Jala Pedang Jaring Sutra 8

Eps 8 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

"Yang mana Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung?"

Begitu banyak tamu tapi dia tidak sudi bergaul dengan mereka.

Begitu melihat tuan rumah datang, dia langsung menanyakan Coh Kim-sung, kalau bukan dia, siapa lagi.

Begitu mendengar Coh Kim-sung tidak dapat ikut dan hadir di pesta itu, dia langsung menarik nafas.

Mungkin orang akan mengira dia kecewa tapi Song Eng-lam merasakan dia menarik nafas karena ada rasa kemarahan dan kebencian.

Hati Song Eng-lam terasa kacau, apakah ini karena sedih, marah, henci, atau kasihan?

Benar, dia dan Kie Lek-beng sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi tapi mereka mempunyai seorang putri.

Putrinya inilah yang mengikat hubungan mereka, begitu teringat kepada putrinya, dia teringat kepada kebenciannya dulu.

Dia ingat, pada malam itu Kie Lek-beng pulang dari tempat kekasih gelapnya dalam keadaan mabuk.

Dia hanya diam dan Kie Lek-beng tidak suka dengan sikap dinginnya.

Kie Lek-beng memukulnya, malam itu dia ingin memberitahu suaminya bahwa dia sedang hamil, karena itulah dia bertekad meninggalkan Kie Lek-beng dan keluarga Kie.

Api kemarahan berkobar lagi, dia benar-benar ingin suaminya mati Tapi sekarang yang berada di depan matanya adalah Kie Lek-beng dan dia masih hidup walau dia kembali dengan keadaaan seperti itu dia masih bisa mengenalinya.

Jendela sudah tertutup tapi bayangan orang itu masih tertinggal di benaknya.

Bekas luka di wajah, tubuh yang kotor dan lesu, tapi dia tahu wajah Kie Lek-beng memacarkan kehidupan.

"Sesudah beberapa tahun dia tersiksa,"

Kemarahannya berkurang, dia kasihan kepada Kie Lek-beng.

Dia selalu teringat kepada siksaan Kie Lek-beng, tapi Kie Lek-beng pun sudah mendapat hukuman yang pantas.

Kie Lek-beng bisa seperti itu banyak faktor penyebabnya, tapi alasan yang paling utama adalah karena dirinya.

Malam itu Kie Lek-beng mabuk, dia hampir dicekik mati oleh Kie Lek-beng karena takut dimarahi oleh ayahnya, dia lari meninggalkan rumah.

Pertama dia memang sudah tidak benar dalam melangkah, begitu meninggalkan rumah kelakuannya sudah tidak tertolong lagi.

Dia mengira dia bisa menghindari kemarahan ayahnya, tapi malah diganti dengan hukuman yang lebih berat.

"Aku berharap dia sudah menyesali perbuatannya Tapi kelihatannya sampai saat ini, dia masih terlihat belum menyesal. Bila dia benar-benar menyesal, aku akan memaafkannya walau aku tidak akan mengikutinya lagi untuk pergi. Tapi sayang, aku berharap terlalu tinggi."

Dia tahu Kie Lek-beng datang ke sini untuk balas dendam.

"Begitu dia datang dia sudah langsung mencari Coh Kim-sung, di dalam harinya Kakak Sung adalah musuh utamanya."

Song Eng-lam merasa sangat marah, dalam hati dia berpikir, 'Kau marah karena aku menikah lagi dengan orang lain, seharusnya kau membalas dendam langsung kepadaku, mengapa harus mencari Kakak Sung?

Aku tidak menyesal meninggalkanmu, walaupun kau tidak mati, aku tetap harus bercerai denganmu, kau menyalahkanku karena bersikap dingin kepadamu.

Bagaimana dengan kelakuanmu terhadapku?

Sebelum menikah sudah ada perempuan lain di luar, waktu baru menikah pun setiap malam kau menginap di luar atau menemani kekasihmu, mengapa kau hanya bisa marah-marah kepada orang lain tapi tidak marah kepada dirimu sendiri?"

Sekarang dia harus berpikir bagaimana cara menghadapi Kie Lek-beng.

Hatinya terasa kacau, dia berharap Coh Kim-sung bisa cepat pulang ke rumah, pemikiran satu orang untuk mencari jalan keluar sangat terbatas , bila ada 2 orang mungkin akan menemukan cara yang lebih baik lagi.

Hari sudah sore, suaminya belum pulang, suaminya mencari putrinya dan kedua-duanya belum pulang.

"Apakah Anak Hong di gunung barat mengalami sesuatu?"

Tadinya dia hanya khawatir kepada suaminya, sekarang ditambah lagi dengan keselamatan putrinya, dia tidak bisa duduk dengan tenang.

Akhiranya Coh Kim-sung pulang dan putri mereka berada di belakangnya.

Dia seperti orang yang sudah berjalan jauh, langkahnya sangat berat, sepertinya untuk bicara dengan putrinya pun enggan.

Dia hanya menundukkan kepala, dan terus berjalan.

Dia pergi ke gunung barat dengan Jnenunggang kuda, tidak ada yang percaya bahwa dia adalah Pendekar Begitu kudanya memasuki ibukota, langsung dikembalikan, dia berjalan kaki melewati Jalan Tiang-an.

Putrinya juga tahu kekhawatiran ayahnya, apakah ayahnya terluka di dalam hatinya atau di tubuhnya?

"Ayah, bagaimana perasaanmu?"

Coh Kim-sung tersenyum dengan terpaksa.

"Tidak ada apa-apa, tenanglah sebentar lagi kita akan tiba di rumah, apakah kau masih khawatir tidak dapat tiba di rumah?"

Tapi hanya beberapa langkah lagi, dia tidak dapat masuk ke dalam rumah, padahal dia sangat berharap bisa bertemu degan orang yang dia cintai, tiba-tiba ada undangan dari seseorang.

Ketika itu ada penjaga pintu yang datang dan dia adalah Guru Piao, biasanya yang menjadi penjaga pintu adalah orang biasa.

Begitu melihat Coh Kim-sung pulang, Guru Piau berkata.

"Coh Tayhiap, kami sudah lama menunggumu, untung masih sempat!"

Coh Kim-sung terkejut dan berkata.

"Sudah terjadi apa?"

"Ada teman yang datang dari jauh, dia sangat ingin bertemu denganmu!"

Tong Hwie-yan tahu bahwa dia tidak senang bergaul tapi sekarang malah menyuruh orang menunggunya.

Ini pasti bukan pertemuan biasa.

Mungkin dia menemukan masalah besar dan harus bertemu dengannya.

Coh Kim-sung berkata kepada putrinya.

"Anak Ang, beritahu ibumu, setengah jam lagi aku baru pulang."

Hati Coh Thian-hong tidak tenang dan dia berkata.

"Ayah, apakah tidak bisa menunggu besok baru menemui teman Guru Piau berkata.

"Nona Coh, teman itu diundang oleh Tuan Tong, begitu dia datang, dia langsung mencari ayahmu, jangan tunggu sampai besok!"

Tanya Coh Thian-hong.

"Siapa dia? Dan ada perlu apa dengan ayahku?"

Coh Kim-sung menjadi marah dan berkata.

"Jangan banyak bicara, ini urusan orang dewasa. Anak kecil imigan ikut campur!"

Kata Coh Kim-sung kepada Guru Piau.

"Anak kecil tidak tahu sopan santun, jangan salahkan dia. Ayo kita jalan !"

Tanya Coh Thian-hong.

"Apakah kata-kata ayah tadi sungguh-sungguh?"

Dengan lembut Coh Kim-sung menjawab.

"Gadis bodoh, apakah ayah pernah berbohong kepadamu? Kau pulang dulu temui ibumu!"

Pikir Guru Piau.

"Gadis ini sudah berumur 15-16 tahun, mengapa masih begitu manja?' Dia tidak tahu kata-kata Coh Kim-sung kepada putrinya mengenai 'tidak terluka', bukan setengah jam baru pulang. Coh Thian-hong takut ayahnya terluka, tapi ayahnya menutupi itu darinya. Orang-orang yang sedang berpesta begitu melihat kedatangan CohKim-sung,merekasangatsenangdanlangsung menyambutnya. Hanya Tong Hwie-yan yang terkejut, dia adalah seorang pesilat sekali melihat dia sudah tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Coh Kim-sung, dia tidak tahu apakah Coh Kim-sung terluka atau tidak? Tapi dapat dipastikan Coh Kim-sung sudah kehilangan banyak tenaga.

"Ternyata dia bukan mencari teman tapi sudah bertarung. Siapakah lawannya? Hingga membuat tenaganya terkuras hingga 60%?"

Tanya Tong Hwie-yan dalam hati. Tuan Yong tertawa dan berkata.

"Coh Tayhiap, dari tadi kami menunggumu seperti menunggu kedatangan burung Hong, untung kami belum bubar. Mari, di sini masih ada kursi, dekat dengan Kie Tai-seng karena sejak tadi dia terus menanyakanmiL "

Kie Tai-seng sudah berdiri dan berkata.

"Coh Tayhiap, kau sudah datang, tempatku harus kau yang duduki!"

Tadinya Coh Kim-sung masih mengira yang mencarinya adalah Tong Hwie-yan karena ada hal penting, ternyata menyuruhnya datang ke pesta, dalam hati dia sangat tidak suka, dia berpikir, 'Tahu begini, aku akan menunggu pesta bubar, baru aku datang.' Dia mengira putrinya sudah memberitahu keadaan di sana kepada ibunya.

"Eng-lam pasti mengkhawatirkanku, kecuali dia melihat sendiri baru akan percaya!"

Dia mengambil keputusan dalam waktu setengah jam lagi dia akan pulang meskipun pestanya belum selesai.

Kie Tai-seng sudah mengulurkan tangannya dan berkata, 'Sudah lama aku mendengar namamu, sekarang baru ada kesempatan bertemu.

Coh Tayhiap ternyata bukan nama kosong saja, jangan sungkan silakan duduk!' Kata Coh Kim-sung.

"Aku hanya mendapat nama saja, tidak pantas untuk dipuji. Tuan Kie, kau adalah tamu yang datang dari jauh, jangan terlalu sungkan!"

Sambil i berkata mereka berjabat tangan.

Namanya berjabat tangan tapi mereka malah beradu kekuatan tenaga dalam.

Ini adalah hal biasa, apalagi sejak tadi Kie Tai-seng ingin bertemu dengan Coh Kim-sung, pasti dia mengambil kesempatan ini untuk beradu tenaga dalam.

Tadi Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong berturut-turut dikalahkan oleh Kie Tai-seng, semua orang tahu ilmu silatnya begitu tinggi, tapi dalam hati mereka, tetap tidak rela dikalahkan olehnya.

Mereka berharap Coh Kim-sung bisa memenangkannya dan mengembalikan wajah mereka.

Tong Hwie-yan lebih terkejut lagi, dalam hati dia berpikir, 'Coh rayhiap tenaga dalamnya sudah terkuras, aku pun dapat melihatnya.

Orang she Kie ini seharusnya pun dapat melihatnya, bila dia masih mau beradu tenaga dalam ini disebut mengambil kesempatan dalam kesempitan dan mengikis habis nama besar Pendekar Yang-ciu."

Belum habis pikirannya, mereka berdua sudah berjabat tangan.

Terlihat Kie Tai-seng mengerutkan dahi, tapi wajah Coh Kim-sung mengeluarkan ekspresi yang aneh, tapi dengan segera dia tersenyum.

Semua orang menghembuskan nafas, dalam hati mereka berpikir.

"Walaupun ilmu silat Kie Tai-seng sangat hebat, tapi Coh Kim-sung tetap berada di atas angin.' Hanya Tong Hwie-yan yang masih terkejut, dia lebih tahu ilmu silat Coh Kim-sung, dalam hati dia berpikir, 'Melihatnya mempermainkan Yap Jin-tong dan Hun Sim-boh tadi, kelihatannya ilmu silatnya lebih tinggi bila tenaga dalam Coh Kim-sung terkuras habis. Bila tidak mereka bisa bersaing, tapi sekarang Coh Kim-sung sudah terkuras tenaga dalamnya sebanyak 60%, mengapa dia masih bisa bertahan dan terlihat begitu tenang? Apakah mereka tidak sedang beradu tenaga dalam? Tapi mereka tidak melepaskan tangan masing-masing.' Walaupun dia tahu banyak tentang ilmu silat tapi sekarang ini dia tampak kebingungan. Biasanya dengan cara seperti ini mengadu tenaga dalam hanya berlangsung sebentar karena tujuan sebenarnya adalah berjabat tangan untuk berkenalan, mengapa sekarang waktunya begitu lama? Apalagi setelah berjabat tangan mereka saling tidak melepaskannya, dengan orang biasa yong berjabatan 10 kali lipat lebih lama. Tong Hwie-yan kebingungan, tapi dia menemukan hal yang aneh. Wajah Coh Kim-sung yang tadinya pucat sudah kembali merah, matanya yang bersorot lesu sekarang sudah bercahaya kembali, segera Tong Hwie-yan bisa menebak. Ternyata Kie Tai-seng tidak sengaja melihat bahwa tenaga Coh Kim-sung terkuras habis kemudian mengadu tenaga dalam, sekarang malah berbalik membantu memulihkan tenaga dalam Coh Kim-sung. Coh Kim-sung merasa pada saat berjabat tangan, ada tenaga panas yang mengalir melalui telapak tangannya, masuk ke dalam tubuhnya hanya memakan waktu pembakaran setengah batang dupa dan tenaga dalam Coh K im-sung sudah kembali, ini seperti sebuah mukjizat. Semua tamu tampak bengong, tiba-tiba Kie Tai-seng tertawa dan pula.

"Benar-benar nama Coh Tayhiap itu bukan main-main, membuat orang menjadi kagum."

Orang-orang yang ada di pesta itu begitu mendengar Kie Tai-seng berkata demikian, mereka mengira Coh Kim-sung lah yang menang, hati mereka sangat senang, Hun Sim-boh dan Yap Jin-tong pun segera memberi selamat kepada Coh Kim-sung.

Kata-kata mereka belum sempat keluat, terlihat Coh Kim-sung sedang memberi hormat kepada Kie Tai-seng dan berkata.

"Terima kasih atas budi baik Kie Toako. Kagum, harus aku yang bilang seperti itu, jujur bicara aku belum pernah mendengar nama Kie Toako tapi aku benar-benar mengagumi ilmu silat Kie Toako."

Semua orang menjadi bingung, bila kata 'kagum' semua orang dapat menggunakannya, tapi kata 'terima kasih' dan "budi baik', tidak pantas dikatakan setelah bertarung. Kata Kie Tai-seng.

"Coh Tayhiap, kau jangan merendahkan diri, jarang ada yang mempunyai ilmu silat setinggi itu, kau hanya terkuras tenaganya tapi tidak terluka."

Kata Tong Hwie-yan.

"Apakah Coh Tayhiap baru saja bertarung?"

"Apakah kau mencari teman, lalu bertemu dengan musuh yang , kuat?"

Kata Tuan Yong Coh Kim-sung tertawa dan berkata.

"Aku tidak tahu, apakah dia menganggapku teman atau lawan? Aku hanya tamu, dia tidak menganggapku musuh, bila disebut bertarung bisa dikatakan seperti itu."

Tuan Yong masih tidak percaya, kata Kie Tai-seng.

"Aku kira dia menganggapmu teman."

"Mengapa kau bisa tahu?"

Tanya Tuan Yong.

"Aku hanya menebak saja."

Jawab Kie Tai-seng. Dia membalikkan tubuh dan berkata kepada Coh Kim-sung.

"Bila aku salah bicara, aku mohon maaf!"

"Silakan teruskan!"

Kata Coh Kim-sung. Tanya Kie Tai-seng.

"Apakah kau sudah mencoba ilmu silatnya? Beradu telapak dengan telapak?"

"Benar!"

Tenaga Coh Kim-sung hanya terkuras tapi tidak terluka, semua orang bisa menebak bahwa mereka pada saat itu hanya bertanding, tidak saling melukai.

"Coh Tayhiap, tenaga telapakmu pun tidak mematikannya, orang itu pun hanya memakai 70% tenaga untuk berjaga dan 30% untuk menyerang, apakah benar?"

Kata Kie Tai-seng. Coh Kim-sung terkejut dan berkata.

"Betul sekali, kau seperti melihatku bertanding."

Kata-kata yang lain tidak perlu dikatakan lagi, karena ini hanya pertandingan bukan pertarungan antara hidup dan mati. Tuan Yong terpaku dan berkata.

"Tuan Kie, apakah kau kenal dengan teman Coh Kim-sung itu?"

Bila tidak kenal, dia pasti tidak akan hafal dengan jurus-jurusnya. Kata Kie Tai-seng sambil tersenyum.

"Sudah kukatakan aku hanya menebak, karena sewaktu berjabat lengan aku merasakan aliran darah Coh Kim-sung berubah dari sana aku mencoba menebak ilmu silat lawan Coh Kim-sung dan tenaga apa yang dipakainya. Dan secara kebetulan tebakanku benar semua."

"Coh Tayhiap, temanmu itu siapa?"

Tanya Tuan Yong. Kata Coh Kim-sung.

"Dia adalah teman yang baru kukenal."

Dia tidak mengatakan hal yang lainnya, orang lain pun tidak berani bertanya.

Orang-orang merasa aneh, begitu juga dengan Kie Tai-seng.

Ternyata dari aliran darah Coh Kim-sung, dia sudah tahu orang itu memakai ilmu silat keluarga Kie, karena itu pula dalam waktu yang sangat singkat dia bisa melancarkan jalan darah yang tersumbat dan mengembalikan kondisi Coh Kim-sung seperti semula.

Kie Tai-seng bertanya-tanya dalam hati.

"Orang yang ditemui oleh Coh Kim-sung, apakah dia adalah orang vang dicari olehku? Tapi orang itu adalah musuh Tuan Kiam-ta dan Hie Liong-gwee, apakah Coh Kim-sung membantu mereka maka datang ke ibukota? Mengapa begitu mereka bertemu tapi tidak saling menekan? Apakah mereka kebetulan berteman tidak saling tahu identitas masing-masing?"

Pertanyaan ini tidak dapat dia tanyakan kepada Coh Kim-sung, dia hanya menyimpanannya dalam hati. Hal lain yang ingin dia tahu, dia bertanya tapi tidak langsung.

"Coh Tayhiap, katanya kau tidak tinggal di Piau-hang, lalu kau tinggal di mana?"

Jawab Coh Kim-sung.

"Apakah Tong Hwie-yan tidak memberitahumu? Aku tinggal di belakang Piau-hang, di rumah peristirahatan milik Tong Hwie-yan."

Sengaja Kie Tai-seng bertanya.

"Piau-hang lebih ramai, mengapa kau senang tinggal seorang diri di rumah peristirahatan itu?"

Jawab Tong Hwai-ie.

"Coh Tayhiap membawa istri dan anaknya, jadi lebih baik bila iniTcka tinggal di rumah peristirahatan."

Kie Tai-seng tertawa untuk menutupi hatinya yang terguncang, dia berkata.

"Ternyata Coh Tayhiap begitu rukun dengan istrinya, aku tidak tahu aku mohon maaf."

Kata Coh Kim-sung.

"Adik, jangan tertawakanku, aku hanya membawanya ke ibukota, karena dia belum pernah datang ke sini, putriku juga sekalian kubawa."

"Apakah besok Coh Toako mempunyai waktu?"

Coh Kim-sung balik bertanya.

"Ada apa gerangan?"

"Bila tidak ada halangan, besok aku ingin mengunjungi kalian."

Kata Coh Kim-sung.

"Terima kasih, aku tunggu pada waktunya."

"Coh Toako, malam ini tidurlah dengan nyenyak, besok kau sudah pulih seperti sedia kala."

Jawab Coh Kim-sung.

"Terima kasih untuk perhatian Kie Toako, aku sudah dibantu oleh Kie Toako, kondisiku sudah hampir pulih. Terimalah arak ini sebagai rasa hormatku kepadamu."

Pesta sudah selesai, para tamu pun pulang dengan senang. Sewaktu Tong Hwie-yan mengantarkan Coh Kim-sung kembali ke rumah peristirahatan, tiba-tiba dia dengan suara kecil berkata.

"Coh Toako, sebenarnya kau harus beristirahat tapi aku masih ingin bertanya kepadamu, apakah aku boleh mengganggumu setengah jam saja? Apakah anda tahu mengenai tamu aneh itu? Apakah dia itu mempunyai maksud atau orang yang membantu kita? Apakah kau ingin tahu? ---ooo0dw0ooo--Bab 13 Menahan kesulitan Menolak pernikahan, dihina Menghukum orang jahat Menolong yang lemah A. Sama-Sama Sulit Kata Tong Hwie-yan.

"Tempat ini bukan tempat yang baik untuk kita bicara, ikutlah 'dengan aku, di gunung buatan itu ada sebuah terowongan dan ada ruang rahasia nanti kita berbicara di sana."

Kemudian dia berkata lagi.

"Sepertinya Hui-thian sudah tiba di ibukota."

Dia mengira setelah Coh Kim-sung mendengar kabar ini, dia akan terkejut atau setidaknya wajahnya berubah, ternyata reaksi Coh Kim-sung biasa-biasa saja. Tong Hwie-yan menjadi terpaku dan berkata.

"Kabar ini kudapat dari Tuan Kiam-ta, katanya dia muncul di gunung barat, walaupun belum jelas tapi kemungkinan 80% adalah benar."

Coh Kim-sung tetap tidak bereaksi, dia hanya berkata.

"Kalau memang dia, terus bagaimana?"

Jawab Tong Hwie-yan.

"Kalau itu memang dia, Kakak harus bertarung dengannya."

"Ilmu silat Kie Tai-seng 10 kali lipat lebih tinggi dariku."

"Memang ilmu silatnya lebih tinggi, tapi kita baru kenal dengannya, dan dia hanya berkata bahwa dia hanya ingin berkenalan dengan Hui thian, apakah benar dia mau bertarung, kita belum tahu. Bila dia melihat ini tingkat ilmu silatnya lebih rendah dia pasti tidak akan mau meladeninya, bila ilmu silatnya terlalu tinggi, dia pun tidak akan berani menghadapi Hui-thian."

Coh Kim-sung tertawa.

"Sulit mencari pesilat yang setara dengannya"

"Tujuannya bertarung pun tidak sama, dia bilang dia hanya ingin melihat ilmu silat Hui-thian, tidak tertarik untuk masuk dalam keruwetan ini. Tapi kau tahu bukan, bahwa Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee begitu ingin membunuh Hui-thian."

"Pikiran orang itu bermacam-macam, kita tidak boleh memaksakan kehendak."

Kata Tong Hwie-yan.

"Masih ada lagi, identitasnya tidak jelas, kadang-kadang banyak hal yang tidak dapat diberitahukan kepadanya seperti masalah Hui-thian yang berada di gunung barat, aku tidak berani memberitahunya."

Tanya Coh Kim-sung.

"Apakah kau mengira bahwa dia adalah sahabat Hui-thian?"

"Mungkin bukan, hanya kita harus waspada, jujur bicara, dia hanya orang biasa, bila tidak terpaksa jangan ditonjolkan."

"Kalau begitu, kita jangan bicarakan dia, kau ingin aku bagaimana?"

Jawab Tong Hwie-yan.

"Tuan Kiam-ta berharap besok kau dan aku pergi ke rumah Panglima Bok, menurutku sepertinya Bok Ci-giauw ingin kau yang pertama bertarung dengan Hui-thian."

"Besok aku ada janji dengan Kie Tai-seng."

Kata Coh Kim-sung. Kata Tong Hwie-yan.

"Aku tahu, kita hanya sebentar ke sana, tidak akan lama-lama."

"Dia berkata seperti itu tapi aku merasa sepertinya masih ada hal lain yang ingin dia utarakan."

Kata Coh Kim-sung. Kata Tong Hwie-yan.

"Sekarang yang ada di depan kita adalah bagaimana cara menghadapi Hui-thian, tidak ada hal lain yang lebih penting lagi. Begini saja, besok aku akan menemani dia ke rumahmu, bila ada yang ingin dia katakan sebelum siang pun tentu sudah beres. Janji dengan Tuan Kiam-ta adalah siang hari. Mungkin Tuan Kiam-ta akan menyuruhmu mencari tahu keadaan gunung barat, dan kau harus siap-siap."

"Bersiap-siap untuk apa?"

Dengan suara kecil Tong Hwie-yan berkata.

"Coh Toako, kita adalah teman lama, aku harus memberitahumu rahasia ini bila tidak, aku seperti bersalah kepada teman lama."

"Rahasia apa?"

Suara Tong Hwie-yan dikecilkan lagi.

"Mengenai rahasia identitas Hui-thian, aku tidak akan membohongimu."

Mereka mengobrol di ruang rahasia, tapi begitu mengatakan tentang identitas Hui-thian, seperti takut ada yang mendengar. Coh Kim-sung tertawa dan berkata.

"Kau dan aku adalah teman lama, kapan aku tidak percaya kepadamu, kau belum bicara tentang dia pun sudah terlihat begitu tegang!"

Kata Tong Hwie-yan.

"Toako jangan menertawakanku, karena dia bukan orang sembarangan!"

Dia melanjutkan lagi.

"Dia adalah cucu murid pesilat nomor satu dunia persilatan, Kie Yan-gan."

"Apakah kau terkejut mendengar nama Kie Yan-gan? Tapi kabar ini belum tentu benar."

Kata Coh Kim-sung.

"Mengapa kau bilang seperti itu?"

Kata Coh Kim-sung.

"Menurutku, Kie Yan-gan hanya mempunyai seorang putra, seorang murid. Putra dan muridnya sudah meninggal."

Kata Tong Hwie-yan.

"Kau hanya tahu sebagian saja, Hui-thian adalah anak dari murid Kie Yan-gan yang bermarga Wei, dia tumbuh besar di keluarga Kie, di atas nama Kie Yan-gan adalah kakek gurunya. Tapi sebenarnya dia dilatih sendiri oleh Kie Yan-gan! Karena anak dan muridnya sudah meninggal, maka dia sangat sayang kepada cucu muridnya ini. Aku tidak berani menyuruhmu mundur dari sini, juga tidak mau kau yang turun pertama menghadapinya."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku tahu, bila aku bertarung di partai pertama, apakah bisa atau tidak membunuh Hui-thian, Kie Yan-gan tetap akan mencariku untuk membunuhku untuk menggantikan nyawa cucu muridnya, ditambah lagi dia akan mencelakakan keluargaku!"

"Benar, karena itu aku memberitahu kepadamu, sekarang tinggal kau sendiri yang memutuskan."

Kata Tong Hwie-yan.

"Menurutmu bagaimana?"

Tong Hwie-yan mengerutkan dahi dan berkata.

"Aku pun serba salah, demi teman aku harus membantu, tapi...tapi..."

Kata Coh Kim-sung.

"Tong Toako, bila kau tidak bisa bercerita..."

Akhirnya Tong Hwie-yan berkata.

"Coh Toako, aku adalah teman baikmu, aku akan memberitahumu sebuah rahasia lagi, walaupun aku tidak mencari pangkat, tapi aku dan Kie Yan-gan pun berteman, atau setidaknya dia menganggapku teman."

Lanjut long Hwie-yan lagi.

"Apalagi murid she Wie itu, sebelum meninggal dia adalah temanku, apakah kau tahu mengapa dia bisa meninggal?"

"Aku tidak tahu."

Tong Hwie-yan berbisik ke telinganya.

"Murid Kie Yan-gan yang bernama Wie Seng-kong, dia adalah pemimpindariperkumpulanyanginginmenggulingkan pemerintahan kerajaan Ceng, dia dibunuh oleh 8 pengawal istana, dia membunuh semua musuh yang menyerangnya, tapi dia pun terluka parah, hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja dia langsung meninggal."

Kata Coh Kim-sung.

"Kalau begitu dia adalah keturunan pahlawan yang menggulingkan kerajaan Ceng, mengapa sekarang dia malah menjadi seorang penjahat?"

Tong Hwie-yan tidak menjawab pertanyaan ini, dia malah berkata.

"Orang sepertiku, membuka Piau-hang, orang garis hitam atau putih. kami tentu harus berhubungan dengan mereka, apalagi kantorku berada di ibukota, pasti harus berhubungan dengan pemerintahan. Jujur bicara, aku kasihan kepada orang-orang yang berniat menggulingkan kerajaan Qing."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku pun seperti dirimu, apakah kau pun tidak mau ikut campur dalam masalah ini? "Inilah kesulitannya, bila dibilang berteman, aku lebih akrab dengan Tuan Kiam-ta daripada Kie Yan-gan, kali ini yang mengundang kalian menghadapi Hui-thian adalah aku, Tuan Kiam-ta, dan Hie Tiong-gwee, masa aku dalam situasi seperti ini malah mundur?"

Kata Coh Kim-sung.

"Sewaktu kalian mengeluarkan undangan itu, kalian belum tahu identitas Wie Thian-hoan, bila sekarang mundur, berarti kalian orang yang tidak bisa dipercaya."

Tong Hwie-yan tertawa kecut dan berkata.

"Coh Toako, kau sudah cukup berpengalaman, mengapa berkata seperti itu? Hie Tiong-gwee ingin balas dendam kepada Hui-thian, dia juga didukung oleh Panglima Bok, bila aku tidak melihat wajah Tuan Kiam-ta, bila ditanya oleh Panglima Bok, bagaimana aku harus menjawab?"

Kata Coh Kim-sung.

"Benar, keadaan ini sangat sulit, tapi kejadian sudah ada di depan mata, kau harus mengambil keputusan."

Tong Hwie-yan terus berpikir, dia tertawa kecut dan berkata.

"Aku benar-benar tidak mempunyai cara lain, aku harus minta bantuanmu."

"Kalau terburu-buru aku pun tidak bisa membantumu mencari jalan keluar, tapi..."

"Tapi apa?"

Tanya Tong Hwie-yan.

"Aku ingin menanyakan satu hal."

"Silakan, aku akan jawab bila aku tahu."

Coh Kim-sung bertanya.

"Apakah Tuan Kiam-ta tahu bahwa kau kenal dengan Kie Yan-gan?"

"Mereka tidak tahu."

Coh Kim-sung bertanya lagi.

"Kau lihat, apakah ilmu silat Kie Tai-seng adalah ilmu silat keluarga Kie?"

Yang dia maksud dengan keluarga Kie adalah Kie Yan-gan. Tanya Tong Hwie-yan.

"Apakah kau curiga bahwa Kie Tai-seng dan Kie Yan-gan mempunyai hubungan keluarga?"

Jawab Coh Kim-sung.

"Yang aku tahu, putranya sudah meninggal, tapi ilmu silat Kie Tai-seng begitu tinggi, aku curiga bila dia bukan dari keluarga Kie Yan-gan, tapi setidaknya dia pernah belajar kepada Kie Yan-gan."

Tong Hwie-yan tertawa.

"Aku hanya tahu sedikit ilmu silat keluarga Kie."

Coh Kim-sung terpaku dan berkata.

"Mengapa kau bisa berteman dengannya?"

"Dia menganggap aku sebagai temannya, dia hanya mengenalku, kami hanya sekali bertemu."

Kemudian dia bercerita bagaimana bisa mengenali Kie Yan-gan.

"Waktu itu muridnya Wie Seng-kong dibunuh, Kie Yan-gan pernah datang ke rumahku, menanyakan kabar tentang muridnya, aku dan dia tidak saling mengenal, tapi dia bertanya kepadaku. Walau hanya ini, aku berterima kasih kepadanya. Waktu itu aku tidak dapat membantunya, karena pada waktu itu aku pun tidak tahu kabar mengenai Wie Seng-kong. Katanya waktu itu Wie Seng-kong terluka parah, tapi dia tetap bisa pulang ke rumah gurunya."

Kata Coh Kim-sung.

"Mungkin waktu itu Hui-thian dibawa oleh ayahnya ke rumah gurunya."

Kata Tong Hwie-yan.

"Aku tidak tahu detil ceritanya, aku hanya tahu bahwa Hui-thian tumbuh besar di keluarga Kie. Aku berharap Hui-thian itu seperti yang dikatakan oleh Hie Tiong-gwee yaitu penjahat besar, dengan demikian aku akan membantu Hie Tiong-gwee menghadapinya, jadi aku lebih enak kepada Kie Yan-gan."

Coh Kim-sung hanya terdiam, Tong Hwie-yan bertanya.

"Kau memikirkan apa?"

"Aku hanya teringat bahwa kata-kata dari orang itu sangat menakutkan."

Kata Tong Hwie-yan.

"Maksudmu itu apakah kau menganggap bahwa Hui-thian tidak sejahat seperti apa yang dikatakan orang-orang? Kau melihatnya dari segi apa ?"

"Aku hanya merasakan seperti itu, perasaan ini timbul dari ceritamu mengenai Kie Yan-gan. Bukankah Kie Yan-gan disebut sebagai iblis oleh orang-orang serta tidak mempunyai perasaan, tapi dari ceritamu tadi. sepertinya dia mempunyai sisi baik dan hangat. Hui-thian adalah muridnya dan dia dididik langsung oleh Kie Yan-gan, pasti dia mempunyai sisi baiknya juga."

Tong Hwie-yan terdiam kemudian berkata.

"Yang mengatakan tentang semua ini adalah Tuan Kiam-ta."

Tanya Coh Kim-sung.

"Apakah kau merasa Tuan Kiam-ta sudah tidak seperti dulu?"

Tong Hwie-yan menjawab.

"Aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi begitu kau mengatakan hal mi, aku pun merasa dia tidak sama seperti biasanya. Apanya yang tidak sama aku pun tidak tahu."

Kata Coh Kim-sung.

"Aku tidak mengerti mengapa dia bisa begitu akrab dengan Hie Tiong-gwee, memang benar Hie Tiong-gwee adalah Pendekar Yang-ciu seperti yang disebut oleh orang-orang, dia lebih boros uang daripada belajar silat, tapi aku merasa dia hanya mencari nama saja, aku berharap kau jangan berprasangka bahwa aku iri kepadanya."

Kata Tong Hwie-yan dengan tertawa.

"Kau bukan orang seperti itu, maka itu aku berani mengatakan rahasiaku kepadamu."

Tanya Coh Kim-sung.

"Apakah kau melihat keakraban Hie Tiong-gwee dan Tuan Kiam-ta seperti satu orang saja? Apa ini tidak aneh? Menurut kebiasaan dan sifat Tuan Kiam-ta, dia pergi ke pesta pernikahan He Tiong-gwee untuk memberi selamat dan juga menjadi saksi pernikahan He Tiong-gwee, itu tidak aneh, tapi mengapa dia begitu gesit membantu Hie Tiong-gwee untuk balas dendam? Apalagi sekarang ini Hie Tiong-gwee menjadi tamu Panglima Bok. Apakah ini mirip dengan Tuan Kiam-ta yang biasanya?"

Tong Hwie-yan hanya bisa tertawa kecut, tidak dapat membela Tuan Kiam-ta, tapi batinya pun berpikir seperti itu.

"Tuan Kiam-ta tidak seperti diriku, aku membuka Piau-hang, mau tidak mau harus bergaul dengan pejabat pemerintahan, tapi Tuan Kiam-ta tidak perlu menjilat Bok Ci-giauw."

Mereka terdiam, Tong Hwie-yan berkata lagi.

"Coh Toako, kau datang kemari karena diundang oleh Tuan Kiam-ta sedangkan kau dan Hie Tiong-gwee tidak begitu kenal, bila kau menganggap tidak ingin mempertaruhkan nyawa demi Hie Tiong-gwee, lebih baik kau pergi, aku bisa menjelaskannya kepada Tuan Kiam-ta."

"Bagaimana denganmu?"

"Mereka pasti tidak akan menyuruhku bertarung untuk pertama kalinya. Nanti aku akan memikirkan alasannya, bila kau tidak pergi besok sore, kau pasti akan disuruh oleh mereka untuk menemui Hui-thian di gunung barat."

"Aku tidak akan pergi!"

Kata Coh Kim-sung. Kata Tong Hwie-yan.

"Kalau begitu kau tidak ingin membantu teman."

"Aku berteman dengan Tuan Kiam-ta, tapi tidak dengan Hie Tiong-gwee,"

Kata-kata Coh Kim-sung menegaskan bahwa dia tidak mau mempertaruhkan nyawanya demi Hie Tiong-gwee. Kata Tong Hwie-yan.

"Kau membuatku jadi bingung, kau mau mempertahankan hubunganmudenganTuanKiam-ta,tapitidakmau mempertaruhkan nyawa demi Hie Tiong-gwee, mana bisa kedua-duanya sama-sama dijalankan, kecuali kabar dari mereka adalah palsu bahwa orang yang berada di gunung barat itu bukan Hui-thian!"

"Bila itu bukan palsu pun, aku tidak mau bertemu dengan Hui-thian."

Tong Hwie-yan bertanya lagi kepada Coh Kim-sung.

"Kau tahu dari mana bahwa kabar ini bukan palsu? Kau mengatakan tidak mau pergi juga tidak mau bertemu dengan Hui-thian, bagaimana kita menjelaskannya kepada Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee Kata Coh Kim-sung.

"Aku bukannya tidak mau pergi, tapi tidak perlu pergi ke sana."

"Aku tidak mengerti maksudmu."

Kata Tong hwie-yan bingung.

"Mereka ingin aku bertarung untuk pertama kalinya, hanya ingin supaya aku mencoba kekuatan Hui-thian dan aku sudah melakukannya."

Tong Hwie-yan terkejut dan berkata.

"Apa? Kau sudah bertemu dengan Hui-thian!"

"Benar, aku baru pulang dari gunung barat dan di sana aku bertemu dengan Hui-thian, sempat beradu telapak tangan dengannya."

Tong Hwie-yan baru sadar dan berkata.

"Ternyata kau dan dia sudah beradu ilmu silat sehingga membuatmu kehilangan banyak tenaga!"

Kata Coh Kim-sung.

"Benar, dan ilmu silat Hui-thian lebih tinggi daripada yang dikatakan oleh orang-orang."

"Bahkan lebih tinggi darimu?"

Jawab Coh Kim-sung.

"Walaupun tidak di atasku, juga tidak berada di bawahku, aku lebih tua darinya, bila lama bertarung, aku pasti akan kalah. Mencoba sebuah jurus saja sudah menguras banyak tenaga, apakah aku harus mencobanya lagi?"

Tong Hwie-yan benar-benar terkejut hingga tidak bisa bicara.

Coh Thian-hong sedang menceritakan bagaimana dia dan ayahnya bin bertemu dengan Hui-thian.

Dia baru berumur 16 tahun dan hidupnya selalu tenang.

Hari ini ilm mendapat pengalaman yang belum pernah dia alami selama 16 tahun ini.

Walaupun sekarang ini dia sudah berada di sisi ibunya, hatinya Mum bisa tenang.

Dia ingin menceritakannya lebih jelas lagi.

---ooo0dw0ooo---B.

Putra Panglima Mempermainkan Dua Gadis Mula-mula dia teringat kepada wajah Bok Ling-hoa yang dia benci.

Kedua putra Panglima Mu bukan pemuda-pemuda yang tampan tapi juga tidak terlalu jelek.

Coh Thian-hong pun tidak membenci dia dari awal.

Bila dari awal dia sudah benci kepada orang itu, dia tidak akan mau pergi bersama mereka.

Sebenarnya orang yang tingkahnya biasa-biasa saja, mengapa bisa dibenci olehnya?

Alasan yang tepat adalah karena pembicaraannya tidak menyambung jadi wajahnya pun terlihat menyebalkan dan terlihat jelek.

Dia ingat Kim-giauw pernah menyinggung soal Toakonya.

Kim-giauw belum habis ceritanya jadi Thian-hong selalu mencari kesempatan untuk menanyakannya.

Tapi dia tidak memiliki kesempatan mendekati Kim-giauw, pada saat mereka berempat pun tidak ada kesempatan karena Bok Ling-ku selalu mendekati Kim-giauw dan Bok Ling-hoa.

terus mendekati Coh Thian-hong.

Bok Ling-hoa.

di depan ayahnya diam saja, tapi di depan Coh Thian-hong tidak pernah berhenti bicara Dia bukan tidak bisa bicara, tapi terlalu banyak bicara, dia bertujuan mengambil hati Coh Thian-hong, tapi hasilnya malah sebaliknya.

Karena dia tidak mengerti seorang Coh Thian-hong.

Coh Thian-hong adalah seorang gadis cantik walaupun baru berumur 16 tahun tapi dia tidak seperti gadis yang lain mudah dirayu dengan kata-kata yang manis.

Memang benar dia masih belia, tapi dia adalah putri Coh Kim-sung, dia seperti ayahnya, memiliki kepribadian agak tinggi.

Dia pun seperti gadis biasa, yang terlalu manja dan masih senang bermain, dia pun senang dipuji.

Tapi begitu melihat orang itu berusaha mendapatkan sesuatu darinya atau tahu kekurangan darinya dan terus memancingnya, sifat yang diturunkan dari ayahnya langsung muncul, membuatnya merasa benci dengan orang itu.

Bok Ling-hoa.

masih terus bicara, dia terus memuji kekayaan dan kekuasaan ayahnya.

Bila Coh Thian-hong mau, dia akan memberi kemakmuran kepada Coh Thian-hong.

Dia masih membicarakan tempat bermain dan berkata.

"Bila kau ikut denganku, pasti tidak akan ada yang berani yang mengganggumu, ada banyak tempat yang menjual pemak pernik, kita jangan pergi ke tempat biasa, kita harus pergi ke toko besar, bila kau ikut denganku mereka akan mengeluarkan barang-barang bagus untuk dilihat, bila kau pergi sendiri atau dengan teman biasa, pemilik toko tidak akan mengeluarkan barang-barangnya, karena itu adalah barang-barang yang sangat mahal."

Bok Ling-hoa. masih terus bicara.

"Perbiasaan emas di rumahku pun sangat banyak, kadang-kadang harganya bisa mencapai harga untuk membeli sebuah kota."

Kata Coh Thian-hong.

"Maaf, aku bukan gadis yang senang pemak pernik emas, kau salah tujuan."

Bok Ling-hoa berkata lagi.

"Benar, ayahmu adalah seorang sastrawan dan juga seorang endekar, tentu menyukai lukisan yang terkenal. Kalau begitu, aku akan membawamu melihat-lihat lukisan kuno."

Coh Thian-hong tertawa dan berkata.

"Maaf, kau juga salah orang, itu adalah ayahku, aku tidak mengerti tentang lukisan sama sekali"

Kata Bok Ling-hoa lagi.

"Kalau begitu kau senang bermain bukan? Besok aku akan mengajakmu bermain ke tempat lain."

Kata Coh Thian-hong.

"Besok ayahku tidak ada waktu."

Bok Ling-hoa tertawa dan berkata.

"Siapa yang bilang akan pergi dengan ayahmu?"

"Aku ingin pergi bersama ayahku."

Kata Coh Thian-hong. Kata Bok Ling-hoa.

"Ayahmu pernah pergi ke ibukota, kau jangan merepotkannya."

"Kau bukan ayahku, mana tahu ayahku tdak mau pergi? Tempat-ii-iupat yang kau sebut tadi, kami sekeluarga berencana akan ke sana."

Bok Ling-hoa terlihat sangat kecewa, tiba-tiba dia berkata.

"Aku akan membawamu ke suatu tempat, aku jamin tempat ini tidak akan pernah dikunjungi kalian."

"Di manakah tempat itu?"

Tanya Coh Thian-hong. Dengan sombong Bok Ling-hoa menjawab.

"Tempat tinggal raja, ayahku adalah panglima pasukan kerajaan, nKal kau mau menjadi pelayan yang membawa bukuku, aku bisa membawamu mengelilingi taman bunga, bahkan mungkin bisa bertemu dengan raja."

Dengan marah Coh Thian-hong berkata.

"Apa anehnya, aku tidak mau menjadi budak raja, walau sudah bertemu dengan raja, belum tentu aku bisa hidup 100 tahun lagi, tidak pergi ke taman bunga juga tidak apa-apa."

Bok Ling-hoa marah dan berkata.

"Jangan sembarangan bicara! Untung di sini tidak ada yang mendengar."

"Apakah aku sudah salah bicara, bukankah ayahmu adalah budak raja ?""

"Mengapa kau begitu tidak dewasa? Atau sengaja membuatku marah? Semua yang berada di bawah pimpinan raja adalah budaknya, ingin menjadi budak raja pun belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain!"

Kata Coh Thian-hong.

"Kalian sudah biasa menjadi budak, sekarang malah menyombongkan diri, aku tidak mau menjadi budak raja, lebih-lebih tidak mau menjadi budaknya budak raja."

Bok Ling-hoa tertawa kecut.

"Baiklah, bila kau tidak mau pergi tidak apa-apa, tapi jangan bicara dengan kata-kata yang tidak enak didengar."

Tidak terasa mereka sudah tiba di gunung barat.

Gunung barat di Peking terdiri dari 3 buah gunung, gunung-gunung ini adalah Cui-wie-san, Lu-si-san, dan Bin-po-san.

Yang pertama didatang oleh Coh Thian-hong dan Bok Ling-hoa.

adalah Cui-wie-san.

Cui-wie-san seperti namanya pemandangan di sana sangat indah, sekarang saatnya daun Ang mulai memerah, langit pun ikut menjadi merah, membuat orang menjadi pusing hingga bergoyang-goyang.

Sekarang Coh Thian-hong baru merasakan nikmatnya perjalanan ini, karena jalan di pegunungan sangat kecil dan sempit, maka mereka memutuskan untuk berjalan kaki dan mengelilingi gunung.

Kuda-kuda itu dilepaskan, karena sudah terlatih, kuda-kuda itu langsung mencari rumput sendiri tapi mereka tidak kabur.

Begitu mendaki ke Cui-wie-san, mereka melihat kuda milik Hie Kim-giauw tapi tidak bertemu dengannya atau dengan Bok Ling-ku.

Coh Thian-hong mempercepat langkahnya, setelah tiba di tempat yang lebih tinggi, dia mendengar ada suara seseorang.

Dari kecil dia sudah terlatih mendengar suara senjata beradu, dan pendengarannya pun lebih tajam.

Yang didengar oleh Coh Thian-hong adalah suara Hie Kim-giauw.

Sepertinya sedang perang mulut dengan Bok Ling-ku, suara itu dibawa oleh angin.

"Kau scmbarangan bicara, siapa yang berjodoh denganmu?"

"Ayahmu akan sangat senang bila kau menikah denganku, apakah kau tidak tahu ini?"

Ini adalah suara Bok Ling-ku. Kemudian terdengar ada suara orang yang dikejar-kejar, Hie Kim-giauw dengan terengah-engah berkata.

"Mengapa kau mencegahku mencari Coh Thian-hong?"

Bok Ling-ku tertawa kecil dan berkata.

"Dia sedang ditemani oleh Lo-ji, tidak perlu mencarinya!"

"Ternyata kalian berdua mempunyai niat jahat, kalian menghina kami berdua, kau menghinaku tidak apa-apa, tapi Coh Thian-hong tidak boleh, karena ayahnya adalah..."

Bok Ling-ku tertawa.

"Aku tahu ayahnya adalah Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung tapi ayah kami adalah panglima pasukan kerajaan, Bok Ci-giauw!"

Hie Kim-giauw tertawa dingin dan berkata.

"Panglima pasukan penjaga istana, nama ini bisa mengejutkan ayahku tapi tidak untuk Coh Tayhiap! Kalau tahu kalau putrinya sudah dihina oleh orang, kalian berdua akan dihukum!"

Kata Bok Ling-ku.

"Aku tidak takut, aku akan memberitahumu sebuah rahasia"

"Apa?"

Karena arah mereka berjalan tidak searah dengan hembusan angin, maka Coh Thian-hong sudah tidak dapat mendengar, terpaksa menghampiri arah angin lain.

Bok Ling-hoa.

pun berlari di belakangnya, dia berteriak.

"Tadi kau mengatakan naik kuda menikmati pemandangan tidak tocok, sekarang kau malah berlarian sambil melihat pemandangan."

"Tidak perlu mengurusiku!"

Kata Coh Thian-hong. Karena suara itu di atas, lebih-lebih tidak terdengar jelas. Bok Ling-hoa. Tertawa.

"Orang lain sedang berkasih-kasihan, apakah kau mau mengintip mereka?"

"Kau bilang apa?"

"Aku akan memberitahumu sebuah rahasia."

Kata-katanya sama dengan Bok Ling-ku kepada Hie Kim-giauw.

"Ada rahasia apa? Katakan saja!"

"Hie Tiong-gwee ingin putrinya menikah dengan kakakku, dia menyuruh Tuan Kiam-ta menjodohkan mereka."

Coh Thian-hong berpikir, 'Pantas ayah sangat membencinya, ternyata dia hanya pendekar yang mempunyai nama kosong.' Dengan tertawa dingin Coh Thian-hong berkata..

"Itu sudah bukan rahasia lagi, bila Hie Tiong-gwee dan keluargamu berbesan, aku tidak merasa aneh!"

"Ayah masih mengatakan hal lain lagi, apakah kau bisa menebaknya?"

Tanya Bok Ling-hoa "Aku malas menebaknya."

"Baiklah, aku akan beritahu saja, yang disukai oleh ayahku adalah dirimu "

Dengan marah Coh Thian-hong berkata.

"Bok Siauya jangan mencari kesenangan lewat kami gadis miskin ini. apakah itu tidak akan merendahkan nama ayahmu?"

Bok Ling-hoa. tertawa dan berkata.

"Kau salah paham, ayahku menyukaimu, beliau inign kau menjadi menantunya."

Coh Thian-hong sangat marah dan berteriak.

"Kurang ajar!"

"Kau yang ingin tahu rahasia ini, aku hanya menyampaikan kata-kata orang tuaku, apakah kau mau atau tidak, itu hal lain lagi. Tapi aku tidak sembarangan bicara apakah kau mau mendengar lanjutannya?"

Coh Thian-hong hanya diam, Bok Ling-hoa berkata lagi.

"Ayah mengatakan dia tidak ingin berbesan dengan Hie Tiong-gwee tapi beliau tetap akan berkerja sama dengan Hie Tiong-gwee, ayah berharap beliau bisa berbesan dengan Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung. Kata Tuan Kiam-ta bila ingin berbesan dengan Coh Kim-sung harus meminta bantuan kepada anaknya. Kata Tuan Kiam-ta ayahku mempunyai 2 orang putra, satu menikah dengan putri keluarga Hie dan yang satu menikah dengan putri keluarga Coh Kim-sung, itu akan sangat sempurna rahasia ini sudah kuberitahu. Apakah kau setuju?"

Coh Thian-hong berlari sambil menutup telinganya dan berteriak.

"Aku tidak mau! Aku tidak setuju! aku tidak mau dengar omongan kalian!"

Wajah Bok Ling-hoa memerah dan berkata.

"Aku sudah menyukaimu, setuju atau tidak, kau tetap harus setuju!"

"Kau mau apa?"

Tanya Coh Thian-hong. Bok Ling-hoa tertawa dan menjawab.

"Tidak mau apa-apa, hanya ingin kau menjadi istriku, kau memakai minyak wangi apa? Begitu harum, apa aku boleh dekat denganmu dan mencium harum ini?"

Segera dia mengejar dan ingin memeluknya. Coh Thian-hong marah dan berkata.

"Kurang ajar!"

Bok Ling-hoa tertawa dan berkata.

"Apakah kau mau mencoba ilmu silatku?"

Yang dia gunakan adalah ilmu silat keluarga Bok yang bernama Tap-in-poh-hoat (Melangkah Menginjak Awan), segera dia berjalan ringan seperti melayang di belakang Coh Thian-hong, ingin menotoknya.

Tapi dia tidak tahu walaupun Coh Thian-hong masih belia tapi ilmu silatnya cukup tinggi karena diajar langsung oleh Coh Kim-sung, ilmu silat keluarga Coh terkenal dengan jurus totokan jalan darahnya.

Bok Ling-hoa ingin menotoknya, dapat dikatakan seperti mempermainkan pintu.

Coh Thian-hong membalikkan tangannya dan gerakan tubuhnya sangat indah, dengan cara Lan-hoa-jiu (Tangan Bunga Angrek), dia berhasil balik menotok jalan darah Bok Ling-hoa..

Tiba-tiba dari arah gunung terdengar teriakan perempuan.

Tidak perlu dipikir lagi.

Coh Thian-hong sudah tahu terjadi apa di sana, dalam hati dia berpikir, 'Cici Hie orangnya baik, aku tidak mau dia dihina oleh Bok Ling-ku."

Dengan tertawa dingin Coh Thian-hong lalu berkata.

"Bila kau mau menghinaku, harus belajar ilmu silat 3 tahun lagi!"

Segera dia berlari meninggalkan Bok Ling-hoa..

Tangan Bok Ling-hoa yang ditotok oleh Coh Thian-hong terasa kaku, tapi sepasang kakinya masih bisa bergerak, dia sangat marah besar dan mengejar Coh Thian-hong, dia berkata.

"Perempuan tidak tahu diri! Berani main kasar, karena aku menyukaimu, aku biarkan kau menotokku, kau kira ilmu silatku tidak sebanding denganmu? Ayo kita coba coba sekarang!"

Kata Coh Thian-hong.

"Kau mau bertarung denganku? Kita naik gunung ini dulu!"

Ilmu meringankan tubuh Coh Thian-hong lebih tinggi dari Bok' Ling-hoa, ditambah lagi tangan Bok Ling-hoa.

sedang kaku sebelah, jadi ilmu meringankan tubuhnya pun terganggu, dalam sekejap Bok Ling-hoa.

sudah tertinggal jauh, tenaga dalam Bok Ling-hoa memang lebih kuat dan Coh Thian-hong.

Totokan di tangannya hanya sebentar sudah terbuka sendiri dan dia mengejar Coh Thian-hong.

"Gadis bodoh, Nona Coh sedang berkasih-kasihan dengan Lo-ji, jangan ganggu mereka, diam di sini saja dan bermain denganku, mereka sepasang kekasih kita pun sepasang kekasih. Masing-masing bermain dengan pasangannya, bukankah itu sangat baik?"

Itu adalah suara Bok Ling-ku. Dengan tertawa dingin Kim-giauw berkata.

"Apakah gadis she Coh bisa menyukai Lo-ji? Ilmu silatku tidak dapat disamakan denganmu, karena itu kau bisa dengan leluasa menghinaku, ilmu silat Nona Coh lebih tinggi dariku, si Lo-ji belum tentu bisa menghinanya!"

Kata Bok Ling-ku.

"Jangan sebut dengan kata 'menghina', karena ayahmu sangat berharap aku seperti ini."

Hie Kim-giauw marah dan berkata.

"Jangan sembarangan menghina ayahku!"

Bok Ling-ku tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Apa? Menghina ayahmu? Jujur aku akan katakan kepadamu, cara ini pun diberitahu olehh ayahmu, dia menyuruhku dan Lo-ji menemani kalian dan berpesan kepada Lao Er dengan cara apa pun harus mendapatkan Coh Thian-hong, bila tidak bisa memakai cara yang halus, harus diganti dengan cara keras, bila beras sudah menjadi nasi, Coh Kim-sung pasti akan merestui pernikahan ini."

Wajah Hie Kim-giauw memerah dan berkata.

"Sembarangan bicara! Ayahku bukan orang semacam itu!"

Di mulut dia mengatakan tidak percaya, tapi suaranya sudah gemetar, Coh Thian-hong ikut menarik nafas, dia bersyukur masih bisa melarikan diri.

Ayah mereka adalah pendekar, malah nama Pendekar Tiong-ciu lebih tenar, tapi kedua ayah mereka tidak sama, Coh Thian-hong pun berpikir seperti itu, 'Untung ayahku tidak seperti ayahnya.' Terdengar lagi suara perempuan berteriak dari atas gunung, dan terdengar suara Bok Ling-ku tertawa.

"Aku ingin lihat apakah kau masih bisa melarikan diri?"

Suara Kim giauw yang pertama membuktikan bahwa Kim-giauw masih bisa lepas dari cengkraman Bok Ling-ku.

Sekarang terdengar sepertinya dia sudah tertangkap.

Coh Thian-hong sambil berteriak sambil berlari.

"Cici Hie, cici Hie!"

Benar saja, Hie Kim-giauw berada di dalam pelukan Bok Ling-ku dan dia sedang memberontak, melihat Coh Thian-hong datang, dengan gembira dia berteriak.

"Adik Thian-hong, kau..."

Bok Ling-ku berbisik di telinganya.

"Bila kau berani menyuruhnya datang, akan merobek bajumu di depannya, akan mempermalukanmu! Apakah dia masih berani memukulku?"

Terlihat Bok Ling-hoa yang mengejar Coh Thian-hong dari belakang, dia berteriak.

"Kembali kau! Jangan mengurusi masalah orang lain! Bila tidak, aku tidak akan sungkan lagi memukulmu!"

Hie Kim-giauw tidak tahu bahwa Bok Ling-hoa.

tidak dapat mengalahkan Coh Thian-hong, juga tidak tahu bahwa lari Bok Ling-hoa tidak secepat Coh Thian-hong, dia mengira Coh Thian-hong sudah kalah, hatinya terasa berat.

Dia berpikir, 'Bila aku dihina olehnya, ayahku pasti tidak akan mau membelaku."

Dia takut Bok Ling-ku akan merobek bajunya, dengan cepat dia berkata.

"Adik, kau jangan naik, jalan di sini sangat berbahaya, sebentar lagi kami akan turun."

Coh Thian-hong menjadi curiga, apakah kata-kata Kim-giauw adalah benar? Tiba-tiba dia berteriak "Ada yang tidak beres, dia tahu ilmu silatku lebih tinggi darinya dia bisa naik, mengapa aku tidak?"

Walaupun dia masih belia tapi kepintarannya tidak kalah.

Dia tahu mengapa Hie Kim-giauw berbohong, diam-diam dia berlari lebih cepat lagi.

Walaupun Hie Kim-giauw tidak dapat melepaskan diri dari pelukan Bok Ling-ku.

Tapi Bok Ling-ku tidak bisa membuat Hie Kim-giauw diam, dengan tertawa dia berkata.

"Kau akan menjadi istriku, kucium pun tidak apa-apa, bersikap sedikit lembutlah kepadaku, setelah kucium aku akan melepaskanmu!"

Hie Kim-giauw menjadi marah.

"Siapa yang sudi menjadi istrimu!"

Dia menyikut Bok Ling-ku, tapi perbandingan ilmu silat mereka terlalu jauh, sikutnya ini hanya membuat Bok Ling-ku merasa sakit, tapi dia tetap tidak melepaskan Hie Kim-giauw, malah tangan Hie Kim-giauw dipiting ke belakang, Hie Kim-giauw tidak dapat bergerak sama sekali.

Bok Ling-ku terkena sikutan dari Hie Kim-giauw, sakitnya masih terasa, dia pun merasa marah, dalam hati dia berpikir, 'Sepertinya harus dipaksa baru bisa mendapatkan dia, apakah perbuatan ini pantas untukku?

Aku ingin dia dengan sukarela mengikutiku, dan pada saat itulah akan membuatnya melepaskan kekesalanku!"

Dengan marah dia berkata.

"Ayahmu menjodohkanmu denganku, tapi kau tidak mau, apakah karena kau sudah mempunyai kekasih?"

Jawab Hie Kim-giauw.

"Benar, aku sudah mempunyai kekasih, mau apa kau!"

"Siapakah dia?"

Tanya Bok Ling-ku.

"Mengapa aku harus memberitahukannya padamu? Yang paling penting dia jauh lebih baik darimu!"

Bok Ling-ku lebih marah lagi dan berkata.

"Dia lebih baik dariku? Apakah dia lebih kaya dariku? Apakah ilmu silatnya lebih tinggi dariku? Atau dia lebih pintar dariku? Atau lebih tampan dariku?..."

Kata Hie Kim-giauw.

"Semua yang kau sebut tadi memang tidak bisa bersaing denganmu, tapi aku mengaguminya, dia lebih baik darimu!"

Tanya Bok Ling-ku.

"Apakah kau tidak kagum kepadaku?"

"Aku harus berpikir dulu, kau lepaskan aku baru kuberitahu!"

"Asal kau mau memanggilku Toako dan tersenyum kepadaku, aku akan melepaskanmu!"

Hie Kim-giauw tidak dapat memanggilnya Toako, juga tidak bisa lertawa, dia tidak tertawa tapi terdengar ada orang yang tertawa.

Orang ini entah keluar dari mana, dia berdiri di bawah sebuah pohon tidak jauh dari mereka, dia tertawa dingin.

Suara tawanya menusuk hingga ke telinga, apalagi di telinga Bok Ling-ku, dia sangat terkejut, tidak sengaja dia melepaskan tangan Kim-giauw.

Dia melihat, ada seorang pemuda yang sedang tertawa kepadanya.

Tanya Bok Ling-ku.

"Siapa kau? Apa yang kau tertawakan?"

"Aku ini siapa, nanti kau juga akan tahu, tadi kau bertanya aku menertawakan apa, aku akan beritahu kepadamu, aku sedang melihat seekor Lau hai-ma (binatang) yang ingin memangsa angsa, aku tidak dapat menahan tawaku."

Bok Ling-ku marah dan berkata.

"Kau berani menyebutku Lai-hai-ma!" ---ooo0dw0oo---C. Bertemu dengan Hui-thian Saat mereka sedang bicara, Coh Thian-hong dan Bok Ling-hoa. sudah tiba di sana, Coh Thian-hong tidak mau dekat-dekat dengan Bok Ling-hoa. Pemuda itu tertawa dan berkata.

"Tadi aku salah bicara, bukan seekor Lai-hai-ma tapi ada dua ekor."

Bok Ling-ku tidak pernah dihina seperti itu, segera dia mencabut pedang.

Bok Ling-hoa.

lebih kalem, dia pun lebih teliti, dia melihat pemuda itu sama sekali tidak takut, dalam hati dia berpikir, 'Orang ini begitu sombong, dia pasti mempunyai ilmu silat yang tinggi, walaupun kami berkelahi dengannya, bisa menang dan mendapat luka pun tidak pantas."

Segera dia berteriak.

"Nanti dulu, Toako!"

"Apakah kau takut kepadanya, aku tidak butuh bantuanmu!"

"Bukan itu maksudku, tapi dia bilang seperti itu, bila ada yang mengenalnya kita tanya dulu, baru mengambil keputusan."

Dia melihat Coh Thian-hong. Coh Thian-hong lebih bersikap sabar kepada pemuda ini, dia bertanya.

"Hei, apakah kau kenal dengan ayahku?"

Dia mengira pemuda itu tahu identitasnya dan sengaja memarahi Bok bersaudara sebagai Lai-hai-ma.

"Siapa ayahmu?"

Tanya pemuda itu.

"Coh Kim-sung dari Yang-ciu."

Kata Coh Thian-hong.

"Ternyata kau adalah putri Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung, aku tidak kenal, tapi nama ayahmu sering kudengar dan aku kagum kepadanya."

Coh Thian-hong membalikkan tubuh dan melotot ke arah Bok Ling-hoa dan berkata.

"Mengapa kau melihatku terus, aku hanya menyesal mengapa ayahku tidak berteman dengan orang yang berani memarahi kalian Lai Hai Ma"

Pemuda itu tersenyum dan berkata.

"Terima kasih kau sudah menghargaiku."

Bok Ling-ku terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Apakah bocah ini adalah kekasihnya?"

Dia bertanya kepada Hie Kim-giauw.

"Apakah kau kenal dengannya?"

Semenjak pemuda itu muncul, wajah Hie Kim-giauw berubah seperti orang tolol. Begitu Bok Ling-ku bertanya kepadanya, dia seperti baru bangun dari mimpi dan berteriak.

"Walau dia jadi apa pun, aku pasti mengenalinya!"

Pemuda itu tersenyum dan berkata kepadanya.

"Nona Hie, sungguh tidak disangka bisa bertemu denganmu di sini, apakah kau masih membenciku?"

"Aku ingin membunuhmu!"

Pemuda itu tertawa.

"Maaf, menyuruhku membuang apa saja masih boleh, tapi untuk membuang nyawaku untukmu, itu tidak bisa!"

Mu bersaudara tampak terkejut dan hampir bersamaan bertanya.

"Siapa dia?"

"Dia adalah musuh keluargaku, Hui-thian!"

Kata Hui-thian.

"Nona Hie, kau salah! Aku dan ayahmu bermusuhan, tapi tidak denganmu!"

Hie Kim-giauw marah dan berkata.

"Kau melukai ayahku kemudian merebut ibu tiriku, mempermalukan keluargaku, apakah kau bukan musuhku?"

Hui-thian tertawa dan berkata.

"Waktu itu kau sendiri yang mengusir Hiat-kun pergi, mengapa sekarang mengakuinya sebagai ibu tiri? Kau sebut 2 kesalahanku tapi aku hanya bisa terima separuhnya, karena Kang Hiat-kun tidak diculik olehku, yang luka ayahmu juga bukan karena kesalahanku!"

Hie Kim-giauw marah dan berkata.

"Kau masuk ke rumahku dan melukai ayahku, apakah ayahku yang bersalah?"

Kata Hui-thian.

"Kau adalah putri Hie Tiong-gwee, aku tidak mau menghina ayahmu di depanmu. Aku hanya bisa berkata bila ayahmu memiliki setengah saja dari kebaikanmu, aku tidak akan dendam kepadanya"

Kata-kata ini sudah menyebutkan bahwa Hie Tiong-gwee adalah orang yang jahat.

Bok Ling-hoa terlihat agak tenang, dalam hati dia berpikir, 'Walau kita berdua tidak bisa menang, juga tidak akan kalah, tapi bila ditonton bertarung oleh kedua gadis ini, sungguh sangat tidak pantas!' Terdengar Hui-thian berkata lagi.

"Aku tidak bisa menghina kalian begitu saja, aku akan beri 10 jurus terlebih dahulu, kemudian bila dalam 3 jurus aku tidak bisa menang kalian boleh menangkapku. Terserah kalian akan membawaku ke mana!"

Dua bersaudara Bok ini walaupun marah, tapi mereka agak tenang karena mereka berpikir dalam 10 jurus Hui-thian tidak menyerang mereka, masa mereka tidak dapat melukainya?

Tidak mungkin dalam 3 jurus dia dapat mengalahkan mereka.

"Bila kau mati, jangan salahkan aku!"

Tanya Bok Ling-ku "Toako, tunggu dulu!"

Teriak Bok Ling-hoa Bok Ling-ku takut adiknya berubah pikiran, segera dia berkata.

"Cepat bergerak sekarang! Harus tunggu apa lagi!"

Dalam hati Ling-hoa. menertawakan kebodohan Toakonya mengapa tidak sekalian memeras mereka Dia berkata.

"Toako, bocah ini adalah musuh keluarga Hie, kau balas dendam demi Nona Hie, kau harus minta imbalan!"

"Benar!"

Kata Bok Ling-ku.

"kau katakan saja bila aku menang bagaimana caramu membalas budi kepadaku?"

Hie Kim-giauw tidak dapat menjawab... Hui-thian berkata.

"Nona Hie, terserah kau mau menjanjikan apa kepadanya, aku tidak akan mengecewakanmu!"

Bok Ling-ku marah dan berkata.

"Apakah kau berharap kami yang kalah?"

Kata Hie Kim-giauw.

"Baiklah! Bila kalian bisa membunuhnya atau setidaknya menangkapnya, apa yang kalian minta, aku akan turuti."

Kata Ling-hoa.

"Toako, imbalanmu sudah ada, aku pun harus minta imbalan kepada Nona Coh."

Kata Coh Thian-hong.

"Kalian bertarung, tidak ada hubungannya denganku!"

Kata Ling-hoa.

"Kali ini ayahmu datang ke ibukota untuk menghadapi Hui-thian."

Kata Hui-thian.

"Nona Coh, aku pun dengar ayahmu sudah menerima undangan pendekar dari Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee, apakah benar?"

Dengan suara kecil Coh Thian-hong berkata.

"Benar, tapi..."

Dia ingin menjelaskan kepada Hui-thian bahwa ayahnya menyesal datang ke ibukota, tapi dia tidak kenal dengan Hui-thian. Hui-thian seperti tahu pikirannya dan berkata.

"Terima kasih Nona Coh tidak menganggapku musuh."

Bok Ling-hoa. Berteriak.

"Mengapa kalian baru bertemu sudah begitu akrab? Apakah dia menganggapmu sebagai teman?"

Wajah Coh Thian-hong memerah.

"Bukan musuh juga bukan teman, di sini aku hanya mempunyai seorang teman dan dia adalah cici Hie."

Kata Bok Ling-hoa.

"Kalau begitu kau menganggap kami seperti dia?"

Coh Thian-hong terdiam, dalam hati dia berpikir, 'Bila aku jujur, akan membuat kalian lebih marah lagi.' Walaupun dia belum menganggap dua bersaudara Bok ini sebagai musuh, dan dia membenci mereka, itu terlihat dari wajah Coh Thian-hong.

Kata Bok Ling-hoa.

"Nona Coh, kau tidak mau ikut campur, tapi sayang hal ini ada hubungannya dengan ayahmu."

Hui-thian tertawa terbahak-bahak.

"Musuh yang jujur lebih baik daripada teman yang bermulut manis. Nona Coh, aku tidak tahu apakah ayahmu menganggapku musuh bila kau demi ayahmu mendukung mereka, aku pun tidak akan menyalahkanmu!"

Coh Thian-hong tiba-tiba mendapat ide, dia berkata.

"Aku tidak akan membantu siapa pun, tapi kedua Bok Siauya ini ingin aku ikut dalam keramaian ini, aku akan membuat taruhan dengannya!"

"Taruhan apa?"

Tanya Bok Ling-hoa. Kata Coh Thian-hong.

"Bukankah kau ingin bertarung denganku?"

"Apakah kau ingin membantu bocah itu?"

"Sudah kukatakan, aku tidak akan membantu siapa pun. Aku hanya bertanya, apakah perjanjian ini kita hapus saja?"

Jawab Ling-hoa.

"Bila tidak dihapus bagaimana?"

"Bila kalian berdua bisa menang dari Hui-thian, berarti aku yang kalah."

Kata Ling-hoa.

"Ternyata taruhannya adalah tubuhnya, baiklah, aku akan bertarung, apa imbalannya?"

"Menurut aturan persilatan, bila kau dapat mengalahkan Hui-thian, apa pun yang kau minta, akan kuturuti!"

Coh Thian-hong balik bertanya.

"Bagaimana bisa kalian kalah?"

"Kau ingin kami bagaimana?"

"Kalian tidak boleh mencariku lagi, karena aku tidak mau berteman dengan kalian!"

Bok Ling-hoa. belum pernah dihina sedemikian rupa, dia sangat marah, tapi dia tetap percaya bahwa dia akan menang, walaupun marah dia masih bisa tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Gadis kecil, aku tidak mau hitungan denganmu, bila aku menang, lau akan minta-minta kepadaku!"

Kata Hui-thian dengan dingin.

"Apakah Bok Siauya hanya bisa ngomong saja?"

Kata Bok Ling-ku.

"Baiklah Nona Hie, kau bantu menghitung jurus, bila tidak dia akan main licik!"

Tapi di luar perhitungan, ilmu silat mereka bukan ilmu silat sembarangan.

Hanya terlihat 2 cahaya pedang sangat cepat seperti kilat, cahaya ini segera mengelilingi Hui-thian, karena dari kecil mereka sudah berlatih pedang, benar-benar sangat kompak.

Coh Thian-hong walaupun masih belia, begitu mereka mengeluarkan jurus serangan seperti angka 10, ini adalah jurus 'Cap-cu-i nun su-kiam (jurus pedang sepuluh jarum) dari ilmu pedang Tap-in-kiam-hoat (Ilmu Pedang Mengijak Awan ) dia sempat kagum juga.

Bila Hui-thian tidak cepat-cepat menyingkir dari jurus ini, tubuhnya akan tertusuk pedang tapi sekarang ini tubuh Hui-thian berada di pusat angka 10 itu.

Coh Thian-hong terkejut, dalam hati dia berpikir, 'Apakah dia dijuluki Hui-thian supaya namanya bagus?"

Dia ingin tertawa tapi sekarang "ulah tidak bisa. Belum habis berpikir, terdengar Hie Kim-giauw berkata.

"Bagaimana Hui-thian mengelak jurus kedua? Aku tidak bisa melihat."

Tap-in-kiam-hoat semakin cepat dan semakin berbahaya, beberapa jurus hampir mengenai tubuh Hui-thian, tapi itu hanya sebentar.

Terlihat Hui-thian seperti tertawa, tahu-tahu dia sudah berada di luar jangkauan cahaya pedang, kadang-kadang dia seperti sengaja mendekati kedua bersaudara ini.

Tapi pedang mereka tetap tidak mengenainya.

Hie Kim-giauw tetap melihat dengan tegang, dia sudah lupa sudah masuk ke hitungan berapa, apakah dia berharap kedua bersaudara Bok ini menang atau berharap Hui-thian bisa lepas dari bahaya ini?

Tiba-tiba terdengar Hui-thian berkata.

"Tap-in-kiam-hoat adalah jurus yang dahsyat, tapi kedua orang bodoh ini belum menguasai 10 % nya, jangankan 10 jurus, 100 jurus pun belum tentu bisa melukaiku."

Kedua bersaudara ini sudah mengeluarkan 3 jurus, tapi pedang mereka tidak mengenai Hui-thian bahkan ujung baju Hui-thian pun tidak tersentuh. Hui-thian tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Sudah 12 jurus, sekarang giliranku yang mengeluarkan serangan."

Tiba-tiba ada yang berteriak.

"Siapa yang sedang bertarung di atas?"

Walaupun orang itu masih jauh, tapi suaranya terdengar di sisi telinga. Coh Thian-hong terkejut dalam hati dia berpikir.

"Tenaga dalam orang ini sangat kuat, sepertinya tidak berbeda jauh dengan tenaga dalam ayahku, dia datang untuk membantu siapa?"

Kedua bersaudara Bok ini terlihat sangat senang, mereka bersamaan menjawab.

"Tuan Pheng, ini kami! Cepatlah kemari!"

Coh Thian-hong sudah tahu orang yang datang adalah pelayan Bok Ci-giauw.

Kedua bersaudara itu berpindah tempat dan jurus mereka pun berubah, dari menyerang menjadi berjaga-jaga, mereka menutupi kekurangan masing-masing.

Coh Thian-hong lebih mengenal pedang, dia sudah melihat kedua pemuda itu sangat lihai, dalam hati dia berpikir, 'Hui-thian dengan tangan kosong harus mengalahkan lawan dalam 3 jurus, sepertinya itu tidak mungkin."

Hui-thian tahu bahwa tenaga bantuan sudah datang, tapi dia terlihat tetap tenang dan sempat tertawa.

"Kaki tangan ayahmu sudah datang tepat pada waktunya, aku pukul dulu majikannya baru memukul anjingnya yang galak!"

Bok Ling-ku tertawa dingin.

"Coba lihat, apakah dalam 3 jurus kau bisa mengalahkanku?"

"Kalau aku bilang 3 jurus, pasti 3 jurus! Kau lihat ini adalah jurus pertama!"

Kata Hui-thian.

Jurus pertama bukan gerakan tangan, melainkan menggerakkan lengan baju, lengan baju dikibaskan ke arah pedang Bok Ling-ku.

Bok Ling-ku tidak memandang enteng musuh, dia menggunakan jurus Heng-in-toan-hong (Awan Mendatar Memapas Gunung), yang dipegangnya adalah pedang, dalam hati dia berpikir, 'Dengan pedangku, bulu halus yang terkena pedangku pun bisa putus, kau kira dengan kekuatan lembut bisa mengalahkan yang keras.

Itu hanya mimpi!"

Dia menunggu serangan lengan baju Hui-thian dan berniat untuk memotong lengan bajunya, bila Hui-thian tidak sempat menarik lengan bajunya, dia akan memotong tangannya.

Dalam kenyataannya ternyata bukan pedang yang berhasil memotong tangan Hui-thian oleh Bok Ling-ku tapi pedang 2 bersaudara Mu iiu yang saling beradu hingga terlepas dari genggaman.

Karena cara memainkan pedang mereka hampir sama, tenaga yang keluar pun sama besar, hanya terdengar suara 'TING', dua buah pedang dalam waktu yang bersamaan lepas dari tangan mereka.

Tangan Hui-thian bergerak sangat cepat, sudah memasuki jurus kedua, masih ada 1 jurus lagi.

"Aku takut kalian tidak dapat menerimanya, tapi ingat, kapan-kapan aku akan meminta nyawa kalian. Sekarang pergilah!"

Dua bersaudara Bok itu jatuh terguling-guling sejauh beberapa meter.

Mereka mendapat 2 buah tamparan, wajah mereka sudah penuh dengan darah, bibir mereka pun sudah sobek.

Hui-thian membalikkan tubuh dan menghadap Coh Thian-hong, tapi Coh Thian-hong tahu bahwa Hui-thian tidak akan membuatnya susah, tapi dia tetap terkejut juga.

Kata Hui-thian dengan suara kecil.

"Ada satu kalimat yang ingin kusampaikan kepada ayahmu, harap Nona Coh sudi untuk menyampaikannya."

"Terima kasih kau sudah membantuku menyalurkan amarahku, silahkan kau katakan saja!"

Kata Coh Thian-hong.

"Ayahmu orang yang sangat lurus, jangan campurkan air jernih ke dalam air keruh ini. Ada sebuah rahasia, Tuan Kiam-ta..."

Sepertinya dia tidak ingin Hie Kim-giauw mendengar, dia mengecilkan suaranya dan dia mendekati Coh Thian-hong, sepertinya ingin membisikkan sesuatu.

Coh Thian-hong pun terkejut, karena ayahnya sebelumnya pun sudah curiga kepada Tuan Kiam-ta, dalam hati dia berpikir, 'Ayah sudah Mencurigai Tuan Kiam-ta karena Tuan Kiam-ta sudah berubah.

Apakah rahasia Hui-thian ada hubungannya dengan ini juga?' Sewaktu dia menunggu Hui-thian bercerita, tiba-tiba suara Hui-thian malah berhenti.

Saat itu juga dia mendengar suara seperti petir.

"Siapa berani menghina putriku?"

Begitu suaranya terdengar begitu juga dengan orangnya tiba, ternyata ayah Coh Thian-hong sudah datang, Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung.

Suaranya seperti suara auman singa, suara ini tergantung pada tenaga dalam.

Tenaga dalam semakin tinggi, suaranya pun semakin kuat.

Hui-thian juga terkejut mendengar suara ini hingga gendang telinganya berdenging.

Pikir Hui-thian.

"Nama Coh Kim-sung ternyata bukan nama kosong, dia lebih kuat dari Tuan Pheng."

Tapi dalam waktu singkat, dia pun tidak dapat membela diri.

Dari jauh Coh Kim-sung melihat Hui-thian sedang berbisik kepada putrinya.

Dia mengira Hui-thian mau mempermalukan putrinya dan dia menjadi sangat marah.

Segera dia berlari menghampiri mereka, sekali menyerang sudah mengeluarkan jurus yang mematikan.

Coh Thian-hong berteriak.

"Ayah, jangan salah paham..."

Tapi Coh Kim-sung sudah menyerang Hui-thian dengan telapak tangannya dan Hui-thian sudah menyambutnya.

Untung teriakan Coh Thian-hong tepat pada waktunya, walaupun ayahnya belum selesai bertarung, tapi ayahnya sudah tahu ini adalah salah paham.

Ilmu silat Coh Kim-sung sudah terlatih sekali, bisa cepat keluar tapi bisa juga cepat-cepat ditarik kembali.

Dia sudah mendengar setengah teriakan Coh Thian-hong, tenaga yang tadi dikeluarkan segera dikurangi.

Bila tidak, kedua-duanya akan terluka parah.

Hui-thian melihat tenaga telapak datang dengan cepat, walaupun dia tidak ingin bermusuhan dengan Coh Kim-sung tapi dia tetap harus menyambutnya untuk menangkis serangan ini.

Ilmu silat yang dipakai Hui-thian adalah ilmu silat milik Kie Yan-gan yang bernama Tai-nuo-it-ngo-heng-tui-jiu (Tangan mendatar mendorong lima kekuatan besar).

Ilmu ini adalah ilmu yang meminjam' tenaga lawan dan memantulkannya kembali, dia menghadapi dua bersaudara Bok menggunakan jurus yang pertama, yang dia gunakan hanya sebagian dari tenaga yang sekarang.

Tapi sekarang dia mengeluarkan seluruh tenaganya.

Tai-nuo-it-ngo-heng-tui-jiu adalah ilmu dimana bila diserang oleh musuh akan membalikkan tenaga sebesar yang tadi dipakai oleh musuh, jadi musuh malah akan terluka dengan kekuatannya sendiri.

Bila orang dengan tenaga dalam kurang kuat akan kembali semua, tapi orang yang dihadapan Hui-thian sekarang ini adalah Coh Kim-sung, dia hanya bisa mengembalikan setengah tenaga, setengahnya lagi tetap akan menyerang dia.

Begitu telapak tangan beradu, Hui-thian merasa lawan hanya memakai tenaga sebanyak 50 %, dia pun sama, tenaga yang dikembalikan pun dikurangi Karena itu mereka berdua tidak terluka, hanya terkuras tenaganya saja.

Tubuh Coh Kim-sung bergoyang, Hui-thian pun mundur beberapa langkah.

Tuan Pheng sampai pada waktunya, dia menyerang dengan 2 telapak tangannya dan dia menyerang dengan kekuatan penuh.

Tapi Hui-thian tidak membalikkan kepala dia hanya membalikkan lengan mendorong Pheng hingga beberapa meter jauhnya.

Hui-thian berkata.

"Hari ini kau bernasib baik, aku melepaskanmu."

Kemudian dia pergi begitu saja.

Setelah lama Tuan Pheng baru bisa bangun, arti dari kata-kata Hui-thian tadi adalah bila tadi Hui-thian tidak beradu telapak tangan dengan Coh Kim-sung, dia akan memukul Pheng hingga terluka parah, sekarang walaupun dia terluka tapi hanya luka ringan saja.

Kedua bersaudara Bok ini baru berani mencaci maki Hui-thian idelah sosok Hui-thian tidak terlihat.

Tiba-tiba terdengar suara Hui-thian dari jauh yang berkata.

"Hei dua bersaudara Bok, kalian masih berhutang satu jurus kepadaku, aku akan memintanya kepada ayah kalian. Kalian pulang dan beritahu dia. Suruh dia untuk membayar hutang, hutang itu tidak hanya ada satu, masih ada hutang-hutang yang lain. Bila dia tidak mencariku, aku yang akan mencarinya!"

Karena Hui-thian bicara dengan suara yang disampaikan dengan cara mengirim suara khusus, mereka hanya mendengar suara tidak melihat orangnya.

Tapi mereka sudah menjadi gentar walau hanya mendengar suaranya saja.

Tuan Pheng bangun dan berkata.

"Siauya sudahlah! Jangan ganggu Hui-thian lagi, mari kita pulang!"

Kemudian dia mengeluarkan 2 butir obat dan dimasukkan ke dalam mulut dan satu lagi dia berikan kepada Coh Kim-sung, dia berkata.

"Coh Tayhiap, untung hari ini ada Anda, aku masih bisa hidup."

Kata Coh Kim-sung.

"Terima kasih, tapi aku tidak membutuhkannya, aku hanya minta agar kau menyampaikan kepada Tuan Kiam-ta, aku punya niat tapi tidak mempunyai tenaga lagi untuk membantunya, aku tidak akan mengunjunginya. Dua hari lagi aku akan pulang."

Kedua bersaudara Bok ini tahu berkat Coh Kim-sung lah mereka masih hidup, walaupun mereka tidak suka tapi mereka pun tetap menghormat ayahnya.

Apalagi hati mereka belum tenang, mereka takut Hui-thian akan kembali lagi.

Luka-luka mereka harus diobati dan segera pulang.

Coh Thian-hong menceritakan semua ini kepada ibunya, yang membuatnya aneh adalah ibunya tidak mengkhawatirkan dia sudah bertemu dengan Hui-thian.

Dia tampaknya mengkhawatirkan hal lain.

"Menurut ceritamu, Hui-thian tidak mempunyai niat jahat kepada ayahmu, aku percaya kepada kata-kata ayahmu. Dia dan Hui-thian hanya terkuras tenaganya, seharusnya dia tidak perlu datang ke pesta itu, itu yang membuatku khawatir."

Tanya Song Eng-lam.

"Ayah tidak terluka dan dia datang ke pesta itu, ibu mengkhawatirkan apa?"

Kata Coh Thian-hong. ---ooo0dw0ooo---Eng-lam membuka tirai dan melihat taman bunga sudah sepi dan pesta sudah usai, hatinya semakin kacau.

"Mereka sudah bubar, tapi ke mana perginya ayahmu?"

"Menurut orang-orang Piau-hang, ada seorang teman datang dari tempat jauh dan sangat kagum kepada ayah. Pestanya diadakan untuknya, mungkin ayah cocok dengannya maka walau pesta sudah bubar, tapi mereka tetap asyik mengobrol."

Song Eng-lam hanya bisa menarik nafas, dalam hati berkata, 'Semua ini salahku, anak Ang mana tahu teman yang kagum kepada ayahnya adalah musuh yang mau mengambil nyawa ayahnya.' Coh Kim-sung keluar dari Piau-hang, dia melihat bulan, waktu sudah menunjukkan pukul 3 subuh.

Dari pintu Piau-hang hingga ke rumah peristirahatan itu, memerlukan beberapa ratus langkah.

Karena ada Piau-hang maka jalan itu tidak membutuhkan penjaga.

Piau-hang sudah tutup, di jalan itu hanya ada Coh Kim-sung ia seorang diri, dia hanya mendengar langkahnya sendiri.

Kira-kira setelah dia berjalan sebanyak 20 hingga 30 langkah, tiba-m tiba disisi jalan muncul seseorang dan dia tertawa kemudian tertawa.

"Coh Toako, sudah lama kita tidak bertemu, kau tidak menyangka akan bertemu denganku di sini bukan?"

Orang ini adalah seorang tosu, begitu melihat Coh Kim-sung langsung berteriak karena senang.."Benar-benar tidak disangka, Yu He-cu to-heng, mengapa kau lari dari Bu-tong dan datang ke sini?"

Tosu itu adalah Yu He-cu, dia adalah teman baik Coh Kim-sung. Yu He-cu tertawa dan berkata.

"Aku sudah lama menunggu di sini, aku mencarimu!"

"Ada apa?"

Yu He-cu melihat sekeliling tempat itu untuk memastikan tidak ada orang ketiga dijalan itu. Dia baru menjawab.

"Selama 10 tahun aku belum pernah turun dari gunung Bu-tong, karena ini sangat penting maka aku mencarimu."

Coh Kim-sung melihat sikapnya begitu misterius, lebih-lebih membuatnya tidak tenang. Coh Kim-sung berkata.

"Bila kau ada perlu, mengapa tidak langsung masuk ke Piau-han malah di jalan ini menungguku?"

"Mana bisa aku masuk ke Piau-hang?"

Jawab Yu He-cu.

"Mengapa tidak? Aku tahu peraturan Bu-tong yang tidak mengijinkan murid-muridnya menjadi perampok juga menjadi pegawai Piau tapi, berteman dengan golongan hitam dan orang-orang Piau-hang itu tidak dilarang"

"Bukan karena aturan itu!"

Kata Yu he-cu.

"Lalu karena apa?"

Jawab Yu He-cu dengan suara kecil.

"Apakah kau belum bertemu dengan putramu?"

Coh Kim-sung terpaku dan menjawab.

"Yang kau maksud adalah Thian-su? Di sudah lama pergi ke Lok-yang tapi sampai hari ini belum pulang, mengapa kau tahu aku ada di ibukota? Apakah anakku juga akan ke ibukota untuk mencariku?"

"Ternyata kalian belum sempat bertemu, pantas kau tidak tahu apa-apa. Pertengahan bulan kemarin aku berpisah dengannya di Hoa-san, dia luhu kau pergi ke ibukota, dia pun tahu ada seseorang lagi yang juga akan ke ibukota, karena itu dia segera menyusulmu ke ibukota. Menyuruhmu untuk bersembunyi dan menghindar. Dia berkata akan tiba terlebih dahulu tapi aku yang sampai terlebih dahulu."

Coh Kim-sung masih mempunyai banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan tapi dia bertanya hal lain.

"Siapa orang itu? Mengapa aku harus menghindarinya?"

Sambil bicara mereka sambil berjalan, mereka sudah dekat dengan kmpat tinggal Coh Kim-sung.

"Apakah kau datang bersama dengan adik ipar?"

Tanya Yu He-cu "Benar, masih ada putriku juga, kami tinggal di rumah itu! Di sini bukan tempat yang baik untuk bicara, mari kita masuk!"

Sebenarnya Yu He-cu ingin masuk, tapi begitu ada istri Coh Kim-sung, wajahnya langsung terlihat malu-malu dan berkata.

"Lebih baik di sini saja!"

Coh Kim-sung ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Yu He-cu. Dan Yu He-cu berbisik di telinganya.

"Dia adalah Kie Lek-beng."

Suara Yu He-cu kecil tapi di telinga Coh Kim-sung seperti petir, Jin sangat terkejut dan bertanya.

"Apakah dia belum mati?"

"Sepertinya dia masih hidup."

"Apa yang kau tahu mengenainya?"

"Bulan lalu Kie Lek-beng dan Tong Hwai-ie bersama-sama pergi ke ibukota, karena itu aku mengira dia tinggal di kantor Sin-hoan Piaukok."

Coh Kim-sung terkejut dan berteriak.

"Apa? Dia tinggal di Piau-hang sini?"

"Aku tidak tahu apakah dia sudah sampai atau belum, tapi kau harus waspada!"

Coh Kim-sung tertawa kecut dan berkata.

"Bagaimana aku harus bersikap waspada?"

"Dia pasti mencarimu, dan dia pasti akan berganti nama, kau belum pernah bertemu dengannya, di depan mata pun kau pasti tidak akan tahu lebih baik kau meneliti sekelilingmu!"

Coh Kim-sung tanpa sadar bicara sendiri.

"Bukan, pasti bukan dia!"

"Siapa dia?"

Tanya Yu He-cu.

"Piau-hang hari ini kedatangan seorang tamu. Tamu ini diperkenalkan oleh Tong Hwai-ie kepada Toakonya, Tong Hwie-yan."

"Dia memakai nama apa? Apakah Tong Hwai-ie pernah menyebutkan identitasnya?"

Tanya Yu He-cu.

"Dia berkata bahwa dia she Kie, bernama Tai-seng. Tong Hwie-yan pun tidak tahu secara lengkap identitasnya."

"Kalau begitu, pasti dia orangnya!"

"Tapi dia tidak seperti yang kau katakan tadi."

"Kau curiga bahwa dia berani menghadapimu jadi dia berganti nama tapi tidak berganti marga, dia berubah menjadi Kie Tai-seng, benar-benar cocok dengan sifatnya!"

"Aku tidak menebak dari namanya saja."

"Dari mana kau tahu bahwa orang itu bukan dia?"

"Dia tidak mengajakku bermusuhan, malah dia menolongku!"

"Kau baru pertama bertemu dengannya, sudah menerima bantuannya?"

Kata Yu-He-cu terkejut "Sebelum bertemu dengannya, aku bertemu dengan seseorang yang tidak kusangka sama sekali, kau tidak perlu menanyakan siapa dia, aku dan dia beradu telapak tangan, sampai tenaga terkuras habis.

Kie Tai-seng berjabat tangan denganku, dia membantuku melancarkan jalan darah walaupun bukan menolong jiwaku, tapi dia membantuku agar cepat pulih, kebaikan ini jangan dianggap remeh!"

"Bagaimana sosok orang itu?"

Tanya Yu he-cu Setelah mendengar penjelasan Coh Kim-sung, Yu He-cu berkata.

"Wajahnya tidak mirip, tapi bekas luka di wajahnya sudab membuktikan bahwa itu adalah Kie Lek-beng, karena luka itu aku yang menggoreskannya. Mengubah wajah di dunia persilatan, itu tidak aneh!"

"Mengapa dia membantuku?"

Tiba-tiba terdengar teriakan di rumah itu, suara itu adalah suara teriakan dari istrinya.

Sekarang hal yang tidak dipercaya oleh Coh Kim-sung sudah terjadi di depan matanya.

Dia mengaum dan berlari seperti orang gila, masuk ke dalam rumah.

Langsung masuk ke kamar tidur.

Tapi semua itu sudah terlambat.

Bila tadi dia begitu bertemu dengan Yu He-cu, dan langsung pulang, mungkin akibatnya ada 2, karena hal yang ditakuti oleh Coh Kim-sung terjadi pada waktu dia dan Yu He-cu sedang mengobrol.

Pada saat itu Song Eng-lam masih khawatir, dia menunggu suaminya pulang.

Walaupun tirai sudah ditutup, dia tetap bengong menatap Tiba-tiba putrinya berteriak.

"Ayah sudah pulang!"

Suara ini membangunkan dia dari lamunannya.

Benar, ternyata ada suara langkah kaki di atas loteng.

Dia sangat senang, dia tidak berpikir suaminya masuk, anehnya udak memanggil dia lagi, dengan gembira dia berkata.

"Sung koko, kau sudah pulang? Apakah kau tahu bahwa aku begitu mengkhawatirkanmu?"

Baru habis bicara, orang itu sudah muncul di hadapannya, orang yang diharapkan bukan suaminya yang datang.

Semua rasa gembira langsung lenyap.

Orang itu hanya diam dan juga tidak bergerak, tapi seperti membawa angin yang tidak sedap.

Dia seperti orang yang baru keluar dari kuburan, bulu kuduk Eng-lam berdiri semua.

Tubuh Song Eng-lam gemetaran, dia tidak bisa bicara.

Coh Thian-hong pun sangat kecewa, tapi dia takut seperti ibunya.

Dia melihat orang yang tiba-tiba datang wajahnya penuh dengan bekas luka.

Coh Thian-hong berpikir, 'Dia pasti teman ayah, mengapa tidak begitu sopan?' Dia tidak tahu siapa orang itu dan bertanya.

"Siapa kau? Ayah tidak ada di rumah, jadi silakan keluar!"

Orang aneh itu tidak menjawab, setelah lama dia baru menjawab dengan dingin.

"Song Eng-lam, dalam hatimu hanya ada Coh Kim-sung, apakah tidak pernah ada aku?"

Benar-benar Air mengalir bunga berguguran Musim semi sudah lewat Untuk apa memikirkan perasaan yang dulu Apakah yang akan terjadi?

---ooo0dw0ooo---Bab 14 Hutang karma sulit dibayar Tidak tahu yang benar dan yang salah Jodoh belum terbukti Sulit membedakan lawan atau kawan A.

Manusia dari Kuburan Coh Thian-hong terpaku dan mulutnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu dan tidak bisa dikeluarkan.

Dia menolehkan kepalanya untuk melihat ibunya, dari pandangan matanya dia ingin agar ibunya memberitahu siapa orang itu.

Coh Thian-hong tidak dapat berpikir, ibunya memiliki rahasia apa yang disembunyikan darinya Song Eng-lam melihat pandangan putrinya yang curiga dia malah terbengong-bengong.

Orang aneh itu maju selangkah, dengan tertawa dingin dia berkata.

"Apakah kau tidak berani memberitahu putrimu siapa aku, atau kau sudah melupakanku?"

Setelah hilang rasa terkejutnya kebenciannya yang dulu timbul kembali, dia berteriak.

"Kie Lek-beng, apakah kau belum cukup menyiksaku? Sekarang kau malah kembali menghinaku!"

Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak.

"Akhirnya kau sudah tahu siapa aku! Apa aku yang mencelakaimu? Kau lihat sekarang aku seperti apa? Benar, aku pernah berbuat salah kepadamu tapi sekarang aku ditinggalkan oleh istri, dan putriku pun entah berada di mana tapi kau sudah mendapat apa yang kau mainkan yaitu hidup bahagia aku tidak tahu siapa yang mencelakai siapa?"

Walaupun Coh Thian-hong tidak tahu apa maksud orang itu tapi dia tidak tahan ketika ibunya dihina oleh orang aneh itu, wajah Coh Thian-hong sudah pucat dan dia mencabut pedang sambil berkata.

"Keluar kau!"

Kie Lek-beng bergerak pun tidak, hanya dengan dingin melihat ujung pedang milik Coh Thian-hong, matanya bersorot ingin membunuh. Kie Lek-beng bertanya.

"Bila aku tidak keluar, kau mau apa?"

Sorot mata yang sombong dan penuh kebencian yang dalam membuat Coh Thian-hong sudah tidak dapat mengusai diri lagi. Dia berkata.

"Aku akan membunuhmu!"

"Baiklah, kau majulah sekarang!"

Dia melihat ujung pedang Coh Thian-hong, dengan pelan dia mengangkat tangannya. Song Eng-lam terkejut, dan berteriak.

"Kie Lek-beng kalau kau membenciku, bunuh saja aku, jangan melukai putriku!"

Tiba-tiba Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak.

"Putrimu? Aku kira kau sudah menganggap putrimu sudah mati, kau benar-benar ibu yang kejam! Apakah kau masih ingat masih mempunyai putri yang lain?"

Ternyata Kie Lek-beng seperti berada dalam keadaan setengah gila. Coh Thian-hong tidak tahu siapa yang dimaksud putri yang lain oleh Kie Lek-beng. Dia marah.

"Orang gila, siapa kau! Berani-beraninya kau memarahi ibuku!"

Song Eng-lam berteriak.

"Jangan katakan kepada putriku, aku bisa bunuh diri untuk menghilangkan kebencianmu, maafkan dia!"

Kata Kie Lek-beng.

"Aku tidak mau kau mati, aku mau kau mengikutiku pergi, bagaimana? Apakah kau mau menjadi ibu yang kejam?"

Song Eng-lam seperti namanya, sifatnya keras, sekarang dia sudah tidak tahan, kata-kata Kie Lek-beng seperti pisau menusuk ke dalam hatinya, melukai hatinya, membuat dia seperti akan roboh.

Coh Thian-hong tidak tahan lagi, dia langsung menusukkan pedangnya.

Hanya terdengar suara pedang yang jatuh, disusul dengan orangnya.

Song Eng-lam terkejut dan berteriak.

"Sekalian saja, bunuhlah aku juga!"

Kata Kie Lek-beng.

"Kau mengkhawatirkan apa? Kau lihat sendiri apakah dia mati?"

Ternyata Kie Lek-beng hanya menotok Coh Thian-hong, dia, hanya menotok jalan darah tidurnya, dan Coh Thian-hong sudah hilang kesadarannya seperti orang mati.

Song Eng-lam ingin membuka totokan putrinya, tapi dia tidak sanggup, dalam hati dia terkejut.

"Kelihatannya ilmu menotok dia sudah berada di atas Sung koko, totokannya saja sudah begitu lihai, apalagi ilmu silatnya, Sung koko pasti, tidak dapat melawannya!"

Karena keluarga Coh terkenal dengan ilmu totokan jalan darahnya, dan sudah puluhan tahun Eng-lam menikah dengan Coh Kim-sung, dia pun belajar ilmu menotok dari suaminya, ilmu menotok jalan darahnyapun hampir mengimbangi Coh Kim-sung, tapi sekarang ternyata dia tidak dapat membuka totokan putrinya.

Bila totokannya dalam waktu tertentu tidak dibuka, orang itu akan cacat karena itu hati Eng-lam sangat tidak tenang.

Apakah dia akan meminta agar mantan suaminya membuka totok jalan darah putrinya.

Dia takut putrinya akan menjadi cacat, pada saat dia menimbang-nimbang, tiba-tiba Kie Lek-beng berkata.

"Benar, aku mau berhadapan langsung dengan Coh Kim-sung, tapi aku tidak akan memanfaatkan putrinya untuk balas dendam!"

Setelah itu dia mengambil kursi dan duduk di tengah-tengah ruangan.

Song Eng-lam agak tenang, tapi kekhawatiran yang lebih besar datang lagi, Kie Lek-beng tidak mau pergi dari sana, sepertinya dia ingin menunggu Coh Kim-sung pulang.

Tanya Song Eng-lam dengan suara gemetar.

"Bagaimana caramu membalas dendam?"

"Itu terserah padamu!"

Song Eng-lam terpaku.

"Apa artinya ini?"

Kie Lek-beng tertawa tapi tidak melihat ke arah Eng-lam, dia berkata.

"Tadi aku sudah bertemu dengan Coh Kim-sung, kau tebak, sudah lerjadi apa di antara kami?"

Song Eng-lam terkejut dan bertanya.

"Kau berbuat apa kepadanya?"

Kie Lek-beng tertawa dan menjawab.

"Tenanglah! Aku tidak membunuhnya malah mengobati lukanya,"

Tawanya terlihat sangat misterius tapi juga sedih. Kie Lek-beng melihat mantan istrinya kemudian berkata.

"Aku tahu kau tidak akan percaya. Ini terjadi karena sebelum bertemu denganku dia sudah bertemu dengan seorang pesilat tangguh, tenaganya terkuras, aku menggunakan ilmu keluarga Kie membantunya memulihkan tenaganya."

Sebenarnya Song Eng-lam percaya tapi berkata.

"Apakah mungkin benar kau begitu baik?"

"Kau benar, aku tidak mempunyai niat baik untuk membantunya, aku hanya ingin dia tidak mati penasaran, besok dia sudah pulih seperti sedia kala. karena itu besok pagi aku akan siap bertarung dengannya!"

Kata Song Eng-lam.

"Sekarang baru jam 3 dini hari, mengapa kau sudah datang?"

"Tadinya besok aku baru akan datang, tapi kupikir-pikir sebelum dia pulang, lebih baik aku dan kau membereskan perbincangan ini."

Kata Song Eng-lam.

"Kau harus tahu, aku tidak mungkin menjadi istrimu lagi, kau dan aku bisa menjadi seperti ini, tidak ada hubungannya dengan Coh Kim-sung."

Rasa cemburu Kie Lek-beng mulai timbul, Eng-lam belum habis bicara dengan marah dia berkata.

"Aku tahu kalian sudah saling mengenal sebelum kita menikah, aku tahu kau tidak pernah menganggapku sebagai suamimu, aku tahu aku telah bersalah kepadamu, aku pun tahu setelah memastikan aku meninggal, kau baru menikah lagi."

Dengan tenang Song Eng-lam berkata.

"Baik sekali kalau kau sudah tahu semua, kau hanya bisa menyalahkan orang lain tapi tidak pernah memikirkan kesalahanmu sendiri Baiklah, aku juga bisa menerima semua kesalahan ini, lebih baik kau bunuh aku, Coh Kim-sung sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini."

Kata Kie Lek-beng.

"Kau benar, aku tidak boleh menyalahkan Coh Kim-sung, ini pun bukan salahmu, tapi kau harus tahu karena kau terlalu bersikap dingin kepadaku, maka aku mencari perempuan lain. Aku mati atau hidup kembali ini pun demi dirimu, aku tidak berani pulang dan menempuh jalan yang salah, siapa yang benar atau salah, kau tidak perlu mengusutnya lagi. Aku datang ke sini bukan meminta agar kau kembali kepadaku. Aku hanya benci kepada Coh Kim-sung, benci karena dia ada di hatimu, aku tidak dapat bertanding dengannya, aku harus balas dendam, kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku bukan orang yang tidak mengerti aturan!"

Puluhan tahun hidup sendiri di gunung, hidup penuh dengan siksaan membuat dia mengambil keputusan hidup semaunya.

Dia tahu dendam ini tidak masuk akal, benang yang kusut sudah tidak dapat dibereskan, tapi kemarahannya sudah seperti gunung berapi yang siap meledak.

Kemarahan yang dia pendam selama puluhan tahun dikeluarkan semua dan setelah itu hatinya baru merasa tenang, tapi bagi Eng-lam dia merasa Kie Lek-beng sangat menakutkan sekaligus sangat kasihan.

Kata Song Eng-lam.

"Baiklah, bila kau mau membunuh Coh Kim-sung, tunggu dia pulang dulu dan aku dan dia akan bersama-sama mati di hadapanmu. Tapi putriku tidak tahu apa-apa. Lepaskanlah dia!"

Kata Kie Lek-beng.

"Aku tidak harus membunuh Coh Kim-sung, apakah kau mau mati bersamanya?"

Jawab Song Eng-lam.

"Akulah yang membuatnya susah, walaupun kami tidak lahiri bersama-sama tapi kami akan mati bersama-sama!"

Rasa cemburu Kie Lek-beng bertambah lebih besar lagi, dia berusaha menekan amarahnya dan berkata.

"Kalau begitu kau ingin mengorbankan semuanya, semua ini demi dirinya. Bila ingin mati bersamanya, bila tidak terpaksa aku tidak akan melakukan!"

Song Eng-lam tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk. Kata Kie Lek-beng.

"Aku boleh tidak membunuhnya tapi aku harus mempunyai cara lain untuk balas dendam kepadanya!"

Kata Song Eng-lam.

"Baiklah, apa syarat darimu? Asalkan aku tidak perlu menjadi istrimu lagi dan melepaskan Jin Song, aku akan setuju!"

Kemarahan Kie Lek-beng mereda dengan tawa yang menusuk, dan berkata.

"Aku tidak mendapatkan hatimu, untuk apa aku meminimi tubuhmu bila aku hanya ingin menjadi suamimu, aku tidak akan meninggalkan rumah! Sudah kukatakan, kali ini aku datang bukan untuk memintamu kembali! Eng-lam, kau jangan menganggapku terlalu ., aku masih punya harga diri!"

"Baiklah, bagaimana cara agar kebencianmu hilang?"

"Aku ingin kau dan putrimu mengikutiku pergi, tidak boleh bertemu dengan Coh Kim-sung lagi!"

Song Eng-lam terkejut dan berkata.

"Apa hubungan semua ini dengan putriku?"

"Apakah kau tahu bagaimana aku melewati puluhan tahun ini bukan? Aku ingin Coh Kim-sung mengalami hal yang sama denganku, kehilangan semua orang yang dicintai, hidup seorang diri di dunia ini!"

Dengan gemetar Song Eng-lam berkata.

"Tidak! Tidak! Kau tidak boleh membalas dendam seperti itu, tidak bersalah, dia tidak boleh terlibat!"

"Putriku kehilangan ayah dan ibunya, apa salahnya? Sekarang aku ingin putrimu ditinggalkan oleh ayahnya, ini sudah sangat beruntung!"

Meninggalkan putrinya di keluarga Kie, seumur hidup dia merasa jangat berdosa.

Sekarang Kie Lek-beng menusuk hatinya hingga terluka.

Dia sudah tidak bisa membela diri lagi, dia hanya bisa memeluk putrinya yang masih tidak sadar seperti takut Kie Lek-beng akan merebutnya.

Kata Kie Lek-beng.

"Aku tidak akan memaksa kau menjadi istriku, lebih-lebih tidak memaksanya menjadi putriku, aku mau kalian menemaniku hidup di gunung, menemaniku hingga mati!"

Tiba-tiba sepertinya dia teringat kepada suatu hal, dan dia berkata.

"Benar, Coh Kim-sung masih memiliki seorang putra, katanya namanya cukup terkenal di dunia persilatan, putranya bernama Thian-su, apakah benar?"

"Kau masih punya niat jahat apa lagi?"

Dengan ringan Kie Lek-beng berkata.

"Apakah kau sudah melupakan kata-kataku tadi? Aku hanya ingin Coh Kim-sung kehilangan orang-orang yang dia cintai!"

Kata Song Eng-lam.

"Thian-su adalah anak dari istri pertamanya, tidak ada alasan kau membencinya!"

Kata Kie Lek-beng.

"Putrimu masih bisa dimaafkan, tapi anaknya dari istri yang pertama, aku tidak perlu melihat muka siapa pun, bila bertemu dengannya aku akan langsung membunuhnya!"

"Apakah kau itu manusia atau bukan? Mengapa tidak mau mengerti?"

Tanya Song Eng-lam. Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Dari dulu pun aku bukan manusia, aku adalah orang yang baru keluar dari kuburan. Aku sudah bilang, aku orang yang tidak tahu aturan, mengapa kau begitu cepat lupa?"

"Baiklah, aku akan mengikutimu pergi, tapi jangan lukai keluarga Coh!"

"Bila kau tidak mau aku balas dendam seperti itu, aku akan memakai cara lain lagi, sekarang sudah dini hari pukul 3, sebentar lagi Coh Kim-sung akan pulang, begitu pulang kami akan bertarung!"

Kata Song Eng-lam.

"Aku dan putriku akan mengikutimu pergi, asal kau mau melepaskan ayah dan anak she Coh ini!"

Kecemburuan Kie Lek-beng kembali lagi dan berkata.

"Tidak disangka, kau begitu sayang kepada putra dari istri Coh Kim-sung yang pertama."

Tidak memperdulikan perkataannya tanya Song Eng-lam.

"Apakah kau setuju dengan perjanjian ini?"

"Aku tidak jual beli denganmu, kita tidak perlu tawar menawar lagi!"

Song Eng-lam tertawa dingin dan dia mengambil sisir menyisir rambutnya. Kata Kie Lek-beng.

"Kau masih mempunyai niat untuk menyisir rambutmu?"

Sambil tertawa dingin Song Eng-lam berkata.

"Kau memiliki hati batu, aku tidak akan mengemis lagi, sekarang aku sudah mengambil keputusan, hidup atau mati harus bersama-sama dengan Sung koko, aku harus berdandan untuknya. Paling-paling kau hanya membunuh kami bertiga, tapi di dalam tanah kami masih tetap satu keluarga. Lebih bagus darimu yang hanya hidup seorang diri di dunia ini!"

Kie Lek-beng sangat marah sekaligus sedih, dia berkata.

"Hatimu lebih keras dan kejam dibanding dengan hatiku!"

"Kaulah yang memaksaku berbuat menjadi seperti ini."

"Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kau inginkan, aku masih mempunyai cara ketiga untuk balas dendam."

Dia ingin membunuh Coh sekeluarga, kemudian bunuh din dan meninggalkan kesedihan dan kekesalan hatinya demi Song Eng-lam.

Tapi Song Eng-lam juga sudah berniat untuk mati, dia tidak menanyakan lagi cara apa yang akan dipakai oleh Kie Lek-beng.

Mereka berdua terdiam, diam inilah yang akan mendatangkan bencana yang lebih besar lagi.

Mula-mula Song Eng-lam hanya mendengar suara detak jantungnya sendiri, tiba-tiba dia gemetaran, menaruh putrinya dan melepaskan pelukan dengan perlahan, dia berdiri dan mendengar.

Kata Kie Lek-beng.

"Kau tidak perlu mendengar, aku akan memberitahu kepadamu-Benar, itu suamimu, dia sudah pulang. Di belakangnya masih ada 2 orang lagi, mungkin pesilat tangguh yang dia bawa. Coh Kim-sung benar-benar sangat lihai, di Piau-hang tidak ada yang tahu identitasku, aku kira aku dapat membohonginya, dan ternyata dia tahu siapa aku. Orang yang membantunya sudah datang, padahal bila mau melawanku secara terang-terangan tidak sembunyi lagi...."

Karena ilmu silatnya tinggi, pendengarannya pun tajam, dia dapat mendengar suara dari jauh juga bau yang tertiup angin di atas atap.

Orang itu ilmu meringankan tubuhnya lebih tinggi dari yang dia kira Dua orang lagi berada di ambang pintu sedang mengobrol, dia hanya mendengar tapi tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Dia sengaja berkata bahwa Coh Kim-sung sembunyi-sembunyi, tapi dia tertawa dingin dan tetap duduk di tengah ruangan menunggu Coh Kim-sung masuk melalui jendela.

Eng-lam walaupun merasa heran tapi dia berpikir mungkin ada orang yang keluar malam, tapi setelah Kie Lek-beng berkata seperti itu, dia tidak curiga lagi, dia mengira suaminya mengajak temannya pulang.

Waktu itu hatinya semakin kacau, memang benar dia ingin mati bersama-sama dengan Coh Kim-sung, dia menunggu suaminya pulang tapi dia tidak ingin suaminya mati karena dia Tiba-tiba terbesit sebuah akal, antara hidup da mati, tiba-tiba dia pembuka tirai.

Tadinya dia ingin Coh Kim-sung melarikan diri, tapi tiba-tiba pikir olehnya.

"Bila suaminya pulang dan mengetahui bahwa Kie Lek-beng berada di kamarnya, hasilnya malah akan sebaliknya, suaminya malah akan cepat-cepat masuk."

Suaranya terhenti di tenggorokan, tubuhnya pun menjadi kaku begitu dia menarik tirai, dia melihat seseorang yang tidak disangkanya sama sekali.

Dia masih tampak kebingungan dan orang itu sudah melukainya.

"Suruh dia datang secara terang-terangan masuk melalui pintu."

Kie Lek-beng dengan dingin tertawa.

Tawanya belum habis, dia langsung mematung terbelalak.

Teriakan Eng-lam sudah menutup suara tawanya.

Begitu Eng-lam berteriak, tubuhnya limbung dan jatuh ke dalam pelukan Kie Lek-beng, dia bisa langsung menyambut Eng-lam karena pada saat itu dia berlari menghampiri Eng-lam, tapi semua itu sudah terlambat.

Mata Song Eng-lam tertutup, wajahnya sudah menghitam.

Begitu diperiksa nafas dari hidungnya, walaupun masih bisa bernafas tapi nafasnya sudah sangat lemah.

Kie Lek-beng membuka jendela dengan tenaga telapak tangannya tapi orang itu sudah melarikan diri entah ke mana Yang pasti dia tidak mempunyai waktu untuk mengejar orang itu.

Segera dia mengeluarkan sebuah pil berwarna hijau dan memasukkannya ke dalam mulut Song Eng-lam.

Obat itu adalah obat penawar racun.

Setelah Eng-lam menelan obat itu, nafasnya mulai lancar tapi dia tetap tidak sadarkan diri dan wajahnya masih hitam pekat.

Obat penawar itu hanya bisa sementara waktu menyambung nyawa Song Eng-lam.

Senjata rahasia itu sudah diberi racun, pertama kalinya Kie Lek-beng melihat ada racun yang begitu hebat, dia pun tahu bila dalam waktu 1 jam racun itu tidak ditawarkan, Song Eng-lam akan mati.

Dia merasa sangat menyesal, dia menyalahkan dirinya yang begitu ceroboh, dia mengira yang datang adalah Coh Kim-sung ternyata yang datang adalah orang yang akan membunuh Song Eng-lam.

Pembunuh itu pasti bukan Coh "Kim-sung, siapakah dia?

Senjatanya begitu beracun, pasti orang itu ahli mengenai racun."

Kie Lek-beng tidak dapat menggunakan racun, tapi karena dia sudah lama tinggal tanpa ikatan pernikahan dengan Gin-ho, maka mengenai racun, dia mempunyai sedikit pengetahuan.

Pertama dia harus tahu senjata rahasia yang beracun ini berasal dari keluarga mana, baru bisa tahu jenis racun yang dipakai.

Tapi cara untuk mengatasi racun yang berikutnya Kie Lek-beng sama sekali tidak tahu.

tapi dia tidak mau melepaskan kesempatan menyelamatkan nyawa Eng-lam begitu saja.

Orang yang bisa memakai racun tidaklah banyak, tiba-tiba dia sadar bahwa dia tidak pernah melihat senjata rahasia beracun seperti itu, begitu lihai tapi dia sudah pernah melihat orang yang keracunan seperti ini.

Kira-kira 6 atau 7 tahun yang lalu, saat itu dia masih berada di hutan untuk menyembuhkan lukanya, karena dia sukar untuk bergerak Bok Koan-koan selalu menemaninya dan menjadi perawatnya.

Pada suatu hari, datang seorang musuh ingin membunuhnya.

Bok Koan-koan pun kalah melawan musuh ini untungnya Koan-koan sudah menyiapkan jarum beracun.

Racunnya sangat ganas, pada saat Koan-koan dalam bahaya dalam pertarungan itu, Bok Koan-koan berhasil menggunakan jarum untuk membunuh orang itu.

Tapi jarum beracun yang dipakai Sok Koan-koan bukan racun yang begitu ganas karena musuhnya begitu sudah terkena jarum beracun masih bisa marah-marah dan setengah hari kemudian baru mati keracunan.

Tenaga dalam orang itu begitu kuat Kie Lek-beng tahu tenaga dalam Song Eng-lam pun seperti orang itu.

Tapi sekarang begitu Song Eng-lam terkena serangan racun ini sudah tidak sadarkan diri, menurut pengalaman Song Eng-lam dalam waktu 1 jam bila racunnya tidak segera ditawarkan, Eng-lam pasti akan mati.

Apakah yang menyerang Song Eng-lam adalah Bok Koan-koan?

Tiba-tiba dia teringat cara Bok Koan-koan menolong orang pada saat itu segera dia tahu jawabannya.

Ilmu meringankan tubuh orang itu lebih tinggi daripada ilmu meringankan tubuh Bok Koan-koan, paling sedikit ada satu kali lipatnya.

Ilmu jarum beracun Bok Koan-koan bisa mengalami kemaj selangkah demi selangkah, tapi ilmu meringankah tubuh harus pada usia muda sudah dilatih, jadi bila sudah lewat dari usia 30 tahun sulit untuk mengalami kemajuan.

Bok Koan-koan sudah berumur 30 tahun lebih, menurut Kie Lek-beng tidak mungkin ilmu meringankan tubuh Bok Koan-koan mengalami kemajuan yang begitu pesat.

Sebulan yang lalu Kie Lek-beng pernah bertemu dengan Bok Koan-koan waktu itu ilmu meringankan tubuh Bok Koan-koan masih tetap seperti dulu walaupun Bok Koan-koan bisa menyembunyikan ilmu silatnya tapi tetap tidak bisa lepas dari pengawasan Kie Lek-beng.

Karena itu, dia tahu jarum beracun ini adalah senjata beracun yang dipakai oleh Bok Koan-koan.

Jadi siapakah pembunuhnya?

Dia tidak dapat mengatakan bahwa orang itu adalah Bok Koan-koan.

Waktu begitu mendesak, sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan siapa pembunuhnya.

Dia tahu bila jarum beracun itu tetap berada di tubuh Eng-lam, racun akan terus menyebar, yang paling penting sekarang ini adalah mengeluarkan jarum beracun itu.

Kie Lek-beng membawa batu magnet yang bisa menghisap jarum, tapi jarum beracun itu berada di bagian tubuh yang mana?

Harus mencari di seluruh tubuh Eng-lam, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Kie Lek-beng menyalakan lampu minyak, asal bisa menghisap jarum itu, Kie Lek-beng akan menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Eng-lam sehingga Eng-lam bisa terlepas dari kematian, paling sedikit bisa hidup selama beberapa tahun lagi.

Karena belum mendapatkan tempat di mana jarum itu masuk, dan ada orang yang berlari masuk, waktu sudah sangat mendesak, dia tidak mempunyai waktu untuk berpikir lama, hanya ada sebuah cara yaitu menyobek baju atas Eng-lam.

Tubuh Eng-lam yang putih dan mulus, dia mulai mencari jarum itu, pasti lebih mudah daripada dia masih memakai baju.

Bila ada sedikit bekas darah yang keluar itu lebih mudah lagi.

Karena jarum itu dilepaskan dari jendela pasti yang menjadi sasarannya adalah tubuh bagian atas Eng-lam.

Baru saja dia menyobek baju atas Eng-lam, belum sempat menemukan bekas luka jarum, Coh Kim-sung sudah masuk ke dalam kamar.

Begitu Coh Kim-sung melihat keadaan di kamar tidur, dia sangat marah dan berteriak.

"Kau mau apa? Cepat lepaskan dia!"

Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Aku sedang melakukan apa? Bukankah kau sudah lihat sendiri? Aku hanya memeluknya, apakah kau tahu siapa aku ini?"

Kedua tangan Coh Kim-sung memegang Poan-koan-pit, dia menunjuk ke arah Kie Lek-beng dan berkata.

"Aku tahu kau adalah Kie Lek-beng, bila kau mau balas dendam, balaslah kepadaku, jangan melakukan hal yang memalukan!"

Kie Lek-beng menjadi jengkel dan kesal, dia pun ingin membuat Coh Kim-sung ikut kesal, dia tertawa dan berkata.

"Dia adalah istriku, bila aku belum menceraikannya, dia masih menjadi istriku, suami sedang memeluk istri, apa salahnya?"

Coh Kim-sung tidak menyangka bahwa Kie Lek-beng akan menjawab seperti itu, maka dia pun hanya bisa bengong.

Yu He-cu yang berada di belakang Coh Kim-sung tidak menyangka bahwa dalam kamar bisa terjadi hal seperti ini, begitu melihat segera dia keluar lagi, dia malu melihat keadaan di dalam kamar itu.

Sekarang ini kedua belah pihak seperti dua buah busur yang sudah dipasang panah dan siap dilepaskan.

Yu He-cu tahu bagaimana hebatnya Kie Lek-beng.

Bila dia tidak bergabung dengan Coh Kim-sung begitu bertarung n dia pasti akan langsung kalah, Yu He-cu membuka jubahnya dan melemparkannya masuk ke dalam kamar dan berteriak.

"Bila kau adalah laki-laki, keluarlah dan kita bertarung!"

Jubahnya dilempar masuk ke dalam kamar untuk menutupi tubuh Song Eng-lam, dalam hati Kie Lek-beng berpikir.

"Sudah 10 tahun lebih tidak bertemu dengan tosu ini, ilmu silatnya sudah maju pesat, aku tidak boleh memandang enteng kepadanya."

Tiba-tiba dia menepuk enteng jubah itu, jubah itu segera menggulung, dan kembali lagi kepada Yu He-cu.

Yu He-cu hanya merasa angin kencang berhembus.

Dengan cepat dia menghindar.

Dengan marah Coh Kim-sung berkata.

"Kau tidak tahu malu! Kau tidak boleh menghina Eng-lam seperti itu! Berdirilah kau! Mari kita bertarung!"

Bila Kie Lek-beng berdiri, Eng-lam tentu akan dilepaskannya. Kata Kie Lek-beng.

"Aku tidak mau tahu pikiranmu seperti apa, aku tidak mau meletakkan istriku, kau tidak usah khawatir, aku tidak akan menjadikan istriku sebagai perisai. Poan-koan-pit-mu boleh menotokku di tempat mana pun"

Sembil bicara, dia membalikkan tubuh Eng-lam dan menaruh Eng lam di lututnya, mulutnya terus bicara tapi matanya sama sekali tidak melihat ke arah Coh Kim-sung.

Dia hanya menunduk mencari jarum di tubuh Eng-lam.

Coh Kim-sung tidak tahu bahwa Kie Lek-beng sedang berusaha menolong Song Eng-lam, dia melihat istri tercintanya dipermainkan oleh Kie Lek-beng, dia sudah tidak tahan lagi dan berteriak.

"Penjahat berotak mesum, aku harus membunuhmu!"

Sepasang Poan-koan-pit mulai menotok ke arah Kie Lek-beng.

Karena Coh Kim-sung sangat marah maka Poan-koan-pit nya dengan cepat menotok, dalam satu serangan sudah mengarah menotok 8 jalan darah.

Kata Kie Lek-beng dengan dingin.

"Kurang ajar! Seharusnya aku yang marah kepadamu, karena kau sudah berjinah dengan perempuan yang bersuami, sebaliknya kau yang marah-marah kepadaku!"

Sambil bicara dia mengeluarkan jarinya dan menyentil kepada sepasang pena, Coh Kim-sung merasa jalan darah di tangannya terasa panas, Coh Kim-sung terkejut dan berpikir, 'Sayang tenagaku belum pulih, bila tidak aku bukan sama sekali tidak dapat mengenainya!"

Kie Lek-beng sepertinya tahu pikiran Coh Kim-sung, dia berkata.

"Aku lupa seharusnya satu jam lagi kau baru pulih, walau tenagamu sudah kembali 80 %, aku pun baru memakai setengah dari tenagaku. Aku tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan."

Yang dia katakan adalah hal sebenarnya, dia hanya memakai setengah dari tenaganya menghadapi Coh Kim-sung, karena terburu-buru dia tidak menemukan jarum di tubuh Eng-lam.

Dia takut kalau jarum beracun itu masih tertinggal di tubuh Eng-lam, racun itu akan menyebar lebih dalam lagi.

Karena itu dia hanya mengeluarkan tangan kirinya dan menekan ke dada Eng-lam untuk menahan aliran darah, mencegah agar racun itu tidak masuk ke jantung.

Coh Kim-sung membenci sikapnya yang begitu sombong, tapi Coh Kim-sung juga melihat Kie Lek-beng tidak akan membuat Eng-lam menjadi perisainya, dalam hati Coh Kim-sung berpikir, 'Walaupun Eng-lam terluka, asal bisa mati bersama-sama dengan penjahat ini, aku cukup puas.' Dua kuas seperti hujan guntur menyerang Kie Lek-beng, tapi dalam serangan dasyat ini, dia kembali lagi ke sifat biasa, tenang dan tidak tergesa-gesa, penanya bergerak memcoba menotok jalan darah penting lawannya.

Puji Kie Lek-beng.

"Keluarga Coh dari Yang-ciu memang hebat, kedua pena dapat menotok dengan sangat indah, tapi sayang kau bertemu denganku."

Sekarang dia sudah memindahkan tangan kirinya dari dada Eng-lam,' tangan kirinya mulai menyerang jari tangan kanan menyentil terdengar sebuah pena Coh Kim-sung tersentil lepas dari tangan Coh Kim-sung.

Waktu mereka mulai bertarung, hati Yu He-cu sudah tidak tenang, dia hanya mendengarkan di depan pintu.

Begitu mendengar suara pena yang terjatuh, segera dia masuk, dia takut Coh Kim-sung tidak dapat melawanya, malah jiwanya terancam Segera dia memakai tenaga telapak memadamkan api penerangan, bila lampu padam, dia tidak perlu melihat Nyonya Coh yang tubuhnya setengah telanjang, karena hal ini membuatnya serba salah.

Pesilat tangguh biasanya bisa membedakan suara senjata dan Yu He-cu adalah pesilat tangguh.

Di dalam kamar yang gelap, tidak terlihat apa-apa, tapi dengan sepasang mata musuhnya yang bercahaya dapat dilihat di dalam kegelapan dan mudah dilihat sasarannya, begitu Yu He-cu masuk ke dalam kamar, langsung dia menusuk mata Kie Lek-beng.

Sepuluh tahun lebih demi balas dendam dia berlatih pedang, hatinya sudah penuh dengan kemarahan, semuanya dia lampiaskan ke jurus pedang yang dia mainkan, dapat dibayangkan seperti apa kehebatan pedangnya.

Hanya terdengar suara baju robek, lengan baju Kie Lek-beng sudah sobek, tapi pedang Yu He-cu berhasil dikibaskan ke samping oleh Kie Lek-beng.

Kie Lek-beng sangat marah dan berkata.

"Apakah kau buta? Kau kira dengan cara seperti ini bisa membutakan mataku?"

Wajah Yu He-cu memerah dan berkata.

"Jurus pedangku bermacam-macam, menghadapi musuh sepertimu yang begitu mesum, aku tidak perlu sungkan lagi, bila kau tidak berbuat yang tidak senonoh, lepaskanlah Nyonya Coh dan kita bertarung di luar."

Mulutnya terus bicara tapi pedangnya tidak berhenti menyerang. Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata.

"Kalian semua orang kerdil! Aku tidak butuh menjelaskan semua ini kepada kalian!"

Coh Kim-sung pun bergerak, dalam hatinya berpikir, 'Dari tadi dia tidak memperalat Eng-lam untuk menyerangku, bila aku menyerang dulu aku takut melukai Eng-lam, dia pun sepertinya begitu, sudah beberapa jurus tidak menguntungkannya dan dia tidak membalasnya, karena dia tidak mau melepaskan Eng-lam maka dia menculik Eng-lam, bagi dia semua ini tidak gunanya, mengapa dia melakukan semua ini?

Apakah hanya ingin membuatku marah?"

Walaupun dia tidak mendapat jawaban yang dia inginkan, begitu melihat istrinya dipeluk oleh orang lain, dia tidak dapat menerimanya.

Begitu mendapat bantuan dari Yu He-cu, dia menyerang lebih dasyat lagi.

Tapi dia sekarang hanya mempunyaisebuah pena, cara memainkan satu pena berbeda dengan 2 pena, karena hanya ada sebuah pena, tenaga dalamnya lebih terfokus, dia dapat menahan kibasan lengang baju Kie Lek-beng, membuat Yu He-cu lebih leluasa memainkan pedangnya.

Lampu padam sehingga Kie Lek-beng hanya bisa menggunakan lengannya mencari jarum beracun itu.

Dia sudah mendorong darah Eng-lam dari dada, menghalangi racun terus naik dan menyebar ke jantung Nafas Eng-lam mulai lancar dan Kie Lek-beng sudah terkuras banyak tenaga Meraba untuk mencari jarum beracun harus dengan konsentrasi penuh, walaupun tidak menghabiskan tenaga tapi tetap menghabisku semangat.

Apalagi di ganggu pertarungan yang sengit dan harus benar-benar menghadapi lawan tangguh.

Seorang pesilat tangguh bertarung, dia harus berkonsentrasi karena hal itu bisa membahayakan jiwanya, karena Kie Lek-beng ceroboh tangan-kanannya sudah terkena tusukan.

Untungnya dia mempunyai ilmu Cap-ie-cap-pwee-tiap (Menempel dan menjatuhkan 18x), ujung pedang mengena tubuhnya tapi pedangnya seperti mengenai benda yang licin malah meleset ke pinggir hanya bajunya yang sobek dan tubuhnya tidak terluka, tapi Yu He-cu merasa senang, dia menyerang dengan gigih.

Yu He-cu menyerang lagi kali ini dia menyerang ke leher Kie Lek-beng.

Kie Lek-beng dengan ilmu silat Tai-nuo-it-jiu-hoat (Tangan menggeser), menggerakan dua jarinya, mengeser pena milik Coh Kim-sung menahan pedang Yu He-cu bila dalam keadaan biasa cara ini sangat menguntungkannya tapi sekarang dia sedang berada dalam keadaan bahaya.

Karena tenaga yang dia pakai separuh dari tenaga biasanya, yang paling penting lagi adalah dia tidak bisa sepenuh hati menghadapi Coh Kim-gung yang saat itu masih dengan penuh semangat menyerangnya.

Kali ini pena Coh Kim-sung mengenai pundak Kie Lek-beng, sedikit lagi akan mengenai tulang bahunya, bila tertusuk dan mengenai tulang bahu, semua ,lniu silat Kie Lek-beng akan musnah.

Untungnya jalan darahnya dia tidak terkena totokan itu, walaupun dia beruntung tapi tulang bahunya tetap terluka dan luka ini tidak ringan.

Kata Coh Kim-sung.

"Bila kau masih selamat, lepaskanlah Eng-lam, mengingat kau pernah menolongku, kau boleh menyembuhkan lukamu dulu baru kita bertarung lagi, bila tidak hari ini adalah hari kematianmu!"

Tiba-tiba suara Kie Lek-beng terdengar gembira.

"Nyawa masih ada dan terjaga, apa yang kutakuti dari kalian?"

Coh Kim-sung tidak tahu bahwa yang dikatakan Kie Lek-beng 'nyawanya terjaga' adalah menyangkut nyawa istrinya.

Ternyata dia sudah menemukan jarum beracun itu dan dengan batu magnet dia menghisap keluar.

Dengan marah Coh Kim-sung berkata.

"Sudah mau mati, masih besar mulut! Lebih baik kau menurut kepadaku, besok kita bisa bertarung lagi!"

Kata Yu He-cu.

"Penjahat ini sampai mati pun tidak akan menyesal, lebih baik kita habisi saja!"

Sambil bicara, Yu He-cu sudah mengeluarkan serangan mematikan dia mengarah ke jalan darah kepala yang berada di dekat telinga.

Tiba-tiba Kie Lek-beng berteriak dan meloncat, dia sudah berdiri dan mengangkat telapak tangan kirinya, telapak tangan kanan mengeluarkan jurus Ceng-liong-eng-hong (Naga Naik Mengikuti Angin) dan dia sudah berhasil mencengkram senjata Yu He-cu.

Dari tadi dia hanya duduk bersila dan hanya dengan satu tangan menghadapi musuh, sekarang tiba-tiba dia berdiri, dua telapak tangan langsung digerakkan, semua di luar dugaan Yu He-cu.

Semua serangan sudah dikeluarkan oleh Yu He-cu tapi tetap tidak bisa mengambil pedang untuk melindungi dirinya, terpaksa dia melemparkan pedangnya dan menyambut pukulan Kie Lek-beng dengan telapaknya.

Kedua belah pihak saling menyambut telapak tangan, tenaga Kie Lek-beng tidak begitu besar, tapi Yu He-cu merasa telapak tangannya seperu digigit semut, hanya sebentar tapi sebelah tangannya sudah mati rasa kemudian terasa gatal, dan sekujur tubuhnya terasa mati rasa.

Yu He-cu sangat terkejut dan marah.

"Kau menggunakan cara yang licik!"

Kie Lek-beng tertawa dan berkata.

"Sama-sama."

Ternyata jarum yang dicabut dari tubuh Song Eng-lam ternyata masih ada di tangan Kie Lek-beng dan dia menusukkannya ke arah Yu He-cu.

Karena jarum beracun itu sudah lama berada di dalam tubuh Song Eng-lam, khasiatnya sudah berkurang separuh, karena itu Yu He-cu tidak langsung pingsan, walaupun Yu He-cu terkena racun tidak sehebat Eng-lam, tapi dia tidak dapat menahannya.

Dia hanya bisa marah-marah sebentar kemudian kepalanya terasa pusing lalu roboh Tapi setelah keadaan itu Kie Lek-beng tidak bisa tertawa lagi.

Karena sewaktu dia merebut pedang dan melukai Yu He-cu, Coh Kim-sung pun sedang menyerangnya, dia hanya bisa menyambut dengan tangan kiri, Coh Kim-sung menyerang dengan sekuat tenaga sedangkan Kie Lek-beng hanya menggunakan 30 % tenaga.

Dua telapak tangan beradu, tidak menimbulkan suara, telapak, tangan segera menempel seperti direkat oleh lem, Coh Kim-sung mengerahkan tenaganya, sebuah pena sudah bersiap menusuk ke arah' tenggorokan Kie Lek-beng.

Hanya berjarak 3 meter, tapi pena tidak dapat maju lagi karena sudah terjadi adu tenaga dalam.

Coh Kim-sung dengan sepenuh hati menyerang musuh, bila pikirannya bercabang, bukan penanya-yang menusuk ke arah tenggorokan Kie Lek-beng, malah dia akan digetarkan jantungnya hingga mati.

Luka di tubuh Kie Lek-beng ada 2, luka di tulang bahunya lebiW parah, dia hanya bisa menggunakan 30 % tenaga untuk menahan serangan Coh Kim-sung.

Begitu Yu He-cu roboh, Kie Lek-beng baru merasa sedikit tenang, dia menggunakan sisa tenaganya, karena terluka ilmu silatnya pun tidak seperti biasanya.

Tiba-tiba Kie Lek-beng menggigit lidahnya hingga sobek dan memuntahkan darahnya.

Tapi aneh begitu darah dimuntahkan, malah Coh Kim-sung merasa ada tenaga dalam yang kuat seperti air bah yang menggempurnya.

Ternyata Kie Lek-beng sudah menggunakan ilmu hitam Thian-mo-kai-te-hoat (Memisahkan Tubuh dengan Langit dan Setan).

Thian-mo-kai-te-hoat ini adalah suatu ilmu tenaga dalam kaum sesat, dengan melukai dirinya, cara ini dalam waktu pendek tenaga dalam bisa bertambah beberapa kali lipat.

Karena tenaga Kie Lek-beng hanya tinggal separuh, dengan cara seperti ini tenaganya dapat pulih seperti semula, walaupun Coh Kim-sung tidak terluka, tapi tenaganya hanya bisa mencapai 70 % dari tenaga Kie Lek-tggg; karena keadaan Kie Lek-beng sudah kembali seperti semula, sudah tentu tidak dapat bertahan lagi.

Song Eng-lam setelah dicabut jarum beracun itu dari tubuhnya, begini sadar dia langsung berkata.

"Aku belum pernah meminta apa pun kepadamu, aku minta agar lau jangan membunuhnya."

Dalam kamar sangat gelap, begitu sadar dia tidak tahu sudah terjadi apa.

Suaminya berada di sisinya pun dia tidak tahu.

Begitu mantan-suaminya muncul di hadapannya, dia khawatir akan terjadi hal seperti ini, gara-gara menyangka suaminya sudah pulang dia malah terkena jarum beracun, begitu sadar dia minta agar mantan suaminya sudi melepaskan suaminya yang sekarang.

Eng-lam sangat mengetahui sifat Coh Kim-sung, walaupun harus mati tidak akan pernah minta ampun kepada lawannya.

Bila Eng-lam tahu bahwa Coh Kim-sung berada dalam kamar, dia tidak akan meminta-minta kepada Kie Lek-beng, karena harga diri Coh Kim-sung akan terluka.

Untungnya dia tidak tahu, karena teriakan darinya maka nyawa Coh Kim-sung tidak jadi masuk ke jurang kematian.

Yang membuat Kie Lek-beng benci bukan hanya istrinya tidak pernah mencintainya, melainkan sikap dingin dan angkuh dari istrinya.

Pada saat bulan madu, dia berjinah pun istrinya tidak pernah mau tahu, di dalam hati istrinya hanya ada kekasihnya yang dulu, sikap dingin dan angkuh ini membuat harga diri Kie Lek-beng terluka, dia merasa istrinya memandang rendah kepadanya, dia sama sekali tidak dapat menandingi Coh Kim-sung dalam hati istrinya.

Istrinya belum pernah meminta apa pun darinya, sekarang dia meminta agar dia mau melepaskan suaminya.

Ratu yang sombong akhirnya takluk juga, dia tidak peduli mantan istrinya itu meminta apa darinya, asalkan dia mau membuka mulut, dia akan mengabulkannya, begitu dia mendengar 'jangan membunuh dia', dia tidak terpikir lagi, langsung menarik kembali tenaga dalam yang sudah dikeluarkan.

Bersamaan waktu itu, mereka berdua sudah roboh.

Kemudian terdengar suara, pertama adalah bunyi yang berat dan satu lagi adalah suara orang yang marah seperti orang gila.

Kie Lek-beng terluka parah karena terluka oleh tenaga dalamnya sendiri yang tiba-tiba ditarik kembali.

Sebenarnya ilmu silatnya sudah terlatih, bisa keluar dengan tiba-tiba dan bisa ditarik kembali, tapi harus dalam keadaan normal.

Karena sekarang dia sudah memakai ilmu Thian-mo-kai-te-hoat yang melipat gandakan tenaganya, tenaga yang tiba-tiba keluar tidak dapat ditarik kembali dengan tiba-tiba, walaupun bisa dia akan terluka parah, lebih parah pada saat ditusuk dengan pena Coh Kim-sung, dia hanya mengeluarkan suara yang berat kemudian roboh.

Coh Kim-sung seperti dilempar oleh tenaga air bah, kemudian dia terjatuh.

Dia hanya merasa organ dalamnya seperti tumpah keluar, dia merasa dihina, penghinaan lebih sakit daripada lukanya, dia tidak dapat menyalahkan istrinya, dia hanya bisa marah-marah seperti orang gila.

Song Eng-lam mendengar suara suaminya, langsung pingsan lagi yang terdengar hanya kesunyian.

Coh Kim-sung dan Kie Lek-beng sudah seperti lampu yang kehabisan minyak.

Kie Lek-beng sudah terluka parah dan sekarang dia baru menyesal.

"Yang diperhatikan oleh Eng-lam tetap adalah Coh Kim-sung, demi nyawa Coh Kim-sung dia rela minta-minta kepadaku, apakah aku hidup atau mati dia tidak peduli, yang terpenting baginya hanya keselamatan Coh Kim-sung"

Dia sudah salah duga kepada Eng-lam, sebenarnya Eng-lam pun tidak tahu bila dia mengampuni suami Eng-lam, dia sendiri akan terluka bahkan bisa kehilangan nyawa.

Dia sangat marah dan menyesal, dengan suara serak dia berkata.

"Coh Kim-sung, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."

Kata-kata ini tidak perlu dijelaskan lebih lanjut lagi, bila dia berubah pikiran dia akan membunuh Coh Kim-sung. Coh Kim-sung marah karena merasa dihina, dengan suara serak dia pun berkata.

"Bunuhlah aku, biar aku mati di tanganmu, aku tidak mau meminta ampun kepadamu!"

Keduanya terluka parah, kata-kata yang dilontarkan pun penuh dengan kebencian, setelah berkata seperti itu keduanya kehabisan tenaga..

Coh Kim-sung tidak dapat berjalan, Kie Lek-beng pun tidak mempunyai tenaga untuk membunuh lagi.

Mereka berjajar terbaring di bawah, jarak mereka hanya 1,5 meter, tapi mereka sendiri tidak dapat bergerak sama sekali, bahkan untuk bicara pun sudah tidak sanggup.

Kematian semakin mendekati mereka, tapi pikiran mereka; bertambah jernih, mereka berdua sudah terpikir sesuatu.

"Diri sendiri terluka, lawan pun terluka."

Karena mereka tidak bisa menerima penghinaan bukan benar-benar ingin mati.

Terpikirkan oleh mereka, siapa yang pulih terlebih dahulu, dialah yang akan membunuh lawan terlebih dahulu.

Mereka sama-sama punya pikiran seperti itu.

Kebencian dan dendam sudah semakin dalam, mereka tidak dapat berdamai lagi, bila tidak-membunuh dialah yang akan dibunuh.

Karena satu-satunya cara adalah memulihkan diri mereka terlebih dahulu.

Kie Lek-beng malah merasa lebih khawatir karena begitu hari sang, orang-orang Piau-hang pasti akan mencari Coh Kim-sung, bahkan mungkin Tong Hwie-yan sendiri yang datang ke sini.

Mereka berdua sangat akrab, bila Coh Kim-sung mengatakan sesuatu, dia yang akan dibunuh.

Sekarang sudah jam 4 dini hari.

Langit hampir terang.

Dini hari biasanya keadaan sekeliling lebih gelap, membuat orang takut kepada kematian.

Kie Lek-beng menginginkan ketenangan supaya dapat mengumpulkan tenaga, tapi hatinya tidak dapat tenang, walaupun dia berusaha keras tapi hasilnya lebih sedikit dari yang dibayangkan.

Dalam suasana yang sunyi dan sepi, dia seperti mendengar ada sedikit suara, dia mendengarkan lebih teliti lagi, suara ini tidak seperti nafas Coh Kim-sung, hanya terdengar sebentar kemudian menghilang.

Dia adalah seorang pesilat tangguh, terpikir olehnya, 'Apakah ada orang yang keluar malam-malam begini?

Mengapa orang itu tidak masuk?' Dia tahu yang datang pasti bukan temannya, karena dia tidak mempunyai teman, hanya mempunyai musuh.

Dia menarik nafas dan berpikir.

"Baiklah, siapa yang datang, cepat datang, sudah pasti aku akan mati, lebih awal atau paling akhir sama saja."

Tapi orang itu tetap tidak masuk, suaranya pun tidak terdengar, dia tidak tahu apakah orang itu sudah pergi atau masih berada di dekat jendela.

Song Eng-lam yang berada di sisinya mengigau, 'Anak Giok, Anak Giok, maafkan ibu."

Kemudian dia membalikkan tubuh dan tertidur lagi. Suara igauan Eng-lam seperti suara nyamuk, tapi sudah membuat hati Kie Lek-beng bergetar.

"Dalam mimpi pun dia masih mengkhawatirkan Anak Giok."

Anak Giok adalah putrinya yang bernama Kie Su-giok.

Demi putrinya, Kie Lek-beng mempunyai semangat untuk hidup kembali dia tidak peduli apakah orang yang keluar malam itu adalah teman Coh Kim-sung juga tidak peduli apakah orang itu berniat membunuhnya.

Walau hanya tersisa sedikit waktu, dia ingin menggunakan waktu ini sebaik-baiknya.

Dia menenangkan hatinya dan mulai mengumpulkan tenaga, dia memakai cara yang paling cepat untuk memulihkan tenaga, walaupun cara ini akan meninggalkan efek samping, dia tidak peduli.

Dia hanya peduli dengan keadaan sekarang tidak peduli dengan masa depan.

Coh Kim-sung sama sekali tidak dapat bergerak, begitu pun dengan Kie Lek-beng, dibandingkan dia luka Coh Kim-sung lebih ringan.

Sekarang Coh Kim-sung pun sedang mengumpulkan tenaga, luka dalamnya lebih ringan, tapi tenaga dalamnya tidak sekuat Kie Lek-beng, dia mengumpulkan tenaga sedikit demi sedikit.

Yang satu terluka parah, yang Mlu ilmu silatnya lebih rendah, siapa dulu yang cepat pulih, tidak ada yang Kamar itu mulai terang, mereka bisa saling memandang.

Kegelapan sudah lewat, terang mulai tiba, cahaya matahari masuk melalui jendela.

Coh Kim-sung melihat Kie Lek-beng sudah duduk bersila, tubuh Eng-lam sudah ditutup oleh sehelai selimut.

Coh Kim-sung terkejut dan merasa kesal, dalam hati dia berpikir, 'Aku sudah berusaha sekuat tenaga, sepertinya tidak dapat lari dari setan ini!' Dia tidak tahu bagaimana keadaan Kie Lek-beng, tapi melihat dia yang sudah bisa duduk bersila dan menutup selembar selimut ke tubuh Eng-lam, artinya dia yang lebih dulu pulih.

Kie Lek-beng menatap Coh Kim-sung yang masih terbaring dan tidak dapat bergerak, yang membuatnya aneh Yu He-cu pun menghilang!

Aneh, dia sudah terkena jarum beracun tapi masih bisa melarikan diri.

Tapi yang membuat Kie Lek-beng khawatir adalah bila hari sudah terang, orang-orang di Piau-hang pasti akan datang ke rumah ini.

Belum habis pikirannya, di dalam gang sudah terdengar orang yang sedang berjalan.

Ada dua orang yang sedang berjalan, mereka menuju rumah itu, walaupun Kie Lek-beng sudah tahu bakal ada yang datang, tapi tidak disangka mereka akan datang lebih awal.

Suara langkah itu sudah berhenti di depan pintu, hanya terdengar suara orang yang berkata.

"Coh Siauhiap, aku tidak masuk, tolong ingatkan kepada ayahmu agar jangan melupakan janji dengan Tuan Tong Hwie-yan."

Orang itu adalah orang dari Piau-hang. Kie Lek-beng hanya mendengar suara Coh Siauhiap sudah terpaku. 'Coh Siauhiap? Pendekar muda? Apakah semua ini hanya' kebetulan?' belum habis berpikir.

"Ayah!"

Kata ini pun didengarnya, kemudian dia mendengar ada seorang pemuda yang berkata.

"Baiklah, aku dan ayah sarapan dulu dan kami akan segera ke sana!"

Pada malam itu, Kie Lek-beng pernah naik perahu untuk melihat putrinya, dia pernah mendengar suara Coh Thian-su.

Tidak perlu diragukan lagi, yang datang adalah putra Coh Kim sung, yaitu Coh Thian-su.

Ternyata Coh Thian-su baru tiba di ibukota kemarin malam, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan ayahnya, begitu tahu di mana letak kantor Sin-hoan Piaukok, hari baru saja terang dia langsung mencari ayahnya.

Setelah tiba di Piau-hang dia baru tahu bahwa ayahnya tinggal belakang rumah peristirahatan milik Tong Hwie-yan, orang Piau-hang i segera mengantarkannya ke sana.

Coh Thian-su mengetuk pintu dan memanggil.

"Ayah! Adik!"

Tapi tidak ada yang menyahut.

Dia merasa aneh, dia berpikir, 'Apakah aku datang terlalu pagi?

Tapi ayah pun biasanya bangun pagi aku memanggil begitu kencang, mengapa tidak ada yang mendengar?' Begitu dia masuk ke dalam rumah, dia melihat ada seseorang yang terbaring di bawah dan banyak darah.

Dia lebih terkejut lagi, karena orang itu adalah Bu-tong Tianglo, yu He-cu, yang belum lama ini berpisah dengannya di Hoa-san, dia membalikkan tubuh Yu He-cu, terlihat wajahnya sudah menghitam dan dari lubang hidungnya sudah keluar darah hitam juga.

"Racun ini yang menyerangku dulu."

Coh Thian-su terkejut dan mulai meneliti keadaan Yu He-cu, ternyata jarum itu berada di telapak tangan Yu He-cu.-Dulu Coh Thian-su pada saat di rumah Kie Yan-gan pernah terkena jarum beracun itu, dan jarumnya sama dengan jarum waktu itu.

Saat itu Kie Yan-gan yang mengeluarkan jarum itu dari tubuhnya kemudian dia memakan obat penawar yang dibuat oleh keluarga Kie, walaupun obat itu tidak pas dengan racunnya tapi setidaknya bisa meringankan racun yang masuk ke dalam tubuh.

Coh Thian-su belum sembuh total sudah meninggalkan rumah Kie Yan-gan, pada saat dia akan pergi, Kie Yan-gan memberikan sebutir obat untuknya.

Tenaga dalam Coh Thian-su tidak sekuat Kie Yan-gan, dia mencoba memasukkan obat itu ke dalam mulut Yu He-cu, segera membantu penyebaran obat di dalam tubuhnya agar lancar dengan dorongan tenaga dalamnya.

Untungnya jarum itu dicabut dari tubuh Song Eng-lam baru ditusukkan ke telapak tangan Yu He-cu jadi khasiat racunnya berkurang separuh dan telapak tangan bukan jalan darah yang vital oleh karena itu racun belum menyebar hingga ke jantung.

Yu He-cu mulai sadar, begitu sadar dia langsung marah-marah kepada Kie Lek-beng.

Ternyata Yu He-cu setelah terkana jarum beracun dan sebelum tubuhnya mati rasa, dia memaksakan diri keluar dari kamar tidur Coh Kim-sung dan terguling-guling hingga ke bawah loteng.

Begitu Coh Thian-su mendengar nama Kie Lek-beng, dia sangat terkejut segera dia bertanya.

"Di mana ayahku?"

Yu He-cu membuka matanya, tapi penglihatannya masih buram, dia bertanya.

"Siapa kau?"

Coh Thian-su berteriak di depan telinganya dan berkata.

"Aku Thian-su, mana ayahku?"

Yu He-cu sudah sadar dan berkata.

"Ayahmu ada di atas, cepat tolong dia!"

Coh Thian-su pun mendengar di atas loteng ada suara teriakan tegera dia berlari ke sana.

"Hati-hati, ada setan itu!"

Kata Yu He-cu.

Coh Thian-su langsung mengambil pedang Yu He-cu yang terjatuh dan berlari ke loteng.

Tapi sayang dia sudah melewati waktu yang paling tepat, bila tadi dia tidak menolong Yu He-cu terlebih dahulu, dengan mudah dia bisa membunuh Kie Lek-beng, sekarang ini keadaannya sudah sulit.

Karena Kie Lek-beng sudah pulih sebanyak 10 %, tubuh atasnya sudah bisa digerakkan, walaupun kakinya masih mati rasa, tapi itu hanya sebentar dan dia dapat berdiri.

Pada saat Yu He-cu berbicara dengan Coh Thian-su, Kie Lek-beng sedang berusaha mengumpulkan tenaga dan menyalurkannya ke jalan darah yang berada di lutut, dia melihat Coh Kim-sung yang masih terbaring di bawah, dari kepalanya keluar asap putih.

Dia berharap sebelum Coh Kim-sung berhasil membunuhnya, dia m akan menyandera Coh Kim-sung terlebih dahulu, tapi sayang dia hanya bisa menggerakan tubuh tapi tangannya tidak bisa mencapai tubuh Coh Kim-sung.

Kepala Coh Kim-sung keluar asap putih itu artinya dia sedang mengumpulkan tenaga dalam dan memulihkan dirinya.

Kie Lek-beng pun kehilangan saat yang tepat karena Coh Kim-sung hanya bisa memulihkan tenaganya sedikit demi sedikit, dia tidak secepat Kie Lek-beng, waktu itu dia hanya bisa menggerakan jari-jarinya saja.

Bila Kie Lek-beng berguling-guling mendekati Coh Kim-sung, dengan mudah dia akan menangkap Coh Kim-sung.

Kie Lek-beng mendengar langkah Coh Thian-su yang naik ke atas loteng.

Dia sangat ingin pulih secepatnya, waktunya tinggal sedikit lagi barufifc dia akan bisa jalan, sayangnya dia terlalu tergesa-gesa, malah aliran tenaga-dalamnya tidak lurus, membuat tubuh bagian bawahnya malah tambah mati rasa, hati Kie Lek-beng seperti jatuh ke dalam kolam es, dia berpikir.

"Tenaga dalamku baru pulih 20 %, akhirnya aku memang harus mati di tangan putra Coh Kim-sung."

Sebenarnya sejak tadi Coh Kim-sung sudah bisa bicara, karena takut dia berteriak minta tolong, Kie Lek-beng akan membunuhnya, karena itu dia sengaja tidak bersuara, sekarang dia mendengar bahwa putranya datang, segera dia berteriak.

"Cepat bunuh setan itu!"

Walaupun dia berteriak sekuat tenaga, tapi masih tidak sebesar suara orang normal, sekali mendengar suaranya sudah diketahui bahwa dia terluka dalam.

Coh Thian-su terkejut, dia baru melihat bahwa ibu tirinya berada di sisi Kie Lek-beng, tubuhnya ditutupi selimut, hanya kepalanya yang terlihat, matanya masih tertutup, apakah dia mati atau hidup?

Walaupun dia tidak tahu sudah terjadi apa, tapi melihat keadaan di sana, dia teringat kepada pembicaraan ibu tirinya dengan ayahnya pada saat dia masih kecil, sekarang teka tekinya sudah tertebak.

Coh Kim-sung melihat putranya yang berdiri mematung dan ragu-ragu, dia berteriak.

"Jangan hiraukan aku, cepat bunuh dia, bila terlambat, sudah tidak waktu lagi!"

Coh Thian-su pun seorang pesilat, tidak perlu dijelaskan oleh ayahnya, dia melihat Kie Lek-beng sedang mengumpulkan tenaga untuk memulihkan dirinya, bila tenaga dalam Kie Lek-beng bisa pulih kembali ilmu silatnya, mereka ayah dan anak akan mati di tangannya.

Tidak ada waktu untuk berpikir lagi, Coh Thian-su mengayunkan pedang, langsung menusuk ke arah jantung Kie Lek-beng, Kie Lek-beng tertawa dingin dan berkata.

"Aku menyesal dulu tidak membunuhmu, sekarang kau mau membunuhku, tidak semudah itu!"

Kie Lek-beng meluruskan jari-jarinya, dengan ringan dia memnyimpangkan pedang Coh Kim-sung keluar dari pintu.

Tenaga Kie Lek-beng tidak bisa menandingi tenaga Coh Thian-su tapi dengan jurus Tai-nuo-it-jiu-hoat, Coh Thian-su tidak akan bisa membunuhnya.

Tenaga Kie Lek-beng belum pulih kembali secara keseluruhan, dia tidak dapat merebut pedang itu, kaki Coh Thian-su diputar dan dengan tenaga dari pinggang memutar pedang panjang itu, dia mengayunkan ke arah kepala Kie Lek-beng.

Kepala Kie Lek-beng ditundukkan, pedang yang menempel diangkat oleh pundak, Kie Lek-beng mengkerutkan pundaknya, tenaga Coh Thian-su berkurang separuh, Kie Lek-beng mengambil kesempatan ini, jarinya menyentil, pedang panjang itu pun sudah terbang melayang.

Coh Thian-su mengeluarkan Poan-koan-pit dan berkata.

"Baiklah, aku akan memakai penaku untuk membunuhmu, supaya kau mati dengan puas!"

Segera dia menusuk ke arah Kie Lek-beng.

Kie Lek-beng hanya bisa menahan bebarapa jurus, dia mulai merasa detak jantungnya semakin kencang, dia tahu dia sudah tidak dapat bertahan lagi, dengan tertawa kecut dia berkata.

"Sebenarnya, aku tidak ingin membunuhmu, sekarang terpaksa kita mati sama-sama!"

Kata-katanya bukan bohong, pada malam itu, di atas perahu dia ingin membunuh Coh Thian-su, karena putrinyalah dia membatalkan niatnya, dari igauan Su-giok dia tahu bahwa putrinya mencintai Wie Thian-hoan bukan Coh Thian-su, tapi dia pun tahu musuh cinta dari putrinya adalah Kang Hiat-kun, tapi sekarang ini Coh Thian-su sedang dekat Kang Hiat-kun karena itulah dia tidak membunuh Coh Thian-su.

Memang benar dia pernah mengacam Song Eng-lam akan membunuh Coh Kim-sung dan Coh Thian-su, tapi itu hanya ancaman dan kata-katanya pada waktu dia sedang marah, bukan berniat ingin membunuh Coh Kim-sung.

Tapi sekarang ini dia benar-benar sangat ingin membunuh Coh Thian-su, karena Kie Lek-beng tidak membunuhnya, maka dia yang akan membunuh Kie Lek-beng.

Bila dia membunuh Coh Thian-su, dia sendiri pun belum tentu bisa hidup, dan akhir dari semua ini tetap sama, yaitu mati bersamaan.

Dia tetap ingin membunuh Coh Thian-su, kalah di tangan pendekar yang lebih s kecil ini sangat memalukan.

Coh Thian-su tidak tahu pikiran Kie Lek-beng, dengan marah dia berkata.

"Ternyata kau tidak ingin membunuhku, terima kasih untuk kebaikan hatimu! Baiklah, sekarang bila kau dapat membunuhku, bunuh saja, kita mati bersama-sama!"

Sambil bicara penanya memukul ke arah Kie Lek-beng.

---ooo0dw0ooo---B.

Mengunjungi Keluarga Coh Kie Su-giok dan U-bun hujin sudah tiba di ibukota, pada hari kedua dia sudah pergi sendiri ke gunung barat.

Di perjalanan dia sudah mengakui U-bun hujin sebagai ibu angkatnya, dan ibu angkatnya pun setuju bila dia mencari orang atau hal lainnya.

U-bun hujin menepati janjinya, begitu tiba di ibukota dia tidak melarang Kie Su-giok pergi ke mana pun dia mau, dan Kie Su-giok pun tidak pernah menanyakan apa yang dilakukan oleh U-bun hujin di ibukota.

Dia tidak mau meminjam kereta kuda milik U-bun hujin karena itulah dia menyewa kereta keledai untuk pergi ke gunung barat dan bermalam di sana, pada hari kedua baru kembali ke ibukota.

Begitu Kie Su-giok pergi, U-bun hujin langsung menyuruh anaknya untuk mengikuti Kie Su-giok tapi dengan wajah yang sudah diubah oleh tangannya yang terampil.

Demikian juga dengan kudanya, keluarga ini mempunyai obat perubah warna, walaupun terkena hujan, warnanya tidak akan luntur.

Jika ingin kembali ke warna semula pun harus menggunakan obat khusus dari mereka lagi.

Sekarang kudanya yang berwarna putih berubah menjadi coklat.

Kie Su-giok tidak tahu sama sekali bahwa ada yang mengikutinya dari belakang Tidak disangka-sangka di tengah perjalanan dia bertemu dengan orang yang dia kenal.

Mereka terdiri dari 4 laki-laki dan 2 orang perempuan, yang paling-tua berumur 60 tahun, kedua perempuan itu masih muda, yang paling muda belum berumur 16 tahun.

Dia kenal dengan perempuan yang usianya lebih tua, paling-paling usianya antara 16 tahun hingga 17 tahun, dia adalah putri Hie Tiong-gwee yang bernama Hie Kim-giauw.

Su-giok sudah membuat keributan di rumah Hie, dan dia pun pernah bertemu dengan Hie Kim-giauw, dia takut Kim-giauw melihatnya segera dia menutup tirai kereta, Kie Su-giok merasa aneh karena mereka berjalan sangat cepat, tidak ada yang memperhatikannya.

Setelah mereka lewat.

Kie Su-giok berpikir.

"Mereka datang dari arah gunung barat, aneh mengapa putri Hie -Tiong-gwee pergi ke gunung barat? Apakah dia sedang mencari Wie Toako juga?"

Tapi segera dia berpikir lagi.

"Hie Tiong-gwee hanya mempunyai seorang putri yang sangat disayang, mengapa dia membiarkan putrinya ke gunung barat?"

Munculnya Hie Kim-giauw membuat Kie Su-giok menjadi curiga, mereka berlima itu pun terlihat sangat aneh, dia berpikir, 'Kedua pemuda itu sangat mirip, mereka pasti kembar, baju mereka terlihat mewah tapi juga kotor seperti pernah berkelahi.

Pak tua itu wajahnya merah dan sangat teliti menjaga kedua pemuda itu, dia pasti pengawal mereka.

Sekali melihat pak Ui itu, aku sudah tahu bahwa dia adalah pesilat tangguh."

Laki-laki setengah baya dan gadis yang paling muda, seperti ayah dan anak.

Ayahnya seperti sedang sakit, bila dia sakit mengapa mereka berjalan begitu cepat?

Yang lebih aneh lagi, sepertinya Kie Su-giok pernah bertemu dengan ayah dan anak ini.

Yang ditemui di jalan oleh Kie Su-giok adalah putra kembar Bok Ci-giauw dan pak tua itu adalah Tuan Pheng.

Ayah yang sedang sakit adalah Coh Kim-sung, gadis belia itu adalah Coh Thian-hong.

Kie Su-giok merasa kenal dengan mereka karena mereka mirip dengan Coh Thian-su.

Karena Kie Su-giok merasa curiga kepada mereka, setelah sampai di gunung barat dia segera turun.

Karena hari sudah sore, di gunung itu sudah tidak ada pengunjung.

Tapi Pintu kuil masih terbuka dia pun masuk ke dalam.

Di dalam kuil hanya ada seorang hweesio tua, melihat dia datang seorang diri, hweesio itu merasa aneh dan bertanya.

"Apakah kau datang untuk bersembahyang?"

"Apakah guru adalah Bu Sia Taysu?"

Tanya Kie Su-giok.

"Benar, aku adalah Bu Sia Taysu."

"Aku datang untuk mencari seseorang, apakah Wie Thian-hoan ada di sini?"

"Siapa Wie Thian-hoan itu?"

Tanya Hweesio itu terkejut "Dia dijuluki Hui-thian-sin-liong, katanya dia tinggal di kuil ini."

"Di kuil ini tidak ada orang yang kau maksud, siapa namamu? Mengapa mencari orang persilatan di kuil ini?"

Kie Su-giok tahu hweesio itu menaruh curiga kepadanya, dia tidak menjawab pertanyaan hweesio itu, malah mencabut pedang..

"Apa maksudnya ini?"

Teriak Bu Sia Taysu.

Kie Su-giok memutar tubuhnya dan meloncat ke atas beberapa meter, kemudian memainkan beberapa jurus, terlihat 7 lembar daun mengikuti cahaya pedang berjatuhan, 7 lembar daun terlepas dari 7 buah tangkainya tapi ke 7 tangkai itu sama sekali tidak bergoyang.

Bu Sia berteriak.

"Jurus keluarga Kie yaitu Jit-seng-wan-gwat-kiam-hoat (Jurus Tujuh Bintang Menemani Rembulan)."

Kie Su-giok memasukkan pedang kembali ke tempatnya dan berkata.

"Guru tahu bahwa ini adalah jurus keluarga Kie, apakah kau sudah tahu siapa aku ini?"

"Aku dan Kie Yan-gan adalah teman lama, aku tahu dia hanya mempunyai seorang cucu yang bernama Su-giok, aku yakin kau adalah Su-giok,"

Jawab Bu Sia.

"Benar, apakah guru tahu Wie Thian-hoan adalah kakak seperguruanku?"

Kata Bu SiaTaysu.

"Wie Thian-hoan pernah membicarakanmu, tapi dia tidak tahu bila kau akan datang untuk mencarinya."

"Aku tahu dia berada di ibukota, dan di sini dia tidak kenal dengan seorang pun, aku mengira dia akan datang ke sini."

Bu Sia Taysu terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kie Su-giok berkata.

"Guru apakah kau masih belum percaya kepadaku? Tolong panggil Wie Toako keluar."

Sebenarnya Kie Su-giok pun merasa aneh.

"Mengapa Toako sudah mendengar suaraku masih tidak mau keluar? Apakah dia sakit atau terluka? Atau sudah pergi dari sini?"

"Kakakmu sudah tidak berada di sini lagi."

Jawab Bu Sia.

"Kapan dia pergi?"

"Kalau saja kau datang 2 jam lebih awal, masih bisa bertemu dengannya."

"Dia pergi ke mana?"

"Aku pun tidak tahu, dia pergi dengan tergesa-gesa, mungkin dia sendiri pun tidak tahu akan pergi ke mana."

"Di ibukota dia tidak mempunyai kenalan, dia harus kembali lagi, kapan dia akan pulang?"

"Mungkin dia tidak akan kembali lagi."

Jawab Bu Sia. Kie Su-giok terkejut dan bertanya.

"Mengapa?"

"Hari ini ada yang bertarung dengannya, dia takut akan mengganggu, maka dia pergi dengan tergesa-gesa, orang itu bertemu dengannya di gunung ini, mereka tidak tahu bahwa Wie Thian-hoan tinggal di sini."

"Siapa mereka itu?"

Tanya Kie Su-giok.

"Putra Bok Ci-giauw dan pengawalnya, Bok Ci-giauw adalah panglima pasukan istana."

Kata Kie Su-giok.

"Kata kakek, Tap-in-kiam-hoat (Jurus Pedang Pengejar Awan) milik keluarga Bok sangat terkenal tapi aku yakin Wie Toako belum tentu kalah dari mereka, siapa nama pengawal mereka itu?"

Jawab Hweesio Bu Sia.

"Dulu dia adalah pengawal istana, bernama Tuan Pheng."

Kata Kie Su-giok.

"Kakek juga pernah mengatakan orang itu adalah orang dari golongan hitam mempunyai ilmu silat yang tinggi dan pernah menjadi pengawal istana, tapi ilmu silat Bok Ci-giauw lebih tinggi lagi. Aku percaya bila Wie Toako berhadapan dengannya pasti akan kalah."

Kie Su-giok berpikir, walaupun Wie Thian-hoan bertemu dengan mereka juga tidak perlu pergi dengan tergesa-gesa. Kata Hweesio Bu Sia.

"Kau jangan memandang enteng mereka, di antara mereka masih ada satu orang lagi yang sangat lihai."

Kie Su-giok tertawa dan berkata.

"Apakah dia bisa menandingi kehebatan Toako?"

Kata Bu Sia Taysu.

"Dia tidak bisa menandingi kakakmu tapi namanya sudah termasuk dalam 10 besar pesilat tangguh, Wie Toako-mu belum tentu bisa mengalahkan dia"

"Bila termasuk 10 besar pesilat tangguh, pasti kakek sudah pernah mengatakan nama orang itu kepadaku, siapakah nama orang itu?"

"Dia adalah Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung."

"Kata kakek, yang benar-benar dijuluki sebagai pendekar sangat sedikit sekarang ini, apakah Coh Kim-sung itu benar-benar seorang pendekar? Mengapa dia bisa menjadi kaki tangan Bok Ci-giauw?"

Jawab Hweesio Bu Sia.

"Suhengmu pun merasa aneh, dia yakin ada sesuatu yang tidak beres."

Kie Su-giok pun merasa aneh.

Coh Thian-su adalah teman baiknya, dia berjanji bila bertemu dengan Thian-su di ibukota dia akan memperkenalkan dia kepada ibu angkatnya, tidak disangka sampai saat ini dia belum tahu keberadaan Coh Thian-su, malah mendapat kabar tentang ayah Coh Thian-su dan kabar ini malah membuat orang terkejut.

Dia ingat sewaktu Coh Thian-su berada di rumahnya, di rumah kakek yang dianggap sebagai pesilat nomor satu di dunia persilatan, Coh Thian-su pernah diserang oleh senjata rahasia yang beracun, siapakah yang berniat membunuh Coh Thian-su?

Sampai sekarang belum ada jawabannya.

Demi mencabut jarum beracun itu dan mengobati luka Coh Thian-su, kakeknya rela menghabiskan tenaga yang dilatih selama 3 tahun, ini pun tidak disangkanya.

Lebih-lebih tidak menyangka, setelah kakeknya menolong Coh Thian-su, ayah Coh Thian-su malah ingin mencabut nyawa kakak seperguruannya.

Bu Sia melihat ekspresinya yang begitu aneh, dia berkata.

"Nona, apa yang sedang kau pikirkan?"

Jawab Kie Su-giok.

"Aku tidak memikirkan apa pun, hanya berpikir di mana aku bisa menemukan Wie Toako?"

Hweesio Bu Sia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.

"Apakah kau harus mencarinya? Sekarang keadaan sedang berbahaya lebih baik kau pulang saja!"

Dengan marah Kie Su-giok berkata.

"Aku tahu bahwa Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee mengeluarkan undangan untuk para pendekar dalam menghadapi Wie Toako..."

Hweesio Bu Sia memotong kata-katanya dan berkata.

"Sekarang semua pesilat tangguh sudah berkumpul di ibukota, ilmusilat kakakmutinggi,orangnyalincah,tapiakutetap mengkhawatirkannya. Nona, jangan salahkan aku, aku harus mengatakan..."

Kie Su-giok pun memotong kata-katanya.

"Aku tahu, ilmu silat dan pengalamanku tidak sebanding dengan-Wie Toako."

Kata Bu Sia.

"Karena itu lebih baik kau cepat pulang, kalau tidak kau pun akan masuk ke dalam keruwetan ini, dan aku lebih mengkhawatirkanmu."

Kata Kie Su-giok.

"Karena keadaan sangat berbahaya lebih-lebih aku harus mencari Wie Toako. Guru, Wie Toako adalah orang yang paling disayang oleh' kakek, dia menyayangi Wie Toako seperti menyayangi diriku."

Bagi Hweesio Bu Sia yang sudah banyak pengalaman hidup, begitu mendengar cara Kie Su-giok berbicara tentang Wie Thian-hoan dia sudah mengerti.

"Kie Cianpwee sangat sayang kepada cucu muridnya, itu sudah tidak perlu diragukan lagi, tapi Nona Kie mencintai Suhengnya dan dia tidak berani mengungkapkannya."

Kali ini giliran Kie Su-giok bertanya kepada Hweesio Bu Sia.

"Guru, kau sedang memikirkan apa?"

"Aku sedang memikirkan kata-kata Wie Toako-mu."

"Dia mengatakan apa?"

"Walaupun dia sudah bertarung dengan Coh Kim-sung, tapi tidak menganggap kalau Coh Kim-sung adalah musuhnya, hal membuatku merasa aneh!"

Kata Hweesio Bu Sia lagi.

"Walaupun aku dan kakakmu kenal belum begitu lama, tapi-dkj bisa menebak sifatnya, bila dia sudah menemukan hal aneh, dia pasti mencari tahu."

"Kalau begitu dia akan mencari Coh Kim-sung dan bertanya padanya!"

Kata Kie Su-giok "Aku tidak begitu yakin, ini hanya tebakanku."

Kata Bu Sia Taysu. Kie Su-giok sangat gembira dan berkata.

"Aku pun sedang ingin mencari Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung. Guru, apakah kau tahu di mana dia tinggal?"

Bu Sia Taysu terdiam Kata Kie Su-giok.

"Guru tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku dan putra Coh Kim-sung yang bernama Coh Thian-su adalah teman akrab, putranya pernah ditolong oleh kakek Coh Kim-sung adalah pendekar sejati, aku percaya dia tidak akan mencelakakanku."

Kata Bu Sia Taysu.

"Katanya dia tinggal di Piau-hang, di rumah peristirahatan milik Tong Hwie-yan, rumah ini berada di belakang Piau-hang, tapi...hei, tunggu dulu!"

Ternyata belum habis mendengar kata-kata Bu Sia Taysu, Kie Su-giok sudah ingin pergi.

"Tapi apa?"

Tanya Kie Su-giok sambil menghentikan langkahnya.

"Aku juga percaya Coh Kim-sung tidak akan melukaimu tapi kau harus tetap hati-hati. Tong Hwie-yan dan kakekmu bersahabat, aku kira bila kau ingin bertemu dengan dia, harus secara rahasia, jangan diketahui oleh orang lain."

Kata Kie Su-giok.

"Aku mengerti, alamat kantor Sin-hoan Piaukok berada di..."

"Kantor Sin-hoan Piaukok sangat terkenal, kau bertanya kepada siapa pun mereka pasti tahu."

Kie Su-giok ikut tertawa, dalam hati dia berpikir.

"Aku sangat bodoh, di depanku sudah ada orang yang bisa membawaku ke sana, tidak perlu bertanya lagi seharusnya."

Dia membalikkan tubuh dan berkata.

"Baiklah, aku pergi sekarang!"

Begitu melihat Kie Su-giok pergi, Bu Sia menggelengkan kepala dan berkata.

"Benar-benar serasi dengan Wie Thian-hoan."

Dengan ilmu meringankan tubuh, dia tiba sangat cepat di kaki gunung dan segera mencari kusir kereta yang disewanya.

Sekarang sudah malam, kusir itu baru selesai makan malam dan tadi sempat mengobrol.

Melihat Kie Su-giok-yang datang dengan tergesa-gesa, dia sempat terkejut juga.

Begitu Kie Su-giok tiba di sana, langsung dia berkata.

"Segera berangkat! Kita kembali ke ibukota!"

Tanya kusir itu.

"Bukankah besok Nona baru akan pulang?"

Kie Su-giok segera mengeluarkan uang dan berkata.

"Kita berangkat sekarang sebelum pintu kota tutup, uang ini untukmu untuk beli arak."

Ada pepatah yang mengatakan.

ada uang, menyuruh setan mendorong mesin penggiling kedelai pun bisa, apalagi menyuruh kusir itu untuk segera kembali ke ibukota.

Jam 3 dini hari, Kie Su-giok sudah tiba di Piau-hang dan kereta itu berhenti di tengah jalan untuk menunggunya.

Dengan perlahan Kie Su-giok berjalan ke sisi jalan yang gelap, dia ragu apakah mencari Tong Hwie-yan terlebih dahulu atau mencari ayah Coh Thian-su dulu?

Malam sudah begitu larut, bila Kie Su-giok mencari dia, pasti akan dicurigai oleh orang lain.

Pada saat dia sedang ragu, dia melihat ada sesosok bayangan orang sedang meloncat masuk ke dalam rumah.

Rumah itu tepat berada di belakang Piau-hang, dia sudah tahu bahwa Coh Kim-sung pasti tinggal di rumah itu.

Anehnya, dia seperti kenal dengan bayangan itu, tapi dia tidak ingat pernah melihatnya di mana.

Tapi dia yakin itu bukan Coh Kim-sung karena tidak ada alasan untuk Coh Kim-sung pulang ke rumah masuk lewat jendela, teman Coh Kim-sung juga pasti bukan.

Apakah orang itu datang untuk membalas dendam kepada Coh Kim-sung?

Dan orang itu pun pasti bukan Wie Thian-hoan.

Siapakah dia?

Dia terus memikirkannya, tiba-tiba terbesit dalam otaknya, malam itu di dalam perahu karena ada seseorang yang membelai rambutnya, membuatnya terkejut dan bangun, dia bangun orang itu sudah lari ke darat, dan tidak terkejar oleh Coh Thian-su, walaupun dia tidak ikut mengejar tapi dari dalam perahu dia pun bisa melihat bayangan orang itu karena itulah dia ingat dengan bayangan orang itu.

Benar, orang itu adalah orang yang pernah membelai rambutnya!

Dia tidak tahu siapa orang itu, tapi dia mempunyai perasaan yang aneh, dia merasa orang itu menganggap dia seperti putrinya, tidak mempunyai niat jahat, dia pernah menertawakan dirinya karena pikiran ini.

"Mengapa aku punya pikiran aneh seperti itu, bukankah ayahku sudah meninggal? Siapa yang mau menganggapku sebagai putrinya?"

Tidak disangka orang aneh itu, sekarang berada di depan matanya!

Dia sangat ingin tahu, segera dia mengurungkan niat untuk mendatangi Tong Hwie-yan, dia ingin mencari tahu tentang orang itu.

Dia bersembunyi di atas pohon di luar rumah Pohon itu tepat berada di depan kamar Song Eng-lam.

Kamar tidur Eng-lam berada di loteng, sebenarnya hanya dengan mengeluarkan tangan sudah bisa masuk ke dalam kamar itu melalui jendela, tapi dia tidak berani melakukannya.

Dia pun memperlambat desah nafasnya Suara laki-laki itu berkata.

"Song Eng-lam, apakah kau masih mengenaliku?"

"Kie Lek-beng, apakah belum cukup kau menyiksaku? Sekarang ingin menghina kepadaku?"

Begitu mendengar percakapan mereka, dia sudah sangat terkejut.

Kie Su-giok belum pernah bertemu dengan ayahnya, tapi dia tahu nama ayahnya.

Pada saat usianya 3 tahun, ibunya sudah menghilang dan hanya mengatakan harus menganggap ibunya sudah meninggal, dia tahu bahwa ibunya belum meninggal, Ong Toanio pun tidak mau memberi tahu keberadaan ibunya.

Begitu dia memikirkan hal itu dia merasa aneh, Ong Toanio adalah ibu asuh dari ibunya, karena tidak mau meninggalkan ibu Su-giok maka Ong Toanio ikut dengan ibunya tinggal di rumah keluarga Kie, begitu ibunya menghilang, dia diasuh oleh Ong Toanio hingga tumbuh dewasa.

Perlakuan Ong Toanio terhadapnya seperti kepada anaknya sendiri.

Paman Ting Bo sering mengatakan.

"Mereka ibu dan anak, kedua-duanya dianggap seperti anak kandung oleh Ong Toanio."

Ong Toanio sangat menyayanginya, apa pun akan diberikan kepadanya.

Hanya satu hal yang tidak boleh disebut yaitu nama ibunya, tapi dia tahu nama ibunya adalah Song Eng-lam.

Sekarang dia sudah mendengar dua nama ini yaitu Kie Lek-beng dan Song Eng-lam, sepertinya sekarang ini mereka sedang perang mulut.

Dia terdiam, tapi hatinya bergetar hebat.

"Ternyata ayahku tidak mati dan ibu pun masih hidup, tapi mengapa ibu berada di keluarga Coh? Mengapa ayah perang mulut dengan ibu?"

Dia terdiam, baru tersadar hatinya tergoncang oleh suara mereka yang bertengkar.

"Lek-beng, kau harus tahu bahwa aku tidak mungkin menjadi istrimu lagi!"

"Perempuan yang bernama Song Eng-lam ini pernah menjadi istri Kie Lek-beng, apakah ada perempuan lain yang bernama sama yaitu Song Eng-lam? Oh ibu, mengapa kau tidak mau kembali kepada ayah?"

Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang berteriak.

"Lek-beng, kau membenciku, bunuh aku saja, tapi jangan lukai putriku!"

Jendela tertutup rapat, sama sekali tidak ada orang yang keluar, mengapa ibunya berteriak seperti itu?

Tiba-tiba di kamar seperti terdengar ada sesuatu yang terjatuh.

Kemudian ada suara laki-laki yang tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Putrimu, putrimu, aku kira kau sudah menganggapnya mati. Ibu yang jahat, apakah kau masih ingat masih mempunyai seorang putri?"

Sekarang Kie Su-giok sudah mengerti yang dimaksud putri oleh ayahnya dan maksud dari ibunya adalah putri yang lain.

Hatinya sangat sedih, dia ingat waktu dia masih kecil, dia pernah mendengar percakapan antara kakeknya dan Paman Ting.

Paman Ting baru datang dari tempat jauh dan seperti sedang melapor kepada kakeknya mengenai sesuatu.

"Aku sudah tahu dia berada di mana, dia ada di Yang-ciu di keluarga Coh, apakah aku harus..."

"Tidak, kau jangan berbuat yang tidak-tidak."

Biasanya kakek sangat ramah kepada Paman Ting, tapi kali ini kakeknya sangat galak terhadap Paman Ting. Kakeknya berkata.

"Coh Kim-sung adalah pendekar bijaksana, kau tidak boleh mengganggunya! Dia pun patut dikasihani, dia bisa hidup bahagia di keluarga Coh, aku pun akan tenang!"

Waktu itu dia tidak mengerti siapa yang dimaksud 'dia' oleh kakeknya itu laki-laki atau perempuan, sekarang dia baru tahu.

Orang itu bisa hidup bahagia di keluarga Coh, jangan-jangan yang dimaksud oleh kakeknya adalah...

"Ayah dan ibu saling bermusuhan, pasti sudah terjadi sesuatu!"

Rm hati Kie Su-giok terasa sakit, walaupun dia dapat menebak hal sebenarnya, tapi dia tetap menahan diri.

Dia menyimpan kesedihan ini dalam hatinya, tiba-tiba jendela dibuka dan ibunya menjulurkan kepalanya.

"Baiklah, suamimu sudah pulang, tapi mengapa harus sembunyi-sembunyi? Kau suruh dia masuk secara terang-terangan dari jendela."

Ini adalah suara ayahnya.

Pada usia 3 tahun dia sudah kehilangan ibunya, wajah ibunya pun dia sudah tidak ingat, tapi begitu melihat perempuan itu menjulurkan kepalanya, jantung Kie Su-giok berdebar-debar.

Ini adalah ikatan antara ibu' dan anak, dia ingin berteriak sekuat tenaga memanggil ibunya.

Tapi dia tidak bisa, pada saat itu dia merasa sakit, tidak dapati bergerak juga tidak bisa bicara, dalam hati pun tahu, dia sudah ditotok oleh orang lain, orang itu menotok menggunakan senjata rahasia.

Dia tidak bisa berteriak, yang berteriak adalah ibunya.

Kemudian Kie Su-giok melihat sesosok bayangan meloncat dan turun ke jalan.

Kapan orang itu datang, setelah dia datang atau sebelumnya, Kie Su-giok sama sekali tidak merasakannya.

Tapi sosok bayangan itu sangat dia kenal, siapakah dia?

Gerakan tubuh orang itu sangat cepat, walaupun demikian masih tetap bisa tahu bahwa orang itu adalah perempuan.

Tiba-tiba berpikir oleh Kie Su-giok.

"Perempuan ini sepertinya aku pernah melihatnya Benar, seperti ibu angkatku, bukan mirip lagi, kecuali ibu angkat, tidak ada yang mempunyai ilmu meringankan tubuh sehebat itu, tapi mengapa ibu angkat ingin melukai ibuku?"

Dia ingat sepanjang jalan U-bun hujin dan putranya berlaku sangat aneh, dia semakin curiga.

Hatinya banyak dipenuhi oleh pertanyaan, tapi dia tidak punya waktu untuk berpikir.

Begitu banyak hal yang terjadi secara berturut-turut, begitu Coh Kim-sung pulang, Guru Yu He-cu pun ikut dengannya.

Kie Su-giok mendengar Coh Kim-sung marah-marah, juga mendengar suara ayahnya yang dingin, dia juga mendengar Yu He-cu yang marah kepada ayahnya.

Kamar itu tiba-tiba menjadi gelap, di dalam kegelapan terdengar ada yang bertarung, bagaimana dengan keadaan di kamar itu, dia tidak tahu, dia tidak mengerti dengan keadaan ini, semua teka teki belum tertebak.

Dia pun mulai mengerti obrolan antara Paman Ting dan kakeknya dula Ternyata ibunya sudah menikah lagi dan menjadi istri Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung.

Dari kata-kata Coh Kim-sung dan Yu He-cu, dia pun tahu bahwa ayahnya adalah seorang penjahat.

"Apakah semuanya ini benar? Pantas begitu mendengar nama ayah, kakek sudah marah dan tidak mengijinkan aku menanyakan hal-hal yang menyangkut tentang ayah, walaupun ayah jahat, apakah semua ini gara-gara ibu? Atau ini memang salah ayahnya? Mereka pasti bersalah, kalau tidak, tidak akan terjadi hal seperti ini. Ibunya punya dua orang suami, ayah punya kekasih gelap, benar-benar sangat kacau! Bagaimana denganku? Punya ayah seperti itu, punya ibu pun seperti itu, apakah aku harus mengakui mereka sebagai orangtuaku?"

Ayahnya bertarung dengan musuh dan dia bertarung dengan dirinya sendiri!

Pertarungan di dalam hati lebih dasyat daripada pertarungan di dalam kamar itu!

Suara senjata yang beradu semakin besar, membuyarkan pikirannya.

Hubungan darah membuatnya berpikir, 'Apakah ayah bisa mengalahkan 2 orang pesilat tangguh sekaligus?"

Dia mengkhawatirkan Kemudian dia mendengar Yu He-cu marah dan tidak lama roboh, sepertinya Yu He-cu terluka suaranya pun tidak terdengar lagi.

Kemudian dia mendengar ada 2 orang yang roboh, yang satu terdengar berat, dan yang satu lagi berteriak seperti orang gila.

Setelah itu hanya hening yang ada.

Tubuhnya tidak dapat bergerak tapi jantungnya berdetak lebih kencang.

"Orang-orang di dalam kamar itu apakah sudah mati? Ayah, aku belum pernah bertemu denganmu, kau tidak boleh mati! Ibu, aku baru menemukanmu, apakah aku harus kehilangan ibu lagi? Walaupun ibu berlaku kejam kepadaku, aku berharap kau harus tetap hidup untuk bertemu denganku, kau harus tahu bagaimana rindunya aku kepada ibu!"

Dia tidak ingin orangtuanya meninggal, dia juga tidak mau Coh Kim-sung mati, begitu juga dengan Yu He-cu walaupun dia belum pernah bertemu, dia tidak mau Yu He-cu mati.

Dengan tenaga apakah dia bisa membuat mereka tidak mati?

Sekarang suara apa pun tidak terdengar, sepertinya mereka benar-benar sudah mati, dia tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati?

Bila mereka masih bernafas, masih bisa ditolong, siapa pun mereka dia pasti akan menolongnya.

Jalan darah Kie Su-giok-yang ditotok setelah lewat 12 jam baru bisa terbuka sendiri, sekarang baru lewat I jam lebih.

Jantung berdebar-debar tapi jarinya tetap tidak dapat digerakkan.

"Tidak boleh tergesa-gesa, yang penting totokan ini harus bisa h dibuka, aku baru bisa melihat keadaan mereka."

Sudah lewat jam 3 untuk menunggu hari terang masih sangat lama orang-orang di Piau-hang masih tidur, jalan darah yang ditotok harus bisa dibuka sendiri olehnya.

Dia mulai dengan cara ilmu tenaga dalam keluarganya sendiri, membereskan pikirannya yang kacau, mulai mengumpulkan tenaga dalam dan mengambil nafas berusaha untuk membuka jalan darahnya sendiri.

Entah sudah lewat berapa lama, tiba-tiba dia mulai bisa melihat keadaan di sekelilingnya.

Kegelapan sudah lewat akhirnya terang datang juga, tapi bayangan kematian yang datang.

Kematian itu dibawa oleh seseorang yang tidak disangka sama sekali oleh Kie Su-giok Dan orang itu adalah Coh Thian-su.

Benar, tadinya dia ingin mencari Coh Thian-su, tapi kedatangan Coh Thian-su sekarang ini malah membuatnya hatinya bergetar.

Bila Coh Thian-su tiba di kamar itu, ayahnya pasti akan dibunuh Coh Thian-su.

Kie Su-giok bersembunyi di atas pohon, dia bisa melihat Coh Thian-su dengan jelas, tapi Coh Thian-su tidak dapat melihatnya.

Apalagi saat itu Coh Thian-su begitu tergesa-gesa ingin bertemu dengan ayahnya, pasti dia tidak dapat menemukan Su-giok Begitu orang yang mengantarnya sudah pergi, Coh Thian-su mendorong pintu dan masuk.

"Apakah dia akan membunuh ayahku?"

Benar saja, sesuai perkiraan Su-giok, Coh Thian-su ingin membunuh ayahnya!

Dia mulai mendengar suara orang bertarung, terdengar suara ayahnya dan juga suara Coh Kim-sung.

Di dalam keterkejutannya dia masih bisa bersyukur ayahnya dan Coh Kim-sung masih hidup.

Hanya terdengar Coh Thian-su yang berkata.

"Aku akan membunuhmu dengan ilmu pena yang diturunkan secara turun temurun dalam keluarga Coh, supaya kau mati dengan rela!"

Terdengar Kie Lek-beng memakai ilmu jari menyentil pena Coh Thian-su hingga terlepas dari tangannya.

Coh Thian-su mulai menyerang, penanya mulai bergerak-gerak semua ini terdengar oleh Kie Su-giok dari luar jendela.

Hatinya yang baru mulai tenang, sekarang seperti busur yang tegang Dia takut Coh Thian-su akan membunuh ayahnya, dia juga takut ayahnya akan membunuh Coh Thian-su.

Waktu yang ditakutinya sudah tiba!

Kie Su-giok mendengar jjyahnya berkata.

"Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu, tapi sekarang kau jaras mati bersamaku!"

Suaranya tidak besar tapi seperti meledak di dalam kepalanya.

'Mati bersama-sama', inilah yang paling ditakuti oleh Kie Su-giok.

Dalam keadaan tegang ini, jalan darah yang ditotok terbuka oleh tenaga dalamnya.

Pada waktu itu Kie Lek-beng sedang menggunakan jurus Thian-mo-kai-tee-hoat untuk mati bersama-sama dengan Coh Thian-su.

Tiba-tiba suara besar berteriak dan Poan-koan-pit menusuk ke arah Kie Lek-beng.

Dalam keadaan itu, Kie Su-giok masuk seperti burung.

Dengan cepat pedang Kie Su-giok menahan pena Coh Thian-su.

"Hai, kau!"

Terkejutnya Coh Thian-su tidak kalah dengan Kie Lek-beng.

"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh orang ini!"

Kata Kie Su-giok.

"Dia ingin membunuh ayahku, mengapa aku tidak boleh membunuh dia?"

"Ayahmu tidak mati, walaupun dia mati kau pun tidak boleh membunuhnya!"

Sebenarnya Kie Su-giok sendiri tidak tahu apakah Coh Kim-sung sudah mati atau belum Kata Coh Thian-su.

Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi Gu Long

Baca Juga: Lembah Patah Hati Lembah Beracun 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger