Jala Pedang Jaring Sutra 11

Eps 11 Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Baca online Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen

Cersil Jala Pedang Jaring Sutra - Liang Ie Shen.

Perubahan terjadi begitu tiba-tiba, walaupun Wie Thian-hoan mengerti sepertinya dia sudah jatuh ke dalam kabut yang tebal.

"Dia mengambil baju Bok Ling-ku katanya untuk ditukar dengan Su-giok, mengapa dia kembali seoarang diri? Mengapa di rumahnya ada seorang pembunuh yang begitu tangguh? Apakah dia kawan? Ataukah lawan?"

Dia tidak tahu. Wie Thian-hoan masih tampak kebingungan tapi Kie Lek-beng mulai bertanya.

"Kau menyambut jurusku yang ke 10, apakah itu juga termasuk aku?"

Gadis itu menjawab dengan dingin.

"Kau adalah seorang Cianpwee, tapi masih sempat-sempatnya ingin bermain licik."

Kie Lek-beng marah dan bertanya.

"Siapa yang licik?"

"Jurus yang ke 10 sudah kau keluarkan!"

Kie Lek-beng tidak dapat menjawabnya.

Sebenarnya Liong-bun-sam-ti-long dalam satu jurus terdiri dari 3 gerakan, dapat dikatakan ada 3 jurus.

Kepala Wie Thian-hoan terasa berputar-putar, sekarang dia baru bisa memantapkan tubuhnya, dia merasa sangat lelah, dia harus bersandar ke dinding, baru bisa mendengar kata-kata mereka, begitu mendengar gadis itu menyebut Cianpwee, dalam hati dia berkata.

"Orang ini sejak tadi bersikap layaknya seorang Cianpwee, tapi mengapa gadis itu bisa tahu? Sewaktu aku bicara dengan orang ini, gadis itu tidak ada di sini. Orang itu pasti sudah mengetahuinya karena ilmu silatnya begitu tinggi, apakah dia adalah dari golongan tua ku? Tapi aku sudah tidak punya ayah dan ibu, hanya mempunyai kakek yang berbeda she. Datang dari manakah Cianpwee ini?"

Dia pun berpikir lagi, 'Cianpweenya hanya ada ayah Su-giok, apakah orang ini adalah ayahnya Su-giok?

Peristiwa ini terlalu menakutkan!' Dia tidak berani berpikir panjang tapi dia pun tidak bisa hanya diam saja Walaupun Wie Thian-hoan masih merasa lelah, tapi dia masih bisa berkata.

"Dia tidak berbuat licik!"

"Kau masih membantunya bicara!"

"Dalam bertarung harus adil, kau tidak mengetahui semuanya aku sudah mengambil keuntungan darinya, In-mo-sam-bu pun seperti Liong-bun-sam-ti-long terdiri dari 3 macam gerakan, karena itu dia hanya mengeluarkan 8 jurus."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku rela jurus In-mo-sam-bu milikmu dianggap sebagai 3 jurus tidak perlu kau beri tahu lagi kepadaku."

Gadis itu tertawa dan berkata.

"Kalau begitu kau tidak mau ini dianggap 3 jurus, aku pun tidak akan memaksa untuk menerimanya"

Wie Thian-hoan membantu Kie Lek-beng bicara.

"Karena jurus Liong-bun-sam-ti-long, dia hanya memakai salah satu dari 3 macam gerakan, bila itu dianggap satu jurus kesannya terlalu memaksa!"

Wie Thian-hoan mengambil pedangnya yang terjatuh dan berkata.

"Aku akan menerima jurus ke 10 darinya kau jangan ikut campur!"

Sekarang tenaga Wie Thian-hoan sudah habis, harus menanti 1 jam kemudian baru bisa pulih kembali, gadis itupun tahu, begitu juga dengan Kie Lek-beng.

Gadis itu ingin mengatakan sesuatu tapi Kie Lek-beng sudah menyela.

"Aku tidak mau kau menyambut jurusku ini!"

"Mengapa?"

Tanya Wie Thian-hoan.

"Karena kita sudah sepakat hanya bertarung 10 jurus, dan semua sudah dilakukan, yang membuat ribut adalah gadis ini, biar dia yang membayarnya!"

"Kau ingin aku yang menyambutnya?"

Tanya gadis itu.

"Benar!"

"Itu tidak boleh!"

"Apakah kau tidak berani?"

"Bukan aku tidak berani, tapi tidak boleh!"

Kie Lek-beng tidak mengerti maksud gadis itu. Gadis itu sudah tertawa dan berkata.

"Wie Thian-hoan tidak mau mengambil keuntungan darimu, begitu juga denganku."

"Kalau begitu kau menginginkan apa?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Apakah kau pun mau menerima 10 jurus seranganku?"

Kie Lek-beng tertawa dan berkata.

"Jujur bicara, aku memang ingin melihat jurus pedangmu."

Kata gadis itu.

"Tapi tidak dalam 10 jurus."

"Kau ingin berapa jurus?"

"Aku mau menerima 13 jurus darimu."

Kie Lek-beng terpaku dan dengan semangat bertanya.

"Mengapa harus ditambah dengan 3 jurus lagi?"

"Karena kau sudah bertarung, bila menentukan 10 jurus ini tidak akan adil bagimu."

Kata Kie Lek-beng.

"Apakah kau yakin bisa menerima 10 jurusnya? Maka masih harus ditambah 3 jurus lagi? Kau jangan terlalu sombong!"

"Belum pernah aku mengerjakan hal yang tidak kuyakini tapi bertarung harus adil, kau mau dirugikan tapi aku juga tidak mau mengambil keuntungan darimu."

Kie Lek-beng tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, kau mempunyai prinsip, cara berpikirmu lebih tinggi dan Wie Thian-hoan, baiklah aku lihat kau bisa menerima 3 jurus, apa syarat keduamu?"

Gadis itu berkata.

"Terima kasih kau sudah memuji jurus pedangku, aku pun ingin melihat jurus pedangmu."

"Apakah kau ingin bertarung dengan jurus pedang?"

"Benar, aku hanya ingin memakai jurus pedang."

"Aku jarang menggunakan pedang bila bertarung, orang yang pantas kuladeni dengan pedang tidak lebih dari 10 orang."

"Kau mengira aku tidak pantas bertarung jurus pedang denganmu?"

"Sulit dikatakan, jujur bicara saja apakah ilmu pedangmu bisa termasuk dalam 10 jurus itu? Aku tidak tahu, tapi aku pernah melihat jurus pedangmu, kali ini aku mengubah aturanku."

"Terima kasih, kau tidak menghinaku."

Kie Lek-beng tampak berpikir sebentar dan berkata.

"Bila bertarung hanya dengan jurus pedang, apakah boleh menggunakan tenaga dalam? Kau harus menjelaskannya!"

"Mengeluarkan jurus pedang harus menggunakan tenaga dalam bila tidak menggunakan tenaga, kehebatan jurus pedang jadi tidak dapat dikeluarkan!"

Kata Kie Lek-beng dengan dingin.

"Sepertinya kau sudah hafal dengan jurus-jurus pedangku."

"Jurus pedang kalian, walaupun tidak pernah melihat secara langsung, tapi pernah dengar dari orang-orang, jurus pedang kalian hanya berada di peringkat 4 di dunia persilatan, karena itu aku ingin tahu."

"Apakah ada yang mengatakan bahwa ilmu pedangku ada di urutan ke 4, huh..Baru pertama kali aku mendengarnya."

Tanya gadis itu.

"Apakah kau tidak bisa menerimanya?"

"Siapa yang tiga orang lainnya?"

"Pertama adalah Nyo Yam dari Thian-san-pai."

Kata Kie Lek-beng.

"Itu aku sudah tahu, walaupun aku tidak pernah bertarung dengannya."

"Yang kedua adalah Kim Po-lang."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku tidak pernah mendengar nama itu."

Tiba-tiba dia seperti teringat kepada sesuatu dan berkata.

"Apakah dia adalah putra Kim Tiok-liu?"

"Benar, Kim Po-lang adalah putra dari Kim Tiok-liu."

Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata.

"Dua puluh tahun yang lalu dia adalah pesilat dengan jurus pedang nomor satu, tapi sekarang urutan ketiga pun belum tentu dia layak menyandangnya."

Yang dimaksud dengan Kie Lek-beng adalah ayahnya saja berada di urutan kedua apalagi dia adalah putranya. Kata gadis itu.

"Dua tahun yang lalu Kim Tiok-liu sudah meninggal, kau benar sewaktu Kim Tiok-liu masih hidup, dia sudah tua tidak dapat menandingi yang lebih muda, tapi putranya sudah berada di usia matang, ilmu pedangnya lebih tinggi dari ayahnya, sekarang dia berada di urutan kedua mungkin 10 tahun lagi dia akan melebihi Nyo Yam."

Kata Kie Lek-beng.

"Kausangatmengenalorang-orangpersilatan,aku mengundurkan diri dari dunia persilatan sudah 10 tahun lebih, orang-orang yang baru muncul aku tidak tahu siapa yang berada di urutan ketiga? "Dia adalah ayahmu."

Hati Kie Lek-beng bergetar, wajahnya langsung berubah, dengan tertawa dingin dia berkata.

"Apakah kau pernah melihat aku dan ayahku bertarung? Kau berani dengan sembarangan mengomentari ilmu keluargaku."

Kata gadis itu.

"Aku tidak berkata sembarangan, orang yang mengatakan kepadaku tadinya dia ingin mengatur kau berada di urutan ketiga, di atas ayahmu, tapi karena ayahmu sudah tua dan ayahmu lebih mengetahui banyak ilmu pedang dan tidak seperti dirimu. Katanya ilmu pedangmu diturunkan dari keluargamu, kau tidak ada separuhnya dalam penguasaan ilmu mi, ilmu pedangmu separuhnya kau latih sendiri, pertama aku mengira kau harus berada di urutan ketiga, tapi sekarang kau hanya berada di urutan ke 4."

"Mengapa?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Aku lihat ayahmu di masa tuanya sudah menciptakan jurus pedang yang sudah digabungkan dengan perkumpulan Thian-san, dari sana aku sudah bisa memutuskan bahwa jurus ayahmu lebih tinggi darimu, tapi itu hanya jurus pedang, bila kau bertarung dengan ayahmu ilmu silatmu pasti sudah melebihi ayahmu."

Kata-kata gadis ini membuat wajah Kie Lek-beng berubah, apalagi Wie Thian-hoan, dia sangat terkejut Ting Po pernah mengatakan kepadanya tentang ilmu pedang kakek gurunya. Kata Ting Po.

"Ayahmu termasuk urutan ketiga, yang pertama adalah Kim Tiok-liu, kedua adalah Nyo Yam."

Wie Thian-hoan berpikir, 'Sewaktu Paman Ting mengatakan ini kepadaku, Nyo Yam belum menjadi ketua perkumpulan Thian-san, Kim Tiok-liu adalah mertua dari kakak tiri Beng Hoa, lebih tinggi sederajat, namanya pun lebih terkenal, waktu itu sudah ada yang menyusun urutan sebagai berikut.

nomor satu adalah Kim Tiok-liu, nomor dua adalah Nyo Yam, dan yang nomor tiga adalah kakek gurunya, apakah ayah dari orang itu adalah kakek gurunya?"

Pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan lagi karena sudah ada penjelasannya.

Begitu dia mengatakan bahwa ilmu pedang Kie Lek-beng, diambil dari ilmu pedang Wie Thian-hoan untuk menentukan bahwa ilmu silat Kie Lek-beng sedikit kurang dari ayahnya.

Wie Thian-hoan belum tahu bahwa dia adalah Kie Lek-beng tapi jurus ini diajarkan oleh kakeknya, apakah ayah dari orang ini adalah kakek gurunya?

Kakeknya adalah kakek Su-giok, lalu siapa orang ini?

Jawabannya pun terlalu mudah untuk dicari, Wie Thian-hoan tidak berani memikirkannya lagi, dia merasa semua ini begitu menakutkan.

Dia mengorbankan nyawa demi menolong Su-giok, mengapa ayah Su-giok malah ingin membunuhnya?

Hati Wie Thian-hoan sangat kacau, dia tidak berani berpikir tapi mau tidak mau dia harus berpikir, dia melihat Kie Lek-beng, walaupun wajah Kie Lek-beng penuh dengan bekas luka pedang tapi tetap bisa melihat kemiripannya dengan Su-giok.

Wie Thian-hoan menjadi bingung, sekarang dia harus benar-benar bersandar ke dinding baru bisa berdiri Dalam hati dia berpikir, 'Siapakah dia?

Siapakah dia?' Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata.

"Bagaimana dengan ilmu pedangku, sepertinya kalian lebih tahu, aku ingin melihat jurus pedangmu, hayolah cepat keluarkan jurusmu!"

"Bila aku bisa menerima 13 jurusmu, kau sendiri bagaimana?"

Kie Lek-beng tertawa dan berkata.

"Aku adalah orang yang baru keluar dari kuburan, bila aku kalah aku akan masuk lagi ke dalam kuburan, kali ini untuk selama-lamanya dan tidak akan muncul lagi di dunia persilatan."

Kata gadis itu.

"Tidak perlu begitu serius, aku hanya ingin kau tidak menganggap Wie Thian-hoan sebagai hadiah dan diberikan kepada orang lain."

Wajah Kie Lek-beng memerah, dalam hati dia berpikir, 'Gadis ini tahu banyak tentang diriku, tujuanku datang ke sini dia pun bisa menebaknya.' "Bila kau tidak bisa menerima 13 jurusku bagaimana?"

"Semua terserah padamu!"

"Aku ingin kau melakukan sesuatu terhadapku, kau mewakili Wie Thian-hoan bertarung denganku, bila kau kalah, aku masih tetap menginginkan Wie Thian-hoan menuruti syaratku semula mengikat dirinya dan ikut pulang denganku."

"Aku mewakili Wie Thian-hoan, bila kalah, aku yang harus mewakili dia juga."

Kata Wie Thian-hoan.

"Ini tidak adil, kau sudah membantuku, aku sangat berterima kasih tapi kau tidak boleh terus menerus terlibat dalam persoalan ini!"

"Apakah kau tidak takut bila aku sengaja mengalah kepadanya, malah menjerumuskanmu?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Benar, kuakui aku memang pernah curiga kepadamu, apakah kau masih marah kepadaku?"

"Aku senang mengurusi masalah yang tidak ada hubungannya denganku, malah sering dicurigai orang, kau berani datang ke sini artinya kau mempercayai diriku, mengapa aku harus marah kepadamu?"

Kata Wie Thian-hoan.

"Kalau begitu kita tidak perlu berkata hal lain lagi, sebenarnya dalam pertarungan kali ini aku sudah kalah. Kau membuat kesempatan untukku agar dapat bertarung lagi, paling-paling kita tidak dapat mengganti barang taruhan tadi."

Kata gadis itu.

"Terima kasih kau sudah percaya kepadaku, menyerahkan nasibku untuk dijadikan taruhan."

Wie Thian-hoan tidak mencurigai gadis itu lagi, malah Kie Lek-beng yang curiga kepadanya, dalam hati dia berkata, 'Melihat mereka bercakap-cakap sepertinya mereka belum lama kenal, tapi mereka saling percaya, bukan teman tapi baru kenal bisa melakukan hal seperti ini, apakah mereka sudah saling jatuh cinta?' Dia mengkhawatirkan putrinya, dengan dingin dia tertawa dan berkata.

"Apakah perbincangan kalian sudah selesai? Siapa yang akan menjadi barang taruhan?"

"Aku tahu Wie Thian-hoan tidak akan memberikan semua tanggung jawab ini kepadaku. Baiklah, bila aku kalah, kami berdua menyerahkan diri kepadamu untuk menerima hukuman."

Tanya Wie Thian-hoan.

"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"

Kata Kie Lek-beng.

"Kau adalah pelaku utamanya, aku tidak berhak melarangmu bicara"

Kata Wie Thian-hoan.

"Kau harus menuruti syarat kami yang pertama, dalam 13 jurus bila kau tidak dapat mengalahkan dia kau harus ijinkan aku untuk bertemu dengan adikku!"

Kata Kie Lek-beng.

"Syarat tadi kau hanya ingin tahu di mana keberadaan adikmu."

"Tapi sekarang aku sudah tahu, bila kau tidak mengijinkan aku bertemu dengannya biarpun aku tahu dia berada di mana dia pun tidak bisa bertemu denganku."

Suaranya gemetar dan terdengar sedih.

Hati Kie Lek-beng ikut bergetar, 'Apakah dia sudah tahu siapa diriku?' "Baiklah, aku setuju, apakah temanmu bisa menerima 13 jurusku?

Bila dia mampu, aku akan mempertemukan kau dengan adikmu, aku akan menepati janji ini, aku juga akan mencungkil mataku untukmu!"

"Tidak perlu begitu..."

Kata gadis itu. Kata Kie Lek-beng.

"Aku dan Wie Thian-hoan saling berdagang, kau tidak perlu ikut campur, yang perlu kau urus adalah apakah kau bisa menerima ke 13 jurusku?"

"Baiklah, jurus kesatu dimulai!"

Pedang gadis itu menggambar lingkaran di udara dan menusuk ke arah Kie Lek-beng.

Wie Thian-hoan tidak mengetahui jurus itu, dalam hati dia berpikir, 'Mengapa seperti jurus pedangku?

Tapi lingkaran dia tidak sempurna, itu tidak boleh terjadi dalam jurus pedangku.' Gadis itu menggambar lingkaran yang besar dengan pedangnya, seperti sebuah ring yang terputus.

Ilmu pedang Wie Thian-hoan termasuk tangguh tapi bila dibanding Kie Lek-beng, dia masih kalah jauh.

Dia tidak bisa melihat keanehan ilmu pedang gadis itu, tapi Kie Lek-beng bisa Lingkaran yang tidak tertutup adalah ilmu pedang yang dipakai oleh gadis aneh itu, dia sengaja tidak menutup lingkaran.

Di dalam lingkaran tersimpan banyak keanehan.

Mata Kie Lek-beng menjadi lebih bercahaya dalam hati dia berpikir, 'Jurus pedangnya merupakan kebalikan dari jurus Wie Thian-hoan bila tadi aku tidak melihat Wie Thian-hoan menggunakan jurus pedang ini, aku pasti tidak dapat menghindar.' Tubuh Kie Lek-beng dilipat ke bawah dan berkata.

"Ada pepatah mengatakan. bila tidak masuk ke sarang harimau mana bisa mendapatkan anak harimau."

Dia langsung menusuk dengan pedangnya ke dalam lingkaran yang tidak tertutup itu. Begitu pedang beradu, langsung terpisah lagi. Gadis itu memuji.

"Ilmu pedangmu begitu bagus, tenaganya pun sangat tepat, sungguh mengagumkan! Jurus pertama aku sudah kalah!"

Wie Thian-hoan terkejut.

"Jurus pertama saja sudah kalah, bagaimana dengan 12 jurus lagi?"

Anehnya, gadis itu malah memuji Kie Lek-beng, tapi Kie Lek-beng sama sekali tidak tersenyum sebaliknya dia malah merasa malu.

Dengan teliti Wie Thian-hoan melihat lagi dan dia baru tahu, begitu cahaya pedang terpisah, pedang pun diambil kembali, tapi di udara terlihat ada satu macam benda Ternyata sewaktu gadis itu mengeluarkan pedang dia melempar sehelai sapu tangan sekarang sapu tangan itu sudah menjadi serpihan seperti kupu-kupu.

Kain-kain itu mengikuti hembusan angin yang berasal dari kibasan pedang melayang-layang dan seperti menari.

Ternyata jurus ini dimainkan begitu sempurna oleh gadis itu, ternyata Kie Lek-beng pun tahu bahwa lingkaran yang tidak tertutup itu sengaja dibuat oleh gadis itu supaya Kie Lek-beng bisa memecahkan jurusnya Walaupun di dalam lingkaran itu ada jebakan.

Wajah Kie Lek-beng menjadi merah dan berkata.

"Aku belum bisa memecahkan jurus pedangmu, tapi bila aku tidak memakai tenaga dalam, mungkin kita berdua akan terluka"

Itu artinya jurusnya tidak dapat dihitung kalah.

"Benar, dengan caramu kau bisa memecahkan jurusku, aku mengakui kekalahanku. Aku sudah menyiapkan jurusku dan kau berhasil memecahkan jurusku ini, semuanya bisa terpikir olehmu."

Gadis itu dengan langkah kecil, tubuh bagian atas sama sekali tidak bergerak tapi kakinya seperti terpasang roda kecil sudah berputar kesekeliling tubuh Kie Lek-beng, tiba-tiba tubuhnya miring, pedangnya menusuk ke arah tubuh Kie Lek-beng, gerakannya sangat indah seperti sekuntum bunga yang mekar dan kupu-kupu menari di atasnya Wie Thian-hoan melihat dengan teliti, hampir saja dia tepuk tangan.

Tapi Kie Lek-beng tidak hanya menikmati indahnya gerakan itu, jurus ini seperti seorang gadis dengan tertawa sambil memetik bunga, tapi di belakang semua keindahan ini tersimpan kegagahan seorang jenderal yang menunggu diperintah untuk pergi ke medan perang.

Sangat gagah dan berwibawa.

Kie Lek-beng adalah seorang pesilat tapi dia tidak mengetahui jurus apa ini, dari mana datangnya jurus ini dan dari perkumpulan mana?

Kie Lek-beng terus memikirkan jurus pedang milik gadis itu, bila gerakannya keras, tapi tidak sekeras perkumpulan Siong-san, kalau ringan tidak seringan perkumpulan Go-bi.

Gadis ini menyatukan ilmu pedang Siong-san dan Go-bi dan sangat tepat, ini membuat Kie Lek-beng memuji gadis itu dalam hatinya.

Kie Lek-beng mempunyai banyak pengalaman apalagi dalam ilmu pedang tapi karena dia belum pernah melihat jurus pedang ini, dia jadi tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini, dia menaruh pedang di dada menunggu gadis itu menusuk ke dadanya baru dia akan membalasnya.

Tapi gadis itu malah memutarkan pedangnya dan menariknya kembali.

Wie Thian-hoan menghitung.

"Ini adalah jurus kedua."

Dalam hati Kie Lek-beng berpikir, 'Gadis ini sangat mahir mengambil kesempatan, kelihatannya aku harus mulai menyerang dan memaksanya' Gadis itu seperti tahu pikiran Kie Lek-beng, sebelum Kie Lek-beng menyerang, dia yang mulai menyerang dulu Gerakan tubuh dan gerakan pedang sama cepatnya.

Wie Thian-hoan yang berada di pinggir hanya bisa melihat kilauan pedang dan bayangan gadis itu yang berpindah-pindah.

Gadis itu menyerang dengan 3 jurus, menyerang sangat cepat tapi perubahan dalam tiap jurusnya masih bisa dilihat oleh Wie Thian-hoan dengan jelas.

Kemarin dia tidak bisa menerima kekalahannya, tapi sekarang dia sampai ingin bertepuk tangan, dalam hati dia berpikir, 'Bila 3 jurus tadi menusukku, aku pasti akan terluka atau malah dibuat kalang kabut olehnya.

Kie Lek-beng tidak tampak kerepotan dia juga mengeluarkan semua jurus yang sudah dipelajari baru dapat menahan 3 jurus gadis itu.

Setelah 3 jurus selesai, Kie Lek-beng mulai menyerang pedang digerakan dari atas ke bawah, tetapi bukan diayunkan.

Begitu Wie Thian-hoan melihat Kie Lek-beng mengeluarkan jurus seperti itu dia merasa aneh Ternyata jurus Kie Lek-beng ini disebut Peng-se-lok-yan (Burung Walet Terbang Sejajar Tanah), ini adalah jurus yang sangat biasa, semua orang pemah mempelajari jurus ini, perubahannya sangat sederhana tetapi jurus ini termasuk mempunyai 4 dasar gerakan, gerakan ini sangat cocok untuk orang yang baru belajar silat.

Wie Thian-hoan mengira Kie Lek-beng akan mulai menyerang dengan jurus yang aneh, bukan jurus dasar.

Tetapi begitu dia melihat dengan teliti, dia baru menyadari bahwa jurus itu tidak biasa, terlihat seperti petir yang menyambar dan guntur yang berbunyi.

Jurus pertama dari Peng-se-lok-yan belum diselesaikan jurus kedua sudah dikeluarkan, jurus ini pun kelihatan sangat biasa, jurus ini disebut Tiat-lian-heng-kang (Rantai Besi Sejajar Sungai), dia hanya menggoyangkan ujung pedang sebanyak 3 kali untuk menutup serangan lawan.

Kedua jurus pedang ini sangat biasa tetapi sekarang terlihat tidak biasa, Wie Thian-hoan yang berdiri di pinggir pun merasa jurus ini seperti hujan dan angin.

Gadis itu berada dalam kibasan jurus pedang Kie Lek-beng tapi sepertinya tidak peduli, dia menusuk ke kiri dan ke kanan, Wie Thian-hoan pun tidak tahu jurus apa yang dipakai oleh gadis itu.

Gadis itu terlihat sangat menikmati dalam memainkan pedangnya.

Pengetahuan jurus pedang Wie Thian-hoan lumayan tinggi, walaupun dia tidak mengetahui asal jurus ini tetapi lama-kelamaan dia mulai mengetahui bahwa jurus pedang gadis itu mengandung hawa membunuh tetapi kadang-kadang hawa itu menghilang.

Begitu Wie Thian-hoan mengetahui sedikit gerakan mereka, mereka sudah terpisah lagi.

Walaupun hanya sebentar tetapi hati Wie Thian-hoan sudah beberapa kali berdebar-debar.

Dia beberapa kali menyeka keringat dingin yang mengalir dan berpikir-pikir, 'Jurus pedang orang itu sudah sampai tingkat yang begitu tinggi, jurus yang biasa menjadi jurus yang luar biasa, jurus pedang gadis itu seperti kosong, tapi berkali-kali dia bisa menandingi jurus pedang orang itu.' Sekarang tampak gadis itu sudah kehabisan tenaga, dia meloncat ke tempat agak jauh.

Wie Thian-hoan yang berada di pinggir pun bisa mendengarkan nafas gadis itu yang terengah-engah.

"Sekarang sudah masuk jurus ke berapa?"

Tanya Kie lek-beng.

"Sudah jurus ketujuh."

Kata Wie Thian-hoan. Kata Kie Lek-beng kepada gadis itu.

"Jurus pedangmu benar-benar bagus, tetapi kau harus mengeluarkan 5 jurus lagi!"

Kie Lek-beng sudah mengambil keputusan, dia ingin menghadapi gadis itu seperti pada saat dia menghadapi Wie Thian-hoan, di jurus terakhir baru mengalahkan gadis itu Kie Lek-beng berdiri di tempat itu, dia tidak bergerak sama sekali hanya ujung pedangnya menunjuk ke arah gadis itu, pedang dengan arah miring menusuk gadis itu karena jaraknya agak jauh tentu tidak akan mengenainya Si gadis bergeser dia pun balik menyerang, serangan jurusnya juga menusuk ke arah Kie Lek-beng.

Jurus mereka ternyata dapat berubah menjadi lambat, Wie Thian-hoan dapat melihatnya dengan jelas, tetapi dia masih merasa matanya tidak bisa mengikuti gerakan mereka.

Mereka secara lambat mengeluarkan jurus, tidak terasa 4 jurus sudah keluar.

Dalam 4 jurus ini mereka benar bertarung, tapi merekapun seperti tidak sedang bertanding.

Jumlah jurus yang sudah dikeluarkan sebanyak 11 jurus.

Tiba-tiba Kie Lek-beng berhenti bertarung dan berkata.

"Orang yang mengatakan jurus pedangku berada di urutan ke-4 itu siapa?"

"Dia adalah ayahku."

Jawab gadis itu "Dia memberiku urutan ke-4, itu terlalu tinggi."

"Kalau begitu ayahku sudah salah menempatkan?"

Jawab Kie Lek-beng.

"Ilmu pedang nomor satunya bukan Nyo Yam tetapi dia."

Kata Kie Lek-beng.

"Nona, apakah kau tahu kau berada di urutan ke berapa?"

"Bagaimana menurutmu?"

Kata Kie Lek-beng.

"10 orang yang jurus pedangnya paling tinggi, masing-masing memiliki kelebihan, menurutku ilmu pedangmu tidak kalah dengan mereka hanya saja kau kurang pengalaman, karena itu aku tidak bisa memberikan kepadamu urutan keberapa, tetapi kau bisa termasuk dalam 10 besar."

"Terima kasih untuk pujianmu."

Kata gadis itu, Kie Lek-beng menghela nafas dan berkata.

"Bila hanya adu pedang aku pasti kalah, tetapi dalam pertarungan ini aku harus menang, ada 2 jurus lagi, hati-hati menyambut seranganku ini, kalau tidak sanggup jangan memaksakan diri, aku bisa melukaimu!"

Setelah berkata demikian dia maju 3 langkah, mengeluarkan sebuah tusukan, suaranya sangat mengelegar membuat gendang telinga Hui-thian berdenging terus.

Dia maju 3 langkah lagi, jarak dengan gadis itu hanya tinggal 3 langkah, cahaya pedang Kie Lek-beng sudah mencapai tubuh gadis itu.

Tubuh gadis itu seperti didorong oleh tangan yang tidak tampak, pedangnya terlepas dan kakinya pun bergoyang.

Segera hati Wie Thian-hoan menjadi dingin, akhirnya gadis itu kalah juga, pikirannya belum selesai, ternyata sudah ada perubahan baru lagi.

Gadis itu hampir terjatuh, tubuh mengikuti pedang berputar, begitu tangan dikeluarkan tepat menyambut pedang yang terjatuh, dia mengambil dengan tangan kiri karena gerakannya sangat cepat bila dilihat dari kejauhan, gerakan itu seperti memindahkan pedang dari tangan kanan ke tangan kiri, dia dengan miring menusuk ke arah ketiak Kie Lek-beng.

Hanya tinggal selangkah lagi Kie Lek-beng bisa menangkap gadis itu tiba-tiba Kie Lek-beng berhenti melangkah dia malah menghindar ke pinggir dan berkata.

"Terpikir juga olehmu dengan tangan kiri memecahkan jurus ini benar-benar aku tidak dapat mengalahkan jurus pedangmu."

Gadis itu terlihat sangat senang, dia berkata.

"Apakah benar ilmu pedangku bagus?"

Kie Lek-beng berkata.

"Jurus pedang seperti itu tidak banyak dimengerti oleh orang, yang bisa memakai jurus ini tidak lebih dari 3 orang."

"Kau jangan terus memuji, jurus ini bukan aku yang menemukannya!"

"Apakah ayahmu yang menemukannya? sebab jurus tadi aku sendiri yang menemukannya, ayahmu pun belum tentu pernah melihatnya, bagaimana dia bisa mengajarimu untuk memecahkan jurusku?"

Gadis itu menhela nafas seperti sedang berbicara sendiri.

"Kali ini pun dugaan ayah ternyata benar."

"Apakah dia dapat menebak jurus yang baru saja ku ciptakan ini?"

Terasa terlalu aneh dan Kie Lek-beng tidak dapat mempercayainya.

"Bukan itu, dia telah menebak dalam 13 jurus, kau pasti akan mengeluarkan sebuah jurus yang kau kira aku tidak akan mampu menandingi nnya, kemudian kau mencoba membunuhku. Tapi dalam jurus ke berapa atau jurus apa yang baru kau ciptakan dia tidak dapat mengatakannya tetapi ayah mengajarkanku jurus ini, bila jurus ini dikeluarkan tentu bisa menahan semua serangan."

"Bila sudah bisa ditebak ayahmu, mengapa kau masih menarik nafas seperti itu?"

Kata Kie Lek-beng.

"Apakah kau ingin tahu apa yang dibicarakan oleh ayah kepadaku?"

"Akusiapmendengar kalau kau memang mau memberitahukannya kepadaku."

"Kata ayahku bila aku bertarung dengan Bo-tan menggunakan jurus ilmu pedang, hanya dalam 13 jurus kau akan tahu keistimewaaan dari ilmu pedangku, kau akan tahu kekurangan jurus pedangku, juga karena itu ayahku mengatakan aku hanya bisa bertahan dalam 13 jurus, bila jurus yang tadi sudah dipaksakan untuk dikeluarkan, maka jurus berikutnya bila kau memakai sembarang jurus apapun, aku tidak akan bisa bertahan lagi."

Kata Kie Lek-beng.

"Tidak bisa bertahan, kalimat ini harus diganti artinya belum tentu bisa ditahan!"

"Karena ayahku hanya tahu keadaan ilmu pedangmu sewaktu kau melawan 5 Bu-tong Tianglo, tapi itu sudah 10 tahun yang lalu, ayahku juga tahu 10 tahun terakhir ilmu pedangmu sudah maju pesat tetapi sampai di tingkat mana, ayahku juga tidak tahu. Tapi bila aku sudah mengeluarkan jurus tadi dan kau bisa memecahkannya maka aku tidak akan bisa menerima jurusmu yang berikutnya."

Kie Lek-beng tertawa kecut dan berkata.

"Aku sudah tahu siapa ayahmu."

"Kau tahu dia?"

"Di Kun-lun barat yaitu di Seng-su-hai, ada sebuah keluarga yang menyendiri di sana, Seng-su-hai berada di gunung Kun-lun, orang tidak bisa sembarangan naik ke sana."

"Apakah kau pernah ke sana?"

"Benar, tetapi hanya satu kali, itu pun sebelum aku bertarung dengan 5 Bu-tong Tianglo."

"Apakah kau tahu mengenai keluarga itu?"

"Benar tapi aku tidak tahu banyak."

Kie Lek-beng melanjutkan lagi.

"Keluarga ini she Shangguan, kapan nenek moyang mereka pindah kesana aku tidak mengetahuinya. Aku hanya tahu keluarga Shangguan terkenal dengan Pedang Bayangan dan Panji Sakti nya, sejak jaman buyutmu, keluargamu selalu diangkat oleh perkumpulan Tibet untuk menjadi ketua mereka. Di dunia persilatan ada sebuah kalimat berujar. bila tidak tunduk kepada Bayangan Pedang dan Panji Sakti, mereka akan mendapat celaka."

"Kau tahu banyak tentang keluargaku, tapi mengapa kau tahu bahwa aku putri keluarga itu?"

"Karena ilmu pedangmu terus berubah, kecuali jurus Pedang bayangan milik keluarga Shangguan, tidak ada gerak pedang yang seperti itu lagi. Bila tidak salah ayahmu adalah Ketua Shangguan bernama Shangguan Lung dan kau adalah putri tunggal keluarga Shangguan bernama Shangguan Hui-hong."

Wajah gadis itu sedikit terkejut, ternyata semua hal mengenai diri dan keluarganya sudah tertebak jitu oleh Kie Lek-beng. Kata Kie Lek-beng lagi.

"Aku pernah melihatmu pada saat umurmu baru 1 tahun, kau pasti tidak akan bisa mengenaliku."

"Tidak disangka ternyata 2 keluarga mereka sudah berteman, jurus terakhirnya pasti bisa dihindari,"

Pikir Wie Thian-hoan. Siapa yang tahu bahwa perkataan Kie Lek-beng malah kebalikan dari kemauan Wie Thian-hoan.

"Nona Shangguan, tebakan ayahmu sangat tepat sekarang kau sudah menyambut jurus ke 12 milikku, aku benar-benar tidak dapat menang darimu, tetapi menurut ayahmu begitu kau dipaksa untuk mengeluarkan jurus yang sudah dia ajarkan, jurus ke 13 ini pasti akan menguntungkan bagimu, ini bukan karena ilmu pedangmu kalah dariku biasanya yang berpengalaman kesempatan untuk menang lebih banyak, walaupun aku tidak memakai tenaga dalam aku pun akan lebih beruntung, tapi aku tidak yakin bisa mengalahkanmu karena itu aku hanya memakai 50% tenaga dalam, kau harus hati-hati, jangan sampai terluka!"

"Ini tidak adil!' Kata Wie Thian-hoan.

"Apanya yang tidak adil, apakah aku berjanji tidak akan memakai tenaga dalam pada saat bertarung?"

Kata Shangguan Hui-hong.

"Dia menentukan hanya mengunakan 50% tenaga dalam, dia sudah mengalah"

Karena sebelum bertarung, Shangguan Hui-hong sudah setuju boleh mengunakan tenaga dalam dalam bertarung.

Karena itu Wie Thian-hoan tidak dapat membela dia, apalagi Shangguan Hui-hong sendiri tidak keberatan.

Tetapi Wie Thian-hoan tahu bila orang yang mengunakan 50% tenaga dalam maka Shangguan Hui-hong tidak akan bertahan walaupun jurus pedang gadis itu sangat bagus tetapi tenaga dalamnya hanya setengah dari tenaga dalam Wie Thian-hoan.

Orang ini (Kie) dengan tangan kosong dalam 20 jurus sudah bisa mengalahkan Wie Thian-hoan apalagi sekarang dia menggunakan pedang!

Hati Wie Thian-hoan tidak tenang, tetapi jurus ke 13 sudah dilancarkan oleh Kie Lek-beng.

Begitu ujung pedang sudah digetarkan, cahaya pedang berkilauan membuat pandangan mata menjadi kabur.

Wie Thian-hoan mencoba menahan serangan membantu Shangguan Hui-hong, tapi untung tenaganya belum pulih dan gerakannya menjadi lambat, begitu dia maju selangkah Shangguan Feng sudah berteriak.

"Tunggu!!"

Kie Lek-beng bertanya.

"Nona ingin mengatakan apa?"

"Kita tidak perlu bertarung pada jurus ke 13 lagi!"

"Melihat wajah ayahmu sebenarnya aku pun tidak boleh menghina yang lebih muda, apalagi dalam ilmu pedang kedudukan kita seimbang, lebih-lebih aku tidak boleh memaksamu menerima jurus ke 13 milikku! Hanya sayang karena kau mewakili Wie Thian-hoan bertarung maka aku harus memenangkan pertarungan ini!"

Kata Shangguan Hui-hong.

"Kau salah, aku bukan menjadikan ayahku sebagai perisai dan memintamu untuk mengampuni ku, aku tahu dalam pertarungan ini kau harus menang, karena alasan ini pula aku kira kita tidak perlu bertarung lagi!"

Kie Lek-beng merasa aneh.

"Nona, kau membuat keadaan menjadi aneh, kau sudah tahu aku harus menang, mengapa kau tidak mau meneruskan pertarungan? Apakah kau mau mengaku kalah?"

Kata Shangguan Hui-hong.

"Ilmu silatku memang berada di bawahmu, boleh dikatakan harus mengaku kalah dari awal pertarungan. Kau ingin aku memainkan 12 jurus pedangku, aku sudah merasa puas, sekarang kita sudah tahu kehebatan ilmu pedang masing-masing, karena itu aku anggap kita sudah tidak perlu lagi bertarung,"

Kata Shangguan Hui-hong. Kata Kie Lek-beng.

"Tapi dalam pertarungan ini harus ada yang menang dan kalah"

Kata Shangguan Hui-hong.

"Aku tidak peduli dengan menang atau kalah. Jujur bicara bila mau menghitung menang atau kalah, 12 jurus tadi pun tidak perlu dipertarungkan lagi, karena aku sudah pasti akan kalah mengapa harus susah-susah menghabiskan tenaga, kalau dibilang bertarung rasanya lebih tepat dikatakan aku telah belajar langsung kepadamu."

Kata Kie Lek-beng.

"Ternyata kau tidak bermaksud mewakili Wie Thian-hoan dalam bertarung, melainkan hanya memperalatku supaya bisa mengeluarkan jurus pedangmu."

Kata Shangguan Hui-hong.

"Aku benar-benar ingin belajar darimu, tapi bila aku dikatakan memperalatmu, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi."

Wajah Kie Lek-beng dingin seperti es.

"Mau minta petunjuk? Kau seenaknya mengatakannya, tapi aku benar-benar serius dalam pertarungan ini."

"Aku tahu"

"Bila kau tahu, kau harus mau menerima jurus terakhrku!"

Kata Shangguan Hui-hong.

"Aku bisa memberikanmu sebuah hadiah untuk menggantikan jurusmu."

Kata Kie Lek-beng dengan dingin.

"Kau ingin menyuapku dengan hadiah, tapi hadiah apa pun tidak dapat ditukar!"

Kata Shangguan Hui-hong sambil tertawa.

"Jangan jual mahal, aku tanya kau mau memenangkan pertarungan ini demi apa? Bukankah bila kau menang maka Wie Thian-hoan harus pulang denganmu dan kesulitanmu bisa langsung diatasi?"

Jawab Kie Lek-beng dengan dingin.

"Sepertinya kau sudah tahu semuanya, mengapa harus balik bertanya lagi kepadaku?"

Kata Shangguan Hui-hong dengan tertawa manis;

"Sebenarnya kau tidak perlu memenangkan pertarungan ini, malah kau bisa mendapatkan hadiah dariku, dan kesulitanmu bisa diatasi."

Kie Lek-beng terpaku dan berteriak.

"Kau bilang apa?"

Kata Shangguan Hui-hong lagi.

"Apakah kau masih belum mengerti? Baiklah aku akan langsung memberitahumu. Tuan Kie, hadiah ini bisa ditukarkan dengan putrimu."

Benar-benar pedang bayangan dan perempuan aneh Dengan hati mulia menuntaskan dendam.

Apa yang akan terjadi?

---ooo0dw0oo---Bab 18 Jala pedang dimana-mana Ternyata adalah jala dunia Perasaan sulit untuk memutuskan Perasaan tidak kunjung berakhir A.

Terbukanya Teka-Teki 'Tuan Kie', kata-kata ini keluar dari mulut Shangguan Hui-hong dan masuk ke dalam telinga Wie Thian-hoan, seperti guntur yang berbunyi di siang bolong, dia sampai terbengong-bengong.

Dia memang kira-kira sudah bisa menebak identitas Kie Lek-beng tapi hanya sebagian saja, tetapi begitu mendengar suara yang keluar dari mulut Shangguan Hui-hong membuat dia benar-benar terkejut!

"Ternyata dia benar adalah ayah Su-giok, bagaimana dia harus menceritakannya masalahnya?"

Dia mengorbankan semuanya hanya untuk menolong Shu Giok-yang sebenarnya Kie Lek-beng sudah tahu dari awal, mengapa harus dengan cara seperti ini memperlakukannya?

Wie Thian-hoan menjadi bingung, apakah dia harus sedih atau gembira?

Ada Kie Lek-beng yang akan mendorong putrinya sendiri dia tidak perlu mengkhawatirkan Su-giok lagi, tetapi perlakuan Kie Lek-beng terhadapnya, dalam mimpi pun tidak pernah terpikirkan.

Dia bingung, tidak terasa dengan terhuyung dia sudah bersandar ke dinding, dengan begitu dia baru bisa berdiri dengan tegak Kie Lek-beng juga ingin tahu jawaban dari teka-teki ini, dia tidak mempunyai waktu memperhatikan Wie Thian-hoan.

"Apa hadiahnya?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Putra panglima pengawal istana, Bok Ci-giauw. Gunakanlah hadiah ini untuk ditukarkan dengan putrimu. Lebih baik daripada menukar dengan orang lain!"

Untuk menutupi rasa malu Kie Lek-beng, Shangguan Hui-hong mengganti kata-kata itu dengan kata 'orang lain' tidak menyebut nama Wie Thian-hoan.

Tetapi begitu terdengar di telinga Kie Lek-beng wajahnya tetap menjadi merah "Dimana orangnya?"

Kie Lek-beng dengan malu-malu bertanya, dia tidak berani menatap Wie Thian-hoan.

"Dia ada di sini dan dia adalah Sutitmu, Wie Thian-hoan yang kau akan tangkap. Wie Toako, mengapa kau tidak datang ke sini untuk bertemu dengan Susiokmu?"

Wie Thian-hoan menenangkan dirinya, dia melangkah maju dan berkata.

"Tadinya aku ingin menukarkan Bok Siauya dengan adik. Kebetulan Susiok datang tepat waktunya, bawalah orang ini, maaf aku jadi merepotkanmu!"

Dia membalikkan tubuh dan pergi. Shangguan Hui-hong berteriak.

"Wie Toako, jangan pergi!"

Tetapi Wie Thian-hoan sudah berjalan sangat cepat dan sudah keluar dari pintu besar, dia seperti tidak mendengar suara Shangguan Hui-hong yang memanggilnya.

Shangguan Hui-hong tampak ragu, seperti ingin mengejar tapi dia malah diam saja di tempat Wajah Kie Lek-beng memucat dan tiba-tiba dia berkata.

"Apakah sejak awal Wie Thian-hoan sudah merencanakan untuk menolong putriku?"

Jawab Shangguan Hui-hong.

"Dia baru kemarin tahu bahwa Su-giok disandera oleh mereka."

Tanya Kie Lek-beng.

"Kapan dia menangkap putra Bok Ci-giauw?"

Sepertinya Shangguan Hui-hong sudah tahu bahwa Kie Lek-beng akan menanyakan hal ini, dia tertawa dan berkata.

"Sandera sudah berada di tanganmu, mengapa kau masih terus bertanya?"

Kie Lek-beng terus memelototi Shangguan Hui-hong dan berkata.

"Aku belum setuju dengan pertukaran ini. Aku harus tahu hal ini dan kau harus memberitahu kepadaku atau kau harus menerima jurusku yang ke 13."

Shangguan Hui-hong tertawa kecut dan berkata.

"Sepertinya aku tidak mempunyai pilihan lain."

Dada Kie Lek-beng berdebar-debar.

"Cepat katakan, dia menangkap sandera ini sesudah atau sebelum dia tahu tentang keberadaan putriku?"

"Sebelumnya."

Kata-kata sederhana mengetarkan hati Kie Lek-beng, membuatnya seperti ingin tumbang. Wajahnya memerah kemudian memucat, setelah lama dia baru bisa bicara.

"Kalau begitu dia menangkap sandera ini untuk hal lain, karena dia tahu keadaan Su-giok maka dia mengubah semua rencananya!"

Shangguan Hui-hong tidak menjawab. Kie Lek-beng tertawa kecut.

"Apakah kau tahu alasanku datang ke ibu kota?"

Sengaja Shangguan Hui-hong berkata.

"Aku tidak tahu."

Tapi sebenarnya dia tahu. Kata Kie Lek-beng.

"Wie Thian-hoan mempunyai musuh yang kuat, dan dibalik musuh itu mempunyai pelindung yang kuat, pelindungnya adalah Bok Cigiauw. Tujuanku datang ke ibu kota diam-diam adalah untuk membantunya tapi..."

Kata-kata selanjutnya adalah apa, Shangguan Hui-hong sudah tahu. Benar saja, Kie Lek-beng tidak memberi kesempatan pada Shangguan Hui-hong untuk bicara, dia sudah melanjutkan lagi.

"Aku tidak membantu dirinya malah merebut benda yang bisa melindunginya."

Shangguan Hui-hong berteriak.

"Tuan Kie, kau tunggulah sebentar, sebenarnya kau masih bisa membantunya..."

Tapi Kie Lek-beng sudah pergi. Bayangan orang itu sudah menghilang, suaranya hanya terdengar datang dari tempat jauh dan memasuki telinga Shangguan Hui-hong.

"Aku sudah banyak melakukan kesalahan, kali ini aku tidak boleh salah lagi, kau ada di sisinya, aku pun tidak perlu membantu dia lagi. Nona Shangguan, terima kasih kau sudah mengaturnya sedemikian rupa, aku ingin berusaha dengan tenaga sendiri akan merebut kembali putriku. Kebaikanmu aku terima dalam hati saja."

Ini adalah ilmu Thian-hin-coan-im (Mengirim Suara Melalui Langit), begitu bicara , orang yang jaraknya 1 li bisa mendengarkannya.

Kata-kata ini pun hanya orang-orang yang dituju saja yang bisa mendengarnya.

Tujuan Kie Lek-beng datang ke sini hanya ingin mendapatkan sandera untuk ditukarkan dengan putrinya.

Demi mencapai tujuannya, dia sampai kehilangan hati nurani menganggapkeponakanseperguruannyasebagaihadiah pertukaran.

Tetapi hadiah yang tersedia untuknya, jauh daripada hadiah yang dia inginkan meski berguna, tapi dia malah mengubah pikirannya, walaupun Shangguan Hui-hong memberikan kepadanya tanpa syarat apa pun, dia tetap tidak mau.

Walaupun Shangguan Hui-hong pernah belajar ilmu silat mengirim suara dari jauh, tapi dibandingkan dengan ilmu Kie Lek-beng dia masih kalah jauh, dia hanya bisa mendengar, padahal dengan ilmu ini bisa membicarakan rencana yang sudah disiapkannya oleh Shangguan Hui-hong yang dianggapnya sempurna.

Tapi dia tidak mempunyai kesempatan bicara dengan Kie Lek-beng.

Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia hanya bisa tertawa kecut.

Setiap rencana yang dia susun berjalan seperti yang dia inginkan, tiap rencana berjalan dengan dengan lancar, hanya sampai pada rencana terakhir dia malah mendapatkan keranjang yang kosong.

Rencana yang gagal bukan berarti rencananya tidak baik, tapi dia melupakan suatu hal.

Dia melupakan harga diri Kie Lek-beng.

Kie Lek-beng memang sering melupakan kepentingan orang lain, dia hanya mementingkan diri sendiri, dia melakukan sesuatu dengan tujuan keinginannya harus tercapai, yang lain dia tidak peduli.

Tapi ini tidak terjadi 100% seperti itu, dalam keadaan biasa pun akan menjadi hal yang tidak biasa.

Pada saat harga dirinya terluka dia lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri dibandingkan kehilangan harga dirinya.

Sekarang identitasnya sudah diketahui, semua hal sudah terbongkar, apakah dia masih bisa menerima pemberian dari keponakan seperguruannya?

Dia pun tahu bahwa hadiah ini adalah jimat pelindung keponakannya.

Rencana Shangguan Hui-hong belum selesai, tapi dia tahu bila ada kesempatan lain, Kie Lek-beng pun tidak mau menerima kebaikannya lagi.

Wie Thian-hoan dan Kie Lek-beng sudah pergi, di dalam rumah sebesar itu hanya tinggal dia seorang diri.

Sekarang dia harus berbuat bagaimana?

Kie Lek-beng tentu mengira dia dan Wie Thian-hoan bersekongkol dan dia pasti tahu di mana keberadaan Wie Thian-hoan, dia pasti bisa mencari Wie Thian-hoan kembali.

Tapi Kie Lek-beng tidak tahu bahwa Wie Thian-hoan pun tidak tahu namanya, baru melalui Kie Lek-beng, Wie Thian-hoan bisa tahu, sekarang ke mana dia harus mencari Wie Thian-hoan?

Hati Shangguan Hui-hong terasa bimbang, dia hanya bisa tertawa masam.

Memang di ibu kota ada anak buah ayahnya, dua hari yang lalu pun dari orang ini bisa mengetahui keberadaan Wie Thian-hoan.

Tapi sekarang ini Wie Thian-hoan sudah pergi secara tiba-tiba, ini di luar perhitungannya, Shangguan Hui-hong belum sempat menyuruh seseorang untuk mengikutinya.

Walaupun dia bisa langsung menyuruh orang mengikutinya, ini pun entah kapan bisa bertemu dengan Wie Thian-hoan lagi, dan jika sudah menemukan Wie Thian-hoan apakah dia mau mengikutinya kembali?

Apalagi sekarang ada sandera penting yang harus dia jaga mana bisa dia pergi dengan tenang?

Walaupun mengalami banyak kesulitan, dia tetap harus mencari Wie Thian-hoan lebih cepat lebih baik "Di ibu kota dia tidak mempunyai teman, tidak mungkin dia pergi ke kuil di Cu-san, satu-satunya tempat yang mempunyai hubungan dengannya hanya kantor Sin-hoan Piaukok yaitu dengan Tong Hwie-yan mungkin dia memutuskan untuk pergi meminta bantuannya"

Walaupun dia tidak menemukan Wie Thian-hoan dia masih bisa meminta tolong pada Tong Hwie-yan menjadi perantara untuk berdagang dengan Bok Ci-giauw.

Setelah dia mengambil keputusan ini, kemudian dia membakar sebuah dupa Dupa ini terbuat dari wewangian yang berasal dari Seng-su-hai, wangi itu bisa menyebar hingga jarak setengah li.

Tak lama kemudian, sudah ada orang yang berjalan ke hadapan Shangguan Hui-hong, orang itu adalah pak kusir yang mengantar Wie Thian-hoan ke rumah ini, sejak tadi dia selalu berada di luar untuk berjaga-jaga.

"Nona, ada pesan apa?"

"Kie Lek-beng sudah pergi begitu saja dengan Wie Thian-hoan, apakah kau sudah melihatnya?"

Lo Ong mengangguk dan berkata.

"Yang satu pergi terlebih dulu yang lain menyusul kemudian, tapi arah mereka tidak sama, gerakan mereka terlalu cepat, aku sudah mengejar mereka berdua, tetapi keduanya tidak terkejar."

"Kemana-arah perginya Wie Thian-hoan?"

"Ke arah barat laut."

Piau-hang letaknya di sana.

"Nona, apakah ada hal yang bisa kulakukan?"

Jawab Shangguan Hui-hong.

"Ada satu hal yang harus kau lakukan, aku ingin kau menjaga sandera ini."

"Apakah dia adalah Bok Siauya?"

"Benar, Siauya ini sangat berguna untuk Kie Lek-beng dan Wie Thian-hoan, dia benar-benar benar-benar barang berharga."

"Nona, sepertinya aku tidak dapat melakukan tugas ini, Kie Lek-beng bisa datang ke sini, sepertinya kabar sudah menyebar dengan cepat, bila kabar ini sudah tersebar pasti akan banyak orang datang ke sini."

Ilmu silat Lo Ong lumayan bagus, tetapi untuk menghadapi orang yang datang atas perintah oleh Bok Ci-giauw pasti sangat sulit menghadapinya. Kata Shangguan Hui-hong.

"Paman Ong, kau tidak perlu khawatir. Pertama karena sandera ada di sini, kecuali Kie Lek-beng hanya suami istri Ketua Pek-toh-san yang tahu, Bok Ci-giauw pun belum tentu tahu."

"Mengapa?"

Tanya Lo Ong.

"Kie Lek-beng ingin menangkap Wie Thian-hoan untuk ditukarkan dengan putrinya yang menjadi sandera Pek-toh-san, Ketua Pek-toh-san pun tidak tahu bahwa putra Bok Ci-giauw sudah menjadi sandera Wie Thian-hoan, terakhir mereka tahu setelah Kang Hiat-kun jatuh ke tangan mereka, sewaktu Kie Lek-beng ke sini adalah saat Kang Hiat-kun sedang berunding dengan mereka!"

Kata Lo Ong "Mereka sudah tahu, pasti mereka akan memberi tahu Bok Ci-giauw."

Kata Shangguan Hui-hong.

"Sebelum Kie Lek-beng kembali ke tempat mereka, mereka tidak akan memberitahu, tapi setelah Kie Lek-beng kembali, dengan adat yang dimiliki Kie Lek-beng dia akan menbalas dengan sekuat tenaga kepada mereka. Apa yang sudah terjadi di sini, dia tidak akan memberitahu kepada mereka."

Kata Lo Ong "Bagaimana Nona tahu bila Ketua Pek-toh-san tidak akan memberitahu kepada Bok Ci-giauw?"

Jawab Shangguan Hui-hong sambil tertawa.

"Karena dia ingin menjilat Bok Ci-giauw!"

"Mengapa mereka ingin menjilat Bok Ci-giauw? Oh ya, benar, aku sudah mengerti sekarang!"

Kata Lo Ong lagi.

"Dia ingin dengan kekuatan sendiri mencari purta Bok Ci-giauw, baru dia bisa mendapatkan jasa yang besar, bila dia sudah memberitahu kepada Bok Ci-giauw. Orang-orang Bok Ci-giauw akan segera mencari dan menolong putranya. Jasa Ketua Pek-toh-san tidak akan berarti."

"Tapi Nona, kapan Nona akan kembali lagi ke sini? Bila terlalu lama, orang-orang Bok Ci-giauw akan segera tahu, dan Kie Lek-beng pun belum tentu bisa membunuh suami istri Pek-toh-san, putri Kie Lek-beng masih berada di tangan mereka bila Kie Lek-beng tidak bisa membunuh sepasang suami istri itu, dia akan datang kemari untuk mencari seseorang."

Kata Shangguan Hui-hong.

"Kata-katamu benar, karena itu aku akan mempersiapkan semuanya"

Dia mengeluarkan sebungkus wewangian, dia mengambil segenggam kemudian menaruh di tempat untuk membakar dupa lalu berkata.

"Bakarlah dupa ini, siapa yang datang walaupun dia adalah Ketua Pek-toh-san, dia akan jatuh pingsan, sebutir obat ini kau boleh masukan di dalam mulutmu, kau tidak akan terpengaruh oleh wewangian ini. Terakhir, kau masih mempunyai seorang sandera, kau boleh memakai sandera ini untuk mengancam mereka."

Akhirnya Lo Ong merasa tenang kemudian berkata.

"Nona rencanamu sangat sempurna. Hamba akan mengikuti rencana ini."

Mereka mengira persiapan ini lebih dari cukup, tapi ada hal yang terjadi di luar dugaan mereka.

Hiat-kun pingsan lebih lama, tapi akhirnya sadar juga Begitu matanya terbuka dia melihat wajah seseorang yang sangat dia benci.

Yaitu wajah U-bun Hoo.

Wajah U-bun Hoo sebenarmya tidak terlalu jelek, malah boleh dikatakan lumayan tampan tapi begitu Hiat-kun melihatnya seperti melihat seekor katak yang buruk rupa.

Si katak sedang memandangnya sambil tertawa sepasang matanya seperti ingin menempel di wajah Hiat-kun.

Hiat-kun sangat ingin meninjunya, tetapi saat ini untuk berdiri pun dia tidak mampu.

"Kau mau apa?"

Tanya Hiat-kun dengan suara gemetar.

"Aku juga ingin bertanya kepadamu kau sendiri mau apa?"

Suara U-bun Hoo terdengar sangat ramah. U-bun Hoo berkata lagi.

"Aku tahu bahwa kau melarikan diri dari suamimu, suamimu Hie Tiong-gwee sekarang ini berada di ibu kota, apakah kau mau aku mengantarkanmu kesana? Karena kau sudah meminum Shu Cu San milik kami, kau tidak memiliki ilmu silat sedikit pun,"

Hiat-kun tidak tahan diatur seperti itu, katanya.

"Bunuh saja diriku!"

Jawab U-bun Hoo sambil tertawa.

"Kalau begitu kau tidak mau kembali lagi kepada Hie Tiong-gwee, lebih baik ikut denganku, aku tidak peduli kau sudah pernah menikah. Aku akan menikah denganmu dengan menjalankan pernikahan adat."

"Tidak tahu malu!"

Hiat-kun tidak mempunyai tenaga lagi untuk memukul U-bun Hoo, dia meludah ke atas wajah U-bun Hoo. U-bun Hoo menjadi pucat karena sangat marah, dia membersihkan air ludah itu dan berkata.

"Aku bicara baik-baik, kau tidak mau dengar! Aku beri tahu kepadamu, jangan kau kira ada Wie Thian-hoan yang menjadi pelindungmu kau bisa berbuat seenaknya. Aku beritahu padamu Wie Thian-hoan pun akan mati, kau mau atau tidak mau menikah denganku, kau tetap tidak bisa lari dari tanganku!"

Matanya bersorot penuh nafsu, dia mulai bergerak.

"Dasar katak buruk rupa! Tidak tahu malu!"

Hiat-kun meludah lagi. U-bun Hoo sangat marah dan berkata.

"Kau bilang aku katak butuk rupa, baiklah karak butuk rupa ini akan memakan daging angsa, suruh Wie Thian-hoan ke sini!"

Sewaktu dia ingin menyobek baju Hiat-kun, tiba-tiba terdengar ada orang yang tertawa dingin. Kata orang itu.

"Yang bisa menolong orang ini, belum tentu Wie Thian-hoan!"

Suara ini sangat dikenal oleh U-bun Hoo.

Karena mengenali suara ini, dia sangat terkejut hingga tidak jadi mengeluarkan serangan.

Dia menolehkan kepala untuk melihat, dia hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, ternyata orang itu adalah Kie Lek-beng.

Dengan suara gemetar dia bertanya.

"Paman Kie, apakah kau menginginkan gadis ini juga?"

Kie Lek-beng marah dan menjawab.

"Kentut kau! Yang kumau adalah dirimu!"

Sekali mencengkram dia sudah memegang bahu U-bun Hoo, sangkin takutnya U-bun Hoo tidak berani bergerak Sekarang Hiat-kun sudah mempunyai sedikit tenaga, dia merangkak untuk berdiri dan melihat Kie Lek-beng dia sangat terkejut.

"Aku adalah Susiok Wie Thian-hoan,"

Kata Kie Lek-beng.

"Aku bisa menolongmu keluar dari sini tapi kau harus menyetujui satu syaratku, sementara ini kau jangan bertemu dulu dengan Wie Thian-hoan, setelah beberapa hari kau boleh mencarinya, apakah kau setuju?"

Hiat-kun seperti mengerti apa yang diminta oleh Kie Lek-beng, dia pun berkata.

"Tuan Kie, aku berharap Wie Thian-hoan bisa berkumpul kembali dengan putrimu, bila selamanya tidak bertemu dengan dia pun aku rela melakukannya."

U-bun Hoo sangat terkejut hingga terbengong-bengong, dia baru tersadar dan memanggil.

"Ayah, Ibu!"

Seperti anak 3 tahun yang baru mulai belajar bicara saja gayanya. Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Kau tidak perlu memanggil ayah ibumu, biar aku yang mencari mereka."

Ketua Pek-toh-san, U-bun Lui dan istrinya Bok Hoo-hoo ketika mendengar teriakan U-bun Hoo langsung datang, melihat keadaan yang terjadi di sana mereka seolah-olah tidak percaya.

Tapi mereka tidak seterkejut seperti putra mereka.

Ketua Pek-toh-san itu masih bisa tertawa-tawa dan berkata.

"Tuan Kie, kau jangan bercanda!"

Mata Kie Lek-beng melotot dan berkata.

"Siapa yang sedang bercanda dengan kalian!"

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Kami menyuruhmu menangkap Wie Thian-hoan, mengapa kau malah menangkap putraku?"

Kata Kie Lek-beng.

"Wie Thian-hoan adalah Sutitku, apakah kalian tidak tahu itu?"

Kata Bok Hoo-hoo.

"Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh akan menikahi adikku, hubungan anakku denganmu memang tidak sedekat Wie Thian-hoan denganmu tapi putrimu lebih dekat hubungannya denganmu daripada keponakanmu!"

Jawab Kie Lek-beng.

"Aku hanya menuruti keinginanmu, kalian menangkap putriku, tentu aku juga boleh menangkap putramu, kalian tidak mau melepaskan putriku, aku pun tidak akan melepaskan putra kalian."

Kata U-bun hujin.

"Tapi ada satu hal yang harus kuberitahu kepadamu, aku sudah menanamkan Kim-san-cong, bila tidak mendapatkan obat penawarnya, tahun depan pun kau akan mati!"

Dengan dingin Kie Lek-beng berkata.

"Tapi sekarang ini aku bisa membunuh putramu!"

Ketua Pek-toh-san membentaknya.

"Kau berani melukai putramu, aku akan membunuh putrimu!"

Kata Kie Lek-beng.

"Kita sama-sama tidak menginginkan darah daging sendiri mati di tangan orang lain, mengapa tidak melakukan pertukaran yang adil?"

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Itu tidak bisa!"

Wajah Kie Lek-beng langsung berubah.

"Mengapa tidak bisa?"

Jawab U-bun hujin.

"Karena ini bukan pertukaran yang adil, kau harus tahu putrimu datang ke sini dengan sukarela, kami sama sekali tidak memaksanya!"

"Dia masih muda, dia sudah ditipu oleh kalian!"

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Disebut menipu pun tidak apa-apa, dikatakan tidak menipu pun tidak apa-apa, bila kau menginginkan putrimu, bawalah Wie Thian-hoan untuk ditukar!"

Bentak Kie Lek-beng.

"Bila kau tidak mau melepaskan putriku, aku pun tidak akan sungkan-sungkan lagi pada putramu!"

Kata Ketua Pek-toh-san.

"Terserah padamu, kau memperlakukan putraku seperti apa aku juga akan memperlakukan putrimu seperti itu."

Ketika mereka bercakap-cakap di lantai bawah, di loteng atas telah muncul dua orang dengan tiba-tiba.

Yang satu adalah pelayan tua yang menjaga pintu dan yang satunya lagi adalah putri Kie Lek-beng.

Pelayan tua itu mencengkram Kie Su-giok dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain menempel di balik tubuh Kie Su-giok, sepertinya Su-giok pun sudah dipaksa minum Su-kut-san, karena pada saat dicengkram oleh pelayan itu, dia sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk melawan.

Kata pelayan itu.

"Tuan Kie, aku hanya seorang pelayan, ilmu silatku tidak ada seperseribu dari dirimu, bila ingin membuat putrimu menjadi seorang idiot, aku masih sanggup, bila tidak mempercayainya kau boleh lihat!"

Sekali dia mengayuhkan telapak tangannya, kayu yang berada di depannya sudah dipukul hingga hancur oleh tenaga telapak tangannya, dengan berbarengan beberapa balok hancur menjadi potongan kecil-kecil, ada juga yang menjadi bubuk kayu.

Pelayan itu tertawa dingin dan berkata.

"Tuan Kie, bila kau berani berbuat tidak sopan kepada Siauyaku, aku akan langsung mengetatkan jalan darah putrimu. Kau dengar dengan jelas, hanya digetarkan, dia tidak akan mati hanya akan terluka saja."

Menggetarkan jalan darah memang masih bisa hidup tapi orang itu akan cacat seumur hidupnya.

Melihat ilmu silat pelayan itu, Kie Lek-beng yakin dia tidak berbohong, walaupun Kie Lek-beng adalah seorang yang pemberani, dia pun masih merasa gemetar.

Kie Su-giok seperti tampak kebingungan, sekarang dia baru bisa berteriak.

"Apa yang sudah terjadi?"

U-bun hujin naik ke atas loteng dan berkata kepadanya.

"Ayahmu tidak percaya bahwa kau sudah menjadi anak angkatku, dia mengira kau sudah diculik oleh kami, sekarang dia menangkap putraku dan ingin ditukar denganmu, kau katakan kepada ayahmu, bahwa kau sendiri yang mau datang ke sini!"

Kie Su-giok seperti boneka yang dimainkan, dia hanya mengangguk, Kie Lek-beng berteriak.

"Anakku, kau sudah ditipu olehnya, ibu angkatmu bukan orang baik-baik"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Siapa yang jahat, siapa yang baik. anak Giok pun akan tahu. Anakku, apakah aku tidak baik padamu?"

Dia tertawa genit, Kie Lek-beng malah merasa bulu kuduknya merinding.

"Perbuatan ibu angkat tadi yang kau sebut bukan orang baik? Lalu kau baru bisa disebut orang baik? Apakah benar?"

"Tadi aku memang berkata seperi itu tapi..."

"Kalau begitu tidak ada tapi-tapian lagi, dia bukan orang baik dia juga bukan ayahku! Ibu angkat, aku percaya padamu, aku ingat ibu angkat pernah mengatakan bahwa ibu angkat tidak tega meninggalkan aku, kalau begitu jangan paksa aku untuk mengikutinya, bila dia terus memaksaku lebih baik akumati!"

Kata-katanya seperti orang yang kehilangan ingatan, tapi sepertinya ada hal yang ingin dia ungkapkan, Kie Lek-beng tahu putrinya marah karena dia sudah merugikan orang lain dan mengambil keuntungan untuk dirinya, dia tidak boleh merugikan Wie Thian-hoan.

U-bun hujin pun mengerti, dengan sengaja dia memakai kata-kata ini untuk melindungi Wie Thian-hoan, supaya Su-giok tidak menyetujui, secara tidak langsung tidak akan jadi ditukar dengannya.

Wajah Kie Lek-beng memerah, dia memelototi U-bun hujin matanya sudah menyimpan kobaran api.

U-bun hujin takut dia merebut putrinya dengan paksa dia juga takut jika Su-giok akan bunuh diri.

Bila salah satu melakukan hal seperti itu, maka rencananya akan gagal.

Pikir U-bun hujin, 'Bila gadis ini masih ada di tanganku, Kie Lek-beng pasti tidak akan berani melukai putraku, aku akan mengulur waktu,"

Dia pura-pura meneteskan air mata dan dengan lembut dia membelai rambut Su-giok, berkata.

"Anak Giok, kau tidak tega meninggalkanku, begitu juga denganku kau tenang saja tinggal di sini, ada ibu angkat yang melindungmu! Siapa pun tidak bisa merebutmu dariku!"

Kie Lek-beng berteriak histeris.

"Anakku, anakku!"

Putrinya kemudian dibawa masuk lagi oleh pelayan tadi. U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Tuan Kie, kau sendiri sudah dengar, putrimu tidak mau ikut denganmu, aku nasihati padamu, lebih baik dengarkan kata-kata putrimu, lepaskan putraku!"

Kie Lek-beng marah dan berkata.

"Benar-benar tidak tahu malu, kapan putriku berbicara seperti itu?"

Kata U-bun hujin.

"Dia marah padamu, kau merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri, kau menangkap putraku untuk dijadikan sandera itu akan merugikan orang lain."

Kie Lek-beng tertawa dingin.

"Cara-caramu lebih memalukan, itu baru disebut merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri."

Kata U-bun hujin.

"Putrimu rela tinggal denganku di sini, bukan aku yang menjadikan dirinya sebagai sandera, kata-katamu harus ditarik kembali!"

Kie Lek-beng sangat marah dan berkata.

"Aku tidak ingin adu mulut dengan seorang siluman, aku hanya ingin tahu bahwa putramu ada di tanganku! Kau tidak melepaskan putriku, aku pun tidak akan melepaskan putramu!"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Kata-katamu juga adalah kata-kataku, kita masing-masing mempertahankan pendapat."

Kie Lek-beng tahu, di sini adalah markas musuh, jika dia bertahan di sini itu bukanlah hal yang menguntungkan untuk dirinya tapi kecuali dengan cara itu tidak ada cara lain lagi.

Kie Su-giok dan U-bun Hoo sama-sama menjadi sandera mereka, tapi masih ada sandera ketiga, dia adalah kunci dari semuanya.

Putra panglima Bok Ci-giauw, yaitu Bok Ling-ku.

Lo Ong sedang menjaga sanderanya.

Lo Ong adalah anak buah dari ayah Shangguan Hui-hong.

Ilmu silat Lo Ong lumayan bagus, sewaktu Shangguan Hui-hong pergi dia meninggalkan sebungkus wewangian yang bernama Pek-jit-cui (Seratus Hari Mabuk), wewangian itu sangat dahsyat efeknya.

Sandera berada di ruang bawah tanah, di sana tidak dipasang perangkap apa pun.

Walaupun rencana sudah disusun dengan sangat sempuma, tapi hati Lo Ong masih merasa tegang.

Tiba-tiba dia mendengar ada seseorang yang datang.

Lo Ong bukan termasuk pesilat tangguh, tapi mempunyai keahliannya mendengar dengan cara menempelkan telinga ke tanah, dia adalah ahli nomor satu dalam hal itu.

Dia mendengar ada 2 orang yang datang dari arah yang berlawanan, sekarang sudah memasuki rumah ini.

Ilmu meringankan tubuh mereka tidak begitu tinggi, tidak bisa menahan nafas dalam waktu panjang.

Lampu yang berada di pinggir pun sudah dipadamkan, walaupun gelap tapi nafas mereka begitu jelas terdengar.

Mereka pun merasa bahwa dalam rumah itu ada orang lain mereka langsung berteriak.

"Siapa?"

Kemudian mereka tertawa, yang satu bertanya.

"Apakah kau adalah Thiat Goan-li?"

Yang lain berkata.

"Aku kira siapa, ternyata Eng-jiauw-ong ( Raja Cakar Elang)!"

Eng-jiauw-ong dan Thiat Goan-li adalah orang yang terkenal di dunia hitam, Lao Wang mengetahui identitas mereka.

Nama asli Eng-jiauw-ong adalah Ong Tai-pheng, menurut cerita orang-orang ilmu silat Eng-jiauw-ong sudah bisa mencakar batu hingga hancur.

Telapak tangan besinya lebih kuat daripada pisau baja, tapi sudah 10 tahun yang lalu dia menghilang dari dunia persilatan.

Nama asli Thiat Goan-li adalah Liu Li-hong, tongkatnya seberat 72 kati, batu sebesar karung beras kalau sekali pukul oleh tongkatnya langsung hancur.

Begitu mengetahui 2 orang ini sudah memasuki rumah, Lo Ong sangat terkejut walaupun ilmu meringankan tubuh mereka bukan nomor satu, tapi ilmu silat mereka termasuk hebat, mereka terkenal di dunia persilatan, bila diurutkan nama mereka masih termasuk dalam 30 besar pesilat tangguh Kata Thiat Goan-li.

"Eng-jiauw-ong, sudah 10 tahun lebih kita tidak bertemu, tidak disangka kita bisa bertemu di sini, ada apa gerangan kau bisa datang ke sini?"

Kata Eng-jiauw-ong.

"Dengan orang kalangan sendiri tidak perlu berbohong, kita datang dengan tujuan yang sama."

Kata Thiat Goan-li.

"Benar, dulu kita melakukan dagang gabungan, bila kali ini pun seperti itu, bagaimana?"

Kata Eng-jiauw-ong "Dagang kali ini, aku hanya mendapatkan sedikit keuntungan, karena barang yang akan kubeli sudah ada pemiliknya!"

Kata Thiat Goan-li.

"Aku pun demikian, aku mendapatkan sedikit keuntungan."

Lo Ong mendengar pembicaraan mereka di bawah, dia sangat terkejut dalam hati berpikir.

"Mendengar pembicaraan mereka, mereka mempunyai majikan, siapakah majikan mereka?"

Teka-teki dengan cepat dapat terjawab. Kata Eng-jiauw-ong.

"Kakak, kau sudah dititipi oleh siapa?"

Kata Thiat Goan-li dengan tertawa kecut.

"Tadi sudah kukatakan bahwa aku diperintahkan oleh majikanku untuk mencari tahu, tapi aku ingin mencari sedikit keuntungan."

Kata Eng-jiauw-ong.

"Sebenarnya kau bisa menjadi seorang ketua perkumpulan, mengapa..."

Sepertinya dia malu untuk meneruskannya. Tapi Thiat Goan-li malah bercerita sendiri.

"Mengapa aku tidak menjadi ketua tapi menjadi pelayan orang lain, aku tidak merasa ini memalukan, karena majikanku adalah seorang yang dapat kujadikan panutan, lebih baik aku jadi pelayan daripada menjadi ketua perkumpulan."

Tanya Eng-jiauw-ong.

"Siapa majikanmu? Apakah aku boleh tahu?"

"Kau bilang di belakangmu masih ada pembeli lagi, siapakah pembelinya?"

"Pembelinya adalah majikanku."

Jawab Eng-jiauw-ong. Dia melanjutkan lagi.

"Li Toako, apakah kau tidak merasa bahwa semua ini sangat aneh?"

Kata Thiat Goan-li.

"Benar, aku pun merasa seperti itu, Kakak maksudku adalah..."

"Kelihatannya kita harus bekerja sama, bagaimana cara menjelaskannya?"

Kata Eng-jiauw-ong.

"Baik, silakan Kakak bicara terlebih dulu!"

Kata Thiat Goan-li.

"Aku berada di ibu kota sudah 10 tahun lebih, coba kau tebak apa pekerjaanku?"

"Bukankah kau berdagang di golongan hitam?"

Eng-jiauw-ong tertawa dan berkata.

"Malah sebaliknya aku bekerja di kantor Sin-hoan Piaukok menjadi pengantar barang, tapi orang-orang di Piau-hang tidak ada yang tahu identitasku."

Thiat Goan-li tertawa dan berkata.

"Ini sangat aneh, seorang perampok besar yang sudah melanglang buana di dunia persilatan bisa menjadi pekerja Piau-hang, apakah berita ini benar atau palsu."

Kata Thiat Goan-li.

"Aku dengar kau sudah meninggalkan dunia hitam, dan menjadi anak buah Bok Ci-giauw."

"Kau mendapat berita ini dari mana?' "Panglima Bok sendiri yang mengatakan pada majikanku, tapi kau tenang saja tidak ada yang tahu mengenai masalah ini. Jujur bicara, bila bukan kau sendiri yang mengatakannya, aku masih belum percaya tentang kabar ini."

Tanya Eng-jiauw-ong.

"Apakah kau mengira aku tidak bisa menjadi seorang pejabat?"

Jawab Thiat Goan-li.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya heran bagaimana kau bisa betah dengan segala peraturan pemerintah?"

"Sekarang aku pun sudah tidak lagi di pemerintahan."

Kata Thiat Goan-li.

"Kalau begitu kabar ini palsu?"

"Separuh benar, separuh lagi salah"

"Mengapa bisa begitu?"

"Aku bekerja untuk Bok Ci-giauw tidak secara terang-terangan, dia menyuruhku bekerja di kantor Sin-hoan Piaukok dengan tujuan, yang pertama mengawasi Tong Hwie-yan, kedua karena kantor Sin-hoan Piaukok sangat besar, bisa mendapat kabar yang tidak menguntungkan bagi kerajaan sangat cepat."

Kata Thiat Goan-li sambil tertawa.

"Kau benar di kantor Sin-hoan Piaukok ada beberapa orang pekerja yang sudah dibeli oleh majikanku."

Kata Eng-jiauw-ong.

"Aku tebak majikanmu berasal dari golongan hitam yaitu Ketua Pek-toh-san, U-bun Lui."

Thiat Goan-li berkata.

"Benar, Bok Ci-giauw juga di mata orang dia berada di golongan putih tapi sebenarnya Bok Ci-giauw adalah orang dari golongan hitam!"

Eng-jiauw-ong tertawa dan berkata.

"Majikan kita memang seperti itu, baiklah kita kembali ke topik semula, apakah kau kemari untuk mencari Bok Siauya?"

Jawab Thiat Goan-li.

"Boleh dikatakan seperti itu, tapi masalahnya sebenarnya begitu berliku-liku, Ketua U-bun sebenarnya menyuruh Kie Lek-beng menangkap Wie Thian-hoan, apakah Bok Siauya ada disini?"

Dia belum tahu dengan pasti dia hanya menebak hilangnya Bok Siauya ada hubungan dengan Wie Thian-hoan. Tanya Eng-jiauw-ong.

"Mengapa majikanmu bisa tahu bahwa Wie Thian-hoan ada di sini?"

Jawab Thiat Goan-li.

"Dua hari yang lalu putri Hie Tiong-gwee dan putri Coh Kim-sung naik kereta milik Piau-hang, hal ini seperti yang dikatakan oleh orang-orang Piau-hang kepada Ketua U-bun. Toako, kau yang sering berada di Piau-hang, pasti kau lebih tahu daripada aku."

Eng-jiauw-ong mengangguk dan berkata.

"Sepertinya Wie Thian-hoan tidak naik kereta itu kembali ke ibu kota."

Kata Thiat Goan-li.

"Ketua U-bun sudah memperhitungkan bila Wie Thian-hoan membantu mereka ketika berada di luar ibu kota, dia tidak akan naik kereta itu untuk kembali ke ibu kota, karena itu beliau menyuruh orang memperhatikan kereta yang mereka naiki juga memperhatikan kereta tua dan usang, dari sinilah beliau tahu keberadaan Wie Thian-hoan"

Kata Eng-jiauw-ong.

"Majikanmu lebih pintar daripada aku, aku hanya memperhatikan kereta milik kator Piau, tapi di kereta itu hanya ada seorang gadis yang tidak jelas identitasnya, akhirnya gadis itu pulang ke rumah ini dan aku mengikutinya."

"Kau sudah mendapatkan kabar ini, apakah kau sudah memberitahukannya kepada panglima Bok?"

"Bila sudah kuberitahu, aku tidak akan datang seorang diri ke tempat ini."

Jawab Eng-jiauw-ong.

"Apakah kau takut jerih payahmu akan terbagi?"

"Tidak juga, sejak tadi sudah kukatakan, aku hanya mendapat sedikit bagian, tapi bila berita ini sudah pasti, baru akan kuberitahu kepada Panglima Bok"

Kata Thiat Goan-li.

"Kabar ini sangat berharga, semakin sedikit orang yang tahu maka akan semakin baik"

Lo Ong mendengar percakapan mereka sekarang dia baru mengerti.

Ketua Pek-toh-san tidak begitu mempercayai Kie Lek-beng maka dia diam-diam menyuruh orang untuk memata-matainya.

Dia takut Kie Lek-beng yang sudah mendapatkan sandera tidak akan memberitahukan kepadanya.

Pada saat mereka saling menukar informasi mereka tetap tidak berani memastikan sandera masih ada di sana.

Kata Eng-jiauw-ong.

"Untung aku bukan orang yang serakah, memang Wie Thian-hoan tadi berada di sini tapi sekarang sudah pergi."

"Mengapa dia pergi dari sini?"

Tanya Thiat Goan-li "Orang yang keluar dari sini ada 3 orang, tapi mereka masing-masing ke arah yang berlainan, orang yang petama kali keluar adalah Wie Thian-hoan, dan yang terakhir adalah gadis itu.

Ilmu meringankan tubuh gadis itu sangat tinggi, untung aku cepat-cepat sembunyi, dia satu komplotan dengan Wie Thian-hoan."

"Toako, ilmu cakar elangmu cukup lihai, mengapa kau begitu takut?"

Kata Thiat Goan-li. Jawab Eng-jiauw-ong.

"Kau belum tahu bahwa Wie Thian-hoan sangat lihai, Tuan Kiam-ji pun tidak mampu melawannya, Hie Tiong-gwee pun pernah bertarung dengannya, dia menganggap Hie Tiong-gwee seperti anak kecil yang dengan mudah dipermainkannya, mungkin ilmunya sebanding dengan ilmu silat majikanmu, aku hanya setaraf dengan Hie Tiong-gwee, mana mungkin bisa menandingi Wie Thian-hoan."

Lo Ong tampak berpikir, 'Aku dengar Wie Thian-hoan membuat keributan di rumah Hie, yang membantu Hie Tiong-gwee dalam menghadapi Wie Thian-hoan adalah Tuan Kiam-ta.

Tuan Kiam-ji tidak ada di sana, mengapa sekarang mereka menghubungkannya dengan Tuan Kiam-ji?"

Tuan Kiam-ta dan Tuan Kiam-ji, keduanya mempunyai hubungan dengan Wie Thian-hoan, tapi semuanya ini tidak ada hubungan dengannya karena itu Lo Ong tidak mempunyai waktu untuk berpikir lagi.

Eng-jiauw-ong berkata lagi.

"Aku tidak dapat mengalahkan Wie Thian-hoan, gadis yang belum diketahui identitasnya pun belum tentu bisa kukalahkan, melihat ilmu meringankan tubuhnya saja, aku sudah mengetahui kemampuannya, mungkin aku hanya bisa menerima beberapa pukulannya saja."

Kata Thiat Goan-li.

"Kalau begitu orang yang keluar dari rumah ini kau sudah kenal, bagaimana dengan seorang lagi?"

"Aku tidak kenal dengan yang satu itu, ilmu meringankan tubuhnya sejajar dengan Wie Thian-hoan tapi kalah dengan gadis itu, siapakah dia?"

Kata Thiat Goan-li.

"Kali ini kau salah, kau hanya mengetahui ilmu silat Wie Thian-hoan sangat lihai, kau tidak tahu ada orang yang lebih hebat 10 kali lipat dari Wie Thian-hoan, sekarang dia sudah muncul di hadapanmu!"

Eng-jiauw-ong tampak terkejut dan bertanya.

"Apakah dia adalah orang yang keluar setelah Wie Thian-hoan?"

"Benar!"

Eng-jiauw-ong seperti tidak mempercayainya dan berkata.

"Wie Thian-hoan sendiri sudah termasuk pesilat nomor satu, Tuan Kiam-ta pun bukan lawannya, siapa yang mempunyai kemampuan lebih dan dia sebanyak 10 kali lipat? Kecuali Ketua Thian-san-pai, Tong Keng-thian? Tanya Thiat Goan-li.

"Apakah kau tahu tentang Kie Yan-gan?"

Jawab Eng-jiauw-ong.

"Apakah dia yang 20 tahun yang lalu adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan?"

Kata Thiat Goan-li.

"Apakah dia adalah nomor satu aku tidak tahu, aku hanya tahu bahwa di dunia persilatan hanya ada satu Kie Yan-gan."

Kata Eng-jiauw-ong.

"Kalau benar Kie Yan-gan masih hidup, usianya sudah mencapai 70 tahun lebih, dia pun bukan orang yang baru keluar itu"

"Aku beritahu padamu, orang itu adalah putra Kie Yan-gan yang bernama Kie Lek-beng, 20 tahun yang lalu katanya dia sudah dibunuh oleh 5 Bu-tong Tianglo dan itu adalah kabar bohong, sekarang ilmu silatnya sudah berada di atas ayahnya Bila diurutkan lagi, sekarang dia adalah pesilat nomor satu,"

Kata Thiat Goan-li.

"Untung tadi aku tidak masuk."

Kata Eng-jiauw-ong "Sekarang mereka bertiga sudah keluar, mungkin kita bisa mendapat hal yang kita inginkan."

Kata Eng-jiauw-ong.

"Apakah Bok Siauya masih berada disini?"

"Aku yakin mereka bertiga keluar dengan tangan kosong, aku tidak akan salah lihat."

Kata Eng-jiauw-ong.

"Aku curiga mengapa mereka bisa dengan tenang meninggalkan sandera, kalau benar Bok Siauya sudah ditangkap oleh Wie Thian-hoan, itu adalah hal yang aneh."

Kata Thiat Goan-li.

"Kie Lek-beng datang untuk menangkap Wie Thian-hoan, tapi mungkin karena dia tiba-tiba teringat bahwa dia dan Wie Thian-hoan mempunyai hubungan paman dan keponakan seperguruan, maka sengaja dia melepaskan Wie Thian-hoan, dia melepaskan Wie Thian-hoan dengan begitu dia pun tidak mendapatkan sandera."

Kata Eng-jiauw-ong.

"Gadis itu satu kelompok dengan Wie Thian-hoan, mengapa dia tidak tinggal untuk menjaga sandera?"

"Mungkin dia melihat Wie Thian-hoan pergi maka dia pun mengikutinya. Pokoknya sekarang adalah kesempatan baik, kalau kita bisa mendapatkan Bok Siauya jasa kita akan sangat besar, itu bukan hanya masalah bagi hasil saja!"

Kata Eng-jiauw-ong.

"Baiklah, kita bagi rata hasilnya dan menikmati bersama ada kesulitan kita tanggung bersama-sama ayo kita mulai mencari!"

Mereka tahu bahwa rumah ini mempunyai ruang bawah tanah, karena sulit mencari tempat yang mereka cari maka mereka mengetuk-ngetuk dinding dan mendengar suara aneh yang keluar.

Mereka belum menemukan tempat persembunyian Lo Ong, tapi walau bagaimana pun dia harus tetap waspada.

Mulut Lo Ong sudah mengulum obat yang diberikan oleh Shangguan Hui-hong dan dia mulai membakar wewangian itu.

Itu hanya terjadi sebentar, tiba-tiba Eng-jiauw-ong berteriak.

"Celaka!"

Thiat Goan-li pun berteriak.

"Cepat pergi!"

Suara ketukan di dinding sudah berhenti, tapi aneh suara langkah kaki yang berlari tidak terdengar.

Walaupun Lo Ong sudah membakar wewangian itu, tapi itu hanya dipersiapkan seadanya Kalau mereka masuk ke ruang bawah tanah, wewangian ini baru terlihat khasiatnya, Hanya berjarak 2 dinding dan satu lapis tanah, wewangian ini masih bisa membuat 2 pesilat tangguh pingsan seketika.

Sudah lama tidak terdengar suara apa pun, Lo Ong memberanikan diri mengintip keluar, begitu dia melihat keadaan di luar 2 orang itu sudah tidak sadarkan diri.

Posisi mereka terbaring tidak sama.

Thiat Goan-li terbaring di bawah, kepalanya terluka dan masih mengeluarkan darah, keadaan Eng-jiauw-ong lebih aneh lagi dia seperti menggantung di dinding seberang.

Lo Ong melihat dengan lama, baru berani keluar dari pintu rahasia, Lo Ong takut kalau mereka hanya pura-pura pingsan.

Sekarang terlihat dengan jelas, ternyata kelima jari Eng-jiauw-ong sudah masuk ke dalam dinding seperti 5 paku menancap ke tembok dan memakunya ke dinding.

Walaupun pingsan dia tidak jatuh.

Di pinggir Thiat Goan-li banyak batu bata yang hancur, dahinya pun banyak luka.

Lo ong juga pesilat, begitu melihat keadaan itu dia sudah tahu apa yang terjadi.

Shangguan Hui-hong memberi wewangian yang dinamakan Pek-jit-cui, mempunyai khasiat yang sangat dahsyat, begitu tahu wewangian ini, keadaan mereka seperti orang mabuk, bisa kehilangan kontrol diri dan rasa terkejut, mereka akan menjadi gila Terbayang oleh Lo Ong sewaktu keadaan mereka seperti lalat tanpa kepala.

Dalam kegilaan mereka mencari jalan keluar, mereka menabrak sana-sini, walaupun begitu mereka tetap tidak melupakan ilmu silat meraka Sewaktu hampir pingsan mereka mengeluarkan seluruh jurus yang sudah mereka pelajari.

Eng-jiauw-ong menempel di dinding karena antara sadar dan tidak sadar dia mengeluarkan jurus cakar elangnya Thiat Goan-li memukul batu bata di sana-sini hingga hancur dan kepalanya terkena tongkatnya sendin, kemudian terluka Melihat keadaan itu hati Lo Ong berdebar-debar, dalam hati dia berpikir.

"Bila tidak ada Pek-jit-cui, tubuhku akan seperti dinding itu, dicakar oleh Eng-jiauw-ong."

Yang membuatnya terkejut adalah wewangian ini dalam jarak 2 dinding masih bisa membuat 2 pesilat tangguh pingsan.

Karena takut akan ada orang datang, Lo Ong menyembunyikan 2 orang ini ke ruang bawah tanah kemudian membersihkan darah yang menetes ke lantai.

Lo Ong sudah tahu dahsyatnya wewangian ini, dia tetap berharap seperti tadi, berharap Shangguan Hui-hong segera pulang, tapi dia masih tetap waspada, setengah jam kemudian terdengar suara lagi, suara ini berasal dari pintu rahasia yang terbuka.

Entah sejak kapan orang itu masuk, begitu dia membuka pintu rahasia Lo Ong baru mendengar suara, artinya orang itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.

Semua tempat rahasia di rumah ini sudah dipasangi jebakan oleh Shangguan Hui-hong, Lo Ong pun tidak mengetahui seluruhnya.

Apakah yang datang adalah Shangguan Hui-hong?

Lao Wang tidak berpikir lagi, dengan kegirangan dia berteriak.

"Toa Siocia, Anda sudah pulang!"

Tapi semua di luar dugaannya. Orang yang muncul di hadapannya adalah seorang perempuan setengah baya yang cantik dan genit. Perempuan itu tertawa dan berkata.

"Maaf, karena tidak ada yang membuka pintu, terpaksa aku masuk sendiri, aku ingin bertemu dengan nonamu, tapi dia tidak ada."

Setelah bicara dia menghela nafas dan berkata.

"Sangat wangi, apakah ini adalah wewangian milik nonamu? Dia memang sangat bisa menikmati hidup."

Lo Ong sangat terkejut dan membentak.

"Siapa kau!"

Perempuan cantik itu menjawab.

"Dari tadi sudah kukatakan aku kesini untuk mencari nonamu."

"Ada apa mencari nona?"

Dalam hari dia berkata, 'Mengapa Nona tidak memberitahuku?' Kata perempuan itu.

"Aku datang untuk berunding dengannya."

"Berunding tentang masalah apa?"

"Kau terlalu banyak tanya, apakah kau mewakili dia untuk mengambil keputusan?"

"Mengambil keputusan apa?"

"Bila kau tidak bisa mengambil keputusan, aku akan meminjamnya darimu, bila tidak bisa aku akan mengambilnya sendiri, yang pasti memang harus kuambil sendiri!"

"Kau mau apa?"

Tanya Lo Ong..

"Nonamu menyuruhmu menjaga apa?"

Tidak perlu bertanya lagi, yang akan dia ambil adalah sandera yang dijaga oleh Lo Ong.

Lo Ong mengeluarkan kedua telapak tangannya, mengipaskan wewangian ini ke wajah perempuan cantik itu, Lo Ong mengira dia akan pingsan.

Perempuan itu malah semakin keras tertawanya, tetapi dia tidak pingsan, malah menarik nafas dalam-dalam.

Tadinya Lo Ong ingin berkata.

"Robohlah!"

Tapi lawannya tetap berdiri di hadapannya dia tidak jadi mengatakan kalimat itu Ilmu silatnya dengan ilmu silat Shangguan Hui-hong masih berbeda jauh, tapi dia pun bisa disebut pesilat tangguh, dia pikir belum tentu dia bisa dikalahkan oleh perempuan itu Dengan malas-malasan perempuan itu menarik nafas dan berkata.

"Ini adalah wewangian Pek-jit-cui, benar-benar tidak kalah dengan arak yang bagus, membuat merasa nyaman, aku tidak akan pergi dari sini walaupun kau mengusirku!"

Lo Ong mencabut pisaunya dan berteriak.

"Siluman perempuan, awas kau!"

Baru saja Lo ong ingin mengayunkan pisaunya, dia sudah merasakan sekujur tubuhnya lemas. Pisaunya pun terjatuh dari genggamannya. Perempuan itu tertawa.

"Aku sudah melihat pisaumu, pisaumu tidak aneh, tapi aku tidak suka pisaumu, tidak perlu membuangnya, pungutlah kembali!"

Lo ong tidak mempunyai tenaga untuk memungut pisaunya, dia pun sudah tidak dapat berbicara tubuhnya terus bergoyang.

Perempuan itu tidak pingsan melainkan dia sendiri yang pingsan.

Mungkin karena di mulutnya masih ada obat maka dia tidak segera pingsan.

Perempuan cantik itu tertawa dan berkata.

"Wewangian Pek-jit-cui memang mujarab, aku tidak menyangka kalau kau cepat mabuk, tamumu sendiri belum mabuk, malah yang mabuk tuan rumahnya"

Lo Ong benar-benar tidak mengerti, di dalam mulutnya ada obat tapi dia tetap bisa 'mabuk'. Perempuan itu seperti mengerti pikirannya dan tertawa.

"Kau sangat bodoh, apakah kau tidak tahu bahwa arak dan silat itu sama? Silat yang berbeda jurus bisa saling mengalahkan, arak yang bagus walau cara pembuatannya tidak sama, mereka akan saling mengalahkan. Nonamu memiliki Pek-jit-cui, maka aku memiliki Jian-jit-cui (Seribu Hari Mabuk). Jian-jit-cui milikku tidak perlu dibakar."

Sekarang Lao Wang baru mengerti, dia bertemu dengan orang yang sering menggunakan obat wewangian.

Dia menjelaskan dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti.

Tapi begitu dia mengerti, dia sudah masuk ke alam mimpi.

Kata perempuan cantik itu.

"Kau tidurlah dengan tenang! Kau tidak akan mati kau hanya mabuk, terpaksa aku mengambil barang itu sendiri."

Dia mengambil sebuah karung kain, dia memasukan Bok Ling-ku ke dalam kantung itu, dia menggendong kantung itu. Begitu dia keluar dia melihat langit, ternyata hari masih subuh.

"Bila sekarang ke sana mungkin masih keburu,"

Dia berpikir seperti itu, dia mengendong kantung itu, walaupun di dalamnya ada orang langkah kakinya seperti biasa, namun hatinya terasa berat.

Karena orang yang akan dia temui adalah orang yang dia cintai sekaligus dia benci!

Kie Lek-beng dan suami istri Pek-toh-san masih saling mempertahankan pendapat masing-masing.

Walaupun di tangan mereka masing-masing ada sandera, tapi karena Kie Lek-beng lebih menyayangi putrinya dibanding mereka yang menyayangi putra mereka, mau tidak mau dia harus menerima syarat dari mereka.

Dengan tertawa dingin U-bun hujin berkata.

"Bila kau mau menukar dengan putrimu bawa Wie Thian-hoan kemari, lepaskan putraku, kau menangkap dia pun tidak ada gunanya. Lepaskan dulu putraku kau baru bisa menangkap Wie Thian-hoan."

Dengan tegas Kie Lek-beng bertanya.

"Apakah harus ditukar dengan Wie Thian-hoan? Apakah tidak ada hal lain yang bisa kulakukan?"

Jawab U-bun hujin.

"Aku hanya menginginkan Wie Thian-hoan, bila kau menginginkan putrimu, kau harus menangkap Wie Thian-hoan untukku."

Tiba-tiba ada yang berkata dengan dingin.

"Belum tentu harus ditukar dengan Wie Thian-hoan."

Dalam keadaan biasa, Kie Lek-beng bisa melihat sekeliling dengan tajam, telinganya pun demikian, tapi saat ini dia sedang tidak enak hati, saat ada seseorang yang keluar di belakangnya, dia baru merasakannya.

Suara yang dia kenal, suara yang dia takuti karena orang ini pernah menolong nyawanya juga telah menghancurkan hidupnya.

Dia pernah mencintai Kie Lek-beng juga pernah mencelakai Kie Lek-beng.

Kie Lek-beng ingin lepas dari orang ini, tapi Kie Lek-beng tidak dapat melepaskan diri dari orang ini.

Orang itu adalah Bok Koan-koan.

Dia membalikkan kepala, dengan marah Kie Lek-beng berkata.

"Koan-koan, mau apa kau kesini?"

Bok Koan-koan tertawa dingin.

"Kau terlalu menghinaku, kau pikir aku terus mencarimu, ini adalah rumah kakakku, mengapa aku tidak boleh kemari?"

Koan-koan menaruh kantong kain itu dan berkata.

"Cici, aku datang kesini untuk mencarimu"

Kata U-bun hujin.

"Adik, aku sedang menunggu-nunggu kedatanganmu. Apa maksud dari kata-katamu tadi?"

Kata Bok Koan-koan.

"Cici, aku mau berdagang denganmu"

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Kita adalah kakak beradik, mudah untuk berunding jangan menggunakan kata-kata berdagang."

Kata Bok Koan-koan.

"Cici, aku tahu kau sudah menghabiskan banyak tenaga memaksa Kie Lek-beng menyetujui pertukaran ini. Aku tidak akan merugikan Cici!"

"Ternyata kau orang yang mewakili Kie Lek-beng untuk menukar orang!"

"Tidak, aku datang demi diriku sendiri."

U-bun hujin melihat Kie Lek-beng dan tertawa.

"Masalah ini sepertinya agak rumit, sepertinya ketiga-tiganya harus berbarengan menukarkan benda."

Kata Kie Lek-beng.

"Koan-koan, asalkan kau mau mengembalikan putriku, kau menyuruhku untuk berbuat apa pun, aku akan menyetujuinya."

U-bun hujin tertawa dan berkata.

"Adik, apakah yang kau mau menukar dengannya?"

"Dia tidak mengmginkanku, kenapa aku aku menginginkan dia?"

"Adik, kau jangan marah..."

Kata Koan-koan.

"Aku tidak marah, hal ini sepertinya tidak rumit, aku hanya ingin mengadakan pertukaran denganmu"

"Kau mau menukarkan dengan apa?"

Tanya U-bun hujin.

"Kie Su-giok"

"Ditukar dengan apa?"

"Dengan barang yang ada di dalam kantung kain ini."

"Barang apakah yang ada di dalam itu?"

"Bila kau membukanya kau akan mengetahuinya."

U-bun hujin membuka kantung itu, Bok Ling-ku terguling keluar. Kata Bok Koan-koan.

"Dengan orang ini aku ingin berdagang denganmu Bukankah ini lebih baik dibandingkan dengan Wie Thian-hoan?" ---ooo0dw0ooo---B. Kekasih gelap Kie Su-giok dikurung dalam sebuah kamar yang gelap. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. Tiba-tiba ada yang membuka kamarnya, di dalam kamar itu hanya ada sedikit cahaya. Dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang, orang itu sudah memasukkan sebutir obat ke dalam mulutnya, dia mengangkat wajah Kie Su-giok memaksa menelan obat itu.

"Jangan takut, obat itu berguna untukmu."

Ini adalah suara seorang perempuan. Kie Su-giok memelototi perempuan itu, sepasang matanya seperti mengeluarkan api, Kie Su-giok marah dan berkata.

"Kau mau aku berbuat hingga seperti apa? Terserah padamu, aku tidak akan tertipu lagi. Kau bukan ibu angkatku! Kau adalah siluman!"

Kie Su-giok mengira dia adalah U-bun hujin dan obat itu adalah racun. Perempuan itu tertawa kecut dan berkata.

"Aku bukan ibu angkatmu, kau salah orang, tapi bila kau marah juga tidak salah. Aku adalah perempuan jahat, menunjukku siluman juga boleh."

Kie Su-giok mendengar suara perempuan itu berbeda sekali dengan U-bun hujin, dia terkejut dan bertanya.

"Siapa kau?"

"Kau belum pernah bertemu denganku tapi aku adalah orang yang paling kau benci! Di rumahmu aku adalah orang perempuan yang paling jahat sedunia, karena diriku keluargamu berantakan, menunjukku sebagai siluman rase pun boleh, karena di dunia persilatan banyak yang memanggilku Gin-ho, kau belum pernah mendengar namaku, tapi kau pasti pernah mendengar julukanku."

Kie Su-giok berteriak.

"Ternyata kau adalah Gin-ho, Bok Koan-koan, kau adalah kekasih gelap ayahku!"

Bok Koan-koan tertawa masam dan berkata.

"Kau benar, tapi hanya benar separuhnya."

Katanya lagi.

"Aku sepenuh hati mencintai ayahmu, tapi aku tidak tahu apakah ayahmu mencintaiku?"

Kie Su-giok tiba-tiba merasa tenaganya sudah pulih, dia menggerakkan kaki tangannya, ternyata sudah bertenaga dan bisa digerakkan. Kata Bok Koan-koan.

"Kau tenang saja, walaupun aku adalah perempuan jahat apalagi di mata kalian tapi kali ini aku datang untuk menolongmu, obat yang kuberikan bukan racun tapi obat penawar."

Kata Kie Su-giok.

"Mengapa kau menolongku?"

"Karena aku juga ingin meminta bantuan kepadamu, apakah kau mau mendengar cerita tentang aku dan ayahmu?"

"Baiklah, coba kau ceritakan!"

Anak muda biasanya senang mendengarkan kisah cinta, apalagi cerita cinta yang berliku-liku.

Dalam perjalanan cinta ada wangi bunga juga ada badai.

Orang yang mengarungi cinta biasanya selalu senang dengan wangi bunga, tapi orang yang mendengarkan kisah cinta itu merasa bila bisa menempuh badai cinta, maka cerita itu akan lebih seru lagi.

Orang yang berada dalam cerita berharap kisah cintanya berakhir dengan bahagia.

Orang yang mendengarkan kisah cinta lebih senang kisahnya berakhir dengan menyedihkan.

Tapi ini adalah cerita yang belum berakhir.

Siapa pun tidak tahu bagaimana aldiirnya.

Walaupun belum berakhir tapi kisahnya begitu menyedihkan.

Orang yang berada dalam cerita itu hampir mati tapi dia bisa hidup kembali, seumur hidupnya berakhir dengan tubuh yang rusak begitu pula dengan nama baiknya.

Tidak mempunyai rumah, berpisah dengan keluarga Bok Koan-koan seperti menumpahkan perasaannya kepada temannya sendiri, bila sedih dia meneteskan air mata.

Cerita cinta yang begitu menyedihkan, biasanya gadis-gadis paling senang mendengar kisah seperti ini, sayangnya cerita ini menyangkut hidup Kie Su-giok, dia tidak bisa berpihak sebagai pendengar, dia ingin mendengar cerita ini tapi takut mendengarnya Cerita ini begitu menggugah perasaannya.

Akhir cerita ini akan berakhir dengan sedih atau bahagia hanya Kie Su-giok-yang bisa menentukan.

Cerita yang belum berakhir ini, dia sudah mengetahui sebagian dari Ong Toanio dan Paman Ting.

Tapi walaupun dia tahu atau bahkan tidak tahu, hal ini telah membuat hatinya bergetar.

"Sebenarnya, aku adalah perempuan penghibur, kebetulan aku sedang singgah di kampung halamanmu dan bertemu dengan ayahmu. Kami menjadi sepasang kekasih yang berdosa aku mengira hal ini akan seperti air sungai yang mengalir, jodoh berakhir cinta pun bubar, siapa yang tahu..."

Hingga di sini Koan-koan membacakan sebuah puisi.

"Kehidupan di mana pun sama. Seperti burung menginjak tanah salju. Di tanah itu meninggalkan jejak. Telapak kaki burung. Burung-burung hanyalah mahluk hidup."

Bok Koan-koan menarik nafas dan berkata.

"Puisi ini adalah puisi yang sangat disukai oleh ayahmu, aku tidak mengerti artinya Mula-mula aku tidak mengerti mengapa ayahmu menyukai puisi ini, sekarang aku sudah mengerti. Ayahmu menganggap kami adalah jodoh yang berdosa aku dan dia adalah burung yang menginjak salju, meningalkan jejak di atas tanah itu, banyak hal yang terjadi di luar kehendaknya, walaupun dia ingin terbang seperti burung, tapi dia sudah tidak bisa lagi, aku dan dia tidak bisa seperti pelaku utama yang berada dalam cerita. Tidak peduli dengan perasaan."

Kata Bok Koan-koan lagi.

"Aku tahu aku tidak serasi dengan ayahmu, aku pun tidak ingin merusak kebahagian kehidupan rumah tangganya, begitu dia menikah sudah beberapa kali aku ingin meninggalkan dia, tapi aku tidak dapat melakukannya, apakah kau tahu sebabnya?"

Kie Su-giok tidak menjawab, dalam hatinya dia berkata.

"Tidak perlu kau katakan alasannya, itu semua karena kau mencintai dia." ' Bok Koan-koan bertanya tapi dia sendiri yang menjawab.

"Betul, aku mencintainya, aku tidak bisa meninggalkan dia. Apakah kau sudah mengerti?"

Kie Su-giok seperti tidak mengerti, dia hanya mendengar. Bok Koan-koan menarik nafas dan berkata.

"Karena aku merasa dia patut dikasihani!"

Setelah bicara, dia tertawa seperti orang bodoh. Dia berkata.

"Ibumu berasal dari keluarga baik-baik dan gadis terhormat, ilmu silat dan kecantikannya lebih baik daripadaku, seorang laki-laki bila mempunyai istri seperti itu akan sangat bahagia, apakah menurutmu itu benar? Tapi mengapa rasa kasihan bisa berhubungan dengan pengantin laki-laki yang sedang berbahagia? Aku bicara seperti itu, apakah kau tidak merasa aneh?"

Kie Su-giok tidak merasa aneh, karena dia tahu bahwa pernikahan ayahnya tidak bahagia, walaupun dia tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab, tapi dia pun merasa bahwa ayahnya patut untuk dikasihani.

Kata Bok Koan-koan lagi.

"Ayahmu sering melarikan diri ke tempatku untuk minum arak, tiap kali minum dia minum sampai mabuk, aku sudah sering menasihatinya supaya pulang dan menemani istri yang baru dia nikahi. Dia langsung marah-marah, bila mabuk dia akan menangis sejadi-jadinya, atan tertawa terbahak-bahak, kadang kala dia akan memukulku untuk melampiaskan kemarahan hatinya. Aku tidak menyalahkan dirinya, aku tahu bila dia sedang bersedih dia tidak dapat menahan diri, tadinya aku tidak tahu mengapa dia melakukan seperti itu, akhirnya aku tahu, tapi aku tidak dapat mengatakannya kepadamu!"

Kie Su-giok ingat pada kejadian di keluarga Coh.

Pada malam itu pertama kalinya dia bertemu dengan ayahnya, dia pun bertemu dengan ibunya untuk pertama kali.

Sejak kecil ibunya sudah meninggalkan dia.

Kejadian yang dilihat pada malam itu hampir membuatnya gila.

Tidak perlu dikatakan oleh Bok Koan-koan.

Dia sudah tahu mengapa ayahnya begitu sedih.

Bok Koan-koan melanjutkan.

"Akhirnya pada malam kejadian itu ayahnya sudah melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan rumah dan pergi. Dia tidak kawin lari denganku, aku baru tahu kesalahannya pada saat-saat terakhir ini. Apakah kau percaya?"

Kie Su-giok tidak berbicara dia hanya mengangguk. Bok Koan-koan menarik nafas dan berkata.

"Walaupun dia putus hubungan dengan keluarga bukan karena diriku, tapi tubuhnya rusak dan nama baiknya pun hancur, itu semua karena diriku. Dia bisa meninggalkanku tapi aku tidak bisa meninggalkan dia!"

Kata Bok Koan-koan.

"Aku terus menguntit dia, sewaktu dia bertarung dengan 5 Bu-tong Tianglo, dia terluka parah dan dari tepi jurang dia terjun ke sungai semua orang mengira dirinya pasti mati, tapi dia tidak mati. Apakah kau tahu mengapa dia bisa keluar dari pintu kematian?"

"Karena kau yang menolongnya."

Kata Bok Koan-koan.

"Aku mengambil mayat itu, kusebut mayat itu bukan hal yang berlebihan karena pada saat itu nafasnya sudah berhenti, tapi tubuhnya masih hangat. Aku berusaha dengan keras, akhirnya dia kembali hidup, kemudian, kemudian,..."

Bok Koan-koan sudah meneteskan air mata.

"Kemudian 10 tahun hidup di hutan rimba dan gunung. Mula-mula masih seperi orang setengah hidup setengah mati. Makan, buang air besar dan kecil harus aku yang membantunya. Lukannya terkena infeksi, penuh dengan nanah dan berbau. Bila mengganti obat, aku harus sampai menutup hidung. Dia hidup seperti itu selama 3 tahun, pada tahun ke-5 dia baru bisa bangun, mulai belajar berjalan seperti orang biasa. Pada tahun ke-6 baru bisa berlatih silat lagi. Sekarang ilmu silatnya sudah kembali seperti semula, ilmu silatnya yang sekarang lebih hebat lagi dari dulu, ada yang mengatakan dia sudah melampaui kemampuan ayahnya, menjadi seorang pesilat nomor satu. Coba kau tebak, dia mengatakan apa kepadaku? Dia sangat berterimakasih padaku, dia ingin membalas budi padaku, cara dia membalas budi adalah dengan meninggalkanku, dia bahkan mengatakan bahwa jodoh kami sudah habis dan dia ingin berpisah. 'Jodoh sudah habis', kata-kata ini seharusnya dia katakan 20 tahun yang lalu, mengapa baru sekarang dia mengatakannya Aku tidak mau menuruti kehendaknya. Cerita ini sudah habis, tapi kisahnya belum berakhir!"

"Aku tidak benci kepadamu, tapi aku kasihan kepadamu."

"Aku tidak mau kau kasihani!"

Kata Kie Su-giok.

"Aku tahu, aku kasihan kepadamu sama seperti pada saat kmi dulu kasihan kepada ayahku, aku pikir pada waktu itu ayahku pun tidak itiau kau kasihani."

Bok Koan-koan terdiam sebentar kemudian berkata.

"Sepertinya kau lebih memahami keadaanku dibanding ayahmu Terima kasih kau menganggapku sama seperti ayahmu, aku tahu dalam hati ayahmu, posisiku tidak sepadan dengannya."

Kemudian dia berkata dengan suara kecil.

"Aku tidak mau dikasihani oleh orang lain tapi aku berterima kasih"

"Aku tidak seperti dugaanmu, menganggapmu sebagai perempuan jahat."

Kata Kie Su-giok. Kata Bok Koan-koan.

"Apakah setelah mendengar ceritaku kau baru berubah pikiran?"

"Tidak, sebelum kau bercerita pun aku sudah dengar cerita ini dan teman yang bisa kupercaya, hanya saja ceritanya tidak sedetil ini."

Koan-koan tidak menanyakan siapa teman Kie Su-giok, dia hanya menggenggam erat tangan Su-giok dan berkata.

"Terima kasih kau tidak menganggapku perempuan jahat,"

"Aku yang harus berterima kasih karena kau sudah menolongku."

Bok Koan-koan tertawa kecil.

"Kau jangan menganggapku terlalu baik, aku menolongmu dengan suatu tujuan, apakah kau sudah lupa? Begitu masuk tadi sudah kukatakan ada hal yang aku ingin minta bantuanmu."

"Ini adalah persyaratan yang adil, aku setuju!"

"Kau jangan terlalu cepat mengiyakan apa yang kuinginkan. Bila aku mengatakannya kau akan terkejut mungkin malah tidak akan menyangkanya."

"Walaupun di luar dugaanku, apakah itu masih dalam batas yang wajar?"

Bok Koan-koan terpaku dan menjawab.

"Apakah kau sudah tahu apa permintaanku?"

"Benar, aku sudah tahu karena aku sudah memikirkan hal ini, karena itu pula aku menganggap hal itu masih wajar."

Kata Bok Koan-koan. 'Ternyata kau sudah bertemu dengan Coh Thian-su?"

"Tadi aku mengatakan teman dan memang dia orangnya. Karena itu aku menyetujui permintaanmu!"

Kie Lek-beng tidak tahu apa yang dikatakan Bok Koan-koan kepada putrinya, dia juga tidak akan tahu bahwa putrinya telah menyetujui permintaan Koan-koan.

Dia gelisah menunggu putrinya keluar.

Akhirnya Bok Koan-koan dan putrinya sudah keluar, mereka sedang bergandengan tangan.

Kie Lek-beng merasa sangat aneh.

Begitu juga dengan putrinya, karena ada satu hal yang tidak disangka oleh Su-giok, dia melihat ayahnya juga melihat Kang Hiat-kun.

Ini benar-benar di luar dugaannya.

"Cici Hiat-kun, mengapa kau bisa berada di sini?"

"Aku seperti dirimu sudah tertipu oleh siluman itu."

Dengan dingin U-bun hujin berkata.

"Sekarang kau tidak mau memanggilku ibu angkat lagi?"

Kie Su-giok menjawab.

"Aku memandang muka adikmu, bila tidak aku akan memanggilmu siluman perempuan."

U-bun hujin tertawa.

"Adik, kau mempunyai banyak cara, membuat putri musuh cintamu menjadi begitu menurut kepadamu. Baiklah kita saling bertukar persyaratan. Cepat keluarkan obat penawar ulat sutra emas."

Kata Bok Koan-koan.

"Begitu dia sudah pergi, aku akan segera memberikannya kepadamu. Apakah kau tidak percaya kepadaku?"

Kata U-bun hujin.

"Bukan aku tidak mempercayaimu, kau yang tidak percaya kepadaku."

Koan-koan tidak menjawab, berarti itu memang benar. Kata U-bun hujin.

"Kita adalah kakak beradik, baiklah aku akan membiarkan Nona Kie pergi dulu."

Kata Bok Koan-koan.

"Su-giok, kau mau ikut dengan siapa? Terserah padamu!"

"Anakku, ikutlah ayah pulang."

Kata Kie Lek-beng. Kie Su-giok mengangguk "Tunggu sebentar!"

Kata U-bun hujin.

"Kau mau apa?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Kau sudah mendapatkan putrimu mengapa kau tidak melepaskan putraku?"

Dengan dingin Kie Lek-beng menjawab.

"Putriku ditukar oleh Koan-koan dengan Bok Siauya, ini adalah perdagangan antara kau dengan Koan-koan, tidak ada hubungannya denganku!"

Kata U-bun hujin sambil melihat Koan-koan dan berkata.

"Adik, bicaralah jangan kau diam saja!"

Kata Bok Koan-koan.

"Cici, kau sangat tahu sifatku, sifatku sangat keras. Kau tahu bagaimana perlakuannya padaku, aku tidak mau meminta-minta kepadanya."

Kata U-bun hujin.

"Kie Lek-beng, aku mengaku kalah, apa syaratmu supaya putraku dapat kau lepaskan?"

Kata Kie Lek-beng.

"Kau ingin mendapatkan kembali putramu, kau harus mengadakan perdagangan denganku, syaratnya yaitu Nona Kang ini."

Kata U-bun hujin.

"Baiklah, aku akan membiarkan dia pergi!"

"Mana obat penawarnya?"

Jawab U-bun hujin dengan dingin.

"Aku mengijinkan dia pergi, tapi tidak akan memberi obat penawar kepadamu. Aku harus memberitahukan ini kepadamu, kau sudah terkena racun yang kuberikan. Paling-paling kau bisa hidup 1 tahun lagi. Aku tidak bisa memberikan obat penawarnya kepadamu, kecuali ditukar dengan Wie Thian-hoan."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku tidak membutuhkan obat penawarmu. Tapi Nona Kang tidak bersalah!"

Kata U-bun hujin.

"Aku tidak peduli, pokoknya tidak dapat ditawar lagi!"

Kelihatannya akan terjadi perang lagi, tiba-tiba Bok Koan-koan berkata.

"Cici, tolong berikan kepadaku seguci arak!"

"Untuk apa?"

Jawab Bok Koan-koan.

"Arak untuk merayakan berkumpulnya kita di sini juga bisa menghilangkan kesedihan. Sewaktu aku senang, aku ingin minum-minum, sewaktu aku tidak enak hati juga seperti itu. Cici, aku tidak meminta banyak-banyak, apakah kau tidak akan memberikannya padaku?"

Kata U-bun hujin.

"Jangan kau berkata seperti itu, aku hanya takut bila kau minum kau akan semakin sedih."

Kata Bok Koan-koan.

"Kita bersaudara jarang bertemu, aku sangat gembira hari ini. Jujur saja, kali ini aku datang untuk mengunjungimu sekalian membereskan masalah ini."

Arak sudah diambil, Bok Koan-koan mencium bau arak itu dan berkata.

"Arak yang bagus."

Segera dia mengisi penuh cawannya. Dengan dingin U-bun hujin berkata.

"Adik, ilmu menggunakan racunmu lebih tinggi dariku, mana berani aku bertindak macam-macam. Bila kau sangsi, aku akan minum dulu."

Koan-koan menjawab.

"Arak ini bukan untukmu, bila kau mau minum nanti saja minumnya agar lebih puas."

Dia membalikkan kepala dan memberikan kepada Su-giok "Berikan arak ini kepada Nona Kang,"

Kata Bok Koan-koan. Kie Su-giok merasa aneh.

"Mengapa harus diberikan kepada Nona Kang?"

Kata Bok Koan-koan.

"Bukankah Nona Kang adalah teman baikmu?"

"Benar, dia adalah teman baikku."

"Kalau begitu, berikanlah arak ini kepadanya, semoga perjalanannya selalu lancar."

Kie Su-giok sudah mengerti, segera dia memberikan arak ini kepada Hiat-kun.

"Aku berharap supaya perjalananmu benar-benar lancar. Minumlah arak ini!"

Hati Kang Hiat-kun tergerak, dalam hati dia berpikir, 'Bila Su-giok curiga pada Gin-ho yang sudah memberikan racun ke dalamnya, dia tidak akan mengatakan 'benar-benar'.

Gin-ho tidak melukai Su-giok, dia juga tidak akan melukaiku.

Apalagi aku sudah terkena racun Kim-ho.

Bila segelas arak ini ada racunnya, aku juga sudah tidak peduli.' Begitu minum, dia mulai merasakan seluruh tubuhnya menjadi hangat, tiba-tiba dia merasa ada tenaga, wajahnya yang pucat mulai menjadi merah.

U-bun hujin tertawa dingin.

"Adik, kau sangat pintar, bisa lolos dari pengamatanku, memasukkan obat penawar ke dalam arak itu. Obat penawarmu begitu cepat khasiatnya. Kelihatannya ilmu racunmu lebih tinggi dariku. Dan ilmu penawar racun pun lebih tinggi dariku. Benar-benar mengagumkan, apakah bila kau sudah melakukan hal itu, merasa tidak enak kepadaku?"

Jawab Bok Koan-koan.

"Terima kasih untuk pujianmu, sebentar lagi aku pun akan memberikan obat penawar yang terbaik kepada Bok Siauya."

Kang Hiat-kun mulai pulih, dia berkata.

"Selamat, ayah dan anak sudah berkumpul kembali, aku pergi dulu."

Kie Su-giok terpaku dan berkata.

"Kau tidak akan pergi bersama kami?"

Jawab Kie Lek-beng.

"Nona Kang ada keperluan, jangan kau paksa dia!"

Dia berharap putrinya bisa menikah dengan Wie Thian-hoan, karena itu dia sangat berharap Kang Hiat-kun segera pergi supaya tidak ada orang ketiga yang hadir di antara mereka.

Tapi Kie Su-giok salah paham, dia mengira Kang Hiat-kun memang ada keperluan, untuk bertemu dengan Wie Thian-hoan, Kie Su-giok merasa sedih "Cici Kang!"

"Ada apa?"

Kata Kang Hiat-kun menoleh.

"Aku tidak ingin bertemu dengan Wie Toako, beritahu kepadanya di hadapan kakek aku akan memberitahu supaya dia tidak perlu harus cepat-cepat pulang."

"Kau harus mencari dia karena dia sangat membutuhkan bantuanmu "

Kie Su-giok terkejut dan bertanya. 'Apa yang sudah terjadi?"

"Kau tenang saja, sementara ini dia tidak berada dalam bahaya mengenai dirinya ada orang yang bisa memberitahumu."

Kie Su-giok merasa aneh, dia bertanya.

"Siapa?"

"Dia adalah gadis aneh, kau tidak mengenalnya, tapi dia bisa membantumu melakukan banyak hal, dia dan Hoan Toako sudah seperti teman, kau pun bisa mempercayainya."

Kie Su-giok mendengar kata-kata 'seperti', dia merasa aneh lagi, dia berkata.

"Aku belum pernah mendengar Wie Toako mempunyai teman yang aneh Apakah kau sudah tahu identitasnya?"

"Aku tidak tahu tapi aku mempercayainya."

"Dengan cara apa aku mencarinya?"

"Dia seperti mengetahui semua hal, kau tidak perlu mencarinya, dia sendiri yang akan mencarimu, bila kau sudah bertemu dengannya kau akan tahu bagaimana membantu Hoan Toako."

Tanya Kie Su-giok.

"Apakah kau tahu di mana Wie Toako sekarang?"

"Bila aku mengetahuinya, aku pun tidak mempunyai waktu untuk mencarinya. Kau tidak perlu bertanya, kelak kau akan mengetahuinya. Aku pergi dulu!"

Setelah Kang Hiat-kun pergi, Kie Lek-beng berkata.

"Anakku, kita harus pulang!"

Tiba-tiba Kie Su-giok bertanya.

"Ayah, apakah menjadi orang itu harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?"

"Benar, mengapa kau bertanya seperti itu?"

"Kalau begitu kau tidak boleh berkata pergi ya harus pergi." ---ooo0dw0ooo---C. Arak Perpisahan Kie Lek-beng tertawa masam dan berkata.

"Untuk apa kita tinggal di sini?"

Kie Su-giok tidak menjawab, dia mengisi dua gelas arak. Dia mengangkat gelas itu dan berkata.

"Bibi, mari kita bersulang, terima kasih kau sudah menolongku."

Kata Bok Koan-koan.

"Maaf, aku tidak bisa menjadi keluarga Kie, kita tidak perlu sungkan aku tidak berani mengatakannya tapi aku sangat berterima kasih kepadamu karena kau tidak menganggapku siluman atau orang yang rendah. Jujur bicara, kau memanggilku bibi itu pun sudah sangat baik untukku. Aku hanya benci mengapa aku tidak mempunyai putri sepatimu Baiklah, mari kita bersulang."

Setelah berkata seperti itu dia menghabiskan arak Kie Su-giok mengambil dua gelas arak dan berkata.

"Ayah, bibi juga pernah menolongmu, kita tidak perlu membicarakan hal yang sudah lewat, ini semua demi putrimu, kau harus bersulang untuk bibi."

Hati Kie Lek-beng bergejolak, dia menahan air mata. Dia mengambil gelas dari tangan putrinya dan berkata.

"Koan-koan, aku berhutang kepadamu terlalu banyak"

Bok Koan-koan tertawa seperti orang gila dan berkata.

"Aku merusak tubuhmu, namamu pun hancur, sekarang aku mengembalikan putrimu, kelak kita tidak akan saling berhutang lagi. Baiklah, arak ini adalah arak perpisahan!"

Sambil tertawa Bok Koan-koan sudah minum hingga habis araknya dan dia melempar gelas itu, gelas itu jatuh hingga berkeping-keping. Kie Lek-beng berteriak,.

"Koan-koan, mengapa harus begitu?"

Tapi Bok Koan-koan sudah masuk ke dalam rumah. Kie Lek-beng dan putrinya berjalan di sisi danau Seng-su-hai. Permukaan danau sangat tenang, tapi pikiran ayah dan anak ini tidak tenang.

"Anakku, sekarang kau sudah tahu semuanya, sewaktu ayah masih muda aku sudah melakukan banyak kesalahan. Bersalah kepada ibumu dan juga kepada dirimu. Apakah kau masih membenci ayahmu ini?"

Tanya Kie Lek-beng.

"Ayah, hal yang sudah terjadi jangan dibicarakan lagi."

Kie Lek-beng menarik nafas dan berkata.

"Betul, yang sudah berlalu biarkan berlalu. Aku kehilangan istri tapi aku mendapatkan putriku. Aku harus puas dengan keadaan seperti ini."

"Dimana ibu berada?"

Tanya Kie Su-giok "Dia sudah pulang."

Jawab Kie Lek-beng.

"Pulang? Pulang kemana?"

"Dia sudah bersuami lagi, juga mempunyai seorang putri, dia pasti akan pulang ke rumahnya."

Dia menarik nafas lagi.

"Bok Koan-koan mengatakan dia tidak sepadan denganku, maka aku pun tidak sepadan dengan ibumu."

"Ayah, aku ingin bertanya kepadamu."

"Katakanlah!"

"Apakah ayah mencintai ibu?"

"Itu sudah pasti, bila tidak mengapa aku ingin merebut kembali ibumu?"

Tiba-tiba Kie Su-giok berkata.

"Ayah, kau salah!"

"Aku bersalah?"

"Terhadap ibu, ayah mempunyai rasa iri dan ingin membalas dendam. Itu bukan benar-benar cinta."

Tanya Kie Lek-beng.

"Kau menganggap hal ini hanya karena ingin membalas dendam?"

Dia mengaku bahwa dia memang iri.

"Benar, ayah tidak mencintai ibu, maka kau mempunyai keinginan untuk merebut ibu kembali."

"Mengapa aku harus membalas dendam kepadanya?"

"Ayah, aku baru bertemu denganmu, tapi aku tahu bahwa kau adalah orang yang suka memaksakan kehendak."

Kie Lek-beng mengakui hal itu.

"Kau merasa ibu memandang rendah kepadamu, walau dulu kau yang bersalah tapi kau pun tidak mau melepaskan ibu"

Kie Lek-beng terdiam, akhirnya dia menarik nafas dan berkata.

"Kau benar, aku yang salah, bila aku mencintai ibumu aku nk.m membuatnya bahagia."

Kata Kie Su-giok lagi.

"Putrimu ingin mengatakan satu kalimat lagi. Ayah kau bukan tidak sepadan dengan ibu hanya saja kalian bukan pasangan yang cocok."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku tahu aku membiarkan dia pulang sebenarnya karena ada satu alasan lagi yaitu semuanya ini demi dirimu."

"Bila kita satu keluarga bisa berkumpul, itu adalah hal yang terbaik. Dulu aku pun mempunyai pemikiran seperti itu, tapi sekarang aku sudah mengerti bila aku ingin keluargaku bisa berkumpul aku harus mencerai-beraikan keluarga oarng lain tapi ibu pun belum tentu akan merasa bahagia. Keluarga kita pun belum tentu akan bisa bahagia."

Kata Kie Lek-beng.

"Aku selalu menganggapmu sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, sekarang aku baru tahu bahwa kau sudah dewasa. Dulu pada saat seusiamu aku tidak begitu mengerti."

Kata Kie Su-giok.

"Pada malam itu setelah aku bertemu dengan kalian, aku merasa dalam satu malam seperti sudah tumbuh dewasa. Memikirkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan."

Kie Lek-beng tertawa masam dan bertanya.

"Kau memikirkan apa?"

"Aku memikirkan ibu juga memikirkan Bibi Bok, dulu aku hanya kasihan kepada ibu, sekarang aku baru tahu yang lebih patut dikasihani adalah Bibi Bok Ayah, kau melakukan kesalahan terhadap ibu, tapi kau lebih bersalah terhadap Bibi Bok."

Kie Lek-beng mengerutkan dahi dan berkata.

"Hal mengenai diriku aku yang lebih tahu, tidak perlu kau yang mengatakanya kepadaku!"

Tapi Kie Su-giok terus melanjutkan.

"Ayah, kau dan Bibi Bok sepertinya lebih cocok..."

Kie Lek-beng sangat marah dan berkata.

"Urusan orang dewasa, anak kecil jangan ikut campur!"

Ini adalah pertama kalinya Kie Su-giok dimarahi oleh ayahnya. Mereka bertemu untuk pertama kalinya dan dia sudah dimarahi. Dia menangis dan berkata.

"Ayah, bukankah tadi kau mengatakan bahwa aku bukan anak kecil lagi?"

Kie Lek-beng menarik nafas dan berkata.

"Anakku, maafkan ayahmu, aku tidak marah kepadamu, aku hanya kesal! Jangan bicarakan soal Bibi Bok lagi!"

Kemudian dengan tertawa dia berkata.

"Anakku, ceritakanlah mengenai dirimu, apakah kau menyukai Suhengmu?"

Wajah Kie Su-giok memerah dan menjawab.

"Aku tumbuh besar bersama dengan Wie Toako. Kami hanya seperti adik dan kakak."

"Maksudmu, kau menyukai dia, tapi dia hanya menganggapmu seperti adik kecilnya? Asal kau menyukainya aku akan menjodohkan kalian."

Kata Kie Lek-beng.

"Ayah, jangan kau ikut campur urusanku!"

Kata Kie Lek-beng.

"Aku hanya mempunyai seorang putri, hal yang menyangkut dirimu mana bisa aku tidak peduli? Aku akan antar kau pulang dulu"

Kie Su-giok terpaku dan berkata.

"Ayah, mengapa ayah menyuruhku pulang? Masih banyak hal yang harus kulakukan."

"Di ibu kota saat ini dalam keadaan sedang kacau, berbagai jenis orang ada di sana. Hal itu berbahaya untukmu. Kau adalah seorang gadis, tinggal sendirian di sini tidak baik untukmu. Aku tahu kau sangat ingin mencari Wie Thian-hoan, aku akan mencarinya, lebih mudah aku yang mencari dibandingkan kau yang mencarinya."

Dia takut putrinya terlalu khawatir, dia tidak berani menceritakan bahwa Wie Thian-hoan berada dalam keadaan bahaya. Dia akan menolong Wie Thian-hoan secara diam-diam. Kata Kie Su-giok.

"Ayah, bila aku ingin mencarinya lebih baik aku yang mencari sendiri Suhengku. Kata cici Hiat-kun akan ada orang yang membantuku, jadi ayah tidak perlu khawatir tapi aku janji tidak akan meninggalkanmu untuk sementara waktu"

Kata Kie Lek-beng.

"Kau salah, aku bukan mau meniggalkanmu..."

Kata-kata ini belum habis diucapkan dia merasakan kepalanya pusing, tubuhnya tidak bertenaga, kaki dan tangannya merasa lemas.

Ilmu silatnya tiba-tiba lenyap.

Kie Lek-beng terkejut dan memanggil-manggil.

"Anakku! Anakku!"

"Ayah kau kenapa?"

"Aku pun tidak tahu, tenagaku tiba-tiba lenyap, tolong papah aku"

Begitu putrinya mendekat tiba-tiba dia mengeluarkan 3 jarinya dmi memegang denyut jalan darah putrinya. Kie Su-giok terkejut dan berkata.

"Ayah kau kenapa?"

"Anakku, jujurlah kepadaku, mengapa tenagaku tiba-tiba lenyap kau pasti tahu alasannya!"

Kie Su-giok menarik tangan dan berkata.

"Ayah, kau terlalu menekan tanganku, tanganku sakit!"

Ternyata dengan cepat tenaga Kie Lek-beng sudah lenyap, tadi dia masih bisa menggunakan sedikit tenaga, tapi sekarang dia seperti ayam yang sudah diikat. Kata Kie Su-giok.

"Ayah, jangan salahkan diriku, ini adalah syarat yang harus kutukar dengan Bibi Bok, tapi ini pun demi dirimu!"

Kie Lek-beng berkata.

"Demi kebaikanku? Aku sudah menjadi orang cacat, seumur hidup kau harus mengurusku."

Kata Kie Su-giok.

"Ayah, aku tidak perlu mengurusmu, Bibi Bok yang akan mengurusmu, dia akan lebih baik mengurusmu dibanding diriku."

"Memang aku harus mendapatkan balasan ini, hanya saja aku tidak menyangka..."

Kata-katanya belum habis sudah terdengar suara nyaring yang berkata.

"Terima kasih Nona Kie, kau sudah membantuku."

"Ayah, kau tidak perlu khawatir Bibi Bok sudah datang untuk mengurusmu."

Sambil berbicara Kie Su-giok berlari menghampiri Bok Koan-koan. Kata Bok Koan-koan.

"Gadis itu bernama Shangguan Hui-hong, ini alamatnya bila kau tidak bertemu dengannya di tempat ini kau bisa mencari tahu di Piau-hang untuk menanyakan Wie Thian-hoan."

Kie Su-giok menerima surat itu dan berkata.

"Bibi Bok, aku menyerahkan ayah kepadamu."

Bok Koan-koan memapah Kie Lek-beng, Kie Su-giok sudah lari menjauh. Dengan tertawa dingin Kie Lek-beng berkata.

"Koan-koan, kau banyak akal tidak kusangka putri kandungku sendiri yang mencelakai diriku."

Kata Bok Koan-koan.

"Jangan bicara yang menusuk telinga. Memang benar dalam arak aku sudah menaruh Su-kut-san, Su-kut-san milikku lebih ampuh dibandingkan dengan milik kakakku. Di dalam arak tadi masih ada satu obat lagi, yaitu obat penawar. Obat penawar itu akan menawarkan racun yang sudah diberikan kakakku, tahun depan kau tidak akan mati. Bila mau kau bisa hidup sampai 100 tahun lagi!"

Kata Kie Lek-beng.

"Terima kasih sudah menjadikanku orang cacat, untuk apa aku memiliki umur panjang?"

Jawab Bok Koan-koan.

"Kie Koko, jangan kau marah, aku hanya ingin kau menemaniku seumur hidup"

Kata Kie Lek-beng.

"Aku pernah mengatakan kepadamu, kali ini kau sudah menolong putriku, kau ingin aku melakukan apa pun akan kulakukan, tapi mengapa harus menggunakan cara seperti ini?"

Kata Bok Koan-koan.

"Kata-kata seperti ini tidak hanya satu kali kau ucapkan."

"Kali ini aku sungguh-sungguh, Koan-koan aku benar-benar menyesal aku sudah bersalah kepadamu. Bila kau mau memaafkanku, aku akan selalu bersamamu."

Kata Bok Koan-koan.

"Aku yang membuatmu hancur, bukankah kau sudah berniat akan meninggalkanku?"

Kata Kie Lek-beng.

"Dulu aku bersalah kepadamu, juga telah salah bicara, bila kau mau memaafkanku, biarlah aku mulai dari awal lagi. Asal kau tidak meninggalkan aku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu."

Kata Bok Koan-koan.

"Apakah itu kata-katamu yang sebenarnya?"

"Ya pasti, Koan-koan aku katakan sekali lagi, aku ingin bersamamu bukan karena kau sudah menolong putriku hingga harus membalas budi kepadamu."

"Tapi aku tetap tidak percaya padamu!"

"Aku harus bagaimana supaya kau dapat percaya?"

"Lebih baik kau seperti dulu Makan harus aku suapi, buang air besar dan air kecil harus aku yang urus, dengan begitu aku baru merasa bahwa kau benar-benar milikku seutuhnya."

"Apakah kau tidak akan merasa lelah?"

"Memang akan terasa lelah, tapi aku bahagia karena hanya aku saja yang bisa menjagamu, hatiku pun akan bahagia."

Kie Lek-beng tertawa kecut dan berkata.

"Aku sudah minum Su-kut-san, sekarang aku sudah cacat, apakah kau masih merasa tidak tenang?"

Jawab Bok Koan-koan.

"Aku masih tidak tenang, tenaga dalammu terlampau tinggi, Su-kut-san milikku belum tentu bisa mengikatmu dan Su-kut-san pun memiliki penawarnya, aku memilikinya begitu pula dengan ciciku."

"Apakah cicimu akan memberikan obat pemunahnya ?"

"Belum tentu, begitu dia ingin memperalatmu dia akan memberikan obat penawarnya, atau pada saat hatiku lemah aku pun bisa ditipu olehmu."

Kata Kie Lek-beng.

"Kalau begitu kau harus memukulku hingga setengah hidup dan setengah mati, apakah baru merasa tenang?"

"Tidak perlu sampai begitu. Kie koko, aku ingat kau pernah mengatakan demi diriku kau rela berkorban?"

"Demi dirimu aku rela mengorbankan nyawa."

"Aku tidak mau nyawamu, asalkan ilmu silatmu musnah aku udah merasa tenang."

Begitu bicara dengan tenang tangan Koan-koan sudah memegang pundak Kie Lek-beng. Kie Lek.beng berteriak.

"Koan-koan, kau mau apa?"

Dengan lembut Bok Koan-koan menjawab.

"Kie koko, kau tahan rasa sakit ini sebentar, dengan begitu kita tidak akan berpisah lagi."

Dengan sekuat tenaga Koan-koan mematahkan tulang pundak Kie lek-beng.

Tenaga dalam Kie Lek-beng sudah hilang karena sudah minum obat Su-kut-san, tidak bisa menentang serangan Bok Koan-koan.

Segera Kie lek-beng pingsan, setelah cukup lama Kie Lek-beng baru sadar.

Begitu sadar sepasang tangannya sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Bok Koan-koan masih dengan lembut berkata.

"Aku sudah mengobati lukamu, apakah masih sakit?"

"Tanganku! Tanganku!"

Teriak Kie Lek-beng. Kata Bok Koan-koan.

"Kie koko, maafkan aku karena aku tidak mau kau tinggalkan lagi, lengan terpaksa aku mematahkan tulang pundakmu, dengan begitu kau pun ikan menjadi tenang."

Tulang pundaknya sudah patah, semua ilmu silatnya musnah, Kie lek-beng serasa mau pingsan lagi. Kata Bok Koan-koan.

"Kie koko, kau pernah mengatakan bahwa kau rela mengorbankan semuanya hingga nyawa pun kau rela serahkan padaku, bukankah begitu?"

Kie Lek-beng menarik nafas dan berkata.

"Benar, ini adalah karma yang harus aku terima."

"Sepertinya kau masih menyalahkanku, seumur hidup aku harus nengurusku, bukankah kau bisa dengan enak melewati sisa hidupmu? bukankah itu lebih baik daripada harus berkelana di dunia persilatan, setiap hari mengalami hidup penuh bahaya?"

Kie Lek-beng tidak bisa berkata apa-apa lagi Dia hanya bisa tertawa masam dan berkata.

"Aku harap semua berjalan seperti yang kau inginkan."

Bunga jatuh beberapa kali mengikuti aliran sungai Berpisah tapi bersatu lagi, sulit mengatakan yang mana dendam dan yang mana budi.

Kie Lek-beng dituntun oleh Bok Koan-koan, melangkah berjalan ke depan.

Bok Koan-koan bersedia menuntun Kie Lek-beng berjalan kemana pun.

Kie Lek-beng tidak berani bertanya juga tidak mau bertanya, hanya satu yang sangat dia mengerti, seluruh sisa hidupnya sudah diserahkan kepada Bok Koan-koan.

JALA PEDANG mengacaukan orang seperti perangkap dunia JARING SUTRA berbelit-belit seperti serat benang cinta.

Bandung 30 September 2005 Salam See Yan Tjin Djin

Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 2

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger