Eps 5 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen
Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen
Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.
"Tiga tahun yang lalu Lung Kwee-eng meninggal."
Tubuh Kie Lek-beng gemetar, dia minum arak lagi. Tiba-tiba Koan-koan bertanya.
"Berapa umur istrimu?"
Kie Lek-beng balik bertanya.
"Mengapa kau tanyakan ini? Dia berumur 19 tahun!"
"Tidak ada apa-apa, hanya sekedar bertanya."
Dia marah dan menggebrak meja.
"Apa yang ingin kau katakan? Tidak perlu basa basi lagi!"
Koan-koan tertawa manja dan berkata.
"Kie Siauya, kenapa dengamu? Tiba-tiba marah seperti itu, mari kita minum arak saja!"
Dengan marah Kie Lek-beng berkata.
"Aku tidak mau lihat kegeiutanmu, aku hanya ingin tahu sebenarnya kau ingin menyampaikan apa?"
Koan-koan tidak marah hanya tertawa.
"Benar aku adalah perempuan jalang tidak seperti istrimu begitu anggun dan baik tapi kau harus ingat kau juga seorang buaya, bukankah kau juga menyukai perempuan seperti aku ini?"
Kata Kie Lek-beng.
"Aku tidak punya waktu bermain-main dengamu, katakan saja apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
Koan-koan tertawa dan berkata.
"Kau tidak punya waktu, tapi aku ada. Kapan kau mulai suka dengan lawan jenis?"
"Aku sudah beritahu kepadamu, aku tidak ada waktu bermain-main denganmu!"
"Aku sedang mengatakan yang sebenarnya."
Terpaksa Kie Lek-beng menjawab.
"Aku tidak tahu!"
Koan-koan tertawa kemudian berkata.
"Kau jangan menertawakan kegenitanku, aku ingat waktu itu aku berusia antara 15 dan 16 tahun sudah mulai senang dengan laki-laki, tapi menurutku itu bukan karena genit. Semua gadis berumur 15-16 tahun sudah mulai menyukai lawan jenis, anak gadis senang dengan laki-laki yang lebih tua dari mereka ini yang disebut lubang cinta mulai terbuka', apakah benar?"
Hati Kie Lek-beng bergetar, dia sudah tahu apa yang dimaksud oleh Koan-koan, dalam hati dia berpikir.
"Eng-lam berumur 19 tahun, 3 tahun lalu istri Coh Kim-sung sudah meninggal, waktu itu istrinya baru berumur 16 tahun, benar Coh Kim-sung adalah orang yang 'lubang cintanya baru mulai terbuka'."
Maksud dari kata-kata ini dia sudah mengerti.
"Kau tahu tentang apa lagi?"
Tanya Kie Lek-beng.
"Apakah mengenai Coh Kim-sung?"
Tanya Koan-koan sengaja tidak menyebut nama istrinya. Kie Lek-beng terdiam, lama baru mengangguk Koan-koan tertawa dan berkata.
"Kemarin aku mendengar suatu hal menyangkut Coh Kim-sung, ada orang yang melihatnya di sekitar sini, ayahmu adalah pesilat nomor satu, dia pasti berkunjung ke rumahmu, tapi katanya kemarin ayahmu sudah pergi, apakah benar?"
Kie Lek-beng seperti orang mabuk, mendengar Coh Kim-sung datang ke rumahnya, maka dia segera berlari pulang.
Setiba di rumah hampir pukul 3, istrinya belum tidur dia sedang mengobrol dengan Ong Toanio.
Ong Toanio adalah ibu asuh Eng-lam, dari kecil Eng-lam sudah kehilangan ibunya dan dia diasuh oleh Ong Toanio, dia selalu menganggap Ong Toanio adalah ibu kandungnya.
Ayahnya tahu Ong Toanio tidak tega meninggalkan Eng-lam seorang diri dia juga membutuhkan Ong Toanio.
Maka setelah dia menikah dia ikut masuk ke dalam keluarga Kie, Ong Toanio tetap menemaninya dan berada di rumah Kie Lek-beng.
Begitu Kie Lek-beng mendengar suara istrinya, hatinya pun lega, dalam hati dia berpikir, 'Aku kira dia sedang menemui Coh Kim-sung, tapi aku kira Coh Kim-sung tidak akan seberani itu.' Tapi dia segera berpikir lagi, 'Sebaiknya aku jangan masuk dulu, aku ingin tahu mereka sedang membicarakan apa?' Kata Ong Toanio.
"Apakah suamimu sudah 2 hari tidak pulang?"
"Aku tidak mau tahu, mengapa kau tanyakan hal ini?"
Ong Toanio menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Bagaimana pun kalian sudah menjadi suami istri, kau sebagai istri jangan membiarkan suamimu begitu bebas, aku tidak berani mengatakan kalau suamimu tidak pulang karena main perempuan di luar, tapi kalian baru menikah bila dibiarkan, dia pasti akan semakin berani, nanti bisa terjadi sesuatu. Lebih baik kau nasihati suamimu!"
Eng-lam tertawa dingin dan berkata.
"Dia main dengan perempuan di luar, juga punya istri simpanan, dia adalah seorang perampok perempuan dan dia berteman dengan penjahat-penjahat, semua ini sudah kuketahui!"
Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Aku mengira dia adalah patung atau boneka kayu, ternyata semua ini dia simpan di dalam hatinya.
Mengenai kelakuanku sehari-hari dia pun tahu, siapa yang memberitahu?' Ong Toanio berkata.
"Bagi seorang perempuan yang paling penting adalah mendapat suami yang baik. Nona, aku melihatmu tumbuh besar, aku tidak akan membiarkanmu menderita, suamimu masih muda mungkin dia salah jalan. Nona, kau harus mencegahnya, nasihati dia, atau laporkan saja kepada Paman Ting..."
Belum habis kata-kata Ong Toanio, Eng-lam sudah berkata.
"Ong Toanio, kau tidak perlu mengurusi dia, bila dia tidak pulang, aku lebih senang!"
"Nona, kau tidak boleh bicara seperti itu, kau membiarkan dia main gila di luar, mengapa kau, mengapa kau..."
Ong Toanio tidak menyelesaikan perkataannya, tapi Kie Lek-beng sudah tahu apa maksud Ong Toanio, yaitu mengapa Eng-lam harus menikah dengannya.
"Hatiku sudah mati, karena aku adalah anak tunggal maka bila aku menikah, aku harus menurut pada kemauan ayah. Ayah menyuruhku menikah dengan siapa pun, aku harus menurut."
"Nona, ada yang kutanyakan, apakah boleh?"
"Kau adalah ibu asuhku, dari kecil aku sudah menganggapmu sebagai ibu kandungku, kau juga menganggapku sebagai putrimu, antara ibu dan anak apa yang tidak dapat diceritakan?"
Ong Toanio menarik nafas dan berkata.
"Terima kasih kau sudah menganggapku sebagai ibumu, aku tidak rela melihatmu menderita. Nona, apakah kau mengerti maksudku?"
"Aku mengerti, katakanlah!"
"Lupakanlah Siauya Coh Kim-sung!"
Kie Lek-beng berada di balik jendela mendengarkan percakapan mereka, dan jendelanya tertutup.
Tapi 'Siauya Coh Kim-sung', 5 huruf ini seperti panah, memanah ke arah hati dan jantungnya, dia merasa sakit, dalam hati dia berpikir, 'Koan-koan tidak berbohong, istriku yang anggun dan baik, benar-benar mempunyai kekasih gelap.
Dia lebih rendah dari Koan-koan.' Eng-lam juga seperti ditusuk oleh jarum dan berkata.
"Ong Toanio,janganbicarakandialagi!Akusudah melupakannya!"
Ong Toanio menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.
"Jangan membohongiku, hatimu masih ada di sana, aku bisa membantumu menutup-nutupinya tapi aku harus mengatakannya, jangan dipendam dalam hati. Tapi bila kau mengerti, kau harus benar-benar melupakannya."
"Baiklah, katakan saja walau sebenarnya aku tidak mau mendengar."
"Kau tidak ingin mendengar tapi aku akan tetap mengatakannya, ada pepatah yang mengatakan. perjodohan sudah ditentukan oleh Tuhan tidak dapat dipaksa. Kau dan Coh Siauya tidak berjodoh, ada pepatah yang mengatakan. bila menikah dengan ayam harus kita ikut menjadi ayam, bila menikah dengan anjing kita juga harus ikut menjadi anjing, walaupun suamimu tidak baik, kalian sudah melakukan upacara adat, sudah menjadi suami istri yang sah, bila kau berlaku lembut kepada suamimu, kau pasti bisa mengalahkan si jalang itu!"
"Ong Toanio, kau sudah tahu aku tidak sudi berebut suami dengan perempuan jalang, aku hanya pikir..."
"Kau memikirkan apa?"
Eng-lam tampak sedang berpikir dan dia tidak mendengar Ong Toanio mengatakan apa. Tiba-tiba dengan gemetar Ong Toanio berkata.
"Nona, apakah kau mengajaknya ke sini? Kau tidak boleh seperti itu!"
Sekarang Kie Lek-beng sudah mendengar suara suling, suara ini datang dari belakang rumah, dari hutan cemara.
Eng-lam masih terpaku, apakah dia mendengar kata-kata Ong Toanio?
Ong Toanio mendorongnya dan berkata.
"Nona, kau jangan salah jalan! Aku akan menyuruh dia pergi!"
Eng-lam seperti terbangun dari mimpi, tiba-tiba dia menarik nafas dan berkata.
"Kau salah, aku tidak berjanji dengannya dan orang itu bukan dia!"
Ong Toanio tidak percaya dan berkata.
"Aku kenal dengan suara sulingnya. Nona, mengapa kau tidak jujur kepadaku?"
"Aku lebih apal suara sulingnya dari dirimu, aku bilang bukan pasti bukan dia, memang dia suka meniup lagu ini, tapi ini bukan suara suling dia, bila dia meniup suling pasti di dekat sungai Yang-ciu."
"Siapakah dia, aku harus melihatnya."
Kata Ong Toanio.
Ong Toanio tidak percaya, Kie Lek-beng lebih tidak percaya lagi, dalam hati dia berpikir, 'Perempuan murahan!
Kau begitu mencintai Coh Kim-sung, bila bukan berjanji dulu, pasti mereka berjanji lewat suling.' Api cemburu membakarnya, Ong Toanio belum keluar dia sudah keluar dulu dan berlari ke arah suling berbunyi.
Benar saja, di hutan cemara ada seseorang yang sedang berdiri, orang itu melihat ada yang datang, suara sulingnya langsung berhenti dan segera lari masuk ke dalam hutan.
Kie Lek-beng berteriak.
"Hei orang she Coh, aku sudah tahu itu adalah kau! Mau lari ke mana lagi?"
Orang itu menggerakan tanganmya menotok dan Kie Lek-beng merasa lututnya kaku kesemutan dan tidak dapat mengejar lagi.
Keluarga Coh di Yang-ciu memang sangat terkenal dengan ilmu menotok jalan darah, orang itu memakai gumpalan tanah untuk menotok.
Kie Lek-beng lebih yakin dia adalah Coh Kim-sung, dia sangat marah dan menyesal.
Menyesal karena selama ini dia tidak benar-benar berlatih ilmu silat.
"Laki-lakinya sudah lari, tapi perempuannya belum, baiklah aku akan membuat perhitungan dengan perempuan murahan itu!"
Dengan sangat marah dia mencoba membuka totokannya sendiri dengan agak terpincang-pincang dia kembali ke rumah.
Baru saja keluar dari hutan cemara terdengar ada suara teriakan orang.
Yang berteriak adalah Ong Toanio, mimpi pun tidak menyangka Ong Toanio bisa bertemu dengannya, Ong Toanio terpaku dan berkata.
"Siauya, ternyata itu adalah kau!"
Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata.
"Kau kira siapa?"
Kata-kata ini membuat Ong Toanio tidak dapat menjawab, kata Kie Lek-beng lagi.
"Kau tidak berani bicara, baiklah aku akan membantumu bicara, kau membantu nonamu, berjanji dengan kekasih gelapnya tapi kau terlambat menyangka..."
"Bukan, bukan seperti itu, kau jangan salahkan nona!"
Kie Lek-beng tertawa dingin.
"Apa? Jangan menyalahkan nonamu? Aku sudah lihat dengan mata kepala sendiri, kau terlambat datang, Coh Kim-sung sudah lari!"
Ong Toanio tidak tahu apa yang sudah terjadi, dia mengira Kie Lek-beng sudah bertemu dengan Coh Kim-sung, di antara mereka entah sudah membicarakan apa?
Dia tidak tahu dengan terkejut Ong Toanio berkata.
"Benar, tuan Coh dan nona seperti adik kakak, mereka tidak pernah melakukan hal terlarang..."
Kie Lek-beng tertawa dingin.
"Kau kira aku tidak tahu apa-apa? Adik kakak? Adik kakak? Ha...ha...ha...aku tahu pikiranmu nona, lupakanlah dia!"
Kie Lek-beng menirukan suara Ong Toanio.
"Aku tidak bohong kepadamu, waktu di Yang-ciu mereka seperti adik kakak, memang nona menyukainya, tapi dia juga tidak tahu bagaimana perasaan nona kepadanya, tapi mereka tahu mereka tidak pantas untuk menikah, jadi mereka hanya menganggap sebagai adik dan kakak."
Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.
"Menurutmu mereka terpaksa menjadi sepasang adik kakak, tapi hatinya sudah diberikan kepada Coh Kim-sung!"
Ong Toanio berkata lagi.
"Tuan, bagaimana dengan dirimu? Semenjak menikah nona tidak pernah melakukan kesalahan, tapi kau sudah bermain-main dengan si jalang itu dan hidup serumah tanpa ikatan, tiap malam tidak pulang. Menurutku, suami istri itu harus saling mengalah..."
Kata-kata Ong Toanio belum selesai, wajahnya sudah ditampar oleh Kie Lek-beng. Kie Lek-beng sangat marah dan berkata.
"Nenek tua, berani kau memarahiku! Akan kubunuh dulu nonamu setelah itu aku membuat perhitungan denganmu."
Kie Lek-beng mengerakan tangan, pukulannya sangat keras, Ong Toanio terjatuh darah menetes ke atas rumput, dia tidak dapat bangun lagi, sedangkan Kie Lek-beng sudah berlari pulang.
Tubuh Ong Toanio terluka, tapi hati Kie Lek-beng juga terluka, dengan langkah berat dia pulang.
Kemarahan membuatnya seperti seekor banteng gila.
"Ong Toanio, kau kenapa?"
Eng-lam mendengar suara yang berat itu, dia tidak tahu suaminya sudah pulang. Belum habis berkata, Kie Lek-beng membuka pintu dengan menendangnya, kemudian dengan dingin dia berkata.
"Kau sedang menunggu Ong Toanio atau sedang menunggu kekasih gelapmu? Tidak disangka bukan bahwa yang datang adalah aku? Apakah kau kecewa?"
Arak sudah disiram ke wajah istrinya. Dengan dingin Eng-lam berkata.
"Kau minum terlalu banyak, jangan sembarangan bicara, aku tidak mau berkelahi denganmu!"
Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak lalu berkata.
"Kau kira aku sudah mabuk? Aku sangat sadar, walaupun aku terlambat mengetahuinya tapi kau tidak akan bisa membohongiku lagi."
Mata Kie Lek-beng merah, dia sangat marah, dia malah menyanyikan lagu.
Sibuk, sangat sibuk Malam-malam baru pulang ke rumah Takut, sangat takut Takut istri tercinta kesepian di kamar Benci, sangat benci Mengapa tidak tahu istri sudah punya kekasih lain...
Caranya bernyanyi sungguh sangat tidak sopan, seperti seekor kucing sedang mempermainkan tikus, si kucing ingin menyiksa tikus dulu setelah itu baru dimakan.
Eng-lam sudah tidak tahan kemudian dia berdiri dan berkata.
"Kau anggap aku ini apa? Kau sudah main gila dengan kekasih gelapmu, pulang-pulang malah membuat keributan, aku bukan perempuan murahan, bila kau masih mau ribut, kembali saja kepada kekasihmu!"
Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak, dia memandang istrinya dengan sebelah mata dan berkata.
"Benar-benar perempuan terhormat, tapi sayang kau sudah memperlihatkan sosok aslimu, kekasih gelapku adalah perempuan murahan, tapi kau lebih murahan lagi daripada dia. Paling sedikit Koan-koan tidak mencari kekasih lain di belakangku!"
Eng-lam marah dan berkata.
"Jangan sembarangan bicara, dimana kekasih gelapku? Ayo katakan!"
"Kekasih gelapmu baru kuusir, kau gagal bertemu dengannya, tapi hatimu sudah pergi mengikutinya."
Eng-lam marah dan berkata.
"Keluar kau! Aku tidak mau dengar lagi!"
Karena marah Eng-lam sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Kie Lek-beng tertawa sinis dan berkata.
"Ini adalah rumahku, kau adalah perempuan genit, seharusnya kau yang keluar, bukan aku! Aku tidak berkata kotor, aku mengatakan yang sebenarnya. Jawab dengan jujur Coh Kim-sung adalah kekasih lamamu bukan? Kau kira aku tidak tahu?"
Eng-lam dengan tenang menjawab.
"Memang benar aku hanya menuruti permintaan ayahku, baru mau menikah denganmu, bila disuruh memilih aku pasti akan memilih Coh Kim-sung, tapi kita tidak berjodoh..."
Teriak Kie Lek-beng.
"Perempuan murahan, akhirnya kau mengaku juga!"
"Waktu aku masih kecil, aku sudah memanggilnya dengan sebutan Coh Toako. Waktu itu aku belum mengenal dengan orang yang bernama Kie Lek-beng. Aku mengaku bahwa aku memang suka dengannya, tapi suka kepada seseorang bukan berarti aku adalah perempuan murahan, Lek-beng pikirkan dengan tenang dan dengar kata-kataku hingga habis."
Kie Lek-beng hanpir meledak. Dengan tertawa dingin dia berkata.
"Kau adalah perempuan yang sudah bersuami, tapi hatimu masih ada pada laki-laki lain. Apakah ini tidak disebut rendah? Kau sendiri sudah mengakui, kita tidak perlu bicara lagi!"
Kata Eng-lam.
"Kau juga kumpul kebo dengan si jalang, itu apa namanya? Hanya saja aku tidak mau ribut denganmu..."
Kie Lek-beng berteriak dan marah.
"Kau mau bicara apa lagi?!"
"Kita sudah seperti ini, sudah tidak bisa menjadi suami istri lagi, demi menjaga nama baikmu dalam waktu setengah tahun lagi aku akan pulang ke kampung halamanku dan meninggalkan rumahmu. Kemudian kau akan mendapat kabar kematianku, dengan begitu kau akan dengan mudah memperistri Koan-koan."
Kie Lek-beng seperti balon yang sudah penuh dengan udara, siap untuk meledak. Dia berteriak seperti seekor binatang, mencakar Eng-lam dan berkata.
"Kau ingin pulang dengan Coh Kim-sung? Kemudian menikah dengannya? Malah mengatakan semua ini demi diriku, mengapa harus menunggu setengah tahun, sekarang aku ingin kau mati!"
Eng-lam terkejut dan berteriak.
"Kau jangan sembarangan bicara!"
Dia mengerakan tangan dan menotok pada Kie Lek-beng, tapi tenaganya tidak cukup, dia tidak bisa menutup jalan darah Kie Lek-beng, sebaliknya Kie Lek-beng sudah mencekik lehernya!
Eng-lam memberontak, membuat Kie Lek-beng lebih marah lagi, mula-mula dia hanya ingin menghukum istrinya karena sudah sangat marah akhirnya dia ingin membunuhnya.
Dia seperti seekor binatang buas.
Tiba-tiba Kie Lek-beng merasa disiram oleh sebaskom air dingin, ternyata Ong Toanio sudah kembali.
Air ini disediakan oleh Ong Toanio agar Kie Lek-beng bisa mencuci muka, demi suami nonanya, Ong Toanio mengurus Kie Lek-beng begitu telaten karena tidak tahu Kie Lek-beng kapan akan pulang maka sebaskom air ini tiap jam selalu digantinya.
Karena setelah lewat 2 jam, air yang tadinya panas sudah menjadi dingin.
Karena kepala Kie Lek-beng sudah basah kuyup, secara reflek dia mundur ke belakang dan menabrak Ong Toanio.
Ong Toanio terjatuh dan muntah darah.
Tapi dia masih marah.
"Ada pepatah mengatakan. harimau yang galak pun tidak akan memakan anaknya Ternyata kau lebih kejam dari binatang!"
Kie Lek-beng marah.
"Kurang ajar, kau berani memarahiku binatang, sekalian saja kau kubunuh!"
Tapi begitu dia disiram air dingin, dia mulai agak sadar, tiba-tiba dia teringat kepada kata-kata Ong Toanio, dengan bingung dia berkata.
"Apa arti dari harimau tidak memakan anaknya?"
Teriak Eng-lam.
"Ong Toanio, tidak perlu memberitahu kepadanya!"
Tapi suara Eng-lam terlalu kecil, atau Ong Toanio tidak mendengar ucapannya, dia mengatakannya.
"Apakah kau tidak tahu? Dalam perut nona sudah ada bayimu sekarang sudah berumur 3 bulan, bila kau membunuh nona kau membunuh 2 nyawa."
Eng-lam berteriak dan pingsan, Ong Toanio juga menahan sakit, setelah berkata begitu dia pun pingsan. Sekarang Kie Lek-beng sudah sadar dan mengerti, ternyata istrinya sudah hamil 3 bulan.
"Pantas meminta setengah tahun lagi baru berpisah denganku, perempuan jalang ini memang sangat kubenci, tapi anak yang berada dalam kandungannya adalah anakku. Bila tahu dia sudah hamil begitu aku tidak akan menyiksanya."
Eng-lam pingsan tergeletak di bawah, bergerak pun tidak, dia seperti sudah meninggal.
Melihat seperti itu Kie Lek-beng malah tidak dapat melakukan apa-apa.
Dia mendekatkan tangannya ke hidung Eng-lam, ingin tahu masih bernafas atau tidak, tapi jarinya tidak dapat teratur, dia menjadi kebingungan.
Terdengar Paman Ting memanggilnya.
"Siauya, kau sedang apa?"
Kie Lek-beng terkejut dan berpikir, 'Aku sudah melakukan semua ini, bila ayah melihatnya, dia tidak akan memaafkanku!' Dia seperti seorang anak kecil yang nakal, tidak ada cara lain kecuali bersembunyi, dia tidak berani bertemu dengan ayahnya, dia kabur dari rumah.
Pertama kali kabur dia berumur 19 tahun.
Umur 19 tahun yang sangat panjang, selama 19 tahun ini sudah mengubah banyak jalan kehidupannya.
Hari ini dia sudah kembali lagi, dia seperti berada di dunia lain.
Dia memegang luka di wajahnya dan berkata pada diri sendiri, 'Kie Siauya sudah mati, sekarang aku bukan orang yang dimaki-maki lagi di dunia persilatan."
Walaupun dia sedikit menyesal, tapi kemarahan lebih banyak menguasai pikirannya.
"Siapa yang membuatku menjadi seperti ini? Koan-koan memang harus menanggung sebagian, aku tidak menyalahkan dia sepenuhnya, yang menjadi biang keladi dan orang yang paling kubenci adalah Coh Kim-sung, dia telah membuatku seperti ini! Sekarang Eng-lam sudah mencapai keinginannya, menikah dengan Coh Kim-sung, dan aku, aku pun kehilangan keluarga, tidak berani bertemu dengan putriku sendiri. Coh Kim-sung sudah merampas istriku mencelakaiku seumur hidup, dia malah disebut Pendekar Yang-ciu, sungguh tidak adil, tidak adil! Aku harus mencari cara yang paling kejam untuk membalas dendam, dengan begitu kemarahanku baru bisa hilang!"
Yang membuatnya sedikit bahagia adalah dia sudah mempunyai seorang anak perempuan.
Putrinya yang hampir mati di dalam perut ibunya, dia sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik.
Dia hampir berbuat salah dan dia ingin menebus kesalahannya kepada putrinya.
Dia benci kepada ibu anaknya tapi dia harus melindungi putrinya.
Dia teringat kepada pemuda yang datang bersama dengan putrinya, dari Ting Po dia tahu bahwa laki-laki itu bernama Coh Thian-su dan dia adalah putra Coh Kim-sung!
Kembali dia marah.
"Coh Kim-sung sudah mengambil istriku, aku tidak akan membiarkan putranya mengambil anakku, kelihatannya Su-giok menyukai pemuda itu."
Sekarang harus bagaimana lagi? Dia berniat untuk membunuh lagi.
"Hanya ada satu cara yaitu diam-diam membunuhnya! Kesatu, putriku bisa mati rasa kepadanya. Kedua, bisa membuat Coh Kim-sung sedih karena kehilangan putranya. Ha...ha...ha., ini adalah cara yang paling ideal."
Hatinya yang gelisah sekarang sudah tenang, tiba-tiba dia mendengar ada suara air.
Tidak terasa dia sudah tiba di pinggir sungai Huang-ho.
Dia tahu sungai itu sangat dalam, dia berpikir, 'Coh adalah orang selatan, dia bisa menjalankan perahu dan melewati bahaya di air, aku lewat jalan darat saja sebelum pukul 3, aku pasti sudah bisa menyusul perahu mereka."
Dia ingin cepat-cepat membunuh Coh Thian-su, juga ingin melihat wajah putrinya, walaupun melihat secara sembunyi-sembunyi tidak apa.
Dia memakai ilmu meringankan tubuh, dan sebelum pukul 3 sudah tiba di Huang Long.
Perahu Coh Thian-su pun sudah tiba di Huang-lung, mereka sedang menepikan perahu, di tempat itu tidak ada angin, gelombang air pun sangat tenang.
Tempat-tempat yang berbahaya sudah mereka lewati, Coh Thian-su sudah merasa lelah.
Hiat-kun dan Su-giok pun terlihat lebih lelah dari Coh Thian-su.
Dan Coh Thian-su segera menyuruh mereka tidur dulu.
Kie Su-giok berkata.
"Kau terlalu hati-hati, apakah masih takut kedatangan Ji-pak-siang-eng? Sudahlah tidak perlu berjaga-jaga, sebaiknya kau juga beristirahat!"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Kita harus sedikit waspada, bila semua tertidur, bukan hanya Ji-pak-siang-eng melainkan Huang-ho-sam-kui juga bisa merepotkan."
Siapa yang menyangka yang akan datang bukan Ji-pak-siang-eng dan Huang-ho-sam-kui, tapi sebenarnya yang ingin membunuh dia adalah ayah Kie Su-giok. Kata Hiat-kun.
"Toako, kau tampak lelah, tidurlah dulu!"
Jawab Coh Thian-su.
"Kalian tidak perlu sungkan, kita bergantian jaga malam, bila aku sudah lelah aku akan membangunkan kalian."
Kata Kie Su-giok.
"Baiklah, aku akan tidur dulu."
Begitu masuk ke dalam perahu, Kie Su-giok langsung tertidur, tapi Hiat-kun masih bolak balik tidak dapat tidur.
Memang dia merasa sangat lelah, tapi dia masih banyak pikiran, nasib mempermainkannya, orang yang dia suka juga dicintai oleh teman yang baru dikenalnya.
Dia sendiri harus kembali ke rumah kakeknya.
Walaupun lelah dia tidak dapat tidur.
Tiba-tiba Kie Su-giok berkata marah.
"Kurang ajar kau, Hiat-kun!"
Hiat-kun terpaku, dalam hati dia berpikir, 'Mengapa dia marah kepadaku?' Ternyata Kie Su-giok sedang bermimpi, terdengar dia marah lagi.
"Wie Toako, kau tidak punya hati nurani, mengapa kau tidak meninggalkan aku saja?"
"Cici Kang, mohon jangan rebut Wie Toako! Jangan!"
Walaupun itu hanya mimpi, tapi dari sana Hiat-kun sudah tahu mengapa Kie Su-giok marah, dia pasti mimpi bahwa Hiat-kun akan merebut Wie Toako nya.
Su-giok berhenti mengigau tapi Hiat-kun masih berpikir, 'Su-giok begitu mencintai Hoan Toako, dengan cara apa aku bisa menghentikan prasangkanya kepadaku?"
Tiba-tiba Su-giok duduk dan memanggil.
"Cici Hiat-kun."
Kali ini dia tidak mimpi. Hiat-kun pura-pura tertidur tidak menyahut, kemudian Su-giok memanggilnya lagi.
"Cici Hiat-kun."
Hiat-kun pura-pura baru terbangun dan berkata.
"Aku sudah lelah, kau juga harus tidur, bila ada apa-apa besok saja ceritanya."
Kata Kie Su-giok.
"Tadi aku bermimpi..."
Dia melihat Hiat-kun membalikkan tubuh dan tidur lagi.
Kie Su-giok mengira Hiat-kun benar-benar sudah tertidur, dia sedikit lega ternyata Hiat-kun tidak mendengar igauannya.
Dia mempunyai kebiasaan bicara bila sedang bermimpi, sepertinya tadi dia marah-marah kepada Hiat-kun, untung saja Hiat-kun tidak mendengar, bila tidak hal ini sungguh memalukan.
Tiba-tiba terdengar Coh Thian-su bernyanyi, dia menyanyikan lagu 'Ho-sin-Iong' (memberi selamat kepada pengantin laki-laki).
Ternyata Coh Thian-su juga banyak pikiran, dia bernyanyi untuk menghilangkan kekesalan di dalam dada.
Hiat-kun segera berpikir, 'Mengapa aku tidak memakai nama Coh Toako untuk menghilangkan prasangka Kie Su-giok?' Dia membalikkan tubuh pura-pura bangun karena dibangunkan oleh nyanyian Coh Thian-su dan dia berkata.
"Sekarang aku sudah tidak bisa tidur lagi, lebih baik aku mencari Coh Toako dan mengobrol."
Di dalam mimpi cinta akan terlihat, setelah bangun menghadapi kebingungan seorang diri.
Akan terjadi apa?
---ooo0dw0ooo---BAB Jodoh yang diimpikan Seumur hidup membuat kesalahan Seorang diri menghadapi kesukaran Dua generasi bermusuhan A.
Pura-pura Akhirnya Benar-benar Melakukan Hiat-kun memanggil-manggil.
"Adik Giok, Adik Giok!"
Dalam hati Kie Su-giok berpikir, 'Bila dia tahu aku belum tidur, dia akan malu keluar menemani Coh Toako.' Akhirnya Kie Su-giok pun berpura-pura tidur, tapi Hiat-kun sudah tahu bahwa Kie Su-giok sedang berpura-pura, dia jadi ingin tertawa, sebenarnya Hiat-kun ingin agar Kie Su-giok mengetahui bahwa dia keluar untuk bertemu dengan Coh Thian-su.
Coh Thian-su sedang melihat bulan dan termenung, tiba-!
iba melihat Hiat-kun berjalan ke arahnya, dia menjadi terpaku.
Baju Hiat-kun putih seperti salju, baju dihembus oleh angin berkibaran di bawah cahaya bulan, dia terlihat sangat cantik dan memberikan kesan sedikit misterius.
Bagi Coh Thian-su, Hiat-kun scpeili dewi suci yang datang dengan cara menginjak permukaan air.
Coh Thian-su terpaku dan berkata.
"Sumoi, kau belum tidur?"
"Aku sudah tidur tapi bangun lagi, kakak tadi aku sempal mendengar kau sedang membaca puisi atau sedang bernyanyi? Apakah kau teringat pada kampung halamanmu, Yang-ciu?"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Aku tidak dapat membuat puisi, yang tadi aku nyanyikan adalah Ho-sin-long, dalam puisi itu ada kata-kata. Sepuluh tahun satu bulan merasakan jalan di Yang-ciu dengan. Sepuluh tahun satu bulan bermimpi di Yang-ciu tidak sama, yang satu menceritakan tentang percintaan antara muda mudi, yang satu lagi menceritakan tentang kerinduan pada kampung halaman."
Hiat-kun tertawa dan berkata.
"Aku tidak mengerti tentang puisi, coba Coh Toako jelaskan kepadaku, aku hanya dengar bahwa Yang-ciu adalah suatu kota dengan pemandangan yang sangat indah, begitu kau menyanyikan 'Yang-ciu', aku mengira kau sedang merindukan kampung halaman."
Kata Coh Thian-su.
"Kau juga tidak salah memang aku sedang merindukan kampung halaman. Adik, sesudah aku bisa bertemu denganmu, aku bisa cepat pulang dan melaporkan hal ini kepada ayahku."
Tanya Hiat-kun.
"Kau baru pergi dari rumah selama 1 bulan apakah sudah ingin pulang?"
"Kali ini aku pergi karena diperintah oleh ayah untuk mencari tahu keberadaan Supek Kang, Supek sudah meninggal, seharusnya aku menjemputmu dan membawamu ke Yang-ciu tapi kau sudah mempunyai tempat lain, maka itu "
Hiat-kun mengerutkan dahi dan berkata.
"Kau mengira aku sudah mempunyai tempat untuk berteduh, karena itu kau tidak akan peduli lagi kepadaku?"
Dengan cepat Coh Thian-su berkata.
"Sumoi, jangan berpikir seperti itu, bukan aku tidak peduli padamu, karena aku tahu ada orang yang lebih kuat 10 kali lipat dariku menjagamu, dia pasti mau membantumu, jadi tidak memerlukanku lagi!"
Hiat-kun tertawa dan berkata.
"Aku tahu orang yang kau maksud adalah Wie Thian-hoan, apakah kau masih marah kepadanya?"
"Ilmu silatnya lebih baik dan ku, aku berteman denganmu pun belum lama, aku tidak berani marah kepadanya."
Hiat-kun tertawa dan berkata.
"Masih berkata tidak marah, kau marah kepadanya juga marah kepadaku. Toako kau sedikit pikun!"
Hati Coh Thian-su bergetar dan dia berkata .
"Aku salah apa? Mohon diberi petunjuk."
"Memang malam itu sebenarnya dia tidak boleh berlaku begitu kepadamu, memang dia salah, tapi itu masalah kecil mengapa kau selalu mengingat terus? Jangan hanya gara-gara dia, Toako tidak peduli lagi kepadaku "
Kata Coh Thian-su.
"Bukan aku tidak mau membantumu, aku hanya khawatir dia tidak suka bila melihatku bersamamu."
Tanya Hiat-kun dengan tertawa.
"Apakah kau bermaksud tinggal lama di rumah Su-giok?"
Coh Thian-su terpaku dan bertanya.
"Apa maksudmu?"
"Jawab dulu pertanyaanku?"
"Sudah kukatakan, aku akan pulang setelah mengantarmu ke rumah Su-giok, kemudian tinggal selama 2 hingga 3 hari setelah itu aku akan pulang dan berpisah denganmu."
Kata Hiat-kun.
"Kita disana juga belum tentu bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan, bila dia ada di rumah Kie, kita hanya akan bertamu selama 2 hingga 3 hari saja, apakah benar?"
Hiat-kun berkali-kali mengatakan 'kita', membuat Coh Thian-su ragu dan berkata.
"Bagiku memang seperti itu, tapi kau..."
Segera Hiat-kun berkata.
"Bagiku juga seperti itu."
"Apakah kau sudah siap bila tidak bertemu dengan Wie Thian-hoan kau akan langsung pergi juga?"
Kata Hiat-kun.
"Benar, aku berharap bisa bertemu dengan dia lagi juga berharap dia bisa membantuku, karena musuhku juga musuhnya tapi seumur hidup aku tidak bisa bergantung terus padanya, dia mau membantuku karena musuh kami sama. Bila dia tidak mau membantuku, juga tidak apa-apa aku tidak akan marah, kau tidak sama, aku bisa langsung meminta Toako membantuku karena kau adalah Suhengku."
Coh Thian-su berkata.
"Kita adalah Suheng-Sumoi, musuhmu juga musuhku, aku dan Wie Thian-hoan harus membantumu, tapi ada hal yang tidak kumengerti."
"Yang mana?"
"Kau bilang, kita tidak perlu sungkan karena kita adalah saudara seperguruan, apakah dalam hatimu aku lebih dekat daripada dia?"
Kata Hiat-kun.
"Benar, Wie Thian-hoan adalah tetanggaku waktu aku masih kecil, kami tumbuh bersama, tapi kau juga pasti banyak teman masa kecil. Kau adalah Suhengku, apakah kau tidak tahu Suheng-Sumoi hubunganya lebih dekat daripada tetangga?"
Jawaban dari Hiat-kun benar-benar di luar dugaan Coh Thian-su, tapi Coh Thian-su tidak menjawab lagi, sementara dia hanya bisa diam. Hiat-kun terus berkata.
"Karena itu walau di rumah Kie bertemu atau tidak dengannya, aku harus tetap harus pergi, kau juga tidak mau Sumoi mu diam terus di rumah orang lain bukan?"
Kata Coh Thian-su.
"Ini tidak bisa disebut diam di rumah orang lain.
"Aku dan keluarga Kie bukan saudara juga bukan teman baik, memang benar aku dan Nona Kie begitu bertemu sudah merasa cocok, tapi bila dibandingkan denganmu dia adalah orang lain."
Kata Coh Thian-su.
"Aku tidak mengatakan tentang keluarga Kie, aku bilang adalah Wie Thian-hoan, dia bukan orang lain, sekarang dia tinggal di rumah Kie, berarti dia juga keluarga Kie, tapi suatu hari dia pasti akan membentuk keluarga."
Kata Hiat-kun.
"Aku sudah mengatakan Wie Thian-hoan bukan orang lain, dia hanya teman baik sewaktu aku masih kecil, apakah selamanya aku harus bergantung padanya?"
"Aku kira...kira..."
"Kau mengira apa ?"
Pikir Coh Thian-su, 'Lebih baik jujur kepadanya.' Lalu dia berkata.
"Adik, aku mempunyai ganjalan, apakah kau mau dengar?"
"Katakanlah!"
"Wie Thian-hoan benar-benar mencintaimu, aku sudah bisa lihat walaupun kau belum menikah dengan Hie Tiong-gwee tapi kalian belum menjalankan adat pernikahan, suami istri belum resmi, apalagi sudah terbukti bahwa Hie adalah musuh yang membunuh ayahmu. Tidak perlu demi dirinya tidak mau menikah, bila kau menikah dengan Wei Tian Tuan itu sangat pantas, tidak perlu mendengar perkataan orang lain apalagi suatu hari nanti kebusukan Hie akan terbongkar. Waktu itu kau pasti tidak akan dicemooh orang-orang."
Hiat-kun menarik nafas dan berkata.
"Kata-kata Toako masuk akal, aku sudah tidak menganggap bahwa aku adalah istri Hie Tiong-gwee lagi. Tapi ada satu hal yang salah."
"Aku salah, di mana?"
"Aku hanya teman kecilnya, bukan kekasih lamanya."
"Aku mengira kalian saling menyukai.
"Kau salah, pada waktu kami berpisah, aku masih seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang belum mengerti cinta. Aku menyukainya hanya Sebagai Seorang kakak."
Hati Coh Thian-su bergetar dan berkata.
"Tapi Wie Thian-hoan benar-benar menyukaimu!"
"Mungkin dia tidak tahu yang mana disebut suka dan yang mana disebut cinta."
Kata Hiat-kun.
"Maksudmu kalian hanya adik kakak saja karena kedua keluarga kalian mendapat musibah. Bila mencari sebabnya mungkin dia menganggap keluargamu hancur karena ada kaitannya dengan keluarganya, karena itu dia merasa bersalah dan karena sudah lama tidak bertemu, maka dia semakin sayang kepadamu."
Hiat-kun terpaku dan menarik nafas, dia berkata.
"Toako, aku pernah melihat sepasang Tui-lian (semacam spanduk panjang), bagian atas adalah tentang semua hal di dunia seperti sebuah ilmu, yang bawah adalah mengerti perasaan orang seperti sebuah buku. Aku tahu kau sering membaca buku tidak disangka kau pun mengerti perasaan orang. Hati Hiat-kun terasa sakit, dia berpikir, 'Apakah perasaan Hoan Toako seperti yang diceritakan oleh Coh Toako?' Coh Thian-su menatap mata Hiat-kun, dengan pelan dia berkata.
"Karena merasa bersalah menjadi menyesal, karena menyesal menjadi sayang lama kelamaan berubah menjadi cinta."
Hiat-kun menghindari pandangan Coh Thian-su dan berkata.
"Aku pernah mengatakan walaupun aku bertemu dengan Wie Thian-hoan di rumah Kie, aku tetap akan pergi!"
Setelah mengatakan itu Hiat-kun tertawa.
"Karena itu kau tidak perlu memperhatikan apakah dia menyukaimu atau tidak. Saat kau pergi aku juga akan pergi."
Hiat-kun jelas-jelas mengatakan tidak mempedulikan Wie Thian-hoan. Hati Coh Thian-su bergetar, dia hampir mendengar detak jantungnya sendiri, dengan bercanda dia berkata.
"Apakah kau tidak keterlaluan bersikap seperti itu kepada Wie Thian-hoan, tapi dia tetap tidak ingin kau pergi darinya."
"Kau salah lagi, apakah kau tidak tahu bahwa ada seseorang yang mencintainya? Orang ini lebih-lebih tidak dapat dia tinggalkan, dia tidak lagi bertemu denganku, awalnya dia akan merasa sedih tapi bila sudah lewat waktu yang lama, dia akan baik-baik saja. Bila dia sudah mendapat jodoh yang dia cintai, lambat laun dia akan melupakanku."
"Siapakah dia?"
Tanya Coh Thian-su.
"Dia dekat denganmu."
"Apakah sekarang dia berada di dalam perahu?"
Hiat-kun tertawa dan berkata.
"Benar, bila sudah tahu jangan bertanya lagi!"
"Apakah Wie Thian-hoan mencintainya?"
"Aku kira begitu, sewaktu aku bersamanya selama 2 hari, dia selalu mengkhawatirkan Sumoinya karena saat itu dia belum meninggalkan Lok-yang. Apakah ini bukan disebut cinta? Hanya saja dia tidak mengatakannya kepadaku."
Kie Su-giok dalam hati sangat gembira, dia berpikir, 'Wie Toako masih ingat kepadaku, dia tidak membohongiku.' Kie Su-giok yang teringat lagi pada kata-kata Wie Thian-hoan malam itu.
Wie Thian-hoan ingin kembali lagi mencari Hiat-kun, kemudian menyuruhnya pulang sendiri.
Dia tidak mau dan marah kepada Wie Thian-hoan, tidak perlu mencintai perempuan yang sudah melupakannya, waktu itu Wie Thian-hoan tertawa kecut dan berkata.
"Adik, kau tidak mengerti, dia adalah teman waktu aku masih kecil dulu, aku hanya tidak mau dia menikah dengan Hie Tiong-gwee yang aku benci."
Waktu itu Wie Thian-hoan belum cukup mendapat bukti bahwa Hie Tiong-gwee adalah pembunuh ayahnya, tapi sudah tahu bahwa Hie Tiong-gwee adalah pendekar palsu.
Dia hanya menjelaskan alasan ingin bertemu dengan Hiat-kun.
Sekarang dia menguping pembicaraan antara Hiat-kun dengan Coh Thian-su.
Bagi gadis yang mata hatinya baru terbuka karena cinta, dia selalu percaya bahwa Hoan Toako benar-benar mencintai dia.
Tapi dia juga masih ada sedikit keraguan, dia berpikir, 'Kelihatannya Cici Hiat-kun sudah bisa mencintai Suhengnya, bila mereka bisa saling mencintai, itu sangat bagus!"
Terdengar Coh Thian-su berkata lagi.
"Dua hari lagi aku akan berpisah denganmu, kau juga tidak ingin lama-lama di rumah Kie, kalau begitu mungkin kita tidak akan berpisah secepat itu."
Sebenarnya Coh Thian-su ingin mengundang Hiat-kun ke rumahnya, tapi takut bila berkata sembarangan malah akan membuat Hiat-kun menjadi ketakutan, dia hanya mencoba Kata Hiat-kun dengan tertawa.
"Apakah kau tidak takut dengan masalahku?"
"Kita adalah Suheng-Sumoi, bukan orang lain!"
"Yang aku maksud adalah apakah kau tidak takut namamu akan tercemar?"
"Apakah kau takut Hie Tiong-gwee akan menyalahkanku karena menculik istrinya?"
"Malam itu dia sudah berkata seperti itu."
"Malam itu kau ditolong oleh Wie Thian-hoan."
Kata Hiat-kun.
"Aku juga tahu mereka mencurigai bahwa antara aku dan Wie Thian-hoan ada perasaan cinta, aku tidak takut Wie Thian-hoan tercemar namanya, karena begitu Wie Thian-hoan menikah dengan Sumoinya, gosip ini akan mereda dengan sendirinya."
"Aku juga tidak takut."
Dengan lembut Hiat-kun bertanya.
"Di rumahmu masih ada siapa?"
"Ayah, ibu, dan adik perempuanku."
"Apakah ibumu ini adalah ibu kandung?"
Tanya Hiat-kun.
"Ibuku sudah lama meninggal, tapi ibu tiriku sudah seperti ibu kandungku "
Kata Hiat-kun.
"Kalau begitu, nasibmu lebih baik, apakah masih ada yang lain?"
"Kami sekeluarga hanya ada 4 orang."
Kata Hiat-kun.
"Kalau begitu kau belum menikah?"
Coh Thian-su tampak malu dan berkata.
"Jangan menertawakanku, persyaratanku terlalu tinggi, banyak yang mencomblangiku tapi sebelum berada di Lok-yang, sepertinya tidak ada perempuan yang ada di hatiku."
Ini artinya setelah dia tiba di Lok-yang, dia sudah menemukan perempuan yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sengaja Hiat-kun bertanya.
"Apakah gadis itu adalah Nona Kie?"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Jangan berkata seperti itu, bila terdengar Wie Thian-hoan, dia akan marah."
Kata Hiat-kun.
"Kau belum menikah, mengapa tidak takut pada gosip yang akan beredar? Toako, bila aku bersamamu, aku akan merusak namamu, di kemudian hari bila kau bertemu dengan gadis yang kau cintai, gadis itu tidak akan berani menikah denganmu."
Wajah Coh Thian-su menjadi merah, jantungnya berdebar-debar terus, saat itu dia hampir melamar Hiat-kun tapi dia tidak berani. Setelah lama dengan suara bergetar dia berkata.
"Kau tidak takut, aku pun seperti itu."
Suaranya bergetar, jarinya pun gemetar, sebenarnya dia ingin memegang tangan Hiat-kun, tapi entah mengapa dia tidak bisa menggerakkanjari-jarinya,diahanyamenungguadik seperguruannya.
Hiat-kun melihat dia, dalam hati dia ingin tertawa dan berkata pada dirinya sendiri.
"Bila sandiwara ini diteruskan, mungkin dia akan menganggapku tidak tahu diri."
Dia tidak menjawab, tiba-tiba dia mendapat ide, begitu Coh Thian-su semakin mendekatinya, tiba-tiba Hiat-kun menjabat tangan Coh Thian-su.
Coh Thian-su sangat gembira, dia ingin mengungkapkan cintanya kepada Hiat-kun, tiba-tiba dia merasa Hiat-kun sedang menulis kata-kata di telapak tangannya.
Coh Thian-su menenangkan diri, mencoba menebak coretan hurufnya.
Hiat-kun mengulanginya lagi, Coh Thian-su baru mengerti apa yang ditulis oleh Hiat-kun.
Kata-kata yang ditulis Hiat-kun adalah.
di depan Nona Kie, tolong bersikap intim denganku.
Coh Thian-su bukan orang bodoh, sekarang dia baru mengerti!
Perasaannya langsung membeku.
Langit sudah tertutup oleh awan hitam, sinar bulan semakin menghilang, suasananya gelap seperti hati Coh Thian-su.
Walaupun perasaannya beku tapi dia tetap berkata.
"Adik, kau tidak takut gosip, ini sangat baik, aku ingin..."
Kata-kata Coh Thian-su begitu sederhana, tapi dia tidak mengatakannya dengan jelas, Hiat-kun merasa Coh Thian-su sepertinya kecewa. Hiat-kun menarik kembali tangannya, dengan lembut dia berkata.
"Coh Toako, kau sedang memikirkan apa?"
Hati Coh Thian-su sangat sedih, Coh Thian-su merasa kelembutan Hiat-kun hanya pura-pura. Tapi dia mengerti maksud Hiat-kun, dalam hati dia berkata.
"Aku masih harus membantu sandiwaranya."
"Ayahku bila tahu ada gadis yang kusuka, dia pasti akan senang. Bagaimana apa kau jadi ikut denganku pulang ke Yang-ciu?"
"Ayahmu adalah paman guruku, seharusnya aku bertemu dengan beliau."
Kata Hiat-kun.
"Bila kau mau, kau bisa menganggap rumahku adalah rumahmu juga."
Kata Hiat-kun .
"Aku tidak punya rumah dan juga saudara, sekarang pun tidak ada tempat untuk berteduh. Toako, terima kasih kau mau menerimaku di rumahmu."
Kata-kata ini keluar dari dalam hatinya, dari suaranya terdengar dia hampir menangis Dalam hati Coh Thian-su juga merasa sedih. Dia hanya bisa berkata.
"Sumoi, jangan begitu, sebenarnya kita adalah satu keluarga. Apakah benar?"
Tidak sengaja mereka saling berpegangan tangan, kali ini mereka tidak berpura-pura.
Mereka tidak bicara lagi, awan hitam pun masih menutupi bulan.
Kie Su-giok pura-pura tertidur, tapi semua percakapan mereka dia sudah dengar, hatinya pun bergejolak.
Tapi dia bukan sedih, benar dia memang seperti Hiat-kun matanya sudah penuh dengan air mata, tapi air matanya adalah air mata gembira.
"Cici Hiat adalah si Cantik dari Lok-yang, bila Coh Thian-su tahu Sumoinya mencintai dia, pantas dia sangat gembira hingga tidak bisa bicara."
Dia berpikir, 'Mengapa mereka terdiam?
Apakah karena mereka juga merasa gembira?' Tiba-tiba dia merasa ada seseorang mendekatinya.
Dia memejamkan mata pura-pura tidur, tapi dia merasakan nafas orang itu.
Dia mengira Hiat-kun sudah kembali, dia takut ketahuan karena itu dia pura-pura tidur.
Jari orang itu dengan lembut memegang rambutnya dengan ringan sangat sangat ringan seperti angin musim semi yang berhembus.
Tapi Kie Su-giok tahu, angin itu bukan masuk melalui jendela, dia juga merasa jari-jari orang itu gemetar.
Dia sangat terkejut, segera dia membuka matanya, pura-pura terbangun dan tidur, tapi tangannya sudah mencengkramnya.
Kie Su-giok mengeluarkan serangan dengan cepat, tapi orang ini tetap tidak terkena serangannya Dia sering berlatih senjata rahasia, asal tidak berlalu gelap paling sedikit dia bisa tahu sosok orang itu.
Tapi sekarang dia tidak bisa melihat apa-apa.
Hanya merasa ada angin lewat, orang itu sudah menghilang.
kali ini dia benar-benar terkejut.
"Cici Hiat! Cici Hiat!"
Dia berteriak sekencang-kencangnya Hiat-kun menyahut dari luar.
"Adik Giok, kau sudah bangun?"
Dia mendengar Kie Su-giok berteriak, dia pun terkejut.
"Apakah tadi dia tidak tertidur? Begitu terbangun tidak melihatku kemudian sengaja berteriak?"
"Cici Hiat, kau ada di mana? Apakah tadi kau masuk ke kamarku?"
Suara Kie Su-giok terdengar gemetar. Hiat-kun terpaku dan berkata.
"Kau jangan takut, tadi aku dan Coh Toako sedang mengobrol sebentar lagi dia akan menemuimu."
Hiat-kun mengira Kie Su-giok sedang bermimpi buruk. Bulu kuduk Kie Su-giok merinding dan berteriak.
"Tadi di depan tempat tidurku ada seseorang."
"Apa? Ada orang? Mengapa bisa begitu?"
Belum habis kata-katanya, Coh Thian-su pun berkata.
"Aneh, tadi juga aku merasakan ada seseorang..."
Awan hitam sudah menghilang, Coh Thian-su melihat ke darat dia seperti melihat ada bayangan orang, tapi hanya sebentar kemudian menghilang.
Tadi dia merasakan perahu sedikit bergoyang menurut pengalamannya ini bukan karena gelombang air.
Kata Coh Thian-su.
"Temanilah Nona Kie, aku akan ke darat untuk melihat."
Hiat-kun setengah percaya dan masuk ke dalam perahu. Kie Su-giok sudah menyalakan lampu, wajahnya masih penuh tanda tanya. Tanya Hiat-kun.
"Apakah tadi kau bermimpi buruk?"
"Sejak tadi aku sudah bangun, aku tidak bermimpi. Coh Toako pun berkata seperti itu."
Dalam keadaan seperti itu terpaksa dia mengaku, tidak menutup-nutupi lagi bahwa dia tadi pura-pura tertidur.
Sekarang Hiat-kun percaya.
Siapa yang mempunyai ilmu silat begitu tinggi?
Bisa menipu mata Coh Thian-su dan Hiat-kun?
dia bisa masuk ke dalam perahu tanpa diketahui oleh mereka sama sekali, setelah meninggalkan perahu mereka baru merasa curiga.
Mereka sedang mengobrol dan langit tertutup oleh awan hitam.
Tingginya ilmu silat orang itu membuat Hiat-kun sangat terkejut.
"Walaupun orang itu tidak berniat jahat, siapakah dia?"
Hiat-kun jadi bingung Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan dalam pikirannya dan dia menjawab sendiri.
"Dia pasti Hoan Toako, dia mendengar percakapanku dan Coh Thian-su. Dia mengira aku menyukai Coh Thian-su, dia sedih kemudian pergi diam-diam."
"Adik, kau tenang dulu, aku akan lihat siapa dia? Aku takut Coh Toako mengalami masalah."
Hiat-kun mencari alasan dan menuju daratan.
Dia bukan mau menjelaskan kepada Wie Thian-hoan, dia lebih suka Wie Thian-hoan salah paham.
Apakah dia takut Wie Thian-hoan dan Coh Thian-su bertengkar?
Ini juga bukan alasannya, dia tahu sifat Wie Thian-hoan yang sombong, bila Wie Thian-hoan sudah mendengar percakapan itu dia hanya akan bersedih tapi tidak akan memukul Coh Thian-su untuk melampiaskan kemarahan.
Hiat-kun pun tidak ingin bertemu dengan Wie Thian-hoan tapi mengapa dia menyusul Coh Thian-su?
Mungkin Hiat-kun juga tidak tahu alasannya.
Hatinya sangat kacau.
Yang dipikirkan Hiat-kun juga dipikirkan oleh Kie Su-giok Dia melihat Hiat-kun dengan cepat lari ke darat, dia pikir, itu pasti Wie Toako!
Dengan sembunyi-sembunyi dia melihatku tapi mengapa Wie Toako tidak datang dengan terang-terangan saja?
Apakah dia takut diketahui oleh Hiat-kun?
Apakah dia merasa malu?
Atau dia masih ada perselisihan dengan Coh Toako?"
Dia juga mencari alasan mengapa Wie Thian-hoan tidak datang dengan terang-terangan? Dia berharap Wie Toako akan kembali.
"Bila Wie Thian-hoan tahu bahwa Hiat-kun menyukai Coh Toako, dia pasti akan kembali ke sisiku, tapi aku berharap dia cepat kembali."
Gadis yang jatuh cinta selalu berpikir yang muluk-muluk tapi kali ini dia kecewa karena Wie Toakonya tidak kembali.
Kie Su-giok dan Hiat-kun berpikir seperti itu, demikian juga dengan Coh Thian-su, dia mengira orang itu adalah Wie Thian-hoan.
Coh Thian-su berpikir seperti Hiat-kun, dia mengira Hiat-kun sudah jatuh cinta kepadanya kemudian Wie Thian-hoan mendengar dan beilaii keluar.
"Sekarang harus bagaimana?"
Biasanya Coh Thian-su sangat tegas dalam mengambil keputusan, sekarang dia pun kebingungan.
Dia berlari di atas pohon, hanya terdengar burung yang terkejut karena Coh Thian-su terbang, tapi bayangan orang itu tidak ada.
Di darat ada sebuah gunung Coh Thian-su tahu Wie Thian-hoan tidak akan terkejar olehnya.
Tapi dia tetap mencoba.
"Wie Toako, tunggulah sebentar, aku akan bicara denganmu!"
Dia memakai ilmu mengirim suara dari jauh untuk menyampaikan kata-kata ini.
Walaupun ilmunya tidak setinggi Wie Thian-hoan tapi bila Wie Thian-hoan bersembunyi di balik semak-semak, dia pasti bisa mendengarnya.
Dia berharap Wie Thian-hoan belum jauh, karena dia tahu Wie Thian-hoan sangat mencintai Hiat-kun.
"Mungkin sekarang dia sedang mengobati lukanya,"
Pikir Coh Thian-su. Coh Thian-su berharap bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan, kemudian menjelaskan semuanya.
"Harus -bagaimana menjelaskannya, Hiat-kun demi Su-giok mengorbankan diri."
Bila dia menjelaskannya kepada Wie Thian-hoan rencana Hiat-kun akan gagal.
Bila dia tidak menjelaskannya Wie Thian-hoan akan salah paham kepadanya.
Dia disalahkan tidak apa-apa tapi Hiat-kun yang akan menjadi korbannya.
"Dia sudah begitu menderita, apakah aku akan terus membuatnya sakit hati hingga dia tua? Aku harus menyatukan Wie Thian-hoan dan Jian Hiat-kun. atau harus menyatukan Wie Thian-hoan dan Kie Su-giok?"
Apakah dia harus memasuki putaran cinta ini?
Ini pertanyaan yang sulit dijawab.
Dia kebingungan dan dia berharap bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan di gunung itu tidak ada suara apa-apa hanya terdengar gema suaranya saja.
"Wie Toako, bila kau tidak mau bertemu denganku, temuilah Hiat-kun!"
Coh Thian-su berteriak.
Tiba-tiba dia mendengar ada seseorang yang menarik nafas, Coh Thian-su sangat gembira sekaligus terkejut, segera dia berlari ke gunung itu.
Yang menyambut dia bukanlah Wie Thian-hoan melainkan 2 butir batu kecil.
Dua butir batu kecil itu terbang dengan suara mendesing keras, sekali mendengar sudah tahu bahwa tenaga batu itu sangat besar.
Orang yang belajar silat selalu mempunyai jurus untuk melindungi diri.
Begitu juga dengan Coh Thian-su, dalam keadaan seperti ini dia mengeluarkan Poan-koan-pit untuk menangkis senjata rahasia itu.
Batu pertama berhasil dipukul olehnya, batu kedua hampir mengenai jalan darah yang mematikan, dia sudah tidak dapat mengelak lagi.
Waktu itu Coh Thian-su sudah tahu bahwa Wie Thian-hoan akan mencabut nyawanya.
Dia akan mati karena disangka 'musuh cinta', sungguh sangat tidak berharga.
Belum habis Coh Thian-su berpikir, batu itu sudah membelok dari arah atas ke bawah, kemudian terdengar suara 'BUG', batu itu mengenai jalan darah di lutut Coh Thian-su.
Batu terbang dengan kekuatan penuh tapi pada saat mengenai lututnya terasa tidak begitu bertenaga.
Bayangan orang itu masih tidak terlihat, batu itu datang dari tempat jauh, tapi caranya begitu unik.
Ini saja sudah membuat Coh Thian-su terkejut.
"Tidak disangka ilmu silat Wie Thian-hoan lebih tinggi dari perkiraanku, ilmu silat Kie Yan-gan saja aku belum pernah lihat, dari semua pesilat yang pernah aku temui, hanya orang yang menolong Ting Po yang bisa disetarakan dengan dia,"
Pikir Coh Thian-su.
Dia tidak tahu bahwa orang yang misterius ini dengan orang yang menolong Ting Po adalah orang yang sama.
Ting Po pun disentil dengan batu kecil di lutut tapi pada saat itu Coh Thian-su, Kie Su-giok dan Hiat-kun sudah meninggalkan tempat itu.
Coh Thian-su tidak tahu siapa orang itu dan tetap menganggap dia adalah Wie Thian-hoan.
Pertama, karena orang itu tidak mau membunuhnya, tenaga dalamnya cukup kuat, walaupun terkena pukulan batu itu, dia hanya merasa sedikit sakit, tapi jalan darahnya tidak tertutup, walau bagaimana pun dia tetap harus duduk beristirahat.
Batu yang dilontarkan oleh Wie Thian-hoan sudah menjadi bukti yang jelas bahwa dia tidak ingin bertemu denganku.
Dia mengejutkanku dengan cara seperti ini, ilmu silatnya begitu tinggi, dia sebenarnya tidak perlu memakai cara seperti ini karena aku pun tidak akan bisa mengejarnya,"
Pikir Coh Thian-su. Pada saat dia sedang melonggarkan jalan darahnya, terdengar Hiat-kun berteriak dan berlari ke arahnya.
"Toako, apakah kau terluka?"
Coh Thian-su tertawa.
"Untung dia tidak mau membunuhku, dan aku juga tidak terluka."
Hiat-kun bertanya.
"Siapakah dia?"
Hiat-kun berkata dia, tapi Coh Thian-su sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Hiat-kun. tiba-tiba Coh Thian-su bergerak dan dia menjawab.
"Aku pun tidak tahu siapa dia."
Ternyata begitu Hiat-kun bertanya, dia ingat sewaktu di rumah Hie Tiong-gwee pada saat dia pertama kali bertemu dengan Wie Thian-hoan, dia belum tahu siapa Coh Thian-su sebenarnya.
"Waktu itu dia mengira aku menculik adik seperguruannya, begitu bertemu dia menyerang dengan ganas. Walaupun aku sudah bertarung dengan Tuan Kiam-ta, aku masih dapat menahan serangannya, walaupun akhirnya aku ditotok. Waktu itu bukan karenaa dia mau membenciku, tapi malam ini ilmu silatnya tidak mungkin maju begitu pesat."
"Aku belum tahu siapa dia,"
Coh Thian-su menjawab dengan penuh keraguan "Mungkin dia, berarti dia tidak akan ke rumah Kie dan berkumpul dengan kita."
Kata Coh Thian-su.
"Kalau begitu, lebih baik aku pulang dulu, dia tahu aku tidak bersamamu maka dia akan menemuimu."
Dengan lembut Hiat-kun berkata.
"Toako, apakah kau marah?"
"Tidak, tapi..."
"Tapi apa? Bukankah kau sudah berjanji akan tetap bersamaku, mengapa sekarang kau mau meninggalkanku?"
Kata Coh Thian-su.
"Sudah kukatakan aku berharap kalian bisa berkumpul kembali, bila aku bersamamu, dia tidak akan mau bertemu denganmu."
"Aku juga pernah berkata, di rumah Kie bertemu atau tidak dengan dia, itu tidak berarti apa-apa. Apakah kau sudah lupa? Karena aku ingin melepaskan diri darinya, maka itu aku meminta tolong kepadamu. Toako, bila kau tidak mau mengerti diriku, biarlah aku ke ibukota seorang diri mencari musuhku dan kau mengantar Nona Kie pulang."
Tadinya Coh Thian-su tidak ingin mengantar mereka berdua, tapi adiknya dengan lembut meminta dan dia pun sebenarnya ingin mencari tahu hubungan antara ibu tirinya dengan keluarga Kie.
Pertanyaan ini sudah lama tersimpan di hatinya dan sangar erat hubungan dengannya, akhirnya dia berkata.
"Baiklah, kita sama-sama mengantar Nona Kie pulang."
Kata Hiat-kun.
"Kita di rumah hanya 3 hari, kau juga tidak perlu bersama-sama denganku terus, setelah sampai di rumah Kie sebaiknya kita berpisah, aku hanya bilang ingin ikut pulang denganmu."
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Adik, sepertinya kau sedang marah kepadaku."
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya, aku tidak dapat mengikutimu, aku benar-benar ingin mencari musuhku."
"Aku juga sudah mengatakan bahwa aku tidak takut dilibatkan dengan urusanmu, ini juga suara hatiku tapi aku tidak ingin bercerita kepada Nona Kie."
Hiat-kun menjadi terharu, dia memegang tangan Coh Thian-su dan berkata.
"Toako, aku benar-benar membuatmu tersiksa!"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Kau Yang lebih tersiksa lagi, aku tidak apa-apa."
Dua kalimat ini membuat Hiat-kun meneteskan air mata, dia teringat dia hampir tertipu menjadi istri dari musuhnya dan dihina oleh keluarga Hie, sekarang kata-kata Coh Thian-su membuatnya menangis, dalam hati dia berpikir, 'Sayang kita terlambat bertemu, hatiku sudah kuserahkan kepada Hoan Toako.
Coh Toako, aku tidak dapat menerima cintamu.' Hati Coh Thian-su juga bergetar dan dia berkata.
"Adik, apakah aku sudah salah bicara? Melihatmu..."
Masih dengan menangis Hiat-kun berkata.
"Toako, kau tidak bersalah, nasibku yang tidak baik. Toako, maafkan aku, tapi Nona Kie juga kasihan bila tidak mendapatkan Hoan Toako. Dia akan sangat sedih, lagi pula dia masih muda dan polos, biarlah nasibku tidak baik, tapi aku tidak akan membuatnya sedih. Toako, aku minta demi diriku dan demi Nona Kie, bisakah kau bertahan dengan siksaan ini?"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Kau bilang kasihan kepadanya, tapi aku iri dengan nasib baiknya, dia memiliki cici sebaik dirimu, mengapa dia harus sedih? Kau membiarkan orang beruntung."
Tidak terasa Coh Thian-su sudah mulai marah.
Percakapan mereka belum selesai, tapi mereka sudah mengerti hati masing-masing.
Coh Thian-su sudah tahu Hiat-kun mencintai Wie Thian-hoan, Hiat-kun juga tahu bahwa Coh Thian-su mencintainya.
Tapi masih mau bersandiwara dengan Hiat-kun agar hati Kie Su-giok menjadi tenang.
"Coh Thian-su sebenarnya adalah orang yang sombong tapi demi diriku dia mau melakukan Segalanya, hal ini membuatnya tersiksa."
Dia sangat berterima kasih sekaligus merasa bersalah, dia memegang tangan Coh Thian-su lebih erat lagi.
"Toako, hatimu sangat baik, kau akan bernasib baik, kelak pasti akan ada..."
Yang ingin dia katakan adalah. 'Kelak akan ada gadis haik yang akan mencintaimu.' Tapi dia tidak mengutarakannya.
"Jangan bicara lagi, kita harus kembali lagi untuk melihat Nona Kie yang bernasib baik,"
Kata Coh Thian-su.
Tiba-tiba hujan gerimis, kaki Coh Thian-su masih belum bisa berjalan dengan lancar.
Jalan begitu licin, dia baru saja mau melepaskan tangan Hiat-kun, dia sudah hampir jatuh.
Kata Hiat-kun.
"Toako, kau tidak perlu berpura-pura kuat, aku akan memapahmu."
Sebenarnya Coh Thian-su bisa berjalan sendiri, tapi dia tetap membiarkan Hiat-kun menuntun jalannya.
Dalam hati dia berpikir, 'Kau melakukan ini agar Kie Su-giok melihatnya, aku akan ikut memainkan sandiwara ini.' Dan Kie Su-giok melihat sandiwara ini.
Melihat mereka pulang sambil berpegangan tangan, hatinya sedikit kecewa karena Wie Toako Luak ikul dengan mereka.
Tapi yaiig paluig mendominasi adalah rasa gembira, dia berpikir.
"Aku tidak salah, mereka saling mencintai, Wie Toako mungkin marah dan tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Tapi dia pasti akan kembali ke sisiku, aku takut mereka malu, aku tidak akan membiarkan mereka tahu bahwa aku sudah melihat mereka " ---ooo0dw0ooo---B. Sangat sayang anak Di gunung itu juga ada orang yang melihat sandiwara itu. Dia adalah ayah Kie Su-giok. sebenarnya dia ingin membunuh Coh Thian-su tapi sekarang dia lebih senang menonton sandiwara ini. Dia tidak tahu bahwa semua ini hanya sandiwara, karena Coh Thian-su dan Hiat-kun memakai ilmu mengirimkan suara dalam bercakap-cakap maka dia hanya bisa melihat tapi tidak dapat mendengar. Hujan kecil ini seperti hatinya, walaupun tidak deras tapi seperti angin topan yang membawa bencana. Dia melihat mereka kembali ke dalam perahu, dalam hati berpikir.
"Bocah ini nasibnya bagus, satu jam yang lalu bila aku tidak melihat mereka seperti itu, aku akan membunuh bocah tengik itu begitu juga dengan perempuannya."
Mengapa dia dengan cepat berubah pikiran?
Karena dalam waktu 1 jam dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya.
Dia seperti anak kecil yang menghisap jempolnya, karena ke 2 jarinya pernah memegang rambut putrinya.
Dia melihat putrinya tertidur dengan nyenyak juga mendengar igauan putrinya yang memanggil-manggil 'Hoan Toako'.
Percakapan Hiat-kun dan Coh Thian-su di perahu, dia pun sudah mendengarnya.
Sekarang dia sudah mengetahu 3 hal.
Pertama, putrinya mencintai Wie Thian-hoan.
Kedua, yang dicintai oleh Wie Thian-hoan adalah Hiat-kun.
Ketiga, yang dicintai Hiat-kun adalah Suhengnya, Coh Thian-su.
Tapi dia tidak tahu bahwa ketiga hal itu ada yang benar dan ada yang salah.
Yang dia pikirkan adalah bagaimana cara agar putrinya bahagia.
"Wie Thian-hoan, sepertinya nama ini aku kenal."
Dia segera memikirkan Suhengnya, Wie Seng-kong.
Sebelum dia meninggalkan rumah, Wie Seng-kong belum meninggal, ayahnya sering mengkhawatirkan dia dan putra Wie Seng-kong.
Tapi dia juga ingat, ada seseorang yang pernah menyebut nama Wie Thian-hoan.
"Wie Thian-hoan, namanya asing di dunia persilatan, tapi nama Hui-thian banyak yang tahu."
"Benar. Wie Thian-hoan adalah Hui-thian-sin-liong,"
Akhirnya dia terpikir juga ke sana.
Yang memberitahu julukan Wie Thian-hoan sebagai Hui-thian-sin-liong adalah teman barunya yang bernama Tong Hwai-ie.
Walaupun dia baru berkenalan dengan Tong Hwai-ie tapi dia sudah tahu nama itu sejak dulu.
Tong Hwai-ie hanya orang biasa, tapi kakaknya Ho-ie lebih terkenal di dunia persilatan.
Kakaknya yang lain Tong Hwie-yan dengan ayah Kie Lek-beng bersahabat.
Saudara angkatnya lebih terkenal lagi, dia adalah Pendekar Ho Cing-kim.
Ho Cing-kim walaupun tidak ada hubungan dengan keluarga Kie tapi Kie Lek-beng sebelum terkenal sudah sering mendengar nama kedua orang itu Perasaan Kie Lek-beng terhadap ayahnya sangat rumit, dia takut bertemu dengan ayahnya tapi juga rindu kepadanya.
Dia kenal dengan semua teman ayahnya, dia bertemu dengan teman ayahnya yang tidak pernah bertemu dengannya, dia juga tidak akan memberitahu bahwa dia adalah putra pesilat nomor satu di dunia persilatan.
Dia berharap bisa mendapat kabar tentang ayahnya dari mulut Tong Hwai-ie, tapi Tong Hwai-ie sama sekali tidak menyinggungnya.
Pembicaraannya dimulai dari 'Hui-thian-sin-liong', Tong Hwai-ie tidak tahu siapa dia, tapi dia tahu bahwa silatnya sangat tinggi.
Pernah sekali Kie Lek-beng ditanya.
"Selama 2 tahun ini di dunia persilatan muncul penjahat kelas kakap yang dijuluki 'Hui-thian-sin-liong', apakah kau tahu?"
Kie Lek-beng menjawab.
"Sepertinya aku pernah mendengar, tapi aku tidak begitu memperhatikannya Bagaimana dengan silatnya nun aku tidak tahu Apakah dia memang sangat jahat?"
Dari kehidupannya sendiri dia merasa kabar di dunia persilatan kebanyakan terlalu mengada-ada. Kata Tong Hwai-ie.
"Benar, kabar di dunia persilatan kadang-kadang terlalu mengada-ada, tapi Hui-thian-sin-liong adalah penjahat kelas kakap, aku bisa melihat dengan jelas."
Kata Kie Lek-beng.
"Coba kau ceritakan beberapa kejahatannya yang pernah kau dengar?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Apakah kau kenal dengan Ketua Lui dan Ketua Li?"
"Aku pernah mendengar nama mereka, apa hubungan mereka dengan Hui-thian-sin-Uong?"
Jawab Kie Lek-beng.
"Kepala Ketua Lui dipenggal dan mata Ketua Li ditusuk hingga buta"
Dalam hati Kie Lek-beng berkata.
"Kedua orang itu bukan benar-benar orang baik, mereka memakai nama pendekar. Tapi kejahatan mereka lebih banyak daripada kebaikan. Hui-thian-sin-liong memenggal dan menusuk hingga buta, ini bukan kejahatan "
Tapi dia tidak ingin berdebat dengan Tong Hwai-ie, dia hanya berkata.
"Mereka berdua walaupun tidak nomor satu ilmu silatnya, tapi mereka bisa digolongkan pesilat tangguh. Kalau begitu silat Hui-thian benar-benar hebat."
Kata Tong Hwai-ie.
"Dia sudah melukai 2 orang ini, Pendekar Soasay juga dirugikan dan hal itu membuat orang menjadi marah."
Kie Lek-beng terkejut dan berkata.
"Apakah dia adalah Ho Cing-kim?"
"Benar, Pendekar Ho adalah kakak angkatku, karena itu aku harus membantu dia membala dendam."
Dalam hati Kie Lek-beng berkomentar, 'Kakak angkatmu orangnya seperti apa?
Apakah kau tahu bahwa dia juga berpura-pura menjadi orang baik, lebih-lebih daripada Ketua Lui dan Ketua Li?
Kakak angkatmu sebenarnya juga penjahat."
Ternyata 20 tahun yang lalu sewaktu Kie Lek-beng berteman dengan orang-orang dunia hitam, dia sudah tahu bahwa Ho Cing-kim adalah pendekar yang menerima hasil barang kejahatan, tapi karena Ho Cing-kim adalah orang yang bermuka dua, banyak yang menyangka bahwa dia adalah Pemimpin wilayah Soasay.
Tanya Kie Lek-beng.
"Apakah kakak angkatmu juga dirugikan?"
"Hui-thian memotong sepasang telinganya,"
Jawab Tong Hwai-ie.
"Jurus Pendekar Ho sangat hebat, mengapa dia bisa dipotong telinganya? Berarti julukan Hui-thian benar-benar cocok untuknya, siapakah gurunya?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Kami belum tahu identitasnya, tapi sudah diketahui siapa namanya, dia adalah Wie Thian-hoan. Apakah kau pernah mendengar nama ini?"
Sepertinya Kie Lek-beng pemah mendengar tapi karena dia baru kembali lagi ke dunia persilatan, yang dipikirkannya saat itu adalah nama dan hal-hal yang ada hubungannya dengannya.
Dia tidak peduli dengan masalah orang lain, walaupun merasa kenal tapi dia tidak menelusuri lebih jauh lagi.
"Berapa usia Wie Thian-hoan?"
"Mungkin ada 20 tahun lebih,"
Jawab Tong Hwai-ie. Kie Lek-beng menggelengkan kepala dan berkata.
"Aku pasti tidak mengenal orang itu, orang yang kukenal sudah berumur 40 tahun lebih."
Kemudian dia berkata lagi.
"Dia masih begitu muda tapi sudah bisa memotong telinga Pendekar Ho, benar-benar di luar dugaanku, bila ada waktu aku ingin bertemu dengannya."
Tong Hwai-ie sangat senang dan berkata.
"Kakak Kie, justru aku ingin meminta bantuanmu untuk menghadapi Hui-thian." ' "Apakah kau tahu dia berada di mana?"
"Sudah banyak orang yang mencarinya, bila kau memang berniat, kita bisa sama-sama pergi ke rumah Hie Tiong-gwee untuk memberi selamat atas pernikahannya. Waktunya adalah bulan depan tanggal 15, Hie Tiong-gwee adalah pendekar ternama lebih terkenal dari Ho Cing-kim."
"Mengapa aku bisa tidak tahu ada orang yang begitu terkenal? Tapi apa hubungannya dengan Hui-thian?"
"Ada perselihan antara Hie Tayhiap dan Hui-thian yang sangat dalam, sudah banyak orang yang akan datang ke rumah Hie."
Kata Kie Lek-beng.
"Kalau begitu kalian belum tahu Hui-thian sekarang ada di mana? Apakah dia akan datang ke tempat Hie?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Hie Tayhiap mempunyai pergaulan yang luas, pasti dia akan tahu, kita bisa ke rumah Hie, bila berteman dengannya juga tidak ada ruginya."
Kie Lek-beng tertawa dan berkata.
"Rumahnya terlalu besar, aku mempunyai sifat yang aneh, aku tidak suka berteman dengan orang terkenal, apalagi aku ingin santai tidak suka terikat Aku ingin bertemu dengan Hui-thian tapi bukan untuk bertarung "
Dari kata-katanya dia memberitahu Tong Hwai-ie bahwa dia tidak ingin mencari musuh.
Tong Hwai-ie sangat kecewa, dalam hati berpikir, 'Jangan salahkan dia, kami belum benar-benar akrab!' Kemudian dia berkata.
"Bila kau tidak mau membantu, tolong carikan orang yang bisa mengalahkan Hui-thian, dia sangat sulit dikalahkan."
Kata Kie Lek-beng.
"Kau bilang Hie Tayhiap pergaulannya sangat luas, kakakmu juga ketua pengiriman barang di ibukota, pasti banyak pendekar dunia persilatan yang kenal dengan kakakmu."
Kata Tong Hwai-ie.
"Aku tidak mau berbohong, memang banyak pesilat tangguh yang mempunyai hubungan erat dengan kakakku, tapi sayang..."
"Menurutmu, sekarang siapa pesilat nomor satu di dunia persilatan ini? tanya Kie Lek-beng. Dalam hati dia berpikir.
"Akhirnya aku bisa memancing hal yang ingin kuketahui.' Dia ingin tahu keadaan ayahnya dari mulut Tong Hwai-ie.
"Apakah kau tidak tahu siapa pesilat nomor satu di dunia persilatan? Kecuali Kie Yan-gan, tidak ada yang lain. Aku bahkan mengira kau dan dia masih bersaudara."
Kata Tong Hwai-ie. Kie Lek-beng menahan hatinya yang bergejolak, kemudian berkata.
"Memang margaku juga Kie, tapi aku tidak ada hubungan dengannya."
"Kie Toako, ilmu silatmu begitu tinggi, bila tidak ada bukti bahwa murid dan putra Kie Yan-gan sudah mati, aku curiga bahwa kau mempunyai hubungan dengannya."
Kie Lek-beng memegang luka di wajahnya, dengan tertawa kecut dia berkata.
"Putra Kie Yan-gan sudah mau."
Kie Lek-beng bertanya lagi.
"Tadi kau mengatakan tentang Kie Yan-gan, ada apa dengannya?"
Jawab Tong Hwai-ie.
"Sejak putranya mati, dia langsung menghilang dari dunia persilatan dan tidak berhubungan dengan teman-teman di dunia persilatan lagi"
"Apakah kau juga belum pernah bertemu dengannya? Apakah dia sudah..."
Tanya Kie Lek-beng.
"Menurut cerita kakakku, dia masih hidup tapi sifatnya sangat aneh, dia menolak berhubungan dengan teman-teman dunia persilatan. Sekarang dia berada di mana, tidak ada yang tahu, bila ada yang tahu tidak ada yang berani mencarinya, begitu juga dengan kakakku."
Hujan turun sangat kecil dan tidak teratur, hati Kie Lek-beng seperti hujan itu, begitu kacau.
Dia mengingat kembali kenangan masa lalu, sekarang dia sudah tahu bahwa Wie Thian-hoan adalah putra dari Suhengnya.
Seorang Wie itu seperti apa?
Secara garis besar dia tidak tahu.
Dia tertawa terbahak-bahak, dalam hati dia berpikir, 'Bocah tengik itu lumayan juga, masih muda sudah mempunyai nama besar, kelakuannya sangat cocok denganku.' Orang-orang mengatakan bahwa Wie Thian-hoan adalah penjahat kelas berat, tapi setelah Kie Lek-beng tahu bahwa putrinya menyukai 'penjahat kelas berat', dia malah merasa senang.
"Bila Wie Thian-hoan adalah orang yang lurus, aku malah merasa khawatir."
Dia berpikir lagi, 'Orang seperti itu pasti tidak akan mau mengakuiku sebagai mertuanya, dia dipanggil panjahat kelas berat, dia juga tidak akan takut mempunyai mertua seperti diriku, mengapa dia bermusuhan dengan banyak orang persilatan?
Apakah dia bisa menghadapi mereka?"
Dia melihat perahu Coh Thian-su, Hiat-kun dan putrinya semakin menjauh, dia berkata kepada dirinya sendiri, 'Aku belum pernah menjadi ayah sehari pun, sekarang aku sudah tahu siapa yang dicintai putriku, aku harus membantunya.' Dia berpikir lagi, 'Mengapa Suhengku bisa mati?
Tapi walau bagaimana pun nasibnya masih lebih baik dariku, waktu kecil aku sering iri kepadanya karena ayah lebih sayang kepadanya, tidak disangka putriku pun mencintai putranya, jadi aku harus memperhatikan putranya, tapi bocah tengik itu apakah benar-benar mencintai putriku?"
Putrinya takut Wie Thian-hoan mencintai Hiat-kun, hal ini sudah diketahui olehnya dan Wie Thian-hoan mencintai putrinya ini sudah diketahui dari mulut Hiat-kun, mana yang benar, dia masih belum tahu.
Karena itulah dia tidak membunuh Coh Thian-su.
Perahu itu sudah menghilang dari pandangan, tapi bayangan putrinya masih melekat di hatinya.
Hatinya terasa manis, 'Putriku sangat mirip dengan ibunya.
Tidak, dia lebih cantik dari ibunya pada waktu dia menikah denganku, tapi...' Dia memikirkan seseorang, yaitu Hiat-kun.
walaupun dia menganggap putrinya adalah barang berharga, tapi dia mengakui bahwa Hiat-kun lebih cantik dari putrinya.
"Bila aku lebih muda 20 tahun, begitu bertemu dengan gadis yang begitu cantik, tentu aku akan tertarik Kepadanya. Untung dia mencintai Coh Thian-su bukan Wie Thian-hoan."
Hujan sudah berhenti, malam sudah lewat.
Kie Lek-beng turun gunung Seperti matahari yang mengusir awan hitam, hati pun ikut menjadi cerah.
Memang dia masih dendam kepada Coh Kim-sung dan dendam kepada orang-orang dunia persilatan yang memaksanya ke jalan buntu.
Tapi sekarang dia tahu bahwa dia mempunyai seorang putri, putri yang sangat lucu, rasa cinta kepada putrinya melebihi rasa bencinya kepada Coh Kim-sung.
Tadinya dia ingin membalas dendam kepada Coh Kim-sung, sekarang dia mengubah pikirannya.
"Aku belum pernah bertanggung jawab kepada putriku, sekarang aku akan membantu putriku mencapai keinginannya."
Sekarang dia mulai mengkhawatirkan Wie Thian-hoan.
Wie Thian-hoan membuat keributan di rumah Hie, menggegerkan dunia persilatan, walau tidak begitu jelas tapi secara garis besar dia sudah tahu "Sayang, aku tidak ikut Tong Hwai-ie ke rumah Hie waktu dia menikah, bila tidak mungkin pada saat itu aku sudah berteman dengan Wie Thian-hoan dan putriku.
Sekarang aku harus mencari mereka.
Bocah tengik itu juga kedengarannya seorang pemberani.
Dan dia juga bermusuhan dengan Tuan Kiam-ta dan It Piau cinjin, umurnya masih begitu muda, dengan ilmu silat setinggi apa pun tidak akan bisa mengalahkan begitu banyak pesilat tangguh."
Dia tahu begitu pulang, putrinya akan dilindungi oleh kakeknya, tapi dia lebih mengkhawatirkan Wie Thian-hoan Kemana harus mencari Wie Thian-hoan?
Dia sedang berjalan, tiba-tiba ada yang berlari ke arahnya dan berteriak.
"Kie Toako! Kie Toako!"
Dia melihat orang yang berlari ke arahnya adalah Tong Hwai-ie. Tong Hwai-ie berlari ke hadapannya dan berkat.
"Aku mengira aku salah lihat, ternyata kau ada di sini."
Kie Lek-beng tertawa dan berkata.
"Pepatah mengatakan. jadi orang bisa bertemu di mana saja. Bukankah kau akan ke Lok-yang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee, mengapa kau berada di sini?"
Jawab Tong Hwai-ie.
"Karena keluarga Hie juga aku bisa datang ke sini, karena Wie Thian-hoan membuat keributan di rumah Hie, melukai Hie Tiong-gwee dan menculik istrinya. Dunia persilatan dibuat geger!"
"Colan istri Hie adalah si Cantik dari Lok-yang, dia adalah putri seorang guru silat, namanya adalah..."
Jawab Tong Hwai-ie.
"Si Cantik ini bernama Kang Hiat-kun, kalau begitu kau sudah tahu masalah Hie Tiong-gwee?"
Kata Kie Lek-beng.
"Aku hanya mendengar sekilas, entah benar atau tidak apakah kelakuan Wie Thian-hoan begitu gila sampai menculik istri Hie Tayhiap?"
Tapi dia berpikir lagi, 'Orang yang membuat kabar benar-benar bertemu setan, aku baru saja bertemu dengan Hiat-kun.' Kata Tong Hwai-ie.
"Kata siapa berita itu tidak benar? Aku baru dari sana!"
"Apakah kau sendiri yang melihat Wie Thian-hoan menculik Hiat-kun?"
"Aku tidak melihat sendiri tapi murid-murid Hie yang berkata demikian, aku kira ini bukan bohong, bila dia melukai Hie, aku sendiri yang lihat."
Dengan aneh Tong Hwai-ie bertanya.
"Kie Toako, sepertinya kau lebih memperhatikan pengantin perempuannya dibandingkan Hie Tayhiap?"
Kie Lek-beng tertawa dan berkata.
"Karena dia adalah gadis cantik yang membuatku penasaran, waktu itu kau berada di sana, coba ceritakan bagaimana kejadiannya?"
Tong Hwai-ie menceritakan peristiwa hari itu.
Kie Lek-beng malah terlihat sangat senang, dalam hati dia berpikir, 'Ilmu silat Wie Thian-hoan lebih tinggi dari perkiraanku bila dia dijodohkan dengan putriku, memang sangat pantas.' Lalu dia bertanya.
"Kau ke sini ada apa?"
"Karena silat Wie Thian-hoan terlalu kuat, maka aku ke sini mencarimu untuk meminta bantuan, sangat memalukan tadinya aku akan membalas dendam untuk kakakku, begitu melihat ilmu silatnya, malah bersembunyi."
Tanya Kie Lek-beng.
"Orang yang kau cari harus mempunyai ilmu silat yang tinggi dan mempunyai keyakinan bisa mengalahkan Hui-thian."
Tong Hwai-ie tertawa kecut dan berkata.
"Asalkan orang ini mau membantu, dia tidak perlu mengeluarkan jurus, tapi begitu Hui-thian melihatnya dia akan langsung bertekuk lutut."
Kie Lek-beng bisa menebak siapa orang itu, tapi sengaja dia bertanya.
"Orang itu begitu lihai siapakah dia?"
Tong Hwai-ie tidak menjawab, dia malah terus menatap Kie Lek-beng, kemudian dia mengganti topik pembicaraannya dan bertanya.
"Aku belum bertanya, mengapa kau juga ada di sini?"
"Aku baru mengunjungi teman, mungkin kau juga kenal dengannya, dia adalah Lo-toa dari Huang-ho-sam-kui bernama Bong-piau."
Tong Hwai-ie merasa aneh, dalam hati dia berpikir, 'Walaupun dia she Kie, tapi dengan Kie Yan-gan dia sama sekali tidak ada hubungan.
Nama Huang-ho-sam-kui di dunia persilatan sangat buruk, tapi dia langsung mengatakan kepadaku dan kelihatannya dia tidak berbohong."
Langsung Tong Hwai-ie berkata"
"Kie Toako, kau sudah lama tidak bertemu dengan Huang-ho-sam-kui?"
"Sudah 20 tahun lebih aku tidak bertemu dengan mereka, sebenarnya aku tidak begitu kenal dengan mereka, aku bertemu mereka hanya sekali. Jujur saja, sekarang ini aku bukan orang dunia hitam, tapi aku mengerti peraturan dunia hitam. Tapi sayang tidak ada seorang pun dari Huang-ho-sam-kui yang dapat aku temui, aku ingin meminjam uang."
Kata Tong Hwai-ie.
"Ternyata kau sudah 20 tahun tidak bertemu dengan mereka, Lo-toa dari Huang-ho-sam-kui dipukul orang hingga cacat, ini sudah terjadi 20 tahun lalu."
Sengaja Kie Lek-beng berkata.
"Silat Lo-toa Huang-ho-sam-kui pun lumayan bagus, siapa yang memukul dia menjadi cacat?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Menantu dari pesilat nomor satu dunia persilatan, aku tahu hal ini, beberapa tahun kemudian matanya Lo-toa menjadi buta. Mereka awalnya tidak tahu siapa perempuan itu, mereka ingin mempermainkan dia, kemudian setelah tahu dia itu siapa, mereka langsung kabur dan entah bersembunyi di mana. Bila kau mau mencari mereka aku tidak dapat membantu, bila kau membutuhkan uang, kau membutuhkan berapa, tapi jangan bilang kau meminjamnya."
Kie Lek-beng tahu bahwa Tong Hwai-ie tidak kenal dengan Huang-ho-sam-kui jadi dia berani mengutarakan niatnya. Lalu Kie Lek-beng tertawa.
"Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. Kau tidak perlu tergesa-gesa memberi uang kepadaku. Aku mau bertanya sebenarnya siapa yang kau cari?"
Tong Hwai-ie tertawa dan berkata.
"Aku mencari orang nomor satu di dunia persilatan, Kie Yan-gan, tapi tertawanya tidak lepas. Tanya Kie Lek-beng.
"Apakah rumah Kie Yan-gan ada di sekitar sini? Katamu tidak ada seorang pun yang tahu dia berada di mana, termasuk kakakmu."
"Kau salah ingat, yang kukatakan adalah setelah putra Kie Yan-gan meninggal, dia tidak ingin berteman lagi dengan orang-orang dunia persilatan, tidak ada yang tahu dia tinggal di mana, juga tidak ada yang berani mencari dia. Begitu juga dengan kakakku, itu membuktikan bahwa kakakku juga tidak berani mencarinya."
Tanya Kie Lek-beng.
"Mengapa sekarang kau berani mencarinya?"
"Pertama, aku tidak mendapatkan orang yang bisa mengalahkan Hui-thian, ini pun hanya coba-coba. Kedua, karena Tuan Kiam-ta, Hui-thian melukai Hie Tiong-gwee, dia pun sempat bertarung dengan Tuan Kiam-ta, menurutku mereka bentrok cukup seru. Kie Yan-gan dan Tuan Kiam-ta adalah teman lama."
"Apakah kau memakai nama Tuan Kiam-ta, kemudian coba-coba meminta bantuan kepadanya?"
Tanya Kie Lek-beng.
"Benar, begitu aku bertemu dengan Kie Yan-gan, aku akan menambah-nambahkan bahwa Tuan Kiam-ta kalah agar Kie Yan-gan tahu bahwa teman lamanya sudah dirugikan, aku kira dia tidak akan berpangku tangan begitu saja."
"Ide yang bagus, cepatlah pergi!"
Tong Hwai-ie tertawa kecut dan berkata.
"Aku sudah ke sana."
"Apakah dia berjanji?"
Tanya Kie Lek-beng.
"Aku sama sekali tidak masuk ke rumahnya, bertemu dengannya juga tidak."
Tanya Kie Lek-beng.
"Apakah kau takut kepada larangannya."
"Bukan."
"Apakah kau tahu dia tidak ada di rumah?"
Tong Hwai-ie menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak!"
Tanya Kie Lek-beng.
"Sebenarnya ada apa?"
Jawab Tong Hwai-ie.
"Aku bertemu dengan pelayan tuanya, Ting Po. Bila aku tidak bertemu dengan Ting Po, beberapa kilometer lagi aku tiba di rumahnya. Siapakah Ting Po, apakah kau kenal?"
Kie Lek-beng berlagak sedang berpikir, lalu katanya.
"Aku kenal dengan nama Ting Po, tapi sudah lupa-lupa ingat."
Kata Tong Hwai-ie.
"Dua puluh tahun yang lalu ada seorang penjahat kelas berat dia selalu merampas barang penting di ibukota. Hal ini sempat menggegerkan, apakah kau tahu?"
Kata Kie Lek-beng.
"Aku ingat, belakangan kakakmu mengambil kembali barang-barang penting itu. Apakah penjahat besar itu adalah..."
Kata Tong Hwai-ie.
"Benar, dia adalah Ting Po, semenjak itu, dia dan kakakku menjadi teman, begitu juga denganku. Terkahir dia tidak menjadi penjahat lagi, malah menjadi pelayan keluarga Kie, dan kami menjadi lebih akrab lagi. Tanya Kie Lek-beng.
"Bila sudah bertemu dengan Ting Po, lalu?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Untung dia bertemu denganku, begitu dia tahu maksudku ke sini, segera dia menasihati agar jangan mencari Kie Yan-gan "
"Mengapa?"
Sebenarnya dia sudah tahu alasannya.
"Ternyata Hui-thian adalah cucu muridnya, memang Kie Yan-gan sendiri yang mengajar silat kepadanya"
Kata Kie Lek-beng.
"Kalau begitu Kie Yan-gan sangat sayang kepada cucu muridnya ini?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Itu sudah pasti dan Hui-thian juga adalah calon menantu dari cucunya. Waktu itu dia berada di belakang Wei TianYuan memakai baju hitam, kau tahu siapa dia?"
Kata Kie Lek-beng.
"Kau bilang kau tidak tahu identitas perempuan itu, bila kau tidak tahu, mana aku bisa tahu? "Sekarang aku katakan bahwa dia adalah cucu perempuan Kie Yan-gan."
Kata Kie Lek-beng lagi.
"Untung kau tidak minta tolong kepadanya, bila tidak..."
Dia mana mau menghadapi cucu muridnya tersayang, apalagi calon menantu cucunya lagi. Tong Hwai-ie tertawa kecut dan berkata.
"Bila aku bertemu dengan Kie Cianpwee, aku pasti akan diusir itu pun masih beruntung."
Tanya Kie Lek-beng.
"Sekarang kau akan melakukan apa?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Aku akan pulang dulu ke ibukota, bila bertemu dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee, baru kami akan berunding."
Tanya Kie Lek-beng.
"Apakah mereka berdua sudah berada di ibukota?"
"Benar, kelihatannya mereka menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya mereka ke ibukota untuk mencari kepala pasukan dan menunggu Hui-thian masuk ke dalam perangkap mereka."
Tanya Kie Lek-beng.
"Mengapa kalian bisa tahu bahwa Hui-thian akan ke ibukota?"
"Kami sangat mengangumi perhitungan Tuan Kiam-ta, sifat Wie Thian-hoan sangat kejam, dia bermusuhan dengan Hie, dia tidak akan menyerah begitu saja. Karena itu sengaja mereka membocorkan kabar ini, dan membiarkan Wie Thian-hoan tahu bahwa mereka kabur ke ibukota. Mereka mengira Wie Thian-hoan akan menyusul ke ibukota. Perkiraan Tuan Kiam-ta ternyata benar!"
Tanya Kie Lek-beng.
"Membuktikan apa?"
"Sepuluh hari yang lalu It Piau cinjin pernah bertemu dengan Wie Thian-hoan yang sedang berangkat ke ibukota."
"Apakah kau sempat bertemu dengan It Piau cinjin?"
"Aku juga hanya mendengar berita ini tapi sangat bisa dipercaya karena yang menyampaikan berita ini adalah murid Kun-lun, Bong Cong-kian. Bong Cong-kian dan murid It Piau berteman baik, waktu itu dia ikut dengan It Piau cinjin."
Kata Kie Lek-beng.
"Semua pesilat tangguh berkumpul di ibukota, Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee pergaulannya sangat luas, para pesilat tangguh di ibulota pasti akan membantu mereka, kau tidak perlu lagi meminta bantuan kepada Kie Yan-gan."
Kata Tong Hwai-ie.
"Seharusnya memang seperti itu, tapi ilmu silat Wie Thian-hoan sangat tinggi, orangnya pun licik seperti seekor naga sakti terlihat kepala tapi tidak terlihat ekornya, bila main keroyok itu tidak apa-apa, tapi bila dia tiba-tiba menyerang, sulit bagi kami untuk menahannya, bila ada lebih satu pesilat tangguh maka akan bertambah satu lagi keyakinan. Di ibukota walaupun banyak pesilat tangguh tapi yang bisa melawan Wie Thian-hoan bisa dihitung dengan jari, itu pun hanya ada 2 orang, dan kakakku tidak termasuk di dalamnya."
Kie Lek-beng merasa aneh dan berkata.
"Kakakmu adalah Kepala pengiriman di ibukota, kau terlalu merendahkan diri, aku ingin tahu 2 pesilat tangguh yang bisa melawan Hui-thian itu siapa?"
Jawab Tong Hwai-ie.
"Pertama, dia adalah kepala pasukan, Bok Ci-giauw, ilmu keluarganya yaitu Kau-in-kiam-hoat (Pedang menginjak awan), salah satu ilmu dahsyat di dunia persilatan walaupun dia tidak dapat mengalahkan Hui-thian dia tetap tidak akan kalah."
"Dan yang satu lagi."
"Dia adalah Tuan Kiam-ta, aku tahu dia sudah 2 kali bertarungan dengan Hui-thian dan kedudukannya seimbang."
Kie Lek-beng terkejut dan berkata.
"Di jalan aku mendengar katanya Tuan Kiam-ta kalah di tangan Hui-thian, apakah ini hanya berita burung?"
"Ini juga bukan berita burung, orang-orang hanya tahu sebagian dari kejadian."
Kata Kie Lek-beng.
"Apakah Kakak Tang bisa menjelaskannya?"
"Pertama kali bertarung dengan Tuan Kiam-ta, dia kalah, karena Tuan Kiam-ta sengaja kalah, bukan benar-benar kalah."
"Mengapa?"
"Karena pada saat itu dia belum tahu bahwa Hui-thian datang ke sana untuk membunuh Hie dan merebut istrinya, dia sebagai saksi/juri ingin membalas dendam di antara Hie dan Wie Thian-hoan Begitu dia dipaksa bertarung dengan Wie Thian-hoan, dia berharap hanya bertarung secara biasa saja, tidak tahunya Wie Thian-hoan memakai serangannya untuk membunuh."
"Lalu bagaimana dengan kejadian kedua kalinya?"
"Kedua kali, dia melukai Hie hingga terluka parah dan pada malam harinya masuk ke rumah Hie dan merebut istri Hie Tiong-gwee. Dia tetap ingin membunuh Hie karena itu Tuan Kiam-ta bertarung mati-matian melawan Wie Thian-hoan, walaupun tidak ada yang kalah, tapi katanya posisi Tuan Kiam-ta berada di atas angin."
Kata Kie Lek-beng.
"Kau tidak ada di sana dan hanya mendengar cerita dan orang-orang saja bukan?"
"Murid-murid Hie yang menyaksikannya, walau agak dibesar-besarkan tapi paling sedikit mereka bertarung dan tidak ada yang kalah, bila tidak Hie mana bisa lolos dari tangan Hui-thian?"
Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Dua puluh tahun yang lalu ilmu silat Tuan Kiam-ta berada di bawahku, dulu kekuatanku seperti kekuatan Wie Thian-hoan sekarang, bila sekarang bisa bertanding secara seri dengan Hui-thian, selama 20 tahun ini entah Tuan Kiam-ta telah berlatih ilmu silat apa?' Kemudian dia berpikir lagi.
'Thian Kiam-ta ditambah dengan Bok Ci-giauw, Wie Thian-hoan pasti tidak akan sanggup melawan mereka, apalagi mereka sedang mencari pesilat tangguh untuk membantu melawan Hui-thian.
Sekarang Wie Thian-hoan sedang dalam perjalanan ke ibukota, dia akan benar-benar masuk ke dalam perangkap mereka."
Sebenarnya Tong Hwai-ie juga tidak tahu bahwa yang pertama bertarung dengan Hui-thian adalah Tuan Kiam-ta, kedua kalinya Hui-thian bertarung dengan seseorang yang mirip Tuan Kiam-ta.
Tong Hwai-ie melihat Kie Lek-beng sedang berpikir kemudian dia coba-coba bertanya.
"Kie Toako, kau sedang memikirkan apa?"
"Aku sedang berpikir, sandiwara apa yang akan dimainkan di ibukota? Bila bisa melihat Hui-thian bertarung dengan 2 pesilat tangguh, itu sangat menarik!"
Tong Hwai-ie sangat senang dan berkata.
"Kie Toako, apakah kau juga akan pergi ke sana untuk menonton?"
"Memang aku bermaksud begitu."
Kata Tong Hwai-ie.
"Sayang, kau tidak mau membantuku, bila tidak suasana akan lebih ramai lagi."
"Tidak, aku sudah berubah pikiran."
Kata Kie Lek-beng. Tong Hwai-ie sangat gembira dan berkata.
"Bila Kie Toako ingin membantu itu akan sangat baik, aku berterima kasih kepadamu!"
Kie Lek-beng menggelengkan kepala dan berkata.
"Kau jangan berterima kasih kepadaku, aku tidak membantumu, ini adalah demi diriku sendiri."
Tong Hwai-ie menjadi terkejut.
"Mengapa kau berkata seperti itu?"
"Apakah kau tahu alasannya mengapa aku berubah pikiran? Pertama, di mana-mana orang bercerita tentang Hui-thian dan ilmu silatnya semakin lihai. Kedua, dari dulu sudah kukatakan bila ada kesempatan aku akan bertemu dengannya, dulu aku belum tahu dia berada di mana. Sekarang aku sudah tahu dia berada di ibukota dan ini adalah suatu kesempatan."
"Maksudmu, kau ingin mencoba ilmu silatnya?"
"Benar."
Kata Tong Hwai-ie.
"Hui-thian ke ibukota untuk mencari musuhnya, mungkin dia tidak ada waktu berteman denganmu."
"Siapa yang ingin berteman dengannya?"
Kata Tong Hwai-ie.
"Bila tidak berteman dengannya, mana bisa mencoba ilmu silatnya, apalagi kau tidak dapat mencarinya."
Kata Kie Lek-beng.
"Tadi kau mengatakan bahwa Hie dan Tuan Kiam-ta berada di ibukota untuk memasang perangkap, kalian mempunyai banyak mata-mata bila dia sudah tiba di ibukota pasti akan langsung tahu. Apalagi dia datang untuk masuk ke dalam perangkap, bila aku datang bersamamu pasti ada kesempatan untuk bertemu dengannya."
"Tapi kami bukan ingin bertanding silat dengannya, kami berjuang untuk hidup dan mati, bila kau bersama kami..."
Kata Tong kwai-ie Kata Kie Lek-beng.
"Biar aku yang pertama bertarung dengannya, aku hanya mencoba ilmu silatnya saja."
Kata Tong Hwai-ie.
"Kalau begitu, kita akan benar-benar bertarung?"
"Benar, kalau hanya mencoba tidak akan ada artinya, seumur hidupku aku tidak mempunyai kesenangan apa-apa, kesenanganku hanya ilmu silat. Kalian melukiskan Hui-thian begitu lihai, aku berharap dia bisa bertarung denganku, bila aku mati di tangannya, aku rela, sebaiknya bila aku bisa membunuh dia, aku tidak merasa bersalah karena dia adalah penjahat f kelas kakap." [ Dalam hati Tong Hwai-ie tertawa.
"Di dunia uu ada kutu buku ada juga yang gila ilmu silat seperti orang bodoh, tapi bila dia bertarung dengan Hui-thian, ini juga seperti pertarungan antara hidup dan mati. Dia bilang tidak akan membantu kami, sebenarnya bantuannya sangat besar."
Segera Tong Hwai-ie tertawa dan berkata.
"Aku akan membantumu mencapai keinginanmu, bila kepala pasukan Bok Ci-giauw tahu dan kau akan tinggal di rumahnya, dia pasti akan sangat senang."
Kie Lek-beng mengerutkan dahi dan berkata.
"Kakak Tong, aku sudah bilang aku tidak akan menjilat orang yang berkuasa"
Kata Tong Hwai-ie;
"Ini bukan menjilat, tapi dia yang meminta kepadamu."
Kie Lek-beng menggelengkan kepala dan berkata.
"Dia minta bantuanku tapi aku tidak berani mendapat posisi kepadanya dan aku sudah biasa hidup bebas, bila diam di rumah jenderal, aku akan merasa terkekang."
Kata Tong Hwai-ie.
"Kalau begitu kau tinggal di rumah kakakku saja Di kantor kakakku ada berbagai macam teman, kau tidak mau identitasmu terbongkar, bila kau senang mengoborol ya mengobrol saja, bila kau ingin sendiri, tidak ada Oiaug yang menuangmu."
Kata Kie Lek-beng.
"Baik, itu sesuai dengan keinginanku."
"Bila kau mau mencari Hui-thian untuk bertarung, harus ada orang yang memberitahumu, tapi kau harus berteman degnan Jenderal Bok dan Tnan Kiam-ta "
Mereka bercakap-cakap di tepi sungai, waktu itu Kie Lek-beng tidak menjawab malah mencuci muka di sungai dan melihat bayangannya di air, dia tertawa kecut.
Dalam hati dia berpikir, 'Siapa yang bisa mengenalku sekarang, siapa yang bisa mengenaliku sebagai Kie Siauya?' Dua puluh tahun yang lalu dia pernah bertemu dengan Tuan Kiam-ta dan Bok Cu-giauw, waktu itu dia adalah pemuda yang sangat tampan, sekarang dia adalah seorang pesilat yang wajahnya penuh bekas luka, tubuhnya kurus dan kering.
Kata Tong Hwai-ie.
"Kie Toako, aku tahu kau tidak suka bergaul dengan orang-orang terkenal, tapi bertemulah satu kali dengan mereka."
Kie Lek-beng mengangkat kepalanya dan tertawa.
"Baiklah kali ini merupakan pengecualian."
"Baiklah, mari kita pergi sekarang, ini uangmu untuk bekal dalam perjalanan."
Sesudah berkata Tong Hwai-ie mengeluarkan beberapa keping perak. Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Pergi bersamamu tidak perlu mengkhawatirkan makan dan minum."
Dalam hati dia merasa bersalah, dia berpikir, 'Tong Hwai-ie orangnya tidak baik juga tidak jahat, kali ini dia kira dia bisa memperalatku, padahal sebenarnya aku yang memperalatnya, demi putriku aku harus melindungi Wie Thian-hoan.' ---ooo0dw0ooo---C.
Dua Generasi benci dan cinta Kie Lek-beng berharap bila sampai di ibukota, dia bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan.
Sedang putrinya berharap ketika tiba di rumah dapat bertemu dengan Wie Thian-hoan, apakah harapan Kie Su-giok akan terkabul, dia sendiri belum tahu.
Tapi harapan Kie Su-giok selalu kosong.
Dia, Coh Thian-su, dan Hiat-kun sudah tiba di rumah dan melihat Paman Ting berdiri di hadapan menyambutnya, hal ini membuat dia sedikit terkejut, dia terpaku dan berkata.
"Paman Ting, tidak disangka kau lebih cepat tiba di rumah. Waktu itu kau mengatakan ada urusan pribadi, harus memakan waktu 3 hingga 5 hari baru bisa pulang?"
Jawab Ting Po.
"Benar, waktu itu sebenarnya aku ingin mencari seorang teman tapi teman itu sedang tidak berada di tempat, jadi aku kembali lebih cepat ke rumah."
Kata Kie Su-giok.
"Oh begitu! Mana Wie Toako?"
"Wie Siauya belum pulang."
Kie Su-giok marah dan berkata.
"Tidak ada alasan dia tidak pulang."
Ting Po tertawa dan berkata.
"Temuilah kakekmu!"
"Giok-ji, kau sudah pulang?"
Yang pertama adalah sapaan kakeknya, yang satu lagi adalah sapaan dari Ong Toanio.
Ong Toanio adalah pengasuh ibunya walaupun ibu Su-giok sudah meninggalkan rumah Kie tapi Ong Toanio masih tetap tinggal di rumah Kie.
Mereka berdua belum tampak batang hidungnya tapi suaranya sudah terdengar lebih dahulu.
Suara Ong Toanio terdengar sangat gembira, dia tiba terlebih dahulu di mang tamu sebelum kakeknya.
Tiba-tiba dia seperti melihat monster, tawanya langsung hilang, matanya terus menatap Coh Thian-su, dia membuka mulut seperti ingin berteriak tapi tidak keluar suara.
Keanehan Ong Toanio sudah diperhatikan oleh Coh Thian-su, dia sendiri juga merasa aneh.
"Mengapa Ong Toanio melihatku seperti melihat setan? Begitu terkejut?"
Belum habis berpikir, Kie Yan-gan sudah tiba di sana.
Kie Su-giok memanggil kakeknya tapi kakeknya tidak melihat dia.
Kakeknya seperti Ong Toanio.
mata kakek juga tenis menatap Coh Thian-su.
Kie Su-giok tertawa dan berkata.
"Kakek, aku membawa tamu ke rumah, ini adalah Coh Toako, ayahnya adalah Pendekar Yang-ciu..."
Wajah Kie Yan-gan sudah kembali normal, dengan tersenyum dia berkata.
"Kau tidak perlu memperkenalkan kedua tamu ini lagi karena Paman Ting sudah memberitahuku. Tuan Coh, walaupun aku belum pernah bertemu dengan ayahmu tapi dia sangat terkenal. Terima kasih kau mau mengantar cucuku pulang."
Sikap Kie Yan-gan sangat sopan terhadap Coh Thian-su, tapi kesopanan mi malah membuatnya tidak enak, dalam hati dia berpikir, 'Su-giok pernah mengatakan bahwa ayah dan kakeknya adalah teman baik, tapi sama sekali tidak terlihat seperti itu.' Kie Su-giok sepertinya dapat menebak pikiran Coh Thian-su, dengan cepat dia menutupi kebohongannya.
"Kakek, bukankah kau sering mengatakan tentang Coh Tayhiap kepadaku? Kau pernah mengatakan bahwa pendekar muda nomor satu adalah Coh Kim-sung. Apakah aku sudah salah ingat? Semua sudah kuberitahu kepada Coh Toako, ayahnya juga sering bercerita tentang kakek."
Dengan dingin Kie Yan-gan berkata.
"Benar, benar Kalau begitu aku dan ayahmu adalah teman lama'"
Kata-kata ini ditujukan kepada Coh Thian-su.
Sebenarnya Coh Thian-su belum pernah mengatakan hal ini, dia hanya tahu dari mulut ayahnya bahwa kakek ini adalah pesilat nomor satu, itu pun hanya sekali.
Sekarang Coh Thian-su ingat ayahnya pernah berkata bahwa dia harus menghindari Kie Yan-gan dan tidak boleh berhubungan dengan keluarga Kie, mengapa Kie Su-giok harus mengada-ada?
"Kelihatannya Su-giok ingin aku berteman dengan kakeknya, mengapa harus seperti itu?
Apakah antara ayah dan keluarga Kie ada rasa permusuhan?"
Dia sedang menebak-nebak, tapi sebenarnya Kie Yan-gan lebih terkejut dari dia.
Memang benar Kie Yang Ran pernah memuji Coh Kim-sung tapi bukan kepada Su-giok melainkan kepada Ting Po dan itu pun sudah 10 tahun yang lalu.
Waktu itu Ting Po memberitahunya bahwa menantunya lari ke keluarga Coh di Yang-ciu, waktu itu Su-giok baru berumur 6 hingga 7 tahun.
Dalam hati Kie Yan-gan berpikir, 'Rupanya pembicaraanku dengan Ting Po sudah didengar oleh cucuku.
Entah dia sudah mendengar berapa banyak?
Dia senang dengan Thian-hoan, apakah sekarang dia berubah menyukai putra Coh Kim-sung, apakah dia tahu ibunya ada di rumah Coh?
Kalau tidak mengapa dia bisa dekat dengan Coh Thian-su?"
Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing, setelah mengobrol beberapa kalimat, mereka berhenti berbincang. Tiba-tiba Ong Toanio berteriak.
"Ternyata dia adalah putra Pendekar Yang-ciu, pantas..."
Ting Po langsung menyambung.
"Ong Toanio kau kenapa? Tuan besar sedang berbicara dengan tamu, kau jangan ikut campur!"
Dengan tersenyum Coh Thian-su bertanya.
"Pantas apa?"
"Pantas ilmu silatmu begitu bagus."
Kata Ong Toanio.
"Mengapa kau bisa tahu ilmu silatku bagus?"
"Ting Po yang mengatakannya."
"Untung aku tidak menjelekkan Coh Siauya."
Dia marah kepada Ong Toanio supaya jangan ikut campur.
Ong Toanio tidak peduli dengan kemarahan Ting Po, dia tclap melihat Coh Thian-su kemudian melihat Kie Su-giok.
Kenangannya kembali ke masa 20 tahun silam.
Kembali ke Kang-lam (Kang Lam) yang begitu indah, kembali ke musim semi di Yang-ciu.
Waktu itu semua orang sudah pulang hanya tertinggal sepasani; kekasih.
Ong Toanio mencuri pandang ke arah nonanya yang sedaiif bermesraan.
Laki-laki itu berasal dari keluarga silat di Yang-ciu bernama Coh Kim-sung.
Dan perempuan itu adalah nonanya bernama Cong Eng-lam.
nona yang dia susui hingga besar.
Status mereka sebagai pembantu dan majikan tapi mereka malah terlihat seperti ibu dan anak.
Perempuan itu sangat cantik dan laki-lakinya sangat tampan.
Ong Toanio juga menikmati keceriaan mereka, bisa bisa menikah dengan orang yang dicintai alangkah baiknya.
"Ong Toanio,"
Suara berwibawa memanggilnya, menyadarkan dia dari lamunan panjang. Tuan besar sedang memanggilnya, Ong Toanio melihat sorot main Kie Yan-gan seperti es. Dia langsung tersadar.
"Ong Toanio, tolong siapkan sayur dan arak, ayo cepat keluarkan, mengapa masih bengong di sini?"
Kata Kie Yan-gan. One Toanio tidak menyahut, dia langsung bergegas pergi kc dapur, dalam hati dia berpikir.
"Su-giok sangat mirip dengan ibunya, Coh Siauya seperti ayahnya Nonaku ada di rumah Coh, apakah dia bisa hidup dengan baik? bagaimana pun putra putri mereka tidak boleh seperti mereka, seumur hidup membuat kesalahan cinta."
Dia keluar dari ruangan, mendengar tawa Kie Su-giok, Su-giok menyambung kata-kata tadi.
"Kakek, aku tidak salah ingat dengan kata-katainu, sekarang harus diubah."
"Oh ya? Kalimat yang mana?"
Tanya Kie Yan-gan. Su-giok tertawa dan berkata.
"Sekarang pendekar muda yang berbakat adalah Coh Toako."
Kie Yan-gan ikut tertawa dan berkata-"Itu kata-kataku sepuluh tahun lalu, itu untuk ayahnya sebagai pendekar Yang-ciu yang terkenal, sekarang julukan itu harus diberikan kepada anaknya."
"Kali ini Coh Toako sangat membantuku. Kakek, jangan lihat dia masih muda karena ilmu silatnya lebih tinggi dari diriku. Apa yang sudah dibantunya nanti aku akan ceritakan kepada kakek"
Kie Yan-gan tertawa dan berkata.
"Ada ayah seperti itu, anaknya pun tidak beda jauh Ilmu silatnya pasti tinggi, ini sudah sewajarnya."
Walaupun Kie Yan-gan tertawa tapi Coh Thian-su merasa tawanya terpaksa. Coh Thian-su juga terpaksa tertawa dan berkata.
"Cianpwee terlalu memuji, ilmu silatku belum sehebat ayah masih kalah jauh. Julukan Diauhiap, aku tidak berani menerimanya. Menurutku Siauhiap yang berbakat hanya ada satu orang, dan dia adalah cucu murid anda, wie Thoan-hoan. Tanya Kie Yan-gan.
"Apakah kalian pernah bertemu?"
Coh Thian-su mengangguk dan berkata.
"Ilmu silatnya jauh di atasku, cucumu juga tahu."
Yang ingin dia sampaikan adalah pujian tinggi yang diberikan Su-giok untuknya tidak sesuai dengan kata hatinya.
"Ilmu silat Suhengku memang lumayan bagus, tapi ilmu silat adalah hal yang kedua, yang paling penting adalah nama di dunia persilatan, dia tidak sebanding denganmu."
Kata Su-giok.
Ini adalah kenyataan, Su-giok bukan ingin merendahkan Wie Thian-hoan melainkan menyembunyikan maksud lain.
Pertama, dia ingin kakeknya menghormati tamu yang diundangnya, sengaja dia berbaik-baik kepada Coh Thian-su.
Kedua, dia ingin memakai kesempatan ini dia ingin menerangkan bahwa Wie Toako telah dikambinghitamkan tapi kakeknya tidak mengerti maksudnya.
Benar juga, Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata.
"Kata-kata Su-giok benar juga, yang disebut pendekar bila ingin menang ilmu silatnya harus bagus, tapi ilmu silat adalah hal kedua aku tidak tahu bagaimana keadaan Hoan di luar sana. Tapi dia sudah mendapat julukan 'penjahat kelas berat'. Apalagi kali ini dia di Lok-yang telah melakukan keributan. Tuan Kiam-ta pun sudah dilukai olehnya."
Kata Su-giok.
"Aku tidak merasa kelakuan Wie Toako di Lok-yang keterlaluan, dia melukai Tuan Kiam-ta tapi itu bukan kesalahannya, siapa sebenarnya Tuan Kiam-ta? Kakek tentu tahu bukan?"
Kata Kie Yan-gan.
"Aku berteman dengannya sudah puluhan tahun, aku tahu bagaimana orangnya, menurutmu apakah dia orang jahat?"
Kata Su-giok.
"Dia sangat jahat dan di depan orang-orang berpura-pura baik bila kakek tidak percaya, tanyakanlah kepada Cici Kang."
Kata Kie Yan-gan.
"Dari tadi aku mengobrol denganmu hingga lupa menyapa gadis ini. Nona Kang, hal yang dialami oleh keluargamu aku tahu dari Thian-hoan, aku tahu keluargamu telah dicelakai oleh musuh hingga berantakan, apakah Tuan Kiam-ta ada hubungan dengan peristiwa itu?"
Jawab Hiat-kun.
"Apakah dia ada hubungannya dengan peristiwa malam itu, aku tidak tahu. Yang aku tahu dia yang membunuh ibuku, ibuku baru dibunuh di Lok-yang."
Kie Yan-gan terkejut dan berkata.
"Mengapa Tuan Kiam-ta melakukan hal yang begitu memalukan?"
"Bila Cianpwee tidak percaya, aku dengan senang hati menceritakannya, tapi cerita ini sangat panjang..."
Tepat pada saat itu Ong Toanio membawa sayur dan arak. Kata Kie Yan-gan.
"Kalau ceritanya sangat panjang, besok saja kau ceritakan, hari ini adalah hari yang menggembirakan, aku tidak ingin mendengar cerita sedih."
Masakan Ong Toanio sangat lezat bila dia mau beralih profesi dia bisa menjadi koki yang ternama.
Hiat-kun mengerti perasaan Kie Yan-gan, dalam hati dia berpikir, 'Berteman sudah sekian lama dengan Tuan Kiam-ta, bila langsung membuka topengnya, dia akan merasa sangat sedih, aku maklum bila dia tidak ingin mendengarnya, cara Tuan Kiam-ta berbohong sangat lihai bahkan pesilat nomor satu pun sudah dia tipu."
Tapi Ong Toanio terlihat paling gembira, dia berkata.
"Tuan Coh adalah orang Yang-ciu, tuan besar memujiku bisa memasak sayur Yang-ciu."
Dalam hati Ong Toanio berkata.
"Apalah Coh Siauya akan curiga kepadaku? Tapi kertas tidak dapat membungkus api, aku tidak akan membiarkan Su-giok mengalami cinta seperti ayah dan ibunya Walaupun dia tahu identitasku, itu tidak apa-apa. Meski dia tidak bertanya kepadaku, tetap aku harus memberitahu semua ini kepada Su-giok."
Ong Toanio sangat mengkhawatirkan Su-giok. Ting Po khawatir Ong Toanio akan menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dikatakan, Ting Po berkata.
"Ong Toanio, kau di sini sudah tidak ada yang harus dilakukan, lebih baik kau kembali ke dapur atau makanlah"
Kie Yan-gan mengangkat cangkir araknya dan berkata.
"Dua orang tamu datang berkunjung, kalian jangan memandang umurku, mari kita bersulang!"
"Maaf Cianpwee, aku tidak bisa minum."
Kata Hiat-kun.
"Kalau begitu, kau minum semampumu saja "
Kata Kie Yan-gan lagi.
"Kau adalah orang persilatan pergaulan ayahmu sangat luas, kau pasti pandai minum, mari temani aku minum!"
Kata Coh Thian-su.
"Hari ini semua orang merasa gembira, mari kita minum!"
Kie Yan-gan minum hingga 6 hingga 7 gelas sekaligus.
Coh Thian-su menghabiskan 3 cangkir, Kie Yan-gan tidak bicara Coh Thian-su juga tidak berani bicara, katanya hari ini adalah hari yang menggembirakan dan minum-minum sepuasnya tapi masing-masing minum dan tidak berkata-kata Tiba-tiba Su-giok berkata.
"Kakek, kau jangan terus minum!"
Kie Yan-gan baru sadar dan berkata.
"Benar, semenjak pulang kau marah-marah terus, tadi kau mengatakan tidak ada alasan, apa yang kau maksud?"
"Yang aku maksud bukan Orang."
Kata Su-siok.
"Hal apa yang membuatmu begitu tegang?"
"Kakek sudah tahu, tapi masih bertanya."
"Kau menganggap Hoan Toako belum pulang, itu tidak masuk akal?"
Kata Kie Yan-gan.
"Dia pulang duku, seharusnya dia sudah tiha'"
Sepertinya Kie Yan-gan terkejut, segera dia berhenti tertawa dia meletakkan cangkirnya dan berkata.
"Apa artinya ini? Bukankah kalian berpisah di Lok-yang? Jadi dia yang menyuruhmu pulang dulu? Mengapa kau tahu dia tidak berada di Lok-yang?"
"Karena kemarin malam aku bertemu dengannya."
Kie Yan-gan menjadi aneh.
"Mengapa kau tidak bersama dengannya?"
"Waktu itu aku tidur belum sempat membuka mata, dia sudah pergi!"
Kata Kie Su-giok. Kie Yan-gan tertawa dan berkata.
"Berarti kau belum bertemu dengannya"
"Tapi aku tahu pasti orang itu pasti dia, bila tidak dia tidak akan bersikap lembut seperti itu, bila orang itu berniat jahat, aku pasti sudah dibunuhnya."
Kata Kie Yan-gan.
"Coba jelaskan sudah terjadi apa?"
Su-giok bercerita tentang kejadian semalam, setelah habis ceritanya, Kie Yan-gan bertanya.
"Apakah kau merasa dia benar-benar membelai rambutmu?"
Wajah Su-giok menjadi merah dan berkata.
"Aku mendengar nafasnya, karena wajahnya hampir menempel di wajahku."
Wajah Kie Yan-gan langsung menjadi pucat, tangan yang memegang cangkir tampak bergetar, seperti yang ketakutan tapi juga seperti yang tidak dapat menahan kegembiraan hatinya, dia sudah tahu apa yang telah terjadi.
Su-giok merasa aneh dan bertanya.
"Apakah kakek mengira dia bukan Hoan Toako? Apakah dia adalah musuh?"
"Orang itu tidak akan melukaimu, apakah dia itu Thian-hoan, aku tidak tahu!"
Kie Yan-gan seperti tahu siapa orang itu, tapi dia tidak dapat memberitahukan ini kepada cucunya.
"Kakek, kau membuatku kebingungan. Orang itu tidak akan melukaiku tapi dia juga bukan Hoan Toako, siapakah dia?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin aku sudah pikun."
Dia minum lagi, Su-giok merasa kata-kata kakeknya tidak masuk akal, dia mengira kakeknya terlalu banyak minum sehingga salah dalam berkata-kata. Coh Thian-su meletakkan cangkir dan berkata.
"Maaf, aku sudah tidak dapat menemani Cianpwee minum."
Kie Yan-gan tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Aku sedikit pikun, tentunya kau sudah lelah, beristirahatlah!"
Kie Yan-gan berkata lagi, 'Lo Ting, tolong antar dia ke kamar untuk beristirahat. Apakah kamarnya sudah disiapkan?"
"Sudah, Nona Kang..."
Jawab Ting Po. Kata Su-giok lagi.
"Cici Kang sekamar denganku, tidak perlu tambahkan kamar lagi."
"Mari Coh Siauya, ikut denganku!"
Kata Ting Po. Kata Kie Yan-gan.
"Lo Ting, nanti temani aku minum, aku belum puas minum."
Ting Po menjawab.
"Ya!"
Dalam hati dia mengerti bahwa ada yang ingin Kie Yan-gan sampaikan kepadanya.
Coh Thian-su walaupun minum banyak, tapi kesadarannya belum hilang.
Dia berbaring di tempat tidur, tapi tidak bisa tidur, dia adalah orang yang sangat pintar kecuali Kie Su-giok, semua orang bersikap aneh kepadanya.
Dia pun merasa bahwa sebenarnya Kie Yan-gan tidak suka dengan kedatangan Coh Thian-su ke rmnahnya tapi dia tidak memusuhi Coh Thian-su.
Ayah dan Kie Yan-gan belum pernah bertemu, mereka pasti tidak mempunyai perselisihan apapun.
Tapi kehidupan dunia persilatan begitu rumit sulit untuk diperkirakaa "Bila tahu akan jadi hegini lebih baik aku tidak datang "
Dia sedang berpikir, tiba-tiba dia merasa ada seseorang di luar jendela dan berusaha mendorong jendela itu.
Coh Thian-su sangat terkejut, dalam hati berpikir, 'Di rumah pesilat nomor satu, masih ada orang yang berani masuk ke rumahnya Apakah yang datang adalah dia?
Tengah malam begini ada apa?' Bagaimana pun juga Coh Thian-su merasa khawatir, keringat dingin mulai bercucuran.
Bila yang datang adalah musuh Coh Thian-su, walaupun dia itu Ting Po dia tetap akan kalah.
Apalagi bila yang datang adalah Kie Yan-gan.
Dia tahu ilmu silatnya masih kalah jauh dibandingkan mereka, dia hanya bisa memejamkan matanya pura-pura tidur.
Dia sudah tidak peduli apa yang akan terjadi.
Jendela dibuka orang itu masuk, kakinya melangkah dengan ringan seperti seekor kucing.
Ilmu meringankan tubuh orang itu sangat tinggi.
Tapi Cou Thiaii-su tahu, orang itu bukan Kie Yau-gan, ilmu meringankan tubuh Kie Yan-gan lebih tinggi dari orang itu, Coh Thian-su mengira orang itu adalah Ting Po.
Coh Thian-su sudah mengeluarkan keringat dingin, orang itu berjalan ke arah tempat tidurnya dia mendengar seperti ada suara orang yang menggoreng kacang.
Suara ini bila didengar oleh orang biasa tidak akan terasa aneh tapi setelah didengar oleh Coh Thian-su, dia malah merinding.
Orang itu adalah seorang pesilat, sekali mendengar sudah tahu bagaimana cara dia mengepalkan tangan hingga terdengar bunyi derak tulang-tulangnya.
Ini adalah gerakan siap menyerang.
Orang itu berdiri di depan tempat tidur dengan kepalan tangan yang siap menyerang.
Tapi untuk apa orang itu melakukannya?
Dia datang untuk mencabut nyawa Coh Thian-su Melawan orang itu atau tunggu mati?
Di rumah pesilat nomor satu di dunia persilatan, orang ini berani datang untuk membunuhnya, dia pasti diperintah oleh Kie Yan-gan.
Keadaan mi membuatnya tersiksa karena ilmu silat yang begitu tinggi membuat lawan, mati tidak bisa hidup pun tidak bisa Apakah Coh Thian-su harus menunggu kematiannya?
Coh Thian-su belum mengambil keputusan, tiba-tiba dia mendengar orang itu menarik nafas dan berkata.
"Jangan!"
Suaranya serak dan tua, siapakah dia? Coh Thian-su belum bisa menebaknya. Tapi Coh Thian-su mengerti maksud orang itu, kalimat itu sebenarnya adalah.
"Jangan membunuh dia!"
Saat itu Coh Thian-su merasa ada cahaya yang menyilaukan, orang itu sudah memasang lampu.
Di luar dugaan Coh Thian-su, orang itu bukan Ting Po, tapi Ong Toanio.
Ong Toanio duduk, wajahnya menghadap ke tempat tidur tiba-tiba dia mengayunkan tangannya.
Coh Thian-su hampir loncat karena dia mengira Ong Toanio akan melemparkan senjata rahasia.
Tidak ada senjata rahasia, tapi tempat tidurnya bergoyang.
Ternyata Ong Toanio mengeluarkan serangan dan gerakan itu membuat Coh Thian-su 'bangun'.
"Coh Siauya, bangunlah!"
Kata Ong Toanio. Coh Thian-su pura-pura terkejut dan turun dari tempat tidur sepasang matanya terus melihat Ong Toanio. Dengan dingin Ong Toanio berkata.
"Coh Siauya, jangan takut! Aku hanya ingin bertanya satu hal!"
"Silahkan!"
"Apakah kau menyukai nonaku?"
"Tengah malam begini, kau ke kamarku, apa hanya ingin menanyakan hal itu?"
Jawab Coh Thian-su. Ong Toanio berkata.
"Benar, aku ingin kau berkata jujur, jawablah pertanyaanku, aku tidak main-main!"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Seharusnya kau tidak perlu bertanya, bila aku membenci nonamu, aku tidak akan menerima undangannya dan bertamu di sini."
"Yang aku maksud bukan ini."
"Maksudmu apa?"
Ong Toanio tampak marah dan berkata.
"Kau jangan berpura-pura tidak mengerti maksudku, apakah kau akan menikah dengannya?"
Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak.
"Kau terlalu jauh berpikir. Apakah kau tidak tahu bahwa nonamu menyukai Wie Siauya?"
Wajah Ong Toanio tampak serius dan berkata.
"Jangan tertawa! Aku mengatakan yang sebenarnya, nona dan Wie Siauya tumbuh bersama, sekarang Siauya dituduh menjadi penjahat kelas berat, tapi namamu di dunia persilatan sangat terkenal. Bila kau mau merayunya dia bisa berubah pikiran, karena itu aku tanya kepadamu, apakah kau punya pikiran seperti itu?"
Kata Coh Thian-su.
"Baiklah, aku akan menjawab yang sebenarnya, aku sama sekali tidak pernah berpikir akan menikah denpannya"
"Apakah kau sudah mempunyai kekasih?"
Coh Thian-su menjawab.
"Kau bertanya terlalu banyak, ini adalah masalah pribadi, sepertinya aku tidak perlu menjawab."
"Aku hanya ingin tahu, bila kau belum mempunyai kekasih, apakah kau menganggap nona sebagai teman biasa?"
"Bila kau bertanya seperti itu, aku pun akan menjawab seperti tadi"
"Apakah benar?"
Coh Thian-su menjadi marah dan berkata.
"Mengapa kau cunga bahwa aku senang pada nonamu?"
Kata Ong Toanio.
"Nonaku tidak secantik Nona Kang, tapi kakek dari nonaku adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan."
Dengan dingin Coh Thian-su berkata.
"Temyata kau mengira aku menginginkan kedudukan di keluarga Kie? Kau menghina diriku, besok aku akan pergi supaya kau merasa tenang!"
Mendengar kata-kata Coh Thian-su, Ong Toanio merasa senang dan berkata.
"Coh Siauya. bukan aku menciirigaimu aku hanya takut kalian akan melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Sebenarnya aku akan memberitahu sesuatu kepadamu."
"Bila aku menikah dengan nonamu, apakah itu tidak boleh dilakukan?"
Kata Coh Thian-su.
"Benar."
"Mengapa? Kau tidak perlu curiga aku punya niat ini, aku hanya ingin tahu alasannya."
"Aku hanya bisa memberitahumu bila kau tidak menikah dengan nonaku, sekeluargamu akan mendapat musibah."
Coh Thian-su terkejut dan bertanya.
"Mengapa?"
Jawab Ong Toanio dengan dingin.
"Kau bertanya terlalu banyak, bila kau memang tidak berniat menikah dengan nona, kau tidak perlu banyak bertanya, hanya ada 1 kalimat yang harus kau ingat!"
"Apakah itu?"
"Besok kau harus pergi dari sini!"
Coh Thian-su sangat marah dan berkata.
"Aku tidak akan diam terus di rumah Kie, sekarang pun aku bisa pergi!"
Ong Toanio tertawa dan berkata.
"Jangan tergesa-gesa!"
"Terima kasih kau tidak mengusirku sekarang. Baiklah, sekarang tinggalkan aku, aku mau tidur, besok perjalananku jauh."
Tapi Ong Toanio tidak mau pergi. Dia ragu tapi akhirnya bertanya juga.
"Coh Siauya, aku ingin bertanya tentang seseorang baru aku akan meninggalkan tempat ini."
"Siapakah dia?"
"Ibu kandungmu sudah meninggal lama bukan? Dan ibumu yang sekarang adalah ibu tiri?"
"Benar, apakah yang hendak kau tanyakan adalah tentang ibu tiriku?"
Ong Toanio tidak menjawab tapi kepalanya mengangguk Tanya Coh Thian-su.
"Hal apa yang ingin kau tahu tentang ibu tiriku?"
"Apakah dia hidup bahagia?"
Tanya Coh Thian-su.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Coh Siauya, jangan salahkan aku karena tidak sopan, aku benar-benar memperhatikan dia, ingin tahu apakah dia lebih senang atau malah lebih banyak bersedih?"
Kata Coh Thian-su.
"Apakah hidupnya senang? Aku tidak dapat mewakili dia menjawabnya, aku hanya tahu ayahku dan dia tidak pernah bertengkar, aku juga menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri."
Wajah Ong Toanio tertawa dan berkata.
"Kalau begitu dia hidup dengan bahagia, apakah dia sudah punya anak?"
Kata Coh Thian-su.
"Adik tiriku sudah berusia 14 tahun."
"Apakah dia masih senang menyulam?"
"Bajuku dan baju adikku semua dibuat olehnya. Adikku paling senang dengan baju yang disulam oleh ibu."
Tanya Ong Toanio.
"Apakah kau tidak suka?"
Coh Thian-su tertawa dan berkata.
"Aku adalah laki-laki, aku tidak berani mengenakan baju yang disulam."
Ong Toanio bertanya lagi.
"Apakah dia masih senang main kecapi?"
"Kelihatannya kau sangat mengenal ibuku."
"Dua puluh tahun lalu aku pernah menjadi pelayannya."
Coh Thian-su terkejut dan bertanya.
"Waktu itu? Berarti waktu itu dia tinggal di keluarga Kie?"
Ong Toanio tidak tahu Coh Thian-su sudah tahu sebanyak apa, dalam hati dia berpikir, 'Sepertinya Coh Thian-su belum tahu hubungan antara ibu tiriuya dan keluarga Kie.' Ong Toanio tidak berani mengatakan yang sebenarnya, dia terdiam sebentar kemudian berkata.
"Aku tidak berbohong, aku adalah ibu asuh dari ibu tirimu, sejak dia dilahirkan, aku sudah mengurusnya, aku bisa berada di keluarga Kie, ada ceritanya "
Kata Coh Thian-su.
"Tolong beritahu kepadaku, ayah dan ibu tiriku, apakah mereka kenal dengan majikanmu?"
"Coh Siauya, aku minta satu hal padamu."
Kata Ong Toanio.
"Baiklah, katakan saja, bila aku mampu aku pasti akan melakukannya."
"Sampaikan salamku untuk nona. Kau jangan bengong, nona adalah ibu tirimu, dari kecil aku memanggilnya begitu, putrinya pun aku panggil nona."
Coh Thian-su terpaku dan bertanya.
"Putrinya?"
Ong Toanio terkejut dan Coh Thian-su sudah mengerti, dengan cepat dia berkata.
"Kau juga punya adik perempuan, bila kelak bertemu aku juga akan memanggilnya nona."
Penjelasan ini terdengar masuk akal, tapi Coh Thian-su curiga, dia tidak bertanya lagi. Kata Ong Toanio.
"Tolong beritahu kepada ibu tirimu, aku sangat merindukannya. Mungkin aku tidak dapat bertemu dengannya lagi, kotak ini tolong berikan kepadanya "
Kata Coh Thian-su.
"Di dalam kotak itu ada apa? Ong Toanio, kau jangan marah, tapi aku harus tahu..."
"Kau selalu berkelana di dunia persilatan, membawa barang titipan memang harus hati-hati, aku tidak menyalahkanmu, baiklah aku akan membukanya. Ini adalah contoh gambar sulam yang sudah kusimpan sejak dulu, apakah dia memiliki yang lain di rumahmu? Bila kau mau tolong kembalikan barang miliknya, dengan begitu keinginanku sudah terlaksana."
Perasaan ini sudah bukan antara majikan dan pelayan lagi. Coh Thian-su sangat terharu dan berkata.
"Baik, aku akan memberikan barang mi kepadanya. Sekarang tolong beritahu hal yang tadi aku tanyakan."
"Tentang apa?"
"Antara ibu tiriku dan ayah Su-giok, apakah dua keluarga ini masih ada ikatan keluarga?"
"Aku tidak tahu."
"Tidak mungkin kau tidak tahu, kau..."
Tiba-tiba Ong Toanio meloncat dan keluar lewat jendela, ada suara yang masuk.
"Coh Siauya, kau jangan banyak tanya, besok segera pergi!"
Coh Thian-su tidak dapat tidur, dia duduk sambil menatap lampu, menunggu hari terang.
Hatinya tidak dapat tenang, hatinya serasa ada gelombang sedikit demi sedikit dia sudah dapat menebak, keluarganya dan keluarga Kie mempunyai hubungan aneh.
Yang menjadi sumber rasa anehnya adalah ibu tirinya.
Dia sedang berpikir tiba-tiba mendengar di atas atap ada orang lewat secepat angin.
Coh Thian-su sambil terkejut, dia berpikir, 'Apakah Ong Toanio kembali lagi?
Mungkin Ong Toanio beruban pikiran dan memberitahu hal yang sebenarnya.' "Ong Toanio!"
Coh Thian-su memanggilnya, Ong Toanio tidak masuk. Anign yang dibawa orang itu semakin menjauh.
"Dia bukan Ong Toanio, apakah dia Hiat-kun?"
Mengingat apa yang sudah dia alami, begitu juga dengan Hiat-kun.
"Apakah Hiat-kun diusir juga oleh Ong Toanio, dia ingin bercerita denganku, tapi malu untuk masuk ke dalam kamarku."
Bermacam-macam pikiran berkelebat di dalam otaknya membuat orang pintar terlihat bodoh.
Coh Thian-su tidak ingat bahwa Hiat-kun sekamar dengan Su-giok, bila Ong Toanio ingin mengusir Hiat-kun tidak mungkin dilakukan di depan Su-giok.
Coh Thian-su tidak berpikir panjang lagi, dia langsung lari keluar.
Di bawah sinar bulan yang terang, pohon-pohon waktu tidak ada angin tapi terus bergoyang.
Dia masuk ke dalam semak-semak, dia mengira Hiat-kun bersembuyi di dalam.
Tiba-tiba terdengar suara yang berkata.
"Coh Siauya, sudah malam begini kau masih menikmati keindahan bunga dan belum tidur?"
Coh Thian-su membalikkan tubuh dan di hadapannya adalah Ting Po. Wajah Coh Thian-su menjadi merah dan berkata.
"Aku tidak dapat tidur karena itu aku keluar untuk berjalan-jalan."
Dengan pelan Ting Po berkata.
"Apa yang menjadi pikiranmu?"
"Tidak ada. Paman Ting mengapa kau bertanya seperti itu?"
Dia mengira Ting Po datang untuk mengawasinya, dia balik bertanya kepada Ting Po. Ting Po tertawa dan berkata.
"Tidak apa-apa, tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan."
"Katakanlah!"
Kata Coh Thian-su. Dengan pelan Ting Po berkata.
"Coh Siauya, kali ini kau mengantar nona pulang tuan besar sangat berterima kasih kepadamu. Tapi tuan, apakah kau sudah lama meninggalkan rumah?"
"Hampir 2 bulan."
Jawab Coh Thian-su.
"Kalau begitu, cepatlah pulang!"
Coh Thian-su merasa sangat kesal dan berkata.
"Apakah kau mewakili tuanmu mengusirku?"
"Coh Siauya, jangan salah paham, aku sendiri yang berkata seperti itu, aku adalah seorang pelayan tidak dapat berbasa basi tapi ini pun demi kebaikanmu supaya kau cepat pulang!"
Kekesalan Coh Thian-su agak mereda dan berkata.
"Paman Ting, kau berkata seperti itu sepertinya sangat berat bagiku, aku tahu kau adalah teman ayahku, kau menyunihku pulang pasti ada sebabnya, tapi aku harap kau jujur kepadaku!"
Kata Ting Po.
"Kau adalah tamu dari nona, aku adalah pelayan keluarga Kie, kau bertamu ke sini, berarti kau adalah majikanku, apakah aku menjilat kepadamu?"
"Paman Ting, bila kau berkata seperti itu, aku harus berlutut kepadamu.
"Setelah berkata itu Chu Tian hu benar-benar berlutut Dengan ringan Ting Po mengangkat tubuh Coh Thian-su. Kata Ting Po.
"Terima kasih kau tidak menganggapku sebagai pelayan, baiklah jujur aku akan mengatakan bahwa ayahmu menunggu kepulanganmu."
Tanya Coh Thian-su dengan aneh.
"Mengapa kau bisa tahu?"
"Aku menebak dia akan pergi ke tempat jauh."
Coh Thian-su merasa lebih aneh tapi dan bertanya.
"Apakah ini hanya tebakanmu?"
Jawab Ting Po.
"Benar, sudah 10 tahun lebih aku tidak bertemu dengan ayahmu, tentunya bukan dia yang bilang."
"Apakah tebakanmu ada buktinya?"
Tanya Coh Thian-su.
"Aku tidak mempunyai bukti, tapi aku juga tidak asal menebak."
"Apakah kau menganggap dirimu adalah Cukat Liang?"
Kata-kata ini sangat menusuk hati Ting Po, Coh Thian-su hanya berharap Ting Po mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Kau pulang dan beritahu ayahmu bahwa akulah yang menyuruhmu pulang, dan tanyakan kepadanya apakah tebakanku benar. Aku hanya mengatakan itu saja. Jangan salahkan aku, walaupun ini bukan rahasia tapi aku tidak dapat memberitahumu."
"Aku harus bertanya kepada siapa?"
Tanya Coh Thian-su.
"Tanyakanlah kepada ayahmu, tapi ayahmu akan memberi tahu atau tidak, itu adalah urusannya."
Kata Coh Thian-su.
"Paman Ting, kau membuatku penasaran, belum tiba di rumah aku bisa mati penasaran."
"Bila kau memaksa ingin tahu, baik aku akan memberitahu bila kau terus tinggal di sini kau akan mendapat musibah, dan musibah ini akan berhubungan dengan ayahmu." 'Mendapat musibah', Ong Toanio juga berkata seperti itu Tapi kata-kata Ong Toanio tidak separah Ting Po, ada sangkutpautnya dengan ayahnya. Musibah tidak dapat dicegah, menasihati tuan. Agar cepat pulang ke rumah sendiri. Apakah yang akan terjadi? ---ooo0dw0ooo--BAB Laki-laki yang hidupnya tidak tenang Selalu khawatir dan bersembunyi Siluman rase sudah terlihat Sekali salah sulit diperbaiki A. Gin-ho (Rase Perak) dan Kim-ho (Rase Emas) Ting Po mengatakannya dengan begitu yakin, keyakinannya seperti mengatakan bahwa matahari terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat, bukan seperti menebak―bila dia tidak mendengar nasihat Ting Po untuk cepat pulang, mereka ayah dan anak akan mendapat musibah. Mendengar ini Coh Thian-su sangat terkejut, tapi dia juga percaya. Dengan dingin dia bertanya.
"Paman Ting, aku ingin tanya, apakah bila aku pulang dan memberitahu kepada ayah apa yang kau katakan, ayahku akan pergi jauh untuk menghindari musibah ini?"
Kata Ting Po.
"Kau jangan terlalu banyak bertanya, asal kau pulang, kau akan mengerti, bila ayahmu ingin menceritakannya dia pasti akan mengatakannya."
Ting Po tidak menjawab pertanyaan Coh Thian-su, tapi dia sudah mengakuinya. Dengan tertawa dingin Coh Thian-su berkata.
"Ayahku sangat ramah terhadap orang lain, tapi dia juga tidak dapat diancam oleh orang lain, jika mau membunuhku mungkin mudah tapi mengancam ayahku, sepertinya tidak akan begitu mudah."
Ayahnya yaitu Coh Kim-sung sudah lama menjadi seorang pesilat tangguh.
Orang yang bisa mengalahkannya bisa dihitung dengan jari.
Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Guru Siauw-lim dan Ketua Bu-tong juga belum tentu mempunyai keyakinan ayah bisa mendapat musibah, kalau pun bisa ayahku juga tidak akan bisa diancam oleh mereka."
Ting Po tidak mempeduhkan tawa dingin Coh Thian-su, dia berkata.
"Coh Siauya, apakah kau sengaja ingin tinggal lama di sini? Aku harap kau jangan bertindak gegabah."
"Baiklah, aku sudah mengerti, aku memang tidak akan tinggal lama di sini."
Ting Po terpaku.
"Apa kau sudah mengerti semuanya?"
Jawab Coh Thian-su.
"Aku sudah tahu siapa dia, benar, ayahku tidak takut dengan siapa pun, hanya takut kepadanya."
"Siapa yang kau maksud?"
Tanya Ting Po.
Kali ini giliran Coh Thian-su yang tidak menjawab.
Yang dimaksud dengan Coh Thian-su adalah Kie Yan-gan, ayahnya benar-benar takut kepada Kie Yan-gan.
Sewaktu Coh Thian-su masih kecil, dia pernah mencuri dengar percakapan antara ayahnya dan ibu tirinya, waktu itu dia sudah takut bahwa ayahnya hanya takut kepada pak tua Kie.
"Pantas Paman Ting bicaranya tidak jelas, ternyata dia mewakili majikannya memberi peringatan, dia pun tidak akan menyebut nama majikannya,"
Pikir Coh Thian-su.
Kecurigaan yang lain sudah terlihat jawabannya, menurutnya, 'Teman laki-laki dari cucu perempuannya, tidak akan dianggap sebagai tamu karena dia ingin menjodohkan cucunya dengan cucu murid yang dilatihnya sendiri, dia tidak mengijinkan laki-laki manapun yang mungkin bisa dicintai oleh cucunya untuk tinggal di rumahnya.
Ini sudah pasti!' Coh Thian-su berpikir lagi, 'Walaupun aku tidak tahu antara ayah dan Kie Yan-gan ada dendam seperti apa, tapi ayah pernah menyuruhku agar menghindari bertemu dengan keluarga Kie, dari sini saja sudah ada perkiraan walaupun bukan dendam yang dalam tapi juga ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
Dia adalah pesilat nomor satu, bila tidak ada sesuatu apa pun dia tidak akan bermasalah dengan orang yang lebih muda.
Tapi bila dia ingin memaksaku melakukan hal yang tidak aku suka, itu tidak sama.
Yang dia khawatirkan adalah dia takut aku mencintai cucunya.
Dari kata-kata Paman Ting sudah terlihat dengan jelas, bila aku memaksa tinggal di sini, pak tua itu tidak akan berlaku baik kepadaku karena pak tua Kie mempunyai sifat yang aneh dan sudah terkenal di dunia persilatan.
Paman Ting memperingatiku, bahwa akan terjadi bencana kepada ayahku, sepertinya kata-kata ini bukan untuk mengagetkanku.
Baiklah.
Biar saja aku dianggap terkejut oleh dia' Berpikir sampai di sini, Coh Thian-su sudah sangat marah, dia langsung membalikkan tubuh dan pergi.
Ting Po mengejarnya dan berkata.
"Coh Siauya, kau jangan berpikir macam-macam!"
"Aku sudah mengerti, kau beritahu kepada majikanmu, besok aku akan pergi!"
"Coh Siauya, kau belum mengerti, kau..."
Suaranya tiba-tiba berhenti.
Coh Thian-su merasa ada angin kecil yang lewat dan seperti ada senjata tajam yang menghalanginya, dia merasa dadanya menjadi kesemutan, dia juga seperti mendengar Ting Po berteriak, tapi Coh Thian-su sudah pingsan.
Entah berapa lama, Coh Thian-su mulai sadar, tapi matanya terasa berat dan tidak dapat dibuka.
Coh Thian-su merasa ada yang aneh, seperti ada hawa panas yang mengalir melalui punggungnya dan masuk ke seluruh tubuhnya.
Dia belum pernah merasakan hal seperti ini, tapi dia adalah seorang pesilat, begitu dia tersadar, segera tahu ada orang yang sedang mengalirkan hawa murni ke dalam tubuhnya, sedikit demi sedikit dia teringat kejadian sebelum dia pingsan.
Dan teringat dia sudah terkena serangan senjata rahasia.
Senjata rahasia itu sudah direndam oleh racun yang keras, tidak disangka pesilat nomor satu memakai cara yang keji untuk membunuhnya, tapi siapa yang menolongnya?
Belum habis berpikir, tiba-tiba ada yang bicara.
"Tuan besar beristirahatlah! Meski sudah setengah batang dupa terbakar tapi tuan besar sudah menghabiskan tenaga latihan selama 3 tahun."
Ini adalah suara Ting Po. Coh Thian-su terkejut dan berpikir, 'Ting Po memanggilnya tuan besar, apakah dewa penolongku adalah Kie Yan-gan?' Benar saja terdengar Kie Yan-gan berkata.
"Habis tenaga sedikit tidak apa-apa, asal bisa menolong nyawanya walaupun harus ditukar oleh nyawaku juga tidak masalah."
Keadaan sebenarnya dan perkiraan manusia kadang-kadang tidak sama, pembunuh yang keji yang dianggap sebagai musuhnya malah menjadi dewa penolong dan siap mengorbankan nyawanya.
Coh Thian-su sangat terkejut, dari kata-kata Kie Yan-gan, dia sudah tahu siapa pelakunya.
Dan orang ini ada hubungan erat dengannya.
"Kemungkinan yang lain adalah cucunya, karena keluarganya yang ada hanya Su giok, tapi mengapa Su-giok ingin melukaiku?"
Persoalan ini membuat Coh Thian-su pusing tujuh keliling Begitu Su-giok masuk dia langsung berteriak.
"Kakek, bagaimana keadaan Coh Toako? Tolonglah dia kek, kau harus menolongnya!"
Dengan suara kecil Ting Po berkata.
"Nona, kau jangan berteriak, jangan kacaukan suasana hati kakekmu, apakah kau tahu begitu terjadi musibah ini, kakekmu sudah sehari semalam tidak tidur, dalam waktu sehari semalam dia berusaha mengeluarkan racun dari tubuh Coh Thian-su."
Waktu itu Kie Yan-gan pun sudah selesai dan dia mulai beristirahat, dia seperti agak lelah dan berkata.
"Sudah Selesai!"
"Apa yang sudah selesai?"
Tanya Su-giok.
"Apa yang kau harapkan itu sudah selesai kulakukan."
"Apakah Coh Toako sudah membaik?"
"Walaupun tidak dapat segera sembuh seluruhnya, tapi aku jamin dia sudah terlepas dari bahaya,"
Kie Yan-gan menjawab dengan nafsa agak sesak. Sekarang Su-giok sudah agak tenang, dia mendekati kakeknya dan berkata.
"Kakek, kakek sangat baik! kakek yang baik, aku masih mempunyai satu permintaan."
"Begitu kau memujiku, kakek sudah tahu pasti ada yang kau minta. Baiklah, apa yang kau minta?"
Tanya Kie Yan-gan.
"Ini bukan untukku, tapi demi nama baik kakek."
"Begitukah?"
"Kakek, semua orang tahu bahwa kakek adalah orang nomor satu di dunia persilatan, tapi di rumah kakek ada yang berani berbuat kejahatan, bila kakek tidak menangkap pelakunya, nama baik kakek akan terancam."
"Aku adalah orang tua yang tidak lama lagi akan masuk ke dalam peti mati, tidak butuh nama baik lagi."
Su-giok marah dan berkata.
"Kakek, aku tidak akan mengijinkan kakek berkata seperti itu. Kakek belum tua, tahun ini baru berumur 70 tahun, kau akan hidup 30 tahun lagi"
Kata Kie Yan-gan.
"Kalau begitu, aku akan menjadi siluman tua?"
"Kakek, aku tidak main-main, kau tidak peduli lagi dengan nama baik tapi aku masih peduli, bagaimana aku bisa mengangkat kepala di depan Coh Toako dan Cici Kang bila kabar ini tersebar, aku akan lebih malu lagi di depan orang lain."
Kie Yan-gan baru berkata.
"Sebenarnya kakek hanya bercanda denganmu, kau adalah cucu kesayanganku, kau menyuruh kakek melakukan apa pun, kakek pasti akan menepatinya, tapi aku hanya bisa berusaha, tidak dapat menjamin bisa menangkapnya."
"Kakek, asal kau mau, tidak perlu kakek yang turun tangan, pesilat tangguh lain pun pasti akan mau membantumu dengan begitu aku akan tenang karena kakek pasti bisa menangkap penyerang gelap ini."
Kata Kie Yan-gan.
"Bila kau sudah tenang, cepatlah beritahu Cici Kang bahwa Coh Toako keadaannya sudah tidak berbahaya lagi. Supaya Cici Kang jadi bisa tenang."
"Benar, Cici Kang sudah 2 hari tidak makan, tadi aku lihat dia sedang menangis."
Kata Su-giok.
"Apakah benar?"
"Benar, kakek apakah kau tidak tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih?"
"Kalau begitu aku akan tenang."
Kie Su-giok tahu jawaban kakeknya mengandung makna lain dan dia bertanya.
"Kakek, apa maksudmu?"
Kata Kie Yan-gan.
"Aku merasa tenang karena cucuku tidak direbut oleh orang lain. Sudah sana pergi! Cici Kang sudah menunggumu."
Coh Thian-su mendengar percakapan mereka, dia pun mempunyai pertanyaan yang sama, siapakah penyerangnya? Kie Yan-gan melihat Su-giok masuk ke dalam dan dia menarik nafas.
"Ayahnya sewaktu kecil diajar dengan ketat olehku tapi entah mengapa dia bisa menjadi anak durhaka, karena itulah aku mendidik Su-yiok dan juga memanjakannya. Untung saja dia tidak menjadi orang jahat karena terlalu kumanja."
Ting Po berdiri di sisinya, tiba-tiba mendengar Kie Yan-gan menceritakan tentang anaknya. Ting Po hanya terdiam. Tiba-tiba Kie Yan-gan berkata.
"Lo Ting, apa kau lihat siapa penyerang gelap itu? Sekarang, kau harus mengatakannya kepadaku."
Ting Po terkejut dan berkata.
"Aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu atau tidak berani mengatakannya?"
"Aku benar-benar tidak tahu, karena orang itu larinya sangat ccpiii aku tidak sempat melihat."
Kata Kie Yan-gan.
"Mungkin kau tidak bisa mengejar karena kau tidak bermaksud untuk mengejarnya, kau tidak berani mengejarnya karena kau takut."
"Apa yang harus kutakuti?"
Coh Thian-su juga merasa aneh dengan kata-kata Kie Yan-gan, dalam hati dia berpikir, 'Ting Po adalah penjahat kelas kakap yang membunuh orang tanpa memejamkan mata, sudah banyak melewati berbagai halangan, mana mungkin dia takut dengan penjahat kecil?' Kata Kie Yan-gan.
"Benar, aku bilang kau takut karena orang itu bukan musuhmu tapi adalah orang yang sangat kau sayangi!"
Dengan gemetar Ting Po berkata.
"Tuan besar, apakah kau kira aku sengaja melepaskannya? Aku benar-benar tidak tahu siapa dia."
"Aku tidak berkata seperti itu, hanya berkata bahwa hatimu takut, apakah kau mengakuinya?"
Ting Po tidak menjawab, sepertinya dia sudah mengakuinya. Kie Yan-gan terus berkata.
"Aku percaya kau tidak sempat melihat wajahnya, karena kau takut jadi kau tidak berani mengejar, tapi walaupun kau tidak sempat melihat dia, tapi hatimu sudah tahu siapa dia."
Ting Po tetap terdiam, Kie Yan-gan melanjutkan.
"Kau takut mengenali dia jadi kau berpura-pura tidak melihatnya atau kau yang membuatnya menjadi tidak tahu."
Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata.
"Lo Ting, jangan menutupi kejahatan binatang itu lagi! Aku sudah tahu siapa dia!"
Coh Thian-su terkejut, yang dimaksud binatang oleh Kie Yan-gan itu siapa? Kecurigaan baru keluar tapi jawaban sudah keluar dari mulut Ting Po.
"Tuan besar, waktu itu aku takut orang itu adalah Siauya. Sekarang aku yakin orang itu bukan Siauya."
Sebenarnya Coh Thian-su sudah bisa membuka matanya tapi dia tidak berani, karena sekarang dia sudah tahu orang itu adalah putra Kie Yan-gan.
Begitu mendengar jawaban itu, mata Coh Thian-su seperti melihat kabut, dia tidak mengerti, 'Ayah Su-giok sudah mati, dia tidak mempunyai paman, dari mana datangnya putra Kie Yan-gan ini?' Coh Thian-su baru mengerti, 'Pantas Kie Cianpwee tadi mengatakan bahwa dia akan menolongku karena ingin menebus dosa!' Terdengar Kie Yan-gan bertanya kepada Ting Po.
"Kau mengandalkan bukti apa bahwa bukan binatang ini yang melakukannya!"
"Pertama, Siauya tidak biasa memakai senjata rahasia yang penuh dengan racun. Kedua, Siauya tidak akan melakukan hal sekeji itu."
Kie Yan-gan marah dan berkata.
"Kau masih mau membelanya? Apakah tidak cukup banyak kejahatan yang telah dia lakukan? Dulu dia juga berani membunuh 4 murid Bu-tong."
Ting Po tidak takut dimarahi oleh majikannya, kemudian dia berkata.
"Sifat Siauya tidak begitu jahat, hanya saja waktu itu dia sudah salah jalan karena salah berteman, beberapa hari yang lalu hamba bertemu dengannya, walaupun dia tidak berani pulang, tapi hamba merasa dia sudah mulai menyesal."
Kata Kie Yan-gan.
"Itu hanya tebakanmu, tidak ada bukti yang kuat."
"Senjata rahasia itu bukan milik Siauya."
"Baik, keluarkan jarum itu, aku ingin lihat."
Jarum beracun itu ditarik oleh batu magnet dari luka Coh Thian-su dan masih ada bekas darah.
Ting Po memakai sarung tangan dan dengan teliti membersihkannya, kemudian dibawanya ke hadapan Kie Yan-gan.
Jarum itu buatannya sangat bagus, ditengah jarum adalah lubang, jarum itu dibagi menjadi 3 bagian, karena sudah direndam oleh 3 macam jenis racun, warna jarum itu pun terbagi menjadi 3 warna.
Kata Kie Yan-gan.
"Lo Ting, kau lebih berpengalaman, jarum kecil ini berasal dari keluarga mana?"
"Ini adalah jarum Ting-seng dari Suchuan dari keluarga Tong."
"Senjata ini berasal dari keluarga Tong, tapi ini bukan milik keluarga Tong."
Kata Kie Yan-gan.
"Kalau begitu ini milik keluarga mana?"
Tanya Ting Po.
"Propinsi Soasay dari keluarga Bok."
Jawab Kie Yan-gan.
"Aku hanya tahu keluarga yang memiliki senjata rahasia nomor satu di dunia persilatan ini adalah keluarga Tong, tidak pernah mendengar ada senjata rahasia keluarga Bok."
Kata Kie Yan-gan.
"Ini adalah rahasia dunia persilatan, keluarga Tong tidak ingin hal itu digembar gemborkan, waktu itu kau berada di Liauw-tong, pantas bila kau tidak tahu."
"Apakah tuan besar bisa menjelaskannya?"
Kata Kie Yan-gan.
"Kepada orang lain mungkin aku tidak dapat menjelaskannya, tapi kau adalah pengecualian..."
"Kau tidak perlu bertanya kapan hal ini terjadi, juga tidak perlu tahu nama-nama mereka, peran utamanya adalah laki-laki dari keluarga Tong, kita sebut saja dia sebagai Tuan Tong. Katanya senjata rahasia keluarga Tong ada 33 jenis dan memiliki-beribu-ribu macam cara menggunakannya, senjata ini sangat sulit dikuasai oleh anak-anak keluarga Tong. Dari kecil harus berlatih dengan berat dan berlatih selama puluhan tahun itu pun hanya bisa mencapai beberapa persen saja. Tuan Tong ini sangat pintar, belum mencapai usia 20 tahun dia sudah bisa menguasai 18 macam senjata tajam dan di dalam keluarga Tong belum pernah ada yang bisa seperti dia, pada umur 20 tahun dia sudah menikah. Istrinya berasal dari keluarga pesilat yang terkenal. Mereka benar-benar sangat serasi, semua orang iri kepada suami istri ini, tapi tidak ada yang tahu sebenarnya mereka sering bertengkar."
"Bertengkar karena apa?"
Tanya Ting Po.
"Karena Tuan Tong ini rajin berlatih ilmu silat dan dia tidak memperhatikan istrinya. Ada sebab lain yang tidak diketahui oleh orang lain, katanya dia mempunyai kekurangan di tubuhnya."
"Kalau begitu Nyonya Tong ini pasti tidak kerasan tinggal di rumah."
Kata Ting Po "Nyonya Tong ini berasal dari keluarga terkenal dan dia bersekolah sangat tinggi, juga sangat baik terhadap mertuanya, mengurus suami dan anak-anaknya dengan telaten, sebelum dia meninggal semua keluarganya memuji dia sebagai istri yang baik."
"Setelah mati, apakah semuanya berubah?"
Tanya Ting Po.
"Jangan terburu-buru akan kuceritakan semuanya."
"Setelah menikah selama 3 tahun, Nyonya Tong melahirkan seorang putra. Putranya lebih pintar dari ayahnya. Umur 16 tahun dia sudah dapat menguasai sebanyak 20 macam ilmu senjata tajam. Tuan Tong sangat suka kepada ilmu silat karena itu dia sangat sayang kepada anak ini."
"Walaupun sayang kepada anak ini, tapi dengan kelahiran anak ini membawa duri ke dalam hatinya, anak ini tumbuh besar tapi tidak mirip dengan dia, semakin besar semakin tidak mirip."
Kata Ting Po.
"Bila anak mirip dengan ibunya tapi tidak mirip dengan ayahnya, itu bukan hal yang aneh."
Kata Kie Yan-gan.
"Benar, di antara keluarga Tong tidak ada yang berani berkomentar, di dalam hati Tuan Tong dia mulai curiga, keluarganya tidak berkometar karena Nyonya Tong ini sangat bisa menempatkan diri di keluarganya, tapi di luaran sudah banyak beredar kabar burung dan ini juga terdengar oleh Tuan Tong."
"Karena Tuan Tong curiga, lalu dia mencari teman baiknya yang pernah menjadi tabib istana dan memeriksanya, hasilnya membuktikan bahwa dia sama sekali tidak bisa mempunyai anak (mandul)."
Kata Ting Po.
"Keluarga Tang terkenal di dunia persilatan, bila terjadi hal seperti ini, bagaimana cara membereskannya?"
Kata Kie Yan-gan.
"Tuan Tong pulang dan marah-marah kepada istrinya, karena istrinya tahu akan terjadi hal seperti ini dan dia pun dengan jujur menceritakannya. Anak ini adalah hasil hubungan gelap dengan teman baik Tuan Tong, yang bermarga Bok'."
"Nyonya Tong begitu jujur, apakah dia tahu bahwa suaminya akan memaafkannya?"
Tanya Ting Po "Tidak, dia tidak meminta suaminya memaafkannya, karena sebelumnya dia sudah minum arak yang beracun."
"Racun itu berasal dari racun senjata rahasia, bila terlambat nyawa tidak akan tertolong lagi, sebelum suaminya marah besar, istrinya sudah meninggal, suaminya teringat kepada kebaikan istrinya kemarahannya pun reda, dia berkata 'hal ini bukan semuanya salahmu, mengapa kau harus melakukan ini?'."
Kata Nyonya Tong.
"Aku bersalah kepadamu, aku harap kau bisa melepaskan anakku, tolong biarkan dia terus hidup."
"Apakah suaminya mengabulkannya?"
"Bagaimana menurutmu?"
"Bila dia ingin istrinya pergi dengan tenang, tentu dia akan setuju."
"Sebelum istrinya meninggal tentu dia akan begitu, tapi bila suaminya jujur, sangat sulit berjanji di depannya. Pertama, aturan keluarga Tong sangat ketat, senjata rahasia tidak dapat dan tidak boleh dipelajari oleh keluarga lain. Kertas tidak dapat membungkus api, begitu Nyonya Tong bunuh diri, ketenangannya akan terusik, walaupun Tuan Tong tidak membunuh anak ini, keluarga Tong pun tidak akan melepaskan anak ini. Kedua, teman baiknya berselingkuh dengan istrinya, siapa pun tidak dapat menahan diri, Tuan Tong ingin membunuh kekasih gelap istrinya, tapi dia takut anak ini akan balas dendam kepadanya."
"Orang seperti Tuan Tong harus bisa memegang janjinya, apakah Tuan Tong tega membohongi istrinya?"
"Benar, pikiran Tuan Tong memang seperti dirimu, karena itu dia tidak segera menjawab permintaan istrinya sepertinya Nyonya Tong tahu pikiran suaminya, tapi kondisi dia sudah sangat lemah, terakhir dia hanya mengatakan 2 kalimat. Dia mengatakan.
"Aku benci temanmu tapi kau tidak perlu membunuhnya..."
Kata-kata lain sudah tidak terdengar.
"Apakah Nyonya Tang sudah membunuh kekasih gelapnya?"
"Kali ini kau salah, Tuan Tong sedang memikirkan kata-kata istrinya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan memanggil ayah. Dia buru-buru menutup mayat istrinya dengan selimut. Itu anaknya, tidak, tidak, hanya namanya saja masuk ke keluarga Tong dan dia berkata.
"Ibumu baru tidur, kau jangan ribut, ada apa mencariku?"
"Aku baru pulang dari rumah paman Bok."
Jawab anak itu.
Keluarga Tong dan keluarga Bok adalah 2 keluarga yang berteman baik, bila anaknya biasa bermain ke rumah Bok, itu tidak aneh, tapi hari itu tidak sama, dia teringat pada kata-kata istrinya sebelum meninggal, segera dia menjadi curiga dan bertanya.
"Kenapa pulang-pulang langsung mencariku?"
Anak itu menjawab.
"Paman Bok memberikan hadiah untuk ayah."
Anak itu memberikan tas kulit kepada ayahnya.
"Hadiah apa ini?"
"Aku tidak tahu, Paman Bok menyuruh orang rumahnya memberikan ini kepadaku. Paman Bok sendiri tidak mengatakan apa-apa karena itu aku juga tidak dapat memberitahu apa-apa."
Tuan Tong merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia bertanya lagi.
"Apakah paman Bok sendiri yang memberikannya?"
"Paman Bok sudah masuk dan tidak keluar lagi, mengapa ayah menanyakan hal ini?"
"Tidak apa-apa, kau pergilah dulu."
Anak itu sebenarnya ingin tahu hadiah apa yang berada di dalam tas itu, tapi karena ayahnya sudah menyuruh dia keluar, terpaksa dia menurut.
Tas itu dibuka oleh Tuan Tang, isinya adalah kepala orang!
Ting Po terkejut dan berkata.
"Itu kepala siapa?"
Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata.
"Kepala orang she Bok, dia memenggal kepalanya sendiri dan memberikannya kepada Tuan Tong dan di dalam tas itu ada sepucuk surat. Kata-kata di dalam surat seperti kata-kata istrinya sebelum meninggal. Pertama, dia meminta maaf. Kedua, dia minta agar Tuan Tong mau melepaskan anaknya supaya hidup terus."
"Terakhir bagaimana?"
Kata Ting Po.
"Tuan Tong menulis sepucuk surat, dia memanggil anaknya dan berkata, 'kau sudah berusia 16 tahun, sudah bisa berkelana di dunia persilatan, sekalian membantuku membereskan beberapa persoalan, tapi persoalan ini dapat ditunda, kau pergi dulu ke Suchuan, sebulan sesudah itu baru kau buka surat ini dan kau akan tahu, tapi ingat bila belum waktunya kau jangan buka!'."
Anak ini sangat menurut kepada ayahnya.
Walaupun merasa aneh, tapi ayahnya berkata seperti itu pasti ada sebabnya dan dia menurut, tapi belum genap 1 bulan sudah terjadi hal yang aneh pada tubuhnya.
Dia merasa ilmu silatnya semakin hari semakin menghilang.
Sebulan kemudian semua tenaga dalamnya hilang, dia masih tetap seperti orang biasa mempunyai tenaga, tapi tidak mempunyai ilmu tenaga dalam.
Anak ini tetap menuruti perintah ayahnya, mimpi pun tidak disangka bahwa ayahnya sudah memusnahkan tenaga dalamnya tapi dia tidak curiga.
Hanya merasa takut dan aneh, dia malah merasa curiga kalau dia mendapat penyakit aneh sehingga membuatnya kehilangan tenaga dalam.
Kalau begitu bagaimana dia dapat membereskan urusan yang dipesan oleh ayahnya.
Sebulan kemudian, dia membuka surat itu, dia terkejut dan sepertinya nyawanya tidak bersatu lagi dengan tubuhnya.
"Surat itu pasti berisi tentang identitasnya."
Kata Ting Po.
"Benar, surat itu berisi. Anakku, kau jangan salahkan aku, apakah kau ingat sebelum kau pergi, aku memberimu segelas arak. Arak itu kucampur dengan obat yang dapat memusnahkan ilmu silat, aku memusnahkan ilmumu, karena kau bukan bermarga Tong, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu, kau di rumah Tong sudah 16 tahun. Aturan keluarga Tong sudah tahu dengan jelas. Tentunya kau mengerti caraku."
Kata Ting Po.
"Biasanya cara memusnahkan ilmu silat seseorang adalah dengan mematahkan tulang pundaknya. Hanya keluarga Tong yang memakai obat ini. Tuan Tong memakai cara ini benar-benar sudah memberi kelonggaran untuk anak ini."
Di dalam surat masih terdapat 3 larangan.
Pertama, tidak diijinkan memakai senjata rahasia keluarga Tong.
Kedua, tidak mengijinkan dia mengajar ilmu silat keluarga Tong kepada orang lain.
Ketiga, bila Tuan Tong masih hidup, anak itu tidak diijinkan masuk ke wilayah Suchuan."
"Ilmu silat anak itu sebenarnya sudah musnah dan menurut kebiasaan, dia tidak akan berani memakai senjata rahasia melukai orang. Bila lawannya bisa sedikit silat sebelum racun menyebar sudah dapat membunuh anak itu dulu. Tapi bila tidak boleh mengajarkan kepada orang lain, larangan ini pasti tidak akan dituruti."
"Tuan Tang pun memikirkan hal ini tapi dia berpikir lagi, walaupun anak ini sangat berbakat di dunia persilatan, tapi dia belum bisa menguasai dengan sempurna senjata rahasia keluarga Tong. Apalagi begitu mengeluarkan ilmu silat Tong di luar keluarga Tong, orang itu akan mendapat musibah atau bahkan dibunuh!"
"Tuan besar, apakah kau pernah membaca surat itu? Mengapa kau bisa berkata begitu jelas?"
Tanya Ting Po. Kie Yan-gan tertawa dan berkata.
"Aku hanya bercerita dengan ditambah sedikit bumbu-bumbu, agar cerita itu bertambah menarik."
Tapi Ting Po sudah tahu dari sorot mata Kie Yan-gan terlihat begitu berbeda seperti menyimpan banyak rahasia.
Dia sudah lama mengikuti Kie Yan-gan, dia tahu masih banyak yang belum diceritakan olehnya.
Kie Yan-gan dan tokoh utama cerita ini pasti ada hubungannya.
Kata Kie Yan-gan.
"Tebakanmu pun tidak salah, anak itu tetap mengajarkan ilmu silat keluarga Tong kepada turunannya. Senjata rahasia keluarga Tong diganti namanya menjadi keluarga Bok, khasiatnya lebih kejam dan lebih beracun dibandingkan dengan racun keluarga Tong. Jarum beracun ini adalah salah satu contohnya."
Tiba-tiba Kie Yan-gan membesarkan suaranya.
"Lo Ting, sebenarnya keluarga Bok di propinsi Saosay kau tidak tahu, tapi ada sepasang adik kakak, yaitu sang kakak bernama Bok Hoo-hoo dan Bok Koan-koan, dijuluki Kim-ho dan Gin-ho, apakah kau pernah mendengarnya? Dua puluh tahun yang lalu mereka sudah cukup terkenal."
"Aku pernah mendengar."
Jawab Ting Po. Walaupun wajahnya biasa tapi hatinya sangat terkejut. Kie Yan-gan melihatnya dan bertanya.
"Siapa yang bercerita kepadamu?"
"Dua puluh tahun yang lalu aku masih melakukan usaha yang tidak memerlukan modal, aku dengar dari teman-temanku di dunia hitam, aku tidak ingat siapa namanya, mereka mengatakan Kim-ho dan Gin-ho adalah adik kakak penjahat. ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi tapi mereka tidak berkata bahwa kakak beradik itu memiliki senjata rahasia yang mematikan."
Kata Kie Yan-gan.
"Keluarga Bok, yaitu Kim-ho dan Gin-ho adalah dua bersaudara, mereka adalah anak-anak dari anak haram itu, tapi mereka memang tidak sembarangan mengeluarkan senjata rahasia."
Ting Po tampak sedang berpikir, sebenarnya Kie Yan-gan pun tahu sampai seberapa banyak? Kemudian dia coba-coba bertanya.
"Tuan besar yang melukai Coh Siauya adalah senjata rahasia beracun dari Shan Xi yaitu dari keluarga Mu, apakah tuan besar curiga dengan 2 bersaudara Bok itu? Kalau begitu tidak ada hubungannya dengan Siauya,"
Tiba-tiba Kie Yan-gan berubah menjadi dingin.
"Mengenai 2 bersaudara Bok ini, apa kau hanya tahu sedikit?"
"Ya, aku memang hanya tahu sedikit."
"Gin-ho yaitu Bok Koan-koan pernah menjual obat dan terakhir pernah tinggal di kota ini selama setengah tahun. Apakah kau juga tidak tahu?"
Dengan gemetar Ting Po berkata.
"Apa yang kau ketahui, tuan besar?"
"Aku tahu binatang itu kumpul kebo dengan Gin-ho, aku juga tahu kau selalu menutupi kesalahan dari binatang itu."
Ting Po menarik nafas dan berkata.
"Tuan besar, aku yang bersalah, aku tidak tahu semuanya akan menjadi seperti ini, aku hanya mengira karena dia masih muda hatinya masih bergejolak, mungkin hanya sekedar iseng. Bila sudah menikah, dia akan berubah menjadi baik, siapa yang tahu...siapa yang tahu bakal seperti ini. Ini salahku, terlalu menyayangi Siauya. Tuan besar, hukumlah aku!"
Kata Kie Yan-gan.
"Kau terlalu menyayanginya, tapi ini bukan kesalahanmu, yang salah adalah aku. Aku hanya tahu bahwa mendidik anak itu harus ketat, tapi tidak benar-benar memperhatikannya. Hanya berada di depanku dia jadi penurut, tidak pernah melihat dia berbuat nakal. Begitu tahu dia berbuat kesalahan di luar, semua itu sudah terlambat."
Ting Po tidak berani bicara, Kie Yan-gan melanjutkan lagi.
"Binatang ini kumpul kebo dengan Gin-ho, senjata rahasia Bok sudah dipelajari olehnya, binatang itu durhaka tapi dia sangat berbakat belajar ilmu silat pun bahkan bisa melampaui aku."
Ting Po setengah percaya dan berkata.
"Aku tidak jelas melihat si penyerang gelap, laki-laki atau perempuan aku tidak tahu. Jarum beracun ini adalah milik keluarga Bok, yang menyerang Coh Siauya mungkin saja Bok Koan-koan."
Kata Kie Yan-gan.
"Bok Koan-koan tidak akan seberani itu, tapi binatang ini berdasarkan ceritamu, diam-diam sudah bisa memukul Ji-pak-siang-eng, sepertinya ilmu silatnya sudah lebih tinggi dari aku."
Walaupun Kie Yan-gan berkata seperti itu, tapi di dunia ini kadang-kadang banyak orang yang salah tebak.
Yang diam-diam menyerang Coh Thian-su bukan Gin-ho, Bok Koan-koan, juga bukan Kie Lek-beng.
Coh Thian-su sudah sadar, dia sudah mulai bisa bicara tapi dia masih berpura-pura pingsan.
Dia sudah dapat menebak, mengapa putra Kie Yan-gan mau membunuhnya secara diam-diam, terdengar Kie Yan-gan berkata lagi, kata-katanya membuat Coh Thian-su lebih terkejut lagi.
Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata.
"Kita tidak perlu mengkhawatirkan jiwa Coh Thian-su, yang aku khawatirkan adalah keselamatan nyawa ayahnya."
Ting Po dengan suara gemetar berkata.
"Kau bilang Siauya, dia, dia bisa..."
"Kau masih memanggilnya Siauya? Aku khawatir binatang itu masih mau membunuh Coh Kim-sung!" 'Tapi kejadian itu sudah 20 tahun yang lalu."
Kata Ting Po.
"Ada pepatah yang mengatakan. yang tahu anak pastilah ayahnya. Binatang ini dari kecil bila sudah melakukan kesalahan tidak pernah menyesalinya, tapi bila orang lain bersalah kepadanya dia tidak akan memaafkan orang itu. Waktu itu dia hampir mencekik mati istrinya. Hal ini pun kau sudah lihat. Apakah kau sudah lupa? Binatang itu lebih-lebih tidak dapat melupakannya, sekarang ilmu silatnya sudah maju pesat, dia akan mencari Coh Kim-sung untuk balas dendam"
"Mungkin dia belum tahu..."
Kata Ting Po.
"Kau saja sudah tahu bahwa Cong Eng-lam menikah dengan Coh Kim-sung, hidupnya hanya untuk membalas dendam. Apakah kau tidak tahu itu? Kalau begitu apa tujuannya membunuh Coh Thian-su, apakah bukan karena dia adalah putra Coh Kim-sung? Dalam pikirannya dia masih menganggap dia yang benar, harus membalas kepada orang yang merebut istrinya!"
Ting Po tidak yakin bahwa pembunuh itu adalah Siauyanya tapi dia juga tidak berani membantah, Coh Thian-su benar-benar terkejut.
Ibu tirinya bernama Cong Eng-lam, dia tahu itu, ternyata ibu tirinya adalah menantu keluarga Kie dan suaminya belum meninggal, tapi dia sudah menikah dengan ayahnya.
Mengapa ayahnya melakukan hal ini?
Belum habis pikirannya, terdengar Ting Po menarik nafas.
"Sebenarnya tidak boleh menyalahkan Siauya, juga tidak dapat menyalahkan Coh Kim-sung, hanya saja tidak ada orang yang bisa menasihati Siauya."
"Binatang ini tidak dapat berpikir bahwa dia hampir mencekik mati istrinya, Cong Eng-lam, kemudian menerima kabar bahwa dia sudah mati di bawah pedang 5 Bu-tong Tianglo, semua orang meyakinkanku, mana bisa menyalahkan Eng-lam. Bila dia tidak pergi, aku pun pasti akan menyuruhnya menikah lagi. Lo Ting, bila kau sempat bertemu dengannya, tolong nasihati dia, di dunia ini hanya kau yang bisa menasihatinya."
Ting Po tertawa kecut dan berkata.
"Tuan besar terlalu memuji, apakah aku harus mencarinya?"
"Benar, aku mau kau segera berangkat ke rumah Coh Kim-sung, suruh mereka ke kuil Siauw-lim untuk bersembunyi, aku takut kau tidak dapat mencarinya, walaupun kau bisa menemukannya, aku takut dia tidak mau mendengar nasihatmu."
"Siauya belum tentu akan membunuh Coh Kim-sung, tapi kita tetap harus waspada. Hamba akan segera pergi ke Yang-ciu."
Sekarang Coh Thian-su baru mengerti.
"Pantas malam itu Ting Po menasihatiku agar aku segera pulang, menyuruh ayahku meninggalkan rumah dan pergi jauh. Ternyata dia sudah tahu dari awal. Yang tahu anak hanya ayahnya. Keputusan Kie Cianpwee benar!"
Dia mengira yang bisa membunuh ayahnya bisa dihitung jari. Orang-orang ini adalah orang-orang dari perkumpulan garis putih.
"Mereka tidak akan membunuh ayah."
Sekarang dia tahu bahwa yang ingin membunuh ayahnya adalah anak Kie Yan-gan. Hatinya sangat gelisah, tapi kemudian hatinya pun mulai tenang. Kie Yan-gan menarik nafas dan berkata.
"Binatang itu dan anak yang berada dalam cerita itu, dia lebih pintar dari ayahnya, ilmu silatnya pun lebih berbakat dari ayahnya. Hanya saja binatang ini adalah putra kandungku bukan anak haram, sekarang dia bertambah kuat, aku pun tidak dapat memusnahkan ilmu silatnya, tapi tolong beritahu dia bila dia tidak mau mendengar nasihatku dan membunuh Coh Kim-sung, aku pasti akan membunuhnya, bila aku tidak bisa membunuhnya, biar dia yang membunuhku!"
"Tuan besar jangan terlalu menuduh Siauya. Dia bukan orang seperti itu, dia juga bukan anak durhaka. Jaga dirimu tuan besar, aku akan segera pulang."
Mendengar langkah Ting Po yang menjauh, Coh Thian-su baru pura-pura tersadar. Kata Kie Yan-gan.
"Coh Siauya kau sudah sadar? Su-giok, cepat panggil Nona Kang kemari."
Dia bicara dengan mengirimkan suara dari jauh, tidak berapa lama kemudian Su-giok, Hiat-kun dan Ong Toanio sudah datang.
Ong Toanio membawa semangkuk kuah ginseng, dia tampak sedikit malu, kuah ginseng itu dia berikan kepada Su-giok dan berkata.
"Suapilah dia!"
Dia takut kata-kata semalam yang dia ucapkan bisa keluar. Kata Su-giok.
"Kau harus memberikannya pada Nona Kang."
Dan dia berkata kepada Hiat-kun.
"Cici Kang, tolong suapi dia!"
Hiat-kun ingin Su-giok menyangka dia kekasih Coh Thian-su, kemudian dia mulai menyuapi Coh Thian-su, Coh Thian-su yang pura-pura baru sadar berkata.
"Kie Cianpwee, terima kasih kau telah menolongku, hanya tidak tahu itu..."
Dia pura-pura tidak ada tenaga untuk bicara. Kata Kie Yan-gan.
"Kau jangan banyak bicara dulu, aku tahu kau pasti akan merasa aneh, mengapa ada yang menyerangmu diam-diam. Aku sangat malu, siapa orang itu, aku belum tahu."
Dia berbohong karena ada cucunya, tidak mungkin dia berkata bahwa pembunuh itu adalah putranya sendiri.
"Ke mana Paman Ting?"
Kata Su-giok. Kata Kie Yan-gan.
"Bukankah kau mau mencari pembunuhnya? Aku menyuruh linu Po mencarinya."
Su-giok sangat senang, dia berkata kepada Coh Thian-su.
"Orang-orang dunia persilatan tahu hubungan antara kakek dim Paman Ting, dia keluar mewakili kakekku untuk meminta bantuan, dia li-lnh banyak mengenal orang-orang dunia persilatan dibanding kakek. Coli Toako, kau bisa dengan tenang beristirahat, ada Paman Ting yang mcntmi tahu, pembunuh itu pasti akan tertangkap."
Su-giok tidak tahu bahwa Coh Thian-su sudah tahu sinpn penyerangnya, dia juga tahu Ting Po pergi ke mana.
Hanya saja dia tidak dapat bercerita Dia juga tidak bisa dengan tenang beristirahat, selama 2 malmu berturut-turut dia mimpi buruk, mimpi ayahnya dipukul oleh putra Kie Yan-gan hingga terluka parah.
Pada hari ketiga ilmu silatnya sudah pulih sebanyak 30 % dan dia pamit pulang.
Kata Su-giok.
"Lukamu belum sembuh, mengapa terburu-buru pergi?"
Kie Yan-gan tertawa dan berkata.
"Dia sudah bertemu dengan Sumoinya, dan ingin pulang lebih cepat, kita jangan menghalanginya."
"Benar, ayah dan Supek Kang sudah kehilangan komunikasi selama 20 tahun lebih, kali ini aku ke Lok-yang mengikuti perintah ayah mencari keberadaan Supek dan Sumoi. Supek sudah meninggal, aku harus pulang lebih cepat bersama dengan adik, supaya ayah tidak khawatir."
Dengan cepat Su-giok berkata.
"Coh Toako, kau ingin cepat-cepat melamar Cici Kang. Bila ayahmu mengijinkan baru kau bisa tenang, sebenarnya hanya butuh beberapa hari beristirahat tapi kau terlihat sudah tidak sabar."
Hiat-kun menundukkan kepalanya, pura-pura malu, dia berkata.
"Adik, kau berani datang ke Lok-yang seorang diri mencari Suhengmu, ilmu silatku tidak begitu tinggi, aku ikut Suhengku pulang, keadaan ini tidak berbahaya dari dirimu."
Kie Yan-gan tertawa dan berkata.
"Anak bodoh, apakah kau sudah mengerti? Tidak perlu mengkhawatirkan Coh Toako lagi!"
Kie Su-giok berkata.
"Baiklah, aku terlalu banyak mengurusi Cici Kang, ada kau yang menjaga Coh Toako, aku tidak perlu khawatir lagi, kalian ingin cepat-cepat pulang, aku tidak akan menahan kalian, baiklah, kalian boleh pergi!"
Sengaja dia seperti marah, sebenarnya harinya sangat senang, karena dia menganggap mereka sebagai sepasang kekasih. Kata Hiat-kun.
"Adik, jangan begitu, kami sangat berterima kasih atas kebaikanmu,"
Sengaja dia membawa-bawa nama Coh Thian-su Tiba-tiba Kie Yan-gan berkata.
"Jangan pergi dulu!"
Tanya Coh Thian-su.
"Cianpwee ada pesan apa?"
Kata Kie Yan-gan.
"Aku sangat menyesal kau mendapat bencana di rumahku, aku akan memberikan hadiah untukmu. Pertama, aku ingin meminta maaf kepadamu. Kedua, anggaplah hadiah ini sebagai pertemuan pertama kita "
Setelah itu dia mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus oleh kain merah Bungkusan itu tipis seperti buku. Kata Coh Thian-su.
Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 13
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 1