Eps 9 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen
Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen
Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.
"Dia itu siapamu?"
Dia sengaja menanyakannya.
Sebenarnya ilmu silat Coh Thian-su lebih tinggi dari Su-giok tapi karena dia baru bertarung dengan Kie Lek-beng tenaganya agak terkuras maka sekarang ini Coh Thian-su hanya bisa mundur.
Kie Lek-beng sudah melihat putrinya, dia enggan untuk membunuh Coh Thian-su, dia sangat terburu-buru dan berkata.
"Anak, kau harus cepat-cepat membunuhnya sebab Coh Kim-sung dan Tong Hwie-yan sudah berjanji akan bertemu, orang-orang Piau-hang akan datang ke sini untuk mencarinya."
Kie Su-giok tidak menghiraukan kata-kata ayahnya, tapi dia berkata.
"Thian-su, pergilah, aku juga tidak akan melukai..."
Mulutnya bicara tapi pedangnya terus memaksa Thian-su untuk mundur.
Tidak terasa, dia sudah mundur ke sisi ayahnya, sebenarnya dia akan mengatakan 'aku berjanji tidak akan melukai ayahmu', tapi kata-katanya belum habis, Coh Kim-sung yang tadinya terbaring tiba-tiba duduk, itu mengagetkan Kie Su-giok Coh Kim-sung segera menotok jalan darah lutut Kie Su-giok dan dia langsung diam seperti patung, berbarengan dengan itu Coh Kim-sung roboh lagi.
Sebenarnya Coh Kim-sung tidak boleh menotok Kie Su-giok karena dia sedang terluka parah, dan dia pun hanya berhasil mengumpulkan tenaga sebesar itu.
Walaupun dia bisa memaksa menotok Kie Su-giok tapi tenaga yang dikumpulkan selama 2 jam langsung terkuras habis.
Coh Thian-su sangat terkejut dan berkata.
"Ayah, kau kenapa?"
Kata Coh Kim-sung dengan suara serak.
"Aku sudah tidak tahan lagi, balaskan dendamku!"
Kemudian dia pingsan. Waktu itu Kie Lek-beng dengan siulan yang panjang meloncat begitu tinggi dan berkata.
"Kau menyuruh dia membunuhku, tapi sayang sudah terlambat."
Ternyata sewaktu Kie Su-giok mengahalangi Coh Thian-su dia memakai kesempatan ini untuk membuka totoknya. rad Kie Lek-beng sekarang sudah pulih. Mata Coh Thian-su memerah dan berkata.
"Bila bukan kau yang mati, aku yang mati!"
Segera dia memainkan kuasnya mendekati Kie Lek-beng.
Walaupun Kie Lek-beng belum pulih, 100% tapi pengalaman Kie Lek-beng berada di atas Coh Thian-su, tidak mungkin dia bisa mengalahkan Kie Lek-beng.
Apalagi sekarang ini sudah bisa berjalan seperti biasa, mana bisa Coh Thian-su melawannya!
Dalam beberapa jurus saja diiringi dengan tawa Kie Lek-beng, pena Coh Thian-su berhasil direbut Kie Lek-beng.
"Bocah tengik! Tadi kau ingin membunuhku dengan ilmu silat keluargamu, menyuruhku mati dengan rela, tapi sayang keinginanmu tidak tercapai, tapi aku pun bisa dengan cara yang sama, bila tidak percaya akaa akan memperlihatkannya kepadamu."
Segera dia merebut pena Coh Thian-su dan menyerangnya dan menotok ke arah Coh Thian-su. Yang dia pakai adalah ilmu silat keluarga Coh. Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Apakah jurus-jurus ini benar semua? Aku akan membuatmu kalah oleh ilmu silat keluargamu sendiri, dengan begitu kau akan mati dengan rela!"
Dia menaruh pena Coh Thian-su, dengan pelan mengangkat tangannya, diarahkan kepada Coh Thian-su dan berkata.
"Bocah tengik, jangan salahkan aku! Kau sendiri yang cari mati aku akan membunuhmu dengan cepat hingga kau tidak akan sempat merasa Coh Thian-su tidak dapat bergerak, tapi matanya terus melotot, dia tidak takut sama sekali. Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Bocah tengik ini benar-benar jantan, apakah aku harus membunuhnya?' Dia tampak ragu, dalam hati dia berpikir lagi, 'Bila hari ini aku tidak membunuhnya, dia pasti akan balas dendam, meskipun aku tidak takut, tapi itu akan sangat merepotkan.' Telapak tangannya hanya berjarak satu inchi dengan kepala Coh Thian-su. Bila dia tadi tidak ragu-ragu mungkin sekarang ini Coh Thian-su sudah mati di tangannya. Karena Coh Kim-sung sudah terluka parah maka ketika tadi dia menotok Kie Su-giok tidak begitu sempurna, sekarang dia sudah bisa membuka totoknya. Dalam saat yang tepat, tiba-tiba Su-giok mendorong Coh Thian-su dan roboh, tubuhnya menghalangi gerakan Kie Lek-beng. Dan tentu saja Kie Lek-beng tidak dapat meneruskan gerakannya. Kie Lek-beng terpaku dan berkata.
"Anak, ada apa denganmu?"
"Aku tidak mengijinkan Coh Thian-su membunuh ayah, aku juga tidak mengijinkan ayah membunuh Coh Thian-su."
Kata Kie Lek-beng.
"Kau datang ke sini untuk menolongku bukan? Pasti kau sudah tahu hubungan kita adalah apa. Kau harus dengar kata-kataku!"
Jawab Kie Su-giok.
"Aku tahu siapa dirimu, tapi aku tidak bisa mendengar kata-katamu."
"Apakah kau tidak mau memanggilku ayah?"
Air mata Kie Su-giok terus mengalir, tapi dia hanya diam.
---ooo0dw0ooo---C.
Buku Biauw-ang Menjadi Penyelamat Hari sudah terang, sinar matahari sudah masuk melalui jendela.
Membunuh atau tidak harus diputuskan segera karena orang-orang Piau-hang sebentar lagi akan datang.
Bila Tong Hwie-yan yang datang, nyawa Kie Lek-beng akan terancam.
Nyawanya sendiri tidak apa-apa, tapi dia mengkhawatirkan nyawa Song Eng-lam!
Walaupun Song Eng-lam sudah bukan istrinya lagi, tapi di lubuk hatinya yang terdalam, dia masih mencintai Song Eng-lam.
Dia melihat ke arah Song Eng-lam, perempuan yang dia cintai sekaligus dia benci.
Walaupun Song Eng-lam belum sadar, tapi warna wajahnya sudah kembali seperti biasa, hanya tersisa sedikit warna hitam di sekeliling alisnya.
Song Eng-lam terkena jarum beracun, walaupun sudah dibantu oleh Kie Lek-beng dengan tenaga dalamnya tapi sisa-sisa racun itu masih ada, dan itu harus segera dikeluarkan.
Karena sejak tadi Kie Lek-beng terus bertarung artinya aliran tenaga dalam ke tubuh Song Eng-lam pun terhenti selama beberapa jam, bila pertahanannya habis, Song Eng-lam tidak akan akan lagi dan mati.
Kie Lek-beng harus segera membawa Song Eng-lam pergi dan mengobati lukanya.
Dia mengambil keputusan, segera membalikkan tubuh dan menotok putrinya.
"Anak, jangan salahkan aku! Aku harus membereskan masalah ini dan aku harus meninggalkan tempat ini!"
Kie Su-giok sudah mengerti maksud ayahnya.
Membereskan masalah berarti membunuh ayah dan anak bermarga Chu.
Kie Su-giok tidak bisa bicara, tapi sorot matanya bisa mencerminkan pikirannya, dia kecewa marah dan sedih.
Jantung Kie Lek-beng pun berdebar kencang, dia tidak mau, melihat sorot mata putrinya, dia bersiap membunuh Coh Thian-su terlebih dahulu, dia menarik putrinya ke sisinya, tapi dia menemukan hal yang aneh dan baru Di sisi Coh Thian-su, ada sebuah buku Biauw-ang Sebenarnya buku ini tersimpan di dalam pakaian Coh Thian-su, karena tadi didorong oleh Su-giok maka buku itu terlempar keluar dan jatuh di sisi Coh Thian-su.
Buku Biauw-ang adalah buku yang dipakai oleh anak sekolah jaman dulu, yaitu buku untuk belajar menulis.
Guru menulis dengan tinta merah kemudian anak-anak akan mengikuti goresan gurunya dengan tinta hitam Buku itu dinamakan buku Biauw-ang.
Buku Biauw-ang ini dimiliki oleh hampir seluruh keluarga tapi buku Biauw-ang ini bukan buku Biauw-ang biasa.
Karena buku itu merupakan milik Kie Lek-beng sewaktu masih kecil, semua huruf di dalamnya dia yang tulis.
Ketika dia melihat buku itu segera semua kenangan masa kecil membuka pikirannya.
Yang pasti dia tidak berharap waktu yang sudah lewat kembali lagi tapi yang dia ingat adalah kenangan kehangatan masa kecil.
Dia ingat pada waktu kecil sering duduk di pangkuan ayahnya sambil memegang tangannya, segores demi segores dia menulis mengikuti contoh di buku Biauw-ang.
Dia sering dipuji oleh ayahnya karena tulisannya di buku Biauw-ang sangat rapi dan memuji dia sebagai anak yang pintar karena sudanj sering menuruti goresan itu beberapa kali dia akhirnya dapat menulis send Tapi dia pun sering dimarahi oleh ayahnya, karena bila dia tidak teliti, tulisannya bengkok ke kiri dan ke kanan.
Kalau dia seperti itu ayahnya pasti akan marah karena dia melakukan hal kurang tekun dan belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah dia sudah keluar untuk bermain, kadang-kadang ayahnya sering memukul telapak tangannya dan memarahi dia sebagai anak yang tidak berguna.
Mungkin ayahnya terlalu ketat mendidiknya membuatnya menjadi anak pemberontak.
Sekarang setelah melihat buku Biauw-ang itu, dia baru benar-benar merasakan bahwa ayahnya begitu menyayanginya.
Dia membuka totokan jalan darah bicara Coh Thian-su, dengan marah dia berkata.
"Cepat katakan, kau mendapatkan buku Biauw-ang ini dari mana?"
Walaupun totokan jalan darah bicara Coh Thian-su sudah dibuka, dia tetap membungkam. Kata Kie Lek-beng dengan marah.
"Bila kau tidak mengatakannya, aku akan membunuhmu!"
Dengan sombong Coh Thian-su berkata.
"Bila kau mau membunuhku, bunuh saja! Mengapa harus banyak Tanya!"
Putrinya tiba-tiba membuka mulut dan berkata sesuatu, ternyata pada saat dia menotok putrinya, dia takut melukai putrinya maka dia menotok Su-giok dengan tenaga kecil, sekarang walau tubuh Kie Su-giok belum bisa bergerak tapi dia bisa bicara.
"Aku tahu mengapa Coh Thian-su tidak mau bicara?"
Kie Lek-beng terpaku dan berkata.
"Baiklah, anakku, coba katakanlah!"
"Buku Biauw-ang ini adalah pemberian kakek untuknya, pada saat kakek memberikan kepadanya pernah berkata seperti ini 'suatu hari mungkin buku Biauw-ang ini bisa menjadi jimatmu'. Waktu itu aku dan dia tidak mengerti apa maksud kakek, sekarang aku sudah mengerti, aku kira kau pun mengerti. Coh Thian-su tidak mengatakan apa-apa karena dia tidak mau menerima jimat ini."
Kie Lek-beng membalikkan kepala dan menatap Coh Thian-su.
Sikap Coh Thian-su masih sombong seperti biasanya, seperti sedang mengataka, 'Mati pun aku tidak mau menerima kebaikanmu!' 'Benar-benar pemuda yang sifatnya keras seperti aku masih muda dulu.' Sebenarnya maksud ayahnya dan pikiran Coh Thian-su sudah bisa tertebak olehnya, sekarang apakah Coh Thian-su masih mau dibunuh oleh ayahnya?
Dia mau membunuh Coh Thian-su tapi dia tidak tega, hatinya bergetar, tangannya pun gemetaran, buku itu jatuh dari pegangannya.
Sekarang dia baru menyadari bahwa cinta ayahnya begitu dalam, apakah semua ini sudah terlambat?
Walaupun buku Biauw-ang terjatuh, tapi pandangannya tidak pernah dialihkan dari buku itu, seperti sudah terikat dengan degup jantungnya.
Maksud dari ayahnya memberikan buku Biauw-ang kepada pemuda yang sifatnya keras ini supaya menjadi jimatnya.
'Aku sudah banyak melakukan hal yang mengecewakan ayah, apakah sekarang pun aku harus mengecewakan lagi?' Tapi Coh Thian-su adalah putra dari musuhnya dan Coh Thian-su pun ingin membunuhnya.
Hatinya sangat bingung sebingung medan perang.
Jantungnya masih terus berdebar dengan kencang, putrinya berkata lagi, kata-kata dari putrinya lebih mendebarkan jantungnya.
"Aku tahu, kau ini siapa, kau marah kepada perempuan ini karena dia adalah ibu yang kejam, bagaimana dengan dirimu? Apakah kau juga bukan ayah yang kejam? Kalau begitu mengapa aku harus dilahirkan? Lebih baik aku mati saja!"
Beberapa kalimat itu bagai panah yang menusuk ke hatinya.
Putri yang berada di depan matanya, pada saat masih berada di dalam kandungan hampir dicekik mati olehnya.
Putrinya belum lahir dia sudah hampir melukainya, apakah putrinya tahu rahasia ini?
Sekarang putrinya lebih memilih mati, semua membuatnya sedih sekaligus malu Kie Lek-beng merasa benar-benar ingin mati, tapi dia tidak bisa karena dia masih ingin mendengar suara ayahnya yang marah, juga ingin mendengar suara putrinya yang memanggil dia ayah.
"Anakku, aku benar-benar minta maaf, tapi aku adalah ayah kandungmu! Jangan memadangku seperti itu, aku mohon..."
Kie Su-giok seperti bisa membaca pikiran ayahnya, dia berkata.
"Apakah kau pernah melakukan sesuatu untukku? Dengan dasar apa aku harus memanggilmu ayah?"
Kie Lek-beng sambil menjambak rambutnya sendiri berteriak.
"Aku harus berbuat bagaimana baru kau mau memaafkanku?"
Kata Kie Su-giok.
"Aku tahu hatimu sangat keras, aku tidak berani memintamu melepaskan Coh Thian-su, tapi bila kau membunuhnya aku akan lebih benci kepadamu!"
Dia mengerti dengan kata-kata putrinya, bila dia tidak membunuh Coh Thian-su, sekalipun putrinya tidak memanggilnya ayah tapi paling sedikit putrinya mau mengakui dia sebagai ayahnya.
Kie Lek-beng juga tidak mau ayahnya bersedih lagi, juga tidak mau mengecewakan putrinya, dia tidak mempunyai pilihan lagi.
Akhirnya tangan Kie Lek-beng yang sudah diangkat ke atas, diturunkan kembali, dia tidak jadi memecahkan kepala Coh Thian-sua Dengan ringan dia menepuk jalan darah Coh Thian-su dan semua totokan menjadi terbuka.
Walaupun totokan Coh Thian-su sudah terbuka tapi tenaga dalamnya belum pulih, tadi Kie Lek-beng menotoknya dengan Poan-koan-pit.
Totokannya sangat berat, setengah jam lagi Coh Thian-su baru bisa pulih.
Begitu totokan Coh Thian-su dibuka, dia segera melihat kondisi ayahnya, dia takut terjadi sesuatu pada ayahnya.
Coh Kim-sung masih terbaring di bawah, matanya masih dipejamkan, tangan dan kakinya seperti dingin, bergerak pun tidak, seperti orang mati saja.
Tapi dia masih bernafas, nafasnya sangat cepat, dari tenggorokan keluar bunyi aneh ternyata ada darah yang tersumbat di jalan darah, peredaran darahnya tidak lancar membuat dia sulit bernafas.
Walaupun tidak mati tapi sudah mendekati ajal, satu-satunya cara untuk menolongnya adalah dengan tenaga dalam membantunya melancarkan aliran darah Tenaga dalam Coh Kim-sung sangat kuat asal bisa membantu dia memperlancar darah yang beku, nafasnya tidak akan terputus, walaupun dia terluka parah tapi masih mempunyai harapan untuk hidup.
Coh Thian-su tahu keadaan ayahnya sedang gawat tapi dia tidak dapat melakukan apa-apa.
Hari Coh Thian-su sangat sedih, dia memelototi Kie Lek-beng, matanya seperti mengeluarkan api, dia berkata.
"Aku tidak akan berterima kasih kepadamu, kalau kau mau membunuh ayahku, sekalian saja kau bunuh aku, bila tidak suatu hari nanti aku akan balas dendam kepadamu!"
Kie Lek-beng terdiam, tapi dalam hati berpikir, 'Keterlaluan bocah tengik ini! Apakah aku harus menghabiskan tenaga dalam untuk menolong musuhku?' Song Eng-lam yang masih pingsan, sedang mengigau.
"Sung koko, bila kita harus mati kita harus mati bersama, bila kau mau' aku tidak dapat hidup sendiri! Lek-beng, ampunilah dia, aku minta biarkan dia hidup, aku belum pernah minta apa-apa kepadamu!"
Sorot mata putrinya seperti sedang mengharapkan sesuatu darinya. Tiba-tiba Kie Su-giok membuka mulut dan memanggilnya ayah "Ayah, aku tidak mau kau dibenci oleh orang lain seumur hidupmu."
Istrinya meminta agar Coh Kim-sung dibiarkan hidup, putrinya ingin dia menolong Coh Kim-sung.
Tekanan dari istri ditambah dengan putrinya, tidak kalah dengan tekanan kenangan dari buku Biauw-ang.
Dia menarik nafas dan berjalan ke arah Coh Kim-sung.
Hal ini membuat Kie Su-giok dan Coh Thian-su merasa terkejut, mereka tahu dia tidak akan membunuh Coh Kim-sung.
Kie Su-giok berteriak.
"Ayah, kau tidak boleh..."
"Mengapa tidak boleh? Aku bisa membunuh juga bisa menolongnya!"
Coh Thian-su tidak percaya bahwa Kie Lek-beng akan menolong ayahnya, walaupun dia tidak mempunyai tenaga lagi untuk melawan, tapi i dia berusaha menghalangi Kie Lek-beng mendekati ayahnya.
Kie Lek-beng marah dan berteriak.
"Bocah tengik bodoh, pergi kau! Apakah kau tahu bila ayahmu tidak segera ditolong, dia akan mati!"
Dengen ringan dia mengibaskan lengah bajunya, segera Coh m Thian-su terjatuh dengan posisi kaki di atas.
Kie Lek-beng segera menempelkan telapak tangannya di dada Coh si Kim-sung, membantunya mendorong darah beku untuk keluar.
Tidak lama terdengar ada suara orang muntah Ternyata Coh Kini-sung memuntahkan dahak yang sudah bercampur dengan darah, mata Coh Kim-sung langsung terbuka.
Meskipun Coh Kim-sung sudah sadar tapi belum sadar secara keseluruhan, juga belum mempunyai tenaga untuk bicara, dia melihat Kie Lek-beng berdiri di sisinya, dia merasa nafasnya mulai lancar, ternyata Kie Lek-beng yang menolongnya.
"Aneh, apakah dia yang membantuku mendorong darah mati ku hingga keluar?"
Wajah Coh Kim-sung seperti tidak percaya. Kie Su-giok sangat senang sekaligus terkejut, dia berkata.
"Ayah, kau benar-benar menolong Paman Coh!"
Kie Lek-beng tertawa kecut dan berkata.
"Orang lain mempunyai nasib lebih baik, sedangkan aku selalu-hidup susah, tapi ini mungkin bukan karena dewa langit tidak menolongku, tapi aku yang seperti ulat sutra membuat kepompong sendiri, untuk menyembunyikan diri sendiri, menjauh dari orang-orang di dunia ini membuat mimpi sendiri."
Kie Su-giok seperti mengerti seperti tidak dengan kata-kata ayahnya, tapi dia merasa kasihan kepada ayahnya.
Pada saat itu juga terdengar bunyi roda kereta yang memecah kesunyian jalan itu.
Dilihat ke luar jendela, ada sebuah kereta kuda yang berhenti di mulut gang itu.
Jalan itu biasanya sangat jarang dilewati oleh kereta kuda, apalagi sekarang ini hari baru terang.
Mengapa bisa ada kereta kuda yang berhenti sana?
Pada saat itu juga Kie Lek-beng ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu, tidak mungkin dia menggendong seorang perempuan dan berlaian di jalanan.
Kereta ini datang tepat pada waktunya.
Dia tidak mempuny waktu untuk berpikir lagi.
Dia membuka totokan putrinya dan menggendong Song Eng-lam kemudian berkata.
"Anakku, ikutlah kami pergi dari sini!" ---ooo0dw0ooo---Coh Kim-sung melihat istrinya dibawa pergi oleh Kie Lek-beng, a sangat terkejut kemudian dia pingsan lagi. Coh Thian-su meloncat dan berteriak.
"Lepaskan ibuku!"
Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.
"Dia bukan ibumu tapi ibu dari anakku, ayahmu sudah tertolong tapi ibu anakku belum melewati masa kritisnya, kau atau ayahmu menaruh curiga kepadaku, itu terserah pada kalian! Aku hanya ingin dia bisa hidup, bukan mempermalukan ayahmu dan menghina ayahmu. Anakku, ibumu belum tahu bahwa kau sudah datang, aku harap begitu dia sadar, dia bisa melihatmu! Masih tunggu apa lagi? Cepat kita pergi!"
Kie Su-giok masih bengong, dalam hatinya dia merasa sangat kacau, tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu.
Kie Lek-beng tahu putrinya tidak mau ikut dengannya, hatinya sakit seperti diiris oleh pisau, dalam hati dia berpikir, 'Aku tidak boleh menyalahkan anakku, kami memang tidak pantas menjadi orangtuanya!' Demi menolong nyawa sang istri, putrinya tidak mau , mengikutinya, tapi dia harus tetap pergi walau bagaimana pun.
"Anakku, aku tidak akan memaksamu, bila kau sudah memaafkanku, aku akan mencarimu!"
Dia menggendong Song Eng-lam, meloncat dari jendela dan turun ke bawah.
Putrinya masih menangis, tapi dia tidak berani menoleh lagi.
Pertalian cinta sulit dibereskan sendiri Suami, istri, ayah dan anak sama-sama terpisah Apa yang akan terjadi?
---ooo0dw0ooo---Bab 15 Masuk perangkap Disiksa dan diatur Masih ada hati nurani Membantu kejahatan A.
Masuk Perangkap Langit baru saja terang, pintu Piau-hang belum dibuka.
Mungkin Bang-orang yang tinggal di sepanjang jalan itu masih tertidur nyenyak.
Di jalan itu pun tidak ada orang, hanya ada sebuah kereta kuda |ang berhenti di mulut sebuah gang, kusirnya sedang terkantuk-kantuk.
Kusir itu sedang memejamkan mata seperti akan tidur, tapi hatinya fidak tenang, dia berpikir.
"Hari sudah terang, seharusnya orang itu sudah muncul."
Dari jalan itu muncul orang yang pertama, tapi orang itu bukan orang yang ditunggu-tunggu oleh pak kusir.
Dia adalah seorang gadis dan dia adalah putri Pendekar Tiong-ciu, Hie Tiong-gwee yang bernama Hie Kim-giauw.
Hie Kim-giauw datang untuk mencari Coh Thian-hong, walau mereka baru kenal selama beberapa hari, tapi dia sudah menganggap Coh Thian-hong sebagai teman yang bisa diajak ngobrol.
Karena usia mereka hampir sama, dan mereka pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan kemarin ini.
Dia mencari Coh Thian-hong karena hatinya sedang kesal.
Kekesalan ini bukan disebabkan oleh keluarga Bok melainkan berasal dari ayahnya sendiri.
Kemarin malam dia menceritakan semua yang terjadi pada dirinya pada saat siang hari, dia juga bercerita bahwa dia sudah bertemu dengan Hui-thian, tidak lupa dia pun menceritakan penghinaan yang dilakukan oleh dua bersaudara Mu itu.
Dia tidak berharap ayahnya akan membalas dendam kepada dua bersaudara Bok itu, tapi paling sedikit ayahnya akan marah karena perlakuan mereka kepadanya dan mencaci maki bahwa dua bersaudara itu adalah binatang.
Tapi dia terlalu naif, semua tidak berakhir seperti yang diharapkan.
Ayahnya malah memarahinya dan berkata.
"Kalau begitu kau sangat benci kepada dua bersaudara Bok ini melebihi Hui-thian?"
Dia terpaku dan menjawab.
"Memang benar Hui-thian adalah musuh keluarga kita, aku juga -membencinya tapi kemarin ini dia tidak menghinaku, pada saat dua bersaudara Bok bersikap kurang ajar kepadaku, dia malah yang! menolongku."
Ayahnya malah berkata.
"Bok Siauya sangat menyukaimu, mengapa kau menganggap mereka menghinamu? Hui-thian menolongmu karena dia berniat jahat kepadamu."
Dalam mimpi pun dia tidak menyangka bahwa ayahnya malah membela orang yang menghinanya, saking marahnya suara yang keluar pun bergetar, dia berkata.."Ayah, dia orang yang sangat cabul, dia menganggap aku adalah pelacur, masa di tempat umum dan hari masih terang dia berani berbuat seperti itu, apakah ini bukan suatu penghinaan?"
Ayahnya marah, wajahnya semakin pucat.
Hie Kim-giauw berkata.."Aku tahu bahwa Keluarga Bok sangat kaya dan mempunyai' kedudukan tinggi, ayahnya adalah panglima pasukan istana, ayah pun meminta perlindungan kepada ayahnya, tapi ayah, kau adalah Pendekar Tiong-ciu, putrimu dihina oleh orang lain tapi kau tidak berani bicara, apakah ayah benar-benar seorang pendekar?
Ayah bila kau merasa serba susah, lebih baik kita pulang saja!"
Ayahnya marah dan berteriak.
"Berhenti, kau tidak boleh menangis, bila kau menangis lagi, aku akan membunuhmu!"
Dia bukan takut ayahnya akan membunuhnya, dia terkejut karena, sikap diktator ayahnya.
Selama ini ayahnya sangat sayang kepadanya, jarang memarahinya apalagi hingga membentak seperti itu bahkan ingin membunuhnya.
Karena merasa sangat marah dia malah berhenti menangis, tapi kemarahannya dia simpan dalam hati.
Setelah ayahnya marah-marah mungkin dia akan merasa bahwa dia sudah terlalu keras kepada putrinya, dia bersikap lembut dan berkata.
"Anakku, Siauya Mu menyukaimu, itu adalah sangat mujur seorang gadis itu harus menikah, mendapat menantu seperti Keluarga Bok sangat sulit."
Hie Kim-giauw terkejut dan berkata.
""Ayah, apakah kau..."
Dengan tersenyum Hie Tiong-gwee berkata.
"Benar, ayah menjodohkanmu dengan putra sulung Tuan Bok. Beberapa hari yang lalu Jenderal Bok pernah berkata bahwa dia menyalahkan dirinya karena belum memberitahu kepadaku bahwa putra sulungnya menyukaimu, jadi Jenderal Bok berharap aku tidak marah atau terkejut."
Hie Kim-giauw marah dan berkata.
"Aku tidak mau menikah dengannya, kalau memang dia mau menikah denganku, mengapa dia menganggapku pelacur?"
Hie Tiong-gwee mengerutkan dahi dan berkata.
"Anakku, jangan begitu, pernikahan ini semua harus diatur oleh gjang tua, jadi bila ada yang tidak sopan kepadamu aku pasti akan langsung membunuhnya, tapi bila putra Keluarga Bok yang menggodamu, dia adalah calon menantu yang kusukai, itu lain lagi masalahnya. Aku kira dia sudah tahu bahwa ayahnya dan aku sudah mendiskusikan soal pernikahan kalian, dan dia pun sudah menganggapmu sebagai calon istrinya. Bila dia berbuat sedikit cabul kepadamu, itu adalah hal yang wajar."
Hie Kim-giauw sudah tidak mau bertengkar dengan ayahnya, dia sudah merasa sangat kecewa, sekarang dia harus berusaha sendiri.
"Ayah, apakah kau sudah menentukan hari pernikahannya?"
Hie Tiong-gwee mengira putrinya sudah setuju, dia tertawa dan berkata.
"Karena sudah beberapa hari ini Hui-Thian membuat kita tegang jadi aku belum benar-benar bicara dengan Jenderal Bok, tapi kau tidak perlu khawatir, bila jenderal ingin berbesan dengan ayah, pernikahan ini pasti bisa dilaksanakan."
Dengan dingin Hie Kim-giauw berkata.
"Aku dengar ada yang berbeda dengan cerita aslinya "
Kata Hie Kim-giauw lagi.
"Kata putra sulung Jenderal Bok, kau ingin mencari posisi tinggi maka menjilat kepada mereka. Kaulah yang menitipkan maksudmu kepada Tuan Kiam-ta agar menjodohkanku dengan putra sulung Jenderal Bok, tapi Jenderal Bok mengajukan syarat yaitu dia ingin kedua putranya dijodohkan. Dia ingin berbesan dengan Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung Jenderal Bok tahu bahwa ayah, Tuan Kiam-ta, dan Coh Kim-sung adalah sahabat karib, melalui kalian berdualah dia bisa berbesan dengan Coh Kim-sung. Apalagi bila Coh Kim-sung setuju menjadi besannya."
"Dia baru akan mau berbesan bila putriku menjadi menantu untuk si sulung."
Dengan tertawa dingin Hie Kim-giauw berkata.
"Pantas orang lain menghina kita!"
Kata Hie Tiong-gwee.
"Benar, Jenderal Bok ingin berbesan dengan Coh Kim-sung, tentu saja aku dan Tuan Kiani-ia dengan senang hati menjodohkan putranya dengan putri Coh Kim-sung, tapi itu bukan prasyarat, kita pun mendapat keuntungan dari hal ini"
Masih tertawa dingin Hie Kim-giauw berkata.
"Bagi ayah mungkin ini suatu keuntungan tapi bagiku dan Adik "Kau tidak boleh berkata seperti itu, walaupun dua bersaudara Bok itu bersifat sombong, tapi bila kalian mau menurut, mereka akan menjadi suami yang baik."
Kata Hie Kim-giauw.
"Ayah, kau menganggap Keluarga Bok adalah sebuah kesenangan, tapi di depan mataku, itu adalah kesusahan. Jujur saja, Adik Coh pun sepertiku, lebih baik kami menikah dengan babi atau anjing, tapi tidak dengan Bok Siauya!"
Dari wajahnya Hie Tiong-gwee terlihat sangat marah, dia berpikir sepertinya harus dengan cara paksa baru bisa berjalan lancar. Tiba-tiba dia berdiri dan berkata.
"Anakku, apakah ayah harus berlutut kepadamu?"
Hie Kim-giauw terkejut dan berkata.
"Ayah, jangan seperti itu, putrimu ini tidak sanggup menerimanya"
Sebenarnya Hie Tiong-gwee hanya berpura-pura dan berkata.
"Anakku, biasanya kau tahu bukan bahwa ayah sangat) menyayangimu? Apakah kau tidak mau membantu ayahmu?"
"Ayah, kau sangat menyayangiku, apa pun yang ayah suruh, aku. akan melakukannya, tapi..."
Yang ingin dikatakan oleh Kim-giauw adalah.
"Bila ayah menjual belikan pernikahanku, aku tidak akan setuju."
Baru saja dia berkata 'tetapi', kata-katanya sudah dipotong aleh ayahnya, dan Hie Tiong-gwee berkata.
"Sekarang nyawaku pun sudah terancam, ayah kira kau sudah tahu mengenai hal ini."
Hie Kim-giauw tahu yang dimaksud oleh ayahnya adalah masalahnya dengan Hui-thian, dalam hati dia berpikir, 'Hui-thian menculiki, istri baru ayah, dendam ini memang sulit dilupakan, aku memang tidak sanggup membantu ayah.' Kata Hie Tiong-gwee.
"Dendamku kepada Hui-thian sedalam samudra, aku pun tahu dia< pasti ingin membunuhku. Ini bukan masalah dia telah merebut Hiat-kun saja. Kau sudah pernah lihat ilmu silat Hui-thian, aku tidak akan bisa mengalahkannya, aku takut dia akan balas dendam, karena itu aku lari ke ibukota untuk menghindari bencana ini, karena itu juga kita hidup di bawah perlindungan orang lain."
Hati Kim-giauw sangat kacau, dia tidak bisa menasihati ayahnya lagi, dia merasa bimbang, dalam hati dia berpikir, 'Bila aku menjadi ayah lebih baik aku mati di tangan musuh!
Daripada hidup di bawah perlindung orang kaya, apalagi orang itu terus menerus menghina kami!' Dia lebih memilih pilihan kesatu, tapi dia pun tidak dapat-memaksakan ayahnya untuk mengikuti pilihannya.
Hie Tiong-gwee berkata.
"Sekarang Hui-thian sudah berada diibukota, kau masih menyuruhku pindah dari rumah Bo-tan ikut pulang denganmu, apakah sama dengan menyerahkan nyawaku kepada Hui-thian? Aku tahu kau ingin mendamaikanku dengan Hui-thian, tapi keinginanmu ini tidak akan terlaksana. Kau tidak perlu bicara lagi!"
Kata Hie Tiong-gwee lagi.
"Anakku, aku akan jujur kepadamu, aku dan Coh Kim-sung sama-sama pendekar, tapi ilmu silat dia lebih tinggi dariku puluhan kali lipat, walaupun aku sudah mendapat perlindungan dari Jenderal Bok dan mendapat bantuan Tuan Kiam-ta, apakah aku masih bisa mengalahkan Hui-thian? Aku tidak yakin, bila ditambah dengan seorang yang ilmu silatnya lebih tinggi, aku baru akan merasa aman, ini adalah aturan yang janggal, spakah kau mengerti?"
Kata Hie Tiong-gwee iagi.
"Bila Coh Kim-sung mau menjadi besan Jenderal Bok, kau dan putrinya akan mempunyai hubungan adik ipar. Coh Kim-sung pasti akan mau membantuku melawan Hui-thian, bila ada dia aku tidak akan takut lagi."
Dengan tertawa dingin Hie-Tiog-gwee berkata .
"Ayah, rencanamu benar-benar sangat sempurna, tapi apakah Coh Kim-sung mau berbesan dengan Jenderal Bok? Paman Coh tidak seperti ayah, dia tidak butuh bersandar kepada Jenderal Bok. Adik Coh pun pasti tidak akan mau menikah dengan Bok Siauya."
Kata Hie Tiong-gwee.
"Karena itu juga berharap kau mau menjadi menantu keluarga besar Bok dan membantuku menasihati putri Coh Kim-sung, supaya mau menjadi menantu Keluarga Bok."
Sejak tadi Hie Kim-giauw sedang berpikir, dengan cara apa dia bisa terlepas dari jebakan ini, sekarang ayahnya malah menyuruh dia membantu kejahatan dan mendorong masuk ke dalam kesusahan.
Dia tidak mau melihat sorot mata ayahnya yang meminta bantuan, hatinya terasa sangat kacau.
Ayahnya melihat dia terdiam, dia berkata lagi.
"Sekarang aku harus bersandar kepada Jenderal Bok karena itu mau tidak mau kau harus menikah dengan putra sulung Keluarga Bok, bila aku dibunuh oleh Hui-thian, kau tetap tidak bisa lari dari tangan keluarga kita, mengapa kita harus menunggu hingga terjadi hal seperti itu?"
Kata Hie Tiong-gwee lagi.
"Bila kita hanya mengandalkan Keluarga Bok, kita tetap belum merasa aman, kita harus mendapat bantuan dari Coli Kiin-sung. Apakah aku harus mengajarkanmu bagaimana cara menasihati Coh Thian-hong?"
"Tidak, tidak perlu!"
Jawab Hie Kim-giauw, dia merasa mual. Sekarang ayahnya baru tersenyum lega, dan berkata.
"Putriku yang baik, aku percaya kau pasti akan mau membantu ayah, jangan ditunda lagi. Besok pagi, kau sudah harus pergi ke rumah Coh Kim-sung."
Sekarang Hie Kim-giauw sudah sampai dijalan di mana Coh Kim-sung tinggal.
Dia datang lebih awal dari dugaan ayahnya Di belakang Piau-hang tidak ada orang yang lewat.
Dia ingin mengobrol dengan Coh Thian-hong, tapi bukan untuk menasihatinya agar mau menikah dengan putra Jenderal Bok Dia mempunyai ide, tapi ide ini bisa terlaksana bila dibantu oleh Coh Thian-hong.
Sambil berjalan dia berpikir, tiba-tiba di depan matanya, terjadi suatu hal yang membuatnya terpaku.
Kie Lek-beng menggendong Song Eng-lam meloncat dari jendela dan turun, kemudia berlari menuju kereta kuda yang berhenti di depan mulut gang.
Pada saat itu Hie Kim-giauw berjalan dari arah depan menuju rumah Coh Kim-sung.
Mereka bertepatan bertemu.
Hie Kim-giauw tidak mengenal Kie Lek-beng, tapi dia kenal dengan ibu Coh Thian-hong.
Dia melihat ada orang yang meloncat dari jendela saja sudah terkejut, apalagi melihat orang yang digendong adalah Coh hujin, dia lebih terkejut lagi.
"Mengapa Coh hujin bisa digendong oleh pria sejelek itu meloncat, dari atas, bukan untuk bunuh diri. Karena begitu mendarat dia langsung lari malah hampir seperti terbang."
Coh hujin berada dalam pelukan laki-laki jelek itu, sama sekali tidak bergerak, apakah dia sudah mati atau masih hidup?
Dalam waktu yang begitu singkat, Hie Kim-giauw tidak dapat., berpikir bila dia mempunyai waktu untuk berpikir, dia seharusnya tahu bahwa suami istri Coh Kim-sung adalah pesilat tangguh, bila laki-laki jeleki itu bisa membawa lari Coh hujin, dan Coh Kim-sung sendiri tidak bisan menolong istrinya, apakah seorang gadis bisa merebut kembali Coh hujin dari tangan laki-laki jelek itu?
Karena sangat terburu-buru dan masih dalam keadaan terkejut, Kim-giauw sudah mengeluarkan pedang dan menghadang sambil berteriak.
"Hei penjahat busuk! Cepat letakkan Coh hujin!"
Sebenarnya dia hanya ingin mengejutkan tapi laki-laki itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya juga seperti tidak melihat ada orang yang menghadang di depannya.
Pedang Kim-giauw sudah dikeluarkan dan siap menusuk ke arah laki-laki jelek itu.
Kie Lek-beng tidak ada waktu untuk menjawab, dengan cepat dia menotok jalan darah Hie Kim-giauw.
Karena Kie Lek-beng sedang menggendong satu orang dan ilmu silatnya baru pulih 20 %, walau cepat pulih tapi tidak tepat sasarannya.
Tadinya dia ingin menotok pundak, tapi jarinya malah menotok ke arah lain Kim-giauw merasa pundaknya menjadi kesemutan, tusukan pedangnya menjadi meleset ke arah lain.
Dengan marah Kie Lek-ben berteriak.
"Pergi kau!"
Lengan bajunya sudah diayunkan, pedang terlemp beberapa meter baru terjatuh. Hie Kim-giauw pun mundur beberapa langk"
Kie Lek-beng sudah masuk ke dalam kereta kuda.
Kie Lek-beng membiarkan kusir itu terkejut selama beberapa Ketik, begitu dia naik kereta, segera dia mengeluarkan uang emas dan menaruhnya di sisi kusir itu sudah tertancap ke dalam kursi kayu itu.
Kie Lek-beng berkata.
"Cepatlah kita pergi dari sini. Hari ini aku yang menyewa kereta kudamu!"
"Kemana kita akan pergi?"
Tanya tukang kereta.
"Jalan dulu, nanti baru akan kuberitahu."
Kusir itu tidak berani bertanya lagi, segera dia membawa kereta ia itu dengan cepat berlari melewati pintu belakang Piau-hang.
Di Piau-hang sudah ada orang yang keluar.
Mereka adalah orang-orang pekerja Piau-hang yang berjaga malam, mereka keluar karena mendengar teriakan Hie Kim-giauw.
"Cepat! Cepat lari!"
Dua orang pekerja Piau-hang melihat Hie Kim-giauw dan berkata.
"Bukankah itu putri Hie Tiong-gwee? Apa yang sudah terjadi?"
Hie Kim-giauw masih terkejut, dia belum bisa menjelaskan apa-apa Kereta berlari sangat kencang, begitu dua orang ini tahu bahwa Coh hujin diculik dan berada di dalam kereta, mereka tidak sempat melihat ke arah mana larinya kereta itu.
Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Untung kereta ini datang tepat pada waktunya, bila ketahuan oleh orang-orang Piau-hang, keadaan akan lebih repot lagi.' Dia membalikkan kepala kemudian berkata kepada kusir itu.
"Aku tahu kau ketakutan, kau mengira aku adalah perampok."
"Aku tidak berani menduga."
Kata kusir itu. Kata Kie Lek-beng lagi.
"Aku tidak mau tahu kau akan menganggapku apa, menganggapku perampok atau penjahat, aku tidak peduli, yang penting kau harus mendengarkan kata-kataku maka aku tidak akan melukaimu dan aku akan memberimu uang."
Pak kusir itu itu terlihat agak tenang, dia berkata.
"Tuan ingin pergi ke mana?"
"Isteriku terluka, aku ingin pergi kesuatu tempat untuk mengobati lukanya, apakah kau mempunyai teman yang bisa menyediakan tempat, aku ingin meminjamnya selama 2 hari. Aku akan memberikan 10 tail perak sehari, ditambah dengan satu tail emas untukmu."
Di ibukota, Kie Lek-beng tidak mempunyai teman, Song Eng-lam terluka parah harus mencari suatu tempat untuk mengobati lukanya, bila dia dibawa ke penginapan akan lebih membahayakannya, lebih baik cari tempat biasa.
Bila diberi uang banyak mereka tidak akan melaporkannya kepada pemerintah kerajaan.
Bila bertemu dengan orang-orang jahat, dia sendiri bisa mengatasinya.
Kata Pak Kusir itu.
"Aku tahu satu keluarga, dulu dia adalah orang kaya, walaupun sekarang keadaan ekonominya menurun, tapi dia masih mempunyai rumah, yang bagus, di rumah itu tidak ada orang, tempat itu tepat untuk kalian beristirahat dan mengobati luka. Kebetulan sekarang dia pun sedang membutuhkan uang, aku akan berpesan kepadanya agar jangan membocorkan rahasia ini."
"Tempat itu jaraknya berapa jauh?"
Tanya Kie Lek-beng.
"Kira-kira 7 hingga 8 li, tempat itu bernama Sin-sa-hai."
"Katanya Sin-sa-hai adalah tempat rekreasi, sepertinya tempat itu tidak banyak orang yang tinggal?"
"Tempat itu adalah tempat tinggal orang-orang kaya, nenek moyang saudaraku termasuk orang kaya, hanya saja sekarang dia sudah sudah bangkrut, tempat itu jauh dari kota."
Kie Lek-beng sangat gembira dan berkata.
"Tempat itu cocok untuk kami, mari kita pergi ke sana!"
Hari masih pagi, di jalan masih jarang ada yang berjalan kaki. Kereta kuda berlari dengan cepat. Jarak 7 hingga 8 li hanya ditempuh dalam waktu setengah jam."
Sin-sa-hai adalah tempat dengan pemandangan indah di kota.
Peking, keindahannya hampir sama seperti See-ouw di Hang-ciu, di pinggir danau banyak rumah tempat peristirahatan orang-orang kaya.
Saudara pak kusir itu tinggal di dekat sana, di sebuah pulau kecil.
Pulau ini dihubungi oleh sebuah jembatan.
Keadaan di sana sangat septq Kereta berjalan di pinggir danau, kedua sisi jalan ditumbuhi oleh pohon Liu yang hijau dan indah.
Begitu melewati jembatan, air bergelombang,bisamelihatbayanganjembatan,angin menghembus pohon Liu membuat dahan-dahan pohon Liu bergoyang, sungguh pemandangannya sangat indah, membuat orang seperti Kie Lek-beng yang sedang susah pun merasa sedikit bersemangat.
Di pulau itu ada sebuah kuil tua, keluarga pak kusir tinggal di belakang kuil itu.
Kereta kuda berhenti di taman belakang rumah keluarga itu setelah pintu di dorong dan pintu bisa dibuka.
Mata Song Eng-lam setengah terbuka dia mulai sadar, dia bersandar di tubuh Kie Lek-beng.
Kie Lek-beng memegang pinggangnya dan memapahnya masuk ke dalam rumah itu Terlihat taman itu ditumbuhi oleh pohon dan rumput liar yang sangat banyak, keadaannya tidak teratur.
Di loteng, walaupun sangat kotor dan kumuh, tapi dari keadaan rumah itu dapat diketahui bahwa pemilik rumah yang dulu adalah orang yang sangat kaya.
Kie Lek-beng mulai merasa curiga kepada kusir itu mengapa mempunyai saudara dari keluarga yang begitu kaya, walaupun sekarang sudah bangkrut tapi keluarga itu adalah keluarga yang sangat kaya.
Ada hubungan apa di antara si kusir dengan si empunya rumah, hati Kie beng berpikir.
"Aku mempunyai ilmu silat yang tinggi, mengapa harus takut?' Tiba-tiba terdengar suara suling dari balik pepohonan, kata Kie "Keluargamu benar-benar mempunyai hobi yang menyenangkan"
Kata pak kusir itu.
"Walaupun dia menjadi miskin, tapi perilakunya masih seperti orang kaya, tidak mengerjakan apa pun, tiap hari hanya bermain kecapi, dan meniup suling atau main catur, melukis. Tuan, harap tunggu sebentar, aku bicara dengannya dulu!"
Kie Lek-beng mengangguk dan berkata.
"Biarkan dia meniup suling, kita jangan mengganggunya."
Begitu kusir itu meninggalkan tempat itu, Kie Lek-beng langsung memeriksa jalan darah Song Eng-lam, walaupun denyut jalan darahnya masih lemah, tapi teratur, hal ini membuat Kie Lek-beng menjadi tenang.
"Bila tidak ada gangguan dari luar, aku akan cepat pulih, setelah pulih, walaupun tidak ada obat penawar, paling sedikit bisa menyelamatkan nyawanya, karena tenaga dalamnya kuat, mungkin dia tidak terlalu membutuhkan obat penawar. Dia bisa pulih secara perlahan."
Karena keadaan hatinya mulai tenang dia bisa mendengar suara suling itu lagi. Hatinya tergerak.
"Mengapa sepertinya aku kenal dengan suara suling itu?"
Akhirnya masa lalu mendatangi, menusuk hati hingga ke tulang!
Hal ini terjadi pada saat dia baru menikah dengan istrinya baru hamil, tapi pada saat itu dia tidak tahu istrinya hamil.
Malam itu dia benci kepada istrinya karena tidak mau berbicara kepadanya.
Dia baru pulang dari rumah kekasihnya, Bok Koan-koan untuk minum-minum.
Dengan sengaja Bok Koan-koan mencaritakan hal menyangkut keluarga Coh Kim-sung, mengatakan bahwa mertuanya sangat akrab dengan keluarga Coh Kim-sung.
Bok Koan-koan memuji bahwa Coh Kim-sung adalah pemuda yang tampan, ilmu silatnya tinggi dan hobinya pun tinggi Dia juga mengatakan bahwa istri yang baru dinikahinya mempunyai hubungan istimewa dengan Coh Kim-sung.
Kata-kata Bok Koan-koan membuat Kie Lek-beng menjadi gusar dan marah serta cemburu.
Kie Lek-beng tidak tahan, dia berteriak kepada Bok Koan-koan.
"Kau masih tahu tentang apa lagi?"
Tanya Bok Koan-koan Kie Lek-beng terdiam tapi dia mengangguk, di depan kekasih gelapnya dia tidak mau ketahuan bahwa istrinya pun menyeleweng.
Tapi kabar yang diceritakan oleh Bok Koan-koan sangat tepat menyangkut hal yang tindak ingin dia dengar.
Kata Bok Koan-koan.
"Kemarin malam ada orang yang bertemu dengan Coh Kim-sung di Bong-kim, ayahmu adalah pesilat nomor satu, mungkin dia akan berkunjung ke rumahmu. Ayahmu sedang pergi ke tempat jauh. Apakah benar?"
Bong-kim tidak jauh letaknya dari rumahnya dia seperti melihat Coh Kim-sung sedang bertemu dengan istrinya di rumah.
Kie Lek-beng langsung melemparkan gelas araknya dan dengan cepat berlari pulang ke rumah.
Istrinya sedang tidak mengobrol atau dekat dengan Coh Kim-sung dia sedang mengobrol dengan Ong Toanio di kamar, percakapan yang terjadi di antara istrinya dan Ong Toanio membuktikan kecurigaan Kie Lek-beng selama ini.
Ong Toanio menasihati istrinya.
"Lupakan Coh Siauya, bersikap lebih baiklah kepada suamimu. jangan membiarkan suami seenaknya menyeleweng"
Dia mendengar percakapan ini, tapi dia tetap berusaha menahan-diri, yang membuatnya meledak marah adalah suara suling. Begitu Ongn Toanio mendengar suara suling itu, dia terkejut dan berkata.
"Nona, apakah kau sudah berjanji dengan Coh Siauya? Ini tidak boleh terjadi!"
Walaupun Song Eng-lam terus membantah, dia tidak mengatakan bahwa dia sudah berjanji dengan Coh Kim-sung.
Suara suling itu bukan ditiup oleh Coh Kim-sung, tapi Ong Toanio tidak percaya Song Eng-lam sudah tahu suara suling Coh Kim-sung.
Ong Toanio saja tidak percaya apalagi Kie Lek-beng, Kie Lek-beng mengira karena ketahuan oleh Ong Toanio istrinya tidak berami menemui orang yang dia cintai.
Istrinya masih saja terus membantah bahwa antara dia dan Coh Kim-sung hanya teman, tidak lebih dari itu.
Tapi dari kata-kata istrinya dia tahu bahwa istrinya masih merindukan Coh Kim-sung Karena rasa cemburu sudah membakar hatinya, dia tidak mendengar hal lainnya, dia bertekad akan menangkap kekasih gelap istrinya Dia berteriak.
"Hei orang she Coh! Aku sudah tahu siapa dirimu! Mau lari kemana kau!"
Orang itu tidak membantah bahwa dia bukan Coh Kim-sung; malah menotok jalan darah Kie Lek-beng dengan sebutir tanah yang buat.
Waktu itu ilmu silatnya belum tinggi, butiran tanah itu mengenai jalan darah kakinya, membuat kakinya tidak dapat bergerak dan orang langsung melarikan diri.
Dia sangat marah, begitu pulang dia langsung ingin membunuh' Song Eng-lam, bila bukan karena Paman Ting, Song Eng-lam sudah di cekik olehnya hingga mati.
Bila malam itu dia tidak mendengar suara suling, walau sudah tidak cocok dengan istrinya, dia tidak akan sampai mencekik istrinya.
Karena suara suling itu juga membuatnya mengalami nasib buruk selama puluhan tahun, karena suara suling itu juga membuatnya tidak berani pulang, akhirnya malah terseret menjadi setan yang dibenci orang-orang.
Dia kehilangan istri, kehilangan anak.
Ayahnya pun tidak mau mengakui dia sebagai anak lagi.
Dia selalu menyangka orang yang meniup suling itu adalah Coh Kim-sung, tidak disangka hari ini dia mendengar suara suling itu lagi dengan lagu yang sama.
Kie Lek-beng baru saja pergi dari rumah Coh Kim-sung, luka yang dalami Coh Kim-sung sangat parah, mungkin sekarang masih dalam keadaan tidak sadar.
Berarti orang yang meniup suling itu pasti bukan Coh Kim-sung.
Jantung Kie Lek-beng berdebar-debar, dengan langkah kaki yang ringan, dia mendekati suara suling itu.
Dia sudah melihat orang yang meniup suling itu, tapi pak kusir itu sudah menghilang, orang itu sedang mengangkat kepalanya, dia sudah menyelesaikan satu lagu.
Dia adalah laki-laki setengah baya, umurnya hampir sama dengan Coh Kim-sung tapi wajahnya penuh dengan cambang Wajahnya pun tidak seperti Coh Kim-sung begitu tampan dan sopan.
Setelah lewat 20 tahun orang misterius itu baru muncul!
Kebencian selama 20 tahun langsung timbul.
"Siapakah orang itu? Mengapa dia harus pura-pura menjadi Coh Kim-sung? Membuatku harus berpisah dengan istri dan anak!"
Kie Lek-beng sudah tidak dapat menahan kemarahannya, dia berteriak.
"Dulu kau memberiku 3 butiran tanah, sekarang aku kembalikan 3 keping uang untukmu!"
Kie Lek-beng mengeluarkan tenaga jari, menjadikan 3 keping uang menjadi Piau, kemudian melemparkannya kepada orang itu.
Walaupun dia masih tersisa 20 % tenaga, tapi piau itu tetap melaju dengan kencang.
Dua puluh tahun lalu, ilmu silat orang ini berada di atasnya, hanya dengan gumpalan tanah bisa menotok jalan darahnya, dan sekarang ini Kie Lek-beng menggantikannya dengan keping uang logam lapi mempunyai tujuan yang sama, yaitu berniat menotok jalan darahnya.
Orang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Gumpalan tanah tidak berharga, Kie Toako mengembalikannya dengan bentuk uang, hadiah ini terlalu besar untukku, aku tidak berani menerimanya."
Sambil tertawa dia mengayunkan sulingnya dan memukul jatuh 3 keping uang logam yang menyerangnya.
Kie Lek-beng adalah seorang pesilat, dia tahu bila dia tidak terkuras tenaganya masih bisa mengalahkan orang itu, atau dia bila masih mempunyai setengah dari ilmu silat yang tersisa, Kie Lek-beng dapat menahan serangannya, paling sedikit kedudukan mereka bisa seri.
Tapi tenaganya hanya tersisa 20% sekarang ini, dengan tenaga itu sudah pasti tidak bisa mengalahkan orang itu.
Tapi nasib buruk yang menimpanya selama 20 tahun ini semuanya karena orang itu, apakah dendam ini tidak dapat dibalaskan?
Sifat Kie Lek-beng sangat keras, walaupun masa lalu membuatnya berlaku nekad, meski tahu dia tidak dapat mengalahkan orang itu, dia tetap harus melawannya.
Kie Lek-beng meletakkan Eng-lam dibawah kemudian dia mencabut pedang dan berkata.
"Siapa kau? Sepertinya aku dan kau tidak mempunyai dendam, mengapa dulu kau mencelakaiku? Cepat katakan alasanmu!"
Orang itu tertawa dan menjawab.
"Kie Toako, kita masih ada hubungan keluarga, jangan berbuat tidak sopan kepadaku!"
Kie Lek-beng tampak marah dan berkata.
"Kurang ajar! Aku dan kau tidak mempunyai hubungan apa pun. Kau kira kau telah menguasaiku sekarang? Jangan mimpi! Paling-paling kita akan mati bersama-sama!" ---ooo0dw0ooo---B. Kim-ho Orang itu tertawa dan berkata.
"Kami suami istri berniat baik mengundangmu datang kemari, tapi kau malah ingin bertarung mati-matian denganku, untuk apa?"
Setelah habis kata-katanya, istrinya muncul.
Seorang perempuan setengah baya yang cantik dan genit muncul di hadapan Kie Lek-beng, membuatnya terkejut dan terpaku.
Perempuan cantik ini adalah kekasih gelap Kie Lek-beng yaitu Bok Koan-koan, perempuan cantik itu berkata.
"Keluarga yang baru kenal, sudah bertengkar, peristiwa ini sangat lucu bukan?"
Dengan marah Kie Lek-beng berkata.
"Kau, kau adalah..."
Kie Lek-beng sudah tahu perbedaan Bok Koan-koan dan perempuan itu, Kie Lek-beng sudah tahu siapa perempuan genit itu. Benar saja perempuan cantik itu tertawa dan berkata.
"Mengapa kau tidak mengenal kakak dari istrimu? Walaupun kita baru bertemu 2 kali, tidak seharusnya kau melupakan aku."
Bok Koan-koan memang mempunyai kakak kembar, bersaudara ini wajahnya sangat mirip, hanya ada perbedaan satu-satunya yang tidak sama adalah pada saat Bok Koan-koan tertawa dia mempunyai lesung pipit, dan kakaknya tidak ada.
"Kau adalah Kim-ho, Bok Hoo-hoo."
Bok Hoo-hoo menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Adik ipar, kau sungguh keterlaluan, begitu bertemu langsung memanggilku dengna julukan jelek itu, apakah kau tidak merasa kurang sopan? Tapi paling sedikit kau masih mengingatku, bila tadi kalian tidak "bertengkar, kita tidak akan saling kenal, kau belum pernah bertemu dengan 'kakak iparmu. Berilah hormat kepadanya, dia adalah suamiku. Marganya U-bun, bernama Cong."
Kata Kie Lek-beng.
"Dua puluh tahun lalu kami pernah bertemu, ternyata dia adalah Ketua Fek-toh-san, dia sangat terkenai di dunia persilatan, tidak disangka orang yang terkenal ini selalu melakukan hal secara sembunyi-sembunyi ruk menjebak orang."
Bok Hoo-hoo tertawa dan berkata.
"Adik ipar, kau jangan menyalahkannya! Masalah 20 tahun yang lalu, akulah yang menyuruh dia melakukannya "
Perkataan Bok Hoo-hoo membuat kemarahannya semakin bertambah, dengan dingin dia berkata.
"Ternyata kau pun bersekongkol dengan kusir itu!"
Kata Bok Hoo-hoo.
"Benar, dia adalah pelayanku jangan salahkan dia karena dia tidak memberitahumu, bila tidak bagaimana aku bisa mengundangmu agar mau datang ke rumahku?"
Kata Kie Lek-beng dengan marah.
"Apakah jarum beracun yang berada di tubuh Eng-lam kau yang melepaskannya?"
Bok Hoo-hoo tertawa dan berkata.
"Aku sangka kau sudah tahu, apakah tadinya kau sangka yang melakukannya adalah Bok Koan-koan?"
Mata Kie Lek-beng seperti ada kobaran api, dengan marah dia berkata.
''Mengapa kau begitu kejam?
Masih belum cukupkah sudah mencelakaiku?
Sekarang kau mau mencelakai dia, mengapa kau ingin mencelakainya?"
Dengan tertawa Bok Hoo-hoo menjawab.
"Adik ipar, kau benar-benar tidak tahu alasannya atau pura-pura tidak tahu ?"
Jawab Kie Lek-beng.
"Dasar tidak tahu malu! Siapa yang sudi menjadi adik iparmu?"
Bok Hoo-hoo tidak marah, malah berkata.
"Mengapa aku melepaskan jarum beracun kepada Song Eng-lam, kau sendiri sudah menyebutkan alasannya "
"Ini tentu ide Bok Koan-koan, dia mengira bila bisa membunuh Song Eng-lam, aku akan mau menikah dengannya."
Kata Bok Hoo-hoo.
"Kali ini datang ke ibukota aku belum sempat bertemu dengan Koan-koan, tapi aku sudah tahu hubungan kalian, aku tidak tega melihat kau meremehkan Koan-koan."
Kie Lek-beng menarik nafas dan berkata.
"Dengarkan aku dulu..."
Dengan suara besar dan tinggi Bok Hoo-hoo memotong kata Kie Lek-beng.
"Aku ingin kau yang mendengar kata-kataku, aku ingin tanya kepadamu, dalam hal apakah Koan-koan tidak baik kepadamu? Waktu kau hampir mati bila bukan karena Koan-koan mengurusmu 10 tahun yang lalu kan pasti sudah mati, dia sangat mencintaimu, tapi kau tega meninggalkannya Song Eng-lam sudah menikah dengan orang lain, tapi kau masih menganggapnya sebagai benda kesayanganmu! Ayo katakan bukankah ini yang disebut meremehkan Koan-koan?"
Jawab Kie Lek-beng.
"Antara aku dan Bok Koan-koan, kau tidak akan mengerti hubungan kami seperti apa, memang benar dia sudah menolongku, tapi karena dia nama baikku pun sudah hancur, apakah aku menyalahkannya? Atau dia yang merasa bersalah kepadaku? Sekarang tidak perlu bicara lagi?"
Kata Bok Hoo-hoo.
"Kau tidak ingin membicarakannya, tapi aku ingin!"
Kie Lek-beng sangat marah dan berkata.
"Sekarang aku tidak mempunyai waktu untuk mengatakan siapa yang bersalah dan siapa yang benar! Aku hanya minta biarkan aku pergi dari sini!"
Kata Bok Hoo-hoo.
"Dengan susah payah aku mengundangmu datang ke sini, kau kiran dengan begitu mudah aku akan membiarkanmu pergi dari sini?"
Dengan suara berat Kie Lek-beng berkata.
"Walaupun tidak boleh pergi, aku akan tetap pergi, apakah kalian mempunyai cara untuk menahanku agar tidak pergi? Ayo, kalian berduri majulah dan bertarung denganku!"
Dengan dingin Bok Hoo-hoo berkata.
"Mungkin kami tidak bisa menahan kepergianmu, tapi kau pun tidak akan sanggup membawa Song Eng-lam pergi dari sini. Kami memang tidak sanggup membunuhmu, tapi bila membunuh Song Eng-lam itu adalah hal yang mudah, seperti membalikkan telapak tangan."
Hal ini membuat Kie Lek-beng bertambah marah, tapi dia terpaksa meminta kelonggaran dari mereka.
"Kau hanya ingin aku dan adikmu berbaikan kembali, tapi bila ka membunuh Song Eng-lam, aku akan lebih membencimu juga kepada adikmu!"
Kata Kie Lek-beng.
"Aku tidak peduli, kau yang tidak mempunyai perasaan, beri tahu kepadamu. Kami, suami istri mungkin tidak bisa membunuhmu tapi bila membunuh putrimu itu akan sangat mudah, kecuali hari ini kau bisa pembunuh kami berdua terlebih dahulu. Bila tidak lihat saja..."
Kie Lek-beng tahu diri, dia tahu ilmu silatnya belum pulih, bila mereka suami istri bergabung, dia tidak akan bisa membunuh mereka, apalagi untuk mengajak mati bersama-sama dengan mereka!
Bok Hoo-hoo seperti bisa menebak pikirannya, dia berkata.
"Song Eng-lam sudah terkena racun, setelah lewat 6 jam bila bukan kau yang memasukkan tenaga dalam ke tubuhnya, dia sudah mati sejak tadi. Kata-kata ini bukan ancaman, tapi sekarang Kie Lek-beng sudah hampir kehabisan tenaga, dia pun tidak dapat menjamin keselamatan nyawa Song Eng-lam, apalagi pada saat memasukkan tenaga dalam harus berkonsentrasi penuh, sedang sekarang dalam keadaan seperti ini Kie Lek-beng sama sekali tidak bisa mengeluarkan racun dari tubuh Song Eng-lam. Dengan sedih Kie Lek-beng berkata.
"Song Eng-lam tidak dapat bertahan hidup lagi, aku pun tidak ingin hidup sendiri, baiklah biarkan aku mati bersamanya!"
Kie Lek-beng sudah siap mempertaruhkan nyawanya dengan cara bertarung Dengan dingin Bok Hoo-hoo berkata.
"Kau begitu perhatian kepada Song Eng-lam, tapi sayang ini sama sekali tidak berguna, pengorbananmu akan sia-sia belaka!"
"Aku dan Eng-lam tidak akan mati sia-sia!"
Kata Kie Lek-beng.
"Tidak ada yang menyuruhmu mati!"
Kata Bok Hoo-hoo.
"Bila Eng-lam mati, aku pun tidak mau hidup sendiri."
Bok Hoo-hoo tertawa dan berkata.
"Sekarang kau mau menolongnya pun sudah terlambat, tapi bila kau tidak dapat menolongnya bukan berarti dia harus mati."
Ujung pedang Kie Lek-beng sudah diturunkan, dia bertanya.
"Apa maksudmu?"
"Apakah kau sudah lupa dia terkena racunku? Kau tidak mempunyai obat penawar, tapi aku punya. Asalkan dia masih bisa bernafas aku masih bisa menolongnya, aku jamin besok dia sudah bisa kembali ke sisi suaminya."
U-bun Ciong yang sejak tadi hanya diam, sekarang ikut bicara .
"Hoo-hoo, kau harus bicara lebih jelas, suami yang kau maksud adalah Coh Kim-sung bukan? Bukan Kie Siauya?"
Kata Bok Hoo-hoo.
"Tuan Kie, bila kau mau Song Eng-lam kembali ke sisi suaminya, kita buat suatu perjanjian, bagaimana"
"Perjanjian apa?"
"Syarat yang kami ajukan harus kau setujui, sesudah itu aku akan segera memberikan obat penawarnya kepada Song Eng-lam."
Kata Kie Lek-beng.
"Baiklah, syarat apa yang kalian ajukan? Asalkan aku bisa mengabulkannya, aku pasti akan setuju."
Kata Bok Hoo-hoo.
"Kami akan biarkan Song Eng-lam pergi, tapi kau harus tinggal di sini, bila tidak diijinkan oleh kami kau tidak boleh meninggalkan tempat ini!"
Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.
"Kalian ingin seumur hidup aku menjadi tahanan kalian!"
"Belum tentu, bila kau menurut dan bernasib mujur, mungkin saja besok kau sudah boleh pergi."
"Aku harus berbuat bagaimana?"
Tanya Kie Lek-beng.
"Jujur saja, aku benci kepadamu karena kau menganggap remeh kepada Bok Koan-koan, tapi dia benar-benar menyukaimu, aku berharap kau bisa kembali lagi kepadanya, aku ingin kita menjadi keluarga, tidak menginginkan kau menjadi tahanan kami."
Kata Kie Lek-beng.
"Dari tadi kau bicara berputar-putar, intinya kau ingin aku menikah dengan Bok Koan-koan bukan?"
"Benar, pernikahan kalian harus meriah dan menjalankan upacara adat, sesudah kau menjadi adik iparku, aku tidak akan membuatmu susah dan kau pasti sudah bebas. Tapi saat ini kami pun tidak tahu di mana bisa menemukan Bok Koan-koan, jadi semua ini tergantung kepada nasibmu!"
Kie Lek-beng sudah memperkirakan syarat-syarat ini, tapi pada saat dikatakan oleh Bok Hoo-hoo masih saja membuat hatinya menjadi kacau.
Dia tidak dapat langsung memutuskan bahwa dia tidak mempunyai perasaan terhadap Bok Koan-koan.
Memang dia tidak dapat melupakan kebaikan Bok Koan-koan, pada saat dia berkata ingin berpisah dengan Bok Koan-koan dia berjanji bila Bok Koan-koan dihina oleh orang lain atau ada yang bisa dia bantu, walaupun nyawa taruhannya, dia akan membela Koan-koan.
Tapi dia tidak mau hidup tanpa ikatan pernikahan.
Dia menyesal hidup seperti itu, dulu dia sudah banyak melakukan kesalahan, walaupun semua bukan karena Bok Koan-koan tapi banyak kesalahannya juga dikarenakan Bok Koan-koan.
Kehidupan Bok Koan-koan dan kehidupannya dulu sungguh berbeda, seperti hidup di dua dunia, di depan mata ayahnya dan di depan mata Eng-lam atau pun di depan mata semua orang dunia persilatan, Bok Koan-koan adalah perempuan rendah.
Mungkin Bok Koan-koan tidak begitu jahat, tapi dia tumbuh besar di lingkungkan seperti itu, banyak atau sedikit akan melekat sifat-sifat yang buruk.
Bila ada orang dari kalangan lurus menghinanya, dia dengan sengaja akan melakukan hal yang lebih jahat lagi, pada waktu Kie Lek-beng hidup bersama Bok Koan-koan, dia pun seperti itu.
Makin dia melangkah semakin menyimpang, akhirnya malah sekalian berbuat kejahatan, bila terus bersama-sama dengan Bok Koan-koan, hidupnya akan semakin gelap Ayahnya tidak mau memaafkannya, mantan istrinya pun tidak sudi memaafkannya, putri yang belum pernah dia temui pun belum tentu mau memaafkannya.
Pukulan ini sangat besar untuknya Tapi, walaupun keluarganya tidak bisa memaafkannya, suatu hari mereka akan menerima rasa penyesalannya yang dalam ini.
Ada pepatah mengatakan.
sekali terjerumus menjadi penyesalan seumur hidup, ketika ingin kembali umurpun sudah tua.
Sekarang dia sudah tenggelam dan sulit kembali seperti semula tapi dia tidak boleh semakin terjerumus.
Dia ingin keluar dari perangkap ini, tapi Bok Hoo-hoo memaksanya kembali lagi seperti dulu.
Bila dia tidak setuju, nyawa Eng-la tida akan tertolong.
Eng-lam kah yang bersalah kepadanya?
Atau dia yang bersalah kepada Eng-lam.
Perhitungan ini tidak akan selesai-selesai, dia pun sudah tidak mau memperhitungkannya lagi.
Sekarang yang ada hanya rasa penyesalan.
Paling sedikit sekarang dia jangan memperlakukan Eng-lam dengan kejam.
Eng-lam hampir mati dicekik olehnya begitu pula dengan putrinya yang masih berada dalam kandungan.
Dia malu kepada Eng-lam juga kepada putrinya.
Sekarang dia hanya mempunyai suatu pemikiran, tidak ingin karena rasa egoisnya nyawa Eng-lam tidak tertolong.
Dengan tertawa dingin Bok Hoo-hoo berkata.
"Aku tahu kau menganggap remeh kepada saudaraku, aku pun tidak mau mengemis cinta untuk adikku. Bila kau tidak mau menikah dengan adikku, terus terang saja!"
Dengan tertawa kecut Kie Lek-beng berkata.
"Aku tidak menghina adikmu sama sekali, tapi ini adalah masalah perjodohan, aku dan adikmu sudah habis perjodohannya. Aku sudah jelaskan ini semua kepada adikmu, bila aku ingin menikah dengannya, dia belum tentu mau menikah denganku, aku telah melukai hatinya, dan aku tahu dia juga benci kepadaku."
"Aku pun tidak memaksa kau harus menikah dengannya, asal dia mau memaafkanmu, aku pun akal melepaskanmu."
"Bila dia tidak mau memaafkanku, bagaimana?"
"Aku tidak bisa bilang apa-apa, tapi kau harus tahu bahwa kah ini aku sudah memberi kelonggaran, tapi bila kau menghina kembali Koan-koan, aku akan membantunya membalaskan dendam."
Matahari sudah terbit, sudah hampir 7 jam Song Eng-lam terkena jarum beracun, Kie Lek-beng melihat di daerah alis Song Eng-lam kembali menghitam.
Sudah tidak dapat mengulur waktu lagi!
Dengan tekad yang kuat Kie Lek-beng berkata kepada Bok Hoo-hoo.
"Baiklah, aku akan terima semua syaratmu!"
Segera Bok Hoo-hoo tertawa dan bertepuk tangan.
"Pak kusir yang membawamu kemari akan datang membawa f sebuah baki, di dalam baki ada 3 gelas arak, arak itu untuk merayakan kembalinya Bok Koan-koan kepada Kie Lek-beng dan kami suami istri memberi selamat kepada kalian."
Bok Hoo-hoo memberikan secangkir arak kepada Kie Lek-beng.
Kie Lek-beng menerimanya, tapi jarinya bergetar.
Dia tahu bila dia meminum arak itu maka setelah meminumnya dia akan menjadi budak Bok Hoo-hoo.
Bok Hoo-hoo tertawa dan berkata.
"Aku sangat berharap kau bisa menjadi adik iparku, aku tentu tidak akan memberikan arak yang beracun kepadamu, tapi ilmu silatmu terlalu tinggi tentu saja aku harus waspada. Arak ini tidak akan membuatmu mati, tapi bisa membuatmu tidak dapat meninggalkan tempat ini, bila kau mempunyai niat yang baik, silakan minum arak ini!"
"Apakah kau mau memusnahkan ilmu silatku?"
"Maaf, aku tidak bisa mengatakan obat apa yang kupakai. Bila kau sudah minum arak ini kau akan menepati janjimu tapi demi keselamatanmu,; aku akan memberitahumu ini arak apa. Arak ini tidak akan memusnahkan ilmu silatmu."
Memang benar dalam perhitungan Bok Hoo-hoo dia ingin menjadikan Kie Lek-beng menjadi budaknya.
Dalam keadaan seperti itu .
apakah Kie Lek-beng masih bisa memilih yang lain?
"Bila aku sudah berjanji, 4 ekor kuda pun tidak dapat menarik perjanjian ini, walaupun aku bukan seorang sejati, tapi janji yang sudah kuucapkan tidak akan kusesali, aku sudah menyetujui perjanjian ini, paling-paling seumur hidupku akan menjadi budak kalian.
Baiklah, bawa arak itu ke hadapanku!"
Kie Lek-beng menerima cangkir arak itu, tapi kata-katanya sangat menyorotkan kesedihan.
Tapi begitu dia menerima cangkir itu, dia tidak langsung minum.
Jarinya masih tetap bergetar, sorot matanya terpaku pada cangkir itu, dia seperti memikirkan sesuatu.
' "Kenapa?
Apakah kau masih tidak percaya kepadaku?"
Tanya Bok Hoo-hoo.
"Bukan aku tidak percaya kepadamu, tiba-tiba aku teringat pada suatu hal, sebaiknya kita bicara dulu,"
Kata Kie Lek-beng. Bok Hoo-hoo juga terpaku dan bertanya.
"Masih ada hal yang membuatmu tidak tenang, ayo katakan saja!."
"Tadi kau mengatakan mengenai putriku kau mengatakan..."
"Aku sudah tahu, kau ingin membicarakan apa yang telan kukatakan tadi, bila kau tidak mau menuruti syarat-syaratku, aku meman tidak bisa membunuhmu, tapi untuk membunuh putrimu itu sangat mudah. Sekarang kau sudah menyetujui syaratku, maka aku tidak akan membuat susah putrimu."
Kata Kie Lek-beng.
"Benar, aku memang ingin mendengar kata-katamu yang tadi."
Tapi Kie Lek-beng pun tidak langsung meminum arak itu, dia tampak berpikir sebentar kemudian berkata.
"Aku masih ingin mengetahui suatu hal."
Bok Hoo-hoo mengerutkan dahi dan berkata.
"Kau masih ingin tahu tentang apa?"
"Apakah kau sudah lama mengenal putriku?"
"Aku sudah berjanji tidak akan membuat susah putrimu, kenal atau tidak, apa hubungannya dengan semua ini?"
Jawab Kie Lek-beng.
"Kemarin malam setelah kau melukai Song Eng-lam dengan jarum beracun, putriku pun datang ke rumah Coh Kim-sung, dia bertemu denganku. Sebenarnya kau sudah tahu keadaan putriku bukan?" 'Kemarin malam aku menotok jalan darah Kie Su-giok dengan senjata rahasia. Apakah dia sudah tahu bahwa orang itu adalah aku dan memberitahu kepada ayahnya?"
Tapi setelah Kie Lek-beng bertanya seperti itu, kekhawatirkannya langsung menghilang dalam hati dia berpikir lagi.
"Bila Kie Lek-beng tahu dia tidak akan bertanya seperti itu."
Bok Hoo-hoo tertawa dan berkata.
"Benar, aku sudah bertemu dengan putrimu, tapi aku tidak akan melukainya kau masih mengkhawatirkan apa lagi?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau sudah tahu keberadaannya?"
"Apakah kau ingin aku mengundang putrmu datang ke sini juga? Membiarkan ayah dan anak saling bertemu di sini?"
Kata Kie Lek-beng.
"Tidak, tidak! Aku harap kau jangan mengganggunya, aku hanya ingin tahu dia tinggal di mana? Bersama siapa?"
Yang dimaksudnya dengan 'siapa' adalah Hui-thian, tapi dia tidak akan memberitahukannya kepada Bok Hoo-hoo. Kata Kie Lek-beng.
"Apakah kau takut aku akan membuat dia terjerumus? Putrimu diibaratkan teratai putih, yang hidup di sebuah kolam koltr. Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggunya, aku pun tidak tahu keberadaannya."
Kie Lek-beng menarik nafas dan berkata.
"Aku dan kalian dua saudara kembar sudah penuh dengan kekotoran."
"Sudah jangan mengomel lagi Song Eng-lamsedang menunggu obat penawarnya."
Kie Lek-beng tertawa kecut, dia mengambil cangkir arak itu dan meminumnya sampai habis. Bok Hoo-hoo terus melihatnya, begitu dia minum sampai habis, Bok Hoo-hoo tertawa dan berkata.
"Putrimu sangat cantik, tapi kau tidak mengijinkanku mengganggunya bila tidak aku akan mengangkat dia menjadi anak angkat"
Kata Kie Lek-beng.
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak, aku pun tidak pantas menjadi ayahnya, apalagi dirimu, mana pantas menjadi ibu angkatnya? Cepat berikan obat penawarnya kepada Song Eng-lam."
"Baik, baiklah!"
Dia memasukkan obat penawar itu ke dalam mulut Song Eng-lam, tapi dia tertawa dan berkata.
"Aku pasti tidak pantas menjadi ibu angkatnya? Tapi bila aku menginginkannya tidak apa-apa bukan, kau sungguh keterlaluan!"
Kie Lek-beng tidak tahu bahwa putrinya sudah masuk ke dalam perangkap Bok Hoo-hoo bahkan sudah menjadi anak angkatnya.
Wajah Song Eng-lam semakin bersemu merah, tiba-tiba dia membuka mulut dan memuntahkan darah yang bercampur dengan darah Kata Bok Hoo-hoo.
"Dia akan segera sembuh dan sebentar lagi akan siuman, aku kira lebih baik kalian jangan bertemu supaya dia tidak tertekan. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan melukainya, karena aku ingin kau menjadi adik iparku, bila kau sudah menepati janji, aku pun demikian!"
Hati Kie Lek-beng terasa sakit, dia berpikir.
"Benar juga dengan kata-katanya, Song Eng-lam sudah lama menjadi istri Coh Kim-sung, aku tidak pantas bertemu dengannya lagi, baiklah aku akan menuruti kemauannya!"
"Suamiku, bawalah adik ipar ke belakang, aku akan menemani Coh hujin. Lo-sam, apakah kau sudah membereskan kamarnya?"
"Dari tadi sudah kubereskan."
Kata Bok Hoo-hoo.
"Kalau begitu, masing-masing jalankan tugasnya. Coh hujin harus diobati lagi tapi paling terlambat besok dia sudah harus pergi dari sini."
Kata Ketua Pek-toh-san, U-bun Chong.
"Sudah kau jangan cerewet, adik ipar, mari ikut aku!"
Kie Lek-beng mengikuti U-bun Chong masuk ke dalam, dia sempat melihat Song Eng-lam, hatinya terasa sedih, dalam hati dia berpikir, 'Mungkin kita tidak akan bertemu lagi.' Masa lalu seperti asap, setelah melakukan kesalahan sulit untuk kembali!
Kie Lek-beng sangat menyesal dia ingin menukar nyawanya dengan nyawa Song Eng-lam.
Yang membuatnya lebih sakit adalah putrinya, bila dia berhadapa dengan Song Eng-lam perasaan yang timbul adalah penyesalan.
Tapi terhadap putrinya kecuali rasa sesal, dia sangat ingin menebus dosanya.
Dia tahu orang yang dicintai oleh Song Eng-lam bukan dirinya, di pun bukan karena cinta berubah menjadi dendam.
Yang pasti adalah bahwa harga dirinya sudah terluka.
Karena itu walaupun dia sudah tidak dapat bertemu dengan Song gngjam, walaupun hatinya terasa sedih, tapi luka hatinya tidak terlalu dalam, dia percaya waktu akan menyembuhkan lukanya.
Melalui pertarungan antara hidup dan mati, dia bisa menerimanya, bisa menerima istrinya sudah menikah dengan Coh Kim-sung, walaupun perasaan sedih itu masih ada Tapi melihat putrinya yang tidak mau mengakuinya sebagai ayah, dia tidak tahan!
Pukulan ini baginya lebih parah dibanding tidak dapat menerima cinta dari istrinya Tidak dapat bertemu lagi dengan mantan istri itu tidak apa-apa, bila tidak dapat bertemu dengan putrinya lagi, hatinya seperti disayat dengan pisaa Kie Su-giok masih menangis, Coh Thian-su melihatnya, dia pun ikut sedih tapi dia pun tidak ada waktu untuk menghiburnya.
Ayahnya, Coh Kim-sung sudah sadar, dorongan darah yang dilakukan oleh Kie Lek-beng tepat pada waktunya, walaupun sudah sadar dia masih tidak bisa duduk, rapi dia tahu bahwa nyawanya haru diambil kembali.
Dia membuka mata dan istrinya sudah hilang.
"Bagaimana keadaan Guru Yu He-cu?"
Dengan suara yang terpatah-patah dan seperti suara nyamuk Coh Kim-sung bertanya kepada Coh Thian-su.
Coh Thian-su harus menempelkan telinganya mendekati mulut ayahnya, baru bisa mendengar dengan jelas.
Dia tidak menanyakan istrinya karena dia sudah tahu bahwa istrinya dibawa oleh Kie Lek-beng, tapi Kie Lek-beng pun sudah menolongnya mengambil nyawanya kembali dari pintu kematian, apa yang harus dia katakan lagi?
Dia hanya bisa mengubur kesedihannya di dalam hati, menganggap bahwa istrinya sudah meninggal.
"Ayah tenang saja, aku sudah memberikan obat kepada Guru Yu He-cu, walaupun obatnya belum tentu cocok, tapi paling sedikit nyawanya masih bisa tertolong,"
Jawab Coh Thian-su.
Coh Kim-sung melihat putranya, seperti masih ingin bertanya, tapi dia tidak uieiiipuiiyai tenaga uiiiuk bicara lagi.
Tapi Coh Thian-su sudah tahu bahwa ayahnya ingin menanyakan apa Ayahnya pasti merasa aneh, mengapa dia mempunyai obat penawar dari Keluarga Bok, walau obat itu belum tentu cocok.
Tapi dia tidak bisa memberitahukan semua ini kepada ayahnya bahwa obat itu diberikan oleh Kie Yan-gan kepadanya.
Kie Yan-gan adalah ayah dari musuh Coh Kim-sung.
Waktu itu dia terkena jarum beracun milik Kim-ho, Kie Yan-gan mengeluarkan racun dengan menghabiskan tenaga dalam yang sudah tersimpan selama beberapa tahun untuk menolong nyawa Coh Thian-su, karena masih ada racun yang tersisa, pada saat dia akan berangkat Kie Yangan memberikan dua botol obat, yang satu untuk menawarkan racun dan yang satu lagi untuk menguatkan tubuhnya.
Hasilnya membuktikan bahwa obat itu sangat manjur.
Obat yang pertama, sudah menolong nyawa Guru Yu He-cu, melihat sorot matanya yang aneh, dia teringat lagi pada botol obat yang kedua.
Kedua botol itu disimpan di balik bajunya, bukan ada 2 botol melainkan ada 3 botol, ketiga botol itu bentuk dan ukurannya sama.
Bila dengan meraba tidak akan bisa membedakannya, terpaksa dia mengeluarkan dua botol obat yang tersisa.
Ternyata yang satu botol lagi adalah Su-kut-san, pemberian Bok d Koan-koan.
Dia mengeluarkan obat penguat itu dan mengambil sebutir untuk ayahnya.
Coh Thian-su berkata.
"Ayah, minumlah obat ini dulu, nanti aku akan menerangkan obat ini berasal dari mana "
Bila Coh Kim-sung tahu dari mana asal obat ini, dia pasti tidak akan mau meminumnya.
Tapi sekarang ini putranya sudah memasukkan obat itu ke dalam mulutnya, dengan terpaksa dia menelannya.
Tapi luka Coh Kim-sung terlalu parah, walaupun obat itu sangat bagus, tidak dapat segera memulihkan seluruhnya tapi paling sedikit Coh Kim-sung sudah bisa mengumpulkan tenaga, dan dia pun bisa duduk.
Coh Thian-su membereskan lagi obat Su-kut-san, dia memikirkan kembali kata-kata Bok Koan-koan.
Obat ini diberikan oleh Bok Koan-koan kepadanya pasti ada tujuan tertentu, tujuannya adalah mendapatkan kembali Kie Lek-beng, tapi pertama-tama ilmu silat Kie Lek-beng harus dimusnahkan, karena itu diaai meminta bantuan kepada Coh Thian-su untuk meracuni Kie Lek-beng.
Coh Thian-su masih ingat waktu dia hanya tertawa dan berkata.
"Kie Lek-beng adalah seorang pesilat tangguh, bagaimana aku bisa meracuninya?"
Jawab Bok Koan-koan.
"Kau meracuni dia dengan tangan orang lain, walaupun Kie Lek beng tahu dia tidak akan membunuh orang itu."
Ternyata Bok Koan-koan sudah mempunyai orang pilihan dan dia adalah putri Kie Lek-beng, Kie Su-giok.
Rencana ini sudah pasti yaitu memperalat Kie Su-giok dan Coh Thian-su.
Saat itu dia tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan kepada Bok Koan-koan bahwa hubungannya dengan Kie Su-giok adalah teman dia hanya menertawakan rencana Bok Koan-koan yang terlalu mengada-ada putrinya sendiri mana mau membantu orang lain meracuni ayahnya.
Tapi Bok Koan-koan berkata bahwa dia melakukan semua ini bukan karena ingin mencelakai Kie Lek-beng malah sebaliknya untuk menolong Kie Lek-beng, bila dia memberitahu kepada Kie Su-giok, maka Kie Su-giok pasti akan percaya kepadanya.
Waktu itu dia hanya menganggap rencana Bok Koan-koan terlalu mengada-ada, walaupun obat ini disimpan di balik bajunya, tapi dia tidak akan memberikannya kepada Su-giok Sekarang dia sedang memegang botol obat itu, hatinya pun mulai tergerak.
Bila memusnahkan ilmu silat Kie Lek-beng, ayahnya tidak akan mempunyai musuh seperti Kie Lek-beng iagi, ini adalah alasannya yang kesatu, alasan kedua, Bok Koan-koan pun bisa mendapatkan kembali orang yang dicintainya.
Kie Lek-beng pun tidak akan melakukan kejahatan lagi, ini adalah alasan ketiga Alasan ke empat bila Kie Lek-beng sudah kembali ke dalam pelukan Bok Koan-koan, ibu tirinya pasti akan kembali lagi kepada ayahnya.
Walaupun banyak kebaikannya, tapi Coh Thian-su merasa berbuatan ini adalah perbuatan orang berhati kerdil, malah bisa disebut kejahatan.
"Aku adalah laki-laki sejati, mengapa harus membantu Bok Koan-koan melakukan rencananya?"
Tapi dia tidak tega melihat ayahnya yang bersedih karena kehilangan istri tercinta, dia juga tidak tega melihat Kie Su-giok menjadi sedih karena menganggap ayahnya sudah mati.
Sekarang Coh Kim-sung sudah bisa duduk, dia melihat putrinya yang masih belum sadar, dan juga melihat Kie Shu Giok-yang masih menangis, tanpa sadar dia pun meneteskan air mata Hanya Coh Thian-su yang bisa mengerti perasaan ayahnya dan Kie Su-giok.
Hati Coh Kim-sung seperti perasaan putranya, begitu bergejolak.
Kie Lek-beng hampir membunuhnya, menculik istrinya, tapi terakhir Kie Lek-beng pula yang menolong nyawanya.
Bagaimana cara memperhitungkan dendamnya?
Dalam hati Coh Kim-sung berpikir seperti itu.
Sekarang dia sudah agak sadar, walaupun hatinya masih tidak tenang, tapi dendamnya mulai berkurang.
Terhadap Kie Lek-beng dia bisa iucuiahaim seiuua kelakuannya, apalagi terhadap putri Kie Lek-beng.
Bila bukan karena KieShuGiok-yang terus menerus menghalangi ayahnya, mungkin Coh Kim-sung dan putranya sudah mati di tangan Kie Lek-beng.
Yang lebih membuatnya bingung adalah dia pernah menyuruh putranya membunuh Kie Su-giok, tapi pada saat nyawanya terancam dia malah ditolong oleh Kie Su-giok, dengan cara menyuruh ayahnya menolong dia, menariknya kembali dari bahaya kematian.
"Sebenarnya aku tidak mau menerima kebaikannya, tapi aku malah menerimanya"
Antara dia dan Kie Lek-beng ada dendam yang tidak dapat diperhitungkan.
Tidak bisa mengatakan siapa yang berhutang kepada siapa, tapi terhadap Kie Lek-beng, sekarang ini Coh Kim-sung merasa berhutang budi.
Terhadap Kie Lek-beng dia bisa memahami semua perbuatannya tapi terhadap Kie Su-giok dia merasa malu, yang bisa minta maaf hanya dia, Coh Kim-sung.
Coh Thian-su melihat ayahnya membuka mulut seperti ingin mengatakan sesuatu, dia mendekatkan telinganya ke mulut ayahnya Kata-kata Coh Kim-sung sangat lambat, tapi terdengar jelas di telinga Coh Thian-su.
Kata ayahnya.
"Tolong beritahu kepada Nona Kie, aku bersalah kepadanya, aku jadi tidak enak hati, kau harus bantu aku membalas budi kepadanya."
Coh Thian-su berjalan ke arah Kie Su-giok dan berkata.
"Su-giok, ayahmu bukan orang jahat, walaupun dia banyak melakukan kesalahan, tapi aku tahu sifat aslinya sangat jujur dan baik, kita jangan seperti orang lain menganggap dia adalah setan jahat."
Coh Thian-su tahu bahwa Kie Su-giok sangat sedih.
Kata-katanya yang tadi tidak akan berdampak apa pun, tapi sakit hatinya tetap harus diobati.
Benar Kie Lek-beng sudah menculik ibu tirinya, juga hampir membunuh ayahnya, dendam di antara 2 keluarga ini sulit untuk didamaikan.
Dia juga tahu ayahnya masih membenci Kie Lek-beng tapi dia percaya rasa benci ayahnya kepada Kie Lek-beng seperti dirinya akan i semakin berkurang.
Begitu dia mengatakan bahwa Kie Lek-beng bukan orang jahat dia pun mencuri pandang melihat ayahnya yang sedang memejamkan mata seperti berpikir, tapi wajah ayahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, dia juga tidak terlihat tidak senang.
Coh Thian-su menjadi agak tenang, pembicaraannya selanjutnya pun menjadi lancar.
Kata-kata Coh Thian-su membuat Kie Su-giok berhenti menangisi dia mengangkat kepala dan memandang Coh Thian-su, Kie Su-giok tidak bicara apa pun tapi sorot matanya sudah menunjukkan sedikit harapan, dia masih terlihat tidak percaya diri.
Kata Coh Thian-su.
"Kau adalah orang yang paling dicintai oleh ayahmu, asal kau bisa menarik dia dari kesesatan itu, maka dia akan kembali menjadi orang baik. Mata Kie Su-giok bercahaya lagi, dengan gemetar dia berkata.
"Apakah kau percaya kepadaku? Tapi aku tidak tahu bagaimana membantu ayahku untuk kembali ke jalan yang benar."
Coh Thian-su sudah mendapatkan ide, dia mengeluarkan yang diberikan oleh Gin-ho dan berkata.
"Aku tidak ingin membohongimu, ini adalah obat untuk mcmhimi jiu silat seseorang menjadi lenyap, apakah kau mau menyuruh ayahmu neminum obat ini?"
Dengan terkejut Kie Su-giok bertanya.
"Kau menyuruhku memusnahkan ilmu silat ayahku, bukankah itu artinya mencelakainya?"
Jawab Coh Thian-su.
"Tidak, ini bukan untuk mencelakainya, malah ini untuk menolongnya, apakah kau mau ayahmu terus melakukan kesalahan?"
Kie Su-giok mengangguk menyetujui pendapat Coh Thian-su. Kata Coh Thian-su lagi.
"Bila dia kehilangan ilmu silat, dia tidak akan bisa lagi melakukan kejahatan, teman-teman yang jahat pun tidak akan pernah bisa memperalat ayahmu lagi. Ayahmu terlalu malu untuk pulang kerumah, bila dia sudah kehilangan ilmu silat, kau bisa memaksanya untuk pulang."
Kie Su-giok sudah mengerti, dia bertanya lagi.
"Bila dia sudah mau pulang, lalu bagaimana?"
"Bila dia berada di rumah, kakekmu akan menasihatinya dan dia akan berubah, ilmu silat kakekmu sangat tinggi, dia pasti akan selalu dilindungi oleh kakekmu dan tidak ada orang yang berani mencari ayahmu untuk membalas dendam"
"Sebelum hari ini, aku belum pernah bertemu dengan ayahku, tapi sekarang aku tahu dia adalah orang yang sangat sombong, bila dia kehilangan ilmu silat..."
Kata Kie Su-giok.
"Benar, bila dia sudah kehilangan ilmu silat, dia akan merasa lebih baik mati daripada hidup seperti itu. Tapi waktu adalah obat yang paling baik perasaan antara putri dan ayahnya atau perasaan antara ayah dan anak mengobati luka karena kehilangan ilmu silat, kehangatan keluarga akan membuatnya percaya diri kembali, apalagi ilmu silat keluarga Kie sangat tinggi, walaupun tidak ada penawarnya, tapi dengan bantuan kakekmu mungkin, ilmu silatnya akan pulih kembali."
Dalam hati Kie Su-giok berpikir, 'Benar, bila ayah kehilangan ilmu silat, itu akan lebih baik daripada mempunyai ilmu silat tapi dipergunakan tidak pada tempatnya.
Dengan kehilangan ilmu silat tapi mendapatkan kembali kchiiugaiaii keluarga, kebaikan menutupi kekurangan.
Tapi dimana sekarang ayah berada?
kemana aku harus mencarinya?"
Coh Thian-su seperti tahu pikirannya dan dia berkata.
"Ayahmu tidak akan mau kehilanganmu, tidak perlu mencarinya, dia yang akan datang untuk mencarimu."
Kie Shu giok menghapus airmatanya, mengambil su-kut-san dan berkata.
"Coh Toako, terima kasih kau sudah menolongku dengan memberi tahu rencana ini, baiklah sekarang aku akan pergi, sampaikan permintaan maafku kepada ayahmu, ayahku telah membuat kehidupan keluarga kalian menjadi berantakan, aku juga ikut sedih."
Dia mengambil dua botol itu dan pergi dengan terburu-buru entah lupa atau ada sebab lain, dia tidak menanyakan dari mana asalnya Shu Gu San itu.
Karena Kie Su-giok tidak bertanya, maka Coh Thian-su pun merasa lega, bila Kie Su-giok menanyakannya, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana, karena dia tidak berniat untuk membohongi Kie Su-giok.
Hari sudah siang, sudah tiba waktu perjanjian antara ayahnya dengan Tong Hwie-yan.
Walaupun nyawa ayahnya sudah tidak terancam lagi, tapi luka yang dideritanya cukup berat, maka Coh Thian-su tetap merasa khawatir.
Guru Yu He-cu pun harus beristirahat.
Pertama, janji ayahnya dengan Tong Hwie-yan harus dibatalkan.
Kedua, sekarang ini Coh Thian-su pun membutuhkan bantuan dari orang seperti Tong Hwie-yan.
Dia takut luka ayahnya semakin parah dan musuh mempergunakan kesempatan ini menyerang ayannya.
Dia tidak berani meninggalkan ayahnya sendirian, dia membuka totok an adiknya dan berkata.
"Cepatlah kau pergi ke Piau-hang, suruh Tong Hwie-yan datang kemari!"
Coh Thian-hong masih kecil, ilmu silat dan pengalamannya belum sebanyak dirinya, bila dia menyuruh adiknya menjaga ayahnya dia merasa tidak tenang. Coh Thian-hong berkata.
"Baiklah, aku akan segera pergi untuk memberitahu Paman Tong bahwa orang yang bermarga Kie yang membuat kekacauan adalah tamud yang mereka undang"
"Kau tidak perlu banyak bicara, hanya menyuruh Paman Tong-supaya datang ke sini, semua masalah biar aku yang mengatakan kepadanya."
Sebelum totokannya dibuka oleh Toakonya, Coh Thian-hong sebenarnya mulai agak sadar, dia melihat bagaimana Kie Su-giok membela!
ayah dan Toakonya, begitu melihat nyawa ayahnya sudah tidak terancam lagi, dia pun menjadi tenang.
Sambil berjalan Coh Thian-hong berkata.
"Orang she Kie itu jahat sekali, tapi putrinya adalah gadis yang baik mengapa ayahnya bisa berwajah jelek seperti itu tapi mempunyai putn yang cantik, benar-benar aneh. Toako, apakah kau menyukai Nona Kie?"
Setelah bicara seperti itu Coh Thian-hong cepat-cepat lari dan Coh Thian-su tidak punya waktu untuk menegurnya.
Hie Kim-giauw masih berada di luar rumah Coh Kim-sung.
m Lek-beng sudah pergi membawa Song Eng-lam dengan kereta kuda.
Begitu jeritan Hie Kim-giauw berhenti, kereta itu pun menghilang entah ke mana.
Kedua pekerja Piau-hang bertanya.
"Nona Hie, apa yang sudah terjadi?"
Jawab Hie Kim-giauw.
"Apakah kalian tidak melihat bahwa Coh hujin sudah diculik oleh irang lain? Mereka pergi naik kereta kuda itu!"
Dua orang pekerja Piau-hang itu, yang satu bernama Pau Seng yang satu lagi adalah Lui Cauw, meski ilmu silat mereka tidak terlalu tinggi, tapi mereka sudah bekerja selama puluhan tahun di Piau-hang itu, sewaktu Kie Lek-beng menggendong Song Eng-lam pergi dengan kereta kuda, mereka hanya sempat melihat bayangannya saja.
Begitu mendengar Hie Kim-giauw berkata seperti itu, mereka pun terkejut.
Pau Seng masih tidak percaya dengan pendengarannya maka dia pun bertanya.
"Coh hujin yang mana yang kau maksud?"
"Istri Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung!"
Lui Cauw terkejut.
"Siapa yang begitu berani menculik istri Coh Tayhiap?"
"Laki-laki yang wajahnya ada bekas luka"
Dia menggambarkan wajah Kie Lek-beng, membuat kedua orang itu bertambah terkejut "Bukankah orang itu bernama Kie Tai-seng?"
Kata Pau Seng.
"Aku tidak tahu, aku hanya tahu dia adalah penjahat bengis mengapa kantor kalian bisa mengundang orang seperti dia datang ke sini?"
Baru saja dia berkata seperti itu, tiba-tiba melihat Kie Su-giok keluar dari rumah Coh Kim-sung.
Su-giok mendengar Hie Kim-giauw yang sedang menghina ayahnya, langsung dia memelototi Kim-giauw.
Kim-giauw sudah pernah melihat Kie Su-giok sewaktu dia dan Hui-thian membuat kerusuhan di rumah Hie, tiba-tiba sekarang ini Su-giok muncul di hadapannya, segera dia mengeluarkan pedangnya.
Kata Kie Su-giok.
"Nona Hie, ayahmulah yang penjahat, mengapa kalian tidak datang bersama-sama?"
Dengan marah Hie Kim-giauw berkata.
"Kurang ajar! Ayahku adalah Pendekar Tiong-ciu, kaulah yang putri penjahat!"
Dia tidak tahu bahwa Kie Su-giok adalah putri dai'i laki-laki yang dia maki-maki itu, dan sekali lagi dia membuat sakit hati Kie Su-giok.
Kie Su-giok sedang marah, untuk melampiaskannya, dengan dingin dia berkata.
"Pendekar kentut! Kau dengar, ayahmu dari luar seperti orang baik-baik tapi dalamnya begitu jahat, lebih jahat daripada penjahat sadis."
Hie Kim-giauw sudah mengetahui tingkat ilmu silat Kie Su-giok tapi karena Kie Su-giok karena terus memarahi ayahnya, dia pun segera menusukkan pedangnya ke arah Kie Su-giok dan berkata.
"Siluman, berani sekali kau memarahi ayahku, aku akan meminta nyawamu!"
Kemudia dia berteriak.
"Hei kalian, cepat datang kemari, dia adalah Sumoi Hui-thian-sin-hong!"
Dengan tertawa dingin Kie Su-giok berkata.
"Apakah nona ingin berkelahi? Baiklah, aku si siluman kecil datang untuk menghajarmu!"
Dengan cepat Kie Su-giok menangkap tangan Hie Kim-giauw.
ilmu silatnya tidak setinggi ilmu silat Kie Su-giok, tapi karena dia masih terkejut karena melihat Kie Lek-beng menculik Coh hujin, maka dia pun takut kepada Kie Su-giok, dia bersalah karena dia yang lemah menyerang dulu kepada pihak yang kuat.
Mana bisa dia menahan serangan KieShu Giok-yang penuh perubahan.
Terdengar suara senjata yang terjatuh, ternyata pedang milik Hie Kim-giauw yang terjatuh.
Hie Kim-giauw sudah ditangkap oleh Kie Su-giok.
Kie Su-giok mengangkat tangannya dan berkata.
"Kau mau membunuhku, tapi aku si siluman kecil ini hatinya lebih baik dari dirimu, aku hanya ingin membuat wajahmu hancur, supaya seumur hidup tidak bisa menikah!"
Begitu dua orang itu mendengar bahwa si siluman kecil ini adalah adik seperguruan Hui-thian, mereka sudah ingin bergabungan dengan Hie Kim-giauw untuk menangkap Su-giok.
Siapa.yang sangkat putri Pendekar Tiong-ciu, Hie Kim-giauw begitu lemah, hanya segebrakan sudah bisa ditangkap oleh siluman kecil itu.
Hie Kim-giauw mendengar Kie Su-giok akan merusak wajahnya, dia langsung terkejut dan merasa lemas.
Waktu itu Hie Kim-giauw seperti seorang terpidana yang menunggu algojo menurunkan goloknya, tapi setelah ditunggu-tunggu golok itu tidak kunjung turun.
Dalam hati Hie Kim-giauw berpikir, 'Dia hanya membuatku terkejut saja, hanya ingin aku meminta ampun kepadanya, aku adalah putn Pendekar Tiong-ciu, aku tidak akan meminta ampun kepadanya, bila melukai wajahku, lebih baik aku bunuh diri saja!' Akhirnya telapak tangan Kie Su-giok diturunkan dan mengenai wajah Hie Kim-giauw, tapi dia tidak merasa sakit sama sekali, ternyata Kie Su-giok hanya mencubit wajahnya.
Ternyata dalam waktu yang singkat itu, pikiran Kie Su-giok telah mengalami perubahan.
Tadinya dia benar-benar ingin memukul Hie Kim giauw, tapi begitu Hie Kim-giauw sudah berada dalam genggamannya kemarahannya mulai mereda, dia tahu bila wajah Hie Kim-giauw dirusak olehnya, hukuman ini terlalu berat untuk Hie Kim-giauw, lebih baik hanya menampar saja untuk melampiaskan kemarahannya.
Begitu dia ingin menampar, melihat wajah Hie Kim-giauw dan melihatnya memejam mata, serta tampak takut, kemarahannya segera berkurang, dia malah ingin tertawa.
Akhirnya dia malah mencubit wajah Hie Kim-giauw, dengan ringan dia berkata.
"Muka yang begitu mulus, aku pun tidak tega merusaknya. Baiklah kali ini aku akan memaafkanmu, lain kali kau tidak boleh sembarangan marah-marah kepada orang lain!"
Begitu Hie Kim-giauw dilepaskan, dua orang Piau-hang itu malah mendekat.
Dengan marah Kie Su-giok berkata.."Aku dan kalian seperti air sungai tidak mungkin bercampur dengan air sumur.
Nona Hie, sudah aku lepaskan, kalian mau apa?"
Tanya Pau Seng.
"Kalau iya, kalian mau apa?"
Kata Kie Su-giok "Kami sudah dipesan oleh Tuan Kiam-ta untuk mencari Hui-thian sekarang kau sudah ada di sini, ikutlah kami ke Piau-hang dan beri tahukan kepada kami di mana keberadaan Hui-thian sekarang."
Kata Kie Sn-giok.
"Aku jarang bergaul, tidak tahu sejak kapan ketua Piau menjadi kaki tangan penguasa pemerintahan?"
"Jangan menghina ketua Piau kami!"
Kata Pau Seng marah.
"Kau yang mengundangku datang ke Piau-hang, aku sangat berterima kasih, tapi sayang aku tidak mempunyai waktu." . Kata Lui Cauw dengan marah.
"Kami mengundangmu tapi kau tidak mau, apakah kami harus mengundangmu menggunakan senjata?"
Dengan tertawa dingin Kie Su-giok berkata.
"Aku tidak mempunyai waktu untuk mengobrol dengan kalian, pergilah!"
Sifat Lui Cauw lebih keras, segera dia mengerakan tangannya yang besar untuk menangkap Kie Su-giok, dan berkata.
"Hei, siluman kecil, kau jangan sombong!"
Kata-katanya belum habis sudah terdengar suara gamparan, ternyata dia Sudah digampar oleh Kie Su-giok.
Pau Seng sangat terkejut segera dia mencabut pisaunya dan mendekati Kie Su-giok, ilmu silatnya lebih tinggi dari Lui Cauw dan tangannya memegang pisau tidak mudah untuk Kie Su-giok bila ingin menggampamya, apalagi dia mempunyai jurus Ngo-houw-toan-bun-to (Lima Harimau Penghancur Pintu) yang selalu menyerang dengan keras sekali bergerak 3 jurus sudah keluar, tiap jurus, sangat tajam dan ganas.
Kie Su-giok ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu, tapi dia tidak bisa dengan tangan kosong merebut pisau Pau Seng, terpaksa dia mengeluarkan pecut Ting-coa-pian dan berkata.
"Hayo minggir! Bila tidak aku akan memecutmu!"
Ilmu silat Kie Su-giok lebih tinggi dari Pau Seng, apalagi Ting-coa-pian adalah senjata langka, walaupun ilmu silat Pau Seng lumayan tapi tetap tidak bisa menahan serangan Kie Su-giok.
Jurus Kie Su-giok-yang pertama adalah In-san-bu (Tiga Tarian Awan) segera pecutnya menggulung pisau Pau Seng dan terpental sejauh beberapa meter.
Jurus kedua adalah Nu-pian-peng-ong (Raja Marah Memecut Pelahan) pecutnya kembali sudah mengenai pundak Pau Seng sehingga terluka, dan meninggalkan bekas pecutan.
Untungnya Kie Su-giok tidak terus memecut.
Kie Su-giok menyimpan pecut itu dan berkata.
"Masih ada yang mau menghalangi kepergianku?"
Dia bersiap-siap untuk pergi, tapi tiba-tiba ada yang berteriak.
"Siapa yang berani membuat keributan di depan Piau-hang?"
Kie Su-giok tertawa dingin dan menjawab.
"Apakah kau juga datang untuk menggangguku? Kalau begitu terpaksa aku akan membuat keributan lagi..."
Kata-katanya belum habis, Pau Seng dan Lui Cauw sudah berteriak.
"Ketua Piau, untunglah Anda datang, siluman kecil ini adalah Sumoi Hui-thian!"
Su-giok baru tahu dia adalah ketua Piau-hang yang bernama Tong Hwie-yan. Tong Hwie-yan pun terkejut dan berkata.
"Kau adalah adik seperguruan Hui-thian?"
Anak buahnya tidak mengenal Hui-thian, tapi Tong Hwie-yan sangat tahu identitas Hui-thian.
Dia pun tahu bahwa Hui-thian adalah Wie Thian-hoan, Wie Thian-hoan adalah cucu murid Kie Yan-gan.
Keluarga Kie kecuali kepada Wie Thian-hoan tidak menurunkan ilmu silatnya kepada siapa pun, kalau begitu ia adik seperguruan Hui-thian ini adalah cucu dari Kie Yan-gan!
Dia tidak mau berbuat kesalahan kepada Kie Yan-gan apalagi dia dan Kie Yan-gan adalah teman, sepuluh tahun yang lalu Kie Yan-gan pemah datang membawa seorang gadis kecil ke Piau-hangnya, dia memandang Kie Su-giok dengan teliti, masih terlihat sisa dari bayangan gadis kecil itu.
Kie Su-giok tidak mengerti maksud Tong Hwie-yan, dengan dingin dia berkata.
"Aku ingin bertanya, kau sudah menjadi pengawal orang kaya atau sudah menjadi polisi pemerintahan?"
Dengan wajah marah Tong Hwie-yan balik bertanya.
"Apa maksudmu? Aku membuka Piau-hang ini untuk melakukan usaha yang jujur, tidak menjadi pengawal seseorang juga tidak menjual dengan cara menjilat!"
Kata Kie Su-giok.
"Kata-kata itulah yang ingin aku dengar, bila bukan kedua-duanya apakah statusku sebagai Sumoi Hui-thian ada hubungannya denganmu?'' Kata-kata Kie Su-giok membuat Tong Hwie-yan tidak mengatakan apa-apa lagi. Undangan yang disebar olehnya dan Tuan Kiam-ta serta Hie Tiong-gwee adalah untuk mengundang para pendekar tangguh agar berkumpul di ibukota kemudian menghadapi Hui-thian. Bila hanya Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee itu tidak menjadi masalah tapi di belakang mereka masih ada Panglima Bok Ci-giauw dan Bok Ci-giauw sudah mengeluarkan instruksi untuk menangkap Hui-thian. Diatidakbekerjauntukpemerintah,tidakperlu terlalu'menanggapi perintah Bok Ci-giauw, tapi Bok Ci-giauw sudah tahu siapa ainnya, waiau bagaimana pun dia tetap harus menjaga nama Bok Ci-giauw, apalagi dia adalah salah satu dari 3 orang yang menyebarkan undangan untuk para pendekar, bila dia melepaskan adik seperguruan Hui-thian, bagaimana biia diketahui oleh Bok Ci-giauw? Tong Hwie-yan bertanya.
"Nona apakah kau she Kie "
Walaupun dia sudah tahu, tapi dia ingin mendapat kepastian dari mulut Kie Su-giok, dalam hati dia berpikir, 'Bila dia memang cucu Kie Yan-gan, meskipun berbahaya bagi diriku, aku tetap harus melepaskannya.' Walaupun dia tidak takut, tapi dia juga tidak ingin melepaskannya begitu saja; bukan untuk dirinya tapi demi Pian-hangnya Karena Hui-thian adalah buruan istana maka dia harus ditangkap oleh Bok Ci-giauw, bagaimana pun juga dia tidak dapat melepaskan adik seperguruan Hui-thian di depan umum.
Dengan cara apakah dia bisa melepaskan Kie Su-giok?
Tapi dengan syarat tidak dicurigai oleh orang-orang?
Walaupun dia mempunyai banyak pengalaman, tapi dalam waktu yang sesingkat itu dia tidak mendapatkan akal yang sempurna karena itu dia hanya bertanya kepada Kie Su-giok untuk mengulur waktu sambil memikirkan rencana lain.
Tapi Kie Su-giok tidak tahu rencana Tong Hwie-yan, pada saat long Hwie-yan sedang memikirkan cara yang bagus, Kie Su-giok sudah tidak sabar, dia mulai meledak.
"Apa hubungan sheku denganmu? Apakah kau tidak mau membiarkanku pergi?"
Dia mengeluarkan Ting-coa-pian lagi. Tong Hwie-yan tertawa dan berkata.
"Seorang gadis jangan bicara kasar, memang benar siapa pun shemu tidak ada hubungannya denganku, tapi dengan Hui-thian tentu ada hubungannya, aku harus memeriksa dengan jelas..."
Hie Kim-giauw yang masih berada di sana berteriak.
"Betul, masih ada satu hal lagi yang lebih penting. Paman Tong, Coh hujin baru saja diculik seseorang "
Kabar ini datang dengan begitu tiba-tiba, membuat Tong Hwie-yan sangat terkejut sekaligus aneh, dia tidak tahu apa hubungan antara Coh hujin yang diculik dengan siluman kecil itu.
Dari tadi Pau Seng sudah ingin bicara, sekarang baru ada kesempatan.
"Yang menculik Coh hujin adalah Kie Tai-seng, begitu Kie Tai-seng pergi, siluman kecil ini keluar dari rumah Coh Kim-sung. Mereka pasti satu komplotan! Ketua Tong, coba tanya kepadanya dia mempunyai hubungan apa dengan Kie Tai-seng."
Dia mengira ketua Tong sudah tahu hubungan antara Kie Tai-seng dan siluman kecil itu, bila tidak mengapa Ketua Tang menanyakan marga kepada siluman kecil itu.
Tong Hwie-yan sangat terkejut, tadinya dia hendak melepaskan Kie Su-giok sekarang dia harus berubah pikiran.
Memang benar Kie Yan-gan adalah Cianpwee dunia persilatan, dan dia berhutang budi kepadanya, tapi Coh Kim-sung adalah teman yang dia undang Istri teman baiknya diculik, dia harus mengurusnya.
Ternyata Kie.
Tai-seng adalah Kie Lek-beng.
'Kali ini aku benar-benar salah melihatnya,' pikir Tong Hwie-yan.
Wajah Tong Hwie-yan berubah menjadi serius dan berkata.
"Nona Kie, bukan aku mau mempersuhtmu, tapi aku harus mencari tahu tentang masalah ini, sekarang aku ingin kita bertemu dengan Coh Tayhiap. Apa yang kau ketahui harus kau jelaskan kepada kami semua."
Dengan tertawa dingin Kie Su-giok berkata.
"Dari tadi kau bicara itu-itu saja, aku tahu kau hanya mencari alasan untuk menyusahkanku,"
Sambil tertawa Ting-coa-pian sudah dikeluarkan. Tong Hwie-yan tampak marah dan berkata.
"Gadis ini benar-benar tidak tahu situasi dan keadaan!"
Segera dia bergerak, siap menangkap Kie Su-giok.
Ilmu silat Kie Su-giok memang tidak setinggi Tong Hwie-yan, tapiri* langkah-langkah Kie Su-giok sangat gesit, sekali dia bergerak Ting-coa-piann sudah menyapu dan mencoba membelit kaki Tong Hwie-yan.
Tong Hwie-yan melihat Kie Su-giok tidak mau mundur hatinya!
mulai kesal, dia berpikir.
"Aku melihat wajah kakekmu, maka tidak mau membunuhmu Sekarang terpaksa aku harus memberimu pelajaran."
Dia segera memindahkan kakinya, Ting-coa-pian hampir mengenai alas sepatunya Kaki kirinya diangkat, kaki kanan sudah menginjak Teng Shi Bain dengan ilmu Wan-yo-lian-hoan-tui (Tendangan Berantai Burung Wan-yo) ini.
Tapi ilmu pecut Kie Su-giok pun sukar diduga sama sekali oleh Tong Hwie-yan apalagi pecut itu bukan pecut biasa, begitu kakinya diturunkan, pecut Kie Su-giok sudah ditarik dan dia memainkan lagi pecutnya.
Kie Su-giok tahu bahwa ilmu silat Tong Hwie-yan berada diatasnya beberapa kali lipat, dia pun tidak berani sembarangan menyerang.
Dalam hati Kie Su-giok berpikir.
"Pecutku panjang, tangannya pendek, bila aku terus berjaga tidak menyerang, pasti bisa bertahan selama beberapa saat."
Dia berharap Coh Thian-su keluar setelah mendengar suara ribut karena pertarungan Dan dia bisa lolos dari Tong Hwie-yan, walaupun dia tahu bahwa Coh Thian-su terus menjaga ayahnya dan harapan dia keluar untuk menolongnya sangat kecil, tapi lebih baik memiliki harapan daripada tidak sama sekali.
Harapannya sudah hampir hilang, Tong Hwie-yan tidak peduli pecut itu lebih panjang dan tangannya pendek, dengan berani Tong Hwie-yan menyerang masuk ke dalam lingkaran pecut itu.
Kie Su-giok sangat terkejut dan marah, dalam hati dia berpikir, 'ilmu silatmu memang lebih tinggi dariku, tapi bila bertarung seperti itu, kau terlalu memandang enteng kepadaku!"
Kie Su-giok marah dan tidak berpikir lagi, dia berteriak.
"Baiklah, aku akan melawanmu!"
Dia mengangkat pecutnya segera mengeluarkan jurus Su-houw-pian (Pecut Mengunci Tenggorokan).
Tong Hwie-yan pun marah, dalam hati dia berpikir, 'Umurnya masih begitu muda sudah mengeluarkan jurus begitu ganasaku harus memberi pelajaran kepadanya!' dua jari menjepit dan pecut itu sudah dijepit oleh Tong Hwie-yan, dengan tertawa dingin Tong Hwie-yan berkata.
"Sudah terbukti bukan dengan keahlianku!"
Walaupun ujung pecut sudah dijepit, Kie Su-giok merasa aneh karena tenaga jarinya sangat tajam seperti gunting, bila itu pecut biasa mungkin pecut itu akan terpotong.
Untungnya Ting-coa-pian adalah senjata langka, walaupun tenaga yang dikeluarkan untuk memotong pecut itu sangat kuat tapi tidak akan mampu memotongnya.
Tidak bisa memotong pecut itu, segera dia menarik pecut itu dan berteriak.
"Lepaskan pecut ini!"
Kie Su-giok sudah ditarik oleh Tong Hwie-yan hingga maju beberapa langkah, dengan tertawa dingin Kie Su-giok berkata.
"Tidak tahu malu! Yang lebih tua menghina yang lebih muda!"
Kie Su-giok melepaskan pecut itu dan berniat melarikan diri tapi dia melihat Tong Hwie-yan yang begitu kuat, dia tahu bahwa dia tidak dapat melarikan diri Kata Tong Hwie-yan.
"Dengan baik-baik, aku menyuruhmu ikut ke Piau-hang tapi kau menolaknya, sekarang bila kau dengan sukarela ikut denganku, aku tidak akan menghinamu, asal kau mau jujur kepadaku!"
Pada saat itu terdengar ada kereta kuda yang datang.
Pau Seng dan Lui Cauw mengira yang datang adalah Kie Tai-seng segera mereka berdua menjadi waspada, datangnya kuda putih yang begitu bagus dengan keempat kakinya yang bertapal hitam seperti tinta, sekali melihat pun sudah tahu bahwa kuda-kuda itu adalah kuda-kuda yang mahal, kusirnya adalah seorang pemuda yang berusia 20 tahunan, bajunya terlihat mewah, kepalanya dipasang seperti gelang emas.
Sekali dilihat pun sudah tahu bahwa dia adalah orang kaya, walaupun Pau Seng dan Lui Cauw pengalaman hidupnya sangat banyak, tapi mereka tidak pernah melihat kereta kuda yang begitu mewah.
Mereka hanya bisa terpaku.
Kuda yang bagus sudah jarang bisa dilihat, apalagi anak orang kaya yang menjadi kusir.
Ini membuat orang menjadi aneh, mereka terus melihat kereta kuda itu.
Tiba-tiba pemuda itu menghentikan kereta di depan mereka.
"Tidak tahu malu! Yang lebih tua menghina yang lebih muda."
Sambil berkata seperti itu terdengar suara senjata rahasia yang ditembakkan.
Jari Tong Hwie-yan masih menjepit pecut itu, walaupun pemuda itu datang dengan segala keanehan tapi Tong Hwie-yan tidak peduli, tapi begitu mendengar suara senjata rahasia, dia segera mengayunkan lengan bajunya.
Senjata tajam pemuda itu, yang pertama berhasil dipukul jatuh, dua senjata lewat di atas kepala Tong Hwie-yan.
Saat menembakkan senjata rahasia yang penting adalah harus tepat mengenai sasaran, senjata rahasia pemuda itu ditembakkan lebih tinggi dari sasarannya, bahkan berada 1 meter di atas sasaran.
Tong Hwie-yan tertawa mengejek.
"Ilmu melepaskan senjata rahasiamu begitu jelek, tapi masih berani menggunakannya."
Belum habis berpikir, dua senjata rahasia itu kembali lagi dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Kali ini benar-benar di luar dugaan Tong Hwie-yan, dia sudah sulit mengelak, karena senjata itu datang dengan begitu cepat dan kuat.
Tidak mungkin dapat menahan serangannya dengan lengan baju, dengan terpaksa dia melepaskan pecut Kie Su-giok dan menyambut dua senjata rahasia itu, terdengar suara senjata yang terjatuh Dua senjata rahasia berhasil disentil tapi jari-jarinya terasa pedas dan sakit seperti terkena api, karena pengalaman hidup Tong Hwie-yan cukup banyak, dia tahu bahwa senjata rahasia itu sudah ada racun.
Bila terluka racun itu bisa masuk ke dalam tubuhnya, dia menyentil dua senjata rahasia itu, tapi jarinya tidak terluka, ini membuatnya agak tenang.
Tapi sekarang dia juga harus hati-hati, siapa pun pemuda itu dia memiliki senjata rahasia yang begitu aneh Seperti datang dari luar perbatasan.
Belum habis berpikir, terdengar dia berkata.
"Adik Giok, jangan takut, aku akan' membantumu,"
Dia sudah turun dari kereta kuda. Pemuda itu tidak lain adalah kakak angkat Kie Su-giok-yang bernama U-bun Hoo. ---ooo0dw0ooo---C. Siluman Pek-toh-san Pau Seng dan Lui Cauw berteriak.
"Berhenti!"
Mereka sudah menghadang dari sisi kiri dan kanan Tanya U-bun Hoo.
"Kalian menyuruhku diam di sini mau apa?"
Pau Seng dengan marah berkata.
"Bocah kurang ajar..."
Kata-katanya belum habis, dia sudah merasa lututnya mati rasa, dia membungkukan tubuh, begitu juga dengan Lui Cauw kata-katanya belum selesai dia sudah berlutut.
U-bun Hoo tertawa terbahak-bahak "Ternyata kalian menghormati kedatanganku, maaf aku tidak bisa menerimanya."
Ternyata mereka berdua sudah terkena Bwee-hoa-ciam. Dengan cepat U-bun Hoo mendekati Tong Hwie-yan dan berkata.
"Kalian sudah berani menghina adikku, aku akan mengurus Kalian!"
Begitu suara keluar telapak tangannya juga bergerak.
Tong Hwie-yan terkejut murid laki-laki lain, dalam hati dia berpikir, 'Kie Yan-gan hanya mempunyai seorang cucu perempuan bila gadis ini adalah cucu Kie Yan-gan, datang dari manakah asalnya kakak gadis ini?
Apakah dia adalah Hui-thian?
Karena saudara seperguruan pun sering memanggil dengan sebutan adik atau kakak"
Walaupun dia belum pernah bertemu dengan Hui-thian, tapi menurut Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee, Hui-thian tidak terlalu jelek, tapi tidak terlihat seperti seorang pelajar.
Dia masih berpikir mengapa Kie Su-giok dan laki-laki itu adalah adik dan kakak, Kie Su-giok pun tidak membantahnya, dalam hati Tong Hwie-yan berpikir, 'Walaupun mereka berdua bukan adik kakak, tapi mereka juga ada hubungan dengan keluarga Kie.' Karena dia sedang memikirkan keluarga Kie, begitu U-bun Hoo menyerangnya dengan dua telapak tangan, dia tidak membalasnya dengan tenaga yang kuat.
Empat telapak tangan beradu, membuat Tong Hwie-yan terkejut.
Dia menerima telapak tangan U-bun Hoo, terasa panas seperti arang, kemudian pada saat menyambut telapak tangan kiri terasa dingin seperti es batu, menusuk hingga ke jantung.
Untung tenaga dalamnya sangat kuat, begitu menemukan hal aneh seperti itu dia hauya terkejut tapi tidak terluka.
Di dunia persilatan yang berlatih telapak pasir besi beracun tidaklah terlalu banyak.
Menemukan ilmu telapak di mana telapak yang satu dingin dan telapak lainnya panas, dia cukup merasa aneh, dari pengalamannya, ilmu ini bukan telapak tangan beracun tapi ini adalah ilmu silat hitam"
U-bun Hoo melihat Tong Hwie-yan seperti ketakutan, dan dia sangat senang kemudian berkata.
"Ternyata ilmu silat ketua Piau hanya begitu saja."
Hati Tong Hwie-yan tersinggung, dan dia berteriak.
"Ternyata kau adalah siluman dari Pek-toh-san!"
Dengan tertawa dingin U-bun Hoo berkata.
"Orang Pek-toh-san tidak seperti kalian yang tidak tahu malu, seperti ketua Piau beraninya hanya menghina gadis yang masih muda!"
Dengan tertawa dingin Tong Hwie-yan berkata.
"Kau kira aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, bila mengatakan tidak tahu malu, semua orang akan mengalah kepada kalian karena ilmu silat Pek-toh-san ada 3 macam yang teristimewa. Pertama adalah Han-peng-ciang (Telapak Es), kedua adalah Ho-yan-to (Pisau Api) dan yang ketiga adalah berlatih kulit muka hingga setebal dinding. Dengan mengandalkan ketiga ilmu ini cukup untuk bekal berkelana di dunia persilatan. Han-peng-ciang dan Ho-yan-to adalah ilmu yang sangat biasa, tapi tidak disangka ilmu muka tebalnya benar-benar sudah diturunkan semuanya kepadamu!"
Han-peng-ciang dan Ho-yan-to memang ilmu istimewa dari Pek-toh-san, tapi ilmu bermuka tebal dinding itu adalah karangan dari Tong Hwie-yan yang menertawakan ilmu hitam dari perkumpulan Pek-toh-san.
Sekarang Tong Hwie-yan sudah tahu identitas U-bun Hoo, dia tidak akan ragu-ragu lagi mengeluarkan kebisaannya, tenaga Tong Hwie-yan seperti kapak membelah gunung batu, juga seperti palu yang memukul hancur sebongkah batu.
Sekarang U-bun Hoo baru tahu kelihaian Tong Hwie-yan, dia tidak berani langsung menyambutnya.
Han-peng-ciang dan Ho-yan-to mana bisa melukai lawan seperti dia?
Dalam waktu singkat U-bun Hoo sudah masuk ke dalam lingkaran bayangan telapak tangan, bila bukan karena takut melukai Kie Su-giok, U-bun Hoo sudah dipukul hingga jalan darah dan tulangnya berantakan.
U-bun Hoo pun memakai cara licik, dia tahu bahwa Tong Hwie-yan tidak berani melukai Kie Su-giok, maka bila berada dalam bahaya, dia selalu berlindung di belakang tubuh Kie Su-giok, malah kadang-kadang bersembunyi, membiarkan Kie Su-giok-yang menahannya.
Sebenarnya Kie Su-giok mulai mencurigai kakak angkatnya, tapi kecurigaannya mulai luntur karena kebaikan kakak angkatnya yang sudah mcnolongya.
Karena dia sudah dibantu oleh U-bun Hoo maka dia ikut-ikutan mengejek Tong Hwie-yan.
Kie Su-giok tahu bahwa Tong Hwie-yan berteman dengan kakeknya, waktu kecil dia pernah ikut kakeknya singgah ke Piau-hang walaupun saat itu dia masih kecil tapi kejadian itu dia masih ingat dengan jelas.
Karena itulah dia menjadi marah kepada Tong Hwie-yan, Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee menyebarkan undangan untuk para pendekar-dalam menghadapi kakak seperguruannya yaitu Hui-thian, dia tahu F semuanya setelah tiba di Peking.
Bila Kie Su-giok sedikit mengerti keadaan Tong Hwie-yan yang sebenarnya, mungkin dia akan memaafkan Tong Hwie-yan karena posisinya sangat sulit, tapi dia terlalu disayang oleh kakeknya dan Ong Toanio, maka ?pada saat dia berkelana di dunia persilatan, dia menjadi seorang gadis yang f tidak bisa memahami perasaan orang.
Tong Hwie-yan sudah berada di atas angin, Kie Su-giok dan U-bun Hoo kedua-duanya berada di dalam lingkaran bayangan telapak tangan ?Tong Hwie-yan, tapi saat sekarang Tong Hwie-yan tidak berniat untuk ?
membunuh.
Hati Tong Hwie-yan sangat kesal, dia berteriak dan memukul I pundak Kie Su-giok dengan berat hati.
Yang dia gunakan adalah ilmu silat f Ke-san-ta-gu (Memukul Kerbau Dari Bauk Gunung).
Ke-san-ta-gu f adalah sejenis ilmu silat, bila sudah menguasai ilmu ini walaupun dihalangi f orang atau apa pun, tetap akan bisa melukai lawan, tapi barang atau orang f yang menghalanginya tidak akan terluka, sebenarnya tidak perlu sampai berjarak satu gunung untuk bisa membunuh kerbau, ini hanya membesar-[)C^"-rml> 11 klltjjuuj'U .tmjij, wyM ium nwviiuiiiju uuuilul ilivotuuliil ivtluiiuugi .
oleh tembok, tetap masih bisa melukai orang yang berada di balik tembok [ itu.
Tiba-tiba ada yang berteriak.
"Paman Tong, berhenti dulu!"
Suara ini adalah suara seorang gadis, suaranya sangat terkejut dengan keadaan di sana.
ternyata dia adalah Coh Thian-hong yang baru keluar dari rumah.
Begitu keluar dia melihat Tong Hwie-yan yang ingin membunuh Kie Su-giok, Coh Thian-hong tidak tahu keistimewaan ilmu Ke-san-ta-gu.
Lui Cauw dan Pau Seng melihat Coh Thian-hong, segera salah satu dari mereka bertanya.
"Bagaimana keadaan ayahmu?"
Yang satu lagi berkata.
"Apakah siluman itu adalah kaki tangan Kie Tai-seng?"
Coh Thian-hong adalah gadis yang pintar, sekali mendengar dia sudah tahu mengapa Tong Hwie-yan ingin membunuh Kie Su-giok, dia tidak mempunyai waktu untuk menjawab pertanyaan Pau Seng dan Lui Cauw.
Dia berteriak.
"Kalian jangan salah paham kepada Nona Kie, dialah yang menolong ayah dan juga aku!"
Karena Tong Hwie-yan tidak yakin dengan hasil ilmu Ke-san-ta-gu maka begitu mendengar suara teriakan Coh Thian-hong, secara reflek tenaga telapak tangannya langsung berkurang, demi membunuh siluman Pek-toh-san, dia tidak mau sampai melukai Kie Su-giok.
Penyebab yang lain adalah dia belum tahu apakah Coh Kim-sung masih hidup atau sudah mati.
Dia menganggap Kie Su-giok bersekongkol dengan ayahnya.
Bila Coh Kim-sung sudah mati maka Kie Su-giok harus mempertanggung jawabkan Kematian Coh Kim-sus.
Sekarang dia mendengar bahwa Coh Kim-sung tidak mati bahkan Kie Su-giok lah yang menolong nyawa Coh Kim-sung dan Coh Thian-hong, dia pun menjadi tidak yakin apakah bisa melukai Kie Su-giok, meneruskan pukulannya atau tidak, semua juga yang membuatnya menjadi ragu.
U-bun Hoo sudah tahu bahwa Tong Hwie-yan dengan cara apa pun ingin membunuhnya.
Melihat Tong Hwie-yan yang sedang ragu-ragu, dia segera keluar dari jangkauan telapak Tong Hwie-yan.
Kelima jari Tong Hwie-yan tepat mengenai pundak Kie Su-giok, Kie Su-giok merasa seperti sebuah bola yang dilempar, Coh Thian-hong sangat terkejut dan berteriak.
Tapi perasaan Kie Su-giok terasa aneh, dia merasa tubuhnya ringan dan melayang ke atas, juga merasa ada sebuah tangan yang besar yang tidak terlihat dengan ringan mengangkatnya, kemudian menaruhnya dengan perlahan.
Begitu kakinya menginjak tanah, dia tidak terluka sama sekali.
Ternyata Tong Hwie-yan masih tetap dengan cara yang unik melempar dia keluar dari arena karena U-bun Hoc sendiri sudah lari.
Tong Hwie-yan tidak mau beresiko menggunakan ilmu silat yang dia belum yakin pasti berhasil, kalau Kie Su-giok ditangkap dan dibawa ke Piau-hang, dia juga akan kerepotan, maka dengan cara inilah dia melepaskan Kie Su-giok.
Begitu Tong Hwie-yan mendorong telapak tangannya ke arah Kie Su-giok, dia juga ingin mengejar U-bun Hoo tapi U-bun Hoo sudah melepaskan senjata rahasianya.
Senjatanya disebut Hiang-pu-tan (Peluru; Asap Wangi).
Begitu dilepaskan peluru itu akan meledak, dan udara akan dipenuhi oleh kabut yang wangi, kabut ini akan membuat orang tidak, sadarkan diri dan keracunan.
U-bun Hoo di dalam kabut itu dia berada di depan Kie Su-giok, dia lalu segera menariknya pergi.
Pau Seng dan Lui Cauw yang baru bisa berdiri, mereka pun menghisap kabut ini dan langsung pingsan.
Untung kabut itu tidak mengandung racun yang berat, begitu orang-orang Biao menyiram mereka dengan air, mereka langsung sadar.
Kata Coh Thian-hong.
"Paman Tong, ayahku tidak bisa datang ke Piau-hang, maka aku mengajak paman untuk datang ke tempat kami."
Tong Hwie-yan melihat Pau Seng dan Lui Cauw yang mulai sadari hatinya pun menjadi tenang, dia berkata.
"Aku juga ingin menengok ayahmu, mari kita pergi!"
Kata Coh Thian-hong.
"Cici Hie, mengapa kau pun berada di sini?"
Jawab Hie Kim-giauw.
"Keluargamu sedang terkena musibah, setelah aku melihati keadaan Paman Coh, nanti baru kita mengobrol lagi."
Luka Coh Kim-sung sangat berat, untung tenaga dalamnya kuat apalagi dia sudah dibantu oleh Kie Lek-beng, walaupun belum bisa berjalan tapi dia sudah mempunyai tenaga untuk bicara.
"Aku dengar di luar ada keributan, apa yang sudah terjadi?"
Tong Hwie-yan belum sempat bicara, Coh Kim-sung sudah mendahuluinya bertanya. Coh Thian-hong tidak mau ayahnya merasa khawatir tentang keadaan Kie Su-giok, maka dia menjawab.
"Tidak ada apa-apa tadi cici Kie bertemu dengan Paman Tong."
Tanya Coh Kim-sung.
"Tong Toako, apakah kau membuatnya mengalami kesulitan?"
"Aku sudah jelaskan kepada Paman Tang, tentu Paman Tang tidak akan membuatnya susah, kami sudah mengatur kepergiannya dengan kereta kuda."
Kata Coh Thian-hong.
"Pantas tadi aku mendengar ada suara kereta kuda, pagi-pagi begini sudah ada kereta, dia memang bernasib baik. dia sudah pergi aku pun merasa tenang, walaupun ayahnya seperti itu tapi dia adalah gadis yang baik."
Kata Coh Kim-sung. Tanya Tong Hwie-yan.
"Apakah ayahnya Kie Tai-seng ?"
Coh Kim-sung mengangguk dan menjawab.
"Benar, dan dia sangat dendam kepadaku tapi aku juga berhutang budi kepadanya, anggap saja ini semua sudah selesai. Tong Toako, tidak perlu mencari-cari Kie Tai-seng lagi."
"Kali ini aku yang menyusahkanmu, aku jadi tidak enak kepadamu."
Karena dia yang menyebarkan undangan untuk para pendekar maka Coh Kim-sung mau datang ke ibukota.
Dan Kie Tai-seng sendiri diundang oleh adiknya, maka terjadilah hal seperti ini.
Hati Tong Hwie-yan menjadi tidak enak.
Coh Kim-sung tertawa kecut dan berkata.
"Tapi aku pun harus merasa senang?"
Tong Hwie-yan merasa aneh dengan perkataan ini dan bertanya.
"Coh Toako, kau sedang membicarakan hal apa?"
"Kita adalah teman lama, tentu kau tahu sekarang ini kita sedang mengkhawatirkan apa. Sekarang aku sedang terluka parah jadi aku mempunyai alasan untuk mundur. Memang ini adalah kecelakaan tapi sekaligus rejeki."
Coh Thian-su dan adiknya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh ayahnya, tapi Tong Hwie-yan sudah mengerti, artinya adalah karena Coh Kim-sung terluka, dia bisa bicara terang-terangan dia tidak mau bertarung dengan Hui-thian.
Tanya Tong Hwie-yan.
"Coh Toako, bagaimana perasaanmu? Lebih baik aku memeriksa jalan darahmu dulu."
"Aku sudahh tidak apa-apa lukaku memang berat tapi aku tidak mungkin mati, Guru Yu He-cu pun terkena jarum beracun lebih baik kau lihat dia dulu."
Tong Hwie-yan ahli dalam pengobatan, dia memeriksa jalan darah Coh Kim-sung, benar juga lukanya memang parah tapi sudah melewati masa kritis.
Yu He-cu yang terkena jarum beracun masih belum sadarkan diri, tadi dia sempat sadar dan pingsan lagi, jarum beracun itu diteliti oleh Tong Hwie-yan dan berkata.
"Jarum beracun ini milik Keluarga Bok!"
"Bukankah itu milik keluarga Tong?"
Tanya Coh Kim-sung Kata Tong Hwie-yan.
"Coh Toako, kau tidak tahu, ada beberapa senjata yang baru diketahui oleh orang dan itu adalah milik Keluarga Bok, ada beberapa jenis senjata rahasia yang sebelumnya sudah direndam oleh racun, khasiatnya lebih ganas dari milik keluarga Tong."
Coh Kim-sung kagum kepada analisa Tong Hwie-yan yang mempunyai banyak pengalaman dan sering bergaul dengan kalangan persilatan, bahkan Ting Po pun tidak dapat menyamainya.
Coh Kim-sung menjadi bengong dan berkata.
"Pantas saja!"
"Apa yang kau maksud pantas?"
Coh Kim-sung masih tampak bengong dan sorot matanya terlihat aneh seperti campuran antara rasa sesal dan takut, apa yang ditanya oleh Tong Hwie-yan, sepertinya dia tidak dengar.
Coh Kim-sung takut dan menyesal hal ini disebabkan oleh jarum beracun milik Keluarga Bok.
Kemarin malam begitu tiba di rumah, dia melihat Kie Lek-beng sedang memeluk istrinya, hatinya terasa panas dan ingin marah yang dia-pikirkan pada saat itu adalah Kie Lek-beng sedang mempermainkan istrinya.
Tapi bila disebut mempermainkan kata-kata itu tidak cocok, karena Eng-lam adalah mantan istri Kie Lek-beng, tapi walau bagaimana pun ini adalah sebuah penghinaan dan wajib untuk membalas dendam, dia tidak sempat memikirkan alasan lainnya.
Sekarang Yu He-cu terbaring di sisinya, sampai sekarang Yu He-cu masih terkena racun, keadaan Yu He-cu dengan istrinya pada saat itu sangat mirip.
"Apakah Eng-lam pun terkena jarum beracun?"
Memikirkan hal itu, dia mulai bisa merangkai kejadian yang sudah terjadi tadi.
Tidak sadarkan diri karena terkena racun dengan tidak sadarkan diri karena ditotok, itu sangat berbeda keadaannya.
Dia adalah seorang pesilat bila dia melihatnya dengan teliti dia pun akan tahu.
hanya saja; perasaannya saat itu sudah tertutup oleh kemarahan, jadi mana mungkin bisa membedakannya?
Coh Kim-sung terus berpikir pada waktu itu Kie Lek-beng hanya menggunakan sebelah tangannya menghadapi Coh Kim-sung, pada waktu Coh Kim-sung bergabung dengan Yu He-cu menyerang Kie Lek-beng, dia masih menggunakan sebelah tangan, tidak mungkin Kie Lek-beng sengaja menghina Coh Kim-sung dengan cara seperti itu, itu akan sangat membahayakan nyawanya sendiri.
Apakah karena pada waktu itu Kie Lek-beng sedang menolong Eng-lam sehingga tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk melawan?
Song Eng-lam terkena jarum beracun sebelum dia tiba di rumah, Kie Lek-beng bila ingin mendapatkan Song Eng-lam tidak perlu menggunakan jarum beracun, mungkin ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Gin-ho.
"Waktu aku pulang, Gin-ho pasti sudah diusirnya, kemudian dia menusukkan jarum itu kepada Yu He-cu, itu adalah masalah yang berbeda."
Tong Hwie-yan memperhatikan ekspresi Coh Kim-sung yang terlihat sangat aneh, Tong Hwie-yan merasa khawatir dia menggoyang-goyangkan tangan Coh Kim-sung dan bertanya.
"Coh Toako, kau kenapa?"
"Oh, aku tidak apa-apa, apakah tadi kau menceritakan mengenai jarum beracun milik keluarga Bok ?"
"Benar!"
"Aku tahu Keluarga Bok, yang mendapatkan ilmu senjata rahasia adalah Keluarga Bok generasi ketiga, mereka adalah sepasang adik dan kakak kembar, orang-orang menjuluki mereka sebagai dua ekor rase Keluarga Bok. apakah itu benar?"
Kata Tong Hwie-yan.
"Tidak disangka kau yang begitu jauh dari Kang-lam bisa tahu perkembangan dunia persilatan di bagian utara... Benar, yang mempunyai ilmu senjata rahasia adalah dua bersaudara Bok yaitu Kim-ho dan Gin-ho."
Tiba-tiba Coh Thian-su menyela.
"Tapi bukan Gin-ho!"
Begitu kata-kata keluar dari mulut Coh Thian-su, yang pertama terkejut adalah Hie Kim-giauw dan disusul oleh Coh Kim-sung "Mengapa kau bisa tahu?"
Tanya Coh Kim-sung "Aku pernah bertemu dengan Gin-ho, aku tahu dia dan Kie Lek-beng sudah berpisah, aku merasa walau namanya jelek tapi hatinya tidak sejahat itu."
Coh Kim-sung sangat terkejut dan berkata.
"Kau pernah bertemu dengan Gin-ho? Apakah dia tahu bahwa kau adalah putra Coh Kim-sung?"
Sebenarnya dia ingin tahu apa yang sudah dibicarakan antara anaknya dengan Gin-ho, tapi untuk masalah cinta dia pun sulit untuk mengatakan kepada anaknya. Kata Coh Thian-su.
"Ceritanya panjang, tunggu ayah sembuh dulu, baru aku akan menceritakan semuanya."
Kata Tong Hwie-yan.
"Yang menggemparkan dunia persilatan sekarang adalah bahwa Ketua Hoa-san-pai dibunuh oleh seseorang, apakah kau tahu? Katanya pada saat Thian Koan dibunuh, Gin-ho pernah muncul di Hoa-san, pada saat itu juga Yu He-cu sedang bertandang ke Hoa-san Pahkan sempat bertarung dengan perempuan itu, banyak orang mencurigai kematian Thian Koan karena diracun oleh Gin-ho."
Coh Thian-hong sudah tidak tahan lagi hanya diam saja maka dia pun bertanya kepada kakaknya.
"Bila Yu He-cu pernah bertarung dengan Gin-ho, mengapa kakak masih menganggap bahwa Yu He-cu memang terkena jarum beracun Keluarga Bok tapi bukan milik Gin-ho?"
Jawab Coh Thian-su.
"Yang membunuh Thian Koan bukan Gin-ho, dia pun tidak pernah bertarung dengan Guru Yu He-cu."
Kata Tong Hwie-yan.
"Kalau begitu berita yang aku dengar adalah cerita bohong?"
"Berita itu tidak bohong, hanya orangnya saja yang tidak sama, orang itu memang mirip dengan Gin-ho, mungkin dia adalah kakaknya yang bernama Kim-ho!"
Tanya Tong Hwie-yan.
"Mengapa kau bisa tahu begitu jelas?"
"Pada hari dimana Guru Thian Koan dibunuh, kebetulan pada saat itu aku sedang melewati Hoa-san, Guru Yu He-cu sedang bertarung dengan seorang perempuan yang mirip dengan Gin-ho, aku sendiri yang menyaksikannya. Dua hari kemudian, aku bertemu dengan Gin-ho, aku pun baru tahu pada saat Thian Koan dibunuh, dia berada di tempat lain, aku pun sudah menyelidikinya, dia dengan perempuan yang aku temui di Hoa-san memang mirip, tapi bukan satu orang."
Tong Hwie-yan mengangguk dan berkata.
"Kalau begitu, kecurigaanku sudah terbukti, aku pun curiga bahwa jarum beracun ini bukan milik Gin-ho, karena Gin-ho sendiri sudah berpisah dengan Kie Lek-beng. Kie Lek-beng mempunyai sifat sombong walaupun dia tidak berpisah dengan Gin-ho pun dia tidak akan mau menggunakan senjata rahasia milik orang lain."
Coh Thian-su bertanya.
"Kalau begitu, mengapa Yu He-cu bisa terkena jarum beracun?"
Jawab Coh Kim-sung.
"Yu He-cu terkena jarum beracun sebelum aku terluka, aku melihat Kie Lek-beng yang menusukkan jarum itu kepadanya"
Kata Tong Hwie-yan.
"Aku hanya mengatakan bahwa dia tidak akan mau memakan senjata rahasia milik orang lain. Tapi waktu itu mengapa dia bisa mempunyai jarum beracun milik Keluarga Bok? Aku tidak mengerti, tapi kejadian kemarin malam sama sekali tidak ada hubungannya dengan Gin-ho aku percaya kepada perkataan anakmu."
Tapi Coh Kim-sung tidak percaya kepada Gin-ho, dalam hati dia berpikir, 'Kie Lek-beng sudah meninggalkannya, dalam hati dia pasti menyimpan kebencian yang mendalam kepada Eng-lam semua dendam dia perhitungkan kepada Eng-lam.' Coh Thian-su seperti tahu pikiran ayahnya, dia berkata.
"Aku tahu Gin-ho sangat ingin kembali kepada Kie Lek-beng, dia pun ingin membalas dendam kepada Kie Lek-beng, aku percaya dia tidak akan melukai orang lain."
"Mengapa Toako begitu mempercayainya?"
Kata Coh Thian-hong.
"Gin-ho menyesali bahwa dia sudah membantu Kie Lek-beng melakukan banyak kejahatan, sekarang dia hanya ingin menolong Kie Lek-beng. Aku percaya bahwa dia sungguh-sungguh menyesal. Obat yang tadi kuberikan kepada Kie Su-giok bisa membuat ilmu silat Kie Lek-beng musnah, obat itu adalah pemberian Gin-ho."
Walaupun Coh Kim-sung tidak mempercayai Gin-ho tapi dari perkataan putranya, dia tahu bahwa putranya mendengar sendiri dari mulut Gin-ho penyebab dia bisa bermusuhan dengan Kie Lek-beng.
Coh Kim-sung mengalihkan pembicaraan, dia bertanya kepada Tong Hwie-yan.
"Bagaimana keadaan Yu He-cu?"
"Aku merasa sedikit aneh."
Coh Kim-sung terkejut dan bertanya.
"Mengapa aneh?"
"Jarum beracun milik Keluarga Bok memang sangat ganas, tenaga dalam Guru Yu He-cu memang kuat, seharusnya dia sulit untuk bertahan hidup, tapi setelah aku memegang jalan darahnya, racun yang ada di tubuhnya tidak begitu ganas lagi. Sekarang aku sudah menotok jalan darah tidurnya, begitu dia terbangun kita akan memanggil tabib untuk mengobatinya, maka dia akan cepat sembuh"
Coh Kim-sung agak tenang dan berkata.
"Mungkin Thian-su sudah memberikan dia obat."
"Memberikan obat apa?"
Dalam hati dia berpikir. 'Jarum beracun milik Keluarga Bok sangat ganas, apakah mungkin ada obat penawar lainnya?' Kata Coh Kim-sung.
"Aku tidak tahu dia mendapatkan obat itu dari mana, dia mempunyai obat penawar juga mempunyai obat untuk mengobati luka dalam. Bila bukan dia yang memberikan obat penawar itu kepada Yu He-cu dan aku, mungkin kami berdua Sudah tidak dapat bercerita denganmu lagi."
Dia bertanya kepada putranya.
"Anak, tolong katakan kepadaku, kedua obat yang mahal dan juga jarang bisa didapatkan, siapa yang memberikannya kepadamu? Mengapa dia memberikan obat yang begitu mahal kepadamu?"
Jawab Coh Thian-su.
"Aku tidak mau berbohong, dua macam obat itu adalah pemberian dari ayah Kie Lek-beng..."
Coh Kim-sung merasa terkejut dan langsung tertawa kecut, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Kata Coh Thian-su.
"Ayah, karena aku takut kau tidak mau minum obat dari keluarga Kie, maka tadi aku tidak berani mengatakannya."
Coh Kim-sung menarik nafas dan berkata.
"Tidak disangka, aku hampir dua kali mati, tapi bisa bertahan karena obat pemberian keluarga Kie, hutang piutang ini entah harus dengan cara bagaimana baru bisa dilunasi?"
Coh Thian-su menceritakan pada saat dia bertamu ke rumah Kie Yan-gan dia dibokong jarum beracun milik Kim-ho.
Semua dia ceritakan kepada ayahnya "Obat yang dimakan oleh Yu He-cu menurut Kie Yan-gan itu bernama Hiong-hoa-ie-lu-wan, yang ayah makan obat itu dinamakan Tai-hoan-tan, obat itu sama bagusnya dengan obat dari Siauw-lim, menurut Kie Yan-gan itu adalah obat untuk luka dalam Orang-orang dunia persilatan mengatakan obat itu bisa menolong orang yang sudah mati, hidup kembali."
Kata Coh Kim-sung.
"Obat itu memang sangat bagus, tadinya aku sudah tidak memiliki tenaga, sekarang sudah lebih baik."
"Walaupun obat itu sangat bagus, kau pun harus tetap banyak beristirahat"
Kata Tong Hwie-yan. Kata Coh Kim-sung.
"Mana bisa aku tidur, lebih baik kita mengobrol saja."
Pukulan yang berat ini seumur hidup baru sekarang dia rasakan, mana mungkin dia bisa tidur. Tong Hwie-yan tertawa dan berkata.
"Aku ada cara untuk membuatmu tidur."
Coh Thian-su tidak tahu dengan cara apa Tong Hwie-yan bisa membuat ayahnya tidur, tiba-tiba Coh Kim-sung sudah berkata.
"Benar, aku sudah lupa dengan ilmu istimewa itu, baiklah tolong totok jalan darah tidurku."
Ternyata cara menotok jalan darah pun ada 2 macam, pertama bisa melukai orang, yang satu lagi bisa membantu memulihkan keadaan orang yang sedang sakit.
Setelah mengatakan itu, Tong Hwie-yan langsung menotok jalan darah tidur Coh Kim-sung, pikir Coh Thian-su, 'Untung Paman Tong, memberi tahu dulu, bila tidak aku akan terkejut.' "Baguslah, ayahmu akan tertidur sampai besok pagi."
Sekarang Hie Kim-giauw baru mempunyai kesempatan untuk bertanya.
"Paman Tong, siapakah siluman Pek-toh-san itu?"
"Pek-toh-san adalah sebuah tempat diperbatasan antara Tiongkok dengan India Pada jaman Dinasti Tong, ada seorang pesilat she Hoa, demi menghindari peperangan di Tiongkok bagian tengah, dia melarikan din ke Pek-toh-san dan bersembunyi di sana, kemudian dia mendirikan perkumpulan Pek-toh-san. Dalam kurun waktu 100 tahun ini, ketuanya dipimpin oleh orang yang bermarga U-bun, ilmu silatnya sebenarnya tidak. beraliran ilmu hitam, tapi setelah sampai pada generasi U-bun yang sekarang, ilmu silat mereka menjadi ilmu silat hitam. Mereka melakukan pelanggaran terhadap janji nenek moyang mereka pada saat mendirikan perkumpulan Pek-toh-san, apalagi dalam waktu 20 tahun sekarang ini, kelakuan mereka lebih menggila lagi karena itu semua perkumpulan silat menjuluki mereka sebagai siluman."
Coh Thian-su terkejut dan bertanya.
"Apakah Paman Tong bisa memberikan contoh kejahatan apa yang sudah mereka lakukan?"
"Dosa mereka yang paling besar adalah menjual obat beracun."
"Obat semacam apa?"
"Di gunung Pek-toh, ada semacam tumbuh-tumbuhan yang disebut ganja, bisa dibuat dalam bentuk rokok dan dihisap, katanya setelah menghisap rokok itu membuat perasaan menjadi melayang, karena itu siluman Pek-toh-san membuat ganja ini dalam bentuk pil yang disebut pil dewa. Sebenarnya pil itu adalah obat beracun dalam jangka panjang."
Kata Coh Thian-su.
"Kalau begitu pil dewa itu seperti madat yang juga obat beracun?"
"Racun ganja ini lebih dahsyat daripada madat, katanya bisa membuat orang menjadi kehilangan semangat hidup. Bila melebihi dosis sebenarnya bisa menyebabkan kematian, bila sudah kecanduan, hidupnya bisa dikuasai oleh orang lain."
Coh Thian-hong ikut bicara.
"Ganja lebih menakutkan daripada madat."
Kata Thian-hong lagi.
"Siluman-siluman Pek-toh-san selalu menjual pil dewa ini, 20 tahun lalu mereka bersekongkol dengan orang-orang jahat di Tiongkok bagian tengah dengan cara membantu menjual pil-pil ini. Orang-orang ternama di dunia persilatan pun karena kecanduan membuat nama mereka hancur, tapi hal ini sudah berlalu, siapa orangnya, aku pun tidak ingin mengatakannya."
Kata Tong Hwie-yan.
"Ini dikarenakan begitu siluman Pek-toh-san menjual pil dewanya dalam jangka waktu yang tidak lama. Ketua Pek-toh-san yaitu U-bun Pok dibunuh oleh orang dari perkumpulan Thian-san, Nyo Yam (baca Durjana Ksatria). Nyo Yam dan beberapa orang terkenal di dunia persilatan memusnahkan tempat pembuatan pil dewa dan mereka menyuruh anak buah Pek-toh-san bersumpah tidak akan membuat pil dewa lagi. Nyo Yam sendiri masih hidup dan dia adalah ketua perkumpulan Thian-san."
Kata Coh Thian-su.
"Tapi siluman Pek-toh-san bisa muncul kembali di ibukota, sumpah mereka sepertinya tidak dapat dipercaya lagi."
Kata Tong Hwie-yan.
"Aku pun berpikir seperti itu."
Tiba-tiba Hie Kim-giauw berkata.
"Kalian bilang bahwa Nona Kie adalah gadis baik-baik, sepertinya itu tidak benar."
Ayahnya hampir dibunuh oleh Hui-thian dan sewaktu Hui-thian membuat keonaran di keluarga Hie, Kie Su-giok datang mengikuti Hui-thian.
Mereka adalah Suheng Sumoi.
Kim-giauw membenci ayahnya juga benci kepada Kie Su-giok.
Kata Coh Thian-hong.
"Mengapa cici Hie bisa berkata seperti itu? Walaupun Kie Su-giok adalah putri dari Kie Lek-beng, tapi mereka tidak sama, kali ini dia benar-benar sudah membantu keluarga kami, bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu?"
Kata Hie Kim-giauw.
"Dia memang tidak sejalan dengan ayahnya, tapi dia sejalan dengan siluman Pek-toh-san."
Coh Thian-hong sudah tahu apa yang disebut dengan siluman Pek-toh-san, hatinya pun ikut bertanya-tanya Tanya Coh Thian-hong.
"Paman Tong, apakah paman dulu pernah bertemu dengan bocah tengik itu?"
"Tidak pernah,"
Tong Hwie-yan menjawab.
"Mengapa paman bisa tahu bahwa dia adalah siluman Pek-toh-san?"
"Han-peng-ciang dan Ho-yan-to adalah ilmu silat milik Pek-toh-san. Bocah tengik itu bisa kedua jurus itu, tidak mungkin dia bukan murid Pek-toh-san, dia sendiri pun sudah mengakui bahwa dia adalah orang dan Pek-toh-san."
"Itu sangat aneh, mengapa cici Kie bisa bergabung dengan silumano Pek-toh-san itu?"
Tong Hwie-yan tampak terus berpikir dan dia tidak dapat, menjawab, tapi Hie Kim-giauw berkata lagi.
"Tadi sepertinya aku mendengar bocah tengik itu memanggilnyi 'Adik Giok, mungkin mereka adalah saudara angkat."
Coh Thian-su sangat terkejut dan berkata.
"Apakah benar mereka adalah saudara angkat?"
Dengan dingin Kim-giauw menjawab.
"Bila kau tidak percaya, kau boleh bertanya langsung kepad Paman Tong!"
Kata Coh Thian-hong.
"Walau demikian, aku tetap tidak percaya bahwa cici Kie sejalan dengan siluman Pek-toh-san itu, mungkin saja cici Kie sudah ditipu oleh mereka"
"Menurut Paman Tong sendiri bagaimana?"
Tanya Coh Thian-san "Aku pun merasa aneh."
"Apanya yang aneh?"
Tanya Kim-giauw.
"Mengapa keluarga Kie bisa ada hubungan dengan siluman Pek-toh-san?"
Kata Hie Kim-giauw.
"Orang nomor satu di dunia persilatan yaitu Kie Yan-gan walaupun ilmu silatnya nomor satu, tapi gerak geriknya tidak menentu, bila mereka merasa cocok dan berhubungan itu pun tidak aneh."
Kata Coh Thian-hong.
"Benar, mungkin Kie Toako memikirkan hubungan kakeknya dengan siluman Pek-toh-san maka berkenalan dengan bocah tengik itu!"
Dia sama sekali tidak kenal dengan Kie Yan-gan, tapi dia berharap ?ini adalah kesalahan Kie Yan-gan bukan kesalahan Kie Su-giok.
"Ini tidak mungkin!"
"Mengapa tidak mungkin?"
Tanya Kim-giauw.
Nyo Yam dan orang-orang dunia persilatan telah memusnahkan Pek-toh san, walaupun Kie Yan-gan tidak ikut serta tapi sebelum Nyo Yam ke Pek-toh-san, dia sudah pernah bertarung dengan Ketua Pek-toh-san, tapi orang yang mengetahui masalah ini sangat sedikit, aku pun tahu dari ayah Wie Thian-hoan yaitu Wie Seng-kong dan dia adalah satu-satunya murid Kie Yan-gan, dia nun bukan she Kie.
Wie Seng-kong pernah mengatakan bahwa Kie Yan-gan dan U-bun Pok berjanji bertarung secara rahasia di suatu tempat, bila Kie Yan-gan kalah dia harus menyerahkan gelar orang nomor satu di dunia persilatan kepada U-bun Pok.
Bila U-bun Pok yang kalah, dia tidak boleh menjual obat beracun ini ke Tiongkok tengah."
"Pasti Kie Yan-gan yang kalah."
Kata Hie Kim-giauw.
"Kau tahu dari mana?"
Tanya Coh Thian-hong.
"Tadi Paman Tong sudah mengatakan setelah Nyo Yam membunuh U-bun Pok, perdagangan pil dewa baru berhenti."
Kata Coh Thian-hong.
"Menurutku kau salah, bila Kie Yan-gan kalah, mengapa sampai sekarang dia masih menyandang gelar orang nomor satu di dunia persilatan?"
Tong Hwie-yan tertawa dan berkata.
"Sudah kalian jangan ribut, dua-duanya tidak ada yang benar."
Tanya Coh Thian-hong.
"Apakah mereka berdua sama-sama terluka?"
"Mereka juga tidak terluka. Yang menang adalah Kie Yan-gan tapi tidak menang secara mutlak"
Tanya Coh Thian-hong.
"Apa yang dimaksud tidak menang secara mutlak?"
Kata Tong Hwie-yan .
"Mereka bertarung sangat lama, akhirnya Kie Yan-gan menang satu jurus, penyebabnya karena dia mempunyai senjata istimewa yang bernama Ting-coa-pian, karena itu kedua belah pihak mengundurkan perjanjiannya, karena rumah Kie Yan-gan berada di Holam, maka orang-orang Pek-toh-san tidak diijinkan masuk ke Propinsi Holam dan tidak boleh menjual obat terlarang di Propinsi Holam tapi Kie Yan-gan tidak melarang berjualan di tempat lain."
"Wie Seng-kong adalah murid Kie Yan-gan, apakah kata-katanya bisa dipercaya?"
Tanya Hie Kim-giauw. Kata Tong Hwie-yan.
"Aku pikir kata-katanya bisa dipercaya, karena sudah terbukti di Propinsi Holam tidak ada yang menjual pil dewa."
Kemudian dia berkata lagi.
"Gosip di dunia persilatan yang banyak beredar tidak selalu benar' seperti Kie Yan-gan dia adalah orang yang berada di tengah-tengah golongan hitam dan golongan putih, tapi semua gerak geriknya tidak termasuk ke dalam golongan hitam."
Wajah Hie Kim-giauw memerah, dia tidak berani bicara lagi, karena yang mengatakan hal seperti itu adalah ayahnya. Coh Thian-su yang terdiam lama baru bersuara.
"Ternyata kisah Ting-coa-pian yang dimiliki Kie Su-giok mempunyai kisah seperti itu, sepertinya dia sendiri pun tidak tahu."
Kata Coh Thian-hong.
"Aneh, mengapa Kie Yan-gan tidak memberitahu kepada'' cucunya?"
Kata Tong Hwie-yan.
"Apa anehnya, Kie Yan-gan adalah orang yang sangat angkuh-ilmu silatnya selalu dianggap nomor satu di dunia, tapi pada saat bertarung dengan U-bun Pok hanya menang satu jurus dan harus mengandaikan Ting-coa-pian, dan semenjak itu pula dia mengundurkan diri dari dunia persilatan."
"Apakah bercerita kepada cucunya sendiri juga adalah hal yang memalukan?"
Kata Coh Thian-hong.
"Semenjak putranya menghilang, dia sudah sangat kecewa. Aku kira dia tidak mau ikut campur lagi di dunia persilatan bukan karena kalah bertarung dengan Ketua Pek-toh-san melainkan mendapatkan pukulan yangq berat karena putranya berkelakuan tidak baik, atau mungkin karena dia sudah bosan berkelana di dunia persilatan, dan ingin dengan tenang melewati masa tuanya bersama cucu tersayang, karena itu pula mungkin dia tidak mau menceritakan semua ini kepada cucunya."
Kata Kim-giauw.
"Tapi cucunya sendiri malah berkelana di dunia persilatan."
Coh Thian-su tidak mendengar pembicaraan mereka, dia hanya berpikir kemudian termangu-mangu sendiri. Coh Thian-hong menarik tangannya dan berkata.
"Kenapa denganmu, Toako? Kau seperti orang linglung."
"Aku sedang berpikir..."
"Aku tahu, Toako sedang memikirkan Nona Kie bukan?"
Kata Coh Thian-su.
"Ini bukan masalah biasa, aku pikir mungkin Kie Su-giok tidak tahu tentang siluman Pek-toh-san, aku yakin dia tertipu oleh bocah tengik itu!"
"Aku pikir juga begitu."
Kata Tong Hwie-yan. Coh Thian-su berkata lagi.
"Sekarang bagaimana? Dia telah menolong nyawaku, aku tidak tega membiarkan dia masuk kedalam perangkap orang lain."
Kata Tong Hwie-yan.
"Kau tidak periu khawatir, di Piau-hang banyak orang, aku yang "bertanggung jawab mencarinya. Bocah tengik itu datang menggunakan kereta kuda dan di sini jarang ada kereta yang begitu bagus, dari sanalah kita bisa mencari tahu.'' Coh Thian-su tahu bahwa pergaulan Tong Hwie-yan sangat luas, sekarang dia terpaksa harus mengandalkan bantuan Tong hwie-yan Kie Su-giok sama sekali tidak tahu identitas Pek-toh-san, tapi dalam hatinya dia mulai merasa curiga, terutama kepada ibu angkatnya, yaitu U-bun hujin. Kereta kuda berlari sangat, cepat dan hampir tiba di Sin-sa-hai. Sin-sa-hai adalah tempat tamasya, walaupun letaknya bukan berada di pinggiran kota, tapi keadaan di sana sangat sepi, matahari baru saja terbit, orang-orang yang berada di tepi danau masih sedikit. Mereka sama-sama menarik nafas dan sama-sama berbarengan berbicara.
"Adik Giok, mengapa kau bisa bertarung dengan Tong Hwie-yan, apakah kau tidak tahu bahwa dia adalah..."
"U-bun Toako, kali ini untung kau datang, aku ingin menanyakan satu hal..."
Mereka berdua sama-sama ingin bicara dulu, akhirnya U-bun Hoo berhenti bicara, tertawa kemudian berkata.
"Baiklah, adik kau yang bicara dulu, kau ingin tahu tentang apa?"
"Tolong katakan mengapa kau bisa tahu bahwa aku adalah seorang perempuan?"
Tanya Kie Su-giok. U-bun Hoo tertawa dan menjawab.
"Sebenarnya aku dan ibuku sudah tahu bahwa sejak awal kau adalah perempuan, hanya kami tidak mau mengatakannya, kami takut kau akan merasa malu."
"Bagaimana keadaan ibu angkat, apakah beliau baik-baik saja?"
Tanya Kie Su-giok dengan wajah menjadi merah U-bun Hoo terpaku dan menjawab "Dia baik-baik saja."
Kemudian dia tertawa dan berkata.
"Aku kira tadi ada hal penting yang ingin ditanyakan kepadaku, terima kasih kau masih ingat kepada ibuku."
Wajah Kie Su-giok terlihat sangat serius dan bertanya.
"Apakah kemarin malam kau bersama-sama dengan ibu angkat?"
U-bun Hoo sangat terkejut dan berkata.
"Kami memang bersama-sama, semalam kami pindah ke rumah seorang teman dan mengobrol sampai malam, setelah itu tidur."
"Mengobrol sampai jam berapa?"
"Mungkin jam 3 lebih atau mungkin jam 4."
Kie Su-giok terdiam, U-bun Hoo bertanya.
"Adik Giok, mengapa aku bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa, kemarin malam aku menemukan hal yang aneh tapi kau jangan menanyakan di mana. Saat itu kira-kira jam 3 ketika aku sedang ingin masuk ke tempat itu untuk menanyakan sesuatu, tiba-tiba ada yang memukul dan jalan darahku pun ditotok, dia menggunakan gumpalan tanah."
"Siapakah dia?"
"Aku tidak tahu, sosok orang itu seperti, seperti...Toako, kau jangan salah paham, aku tidak mengatakan..."
Mula-mula U-bun Hoo seperti terkejut, kemudian dia pura-pura baru mengerti dan berkata.
"Orang itu seperti ibuku, apakah begitu maksudmu? Pantas kau..."
Wajah Kie Su-giok memerah dan berkata.
"Aku tidak akan curiga bahwa orang itu adalah ibu angkat, tapi sosoknya begitu mirip, maka itu aku bercerita kepadamu."
Sebenarnya bila tadi U-bun Hoo tidak menolongnya dia masih akan curiga tapi sekarang dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh U-d bun Hoo. U-bun Hoo tertawa dan berkata.
"Kau jangan mudah curiga, aku tahu kau pasti tidak akans mencurigai ibu angkatmu."
U-bun Hoo melanjutkan lagi.
"Memang benar ada satu orang yang sangat mirip dengan ibuku, aku juga pernah salah mengenalinya."
Tanya Kie Su-giok.
"Apakah memang sangat mirip? Dia adalah..."
"Dia adalah kembaran ibuku, tapi kami tidak tinggal bersama. Mereka dari kecil terpisah, aku juga hanya pernah bertemu satu kali dengannya. Kemarin malam sudah terjadi apa? Pada saat apa kau ditotok?"
Kie Su-giok tidak ingin U-bun Hoo tahu aib keluarganya, dia sedang menimbang-nimbang mana yang harus dia tutupi dan mana yang bisa dia ceritakan kepada U-bun Hoo. Kie Su-giok bertanya.
"Kau beritahu dulu kepadaku, mengapa bisa datang ke sana?"
"Untuk mencarimu."
"Ya, tapi mengapa kau bisa tahu aku ada di sana?"
"Bukankah kau bilang mau mencari Coh Thian-su? Kemarin malam ada teman yang memberitahuku bahwa Coh Kim-sung diundang oleh Tong Hwie-yan dan tinggal di rumah peristirahatan di belakang Piau-hang. Sudah 2 hari kau tidak pulang, hati ibu tidak tenang, kemarin malam kami bertemu dengan teman ayah, dia mengajak kami bermalam di rumahnya. Aku takut kau akan mencari kami di penginapan, lebih khawatir akan terjadi sesuatu padamu, karena itu ibuku menyuruh aku untuk coba-coba mencari di tempat tinggal Coh Kim-sung, berharap dari mereka aku 'bisa tahu keadaanmu. Tidak disangka begitu tiba di sana, sudah melihat kau bertarung dengan Tong Hwie-yan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Kie Su-giok sudah merangkai sebuah cerita dan berkata.
"Benar, semalam aku datang untuk mencari Coh Thian-su tidak disangka musuh datang terlebih dahulu dan mereka sedang bertarung. Pada saat itu aku ditotok, begitu hari terang dan totokku baru terbuka, aku harus bertarung dengan Tong Hwie-yan, dia ingin menangkapku, dia mengira aku adalah musuh Coh Thian-su."
"Aku dengar tadi Nona Coh mengatakan bahwa kau adalah orang 'yang menolong mereka."
"Aku tidak mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi untuk menolong Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung. Aku mengira adiknya Coh , Thian-su tahu bahwa aku adalah teman kakaknya, dia sengaja mengatakan seperti itu supaya Tong Hwie-yan mau melepaskan ku."
Mereka berdua saling berbohong dan tidak saling-jujur, tapi dalam hati mereka tahu banyak perkataan mereka yang tidak benar.
Untuk menutupi kesalahan, mereka tidak berani bertanya lagi.
Hati Kie Su-giok masih banyak pertanyaan, dia tetap ingin bertemu dengan U-bun hujin, hatinya masih bimbang, dia seperti seekor burung walet yang diterpa badai, dan sudah sangat lelah.
Yang dia pikirkan saat ini dia hanya ingin pulang ke sarangnya, dia tidak peduli apakah sarang itu adalah sarangnya yang dulu atau bukan, asal tidak terkena badai itu sudah cukup, bila ada yang menyayanginya, itu akan lebih baik lagi.
Hanya dalam satu malam sudah terjadi banyak perubahan pada dirinya.
Semua begitu tiba-tiba dan tidak disangka sama sekali.
Ayah dan ibunya yang dia kira selama ini sudah meninggal, ternyata mereka masih hidup.
Dia menemukan banyak hal yang jelek dan jahat.
Mungkin ayah dan ibunya juga patut untuk dikasihani.
Tapi dia belum pernah mengalami siksaan seperti ini, hatinya lemah dan tidak dapat menerima kenyataan buruk.
Waktu kecil dia sangat berharap bisa seperti anak-anak lain, memiliki ayah dan ibu, tapi sekarang setelah bertemu dengan orang tuanya ternyata dia tidak bisa berkumpul dengan mereka.
Setelah sulit didapat kemudian hilang lagi, benar-benar membuat orang kesal Kakeknya berada jauh dari sini, begitu pula dengan Paman Ting dan Ong Toanio.
Siapa yang bisa menghiburnya?
Dia ingin mencari Wie Toako, tapi akan ke mana dia mencarinya?
Waktu U-bun hujin ingin mengakui dia sebagai anak angkat, dia hanya menuruti kemauan U-bun hujin, tapi sekarang ini perasaannya kepada U-bun hujin seperti sudah menjadi keluarganya Kereta kuda terus berlari, sudah melewati jembatan "Adik Giok, kita sudah tiba!"
U-bun Hoo membangunkan dia dari lamunannya Dia melihat sekeliling dan berkata.
"Pemandangan pulau kecil ini sangat indah, apakah temanmu tinggal di sini?"
"Benar, kau lihat taman bunga yang luas itu, nah itu adalah rumahnya!"
"Rumahnya begitu besar, dia pasti orang kaya."
"Dia tidak kaya, hanya nenek moyangnya yang kaya, sekarang dia hanya orang biasa, di taman pun tidak ada bunga dan pohon. Tapi bila kau menyukai tempat sepi, tempat ini pasti cocok untukmu."
"Oh, indah sekali! Aku ingin beristirahat selama beberapa hari disini!"
"Apakah kau mau aku menemanimu?"
U-bun Hoo mulai mengatakan yang tidak-tidak.
"Tidak perlu, aku hanya ingin ibu angkat yang menemaniku."
Kereta kuda sudah berhenti di depan sebuah pintu, U-bun Hoo msmbantu Kie Su-giok keluar dari kereta, kemudian sama-sama masuk ke dalam rumah Di tengah taman ada sebuah rumah kecil, Kie Lek-beng dan U-bun hujin sedang mengobrol.
Rumah kecil ini tepat menghadap ke arah taman.
Begitu terdengar suara kereta kuda yang berhenti, Kie Lek-beng melihat keluar jendela Tiba-tiba U-bun hujin tertawa dan berkata.
"Adik ipar, siapa orang yang paling kau rindukan?"
Kie Lek-beng tidak menjawab Tanya U-bun hujin lagi.
"Apakah kau tidak suka aku memanggilmu adik ipar? Baiklah sementara aku akan memanggilmu Tuan Kie, orang yang kau rindukan pastel, bukan adikku yang bernasib malang, apakah dia Coh hujin, Song Eng-lam Atau putrimu yang tidak mau mengakui dirimu sebagai ayahnya?"
Kie Lek-beng menahan kemarahan dan berkata.
"Itu bukan urusanmu!"
U-bun hujin tertawa dan berkata.
"Sebenarnya aku juga tidak mau mengurusi tetek bengek seperti itu, tapi di depan sudah ada yang mencariku. Apakah aku harus meladeni dia atau jangan?" ' Pada saat itu U-bun Hoo sedang memapah Kie Su-giok masuk ke taman. Tiba-tiba U-bun hujin berteriak.
"Kau lihat, siapa yang datang?"
Kie Lek-beng sangat terkejut hingga dia meloncat. U-bun hujin menyuruhnya duduk kembali dan tertawa.
"Tenanglah sedikit, bukannya aku tidak mengijinkan kalian bertemu, kau harus tahu terlebih dahulu bagaimana perasaan putrimu, mungkin dia belum mau mengakuimu sebagai ayahnya."
Kata-kata ini seperti panah menusuk ke dalam hati Kie Lek-beng, dengan sedih dia duduk kembali.
"Kau sudah tahu dia tidak mau bertemu denganku, mengapa kau menangkapnya?"
Dengan mata merah dia memelototi Kim-ho. U-bun hujin tertawa dan menjawab.
"Sekali membuka mulut selalu salah bicara, coba kau lihat dia, apakah dia seperti dipaksa datang kemari?"
Tenaga Kie Su-giok belum kembali, apalagi luka di hati bila tidak dipapah oleh U-bun Hoo, dia tidak akan bisa berjalan seimbang. Dengan ragu-ragu dan sedikit terkejut Kie Lek-beng bertanya.
"Siapa pemuda itu?"
"Dia adalah putraku bernama U-bun Hoo, kau lihat bukankah mereka sangat dekat, kau harus percaya bahwa Su-giok tidak dipaksa untuk datang ke sini."
Tanya Kie Lek-beng.
"Mengapa dia bisa kenal dengan putramu?"
Tapi dalam hati dia berkata, 'Dengan cara apa kalian menipunya untuk datang ke sini?' tapi karena belum tahu penyebabnya, dan dia sendiri pun berada di tempat orang lain, dengan terpaksa dia hanya bisa menahan diri, walaupun kata-kata Kim-ho terdengar ramah tapi ekspresinya begitu menakutkan.
Kata U-bun hujin.
"Untuk sementara ini kau tidak perlu mengurusi hal ini, kau percaya saja kepadaku, aku akan berbuat baik untukmu."
Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata.
"Bila kau mau berbaik hati untukku, lepaskanlah dia!"
U-bun hujin menggelengkan kepala dan berkata.
"Benar-benar tidak tahu kebaikan hati orang, sengaja aku undang putrimu datang ke sini karena aku tahu kau merindukannya."
"Bila kau ingin mendapatkan putrimu kembali, mungkin kau butuh bantuanku,"
U-bun hujin berkata lagi.
"Aku tidak yakin dengan hal ini tapi putri yang sangat kau sayangi itu sangat menurut kepadaku, maka aku akan membantumu kau tidak perlu khawatir, tapi kau harus bersabar selama beberapa hari. Begitu kemarahannya reda, aku akan menasihatinya saat itulah kalian akan menjadi ayah dan anak lagi "
Kie Lek-beng sudah tidak tahan lagi dan berkata.
"Aku tidak butuh bantuanmu! Hei, dengar kau! Bila tidak mau aku memutuskan hubungan ini, segera kembalikan putriku!"
Dengan tertawa U-bun hujin berkata.
"Mungkin aku akan menyuruhnya pulang, tapi dia juga belum tentu mau. Kau lihat, mereka begitu dekat, putraku tidak akan menghina putrimu!"
Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.
"Jelaskan kepadaku, kau mau mengatur putriku sampai seperti apa?"
"Jangan berkata dengan kata-kata yang begitu menusuk telinga, apakah mereka terlihat tidak serasi? Kita sebenarnya keluarga bukan? Sekarang bila kita berbesan, bukankah itu lebih baik?"
Dengan marah Kie Lek-beng berkata.
"Jangan kau kira karena aku berada dalam genggamanmu, aku harus mendengar kata-katamu. Apakah kau percaya aku bisa mati berbarengan denganmu? Bila aku menggunakan ilmu Thian-mo-kai-te-hoat, aku akan mengorbankan nyawaku, Su-kut-san-mu akan hilang khasiatnya!"
U-bun hujin terkejut dalam hati dia berpikir, 'Ilmu orang ini tidak banyak diketahui oleh orang-orang, sepertinya dia tidak boleh ditekan.' Segera dia tertawa dan berkata.
"Jangan marah-marah terus, bila ada apa-apa pelan-pelan saja ceritanya."
"Bila kau tidak mau melepaskan putriku, aku beritahu kepadamu, aku akan lebih baik mati daripada membiarkan putriku menjadi menantumu!"
"Bila kau ingin merusak hubungan antara mereka terpaksa aku akan menyuruh dia untuk menjauhkan putrimu untuk sementara waktu."
"Bukan sementara waktu tapi untuk selama-selamanya, aku rela ikut kalian pulang ke Pek-toh-san tapi aku tidak mengijinkan putramu untuk bertemu dengan putriku!"
"Jangan terburu-buru, kau lihat bagaimana akrabnya mereka, kau tega memisahkan mereka? Apalagi aku belum ingin kembali ke Pek-toh-san bila putrimu mengikutiku, mereka akan jarang bertemu, kau juga akan lebih tenang."
Kata Kie Lek-beng.
"Aku tidak mau dia tinggal di sisimu, aku tidak peduli dengan cara apa pun suruh Su-giok tinggalkan tempat ini dan kembali ke rumah kakeknya!"
Kata U-bun hujin.
"Dari tadi kau yang menawar terus, sekarang giliranku yang menawar.Kau memandang sebelah mata kepada kami, soal peqodohanj mereka aku tidak berani ikut campur, kita anggap saja ini adalah bisnis, tidak sepakat, habis perkara!"
"Bila tidak sepakat apa konsekuensinya?"
"Bila tidak sepakat, aku tidak akan mengurus mereka lagi, aku akan membiarkan apa adanya."
"Baiklah, apa syarat darimu?"
Kata U-bun hujin.
"Sebisa mungkin aku nasibatimu putrimu untuk kembali ke rumah kakeknya, tapi kau harus menukarnya dengan seseorang."
"Siapa?"
Tanya Kie Lek-beng. Kata U-bun hujin.
"Katanya kau mempunyai Suheng she Wie, ayahmu lebih sayang kepadanya dari pada kepadamu, karena itu kau selalu iri kepadanya."
Jawab Kie Lek-beng.
"Wie Toako sudah lama meninggal."
"Aku tahu itu, tapi putranya adalah orang terkenal di dunia persilatan, sekarang dijuluki Hui-thian-sin-Iiong atau disebut juga Wie Thian-hoan."
Kie Lek-beng terpaku dan bertanya.
"Kau ingin aku menangkapnya dan menukarnya dengan putriku? menangkap naga terbang itu."
Tanya Kie Lek-beng.
"Bukankah antara kau dan dia tidak ada dendam apa pun?"
"Kau tidak perlu tahu alasannya, asal kau bisa menangkapnya dan membawanya kemari, aku akan membiarkan putrimu pulang ke rumah kakeknya."
"Di mana dia sekarang?"
"Bila kau setuju, aku baru akan mengatakannya."
"Walaupun waktu ayahnya masih hidup kami tidak pernah akur, tapi itu adalah masalah kecil, bagaimana pun dia adalah Sutit, tidak ada alasan yang lebih tua menghina yang lebih muda."
Kata U-bun hujin.
"Itu terserah padamu, bila kau menganggap Sutit lebih penting dari putrimu, aku pun tidak bisa melakukan apa-apa."
Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Wie Thian-hoan adalah orang yang dicintai oleh Su-giok, kali ini tujuanku ke ibukota adalah untuk membantunya secara diam-diam tapi sekarang bagaimana aku malah harus mencelakainya"
"Kau tahu, sebenarnya putrimu bisa menjadi menantuku, aku kehilangan menantu yang baik, tapi aku harus mendapatkan bocah tengik itu untuk ditukar dengan putrimu. Aku akan menjadikan Hui-thian sebagai pelayanku. Bila dihitung-hitung, aku sudah rugi sangat besar, bila kau tidak setuju, lebih baik kita berbesan saja."
Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Aku pernah dengar, dalam mimpi Su-giok memanggil-manggil nama Thian-hoan, mengapa sekarang dia malah menyukai bocah tengik si U-bun Hoo itu?
Melihat mereka begitu akrab mau tidak mau aku pun jadi percaya.' "Jujur bicara, aku masih menyukai putrimu, karena aku adalah ibu angkatnya!"
Kata U-bun hujin Kie Lek-beng langsung meloncat dan berkata.
"Apa?! Kau adalah ibu angkatnya?!"
"Kau tidak percaya? Sebentar lagi coba kau dengar lebih seksama, sekarang aku akan turun untuk menjemput putri angkatku."
Kata Kie Lek-beng.
"Apakah harus sekarang menyetujui syarat-syaratmu tadi?"
Dari kata-kata Kie Lek-beng, dia ingin diberi kesempatan untuk berunding. Mata U-bun hujin penuh dengan tawa dan berkata.
"Baiklah, kau boleh pelan-pelan memikirkannya kembali, aku tidak akan memaksamu, sesukamu saja, kapan pun boleh, mau itu 10 hari, setengah bulan, 10 tahun atau 8 tahun juga tidak menjadi masalah tapi syaratku tidak berubah. Bisnis ini harus disetujui oleh kedua belah pihak -baru bisa berjalan, kau pikir saja dengan tenang, aku tidak akan mengganggumu."
Sambil berkata seperti itu dia sudah membalikkan tubuh dan keluar.
Kie Lek-beng tetap berada di dalam kamar, hatinya tidak bisa tenang.
Maksud dari U-bun hujin sangat jelas, waktu tidak akan ditentukan, tapi harus ada pertukaran orang.
U-bun hujin sudah menjadikan putrinya sebagai sandera, selama 8 tahun, 10 tahun, waktu tidak menjadi masalah!
Begitu Su-giok bertemu dengan U-bun hujin, dia seperti bertemu dengan keluarganya, dia langsung masuk ke dalam pelukan U-bun hujin dan memanggilnya ibu.
U-bun hujin membelai rambutnya dengan lembut dan berkata.
"Putriku yang baik, apakah kau dihina? Jangan takut, kau anggap saja ini adalah rumahmu, kau sudah kembali ke sisiku, aku akan melindungimu sehingga tidak ada orang yang berani menghinamu lagi."
Kie Su-giok berteriak.
"Ibu angkat, kau begitu baik kepadaku, aku...aku..."
Dia tidak tahu bagaimana cara mengatakan semua ini kepada ibu angkatnya.
"Anak Giok, kau tidak perlu bicara apa-apa, kamarmu sudahg dibereskan, yang kau butuhkan sekarang adalah istirahat."
Kie Su-giok sangat berterima kasih atas kepedulian ibu angkatnya tidak sengaja dia bersandar ke pundak ibu angkatnya, seperti seorang anakn perempuan yang minta perlindungan kepada ibu kandungnya.
Kie Lek-beng melihat semua itu dari jendela, begitu dia menyaksikan semua itu, hatinya seperti ada benda yang berat yang berjatuhan dan menenggelamkannya.
"Dengan cara apa dia bisa membuat Su-giok menjadi penurut Apakah benar Su-giok sudah jatuh cinta kepada putra dari Kim-ho?"
Sebenarnya dia ingin membantu Hui-thian karena Hui-thian jelas-jelas adalah orang yang dicintai oleh putrinya, tapi bila orang itu bukan Hui-thian, dia masih bisa mengubahnya.
"Aku lebih suka anak Giok menikah dengan Wie Thian-hoan, tapi mengapa Wie Thian-hoan tidak dapat mengambil hati anak Giok, malah membuat putriku tertipu oleh orang lain, semua ini salah Wei TianY karena nasibnya tidak begitu baik. Sebenarnya aku tidak mengijinkan anak Giok menikah dengan siluman Pek-toh-san, terpaksa aku harus menangkap Wie Thian-hoan dan menukarnya dengan putriku."
Hatinya sangat kacau, tidak sengaja dia memegang benda yang tersimpan di balik bajunya, seperti tersengat listrik, hatinya bergetar, dia mengeluarkan barang itu.
Benda apakah itu?
Itu adalah buku Biauw-ang yang dimiliki olehnya pada waktu kecil dulu, buku ini diberikan oleh ayahnya untuk Coh Tbian-su agar dijadikan pelindung.
Jimat ini sudah menolong Coh Thian-su dari kematian.
Buku ini sudah kembaii lagi kepadanya.
Buku ini membuktikan cinta ayahnya kepadanya, tiap goresan tinta merah seperti darah ayahnya Kemarin malam dia bersumpah kepada buku ini tidak mau melukai perasaan ayahnya lagi, apakah hari ini dia sudah melupakannya?
Wie Thian-hoa adalah murid yang dididik dan diajar langsung oleh ayahnya, bahkan menganggap Wie Thian-hoan seperti cucunya sendiri.
"Dalam hati ayah, posisi Coh Thian-su tidak sepenting Wie Thian-hoan, ayah tidak mengijinkanku melukai Coh Thian-su, terlebih-lebih dengan Wie Thian-hoan, bila aku melukai Wie Thian-hoan, ayah akan sedihnya seperti apa?"
Kie I.ek-heng tidak berani memikirkan akibatnya.
Walaupun U-bun hujin tidak memberi tahu kepadanya mengapa dia harus menangkap Wie Thian-hoan, tapi Kie Lek-beng yakin tujuannya tidak baik Mungkin Kim-ho akan memberikan Wie Thian-hoan kepada Bok Ci-giauw sebagai hadiah.
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah melukai hati ayah. Sekarang ayah sudah tua, apakah aku harus melukainya sekali lagi dan membuatnya terpukul? Bahkan ingin menyerahkan orang yang dianggap ! cucu oleh ayah kepada orang lain?"
Tapi bila dia tidak menyerahkan Wei TianYuan kepada U-bun hujin, dia tidak akan bisa menolong putrinya Dia mencintai ayahnya, dia pun mencintai putrinya, dia tidak boleh melukai hati ayahnya, dia pun tidak mau putrinya jatuh ke tangan penjahat keji seperti U-bun hujin.
Harus bagaimana lagi?
Harus bagaimana lagi?
Dia sendiri pun tidak tahu haius bagaimana lagi?
Yang dia tahu putrinya sudah ditipu oleh U-bun hujin.
Putrinya menjadi sandera U-bun hujin, maka dia harus mendengar semua kata-kata U-bun hujin.
Terperangkap oleh rencana busuk, sulit untuk kembali, dengan terpaksa menangkap keponakan seperguruan untuk ditukar dengan putri kandung.
Apa yang akan terjadi?
---ooo0dw0oo---BAB 16 Menghina orang Menculik perempuan Pura-pura gila Menghukum yang jahat A.
Di Tengah Perjalanan Wie Thian-hoan sudah turun dari gunung barat menuju ibukota.
Hati Wie Thian-hoan diliputi oleh banyak pertanyaan dan sekarang dia ingin mencari jawabannya.
Siapa yang mengkhianati ayahnya?
Yang paling dia curigai adalah Hie Tiong-gwee.
Kali ini Hui-thian datang ke ibukota tidak lain adalah untuk mengetahui dan mencari hal sebenarnya.
"Tidak disangka sebelum ada kesempatan membuat perhitungan dengan Hie Tiong-gwee malah sudah bertemu dengan putrinya."
Yang paling membuatnya aneh adalah dia bisa bertemu dengan Pendekar Yang-ciu, Coh Kim-sung.
"Aneh, mengapa Coh Tayhiap bisa menjadi pengawal Bok Ci-giauw? Dan mengapa putrinya bisa bareng bermain dengan putri Hie Tiong-gwee di Si-san? Apakah Coh Tayhiap sudah berteman dengan mereka?"
Tapi dia pun tahu bahwa perkiraannya tidak masuk akal.
Dia menendang batu yang berada di pinggir jalan, batu itu terbang ke atas dan terbelah menjadi 8 bagian, dia sangat puas melihat hasilnya, dalam hati dia berpikir.
"Kemarin Coh Kim-sung tidak menggunakan seluruh tenaganya, bila tidak hari ini aku tidak bisa menendang batu itu malah mungkin tidak bisa berjalan."
Kemarin dia sempat beradu telapak tangan dengan Coh Kim-sung, dia tahu bahwa Coh Kim-sung tidak ingin melukainya, tapi kemarin malam dia pun tidak menggunakan seluruh tenaganya, walau bagaimana pun dia berterima kasih kepada Coh Kim-sung karena tidak menganggap dia sebagai orang yang jahat dan di hadapan Tuan Peng malah melepaskan dia pergi.
Tuan Peng adalah ketua pengawal Bok Ci-giauw, dari sana dia yakin bahwa Coh Kim-sung belum menjadi kaki tangan Bok Ci-giauw.
"Bok Ci-giauw dan Hie Tiong-gwee akan mencari siapa lagi dalam menghadapiku? Bila Coh Kim-sung bukan orang yang mereka cari mengapa dia bisa bersama dengan Tuan Peng? Kedua putra Bok Ci-giauw pun sepertinya menganggap Coh Kim-sung orang sendiri?"
Wie Thian-hoan tidak mendapatkan jawabannya maka dia sangat ingin bertemu dengan Coh Kim-sung dan langsung menanyakannya, sekali pun itu berbahaya, dia tetap ingin mencari Coh Kim-sung Alasan sebenarnya bukan itu, dia ingin bertemu dengan Coh Kim-sung karena dia teringat kepada putranya.
Di Lok-yang dia pernah bertarung dengan Coh Thian-su, walaupun Coh Thian-su bukan teman, tapi paling sedikit dia bukan musuh.
Dia pernah salah sangka kepada Coh Thian-su, dia mengira Coh Thian-su menyukai Hiat-kun, tapi kesalahpahaman ini belum terhapus semuanya, dia pernah melihat Coh Thian-su dan Hiat-kun berada dalam satu perahu dan duduk berbarengan sepertinya sangat akrab, dia juga tahu bahwa, Coh Thian-su dan Hiat-kun saat ini berada di ibukota.
Jika ingin mencari Coh Kim-sung bukanlah hal yang sulit, dia tahu.
bahwa Coh Kim-sung adalah tamu kantor Sin-hoan Piaukok.
Bila Coh Thian-su sudah tiba di ibukota, dia pasti akan tinggal dengan ayahnya, paling sedikit ayahnya tahu dia berada di mana.
Wie Thian-hoan tahu Hiat-kun tidak akan mengubah rasa cintanya kepada Wie Thian-hoan, walau bagaimana pun dia ingin bertemu dengan Hiat-kun.
"Sebenarnya Coh Thian-su pantas untuk dijadikan teman."
Walau ingin tahu keadaan Hiat-kun dari Coh Thian-su, tapi dia memang ingin bertemu dengan Coh Thian-su.
Sekarang dia memakai baju seperti orang yang sangat umum, tidak membuat orang-orang mencurigainya, dia mondar mandir di sisi sungai, dalam hati dia berpikir.
Baca Juga: Panji Wulung 7
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 5