Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 7

Eps 7 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

Karena kejadian itu terjadinya dengan mendadak, maka baik Thian-siem maupun Pek Giok Hoa semua dikejutkan olehnya, masing-masing lompat mundur tiga tombak lebih.

Dengan sikap sangat gagah Touw Liong berdiri di tengah-tengah pelataran dalam pendopo itu, memandang Thian-siem dengan mata mendelik, kemudian barulah menghampiri Pek Giok Hoa dengan langkah lebar.

Setelah Pek Giok Hoa melihat tegas diri Touw Liong, katanya dengan suara girang.

"Touw tayhiap!"

"Nona Pek ....,"

Demikian Touw Liong menyahut. Setelah itu ia mengulurkan tangannya kepada Pek Giok Hoa, katanya dengan suara perlahan.

"Nona Pek, tolong pinjam pedangmu sebentar."

Pek Giok Hoa tidak berkata apa-apa, pedangnya diserahkan kepada Touw Liong. Touw Liong menyambut pedang itu, Thian-siem lalu menuding Touw Liong dengan pedangnya, tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Bocah! Jadi kau ini adalah Touw Liong?"

"Benar! Tuan mudamu ini adalah keturunan dari Touw Giok Kun, salah satu dari Hong-tiem Sam Kiat,"

Menjawab Touw Liong dengan suara gusar.

"It-tiem pernah berkata padaku bahwa kau sekarang sudah memiliki kepandaian yang cukup berarti, cepat atau lambat akan datang ke Ceng-sia. Kalau begitu, bagus. Sejak aku mempelajari ilmuku yang tiada taranya ini, belum pernah melakukan pertandingan dengan orang. Hari ini malaikat telah mengirim kau ke gunung Ceng-sia, ini merupakan suatu bukti bahwa keinginanku hendak mencoba kepandaianku itu telah tercapai. Mari! Kita berdua boleh bertempur sepuas-puasnya, aku ingin lihat apakah benar ucapan It-tiem itu?"

Berkata Thian-siem sambil tertawa dingin.

"Kapan It-tiem datang kemari?"

Bertanya Touw Liong.

"Tujuh hari berselang."

"Ada keperluan apa ia mencari kau?"

"Ada dua urusan. Pertama, ialah memperingatkan aku, katanya kau bocah sedang mencari aku hendak menuntut balas dendam orang tuamu. Kedua, ialah mengantarkan padaku sebuah kecapi kuno."

"Apa ia masih minta pertolongan kepadamu kembali ke Bu-tong untuk merebut kembali kedudukan ketua."

"Bocah, kau benar-benar sangat pintar. Dugaanmu ini benar."

"Di mana ia sekarang berada?"

"Ia sedang melakukan perjalanan untuk menghubungi sepuluh partai besar, dengan terus terang, kau bocah boleh merasa bangga, karena kau sudah berhasil menakut-nakuti dia."

"Sekarang kemana ia pergi?"

"Ke gunung Ngo-bi."

"Dahulu sepuluh orang yang turut dalam peristiwa Gakyang-laow siapa-siapa saja?"

Thian-siem menggeleng-gelengkan kepala, katanya dengan suara gagah.

"Aku hanya dapat memberitahukan padamu dua patah kata, yang lainnya aku tidak dapat menceritakan kepadamu."

"Katakanlah!"

"Orang yang membunuh Touw Giok Kun adalah Ittiem. Dan yang membunuh Kang In Hui adalah aku sendiri!"

"Jikalau kau tidak mau mengatakan seluruhnya, jangan salahkan kalau aku si orang she Touw terlalu kejam!"

"Sudah lama aku menantikan kedatanganmu untuk mencoba kepandaianmu,"

Berkata Thian-siem sambil tertawa dingin.

"Benarkah Kang tayhiap kau yang membunuh?"

"Apakah aku perlu harus membohongi kau?"

"Biarlah kau hidup beberapa hari lagi, hari ini aku tidak akan membunuh kau!"

Thian-siem merasa heran, ia bertanya.

"Bocah, mengapa kau tidak berani bertanding denganku?"

Touw Liong mengeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Karena kau adalah orang yang membunuh empek Kang, ada orang lain yang akan mencari kau untuk membuat perhitungan sendiri."

Thian-siem tercengang, tanyannya.

"Siapa?"

"Kalau sudah tiba waktunya kau nanti akan tahu sendiri."

"Tidak bisa, Ceng-sia bukanlah rumah penginapan yang kau boleh datang dan pergi menurut seenak perutmu. Hari ini kalau kau tak meninggalkan apa-apa, bolehkah kau pergi begitu saja?"

"Habis, kau mau apa?"

"Mari kita bertempur sampai seribu jurus!"

Touw Liong menggelengkan kepala dan berkata.

"Aku tidak mempunyai waktu luang."

Thian-siem melambaikan tangannya, delapan imam berjubah kuning secepat kilat sudah mengurung Touw Liong di dalam pelataran itu, Pek Giok Hoa perlahan-lahan menggeser kakinya, merapat dengan Touw Liong, sedang mulutnya bergerak-gerak beberapa kali.

Touw Liong juga menggerakkan mulutnya kepadanya.

Meskipun Thian-siem tidak dapat mendengar apa-apa yang dibicarakan oleh mereka, tetapi ia tahu bahwa mereka sedang merundingkan sesuatu.

Sambil mengerutkan alisnya ia memandang dua orang itu secara bergiliran, ia berkata kepada diri sendiri.

"Dua orang ini memang tidak kenal, mengapa begitu bertemu muka kelakuannya seperti kawan lama? Kedatangan mereka rupa-rupanya memang ditujukan kepada diriku."

Dengan sebetulnya, Touw Liong dan Pek Giok Hoa saat itu sedang bercakap-cakap dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga, Pek Giok Hoa berkata kepada Touw Liong.

"Thian-siem ada mempunyai sebuah kecapi kuno, ayah membutuhkan alat itu dan hendak digunakan sebentar, apakah Touw tayhiap sudi membantu?"

Sebagai jawaban Touw Liong berkata.

"Kira-kira seperempat jam berselang aku masih melihat dengan mata kepala sendiri kecapi kuno itu yang kemudian dibawa oleh imam berjubah kuning ke pendopo belakang. Kecapi kuno ini kalau kuambil dan kuberikan kepada nona, rasanya kurang tepat. Sebab, kecapi ini adalah barang pusaka milik partai Bu-tong, sedangkan aku dengan Hian-hian Totiang dari Bu-tong ada mempunyai hubungan persahabatan yang baik, jika kuberikan kecapi ini kepadamu, dikemudian hari apabila bertemu muka lagi dengan Hian-hian Totiang, rasanya tidak enak."

Pek Giok Hoa mengerutkan alisnya, menghela nafas perlahan. Touw Liong berkata pula.

"Begini saja, sebentar kalau aku sudah bertempur dengan Thian-siem, dan menjatuhkan beberapa anak buahnya, nona boleh turun tangan menangkap seorang di antaranya, paksa imam itu supaya mengantar nona ke belakang gua. Dengan kecerdikan nona, tidak susah rasanya untuk dapat menemukan kecapi kuno itu."

Pek Giok Hoa menganggukkan kepala. Touw Liong tiba-tiba mendapat pikiran lain, katanya sambil menggertak gigi.

"Thian-siem bukanlah orang dari golongan baik. Imam yang bisa bekerja sama dengannya, delapan imam berbaju kuning itu juga belum tentu orang-orang dari golongan baik! Mengapa kita tidak bertindak begini saja?"

Ia lalu mengembalikan pedangnya kepada Pek Giok Hoa, memberi isyarat dengan mata kepadanya, dan Pek Giok Hoa yang rupanya sudah mengerti, balas dengan senyuman.

Dengan tiba-tiba Touw Liong mengeluarkan suara siulan nyaring, setelah itu orangnya bergerak melesat, tangan kiri mengerahkan ilmunya Thay-it Sin-kang, melancarkan serangan dengan ilmunya Thay-it Sin-jiauw, sedang tangan kanan mengerahkan ilmunya Tay-lo Kim-kong Sian-kang, melancarkan serangan Kim-kong-ci.

Dengan demikian jari tangan dan tangan bergerak berbareng hingga menimbulkan hembusan angin hebat.

Hembusan angin yang keluar dari lima jari tangan kanan, telah berhasil menotok rubuh lima orang imam berbaju kuning, sedangkan serangan tangan kiri digunakan untuk menyerang Thian-siem.

Bersamaan dengan gerakannya itu, mulutnya baru mengeluarkan suara bentakan.

"Awas!"

Dalam keadaan yang tidak berjaga-jaga, lima imam berbaju kuning terkena serangan hebat oleh Touw Liong, sedangkan Thian-siem Tojin sendiri juga menerima gebukan.

Serangan yang menggunakan jari tangan itu tidak tampak bayangannya juga tidak tampak wujudnya, hembusan angin yang keluar dari jari tangannya bisa mencapai sejarak 3 tombak hingga bagi orang yang diserang sulit untuk mengelak atau menyingkir.

Maka begitu Touw Liong melancarkan serangannya, Thian-siem Tojin sudah menjadi korban.

Tetapi Thian-siem bagaimanapun juga merupakan salah seorang tokoh terkemuka, sudah tentu berbeda dengan orang Kang-ouw biasa.

Begitu hembusan angin yang keluar dari jari Touw Liong baru saja menyentuh tubuhnya, ia sudah menjatuhkan diri ke belakang dan lompat ke belakang sejauh 3 tombak.

Thian-siem berdiri di undak-undakan pendopo, wajahnya berubah seketika.

Pada saat itu meskipun ia terlepas dari serangan jari Touw Liong, tetapi lima jalan darah depan dadanya merasa sedikit kesemutan.

Ia lalu mengurut-urut dadanya sendiri dan mencoba mengatur pernafasannya.

Ia baru tahu bahwa dirinya belum terluka, barulah merasa lega.

Sementara itu dalam hatinya sudah merasa bergidik.

Serangan Touw Liong itu benar-benar sudah meruntuhkan semangatnya.

Dengan mata mendelik ia mengawasi lima imam berbaju kuning yang rebah terlentang di tanah, mereka satu persatu dalam keadaan tak berdaya, mulut mereka mengeluarkan rintihan, meskipun belum mati, tetapi sudah jelas tertotok hebat oleh Touw Liong.

Tampaknya luka dari serangan jari tangan itu jikalau tidak beristirahat 3 atau 4 bulan lamanya, susah pulih kembali tenaganya.

Sedangkan 3 imam lain yang belum terluka berdiri jauh-jauh bagaikan patung.

Sebagai ketua dari suatu golongan, Thian-siem itu biasanya menganggap dirinya sendiri sebagai tokoh terkuat nomor satu, siapa sangka sejurus saja belum habis, sudah terpukul demikian mengenaskan, bagaimana ia dapat menahan amarahnya?

Apabila hal itu tersiar di kalangan Kang-ouw, bagaimana Thian-siem masih bisa tempatkan diri dalam rimba persilatan?

Oleh karena berpikir demikian, maka sesaat itu hawa amarahnya lantas meluap, dengan menggerakkan pedang panjangnya ia lompat masuk ke dalam pekarangan pendopo, kembali memandang Touw Liong dari atas sampai bawah, kemudian berkata.

"Kau hanya bisa melakukan serangan secara pengecut. Ha ha! Apakah kau masih terhitung seorang gagah?"

Touw Liong tertawa dan balas bertanya.

"Menyerang secara pengecut? Apakah yang kau namakan secara pengecut? Anak buahmu yang terdiri dari delapan imam berbaju kuning itu, dengan mengandalkan jumlah orang yang banyak telah mengurung diriku, oleh karena untuk membela diri, terpaksa aku bertindak lebih dahulu untuk memberi ajaran sedikit kepada mereka, apakah ini juga terhitung sebagai perbuatan pengecut?"

Thian-siem bungkam, lama ia baru berkata sambi menunjuk 5 imam berbaju kuning yang menggeletak di tanah.

"Sekarang tak perlu banyak bicara lagi, hutang darah mereka itu, pinto tidak terlepas kewajiban untuk menuntut balas bagi mereka. Hutang darahmu terhadap mereka aku hendak menagih kembali semua. Aku selamanya tidak suka bertempur dengan lawan bertangan kosong, mereka berlima ada memiliki 5 buah pedang, kau boleh memilih salah satu di antaranya."

Jilid 16 Ini berarti bahwa ia mau bertempur dengan Touw Liong dengan menggunakan pedang.

Kata-katanya itu kedengarannya memang seperti seorang ksatria, tetapi sebenarnya dalam hatinya masih merasa takut untuk menghadapi Touw Liong yang memiliki kepandaian yang demikian hebat.

Pikirnya .

jikalau Touw Liong tak menggunakan 2 macam ilmunya yang luar biasa tadi, dengan pedang biasa saja untuk menghadapi pedang pusaka di tanganku belum tentu ia bisa memenangkan diriku!

Lagipula tiap tokoh kuat rimba persilatan yang mahir dengan ilmu tangan dan ilmu jari tangan, kebanyakan kurang becus menggunakan pedang.

Tidak mungkin ia yang masih demikian muda memiliki berbagai macam ilmu silat yang seluruhnya mahir!

Ia melihat Touw Liong sekarang bertangan kosong, maka ia menduga pasti bahwa Touw Liong tidak mahir dalam ilmu pedang.

Bagi dirinya sendiri, selama itu ia terus menganggap bahwa ilmu pedang yang dipelajarinya itu adalah ilmu pedang nomor satu yang tiada duanya dalam dunia, maka di dalam keadaan sehabis ketakutan setengah mati, masih menantang Touw Liong dengan pedang.

Touw Liong tidak berkata apa-apa, ia menganggukkan kepala, dengan menuruti kehendaknya ia berjalan menghampiri 5 imam yang menggeletak di tanah, dari badan mereka mengambil sebilah pedang, begitu pedang di tangan, lalu digerakkan, hingga menimbulkan suara mengaung dan percikan api bagaikan bintang bertebaran.

Sebagai ahli pedang.

Thian Siem sudah tentu lantas mengetahui bahwa Touw Liong juga mahir dalam ilmu pedang, oleh karenanya, kembali hatinya merasa jeri.

Tetapi karena sudah terlanjur menantang, terpaksa ia hanya bisa menghela nafas panjang, tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, ia lantas menggerakkan pedangnya untuk melakukan serangan.

Dalam hati Touw Liong terkejut.

Pikirnya, imam ini ternyata bukan orang sembarangan, kiranya ilmu pedang Hok-mo Kiam-hwat yang dahulu pernah menggemparkan dunia Kang-ouw dan sudah beberapa ratus tahun menghilang di rimba persilatan.

Kalau begitu, tengkorak yang diketemukan oleh Thian Siem di dalam goa kuno itu pasti adalah tengkoraknya Thian-lam tayhiap.

Kembali ia mengawasi pedang di tangan Thian Siem yang memancarkan sinarnya yang berkilauan, sementara dalam hatinya berpikir .

Pedang ini tak usah dikata juga pasti adalah pedang Hok-mo-kiam yang lama dikabarkan telah menghilang dari rimba persilatan.

Thian-siem melihat Touw Liong mengawasi pedang di tangannya, dengan sikap termangu-mangu, dianggapnya merasa takut, maka ia lalu bertanya sambil tertawa dingin.

"Bocah! Apakah kau mengenali pedangku? Apakah kau juga mengenali ilmu pedangku?"

Touw Liong mengerutkan alisnya, pura-pura menggelengkan kepala dan kemudian berkata.

"Aku tidak tahu ilmu pedang itu apa namanya, tetapi aku dapat mengenali, bahwa ilmu pedang itu mirip dengan ilmu pedang Tay-lo Kim-kong-kiam yang dahulu pernah dimainkan oleh Hui-thian Giok-tiang Liu taihiap, sedang pedang ini juga sama hebatnya dengan pedang Ginkwat Ceng-kiam milik Liu Taihiap!"

Thian-siem totiang menganggukkan kepala dengan sikap dingin, ia memuji Touw Liong seraya berkata.

"Bocah, pengetahuanmu ternyata cukup luas!"

"Pedangnya meskipun bagus, tetapi pedang pusaka dan pedang sakti sejak dahulu harus dimiliki oleh orang yang bijaksana ...."

Berkata Touw Liong sambil tertawa dingin.

Bab 42 UCAPAN TOUW LIONG ITU yang dimaksudkan ialah .

Thian-siem sebenarnya tidak pantas untuk menggunakan pedang pusaka seperti itu.

Thian-siem tahu bahwa Touw Liong mengejek dirinya, tetapi ia tidak marah.

Mengenai ilmu pedangnya, ilmu pedang Hok-mo Kiamhwat, selisih tak banyak dengan ilmu pedang Tay-lo Kimkong-kiam.

Tentang pedangnya sendiri, pedang Hok-mokiam adalah sebilah pedang pusaka, kalau dibanding dengan pedang panjang di tangan Touw Liong sudah tentu jauh lebih berharga.

Oleh karena Touw Liong mengetahui perbedaan yang sangat jauh itu, maka ia harus berusaha jangan sampai mengadu pedang di tangan kanannya, tangan kiri digunakan ilmunya Liang-gie Sim-hwat, bahkan diam-diam sudah mengerahkan pula ilmunya Thay-it Sinjiauw di jari tangannya.

Thian-siem yang sudah mengetahui telah berhadapan dengan seorang lawan tangguh, diam-diam menghela nafas.

Katanya.

"Bocah, marilah kita mulai!"

Touw Liong menerima baik.

Pedang di tangan kanannya mulai menggunakan ilmunya Kim-kong-kiam, sejurus demi sejurus dilancarkan untuk menyerang lawannya.

Thian-siem tidak berani berlaku gegabah, juga menggunakan ilmu pedangnya Hok-mo-kiam untuk menghadapi ilmu pedang Kim-kong-kiam.

Dalam waktu yang sangat singkat, pertempuran sengit terjadi di dalam goa Thian-su-tong.

Waktu itu sudah jam 3 malam, selagi semua orang sedang tidur nyenyak, semua tentu tidak menyangka bahwa di dalam goa di gunung Ceng-sia-san telah terjadi pertempuran mati-matian.

Pek Giok Hwa yang menonton di samping tampak berdiri tertegun.

Ia telah lupa pesan Touw Liong tadi karena dalam seumur hidupnya ia belum pernah menyaksikan pertandingan pedang yang demikian hebat.

Selama itu, ilmu Thay-it Sin-jiauw di tangan kiri Touw Liong masih belum digunakan maka selama itu, hanya tampak berkelebatnya dua bilah pedang yang berputaran, tidak tampak bayangan orangnya, sampaipun Pek Giok Hwa, yang merupakan salah seorang jago golongan wanita, juga menyingkir jauh-jauh karena hebatnya hembusan angin yang keluar dari dua bilah pedang itu.

Sementara itu, lima imam yang berada dalam keadaan terluka parah sudah disingkirkan keluar oleh tiga imam berbaju kuning.

Pada saat itu, di dalam ruangan itu hanya tinggal Pek Giok Hwa seorang yang masih berdiri menyaksikan pertempuran itu.

Dengan tiba-tiba Touw Liong menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga untuk memperingatkan Pek Giok Hwa tentang pesannya tadi.

"Nona Pek, apakah hingga saat ini kau masih belum bertindak mengambil kecapi kuno itu? Kau masih tunggu kapan lagi?"

Pek Giok Hwa baru sadar.

Ketika ia melihat keadaan di sekitarnya, para imam berbaju kuning tadi ternyata sudah tak ada semua.

Ia diam-diam menyesali dirinya sendiri, waktu itu ia tampak di bagian belakang goa Thian-su-tong itu pintunya tengah terbuka, di dalamnya masih tampak samar-samar sinar pelita.

Ia mengerutkan alisnya, dengan tiba-tiba mendapat suatu akal, lalu berjalan masuk ke goa itu dengan pedang di tangan.

Berjalan belum beberapa langkah, telinganya mendengar suara Touw Liong.

"Nona Pek, hati-hati, goa Thian-su-tong ini tak dapat dibedakan dengan goa biasa, awas dengan pesawat rahasia!"

Pek Giok Hwa tertarik oleh peringatan itu, ia lantas berhenti, dan berpaling ke arah Touw Liong yang sedang bertempur sengit.

Ia tersenyum kepadanya, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke goa kuno itu.

Goa Thian-su-tong itu adalah tempat terpenting bagi partai Ceng-sia-pay, sudah tentu tak dapat dimasuki secara sembarangan.

Pek Giok Hwa juga mengerti peraturan itu, maka ketika ia tiba di mulut goa lantas berhenti, dengan sikap sangat hati-hati, matanya memandang atas bawah kiri kanan goa itu, tetapi tidak ada suatu tempat yang patut dicurigai.

Ia adalah gadis keluaran golongan Cit-phoa-san, selamanya itu pandang dirinya sendiri terlalu tinggi, sifatnya agak tinggi hati.

Setelah melihatnya sejenak, ia mengangguk-anggukkan kepala, tangannya menyambar sebuah buntalan tempat duduk piranti bersemedi, dilemparkan ke pintu goa, ternyata tidak terdapat reaksi apa-apa, pintunya masih tetap setengah tertutup dipandang dari luar, dalam goa itu ada sebuah meja sembahyangan, di atasnya terdapat sebuah kecapi kuno yang sedang dicarinya.

Kecapi kuno itu mempunyai daya penarik terlalu besar buat Pek Giok Hwa, karena maksud kedatangannya ke tempat itu ialah untuk mendapatkan kecapi itu maka begitu melihat barang pusaka itu terletak di hadapannya, tidak cukup dari 5 tombak, sudah melupakan bahaya yang berkali-kali diperingatkan oleh Touw Liong.

Dengan pedang terhunus, orangnya bergerak secepat kilat melesat masuk ke dalam goa.

Baru saja ia menerobos masuk ke dalam goa, tiba-tiba terdengar suara keresekan, pintu goa yang setengah tertutup tadi dengan mendadak tertutup rapat, kemudian dari dalam goa terdengar suara jeritan melengking.

Suara jeritan itu bagaikan pedang tajam menikam di ulu hati Touw Liong, hingga sesaat itu sekujur badannya menggetar, gerakan pedangnya juga terpengaruh.

Thiansiem sebaliknya merasa girang, ia memperdengarkan suara tertawa dingin kemudian pedangnya bergerak, dan berhasil menyontek pedang Touw Liong sehingga terlepas dari tangannya.

Kembali ia perdengarkan suara tertawanya, setelah itu ujung pedangnya digerakkan demikian cepat mencecar dada Touw Liong.

Untuk Touw Liong yang menghadapi bahaya besar itu masih bisa berlaku tenang, dicecar demikian, ia lompat mundur 10 langkah, secepat kilat tangan kirinya bergerak melakukan serangan pembalasan dengan ilmu Thay-it Sinjiauw, untuk menyerang Thian-siem yang mengejar dirinya.

Sementara itu tangan kanannya juga melancarkan serangan dengan ilmunya Kim-kong-jiauw, dengan lima jari tangan, ia melakukan serangan.

Hembusan angin yang meluncur keluar menyerbu kepada diri Thian-siem.

Thian-siem yang tak keburu mengelakkan diri terkena serangan dengan tepat.

Serangan dan hembusan angin yang keluar dari jari tangan Touw Liong sesungguhnya tidak ringan, hingga Thian-siem jatuh terguling, sedang pedang pusaka di tangannya juga terlepas dan menancap di sebuah tiang kayu.

Sedangkan Thian-siem sendiri lantas menyemburkan darah dari mulutnya.

Thian-siem mengawasi Touw Liong dengan mata melotot, ia memandang pedangnya yang menancap di atas tiang, gagangnya masih bergoyang-goyang, ia lalu berkata sambil mengertak gigi.

"Bocah she Touw! Permusuhan ini tak akan berakhir, sampai ketemu di lain waktu!"

Ia masih berusaha hendak mencabut pedangnya, tetapi baru melompat hanya 5 kali saja, kembali sudah menyemburkan darah dari mulutnya, maka buru-buru menekap dadanya dan dari sakunya mengeluarkan beberapa pil, ditelan ke dalam mulut, setelah itu ia memandangnya sekali lagi kepada Touw Liong, lantas berjalan keluar.

Touw Liong mengawasi Thian-siem keluar dari pendopo, ia masih tetap dengan sikapnya sebagai seorang ksatria, tidak mau mengambil tindakan terhadap seorang musuh yang sudah terluka parah.

Dengan termangu-mangu ia mengawasi berlalunya Thian-siem, sesaat kemudian ia baru teringat bahwa di dalam goa Thian-su-tong tadi terdengar suara jeritan dari Pek Giok Hwa, ia dapat menduga bahwa Pek Giok Hwa saat itu masih dalam keadaan bahaya maka buru-buru lompat keluar untuk mengejar Thian-siem.

Tetapi Thiansiem dan seorang imam berbaju kuning sudah tidak tampak lagi bayangannya, sedangkan lima imam lain yang rebah di tanah tampaknya sudah tak bisa hidup lagi.

Ketika ia memandang keadaan sekitarnya lagi, di sana-sini tampak gelap gulita, keadaan di situ sepi-sunyi, tak tampak bayangan seorang pun juga.

Touw Liong merasa sangat menyesal, ia balik lagi ke goa bagian belakang, ketika ia menengok ke atas, pedang Hokmo-kiam yang tadi menancap di situ ternyata sudah tidak ada.

Touw Liong diam-diam bergidik, ia lantas lompat melesat ke atas genteng, di situ ia memandang keadaan sekitarnya, di dalam suasana gelap, ditempat sejauh kirakira 30 tombak, tampak sesosok bayangan orang sedang turun gunung dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa hebatnya.

"Siapa dia?"

Demikian Touw Liong bertanya-tanya kepada diri sendiri.

Memang benar, kalau dilihat dari ilmunya meringankan tubuh bayangan itu, sudah merupakan salah seorang tokoh kuat dari rimba persilatan.

Siapakah orang itu??

Touw Liong tidak pergi mengejar, karena ia mengerti, apabila ia mengejar, rasanya juga tidak mudah mencandak orang itu, lagipula apabila ia berlalu dari tempat itu, Pek Giok Hwa yang berada di dalam goa tentu tidak ada orang yang mengawasi, apabila terjadi kesalahan lagi atas dirinya, bukankah akan merupakan penyesalan seumur hidup?

Dengan perasaan masgul Touw Liong lompat turun dari atas genteng, matanya memandang pintu goa Thian-sutong yang tertutup rapat sambil menghela napas, ia tidak berdaya sama sekali, tak tahu bagaimana harus bertindak?

Ia kini pasang telinga, tetapi Pek Giok Hwa yang berada di dalam goa tadi setealah perdengarkan suara jeritannya, tidak terdengar suara apa-apa lagi, hingga Touw Liong semakin cemas.

Ia ingat bahwa di sekitar daerah itu banyak sekali jumlahnya bangunan kuil, kaum imam juga terdapat ratusan jumlahnya, tentu ada yang tahu rahasianya membuka pintu goa itu, tetapi letak goa itu di bagian belakang gunung Ceng-sia, sedangkan kuil-kuil itu dibangun di bagian depan, yang terdekat juga masih terpisah kira-kira tiga sampai lima pal jauhnya, sudah tentu ia tidak bisa mencari orang dari tempat yang demikian jauhnya.

Sebagai seorang yang sangat cerdik, dalam keadaan cemas, ia masih dapat memikirkan bagaimana harus bertindak.

Dengan tiba-tiba ia menemukan suatu akal.

Saat itu, tampak genta kuil yang tergantung di sudut kanan, maka ia lalu membunyikan genta itu, hingga sesaat kemudian suara genta itu berbunyi nyaring.

Begitu suara genta itu berhenti, pertama-tama muncul seorang imam tua berbaju abu-abu yang sikapnya sangat agung.

Imam itu usianya sudah lanjut, dengan sikap tergesa-gesa lari masuk ke bagian depan kuil, ketika matanya menampak lima imam berbaju kuning yang rebah menggeletak di tanah, wajahnya menunjukkan sikap keheranan, buru lari masuk ke belakang.

Touw Liong melihat imam tua itu sikapnya agung dan ramah, buru-buru maju menghampiri memberi hormat, ia perkenalkan dirinya sendiri, dan menceritakan apa yang telah terjadi di tempat itu.

Imam tua itu setelah mendengarkan cerita Touw Liong, buru-buru memberi hormat seraya berkata.

"Sicu benar-benar sudah mengusir pergi murid durhaka itu, kalau begitu Touw-sicu adalah tuan penolong golongan Ceng-sia! Murid durhaka itu tidak pandang mata kepada orang tingkatan tua, bukan saja sudah membunuh habis semua suheng dan sutenya, tetapi juga sudah menghukum pinto selama 3 tahun ...."

Touw Liong mengucapkan kata-kata merendahkan diri, kemudian berkata pula sambil menunjuk ke pintu goa.

"Nona Pek terluka di dalam goa, tolong locianpwee membuka pintunya ...."

Imam tua itu tertawa, kemudian badannya bergerak menuju ke bagian kiri pendopo, di atas dinding tembok ada terdapat sebuah lamput berbentuk segi delapan, lampu itu digerakkan sebentar, lalu terdengar suara berbunyinya pesawat dan pintu goa itu lantas terbuka.

Touw Liong segera tampak Pek Giok Hwa yang rebah di tanah tidak diketahui sudah mati ataukah masih hidup.

Touw Liong semakin cemas, selagi hendak berjalan masuk telah dicegah oleh imam tua itu seraya berkata.

"Harap Touw-tayhiap jangan terburu nafsu!"

Setelah itu ia menggerakkan pula bagian kanan lampu segi delapan, kembali terdengar beberapa kali suara gerakan pesawat, imam tua tadi lalu memberikan tanda dengan tangan, barulah Touw Liong melompat masuk ke dalam goa.

Ia memeriksa Pek Giok Hwa, gadis itu wajahnya tampak pucat, lengan kirinya tertancap tiga batang anak panah pendek.

Imam tua yang berada di belakang Touw Liong lantas berkata.

"Nona Pek sudah terkena panah Mo-i-ciam, anak panah ini sudah diberi racun oleh Thian-siem."

Touw Liong terkejut setelah mendengar bahwa anak panah itu ada racunnya.

Ia buru-buru memeriksa pernafasan Pek Giok Hwa, gadis itu ternyata sangat lemah.

Maka buru-buru mengeluarkan pil Kiu-hwan-tan buatan Bu-tong dari dalam sakunya, dan dimasukkan ke dalam mulut Pek Giok Hwa, di dalam goa itu terdapat tempat tidur dari batu, Touw Liong lalu pondong tubuh Pek Giok Hwa dan diletakkan di atas tempat tidur.

Pil Kiu-hwan-tan yang memiliki khasiat sangat mukzizat, dan imam tua itu sebagai seorang imam tua yang sudah mengenali barang itu, maka lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Dengan adanya pil ini, luka nona Pek tidak menjadi soal lagi."

Imam tua itu lantas bertindak, ia mencabut anak panah di lengan Pek Giok Hwa, sedang Touw Liong membantu menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya dengan ilmunya Tay-lo Kim-kong Sian-kang.

Ketika kekuatan tenaganya disalurkan ke dalam tubuh gadis itu, luka-luka bekas anak panah di lengannya tampak mengalir darah hitam.

Sementara itu muka Pek Giok Hwa perlahan-lahan juga berubah menjadi merah.

Sisa racun dalam tubuhnya, begitu terkena pengaruh obat, semua lantas tersapu bersih di mulut goa, di dalam pendopo saat itu terkumpul banyak orang, mereka semua adalah para imam di bagian depan yang datang karena mendengar suara genta tadi.

Kira-kira seperempat jam kemudian, Pek Giok Hwa perlahan-lahan sadarkan diri, ketika membuka mata, ia lihat Touw Liong dan seorang imam tua berada di sampingnya, mukanya lantas merah dan buru-buru bangun duduk.

Di dalam goa Thian-su-tong mereka berdiam lagi setengah malaman, begitu terang tanah pertama Touw Liong minta diri kepada imam tua, lalu turun gunung.

Para imam di gunung Ceng-sia-san semua mengucapkan terima kasih kepada Touw Liong karena ia telah berhasil mengusir seorang murid pengkhianat dari golongan Cengsia-pay.

Sementara itu imam tua tersebut telah memberikan kecapi kuno itu kepada Pek Giok Hwa.

Turun dari gunung Ceng-sia, Pek Giok Hwa bertanya kepada Touw Liong.

"Touw-taihiap sekarang hendak kemana?"

"Lantaran aku sedang melakukan perjalanan mengejar jejak musuh-musuhku, supaya dapat menyelesaikan penuntutan balasku terhadap kematian ayah bundaku, tak perduli kemana saja asal menemukan jejak It-tiem aku akan kejar,"

Menjawab Touw Liong sambil menghela nafas. Pek Giok Hwa menghela nafas, dengan tiba-tiba Touw Liong teringat kepada kecapi kuno yang dibawa oleh gadis itu, ia lalu bertanya dengan perasaan heran.

"Ayahmu suruh kau meminjam kecapi kuno ini sebetulnya untuk keperluan apa?"

"Sejak ayah pulang dari Pak-bong, setiap hari selalu menarik nafas, akhirnya ayah sering-sering suka marah sendiri, ia sudah mengeluarkan perkataan bahwa dalam sisa hidupnya ini apabila tidak dapat memimpin rimba persilatan, itu berarti hidupnya sebagai seorang bangkai hidup, percuma saja ia hidup di dalam dunia. Coba kau pikir, betapa penderitaan batin ayahku itu,"

Menjawab Pek Giok Hwa sambil menghela nafas dan mengucurkan air mata.

"Dengan sebetulnya ayahmu yang sudah lanjut usianya, semestinya sudah dapat menyadari bahwa hidup manusia dalam dunia itu toh tidak sampai ratusan tahun, perlu apa ia menganggap urusan itu demikian serius?"

Berkata Touw Liong.

"Bukan ayah tak bisa memikirkan soal penghidupan, sebetulnya disebabkan oleh perbuatan tidak patut di atas danau Thian-lie pada waktu itu, seolah-olah mempermainkan dirinya, hingga membuat ayah sulit untuk menyelesaikan soal tersebut. Dalam pertempuran di Pakbong, juga pulang dengan membawa kekalahan, sekarang meskipun lukanya sudah sembuh, tetapi perasaan penasaran ayah itu sukar dipadamkan,"

Berkata Pek Giok Hwa. Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala, ia menunjukkan sikap merasa simpati terhadap nasib tidak beruntung dari Pek Thian Hiong, katanya sambil menghela nafas.

"Manusia memang tak terlepas dari segala godaan, halhal yang tidak memuaskan jauh lebih banyak daripada yang menyenangkan, lihatlah keadaan siaote ini sendiri, musuh ayah-ibu baru saja kelihatan sedikit titik terang, sekarang suhu telah mati secara penasaran. Entah terbinasa di tangan siapa ...."

Pek Giok Hwa yang mendengar penuturan itu, diamdiam juga turut merasa sedih. Touw Liong angkat muka dan berkata pula.

"Kau masih belum memberitahukan padaku, untuk apa sebetulnya ayahmu menghendaki kecapi kuno itu."

Pek Giok Hwa kembali menarik nafas panjang, kemudian berkata.

"Ibarat harimau yang terjebak dalam kurungan, galaknya masih belum hilang, begitulah keadaan ayah, pengalaman pahit yang membuatnya penasaran, kini ia telah berusaha untuk melampiaskan perasaan itu,"

Menjawab Pek Giok Hwa.

"Apakah masih hendak mempelajari ilmu silat lain macam?"

Pek Giok Hwa mengangguk-anggukkan kepala, katanya.

"Masih ada semacam ilmu yang ayah belum selesai mempelajarinya, menurut ayah kata, ilmu itu yang terpenting ialah dengan bantuan sebuah irama, ilmu itu adalah dahulu sewaktu ayah melakukan perjalanan ke daerah Barat, oleh seorang gaib dari daerah situ yang memberikan kepada ayah. Irama itu kedengarannya sangat aneh dan tajam sekali bagi telinga, untuk alat-alat musik yang bersenar lima tidak sesuai untuk irama itu, agaknya masih mengandung rahasia di dalam irama itu, aku telah menanya kepada ayah, dengan cara bagaimana untuk menyesuaikan irama itu, menurut ayah, dalam dunia ini alat musik yang dapat menyesuaikan dengan irama itu hanya ada satu ...."

"Alat musik itu apakah kecapi kuno ini?"

Pek Giok Hwa menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu kuhaturkan selamat kepadamu, cita-cita ayahmu rasanya tidak lama lagi akan tercapai."

Pek Giok Hwa menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Dalam perjalanan ke gunung Cit-phoa-san kali ini, masih memerlukan perjalanan ribuan pal jauhnya, apakah kau kira imam jahat Thian-siem itu mau merelakan begitu saja? Ia pasti akan berusaha untuk menghalangi perjalanan kita. Dengan cara bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan selamat?"

Kata-kata itu, jelas mengandung maksud supaya Touw Liong suka mengulurkan tangan untuk membantu padanya supaya bisa pulang ke Cit-phoa-san dengan selamat!

Touw Liong bukanlah seorang bodoh, bagaimana ia tidak mengerti?

Tetapi ia merasa serba salah, kesatu karena musuh besarnya tak seharusnya dilepaskan begitu saja.

Kedua, barang pusaka yang dibawa oleh Pek Giok Hwa itu justru milik partai Bu-tong.

Di kemudian hari apabila Hianhian Totiang salah paham terhadap dirinya, bukankah ia akan mendapat nama jelek?

Karena dianggapnya ia telah membantu Cit-phoa-san merampas barang pusakanya.

Touw Liong berpikir keras, pikirannya ragu-ragu maka tidak dapat menjawab segera pada Pek Giok Hwa.

Pek Giok Hwa melihat keadaan demikian kembali menarik nafas dan berkata.

"Aku tahu, kalau aku meminta pertolonganmu ini agaknya keterlaluan! Tetapi aku tidak rela melepaskan harapan ayah satu-satunya, walaupun aku harus mengorbankan diri, aku hendak mengantarkan kecapi kuno ini ke gunung Cit-phoa-san."

Touw Liong yang mendengar ucapan itu, hatinya merasa pilu, ia angkat muka dan menatap wajah Pek Giok Hwa. Pek Giok Hwa kembali berkata dengan suara sedih.

"Sampai berjumpa pula, Touw tayhiap!"

Sehabis berkata demikian ia lompat ke atas kudanya, kemudian melambaikan tangan kepada Touw Liong dan melarikan kudanya dengan pesat.

Touw Liong mengawasi berlalunya Pek Giok Hwa, pikirannya bimbang.

Setelah kembali ke tempat penginapannya, ia minta kembali kudanya, lantas menyamar lagi dan diam-diam menyusul Pek Giok Hwa.

Pek Giok Hwa masih tetap melalui jalan yang telah dilalui ketika datang kemari.

Hari kedua sudah tiba di kota Seng-tho, dari situ ia menuju ke selatan, dengan melewati gunung Kiong-lay-san, sepanjang perjalanannya itu tidak menemukan kejadian apa-apa.

Hari keempat, ketika tiba di daerah Kiong-lay, Touw Liong dalam hati bertanya-tanya sendiri .

Kiong-lay ini adalah termasuk daerah pegunungan Cit-phoa-san, rasanya tak akan terjadi bahaya lagi.

Selanjutnya, ia telah melihat ada muncul beberapa orang dari golongan Cit-phoa-san.

Orang pertama yang dilihat oleh Touw Liong adalah, Siaow-thian Kok-cu, Soa Lip, kedua ialah orang tua berkaki satu; orang ini di danau Siaothian-tie dahulu pernah memimpin pertemuan yang berakhir dengan tidak enak bagi golongan Cit-phoa-san.

Orang ketiga yang dilihat ternyata adalah Pek Thian Hiong sendiri.

Oleh karena dalam perjalanan melindungi Pek Giok Hwa itu Touw Liong mengenakan muka dan pakaian menyamar, ditambah lagi ia mengikuti dari jarak jauh, maka tidak diketahui oleh orang-orang yang pada bermunculan itu.

Ia menghela nafas perlahan dan berkata kepada diri sendiri.

"Sudah cukup aku berusaha, dan tugasku untuk mengantar ia sudah selesai. Nona Pek, bagaimanapun juga aku sudah berbuat secukupnya untukmu!"

Dari jauh ia mengawasi berlalunya Pek Giok Hwa bersama ayahnya, lalu menunjukkan senyum puas, kemudian ia balik pulang.

Tujuan selanjutnya ialah ke selatan untuk mendaki gunung Ngo-bie-san.

Kuda tunggangannya sudah dikembalikan lagi ketika melintasi kota perbatasan, tetapi karena Touw Liong memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, maka jalan kaki sebetulnya lebih pesat daripada naik kuda.

Pada saat itu, waktu tengah hari, teriknya matahari seolah-olah membakar dirinya, di jalan raya sedikit sekali orang-orang yang berjalan, tanah datar di kedua sisi keadaannya sepi, tetapi Touw Liong coba menghitunghitung, terpisah dengan Pek Giok Hwa barangkali sudah 20 pal, dalam hati diam-diam sedang berpikir .

saat ini Pek Giok Hwa seharusnya sudah tiba di daerah Kiong-lay!

Dengan tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dari jauh tampak semakin dekat, hingga membuyarkan lamunan Touw Liong.

Touw Liong terkejut, dalam hati berpikir.

"Siapakah orang itu? Di waktu siang hari yang matahari bersinar terik demikian, mengapa melakukan perjalanan tergesa-gesa demikian rupa?"

Belum lenyap pikirannya, dari jauh sudah tampak seekor kuda yang dilarikan ke arahnya.

Touw Liong buru-buru menyingkir untuk memberi jalan, sedang matanya ditujukan kepada penunggangnya.

Penunggangnya ternyata seorang paderi yang mempunyai perawakan gemuk luar biasa.

Paderi gemuk itu usianya kira-kira sudah 50 tahun ke atas, senjatanya digantung di pundaknya tampak sinarnya yang tertimpa sinar matahari, hampir menyilaukan mata.

Paderi itu menunggang kuda tinggi besar berwarna merah, selain tubuhnya yang gemuk luar biasa, sepasang matanyapun luar biasa gedenya, ia larikan kudanya demikian cepat hingga dalam sekejap matanya saja paderi itu sudah melewati Touw Liong.

Paderi itu tampaknya mahir sekali menunggang kudanya, jelas ia merupakan salah seorang kuat dalam rimba persilatan.

Touw Liong mengawasi paderi yang melarikan kudanya demikian cepat, sedang dalam hatinya bertanya-tanya kepada diri sendiri .

Siapakah paderi itu?

Sesuatu kejadian yang di luar dugaannya kembali telah memutuskan pertanyaan di hatinya tadi.

Paderi gemuk tadi dengan tiba-tiba memutar kudanya dan dilarikan balik kembali ke arahnya.

Dalam hati Touw Liong terkejut dan terheran-heran tetapi ia masih berdiri tegak di tepi jalan dengan memandang paderi yang melarikan kudanya ke arahnya.

Begitu tiba di hadapan Touw Liong, paderi itu mendadak menghentikan kudanya, kuda itu yang dihentikan secara mendadak, dua kaki di depan diangkat tinggi hingga semacam orang yang berdiri tegak, tetapi paderi gemuk itu masih tetap duduk di atasnya tanpa bergerak sedikitpun.

Ketika kaki kuda itu menginjak tanah, terpisah hanya kurang 5 kaki di hadapan Touw Liong.

Paderi gemuk itu lalu perdengarkan suara tertawanya yang nyaring, suaranya menggema di tempat yang kosong itu.

Touw Liong masih tetap tak mengeluarkan suara apa-apa dan dengan tiba-tiba paderi gemuk itu menghentikan tawanya, sedang mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras.

"Bocah, kau sungguh berani!"

"Taysu terlalu memuji!"

Menjawab Touw Liong sambil mendongakkan kepala. Paderi gemuk itu kembali tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Tadi jikalau aku tidak keburu menarik tali kuda, apakah kau tidak akan terinjak-injak oleh kaki kuda sehingga hancur lebur?"

"Itu anggap saja bahwa nasibku buruk, harus mati secara demikian,"

Menjawab Touw Liong dengan masih tetap angkat muka. Paderi gemuk itu bungkam, kemudian ia menganggukkan kepala dan berkata.

"Dengan sebetulnya aku hendak bertanya kepadamu, hingga aku perlu menghentikan kudaku, jika tidak, kau sekarang ini sudah menjadi bubur."

Dalam hati Touw Liong merasa marah, namun di wajahnya masih menunjukkan sikap seperti biasa, kemudian dengan tenang berkata.

"Ada urusan apa Taisu hendak bertanya kepadaku?"

Paderi gemuk itu berpaling dan mengawasi jalan raya, kemudian berkata.

"Kau tadi datang dari mana?"

"Kiong-lay,"

Jawabnya singkat.

"Di tengah perjalanan apakah kau tadi tidak bertemu dengan seorang perempuan muda yang membawa bungkusan bentuk panjang di atas punggungnya?"

Touw Liong angkat pundak, suatu tanda bahwa tidak tahu.

Namun dalam hatinya berpikir .

Kalau begitu orang perempuan yang dimaksud oleh paderi gemuk ini tentunya adalah Pek Giok Hwa sendiri.

Ia sengaja menggoda paderi gemuk itu, ia tidak menjawab jelas kepadanya, sebaliknya malah bertanya.

"Apakah Taisu datang dari gunung Ngo-bi?"

Paderi gemuk itu menunjukkan sikap tidak sabar, ia menggelengkan kepala dan menjawab singkat.

"Siaow-lim."

Hati Touw Liong tergerak, ia mengajukan pertanyaan pula.

"Apakah Taisu kenal dengan It-tiem Totiang dari Butong?"

Paderi gemuk itu dengan tiba-tiba pelototkan matanya lebar-lebar, katanya dengan suara marah.

"Bocah, apakah kau orang dari golongan Cit-phoa-san?"

Touw Liong diam-diam berkata kepada diri sendiri .

mungkin itulah tujuannya.

Dengan tidak menjawab pertanyaan dari paderi itu, tibatiba orangnya bergerak dan lari menuju ke arah Kiong-lay dengan melalui samping diri paderi gemuk itu.

Sembari berjalan ia berkata sambil tertawa panjang.

"Kepala gundul, tuan mudamu akan menunggu kau di depan sana."

Bab 43 PADERI DARI GEREJA SIAUW-LIM ITU berteriakteriak, kemudian memutar balik kudanya dan dilarikan pesat untuk mengejar Touw Liong.

Tetapi waktu itu Touw Liong sudah berada sejauh 17-18 tombak.

Touw Liong membelok ke sebuah tikungan di jalan pegunungan, dua sisi jalan itu semuanya merupakan pohonpohon cemara, tergeraklah hatinya, ia mendapatkan suatu akal, ia lompat ke samping dan melesat ke atas pohon tinggi.

Tak lama kemudian, paderi gemuk itu sudah mengejar, mulutnya berteriak-teriak tak henti-hentinya.

Dalam waktu sekejap mata ia sudah melalui 3 buah bukit, daerah Kiong-lay sudah tampak di hadapan matanya, tetapi paderi gemuk itu tidak berhasil mencandak Touw Liong, ia mengawasi jalan raya yang lurus menuju ke Kiong-lay, sementara dalam hatinya berkata pada diri sendir.

"Bocah itu mendadak bisa berubah menjadi dewa, dalam jarak lima pal toh tak ada orang lain yang menuju kemari. Kemana ia telah menghilang?"

Paderi gemuk dari Siao-lim itu mengira ilmu lari cepat Touw Liong luar biasa sekali, tetapi dia tidak tahu kalau Touw Liong saat itu malah ketinggalan di belakangnya dan duduk tenang-tenang di atas pohon.

Paderi gemuk itu terus larikan kudanya masuk ke pedesaan Kiong-lay, sedangkan Touw Liong selangkah demi selangkah mengikuti jejak di belakangnya.

Tak lama kemudian, paderi gemuk itu sudah tiba di tembok kota, langsung masuk melalui pintu timur.

Kota Kiong-lay itu tidak besar, karena letaknya dekat daerah Tibet maka keadaannya agak terpencil.

Di dalam kota juga hanya terdapat sebuah rumah penginapan yang merangkap sebagai rumah makan dan rumah minum, pada saat itu, sedang waktunya orang makan siang.

Para tamu yang datang menginap jumlahnya tidak banyak, di depan pintu rumah penginapan terdapat beberapa ekor kuda.

Touw Liong yang mengikuti paderi itu masuk ke dalam kota, coba memeriksa kuda-kuda yang berada di depan rumah penginapan, tetapi di antara beberapa ekor kuda itu, tidak terdapat kuda Pek Thian Hiong dan puterinya, maka diam-diam merasa heran.

Paderi tua itu lompat turun dari kudanya, berjalan masuk ke rumah penginapan, tetapi sebentar kemudian ia sudah balik keluar dan naik ke atas kudanya lagi, kuda itu dilarikan ke pintu sebelah barat.

Sementara itu Touw Liong terus membuntuti perjalanan paderi itu, juga mengikuti jejaknya.

Paderi gemuk itu melarikan kudanya di atas jalan pegunungan yang terjal, tak perlu dikata lagi, maksudnya ialah hendak mengejar Pek Thian Hiong dan puterinya.

Ia larikan kudanya demikian pesat, tetapi matanya terus memperhatikan keadaan di sekitarnya agaknya sedang menantikan sesuatu.

Kira-kira setengah jam kemudian ia masih belum berhasil mencandak jejak Pek Thian Hiong dan puterinya.

Paderi gemuk itu terus memacu kudanya demikian pesat, hingga kuda itu lari bagaikan terbang, berjalan di daerah pegunungan yang agak sulit itu.

Lari kira-kira dua-tiga puluh pal, dalam pegunungan itu tiba-tiba terdengar dua kali suara aneh, mata paderi itu terbuka lebar ketika mendengar suara itu kemudian tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Benar! Tidak salah lagi! Sahabat lama tetap merupakan sahabat lama, sedikitpun tidak mengingkari janji."

Dua kali suara siulan aneh tadi datangnya secara tibatiba, karena suara itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang cukup sempurna, jikalau bukan seorang tokoh kuat pada dewasa itu tak akan bisa mengeluarkan suara demikian.

Touw Liong diam-diam merasa girang, ia coba menduga-duga.

"Tidak salah lagi, itu pastilah dua kawanan jahat tadi."

Dua orang yang dimaksudkan ialah It-tiem dan Thian-siem dua imam jahat itu.

Paderi gemuk itu pacu kudanya, tampaknya sudah ingin sekali bisa menggabungkan diri dengan orang yang dinantikan itu.

Selagi Touw Liong mempercepat langkahnya untuk mengejar, paderi gemuk itu dengan tiba-tiba mengeluarkan siulan panjang, ditujukan ke bagian dalam daerah pegunungan tersebut.

Begitu suara siulan itu melengking di udara, dari dalam daerah pegunungan timbul suara yang menyahutinya.

Suara itu sangat aneh, tidak mirip dengan suara Pek Thian Hiong atau Pek Giok Hwa.

Touw Liong yang tertarik oleh suara itu, ia mengenali baik-baik arah dari mana datangnya suara tersebut, dengan tiba-tiba menggerakkan tangannya dan kakinya lompat melesat ke sebuah puncak gunung, kedua matanya ditujukan ke tempat suara tadi.

Di belakang puncak gunung itu tampak dua orang menyongsong kedatangan paderi gemuk dari gereja Siaolim-sie, dua orang itu satu lelaki dan satu perempuan, yang laki alisnya putih tajam sedang yang perempuan mengenakan kerudung kain hitam, rambutnya putih.

Perempuan itu bukan lain daripada perempuan yang mengaku dirinya sebagai Panji Wulung, yang selama ini dicari oleh Touw Liong, namun tidak tampak jejaknya.

Orang tua beralis putih itu juga merupakan seorang paderi berkepala gundul, tangannya membawa sebatang tongkat rotan, sedang Panji Wulung wanita masih tetap dengan tongkatnya yang dahulu.

Touw Liong yang mengingat bahwa dengan munculnya Panji Wulung Wanita itu sudah tentu juga akan diketahui di mana jejak sumoynya, maka dalam hatinya diam-diam merasa girang.

Tanpa disadarinya ia sudah mendongakkan kepala dan mengeluarkan siulan panjang.

Suara itu bagaikan menggeramnya seekor naga, suaranya menggema di seluruh daerah pegunungan yang luas itu.

Panji Wulung wanita semula menyongsong kedatangan paderi Siauw-lim-sie dengan langkahnya yang pesat, begitu mendengar suara siulan Touw Liong, lantas berhenti, kepalanya mendongak mengawasi ke atas puncak.

Puncak gunung itu meruncing tetapi tidak tinggi, waktu itu tempat yang digunakan oleh Touw Liong untuk tancap kaki justru di sebuah batu yang terdapat di puncak gunung itu.

Oleh karenanya maka tubuhnya tampak tegas.

Panji Wulung Wanita yang memiliki pandangan mata luar biasa, begitu melihat sudah tahu kalau orang itu adalah Touw Liong.

Sesaat ia terkejut, tetapi kemudian ia tertawa terbahakbahak.

Ia terkejut oleh karena dari suara siulan Touw Liong tadi telah membuktikan bahwa kekuatan tenaga dalamnya pemuda itu sudah pulih kembali, bahkan lebih hebat daripada sebelum dimusnahkan kepandaiannya.

Ia tertawa girang oleh karena menemukan kembali diri Touw Liong.

Nyata, kalau begitu bahwa diri sendiri juga mencari Touw Liong.

Touw Liong sendiri setelah mengeluarkan siulan itu lantas melayang turun ke bawah dan berdiri di hadapan Panji Wulung Wanita.

Panji Wulung memperdengarkan suaranya yang aneh, ia miringkan kepala dan berkata kepada paderi beralis putih yang berada di belakangnya.

"Ini adalah si setan kecil itu yang pernah kukatakan kepadamu."

Paderi beralis putih itu merangkapkan tangannya memberi hormat, sambil berkata.

"Tecu Keng Tie."

Panji Wulung kembali berpaling dan berkata kepada Touw Liong.

"Bocah! Manusia memang benar-benar di mana saja bisa bertemu. Kita akhirnya toh berjumpa lagi!"

Touw Liong entah apa sebabnya terhadap Panji Wulung Wanita itu bersikap sangat hormat. Ia masih tetap menjawab dengan sikap yang ramah.

"Ya, kita berjumpa lagi!"

"Di atas gunung Bu-san aku menotok tidak sampai mati kepadamu, tak kuduga setengah tahun kita tak bertemu, kini ternyata kau telah mendapat kemajuan pesat sekali."

"Hadiah locianpwee di atas puncak gunung Sin-li-hong, hingga kepandaian ilmu silat boanpwee pada waktu itu telah locianpwee musnahkan seluruhnya. Tetapi tidak beberapa lamanya kemudian telah mendapat belas kasih oleh seorang cianpwee lain sehingga ditolong dan dipulihkan kembali,"

Menjawab Touw Liong yang perasaannya agak marah. Panji Wulung Wanita itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Bagus ...."

Kemudian ia perdengarkan suara tertawanya, dan setelah itu ia berkata pula.

"Antara kita sebetulnya merupakan orang-orang serumpun, kepandaian silatmu sudah pulih kembali, aku juga merasa girang!"

Ia berhenti sejenak, lalu mengulurkan tangannya kepada Touw Liong seraya berkata.

"Bawa kemari!"

Touw Liong terkejut dan balas bertanya.

"Apa yang harus dibawa kemari?"

Panji Wulung menunjuk kantong rumput Touw Liong seraya berkata.

"Bawa kemari apa? Perlukan aku harus menjelaskan lagi?"

Touw Liong memberi hormat dan berkata.

"Boanpwee tidak mengerti apa yang dikehendaki oleh cianpwee."

"Apa yang kukehendaki? Hmmm! Kau berlagak pilon. Kesatu, aku menghendaki dua belas buah Panji Wulung yang ada lukisannya awan dan angin menderu, di tengah awan itu terdapat matahari yang setengah tertutup oleh gumpalan awan. Kedua, aku menghendaki kitab yang ditulis oleh Liu tayhiap sendiri. Kitab itu adalah kitab Taylo Kim-kong. Ketiga, aku menghendaki ilmu kekuatan tenaga dalam Sim-khang dan ilmu menyamar yang tertulis dalam kitab ilmu Thay-it Cin-keng. Keempat, aku menghendaki pedang Khun-ngo-kiam. Kelima, aku menghendaki tiga butir pil Kiu-wan-tan yang berada di dalam dirimu."

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala, tidak berkata apa-apa. Panji Wulung sangat marah, ia membentak dengan suara keras.

"Kau tak mau memberikan?!"

Touw Liong menganggukkan kepala.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, mata Panji Wulung ditujukan ke arah belakang Touw Liong, ia segera menampak seekor kuda berbulu merah yang di atasnya duduk seorang paderi bertubuh gemuk, sedang lari menuju ke arahnya.

Panji Wulung lalu bertanya kepada Touw Liong sambil menunjuk padri gemuk.

"Anak busuk! Kau ternyata masih membawa pembantu!"

Touw Liong menggelengkan kepala dan menjawab.

"Aku tidak kenal."

Panji Wulung tampak sedikit terkejut, sedang paderi beralis putih itu yang selama itu tidak mengeluarkan suara ketika mendengar ucapan Panji Wulung segera maju selangkah dan berkata kepadanya dengan sikap sangat menghormat sekali.

"Kokcu, itu adalah Bu Siem Taisu dari Siauw-lim-pay."

Panji Wulung lalu mengebutkan tangannya, dan memanggil dengan suara perlahan.

"Bu Siem ...."

Paderi beralis putih menjawab dengan suara perlahan pula.

"Dua belas pahlawan kauwcu, di dalamnya terdapat nama Bu Siem Taysu."

Panji Wulung menganggukkan kepala dan berkata.

"O, iya! Orang-orang di bawah perintah kita seharusnya ada orang seperti dia itu."

Touw Liong terkejut ketika mendengar sebutan "kauwcu"

Untuk Panji Wulung wanita itu, sementara itu Bu Siem Taysu yang datang dengan menunggang kuda, ketika berada di situ, lantas mendelikkan matanya dan mengeluarkan seruan kaget, kemudian bertanya kepada paderi beralis putih.

"Hei, kau?!"

Paderi beralis putih menyapa sambil merangkapkan kedua tangannya kemudian berkata dengan sikap sungguhsungguh.

"Bu Siem suheng, jangan berlaku gegabah, kauwcu ada di sini, harap lekas memberi hormat."

"Kauwcu??"

Bertanya Bu Siem taysu sambil mendelikkan matanya.

"Perkumpulan apa?"

"Hmmm!"

Demikian Panji Wulung Wanita mengeluarkan suara dari hidung, kemudian dari dalam sakunya perlahan-lahan mengeluarkan sepasang panji kecil warna hitam dan dikebutkan di hadapan Bu Siem taisu.

Bu Siem taisu melihat panji kecil itu wajahnya berubah pucat seketika, badannya gemetaran, buru-buru ia lompat turun dari atas kudanya, dan maju menghampiri Panji Wulung wanita untuk memberi hormat kepada kauwcu yang ia sendiri belum tahu, dari perkumpulan mana.

Touw Liong juga memasukkan tangannya ke dalam sakunya, mengeluarkan sebuah Panji Wulung kecil bergagang batu giok, dikibarkan kepada Bu Siem taisu, hembusan angin dingin menyambar, kali ini Bu Siem taisu benar-benar telah menggigil, lututnya yang sudah ditekuk telah tersapu oleh angin dingin tadi, sehingga ia buru-buru melompat mundur sehingga tiga langkah baru berhasil menahan dirinya.

"Sungguh hebat ilmumu Tay-lo Kim-kong Sian-khang!"

Dengan suara pujian keluar dari mulut Panji Wulung.

Sepasang mata Bu Siem taisu terbuka lebar, mukanya yang gemuk tampak berkerenyit dua kali, mata yang terbuka lebar itu penuh hawa amarah, dengan memandang kepada Touw Liong, ia bertanya dengan suara bengis.

"Bocah! Ilmumu Tay-lo Kim-kong Sian-Khang kau dapat mencuri dari mana? Tahukah kau itu adalah ilmu ampuh yang tidak diturunkan kepada siapapun juga dari golongan Siauw-lim-pay jikalau tidak mendapat perkenan dari ciangbunjin, siapapun tidak dapat mempelajari ilmu yang sangat ampuh itu."

Touw Liong sedikitpun tidak marah, ia hanya tertawa kecil pura-pura bersikap acuh tak acuh, dan berkata.

"Sudah tentu aku belajar ilmu ini sudah tentu ada sebabnya, jikalau tidak, bukankah aku akan dicemoohkan oleh kawan-kawan rimba persilatan sebagai seorang yang mencuri kepandaian ilmu partai lain?"

Sementara Panji Wulung wanita yang merasa kehilangan muka lantas berkata dengan suara keras.

"Bu Siem, dengar, kami sudah mengangkat kau sebagai salah satu dari 12 pahlawan yang ditugaskan untuk memegang jabatan di barisan Thian-ceng, lekas kembali kepada kami untuk mendengar perintah lebih jauh."

Bu Siem taisu menyahut, selagi hendak maju menghampiri Panji Wulung dengan melalui samping Touw Liong, Touw Liong sudah berkata padanya.

"Kalau kau berani ke sana, aku nanti akan suruh kau mati di bawah panji ini."

Bu Siem taisu diam-diam merasa bingung, sebab dua orang itu, dalam tangan sama-sama memegang Panji Wulung, di dalam rimba persilatan telah tersiar suatu peraturan yang entah dibuat oleh siapa, bagi siapa yang melihat Panji Wulung, pasti mati, dan hari itu dua buah Panji Wulung semua telah ditujukan kepadanya, maka ia tidak tahu seharusnya mendengar perintah yang mana?

Panji Wulung tampak marah, bentaknya.

"Anak busuk, jikalau kau berani menghalangi dia, aku nanti akan hajar mampus di bawah tongkatku!"

Touw Liong tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Ada aku di sini, dia tidak bisa ke sana, kecuali locianpwee menerima baik satu permintaanku ...."

"Urusan apa?"

Bertanya Panji Wulung marah.

"Harap serahkan kembali adik seperguruanku,"

Berkata Touw Liong.

"Ha ha ...."

Demikian Panji Wulung perdengarkan tawanya yang nyaring dan menusuk telinga, kemudian berbalik menanya kepada paderi beralis putih.

"Pek Bi, coba kau lihat, urusan ini lucu atau tidak, ia masih mencari Kim Yan?"

Wajah Touw Liong berubah seketika, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Apakah Kim Yan ...."

Pek Bi, si paderi beralis putih berkata sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Sudahlah, kau jangan pikirkan lagi tentang adik seperguruanmu! Dia sekarang sudah merupakan seorang terpenting dalam perkumpulan kami, kini sudah menduduki tempat penting dengan gelarnya Puteri Naga dari Kao-cu, hubungan dengan partai Kiu-hwa sudah lama putus. Kau jangan harap dia masih menganggap kau sebagai suhengnya lagi!"

Panji Wulung wanita memberi tambahan.

"Barang-barang pusaka yang ada padamu, sebagai tanda bakti kepadaku, ia juga sudah beritahukan kepadaku semuanya."

Touw Liong sangat marah, sehingga rambutnya pada berdiri, katanya dengan suara gemas.

"Kalau demikian halnya, adik seperguruanku juga sudah terjatuh di tangan kejam Tiam-cong!"

"Aku memilih dia sebagai bawahanku, ini boleh dikata ada rejekinya yang besar! Dengan menggunakan waktu 6 jam, aku telah menyalurkan ilmuku Hek-hong Im-hong Sim-khang ke dalam tubuhnya. Kekuatan tenaga dalamnya sekarang ini sudah jauh berbeda dengan keadaannya dahulu. Juga sudah tidak seperti dia lagi selama masih bersama-sama denganmu,"

Berkata Panji Wulung dengan sangat bangganya.

Touw Liong kalau memikirkan keadaan golongan Kiuhwa, hanya ia dan adik seperguruannya itu seorang saja, kematian suhunya hingga saat itu masih menjadi teka-teki, dan sekarang adik seperguruannya telah terjatuh di tangan Panji Wulung wanita.

Untuk selanjutnya apabila bertemu muka dengannya, bahkan mungkin akan berbalik dipandang musuh.

Bagaimana kalau Touw Liong tidak marah?

"Cianpwee sebetulnya bertindak keterlaluan!

Kalau begitu terpaksa aku hendak berlaku dosa terhadap cianpwee.

O, iya.

Barang-barang yang cianpwee kehendaki itu semuanya berada dalam badanku.

Tetapi selama aku Touw Liong masih bernafas, jangan harap locianpwee bisa mendapatkannya,"

Berkata Touw Liong dengan suara keras.

"Minggir! Kau lihat, aku bisa mendapatkan barang itu dari tanganmu atau tidak?"

Berkata Panji Wulung dengan sombongnya.

Touw Liong masih berdiri tegak.

Panji Wulung tak memperlihatkan tindakan apa-apa, perlahan-lahan ia menyedot nafas.

Pek Bie, si padri alis putih yang menyaksikan keadaan demikian, buru-buru lompat mundur sejauh tiga kaki.

Touw Liong juga bukan seorang bodoh, begitu melihat Panji Wulung menyedot nafas sudah tentu ia tak berani gegabah, buru-buru menggunakan ilmu Liang-gi Sim-hwat dan mengerahkan ilmunya Thay-it Sim-khang serta Tay-lo Siam-khang sepenuhnya, siap sedia hendak menyambut serangan Hek-hong Im-khang dari Panji Wulung wanita itu.

Ia tahu Panji Wulung itu pasti akan menyerang dirinya dengan ilmunya yang baru ialah ilmu Hek-hong Im-khang yang mengandung sambaran angin sangat dingin sekali.

Tangan Panji Wulung wanita yang memegang panji kecil warna hitam, perlahan-lahan diangkat tinggi di atas kepalanya, ia membuat gerakan lingkaran, sesaat kemudian sekitar tubuhnya mengeluarkan angin dingin, dan dengan tiba-tiba seperti timbul angin puyuh, hingga batu-batu dan tanah-tanah pada berterbangan, angin itu mengandung kekuatan hebat, dayanya yang luar biasa menggulung tubuh Touw Liong yang berdiri tegak.

Angin itu menghembus ke tubuh Touw Liong.

Touw Liong merasakan seperti direndam dalam air es, hingga diam-diam juga merasa terkejut.

Untung, ia sudah menyiapkan dua macam ilmunya, ilmunya Thay-it Sin-kang digunakan untuk menutup sekujur jalan darah dalam tubuhnya, sedang ilmunya Taylo Sim-kong Sian-khang menghembus keluar menyambut ilmu Hek-hong Im-khang yang dilancarkan oleh Panji Wulung wanita, ilmu Tay-lo siam-khang perlahan-lahan mendesak mundur hawa angin dingin itu sehingga setombak jauhnya.

Panji Wulung wanita perdengarkan suara tertawa dingin berulang kali, tongkat di tangan kanan diangkat tinggi, ujung tongkat menyemburkan kekuatan yang meluncur ke jalan darah di bahu Touw Liong.

Sikap Touw Liong waktu itu masih tetap seperti biasa, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Panji Wulung menarik kembali serangan tongkatnya, kemudian berkata sambil tertawa.

"Bagus, bocah! Jalan darah Kiam-keng-hiap di lengan kananmu sudah kutotok, di dalam dunia ini hanya aku seorang yang bisa membuka totokan itu, dalam waktu tiga hari kuperingatkan kau lekas datang di gunung Hek-hongsan menjadi muridku, dan berikan beberapa barang pusaka yang ada di badanmu. Aku nanti akan buka totokanmu, tetapi apabila lewat batas waktu itu kau tak datang, berarti kau tiada bermaksud dengan sejujurnya, maka lengan kananmu nanti tidak bisa kau gunakan lagi, dan menjadi cacad untuk seumur hidup!"

Touw Liong yang mendengar ucapan itu, wajahnya berubah seketika.

Ucapan Panji Wulung wanita itu bukannya gertak sambal saja, ilmu Hek-hong Im-khang memang benar lihay, hal itu diketahui olehnya, maka ketika mendengar ucapan itu, ia lantas berdiri tertegun.

Tetapi ketika ia mengatur pernafasannya untuk mencoba memeriksa keadaan dalam tubuhnya di lengan kanannya itu ternyata tidak ada perasaan apa-apa.

Namun ia mengerti bahwa ilmu Hek-hong Im-khang itu bekerjanya pasti sangat perlahan, orang yang terkena serangannya pada waktu itu masih belum merasakan apaapa maka tanpa disadari ia sudah menarik nafas, sedng dalam hatinya diam-diam berkata sendiri.

"Sudahlah! Semua adalah nasib."

Sementara itu Bu Siem taisu yang sejak tadi memperhatikan keadaan Touw Liong telah mempergunakan kesempatan itu buru-buru lari melalui sampingnya.

Touw Liong berdiri tertegun memikirkan persoalannya sendiri, hal itu sedikitpun tak dihiraukan oleh Panji Wulung wanita, dengan sangat bangga ia menerima hormat kebesaran dari Bu Siem taisu.

Pek Bie si paderi beralis putih, bertanya kepada Bu Siem.

"Dengan cara bagaimana suheng bisa tiba ke Kiong-lay ini?"

"It-tiem dan Thian Siem dua sahabatku itu telah menjanjikan aku hendak mencegat Pek Thian Hiong di jalan daerah Kiong-lay, untuk minta kembali kecapi kunonya."

Begitu mendengar disebutkan nama It-tiem, mata Touw Liong menjadi merah, dalam hatinya berkata sendiri.

"Jadi It-tiem sudah berada di Kiong-lay?"

Dengan tiba-tiba ia ingat bahwa batas waktunya hanya 3 hari, maka ia lalu menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya kepada diri sendiri.

"Tiga hari kemudian apakah aku benar-benar naik ke gunung Hek-hong-san untuk berlutut minta ampun kepadanya?"

Tetapi kemudian dijawabnya sendiri.

"Kalau begitu lebih baik aku mati juga tak mau berbuat demikian. Tiga hari selama tangan kananku belum menjadi cacad, aku harus berusaha untuk membunuh mati musuh yang membinasakan ayahku. Aku akan bawa kepalanya untuk dibuat sembahyang di hadapan makam ayah ibuku."

Dengan mata merah menyala, ia mengawasi Panji Wulung wanita, kemudian berkata dengan suara perlahan.

"Di lain waktu kita berjumpa lagi!"

Setelah itu ia memutar diri, dan berjalan menuju ke arah semula. Di sepanjang jalan dalam hatinya berpikir.

"Bukan saja kau harus membunuh It-tiem untuk menyelesaikan permusuhan ini, akupun juga akan membunuh Thian Siem untuk menuntut balas paman Khang. Di samping itu masih ... Haaa, waktu 3 hari terlalu singkat sekali. Bagaimana aku harus melakukan pekerjaan begitu banyak? Dengan cara bagaimana kematian suhu, setidak-tidaknya toh aku harus mengadakan penyelidikan dahulu!"

Ia berjalan pesat sekali, tanpa dirasa sudah melalui dua puncak gunung, terpisah dengan Panji Wulung wanita tadi kira-kira sudah sejauh 10 pal lebih.

Dengan tiba-tiba dari arah depan terdengar suara derap kaki kuda pula, ia lalu angkat muka menujukan pandangan matanya ke depan.

Dari depan, tampak kedatangan dua penunggang kuda, mereka itu ternyata adalah Pek Thian Yong dan putrinya.

Touw Liong lalu menyongsong Pek Thian Yong dan puterinya, buru-buru menggoyang-goyangkan tangannya untuk memberi isyarat kepada Pek Thian Yong.

Pek Thian Yong tahu, pasti ada urusan maka segera menghentikan jalannya.

Bab 44 Pek Giok Hwa ketika bertemu muka dengan Touw Liong semula ia terkejut, kemudian ia mengerahkan tenaganya untuk lari menghampirinya dan bertanya dengan perasaan girang.

"Touw tayhiap, bukankah kau pernah kata bahwa kau ada urusan lain, bagaimana kau sudah berada di Kionglay?"

Touw Liong tak menghentikan langkahnya, memberi isayat dengan tangannya kepada Pek Giok Hwa.

Pek Giok Hwa mengerti, maka lalu memutar tubuhnya dan lari berendeng bersama-sama Touw Liong.

Dengan tergesa-gesa Touw Liong menjawab pertanyaannya.

"Panji Wulung wanita yang mengenakan kerudung muka itu berada di belakang kita .... di samping itu, aa ...! Sejak dari gunung Ceng-sia-san setiap hari diam-diam aku mengikuti jejakmu, sehingga .... dua jam berselang, di daerah Kiong-lay aku melihat ayahmu sudah menyambut kedatanganmu, barulah aku balik kembali."

Wajah Pek Giok Hwa terlintas perasaan girangnya, dengan tergesa-gesa ia bertanya.

"Kalau begitu dengan cara bagaimana kau kembali lagi ke Kiong-lay-san?"

"Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan Bu Siem taisu dari Siauw-lim-sie, ia menanyakan padaku tentang jejakmu, maka itu aku masuk ke daerah pegunungan Kionglay, ia menanyakan lagi dan lantas mengejar ke gunung Kiong-lay-san secara tergesa-gesa."

Sementara itu Pek Thian Yong yang dengan paras terkejut disongsong oleh Touw Liong, semua ucapan Touw Liong kepada puterinya telah didengar tegas olehnya, maka lalu memberi hormat kepadanya seraya berkata.

"Atas perhatian dan perlindungan Touw tayhiap, anakku juga pernah menceritakan kepadaku, di sini kuucapkan terima kasih kepadamu. Sebab jika tanpa bantuan Touw tayhiap, maka kecapi kuno ini barangkali tak mudah kudapatkan."

Ia membalikkan tangannya dan menunjuk kecapi kuno yang berada di atas punggungnya.

Jelas bahwa bungkusan di punggungnya itu adalah kecapi kuno yang merupakan salah satu barang pusaka dari partai Bu-tong.

Touw Liong meskipun di wajahnya sudah bersikap setenang mungkin, tetapi diam-diam mengkhawatirkan Pek Thian Yong dan puterinya, ia berkata pula dengan suara perlahan.

"Panji Wulung wanita berada di belakang wanpwee, mungkin sebentar lagi ia akan menyusul kemari."

Pek Thian Yong mendongakkan kepala dan menghela nafas panjang, badannya berdiri tidak bergerak, lalu berkata sambil menganggukkan kepala.

"Touw tayhiap, mungkin itu adalah takdir. Di depan ada Panji Wulung wanita yang mencegat, di belakang ada It-tiem dan Thian Siem, dua imam jahat yang mengejar, kalau begitu, Tuhan telah memutuskan perjalananku si orang she Pek ini."

Mendengar ucapan bahwa Thian Siem dan It-tiem mengejar di belakang Thian Yong, semula Touw Liong terkejut, kemudian menjadi girang, katanya.

"Tuhan ternyata tidak mengecewakan harapan umat-Nya. Pembalasan sakit hatiku mungkin akan terlaksana."

Tiba-tiba ia angkat muka dan bertanya kepada Pek Thian Yong.

"Pek cianpwee, di mana dua anjing itu?"

"Mereka telah dipancing oleh Shoa Lip dan dua saudara angkatku ke lain jurusan! Hanya, dua orang itu sangat licin, dalam pengejarannya kepada Shoa Lip, apabila tidak melihat kita berdua, ada kemungkinan mereka kembali mencari kita."

"Aku justru menghendaki supaya mereka balik mengejar lagi,"

Berkata Touw Liong sambil menggertak gigi.

Rasa khwatir Pek Thian Hiong semakin tebal, sedangkan sepasang mata Touw Liong tampak merah membara, jelas ia sudah marah sekali, maka itu ditujukan ke arah jauh di depan.

Ia mengharap, bayangan It-tiem dan Thian-sim muncul di depan matanya supaya sebelum dirinya menjadi bercacad ia dapat menuntut sakit hati ayahnya.

Dalam hati sendiri ia mengerti, tidak mungkin baginya pergi ke gunung Cek-hong-san minta pertolongan kepada Panji Wulung wanita membuka totokannya.

Perbuatan seperti itu, lebih baik ia mati, juga tidak mau minta pertolongan orang; oleh karenanya maka ia telah bertekad dalam waktu tiga hari itu pasti sudah menyelesaikan beberapa persoalan besar.

Pek Giok Hwa yang tidak mengerti keadaan Touw Liong, ia berjalan seorang diri dan bertanya dengan suara lemah lembut.

"Touw tayhiap, musuh besar ayahmu itu meskipun merupakan suatu permusuhan yang besar sekali, tetapi hari ini ..... Ai! Seorang laki-laki harus berani, akan tetapi kadang-kadang juga harus bisa berlaku sabar. Kau toh tidak musti hari ini harus melakukan pembalasan sakit hati ayahmu?"

Maksud kata itu ialah dalam keadaan seperti itu di belakang dan di depan semua terdapat musuh-musuhnya sangat kuat sekali, maka Touw Liong seharusnya dapat mempertimbangkan mana berat dan mana yang ringan, ia seharusnya dapat memahami bahwa keadaan hari itu tidak tepat waktunya untuk menuntut balas.

Sementara itu Pek Thian Hiong sudah maju menasihati, katanya.

"Touw tayhiap, waktu masih banyak, asal mereka tidak mati, apakah kau masih takut mereka akan terbang ke atas langit? Di kemudian hari, asal aku si orang tua masih bisa bernafas, di dalam air ataupun di dalam api, aku akan turut serta denganmu."

Sehabis mengucapkan perkataan itu ia menepuk-nepuk dadanya sendiri. Dengan sinar mata berterima kasih Touw Liong mengawasi dia sejenak kemudian berkata.

"Kebaikan locianpwee, boanpwee mengucapkan banyakbanyak terima kasih, sayang ...."

Ia telah menahan ucapan selanjutnya tidak diteruskan.

"Sayang ... sinar matahari sore sangat indahm hanya sudah dekat petang."

Demikian suara dengan nada yang sangat dingin telah menyambung ucapan Touw Liong tadi.

Touw Liong terkejut, ia berpaling untuk mencari siapa orang yang mengeluarkan ucapan tadi.

Pek Giok Hwa dengan suara perlahan bertnya.

"Siapa?"

"Bu Siem hweesio dari gereja Siauw-lim, yang datang untuk mengejar kau,"

Jawabnya Touw Liong perlahan.

Sesaat kemudian, paderi Bu-siem juga sudah berada di antara mereka, sambil tertawa dingin sambil menepuk kepala sendiri yang gundul, setelah itu ia menunjuk Pek Thian Hiong dan berkata.

"Selamat ketemu! Selamat ketemu! Dengan adanya kau Pek-sancu ada di sini, keadaanya akan menjadi ramai."

Pek Thian Hiong sangat marah sekali, sementara itu Pek Giok Hwa sudah menghunus pedangnya dan menunjuk kepada paderi Bu Siem.

Tetapi baru saja Pek Thian Hiong hendak bergerak, dengan tiba-tiba tampak berkelebatan bayangan orang kemudian disusul dengan suara bentakan.

"Rebah."

Entah dengan cara bagaimana, tiba-tiba terdengar suara gedebuk, dan Bu Siem benar-benar sudah rubuh di tanah.

Touw Liong yang memiliki kepandaian ilmu silat sangat hebat, sudah mendahului gerakan Pek Giok bergerak lebih dahulu dengan satu jari tangannya menotok rubuh Bu-sim, ketika paderi itu rubuh senjatanya sekop terbuat dari mas terpental sejauh tiga tombak.

"Aaa!"

Demikian Pek Thian Hiong berseru kaget, ia hanya mengurut-urut jenggotnya yang panjang, sepatah katapun tidak bisa keluar dari mulutnya.

Touw Liong memandang sinar matahari di sebelah barat, lalu menghela nafas dan mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh Bu-sim tadi.

Pek Giok Hwa agaknya dapat memahami bahwa ucapan Touw Liong itu ada sebabnya maka bertanya padanya dengan suara perlahan.

"Kenapa sikapmu demikian murung?"

Touw Liong kembali menarik nafas panjang kemudian matanya memandang ke barat dan katanya dengan suara sedih dan gusar.

"Diriku ini seolah-olah diuruk oleh dendam sakit hati, akan tetapi .... waktuku sudah tidak banyak lagi!"

Pek Giok Hwa terkejut dan terheran-heran, tanyanya pula.

"Kenapa?"

"Belum lama berselang, Panji Wulung wanita telah berlaku curang, selagi aku dalam keadaan tidak berjaga-jaga telah menotok jalan darahku bagian pundak, sehingga aku terkena totokannya ilmu hitam Hek-hong Im-kang, tiga hari baru selesai! Hanya tinggal tiga hari ...."

Wajah Pek Giok Hwa berubah pucat, sekian lama memandang Touw Liong, tidak sepatah kata keluar dari mulutnya. Pek Thian Hong juga tampak marah, ia bertanya sambil menunjuk Touw Liong.

"Benarkah?"

Touw Liong menganggukkan kepala. Pek Thian Hong juga menghela nafas dan berkata.

"Sayang."

Touw Liong mengawasi padanya dengan perasaan bengong, mulutnya tidak berkata apa-apa, hanya di dalam hatinya bertanya kepada dirinya sendiri .

"Kau sayang apa?"

Pek Thian Hiong juga tertawa memandang kepada matahari yang sudah hampir terbenam ke barat, katanya.

"Sayang, matahari sore itu memang benar indah! Apabila pada tiga bulan berselang aku mendapatkan kecapi kuno ini, alangkah baiknya!"

Touw Liong membuka sepasang matanya dengan perasaan terkejut dan terheran-heran, sementara dalam hati bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Kenapa?"

"Ilmu gaib ini jikalau tidak mendapat bantuan dari kecapi kuno tujuh sinar ini, tidak dapat dikembangkan; dengan adanya bantuan kecapi kuno ini, asal dipelajari dengan tekun selama tiga bulan, sudah akan berhasil...."

Touw Liong sementara itu masih tetap diliputi dengan teka-teki, lalu bertanya.

"Apakah ilmu gaib Pek cianpwee ini justru merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk memunahkan ilmu Hekhong Im-khang?"

"Kalau ya, apa gunanya, sayang sudah terlambat tiga bulan,"

Berkata Pek Thian Hiong sambil menggelenggelengkan kepalanya. Di wajah Touw Liong terlintas perasaan sedikit girang, katanya dengan nada menghibur.

"Tuhan ternyata masih adil. Pek cianpwee yang memiliki ilmu gaib untuk memusnahkan ilmu Hek-hong Im-khang, dalam rimba persilatan ini entah berapa banyak jiwa nanti tertolong dari bencana."

Pek Thian Hiong tersenyum getir, menggeleng-gelengkan kepala. Touw Liong mengawasi keadaan di sekitarnya dan memandang puncak gunung di sebelah kirinya yang terdapat banyak pohon buah, lalu berkata.

"Pek locianpwee harap menyingkir dulu sebentar ke puncak gunung sana itu, musuh dari depan dan belakang sudah akan datang!"

Pek Thian Hong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Touw tayhiap, aku si orang tua ini meskipun tidak berguna, tetapi dengan cara bagaimana bisa meninggalkan kau seorang diri? Aku sudah merupakan seorang yang sudah mendekati liang kubur, di masa mendekati ajalku aku tidak boleh meninggalkan nama buruk. Kita harus bertindak berdampingan, sama-sama hidup, sama-sama mati. Jikalau perlu mundur, harus mundur bersama-sama."

"Pek cianpwee tidak boleh karena urusan kecil akan kehilangan besar, harap Pek cianpwee mengingat seluruh sahabat rimba persilatan. Simpanlah baik-baik kecapi kuno itu supaya cianpwee dapat mempelajari ilmu gaib yang cianpwee butuhkan. Jangan dipikirkan mati hidup boanpwee, memikirlah dahulu sebentar!"

Berkata Touw Liong lagi. Pek Thian Hiong tergerak hatinya, ia anggukkan kepala dan memandang Touw Liong dengan sinar mata kagum, katanya dengan suara perlahan sekali.

"Touw tayhiap, harap kau berlaku hati-hati sedikit!"

Setelah mana, ia berpaling dan berkata kepada anaknya.

"Anak, mari jalan!"

Pek Giok Hwa masih tak bergerak, matanya memandang Touw Liong.

Pek Thian Hiong dapat mengerti perasaan puterinya pada saat itu, ia tahu Pek Giok Hwa tidak tega meninggalkan Touw Liong seorang diri menghadapi banyak musuh kuat maka ia dalam hati juga merasa pilu, katanya dengan suara perlahan sambil menghela nafas.

"Anak, kau tidak dapat membantu padanya, apabila kau berada di sini, mungkin akan menghalangi tindakannya. Ia selalu memikirkan dirimu, sehingga tidak bisa bertempur dengan baik."

It u memang sebenarnya, Pek Giok Hwa seorang pintar dan cerdas, segera dapat mengerti perasaan ayahnya, dengan air mata berlinang ia memandang sekali lagi kepada Touw Liong, kemudian berkata padanya.

"Touw tayhiapm berhati-hatilah sedikit!"

Ucapan itu bagaikan ratapan suara hati Pek Giok Hwa, ucapan yang sangat singkat itu mengandung banyak perasaan hatinya.

Touw Liong sengaja tidak berani memandang padanya, supaya jangan sampai terpengaruh pikirannya, kemudian ia menjawab dengan suara tegas.

"Sebagai manusia, sejak dahulu kala siapakah yang tidak akan mati? Hari ini, berkat doa restu nona dan Pek cianpwee, apabila dapat membasmi beberapa kawanan penjahat ini, aku si orang she Touw meskipun aku binasa juga tidak akan menyesal."

Pek Giok Hwa memandang lagi pada Touw Liong dengan mata berkaca-kaca, hatinya merasa pilu, sambil menundukkan kepala ia mengikuti Pek Thian Hiong menuju ke suatu puncak gunung.

Dalam waktu yang amat singkat itu ia sendiri juga tidak tahu apa sebabnya demikian besar perhatiannya atas nasib Touw Liong.

Touw Liong tujukan pandangan matanya ke arah tempat di mana Pek Thian Hiong dan puterinya bersembunyi, kemudian ditujukan lagi ke depan dan belakang.

Sambil kertak gigi ia berkata pada dirinya sendiri.

"Mereka sudah datang. Biarlah kusambut semuanya!"

Jilid 17 Dari arah depan tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda.

Selanjutnya, tampak dua ekor kuda hitam yang dilarikan ke arahnya.

Di atas kuda itu tampak dua orang imam yang masing-masing menyoren sebilah pedang di atas punggungnya.

Touw Liong yang melihat kedatangan kedua penunggang kuda itu, dengan pandangan mata sangat marah mengawasi kedatangan mereka, sepasang tinjunya dikepal, kemudian diletakkan di pinggangnya dan berdiri untuk menghadang perjalanan mereka.

Bersamaan dengan itu, di belakang diri Touw Liong tibatiba melayang dua orang lagi, seorang berambut putih dan mengenakan kerudung kain hitam seorang lagi bertubuh tegap berkumis putih, di tangannya membawa senjata tongkat rotan.

Dua orang dari depan dan dua orang dari belakang hampir dalam waktu bersamaan telah berada di hadapan dan belakang Touw Liong.

Sinar mata gusar Touw Liong menyapu empat orang yang datang dari depan dan belakang.

Kemudian mengeluarkan siulan panjang sambil mendongakkan kepala, dan setelah itu maka ia berkata.

"Apabila Tuhan berlaku adil, tolonglah lindungi aku, Touw Liong supaya dapat menuntut balas dendam sakit hati ayah. Apabila Tuhan tidak adil, biarlah aku mati di sini, asal aku dapat menunaikan tugasku sebagai anak!"

Sehabis berkata demikian, Touw Liong membalikkan badan dan memberi hormat kepada Panji Wulung wanita yang mengenakan kerudung muka.

"Cianpwee ternyata tidak menepati janji sendiri! Kau sudah turun tangan terlalu kejam. Di antara kita sudah ada batas waktu tiga hari, mengapa sekarang masih terus mengejar jejakku?"

Panji Wulung perdengarkan suara tertawa yang menyeramkan, ia menunjuk dua imam yang baru lompat turun dari atas kudanya seraya katanya.

"Aku sudah angkat mereka berdua sebagai anggota dalam barisan Thian-ceng ko. Hari ini aku tidak mengizinkan kau mengganggu seujung rambutnya saja! Sedang kau sendiri juga begitu. Jabatan Hek-hong Kimliong juga kusediakan, kecuali kau, tidak ada orang lain yang tepat untuk mendudukinya. Oleh karena itu, mereka berdua juga tidak akan mengganggu walau hanya seujung rambutmu saja!"

Pek-bie Hweesio dengan sikap angkuh membentak kepada dua imam yang baru turun dari atas kudanya.

"Jiwi toyu lekas menghadap kepada kauwcu!"

Dua orang itu menyahut "baik", dengan serentak maju menghampiri melalui kanan kiri Touw Liong, menghadap Panji Wulung. Touw Liong dengan tiba-tiba mengeluarkan suara bentakan keras.

"Serahkan jiwamu!"

Suara bentakannya dibarengi dengan gerakan tangan kanannya dengan ilmu Thay-it Sin-jiauw menyerang imam muka merah berbaju ungu, sedang tangan kirinya dengan ilmu Thay-lo-kim-kong Sian-kang mengibaskan kelima jari tangannya dengan ilmu Tay-lo kim-kong-chie terus menyapu kepada imam kiri berjubah merah.

Sementara itu dari mulutnya kembali tercetus ucapan dengan nada sangat marah.

"It-tiem! Thian-sim! Kalian kedua anjing, lekas serahkan jiwa kalian!"

Dua serangan yang amat dahsyat itu sudah meluncur kepada dua imam tersebut.

Dalam waktu yang bersamaan, Pek-bie Hweesio telah menggunakan kesempatan selagi Touw Liong menyerang kedua musuhnya, mengulurkan tangannya menyambar ke tanah untuk mengangkat Bu-sim Hwesio yang tadi rubuh di tanah, setelah mana ia pun lantas membuka totokannya, hingga Bu-sim sadar kembali.

Begitu melihat It-tiem dan Thian-sim diserang oleh Touw Liong sehingga terpental jatuh, juga merasa terkejut.

Touw Liong yang sudah berhasil serangannya, badannya bergerak untuk mengejar kedua imam tadi.

Ilmu Kim-kong Sian-chie yang segera keluar segera ditariknya kembali, tangan kiri dua kali melakukan gerakan, dari jauh melancarkan serangan Tay-it Sin-jiauw ke bagian belakang ulu hati imam berbaju ungu.

Apabila sampai serangannya itu mengenakan dengan tepat, kalau tidak mati setidak-tidaknya It-tiem akan terluka parah.

Maka semua orang yang menyaksikan di situ pada berubah wajahnya.

Tidak kecewa It-tiem menjadi ketua dari satu partay besar.

Begitu melihat berkelebatan sinar hijau, pedang panjang di atas punggungnya sudah terhunus keluar untuk menyerang balik hingga Touw liong terpaksa harus menarik kembali serangannya.

Panji Wulung mengetahui semua kejadian setelah mengeluarkan suara seruan tertahan, suatu perasaan girang yang belum pernah tertampak kini terlintas di wajahnya, sementara dalam hatinya berpikir.

"Tidak kecewa It-tiem menjadi seorang tokoh kuat, sedangkan Touw Liong lebihlebih merupakn jago muda yang banyak harapan. Dua orang ini, apabila bisa kujadikan anggota dalam golonganku, dalam rimba persilatan aku sudah bisa menjagoi. Sementara Touw Liong yang telah menarik kembali serangannya, mengingat dendam sakit hati ayahnya, kembali dengan tangan kanannya, dengan ilmu Kim-kong Sian-kang menyapu kepada It-tiem. Perubahan secara tiba-tiba itu juga mengejutkan Panji Wulung. Tetapi ia tak mengadakan reaksi apa-apa, ia hanya mengawasi It-tiem, agaknya ingin tahu bagaimana sikap imam itu dalam menghadapi serangan Touw Liong. Sementara itu, It-tiem sudah memutar tubuh dan pedangnya, dengan menghadap Touw Liong ia melancarkan serangan, sedang kakinya sudah menjejakkan tanah, badannya lompat balik sejauh empat tombak lebih. Dengan demikian, maka serangan Touw Liong kali inipun mengenai tempat kosong pula. Selagi Touw Liong hendak mengejar, tiba-tiba di belakang dirinya terasa ada suatu sambaran angin, ia tahu telah dibokong musuh, maka ia buru-buru membatalkan maksudnya, tanpa banyak piker sudah membentak dengan gusar.

"Setan berkeliaran di bawah pedang! Di gunung Cengshia-san kau dapat melarikan diri, apa sekarang kau masih berani berlaku ganas?"

Suara bentakan itu ditutup dengan serangan pembalasan, kali ini menggunakan ilmu Thay-it Sin-jiauw.

Orang berjubah ungu itu bukan lain daripada murid murtad dari golongan Ceng-shia-pay, Thian-sim Tojin.

Pedang yang digenggamnya dalam tangannya kala itu adalah pedang kuno Hok-mo Sin-kiam yang hilang di atas penglari di dalam pendopo goa Thian-su-tong.

Kiranya pedang itu sewaktu Touw Liong mengejar Thian-sim, diam-diam telah dicuri oleh It-tiem yang saat itu bersembunyi di tempat gelap.

Kemudian It-tim menyusul Thian-sim, dan kedua orang itu pada malam itu juga melarikan diri dari gunung Cengshia-san.

Serangan Touw Liong dengan ilmunya Thay-it Sin-jiauw tadi meskipun merupakan serangan maut tetapi Thian Sim juga bukan saja sudah berhasil melepaskan diri dari serangan maut tadi, bahkan masih bisa balas menyerang dengan ilmu pedangnya Hok-mo Kiam-hoat, hingga untuk sementara berhasil mendesak mundur Touw Liong.

Apalagi tujuan Touw Liong adalah It-tim.

Ia juga tidak ada maksud mengadu kekuatan dengan Thian-sim.

Ia mengelakkan serangan ganas Thian-sim tojin yang dilancarkan sampai tiga kali, dan melakukan serangan pembalasan dengan jari tangan dan telapakan tangannya, hingga mau tidak mau Thian-sim tidak berani melanjutkan serangannya.

Pada saat itu It-tim sudah lompat berhadapan dengan Panji Wulung.

Buru-buru ia memberi hormat kepada wanita itu, dengan nafas tersengal-sengal ia berpaling ke medan pertempuran.

Tampak Thian-sim berkali-kali terancam bahaya sehingga It-tiem menunjukkan sikap cemas, dan berkata kepada Panji Wulung sambil membungkukkan badan.

"Hunjuk beritahu kepada kauwcu, keadaan Thian-sim toyu sangat gawat. Apalagi bocah she Touw itu bilamana hari ini tidak disingkirkan, di kemudian hari akan merupakan suara bahaya bagi pihak kita."

Panji Wulung menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.

"Kau tidak usah kuatir, Thian-sim masih sanggup bertahan sepuluh jurus lebih. Maksud dan tujuan Touw Ling kali ini bukanlah Thian-sim. Dia tidak akan turun tangan kejam terhadapnya."

Mendengar ucapan itu, hampir saja It-tim bergidik.

Dalam hati diam-diam berpikir.

Kalau begitu bocah itu hendak membuat perhitungan denganku.

Karena perasaannya itu, wajah It-tiem nampak pucat, semua itu telah diketahui oleh Panji Wulung, maka ia segera menghiburnya seraya berkata.

"Kau juga tidak usah kuatir. Bocah itu sudah kutotok jalan darahnya dengan ilmu Hek-hong Im-kang. Dalam waktu tiga hari kalau dia tidak menyerah jadi anggotaku, dalam tiga hari ..."

Ia sedang memperhatikan jalannya pertempuran antara Touw Liong dengan Thian-sim, maka bicara sampai di situ ia lantas berhenti.

Di wajahnya terlintas perasaan bangga.

Maka It-tim yang menyaksikan itu hatinya tidak tenang, buru-buru memberi isyarat dengan mata kepada Pek-bie Hwesio.

Pek-bie hwesio berkata padanya dengan suara perlahan.

"Dalam waktu tiga hari, apabila kauwcu tidak turun tangan sendiri untuk memunahkan ilmu Im-kang yang mengeram dalam tubuhnya, maka selewatnya hari itu semangatnya akan menurun, seluruh kepandaian ilmu silatnya juga akan musnah."

It-tim menunjukkan senyum puas, ia menarik nafas lega.

Buru-buru alihkan pandangan matanya ke medan pertempuran lagi, tetapi apa yang disaksikannya membuatnya terkejut bukan main.

Dalam medan pertempuran saat itu Touw Liong berhasil menahan serangan ganas Thian-sim dengan tangan kiri, sedang lima jari tangan kanan melakukan gerakan mengipas dan menggunting hingga saat itu Thian-sim tidak bisa berdiri tegak dan mundur terhuyung-huyung hingga lima langkah.

Kemudian telah ditahan oleh kebutan lengan baju Panji Wulung sehingga tidak sampai rubuh.

Meskipun ia berhasil mempertahankan kedudukannya, tetapi pedang Hok-mo-kiam di tangannya sudah jatuh oleh sentilan tangan Touw Liong.

Dengan gerakan secepat kilat, bagaikan anak panah lepas dari busurnya Touw Liong hendak menyambar pedang yang terlepas dari tangan Thian-sim tojin.

Tepat pada saat itu It-tim juga datang memburu hendak merampas pedang, maka Touw Liong segera menggunakan pedang yang baru dipungut dari tanah menyambut pedang It-tim hingga dua pedang pusaka saling beradu dan menimbulkan percikan api hebat.

Tindakan It-tim yang tergesa-gesa tadi sudah tentu dilakukan dengan sangat cepat, sedangkan Touw Liong yang hendak memungut pedang Thian-sim, masih belum melihat tegas kalau It-tim yang menyerbu.

Ia hanya melihat sesosok bayangan orang maka ia menyambut dengan pedangnya secara sembarangan.

Setelah ia dengan tegas melihat It-tim, maka hawa amarahnya meluap dengan tiba-tiba.

Sambil kertak gigi ia menyerbu It-tim.

It-tim yang sudah merasa gentar apalagi ketika melihat pedang Hok-mo-kiam sudah berada di tangan Touw Liong, sudah tentu tidak berani melakukan perlawanan lagi, buruburu mundur ke samping Panji Wulung.

Sudah barang tentu Touw Liong tidak mau melepaskannya begitu saja.

Apalagi It-tim adalah musuh besar yang sedang dicari olehnya, maka ketika melihatnya dia menyingkir, buru-buru mengejar sambil menenteng pedangnya.

Tiba-tiba terdengar suara "trang!", Panji Wulung sudah bergerak, tongkat di tangannya terbang melesat, dengan tepat mengenakan pedang di tangan Touw Liong, hingga tangan Touw Liong merasa kesemutan, pedang itu terlepas dan terbang ke tempat jauh.

Touw Liong terkejut dan terpental mundur setengah langkah.

Pedang tadi secara kebetulan terbang ke arah puncak di mana Pek Thian Hiong dan Pek Giok Hoa sembunyikan diri.

Pek Giok Hoa tidak mau membuang kesempatan itu, dengan segera mengulurkan tangannya menyambuti pedang tadi.

Dan Touw Liong setelah mundur setengah langkah diam-diam mengeluh, setelah itu ia lantas bergerak melesat ke tempat Pek Thian Hiong dan puterinya sembunyikan diri.

Letak puncak gunung itu justru di belakang dirinya.

Maka ia bisa bergerak lebih dahulu.

Baru saja ia bergerak, tiba-tiba tampak berkelebat beberapa bayangan orang yang turut mengejar ke puncak gunung itu.

Touw Liong sambil lalu mengawasi orang-orang yang mengejarnya, diantaranya tampak It-tim dan Thian-sim berdua, sedang di sebelah kiri tampak paderi beralis putih.

Hati Touw Liong bercekat.

Ia tidak pikirkan pedang Hok-mo Kiam akan dirampas oleh mereka.

Ia hanya pikirkan keselamatan Pek Thian Hiong dan Pek Giok Hoa.

Apabila tempat persembunyian mereka sampai ketahuan oleh mereka, entah apa yang akan terjadi nanti.

Berpikir sampai disitu, Touw Liong lantas pasang kudakuda, kedua tangannya digerakkan, dengan menggunakan ilmu Liang-gie Sim-hoat melancarkan serangan kepada dua imam dan dua padri yang memburu ke arahnya.

Ilmu Thay-it Sin-kiam dan Thay-lo-kim-kong Sin-kang memang merupakan ilmu yang bukan main hebatnya.

Apalagi Touw Liong menggunakan ilmu itu yang digabungkan dengan ilmu Liang-gie Sim-hoat, maka sesaat itu hembusan angin yang meluncur keluar lebih hebat beberapa kali.

Hembusan itu juga tercampur hawa dingin menyusup tulang, hingga kawanan padri dan imam yang pada bergerak meluncur tadi semua telah kena tersapu dan jatuh bergelindingan di tanah.

Oleh karenanya, maka mereka terpaksa menghentikan gerakannya dan tidak berani naik ke puncak gunung lagi.

Dengan demikian It-tim dan Thian-sim terpaksa hanya dapat mengawasi Touw Liong yang melesat ke atas tebing.

Thian-sim yang terluka bagian dalam, meskipun ada maksud ingin mengejar, tetapi tenaganya tidak mengizinkan, sudah tentu tidak ada pikiran untuk melanjutkan gerakannya.

Sedangkan It-tiem dahulu ketika di gunung Bu-tong san telah terpapas tiga jari tangannya, ia juga tidak berani mengejar seorang diri.

Dengan pura-pura membimbing Pek-bie hwesio yang jatuh ke tanah, melepaskan niatnya yang hendak merampas kembali pedang Hok-mo-kiam.

Panji Wulung yang menyaksikan semua kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Bocah ini dikemudian hari apabila mendapat turunan ilmu Hek-hong Im-kang, bukan suatu hal yang sangat mustahil akan menjadi seorang tokoh tanpa tandingan?"

Setelah itu ia mengebutkan lengan bajunya dan berkata kepada empat orang tadi.

"Jalan!"

Bersamaan dengan itu ia mendongakkan kepala dan berkata ke arah puncak gunung.

"Bocah! Jangan lupa harinya, tiga hari! Masih ada waktu tiga hari! Apabila dalam waktu tiga hari ini kau tidak datang ke gunung Hok-hong-san untuk mencari aku, itu berarti kau akan habis semuanya yang kau miliki hari ini."

Sesaat kemudian, Panji Wulung bersama dua padri dan dua imam tadi sudah menghilang, tidak ada bayangannya lagi.

Jalanan daerah pegunungan itu kembali sunyi, di atas tebing Touw Liong dengan nafas memburu, wajahnya pucat pasi.

Pek Thian Hiong lalu membimbing Touw Liong duduk di atas sebuah batu besar, membantu padanya untuk memulihkan tenaganya.

Pek Giok Hwa yang tangannya menggenggam pedang Hok-mo kiam, dengan sinar mata penuh arti mengawasi Touw Liong sejenak, kemudian bertanya pada Pek Thian Hiong.

"Ayah! Dia toh tidak ada halangan apa-apa?"

Pek Thian Hiong memandang putrinya, ayah dan anak itu berjalan ke bawah pohon cemara, terpisah dengan Touw Liong kira-kira lima tombak. Pek Thian Hiong menghibur anaknya, katanya.

"Anak, kau jangan cemas! Dia cuma kehilangan sedikit tenaga. Biarkan dia istirahat sebentar pasti akan pulih sendiri."

Dari nada suaranya itu jelas perhatiannya terhadap sang puteri.

Ia dapat memahami perasaan puterinya terhadap Touw Liong.

Jelaslah sudah, bahwa dalam hati Pek Giok Hoa telah timbul benih-benih cinta.

Sementara itu Pek Giok Hoa masih tetap menunjukkan sikap murung, bertanya lagi.

"Benarkah ia terkena ilmu Hek-hong Im-kang?"

"Masih susah dikata. Ganas dan kejamnya ilmu Hekhong Im-kang, ayahmu hanya mendengar cerita di kalangan kangouw, tetapi siapapun belum pernah melihatnya, kita harus menunggu dan melihat perubahan apa yang akan terjadi pada tiga hari kemudian, baru tahu bagaimana adanya."

Berkata sampai disitu, tanpa disadarinya ia menghela nafas dan berkata.

"Touw tayhiap memiliki kekuatan tenaga dalam sangat hebat, kalau kita tinjau keadaan rimba persilatan pada dewasa ini, orang yang dapat menandingi dia barangkali tidak lebih dari tiga empat orang saja."

Bab 45 PEK GIOK HOA tidak paham, ia bertanya pula kepada ayahnya.

"Tetapi mengapa ia bisa terpukul oleh tongkat Panji Wulung sehingga pedang di tangannya terbang melayang?"

"Itu juga tidak bisa disalahkan bahwa kekuatan tenaga dalamnya sudah setinggi Panji Wulung, hanya patut disesalkan waktu itu hatinya terlalu gugup, dalam pertempuran sengit menghadapi tokoh-tokoh kuat seperti Ittim dan Thian-sim ia selalu mengobral dengan ilmunya Thay-it Sin-jiauw dan Thay-lo-kim-kong-chie. Tahukah kau bahwa dua jenis ilmu itu paling menghamburkan kekuatan tenaga dalam? Sebab, barang siapa menggunakan ilmu itu, berarti mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menyerang lawannya yang berada sejauh tiga tombak dengannya, bukankah itu suatu perbuatan yang terlalu menghamburkan tenaganya? Sekali-sekali boleh saja digunakan, tetapi apabila berulang-ulang menggunakan ilmu itu, pasti ada waktunya dia kehabisan tenaga!"

Pek Giok hoa angguk-anggukkan kepala, ia baru mengerti apa sebabnya Touw Liong tidak sanggup menyambuti serangan Panji Wulung yang hanya menggunakan tongkat saja.

Pek Thian Hiong mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang dari tangan puterinya.

Diperiksanya sejenak, alisnya dikerutkan, matanya memandang terus seolah-olah terbenam dalam pikirannya sendiri.

Pek Giok Hoa ketika menyaksikan sikap aneh dari ayahnya, ia merasa heran, maka lalu bertanya.

"Ayah, ayah sedang pikirkan apa?"

Pek Thian Hiong kedip-kedipkan matanya, tangannya mengelus-ngelus pedang Hok-mo kiam, jawabnya.

"Pedang ini seperti sebilah pedang kuno yang pernah dikabarkan oleh cerita orang di rimba persilatan, apabila betul pedang kuno itu, di dalamnya ada mengandung suatu rahasia besar. Kecuali aku, tidak ada orang lain lagi yang tahu..."

"Rahasia apa?"

Pek Thian Hiong menggeleng-gelengkan kepala, dan menjawab dengan suara hambar.

"Tapi rasanya tidak mungkin pedang itu ... Sebab, pedang kuno itu sudah menghilang sejak beberapa puluh tahun berselang!"

"Apakah bukan pedang Hok-mo Hui-kiam?"

Pek Thian Hiong terperanjat, sambil menunjuk puterinya ia bertanya.

"Apa katamu?"

Dengan sikap serius Pek Giok Hoa mengulangi katakatanya tadi.

"Hok-mo Hui-kiam!"

Pek Thian Hiong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Pedang itu memang mirip pedang Hok-mo-kiam. Sayang barangkali bukan pedang Hok-mo-kiam yang sebenarnya!"

"Pedang ini benar adalah pedang pusaka Hok-mo-kiam!"

"Hok-mo-kiam?!"

Kata Pek Thian Hiong, tubuhnya tergetar, agaknya masih tidak percaya.

"Betul, Hok-mo-kiam?"

Demikian kata Pek Giok Hoa tandas. Selanjutnya ia bertanya.

"Ayah! Coba lekas ayah terangkan, pedang ini mengandung rahasia apa?"

Saat itu semangatnya Pek Thian Hiong seperti menyalanyala, dengan sinar mata tajam memandang pedang di tangannya, lama sekali baru menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan suara berat berkata kepada anaknya.

"Anak, di sini bukan tempatnya untuk bicara, di kemudian hari akan kuberitahukan padamu!"

Dengan perasaan kecewa Pek Giok Hoa alihkan pandangannya kepada Touw Liong, dengan mendadak tampak olehnya seorang tua berambut panjang, mukanya seperti burung betet, sepasang matanya sangat buas, saat itu sedang mengangkat tangannya, ditujukan ke batok kepala Touw Liong, hendak melakukan gerakan memukul, sedang mulutnya menunjukkan senyumnya yang licik.

Pek Giok Hoa terkejut dan menjerit, buru-buru menutup lagi mulutnya, tidak bisa mengatakan apa-apa.

Pek Thian Hiong juga segera sadar, matanya ditujukan ke arah Touw Liong, dan sinar matanya segera beradu dengan sepasang mata orang tua itu.

Dari mulut Pek Thian Hiong mengeluarkan kata-kata sepatah demi sepatah.

"Ngo-gak Lo-koay!"

Ngo-gak Lo-koay menganggukkan kepala, dan berkata.

"Benar! Manusia dimana saja bisa bertemu. Di gunung Pak-bong-san kita mendapat kesempatan bertemu muka, tetapi di gunung Kiong-lay ini, akhirnya ketemu juga! Segala urusan sebenarnya tidak lepas dari soal jodoh!"

Pek Giok Hoa maju dua langkah, ia bertanya kepada Ngo-gak Lo-koay sambil kertak gigi.

"Kau mau apa?"

Ngo-gak Lo-koay menjawab sambil menggelenggelengkan kepala.

"Tidak apa-apa, urusan kecil saja. Asalkan ayahmu mau menyerahkan pedang itu padaku, aku akan melepaskan dia."

Memang benar, apabila saat itu Ngo-gak Lo-koay turun tangan, habislah riwayat Touw Liong!

Pasti batok kepala Touw Liong akan hancur berantakan.

Sudah tentu hal itu dapat dipahami oleh Pek Thian Hiong.

Pek Giok Hoa kertak gigi, berkata sambil menunjuk Touw Liong.

"Dia akan pulih tenaganya! Nanti kalau ia sadar kembali, sekalipun kau tumbuh sayap, juga tidak bisa kabur lagi!"

"Kau tidak usah kuatir!"

Setelah ia terkena serangan Hek-hong Im-kang, kekuatan tenaga dalamnya sudah banyak berkurang.

Sekalipun ia sadar, toh masih berada dalam cengkeraman tanganku.

Hari ini, hmm!

Hmm!

Asal aku turun tangan, Nona Pek, kau seorang yang mengerti, dalam hati masing-masing tahu sendiri apa yang akan terjadi dengan bocah ini!"

Kata Ngo-gal Lo-kay sambil tertawa bangga.

Pada saat dan tempat seperti itu, jiwa Touw Liong sudah menjadi jiwa Pek Giok Hoa juga.

Sebagai ayah, Pek Thian Hiong mengetahui benar perasaan puterinya.

Dan oleh karena cinta kasih ayah terhadap puterinya, maka ia tidak suka melukai hati puterinya, maka ia tidak suka melukai hati puterinya.

Dalam keadaan seperti itu ia tidak bisa berbuat lain kecuali menghela nafas, dengan tangan mengelus-elus pedang pusaka itu, lalu berkata.

"Pedang ini aku sudah memberikan padamu, tapi aku masih belum mau mempercayaimu. Setelah kau mendapat pedang ini apakah kau berani jamin tidak akan turun tangan kepadanya?"

Lo-gak Sin-kun tertawa menyeringai, kemudian berkata sambil tertawa.

"Tua bangka she Pek! Kau terlalu memandang rendah diriku! Aku Ngo-gak Lo-koay meskipun sepak terjangku selama ini agak aneh, tetapi merekku cukup kuat. Kepercayaanku boleh diandalkan. Apa yang telah kukatakan selamanya belum pernah kuingkari!"

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula.

"Lagi pula bocah ini sudah ditotok jalan darahnya oleh nenek itu dengan tongkatnya, kematiannya sudah tidak lama lagi, maka tidaklah perlu sampai aku turun tangan, yang tentu akan membuat nama busuk untukku sendiri. Asalkan kau mau memberikan pedang itu secara baik-baik, maka jiwa boch ini pada waktu sekarang ini tidak akan terancam lagi."

Buat Pek Thian Hiong, disatu pihak ia merasa berat menyerahkan pedang pusaka itu kepada Ngo-gak Sin-kun.

Di lain pihak ia juga tidak mau percaya sepenuhnya akan kata-kata orang itu, maka saat itu ia masih merasa raguragu, tidak bisa mengambil keputusan.

Sementara itu, Pek Giok Hoa yang kuatir ayahnya merasa berat melepaskan pedangnya, di wajahnya menunjukkan sikap cemas.

Ia angkat muka memandang ayahnya.

Ketika mukanya tertumbuk pada bungkusan panjang yang ada di atas punggung Pek Thian Hiong, terbukalah pikirannya, kemudian ia mendapat suatu pikiran, dan maju menghampiri ayahnya.

Tangannya diulurkan kepada Pek Thian Hiong, dan mulutnya berkata dengan suara perlahan.

"Harap ayah berikan pedang itu padaku, supaya anak yang menyerahkan kepadanya!"

Sementara mulutnya mengucap demikian, ia memberi isyarat dengan matanya sambil memandang kepada ayahnya.

Pek Thian Hiong segera mengerti pada maksud anaknya dan apa yang dikuatirkan oleh anaknya itu.

Saat itu Pek Thian Hiong lantas sadar, maka tanpa berkata apa-apa ia menyerahkan pedang Hok-mo-kiamnya kepada Pek Giok Hoa.

Setelah menerima pedang pusaka segera Pek Giok Hoa membalikkan badan, berjalan menghampiri Ngo-gak Sinkun.

Terpisah masih lima enam tombak di hadapan Ngogak Sin-kun, mendadak ia berhenti, pedang di tangannya diacung-acungkan seraya katanya.

"Locianpwee, pedang sudah di tanganku. Asal locianpwee suka menggeser beberapa langkah."

Ngo-gak Sin-kun mengangguk-anggukkan kepala, ia mengulurkan tangannya mengambil sebuah batu dari tanah. Setelah memperlihatkan kepada Pek Thian Hiong, lalu berkata.

"Tua bangka she Pek! Aku peringatkan padamu, jangan coba kau main gila! Apabila kau melakukan tindakan apaapa, asal aku menyambitkan batu ini, bocah itu sekalipun tidak mati, juga akan menjadi cacat seumur hidup!"

Pek Thian Hiong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Sudah tentu! Aku si orang she pek setapakpun tak akan menggeser kakiku! Kau jangan kuatir!"

Ngo-gak Sin-kun perdengarkan tertawa yang menyeramkan, tangannya yang mencekal batu itu diacungacungkan sebagai tanda bahwa setiap saat ia bisa melakukan serangan.

Setelah itu ia menggebrakkan kakinya berjalan menghampiri Pek Giok Hoa.

Berjalan baru tiga langkah ia berpaling, ia mengawasi Pek Thian Hiong sejenak, benar saja Pek Thian Hiong masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak.

Ia berpaling lagi kearah Pek Giok Hoa.

Saat itu Pek Giok Hoa sedang berdiri terkatung-katung, tangannya diangkat tinggi dengan pedangnya, keadaannya juga serupa dengan ayahnya.

Sampai disitu, wajah Ngo-gak Sin-kun yang keriputan tanpak gembira, bibirnya tersungging suatu senyuman, dengan langkah lebar melanjutkan langkahnya menghampiri Pek Giok Hoa.

Belum tiba di hadapan Pek Giok Hoa, dengan tiba-tiba telinganya digetarkan oleh suara senar kecapi yang amat nyaring.

Mendengar dua kali sentilan senar kecapi itu wajah Ngo-gak Sin-kun mendadak berubah; ulu hatinya merasa seperti diputar.

Dalam keadaan cemas ia berpaling ke arah Pek Thian Hiong.

Ketika melihat keadaan Pek Thian Hiong, bukan kepalang terkejutnya.

Entah sejak kapan Pek Thian Hiong diam-diam sudah meletakkan kecapi kunonya di atas batu, dan disentilnya dengan lima jarinya hingga mengeluarkan suara berirama sangat tajam.

"Hian-im Ceng-hiap!"

Demikian Ngo-gak Sin-kun berseru, karena sebagai seorang yang sudah tahu kecapi kuno itu, itulah sebabnya sampai ia berseru kaget.

Sesaat itu ia segera mengerti bahwa dirinya telah tertipu oleh Pek Thian Hiong dan puterinya.

Tetapi pada saat itu ulu hatinya terasa sakit sekali, tangan yang menggenggam batu mendadak gemetaran, hingga batunya terjatuh ke tanah.

Ketika bunyi kecapi yang ketiga kalinya itu cring lagi lagi, Ngo-gak Sin-kun lantas angkat kaki lompat turun dari atas gunung dan kabur terbirit-birit.

Di lain pihak, tiga kali suara kecapi tadi telah membuka totokan jalan darah Touw Liong, hingga mempercepat usahanya untuk memulihkan kekuatan tenaganya.

Ketika suara kecapi itu berhenti, Touw Liong sudah sadar kembali, lompat bangun.

Ketika ia membuka mata, tampak berkelebat bayangan orang yang seperti pernah dikenalnya, lompat turun ke bawah gunung.

Dari belakang punggung orang itu seperti tidak asing lagi, maka sesaat itu ia terkejut dan berpaling serta bertanya kepada Pek Thian Hiong.

"Pek cianpwe, siapakah orang itu?"

Pek Thian Hiong menarik nafas lega. Ia mnyeka air keringat di atas jidatnya, dan berkata sambil gelenggelengkan kepala dan tertawa getir.

"Touw tayhiap, kembali kau lolos dari lobang jarum ..."

Pek Giok Hoa berkata dengan suara pilu ...

"Itu adalah Ngo-gak Lo-koay ..."

"Ngo-gak Lo-koay ...?"

Tanya Touw Liong dengan sikap gusar, kemudian berkata pula.

"Aku justru sedang mencari dia untuk membuat perhitungan hutang darah!"

Sehabis mengucap demikian ia lalu memberi hormat kepada Pek Giok Hoa dan Pek Thian Hiong sambil mengucapkan "sampai ketemu lagi", setelah itu badannya bergerak, mengejar Ngo-gak Lo-koay, sementara di belakangnya terdengar suara panggilan dari Pek Giok Hoa.

Ngo-gak Lo-koay yang mendengar suara seruan Pek Giok Hoa, lantas berpaling.

Ketika ia menampak Touw Liong mengejar, wajahnya berubah pucat seketika, diamdiam mengeluh "celaka!", dan lari semakin cepat.

Gerakan kaki Ngo-gak Lokoay ternyata pesat sekali.

Dalam waktu sekejab mata telah mencapai jarak tiga puluh tombak lebih.

Touw Liong yang memiliki kepandaian luar biasa, dengan sendirinya ilmu meringankan tubuhnya juga hebat.

Maka ia masih membuntuti di belakangnya.

Sekaligus ia sudah mengejar tiga pal lebih.

Saat itu Ngogak Lokoay tujukan kakinya kearah di mana tadi Panji Wulung dan rombongannya lari.

Touw Liong semakin mengejar semakin kuatir.

Diam-diam hatinya berpikir.

Apakah Ngo-gak Lokoay sudah menggabungkan diri juga dengan romobogan Panji Wulung?

Dia tahu kalau usahanya mengejar itu diteruskan, akan banyak bahayanya, tetapi setelah berpikir, ia mempunyai tujuan lain.

Dalam hatinya mengatakan.

Apabila dapat menyandak It-tim, bukankah merupakan suatu tindakan yang menguntungkan padaku?

Kejar-kejaran serupa itu terus berlangsung sekian lama, dua orang itu masih terpisah dengan jarak tertentu, dalam hati Touw Liong merasa heran, ketika dia pasang mata memperhatikan gerak lari Ngo-gal Lokoay, timbullah perasaan curiganya.

Apa sebabnya?

Kiranya, gerak kaki yang digunakan oleh Ngo-gak Lokoay itu justru adalah merupakan sebagian dari ilmu Hui-eng Pat-sek dari golongan Pak-bong.

Dengan ilmu itu, pantas saja ia bisa lari dengan pesat.

Touw Liong semakin memperhatikan gerakan Ngo-gak Lokoay.

Gerakan Hui-eng Pat-sek yang digunakan olehnya ternyata demikian mahir dan lincah sekali, jikalau belum mengadakan latihan beberapa puluh tahun lamanya, tidak mungkin bisa mencapai hasil demikian.

Maka dalam hati anak muda itu lantas timbul suatu pikiran.

Ngo-gak Lokoay sudah mendapatkan ilmu Hui-eng Pat-sek dari Pak-bong.

Tetapi di masa itu, tiga garuda dari Pak-bong tidak mungkin menurunkan ilmu simpanan itu kepada Ngo-gak sin-kun.

Kalau begitu ...?

Siapakah orangnya yang dapat menggunakan ilmu Hui-eng Pat-sek demikian mahir?

Kecuali Hui eng sendiri, dalam rimba persilatan dewasa ini barangkali cuma ada seorang lagi, yaitu, Kakek Seribu Muka!

Ketika Touw Liong memikir sampai di situ, ia mulai perhatikan bentuk dan dedak perawakan Ngo-gak Lokoay.

Sesaat itu ia segera menarik suatu kesimpulan dan dapat memastikan pula bahwa Ngo-gak Lokoay yang dikejarnya itu adalah samaran dari Kakek Seribu Muka.

Setelah menarik kesimpulan demikian, dengan tiba-tiba Touw Liong berseru dengan suara nyaring.

"Chungcu! Harap tunggu sebentar! Saudaraku Kang Kie ada urusan yang minta aku sampaikan kepada chungcu!"

Usahanya itu ternyata berhasil.

Ngo-gak Lokoay yang lari terbirit-birit tiba-tiba menghentikan gerakannya.

Ia berpaling dan pendelikkan matanya, dengan tak berkata apapun mengawasi Touw Liong dari atas sampai ke bawah.

Touw Liong pada saat itu sudah dapat memastikan bahwa siapa adanya Ngo-gak Lokoay itu.

Ia memberi hormat kepadanya.

Ngo-gak Lokoay menganggukkan kepala, tetapi masih tetap tidak berkata apa-apa.

Touw Liong lantas bertanya secara blak-blakan.

"Tahukan chungcu bahwa suhumu telah menutup mata?"

Ngo-gak Sin-kun mengangguk-anggukkan kepala. Touw Liong berkata pula.

"Saudaraku Kang Kie mengharapkan bisa bertemu muka dengan toa-chungcu untuk merundingkan cara-cara dan rencana guna menuntut balas sakit hati suhumu!"

Di luar dugaan Touw Liong, Ngo-gak Sin-kun mengeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Aku bukan Toa-chungcu!"

Touw Liong merasa heran dan lalu bertanya.

"Kalau begitu tuan ini siapa?"

Ngo-gak Sin-kun mengulurkan dua jari tangannya. Touw Liong lalu bertanya lagi.

"Apakah tuan Ji-chungcu?"

Ngo-gak Lokoay menganggukkan kepala. Touw Liong kembali memberi hormat kepadanya dan bertanya.

"Mengapa chungcu perlu menyamar sebagai Ngo-gak Lokoay?"

Jie-chungcu menghela nafas dan berkata;

"Dalam hal ini, panjang sekali ceritanya, sejak Touw tayhiap berlalu dari Pak-bong-san, kami berempat suheng dan sumoay kembali ke tempat rahasia di gunung Pakbong. Di situlah kami baru mengetahui bahwa suhu telah menutup mata. Batu nisan yang Touw tayhiap dirikan, juga telah kami lihat, di samping itu, kami juga melihat tulisan darah yang ditulis suhu, maka kami tahu bahwa suhu terbinasa di tangan Ngo-gak Lokoay. Oleh karena itu, kami sudah bersumpah hendak menuntut balas sakit hati guru."

Touw Liong mengerutkan alisnya, agaknya setengah menyadari. Sementara itu Jie-chungcu telah melanjutkan ucapannya.

"Tetapi kepandaian dan kekuatan tenaga dalam Ngo-gak Lokoay hebat sekali, kami beberapa saudara seperguruan masih susah menghadapi, di samping itu, sejak Ngo-gak Lokoay kabur dari gunung Pak-bong, lantas menghilang, tidak tahu sembunyi di mana, maka suheng telah dapat memikirkan suatu akal yang baik, begitulah kami suheng, sute dan sumoay berempat dengan berpencaran telah menyaru sebagai Ngo-gak Lokoay, sengaja menimbulkan kekacauan dalam rimba persilatan. Kalau urusan telah meluas menjadi hebat, kita tidak kuatir Ngo-gak Lokoay tidak akan muncul."

Touw Liong mendengarkan penuturan itu, lantas berpikir dalam hatinya.

Perbuatan murid-murid golongan Pak-bong yang hendak mencelakakan diri orang lain ini sudah tentu kurang baik, tetapi tujuan mereka ialah hendak menuntut balas sakit hati suhu mereka, maka masih bolehlah dimaafkan.

Berpikir sampai di situ, dengan nada menghibur dan menasehati, berkatalah Touw Liong.

"Sakit hati suhumu, karena aku sudah pernah menerima budinya demikian besar, dengan sendirinya juga akan bantu mengeluarkan tenaga, ah! Sayang ..."

Jie-chungcu kedip-kedipkan matanya, dengan sikap menanya mengawasi padanya, sementara itu Touw Liong sudah berkata lagi.

"Sayang aku sudah terkena totokan Panji Wulung, tidak beberapa lama ..."

Jie-chungcu mengetahui perasaan Touw Liong pada saat itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus memberi hiburan, maka alisnya dikerutkan, dan otaknya bekerja.

Sesaat ia seperti ingat sesuatu, maka bertanya padanya.

"Touw tayhiap, kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui kematian suhuku, juga satu-satunya orang yang sudah masuk ke tempat pertapaan suhu. Maka kitab rahasia perguruan kami, yaitu kitab Hui-eng Pat-sek dan pedang Khun-ngo-kiam, Touw-tayhiap seharusnya tahu bagaimana suhu hendak menyelesaikan tentang dua benda pusaka itu."

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berkata.

"Sekalipun Jie-chungcu tidak bertanya, aku juga seharusnya memberitahukan padamu. Dua benda pusaka itu sudah kuserahkan kepada saudaraku Kiang Kie. Nanti, apabila chungcu bertemu dengan saudaraku itu, tentu akan tahu semua."

Jie-chungcu mengucapkan terima kasih, lantas memutar tubuh hendak pergi. Touw Liong ingat masih ada urusan yang belum sempat diutarakan, maka buru-buru menahannya dan berkata.

"Harap chungcu jangan pergi dulu. Aku masih ada sesuatu yang akan diberitahukan pada chungcu."

Jie-chungcu batalkan maksudnya, ia berdiri menantikan keterangan Touw Liong. Touw Liong kembali memberi hormat, dan berkata pula.

"Rimba persilatan keadaannya kacau balau. Dalam keadaan seperti ini sudah tentu banyak timbul hal-hal yang tidak karuan macam. Mengenai cara Jie-chungcu bersama suheng dan sute serta sumoay hendak mencari jejak Ngogak Lokoay, agar supaya jangan sampai menimbulkan halhal yang tak diingini, rasanya perlu ditinjau kembali."

Maksud Touw Liong sebetulnya hendak minta mereka jangan sampai menimbulkan urusan terlalu banyak, tetapi Jie-chungcu tidak dapat memahami seluruh maksud Touw Liong, maka timbul perasaan curiganya, dan lalu bertanya.

"Aku tidak mengerti maksud dari ucapan Touw tayhiap tadi."

"Maksudku, Ngo-gak Lokoay dahulu mempunyai banyak musuh dengan berbagai partai. Kalau sekarang ini chungcu dengan suheng, sute dan sumoay muncul dalam dunia kang-ouw dengan Ngo-gak Lokoay, hal ini mengandung bahaya terlalu besar. Dan, disamping itu, apabila urusan telah berlarut-larut dan menjadi besar dan Ngo-gak Lokoay yang asli muncul, maka sepuluh partai besar pasti akan keluar semua untuk menghadapi Ngo-gak Lokoay. Kalau sudah terjadi hal seperti itu, bukankah tujuan dan maksud chungcu akan menjadi tersia-sia belaka? Oleh karena tidak bisa turun tangan sendiri terhadapnya guna menuntut balas sakit hati suhumu."

Jie-chungcu dua kali menganggukkan kepala tanda mengucapkan terima kasih, tetapi kemudian ketika dia angkat muka, wajahnya berubah seketika, dan cepat-cepat memutar tubuh untuk lari tanpa pamit lagi.

Touw Liong merasa heran terhadap Jie-chungcu itu, tatkala ia berpaling, tampaklah di belakangnya dua orang.

Mereka itu adalah Pek Thian Hiong dan puterinya.

Touw Liong dalam hati mengerti, sebabnya ialah muridmurid golongan Pak-bong ketika dalam pertemuan di danau Thian-tie di gunung Lu-san, telah pernah mengacau, hingga dalam hati sedikit banyak merasa tidak enak sudah tentu ia harus pergi untuk menyingkir dari Pek Thian Hiong.

Sesaat kemudian Pek Thian Hiong dan puterinya sudah berada di hadapan Touw Liong.

Pek Thian Hiong segera bertanya.

"Mengapa Touw tayhiap lepaskan lokoay itu?"

Touw Liong lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi. Pek Thian Hiong setelah mendengarkannya lalu berkata sambil kertak gigi.

"Kalau kuingat murid-murid golongan Pak-bong, benarbenar merasa gemas. Lain kali kalau sampai bertemu lagi, aku pasti tidak dapat mengampuni mereka!"

Touw Liong pikir hendak meredakan permusuhan itu, tetapi mengingat Pek Thian Hiong masih dalam keadaan marah, ia tahu usahanya tentu takkan berguna, maka lantas batalkan maksudnya.

Sementara itu, Pek Giok Hoa sambil membawa pedang Hok-mo-kiam, berjalan menghampiri Touw Liong dan bertanya kepadanya.

"Kata ayah, kalau pedang ini betul pedang Hok-mokiam, di dalamnya ada mengandung suatu rahasia besar. Samar-samar aku pernah dengar katamu, waktu kau berbicara dengan Thian-sim di gunung Ceng-shia-san, benarkah bahwa pedang ini pedang Hok-mo-kiam?"

"Memang benar pedang Hok-mo-kiam!"

Jawab Touw Liong.

Namun dalam hatinya ia bertanya-tanya sendiri, rahasia apa sebetulnya?

Touw Liong menyambuti pedang Hok-mo-kiam dari tangan Pek Giok Hoa, diperiksanya dua kali, tetapi tidak melihat tanda-tanda yang aneh.

Kalau mau dikata perbedaan pedang ini dengan pedang-pedang lain, satusatunya yang agak menonjol ialah, bentuk dan rupa pedang ini mirip dengan pedang Ang-hui-how-kiam milik golongan Bu-tong.

Selain itu, bentuknya yang memang berupa pedang kuno, tentu agak indah dan tajam sekali.

Ia memegangi pedang itu dan menghampiri Pek Thian Hiong seraya bertanya.

"Pek cianpwe, aku tidak dapat melihat di mana letak rahasia yang ada pada pedang ini, maka kuminta sedikit penjelasan dari cianpwe."

Pek Thian Hiong geleng-gelengkan kepala dan mengawasi keadaan sekitarnya, ketika menampak di sekitar tempat itu sunyi-senyap, boleh dikata hanya mereka bertiga, sudah tidak tampak bayangan orang lain lagi.

Touw Liong yang menyaksikan sikap hati-hati dari orang tua itu, mengetahui bahwa rahasia yang terkandung dalam pedang Hok-mo-kiam ini, pasti bukan rahasia biasa, maka dengan sikap serius ia menyerahkan pedang itu pada Pek Thian Hiong.

Pek Thian Hiong menyambutinya, lebih dahulu diusapusap sekali lagi, barulah berkata.

"Pedang ini dibuatnya sangat bagus sekali, tetapi bukan buatan Thian lam tayhiap Cu-kat Ciam yang dahulu namanya mengetarkan rimba persilatan, pedang ini seharusnya dibuat oleh sucouw-ku, seorang padri beribadat tinggi. Untuk membuat pedang ini, sucouw menggunakan waktu dan hampir semua usahanya dalam waktu 30 tahun baru selesai. Apa yang patut disesalkan ialah, ketika pembuatan pedang ini selesai, sucouw oleh karena terlalu letih, pada saat itu juga telah menutup mata ..."

Ia berdiam sejenak dan menghela nafas panjang, kemudian berkata lagi.

"Letak berharganya pedang ini bukan pada ketajamannya yang dapat memapas batu bagaikan tahu, melainkan terletak pada sebelumnya dibuat pedang ini, sucouw telah menggunakan ilmu yang tertinggi. Ilmu pedang yang dipelajarinya selama beberapa puluh tahun telah disalurkan ke dalam awak pedang ini. Kemudian, menggunakan pula ilmunya dari golongan Budha, bertapa selama 49 hari, telah berhasil menyembunyikan ukiran huruf yang diukir di atas pedang, sehingga tidak dapat dilihat oleh pandangan mata biasa."

Dengan perasaan terkejut dan terheran-heran Touw Liong mengawasi pedang pusaka itu, memang benar ia tidak berhasil menemukan ukiran-ukiran huruf di atasnya.

Jadi apa yang diucapkan oleh orang tua ini, barang kali memang betul.

Sementara itu Pek Thian Hiong sudah berkata lagi.

"Pedang berhasil, tetapi orang yang membuat menutup mata, ini adalah suatu tragedi yang sangat menggenaskan. Lebih menggenaskan lagi, pada waktu sucouw menutup mata, dan semua anak muridnya sedang repot mengurus jenasahnya, pedang itu telah dicuri oleh seorang tokoh kuat rimba persilatan yang sudah lama mengintai pedang pusaka itu, hingga dibawa kabur olehnya."

"Apakah orang itu adalah Cu-kat Ciam sendiri?"

Tanya Touw Liong. Pek Thian Hiong menganggukkan kepala. Touw Liong bertanya pula.

"Mengapa murid-murid couwsu cianpwe dahulu tidak berusaha mencari jejak pedang itu?"

Pek Thian Hiong menghela nafas panjang, lama baru bisa menjawab.

"Mungkin itu sudah takdir Tuhan Yang Maha Esa, ketika orang-orang yang mencari jejak Cu-kat Ciam sudah tidak tampak lagi bayangannya, bahkan sejak saat itu bayangannya sudah tidak muncul lagi di dunia kang-ouw."

"Ayah telah beberapa puluh tahun lamanya menyembunyikan nama, apakah juga lantaran mencari jejak pedang ini?"

Tanya Pek Giok Hwa dengan nada sedih.

"Kali ini aku keluar muka lagi, mengundang semua tokoh rimba persilatan, dengan alasan membasmi keganasan Panji Wulung, tetapi maksud yang sebenarnya ialah hendak menyerepi pedang pusaka ini,"

Berkata Pek Thian Hiong.

"Kalau begitu aku ucapkan selamat kepada locianpwee, karena locianpwee sudah mewarisi pedang pusaka milik sucouw locianpwee, dengan reputasi locianpwee di kalangan kang-ouw, rasanya tidak susah bagi locianpwee untuk membersihkan rimba persilatan dari kawanan penjahat,"

Berkata Touw Liong sambil memberi hormat. Pek Thian Hiong menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.

"Touw tayhiap, kau jangan terburu-buru memberi selamat, meskipun aku sudah menemukan kembali pedang pusaka milik perguruan kita. Sayang ukiran-ukiran huruf kuno yang diukir di atas pedang itu aku masih belum berhasil membuatnya tampak dengan mata."

"Kapan kira-kira ukiran-ukiran huruf itu bisa tampak?"

Tanya Touw Liong.

"Harus menunggu sampai aku berhasil memahami irama-irama dari kecapi kuno itu, barangkali masih memerlukan waktu tiga bulan untuk aku melatih ilmu gaib dari daerah luar, yang harus digabungkan dengan irama kecapi ini, barulah bisa menimbulkan huruf-huruf yang tersembunyi dalam awak pedang ini,"

Menjawab Pek Thian Hiong sambil menunjuk kecapi kunonya.

Bab 46 WAKTU TIGA BULAN terhitung pendek, tetapi siapa tahu apa yang terjadi di dalam rimba persilatan di dalam tiga bulan kemudian?

Apakah Panji Wulung wanita membiarkan ia mempelajari ilmunya itu dengan tenang selama tiga bulan ini?

Pek Thian Hiong mengerti kedudukannya sendiri, demikianpun dengan Touw Liong.

Maka Pek Thian Hiong sehabis mengucapkan perkataannya itu, di antara mereka berdua, segera terbenam dalam lamunannya sendiri-sendiri.

Pek Giok Hoa yang menyaksikan itu, menghela nafas perlahan, kemudian berkata.

"Ayah hendak mempelajari ilmu gaib jati kuno ini, apabila mendapat bantuan dia menjaga keselamatannya, hal itu alangkah baiknya!"

Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi ia tahu benar bahwa Touw Liong sudah terkena serangan ganas Panji Wulung wanita yang mempunyai waktu tiga hari saja.

Sepasang mata Touw Liong tiba-tiba terbuka lebar, katanya.

"Ilmu gaib Thay-it Sin-kang boanpwe, juga sudah boanpwe pelajari seluruhnya, sekarang ini apakah kiranya boleh membantu cianpwe dalam melaksanakan maksud cianpwe?"

Maksudnya ialah hendak menggunakan kekuatan tenaga dalam yang ada pada dirinya, supaya dapat menimbulkan ukiran bulat yang terdapat di awak pedang kuno itu.

Tetapi Pek Thian Hiong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berkata.

"Tidak bisa! Kekuatan dari ilmu Thay-it Sin-kang masih belum cukup."

Tetapi kemudian ia berpikir lagi sambil mengerutkan alis, kemudian mengangguk-anggukkan kepala dan berkata pula.

"Meskipun ilmu Thay-it Sin-kang masih belum bisa dipakai, tetapi apabila, ada cara lain, dan ditambah dengan kekuatan tenaga dari lain ilmu rasanya bisa juga. Tetapi ini adalah suatu hal yang tidak mungkin, dalam kalangan tinggi, tidaklah mungkin ada orang yang dalam waktu bersamaan bisa mengerahkan dua macam kekuatan dari dua macam ilmu!"

Touw Liong yang mendengar ucapan itu merasa tertarik, katanya sambil tertawa.

"Boanpwe bersedia menggunakan dua macam ilmu dalam waktu yang bersamaan."

Mata Pek Thian Hiong terbuka lebar, kemudian tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Oh! Orang yang sudah tua, pikirannya juga linglung, mengapa aku tidak ingat kau tadi sewaktu dalam kekuatanmu melawan Thian-sin dan It-tim, dengan tangan kirimu kau boleh menggunakan ilmu Thay-it Sim-liong, dan dengan tangan kananmu, gunakanlah ilmu Tay-lo sian-ci. Apabila dalam waktu bersamaan tidak bisa mengerahkan dua macam ilmu itu, tidak mungkin dalam waktu yang bersamaan kau dapat menggunakan dua macam ilmu yang sangat ampuh itu!"

Sehabis berkata demikian, ia berkata pula sambil mengulapkan tangannya.

"Jalan! Mari ikut aku pergi!"

Setelah itu lebih dahulu ia berjalan menuju ke belakang gunung Kionglay.

.....................

Rembulan purnama memancarkan sinarnya yang terang benderang, malam itu udara cerah.

Di daerah gunung Tiong lay-san, terdapat sebuah bangunan gedung besar tetapi sederhana.

Ruangan tengah kamar itu masih tampak sinar pelita yang memancar keluar, di dekat jendela ada duduk seorang tua dan dua orang muda.

Tiga orang itu adalah Pek Thian Hiong dan anaknya bersama Touw Liong.

Di luar pekarangan yang bertugas sebagai peronda adalah Soa Lie, yang bertubuh tinggi besar, sedang yang bertugas di bagian atas rumah adalah orang tua berkaki satu yang mukanya hitam yang dahulu pernah unjuk diri di danau Siao-thian-tie, sepasang sinar mata yang tajam orang tua itu ditujukan ke arah jauh sekeliling gedung rumah itu.

Tiga orang yang duduk di dekat jendela itu, semua mencurahkan perhatiannya kepada pedang Hok-mo-kiam yang tergenggam dalam tangan Touw Liong.

Di atas awak pedang itu, dengan tegas dan nyata sekali tertampak beberapa huruf yang kecil halus sekali, seolaholah dibikin dengan jarum tajam, huruf-huruf itu berbunyi.

"Ilmu pedang disimpan di dalam gua Hok hong-tong."

Pek Thian Hiong menghela nafas, agaknya merasa kecewa, sedang Touw Liong menyeka keringat yang mengalir di jidatnya.

Jari tangannya mengusap untuk menghilangkan jejak ukiran-ukiran huruf di awak pedang tadi.

Sementara itu Pek Giok Hoa mula membuka mulut, ia berkata dengan sikap kecewa.

"Mengapa harus disimpan di dalam gua Hok hongtong?"

"Aku juga tidak habis mengerti mengapa Couwsu-ku bisa menyimpan kitab ilmu pedang dalam goa Hok hongtong pada dua ratus tahun kemudian, apakah masih tetap seperti dahulu? Apakah kitab ilmu pedang itu masih berada di tempat asalnya?"

Berkata Pek Thian Hiong. Touw Liong bangkit dari tempat duduknya, sambil merapikan pakaiannya ia berkata.

"Boanpwe tidak bisa berdiam lama-lama, kini hendak berangkat ke gunung Hok-bong-san!"

"Apakah Touw tayhiap hendak mencari kitab ilmu pedang itu?"

Bertanya Pek Thian Hiong yang merasa tertarik.

"Bukan! Boanpwe hendak mencari It-tim,"

Menjawab Touw Liong sambil mengeleng-gelengkan kepala.

"Apakah It-tim juga berada di gunung Hok-hong-san?"

Bertanya Pek Thian Hiong heran.

"Dia sudah diangkat menjadi salah satu anggota pelindung hukum oleh Panji Wulung wanita, sudah tentu ia berada di gunung Hok-hong-san untuk sementara ia berlindung kepada pengaruhnya Panji Wulung Wanita, sebagai tempat pelariannya,"

Menjawab Touw Liong sambil menganggukkan kepala.

Pek Giok Hoa yang mendengar Touw Liong hendak pergi, mengerutkan alisnya sambil memandang ayahnya, sedang mulutnya tidak mengucapkan apa-apa, tetapi dari sikapnya itu, telah menunjukkan suatu perasaan yang mengandung permohonan.

Pek Thian Hiong menghela nafas, ia mencegah maksud Touw Liong hendak pergi, katanya.

"Pergi dengan seorang diri, kurasa kurang baik, apabila Touw tayhiap mau bersabar sedikit waktu, kita ayah dan anak bisa mengawani kau pergi bersama-sama."

"Budi baik locianpwe ini terpaksa kuterima dalam hati saja, sayang waktu boanpwe sudah tidak banyak lagi,"

Berkata Touw Liong sambil tertawa kecil.

Pek Giok Hoa merasa sangat berduka, hingga saat itu hampir saja mengucurkan air mata, untuk kedua kalinya ia mengawasi ayahnya dengan sinar mata penuh pengharapan.

Pek Thian Hiong menundukkan kepala untuk berpikir, kemudian ia menarik tangan Touw Liong seraya berkata.

"Touw tayhiap harap sabar dulu, aku masih ada sedikit urusan, sebelum Touw tayhiap berlalu dari sini, hendak minta pertolongan Touw tayhiap untuk melindungi aku satu malam saja, besok pagi-pagi sekali, aku bisa mengikuti Touw tayhiap bersama-sama pergi ke gunung Hok-hongsan, sekalipun aku harus korbankan tulang-tulangku yang sudah bangkotan ini di gunung Hok-hong-san, juga akan membantu kau untuk menyelesaikan urusanmu, untuk membunuh mati It-tim."

"Apakah cianpwe ada memerlukan tenaga boanpwe?"

Berkata Touw Liong.

"Aku hanya tinggal menunggu waktu setengah malam saja, dalam usahaku mempelajari ilmu gaib dari jati kuno ini, setelah aku dapat memahami, aku hendak menurunkan ilmu itu kepada Hoa-ji, hitung-hitung sebagai warisan baginya setelah aku nanti menutup mata,"

Berkata Pek Thian Hiong.

Touw Liong merasa tertarik mendengar ucapan itu, sedangkan Pek Giok Hoa saat itu sudah menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, perasaan sedih timbul seketika, sehingga menangis terisak-isak.

Pek Thian Hiong merasa sangat berduka, dengan air mata bercucuran berkata.

"Anak, jangan nangis! Kau adalah Sancu muda dari golongan Cit-phoa-san, dalam hidup ayahmu, sepanjang masa pernah melakukan pekerjaan besar; belum penah merasa takut menghadapi segala perkara, sekarang setelah aku mengetahui bahwa kitab ilmu pedang yang sangat ampuh itu berada di gunung Hok-hong-san, bagaimana aku bisa tinggal diam? Bagaimana seorang ksatria mati atau hidup sudah pasrah kepada tuhan yang Maha Esa, benda peninggalan perguruanmu sudah diketahui tempatnya, bagaimanapun juga aku tidak dapat berpeluk tangan!"

Pek Giok Hoa berhenti menangis, Pek Thian Hiong menghiburi lagi seraya berkata.

"Nanti kalau aku sudah berhasil menyelesaikan pelajaran ilmu gaib dari kecapi kuno ini, kau pulang ke gunung Citphoa-san, kau harus mempelajari ilmunya dengan tekun, selama setahun atau dua tahun, di kemudian hari, kau akan mencapai sukses yang gilang-gemilang."

Pek Giok Hoa berulang-ulang menggeleng kepala, tidak berkata apa-apa, Touw Liong yang berada di sampingnya menyaksikan itu hatinya juga merasa pilu, sehingga berpaling mengawasi ke lain jurusan, dengan suara serak ia berkata sambil menggelengkan kepala.

"Dari sini pergi ke gunung Hok-hong-san hanya tiga atau lima ratus pal perjalanannya saja, malam ini aku bersedia membantu cianpwe untuk menjaga rumah ini, besok pagi, biarlah boanpwe pergi seorang diri saja! Apabila nasib baik masih bisa hidup tiga hari, mungkin boanpwe dapat membawa kembali kitab ilmu pedang peninggalan Couwsu cianpwe sekalian."

Pek Thian Hiong tidak berkata apa-apa, ia ulurkan tangannya mengambil kecapi kuno yang diletakkan di atas meja, dan berkata sambil menunjuk ke puncak gunung yang menjulang tinggi ke langit.

"Aku tahu puncak gunung itu keadaannya tenang dan sunyi, di atas itu terdapat banyak pohon cemara tua, hanya kita di sana mempelajari irama kecapi kuno ini, dan tentu bisa menemukan irama-iramanya yang sejati."

Tak lama kemudian, di atas sebuah batu persegi di bawah tiga buah pohon cemara besar yang terletak di puncak gunung tinggi itu, terdapat sebuah pendupaan yang mengepulkan asap putih.

Di belakang pendupaan, terletak sebuah kecapi kuno bersenar tujuh yang pernah menggetarkan rimba persilatan itu.

Sinar rembulan yang melalui sela-sela daun pohon cemara, menyinari wajah Pek Thian Hiong, memejamkan sepasang matanya, sedang jari tangannya menari-nari di atas senar kecapi kuno, hingga kecapi itu mengeluarkan suara iramanya yang merdu sekali.

Di belakang Pek Thian Hiong, berdiri putrinya Pek Giok Hoa yang sedang membawa pedang kuno, matanya mengawasi kecapi dan bergeraknya kedua tangan ayahnya tanpa berkedip.

Sedang ke jarak jauh ia celingukan mengawasi tempat sekitarnya, sejauh sepuluh tombak, di sana, di tempat yang terdapat banyak jalanan, ada berdiri Touw Liong yang bertugas melindungi ayah dan anak itu.

Kiranya kecapi itu demikian merdunya, sehingga dapat mengetuk setiap hati manusia, irama kecapi itu dari lembut, halus perlahan-lahan memuncak cepat, seolah-olah sedang mengikuti bergeraknya orang menari.

Tetapi kemudian, dengan tiba-tiba irama itu berubah demikian hebatnya, seolah-olah suara gemuruh, juga seperti mengandung suara di dalam medan perang.

Pendek kata, irama kecapi itu telah mencekat setiap hati orang yang berada di situ, sehingga seorang seperti Touw Liong yang memiliki ketenangan pikiran cukup kuat, juga masih merasa tergoncang, hati dan pikirannya, seolah-olah cukup diombang-ambingkan oleh irama kecapi itu.

Satu jam, dua jam, tiga jam telah berlalu.

Kira-kira empat jam hampir subuh, ketika irama kecapi itu sedang menanjak tinggi dan hampir menembus ke awan, dengan tiba-tiba terdengar suara siulan aneh yang memecah.

Begitu suara siulan aneh itu timbul, Touw Liong bagaikan burung terbang, melesat ke sebuah bukit, lalu menuju ke puncak gunung yang lebih rendah.

Pek Giok Hoa juga bersiap dengan pedang Hok-mokiamnya, ia cepat berdiri di belakang ayahnya untuk menghadapi segala kemungkinan ...

Pek Thian Hiong sendiri, ketika mendengar suara siulan itu juga kaget, dengan jari tangannya masih tetap menarinari di atas senar kecapi tanpa berhenti, suara iramanya yang tinggi tetap menggema di angkasa.

Suara siulan terus timbul lagi di puncak gunung agak rendah dari seberang sana, suara siulan itu kedengarannya masih demikian kuat tenaganya.

Pek Thian Hiong kembali dikejutkan oleh suara itu, akan tetapi ia sedikitpun tidak berani berlaku gegabah, ia menenangkan hati dan pikiran seluruh perhatiannya ditumpahkan ke dalam kecapi kunonya.

Sedang Pek Giok Hoa yang berada di belakangnya, matanya mengawasi keadaan di sekitarnya, ia baru tahu bahwa Touw Liong sudah tidak tampak bayangannya, sehingga sekujur badannya tergetar, alisnya berdiri, wajahnya menunjukkan sikap cemas.

Touw Liong yang berada di puncak gunung seberang sana, dengan menerobos awan-awan tipis di atas suatu batu gunung, matanya kembali ditujukan ke puncak yang lebih rendah, samar tampak dua bayangan orang yang mengenakan dandanan imam, dua imam itu yang satu sudah lanjut usianya, sedang yang lain masih agak muda, yang tua rambutnya sudah putih seluruhnya dan yang agakh muda tulang-tulangnya kelihatan menonjol.

Touw Liong yang memiliki pandangan mata luar biasa, meskipun di waktu malam, dan terpisah agak jauh, tetapi begitu melihat segera dapat mengenali bahwa imam yang tubuhnya kurus itu adalah Ngo-yang Tojin, salah satu dari tiga jago golongan Kiong-lay.

Dalam hati Touw Liong timbul pertanyaan.

"Ketua partai Kiong-lay sudah binasa di tangan Panji Wulung Wanita di kota Lam-yang, orang yang sudah mati tidak mungkin hidup kembali, dengan lain perkataan, imam tua berambut putih itu juga tidak mungkin ketua partai Kionglay."

Akan tetapi siapakah dia?

Dengan tiba-tiba ia teringat kepada diri seseorang, orang itu ...

seharusnya sute atau saudara muda seperguruan ketua partai Kiong-lay, yang bernama San Hong Tojin, salah seorang kuat dari sepuluh partai besar.

Lain pikiran timbul dengan mendadak, orang ini pada dua puluh tahun berselang pernah ikut mengepung tiga jago rimba persilatan di kota Gak-yang, teringat akan itu, hawa amarah Touw Liong lantas meluap, maka sesaat itu lantas lompat melesat menuju ke puncak gunung di seberang sana.

Di atas puncak gunung itu hanya terdapat pohon cemara yang daunnya rindang, ketika Touw Liong tiba di tempat itu, imam tua berambut putih itu memperdengarkan suara tertawa dinginnya, kemudian bertanya kepada Touw Liong.

"Kau bocah inikah yang main gila di atas sana?"

Ngo-yang Tojin di atas wajahnya yang kurus nampak sangat dingin, dengan hati gemas memandang Touw Liong, sikap itu jauh berbeda sewaktu berada di kota Gak-yang.

Dalam hati Touw Liong diam-diam merasa heran, tetapi dia sebagai orang keluaran dari golongan ternama, biarpun menghadapi musuh besar, juga tidak lupa tentang adat istiadat, maka lalu memberi hormat kepada Ngo-yang Tojin seraya berkata.

"Sudah lama tidak berjumpa, kiranya adalah Ngo-yang Totiang."

Wajah Ngo-yang yang kurus tampak berkerenyit, lalu miringkan kepala, dan berkata dengan nada suara dingin.

"Susiokku sedang bertanya kepadamu!"

Dalam hati Touw Liong merasa mendelu, pikirnya imam ini mengapa dengan mendadak berubah demikian congkak?

Touw Liong sebagai seorang tinggi hati, maka ketika mendengar pertanyaan itu, lalu tertawa terbahak-bahak, kemudian balas bertanya.

"Kalau begitu, susiokmu ini adalah San-hong Totiang yang pada dua puluh tahun berselang namanya sangat terkenal di tiga daerah."

Imam berambut putih itu mengangguk-anggukkan kepala, dan berkata dengan nada suara dingin.

"Ucapanmu ini sedikitpun tidak salah."

Wajah Touw Liong berubah dengan segera ia bertanya dengan bengis.

"San-hong Tojin, apakah dalam pertempuran yang mengepung tiga jago rimba persilatan di kota Gak-yang pada dua puluh tahun berselang, kau juga ambil bagian?"

"Sudah tentu, pinto yang waktu itu merupakan salah seorang kuat dari sepuluh partai, dengan sendirinya diharuskan turut ambil bagian dalam pengepungan tiga jago itu,"

Menjawab San-hong Tojin sambil menganggukkan kepala. Touw Liong mendongakkan kepala dan tertawa, kemudian berkata.

"Malam ini keinginanku telah tercapai, musuhku kembali telah kutemukan lagi seorang!"

Setelah itu ia maju menghampiri beberapa langkah.

Pada waktu itu Touw Liong sudah tidak dapat mengendalikan perasaan sedih, gemas dan marah dalam hatinya, maka kedua tangannya lantas diangkat, sudah akan turun tangan.

Dengan tiba-tiba Lo-yang Tojin sudah bergerak dan berada di hadapan San-hong Tojin untuk menghalangi Touw Liong, dengan nada sangat marah ia bertanya sambil menuding Touw Liong.

"Apakah suhuku dan Kian-goan Tojin dari gereja Kiangoan-koan, semua mati di bawah serangan ilmu Thian-sengjiauw."

"Mereka binasa di bawah serangan ilmu Thay-it Sinjiauw Panji Wulung wanita, dengan cara bagaimana kau menuduh orang secara sembarangan?"

Berkata Touw Liong marah.

Ilmu Thian-seng dan Thay-it, keduanya merupakan satu aliran, kemarin Pek-bie Hwesio dari Ngo-bie ada kata, kematian suhengku pernah disaksikan olehnya dengan mata kepala sendiri memang benar mati di bawah serangan ilmu Thian-seng-jiauw."

Agak sulit bagi Touw Liong untuk memberi keterangan, tetapi ia mengerti keadaan yang dihadapinya, maka lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Barangkali kau dimasukkan dalam barisan dua belas penasihat hukum dari perkumpulan Hok-hong. Pek-bie Hwesio pasti sudah menerima perintah Kaucunya untuk minta kau supaya menjadi anggota perkumpulan tersebut, maka itu ia sampai perlu memutar balik perkara yang sebenarnya, dengan sengaja hendak membakar hatimu, ha ha ha, kematian suhengmu di bawah tangan Panji Wulung Wanita adalah suatu kenyataan, maka itu Lo-yan totiang jangan sampai salah alamat, dan tentang kau San-hong .... hutang darah harus membayar dengan darah, permusuhan yang timbul di Gak-yang-low pada 12 tahun berselang, aku tidak perlu banyak bicara lagi, hari ini biar bagaimana harus dibereskan."

San-hong Tojin menghunus pedang panjangnya, sambil tertawa dingin, ia melakukan serangan, untuk mengelambaikan pedangnya, sesaat kemudian dari dalam rimba yang lebat itu muncul ssebelas imam yang masingmasing pada membawa pedang panjang.

Touw Liong menyapu kawanan imam itu sejenak, ternyata adalah imam-imam yang dahulu pernah mengurung dirinya dengan barisan 12 pedang di atas jembatan kuno di kota Lam-yang.

San-hong tojin menggerakkan pedang di tangannya dan sepuluh imam itu lantas mulai maju mengurung, begitupun Ngo-yang tojin juga tidak mau ketinggalan, ia juga sudah turut ambil bagian.

Touw Liong tidak berani berlaku gegabah, di atas jembatan kuno di kota Lam-yang dahulu, ia pernah merasakan sendiri hebatnya barisan pedang itu, maka ia lalu memotes sebatang ranting pohon, dicobanya sebentar, ternyata cukup baik untuk dijadikan senjata.

Ketika 12 pedang dalam barisan itu digerakkan, sudah menimbulkan hembusan angin sangat hebat, Touw Liong dapat merasakan bahwa barisan pedang ini jauh lebih hebat daripada barisan pedang yang dahulu pernah dihadapinya, dan ujung pedang Lo-yang tojin sendiri, juga bisa menimbulkan hembusan angin hebat, yang dahulu belum pernah bisa melakukan seperti itu.

San-hong tojin berdiri di samping sambil menggenggam pedangnya, kemudian memberi perintah kepada Ngo-yang.

"Bocah ini adalah musuh besar yang membinasakan suhumu, kau boleh hadapi dengan sepenuh tenaga, sekalikali jangan sampai terlolos dari barisan pedang ini!"

Ngo-yang dengan sikapnya yang sangat hormat menerima baik perintah susioknya, kemudian ia berkata kepada Touw Liong.

"Serahkan jiwamu!"

Setelah itu ia mengeluarkan aba-aba, 12 batang pedang bergerak dengan serentak, di bawah sinar rembulan purnama, bergeraknya 12 pedang itu menimbulkan sinar berkilauan yang mengurung diri Touw Liong.

Touw Liong mengeluarkan siulan panjang, ia menggerakkan batang pohon di tangannya, sungguh aneh, senjata yang terdiri dari batang kayu yang tidak berapa besarnya itu dengan mudah dapat mendesak mundur 12 pedang.

Di dalam rimba persilatan, jarang ada orang yang berani menggunakan batang pohon sebagai pedang, ketujuh orang itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah tidak ada taranya.

Dan malam itu Touw Liong hanya dengan sebatang kayu kecil, untuk menghadapi barisan pedang yang sudah terkenal ampuhnya dalam rimba persilatan, hal ini sudah tentu membuat San-hong tojin yang menyaksikan pertempuran di samping, harus mempertimbangkan baikbaik tentang diri anak muda itu.

San-hong tojin kembali menggerakkan pedangnya, dan barisan pedang itu lantas berpencar, setelah itu, ia lompat masuk ke dalam barisan pedang, selanjutnay, barisan pedang itu kembali merapat dan mengurung Touw Liong dan San-hong tojin dalam barisan pedang, dengan menggerakkan pedang masing-masing.

Touw Liong berdiri dengan sikap gagah di dalam barisan pedang, sedikitpun tidak bergerak.

San-hong tojin berkata dengan nada suara dingin sambil menuding Touw Liong dengan pedangnya.

"Bocah, kau tampaknya memang benar memiliki kepandaian yang cukup berarti, kemarin Pek-bie Hwesio pernah berkata kepadaku, waktu itu aku masih belum mau percaya, tapi aku lihat ketika kau membuka seranganmu, aku segera mengetahui bahwa kau memang benar memiliki kepandaian yang berarti, namamu ternyata bukan hanya nama kosong belaka. Aku San-hong sejak berkelana, belum pernah menemukan tandingan, juga jarang ada orang yang berani mengucapkan perkataan besar di hadapannya, mari! Mari! Aku San-hong malam ini dapat belajar kenal dengan kepandaianmu yang hebat, sesungguhnya merasa puas."

Touw Liong tertawa dingin, matanya melihat 12 pedang panjang.

Ia mengerti maksud San-hong tidak mengundurkan barisan pedangnya, dengan lain perkataan, malam itu ia sudah dimaui betul-betul oleh San-hong, maka memerintahkan orang-orangnya tidak boleh melepaskan dirinya, apabila nasib baik bisa memecahkan barisan itu, San-hong masih dapat menggunakan barisan pedang itu sebagai pelindung untuk melarikan diri, tetapi apabila ia sendiri yang kalah, pasti akan dicincang oleh 12 pedang tersebut.

Perasaan sakit hati, gemas, marah, malam itu sudah terkumpul dalam hati Touw Liong, semua itu harus dikeluarkan baru merasa puas, senjata kayunya itu diangkat tinggi, kemudian digerakkan dan ujungnya mencecar Sanhong lojin, sedang mulutnya sudh berseru.

"Sambut seranganku!"

San-hong tojin mengeluarkan suara terkejut, lalu mundur dua langkah, pedangnya juga digerakkan untuk menyambut serangan Touw Liong.

Dalam waktu sekejab mata, sinar pedang dari tangan San-hong tojin bergerak-gerak demikian hebat, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya.

Touw Liong yang sudah mendapat pengalaman dalam pertempuran tadi malam, kini tidak berani lagi menggunakan dua macam ilmunya dan ilmu jari tangannya Kim-kong-sian-ci, sebab ia tahu benar bahwa tiga macam ilmu itu paling menghamburkan kekuatan tenaga dalam, kalau ia berbuat lagi seperti itu, inilah merupakan suatu perbuatan yang sangat bodoh.

Gerakan Touw Liong luar biasa anehnya, pertempuran baru berlangsung beberapa jurus, San-hong sudah mulai keteter, tidak sanggup menahan, maka ia lalu bersiul nyaring, sehingga sesaat kemudian, 12 imam yang mengurung di bagian luar dengan cepat menggerakkan pedangnya menyerang Touw Liong.

Touw Liong dapat merasakan serangan itu, ia seperti terancam oleh 12 ujung pedang, maka ia harus menggunakan senjata kayunya demikian rupa, ujung kayunya digunakan untuk menikam San-hong tojin, dan lima jari tangan kirinya bergerak dengan berbareng, hembusan angin yang keluar dari lima jari itu dapat menahan serangan 12 pedang tadi.

Begitu serangan pedang itu tertahan, tekanan dari barisan pedang tadi mulai reda.

Touw Liong menggunakan kesempatan itu, ia menggunakan ilmunya Thian-seng-jiauw untuk menghajar San-hong tojin.

Tidak ampun lagi, San-hong tojin mengeluarkan suara jeritan tertahan, mulurnya menyemburkan darah segar, dengan terhuyung-huyung lari keluar dari barisan pedang.

Dua belas barisan pedang itu memencarkan diri, tetapi kemudian rapat lagi.

Kini 12 barisan pedang itu telah mengurung Touw Liong semakin ketat.

Touw Liong dengan jari tangan kiri dan pedang di tangan kanan dengan secara nekad menghadapi 12 imam yang masing-masing menggunakan senjata pedang, sedang mulutnya berseru nyaring,

Jilid 18

"Ngo-yang totiang, suhumu benar-benar mati di tangan Panji Wulung Wanita! Jikalau kau tidak mau mengerti lagi, jangan salahkan kalau nanti aku turun tangan kejam."

Walaupun mulutnya mengatakan demikian, tetapi sebagai seorang yang baik hati, ia tidak tega menurunkan tangan jahat.

Ngo-yang totiang tidak menghiraukan seruan itu, masih dengan caranya sendiri menggerakkan barisan pedangnya, bahkan mengurung Touw Liong semakin ketat lagi.

Touw Liong perlahan-lahan merasakan tekanan semakin hebat, sambil mengerutkan alisnya ia berkata dengan suara marah.

"Totiang, kalau kau masih membandel seperti ini, jangan sesalkan kalau aku nanti akan turun tangan jahat!"

Ucapan itu disusul dengan gerakan senjata kayunya.

Senjata itu diputar sedemikian rupa dibantu dengan serangannya ilmu Thian-seng-jiauw dan ilmu jari tangan Kim-kong-ci, sehingga tidak lama kemudian, lima imam telah terpukul jatuh dan bergulingan di tanah.

Touw Liong mendongakkan kepalanya bersiul panjang, kemudian sepasang kakinya menjejak tanah, secepat sudah melesat empat tombak lebih.

Senjata di tangan kanannya dikibaskan untuk menggunakan kesempatan itu melesat lagi sejauh sepuluh tombak dan jatuh di atas sebuah pohon besar.

Touw Liong di atas tempat tinggi itu mulai pasang mata, tetapi tempat di sekitarnya ternyata sepi sunyi, kecuali 12 barisan pedang, tidak tampak lagi bayangan seorangpun juga.

Touw Liong terheran-heran, sebab San-hong tojin yang terpukul setengah mati olehnya, ternyata dalam waktu sekejab mata saja bisa kabur tanpa meninggalkan bekas, bukankah suatu kejadian yang sangat gaib?

Tetapi kemudian ia sudah dapat mengambil keputusan dengan segera.

Musuh besarnya itu kemanapun juga kaburnya, ia hendak mengejarnya sampai diketemukannya.

Ia sudah mengambil keputusan, hari itu bagaimanapun juga ia harus bisa mencari sampai ketemu kepada San-hong Tojin.

Sebab imam itu merupakan salah seorang dari musuh besarnya yang dahulu turut mengambil bagian dalam pengeroyokan terhadap ayah-bundanya.

Ia sudah mengambil keputusan pula, dalam batas waktu tiga hari itu, sedapat mungkin hendak membunuh satu persatu setiap musuh besar yang diketemukannya.

Sebelumnya ia turun dari tempat sembunyinya di atas pohon, tujuh pedang dari tangan imam yang mencari padanya, sudah ditebarkan pada pohon tua di mana tadi ia berdiri.

Pohon besar itu tanpa ampun lagi lantas rubuh.

Tetapi Touw Liong dengan kecepatan kilat sudah lompat melest ke atas puncak gunung lagi.

Di atas puncak gunung yang tinggi itu ia menengok ke bawah.

Keadaan di bawah ternyata sepi sunyi, sudah tidak dapat bayangan San-hong Tojin lagi.

Untuk kedua kalinya ia diherankan oleh kejadian yang dihadapinya hari ini.

Dalam hati bertanya pada diri sendiri.

"Apakah imam itu sudah bisa mengubah diri?"

Pada saat itu, dengan tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang keluar dari mulut Pek Giok Hoa.

Hati Touw Liong tergerak segera melepaskan maksudnya hendak mencari San-hong Tojin, terus melesat ke tempat di mana Pek Giok Hoa berada.

Tiba di tempat Pek Giok Hoa, matanya segera menampak seorang tua berbadan bongkok, berwajah kuning, namun sepasang matanya memancarkan sinar sangat tajam.

Orang tua itu rambutnya panjang menutupi kedua bahunya, sedang di tangannya memegang sebatang tongkat yang hitam jengat.

Tongkat itu digunakan sebagai senjata untuk bertempur dengan Pek Thian Hiong.

Pada waktu itu Pek Thian Hiong menggerakkan pedang kuno Hok-mo-kiam.

Ketika senjata pedang dan tongkat saling beradu, menimbulkan suara nyaring juga menimbulkan hembusan angin yang sangat hebat.

Bab 47 SEDANG PEK GIOK HOA sendiri dengan kecapi kuno di atas punggungnya, berdiri dengan mata memandang tanpa berkedip, keadaan medan petempuran sangat gawat, perasaan cemas tampak nyata pada wajahnya.

Touw Liong dengan ilmunya meringankan tubuh yang sudah mahir sekali, dalam waktu sekejab mata sudah berada di dekat diri Pek Giok Hoa.

Ketika Pek Giok Hoa mengetahui disampingnya ada orang, Touw Liong sudah berdiri berdampingan dengannya memperhatikan jalannya pertempuran.

Pek Giok Hoa lalu menggeser kakinya mendekati Touw Liong, bertanya kepadanya dengan sikap cemas.

"Kau lihat apakah ayah bisa kalah?"

"Mungkin tidak! Sebab ...,"

Menjawab Touw Liong dengan ucapannya yang masih agak ragu-ragu.

"Kenapa?"

"Sebab ... orang ini bukanlah Ngo-gak Lokoay yang sebenarnya."

Pek Giok Hoa heran lalu bertanya.

"Apakah Ngo-gak Lokoay ada yang memalsukan?"

Touw Liong menganggukkan kepala dan menjawab.

"Orang tua yang tadi siang aku kejar itu adalah Ngo-gak Lokoay yang palsu."

"Siapakah orang yang memalsukan dia itu?"

Selagi Touw Liong hendak menjawab pertanyaanya dengan tiba-tiba berseru kaget, kemudian berkata.

"Oh, aku keliru! Orang ini justru Ngo-gak Lokoay yang tulen!"

Pek Giok Hoa kembali dikejutkan oleh ucapan itu, tetapi dia adalah seorang yang sangat cerdik, begitu lihat ia sudah dapat mengetahui bahwa setiap serangan yang dilontarkan orang tua bongkok itu demikian hebat, gerakannya juga mengandung gerak tipu sangat aneh.

Kalau bukan Ngo-gak Lokoay yang tulen, bagaimana memiliki kekuatan tenaga dalam demikian hebat?

Dua lawan yang sedang bertempur itu, boleh dikata lawan yang berimbang benar-benar.

Kedua orang samasama memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat.

Tongkat Ngo-gak Lokoay memang berat, tetapi dengan pedang di tangan, Pek Thian Hiong tampak sangat gagah.

Dua lawan itu apabila bertempur benar-benar, tiga hari tiga malam barangkali juga belum selesai.

Touw Liong yang menyaksikan jalannya pertempuran, mengerutkan alisnya, ttapi dalam hatinya lalu mendapat suatu akal.

Dengan langkah lebar ia berjalan mengahmpiri dua orang yang sedang bertempur sengit, kemudian memusatkan seluruh pikiran dan kekuatan tenaganya dari tangan kanannya mengeluarkan tenaga lunak untuk menarik ke samping pedang Pek Thian Hiong seiring mulutnya berkata.

"Pek cianpwe, harap cianpwe serahkan lokoay ini kepadaku, karena boanpwe masih ada sedikit perselisihan dengannya."

Pek Thian Hiong menggunakan ilmunya Thay-it sinjiauw, menyambut serangan tongkat Ngo-gak Lokoay yang berat.

Ngo-gak Lokoay adalah seorang jago tua yang banyak pengalamannya.

Begitu Touw Liong dapat menyambut serangannya, ia sudah merasakan gelagat kurang baik.

Tongkatnya lalu diputar kembali, sedang kakinya digeser mundur.

Dengan demikian, ia tidak sampai terpukul oleh ilmu Thay-it sin-jiauw dari Touw Liong.

Setelah berhasil berdiri lagi ia bertanya kepada Touw Liong.

"Bocah, kau berani campur tangan?"

Touw Liong mengangguk dan berkata.

"Benar. Aku orang she Touw hari ini bukan saja hendak campur tangan, bahkan ...."

Sejenak ia berdiam diri untuk mengendalikan emosinya, kemudian baru berkata lagi.

"Akan mengambil batok kepalamu."

Ngo-gak Lokoay tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Aku orang tua ini sejak terjun di dunia kangouw pada 50 tahun berselang belum pernah ada orang yang berani mengucapkan omongan demikian besar terang-terangan di hadapanku. Bocah! Kau sudah berani mengeluarkan omong besar, kepandaian dan kekuatan tenagamu tentunya sudah mendapat banyak kemajuan selama setengah tahun ini. Mari! Mari! Kalau kau memang ingin aku bantu kau lekas menghadap pada raja akhirat aku juga tidak keberatan."

"Hutang darah kepada Hui-eng locianpwe, hari ini juga harus diperhitungkan sekalian,"

Demikian Touw Liong menambah keterangannya. Ngo-gak Lokoay yang sudah arah benar-beanr lalu berkata dengan suara keras.

"Bocah! Mengapa tidak lekas mengeluarkan senjatamu? Ketahuilah olehmu, senjata di tanganku ini selamanya tidak mau menghadapi orang dengan tangan kosong."

Touw Liong mengangkat kepala mengawasi ranting pohon cemara yang menurunke bawah.

Pek Thian Hiong agaknya mengerti maksudnya, maka lalu memberikan pedang panjangnya.

Touw Liong segera menyambuti pedang itu.

Sambil tertawa nyaring ia berkata kepada Ngogak Lokoay.

"Aku masih ada suatu urusan yang sangat penting sekali hendak bertanya kepadamu."

"Urusan apa?"

Demikian Ngo-gak Lokoay balas bertanya.

"Setelah kau meninggalkan gunung Pak-bong hari itu, apakah terus ke gunung Kiu-hoa?"

Ngo-gak Lokoay mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Kudengar kabar bahwa gurumu memiliki pil Kiu Hoantan, maka aku pergi mencarinya."

Mendengar itu Touw Liong sangat marah. Pedangnya segera diputar mengancam Ngo-gak Lokoay, sehingga Ngogak Lokoay diam-diam bergidik.

"Hutang darahmu kepada suhu, sekarang hendak kuperhitungkan sekalian!"

Ngo-gak Lokoay mendelikkan matanya, kemudian berkata.

"Kau mengoceh! Gurumu bukan binasa di tanganku. Orang yang turun tangan jahat kepadanya masih ada orang lain lagi."

"Siapakah orangnya?"

"Ketika aku tiba di gunung Kiu-hoa, gurumu sudah menutup mata. Waktu itu aku menampak berkelebatnya sesosok bayangan orang melarikan diri ke belakang gunung..."

Berkata Ngo-gak Lokoay sambil menggelenggelengkan kepala.

"Coba kau pikir baik-baik, orang itu dalam anggapanmu siapa kira-kiranya?"

Ngo-gak Lokoay bersangsi sejenak, kemudian berkata.

"Kalau dilihat dari bagian belakang, orang itu ada mirip dengan ..."

Touw Liong tak sabar segera membentak dengan suara bengis.

"Mirip siapa?"

Ngo-gak Lokoay yang adatnya sangat sombong belum pernah diperlakukan orang demikian rupa apalagi oleh seseorang pemuda sebaya Touw Liong.

Oleh karenanya, maka sikap dan ucapan Touw Liong itu sedikit banyak telah menyinggung juga perasaan.

Kembali ia pendelikkan matanya memandang kepada Touw Liong sejenak, kemudian berkata dengan tegas.

"Aku justru tak mau menyebutkan namanya!"

Touw Liong tertawa terbahak-bahak, kemudian sikapnya berubah, katanya dengan sikap marah-marah.

"Jikalau kau tidak mau bicara terus terang, hutang darah ini terpaksa kuperhitungkan kepadamu sekalian. Bagaimanapun juga aku sudah menerima baik permintaan Hui-eng locianpwe untuk mencari kau guna menuntut balas atas kematiannya."

"Bocah, kalau demikian katamu, urusan mudah dibereskan. Marilah! Semua tantanganmu kuterima baik!"

Touw Liong waktu itu sudah marah benar-benar, sepasang matanya merah membara, sudah tentu tidak menghiraukan ucapan Ngo-gak Lokoay.

Pedang di tangan kanannya segera bergerak, dengan menggunakan ilmunya Tay-lo-kim-kong-sin-kiam, secepat kilat sudah melancarkan tiga kali serangannya yang sangat ampuh.

Ngo-gak Lokoay harus mengerahkan sekuat tenaganya untuk menyambut serangan Touw Liong yang sangat hebat itu, dalam waktu sekejab mata sekitar medan pertmpuran sudah seolah-olah terkurung oleh hembusan angin yang keluar dari dua jenis senjata itu, sehingga baju Pek Thian Hiong dan Pek Giok Hoa juga tampak berkibar-kibar oleh hembusan angin itu.

Pek Thian Hiong yang menyaksikan itu, lalu berkata kepada anaknya sambil berkata.

"Jikalau ditilik dari jalannya pertempuran ini, ilmu kepandaian Touw Liong sudah mencapai taraf yang sangat tinggi sekali, betapapun kuatnya Lokoay barang kali juga tidak sanggup bertahan sampai sepuluh jurus."

Pek Giok Hoa yang menyaksikan jalannya pertempuran yang demikian hebat, matanya menjadi kabur.

Selama hidupnya, benar-benar ia belum pernah menyaksikan pertempuran yang demikian hebat, maka waktu itu diamdiam sudah bersumpah kepada diri sendiri ia pasti akan mempelajari ilmunya dengan tekun supaya dikemudian hari juga mencapai kepandaian seperti Touw Liong yang dapat menghadapi tokoh-tokoh kuat rimba persilatan.

Pertempuran itu berlangsung sangat cepat, dalam waktu sekejab mata tujuh-delapan jurus sudah dilalui, pertempuran semakin hebat, sehingga bayangan mereka tak tampak lagi.

Pek Thian Hiong dan Pek Giok Hoa menonton di luar garis.

Apa yang dilihat oleh mereka hanya sinar pedang Touw Liong dan sinar tongkat Lokoay yang hitam jengat, selain itu, hanya merasakan hembusan angin yang menderu-deru yang berputaran dari dua senjata itu.

Benar seperti apa yang diduga oleh Pek Thian Hiong, sewaktu pertempuran itu menanjak kejurus kesepuluh, tibatiba terdengar suara krak, tongkat Ngo-gak Lokoay terpapas sepotong!

Touw Liong mengeluarkan siulan panjang, bentaknya dengan suara nyaring.

"Apakah kau masih membandel, tidak mau menyebut nama orang itu?"

Ngo-gak Lokoay tertawa keras, kemudian menyambitkan tongkatnya yang tinggal sepotong ke arah Touw Liong.

Sambitan itu hebat sekali.

Sudah tentu Touw Liong tidak berani menyambut, ia buru-buru mengelak ke samping dan gerakan itulah justru yang dikehendaki oleh Ngo-gak Lokoay, sebab ketika Touw Liong mengelak, ia sudah mengibaskan kedua lengan bajunya, dan badannya bergerak secepat kilat lari ke bawah gunung sambil mengeluarkan suara tertawa terbahak-bahak, diantara kegelapan itu terdengar suaranya.

"Bocah, kau kini telah tertipu olehku! Aku mana ada begitu banyak waktu melayani kau? Jikalau kau ingin tahu musuh yang membunuh mati gurumu, kau boleh pergi ke gunung Hok-hong-san, dengan cara setiap berjalan tiga langkah kau harus mengutuk satu kali, di sana kau nanti akan dapat tahu siapa orangnya."

Touw Liong tidak mau tinggal diam, ia mengembalikan pedang Hok-mo-kiam kepada Pek Thian Hiong, setelah mengucapkan selamat tinggal kepada jago tua itu dan Pek Giok Hoa, dengan secepat kilat badannya bergerak mengejar Ngo-gak Lokoay.

Dua orang itu sama-sama memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Lari mereka bagaikan bintang-bintang yang meluncur dari langit.

Mereka berkejar-kejaran demikian pesat, dalam waktu sekejab mata, sudah menghilang di bawah kaki gunung.

Ngo-gak Lokoay yang bergerak lebih dahulu, telah berada di muka, terpisah sejarak beberapa puluh tombak dengan Touw Liong, sedangkan Touw Liong masih terus membuntutinya dengan sekuat tenaga.

Touw Liong di samping mengejar, dalam hatinya berpikir, Lokoay itu kata, suruh aku pergi ke gunung Hek Hong-san?

Begitu bertanya akan segera mengetahui sendiri?

Apakah artinya ucapan itu?

Apakah Panji Wulung Wanita yang turun tangan jahat terhadap suhu?

....

Yang pernah berkata, waktu itu Panji Wulung wanita sedang dihinggapi penyakit lumpuh oleh karena salah jalan dalam mempelajari ilmunya Hek Hong im-kang, Kim yan yang setiap hari tidak berpisah dengannya, sudah tentu perempuan tua itu tidak bisa meninggalkan dan pergi ke tempat yang letaknya sejauh ribuan paal itu untuk membunuh suhu!

Akan tetapi siapakah orang itu?

Apakah itu ada hubungan erat dengan Panji Wulung Wanita, maka Lokoay menyuruh aku bertanya ke gunung Hek hong-san....

Oh ya!

Orang itu pasti salah satu dari 12 orang pelindung hukumnya ...

Demikianlah dalam hati Touw Liong terus berputaran dengan berbagai pertanyaan, namun gerakan kakinya, sedikitpun tidak terlambat.

Setelah melalui beberapa puncak gunung, menyelusuri rimba-rimba dalam hutan yang jarang dilalui oleh manusia, tetapi jarak antara dua orang itu masih tetap begitu saja.

Perlahan-lahan cahaya malam telah berubah menjadi terang, gunung di tempat jauh dan pohon-pohon di sekitarnya kini tampak semakin nyata.

Keluar dari daerah gunung dan rimba, tibalah di atas jalan raya.

Jalan raya itu lurus menuju ke sebuah benteng kota yang hitam jengat, di pagi hari yang masih diliputi oleh halimun, jalan raya itu masih sepi sunyi, tidak tampak orang yang lalu-lalang.

Di atas jalan raya yang terbuka itu, sudah tentu tidak ada tempat yang dapat digunakan oleh Lokoay itu untuk menghilangkan dirinya dari incaran Touw Liong, hingga dalam hati Ngo-gak Lokoay menjadi gelisah, ia takut kecandak oleh Touw Liong, sehingga makin susah meloloskan diri.

Touw Liong juga masih mulai cape, tetapi ia berusaha mengejar terus.

Pintu benteng kini telah tampak nyata, dengan tiba-tiba dari dalam benteng kota itu muncul sekelompok orang.

Orang-orang itu seperti juga dengan mereka berdua, datangnya demikian pesat.

Karena dua pihak sama-sama pesatnya, sehingga dalam waktu sekejab mata sudah hampir berbentrokan.

Touw Liong mengeluarkan suara seruan kaget, lalu berkata kepada diri sendiri.

"Mengapa demikian kebetulan? Hari ini telah kujumpai semua!"

Touw Liong mulai pasang mata.

Kelompok orang yang lari mendatangi ialah.

pertama Panji Wulung Wanita.

Berturut-turut adalah.

It-tim dari Butong, Thian-sim dari Ceng-shia, Pek-bie hwesio dari Ngo-bie.

Bu-sim hwesio dari Siao-lim.

Hanya, dalam rombongan itu tidak tampak adik seperguruannya, Kim yan.

Pada saat dan tempat seperti ini, munculnya Panji Wulung Wanita dengan beberapa padri dan imam jahat itu, benar-benar mengherankan dan mengejutkan Touw Liong.

Perasaan heran dan terkejut tidak sampai di situ saja.

Ngo-gak Lokoay yang dikejar olehnya, ternyata sudah menggabungkan diri ke dalam rombongan orang-orang itu, dan berdiri di hadapan Panji Wulung Wanita dengan berdiri tegak dan begitu hormat.

Serentetan kejadian itu, membuat Touw Liong yang menyaksikan, benar-benar telah terheran-heran, sehingga saat itu ia melengak dan menghentikan langkahnya.

Belum hilang semua rasa herannya, Pek-bie Hwesio yang berkepala besar, sudah mengacungkan tongkat rotannya, dan membentak dengan suara bengis.

"Hek Hong Kim-liong, kau sungguh berani sekali. Di hadapan Kauwcu, kau masih belum mau berlutut?"

Touw Liong kembali terkejut, dalam hati bertanya-tanya sendiri.

"Siapakah Hek Hong Kim Liong?"

Dalam hatinya bertanya demikian sementara mulutnya bertanya.

"Siapakah Hek Hong Kim Liong yang kau maksudkan?"

Pek-bie Hwesio kembali mengeluarkan suaranya yang bengis, berkata.

"Touw Liong, sungguh besar sekali nyalimu. Kauwcu merasa sayang dan dapat menghargai kepandaianmu, apakah kau benar-benar begitu bodoh tidak tahu maksud baik orang?"

Touw Liong mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bagahk, setelah puas tertawa ia berkata.

"Aku sesungguhnya merasa sangat malu tehadap kalian kawanan manusia bejat rimba persilatan, mengenai tindakanmu yang mengabdi kepada musuh tidak perlu dibicarakan, yang sangat menggelikan dan memalukan semua kaum laki-laki adalah perbuatanmu yang meminta perlindungan terang-terangan kepada seorang wanita."

Ucapan itu sangat pedas, sehingga kelima orang itu juga merasa sangat terhinga, tak heran Pek-bie Hwesio yang adatnya keras sampai berjingkrak-jingkrak dan berteriakteriak, katanya.

"Bocah, kau jangan banyak mulut! Seorang laki-laki yang hendak melakukan pekerjaan, masing-masing boleh memilih jalannya sendiri-sendiri. Kami yang tidak diijinkan berdiam dalam perguruannya sendiri sehingga harus mengembara di luaran, tetapi sekarang atas budi kebaikan kauwcu, telah menerima kami sebagai anggotanya, bukan di kemudian hari hendak membantu kami untuk balik ke dalam perguruan semula, hal ini merupakan suatu tindakan bijaksana yang menguntungkan.

"Perlu apa kau harus campur mulut?"

Panji Wulung Wanita yang mendengarkan perdebatan itu diam saja, bahkan merasa sangat girang dan bangga.

Matanya terus mengawasi Touw Liong seolah-olah hendak menjajaki reaksi pemuda itu.

Lama ia baru berkata.

"Anak, kau jangan tertawakan mereka. Masih ada dua hari, itu terserah kepadamu sendiri. Dikemudian hari bukankah juga akan mengandalkan belas kasihan dari golonganku?"

Touw Liong tiba-tiba ingat dua urusan, ia bertanya kepada Panji Wulung Wanita.

"Urusan di kemudian hari biar diurus lain hari, sekarang ini aku masih perlu tanya ..."

Berbeda dengan sikap biasanya, Panji Wulung Wanita hari itu tampaknya sabar sekali, katanya sambil tertawa hambar.

"Anak, katakanlah!"

Dari nada suara dan sikap bicara Panji Wulung Wanita pada waktu itu dapat kita menarik kesimpulan, bahwa Panji Wulung Wanita ini benar-benar suka sekali terhadap Touw Liong.

Ia rupanya sudah pandang Touw Liong sebagai keturunan ahli warisnya.

Sikap itu jauh berbeda kalau dipandang pada sikapnya pada setengah tahun berselang, ketika pertama ketemu dengan Touw Liong di kota Lamyang pun Tiao yang-lie.

Tetapi Touw Liong yang mendapat perlakuan mania itu sebaliknya malah merasa sangat mendongkol, jawabnya.

"Kesatu adalah urusan yang mengenai diri adik perguruanku Kim Yan. Di mana sekarang ia berada? Kedua adalah urusan yang mengenai kematian suhuku. Sebab kematian suhu sangat mencurigakan, dan menurut keterangan Ngo-gak Lokoay, katanya asal aku datang ke gunung Hek-hong-san mencari keterangan, segera mengetahui siapa orangnya yang mencelakakan suhu itu."

Setelah itu ia menunjuk kepada Ngo-gak Lokoay yang berdiri di samping Panji Wulung Wanita sambil meluruskan kedua tangannya.

Kain tutup muka Panji Wulung Wanita tampak bergerak-gerak, dari mulutnya mengeluarkan seruan terkejut, kemudian baru menjawab.

"Adik seperguruanmu sedang menjalankan perintahku, menolong San-hong Tojin, yang mengantarkan padanya pulang ke gunung Hek-hong-san lebih dahulu sementara mengenai urusan kematian suhumu ..."

Perkataan terakhir itu diucapkan dengan nada suara rendah dan dalam, seolah-olah mengeluh dan matanya ditujukan kepada Ngo-gak Lokoay dengan memancarkan sinarnya yang tajam bagaikan pisau belati.

Baca Juga: Tiga Maha Besar 11

Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert