Jala Pedang Jaring Sutra 4

Eps 4 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

"Obat penawar akan keberikan kepadamu tapi harus menunggu hari sudah terang, baru akan kuberikan kepadanya."

Jawab Hie Tiong-gwee dengan tertawa.

"Apakah kau ingin lebih lama bersamaku?"

"Kau hanya menganggapku seperti perempuan genit saja, aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya."

Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata.

"Kau jangan cemburu, sudah kukatakan hanya kaulah yang kucintai."

Ang-bi sangat senang dengan manja dia berkata.

"Mulutmu seperti sudah dioles oleh madu, kau sangat senang membohongiku. Nona Kang cantik seperti bunga lebih muda dariku, apakah kau tidak suka kepadanya? Dia sudah menjadi istrimu, bertahanlah sedikit!"

Hie Tiong-gwee bersumpah.

"Ang-bi, kau jangan curiga dan menuduh aku berbohong kepadamu, adat dan sifat kita cocok, walaupun Hiat-kun cantik, belum tentu dia akan cocok sekelompok denganku. Kami tidak bisa menjadi suami istri dalam waktu lama."

Tanya Ang-bi.

"Tolong beritahu aku, siapa yang bisa menjadi istrimu dalam waktu yang lama?"

Hie Tiong-gwee tertawa dan berkata.

"Yang pasti kau, si genit!"

Kemudian hanya terdengar suara tawa mereka yang cabul, Hiat-kun ingin membunuh mereka, tapi tenaganya terasa belum pulih, walaupun dia malu dan marah tapi dia tetap mengucapkan rasa syukur karena dia belum sembahyang.

Bila tidak, meloncat ke sungai pun tidak akan bisa mencuci bersih penghinaan ini.

Waktu kemarahannya akan meledak, tawa mereka tibat-tiba berhenti.

Ada yang membuka pintu rahasia Hie Tiong-gwee dan Ang-bi berbarengan meloncat duduk.

Hiat-kun membuka matanya dalam sekejap dia tidak percaya dengan matanya sendiri.

Karena yang datang adalah Suhengnya, Coh Thian-su dan Kie Su-giok.

Coh Thian-su tertawa dingin dan berkata.

"Pendekar Tiong-ciu, kau sembunyi di sini untuk melakukan hal ? yang memalukan!"

Hie Tiong-gwee tidak sempat memakai baju dan dia sudah marah.

"Hei orang she Coh, aku tidak ada dendam permusuhan denganmu, mengapa berkali-kali kau mencari gara-gara? Sepertinya aku harus menghajarmu."

Seraya berkata itu Hie Tiong-gwee melancarkan serangan kepada Chu Tian Su Coh Thian-su mengerakan jari-jarinya balas menyerang Hie Tiong-gwee dan menghindari ilmu Ta-sik-pek-jiu, dengan dingin dia berkata.

"Orang sepertimu adalah sampah dunia persilatan, sekarang aku belum membuat perhitungan sudah terlalu bagus untukmu. Pendekar Tiong-ciu, berteriaklah supaya murid-muridmu dan semua keluargamu datang untuk melihat keadaanmu sekarang!"

Hie Tiong-gwee terdiam dan menunduk.

Ilmu silatnya tidak setinggi Coh Thian-su, apalagi dia tidak mengenakan baju membuat dia tidak leluasa bergerak.

Dalam 5 jurus dia sudah ditotok oleh Coh Thian-su.

---ooo0dw0ooo---Bab Bertemu di jalan kecil Sulit membedakan yang baik dan yang jahat Jodoh yang putus menyambung kembali Jangan tanya asal usulnya A.

Bekas Gigitan di Pundak Kie Su-giok dan Ang-bi masih bertarung.

Ilmu silat Ang-bi lumayan tinggi dan dia selalu memakai racun tapi bila dibandingkan dengan Kie Su-giok, dia masih kalah jauh.

Apalagi dia bertarung dengan tubuh telanjang, semua senjata rahasianya tidak sempat diambil.

Dia hanya bisa bertahan tapi tidak bisa menyerang.

Begitu dia melihat Hie Tiong-gwee sudah roboh tertotok, dia tampak lebih gugup lagi.

Tiba-tiba terlintas suatu pikiran jahat, dia memiringkan tubuhnya dan mencakar Hiat-kun.

Dia ingin mati berbarengan, menjadikan Hiat-kun yang masih lemah menjadi sasarannya.

Walaupun dia telanjang dan tidak ada senjata rahasia tapi kesepuluh kuku jarinya sangat panjang dan sudah direndam racun.

Kesepuluh jarinya seperti 10 jarum yang beracun.

Ilmu silat Kie Su-giok lebih tinggi dari dia, jadi dia tidak punya kesempatan untuk menggunakannya.

Tapi bagi Hiat-kun yang masih tertidur di ranjang sama sekali tidak bisa bergerak, asalkan kulit Hiat-kun tergores dan mengeluarkan darah, maka dia akan mati.

Jaraknya sangat dekat dan dia sudah bertekad untuk mati bersama-sama, Kie Su-giok mau menolong Hiat-kun tapi sudah tidak sempat.

Di luar dugaan, maksud Ang-bi juga tidak tercapai, walaupun tenaga Hiat-kun belum pulih bukan berarti tidak dapat bergerak sama sekali.

Dalam keadaan terancam, Hiat-kun menjatuhkan dirinya ke bawah tempat tidur, dan bisa menghindari cakaran Tio Ang-bi.

Waktu itu pun Kie Su-giok sudah mengeluarkan jurus Liu-in-tiat-siu, menghadang Ang-bi yang hendak menyerang Hiat-kun kembali.

Ilmu Tit-siu (Lengan baju besi) adalah ilmu dari keluarganya, walaupun tenaga dalamnya kurang kuat tapi ilmu itu ada unsur ilmu gaib, lengan baju Kie Su-giok bisa berubah seperti papan besi mengebut tepat mengenai bagian dari muka Ang-bi.

Seketika wajah Ang-bi seperti dicelup warna merah, warna itu adalah warna darah, ada yang berwarna hijau yang keluar dari ingusnya, yang berwarna biru kehitaman adalah kulitnya yang terluka.

Ang-bi pun langsung pingsan.

Coh Thian-su memapah Hiat-kun dan bertanya.

"Sumoi, kau tidak apa-apa?"

"Toako, tolong ambilkan obat penawarnya."

Coh Thian-su bingung mencari obat penawarnya, Ang-bi sudah pingsan, terpaksa dia harus menunggu dia siuman, begitu mendengar Hiat-kun tahu di mana obat penawarnya dia sangat senang.

Tapi Coh Thian-su tetap tidak tenang, dia bertanya.

"Kau terkena racun apa?"

"Katanya aku terkena Su-kut-ciam (Jarum Pelemas Tulang), bukan racun yang mematikan tapi membuat tulang dan otot menjadi lemas."

"Apakah jarumnya sudah dikeluarkan?"

"Sepertinya belum."

"Di mana lukamu?"

"Ada dijalan darah kaki sebelah kanan."

Hiat-kun merasa aneh, dalam hati dia berpikir.

"Dia mau memberiku obat penawar, mengapa bertanya begitu banyak?"

Belum habis berpikir, terdengar Coh Thian-su berkata.

"Nona Kie, tolong bantu aku, jarum ini harus diambil dengan batu magnet."

Kie Su-giok membantu Hiat-kun mengeluarkan jarum, Coh Thian-su juga sudah mengumpulkan sejata rahasia Ang-bi.

Tiba-tiba Coh Thian-su mengambil Su-kut-ciam, menusukkan ke kakinya sendiri.

Kie Su-giok terkejut dan bertanya.

"Coh Toako, kenapa kau?"

"Aku sedang mencoba obat penawarnya."

Dan dia mencoba sebutir obat kemudian benar juga, rasa lemas dan mati rasa semakin menghilang, dengan tertawa Coh Thian-su berkata.

"Benar, inilah obat penawarnya."

Dia baru memberikannya kepada Hiat-kun. Hiat-kun sangat terharu dan berkata.

"Toako, kau jangan berbuat bodoh, sangat berbahaya mencoba obat penawar ini, aku... aku..."

Coh Thian-su tidak memberi kesempatan untuknya bicara, segera dia tertawa dan berkata.

"Karena kita adalah Sheng Sumoi, jangan sungkan, racunmu sudah dalam, bila obat itu palsu, racun akan bertambah ganas, lebih baik kita harus berhati-hati. Baiklah, jangan bicara dulu, cepat atur nafasmu untuk mendorong racunnya keluar."

Kie Su-giok menghadapi 2 orang yang telanjang bulat, pada saat dia bertarung dia belum merasa ada yang aneh, setelah pertarungan berhenti. Wajah Kie Su-giok menjadi merah, dengan marah dia berkata.

"Pendekar Tiong-ciu apa, apa yang dinamakan Yu-bin-lo-sat yang dingin seperti es, semua adalah munafik, kalian tidak tahu malu! Aku sendiripun jadi merasa malu!"

Dia membantu Tio Ang-bi memakai baju, sebab sampai sekarang dia belum sadar.

Coh Thian-su juga membantu Hie Tiong-gwee memakai baju, karena Hie Tiong-gwee sudah ditotok oleh Coh Thian-su, dia tidak bisa bergerak tapi dia masih sadar.

Walaupun berwajah tebal, sekarang dia juga merasa malu hingga wajahnya merah.

Begitu Coh Thian-su membantu Hie Tiong-gwee mengenakan baju, Coh Thian-su merasa di belakangnya ada angin, sekarang Hiat-kun sudah memulihkan tenaga dalamnya.

Dia mengambil pedangnya dan langsung menusuk Hie Tiong-gwee.

Lengan baju Coh Thian-su dikibaskan dan pedang Hiat-kun terjatuh, Hiat-kun marah dan berkata.

"Toako, kau kenapa?"

"Kau tidak boleh membunuhnya!"

"Penjahat ini terlalu banyak dosa, mengapa kau menghalangiku?"

Coh Thian-su sulit menjelaskannya terpaksa di balik tubuh Hie Tiong-gwee memberi isyarat kepada Hiat-kun dan berkata.

"Adik, lihatlah wajahku. Maafkan dia sekali lagi!"

Hiat-kun sudah tahu ada yang ingin diceritakan oleh Coh Thian-su, lalu Hiat-kun berkata.

"Toako, apakah hanya mengampuninya sekali ini saja?"

"Benar, hanya untuk kali ini!"

Hiat-kun tidak begitu mengerti mengapa Coh Thian-su melarangnya membunuh Hie Tiong-gwee, tapi isyarat dari Coh Thian-su dia tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan. Lalu Hiat-kun berkata.

"Karena nyawaku ditolong oleh Coh Toako, aku akan menuruti kemauan Toako. Demi Toako aku akan mengampuni dia kali ini saja, tapi..."

"Tapi apa?"

"Sementara nyawanya tidak kuambil tapi aku harus mengupas kulitnya."

"Bila kulitnya dikupas, apakah dia masih bisa hidup?"

"Hanya mengupas sedikit, aku jamin dia tidak akan terluka parah."

Dia mencoba tenaganya tapi dia tidak sanggup mengupas kulit Hie Tiong-gwee lalu dia berteriak.

"Toako, tolong bantu aku, apakah kau bisa?"

Syarat dari Kwee Goan-cay untuk Coh Thian-su adalah bisa membuat Hie Tiong-gwee terluka ringan, Coh Thian-su juga takut bila Hiat-kun melukai Hie Tiong-gwee, kemudian Coh Thian-su berkata.

"Bila adik tidak melukainya, aku akan membantu."

"Tolong sobek kulit yang berada di pundak Hie."

Karena itu adalah kulit yang ditempel maka dengan mudah Coh Thian-su merobeknya. Hiat-kun mendekatkan lampu ke pundak Hie Tiong-gwee dan benar ada sebaris bekas gigitan.

"Nona Kie, apakah kau tahu asal usul gigitan ini?"

Kie Su-giok menjawab.

"Aku dengar dari Wie Toako, memang dia adalah orang yang dimaksud dan yang dicari oleh Wie Toako. Bila tidak dihalangi oleh Coh Toako aku juga ingin membunuhnya."

Tanya Coh Thian-su.

"Sumoi, apakah kau bisa jalan?"

"Sedikit ilmu meringankan tubuh masih bisa."

"Baiklah, kalau begitu kita pergi."

Pada saat mereka siap-siap akan pergi terdengar suara langkah kaki berjalan ke arah mereka, ada suara seorang gadis yang memanggil.

"Ayah... ayah..."

Ini adalah suara Hie Kim-giauw.

Kim-giauw dipesan oleh Kiam-ta untuk memberitahu suatu hal kepada Hie Tiong-gwee, dia tahu ayah dan bibinya sedang berada di ruang rahasia, demi menghindari rasa malu, dia tidak ingin tiba-tiba masuk, begitu memasuki terowongan, sengaja dia memberatkan langkahnya agar ayahnya tahu dia datang, dan bisa bersiap-siap dulu.

Hie Tiong-gwee mendengar putrinya datang, dia jadi khawatir dan malu.

Yang dikhawatirkannya adalah musuhnya belum pergi, mereka akan melakukan sesuatu terhadap putrinya, juga malu bila putrinya melihat keadaan dia sekarang.

Apakah dia masih memiliki muka lagi di depan putrinya?

Suara langkah semakin mendekat.

Coh Thian-su segera mempunyai pikiran, dengan pelan dia berkata kepada Kie Su-giok dan Hiat-kun.

"Dia datang tepat pada waktunya, Nona Kie, kau dan aku pergi dulu. Sumoi, kau tetap di sini!"

Karena Kim-giauw tidak mendengar jawaban ayahnya, dia berhenti melangkah kemudian memanggil lagi.

"Ayah!"

Dalam hati dia berpikir, 'Apakah mereka belum selesai memakai baju sehingga ayah malu untuk menyahutku?' Tiba-tiba dia merasa angin berhembus, Kim-giauw belum lagi berteriak lagi, Coh Thian-su sudah menotok jalan darahnya.

Coh Thian-su berbisik kepadanya.

"Nona Hie, jangan takut, kami adalah teman Kwee Toakomu!"

Kim-giauw hafal dengan suara Coh Thian-su, hatinya agak tenang-Kie Su-giok berkata.

"Nona Hie, aku tahu kau menyukai Kwee Toakomu, bila kau mau menolong nyawanya, kau harus menuruti perintah kami."

Kim-giauw terkejut dalam hati dia berpikir.

Dia adalah adik seperguruan Hui-thian-sin-liong, yang membuat keributan di aula.

Tian Kiam-ta pun tidak bisa mengalahkan dia.

Dia sangat kejam lebih-lebih dari Hui-thian-sin-liong, bila dia berkata seperti itu, apakah dia ingin membunuh Kwee Toako?' Kie Su-giok seperti tahu pikirannya, dia berkata lagi di telinga Kim-giauw.

"Kami tidak melukai ayahmu, lebih-lebih tidak mau membunuh Kwee Toakomu, tapi Kwee Toakomu mungkin bisa dibunuh oleh orang lain, hanya kaulah yang bisa membantunya menghindari bencana ini."

Coh Thian-su sudah membuka totokannya, walau hanya separuh, membiarkan tubuhnya bisa sedikit bergerak dan berkata.

"Nona Hie, apakah kau percaya kepadaku? Bila percaya kau jangan bertanya apa-apa kepada kami, asal kau mendengar kata-kata kami, itu juga sudah cukup."

Kim-giauw mengangguk. Kata Coh Thian-su lagi.

"Kau beritahu ayahmu, kau terpaksa memberitahu tempat ini kepada kami karena kau takut ayahmu terluka, kami sudah melepaskanmu dan kau langsung kemari dan ternyata kami belum pergi dari sini!"

Walaupun Coh Thian-su adalah orang yang agak sombong tapi dia bukan tipe orang yang ceroboh, dia sudah mendapat petunjuk dari Kwee Goan-cay dan bisa menolong Hiat-kun.

dia sangat berterima kasih tapi dia juga memikirkan cara supaya dia tidak dicurigai.

Yang tahu tempat rahasia ini di dalam keluarga Hie tidak terlalu banyak.

Hie Tiong-gwee sudah dirugikan begitu besar, pasti dia akan mencari tahu siapa yang telah membocorkan letak ruang rahasianya.

Dan yang paling dicurigai tentunya adalah Kwee Goan-cay.

Dengan cara inilah, Coh Thian-su sudah membersihkan nama Kwee Goan-cay.

Sekarang Kim-giauw sudah bisa bicara, dia ingin bekerja sama dengan mereka, dia mendekat ke arah Kie Su-giok dan berkata.

"Tuan Kiam-ta sedang menunggu ayahku, dia tinggal di sebelah selatan taman bunga, bila kalian keluar dari sebelah barat, maka tidak akan bertemu dengannya."

Sekarang Kie Su-giok berperan lebih meyakinkan lagi.

"Aku mengira dia adalah gadis biasa-biasa saja, sekarang baru tahu dia adalah Nona Hie. Bila tahu dari tadi kita harus menotok jalan darahnya."

"Sekarang menotok pun tidak apa-apa."

Jawan Coh Thian-su. Dengan nada dingin Coh Thian-su berkata.

"Kami tidak mau melukai seorang gadis, tapi kami juga tidak mau kau segera bertemu dengan ayahmu. Berbaringlah selama 2 jam."

Dia berperan dengan begitu sungguh-sungguh. Sekali lagi dia menotok Kim-giauw. Mereka kembali lagi ke ruang rahasia itu, Coh Thian-su membantu Hie Tiong-gwee berpakaian lagi.

"Hai, Hie Tayhiap! Aku sudah menotok putrimu, ini sangat tepat untukmu. Apakah kau mengerti? Bila dia melihatmu seperti ini, pendekar yang membohongi dunia persilatan, bagaimana kau bisa mengangkat wajahmu di depan putrimu? Totokanmu akan terbuka setengah jam lagi dan kau nanti bantu putrimu membuka totokannya. Baiklah, Adik Kang, mari kita pergi!"

Hiat-kun membuang ludah ke muka Hie Tiong-gwee dan berkata.

"Kali ini aku mengampunimu, lain kali bila aku bertemu denganmu, kau akan kubunuh!"

Mereka menuruti petunjuk jalan Kim-giauw, keluar dari terowongan di sebelah selatan.

Dengan lancar mereka keluar dari rumah Hie.

Hari baru terang, mereka sudah berada di luar Lok-yang.

Matahari baru terbit, membuat langit menjadi cerah.

Hari ini adalah hari yang baik, tapi hati Hiat-kun tetap gelap dan bingung.

"Sumoi, sekarang kau mau ke mana?"

Tanya Coh Thian-su.

"Aku tidak tahu."

Setelah lama dia baru berkata lagi.

"Aku harus membalas dendam ibu dan ayahku, tapi sekarang aku tidak sanggup membalasnya."

Sekarang dia baru tahu penyebab Hiat-kun ingin membunuh Hie Tiong-gwee, Coh Thian-su berkata.

"Sumoi, maafkan aku sudah melarangmu membunuh Hie Tiong-gwee. Aku sudah berjanji kepada Kwee Goan-cay, hanya untuk kali ini saja. Kelak aku akan membantumu membalas dendam untuk mengganti kesalahanku tadi."

"Suheng, ini bukan salahmu, bila kedudukan kita dibalikkan, aku juga akan melakukan hal seperti itu. Demi diriku dia mengkhianati gurunya, tidak ada alasan bagi kita untuk menolak permintaannya. Tapi bila Suheng ingin membantuku balas dendam, aku menerimanya dengan senang hati."

Tanya Coh Thian-su.

"Sumoi, apakah harus kau sendiri yang membalas dendam?"

"Aku tidak ingin menyusahkan Toako."

Coh Thian-su mengerutkan dahi dan berkata.

"Kita adalah Suheng,Sumoi, mana boleh bicara seperti itu?"

"Kata-kataku belum habis, waktu untuk membalas dendam masih belum tentu, tapi aku pun tidak akan mengulur waktu lagi."

"Ingin membunuh orang itu tidak mudah tapi juga tidak sulit sebab ilmu silatnya biasa-biasa saja. Ko Tan Taysu sudah pergi, murid-muridnya dan para tamu yang berjaga rumah, tidak akan bisa terus menjamin keselamatannya!"

Kata Kie Su-giok.

"Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta sudah mengambil keputusan akan berangkat ke ibukota mencari Jenderal Bok, mungkin mereka sekarang sudah berangkat."

Kata Hiat-kun.

"Apakah mereka hanya berdua?"

Tanya Coh Thian-su. Hiat-kun mengerti maksud Coh Thian-su dan berkata.

"Bukan aku menganggap remeh kalian. Ilmu silat Tuan Kiam-ta sangat dahsyat, pada waktu di aula dia beradu satu jurus dengan Nona Kie, dia sengaja tidak memperlihatkan kepandaian yang sebenarnya. Tapi sebelum kalian datang, Wie Toako sudah bertarung dengannya. Sepertinya ilmu silat Wie Toako masih berada di bawahnya."

Ilmu silat Wie Thian-hoan berada di atas Coh Thian-su. Walaupun terdengar tidak enak, dia hanya diam saja.

"Cici Hiat, musuhmu adalah musuh Wie Toako juga, bila kalian bergabung apakah kau setuju?"

Kata Kie Su-giok.

Sebenarnya kemarin malam Hiat-kun dan Thian-hoan sudah bergabung untuk balas dendam.

Sekarang yang dia pikirkan, dia tidak ingin mengemukakan di depan Kie Su-giok.

Kie Su-giok adalah gadis periang, melihat cara berpikir Hiat-kun segera dia tertawa dan berkata.

"Aku tahu kau dan Wie Toako tumbuh bersama, bila kau ingin bergabung dengan kami, aku tidak akan iri bila Wie Toako lebih baik kepadamu."

Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata.

"Kau bergurau saja!"

"Aku tidak bergurau, aku bicara serius!"

Tanya Coh Thian-su.

"Apakah kau akan mengundang dia ke ramahmu?"

"Aku mengundangnya juga mengundangmu."

Kata Kie Su-giok lagi.

"Kali ini Wie Toako tidak bisa membalas dendam karena bertemu Kiam-ta yang kuat, tapi dia juga dihalangi oleh Ko Tan Taysu, hweesio tua itu membaca 'O-mi-to-hud' tapi tidak tahu hati orang licik, sehingga juga mudah ditipu oleh Hie Tiong-gwee dan memihak kepada Hie Tiong-gwee. Bila Wie Toako membalas dendam menjadi sulit. Tapi hweesio tua itu dan kakekku bersahabat, aku mengira Wie Toako tidak jadi membalas dendam pasti akan pulang ke rumah. Menyuruh kakek berbicara kepada hweesio tua itu. Cici Hiat, bila kau mau mencari dia, ikutlah pulang denganku."

Dia melihat Hiat-kun ragu-ragu, dia menambah lagi.

"Bila aku tidak salah tebak itu lebih baik daripada kau yang tidak mempunyai keputusan."

Dalam hati Hiat-kun berpikir, 'Hoan Toako dan Nona Kie adalah sepasang kekasih, kalau aku berada di tengah-tengah mereka, aku takut cinta Hoan Toako kembali bersemi, dengan begitu aku akan merusak hubungan mereka.

Tapi dendam orang tuaku harus dibalas, aku harus bergabung dengan Hoan Toako, apalagi aku sudah tidak punya saudara dan keluarga, aku tidak mau merepotkan Coh Toako, bila tidak bertemu dengan Hoan Toako, aku bisa tinggal di mana?"

Memikirkan urusan membalas dendam orang tuanya, dia jadi berpikir untuk mengerjakan tanpa dihalangi-halangi oleh urusan tetek bengek yang merepotkan. Hiat-kun menjawab dengan tegas.

"Baiklah, Nona Kie, aku tidak akan sungkan lagi, aku bakal merepotkanmu."

Kata Kie Su-giok dengan tertawa.

"Coh Toako, Hiat-kun sudah mau, bagaimana denganmu?"

Coh Thian-su masih ragu, dalam hati dia berpikir.

"Ayah tidak menginginkan aku berteman dengan keluarga Kie dan aku sudah melanggarnya. Bila aku ke rumah Kie Yan-gan, ini akan tambah kerepotan. Tapi mendengar perkataan ibu tiri dan Nona Kie sepertinya pak tua itu menyukai ayah, walaupun mereka bukan teman tapi pasti bukan musuh."

Dia tidak menutupi hatinya yang ingin jelas persoalannya. Begitu ditanya Kie Su-giok, langsung dia menjawab.

"Nona Kie, aku punya satu permintaan, apakah boleh?"

Kie Su-giok tertawa.

"Katakanlah!"

"Bila bertemu dengan kakekmu, tolong jangan beritahu identitasku."

"Mengapa?"

"Aku tidak ingin hidup di bawah bayangan nama ayah, aku ingin menemui kakekmu tapi tidak ingin dia tahu hubunganku dengan keluargaku."

"Kau sangat aneh, apakah harus memakai cara seperti ini?"

"Benar, apakah kau mau?"

"Kalau begitu kau harus memakai nama palsu."

"Tidak perlu, asal kau jangan mengatakan bahwa aku adalah siapa, itu sudah cukup."

Kie Su-giok masih kekanak-kanakan dan berkata.

"Baiklah, tapi cara ini keterlaluan dan sangat lucu, aku akan menurut saja."

Coh Thian-su mengulurkan tangannya dan berkata.

"Bila Tuan sudah keluar kata-kata..."

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kau masih tidak percaya kepadaku? Baiklah, walau aku bukan 'tuan', aku juga bisa bersumpah."

Dia mengeluarkan tangannya yang lembut dan berkata.

"Kami berjanji."

Dia menyelesaikan kata sumpah dunia persilatan.

---ooo0dw0ooo---B.

Bertemu tapi Tidak Dikenal Kie Su-giok mengira Wie Thian-hoan sudah kembali ke rumah tapi ternyata dugaannya meleset.

Malam itu Wie Thian-hoan tidak jadi membalas dendam, malah kehilangan orang yang dia cintai.

Dia merasa sakit hati dan sulit untuk melukiskannya, tapi dia adalah orang yang kuat, dia menahan rasa sedih dan berpikir, 'Untuk keluarga Kang dan Wie, dendam dua keluarga ini harus aku yang membalas, yang terpenting adalah membalas dendam.

Sementara ini persoalan Hiat-kun harus aku kesampingkankan dulu.' Kemudian dia berpikir lagi, 'Bila Hie Tiong-gwee dan Kiam-ta pergi ke ibukota mencari kepala pasukan, kesempatanku lebih sempit lagi, jadi harus mencegah mereka di tengah jalan, bila perlu aku akan bertarung.' Wie Thian-hoan tahu bila ada Ko Tan Taysu, dia tidak akan bisa membalas dendam, tapi bila hanya ada Hie Tiong-gwee dan Kiam-ta, dia masih ada kesempatan.

Dia tahu bahwa silat Kiam-ta dengan dirinya tidak berbeda jauh, bila dia menyerang mendadak, dia harus melukai Kiam-ta dulu, baru ada kesempatan untuk menang.

Tapi bila tidak bisa melukai Kiam-ta, asal dia siap untuk mati, membunuh Hie Tiong-gwee juga bukan hal yang sulit.

Setelah keluar dari kota Lok-yang, dia mencari kudanya, mengikuti rencananya menuju ibukota.

Pada hari kedua, siang hari, dia sudah tiba di suatu kota, karena sudah merasa lapar dia ke kota tersebut sekalian beristirahat.

Dia mencari rumah makan yang agak lumayan dan kemudian masuk.

Siapa sangka begitu dia masuk ke rumah makan itu, dia bertemu dengan 5 orang yang dia kenal.

Yang lebih mengagetkan lagi musuhnya ternyata juga ada di sana!

Musuhnya bukan Hie Tiong-gwee, tapi dia adalah Tuan Kiam-ta.

Kiam-ta duduk di tengah, wajahnya menghadap ke arah pintu.

Yu Yong berada di sebelah kiri dan Bong Cong-kian berada berada di sebelah kanan.

Ada juga Giok-yan.

Mereka bertiga tidak berbuat apa-apa, yang membuat Wie Thian-hoan terkejut adalah guru Yu Yong, It Piau cinjin.

Pada pertarungan pertama dengan Hie Tiong-gwee, It Piau cinjin menjadi saksi/juri.

It Piau cinjin adalah orang yang berbakat di dunia persilatan dan dalam ratusan tahun ini dia dikatakan memiliki ilmu silat yang hampir sama tinggi dengan Hweesio Siauw-lim, Ko Tan Apakah itu benar?

Tidak ada yang tahu, tapi semenjak dia menjadi Ketua Kong-tong-pay 40 tahun yang lalu, dia sudah banyak melatih pesilat-pesilat tangguh.

Perkumpulan Kong-tong juga semakin lama semakin terkenal.

Walaupun tidak setara dengan Siauw-lim dan Bu-tong, tapi sejajar dengan Go-bi-pay dan Hoa-san.

It Piau cinjin memiliki pandangan yang lurus, orang persilatan menghormatinya, karena itu juga Wie Thian-hoan bisa menerimanya menjadi saksi/juri sewaktu dia bertarung dengan Hie Tiong-gwee.

It Piau cinjin sekarang sudah hampir berusia 70 tahun, lebih tua dari Ko Tan Taysu, sebenarnya dalam beberapa tahun ini semua urusan sudah ditangani oleh muridnya Yu Yong.

Yang hanya tergantung pada nama It Piau berteriak.

"Kau!"

Telapak tangannya dimiringkan, dengan jurus Burung gereja menarik ekor melawan jurus Tiat-siu.

Pecahan kaca seperti digulung oleh tenaga yang tidak terlihat hanya terdengar bunyi pecahan kaca, semua sudah menancap di langit-langit.

Meskipun Jaraknya begitu dekat, dan keping gelas begitu banyak.

Tapi Guru It Piau hanya mengangkat tangannya membantu Kiam-ta menghadang, tenaganya yang begitu kuat, membuat Hui-thian-sin-liong terkejut.

Tamu-tamu di rumah makan itu semua tampak terkejut bahkan ada yang bersembunyi di bawah meja.

Wie Thian-hoan tahu pertarungan tidak dapat dihindari lagi karena itu dia menyerang terlebih dulu.

Dia sudah siap mati bersama musuhnya, tidak disangka ilmu silat It Piau di luar perkiraannya, serangannya dengan gampang ditahan oleh It Piau.

Tuan Kiam-ta sama sekali tidak terluka.

Wie Thian-hoan sudah tahu ilmu silat Tuan Kiam-ta, bila satu lawan satu dia sedikit kalah, serangan tadi tidak tepat pada sasaran, dia merasa hatinya jadi dingin.

Sekarang dia sudah siap untuk mati demi memenangkan pertarungan ini.

Dia seperti panah yang sudah siap dipasang di busur, siap dilepaskan ke sasaran.

Ketika tangan It Piau masih sibuk Wie Thian-hoan sudah mengeluarkan jurus Ceng-liong-jiu (Cengkeraman Naga).

Dia mencengkram pundak Kiam-ta.

Dalam waktu bersamaan pedang Yu Yong dan Giok-yan sudah menyerang Wie Thian-hoan dari dua samping.

Tuan Kiam-ta membalikkan tubuhnya tapi dapat ditangkap oleh Wie Thian-hoan terdengar suara Kiam-ta berteriak dan tangannya sudah dicakar oleh Wie Thian-hoan.

Begitu Wie Thian-hoan melukai Kiam-ta malah dia sendiri yang bengong karena dia tidak menyangka akan terjadi hal ini.

Ilmu silat Wie Thian-hoan dan Tuan Kiam-ta seharusnya setaraf yang berbeda hanya tenaga dalamnya saja.

Mungkin tenaga dalam Tuan Kiam-ta lebih kuat dari dia, tidak mungkin Tuan Kiam-ta bisa begitu gampang terluka.

"Aneh, mengapa penjahat tua ini ilmu silatnya tiba-tiba menjadi tidak berguna?"

Dan yang lebih aneh, mengapa Tuan Kiam-ta kondisinya kembali lagi pada saat pertama kali bertarung?

Setelah dua kali bertarung dengan Tuan Kiam-ta, ilmu Liu-in-hui-shi sudah bisa mengalahkannya dan masih bisa menotoknya, walau sebelumnya dia sudah bertarung sengit dengan Coh Thian-su, tapi dalam 2 hingga 3 jurus sudah bisa mengalahkan Kiam-ta, artinya ilmu silat Wie Thian-hoan berada di atas Kiam-ta.

Pertarungan kedua tidak sama, ilmu yang dipakai adalah ilmu gjan-ciang bercampur dengan Ta-sik-pek-jiu.

Hui-thian sama sekali tidak dapat mengambil keuntungan saat itu.

Karena itu Hui-thian menganggap pada saat pertama bertarung, Tuan Kiam-ta tidak menggunakan ilmu sebenarnya.

Pada pertarungan pertama dia belum tahu bahwa Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibu Hiat-jam, sehingga tidak punya perasaan harus melawan Tuan Kiam-ta.

Dia adalah orang persilatan, karena tahu nyawanya tidak marasa terancam sehingga dia membiarkan Hui-thian menotoknya.

Pada pertarungan kedua karena Tuan Kiam-ta sudah diketahui sebagai pembunuh oleh Hui-thian, karena itu dia mengeluarkan semua ilmu silatnya.

Sekarang adalah pertarungan untuk ketiga kalinya, seharusnya Tuan Kiam-ta tahu bahwa Hui-thian ingin membunuhnya, mengapa dia masih seperti pada pertarungan pertama?

Ilmu silatnya begitu lemah.

Yang terluka adalah Tuan Kiam-ta, bagaimana menjelaskannya?

Mengapa ilmu silat Tuan Kiam-ta kadang kuat kadang lemah?

Seperti pepatah mengatakan 'pagi dan malam, harganya tidak sama'.

Walaupun Hui-thian sangat pintar tapi setelah terjadi hal yang aneh, dia pun tidak dapat menjelaskannya.

Sekarang bukan waktunya untuk berpikir karena telapak tangan Y/u Yong dan pedang Giok-yan sudah menyerang dari dua sisi.

Yang membuatnya repot adalah serangan Guru It Piau yang telah "menyapu' senjata rahasianya.

Sekarang sedang menyerang Wie Thian-hoan dengan telapak tangannya.

Kelihatannya Tuan Kiam-ta tidak berpura-pura, bagian belakang telapak tangannya dicakar hingga terluka.

Karena tergetar oleh tenaga telapak tangan Hui-thian, dia seperti sebuah bola terlempar keluar.

Untung hanya kulitnya saja yang terluka, dia segera berdiri dan segera meloncat keluar seperti seekor burung.

It Piau cinjin belum tahu bagaimana luka Tuan Kiam-ta, dia sangat marah, dia ingin mencabut nyawa Hui-thian.

Dengan marah It Piau berkata.

"Dasar penjahat tidak tahu malu, berani membunuh orang di depanku. Hari ini kau tidak bisa kabur lagi!"

Dalam teriakannya, tenaga dalamnya sudah dikerahkan sepenuhnya.

Dia sangat bernafsu membunuh.

Di depan ada serangan tenaga dalam It Piau, dari dua sisi Yu Yong dan Giok-yan berbarengan menyerang.

Hui-thian diserang dari 3 sisi, keadaannya sangat berbahaya.

Benar-benar sudah tidak ada jalan keluar.

Kelihatannya Hui-thian-sin-liong akan mati dalam pertarungan ini, tapi jalan terakhir yang dipaksa keluar biasanya membuat orang yang bodoh pun akan menjadi pintar, apalagi Hui-thian memiliki ilmu silat dan kepintaran.

Hui-thian sama sekali tidak melihat pedang Giok-yan, dia membalikkan tangan, dia segera menarik tenaga pukulan Yu Yong ke depan.

Ujung pedang Giok-yan yang hampir mengenai tubuh Hui-thian, tiba-tiba dia merasa ujung pedang meleset ke pinggir, dan tangannya terasa kesemutan, pedangnya pun sudah terlepas dari genggamannya.

Yu Yong merasa pukulan yang dikeluarkan, tidak mendapat perlawanan, dia merasa tenaganya malah tersedot dan terus keluar.

Ini adalah suatu cara Hui-thian-sin-liong menghadapi 3 orang lawan secara bersamaan, di antara mereka bertiga yang paling lemah adalah Giok-yan.

Hui-thian hanya mengeluarkan tenaga dalam Cap-ie-cap-pwee-tiap (menempel dan menjatuhkan 18 kali ), sudah bisa mengatasinya.

Hui-thian pun tidak perlu mengeluarkan semua tenaga.

Bila pedang tidak dilepas tubuh lawannya akan jatuh terguling.

Tenaga Yu Yong berada di atas Kiam-ta tapi tetap tidak setinggi Hui-thian.

Cara Hui-thian menghadapinya adalah meminjam tenaga mengembalikan tenaga lagi.

Tenaga yang dipinjam bukan untuk memukul Giok-yan, tapi untuk menghadapi serangan It Piau cinjin.

Dua tenaga dijadikan satu, cukup untuk melawan It Piau cinjin.

It Piau cinjin karena takut melukai muridnya, terpaksa dia menarik kembali tenaga telapak tangannya.

Yu Yong terbawa ke depan.

It Piau dengan ringan membawa Yu Yong maju beberapa langkah, setelah menabrak ke meja depan, baru bisa menghentikan langkahnya.

Hui-thian sudah meloncat keluar dari jendela.

"Guru, jangan marah, aku tidak membohongimu, kau menyuruhku meminta maaf, sudah aku lakukan. Tapi aku tidak berjanji akan melepaskan penjahat tua itu!"

Dengan cepat dia mengejar Tuan Kiam-ta. Tuan Kiam-ta marah dan berkata.

"Hui-thian, apakah kau sudah gila? Aku tidak ada dendam denganmu, mengapa kau..."

Hui-thian lebih marah lagi, dia mendekati Kiam-ta, suara seperti guntur berkata.

"Penjahat tua! Kalau bukan kau yang mati, aku lah yang mati!"

Tuan Kiam-ta yang berwibawa dan disegani oleh orang-orang, baru pertama kalinya disebut penjahat tua'. Kiam-ta sangat marah dan berkata.

"Benar-benar seperti anjing gila, mau mengigit orang, benar-benar sudah tidak tahu aturan lagi!"

Waktu itu juga Hui-thian sudah mengeluarkan telapak tangannya ke dada Tuan Kiam-ta.

Dengan dua telapaknya Kiam-ta menggambar bulatan dan mengambil posisi bertahan, menerima serangan Hui-thian.

Untung dia sudah mempunyai pengalaman selama puluhan tahun dan karena hanya bertahan tjdak menyerang maka tenaga dalamnya masih bisa menahan serangan Hui-thian Dalam hati Hui-thian berpikir, 'Aneh, mengapa ilmu silat yang sebenarnya tidak dikeluarkan?' Tuan Kiam-ta sudah berusaha sekuat tenaga menerima serangan itu tapi tetap tidak seperti malam itu pada saat berada di rumah Hie Tiong-gwee.

Tapi karena Hui-thian teringat pada balas dendam, dia tidak mau jagi memikirkan keanehan-keanehan yang terjadi, serangannya seperti gelombang, satu demi satu semakin dasyat.

Jurus kedua sudah dikeluarkan lagi, lebih dahsyat.

Tuan Kiam-ta tergetar oleh pukulan tangannya, tubuhnya pun ikut bergoyang, hatinya sudah dingin.

"Aku akan mati di tangan Hui-thian tapi tanpa sebab mengapa dia mau membunuhku, benar-benar penasaran."

Walaupun ilmu silat Kiam-ta berada di bawah Hui-thian tapi dia tahu diri, dia tahu dia tidak sanggup menerima serangan yang ketiga. Dengan tertawa sinis Hui-thian berkata.

"Keparat! Bayar dengan nyawamu!"

Telapak tangan kanan dengan miring dan telapak kiri lurus, Hui-thian sudah bertekad akan membunuh Tuan Kiam-ta.

Serangan ketiga lebih dasyat lagi.

Mungkin dewa masih memihak kepada Kiam-ta, maka masih ingin dia terus hidup, karena It Piau cinjin sudah datang, orangnya belum tiba tapi tenaganya sudah datang terlebih dahulu.

Dalam ketegangan ini, Hui-thian merasa ada angin kencang menyerang dari belakang, dan mendorongnya ke samping, karena itulah Tuan Kiam-ta bisa lolos dari kematian.

Tadinya dada Tuan Kiam-ta terasa berat seperti ditekan oleh batu, begitu Hui-thian miring, dia sudah bisa menegakkan kembali tubuhnya Kata It Piau.

"Yu Yong, kau ke sana, lihat keadaan Tuan Kiam-ta!"

Begitu habis bicara, tubuhnya sudah melayang mencegah Hui-thian. Hui-thian sangat marah dan berkata.

"Guru, anda selalu berpikiran lurus, mengapa memihak kepada si keparat ini?"

It Piau cinjin juga marah dan berkata.

"Kau yang salah! Sekarang kau ingin minta ampun juga susah!"

Dalam kemarahannya, It Piau cinjin sudah meloncat, tangan kiri seperti kaitan, menyabet wajah dan mata Hui-thian, tangan kanan seperti pisau, menebas lutut Hui-thian.

Hui-thian dengan cara Burung walet membuka sayap, dia terbang miring, dia sekarang sudah mengeluarkan ilmunya, dan diam-diam memakai ilmu mujijad.

Uap panas sudah memenuhi tubuhnya, dia sudah melambungkan tubuhnya di tengah-tengah udara, angin menghembus bajunya, bajunya seperti layar perahu, walau tenaga dalamnya tidak sehebat It Piau, tapi tenaga serangannya sangat kuat.

Terdengar suara seperti sebuah balon ditusuk dengan benda tajam, baju Hui-thian sudah berlubang, untung dia cepat menghindar, bila tidak tubuhnya akan tertusuk oleh jarinya It Piau.

Walaupun baju Hui-thian sudah sobek, tapi serangan It Piau dapat dia hindari, It Piau Toau mengerutkan dahi dan berpikir, 'Pantas bocah tengik ini begitu sombong, dalam 30 tahun ini dia adalah orang yang paling berbakat, benar-benar tidak ada yang dapat menandinginya, dan dia masih muda tapi sudah begitu berbakat, sayang bakatnya tidak dipakai semestinya"

Pikiran menyayangi bakat seseorang tertutup oleh keinginan untuk memusnahkan kejahatan. It Piau cinjin seperti bayangan mengikuti kemana Hui-thian pergi dan berteriak.

"Keparat, kau masih mau kabur!"

Dia lebih tua tidak mungkin main licik menyerang dari belakang maka dia bersuara setelah itu baru mengeluarkan serangannya, serangan ini lebih dahsyat dari yang pertama.

Kaki Hui-thian baru saja menginjak tanah, dia merasa sulit menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mengelak terpaksa dia menyambut telapak tangan It Piau cinjin.

Hanya terlihat tubuhnya berputar, arah telapak tangannya pun ikut berputar, seperti petir berputar-putar hingga beberapa kali putaran.

Caranya sangat aneh, It Piau cinjin pun belum pernah melihatnya, itu adalah ilmu silat yang diajarkan oleh kakek gurunya, Kie Yan-gan.

Cara ini hanya bisa menahan sebagian dari serangan It Piau.

"Baiklah, aku akan melihat kau bisa menerima berapa banyak jurusku!"

Kata It Piau, telapak tangan seperti golok membacok, jari menusuk, itulah ilmu Jit-cap-ji-lian-hoan-tuo-beng (72 jurus pukulan berantai perengut nyawa) dari perkumpulan Kong-tong sebagai ilmu andalannya.

Hui-thian makin merasa terdesak, It Piau berkata.

"Bocah tengik! robohlah!"

Dia mengubah telapak tangannya membentuk kepalan, dengan jurus Heng-sin-ta-houw (Tubuh mendatar memukul harimau), memukul Hui-thian yang sudah berada dalam kurungan It Piau.

Sepertinya Hui-thian sudah tidak dapat bertahan lagi.

It Piau cinjin sudah tahu bahwa Hui-thian sudah tidak dapat menyambut jurusnya lagi, kali ini dia tidak akan mengambil nyawa Hui-thian, hanya ingin mematahkan beberapa tulang rusuknya dan memusnahkan setengah ilmu silatnya.

Hui-thian tidak mempunyai tenaga untuk membalas tapi masih ada sedikit tenaga untuk mengeluarkan jurus'Tiat-siu'.

Pada saat nyawanya terancam dia mengeluarkan ilmu Liu-in-hui-siu.

Lengan bajunya tiba-tiba melewati pundaknya, hendak pembungkus pundak It Piau, kali ini It Piau sangat terkejut.

Tapi Liu-in-hui-siu tetap tidak dapat membungkus pundak It Piau.

Karena It Piau segera memakai tenaga dalam yang kuat dengan kepalan angannya sangat dahsyat menyambut lengan baju lawannya.

Lengan bajunya bisa membungkus lengan It Piau tapi tidak bisa mengatasi tenaga dalam It Piau.

Terdengar suara robekan lengan baju Hui-jjjian yang sudah hancur berjatuhan seperti kupu-kupu Untung tangan Hui-thian sedang dikepalkan, bila tidak jari-jarinya bisa patah.

Walaupun ilmu Tiat-siu tidak bisa menahan tenaga dalam It Piau dan lengan baju Hui-thian sudah hancur tapi Hui-thian tidak terluka parah, pia hanya menderita luka ringan saja, karena Hui-thian tergetar oleh tenaga dalam, dia juga mundur beberapa meter, dari sudut mulutnya sudah keluar darah.

Kata It Piau cinjin.

"Sayangkan ilmu silat begitu bagus, tidak digunakan pada tempatnya!"

Dia mulai akan menyerang Hui-thian lagi, tiba-tiba Tuan Kiam-ta berteriak.

"Berhenti dulu!"

It Piau menjadi bingung dan berkata.

"Kakak Kiam, apakah kau sendiri yang akan membunuhnya?"

It Piau tidak tahu kemampuan silat mereka berdua, walaupun Hui-thian terluka, tapi Tuan Kiam-ta tetap tidak dapat mengalahkan Hui-thian. Kata Tuan Kiam-ta.

"Dia ingin membunuhku, tapi aku tidak mau membunuhnya."

Hui-thian marah dan berkata.

"Keparat, aku tidak mau kau berpura-pura baik! Lebih baik bunuh saja aku! Ada It Piau yang menjadi pendukungmu, ini adalah kesempatan yang baik untukmu. Hari ini kau tidak membunuhku, lain waktu aku akan membunuhmu!"

Dia berkata seperti itu supaya Kiam-ta marah dan bertarung dengannya, bila Tuan Kiam-ta mengeluarkan serangan, dia bisa langsung membunuhnya walaupun dia tahu dia akan mati di tangan It Piau.

It Piau mengetahui pikiran Kiam-ta, dia berkata.

"Tuan Kiam-ta, orang ini benar-benar sudah gila! Kau bisa memaafkannya tapi aku tidak bisa! Kau jangan ikut campur lagi, biar aku yang menyelesaikannya!"

"Tidak, aku tidak ingin membunuhnya, aku harap kau juga jangan membunuhnya."

Kata Tuan Kiam-ta Sikapnya tampak sungguh-sungguh.

"Dia ingin membunuhmu, tapi kau masih memaafkannya, apa sebabnya?"

"Aku ingin tahu, mengapa dia begitu benci kepadaku? Memang aku tidak ada dendam dengannya, mengapa dia ingin membunuhku?"

Kata-kata Tuan Kiam-ta membuat Hui-thian menjadi aneh. Dalam hati dia berpikir, 'Si keparat ini mau main sandiwara apa lagi?' Dengan tertawa dingin dia berkata.

"Keparat! Apa kau benar-benar tidak tahu mengapa aku ingin membunuhmu?" -"Benar, seumur hidup aku tidak pernah berbuat jahat, kau memarahiku keparat', maka aku akan bertanya apa sebabnya? Bila aku memang salah, kau boleh marah atau bahkan membunuhku."

Tiba-tiba ada 2 orang prajurit yang datang ke arah mereka.

Mereka bertarung di jalan umum, karena takut semua toko di jalan itu tutup, orang yang sedang berada di jalan berlarian karena ketakutan, maka keamanan kota pun datang.

Kedua prajurit itu bertanya.

"Siapa kalian? Hari masih terang, malah berkelahi di jalan, hayo semua ikut ke kantor keamanan!"

Dia mengeluarkan rantai dan digoyang-goyang.

Tapi karena kedua belah pihak yang berkelahi tidak tampak seperti orang biasa maka 2 prajurit itu hanya bisa bicara tapi tidak berani bertindak.

Yu Yong adalah orang persilatan yang berpengalaman, segera dia maju dan berkata.

"Maafkan kami, kami tidak ada waktu untuk pergi ke kantor keamanan, ini ada sedikit uang..."

Kedua perjurit itu melihat ada uang, wajahnya langsung berseri-seri.

"Berkelahi dijalan, hukumannya berat..."

Mereka bemaksud meminta lebih banyak lagi.

"Apakah masih kurang? Menurutku ini sudah cukup."

Kata Yu Yong Kemudian dia memecahkan uang itu dan memberikannya kepada kedua prajurit itu. Setelah menerima uang itu, salah satu prajurit berkata.

"Bila belum selesai bertarung, pergi saja ke tempat lain!"

Yu Yong mengeluarkan uang perak lagi dan berkata.

"Tolong berikan uang ini kepada bos rumah makan itu, uang uu untuk mengganti piring-gelas yang pecah. Dan sisanya untuk kalian minum-minum. Urusan di sini biar kami yang menyelesaikannya!"

Yu Yong berteriak kepada bos rumah makan itu;

"Bos, kami sudah mengganti piring, gelas, dan meja yang rusak Apakah 10 tail perak sudah cukup?"

Bos itu menjulurkan kepalanya dan berkata.

"Cukup, sudah lebih dari cukup!"

Kata It Piau,.

"Baiklah, ikut aku, siapa yang benar siapa yang salah mari kita bicarakan baik-baik."

Hati Hui-thian masih ragii, dia berpikir, 'Aku tidak peduli lagi dengan nyawaku, aku akan lihat mereka mempunyai permainan apa lagi?' Yu Yong lebih tahu jalan di sana, dia berjalan di depan.

It Piau dan flui-thian jalan bersamaan, karena takut dia akan melukai Tuan Kiam-ta lagi-Mereka keluar dari kota itu, sampai di pinggir sungai, karena tidak ada orang, mereka berhenti.

"Kita berhenti di sini dulu. Hui-thian kau jelaskan, mengapa kau harus membunuh Tuan Kiam-ta?"

It Piau cinjin tetap dingin bertanya kepada Hui-thiaa "Baiklah!"

Hui-thian pun membalas dengan nada yang dingin.

"Seharusnya Tuan Kiam-ta bicara dulu, karena umurnya lebih tua."

Sebenarnya bila mencari keadilan, kedua belah pihak harus berada di dalam posisi yang sama, tapi It Piau cinjin sudah membuat Hui-thian menjadi tersangka.

Dan itu sebabnya Hui-thian tidak terima, dia ingin mengikuti aturan dunia persilatan.

Kedua belah pihak menjelaskan sebab-sebabnya dan biasa yang lebih tua mempunyai hak untuk bicara dulu.

Walaupun Hui-thian tidak sungkan berkata kepada It Piau tapi terhadap Tuan Kiam-ta, dia mulai kembali menghormatinya, dia menyebut nama tidak menyebut "keparat'.

Kata Tuan Kiam-ta.

"Baiklah, aku akan mulai bertanya. Peristiwa ini membuatku bingung, aku tidak tahu mengapa dia begitu membenciku?"

Dia ingat beberapa tahun lalu, dia pernah bertemu dengan Hui-thian.

"Tiga tahun lalu yang lalu, aku menjadi saksi pertarungan antara Hie Tiong-gwee dan dia. Karena diundang oleh Ko Tan Taysu, aku tidak memihak kepada siapa pun. Apakah Wie-heng menganggap aku tidak adil, maka rasa benci tersimpan di hatimu sampai sekarang?"

Dengan tertawa dingin Hui-thian berkata.

"Waktu itu aku sengaja membuat Hie Tiong-gwee berada di pihak yang beruntung, adil tidak adil, tidak ada hubungannya denganmu."

Kiam-ta berkata lagi.

"Kedua kali aku bertemu dengannya di aula pernikahan Hie Tiong-gwee, dia menyelesaikan pertarungan dengan Hie Tiong-gwee dan melukai Hie Tiong-gwee. Aku dan Yu Yong menjadi saksi, walaupun aku merasa dia keterlauan, tapi juga tidak melarangnya, aku merasa sudah adil kepadanya."

Kata Hui-thian.

"Hari itu aku belum tahu siapa sebenarnya dirimu. Maka aku membiarkanmu tetap menjadi juri pertarunganku, karena aku percaya' kepadamu, jangan bicara yang lain lagi, langsung saja pada topik pembicaraan."

It Piau cinjin mengerutkan dahi dan berkata.

"Aku harus menjelaskan permasalahan di antara kalian. Bila aku mendengar penjelasan kalian seperti tidak ada hubunganya, aku akan melarangnya bila tidak perlu."

Kata Tuan Kiam-ta.

"Itu juga bukan alasanmu membenciku. Ketiga kalinya adalah 5 hari yang lalu, malam itu kau menculik Nyonya Hie..."

Dengan marah Hui-thian berkata.

"Jangan sebut 'menculik'!"

"Kalau begitu aku akan mengatakan bahwa kau dan Nyonya Hie melarikan diri, apakah benar?"

"Bila kau bicara seperti itu, tidak masalah untukku."

"Malam itu aku berada di rumah Hie, aku tidak mengijinkan dia melakukan hal itu."

Kata Hui-thian dengan dingin.

"Tidak perlu kau jelaskan lagi! Sebenarnya kau ingin membunuhku!"

Dia mengeluarkan kata-kata ini, tapi dia sendiri merasa bersalah karena malam itu dia bertarung dengan Tuan Kiam-ta, tapi Tuan Kiam-ta tidak mengeluarkan jurus silat yang sebenarnya.

Kiam-ta menggelengkan kepala dan berkata.

"Karena aku menganggap kelakuanmu tidak benar, aku hanya melarangmu tapi tidak berniat untuk membunuhmu. Kau dan Nyonya Hie akan kawin lari, tapi karena ilmu silatku tidak tinggi, malah ditotok olehmu!"

Kata It Piau cinjin.

"Wie Thian-hoan, apakah karena Tuan Kiam-ta melarangmu berbuat itu, jadi kau harus membunuhnya?"

"Bila aku mau membunuhnya, malam itu aku sudah membunuhnya, tapi jujur bicara, malam itu aku tidak membunuhnya, karena waktu itu aku belum tahu siapa dia sebenarnya!"

Kata Tuan Kiam-ta.

"Di matamu, sebenarnya aku ini siapa?"

"Aku akan mengatakannya setelah kau selesai bicara!"

Kata It Piau cinjin.

"Karena kau belum menjelaskan alasannya, sementara kita tidak perlu membicarakan kejadian malam itu, tapi bagaimana pun juga kau membuat orang-orang dunia persilatan yang segan padamu malah menghinamu dan kau memang tidak pantas! Tadi kau bilang malam itu kau tidak menganggap dia adalah orang jahat. Mengapa kau sekarang menganggap dia adalah orang jahat?"

"Benar, karena waktu itu aku masih menghormatinya, bila tidak..."

Tuan Kiam-ta tertawa kecut dan berkata.

"Kalau begitu, dia hanya menotokmu itu artinya tidak mau membunuhku."

Dengan dingin Hui-thian berkata lagi.

"Sama-sama, kami tidak perlu berterima kasih kepada siapa pun."

"Apa artinya ini?"

Tuan Kiam-ta bengong.

"Malam itu, aku tidak membunuhmu, tapi kau juga tidak mengeluarkan ilmu silatmu yang sebenarnya."

Tuan Kiam-ta mengira kata-kata Hui-thian adalah sebaliknya, kemudian dia menjawab.

"Terima kasih, kau tidak perlu membantuku menutupi keadaan sebenarnya aku kalah darimu, itu pun tidak perlu ditutup-tutupi!"

Hui thian jadi terkejut dan berkata.

"Jujur bicara, malam itu apakah kau sudah mengeluarkan semua ilmu silatmu?"

Tuan Kiam-ta marah dan berkata.

"Seumur hidupku aku tidak pernah bohong, apakah aku sendiri yang harus bicara bahwa aku sudah berusaha tapi tetap tidak bisa menahan jurusmu sebanyak 3 kali."

Hui-thian melihat dia marah, seperti bukan yang sedang berpura-pura, dalam hati dia juga merasa aneh, dia hanya bisa bengong. Tanya It Piau.

"Wie Thian-hoan, mengapa kau curiga bahwa Tuan Kiam-ta belum mengeluarkan semua jurusnya?"

"Karena kepandaian yang digunakan barusan dengan silat yang terdahulu tidak sama."

It Piau terkejut dan berkata.

"Terdahulu? Maksudmu apa?"

"Terdahulu, ya terdahulu..."

Kata Wie Thian-hoan. Dalam hati dia berpikir, 'Apa ini juga harus dijelaskan?' It Piau cinjin terus melihatnya dengan aneh, terpaksa Hui-thian berkata.

"Setelah kejadian malam itu."

It Piau merasa aneh, kemudian dia melihat Kiam-ta.

Tuan Kiam-ta menggelengkan kepala kemudian mengangguk.

Hui-thian malah makin merasa aneh, tapi It Piau cinjin sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Kata It Piau cinjin.

"Bila kau menganggap Tuan Kiam-ta adalah orang yang jahat, mengapa harus menyembunyikan ilmu silatnya? Mengapa dia tidak mau dengan sekuat tenaga bertarung denganmu, apakah dengan begitu dia tidak takut kau akan membunuhnya?"

"Aku juga curiga dia berpura-pura."

"Mengapa dia harus berpura-pura?"

"Karena dia masih ingin berpura-pura menjadi pendekar yang disegani."

"Tuan Kiam-ta tidak perlu melakukan hal seperti itu karena orang persilatan tidak akan pernah curiga karena dia memang pendekar sejati."

Setelah saling membuktikan bahwa alasan Hui-thian tidak dapat dijadikan bukti. Kata It Piau cinjin.

"Baiklah, sekarang kembali ke asal, tadi kau mengatakan bahwa silat Tuan Kiam-ta yang dulu dan sekarang tidak sama, sebenarnya ada apa?"

Dengan dingin Hui-thian berkata.

"Kiam-ta, kau belum selesai bicara, ayo teruskan!"

"Sudah habis ceritanya."

Kata Tuan Kiam-ta "Apakah kau tidak terlalu jauh loncat dari cerita aslinya? Dari kejadian malam itu hingga sekarang, sudah melewati 4 hari, kau sudah melakukan kejahatan apa?"

Jawab Tuan Kiam-ta.

"Sampai hari ini, kami baru bertemu 3 kali, tadi sudah kuceritakan dalam beberapa hari aku sudah melakukan apa, tidak perlu lapor kepadamu!"

Hui-thian tertawa dingin.

"Apakah kau tidak berani mengatakannya?"

Tuan Kiam-ta marah dan berkata.

"Apa pun boleh diketahui oleh orang lain, mengapa aku tidak berani mengatakannya? Tapi aku kira semua ini tidak ada hubungannya denganmu! Tidak perlu aku membuang-buang waktu!"

Kata It Piau cinjin.

"Menurut aturan, Tuan Kiam-ta sudah menyelesaikan ceritanya sekarang giliran Hui-thian yang bicara!"

Mata Hui-thian melotot dan berkata.

"Bila dia tidak berani mengatakannya, aku bantu dia untuk bicara, setelah malam itu, pada malam kedua, Kiam-ta, kau sudah melakukan hal apa?"

"Tadi kau yang mengatakan akan mewakiliku untuk bicara, mengapa sekarang bertanya lagi kepadaku?"

Jawab Tuan Kiam-ta.

"Mendengar kata-katamu, sepertinya kau curiga malam itu dia sudah melakukan suatu kejahatan?"

Tanya It Piau.

"Benar."

Kata Hui-thian.

"Baiklah, coba kau ceritakan malam itu dia sudah melakukan kejahatan apa?"

"Dia membunuh orang!"

Teriak Hui-thian.

"Dia membunuh siapa?"

Tanya It Piau merasa aneh.

"Dia membunuh ibu Hiat-kun dan pamannya, paman Hiat-kun adalah anjing peliharaan Hie Tiong-gwee, dibunuh pun tidak apa-apa, tapi ibu Hiat-kun, mengapa kau harus membunuhnya?"

Tuan Kiam-ta jadi bingung dan berkata.

"Mengapa aku harus membunuh ibunya? bagaimana ceritanya?"

"Bukankah ibu Hiat-kuh setengah tahun lalu membawa mayat suaminya pulang ke kampung halamannya? Mengapa Tuan Kiam-ta harus pembunuh dia di Lok-yang? Apalagi kau bilang Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee bersekongkol? Mengapa dia membunuh ibu mertuanya dan paman Hiat-kun?"

Kata It Piau.

"Sekarang Hiat-kun bukan Nyonya Hie lagi, harap kalian jangan menyebut seperti itu!"

Kata Hui-thian.

"Apakah Hie Tiong-gwee sudah membunuh dia?"

"Bukan Hie yang harus menceraikan Hiat-kun, tapi Hiat-kun tidak mau menikah dengan musuhnya, dan satu lagi mereka belum sembahyang."

"Mengapa Hie Tiong-gwee menjadi musuh istrinya?"

"Ceritanya sangat panjang."

Kata It Piau.

"Bila ceritanya panjang, kau ceritakan saja kejadian yang hubungannya dengan kejadian hari ini. Mengapa ibu Hiat-kun bisa dibunuh oleh Tuan Kiam-ta di Lok-yang?"

"Karena ibu Hiat-kun tahu bahwa suaminya mati dengan tidak wajar, orang yang dia curigai adalah Hie Tiong-gwee maka dia kembali lagi ke Lok-yang, melarang Hiat-kun menikah dengan Hie Tiong-gwee. Tapi Kiam-ta malah membunuhnya pada malam dia baru tiba di Lok-yang supaya dia tetap bungkam, karena ibu Hiat-kun ada di rumah pamannya, maka dia pun ikut dibunuh."

"Apakah kau berbohong mengenai ibu Hiat-kun? bila dia dibunuh, pasti bukan Tuan Kiam-ta yang membunuhnya!"

Kata It Piau.

"Mengapa kau bisa tahu?"

Tanya Hui-thian dengan dingin.

"Beritahu Tuan Kiam-ta, malam itu kau dengan siapa?"

"Malam itu, aku bersama dengan hweesio Siauw-lim, Ko Tan, di rumah Hie bermain catur. Pukul 4 dini hari, aku baru tidur."

Tanya It Piau.

"Pukul berapa Nyonya Kang dibunuh pada malam hari itu?" ---oo0dw0oo---C. Salah paham "Kira-kira jam 3 dini hari..."

Jawab Hui-thian. It Piau tidak menunggu Hui-thian habis kata-katanya, sudah marah.

"Jam 4 dia masih main catur, mengapa kau bilang dia adalah pembunuh? Apakah kau juga curiga Hweesio Siauw-lim membantunya berbohong?"

"Aku tidak berani, aku hanya melihat sosoknya dari belakang, bila aku salah, melihat ilmu silatnya Tuan Kiam-ta, aku yakin dia orangnya."

"Apa arti dari kata-katamu?"

Tanya It Piau.

"Setelah 2 hari dari kejadian itu, kembali dia bertarung denganku, kali ini dia memakai ilmu silat yang sebenarnya, ilmu silatnya itu yang membunuh ibu Hiat-kun dan pamannya."

"Aku memakai ilmu silat apa?"

Tanya Tuan Kiam-ta.

"Ta-sik-pek-jiu dan Bian-ciang yang digabung menjadi satu."

"Kau bilang 2 hari kemudian, apakah itu dihitung waktu dari hari kau menotoknya?"

Kata It Piau.

"Benar,"

Jawab Hui-thian.

"Dan itu kemarin malam,"

Kata It Piau.

"Benar."

"Aku beritahu kepadamu, 3 hari yang lalu, siang hari, aku bertemu dengan Tuan Kiam-ta, jaraknya 70 kilometer dari kota Lok-yang. Dalam waktu 3 hari ini aku selalu bersamanya, kemarin malam aKo Tan dia minum arak di rumah teman, banyak orang bisa menjadi saksi."

Setelah mendengar kata It Piau cinjin, Hui-thian jadi bengong.

"Aku beritahu kepadamu, karena kau membuat kekacauan di Lok-yang dan melukai Hie Tiong-gwee, maka aku segera datang untuk menolong Hie Tiong-gwee, aku bertemu dengan Tuan Kiam-ta dan tahu bahwa Ko Tan Taysu sudah ada di rumah Hie. Aku mengira kau sudah dapat diatasi oleh Ko Tan Taysu, karena Tuan Kiam-ta sudah dihina olehmu, dia menjadi tidak enak hati dan tidak ingin kembali ke Lok-yang lagi karena itu aku menemaninya bermain, tidak disangka hari ini kita bisa bertemu."

Hui-thian seperti masuk ke dalam kabut yang tebal, kata-kata It Piau seperti tidak terdengar, dan dia bertanya kepada Tuan Kiam-ta.

"Apakah benar 3 hari yang lalu kau sudah meninggalkan rumah Hie?"

Tuan Kiam-ta juga seperti sedang berpikir, kepalanya tidak diangkat. Yu Yong marah dan berkata.

"Dia keluar dari Lok-yang pun karena dipaksa olehmu. Kami bertiga menemaninya pergi, apakah kau mengira kami juga bersekongkol untuk menipumu?"

Sekarang Tuan Kiam-ta mengangkat kepadanya dengan pelan berkata.

"Kau bilang kemarin malam kau bertarung denganku, aku memakai ilmu Ta-sik-pek-jiu dan Bian-ciang yang digabung menjadi satu. Di mana dan siapa yang bisa menjadi saksi?"

Dengan dingin Hui-thian berkata.

"Pastinya di rumah Hie dan Ko Tan Taysu ada di sana!"

It Piau terkejut dan bertanya.

"Benarkah Ko Tan Taysu ada di sana?"

"Apakah aku bisa sembarangan bicara? Bila guru tidak percaya kita bisa ke Siauw-lim dan bertanya kepada Ko Tan Taysu."

Giok-yan terus menerus kalah di tangan Wie Thian-hoan, dia masih marah, dengan dingin dia berkata.

"Hui-thian, kau terus berbohong, sudah 3 hari kami terus bersama Tuan Kiam-ta."

Dia sengaja meninggikan suara dan berkata.

"Guru, Anda sudah tahu dia terus berbohong, mengapa masih terus mendengar kata-katanya? Dia hanya mencari kesempatan untuk kabur. Berharap bisa lolos dari hukuman Anda. Guru, kau ada bukti kuat, bisa membuktikan bahwa Tuan Kiam-ta sudah diancam, apakah Anda tidak percaya dirinya? Malah harus ke kuil Siauw-lim untuk bertanya kepada Ko Tan Taysu."

Dengan tegas Hui-thian berkata.

"Aku mengatakan sebenarnya, mau percaya atau tidak, terserah!"

Walaupun Giok-yan terus protes tapi It Piau seperti sedang berpikir. Tiba-tiba Tuan Kiam-ta berkata.

"Sekarang aku sudah mengerti."

Tuan Kiam-ta melanjutkan kata-katanya.

"Aku bukan pembunuh seperti yang dituduhkan oleh Hui-thian, kemarin malam yang bertarung dengan Hui-thian di rumah Hie pun bukan aku, tapi aku percaya dengan kata-katanya."

"Ada apa ini?"

Kata Hui-thian terkejut. Tuan Kiam-ta tidak menjawab, Hui-thian bertanya lagi.

"Siapa dia?"

Tuan Kiam-ta tetap tidak menjawab. Dengan suara besar Hui-thian bertanya.

"It Piau cinjin, Anda adalah seorang saksi, siapa benar siapa yang salah, kau harus tahu!"

"Kau tidak salah, dia juga tidak salah, menurutku ada yang menyamar menjadi Tuan Kiam-ta..."

Kelihatannya dia sudah tahu siapa pelakunya, karena belum ingin diungkapkan oleh Tuan Kiam-ta maka dia tidak berani mengemukakannya, sambil bicara dia terus menatap Tuan Kiam-ta. Kata Tuan Kiam-ta.

"Baiklah, Hui-thian, aku janji akan mencari tahu siapa pelakunya."

It Piau cinjin juga mengangguk dan berkata.

"Adik Wie, aku minta maaf karena aku sudah menyalahkanmu walaupun aku sudah mengira-ngira siapa pelakunya, tapi semua ini belum dapat dibuktikan, aku berjanji siapa pun dia aku tidak akan memihak kepadanya. Maaf, aku tidak dapat menerangkan lebih detil lagi. Silahkan kau pergi!"

Habis kata-katanya dia langsung pergi dengan Tuan Kiam-ta. Giok-yan mengejar dan berkata.

"Guru, aku masih ada yang ingin aku bicarakan!"

"Bicaralah!"

"Kau jadi saksi/juri seperti kurang berpikiran jauh."

Bong Cong-kian marah dan berkata.

"Adik, kau sedang bicara dengan Cianpwee, sopanlah sedikit!"

"Bila ada yang memalsukan Tuan Kiam-ta, itu juga tidak bisa jadi bukti bahwa Hui-thian tidak bohong, siapa pembunuhnya saja, kita belum tahu. Apa benar?"

"Benar, karena itu kami harus kembali ke Lok-yang untuk mencari tahu."

Kata It Piau. Giok-yan merasa dirinya berhak bicara, kemudian dia berkata.

"Tidak dapat membuktikan bahwa Hui-thian adalah penjahat, tapi dia tidak boleh merebut istri Hie."

"Aku juga tidak memihak kepada Hui-thian"

Kata It Piau.

"Tadi Anda mengatakan bahwa ini adalah salah paham, kau sudah menganggap dia orang baik dan Hie Tiong-gwee adalah orang jahat."

"Aku tidak bermaksud seperti itu, kami hanya ingin membuktikan masalah."

Kata Tuan Kiam-ta.

"Hui-thian merebut istri orang lain, apakah dia mempunyai alasan yang tidak kita ketahui. Tapi bila dia menyukai kecantikan Hiat-kun, itu urusan moralnya. Bila dibandingkan dengan orang yang memalsukan diriku, walaupun belum tahu apakah benar dia adalah pembunuhnya, dosanya lebih besar dari Hui-thian."

Walaupun mereka sudah meninggalkan tempat itu sejauh satu li, tapi percakapan mereka masih bisa didengar oleh Hui-thian.

Pikir Hui-thian, 'Walaupun Kiam-ta belum menjelaskan semua ini, tapi dia berpendapat seperti itu, ini membuktikan bahwa seorang Kiam-ta benar-benar adil, sepertinya aku salah melihat orang.' Belum habis berpikir, terdengar It Piau cinjin berkata.

"Kakak Kiam, aku kagum kau begitu lurus, bila orang itu benar-benar dia, aku harus bagaimana?"

"Melihat kejahatan yang dia lakukan, bila memang fatal tidak dapat diampuni lagi..."

"Bagaimana caranya?"

"Bantu aku memusnahkan ilmu silatnya dan bantu aku untuk meminta kepada Ko Tan Taysu mencukur rambutnya dan menjadi seorang hweesio. Biar dia tinggal di Kao-san selama 10 tahun untuk merenungi kesalahannya."

Mendengar sampai sana, Hui-thian berpikir, 'Sepertinya ada orang yang memalsukan dia dan masih keluarganya.' "Guru, kalian mau ke mana?"

Tanya Yu Yong.

"Ke rumah Hie."

"Hie Tayhiap pernah berkata, demi menghindari kejaran Hui-thian, dia akan meninggalkan Lok-yang."

"Dia meninggalkan Lok-yang tapi nyonya barunya masih ada di rumahnya."

"Nyonya Hie sudah keluar dengan Hui-thian."

"Menurut Hui-thian, kemarin malam dia direbut kembali oleh Hie Tiong-gwee."

"Kata-kata Hui-thian belum tentu benar."

Tuan Kiam-ta berkata.

"Aku percaya kepada kata-katanya, bila Nyonya Hie tidak ada di rumah Hie, Hui-thian pasti bersamanya."

Tanya Giok-yan.

"Bila Hiat-kun ada di rumah Hie, memangnya mengapa?"

Kata It Piau.

"Aku bisa bertanya lebih banyak kepadanya, misalkan, apakah dia terpaksa menikah dengan Hie Tiong-gwee? Apakah Hie adalah musuhnya? Dan lain lain."

"Perempuan itu tidak setia kepada suaminya, kata-katanya tidak dapat dipercaya."

Dengan tegas Tuan Kiam-ta berkata.

"Nona Giok-yan, sebelum jelas masalahnya, lebih baik kau jangan banyak komentar."

Giok-yan terdiam tidak bicara lagi.

"Yu Yong, kau juga tidak perlu ikut aku ke Lok-yang, kau antar mereka pulang saja."

Tanya Giok-yan.

"Apakah Anda tidak ingin kami ikut menyaksikannya?"

It Piau tertawa dan berkata.

"Anak kecil jangan ikut campur terlalu banyak!"

"Kami dan Hui-thian ada masalah."

It Piau tertawa dan berkata.

"Kau takut bila tidak ikut denganku, Hui-thian akan mencari ribut denganmu. Menurutku, walaupun dia bukan pendekar yang mempunyai hati untuk menolong orang, tapi dia tidak sejahat seperti yang kalian sangka, asal kalian tidak mencari gara-gara, dia tidak akan membuat kalian susah."

Giok-yan agak marah dan berkata.

"Guru, mengapa kau begitu percaya kepadanya?"

"Paling sedikit dia tidak akan membuat ribut dengan gadis kecil sepertimu."

Hui-thian sudah tidak dapat mendengar suara mereka, dia juga tidak melihat Yu Yong dan Giok-yan kembali lagi, mungkin mereka lewat jalan yang lain.

Hui-thian masih berdiri di pinggir sungai, dia tidak tahu harus melakukan apa.

Masalah ini di luar dugaannya, seperti apa orang yang memalsukan Kiam-ta?

Tiba-tiba dia teringat pada cerita tentang 'Kiam-ta' dan 'Ih-san'.

Kiam-ta adalah kakak dan Ih-san adalah adiknya.

Adik kakak ini sifatnya tidak sama.

Sang kakak berkelana di dunia persilatan, membantu orang-orang membereskan masalah, adik berada di rumah jarang keluar, apalagi dalam waktu 10 tahun ini tidak ada yang pernah bertemu dengannya.

Kiam-ta sangat berwibawa dan disegani oleh orang-orang dunia persilatan, ilmu silatnya termasuk tangguh, tapi ilmu silat Ih-san katanya lebih tinggi.

Setinggi apa, tidak ada yang tahu, orang-orang mengatakan 'tidak terukur' dalam melukiskan ilmu silatnya.

Tapi berita mengenai Kiam-ta tidak seperti Ih-san.

Kata-kata orang biasanya sering dibesar-besarkan, seperti ada yang berkata, 'Tuan Kiam-ta bertarung dengan Ko Tan, akhirnya adalah seri.' Sebenarnya mereka sedang berlatih ilmu silat dan Ko Tan Taysu memberitahu kelemahan ilmu silat Tuan Kiam-ta, berlatih seperti ini tidak ada yang menang atau kalah, karena ilmu silat mereka perbandingannya sangat jauh.

Walaupun ilmu silat Kiam-ta tidak setinggi Ko Tan, tapi Kiam-ta termasuk pesilat tangguh.

Bila berita mengenai Kiam-ta tidak seperti Ih-san, artinya orang yang memalsukan Kiam-ta dan Jian Ih-san hampir sama.

"Apakah yang memalsukan Tuan Kiam-ta adalah Ih-san?"

Pikir Hui-thian.

Adik kakak pasti ada miripnya, Hui-thian berpikir seperti itu satu lagi kenyataan yang membuatnya curiga.

Kenyataan ini kecuali keluarga Kiam yang tahu, kakek gurunya Kie Yan-gan pasti tahu juga.

Kiam Ih-san selama puluhan tahun tidak keluar, bukan karena sifatnya yang penyendiri, melainkan karena berlatih ilmu Han-goan.

Tapikarenaterlaluterburu-buruhampirmembuatnya lumpuh/tersesat.

Kie Yan-gan, ilmu silatnya tinggi dan juga sangat ahli mengobati orang, karena Kiam Ih-san sakit maka Kie Yan-gan yang menolongnya.

Tapi Kie Yan-gan tidak dapat menyembunyikan berita tentang Ih-san, Kie Yan-gan juga tidak menyebarkan rahasia ini kepada orang lain, kecuali kepada cucu muridnya.

Kie Yan-gan pernah bercerita kepadanya mengenai jalan hidup Ihsan walaupun Kie Yan-gan bukan sahabat karibnya, tapi mereka pernah bertemu selama 3 hingga 4 kali, mereka merasa cocok, bila tidak Kie Yan-gan tidak akan mau mengobatinya.

Hui-thian pernah bertanya kepada kakek gurunya mengenai ketidakmiripan antara Kian-yan dan Ih-san.

Kakek gurunya juga tidak bisa menjawab, karena Kie Yan-gan hanya mengobati penyakitnya tidak bisa melihat ilmu silatnya, tapi menurut sepengetahuan Kie Yan-gan, Ih-san mempunyai tenaga dalamnya susah diukur.

Karena tenaga dalam yang kuat, dia tergesa-gesa inginmenguasaiilmuHan-goanhinggamembuatnya lumpuh/tersesat.

Kalau tenaga dalamnya semakin dalam kemungkinan untuk sernbuhpun semakin tipis, menurut Kie Yan-gan, Ih-san seumur hidupnya akan lumpuh.

Tapi dari kata-kata yang didengar dari Kiam-ta, Hui-thian curiga bahwa adiknya memalsukan dia.

Tapi menurut kata-kata kakek gurunya, dia tidak mungkin Kiam Ih-san.

"Bila Kiam Ih-san bisa bertemu dengan tabib yang baik dan sembuh tapi sifatnya tidak akan berubah drastis seperti itu."

Ada pepatah yang mengatakan, gunung bisa diubah tapi sifat orang tidak dapat diubah.

Mungkin sembuh dari penyakit tapi sifatnya tidak akan berubah.

Dalam hati Hui-thian berpikir lagi, 'Dapat berteman dengan kakek guru, pasti mereka cocok satu sama lain.' Hui-thian sangat menghormati kakek gurunya dan dia tidak boleh mencurigai teman kakek gurunya.

Pada saat dia sedang berpikir, cuaca udara tiba-tiba berubah.

Hujan telah turun sangat deras, suara petir membangunkan dia dari pikiran yang ruwet.

Hujan deras memaksanya harus meninggalkan tempat itu.

Siapa pun yang memalsukan Tuan Kiam-ta, asal Tuan Kiam-ta yang berlaku adil, suatu hari semuanya akan jelas.

Bila Hiat-kun masih berada di rumah Hie, keadaan Hiat-kun yang sekarang menjadi pikirannya.

Walaupun masih belum selesai urusannya, tapi sudah mengurangi bebannya.

Dia mengambil keputusan semula, kembali lagi ke kota mengambil kuda, dan langsung ke ibukota.

Tidak jauh dari sungai ada sebuah gunung, dia mendaki gunung itu untuk menghindari hujan yang semakin besar.

Tidak sengaja dia melihat sebuah perahu di tengah sungai.

Dia melihat ada 2 orang sedang menurunkan layar, pada saat dia memperhatikan lebih teliti lagi, membuatnya menjadi bengong.

Angin berhembus sangat kencang, hujan semakin deras, perahu berada di tengah-tengah sungai, jaraknya juga jauh, tapi begitu dia melihat bayangan itu dia kenal dengan bayangan itu.

Karena di antaranya ada seseorang yang dia rindukan.

Dia adalah Kang Hiat-kun, Hui-thian ingin melihat lebih jelas lagi tapi perempuan itu sudah membalikkan tubuh dan masuk ke dalam perahu.

Perempuan yang satu lagi, melambaikan tangan kepada seorang laki-laki, perahu berjalan seperti ditarik seekor kuda.

Dalam sekejap perahu sudah tidak tampak dan hilang dalam rintik hujan.

Perempuan yang melambaikan tangan adalah Sumoinya.

Hujan lebat angin berhembus kencang, gelombang air pun semakin tinggi.

Perahu sudah menjauh, panggilannya tertiup oleh suara angin dan hujan.

Dia menenangkan diri, dalam hati berpikir, 'Apakah aku salah lihat, ah...

tidak mungkin dua-duanya begitu mirip, yang satu mirip Hiat-kun, yang satu mirip Kie Su-giok' Pertama kali melihat sosok Hiat-kun dia masih tidak percaya, begitu melihat Kie Su-giok dia menjadi yakin bahwa itu memang mereka.

Tapi mengapa mereka bisa bersamaan?

Dia lupa hujan masih deras, seperti orang gila dia memanggil-manggil.

"Adik Hiat, Adik Hiat!"

Suara guntur terus berbunyi, perahu tidak meninggalkan jejak. Hui-thian basah kuyup, tubuhnya terasa dingin, tapi ini malah membuatnya sadar, dalam hati dia berpikir.

"Bila dia benar-benar Hiat-kun, artinya dia sudah selamat, aku tidak perlu khawatir lagi!"

Kemudian dia berpikir lagi, 'Laki-laki itu siapa? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya?' Sekarang baru terpikir olehnya, pertama kali masuk ke rumah Hie, laki-laki ini sedang bersama Hiat-kun.

"Benar, aku pernah menotoknya. Laki-laki itu adalah Coh Thian-su, dia adalah Suheng Hiat-kun."

Hui-thian masih ragu, dalam hati dia berpikir, 'Walaupun orang yang she Coh ilmu silatnya lumayan, tapi dia bukan Tuan Kiam-ta yang palsu, aneh, bagaimana dia bisa menolong Hiat-kun.

walaupun dia bergabung dengan Kie Su-giok juga tidak mungkin."

Tapi di depan mata yang dia lihat adalah benar mereka bertiga.

"Apakah aku salah melihat orang? tapi kalau salah lihat pasti satu orang saja, tidak mungkin sampai ketiga-tiganya."

Dia teringat malam itu dia tidak sopan kepada Coh Thian-su, wajahnya menjadi panas, hatinya pun tidak enak Hiat-kun bisa lolos dan bahaya, dia harus senang, mengapa dia merasa tidak tenang?

Dia sendiri pun merasa aneh.

Dalam hati dia iri kepada Coh Thian-su yang bisa bersama-sama dengan Hiat-kun, tapi bagaimana pun keadaan ini lebih baik daripada Hiat-kun jatuh ke tangan Hie Tiong-gwee, dia juga berpikir ke mana Hiat-kun akan pergi?

Dia mempunyai 2 jawaban, pertama, dia ikut Kie Su-giok pulang.

Kedua, dia ikut Coh Thian-su pulang ke Yang-ciu bertemu dengan paman guru Hiat-kun.

Dia ingin tahu jelasnya baru bisa menyusul.

Tapi dia masih mempunyai tugas yang lebih penting, waktu tidak mengijinkannya tidak berpikir, dia harus mengejar musuh, karena dia sudah tahu bahwa Hie Tiong-gwee sudah pergi ke ibukota mencari Jenderal Bok Apakah dia akan membiarkan musuh mencapai keinginannya?

Tapi dia juga takut setelah bertemu dengan Kie Su-giok, Kie Su-giok akan membuatnya tidak dapat bekerja dan dia juga tahu mungkin orang-orang yang tadi dilihatnya bukan mereka dan itu akan membuat pekerjaannya tertunda.

Hujan deras terus mengguyur, Hui-thian terus memandang ke arah sungai, tiba-tiba di depan mata cuaca menjadi terang, kabut mulai menghilang, dan hujan pun berhenti.

Hui-thian seperti terbangun dari mimpi, hatinya pun seperti cuaca sehabis hujan, dalam hati dia berpikir.

"Laki-laki harus berpikir panjang, bila Hiat-kun sudah lepas dari bahaya, aku harus lebih tenang pergi ke ibukota, apa lagi yang kutunggu?"

Dia melepaskan keinginan untuk mengejar Hiat-kun dan melangkah dengan mantap ke jalan besar.

Hujan dan angin sudah berlalu, perahu kecil itu pun sudah melewati tempat yang berbahaya.

Hui-thian tidak salah lihat, orang yang berada di dalam perahu adalah Coh Thian-su, Hiat-kun dan Kie Su-giok.

Dengan tertawa Kie Su-giok berkata.

"Coh Toako, tidak disangka kau pandai mengemudikan perahu, tadi aku benar-benar sangat takut."

Kata Coh Thian-su.

"Aku adalah orang selatan, di daerah selatan banyak air, kemana-mana kami selalu menggunakan perahu, seperti kalian orang-orang utara kemana pun pergi selalu menunggang kuda."

"Kau juga pandai menunggang kuda."

Kata Coh Thian-su.

"Orang utara pandai menunggang kuda, orang selatan pandai mengemudikan perahu, tapi ada juga pengecualian, teknikku menunggang kuda sangat pas-pasan."

Kie Su-giok mengangguk dan berkata.

"Benar juga."

"Apakah di antara orang-orang yang kau kenal ada yang mahir mengemudikan perahu?"

"Ada."

"Siapa?"

"Kau pasti sudah tahu, aku tidak akan memberitahumu."

Coh Thian-su merasa aneh dan berkata.

"Aku hanya bertanya, tidak perlu marah."

Kie Su-giok juga tahu dia sudah salah dan berkata.

"Aku tidak marah, hanya sedang tidak ingin bergurau."

Coh Thian-su melihat Hiat-kun, wajahnya juga berubah. Coh Thian-su berkata.

"Kau tidak mau memberi tahu, aku pun sudah tahu."

"Siapa?"

"Dia adalah Wie Thian-hoan Toako."

"Kau mengira dia orangnya?"

"Dia dijuluki Hui-thian-sin-liong, artinya dia sangat mahir dengan keterampilan di air."

Kie Su-giok teringat pada ibunya yang menghilang, sejak kecil dia juga suka bermain air, pernah suatu kali dia bermain di sungai kecil, hampir terendam air hingga mati, untung ibu asuhnya menolong dengan segera, ibu asuhnya marah dan berkata.

"Mengapa kau seperti ibumu?"

"Apakah ibu juga senang bermain air?"

Tanyanya. Ibu asuhnya menjawab.

"Kepintaran ibumu di air lebih hebat daripada di darat."

Dia sangat senang dan bertanya.

"Bagaimana kepintarannya? Ceritakan kepadaku?"

Waktu itu Paman Ting datang dan memarahi ibu asuhnya.

"Tuan Besar sudah berpesan tidak boleh membicarakan ibunya kepada anak ini."

Karena ibu asuhnya takut kepada Paman Ting, dia pun demikian, akhirnya dia tidak berani bertanya lagi, dan melupakannya.

Tapi sekarang mengapa tiba-tiba dia teringat kepada masa lalu dan juga ibunya?

Dia hanya tahu sedikit tentang ibunya.

"Sekarang aku sudah dewasa, aku akan bertanya kepada ibu asuhku, apakah ibuku orang utara atau selatan?"

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Cerita mengenai Hui-thian, aku akan memberitahu kepada kalian, kejadian aneh seperti tadi."

Hiat-kun langsung bertanya.

"Memangnya tadi mengapa?"

"Sepertinya tadi aku mendengar teriakan Hui-thian."

Kie Su-giok juga meloncat dan berkata.

"Aku pun mendengar ada yang memanggil, tapi aku tidak yakin itu suara gelombang atau suara angin. Apakah kau benar-benar mendengar bahwa itu suara Wie Toako?"

Kata Coh Thian-su dengan tertawa.

"Aku curiga itu suaranya, nanti kau akan marah lagi kepadaku."

Kie Su-giok malu dan berkata.

"Coh Toako, maafkan aku, apakah tadi itu benar suara Wie Toako? Dia bilang apa?"

"Dia memanggil namamu."

Kie Su-giok sangat senang dan berkata.

"Apakah benar?"

"Benar, dia memanggil 'Adik Giok' dalam perahu ini siapa yang bernama Adik Giok."

Kie Su-giok hanya percaya sedikit dan berkata.

"Mungkin tidak benar, karena tadi aku tidak berada di bagian depan perahu, bila dia melihat ada orang di perahu, yang dipanggilnya pasti bukan aku, dia pasti melihat Hiat-kun."

Tiba-tiba Hiat-kun tertawa kecil dan berkata.

"Adik Giok, Coh Toako hanya bergurau denganmu, bila benar ada yang memanggil, mengapa aku tidak mendengar?"

Sebenarnya Hiat-kun juga mendengar hanya dia takut Coh Thian-su akan memberitahu kepada Kie Su-giok bahwa yang dipanggil oleh Hoan Toako bukan dia, dan ini akan membuat Kie Su-giok iri.

Yang paling penting dia tidak mau bertemu dengan Wie Thian-hoan untuk sekarang ini.

gukan tidak mau bertemu tapi dia takut Wie Thian-hoan masih memiliki perasaan yang masih dalam kepadanya dan itu akan membuat Kie Su-giok iri.

Dia tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka berdua.

Hiat-kun berpikir, 'Berdiam ditempai Kie Su-giok juga tidak bisa lama-lama, aku harus mempunyai rencana lain.

Bila tidak bergabung dengan Hoan Toako dendam orang tua tidak akan bisa dibalas.

Walau Coh Toako adalah Sumoi ku, tapi kami belum kenal lama.' Hatinya kacau seperti perahu ini yang berada di sebuah sungai besar.

Entah akan berhenti di mana?

Kie Su-giok tidak tahu pikiran Hiat-kun begitu ruwet, dia tidak percaya bahwa di dalam hujan yang begitu deras dan langit yang begitu gelap, Wie Toako yang jauh di tepi sungai bisa melihat mereka.

Dan Coh Thian-su malah bisa mendengar suara orang berteriak, dia percaya kepada kata-kata Hiat-kun.

dia memukul Coh Thian-su dan berkata.

"Kau jahat, aku menganggapmu sebagai Toako, tapi kau malah main-main denganku!"

Sambil tertawa Coh Thian-su menghindari pukulan itu.

"Kau marah-marah terus jadi aku sengaja bergurau denganmu, kau juga tidak rugi apa-apa."

Coh Thian-su adalah orang yang sangat pintar, begitu melihat Hiat-kun tidak mengaku, dia langsung menutupi dengan kata-kata tadi. Kata Kie Su-giok.

"Baiklah, bila kita sudah sampai di rumah, Wie Toako pasti sudah pulang, aku berharap dia menyusul kita pulang."

Hiat-kun melihat Kie Su-giok begitu mencintai Hoan Toako, hatinya semakin sedih, tapi Hiat-kun dan Kie Su-giok tidak tahu bahwa Wie Thian-hoan sudah masuk ke ibukota.

Perahu kecil mengikuti arus air, belum sore sudah tiba di luar kota Lok-yang, sekitar 50 hingga 60 kilometer.

Daerah ini adalah daerah Huang-ho, sungai sangat lebar, tenang seperti kaca, ada perahu layar mendatangi mereka Perahu itu lebih besar dari perahu mereka.

Perahu kecil mereka mengikuti aliran air tapi perahu besar itu berjalan melawan arus, kecepatan perahu besar itu sama dengan perahu kecil mereka.

Coh Thian-su melihat perahu itu, dalam hati dia berpikir.

"Orang yang membawa perahu itu bukan sembarang orang, cara mengemudinya sangat baik, tenaga dalamnya pun begitu."

Dua orang itu, yang satu mendayung dan yang satu lagi memegang kemudi.

Tubuh mereka sangat tegap, umur mereka kurang lebih 50 tahun.

Kedua orang itu pun tahu bahwa Coh Thian-su sedang memperhatikan mereka.

Mereka pun melihat Coh Thian-su pada saat perahu mereka berpapasan.

Kie Su-giok dan Coh Thian-su sedang melihat pemandangan di bagian depan perahu.

Pada saat perahu itu sudah lewat, Kie Su-giok berkata.

"Coh Toako, tadi kau perhatikan tidak sorot mata mereka begitu galak. Aku merasa mereka sedang melihat aku."

"Mereka juga sedang melihatku, karena tahu aku memperhatikan mereka."

Kata Coh Thian-su. Kata Kie Su-giok.

"Aku merasa mereka lebih banyak melihat aku dan sorot mata yang galak seperti itu sepertinya dia ada permusuhan denganku."

Gadis cantik biasanya senang orang lain memperhatikan dia.

Coh Thian-su mengira Kie Su-giok juga seperti itu.

Dalam hati dia ingin tertawa, terdengar dalam suara angin, mereka sedang bercakap-cakap dan kali ini dugaan Kie Su-giok benar.

Perahu layar yang ada di belakang mereka, kira-kira beberapa puluh meter dari mereka.

Coh Thian-su dan Kie Su-giok memiliki pendengaran lebih tajam dari orang lain.

Mereka bisa mendengar dengan jelas.

Kata salah satu orang dari mereka.

"Lo-sam kau lihat tadi, apakah perempuan itu sudah pulang?"

Jawab yang sarunya sambil tertawa.

"Lo-ji pantas dari tadi kau marah-marah, kau salah melihat orang."

Kata yang satu.

"Aku tidak akan salah melihat orang, walaupun sudah lewat 20 tahun, aku masih ingat sosoknya."

Lo-sam tertawa.

"Apakah setelah 20 tahun perempuan itu masih tetap muda? Aku lihat gadis tadi belum berusia 20 tahun."

Lo-ji jadi tertawa.

"Tapi mereka sangat mirip, bukankah kau juga tadi hampir marah?"

"Kita adalah 'Huang-ho-sam-ciaf, dulu pernah kalah di tangan perempuan itu, kakak tertua dipotong lututnya hingga cacat, tapi katanya perempuan itu sudah mendapat karma, hutang ini tidak perlu dibayar lagi."

"Yang kau sebut karma, apakah dia sudah menjadi janda? Tapi bila dia masih hidup kita tetap harus balas..."

"Katanya dia menghilang, mengikuti kekasih lamanya kawin lari.

"Aku tahu tentang hilangnya perempuan itu, tapi siapakah kekasih lamanya? Sudah lama aku tidak keluar tapi kau lebih sering berkelana di dunia persilatan, apakah kau tahu?"

"Aku tidak tahu, katanya dia keluarga pesilat dari Kang-lam."

"Keluarga pesilat Kang-lam tidak begitu banyak, paling-paling hanya ada 10 keluarga."

"Apakah kita akan mencari tahu satu per satu? Sepertinya bukan "al yang mudah."

"Aku juga tidak tahu kekasih lamanya, tapi aku pikir.. .pikir."

"Kau pikir apa?"

Jawab Lo-ji dengan pelan.

"Aku pikir ada satu cara untuk balas dendam, apakah kau mempunyai keberanian?"

"Coba ceritakan!"

"Tiap keluarga pesilat pasti mempunyai ilmu silat keluarga mereka, tapi walaupun keluarga mana pun tidak akan sesulit pak tua Kie."

"Memangnya seperti apa?"

"Bila perempuan itu masih ada di keluarga Kie, kita tidak dapat berbuat apa-apa, bila dia ada di keluarga pesilat yang lain kita bisa coba-coba mengganggunya."

"Kita tidak tahu dia ada di keluarga mana, bagaimana bisa mencari dia?"

"Kita cari gadis kecil yang tadi, di dunia ini mana ada orang yang begitu mirip? Pasti gadis tadi adalah anaknya."

"Kalau begitu kita balik lagi untuk mengejarnya!"

"Tidak perlu terburu-buru, dalam perahu itu ada 3 orang, belum tentu kita bisa mengalahkan mereka, lebih baik kita lapor dulu kepada kakak tertua..."

Perahu besar dan perahu kecil sudah berjarak setengah kilometer, Coh Thian-su dan Kie Su-giok pun sudah tidak dapat mendengar percakapan mereka lagi.

Kie Su-giok dan Coh Thian-su mendengar kata-kata mereka, hatinya pun menjadi bergelombang "Yang mereka sebut 'perempuan itu', apakah dia ibuku?

Ibu menghilang karena ikut dengan laki-laki lain, pantas kakek tidak mengijinkan orang di rumah membicarakan ibu."

Dia berharap mereka hanya bergosip, Kie Su-giok sedang berpikir, wajahnya menjadi merah, tepat dia mengangkat kepala tepat dia melihat sorot mata Coh Thian-su.

Hati Coh Thian-su juga sangat kacau tapi dari wajahnya tidak terlihat, dia sengaja bertanya.

"Apakah kau tahu kedua orang itu sedang membicarakan apa?"

Wajah Kie Su-giok memerah dan berkata.

"Aku tidak jelas mendengarnya, tadi kau mendengar apa?"

"Aku hanya mendengar beberapa kata, mereka menjuluki mereka sendiri 'Huang-ho-sam-ciat' (3 jago Huang-ho). Tapi kakak tertua mereka sudah cacat dilukai orang, siapakah sebenarnya Huang-ho-sam-ciat itu? Bila Lo-toanya sudah cacat, mereka pasti bukan orang baik-baik."

Tanya Kie Su-giok.

"Kau masih mendengar apa lagi?"

"Aku hanya mendengar sepatah-sepatah, tidak tahu apa maksud mereka, karena itulah aku bertanya kepadamu."

Sebenarnya Coh Thian-su mendengar semua percakapan mereka bila dia mengatakan tidak terdengar, dia tidak akan bisa menipu Kie Su-giok, karena itu dia berkata hanya mendengar beberapa patah kata saja.

Kata Kie Su-giok.

"Aku juga tidak mendengar begitu jelas tapi aku pernah mendengar Paman Ting bercerita tentang Huang-ho-sam-kui."

"Mengapa bukan Huang-ho-sam-ciat?"

Kie Su-giok tertawa.

"Mereka menjuluki sendiri Huang-ho-sam-ciat, kata Paman Ting walaupun ilmu silat mereka biasa-biasa saja, tapi silat mereka di air jangan dianggap biasa. Mereka paling ahli melubangi perahu dagang yang lewat kemudian mereka dikalahkan oleh seorang pendekar yang lebih hebat. Karena mereka selalu melakukan kejahatan maka semua pun menjuluki mereka Huang-ho-sam-kui."

Ini adalah cerita tentang Huang-ho-sam-kui yang didengar Kie Su-giok dari Paman Ting, tapi semua itu masih sedikit, semua sudah diceritakannya, hanya dia menutupi nama yang mengalahkan Huang-ho-sam-kui.

Sebenarnya orang itu adalah pahlawan perempuan.

Paman Ting sangat hafal dengan cerita itu, maka Kie Su-giok sering meminta agar Paman Ting menceritakannya.

Ada suatu hari dia meminta Paman Ting menceritakan tentang Huang-ho-sam-kui tapi Paman Ting seperti tidak ingin menceritakannya, akhirnya Paman Ting hanya bercerita sedikit.

Tapi nama pendekar perempuan itu tidak disebutkan olehnya.

Dia sudah lupa cerita tentang Huang-ho-sam-kui, tidak disangka hari ini dia bertemu dengan dua orang diantara Huang-ho-sam-kui.

Sekarang dia teringat kembali cerita Paman Ting sewaktu dia masih kecil.

"Apakah pendekar perempuan itu adalah ibuku? Karena ibu asuh penah mengatakan bahwa ibuku sangat mahir di atas air."

Gabungan kedua cerita ini membuat hari Kie Su-giok bergetar.

Coh Thian-su pun seperti Kie Su-giok, dalam hati dia punya banyak pertanyaan.

Paman Ting pernah datang ke rumah Coh, dia adalah pelayan keluarga Kie, segera Coh Thian-su teringat ke masa lalu.

Paman Ting bernama Ting Po, dia adalah penjahat kelas kakap dan bersahabat dengan ayahnya.

Dari pembicaraan antara ayahnya dan ibu tirinya, dia tahu antara ibu tirinya dengan keluarga Kie mempunyai suatu hubungan.

Hubungan seperti apa?

Coh Thian-su tidak tahu, dia hanya tahu ibu tirinya tidak ingin bertemu dengan Ting Po.

Dia menghubungkan beberapa hal, ibu tirinya sangat mahir di air, dia bisa mengemudikan perahu itu juga belajar dari ibunya.

Ayahnya tidak jjgngijinkan dia berhubungan dengan keluarga Kie.

Waktu kecil ayah sering bercerita tentang orang-orang persilatan tapi jarang bercerita tentang Kie yan-gan.

Sekarang dia tahu satu hal; ibu Kie Su-giok karena suaminya meninggal kawin lari dengan kekasih lamanya.

Tapi dia tidak berani terus berpikir.

"Mengapa semua begitu tepat? Tapi setelah dipikir-pikir orang tua laini juga tidak salah. Katanya pak tua Kie sifatnya aneh, apakah cara berpikirku dengan dia sama?"

Mereka berdua banyak pertanyaan tapi tidak berani saling membuktikan.

Hiat-kun juga penuh dengan pikiran karena itu dia tidak merasa tiba-tiba semua menjadi terdiam.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara siulan yang panjang, suara itu mengejutkan mereka.

Kie Su-giok langsung meloncat dan berkata.

"Kali ini apakah aku salah dengar lagi? Ini adalah..."

Dia sangat senang sekaligus terkejut. Coh Thian-su juga terkejut dan berkata.

"Aku dengar... tapi."

Yang lain belum sempat dia katakan, suaranya terpotong.

Yang hendak dia katakan adalah.

mengapa itu seperti siulan Hui-thian?

Dia takut Kie Su-giok bertanya terus, untung dia tidak meneruskan pertanyaannya, karena dia mendengar suara siulan itu tapi suaranya lebih kecil dari yang tadi.

Kang Hiat-kun juga keluar mendengar siulan itu, Coh Thian-su melihat dia seperti kebingungan, mereka beradu pandang, Hiat-kun menggelengkan kepalanya, Hiat-kun tahu Coh Thian-su ingin bertanya siapa yang bersiul.

Dan Coh Thian-su tahu bahwa Hiat-kun juga tidak tahu siapa orangnya.

Tapi ini bukan siulan Hui-thian karena tenaga dalam Hui-thian lebih kuat, orang yang bersiul umurnya pasti lebih tua dari Hui-thian.

"Di dunia persilatan banyak orang aneh, bila kita punya waktu kita bisa berkenalan dengan mereka, tapi kita harus segera pulang, jangan hiraukan suara ini!"

Kata Coh Thian-su.

"Aku harus lihat siapa yang bersiul, kali ini aku tidak akan salah. Aku sudah tahu siapa yang bersiul."

Kata Kie Su-giok. Kata Hiat-kun tertawa.

"Adik Giok, mungkin kau merindukan seseorang dan menyangka siara ini adalah suara dia, aku dengar sepertinya bukan."

Tanya Kie Su-giok.

"Kau mengira aku menyangka itu siapa?"

"Kau menyangka itu Hoan Toako."

Jawab Coh Thian-su.

"Siapa bilang itu siulan dia?"

Coh Thian-su terkejut dan bertanya.

"Dia itu siapa?"

"Itu adalah siulan Paman Ting."

"Apakah benar?"

Tanya Coh Thian-su.

"Coh Toako, ilmu silatmu lebih tinggi, pengalamanmu di dunia persilatan lebih banyak, apakah Paman Ting bertemu dengan musuh yang kuat?"

"Tapi siulan itu tidak terdengar lagi tapi..."

"Tapi siulan itu semakin lemah kita bisa mendengar lagi, apakah benar?"

Kata Kie Su-giok.

Coh Thian-su sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Kie Su-giok.

Kalau tidak bertemu dengan musuh yang kuat, mengapa siulan Paman Ting begitu lemah, pasti dia sedang bertarung dan tenaganya sudah habis.

Kie Su-giok langsung berkata.

"Cepat, cepat ke pinggir, aku harus mencari Paman Ting!"

Benar-benar.

Dalam hati penuh pertanyaan.

Tiba-tiba mendengar siulan aneh yang membuat orang was-was.

Ingin tahu apa yang terjadi?

---ooo0w0ooo---Bab Kecelakaan Hidup atau mati Kembali lagi ke semula Kebencian dan kebaikan bagai asap A.

Bertemu dengan orang yang sudah mati Kata Coh Thian-su.

"Bila dia adalah Paman Ting, kita harus menolongnya!"

Suara siulan datang dari gunung sebelah selatan, hari sudah mulai gelap, bulan sabit sudah muncul.

Jarak antara gunung dan sungai sekitar 1 hingga 2 kilometer lagi, sudah tidak terdengar siulan lagi.

Coh Thian-su sangat terkejut dalam hati dia berpikir, 'Ting Po adalah penjahat kelas kakap.

Dari siulannya jelas dapat diketahui tenaga dalamnya sangat kuat.

Sekarang tidak terdengar lagi suara siulannya, apakah dia sudah mengalahkan musuh?

Atau malah terluka berat?

Sehingga tidak bisa membuatnya bersiul.

Kalau begitu lawannya pasti orang kuat?

Siapakah dia?' Mereka berlarian di tengah gunung, sampai di depan ada jurang menghalangi jalan mereka, walaupun jurang sangat dalam tapi tidak menjadi masalah untuk mereka.

Coh Thian-su memiliki ilmu silat paling tinggi dan pengalamannya sudah banyak.

Dia berlari ke depan melihat sekelilingnya dan mendengarkan suara.

Di dekat jurang adalah pohon-pohon cemara, dekat dinding jurang ada sebuah cemara tua, di dalamnya banyak rotan liar, merambat ke arah pepohonan, terlihat di bawah cahaya bulan yang tidak begitu terang.

Coh Thian-su melihat pohon-pohon bergoyang tapi tidak ada angin, bila rotan yang merambat bergoyang itu tidak aneh tapi bila pohon tidak ada angin bergoyang itu baru aneh.

Dia mendengar ada suara dari hutan.

"Hati-hati!"

Kata Coh Thian-su.

Segera dua telapaknya berputar, dia menggunakan ilmunya untuk melindungi diri dan berlari masuk ke dalam hutan.

Di dunia persilatan ada pantangan.

bertemu hutan jangan masuk.

Tapi karena mereka ingin menolong Paman Ting, mereka melupakan pantangan ini.

Hiat-kun dan Kie Su-giok sudah mencabut pedang untuk melindungi diri, mereka mengikuti Coh Thian-su masuk ke dalam hutan.

Di dalam hutan tidak ada apa-apa hanya ada beberapa ekor burung yang terkejut dan mereka terbang dari sarang mereka.

Kata Kie Su-giok.

"Coh Toako, mengapa tidak ada bayangan seorang pun?"

Coh Thian-su juga terkejut dalam hati dia berpikir, 'Pohon bergoyang tapi tidak ada angin, apa aku salah lihat atau apakah ada tupai yang melompat membuat pohon bergoyang?

Aku berharap tadi adalah tupai, bila dia manusia ilmu meringankan tubuhnya tentu sangat tinggi sekali' Belum habis berpikir mereka sudah keluar dari hutan pohon cemara.

Di depan terbentang tanah datar dan luas.

Mereka mendengar ada suara lagi tapi seperti suara angin, Coh Thian-su mempercepat langkah kakinya.

Berdiri di tempat tinggi dan berteriak.

"Di sana ada orang bertarung! Nona Kie, cepat!"

Kie Su-giok ikut naik ke atas batu dan dia melihat sesuatu, dia berteriak.

"Betul, itu Paman Ting, paman kau jangan takut, kami akan segera membantumu!"

Di bawah gunung ada seorang pak tua yang sedang bertarung dengan 2 orang yang tinggi dan besar, walaupun hanya bertemu satu kali pada waktu kecil, tapi Coh Thian-su tahu bahwa dia adalah Ting Po.

Ting Po yang pernah menggemparkan dunia persilatan.

Yang bertarung dengan Ting Po seperti dua orang kakak beradik.

Coh Thian-su sudah melihat beberapa jurus, dia terkejut.

Jurus mereka kadang seperti elang yang sedang berputar-putar di langit, kadang seperti seekor harimau sedang tiarap.

Tiap jurus sangat ganas, dalam lingkaran puluhan meter angin berhembus sangat kencang.

Batu pun ada yang beterbangan, suaranya seperti angin ribut.

Kelihatan Ting Po berada di bawah tekanan mereka.

Sekarang Coh Thian-su baru tahu mengapa tidak terdengar suara siulannya lagi, karena dia diserang terus oleh musuh maka dia tidak mempunyai waktu untuk bersiul.

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Benar, dia adalah penjahat kelas berat yang menggemparkan dunia persilatan.

Mungkin bila aku yang bertarung, dalam 10 jurus pasti sudah kalah.' Walaupun mereka bertiga sama-sama turun tangan belum tentu bisa membantu Ting Po tapi dalam keadaan seperti itu, tidak ada orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Mereka dengan cepat berlari ke arah Ting Po.

Di antara mereka ada yang berkata "Ting Po, kau adalah teman kami meski tidak dekat, sekarang yang datang menolongmu hanyalah 3 orang anak kecil.

Mari ke sini untuk sekalian menjemput kematian kalian!"

Yang berlari terdepan adalah Coh Thian-su, Kie Su-giok juga ikut di belakangnya, hatinya berdebar-debar, dia takut tidak sempat menolong Paman Ting. Ting Po lebih takut lagi dan berkata.

"Nona, cepat lari! Jangan hiraukan aku!"

Kata-katanya belum selesai, di antara mereka ada salah satu yang sudah melompat tinggi dan menyerang Ting Po.

Ting Po merendahkan tubuhnya dan memiringkannya.

Kie Su-giok tidak jelas melihat hanya mendengar ada suara.

Kepalan tangan orang itu mengenai pohon cemara dan pohon itu patah menjadi dua.

Kie Su-giok masih tidak bisa melihat dengan jelas, dia mengira paman Ting yang menghindar, tapi Ting Po sangat terkejut dan berkata' "Aneh, mengapa menjadi menyimpang?"

Sebenarnya Ting Po ingin mengelak dari pukulan orang iiu walaupun tubuhnya miring ke pinggir, tapi dia tetap harus menyambut pukulan satu orang lagi.

Apakah dia kuat menyambut pukulan itu?

Dia tidak begitu yakin, tapi pukulan itu ternyata meleset.

Mereka berdua adalah saudara kembar, cara berpikir mereka samn dan mereka sangat kompak, tapi kali ini perkiraan mereka meleset, pukulan Sang kakak pun meleset ini membuat Ting Po mempunyai kesempatan untuk membalas.

Ting Po membalikkan tangan tepat menyambut serangan adik dari belakang.

Dua pasang tangan beradu, orang itu terguncang hingga mundui beberapa langkah dan hampir jatuh.

Ini pun di luar dugaan Ting Po, walaupun satu lawan satu Ting Po tetap berada di atas angin, tapi tidak mungkin tergetar sampai mundur bagitu jauh.

Padahal tenaga Ting Po sudah terkuras habis.

Hal ini tidak disangka oleh Ting Po juga dua bersaudara kembar ini.

Mereka saling pandang, matanya bersorot aneh.

Karena mereka kembar, pikiran mereka sama.

Sang kakak mengangguk sang adik menggelengkan kepala, walaupun yang satu menggeleng yang satu mengangguk tapi pikiran mereka sama, secara bersamaan mereka berkata.

"Orang she Ting, kau punya andalan di belakangmu, kami mengaku kalah. Semoga andalanmu panjang umur dan kau bisa menjadi pelayannya seumur hidup."

Setelah mengatakan ini mereka kabur.

Sebenarnya Ting Po dapat membuat mereka betambah marah tapi dia tidak berani bertindak berlebihan.

Kejadian sebenarnya adalah ketika sang kakak mengayunkan tangannya, tiba-tiba kakinya seperti ditusuk jarum, tubuhnya tidak seimbang dan dia terdorong ke depan, dan akhirnya pukulan tangannya nyelonong mengenai pohon cemara.

Sedangkan yang menjadi adik begitu mengerahkan tenaga dalam memukul, dia merasa jalan darahnya seperti digigit oleh semut.

Tenaganya langsung menjadi berkurang setengah.

Mereka ternyata telah terkena Bwee-hoa-ciam dan mungkin terkena lemparan senjata rahasia.

Tapi mereka masih belum tahu.

Tadinya mereka memandang sebelah mata kepada Coh Thian-su, Kie Su-giok dan Hiat-kun, tapi bila dipikir lagi Kie Su-giok adalah cucu dari Kie Yan-gan, bila ada cucunya di sini, mungkin sang kakek juga akan ke sini.

Kecuali Kie Yan-gan tidak ada yang sanggup menyerang mereka dengan diam-diam dan membuat mereka tidak merasakan kehadirannya.

Saudara kembar ini berpikir Kie Yan-gan sudah datang, mereka harus mengaku kalah dan memutuskan tidak akan bertarung lagi.

Ting Po tidak tahu mereka sedang memikirkan apa, tapi dia sudah menebak, mereka terkena serangan diam-diam, dan tahu mereka mereka bisa menebak siapa pelakunya.

Kie Su-giok terkejut dan berlari ke arah Ting Po, kemudian berkata.

"Paman Ting, kau punya musuh yang begitu kuat dari mana?"

"Mereka adalah Ji-pak-siang-eng (sepasang elang dari utara), she Sa, 20 tahun lalu sewaktu aku masih menjadi penjahat, pernah berselisih dengan mereka. Tidak kusangka hari ini aku bertemu kembali dengan mereka."

Ji-pak-siang-eng, sang kakak bernama Sa Touw-tie, sang adik bernama Sa Touw-la.

Kie Su-giok pernah mendengar kakeknya menceritakan tentang mereka, katanya mereka lahir di pulau Mao-eng (burung hantu).

Tapi Mao-eng ini lain daripada yang lain, mereka lebih besar dari burung hantu biasa dan sifatnya pun lebih ganas, karena burung ini langka dan hanya ada di pulau itu, pulau itu dekat dengan sebuah pulau yang bernama Coa-to (pulau ular).

Di pulau itu banyak ular beracun, burung hantu itu senang sekali makan daging ular.

Si kembar ini sering memperhatikan gerakan burung itu menangkap ular.

Lama-lama mereka berlatih silat mencangkok sendiri gerakan menyerang seperti burung hantu itu.

Selama 20 tahun ini si kembar mempunyai predikat yang buruk, Kie Yan-gan ingin membasmi mereka tapi tidak ada kesempatan.

Kata Kie Su-giok.

"Ji-pak-siang-eng begitu lihai, tapi mereka takut dan kabur oleh kedatangan kami."

Ting Po masih heran dan bertanya-tanya, dia kemudian berkata.

"Siapa orang ini?"

"Ting Cianpwee, kita pernah sekali bertemu, apakah kau tidak ingat?"

Kata Coh Thian-su. Ting Po bengong dan berkata.

"Maaf, umurku sudah tua dan tidak ingat lagi, dimana kita pernah bertemu?"

Kata Kie Su-giok.

"Dia adalah putra Coh Kim-sung dari Yang-ciu, kau kan pernah berkata kepadaku bahwa kau pernah ke rumahnya."

"Aku ingat, waktu itu kau masih ingusan."

"Kau salah, aku adalah orang yang suka kebersihan, tidak mungkin aku beringus pada saat bertemu dengan tamu."

Mereka sedang bergurau dan ketika Hiat-kun datang, Kie Su-gie berkata.

"Cici Hiat-kun adalah orang yang sering diceritakan oleh Wie Toako."

Kata Ting Po.

"Apakah ayahmu adalah Kang Cu-goan? Kemudian berubah nama menjadi Kang Guan-yang?"

"Benar, tapi ayahku sudah meninggal setengah tahun yang lalu."

Bila dalam keadaan biasa Ting Po bertemu dengan Coh Thian-su dan Hiat-kun dia pasti senang dan sekaligus terkejut, masih banyak yang ingin dia tanyakan, tapi karena sekarang ada urusan yang lebih penting lagi, dia tidak mempunyai waktu untuk bertanya.

Hati Ting Po bertanya-tanya, 'Putra Coh Kim-sung dan putri Kang Cu-goan memang ilmu silatnya lumayan, apakah mereka yang menyerang si kembar dengan sembunyi-sembunyi?' Dia melihat Coh Thian-su kemudian Hiat-kun, dia penasaran kemudian bertanya.

"Kecuali kalian, siapa lagi yang datang bersama kalian?"

Jawab Kie Su-giok.

"Hanya ada mereka berdua tidak ada orang lain lagi, aku ingin mengajak mereka ke rumah, jadi kita ada tamu. Apakah aku harus aku menjelaskan bagaimana bisa bertemu dengan mereka?"

Kata Ting Po.

"Ya, aku ingin mendengar ceritamu tapi ada urusan lain yang lebih penting yang ingin aku tanyakan kepadamu."

"Mengenai apa?"

Tanya Kie Su-giok.

"Apakah sewaktu kalian naik gunung apa bertemu dengan seseorang?"

Tanya Ting-po.

"Tidak ada, mengapa kau bertanya seperti itu?"

Kie Su-giok melihat Paman Ting dengan aneh, seperti sedang memikirkan sesuatu, sehingga dia tidak menjawab pertanyaan Kie Su-giok. Dan Kie Su-giok bertanya kembali.

"Memangnya kau berharap aku bertemu dengan siapa?"

Ting Po ingin menjawab.

"Orang ini paling dekat denganmu tapi kau tidak kenal dengannya."

Tapi Ting Po merasa saatnya belum tiba jadi sulit untuk menerangkan kepada Kie Su-giok. Kie Su-giok sangat pintar, segera dia tertawa dan berkata.

"Paman Ting, apakah kau mengira kakek mengikutiku? Dan penjahat itu kabur karena nama besar kakek?"

Kata Ting Po.

"Aku kira kakekmu tidak akan kemari, tapi..."

"Tapi apa?"

"Tidak apa-apa, sepertinya 2 penjahat itu berlalu bukan karena ketakutan."

Kata Kie Su-giok.

"Kalau begitu ada seseorang dengan ilmu yang tinggi telah membantu kita? Kalau benar, orang itu pasti kakek."

Tapi dia tidak tahu, yang sedang dipikirkan oleh Ting Po bukan kakeknya tapi orang lain. Jawab Ting Po.

"Aku tidak tahu, hanya merasa mereka kabur setelah merasakan ada sesuatu yang aneh."

"Mereka sudah kabur, kita tidak perlu mencari tahu siapa orang itu, aku ingin bertanya satu persoalan."

Kata Kie Su-giok.

"Silahkan, Nona!"

"Mengapa kau bisa berada di sini?"

"Karena Nona sudah lama tidak pulang, Tuan Besar jadi khawatir, maka menyuruhku ke Lok-yang untuk mencarimu, aku sedang dalam perjalanan ke Lok-yang."

Kie Su-giok tertawa.

"Aku juga tahu kakek mengkhawatirkan Toako."

"Benar, di perjalanan aku mendengar dia membuat keributan di rumah Hie, apakah benar?"

"Benar, kau tidak bertemu dengannya?"

Ting Po tertawa dan berkata.

"Bila bertemu dengannya, aku tidak akan bertanya kepadamu "

Kata Kie Su-giok dengan tertawa.

"Aku mengira dia sudah berada di rumah."

Kie Su-giok menceritakan kejadian yang dia alami di Lok-yang secara singkat kepada Ting Po. Ting Po sangat terkejut dan berkata.

"Tidak kusangka Hie Tiong-gwee orang macam itu, tapi bila Tuan Kiam-ta bersekongkol dengannya, aku tidak percaya."

Kata Kie Su-giok.

"Nama Kiam-ta lebih terkenal daripada Hie Tiong-gwee, aku sendiri melihat dia membantu Hie Tiong-gwee untuk berhadapan dengan Wie Toako, dan dia adalah pembunuh ibu Hiat-kun, ini sudah menjadi bukti nyata."

Kata Ting Po.

"Aku tidak mengatakan tidak mungkin tapi mengenai Tuan Kiam-ta, aku lebih kenal orangnya, tidak mungkin dia bersekongkol dengan Hie Tiong-gwee."

"Di dunia, yang kita perkirakan tidak akan terjadi, ternyata sudah terjadi."

Kata Kie Su-giok. Ting Po tertawa dan berkata.

"Nona, sekarang kau sudah bertambah dewasa."

Kie Su-giok sangat senang dan menjawab.

"Kau kira aku tidak akan bertambah dewasa?"

"Benar-benar sudah menjadi gadis dewasa, mengenai Kiam-ta kau harus bertanya dulu kepada kakek, jangan sembarangan membalas dendam kepadanya. Masalah Kiam bersaudara, kakekmu lebih tahu."

Kata Kie Su-giok.

"Aku tidak akan membalas dendam sendiri, kali ini aku pulang untuk berkumpul kembali dengan Wie Toako dan bersama-sama dengan Cici Hiat untuk pergi mencari kedua penjahat itu, bila Wie Toako sudah pulang ke rumah, pasti sudah bicara dengan kakek."

Ting Po terdiam, dalam hati dia berpikir, 'Mungkin Siauya Hoan tidak pulang ke rumah.' Tapi kecurigaan ini tidak dia kemukakan.

"Mari kita pulang, mungkin Wie Toako sudah menunggu kita pulang."

Kata Kie Su-giok.

"Benar, cepatlah pulang! Kakek sedang menunggumu. Tolong beritahu Tuan Besar..."

Kata Ting Po.

"Paman Ting, kau tidak ingin pulang?"

"Aku masih ada urusan, bila sudah selesai, aku akan segera pulang, paling-paling 2 hingga 3 hari."

Kie Su-giok bertanya.

"Kau akan ke Lok-yang untuk menjemputku, mengapa masih ada utusan lain? "Benar, hari ini aku baru mengetahui kau sudah akan pulang. Tapi Aku masih mempunyai urusan pribadi. Tolong bantu aku untuk meminta ijin kepada Tuan Besar."

"Masalah apa?"

Tanya Kie Su-giok.

"Hanya bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Kami ingin minum-minum beberapa gelas arak."

"Apakah temanmu yang dulu termasuk dalam golongan hitam?"

"Nona, kau sudah besar, sekarang kau yang jadi banyak bertanya kepadaku."

"Baiklah, bila tidak ingin memberitahu, kami akan segera pergi."

"Maaf Nona, aku tidak bisa mengantarmu pulang."

"Aku bukan penakut, tapi kau pun harus turun gunung, apakah kalian memang sudah berjanji?"

"Aku tidak punya teman segila itu, tapi memang aku harus memulihkan tenaga dulu baru bisa turun gunung dan mencarinya."

Kie Su-giok terkejut dan berkata.

"Aku lupa kau sudah bertarung dan sudah lelah, apakah kau perlu jatuan kami untuk menjagamu?"

"Tidak perlu harus sampai seperti itu, 2 penjahat itu tidak akan rembali Nona, kau pulang saja dulu!"

Kata Ting Po. Sehabis bicara dia langsung duduk bersila. Kie Su-giok pun ingin cepat-cepat pulang.

"Asalkan tenaga dalam Paman Ting kembali separahnya, tidak ada eorang pun yang dapat melukainya."

Sesudah berpikir seperti itu, dia langsung turun gunung.

Perahu mereka masih berada di pinggir sungai, mereka tidak lenginap lagi di penginapan, mereka membiarkan perahu itu berjalan lengikuti aliran sungai.

Dua hari kemudian mereka akan tiba di rumah Setelah naik perahu, Coh Thian-su masih terdiam, tanya Kie Su-giok.

"Coh Toako, kau sedang memikirkan apa? Kau tidak bertarung dengan 2 penjahat itu tentunya kau tidak lelah seperti Paman Ting bukan?"

Kie Su-giok mencari teman mengobrol. Jawab Coh Thian-su.

"Aku sedang memikirkan Paman Ting, menurutku Paman Ting tidak lelah seperti yang kau kira."

"Dia sendiri yang mengatakannya, apakah kau menyangka dia berbohong?"

"Mungkin dia sengaja merendah, tapi ada satu hal yang janggal. Tapi aku segan mengatakannya, nanti kau anggap aku terlalu banyak curiga..."

"Katakan saja!"

Kata Kie Su-giok.

"Apakah kau tidak memperhatikan? Begitu kau bertanya kepada dia, apakah sudah berjanji dengan teman minum arak di gunung, walaupun dia mengatakan tidak, tapi tawanya menyimpan sesuatu."

"Aku tidak memperhatikannya, menurutmu apakah Paman Ting membohongiku?"

Kata Coh Thian-su.

"Mungkin Paman Ting tidak ingin kau tahu keadaannya saat itu."

"Apakah menurutmu dia sudah berjanji dengan temannya, untuk minum arak di gunung itu?"

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Mungkin tidak minum arak, tapi berjanji dengan teman mungkin saja, sebenarnya dia harus menjemputmu di Lok-yang, mengapa tidak melalui jalan besar melainkan lewat pegunungan?"

"Karena dia sudah berjanji dengan Ji-pak-siang-eng (sepasang elang dari utara ), bukankah kita tidak salah lihat?"

Kata Coh Thian-su.

"Kita tadi hanya melihat mereka bertarung, tapi tidak tahu apakah mereka sudah berjanji bertarung di sini? Paman Ting pengalamannya sangat banyak dan pintar, dia tahu satu lawan dua, dia tidak akan bisa menang, apakah hanya dia sendiri yang akan bertarung untuk menepati janji?"

"Kalau kau mengira dia sebenarnya berjanji dengan teman, tapi yang datang malah musuh? "Aku kira, temannya sudah datang."

"Mengapa kau bisa menduga seperti itu?"

Tanya Kie Su-giok.

"Karena pada saat bertarung, dia masih bisa beberapa kali bersiul dengan panjang, apakah kau merasa tidak aneh?"

Walaupun pengalaman Kie Su-giok di dunia persilatan masih sedikit, tapi dia sangat cerdik dan cekatan, begitu diingatkan oleh Coh Thian-su, dia langsung sadar dan berkata.

"Kau curiga siulan itu adalah siulan minta tolong?"

"Benar, bersiul itu harus memakai banyak tenaga, bila bukan minta tolong, mengapa dia harus menghabiskan banyak tenaga? Pegunungan itu jauh ke mana-mana, mengapa dia tahu akan ada yang bisa menolongnya?"

Tidak dipungkiri lagi, Ting Po sudah berjanji dengan seseorang yang iln>u silatnya lebih tinggi dari dia. Kata Kie Su-giok.

"Mari kita kembali lagi untuk melihat siapa orangnya."

"Mereka tidak ingin bertemu dengan kita, bila kau kembali pun tidak akan bisa bertemu dengan mereka."

Kie Su-giok masih ragu dan berkata.

"Apakah benar-benar kaburnya Ji-pak-siang-eng, sepertinya mereka diserang secara sembunyi-sembunyi oleh seorang pesilat tangguh, kecuali kakek siapa yang mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi?"

"Aku tidak dapat menebak."

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, Apakah dia Hui-thian?"

Tapi walaupun Hui-thian ilmu silatnya lebih tinggi dari Ting Po tetap dia tidak akan mampu mengejutkan mereka hingga kabur."

Kata Coh Thian-su.

"Sudahlah tidak perlu memikirkan hal ini terus, karena orang itu adalah teman bukan musuh."

Kie Su-giok pun berpikir seperti itu dan berkata.

"Di dunia ini yang mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi dapat dihitung dengan jari, nanti akan kutanyakan kepada kakek."

Perahu terus berjalan mengikuti arus air.

Sinar bulan menyinari hutan pohon cemara, air mengalir, bulan menyinari pegunungan, terlihat begitu sedih, tapi memancarkan keadaan yang berbeda.

Tebakan Coh Thian-su sedikitpun tidak meleset, setelah bertarung dengan Ji-pak-siang-eng, Ting Po memang merasa lelah, tadi tidak selelah seperti yang dia katakan, sekarang dia sudah pulih kembali kondisinya.

Dia tidak dapat menikmati keindahan alam sekitarnya, dia masih duduk bersila, tapi pikirannya terombang-ambing.

Dia melihat bulan yang sudah berada di sebelah timur, menandakan malam sudah mendekati pukul 3 subuh.

Dia berjanji dengan orang itu pukul 2 subuh, tapi sekarang sudah pukul 3 subuh, dan orang itu belum sampai.

Bagaimana dengan janji ini?

Hari itu sebelum matahari terbenam, dia sudah tiba di kota kecil itu, dalam perjalanan dia sudah tahu keadaan Wie Thian-hoan dan Kie Su-giok dan sudah tahu mereka telah membuat keributan di rumah Hie dan mereka lari bersama-sama keluar dari rumah Hie.

Mereka tidak mengalami bahaya, dan karena sudah tahu mereka baik-baik saja maka dia mencari penginapan untuk bermalam.

Begitu dia masuk ke kamar dan ingin mencuci muka, pelayan penginapan bertanya.

"Apakah tuan yang she ting?"

Dia terdiam kemudian berkata.

"Benar, mengapa kau bisa tahu?"

Karena ini adalah kota kecil, tamu-tamu biasanya tidak perlu mendaftar di depan. Kata pelayan penginapan itu.

"Ada yang mengirim surat kepadamu, sebenarnya aku tidak mengijinkan dia masuk, tapi karena dia menjelaskan wajah tuan dengan tepat karena itu akau masuk dulu untuk menanyakannya, apakah kau mau menerima suratnya?"

"Siapa yang mengantarkan surat ini?"

Tanya Ting Po.

"Dia adalah seorang pengemis kecil."

Ting Po baru mengerti mengapa dia tidak diijinkan masuk "Tolong panggilkan pengemis kecil itu masuk."

Pengemis itu masuk, dia berumur 12-13 tahun, dengan tangan kotor dia memberikan sepucuk surat untuk Ting Po.

Di atas amplop tertulis 'Harus diterima oleh Paman Ting".

Ting Po hafal dengan tulisan ini.

Di dunia persilatan siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan Paman Ting kecuali dia.

Jantung Ting Po berdetak lebih kencang.

"Tidak mungkin dia! Tidak mungkin!"

"Aku akan bicara berdua dengan pengemis ini, silahkan tinggalkan kami."

Kata Ting Po kepada pelayan itu. Surat itu dibukanya, dia hanya melihat sebentar, kemudian wajahnya menjadi pucat, tangannya pun gemetaran.

"Paman Ting, kau tidak apa-apa?"

Tanya pengemis itu.

"Orang yang memberikan surat ini seperti apa?"

"Dia memakai topi kulit yang lebar dan memakai jubah, wajahnya tidak terlihat, aku juga belum pernah melihat orang ini."

"Kalau begitu mengapa kau mau mengantarkan surat ini?"

"Karena dia memberiku uang, setelah mendapat uang aku harus melakukan pekerjaan itu, ayahku yang mengajarkan hal ini. Apakah orang ini jahat?"

Dengan gemetar pengemis itu bertanya.

"Kau jangan takut, aku tidak marah kepadamu, apakah orang ini jahat atau tidak, tidak ada hubungannya denganmu, aku hanya ingin tahu kapan dia memberikannya kepadamu? Dan apa pesannya?"

"Kira-kira 1 jam yang lalu, dia berkata bila nanti bertemu dengan orang dengan ciri-ciri sepertimu yang akan menginap, aku disuruh masuk ke penginapan tersebut dan langsung memberikan surat ini kepadamu. Aku terus menunggu di jalan ini, karena semua penginapan hanya ada di jalan ini."

Kata pengemis kecil itu. Ting Po bertanya lagi.

"Kau tidak bisa melihat wajahnya, apakah kau bisa melihat ada bekas luka di belakang telapak tangannya?"

"Benar, kalau begitu dia adalah temanmu?"

"Dia adalah kenalanku, ambil uang ini untuk membeli makanan."

Dengan senang pengemis itu meninggalkan penginapan.

Sebenarnya dia tidak perlu bertanya lagi karena dia sudah tahu siapa yang menulis surat itu Hanya dia sedikit ragu-ragu karena orang ini sudah dianggap 'mati'.

Surat ini hanya menuliskan tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Ting Po pada pukul 2 dini hari.

Huruf ini adalah ditulis oleh orang yang dia panggil dengan sebutan 'Siauya', dan itu hanya ada 1 orang, dia adalah putra Kie Yan-gan, ternama Kie Lek-beng.

Dulu dia sering menemani Siauyanya menulis walaupun sudah 10 tahun lebih dia masih bisa mengenali tulisan Siauyanya.

Tapi Kie Lek-beng sudah lama meninggal.

Dia sendiri yang mencari tahu kebenaran berita itu 20 tahun sudah berlalu, waktu itu Siauyanya baru menikah, pengantin perempuannya juga berasal dari keluarga pesilat.

Gadis itu cantik jan sangat pintar.

Semua orang memuji mereka adalah pasangan yang serasi-Tapi pada saat masih bulan madu, Siauya tiba-tiba menghilang.

Putranya menghilang dan sang ayah, Kie Yan-gan sangat gelisah, ilmunya memang nomor satu di dunia persilatan tapi dia mempunyai sifat yang aneh.

Temannya di dunia persilatan tidak begitu banyak, dia sudah mencari putranya kemana-mana tapi tetap tidak ada kabar berita.

Setelah 1 tahun lewat baru ada yang memberitahu, berita ini membuat Kie Yan-gan marah sekaligus sedih.

Tadinya dia tidak percaya.

Berita ini mengatakan bahwa Kie Lek-beng berteman dengan orang jahat dan sudah banyak pendekar yang terluka di tangannya.

Ada juga yang datang ke rumah Kie Yan-gan menanyakan pembunuhan yang dilakukan oleh putranya.

Keadaan Kie Lek-beng tidak menentu, beberapa kali ada yang memberitahu kepada Kie Yan-gan bahwa putranya berada di suatu tempat, lapi begitu Kie Yan-gan ke sana, bayangannya pun tidak tampak.

Kelakuan Kie Lek-beng semakin menggila, Pendekar See-ouw yang bernama Coh Liang Ji juga dibunuh, dan ada juga yang kehilangan anak perempuannya.

Walaupun tidak ada yang melihat tapi semua orang tahu bahwa pelakunya adalah Kie Lek-beng.

Kie Yan-gan sangat marah hingga dia jatuh sakit, terpaksa dia menyuruh Ting Po mencarinya sebab Ting Po lebih banyak kenalan di dunia persilatan.

Kabar kematian Kie Lek-beng yang didapat oleh Ting Po.

"ataupun dia tidak melihat mayat Siauyanya tapi Ting Po percaya kepada cabar itu, karena teman Ting Po sendiri yang menyaksikan Siauya diserang ileh 5 Bu-tong Ciampwee. Luka Siauya paling sedikit ada di 20-30 tempat, 'ertarungan mereka di gunung di dekat sebuah sungai. Dia dipaksa meloncat £ sungai, kemudian mayatnya diambil dan wajahnya sudah hancur karena limakan oleh ikan tapi luka di tubuhnya masih bisa terlihat. Luka itu karena 'iserang oleh senjata Bu-tong. Begitu Bu-tong Cianpwee melihat mayat itu aro mereka meninggalkan tempat itu. Semenjak kematian Kie Lek-beng, dalam waktu 20 tahun ini dia benar belum pernah keluar ke dunia persilatan. Ini membuktikan bahwa Siauya memang sudah meninggal. Tidak disangka, setelah 20 tahun ini dia menerima surat dari 'orang mati' ini. Ting Po adalah orang yang melihat Kie Lek-beng tumbuh besar walau bagaimana pun dia sangat menyayangi Kie Lek-beng. Sekarang dia sudah melihat tulisan Siauyanya, matanya sudah penuh dengan air mata. Bekas luka di telapak tangan yang ditusuk oleh pedang, ini sudah diketahui dari mulai si pengemis kecil itu.

"Apakah Siauya belum mati? Apakah yang dilihat oleh temanku itu benar atau tidak? Tapi huruf di surat ini tidak palsu, tadinya dia tidak percaya tapi sekarang harus percaya."

Masih dengan perasaan aneh, dia tiba lebih awal di tempat itu.

Siauya belum muncul, yang muncul malah Ji-pak-siang-eng.

Pertarungan sangat seru, membuat dia tidak dapat berpikir tapi dia masih beruntung.

Dia sudah banyak mendengar kabar tentang Kie Lek-beng, katanya dia berteman baik dengan orang-orang jahat yang namanya busuk di dunia persilatan termasuk Ji-pak-siang-eng.

Begitu melihat Ji-pak-siang-eng muncul di hadapannya dia masih ragu, apakah Siauya diperalat untuk menipu Ting Po datang ke tempat itu?

Begitu dia bersiul untuk minta tolong, dia ingin tahu apakah Siauya akan keluar?

Dan dia akan berpihak kepada siapa?

Walaupun Ting Po tahu resiko dari taruhan ini.

"Aku tidak boleh mencurigai Siauya, bila dia jahat seperti yang disangka oleh orang lain, tetap dia pasti tidak akan mencclakakanku."

Tapi dia masih ada sedikit keraguan, apakah benar Siauya yang membantunya mengalahkan Ji-pak-siang-eng?

Apakah Siauya memiliki ilmu silat yang begitu hebat?

Sekarang sudah jam 3 subuh, tapi Ting Po belum bertemu dengan Siauya nya.

Dia menarik nafas dan sedang memakai ilmu tenaga dalam untuk mengeluarkan suara.

Tiba-tiba dia merasa ada angin yang lewat, suara yang dikenalnya berkata.

"Paman Ting, maaf kau menunggu lama. Apakah kau tidak apa-apa?"

Orang yang berada di hadapannya, wajahnya ada bekas luka.

Tapi bentuk wajahnya tidak berubah, apakah ini adalah Siauyanya?

Kie Lek-beng takut Ting Po akan terganggu karena sedang mengatur nafas, setelah lama dia baru keluar dari semak-semak.

---ooo0dw0ooo---B.

Hidup Kembali Karena senang Ting Po meloncat dan berteriak.

"Siauya, apakah benar kau Siauya? Kau belum..."

Dengan tersenyum Kie Lek-beng berkata.

"Aku belum mati, benar aku memang terpukul oleh Bu-tong Canpwee tapi mayat yang mereka temukan di sungai bukan mayatku."

Sekarang Siauya berdiri di hadapannya, walaupun dia mempunyai banyak pertanyaam, tapi dia mempunyai waktu dan tidak perlu terburu-buru bertanya kepada Siauyanya.

"Siauya, kau sudah pulang. Terima kasih kau masih tertolong..."

Belum habis kata-katanya, Kie Lek-beng sudah memotong dan berkata.

"Terima kasih, Paman Ting masih mau bertemu denganku."

"Kalau aku tahu Siauya masih hidup, aku akan mencari ke mana pan, Siauya percaya kepadaku, mengapa aku tidak mau bertemu dengan Siauya, waktu itu tuan besar menyuruhku mencari..."

Kie Lek-beng tertawa kecut dan berkata.

"Aku tahu, ayah sudah tidak menganggapku sebagai anaknya."

"Tuan besar percaya kepada isu isu itu, asal Siauya bisa menjelaskannya,akupercayatuanbesarpastiakan memaafkanmu."

Kata Kie Lek-beng.

"Menjelaskan apa? Di dunia persilatan sudah banyak berita jelek tentang diriku, hanya ada sedikit yang salah tapi hampir semua adalah kenyataan yang sebenarnya."

Ting Po terkejut, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Paman Ting, aku adalah orang yang sudah mati tidak pantas lagi menjadi Siauyamu, setelah aku pergi, kau boleh menganggapku sudah mati. Nanti kalau bertemu dengan ayah pun tidak perlu mengatakan apa-apa."

Kata Ting Po.

"Tidak, walaupun kau telah melakukan kesalahan apa pun, bagiku kau adalah Siauyaku Dulu aku adalah penjahat yang sudah banyak melakukan kejahatan, di dunia ini siapa yang tidak punya kesalahan, bila sudah tahu salah, bisa sadar itulah sangat bagus, ikutlah aku pulang, Siauya!"

Kie Lek-beng berkata.

"Sekarang menyesal pun sudah terlambat apalagi aku tidak menyesalinya. Paman Ting, jangan nasihati lagi aku!"

Ting Po tidak berbicara apa-apa lagi, dalam hati dia berpikir, 'Mengapa Siauya jadi begini?' Tanya Kie Lek-beng.

"Apakah kau merasa aku telah berubah drastis?"

"Tidak, walaupun kau terus mempersalahkan dirimu sendiri tapi iku tetap tidak percaya."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku sudah bukan Siauyamu yang penurut, sebelum meninggalkan rumah juga sudah bukan."

Ting Po berpikir lagi, 'Kau mengira aku tidak tahu hal sebenarnya?

Aku selalu menutupinya, di depan tuan besar, kau pura-pura menjadi penurut, di belakangnya kau minum-minum hingga mabuk dan mencuri uang orang lain untuk berfoya-foya dengan pelacur.

Yang salah adalah aku, aku terlalu sayang kepadamu takut kau akan dipukul oleh tuan besar, selalu menutup-nutupi kelakuanmu.

Bila tahu kau akan sejahat ini, seharusnya dulu-dulu aku memberi tahu kepada tuan besar."

Peraturan di rumah Kie Yan-gan sangat ketat bila putranya melakuan sedikit kesalahan selalu dihukum berat oleh Kie Yan-gan.

Ting Po yang hanya melihat saja sudah merasa sakit makanya walaupun dia melihat Siauyanya melakukan kesalahan, dia tidak ingin memberitahukan ini kepada tuan besar.

Pada waktu Kie Lek-beng masih muda dia sudah melakukan hal yang jahat.

Ting Po menganggap remeh karena dia sendiri dulu adalah penjahat besar, dia sudah banyak melakukan kesalahan besar.

Mabuk dan main pelacur adalah hal kecil.

Kadang dia juga kasihan kepada Siauyanya.

"Siauya yang malang, dari kecil sudah dikekang, begitu ada kesempatan dia pasti akan berbuat sesuka hati dan itu tidak aneh. Waktu aku masih muda juga seperti itu. Bila Siauya sudah berkeluarga, dia pasti akan berubah."

Tapi begitu Siauyanya berkeluarga, hanya bisa berdiam beberapa bulan, kelakuannya malah lebih gila lagi.

Akhirnya dia meninggalkan rumah dan menjadi penjahat yang dibcnci dan disegani oleh orang-orang.

Walau bagaimana pun sampai sekarang dia tetap tidak percaya kelakuan Siauyanya seperti itu.

Walaupun dirinya sendiri yang mengakui, dia tetap tidak percaya karena dia sendiri yang melihat Siauya tumbuh besar, dia tahu kekurangan Siauyanya, dari kecil dia sering berbohong dan tidak teguh dalam mengerjakan sesuatu.

Di depan ayahnya dia akan menjadi anak penurut tapi dia tahu Siauyanya sangat baik kadang-kadang bila dia marah dia tidak bisa menguasai diri.

Mereka sebenarnya adalah majikan dan pelayan tapi kenyataannya tidak seperti itu malah seperti ayah berhadapan dengan orang yang sudah tahu kesalahannya (sebenarnya tidak), dia menatap wajah Siauyanya yang banyak bekas luka, hatinya menjadi sedih.

"Siauya, melihatmu masih hidup, buatku sangat senang. Siauya, 20 tahun ini kau dian di mana?"

Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Di gunung yang lebat dan berteman dengan binatang, lebih tepatnya di rumah batu yang tidak ada matahari, 10 tahun bermeditasi baru aku bisa jalan lagi."

Ting Po sangat sedih dan berkata.

"Siauya, kau sangat menderita, tapi aku harus memberi selamat kepadamu."

"Untuk apa?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Ilmu silatmu maju pesat. Ji-pak-siang-eng juga kalah olehmu, caramu memukul mereka begitu hebat, aku pun tidak dapat melihatnya Dmu silatmu sudah lebih hebat dari tuan besar sekarang, bagaimana caramu berlatih?"

Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Sudah 20 tahun ini kecuali berlatih silat aku tidak pernah nielakukan hal lain. Sepuluh tahun lebih aku diam di rumah batu untuk bermeditasi. Aku juga tidak tahu aku sudah berlatih silat sampai di mana. Tapi untuk mengalahkan Ji-pak-siang-eng masih terlalu mudah untukku."

Ting Po sangat terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Melihat cara Siauya bercerita, sepertinya dia ingin mengalahkan 5 orang Bu-tong ' flanpwee, baru akan merasa puas.

Memang 5 Cianpwee itu masih hidup, lapi yang paling muda pun sekarang sudah berumur 70 tahun lebih, kelihatannya ilmu silat Siauya kalau hanya untuk membunuh 5 Bu-tong Tianglo yang sudah tua bukan hal yang sulit, bila dia berbuat seperti itu dunia persilatan akan geger lagi.

Murid-murid Bu-tong generasi kedua akan bergabung dengan perkumpulan lain, saat itu biar bagaimanapun Siauya tidak akan bisa mengalahkan begitu banyak orang, tuan besar pun akan terbawa-bawa dalam masalah ini."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku sendiri menganggap aku sudah mati, tapi aku tidak mau menjadi hweesio, aku pun tidak seperamu, bisa mencari majikan yang Kgitu baik,"

Dia menertawai kata-katanya. Ting Po tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya tapi Ting Po nerasa dendam Siauyanya masih begitu dalam, dia tidak tahu harus berkata palagi. Kata Kie Lek-beng.

"Paman Ting, aku datang bukan untuk mencari tahu tentang masa laluku, juga bukan mendengarkan nasihatmu, aku hanya ingin tahu satu hal."

"Hal apa?"

"Siapa perempuan yang memanggilmu Paman Ting?"

"Dia adalah putrimu, namanya Su-giok, dia lahir setelah kau ninggalkan rumah 3 bulan kemudian. Apakah kau tidak mendengar dia gin cepat-cepat pulang untuk bertemu dengan kakeknya?"

Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Aku tahu dia adalah cucu dari ayahku, mana tahu dia adalah anakku?"

"Siauya jangan berkata sembarangan, nyonya sangat baik, sewaktu ia masih di rumah sama sekali tidak pernah membuat kesalahan."

Masih dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Benarkah dia perempuan baik-baik? Mengapa ketika aku sudah mati dia tidak ada di rumah untuk menjaga diri?"

"Waktu itu semua orang mengira kau sudah mati, nyonya ingin kembali ke rumah orang tuanya, dia tidak boleh disalahkan."

Dengan dingin Kie Lek-beng bertanya.

"Apakah dia benar-benar pulang ke rumah orang tuanya? Kau jangan mengira selama 20 tahun ini aku bertapa di gunung jadi tidak tahu apa-apa?"

Kata Ting Po.

"Apakah nyonya kembali ke rumah orang tuanya, aku tidak tahu, yang aku tahu dalam waktu setengah tahun nyonya diam di rumah kita, dia tidak pernah melakukan kesalahan, tapi Siauya, kau..."

"Benar, sebelum menikah aku sering mencari pelacur, aku bersalah kepadanya, tapi dia juga bersalah kepadaku, tapi aku tidak akan menceritakannya kepadamu."

Ting Po menarik nafas dan berkata.

"Siauya, ada pepatah yang mengatakan. pejabat yang baik pun tidak dapat membereskan masalah keluarga, siapa pun yang salah, sekarang 20 tahun sudah berlalu, tapi yang salah pertama kali adalah Siauya."

"Bila aku sudah mati kemudian dia menikah lagi, aku tidak marah, tapi dia tidak boleh meninggalkan putrinya dan menikah dengan laki-laki lain."

Ting Po sangat terkejut dalam hati dia berpikir, 'Kelihatannya dia tahu lebih banyak mengenai nyonya daripada aku' "Aku tidak berani menutup-nutupinya, nyonya tiba-tiba menghilang tapi bukan kawin lari dengan laki-laki lain.

Aku berada di rumahmu melihat dia pada saat kau meninggalkan rumah, nyonya tidak keluar dari kamar, juga tidak ada laki-laki asing yang bertemu dengannya dan tiba-tiba dia menghilang.

Tuan besar mengkhawatirkan dia dibawa kabur oleh musuh,"

Jelas Ting Po. Kata Kie Lek-beng.

"Kau bercerita bahwa dia adalah orang baik, aku bertanya bila dia tidak keluar rumah, dari mana dia bisa punya musuh?"

"Kata tuan besar..."

"Apa kata ayah? Mengapa kau tidak cerita?"

"Kata tuan besar, kemungkinan kaulah yang mempersulit dia, kau terlalu banyak musuh di luar dan mereka ingin membalas dendam kepada istrimu."

"Aku adalah anak durhaka, selalu membuat hal yang memalukannya, ayah pasti berpihak kepadanya."

Tanya Ting Po.

"Sebenarnya ada apa di balik bilangnya nyonya? Sampai sekarang aku belum tahu sebab-sebabnya, tapi Siauya juga jangan terlalu curiga. Su-giok adalah putri kandungmu, dia sangat mirip denganmu, apakah kau tidak bisa melihatnya?"

Kie Lek-beng tersenyum dan berkata.

"Aku kira dia lebih mirip ibunya."

Ting Po tertawa dan berkata.

"Siauya, paling sedikit kau sudah mengakui dia adalah putrimu karena dia mirip denganmu, mengapa kau masih curiga bahwa dia bukan putri kandungmu?"

Jawab Kie Lek-beng.

"Bila aku tidak melihat bocah ini tidak mirip denganku, Paman Ting aku sudah membunuhmu."

Ting Po merasa aneh dan berkata.

"Siauya, aku tidak mengerti maksudmu."

Dalam hati dia berpikir, 'Bila putrimu tidak mirip denganmu, apa hubungannya denganku?"

Kata Kie Lek-beng.

"Jujur saja, di gunung selama 20 tahun aku berlatih silat berlatih hingga di mana, aku tidak tahu. Kelihaian Ji-pak-siang-eng dari kecil aku sudah tahu dari ayah. Tadi aku bersembunyi tidak berani mengeluarkan serangan, begitu gadis itu datang, dia langsung menolongmu, aku tidak akan membiarkan dia terluka, bila benar dia adalah putriku, aku tidak akan membiarkan dia mati di tangan Ji-pak-siang-eng."

"Memang dia adalah putrimu, aku jamin 100%."

"Paman Ting, aku sudah jujur kepadamu, aku bukan mau nenolongmu tapi aku mau menolong putriku karena itu kau jangan jerterima kasih kepadaku. Dari kejadian ini kau bisa melihat aku sangat ahat, kau tidak takut degan omongan orang-orang dan mau bertemu lenganku, aku tidak peduli apakah kau dalam bahaya atau tidak."

Kie Lek-beng sedang marah kepada dirinya sendiri, tapi mata Ting Po semakin bercahaya.

"Siauya, apakah kau tahu aku sedang memikirkan apa?"

Tanya Ting Po sambil tertawa, kemudian Ting Po malah menjawabnya sendiri.

"Bila seseorang tahu bahwa dia jahat, sebenarnya dia bukan orang jahat."

"Karena kau terlalu sayang kepadaku, waktu kecil bila aku melakukan kesalahan kau juga yang membelaku,"

Kata Kie Lek-beng.

"Siauya, bila kau tahu salah, syukurlah! Pulanglah, aku akan jamin dengan nyawaku..."

Kie Lek-beng memotong kata-katanya dan berkata.

"Jangan mengatakan pulang lagi kepadaku, ayah tidak leoganggapku anaknya, istri tidak menganggap aku suaminya, aku pulang juga untuk apa? Paman Ting, aku minta jangan beritahu ayah bahwa kau sudah bertemu denganku!"

"Kau tidak ingin bertemu dengan tuan besar, apakah tidak ingin bertemu dengan putrimu?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Siapa laki-laki yang bersama Su-giok?"

"Dia adalah pendekar muda yang bernama Coh Thian-su."

"She nya Coh, apakah dia tinggal di Yang-ciu?"

"Benar, dia adalah putra Coh Kim-sung."

"Dia putra Coh Kim-sung?"

Suara bergetar, dia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.

"Perempuan yang satu lagi bernama Kang Hiat-kun, ayahnya bernama Kang Cu-ki, dia teman baik Suheng Wie mu. Sepuluh tahun yang lalu Wie Toako dibunuh oleh seseorang, dia itu adalah putrinya..."

Kie Lek-beng tidak ingin mendengar kelanjutannya dan bertanya.

"Aku tidak kenal dengan yang she Kang. Karena aku bukan putra Kie Yan-gan, siapa Wie Toako, aku tidak kenal, tapi kau bilang Coh Kim-sung, aku akan bertanya satu hal."

Dia dapat merasakan kegelisahan Kie Lek-beng, Ting Po merasa jantungnya berdetak lebih cepat, dia bertanya.

"Siauya, kau ingin tahu tentang apa?"

"Paman Ting, ada yang mengatakan bahwa kau dan Coh Kim-sung adalah sahabat, ada yang bilang kau bersaudara angkat dengannya, apakah benar?"

Ting Po berusaha menutupi kegelisahannya dan berkata.

"Ini terlalu baik untukku, aku adalah penjahat kelas berat, dia adalah Pendekar Yang-ciu, bagaimana bisa menjadi saudara angkat? Aku hanya bertemu beberapa kali dengannya, dibilang teman pun boleh."

"Apakah kau pernah ke rumahnya?"

"Pernah satu kali, itu pun sudah 10 tahun yang lalu."

Tanya Kie Lek-beng.

"Katanya istri Coh Kim-sung yang sekarang adalah istri kedua, pada saat kau ke sana., .apakah kau pernah bertemu dengan istri barunya?"

"Hari itu, Nyonya Coh sedang sakit, jadi aku tidak bertemu dengannya."

Dalam hati Kie Lek-beng tertawa dingin.

"Dia bukan sakit, melainkan tidak ingin bertemu denganmu."

Mengenai hal ini Ting Po pun sudah curiga sejak semula, dalam hati dia berpikir, 'Apalagi yang Siauya ingin ketahui?

Dari kata-katanya sepertinya dia tahu lebih banyak dariku.' "Coh Kim-sung masih muda tapi jarang berkelana di dunia persilatan dihitung-hitung mungkin ada 10 tahun lebih, tapi putranya Coh Thian-su sangat terkenal di dunia persilatan, dia dan nona baru berkenalan di kota Lok-yang.

Kata nona, Coh Thian-su pernah membantunya.

Siauya, kau kenapa?"

Kie Lek-beng sedang mengepalkan tangan dan wajahnya pucat. Dia tidak bicara, dia membalikkan tubuh dan pergi. Ting Po berteriak, karena dia merasa akan terjadi sesuatu.

"Siauya, kau mau ke mana?"

"Ini masalahku, kau jangan ikut campur!"

"Pulanglah, Siauya. Kau dan putrimu belum pernah bertemu muka, paling sedikit kau harus tahu putrimu,"

Dia mengejar Kie Lek-beng. Kie Lek-beng membalikkan tangan dan dihentakkan, dia berkata.

"Aku menyuruhmu jangan ikut campur, maafkan aku. Paman Ting, berbaringlah di sini!"

Ting Po merasa lututnya mati rasa.

Sebab Kie Lek-beng telah nenotok jalan darah di lututnya dengan gumpalan tanah.

Begitu Kie Lekang mengatakan "berbaringlah', Ting Po sudah roboh di tanah.

Tenaga dalam Ting Po sangat kuat, gumpalan tanah kecil itu tidak lapat membuatnya sama sekali tidak dapat bergerak, tapi begitu dia lerusaha bangun, Kie Lek-beng sudah hilang entah ke mana.

Kie Lek-beng.meninggalkan Ting Po, tapi kegelisahan hatinya lelum hilang, sebaliknya malah seperti dibungkus dengan api amarah.

Tiba-tiba dia mendengar ada suara air mengalir, air yang mengalir li gunung terhambat oleh sebongkah batu dan air sungai mengalir makin sncang, batu besar yang berada di tengah masih dengan kokoh bercokol di ana, tapi permukaannya sudah kasar dan berlubang-lubang, batu-batu yang erada di pinggirnya juga didorong oleh air hingga bergerak gerak.

Kie Lek-beng mempunyai pikiran aneh, dia merasa dirinya seperti ir sungai ini, bila dia tidak dikekang dia akan tenang seperti air mengalir ipi karena dihambat oleh batu, arus yang mengalir dengan tenang akan lembuat air sungai mengalir dengan kencang dan kotor karena tanah.

Hal u karena sungai ini menentang kepada batu besar itu, seperti dia sendiri, ba-tiba menjadi anak durhaka.

Air sungai mengalir dengan kencang, seperti menggulung dia lengenang masa lalu.

Ayahnya sangat ketat mendidik, tapi kadang-kadang dia juga tidak rjaga ketat yaitu pada saat ayahnya berlatih tenaga dalam tingkat tinggi, Ja melakukan latihan dia harus melakukan Pi-koan selama 3 hingga 5 hari, mg disebut Pi-koan adalah duduk di ruangan yang sepi dan melakukan editasi, harus berlatih hingga selesai dan dia baru akan keluar dari ruangan i.

Pada waktu melakukan Pi-koan dia mempunyai mata tapi tidak melihat, m mempunyai telinga tapi tidak mendengar, pada saat itu dia juga tidak ipat mengawasi putranya.

Pada waktu Pi-koan, Paman Ting harus menjaga ayahnya alaupun bukan sama sekali tidak boleh meninggalkan dia tapi harus lebih ring mengurusnya.

Awalnya dia hanya ke kota kecil dekat dengan rumahnya untuk rmain dan mencari makan, tcrakhir-akhir dia baru berani pergi ke bupaten lain untuk membuat keributan.

Di kota Ki-goan, ada saudara sepupunya, ayah Kie Lek-beng alah pesilat nomor satu di dunia persilatan tapi ibu dari sepupunya dan luarganya tidak bisa silat.

Umur sepupunya lebih tua dari dia.

Rumahnya alah sebuah sekolah, mereka mengajar untuk mencari makan.

Kie Lek-ng takut ayahnya tahu dia ke kota kecil dan sering membuat keributan ika dia sering ke rumah sepupunya, bila ayahnya bertanya, dia akan mgatakan bahwa dia ke sana untuk belajar, tapi bila dia sudah tiba di Kigoan dia hanya belajar satu hingga dua hari, sisa waktu yang lainnya dihabiskan untuk bermain.

Bila ayahnya bertanya kakak sepupunya akan membuktikan bahwa dia memang sedang belajar, sebelum ayannya selesai melakukan Pi-koan dia sudah berada di rumah dan Paman Ting akan membantunya menutupi kesalahan yang dia lakukan.

Itu adalah kejadian sebelum dia berusia 20 tahun, setelah berusia 20 tahun, dia selalu menurut dan ayahnya percaya kepadanya hingga dia bisa lebih bebas lagi.

Kota Ki-goan adalah sebuah kabupaten besar, di kota itu ada bermacam-macam orang, karena Kie Lek-beng sering ke kota itu dia jadi berteman dengan orang yang tidak benar, dia juga berteman dengan orang-orang dari golongan hitam.

Mereka makan, minum, main pelacur, semua dibawa oleh teman-teman dari golongan hitam.

Dia mulai belajar mencuri uang, karenanya uang bisa didapat dengan mudah maka dia semakin terjerumus.

Dia semakin tersesat dari hari ke hari lebih jahat dari pada bermain pelacur.

Bayangan seorang perempuan genit seperti timbul di atas gelombang air.

Dia seperti sedang tertawa genit kepadanya, dia melihat anyang mengalir.

Dalam hati dia berpikir, 'Paman Ting hanya tahu aku main pelacur, bila dia tahu sebelum berusia 20 tahun ada seorang perempuan jahat dan sadis dan terkenal karena kegenitannya kemudian menjadi kekasihku dia akan bertambah terkejut."

Perempuan ini adalah perampok yang bermain sirkus untuk menutupi identitasnya, mereka berkenalan karena di kenalkan temannya yang dari golongan hitam, kemudian mereka hidup bersama.

Setelah lama kenal dia baru tahu identitas aslinya.

Mereka dua bersaudara, si kakak bernama Bok Hoo-hoo dijuluki Kim-ho (Rase emas), si adik bernama Bok Koan-koan dijuluki Gin-ho (Rase perak).

Kim-ho sudah menikah dengan perampok sedangkan adiknya Gin-ho belum menikah, di kota Ki-goan yang menjadi kekasihnya Kie Lek-beng adalah Gin-ho, Bok Koan-koan.

Awalnya dia hanya iseng, tidak disangka akhirnya dia tidak dapat melepaskan diri.

Bok Koan-koan sangat genit dan cantik, begitu berkenalan dengan Kie Lek-beng, dia sudah membuat Kie Lek-beng mabuk kepayang.

Tapi bila ada yang bertanya.

"Apakah kau pernah mencintai Bok Koan-koan?"

Dia akan sulit untuk menjawabnya. Waktu itu dia hanya senang dengan kecantikannya, bila pada saat itu ada yang bertanya seperti itu, dia akan jawab.

"Mana mungkin aku bisa mencintai seorang perempuan jalang?' Walau dia tidak tahu latar belakang Bok Koan-koan, paling sedikit dia tahu bahwa Bok Koan-koan bukan perempuan baik-baik. Walaupun kadang-kadang dia bertindak gila-gilaan dia seperti anak kecil yang sedang bermain api. Sebagian anak bersifat pemberontak dan ingin tahu kalau dilarang oleh orang tuanya malah dengan sengaja mencoba. Setelah terbakar dia baru menyesal, begitu juga dengan Kie Lck-beog-Dia bisa bergaul dengan orang-orang yang berada di golongan hitam hingga gila-gilaan tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tetap penjaga jarak, walaupun dia tidak suka dengan kekangan ayahnya tapi dia tidak lupa bahwa dia adalah putra seorang pesilat nomor satu di dunia persilatan dan orang-orang itu tidak pantas berteman dengannya. Dalam hatinya sosok Bok Koan-koan bukan seperti pelacur biasa, dia hanya senang kepada Koan-koan, kadang-kadang malah menganggap dia adalah sahabatnya, tapi dia tidak pernah punya keinginan menikah dengan Koan-koan, terhadap Koan-koan dia tidak memiliki rasa cinta. Istri yang dia idamkan adalah seorang gadis cantik dan berbakat juga serasi dengannya. Istri yang dia idam-idamkan, akhirnya ditemukan juga oleh ayahnya. Teman baik ayahnya bernama Cong Song-kwang, mereka pun seperti keluarga Kie, yaitu keluarga pesilat. Hingga tiba pada generasi Cong Song-kwang kondisi ekonomi mereka menurun drastis, karena itu dia pergi ke Yang-ciu untuk bekerja di 'perusahaan pengawalan barang'. Itu kejadian sepuluh tahun yang lalu, putri kecilnya ikut dengannya. Waktu itu dia sedang panas-panasnya bermain api dengan Koan-koan, Cong Song-kwang sudah pensiun dan pulang kembali ke kampung halaman, sengaja dia mampir ke rumah Kie dan bertemu dengan dengan teman baiknya, Kie Yan-gan. Putri Cong Song-kwang bernama Eng-lam, waktu kecil mereka juga sudah kenal, Eng-lam masih sangat kecil, tidak disangka 10 tahun kemudian si anak kecil berubah menjadi gadis yang sangat cantik Ayahnya sangat suka sekali kepada Eng-lam, segera ayahnya melamar Eng-lam dan Cong Song-kwang pun setuju. Keluarga Cong bertempat tinggal di propinsi Soasay, dari sana letaknya masih sangat jauh demi mempersingkat waktu, mereka dengan cepat menentukan hari pernikahan putra dan putri mereka, kalau Eng-lam indah menikah, Cong Song-kwang baru akan pulang ke kampung halamannya. Walaupun mereka dijodohkan oleh orang tua, tapi dia pun setuju lengan pernikahan ini. Sebelum dia bertunangan, Paman Ting sudah menasihatinya.

"Anak muda bila sekali-kali tidak dikekang tidak apa-apa, tapi larus tahu batas-batasnya."

Begitu dia bertunangan, dia pernah bersumpah dia akan setia nencintai istrinya, walaupun dia tidak dapat melupakan kegenitan Koan-can.

Tapi hal yang terjadi malah sebaliknya, begitu dia sudah menikah ia baru tahu kehidupan rumah tangganya tidak seperti yang dia harapkan.

Benar, istrinya memang sangat cantik tapi dia adalah "boneka cantik dari kayu'.

Kalau suaminya membantu dia berdandan istrinya mengatakan dia genit.

Dia mengatakan kata-kata yang indah untuk memuji istrinya, tapi istrinya hanya diam, ada yang lebih parah lagi, dia tidak menikmati kesenangan bulan madu, selalu cemberut dan mengerutkan dahi, dia juga berlaku dingin kepada suaminya.

Bulan madu yang ditunggu-tunggu hanya lewat begitu saja.

Dia sangat marah kemudian keluar mencari Bok Koan-koan, awalnya masih secara sembunyi-sembunyi, akhirnya dia sudah tidak tahan karena istrinya semakin dingin terhadapnya.

Belakangan dia sengaja membiarkan istrinya tahu tentang tingkah lakunya.

Dia sengaja masih memakai baju yang masih penuh dengan gincu pulang ke rumah, dia juga sengaja membawa saputangan Koan-koan pulang, kadang-kadang dia pura-pura bermimpi dan memanggil-manggil nama perempuan lain, tidak hanya nama Bok Koan-koan.

Tapi istrinya seperti tidak -melihat juga tidak mendengar, bila istrinya marah atau bahkan memukul, itu lebih baik tapi ternyata istrinya tetap tidak peduli.

Ini membuatnya hampir gila.

Sekarang sudah 20 tahun berlalu, bila memikirkan kembali dia masih sangat marah.

"Aku sangat bodoh!"

Dia memukul kepalanya sendiri, dalam hati dia berpikir.

"Dia memperlakukanku seperti itu, seharusnya aku harus langsung tahu dia sudah mencintai orang lain, tidak perlu diberitahu oleh Koan-koan."

Waktu itu dia mendengar suara tawa yang penuh godaan, suara itu sangat dikenalnya, itu adalah suara Bok Koan-koan.

Dia pernah tergoda oleh suara ini, tapi saat ini dia lebih suka dengan suara srigala yang lapar, atau suara lain yang tidak enak didengar, yang penting tidak mendengar suara Bok Koan-koan.

Perempuan ini telah mengubah nasibnya seumur hidup, begitu mengenalnya, dia menjadi kehilangan latar belakang hidupnya (karena dari putra pesilat nomor satu menjadi seorang penjahat), juga kehilangan kehormatan (tidak ada yang menghormatinya, kecuali membencinya).

Kemudian dia kehilangan keluarga, kehilangan kasih sayang orang tua.

Ayah tidak menganggapnya anak lagi, istrinya tidak menganggap dia sebagai suami lagi, putri kandungnya pun tidak tahu siapa ayahnya.

Sudah 20 tahun ini dia terus dihina dan disiksa, semua ini memang bukan salah Bok Koan-koan, semua adalah salahnya!

Tapi Bok Koan-koan tetap bersikap baik kepadanya, sebenarnya dia adalah orang yang senang keramaian, tapi demi dia, Koan-koan rela menemani dia selama beberapa tahun, di pegunungan walaupun Koan-koan sudah menghancurkan masa depannya, tapi Koan-koan juga pernah menolong nyawanya.

Bagi Koan-koan, dia bersedia mengorbankan segala-galanya untuk Kie Lek-beng, apakah kelakuannya itu tidak baik?

Apakah ini disebut cinta jtau kasihan?

Dia sendiri sudah tidak bisa membedakan, perhitungannya sudah kacau.

Kie Lek-beng tidak menghitung lagi, yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara berpisah dengan Koan-koan dan membuatnya tidak merasa sakit hati karena Koan-koan baru membuat kesalahan dia merasa tidak enak di hati, dia bolak balik memikirkan masalah itu, Kie Lek-beng jngin berpisah dengan Koan-koan.

Suara tawa sudah berhenti, Bok Koan-koan sudah ada di hadapannya.

Kata Koan-koan.

"Tidak kusangka, aku bisa mencarimu."

"Mengapa kau mencariku?"

Kie Lek-beng sama sekali tidak mau melihatnya.

"Kau telah melakukan pekerjaan apa sehingga tidak memberitahu kepadaku. Mengapa kau memperlakukanku seperti itu?"

Tawa genit berubah mejadi tawa dingin, sikap dingin Kie Lek-beng membuatnya marah. Kie Lek-beng lebih marah lagi kepadanya, seperti batu api yang ligesekkan dan tiba-tiba meledak.

"Aku belum mengatakannya, tapi kau yang bilang dulu, mengapa kau menipuku?"

"Kapan aku pernah menipumu?"

"Kau menipuku membantu Ji-pak-siang-eng untuk mencelakakan paman Ting! Kau tahu Ji-pak-siang-eng adalah musuh Paman Ting, kau mengatakan mereka adalah temannya!"

Bok Koan-koan malah balik marah.

"Kau jangan berbohong kepadaku, kau bilang mau menemaniku hingga pukul 3 tapi baru pukul 2 kau sudah pergi dan menotokku, membuatku tidak bisa memberitahu temanku."

Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Bila aku mendengar kata-katamu, pergi pukul 3, setiba di sana ku hanya membereskan mayat Paman Ting!"

Kali ini pertemuan Kie Lek-beng dan Paman Ting memang diatur oleh Koan-koan.

Sebenarnya kali ini Kie Lek-beng ke situ hanya seorang diri tidak bersama Koan-koan.

Lima tahun lalu walau lukanya belum sembuh tapi dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri, dia menyuruh Koan-koan meninggalkan dia, waktu itu sebenarnya Kie Lek-beng bukan ingin lepas dari Koan-koan.

Kie Lek-beng hanya merasa tidak enak karena Koan-koan harus menemaninya di pegunungan yang sepi, mula-mula Koan-koan tidak mau meninggalkan dia, akhirnya dia sering turun gunung, tapi tidak bermaksud untuk berpisah degan Kie Lek-beng.

Walaupun sering pergi dia pasti akan kembali.

Kie Lek-beng menyembuhkan lukanya di gunung ini, dia juga berlatih silat selama bertahun-tahun, kali ini dia ingin sebelum Koan-koan kembali ke gunung, dia sendiri yang akan turun.

Dia tidak berani bertemu dengan ayahnya juga tidak berani bertemu dengan orang yang ada di kampung halamannya, dia hanya ingin secara sembunyi-sembunyi pulang ke kampung halamannya, melihat ayah dan Paman Ting.

Entah sengaja atau tidak, kemarin mereka malah bertemu di kota kecil ini.

Walaupun dia tidak ingin hidup bersama dengan Koan-koan tapi pada saat bertemu dengan Koan-koan, dia masih senang dengan tertawa dia bertanya.

"Kabar sampai dengan begitu cepat hingga kita bisa bertemu, sepertinya bukan suatu kebetulan?"

Koan-koan tidak menutupi bahwa dia sengaja mencari Kie Lek-beng. Koan-koan berkata.

"Aku masih mempunyai kabar gembira."

"Aku adalah orang yang baru hidup kembali, tidak mungkin ada kabar gembira untukku."

"Aku sudah mencari tahu bahwa 2 jam lagi Ting Po akan lewat dan menginap di sini!"

Kie Lek-beng sangat senang hingga meloncat dia berkata.

"Apakah Paman Ting akan ke sini? Aku takut dia tidak mau menemuiku, walaupun dia mau, aku yang merasa malu."

Kata Koan-koan.

"Bila kau ingin bertemu dengannya, aku mempunyai cara yang tepat, suruh seseorang mengantar surat kepadanya, dia sudah hafal dengan tulisanmu dan kalian akan bisa bertemu di suatu tempat."

Kie Lek-beng mengangguk, Koan-koan berkata lagi.

"Apakah dia mau menemuiku atau tidak, biar dia sendiri yang memutuskan, bila dia tidak ingin bertemu denganmu, setidaknya kau sudah berusaha."

Kata Kie Lek-beng.

"Cara ini sangat baik, aku pun tidak ingin bertemu dengannya di tempat ramai, siapa yang akan mengantarkan suratnya?"

"Tugasmu hanya menulis surat, lainnya aku yang atur tapi aku mempunyai sebuah permintaan."

"Aku sudah berhutang banyak kepadamu, kau mau menyuruhku melakukan apa? Bicaralah!"

Koan-koan setengah bercanda dan berkata.

"Mari kita bertoast tangan dengan lawan."

Kata Koan-koan lagi.

"Aku mempunyai 2 orang teman baik, mereka juga teman Ting Po dulu mereka juga golongan hitam, mereka seperti dirimu ingin bertemu dengan Ting Po, mereka juga takut Ting Po tidak mau bertemu dengan mereka. Karena itu tolong bantulah mereka, kau ajak Ting Po bertemu jam 2 tapi kau pergi jam 3."

Kata Kie Lek-beng.

"Jadi membiarkan mereka mengobrol selama 1 jam?"

"Benar, mereka berjanji sebelum jam 3, setelah selesai mengobrol baru kau yang menemui Ting Po, jangan takut mereka tidak akan mendengar percakapan kau dengan Ting Po."

Kie Lek-beng tertawa dan berkata.

"Mereka menyuruhku datang jam 3 juga takut mendengar pembicaraan mereka, apakah mereka akan mengajak Paman Ting menjadi perampok lagi?"

"Aku tidak tahu, aku kira mereka tidak akan berani karena orang-orang dunia persilatan sudah tahu semenjak dia jadi pelayan keluarga kalian, ayahmu sudah melarang keras orang-orang garis hitam mencari dia. Karena itu mereka meminjam nama Bo-tan mengajak Ting Po untuk bertemu."

Kata-kata Koan-koan sangat masuk akal.

Kie Lek-beng percaya suratnya dititipi kepada orang lain.

Tapi Kie Lek-beng juga bukan orang bodoh, sampai malam tiba dia mulai curiga.

Koan-koan ingin Kie Lek-beng menemaninya minum-minum, dia tahu Kie Lek-beng tidak suka dengan arak keras, tapi Koan-koan sengaja memilih arak keras dan memaksanya minum dan terlihat dia sangat cemas ditanya oleh Kie Lek-beng siapa yang mengajak Ting Po untuk bertemu, dia jun tidak memberi tahu.

Sebenarnya Kie Lek-beng sudah berjanji, Koan-koan mempunyai hak untuk tidak memberitahu nama temannya, tapi Kie Lek-beng masih curiga.

"Paman Ting sudah 20 tahun tidak melakukan kejahatan, bila teman dulu yang bertemu dia pasti akan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat, bila mereka adalah teman yang jahat, mereka harus tahu hubungan antara Paman Ting dan ayah, tahu bahwa Paman Ting tidak akan kembali lagi ke dunia hitam. Paman Ting dulu punya banyak musuh di garis hitam. Mereka berdua begitu misterius, pasti mereka adalah musuh paman Ting dan mereka sudah menunggu di sana!"

Berpikir sampai di sini, bila dia salah tebak dia akan ditertawakan Koan-koan tapi yang penting Paman Ting tidak berada dalam bahaya.

Dia mengatur nafas, arak keras yang tadi diminum diuapkan lenjadi keringat, tapi dia berpura-pura mabuk dan berbaring di tempat tidur, kemudian berkata.

"Aku sudah mabuk, kau pergilah, aku tidak akan pergi."

Ada pepatah yang mengatakan.

orang mabuk masih 30 % tetap alam keadaan sadar, apalagi dalam keadaan waspada dia hanya pura-pura mabuk.

Dengan ringan Koan-koan menciumnya, dengan tawa manja dia berkata.

"Kauberbaringsaja,setelahpukul3akuakan membangunkanmu, tak perlu khawatir,"

Dia tetap tidak tenang kemudian Koan-koan menyanyikan lagu nina bobo.

Kie Lek-beng memejamkan mata, tapi dia juga mengintip bahwa tawa senang dan licik dari Koan-koan begitu jelas terdengar, kemudian Koan-koan berkata.

"Kau tidak mau pergi itu lebih baik, biar aku saja yang pergi!"

Kie Lek-beng sudah tahu kejahatan Koan-koan, walaupun tidak tahu persis seperti apa, tapi dia dapat menebak bahwa kedua orang itu sangat berbahaya, langsung dia meloncat bangun dan Koan-koan ditotoknya.

Untung dia cepat tanggap dan tidak masuk ke dalam perangkap Koan-koan dan masih sempat menolong Paman Ting bahkan bertemu dengan putrinya.

Dia tahu Koan-koan sering membohonginya, tapi kali ini kelakuan Koan-koan membuatnya marah besar.

Koan-koan tidak menyangka Kie Lek-beng marah sebesar itu, dengan tawa dingin dia berkata.

"Kau berjanji mau membantuku dan tidak ingin tahu apa yang kulakukan, aku juga tidak membohongimu, mereka benar-benar teman-teman Ting Po di golongan hitam"

Dengan marah Kie Lek-beng berkata.

"Teman apa? Mereka datang untuk membunuh Ting Po."

Koan-koan melihat Kie Lek-beng benar-benar marah, dia pun tidak berani bicara apa-apa lagi, dia berkata.

"Ting Po tidak mati, kau tidak perlu begitu tegang."

Dengan berat Kie Lek-beng berkata.

"Apakah kau tahu Paman Ting itu siapanya aku? Di matamu dia adalah seorang pelayan, tapi aku menganggap dia adalah keluargaku, di dunia ini dialah yang paling sayang kepadaku, aku berhutang budi kepadanya!"

Kata Koan-koan.

"Dia adalah orang yang paling kau sayang lalu aku berada di posisi mana? Kau berhutang budi kepadanya, apakah kau tidak merasa berhutang budi kepadaku? Waktu itu bila tidak ada aku, kau sudah tenggelam ke dasar sungai, apakah kau masih bisa hidup sampai sekarang? Bila tidak menuruti rencanaku, mana bisa kau lolos dari kejaran 5 Bu-tong Tianglo? Setelah kau terluka beberapa tahun tidak bisa bergerak, siapa yang mengurusmu? Jujur katakan saja, kau berhutang budi lebih banyak kepadaku atau kepada Paman Ting?"

Semua yang dikatakan Koan-koan adalah benar, Kie Lek-beng tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Dia berkata dalam hati, 'Memang benar kau pernah menolongku sekaligus sudah mencelakaiku.

Hutangku kepada Paman Dung memang tidak sebesar hutangku kepadamu, tapi Paman Ting tidak pernah mencelakaiku.' Kie Lek-beng bertekad untuk berpisah dengan Koan-koan, pepatah mengatakan.

tuan memutuskan hubungan tidak akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Walaupun Kie Lek-beng bukan seorang tuan tapi dia tidak akan lupa diri, walaupun Koan-koan sering merugikannya tapi budinya membuatnya selalu ingat.

Pada saat perpisahan dia tidak akan menyakiti batinya jadi dia hanya diam saja.

Koan-koan mengira Kie Lek-beng sudah tahu kesalahannya, dia terus mencecar dan berkata.

"Walaupun kau dan aku belum menjalankan adat pernikahan tapi lata adalah suami istri, mengapa aku tidak bisa sejajar dengan pelayanmu? Katakanlah, kau mau Paman Tingmu atau aku? Bila kau menginginkan aku, kau tidak boleh membantu Paman Ting lagi!"

"Koan-koan, kebaikanmu selamanya tidak akan kulupakan, begitu juga dengan kebaikan Paman Ting."

Koan-koan jadi bengong kemudian dengan marah dia berkata.

"Dari tadi kau selalu menganggapku sejajar dengan Ting Po!"

"Sebenarnya tidak sama, tapi bila kau sendiri yang hilang sama juga tidak apa-apa karena memang ada kesamaannya."

"Yang mana?"

"Sampai sekarang Paman Ting tetap menganggap aku adalah Siauyanya. Walau perjodohanku dengan keluarga Kie sudah putus."

"Bagaimana denganku?"

Dengan pelan Kie Lek-beng berkata.

"Budimu akan selalu kuingat dan aku selalu merasa berterima kasih, tapi perjodohan kita pun sudah selesai!"

Koan-koan sangat terkejut dan marah.

"Kie Lek-beng, kau mau meninggalkanku?"

"Koan-koan kau jangan begitu, walau perjodohan kita sudah selesai tapi bila ada yang melukaimu bila aku tahu aku akan segera melindungimu, walaupun nyawaku terancam, seperti perlakuanku terhadap Paman Ting, aku tidak akan membiarkanmu terluka!"

Cara keras sudah tidak mempan maka Koan-koan memakai cara yang lembut, dia menarik nafas dan berkata.

"Aku tahu aku tidak sepadan denganmu, dalam hatimu aku tidak sepenting pelayanmu, walaupun kau meninggalkan aku tapi aku tetap akan memperhatikanmu, sekarang kau mau ke mana?"

"Ini urusanku, kau tidak usah peduli lagi kepadaku!"

"Kau ingin pulang bukan? Kau jangan bohong!"

Kie Lek-beng terdiam berarti dia memang ingin pulang. Dengan dingin Koan-koan berkata.

"Kau kira kau bisa mencari istrimu lagi? Istrimu sekarang sudah menjadi istri Coh Kim-sung, apakah kau tidak tahu?"

Mata Kie Lek-beng menjadi merah, dengan galak dia berkata.

"Tidak perlu kau beritahu aku!"

Koan-koan tertawa terbahak-bahak.

"Benar, 20 tahun yang lalu kau tahu istrimu lahir dari keluarga terhormat tidak pernah menganggapmu sebagai suaminya, pada saat menjalankan upacara pernikahan, hatinya masih teringat kepada laki-laki lain."

Kie Lek-beng berteriak.

"Aku tidak mau mendengar, tutup mulutmu!"

Dengan dingin Koan-koan berkata.

"Kau tidak mau dengar, tapi aku ingin mengatakannya, istrimu menghinamu, hari pertama saja sudah menghinamu, untung aku adalah tukang pungut. Aku memungutmu dari tempat sampah dan aku menganggapmu sebagai benda kesayangan, apa bisa menjadi jodoh serasi? Di depan istrimu, kau sama sekali tidak serasi dengannya. Hanya kita berdua yang ditakdirkan jadi pasangan."

"Apakah sudah cukup bicaramu?"

Langsung dia menotok jalan darah Koan-koan Dengan pelan Kie Lek-beng berkata.

"Koan-koan, kau salah, aku dan kau tidak sama, mungkin kita ada miripnya, tapi aku masih bisa membedakan mana yang bau dan mana yang tidak. Aku benci dengan bau busuk itu, tapi kau malah menganggap bau itu adalah wangi!"

Mata Koan-koan menjadi merah seperti api, tapi dia tidak bisa apa-apa. Kie Lek-beng berkata lagi.

"Koan-koan sekali lagi kukatakan, perjodohan kita sudah selesai tapi aku selalu menganggapmu sebagai teman baik. aku akan melindungimu walau nyawaku terancam. Jalan darahmu dalam 2 jam akan terbuka. Kau berbaring saja, aku akan pergi!"

Dia berkata dengan sangat tenang tapi hatinya tidak tenang, kata-kata Bok Koan-koan tadi seperti panah beracun masuk ke dalam hatinya.

Dia lewat jalan di sisi Koan-koan, masa lalu kembali dalam ingatannya.

Dia tidak tahan dengan sikap dingin istrinya, dia semakin sering mencari Bok Koan-koan, hal ini sudah bukan hubungan gelap lagi melainkan sengaja diperlihatkan, dia tidak takut istrinya tahu, dia malah sengaja membiarkan istrinya tahu, tapi istrinya tidak marah.

Baju penuh dengan gincu dan wangi, tapi istrinya tetap tidak marah.

Demi gengsi dia tidak memberitahu kepada Bok Koan-koaa Pada suatu malam di rumah Bok Koan-koan, dia sudah mabuk.

Koan-koan tertawa dan berkata.

"Apakah kau mau menginap di rumahku? Sudah beberapa hari kau tidak pulang. Sekarang sedang saatnya bulan madu tapi kau malah meninggalkan istrimu, apakah kau tidak takut istrimu marah?" ---ooo0dw0ooo---C. Curiga Dia menahan goncangan'hatinya, dengan tertawa dia berkata.

"Kau tidak perlu khawatir, istriku sangat baik, dia tidak akan mengekangku."

Koan-koan tertawa.

"Kau menertawakan apa?"

"Aku sedang berpikir."

"Apa yang sedang kau pikirkan? Ayo katakan!"

"Bila aku mengatakannya, kau jangan jadi curiga, tapi aku bukan membicarakanmu, aku mempunyai teman perempuan, dia selalu tidak mau tahu suaminya melakukan apa di luar. Kau tahu mengapa? Karena dia sendiri juga punya kekasih gelap."

Kie Lek-beng membanting cangkir dan marah.

"Kau bilang istriku punya kekasih gelap? Istriku tidak seperti dirimu, dia adalah perempuan baik-baik."

Koan-koan tertawa dingin dan berkata.

"Perempuan baik-baik juga bisa nyeleweng, tadi sudah kukatakan ini bukan tentang dirimu, jadi kau tidak perlu curiga. Aku adalah perempuan, biasanya perempuan lebih mengerti hati perempuan lain. Semua perempuan pasti iri bila suami boleh nyeleweng tapi dia tidak boleh. Bila dia tidak punya laki-laki lain mengapa dia begitu dingin kepada suami? Istrimu adalah perempuan baik-baik dan merupakan pengecualian, aku beri selamat kepadamu karena kau mendapat istri yang baik"

Dia tidak mau mengakui di depan Koan-koan, sebenarnya kata-kata Koan-koan seperti panah beracun dia tidak mengakui bahwa istrinya mempunyai kekasih gelap.

Dia hanya minum arak.

Tiba-tiba Koan-koan berkata.

"Mertuamu itu apakah dia jadi kepala pengiriman di Yang-ciu?"

"Apa hubungannya?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Tidak, aku hanya ingat di Yang-ciu ada pendekar terkenal."

"Siapa dia?"

Karena dia mempunyai ayah yang terkenal di matanya semua orang terkenal tidak perlu diketahui. Dengan ringan Koan-koan berkata.

"Orang ini tidak setara dengan ayahmu, tapi dia masih muda, belum berumur 30 tahun dan sudah terkenal di mana-mana."

"Siapa dia?"

"Pendekar Yang-ciu bernama Coh Kim-sung."

"Sepertinya aku pernah mendengar, mengapa kau membicarakan dia? Ada apa?"

Tawa Koan-koan seperti penuh dengan rahasia dan berkata.

"Aku membicarakan dia bukan tanpa alasan."

"Alasan apa?"

"Coh Kim-sung adalah putra keluarga pesilat di Yang-ciu, mertuamu adalah ketua pengiriman barang di Yang-ciu, dia sudah bekerja selama 10 tahun lebih. Menurutku pasti mereka sering berhubungan. Apakah benar? Karena mereka adalah orang terkenal di Yang-ciu maka aku menghubung-hubungkannya, tapi kau tidak tahu dengan Coh Kim-sung, apakah mertuamu..."

"Mertuaku tidak pernah menyebut nama orang ini?"

"Ini sangat aneh."

"Apa anehnya?"

"Kata orang-orang mereka sangat akrab, malah terlihat tidak biasa."

"Apanya yang tidak biasa?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Katanya mertuamu pernah membawa barang ke tempat lain, dia hampir mengalami kecelakaan, untung dia dibantu oleh Coh Kim-sung baru tertolong, semenjak itu dalam waktu 1 bulan, selama setengah bulan, Coh Kim-sung berada di rumah mertuamu, mereka sangat akrab. Mengapa mertuamu tidak pernah menyebut nama ini?"

Kie Lek-beng menunduk dan minum arak. Koan-koan tertawa dan berkata lagi.

"Aku dengar Coh Kim-sung sangat tampan dan luwes, ilmu silatnya juga tinggi, catur, kecapi, puisi semua dapat dia kuasai."

"Sebenarnya kau mau bilang apa?"

"Tidak ada apa-apa, karena kau tidak kenal dengan Coh Kim-sung, aku hanya bercerita saja."

Tiba-tiba Kie Lek-beng membanting cangkir dan berkata.

"Aku juga bukan sama sekali tidak tahu dengannya, dia sudah punya istri dijuluki Tio-hui yang cantik, aku lupa namanya, dia adalah perempuan yang besar cemburunya dan sangat galak!"

Bok Koan-koan berkata.

"Istrinya bernama Lung Kwee-eng, dijukuli Tio-hui yang cantik, tapi kau hanya tahu sebagian saja."

"Sebagian lagi apa?"

Tanya Kie Lek-beng.

Baca Juga: Pendekar Wanita Penyebar Bunga 8

Baca Juga: Pedang Bunga Mei 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger