Jala Pedang Jaring Sutra 10

Eps 10 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

"bila ada yang mengenalku di dunia ini, paling banter hanya ada 2 orang, bahkan mungkin Hiat-kun pun tidak akar mengenaliku.' Dia sangat puas terharap perubahan dirinya, tapi begitu teringat kepada adik seperguruannya, hatinya tergerak juga.

"Adik sekarang berada di mana ? Walau dia, Hiat-kun dan Thian-su berada di dalam satu perahu, apakah dia juga akan ikut ke ibukota? Dia mengira aku akan pulang, mungkin dia sedang menungguku di rumah."

Begitu memikirkan ada orang yang begitu setia menunggu, kepulangannya, dia menjadi tidak enak hati. Tapi bayangan Hiat-kun tetap tidak terlupakan. Coh Kim-sung dan Yu He-cu sudah dibawa ke Piau-hang.

"Beristirahat di sana lebih aman, Coh Thian-su pun mengikuti ayahnya ke Piau-hang. Di rumah itu masih ada 2 orang lainnya, mereka adalah Coh Thian-hong dan Hie Kim-giauw. Semua orang sudah pulang mereka berdua akhirnya duduk Kata Kim-giauw.

"Keluargamubarumendapatkan musibah, aku jadi merepotkanmu, maafkan aku!"

Kata Coh Thian-hong.

"Ayahku sudah diurus oleh Toakoku, aku juga tidak bisa membantu apa-apa di sana, mengapa kau tidak mau ke Piau-hang?"

Jawab Kim-giauw.

"Di sana banyak orang, bukan tempat yang baik untuk mengobrol. Coh Toako, aku mempunyai hal yang tidak dapat dibereskan, tidak ada forang yang bisa kuajak berdiskusi."

"Umurku lebih kecil darimu, panggil saja aku adik, tidak perlu sungkan."

Kata Coh Thian-hong "Hal ini sangat memusingkanku, tapi ini pun ada hubungannya denganmu, apakah kau bisa menduganya?"

Coh Thian-hong tampak berpikir, 'Apakah ada hubungannya dengan kejadian di gunung barat?' "Aku menceritakan semuanya kepada ayahku, ternyata memang benar aku sudah dijodohkan oleh ayahku dengan putra sulung Bok Ci-giauw!"

Sambung Kim-giauw lagi.

"Pantas kalian selalu menghina ayahku, aku juga malu mempunyai layah seperti itu, dia menyuruhku datang kemari agar menasihatimu supaya mau menikah dengan putra kedua Bok Ci-giauw!"

Setelah Coh Thian-hong mendengar perkataan Hie Kim-giauw, dia tertawa dan berkata.

"Ternyata kau disuruh menjadi mak comblang, bila ayahmu tahu bahwa kau ke sini untuk mencari akal dalam menghadapi ayahmu, dia akan sangat menyesal karena sudah salah memilih mak comblang."

Kata Kim-giauw.

"Kau masih bisa bercanda, bila aku tidak pura-pura setuju, mana bisa aku datang ke sini untuk mencarimu?"

Kata Coh Thian-hong.

"Bila diketahui oleh ayahmu, maka kau tidak menjadi anak yang berbakti lagi."

"Siapa yang ingin menjadi anak yang berbakti?"

Kata Coh Thian-hong.

"Bila kau tidak sejalan dengan ayahmu, tidak perlu malu."

"Tapi sekarang ini aku masih tinggal bersama ayah dan tinggal di rumah Bok, aku seperti tinggal di sarang serigala. Setiap hari merasa tidak tenang, bila aku tidak mau menurut kepada mereka, aku takut... takut..."

Kata Coh Thian-hong.

"Kau takut akan diterkam oleh serigala?"

"Kau masih bisa bercanda, sekarang mereka sudah mencari kita, bagaimana cara menghadapinya, kita harus berbuat bagaimana?"

Kata Coh Thian-hong.

"Aku tidak percaya mereka berani menculikku, walaupun ayahku masih sakit dan terbaring di tempat tidur, tapi tidak ada orang yang berani menghinaku!"

Hie Kim-giauw tertawa kecut dan berkata.

"Kau mempunyai ayah dan kakak yang baik, sedangkan aku anak yatim, tidak ada orang yang mau melindungiku."

Mata Kim-giauw mulai menjadi merah. Kata Coh Thian-hong.

"Kau jangan cemas, kau menganggap aku adalah adikmu, berarti Toakoku juga Toakomu Kami pasti akan membantumu. Coba kau ceritakan semua, kau berharap bagaimana kami bisa menolongmu?"

Kim-giauw menarik nafas dan berkata.

"Tadinya aku berharap bisa melarikan diri denganmu, tapi ayahmu sekarang sedang sakit, bagaimana kau bisa pergi?"

Tiba-tiba ada seseorang yang tertawa dan berkata.

"Nona Hie, kau salah, aku disuruh ayah supaya adikku pulang ke kampung halaman kami."

Ternyata Coh Thian-su sejak tadi sudah berada di dalam, Coh Thian-hong sangat senang, dia berkata.

"Toako, kau datang tepat pada waktunya"

Coh Thian-su tertawa dan berkata.

"Benar, aku sudah mendengar pembicaraan kalian."

Coh Thian-su berkata lagi.

"Nona Hie, kau mempunyai rencana begitu bagus, tapi ada seorang yang begitu mencemaskan dirimu jika tidak akan mau meninggalkan ayahmu."

Kim-giauw terpaku dan bertanya.

"Siapa dia?"

"Nanti aku akan beritahu kepadamu, bila kalian ingin meninggalkan ibukota, cepatlah! Aku akan menyiapkan kereta kuda, Adik cepat bereskan baju!"

Kata Coh Thian-hong.

"Nanti dulu Toako, jangan tergesa-gesa, aku ingin tahu mengapa ayah menyuruhku segera meninggalkan ibukota? Apakah ayah juga tahu tentang hal ini?"

Karena kemarin begitu Coh Thian-hong pulang, Coh Kim-sung langsung pergi ke Piau-hang karena diundang oleh Tong Hwie-yan.

Begitu tiba di rumah, Coh Thian-hong sudah ditotok oleh Kie Lek-beng.

Masalah Coh Thian-hong sudah dihina oleh putra Bok Ci-giauw, dia belum memberitahu kepada ayahnya.

Kata Coh Thian-su.

"Ayah menyuruh kita pulang bukan karena masalah ini, sebenarnya ayah pun tidak mau tinggal lebih lama di ibukota Ayah sedang sakit dan sedang dirawat oleh Paman Tong, kita tidak perlu khawatir, karena itu dia menyuruh kita cepat-cepat kembali ke kampung halaman."

Coh Thian-hong sangat senang dan berkata.

"Bila ayah sudah mengambil keputusan seperti ini, aku akan segera bersiap-siap!"

Hie Kim-giauw masih ragu dan bertanya.

"Coh Toako, apakah aku boleh tahu siapa orang itu?"

Kata Coh Thian-su.

"Sebentar lagi dia akan datang, tapi sebelumnya kau harus sudah bisa menduga."

Kemudian Coh Thian-su berlalu dari tempat itu. Benar saja, Coh Thian-su sudah kembali dan ada seseorang yang dengikuti dia dari belakang. Begitu Kim-giauw melihat orang itu, dia berteriak.

"Kwee Toako, ternyata orang itu adalah kau!"

Orang yang datang tidak lain adalah kekasih Kim-giauw yang bernama Kwee Goan-cay. Kata Kwee Goan-cay.

"Aku mengira kau tinggal di rumah Keluarga Bok bersama dengan ayahmu."

Kata Kim-giauw.

"Kapan aku tinggal di rumah Keluarga Bok, apakah Coh Thian-su sudah memberitahu semuanya kepadamu?"

"Aku memang tidak ingin bertemu dengan guru, aku ingin meninggalkan tempat mi bersama denganmu."

Mereka bertiga segera naik ke atas kereta kuda. Kata Coh Thian-su.

"Kwee Toako, aku harap kau hati-hati, aku menitipkan mereka kepadamu!"

Coh Thian-hong terpaku kemudian bertanya.

"Apakah Toako tidak mau ikut?"

"Sudah cukup ada Kwee Toako yang mengantar kalian, aku harus tinggal di sini untuk mengurus ayah."

Kata Coh Thian-hong.

"Kalau begitu aku dan Kakak Hie pergi dulu, aku berharap ayah cepat sembuh jadi kalian pun bias cepat pulang."

Kata Hie Kim-giauw.

"Bila aku tidak pulang-pulang, ayah pasti akan mencariku dan dua bersaudara Bok itu pasti akan mencari ribut. Coh Toako, lebih baik kau tidak perlu menemui mereka."

"Aku tahu, nah kalian pergilah dulu!"

Setelah mengantar kepergian adiknya dia kembali ke Piau-hang untuk mencari tahu tentang seseorang.

Tong Hwie-yan sudah berjanji akan membantunya mencari Kie Su-giok Alasan dia masih tinggal di ibukota adalah pertama, dia memang ingin merawat ayahnya, alasan kedua dia ingin mencari Kie Su-giok.

Kwee Goan-cay dan kedua gadis itu sudah keluar dari kota melalui pintu barat, baru menempuh setengah perjalanan di depan ada jalan yang bercabang.

Kwee Goan-cay mengeluarkan sebuah peta dan berkata.

"Kita lewat jalan besar atau jalan kecil?"

Coh Thian-hong tertawa dan berkata.

"Pantas kau sangat hafal dengan jalan-jalan di sini, ternyata kau membawa peta, aku sama sekali tidak sadar."

Kata Kwee Goan-cay.

"Peta ini diberikan oleh orang Piau-hang, peta mereka lebih jelas dibandingkan dengan peta yang dijual di toko-toko."

Mereka melewati jalan gunung, kereta bergoyang-goyang, tapi hati Hie Kim-giauw sangat senang.

"Setengah bulan berada di ibukota, semua orang yang aku temui membuatku kesal kecuali Coh Thian-hong Tinggal di rumah Bok seperti tinggal di dalam kurungan. Hari ini aku baru merasa bisa bebas."

Tanya Kwee Goan-cay.

"Semenjak kau dan guru tiba di ibukota, apa yang telah terjadi?"

Jawab Kim-giauw.

"Banyak hal sudah terjadi, entah dari mana aku harus memulai ceritanya"

Kim-giauw menceritakan beberapa masalah yang terjadi di Keluarga Bok.

Walaupun dia tidak menjelek-jelekan nama ayahnya, tapi dari semua yang dia ceritakan, Kwee Goan-cay sudah tahu bahwa kabar yang beredar di luar tentang gurunya yaitu Hie Tiong-gwee yang walaupun tidak menjual diri untuk menjadi kaki tangan Bok Ci-giauw, tapi sudah dapat dikatakan menjilat yang berkuasa di ibukota semua itu adalah benar.

Dalam hati dia berpikir, 'Dulu di Lok-yang, Paman Pau pernah marah kepada guru dan menyebut bahwa guru adalah orang yang berpura-pura, waktu itu aku masih marah, tidak disangka kelakuan guru lebih buruk dari yang kubayangkan."

Satu hal lagi yang masih dia khawatirkan adalah tentang Hiat-kun dia tidak mendapat kabar sama sekali tentangnya Dia takut Hie Kim-giauw curiga bila dia bertanya maka dia pun diam saja.

Tiba-tiba Kim-giauw tertawa dan berkata "Ada satu hal yang pasti tidak disangka sama sekali, ternyata Hui-> thian tidak sejahat yang dipikirkan oleh ayah, dia bahkan pernah menolongku dan Adik Coh!"

Kwee Goan-cay terkejut dan bertanya.

"Kalian sudah pernah bertemu dengannya?"

"Benar, kemarin kami bertemu dengannya di gunung barat."

Tanya Kwee Goan-cay.

"Apakah dia hanya sendiri?"

Hie Kim-giauw aneh dengan pertanyaan Kwee Goan-cay dan bertanya.

"Kau kira masih ada siapa lagi?"

Segera dia mengerti dan tertawa.

"Aku tahu, kau ingin tahu apakah Kang Hiat-kun bersama-sama dengannya? Apakah benar?"

Wajah Kwee Goan-cay memerah dan berkata.

"Semua keluargamu mengatakan bahwa Hui-thian kawin lari dengan Kang Hiat-kun, aku merasa aneh, maka itu aku bertanya kepadamu. Hie Kim-giauw melihatnya dan bertanya.

"Apakah kau tidak percaya?"

"Menurutku ini hanya gosip murahan!"

Kata Hie Kim-giauw.

"Apakah mereka kawin lari atau tidak, aku pun tidak tahu tapi Kang Hiat-kun pasti tidak berani datang bersama dengan Hui-thian ke Ibukota karena ilmu silatnya tidak setinggi Hui-thian, dia juga takut ayahku Kkan menangkapnya!"

Tiba-tiba Kim-giauw seperti mendengar suara yang dia kenal datang dari arah belakang.

"Walau bagaimana pun kita harus bisa menangkapnya dan membawanya pulang!"

Kim-giauw sangat terkejut dan membuka tirai, terlihat di jalan kecil itu ada tiga ekor kuda yang berlari sangat cepat, orang-orang itu adalah putra sulung, Bok-Ling-ku, yang satu lagi adalah pengawal Bok Ci-giauw, Tuan Pheng, dan yang satu lagi adalah seorang laki-laki yang tidak dia kenal.

Laki-laki itu tinggi dan besar, terlihat seperti seorang raksasa Orang yang bicara tidak lain adalah Bok Ling-ku.

Kereta kuda tidak bisa berjalan dengan cepat di jalan pegunungan.

Ketiga ekor kuda itu dengan cepat sudah mengejar mereka.

Tuan Pheng berteriak.

"Berhenti!"

Kwee Goan-cay tidak menghentikan kudanya, raksasa yang mengejar di belakang tiba-tiba meloncat dari atas kudanya dan menarik kereta itu hingga tidak dapat berjalan lagi, bahkan kereta itu mundur dan kuda-kuda yang menarik kereta langsung jatuh, kereta pun ikut terguling.

Sebelum kereta terguling, Kwee Goan-cay dan kedua gadis itu dengan cepat meloncat keluar.

Kata Tuan Pheng.

"Tuan Tong, kau dijuluki dewa bertenaga besar, memang tidak bernama kosong!"

Bok Ling-ku memuji Tuan Pheng dan berkata.

"Tuan Pheng benar-benar pintar meramal, mereka benar-benar lewat jalan kecil ini."

Ternyata Hie Tiong-gwee menunggu anak gadisnya yang tidak pulang-pulang, dia bertanya kepada Tuan Pheng, tapi hal ini diketahui oleh Bok Ling-ku, maka dia pun ingin ikut, mereka membawa seorang tukang pukul baru, bernama Tong Kai-cia, dijuluki dewa bertenaga besar.

Mereka datang ke Piau-hang untuk menanyakannya, Tong Hwie-yan tentunya tidak akan memberitahu, tapi ada seseorang yang membentahu, dia adalah orang Piau-hang yang memberikan peta kepada Kwee Goan-cay.

Orang ini tahu mereka keluar dari kota melalui jalan barat.

Kwee Goan-cay keluar dari kereta dan berteriak.

"Kalian mau apa? Apakah siang-siang begini kalian sudah mau merampok?"

Bok Ling-ku melihatnya dan tertawa.

"Apakah kau tahu, Hie Tiong-gwee sudah menyerahkan putrinya kepadaku, berani sekali kau merebut milikku, malah marah-marah kepadaku!"

Hie Kim-giauw sangat marah juga malu, dia mencabut pedangnya dan berkata.

"Sembarangan bicara, siapa yang sudi menjadi milikmu!"

Dengan dingin Bok Ling-ku berkata.

"Pantas kau tidak mau menikah denganku, ternyata kau sudah menyukai laki-laki mata keranjang ini!"

Hie Kim-giauw sangat marah dam pedangnya langsung menusuk, tapi ilmu silat Bok Ling-ku lebih tinggi dari Jin Yao beberapa kali lipat. Dengan tertawa Bok Ling-ku berkata.

"Apakah kau mau membunuh suamimu sendiri?"

Sambil bicara dia mulai beraksi, pedang Kim-giauw hampir terlepas dari tangannya. Kata Kwee Goan-cay.

"Adik, kau mundur saja, biar aku yang menghajarnya!"

Coh Thian-hong gerakannya lebih cepat lagi, diam-diam dia mendekati Bok Ling-ku, ujung pedangnya sudah hampir mengenai tenggorokan Bok Ling-ku, baju yang di pundaknya pun sudah robek terkait oleh ujung pedang.

Coh Thian-hong terus mengejarnya dan menotok Bok Ling-ku, tiba-tiba dia melihat benda besar melayang ke arahnya, ternyata Tong Kai-cia mengangkat seekor kuda yang mati dan melemparnya ke arah Coh Thian-hong.

Benda yang begitu besar melayang ke arah Coh Thian-hong, untungnya tidak mengenainya, tapi Coh Thian-hong sudah merasa berat melawan, Hie Kim-giauw pun terdesak mundur.

Dengan dingin Tong Kai-cia berkata.

"Aku ingin mengganti kudamu, mengapa tidak mau menerimanya?"

Bok Ling-ku juga terkejut tapi begitu dia tenang, langsung tertawai dan berkata.

"Nona Coh, kau adalah calon adik iparku, kau harus sopan kepada Cihumu, bila kau galak seperti itu adikku akan takut dan tidak mau menikahi denganmu!"

Coh Thian-hong sangat marah dan berkata.

"Cabul sekali kau! Jangan kira karena kau adalah putra panglima dengan gampang menghina orang. Keluarga Coh tidak mudah dihinai Baiklah, kau tidak ingin aku pergi, aku akan pulang dan menyuruh ayahku untuk mempertimbangkannya lagi."

Kata Tong Kai-cia.

"Tuan Pheng, kau yang ambil keputusan!"

Kata Tuan Pheng.

"Nona Coh, Bok Siauya hanya bercanda denganmu, jangan dianggap sungguhan, sebenarnya Jenderal Bok ingin berbesan dengan ayahmu, saat ini ayahmu sedang sakit, soal perbesanan ini sebaiknya ditunda dulu, bila kau ingin pulang, kau boleh pulang tapi Nona Hie tidak boleh ikut, Karena ayahnya menyuruh kami untuk mencarinya. Kalian tidak perlu mengurusi Nona Hie lagi!"

Dengan marah Coh Thian-hong berkata.

"Apakah aku adalah orang yang mudah dipermainkan oleh kalian? Nona Hie adalah tamuku, kau mau menculik tamuku? Bunuhlah aku dulu paru kau bisa melakukan kehendakmu!"

Tuan Pheng tertawa.

"Nona, karena ayahmulah maka aku memaafkanmu, kau jangan bercanda lagi dan jangan membuat keributan!"

Kata Coh Thian-hong.

"Kalianlah yang membuat keributan, cici Hie bukan anak kecil lagi, mengapa kalian harus memaksanya?"

Kata Tuan Pheng sambil tertawa.

"Anak-anak harus mendengarkan kata-kata ayahnya, kami diminta oleh Hie Tayhiap untuk menjemput Nona Hie, itu bukan disebut pemaksaan."

Kaa Kim-giauw.

"Kalau begitu, tolong sampaikan kepada ayahku, aku tidak mau kembali ke rumah Bok lagi!"

Kata Tuan Pheng.

"Aku tidak bisa mengurus hingga hal seperti itu, aku hanya menjalankan perintah, jadi kau harus ikut kami pulang, itu saja Kau tanya saja kepada Bok Siauya, bila dia setuju, kami akan menurut juga"

Kata Bok Ling-ku.

"Tunggu hingga aku membereskan bocah tengik itu, baru aku akan memutuskan!' Kata Kwee Goan-cay.

"Bok Siauya, kau sudah membawa tukang pukul, lebih baik suruh tukang pukulmu menjual nyawanya demi dirimu!"

Dengan marah Bok Ling-ku berkata.

"Apakah aku harus takut kepadamu? Tidak usah dibantu mereka aku yang akan bertarung denganmu! Lihat siapa yang harus diajar!"

Kwee Goan-cay tertawa dan berkata.

"Bok Siauya mau bertarung denganku, itu sangat baik, ada pepatah yang mengatakan. janji seorang tuan harus ditepati, empat ekor kuda pun tidak dapat menarik perkataan ini. Kau tidak boleh dibantu oleh orang lain, aku tunggu Bok Siauya mengeluarkan jurus!"

Bok Ling-ku pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa Hie Tiong-gwee dijuluki Pendekar Tiong-ciu, tapi itu hanya nama kosong saja, ilmu silatnya termasuk ke dalam golongan kedua bila bertemu dengan orang-orang biasa, dia masih bisa menang, tapi bila bertemu dengan pesilat tangguh, dia tidak akan bisa menang.

Dalam hati Bok Ling-ku berpikir.

"Ayah bisa menjadi panglima dan ilmu silatnya pun sangat tinggi, jurus Tap-in-kiam-hoat pun termasuk ilmu silat yang langka."

Karena itu ala menganggap dia bisa mengalahkan Kwee Goan-cay karena Kwee Goan-cay begitu sombong, tapi semua perkiraannya ternyata salah.

Memang benar Tap-in-kiam-hoat adalah jurus yang hebat dan lebih bagus dari jurus pedang keluarga Hie, tapi karena Bok Ling-ku hanya menguasai beberapa jurus dari Tap-in-kiam-hoat, apalagi selama ini dia tidak mempunyai kesempatan mempraktekkannya, pun orang yang berlatih dengannya selalu membiarkan dia menang maka kali ini pun dia merasa pasti bisa menang.

Kwee Goan-cay sudah siap mempertaruhkan nyawanya, sedangkan Siauya Mu sendiri mana mau mempertaruhkan nyawanya Akhirnya baru saja mereka bertarung beberapa jurus, posisi Bok Ling-ku sudah dalam keadaan terdesak.

Pertama Bok Ling-ku mengeluarkan jurus In-liong-sam-sian (Tiga Naga Muncul Diawan).

Jurus ini terdiri dari 3 jurus tipuan dan 1 jurus yang asli.

Jurus ini sebenarnya adalah jurus yang dahsyat.

Tapi Kwee Goan-cay tidak peduli, yang mana jurus tipuan dan yang mana jurus asli, semua diterimanya dengan tenang, hingga jurus ketiga ujung pedang sudah melekat di tenggorokan Kwee Goan-cay.

Siapa yang tahu Kwee Goan-cay malah berteriak dengan kuat dan membalikkan tubuh kemudian langsung menusuk.

Seumur hidup Bok Ling-ku, belum pernah dia bertarung dengan cara seperti itu.

Sebenarnya dengan dia meluruskan pedang dia bisa menusuk tenggorokan Kwee Goan-cay, tapi karena dia terkejut dengan suara Kwee Goan-cay dan takut pedang Kwee Goan-cay akan memutuskantangannya,diatidakberanimeneruskan serangangnya, dia hanya bisa menghindar sebenarnya jurus pedang dan langkah-langkah jurusnya lebih tinggi dan Kwee Goan-cay tapi karena takut, sekarang dia hanya bisa menghindar.

Dalam keadaan seperti itu walaupun Kwee Goan-cay tidak bisart melukainya, tapi suara Kwee Goan-cay dan jurusnya yang ganas sudah membuat Bok Ling-ku takut.

Dalam pertarungan hal yang harus dihindari adalah rasa takut, bila takut bagaimana pun tingginya ilmu silat orang ini tidak bisa mengeluarkan kepandaiannya dengan baik, tentunya dia akan kalah, kadang-kadang nyawa pun harus siap diserahkan kepada lawan.

Tong Kai-cia mulai merasa pertarungan ini tidak seimbang tiba-tiba dia berkata.

"Pantas Hie Tayhiap pernah mengatakan ini di antara murid-muridnya yang she Kwee inilah yang paling sulit dididik seperti seekor babi bodoh!"

Kim-giauw tertawa dan berkata.."Murid ayah yang paling bodoh pun bisa mengalahkan Siauya, kau bilang Suhengku adalah babi bodoh, kalau orang itu dikalahkan oleh seekor babi bodoh, jadi orang itu pantas disebut apa?" ---ooo0dw0ooo---B.

Katak Buruk Rupa Terdengar suara baju yang sobek, yang sobek ternyata adalah baju milik Kwee Goan-cay sudah tersobek.

Untungnya Bok Ling-ku masih terpengaruh dengan kegalakan Kwee Goan-cay, begitu berhasil langsung dia mundur dan Kwee Goan-cay hanya terluka sedikit.

Dengan marah Kim-giauw berkata.

"Tidak tahu malu!"

Segera dia mencabut pedang dan melangkah ke depan. Kata Tuan Pheng.

"Nona Hie, kau mau apa? Tadi kita sudah sepakat membiarkan mereka bertarung tanpa ikut campur."

Tong Kai-cia tertawa dan berkata.

"Dia adalah Lai-hai-ma!"

Kata Coh Thian-hong.

Sebenarnya Kwee Goan-cay adalah murid Hie Tiong-gwee yang paling muda, tapi ilmu silatnya yang paling tinggi Hie Tiong-gwee pun tidak pernah mengatakan Kwee Goan-cay bodoh, malah sangat membanggakan dirinya.

Mengapa Tong Kai-cia sengaja berkata seperti itu?

Ternyata dia ingin membantu Bok Ling-ku Kemudian dengan dingin dia berkata.

"Aku bilang bocah tengik itu adalah babi bodoh, apakah kau tidak setuju dengan pendapat ini? Aku akan menjelaskannya, mana ada orang yang bertarung hanya menggunakan tenaga dan tidak menggunakan otak? Kalau bok Siauya berniat untuk membunuhmu, sejak tadi dia sudah menghabisinya!"

Kata Kim-giauw sambil tertawa.

"Kau yang menyuruh dia untuk mulai membunuh!"

Tong Kai-cia tidak mendengar kata-kata Kim-giauw, dia terus bicara.

"Aku beritahu kepadamu, hanya galak saja tidak ada gunanya, Seumpama jurus Heng-in-toan-hong (Awan Mendatar Memapas Gunung) dikeluarkan, kemudian jurus Hin-niauw-hoa-se (Burung Licik Menggali Pasir) dikeluarkan, ketiak kirinya menjadi sasaran yang mematikan."

Karena jurus yang dikeluarkan oleh Kwee Goan-cay adalah jurus Pek-ho-Uang-jauw (Bangau Putih Mengeluarkan Serangan), jurus yang berikutnya adalah jurus Heng-in-toan-hong.

Bok Ling-ku memang licik, mula-mula dia terpaku dengan cepat dia tahu bahwa Tong Kai-cia menyuruhnya mengganti jurus.

Begitu dia mengeluarkan jurus Hin-niauw-hoa-se, jurus Heng-in-toan-hong baru kemudian dikeluarkan.

"Ada pepatah yang mengatakan. tuan bergerak mulurnya tapi tangan tidak bergerak. Nona Hie, bila kau ingin membantu bantulah dengan mulutmu!"

Tiba-tiba di jalan itu muncul seseorang. Orang itu terlihat sangat biasa tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar istimewa. Dia sedang bernyanyi sambil menghampiri mereka.

"Ada seorang gadis cantik seperti sekuntum bunga, membuat para pemuda bertarung demi dirinya. Ha! Ha! Entah yang mana kekasih sang gadis, entah yang mana si katak buruk rupa di mata gadis itu."

Coh Thian-hong tidak tahan mendengar kata-kata itu, langsung dia tertawa dan berkata.

"Kakak yang lewat, silakan lihat dengan jelas, pemuda yang mana demi ciciku rela mengucurkan darah dan yang pasti orang itu adalah kekasih ciciku, dan tuan yang satu lagi tentu adalah si katak buruk rupa!"

Orang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Benar, benar, seharusnya sejak tadi sudah bisa kutebak, orang yang harus dibantu bertarung adalah si katak buruk rupa!"

Tong Kai-cia marah dan berkata.

"Kau mengaco belo apa? Cepat sana pergi! Pergi!"

"Apakah jalan ini milikmu?"

Dia tidak pergi malah duduk di bawah pohon untuk melihat, pertarungan itu.

Tong Kai-cia adalah orang yang sering berkelana, melihat ada.

orang seperti itu, dia sudah tahu bahwa orang itu bukan orang yang hanya lewat saja.

Tong Kai-cia berkata.

"Kau memihak golongan mana? Aku beritahu kepadamu, jangan mengurusi hal yang tidak ada hubungannya denganmu!"

Orang itu dengan malas-malasan menjawab.

"Apa itu golongan? Apa itu benang? Aku bukan sedang mencari istri dan harus kau yang memasang benang dan mengenalkan gadis itu, kau tidak bisa mengusirku, aku tidak mempunyai waktu untuk mengobrol denganmu! Jarang ada orang yang berkelahi di jalan, aku ingin lihat keramaian ini dulu bara akan pergi!"

Tong Kai-cia ingin memberi pelajaran tapi dia melihat Bok Ling-ku terdesak mundur, ternyata sewaktu Bok Ling-ku tidak mendapat petunjuk dari Tong Kai-cia maka dia diserang secara membabi buta oleh Kwee Goan-rn cay sehingga membuat dia kalang kabut.

Pikir Tong Kai-cia, 'Begitu Bok Siauya berhasil membunuh Kwee Goan-cay, bara aku akan membereskan si bodoh ini!"

Dia tidak meladeni orang itu lagi, dia berkonsentrasi melibat pertarungan itu, dalam jurus-jurus penting dia mencari kelemahan Kwee Goan-cay dan memberitahunya kepada Bok Ling-ku dan menyuruh Bo Ling-ku membunuh Kwee Goan-cay.

Orang itu pun ikut melihat, dia sampai lupa diri dan berteriak.

"Bagus! Jurus memukul anjing liar di gunung selatan!"

Bok Lingku sedang menyerang Kwee Goan-cay dengan jurus Ni-Bo-poh-hoat yang terus berubah rubah, dalam sekejap sudah berubah posisi ke bagian selatan, karena perubahan yang begitu cepat, mata Kwee Goan-cay tidak secepat langkah Bok Ling-ku, dia hampir tertusuk lagi!

Orang itu berkata.

"Memukul anjing liar di gunung selatan, semua yang memdengar 'pun akan merasa aneh."

Apalagi Kwee Goan-cay yang sedang bertarung, dia sama sekali tidak sempat memikirkan arti dari kata-kata itu.

Sekarang dia berada di posisi yang merugikan, segera terpikir, Apakah orang itu seperti Tong Kai-cia yang memberi petunjuk kepada Bok Ling-ku, dan dia pun cara sembunyi-sembunyi memberi petunjuk kepadaku?' Walaupun Coh Thian-hong lebih kecil dari Kwee Goan-cay tapi dia lebih tahu mengenai ilmu silat.

Coh Thian-hong tertawa dan berkata.

"Toako yang lewat, jurusmu jarang kudengar, aku hanya pernah mendengar jurus memukul harimau di gunung selatan, tidak pernah mendengar jurus memukul anjing liar di gunung selatan."

Orang itu menjawab.

"Seharusnya jurus memukul harimau yang galak tapi di sini tidak ada harimau hanya ada anjing liar, bila tidak memukul anjing liar lalu mau memukul apa?"

Dia menarik nafas dan berkata lagi.

"Disebut memukul anjing liar pun tidak pantas, malah membuat orang marah, kau adalah babi bodoh. Nona, jangan marah yang kumaksud dengan babi bodoh itu bukan dirimu."

Kwee Goan-cay tidak bodoh, dia tahu bahwa orang itu berusaha memberi petunjuk kepadanya.

"Apakah kau gila? Kau meributkan apa?"

Teriak Tong kai-cia.

"Kau yang gila, kau yang tidak mengerti jurus memukul. Ha., .ha. ..baiklah, kaki menendang belut bagian utara!"

Sekarang Bok Ling-ku menyerang ke bagian selatan, menyerang ke arah sebaliknya.

Segera Kwee Goan-cay mengambil keputusan, tubuhnya melayang dan menendang, tepat di bagian utara.

Lawan menyerang dari selatan dia membalas dari bagian utara, bila Bok Ling-ku tidak mengubah arah, pedang itu tidak akan menusuk dari belakang dan keluar lewat arah depan, Kwee Goan-cay mengikuti petunjuk orang itu, seperti siap mempertaruhkan nyawa.

Tapi dalam taruhan ini Kwee Goan-cay lah yang menang Karena Ni-in-poh-hoat milik Bok Ling-ku seperti ular di dalam air, berenang begitu cepat, begitu kaki menendang ke arah utara tepat mengenai tubuh Bok Ling-ku bagian bokong.

Segera Bok Ling-ku terjatuh dengan posisi dua kaki di atas.

Begitu orang itu mengatakan menendang belut di bagian utara, Tong Kai-cia sudah tahu pasti akan terjadi hal seperti ini, dia pun ikut berteriak, boleh?"

"Tutup mulutmu!"

Orang itu tertawa dingin dan berkata.

"Memangnya hanya kau yang boleh bicara, mengapa aku tidak Tong Kai-cia marah sekaligus terkejut.

"Siapa kau? Berani-beraninya memukul Bok Siauya!"

"Aku hanya mengikuti perbuatan Tuan, hanya menggerakan mulut kalian sendiri yang bilang. tuan boleh menggerakan mulut asal tangan jangan ikut bergerak, apakah aku salah?"

Tong Kai-cia tidak bisa mengatakan apa-apa, terpaksa dia berlari menghampiri Bok Ling-ku dan memapahnya bangun. Begitu bangun dia langsung marah-marah.

"Jahanam! Apakah kau tahu siapa aku ini?"

"Jahanam? Kau memarahi siapa?"

Dengan marah Bok Ling-ku berkata.

"Ayahku adalah Jenderal Bok, aku marah kepadamu, kenapa, kau tidak suka?"

Kata-katanya belum habis, hanya melihat bayangan orang itu melewati Tong Kai-cia dan tiba-tiba sudah berada di hadapan Bok Ling-ku.

Semua ini tidak disangka oleh Bok Ling-ku, semua terjadi begitu !

cepat, segera dia menarik pedang dan siap menusuk Hanya terdengar suara 'PLAK', 'PLAK', ternyata Bok Ling-ku sudah digampar oleh orang itu, begitu digampar wajah Bok Ling-ku sudah seperti kertas berwarna, ada merah, biru, dan hitam Darah dan ingus pun ikut keluar.

Pedangnya pun sudah dirampas.

Orang itu tertawa terbahak-bahak, dia mematahkan pedang itu dan berkata.

"Biasa kalau orang marah-marah kepadaku, aku akan menggamparnya satu kali, tapi bila putra panglima, lain lagi ceritanya. Satu kata 2 gamparan, bila kau merasa masih kurang cukup, kau boleh marah lagi!"

Bok Ling-ku bersembunyi di belakang Tong Kai-cia, dengan suarari gemetar dia berkata.

"Cepat usir orang itu!"

Walaupun dia benci kepada orang itu, tapi dia takut digampar lagi, jadi dia tidak berani marah-marah kepada orang itu.

Terpaksa Tong Kai-cia mengeluarkan Eng-jauw-tong (Ilmu Cakar Elang).

Begitu jurus dikeluarkan sudah mencoba mengcengkram tulang bahu orang itu.

Orang itu tidak menghindar, hanya mengeluarkan sebuah jarinya Jari ini menunjuk ke telapak tangan Tong Kai-cia, ujung jarinya sudah menyentil, segera terasa ada angin dingin berkesiur, Tong Kai-cia segera merasakannya.

Tong Kai-cia bukan ahli totok, tapi dia melihat orang itu mengeluarkan jari dan menyentil, dia terkejut, dalam hati beipikir.

"Sepertinya ini adalah jurus keluarga Kie, bila jarinya sudah mengenai telapak tanganku, maka ilmu silatku akan musnah."

Segera dia mengubah jurus, dari jurus cakar menjadi pukulan, julukannya sebagai dewa bertenaga besar, sekali memukul bisa ratusan kilogram beratnya, dia tidak takut dengan ilmu sentilan jari orang itu.

Pukulan Tong Kai-cia mengenai sasaran tapi yang dia pukul bukan lawan melainkan dirinya sendiri.

Ternyata begitu dia mengeluarkan tenaga untuk memukul, orang itu hanya menepuk dengan ringan dan langsung mengalihkan tenaganya.

Tong Kai-cia ditepuk oleh orang itu, kepalan tangannya sudah berubah arah, dia memukul dadanya sendiri.

Tong Kai-cia berteriak, memuntahkan darah kemudian roboh Orang itu tertawa dan berkata.

"Benar-benar tidak bohong nama dewa bertenaga besar itu, hanya sekali memukul, dia sendiri pun sudah pingsan, benar-benar mengagumkan."

Tuan Pheng tampak terkejut dan bertanya.

"Kau, siapa kau?"

Orang itu tertawa dan menjawab.

"Aku tidak dapat lolos dari pengamatan Tuan Pheng. Apakah sampai sekarang kau masih belum tahu siapa aku ini?"

Tuan Pheng sudah terpikir siapa orang itu, orang itu pernah merugikan dirinya, wajah dan kemampuannya tidak sama, tapi cara orang itu bicara dengan orang yang dia takuti sama, membuatnya terkejut hingga gemetar.

Bok Ling-ku masih tidak tahu bahwa Tuan Pheng sangat takut kepada orang itu, dia bertanya.

"Tuan Pheng, mengapa kau tidak menangkap bocah tengik ini?"

Tuan Pheng tertawa kecut dan menjawab.

"Bok Siauya, jangan buat keributan lagi. Mari kita pulang saja!"

Bok Ling-ku tampak terkejut dan berkata.

"Sepertinya kau takut kepadanya, siapakah dia?"

"Kalian tidak ingin orang lain pergi, sekarang malah kalian yang mau pergi, aku tidak akan mengijinkannya!"

Dalam suara tawa itu, dua telapak tangannya sudah disorongkan.

Orang itu menghalangi kepergian mereka, tapi sangat aneh dalam 10 langkah, orang itu mendorong telapaknya.

Tuan Pheng dan Bok Ling-ku berdiri pun tidak bisa, mereka mundur beberapa langkah dan hampir jatuh.

Keadaannya sama seperti tadi pada saat Tuan Pheng menghalangi kepergian Coh Thian-hong, Hie Kim-giauw dan Kwee Goan-cay.

Coh Thian-hong tertawa dan berkata.

"Aneh, sangat aneh, tukang cukur dicukur oleh orang lain, tidak disangka ilmu silat Tuan Pheng pun hanya begitu saja!"

"Aku sudah mengaku kalah, apakah kau masih mau membunuhku?"

Kata Tuan Pheng.

"Tadi kau sudah melakukan apa, begitu pula yang akan kulakukan."

Kata Orang itu. Tuan Pheng merasa aneh dan berkata.

"Aku sama sekali tidak pernah melawan dua orang gadis ini, aku juga tidak benar-benar memukul mereka, walaupun aku salah, kesalahanku masih bisa dimaafkan."

Kata orang itu.

"Baiklah, aku akan memaafkan kalian Kalian sudah menggulingkan kereta milik orang lain, tolong balikkan kereta itu kembali!"

Tuan Pheng sangat malu, dalam hati dia berpikir, 'Orang memiliki wajah, pohon memiliki kulit, di depan Siauya aku seperti pelayan, kelak apakah aku masih bisa bekerja lagi untuk Keluarga Bok?' Tapi dia juga takut kepada orang itu, bila dia tidak mau melakukannya, ini malah akan mempersulit dirinya Kata orang itu.

"Tuan Pheng, apakah kau tidak mau? Kau berkata jujur saja, aku juga tidak memaksamu untuk melakukannya."

Kata Tuan Pheng.

"Kereta itu bukan aku yang menggulingkannya."

Orang itu berkata lagi.

"Aku tahu, kereta itu digulingkan oleh Tong Kai-cia, tapi sekarang dia sudah tidak dapat bergerak. Dia anak buah bok Siauya, dia juga pembantumu, bila kau tidak mau menggantikan dia melakukannya, terpaksa Siauya kalian yang harus melakukannya!"

Bok Ling-ku berkata.

"Apakah kalian menyuruhku melakukannya?"

"Bok Siauya, kau tidak mau aku pun tidak memaksanya, tapi aku kira kau pun tidak mau tertidur seperti Tong Kai-cia bukan?"

Bok Ling-ku melihat Tong Kai-cia yang begitu menyeramkan keadaannya, segera dia berkata.

"Tuan Pheng, aku tahu tenagamu tidak kalah dengan Tong Kai-cia, kau yang gantikan dia saja, bantulah dia membereskan kereta"

Tuan Peng tidak berani menolak dan berkata.

"Baiklah, aku akan mencobanya"

Segera kereta itu dibalikkan Dua ekor kuda yang menarik kereta Sudah terlepas dari katannya tapi kedua kuda itu tidak terluka. Kata orang itu.

"Tuan Peng, aku mau meminta obat penyembuh luka buatan istana, tolong obati kedua ekor kuda itu."

Obat yang paling bagus tapi hanya untuk mengobati kuda, benai-benar sangat aneh. Tapi Tuan Pheng menuruti kemauan orang itu, sisa obat itu untuK mengobati luka Tong Kai-cia.

"Apakah kami boleh pergi?"

Tanya Bok Ling-ku.

"Maaf Tuan Pheng, kalian harus jalan kaki, kuda kalian aku pinjam."

Kata orang itu. Bok Ling-ku berteriak lagi.

"Apa? Kau menyuruh kami berjalan kaki?"

Dengan dingin orang itu berkata.

"Bok Siauya, aku tidak menyuruhmu pulang, bila kau dan Tuan pheng mau pulang atau tidak itu urusan kalian!"

Kata Tuan Pheng.

"Bukankah tadi Tuan sendiri yang mengatakan..."

"Aku mengatakan apa?"

"Bahwa kau sudah memaafkan kami."

Jawab Tuan Pheng.

"Benar, aku memang memaafkan kalian, tapi semua itu ada batasnya, aku ingin bertanya kepadamu, bagaimana caramu menghadapi kedua gadis ini, bukankah tadi kau ingin yang satu pergi dan yang satu harus tinggal?"

"Yang menyuruh Nona Hie pulang adalah ayahnya."

Kata Hie Kim-giauw.

"Apakah benar ayah bermaksud seperti itu, kau harus tanya dulu kepadaku, sayangnya aku tidak mau kembali kepada ayah!"

Orang itu berkata lagi.

"Aku juga seperti dirimu, membiarkan yang satu pergi dan yang satu lagi harus tinggal."

Kata Bok Ling-ku.

"Tuan Pheng, sementara kau saja yang tinggal di sini!"

Tapi orang itu malah berkata.

"Bok Siauya, kau yang tinggal!"

Bok Ling-ku berteriak lagi.

"Ayahku adalah seorang panglima, kau tidak boleh menahanku!"

Orang itu tertawa dan berkata.

"Sangat disayangkan! Di sini bukan rumahmu, kau bernasib buruk karena aku tidak takut kepada panglima penjaga pasukan istana!"

Sambil tertawa dingin dia sudah menangkap Bok Ling-ku dan menotok jalan darah bicaranya supaya tidak berteriak lagi. Tuan Peng sangat terkejut.

"Kau menangkap putra sulung Bok Ci-giauw, bagaimana aku bisa pulang?"

Jawab orang itu.

"Tuan Pheng, apakah kau mau dengar beberapa perkataanku?"

"Silakan!"

Orang itu melanjutkan lagi.

"Aku tahu kau adalah ketua pengawal Keluarga Bok, kau adalah budak Keluarga Bok nomor satu, bila menjadi budak raja itu masih lebih baik dibandingkan menjadi budak Bok Ci-giauw, apakah kau tidak merasa malu?"

Wajah Tuan Pheng memerah dan berkata.

"Terima kasih untuk petunjukmu,"

Segera dia berlari pergi dari sana.

"Kau masih mau menasihati orang seperti dia?"

Kata Kim-giauw. Jawab Coh Thian-hong.

"Walaupun dia jahat tapi dia lebih baik dari Keluarga Bok, dia bertemu denganmu, dia sedang bernasib sial saja. Dia menjadi ketua pengawal tapi Siauyanya tidak dapat dilindungi olehnya. Sebenarnya bila kau tidak menasihati dia pun, dia tidak akan berani kembali kepada Keluarga Bok lagi."

Kata Hie Kim-giauw.

"Di mana kita akan menempatkan benda kesayangan ini?"

Kim-giauw masih marah, membalikkan tubuh dan menendang Bok Ling-ku, tapi tidak berani membunuhnya, karena dia tahu bahwa ayahnya masih berada di rumah Mu. Jawab orang itu.

"Aku belum terpikir hingga sana, aku pinjam kereta kalian dulu."

Dia melempar Bok Ling-ku ke dalam kereta walaupun tubuh Bok Ling-ku tidak dapat bergerak tapi perasaannya masih ada, karena itu begitu dilempar tubuhnya terasa sakit.

Tapi dia tidak dapat berteriak.

Kwee Goan-cay sudah membalut lukanya dia merasa berterima kasih kepada orang itu, tapi dia merasa sepertinya mengenali orang itu.

Kwee Goan-cay berkata.

"Terima kasih untuk pertolonganmu, apakah aku boleh tahu she dan namamu?"

Kim-giauw pun sudah tenang, dia sedang memandang orang itu dan berkata.

"Sepertinya aku kenal denganmu, biar kutebak..."

Belum sempat dia menebak, Coh Thian-hong sudah berteriak.

"Kau adalah Hui-thian-sin-liong!"

Hie Kim-giauw dan Kwee Goan-cay terpana. Hui-thian tertawa dan berkata.

"Nona Hie, apakah kau masih membenciku?"

Jawab Kim-giauw.

"Kau melukai ayahku, menculik istri ayahku, membuat ayahku malu di depan para pendekar..."

Wie Thian-hoan tertawa dan berkata.

"Kalau begitu kau masih membenciku?"

"Benar, aku masih membencimu, tapi kau sudah dua kali menolongku, aku sangat berterima kasih kepadamu. Aku membencimu sekaligus juga berterima kasih kepadamu."

Kata Wie Thian-hoan.

"Budi dan benci kedua-duanya bisa dilupakan, itu paling baik, tapi kadang-kadang ada hal yang tidak dapat dilupakan!"

Kwee Goan-cay mendengar nada bicaranya begitu sedih, dalam hati Kwee Goan-cay berpikir, 'Mungkinkah sebenarnya guruku yang membuat dia sedih?' Wie Thian-hoan bertanya.

"Nona Coh, mengapa kau pulang seorang diri?"

"Itu gara-gara dirimu!"

Kata Coh Thian-hong. Wie Thian-hoan terkejut dan bertanya.

"Mengapa bisa begitu?"

"Ayahku tidak mau menjadi tukang pukul Keluarga Bok dalam menghadapi dirimu, dia pun tidak mau aku masuk ke dalam perputaran ini, maka ayah menyuruhku untuk pergi dulu. Cici Hie tidak mau mengikuti keinginan ayahnya tinggal di Keluarga Bok, dia ingin ikut denganku main ke Yang-ciu."

Kata Wie Thian-hoan.

"Kalau begitu ayahmu tidak mau memasuki perputaran keributan ini, mengapa dia tidak pulang bersamamu, aku sangat ingin bertemu dengan ayahmu."

Jawab Coh Thian-hong.

"Ayahku sedang terluka, saat ini ayah sedang beristirahat di Piau-hang."

Tanya Coh Thian-hong.

"Apakah kau mempunyai Sumoi yang bernama Kie Su-giok?"

"Benar, ada apa dengannya?"

"Orang yang melukai ayahku adalah ayah Kie Su-giok"

"Apakah kau tidak salah? Bukankah ayah Kie Su-giok sudah meninggal?"

"Aku tidak tahu sama sekali tentang kabar ini, entah benar atau salah tapi Su-giok memanggilnya ayah."

Tanya Wie Thian-hoan.

"Apakah kau sendiri yang mendengarnya?"

"Orang itu begitu tiba di rumahku sudah menotokku, tapi kakakku sendiri yang mendengarnya."

Kata Wie Thian-hoan.

"Kakakmu sudah berada di ibukota, dia datang dengan siapa?"

Kim-giauw tertawa dan berkata.

"Kau pun mencari Kang Hiat-kun, aku beritahu kepadamu Coh Thian-su tidak datang bersamanya, kau bisa tenang, orang yang disukai oleh Coh Thian-su bukan dia tapi Sumoimu!"

Kata Coh Thian-hong.

"Wie Toako, apakah kau tidak merasa aneh, ayah Su-giok melukai ayahku tapi Su-giok sendiri malah membantu ayahku. Ayahku tidak membencinya, ayah pun sudah memaafkan ayah Su-giok"

Kata Wie Thian-hoan.

"Aku masih tidak mengerti, apa yang sudah terjadi?"

"Malam itu aku ditotok oleh orang itu, sewaktu ayah pulang aku masih belum sadarkan diri, begitu tersadar ayah sudah terluka, dan orang itu sudah pergi. Apa yang sudah terjadi aku tidak begitu tahu, aku hanya tahu bahwa ayahku mempunyai dendam kepada keluarga Kie Dendam apa aku pun tidak tahu, Toakoku yang lebih tahu. yang tadi aku ceritakan kudengar dari Toako."

Kata Kim-giauw.

"Kau pasti merasa aneh, mengapa Coh Thian-su tidak mengantarkan adiknya pulang?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Mungkin dia tinggal untuk mengurus ayahnya yang terluka Nona Coh, kau belum memberitahuku, bagaimana dengan luka ayahmu?"

"Ayahku sudah terluka parah tapi dia sudah mendapatkan obat keluarga Kie, jadi nyawanya sudah tidak terancam lagi."

Kata Kim-giauw.

"Penyebab lainnya adalah demi Sumoimu!"

"Apakah mereka bersama-sama?"

Tanya Thian-hoan.

"Malah sebaliknya, dia sedang mencari Sumoimu."

Wie Thian-hoan sangat terkejut dan berkata.

"Apa yang sudah terjadi pada Su-giok?"

"Dia sudah tertipu oleh siluman Pek-toh-san."

Jawab Thian-hong Wie Thian-hoan sangat terkejut hingga hampir meloncat dan berkata.

"Mengapa dia bisa tertipu oleh siluman Pek-toh-san?"

"Tanyakanlah kepada cici Hie, dia ada di sana pada waktu terjadi hal itu!"

Kata Kim-giauw.

"Apakah benar dia tertipu, kami belum tahu. waktu itu si bocah 2 tengik itu datang untuk membantunya. Yang aku lihat Nona Kie rela ikut dengan orang itu."

Hie Kim-giauw menceritakan apa yang sudah terjadi waktu itu kepada Wie Thian-hoan. Kata Coh Thian-hong.

"Menurut Paman Tong, siluman Pek-toh-san mempunyai pil dewa yang bisa membuat orang lupa diri, mungkin saja cici Kie tertipu bila tidak, dia tidak akan mau bersama-sama dengan mereka."

Kata Wie Thian-hoan.

"Baiklah, aku akan mencari tahu, aku pinjam kereta ini dan kalian naik kuda, bagaimana?"

Kuda yang ditinggalkan oleh Tuan Pheng jumlahnya sangat tepat untuk mereka bertiga. Tanya Coh Thian-hong.

"Apakah kau akan pergi ke kantor Sin-hoan Piaukok?"

"Benar."

Jawab Thian-hoan.

"Kalau begitu kau harus berhati-hati, walaupun Tong Hwie-yan adalah orang baik, tapi di Piau-hang banyak mata-mata Bok Ci-giauw Bok Ci-giauw sudah mengundang banyak pendekar untuk menghadapimu"

Wie Thian-hoan tertawa dan berkata.

"Aku akan hati-hati, ada Bok Ling-ku yang menjadi sanderaku, mereka tidak akan berani menyusahkanku."

Bagaimana mengatur Bok Siauya,Wie Thian-hoan sudah mempunyai akal.

Walaupun dia sudah mendapatkan 'pil' yang bisa menenangkannya, tapi hatinya tetap terasa kacau.

Ke mana akan mencari kekasihnya?

Perasaan adik dan kakak seperguruan lebih menyakitkan.

Apa yang bakal terjadi?

---ooo0dw0ooo---BAB 17 Pedang sulit diayunkan Mengandalkan ilusi pedang Hati akan diberikan kepada siapa Tetap semangat berjuang A.

Bertemu di Ruang Rahasia Benar-benar telah terjadi hal yang aneh setiap tahun, begitu juga tahun ini Di ruang tamu penginapan, para tamu sedang mengobrol, topiknya adalah hal-hal yang sudah terjadi di ibukota.

Penginapan itu berada di bagian barat dari sebuah jalan yang tidak begitu ramai.

Jarak dengan kota masih cukup jauh, sebenarnya tempat itu tidak cocok untuk dijadikan penginapan, tapi penginapan itu ternyata lumayan ramai juga.

Pemiliknya adalah orang Soa-tang.

Yang datang untuk menginap kebanyakan adalah orang-orang dari kampung halamannya.

Ada pedagang, pengembara, dan masih banyak lagi.

Karena mereka teman sekampung jadi mereka bisa saling kenal dan setelah makan malam, mereka dapat berkumpul dan mengobrol dengan santai.

Yang mereka bicarakan sekarang ini adalah mengenai 2 peristiwa aneh yang telah terjadi yaitu istri muda Hie yang kawin lari dengan pelayan.

Yang satu lagi adalah istri walikota yang menyeleweng dengan anak angkatnya, sebenarnya ini adalah hal bisaa tapi untuk mereka pedagang-pedagang kecil, peristiwa ini adalah hal yang aneh, mereka iri kepada para pejabat pemerintah.

Orang yang sedang bercerita hanya ingin orang lain tahu bahwa dia mempunyai berita yang banyak.

Seseorang yang bernama Houw Lo-sam berkata.

"Aku dengar dari teman yang bekerja sebagai pengawal istana, ada peristiwa aneh yang sudah terjadi. Kalian jangan membocorkan rahasia ini, kalau tidak aku bisa celaka!"

Dia melihat bos penginapan sedang menghitung uang, dan di sisinya ada seorang pemuda yang sangat tampan, dia seperti seorang pelayan, Houw Lo-sam tidak mengenalnya. Kata seorang tamu.

"Pemuda itu masih saudaranya bos, apakah kau tidak mengenalnya?"

Bos itu berdiri dan berkata.

"Benar, kita adalah orang satu kampung halaman, aku belum memperkenalkannya kepada kalian, pemuda ini she Kang, dia saudara jauhku, dari kecil sudah ikut ayah dan ibunya pergi berdagang. Sekarang ayahnya sudah meninggal, dia datang ke ibukota untuk mencari pekerjaan, dia baru datang 2 hari yang lalu."

Pemuda itu memperkenalkan diri.

"She ku Kang, bernama Ho-seng, aku beri hormat kepada saudara-saudara sekampung halaman."

Logatnya benar-benar logat Soa-tang.

Bos dan tamu-tamu di sana sudah saling mengenal selama puluhan tahun, begitu mendengar dia mempunyai saudara, mereka langsung menganggap dia sebagai saudara sendiri.

"Ternyata dari kecil kau sudah berdagang di luar, pantas aku tidak pernah melihatmu, aku juga orang sana,"

Kata Houw Lo-sam.

"Kalian teruskanlah mengobrol, tapi apakah aku boleh ikut mendengar? Bila tidak boleh aku akan pergi?"

Tanya pemuda itu. Kata Houw Lo-sam.

"Kita adalah teman sekampung. Mari, kita sama-sama ngobrol!"

Begitu pemuda itu duduk, Houw Lo-sam mulai menceritakan hal yang dianggapnya aneh.

"Istri Hie kawin lari dengan pelayannya atau istri pejabat menyeleweng dengan anak angkatnya, itu masih tidak aneh, yang akan kuceritakan ini baru hal yang aneh."

Kata Houw Lo-sam lagi.

"Panglima penjaga pasukan istana yaitu Bok Ci-giauw ilmu silatnya sangat tinggi."

Kata salah seorang tamu.

"Dia adalah pemimpin pengawal, otomatis dia juga pengawal raja, bila ilmu silatnya tidak tinggi, bagaimana dia bisa pengawal raja?"

Lanjut Houw Lo-sam lagi.

"Tapi ada orang yang berani mencabut kumis harimau ini!"

Tanya para tamu.

"Siapa yang berani melawan panglima pasukan istana itu?"

"Siapa dia, aku pun tidak tahu, kalian jangan ribut, aku akan menceritakannya kepada kalian."

Lanjut Houw Lo-sam.

"Panglima memiliki 2 orang putra, ilmu silat mereka pun sangat tinggi, kemarin mereka pergi ke gunung barat membawa 2 orang gadis, mereka dikawal oleh kepala pengawal Keluarga Bok Kepala pengawal ini pernah menjadi pengawal istana. Pada saat mereka sedang bermain, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat lalu menghina kedua gadis itu."

Ada yang bertanya.

"Orang itu begitu berani, berani menghina perempuan Keluarga Bok, lalu bagaimana lagi?"

"Orang itu pasti sudah dibunuh."

"Apakah orang itu tidak tahu bahwa mereka adalah putra Panglima Bok?"

"Kecuali idiot, masa dia tidak tahu bahwa dia adalah putra Panglima Bok?"

"Orang itu barangkali sudah gila!"

Banyak tamu yang ikut berkomentar. Kata Houw Lo-sam.

"Ini masih belum aneh, apakah kalian sudah tahu bagaimana akhirnya?"

"Ayo cepat katakan!"

Para tamu sudah tidak sabar.

"Apakah orang itu sudah gila, aku tidak tahu, yang pasti aku tahu dia tidak mati, malah putra Bok Ci-giauw kedua-duanya telah dihajar oleh orang itu!"

Ada yang bertanya.

"Dimana pengawal mereka yang pernah menjadi pengawal istana? Apakah dia tidak bisa melawan orang itu?"

"Keadaan pengawal itu lebih parah lagi, sebelum memukul kedua putra Panglima Bok, pengawal itu dipukul dulu hingga tidak bisa bangun!"

Mereka seperti terkejut tidak bisa berkata apa-apa lagi, Houw Lo-sam terus melanjutkan.

"Kalian pikir, Bok Ci-giauw adalah pesilat tangguh yang dipercaya oleh raja, tapi putranya malah dipukul oleh orang lain. Peristiwa ini sangat memalukan, bila diketahui oleh banyak orang, pasti orang-orang akan mengatakan bahwa putranya tidak benar-benar belajar ilmu silat atau bahkan curiga apakah Bok Ci-giauw itu pantas menjadi panglima pengawal istana? Keluarga Bok tidak ingin ada orang lain mengetahui hal ini, maka itu kalian jangan menyebarkan berita ini."

Para tamu terkejut dan mengangguk Pemuda she Kang itu tidak begitu terkejut, tapi dalam hati dia berpikir, 'Apakah orang yang dimaksud itu adalah Hoan Toako?

Tapi Hoan Toako tidak mungkin akan menghina perempuan, mungkin saja dia tahu itu adalah putra Bok Ci-giauw maka dia sengaja mencari gara-gara."

Dia ingin bertanya tentang kabar orang itu, tiba-tiba ada seorang tamu perempuan yang datang untuk menginap.

Dan dia datang seorang diri.

Gadis itu masih muda, paling-paling umurnya berkisar 20 tahunan, bajunya yang berwarna merah tidak begitu baru, rambutnya dikepang, dia mengenakan sepatu bersulam bunga, gaya penampilannya seperti gadis ibukota.

Dia tidak begitu cantik, tapi dari alisnya terlihat sangat gagah tapi juga terlihat kewanitaannya, sepasang matanya bulat dan besar, dan terlihat sangat lincah Matanya sangat bagus sehingga membuatnya terlihat cantik.

Tamu itu meminta kamar utama, logat bicaranya adalah logat ibukota.

Di penginapan itu para tamu kebanyakan orang Soa-tang.

Kali ini bisa datang tamu yang bukan dari daerah Soa-tang dan dia juga seorang perempuan yang datang seorang diri.

Kata bos penginapan dengan ragu-ragu.

"Nona, kau berasal dari mana? Apakah di ibukota kau tidak mempunyai saudara?"

Kata perempuan itu.

"Kau hanya perlu menjawab ada atau tidak ada kamar, hal lain kau tidak perlu tahu, apakah kau takut aku tidak bisa membayar?"

Kata bos itu.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku... aku..."

Kata tamu perempuan itu.

"Jangan bilang tidak ada kamar, aku sudah bertanya kepada pelayan di sini, dan mereka bilang ada kamar kosong, bila kau takut aku tidak bisa membayar, kau terima uang ini dulu, sisanya boleh kau ambil. Aku hanya menginap satu malam saja."

Dia mengeluarkan uang 10 tail emas, harga kamar utama dalam waktu semalam hanya 5 sen.

Uang 10 tail ini bisa membayar kamar utama dalam jangka waktu setengah bulan.

Bos tua itu membuka matanya lebar-lebar, wajahnya pun berubah.

Bos itu bukan orang yang mata duitan, uang yang dipegang oleh tamu itu meninggalkan bekas jari karena ditekan oleh tangan tamu itu.

Tamu perempuan itu berkata.

"Apakah kau tidak mau memberikan kamar kosong kepadaku?"

Bos itu terpaku sebentar dan menjawab.

"Tidak, tidak, kami membuka penginapan tidak mungkin mengusir tamu, kecuali bila tidak ada kamar."

Kemudian dia mengambil uang itu, lalu membawa tamu perempuan itu ke kamar.

Tamu-tamu di sana mengira bos penginapannya adalah orang yang mata duitan baru mau menerima tamu perempuan yang tidak jelas identitasnya.

Ada gadis yang begitu cantik menginap di sana, walau hanya bisa melihat tapi tidak bisa memegang, tapi ini pun sudah merupakan hiburan bagi mereka.

Ada tamu asing yang datang, mereka pun mengakhiri obrolan mereka.

Pemuda she Kang itu kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Dia merasa tamu perempuan itu sangat aneh, tapi dia tidak mempunyai waktu untuk memikirkannya.

Hati Kang Ho-seng tidak tenang, kabar yang dia dapatkan kali ini adalah kabar mengenai Hui-thian.

"Apakah yang melukai putra Bok Ci-giauw adalah Hoan Toako?"

Kali ini dia datang ke ibukota bukan untuk mencari Hui-thian tapi setelah tahu bahwa Hui-thian berada di ibukota, Kang Ho-seng mau tidak-mau jadi memikirkan Hui-thian.

Ke mana dia harus mencari Hui-thian?

Dia tahu bahwa ketua Piau-hang, Tong Hwie-yan berteman dengan Kie Yan-gan.

Kie Yan-gan dan Hui-thian sudah seperti kakek dan cucu, bila ada yang tahu mengenai keberadaan Hui-thian, tentu dia adalahd Tong Hwie-yan, malah mungkin saja mereka pernah bertemu.

Tapi dia tidak berani mencari Tong Hwie-yan karena Tong Hwie-yan adalah teman dari musuhnya.

Tong Hwie-yan bersama dengan Tuan Kiam-ta dan Hie Tiong-gwee sudah mengeluarkan undangan untuk para pendekar dalam menghadapi Hui-thian.

Pada saat dia sedang merasa risau, bos penginapan masuk dalam kamarnya.

"Tamu perempuan itu sangat mencurigakan, kau bisa melihat bahwa dia adalah pesilat tangguh."

"Lalu apa hubungannya denganku?"

Tanya pemuda itu.

"Apakah kau mengira dia adalah mata-mata Bok Ci-giauw dan Hie Tiong-gwee?"

Jawab bos itu.

"Benar, mereka tidak tahu kau sedang menyamar, mungkin mereka mengira menggunakan mata-mata perempuan lebih cocok untuk mencarimu."

Kata pemuda itu.

"Paman, bila kau takut aku ketahuan olehnya, bagaimana bila aku pindah dulu dari sini?"

Ternyata pemuda itu adalah Kang Hiat-kun, bos penginapan itu adalah adik satu she dari pihak ibunya, walaupun saudara jauh tapi dia tetap memanggilnya paman, ibunya pernah mengatakan bahwa paman ini sangat jujur, karena itu Hiat-kun mencarinya.

Walaupun ayahnya dan ayah Hui-thian sudah meninggal, dia masih tetap menjadi burunan istana Dia juga adalah istri Hie Tiong-gwee yang melarikan diri, Hie Tiong-gwee adalah teman baik dari Bok Ci-giauw, dia takut pamannya akan terganggu dengan kehadirannya, dia pun tidak mengatakan bahwa dia dan bos ini adalah keluarga.

Kata bos itu.

"Kau jangan curiga, aku hanya takut kau berada dalam bahaya bila kau berada di sini terus."

Kata Kang Hiat-kun.

"Aku tahu, besok pagi aku akan pindah dari sini."

Kata bos itu lagi.

"Tidak perlu terburu-buru, carilah dulu suatu tempat yang aman baru pindah, aku pun akan merasa tenang."

Walaupun bos itu mempunyai banyak teman tapi menolong buronan istana hukumannya sangat berat.

Bos itu belum terpikirkan teman yang mana yang bisa dipercaya untuk menitipkan Hiat-kun.

Pada saat masih memikirkan hal itu, tiba-tiba di luar terdengar ada ribut-ribut Seorang pelayan masuk dan berkata.

"Cepat keluar bos! Cepat keluar!"

"Ada apa?"

"Ada sepasukan tentara pemerintahan sudah mengepung penginapan ini!"

Belum habis kata-katanya ada yang berteriak.

"Mana bos penginapan ini? Suruh dia keluar!"

Bos itu keluar untuk melihat, ternyata yang masuk adalah kepala pasukan sedangkan semua tentara sudah mengeluarkan senjata dari tempatnya masing-masing. Bos itu berusaha menenangkan diri dan bertanya.

"Kalian datang ke penginapanku, ada perintah apa?"

Kata kepala pasukan itu.

"Aku mencari seseorang, asal kau mau berkata jujur, tidak akan terjadi apa-apa!"

Jawab seorang kepala pasukan.

"Apakah ada seorang tamu perempuan yang tidak diketahui identitasnya?"

"Tidak enak menanyakan identitas tamu-tamu yang menginap."

Tanya mereka lagi.

"Apakah ada tamu yang datang seorang diri?"

"Ada, ada, dia baru saja sampai."

Tanya kepala pasukan lagi.

"Apakah dia cantik?"

"Aku tidak tahu bagaimana yang disebut dengan cantik itu, apakah aku harus menyuruhnya keluar?"

Kata kepala pasukan itu.

"Aku harus bertemu dengannya, tidak perlu menyuruhnya keluar, aku saja yang mencarinya ke kamar, kau yang bawa jalan!"

Satu lagi kepala pasukan tentara berkata.

"Aku tidak mengerti, buronan yang cantik atau tidak cantik, apa hubungannya? Panglima ingin menangkap buronan perempuan yang cantik, tidak ada hubungannya dengan kita. Kau bahkan belum tahu siapa yang akan kita tangkap."

Kata yang satu lagi.

"Tolong beritahu kepadaku!"

"Sebenarnya ini pun bukan rahasia, hanya ada hubungan dengan masalah pribadi, orang ini adalah seorang pendekar, sekarang dia adalah tamu dari Panglima Bok, kau tahu siapa dia?"

"Ternyata dia..."

Segera temannya melarang dia untuk terus berbicara. Kemudian yang satu lagi berkata.

"Istrinya adalah si Cantik dari Lok-yang."

"Karena itu aku merasa aneh dan menanyakannya kepada bos."

"Baiklah, kita sama-sama melihat si Cantik itu."

Kang Hiat-kun yang berada di kamar mendengar percakapan mereka, jantungnya berdebar-debar, dia berpikir, 'Ternyata mereka datang ke sini untuk mencariku, sekarang yang mereka curigai adalah tamu perempuan tadi.

Apakah mereka pun akan melibatkannya masuk ke dalam-keributan ini?

Tapi bila aku keluar, aku takut identitasku akan terbongkar.' Dia tampak masih ragu-ragu, kepala pasukan yang satu lagi berkata.

"Mengapa kau tidak mengijinkanku mencari buronan itu?"

Kata yang satu lagi.

"Karena buronan itu tidak satu, kita harus membagi tugas."

Dia membalikkan tubuh dan bertanya kepada bos.

"Kau sudah memberitahu tentang tamu perempuan itu, bagaimana dengan tamu laki-lakinya, apakah dia juga datang sendiri?"

"Ada, tapi keluarga orang itu bersih."

Kata Bos itu. Dia tidak berani mengatakan hubungannya dengan Hiat-kun, dia pun tidak mau mengarang cerita tentang Hiat-kun. mereka sudah tidak sabar lagi, diantara mereka ada yang berkata.

"Kau sendiri yang menanyakan tamu laki-laki itu?"

Ternyata Bok Ci-giauw menyuruh mereka mencari Hiat-kun dan Hui-thian.

Hiat-kun belum memperoleh cara menghadapi mereka, tapi kepala pasukan sudah berada di depan kamarnya, dia melihat Hiat-kun seperti pemuda yang sangat sopan dan terlihat seperti seorang pelajar, pemuda itu pasti bukan Hui-thian.

Hiat-kun mengaku bahwa dia datang ke ibukota untuk mencari seorang teman, sewaktu mereka menanyakan di mana kampung halamannya, Hiat-kun menjawab.

"Soa-tang."

Tapi kepala pasukan itu bertanya lagi.

"Mengapa logatmu dan bos penginapan ini tidak sama?"

Kang Hiat-kun tampak terkejut dan menjawab.

"Selama 7 tahun aku ikut dengan ayah berdagang ke luar Soa-tang, hingga sekarang belum pernah kembali ke kampung halaman."

Kepala pasukan bertanya lagi.

"Apakah kau pernah tinggal di Lok-yang?"

"Pernah, selama beberapa tahun."

Kata kepala pasukan itu.

"Pantas, terdengar ada sedikit logat Lok-yang."

Dalam hati Kang Hiat-kun berpikir, 'Bila mereka terus bertanya seperti itu, tanpa sadar aku akan membocorkan rahasiaku."

Pada waktu itu tiba-tiba ada yang berteriak, kemudian ada yang berkata.

"Kau... kau..."

Tapi suaranya tidak terdengar lagi.

Kepala pasukan itu tampak terkejut, segera keluar dari kamar Hiat-kun.

Yang memeriksa tamu perempuan adalah kepala pasukan yang lainnya, suara teriakan berasal dari tempat itu.

Tidak terdengar suaranya yang menjawab, hanya terdengar suara laki-laki aneh yang menjawab.

"Aku adalah Hui-thian-sin-liong, bagaimana caramu menyuruh dia untuk menangkapku, terpaksa aku mengantarkannya bertemu dengan dewa kematian."

Kepala pasukan berteriak.

"Cepat! Cepat! Datangkan orang!"

Belum habis bicara, tenggorokannya sudah terpanah dan mati. Suara aneh itu tertawa dan berkata.

"Bukankah kalian mau menangkapku? Hayo cepat kemari!"

Pengawal istana sudah terlatih mereka lebih berani dari prajurit bisaa, tapi sekarang ini tidak ada yang berani masuk bahkan bergerak pun tidak berani. Terdengar suara tawa Hui-thian.

"Baiklah, bila kalian tidak mau masuk, aku akan pergi! Kalian jangan macam-macam, aku adalah Hui-thian-sin-liong, hanya membunuh orang jahat tidak membunuh orang baik-baik Bos, cepat tolong nona ini, dia sudah pingsan."

Hui-thian sudah pergi, kepala pasukan itu masih terkejut, dia tidak berani masuk ke dalam kamar.

Kang Hiat-kun juga terkejut, tapi rasa terkejutnya tidak sama dengan kepala pasukan itu.

Dia terkejut karena dia tahu orang itu bukan Hui-thian.

Dia tumbuh bersama-sama dengan Hui-thian walaupun Hui-thian memegang lehernya sambil bicara, dia masih bisa membedakannya.

Tapi sepertinya dia kenal dengan suara ini.

Segera dia terpikir pada seseorang, sewaktu di rumah Hie Tiong-gwee, pada saat Hie Tiong-gwee dan dirinya akan melangsungkan pernikahan, tiba-tiba Hui-thian masuk, berjanji bertarung dengan Hie Tiong-gwee, di antara banyak tamu, ada satu tamu yang sering menertawakan Hie Tiong-gwee.

Orang itu satu-satunya yang memihak Hui-thian, walaupun sering bicara tapi tempatnya tidak pemah sama.

Yang lebih mengherankan, tidak pemah terlihat orang itu berada di mana.

Suara orang itu sangat aneh, bila dicari arah bicaranya tidak pernah terlihat mulut siapa yang berbicara atau bergerak Sekarang dia mengaku-ngaku dia adalah Hui-thian, dia sudah membunuh dua orang kepala pasukan, kata-katanya, suaranya sama dengan.

orang yang bicara di rumah Hie Tiong-gwee.

Dalam hati Kang Hiat-kun berpikir.

"Orang itu sangat aneh, mengapa Hoan Toako tidak pernah menceritakan bahwa dia mempunyai teman seperti itu, orang itu sepertinya memiliki ilmu silat yang sangat lihai, siapakah dia?"

Tidak lama kemudian, pasukan itu baru berani masuk Kepala pasukan itu matanya terlihat begitu mengerikan.

Tamu perempuan itu sudah pingsan, cepat-cepat bos mengambil sebaskom air untuk menyiramnya, tamu perempuan itu langsung sadar.

Tamu perempuan itu sepertinya sangat terkejut, kemudian berteriak.

"Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!"

Ada seorang tentara yang lebih tua berkata.

"Nona, kau jangan takut, kami tahu bahwa pembunuhnya bukan dirimu!"

Belum habis kata-katanya tentara itu, tamu perempuan itu sudah berteriak lagi.

"Kau menyuruhku jangan takut, tapi kau bilang orang itu mau menghinamu, dan menyruhku membantumu membunuhnya, aku takut, takut!"

"Nona, sadarlah! Kau bukan orang itu!"

Kata Tentara itu. Hanya bos dan Hiat-kun yang tahu bahwa tamu perempuan itu sedang bersandiwara, bos itu sudah tahu kemampuan ilmu silatnya, dalam hati dia berkata.

"Tidak perlu bantuan Hui-thian, dia sendiri pun sanggup membunuh dua kepala pasukan itu, mengapa dia harus pura-pura takut seperti itu?"

Karena bos itu mendengar sendiri suara Hui-thian maka dia pun tidak menaruh curiga bahwa tamu perempuan itu sebagai pembunuhnya.

Dia memberikan secangkir air panas untuk tamu perempuan itu.

Kata tamu perempuan itu.

"Begitu orang itu mengeluarkan pisau, aku sudah pingsan, apa pun yang terjadi sudah tidak tahu lagi!"

Tanya tentara pasukan itu.

"Orang itu seperti apa?"

"Aku tidak berani melihatnya."

"Apakah di wajahnya ada sesuatu yang istimewa?"

"Benar, wajahnya ada bekas luka."

Tentara tua itu berkata.

"Kalau begitu benar, dia adalah Hui-thian."

Dia sudah pernah melihat gambar wajah Hui-thian.

Sebenarnya mereka ingin menanyakan hal lainnya, tapi mereka takut kepada Hui-thian, mereka berharap bisa cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Lebih cepat lebih baik Pasukan itu sudah pergi, tamu perempuan itu berkata pada bos itu.

"Kamarku banyak darah, aku tidak mau menginap di sini lagi, aku akan mencari penginapan lain, uang yang sudah kuberikan tidak perlu dikembalikan."

Si bos lebih suka dia pergi dari situ, dia berkata.

"Aku pun tidak tahu akan terjadi hal seperti ini, terima kasih untuk uangmu."

Segera dia mengantarkan tamu itu pergi.

Begitu Kang Hiat-kun tahu bahwa tamu perempuan itu akan pergi dia menjadi gelisah, karena banyak hal yang ingin dia tanyakan.

Tamu perempuan itu sudah melangkah keluar, tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan tertawa, tawanya begitu misterius.

Bos itu merasa aneh, dia menganggap tawa gadis itu hanya untuk kesopanan, maka bos pun ikut tertawa.

Waktu itu terdengar suara aneh lagi, suara yang memalsukan identitas Hui-thian.

Anehnya Hui-thian tidak muncul, tamu perempuan itu bahkan tidak membuka mulut, dia hanya tersenyum, anehnya hanya kata-kata ini yang didengar oleh Hiat-kun.

orang lain tidak mendengar, karena bila mereka mendengar mereka pun pasti akan terkejut Hiat-kun merasa aneh, tidak ada orang di sisinya, tapi seperti ada yang bicara di dekat telinganya.

Suara itu berkata.

"Besok malam, pukul satu, kita bertemu di Sin-sa-hai."

Hiat-kun terpaku, suara itu berkata lagi.

"Benar, oh ya masih ada hal lain yang ingin aku beritahu kepadamu, aku pinjam bajumu, aku akan menyuruh Hui-thian kembalikan kepadamu, kau tidak perlu terkejut seperti itu!"

Tamu perempuan itu sudah pergi, para tamu sedang ribut, mereka meributkan gerak gerik aneh dari tamu itu, dengan cepat Hiat-kun kembali ke kamarnya.

Dia memeriksa barang-barang yang dia bawa, benar saja, bajunya berkurang satu stel dia sangat terkejut, sebelum tamu perempuan itu masuk ke kamarnya, Hiat-kun sudah berada di dalam kamar.

Setelah ada ribut-ribut, dia baru keluar untuk melihat.

Entah sejak kapan barangnya bisa menghilang.

Sewaktu 'Hui-thian' membunuh orang di kamar dan pasukan pengawal belum masuk untuk memeriksa, Hiat-kun pada saat itu baru keluar dari kamarnya.

Waktunya begitu singkat, tamu itu sudah masuk ke dalam kamarnya dan mencuri baju, ini membuat Hiat-kun terkejut sekaligus terkagum-kagum.

Walaupun dia terkejut, tapi dia sudah mengetahui 2 hal dari kejadian ini.

Pertama, tamu perempuan itu memalsukan identitas Hui-thian.

Ada orang yang mahir berbahasa perut dan tidak membuka mulut tapi bisa mengeluarkan suara.

Bahasa perut sesuai dengan sosok pemiliknya, tapi tamu perempuan itu bisa mengubah suaranya menjadi suara laki-laki, hal ini jarang terjadi, begitu Hiat-kun mengetahuinya, dia langsung menghubungkan dengan peristiwa di rumah Hie Tiong-gwee.

"Pantas tidak ada yang tahu siapa yang sudah mengeluarkan kata-kata yang begitu aneh, siapa yang menyangka gadis lembut itu tidak membuka mulut tapi bisa mengeluarkan suara laki-laki."

Kedua, dia tahu walaupun tamu perempuan itu tidak berteman dengan Wie Thian-hoan tapi paling sedikit mereka saling kenal, bila tidak dia tidak akan berkata bahwa bajunya akan dititipkan kepada Hui-thian.

Hiat-kun merasa aneh.

"Mengapa Hoan Toako tidak pernah memberitahu bahwa dia mempunyai teman yang ilmu silatnya begitu tinggi? Apakah dia takut aku akan curiga? Sebenarnya aku pun sudah tidak ingin bertemu dengannya, aku tidak akan iri bila dia mempunyai teman perempuan yang lain."

Mendengar kata-kata dari tamu perempuan tadi, sepertinya dia sudah tahu keberadaan Hui-thian.

"Mengapa dia tidak mau mengatakan di mana Wie Toako? Apakah besok malam dia berjanji akan mengajak Wie Toako agar mau bertemu denganku?"

Dia masih terus berpikir, dia sudah mengambil keputusan untuk pergi besok malam.

Tapi Hiat-kun salah besar karena tamu itu sama sekali tidak dikenal oleh Hui-thian.

Yang lebih tepat adalah tamu perempuan itu mengenal Hui-thian, tapi Hui-thian sama sekali tidak kenal dengannya.

Dia pun seperti Hiat-kun, demi Hui-thian dia pergi ke ibukota, hanya saja Hiat-kun belum tahu keberadaan Hui-thian, sedangkan orang itu sudah tahu.

Hui-thian sedang mengendarai kereta, melewati jalan kecil itu untuk kembali ke ibukota.

Ada pepatah yang berbunyi.

sudah tahu bahwa di gunung itu ada harimau, tapi dia malah sengaja mendaki gunung itu.

Dia mengambil keputusan untuk bertarung dengan Hie Tiong-gwee, Tuan Kiam-ta dan Bok Ci-giauw.

Dia tahu Bok Ci-giauw sudah memasang perangkap, menunggunya masuk ke dalam perangkapnya, tapi Hui-thian tidak takut, dia mempunyai keyakinan untuk menang.

Karena dia sudah mempunyai seorang sandera, dan dia adalah putra sulung Bok Ci-giauw, yaitu Bok Ling-ku.

Hari sudah hampir sore, jarak ke ibukota tinggal 20 li lagi, Hui-thian sedang membuat rencana, bila sudah tiba di ibukota dia akan mencari tempat untuk bersembunyi dan menyusun rencana dengan apa dia bisa menghubungi Bok Ci-giauw.

Dia pun memikirkan beberapa cara, lapi dia merasa semua itu tidak cocok.

Tiba-tiba ada seorang gadis yang menghentikan keretanya.

Ini hanyalah sebuah jalan kecil, hanya bisa dilewati oleh sebuah kereta, gadis itu berdiri di tengah-tengah, dengan terpaksa Hui-thian menghentikan keretanya Gadis itu bertanya.

"Toako, apakah kau akan ke ibukota?"

Wie Thian-hoan tidak mengenali gadis itu, tapi begitu tahu bahwa gadis itu bisa ilmu silat, Hui-thian balik bertanya.

"Ada apa?"

"Aku pun ingin ke ibukota, hari sudah malam, apakah aku boleh ikut ke ibukota?"

"Maaf, aku tidak mengenalimu, apalagi kau adalah seorang perempuan sedangkan aku seorang laki-laki, tidak baik bila kita pergi bersama-sama."

Gadis itu tertawa.

"Bila kau kenal denganku, kau tidak akan takut? Hanya ada seorang laki-laki dan seorang perempuan, apakah kita tidak boleh satu kereta?"

Dengan marah Wie Thian-hoan berkata.

"Nona, aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu, jangan ganggu aku lagi!"

Kata gadis itu.

"Aku mengatakan yang sebenarnya, coba kau lihat dengan teliti apakah benar kau tidak kenal denganku?"

Wie Thian-hoan melihat dari atas ke bawah, tiba-tiba dia menemukan sesuatu yang aneh dari tubuh gadis itu, tiba-tiba hatinya bergetar, tidak sengaja dia sudah membuka matanya lebar-lebar.

Kata gadis itu.

"Kau tidak mengenalku, tapi pasti mengenali baju ini bukan?"

Ternyata gadis itu mengenakan baju Hiat-kun yang hilang.

Wie Thian-hoan pun belum tentu bisa mengenali semua baju Hiat-kun, tapi yang dipakai oleh gadis itu sekarang pernah dilihatnya dan dia tidak akan pernah melupakannya.

Karena pada saat itu dia dan Hiat-kun lari dari rumah Hie Tiong-gwee dan Hiat-kun mengenakan baju itu.

Pada saat mereka akan lari ada beberapa tamu yang berusaha menghadang mereka, tapi dia dan Hiat-kun berhasil melukai penghalang itu, dan darahnya mengenai baju Hiat-kun hingga sekarang masih ada nodanya.

Wie Thian-hoan seperti terkena sengatan listrik, dia langsung turun dari kereta dan berteriak.

"Dari mana kau dapat baju itu?"

Dia takut gadis itu melarikan diri, sambil bicara dia sudah mengeluarkan tangannya bersiap-siap untuk menangkap gadis itu bila lari, yang dicengkram adalah pundak gadis itu, bisaanya pesilat tangguh pun akan susah menghindar.

Tapi gadis itu usianya belum mencapai 20 tahun, dia hanya sedikit mengelak, sudah bisa lepas dari cengkraman Wie Thian-hoan.

Kata gadis itu.

"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh dekat-dekat? Mengapa sekarang kau berusaha memegangku?"

Entah dia benar-benar marah atau berpura-pura, segera dia menampar pipi Wie Thian-hoan.

Hampir saja dia terkena tamparan gadis itu, untuk menghindari tamparan itu, Wie Thian-hoan harus mendorong tangannya keluar dan secara i otomatis orang akan terdorong, tapi bila menggunakan cara ini, akan mengenai dada gadis itu, malah akan membuat gadis itu luka berat Wie Thian-hoan tidak mau melakukan cara ini.

Dalam keadaan seperti ini, Wie Thian-hoan terpaksa harus menjatuhkan diri dan berguling, tapi dengan cara seperti itu untuk menghindari tamparan, membuat Wie Thian-hoan menjadi malu.

Gadis itu berputar dan masuk ke dalam kereta Wie Thian-hoan sangat terkejut, dia meloncat dan berteriak.

"Kau mau apa!"

Sambil berteriak dia sudah mengeluarkan serangan. Gadis itu dengan indah berputar di tengah udara dan mendarat di tanah. Gadis itu tertawa dan berkata.

"Tidak disangka, laki-laki sepertimu pandai berbohong, tapi teknik berbohongmu harus diubah!"

"Aku sudah berbohong apa?"

Gadis itu tertawa dan menjawab.

"Sepertinya di dalam kereta masih ada orang, aku ingin ikut denganmu mengapa kau mengatakan tidak baik bila seorang laki-laki satu kereta dengan seorang perempuan?"

"Sebenarnya kau mau apa?"

"Tidak ada yang kuinginkan darimu, aku hanya tahu bahwa kau sedang banyak masalah, aku hanya ingin mengobrol denganmu!"

"Aku sudah bilang aku tidak mempunyai waktu mengobrol denganmu!"

Kata gadis itu.

"Aku sudah tahu, karena itu aku meminjam baju Hiat-kun."

Kata Wie Thian-hoan.

"Siluman, kau sudah melakukan apa terhadap Hiat-kun!"

Ilmu gadis itu sangat aneh, cara tangannya bergerak pun Wie Thian-hoan tidak mengenal.

Entah Jurusnya berasal dari golongan apa?

Mungkin berasal dari golongan hitam atau putih, yang dia tahu Hiat-kun tidak mempunyai teman seperti itu.

Baju Hiat-kun ini bukan baju bisaa, baju ini sangat berarti untuk Hiat-kun dibanding dengan baju pengantinnya.

Baju pengantin membuat Hiat-kun timbul perasaan benci, tapi baju itu adalah kumpulan dari perasaan mereka berdua.

Mengapa Hiat-kun meminjamkan baju itu kepada orang lain, sekalipun orang itu adalah temannya.

Bila tidak dipinjamkan, mengapa bisa berada di tangan gadis itu?

Wie Thian-hoan sangat terkejut dengan keadaan ini dan terus berpikir.

Gadis itu seperti bisa menebak pikirannya, kemudian dia tertawa.

"Apakah kau mengira aku sudah membunuh Hiat-kun?"

Wie Thian-hoan berteriak.

"Bila kau tidak mau menjelaskannya aku akan membunuhmu!"

Gadis itu malah tertawa dan berkata.

"Coba saja kalau kau bisa membunuhku!"

Tubuhnya sudah bergerak menghindari 3 jurus serangan Wie Thian-hoan, yang sama sekali tidak dapat mengenainya bahkan ujung bajunya pun tidak tersentuh serangan Wie Thian-hoan.

Wie Thian-hoan mulai marah, dia bersiap mengeluarkan serangan lebih dahsyat lagi.

Gadis itu berkata.

"Apakah Kau adalah murid asuhan Kie Yan-gan?"

"Kalau betul, mengapa?"

Kata gadis itu.

"Kie Yan-gan adalah orang nomor satu di dunia persilatan, apalagi jurus pedang dan telapak tangannya tidak ada bandingnya di dunia persilatan. Aku sudah melihat jurus telapak tanganmu, aku ingin melihat jurus-jurus pedangmu!"

Bila pesilat tangguh bertarung harus menggunakan peluang sangat tipis, apalagi bila harus memperebutkan inisiatif penyerangan,.

Hanya terdengar suara 'ZES', lengan baju gadis itu sudah terpotong oleh Wie Thian-hoan.

Dengan dingin Wie Thian-hoan berkata.

"Apakah kau ingin meneruskan pertarungan?"

Gadis itu memasukkan pedangnya dan berkata.

"Kita sudah mengeluarkan semua kepandaian kita, aku kira kita tidak perlu bertarung lagi!"

Dia meniup sesuatu dengan ringan, terlihat sepotong kain sebesar uang logam ditiup dan melayang-layang kemudian terjatuh di depan Wie Thian-hoan, matanya mengandung tawa ringan melihat ke arah Wie Thian-hoan.

Wie Thian-hoan terpana, dia melihat ternyata baju bagian dada sudah berlubang sebesar uang logam, dia mengulurkan tangan dan mengambil kain sebesar uang logam.

Dia baru tahu ternyata kain yang ditiup oleh gadis itu berasal dari bajunya Semua ini tidak disangka oleh Wie Thian-hoan, jurus pedang gadis itu begitu bagus.

Wajah Wie Thian-hoan menjadi merah, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Untung kita punya pikiran yang sama, bila tidak kita berdua akan sama-sama kalah atau malah terluka. Berarti kita seimbang."

Wie Thian-hoan sudah mengerti arti dari 'mempunyai pikiran yang sama', dalam hati dia berpikir, 'Benar, tadi aku hanya mengenai pada sasaran langsung berhenti, bila diteruskan tangan gadis itu akan terpotong dan dia hanya melubangi bajuku di bagian dada bila tidak mana mungkin saat ini aku masih hidup?' Wajah Wie Thian-hoan memerah dan berkata.

"Terima kasih Nona tidak membunuhku, aku yang sudah kalah setengah jurus."

Kata gadis itu.

"Jangan sungkan, sebenarnya kau sudah setuju bertarung denganku melalui jurus pedang, itu pun kau sudah menang."

Kata-kata ini tidak salah, bila Wie Thian-hoan tidak ingin bertarung dengan jurus pedang, gadis itu tidak akan bisa melukainya "Jurus pedangku tidak bisa mengalahkanmu, tapi kau pun pasti tahu, bila aku mau membunuh Hiat-kun, hal itu akan sangat mudah bagiku,"

Kata gadis itu.

Gadis itu berkata demikian berarti dia tidak membunuh Hiat-kun, tapi segera terpikir oleh Wie Thian-hoan, ilmu silat gadis itu lebih tinggi beberapa kali lipat dari Hiat-kun, apakah baju itu dia curi dari Hiat-kun?

Atau malah merebutnya dari Hiat-kun?

Mungkin saja Hiat-kun sudah ditangkap oleh gadis itu dan bajunya diambil oleh gadis itu Tanya Wie Thian-hoan.

"Kau mengenakan baju Hiat-kun untuk mencariku, apa tujuanmu?"

Jawab gadis itu.

"Pertama, aku ingin kau mengenalku. Kedua, dengan baju ini kau akan langsung tahu bahwa aku sudah bertemu dengan Hiat-kun."

Jawaban gadis itu tetap tidak bisa membuka pikiran Wie Thian-hoan, yang ingin diketahui oleh Wie Thian-hoan bukan gadis itu sudah bertemu dengan Hiat-kun.

Dari baju itu saja Wie Thian-hoan sudah tahu bahwa gadis itu telah bertemu dengan Hiat-kun, tapi pernah bertemu bukan berarti dia adalah teman Hiat-kun.

Wie Thian-hoan ingin tahu kabar tentang Hiat-kun.

Tanya Wie Thian-hoan.

"Mengapa Hiat-kun mau meminjamkan baju ini kepadamu?"

Gadis itu tertawa dan menjawab.

"Aku tidak mau membohongimu, baju ini tidak mungkin dia mau meminjamkannya kepadaku, aku secara diam-diam yang meminjam kepadanya."

"Sepertinya kau belum berkata jujur kepadaku."

Kata gadis itu lagi.

"Lebih tepat dikatakan aku mencurinya bukan meminjam. Tapi aku yakin dia tidak akan menyalahkanku, karena dia tahu aku telah berbuat baik kepadanya."

Tanya Wie Thian-hoan.

"Mengapa kau berbuat baik kepadanya? Mengapa kau tidak mengajaknya datang ke sini?"

"Kau kira aku adalah orang yang bisa meramal nasib orang-orang? Dan aku bisa tahu hari ini aku akan bertemu denganmu? Jujur saja kemarin malam pun aku tidak tahu harus kemana mencarimu? Biar pun aku sudah membantu Hiat-kun, tapi itu juga bukan berarti kami adalah teman, apakah aku harus berkata 'Hei, kita sama-sama mencari kekasihmu, bagaimana?' Kalau dia malu dan tidak mau mengakuinya malah balik marah-marah, bukankah itu lebih menyusahkan lagi?"

Dia membuat Wie Thian-hoan tidak bisa bicara lagi, Wie Thian-hoan bertanya.

"Kau pemah membantunya dalam hal apa? Bagaimana kau bisa tahu tentang keberadaanku?"

"Kau terlalu banyak tanya. Banyak hal yang kau tidak perlu tahu tapi kau akan segera tahu. Mengapa kau tidak bertanya, mengapa aku mencarimu?"

Jawab gadis itu. Kata Wie Thian-hoan.

"Baiklah, katakanlah ada apa kau mencariku?"

"Aku ingin tahu, apakah di hatimu hanya ada Hiat-kun seorang saja?"

Wie Thian-hoan tersinggung dan berkata.

"Kau terlalu banyak tanya! Ini adalah urusan pribadi. Katakan kepadaku Hiat-kun berada di mana? Aku akan mencarinya, tidak akan merepotkanmu bukan?"

Gadis itu tertawa melihat dia, lapi tidak bicara lagi. Gadis itu tidak membuka mulut, tapi Wie Thian-hoan mendengar ada suara laki-laki yang aneh.

"Kau benar-benar mempunyai perasaan yang dalam terhadap Hiat-kun, tapi orang yang mempunyai perasaan terhadapmu bukan hanya Hiat-kun saja. Yang seharusnya kau cari kau malah tidak mencarinya, aku merasa gadis itu tidak dihargai olehmu."

Wie Thian-hoan terkejut dan terus melihat gadis itu, Wie Thian-hoan sekarang baru sadar.

"Ternyata sewaktu di rumah Hie, kaulah yang terus mengatakan yang aneh-aneh!"

Dalam hati Wie Thian-hoan berpikir, 'Pantas dia bilang sudah lama mengenalku."' Gadis itu seperti tahu pikiran dia.

"Apakah kau merasa aneh?"

"Betul-betul di luar dugaanku, kalau kita sekarang tidak bertemu, sampai kepalaku pecah pun tidak akan terpikirkau bahwa suara laki-laki itu berasal dari suara gadis yang lembut."

Kata gadis itu tertawa.

"Tadi kau mengatai bahwa aku adalah siluman, dalam sekejap kau bilang aku adalah seorang gadis yang lembut!"

Wie Thian-hoan merasa malu dan berkata.

"Aku yang salah, maafkan aku!"

"Sepertinya kau sudah menganggap aku sebagai temanmu?"

"Sewaktu itu di rumah Hie, semua tamu termasuk Tuan Kiam-ta membela Hie Tiong-gwee, hanya kau yang berani membantuku bicara. Kau bukan temanku, tapi aku sangat berterima kasih kepadamu."

Dia tidak tahu identitas gadis ini, kata-kata Wie Thian-hoan sangat-hati-hati. Wie Thian-hoan hanya mengucapkan terima kasih kepada gadis itu. Gadis itu berkata.

"Waktu itu mengapa aku membantumu, karena aku melihat kau sangat mencintai Hiat-kun karena itu aku membantumu."

Dia berkata lagi.

"Waktu itu aku tidak mengeluarkan kata-kata yang aneh, begitu juga hari ini."

Dua kata ini seperti tidak ada sangkut pautnya, tapi Wie Thian-hoan mengerti maksud dari gadis itu.

Hari itu dia membantu Wie Thian-hoan karena dia tahu bahwa Wie Thian-hoan adalah orang yang mempunyai perasaan, hari ini bila Wie Thian-hoan tidak mencari gadis yang mencintainya, dia adalah orang yang benar-benar tidak mempunyai perasaan.

Hati Wie Thian-hoan tertawa kecut,.

"Hanya gadis seperti dia baru bisa mengeluarkan kata-kata yang aneh tapi sangat nyata."

Tanya Wie Thian-hoan.

"Siapa gadis itu?"

"Sumoimu, Kie Su-giok,"

Jawab gadis itu. Kata Wie Thian-hoan.

"Ternyata dia adalah Su-giok, aku selalu menganggap dia adalah adik kecilku."

"Terserah kau menganggapnya sebagai apa, tapi perasaannya terhadapmu sangat dalam. Sekarang Hiat-kun dalam keadaan selamat, tapi adik kecilmu ini berada dalam keadaan bahaya, apakah kau tidak mau menolongnya?"

Wie Thian-hoan sangat terkejut.

"Dia mendapat musibah apa? Apakah dia sudah masuk ke dalam perangkap siluman Pek-toh-san?"

"Dia tidak ditangkap, tapi tertipu. Karena bila seseorang tertipu bisa lebih berbahaya lagi!"

"Mengapa dia bisa tertipu?"

"Alasan jelasnya aku tidak tahu, aku hanya tahu dia sudah mengakui istri Ketua Pek-toh-san sebagai ibu angkatnya!"

Wie Thian-hoan meloncat dan berkata.

"Siluman itu berada di mana?"

Gadis itu menyipitkan mata dan berkata.

"Aku tidak tahu."

Wie Thian-hoan langsung merasa curiga dan berkata.

"Apakah kau benar-benar tidak tahu?"

"Aku tidak tahu, dan aku tidak berbohong!"

Wie Thian-hoan tahu di balik kata-katanya mengandung maksud yang lain.

"Sekarang kau tidak tahu, apakah kau sudah mempunyai rencana untuk mencari dia?"

Jawab gadis itu.

"Aku tidak berani mengatakannya, aku hanya bisa berkata, aku akan mencari dia. Mungkin aku mempunyai cara lain, sebenarnya aku juga tidak tahu dia berada di mana, kalau pun tahu aku tidak mau memberitahukannya kepadamu."

"Mengapa?"

"Kalau kau sudah tahu, kau pasti segera menolong adikmu. Dan pada saat kau ke sana untuk menolongmya, mereka pasti tidak akan mau melepaskan adikmu, akibatnya apa yang akan terjadi, tentu kau sudah bisa membayangkannya?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Mereka akan mencelakakan adikku dulu!"

"Sepertinya tidak, adikmu sangat bermanfaat bagi mereka. Kelihatannya Ketua Pek-toh-san ingin adikmu menjadi menantunya!"

Mata Wie Thian-hoan melotot dan berkata.

"Kau bercanda?"

"Aku tidak bercanda, kalau kau tidak percaya kau boleh bertanya kepada Tong Hwie-yan. Kemarin ini dia yang melihat adikmu pergi bersama putra Ketua Pek-toh-san dan katanya mereka adalah saudara angkat."

Kata Wie Thian-hoan.

"Kalau begitu, aku harus lebih cepat lagi menolong adikku, kalau tidak mereka akan membunuh Su-giok. Apa yang harus aku takuti terhadap mereka?"

"Ada, kalau mereka tidak melepaskan Su-giok, kau akan bertarung dengan mereka!"

"Apakah aku tidak bisa mengalahkan mereka?"

"Suami istri Pek-toh-san, ilmu silatnya sangat tinggi dan mereka selalu memakai racun. Aku tidak berani mengatakan bahwa kau akan kalah tapi mereka masih ada seseorang yang membantu. Paling-paling kau hanya bisa menerima 10 jurus dari dia."

Wie Thian-hoan tidak percaya, dalam hati dia berpikir, 'Setiap kali kakek melatih diriku, aku pun bisa menerima 50 jurus dari kakek Kakek adalah orang nomor satu di dunia persilatan.

Apakah orang ini lebih lihai daripada kakek?' Gadis itu seperti tahu pikirannya dan berkata.

"Kau mau percaya atau tidak itu terserah padamu, aku tidak mau kau mengantar nyawa ke sana. Karena itu kita harus mencari cara yang lain."

Tanya Wie Thian-hoan.

"Siapakah orang yang dimaksud?"

"Kau sudah lupa sifatku, bila ada hal yang bisa aku beritahu, sejak dari tadi aku sudah bicara, tidak perlu kau tanya dulu."

Kalau dia ingin mengatakannya, bisaanya ada 2 alasan.

Pertama, mungkin dia sendiri juga tidak tahu siapa orang itu?

Kalau tidak dia takut jika dia mengatakannya orang itu akan dicelakai, karena itu dia ragu-ragu untuk mengatakannya.

Wie Thian-hoan mendengar gadis itu menggambarkan kelihaian orang itu.

Wie Thian-hoan pun hanya setengah percaya, dalam hati dia berpikir, 'Gadis ini ilmu silatnya lumayan tinggi, apalah dia terlalu mengada-ada, tapi mungkin juga orang itu bisa mengalahkan ilmu silatku.

Wie Thian-hoan mengerutkan dahi dan berkata.

"Bagaimana aku bisa menolong adikku?"

Si gadis itu terdiam sebentar lalu berkata.

"Ada sebuah cara, tapi..."

"Tapi apa?"

"Apakah kau percaya kepadaku?"

"Katakanlah cara ini kepadaku."

Gadis itu seperti tertawa melihat Wie Thian-hoan dan menggelengkan kepala, dia seakan-akan berkata.

"Benar juga, kau belum percaya kepadaku."

Tapi gadis itu berkata.

"Cara tidak ada, tapi kau bisa menukar dengan benda berharga yang baru kau dapat"

Begitu mendengar Wie Thian-hoan sudah tahu apa yang dimaksud dengan benda berharga? Tapi dia tetap pura-pura tidak mengerti dan bertanya.

"Maksudmu apa, aku tidak mengerti?"

"Orang yang disembunyikan di dalam keretamu itu siapa?"

Wie Thian-hoan tidak bisa membohonginya, dan berkata.

"Dia bukan siapa-siapa, hanya saja dia bernasib baik karena ayahnya adalah seorang pejabat tinggi."

"Siapa ayahnya?"

"Panglima pasukan istana, Bok Ci-giauw."

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Putra panglima, itu benda yang sangat mahal!"

Tanya Wie Thian-hoan.

"Apa hubungan antara benda ini dengan hal yang akan kita akan lakukan?"

Jawab gadis itu.

"Hubungannya sangat erat. Aku bertanya kepadamu, kau mau apakan benda ini?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Aku mempunyai rencana, tapi ini adalah urusanku, kau tidak perlu ikut campur!"

Kata gadis itu.

"Tenanglah! Aku tidak akan merebut benda kesayanganmu, tapi aku ingin menebak apa yang akan kau lakukan terhadapnya dia."

Kata Wie Thian-hoan.

"Kau mempunyai mulut aku tidak bisa menjahit mulutmu, coba kau tebak!"

"Aku menduga kau akan menjadikan benda ini untuk berdagang dengan Bok Ci-giauw, apakah benar?"

Wie Thian-hoan terkejut dalam hati dia berpikir, 'Gadis ini sangat lihai, dia tahu banyak tentang diriku.

Aku memikirkan apa pun, dia juga tahu.' Ternyata tujuannya menangkap Bok Ling-ku adalah untuk dijadikan sandera serta untuk melindungi dirinya sendiri.

Bok Ci-giauw adalah orang yang melindungi Hie Tiong-gwee, ingin membunuh Hie Tiong-gwee harus melenyapkan orang yang menjadi pelindungnya.

Dia menjadikan Bok Ling-ku sebagai sandera, supaya Bok Ci-giauw tidak campur tangan urusan antara dia dan Hie Tiong-gwee.

Kalau ada kata yang lebih jelas adalah.

Wie Thian-hoan tidak ingin Bok Ci-giauw mengganggu dia membunuh Hie Tiong-gwee.

Dia ingin sandera ini bisa ditukar dengan kepala Hie Tiong-gwee, tapi gadis ini sepertinya ingin mengambil benda miliknya.

Gadis itu menarik nafas dan berkata.

"Sayang, sayang..."

"Apa yang disayangkan?"

"Sayang satu barang tidak bisa dipakai sebanyak 2 kali "

"Maksudmu... ?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Benda ini bisa ditukar dengan kepala Hie Tiong-gwee, juga bisa ditukar dengan Sumoimu."

Kata Wie Thian-hoan.

"Mengapa kau bisa tahu bahwa Ketua Pek-toh-san mau menukar benda ini?"

Kata gadis itu.

"Aku harap kau jangan menganggap bahwa aku adalah orang yang ditunjuk oleh Pek-toh-san. Menurutku, suami istri Ketua Pek-toh-san ingin adikmu menjadi menantu mereka, tapi mereka pun juga ingin menjilat Bok Ci-giauw."

Kata Wie Thian-hoan.

"Sepertinya kau pernah bilang, kau tidak tahu keberadaan Ketua Pek-toh-san, bagaimana bisa menukarnya?"

"Kau juga cepat lupa, aku pernah mengatakan bila aku akan mencari cara, caraku lebih meyakinkan."

Wie Thian-hoan ragu dan berkata "Apakah kau mau aku menyerahkan putra Bok Ci-giauw kepadamu?"

Tanya gadis itu.

"Kau mempercayaiku sebanyak berapa persen? Bila kau tidak mau mengatakannya, akulah yang akan bicara, kau hanya percaya 50% saja, apakah betul?"

Wie Thian-hoan terdiam dan mengakuinya.

"Aku tidak memaksamu harus percaya kepadaku, tapi hanya sedikit rasa percaya pun tidak apa-apa, kita memang berdagang."

"Bagaimana caranya?? Tanya Wie Thian-hoan.

"Kau balikkan tubuh terlebih dahulu!"

Ini membuat Wie Thian-hoan merasa aneh, tapi dia menurut saja. Wie Thian-hoan ingin melihat dia melakukan permainan apa lagi, hanya u sebentar gadis itu sudah berbicara.

"Sekarang kau sudah boleh membalikkan tubuh."

Wie Thian-hoan membalikkan tubuh lagi. Gadis itu sudahi membuka baju Hiat-kun, dia memegang baju itu dan berkata.

"Baju adikmu ditukar dengan baju milik Bok Siauya, apakah kita sepakat? Bukankah dalam hal ini kau lebih beruntung?"

Tanya Wie Thian-hoan.

"Kau menginginkan baju milik Bok Siauya untuk apa?"

"Mengapa kau begitu bodoh? Baju adikmu dan baju Bok Siauya kainnya tidak sama, model pun tidak sama, tapi manfaatnya untukku itu sama."

Kata Wie Thian-hoan.

"Ternyata kau memakai baju-baju ini untuk dijadikan barang petunjuk."

Kata gadis itu.

"Betul, aku mempunyai baju Hiat-kun, kau baru percaya bahwa aku tahu Hiat-kun berada di mana. Ini juga..."

Kata Wie Thian-hoan.

"Ketua Pek-toh-san bila melihat baju ini, baru percaya bahwa Bok Siauya berada di tanganmu."

Kata gadis itu.

"Masih ada satu jalan lagi, dia harus membawa baju ini ke rumah Bok untuk membuktikan baju ini milik siapa, dia baru akan percaya kepadaku. Aku juga bukan orang yang punya sandera, aku hanya perantara perdagangan ini, biarpun cara bicaranya tidak begitu sempurna, tapi kau sudah mengerti. Apakah perdagangan ini jadi?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Dalam perdagangan ini aku yang mengalami sedikit kerugian."

Gadis itu meloncat dan berkata.

"Kaulah yang beruntung."

"Baju ini harus kau kembalikan kepada adikku."

Kata gadis itu.

"Aku akan mengembalikan baju ini, juga harus mengembalikan adikmu."

Kata Wie Thian-hoan.

"Kau jangan marah, aku tidak bilang kita tidak jadi berdagang!"

"Kalau kau tidak mau mengakui..."

"Mengakui apa?"

Gadis itu sebenarnya ingin mengatakan.

"Kalau kau tidak mengakui bahwa kaulah yang beruntung, perdagangan ini tidak akan jadi."

Tapi sewaktu dia ingin mengatakan hal itu, dia berpikir, 'Orang lain yang beruntung malah aku yang harus memaksa dia agar mau mengaku, hal ini seperti tidak masuk akal.' Wie Thian-hoan tertawa dan berkata.

"Aku yang beruntung, tadi aku sudah mempermainkanmu. Maaf, sebenarnya aku sangat berterima kasih kepadamu."

Gadis itu amarahnya sudah mereda, dia berkata.

"Apakah aku bisa dipermainkan olehmu?"

Wie Thian-hoan tertawa dan berkata.

"Mengapa kau tadi juga mempermainkanku, sehingga tidak sengaja aku sudah membuatmu marah, hari ini aku sudah 2 kali kalah darimu."

Sebenarnya Wie Thian-hoan mempermainkan dia bukan untuk membalas, tapi dia senang melihat gadis itu marah.

Sambil bicara, dia sudah selesai membuka baju Bok Ling-ku, dan menukarnya dengan baju yang dipegang oleh gadis itu.

"Bagaimana aku bisa menghubungimu?"

Tanya Wie Thian-hoan.

"Kau tidak perlu mencariku, biar aku yang mencarimu,"

Jawab gadis itu. Kata Wie Thian-hoan.

"Kalau begitu, aku akan menunggumu di ibukota."

Dia naik ke atas kereta kuda, tiba-tiba gadis itu berkata.

"Tunggu sebentar!"

"Masih ada apa lagi?"

"Apakah kau akan naik kereta ini ke ibukota?"

"Kereta ini agak bagus, tapi tetap kereta kuda yang biasa. Aku naik kereta ini masuk ke ibukota, apakah ada yang salah?"

Kata gadis itu.

"Apakah kau tidak tahu bahwa kereta ini milik kantor Sin-hoan Piaukok?"

Kantor Sin-hoan Piaukok adalah sebuah kantor besar, di dalamnya pasti banyak mata-mata Bok Ci-giauw.

Pikir Wie Thian-hoan, 'Benar juga, biarpun dia sudah merubah penampilan, tapi kereta ini tidak bisa membohongi mata-mata yang berada di dalam Piau-hang.' Kata gadis itu tertawa.

"Kau tidak perlu tergesa-gesa, aku akan berdagang lagi denganmu."

Terlihat sebuah kereta keledai yang sudah tua. Kereta itu sudah berada di depan mereka, kusirnya adalah seorang pak tua yang datang dan desa, keledai itu juga sudah tua. Kata gadis itu.

"Keledai tua menarik kereta yang tua. Bandingkan dengan kereta kuda yang bagus ini. Kau pertimbangkan, bagaimana perdagangan ini akan kauambil?"

Wie Thian-hoan melihat pak kusir yang sudah tua seperti orang desa bisaa, sejak tadi pun dia tidak bicara. Kata gadis itu.

"Paman Ong tinggal di dekat sini, dia sering memakai kereta ini untuk mengangkut sayur ke kota. Pasukan yang berjaga pun sudah kenai dengannya. Aku sudah berbicara dengan dia, kau adalah teman* sekampungnya dan ikut keretanya ke ibukota. Dia masih bisa membantumu memasukkan satu orang lagi."

Wie Thian-hoan sudah mengubah penampilan. Jika naik kereta ini dan ikut dengan Paman Ong ini terlihat sangat cocok. Kata Wie Thian-hoan.

"Temanku ini tidak boleh dilihat orang."

"Tenanglah, jika kau menyembunyikan orang ke ibukota, Paman Ong sudah bisaa melakukannya."

Kata Wie Thian-hoan.

"Baiklah, perdagangan ini aku jadikan."

Pak tua ini sudah membantunya memindahkan Bok Ling-ku yang masih ditotok. Paman Ong berkata.

"Maaf, temanmu ini harus bersabar."

Kemudian dia menumpahkan sayur-sayur untuk menutupi tubuh Bok Ling-ku, di atas sayur masih ditumpuki banyak labu. Mengantar sayur ke ibukota menggunakan kereta tidak perlu memakai keranjang.

"Cara ini sangat baik, sebenarnya dia bukan temanku, dia adalah seorang Siauya."

"Biasa Siauya naik kereta yang mewah, kali ini dia berganti selera, tidur di kereta yang usang sekali-kali tidak apa-apa."

"Benar juga."

Kata Wie Thian-hoan.

"Tidak benar."

"Apa yang tidak benar?"

"Kau orangnya tidak mau dirugikan, mengapa kali ini kau mau dirugikan?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Karena aku merasa kereta tua ini lebih baik daripada kereta kuda itu."

"Tapi aku yang menjadi tidak enak hati. Begini saja aku tambah satu benda, anggap ini sebagai barang tambahan, harap kau mau menerimanya."

Wie Thian-hoan tahu gadis ini akan mempermainkan dia lagi, dia menerimanya dan melihat, ternyata itu adalah sebuah kunci. Wie Thian-hoan terpaku. Gadis itu berkata.

"Ini adalah kunci rumah, sementara kau jadi pemilik rumah itu. Paman Ong akan mengantarkanmu ke sana."

Wie Thian-hoan baru tahu.

"Ternyata dia sudah mengatur semuanya. Pantas dia bilang aku tidak perlu mencari dia, dia yang mencari aku."

"Aku baru saja berpikir bagaimana kalau aku tidak ada tempat untuk beristirahat Terima kasih atas hadiahmu,"

Kata Wie Thian-hoan. Gadis itu tertawa dan berkata.

"Harap kau tidak menyesalinya,"

Dia langsung naik kereta dan pergi.

"Hei...hei...aku belum tahu namamu!"

Wie Thian-hoan bertanya.

"Nama hanya satu isyarat, asalkan kau percaya kepadaku itu sudah cukup."

Gadis itu sudah naik ke atas kereta dan pergi jauh.

Kereta Wie Thian-hoan yang tua, biarpun tidak secepat kereta kuda tapi juga tidak selamban yang dia pikirkan.

Hanya pak tua ini sangat pendiam.

Kalau ditanya oleh Wie Thian-hoan dia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala, kalau dia tidak mau jawab, dia hanya diam.

Kalau Wie Thian-hoan diam, sikap dia tampak lebih dingin lagi.

Menurut aturan, orang yang dia khawatirkan seharusnya adalah Sumoinya karena dia baru jatuh di tangan siluman Menurut perasaan, orang yang dia khawatirkan adalah Hiat-kun.

Dia seperti berhutang kepada Hiat-kun, kali ini dia datang ke ibukota, yang penting adalah untuk membalas dendam tapi hal yang lainnya adalah mencari Hiat-kun.

Tapi sangat aneh, bayangan di dalam pikirannya bukan Sumoinya juga bukan Hiat-kun, tapi gadis aneh itu.

Mungkin dia belum pernah bertemu dengan gadis seperti dia, dan Wie Thian-hoan merasa aneh dengan perasaannya.

Temannya sedikit, apalagi teman perempuan lebih sedikit lagi.

Teman perempuan paling sedikit hanya ada dua, mereka adalah Hiat-kun dan Sumoinya, tapi mereka pun tidak termasuk sebagai temannya.

Dia, Hiat-kun, dan Sumoinya perasaannya lebih condong sebagai keluarga Kie Su-giok adalah Sumoinya, di matanya Kie Su-giok seperti adik yang tidak bisa tumbuh dewasa Kang Hiat-kun dari kecil sudah bersama dia sebelum mereka berpisah Hiat-kun sudah berumur berumur antara 8 hingga 9 tahun.

Betul, dalam waktu 10 tahun ini setiap hari dia merindukan Hiat-, kun.

Dia masih ingat, sewaktu masih kecil dia pernah bersumpah akan menikah dengan Hiat-kun, apakah perasaan ini hanya mengejar mimpi yang lama dan yang sudah hilang atau karena mereka bernasib sama?

Sekarang, mereka sama-sama tidak mempunyai orang tua dan rumah.

Rumah hilang dan orang tua Hiat-kun pun meninggal gara-gara keluarga Wie Thian-hoan.

Dia tidak pernah ragu dengan perasaannya kepada Hiat-kun, dia juga tidak pernah nmemikirkan perasaannya termasuk perasaan semacam apa?

Apalagi terhadap gadis aneh ini, sama sekali tidak ada perasaan yang khusus, tapi gadis itu sudah membuat Wie Thian-hoan penasaran.

Gadis ini mempunyai sifat yang berbeda dengan gadis lain, biasanya orang yang mempunyai sifat istimewa lebih menarik perhatian orang-orang.

Begitu Wie Thian-hoan memikirkan gadis aneh ini, dia tertawa kecut.

"Tidak disangka semenjak berkelana di dunia persilatan, pertama kali aku dirugikan oleh orang dan orang itu adalah seorang perempuan."

Dia berkelana di dunia persilatan baru 3 tahun lebih, tapi dia sudah banyak bertemu dengan banyak pesilat tangguh, biarpun tidak setiap kali , bertarung, dia yang memenangkan pertarungan.

Pesilat tangguh seperti Coh Kim-sung dan It Piau Tosu pun masih seimbang dengankemampuannya, tapi pada saat bertarung pedang dengan gadis ini, dia sudah kalah 1 jurus.

'Bila kami tidak bertarung, kami tidak akan berkenalan,'pikir Wie Thian-hoan dalam hati Dia berpikir lagi, 'Adu pedang aku sudah kalah satu jurus, adu kecerdasan aku pun kalah 1 jurus juga, sekarang aku diatur olehnya supaya masuk ke ibukota.' Keledai tua menarik kereta yang tua.

Jalan tidak rata, membuat hati Wie Thian-hoan pun menjadi tidak menentu, tidak terasa mereka sudah tiba di pintu utama kota.

Setiba di pintu kota, hari sudah gelap, saat pintu ditutup tinggal setengah jam lagi.

Prajurit penjaga pintu sudah kenal dengan kusir tua itu.

Prajurit itu bertanya.

"Pak tua, malam-malam begini kau baru masuk kota, apa bisa malam-malam begini menjual sayur dan labumu?"

Jawab Paman Ong.

"Keledai ini sudah tua, kereta pun sudah tua, aku tidak bisa apa-apa lagi. Karena aku sudah tiba di sini, terpaksa aku menjual sayuran ini ke tempat pengasinan sayur. Aku ada sedikit uang, ini untuk kalian membeli arak."

Begitu malam baru masuk ke dalam kota untuk menjual sayuran, seharusnya dia dicurigai, tapi karena prajurit itu mengenal Paman Ong dan dia sudah menerima uang, mereka pun mengijinkan kerete itu masuk, Wie Thian-hoan tidak dipersulit sama sekali.

Di dalam kota mereka sudah berjalan selama 1 jam, akhirnya berhenti di depan sebuah rumah.

Hari sudah gelap.

Paman Ong menyuruh Wie Thian-hoan turun dan menujuk ke arah rumah itu, artinya dia menyuruh Wie Thian-hoan masuk sendiri.

Begitu Wie Thian-hoan turun, Pak Tua Wang langsung pergi tanpa berkata sepatah kata pun.

Rumah itu dicat dengan warna merah hati, ada sepasang patung singa yang terbuat dari batu, sepertinya itu rumah orang kaya.

Wie Thian-hoan memasukkan kunci yang diberikan oleh gadis itu, begitu diputar, benar saja pintu itu bisa dibuka.

Tiba-tiba Wie Thian-hoan berpikir, Mengapa aku bisa percaya begitu saja kepada gadis itu?' Harus diketahui bahwa ayah Wie Thian-hoan meninggal karena dijual oleh temannya sendiri, semenjak ayahnya meninggal dia tidak bisa percaya kepada orang lain.

Tapi mengapa sekarang dia mau saja menerima diatur oleh gadis itu, bahkan mempercayainya, dia sendiri pun merasa heran.

"Benar, dia memang mengenakan baju Hiat-kun untuk menemuiku, bila dia sudah pernah bertemu dengan Hiat-kun baru bisa dipercaya Dia tidak melukai Hiat-kun mungkin itu pun masih bisa dipercaya tapi Sumoi jatuh ke tangan siluman, apakah ini bisa dipercaya?"

Dia terus berpikir.

"Siluman Pek-toh-san memang mempunyai dendam kepada kakek, walaupun Su-giok tidak mengetahuinya tapi paling sedikit dia harus tahu bahwa kakek tidak pernah berhubungan dengan orang-orang Pek-toh-san. Mengapa Su-giok bahkan bisa menjadi anak angkat istri Ketua Pek-toh-san? Bila Su-giok tidak tahu bahwa dia adalah istri Ketua Pek-toh-san, mereka harus berkenalan dulu baru bisa memanggilnya ibu angkat Apakah aku harus percaya kepada gadis itu?' Benar dia memang bisa ke Piau-hang untuk membuktikannya tapi Tong Hwie-yan, Tuan Kiam-ta, dan Hie Tiong-gwee sudah menyebarkan undangan untuk para pendekar agar menangkapnya, apakah dia juga bisa percaya kepada Tong Hwie-yan? Dan sekarang ini, apakah dia juga harus masuk ke dalam rumah ini? Bila dia hanya seorang diri, akan sangat mudah tapi dia membawa seorang sandera Bagaimana dia bisa membawa Bok Ling-ku mencari tempat penginapan lebih-lebih ke Piau-hang untuk mencari tempat berteduh? Pintu sudah terbuka tidak ada orang yang menyambut juga tidak ada cahaya lampu. Bila hal tentang Sumoinya memang benar, apakah di dalam rumah ini ada perangkap untuk menjebaknya? Dengan seksama dia mendengarkan, di dalam rumah itu sama sekali tidak ada suara apa pun. Sepertinya rumah itu adalah rumah tua yang besar, rumah ini pun seperti gadis itu, begitu misterius. Dalam waktu yang singkat, Wie Thian-hoan sudah beberapa kali berubah pikiran, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu Aneh, dia tidak bisa mendapat jawaban yang bisa membuat dia percaya tapi hatinya tetap mempercayai gadis itu. Tidak ada tempat untuknya berteduh, dan dengan terpaksa dia menggendong Bok Ling-ku masuk dan menutup matanya Dia masuk ke dalam ruangan yang sangat hias, dia merasa ruangan itu luas karena dia tidak dapat melihat apa pun. Rumah itu sangat gelap, sepertinya ini adalah ruang tamu. Dia meletakkan Bok Ling-ku dan mengeluarkan batu api. Begitu api menyala, dia sangat terkejut hampir menjerit karena di dalam rumah itu ada seseorang. Orang itu duduk di tengah-tengah ruangan, wajahnya ada bekas luka yang memanjang. Yang menyeramkan bukan hanya luka itu saja dia sendiri pun seperti mayat! Begitu ada cahaya, mayat itu ternyata bisa bicara.

"Kau sudah datang, aku sudah lama menunggumu,"

Kata-kata yang keluar pun terdengar sangat dingin. Wie Thian-hoan sangat terkejut dan segera menyentak.

"Siapa kau!"

Orang itu tidak menjawab, malah balik bertanya.

"Kau mengira aku ini siapa?"

Wie Thian-hoan mengaku.

"Aku lihat, kau tidak seperti orang, juga tidak seperti setan!"

Wajah orang itu sama sekali tidak ada ekspresi. Benar-benar seperti mayat, tapi sekarang dia bisa tertawa dan berkata.

"Kau tidak salah, aku memang sudah hampir mati beberapa kali, aku baru merangkak keluar dari kuburan!"

Wie Thian-hoan tidak pernah takut kepada apa pun, tapi sekarang dia merasa bulu kuduknya merinding, dia membentak lagi.

"Jangan macam-macam, siapa kau ini?"

Orang itu berkata.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku ini, asal aku tahu siapa dirimu, itu sudah cukup!"

"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?"

Dia mengira orang aneh ini adalah teman dari gadis itu, dalam hati dia berpikir, 'Gadis itu begitu aneh, mempunyai teman aneh juga, hal ini tidak mengherankan!' Kata orang itu.

"Dari tadi aku sudah mengatakan bahwa aku datang ke sini untuk menunggumu, aku ke sini tidak perlu diperintah oleh siapa pun."

Tanya Wie Thian-hoan.

"Ada apa menungguku?"

Orang itu tiba-tiba melempar segulung tali kepada Wie Thian-hoan. Tanya Wie Thian-hoan lagi.

"Apa artinya ini?"

"Itu adalah tali yang terbuat dari urat sapi, aku kira kau pasti tahu cara mengikat diri sendiri?"

Mendengar permintaan yang begitu kurang ajar, Wie Thian-hoan malah tertawa dan berkata.

"Bila kau ingin mengikatku, kau harus melakukannya sendiri, mengapa harus aku yang mengikat sendiri?"

"Karena aku tidak bisa mengikatmu!"

"Apakah tanganmu berpenyakit?"

"Tidak!"

"Kalau begitu otakmu pasti ada penyakit, di dunia ini tidak ada aturan harus mengikat diri sendiri."

"Apakah ayahmu tidak pernah menyuruhmu memukul telapak tanganmu sendiri?"

Wie Thian-hoan marah dan berkata.

"Kurang ajar! Kau mau mengambil keuntungan dariku?"

Orang itu menjawab.

"Memang benar aku bukan ayahmu, juga bukan karena kau sudah membuat kesalahan hingga harus menghukummu, ini ada hubungan antara kau dan aku, bila aku yang mengikatmu, aku akan kehilangan wajahku."

Wie Thian-hoan tertawa dingin.

"Tidak mungkin bila jabatanmu lebih tinggi dari Bok Ci-giauw. Bok Ci-giauw ingin menangkapku, dia pun harus menangkap sendiri."

Ternyata Wie Thian-hoan menganggap dia adalah kaki tangan Bok Ci-giauw. Tanya orang itu dengan dingin.

"Siapa itu Bok Ci-giauw? Apakah dia pantas berhubungan denganku? Kurang ajar! Apakah kau mengira aku adalah suruhan Bok Ci-giauw supaya datang ke sini?"

Wie Thian-hoan terpaku, dalam hati dia berkata.

"Orang ini sangat sombong, mungkin dia bukan anak buah Bok Ci-giauw, bila dia adalah anak buah Bok Ci-giauw, dia tidak akan berani memandang sebelah mata kepada atasannya."

Orang itu dalam gelak tawa dinginnya merasa bersalah walaupun dia memandang enteng kepada Bok Ci-giauw tapi kali ini tujuannya menangkap Wie Thian-hoan untuk diserahkan kepada Bok Ci-giauw tapi bukan atas perintah Bok Ci-giauw.

Wie Thian-hoan pun tidak akan diantar oleh dia kepada Bok Ci-giauw.

Orang itu adalah Kie Lek-beng, dia adalah ayah dari Su-giok, dia tertipu oleh suami istri ketua perkumpulan Pek-toh-san, putrinya sudah masuk ke dalam perangkap mereka, terpaksa dia harus menangkap Wie Thian-hoan dan ditukar dengan Kie Su-giok.

U-bun hujin sudah memberikan obat penawar kepadanya untuk menawarkan racun Su-kut-san dan ilmu silatnya sudah pulih tapi racun jenis lainnya sudah ditanam ke dalam tubuhnya, 3 bulan kemudian racun ini baru akan bereaksi.

Bila dia bisa menangkap Wie Thian-hoan, U-bun hujin baru akan memberikan penawar kepadanya.

Sebenarnya bila putrinya tidak jatuh ke tangan mereka pun, dia tetap akan mengikuti permainan mereka.

Wie Thian-hoan tidak tahu bahwa orang yang menyuruhnya mengikat dirinya sendiri adalah adik seperguruan ayahnya.

Wie Thian-hoan tahu bahwa orang itu bukan anak buah Bok Ci-giauw, bukan anak buah Bok Ci-giauw bukan berarti dia bukan musuhnya, mungkin saja orang itu adalah pengawal raja, atau bahkan bisa jadi dia adalah suruhan musuhnya!

Wie Thian-hoan sangat marah dan berkata.

"Sepasang matamu kau cungkil dan serahkan kepadaku!"

Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak dan menjawab.

"Benar-benar pertukaran yang adil, aku hanya ingin kau mengikat dirimu sendiri, kau malah ingin aku mengeluarkan biji mataku sendin, mengapa tidak menyuruhku memotong telinga atau tangan saja?"

"Karena kau mempunyai mata, tapi tidak ada biji mata, apakah kau tidak tahu bahwa seumur hidupku tidak pernah menurut kepada orang lain, siapan pun dia itu!"

Kata Kie Lek-beng.

"Baik ini sangat baik, bagaimana bila kita bertaruh?"

"Bagaimana taruhannya?"

"Bila kau bisa menerima 10 jurusku, aku akan mencungkil biji mataku, bila tidak bisa menerimanya, kau harus mengikat dirimu sendiri!"

Pada waktu dia menanyakan taruhannya, dalam hati dia sedikit merasa takut.

Wie Thian-hoan takut bila orang itu akan benar-benar mengeluarkan biji matanya dan dia harus mengikat dirinya sendiri.

Begitu mendengar taruhannya, hati Wie Thian-hoan baru merasa tenang, dengan tertawa dingin dia berkata.

"Apakah dalam 10 jurus kau bisa mengalahkanku?"

Kata Kie Lek-beng.

"Mungkin kau akan terluka, tapi tenang saja, aku tidak akan membunuhmu!"

Wie Thian-hoan marah sekaligus tertawa.

"Aku belum pernah bertemu dengan orang gila sepertimu. Baiklah, kita tentukan hidup dan mati dalam 10 jurus!"

Kata Kie Lek-beng.

"Apa? Kau menganggapku gila? Apakah kau tidak tahu bahwa semua ini demi kebaikanmu?"

Hati Wie Thian-hoan tergerak, dia ingat bahwa gadis itu pernah mengatakan bahwa Ketua Pek-toh-san dibantu oleh seseorang, bahkan gadis itu pernah mengatakan bahwa Wie Thian-hoan tidak akan bisa menahan 10 jurus orang itu, apakah yang dimaksud adalah orang aneh ini?

Kali ini Wie Thian-hoan benar-benar masuk ke dalam perangkap gadis itu.

Wie Thian-hoan mengira Kie Lek-beng adalah orang yang disewa oleh gadis itu dalam menghadapi dia.

Wie Thian-hoan berkata.

"Apakah ini benar-benar untuk kebaikanku? Aku sangat berterima kasih sebelumnya, baiklah aku akan mengembalikan satu kebaikan untukmu."

"Apakah itu?"

"Bila aku bisa menerima 10 jurusmu, aku hanya ingin kau mengeluarkan sebelah biji matamu, yang satu lagi diganti dengan sebuah kalimat"

Tanya Kie Lek-beng.

"Apa yang hendak kau tukar?"

"Katakan dimana Kie Su-giok berada?"

Wajah Kie Lek-beng langsung berubah dan berkata.

"Aku tidak kenal dengan orang yang kau maksud, kau kira aku ini siapa?"

Jawab Wie Thian-hoan dengan dingin.

"Aku memang tidak tahu nama dan identitasmu tapi aku tahu bahwa kau adalah kaki tangan Ketua Pek-toh-san dan membantu mereka mencelakai adikku!"

Dengan sengaja Kie Lek-beng berkata.

"Ternyata Nona Kie adalah Sumoimu, apakah kau menyukainya?"

Wie Thian-hoan membentak.

"Kau tidak perlu tahu!"

"Mendengar perkataanmu sepertinya kali ini kau datang pun untuk menolongnya!"

"Benar, walaupun aku harus mati aku tetap harus menolongnya membawa dia jauh-jauh dari kalian, apakah syaratku ini bisa diterima?"

Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Bila kau bisa menerima 10 jurusku, semua syarat yang sudah kau ajukan aku akan mengabulkannya."

Kata Wie Thian-hoan.

"Baiklah, aku mau melihat apakah dalam 10 jurus kau bisa mengalahkanku?"

Tiba-tiba Kie Lek-beng berkata.

"Nanti dulu!"

"Kau menyuruhku untuk memulai, tunggu apa lagi?"

"Dalam keluarga Kie jurus yang paling bagus adalah jurus pedang, mengapa kau tidak menggunakan pedang?"

"Aku mengira kau ingin bertarung dengan tangan kosong."

Ternyata dia melihat Kie Lek-beng tidak memegang senjata di tangannya, menurut aturan persilatan bila lawan tidak membawa senjata, dia pun harus melepaskan senjatanya, bila tidak orang itu akan ditertawakan.

Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak.

"Hingga sekarang, orang yang harus kuhadapi dengan senjata jumlahnya tidak mencapai 10 orang, kau tidak termasuk dalam 10 orang ini. Hai, anak muda aku nasihati dirimu jangan terlalu membanggakan din sendiri!"

Wie Thian-hoan sudah menganggap bahwa orang itu adalah kaki tangan Pek-toh-san, dalam hati dia berpikir, 'Dia datang untuk menangkapku, bila kalah, aku harus mengikat diri sendiri, bagaimana aku bisa menerima penghinaan ini?' Dia begitu sombong, ilmu silatnya pasti tinggi, terhadap siluman Pek-toh-san, Wie Thian-hoan tidak akan sungkan lagi.

Wie Thian-hoan ingin cepat-cepat menolong Sumoinya, dia ingin tahu keberadaan Sumoinya.

Dia harus bisa menerima 10 jurus orang itu.

"Kakek tidak perlu memakai senjata dalam menghadapi jurus pedangku juga tidak bisa mengalahkanku dalam 10 jurus, mengapa aku tidak mengambil kesempatan ini?"

Dia mengeluarkan pedang dan berkata.

"Kau yang menginginkan hal ini, mengijinkanku menggunakan. pedang, tapi pedangku ini tidak mempunyai mata!"

Kie Lek-beng tertawa dan berkata.

"Anak muda, kalau bisa melukaiku lakukanlah, mati pun aku tidak akan menyalahkan mu, ayo cepat keluarkan jurus istimewamu!"

Dalam hati Wie Thian-hoan berkata, 'Benar-benar mencari mati!' Segera dia mengeluarkan jurus Pek-hong-hoan-jit (pelangi putih menyambung matahari).

Pek-hong-koan-jit adalah jurus yang keras, walaupun jurus pedang perkumpulan yang lain juga mempunyai jurus ini, tapi tidak seganas jurus keluarga Kie, begitu pedang dikeluarkan, benar-benar seperti pelangi putih menusuk ke dada lawan.

Kie Lek-beng membentak.

"Tanganku terlihat tidak memegang pedang, tapi sebenarnya ada, hati-hati!"

Dalam bentakan ringan dari Kie Lek-beng, telapak tangan kiri dan kanan diangkat, Wie Thian-hoan bergerak sangat cepat, tapi orang itu lebih cepat lagi, Wie Thian-hoan adalah seorang pesilat, melihat orang itu mengeluarkan serangannya, dia sangat terkejut segera dia berpindah tempat dan bersiap-siap mengganti jurusnya Ternyata dalam genggaman tangannya tidak ada pedang, dia tidak membohongi Wie Thian-hoan, sepasang tangan inilah yang menjadi pedangnya Dengan tangan kiri dia mencabut, jurus yang dipakai adalah Pau-cauw-hin-coa (Mencabut Rumput Mencari Ular) dan tangan kanan mengangkat, jurus yang digunakan adalah Heng-in-toan-hong (Awan Mendatar Memapas Gunung).

Pau-cauw-hin-coa adalah jurus yang bisaa, tapi Kie Lek-beng mengganti tangan menjadi pedangnya, benar-benar menjadi suatu jurus yang aneh Pau-cauw-hin-coa adalah jurus untuk memapaki serangan orang lain dan jurus ini tidak seganas Heng-in-toan-hong.

Yang satu adalah jurus yang kuat dan satu lagi adalah jurus yang lemah, tapi Kie Lek-beng dapat mengaturnya menjadi jurus yang tepat Bila Wie Thian-hoan tidak lebih awal sudah tahu gerakannya pedangnya sudah berhasil direbut Wie Thian-hoan sangat terkejut, orang ini benar-benar tidak dapat diukur kedalaman ilmu silatnya "Aku belum tahu ilmu silatnya yang lain, tapi jurus pedangnya lebih tinggi dari kepandaian kakek guruku,"

Pikir Wie Thian-hoan. Belum habis berpikir, terdengar pujian dari Kie Lek-beng.

"Sangat baik!"

Kemudian sambil tertawa dia berkata.

"Ilmu pedangmu lumayan, kau hanya kurang tenang saja!"

Dia mengganti pedang dengan tangannya kemudian mengeluarkan jurus yang begitu aneh, dia mengira Wie Thian-hoan tidak dapat menghindar, ternyata Wie Thian-hoan mampu melakukannya Pujian dari Kie Lek-beng terdengar oleh Wie Thian-hoan, dia merasa malu Kata Kie Lek-beng.

"Ini baru jurus pertama, kau tidak perlu menghitung karena ini akan mengganggu konsetrasimu, biar aku yang menghitung saja!"

Wie Thian-hoan berkata.

"Terima kasih untuk petunjukmu!"

Dia sudah berpindah tempat dan mengeluarkan jurus kedua.

Jurus kedua adalah jurus membunuh.

Tapi Kie Lek-beng mengatakan bahwa dia masih kurang tenang dan dia menerima kritikan ini, jurus kedua sangat ganas tapi mantap, lebih lihai dari jurus pertama.

Wie Thian-hoan masih mempunyai cara yang bisa dia lakukan yaitu pada saat Kie Lek-beng menggunakan telapaknya sebagai pengganti pedang dia harus menggunakan ujung jarinya sebagai pengganti ujung pedang, dengan cara ini pedangnya bisa memecahkan jurus pedang Kie Lek-beng.

Tapi cara ini tidak bisa luput dari penglihatan Kie Lek-beng, begitu dia menepak dengan telapak tangan, tiba-tiba Kie Lek-beng mengganti jarinya menjadi telapak, telapak dengan telapak saling beradu.

Wie Thian-hoan mundur 3 langkah, sedangkan Kie Lek-beng hanya bergoyang sedikit saja.

Walaupun hanya sempat bergoyang tapi tetap membuat Kie Lek-beng merasa takjub.

Sejak kecil ternyata Kie Lek-beng sudah pintar, apa pun yang diajarkan oleh ayahnya dia langsung bisa menguasainya.

Akhirnya karena kepintarannya juga yang mencelakai dirinya.

Dia tidak mau benar-benar belajar ilmu silat, dia pun tidak mempunyai dasar yang kuat.

Pada saat ini dia benar-benar berlatih ilmu silat, dia sudah keluar dari rumah, kepintaran Wie Thian-hoan tidak dapat menandinginya, tapi Wie Thian-hoan orang yang sangat rajin, mempunyai dasar yang kuat.

Tapi dia sudah mengeluarkan 80% dari tenaganya, siapa yang bakal tahu bahwa Wie Thian-hoan hanya mundur 3 langkah tapi tidak terjatuh.

Dalam hati dia berpikir, 'Pada saat aku seusianya, ilmu silatku hanya separuh dari dia, ilmu telapak dan ilmu pedang pun tidak lebih tinggi tingkatnya dari dia, pantas ayah menaruh semua harapan di pundaknya Pada saat aku kecil ayah tidak menyayangiku, itu pun bukan tanpa alasan karena aku sudah membuat ayah kecewa' Perasaan Kie Lek-beng saling tumpang tindih, tiba-tiba dia menarik nafas panjang dan berkata.

"Sayang, sangat disayangkan!"

Wie Thian-hoan tidak tahu pikirannya dengan marah Wie Thian-hoan berkata.

"Aku memang kalah darimu, bukan berarti ilmu silat keluarga Kie tidak dapat mengalahkanmu! Apa yang disayangkan?"

Jawab Kie Lek-beng.

"Kau sudah salah paham, bukan aku menyayangkan karena kau tidak menguasai ilmu silat keluarga Kie dengan sempurna malah sebaliknya kau tetap harus meneruskan kepandaian keluarga Kie, itu yang sangat kusayangkan!"

Walaupun Kie Lek-beng sudah tidak mempunyai hubungan dengan ayahnya, tapi ilmu silatnya sudah melebihi ilmu silat kelurganya.

Tapi walau bagaimana pun dia masih tetap berharap ilmu silat keluarganya bisa diturunkan dan diperluas tapi sayang yang bisa meneruskan ilmu silat keluarga Kie adalah Wie Thian-hoan.

Dia tidak dapat menukar Wie Thian-hoan dengan putrinya seperti yang diminta oleh suami istri Ketua Pek-toh-san.

Kie Lek-beng tahu kalau Wie Thian-hoan sudah jatuh ke tangan Ketua Pek-toh-san, mereka pasti akan menyerahkan Wie Thian-hoan kepada Bok Ci-giauw.

Wie Thian-hoan adalah buronan istana, setelah jatuh ke tangan Bok Ci-giauw, keselamatan nyawanya tidak terjamin lagi.

Dengan begitu dia akan menghancurkan generasi baru yang bisa meneruskan ilmu silat keluarga Kie.

Tapi bila dia tidak mengorbankan Wie Thian-hoan, putrinya tidak akan bisa lolos dari cengkraman Ketua Pek-toh-san!

Wie Thian-hoan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kie Lek-beng.

Wie Thian-hoan masih mengira Kie Lek-beng sedang menghinanya, dia sangat marah dan berkata.

"Aku memang hanya belajar sedikit ilmu silat keluarga Kie, tapi tidak mungkin dalam 10 jurus kau bisa mengalahkanku. Aku akan bertarung mati-matian denganmu!"

Kie Lek-beng tertawa kecut dan berkata.

"Kau yang memaksa, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Baiklah, ayo ke sini!"

Wie Thian-hoan segera menghampirinya, jurus pedangnya seperti air sungai beriak, terus menerus bergulung-gulung.

Jurus ini dinamakan In-mo-sam-bu, dalam satu jurus terbagi menjadi 3 macam serangan setiap macamnya ada perubahan selama beberapa kali, boleh dikatakan jurus ini sangat aneh, tapi semua perubahan ini sudah diketahui oleh Kie Lek-beng, bila dia dengan cara keras menghadapi musuh, hanya dalam waktu singkat sudah bisa mencabut nyawa Wie Thian-hoan, meski Wie Thian-hoan mati dia pun tidak akan terluka Kie Lek-beng sudah tidak bisa menghindar lagi, dia tertawa dingin dan berkata.

"Bocah, apakah kau benar-benar mau membunuhku?"

Dalam kurungan cahaya pedang, dengan jari tengah dia menyentil.

Begitu tersentil, cahaya pedangnya pun tersendat, tangan Wie Thian-hoan menjadi kesemutan, pedangnya pun hampir terlepas.

Wie Thian-hoan terkejut, dia mundur 3 langkah lagi, dan berpikir, 'Mengapa ilmu jari orang ini dengan ilmu jari yang kupelajari hampir sama?

Tenaganya memang tidak sekuat kakek, bila kakek memakai cara ini pedangku akan terlepas, bila aku berlatih dengan kakek dengan cara seperti ini, belum tentu kakek bisa menyentil, bila dia bisa menyentil, berarti ilmu orang ini lebih tinggi dari kakek.' Wie Thian-hoan terkejut, tapi dalam hati Kie Lek-beng sebenarnya juga berteriak.

"Sangat berbahaya!"

Tadi dia menyentil, bila melakukan kesalahan sedikit saja, susah dapat dibayangkan akibatnya. Kie Lek-beng berkata.

"Sekarang memasuki jurus ke 5, masih ada 5 jurus lagi."

Mendengar dia berkata seperti itu, Wie Thian-hoan menjadi bengong.

"Mengapa dia ingin aku mengambil keuntungan darinya?"

In-mo-sam-bu, satu jurus terdiri dari 3 macam gerakan tapi dalam jurus pedang semua terangkum dalam 4 jurus, sekarang Kie Lek-beng menghitungnya menjadi 3 jurus, ini sangat menguntungkan Wie Thian-hoan.

Kata Wie Thian-hoan.

"Kau mau menghitung 3 jurus atau 5 jurus, itu sama saja aku sudah menyerahkan nyawamu kepadaku!"

Segera pedangnya menggambar lingkaran, ada yang besar dan yang kecil, ada yang miring ada juga yang lurus dalam waktu singkat lingkaran ini sudah mengurung Kie Lek-beng.

Kie Lek-beng terkejut dalam hati dia berpikir, 'Gerak pedang apa ini?

Ayah tidak pernah mengajarkannya kepadaku!' Ternyata Kie Yan-gan baru mengenal jurus ini, jurus ini terdiri dari 7 jurus, jurus ini idenya berasal dari Thian-san.

Sebenarnya jurus ini tidak boleh dipelajari oleh siapa pun tapi karena murid Thian-san ini berhutang kepada Kie Yan-gan yang sudah menolongnya maka mereka saling menukar ilmu silat Kie Yan-gan mengajarkan ilmu menyentil kepadanya tapi murid Thian-san ini mengajukan sebuah syarat, hanya mengijinkan dia belajar tapi tidak mengijinkan dia memakainya karena begitu dipakai akan diketahui oleh gurunya dan dia akan dihukum.

Kie Yan-gan adalah pesilat tangguh, dia pun tidak ingin mengambil cara pedang milik orang lain maka dia pun menyetujuinya.

Selama bertahun-tahun jurus ini dimodifikasi oleh Kie Yan-gan, jurus pedang ini sudah sangat berbeda jauh dengan jurus Thian-san, boleh dikatakan jurus ini diciptakan sendiri oleh Kie Yan-gan.

Karena Kie Lek-beng belum mengetahui jurus ini, dalam waktu singkat dia pun sudah dibuat kalang kabut oleh jurus Wie Thian-hoan.

Tapi Kie Lek-beng adalah pesilat tangguh, hanya dalam waktu singkat dia pun sudah melihat kekurangan Wie Thian-hoan.

Dia menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Ilmu pedang ini sangat bagus, tapi yang kau tahu hanya menyerang saja jadi kau membatasi kedahsyatan ilmu ini."

Walaupun serangan Wie Thian-hoan masih banyak lowongannya tapi juga membuat Kie Lek-beng tidak mempunyai cara untuk menghindar Sekarang Kie Lek-beng tidak dapat menunggu lagi, dia harus menyerang dari celah lowongan Wie Thian-hoan, bila bukan Wie Thian-hoan yang terluka parah, pasti dia yang terluka.

Dalam suara tawanya, Wie Thian-hoan sudah mengeluarkan 2 jurus lagi.

Sekarang sudah memasuki jurus yang ke 9.

Sekarang harus bagaimana?

Membunuh Wie Thian-hoan atau tidak?

Bila memukul Wie Thian-hoan dengan pukulan keras, Wie Thian-hoan pasti akan terluka parah, kemungkinan besar malah akan mati.

Bila berhasil menangkap Wie Thian-hoan dan menyerahkannya kepada Ketua Pek-toh-san, itu akan sama Wie Thian-hoan akan dibunuh, tapi lebih baik dibunuh oleh orang lain daripada dia sendiri yang harus membunuhnya.

Kie Lek-beng seperti melihat bayangan sepasang mata ayahnya yang sedang meneteskan air mata.

Wie Thian-hoan adalah murid ayahnya, dia seperti putrinya, orang yang paling disayang oleh ayahnya, malah kadang-kadang Wie Thian-hoan lebih penting dibanding dengan putrinya.

Dia tahu karena Wie Thian-hoan adalah harapan ayahnya dan orang inilah ahli waris ilmu silat keluarga Kie.

Bila dia membunuh Wie Thian-hoan, apakah ayahnya masih bisa memaafkan dia?

Bila dia tidak membunuh Wie Thian-hoan, dia akan mencungkil sebelah matanya untuk Wie Thian-hoan.

Apakah dia harus meminta pengampunan kepada Wie Thian-hoan?

Yang paling penting adalah bila dia tidak membunuh Wie Thian-hoan dia tidak bisa mendapatkan kembali putrinya.

Bagaimana ini?

Bagaimana?

Sudah masuk jurus ke 9, dia tidak boleh ragu lagi.

Sudah berapa kalikah dia berubah pikiran?

Terakhir dia memarahi dirinya sendiri supaya jangan ragu, dua buah telapak tangan mendorong, dia mulai mengeluarkan jurus serangan untuk membunuh.

---ooo0dw0ooo---B.

Gadis Aneh Pukul tiga Kang Hiat-kun sudah tiba di Sin-sa-hai.

Sinar bulan seperti air, bayangan bulan begitu jelas di atas-air yang tidak bergelombang, air tampak seperti cermin.

Tapi hati Kang Hiat-kun tidak setenang air itu.

Ini pertama kalinya dia berjanji dengan orang yang tidak dia kenal.

Dia tidak tahu mengapa bisa mempercayai gadis itu?

"Untuk apa dia mengajakku ke sini?"

Terdengar suara sesuatu.

"Apakah itu Hoan Toako?"

Pada saat dia berpikir seperti itu, muncullah gadis itu di hadapannya, hanya dia sendiri tidak ada Hoan Toako. Begitu gadis itu muncul, dia langsung berkata.

"Apakah kau merasa kecewa?"

Wajah Hiat-kun memerah dan menjawab.

"Pertanyaanmu sangat aneh, mengapa aku harus kecewa?"

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Kau tidak perlu berbohong, kau ingin bertemu dengan siapa aku pun tahu, tapi sayang kau hanya bisa bertemu dengan Hui-thian palsu!"

"Mengapa kau menyamar menjadi Hui-thian?"

Tanya Hiat-kun.

"Karena aku ingin jadi tubuh kedua baginya!"

"Aku tidak mengerti?"

"Lambat laun kau pasti akan mengerti, aku ingin bertanya kepadamu, apakah malam ini kau ingin bertemu dengan Wie Thian-hoan?"

"Dimana dia berada sekarang?"

Tanya Hiat-kun.

"Tidak perlu tergesa-gesa, aku akan membawamu ke sana, tapi aku ingin mengundang seseorang lagi, kemudian bersama-sama kita bisa pergi, apakah kau mau?"

"Aku adalah tamu, kau mau mengajak siapa pun, tidak perlu persetujuanku, bila ingin bertanya, tanyakanlah kepada Wie Thian-hoan."

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Orang ini adalah orang yang diharapkan kedatangannya oleh Wie Thian-hoan, tapi aku tahu kau tidak akan mau pergi dan menemui orang ini."

"Siapakah dia?"

"Sumoi Wie Thian-hoan, yaitu Kie Su-giok."

Hiat-kun tampak terkejut sekaligus senang.

"Siapa bilang aku tidak bertemu dengannya, aku memang sedang mencarinya, tapi tidak berani mencarinya ke kantor Sin-hoan Piaukok, bila aku bertemu dengannya di sini itu lebih baik."

Kata gadis itu.

"Pergi denganmu dan bertemu dengan Su-giok, apakah kau yakin mau? Kau harus jujur!"

Hiat-kun merasa aneh tapi sedikit marah juga, yang membuatnya merasa aneh adalah gadis itu sepertinya tahu hubungan antara mereka bertiga.

Yang membuatnya marah adalah karena gadis itu menganggapnya dia tidak bisa berbesar hati menghadapi Su-giok.

"Mereka berdua adalah Suheng Sumoi, bila kau hanya ingin ada satu orang yang bertemu dengan Wie Thian-hoan., orang itu pasti Su-giok, bukan aku!"

Dalam hati Hiat-kun berpikir seperti itu. Gadis itu mengangguk dan berkata.

"Aku percaya kepadamu, kalau begitu aku menitipkan sesuatu kepadamu."

"Apa?"

"Pergi untuk mencari Su-giok, sebenarnya aku yang disuruh oleh Wie Thian-hoan untuk mencari Su-giok, tapi bila aku mencarinya, itu tidak baik, bila kau yang pergi mencari kurasa itu lebih baik"

"Dimana dia ? Aku akan segera mencarinya"

Kata Hiat-kun.

"Tidak perlu tergesa-gesa Aku belum habis menjelaskannya."

"Cepat katakan!"

Kata gadis itu.

"Su-giok tidak tinggal seorang diri, bila kau mau ke sana kau harus menemui U-bun hujin dulu baru bisa bertemu dengan Su-giok!"

"Siapakah U-bun hujin ini?"

"Dia adalah ibu angkatnya"

"Aku mengira dia jatuh ke tangan orang jahat dan di penjara ternyata dia tinggal dengan ibu angkatnya."

Kata gadis itu.

"Sebenarnya tebakanmu tidak jauh dari kenyataannya"

Hiat-kun terkejut dan berkata.

"Kalau begitu ibu angkatnya adalah orang jahat? Mengapa dia bisa menganggap orang jahat sebagai ibu angkat?"

"Aku juga tidak tahu, mungkin saja-dia telah tertipu, kau tidak perlu khawatir, U-bun hujin ini sangat baik terhadap Su-giok"

"Apa tujuan U-bun hujin menipu Su-giok?"

Tanya Hiat-kun.

"Aku tidak mau sembarangan menebak kau pun tidak perlu tahu terlalu banyak yang harus aku beri tahu kepadamu adalah bila bertemu dengan U-bun hujin mungkin agak sedikit berbahaya untukmu, apakah kau mau?"

Hiat-kun sudah mempunyai pengalaman di dunia persilatan, dalam hati dia berpikir, 'Banyak hal aneh yang keluar dari perkataannya, apakah aku harus mempercayainya?' Bila tidak percaya kepadanya, Hiat-kun takut bila Su-giok benar-benar membutuhkan pertolongannya, dalam hati dia berkata, 'Kemarin dia memalsukan Hui-thian dan membantuku meloloskan diri dari pertanyaan-pertanyaan tentara-tentara itu.

Pada waktu aku dipaksa menikah dengan Hie Tiong-gwee, dia yang membantu Hoan Toako dengan kata-katanya Mungkin dia adalah teman Hoan Toako.' Akhirnya dia mengambil keputusan dan menjalankan misi ini.

"Baiklah, tolong beritahu tempatnya"

Kata Hiat-kun. Gadis itu berkata.

"Dari jembatan ini, kau terus jalan ke pulau kecil itu, di sana ada sebuah rumah besar dan kuno, U-bun hujin tinggal di sana tapi tunggu sebentar!"

"Aku harus menunggu apa lagi?"

"Apakah kau lupa aku pernah meminjam bajumu? Baju itu aku tidak akan mengembalikannya kepadamu, tapi aku akan menukarnya dengan baju lain."

Dia melihat ternyata itu adalah baju atas laki-laki, Hiat-kun menjadi bengong dan bertanya.

"Baju laki-laki ini untuk apa?"

"Kau bisa memakai baju ini untuk ditukarkan."

Hiat-kun tampak terkejut.

"Siapa pemilik baju ini ?"

"Orang ini di mata U-bun hujin lebih penting dari Su-giok."

Tanya Hiat-kun lagi.

"Apakah dengan baju ini bisa langsung membawa Su-giok pergi dari sana?"

"Yang pasti dia tidak hanya melihat baju ini, dengan adanya baju ini dia baru bisa percaya kepada kata-katamu, sebenarnya dia ingin orang ditukar dengan orang lagi!"

Akhirnya Hiat-kun mengerti.

"Apakah pemilik baju ini sudah jatuh di tanganmu?"

"Dia jatuh ke tangan Hoan Toako mu, tapi jangan beri tahu hal ini kepadanya!"

Tanya Hiat-kun.

"Kalau begitu, bagaimana aku mengatakan kepadanya?"

Gadis itu mengajarkan kepada Hiat-kun bagaimana harus berkata-kata. Kemudia dia tertawa dan berkata.

"Dalam perdagangan ini, kita berada di atas angin, kau harus yakin untuk menyuruh U-bun hujin melepaskan Su-giok, aku kira dia akan setuju!"

Siapa yang tahu Hiat-kun ternyata tidak mendapatkan hasil seperti yang sudah diperkirakan oleh gadis itu Hiat-kun sudah menemukan rumah besar itu, dia mengetuk pintu.

Seorang pelayan tua membuka pintu itu dan dengan dingin bertanya.

"Cari siapa?"

"Aku mencari U-bun hujin."

Jawab Hiat-kun. Kata pembantu itu.

"Nona, kau salah alamat, di sini tidak ada..."

Belum habis kata-kata pelayan itu, Hiat-kun sudah menyela.

"Aku tidak mungkin salah, aku disuruh seseorang mengantarkan hadiah ini."

Dia sudah bicara dengan jelas, di sini pun hanya ada sebuah rumah yang besar. Tadinya pelayan tua itu sudah siap-siap untuk menutup pintu, sekarang dia pun tampak terkejut, segera dia bertanya.

"Apakah kau disuruh oleh orang lain mengantarkan hadiah ini?"

"Benar, aku memang tidak kenal dengan U-bun hujin, tapi orang lain menyuruhku mengantarkan hadiah ini ke sini."

Tanya pelayan tua itu.

"Siapa orang itu?"

"Aku tidak tahu, yang aku tahu dia baru pulang dari gunung barat."

Begitu keluar kata-kata ini, segera si pelayan itu membuka pintunya.

"Maaf, aku sedikit tuli, siapa yang kau cari tadi?"

Hiat-kun berteriak.

"U-bun hujin!"

Pelayan itu pura-pura seperti baru mengerti dan berkata.

"Benar, benar, aku baru ingat, U-bun hujin adalah keluarga jauh dari majikanku, dia baru datang dalam beberapa hari ini, bila kau mau mencari majikanku, itu salah, karena shenya bukan U-bun."

Hiat-kun sudah tahu bahwa si pelayan menutupi kebohongannya yang tadi Dengan tersenyum dia berkata.

"Kalah begitu, apakah kau bisa mempertemukanku dengan U-bun hujin?"

"Boleh, boleh, silakan ikut denganku!"

U-bun hujin dan U-bun Hoo berada di ruang rahasia.

Hiat-kun menemui mereka di sana.

U-bun Hoo melihat Hiat-kun yang begitu cantik hingga berbengong-bengong, dia berpikir, 'Sejak lahir, belum pernah aku melihat gadis yang begitu cantik walau Su-giok sudah cukup cantik, tapi gadis ini lebih cantik lagi, dia datang sendiri, aku tidak akan melepaskan dia!' "Dia adalah putraku, U-bun Hoo.

Anakku ada tamu, tolong bantu aku!"

Kata U-bun hujin. Kata U-bun Hoo sambil tertawa.

"Angin apakah yang membawa dewi bulan datang kemari?"

Hiat-kun hanya diam tidak mau meladeninya. Hiat-kun sudah bertemu dengan U-bun hujin dengan tenang dan sopan berkata.

"Maksud kedatanganku ke sini, apakah sudah disampaikan oleh pelayan tadi kepada hujin?"

Kata U-bun hujin.

"Kata pelayanku, kau datang ke sini untuk mengantarkan hadiah?"

"Benar, ini hadiahnya."

U-bun hujin melihat bahwa baju itu milik Bok Ling-ku, langsung dia melotot tapi dibanding dengan putranya, dia masih tampak lebih tenang, karena begitu melihat U-bun Hoo reaksinya langsung berubah, cangkir teh yang dipegangnya pun tumpah separuh.

U-bun hujin melihat baju itu dan berkata.

"Biasanya bila seperti ini kita harus saling menukar hadiah, temanmu itu mau menukarnya dengan apa?"

"Katanya Nona Su-giok tinggal di sini, temanku itu ingin bertemu dengannya, apakah Nona Kie bisa ikut denganku?"

Kata U-bun hujin.

"Maaf, hadiah ini harus diperiksa dulu, kau jangan mentertawakanku, karena bila menukar hadiah, lebih baik tidak saling merugikan, bila barang ini bukan barang palsu, baru kita bicarakan bisnis ini lebih lanjut!"

Kata Kang Hiat-kun.

"Aku mengerti, bisnis harus adil dan harus melihat barang terlebih dahulu baru bisa menentukan harga. Hujin menyuruh seseorang datang untuk melihat baru bisa menentukan harga."

Kata U-bun hujin.

"Anakku, coba panggil ayahmu kemari!"

U-bun Hooo terkejut dan dia menjawab.

"Tidak perlu memanggil ayah, aku pernah melihat baju ini, baju ini benar-benar milik Bok Siauya."

U-bun hujin memelototi putranya, dia bukan menyalahkan putranya menyebut pemilik baju ini, dia marah karena putranya tidak mengerti mengapa dia ingin suaminya datang kemari.

"Bila sudah pernah melihatnya bagaimana? Kau tahu di mana dan kapan Bok Siauya memakai baju ini bukan? Sejak hari itu kau belum pernah bertemu dengan Bok Siauya lagi,"

Kata U-bun hujin.

Hiat-kun adalah gadis yang pintar, begitu mendengar kata-kata tentang Bok Siauya, dia segera sadar, 'Apakah yang mereka tukar adalah putra Panglima Bok Ci-giauw?' pikir Hiat-kun.

Belum habis berpikir, dia sudah mendengar kata-kata U-bun Hoo lagi.

"Hari itu memang aku tidak bertemu dengan Bok Siauya tapi dua hari yang lalu, Panglima Bok sudah menyuruh orang-orang bahkan meminta bantuan kepada ayah untuk mencari putranya yang hilang. Kata orang-orang sewaktu putra Bok Ci-giauw menghilang, baju yang dipakai oleh Siauya sesuai dengan baju yang dibawa sekarang, hari itu ibu tidak mendengar langsung, tapi aku mendengarnya"

Hiat-kun sangat gembira dia berpikir.

"Ternyata Bok Ling-ku berada di tangan Hoan Toako, pantas gadis itu berkata bahwa dalam perdagangan ini posisi kira berada di atas angin, tapi mengapa dia tidak mau datang sendiri ke sini?"

Dalam hati U-bun hujin sangat marah kepada putranya.

"Benar-benar anak bodoh!"

"Kau tidak mengerti, lebih baik kita lihat dulu bagaimana bagusnya, suruhlah ayahmu ke sini!"

Tiba-tiba ada orang yang berkata dengan dingin.

"Sejak tadi aku sudah mendengar pembicaraan kalian. Anakku, ibumu tidak salah, perdagangan ini begitu besar, kita harus hati-hati, coba aku lihat dulu barangnya!"

Begitu dia masuk, dia sudah memberi isyarat lewat mata dengan istrinya, sekarang suami istri itu saling tersenyum dan merasa yakin. Tanya Hiat-kun.

"Apakah Anda adalah Tuan U-bun? Coba Anda lihat dulu dengan teliti barang ini, aku harus bicara lagi dengan orang yang menitipkan barang ini, harga tidak boleh kurang."

Ketua Pek-toh-san itu melihat dan berkata.

"Benar, barang ini memang barang asli, kau lihat ini adalah tanda Keluarga Bok."

Dia membalikkan baju itu dan di ujung baju ada sulaman seekor elang. Kata U-bun hujin.

"Kalau begitu Bok Siauya ada di tangan temanmu, apakah aku boleh tahu siapa nama temanmu itu?"

Dengan dingin Hiat-kun berkata.

"Perdagangan yang adil masing-masing pihak mendapatkan apa yang diinginkan tidak perlu tahu nama si penjual."

Tiba-tiba U-bun Hoo berkata.

"Sudah lama aku tahu namamu, sekarang baru bertemu denganmu, aku benar-benar sangat beruntung."

Tanya Hiat-kun dengan dingin.

"Apakah kau tahu namaku?"

"Nona adalah si Cantik dari Lok-yang, menurutku si cantik sedunia, itu pun masih boleh!"

Kata U-bun Hoo. Hiat-kun terkejut, sekarang dia baru tahu, mereka sudah tahu identitasnya, segera dia marah dan berkata.

"Apakah kalian setuju dengan perdagangan ini? Aku tidak ada waktu mengobrol denganmu!"

Kata U-bun hujin.

"Nona Kang, jangan marah, walaupun dalam bisnis ini tidak perlu tahu nama si penjual tapi bila kenal dengan penjualnya, bukankah itu lebih baik? Putraku hanya kagum kepadamu, dia tidak bersalah kepadamu!"

Kata U-bun Hoo.

"Kau tidak suka mengobrol, kalau begitu kita bicara terang-terangan saja, kau bernama Kang Hiat-kun, temanmu itu bernama Hui-thian-sin-liong, Wie Thian-hoan."

"Kalau iya, lalu kenapa?"

Kata U-bun hujin.

"Hui-thianinginmenukarbaranginidenganadik seperguruannya, tapi tidak bisa hanya dengan baju ini saja."

Kata Hiat-kun.

"Benar, baju ini hanya sebagai alat untuk pembuktian saja, dia akan menukar Sumoinya dengan pemilik baju ini."

Tanya U-bun hujin.

"Kita tidak perlu berputar-putar, apakah kau sudah membawa Bok Siauya ke sini?"

"Begitu Wie Thian-hoan sudah melihat Kie Su-giok, baru dia akan melepaskan orang yang kalian mau!"

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Kalau begitu, keadaan ini sangat berbahaya bagi kami."

"Dalam berdagang yang paling penting adalah kepercayaan, bila kalian tidak percaya kepada kami, lebih baik bisnis ini kita batalkan!"

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Nona Kang, bukan kami tidak percaya kepadamu, aku juga tidak khawatir Hui-thian tidak akan melepaskan orang yang kami mau."

Hiat-kun malah bengong, tidak disangka, bisnis ini akan berjalan begitu lancar, segera dia berkata.

"Baik, bila kalian setuju, tolong bawa Nona Kie keluar."

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Nona Kie, bisa kalian bawa pulang, tapi syarat pertukarannya harus diubah sedikit."

Hiat-kun tidak tahu apa permintaan dari mereka, yang penting Su-giok bisa keluar dari tempat ini, dia berkata.

"Wie Thian-hoan mengatakan harga barang tidak dapat diubah, tapi apa syarat yang ingin kau ubah? Kalian bisa mengajukannya mungkin aku bisa membantunya mengambil keputusan."

Ketua Pek-toh-san tertawa dan berkata.

"Kita tidak perlu merundingkan ini dengan Wie Thian-hoan, asalkan Nona Kang setuju itu sudah cukup bagi kami."

Hiat-kun merasa aneh dan bertanya.

"Untuk hal kecil aku bisa mengambil keputusan, untuk hal besar sepertinya..."

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Hal ini ada hubungannya denganmu tidak dengan Wie Thian-hoan!"

Dengan marah Hiat-kun bertanya.

"Apa alasannya?"

"Kita tetap akan menukar orang, tapi tidak menukar dengan Bok Siauya!"

"Lalu dengan siapa?"

U-bun Hoo menggantikan ayahnya menjawab.

"Denganmu!"

Hiat-kun terkejut dan bertanya.

"Aku?"

"Asal kau mau tinggal di sini, kami akan melepaskan Su-giok! Kata Hiat-kun dengan dingin.

"Kalian tidak sungguh-sungguh dalam berbisnis, kalian anggap aku ini gampang dihina?"

Kata U-bun Hoo.

"Kita hanya menukar, tidak bisa disebut dengan menghina, kami tidak akan menghinamu, aku akan..."

Bentak Hiat-kun dengan marah.

"Kalian ingin melakukan apa terhadapku?"

Kata U-bun hujin.

"Nona Kang, tidak perlu marah-marah, bukan aku memihak kepada putraku, dia ingin kau tinggal di sini pun ada alasannya, kau datang ke sini untuk berbisnis, satu orang ditukar dengan satu orang, bukankah ini sangat adil. Kau dengar putraku bicara baru dipikirkan."

"Baiklah, lalu apa alasanmu?"

Tanya Hiat-kun dengan dingin. Kata U-bun Hoo.

"Ibu, bantu aku untuk bicara!"

Kata U-bun hujin.

"Kau tidak perlu malu, katakanlah sendiri!"

"Baiklah, aku akan mengatakannya sendiri. Nona Kang, apakah kau tahu status Kie Su-giok?"

"Tidak tahu!"

"Dia adalah adik angakatku juga calon istriku!"

Dalam hati Hiat-kun berpikir, 'Mereka ingin menjilat Bok Ci-giauw, tapi mereka tidak peduli dengan keselamatan putra Bok Ci-giauw.' Tadinya dia ingin marah kepada U-bun Hoo karena sudah sembarang bicara, tapi bila dipikir-pikir lagi, bila dia mengatakan bahwa Kie Su-giok adalah calon istri U-bun Hoo dan Kie Su-giok tidak ada di sini, kemarahannya ini tidak masuk akal.

Hiat-kun menahan diri, dia berharap dia akan menemukan alasan-alasan dari pembicaraan selanjutnya.

Hiat-kun berkata.

"Aku tidak peduli Su-giok itu siapamu, tidak ada hubungannya denganku!"

Kata U-bun Hoo.

"Ini ada hubungannya, coba kau pikir, Wie Thian-hoan menginginkan calon istriku, apakah aku harus memberikan kepadanya begitu saja? Harus ada penggantinya. Nona Kang, aku tidak mau membohongimu, begitu melihatmu jiwaku serasa melayang, aku menyukaimu, kau lebih baik dari Su-giok, aku berharap kau mau menjadi istriku!"

Dengan tertawa dingin Hiat-kun berkata.

"Aku berharap jiwamu melayang, di mataku kau adalah seekor katak buruk rupa tapi ingin makan daging angsa!"

Hiat-kun sengaja membuat U-bun Hoo marah, ternyata memang dia marah dan berkata.

"Aku tahu Wie Thian-hoan adalah kekasihmu, demi dirinya kau meninggalkan suamimu, tapi aku tidak peduli dengan hal ini, tapi kau malah berani mengatakan bahwa aku adalah si katak buruk rupa, bagian mana aku tidak sebanding dengan Wie Thian-hoan? Dia sudah memiliki Kie Su-giok tapi malah berkasih-kasihan denganmu, orang seperti dia apakah pantas untukmu?"

"Aku datang kemari bukan untuk dihina olehmu, kalian membatalkan perdagangan ini, lebih baik aku pulang saja!"

Kata U-bun Hoo.

"Pulang? Kau mau pulang ke mana? Ke pelukan Wie Thian-hoan? Aku bentahu kepadamu, kau pulang pun belum tentu bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan, bila kau tinggal di sini mungkin ada kesempatan untuk bertemu dengannya, itupun tentu harus seijin kami."

Hati Hiat-kun bergetar dalam hati dia berkata, 'Apakah Wie Toako sudah ditangkap oleh orang-orang mereka?

Gadis aneh itu menyuruhku datang ke sini, apakah ini adalah suatu jebakan?' Dia marah, langsung membalikkan tubuh dan pergi.

Kata U-bun Hoo.

"Kau mau ke mana?"

Dia langsung menghalangi Hiat-kun.

Hiat-kun tidak menjawab, pedangnya dikeluarkan langsung menyerang.

U-bun Hoo menggerakkan kipasnya, ketika ujung pedang Hiat-kun mengenai permukaan kipas itu pedang itu terpeleset ke pinggir.

Sebenarnya kipas terbuat dari besi tipis, walaupun terbuat dari besi biasanya tidak akan bertahan terhadap tusukan pedang ini.

Melihat serangannya gagal, Hiat-kun merasa terkejut dalam hati dia berkata, 'Tidak disangka, pemuda jahat ini bisa juga ilmu meminjam tenaga lawan, padahal ilmu ini sangat sulit!' Jurus Hiat-kun berubah lagi, jurus yang sekarang sangat ganas dan tajam, dia sudah siap mati.

Kata U-bun hujin.

"Mengapa harus bermain kasar?"

Segera dia mengibaskan lengan bajunya, kipas besi milik U-bun Hoo dan pedang Hiat-kun sudah tergulung oleh lengan bajunya.

Ilmu silatnya sangat lihai, walaupun Hiat-kun masih marah dia hanya bisa bengong.

'Sepertinya Wie Thian-hoan pun tidak dapat menguasai ilmu ini!' pikir Hiat-kun.

Kata U-bun hujin.

"Kita tidak perlu marah-marah, bila ada apa-apa katakanlah!"

"Tidak perlu bicara lagi! Aku akan mengalah kepada kalian, aku hanya bisa mati, aku tidak mau dihina oleh kalian!"

Kata Hiat-kun.

"Nona Kang, tidak perlu emosi, putraku tidak pandai bicara, dia tidak benar-benar mau menghinamu!"

"Benar, aku hanya mengubah syarat saja..."

Kata U-bun Hoo U-bun hujin marah dan berkata.

"Kau tidak pandai bicara, lebih baik diam saja! Nona Kang, kau ke sini menjadi perantara Wie Thian-hoan, jujur bicara kami pun ingin perdagangan ini bisa disepakati. Tapi tidak bisa hanya dari pihak Wie Thian-hoan saja yang mengajukan syarat."

"Aku tidak bisa menerima syarat dari kalian!"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Kata-kataku belum habis, bila syarat ini tidak bisa disepakati bersama, kita bisa membicarakannya lagi, yang kita inginkan adalah perdagangan yang adil bukan? Bila perdagangan ini adil maka kedua pihak akan saling setuju, kami pun tidak akan memaksamu untuk setuju!"

Hiat-kun tidak tahu apa penawaran dari dia kali ini. Kata Hiat-kun "Benar, kata-katamu sangat masuk akal, kalau begitu aku boleh pergi?"

"Kita belum mulai, mengapa kau sudah ingin pulang?"

Kata Hiat-kun.

"Aku ulangi lagi, aku tidak setuju dengan syarat-syarat kalian."

"Nona Kang, jangan marah dulu, kita tidak akan membicarakan syarat tadi lagi, kita buat persyaratan yang baru."

"Kita tidak perlu meneruskan lagi!"

"Apakah temanmu itu sedang menunggumu di luar untuk mendengar syarat-syarat yang akan kita sepakati?"

Kata Hiat-kun dengan terkejut.

"Kau bilang apa? Aku hanya dititipi oleh Wei Tian hoan, mana ada..."

Belum habis kata-katanya, U-bun hujin sudah tertawa dan memotong kata-kata Hiat-kun. Kata U-bun hujin.

"Apakah ini titipan dari Wie Thian-hoan atau bukan, aku tidak tahu, yang aku tahu Wie Thian-hoan tidak akan tahu aku tinggal di sini, siapa yang memberitahu kepadamu?"

Tadinya Hiat-kun sudah mencurigai bahwa gadis itu bersekongkol dengan U-bun hujin membuat jebakan ini, begitu dia mendengar kata-kata U-bun hujin tadi, kecurigaan semakin bertambah Kata U-bun hujin.

"Bila kau tidak memberitahu pun, kami akan tahu orangnya, lebih baik kau undang dia masuk, bila kau bisa menyuruh dia datang kemari aku akan segera melepaskan Su-giok."

Mulut Kang Hiat-kun tetap tertutup rapat. U-bun hujin berkata.

"Kau tidak mau mengatakannya, aku pun bisa menebaknya, dia adalah gadis seusiamu."

Kang Hiat-kun tetap tidak membuka mulut. Kata U-bun hujin.

"Bila kau tidak mau bicara, lebih baik kami yang mengundangnya, aku pastikan dia sedang menunggu di luar."

Pada saat U-bun hujin bicara, dia terus melihat ekspresi Kang Hiat-kun.

Wajah Hiat-kun tidak berubah, tapi hatinya sudah berdebar-debar, 'Gadis aneh itu mempunyai hubungan apa dengan U-bun hujin?

Musuh ataukah temannya?

U-bun hujin menyuruhku menipu gadis itu supaya masuk, apakah ini juga jebakan yang dipasangnya?' Kecurigaan sangat banyak, tapi ada satu masalah penting yang dia terus pikirkan, apakah Hiat-kun harus mengangap dia lawan atau kawan?

Dia tidak bisa menjual teman, lebih-lebih tidak boleh masuk ke dalam perangkap musuh.

Musuhkah?

Kawankah?

Dia harus segera memutuskannya.

"Baiklah, aku akan mengundang dia masuk."

Akhirnya dia menyetujui permintaan U-bun hujin. Kata U-bun hujin sambil tersenyum.

"Kau sendiri yang pergi itu sudah cukup, tidak perlu ku temani."

"Apakah kau tidak khawatir aku pergi seorang diri?"

"Aku selalu mempercayai teman."

"Kau tahu bahwa aku bukan temanmu, apakah kau tidak curiga bahwa aku hanya ingin lepas darimu? Jadi aku mencarinya untuk menggantikanku?"

"Apa pun tujuanmu, bila kau sudah setuju, aku percaya kau tidak akan membohongiku."

Kata U-bun hujin lagi.

"Untung kau setuju, bila kau menolak, ha...ha...ha..."

"Bila menolak bagaimana?"

"Aku akan menganggapmu musuh, gadis yang akan kau bawa pun akan terluka dan kau pun tidak boleh pergi!"

"Mengapa gadis itu harus dilukai?"

"Kami mengundangnya, dia pasti tidak akan mau datang, terpaksa kami harus bertarung dan tentunya dia akan terluka."

Kata U-bun hujin. Tanya Hiat-kun.

"Apakah kau tidak takut bila aku dan dia melarikan diri. Dengan begitu aku akan pulang dengan selamat dan dia pun tidak terluka."

"Aku sudah katakan tadi, aku percaya kepadamu, kata-kata yang keluar dari mulutmu aku akan mempercayainya."

Kemudian dia berteriak.

"Lo Ong, antarkan Nona ini keluar, dia hanya akan keluar sebentar dan akan kembali lagi!"

Lo Ong adalah pelayan yang membuka pintu tadi.

Dia selalu menunggu di pinggir pintu menunggu perintah dari majikannya, begitu U-bun hujin berteriak dia segera masuk.

Dalam hati Hiat-kun berpikir, 'Ternyata dia menyuruh seseorang untuk mengawasiku.' Tadi dia sudah melihat ilmu silat U-bun hujin, ilmu silat pelayan ini tidak akan lebih tinggi dari U-bun hujin.

Dia pun pernah melihat ilmu silat gadis itu, ilmu silatnya berada di atas Hiat-kun.

'Bila aku bergabung dengannya dalam menghadapi pelayan tua ini pasti tidak akan terlalu sulit,' pikir Hiat-kun.

Pelayan tua itu sudah membuka pintu dan mengantar dia keluar, dia sendiri tidak ikut.

"Nona Kang, selamat jalan, aku tidak mengantar lagi,"

Kata pelayan tua itu.

"Bukankah kau akan pergi bersamaku?"

Kata Hiat-kun terpaku. Pelayan tua itu balik bertanya.

"Bukankah Nona akan kembali lagi ke sini?"

"Memang benar, tapi..."

Dengan pelan pelayan tua itu berkata.

"Nyonya hanya menyuruhku mengantar Nona keluar, tidak menyuruhku menjemput tamu. Maaf, lebih baik aku menunggu di depan pintu ini, bila kau mengetuk pintu aku akan langsung membukanya."

Pelayan tua itu tidak ikut, memang ini adalah kcmauan Hiat-kun tapi dia tetap curiga, apakah U-bun hujin begitu mempercayainya?

Dia ingin tahu apa yang menyebabkan perselisihan antara gadis aneh itu dan U-bun hujin?

Membuat gadis itu tidak mau langsung berhadapan dengan U-bun hujin.

U-bun hujin tidak ikut, Hiat-kun bisa mengerti tapi U-bun hujin melepaskan Hiat-kun begitu saja, itu yang membuatnya tidak mengerti.

Tapi walau bagaimana pun tidak diawasi oleh siapa pun lebih baik daripada diawasi, dengan langkah ringan Hiat-kun kembali ke tempat tadi.

Aneh, gadis itu sudah tidak ada.

Mereka sudah berjanji bertemu lagi di tempat ini.

Di gunung itu hanya terlihat seorang gadis desa sedang memetik daun teh, gadis desa yang sangat biasa.

Dia ingin bertanya kepada gadis desa itu, ke mana perginya gadis itu, tiba-tiba dia mendengar suara yang dia kenal, suara laki-laki yang aneh.

"Mengapa kau hanya kembali seorang diri? Apakah mereka tidak mau melepaskan Nona Kie?"

Gadis desa itu sedang memetik daun teh, mulutnya tidak bergerak sedikit pun, untung Hiat-kun sudah tahu, dia sedang berbicara dengan bahasa perut, bila tidak dia akan terkejut.

Hiat-kun sangat senang malah hampir berteriak, waktu dia akan berlari menghampiri gadis desa itu, gadis itu sangat marah dan berkata.

"Kang Hiat-kun, kau sudah menjualku!"

Waktu itu dari arah gunung muncul dua orang.

Yang berjalan di depan adalah seorang perempuan tua yang menggendong keranjang yang di belakangnya adalah seorang pak tua yang memikul 2 buah gulungan kayu yang besar.

Kedua orang itu seperti tua, tapi gerakan yang mereka keluarkan seperti kilat.

Begitu Hiat-kun melihat, di depan matanya sudah banyak sesuatu yang berwarna kuning mengkilat Yang dipakai adalah cara dewi menabur bunga, yang dia tabur adalah Bwee-hoa-ciam.

Kilauan berwarna emas seperti gelombang menggulung ke arah gadis desa itu, begitu kilau emas itu keluar, suara perempuan tua itu juga keluar.

"Orang-orang mengatakan bahwa kau adalah burung Hong di atas awan, sekarang burung itu akan menjadi ayam!"

Suara perempuan itu begitu merdu dan sangat dikenal oleh Hiat-kun.

Sekarang Hiat-kun baru tahu bahwa perempuan itu adalah U-bun hujin.

Bila tidak mendengar suaranya, dalam mimpi pun tidak akan menyangka bahwa U-bun hujin yang anggun bisa berubah menjadi perempuan tua dengan baju compang camping.

Begitu U-bun hujin mengeluarkan jurus, Hiat-kun sudah tahu apa yang dikehendaki oleh U-bun hujin.

Sewaktu si pelayan itu mengantar dia keluar, mereka berjalan sangat pelan, pada waktu itu U-bun hujin dan suaminya sudah menyamar dan keluar lewat pintu belakang dan berjalan melalui jalan kecil, mereka sudah berada di depan Hiat-kun.

Ini adalah cara yang kejam, sebenarnya Kang Hiat-kun sudah memiliki rencana, walaupun dia tertangkap dia akan memberitahu gadis itu supaya bisa melarikan diri, siapa yang menyangka semua berakhir seperti ini.

Dia tidak ingin mengkhianati teman tapi akhirnya dia malah mengkhianati teman!

Semua kecurigaannya sudah terjawab, tapi dia terlambat mengetahuinya Di dalam cahaya jarum, Hiat-kun bisa menghindar selama beberapa kali, tapi kali ini dia sudah terkena Bwee-hoa-ciam, dia pun terjatuh.

Di sekitarnya hanya terdengar suara jarum yang berdesing.

Hiat-kun masih sadar selama beberapa saat.

Dia seperti mendengar suara jarum yang dipukul oleh pisau atau pedang, dia tidak tahu.

Tapi cara apa yang dipakai oleh gadis itu?

Jarum begitu banyak, apakah dia bisa bertahan?

Hiat-kun hanya bisa mendoakan keselamatannya.

Tiba-tiba terdengar gadis itu berkata.

"Datang tapi tidak dibalas itu tidak sopan, siluman, seranganmu terlalu kesusu!"

Terdengar seperti suara ledakan, tempat itu langsung dipenuhi oleh asap, Hiat-kun hanya bisa mendengar U-bun hujin mengucapkan.

"...main senjata..."

Dia sudah pingsan.

Apakah gadis itu bisa lolos dari tangan Ketua Pek-toh-san?

---oo0dw0ooo---C.

Pedang Bayangan Panji Sakti Kembali ke pertarungan antara Kie Lek-beng dengan Wei Tlrian,' Yuan Sekarang sudah memasuki jurus ke 9, Kie Lek-beng sudah tidak boleh ragu-ragu lagi.

Dalam waktu yang sangat singkat ini pikiran Kie Lek-beng sudah berubah selama beberapa kali, akhirnya dia menyentakan tangannya dua buah telapak tangan berbarengan mendorong keluar, dia mulai mengeluarkan serangan yang bisa membunuh.

Jurus ini dinamakan Liong-bun-sam-ti-long (Pintu naga bergelombang 3 lapis), jurus ini begitu dikeluarkan gelombang demi gelombang serangannya bertambah hebat.

Ujung pedang Wie Thian-hoan sudah tergetarkan oleh tenaga Kie Lek-beng, jurus pedangnya menjadi tidak sempurna, bulatan yang dibuat menjadi miring.

Ini baru adalah gelombang pertama.

Bila Kie Lek-beng mengeluarkan menambah tenaganya, gelombang kedua akan lebih dahsyat lagi dan bisa membuat pedang Wie Thian-hoan terlepas dari tangannya.

Gelombang ketiga akan membawa dia masuk ke dalam pintu kematian, bila Wie Thian-hoan tidak mati dia pun tetap akan terluka parah Wie Thian-hoan sudah berpikir bahwa dia akan mati, maka walau di depan matanya sudah tampak hawa kematian, dia tatap menerjang dan masuk.

Walau tangannya sudah kesemutan tapi dia tetap mencoba memegang pedangnya dengan erat-erat, dia masih menusuk ke depan Dia tidak menyadari gerakan seperti itu malah akan mempercepatnya masuk ke dalam lembah kematian.

Pada saat itu tiba-tiba ada sesosok bayangan yang datang, dia muncul tepat menerjang di antara mereka berdua.

Walaupun di sudut rumah ada lampu tapi cahaya lampu itu terlalu redup, ditambah lagi dengan ada tenaga yang mengeluarkan hembusan angin, lampu itupun hampir padam.

Wie Thian-hoan sedang berada antara hidup dan mati, orang itu datang begitu tiba-tiba, dia tidak mempunyai waktu untuk melihat siapa orang tersebut.

Pada saat dia merasa ada sesuatu yang dingin yang menyerangnya, tidak perlu disangkal lagi dia sudah tahu bahwa orang yang datang tadi di tangannya ada pedang, dan pedang ini sedang menusuknya!

Dia tidak peduli yang datang itu siapa, jurus pedangnya tidak bisa di kendalikan lagi kecepatannya, jurus pedang Wie Thian-hoan siap menggempur orang ini.

Kie Lek-beng pun tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang itu tapi dia tahu yang datang adalah seorang perempuan.

Kie Lek-beng sangat terkejut karena dia menyangka yang datang adalah putrinya.

Karena ilmu silat Kie Lek-beng sangat tinggi dengan cepat dia bisa langsung menyerang tapi juga bisa langsung dihentikan, dalam hati dia benar-benar terkejut, segera dia berhenti dan berdiri di pinggir.

Terdengar suara baju yang sobek, lengan baju Wie Thian-hoan sudah terpotong sebagian oleh perempuan itu.

Perempuan itu berdiri dalam jarak beberapa meter, pedangnya sudah tergetarkan dan sudah terlepas dari tangannya, ketika pedangnya terjatuh tempatnya tepat berada di tempat dia berdiri, segera dia menyambut lagi pedang itu.

Senjatanya yang terlepas tapi sudah kembali tergengam lagi, sedangkan lengan bajunya Wie Thian-hoan sudah sobek untung tidak terluka, mereka berdua sama-sama dirugikan, tapi dua-duanya tidak ada yang menang atau kalah.

Pedang berhenti, telapak tangan pun berhenti, lampu kembali terang.

Kie Lek-beng sudah dapat melihat dengan jelas, yang datang ternyata bukan putrinya.

Kie Lek-beng merasa kecewa tapi Wie Thian-hoan sangat marah.

Yang datang adalah gadis aneh yang memberikan kunci pintu rumah.

Wie Thian-hoan merasa sudah ditipu mentah-mentah, segera dia berkata.

"Ternyata kau! Masih tidak tahu malu berani datang ke sini!"

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Aku adalah pemilik rumah ini, apakah aku tidak boleh pulang ke rumah sendiri?"

Kata Wie Thian-hoan dengan dingin.

"Tentu saja kau boleh datang, yang seharusnya tidak boleh datang adalah aku, ternyata kalian satu komplotan, baiklah kalian berdua bunuh saja aku!"

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Jurus ini adalah jurus ke 10."

Tanya Wie Thian-hoan masih terheran.

"Apa arti dari kata-katamu?"

"Bukankah kalian sudah menentukan 10 jurus, sekarang sudah jurus ke 10, masih ingin bertarung apa lagi?"

Wie Thian-hoan sangat terkejut dan menjawab.

"Kau, kau bilang apa tadi?"

Gadis itu tidak menjawab tapi Kie Lek-beng yang menggantikan dia menjawab.

"Apakah kau tidak tahu, tadi dia menerima jurusku. Itu artinya dia sudah membantumu keluar dari gerbang kematian."

Sebenarnya hal ini mudah dimengerti, hanya saja Wie Thian-hoan tidak percaya bahwa gadis itu benar-benar sudah membantunya!

Baca Juga: Badai Awan Angin Pendekar Sejati 12

Baca Juga: Panji Wulung Opa

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger