Jala Pedang Jaring Sutra 7

Eps 7 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

"Lihat dengan jelas dulu, bila aku ingin melukaimu dengan senjata rahasia tidak perlu menunggu hingga saat ini, tadi kau berada di tempat terang dan aku berada di tempat gelap. Kau tidak dapat melihatku dengan jelas dan saat itu bila aku mau aku bisa menyerangmu!"

Coh Thian-su melibat kuasnya, dia tidak melihat ada jarum yang menempel di batu magnet itu, tapi di dadanya ada sisa-sisa tanah, ternyata yang dilontarkan Bok Koan-koan adalah bulatan-bulatan tanah.

Coh Thian-su terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Senjata rahasia keluarga Tong benar-benar sangat aneh, walau aku sudah bersiap-siap, tetap saja masih mengenai tubuhku.' Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Maafkan aku atas kata-kata yang sudah kuucapkan. Sekarang aku yakin kau adalah putra Coh Kim-sung. Baiklah, kau mau membuat perhitungan apa lagi denganku?"

Dengan ragu Coh Thian-su bertanya.

"Kau bilang malam itu yang menyerangku dengan jarum beracun bukan kau. Tapi aku percaya 4 hari yang lalu kau juga merebut kudaku, apakah itu adalah dirimu?"

Bok Koan-koan terpaku, segera dia tertawa terbahak-bahak.

"Kau bilang aku berhutang nyawa dan hutang benda. Aku tidak bisa bayar hutang nyawa, untung saja kau percaya yang ingin mencabut nyawamu waktu itu bukan aku. Bila berhutang barang aku bisa bayar. Tapi harus ada bukti aku tidak mau disalah sangka lagi."

Kata Coh Thian-su.

"Aku tidak tahu di mana kau menyembunyikan kudaku, tapi bila kau ingin bukti dan saksi itu tidak sulit."

"Siapa yang bisa menjadi saksi?"

"Bu-tong Tianglo, Yu He-cu"

Kata Bok Koan-koan.

"Kau bilang aku merebut kudamu di Hoa-san, orang yang terluka di bawah pedang Kie Lek-beng yaitu Yu He-cu bukankah dia sudah mundur dari dunia persilatan? Mengapa dia bisa tahu?"

Jawab Coh Thian-su.

"Memang benar, 10 tahun lebih dia tidak turun dari gunung Bu-tong, tapi hari itu dia kebetulan sedang berada di Hoa-san Ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan Bu-tong dan pergi ke Hoa-san."

Coh Thian-su masih ragu.

"Apakah aku sudah salah melihat orang? tapi aku yakin orang itu adalah dia! Bila kakak beradik pasti akan ada perbedaannya, tidak ada yang benar-benar mirip."

Coh Thian-su tertawa dingin dan berkata.

"Kau pura-pura bingung, Yu He-cu benar-benar menyaksikannya dan malah sempat bertarung denganmu, bila bukan karena kesalahanku, kau sudah mati dibunuhnya!"

Kata Bok Koan-koan "Kalau begitu kau pernah menolongku?

Aku benar-benar tidak tahu balas budi.

Maaf, tapi kau membuatku bingung, sepengetahuanku, Yu He-cu dan ayahmu bersahabat, dia mau membunuhku, mengapa kau malah menolongku?"

Kata Coh Thian-su.

"Bila aku tahu dia adalah Yu He-cu dan kau adalah Gin-ho, aku tidak akan membantumu!"

Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Ternyata kau belum tahu jelas identitas kedua belah pihak, mungkin kau melihat perempuan itu cantik maka kau menolongnya, benar-benar membuatku kagum tapi sayangnya perempuan itu malah mencuri kudamu!"

Coh Thian-su tampak marah dan berkata.

"Kau balas air susu dengan air tuba kau berani bilang bahwa perempuan itu bukan dirimu?"

Bok Koan-koan menjawab dengan serius.

"Memang bukan aku!"

Dia berkata lagi.

"Kau pikir 5 Bu-tong Tianglo sangat benci kepada Kie Lek-beng, jadi yang kau katakan tadi tentu bukan pura-pura karena Kie Lek-benglah aku dibenci oleh Yu He-cu. Sebenarnya setelah merebut kudamu aku harus pergi, apakah kudamu adalah kuda yang bagus?"

Coh Thian-su berkata.

"Walaupun kuda itu bukan kuda yang terbaik tapi bila sehari bisa menempuh jarak sepanjang 200 U itu sudah cukup."

Kata Bok koan-koan.

"Benar, bila mempunyai kuda mengapa harus berjalan kaki?"

Kata Coh Thian-su dengan dingin.

"Mana aku tahu semua siasatmu?"

"Jarak dari sini dengan Hoa-san hanya 3 hari bila ditempuh dengan berjalan kaki, bila menunggang kuda, sehari pun kau sudah sampai di sini, bila aku adalah perempuan yang akan ditangkap oleh Yu He-cu, mengapa aku masih berada di sini?"

Coh Thian-su tidak dapat menjawab, dia hanya menatap Gin-ho. Bok Koan-koan berkata lagi.

"Apakah hal itu sudah terjadi 4 hari yang lalu?"

"Benar, ketua Hoa-san Pai pun dibunuh pada hari itu juga"

Coh Thian-su tidak dapat menjawab, dia hanya menatap Gin-ho. Bok Koan-koan berkata lagi.

"Apakah hal itu sudah terjadi 4 hari yang lalu?"

"Benar, ketua Hoa-san Pai pun dibunuh pada hari itu juga."

Kata Coh Thian-su lagi.

"Berita yang kau dapat sangat cepat, mungkin berita ini bukan kau sendiri yang mendengar."

Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Kau mencurigaiku sebagai pembunuh ketua Hoa-san Pai?"

Kata Coh Thian-su.

"Kau masih belum mampu untuk membunuh dengan tangan sendiri, tapi kau adalah orang yang membantu pembunuhnya!"

Bok Koan-koan tertawa.

"Kau punya pikiran seperti itu, orang-orang Hoa-san dan Yu He-cu pun pasti berpikiran seperti itu, terima kasih kau sudah memberitahuku, aku harus meninggalkan Hoa-san semakin jauh semakin bagus."

Coh Thian-su menatapnya, wajahnya terlihat ragu dan dia berkata.

"Apakah kau benar-benar bukan perempuan itu?"

"Apakah kau belum merasa jelas? Tidak perlu terburu-buru aku memang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, tapi kau masih mempunyai kesempatan untuk menelitinya dengan jelas!"

Coh Thian-su menatap Bok Koan-koan dengan melotot, sepertinya dia sudah tahu perbedaannya. Kata Bok Koan-koan.

"Apakah kau sudah melihatnya dengan jelas? Wajahku mempunyai satu kelebihan dibandingkan perempuan itu."

Ucap Coh Thian-su.

"Benar, wajahmu ada tahi lalat berwarna merah, tapi..."

Bok Koan-koan tertawa.

"Kau curiga bahwa tahi lalat ini palsu? Kau boleh menyentuhnya, maka kau kan tahu ini palsu atau bukan!"

Wajah Coh Thian-su menjadi merah dengan dingin dia berkata.

"Kita sedang membicarakan masalah yang serius!"

"Aku pun serius, kau sudah percaya bahwa aku bukan perempuan itu?"

"Jadi dia, dia adalah..."

"Dia adalah ciciku."

Jawaban ini membuat Coh Thian-su bertanya-tanya lagi.

"Aku dan cirimu tidak mempunyai hubungan apa pun, mengapa dia mau mencelakaiku?"

Tanya Coh Thian-su. Bok Koan-koan malah balik bertanya.

"Apakah aku juga mempunyai alasan untuk membunuh atau mencelakaimu?"

Coh Thian-su tidak menjawab, tapi dalam hati dia menganggap karena Kie Lek-beng bermusuhan dengan ayahnya dan Bok Koan-koan "Aku tahu bagaimana pendapatmu tentang diriku, tapi kau hanya tahu sebagian saja."

Bok Koan-koan sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya dia berkata.

"Ini adalah masalahku, tidak ada hubungannya denganmu, kau pun tidak perlu tahu. Akan kuberitahu kepadamu bahwa pemikiranmu salah, aku tidak berniat mencelakai keluarga Coh."

Kata Coh Thian-su.

"Terima kasih, tapi aku masih ingin tahu, mengapa cicimu ingin mencelakaiku? Bila aku tahu alasannya, aku akan membantu, bila bukan karena terpaksa aku tidak akan membalas dendam kepada cicimu."

"Aku percaya kepada kata-katamu, aku pun berterima kasih kepadamu, tapi aku tidak dapat memberitahumu karena aku sendiripun tidak tahu alasannya"

Kata Coh Thian-su.

"Kalian adalah kakak beradik, mengapa kau tidak tahu?"

"Sepertinya kau salah perkiraan, kau mengira dia mau berunding denganku sebelum bertindak? Kau salah! Memang aku dan dia adalah saudara kembar, dari kecil terus bersama, sejak dia menikah, aku dan Kie Lek-beng bersembunyi di tempat terpencil, kami tidak pernah bertemu lagi."

Dia seperti berpikir, tiba-tiba dia berkata.

"Apakah Pek-toh-san..."

Coh Thian-su pun tidak tahu di mana letak gunung itu, kemudian dia bertanya.

"Kau mengatakan gunung apa? Di mana itu?"

Pikiran Koan-koan sepertinya sedang kacau, dengan ringan Coh Thian-su bertanya "Siapa kakak iparmu?"

Wajah Bok Koan-koan langsung berubah menjadi dingin dan berkata.

"Kau terlalu banyak ingin tahu!"

Bok Koan-koan tertawa lagi dan berkata.

"Apakah kau masih mau membuat perhitungan denganku?"

Coh Thian-su sudah berjanji kepada Yu He-cu, dia akan menangkap kembaran Gin-ho dan perempuan yang berdiri di hadapannya adalah Gin-ho, tapi dia dengan perempuan yang ditemui di Hoa-san tidak sama.

Coh Thian-su tampak ragu, dia harus mempercayai Gin-ho berapa banyak?

"Tapi paling sedikit dia tidak berniat jahat kepadaku, aku tidak boleh membuat masalah dengannya."

Bok Koan-koan menjadi diam, kemudian dia tertawa.

"Kau tahu, banyak orang ingin membunuhku, tapi hanya kau yang tidak boleh membunuhku! Karena belum tentu kau bisa membunuhku!"

Bok Koan-koan menjadi diam, kemudian dia tertawa.

"Kau tahu, banyak orang ingin membunuhku, tapi hanya kau yang tidak boleh membunuhku! Karena belum tentu kau bisa membunuhku!"

Kata Coh Thian-su.

"Memang benar, ilmu meringankan tubuhmu lebih tinggi dari diriku, senjata rahasiamu pun lebih hebat dari diriku bila kau mau membunuhku, tentu itu hal yang mudah, tapi aku tidak mengerti mengapa hanya aku yang tidak boleh membunuhmu?"

"Bila aku terus hidup, akan sangat berguna untukmu."

Coh Thian-su merasa aneh dan bertanya.

"Kau berguna untuk apa?"

"Apakah kau tahu mengapa ayahmu dan Kie Lek-beng bermusuhan?"

"Aku ingin tahu lebih detil."

Kata Coh Thian-su.

"Baiklah, aku akan memberitahumu, ibu tirimu adalah istri Kie Lek-beng."

Sebenarnya Coh Thian-su sudah tahu, tapi dia mendengar sendiri dari mulut Bok Koan-koan, masih membuatnya terkejut. Bok Koan-koan tertawa dan berkata.

"Karena aku, Kie Lek-beng berpisah dengan istrinya, tapi dia tetap tidak dapat melupakan istrinya, bila di dunia ini tidak ada diriku, istri Kie Lek-beng tidak akan menikah dengan ayahmu. Walaupun sudah menikah dengan ayahmu, pasti akan direbutnya kembali, karena itu bila kau mau menjadi anak yang berbakti, kau harus mendoakan aku panjang umur!"

Alasan Koan-koan malah membuat Coh Thian-su tertawa tapi setelah dipikir-pikir kata-katanya masuk akal juga Coh Thian-su berkata.

"Bila kau hidup terus di dunia ini, apakah kau akan menjamin Kie Lek-beng tidak akan membuat susah ayahku?"

Bok Koan-koan menarik nafas dan berkata.

"Posisiku di hati Kie Lek-beng tidak seperti istrinya aku tidak dapat menjaminnya tapi kau juga harus tahu, di dunia tidak ada seorang perempuan pun yang mau meninggalkan laki-laki yang dia cintai. Apalagi dia pernah telah mengorbankan segala-galanya."

Coh Thian-su pun merasa tidak enak hati, dalam hati dia berpikir, 'Dia benar-benar mencintai Kie Lek-beng, mungkin sebenarnya dia tidak mau ditakdirkan menjadi perempuan cabul, mungkin dia mencintai laki-laki itu, tapi laki-laki itu tidak mencintainya, dia tahu dia tidak berarti apa-apa di hati laki-laki yang dia cintai dan ini membuatnya uring-uringan.' Kata Bok Koan-koan.

"Aku tidak dapat menjamin dia tidak akan mencari ayahmu, dia selalu curiga istrinya bermain belakang dengan ayahmu sewaktu mereka masih menjadi suami istri. Sekarang istrinya sudah menjadi ibu tirimu, antara dia dan keluargamu tidak akan bisa berdamai, aku tidak dapat melarangnya merebut kembali istrinya tapi aku pun akan membuatnya tidak mudah mencapai apa yang dia inginkan!"

"Tunggu dulu!"

"Ada apa?"

"Kita bukan teman, tapi tujuan kita sama, apakah itu benar?"

"Memang benar, lalu kenapa?"

"Aku minta bantuanmu, membantuku berarti membantu ayahmu juga, apakah kau mau?"

"Kalau benar-benar bisa membantu ayah, kenapa tidak?"

Bok Koan-koan mengeluarkan sebuah botol kecil dan berkata.

"Mudah sekali, kau ambil sedikit bubuk ini dan masukkan ke dalam teh dan suruh Kie Lek-beng minum, dia tidak akan mencari ayahmu lagi!"

"Ini racun apa?"

"Tenanglah, ini tidak akan membuat Kie Lek-beng mati keracunan, hanya memusnahkan ilmu silatnya. Ini adalah racun buatan keluargaku, namanya Su-kut-san, racun ini terdiri dari 2 macam obat lebih dahsyat dari racun keluarga Tong. Walaupun tubuh orang itu seperti besi, bila sudah meminumnya dia tidak akan mempunyai tenaga lagi."

Coh Thian-su tertawa dan berkata "Sepertinya terdengar sangat mudah, bagaimana caraku meracuni dia?"

Jawab Bok Koan-koan.

"Kau tidak akan bisa meracuni dia tapi kau bisa menyuruh orang lain meracuni dia!"

Kata Coh Thian-su.

"Ilmu silat Kie Lek-beng lebih tinggi dari ayahku, sekarang dia adalah pesilat nomor satu, bagaimana aku bisa menyuruh orang lain meracuni dia? Orang itu pun akan dibunuh oleh Kie Lek-beng."

Jawab Bok Koan-koan.

"Walaupun Kie Lek-beng tahu bahwa orang itu akan membunuhnya, dia tidak akan membunuh orang itu!"

"Siapakah dia?"

Tanya Coh Thian-su.

"Dia adalah putri Kie Lek-beng."

Coh Thian-su tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Pikiranmu terlalu jauh. Apakah putrinya mau meracuni dia ?"

"Kau minta bantuannya, dia pasti akan mau, kau beritahu semua ini demi ayahnya, dia pasti akan mau."

Coh Thian-su menggelengkan kepalanya dan tertawa kecut dan berkata.

"Mengapa kau punya pikiran aneh-aneh, pasti otakmu ada penyakit, bila tidak kau pasti sok pintar!"

Kata Bok Koan-koan.

"Mungkin bukan aku yang sok pintar tapi kau yang pura-pura bodoh!"

"Pura-pura bodoh bagaimana?"

Tanya Coh Thian-su.

"Pura-pura tidak mengetahui isi hati orang lain."

Coh Thian-su dibuat tertawa oleh Bok Koan-koan dan dia berkata.

"Aku hanya tamu di keluarga Kie, dengan Nona Kie tidak mempunyai hubungan apa pun, aku sudah memberitahumu!"

Tanya Bok Koan-koan.

"Apakah benar hanya sebagai tamu biasa? Mengapa kakeknya mau menolongmu? Apakah kau berani mengemukakan alasanmu?"

Kata Coh Thian-su.

"Bila aku mengatakannya kau pasti tidak akan percaya, lebih baik kau sendiri saja yang mengira-ngira!"

Bok Koan-koan tertawa dingin dan berkata.

"Aku tidak main-main denganmu, jangan kira karena ilmu silat ayahmu tinggi maka tidak takut kepada Kie Lek-beng. Kau akan menyesal nanti!"

Kata Coh Thian-su.

"Tapi caramu ini tidak dapat dijalankan!"

"Belum melakukannya mana bisa tahu tidak akan bisa dilakukan?"

"Ngomong pulang pergi akhirnya kau tetap memaksa aku melakukannya."

Coh Thian-su mulai merasa kesal. Kata Bok Koan-koan.

"Melihat dirimu, aku jadi tidak mengerti, kau benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh? Tadi aku berkata sampai mana? Oh ya, sampai mengapa kakeknya begitu baik kepadamu? Aku paling tahu seorang Kie Yan-gan, dia tidak akan mau menolong orang tanpa sebab, mungkin dia sudah tahu bahwa cucunya mencintaimu. Seorang perempuan selalu mau melakukan apa yang diminta oleh laki-laki yang dia cintai, apalagi kau bertujuan menolong ayahnya, bukan membunuh ayahnya, aku jamin dia akan mau!"

Dia tidak mendegar kata-kata Coh Thian-su lagi, botol Su-kut-san langsung dia lempar ke arah Coh Thian-su dan dia langsung lari.

Terpaksa Coh Thian-su mengambil botol itu.

Dari jauh Bok Koan-koan berteriak.

"Cepat ke rumah Kie, cari Nona Kie dan bersama-sama pergi ke ibukota, dengarkan kata-kataku dan kau tidak akan salah langkah setiba di ibukota kalian muncullah di tempat keramaian, Kie Lek-beng akan mencari putrinya. Kau jalankan rencanaku dan jangan bocorkan rahasia ini. Kau pun harus melarang 5 Bu-tong Tianglo untuk membalas dendam kepadanya, begitu ilmu silatnya musnah, kau antar dia pulang."

Belum habis bicara Bok Koan-koan sudah menghilang.

Walaupun tenaga dalam Gin-ho tidak begitu dalam, tapi semenjak ikut dengan Kie Lek-beng kemajuannya cukup pesat Coh Thian-su melihat botol yang dipegangnya dan dia tertawa kecut.

Dia mulai merindukan Hiat-kun, walaupun tahu bahwa Hiat-kun mempunyai seorang yang dia sukai, tapi dia tetap ingin bertemu Hiat-kun.

Tapi dia lebih khawatir kepada ayahnya, dia menganggap rencana Bok Koan-koan sangat tidak masuk akal, dia tidak mau kembali lagi ke rumah Kie, karena waktu tempuhnya untuk ke ibukota akan lebih lama lagi.

Dia ingin membuang Su-kut-san itu, tapi setelah dipikir-pikir Su-kut-san sangat sulit didapat, asal tidak untuk melukai orang, disimpan pun tidak ada salahnya.

Karena sudah terlalu banyak hal yang sudah terjadi, baru sekarang ini dia baru bisa mendinginkan kepalanya, dia pun baru ingat harus mencari seekor kuda.

Di Leng-pau dia sudah mencari kuda, tapi tidak ada yang cocok, sekarang dia akan ke kota Bu-hoan, kota yang lebih besar dari Leng-pau untuk mencari kuda.

Dari sana ke Bu-hoan jaraknya kurang lebih 80 kilometer, bila berjalan kaki menghabiskan waktu setengah hari dan Coh Thian-su sudah bisa tiba di kota itu.

Baru saja dia berjalan satu jam, sudah menemui hal yang tidak disangkanya.

Pada saat dia melewati sebuah gunung kecil, tiba-tiba di bawah pohon dia menemukan seekor kuda yang tidak ada tuannya dan di pohon itu terselip sepucuk surat dan tertera namanya di amplop surat itu.

Benar-benar menghindari kecurigaan.

Mendengar lagu sedih.

Siluman rubah sekarang memberikan seekor kuda.

Apa yang akan terjadi?

---ooo0dw0ooo---BAB 11 Dengan gagah menolong gadis cantik Dengan cara licik menipu Mengikuti ibu angkat Memasuki perangkap orang jahat A.

Menolong Gadis Cantik di Tengah Jalan Begitu surat itu dibuka, sudah tercium wangi yang sangat manis.

Hurufnya merah mencolok, ternyata ditulis oleh pensil alis yang sudah dibubuhi oleh pemerah pipi.

Coh Thian-su terkejut, dia takut wangi itu mengandung racun, segera dia mengatur nafas untuk berjaga-jaga.

Setelah agak lama tidak terasa ada hal aneh, baru dia berani membuka surat itu dan mulai membaca.

Surat itu terdiri dari 2 baris kalimat.

"Aku mewakili ciciku menggantikan kuda yang dicuri. Segera cari Nona Kie dan bersama-sama pergi ke ibukota."

Tidak ada nama pengirimnya, tidak perlu ditanyakan lagi, yang menulis adalah Gin-ho, Bok Koan-koan Dalam hati Coh Thian-su berpikir, 'Gin-ho bergerak sangat cekatan dan dia sudah membawakanku seekor kuda, seperti tahu cara berpikirku saja' Tapi dia sudah mengambil keputusan, walaupun dia merasa berterhnakasih untuk kebaikan Gin-ho, tapi dia tidak mau mengubah rencana semula dalam hati dia berpikir.

"Kuda ini datang tepat pada waktunya dia mewakili kakaknya menggantikan kuda untukku, jika aku menerimanya rasanya wajar-wajar saja dan tidak perlu merasa malu, aku tidak berjanji apa pun kepadanya bila bertemu dengannya lagi, dia pun tidak berhak marah-marah kepadaku."

Kuda itu tidak kalah dengan kudanya yang hilang itu, awalnya dia mengira Bok Koan-koan akan menunggunya di tempat pemberhentian berikutnya dan bila bertemu dengannya akan membuat Coh Thian-su pusing lagi.

Tapi setelah berjalan beberapa hari, Coh Thian-su ternyata tidak bertemu dengannya.

"Dia mencarikan kuda untukku, dia pun pasti akan mencari kuda untuk dirinya sendiri, mungkin dia juga terburu-buru pergi untuk mencari Kie Lek-beng dan dia akan segera juga pergi ke ibukota"

Pikir Coh Thian-lu, dia sudah cukup pusing tidak mau berpikir yang macam-macam lagi.

Dia tidak mencari Kie Su-giok, dia tidak tahu bahwa Kie Su-giok pun sudah ke ibukota.

Ternyata setelah Ting Po pulang, dari mulut Ong Toanio dia tahu buhwa Wie Thian-hoan sudah pergi ke ibukota Dia secara sembunyi-sembunyi meninggalkan rumah, dia pun mencuri kuda kesayangan kakeknya.

Suatu kali ketika dia sedang menempuh perjalanan, ada orang yang berada di belakang mengikutinya.

Karena dia ingin cepat-cepat sampai, jadi dia menempuh jalan pintas, di jalan itu tidak ada orang, hanya ada dia dan orang yang sedang mengikutinya.

Orang itu bertubuh kurus, dahinya seperti mempunyai tanduk, begitu melihat orang itu, walaupun dia tidak mempunyai kesalahan, perasaan yang timbul adalah rasa tidak suka.

Dalam hati Kie Su-giok tertawa dingin.

"Mungkin karena melihatku hanya sendiri jadi dia mengejarku!' Sengaja dia mulai berjalan perlahan-lahan. Tapi di luar dugaan orang itu melewatinya, dan hanya meliriknya sebentar. Kie Su-giok kecewa, dalam hati dia berpikir.

"Orang itu sangat aneh, bila dia bukan penjahat pasti dia bukan orang baik-bak. Untung dia tidak mengangga, bila tidak aku akan menhajamya sekalian melampiaskan kekesalanku."

Baru saja dia berjalan beberapa langkah, orang itu sudah kembali lagi dan di sisinya sudah bertambah satu orang lagi, perawakan temannya itu kebalikan dari dia, sangat pendek dan gendut.

Mereka berdua begitu saja lewat di depan Kie Su-giok, tapi tidak terjadi sesuatu!

Hanya pada waktu mereka lewat, mereka terus menatap Kie Su-giok dan tertawa.

Ini membuat Kie Su-giok menjadi marah, dan bertanya.

"Kalian mondar mandir, apa tujuannya?"

Yang kurus berkata.

"Jalan ini untuk umum, aku ingin berjalan ke sini ya akan lewat sini, mau ke sana ya ke sana, mengapa kau melarangku?"

Yang pendek berkata.

"Aku ingin tertawa ya tertawa, kau bukan seorang gadis, mengapa mesti merasa risih?"

Ternyata Kie Su-giok telah belajar mengubah wajahnya, ketrampilaimya ini didapat dari Ting Po, sekarang dia sedang menyamar menjadi seorang laki-laki muda yang tampan Kira-kira sudah berjalan sejauh 5 kilometer, tiba-tiba terdengar bunyi derap kuda.

Yang datang adalah orang tadi juga, sekarang sudah dbertambah lagi dengan seorang pelajar.

Kuda Kie Su-giok walaupun kuda itu kuda kesayangan kakeknya karena sudah tua bila dibandingkan dengan 3 ekor kuda itu, kecepatannya jauh berbeda.

Ketiga ekor kuda itu segera mengurung Kie Su-giok, dengan dia marah dan berkata.

"Apakah kalian mencari gara-gara?"

Orang seperti pelajar itu mahir menunggang kuda, dia meloncat ke depan dan berkata.

"Dia sangat wangi! Aku tidak tega memukul pemuda yang begitu tampan'"

Kie Su-giok marah dan mengayunkan pecut kudanya.

Pecut itu bukan pecut biasa, pecut itu berasal dari Tibet, terbuat dari rotan dan direndam ramuan sangat lama kemudian baru dikeringkan.

Pecut itu pun terbungkus oleh kawat yang sangat kuat dan lurus.

Pecut itu bernama Ting-coa-pian (Pecut Ular Rotan).

Ting-coa-pian diberikan oleh orang seorang Dalai lama dari Tibet kepada Kie Yan-gan.

Begitu Kie Yan-gan berumur 50 tahun dia sudah tidak memerlukan senjata itu lagi dan Ting-coa-pian diberikan kepada Kie Su-giok.

Dia mengayunkan pecut ke arah si pelajar, tapi si tinggi langsung menggerakan tangannya menjepit pecut itu dengan dua jarinya, ternyata si tinggi kurus itu tangannya terlatih ilmu silat jari besi.

Bila golok atau pedang biasa pasti akan putus karena dijepit oleh jarinya.

"Untung aku tidak kena,"

Kata si tinggi kurus sengaja mempermainkan Kie Su-giok, dan jari-jarinya sudah mengerahkan tenaganya, bila pecut itu adalah pecut biasa pasti sudah putus menjadi 2, tapi karena itu adalah Ting-coa-pian, jarinya tidak dapat merusak pecut itu.

Kata pelajar itu sambil menolehkan kepalanya.

"Aku telah salah lihat, dia bukan laki-laki!"

Si tinggi kurus yang tidak dapat memutuskan pecut itu, dia memakai tenaga telapak tangan ingin menarik Kie Su-giok turun dari kudanya.

Perubahan dari pihak Kie Su-giok pun sangat cepat, dia mengulurkan pecut itu dan segera meloncat dari punggung kuda, di tengah udara dia berputar dan mendekati si tinggi kurus, dan langsung menendangnya.

Si tinggi kurus tidak menyangka kaki Kie Su-giok bisa begitu kuat, begitu Kie Su-giok mengulurkan pecut itu, si tinggi kurus ingin menangkap pecut Kie Su-giok, tidak disangka kaki kiri Kie Su-giok sudah menendang mengenai pundaknya dan dia segera berteriak, kali ini dia tidak pura-pura, sekarang kaki kanan Kie Su-giok sudah menyusul menendang lagi dan si tinggi kurus sudah jatuh dari kudanya, Kie Su-giok ingin merebut kudanya, tapi tangannya tidak sampai.

Kuda itu sudah lari, walaupun dia tidak mendapatkan kuda itu tapi pecutnya sudah kembali ke tangannya.

Waktu itu si pendek tepat lewat di depan Kie Su-giok, dia berkata.

"Lo-toa, kau sudah salah lihat, dia bukan seorang pemuda yang tampan, dia adalah seorang gadis yang cantik, kami berikan gadis cantik ini untukmu!"

Kie Su-giok sangat marah mendengar kata-kata si pendek, dia berkata.

"Kentut kau!"

Dan langsung mengayunkan pecutnya.

Kuda si pendek terus berlari dan pecut itu melilit ke kaki kudanya, walaupun tidak ditarik oleh Kie Su-giok, tapi kuda itu hanya dapat berlari di tempat.

Kie Su-giok segera menahan pecut itu dan si pendek pun turun dari kuda dengan meloncat, dia meloncat sangat jauh.

Seperti sebuah bola daging yang bisa memantul dan melewati kepala Kie Su-giok lalu turun di belakangnya.

Kie Su-giok tidak bisa melihat ke belakang tubuhnya tapi dia merasakan bahwa si pendek ada di belakangnya, dan sedang bersiap-siap memegang kakinya.

Kie Su-giok sudah tidak mempunyai waktu untuk merebut kuda dia hanya bisa berbalik tubuh berhadapan dengan di pendek!

Pecutnya yang masih melilit di kaki kuda itu terlepas dan dibawa lari oleh kuda itu.

Si pendek tertawa dan berkata.

"Hei gadis cantik! Kau menahanku di sini untuk apa? Aku tahu di tempat ini ada sebuah adat kebiasaan menarik laki-laki untuk diajak kawin, tapi aku tidak percaya bahwa kau yang begitu cantik akan suka kepadaku, bila kau ingin menarik laki-laki untuk dijadikan suami, kau harus memilih kakak tertuaku!"

Kie Su-giok tidak ada waktu bersilat lidah dengannya, dia mencabut pedang dan menusuk ke arah si pendek, segera si pendek dibuat kalang kabut oleh Kie Su-giok.

Dalam hati Kie Su-giok sedikit tergetar, dia merasa orang-orang ini terlihat seperti pesilat tangguh, 'Aku tidak boleh mengubar amarah sendiri, aku harus tenang.' Begitu hatinya sudah tenang, dengan cepat serangannya berhasil melukai si pendek.

Si pendek berteriak.

"Gadis lihai, aku serahkan padamu, aku akan tidur!"

Dia mengelak pedang Su-giok dan langsung menjatuhkan tubuhnya.

Senjata si pendek adalah pisau pendek dan pisau panjang, dia berbaring hanya untuk berpura-pura menyerah, tapi ternyata gerakannya lebih lincah pada saat dia berbaring.

Beberapa kali Su-giok hampir terkena senjatanya.

Terlihat tubuh si pendek seperti bola, semua tubuhnya berlepotan oleh tanah, tapi dia bisa meloncat kapan pun, walau bagaimanapun senjatanya menyerang yang terkena hanya tanah, tubuhnya tidak terkena.

Kie Su-giok dipaksa mundur oleh si pendek.

Si tinggi kurus sudah berdiri, sambil mengurut-urut lukanya dia menyaksikan pertarungan itu, dia hanya luka ringan, tapi wajahnya merah karena menahan marah.

Kata si pelajar itu.

"Lo-sam, kau sudah mendapatkan pecut Ting-coa-pian, itu adalah benda yang langka, apakah kau tahu asal usul pecut itu?"

"Aku tahu!"

Kata si tinggi kurus. Kata si pelajar.

"Kau jangan marah-marah, kau terluka sedikit tapi mendapatkan benda yang berharga, dagang semacam ini sulit didapat!"

Jawab si tinggi kurus.

"Aku tahu itu, tapi... sepertinya kau sangat membela perempuan itu?"

Kata pelajar itu dengan marah.

"Mana mungkin? Kita adalah Kim-leng-sam-eng (Tiga Pendekar dari Kim-leng). Meskipun Gadis itu sudah tidak sopan kepada kita tapi kita pun tidak boleh berbuat tidak sopan kepada seorang perempuan!"

Si kurus tertawa dan berkata.

"Lo-ji, hati-hati, jangan potong kaki gadis itu, nanti si cantik berubah menjadi dewi Kwan-im yang tidak punya kaki!"

Kata si pendek.

"Lo-toa, kau jangan khawatir, aku akan memberikan gadis yang cantik dan sempurna untukmu!"

Kie Su-giok sangat marah dan berkata.

"Apakah kentut kalian sudah habis?"

Segera Kie Su-giok mengubah posisinya, jurus Wan-yo-kim-pu-lian-hoan-tui(BurungWan-yoMenendangBerturut-turut) dikeluarkan, jurus ini membuat si pendek yang tadinya tenang-tenang sekarang menjadi kalang kabut.

Jurus ini baru dipelajari oleh Kie Su-giok, walaupun belum sempurna tapi bisa mengatasi jurus si pendek, yaitu jurus Te-tong-to (Gerak Pisau Bawah tanah).

Jurus Te-tong-to adalah jurus pisau yang khusus menyerang bagian bawah, tapi Wan-yo-kim-pu-lian-hoan-tui juga khusus bisa mengatasi jurus Te-tong-to, si pendek sekarang tidak bisa mengalahkan Kie Su-giok, malah tubuhnya harus berguling-guling di bawah.

Si pelajar sangat terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Ilmu silat keluarga Kie memang luar biasa, kelihatannya aku harus turun tangan.' Belum habis pikirannya, pisau si pendek sudah ditendang oleh Kie Su-giok dan terbang ke udara, dia ingin menendang pisau yang satu lagi, tiba-tiba sudah dihalangi oleh sebuah kipas, tubuh Kie Su-giok hampir hilang keseimbangannya dan si pendek pun sudah terguling beberapa meter.

Yang menghalangi Kie Su-giok adalah si pelajar, dia mengibas-ngibaskan kipas emasnya dan berkata.

"Aku ingin mencoba ilmu silat keluarga Kie, Lo-ji, Lo-sam, kalian hanya boleh menonton, tidak boleh membantu, nanti orang-orang akan menertawakan kita!"

Kata si pendek.

"Bila Lo-toa sendiri yang turun tangan pasti tidak akan membutuhkan bantuan kami, nona ini begitu cantik, bila didapatkan sendiri oleh kakak tentu lebih bagus."

Hati Kie Su-giok bergolak marah, tapi dia pun terkejut.

"Pantas mereka berdua memanggilnya kakak, karena gerakan ilmu silat yang dikeluarkannya tadi lebih tinggi dari mereka, tapi umurnya belum mencapai 30 tahun, panggilannya malah terbalik, yang muda menjadi kakak tertua, yang tua malah menjadi Lao San."

Si pelajar itu menutup kipasnya, dengan lembut dia berkata.

"Silakan keluarkan seranganmu!"

"Kau sudah tahu identitasku, mengapa berani masih berlaku tidak sopan?"

Kata si pelajar itu.

"Semenjak tadi aku belum pernah bicara tidak sopan kepadamu, mereka berdua adalah orang yang kasar, harap Nona mau memaafkan mereka."

"Kau sudah tahu salah, mengapa masih tidak mau pergi?"

"Kau yang menyerang mereka dulu, pantas bila mereka tidak sopan kepadamu!"

Dengan tawa dingin Kie Su-giok berkata.

"Sebenarnya aku juga ingin memukulmu, mulutmu terlalu lancang!"

Si pelajar pura-pura terkejut dan berkata.

"Apanya yang lancang? Aku hanya bilang kau harum, apakah itu berasal dari tubuhmu? Ini adalah pujian, mengapa kau malah mau memukulku?"

Seru Kie Su-giok.

"Kurang ajar!"

Segera dia menyerang, si pelajar itu mengelak dan tertawa.

"Aku belum pernah melihat seorang gadis yang begitu tidak tahu aturan, tapi aku akan menjelaskan kepadamu, Nona Kie, kau sudah memukul 2 saudaraku, bila kau bukan cucu Kie Yan-gan aku tidak akan memaafkanmu, tapi karena kau adalah cucu Kie Yan-gan aku harus balas kekalahan ini. Bila tidak orang lain akan menertawakanku, jangan kau kira aku takut kepada kakekmu!"

Kie Su-giok sudah menyerang 7 jurus bertutur-turut, tapi semua bisa dielakkan oleh si pelajar, sambil bertarung dia masih bisa bicara, agaknya ilmu silat orang itu lebih tinggi dari Kie Su-giok.

"Aku pun tidak ingin membuatmu susah, aku hanya ingin kau mengikutiku pulang, aku akan menulis surat untuk kakekmu asal kakekmu sendiri yang minta maaf untuk Kie Lek-beng, aku akan melepaskanmu,"

Kata si pelajar itu. Kie Su-giok tertawa dingin dan berkata.

"Siapa kau? Tidak pantas bicara tidak sopan tentang kakekku!"

Pelajar itu tertawa dingin dan berkata.

"Kakekmu tidak mau minta maaf pun tidak apa-apa, asal dia bisa membebaskanmu dari tanganku!"

Sepertinya dia sudah menganggap Kie Su-giok adalah saudaranya, Kie Su-giok sangat marah dan berkata.

"Kau mau menangkapku, itu tidak mudah!"

Segera dia mengeluarkan serangan mengadu jiwa, dia sudah bertekad, sama-sama terluka atau sama-sama mati, karena itu jurusnya sangat cepat seperti kilat. Kata si pelajar.

"Hati-hati dengan jarimu!"

Kipas yang tadi tertutup sudah dibuka, kipas itu mengkilat, ternyata kipas itu terbuat dari tulang baja, pinggiran kipas penuh dengan pisau kecil yang tajam.

Tusukan pedang Kie Su-giok ke arahnya dikibaskan begitu saja olehnya Kipas itu menempel pada pedang dan membelok kan arahnya ke atas, gerakan ini membuat Su-giok terkejut, tenaganya tidak dapat mengikuti kehendaknya, tenaganya malah dipinjam oleh lawan sebagai alat, tampaknya dia harus cepat-cepat melepaskan pedang dan menarik tangan bila tidak jari-jarinya akan terkelupas.

Si pelajar agaknya ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan, serangannya seperti angin topan Kie Su-giok tahu dia tidak akan bisa memenangkan pertarungan ini maka dia meloncat mundur sejauh beberapa meter dan bersiul.

Kuda yang ditungganginya adalah kuda yang bagus dan sudah dilatih oleh kakeknya sangat mengerti kemauan majikannya begitu mendengar siulan Kie Su-giok dia segera datang menghampiri Su-giok.

Dengan lincah Su-giok mundur dari kalangan itu, dia ingin cepat meninggalkan tempat itu.

Karena si pendek dan si kurus tidak berada di atas kuda, maka dia bisa dengan cepat melarikan diri.

Tapi dia masih terlambat, si pelajar sudah melepaskan panah dari kipasnya Panah itu berasal dari tulang kipas, hanya saja ujungnya tidak tajam.

Walaupun ujungnya tidak tajam tapi sangat kuat, terdengar suara 'PUSS' dan kuda yang ditunggangi oleh Su-giok terjatuh dan langsung mati, ternyata panah itu dilepaskan ke arah kepada kepala kuda.

Waktu itu tiba-tiba terdengar ada suara kereta kuda, jalan di gunung itu sebenarnya jarang ada yang lewat, tidak disangka saat itu bisa ada kereta mewah yang lewat.

Siapa yang berada di dalam kereta?

Tidak ada yang bisa melihat hanya terdengar suaranya.

"Anak Hoo, siapa yang berkelahi di sana?"

Suara itu seperti suara perempuan setengah baya.

Yang dipanggil 'Anak Hoo' adalah seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun, bajunya terbuat dari sutra putih, sepatunya terbuat dari kulit beruang.

Jubahnya yang berbunga sekali dilihat akan langsung tahu bahwa dia seorang yang jago menulis, jago silat dan juga anak orang kaya tapi pemuda itu menjadi kusir dari perempuan setengah baya itu.

Dilihat-lihat kedua ekor kuda yang menarik kereta adalah kuda dari bibit unggul dan sangat mahal.

Jawab pemuda itu.

"Sepertinya ada 3 orang perampok sedang menodong seorang pemuda. Kedua perampok lainnya sedang menunggu, yang bertarung adalah perampok yang bersenjata kipas, pemuda itu tidak dapat mengimbanginya."

Kata perempuan separuh baya itu.

"Dari mereka bertiga ada yang menggunakan kipas. Tentu mereka bertiga adalah Kim-leng-sam-eng, sampaikan kepada mereka, tidak boleh mengeroyok yang lebih lemah, dan sampaikan kepada yang tertua, bahwa aku yang bertanya bagaimana bisa terjadi hal ini?"

Si kurus dan si pendek tertawa terbahak-bahak, dan berkata.

"Nenek tua datang dari mana? Mengapa tahu julukan kami? Kau anggap kami adalah pelayanmu, huh berani-beraninya bertindak sombong!"

Pemuda itu marah dan berkata.

"Siapa kalian, berani menghina ibuku!"

Setelah berkata langsung dia mencakar ke arah si tinggi. Si kurus sudah mengeluarkan Ting-coa-pian dan tertawa.

"Aku baru dapat barang yang mahal ini, aku belum sempat mencoba, baiklah kau jadi kelinci percobaanku saja!"

Segera dia mengayunkan pecut itu, walaupun dia disebut Lo-sam, tapi dia sangat berpengalaman dalam bertarung, dia memandang sebelah mata kepada pemuda itu, karena di tangan pemuda itu tidak ada senjata, dia berpikir dia pasti akan menang.

Pemuda itu sangat lincah, begitu pecut menggulungnya ujung pecut itu malah -diinjak dan tangannya menarik, hanya dalam sekejap mata Ting-coa-pian sudah berpindah tangan, si tinggi terkejut segera dia pun mengeluarkan pisaunya.

Pemuda itu tertawa dingin dan berkata.

"Apa itu Kim-leng-sam-eng? Menjadi pelayan di rumahku pun belum tentu pantas!"

Sekarang si pendek pun ikut menyerang dengan jurus Te-tong-to, dia menyerang kaki si pemuda.

Pemuda itu mengambil pecut yang sudah direbut dari tangan si kurus, segera dia mengayunkan pecut itu, tapi ilmu silat si pendek lebih tinggi dari si kurus, biarpun dia dapat menghindari pecut itu, dia tetap tidak dapat mendekati pemuda itu Walaupun Kie Su-giok dalam keadaan bertarung, tapi dia masih sempat melihat sebentar-sebentar, dan dia sangat terkejut.

"Cara dia memainkan pecut lebih hebat dariku, kata kakek yang mengetahui tentang Ting-coa-pian tidak banyak, apalagi yang bisa menggunakannya,mengapapemudaitubisamahir menggunakannya begitu dia memegang pecut itu? Bahkan lebih mahir dariku?"

Dia belum selesai berpikir, terlihat pisau si tinggi sudah lepas dari tangannya. Kata pemuda itu.

"Pecut ini adalah barang mahal, kau tidak dapat memakainya, jadi tidak dapat menyalahkan pecut ini!"

Dia memecut ke arah si tinggi, bajunya langsung robek dan di tubuhnya tertinggal bekas lecutan. Mereka berdua segera lari kabur. Kata si pemuda itu.

"Kembali!"

Pecut sudah melilit kaki kanan si tinggi dan menariknya.

Si pendek melihat ada kesempatan segera membantu temannya menyerang ke arah kaki pemuda itu.

Tapi gerakan pemuda itu lebih lincah, pecut ditarik dan diulur, si Tinggi sudah terjatuh dan terguling ke arah si pendek dan menghalangi kedua pisau si pendek.

Si pendek dengan cepat menarik pisaunya dan marah.

"Kau terlalu menghina!"

Dia ingin memapah si tinggi tapi tidak bisa, ternyata kakinya sudah ditotok oleh pemuda itu. Pecut diayunkan lagi ke arah si pendek tapi matanya terus menatap si tinggi dan berkata.

"Kau sudah tidak sopan, harus minta maaf dulu, baru aku akan melepaskanmu!"

Dia juga menghimpit si pendek hingga jatuh terguling-guling ke bawah, dan dia berkata.

"Kau pun sama!"

Si pendek marah dan berkata.

"Toako, maafkan aku, kau..."

Dia ingin kakak besarnya bertarung dengan pemuda itu, ternyata sudah terjadi perubahan lagi.

Si pelajar itu bukan takut kepada pemuda itu, walau ilmu silatnya sangat tinggi, belum tentu bisa mengalahkan pemuda itu.

Yang dia takuti adalah perempuan yang duduk di dalam kereta kuda, walau dia tidak tahu siapa perempuan itu, tapi setidaknya dia tahu bahwa perempuan itu pasti orang yang sangat menakutkan karena itu dia tidak dapat berkonsetrasi, yang tadinya menang pada saat bertarung dengan Su-giok, malah jadi berimbang.

Begitu si tinggi dikalahkan oleh pemuda itu, si kakak pun tidak dapat menolongnya, terpaksa dia melepaskan panah lagi.

Sebenarnya dia tidak ingin melukai Su-giok tapi dia terpaksa melakukannya.

Sekali bergerak 3 panah sudah keluar.

Apakah Kie Su-giok akan terluka atau mati?

Dia sudah tidak peduli lagi Pemuda itu sedang memukul si pendek dan si pendek terguling-guling di bawah.

Tapi dia belum berhasil menotok si pendek.

Tiba-tiba terdengar suara panah yang dilepaskan.

Walaupun pecut itu cepat tapi sudah tidak dapat menolong Kie Su-giok lagi.

Terdengar 3 kali bunyi dentingan, 3 anak panah jatuh di depan Su-giok begitu juga dengan 3 butir mutiara dan berbareng mutiara itu jatuh di ilcpan Su-giok.

Nyonya yang berada di dalam kereta seperti tidak melihat gerakan Su-giok, berkata.

"Anak Hoo, pungutlah mutiara-mutiara itu!"

"Ibu, tidak perlu dipungut lagi."

Kata pemuda itu. Nyonya itu tertawa dan berkata.

"Kau jangan malas, aku tidak mau kehilangan mutiaraku."

Kie Su-giok terpaku dan segera sadar langsung dia mengembalikan mutiara itu kepada pemuda itu. Awalnya pemuda itu terlihat ragu akhirnya dia mau menerimanya dan berkata.

"Terima kasih."

"Kau sudah menolongku, seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu."

Kata Kie Su-giok Ketiga mutiara itu bisa menghalangi 3 panah, dan mutiara-mutiara itu tidak rusak, dapat ditebak bagaimana tingginya tenaga dalam nyonya itu.

Dalam hati Kie Su-giok berpikir, 'Kata Paman Ting, bila tenaga dalam sudah tinggi, daun dan bunga pun bisa melukai bahkan membunuh orang, kupikir selama ini yang paling mahir hanya kakek, begitu aku lahir kakek sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, sepertinya nyonya itu hampir sama hebatnya seperti kakek, apakah dia sudah berusia 50 tahun?* Dengan gemetar pelajar itu bertanya.

"Siapakah Cianpwee ini? Apakah aku bisa bertemu dengan Anda?"

"Aku sudah menyuruhmu berhenti, kau malah hampir melukai orang, apakah kau mau bertarung denganku?"

Si pelajar itu berkata.

"Aku tidak berani, aku berharap bisa bertemu dengan Nyonya!"

Nyonya itu tertawa dingin dan berkata.

"Ternyata kau sangat ingin tahu siapa aku ini, baru mau menghentikan pertarungan, baiklah, kita bertemu sekali!"

Nyonya itu membuka tirai, mata Kie Su-giok menjadi bercahaya, ternyata dia adalah nyonya setengah baya yang berpakaian sangat mewah dan tusuk kondenya pun terbuat dari emas dihiasi dengan mutiara berbentuk bunga, dia juga memakai rok panjang yang berlipat.

Dia terlihat sangat anggun tapi agak sedikit genit, dalam hati Kie Su-giok berpikir, 'Bila tadi tidak melihatnya menggunakan senjata, pasti dia akan disangka sebagai istri seorang pejabat.' Kie Su-giok masih meragukan identitas nyonya itu, si pelajar pun tampak hanya bengong.

Begitu tirai dibuka terlihat ada sebuah lukisan panjang disulam dengan gambar seekot unta.

"Apakah kalian sudah tahu siapa kami ini?"

Tanya pemuda itu.

"Apakah Toako adalah Siauya Pek-toh-san (Gunung unta putih)?"

Dia tidak berani bertanya kepada nyonya itu, hanya berani bicara kepada pemuda itu Pemuda itu tertawa dan menjawab.

"Lumayan juga pengetahuanmu"

Si pelajar tiba-tiba menampar pipinya sendiri dan berkata.

"Aku tidak tahu bahwa U-bun hujin yang datang, aku berdosa!"

Kali ini Kie Su-giok malah bengong, dia terkejut sekaligus tidak senang kakeknya adalah pesilat nomor satu di dunia ini tapi Kim-leng-sam-eng sama sekali tidak peduli, kepada nyonya ini dia malah sangat ketakutan!

"U-bun hujin ini berasal dari mana?

Ilmu silatnya tidak setinggi kakek, apakah dia bisa mengalahkan kakek?"

Nyonya itu melihat si Lo-toa begitu hormat kepadanya, dia sangat puas dan berkata.

"Seharusnya aku menghukummu, tapi kau sudah tahu bahwa kau salah dan sudah memukul dirimu sendiri. Aku akan memaafkan kalian!"

Si pendek sudah membantu si kurus membuka totoknya, mereka berjalan menghampiri Lo-toa.

"Begitu mendengar permintaan maaf kalian, sekarang kalian baru boleh pergi"

Mereka langsung menghampiri nyonya itu. Si pelajar itu marah dan berkata.

"Kalian mengapa tidak sopan?"

Dia langsung berlutut kepada U-bun hujin. Mereka berdua pun dengan cepat berlutut kepada nyonya itu, mereka mengikuti Lo-toa menampar pipi mereka sendiri dan berkata.

"Kami yang bersalah, maafkan kami!"

"Kalian pergilah!"

Kata U-bun hujin. Setelah mereka pergi, pemuda itu berkata.

"Sheku U-Bun bernama Hoo, siapa nama Toako? Apakah pecut ini milikmu?"

Kata Kie Su-giok.

"She ku Kie bernama Giok, pecut itu memang milikku."

Dia menghilangkan nama 'Su' nya karena nama itu adalah nama perempuan, bila nama 'Giok' laki-laki pun banyak yang memakainya.

Tapi Ting-coa-pian adalah senjata yang jarang ada, ditambah lagi she nya adalah Kie, bila orang sering berkelana di dunia persilatan, dia akan tahu dan menghubung-hubungkannya dengan Kie Yan-gan.

Kie Su-giok pun sempat memikirkan hal ini, tapi karena ibu dan nnak ini adalah dewa penolongnya, maka Su-giok tidak ingin membohongi mereka, di lain pihak dia pun bangga bisa menjadi cucu Kie Yan-gan, mengubah nama boleh-boleh saja, tapi tidak untuk mengubah marga!

Dia sudah siap bila nyonya itu bertanya tentang hubungannya dengan Kie Yan-gan.

Tapi nyonya itu hanya tertawa dan berkata.

"Kie Siauya, kau masih begitu muda, tapi ilmu silatmu lumayan juga!"

Kelihatannya U-bun hujin tidak tahu bahwa dia adalah seorang gadis. Wajah Kie Su-giok menjadi merah dan berkata.

"Bila bukan karena bantuan dari Cianpwee, mungkin aku sudah mati, dipuji oleh Cianpwee membuatku malu saja."

Kata U-bun hujin.

"Jangan terlalu merendahkan hati, mereka bertiga adalah pesilat tangguh, apalagi si Lo-toa, bila aku tidak membantu kau ditambah lagi anakku pun belum tentu bisa mengalahkannya. Mereka bertiga sebenarnya tidak terlalu jahat, tidak merampok dan juga tidak membunuh orang. Mengapa Tuan Kie bisa bermusuhan dengan mereka?"

Jawab Su-giok.

"Aku tidak kenal dengan mereka, juga tidak tahu julukan mereka adalah Kim-Ieng-sam-eng."

U-bun hujin menjelaskannya.

"Lo-toa itu bernama Ceng Jauw-yang, yang pendek adalah Lo-ji bernama Lok Hong, yang tinggi adalah Lo-sam bernama Lu Cu-kau."

Tanya U-bun hujin lagi.

"Kau tidak mengenal mereka, mengapa mereka mencari ribut denganmu?"

"Aku pun tidak tahu."

Jawab Kie Su-giok. Karena nyonya itu tidak menanyakan identitasnya maka Kie Su-giok pun tidak dapat bercerita. Kata U-bun Hoo.

"Orang yang berkecimpung di dunia hitam dan pernah belajar ilmu silat, yang mereka cari adalah, pertama, senjata yang langka, kedua, kuda yang bagus. Mungkin dia melihat pecutmu hingga ingin memilikinya."

Begitu dia mengatakan kuda yang bagus, Kie Su-giok langsung mencari kudanya yang sudah mati. Sengaja U-bun Hoo bertanya.

"Kie-heng, di mana kudamu?"

Dengan sedih Kie Su-giok berkata.

"Dibunuh oleh perampok itu!"

Kie Su-giok menjadi sedih mengatakan tentang kudanya. Kata U-bun Hoo.

"Aku mempunyai obat yang bagus, bisa mengobati orang juga mengobati kuda, coba aku akan lihat apakah kudamu masih bisa ditolong?"

Kie Su-giok sangat berharap kudanya bisa ditolong, begitu melihat U-bun Hoo berkata.

"Sayang kudamu terluka otaknya dan sudah mati, kuda ini adalah kuda unggulan, walaupun sudah sedikit tua, tapi bila dibandingkan dengan kuda biasa, dia masih unggul."

Jawab Kie Su-giok dengan tawa kecut.

"Dari kecil kuda ini sudah berteman denganku, karena aku tidak mau berpisah dengannya, maka aku membawanya, tidak kusangka dia akan mati di sini."

Kata U-bun Hoo.

"Kau kehilangan kuda yang bagus, mau mencari kuda yang lain pun akan sulit, sepertinya kau pun ingin cepat-cepat pergi, apakah benar?"

Kie Su-giok mengangguk. Kata U-bun Hoo.

"Sayang kudaku hanya ada 2, bila tidak aku akan memberikan satu untukmu."

Dia bertanya lagi.

"Kie-heng, kau mau ke mana sebenarnya?"

Jawab Kie Su-giok.

"Aku mau ke ibukota, tapi tidak tergesa-gesa, hanya sudah berjanji dengan teman untuk bertemu di ibukota, dia sudah pergi 5 atau 6 hari yang lalu aku takut bila dia tidak bertemu denganku, dia akan pergi begitu saja."

Kata U-bun hujin.

"Kau tidak perlu khawatir, kami kebetulan akan pergi ke ibukota, bila kau mau ikut, ikutlah bersama kami."

Kie Su-giok tampak ragu dan berkata.

"Kita baru berkenalan, aku takut menganggu"

Kata U-bun hujin.

"Benar, kita memang baru bertemu, tapi kita bukan tidak kenal sama sekali."

Walaupun pengalaman Kie Su-giok di dunia persilatan tidak banyak, tapi Kie Su-giok tidak tahu siapa nyonya itu, dia terlihat sangat misterius.

"Tapi pasti dia bukan orang jahat, bila tidak dia tidak akan mau membantuku."

Segera Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Aku berhutang budi kepada kalian, sekarang harus menyusahkan kalian lagi, itu sangat tidak pantas."

U-bun Hoo tertawa dan berkata.

"Kie-heng, aku lihat kau adalah seorang pendekar muda, mengapa perilakumu seperti seorang gadis? Kita sangat cocok, mengapa kau begitu sungkan? Di rumah kita bisa mengandalkan orang tua, bila di luar kita mengandalkan teman, mungkin suatu hari nanti aku akan minta bantuan kepadamu!"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Bila Kie Siauya tidak keberatan, kalian berdua jadilah saudara angkat yang berbeda she, bagaimana menurutmu?"

Usul ini datang secara tiba-tiba dan tidak pernah terpikir oleh Kie Su-giok Pertama, dia berhutang budi kepada mereka, kedua, Kie Su-giok pun menyukai ibu dan anak ini, ketiga, dia ingin cepat-cepat tiba di ibukota untuk mencari Wie Thian-hoan.

Dalam keadaan seperti ini dia tidak mempunyai banyak waktu untuk berpikir, akhirnya dia setuju umur U-bun Hoo lebih tua 4 tahun darinya, dia dan U-bun Hoo dengan memberi Pai (hormat) sebanyak 8 kali, setelah itu dia memanggilnya Toako, kemudian berlutut kepada U-bun hujin dan memanggilnya Gi-bo (ibu angkat).

U-bun hujin sangat senang dan berkata.

"Anakku, aku tidak mempunyai hadiah untukmu, bunga mutiara ini akan kuberikan untukmu"

Kata Kie Su-giok "Hadiah ini terlalu mahal, aku tidak berani menerima"

"Aku memberikan hadiah ini bukan tanpa alasan, tadi aku menjatuhkan panah Kin Lo-toa dengan mutiara ini. Mutiara ini boleh kau simpan untuk kenangan nanti kau bisa memberikannya kepada menantuku!"

U-bun Hoo tertawa dan berkata.

"Ibu sangat teliti, hadiah untuk menantu pun sejak sekarang sudah dipersiapkan."

Wajah Kie Su-giok menjadi merah karena takut mereka curiga, dia jadi menerimanya. Dengan tertawa U-bun hujin berkata.

"Mulai saat ini hubungan kita adalah ibu dan anak. Biarlah Toakomu yang menjadi kusir, kau temani aku saja."

Kie Su-giok baru tahu mengapa U-bun hujin ingin Kie Su-giok menjadi saudara angkat anaknya karena U-bun hujin tidak mau dicurigai oleh orang lain.

Kie Su-giok sangat senang karena U-bun hujin tidak tahu bahwa dia adalah seorang perempuan Kata U-bun hujin.

"Kau tidak perlu sungkan, Toakomu jadi kusir karena kedua ekor kuda itu sangat menurut kepadanya."

Kie Su-giok duduk di dalam kereta benar saja kereta itu ditarik dengan kuda yang berlari dengan cepat dan mantap.

Sepanjang jalan mereka mengobrol hal-hal yang biasa begitu Kie Su-giok menanyakan Pek-toh-san berada di mana?

Segera dia menjawab.

"Pek-toh-san sangat jauh, berada di Tibet, aku memberitahumu pun kau belum tentu tahu, ayah angkatmu bernama Lui, kami punya seorang anak dan itu adalah kakakmu. Dia tidak pernah ke selatan, kali ini aku membawanya ke ibukota untuk melihat-lihat karena kami mempunyai keluarga yang baru pindah ke ibukota."

Dalam hati Kie Su-giok berpikir.

"Pantas kakek tidak mengenal keluarga U-bun karena mereka tinggal sangat jauh."

Tapi Kie Su-giok merasa aneh dan dia bertanya.

"Apakah ayah angkatku adalah suku bangsa Han?"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Apakah kau melihat kami memakai baju aneh maka kau mengira kami adalah suku bangsa Tibet?"

U-bun hujin berkata lagi.

"Nenek moyang ayah angkatmu adalah orang Tibet, tapi mereka lebih senang beristri orang Han, maka kami seperti bangsa Han"

Dia hanya bercerita sedikit mengenai keluarganya tentang dunia persilatan sepatah kata pun dia tidak bercerita. Kata Su-giok.

"Sejak kecil ayah dan ibuku sudah meninggalkanku. Aku diajar ilmu silat oleh kakek dan pelayan tua keluarga kami."

Dalam hati Su-giok berpikir, 'Kakek sudah mengundurkan diri jari dunia persilatan, kecuali beberapa orang teman, yang lain tidak pernah dia ceritakan.

Bila ibu angkat menanyakannya aku tetap harus bercerita!' Di luar dugaan Su-giok, U-bun hujin sama sekali tidak bertanya-tanya dia hanya berkata, 'Di dunia persilatan banyak orang aneh, mungkin kakekmu sudah bosan dengan kehidupan yang ramai dan dia ingin menenangkan diri,' dia pun tidak menanyakan nama kakeknya.

Kereta kuda berjalan sangat cepat, hari kedua mereka sudah tiba di pinggiran Huang-ho.

Kata U-bun hujin.

"Kita bisa melihat keindahan sungai Huang-ho dari tempat tinggi tapi sayang kita tidak punya waktu untuk menikmatinya. Tapi kita bisa berjalan lebih lambat untuk melihat-lihat gunung dan dataran yang rendah."

Mereka menggulung tirai dan melihat pemandangan indah di luar.

Kie Su-giok merasa sangat senang karena dia sudah mulai merasa bosan berada di dalam kereta terus.

Tiba-tiba terdengar bunyi derap kuda, ternyata di persimpangan jalan itu ada 5 orang yang sedang menunggang kuda dengan cepat.

Kata U-bun Hoo.

"Di sini adalah persimpangan dari 3 propinsi, mereka berjalan begitu terburu-buru sepertinya mereka orang-orang dunia hitam."

Tanya Kie Su-giok.

"Dari mana kau bisa tahu?"

Kata U-bun Hoo.

"Karena ini adalah persimpangan 3 propinsi, pemerintah daerah sering menimpakan tanggung jawab kepada masing-masing daerah."

Kata Kie Su-giok.

"Kali ini kau salah lihat karena dari pakaian mereka dapat dipastikan bahwa mereka adalah kaum pendeta To!"

Kata U-bun hujin Hao.

"Siapa pun mereka, kita jalan terus jangan urusi mereka!"

Tiba-tiba seorang tosu yang berada di paling belakang berkata.

"Apakah kalian lihat siluman perempuan itu?"

Yang satu lagi berkata.

"Mengapa siluman itu bisa muncul disini? Apakah kita..."

Dia takut didengar orang, suaranya semakin kecil, kata-kata yang di belakang tidak terdengar lagi.

Kie Su-giok adalah orang yang bisa ilmu silat, telinganya sangat tajam walaupun suara mereka tidak besar, tapi semua terdengar oleh Kie Su-Giok.

Kata U-bun Hoo.

"Mereka sudah tidak sopan, apakah kita harus memberi pelajaran keada mereka?"

U-bun hujin menggelengkan kepala dan berkata.

"Kita bukan takut kepada mereka, pertama aku hanya cemas kepada sifat pemarahmu, bila sudah mengatakan hal yang tidak baik pasti akan membuat keributan. Kedua, adikmu juga buru-buru ingin ke ibukota, jangan karena masalah kecil, perjalanan kita jadi terganggu."

Terpaksa U-bun Hoo menjalankan keretanya lagi, tapi 5 tosu itu malah mendekat mereka dan menghadang kereta kuda itu.

"Apakah kalian mau merampok?"

Tanya U-bun Hoo. Kelima tosu itu melihat bahwa dia adalah Siauya yang kaya, mereka pun terkejut, tosu yang agak tua berkata.

"Kami adalah tosu Hoa-san, bukan perampok!"

"Apakah kalian ingin minta makan?"

Tanya U-bun hoo.

"Kami juga bukan ingin meminta makan."

"Lalu kalian mau apa?"

"Maafkan kami, kami ingin..."

"Ingin apa? Cepat katakan saja!"

"Melihatmu membawa pedang sepertinya kau pun orang persilatan."

Kata tosu itu "Bila benar, lalu mau apa?"

Tosu itu bertanya lagi.

"Siapa orang yang berada dalam kereta?"

"Apa maksudmu?"

Tanya U-bun Hoo.

"Anak Hoo, beritahu saja kepada mereka!"

Kata U-bun hujin. Kata U-bun Hoo.

"Dia adalah ibuku dan masih ada adikku, mengapa kau tanya-tanya?"

Matanya melotot, bila mereka tidak sopan dia akan segera bergerak.

"Apakah kami bisa bertemu dengan adik dan ibumu?"

U-bun Hoo marah dan berkata.

"Jangan tidak sopan kepada ibuku!"

Kata U-bun hujin.

"Tanya kepada mereka, mengapa harus bertemu denganku?"

Jawab tosu itu.

"Siauya jangan marah, kami adalah tosu, perempuan dan laki-laki adalah sama di mata kami. Kami akan sopan kepada ibumu."

Kata U-bun Hoo.

"Kalian adalah tosu, mengapa harus bertemu dengan ibuku?"

"Kami adalah murid Hoa-san, kali ini diperintahkan untuk turun gunung oleh ketua kami. Untuk mencari seorang perempuan yang ada hubungannya dengan perkumpulan kami."

"Ada hubungan apa?"

Tanya U-bun hujin. Jawab tosu itu dengan ragu-ragu.

"Ketua tidak menjelaskan penyebabnya, kami juga tidak tahu."

Kie Su-giok mengintip dari dalam, dalam hati dia berpikir.

"Kelihatannya dia tahu hanya tidak mau mengatakannya, mengapa keluarga Pek-toh-san yang jauh bisa ada kaitannya dengan Hoa-san-pai? Thian Koan tojin dan Thian Hian tojin berteman dengan kakeknya, bila antara Hoa-san-pai dengan keluarga Pek-toh-san ada perselisihan, mereka pasti akan memberitahu kakeknya. Kakek sering bercerita tentang orang-orang terkenal di dunia persilatan, mengapa tidak pernah mendengar nama U-bun hujin? Apakah mereka benar mencari ibu angkatku?"

Terdengar U-bun Hoo bertanya.

"Kau mencurigai ibuku?"

"Kami hanya akan bertemu sebentar dan akan menjelaskan apa sebabnya."

Kata U-bun Hoo.

"Aku dan ibuku baru datang dari Tibet, di mana Hoa-san pun kami tidak tahu, kami pun tidak tahu bagaimana bisa ada hubungan dengan Hoa-san-pai?"

Kata tosu itu.

"Kita sama-sama orang persilatan, aku adalah seorang tosu biar bagaimanapun, ijinkan kami bertemu dengan nyonya!"

Tanya U-bun hujin.

"Apakah kalian pernah bertemu dengan perempuan itu?"

"Beberapa hari yang lalu kami pernah bertemu dengannya karena tidak dapat mengejarnya, tugas kami tidak dapat diselesaikan."

Kata U-bun hujin.

"Baiklah, kita temui mereka. Anak Giok, kau pun ikut keluar, nanti mereka akan curiga bila kau tidak keluar."

Tosu itu menyuruh temannya yang lain turun dari kuda, karena itu adalah cara yang sopan menghadapi orang.

Kedua belah pihak saling melotot, seperti keluar hawa ingin membunuh.

U-bun hujin seperti kebingungan, karena ditatap oleh 5 pasang mata.

Ada satu tosu berteriak "Siluman yang..."

"Jangan sembarangan bicara!"

Kata tosu yang lebih tua. Tanya U-bun hujin.

"Yang kau sebut siluman itu apakah yang dia maksud siluman perempuan?"

Tosu tadi menjawab.

"Benar!"

"Apakah kalian sudah melihat dengan jelas? Apakah aku adalah siluman perempuan itu?"

Tanya U-bun hujin.

Tosu tua itu tampak ragu dan tidak langsung menjawab, dalam hati dia berpikir, 'Wajahnya sama tapi cara berpakaiannya tidak sama, sikapnya pun tidak sama walaupun ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi dia pun tidak akan dengan cepat sampai ke sini.

Perempuan ini sangat anggun dan kaya, siluman perempuan itu tidak mungkin bisa menirunya"

"Tidak benar, tidak benar!"

Katanya.

"Apa yang tidak benar?"

Kata U-bun Hoo.

"Maaf, kami salah mengenali orang."

Dengan tertawa dingin U-bun hujin berkata.

"Ternyata aku mirip dengan siluman perempuan itu, hari ini aku baru tahu!"

Kata U-bun Hoo.

"Apakah kalian akan pergi begitu saja?"

"Aku sudah minta maaf!"

Kata tosu itu.

"Aku mau kalian menampar diri sendiri sebanyak 50 kali dan berlutut hingga kepala menyentuh tanah sebanyak 10 kali."

Tosu yang pemarah itu berkata.

"Murid Hoa-san hanya bisa dihukum oleh ketua, tidak terima hukuman dari siluman...'"

Belum habis kata-kata tosu itu, U-bun Hoo sudah berada di depannya.

Tosu itu bernama Leng Siau, dia adalah murid Thian Ki tojin, begitu dia tahu U-bun Hoo ada di depannya langsung memutar tubuhnya dan menangkap U-bun Hoo untuk dibanting tapi U-bun Hoo lebih cepat menangkapnya dan lebih telengas membantingnya.

Terdengar suara 'KRETAK' dan tangan Leng Siau sudah patah.

Tosu yang lebih tua ingin menolongnya tapi sudah terlambat dan Leng Siau sudah terbanting ke tanah.

Tosu yang agak tua adalah murid Thian Koan, ilmu silatnya lebih tinggi dari Leng Siau, dia bernama Leng Hi, dia melihat U-bun Hoo begitu telengas dia pun mulai marah.

Segera Leng Hi berkata.

"Bocah kecil, kau berani melukai orang, aku akan menghadapimu!"

Jarinya segera ditekuk berbentuk kait dan mencengkram pundak U-bun Hoo. U-bun hujin yang berada di pinggir melihat pertarungan ini berkata.

"Itu adalah ilmu silat Hoa-san yang bernama Liong-jiauw-jiu (Cakar Naga)."

Kie Su-giok merasa aneh, rumah mereka begitu jauh, mengapa bisa tahu jurus dari Hoa-san, yaitu Liong-jiauw-jiu?

Liong-jiauw-jiu adalah salah satu dari 3 jurus ilmu silat Hoa-san yang paling dahsyat.

Murid-murid Hoa-san bila tidak bertemu dengan musuh kuat, mereka tidak akan mengeluarkan jurus ini, Kie Su-giok pernah mendengar cerita ini dari kakeknya.

U-bun hujin seperti tahu pikiran Kie Su-giok dan berkata.

"Hoa-san-pai adalah perkumpulan besar, walau kami tinggal di tempat jauh, tapi kami pun tahu ilmu mereka yang paling dahsyat"

Sepertinya dia tidak khawatir putranya bertarung dengan musuh yang kuat Kata U-bun Hoo.

"Liong-jiauw-jiu milik Hoa-san memang bagus, tapi tosu busuk ini belum sempurna menguasai semua jurus ini."

Sambil bicara dia sudah menghindari 3 jurus Liong-jiauw-jiu, dia malah balik menyerang Ling Hi, dia tahu bahwa serangan itu sangat lihai, dia merebah jurus serangannya dan ini adalah jurus mematikan yang bernama Ngo-seng-koan (Kepalan Tangan 5 Arah)."

Jari U-bun Hoo menusuk ke arah tenggorokan Leng Hi.

Leng Hi sudah bertekad bertarung untuk hidup dan mati, dia sudah tidak memikirkan untuk melindungi dirinya sendiri, dia terus menyerang, dia bertarung sepertinya, dia sudah siap untuk mati bersama.

Dengan tertawa dingin, U-bun Hoo berkata.

"Mau mengadu nyawa, baru saja bisa ilmu silat sedikit sudah begitu sombong, kau seperti mimpi di siang hari bolong!"

U-bun Hoo pun merebah jurusnya lagi, jarinya diganti menjadi telapak tangan, kecepatannya tidak dapat dilukiskan.

Segera dua telapak tangan bentrok, Leng Hi seperti lilin yang ditiup angin bergoyangan, tenaga telapak U-bun Hoo tidak berubah posisi tubuh sedikit pun, dia berteriak.

"Berlutut!"

Tangannya ditarik dan menekan pundak Leng Hi. Leng Hi mundur beberapa meter dan muntah darah, tapi dia tetap tidak mau berlutut Kata U-bun Hoo.

"Siapa yang tidak mau berlutut, aku akan bunuh orang itu!"

Tosu yang pertama dibanting adalah Leng Siau, karena sudah retak dan patah tulang tangannya sekarang dia kesakitan hingga berguling-guling di tanah, sambil menahan sakit dia berkata.

"Hoa-san-pai tidak pernah akan mau dihina!"

Dia bangun dan berusaha melawan, tapi dia sudah kehabisan tenaga dan roboh.

Di antara mereka berlima, yang paling tinggi ilmu silatnya adalah !x;ng Hi, tapi baru saja mengeluarkan 5 hingga 6 jurus, sudah kalah.

Sekarang yang tersisa hanya ada 3 orang, walaupun tahu tidak bisa menahan serangan U-bun Hoo, mereka tetap maju terus, mereka bertiga adalah murid Thian Bu tojin, mereka mempunyai barisan Sam-cai-kiam-hoat (Siasat 3 Pedang).

Tiga pedang panjang seperti hujan menyerangnya.

Mereka juga tidak melindungi diri lagi, mereka maju begitu cepat membuat hati Kie Su-giok tergetar dan sekaligus terkejut Dia ingin maju membantu, tapi tiba-tiba terdengar suara pedang yang patah, ternyata U-bun Hoo sudah mengeluarkan pedangnya dan memotong hingga putus pedang mereka bertiga.

Kie Su-giok tidak menyangka serangan U-bun Hoo begitu cepat, kie Su-giok mengira U-bun Hoo akan membunuh mereka, maka dia berleriak.

"Toako, kau tidak boleh membunuh mereka!"

Tapi sudah terlambat, ketiga tosu itu sudah terkena sabetan pedangnya dan roboh.

Hati Kie Su-giok merasa tidak enak, tapi bila dilihat lebih teliti lagi mereka bertiga tidak terluka dan tidak keluar darah, U-bun Hoo bertanya.

"Mengapa tidak boleh membunuh mereka?"

"Aku mengira kau mau membunuh mereka, ternyata kau hanya menotok jalan darah mereka."

Pada saat itu tosu Leng Hi sudah datang menyerang, sambil bicara U-bun Hoo mencengkram tulang pundak Leng Hi dan berkata.

"Aku sudah mengatakan bila tidak mau berlutut untuk minta maaf, aku tidak akan melepaskan kalian!"

"Aku yang paling tua, kau bunuh saja aku!"

Kata Leng Hi.

"Demi aku, tolong lepaskan mereka!"

Kata Kie Su-giok.

"Apakah kau kenal dengan tosu-tosu bau itu?"

Kata U-bun Hoo.

"Aku tidak mengenalnya."

"Mengapa kau membela mereka?"

Tanya U-bun Hoo.

"Tapi mereka adalah tosu-tosu dari Hoa-san!"

"Apakah tosu-tosu Hoa-san tidak boleh dibunuh?"

Kie Su-giok tidak ingin mengatakan bahwa Hoa-san-pai adalah teman kakeknya, dia hanya berkata.

"Hoa-san-pai adalah perkumpulan lurus, harap beri kelonggaran kepada mereka!"

"Bagaimana caranya?"

"Tanyakanlah kepada ibu angkat!"

Kata U-bun hujin.

"Anak Hoo, adikmu benar, jangan karena masalah kecil harus sampai membunuh orang!"

Jawab U-bun Hoo.

"Ibu, mereka sudah mengeluarkan kata-kata kotor dan menghinamu, ini bukan masalah kecil!"

Kata U-bun hujin.

"Aku pun tidak tahu, mereka menganggapku sebagai siluman perempuan, aku pun merasa aneh, tapi sekarang mereka tidak perlu berlutut untuk minta maaf."

Dia melemparkan 3 keping uang logam perak dan tepat mengenai 3 jalan darah tosu-tosu itu dan totokan jalan darahnya segera dibuka oleh tiga keping uang logam itu.

Leng Hi sangat kagum melihat kemampuan nyonya itu.

Dalam hati dia berpikir, 'Yang aku dengar siluman perempuan itu tidak mempunyai anak walaupun dia sedikit genit, belum tentu dia ini adalah siluman itu!' Leng Siau mengangkat tangannya yang sudah putus berjalan menghampiri mereka, kata U-bun hujin.

"Anak Hoo, berilah obat kepadanya dan balutlah lukanya!"

Itu adalah obat buatan Pek-toh-san, khasiatnya sangat manjur. Leng Siau tidak melihat ibu dan anak itu lagi, langsung berjalan menghampiri Leng Hi, dia berkata.

"Suheng, tolong sambungkan lenganku!"

Leng Hi menatap Leng Siau, dia merasa tidak enak hati maka dia pun berkata.

"Terima kasih, Nyonya. Kami sudah mempunyai obat-obat jadi tidak perlu obat kalian lagi."

Cara mengobati tulang yang patah ternyata sangat mahir dalam waktu singkat tulang Leng Siau sudah tersambung dan segera diobati. Setelah selesai Kie Su-giok bertanya.

"Ibu angkatku bertanya, apakah kalian bersedia menceritakan hal sebenarnya?" 'Tanyalah apa yang ingin kau ketahui. Yang bisa aku jawab pasti aku akan jawab!"

Kata Leng Hi. U-bun hujin tidak menyuruh mereka berlutut untuk minta maaf ini pun sudah membuat mereka malu, dia pun tidak berani berbuat tidak sopan dan sombong lagi.

"Guruku adalah Thian Koan tojin."

Kata Leng Hi.

"Bukankah Thian Koan adalah ketua Hoa-san?"

"Benar, tapi guruku sudah meninggal, sekarang ini digantikan sementara oleh Thian Bu tojin."

Tanya Kie Su-giok.

"Kapan dan mengapa?"

Dalam hati dia berpikir, 'Kakek dan Thian Hian tojin adalah teman, bila ketua Hoa-san-pai meninggal, Thian Hian tojin pasti akan memberitahu kakek, kecuali hal ini baru terjadi!"

"Bulan ini tanggal 3."

Jawab Leng Hi. Tanya Kie Su-giok.

"Apakah kematian gurumu ada seseorang yang dicurigai?"

Jawab Leng Siau dengan marah.

"Dia dibunuh oleh orang, yang kami kejar saat ini adalah siluman itu, dia patut dicurigai!"

Dia menatap curiga kepada U-bun hujin bahwa dia adalah siluman itu, dalam hati dia berpikir, 'U-bun hujin tidak pernah mengaku, lebih baik aku marahi dia saja!' Kata U-bun hujin.

"Sepertinya aku mirip dengan siluman perempuan itu?"

Tanya U-bun hujin lagi.

"Siapa nama siluman perempuan itu?"

Leng Siau dan Leng Hi tidak mau menjawab. Kata U-bun hujin.

"Bila kalian tidak ingin mengatakannya, aku tidak akan memaksa, kita sebut dia siluman perempuan saja. Ketua kalian dibunuh, apakah kalian pernah melihat pembunuhnya di Hoa-san?"

Jawab Leng Siau dengan mata melotot kepada U-bun hujin.

"Satu jam yang lalu sebelum bertemu denganmu!"

Tanya U-bun hujin.

"Apakah kalian jelas melihatnya?"

Jawab Leng Hi.

"Ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi, begitu kami menemukan jejaknya, dia sudah melepaskan senjata rahasia yang mengandung asap beracun. Dia melarikan diri dalam kabut asap itu, jujur bicara kami hanya sekilas melihatnya."

Dia takut adiknya membuat masalah lagi, dia sendiri yakin bahwa U-bun hujin bukan perempuan siluman itu.

Tapi dia sudah dapat menebak hubungan di antara kedua orang itu sangat erat.

Kie Su-giok tidak tahu identias perempuan siluman itu.

Setelah mendengar mereka bercerita, hatinya kembali tenang, dia tertawa dan berkata.

"Kalian hanya dengar dari orang lain dan tidak melihat jelas wajahnya, kalian bilang siluman itu wajahnya mirip dengan wajah ibu angkatku, ini hanya dugaan kalian saja!"

Kata Leng Hi.

"Siauya memang benar karena kami ingin balas dendam hingga salah melihat orang,"

Dia tidak ingin terjadi hal lain lagi.

Asal tidak dihina itu sudah cukup, dia akan kembali segera ke Hoa-san dan melapor, guru mereka akan memberi petunjuk.

Leng Siau mengerti maksud kakaknya, dia tidak mau melihat U-bun hujin lagi, bila melihat kemarahannya akan muncul kembali.

Kata Kie Su-giok.

"Mereka mengatakan 1 jam sebelumnya bertemu dengan siluman itu, apakah mereka tidak salah?"

Leng Siau dan Leng Hi bersamaan menjawab.

"Tidak salah!"

Kie Su-giok tertawa terbahak-bahak. Leng Siau dan Leng Hi melihat Kie Su-giok tertawa menjadi aneh.

"Sejam yang lalu kami sedang bertarung dengan Kim-leng-sam-eng, perempuan siluman itu pasti bukan ibu angkatku."

Kata Kie Su-giok. Leng Siau merasa aneh mengapa Kim-leng-sam-eng bisa berada di sana juga Kata Kie Su-giok.

"Apakah kalian tidak mempercayai kata-kataku?"

"Kami tahu kami sudah salah mengenal orang, maafkan kami sudah tidak sopan."

Kata Leng Hi, Leng Siau pun mengikuti dia minta maaf.

"Tidak apa-apa "Kata U-bun hujin tersenyum.

"Terima kasih nyonya sudah mau berlapang dada dan tidak marah kepada kami, apakah bisa memberitahu nama kedua Siauya ini?"

Leng Hi tidak berani langsung menanyakan nama dan she suami U-bun hujin, maka dia bertanya kepada putranya. U-bun Hoo melihat ibunya dan U-bun hujin mengangguk. Dengan dingin U-bun Hoo berkata.

"Aku tidak takut kalian akan balas dendam. Kalian dengan baik-baik margaku adalah U-bun namaku Hoo. Kami ibu dan anak berasal dari Pek-toh-san, dia adalah adik angkatku, she nya Kie bernama Giok"

Leng Hi tertawa dan berkata.

"Kesalahan kami sudah dimaafkan. Aku mengucapkan banyak icrima kasih."

Tiba-tiba dia bertanya kepada Kie Su-giok.

"Kie Siauya, siapa nama ayahmu?"

"Ayahku sudah lama meninggal, mengapa menanyakan nama ayahku?"

Jawab Kie Su-giok U-bun Hoo sudah tidak sabar dan berkata.

"Ibuku sudah memaafkan kalian, mengapa masih banyak omong?"

Leng Hi menjawab.

"Kami hanya merasa aneh,"

Dia langsung berjalan. Dia berkata seperti itu malah membuat U-bun Hoo merasa curgia, dia berseru.

"Berhenti!"

Jawab Leng Hi sambil membalikkan tubuh.

"Siauya ada pesan apa?"

"Mengapa kau merasa aneh?"

Leng Hi tampak ragu kemudian dia menjawab.

"Apakah Kie Siauya dan pesilat nomor satu Kie Yan-gan adalah satu keluarga?"

Jawab Kie Su-giok.

"Apakah ada she Kie yang begitu terkenal? Aku baru pertama kali mendengarnya."

Kata Leng Hi.

"Kalau begitu, Kie Siauya dan keluarga Kie tidak mempunyai hubungan apa-apa, sungguh sangat disayangkan!"

Kie Su-giok menjadi bengong dan bertanya.

"Apa yang disayangkan?"

Leng Hi berkata lagi.

"Aku bertanya tentang satu orang lagi, orang itu adalah putra Coh Kim-sung yaitu Coh Thian-su dari Yang-ciu, apakah Siauya kenal dengannya?"

Sengaja dia memperhatikan raut wajah Kie Su-giok Kekasih Kie Su-giok bukan Coh Thian-su, tapi dia sangat memperhatikan Coh Thian-su, mendengar Leng Hi menanyakannya, hati Kie Su-giok menjadi terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Apakah sudah terjadi sesuatu kepada Coh Thian-su?' tapi dengan segera dia menjawab.

"Bila kenal dengannya bagaimana? Bila tidak kenal bagaimana juga?"

"Bila tidak kenal tidak perlu dibicarakan lagi."

Terpaksa Kie Su-giok menjawab.

"Aku dan dia hanya bertemu satu kali, apakah ini termasuk teman juga. Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Pada waktu guruku meninggal, dia pun ke Hoa-san untuk memberi ucapan bela sungkawa. Dia ingin ke ibukota untuk mencari ayahnya karena ada berita buruk menyangkut keselamatan keluarganya. Dia tahu bahwa berita ini ada hubungannya dengan orang nomor satu di dunia persilatan!"

Jawab Leng Hi. Kie Su-giok ingin tertawa.

"Berita dunia persilatan menyebar sangat cepat, mungkin berita mengenai Coh Thian-su diserang di rumahku sudah sampai di Hoa-san dan dia mendengar dari gurunya."

Coh Thian-su sudah diwanti-wanti oleh kakeknya untuk tidak menyebarkan berita ini, mungkin dia hanya menceritakannya secara singkat.

Nyawa Coh Thian-su pun ditolong oleh kakeknya, mengapa keluarganya menjadi ancaman untuk keluarga Coh Thian-su?

Belum habis berpikir, Leng Hi berkata lagi.

"Apakah Siauya tahu bahwa 20 tahun yang lalu, di dunia persilatan ada seorang penjahat besar bernama Kie Lek-beng, dia adalah putra dari pesilat nomor satu di dunia persilatan? Dia sudah menghilang selama beberapa tahun, sekarang dia sudah kembali lagi ke dunia persilatan Kudengar Kie Lek-beng merasa dendam kepada Coh Kim-sung dari Yang-ciu, dia ingin membunuh seluruh keluarga Coh Kim-sung."

Walaupun Kie Su-giok tidak pernah bertemu dengan ayahnya tapi dari mulut kakeknya dia tahu bahwa nama ayahnya adalah Kie Lek-beng, dia terkejut dan dia berpikir, 'Bukankah ayahku sudah meninggal?

Apakah dia bisa hidup kembali?' "Walaupun Coh Kim-sung masuk ke dalam 10 besar pesilat tangguh karena yang akan membunuhnya adalah Kie Lek-beng, Coh Kim-sung pun susah melepaskan diri dari ancaman ini!

Kie Siauya, bila kau adalah saudara dari keluarga Kie Lek-beng aku ingin menasihati Kie Lek-beng, lepaskanlah keluarga Coh!

Sayangnya kau bukan keluarga Kie Lek-beng!"

Kata Leng Hi. Kie Su-giok tertawa kecut dan berkata.

"Yang sangat kau sayangkan, apakah mengenai hal ini?"

"Apakah masih ada cerita lain yang ingin kau ceritakan kepada kami?"

Kata U-bun hujin. Leng Hi tertawa dan menjawab.

"Maafkan aku karena sudah terlalu banyak omong sehingga membuat nyonya merasa terganggu, sekarang aku pamit dulu!"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Walaupun ceritamu itu tidak ada hubungannya dengan kami, tapi aku bisa menambahkan kabar yang bisa kuperoleh, aku tidak akan mengganggu kalian lagi, bila mau pergi, pergilah!"

Kelima tosu itu sudah pergi, hati Kie Su-giok masih tidak tenang.

Dia berpikir, 'Apakah ada orang yang namanya sama dengan nama ayahku?

Orang ini membuat Hoa-san-pai percaya bahwa Kie Lek-beng bisa membunuh Coh Kim-sung.' Dia berpikir lagi, 'Bila ayah memang benar-benar masih hidup dan mau membunuh keluarga Coh Kim-sung, aku harus bagaimana?' Dia terus berpikir, 'Tapi itu tidak mungkin, sebelum aku lahir ayah sudah meninggal, kakek dan Paman Ting selalu berkata seperti itu, bila ayah masih hidup, mengapa dia tidak pulang?' Dia sangat bingung, di satu sisi dia ingin ayahnya hidup, di sisi lain dia takut apa yang diceritakan oleh Leng Hi semua itu adalah benar, Kakeknya menolong Coh Thian-su karena ayahnya ingin membunuh Coh Kim-sung.

Sewaktu dia masih dalam keadaan bingung, terdengar U-bun Hoo berkata.

"Tosu-tosu itu ternyata ilmu silatnya biasa-biasa saja, tapi dia senang bercerita berlebihan, membuat orang ingin tertawa."

Kata U-bun hujin.

"Kau selalu memberi komentar yang tidak benar, aku tidak merasa cerita mereka itu menggelikan!"

"Ibu kau selalu mengatakan bahwa setiap perkumpulan mempunyai ilmu silat unggulan, mana yang dia sebut sebagai pesilat nomor satu itu?"

Dia membalikkan tubuh dan berkata kepada Su-giok.

"Adik Giok, bukan aku menghina keluarga Kie, aku hanya tidak percaya bahwa di dunia ini ada pesilat nomor satu, apakah kau percaya?"

Jawab Kie Su-giok.

"Aku pun tidak percaya, tosu-tosu bau itu tahu apa? Yang mereka sebut keluarga Kie itu, mungkin ilmu silatnya lebih tinggi dari gurunya, mereka kira itu adalah ahli silat nomor satu. Aku percaya mungkin ayah angkatlah yang layak menyandang julukan orang nomor satu di dunia persilatan."

U-bun Hoo tertawa dan berkata.

"Kau belum pernah bertemu dengan ayahku, mana bisa tahu?"

Kata Kie Su-giok.

"Ilmu silat ayah angkat memang belum pernah kulihat tapi ilmu ikakak lebih tinggi dari tosu-tosu itu, dan ilmu silat ibu angkat lebih tinggi dari Toako, menurutku ilmu silat ayah angkat pasti lebih tinggi dari ibu angkat."

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Ilmu silatku kebanyakan kuperoleh setelah aku menikah tagannya. Aku belajar darinya, ilmu silat Anak Hoo hanya 30 % dari ayahnya, sedangkan aku hanya 50 % saja." ---ooo0dw0ooo---B. Mati Terkena Racun Kelima tosu itu sudah berjalan cukup lama, sekarang mereka baru merasa agak tenang. Tiba-tiba Leng Siau berkata.

"Pemuda she Kie itu, seperti perempuan yang menyamar menjadi laki-laki, apakah kalian tahu?"

Mereka berjalan melewati jalan gunung, Leng Hi melihat keadaan sekelilingnya kemudian melambatkan jalannya. Dia tertawa dan berkata.

"Adik, biasanya kau sangat kasar, kali ini kau pun bisa melihat dengan jelas."

Kata Leng Siau.

"Walaupun aku kasar, tapi aku tidak bodoh. Jujur bicara, bila kalian tidak bilang, aku masih curiga bahwa aku yang salah. Kakak, kau sudah tahu bahwa dia adalah perempuan, mengapa kau tidak mengatakannya?"

Kata Leng Hi.

"Bila waktu itu aku mengatakannya, mungkin kalian akan menghabisi nyawanya, aku tanya kepadamu, kau bisa lihat dia adalah perempuan, apakah kalian tahu dia itu putri siapa?"

"Mungkinkah Suheng sudah tahu siapa dia?"

Jawab Leng Hi.

"Benar, aku tahu bahwa dia adalah putri Kie Lek-beng, cucu Kie Yan-gan yang bernama Su-giok."

"Mengapa kau bisa tahu?"

Tanya Leng Siau. Tosu yang satu lagi menjawab.

"Pada waktu gadis itu meloncat dari kereta kuda, ilmu meringankan tubuhnya menggunakan jurus keluarga Kie,"

Tosu itu bernama Leng In, dia adalah murid dari Thian-hoan tosu. Kata Leng Hi.

"Masih ada lagi, pada waktu U-bun Hoo mau pura-pura membunuh kita, Kie Su-giok cepat-cepat turun dan melarangnya, bila dia bukan cucu Kie Yan-gan, dia tidak akan membela kita, dia tahu bahwa kakeknya berteman dengan Hoa-san-pai."

Leng Siau baru mengerti dan berkata.

"Pantas Suheng terus mengatakan hal yang menyangkut keluarga Kie dan keluarga Coh, apakah untuk membentahu kepadanya?"

"Jujur saja aku melakukan hal itu sudah sangat berbahaya, bila aku membocorkan rahasianya, U-bun hujin pasti akan membunuh kita."

Kata Leng Siau.

"Apakah dia yang dijuluki Gin-ho (Rase perak)? Suheng, tadi kau mengatakan salah melihat orang, apakah itu hanya pura-pura?"

"Kau hanya menebak setengah, memang aku sengaja mengakui bahwa kita sudah salah lihat orang, tapi U-bun hujin itu bukan Gin-ho, tapi kakaknya yang bernama Kim-ho ( Rase Emas)."

"Mengapa putri Kie Lek-beng bisa bersama dengannya? Ini membuatku tidak mengerti."

Kata Leng Siau. Kata Leng Hi.

"Gin-ho adalah kekasih gelap Kie Lek-beng, apakah kau tahu itu?"

Jawab Leng Siau.

"Aku pernah dengar, tapi Kim-ho tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan keluarga Kie, apalagi Gin-ho adalah kekasih gelap ayahnya, bila dia tidak menganggap kekasih gelap ayahnya sebagai musuh, dia pun tidak mungkin menganggap cici dari kekasih ayahnya menjadi ibu angkat"

Kata Leng Hi.

"Ada yang mengatakan bahwa ibunya menghilang karena kawin lari dengan orang lain, apakah itu benar? Tidak ada yang tahu, keluarga Kie membohonginya bahwa ibunya sudah meninggal, mungkin Gin-ho ingin menyenangkan Kie Lek-beng Dia sendiri tidak akan dimaafkan oleh Kie Yan-gan, dia menyuruh cicinya menjemput Su-giok, umur Kie Yan-gan sudah tua, dia pun ingin berdamai dengan putranya, dia menerima Kim-ho dan mengijinkan Kim-ho menjadi ibu angkat cucunya."

Pengalaman hidup Leng Hi lebih banyak, cara berpikirnya pun lebih dalam, semua tampak masuk akal, tapi kali ini dia salah besar.

Dia hanya benar satu dalam tebakannya yaitu Kim-ho adalah cici dari Gin-ho, nama Kim-ho adalah Hoo Hoo.

Kim-ho dengan teliti memasang perangkap dan memancing Kie Su-giok masuk ke dalam perangkapnya, akhirnya malah dengan sukarela menjadikan Kim-ho sebagai ibu angkatnya.

Semua ini direncanakan olehnya, karena dia mempunyai rencana tersendiri.

Leng Hi sudah salah besar dia tidak tahu bahwa perempuan siluman itu adalah Kim-ho.

Lima Cianpwee Hoa-san dan Yu He-cu semua salah, yang mereka lihat di Hoa-san bukan Gin-ho, Bok Koan-koan melainkan Kim-ho, Bok Hoo-hoo.

Mereka mengira Bok Koan-koan lah yang membunuh ketua mereka, sebenarnya orang itu adalah Bok Hoo-hoo, biarpun bukan pembunuh sebenarnya setidaknya dia membantu pembunuhan itu.

Setelah Leng Hi mengemukakan pendapatnya, Leng Siau tertawa kecut dan berkata.

"Masalah ini terlalu rumit, kita seperti harus mengupas kepompong baru mengetahui rencana busuknya!"

Di antara kelima tosu itu, Leng In lah yang paling teliti tiba-tiba dia berkata.

"Tidak baik!"

"Apa yang tidak baik?"

Tanya Leng Siau.

"Bila Kie Yan-gan dan Kie Lek-beng berdamai, berarti Kie Yan-gan mengakui Gin-ho sebagai menantunya, ini menjadikan hal yang dikhawatirkan oleh Cianpwee kita."

Kata Leng In lagi.

"Yang membunuh ketua kita mungkin ada hubungannya dengan keluarga Kie."

Kata Leng Hi.

"Benar, awalnya Paman Thian Ki curiga bahwa Kie Yan-gan yang melakukannya tapi Coh Thian-su bisa membuktikan bahwa pelakunya bukan Kie Yan-gan, sedangkan Kie Yan-gan berteman dengan ketua kita."

Tanya Leng In.

"Dengan alasan apa Paman Thian Ki mencurigai Kie Yan-gan?"

"Yang bisa membunuh ketua kita dengan diam-diam tidaklah banyak, yang paling mencurigakan adalah Kie Yan-gan."

Kata Leng In.

"Mereka kurang mencurigai satu orang, dia adalah Kie Lek-beng."

"Waktu itu keenam Cianpwee belum tahu bahwa Kie Lek-beng masih hidup."

"Karena kita baru tahu bahwa Yu He-cu dari Bu-tong baru datang ke Hoa-san."

Kata Leng In.

"Kudengar Kie Lek-beng sudah pergi ke ibukota."

Kata Leng Hi.

"Itu belum tentu, bila Kim-ho dan anaknya pergi ke ibukota, itu sudah pasti."

Kata Leng In. Leng In berkata lagi.

"Bila anak dan ayah itu berdamai, Kim-ho dan Gin-ho akan satu keluarga dengan-Kie Lek-beng. Mereka tidak takut dimarahi oleh Kie Yan-gan, dan dia bisa dengan tenang membunuh ketua kita dengan bantuan Gin-ho."

Tanya Leng Hi.

"Apakah benar Kie Yan-gan mau memaafkan putranya?"

Jawab Leng In.

"Perasaan di antara ayah dan anak, pasti lebih dari seorang teman, Kie Yan-gan membiarkan cucu tercintanya dibawa oleh Kim-ho untuk mencari ayahnya, Kie Lek-beng. Kie Lek-beng pasti sudah memperhitungkan akibatnya, paling-paling dia hanya dimarahi oleh Kie Yan-gan, tidak akan sampai membunuhnya. Kau jangan lupa bahwa Kie Yan-gan bukan pendekar, dia adalah orang yang berada di tengah-tengah garis hitam dan garis putih"

Kata Leng Siau.

"Bila Kie Yan-gan tidak menyetujui, mana mungkin cucunya bisa dibawa pergi oleh Kim-ho, keluarga Kie sudah bersekongkol dengan sepasang rase itu, menurutku Kie Yan-gan adalah pembunuhnya, cepat kita pulang dan laporkan kepada guru!"

Baru habis bicara, dia sudah menunggang kudanya dan bersiap-siap untuk pergi. Tiba-tiba dia jatuh dari atas kuda, Leng Hi terkejut dan bertanya.

"Adik, kau kenapa?"

Belum habis kata-katanya, tosu yang paling muda pun sudah roboh disusul dengan tosu yang lain.

"Suheng, ada yang salah, aku, aku..."

Kata leng In.

Leng In pun bergoyang-goyang, tidak lama dia pun jatuh dari atas kuda.

Waktu itu Leng Hi mulai merasa pusing, tenaganya seperti terkuras habis.

Ilmu silat Leng Hi paling tinggi, walaupun merasa pusing tapi dia masih sadar, dia berusaha merangkak ke arah Leng In, wajah Leng In yang tadinya pucat berubah menjadi hitam dan dia sudah tidak bernafas.

Leng Hi terkejut, dia tahu mereka sudah terkena racun begitu juga dengan dirinya.

Dia merangkak lagi mendekati tosu yang paling muda, tubuh tosu itu pun sudah menjadi kaku.

Dia ingin tahu apakah Leng Siau masih hidup?

Tapi dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi, dia tahu dia pun sudah terkena racun!

Yang membuatnya tidak mengerti adalah di antara mereka tidak ada yang berada di dekat Kim-ho, mengapa Kim-ho bisa meracuni mereka?

Bila yang meracuni mereka adalah orang lain siapakah orang itu?

Kie Su-giok kah?

U-bun Hoo kah?

Sepertinya tidak mungkin, cara orang itu meracuni mereka tekniknya sangat tinggi, walaupun ilmu silat U-bun Hoo lebih tinggi dari mereka, tapi bila meracuni S orang dalam waktu bersamaan, U-bun Hoo belum sampai pada tingkatan seperti itu, apalagi Leng Hi sudah hampir tidak bisa bernafas, dia sudah tidak mempunyai waktu untuk berpikir siapa yang membunuh mereka.

Dia hanya punya satu pikiran, bagaimana cara memberitahu kepada guru mereka bahwa Kie Lek-beng lah yang membunuh mereka Leng Hi ingin menulis kata-kata terakhir di tanah, tapi jarinya sudah tidak bertenaga lagi.

Sewaktu dia hampir putus asa, ada 2 ekor kuda yang datang ke arah mereka.

Orang yang menunggang kuda sudah melihatnya dan berteriak.

"Leng Hi, Leng In, mengapa kalian seperti ini?"

Yang datang adalah murid Hoa-san-pai lainnya, yang depan adalah Han Ku yang di belakang adalah Leng-pau. Leng Hi berteriak.

"Kalian cepat ke sini!"

Teriak Leng Hi.

Tapi hanya hatinya yang bisa berteriak, dia sendiri pun sudah tidak dapat mendengar suaranya lagi, lidahnya sudah beku Han Ku dan Leng-pau segera turun dari kuda untuk melihat, ?naranya gemetar, Leng-pau berteriak.

"Mereka semua sudah mati!"

Leng-pau sedang memegang dada Leng Hi.

Dalam hati Leng Hi berpikir, 'Aku tidak boleh mati sekarang!' Dia mengumpulkan tenaga dan menggigit jarinya dengan darah ynng mengalir dia menulis sesuatu di tanah, dia menulis huruf 'Kie'.

Walaupun hanya menulis huruf 'Kie', Han Ku dan Leng-pau sudah mengerti maksudnya, tanya Leng-pau.

"Dia adalah Kie Yan-gan atau Kie Lek-beng?"

Tenggorokan Leng Hi terus berbunyi, tapi dia tidak dapat bicara lagi, dia ingin menyebut nama pembunuh ketua mereka. Han Ku sudah mengerti, dia berkata kepada Leng Hi.

"Leng Hi, kau dengar, apakah Kie Lek-beng yang membunuh ketua kita, bila benar anggukkan kepala, kalau bukan kau gelengkan kepala."

Tapi Leng Hi sudah tidak bisa menggerakkan kepalanya lagi. Hanya jarinya saja yang masih bisa bergetar, dengan cepat Han Ku berkata.

"Kalau benar, kau goreskan dengan jari garis horisontal bila bukan kau goreskan garis vertikal."

Jari Leng Hi menggores garis horisontal, Han Ku bertanya lagi.

"Apakah yang membunuh kalian juga Kie Lek-beng?"

Jari Leng Hi tidak menggores garis apa pun hanya diam. Pikir Leng Hi, 'Kim-ho dan Gin-ho mempunyai hubungan erat dengan keluarga Kie."

Dia tidak punya cara lain dan tidak mempunyai tenaga lagi, dia menggunakan tenaga terakhir menulis 'Heng" (satu).

Setelah menggores huruf Heng, dia sudah berhenti bernafas, goresan yang paling mudah sudah cukup untuk dilihat oleh Han Ku dan Leng-pau.

Kata Han Ku.

"Keluarga Kie hanya terdiri dari 3 orang, Kie Yan-gan, Kie Lek-beng dan Kie Su-giok, tapi melihat waktu kematian Leng Hi sepertinya bukan Kie Lek-beng, begitu juga dengan Kie Su-giok,. Apalagi Kie Yan-gan, tapi dia tidak pantas turun tangan sendiri!"

"Suheng melupakan satu orang."

Leng Piau.

"Siapa?"

"Hui-thian, Wie Thian-hoan, dia tumbuh besar di keluarga Kie dan dia dilatih langsung oleh Kie Yan-gan, di atas nama dia ada cucu murid Kie Yan-gan."

Han Ku sadar dan berkata.

"Benar, Wie Thian-hoan termasuk dalam keluarga Kie, yang membunuh saudara-saudara kita pasti Wie Thian-hoan."

Kata Leng-pau.

"Pembunuhnya belum tentu Wie Thian-hoan, tapi dia patut dicurigai. Yang kita curigai sekarang ini ada 4 orang, mari cepat kita kembali ke Hoa-san dan melapor pada guru!" ---ooo0dw0ooo---C. Tertipu Kereta kuda yang dinaiki Kie Su-giok sudah melewati jalan gunung dan sekarang sedang melewati dataran rendah Kuda berlari dengan cepat, tapi Kie Su-giok masih mengomel dia merasa kuda-kuda itu berlari kurang cepat. Hatinya sudah melayang ke ibukota. Dia ingin mencari Wie Thian-hoan, ingin menanyakan kepadanya mengapa dia tidak pulang. Dia ingin tahu rahasia teka-teki hidup dan mati ayahnya, dia ingin tahu apakah ayah yang selama ini belum pernah dia temui, seperti yang diceritakan oleh orang-orang Hoa-san, apakah memang benar dia berada di ibukota? Dia pun ingin mencari Coh Thian-su di ibukota, dia akan membantu keluarga Coh Thian-su dengan sekuat tenaga untuk mencegah terjadinya musibah itu.

"Mengapa ayahnya harus membunuh keluarga Coh Kim-sung?"

Dia tidak mengerti, tapi dia pun harus mempercayai kata-kata Leng Hi, dia lahu kakeknya tidak pernah bercerita mengenai ayahnya. Dia terus berpikir.

"Apa salah ayahku? Setelah meninggal pun tetap tidak bisa dimaafkan oleh kakek. Benar-benar kakek tidak punya perasaan!"

Tiba-tiba dia mendengar U-bun hujin dengan lembut memanggilnya.

"Anak Giok, kau sedang memikirkan apa?"

"Aku tidak memikirkan apa-apa."

Jawab Kie Su-giok.

"Aku lihat kau sepertinya banyak pikiran, apakah kau mau menceritakannya kepada ibu?"

"Tidak ada pikiran apa-apa, hanya ingin cepat tiba di ibukota."

U-bun hujin tersenyum dan berkata.

"Apakah yang sudah berjanji denganmu itu Coh Thian-su?"

"Bukan, bukan!"

Jawab Kie Su-giok. U-bun hujin tidak bertanya lagi, malah Kie Su-giok-yang merasa tidak enak dan dia berkata.

"Sebenarnya aku harus memberitahu kepada ibu, temanku itu..."

Kata U-bun hujin.

"Bila kau tidak ingin memberitahuku nama orang itu, tidak apa-apa. Dalam hari Kie Su-giok berkata, 'Ibu angkat benar-benar pengertian.' Tapi dia memang harus menjelaskannya dan dia berkata.

"Temanku itu mempunyai hubungan dengan pemberontak jadi aku harus menjaga rahasia ini, tapi ibu bukan orang lain bila aku berhasil menemuinya di ibukota, aku akan mengajaknya menemui ibu."

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Ternyata temanmu itu pemberontak, orang seperti dia tidak pantas muncul di depan orang banyak, kau pun jangan terlalu banyak mengurusnya."

U-bun hujin berkata lagi.

"Sebenarnya aku pun tidak ingin tahu nama temanmu itu, aku hanya tertarik dengan Coh Thian-su karena dia adalah seorang Siauya yang ternama, apakah dia juga adalah pemberontak?"

"Aku tidak tahu, mungkin bukan."

Dia merasa aneh dan bertanya.

"Ibu angkat, kau datang dari Tibet di Pek-toh-san pun tahu bahwa di Kang-lam ini ada keluarga Coh."

U-bun hujin berkata.

"Aku pernah bilang walaupun aku tinggal di tempat jauh tapi kadang-kadang temanku juga datang dari selatan. Coh Tayhiap di Yang-ciu adalah pendekar nomor satu di Kang-lam, masa kami tidak tahu?"

Kata Kie Su-giok.

"Benar, keluarga Coh di Kang-lam memang sangat terkenal karena Coh Tayhiap sudah mempunyai nama jadi begitu Coh Thian-su masuk ke dunia persilatan, dia langsung terkenal!"

"Anak Giok, mungkinkah kau dan Coh Thian-su tidak begitu kenal?"

"Kami hanya bertemu sebanyak satu atau dua kali."

"Pantas kau tidak tahu dia itu seperti apa"

U-bun hujin berkata lagi.

"Orang-orang mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki mata keranjang yang luwes dan tampan, suka main perempuan, melebihi ilmu silatnya."

Tanya Kie Su-giok.

"Benarkah dia seperti itu? Baru pertama kali aku mendengarnya."

Dalam hati dia ingin tertawa 'Sewaktu dia bersamaku, aku tidak melihatnya dia merayuku dengan cara apa pun, tidak disangka di mata orang lain dia seorang-laki-laki yang mata keranjang, bila dia disebut orang yang humoris aku percaya, bersama dengannya perasaan menjadi lebih senang dibandingkan saat bersama dengan Wie Toako.' Berpikir sampai di sini, dia pun terkejut.

"Mengapa aku berpikir seperti itu, bila Hoan Toako tahu aku membanding-bandingkan dia dengan Coh Thian-su, pasti dia akan marah. Coh Thian-su bisa membuatku gembira tapi orang yang aku cintai adalah Wie Toako."

Dia masih berpikir, ketika U-bun hujin berkata lagi.

"Apakah kau tahu terakhir-terakhir ini dia melakukan apa?"

"Memangnya dia melakukan apa?"

Tanya Kie Su-giok.

"Katanya dia sudah merebut pengantin perempuan Hie Tiong-gwee, kabar ini sudah tersebar ke mana-mana."

Kata Kie Su-giok.

"Aku jarang berkelana di dunia persilatan, aku tidak tahu."

Dalam hati dia ingin tertawa Padahal hari itu yang membuat.

keributan di rumah Hie Tiong-gwee adalah aku dan Wie Toako, hingga membuat Hiat-kun tidak dapat menjalankan upacara adat, aku paling tahu hal ini.

Terakhir cici Kang sudah melarikan diri dari rumah Hie Tiong-gwee dan bersama dengan Coh Toako dan tinggal di rumahku, tapi bukan Coh Thian-su yang merebut pengantin perempuannya "

Bila di dunia persilatan ada gosip yang mengatakan bahwa Wie Thian-hoan yang merebut pengantin perempuan, itu baru masuk akal.

Teringat demi Kang Hiat-kun, Wie Thian-hoan melakukan hal yang menggegerkan dunia persilatan, membuat Kie Su-giok merasa sedih lagi.

Kata U-bun hujin.

"Kali ini aku ke Tiongkok di mana-mana orang mengatakan bahwa Coh Thian-su adalah seorang laki-laki mata keranjang, aku jadi ingin bertemu dengannya. Aku sudah nenek-nenek, aku tidak takut orang-orang akan menertawakanku, apalagi mengatakan bahwa aku suka daun muda!"

U-bun Hoo pun ikut tertawa dan berkata.

"Aku dan adik pun adalah pemuda yang tampan tidak takut berteman dengan Coh Thian-su, bila dia gadis cantik, nah dia harus waspada. Adik, bila sudah tiba di ibukota dan bertemu dengan Coh Thian-su, kau harus memperkenalkannya kepada kami!"

Kata Kie Su-giok.

"Pasti akan kukenalkan, aku hanya takut kalian akan kecewa."

"Memangnya kenapa?"

Tanya U-bun Hoo.

"Dia tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang sebagai laki-laki mata keranjang."

Kata U-bun Hoo.

"Adik, kau benar-benar kurang ajar, aku bukan gadis yang baru besar, apakah Coh Thian-su itu laki-laki mata keranjang atau bukan, aku udak akan peduli."

Dalam hati dia tertawa terbahak-terbahak, mereka bertiga masing-masing menutupi pikirannya.

Kie Su-giok bingung karena ayahnya .ingin membunuh keluarga Coh, dia mengatakan ingin memperkenalkan Coh Thian-su kepada ibu .ingkarnya, bukan hanya sembarangan berjanji, karena dia berpikir, bila perlu dia ingin minta tolong kepada ibu dan kakak angkatnya untuk menolong Coh Thian-su dan keluarganya.

Dia tahu ibu angkatnya tidak akan melukai ayahnya tapi hanya menghalangi saja, itu pun sudah lumayan.

Pada saat itu dia akan mempunyai kesempatan berkenalan dengan ayahnya.

Yang dipikirkan oleh U-bun Hoo adalah, 'Aku tidak perlu tergesa-gesa, dari sini ke ibukota masih harus 10 hari lagi, aku harus berpura-pura tidak tahu bahwa dia adalah seorang perempuan, asal dia percaya bahwa Coh Thian-su bukan orang yang jujur dan baik, aku akan mendapatkan dirinya, walaupun Coh Thian-su adalah orang terpelajar dan ilmu silatnya tinggi, aku tetap akan percaya diri, aku tidak akan kalah dengannya.

Bila gadis ini masih tidak dapat melupakan Coh Thian-su, tidak perlu kubunuh sendiri, ibu pun akan turun tangan dan membuatnya menjadi seorang idiot' Ternyata di dalam hati ibu dan anak U-bun ini dikarenakan Kie Yan gan pernah menolong Coh Thian-su, mereka pun seperti Gin-ho dan Yu He-cu menyangka bahwa Coh Thian-su adalah calon menantu cucunya.

Yang dipikirkan oleh U-bun hujin adalah, 'Coh Thian-su pernah lolos sekali, kali ini bila bertemu dengannya di ibukota, aku tidak akan membiarkan dia lolos lagi, dunia ini memang luas tapi tidak ada orang ketiga yang bisa mempunyai tenaga dalam yang begitu kuat untuk menawarkan jarum beracunku kecuali ayah dan anak Kie, kali itu ada Pak Tua Kie yang membantunya, tapi nanti dia bisa mengandalkan siapa lagi?

Walaupun Kie Lek-beng ada di ibukota tapi ada dendam antara Kie Lek-beng dan keluarga Coh, dia tidak akan mau menolongnya, apalagi bila tahu putrinya menyukai bocah itu, Kie Lek-beng tidak membunuhnya pun itu sudah sangat beruntung apalagi bila dia mau menolongnya, rasanya tidak mungkin!"

Kie Su-giok ingin agar ibu angkatnya mau menolong keluarga Coh, dia tidak tahu bahwa ibu angkatnya adalah orang yang malam itu melepaskan jarum beracun kepada Coh Thian-su dan hampir membuat Coh Thian-su mati, dia adalah Kim-ho, Bok Hoo-hoo.

Su-giok tidak mengetahuinya bahkan kakek dan Ting Po yang sudah banyak pengalaman di dunia persilatan pun menganggap Kim-ho adalah Gin-ho.

Ibu dan anak U-bun ini dengan cara unik memasang perangkap membuat Kie Su-giok terjebak ke dalamnya.

Mereka masing-masing mempunyai maksud tersendiri.

U-bun Hoo ingin agar Su-giok menjadi istrinya karena Su-giok sangat cantik dan dia sangat menyukainya.

U-bun hujin ingin di satu sisi agar Kie Su-giok menjadi menantunya tapi tujuan yang paling besar adalah memperalat Kie Su-giok untuk menguasai Kie Lek-beng, karena dia tahu hanya dengan mengandalkan adiknya rencananya itu tidak akan berhasil.

Setelah tertawa U-bun hujin berkata.

"Anak Giok, kalau begitu, pikiranmu bisa berkurang separuh!"

Kie Su-giok terpaku dan berkata.

"Aku tidak punya pikiran apa pun."

"Bukankah tadi kau mengatakan pergi ke ibukota untuk mencari teman Bo-tan juga Coh Thian-su?"

"Itu adalah 2 hal yang berbeda."

Kata Kie Su-giok tertawa.

"Kau mengatakan ada temanmu yang sudah lebih dulu pergi ke ibukota 5 hingga 6 hari yang lalu, apakah itu benar?"

"Benar."

Jawab Kie Su-giok "Apakah kau khawatir dia tidak tinggal lama di ibukota?"

Kie Su-giok mengangguk dan U-bun hujin bertanya lagi.

"Dari mana dia berangkat?"

"Mungkin dari daerah sekitar sini!"

Jawab Kie Su-giok singkat.

"Kalau begitu kau akan tiba lebih cepat 3 hari darinya, karena kau naik kereta kuda dan dia hanya menunggang kuda sendiri. Menurut perhitungan, kita bisa tiba dalam waktu bersamaan di ibukota, dan kau dapat menemuinya."

U-bun hujin berkata lagi.

"Apakah kita bisa bertemu dengan Coh Thian-su di ibukota? Apakah kau sudah berjanji dengannya?"

"Tidak!"

Tanya U-bun hujin lagi.

"Kalau begitu kita akan susah untuk mencarinya, apakah di ibukota dia mempunyai kenalan? Kalau kau bisa cari tahu orang yang dia kenal..."

"Aku tidak tahu apakah dia mempunyai kenalan di sana."

U-bun hujin sebenarnya ingin tahu Coh Thian-su bersembunyi di mana. Tapi U-bun Hoo mengira ibunya tidak tahu dan tidak terpikir mungkin mereka akan bertemu dalam perjalanan, maka dia berkata.

"Ibu, kau tidak perlu mengkhawatirkan Adik Yu, murid Hoa-san yang bernama Leng Hi bukankah mengatakan bahwa ketua mereka meninggal 6 hari yang lalu? Dan Coh Thian-su pergi ke Hoa-san untuk memberi ucapan bela sungkawa, artinya baru 4 hari atau 5 hari yang lalu dia baru berangkat dari Hoa-san. Dari Hoa-san datang ke sini dengan menunggang kuda memerlukan waktu 2 hari, kita dan dia hanya berselisih 3 hari, kita akan bertemu dengannya di tengah perjalanan."

Dia tahu bahwa ibunya pernah bertemu dengan Yu He-cu dan Coh Thian-su di Hoa-san, supaya rahasia ibunya tidak bocor di depan Kie Su-giok, dia berpura-pura membantu ibunya menghitung jarak dan waktu yang harus ditempuh oleh Coh Thian-su.

U-bun Hoo tidak ingin membocorkan rahasia di depan Kie Su-giok, tapi kata-katanya malah membuat Kie Su-giok curiga.

Kie Su-giok berpikir, 'Katanya Toako dan ibu angkat belum pernah ke Hoa-san tapi mengapa bisa tahu menunggang kuda dari Hoa-san ke tempat ini menghabiskan waktu 2 hari?"

Walaupun dia curiga, dalam mimpi pun dia tidak tahu bahwa dia sudah masuk ke dalam perangkap ibu dan anak U-bun ini.

Begitu dia ingat hampir ditangkap oleh Lo-toa dari Kim-leng-sam-eng, hatinya masih berdebar-debar.

'Bila ibu angkat tidak menolongku, bila aku tidak mati, aku pasti udah diperkosa mereka!

Mereka begitu baik kepadaku, walaupun kata-kata mereka ada yang aneh, aku tidak perlu curiga kepada mereka, di dunia persilatan orang-orang selalu tidak jujur, begitu juga denganku!' Begitu memikirkan hal ini sikapnya sudah kembali normal dan Kie Su-giok berkata.

"Untung ibu angkat menolongku, jadi aku bisa lebih awal tiba di ibukota, aku sudah tidak perlu memikirkan apa-apa lagi bila dalam perjalanan bertemu dengan Coh Thian-su, itu akan lebih baik."

Kata U-bun hujin.

"Kau tidak perlu sungkan, karena kita adalah ibu dan anak."

Ubun hujin melihat bahwa Kie Su-giok benar-benar berterima kasih kepadanya Dalam hati dia berpikir, 'Walau rencanaku dikacaukan oleh tosu-l-su Hoa-san itu sehingga timbul celah, tapi celah itu sudah kututupi."

Kata Kie Su-giok.

"Hutang budi kepada ibu angkat susah untuk dibalas, tapi aku akan "lalu mengingatnya dalam hati."

Dia sangat berterima kasih kepada U-bun hujin, dia tidak tahu Kie Ling San Ying sebenarnya adalah suruhan dari U-bun hujin untuk membuat masalah dengan Su-giok.

U-bun hujin sangat berpengalaman, mungkin Kie Su-giok sendiri pernah ada sedikit curiga kepada kata-kata U-bun Hoo.

"Aku harus memakai cara apa pun untuk menutupi celah ini."

Sengaja dia bertanya kepada putranya.

"Adikmu sudah tidak mempunyai masalah lagi, bagaimana dengan dirimu?"

"Apa masalahku?"

Jawab U-bun Hoo terpaku. Tapi setelah berkata seperti itu, dia baru tahu maksud ibunya. Sengaja dia menggarukkan kepalanya dan berkata.

"Tebakan ibu tidak salah, adik sudah tidak ada masalah yang dipikirkan, tapi aku ada."

"Coba katakan kepada ibu, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Lima tosu Hoa-san sudah dipukul olehku, mungkin mereka sudah pulang ke Hoa-san dan melaporkan semuanya kepada gurunya sehingga menjadi masalah untuk kita."

Kata U-bun hujin.

"Kereta kuda kita larinya sangat cepat, begitu mereka tiba di ibukota, kita sudah sampai di Pek-toh-san."

"Aku takut Adik Giok akan terganggu."

"Toako tidak perlu mengkhawatirkan diriku, Hoa-san-pai tidak akan menggangguku, pertama, karena tadi aku sudah berusaha membela mereka, kedua..."

Kata Kie Su-giok.

"Kedua bagaimana?"

"Kedua tosu Hoa-san itu tahu bahwa aku dan Coh Thian-su adalah teman, walaupun mereka kesal kepadaku, mereka pasti akan memandang Coh Thian-su dan tidak akan menggangguku."

Sebenarnya dia tahu bahwa kakeknya dan Hoa-san-pai berteman, tapi dia masih ingin menutup identitasnya, maka nama Coh Thian-su lah yang dia sebut, setelah mengatakan itu, dia ingin tertawa.

"Mengapa keluarga ibu angkatku hanya mengenal keluarga Coh dari Kang-lam, dan tidak mengenal keluarga Kie."

Kata U-bun Hoo.

"Kalau begitu aku tidak perlu mengkhawatirkan dirimu lagi."

Kereta kuda berlari sangat kencang "Mereka tidak akan membuat masalah denganku juga denganmu, seperti kata ibu angkat, walupun mereka datang mereka tetap tidak akan bisa mengejar kita."

Kata Kie Su-giok.

"Akut tidak khawatir bila mereka mencari kami, yang aku khawatirkan adaiah hal yang lain."

Kata U-bun Hoo.

"Mengenai masalah apa?"

Tanya Kie Su-giok.

"Kelima tosu itu dilukai olehku, apalagi yang bernama Leng Hi, lukanya paling berat, aku takut mereka tidak akan bisa pulang ke Hoa-san. Kie Su-giok tahu bahwa tenaga dalam Hoa-san-pai mempunyai keistimewaan, maka dia tidak begitu khawatir, Kie Su-giok tertawa.

"Kau takut mereka pulang ke Hoa-san dan melapor kepada guru mereka, kau juga takut mereka tidak bisa pulang ke Hoa-san, pantas kau merasa tidak tenang."

"Kau jangan menghina orang lain, bukankah kau juga dengar, sebelum besok siang, mereka sudah tiba di Hoa-san, tosu-tosu itu bisa dalam 2 hari melakukan perjalanan. Yang bernama Leng Hi, ilmu silatnya paling tinggi hampir setara denganmu, kau jangan menganggap rendah kepada orang lain dan menganggap sendiri lebih tinggi."

Kata U-bun hujin.

"Ibu berpandangan lebih jauh, ibu bilang tidak perlu takut, aku pun udak akan takut, aku dengar tosu-tosu itu berkata jarak dari sini ke Hoa-san hanya butuh 2 hari perjalanan, apakah ibu juga mendengar hal yang lainnya?"

Kata U-bun Hoo.

"Kau tidak dapat dengar karena mereka sudah berada satu setengah kie baru bicara, anak Giok, apakah kau pun bisa dengar?"

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Kakak saja tidak bisa dengar, apalagi aku. Aku tidak dengar apa Kata U-bun hujin.

"Ucapan Leng Hi paling akhir hanya memberi semangat untuk icman-temannya agar bisa bertahan hingga ke Hoa-san."

U-bun hujin berbohong dan sangat sempurna menutupi kekurangan putranya, setelah Kie Su-giok mengira mereka mendengar ucapan dari ucapan tosu-tosu itu, kecurigaannya yang terakhir hilang begitu Kie Su-giok terlihat sangat senang dan berkata.

"Kalau begitu, Toako dan aku tidak perlu mengkhawatirkan tosu-losu itu, mereka pasti bisa pulang ke Hoa-san dengan selamat."

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah berharap bisa bertemu dengan Coh Thian-su di tengah perjalanan."

Kata U-bun Hoo.

U-bun hujin merasa senang dalam hati dia berpikir, 'Sedikit pun udak salah, tosu-tosu itu sudah kembali ke tempat asalnya, sekarang sudah lewat 3 jam, obat mulai bereaksi setengah jam yang lalu, sekarang adalah waktunya bagi mereka untuk kembali ke tempat asalnya, bukan kuda yang membawa mereka pulang tapi akulah yang mengantarkan mereka pulang."

Ternyata sewaktu kelima tosu itu berpamitan, dia pun dengan sopan membalasnya, di dalam lengan baju sudah dibubuhi oleh racun yang udak berbau dan mengibaskan lengah bajunya ke hidung lima tosu itu.

Kie Su-giok masih belum merasa sesuatu yang aneh.

Dia masih mengira dia sudah bertemu dengan dewa penolong, dengan sukacita mengikuti mereka pergi ke ibukota.

Sepanjang jalan ibu dan anak itu masih pura-pura tidak tahu bahwa Kie Su-giok adalah seorang perempuan yang menyamar menjadi laki-laki.

Setelah menempuh setengah perjalanan, mereka menginap di sebuah penginapan, Kie Su-giok memberi alasan tidak dapat tidur dengan orang lain dan U-bun hujin serta putranya, U-bun Hoo tidak banyak bertanya, mereka memesan sebuah kamar lain.

Rencana ibu dan anak ini adalah mengulur tali yang panjang dan memancing ikan yang besar walaupun U-bun Hoo menyukai kecantikannya, dia tidak mau tergesa-gesa.

Semua rencana U-bun hujin berjalan sesuai dengan harapan, hanya ada satu hal yang belum tercapai.

Sepanjang jalan mereka tidak bertemu dengan Coh Thian-su, bukan karena perhitungan U-bun hujin yang meleset tapi Coh Thian-su yang mengalami perubahan, yang membantu Coh Thian-su di tengah perjalanan adalah adiknya Gin-ho, Bok Koan-koan Kuda yang diberikan oleh Bok Koan-koan adalah seekor kuda terkenal walaupun tidak sebagus kuda U-bun Hoo, tapi tidak terlalu berbeda jauh.

Coh Thian-su tiba satu hari lebih awal di ibukota Orang yang pertama dicari oleh Kie Su-giok adalah Wie Thian-hoan dan yang kedua adalah Kie Lek-beng, ayahnya Bukan dia lebih mementingkan Wie Thian-hoan daripada ayahnya karena dia sama sekali tidak tahu jejak ayahnya ayahnya masih hidup atau sudah mati, dia hanya mempercayai setengahnya.

Harus mencari Wie Thian-hoan baru bisa minta tolong kepadanya untuk membuktikan mana yang benar dan mana yang salah.

Dia pernah mendengar cerita dari Wie Thian-hoan bahwa di kota Peking di bagian barat ada sebuah kuil.

Bu Sia yang menjadi penanggung jawab kuil itu.

Tapi Kie Su-giok tidak mau ibu dan anak itu mengikutinya sejak tadi dia berpikir bagaimana cara melepaskan diri dari mereka.

Coh Thian-su sudah tiba di ibukota, yang pertama dicarinya adalah ayahnya baru Hiat-kun.

Kie Su-giok tahu dimana bisa menemukan Wie Thian-hoan, tapi Coh Thian-su tidak tahu dimana bisa mencari Hiat-kun.

Kie Su-giok ingin mencari ayahnya tapi untuk memulai dari mana, dia tidak tahu.

Coh Thian-su tahu dimana bisa mencari ayahnya, asalkan tahu di mana letak kantor Sin-hoan Piaukok dan mencari Tong Hwie-yan, pasti dapat menemukan ayahnya.

Untuk membongkar rencana busuk, bertemu dengan ayah.

Siapa yang tahu jala sudah terpasang?

---ooo0dw0ooo---BAB 12 Bermain pedang di kota raja Berebut kemenangan Bersedih di rumah Berkelana ke mana-mana A.

Mempunyai Teman Baru Coh Kim-sung sedang berada di ruang tamu, sedang memandang bunga chrysan, yang menemani di sisinya adalah istrinya, Song Eng-lam dan putri bungsunya yang bernama Coh Thian-hong.

Mereka tinggal di rumah peristirahatan milik Tong Hwie-yan.

Rumah ini berada di tengah-tengah kota dan letaknya berada di belakang kantor Piau milik Tong Hwie-yan, karena terhalang oleh Piau-Iwiig, maka rumah peristirahatan itu sangat tenang Di taman bunga itu terdapat berbagai jenis bunga, warnanya pun bermacam-macam.

Melihat Coh Kim-sung yang sedang santai, siapa pun tidak menyangka bahwa dia adalah pendekar nomor satu di Kang-lam.

Orang-orang akan menganggapnya sebagai sastrawan, lebih-lebih tidak menyangka bahwa dia akan mengikuti pertarungan yang akan menggegerkan dunia persilatan.

Dia senang kecapi, lukisan, dan puisi-puisi, dia pun senang menanam bunga, Song Eng-lam pun sama seperti suaminya.

Di tempat itu banyak jenis bunga chrysan.

Chrysan-chrysan itu katanya cukup terkenal.

"Menurutku bunga-bunga ini belum tentu lebih bagus dari bunga ilnysanyang berada di rumah kita."

Kata Coh Kim-sung.

"Di Kanglam bunga yang tumbuh di sana pasti lebih bagus dan lebih unggul, tapi di kota Peking bisa melihat bunga chrysan yang bagus seperti ini itu sudah sangat lumayan."

Kata Song Eng-lam.

"Kanglam berhawa sejuk, dalam setahun di empat musim pasti tumbuh banyak bunga, keadaan di utara sini tidak sama. Ada saru hal di mana keadaannya lebih baik di ibukota dari pada di Kanglam"

"Apakah itu?"

Tanya Coh Kim-sung.

"Itu adalah daun Hong yang berwarna merah."

Jawab Eng-lam. Putrinya ikut bicara.

"Apakah yang dimaksud oleh ibu adalah daun Hong yang berada di Gunung barat?"

Jawab Eng-lam.

"Kau juga tahu tentang itu, tentang daun Hong yang berada di gunung barat?"

Kata Coh Thian-hong.

"Cici Kim-giauw yang memberitahuku."

Coh Kim-sung mengerutkan dahinya, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkan niatnya. Kata Song Eng-lam.

"Benar, katanya daun Hong yang berada di gunung barat begitu masuk musim gugur, hutan seperti disepuh dengan warna merah, hingga langit pun ikut berwarna merah, lebih bagus dari daun Hong yang berada di Soh-ciu, ada sebuah puisi yang berbunyi. Menghentikan kereta yang kita tumpangi Melihat hutan Feng di musim gugur Daun-daun merah seperti bunga yang mekar di bulan 2."

"Ayah, bila kita mempunyai waktu apakah kita juga akan pergi ke gunung barat dan melihat daun Hong?"

Kata Coh Thian-hong.

"Apakah kau tahu tujuan ayah datang ke ibukota? Kita tidak punya waktu untuk bermain, apalagi saat ini bukan waktunya untuk melihat daun Hong."

Kata Coh Thian-hong.

"Aku tahu bahwa ayah diundang oleh Tuan Kiam-ta dan Pendekar Hie Tiong-gwee, dengan tujuan membantu mereka, apakah musuh mereka itu sangat hebat?"

Jawab Coh Kim-sung.

"Aku hanya tahu bahwa musuh mereka itu dijuluki Hui-thian-sin-liong, dari julukannya saja dapat diketahui bahwa ilmu silatnya pasti lumayan tinggi."

Kata Song Eng-lam.

"Itu sudah pasti, kalau tidak mengapa Tuan Kiam-ta dan Pendekar Hie Tiong-gwee bersembunyi di rumah panglima pasukan?"

"Aku tidak takut kepadanya meskipun ilmu silatnya tinggi, setelah diundang aku sudah siap membantu mereka untuk menangkapnya, aku belum pernah bertemu dengannya, tapi sekarang malah disuruh hanya diam di ibukota."

Kata Coh Kim-sung Kata Coh Thian-hong.

"Bila belum menangkap Hui-thian, sehari pun kita tidak dapat pergi bermain, itu akan sangat membosankan!"

Dia berkata lagi.

"Ayah, bila ayah tidak bisa pergi, apakah aku boleh pergi bermain sendiri?"

"Apakah kau ingin pergi seorang diri?"

"Cici Kim-giauw mengajakku pergi ke gunung barat untuk melihat dan menikmati keindahan daun Hong."

Coh Kim-sung terdiam sebentar kemudian berkata lagi.

"Apa kau akan mencari Nona Hie lagi?"

Jawab Coh Thian-hong.

"Aku hanya bertemu 2 kali dengannya. Pertama pada saat ayah jueiubawaku ke rumah kepala pasukan, waktu itu dia ikut dengan ayahnya, kedua kalinya pada saat dia bermain ke Piau-hang (Kantor Piau)."

Kata Coh Kim-sung.

"Ternyata kemarin kau pergi ke Piau-hang."

"Rumah ini berada di belakang Piau-hang, aku pergi ke sana melalui pintu kecil, aku tidak melihat ada orang di luar Piau-hang. Apakah ayah merasa khawatir?"

"Bukan khawatir, tapi, tapi..."

Kata Coh Thian-hong.

"Ayah juga tiap hari ke sana dan tidak mengijinkan aku ikut, terpaksa aku pergi sendiri!"

"Kau adalah seorang gadis mana bisa disamakan dengan ayah, ayah pergi ke Piau-hang karena ada hal penting yang harus disampaikan kepada TongHwie-yan."

"Tiap hari harus tinggal di rumah, itu sangat membosankan sekali, sewaktu di Yang-ciu ayah tidak melarangku pergi bermain. Tong Hwie-yan adalah teman ayah, apakah ayah takut aku akan dipermainkan oleh orang lain?"

Tanya Coh Thian-hong Kata Song Eng-lam.

"Ini bukan Yang-ciu, kami pun takut bila kau di Piau-hang bertemu dengan orang jahat, lebih baik kau tidak kemana-mana."

"Mengapa?"

"Banyak hal yang tidak kau mengerti, dengarkanlah kata-kata ayah. Begitu urusan ayah sudah selesai, kau mau main ke mana pun akan ayah temani."

Jawab Coh Kim-sung.

"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, apakah aku boleh pergi bermain dengan cici Kim-giauw?"

Coh Kim-sung terdiam sebentar dan berkata.

"Lebih baik kau batalkan janji ini! Kemarin dia ke Piau-hang, apa dia pergi sendiri atau bersama ayahnya?"

Kata Coh Thian-hong.

"Dia datang dengan dua orang pemuda she Bok."

Kata Coh Thian-hong lagi.

"Sepertinya pemuda-pemuda itu adalah anak laki-laki dari Panglima Bok, dan mereka adalah kakak beradik kembar."

Tanya Coh Kim-sung.

"Apakah mereka sempat mengobrol denganmu?"

Kata Coh Thian-hong.

"Hanya menyapa saja, karena Tong Hwie-yan sudah menyuruh mereka masuk, Cici Hie tidak suka mengobrol dengan orang dewasa, aku dan dia pergi ke taman bunga di Piau-hang."

Tiba-tiba Coh Thian-hong bertanya.

"Ayah, mengapa kita tidak tinggal saja di Piau-hang? Di sana sangat ramai!"

Kata Coh Kim-sung.

"Aku lebih suka tempat sepi dan Tong Hwie-yan mencarikan tempat ini untuk ayah, bila senang dengan keramaian aku sudah tinggal di rumah panglima pasukan, di sana lebih ramai lagi, karena Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee pun tinggal di sana, tapi aku menolaknya.

"Ayah, apakah Tuan Kiam-ta adalah temanmu?"

"Benar, kami sudah saling mengenal selama 20 tahun, walau tidak sering bertemu, dapat dikatakan dia adalah teman baikku."

Kata Coh Thian-hong.

"Ayah, sepertinya kau pernah berkata bahwa kau Pendekar Tiong-ciu, Hie Tiong-gwee saling kenal dan kalian saling mengagumi."

Coh Kim-sung terpaku dan berkata.

"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?"

"Aku hanya merasa aneh, yang satu adalah teman baik dan yang satu lagi adalah teman baru, tapi begitu ayah tiba di ibukota sepertinya tidak mau bergaul dengan mereka."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku hanya tidak suka bergaul dengan orang kaya dan berkuasa."

"Apakah mereka tinggal di rumah panglima pasukan dan menjilatnya?"

Kata Coh Kim-sung.

"Kau jangan sembarangan bicara, aku tidak berkata seperti itu, mereka adalah teman baik Panglima Bok dan menjadi temannya, orang lain tidak ada yang merasa aneh, aku dan Panglima Bok tidak saling kenal, bila tinggal di rumahnya, orang mengira aku sedang menjilatnya"

Walaupun Coh Kim-sung sudah menjelaskannya, tapi Coh Thian-hong masih merasa kalau ayahnya menyembunyikan sesuatu. Coh Kim-sung berkata lagi.

"Aku pun tidak senang bergaul, kali ini aku datang karena diundang oleh Tuan Kiam-ta, mereka adalah tamu dari Panglima Bok, lebih baik aku tidak dekat-dekat dengan mereka. Lebih baik kau pun jangan terlalu dekat dengan Nona Hie."

Kata Coh Thian-hong.

"Ayah, kau sudah dua kali berpesan kepadaku, untuk tidak berhubungan dengan dia pun tidak apa-apa, hanya..."

"Hanya apa?"

"Ayah, apakah kau tidak ingin tahu kabar mengenai Toako?"

"Apakah kau menanyakan kabar mengenai Toakomu?"

Kata Coh Thian-hong.

"Benar, kata Nona Hie dia mendapatkan kabar yang aneh."

"Kabar aneh yang bagaimana?"

Tanya Coh Kim-sung. Dengan suara kesal Coh Thian-hong berkata.

"Ibu barunya melarikan diri, apakah ayah tahu itu?"

Wajah Coh Kim-sung menjadi marah.

"Seorang gadis mengapa menanyakan hal ini?"

"Aku tidak bertanya kepadanya, tapi dia yang memberitahuku, sebenarnya dia tidak memberitahu pun, aku akan dengar dari orang lain."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku menyuruhmu menanyakan kabar mengenai Toakomu, mengapa km jadi berkata yang tidak-tidak?"

"Bukankah Toako pergi ke keluarga Hie untuk memberi ucapan selamat?"

Kata Coh Kim-sung.

"Banyak orang ke rumah Hie, ada hubungan apa dengannya?"

"Mungkin ada hubungannya, sebab Toako berbeda dengan orang lain."

"Apa bedanya?"

"Toako adalah seorang pemuda yang tampan dan belum menikah, istri Hie Tayhiap juga bukan perempuan baik-baik dan genit. Ayah, kau jangan terus mengerutkan dahi, aku tahu seorang gadis tidak boleh sembarangan bicara tapi semua kata-kata ini diucapkan oleh cici Hie, bukan aku. Dia bilang ibu tirinya adalah perempuan murahan."

Dalam hati Song Eng-lam berpikir, 'Mungkin putriku juga akan marah kepadaku, tapi Anak Ang tidak tahu bahwa dia masih mempunyai seorang cici, tidak sengaja dia sudah menusuk hatiku!"

Dengan lembut Eng-lam berkata.

"Jangan hiraukan perkataan orang lain, kata-kata yang tidak enak didengar tidak perlu ikut-ikutan menjadi marah!"

Kata Coh Thian-hong.

"Bila aku tidak menyampaikan kata-kata cici Hie, bagaimana menjelaskan hal yang ingin diketahui oleh ayah?"

Kata Coh Kim-sung.

"Baiklah, coba kau ceritakan cerita menurut Tuan Kiam-ta, istri baru Hie Tiong-gwee direbut oleh Wie Thian-hoan, mengapa bisa dihubungkan ini dengan Toakomu?"

Jawab Coh Thian-hong.

"Cici Hie juga tidak menyebutkan bahwa istri baru ayahnya melarikan diri dengan Toako, dia hanya curiga bahwa Toako dan ibu tirinya mempunyai hubungan gelap. Ayah, kau jangan melotot terus!"

"Dari hal apa dia bisa curiga seperti itu?"

Tanya Coh Kim-sung.

"Aku akan menceritakannya dari awal. Pertama aku bertanya kepadanya apakah dia pernah bertemu dengan Toako, dia menjawab tamu di rumahnya terlalu banyak dan dia tidak ingat semuanya, kemudian aku mengatakan nama Toako, dia baru ingat..."

Kata Coh Kim-sung.

"Dia tidak tahu siapa Toakomu, mengapa dia tahu bahwa Toakomu pemuda tampan?"

"Ayah, apakah kau sudah pikun? Dia tidak pernah bertemu dengan toako, tapi dia mendengar cerita dari orang lain. Di Lok-yang Toako pernah mengunjungi rumah Po Tiong-ie, putra Po Tiong-ie yaitu Po Leng-hoi adalah teman baik dari Suheng Nona Hie."

Kata Coh Kim-sung.

"Po Leng-hoi yang mengatakan bahwa Toakomu dan Nyonya Hie mempunyai hubungan gelap? Baiklah, bila aku datang ke Lok-yang, aku akan bertanya kepada ayahnya."

Kata Coh Thian-hong.

"Ayah, tidak perlu tergesa-gesa, aku belum selesai bercerita. Pada hari pernikahan Hie Tiong-gwee, Hui-thian datang dan membuat keributan di aula kemudian membuat Hie Tiong-gwee terluka sehingga tidak dapat menjalankan upacara adat. Pada malam kedua, terjadi hal yang menakutkan."

"Apakah Hui-thian masuk ke rumah Hie Tiong-gwee dan menculik pengantinnya?"

Tanya Coh Kim-sung.

"Ayah hanya mengetahui sedikit, katanya pada malam itu, kecuali Hui-thian, masih ada orang lain yang datang lebih awal ke rumah Hie, orang ini sudah berjanji terlebih dahulu dengan Nyonya Hie, tapi akhirnya Hie melarikan diri bersama Hui-thian."

Kata Coh Kim-sung.

"Mereka curiga bahwa orang itu adalah Toakomu?"

"Suheng Nona Hie membuktikan bahwa pada malam itu Toako meninggalkan rumah Po."

"Karena itu Nona Hie mencurigai Toakomu?"

Kata Coh Thian-hong.

"Nona Hie tidak mengatakan secara langsung, dia hanya curiga saja"

"Aku tidak yakin Toakomu tidak tahu aturan seperti itu."

Tapi hati Coh Kim-sung sempat berpikir, 'Pantas ketika aku bertanya kepada Hie Tiong-gwee mengapa Thian-su begitu lama belum pulang dan menanyakan apakah dia tahu Thian-su berada di mana ekspresi wajanya menjadi sangat aneh dan selalu berkata, tidak tahu, apakah benar malam itu ada 2 orang yang masuk ke rumah Hie, dia pun akhirnya curiga bahwa orang itu adalah Thian-su."

Kata Coh Thian-hong.

"Aku pun tidak percaya aku mengatakan banyak orang ingin menjodohkan putrinya dengan kakak, kakak menolaknya mengapa kakak bisa mempunya hubungan gelap dengan perempuan yang sudah bersuami?"

"Lalu bagaimana jawaban dari Nona Hie?"

Tanya Coh Kim-sung "Dia tidak menjawab, kelihatannya dia sangat membenci ibu tirinya kemudian ada Hui-thian, katanya ibu tirinya dan Hui-thian pada masa lampau adalah sepasang kekasih.

Hui-thian dan dia mempunyai rencana lain, mereka ingin merusak nama baik Hie Tiong-gwee juga menghancurkan rumah tangganya."

Coh Kim-sung menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Ini hanya pendapat seorang anak kecil, perbuatan Hui-thian sepertinya jahat, tapi perbuatannya itu membuktikan bahwa dia adalah seorang yang berani dan bertanggung jawab. Orang seperti Hui-thian tidak mungkin menggunakan cara dengan memperalat perempuan untuk menghadapi Hie Tiong-gwee, bila dia orang jahat dia harus mengulurkan benang yang panjang untuk memancing ikan besar, tidak perlu merusak perrukaHan He Tiong-gwee."

Kata Coh Thian-hong.

"Aku hanya menyampaikan pendapat Nona Hie."

"Teruskan ceritamu!"

"Mendengarkan kata-kata Nona Hie, dia tidak membenci Toako, hanya merasa kasihan!"

Tanya Coh Kim-sung.

"Apa? Mengapa anakku harus dikasihani? Kasihan karena apa?"

Jawab Coh Thian-hong.

"Nona Hie juga tidak yakin bahwa kakak mempunyai hubungan gelap dengan ibu tirinya kalau itu benar, itu pun kesalahan kakak, dari ceritanya dapat diketahui bahwa ibu tirinya adalah perempuan murahan, selain Hui-thian adalah kekasih lamanya, bila ada laki-laki lain yang mempunyai hubungan gelap dengannya, orang itu patut dikasihani!"

Kata Song Eng-lam.

"Ibu tirinya kabur dengan Hui-thian, pasti dia sangat benci kepada ibu tirinya, tapi bila mereka adalah sepasang kekasih dan akhirnya mau menikah dengan ayahnya, pasti ada sebab-sebabnya. Nona Hie dan kita sama-sama tidak tahu alasannya, apalagi aku tidak percaya bahwa kakakmu begitu mudah terpikat kepada orang lain."

Kata Coh Thian-hong.

"Mengenai hal-hal yang dialami oleh Toako, Nona Hie hanya menceritakannya sedikit, bila ayah mengijinkanku pergi ke gunung barat untuk melihat daun Hong, aku akan mencari tahu lebih banyak lagi."

Kata Coh Kim-sung.

"Tidak perlu seperti itu, bila kebetulan bertemu dengannya dan dia bercerita lagi, kau dengarkan saja, tidak perlu sengaja menanyakannya. Kata Coh Kim-sung lagi.

"Adik, aku menyesal datang kemari!"

Kata Song Eng-lam.

"Apakah kau merasa hal ini lebih rumit dari perkiraan kita?"

Coh Kim-sung tidak menjawab, tapi dia balik bertanya kepada Eng-lam.

"Adik, kau melihat Hie Tiong-gwee, seperti apakah orangnya menurutmu?"

Song Eng-lam berkata.

"Kau adalah pendekar Yang-ciu, dia adalah Pendekar Tiong-ciu. Tiong-ciu lebih besar daripada Yang-ciu, menurutku Pendekar Tiong-ciu iidak dapat menandingi Pendekar Yang-ciu."

Kata Coh Kim-sung.

"Kalau orang menjual labu dia pasti akan memuji labunya bagus, terima kasih kau sudah menempelkan emas di wajah suamima"

Kata Song Eng-lam.

"Aku tidak bercanda, jujur bicara nama Pendekar Tiong-ciu hanya memberikan kesan baik, lebih baik dengan mendengar daripada melihat orangnya! Dia bisa bergaul, meladeni kita dengan sangat sempurna tapi bila dihubungkan dengan kata 'pendekar", kata ini sepertinya tidak cocok, bila orang seperti dia diberi posisi di pemerintahan, itu akan cocok sekali!"

"Benar, dia sangat pandai bergaul, aku juga pernah mendengar perbuatan yang membuatku mual."

Kata Song Eng-lam.

"Yang disebut berbuat amal adalah keluar uang untuk membantu orang lain."

Kata Coh Kim-sung.

"Pasti semua itu hanya untuk menambahkan harum namanya banyak hal tidak perlu diselesaikan dengan uang, tapi harus dengan nama, seperti membantu teman membereskan masalah, itu bisa menambah harum namanya juga."

"Siapakah yang dia bantu?"

Tanya Eng-lam.

"Ada yang berasal dari golongan putih, golongan hitam, dari perkumpulan mana pun, orang apa pun ada"

"Aku sudah mengerti."

Ucapan ini sangat tiba-tiba membuat Coh Kim-sung terpaku dan bertanya.

"Kau sudah mengerti apa?"

"Kau berasal dari keluarga pesilat, Hie Tiong-gwee baru muncul beberapa tahun yang lalu, mengapa dia yang lebih terkenal? Sekarang aku baru mengerti ini dikarenakan uangnya lebih banyak dari dirimu. Dia memakai uang untuk membeli nama dengan demikian namanya lebih besar dari namamu, uang memang bisa sangat berguna."

Coh Kim-sung tertawa dan berkata.

"Adik, kata-katamu terlalu tajam, tapi tepat mengenai sasaran."

Kata Song Eng-lam.

"Aku pun mengerti mengapa kau menyesal datang ke sini, kau merasa menyesal karena sudah diperalat oleh orang seperti Hie Tiong-gwee."

Kata Coh Kim-sung.

"Jujur bicara aku berjanji kepadanya membantu menghadapi Hui-thian semua ini karena Tuan Kiam-ta, sekaligus membasmi orang jahat di dunia persilatan bukan menjilat orang seperti Hie Tiong-gwee."

Kata Song Eng-lam.

"Hui-thian seperti apa pun orangnya kita belum tahu."

"Banyak orang yang berkata bahwa dia adalah penjahat kelas berat, Tuan Kiam-ta pun berkata seperti itu."

Kata Song Eng-lam.

"Mendengar belum tentu benar, harus melihat baru tahu dengan jelas'' Kata Coh Kim-sung.

"Kata-katamu benar, tapi aku sudah berjanji dengan Tuan Kiam-ta, Untuk sementara ini aku percaya dia tidak berbohong."

"Kalau begitu kau pun harus tenang menghadapinya"

Coh Kim-sung mengangguk dan berkata.

"Laki-laki sudah berjanji, walaupun itu salah, tetap harus ditepati dan aku tidak menyesal."

Song Eng-lam menghiburnya dan berkata.

"Tuan Kiam-ta sangat terkenal, dia adalah seorang pendekar tidak sama dengan Hie Tiong-gwee, dia mengeluarkan undangan untuk para pendekar kemungkinan tidak akan salah."

Dia menatap Coh Kim-sung yang masih mengerutkan dahi, Song Eng-lam merasa aneh dan bertanya.

"Kakak, apa yang kau pikirkan, apakah terhadap Tuan Kiam-ta pun kau..."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku sudah berteman dengan Tuan Kiam-ta selama 20 tahun lebih, walau tidak sering bertemu tapi seperti pepatah yang mengatakan . orang berteman yang paling penting adalah cocok dengan hatinya, aku selalu mengira Tuan Kiam-ta adalah teman yang sehati..."

Kata Song Eng-lam dengan terkejut.

"Apakah kau merasa aneh, setelah berteman sekian lama baru tahu bahwa dia bukan teman yang kau inginkan?"

Jawab Coh Kim-sung.

"Dia masih seperti dulu, jujur dan sangat terbuka, tapi sekarang ini nku merasa ada yang tidak beres, tapi aku tidak tahu di mana letak tidak beresnya"

"Apakah dia berbeda dengan yang dulu?"

Tanya Song Eng-lam.

"Ini hanya perasaanku saja, aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu, apakah ini hanya perasaanku saja?"

Kata Song Eng-lam.

"Aku lihat kecurigaanmu timbul karena kau melihat Hie Tiong-gwee ndak pantas menjadi Pendekar Tiong-ciu, dia dan Tuan Kiam-ta sangat akrab, jadi kau pun merasa Tuan Kiam-ta pun sepertinya sudah berubah, wbenarnya bila Hie Tiong-gwee bukan seorang pendekar dan juga orang baik, kau akan merasa baik-baik saja. Semua ini karena istri Hie Tiong-gwee vang dibawa kabur oleh Hui-thian, demi Hie Tiong-gwee, Tuan Kiam-ta marah dan itu sangat wajar."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku tidak bilang bahwa mereka tidak boleh membantu, tapi ini hitnya kecurigaanku saja, mengapa aku bisa punya pikiran seperti itu? Tapi "lu merasa dia seperti bukan Tuan Kiam-ta yang dulu."

Kata Song Eng-lam.

"Kau sudah menerima undangan pendekar dan sudah berjanji, sekarang kau jangan ragu lagi."

Dia membalikan tubuh dan berpesan kepada putrinya.

"Anak Ang, yang diceritakan oleh ayahmu tadi, jangan dibicarakan kapada orang lain!"

Coh Thian-hong berkata.

"Aku mengerti, ibu jangan menganggapku anak kecil lagi."

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan ada yang berkata.

"Coh Toako, aku dan dua bersaudara ini datang untuk menengokmu."

Kata Coh Kim-sung kepada putrinya.

"Tolong bukakan pintunya!"

Pintu dibuka, seorang gadis dan sepasang pemuda masuk, Song Eng-lam langsung masuk ke dalam.

Si gadis adalah putri Hie Tiong-gwee bernama Hie Kim-giauw, kedua pemuda itu adalah putra-putra Panglima Bok.

Mereka kembar, si kakak bernama Ling-ku, si adik bernama Ling-hoa..

Kedua bersaudara Mu ini sangat sopan, begitu melihat Coh Kim-sung, mereka langsung menyapa.

"Apa kabar, Paman Coh? Apakah Anda sedang menikmati bunga Chrysan? Kami disuruh oleh ayah untuk menanyakan keadaan paman."

"Terima kasih."

Jawab Coh Kim-sung. Kata Hie Kim-giauw sambil tertawa.

"Paman Coh, mereka membohongi Anda, mereka tahu aku sudah berjanji dengan adik Coh, mereka ingin ikut, bila aku tidak dapat seperti itu, apakah paman tidak senang terhadapku?"

Jawab Coh Kim-sung dengan tertawa.

"Kau begitu jujur, aku sangat senang."

Dia senang dengan kepolosan Hie Kim-giauw. Dalam hati dia berpikir, 'Hie Tiong-gwee adalah orang munafik, tapi putrinya berbeda.' Kedua bersaudara Bok itu sangat malu, Ling-ku berkata.

"Nona Hie, dari dulu ayah sudah berpesan seperti itu, hanya saat ini kami baru sempat bertemu dengan Paman Coh."

Kata Hie Kim-giauw sambil tertawa.

"Baiklah, aku yang salah, kau bilang cuacanya bagus, sangat cocok untuk pergi bermain."

Kata Ling-ku.

"Benar, kami datang ke sini hal pertama yang dilakukan adalah menanyakan keadaan paman. Kedua, kami akan mengundang paman dan keluarga ke gunung barat untuk melihat-lihat daun Hong, sekarang ini daun Hong sedang memerah, paling cocok untuk dinikmati keindahannya. Ayahku sangat sibuk tidak dapat menemani paman, karena itu kami berdua mewakili ayah mengundang paman sekeluarga untuk ikut."

Kata Coh Kim-sung.

"Terima kasih atas kebaikan kalian, sayang aku orangnya meski terlihat santai tapi hatiku tidak, aku pikir ayahmu juga tidak berharap aku meninggalkan ibukota."

Kata Kim-giauw.

"Paman Coh, bila kau tidak bisa pergi, biarlah adik Coh saja yang pergi bersama kami."

Coh Kim-sung terdiam, kemudian Coh Thian-hong berkata.

"Ayah, apakah aku boleh pergi?"

Kata Hie Kim-giauw lagi.

"Paman, bila aku sendiri yang mengajak adik Coh untuk pergi bermain paman pasti tidak akan mengijinkan, tapi sekarang ini ada 2 orang Bok Siauya yang siap menemani, jadi paman tidak perlu khawatir."

Walaupun sifat Coh Kim-sung agak kaku tapi dia masih mengerti aturan, dia melihat kedua Siauya itu meminta ijin dengan sopan dan putrinya pun ingin pergi bermain, akhirnya dia mengijinkan.

Dalam hati dia berpikir, 'Bila aku tidak mengijinkan Anak Hong pergi, mereka akan salah paham, pertama, dia akan mengira anaknya tidak dapat melindungi putriku.

Kedua, dia akan mengira aku tidak tenang karena putriku dibawa oleh anak-anaknya."

Walaupun dia tidak senang bergaul dengan orang yang berkuasa dan kaya, tapi dia tetap mengijinkan putrinya pergi dan berkata.

"Kalian boleh pergi, cepat pergi dan cepat pulang lagi!"

Ling-hoa. yang dari tadi hanya diam akhirnya berkata.

"Paman jangan khawatir, kami sudah menyiapkan 4 ekor kuda perang Sore hari kami pasti sudah kembali ke sini."

Kuda perang milik pengawal istana adalah kuda-kuda terbaik.

Ternyata mereka hanya menyiapkan 4 ekor kuda dan hanya untuk 4 orang Hja.

Yang mereka sebut 'mengajak Coh sekeluarga itu tidak sungguh-sungguh.

Setelah putrinya pergi, Song Eng-lam baru keluar dan berkata.

"Tidak disangka dua tamu agung yang datang, sepertinya putri kita pun akan naik posisinya."

Coh Kim-sung pun tertawa dan berkata.

"Dua bersaudara Bok itu kelihaiannya sangat sopan dan tidak sombong."

Kata Song Eng-lam.

"Karena mereka ada maksud, jadi harus sopan kepadamu."

"Kau kira mereka adalah..."

"Putri kita sudah disenangi oleh kedua bersaudara itu, entah si kakak atau si adik."

"Tidak mungkin, mereka baru satu kali bertemu dengan putri kita, mereka baru kenal."

Kata Coh Kim-sung.

"Mereka tahu Tian Hong sudah berjanji dengan Nona Hie, dan langsung menemani Nona Hie datang ke sini, anak orang kaya bila tidak punya maksud, mengapa mau datang ke sini?"

Kata Coh Kim-sung.

"Biarkanlah putri kita pergi bermain, aku kira mereka tidak akan berani menipunya, begitu urusan kita di sini selesai, segera kita tinggalkan ibukota."

"Jujur bicara, aku tidak suka bila putri kita menikah dengan orang dari keluarga macam itu, tapi aku harap ini hanya kecurigaanku saja"

"Putri kita masih kecil, soal jodoh, tidak perlu dikhawatirkan beberapa tahun lagi aku akan mencarikan untuknya suami yang baik."

Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Kata Coh Kim-sung.

"Kali ini pasti bukan orang kaya yang datang."

Begitu pintu dibuka yang datang adalah Cong-koan panglima pasukan istana yang bernama Pheng Ta-ciu.

Pheng Ta-ciu tampak sudah tua mungkin sudah berusia 70 tahun lebih tapi masih terlihat bersemangat, sewaktu berusia 65 tahun, dia merasa sudah tua dan dipensiunkan oleh pihak istana, karena dia dan ayah Bok Ci-giauw adalah sahabat maka Bok Ci-giauw mengundang orang tua ini untuk membantunya.

Begitu Coh Kim-sung bertemu dengannya, dia berkata.

"Cong-koan, angin apa yang membawamu kemari?"

Kata Song Eng-lam.

"Kim-sung, sepertinya nasib kita akan mujur."

Pheng Ta-ciu menjadi bengong dan bertanya.

"Nyonya Coh, apa maksud dari kata-katamu?"

"Bila dewa penolong datang, bukankah kami pasti akan mujur?"

Pheng Ta-ciu tertawa dan berkata.

"Nyonya jangan menertawakanku, jujur bicara, aku datang ke sini untuk meminta bantuan kepada Anda berdua."

"Ada apa? Apa yang bisa kami bantu?"

Tanya Coh Kim-sung.

"Aku ke sini mencari putra-putra Panglima Bok Ci-giauw, apakah mereka datang ke sini?"

Kata Coh Kim-sung.

"Kabar ini sangat cepat, tadi mereka datang bersama dengan putri Hie Tiong-gwee."

"Apakah Coh Tayhiap tahu mereka pergi ke mana?"

"Mereka pergi bermain ke gunung barat."

"Celaka!"

Teriak Pheng Ta-ciu dengan kerkejut "Apa yang celaka?"

Tanya Coh Kim-sung.

"Kami baru mendapat kabar bahwa Hui-thian berada di gunung barat"

Coh Kim-sung terkejut dan bertanya.

"Apakah kalian sudah menyuruh orang untuk pergi ke gunung barat?"

"Kami juga baru mendapat kabar, ada yang berkata dia di gunung barat, kemarin ada yang bilang dia berada di Tauw-gan-teng, sekarang kita sedang kekurangan orang dan tidak ada yang bisa pergi ke gunung barat."

"Mengapa?"

Tanya Coh Kim-sung.

"Pertama, gunung barat begitu luas sulit untuk mencarinya. Kedua, kami juga takut bila dia memakai cara gerilya."

Kata Song Eng-lam.

"Aku tidak tahu Tauw-gan-teng adalah tempat bermain yang bagaimana, apakah letaknya berada di luar Kota Peking atau di dalam Kota Peking?"

"Tauw-gan-teng berada di pinggiran kota, tidak jauh dari rumah Panglima Mu, hanya setengah jam perjalanan."

"Ternyata kalian takut Hui-thian akan menyerang ke rumah Panglima Bok?"

Kata Coh Kim-sung. Kata Pheng Ta-ciu.

"Karena Hui-thian selalu melakukan sesuatu yang mengejutkan, kami harus selalu waspada!"

Kata Coh Kim-sung.

"Bukankah Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee berada di rumah Panglima Bok?"

Kata Pheng Ta-ciu dengan tertawa.

"Di sini tidak ada orang lain, aku akan jujur bicara, Hie Tiong-gwee memang pendekar dari Tiong-ciu tapi ilmu silatnya biasa-biasa saja di rumah panglima pun ada beberapa penjaga yang ilmu silatnya cukup tinggi lapi bila untuk menghadapi Hui-thian, sepertinya mereka tidak akan sanggup, jadi kami hanya mengandalkan Tuan Kiam-ta saja, karena itu kami tidak dapat menyuruh orang pergi ke gunung barat."

Tanya Coh Kim-sung.

"Bagaimana dengan orang-orang di kantor Sin-hoan Piaukok?"

"Kami belum memberitahu Ketua Tong."

"Kalau begitu cepat beritahu kepadanya!"

"Aku punya alasan tertentu, pertama, orang-orang di Piau-hang ingat banyak berita ini akan cepat tersebar. Kedua, jujur bicara hanya Ketua Tong saja yang bisa diandalkan."

Pheng Ta-ciu tertawa kecut dan melanjutkan.

"Tapi yang benar-benar bisa diandalkan hanya Anda seorang."

Kata Coh Kim-sung.

"Tuan terlalu memuji, tamu-tamu yang tinggal di Piau-hang, kebanyakan diundang oleh Tuan Kiam-ta, aku tidak percaya di antara mricka tidak ada yang bisa diandalkan."

Kata Pheng Ta-ciu.

"Menurutku, para pesilat tangguh baru datang besok atau lusa, saat ini yang mempunyai ilmu silat tinggi hanya kau saja."

Dia berkata lagi.

"Panglima berada di istana, kita tunggu beliau dulu, baru merencanakan bagaimana cara menangkap Hui-thian. Tapi sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana cara melindungi kedua putra Panglima Mu."

Tanya Coh Kim-sung.

"Bukankah kau bilang bahwa Hui-thian sudah masuk ke kota?"

"Dia hanya sebentar muncul di Tauw-gan-teng yaitu kemarin malam, apakah dia menginap di kota, tidak ada yang mengetahuinya, mungkin dia sudah menuju ke gunung barat, bila kedua putra Panglima Bok bertemu dengan Hui-thian, bagaimana..."

Tanya Coh Kim-sung.

"Apakah kau ingin aku melindungi kedua pemuda Bok ini?"

"Juga demi putrimu."

Coh Kim-sung adalah orang yang di luar keras tapi di dalamnya tidak, dalam hati dia berpikir, 'Aku bisa membantu Tuan Kiam-ta, tapi bila aku menjadi pengawal orang kaya namaku bisa tercemar, walaupun Hui-thian disebut penjahat besar, tapi dia pun sudah terkenal.

Dia tidak akan menganiaya perempuan yang lemah.

Sekarang aku membantu musuhnya, bila dia tidak suka dia bisa mencariku.' Sepertinya Pheng Ta-ciu tahu pikirannya, dan dia berkata.

"Hui-thian bukan orang baik-baik, dia orang jahat yang bisa melakukan apa pun, bila terjadi sesuatu pada putrimu, kau membunuh dia pun sudah tidak ada gunanya!"

Coh Kim-sung tidak percaya bahwa Hui-thian itu sangat jahat seperti yang dikatakan orang-orang, tapi hatinya tetap tidak tenang, akhirnya dia setuju untuk ikut Pheng Ta-ciu ke gunung barat.

---ooo0dw0ooo---B.

Mengintip Pesta Setelah Coh Kim-sung pergi, Song Eng-lam tinggal di rumah sendirian, dia teringat kepada putrinya.

Putri yang diingatnya adalah putri yang dia tinggalkan di rumah Kie, dia bernama Kie Su-giok.

"Aku meninggalkan Su-giok sewaktu dia berumur setahun, sekarang bila dihitung-hitung umurnya sudah 18 tahun, apakah dia tahu bahwa ibu kandungnya masih hidup?"

Waktu dia meninggalkan keluarga Kie itu pun seijin mertuanya hanya ada satu syarat yang diajukan yaitu dia tidak diijinkan pulang untuk menengok putrinya, syarat ini disampaikan oleh pelayan mertuanya yang bernama Ting Po.

"Putraku bukan orang baik, tidak serasi dengannya, apalagi anak durhaka ini sudah meninggal, bila dia ingin pergi dari keluarga Kie, biarkan dia pergi, tapi keburukan keluargaku tidak perlu disebarkan kepada orang lain, kau beritahu saja kepadanya, begitu dia keluar dari keluarga Kie, aku akan menganggap dia sudah mati."

Pesan-pesan Kie Yan-gan disampaikan oleh Ting Po ketika dia jkan meninggalkan keluarga Kie.

Bila ingat kata-kata ini, dia masih merasa sakit hati, walaupun dia tidak menyesali pernikahannya yang kedua.

"Bila dia tahu bahwa aku masih hidup, dia pasti akan marah Karena aku adalah ibu yang tidak bertanggung jawab, selama 16 tahun aku belum pernah menengoknya, apakah dia tahu keresahan hatiku? Aku berharap dia menganggapku sudah mati, agar dia tidak malu mempunyai ibu seperti diriku ini."

Eng-lam menghubung-hubungkan cerita tentang Nyonya Hie dan Hui-thian yang melarikan diri bersama-sama, dihina oleh banyak orang.

"Aku benar-benar kagum kepada Nyonya Hie, dia begitu berani. Waktu itu karena tidak mau mengecewakan ayah maka aku mau menikah dengan Kie Lek-beng. Apa alasan Nyonya Hie hingga mau menikah dengan Hie Tiong-gwee? Pasti bukan kemauannya. Hui-thian pun sangat berani, dia berani menentang pernikahan Pendekar Tiong-ciu, Hie Tiong-gwee dan merebut kembali kekasihnya."

Tapi dia tidak tahu bahwa Kang Hiat-kun belum kembali ke pelukan Hui-thian, karena keadaan ini mirip dengan keadaannya dulu, maka dia merasa kasihan kepada sepasang kekasih ini.

Dia berpikir kembali, 'Nyonya Hie belum resmi menjadi istri Hie Tiong-gwee, dia sudah dihina orang, bila orang-orang tahu bahwa aku meninggalkan suami dan putriku kemudian menikah kembali, dengan cara apa mereka akan menghinaku?' Dia teringat kepada kata-kata Hie Kim-giauw yang begitu kejam menghujat ibu tirinya, dia merasa lebih sedih lagi, karena keadaan ibu tiri kim-gjauw seperti dirinya.

Kim-giauw adalah gadis yang polos, karena ibu linnya melarikan diri, dia jadi memandang rendah kepada ibu tirinya.

'Bila putriku seperti dia memarahiku, lebih baik aku mati,' Kemudian dia berpikir lagi.

"Sudah begitu lama tidak mendengar kabar tentang Kie Lek-beng, sewaktu aku meninggalkan keluarga Kie, Kematiannya belum terbukti. Sudah menjadi rahasia umum bahwa keluarga Kie adalah keluarga pesilat nomor satu secara turun temurun, keluarga Kie hdak mempunyai menantu yang kawin lari, di keluarga lain bila suaminya aidah meninggal kemudian menikah lagi itu tidak aneh."

Agar putrinya tidak dihina, dia berharap Kie Lek-beng benar-benar sudah meninggal.

Sewaktu dia berpikir, ada yang mengetuk pintu.

Yang datang adalah putra Tong Hwai-ie yang bernama Tong Peng-kian.

Tong Peng-kian diperintah oleh ayahnya untuk mengundang Coh Kim-sung.

Kata Song Eng-lam.

"Tong Siauya, kau datang tidak tepat waktu, dia sudah pergi."

Tong Peng-kian terkejut dan berkata.

"Sejak Coh Tayhiap tiba di ibukota, belum pernah pergi keluar, mengapa hari ini Paman Coh bisa pergi?"

"Dia tidak pergi bermain, dia pergi mencari teman, siapa temannya aku pun tidak tahu."

Kata Tong Peng-kian dengan cemas.

"Kalau begitu, ini sangat disayangkan!"

Lanjut Tong Peng-kian lagi.

"Piau-hang kedatangan 2 orang tamu, mereka sangat mengagumi Paman Coh, ayah juga sedang menyiapkan pesta penyambutan untuk mereka karena itu aku disuruh ayah mengundang Paman Coh datang ke pesta itu."

Hati Song Eng-lam terasa tidak enak, tapi dia berusaha menyembunyikannya, dia tertawa dan berkata.

"Aku mengira ada hal yang penting, ternyata hanya menyuruh dia menemani tamu, baiklah bila dia sudah pulang, aku akan memberitahu kepadanya."

Kata Tong Peng-kian dengan malu.

"Aku tahu Paman Coh tidak senang dengan pesta, tapi kedua tamu ini bukan tamu biasa."

Tanya Song Eng-lam.

"Mereka tamu yang datang dari mana?"

"Yang satu adalah ketua perkumpulan Bwee-hoa-koan, Bwee To-seng, dia diundang oleh Tuan Kiam-ta, Pendekar Hie Tiong-gwee dan ayahku katanya dia adalah teman Paman Coh."

Kata Song Eng-lam.

"Benar, aku pernah dengar Kim-sung mengatakannya. Lalu yang satu lagi siapa?"

"Yang satu lagi adalah tamu agung yang diundang oleh paman keduaku, katanya orang itu sangat aneh, tapi paman keduaku sangat menghormatinya dan paman terus berpesan agar meladeni orang itu dengan baik"

Yang dimaksud Tong Peng-kian sebagai paman keduanya adalah Tong Hwai-ie, dalam hati Song Eng-lam berpikir, 'Ilmu silat Tong Hwai-ie tidak begitu tinggi dan pergaulannya tidak begitu luas, tidak seperti kakaknya, siapa yang dimaksud dengan orang yang aneh dan berilmu silat tinggi?

Belum tentu orang itu mempunyai ilmu silat yang dasyat' Dia bertanya kepada Tong Peng-kian.

"Iapa nama tamu aneh itu?"

"Dia she Kie, bernama Tai-seng."

Song Eng-lam terpaku dan berkata.

"Namanya sangat aneh, mungkin itu bukan nama aslinya."

Kata Tong Peng-kian.

"Aku tidak tahu apakah itu nama aslinya atau bukan? Ayahku pun sewaktu mendengar nama yang begitu aneh dari paman kedua, juga pernah bercanda seperti ini mungkin orang ini mau bersaing dengan Kie Tai-seng vang asli'-Tapi setelah dia bertemu dengan ayahku, melihat sikap ayahku sepertinya ayah pun jadi hormat kepadanya."

Song Eng-lam tampak berpikir dan dia terdiam. Tong Peng-kian berkata lagi.

"Orang itu baru datang, yang pertama kali dia tanyakan adalah lentang Paman Coh kelihatannya dia sangat mengagumi Paman Coh."

Dengan terkejut Song Eng-lam bertanya.

"Bagaimana caranya bertanya tentang Paman Coh?"

Jawab Tong Peng-kian.

"Dia hanya berkata sudah lama kagum kepada Paman Coh. Tapi Kudengar Paman Kie sudah berada di Piau-hang, karena itu begitu tiba dia langsung ingin bertemu dengan Paman Coh."

"Dia berasal dari mana?"

"Dia belum pernah mengatakan tentang identitasnya"

"Apakah dia berasal dari mana pun tidak mengatakannya?"

"Benar, menurut paman keduaku, dia sangat misterius, tapi..."

"Tapi apa?"

Tanya Song Eng-lam.

Tong Peng-kian melihat Eng-lam begitu teliti dan merasa aneh, Tong Peng-kian berpikir, 'Setiap orang pun ingin tahu, apalagi tiba-tiba datang orang yang begitu misterius, tidak aneh bila Bibi Coh terus bertanya."

Kemudian dia berkata.

"Mendengar logatnya sepertinya dia berasal dari Holam."

Song Eng-lam terkejut tapi dia segera menahan dirinya agar tidak berteriak dan berkata.

"Ternyata dia adalah orang Holam."

Kata Tong Peng-kian.

"Pesilat tangguh Kie Yan-gan pun tinggal di Holam, tepatnya di gunung Ong-bu, apakah Bibi Coh mencurigainya sebagai salah satu dari keluarga Kie?"

"Bagaimana menurutmu?"

Tong Peng-kian tertawa dan menjawab.

"Aku tidak pernah melihat ilmu silatnya, bila dia benar-benar seperti yang dikatakan oleh paman kedua, dia pasti bukan dari keluarga pesilat nomor satu."

"Mengapa bisa begitu?"

Kata Tong Peng-kian.

"Sangat sederhana, orang itu berumur kurang lebih 40 tahun, dia pusti bukan Kie Yan-gan, bila Kie Yan-gan masih hidup, dia pasti sudah berumur 70 tahun lebih."

Dia berkata lagi.

"Kie Yan-gan hanya mempunyai seorang putra, 20 tahun yang lalu sudah mati di tangan 5 Bu-tong Tianglo. Ini sudah diketahui semua orang, apakah bibi juga tahu?"

Jawab Song Eng-lam.

"Aku tahu, di dunia persilatan masih banyak tersembunyi harimau dan naga, di mana-mana banyak pesilat tangguh. Dia adalah orang Holam yang kebetulan she Kie, itu tidak aneh. Tapi sayang, Paman Coh nanti malam baru tiba di rumah, hari ini tidak dapat mengunjungi tamu agung. Aku mohon maaf!"

Setelah Tong Peng-kian pergi, hati Song Eng-lam tidak tenang dan dia terus berpikir, 'Siapakah Kie Tai-seng ini?"

Tiba-tiba dia teringat pada satu hal, sewaktu dia masih menjadi menantu keluarga Kie, pelayannya Ting Po pernah memberitahu bahwa suaminya, Kie Lek-beng sejak kecil sudah sangat nakal, dia mempunyai julukan 'kera kecil', di depan ayahnya dia pura-pura sangat sopan karena itu juga julukannya bertambah menjadi siluman monyet.

Waktu itu dia baru menikah, suaminya sudah selingkuh dan sering mabuk-mabukan.

Ting Po memberitahu hal ini agar dia bisa mengerti.

Sejak kecil suaminya sudah nakal dan tidak bisa diatur, dia diharapkan bisa bertahan dengan keadaan ini.

Song Eng-lam berkata pada dirinya sendiri, 'Kera kecil dan siluman kera' Tiba-tiba hatinya bergetar, 'Apakah dia yang dimaksud?

Dia tidak mati dan hidup kembali?' Jaman dulu, yang disebut siluman kera adalah Kie Tai-seng Sun Go-kong, walaupun cerita tentang raja kera ini hanya sebuah legenda, tapi semenjak ada See-yu raja kera ini diberi nama Kie Tai-seng Sun Go-kong, sejak jaman dulu orang pun sudah tahu.

"Apakah karena sejak kecil dijuluki sebagai kera kecil maka setelah besar dia mau menjadi Sun Go-kong yang membuat keributan di istana langit?"

Pikir Song Eng-lam.

Bila tidak salah tebak, Kie Tai-seng memang julukannya.

Tempat di mana Song Eng-lam berdiri hanya terhalang oleh sebuah dinding dengan Piau-hang, bila dia membuka jendela belakang kamar tidur, dia bisa melihat keadaan di sana.

Yang membuatnya senang i adalah di dekat jendela ada sebuah pohon, walau dia berdiri lama di depan jendela, tidak akan terlihat oleh orang-orang.

Di taman sangat ramai, seperti ada pesta penyambutan tamu.

Song Eng-lam masuk ke kamar tidur kemudian membuka jendela, hatinya berdebar-debar.

Tebakan Song Eng-lam tidak salah, di taman Piau-hang sedang ada pesta penyambutan.

Tamu yang datang adalah Bwee To-seng dan Kie Tai-seng serta masih ada beberapa orang lagi yang diundang oleh Tong Hwie-yan..Di antara tamu-tamu itu ada juga murid Siauw-lim yang sudah fl menjadi orang biasa Dia adalah Hun Sim-boh.

Masih ada guru silat yang terkenal, dia adalah Cia Kwee-tong, dia adalah teman baik Hie Tiong-gwee.

Ada seorang lagi, dia lebih terkenal dibanding kedua tamu itu, dia adalah Cianpwee persilatan, pernah menjadi ketua pelatih penjaga istana, pia sudah pensiun pada umur 60 tahun, sekarang dia berumur 73 tahun.

Semua tamu di sana kebanyakan saling kenal, hanya Kie Tai-seng vang tidak dikenal oleh orang-orang di sana, kelihatannya Kie Tai-seng tidak bersemangat, walaupun di sana banyak orang, tapi dia hanya bertanya satu kalimat.

"Yang mana Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung?"

Begitu tahu Coh Kim-sung tidak dapat hadir di pesta itu, dia hanya diam terus.

Dia adalah Cianpwee persilatan bernama Tuan Yong, dan yang itu adalah Pendekar Yap dari Bu-tong, dan masih ada Pendekar Hun dari Siauw-Um.

Tuan rumah memperkenalkan tamu-tamunya, Kie Tai-seng hanya mengangguk, sepatah kata pun tidak keluar suara.

Sepertinya dia hanya ingin berkenalan dengan Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung, yang lainnya dia tidak tertarik.

Dengan keadaan seperti itu membuat suasana menjadi tidak enak, sekarang para undangan dipersilakan duduk.

Biasanya tamu yang paling dihormati akan duduk di kursi paling depan dan kursi itu hanya ada satu, harus bagaimana agar membuat semua orang tidak tersinggung.

Kie Tai-seng dan Bwee To-seng adalah tamu yang datang dari tempat jauh, pesta ini diselenggarakan untuk mereka.

Di antara mereka berdua harus ada satu yang duduk di depan bila Bwee To-seng duduk di depan, bagaimana dengan Kie Tai-seng?

Bila Kie Tai-seng duduk di depan, bagaimana dengan Bwee To-seng?

Sepertinya Bwee To-seng tahu keadaan bahwa tuan rumah tampak kebingungan dan dia berkata.

"Kedudukan Tuan Yong paling tinggi, silakan Tuan Yong duduk di depan "

Segera Tong Hwie-yan berkata.

"Silakan agar Tuan Yong ke depan!"

Tuan Yong menggelengkan kepala dan berkata.

"Tidak, aku tidak bisa. Tamu yang datang dari jauhlah yang harus duduk di depan."

Kata Bwee To-seng.

"Aku lebih muda 2 generasi, bila kulit mukaku tebal orang akan menertawakan Ko Tan menilaiku sombong."

Kata Tuan Yong.

"Bila Adik bwee tidak mau, silakan agar Tuan Kie Tai-seng yang duduk di depan."

Kie Tai-seng tidak sungkan lagi, segera dia duduk di depan. Hati Tuan Yong tidak enak, tapi dia hanya diam. Sewaktu Kie Tai-seng akan duduk, Hun Sim-boh berkata.

"Tunggu!"

Dia membersihkan kursi itu dengan lengan bajunya, dengan tertawa dia berkata.

"Ada sedikit debu, aku sudah membersihkannya, silakan duduk!"

Sifat Hun Sim-boh sudah terkenal dengan cepat naik darahnya, sebenarnya dia adalah hweesio Siauw-lim, karena terlalu pemarah beberapa kali dia diperintahkan untuk menjadi orang biasa, kali ini dia juga bukan bermaksud berbaik hati kepada Kie Tai-seng.

Dia ingin mempermalukan tamu yang akan duduk di depan, begitu dia mengibaskan lengan bajunya, sebenarnya kayu kursi itu sudah menjadi 'lembek, bila diduduki, kursi itu pasti akan hancur.

Kie Tai-seng sepertinya tidak tahu, dia langsung duduk dan berkata.

"Terima kasih!"

Hun Sim-boh tertawa dan berkata.

"Jangan sungkan!"

Dan Hun Sim-boh memasang mata lebih besar lagi, dia ingin melihat tamu terhormat itu dipermalukan olehnya.

Tapi yang ditunggu-tunggu tidak terjadi, walaupun matanya dibuka semakin besar dan semakin besar, Kie Tai-seng tetap duduk dengan tenang.

Apa yang sudah terjadi?

Hanya Tong Hwie-yan yang bisa melihat begitu Hun Sim-boh membersihkan kursi itu, dia sudah tahu bahwa Hun Sim-boh mempunyai niat tidak baik, dia terus memperhatikan gerak gerik Kie Tai-seng, tapi sewaktu Hun Sim-boh sedang membersihkan kursi itu, Kie Tai-seng menekan kursi itu sangat keras.

Tong Hwie-yan adalah seorang pesilat, walaupun dia tidak mengerti ilmu silat apa yang digunakan oleh Kie Tai-seng, tapi dia tahu bahwa Kie Tai-seng duduk di kursi itu dan kursi itu tetap utuh, karena tenaga dalam Hun Sim-boh sudah dihilangkan oleh jari Kie Tai-seng.

Begitu Kie Tai-seng duduk, para tamu pun ikut duduk Hanya Hun Sim-boh yang masih berdiri terpaku.

Kie Tai-seng berkata.

"Pendekar Hun, jangan sungkan, silakan kau juga duduk!"

Dalam hati Hun Sim-boh berpikir.

"Untung tidak diketahui oleh orang lain."

Terpaksa dia duduk di depan Kie Tai-seng, hanya bangku itu yang masih kosong.

Terdengar suara kursi yang patah karena Hun Sim-boh tidak siap maka dia terkejut hingga meloncat, kursi itu sudah hancur berkeping-keping.

Kata Kie Tai-seng.

"Menurut orang-orang, ilmu silat Siauw-lim ada 72 macam, nama-namanya aku tidak ingat, yang tadi dipertunjukkan oleh Pendekar Hun apakah ilmu itu disebut ilmu silat pantat besi? Benar-benar membuat orang menjadi terkagum-kagum"

Hun Sim-boh masih dalam keadaan terkejut, wajahnya memerah dan dia tidak dapat menjawab, tapi sekarang dia sudah tahu bahwa dia sedang dipermainkan oleh Kie Tai-seng, karena Kie Tai-seng mempersilakan dia duduk, dia memakai tenaga dalamnya membuat kursinya patah, begitu dia sadar, semua sudah terlambat.

Tong Hwie-yan tertawa dan berkata.

"Pendekar Hun, bila kau mau bermain silat, aku pun mempersiapkan beberapa kursi."

Dia sengaja berkata seperti itu supaya Hun Sim-boh tidak merasa malu.

Karena ingin mengubah suasana yang tidak enak, Tong Hwie-yan lerus menyuruh para tamu untuk minum arak.

Kie Tai-seng, Tong Hwie-yan, dan Tuan Yongpun bersulang, Yup Jin-tong berdiri dan berkata.

"Tuan Kie, aku pun bersulang untukmu!"

Kata Kie Tai-seng.

"Baiklah, aku tidak menolak sidangan dan siapa pun, mari bersulang!"

Yap Jin-tong dan Hun Sim-boh adalah teman baik, dia bersulang memakai nama, tapi sebenarnya dia ingin membalaskan dendam teman baiknya.

Tenaga dalam Bu-tong yang lembut bisa mengalahkan tenaga dalam yang keras.

Begitu bersulang, dengan tenaga dalam yang lembut, hanya selang beberapa waktu gelas akan pecah di tangan Kie Tai-seng, mungkin waktunya tepat pada saat Kie Tai-seng akan minum Kie Tai-seng adalah seorang pesilat, cara licik seperti itu mana bisa menipunya?

Pada saat gelas beradu, pikir Kie Tai-seng, 'Bila aku getarkan gelasnya hingga pecah, itu sangat mudah, tapi tuan rumah begitu baik kepadaku, aku tidak boleh membuatnya malu.

Bila gelas pecah, kepingannya nkan berhamburan ke mana-mana.

Walaupun tidak melukai orang tapi akan mempermalukan tuan rumah.' Dia langsung memutar otaknya, 'Lebih baik aku menggunakan jurus Lui-ci-kang (Jari Petir).' Begitu gelas beradu, Yap Jin-tong merasa lawan tidak menggunakan tenaga dalam dan dia sangat senang.

Kie Tai-seng menarik kembali gelasnya dan meminum habis semua arak, gelas ditaruh kembali, gelas sama sekali tidak hancur.

Yap Jin-tong terkejut.

"Apakah tenaga dalamnya lebih hebat dariku?"

Dia melihat gelas tidak pecah sama sekali, dengan hati-hati dia mengambil gelasnya dan minum.

Arak di dalam gelas tidak berbeda, tapi rasanya aneh, tadinya arak terasa setengah hangat, tapi begitu mengalir ke mulutnya, lidahnya terasa panas dan tidak tertahankan panasnya Karena Yap Jin-tong tidak ada persiapan sama sekali, dia memuntahkan kembali araknya.

Ternyata jurus Lui-sin-ci adalah ilmu yang bisa mengeluarkan panas yang tinggi.

Ini adalah ilmu yang sangat aneh dan tidak sedalam ilmu lurus biasanya Bila sudah berlatih hingga tinggat tertinggi, jari yang menotok ke tubuh pun dapat meninggalkan luka bakar, karena Kie Tai-seng sudah hampir mencapai tingkat sempurna dia mengubah Lui-sin-ci menjadi tenaga telapak dan semua kekuatan dikumpulkan di telapak tangannya.

Begitu gelas beradu, panasnya berpindah ke gelas lawan.

Tenaga itu mengalir ke dalam arak, gelas tidak terasa panas, tapi arak seperti sudah panas mendidih.

Karena terlalu panas Yap Jin-tong memuntahkan araknya dan ini membuatnya sangat malu.

Kali ini Tong Hwie-yan tidak melihat ada sesuatu yang aneh.

Dengan cepat dia membantu menutupi rasa malu Yap Jin-tong, dia berkata.

"Yap Toako, baru juga beberapa gelas, kau sudah tidak kuat?"

Dia menganggap Yap Jin-tong sudah mabuk. Dengan cepat Yap Jin-tong berkata.

"Aku tidak bisa minum lagi, hari ini terlalu banyak minum, aku mohon maaf!"

Tuan Yong pun menganggap tidak terjadi apa-apa, maka dia berkata.

"Bila sudah minum tidak dapat berhenti, mabuk di pesta itu sudah biasa, tidak perlu sungkan. Kita minum sepuasnya."

Setelah berkata seperti itu dia tertawa terbahak-bahak.

Sewaktumerekasedangmengobrol,pelayansudah membersihkan lantai dan membawa semacam arak yang membuat Yap Jin-tong sadar dari mabuk.

Yap Jin-tong tampak ragu.

"Apakah arak ku sudah diberi racun lagi?"

Dia tidak berani minum arak lagi.

Bwee To-seng dan Kie Tai-seng sama-sama tamu agung, tadinya dia tidak menyukai Kie Tai-seng karena dia duduk di depan.

Tapi setelah dia melihat Siauw-lim dan Bu-tong dibuat malu oleh Kie Tai-seng, dia pun tidak berani coba-coba.

Semua pun berpikiran seperti itu.

"Orang ini sangat pendiam wajahnya pun sangat jelek, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, biasanya bila orang berilmu silat tinggi, pembawaannya pasti aneh."

Awalnya orang-orang membenci dia, sekarang mereka sangat kagum kepadanya.

Song Eng-lam mengintip dari atas, semua yang terjadi di sana dapat dia lihat dengan jelas.

Dia tidak minum, tapi tubuhnya terasa limbung dan gemetar, di depan mata dan di dalam hati semua terasa kacau dan berputar-putar, seperti orang mabuk.

Dia menggigit jarinya hingga terasa sakit, ini bukan mabuk juga tidak sedang bermimpi, dia menutup pintu.

Orang itu menghilang dari pandangan Song Eng-lam setelah jendela ditutup.

Jantungnya serasa hampir meloncat keluar.

Hal yang dia khawatirkan benar-benar sudah terjadi, orang itu adalah dia, bekas suaminya.

---ooo0dw0oo---C.

Ternyata Benar Dia Memang benar, wajah Kie Lek-beng sudah berubah banyak, hingga hampir tidak dikenali lagi oleh Song Eng-lam.

Yang dia lihat adalah wajah yang penuh dengan bekas luka, orangnya sangat kotor seperti pengemis, kenangan yang tertinggal dalam pikiran Song Eng-lam adalah bahwa Kie Lek-beng seorang pemuda yang tampan.

Bila bukan nama Kie Tai-seng yang membuat dia penasaran, dia tidak mungkin menghubungkan dua sifat orang yang berbeda dengan satu orang.

Tapi dia tetap bisa mengenalinya, karena mereka pernah menjadi suami istri walaupun bukan suami istri yang harmonis.

Dari tubuh orang yang jelek dan kotor itu, akhirnya dia tahu bahwa dia adalah Siauya Kieyang dulu dikatakan sudah meninggal.

Kie Lek-beng tidak banyak bicara, Song Eng-lam pun tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas, tapi dia merasa Kie Lek-beng begitu dingin dan angkuh.

Mungkin karena harga diri dan perasaan dirinya sehingga membuat dia seperti itu.

Suaranya pun berubah tapi tidak sebanyak wajahnya.

Dia tidak dapat mendengar kata-kata Kie Lek-beng, tapi dengan satu kalimat yang dia dengar itu sudah cukup.

Baca Juga: Pendekar Wanita Penyebar Bunga 7

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger