Jala Pedang Jaring Sutra 6

Eps 6 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

"Cianpwee sudah menolongku dan aku belum sempat membalas budi, Cianpwee jangan sungkan."

Kata Kie Yan-gan.

"Ini hanya hadiah kecil, barang ini tidak berharga tapi bila kau membawanya di sisimu, mungkin nanti akan ada gunanya. Terimalah!"

Setelah mendengar kata-kata Kie Yan-gan, hati Coh Thian-su pun tergerak.

"Dia sudah berkali-kali minta maaf, kemudian memberikan hadiah ini, ini pasti ada alasannya."

Lalu dia berkata.

"Terima kasih untuk perhatian dari Cianpwee. Kalau begitu aku akan menerimanya." ---ooo0dw0ooo---B. Hadiah Yang Aneh Coh Thian-su dan Jian Hiat-kun meninggalkan kediaman Kie, berjalan menuju kaki gunung. Tanya Hiat-kun.

"Apakah yang diberikan oleh Kie Cianpwee? Apa aku boleh melihatnya?"

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Aku juga ingin tahu benda apa itu? Dia memberikan ini di depanmu, pasti kita boleh sama-sama melihatnya."

Mereka mulai membuka bungkusan itu "Aku menebak ini pasti buku rahasia ilmu silat"

Kata-kata Hiat-kun belum habis, mereka sudah mendapat jawabannya.

"Ini adalah buku Biauw-ang."

Hiat-kun membukanya dan melihat, dia terkejut buku Biauw-ang ini diperuntukkan bagi anak kecil belajar menulis sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu silat.

Biauw-ang adalah buku jaman dulu yang diperuntukkan bagi anak kecil untuk belajar menulis.

Guru memberi contoh huruf menggunakan tinta merah.

Setelah itu anak-anak mengikuti urutan penulisan huruf tersebut.

Buku ini disebut Biauw-ang.

Kang Hiat-kun membukanya, dia terkejut dan berkata.

"Yang ditulus di sini adalah huruf biasa, guru-guru biasanya menulis huruf-huruf ini untuk dijadikan contoh bagi muridnya."

Mengapa orang nomor satu dunia persilatan menganggap hadiah ini adalah hadiah mahal dan memberikannya kepada Coh Thian-su? Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Mungkin dia menganggap aku "kurang pandai maka dia menyuruhku belajar dari awal."

Hiat-kun tertawa dan berkata.

"Kau jangan bercanda, dari buku ini kita bisa melihat satu hal."

"Hal apa?"

Tanya Coh Thian-su.

"Anak itu pintar tapi malas."

Kata Hiat-kun.

"Dari mana kau tahu?"

"Kau lihat urutan penulisannya, sangat teratur dan sangat indah, tapi dia hanya menulis setengahnya dan ada beberapa coretan masih ada yang kurang. Dari sana kita tahu dia tidak teliti."

Hati Coh Thian-su tergerak dan berkata.

"Kau bisa menebak siapa anak ini?"

"Aku tidak tahu, apakah itu cucunya?"

"Mengapa kau menebak Kie Su-giok?"

"Mungkin dia mau menjodohkan cucunya denganmu, jadi buku ini adalah hadiah istimewa."

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Kau bilang aku bercanda, kau jangan bercanda, kau tinggal beberapa hari di rumah mereka, apakah kau tahu bahwa mereka sekeluarga termasuk Ong Toanio dan Paman Ting sudah menganggap Wie Thian-hoan sebagai calon menantu cucu Kie Yan-gan."

Hiat-kun tertawa dan berkata.

"Aku hanya bercanda, mengapa kau begitu serius? Tapi jujur bicara Kie Cianpwee hanya memberi hadiah ini, apa gunanya?"

Jawab Coh Thian-su.

"Kie Cianpwee susah ditebak perilakunya, ada hal yang ingin kukatakan kepdamu, aku mau minta maaf."

Kang Hiat-kun terpaku dan berkata.

"Mengapa kau harus minta maaf?"

"Kata-kataku kepada Kie Yan-gan, apakah kau tidak marah? Aku hanya ingin cepat pulang, tapi menggunakan namamu menjadi alasan."

Wajah Hiat-kun menjadi merah dan berkata.

"Jujur aku ingin Su-giok salah paham dengan keadaan kita, dari awal sudah kuceritakan kepadamu, mana mungkin aku menyalahkanmu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu."

"Coba katakan!"

"Aku hanya membuat keluarga Kie salah sangka, tapi kau jangan...aku tidak bisa denganmu. Tolong beritahu kepadaku, ilmu silatmu sudah pulih berapa persen?"

"Tidak perlu mengkhawatirkanku, jalan darah-jalan darahku sudah dibuka oleh Kie Cianpwee walaupun sekarang sudah pulih 30 % dalam 2 hingga 3 hari akan pulih seluruhnya. Tapi dengan kondisi seperti sekarang untuk menjaga keselamatan sendiri masih bisa, tapi bila bertemu dengan pesilat tangguh seperti Kiam-ta, ilmu silatku ditambah dengan ilmu silatmu belum tentu dapat melawannya. Aku ingin tahu kau akan pergi ke mana?"

"Aku akan pergi ke ibukota."

Coh Thian-su terkejut dan bertanya.

"Kau pergi seorang diri ke ibukota untuk apa?"

"Aku mendapat kabar yang bisa dipercaya bahwa Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta sudah pergi ke ibukota."

Kata Coh Thian-su.

"Apakah kau sendiri ingin membalas dendam?"

"Mungkin di ibukota ada yang membantuku untuk membalas dendam. Kau tenang saja, aku akan hati-hati dan tahu diri."

"Aku juga dengar dari Paman Ting bahwa Wie Thian-hoan juga pergi ke ibukota."

Kata Coh Thian-su Lagi.

"Bila kau dibantu oleh Wie Thian-hoan aku bisa tenang tapi aku takut di tengah perjalanan kau akan dikenali oleh orang-orang."

"Aku bisa sedikit ilmu mengubah wajah."

Kata Hiat-kun.

Sebenarnya Coh Thian-su tidak tenang bila Hiat-kun pergi seorang diri, tapi bila dia pulang bersama Hiat-kun, kemudian bertemu dengan pembunuh yang ingin membunuh ayahnya, Hiat-kun akan terbawa-bawa lagi.

Padahal maksud dari Hiat-kun adalah hanya ingin bertemu dengan Wie Thian-hoan, tapi Coh Thian-su tidak menaruh curiga walaupun dia terus mengatakan ingin menjodohkan Wie Thian-hoan dengan Su-giok.

Tapi dia tetap tidak dapat melupakan Wie Thian-hoan, hanya dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.

Coh Thian-su menarik nafas dan berkata.

"Kita adalah Suheng, Sumoi, seharusnya aku membantumu untuk membalas dendam, tapi aku tahu kau takut dicurigai, aku pun ada urusan penting dan harus pulang. Sementara kita berpisah di sini saja."

Wajah Hiat-kun menjadi merah dan bertanya.

"Ada masalah apakah kau harus cepat-cepat pulang? Sebenarnya aku tidak takut dicurigai oleh orang-orang."

Coh Thian-su tidak ingin menceritakan persoalan yang terjadi di dalam keluarganya, walaupun yang bersalah bukan ayahnya, kesalahan ibu tirinya pun dapat dimaafkan.

Tapi bila didengar oleh orang lain masalah ini akan sangat merepotkan.

Dia berkata.

"Aku hanya berjanji kepada ayahku dalam waktu sebulan ini harus pulang dan sekarang waktunya sudah tiba."

Walaupun Hiat-kun tidak bisa ikut Coh Thian-su, tapi mendengar Coh Thian-su berkata seperti itu, seperti ada sesuatu yang dia sedihkan.

Dalam hati dia berpikir, 'Ternyata posisiku di hatinya tidak seperti yang dia katakan, tapi dengan begitu lebih baik karena aku tidak perlu memikirkan perasaannya terus.' Hiat-kun berkata.

"Kalau kau sudah janji kepada ayahmu sebaiknya cepat pulang!"

Mereka masing-masing mempunyai pikiran yang tidak sama kemudian mereka pun berpisah.

Coh Thian-su melihat sosok Hiat-kun yang semakin menghilang, dia merasa kehilangan sekali.

'Dia sudah ada yang memiliki, aku tidak boleh mempunyai pikiran yang macam-macam,' Setelah berpikir demikian, hatinya menjadi tenang.

Dia berjalan sendiri, setelah tiba di sisi Huang-ho, di seberangnya adalah Holam.

Hari sudah malam, air Huang-ho sedang pasang, tidak ada orang yang menyebrang malam-malam, terpaksa Coh Thian-su harus bermalam, dia mencari penginapan untuk beristirahat.

Setelah masuk ke dalam kamar dan mencuci muka, terdengar ada yang mengetuk pintu.

Coh Thian-su tidak menyangka di tempat seperti itu ada seorang teman yang mencarinya, sebelum membuka pintu dia bertanya.

"Siapa?"

"Apakah kau tidak kenal dengan suaraku?"

Orang itu dikenalnya, dia yang mengajak Coh Thian-su ke Lok-yang dan dia adalah Sin Kong-ta.

Sin Kong-ta adalah si wartawan berjalan, dia senang berada di antara anak-anak muda, karena merasa menjadi yang tertua.

Coh Thian-su tidak menyukai orang ini, tapi dengan terpaksa dia membiarkan orang itu masuk ke dalam kamarnya.

"Mengapa kau tahu aku berada di sini?"

Sin Kong-ta menutup pintu dan berkata.

"Aku juga menginap di penginapan ini, aku tiba 1 jam lebih awal, tadi kau baru tiba sengaja tidak aku menyapamu karena di luar sulit untuk bicara."

Tanya Coh Thian-su.

"Apakah kau mempunyai rahasia lagi yang ingin kau sampaikan?"

"Benar, rahasia ini berhubungan denganmu, ada pepatah yang mengatakan. meskipun sampai sepatu besi sobek pun tidak dapat ditemukan, tapi sekarang tidak butuh waktu lama bisa menemukannya. Aku khawatir tidak dapat bertemu denganmu lagi, ternyata sekarang tiba-tiba bertemu di sini!"

Coh Thian-su berkata.

"Sepertinya kau sengaja mencariku. Ada apa? Hayo cepat katakan!"

"Jangan terburu-buru, aku pasti akan mengatakannya padamu, tapi aku mau bertanya dulu, kau mau ke mana?"

"Aku akan pulang."

"Untuk apa pulang?"

"Pertanyaanmu sangat aneh, tentu saja pulang untuk berkumpul dengan keluarga."

Sin Kong-ta tertawa dan berkata.

"Untung aku bertemu denganmu di sini, bila tidak kau akan sia-sia berjalan."

"Apa arti dari kata-katamu?"

"Ayahmu menyuruhmu agar kau jangan pulang!"

"Mengapa?"

"Keluargamu telah pergi ke Peking dan ayahmu menitipkan kabar ini kepadaku agar menyuruhmu pergi ke ibukota dan berkumpul dengannya di sana."

Kata Coh Thian-su.

"Ayahku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, untuk apa dia pergi ke ibukota?"

Dengan suara kecil Sin Kong-ta berkata.

"Ini adalah sebuah rahasia besar, jangan beritahu kepada orang lain. Hui-thian membuat keributan di rumah Hie, kau sudah menyaksikannya sendiri, ayahmu pergi ke ibukota karena hal ini juga."

Kata Coh Thian-su.

"Ayahku dan Hie Tiong-gwee tidak pernah berteman, apalagi dengan Hui-thian, mengapa ada hubungannya dengan kejadian ini?"

"Kau hanya tahu sebagian kecil ceritanya. Memang benar, ayahmu dan Hie Tayhiap tidak berteman, tapi dia berteman baik dengan Tuan Kiam-ta."

"Memangnya kenapa?"

"Tuan Kiam-ta dan Hie Tayhiap, demi menyelamatkan diri dari kejaran Hui-thian, mereka pergi ke ibukota, tapi Hui-thian tetap tidak mau melepaskan mereka, sekarang Hui-thian ke ibukota untuk membunuh mereka."

Dalam hati Coh Thian-su berkata.

"Dijuluki sebagai wartawan berjalan memang tidak ada salahnya, berita yang didapatnya sangat cepat dan tepat."

"Tuan Kiam-ta berpikir, kalau seumur hidup bersembunyi dari kejaran Hui-thian juga bukan cara yang baik, karena itu dia, Hie Tayhiap, dan kepala kantor pengiriman, Tong Hwie-yan memberi undangan kepada para pahlawan dan teman-teman mereka untuk datang ke ibukota dengan tujuan menangkap Hui-thian-sin-liong. Tapi yang pantas diundang oleh mereka juga tidak banyak, jumlahnya hanya ada 10 orang lebih. Di antaranya adalah ayahmu, ini adalah kehormatan untuk ayahmu karena dia berteman baik dengan Tuan Kiam-ta maka ayahmu terpaksa harus pergi."

Coh Thian-su hanya percaya setengah dan berkata.

"Bila ayahku hanya pergi sendiri itu tidak aneh, tapi mengapa semua keluargaku dibawa?"

"Ibu tirimu juga seorang pesilat, dia dan ayahmu adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, dia mendengar Tuan Kiam-ta takut kepada Hui-thiaa Dia pasti ingin ikut ayahmu untuk membantunya, karena kau belum pulang maka adikmu juga dibawa karena tidak ada yang mengawasinya."

Kata-katanya sangat masuk akal dan ada bukti yang kuat membuat Coh Thian-su percaya.

Tidak terasa wajahnya juga berubah.

Sin Kong-ta tahu bahwa Coh Thian-su merasa cemas, dia malah menasihatinya dan berkata.

"Walaupun Hui-thian sangat lihai, tapi ilmu pena besi ayahmu juga tinggi, ayahmu tidak akan kalah, apalagi banyak pesilat tangguh juga yang datang ke ibukota"

Coh Thian-su bertanya.

"Bagaimana pesan ayahku kepadamu? Apakah kau bisa dengan jelas mengatakannya?"

"Aku pulang ke Yang-ciu dan berkunjung ke rumah ayahmu, begitu bertemu dengannya dia langsung bertanya, 'mengapa kau pulang seorang diri? Mana putraku? Karena kau yang memberi undangan, dan karena melihat wajahmu juga maka aku memberi ijin untuk pergi. Sekarang di rumah keluarga Hie telah terjadi keributan, aku menjadi sangat khawatir!'."

"Ayahmu menanyakan kau pergi ke mana? Tapi aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa bertanya kepadamu!"

"Aku hanya jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat yang indah."

Jawab Coh Thian-su. Sin Kong-ta menggelengkan kepala dan berkata.

"Kau benar-benar tidak punya pikiran, kau berjanji dengan ayahmu dalam waktu 1 bulan kau akan pulang, kau malah berkunjung ke beberapa tempat, apa kau lupa dengan janjimu kepada ayahmu?"

Dia sedang menebak kata-kata Sin Kong-ta yang mana yang benar dan yang mana yang bohong. Sin Kong-ta mulai bertanya lagi.

"Sudah tahu salah, anak muda biasanya senang bermain. Aku bertanya kepadamu, apakah kau pernah pergi ke Ong-bu-san?"

Hati Coh Thian-su sedikit bergetar.

"Benar-benar wartawan berjalan, apakah dia mengetahui sesuatu?"

Coh Thian-su menjawab.

"Aku hanya lewat di kaki gunungnya, tidak naik ke atas gunung."

"Gunung Ong-bu adalah gunung yang terkenal, mengapa kau tidak ke sana untuk mencari tahu?"

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Sin Toako, hal ini pun kulakukan demi dirimu!"

"Apakah karena takut aku marah maka kau berkata seperti itu?"

"Aku tidak berbohong kepadamu, aku tidak lupa dengan janjiku kepada ayah. Waktu itu karena aku ketakutan cepat-cepat meninggalkan Lok-yang, tapi aku tetap teringat kepadamu, ada yang bilang kau dipukul oleh Hui-thian, aku hanya setengah percaya pada berita ini. Aku pikir begitu meninggalkan Lok-yang 5-6 hari kemudian setelah tahu keadaan Hie, aku kembali ke Lok-yang mencarimu. Waktu aku ke gunung Ong-bu, itu sudah 10 hari semenjak aku meninggalkan Lok-yang, bila naik lagi ke atas gunung akan menghabiskan banyak waktu."

Kata-kata Coh Thian-su membuat Sin Kong-ta sangat senang, dia tertawa dan berkata.

"Kalau begitu kau masih perhatian kepadaku."

"Aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan tentang Gunung Ong-bu?"

Tanya Coh Thian-su. Suara Sin Kong-ta dikecilkan dan menjawab.

"Ini adalah rahasia, aku hanya mengatakannya padamu tolong jangan bocorkan!"

Kata Coh Thian-su.

"Bila tidak percaya kepadaku, jangan bilang saja."

Dia tahu sifat Sin Kong-ta, bila disuruh jangan bercerita dia pasti akan bercerita.

"Apakah kau tahu siapa pesilat nomor satu di dunia persilatan?"

"Aku pernah mendengar dari ayah bahwa 30 tahun yang lalu, pesilat nomor satu adalah Kie Yan-gan. Sekarang ini siapa? Aku tidak tahu."

Dengan suara kecil Sin Kong-ta menjawab.

"Banyak orang mengira Kie Yan-gan sudah meninggal, tapi aku tahu dia belum meninggal. Pesilat nomor satu di dunia persilatan masih dia Aku tahu dimana dia tinggal, dia bersembunyi di gunung Ong-bu."

Coh Thian-su pura-pura terkejut dan berkata.

"Sin Toako, kabar yang didapat ini sangat cepat, kalau begitu kau pikir..."

"Aku ingin mencari Kie Yan-gan."

Kata Sin Kong-ta.

"Ternyata kau juga berteman dengan Kie Cianpwee, mengapa sebelumnya tidak pernah bilang kepadaku?"

Dengan senang Sin Kong-ta berkata.

"Walau aku tidak suka menyombongkan diri tapi aku memang berteman baik dengan Kie Yan-gan, tapi karena dia juga adalah persilat nomor satu, aku tidak enak menggembur gemborkannya, dia sudah pensiun dari dunia persilatan. Bila bukan aku yang mengundang dia turun dan gunung, dia pasti tidak akan mau. Demi membantu teman, aku harus pergi seorang diri."

"Ternyata kau ingin mengundang dia membantu Tuan Kiam-ta dalam menghadapi Hui-thian."

Kata Coh Thian-su.

"Benar, walaupun Tuan Kiam-ta sudah mengundang banyak teman untuk membantunya, tapi lebih baik lagi mengundang Kie Yan Ran, begitu dia muncul walaupun Hui-thian bisa terbang kelangit, tetap tidak dapat lolos dari tangannya."

Dalam hati Coh Thian-su tertawa tapi dia juga tidak ingin membocorkan hubungan antara Hui-thian dengan Kie Yan-gan, Coh Thian-su mencoba menasihatinya.

"Dia adalah pesilat nomor satu, sudah lama tidak keluar di dunia persilatan, tidak mudah mengundangnya, aku pernah dengar dari ayah bahwa silat Kie Cianpwee sangat aneh, orang yang tidak disukai mengunjunginya akan disiksa oleh dia. Sin Toako, kau harus berpikir dulu sebanyak 3 kali."

Sin Kong-ta tidak senang dan berkata.

"Anak kecil kau tahu apa? Karena orang lain tidak dapat mengundangnya maka Tuan Kiam-ta menyuruhku mengundangnya karena aku dan dia adalah sahabat karib, dia pasti akan menyambut dengan senang hati, mana mungkin dia menutup pintu."

Coh Thian-su menatap Sin Kong-ta, semakin lama kebohongannya semakin besar, dalam hati dia berpikir, 'Sepertinya Kie Cianpwee tidak akan membunuhnya, biar saja dia pergi ke rumah Kie Yan-gan, supaya dia dihajar oleh Kie Cianpwee."

Waktu itu terdengar bunyi derap kuda, setelah tiba di pintu penginapan, suara itu berhenti, kata Sin Kong-ta.

"Malam begini masih ada orang yang datang, kuda itu sepertinya kuda yang sering menempuh perjalanan jauh. Jalannya begitu terburu-buru yang datang pasti bukan orang biasa."

Silat Sin Kong-ta tidak tinggi tapi pengalamannya sangat banyak. Kata-katanya belum selesai, orang itu sudah masuk ke dalam penginapan, terdengar dia berkata kepada pelayan.

"Maaf, aku sudah membangunkanmu, tolong jangan narah. Aku hanya menginap satu malam, ambilah uang ini, tidak perlu kembali."

Ternyata dia memberikan uang perak sebesar 10 tail.

Pelayan penginapan yang tadinya tidak senang begitu melihat uang yang banyak langsung tertawa dan mengucapkah terima kasih.

Sin Kong-ta sedang mendengar, wajahnya langung terkejut sekaligus senang dan dia berkata.

"Sepertinya orang itu adalah teman lamaku."

Begitu orang itu bicara, Coh Thian-su sudah tahu siapa dia, sengaja dia bertanya kepada Sin Kong-ta.

"Sin Toako, teman lamamu pastilah orang yang sangat kuat!"

"Apakah kau tahu di dunia persilatan ada yang bernama Ting Po?"

Tamu yang datang begitu malam tidak lain adalah Ting Po. Kata Coh Thian-su.

"Orang yang begitu terkenal, masa aku bisa tidak tahu? Katanya 20 tahun yang lalu dia adalah penjahat kelas berat di Liauw-tong, tapi entah mengapa tiba-tiba menghilang dari dunia persilatan. Sin Toako, kau adalah temannya, kau pasti tahu dia ke mana."

Chu Tian Shu ingin tahu seberapa banyak informasi tentang Ting Po yang diketahui oleh Sin Kong-ta. Sin Kong-ta berbisik di telingannya dan berkata.

"Berita ini akan membuat Ting Po malu, kau orang yang tahu tidak banyak. Aku akan menceritakannya kepadamu, tapi jangan ceritakan kepada orang lain, ada suatu kali dia mencuri benda antik labu giok milik salah satu adik raja. Barang itu adalah pemberian raja. Labu giok itu sebesar mulut mangkuk, akhirnya adik raja itu menyuruh 8 pengawal istana menghadapinya, tapi kedelapan pengawal itu mati di tangannya, sedangkan dia juga terluka parah. Musuhnya begitu banyak karena itu dia bersembunyi di suatu pulau untuk mengobati lukanya. Sekarang dia kembali lagi mungkin ilmu silatnya sudah pulih seperti semula."

Coh Thian-su mendengar Sin Kong-ta hanya sembarangan bicara, dia menahan tawanya. Tanya Sin Kong-ta.

"Mengapa kau terlihat begitu aneh? Wajahmu seperti ingin tertawa atau malah ingin menangis?"

Setelah lama Coh Thian-su baru bisa menghentikan tawanya.

"Sin Toako, apakah kau akan mencarinya?"

"Aku dan dia sudah 20 tahun tidak bertemu, teman lama sulit untuk bertemu, aku pasti akan menemuinya, kau juga ikut aku ke sana untuk mengunjunginya, ambil kesempatan ini untuk mengenalnya."

Dalam hati Coh Thian-su berpikir.

"Rahasiaku dan keluarga Kie tidak boleh diketahui oleh wartawan berjalan ini."

Cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya, seperti Sin Kong-ta dia pun berbisik di telinganya dan berkata.

"Jangan beritahu dia bahwa aku ada di sini!"

Sin Kong-ta tampak terkejut.

"Mengapa?"

"Ini adalah rahasia besar, aku hanya akan mengatakannya padamu, jangan sebarkan ke luar. Ayahku dan dia ada sedikit selisih paham, walaupun bukan musuh besar tapi sudah melukainya, mereka pernah bertarung secara bersahabat Kau adalah teman ayah, apakah ayah tidak pernah bercerita kepadamu..."

Sin Kong-ta buru-buru menjawab.

"Benar, aku ingat sekarang, waktu itu dia bertarung dengan Ting Po, dia kalah 1 jurus. Dua puluh tahun yang lalu ayahmu pernah memberitahuku, karena sudah terlalu lama aku hampir lupa. Kalau begitu kau jangan temui dia!"

Kata Coh Thian-su.

"Ting Po orangnya mementingkan harga diri, bila bertemu dengannya, jangan tanyakan hal ini!"

Sin Kong-ta baru mengerti, dalam hati dia berpikir.

"Pantas wajahnya begitu lesu."

Lalu dia tertawa dan berkata.

"Aku belum tua, aku sudah mengerti. Baiklah aku akan mencarinya, besok kau tidak perlu menungguku, kita masing unitmu berpisah."

Hati Coh Thian-su terasa geli, begitu dia pergi dia langsung berkonsentrasi ingin mendengarkan pembicaraan mereka.

Kamar yang dihuni oleh Ting Po adalah kamar yang paling bagus.

di depan adalah ruangan tidak tertutup, di belakangnya adalah kebun sayur tidak ada kamar yang bersebelahan dengan kamar itu.

Jarak satu ruang kosong saja sebenarnya sulit mendungku percakapan orang di kamar dengan suara kecil.

Tapi bagi Coh Thian-su.

ini bukan hal yang sulit, dari kecil dia sudah berlatih silat dan pendengarannya lebih tajam dari orang lain.

Dia tengkurap di bawah dan mendengar satu kata pun tidak terlewatkan.

Ting Po melihat ada orang yang tidak dia kenal mengunjunginya dia merasa aneh, dengan dingin dia berkata.

"Siapa kau?"

Sin Kong-ta segera berkata.

"Ting Lo-toa, apakah kau sudah melupakanku? Kita pernah bertemu di kantor pengiriman barang."

Ting Po terpaku dan bertanya.

"Kapan? Di mana?"

"Sudah 20 tahun lebih, di kantor Piau-ang-ta."

Ting Po baru ingat, waktu itu dia merampok barang yang dibawa oleh Piau-ang-ta, terakhir setelah melalui perundingan dua belah pihak Ting Po mengembalikan barang yang sudah dirampok, karena itu kepala kantor Piau-ang-ta membuat pesta besar-besaran sebagai ucapan terima kasih kepada Ting Po.

Waktu itu orang yang datang ke pesta lebih dari 30 orang.

mungkin Sin Kong-ta adalah salah satu dari tamu-tamu itu Walaupun Ting Po tidak kenal dengannya, waktu itu Sin Kong ta mendengar Ting Po berbicara dengan orang orang.

Sin Kong ta mendengarnya dengan teliti, si wartawan berjalan ini walau ilmu silatnya tidak begitu tinggi tapi dia mempunyai keahlian istimewa, bila dia sudah mendengar suara orang itu.

Walaupun sudah lewat beberapa tahun, hanya mendengar suaranya tanpa melihat orang, dia masih bisa mengenali orang itu.

Tapi keahlian ini hanya bisa dia terapkan pada orang-orang terkenal saja.

Kemudian Sin Kong-ta memperkenalkan diri.

Mendengar nama ini Ting Po sudah tidak asing dan dia langcung tertawa.

"Ternyata kau adalah si wartawan berjalan, sepertinya sudah 20 tahun berlalu, kau belum punya julukan lain."

Kata Sin Kong-ta.

"Jangan terlalu keras suaramu!"

Sebenarnya dia takut Coh Thian-su akan mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa dia sudah berbohong. Ting Po tertawa dan berkata.

"Di kiri dan kanan kamar ini tidak ada kamar lain tidak perlu takut ada yang mendengar, atau mungkin kau sudah tahu bahwa di penginapan ini ada orang jahat?"

"Tidak ada orang jahat, tapi mungkin ada orang persilatan, karena identitas Toako..."

"Kau tahu aku sekarang bekerja di mana?"

Tanya Ting Po.

"Sudah 20 tahun tidak bertemu, Toako pasti masih berdagang yang tidak memerlukan modal."

"Untuk apa kau tanyakan hal ini?"

Dia mulai bersikap tidak bersahabat. Sin Kong-ta terkejut dalam hati dia berpikir, 'Mengapa aku lupa larangan orang dunia hitam?' Segera dia berkata.

"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa aneh, aku senang berteman, bila Ting Toako membutuhkanku, aku pasti..."

Ting Po memotong kata-katanya dan berkata.

"Baiklah, bila aku butuh bantuanmu aku pasti akan mencarimu."

Ini adalah kata-kata agar Sin Kong-ta segera pergi. Untung Ting Po tidak marah, dalam hati dia berkata.

"Ting Lo-toa, akhirnya kau tahu siapa aku. Kelak dia akan butuh orang sepertiku."

Segera dia berdiri dan pamit kembali ke kamarnya dan dia berkata.

"Ting Toako, kau mau beristirahat, aku akan kembali ke kamarku."

Ting Po seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba dia berkata.

"Tunggu sebentar!"

Sin Kong-ta terkejut, dia tahu bahwa orang yang berada di hadapannya adalah seorang perampok yang membunuh orang tanpa memandang bulu.

"Apakah dia tidak ingin orang lain tahu bahwa dia ada di sini, dan membunuhku untuk tutup mulut?"

"Ada apa Ting Toako?"

Suara Sin Kong-ta terdengar bergetar. Wajah Ting Po tidak terlihat marah, dengan sopan dia mempersilakan Sin Kong-ta agar duduk kembali, dengan pelan dia berkata.

"Sin Toako, ada satu hal yang ingin kutanyakan."

Sin Kong-ta sangat terkejut dan berkata.

"Ting Toako ingin menanyakan apa? Aku pasti akan menjawabnya dengan jelas."

"Apakah kau orang Yang-ciu?"

Karena 20 tahun yang lalu Sin Kong-ta belum terkenal seperti sekarang, dan Ting Po baru kembali dari Yang-ciu maka dia tahu ada orang terkenal seperti Sin Kong-ta. Sin Kong-ta baru tenang dan berkata.

"Kampung halamanku ada di Yang-ciu."

"Kau adalah orang terkenal di Yang-ciu, aku dengar orang-orang berkata seperti itu."

Sin Kong-ta terkejut dan bertanya.

"Apakah kau baru dari Yang-ciu?"

"Aku baru dari sana, apakah kau tahu orang terkenal di Yang-ciu?"

"Apakah yang kau maksud Coh Tayhiap?"

"Harus mengatakan Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung karena dia adalah benar-benar seorang pendekar, apakah kau tidak tahu?"

Sin Kong-ta tidak bisa menebak maksud Ting Po, dia hanya berkata.

"Benar, benar, terima kasih Ting Toako sudah memuji orang Yang-ciu, aku turut merasa bangga."

Tanya Ting Po.

"Apakah kau dan Coh Kim-sung berteman baik? yang ingin aku tanyakan adalah mengenai Coh Tayhiap."

Menurut kebiasaan Sin Kong-ta, bila dia mempunyai sangkut paut dengan orang itu, dia pasti akan mengatakan dia adalah teman orang itu, tapi sekarang dia tidak berani berbohong dia takut Ting Po salah paham bahwa dia dan Coh Kim-sung adalah teman baik.

Kata Sin Kong-ta.

"Ting toako, kau salah paham, aku dan Coh Kim-sung hanya teman biasa saja."

Ting Po mengerutkan dahi dan berkata.

"Pergaulan Sin Toako sangat luas, terkenal di mana-mana. Coh Tayhiap satu tempat tinggal denganmu, mana mungkin hanya kenal begitu saja."

"Aku sering berkelana, waktuku di kampung halaman hanya sebentar saja, kadang-kadang dalam 1 tahun tidak bertemu satu kali."

"Dua bulan yang lalu kau dan putra Coh Kim-sung, pergi ke Lok-yang untuk memberi selamat kepada Hie Tiong-gwee."

Sin Kong-ta terkejut dan berpikir, 'Beritanya beredar sangat cepat.' Segera dia berkata.

"Benar, karena kami sekampung dan aku lebih tua dari dia jadi kami pergi sama-sama, kami tidak ada hubungan apa-apa."

Tanya Ting Po.

"Belakangan ini apakah kau sering pulang kampung?"

"Benar, tapi aku tidak bersama dengan putra Coh Kim-sung."

"Ya aku tahu, yang ingin aku tanyakan adalah apakah kau tahu keadaannya sekarang?"

Dia merasa aneh tapi Ting Po menatapnya dengan sorot mata dingin seperti es dan sangat tajam seperti pisau.

Sin Kong-ta berpikir, 'Kelihatannya dia mulai curiga kepadaku, aku harus meladeninya.' Sin Kong-ta bertanya.

"Apa yang Ting Toako ingin ketahui?"

"Aku ingin tahu ke mana perginya Coh Tayhiap, aku ke rumahnya tapi tidak ada orangnya, aku tahu dia sudah meninggalkan Yang-ciu, orang-orang persilatan tahu bahwa berita yang didapat darimu sangat cepat, apakah kau tidak mau mengatakan padaku?"

"Jujur bicara, aku juga tidak tahu tapi..."

"Tapi apa?"

Jawab Sin Kong-ta.

"Tapi aku tidak tahu apakah ini benar?"

"Benar atau salah, katakan saja!"

"Ini adalah rahasia besar, asalnya dari mana jangan kau tanyakan."

"Bila kau mau bercerita, ceritakan saja, bila tidak mau tidak perlu bercerita, terserah, aku tidak akan memaksa."

Sin Kong-ta berkata.

"Terima kasih kau mau mengerti, aku dengar Coh Kim-sung sekarang ini berada di rumah Kie Yan-gan."

Ting Po terpaku dan berkata.

"Apakah Kie Yan-gan yang kau maksud adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan?"

Kata Sin Kong-ta.

"Benar, katanya Kie Cianpwee sekarang tinggal di gunung Ong-bu, yang tahu hanya sedikit, tapi Coh Kim-sung juga tahu."

"Apakah istri dan anaknya juga dibawa?"

Tanya Ting Po.

"Benar, dia membawa istrinya bertamu ke rumah Kie tapi putranya tidak ikut."

Ting Po tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Benar-benar hal yang aneh, Coh Kim-sung bisa membawa istrinya ke rumah Kie."

"Ting Toako, tolong kecilkan suaramu, karena Coh Tayhiap dan Kie Cianpwee tidak ingin ada orang yang tahu."

Ting Po menahan tawanya dan berkata.

"Benar, aku lupa. Ini adalah rahasia besar, kau tahu mengapa aku merasa aneh?"

"Aku tidak tahu."

"Kie Yan-gan sudah 20 tahun menghilang dari dunia persilatan. Apakah itu benar?"

"Benar."

"Bila menghitung waktunya, saat Kie Yan-gan pensiun dari dunia persilatan dan Coh Kim-sung baru masuk dunia persilatan, mengapa dia bisa berteman baik dengan Kie Cianpwee?"

Dalam hati dia tertawa, 'Dia benar-benar pembohong.' Sin Kong-ta tidak tahu bahwa Ting Po adalah pelayan keluarga Kie dan selama 20 tahun tinggal di rumah Kie.

Dia sudah tahu mana yang benar dan mana yang bohong.

"Ting Toako, berita yang kau dapat cepat juga, tapi kau hanya tahu sebagian, nanti akan kuceritakan semua dan kau tidak akan merasa aneh lagi."

""Kalau begitu, cepat ceritakan kepadaku!"

"Istri Coh Kim-sung adalah anak angkat dari Kie Yan-gan. Coh Kim-sung dan Kie Yan-gan adalah teman baik, orang ini sangat terkenal di dunia persilatan, bulan kemarin dia menjadi saksi pernikahan Hie Tiong-gwee."

"Apakah dia adalah Tuan Kiam-ta?"

"Benar, diam-diam kali ini Coh Kim-sung pergi untuk menemui Kie Yan-gan, juga ada hubungannya dengan Tuan Kiam-ta. Dia sendiri masih mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Kie. Coh Kim-sung membawa istri dan anaknya ke rumah Kie, apakah itu aneh?"

"Sin Toako, pergaulanmu benar-benar luas, hubungan orang lain apakah masih ada hubungan keluarga atau teman, kau tahu dengan jelas."

Sin Kong-ta tidak tahu bahwa yang dikatakan Ting Po adalah sindiran, malah dia sangat senang dan berkata.

"Kau terlalu memuji."

Ting Po berkata.

"Menurutmu sebenarnya Coh Kim-sung adalah menantu Kie Yan-gan, dia pergi ke rumah Kie itu wajar, kenapa ada hubungannya dengan Tuan Kiam-ta?"

Kata Sin Kong-ta.

"Itu hal lain lagi."

"Hal apa lagi?"

Dalam hati Ting Po berpikir, 'Aku ingin tahu dia berbohong apa lagi?' Jawab Sin Kong-ta.

"Bulan kemarin Hui-thian membuat keributan di rumah Hie, apakah kau tahu?"

"Aku hanya mendengar sekilas."

"Pada hari pernikahan Hie, dia melukai Hie dan merebut istrinya."

"Sungguh keterlaluan Hui-thian itu! Lalu apa hubungannya dengan Coh Kim-sung yang berkunjung ke rumah Kie?"

Tapi dalam hati dia sangat geli, 'Pengantin perempuannya karena mencari Wie Siauya maka dia ke rumah Kie, kau berbohong terlalu banyak.' Sin Kong-ta masih berkata.

"Apakah Ting Toako sudah lupa, tadi sudah kukatakan Tuan Kiam-ta adalah saksi pernikahan Hie Tiong-gwee."

"Lalu kenapa?"

"Hui-thian menghina Hie Tiong-gwee, Tuan Kiam-ta harus berlaku adil tapi demi melindungi Hie yang terluka, dia tidak dapat meninggalkan Hie begitu saja karena itu Coh Kim-sung mewakilinya mengundang Kie Cianpwee untuk keluar lagi ke dunia persilatan. Coh Tayhiap juga ingin mencari putranya karena ada yang mengatakan Hui-thian sudah membunuh Coh Thian-su, dia juga meminta bantuan Kie Cianpwee membantunya mencari putranya, kali ini dia ke rumah Kie demi kepentingan teman juga demi dirinya sendiri."

Ting Po bersikap seperti baru mengerti dan berkata.

"Ternyata begitu, untung aku bertemu dengan orang yang tahu berita, kalau tidak aku harus jauh-jauh mencari Coh Tayhiap!"

Kata Sin Kong-ta.

"Gunung Ong-bu tidak jauh dari sini, bila Ting Toako ingin mencari Coh Kim-sung, biar aku yang menemanimu."

"Aku tidak berani menjilat pesilat nomor satu Kie Yan-gan, aku terima kebaikanmu, urusan mencari Coh Tayhiap labih baik nanti saja."

Sin Kong-ta sangat senang dan berpikir, 'Benar-benar sesuai perkiraanku.' Dia berbohong karena dia sendiri pun mempunyai maksud lain, dia mengira antara Coh Kim-sung dan Ting Po memang ada permusuhan.

Dia memang senang berbohong tapi kepada teman baik dia tetap memperhatikan.

Dia berpikir, 'Dua ekor macan berkelahi, pasti ada salah satu yang terluka, bila yang terluka adalah Ting Po, itu tidak apa-apa tapi bila yang terluka adalah Coh Kim-sung, aku akan merasa sangat menyesal karena sudah mengetahui masalah yang sebenarnya dan tidak memberitahu kepada Coh Kim-sung.' Karena itu dia membuat berita burung bahwa Coh Kim-sung adalah menantu Kie Yan-gan dan sekarang berada di rumah Kie.

Ting Po pasti tidak akan berani mencari Coh Kim-sung ke rumah Kie Yan-gan.

Coh Thian-su mencuri dengar percakapan mereka, hatinya menjadi geli sendiri tapi juga khawatir.

Yang membuatnya geli adalah Sin Kong-ta membuat berita bohong di depan orang yang sudah tahu, yang membuatnya khawatir adalah khawatir Ting Po akan menghukumnya.

Dari percakapan mereka, Coh Thian-su bisa mengambil kesimpulan bahwa ayahnya sudah meninggalkan Yang-ciu karena Ting Po tidak bertemu dengan ayannya.

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Walaupun Sin Kong-ta selalu membuat gosip tapi dia masih memperhatikan ayah dan aku, bila hukuman dari Ting Po terlalu berat, aku akan menolongnya.' Belum habis pikirannya, terdengar suara Ting Po yang tertawa.

"Kau berbicara seperti itu pasti berteman baik dengan Kie Cianpwee?"

Kata Sin Kong-ta.

"Bukan teman baik tapi dia masih menganggapku teman, sekarang aku akan ke gunung Ong-bu untuk mencari mereka."

"Apakah Coh Kim-sung sendiri pun tidak dapat mengundang Kie Cianpwee?"

Tanya Ting Po.

"Sebenarnya kami tidak perlu tegang hanya saja Hui-thian itu terlalu kuat, Tuan Kiam-ta takut kie Cianpwee tidak tahu keadaan ini karena itu Tuan Kiam-ta menyuruhku untuk menyampaikan semua ini kepada Kie Cianpwee."

Ting Po tertawa dan berkata.

"Kau sangat pintar bicara, juga tahu hal yang sebenarnya, kau pasti bisa mengajak Kie Cianpwee turun gunung."

Sin Kong-ta berkata.

"Aku harap begitu, sayang Ting Toako tidak bisa sama-sama denganku pergi ke rumah Kie untuk melihat keramaian ini."

"Bila kau ke rumah Kie, keramaian pasti akan terjadi hanya saja aku tidak tega melihatnya."

Sin Kong-ta terpaku dan bertanya.

"Apa maksud Ting Toako?"

"Aku yang harus ke rumah Kie, tapi kau tidak boleh!"

"Mengapa..."

Kata-katanya belum selesai tapi dia sudah roboh di bawah. Coh Thian-su terkejut dan ingin melihatnya, terdengar Ting Po berkata.

"Aku menotok jalan darahmu untuk menolongmu, apakah kau mengerti? Seumur hidup aku sudah bertemu dengan Enghiong-enghiong dunia persilatan, tapi caramu berbohong memang nomor satu. Bila kau hanya berbohong itu tidak apa-apa tapi bila benar-benar mengundang Kie Yan-gan turun gunung, meski kau tidak mati, setidaknya ilmu silatmu akan dimusnahkan. Walau aku benci padamu, tapi dunia persilatan bila kekurangan orang sepertimu akan terlalu sepi karena itu aku tidak akan memusnahkan ilmu silatmu, biar kau masih bisa berkelana di dunia persilatan, aku sudah menotok jalan darahmu, 12 jam kemudian akan terbuka, tidak membuatmu terluka tapi dalam waktu 3-5 hari tidak akan pulih secara sempurna, jadi kau jangan terkejut."

Sekarang Coh Thian-su baru merasa tenang, dalam hati dia berpikir, 'Bila aku jadi Ting Po, aku pun akan berbuat seperti itu.

Bila Sin Kong-ta pergi ke rumah Kie Yan-gan, Kie Cianpwee pasti akan memerintahkan Ting Po menghadapi dia, bila Ting Po tidak membunuhnya, ilmu silatnya pasti akan dimusnahkan."

Belum habis pikirannya, terdengar Ting Po berkata lagi.

"Kau menganggapku teman tapi aku harus menasihatimu bergosip boleh-boleh saja tapi jangan menjadi penjudi. Aku tahu kau sama sekali tidak mengenal Kie Yan-gan, kau hanya menjilat Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee dan kau mencari tempat tinggal Kie Yan-gan kau mengira jadi atau tidak jadi tidak akan jadi masalah, kau tidak tahu ini adalah taruhan yang berbahaya, bila kalah kau akan kehilangan nyawamu. Sekarang kau tidak mengerti, kelak pasti akan tahu."

Kemudian Ting Po membuka pintu kamar dan terdengar suara angin yang dibawa oleh kibasan baju.

Coh Thian-su adalah seorang pesilat, sekali mendengar sudah tahu bahwa Ting Po menggendong Sin Kong-ta kembali ke kamarnya.

Waktu Sin Kong-ta keluar dari kamar, dia hanya menutup dari luar tapi tidak dikunci, hanya mendorong sudah tahu bahwa itu adalah kamar Sin Kong-ta.

Ting Po adalah seorang pesilat berpengalaman, sewaktu Sin Kong-ta mendekatinya, dia sudah tahu Sin Kong-ta datang dari arah mana.

Tidak lama kemudian Ting Po kembali ke kamarnya.

Sekarang sudah pukul 4 dini hari.

Coh Thian-su berpikir.

"Ayah diundang oleh Tuan Kiam-ta ke ibukota, sepertinya ini bukan bohong, aku harus pergi ke ibukota, supaya ayah tidak masuk ke dalam perangkap mereka. Yang harus aku tahu sudah terjawab semua, aku juga tidak perlu bertemu dengan Ting Po.' Uang sewa kamar sudah dilunasi, dia mengambil keputusan diam-diam meninggalkan penginapan itu. ---ooo0dw0ooo---C. Tidak sengaja ke Hoa-san Ada seekor kuda yang melintasi kaki Hoa-san, yang menunggang kuda itu adalah seorang pemuda berumur 20 tahun lebih. Dia melihat kemegahan Hoa-san, hatinya pun ikut merasa gembira. Walaupun dia terlihat gagah tapi sorot matanya terlihat khawatir. Pemuda itu adalah Coh Thian-su yang akan pergi ke ibukota untuk mencari ayahnya. Cang Long terkenal sebagai tempat berbahaya, ada sebuah jalan, jalan keluar dari sana berada punggung gunung, jalan itu panjang dan sempit. Dari jauh terlihat seperti seutas tali turun dari langit sekarang Coh Thian-su berada di bawah Tiang-lung. Dari atas Hoa-san bisa terlihat Huang-ho, sekarang Coh Thian-su berada di kaki Hoa-san, dia hanya bisa melihat puncak gunung yang tajam.

"Sayang aku ada keperluan lain, bila tidak aku bisa menikmati dulu keindahan Hoa-san kemudian mendaki ke puncaknya. Aku harap setelah pulang dari ibukota aku bisa pulang bersama-sama dengan ayah dan menikmati keindahan alam disini."

Mengingat keadaan ayahnya, hatinya menjadi agak gelisah tadinya dia berjalan dengan lambat kemudian dia mempercepat lagi.

Yang paling dia khawatirkan adalah keadaan ayahnya.

Ada satu orang lagi yang dia khawatirkan, kadang-kadang dia lebih banyak mengkhawatirkan dia daripada ayahnya.

Sekarang dia memikirkan Hiat-kun lagi.

"Apakah Hiat-kun sudah sampai di ibukota? Dia ke ibukota untuk mencari Hui-thian agar dapat membantunya membalas dendam. Ayahku diundang oleh Tuan Kiam-ta untuk menghadapi Hui-thian, mereka belum tentu bisa bertemu. Walau bertemu pun belum tentu saling kenal, mungkin akan menganggap kawan adalah musuh."

Mengingat salah paham yang akan terjadi, dia berjalan terus.

Begitu kudanya mulai berlari dengan cepat, tiba-tiba terdengar orang berteriak minta tolong!

Yang meminta tolong adalah suara perempuan.

Walaupun saat itu Coh Thian-su sudah berjalan dengan begitu cepat, begitu dia mendengar ada yang meminta tolong, dia segera menghentukan kudanya.

Dia melihat seorang perempuan jatuh terguling-guling dari atas gunung.

Perempuan itu berada dalam bahaya, di belakangnya ada orang yang mengejarnya Laki-laki itu berwajah seram, dia seperti terbang berlari mengejar dia, melihat perempuan itu terjatuh, dia tidak menolong, malah dengan dingin berkata.

"Apakah kau masih bisa lolos dari tanganku?"

Selesai berkata seperti itu, tangannya sudah melempar 3 buah senjata paku.

Perempuan itu jatuh dari atas gunung, walau dia tidak mati tapi tubuhnya pasti akan terluka, orang itu tidak perlu mengeluarkan senjata rahaisa, tapi begitu dia melempar 3 buah paku seperti ingin cepat-cepat mencabut nyawanya.

Coh Thian-su menunggang kuda dari kaki gunung dan memanjat naik ke atas.

Orang itu berlari dengan cepat dari atas gunung ke bawah, perempuan itu sudah terguling hingga ke tengah gunung, berarti jarak mereka sama jauhnya.

Tapi senjata rahasia itu akan lebih cepat sampai daripada kuda Coh Thian-su.

Senjata paku datang dengan cepat, hampir mengenai tubuh perempuan itu.

Coh Thian-su tidak mempunyai waktu untuk berpikir lagi, segera dia melempar 3 keping uang logam.

Terdengar 3 kali suara beradu, 3 keping uang dan 3 buah paku saling beradu, kemudian berbarengan terjatuh.

Orang itu marah dan berkata.

"Siapa kau berani menghalangiku?"

Coh Thian-su juga marah dan berkata.

"Orang sudah jatuh ke dalam sumur kau masih menjatuhkan batu ke atasnya, ini bukan hal baik yang dilakukan oleh tuan!"

Coh Thian-su turun dari kuda ingin memapah perempuan itu, tapi begitu mendekat, perempuan itu tiba-tiba melompat dan terdengar bunyi ledakan, di sekitar sana langsung penuh dengan asap.

Asap dengan cepat mengeklingi Coh Thian-su, semua tampak gelap, dalam 5 langkah tidak terlihat apa pun.

Hati Coh Thian-su menjadi dingin, pasti laki-laki dan perempuan tadi bersekongkol menyerangnya.

Untung tenaga dalam Coh Thian-su cukup kuat, dengan gerakan cepat dia menahan nafas, dia mengeluarkan keahliannya dan meloncat keluar dari gumpalan asap itu.

Pada waktu yang sama, laki-laki itu mengeluarkan serangan, tenaga dalam orang itu berada di atas Coh Thian-su.

Hanya sekejap gumpalan asap sudah menghilang, sekarang dia dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.

Waktu itu perempuan tadi sudah menghilang tidak meninggalkan jejak.

Coh Thian-su mendengar ada suara derap kuda yang berlari, sekali melihat, perempuan itu sudah naik ke atas kudanya dan langsung turun gunung, dengan cepat hilang dari pandangannya.

Perubahan ini di luar dugaan Coh Thian-su, tapi dari kejadian ini dapat diketahui bahwa perempuan dan laki-laki itu tidak berkomplot.

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Laki-laki ini sangat galak dan perempuan itu pasti takut aku tidak bisa menolongnya, jadi dia mengambil kesempatan ini mencuri kudaku dan melarikan diri, walaupun dia mencuri kudaku tapi ini juga tidak bisa disalahkan.' Belum habis berpikir, laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya.

Dengan dingin orang itu berkata.

"Penjahat kecil, siluman tadi siapamu? Cepat katakan!"

Suaranya seperti wajahnya, dinginnya tidak dapat dilukiskan, sekarang mereka saling pandang, Coh Thian-su merasa orang itu sangat menakutkan.

Wajah orang itu tidak seperti wajah seram milik orang lain sebaliknya malah tidak ada ekspresi sedikit pun.

Sangat pucat dan tidak berwarna.

Dilihat dari penampilannya seperti seorang pelajar yang tidak pernah melihat sinar matahari, tapi Coh Thian-su merasa orang yang berdiri di hadapannya seperti baru keluar dari liang kubur.

Pikir Coh Thian-su, Aku tidak boleh takut dengan orang seperti monster ini!' Dia langsung berkata.

"Mengapa begitu bertemu sudah langsung marah-marah kepadaku?' Orang itu tertawa dingin dan menjawab.

"Ya, aku memang marah. Kau penjahat kecil seharusnya disamakan dengan siluman itu!' Coh Thian-su marah dan berkata"

"Sekali bicara sudah melukai orang, aku dan orang tadi sama sekali tidak kenal. Dan aku juga tidak tahu siapa kau!"

Orang itu berkata lagi.

"Kalau tidak kenal mengapa membantunya melarikan diri?"

"Aku tidak kenal denganmu juga tidak kenal dengan dia, aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, aku hanya tidak tega melihat perempuan lemah itu mati di sini."

Kata Coh Thian-su. Wajah orang itu sama sekali tidak ada ekspresi, tapi kata-katanya semakin beringas.

"Seorang perempuan seperti siluman tadi masih ada yang bilang dia adalah perempuan yang lemah, ini adalah kata-kata yang aneh, apakah kau menganggapku orang jahat?"

Jawab Coh Thian-su.

"Kau dan dia, siapa yang baik atau jahat aku tidak tahu, mungkin aku telah melakukan kesalahan dalam menolong orang, baiklah asal kau bisa memberikan alasan membunuh dia, aku akan minta maaf!"

Orang itu tertawa dingin dan berkata.

"Siapa dirimu? Apakah aku mengundangmu menjadi hakim? Dengan enaknya minta maaf!"

"Kau ingin aku bagaimana?"

Kata orang itu.

"Aku ingin kau bunuh diri di hadapanku!"

Coh Thian-su sangat marah dan berkata.

"Aku belum pernah melihat orang seperti dirimu. Maaf bila kau tidak bisa menjelaskannya, aku tidak mau bicara denganmu lagi!"

Orang itu berteriak.

"Berhenti!"

Dia menghalangi langkah Coh Thian-su.

"Kau tidak dapat menjelaskan alasannya, apakah kau mau bertarung? Baiklah, aku akan meladenimu!"

Kata Coh Thian-su. Orang itu sangat marah dengan perkataan Coh Thian-su, dia juga berkata.

"Apakah kau tahu siapa siluman perempuan itu? Kau harus tahu kau sekarang ada di mana?"

Kata Coh Thian-su.

"Semua orang pun tahu ini adalah Hoa-san, apakah ini bisa dijadikan alasan?"

"Apakah kau tahu perguruan Hoa-san adalah perguruan lurus? Kelihatannya silatmu sangat tinggi, kau pasti tahu ilmu silat siluman perempuan itu adalah ilmu sesat, dia pasti bukan murid Hoa-san. Bila kau bukan komplotannya, kau seharusnya tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, mengapa harus membelanya?"

Kata Coh Thian-su dengan dingin.

"Kau juga bukan murid Hoa-san, bila'murid Hoa-san cukup kalau kau menangkap dia, aku tidak akan ikut campur."

Orang itu terpaku dan bertanya.

"Kau tahu siapa aku?"

Kata Coh Thian-su.

"Aku melihatmu melempar senjata rahasia, aku tidak tahu siapa kau, tapi maksudku itu..."

"Maksudmu bagaimana?" '"Menjatuhkan batu ke dalam sumur pada saat orang itu berada di dalam sumur, itu bukan perbuatan dari perkumpulan lurus."

Kata orang itu.

"Bocak tengik, kau berani tidak sopan kepadaku, sebenarnya aku harus tanya jelas dulu identitasmu baru membereskanmu, di sini ada 2 jalan pilihan untukmu."

Dia menganggap Coh Thian-su dan siluman perempuan masih satu komplotan Dengan tertawa dingin Coh Thian-su berkata.

"Aku tahu kau ingin melampiaskan kemarahanmu padaku, aku lebih tidak sudi bicara denganmu. Baiklah, apa maumu?"

Kata orang itu.

"Pertama, aku ingin kau sendiri yang memusnahkan ilmu silatmu atau kau boleh mencari cara yang mudah lainnya untuk memusnahkan."

Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Kenapa bukan dengan cara yang lebih berat? Yang paling berat adalah dengan cara bunuh diri."

Kata orang itu.

"Mengapa kau tidak memilih jalan ini saja?"

"Benar, kau tidak perlu menggunakan banyak tenaga untuk membunuhku!"

Orang itu berkata.

"Baik, jalan yang kedua adalah bertarung. Asal kau bisa menerima 10 jurusku..."

Kata Coh Thian-su.

"Asalkan kau bisa membunuhku, mati pun aku rela, tidak perlu menghitung berapa jurus."

Kata orang itu.

"Baiklah aku harap dalam 10 jurus kau tidak mati dan bisa menerka aku sebenarnya dari perguruan mana."

Kata-kata ini mengandung 2 arti.

Pertama.

Coh Thian-su pasti tidak dapat menahan 10 jurusnya.

Kedua.

walaupun bisa bertahan, Coh Thian-su tidak akan tahu dia berasal dari perguruan mana.

Kata Coh Thian-su.

"Baiklah, kalau tuan ingin mengukur kemampuanku. Maaf, bila aku mulai bertindak tidak sopan."

Coh Thian-su mengeluarkan jurus Poan-koan-pit mencoba menotok dari kiri dan kanan.

Orang itu tidak menghindar, malah mencengkram ke arah Coh Thian-su, caranya mencenkrannya sangat aneh, apalagi tenaga dalamnya pun tidak biasa, sepertinya dia ingin merebut Poan-koan-pit dari tangan Coh Thian-su.

Guratan pena Coh Thian-su sangat aneh, pena kiri ke atas pena kanan ke arah luar, gerakan dua senjata ini diluar perhitungan orang itu.

Orang itu sangat terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Sepertinya ini adalah ilmu silat sepasang pena menotok jalan darah.' Dia memuji coretan pena Coh Thian-su yang indah.

Dia langsung mengganti posisi, sepasang pena Coh Thian-su pun mengikuti ke arah orang itu.

Orang itu berteriak.

"Sekarang aku akan menyerangmu. Hati-hati!"

Telapak tangan kirinya dengan ringan digerakan, telapak tangan kanan mengeluarkan 2 jari untuk menotok.

Dia bukan menotok melainkan membuat 2 jari sebagai pengganti pedang dan jurus ini adalah jurus pedang.

Dia memakai jari untuk menotok, terus menerus mengarah pada 7 jalan darah Coh Thian-su.

Coh Thian-su mengeluarkan semua kemampuannya untuk melawan orang itu.

Orang itu memakai jari sebagai pengganti pedang tapi tidak sehebat Poan-koan-pit.

Meskipun begitu Tapi Coh Thian-su tetap kalah dalam hal tenaga dalam.

Dalam hati Coh Thian-su terkejut.

"Bila dia benar-benar memakai pedang, habislah aku!"

Orang itu langsung mengeluarkan 7 jurus serangan, walaupun hanya memakai jari tapi Poan-koan-pit nya hampir lepas dari tangan Coh Thian-su.

"Coretan yang hebat, sekarang sudah-memasuki jurus ke 13, jadi aku yang kalah! Maaf aku ingin bertanya kepadamu, Coh Kim-sung dari Yang-ciu itu siapamu?"' Orang itu terus menatap Coh Thian-su dan bertanya.

"Dia adalah ayahku, maaf aku ingin bertanya, Cianpwee ini adalah paman Bu-tong yang mana?"

Orang itu terkejut dan berkata.

"Benar-benar hebat, aku pun kalah dalam hal yang kedua."

Kata Coh Thian-su.

"Tidak, dalam jurus yang ke 12 aku baru mengetahui jurus Cianpwee yaitu Lian-hoan-tui-beng-kiam-hoat (Jurus pedang berantai pencabut nyawa). Akulah yang kalah, karena jurus Lian-hoan-tui-beng-kiam-hoat sangat rumit, murid-murid Bu-tong hanya bisa menguasai sedikit, hanya 5 Bu-tong Tianglo yang baru bisa mengusai dengan lancar dan menggunakannya."

Orang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Aku percaya dengan kata-katamu tadi, aku bersalah kepadamu, harap kau jangan marah."

Kata Coh Thian-su.

"Cianpwee terlalu sungkan, aku yang bersalah, aku harus minta maaf kepadamu."

Orang itu berkata.

"Sudah, sudah, kita tidak perlu basa basi lagi, tapi aku yakin kau masih curiga kepadaku, mengapa dengan kejam menghadapi perempuan tadi."

Kata Coh Thian-su.

"Aku yang ceroboh, bila Cianpwee berbuat seperti itu, pasti ada alasannya."

"Apakah kau tahu siapa siluman itu? Baiklah aku akan memberitahumu siapa siluman itu Dua puluh tahun yang lalu di dunia persilatan ada seorang penjahat besar, ilmunya sangat tinggi dan dia masih muda, orang itu bernama Kie Lek-beng dan dia adalah putra Kie Yan-gan, mengenai ayah dan anak ini, kau pasti sudah tahu ."

Dia bicara tapi matanya memelototi Coh Thian-su seperti ingin mengetahui rahasia dalam hati Coh Thian-su.

Coh Thian-su merasa aneh, dalam hati dia berpikir, 'Mengapa dia memandangiku begitu?

Apakah dia tahu bahwa aku sudah pernah bertemu dengan Kie Yan-gan?' Dia segera menjawab.

"Ya, aku pernah dengar."

Orang itu berkata lagi.

"Kau pasti tahu bahwa Kie Lek-beng mati di bawah pedang milik 5 Bu-tong Tianglo."

Kata Coh Thian-su.

"Ya, aku pernah dengar. Maaf Cianpwee, aku ingin bertanya, kau adalah 5 Bu-tong Tianglo yang mana?"

Coh Thian-su sudah bertanya sebanyak 2 kali mengenai identitas orang itu. Orang itu terpaku dan bertanya.

"Mengapa kau bisa tahu bahwa aku adalah salah satu di antara 5 Bu-tong Tianglo?"

"Ilmu pedang Cianpwee sangat lihai, bila bukan salah satu dari 5 Bu-tong Tianglo, pastilah ketua perguruan."

Orang itu seperti sangat menikmati pujian Coh Thian-su, dia tertawa dan berkata.

"Kau benar, aku adalah salah satu dari 5 Bu-tong Tianglo benama Yu He-cu, karena ingin mencari tahu tentang suatu hal maka aku berpakaian seperti orang biasa."

Kata Coh Thian-su.

"Ternyata Anda adalah Yu He-cu Tosu, terimalah hormatku kepada Anda."

Tapi dalam hati dia berpikir, 'Yu He-cu yang diceritakan oleh orang-orang sepertinya tidak sama dengan sosok orang ini.' Ternyata Yu He-cu sebelum menjadi Tosu bernama Pang Kun, Kun berarti tampan, dia adalah salah satu di antara 5 Bu-tong Tianglo yang paling muda.

Sudah menjadi Tianglo sebelum berusia 40 tahun, sekarang walaupun sudah berumur 50 tahun lebih, seharusnya sisa ketampanannya masih ada, tidak akan berubah menjadi begitu menakutkan.

Yu He-cu seperti tahu pikirannya, dia berkata, 'Apakah kau ingin melihat wajah asliku?' Sewaktu berkata seperti itu sorot matanya memancarkan kesedihan yang sangat kental.

Coh Thian-su merasa perasaannya menjadi dingin, dia tidak berani menjawab.

Yu He-cu menarik nafas dan berkata.

"Dalam waktu 10 tahun ini, aku tidak pernah bertemu orang dengan wajah asliku, tapi hari ini merupakan pengecualian."

Tiba-tiba dia menarik kulit wajahnya, ternyata dia memakai topeng yang sangat tipis dan ringan yang dibuat oleh tangan manusia.

Begitu topeng itu dibuka, Coh Thian-su berteriak, dia baru sadar bahwa itu tidak sopan.

Ternyata wajah asli Yu He-cu tidak tampan malah terlihat sangat jelek, tapi bila diperhatikan lagi lebih teliti lagi, wajah itu bukan bentuk aslinya karena sudah dirusak oleh orang lain.

Melihat wajahnya yang penuh dengan bekas luka ada yang lurus dan horizontal, seperti jaring laba-laba, menurut sepengetahuan Coh Thian-su, luka ini dibuat dalam 1 jurus serangan seperti diukir dengan pedang di wajahnya, luka itu seperti tulisan yang dibuat dengan goresan cepat.

Coh Thian-su sangat terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Orang yang melukainya pasti ilmu pedangnya sudah sangat tinggi.

Wajah orang yang berkulit tipis, begitu diukir sudah terjadi banyak luka, tapi tidak terkena tulangnya juga tidak melukai hidung dan mata.' Sasarannya sangat tepat tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Yu He-cu kembali memasang topengnya, dengan sedih tapi mencoba untuk tertawa, dia berkata.

"Apakah kau terkejut? Luka ini adalah pemberian dari Kie Lek-beng, aku masih membencinya walaupun dia sudah mati."

Coh Thian-su terdiam, dia tidak dapat menjawab, karena tidak tahu dendam antara 5 Bu-tong Tianglo dengan Kie Lek-beng, dia tidak mau demi menjilat Yu He-cu and membenci Kie Lek-beng.

Coh Thian-su bertanya.

"Lalu apa hubungannya dengan perempuan itu?"

Kata Yu he-cu.

"Perempuan itu adalah salah satu dari sepasang siluman rase yang jernama Gin-ho. Dia adalah si adik yang bernama Bok Koan-koan Bok

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Ternyata dia adalah Gin-ho, Bok Koan-koan, wah ternyata aku sudah salah menolong orang.' Yu he-cu melihat Coh Thian-su dan bertanya.

"Apakah kau juga kenal dengan Bok Koan-koan?"

"Ada yang pernah membicarakan dia."

"Siapa yang pernah membicarakannya?"

Coh Thian-su menjadi kesal dalam hati dia berpikir, 'Tosu ini ;rlalu banyak tanya' Dia tidak ingin rahasia ini diketahui, terpaksa dia berbohong.

"Waktu aku ke rumah Hie Tiong-gwee untuk memberi selamat, ada yang membicarakan sepasang adik kakak ini."

Kata Ju Mie Zi.

"Bagaimana mereka mengatakannya?"

"Sepertinya mereka sedang membicarakan mengenai senjata rahasia, mereka bilang senjata rahasia sepasang adik kakak ini bisa menandingi kehebatan senjata rahasia keluarga Tong dari Suchuan, tapi aku tidak percaya."

Kata-kata Coh Thian-su tidak dicurigai oleh Yu he-cu, dia tertawa dan berkata.

"Yang berkata seperti itu memang sangat tepat, Bok Koan-koan adalah iblis perempuan yang tadi. Kau sudah lihat kehebatan senjata rahasianya, tapi dia tidak begitu lihai, kakaknya Kim-ho (rase emas) lebih kuat. Yang pernah menyaksikannya, berkata mirip dengan senjata rahasia keluarga Tong dari Suchuan. Katanya keluarga Tong sudah curiga kepada sepasang adik kakak ini."

Pikir Coh Thian-su, 'Keahlian senjata rahasia mereka memang berasal dari keluarga Tong, kelihatannya selain Kie Yan-gan belum ada yang tahu, paling sedikit orang-orang Bu-tong juga belum tahu."

Yu He-cu berkata.

"Ternyata kau pernah mendengar secara tidak sengaja, kau hanya tahu sedikit mengenai sepasang iblis ini, ternyata aku salah tebak."

Kata Coh Thian-su.

"Guru, kira-kira siapa yang memberitahuku."

Yu He-cu tidak menjawab, tapi segera dia berkata.

"Aku dan ayahmu sudah 10 tahun lebih tidak bertemu tapi aku juga bersahabat dengan ayahmu. Aku kira kau juga tahu."

Kata Coh Thian-su.

"Memang ayah sering bercerita tentang guru."

Sebenarnya ayahnya hanya berkata tentang 5 Bu-tong Tianglo. Yu He-cu yang sombong, tidak menyangka Coh Thian-su begitu hormat kepada yang lebih tua, dia sangat puas dan dia berkata.

"Aku ingin bertanya kepadamu, harap kau mau menjawab dengan jujur."

"Aku jarang tahu keadaan di dunia persilatan juga jarang mengurusi masalah orang lain, apa yang ingin guru tanyakan?"

Tapi dalam hati Coh Thian-su sudah siap menjawab, bila dia bisa menjawab dia akan menjawab bila tidak, dia tidak akan menjawab. Yu he-cu seperti tahu pikirannya, dia berkata.

"Aku ingin bertanya tentang ayahmu, boleh dibilang untuk kebaikan ayahmu."

Kata Coh Thian-su.

"Kalau ada kebaikan untuk ayahku, kenapa aku harus menutup-nutupinya?"

Dia berkata seperti itu supaya bisa mundur. Apakah un umum demi kebaikan ayahnya, dia yang menentukan. Bila perlu berbohong akan dilakukannya. Tanya Yu He-cu.

"Apakah kau pernah tinggal di rumah Kie Yan-gan?"

"Guru dengar dari mana?"

Yu He-cu senang bertanya-tanya, dalam hati Coh Thian-su juga harus berpikir, harus berkata jujur atau tidak. Kata Yu He-cu.

"Tamu yang datang ke rumah Hie memberitahuku, setelah Hui thian membuat keributan, beberapa hari kemudian ada yang melihat kau bersama dengan cucu Kie Yan-gan naik dalam satu perahu."

Kie Su-giok dan Hui-thian sama-sama membuat keributan di rumah Hie, mereka diperhatikan oleh tamu-tamu Hie, itu tidak aneh.

Coh Thian-su terkejut dan berpikir, 'Untung mereka hanya tahu Kie Su-giok tapi tidak tahu Kang Hiat-kun juga ada di dalam perahu."

"Benar, aku menerima undangan untuk tinggal di rumah Su Giok karena aku ingin mengenal kakeknya yang terkenal itu. Aku juga tahu dia adalah adik seperguruan Hui-thian, tapi dendam antara Hui-thian dengan Hie Tiong-gwee aku tidak tahu juga tidak mau tahu. Aku jadi tamunya tapi telah mau membantu Hui-thian."

Kata Coh Thian-su. Yu he-cu tertawa dan berkata.

"Kau tidak perlu menjelaskannya, aku tahu kau tidak membantu Hui-thian. Hui-thian, dia juga tidak mau kau membantunya. Katanya Nona Kie itu sangat cantik apalagi kakeknya adalah pesilat nomor satu di duiuu persilatan, bila aku jadi kau, aku juga tidak bisa menolak undangannya."

Sewaktu dia masih muda dia dijuluki laki-laki yang berwajah tampan, walaupun Coh Thian-su tidak tahu Yu He-cu sewaktu masih muda tapi dia tahu pasti banyak berhubungan dengan perempuan.

Wajah Coh Thian-su menjadi merah dan berkata.

"Guru, jangan tertawakan aku."

Sebenarnya dia ingin Yu He-cu salah sangka kepadanya. Kata Yu He-cu.

"Aku tidak bercanda, jujur saja, aku berharap kau bisa menikah dengan cucu Kie Yan-gan, putra Kie Yan-gan tidak baik, begitu juga dengan cucu muridnya, tapi bila Kie Yan-gan adalah orang yang netral, bila tidak terpaksa, kita tidak akan mau bermusuhan dengannya. Bila kau menjadi menantu cucunya mungkin kita bisa mendapat kebaikan."

Kata Coh Thian-su.

"Aku dan Nona Kie hanya bertemu secara tidak sengaja mana bisa membicarakan tentang pernikahan, aku bukan orang yang ingin mencapai posisi tinggi."

Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Dia baru mengenalmu tapi sudah mengundangmu bertamu ke rumahnya, bila bukan karena sayang mana mungkin kalian langsung cocok? Aku harap kau bisa menjadi menantu keluarga Kie, banyak orang persilatan yang ingin seperti ini, tetapi mengapa kau tidak?"

Kata Coh Thian-su.

"Guru, apa yang ingin anda ceritakan? Mengapa menyangkut pautkan dengan diriku?"

Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Masalahmu juga masalah yang penting!"

"Apakah kau tahu sebabnya? Karena mereka khawatir Hui-thian sudah membuat keributan di rumah Hie walaupun aku tidak berada di sana, tapi ada yang memberitahuku, Hui-thian terluka karena Nyonya Hie, terakhir Nona Kie datang dan menolong kakak seperguruannya, apakah benar?"

"Benar."

Kata Yu He-cu lagi.

"Karena mereka sudah tahu hubungan antara Hui-thian dan Nona Kie, mereka adalah kakak adik seperguruan juga sepasang kekasih, bila Nona Kie mau menikah dengan kakak seperguruannya, Hui-thian akan menjadi menantu Kie Yan-gan. Kita akan lebih sulit menghadapi Hui-thian. Sayang Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee belum tahu hubunganmu dengan Nona Kie, bila tahu mereka tentu akan senang, paling sedikit bisa mengurangi kekhawatiran."

Kata Coh Thian-su.

"Guru, aku dan Nona Kie tidak mempunyai hubungan apa-apa, kau jangan menyebarkan gossip."

Kata Yu He-cu.

"Aku tahu kau khawatir karena belum tiba waktunya, aku tidak akan menanyakannya. Aku dan Kiam-ta memiliki perbedaan, mereka ingin berhadapan dengan cucu murid Kie Yan-gan, Hui-thian. Bila aku berhadapan dengan putra Kie Yan-gan lebih sulit lagi, karena itu aku hanya bisa membereskan sendiri masalah ini."

Coh Thian-su mendengar "yang aku hadapi adalah putra Kie Yan-gan', dia sudah mengerti kalimat ini. Apa yang ingin dia ketahui? Benar saja Yu He-cu berkata lagi.

"Yang ingin kuketahui adalah mengenai putra Kie Yan-gan, katanya dia belum mati, apakah kabar ini benar? Kau harus jawab dengan jujur."

Di bawah pedang, wajah sudah rusak Dua puluh tahun dendam lama, tidak dapat dilupakan Apa yang akan terjadi? Bersambung...

Jilid 2 ---ooo0dw0ooo---BAB 10 Keanehan membuat terkejut Ketua dibunuh Terkurung di batu yang sepi Perempuan cantik menaruh hati A. Perubahan di Hoa-san Coh Thian-su pura-pura terkejut dan berkata.

"Apa? Kie Lek-beng belum mati? Bukankah kau yang bilang dia mati di bawah ilmu pedang Bu-tong? Dia terluka parah dan jatuh ke sungai, mengapa masih bisa hidup?"

Kata Yu He-cu.

"Lebih dari 10 tahun aku juga mengira seperti itu, tapi sekarang aku mendapat kabar yang membuatku berpikir kembali."

"Apakah ada yang sudah bertemu dengannya?"

"Benar, ada orang yang pernah bertemu dengannya, dan orang itu mempunyai ciri-ciri seperti dia."

"Seperti dia? Apa maksudnya?"

Tanya Coh Thian-su.

"Teman yang bertemu dengannya, sangat mengenali ilmu silatnya, memang wajahnya tidak mirip jadi belum dapat dipastikan apakah dia Kie Lek-beng atau bukan. Kejadiannya begini, di ibu kota ada sebuah kantor Piau (pengiriman barang) yang bernama Sin-hoan, ketua kantor itu bernama Tong Hwie-yan, adiknya bernama Tong Hwai-ie mempunyai seorang teman baru, tidak ada yang tahu identitasnya tapi ilmu silatnya sangat tinggi. Melihat ilmu silatnya, sepertinya itu adalah ilmu silat keluarga Kie."

Kata Coh Thian-su.

"Apakah temanmu sebelumnya memang sudah kenal, dengan Kie Lek-beng?"

"Mereka kenal dan juga pernah dirugikan oleh Kie Lek-beng, menurut mereka wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan Kie Lek-beng, wajahnya ada bekas luka, ilmu silat dan gerak geriknya sehari-hari memang mirip dengan Kie Lek-beng."

"Bila wajahnya tidak mirip pasti bukan dia."

"Wajah bisa diubah dengan ketrampilan tangan, walau bagaimana pun ilmu silatnya ditutup-tutupi, tapi di mata pesilat lain tetap bisa tahu berasal dari mana gerak ilmu silatnya. Kami 5 Bu-tong Tianglo tidak mampu membunuh Kie Lek-beng, bila Kie Lek-beng memang hidup kembali, dia pasti akan kembali mencari 5 Bu-tong Tianglo, walau kemungkinannya kecil tapi kami tetap harus waspada karena itu sebelum tahu apakah Kie Lek-beng masih hidup atau memang sudah mati, tapi aku lebih percaya bahwa dia masih hidup....Adik, kau sekarang sudah tahu mengapa aku harus menangkap siluman perempuan itu, dia adalah kekasih gelap Kie Lek-beng bila Kie Lek-beng masih hidup dia pasti tahu, tapi sayang..."

"Aku sangat malu dan minta maaf, ini semua kesalahanku, merusak rencana guru."

Kata Yu He-cu.

"Hal itu sudah lewat, jangan salahkan dirimu lagi, lebih baik kita cari jalan kedua, melalui jalan ini kita bisa menemukan Kie Lek-beng yaitu menemui ayahnya, Kie Yan-gan."

Yu He-cu tertawa kecut dan berkata lagi.

"Kie Cianpwee dan siluman itu tidak sama, aku bisa menangkap perempuan itu dan memaksanya mengatakan di mana Kie Lek-beng, tapi pak tua itu adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Kali ini aku ke Hoa-san adalah untuk meminta bantuan kepada teman-teman Hoa-san, menurutku ketua perkumpulan Hoa-san yaitu Thian Koan, dan Thian Hian mereka pernah berteman dengan Kie Yan-gan, aku tidak meminta mereka untuk bertarung dengan Kie Yan-gan, hanya meminta Kie Yan-gan jangan melindungi anaknya, bila putranya sudah kembali ke rumah, harap dia mau menyerahkannya kepada kami."

Kata Coh Thian-su.

"Apakah kau mengira Kie Yan-gan mau melakukannya? Apalagi dia hanya mempunyai anak satu-satunya."

"Benar, dia memang hanya mempunyai satu anak, putranya icrluka di bawah pedang Bu-tong Tianglo. Dia tidak membalas dendam kepada kami itu juga sudah sangat menguntungkan, sekarang bila disuruh untuk menyerahkan putranya dia pasti tidak akan bersedia. Walau dia tidak bersedia, tapi kami sudah minta ijin asal dia tidak turut campur, perkumpulan Bu-tong masih sanggup mengalahkan Kie Lek-beng, kami sudah memikirkan hal yang terburuk, bila perlu kami akam mengundang ketua Siauw-lim, Go-bi Ceng-seng, dan Bu-tong, meminta agar mereka mau bergabung untuk menghadapi Kie Yan-gan dan putranya bila Kie Yan-gan masih melindungi putranya kami akan langsung bergabung melawannya."

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Kau terlalu pandai dalam memperhitungkan segalanya, perkumpulan-perkumpulan itu pasti akan menolak' Dengan sengaja Coh Thian-su berkata.

"Apakah ketua Hoa-san sudah berjanji akan mendukungmu?"

"Apakah kau tidak melihat aku seorang diri turun dari gunung? Bila mereka setuju, aku tidak perlu menangkap siluman itu."

"Thian Hian tosu sebenarnya adalah temanku tapi sekarang dia sedang bertapa dan tidak bisa terus diganggu, yang lainnya kumohon mencari Kie Yan-gan pun pasti tidak akan mau. Tapi aku juga tidak menyangka, secara kebetulan begitu turun dari gunung sudah bertemu dengan siluman itu. Siluman itu kabur setelah bertemu denganmu, jalan pertama tidak berhasil, begitu juga dengan jalan kedua, sekarang sudah kutemukan jalan ketiga"

Coh Thian-su tertawa kecut dan berkata.

"Apakah guru menganggapku sebagai jalan yang ketiga? Mungkin jalan ketiga pun akan gagal."

Kata Yu He-cu.

"Kau baru pulang dari keluarga Kie, sepertinya kau tidak bertemu dengan Kie Lek-beng, tapi sedikit banyak kau pasti tahu. Apakah Kie Yan-gan pernah cerita kepada cucunya bahwa ayahnya masih hidup?"

"Aku tidak tahu, apakah mereka pernah membicarakan hal ini, tapi Nona Kie belum pernah bercerita tentang ayahnya."

Coh Thian-su tidak ingin mengatakan kepada Yu He-cu bahwa Kie Lek-beng masih hidup karena dia mempunyai rencana lain.

Memang benar, Kie Lek-beng adalah musuh ayahnya, Coh Thian-su tidak ingin mengatakan kepada Yu He-cu bahwa Kie Lek-beng masih hidup karena dia mempunyai rencana lain.

Memang benar, Kie Lek-beng adalah musuh ayahnya, Kie Yan-gan juga takut kalau putranya akan membunuh ayahnya, tapi dalam hati Coh Thian-su berharap permusuhan ini bisa diselesaikan dengan baik.

Hari itu ketika dia pura-pura tidak sadar, kemudian mendengar pembicaraan antara Kie Yan-gan dan Ting Po, dia jadi mengetahui semua masalah itu, yaitu sebelum menikah dengan ayahnya ibu itirnya pernah menikah dengan Kie Lek-beng dan sebelum menikah dengan Kie Lek-beng, ibu tirinya sudah pernah berkasih-kasihan dengan ayahnya.

Kie Lek-beng selalu menyiksa ibu tirinya, terakhir setelah Kie Lek-beng meninggal, ibu tirinya baru menikah dengan ayahnya Ayah dan ibu tirinya tidak salah, karena tidak mendapat cinta dari istrinya, Kie Lek-beng menjadi marah.

Sepertinya semua ini masih bisa dimaafkan.

Dia juga tidak tahu siapa yang sudah menyerangnya secara tiba-tiba, apakah dia Kie Lek-beng?

Bila dia memang Kie Lek-beng, dia tidak akan dendam, walaupun Kie Lek-beng ingin dia mati (entah mengapa dia tidak yakin penyerangnya adalah Kie Lek-beng), tapi yang menolongnya adalah ayah Kie Lek-beng yaitu Kie Yan-gan.

Apalagi dia dan Su-giok bukan teman yang kenal begitu saja.

Dari pembicaraan antara Kie Yan-gan dan Ting Po dia merasa walau Kie Yan-gan terus memaki-maki putranya tapi di dalam hatinya, sebenarnya dia sangat sayang kepada putranya.

Kie Yan-gan menyuruh Ting Po ke Yang-chi dengan tujuan melarang putranya membuat kesalahan lebih besar lagi, dia ingin melindungi ayah Coh Thian-su di lain sisi, dia juga melakukan semua ini demi putranya.

Dia berhutang budi kepada Kie Yan-gan, biia dia membantu orang lain membunuh Kie Lek-beng, apakah ini berarti air susu dibalas dengan air tuba?

Dia berpikir, 'walaupun rencana Yu He-cu bisa membuat Kie Lek-beng mati sekali lagi, tapi juga akan membuat banyak orang persilatan berkorban, orang yang tidak berdosa akan banyak mati, dan mereka tidak bisa seperti Kie Lek-beng, bisa hidup kembali.' Karena itu dia menutup mulutnya, tidak akan membuka rahasia tentang hidup atau matinya Kie Lek-beng.

Yu He-cu sangat kecewa dan berkata.

"Coba kau pikir lagi, apakah mereka pernah mengatakan tentang putra Kie Yan-gan?"

Coh Thian-su menggelengkan kepala, Yu He-cu terdiam lama baru berkata.

"Kie Yan-gan dan Ting Po adalah rubah tua, mereka tidak akan memberitahu kepada orang lain, ketika kau di sana, apakah Kie Cianpwee memperlakukanmu dengan baik?"

Coh Thian-su menjawab.

"Aku berbeda 2 generasi dengan beliau, dia memperlakukanku tidak baik juga tidak buruk."

Yu He-cu berkata pada dirinya sendiri.

"Ini sangat aneh, mungkin dia belum tahu."

"Belum tahu tentang apa?"

"Kie Lek-beng adalah musuh Bu-tong juga musuh ayahmu, apakah kau tidak tahu?"

Coh Thian-su pura-pura terkejut dan berkata.

"Apakah benar? mengapa ayahku tidak pernah memberitahuku? Mengapa dia bisa bermusuhan dengan ayahku?"

"Aku pun tidak tahu, kabar ini aku ketahui dari Tong Hwai-ie, katanya teman barunya ini sangat benci kepada Pendekar Kang-lam, Coh Kim-sung, bila orang itu adalah Kie Lek-beng ini akan berbahaya untuk ayahmu."

Coh Thian-su agak tenang.

"Ternyata dia hanya tahu tentang itu saja."

Kata Coh Thian-su.

"Bila guru ingin tahu, mengapa tidak pergi ke ibukota dan menanyakannya langsung kepada Tong Hwai-ie, walau sedikit berbahaya itu lebih baik daripada ke rumah Kie."

Kata Yu He-cu.

"Kau tidak tahu aturan Bu-tong Pertama. tidak boleh menjadi pejabat, kedua. tidak boleh bekerja di kantor Piau Aku adalah Bu-tong Tianglo, aku harus menjadi contoh bagi murid-murid Bu-tong, kalau bisa jangan berteman dengan mereka."

Sebenarnya dia takut bertemu dengan Kie Lek-beng di ibukota, bila 5 Bu-tong Tianglo pergi ke ibukota akan segera diketahui oleh Kie Lek-beng.

Coh Thian-su mulai kesal kepada Yu He-cu, dalam hati dia berpikir, 'Aku harus tetap melayaninya' Kemudian dia berkata.

"Terima kasih kau sudah menasihatiku, aku pamit dulu karena akan pergi ke ibukota"

Waktu itu terdengar bunyi lonceng, suara itu datang dari puncak gunung, membuat gendang telinga berdenging.

Coh Thian-su melihat ke puncak gunung, puncak itu tertutup oleh kabut.

Dia terkejut, dalam hati dia berpikir.

"Dari tempat yang begitu jauh, bisa terdengar bunyi lonceng dan suaranya begitu terburu-buru, tidak seperti suara lonceng dari kuil-kuil biasa"

"Kau jangan turun gunung dulu."

Kata Yu He-cu "Guru, ada pesan apa untukku?"

"Apakah kau mendengar bunyi lonceng itu?"

"Suaranya begitu keras, orang tuli pun dapat mendengar!"

Kata Yu He-cu,.

"Kau dengar bunyi lonceng itu begitu terburu-buru bukan? Apakah kau tahu itu artinya apa?"

"Aku ingin bertanya kepada guru."

Kata Yu He-cu.

"Itu adalah suara lonceng untuk mengumpulkan semua orang Hoa-san, lonceng itu terletak di puncak gunung, beratnya 5.400 kilogram, sekali berbunyi bisa terdengar hingga 10 kilometer, bila bukan hal yang penting, lonceng itu tidak akan dibunyikan."

"Itu artinya apa?"

Tanya Coh Thian-su.

"Pasti lelah terjadi sesuatu di perkumpulan Hoa-san kalau itu gara-gara orang dalam sepertinya tidak akan apa-apa, tapi bila hal itu disebabkan oleh orang luar yang masuk ke Hoa-san dan membuat keributan di sana serta merugikan perkumpulan Hoa-san, bila sekarang kau turun gunung, kau akan dicurigai oleh murid-murid Hoa-san."

Walaupun Coh Thian-su tidak menyukai Yu He-cu, tapi dia memikirkan kata-katanya yang masuk akal, segera dia berhenti melangkah dan berkata.

"Perkumpulan Hoa-san adalah perkumpulan besar, murid-murid Hoa-san paling sedikit ada ratusan hingga seribu orang, siapa yang berani membuat keributan di sana?"

Mereka dengan cepat naik ke atas gunung, terlihat di dinding jurang ada tulisan Hwi-sim-sik (Batu hati pulang) dengan huruf yang besar.

Di jurang itu terbentang rantai besi yang panjang, kira-kira panjangnya ada puluhan meter dan rantai itu sudah berkarat, bergoyang-goyang karena hembusan angin yang kencang, membuat hati orang menjadi tidak tenang Di sebelah kiri dinding ada tulisan 'harus ingat kepada ayah dan ibu', di kanan dinding tertulis "berani untuk maju'.

Kata Coh Thian-su.

"Kedua kalimat itu sangat bertolak belakang, setiba di tempat yang begitu berbahaya, bila ingat terus kepada ayah dan ibu bagaimana bisa punya semangat untuk terus maju?"

"Karena yang menulis adalah orang yang berbeda."

"Belum tentu orang dalam, seperti siluman perempuan Gin-ho, dia juga tidak ada hubungannya dengan perkumpulan Hoa-san."

Dia terdiam sebentar dan berkata lagi.

"Mengapa siluman perempuan itu bisa berada di Hoa-san? Benar-benar aneh, tapi ini pasti bukan tanpa alasan, apakah dia ada komplotannya di sini? Kemudian diketahui oleh murid-murid Hoa-san?"

Kata Coh Thian-su dengan tertawa.

"Apakah guru curiga bahwa aku adalah komplotannya?"

Yu He-cu juga tertawa.

"Kita sudah membicarakannya dari tadi, aku tidak mencurigaimu, tapi apakah murid-murid Hoa-san akan percaya kepadamu, lebih baik sekarang kau ikut aku, aku akan melindungimu."

Smbil bicara dia mulai mendaki gunung, terpaksa Coh Thian-su mengikutinya Bunyi lonceng sudah berhenti, terlihat ada asap biru keluar dari puncak itu, kata Yu He-cu.

"Kelihatannya benar-benar ada musuh yang datang dari luar, murid-murid Hoa-san sedang mencarinya."

Lanjut Yu He-cu lagi.

"Aku baru bertemu dengan ketua Hoa-san yaitu Thian Koan tojin. Rupanya telah terjadi sesuatu di perkumpulan Hoa-san, aku harus kembali untuk melihatnya, walaupun tidak membutuhkan bantuanku, aku harus menggunakan nama Bu-tong sebagai rasa simpatiku."

Kata Coh Thian-su.

"Aku tidak mengenal satu pun dari murid-murid Hoa-san, aku hanya orang kecil tidak bisa berteman dengan mereka."

Yu He-cu mengerutkan dahi dan berkata.

"Walaupun kau tidak berteman dengan mereka, tapi mereka pasti mengenal ayahmu, kau ikutlah naik ke puncak, setelah kita tahu apa yang sudah terjadi, saat itu kau mau turun gunung pun tidak apa-apa."

Coh Thian-su tertawa kecut.

"Aku harus menghindari kecurigaan mereka. Guru, dengan terpaksa kau harus menjadi pengawalku."

Kata Coh Thian-su.

"Huruf yang terdapat di sebelah kanan adalah "berani untuk maju', huruf itu ditulis dengan sangat tegas, sepertinya orang yang menulis huruf itu bisa ilmu silat."

"Benar,"

Jawab Yu He-cu.

"huruf-huruf ini adalah kakek guru yang pertama yang mendirikan perkumpulan Hoa-san yang menuliskannya. Dia memakai tempat ini untuk melatih murid-muridnya, yaitu melatih ilmu meringankan tubuh karena itu dia memberi semangat "berani untuk maju'."

"Sepertinya murid-murid Hoa-san jarang naik turun di sini?"

Tanya Coh Thian-su.

"Benar, karena murid-murid yang bisa berlatih hingga berjalan di jurang ini tidak banyak. Tapi orang yang belajar ilmu silat biasanya ingin mendapat ilmu silat yang lebih tinggi, selalu memegang rantai dan dengan susah payah mendaki, tapi di sini adalah jalan yang tercepat untuk mendaki ke atas."

Kata Coh Thian-su.

"Yang kiri tertulis 'harus ingat kepada ayah dan ibu', coretannya hampir sama dengan huruf 'Hwi-sim-sik', ditulis dengan mantap dan pelan, sepertinya yang menulis adalah orang yang terpelajar."

Kata Yu He-cu.

"Benar, dia berasal dari Dinasti Tong. Yang menuliskannya adalah Han-ih, di sini pun ada sedikit ceritanya, katanya pada saat Han-ih naik ke atas gunung ini dia tidak berani turun lagi, karena itu dia menangis dan melempar bukunya, setelah tiba di rumah dia menulis Hwi-sim-sik dan "harus ingat kepada ayah dan ibu', kedua kalimat ini dia menyuruh tukang ukir untuk mengukirnya, maksudnya adalah orang yang sudah sampai di tempat ini harus berhenti dan kembali lagi ke tempat asal."

"Kita sudah tiba di sini, kita mau naik terus atau kembali ke tempat tadi?"

Kata Coh Thian-su.

"Kita bukan murid Kong-hu-cu karena ini adalah jalan pintas untuk naik ke atas gunung, karena itu aku mengajakmu lewat sini."

"Apakah aku sanggup melakukannya?"

"Ilmu meringankan tubuhmu pasti tinggi, jangan sungkan, ayo kau dulu!"

Coh Thian-su mengerti maksudnya dari berkata.

"Baiklah, aku akan jalan dulu meskipun jatuh akan ada guru yang menolongku."

Coh Thian-su memegang rantai, seperti main ayunan, semakin diayun semakin tinggi, terakhir dia melepaskan rantai dan terbang ke atas, di tengah udara dia berkata.

"Guru, jangan tertawakan aku!"

Yu He-cu terkejut dan memuji.

"Ilmu meringankan tubuh yang bagus!"

"Ilmu meringankan tubuh yang bagus!"

Dari Hwi-sim-sik juga ada yang berteriak. Orang itu bukan memuji, Coh Thian-su baru turun, orang itu sudah menusuknya dengan pedang dan berteriak.

"Siapa kau! Berani tidak sopan datang ke Hoa-san! robohlah!"

Dia adalah seorang tosu. Pedang datang dengan cepat dan ganas, Coh Thian-su sangat marah.

"Kau beium tahu aku siapa, tapi sudah menyuruhku menyerah sungguh tidak sopan!"

Dia tahu orang itu pasti murid Hoa-san.

Coh Thian-su marah karena, pertama.

kedua kaki baru menapak tanah sudah diserang dengan begitu cepat, Coh Thian-su harus berjaga supaya tubuhnya bisa seimbang.

Terlihat Coh Thian-su hampir jatuh dan tubuhnya miring ke depan sebenarnya dengan tubuh condong ke depan dia bisa menotok orang itu dengan penanya.

Orang itu terkejut, segera dia membalikkan tubuh dan pedangya pun dimiringkan untuk menghindari pena Coh Thian-su Kemudian dia menusuk ke arah tenggorokan Coh Thian-su.

Jurus yang pertama adalah menotok dengan pedang, jurus yang kedua dikeluarkan untuk membunuh Coh Thian-su.

Waktu itu juga Coh Thian-su sudah mengangkat Poan-koan-pit, berdatang pula seorang tosu yang lain, dia berteriak.

"Adik, tangkap dia hidup-hidup!"

Jurus pedangnya digerakan lebih cepat lagi, dalam satu jurus sudah menotok kearah 6 jalan darah. Coh Thian-su berteriak.

"Mengapa kalian tidak bertanya jelas dulu, dengarkan kata-kataku..."

Kata-kata Coh Thian-su belum habis, kedua tosu itu menyerang dari kiri dan kanan, Coh Thian-su sudah tidak mempunyai waktu untuk bicara Ternyata kedua tosu itu adalah murid dari ketua Hoa-san, yaitu Thian Koan.

Yang pertama bernama Han He, yang kedua bernama Han Ku.

Yang menyerang Coh Tkian-su pertama kalinya adalah Han Ku, sifatnya pemarah, dia sedang sedih karena dalam perkumpulan mereka sedang terjadi perubahan yang menyedihkan.

Dia melihat ada orang yang tidak dikenal dengan silat yang begitu tinggi masuk ke dalam perkumpulan mereka Dia menganggap Coh Thian-su adalah musuh, jurus pertama yang dikeluarkan bukan untuk membunuh Coh Thian-su, tapi setelah bertarung dia hampir kalah, hal itu memaksanya mengeluarkan serangan untuk membunuh.

Sekarang dia mengikuti kata-kata kakak seperguruannya.

Kembali dia memakai jurus menotok jalan darah dengan pedang.

Coh Thian-su tentu saja tidak mau ditotok, dia menahan serangan kakak beradik ini.

Coh Thian-su mengangkat sepasang kuasnya untuk menahan serangan Han He, terdengar suara senjata berbunyi.

Coh Thian-su ingin bicara lagi tapi dia sudah diserang oleh Han Ku dan Han Ku berkata.

"Aku tidak punya waktu mendengar cerita palsumu, setelah tertangkap kau baru bisa berkata dengan jujur."

Pikir Coh Thian-su, 'Menotok jalan darah dengan pedang memang jurus yang aneh, tapi belum tentu bisa mengalahkanku.' Dia sedang marah, dia ingin mengeluarkan jurus yang mematikan tapi akhirnya dia memilih untuk menahan diri.

Pikir Coh Thian-su, 'Bila Yu He-cu tosu sudah datang, semuanya akan menjadi jelas."

Coh Thian-su menahan serangan mereka, saat itu dia melihat ada 2 orang lagi yang bersiap-siap mengeluarkan pedang untuk menyerangnya. Kata Han He.

"Adik Pai, Adik Hi, kalian lihat ke dekat jurang, apakah masih ada komplotannya? Si bocah tengik ini tidak akan bisa lari, di sini tidak perlu bantuan kalian."

Dua orang itu berjalan mendekati jurang, belum sampai di ujung, Yu He-cu sudah naik. Begitu naik Yu He-cu berteriak.

"Berhenti! Semua adalah orang sendiri!"

Tapi kedua orang itu tidak berhenti, malah menyerangnya dengan pedang. Yu He-cu berteriak lagi.

"Apakah kalian tidak mengenalku?"

Kedua orang itu masih menyerang, dan berkata.

"Siapa kau..."

Belum habis bicara, mereka merasa jalan darah di tangan tertotok, ternyata Yu He-cu dengan ringan telah menotok mereka.

Pada waktu yang sama, Coh Thian-su juga mengalami perubahan.

Kedua orang itu tidak berhenti tapi kedua tosu itu berhenti terlebih dulu.

Karena Coh Thian-su melihat kedua orang itu masih menyerang Yu He-cu, harapan Coh Thian-su langsung hilang, segera dia mengeluarkan jurus yang lebih tinggi, penanya disilangkan, yang kiri menotok Han He yang kanan menotok Han Ku.

Tapi begitu Coh Thian-su mengeluarkan jurus, Han He sudah keluar dari lingkaran pertarungan, dia lolos dari totokan Coh Thian-su, tapi Han Ku malah maju ke depan, untung dengan cepat Coh Thian-su masih menahan penanya.

Tapi baju Han Ku di bagian dada sudah berlubang, bila Coh Thian-su tidak cepat-cepat menarik kembali tangannya, dada Han Ku pasti sudah berlubang.

Han Ku terpaku dan Han He berteriak.

"Sute, jangan kurang ajar! Guru ini adalah guru Bu-tong yaitu Yu Tosu."

Ilmu silat Han He masih di bawah Coh Thian-su, Coh Thian-su pun melihat sikapnya sudah tidak bermusuhan lagi, dia tahu Coh Thian-su belum mengeluarkan semua jurusnya.

Dia melihat Han Ku tidak terluka, maka dua orang itu berteriak lagi.

Kedua orang itu belum habis bicara, mereka merasa tangan mereka sudah mati rasa, pedang yang dipegang pun sudah terlepas.

Kedua pedang hampir jatuh bersamaan, Yu He-cu melambaikan lengan bajunya, pedang sudah terguling terangkat lagi dan pegangan pedang sudah kembali lagi kepada pemiliknya.

Dengan tersenyum dia berkata.

"Maafkan aku! Apakah kalian adalah murid-murid Hoa-san?"

Orang persilatan lebih mementingkan mati daripada dihina.

Senjata dijatuhkan oleh musuh, itu adalah hal yang paling memalukan.

Walaupun kalah oleh orang yang berilmu lebih tinggi tapi hati mereka tetap tidak suka.

Yu He-cu tahu aturan ini karena itu dia mengembalikan pedang itu dengan cepat, orang tidak sempat melihatnya.

Bila tidak berdiri di sisinya, tidak akan tahu bahwa pedang milik kedua orang itu pernah terlepas.

Kedua orang itu terkejut dan berterima kasih, dalam hati mereka berpikir.

"Kelima Bu-tong Tianglo benar-benar bukan nama kosong."

Dengan senang hati kedua orang itu membungkukkan tubuh dan memberi hormat kepada Yu He-cu. Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Kali itu aku ke Hoa-san, tapi sudah 18 tahun yang lalu, sekarang aku sudah berbeda dengan yang dulu, wajahku sudah bukan wajah asli lagi pantas kalian tidak kenal denganku."

Han He dan Han Ku pun datang untuk memberi hormat.

Karena Han Ku dan Han He adalah murid dari ketua Hoa-san yakni Thian Koan tojin jadi ketika Yu He-cu mengunjungi gurunya, mereka sudah pernah bertemu.

Sebelum Yu He-cu sempat bertanya kepada mereka, mereka sudah bertanya dulu kepada Coh Thian-su.

Dua buah mata memelototi Coh Thian-su, pedang yang panjang belum dikembalikan ke tempatnya, dengan dingin dia bertanya.

"Pendekar ini adalah..."

Karena dia dirugikan oleh Coh Thian-su, kemarahannya belum reda. Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Dia adalah putra dari Pendekar Kang-lam, Coh Kim-sung."

"Aku adalah Coh Thian-su, maaf bila telah berlaku tidak sopan."

Kata Han He.

"Ini hanya salah paham, tidak ada hubungan dengan Coh Toako, seharusnya kami yang minta maaf."

Han Ku berkata.

"Mengapa Coh Tayhiap bisa berada di sini? Kau mewakili ayahmu datang ke sini atau sekedar menikmati keindahan Hoa-san?"

"Aku hanya lewat Hoa-san dan bertemu dengan Guru Yu He-cu."

Kata Han Ku.

"Benar-benar suatu kebetulan, maaf aku ingin bertanya, apakah Coh Tayhiap bertemu dengan Yu He-cu di kaki gunung atau di atas gunung? Apakah Coh Tayhiap mendengar suara lonceng?"

Karena dua jam yang lalu Yu He-cu baru pamitan dengan Thian Koan, dia diantar oleh Han He dan Han Ku keluar dari pundak gunung itu.

Sekarang Yu He-cu sudah berada di Hwi-sim-sik, bila dihitung-hitung Coh Thian-su bertemu dengan Yu He-cu pasti bukan di kaki gunung.

Dia bertanya dengan sangat jelas bila Coh Thian-su sudah tiba lebih dulu di puncak gunung berarti dia adalah orang yang dicurigai.

Kata Han He.

"Sute, jangan bertindak tidak sopan kepada putra Coh Kim-sung."

Yu He-cu juga tampak tidak senang dan berkata.

"Aku dan Coh Tayhiap hanya bertemu secara kebetulan, bila bertemu dengan gurumu baru aku akan memberitahunya, aku mendengar bunyi lonceng yang terburu-buru, tolong beritahu kepadaku, sudah terjadi apa di sini?"

Han He menjawab dengan sedih.

"Terima kasih atas perhatiannya, tapi anda tidak akan bisa bertemu dengan guruku lagi."

Yu He-cu terkejut dan berteriak.

"Apa kau bilang? Aku baru saja berpisah dengan gurumu, apakah..."

Dengan suara rendah Han Yu menjawab.

"Guruku sudah meninggal."

Ini benar-benar seperti mendengar petir di siang bolong, mimpi pun tidak menyangka.

Suara lonceng berbunyi begitu tergesa-gesa, dia tahu pasti telah terjadi sesuatu yang penting tapi tidak disangka, kabar yang diperoleh lebih buruk dari dugaannya.

Dia bengong sebentar dan langsung berteriak.

"Bagaimana bisa terjadi? Tadi ketika kami berbincang-bincang, beliau masih sehat walafiat."

Han He menjawab.

"Guruku mati dengan tidak jelas!"

Kalimat ini membuktikan bahwa gurunya mati dengan tidak wajar!

Gurunya adalah ketua perkumpulan Hoa-san bukan orang biasa!

Pikir Coh Thian-su, 'Pantas harus membunyikan lonceng untuk mengumpulkan semua orang karena ketua mereka mati dengan tidak wajar, mereka ingin cepat-cepat mencari pembunuhnya.

Untung saja tadi aku tidak turun gunung, bila tidak aku akan disangka sebagai pembunuhnya.' "Apakah dia dibunuh?"

Tanya Yu he-ca "Penyebab kematiannya masih belum diketahui, tapi dugaan besar dia diserang secara diam-diam, sekarang paman kedua yang menggantikan kedudukan guru, kami akan mencari orang yang kira-kira mencurigakan."

Tiba-tiba Han-ih berkata.

"Orang jarang yang datang kemari, jadi bila di jalan bertemu dengan orang yang tidak dikenal dan ilmunya sangat tinggi, itu lebih-lebihmencurigakan.CohTayhiap,akubukan membicarakanmu, pada saat kau naik gunung, apakah kau bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal?"

Coh Thian-su merasa marah karena disindir, dia berpikir, 'Gin-ho, Bok Koan-koan dilepaskan olehku dan bila diketahui oleh mereka akan lebih baik, aku bicara dulu dengan mereka, bila mereka tidak percaya, apa boleh buat.' Yu He-cu mengatakannya lebih dulu.

"Ada, aku yang bertemu dengannya."

"Orangnya seperti apa?"

Tanya Han Ku.

"Dia adalah perempuan, dia adalah Gin-ho, Bok Koan-koan."

Han-he terkejut dan berkata .

"Gin-ho, Bok Koan-koan, dia sangat lihai menggunakan senjata rahasia yang beracun."

"Dia juga kekasih gelap Kie Lek-beng, menurutku Kie Lek-beng belum mati."

Han He dan Han Ku hampir bersamaan berkata.

"Kie Lek-beng? Bukankah dia musuh Bu-tong?"

"Dia musuh Bu-tong juga musuh dari ayah Coh Tayhiap!"

Kata Yu he-cu. Dia memanfaatkan nama ayah Coh Thian-su dan Bu-tong, dia tahu maksud Yu He-cu agar Coh Thian-su bisa terlepas dari rasa curiga mereka.

"Mana siluman itu?"

Tanya Han Ku. Dia merasa aneh karena Yu He-cu tidak menangkapnya. Kata Yu He-cu.

"Tadinya aku tidak ingin melepaskan siluman itu tapi sayang aku tidak dapat mengejarnya."

"Apakah ilmu meringankan tubuh siluman itu lebih tinggi dari guru?"

"Dia mengeluarkan asap beracun, Coh Thian-su juga hampir terkena racun itu, walaupun aku tidak terkena asap, tapi akhirnya aku kehilangan jejaknya."

Perasaan Coh Thian-su tidak enak, dalam hati dia berfikir . 'Supaya aku tidak dicurigai maka guru berbohong, bila aku membencinya itu sungguh tidak pantas.' Yu He-cu berkata lagi.

"Han He, kau diajarkan mengenai obat-obatan dari gurumu, coba kau periksa jalan darah Coh Thian-su, apakah masih ada sisa racunnya?"

Walaupun waktu itu Coh Thian-su menahan nafas, tapi sedikit banyak racun sudah masuk ke dalam tubuhnya, karena tenaga, dalam Coh Thian-su kuat hanya mengalami sedikit gangguan pada jalan darahnya dengan orang normal tidak berbeda jauh, tabib biasa tidak akan bisa tahu Setelah tahu identitas Coh Thian-su, Han Ku pun mulai tidak mencurigai Coh Thian-su lagi.

Dia juga mendengar Coh Thian-su terkena asap beracun, dan setelah 1 jam racun itu baru bisa bersih, itu pun berkat kekuatan tenaga dalam Coh Thian-su.

Kata Han He.

"Walaupun siluman itu sangat mahir menggunakan racun, tapi dia tidak akan bisa meracuni guru dan ilmu silatnya tidak begitu tinggi, sepertinya tidak mungkin dia bisa masuk ke dalam kuil kami."

Kata Han Ku.

"Pembunuhnya bukan dia, tapi dia tiba-tiba muncul di Hoa-san, ini sangat mencurigakan, lebih baik kita cari dan tangkap dia!"

Kata Han He.

"Benar, masalah ini kita saja yang membereskannya, paman guru menunggu kedatangan Guru Yu He-cu, silahkan menemui mereka."

Karena Yu He-cu adalah salah satu dari 5 Bu-tong Tianglo, maka dia mewakili Bu-tong mengucapkan turut berduka cita.

Mencari pembunuh itu'adalah tugas Hoa-san, walaupun Yu He-cu sendiri sedang mencari Bok Koan-koan.

Begitu keempat murid Hoa-san pergi, Yu He-cu berkata.

"Tidak disangka, Hoa-san-pai pun mendapat musibah yang begitu aneh, tiba-tiba ketuanya meninggal, dan murid andalannya pun tidak tahu apa penyebabnya, Adik Coh, walaupun kau ingin cepat-cepat tiba di ibukota, tapi sekarang sudah terjadi hal ini, apakah..."

Kata Coh Thian-su.

"Ayahku tidak begitu kenal dengan Hoa-san-pai, demikian juga denganku, tapi ketua mereka sudah meninggal, aku harus mewakili ayah mengucapkan turut berduka cita."

Kata Yu He-cu.

"Benar, kalau begitu temani aku menginap satu malam di sini."

Yu He-cu sambil berjalan berkata.

"Hal mengenai kita pernah bertemu dengan Bok Koan-koan, harus mengatakan dengan jujur kepada mereka, bila kita tidak mengatakannya, murid Hoa-san pasti ada yang tahu, karena murid Hoa-san itu sangat banyak karena itu tadi aku mengatakannya."

Kata Coh Thian-su.

"Demi diriku agar tidak dicurigai, guru telah mengatakannya aku sangat berterima kasih, tapi aku sudah melakukan kesalahan besar, aku tidak enak hati."

Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Aku bukan sengaja berbohong kepada mereka, karena Han Ku sudah mencurigai mu, nanti aku akan beritahu kepada Cianpwee mereka."

"Memang seharusnya demikian."

Kata Coh Thian-su.

"Tenanglah, tidak semua orang Hoa-san seperti Han Ku, dengan sembarangan mencurigai orang."

Tiba-tiba ada 2 ekor merpati pos yang lewat, kata Yu He-cu.

"Itu adalah merpati pos milik Hoa-san, apakah mereka sudah mempunyai bukti?"

Mereka sambil bercakap-cakap sambil berjalan, mereka melalui jalan setapak. Jalan itu juga sangat berbahaya, akhirnya mereka tiba di tempat murid-murid Hoa-san. Lalu Yu He-cu berkata.

"Kau lihat bangunan rumah ini? Posisi dan bangunannya tepat, seperti rumah-rumah yang berada dalam lukisan kuno yang bernama Sian-san-ke-lou."

Ayah Coh Thian-su selain ilmu silatnya tinggi, di bidang tulis menulis keahliannya tidak kalah dengan ilmu silatnya, sebeium Yu He-cu menjadi tosu, dia bernama Pang Kun, dijuluki laki-laki berwajah tampan.

Dia pun seperti Coh Kim-sung ilmu silat dan bidang tulis menulis sama tingginya, karena itu mereka sangat cocok, begitu bertemu lebih banyak bercakap-cakap tentang lukisan dan tulis menulis, malah tidak menyinggung ilmu silat Tiba-tiba Pang Kun menjadi tosu, terakhir dia bertarung dengan Kie Lek-beng bersama 5 Bu-tong Tianglo lainnya.

Wajahnya dihancurkan oleh Kie Lek-beng, semenjak itu sudah 10 tahun lebih dia belum pernah turun dari gunung Bu-tong dan juga tidak pernah bertemu dengan Coh Kim-sung lagi Yu He-cu mengenang kembali masa lalu.

menarik nafas dan berkata.

"Aku pernah melihat lukisan itu di rumahmu, tapi itu sudah 20 tahun yang lalu, waktu itu pun aku belum menjadi tosu, kau juga masih anak ingusan dan tentu tidak akan ingat"

Kata Coh Thian-su.

"Ayahku juga sudah jarang mengajak teman-temannya ke rumah untuk melihat lukisan dan kaligrafi. Biasanya lukisan-lukisan yang sudah disimpan jarang dikeluarkan, aku juga pernah melihat lukisan itu sekali, waktu itu aku belum bisa menikmati lukisan. Aku sudah lupa semua, hanya teringat kepada salah satu puisi yang mengisi lukisan itu."

"Puisi yang mana?"

Tanya Yu He-cu. Coh Thian-su merasa aneh, mereka pergi dengan tergesa-gesa untuk mengucapkan bela sungkawa, tapi dia masih mempunyai waktu untuk menceritakan puisi itu.

"Lukisan itu berasal dari Dinasti Song, aku yang memberi puisi itu ke dalam lukisan itu. Puisi itu juga bukan puisi buaianku melainkan diambil dari jaman Dinasti Tong,"

Kata Yu He-cu Puisinya seperti ini.

Di luar batu tumbuh lumut hijau Sang-ceng terdampar tidak bisa pulang Selalu bermimpi hujan membasahi atap Tapi ada angin tidak ada hujan Sampai sekarang masih terkatung-katung Aku belum berubah pikiran Kapan Yu-long bisa melalui langit memberitahu Ini harus ditanyakan kepada dewi berbaju ungu di langit SengLi-ci Seng Li-ci Puisi ini diambil dari puisi orang lain, dan aku menulis kaligrafinya, itu.pun harus ditulis pada saat aku sedang mabuk, bila sudah sadar, apa yang sudah aku tulis aku sudah tidak ingat lagi."

Pikir Coh Thian-su, 'Pertama kali berjumpa dengannya karena dia terlalu cerewet aku jadi tidak suka, di mataku dia adalah seorang tosu yang sombong, cerewet, dan membuatku ingin marah, tapi sekarang aku baru tahu bahwa dia adalah orang yang mempunyai ilmu silat yang tinggi, tulis menulis pun sama bagusnya dengan silatnya, dia selalu melindungi yang lebih muda.

Aku dan Hui-thian saling benci, apakah karena kami belum mengenal dengan baik?"

Tidak terasa mereka sudah tiba di kuil Kun-sian. Sudah ada 2 orang hweesio tua yang menyambut mereka, Yu He-cu terkejut dan berkata.

"Terima kasih kakak sudah menyambut kami."

Dua orang hweesio itu salah satunya adalah 6 Cianpwee Hoa-san Pai, yang satu lagi adalah teman baik dari Yu He-cu yaitu Hweesio Thian Hian.

Yang membuat Yu He-cu terkejut adalah bukan karena mereka keluar untuk menyambut, karena Cianpwee menyambut Cianpwee lain itu sudah tidak aneh.

Yang membuatnya terkejut adalah wajah teman baiknya terlihat lesu, matanya pun terlihat tidak bersemangat.

Bila ketua meninggal mereka pasti sedih tapi Yu He-cu tahu Thian Hian tosu hampir tersesat latihannya dan hampir mati, walaupun dia masih hidup, tapi tenaganya hampir habis.

Ternyata sewaktu Thian Koan tosu sedang bertapa, seharusnya selesai dalam waktu 2 hari lagi, biasanya dalam bertapa dan melatih silat bila belum tiba waktunya dan berhenti di tengah jalan akan membuat tubuh menjadi lumpuh.

Hal ringan yang dialami adalah tenaga dalam akan terkuras habis, yang paling fatal adalah nyawanya berada dalam bahaya, malah mungkin bisa jadi orang cacat, masih ada hal lain yang tidak baik yang mungkin dapat terjadi.

Murid-murid Hoa-san pasti sudah tahu, menurut kebiasaan mereka berita mengenai kematian ketua sementara akan disembunyikan dulu.

Tapi dari sini sudah dapat tertebak bahwa mereka melakukannya dengan tergesa-gesa, mengundang dia keluar, dari sini dapat diketahui bahwa ketua mereka diserang hingga mati oleh orang lain.

Karena kejadian ini sangat tiba-tiba terpaksa mereka mengundangnya untuk merundingkannya bersama-sama mencari cara menahan serangan musuh.

Yu He-cu sudah lupa kepada sopan santun, begitu melihat teman baiknya segera Yu He-cu menarik tangannya dan berkata.

"Sudah lama tidak bersua, harap kau mau menerima hadiah kecil ini."

Dia langsung memberi sebutir obat kepada Thian Hian tosu.

"Ketua kami sudah meninggal untung kau datang kemari untuk membantu."

Dia tidak mengucapkan terima kasih untuk obat yang diberikan oleh Yu He-cu, karena dia tahu dengan teman sendiri tidak perlu ada rasa sungkan.

Yu He-cu melihat sahabatnya, setelah meminum obat itu baru Thian Ki tojin berkata.

"Tadinya aku ingin menjemput kalian ke bawah, ternyata kalian sudah datang dengan cepat ke sini."

Yu He-cu terpaku dan menjawab.

"Apakah kau sudah tahu bahwa aku datang bersama dengannya?"

Kata Thian Ki tojin.

"Aku baru tahu tadi, jujur bicara kau adalah teman baik kami, kau kembali tidak membuatku terkejut tapi Coh Tayhiap datang ke sini, sungguh di luar dugaan."

Coh Thian-su dalam hati merasa aneh dia berpikir, 'Aku tidak mengenal murid Hoa-san, bila kami tadi melewati jalan setapak, walau ada yang memberi kabar, dia pasti tidak tahu siapa aku.' Kata Yu He-cu.

"Benar, hari ini sudah banyak terjadi hal yang aneh dan di luar dugaan. Bertemu dengan Coh Tayhiap adalah salah satunya."

Yu He-cu bertanya lagi.

"Apakah Han He dan Han Ku sudah memberitahu Anda?"

"Benar, aku baru mendapat surat dari mereka yang dikirim oleh merpati pos, mereka sendiri sedang turun gunung"

Kata Yu He-cu.

"Aku dengar katanya Guru Thian Koan sudah meninggal, apakah itu benar? Maaf, tidak seharusnya aku bertanya dulu." 'Tidak apa-apa."

Kata Thian-ki "Belum lama aku pamitan dengan ketua, malah menjadi perpisahan untuk selama-lamanya, mengapa bisa terjadi hal ini?"

Jawab Thian Ki.

"Kakak dan para Cianpwee Hoa-san sedang mencari tahu mengenai kematian ketua, aku tidak bisa sembarangan memberi tahu dan menebak-nebak" 'Tidak boleh sembaragan menebak' seperti mengatakan pada dirinya sendiri juga kepada Yu He-cu dan ini membuat Yu He-cu menjadi marah, dalam hati dia berpikir.

"Thian Ji adalah orang yang paling sabar dalam Hoa-san Pai, dia tidak suka membuat orang menjadi marah, mengapa hari ini dia begitu lain? Apakah dia curiga bahwa aku mempunyai hubungan dengan kematian ketua Hoa-san?' Kata Thian Hian tosu.

"Kakak Yu He-cu bukan orang lain, kita tidak perlu menutup-nutupi, menurut Suheng Thian Wu, ketua kami mati karena dibunuh. Tapi dia terluka karena luka apa? Pembunuhnya berasal dari mana? Semuanya belum di ketahui, kami meminta bantuan kepada perkumpulan kakak dan mencari pembunuhnya"

Kata-kata Thian Hian sangat jujur dan benar, malah membuat Thian Ki menjadi marah karena dia mengira Thian Hian berniat memojokkannya. Thian Ki sangat iri juga menyesal, segera dia berkata.

"Benar, aku bilang kemarian ketua belum jelas, ilmu sukuku pun kurang tinggi, pergaulan Yu He-cu lebih luas, kami membutuhkan bantuanmu."

Kata Yu He-cu.

"Kakak tidak perlu merasa sungkan, sudah 10 tahun lebih aku tidak pernah meninggalkan Gunung Bu-tong. Kali ini aku kembali lagi ke dunia persilatan, banyak nama yang belum pernah kudengar, sepertinya aku juga tidak dapat membantu, tapi Hoa-san-pai dan Bu-tonhai adalah perkumpulan yang sudah bersahabat sekian lama, perkumpulan kalian mengalami musibah, aku pun tidak dapat berpangku tangan begitu saja."

Yu He-cu dan Coh Thian-su ditemani oleh 2 orang Cianpwee Hoa-san-pai masuk ke dalam kuil Sang-ceng Di dalam sudah penuh dengan orang-orang.

Thian Bu Tosu mengucapkan beberapa kata sambutan untuk menyambut Coh Thian-su, kata-katanya sopan selain itu juga sangat jujur.

Yu He-cu melihat begitu banyak orang dia menjadi sulit bicara, dia berkata.

"Apakah aku bisa memberi penghormatan terakhir kepada almarhum?"

Kata Thian Wu.

"Harap tunggu sebentar lagi, murid-murid yang berada di luar sedang mencari pembunuhnya kalau semua sudah pulang dengan laporan tidak ada orang yang bisa dicurigai."

Thian Bu tosu menarik nafas dan berkata.

"Panjahat itu lebih pintar dari kami, biarpun menyuruh murid-murid untuk menangkapnya itu pun rasanya sulit, perintahkan saja mereka supaya tidak usah melapor lagi."

Kemudian dia berkata lagi kepada murid-murid Hoa-san.

"Ketua kami dibunuh, dendam ini harus dibalas, tapi kalian jangan bocorkan peristiwa ini dulu. Pertama, karena hal ini sangat memalukan. Kedua, kita tidak boleh memberi kesempatan kepada musuh, lebih baik membiarkan dia mengira bahwa kita belum tahu bahwa ketua sudah meninggal."

"Apakah guru sudah tahu siapa pelakunya?"

Tanya Yu he-cu.

Jawab Thian Bu, Mereka sedang mencari pembunuhnya, ini adalah rahasia besar, murid mereka sendiri pun tidak boleh mendengar rahasia mereka, walaupun mereka tidak mencurigai bahwa aku bisa membocorkan rahasia mereka, tapi aku sendiri harus tahu diri.'' Semua murid-murid Hoa-san sudah dibubarkan, tapi Thian Bu belum menyuruh orang membawa Coh Thian-su ke kamar, terpaksa dia masih berdiri.

Baru saja dia mau berpamitan, Thian Bu tojin sudah berkata.

"Coh Siauhiap tidak perlu sungkan kepada kami, ada pepatah yang mengatakan. mengumpulkan pikiran yang luas pasti akan banyak gunanya. Pendekar muda banyak belajar, ilmu silatnya pun tinggi, aku harus banyak belajar kepada pendekar muda. Maaf, harap Siauhiap jangan pergi dulu!"

Kata Coh Thian-su .

"Aku adalah orang yang masih banyak belajar, bila Anda mau belajar kepadaku, aku tidak berani menerimanya."

Kata Thian Bu tojin.

"Jangan sungkan-sungkan, walaupun aku dan ayahmu bukan sahabat karib tapi kami juga saling mengenal, kami saling percaya. Pendekar muda, kau mewakili ayahmu menngucapkan bela sungkawa, bila ayahmu ada di sini, dia pun tidak akan lepas tangan."

Terpaksa Coh Thian-su tinggal di sana.

"Terima kasih Cianpwee begitu mempercayaiku, tapi ada 1 hal yang ingin kukatakan,"

Kata Coh Thian-su.

"Silahkan bicara, Siauhiap!"

"Murid-murid Hoa-san tidak menganggapku sebagai musuh, tapi ada orang yang patut dicurigai, tapi karena kesalahanku maka dia terlepas."

"Biar aku saja yang bercerita...."

Kata Yu He-cu. Dia baru akan bercerita, tiba-tiba Thian Bu tojin sudah bicara lagi.

"Aku sudah tahu, kau sudah bertemu dengan kekasih Kie Lek-beng, tapi karena Siauhiap tidak tahu identitasnya, kami tidak menyalahkanmu."

"Sewaktu aku mendengar bunyi lonceng, aku sudah berada di tengah gunung, menghitung perkiraan waktu saat aku berpisah dengan Thian Koan hanya ada dua jam. Mengapa dia bisa dibunuh? Dan mengapa kalian bisa tahu?"

Tanya Yu He-cu. Kata Thian Bu.

"Waktu kau pergi, kami masih sempat bertemu dengan beliau. Waktu itu ketua kami masih berunding mengenai masalah-masalah yang menggegerkan dunia persilatan "

Tanya Yu He-cu.

"Apakah mengenai Hui-thian yang membuat keributan di Lok-yang? Dan masalah Hui-thian dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee yang menjadi musuhnya?"

"Apakah mengenai Hui-thian yang membuat keributan di Lok-yang? Dan masalah Hui-thian dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee yang menjadi musuhnya?"

"Benar, Tuan Kiam-ta, Hie Tiong-gwee dan Tong Hwie-yan menyebarkan undangan kepada para pendekar, apakah kalian sudah menerimanya?"

"Aku sudah menerimanya, tapi kami tidak ingin masuk ke dalam pergulatan ini. Bagaimana dengan kalian?"

"Kami pun demikian, tapi ketua mempunyai kesulitan."

"Kesulitan apa?"

Tanya Yu He-cu.

"Orang persilatan sudah tahu bahwa Hui-thian adalah cucu murid kesayangan dari Kie Yan-gan, ketua dengan Kie Yan-gan adalah teman baik. Ini sudah banyak orang yang tahu"

"Apakah Thian Koan Toako takut orang akan mengatakan hal yang macam-macam?"

Tanya Yu He-cu. Kata Thian Bu.

"Benar, bila kami tidak menanggapi undangan itu pasti orang akan mengatakan hal yang macam-macam, karena Kie Yan-gan adalah teman ketua jadi kalian tidak mau merusak persahabatan atau kalian takut kepada Kie Yan-gan, atau takut kepada cucu muridnya, pasti itu yang mereka katakan."

Kata Yu He-cu.

"Jadi kalian memutuskan untuk ikut ambil bagian?"

"Hingga kau bertemu dengan Thian Koan Toako, kami belum mengambil keputusan."

"Pantas ketika aku mengatakan masalah keluarga Kie dia selalu menghindar, dia berteman lebih akrab dengan Tuan Kiam-ta daripada denganku. Tuan Kiam-ta meminta bantuannya, dia pun tidak bisa mengambil keputusan."

Kata Yu He-cu. Kata Yu He-cu.

"Dalam perundingan terakhir, apakah sudah ada keputusan?"

"Kali ini bukan berunding, tapi kakak memberitahu kepada kami suatu hal, hal ini belum pernah terpikir oleh kami, dari hal itulah membuat kami bisa mengambil keputusan."

"Hal ini pasti ada hubungannya dengan undangan untuk para pendekar bukan?"

Kata Yu He-cu. Thian Bu mengangguk dan berkata.

"Begitu kau pergi, dia menerima sepucuk surat dari Tuan Kiam-ta surat itu dititipkan kepada perkumpulan pengemis."

"Apa isi surat itu?"

Tanya Yu He-cu. Thian Bu menyerahkan surat itu kepada Yu He-cu dan berkata."

"Silahkan toako lihat sendiri, apakah itu adalah tulisan Tuan Kiam-ta?"

Surat itu isinya sangat sederhana, yaitu mengenai perselisihan antara Tuan Kiam-ta dan Hui-thian, dan dia meminta agar Hoa-san-pai "Ini benar-benar sangat aneh, surat ini benar-benar ditulis oleh Tuan Kiam-ta, kata-kata yang berada dalam surat itu sangat berbeda isinya dengan undangan para pendekar, mengapa dia bisa berubah pikiran?

Apakah ide ini juga merupakan pikiran Hie Tiong-gwee dan Tong Hwie-yan?"

"Di mana pengemis yang mengantar surat ini?"

Tanya Coh Thian-su.

"Mereka memakai merpati untuk mengantar surat-surat itu, burung merpati perkumpulan pengemis bisa terbang jarak jauh dan di tiap kota mereka mempunyai cabangnya."

Kata Thian Bu.

"Apakah kau curiga bahwa surat itu palsu?"

Tanya Yu He-cu.

"Aku percaya Cianpwee bisa meyakinkan bahwa tulisan di dalam surat itu memang ditulis oleh Tuan Kiam-ta, tapi kata-kata Tuan Kiam-ta pada surat awal dan surat terakhir tidak sama, ini membuatku agak curiga."

Tanya Yu He-cu.

"Karena itu kau mengira saat Tuan Kiam-ta mengirim surat ini, berarti dia mempunyai pesan yang lain?"

"Benar, tapi mereka mengirim surat dengan merpati pos. walaupun ada maksud lain, kita pun tidak tahu."

Jawab Coh Thian-su. Setelah lama dia baru berkata lagi.

"Menurut kebiasaan yang ada, bila ada hal yang begitu penting, dia harus menitipkan kepada muridnya yang bisa dipercaya untuk menyampaikannya."

Kata Yu He-cu.

"Kalau begitu, kau curiga bahwa yang menyebarkan undangan untuk para pendekar adalah palsu?"

"Benar, aku mempunyai pikiran seperti itu, surat itu memang ditulis oleh Tuan Kiam-ta dan undangan itu adalah palsu."

Kata Thian Ki tojin.

"Apakah dia bukan tiba-tiba berubah pikiran?"

"Hal ini sangat penting dan bukan main-main, bila tiba-tiba berubah pikiran, orang seperti Tuan Kiam-ta pasti akan langsung menjelaskannya "

Kata Yu He-cu.

"Bila ada yang memalsukan namanya, mengapa Tuan Kiam-ta tidak membuka kedoknya? Dalam surat itu dia pun menjelaskan bahwa dia dan Hui-thian mempunyai perselisihan, harus dia sendiri yang bisa membereskannya, dan dia juga tidak membantah bahwa surat untuk para pendekar itu dia sendiri yang menyebarkannya!"

"Kata-kata Anda benar guru. Karena itu aku merasa seperti masuk ke dalam kabut yang tebal!"

Kata Coh Thian-su.

"Semua pun tidak dapat menebak, lebih baik kita dengar cerita dari Thian Bu Toako, tadi Toako bilang bahwa ketua kalian pada saat mengeluarkan surat Tuan Kiam-ta, kalian sudah mengambil keputusan yaitu....."

"Semua pun tidak dapat menebak, lebih baik kita dengar cerita dari Thian Bu Toako, tadi Toako bilang bahwa ketua kalian pada saat mengeluarkan surat Tuan Kiam-ta, kalian sudah mengambil keputusan yaitu tidak akan ikut campur tangan dalam masalah Hui-thian dan Tuan Kiam-ta, apakah benar?"

Kata Yu He-cu.

"Benar!"

Jawab Thian Bu "Lalu bagaimana lagi?"

Wajah Thian Bu berubah kemudian berkata.

"Setelah pertemuan itu dibubarkan, kami keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Thian Koan Toako berteriak 'Kau, kau...!'. Suara Thian Koan Toako sangat terkejut dan marah. Kami berlari untuk melihatnya, tapi saat itu juga dia sudah meninggal, siapa pembunuhnya? Bayangannya pun tidak terlihat!"

Dia melihat Coh Thian-su dan bertanya.

"Katanya kemarin kau bertamu ke rumah Kie Yan-gan, apakah Kie Yan-gan ada di rumah?"

Yu He-cu tampak terkejut dan bertanya.

"Apakah kau mencurigai Kie Yan-gan?"

Kata Thian Bu.

"Kie Yan-gan adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan, dia tidak akan menggunakan cara seperti itu untuk membunuh orang lain. Sebenarnya aku tidak mencurigai dia tapi kecuali dia, siapa yang bisa membunuh dalam waktu yang begitu singkat dapat membunuh kakakku? Apakah aku harus mencurigai Ketua Siauw-lim atau Ketua Bu-tong? "Kita semua bukan orang luar, aku harus jujur, apakah Ketua Siauw-lim mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi? Tapi Ketua Bu-tong tidak mempunyai ilmu sehebat itu."

Kata Yu He-cu.

"Yang pasti juga bukan Kie Cianpwee."

Kata Coh Thian-su.

"Coh Siauhiap, mengapa kau bisa yakin?"

Tanya Thian Ki.

"Kie Cianpwee tidak pernah keluar dari rumah, paling sedikit waktu aku pergi dari rumahnya, beliau masih ada di sana, dan aku datang ke sini menunggang kuda. Walaupun bukan kuda yang terbaik, orang yang bisa meringankan tubuh mungkin bisa lebih cepat dari kudaku, tapi dari Gunung Ong-bu hingga Hoa-san paling sedikit jaraknya 700-800 li, aku tidak percaya dengan jarak yang begitu jauh, ada orang yang bisa lari lebih cepat dari kudaku."

"Daripada kita hanya menebak-nebak, lebih baik kita beri penghormatan terakhir kepada almarhum."

Kata Yu He-cu.

"Baiklah Coh Tayhiap, kau pun ikut bersama kami untuk melihat-lihat"

Kata Thian Bu.

Mereka memasuki ruang rahasia, posisi Thian Koan masih seperti ketika dia diburuh, posisinya berbaring di tempat tidur.

Wajah orang yang sudah meninggal, menampakkan ekspresi yang aneh.

Ada ekspresi marah, terkejut, semua bercampur menjadi satu.

Walaupun sudah kaku tapi dari wajahnya terlihat kegetiran hatinya.

"Kelihatannya si pembunuh ini adalah orang yang dikenal oleh Thian Koan Toako."

Kata Yu He-cu. Thian Bu mengangguk dan berkata.

"Bisa jadi dia itu sahabatnya, bila tidak wajahnya tidak akan begitu menunjukan roman terkejut"

Kata Giauw Rwang suthay.

"Aku juga berpikir seperti ini, karena pembunuhnya adalah orang yang dikenal, maka Toako tidak menyangka dan dia tidak waspada, bila tidak ketua masih bisa menahan serangan, sekalipun dia adalah Kie Yan-gan, juga tidak akan bisa langsung membunuhnya."

Kata Thian Bu.

"Aku masih curiga orang itu adalah orang yang dikenal oleh Toako, dan kamipun kenal dengannya, tapi aku tidak tahu silat si pembunuh ini berasal dari mana? Apakah Kakak Yu He-cu bisa melihatnya?"

Coh Thian-su dan Yu He-cu melihat dengan teliti, pakaian bagian dada Thian Koan sudah robek, tapi tubuhnya tidak terluka, yang lebih aneh lagi kepalanya melengkung masuk ke dalam, seperti dipukul oleh benda berat, tapi bila dipukul oleh benda berat seharusnya luka itu membengkak.

Bila dibunuh oleh tenaga telapak tangan agaknya mustahil membunuh pesilat tangguh seperti Thian Koan mati dan kepalanya tidak hancur, tapi setidaknya juga harus meninggalkan luka, tiba-tiba Coh Thian-su teringat pada satu hal segera dia menjadi curiga tapi wajah Yu He-cu masih terlihat seperti kebingungan.

"Sepertinya si pembunuh ini merobek baju ketua untuk mencari surat itu, untung surat itu tidak ada di tangannya"

Kata Thian Bu. Kata Yu He-cu.

"Mengapakakakmutidakmenyimpansendirimalah memberikannya padamu, apakah dia tahu akan terjadi sesuatu?"

"Bukan memberikannya kepadaku, tapi kepada Thian Ki."

Thian Ki juga berkata.

"Surat itu juga bukan diberikan kepadaku, karena waktu itu aku akan menyuruh Thian Hian keluar lebih awal dari bertapanya, ketua menyuruhku memberinya kepada Thian Hian, karena hanya dia satu-satunya orang yang ada di perkumpulan kami yang tahu tulisan Tuan Kiam-ta dan Kie Cianpwee. Yang ditakutkan oleh ketua adalah adanya pemalsuan tulisan Kie Yan-gan kepada Tuan Kiam-ta!"

Kata Thian Hian.

"Tapi itu benar-benar tulisan Tuan Kiam-ta!"

Kata Giauw Kwang suthay.

"Lebih baik kita menyelidiki ilmu silat si pembunuh itu, apakah Kakak Yu He-cu sudah melihatnya?"

Kata Yu He-cu.

"Tenaga telapak tangan yang sangat kuat dan lembut yang digabungkan. Tenaga ini disebut ilmu telapak tangan Kim-kong dan ilmu Bian-ciang yang dipadukan."

"Tenaga telapak tangan yang sangat kuat dan lembut yang digabungkan. Tenaga ini disebut ilmu telapak tangan Kim-kong dan ilmu Bian-ciang yang dipadukan."

Kata Coh Thian-su secara tiba-tiba.

"Itu bukan telapak tangan Kim-kong tapi itu adalah ilmu Ta-sik-pek-jiu dengan Bian-ciang yang dikombinasikan menjadi satu."

Kata Thian Bu Tosu.

"Kau benar-benar jeli Coh Tayhiap, aku juga mencurigainya seperti itu. Ta-sik-pek-jiu sangat keras, sedangkan Bian-ciang sangat lembut, bila kedua ilmu ini dijadikan satu, membunuh orang tidak akan meninggalkan bekas luka, tapi sekarang aku tidak tahu siapa yang bisa ilmu silat ini. Apakah Coh Siauhiap bisa memberi petunjuk?"

Jawab Coh Thian-su.

"Sebenarnya aku tidak tahu, tapi pernah ada orang yang memberitahuku, sepertinya yang memiliki ilmu silat semacam ini hanya Tuan Kiam-ta."

Dia tahu dari Hiat-kun, karena paman dan ibunya dibunuh oleh ilmu silat ini, Hiat-kun juga pernah menggambarkan keadaan korban pada saat mati.

Begitu Coh Thian-su melihat mayat Thian Koan Tosu, sudah mengetahui bahwa pembunuhnya adalah orang itu Nama Tuan Kiam-ta pernah disebut oleh ibu Hiat-kun sebelum dia meninggal, waktu itu Wie Thian-hoan dan Hiat-kun mendengarnya malah Wie Thian-hoan sempat mengejar pembunuh itu, dari belakang orang itu terlihat seperti Tuan Kiam-ta.

Terakhir pada saat Wie Thian-hoan masuk ke tempat kediaman Hie Tiong-gwee untuk ketiga kalinya, dia bertarung dengan Tuan Kiam-ta sebanyak 2 kali.

Dia pun menggunakan ilmu silat ini untuk melawan Hui-thian.

Walaupun masih menjadi teka teki, tapi dalam hati Hiat-kun sudah menganggap Tuan Kiam-ta adalah pembunuh ibunya tapi Coh Thian-su hanya mempercayai setengahnya dia tidak percaya kepada Wie Thian-hoan.

Waktu Coh Thian-su mengatakan bahwa Tuan Kiam-ta adalah pembunuhnya, Thian Hian Tosu segera mengerutkan dahinya dan mengatakan.

"Pembunuhnya tidak mungkin Tuan Kiam-ta. Dia menitipkan surat-surat itu kepada merpati pos milik Kai-pang. Walaupun setelah menitipkan surat dia langsung datang ke sini, tapi tidak akan secepat burung merpati pos. Walaupun Tuan Kiam-ta adalah orang ternama, tapi ilmu silatnya masih di bawahku. Aku tidak percaya dia menyembunyikan silat ini selama puluhan tahun."

Kata Thian Bu Tosu.

"Coh Siauhiap, tadi kau yang mengatakan itu, apa alasanmu?"

Jawab-Coh Thian-su.

"Aku pernah bertarung dengan Tuan Kiam-ta satu kali, ilmu silatnya lebih tinggi dariku, tapi juga tidak terlalu jauh, aku tidak...."

Bagaimana bisa menjelaskannya?

Karena dia sendiri pun tidak tahu jawabannya, maka dia hanya bisa berkata 'sepertinya'.

Tapi masih banyak teka teki yang belum terjawab maka dia pun tidak dapat menjelaskannya.

Kata Giauw Kwang suthay.

"Siapa temanmu?"

Tanya Thian Ki tojin.

"Maaf, aku tidak dapat memberitahunya."

Kata Thian Bu tojin.

"Mungkin Tuan Kiam-ta tidak mendapat ilmu silat ini tapi leluhur keiuarga Kiam juga ada yang berlatih ilmu seperti ini, tapi karena tidakmampumenguasainyamakamerekapuntidak meneruskannya."

Kata Thian Hian tojin.

"Toako, yang kau katakan leluhurnya, apakah dia adalah ayah Tuan Kiam-ta? Aku ingat guru pernah mengatakan bahwa 10 tahun yang lalu, namun telapak tangan milik ayah Tuan Kam-ta adalah menempati posisi nomor satu di dunia persilatan."

Kata Thian Bu tojin.

"Aku tahu, waktu aku baru masuk ke dunia persilatan, dia masih hidup, aku pun pernah melihat ilmu silatnya, dia sudah mengusai Ta-sik-pek-jiu membelah batu dan Bian-ciang yang bisa memukul batu menjadi bubuk. Tapi ilmu yang dikeluarkan satu-satu, belum bisa menggabungkan 2 ilmu silat ini. Yang aku maksud leluhurnya adalah ayah dari kakeknya, dia sudah bisa menyatukan ilmu ini, tapi dia sendiri belum bisa menguasainya. Nama leluhurnya adalah Kiam Hin. Katanya bila ilmu silatnya sudah terlatih, sebuah tahu yang diletakkan di atas papan batu, dan dengan tenaga telapak tangan memukulnya, tahu itu tidak akan hancur tapi papan batunya yang terbelah, kemampuan ayah Tuan Kiam-ta masih jauh dengan kemampuan ayah dari kakeknya, dan ayah kakeknya termasuk pesilat yang hebat."

Kata Thian Hian.

"Kalau begitu yang membunuh ketua kami juga belum terlatih hingga tingkat tertinggi?"

Kata Thian Bu.

"Benar! Tapi orang itu kemampuannya berada di atas Kiam Hin, kalian tahu bagaimana kemampuan ilmu silat ketua kami, ternyata sekarang bisa dibunuh oleh penjahat itu, tabuh tidak terluka, ilmu silat mi seperti membelah tahu tapi yang hancur adalah papan batunya. Tubuh bagian luar tidak terluka tapi tubuh bagian dalam sudah hancur oleh tenaga telapak tangan "

Kata Yu He-cu.

"Apakah keluarga Kiam tidak ada lagi yang bisa ilmu ini Atau adakah lagi orang yang bisa menguasai ilmu silat ini?"

Kata Thian Bu.

"Pepatah mengatakan. di luar langit masih ada langit, di luar orang masih ada orang lain. Di dunia persilatan ini masih banyak tersembunyi naga dan harimau yang belum diketahui."

Kata Giauw Kwang Tokow.

"Katanya Tuan Kiam-ta memiliki seorang adik tapi adiknya jarang berkelana di dunia persilatan."

Kata Thian Ki tosu.

"Adik, apakah kau mencurigai Tuan Kiam-ji? Tapi Tuan Kiam-ji karena salah berlatih ilmu silat dia menjadi lumpuh, karena itulah dia mengundurkan diri dari dunia persilatan."

Siapakah pembunuh itu?

Tetap tidak ada jawaban, terpaksa Thian Bu mempersilahkan para tamu untuk beristirahat Malam harinya, Coh Thian-su tidak dapat tidur, ayahnya sudah menerima undangan untuk para pendekar dan pergi ke ibukota.

Apakah Tuan Kiam-ta itu adalah seorang penjahat?

Dia juga tidak tahu.

Tapi sekarang ada orang yang akan membuat susah ayahnya, dia adalah Kie Lek-beng.

Ilmu silat Kie Lek-beng lebih tinggi dari pembunuh Thian Koan Tosu.

Dia ingin segera menolong ayahnya.

Dia memutuskan setelah hari terang dia akan berpamitan.

Sebenarnya Thian Bu Tosu ingin menyuruh murid-muridnya mengantar Coh Thian-su turun gunung, tapi akhirnya Yu He-cu sendiri yang mengantarkannya turun gunung.

Kata Coh Thian-su.

"Aku sudah tahu jalannya, tidak perlu diantar lagi!"

Kata Yu He-cu.

"Aku datang bersama denganmu, walau tidak bisa pulang sama-sama setidaknya aku harus mengantarkanmu turun gunung, masih ada yang ingin kukatakan kepadamu."

Ternyata karena kesalahpahaman kemarin, cara berpikir Coh Thian-su kepada Yu He-cu sudah berubah dan Yu He-cu menganggap Coh Thian-su sebagai sahabatnya, sekarang mereka akan berpisah, Coh Thian-su merasa sedih.

Sepanjang jalan Yu He-cu tetap membicarakan 2 topik masalah ini.

Pertama adalah mengenai Kie Lek-beng, masih hidup atau sudah mati.

Kedua, dia menitip salam untuk ayahnya, kemarin masalah ini sudah dibicarakan, sekarang pendapatnya bertambah lagi, dia berkata.

"Bila Kie Lek-beng masih hidup, hal pertama yang dilakukannya adalah membunuh 5 Bu-tong Tianglo, yang kedua yang dicari olehnya adalah ayahmu dan banyak bukti yang mengarah bahwa Kie Lek-beng masih hidup dan ilmu silatnya bertambah hebat, bukan aku meremehkan ayahmu. Ayahmu juga tidak akan bisa menahan serangannya, aku kira ayahmu juga harus bergabung dengan Bu-tong, bila tidak pergilah ke kuil Siauw-lim untuk menghindar."

Coh Thian-su tahu bahwa Kie Lek-beng belum mati, tapi dia sudah memutuskan. Jadi dia hanya menjawab ya, ya, ya, dan ya.

"Ada apa Toako mencariku?"

Tanya Yu He-cu Thian Ki tertawa dan berkata.

"Bukan aku yang mencarimu tapi Giauw Kwang suthay."

"Setelah aku mengantar tamu, nanti aku baru akan menemuinya.'' Thian Ki tertawa lagi dan berkata.

"Kau harus mengerti sifat Giauw Kwang suthay, kau menyuruhnya menunggu begitu lama tentu dia akan marah, biar aku saja yang mengantar tamu turun gunung."

"Baiklah!"

Coh Thian-su berkata.

"Anda berdua tidak perlu lagi mengantarkanku turun gunung, aku sudah tahu jalan yang harus ditempuh, biar aku pergi sendiri."

Yu He-cu ingin cepat-cepat bertemu denga Giauw Kwang suthay. Dan dia berkata.

"Baiklah, terpaksa kau sendiri yang turun gunung."

Thian Ki tojin berkata.

"Kalau begitu, aku pun tidak akan mengantar."

Coh Thian-su turun gunung sendiri.

Tidak lama kemudian dia sudah tiba di Kian-ti-ciang.

Kian-ti-ciang adalah 2 sisi tebing yang curam dan di tengah-tengahnya terdapat jalan yang kecil, tapi tidak dapat dikatakan sebagai jalan karena itu hanya celah batu saja, karena sulitnya medan yang harus ditempuh maka jalan pun harus memegang rantai besi, tempat itu hanya ada sedikit cahaya, tidak ada pemandangan yang bagus, dapat dikatakan seperti terowongan dengan jalan yang miring.

Kedua sisinya adalah dinding batu, hanya bisa dilewati oleh satu orang, orang harus selangkah demi selangkah memanjat naik hingga ke puncak, lubang itu panjangnya 6 meter, di pinggirnya terdapat papan besi.

Bila papan besi ini ditutup, akan terputuslah jalan ke Hoa-san.

Jalan itu adalah jalan menuju Hoa-san yang paling dekat.

Karena Coh Thian-su terburu-buru, tiba-tiba dalam kegelapan terjadi sesuatu, tidak terduga meluncur keluar beberapa panah, untung saja dia cepat menghindar.

Panah yang pertama hampir mengenai tubuhnya, kemudian panah kedua dan ketiga mampu ditangkisnya dengan Poan-koan-pit.

Coh Thian-su berteriak.

"Siapa yang berani menyerangku secara curang?!!"

Walaupun dia tidak memegang rantai tapi dia pun tidak dapat menggunakan ilmu meringankan tubuh karena jalan ku sangat sempit dan berada di tengah-tengah celah batu.

Orang itu sepertinya sudah mengetahui keadaan di sana, Coh Thian-su hanya melihat ada bayangan orang yang berkelebat.

Yang lebih celaka lagi belum sampai di ujung jalan itu, tempat itu sudah gelap dan tidak terlihat apa pun.

Ternyata orang itu menutup ujung lubang keluar dengan papan besi, dengan cara apa pun Coh Thian-su tidak dapat membuka tutup besi itu.

Ternyata orang itu menutup ujung lubang keluar dengan papan besi, dengan cara apa pun Coh Thian-su tidak dapat membuka tutup besi itu.

Tiba-tiba Coh Thian-su mencium bau yang sangat harum dan manis.

Setelah Coh Thian-su mencium harum ini, dia segera menguap dan merasa sangat mengantuk.

Coh Thian-su sering berkelana di dunia persilatan, walaupun pengalamannya belum begitu banyak, tapi sekarang dia langsung tahu bahwa wewangian ini mengandung racun.

Racun ini datang dari sela-sela batu.

Bila dia pingsan maka dia akan seperti kura-kura dalam gentong, tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, dia akan mati karena asap beracun itu.

Dia segera menahan nafas, mundur selangkah demi selangkah, sebenarnya dia ingin cepat keluar melalui lubang lain.

Karena jalan itu bukan jalan yang rata ditambah lagi dia sudah menghisap sedikit asap beracun, bila memakai ilmu meringankan tubuh, racun akan dengan cepat menyebar, bila ingin kembali ke jalan asal juga sulit karena keadaan sudah sangat gelap.

Dia mengira-ngira bahwa dia sekarang berada di tengah-tengah Kian-ti-ciang.

Di dalam Kian-ti-ciang sangat gelap, kelihatannya jalan keluar sudah ditutup oleh papan besi itu.

Coh Thian-su tidak ingin menghabiskan tenaga, dia duduk bersila di bawah, entah bisa bertahan berapa lama dia juga tidak tahu.

Dia hanya berharap ada orang lain yang tahu dia berada di sana.

Bau harum terus keluar dari sela-sela batu, Coh Thian-su merasa dia makin tidak sadar.

Sepertinya sudah begitu lama berlalu dia baru sadar dan dia merasa sedang dipeluk oleh seseorang, tubuh orang itu sangat lembut seperti tubuh seorang perempuan.

"Apakah aku sedang bermimpi?"

Coh Thian-su masih merasa terkejut, tiba-tiba dia merasa ada yang menekan bibirnya dengan bibir orang itu, dan memberi nafas buatan, sekarang dia sudah sadar, dan dia merasa orang itu adalah perempuan.

Coh Thian-su terkejut dan mendorongnya, tapi tenaganya belum pulih, sebenarnya dia tidak mampu mendorong perempuan itu.

Tapi karena ada reaksinya perempuan itu juga lebih terkejut dari Coh Thian-su maka dia melepaskan Coh Thian-su.

Coh Thian-su berteriak.

"Siapa kau? Kau sedang apa?"

"Coh Siauhiap, kau jangan curiga, aku bukan orang jahat, aku mau menolongmu, kau sudah menghirup asap beracun itu, obat penawarku tidak cocok maka terpaksa aku melakukan, melakukan..."

Suara perempuan itu bergetar, dia tidak dapat melihat wajah perempuan itu dalam kegelapan, tapi dari suaranya terdengar dia sangat malu.

'Terima kasih kau sudah menolongku, tadi aku belum sadar dan telah membuatmu marah, maafkan aku."

Kata perempuan itu.

"Coh Siauhiap, syukurlah kau sudah sadar, biar aku yang memapahmu keluar."

"Aku bisa keluar dengan menarik rantai ini, Nona tidak perlu khawatir."

Sekarang sudah terlihat ada cahaya yang masuk, dia sudah pulih seperti sedia kala, dia mulai menarik rantai, selangkah demi selangkah mulai berjalan.

Perempuan itu mengikutinya dari belakang, walau Coh Thian-su tidak berani membalikkan tubuh untuk melihat tapi dia tahu perempuan itu dengan teliti sedang memperhatikannya.

"Nona, apakah kau murid Hoa-san ? Mengapa kau tahu aku terkurung di sini? Siapa siluman yang telah meracuniku?"

Tanya Coh Thian-su "Aku tidak tahu iblis itu, hati-hati, kita keluar dulu baru bicara lagi..."

Sekarang Coh Thian-su sudah meloncat keluar dari mulut terowongan itu.

Terlihat sinar matahari yang begitu cerah, Coh Thian-su menghirup udara yang segar, segera dia merasa tubuhnya penuh dengan semangat.

Dia membalikkan kepala untuk melihat, ternyata di belakang Coh Thian-su adalah seorang tokow yang cantik, wajahnya masih kelihatan merah.

Orang itu bukan orang lain, Coh Thian-su pernah melihatnya kemarin, dia bernama Ceng Loan.

Gurunya adalah Giauw Kwang suthay, satu-satunya Tokow yang berada di Hoa-san Pai.

"Terima kasih kau telah menolongku, maaf bila aku sudah berbuat tidak sopan."

Kata Coh Thian-su. Wajah Ceng Loan lebih menjadi merah lagi, dia berkata.

"Kau mendapat musibah di Hoa-san, aku wajib menolongmu, jangan mengatakan apa-apa lagi."

"Benar."

Tapi dia tidak mengerti mengapa perempuan itu bisa datang tepat pada waktunya. Kata Ceng Loan.

"Tadi pagi guruku menyuruh mencari Guru Yu He-cu, ternyata Guru Yu He-cu mengantarkanmu turun gunung. Guruku sifatnya sangat aneh, aku takut Guru Yu He-cu akan lama mengantarmu, jadi aku menyusul Guru Yu He-cu agar cepat kembali, kenapa kau seorang diri, mana Guru Yu He-cu?"

Kata Coh Thian-su.

"Dia sudah ikut dengan Guru Thian Ki kembali ke perkumpulan, apakah kau tidak bertemu dengan mereka?"

Sekarang Ceng Loan terlihat agak tenang dan berkata.

"Bila Guru Yu He-cu sudah kembali itu lebih baik, bila tidak guruku akan marah, untung juga tidak bertemu dengan mereka di tengah jalan jadi aku bisa melewati jalan ke Kian-ti-ciang."

Dia berkata lagi.

"Setiba di Kian-ti-ciang, melihat mulut terowongan itu ditutup aku merasa aneh, kemudian aku mencium ada bau harum yang keluar dari sana, aku tahu keadaan sangat berbahaya dan aku membuka papan besi itu, dan ternyata kau sudah pingsan di sana."

Coh Thian-su sangat berterima kasih dan berkata.

"Kau melakukan hal yang berbahaya, bila iblis itu masih berada di sekitar sana dan menutup kembali papan itu, kau pun akan terkurung di dalam"

Kata Ceng Loan.

"Aku hanya berpikir saat itu aku tidak mempunyai obat penawar, aku lupa pada keadaan sekelilingku yang berbahaya."

Tiba-tiba mereka mendengar suara Yu He-cu.

"Coh Siauhiap, mengapa kau masih berada di sini?"

Kemudian ada suara perempuan.

"Ceng Loan, mengapa kau bersembunyi di sini? Apa yang sudah terjadi?"

Orang itu adalah Giauw Kwang Tokow.

Karena Ceng Loan tidak kembali-kembali maka Giauw Kwang Tokow dan Guru Yu He-cu menyusul dan mencarinya.

Ternyata Guru Yu He-cu langsung tahu apa yang sudah terjadi karena wajah Coh Thian-su terlihat sangat pucat, segera dia berkata.

"Cepat kemari! Di mana lukamu?"

"Aku tidak terluka, hanya menghirup asap beracun yang wangi tapi aku sudah ditolong oleh guru kecil ini."

Terhadap Yu He-cu dia tidak berani bohong juga tidak mau menjelaskan dengan detil. Kata Yu He-cu.

"Jangan banyak bicara dulu, aku tolong kau dulu!"

Dia membantu Coh dengan tenaga dalam meluruskan nafasnya, Coh Thian-su sudah mulai merasa tubuhnya menjadi hangat dan tenaga pun sudah mulai pulih kembali. Giauw Kwang Tokow berkata.

"Kau sudah menolong orang jadi aku tidak menyalahkanmu, coba kau ceritakan, mengapa kau tahu bahwa Coh Siauhiap berada di dalam sana?"

Ceng Loan mulai bercerita kepada gurunya tapi tidak secara mendetil, tapi wajahnya mulai menjadi merah, Giauw Kwang sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi. Kata Giauw Kwang Tokow.

"Aku akan melihat keadaan Kian-ti-ciang."

"Aneh! Sangat aneh!"

"Apa yang aneh?"

Tanya Yu He-cu Kata Giauw Kwang suthay.

"Sepertinya asap beracun yang harum itu berasal dari keluarga Tong!"

Kata Yu He-cu.

"Keluarga Tong selalu berprinsip, bila kita tidak membuat masalah dengan mereka, maka mereka tidak akan menyerang terlebih dahulu kepada kita. Apakah Hoa-san-pai punya bermasalah dengan mereka?"

"Sudah tentu tidak!"

Kata Yu He-cu.

"Ini sangat aneh, sepengetahuanku, sudah puluhan tahun keluarga Tong tidak pernah berkelana di dunia persilatan. Merekapun tidak akan menggunakan cara keji menyerang orang lain. Apakah kau tidak salah ?"

Yu He-cu sangat tahu mengenai senjata rahasia dan racun.

Dia baru mengalirkan tenaga dalamnya untuk Coh Thian-su, dia pun tahu bahwa tenaga dalam Coh Thian-su sudah terkuras dan sudah terkena Su-kut-san (racun bubuk pelemas tulang).

Dia terkejut dan berkata.

"Seharusnya memang bukan orang dari keluarga Tong tapi setelah melihat semuanya aku jadi bingung."

"Aku juga bingung."

Kata Giauw Kwang.

"Bingung mengenai apa?"

Tanya Yu He-cu. Kata Giauw Kwang.

"Mengapa orang itu bisa tahu rahasia Kian-ti-ciang? Aku bisa pastikan ini adalah wewangian dari keluarga Tong, tapi tidak dapat memastikan bahwa orang itu adalah murid keluarga Tong."

"Senjata rahasia keluarga Tong tidak boleh dipelajari oleh orang lain."

Kata Yu He-cu.

Yu He-cu dan Giauw Kwang sama-sama kebingungan, mereka tidak dapat menebaknya, tapi Coh Thian-su sudah tahu, dia mengetahui sebuah kenyataan.

Dia tahu di keluarga Tong pernah ada seorang anak haram, dia hampir menguasai seluruh ilmu silat Tong, karena istrinya diketahui berselingkuh, maka anak itu diusir oleh ayahnya dengan cara aneh.

Rahasia ini didengar oleh Coh Thian-su secara diam-diam dari perbincangan antara Kie Yan-gan dan Ting Po.

Yang membuatnya pingsan bukan Su-kut-san dari keluarga Tong melainkan keluarga Bok.

Tapi dia juga belum yakin apakah keturunan keluarga Bok hanya ada Kim-ho dan Gin-ho?

Yang paling dia curigai adalah Bok Koan-koan, karena Bok Koan-koan pernah diusir oleh Yu He-cu apakah dia masih berani datang ke sini?

Yang dilihat oleh Coh Thian-su hanya bayangan orang itu, walau tidak jelas tapi sepertinya sosok perempuan.

Ini adalah rahasia keluarga Tong, Kie Yan-gan sudah berpesan kepada Ting Po agar tidak menyebarkan kepada orang luar karena itu juga Coh Thian-su tidak berani mengatakannya.

Yu He-cu berkata lagi.

"Apakah kau curiga kepada murid-murid Hoa-san sendiri?"

Jawab Giauw Kwang.

"Aku tidak berani mengatakannya, tapi ketua kami dibunuh, bila tidak ada pengkhianat orang luar pun tidak akan semudah itu beraksi, aku hanya menyimpulkannya sendiri, kalian jangan menyebarluaskan dulu berita ini."

Tiba-tiba Giauw Kwang Tokow bertanya.

"Ceng Loan, dengan cara apa kau membersihkan racun dari tubuh CohSiauya?"

"Aku memakai obat Kiong-hoa-ih-lu-wan yang guru pernah berikan."

Kata Giauw Kwang.

"Racun ini adalah racun dari keluarga Tong obat sepertinya Kiong-hoa-ih-lu-wan tidak dapat menawarkan racun itu. Dengan cara apa kau membuat Coh Siauya cepat sadar? Dan dia bisa sendiri keluar dari Kian-ti-ciang?"

Wajah Ceng Loan menjadi merah dan menjawab.

"Mungkin tenaga dalam Coh Siauya sangat tinggi."

Kata Giauw Kwang.

"Tenaga dalam Coh Siauya tinggi atau tidak, aku tidak tahu, Yu He-cu bagaimana menurutmu?"

Dalam pikiran Yu He-cu berkata.

"Menolong orang, mengapa harus terus menerus menanyakan hal itu kepada muridnya?' Yu He-cu menjawab".

"Mungkin obatmu bisa menawarkan racun, kau sendiri belum pernah mencobanya, jadi tidak tahu khasiatnya"

"Mungkin aku sendiri sudah linglung"

Tiba-tiba dia bertanya kepada Coh Thian-su.

"Siapa lagi anggota keluargamu selain dirimu?"

Coh Thian-su menjadi terpaku dan menjawab.

"Ayah, ibu tiriku, dan seorang adik perempuan."

Kata Giauw Kwang Tokow.

"Artinya kau belum punyai istri?"

Wajah Coh Thian-su menjadi merah, tapi dia harus tetap dengan sopan menjawab.

"Aku belum menikah."

"Apakah kau sudah bertunangan?"

"Belum,"

Jawab Coh Thian-su, wajahnya lebih memerah.

Coh Thian-su benar-benar tidak bisa menjawab, dalam pikirannya ada bayangan Kang Hiat-kun, tapi dia tahu Hiat-kun menyukai Hui-thian.

Dia tidak dapat menganggap Hiat-kun sebagai kekasihnya.

Kata Giauw Kwang.

"Ada ya bilang ada, kalau tidak ada ya bilang tidak ada, untuk apa malu-malu? Cepatlah kaujawab!"

"Tidak ada,"

Terpaksa Coh Thian-su menjawab seperti itu. Dengan senang Giauw Kwang berkata.

"Baiklah, kalau begitu menikahlah dengan muridku ini!"

Walaupun sejak tadi Coh Thian-su sudah dapat menebak maksud Giauw Kwang, dia tidak menyangka tokow ini akan begitu terang-terangan melamarnya, Coh Thian-su hanya bisa bengong dan wajahnya memerah.

"Mengapa kau diam saja ? Apakah kau tidak menyukai muridku ini?"

Tanya Giauw Kwang suthay. Ceng Loan menangis dan berkata.

"Guru, jangan berkata seperti itu!"

"Apakah kau tidak menyukai Coh Siauya? Bila sudah dewasa harus menikah, kalian tidak perlu merasa malu."

Kata Ceng Loan.

"Apakah guru sudah lupa, bahwa aku dan guru sama-sama seorang Tokow?"

Kata Giauw Kwang suthay.

"Kita tidak sama, kau masih mempunyai ayah, tahun lalu aku sudah mencarinya dan dia berharap kau bisa pulang untuk mengurusnya, aku sudah memberitahumu."

Ternyata ayah dan ibu Ceng Loan adalah sahabat Giauw Kwang, semenjak istrinya meninggal, ayah Ceng Loan meninggalkannya lalu bergabung dengan para pemberontak untuk menggulingkan pemerintahan.

Sudah lama dia tidak pulang, semua mengira bahwa ayah Ceng Loan sudah meninggal.

Ceng Loan dibawa oleh Giauw Kwang dan menjadikannya sebagai murid satu-satunya Ceng Loan terlihat hampir menangis dan berkata.

"Aku akan mengikuti guru, seumur hidup tidak akan masuk ke dunia ramai."

"Menjadi seorang pendeta adalah untuk menenangkan hati, demi diriku kau tidak mau mengurus ayahmu, kau jangan terlalu banyak ikut campur, aku tidak mau kau ikuti terus, pulanglah, jadilah orang biasa dan menikah."

Hati Yu He-cu terasa geli dan dia ingin tertawa, 'Mana ada cara seperti itu melamar orang?' Dia pun tidak mau Ceng Loan merasa sedih, dia berkata.

"Aku pun setuju bila Ceng Loan menjadi orang biasa tapi tidak perlu menikah sekarang, itu tidak ada hubungannya!"

Yu He-cu belum habis berkata-kata sudah dimarahi oleh Giauw Kwang.

"Kau tahu apa? Ceng Loan adalah muridku, dia dibesarkan olehku, apakah kau lebih mengerti dia dibanding diriku? Dia tidak bicara, tapi aku tahu dia menyukai Coh Siauya!"

Ceng Loan sangat malu, dia menutup wajahnya dan segera berlari menjauh. Kata Giauw Kwang Tokow.

"Lihatlah dia! Aku sudah tahu dia menyukai Coh Siauya, perempuan biasanya lebih pemalu, jadi aku yang mengambil keputusan. Kakak Yu He-cu, kau yang menjadi mak comblang dari pihak laki-laki."

Giauw Kwang terus berkata seperti itu seakan-akan Coh Thian-su sudah setuju, maka dia tidak perlu lagi meminta pendapat Coh Thian-su. Coh Thian-su hanya terpaku, akhirnya dia bisa bicara.

"Terima kasih atas kebaikan Cianpwee, tapi maaf aku tidak bisa menuruti kemauan Cianpwee!"

Giauw Kwang Tokow marah dan berkata.

"Apakah muridku tidak sepadan denganmu? Kau tidak menyukai wajahnya? Atau ilmu silatnya tidak sebanding denganmu?"

"Semuanya bukan!"

"Jadi karena apa?"

Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'di dunia ini ternyata ada juga orang yang memaksa seperti itu.' Dia merasa marah sekaligus malu, dia melihat ke arah Yu He-cu, dia meminta 'bantuan' kepada Yu He-cu.

Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Sahabat, memilih menantu tidak perlu terburu-buru, kau harus tahu bahwa keluarganya adalah keluarga pesilat nomor satu di Kang-lam "

Belum habis kata-katanya, wajah Giauw Kwang sudah berubah, dia berkata.

"Ternyata Coh Siauya tidak suka kepada muridku karena merasa tidak serasi! Benar, aku memang Tokow yang miskin muridku juga orang miskin. Baiklah, kami tidak akan mencari posisi dan menjilat Coh Siauya Silahkan kau pergi!"

Dari tadi memang Coh Thian-su sudah ingin pergi, tapi dia juga tidak mau Giauw Kwang Tokow salah paham kepadanya, dia berkata.

"Aku bukan orang yang berpandangan sempit, kata-kata tadi semua diucapkan olehmu bukan olehku."

Dari kata-kata Coh Thian-su, dia mulai berlaku tidak sopan kepada Giauw Kwang. Giauw Kwang Tokow malah terlihat senang, dia berkata.

"Ternyata kau tidak bermaksud seperti itu."

Dia berkata lagi.

"Kakak Yu He-cu, kau tidak bisa memakai hatimu sendiri untuk mengukur dalamnya hati Coh Siauya."

"Lebih baik Coh Siauya sendiri yang menjawab, mau atau tidak mau, maka urusan pun akan menjadi selesai"

Kata Coh Thian-su.

"Aku tetap mempersilakan Guru Yu He-cu yang menolak, karena dia lebih tahu kesulitanku."

Giauw Kwang menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Perempuan dan laki-laki saling menyukai kemudian menikah, bukankah itu adalah hai yang menyenangkan, mengapa kau malah merasa susah? Benar-benar merepotkan, kakak Yu He-cu, bila kau memang tahu, coba katakan kepadaku!"

Jawab Yu He-cu.

"Kau bersikap seperti itu, hingga membuatku lupa sudah mengtakan sampai dimana "

"Kau bilang dia berasal dari keluarga pesilat nomor satu di Kang-lam."

Kata Yu He-cu.

"Benar, maka dia pun harus mendapat restu dari ayah dan ibunya, biar mereka yang mengambil keputusan."

Kata Giauw Kwang.

"Ayahnya adalah teman baikmu, apakah kau tidak bisa mengambil keputusan? Ibunya adalah ibu tiri, kita tidak perlu bertanya kepadanya."

Yu He-cu melihat Giauw Kwang yang tidak tahu aturan, dia tertawa dan berkata.

"Teman adalah teman, hal kecil aku bisa membantunya mengambil keputusan, bila masalah besar, harus ayah dan ibunya yang mengambil keputusan."

Kata Giauw Kwang.

"Aku juga tahu aturan ini, tapi itu hanya untuk kalangan orang terpelajar, tidak kusangka dalam keluarga pesilat pun harus seperti itu. Baiklah, aku akan menunggu kau memberitahu kepada ayah dan ibumu. Ceng Loan pun akan menunggumu!"

Kata Coh Thian-su.

"Kali ini aku akan ke ibukota untuk mencari ayahku. Apakah aku bisa bertemu dengannya, aku pun tidak tahu. Bila kau menginginkan muridmu menjadi orang biasa, kemudian menikah kau tidak perlu menungguku. Aku tidak mau menghalangi masa depan muridmu."

Kata Giauw Kwang.

"Bila ayahmu sudah meninggalkan ibukota, pasti ada suatu hari kau bisa bertemu dengannya. Apakah kau takut Hui-thian membunuh ayahmu? Bila Hui-thian membunuh ayahmu, aku pun akan menyuruh Ceng Loan menunggumu melewati masa duka selama 3 tahun."

Yu He-cu mengerutkan dahi dan berkata.

"Giauw Kwang, kau jangan mengatakan yang tidak-tidak!"

Giauw Kwang tertawa dan berkata.

"Coh Siauhiap, aku selalu seperti ini, jangan salahkan aku, aku bukan menyumpahi ayahmu, aku hanya berpikir seperti itu. Aku berdoa agar ayahmu panjang umur."

Coh Thian-su dibuat tidak berdaya oleh Giauw Kwang, menangis tidak bisa, tertawa pun tidak bisa, dia berkata.

"Hui-thian memang berilmu tinggi, tapi tidak akan bisa sampai membunuh ayahku. Bukan ini yang kupikirkan..."

Tanya Giauw Kwang.

"Apakah ayahmu seperti orang lain, melihat guru dan murid yang miskin seperti kami dengan sebelah mata?"

Yu He-cu menahan tawanya dan berkata.

"Bagaimana bila ayahnya dalam waktu dekat ini sudah melamar orang lain?"

Jawab Giauw Kwang.

"Kalaubegitu, kau beritahu saja kepada ayahnya agar membatalkan lamaran itu."

Kata Yu He-cu.

"Baiklah, kau masih membutuhkan bantuan apa lagi? Tapi kau harus membiarkan Coh Thian-su pergi, jangan ganggu dia lagi!"

Giauw Kwang Tokow tahu bicara terus pun percuma, maka dia membiarkan Coh Thian-su pergi.

Coh Thian-su segera pamit kemudian pergi.

Dia seperti melepaskan beban yang beratnya beribu-ribu kilo di pundaknya.

"Di dunia ini ternyata ada juga orang yang tidah tahu aturan."

Coh Thian-su sudah turun gunung, tapi bila kembali memikirkan masalah tadi, dia ingin marah sekaligus ingin tertawa.

Walaupun dia marah, tapi dia sangat berterima kasih kepada Ceng Loan, melihatnya lari karena marah dan malu, Coh Thian-su pun merasa kasihan kepadanya.

"Dia mau menolongku karena hatinya baik malah disalah sangka oleh gurunya."

Pikir Coh Thian-su. Apakah benar Ceng Loan menaruh hati kepadanya seperti yang dikatakan oleh gurunya? Tidak mungkin! Dari kecil Ceng Loan sudah menjadi Tokow.

"Aku bukan laki-laki tampan dan juga bukan pendekar, tidak mungkin dia jatuh cinta kepadaku, bila aku punya pikiran seperti itu berarti sudah menghinanya!"

Coh Thian-su sudah menenangkan hatinya kemudian dia meneruskan langkahnya.

Pada hari ketiga dia sudah tiba di Propinsi Ho-pak di kota Leng-pau Karena kudanya sudah direbut oleh Gin-ho, Bok Koan-koan, dia tidak bisa pergi ke ibukota hanya dengan mengandalkan kedua kakinya, maka dia memutuskan untuk membeli seekor kuda.

Dalam beberapa hari ini tempat-tempat yang dilewati olehnya adalah tempat yang miskin dan tidak ada pasar yang menjual kuda.

Di perjalanan kadang-kadang dia melihat kuda yang sedang menarik kererta barang tapi kuda itu pun kurus dan pemiliknya pun beium tentu mau menjualnya.

Alasan kedua, kuda itu tua dan kurus, Coh Thian-su pun tidak berniat untuk membelinya.

"Hari ini aku sudah tiba di Leng-pau,"

Pikir Coh Thian-su.

"Walaupun Leng-pau bukan tempat kuda yang bagus dan ternama tapi bila nasibku mujur, mungkin aku bisa mendapat kuda yang cocok."

Di kota itu ada pasar yang menjual kuda, tapi Coh Thian-su tetap tidak mendapat kuda yang cocok.

Dia tahu pasar kuda itu dibuka pada siang hari, maka dia memutuskan untuk mampir ke rumah makan dulu untuk makan siang.

Baru saja dia duduk, masuklah seorang tamu perempuan.

Perempuan itu berusia kira-kira 30 tahun, tusuk kondenya terbuat dari emas, bajunya berwarna merah yang disulam oleh sutra, matanya terlihat besar.

Dandanannya benar-benar berlebihan dan terlihat sangat genit.

Perempuan yang datang sendiri untuk minum arak itu tidak aneh, tapi perempuan di kota itu tidak ada yang segenit dia.

Ini membuat heran orang-orang di sana.

Begitu dia masuk ke dalam sudah menarik perhatian para tamu.

Tamu yang sedang minum arak segera menaruh cangkirnya, yang sedang makan segera menaruh sumpitnya Coh Thian-su melihatnya setelah melihat Coh Thian-su merasa terkejut.

Tamu itu tidak lain adalah orang yang pernah dia temui di Hoa-san, yaitu Bok Koan-koan.

Bok Koan-koan telah merebut kudanya, tapi tadi dia datang tidak menunggang kuda seperti Coh Thian-su dia pun berjalan kaki ke kota ini.

Dengan suara manja dia berteriak.

"Pelayan, aku pesan setengah kilogram daging dan 1 kilogram arak, juga dua macam-sayur."

Pesanannya seperti pesanan Coh Thian-su, dia menuruti pesanan Coh Thian-su dan cara bicaranya pun sama, satu kata pun tidak tertinggal, terdapat seorang tamu yang masih muda yang tidak dapat menahan tawanya, tamu yang lebih tua yang berada di sisinya melarangnya lintiiv tertawa.

Coh Thian-su sekali melihat sudah ingin marah, apalagi sekarang ini Bok Koan-koan seperti sedang mempermainkannya, Coh Thian-su menjadi gemas.

Tapi Coh Thian-su berusaha menahan diri.

Memang benar dia ingin segera membuat perhitungan dengan Bok Koan-koan, tapi ini adalah rumah makan.

Bok Koan-koan sering menyerang menggunakan racun, bila benar-benar bertarung dengannya, Coh Thian-su takut akan melukai orang lain.

Dia malah menunduk dan minum arak, tapi Bok Koan-koan terus menatapnya.

Coh Thian-su berlagak tidak tahu kelakuannya, tamu yang muda itu tidak tahan dan mengejek kepadanya, berkata.

"Hei hidung belang, apakah kau sejak lahir memang sudah bodoh?"

Coh Thian-su berlaku pura-pura bodoh dan bertanya.

"Kakak, apa artinya ini?"

Tamu yang muda itu berkata.

"Minum arak sendiri, apa enaknya?"

Bok Koan-koan menaruh cangkir araknya dan berdiri kemudian dia berteriak.

"Pelayan, hitung berapa semuanya!"

Kata pelayan itu.

"Nona, sayur yang kau pesan belum matang, arak Anda pun masih ada separuh, duduklah sebentar lagi!"

Kata Bok Koan-koan.

"Di sini bau, aku tidak bisa minum lagi, berapa semuanya? Aku bayar semuanya!"

Setelah dia membayar dia langsung pergi. Tamu yang muda itu melihat sosok Bok Koan-koan dari belakang, dengan tertawa dingin dia berkata.

"Seluruhnya tubuhnya penuh dengan kecabulan masih berpura-pura jadi orang baik, masih sempat marah-marah lagi."

Kata tamu yang lebih tua berkata lagi.

"Kau jangan sembarangan bicara! Musibah biasanya datang dari mulut orang!"

Coh Thian-su mengambil keputusan untuk mengikuti Bok Koan-koan, dia tidak peduli dengan omongan orang lain, dia ikut berdiri dan membayar pesanannya kepada pelayan.

Dia melihat Bok Koan-koan sedang berjalan ke depan.

Coh Thian-su ingin mengikuti Bok Koan-koan hingga ke tempat sepi, baru dia mulai berani bergerak, dia tidak bersuara, hanya menjaga jarak sepanjang mata masih bisa melihat.

Tidak terasa mereka sudah berjalan sejauh 10 li, mulai memasuki jalan di pegunungan, jalan sudah sepi.

"Tidak ada orang,"

Pikir Coh Thian-su.

Sekarang Bok Koan-koan berjalan menuju ke tempat yang agak menurun, dia tidak dapat melihat Bok Koan-koan lagi dan Bok Koan-koan pun tidak dapat melihatnya.

Coh Thian-su langsung mencarinya, tiba-tiba dia mendengar ada tawa perempuan dan berkata.

"Aku ada di sini!"

Itu adalah suara Bok Koan-koan.

Coh Thian-su merasa terkejut dan mulai berjaga-jaga, dia bersiap akan menyerang, dia mundur beberapa langkah, begitu dia melihat, Bok Koan-koan yang sudah berada di hadapannya.

Ternyata sewaktu Bok Koan-koan berjalan dijalan yang menurun, dia langsung bersembunyi di balik batu besar.

Coh Thian-su mengira tadinya dia bisa menyerang Bok Koan-koan dengan tiba-tiba, ternyata yang terjadi malah sebaliknya.

Dua bersaudara Bok sangat mahir menggunakan senjata rahasia, bila Koan-koan tiba-tiba menyerang dengan senjata rahasia Coh Thian-su pasti tidak akan bisa mengelak.

Anehnya Koan-koan tidak menyerangnya, malah mendekati Coh Thian-su dan mulai bicara.

Yang lebih aneh lagi, Koan-koan sepertinya tidak kenal dengannya, dia tertawa dan berkata.

"Aku tahu kau pasti akan mengejarku. Hai kau, tadi begitu berani, mengapa sekarang menjadi takut?"

Jawab Coh Thian-su dengan marah.

"Jangan sembarangan bicara! Aku, aku..."

Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Kau mau apa? Di rumah makan tadi kau mencuri pandang ke arahku, aku tahu kau menyukaiku, apakah kau malu sehingga tidak mengakuinya?"

Coh Thian-su berkata.

"Siluman tidak tahu malu! Aku ke sini untuk membuat perhitungan denganmu!"

Wajah Bok Koan-koan langsung berubah, tapi segera dia tertawa dan berkata.

"Mencariku untuk membuat perhitungan? Aku berhutang budi kepadamu? Atau mempunyai hutang apa kepadamu?"

Coh Thian-su berkata.

"Jangan sembarangan bicara! Apakah kau tidak tahu siapa aku ini? Kau berhutang nyawa dan beuda, aku harus membuat perhitungan denganmu!"

Bok Koan-koan mendengar Coh Thian-su berkata dengan serius, dia malah merasa aneh, dia memelototi Coh Thian-su dan berkata.

"Anak muda, apakah kau sudah gila? Pemuda setampan dirimu, bils aku pernah bertemu denganmu, aku pasti akan ingat, siapa namamu? Di mana dan kapan aku pernah bertemu denganmu?"

Coh Thian-su merasa sangat aneh, dalam hari dia berpikir, 'Dia sedang mempermainkanku atau dia punya rencana lain?

Tapi melihat dari cara bicaranya, dia tidak seperti main-main!' Coh Thian-su merasa sangat aneh, dalam hati dia berpikir, 'Dia sedang mempermainkanku atau dia punya rencana lain?

Tapi melihat dari cara bicaranya, dia tidak seperti main-main!' Tiba-tiba dia teringat kepada Tuan Kiam-ta, ada orang yang berani memalsukan dia, apakah memang benar Tuan Kiam-ta itu ada yang palsu atau dia sendiri yang membuatnya seperti itu?

Coh Thian-su menjadi curiga.

"Apakah Gin-ho pun ada kembarannya?"

Tapi Bok Koan-koan dan Tuan Kiam-ta tidak sama, Coh Thian-su percaya kepada Tuan Kiam-ta bahwa dia adalah orang yang benar, dia tidak percaya kepada Bok Koan-koan kalau dia tidak mempunyai niat jahat kepadanya, dia lebih curiga bahwa Bok Koan-koan sedang mempermainkannya.

'Baiklah, aku akan lihat dia akan melakukan apa lagi?

Sementara aku menunggu dulu,' pikir Coh Thian-su.

Bok Koan-koan sangat berhubungan erat dengan beberapa masalah di dunia persilatan, salah satunya adalah teka teki Kie Lek-beng, masih hidup ataukah sudah mati, dia paling tahu dengan jelas, kematian ketua Hoa-san Pai juga pasti ada hubungan dengannya.

Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Hai anak muda, mengapa kau jadi pendiam? Apakah kau sudah tahu bahwa kau sudah salah lihat orang?"

Sebenarnya pendirian Coh Thian-su mulai goyah, tapi dia berusaha menjawab dengan tegas.

"Kau dibakar hingga menjadi abu pun aku masih kenal! Kau merebut barangku dan hampir mencelakaiku, kau masih menganggap bahwa aku sudah melupakanmu?!"

Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Apakah benar? Mengapa aku tidak tahu kejadian itu?"

"Bukan hanya hal itu, masih ada hal yang lain yang terjadi dalam waktu 10 hari ini."

Kata Bok Koan-koan.

"Baiklah, coba kau ceritakan, kapan dan di mana aku pernah mencelakai Bo-tan mengapa aku harus mencelakaimu?"

"Melakukan apa? Tanyalah pada dirimu sendiri! Terjadi 7 hari yang lalu tempatnya adalah di tempat rumah Kie Yan-gan."

Bok Koan-koan tampak terkejut, setelah lama dia baru berkata.

"Apakah Kie Yan-gan yang kau maksud adalah pesilat nomor satu itu?"

"Benar, memang ada berapa Kie Yan-gan di dunia ini?"

"Kau mempunyai hubungan apa dengan Kie Yan-gan? Apakah kau adalah Wie Thian-hoan, cucu murid Kie Yan-gan?"

J awab Coh Thian-su.

"Bukan, aku dan tidak Kie Yan-gan tidak mempunyai hubungan saudara."

Kata Bok Koan-koan.

"Bagaimana caraku mengancam jiwamu?"

"Kau menggunakan jarum beracun dari keluarga Tong dan menotok 3 jalan darahku!"

Kata Bok Koan-koan.

"Apakah benar kau sudah melihatku?"

"Aku tidak dapat melihat dengan jelas, setelah terkena jarum itu aku sempat pingsan, tapi aku yakin orang itu adalah seorang perempuan, aku tidak akan salah melihatnya!"

Kata Bok Koan-koan.

"Di dunia ini begitu banyak perempuan, mengapa harus menuduhku?"

Dengan dingin Coh Thian-su menjawab.

"Karena perempuan yang bisa menggunakan jarum beracun dari keluarga Tong, tidak ada orang ketiga, dan aku yakin orang itu dirimu!"

Kata Bok Koan-koan.

"Mengapa bukan orang yang satu lagi?"

"Kau bisa berbohong mengenai hubunganmu dengan keluarga Kie kepada orang lain, tapi tidak akan mempan terhadapku aku tahu dari pelayan keluarga Kie yaitu Ting Po, orang yang satu lagi tidak mungkin tanpa sebab akan datang ke rumah Kie!"

Wajah Koan-koan berubah kemudian berkata.

"Kau sudah tahu identitasku! Aku beritahu kepadamu, kau boleh percaya atau tidak, yang kau tuduhkan malam itu semua salah, saat itu aku berada 300 li jauhnya dari keluarga Kie."

Dengan dingin Coh Thian-su tertawa sinis, kemudian berkata.

"Apakah aku harus mempercayai mulut setanmu? Bila aku percaya kepadamu, berarti yang kulihat malam itu adalah setan!"

Kata Bok Koan-koan.

"Kau bukan bertemu dengan setan..."

Dari cara bicaranya terlihat dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi baru saja bicara sedikit, tiba-tiba dia tampak enggan untuk berkata lagi. Kata Coh Thian-su.

"Yang aku lihat malam itu bukan setan tapi seekor rase!"

Dengan marah Bok Koan-koan berkata.

"Kau tidak perlu mengejekku! Memang benar, aku berasal dari keluarga Bok dan dijuluki Gin-ho, aku juga pernah menjadi kekasih putra Kie Yan-gan yaitu Kie Lek-beng. Aku mengakui ini di depanmu, apakah kau puas sekarang?!"

Coh Thian-su tidak menyangka bahwa Bok Koan-koan akan begitu terus terang, Coh Thian-su pun menjadi bengong. Kata Bok Koan-koan.

"Aku berkata jujur kepadamu, tapi kau juga harus jujur kepadaku!"

Kata Coh Thian-su.

"Yang aku ceritakan tentang kejadian malam itu memang benar!"

Kata Bek Koan-koan.

"Mungkin kau tidak sengaja berbohong, tapi bagiku semua itu banyak yang tidak benar!"

"Apa yang tidak benar?"

"Jarum beracun keluarga Tong bila sudah terkena jalan darah, tidak akan obat penawarnya, mengapa sampai sekarang kau masih hidup?"

Coh Thian-su tertawa dingin.

"Aku memang tidak bisa menawarkan racun itu tapi kau jangan meremehkan kemampuan orang lain!"

Kata Bok Koan-koan.

"Kalau begitu, orang nomor satu di dunia persilatan hingga di masa tuanya, ilmunya semakin maju bukan mundur."

Coh Thian-su menatapnya dan berkata.

"Apakah sewaktu Kie Yan-gan masih muda ilmu silat yang dikuasai sudah sangat lihai? Aku tidak tahu, tapi sekarang aku tahu bahwa orang yang paling lihai adalah putranya, Kie Lek-beng!"

Tanya Koan-koan.

"Mengapa kau bisa tahu?"

"Kie Yan-gan sendiri yang mengatakannya."

Coh Thian-su mengamati wajah Bok Koan-koan. Wajah Koan-koan tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan dia berkata.

"Tapi aku tidak percaya kepada kata-katamu."

Coh Thian-su menjawab.

"Aku tidak butuh kepercayaanmu!"

Bok Koan-koan seperti tidak mendengar kata-kata Coh Thian-su, dia melanjutkan.

"Dua puluh tahun yang lalu Kie Yan-gan sudah lenyap dari dunia persilatan, kau dan dia tidak ada hubungan keluarga, mengapa dia harus menghabiskan tenaga dalamnya untuk menolongmu?"

Coh Thian-su tertawa dingin dan berkata.

"Kau anggap semua orang seperti dirimu, hanya bisa mencelakai orang, tapi tidak mau menolong orang!"

Bok Koan-koan tertawa terbahak-bahak, tapi tawanya penuh amarah dan juga kesedihan Coh Thian-su bertanya.

"Kau menertawakan apa?"

Bok Koan-koan menghentikan tawanya dan berkata.

"Kau sudah tahu mengenai diriku seberapa banyak? Berani menasihatiku? Tapi aku beritahu kepadamu, aku lebih tahu seorang Kie Yan-gan daripada dirimu! "Aku tidak mau berdebat denganmu!"

Dalam hati dia berpikir, 'Aku sudah tahu alasannya, tidak mungkin aku bisa memberitahumu!' Kata Bok Koan-koan.

"Dari tadi aku terus bicara denganmu, tapi tidak tahu siapa dirimu. Apakah nama pun aku tidak boleh tahu?"

Jawab Coh Thian-su.

"Kau pernah mencelakaiku, apakah benar kau tidak tahu namaku? Kau sengaja balik bertanya, baiklah aku akan beritahu, aku adalah Coh Thian-su dari Yang-ciu!"

Bok Koan-koan hanya bengong, kelihatannya dia benar-benar tidak tahu siapa itu Coh Thian-su, kemudia dia berkata.

"Yang-ciu itu siapamu?"

"Dia adalah ayahku, ada urusan apa dengan ayahku?"

Bok Koan-koan tertawa terbahak-bahak. Coh Thian-su menjadi marah dan berkata.

"Kau jangan bertindak tidak sopan!"

Tanya Bok Koan-koan.

"Di bagian mana aku tidak sopan?"

"Aku mengatakan nama ayahku, mengapa kau malah tertawa!"

"Apakah Coh Kim-sung itu benar-benar ayahmu?"

"Kurang ajar! Kau mengira aku mengakui orang lain menjadi ayahku?!"

Kata Bok Koan-koan.

"Memang patut dicurigai, hei, kau jangan marah! Setelah mendengar dengan jelas baru bertarung, itu pun belum terlambat, aku tanya sekali lagi, apakah kau tahu perselisihan antara keluarga Kie dan Coh Kim-sung?"

Kata Bok Koan-koan lagi.

"Coh Kim-sung adalah musuh keluarga Kie dan kau adalah putra Coh Kim-sung, walaupun Kie Yan-gan menganggapmu masih kecil, dia tidak membuatmu susah pun sudah sangat beruntung. Mengapa dia mau begitu saja menghabiskaa tenaga dalamnya untuk menolongmu?"

Tiba-tiba dia melambaikan tangannya.

Coh Thian-su semenjak tadi sudah siap dan waspada.

Dia segera pindah posisi dan Poan-koan-pit sudah berada di tangannya.

Semenjak diserang dengan jarum beracun oleh Bok Koan-koan, dia sudah memikirkan cara untuk menangkis serangan itu.

Di ujung Posn-koan-pit sudah terpasang batu magnet, batu itu bisa menghisap jarum beracun itu.

Coh Thian-su mengayunkan kedua penanya, dan segera maju ke arah Bok Koan-koan, tidak terdengar suara jarum perak yang beradu dengan batu magnet, ternyata yang dilemparkan oleh Bok Koan-koan pun bukan senjata rahasia berbentuk jarum.

Ilmu meringankan tubuh Coh Thian-su sangat tinggi, tapi Bok Koan-koan lebih tinggi lagi, dia bisa mengelak, pena Coh Thian-su sama sekali tidak dapat mengenai sasarannya.

Bok Koan-koan segera mundur 10 langkah, dia tertawa dan berkata.

Baca Juga: Sarang Perjudian 4

Baca Juga: Pendekar Riang 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger