hiat-kun kabur dari sini dan dia pun mempunyai laki-laki lain, tapi kau tetap menginginkan dia menjadi istrimu, pasti mengaku tidak sepenuh hati."

"Karena itulah aku tidak mau kalah dari Wie Thian-hoan. cici Tio, berilah obat penawarnya!"

Pinta Hie Tiong-gwee.

"Bila kau tidak mau kalah, sekarang dia masih pingsan, perkosa saja kemudian bunuh dia! Dendammu akan selesai, mengapa harus memberi dia obat penawarnya?"

Kata Hie Tiong-gwee.

"Tidak, aku ingin dia dengan senang hati menjadi istriku, jangan bunuh dia sekarang, juga tidak perlu memakai kekerasan."

Hiat-kun masih pura-pura pingsan, dalam hati dia sangat marah tapi dia berusaha menahan diri.

Dia berpikir, 'Benar, mengapa dia bersusah payah mau menikah denganku?' Ini adalah pertanyaan Tio Ang-bi kepada Hie Tiong-gwee tapi tidak dijawab oleh Hie Tiong-gwee.

Hiat-kun juga ingin tahu.

Terdengar Tio Ang-bi tertawa dingin.

"Kau mau membohongi dia atau aku? Katakan saja kau suka dengan kecantikannya, dan ingin membangun rumah tangga yang harmonis."

Hie Tiong-gwee menarik nafas dan berkata.

"Baiklah, bila kau tidak percaya, aku akan jujur kepadamu, aku menikahinya karena aku ingin memperalatnya."

"Apa yang bisa diperalat darinya? Dia hanya seorang gadis biasa."

"Ayahnya dan ayah Hui-thian-sin-liong adalah sahabat karib, apakah kau tahu itu?"

"Aku tahu, karena itulah istrimu tidak dapat melupakan kekasih lamanya, tapi ayahnya dan ayah Hui-thian bukankah sudah mati? Dan itu juga akibat perbuatanmu bukan? Apalagi yang kau mau dari dia?"

"Ssstt, suaramu jangan terlalu keras!"

Kata Hie Tiong-gwee.

"Kau takut apa? Dia sudah terkena jarum Su-kut-ciam (jarum pelemas tulang), paling sedikit harus pingsan selama 12 jam. Kau berteriak di depan telinganya pun dia tidak dapat mendengar, apalagi ini adalah ruang rahasia, tidak perlu khawatir didengar oleh orang."

Mereka tidak tahu Hiat-kun menguasai ilmu tenaga dalam turun temurun dari keluarganya, dia bisa membuka totokan jalan darahnya, walau dalam keadaan tidur, nafasnya pun bisa mengatur sendiri.

Walau Hiat-kun sudah terkena jarum Su-kut-ciam tapi dalam waktu 6 jam dia sudah sadar.

Walau Hiat-kun sudah sadar tapi tenaga dalamnya belum pulih.

Hiat-kun sudah mendegar pengakuan dari Hie Tiong-gwee.

segera tahu bahwa dia adalah pembunuh ayahnya, dia ingin membunuh Hie Tiong-gwee tapi tenaganya belum pilih.

Jari kelingkingnya pun belum bisa digerakan.

Terdengar Hie Tiong-gwee tertawa kecut.

"Aku tidak takut dia mendengar tapi rahasiamu aku tidak ingin orang lain tahu, aku ingin memberitahumu saja."

Tio Ang-bi tertawa dan berkata.

"Seseorang bila sudah berbuat jahat, hatinya pasti akan ketakutan, aku tidak menyalahkanmu, teruskan ceritamu!"

Hie Tiong-gwee membela diri dan berkata.

"Aku tidak menganggap aku berbuat jahat, aku hanya ingin berbakti kepada kerajaan, aku juga ingin memperalat Hiat-kun, mengabdi kepada kerajaan."

"Bagimana caranya?"

"Ayah Hui-thian adalah salah satu ketua dari Perkumpulan Thian-te (langit bumi) dan dia berhubungan dengan penjahat yang pernah memberontak kepada kerajaan. Ayah Hiat-kun adalah teman baik ayah Hui-thian, walaupun belum mendapat bukti yang kuat, tapi mungkin mereka satu komplotan, bila tidak mereka tidak akan menjadi sahabat karib."

"Walaupun sewaktu mereka masih hidup adalah sahabat, tapi sekarang mereka sudah mati."

"Tapi Hiat-kun masih hidup, dia pasti tahu bahwa ayahnya sebelum mati telah bertemu dengan siapa? Kali ini dia ditipu oleh Hui-thian. Dalam beberapa hari dia akan tahu rahasia Hui-thian."

Tio Ang-bi dengan dingin berkata.

"Apakah kau mengira Hiat-kun akan memberitahumu?"

"Dia tidak tahu aku yang membunuh ayahnya, dan yang paling penting pada saat Hui-thian-sin-liong merobek bajuku dia tidak bisa membuktikan bahwa aku adalah musuh mereka. Aku akan membuktikan bahwa aku adalah teman baik Hui-thian dan akan membuat dia percaya bahwa ini adalah salah paham karena Hui-thian cemburu kepadaku maka dia curiga aku adalah musuhnya. Sifat Hiat-kun jujur dan baik, bila dia sudah tinggal di rumahku dia akan rela menjadi istriku."

Ang-bi sangat marah.

"Memang rencana yang sempurna, tapi kenyataan tidak bisa selalu ditutup, seperti luka di pundakmu..."

Hie Tiong-gwee baru sadar dan berkata.

"Benar, aku ingin bertanya kepadamu, kau memindahkan kulit untuk menutupi luka ini, benar-benar sangat sempurna, tapi sampai kapan dapat bertahan? Jangan hanya 3 bulan saja."

Ang-bi tertawa.

"Aku tidak akan memberitahumu, kau juga tidak perlu tergesa-gesa ingin tahu, kau licik sekali dan aku harus mencari tali untuk mengikat kera tua ini."

Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata.

"Aku bisa membohongi orang lain tidak akan bisa membohongi dirimu, karena kita adalah orang bertipe yang sama."

Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata.

"Aku akan menurut kepadamu, kau sudah membantuku satu kali, pasti bisa membantuku untuk kedua kalinya.

"Aku harus lihat bagaimana caramu untuk membalas budi, kau baik kepadaku, aku juga baik kepadamu."

"Sekarang aku akan membalas budimu."

Setelah bicaranya habis, terdengar suara tawa yang cabul, mata Hiat-kun tidak perlu dibuka pun sudah tahu mereka sedang melakukan apa.

Hiat-kun sangat marah tapi tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya merasa keadaannya lebih baik sedikit dari pada tadi.

"Bukti yang dicari Hoan Toako, benar-benar ada di tubuh Hie Tiong-gwee, tapi Hoan Toako juga sudah ditipu oleh Hie Tiong-gwee. Sekarang dimana Hoan Toako berada? Apakah masih ada orang yang dapat menolongku kali ini?"

Memikirkan keadaan sekarang membuat hatinya marah sekaligus takut.

Di rumah Hie masih ada orang yang hatinya kacau.

Walaupun dia marah tidak seperti Hiat-kun tapi rasa bimbangnya sama seperti Hiat-kun.

Orang ini adalah murid kesayangan Hie Tiong-gwee yaitu Kwee Goan-cay.

Hiat-kun marah karena sudah tahu pembunuh ayahnya.

Kwee Goan-cay bingung dan bimbang karena dia mulai curiga kepada gurunya.

Dia curiga kepada Hie Tiong-gwee.

Dia paling mengagumi gurunya, tapi sekarang dia seperti tidak bisa menerima keadaan ini.

Mengapa dia bisa merasa curiga kepada gurunya?

Kecurigaannya dia dengar dari Sumoinya.

Hal ini terjadi kemarin malam.

Hie Kim-giauw secara sembunyi-sembunyi memberitahunya.

"Kemarin malam ayah menyuruh bibi mengobati lukanya, ini membuatku curiga."

Kata Kwee Goan-cay.

"Bibimu selalu menggunakan senjata rahasia yang sudah direndam dalam racun, dia juga ahli membuat obat penawar. Kau merasa apa ada yang aneh?"

Jawab Hie Kim-giauw.

"Luka yang disebabkan oleh Hui-thian tidak begitu berat, aku lihat kemarin ayah sudah sembuh, ayah juga tidak perlu obat penawar."

"Bibimu selain mempunyai obat penawar dia juga bisa mengobati penyakit biasa. Mungkin ayanmu menyuruhnya mengobati lukanya. Apa anehnya?"

"Yang bibi obati bukan luka biasa, tapi luka di pundak ayah, luka bekas digigit orang."

Kwee Goan-cay jadi bingung.

"Apa? Bekas gigitan? Apakah ayahmu pernah digigit hingga terluka?"

"Benar, kemarin Hui-thian juga tidak menggigitnya, aku curiga dengan percakapan mereka, luka ayah ini sudah lama."

Kwee Goan-cay merasa aneh. Hie Kim-giauw terus berkata.

"Masih ada lagi, ayah tidak mengijinkan aku ada di sisinya, hanya ingin bibi saja yang mengurus lukanya."

Kwee Goan-cay tertawa.

"Mungkin ayahmu dalam mengobati lukanya harus bertelanjang dada, di depan anaknya dia merasa malu."

"Ayah dan bibi tidak ada hubungan apa-apa, aku ingin tahu, apakah kau sedikit..."

"Adik, kau jangan curiga, kalau memang benar juga tidak apa-apa, aku selalu hormat kepada guru."

Sebenarnya Kwee Goan-cay menyukai Hiat-kun, tapi karena gurunya mempunyai hubungan dengan perempuan lain, dia jadi tidak enak hati.

"Aku lebih memilih bibi menjadi ibu tiriku, daripada Hiat-kun."

"Guru tidak ingin kau ada di sisinya, mengapa kau bisa tahu?"

"Aku mencuri dengar pembicaraan mereka, aku mendengar bibi berkata yang aneh-aneh."

"Dia bicara apa?"

Tanya Kwee Goan-cay.

"Setelah bibi mengobati luka ayah, bibi berkata seperti ini, 'Aku tidak bilang sempurna, tapi bila Hui-thian tidak teliti, dia pasti tidak bisa membedakannya.'. Luka ayah dipindahkan, apa hubungannya dengan Hui-thian? Apakah ini tidak aneh?"

Kemarin malam Kim-giauw memberitahukan ini kepada Kwee Goan-cay, setelah mendengarnya dia juga tidak mengerti.

Sekarang dalam kebingungan ini dia sudah mendapat sedikit jawaban.

Walaupun belum semua.

Karena kemarin malam Hui-thian menangkap gurunya dan Tuan Kiam-ta menangkap Hiat-kun.

pada saat menukar sandera, Hui-thian menyobek baju gurunya.

Kemudian Ko Tan Taysu datang.

Ko Tan menanyakan apakah Hui-thian mendapat bukti?

Akhirnya Hiat-kun tetap jatuh ke tangan Hie Tiong-gwee, bukti yang dicari oleh Hui-thian tentunya luka bekas gigitan di pundak Hie Tiong-gwee.

Dari percakapan Hui-thian dan Ko Tan Taysu, dia tahu Hui-thian ke sini untuk membalas dendam.

Hui-thian ingin membalas dendam, Ko Tan Taysu tidak melarangnya, asal memang ada buktinya.

"Guru menutupi lukanya pasti dia sudah berbuat suatu kejahatan."

Walaupun Kwee Goan-cay sangat kagum kepada gurunya, tapi dia sekarang mulai curiga kepada gurunya.

Tapi dia tetap tidak percaya bahwa gurunya adalah orang jahat.

Pada waktu dia sedang bingung, terdengar ada yang mengetuk jendela kamarnya.

"Siapa?"

Dia terkejut dan bertanya. Orang di luar tertawa.

"Aku adalah orang yang pernah kau bantu, aku belum berterima kasih kepadamu."

"Oh, Coh Tayhiap!"

Dia terkejut dan senang, segera dia membuka pintu.

Benar saja, di luar ada Coh Tayhiap.

Tapi Coh Thian-su tidak sendirian, ada seseorang yang tidak dia kenal, dia lebih muda dari Coh Thian-su, tapi wajahnya kaku walau dia sangat tampan.

Orang ini belum dikenal olehnya, tapi Kwee Goan-cay merasa dia seperti sudah pernah melihatnya Kwee Goan-cay menutup pintu dan berkata.

"Coh Tayhiap, Hui-thian baru saja ada di sini."

"Aku tahu, karena dia kami jadi kemari."

"Kakak ini adalah..."

Pemuda itu tertawa dan berkata.

"Kau tidak mengenaliku lagi? Aku pun pernah datang ke sini untuk membuat keributan. Hari itu Hui-thian membuat Hie Tiong-gwee tidak dapat menikah, aku adalah pembantu Hui-thian. Aku berharap kau jangan seperti gurumu, menganggapku adalah musuh."

Kwee Goan-cay baru tahu dia adalah gadis yang membawa Hui-thian keluar dari aula.

"Benar, aku adalah Sumoi Hui-thian, aku bernama Kie Su-giok."

Kemudian dia membuka topeng kulitnya dan berkata.

"Coh Toako pun memakai topeng karena takut kau tidak mau membuka pintu."

Hui-thian baru pergi, nyawa guru hampir melayang, sekarang datang lagi Sumoi Hui-thian, entah akan terjadi apa lagi.

Tadi Kwee Goan-cay sudah bingung, sekarang dia tambah tidak tenang.

Tanya Coh Thian-su.

"Apakah Po Leng-hoi sudah memberitahu identitasku?"

"Aku tahu kau adalah Suheng Hiat-kun."

"Aku juga tahu kau adalah teman baik Po Leng-hoi karena itu aku berani datang ke sini untuk meminta bantuanmu."

Hati Kwee Goan-cay lebih kacau lagi.

"Mereka datang pasti untuk mencari guru, bila aku membantu mereka aku pasti bermusuhan dengan guru."

Karena itu dia menjawab.

"Ini... ini..."

Tiba-tiba Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau memanggil istri gurumu dengan Hiat-kun, aku mengira kau pasti mau membantu kami."

Kata Kwee Goan-cay.

"Bila kau ke sini untuk mencari Hui-thian, dia sudah pergi."

"Suhengku sudah pergi, tapi Hiat-kun belum! Aku tahu Hiat-kun dipaksa untuk tinggal di sini."

Kwee Goan-cay merasa malu dan berkata.

"Benar, Hiat-kun disuruh tinggal di sini oleh guru, tapi kalian jangan bilang dipaksa, sepertinya kata-kata ini terlalu..."

"Apakah salah bila dikatakan dipaksa?"

"Aku tidak berani bilang salah, tapi nona Kang sudah digotong oleh tandu masuk ke dalam keluarga Hie, dan dia tetap istri guru yang sah."

"Kau juga tahu dia tidak ingin menikah dengan gurumu."

"Nona Kie, aku sedikit tidak mengerti."

"Kau tidak mengerti apa?"

"Mengapa kau begitu bersemangat membantu kakakmu mencari Kang Hiat-kun?"

Kemarin dia datang dan menarik Hui-thian, Kwee Goan-cay tahu Kie Su-giok mencintai Suhengnya. Kata Kie Su-giok.

"Pertama, aku kasihan kepada Hiat-kun, dia sudah ditipu oleh gurumu. Kedua, karena dia adalah orang yang disukai oleh Suhengku."

Kwee Goan-cay tidak menyangka Kie Su-giok akan menjawab dengan begitu jujur, dia hanya bisa tertawa kecut. Kata Coh Thian-su.

"Kakak Kwee, aku tidak mau menyusahkanmu, tapi Hiat-kun adalah Sumoiku, aku harus menolongnya, aku tahu dia dikurung di ruang rahasia oleh gurumu. Aku hanya minta agar kau menunjukkan tempatnya dan kami sendiri yang akan menolong Hiat-kun. anggap saja kau tidak tahu apa-apa."

Coh Thian-su dan Kie Su-giok tiba di rumah Hie tepat pada saat Hui-thian meninggalkan rumah Hie, juga pada saat Hie Tiong-gwee menarik Hiat-kun masuk ke dalam ruang rahasia.

Bila mengerti sifat Kie Su-giok, dia pasti akan menolong Hiat-kun tapi Coh Thian-su melarangnya, dia ingat ada Tuan Kiam-ta dan Ko Tan Taysu.

Mereka benar-benar tidak dapat menolong Hiat-kun.

sekarang Coh Thian-su meminta bantuan kepada Kwee Goan-cay.

Dan sekarang Kwee Goan-cay tampak ragu, ini membuat Kie Su-giok marah.

Kata Kwee Goan-cay.

"Nona Kie, ada satu hal yang ingin kutanyakan, apakah kau bisa menjelaskan?"

"Hal apa?"

"Bekas gigitan di pundak guru, apakah kau tahu luka itu datang dari mana?"

"Dua hari yang lalu aku dengar dari kakakku tapi dia berkata aku harus menjaga rahasia ini."

"Aku tidak akan memaksa, bila teka teki ini belum terjawab aku tidak bisa menentang guru."

Kata Kie Su-giok.

"Baiklah, demi menolong Hiat-kun, Wie Toako tentunya tidak akan menyalahkanku, aku akan memberitahumu."

Segera Kie Su-giok menceritakan secara ringkas peristiwa mengenai asal mula gigitan itu, sesudah selesai mendengar cerita ini hati Kwee Goan-cay semakin risau, wajah Kwee Goan-cay menjadi pucat seperti kertas.

Dia baru tahu gigitan di pundak gurunya adalah bekas gigitan Hui-thian-sin-liong.

Luka itu dampaknya lebih berat dari yang dia bayangkan.

Gurunya ternyata mengkhianati pemberontak kerajaan Ceng dan mendapat luka gigitan di pundaknya.

Idola yang dia telah lama kagumi tiba-tiba sirna dalam hatinya, dia seperti lilin di dalam hembusan angin, bergoyang-goyang hampir jatuh.

Coh Thian-su memapah dia dan berkata.

"Kakak Kwee, kenapa kau?"

"Aku tidak apa-apa, aku masih bisa bertahan."

Kata Kie Su-giok.

"Kau tidak menyangka bahwa gurumu adalah orang seperti itu bukan?"

Kwee Goan-cay tidak menjawab karena banyak hal yang tidak disangkanya semua tampak timbul dan tenggelam. Dia harus berpikir lambat-lambat. Kata Coh Thian-su.

"Guru adalah guru, murid adalah murid, itu tidak sama, teratai tumbuh di rawa-rawa, tapi bunganya tidak kotor. Kami percaya kepadamu."

Kwee Goan-cay tidak menjawab, tapi dia sudah berdiri. Tanya Kie Su-giok.

"Apakah baju gurumu disobek oleh Wie Toako?"

"Benar."

"Kalau begitu kau harus percaya kami tidak berbohong, kau masih meragukan apa?"

Kedatangan Kie Su-giok bertepatan pada saat Hui-thian pergi, dia tidak melihat Hui-thian merobek baju Hie Tiong-gwee. Tapi jawaban yang ditunggu Kie Su-giok malah sebaliknya, kata Kwee Goan-cay.

"Tapi di pundak guru tidak ada bekas gigitan."

Kie Su-giok bengong dan berkata.

"Mengapa kau masih membantu gurumu menutupi kejahatannya?"

"Aku tidak berbohong."

Dalam hatinya dia berpikir, 'Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya, aku tidak berbohong tapi guru yang membuat semua kebohongan ini.' Kie Su-giok berkata lagi.

"Apakah Wie Toako yang berbohong?"

Coh Thian-su pun ikut ragu, dia berpikir, 'Ada Ko Tan Taysu, bila Hui-thian sudah mendapat bukti, Ko Tan Taysu tidak akan mau membela Hie Tiong-gwee dan dia memaksa Hui-thian keluar dari rumah Hie, apalah Hui-thian tidak menemukan bekas luka?' Belum habis berpikir, Kwee Goan-cay berkata dengan pelan.

"Kakakmu juga tidak berbohong"

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Kata Coh Thian-su.

"Aku pun tidak tahu, bila kalian bertemu dengan Hiat-kun maka akan lebih jelas lagi."

Sebenarnya Kwee Goan-cay bukan tidak tahu tapi dia tidak mau membuka kedok gurunya. Kata Kie Su-giok.

"Baiklah, coba kau tunjukkan kepada kami cara menolong Hiat-kun."

"Kalian harus berjanji dulu baru kuberitahu."

"Silahkan katakan!"

Kata Coh Thian-su.

"Kalian hanya boleh menolong orang tapi jangan melukai orang!"

"Maksudmu?"

"Bagaimana pun kalian tidak boleh melukai guruku!"

Kie Su-giok mengerutkan dahi dan berkata.

"Guru yang kurang ajar, kau masih begitu baik kepadanya?"

Kata Kwee Goan-cay.

"Bila aku masih ada di perguruan ini dan masih menjadi murid Hie Tiong-gwee, walaupun perilakunya seperti apa, kalian tidak boleh memarahi guruku di depanku. Aku harap kalian mengerti, aku harus menganggap kalian adalah teman, tapi dari kecil aku sudah diterima murid oleh guruku, jadi aku harus menghormatinya"

Coh Thian-su sudah mengerti maksudnya, tapi Kie Su-giok belum mengerti.

Kwee Goan-cay mengajukan syaratnya untuk membalas budi kepada gurunya Sehingga di kemudian hari dia akan tenang meninggalkan perguruan atau melepaskan hubungan antara guru dan murid, karena Hie Tiong-gwee adalah musuh Hui-thian Yuan, juga sampah dunia persilatan, orang seperti itu bila terlepas dari hukuman terlalu bagus untuknya.

Kie Su-giok masih ragu, tapi Coh Thian-su sudah berjanji dan berkata.

"Kakak Kwee, aku mengerti maksudmu, kami akan menuruti permintaanmu."

"Bila gurumu bertarung dengan kami, kami tidak yakin tidak akan melukainya"

Kata Kie Su-giok.

"Aku hanya meminta kalian jangan mengambil nyawa guruku!' "Baiklah, aku berjanji!"

Kwee Goan-cay masih sangsi dan berkata.

"Kalian sudah berjanji, kalian harus menepatinya, mari kita bersumpah."

Setelah bersumpah, dia membawa mereka ke dalam terowongan dan memberitahu cara menggunakan tombol rahasia kepada Coh Thian-su dan Kie Su-giok Hiat-kun sedang mengumpulkan tenaga, untuk membuka totokannya, sedangkan Hie Tiong-gwee dan Ang-bi sedang bermain cinta Hanya mendengar Ang-bi berkata.

Baca Juga: Golok Halilintar 7

Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 13

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger