Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 8

Eps 8 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

Ketika pandangan mata Ngo-gak Lokoay beradu dengan sinar mata Panji Wulung Wanita itu, dalam hatinya bergidik.

Ia berkata dengan suara agak ketakutan.

"Hamba memang tahu siapa orangnya yang membunuh mati suhumu, karena hamba ada maksud hendak mempersulit dirinya, maka suruh ia datang ke gunung Hekhong-san dengan cara tiap berjalan tiga langkah harus berlutut satu kali, kalau sudah tiba di gunung Hek-hong-san barulah hamba beritahukan keadaan yang sebenarnya."

Panji Wulung Wanita mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu Touw Liong sudah bertanya dengan suara bagaikan geledek.

"Kau katakan! Siapa orangnya?"

Panji Wulung Wanita mengulurkan tangannya mencegah Ngo-gak Lokoay bergerak, katanya.

"Tunggu dulu! Sekarang kau jangan sebutkan. Tunggu lagi dua hari ... he he he! Kalau ia benar-benar ingin tahu siapa pembunuh suhunya, pasti akan berkunjung ke gunung Hek-hong-san. Apa bila waktu itu ia tidak minta ampun padaku, bukan saja aku tidak mau memusnahkan bisa dari ilmu Hek-hong-im-kang, juga tidak akan kuberitahukan siapa yang membunuh gurunya!"

Touw Liong mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Seorang lelaki tidak perlu takut mati. Meskipun aku sudah terkena seranganmu berbisa Hek-hong-im-kang, namun aku masih dapat memusnahkan sendiri, tidak perlu kau capaikan hati. Mengenai musuh yang mencelakakan diri suhu, suatu hari aku pasti dapat mengorek keterangan dari mulutnya."

"Baik, dua hari kemudian kita lihat saja siapa sebetulnya yang lebih kuat."

Setelah itu ia mengibaskan lengan bajunya dan mengeluarkan perintah kepada rombongannya untuk berjalan. Selagi hendak berlalu, tiba-tiba Touw Liong membentak.

"Tunggu dulu!"

"Anak, kau masih ada keperluan apa?"

Bertanya Panji Wulung Wanita sambil mengawasi Touw Liong.

"Siapa yang harus ditinggalkan?"

Bertanya Panji Wulung Wanita terkejut.

"Tinggalkan mereka berdua!"

Berkata Touw Liong sambil menunjuk It-tim dan Ngo-gak.

"Kau mau aku meninggalkan mereka?"

Bertanya Panji Wulung Wanita sambil tertawa dingin. Ia berdiam dan berpikir sejenak kemudian berkata.

"Kita enam orang semua akan tinggal di sini. Kulihat kau bocah ini bisa berbuat apa?"

Dengan mendadak Touw Liong bergerak, dengan tangan kiri menghantam It-tim, sedng lima jari dari tangan kanannya menyerang Ngo-gak Lokoay, sementara mulutnya berseru.

"Hutang darah harus membayar dengan darah. Aku minta supaya mereka meninggalkan jiwanya!"

"Coba-coba ..."

Berkata Panji Wulung Wanita dengan nada suara dingin.

Belum lagi Panji Wulung itu menutup mulutnya, It-tim yang dihantam secara mendadak oleh Touw Liong, telah jatuh terguling dan membentur diri Thian-sim.

Mulutnya sudah menyemburkan banyak darah.

Ngo-gak Lokoay yang sudah melihat gelagat jelek, sudah berhasil mengelakkan serangan jari tangan Touw Liong.

It-tim terkena serangan tidak ringan, hingga Panji Wulung Wanita yang menyaksikan, kerudung kain mukanya sampai tergoyang-goyang.

Jelas bahwa Panji Wulung itu merasa turut tercemar namanya.

Dengan cepat ia melintangkan tongkat dalam tangannya, untuk mencegah Touw Liong yang hendak menyergap Ittim dan Ngo-gak Lokoay, sementara mulutnya berkata.

"Bocah. Ada aku di sini, sudah tentu tidak mengijinkan kau berbuat sesukamu hendak turun tangan kejam terhadap anak buahku! Kalau kau ingin mati, masih ada waktu dua hari kau boleh tunggu dengan tenang!"

Touw Liong diam-diam merasa sayang, katanya.

"Sayang hantamanku tadi tidak sampai menghancurkan tulang-tulangnya."

Ia memang tau bahwa It-tim memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi.

Serangannya yang hebat tadi, paling-paling hanya dapat melukai It-tim.

Bagaimanapun parahnya, dalam waktu beberapa hari, It-tim pasti dapat menyembuhkan sendiri dan sekarang, It-tim meskipun sudah terluka parah, tetapi dengan adanya Panji Wulung Wanita yang melindungi dirinya, sudah tentu sulit untuk mengambil jiwanya lagi.

Tentang Ngo-gak, sedikitpun tidak terluka.

Orang tua bongkok itu kali ini masuk menjadi anggota golongan Panji Wulung, kalau membinasakan dirinya, tampaknya lebih sulit lagi.

Touw Liong mengerti bahwa keadaan di hadapan matanya sangat tidak menguntungkan pada diri sendiri, akan tetapi ia masih menyanggupi dan menerima baik permintaan Panji Wulung Wanita.

Katanya.

"Baiklah! Dua hari, dalam waktu dua hari aku pasti akan pergi ke tempatmu di gunung Hek-hong-san untuk belajar kenal dengan dua belas anak buahmu yang menjadi anggota pelindung hukum, sekalian untuk belajar kenal sekali lagi dengan ilmumu berbisa dengan Hek-hong-imkang."

"Begitu saja! Aku masih ada lain keperluan, tidak ada waktu untuk bicara banyak denganmu. Kita tetapkan begitu saja, dua hari,"

Berkata Panji Wulung Wanita dengan nada suara dingin.

Setelah itu, ia berjalan lebih dahulu menuju kembali ke kota kuno itu.

Lima orang yang lainnya, mengikuti di belakangnya.

Touw Liong dengan perasaan diliputi oleh kebencian dan kemarahan, berdiri di tengah jalan sambil mengawasi berlalunya rombongan orang-orang itu ke pintu kota.

Setelah rombongan orang-orang itu menghilang dari kota, baru tampak banyak orang yang berjalan dengan keperluan masing-masing.

Dengan pikiran lesu ia berjalan kembali.

Ia tak tahu harus pergi kemana.

Dengan menyusuri jalan raya ia berjalan sepagian, tanpa dirasa sudah tiba di bawah sebuah bukit kecil.

Di atas bukit tampak tiga buah pohon yang sudah sangat tua usianya.

Di bawah pohon yang rindang itu ada sebuah kelenteng kecil.

Touw Liong yang sudah letih, lantas berjalan masuk ke kelenteng kecil itu untuk beristirahat.

Tiba di tempat itu, ia lalu duduk di bawah pohon tu itu sambil pejamkan mata untuk memulihkan tenaganya.

Seorang seperti dia, yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat sempurna, setelah pikirannya tenang dan bisa mengumpulkan semua tenaganya, daya pendengarannya pasti sangat tajam.

Belum lama ia memejamkan matanya, dri jauh tiba-tiba terdengar suara seperti jeritan orang.

Bab 48 TOUW LIONG yang mendengar suara itu diam-diam terkejut.

Dengan cepat ia lompat bangun.

Matanya celingukan memandang jauh keadaan di sekitarnya.

Daerah itu ternyata diputari oleh puncak gunung yang menjulang tinggi tetapi keadaan sunyi senyap, suara jeritan orang tadi sudah tidak terdengar lagi.

Karenanya maka ia diam-diam merasa heran sendiri.

Ia berpikir lagi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.

Setelah itu ia tersenyum sendiri dan berkata kepada diri sendiri.

"Ini barangkali karena pikiranku sendiri yang terganggu ..."

Sehabis berkata, kembali ia duduk bersila untuk menenangkan pikirannya kembali.

Seperti juga tadi, baru saja ia memejamkan matanya, kembali terdengar suara seruan perlahan, untuk kedua kalinya Touw Liong lompat bangun, kini perasaannya menjadi tegang, karena tadi ia sudah memperhatikan maka kini ia lantas dapat mengenali dari mana asal suara tadi, lalu lari menuju ke sebelah barat daya.

Kali ini, ia sudah dapat dengar dengan tegas, itu adalah suara yang keluar dari mulut seorang wanita, ia coba memperkirakan jaraknya, suara itu barang kali timbul dari tempat sejarak sepuluh pal jauhnya.

Dalam hati Touw Liong timbul suatu pikiran aneh, pikirnya.

Orang kata, hati dan pikiran bisa bergabung, apakah keadaanku benar-benar seperti kata orang itu?

Berpikir sampai di situ, hati Touw Liong berdebaran, mukanya juga merasa panas.

Namun ia juga tidak tahu apa sebabnya dengan mendadak timbul perasaan penuh perhatian terhadap Pek Giok Hoa?

Apakah suara itu keluar dari mulutnya?

Barang kali karena ia benar-benar terlalu perhatikan keselamatan gadis itu, gerakan kakinya tampak luar biasa pesatnya.

Dalam waktu sekejab mata, ia sudah berlari sejauh enam atau tujuh pal, kemudian lompat ke sebuah puncak gunung tinggi.

Dari atas puncak itu ia memandang keadaan di bawah yang diliputi oleh awan tipis dan halimun.

Puncak gunung di seberang sana, ada tampak sepuluh lebih kawanan imam sedang mengurung dan bertempur dengan seorang wanita berbaju hijau.

Touw Liong yang menyaksikan keadaan demikian, dadanya dirasakan mau meledak.

Ia tahu apakah artinya itu.

Ia juga mengerti siapakah adanya kawanan penjahat itu.

Pada saat dan tempat seperti itu, ia benar-benar menyesalkan dirinya sendiri yang tidak bersayap sehingga tidak dapat segera terbang melayang ke udara.

Ia angkat kepala dan mengawasi rombongan imam itu, lalu dari mulutnya mengeluarkan suara siulan nyaring, yang menggema di udara yang sunyi itu.

Begitu mendengar suara siulan itu, semangat wanita berbaju hijau itu lantas terbangun.

Pedangnya bergerak demikian rupa, dengan secara nekad menyerang dan menikam kawanan imam yang mengerubut dirinya.

Touw Liong dengan mementang dua tangannya, melayang melesat ke tempat itu untuk memberi bantuan kepada wanita berbaju hijau itu.

Sebentar kemudian, ia sudah berada di bagian tengah puncak gunung itu.

Ia sudah dapat mendengar suara beradunya senjata tajam dengan sangat nyata.

Touw Liong berusaha melesat ke atas lagi, ketika tiba di puncak gunung, badannya sudah basah kuyup.

Ia tidak bisa ambil perduli, dengan satu gerakan ia sudah menyerbu ke gelanggang pertempuran.

Sementara itu mulutnya sudah berseru.

"Adik Yan, jangan kaget, saudaramu datang membantu."

Kiranya wanita berbaju hijau itu adalah adik seperguruannya sendiri Kim Yan.

Kim Yan pada saat itu nafasnya sudah tersengal-sengal.

Terhadap kedatangan dan panggilan Touw Liong yang demikian mesra, tampaknya sangat terkejut.

Pedang panjang di tangannya diputar semakin kencang untuk menangkis dua bilah pedang imam yang mengurung dirinya.

Matanya melirik kepada Touw Liong sejenak, mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara perlahan.

Touw Liong yang mendapat sambutan dingin dari Kim Yan dalam hati merasa bergidik, tetapi ia tetap berusaha untuk kendalikan perasaannya sendiri.

Sesaat kemudian, ia teringat kepada perkataan Panji Wulung Wanita yang pernah diucapkan kepadanya.

"Nanti kalau kalian berjumpa lagi, sumoaymu tidak akan anggap kau sebagai lawan."

Touw Liong mengawasi ke-12 pedang imam itu.

Ia segera dapat mengenali bahwa 12 imam itu ternyata 12 imam dari partai Kiong-lay dengan barisan pedangnya yang sangat ampuh.

Kecuali 12 imam dengan 12 batang pedang panjangnya, salah seorang dari 3 jago dari golongan Kiong-lay, ialah Ngo-yang tojin yang kurus kering, juga berada di situ, sedang membimbing susioknya ialah San-hong tojin, saat itu berdiri menyender di bawah pohon besar.

Ngo-yang tojin dengan sinar mata marah memandang Touw Liong, kemudian mengeluarkan suara dari hidung dan berkata dengan nada suara dingin.

"Hari ini sudah merupakan bukti, bahwa suhu telah mati di bawah tanganmu."

"Dengan cara bagaimana totiang bisa mengatakan, bahkan membuktikan bahwa suhumu mati di tanganku?"

Tanya Touw Liong heran.

"Tanyakan sendiri kepada sumoaymu ini!"

Berkata Ngoyang tojin sambil menunjuk Kim Yan.

Wajah Touw Liong berubah hebat, kepalanya digelenggelengkan.

Pada saat dan tempat seperti ini, dapatkan ia bertanya kepadanya?

Sejak Kim Yan dihilangkan sifat baiknya oleh ilmu Hekhong-im-kang Panji Wulung Wanita terhadap Touw Liong banyak berubah.

Ia bukan saja sudah tidak menganggap Touw Liong sebagai suheng, bahkan pada waktu itu ia tunduk dan menurut benar kepada Panji Wulung Wanita.

Panji Wulung kata bahwa Touw Liong adalah musuhnya.

Kim Yan bisa pandang Touw Liong sebagai musuh.

Apabila Panji Wulung menyatakan sebagai saudaranya, ia juga menunjukkan sikapnya yang sangat mesra.

Dan kini, Kim Yan tidak anggap Touw Liong sebagai suheng, sebaliknya memperlakukannya demikian dingin.

Bagaimana kalau Touw Liong tidak merasa sedih?

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala dan menarik nafas.

Pada saat seperti itu, ia tak perlu berbantahan dengan sumoaynya, sebab ia tahu banyak bicara juga tak ada gunanya.

Ia memperhatikan keadaan Kim Yan, tampak sumoay itu dapat melawan 12 imam dengan barisan pedang itu masih tunjukkan permainannya yang lebih unggul, maka untuk sementara ia tidak perlu membantu kepadanya, sebab ia juga mengerti, membantu padanya toh tidak akan membawa akibat lebih baik.

Maka ia lalu berpaling dan berkata kepada Ngo-yang tojin.

"Susiokmu dengan aku ada mempunyai permusuhan besar karena ia pernah turut ambil bagian dalam pertempuran melawan ayah bundaku. Maka aku terpaksa bertindak terhadapnya, untuk itu, perlu aku minta maaf kepada totiang."

Ngo-yang tojin pendelikkan matanya, dengan sinar mata menghina memandang kepada Touw Liong, kemudian dengan nada suara dingin jawabnya.

"Kau, Touw tayhiap, denganku juga mempunyai hutang, karena kau membunuh suhuku. Hari ini aku tahu bahwa kekuatan dan kepandaianku tidak seberapa, tetapi aku lebih suka kau bunuh bersama susiok, tidak bisa menyaksikan susiok mati begitu saja ..."

Ia berdiam sejenak, kembali dengan sinar mata yang tajam mengawasi Touw Liong, kemudian berkata dengan nada suara mengejek.

"Susiok sudah kau serang dengan ilmu Thian-seng-jiauw, mungkin sudah tidak ada harapan bisa hidup lagi. Apakah kau masih hendak menurunkan tangan kejam? Hai! Kau mengaku sebagai seorang pendekar, tetapi nyatanya masih bisa sekali berbuat demikian rendah! Aku benar-benar menyesal, nama pendekar yang kau dapatkan itu, entah sesuai atau tidak dengan kenyataannya?"

Ucapan itu bagi Touw Liong sesungguhnya merupakan sustu hinaan besar, maka Touw Liong yang mendengar itu lalu mengeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas, akhirnya ia berkata dan mengulapkan tangannya kepada imam kurus itu.

"Totiang, sekarang silahkan pergi bersama susiokmu! Tetapi permusuhan antara susiokmu dengan aku masih ada, di lain waktu apabila berjumpa kembali, aku pasti tidak dapat mengampuni padanya."

Dengan sikap sedih ia melirik kepada Kim Yan sejenak, kemudian memutar tubuh hendak berlalu. Selagi ia hendak turun gunung, Ngo-yang tojin tiba-tiba berkata kepada Kim Yan yang sedang bertempur.

"Nona Kim, kita suka ikut kau pergi ke gunung Hekhong-san, hanya ... asalkan kau berkata beberapa patah kata di hadapan Touw tayhiap, kita akan ikut kau dengan segera!"

Barisan pedang itu ketika mendengar ucapan Ngo-yang tojin, dengan cepat berhenti bergerak. Touw Liong yang mendengar ucapan Ngo-yang tojin, lalu bertanya-tanya dengan nada suara marah.

"Kau suruh sumoayku berkata apa?"

"Aku minta ia memberitahukan kepadamu, siapa yang membunuh mati suhuku!"

Menjawab Ngo-yang tojin dengan suara sedih. Kim Yan telah menunjuk Touw Liong dengan pedangnya, kemudian berpaling dan berkata kepada Ngoyang tojin.

"Suhumu adalah ..."

Dengan tiba-tiba ia batalkan maksudnya untuk mengeluarkan perkataan yang hendak mengatakan Touw Liong. Touw Liong waktu itu merasa sedih dan marah, maka lalu membentaknya.

"Sumoy ..."

Ketika dibentak demikian, Kim yan lantas melanjutkan ucapannya.

"Memang benar, suhumu adalah dia yang membinasakannya!"

"Sumoy!"

Demikian Touw Liong berseru dengan hati pilu, dengan mata berkaca-kaca memandang Kim Yan.

Tidak sepatah katapun keluar lagi dari mulutnya.

Perubahan sikap Kim Yan ini sungguh menyedihkan bagi Touw Liong, selagi mengusut musuh-musuhnya yang membinasakan ayah bundanya sendiri dan gurunya sendiri, kini Kim Yan telah berbalik muka terhadapnya.

Sejak suhunya menutup mata, dalam dunia hanya ia bersama sumoynya berdua yang harus berusaha untuk mempertahankan kedudukan partai Kiu-hoa, tetapi sekarang Kim Yan telah berubah pikiran, maka hal itu sesungguhnya merupakan pukulan batin yang hebat bagi Touw Liong.

Namun, sekarang apa daya?

Maka ia hanya dapat mendongakkan kepala dan dengan suara sedih sekali ia meratap.

"Ya Tuhan!"

Kim Yan terkejut ketika mendengar suara seruan itu, alisnya dikerutkan, dengan perasaan bingung memandang Touw Liong sejenak, tetapi itu hanya sekilas lintas saja, kemudian dengan wajah dan nada dingin ia berkata kepadanya.

"Tinggal dua hari, jikalau kau benar-benar mau datang ke gunung Hek-hong-san, maka aku akan tetap anggap kau sebagai suhengku, tetapi selewatnya dua hari itu nanti apabila bertemu lagi jangan sesalkan kalau aku bertindak kejam!"

Kata-kata diucapkan dengan sungguh-sungguh dan tegas, sedikitpun tidak memberi kesampatan bagi Touw Liong untuk mempertimbangkannya.

Touw Liong terpaksa meninggalkan Kim Yan dengan pikiran tidak karuan.

Waktu itu orang-orang yang berada di puncak gunung sudah berlalu semua, keadaan sepi kembali.

Tiga belas orang dari golongan Kiong-lay, dengan mengikuti jejak Kim Yan, pergi menuju ke gunung Hek-hong-san.

Di tempat itu, kini hanya tinggal Touw Liong seorang diri.

Dengan suara serak dan sangat perlahan sekali ia bertanya kepada dirinya sendiri.

"Sekarang apa yang harus aku perbuat?"

"Terutama aku harus berusaha untuk memunahkan pengaruh racun Hek-hong-im-kang yang ada pada dirinya, supaya pikiran dan sifatnya boleh kembali. Demikian dalam otaknya terlintas satu pikiran. Tetapi kemudian ia mengeleng-gelengkan kepala dan berkata sendiri dengan suara sedih.

"Tetapi ini adalah suatu hal yang tidak mungkin. Hidupku sendiri juga hanya tinggal dua hari saja, dua hari kemudian masih belum tahu bagaimana nasibku sendiri?"

Kemudian dengan tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran, saat itu perasaannya mulai lega, matanya memandang ke arah depan dimana tadi Kim Yan dan teman-temannya telah menghilang kemudian berkata lagi seorang diri.

"Benar! Aku hanya bertindak demikian saja, dengan demikian barulah dapat menolong kesulitanku. Tindakan itu meskipun kurang jujur, tetapi bisa menolong Kim Yan dan menolong diri sendiri, bisa menuntut balas sakit hati suhu dan juga bisa menunntut balas kematian ayah bundaku, juga bisa menolong sahabat-sahabat rimba persilatan dari ancaman bencana."

Setelah mengambil keputusan tetap, Touw Liong mencoba mengendalikan perasaan sedihnya.

Ia makan rangsum kering yang dibawanya dan minum air gunung, kemudain duduk di bawah pohon untuk menenangkan pikirannya.

Selagi matahari sudah mulai mendoyong ke barat Touw Liong mulai turun gunung dengan mengikuti jejak Kim Yan.

Ia bisa lari sangat pesat, dalam waktu kira-kira dua jam, telah berhasil melalui dua buah kota kuno, dan berjalan di atas jalan raya yang menuju ke selatan.

Di waktu petang, ia sudah bisa melanjutkan perjalanannya menuju ke sebuah gunung yang diliputi oleh kabut malam.

Gunung itu menjulang tinggi ke langit, yang paling tinggi samar-samar tertutup oleh awan.

Touw Liong yang memandang puncak gunung tinggi itu, dengan perasaan terheran-heran bertanya pada dirinya sendiri.

"Puncak gunung ini ada sedikit mirip dengan puncak Siao-swat-hong di gunung Thay-swat-san. Aku harus meneruskan perjalananku menuju ke selatan untuk pergi ke gunung Hek-hong-san. Dengan cara bagaimana, bisa datang ke puncak Siao-wat-hong ini?"

Touw Liong dengan cepat melanjutkan langkahnya, matanya memandang puncak Siao-wat-hong. Selagi hendak naik menuju ke selatan tiba-tiba hatinya tergerak.

"Apa salahnya kalau aku berkunjung ke gunung Tayswat-san? Di dalam partai Swat-san juga terdpat tokoh kuatnya yang dahulu turut campur tangan pengepungan ayah bundaku,"

Demikian pikirnya.

Ia tidak mau memikir lebih jauh lagi, sebab kalau ia teringat peristiwa berdarah yang membawa kematian ayah bundanya itu, hanya menambah sedih pikirannya saja.

Di daerah gunung Tay-swat-san itu ia mengerahkan ilmunya meringankan tubuh.

Berjalan kira-kira dua jam, sudah tiba di suatu lembah yang terkurung oleh salju yang membeku.

Dengan memperhatikan salju yang membeku bagaikan dinding timah yang kekar kokoh itu, ia berusaha masuk ke dalam lembah.

Sementara itu dalam hatinya berpikir.

Inilah barangkali tempat yang dinamakan Hui-in-hiat-ing yang menjadi pintu gerbang partai Swat-san-pay.

Selagi masih berpikir-pikir, dari dalam lembah tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.

"Siapa yang bernyali demikian besar, berani menerjang masuk pintu hiat?"

Dari jauh tampak dua titik bayangan hitam seolah-olah nempel di atas salju yang putih sedang menuju ke arah Touw Liong.

Touw Liong mengamat-amati terus dengan pandangan matanya.

Karena malam yang agak gelap, susah dikenali dua titik bayangan hitam itu sebetulnya orang bagaimana.

Tetapi karena teguran tadi, maka ia lalu menjawab.

"Orang yang datang berkunjung! Ada urusan penting, perlu menghadap ketua partai kalian!"

Atas jawaban Touw Liong tadi, dibalas dengan pertanyaan yang kedua kalinya, masih tetap dengan suaranya yang kaku.

"Di waktu malam tidak mengurus pekerjaan kalau ada urusan penting mengapa tidak mau menunggu sampai pagi?"

Sesaat kemudian, dua titik hitam tadi yang merupakan dua orang berpakaian hitam sudah berada di depan Touw Liong.

Yang berjalan di muka adalah seorang laki-laki setengah umur berpakaian ringkas warna hitam, di punggungnya menyoren sebuah golok tanto.

Yang berjalan di belakang ternyata adalah seorang tua berbadan bongkok yang rambutnya panjang sekali sehingga menutupi kedua pundaknya.

Begitu melihat orang tua itu, sekujur tubuh Touw Liong menggetar, dari hidungnya mengeluarkan suara dan dengan cepat segera menghentikan kakinya.

Laki-laki berpakaian hitam itu ketika berhadapan dengan Touw Liong, dengan sinar matanya yang tajam, menyapu beberapa kali ke wajah Touw Liong, sikapnya sangat jumawa.

Orang tua berambut panjang yang berada di belakangnya, begitu melihat Touw Liong sekilas tampak terkejut, kemudian tertawa dingin, wajahnya tampak berkerenyit, dan berkata kepada laki-laki berpakaian hitam.

"Baru kita bicarakan, orangnya sudah tiba. Bocah ini adalah ..."

"Ah ..."

Demikian laki-laki berpakaian hitam membuka mulutnya yang lebar mengeluarkan suara tertawa terbahakbahak.

Mendengar suara tertawa orang itu, dalam hati Touw Liong terkejut, sebab kekuatan tenaga dalam orang tersebut tidak di bawah Pek Thian Hiong.

Orang tua berambut panjang itu bukan lain daripada Ngo-gak Lokoay.

Pada saat itu Ngo-gak Lokoay memperdengarkan suara tertawa dinginnya, mengawasi Touw Liong tanpa berkata apa-apa.

Laki-laki berpakaian hitam itu seolah-olah hendak memberi ancaman kepada Touw Liong.

Begitu suara tertawanya berhenti, lantas bertanya sambil mendelikkan matanya.

"Ada urusan apa kau datang ke gunung Tay-swat-san ini? Bicaralah terus terang!"

Touw Liong tidak menjawab pertanyaan itu. Lebih dahulu matanya memandang Ngo-gak Lokoay, lalu mengangguk-anggukkan kepala, baru kemudian berkata.

"Satu komplotan mana ada orang baik? Kau juga harus bicara terus terang! Cukup dengan sepatah kata! Dalam pengepungan terhadap jago rimba persilatan di loteng Gaklao pada 20 tahun berselang, apa kau juga turut ambil bagian?"

Laki-laki berpakaian hitam itu dengan tiba-tiba mengangkat tangannya menepuk-nepuk kepalanya sendiri, kemudian dengan tertawa bangga dia akhirnya baru menjawab.

"Bocah, suatu pertanyaan yang tepat. Dua puluh tahun berselang orang yang membunuh mati ibumu adalah aku Kow Thaya sendiri."

Touw Liong seperti disambar geledek, pikirannya untuk sesaat dirasakan gelap, diam-diam ia menyebut ibunya, kemudian kedua tangannya bergerak bagaikan kilat, sesaat kemudian tampak darah muncrat, laki-laki berpakaian hitam itu tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya, sudah dipukul hancur kepalanya oleh tangan Touw Liong sehingga otaknya dan darahnya pada berantakan.

Hal itu bisa terjadi karena lelaki itu terlalu jumawa, kedua karena Touw Liong sudah marah sekali, maka begitu turun ia mengeluarkan serangannya yang mematikan.

Laki-laki berpakaian hitam itu tadi, dalam keadaan tidak berjagajaga, maka menemui kematiannya demikian cepat di tangan Touw Liong.

Serangan Touw Liong yang sekali pukul telah membinasakan laki-laki berpakaian hitam itu telah mengejutkan Ngo-gak Lokoay, dan siluman tua itu melihat gelagat tidak beres, lantas angkat kaki.

Sayang ia tidak kabur keluar sebaliknya malah menuju ke dalam lembah.

Touw Liong yang masih marah, dengan lima jari tangannya menyerang Ngo-gak Lokoay, sedang mulutnya membentak.

"Jangan lari!"

Serangan itu telak mengenai sasarannya.

Ngo-gak Lokoay rubuh tersungkur di tanah.

Touw Liong berjalan menghampiri, kembali dengan menggunakan jari tangan menotok belakang punggung Ngo-gak Lokoay, hingga siluman tua itu menjerit dan jatuh pingsan seketika.

Hawa amarah Touw Liong masih belum reda, sambil menggertak gigi, ia berkata.

"Sepantasnya kau harus kubunuh mati, untuk menuntut balas sakit hati Hui-eng locianpwe, akan tetapi ..."

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, hanya mendongakkan kepala sambil berpikir.

"Kesatu, aku tidak boleh turun tangan berat terhadap orang sudah terluka, sebab dengan demikian itu berarti perbuatan seorang rendah. Kedua, sekalipun Ngo-gak harus mati, tetapi seharusnya diserahkan kepada orang golongan Pak-bong yang turun tangan sendiri. Aku sekalikali tidak boleh membunuhnya."

Totokannya tadi ternyata membawa akibat fatal bagi Ngo-gak Lokoay, sebab seluruh kepandaian ilmu silatnya sejak saat itu telah musnah sama sekali.

Touw Liong mengulurkan tangan dan menepuk kepala Ngo-gak Lokoay, kemudian di depan dadanya menotok tiga kali.

Ngo-gak Lokoay perlahan-lahan menjadi sadar.

Touw Liong berkata pula sambil menunjuk bangkai lakilaki berbaju hitam.

"Siapa orang ini?"

"Dia adalah sute dari ketua partai Swat-san yang sekarang, namanya Kow Cin Seng."

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata.

"Seorang yang membunuh harus balas dibunuh. Ia telah mengaku sendiri dahulu pernah membunuh mati ibuku ..."

"Kau jangan bangga dahulu, hari ini kau berhasil membinasakan Kow Cin Seng, tetapi kau sendiri juga jangan pikir bisa berlalu dari gunung Swat-san dalam keadaan hidup,"

Berkata Ngo-gak Lokoay sambil tertawa dingin.

"Harapanku hanya satu, ialah supaya bisa membunuh musuh-musuhku dengan tangan sendiri. Walaupun mati, juga tidak menyesal,"

Berkata Touw Liong sambil tertawa kecil, selanjutnya ia berdiam sebentar dan berkata pula.

"Kalau aku mati, kau juga tidak bisa hidup apalagi aku sudah berjanji kepada Hui-eng locianpwe hendak menuntut balas atas kematiannya."

Ia benar-benar sudah mengangkat tangan kanannya hendak menyerang Ngo-gak Lokoay.

Wajah Ngo-gak Lokoay pucat pasi, matanya yang sudah tidak bersinar menunjukkan perasaan minta dikasihani, bibirnya gemetaran, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Kekuatiran dan ketakutan dari seorang yang menghadapi kematian, saat itu terlintas jelas pada diri Ngo-gak Lokoay.

Touw Liong perlahan-lahan meletakkan kembali tangannya, dengan nada suara agak lunak akhirnya berkata.

"Aku boleh tidak membinasakan kau, tetapi apa imbalanmu?"

Ngo-gak Lokoay buru-buru mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Touw tayhiap katakan saja."

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Sudahlah, sebaiknya aku bunuh mati kau saja, supaya habis segala-galanya."

Ketika Touw Liong hendak mengangkat kembali tangannya dengan gemetaran, sedang mulutnya berkata.

"Touw tayhiap, janganlah ..."

Touw Liong berpikir sejenak, kemudian berkata.

"Aku ingin tanya padamu sepatah kata saja, tapi aku takut kau tidak mau bicara terus terang."

Dengan sikap minta dikasihani Ngo-gak Lokoay mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Aku akan bicara terus terang!"

Ia berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya, kemudian balik bertanya kepada Touw Liong.

"Apakah Touw tayhiap ingin tahu orang yang membinasakan suhumu?"

"Siapa yang membinasakan suhu?"

Ngo-gak Lokoay terbenam dalam pikirannya sendiri, kemudian berkata dengan suara gelagapan.

"Ia ... ia ... pasti ia ..."

"Ia siapa?"

Tanya Touw Liong marah.

"Aku dalam sekelebatan dapat mengenali bahwa orang itu adalah Hian Kie Cu, salah satu dari 7 jago golongan Butong,"

Berkata Ngo-gak Lokoay tegas.

"Hian Kie Cu?"

Touw Liong berseru kaget. Sepasang matanya memancarkan sinar berkilauan mengawasi Ngogak Lokoay yang berada di dalam keadaan ketakutan. Katanya pula.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin itu ada perbuatan Hian Kie Cu cianpwe, sebab Hian Kie Cu cianpwe pada 50 tahun berselang, sudah binasa dalam pertempuran dengan tiga garuda dari golongan Pak-bong. Orang yang sudah mati, masa bisa hidup kembali?"

"Percaya atau tidaknya, itu terserah kepada Touw tayhiap sendiri. Dalam dunia ini kadang-kadang ada banyak kejadian aneh yang tidak dapat kita duga, ada beberapa hal yang orang anggap tidak mungkin bisa berubah menjadi mungkin,"

Berkata Ngo-gak Lokoay dengan suara lemah.

Touw Liong yang menyaksikan sikap Ngo-gak Lokoay seperti dengan sejujurnya, dalam keadaan demikian, terpaksa ia setengah percaya setengah tidak.

Apa ia bisa kata lagi?

Bagaimanapun juga, kematian suhunya sudah mulai tampak sedikit titik terang.

Ia berkata dengan tandas.

"Baiklah, aku akan pergi mengadakan penyelidikan, apabila kau membohongi aku, kita toh masih ada waktu akan bertemu lagi."

"Baiklah kau berdiam di sini, kalau mereka nanti datang mencari bangkai, tentu bisa memberi pertolongan kepada dirimu."

Ngo-gak Lokoay mengangguk-anggukkan kepala.

Touw Liong mendongakkan kepala dan bersiul nyaring, suara siulan itu menggema di gunung yang sunyi sepi itu, setelah itu ia membalikkan diri dan keluar dari lembah gunung Swat-san.

Bab 49 GUNUNG HEK HONG SAN, letaknya di kabupaten Chek-sui, daerah perbatasan antara propinsi Su-cwan dan In-lam.

Letaknya sangat strategis dan berbahaya, ditambah lagi puncak gunungnya yang menjulang tinggi dan hawanya yang lembab, maka gunung itu sangat jarang didatangi manusia.

Touw Liong yang melakukan perjalanan satu hari satu malam, hari itu pada waktu petang sudah tiba di tepi sungai Chek-sui.

Ia tanpa mengaso terus melanjutkan perjalanannya menuju ke barat dengan mengikuti sungai Chek-sui.

Di daerah pegunungan yang sepi sunyi ini tidak tampak bayangan orang.

Ia mondar-mandir seorang diri, maksudnya ialah hendak menyelidiki markasnya Panji Wulung Wanita.

Daerah pegunungan yang sangat luas, setidak-tidaknya juga ada beberapa ratus pal persegi.

Dahulu Touw Liong belum pernah datang ke tempat itu, sedang di gunung Hekhong-san itu juga bukanlah suatu tempat terkenal yang ada banyak peninggalan jaman kuno, maka untuk mencari seseorang sesungguhnya tidaklah mudah.

Touw Liong berputar-putaran di daerah pegunungan itu kalau benar digunakan untuk menyimpan kitab ilmu pedang Hek-mo-kiam, juga digunakan oleh Panji Wulung Wanita sebagai markasnya, sudah tentu merupakan tempat yang paling berbahaya di daerah gunung Hek-hong-san itu.

Touw Liong diam-diam memperhatikan situasi daerah pegunungan itu.

Ia telah menganggap, suatu tempat yang di sebelah kirinya terdapat sungai dan di sebelah kanan terdapat deretan gunung tinggi, kemungkinan besar gua Hek-hong-tong itu letaknya di daerah itu, maka ia lalu menuju ke salah satu puncak tertinggi yang terdapat di daerah itu.

Di puncak gunung tinggi itu terdapat banyak batu cadas yang bentuknya aneh-aneh, pohon-pohon kuno menjulang tinggi ke langit.

Touw Liong memutari puncak itu hampir satu jam lamanya telah mendapat lihat di belakang puncak itu, di suatu tempat yang agak rindang dan penuh banyak rumput tinggi, seperti terdapat bekas bangunan rumah.

Dengan adanya penemuan itu semangat Touw Liong mulai bangun.

Lagi, ia memutari batu bekas reruntuhan bangunan rumah itu.

Lalu ia menarik kesimpulan, bahwa gua Hek-hong-tong barangkali tidak jauh dari tempat ini.

Soalnya hanya terletak pada suatu pertanyaan, ialah di mana letak sebetulnya gua itu.

Touw Liong masih belum putus asa, terus dan terus melakukan penyelidikannya.

Tak lama kemudian, angin malam yang meniup membawa suara gemuruh dari air terjun.

Touw Liong nampak pasang telinga.

Air itu tidak menggemuruhkan, hanya gelombang sungai kecil.

Sebab, air yang mengalir dari suatu sungai kecil, tentu mengalirnya cukup santer.

Sedang suara air yang didengarnya itu, tidaklah segemuruh daripada suara air yang mengalir di sungai.

Oleh karenanya, maka ia menarik kesimpulan bahwa suara itu adalah suara air terjun yang turun dari tempat terlalu tinggi, atau keluar dari suatu mata air.

Dengan adanya penemuan itu, ia lalu mempercepat langkah kakinya.

Setelah melalui sebuah lembah dan menikung ke sebelah puncak tinggi, di hadapan matanya terbentang sebuah pemandangan yang menakjubkan!

Air yang terjun dari tempat setinggi sepuluh tombak, terus meluncur ke bawah ditampung oleh sebuah danau.

Air danau itu jernih sekali!

Kalau diperhatikan secara cermat, danau itu tidak ada jalan keluar.

Air yang turun deras dari tempat setinggi itu, kemana dibuangnya?

Apakah di dasar danau itu masih ada tempat yang dapat menampung air terjun tersebut?

Kalau tidak demikian mengapa air itu tidak meluap keluar; membuat suatu pembuangan?

Touw Liong tidak mau menduga-duga berapa dalamnya danau itu, karena tujuannya ialah hendak mencari gua Hekhong-tong, dan ia tidak perlu memikirkan soal itu.

Ia memutari danau yang lebarnya seratus tombak lebih itu.

Tetapi gua Hek-hong-tong masih belum juga dapat diketemukan.

Touw Liong membalikkan badan, ia lalu lompat melesat ke atas setinggi sepuluh tombak untuk mencari ke bagian atas dari air terjun itu.

Pada malam itu rembulan purnama sedang memancarkan sinar matanya yang terang benderang.

Tepat jam 2 tengah malam, dari atas tebing tinggi itu tampak sebuah sungai di suatu tempat sekitar situ bagaikan ular panjang menyusuri jalan di atas gunung yang terdapat banyak pohon tua.

Touw Liong dengan menyusuri tepi sungai itu terus pergi mencari.

Berjalan kira-kira 20 pal lebih, keadaannya tampak semakin sunyi.

Tempat itu penuh dengan semak belukar, tetapi di sepanjang jalan ia tidak menemukan tempat yang kira-kira sedang dicarinya.

Ia terus berjalan.

Waktu itu sudah mulai subuh.

Sekarang berpikir hendak balik kembali, matanya telah tertumbuk pada suatu pemandangan tidak jauh di depan matanya, ada sebuah batu yang tinggi sekali bentuknya.

Sekitar batu itu tidak tampak ada tumbuh-tumbuhan.

Berdiri tegak di tepi sungai.

Hal itu menarik perhatian Touw Liong, maka ia berjalan menghampiri.

Memang sebenarnya, batu itu benar-benar menonjol di tempat yang sepi seperti itu.

Tidaklah mengherankan jika menjadi perhatian Touw Liong.

Tetapi ketika ia tiba di batu itu, ia semakin merasa kecewa.

Sebab batu itu tidak ada hal yang luar biasa, hanya seperti batu biasa yang dipindahkan oleh tenaga orang ke tepi sungai itu.

Touw Liong tidak dapat mengerti, mengapa ada orang yang memindahkan batu besar itu ke tempat ini?

Ia memperhatikan keadaan itu sekian lama dengan penuh tanda tanya.

Sesungguhnya tidak dapat menemukan apa maksud batu itu diletakkan di tempat tersebut.

Ia berjalan memutari batu besar itu, lalu menarik nafas.

Dengan perasaan kecewa ia mendongak ke atas, maka ia dapat menghalau sedikit perasaan itu, tangannya dengan tak disengaja telah bergerak membentur batu besar itu.

Pukulan itu ternyata sedemikian hebatnya.

Batu sebesar itu telah jatuh roboh ke dalam sungai!

Sungguh aneh.

Batu besar yang rubuh ke sungai itu jatuh demikian hebat, dan terus membendung sungai kecil!

Air mengalir yang telah terbendung, dengan sendirinya lantas mencari jalan lain.

Dengan cepat air sungai itu meluap mengalir ke kedua sisi batu itu, dan disitulah mulai tampak dasarnya air terjun itu!

Bagian atas air terjun itu telah tertutup oleh pohonpohon yang bergelantungan, apalagi tempatnya tinggi, tidak dapat dilihat dengan mata dan airnya yang terbendung itu kini telah mengalir ke bagian lainnya.

Atas perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu, membuat Touw Liong terheran-heran.

Ia lompat ke atas sebuah batu besar, mengawasi air yang mengalir turun dari atas itu, kemudian matanya menengok ke air yang telah terbendung tadi di mana tampak nyata dasarnya danau, sedang pikirannya terus bekerja keras.

Ia angkat kepala, di atasnya ternyata tingginya 10 tombak lebih, tetapi bagian bawah yang tadi tertutup oleh air terjun, kini tampak nyata batu-batunya, airnya tinggal sedikit.

Touw Liong semakin heran.

Dengan tiba-tiba ia menepuk kepalanya sendiri dengan perasaan kaget.

Sesaat kemudian ia melayang turun ke bawah.

Tiba di bawah di mana tempat air terjun itu, ternyata di situ merupakan suatu tempat yang berpemandangan alam sangat indah.

Tempat sekitar air terjun yang sangat dalam, kini sudah tidak tampak airnya.

Air yang keluar memenuhi bagian kolam tadi entah mengalir kemana?

Tempat itu kini telah berubah sebagai sumur tua yang sangat dalam.

Sekitar tempat itu gelap gulita, sulit baginya untuk turun ke bawah, hanya air yang mengalir dari tempat itu, karena ditimpa oleh sinar rembulan itu, tampak bagaikan kaca.

Touw Liong yang memiliki pandangan mata sangat tajam, memusatkan perhatiannya untuk mencari keadaan di bawah.

Tiba-tiba, mata Touw Liong terbuka lebar, dan mengawasi ke sebuah lubang yang letaknya di sebelah kiri permukaan air.

Pada saat itu, mengalirnya air sudah terhenti dan tidak turun lagi.

Touw Liong segera mengerti, pintu gua yang lebarnya kira-kira 5 kaki itu pasti merupakan tempat keluar dari air yang berada di dalam danau itu.

Ia lalu lompat turun ke tebing sana.

Perasaan herannya semakin tebal.

Ia coba mencari sebatang rotan, lalu diikat kepada sebuah pohon yang terdapat di tepi danau itu.

Dengan alat itu ia mulai merambat turun.

Di sekitar tempat itu tampak licin.

Sudah tentu tidak mudah untuk menanjak lagi.

Di dalam danau itu hawanya juga sangat dingin, hingga diam-diam Touw Liong berpikir, apabila aku turun ke bawah, lalu di bagian atas orang ada memotong rotan ini, bukankah aku nanti jadi terkurung di dalam danau dan tidak bisa pulang lagi.

Ia juga telah merasakan, semakin turun ke bawah, terpisahnya jadi semakin jauh, dengan lain perkataan, danau itu ternyata keadaannya di bagian atas sempit dan bawah luas, maka sekalipun seorang yang memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh, apabila tidak ada tambang atau rotan yang dapat digunakan untuk pegangan, orang itu setelah jatuh ke bawah, sudah tentu tidak bisa lompat naik lagi.

Apa yang dikhawatirkan oleh Touw Liong ternyata benar-benar telah menjadi kenyataan.

Ketika Touw Liong baru turun ke tengahnya danau tadi, di atas benar-benar telah terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya.

Telinganya waktu mendengar suara perlahan, dan rotan yang ia pegang itu sudah diputuskan oleh tangan jahat!

Dengan demikian, Touw Liong jadi terjun ke dalam sambil memegang sisa rotannya.

Di bagian bawah danau itu ternyata airnya tidak dalam, hanya sebatas lutut saja.

Setelah berada di bawah, Touw Liong melongok ke atas.

Di dekat pohon tadi, tampak melongok ke bawah dua kepala manusia.

Dua orang tadi mengeluarkan suara tertawa dingin.

Satu di antaranya berkata dengan nada suara dingin pula.

"Bocah, kau boleh berdiam di bawah danau ini saja. Untuk selanjutnya, kau jangan pikirkan bisa naik ke atas lagi!"

Bukan kepalang marahnya Touw Liong ketika mendengar suara itu, ia berkata dengan nada suara gusar.

"Thian-sim imam biadab. Aku si orang she Touw apabila berhasil naik ke atas lagi, terlebih dahulu aku hendak mencari kau untuk membuat perhitungan!"

Dari atas terdengar pula suara tertawa, kemudian disusul oleh kata-katanya.

"Jangan lupa masih ada Hud-ya!"

"Sudah tentu Pek-bie, kau si padri bangsat juga tidak akan kulepaskan kau!"

"Kau boleh maki-maki sepuasmu. Bagaimanapun juga kau toh tidak bisa keluar lagi dari sini,"

Berkata Thian-sim tojin, kemudian melemparkan dua buah batu ke arah Touw Liong yang berada di bagian bawah.

Touw Liong mengelak dan lompat dari mulut gua yang lebarnya hanya 5 kaki saja itu.

Batu itu terjatuh ke dalam air, hingga menimbulkan suara, kemudian disusul oleh suara tertawa bangga dari atas, dan dua kepala orang tadi telah menghilang dari situ.

Segala-galanya, seolah-olah sudah ditakdirkan oleh Tuhan.

Touw Liong seolah-olah sudah ditakdirkan harus mati di situ.

Ia waktu itu mulai bergidik, dalam hati berkata sendiri.

"Celaka. Apa bila dua manusia jahat itu tadi mengalirkan air dari atas ke dalam danau, aku pasti akan mati ..."

Karena memikir akan ancaman maut itu, maka Touw Liong lalu mulai berusaha untuk mencari jalan keluar, sementara di dalam hatinya ia sudah bertekad, bahwa biar bagaimanapun juga ia tidak boleh mati dengan begitu saja."

Ia mulai menenangkan pikirannya sendiri.

Matanya dicelingukkan ke daerah sekitarnya untuk mencari jalan keluar.

Ketika matanya tertuju ke atas gua, ada suatu pemandangan aneh yang dilihatnya.

Kiranya di bagian atas gua itu terdapat sederet tulisan di atas batu.

Tulisan itu terdiri dari empat huruf yang berbunyi.

"Leng-coan-bit-hu."

Begitu empat huruf itu masuk ke mata Touw Liong, jantungnya segera berdebaran keras.

Sebab tempat itulah justru merupakan tempat di mana menurut petunjuk empat huruf ukiran di atas pedang, merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan kitabnya ilmu pedang Hokmo-kiam.

Dengan adanya penemuan sekali ini, sesaat Touw Liong malah tercengang.

Kemudian bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

"Di mana letaknya gua Hek-hong-tong?"

Sebab asal ia dapat menemukan gua itu, tak sulit baginya untuk menemukan kitab ilmu pedang Hok-mo-kiam.

Tetapi, di manakah letak gua itu sebetulnya?

Perjalanannya ke gunung Hek-hong-san sebenarnya sudah terpikir sejak lama sekali selagi Panji Wulung Wanita tidak ada, dengan diam-diam ia berkunjung ke gunung itu, dengan pengharapan dapat menemukan cara-cara untuk menolong orang yang terkena serangan ilmu Hek-hong-imkang, tetapi tak berhasil.

Siapa duga, kini dengan tindakannya yang tidak karuan juntrungannya, ternyata sudah menemukan tempat yang digunakan untuk menyimpan kitab ilmu pedang Hok-mo-kiam-hoat.

Touw Liong memperhatikan sejenak keadaan dalam mulut gua itu, lalu memusatkan kekuatan tenaganya ke tangan kanan untuk menggempur bagian atas yang terdapat tulisan tadi.

Gempuran itu berhasil.

Empat huruf tadi ternyata tidak meninggalkan bekas.

Di dalam gua keadaannya gelap gulita.

Touw Liong terpaksa harus meraba-raba untuk masuk ke dalam.

Ia buru-buru mengeluarkan korek api, dengan cepat dinyalakan.

Ia kini dapat melihat di dalamnya.

Kira-kira sejarak tiga tombak, tampak perubahan.

Kira-kira lima enam tombak di hadapannya, tampak ada undak-undakan batu yang begitu banyak jumlahnya.

Undakan batu itu terus menurun ke dalam gua.

Kiranya gua yang lebar hanya kira-kira 5 tombak persegi, di bagian dalamnya lebih sempit hanya seluas kira-kira 2 kaki saja.

Tampaknya mulut gua yang sempit itu hanya khusus untuk mengalirkan keluar air yang terjun dari atas.

Orang sudah tentu tidak mudah berjalan ke dalamnya.

Hanya tangga yang menurun ke bawah itu, tetap luasnya lima kaki persegi.

Touw Liong berjalan ke tempat iut, dan mulai berjalan mendaki tangga.

Ia juga tidak tahu berapa jauh sudah berjalan, hanya dalam ingatannya saja kira-kira sudah menuruni dua ratus undakan lebih.

Di dinding gua sebelah depan ada terdapat dua batang obor.

Touw Liong mengulur tangannya dan mengambil sebatang, sedang sebatang yang lainnya tidak ditinggal, melainkan ditenteng di tangan satunya.

Ia melongok lebih jauh ke depan.

Tangga batu rupanya sudah habis sampai di situ.

Sebuah lorng buatan manusia setinggi tujuh kaki dan selebar 3 kaki, tampak terbentang luas di depan matanya menuju ke tempat jauh.

Dari tempatnya ia tidak dapat melihat ujung lorong itu di mana sebenarnya.

Hati Touw Liong yang sudah bertekad hendak menyelidiki tempat tersebut, telah mengerti bahwa di tempat terakhir lorong itu pasti terdapat benda apa-apa yang aneh.

Dengan membawa obor di tangan, ia berjalan maju lagi ke depan.

Jilid 19 Baru ia berjalan kira-kira lima langkah, dan baru saja kakinya menginjak jalanan baru itu, di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suatu suara yang bergemuruh.

Touw Liong terkejut.

Waktu ia berpaling, tanpa terasa keringat dinginnya telah mengucur deras.

Sebab, jalan yang dilaluinya tadi ternyata sudah tertutup!

Touw Liong mengulurkan tangannya meraba-raba dinding batu yang menutup tangga tadi.

Ia telah mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga, tetapi dinding yang menutup jalan tadi sedikitpun tidak bergeming.

Ia lalu menggunakan dua jari tangannya untuk mengetuk-ngetuk.

Dinding batu itu ternyata tebal sekali.

Ia nampak berpikir, lalu tertawa kecil dan berkata pada dirinya sendiri.

"Dinding ini kira-kira ada lima kaki tebalnya. Rasanya, aku hanya bisa maju ke depan, tidak boleh mundur lagi. Untuk selanjutnya, sedikit harapan bisa keluar dari tempat ini."

Saat itu matanya mencari-cari ke sekitar gua batu itu, tetapi tidak menemukan pintu atau lubang untuk keluar.

Yang dapat ia gunakan untuk mendongkel batu besar itu juga tidak ada.

Dengan sangat hati-hati Touw Liong maju terus sambil membawa obor.

Ia sendiri juga tidak tahu sudah berapa jauh berjalan.

Sampai obor yang pertama itu padam sendiri, ia masih belum mengakhiri perjalanan.

Jalanan batu itu ada kalanya lurus lempang beberapa pal jauhnya, tetapi kadang-kadang juga membelok ke kiri atau ke kanan; ada pula jalanan mendaki ke atas, atau menurun ke bawah.

Pendek kata, di dalam jalanan bawah tanah itu ia sudah berjalan kira-kira satu jam lamanya.

Dua batang obor di tangannya juga sudah padam, tapi untung dia sudah keluar dari gua batu itu.

Di luar gua, kelihatan awan-awan di langit dengan bintang-bintangnya yang bertaburan.

Ia coba-coba menghitung-hitung waktunya saat itu barang kali sudah hampir jam tiga dekat pagi.

Touw Liong mendongakkan kepala dan menarik nafas, kemudian menyedot hawa segar, barulah melepaskan pandangan matanya ke keadaan di sekitarnya ....

Di sebelah kiri, tampak gumpalan awan.

Suatu tempat yang terbuka!

Sebelah kanan, puncak-puncak gunung berderetan.

Tetapi puncak-puncak gunung itu semuanya seolah-olah berada di bawah kakinya.

Jadi tempat di mana ia berdiri kini, adalah suatu tempat yang tertinggi di gunung Hekhong-san itu!

Tempat di mana Touw Liong berpijak, ternyata adalah sebuah tempat yang penuh pohon cemara dan bunga-bunga serta rumput halus, tempat itu cukup luas.

Di samping tanaman yang menghijau juga terdapat banyak batu yang besar-besar dan aneh bentuknya.

Di belakang dirinya, air dari gunung mengalir turun ke mulut gua, seolah-olah tirai sutera yang menutup pintu.

Tampaknya, tanah luas yang seperti kebun itu terletak di atas puncak gunung yang tertinggi, dan puncak gunung itu oleh karena begitu tingginya dengan jalan yang terjal dan berbahaya sekali, sehingga tidak dapat didaki dengan mudah.

Kiranya satu-satunya jalan untuk dapat mencapai tempat ini adalah cuma satu, yakni jalanan lorong batu yang baru saja dilalui oleh Touw Liong.

Touw Liong coba menengok ke arah gua, tanpa dirasa saat itu sekujur badannya gemetaran, sepasang matanya terbuka lebar.

Ia berdiri terpaku di tempat itu.

Apa yang dilihatnya?

Kiranya, di atas gua itu, ada terdapat tiga deretan hurufhuruf besar yang rupanya karena sudah terlalu tua sehingga nampak pudar, tetapi masih dapat terbaca.

"HEK HONG TONG" (tepat di tengah-tengah) ! Touw Liong kini menujukan pandangan matanya ke dalam gua, kini telah menemukan pula suatu kejadian aneh. Kiranya ketika ia tadi sedang mengagumi tempat yang bagaikan kebun pohon cemara itu, di dalam gua sudah terjadi suatu perubahan besar. Entah sejak kapan, sebuah dinding telah menghalang di tengah-tengah gua itu. Gua itu kini telah berubah menjadi sebuah gua buntuk yang dalamnya lima tombak. Tetapi ada satu hal yang perlu diceritakan, mulut gua itu sangat luas, barangkali ada dua tombak persegi luasnya. Keanehan bukan cuma pada itu saja. Touw Liong yang kini sudah turun lagi ke dalam gua dengan obor di tangan, di dalam gua itu, ternyata sudah ada meja kursi, komplet dengan alat-alat rumah tangga lainnya, yang semuanya terbuat daripada batu. Di samping itu, masih ada pula dua buah lemari yang menempel di dinding. Lemari di sebelah dinding kiri dalam keadaan sudah terbuka, di dalamnya ada sinar perak berkilauan. Sebilah pedang panjang yang sangat aneh bentuknya, terletak di dalam lemari tersebut. Pedang itu seperti tidak asing lagi bagi Touw Liong, sebab bentuk pedang itu justru sangat mirip sekali dengan pedang Hok-mo-kiam milik Pek Thian Hiong. Mata Touw Liong terbuka lebar, dengan tindakan perlahan-lahan ia menghampiri. Selagi hendak mengulurkan tangannya mengambil pedang itu, tiba-tiba tampak sepotong kertas di bawah pedang. Kertas itu lalu diambilnya, dan dibacanya di bawah penerangan api obornya. Tulisan di atas kertas itu tampaknya sudah lama sekali ditulis, huruf-hurufnya kecil-kecil dan ditulis dengan singkat. Dalam baris pertama diterangkan bahwa pedang itu pedang Hok-mo-kiam, pedang jenis jantan. Baris kedua menerangkan riwayat dari pedang tersebut. Kiranya, orang tua yang membuat sepasang pedang Hok-mo-kiam ini, adalah kakek moyang Pek Thian Hiong, yang pernah mendapat nama julukan Hok-mo Lojin, atau orang tua penakluk iblis. Hok-mo Lojin dengan penghuni gua itu adalah saudara seperguruan. Dua orang itu di dalam rimba persilatan pada 200 tahun berselang, merupakan dua orang kuat yang memiliki kepandaian sangat tinggi, yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan. Pada suatu hari, Hok-mo Lojin dengan sangat gembira memberitahukan kepada suhengnya, ialah Hek-hong Lojin, dikatakannya bahwa ia hendak membuat sepasang pedang panjang yang sangat tajam. Suhengnya di waktu itu sudah tentu menyetujui kehendak sutenya, bahkan memberitahukan kepadanya, apabila pedang itu sudah jagi dibuat, sang suheng akan menciptakan suatu ilmu pedang yang akan diberi nama Hok-mo-kiam-hoat. Kedua suheng dan sute itu setelah berunding masakmasak, lantas mulai dengan rencana mereka. Satu orang membuat pedang dan yang lain mulai melatih ilmu pedang yang baru itu. Dalam waktu beberapa puluh tahun lamanya, mereka hampir menggunakan waktu dan tenaganya, Hok-mo Lojin berhasil membuat sepasang pedang pusaka. Ia berikan sebilah pedang yang dinamakan Hok-mo kiam yang jantang kepada Hek-hong Lojin, dan yang betina dipakainya sendiri. Sementara itu ilmu pedang Hok-mo-kiam-hoat yang diciptakan oleh Hek-hong Lojin juga sudah berhasil, tetapi ia tidak membawa pergi hanya di atas pedang betina itu dibuatnya suatu tanda sebagai peringatan. Akan tetapi, setelah pedang itu jadi, ia merasa sangat menyesal. Sebab di antara murid-murid mereka, tiada seorangpun yang cocok untuk memakai pedang itu. Sebab, pedang pusaka yang luar biasa itu apabila orang yang membawanya tidak jujur atau berhati serong, atau kepribadiannya tidak baik dan tidak memiliki kepandaian ilmu sangat tinggi, tidak sesuai untuk membawa-bawa pedang pusaka yang dianggap barang yang sangat sakti itu. Bila terpaksa juga dibawanya, bisa membawa bencana kematian bagi dirinya. Ia mengerti benar tentang ini, kebetulan waktu itu dalam dunia kangouw muncul 8 iblis yang sangat lihay, mereka telah mengacau rimba persilatan demikian hebat, sehingga menimbulkan suasana tidak aman. Waktu itu, oleh karena ia sendiri usianya sudah lanjut bahkan karena dalam hidupnya telah memusatkan semua pikiran tenaga dan waktu untuk membuat pedang itu, maka meskipun ia ada pikiran hendak membasmi 8 iblis itu, namun tidak mempunyai tenaga untuk melaksanakan cita-citanya. Oleh karena mengingat apabila pedang pusaka itu terjatuh di tangan salah satu di antara delapan iblis itu bisa membahayakan rimba persilatan, maka setelah dipikirnya bolak-balik, jalan yang sebaik-baiknya ialah untuk mencari tokoh kuat dari golongan kebenaran dan dapat dipercaya. Pedang itu akan diserahkan kepadanya dan minta supaya diselesaikan cita-citanya untuk membasmi 8 iblis itu. Waktu itu, seorang pendekar yang mempunyai nama julukan Thian-lam tayhiap bernama Cukat Ciam, namanya sudah sangat kesohor di seluruh daerah selatan. Kepandaian ilmu silatnya sangat tinggi. Justru yang dipuji oleh Hok-mo Lojin. Hok-mo Lojin memberitahukan kepada Cu-kat Ciam kewajiban dan tugas apa yang harus dilakukan, tetapi belum diberitahukan bahwa pedang itu masih ada rahasia lain, dengan lain perkataan, untuk selamanya Cu-kat Ciam tidak akan mendapatkan kitab ilmu pedang dari pedang pusaka tersebut. Hok-mo Lojin masih menaruh sedikit pengharapan bahwa di antara anak muridnya sendiri, satu hari kelak bisa mendapatkan kembali pedangnya yang diserahkan kepada Cu-kat Ciam itu, lalu menurut petunjuk yang disembunyikan di atas pedang tersebut, dapat pula dicari dengan petunjuk rahasia, tempat itu adalah gua Hek-hongtong di atas gunung Hek-hong-san itu. Maka sebelum ia menutup mata, ia telah memberitahukan kepada muridmuridnya, bahwa pedangnya telah tercuri di tengah jalan, tetapi pedang itu supaya dicarinya kembali dan untuk mengenalinya, supaya diperiksa rahasia di atas pedang tersebut. Ia berbuat demikian, sudah tentu ada alasannya. Ia tahu murid-muridnya sendiri setelah ia sendiri menutup mata, apabila pada suatu hari mereka dapat menemukan Thianlam tayhiap Cu-kat Ciam, sudah tentu Cu-kat Ciam tidak akan mengembalikan pedang kepada mereka, dan mungkin bisa membantu mereka untuk mencari kitab ilmu pedangnya. Tidak demikian dengan Hek-hong Lojin. Jago tua ini dengan susah payah membuat tempat persembunyiannya di gua Hek-hong-tong yang letaknya di bawah air mancur. Dan di situlah ia mengubur dirinya hingga menutup mata. Dia juga ada memungut seorang murid, tetapi murid itu tidak baik kelakuannya, sesudah berhasil mendapat warisan gurunya ilmu Hek-hong-hian-kang telah berlalu dengan diam-diam dan selanjutnya tidak pernah datang ke gunung Hek-hong-san lagi. Hek-hong Lojin mencari muridnya itu beberapa tahun lamanya, tetapi tidak berhasil menemukannya. Karena rasa kecewa, barulah membuat tempat kediaman yang dirahasiakan itu. Setelah ia menutup mata, pedang Hok-mo-kiam yang jantan dan kitab ilmu pedangnya juga berada di dalam gua, selama 200 tahun, belum pernah muncul di dunia. Tak disangka-sangka Touw Liong pada hari itu dengan secara tidak terduga-duga telah tiba dan masuk ke tempat tersebut, hingga mendapatkan pedang Hok-mo-kiam yang jantan. Di baris ketiga ditulis beberapa peraturan seperti berikut. Pertama ialah. Barang siapa yang mendapatkan pedang pusaka itu, harus tanya kepada diri sendiri, apakah kiranya sanggup dengan pedang pusaka itu untuk melakukan perbuatan baik guna kepentingan rimba persilatan? Orang yang mendapatkan pedang itu dipersilahkan duduk di atas bangku batu selama satu jam, untuk memikirkan masakmasak, setelah dipikirnya baik-baik, maka boleh mengambil kitab ilmu pedangnya di dalam lemari lain. Kedua ialah. Murid Hek-hong Lojin itu berkelakuan tidak baik. Di kemudian hari, mungkin akan membahayakan masyarakat, maka dari itu, barang siapa yang mendapatkan pedang tersebut, harus berusaha untuk mencegah agar murid itu tidak melakukan kejahatan yang bisa membahayakan nasib orang banyak. Ketiga, ilmu Hek-hong-hian-kang sudah merupakan ilmu yang tidak ada tandingan dalam dunia, apabila tidak beruntung kitab ilmu tersebut terjatuh di tangan seorang wanita, maka wanita yang melatih ilmu itu, Hek-hong-hiankang akan berubah menjadi ilmu Hek-hong-im-kang, yang mengandung hawa sangat dingin. Barang siapa yang terkena serangan ilmu Hek-hong-im-kang, sudah tidak ada obatnya untuk memunahkan. Maka dari itu, harus berjagajaga dan mencegah agar ilmu Hek-hong-hian-kang ini jangan sampai diturunkan kepada seorang wanita. Keempat, ialah. Barang siapa yang mendapatkan pedang Hok-mo kiam jantan ini, tidak boleh melakukan tindakan keras terhadap anak murid golongan Hek-hong. Touw Liong setelah membaca habis tulisan-tulisan di atas kertas itu, dengan langkah lesu berjalan ke bangku batu untuk duduk. Dengan bertopang dagu ia duduk sambil berpikir. Ia pikir. mendapatkan kitab ilmu pedang dan pedang Hok-mo-kiam ini apa faedahnya? Aku sudah terkena serangan ilmu Hek-hong-im-kang. Menurut keterangan dalam tulisan ini, di kolong langit ini, sudah tidak ada obat lain yang dapat memunahkannya. Hari ini, yah hari ini asal lewat tengah hari, begitu racun dingin itu bekerja, kepandaian ilmu silatku perlahan-lahan akan lenyap, beberapa jam kemudian seluruh ilmu kepandaianku akan musnah.... Lemari yang lain sedikitpun tidak dihiraukan lagi. Ia hanya duduk sambil berpikir. Suasana dalam gua itu sunyi sekali. Di luar gua, angin gunung meniup santer hingga daundaun cemara pada jatuh beterbangan. Dalam gua, terdengar menggericiknya air mancur. Air yang menetes dari lubang gua, setetes demi setetes mengalir turun. Tempat di mana air itu jatuh menjadi sebuah lubang semacam mangkok, hingga menimbulkan suara bagaikan irama musik. Entah dari mana datangnya perasaan Touw Liong, tibatiba ia mengangkat mangkok batu yang berisi tetesan air dari lubang gua tadi, lalu diminumnya hingga kering. Aneh bin ajaib! Setelah minum air dingin itu, semangatnya dirasakan terbangun, pikirannya mendadak menjadi jernih, dalam otaknya segera timbul suatu pikiran, tetapi kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala membantahnya sendiri. Tidak benar, tidak benar! Jikalau orang yang terkena serangan ilmu Hek-hong-im-kang itu bisa tertolong, apa sebabnya Panji Wulung Wanita itu suruh aku hari ini datang mencari dia? Jikalau aku mau menjadi muridnya, ia baru bersedia menghilangkan racun dingin dalam tubuhku. Touw Liong telah menarik kesimpulan. Panji Wulung Wanita itu adalah salah seorang murid dari golongan Hekhong bun, dan kalau begitu ilmu Hek-hong-im-kang juga masih bisa tertolong. Tetapi siapakah yang dapat menolong? Panji Wulung Wanita sudah tentu bisa. Pek Thian Hiong yang mempelajari ilmu gaib dari cerita adalah pendekar tersebut, dengan demikian, pedang pusaka itu jadi diserahkan kepadanya. Tetapi sayang! Sungguhpun Pek Thian Hiong harus menunggu hingga ia dapat memahami irama dalam kecapi kuno itu baru dapat digunakan. Sudah tentu selamanya tidak akan memberitahukan di mana adanya pedang pusaka itu berada. Ini benar-benar merupakan suatu yang tidak mudah dijawab. Lama Touw Liong berpikir, tiba-tiba ia angkat kepala memandang gumpalan awan di luar gua, kemudian berkata kepada dirinya sendiri.

"Tay-lo-kim-kong-sim-kang adalah ilmu tertinggi dari golongan kaum Budha. ..... kang juga merupakan ilmu terampuh dalam golongan Hian-bun, dua jenis ilmu itu sekarang berada dalam tubuhku seorang, selain itu, aku bahkan dapat menggunakan ilmu batin Liang-gi-sin-hoat, kalau semua ilmu itu aku gunakan baik-baik, boleh dikata di dalam kolong langit ini tiada seorang yang sanggup menghadapi aku, tetapi mengapa, ya mengapa aku tidak sanggup menghilangkan ilmu Hek-hong-im-kang di dalam tubuhku?"

Kemudian ia berpikir lagi.

Apabila racun dari Hek-hongim-kang itu bisa menyusup ke dalam urat-urat tubuhku, aku percaya dengan kedua jenis ilmuku itu, asal aku sekaligus juga menggunakan ilmu batin Liang-gie-sin-hoat, betapa pun berat racun yang ada di dalam tubuhku, juga dapat dipunahkan.

Dengan timbulnya pikiran semacam itu, membuat Touw Liong buru-buru bersemedi untuk memeriksa sendiri setiap bagian jalan darahnya.

Begitu ia habis bersemedi, ternyata seluruh bagian darahnya tidak terdapat gangguan apa-apa dan ia juga tidak merasakan bahwa racun dalam tubuhnya masih belum bekerja, hingga diam-diam ia merasa girang, karena waktunya masih ada, maka ia pikir apabila ia sembuhkan dengan caranya tadi, mungkin masih bisa tertolong.

Ia lalu duduk bersemedi menurut ajaran ilmu batin Liang-gie-sin-hoat.

Ia mulai memusatkan pikirannya untuk mengusir segala godaaan.

Bab 50 ENTAH berapa lama Touw Liong duduk bersemedi, berusaha mengusir racun Hek-hong-im-kang dari dalam tubuhnya.

Tatkala ia mendusin dan membuka mata, hari sudah terang.

Keadaan udara di luar gua sangat cerah, deretan gunung di tempat jauh dan pohon-pohon di sekitarnya tampak dengan nyata merupakan suatu pemadangan alam yang begitu indah menawan hati.

Ia merasakan badannya sudah segar kembali.

Ketika ia mencoba menjalankan pernafasannya, ternyata sedikitpun tidak mendapatkan gangguan apa-apa hingga ia tahu bahwa usahanya telah berhasil!

Mengusir racun dalam tubuhnya dengan ilmu batin Liang-gie-sin-hoat, telah berhasil dengan gilang-gemilang!

Racun Hek-hong-im-tok yang dikatakan oleh Panji Wulung Wanita tiada orang yang dapat menyembuhkan, kini ternyata sudah dibasmi olehnya.

Saat itu ia benar-benar sudah mendapat kesan demikian.

Walaupun racun itu masih belum bersih seluruhnya tetapi setidak-tidaknya juga sudah hilang sebagian besar.

Ia merasa sangat gembira, lalu bangkit dan berpaling mengawasi lemari dinding tembok.

Sinar perak berkilauanlah yang pertama-tama masuk ke dalam matanya.

Sementara pedang Hok-mo-kiam yang jantan, masih terletak di tempatnya semula.

Touw Liong berjalan menghampiri, lalu mengulurkan tangannya mengambil pedang tersebut.

Lama ia memandangnya dan menggosok-gosoknya lalu menundukkan kepala mengawasi sepotong kertas yang ada tulisannya.

"peninggalan Hek-hong Lojin", kembali ia membaca bagian yang ketiga, bagian itu ditulis . Barang siapa yang mendapatkan pedang Hok-mo-kiam jantan, harus berpikir dengan tenang selama satu jam, kemudian pergi ke lemari dinding yang lain untuk mengambil kitab pedangnya Hok-mo-kiam. Kini hati Touw Liong telah bergerak. Pikirnya . Kitab ilmu pedang ini seharusnya menjadi milik Pek Thian Hiong dan puterinya, dan lagi, aku sudah berjanji dengan mereka untuk membawanya untuk mengembalikan kepadanya... Perlahan-lahan ia palingkan kepalanya, untuk memandang kearah lemari yang lain. Semul ia tidak mempunyai pikiran apa-apa, tetapi kali ini, setelah pandangan matanya tertuju ke dalam lemari itu, sekalipun ia seorang pemberani, saat itu juga dikejutkan oleh pemandangan di hadapan matanya, hingga hampir lompat menyingkir dan menarik nafas. Kiranya lemari dinding yang berada di hadapannya itu kini telah terbuka lebar-lebar, di dalam lemari batu yang luasnya kira-kira hanya tiga kaki persegi itu tampak sinar perak berkilauan. Di dalam lemari itu terdapat perlengkapan 100 batang lebih anak panah pendek yang memancarkan sinar berkilauan. Setiap ujung anak panah itu tertuju kepada Touw Liong, hingga untuk sesaat Touw Liong agak kelabakan tidak berani menggeser kakinya. Ia berdiri terpaku, sedikitpun tidak berani bergerak. Diam-diam ia telah mengerahkan ilmunya Tay-lo-kim-kong-sian-kang ke sekujur tubuhnya untuk melindungi jalan darahnya, menjaga-jaga apabila anak panah itu tertuju kepada dirinya. Sepasang matanya terus ditujukan kepada anak panah itu, sementara dalam hatinya memikirkan dengan cara bagaimana menyingkirkan ancaman itu? Kapankah pintu lemari itu terbuka? Apakah pintu lemari itu baru saja terbukanya? Tetapi rasanya tidak benarlah demikian, sebab ia sendiri yang memiliki daya pendengaran sangat tajam, dengan cara bagaimana tidak mendengar suara pintu lemari itu terbuka? Kalau begitu, pintu itu pasti terbuka tatkala ia sedang duduk bersemedi untuk mengusir racun dari dalam tubuhnya. Kalau benar lemari dinding itu bisa terbuka sendiri, dan ratusan batang anak panah itu juga ditujukan kepadanya, mengapa anak panah itu tidak dilepaskan? Apakah oleh karena terlalu lama di dalam situ hingga pesawatnya sudah tidak bisa berjalan lancar lagi? Ataukah ....? Bagaimanapun juga Touw Liong tidak dapat menduga sebab-sebabnya. Ia terus berdiri memandangnya tanpa berani bergerak. Ia mengerti, pada saat dan tempat seperti itu, tidak boleh berlaku gegabah. Ia tahu bahwa dalam gua Hek-hong-tong itu mungkin terdapat banyak perlengkapan pesawat rahasia, apabila kurang hati-hati atau agak gegabah, mungkin bisa menjadi sasaran anak panah itu. Kalau benar demikian halnya, ini bisa menimbulkan suatu akibat yang akan membawa penyesalan seumur hidup. Ia sedikitpun tidak berani berlaku gegabah. Pandangan matanya kembali ditujukan kepada tulisan di atas sepotong kertas peninggalan Hek-hong Lojin untuk membaca barisan yang lain yang berbunyi .

"Orang yang mendapatkan pedang, harus duduk tenang selama satu jam, pikirkan dulu baik-baik dapatkah dengan pedang itu di kemudian hari melakukan pebuatan baik bagi kepentingan dunia kangouw? Apabila sudah dipikir masakmasak, satu jam kemudian boleh datang ke lemari dinding yang lain. Touw Liong masih mengerutkan alisnya dan bertanyatanya kepada dirinya sendiri . Mengapa harus tunggu satu jam kemudian? Apakah dengan waktu setengah jam tidak cukup juga ...? Dipikirnya soal itu bolak-balik, perlahan-lahan mulai sadar, ia telah membuat suatu analisa demikian . Pedang dengan anak panah itu ada hubungannya satu sama lain. Panah pendek itu sedikitpun belum kehilangan khasiatnya. Sewaktu orang menggeser gagang pedang yang di dalam lemari lain, satu jam kemudian, lemari yang diperlengkapi dengan anak panah itu terbuka sendiri, dan anak panah di dalamnya juga dengan sendirinya tidak berguna lagi, karena tidak bisa bergerak untuk melukai orang. Apabila orang yang mendapatkan pedang itu tidak sabar buat menunggu satu jam, lalu berjalan dan membuka pintu lemaari, maka akibatnya pasti hebat. Sebab begitu pintu lemari itu terbuka, anak panah yang berada di dalamnya segera akan melesat keluar dan orang yang membuka lemari itu sudah tentu akan menjadi sasaran anak-anak panah. Setelah mengadakan analisa demikian, pikiran Touw Liong agak lega sedikit. Dengan sangat hati-hati ia mencoba berjalan mendekati. Setiap maju selangkah, hatinya bergoncang semakin keras. Dekat pintu lemari, keringat di jidatnya sudah mengetel turun. Perasaannya semakin tegang, jantungnya berdebar semakin keras. Akhirnya ia sudah berjalan dekat sekali dengan lemari batu itu. Masih tetap tidak kelihatan gerakan dari anak panah itu. Pandangan mata Touw Liong tertuju kepada sepotong kertas lain yang berada di situ. Ia lalu menyeka keringatnya yang sudah hampir membasahi sekujur badannya. Setelah menghela nafas panjang, lalu berkata kepada diri sendiri.

"Demikian hati-hati Hek-hong Locianpwe melindungi benda pusakanya!"

Di atas kertas itu terdapat dua baris tulisan yang berbunyi .

"Barang siapa yang menurut kehendakku akan mendapat bahagia, yang melawan aku akan mendapat celaka."

"Berdirilah tenang-tenang, jangan bergerak selama 12 jam, nanti kuhadiahkan kepadamu se

Jilid kitab pedang."

Touw Liong mengerutkan alisnya setelah membaca tulisan tersebut.

Suruh seorang berdiri tegak selama 12 jam tanpa bergerak?

Benar-benar merupakan suatu hal yang sangat mustahil.

Sebab manusia yang terdiri dari darah dan daging, urat-urat dan tulang-tulangnya memerlukan gerakan tertentu, tidak mungkin disuruh berdiri tegak bagaikan patung selama 12 jam.

Lagi pula, seorang manusia juga tidak mungkin berdiri terus satu hari satu malam lamanya tanpa makan tanpa minum, tanpa buang air kecil dan membuang air besar, tanpa tidur tanpa beristirahat.

Kecuali orang itu sudah setengah dewa, yang bisa bersemedi berhari-hari tanpa tidur tanpa makan dan tanpa minum.

Benar-benar suatu persoalan yang sangat sulit.

Lama Touw Liong berdiri terpaku tanpa dapat bergerak.

Jikalau menilik kekuatan dan kepandaiannya pada waktu itu, sudah tentu, bisa saja ia menggunakan ilmu batinnya Liang-gie-sin-hoat untuk menjaga kondisi tubuhnya, juga boleh menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk membantu gerakkan jalan darahnya, sementara mengenai soal makan dan minum, itu hanya tergantung kepada keuletannya sendiri.

Akhirnya Touw Liong telah mengambil keputusan hendak berdiri tegak 12 jan seperti apa yang diinginkan oleh Hek-hong Lojin dalam tulisannya.

Selagi ia hendak menggunakan ilmu batinnya Liang-giesin-hoat untuk memperbaiki keadaan tubuhnya, anak-anak panah dalam lemari tadi perlahan-lahan telah masuk lagi ke dalam, akhirnya hanya tinggal lubang-lubang kecil bagaikan sarang tawon di situ.

Touw Liong menggelengkan kepala, lalu memejamkan matanya mulai melakukan usahanya untuk memenuhi keinginan Hek-hong Lojin.

Satu jam telah berlalu ....

Dua jam lewat lagi tanpa dirasa ....

Matahari sudah mendoyong ke barat, ini berarti Touw Liong berdiri tegak seperti itu sudah lima jam lamanya!

Perlahan-lahan ia membuka matanya, memandang keadaan di sekitarnya.

Di dalam gua itu tidak banyak terjadi perubahan.

Yang beda hanya letak pintu kedua lemari batu tadi.

Entah sejak kapan kedua pintu lemari tersebut menutup kembali.

Touw Liong tidak berani menduga masih akan terjadi perubahan apa lagi, setelah memperhatikan keadaan di sekitarnya sejenak, lalu melanjutkan usahanya untuk berdiri.

Sebelum ia melanjutkan usahanya itu, terjadi suatu kejadian yang sangat aneh, hingga keringat dingin mengucur membasahi sekujur tubuhnya.

Kiranya, di atas dinding tepat di atas kepala Touw Liong berdiri, entah sejak kapan, tahu-tahu ada 12 batang ujung anak panah emas, yang ditujukan ke kepalanya.

Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong, hampir saja tidak sanggup lagi ia meneruskan usahanya.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba itu, semakin membuat Touw Liong tidak berani menggeserkan kakinya sedikitpun juga.

Ia buru-buru menenangkan pikirannya, seluruh perhatiannya lantas dipusatkan kepada ilmu batinnya.

Masih untung kekuatan tenaga dalamnya sudah terlatih benar, sehingga setelah melakukan pernafasan sejenak, lantas dapat menenangkan pikirannya.

Sebetulnya menurut kebiasaan kalau ia sedang bersemedi, sebaiknya memang duduk bersila tetapi karena Hek-hong Lojin mengharuskan ia terus berdiri, maka terpaksa dilakukannya juga.

Ketika malam tiba, ia masih tetap berdiri dalam sikap seperti semula dan setelah malam berganti dengan pagi hari, kini sudah mulai hari kedua pagi-pagi, ketika pada waktunya sudah penuh 12 jam Touw Liong benar-benar sudah melakukan suatu perbuatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah persilatan.

Ketika ia membuka mata, pintu kedua lemari batu itu sudah terbuka lagi, di lemari yang berada di hadapannya, kini tampak se

Jilid kitab yang dibungkus dengan kulit kambing yang sangat rapi, dalam lemari batu di belakang dirinya tergeletak pedang Hok-mo-kiam.

Dalam lemari batu di hadapannya, di depan kitab kecil itu, tampak sepotong kertas dengan tulisan yang berbunyi.

"Menjuralah di tempatmu 9 kali, akan kuhadiahkan kepadamu se

Jilid kitab ilmu pedang Hok-mo-kiam."

Ketika Touw Liong angkat kepala, 12 batang anak panah emas yang ditujukan ke atas kepalanya tadi, entah sejak kapan sudah lenyap.

Touw Liong menurut pesan dalam tulisan itu, ia berlutut dan dengan laku yang sangat hormat sekali menjurah 9 kali.

Setelah menjura ia bangkit lagi, dan pintu lemari besi itu kembali menutup.

Belum lenyap semua perasaan bingungnya, di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara bergeraknya pesawat!

Mana kala Touw Liong berpaling, lemari batu di belakang dirinya itu ternyata sedang bergerak sendiri, seolah-olah didorong oleh kekuatan tenaga manusia, perlahan-lahan menggeser ke samping, lalu tampak di dalamnya sebuah kotak batu.

Setelah batu itu menggeser, di atas meja batu itu duduk seorang tua berjubah sutera warna putih, orang tua itu kumis dan alisnya semua sudah putih, jelas sudah mati, namun wajahnya masih begitu segar, seolah-olah masih hidup.

Sepasang mata orang tua itu dipejamkan, duduk dalam keadaan bersila, di tangannya menggenggam se

Jilid kitab kecil yang bentuknya serupa dengan kitab yang tadi berada di dalam lemari batu di hadapannya.

Touw Liong terperanjat, diperiksanya dengan teliti, orang tua itu ternyata tidak bergerak dan tidak bersuara, kiranya adalah jenasah orang tua yang telah di balsem.

Tak usah dikata, orang tua itu pasti adalah Hek-hong Lojin sendiri yang hidup pada 200 tahun berselang.

Touw Liong lalu membalikkan diri, dan berlutut serta menjura 9 kali di hadapan orang tua itu.

Selesai menjalankan peradatan, baru diketahuinya, di atas meja batu itu kiranya ada sepotong kertas yang ditulis dengan kata-kata sebagai berikut.

"Kitab di dalam lemari itu adalah tiruan, yang berada di tanganku ini adalah yang asli."

Dengan sangat hati-hati dan sikap menghormat sekali ia berjalan menghampiri dan mengambil kitab di tangannya, lalu mundur beberapa langkah dan menjura 9 kali.

Selesai menjura, terdengar pula suara pesawat bergerak, pintu batu itu menutup lagi, dan jenasah orang tua tadi juga lantas hilang amblas ke dalamnya!

Touw Liong mengambil pedang Hok-mo-kiam ditaruh di atas punggungnya, sedang kitab ilmu pedangnya dimasukkan ke dalam sakunya.

Kalau ia mengingat pengalamannya yang gaib selama satu hari satu malam yang sangat mendebarkan jantung itu, ia masih berdebaran sendiri.

Oleh karena semua jalan sudah tertutup, Touw Liong tidak bisa lagi keluar dari dalam gua melalui jalan semula ia datang.

Satu-satunya jalan keluar hanya mencari tanah lapang yang terdapat banyak pohon cemara itu.

Touw Liong berjalan berputaran di tanah yang penuh pohon cemara, akhirnya di suatu tempat ia menemukan sebuah gua kecil.

Gua itu lebarnay hanya cukup dimasuki seorang saja.

Mengikuti jalan yang menurun ke bawah di lorong gua kecil itu, tangannya masih membawa obor, ia berjalan turun belum sampai 100 langkah, di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara ledakan.

Ketika Touw Liong berpaling, mulut gua bekas tadi ia berjalan, tanpa sebab kini telah runtuh, batu-batu kecil pada berserakan turun ke bawah.

Ia terpaksa berjalan turun terus sehingga kini 1000 tingkat undakan, tibalah di tempat yang akhir.

Di situ, ternyata terhalang oleh dinding batu, dia lantas berseru.

"Habislah!"

Ia sedang berpikir kali ini mungkin benar-benar akan tertimbun hidup-hidup di dalam gua.

Di belakang dirinya, tangga batu setinggi lima tombak itu masih tetap utuh, tidak rubuh.

Dengan lain perkataannya ia telah terkurung hiduphidup di dalam gua yang tidak lebih dari lima tombak luasnya itu.

Kini api obor di tangannya sudah padam dan menherankan ialah, di dalam gua itu sedikitpun tidak engap, sebaliknya malah ia merasakan ada hawa dan aliran angin masuk, yang seolah-olah mengipasi tubuhnya.

Hati Touw Liong tergerak, ia coba pasang telinga, di situ ia mendengar suara menderunya angin gunung.

Setelah mendengar menderunya angin gunung harapan hidup timbul lagi, ia mengerahkan kekuatan tenaganya di kedua tangan, untuk mendorong dinding batu di hadapannya.

Dinding batu yang tebal dan berat itu telah terdorong terbang olehnya, sehingga dalam kegelapan itu jalan lorong dalam gua itu dalam waktu sekejab mata menjadi terang benderang, saat itu juga mulai tampak langit yang biru.

Touw Liong buru-buru berjalan maju, orangnya berada di mulut gua, di bawahnya ternyata merupakan suatu jurang yang dalamnya ratusan tombak, di bawah sekali tampak sungai yang mengalirkan airnya dengan amat deras.

Dinding batu yang menghalangi perjalanannya tadi telah melayang turun dan terjatuh ke dalam sungai, hingga menimbulkan gumpalan air ombak tinggi sekali.

Kini Touw Liong arahkan matanya ke bagian atas kepala.

Di atasnya, tampak tebing-tebing yang tinggi hampir menutupi langit, apapun tidak tertampak lagi kecuali awan-awan di langit.

Di bawah kakinya adalah jurang yang dalam.

Keadaannya sangat terjal dan berbahaya.

Touw Liong yang menyaksikan itu agak bergidik, ia tidak tahu, apakah ia memiliki kepandaian untuk turun dari tempat setinggi itu.

Touw Liong mencoba merambat turun dari dinding dengan mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, dengan susah payah, akhirnya tibalah di tepi sungai.

Ia berdiri di tepi sungai sambil memandang air sungai yang bergolak, lama ia dalam keadaan demikian sambil menarik nafas.

Ketika ia angkat kepala memandang puncak gunung yang pernah diinjaknya, puncak itu kini tampak diliputi oleh awan.

Touw Liong berjalan turun mengikuti aliran air berjalan kira-kira 10 pal, telah melalui sebuah bukit kecil, dengan mengikuti anak sungai berjalanlah ia ke utara.

Selagi berjalan enak-enak, tiba-tiba terdengar suara sambaran anak panah, kemudian disusul oleh suara siulan tajam yang menusuk telinga.

Touw Liong terkejut, ia lompat dan memotes sebatang ranting pohon cemara, ia lompat dan berdiri di atas pohon, matanya menuju ke arah jauh.

Tampak olehnya di gunung bagian dalam muncul serombongan orang.

Diantara orang yang berjalan itu, terdapat kaum wanita, pria, tua dan muda komplit seluruhnya, jumlahnya kira-kira tujuh-delapan orang, sebagian besar pernah dilihatnya oleh Touw Liong sedang yang lainnya masih asing, rombongan orang itu ternyata dikepalai oleh Kim Yan.

Kim Yan berjalan perlahan-lahan, 6 orang yang mengikuti di belakangnya, ada orang yang dikenal oleh Touw Liong, mereka adalah si imam kurus Ngo-yang, Busim Hwesio dari gereja Siao-lim-sie, yang lain adalah Pekbie Hwesio dari partai Ngo-bie.

Tiga orang yang lainnya, yang satu adalah seorang anak laki tanggung berusia kirakira 16 tahun, seorang lagi adalah orang tua berusia kirakira 70 tahun yang rambut dan kumisnya putih semua, wajahnya seperti kuningan, tetapi penuh bekas tanda golok.

Orang yang paling belakang adalah seorang wanita berwajah setengah umur.

Kim Yan menghentikan langkahnya, dengan memandang Touw Liong, ia memberi hormat dengan wajah berseri-seri, kemudian berkata.

"Suheng kemarin belum naik gunung, sehingga kami harus menunggu satu malam lamanya."

Hati Touw Liong merasa pedih, hingga hampir saja mengucurkan air mata, dengan hati pilu ia memandang Kim Yan, dari mulutnya mengeluarkan perkataan yang sangat perlahan.

"Sumoy, suhengmu kini telah melihat kau lagi!"

Banyak kata-kata yang tersimpan dalam mulutnya tidak dapat dikeluarkan seluruhnya, banyak perasaan yang terkandung dalam hatinya selama itu, hanya dapat dikeluarkan dalam ucapannya yang singkat tadi.

Sehabis mengucapkan demikian, dengan perasaan gemas ia mengalihkan pandangan matanya kepada Pek-bie Hwesio, ia msih ingat malam itu bersama Thian-sim tojin, telah memotong rotan yang digunakan untuk mendaki gunung hingga ia sendiri hampir terbinasa, oleh karena mengingat itu, hawa amarahnya meluap, ia ingin membinasakan padri itu dengan segera.

Selagi hendak bertindak, Kim Yan sudah berkata lagi kepadanya sambil tertawa.

"Suheng, mari! Kuperkenalkan kau dengan beberapa tokoh kuat!"

Ia mengawasi si imam kurus, Bu-sim dan Pek-bie bertiga, kemudian berkata pula.

"Tiga orang ini semuanya pernah kau lihat, dan tiga itu ...."

Tangan Kim Yan menunjuk kepada orang tua yang menunjukkan sikap marah seraya berkata.

"Tuan ini adalah ketua golongan Swat-san Hwan-hiouw Cianpwe."

Touw Liong begitu mendengar bahwa orang tua itu adalah ketua golongan Swat-san-pay, segera teringat kepada musuhnya yang telah membunuh ibunya, yang pernah dibinasakan olehnya, maka ia mengerti,pantas saja Hwanhiouw kini unjuk sikap marah.

Touw Liong adalah seorang pendekar kenamaan yang berjiwa besar, kini orang yang menjadi musuh ibunya ilah orang yang bernama Kow Cin Seng sudah mati, sakit hatinya sudah terbalas, dan ia sendiri dengan Hwan-hiouw tidak ada ganjalan sakit hati apa-apa, sebaliknya ia malah merasa karena membunuh sute orang tua itu, dalam hati merasa sedikit tidak enak, maka ia lalu menganggukkan kepala seraya berkata.

"Locianpwe, sudah lama kukagumi namamu!"

Hwan-hiouw hanya mengeluarkan suara dari hidung, sikapnya masih tetap dingin seperti semula. Kim Yan berkata lagi sambil menunjuk wanita setengah umur.

"Nyonya ini adalah Lie Sam-kow dari perkampungan Hui-liong-chung ...."

Nyonya itu juga menyambut dingin atas perkenalan itu.

Touw Liong teringat kepada adik perempuan ketiga Lie Hui Hong, Lie Cay Go yang diberi nama oleh orang-orang rimba persilatan dengan julukan Hantu Terbang.

Touw Liong menganggukkan kepala kepada nyonya itu.

Kim Yan memperkenalkan lagi kepada Touw Liong sambil menunjuk anak laki-laki tanggung seraya berkata.

"Saudara ini adalah ....."

Anak laki tanggung itu maju selangkah, menjura pada Touw Liong, kemudian berkata dengan sikap yang sangat hormat.

"Atas bimbingan Touw tayhiap, boanpwe, Ca Thian Lok di sini mengucapkan banyak-banyak terima kasih."

Dengan tiba-tiba Touw Liong teringat dari seseorang, ia buru-buru bimbing anak laki-laki itu dan bertanya kepadanya.

"Apakah Ca pocu ada baik?"

Kiranya anak laki-laki itu adalah anak laki-laki kesayangan pocu dari Ca-kee-po di daerah perbatasan antara propinsi Tu-coan dan See-khang.

Keluarga Ca di benteng Ca-kee-po hampir semuanya memiliki kepandaian ilmu silat, mereka merupakan satu kelompok tersendiri, tidak termasuk golongan manapun dalam rimba persilatan, dan kini telah mengutus pocu muda itu masuk menjadi anggota golongan Hek-hong, di sini menrupakan suatu bukti, bahwa Panji Wulung Wanita itu kini benar-benar namanya sudah menggemparkan rimba persilatan.

Ca Thian Lok masih tetap dengan sikapnya yang sangat hormat sekali menjawab pertanyaan Touw Liong.

"Terima kasih atas perhatian Touw tayhiap, dengan lindungan Tuhan Yang Maha Esa, ayah kini masih dalam keadaan sehat walafiat!"

Kim Yan kemudian membalikkan badan dan berkata pula kepada Touw Liong.

"Suheng silahkan! Kauwcu sedang menantikan kedatanganmu!"

"Suheng tidak ingin pergi ke sana menemui dia!"

Menjawab Touw Liong sambil menggelengkan kepala. Sikap Kim Yan mendadak berubah dingin kaku.

"Apakah kau tidak takut racun Hek-hong-im-kang yang berada di dalam tubuhmu nanti akan bekerja?"

Touw Liong menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa.

"Suhengmu sudah mengerti caranya mengusir racun itu dari tubuh, sebaliknya, aku hendak bawa kau meninggalkan gunung Hek-hong-san untuk membersihkan racun dalam tubuhmu."

Kim Yan mendongakkan kepala dan tertawa nyaring, sikapnya itu jauh berbeda daripada yang sudah-sudah.

Touw Liong yang menyaksikan perubahan sikap Kim Yan, mengerutkan alisnya, menggelengkan kepala dan menghela nafas berulang-ulang.

Kim Yan telah puas tertawa, berkata pula.

"Kau rupanya masih rindu dengan kedudukan ketua golongan Kiu-hwa, untuk apa aku ikut kau pulang?"

"Kau tidak pulang, untuk apa pula berada di sini?"

Balas Touw Liong bertanya.

"Untuk apa? Kedudukan Hek-hong Giok-li di hadapan Kauwcu, merupakan satu-satunya pewaris yang akan meneruskan kedudukan Kauwcu di kemudian hari,"

Berkata Kim Yan sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Antara golongan baik dan golongan sesat ada perbedaan jauh sekali, kupikir kau adalah seorang keluaran dari golongan baik, bagaimana bisa menggabungkan diri dengan mereka?"

Bertanya Touw Liong cemas.

Enam orang yang mengikuti Kim Yan ketika mendengar ucapan Touw Liong itu, wajah mereka berubah semua, ketua golongan Swat-san Hwan-hiouw maju selangkah dan berkata kepada Kim Yan.

"Orang she Touw ini kalau memang masih tetap kukuh dengan pendiriannya sendiri, tidak perlu nona berlaku merendah terhadapnya. Aku si orang tua denan memberanikan diri hendak minta ijin untuk menuntut balas terhadap kematian suteku. Kuharap supaya nona suka mengabulkan permintaanku ini."

Selagi Kim Yan hendak menjawab, nyonya setengah umur Lie Cay Go sudah maju selangkah ke depan dan berkata.

"Tunggu dulu! Harap Hwan Ciangbunjin sabar dulu sebentar! Urusan harus ada urutannya yang mana harus lebih dahulu dan yang mana mesti belakangan. Permusuhan pertama orang she Touw ini adalah terhadap kami orang-orang dari perkampungan Hui-liong-chung. Kepala saudaraku yang kedua Lie Hui Pek ...."

Karena tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya, nyonya itu tidak melanjutkan ucapannya, sebaliknya tertawa dengan suaranya yang sangat aneh.

Kim Yan menganggukkan kepala ke arah Lie Sam-kow dan berkata kepadanya.

"Baiklah! Harap Nyonya Lie yang maju lebih dahulu!"

Lie Sam-kow unjuk hormat kepada Kim Yan. Begitu keluar dari rombongannya, ia telah menghunus pedang panjangnya, lalu berkata sambil menunjukkan pedangnya kepada Touw Liong.

"Orang she Touw, kau masih menunggu apa lagi? Lekas keluarkan senjatamu, nyonyamu tidak akan membunuh orang yang tak bersenjata."

Hwan-hiouw dengan perasaan tidak senang undurkan diri ke belakang Kim Yan. Touw Liong lalu maju selangkah, memberi hormat kepada Lie Sam-kow seraya berkata.

"Sam-kow sudah salah paham! Saudaramu bukan binasa di tanganku."

"Apa kau masih hendak menutupi perbuatanmu? Seorang laki-laki seharusnya berani berbuat berani bertanggung jawab. Batu giok Khun-ngo-giok yang didapatkan oleh saudaraku itu sudah menjadi pedang Khun-ngo-kiam, siapapun tahu bahwa kau orang she Touw pernah menggunakan pedang itu ...."

Ia lalu melirik kepada pedang Hok-mo-kiam di atas punggung Touw Liong. Touw Liong memberitahukan kepadanya.

"Pedang ini bukanlah pedang Khun-ngo-kiam. Saudaramu juga bukan aku yang membunuh!"

"Kalau begitu, siapa yang membunuh?"

Bertanya Lie Sam-kow dengan suara bengis.

"Sekarang ini aku masih belum tahu, hanya .... aku sudah berjanji kepada saudara Hui Hong, dalam waktu tiga tahun, aku pasti akan membikin terang peristiwa ini,"

Menjawab Touw Liong sambil menggelengkan kepala. Bab 51

"Kau jangan mimpi! Apa kau yakin masih bisa hidup tiga tahun lagi?"

Berkata Lie Sam-kow sambil tertawa dingin.

"Manusia hidup atau mati sudah digariskan oleh Tuhan. Selama aku masih hidup, sudah tentu aku akan menyumbangkan tenagaku sedapat mungkin untuk menyelidiki urusan ini."

"Tampaknya kau terlalu serius. Kau sebetulnya mau mengeluarkan senjatamu atau tidak?"

Bertanya Lie Samkow dengan suara marah.

Oleh karena diperlakukan kasar berulang-ulang oleh nyonya itu, bagaimanapun sabarnya Touw Liong juga tidak bisa mengalah lagi.

Lantas timbul perasaan marahnya.

Katanya sambil tertawa hambar.

"Untuk bertanding dengan Sam-kow, aku masih belum pikir untuk menggunakan pedang yang sekarang ada di atas punggungku ini!"

"Kau hendak bertanding dengan siapa baru mau mengeluarkan senjatamu?"

Bertanya Lie Sam-kow marah. Touw Liong diam, sejenak ia mengerutkan alisnya, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Jikalau aku merasa perlu untuk menggunakan, barulah aku menghunus senjataku ini."

Jawaban itu agak terpaksa, ia sendiri sebetulnya bermaksud baik, tak disangka telah membangkitkan amarah nyonya itu.

Tetapi ucapan yang sudah dikeluarkan, mana dapat ditarik kembali.

Tampaknya ucapan Touw Liong tadi tambah membangkitkan amarah Lie Sam-kow.

Lie Sam-kow semakin marah.

Ia tertawa dingin berulang-ulang, kemudian berkata.

"Kalau demikian katamu, kau sesungguhnya terlalu tidak pandang mata kepadaku si orang she Lie! Baiklah! Kita boleh mulai sekarang."

Touw Liong telah terdesak sehingga tidak dapat mundur lagi, terpaksa memberi hormat seraya berkata.

"Sam-kow, silahkan!"

Ia berdiri dengan sikap seenaknya, sedangkan Lie Samkow lalu menggerakkan pedang di tangannya.

Saat itu pedang tersebut menghembuskan angin hebat, begitu bergerak, nyonya itu sudah membuka dengan serangannya yang sangat ganas ditujukan ke depan dada Touw Liong.

Baik gerak tipunya maupun kekuatan tenaganya semuanya merupakan kepandaian dari golongan kelas tinggi, tetapi perempuan itu kini bertemu lawan berat seperti Touw Liong, sehingga dengan mudah serangan yang sangat ganas itu dapat dielakkan oleh Touw Liong.

Dengan sangat marah sekali Lie Sam-kow membentak secara kalap.

"Bocah, bagus sekali perbuatanmu! Kau sesungguhnya juga terlalu menghina diriku. Coba sekarang sambut seranganku lagi!"

Belum habis ucapannya, serangan pedangnya sudah sampai.

Serangannya itu kali ini demikian hebat, bahkan menggunakan gerak tipunya yang luar biasa anehnya.

Ujung pedang tampak menggetar, hingga menjadi gerakan beberapa puluh, setiap ujungnya mengancam tubuh Touw Liong.

Touw Liong terpaksa lompat mundur sejauh 7 kaki untuk membebaskan diri dari ancaman pedang, sementara mulutnya berseru.

"Sudah dua jurus! Aku si orang she Touw seharusnya memberikan kesempatan kepadamu tiga jurus ...."

Belum habis ucapannya, pedang panjang di tangan Lie Sam-kow dengan tiba-tiba telah melesat lagi ke arahnya.

Touw Liong sungguh tidak nyana Lie Sam-kow bisa menggunakan pedangnya untuk menyambit dirinya, hingga untuk sesaat ia agak gugup.

Tetapi sebagai seorang tokoh kenamaan, secepat kilat sudah harus dapat menyelesaikan dua soal.

Kesatu, untuk menjaga nama baiknya sendiri.

Dalam jurus ketiga ini seharusnya ia mengalah tetapi sambitan nyonya itu demikian hebat dan ganas.

Bila ia diam saja, sudah tentu berbahaya bagi dirinya.

Satu-satunya cara ialah bertindak dengan menempuh bahaya besar, dengan kepandaian ilmu silatnya yang tertinggi, hendak menyambut pedang yang disambitkan ke arahnya.

Kedua, memukul jatuh pedang itu dengan menggunakan ilmunya Thay-it Sin-jiauw, tetapi dengan demikian, nanti akan menjadi buah tertawaan orang lain.

Dalam waktu yang sangat singkat, akhirnya Touw Liong menetapkan suatu keputusan untuk mengambil tindakan dengan menanggung resiko untuk mengalah dulu dalam jurus ketiga ini.

Ia sengaja berlaku tenang, bahkan masih bisa tertawa terbahak-bahak, tetapi diam-diam dia sudah mengerahkan ilmu batinnya.

Liang-gie-sin-hoat.

Dalam waktu singkat, kedua ilmunya dikerahkan di tangan kanan, lima jari tangannya dipentang hendak menyambar pedang yang disambitkan oleh Lie Sam-kow.

Tindakannya itu sangat berbahaya sekali, sebab saat itu ujung pedang sudah tiba di depan dada Touw Liong terpisah sekira tidak lebih dari lima dim saja.

Lie Sam-kow adalah seorang tokoh rimba persilatan kenamaan.

Ia tahu benar bahwa ilmu Thian-seng-jiauw Touw Liong sudah terkenal di dalam rimba persilatan, sudah tentu ia tidak mau membiarkan pedang panjangnya tertangkap oleh anak muda itu, maka lalu menggerakkan tangannya dan menarik kembali hingga pedang itu bukannya maju sebaliknya malah mundur terbang kembali ke dalam tangan pemiliknya.

Kiranya, gagang pedang Lie Sam-kow telah diikat dengan sutas benang yang terbuat dari sutra alam.

Ujung yang lain berada di tangan Lie Sam-kow, maka ia dapat menggunakan untuk menyambit atau ditarik kembali dengan mudah.

Lie Sam-kow mempunyai julukan sebagai Iblis Malam, sudah tentu merupakan orang yang sangat kejam dan ganas.

Di waktu ia menyambitkan pedangnya tadi, orangnya juga lompat maju, hendak menyerbu Touw Liong.

Sebelum orangnya sampai, kakinya sudah keluar lebih dahulu.

Tangannya menarik kembali pedang panjang, sedang kakinya menyapu kepada Touw Liong.

Oleh karena kekuatan tenaga Touw Liong dipusatkan ke atas jari tangannya, maka ia tidak menduga Lie Sam-kow akan menyapu bagian bawahnya.

Hampir saja ia terkena tendangan.

Ia terkejut bukan main hingga keringat dingin mengucur keluar.

Masih untung kepandaian ilmu silatnya sudah mencapai taraf yang tak ada taranya, terhadap gerakan dari golongan sesat yang agak curang ini, ia tidak terlalu pandang mata, maka secepat kilat kakinya menjejak, dan tubuhnya melesat setinggi 4 kaki, dengan demikian ia telah berhasil mengelakkan serangan Lie Sam-kow.

Lie Sam-kow berkaok nyaring.

Pedang panjang di tangannya dilontarkan ke atas dan berkata sambil tertawa dingin.

"Kulihat apakah kau si bocah masih bisa loloskan diri dari seranganku ini?"

Memang benar.

Touw Liong yang badannya berada di tengah udara, selagi badannya itu melesat ke atas, pedang Lie Sam-kow sudah terlepas dari tangannya, dan ujung pedang waktu itu sudah mengancam telapakan kaki Touw Liong.

Untung serangan jurus ketiga itu sudah lalu, maka Touw Liong kini dapat melakukan serangan pembalasan dengan tangan kanannya dibalikkan, mengeluarkan serangan dari jari tangan hingga tangan kanan Lie Sam-kow yang menggenggam pedang, merasa kesemutan dan pedang yang dilontarkan ke atas tadi terus meluncur ke pinggir.

Dengan gerakannya itu, Touw Liong telah berhasil memukul Lie Sam-kow sehingga terpental mundur lima langkah.

Nyonya itu tampak sangat marah sekali.

Matanya terbuka lebar, nafasnya memburu.

Touw Liong dengan sikapnya yang sangat gagah berdiri tegak di tanah.

Kembali ia memberi hormat kepada Lie Sam-kow seraya berkata.

"Aku sesungguhnya agak kurang sopan, oleh karena kesalahan tangan, hingga membuat terbang pedangmu. Harap Sam-kow tidak berkecil hati."

Saat itu barulah Kim Yan menggapaikan tangannya.

Lie Sam-kow dengan sikap murung dan lesu, balik kembali ke belakang Kim Yan tanpa berkata apa-apa.

Selagi Kim Yan hendak membuka suara, ketua golongan Swat-san-pay Hwan-hiouw sudah lompat maju dan berkata kepada Kim Yan.

"Aku si orang tua tidak mengukur kekuatan tenaga sendiri, ingin menyambuti serangannya tiga jurus saja."

Kim Yan menganggukkan kepala menerima baik permintaannya. Hwan-hiouw berdiri tegak sambil membusungkan dada. Dua tangannya melakukan gerakan menyedot ke tengah udara, sedang mulutnya berkata.

"Orang she Touw, sekarang tidak perlu banyak bicara, sambutilah tiga kali seranganku."

Touw Liong menerima baik tantangan itu, katanya.

"Hari ini aku bisa belajar kenal dengan kepandaian ilmu serangan jari tanpa bayangan dari golongan Swat-san, juga tidak percuma perjalananku ini."

Hwan-hiouw tidak berkata apa-apa lagi.

Kedua tangannya melakukan suatu gerakan, membuat lingkaran di tengah udara, kemudian dengan tiba-tiba sepuluh jari tangannya melakukan gerakan menyentil, setelah itu mulutnya memperingatkan kepada Touw Liong.

"Bocah, sambutlah seranganku yang pertama!"

Suara hembusan angin menderu-deru.

Bayangan jari tangan Touw Liong yang bergerak, mengeluarkan dua macam ilmu yang sangat ampuh, melindungi sekujur tubuhnya sehingga seperti terhalang oleh selapis dinding yang tidak kelihatan.

Dengan mengikuti arah sambaran serangan tangan lawannya, ia menggerakkan badannya untuk mundur lima langkah.

Sambaran angin yang meluncur keluar dari jari tangan Hwan Hiouw melalui sampingnya, dan Touw Liong mengeluarkan nafsu perlahan.

"Jurus pertama!"

Hwan Hiouw tampaknya sangat marah.

Bekas luka-luka golok di mukanya tampak merah.

sepuluh jari tangan tangannya dirangkapkan lagi.

Orangnya lompat maju lima langkah untuk menyerang depan dada Touw Liong.

Touw Liong buru-buru mengerahkan kekuatan ke bagian depan dada untuk menyambut serangan lawannya.

Sesaat ia merasakan dadanya seperti digempur oleh semacam kekuatan tenaga yang sangat hebat.

"Jurus kedua!"

Serunya sekali lagi.

Ia tahu bahwa serangan ketiga Hwan Hiouw pasti akan dilontarkan dengan tenaga sepenuhnya.

Serangan itu pasti sangat hebat sekali.

Di luarnya Touw Liong tidak menunjukkan sikap takut.

Ia bersikap seperti sedang siap untuk menyambut serangan Hwan Hiouw, tetapi diam-diam ia sudah mengambil keputusan hendak memberi sedikit pelajaran kepada orang she Hwan itu.

Benar saja.

Hwan Hiouw yang sudah banyak pengalaman, dalam jurus kesatu dan kedua tadi ia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, sedangkan pada jurus ketiga ini ia telah menggunakan tenaga sepenuhnya melancarkan serangan dari jarak jauh.

Serangan yang keluar dari sepuluh jari tangan orang she Hwan itu dilancarkan berbagai jurus tetapi tujuannya satu, ialah depan dada Touw Liong.

Dengan demikian kekuatan jari tangan yang datang dari berbagai jurusan akhirnya berkumpul menjadi satu untuk menuju ke sasarannya.

Ini merupakan suatu pukulan dari gabungan 10 jari.

Apabila serangan itu mengenai sasarannya, sekalipun batu juga akan menjadi hancur lebur.

Touw Liong melihat lawannya telah turun tangan, secepat kilat badannya memutar, dan melompat sejauh lima kaki.

Diam-diam ia sudah melancarkan dua macam ilmunya yang sangat ampuh.

Disamping menyambut serangan jari tangan Hwan Hiouw tadi.

Ketika ia memutar tubuh, dia telah menggunakan kesempatan mana untuk menyedot tenaga Hwan Hiouw, hingga tubuh Hwan Hiouw bagaikan layangan yang putus talinya, tertarik oleh kekuatan tenaga dalam Touw Liong, dan Hwan Hiouw yang sedikitpung tidak menduga akan mendapat perlakuan demikian, tidak sanggup lagi mempertahankan kedudukannya, dengan terhuyung-huyung terjatuh sejauh tujuh-delapan langkah.

Hal ini merupakan suatu perbuatan yang sangat memalukan sekali.

Masih untung saat itu Kim Yan sudah keburu mengangkat tangannya, mengeluarkan kekuatan tenaga untuk menyanggah dirinya, barulah berhasil menahan jatuh badannya lebih jauh.

Jikalau tidak demikian, barangkali ia akan bergulingan di tanah.

Hwan Hiouw yang mendapat malu besar telah berubah marah, hingga wajahnya merah membara.

Sambil menuding Touw Liong, ia membentak dengan suara keras.

"Bocah! Keluarkan senjatamu. Aku si orang tua hendak belajar kenal dengan kepandaian ilmu pedangmu!"

Belum lagi Touw Liong menjawab, Kim Yan sudah menggerakkan tangannya, mencegah Hwan Hiouw. Katanya.

"Hwan cianpwe, tunggu dulu! Baiklah aku yang menghadapi sendiri!"

Pengalaman hebat Touw Liong dalam gua Hek-hongtong baru saja berhasil dilalui.

Tetapi belum lama ia keluar dari gua Hek-hong-tong, sudah berjumpa dengan Hek-hong Giok-lie Kim Yan, yang sedang memimpin 6 orang kuatnya untuk menyambut kedatangannya.

Dalam pertempuran tadi, pihak golongan Hek-hong telah terpukul mundur dua orang kuatnya.

Lie Sam-kow dan ketua Swat-san-pay dengan beruntun mendapat malu besar, hingga terpaksa mundur ke rombongannya.

Kini Kim Yan sudah maju sendiri.

Ia berdiri di hadapan Touw Liong dengan tidak menunjukkan sikap seperti dahulu, ia berkata.

"Suheng, kau sungguh hebat!"

Ucapannya itu sangat singkat, tetapi mengandung permusuhan, hingga bagi Touw Liong dirasakan tidak enak sekali. Ia terpaksa menjawab sambil tertawa kecil.

"Sumoy, kau harus mengerti, bukanlah suhengmu yang coba berlaku kurang ajar di sini. Sebetulnya adalah mereka sendiri yang bertindak keterlaluan."

"Tidak perlu banyak bicara. Sepatah kata saja sudah cukup. Kauwcu sudah menjanjikan aku akan menurunkan seluruh kepandaiannya dan kedudukannya, untuk memimpin rimba persilatan. Suheng akan membantu diriku, ataukah menentang? Seorang laki-laki kalau bertindak harus tepat, jawablah sepatah kata saja!"

Berkata Kim Yan yang tidak menghiraukan bujukan Touw Liong.

Touw Liong dan Kim Yan merupakan saudara seperguruan yang sejak masih kanak-kanak hidup bersamasama selama 10 tahun lebih.

Hubungan mereka sudah seperti saudara sendiri.

Selama 10 tahun lebih itu, Touw Liong belum pernah satu kali saja memperlakukan kasar terhadap adik seperguruannya itu.

Tetapi keadaan sekarang sudah berlainan.

Setelah Kim Yan terkena serangan ilmu beracun Hek-hong-im-kang, pikirannya menjadi berubah.

Touw Liong bermaksud hendak menolong Kim Yan, tetapi ia tahu apabila diutarakan maksudnya itu, berarti cuma-cuma saja, bahkan mungkin akan menyakiti hatinya.

Tetapi ia juga tidak boleh menolak kewajibannya, ia tidak menghiraukan itu semua, terpaksa menggertak gigi, dan air mata yang seharusnya mengalir keluar dari kelopak matanya, terpaksa ditelan kembali.

Sambil menahan mengucurnya air mata ia berkata.

"Sumoy, seorang yang menyadari sendiri bahwa dirinya sudah tersesat, saat ini kalau kau mau, waktunya masih belum terlambat. Kau tahu bahwa antara golongan baik dan golongan sesat itu merupakan dua golongan yang bertentangan satu sama lain, oleh karenanya, maka suhengmu agak berat untuk membantu kau."

Touw Liong tidak tega memandang sumoynya.

Ia tahu bahwa sumoynya itu pasti akan marah sekali, dan kemarahannya itu akan membawa akibat entah bagaimana nanti.

Tetapi urusan di dalam dunia ini kadang-kadang ada beberapa hal yang di luar dugaan manusia.

Apa yang diduga oleh Touw Liong tadi ternyata tidak terbukti.

Begitu Touw Liong habis bicara, Kim Yan malah mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

Setelah tertawa puas, dengan tiba-tiba ia menghentikan tertawanya, wajahnya tampak dingin, dan kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulutnya bagaikan anak panah yang menancap di ulu hati Touw Liong.

Katanya.

"Atas perintah Kauwcu, apabila Hek-hong Kim-liong berani menentang kehendak Kauwcu, maka aku ada hak untuk menangkap kau guna diserahkan kepada Kauwcu ...."

Ucapan yang terakhir itu sengaja diperpanjang. Selanjutnya ia berkata lagi dengan alis berdiri.

"Seandainya aku tidak bisa membawa kau ke depam Kauwcu dalam keadaan hidup, juga hendak menyerahkan kepalamu untuk memenuhi tugasku."

Begitu mendengar ucapan itu, 6 orang yang berada di belakang Kim Yan segera bergerak semua.

Dalam waktu sekejab saja, 6 orang itu masing-masing sudah mengambil tempat sendiri-sendiri untuk mengurung Touw Liong di tengah-tengah.

Sedangkan anak laki tanggung Ca Thian Lok yang tadi berlaku sangat hormat kepada Touw Liong, waktu itu juga menunjukkan sikapnya yang masih kekanak-kanakan, dengan pedangnya ia hendak menusuk ketiak kiri Touw Liong.

Berbagai senjata, di antaranya ada golok, pedang, kaitan, tongkat, dan lain-lainnya telah ditujukan kepada Touw Liong dari pelbagai jurusan.

Siapa saja, di antara enam orang itu, sudah terhitung tokoh kuat dalam rimba persilatan.

Teristimewa Pek-bie Hwesio atau padri alis putih.

Senjata rotan kuno yang sudah tua umurnya itu yang digenggam dalam tangannya, yang mengandung maksud permusuhan paling dalam.

Kim Yan perlahan-lahan menarik dirinya, keluar dari kalangan.

Ia sengaja membakar hati Lie Sam-kow dan ketua golongan Swat-san-pay, tetapi sudah terkalahkan oleh Touw Liong lebih dulu.

Selanjutnya kalau masih ingin tancap kaki di rimba persilatan, inilah merupakan suatu kesempatan yang baik bagi diri mereka untuk menebus kekalahan tadi.

Maka dua orang itu merasa seperti dibakar, masingmasing menggigiti bibir.

Hwan Hiouw menggerakkan jari tangannya.

Dari situ keluat hembusan angin dingin.

Lie Sam-kow juga sudah mulai menghunus pedangnya.

Sambil menggertak gigi Hwan Hiouw berkata lebih dahulu.

"Bocah she Touw, kami semua sudah mengeluarkan senjata, mengapa kau masih bersikap sombong, tidak mau mengeluarkan senjatamu?"

Mata Touw Liong menyapu ke wajah orang-orang di sekitarnya, lalu tertuju kepada wajah Ca Thian Lok yang masih kekanak-kanakan, kemudian menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata kepada diri sendiri.

"Apakah aku tega menurunkan tangan kejam terhadap anak ini? Apalagi .... antara kita tidak ada permusuhan apa-apa."

Kembali ia mengeleng-gelengkan kepala dan berkata lagi kepada diri sendiri sambil menghela nafas.

"Begitu pedang Hok-mo-kiam ini kugunakan untuk menghadapi kawanan iblis itu, mereka tidak mungkin lolos dari tanganku. Tetapi bocah ini .... aku seharusnya tidak boleh bertindak sama dengan yang lainnya. Biarlah aku melindunginya jangan sampai ia terluka oleh pedangku."

Touw Liong mengerti bahwa pada saat seperti itu ucapan apa saja tidak ada artinya bagi mereka.

Maka ia lalu menghunus pedangnya yang berkilauan.

Si imam kurus ketika menampak pedang itu hatinya tergerak.

Saat itu laluberkata dengan sikap menghina.

"Dahulu di kalangan kang-ouw orang pada memuji kau sebagai seorang laki-laki jantan, tetapi hari ini aku melihat senjata di tanganmu kiranya adalah senjata milik Thian-sim totiang dari partai Cheng-sia-pay. Kalau demikian, kau ternyata bukan seorang jagoan yang tulen! Kiranya seorang ...."

Ngo-yang masih belum mau mengatakan ucapan yang tidak sopan, maka lalu berhenti. Tetapi Hwan Hiouw telah menyambungnya dengan suara dingin.

"Hanya seorang yang mendapat nama kosong belaka."

Touw Liong tertawa terbahak-bahak, tidak menggubris ucapan mereka. Dengan menggerakkna pedang Hok-mokiam di tangannya, ia berkata.

"Aku orang she Touw berkat kasih sayang para locianpwe rimba persilatan, di dunia kang-ouw mendapat sedikit nama. Tentang namaku ini kosong atau berisi, semuanya tergantung dari penilaian sahabat-sahabat rimba persilatan. Jikalau kau kira pedang di tanganku ini adalah pedang milik Thian-sim totiang, itulah sama sekali tidak benar. Meskipun pedang ini bentuknya mirip dengan pedang yang berada di tangan Thian-sim, tetapi pedang ini adalah pedang Hok-mo-kiam yang jantan."

"Dan pedang yang lain itu?"

Bertanya si imam kurus Ngo-yang.

"Pedang itu juga pedang Hok-mo-kiam, tetapi adalah pedang Hok-mo-kiam dari jenis betina."

Ketika mendengar ucapan itu Kim Yan lalu berkata.

"Ya, benar! Kauwcu memang pernah kata bahwa di dalam perguruannya ada sebilah pedang Hok-mo-kiam yang jantan. Kabarnya ditanam di dalam gunung ini. Kauwcu pernah mencarinya beberapa puluh tahun lamanya, tetapi hingga saat ini belum pernah berhasil menemukan."

"Benar. Pedang ini kudapatkan dari sebuah gua rahasia di dalam gunung ini,"

Berkata Touw Liong sambil menganggukkan kepala.

"Di mana letak gua itu?"

Tanya Kim Yan.

"Gua itu letaknya di atas puncak gunung itu,"

Jawab Touw Liong sambil menunjuk ke puncak gunung yang diliputi oleh awan.

"Puncak gunung itu bentuknya sangat aneh, siapapun tidak dapat naik ke atasnya,"

Berkata Kim Yan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Meskipun tidak bisa naik, tetapi bisa dicapai melalui sebuah jalan rahasia."

"Jalan rahasia?"

Tanya Kim Yan heran.

"Di mana letaknya jalan rahasia itu?"

"Dia tahu,"

Jawab Touw Liong sambil menunjuk dengan pedangnya kepada Pek-bie Hwesio yang saat itu wajahnya sudah menjadi pucat.

"Kau tahu?"

Bertanya Kim Yan kepada Pek-bie dengan sikap dingin. Pek-bie cuma menjawab.

"Lolap ...."

Dengan muka pucat dan suara gelagapan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, tidak bisa meneruskan lagi. Touw Liong mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Bagaimana kau mengatakan tidak tahu? Kemarin malam sebelum aku masuk ke jalan rahasia itu, bukankah sudah kau hadiahkan dengan dua butir batu?"

Pek-bie segera sadar. Katanya sambil menganggukkan kepala.

"Lolap tahu! Lolap mengerti! ...."

"Mari kau ajak aku melihat!"

Berkata Kim Yan dengan suara bengis.

"Lolap menurut,"

Menjawab Pek-bie sambil memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya.

Kemudian ia menarik senjata rotan kunonya, setelah itu ia berjalan lebih dahulu menuju ke tempat di mana terdapat danau.

Kim Yan lalu memberi perintah kepada Hwan Hiouw.

"Siaolie akan pergi ke sana untuk mengurus sedikit urusan. Urusan di sini semuanya kuserahkan kepada Hwan Cianpwe yang menyelesaikan."

Hwan Hiouw menerima baik.

Sambil memberi hormat, mengawasi Kim Yan hingga menghilang ke balik rimba lebat.

Sewaktu Kim Yan berlalu, ia sedikitpun tidak memperdulikan sikap Touw Liong.

Sikapnya waktu itu seolah-olah tidak pernah ada hubungan ikatan saudara seperguruan dengan pemuda itu, hingga Touw Liong yang menyaksikan perubahan sikap saudara seperguruannya ini, diam-diam menghela nafas panjang dan berkata kepada diri sendiri.

"Sumoyku kini rela bekerja untuk Hek-hong Kauwcu. Semua itu disebabkan karena sifatnya yang semula sudah dikaburkan oleh racun Hek-hong-im-kang Panji Wulung Wanita. Baiklah kulihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya."

Kemudian ia berkata kepada Hwan Hiouw dan lainlainnya.

"Tuan-tuan adalah tokoh-tokoh kenamaan di rimba persilatan, di antaranya bahkan merupakan ketua dari partai besar, tetapi dengan cara bagaimana tuan-tuan jadi rela menyediakan tenaga bagi seorang iblis wanita yang hendak menjagoi rimba persilatan? Apakah tuan-tuan tidak takut akan menjadi buah tertawaan sahabat-sahabat rimba persilatan?"

"Jangan banyak bicara. Siapakah yang membunuh suteku?"

Balas bertanya Hwan Hiouw sambil tertawa masam.

"Sutemu betul akulah yang membunuhnya. Tetapi kau jangan lupa bahwa sutemu Kow Cin Seng denganku ada permusuhan besar, karena ia dahulu telah membinasakan ibuku,"

Menjawab Touw Liong dengan suara gusar. Ngo-yang lalu bertanya.

"Kematian suhu, ialah mati di bawah serangan tanganmu Thian-seng-jiauw, dan susiokku telah terluka parah hingga sekarang masih belum sembuh. Apakah semua itu juga bukan gara-gara perbuatanmu?"

Bab 52 TOUW LIONG lekas membantah tuduhan itu, katanya.

"Suhumu terluka di bawah serangan Thay-it Sin-jiauw yang dilakukan oleh Panji Wulung Wanita, bukan mati. Sementara tentang diri San-hong Tojin ... dia sama juga dengan Kow Cin Seng, yang menjadi salah seorang musuh besarku karena ia dahulu telah membunuh ayahku. Kalau aku belum sampai binasakan kepadanya, itu masih terhitung enak baginya."

Sementara itu Lie Sam-kow juga membentak sambil menuding dengan pedang.

"Orang she Touw, kau jangan coba putar lidah. Hari ini meskipun kau mencoba memungkiri semua perbuatanmu, tetapi siapa yang mau percaya? Sebaiknya lekas serahkan nyawamu!"

Bu-sim Hwesio dari gereja Siao-lim yang sejak tadi terus tidak bersuara, saat itu juga membuka mulut.

"Hwan-heng, kita mau tunggu apa lagi? Lima orang bersatu hati, kita bisa bereskan bocah ini. Mari!"

Jilid 20 Lie Sam-kow adalah orang yang pertama-tama sekali menyatakan setuju atas usul itu.

Sedangkan Ngo-yang tojin hanya menganggukkan kepala.

Begitulah lima orang telah maju berbareng, mengurung Touw Liong di tengah-tengah.

Hwan Hiouw pentang sepuluh jari tangannya membentuk satu lingkaran, dengan kesepuluh jari itu menyerang jalan darah di depan dada Touw Liong.

Lie Sam-kow juga telah menggerakkan pedangnya, maju menyerbu pemuda itu.

Imam kurus Ngo-yang tojin dengan ilmu pedang yang mempunyai banyak perubahan gerak yang aneh juga sudah bergerak menikam.

Pek-bie Hwesio dengan tongkat di tangan, sudah menggempur batok kepala Touw Liong!

Hanya Ca Thian Lok seorang yang masih kekanakkanakan yang paling bersimpatik kepada Touw Liong, dalam hati sebetulnya tidak setuju dengan cara bertempur main keroyok semacam itu, namun dengan apa boleh buat juga telah mengikuti yang lain-lain, menyodokkan pedangnya dengan gerakan pura-pura menyerang.

Touw Liong melihat lima orang itu.

Empat di antaranya telah menggunakan serangan ganas, maka buru-buru menggunakan ilmunya Liang-gi-sin-kang yang sudah disiapkan sejak tadi.

Pedang panjangnya digerakkan.

Pada serangan itu ada terkandung ilmu pedang Tay-lo-kim-kongkiam-hoat.

Dua jenis ilmu dikerahkan kepada satu ujung pedang, sudah barang tentu kekuatannya jadi berlipat ganda.

Sesaat lalu terdengar suara beradunya senjata tajam.

Kecuali pedang yang masih dipegang oleh Ca Thian Lok, senjata-senjata kawannya yang lain sudah terbang ke angkasa!

Kalau cuma begitu saja masih belum berarti apa-apa.

Lima orang lawannya itu telah terpental oleh gempuran ilmu Liang-gie-sin-kang.

Masing-masing terpental mundur tiga langkah, hanya Ca Thian Lok yang memang tiada maksud sungguh-sungguh untuk menyerang Touw Liong, sudah mundur lebih dahulu sejauh tujuh-delapan langkah.

Kecuali ia, tiga lawan yang lainnya, semuanya terpental dalam keadaan terluka parah.

Keadaan Hwan Hiouw lebih-lebih menggenaskan.

Sebab oleh menggunakan serangan dengan jari tangan yang dianggap sangat ampuh, serangan itu menggunakan kekuatan tenaga dalam sangat banyak, maka akibat gempuran Touw Liong tadi juga mendapat luka yang paling parah, maka saat itu selain sudah mundur sejauh tiga langkah, juga sudah mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.

Ca Thian Lok berdiri kesima mengawasi Touw Liong, lama tidak bisa membuka suara.

Touw Liong mengawasi lima orang itu sejenak, kemudian berkata.

"Aku orang she Touw tidak mau berbuat keterlaluan. Siapa yang benar siapa yang salah, di kemudian hari pasti diketahui orang. Sekarang terserah kepada tuan-tuan sekalian! Permusuhanku dengan Bu-sim taysu selewatnya hari ini, masih perlu akan kuperhitungkan lagi."

Setelah mengucap demikian, dengan langkah lebar ia berlalu meninggalkan lawan-lawannya.

Lima orang itu pada berdiri melongo dengan hati kuncup.

Siapapun tidak ada yang berani mengeluarkan suara untuk menahan berlalunya Touw Liong.

Siapapun tidak ada yang berani mengambil tindakan.

Mereka benar-benar sudah tunduk kepada Touw Liong maka membiarkan anak muda itu berlalu tanpa mendapat rintangan.

Touw Liong yang berada dalam gua selama satu hari satu malam dalam keadaan berdiri, ternyata tidak sia-sia, sebab setelah keluar dari gua itu, kekuatan tenaga dalamnya telah mendapat kemajuan sangat pesat, apalagi ia sudah memusatkan dua jenis ilmunya yang sangat ampuh ke ujung pedangnya.

Tidaklah heran kalau kekuatan tenaganya itu bertambah demikian hebat, seolah-olah malaikat dari kahyangan, hingga semua lawannya sudah ditundukkan tanpa bisa bergerak sedikitpun.

Setelah Touw Liong berlalu, keadaan di situ tampak kacau balau.

Lima orang tadi cuma bisa menggerutu sambil mengeleng-gelengkan kepala.

Lima pasang mata cuma bisa mengawasi berlalunya Touw Liong tanpa berdaya.

Pemuda itu juga menghilang ke dalam rimba di mana tadi Kim Yan telah menghilang.

Danau tempat di mana Touw Liong hampir menemukan bencana, tapi kemudian ternyata merupakan jalan rahasia untuk mencapai gua rahasia, kini keadaannya telah kering sehingga tampak dasarnya.

Air mancur yang mengalir turun dari atas tebing tinggi tampak mengalirkan airnya sangat lambat.

Di tepi danau, di atas pohon Yangliu, keadaannya masih sama.

Di situ terikat dengan seutas rotan kuno, di bawahnya sepotong masih tergantung bergoyang-goyang.

Touw Liong tahu, pada waktu belum lama berselang, ada orang yang turun ke dalam danau dengan menggunakan oyot rotan itu.

Tak usah dikata lagi, bahwa orang yang turun ke dalam danau itu, pasti Kim Yan.

Mungkin juga bersama dengan Pek-bie hwesio.

Ia juga mengerti bahwa terjunnya Kim Yan ke dalam danau itu, maksud dan tujuannya ialah untuk mencari gua Hek-hong-tong.

Kalau mengingat bahwa jalan menuju ke gua Hek-hongtong itu sudah terhalang, Touw Liong merasa sangat menyesal.

Ia menyesal sudah menerangkan adanya gua itu, sehingga menimbulkan keinginan Kim Yan dengan menempuh bahaya besar.

Oleh karenanya, maka ia diam-diam khawatirkan keselamatan adik seperguruannya itu, terutama kalau ia ingat pesawat-pesawat rahasia dengan ancaman anak panah yang berada di dalam gua.

Dengan tiba-tiba ia berteriak sendiri.

"Celaka! Aku harus menolong dia!"

Ketika ia mengambil keputusan itu, dan selagi hendak turun melalu oyot rotan itu, di atas kepalanya tiba-tiba terdengar suara nyaring.

Gerujukan air dari tempat setinggi sepuluh tombak lebih telah mengalir turun dengan kerasnya.

Dalam waktu yang sangat singkat, air itu sudah memenuhi setengah danau, hingga dinding-dinding danau itu sudah terendam setinggi lima kaki lebih.

Menyaksikan terjadinya perubahan tiba-tiba itu, Touw Liong pucat seketika.

Ia yang masih mengingat tali persaudaraannya dengan Kim Yan, tanpa disadari mulutnya sudah berteriak-teriak memanggil nama sumoynya itu.

Namun panggilannya itu hanya menimbulkan echo yang menggema di tempat yang sunyi itu, sedangkan air terus mengalir turun perlahan-lahan hendak memenuhi danau itu.

Air mata membasahi matanya.

Ia sedih memikirkan sumoynya yang dianggapnya pasti mendapat kecelakaan di dalam gua.

"Siapakah yang membuka pancuran air itu?"

Demikianlah suatu pertanyaan yang terlintas di dalam otaknya.

Dengan suatu gerakan, Touw Liong sudah melayang ke atas tebing.

Di atas tebing itu ia mulai pasang mata.

Di tempat yang jauh, di bagian mengalirnya air itu, tampak sesosok bayangan orang yang lari bagaikan terbang.

Touw Liong segera mengeluarkan suara untuk menegurnya.

"Bangsat, aku semula hendak membiarkan hidup beberapa hari untuk menunggu engkoku yang akan membunuh kau, dengan tangannya sendiri. Tak kusangka kau .... Hem! Hemm! Hari ini barangkali sudah tiba waktumu untuk mati!"

Orang yang lari bagaikan terbang itu adalah seorang imam berwajah merah berkumis pendek.

Ia mengenakan jubah warna ungu.

Imam itu sekalipun dibakar menjadi abu, Touw Liong juga masih dapat mengenali bahwa ia adalah Thian-sim tojin, pengkhianat partai Cheng-sia-pay.

Thian-sim dengan perasaan girang lari sambil menundukkan kepala, tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Ketika ditegur, segera mengangkat kepala.

Begitu melihat bahwa orang yang menegurnya itu adalah musuh bebuyutannya, bukan kepalang terkejutnya, hingga saat itu semangatnya seperti terbang.

Ia lalu memperlambat langkahnya, hampir saja tidak sanggup mengangkat kaki lagi.

Thian-sim dalam keadaan bengong, dengan wajah pucat pasi mengawasi Touw Liong.

Touw Liong bertanya kepadanya dengan suara keras.

"Di mana sumoyku?"

"Di bawah. Ia sedang turun mencari barang pusaka,"

Menjawab Thian-sim sambil menunjuk ke danau. Touw Liong kembali menunjuk air yang mengalir dari atas tebing, dan bertanya lagi kepadanya.

"Kaukah, yang membuka bendungan air itu?"

"Ya .... benar aku yang membuka ...."

Menjawab Thiansim dengan suara gugup. Tetapi kemudian ia menambahkan keterangannya.

"Tetapi itu bukanlah atas kemauanku sendiri, aku hanya berbuat menurut perintah saja."

"Siapa yang memerintahkanmu?"

Sebelum Thian-sim menjawab, suara yang kedengarannya sangat dingin kembali terdengar dari atas pohon cemara.

"Aku yang memerintahkannya!"

Suara itu sudah tidak asing lagi bagi telinga Touw Liong!

Ketika ia mendongak ke atas, di atas pohon setinggi kirakira 8 tombak itu, tampak berdiri seorang perempuan aneh mengenakan kerudung muka.

Ia berdiri dengan satu kaki di atas pohon, tangannya memegang sebatang tongkat, sepasang matanya ditunjukkan ke bawah mengawasi Touw Liong dengan sikap marah.

Dalam hati Touw Liong agak terkejut.

Sambil mendongakkan kepala ia bertanya kepada perempuan itu yang bukan lain daripada Panji Wulung Wanita adanya.

"Mengapa kau buka bendungan air itu dan merendam sumoyku?"

Panji Wulung Wanita dengan suatu gerakan yang manis melayang turun ke hadapan Touw Liong, kemudian berkata kepadanya dengan nada suara dingin.

"Di atas dirinya aku telah menggunakan pikiran dan tenaga yang tidak sedikit. Bagaimana aku harus membinasakan kepadanya dengan merendamnya di dalam danau? Aku hanya mengurung ia dalam gua untuk sementara, supaya ia yang masuk ke dalam gua Hek-hongtong nanti membocorkan rahasia, dan setelah aku menyelesaikan semua urusan penting yang sedang kuhadapi, barulah akan mengajak ia bersama-sama masuk ke dalam gua untuk mencari barang pusaka."

"Apakah kau tidak takut dengan membuka bendungan air itu bisa merendam ia sehingga ia tidak bisa keluar dari dalam danau?"

"Tentang ini kau jangan kuatir, dia tidak akan mati oleh karena terendam air, sebab hari ini pagi-pagi sekali aku sudah pernah turun ke bawah untuk melihat gua itu, di atasnya masih ada sebuah tempat kosong. Asal aku mengendalikan sedikit mengalirnya air dari atas, dengan merendam sebagian kecil saja, ia tidak akan terendam oleh air. Touw Liong pikir bahwa keterangan itu memang ada benarnya, maka perasaan khawatirnya hilang sebagian. Sementara Panji Wulung Wanita sudah mengajukan pertanyaan dengan sikap dingin.

"Sekarang aku hendak tanyakan kepadamu dalam dua soal. Kesatu, kau sebetulnya mau mengikuti kehendakku atau tidak? Kedua, kabarnya kau pernah masuk ke dalam gua Hek-hong-tong. Berapa banyak benda pusaka di dalam gua yang sudah kau ambil?"

Touw Liong tertawa terbahak-bahak, kemudian baru menjawab.

"Aku si orang she Touw adalah seorang laki-laki sejati, bagaimana aku harus minta perlindungan dari seorang wanita? Apalagi dengan tujuan yang tidak suci. Orangorang yang kau terima menjadi anak buahmu, jikalau bukan kaum pengkhianat dari partai-partai besar, ialah orangorang yang sudah mendapat nama tidak baik dalam rimba persilatan. Apakah dengan perbuatanmu ini kau tidak takut mengotori nama baik Cowsumu, Hek-hong Lojin?"

"Hek-hong Lojin?"

Demikian Panji Wulung Wanita mengulangi ucapan itu yang kemudian terbenam dalam pikirannya sendiri. Setelah itu ia bertanya pula.

"Apakah sucowku itu adalah Hek-hong Lojin?"

Touw Liong mengangguk. Panji Wulung Wanita itu bertanya pula.

"Bagaimana kau tahu?"

"Di dalam gua Hek-hong-tong, aku telah membaca tulisan surat yang ditinggalkan oleh Cowsumu."

Panji Wulung Wanita agaknya terkejut mendengar jawaban itu, katanya.

"Anak busuk, kau masih belum menjawab pertanyaanku yang kedua tadi."

Touw Liong yang tidak biasa membohong, mendengar ucapan itu lalu menjawab dengan suara lantang.

"Sebilah pedang Hok-mo-kiam yang jantan."

Panji Wulung Wanita lalu mengulurkan tangannya seraya berkata.

"Perlihatkan kepadaku!"

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Tidak bisa! Pedang ini adalah pemberian Hek-hong Lojin Kie-liong si orang tua belum meninggalkan pesan padaku supaya pedang ini diserahkan kepada murid golongannya, bahkan sebaliknya, ia suruh aku dengan pedang ini harus melakukan perbuatan baik, membasmi kawanan penjahat di dalam rimba persilatan, mencegah anak murid golongan Hek-hong melakukan kejahatan di dunia Kang-ouw."

Panji Wulung Wanita semakin marah mendengar jawaban demikian. Dengan nada suara dingin ia membentak.

"Bocah, kau jangan terlalu takabur! Ucapanmu ini tampaknya hebat sekali, tetapi kau mengucapkan perkataan itu apakah tidak merasa malu terhadap aku si orang tua? Hari ini, apabila kau tidak menunjukkan surat peninggalan Cowsu kepadaku, aku tidak akan membiarkan kau keluar dari sini dalam keadaan hidup."

Touw Liong juga lantas marah diperlakukan demikian. Katanya dengan suara gusar.

"Mati! Mati! Entah sudah berapa kali kau kata aku harus mati? Tetapi kau lihat, sampai hari ini apakah aku si orang she Touw benar-benar seperti katamu tadi, sudah mati?"

Panji Wulung Wanita memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang sangat tajam. Katanya dengan bangga.

"Di atas gunung Hek-hong-san ini hanya akulah yang berkuasa. Barang siapa yang naik ke atas gunung Hekhong-san, tidak peduli siapa orangnya kalau aku menghendaki ia mati, maka ia harus mati. Kau terhitung apa? Kau hanya salah seorang murid dalam golonganku. Kalau aku menghendaki kematianmu, bukankah itu sangat mudah sekali?"

Touw Liong yang mendengarkan ucapan itu alisnya berdiri. Selagi hendak balas memaki, dari atas kepalanya tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, kemudian disusul oleh kata-katanya.

"Ha ha! Nenek-nenek, sungguh sombong kau!"

Touw Liong mendongakkan kepala.

Di ujung atas sebuah pohon kuno yang lain, tampak berdiri seorang imam tua yang usianya sudah lanjut, tetapi sikapnya agung, sedang Panji Wulung Wanita yang mendengar ucapan itu tampak sangat marah, hingga rambutnya yang putih pada berdiri.

Katanya sambil tertawa.

"Imam tua, hari itu masih kuampuni jiwamu tidak kubunuh mati. Tetapi hari ini kau telah datang sendiri untuk mengantarkan jiwa. Mau tak mau aku harus mengiringi kehendakmu."

Imam tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Baik! Baik! Pikiran kita hari ini serupa. Aku juga justru hendak mengiringi kehendakmu."

Tanpa banyak bicara lagi Panji Wulung Wanita melesat tinggi ke atas pohon.

Orangnya belum sampai, tongkatnya sudah bergerak lebih dahulu untuk menyerang pohon dimana ada berdiri imam tua tadi.

Sungguh aneh.

Begitu tongkat Panji Wulung Wanita digerakkan, imam tua tadi lalu melakukan suatu gerakan jumpalitan, dari atas pohon melayang turun ke bawah, terus meluncur ke dalam danau!

Selama tubuhnya meluncur turun, imam tua itu mulutnya terus berteriak-teriak.

"Celaka! Tolong! Hari ini benar-benar aku harus mampus!"

Panji Wulung Wanita segera menjawab dengan suara nyaring.

"Lebih cepat kau mati, lebih cepat menitis lagi itu ada lebih baik. Seorang tua bangka seperti kau ini, tidak perlu berdiam lama-lama di dalam dunia ini, yang berarti hanya mencelakakan diri orang lain saja."

Touw Liong yang menyaksikan caranya imam itu meluncur turun seperti tidak dibuat-buat, seolah-olah benarbenar telah terkena serangan Hek-hong-im-kang Panji Wulung Wanita itu.

Maka ia anggap bahwa kalau imam tua itu terjatuh ke dalam danau pasti akan segera melayang jiwanya.

Touw Liong yang berhati baik, sudah tentu tidak tega menyaksikan kematian imam yang tidak berdosa itu, apalagi imam tua itu tampaknya orang dari golongan baikbaik.

Tergerak hati Touw Liong.

Badannya melakukan gerak setengah memutar, lalu melayang ke tepi danau, mengulurkan tangannya untuk menyambar imam yang meluncur turun itu.

Jubah imam tua itu telah tersambar olehnya dan imam itu berputaran di sekitar Touw Liong, kemudian karena jubah bagian bawahnya yang kesambar oleh tangan Touw Liong robek sepotong, hingga tubuh imam itu meluncur terus bagaikan anak panah, seolah-olah terlempar dari tangan Touw Liong sejauh tujuh-delapan tombak, dan secara kebetulan sekali meluncur ke tengah-tengah danau.

Imam tua itu lalu berseru sambil mendelikkan matanya.

"Bocah she Touw, apakah kau sengaja berbuat begitu supaya aku si imam tua ini lekas mati? Mengapa kau tidak menyambitkan aku ke arah lain, sebaliknya malah kau lemparkan aku ke tengah-tengah danau? Tidak tahukah kau kalau aku si imam tua ini tidak bisa berenang? Biar aku meminum sepuas-puasnya air danau?"

Touw Liong dalam hati merasa menyesal, tetapi imam tua itu dengan tiba-tiba melayang ke pohon Yangliu.

Satu kaki menginjak potongan ranting pohon Yangliu di tengah-tengah danau, dengan menggunakan kekuatan tenaga di kakinya, badannya melesat sejauh 10 tombak lebih.

Touw Liong yang menyaksikan perbuatan imam tua itu, tanpa dirasa telah menarik nafas lega, dan menyeka keringat dingin yang telah membasahi sekujur tubuhnya.

Saat itu, satu bayangan lain hampir menyerempet tubuh Touw Liong, melesat untuk mengejar imam tua itu.

Bayangan itu adalah bayangan Panji Wulung Wanita yang hendak mengejar imam tua tadi.

Panji Wulung Wanita dengan suaranya yang nyaring berkata.

"Imam tua, jikalau kau tidak meninggalkan barangmu, lihat saja! Nanti, bila sudah kucandak kau, lihat saja aku tembusi tidak ulu hatimu sehingga menjadi berlubang!"

Touw Liong merasa heran.

Entah barang apa yang dimaksudkan oleh Panji Wulung Wanita itu.

Maka ia lalu tujukan matanya kepada diri imam tua itu.

Begitu melihat, bukan kepalang terkejutnya Touw Liong, sebab benda yang dimaksudkan oleh Panji Wulung Wanita tadi, dan yang kini berada di tangan imam tua itu, ternyata adalah sebilah pedang panjang yang berkilauan!

Ia buru-buru meraba pedang di atas punggungnya.

Ternyata pedang itu sudah tidak ada!

Kiranya, selagi mengitari tubuhnya imam tua tadi sudah menjambret dan membawa kabur pedang pusakanya itu.

Sesaat ia menjadi cemas, maka setelah mengeluarkan siulan nyaring, ia sudah bergerak hendak mengejar.

Tetapi ketika matanya tertuju ke tengah danau, diamdiam ia mengeluh, sebab musuh besarnya Thian-sim tojin tadi ternyata sudah kabur entah kemana.

Touw Liong lalu mengerahkan kekuatan tenaganya naik ke atas tebing.

Dengan sekali gerak ia sudah berada di bagian atas di mana air tadi mengalir turun.

Dengan kedua tangannya ia lalu melintangkan lagi batu besar ke tengah sungai.

Oleh karena air yang di atas telah terbendung, air yang mengalir turun juga jadi berhenti, dengan demikian danau itu sudah tentu tidak akan meluap terus.

Setelah membendung air terjun itu, Touw Liong tidak membuang waktu lagi terus lari mengejar si imam tua.

Tapi waktu itu Panji Wulung Wanita sudah lebih dulu mengejar sampai sejauh dua puluh pal lebih.

Touw Liong kini telah kehilangan sebilah pedang, tetapi sebaliknya telah berhasil menolong jiwa adik seperguruannya yang jadi tidak akan terendam lagi oleh air terjun.

Pedang pusaka itu baginya boleh dikata tidak berarti besar, tetapi ia masih kuatirkan juga barang penting itu akan terjatuh di tangan Panji Wulung Wanita, sebab jikalau telah terjadi hal demikian, itu berarti macan bertambah sayap, entah berapa banyak ancaman lagi bagi rimba persilatan di kemudian hari.

Tetapi pedang itu kini terjatuh ke tangan imam tua tadi.

Apakah tidak akan membahayakan rimba persilatan?

Hal ini juga masih belum diketahui.

Dari golongan mana imam tua itu?

Mengapa belum pernah terdengar ada orang menyebutkan bahwa dalam rimba persilatan ada seorang imam yang berkepandaian sedemikian tinggi?

Touw Liong sambil lari, otaknya terus dikerjakan memikirkan diri imam tua itu.

Ia coba mengingat-ingat beberapa tokoh tingkatan tua yang berdandan demikian, siapakah kiranya.

Semula ia coba mencari-cari dari tujuh pahlawan Butong-pay, usahanya itu telah mengejutkan kepadanya, sebab dalam ingatannya di antara tujuh pahlawan Butong itu, Hian-kie-cu yang justru wajahnya dan dandanannya mirip dengan imam itu.

Yang lebih jelas memberi petunjuk kepadanya ialah cara-caranya yang suka bersenda-gurau dan mempermainkan orang.

Dengan adanya pendapat itu, Touw Liong lalu berteriak sendiri, dan mengejar lebih cepat.

Dengan munculnya Hian-ki-cu, kini baginya bukan hanya persoalan sebilah pedang Hok-mo-kiam itu saja, sebab di samping pedang, masih ada persoalan kematian suhunya sendiri, yang diduga binasa di tangan Hian-kie-cu.

Dengan susah payah Touw Liong mencoba memikirkan, tetapi bagaimanapun juga ia tidak bisa menemukan jawabannya, apa sebab Hian-kie-cu perlu turun tangan membunuh suhunya Kiu-hoa Lojin?

Pikiran lain membuat pusing kepala Touw Liong, sebab seorang yang sudah mati beberapa puluh tahun yang lalu, mungkinkah bisa kembali hidup?

Benarkah Hian-kie-cu adalah seorang yang sangat misterius itu?

Touw Liong hanya pusatkan perhatiannya dalam usahanya mengejar imam tua itu.

Ia sendiri juga tidak tahu harus mengejar ke mana.

Tetapi ia mempunyai suatu tujuan, ialah Hian-kie-cu sesudah muncul untuk kedua kalinya ini, pasti akan mendaki gunung Butong-san untuk melihat-lihat anak muridnya.

Dengan lain perkataan, asal Touw Liong mengejar ke gunung Bu-tong, rasanya tidak sulit baginya untuk mendapatkan keterangan.

Sepanjang jalan, Touw Liong teringat kepada soal lain.

Diam-diam ia bertanya kepada diri sendiri.

"Sejak pertama kali aku melihat Panji Wulung Wanita, hingga hari ini, ia selalu mengenakan kerudung di mukanya, belum pernah unjukkan wajah aslinya. Apa sebabnya? Touw Liong tidak dapat mengetahui sebab-sebabnya. Seandai ada juga sebabnya, satu-satunya sebab hanya di wajah Panji Wulung Wanita itu tentunya ada memiliki cacad yang buruk, hingga tidak boleh diperlihatkan kepada umum. Sudah beberapa ratus pal Touw Liong lari. Hingga matahari doyong ke barat, masih belum tampak bayangan dua orang tadi. Terpaksa ia mencari rumah makan untuk tangsal perut. Setelah dahar kenyang, barulah melanjutkan usahanya untuk mengejar. Malam telah tiba. Di sebelah timur tampak sinar rembulan. Touw Liong dengan mengikuti sungai Lo-sui, tibalah di kota Soat-sankoan. Selagi berdiri memandang keadaan di sekitarnya, dari arah jauh tiba-tiba tampak dua penunggang kuda sedang melarikan binatang tunggangannya kearahnya. Dalam hati Touw Liong bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Siapakah orang itu? Ada urusan penting apa begini malam melakukan perjalanan tergesa-gesa? Sepasang kuda yang dilarikan kencang itu, dalam waktu sekejab mata telah tiba di dekatnya. Setelah berada agak dekat, Touw Liong sangat girang sekali. Dengan segera ia menyongsong sambil berseru girang.

"Engko!"

Orang yang naik kuda itu ternyata adalah Kang Kie.

Penunggang kuda yang lain sudah tentu adalah Lo Yu In.

Kang Kie segera menghentikan kudanya dan lompat turun.

Dua saudara itu saling berpelukan, air mata mengalir turun, lama tidak bisa berkata apa-apa.

Tidak heran, sebab dua saudara sekandung itu, sejak masih kanak-kanak sudah mengalami nasib buruk.

Mereka berpencar 10 tahun lebih lamanya.

Meskipun pernah berkumpul beberapa hari di atas gunung Bu-san, tetapi akhirnya mereka terpaksa berpisah lagi, karena masingmasing harus melakukan tugasnya sendiri-sendiri.

Kemudian, Touw Liong telah mengalami kejadian gaib dan bahaya, kalau ingin menemukan kepada Kang Kie, ia hampir selalu menangis.

Kang Kie juga mempunyai perasaan serupa, pun telah mengalami banyak kejadian besar.

Maka begitu melihat Touw Liong, lantas mengalirkan air mata karena terlalu girang.

Lo Yu In lalu menghampiri mereka dan dengan suara perlahan memanggil Touw Liong.

"Adik Liong."

Touw Liong seolah-olah sadar dari mimpinya.

Ia buruburu menyeka air matanya dan memberi hormat kepada Lo Yu In.

Setelah itu, barulah masing-masing menceritakan pengalamannya sendiri-sendiri.

Kiranya hari itu Kang Kie bersama Lo Yu In setelah berpisah dengan Touw Liong, langsung menuju ke gunung Ngo-bie, untuk menyelidiki siapa-siapa yang dahulu turut campur tangan dalam peristiwa pengeroyokan ayah bunda Kang Kie dan Touw Liong.

Sungguh kebetulan sekali orang yang menyambut mereka berdua justru Pek-bie Hwesio, juga adalah orang yang sedang mereka cari.

Sayangnya, Kang Kie yang sudah berhadapan dengan musuh besarnya, tapi ia sedikitpun masih belum tahu.

Sebaliknya, Pek-bie Hwesio tiada satu menitpun pernah melenyapkan pikirannya untuk tidak menyingkirkan jiwa mereka.

Kang Kie diterima oleh Pek-bie Hwesio secara sopan, di atas gunung Ngo-bie ia berdiam satu hari.

Di hari kedua, Pek-bie Hwesio mengajak mereka ke puncak gunung Ngobie, katanya untuk menikmati pemandangan alam.

Siapa tahu selagi mereka menikmati keadaan di sekitarnya, dalam waktu kesempatan dengan secara curang Pek-bie mendorong Kang Kie dan Lo Yu In dari atas puncak gunung yang sangat tinggi.

Kejadian itu, justru dilihat oleh suheng Pek-bie Hwesio, dan Pek-bie Hwesio yang takut suhengnya nanti akan melaporkan kepada ketuanya, maka ia juga ingin membunuh mati sekalian suhengnya sendiri supaya dapat menutupi rahasia kejahatannya.

Dua orang saudara seperguruan itu kemudian bertempur sengit.

Pek-bie Hwesio menyerang suhengnya dengan senjata rotan kunonya.

Selagi hendak menurunkan tangan kejam, kebetulan seorang suheng yang lain, ialah Kim-tan taysu keburu datang dan berhasil menolong suhengnya.

Begitulah Pek-bie lalu diusir dari atas gunung Ngo-bie.

Setelah Pek-bie Hweshio berlalu dari gunung Ngo-bie, segera dia menggabungkan diri dengan Panji Wulung Wanita.

Sementara Kang Kie dan Lo Yu Im berdua ketika didorong oleh Pek-bie dari atas puncak gunung, telah terjatuh ke dalam gua Kiu-lao-tong.

Di situ mereka telah menemukan kejadian gaib.

Mereka telah ditolong oleh seorang tingkatan tua golongan Ngo-bie yang mengasingkan diri di tempat itu, bahkan menurunkan kepada Kang Kie semacam ilmu Sian-kang.

Kang Kie setelah berhasil mempelajari ilmu Sian-kang itu, lalu digunakan untuk mempelajari ilmu batin Liang-gie-sin-hoat yang diberitahukan oleh Touw Liong.

Begitulah sampai berhasil mempelajari ilmu batin yang sangat tinggi itu.

Kang Kie telah menceritakan pengalamannya kepada Touw Liong dengan singkat.

Mengingat bagaimana ganasnya Pek-bie Hweshio, diam-diam Touw Liong bersyukur atas lolosnya Kang Kie dari tangan kejam padri ganas itu.

Kang Kie memberitahukan kepada Touw Liong kehendak hatinya yang ingin naik ke gunung Hek-hong-san untuk mencari Pek-bie Hweshio.

Touw Liong menghela nafas, lalu menceritakan pengalamannya sendiri dengan singkat.

Kang Kie diamdiam juga merasa bersyukur bahwa adiknya itu telah lolos dari ancaman bahaya.

Bab 53 KANG KIE bertanya.

"Adik, sekarang kau hendak ke mana?"

"Hendak ke gunung Bu-tong, mencari Hian-kie-cu untuk minta pedang dan menanyakan kepadanya apa sebabnya ia membunuh suhu."

"Sayang musuh besarku yang membunuh suhu, Ngo-gak Lokoay masih tidak ada kabar beritanya sedikitpun juga!"

Berkata Kang Kie sambil menghelas nafas.

"Ngo-gak Lokoay sudah kumusnahkan ilmu kepandaiannya ketika kita mengadakan pertempuran di gunung Tay-swat-san, sekarang berada di gunung Swat-san sedang merawat luka-lukanya. Cepat atau lambat suheng boleh pergi mencarinya untuk membuat perhitungan."

"O, ya! Hampir saja aku menelantarkan urusan yang besar!"

Kata Kang Kie seolah-olah baru ingat suatu hal. Lalu dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah sampul surat, diberikan kepada Touw Liong seraya katanya pula.

"Sewaktu berada di gunung Bu-san aku sudah pikir hendak memberikan surat ini padamu, tapi waktu itu aku pikir nanti akan mengganggu usahamu yang sedang mengejar jejak musuh, jadi tidak kuberikan. Akan tetapi pelajaran di gunung Ngo-bie sesungguhnya terlalu berbahaya, sehingga membuka pikiranku untuk harus memberikan surat ini padamu. Sebab apabila aku menemukan nasib buruk, mati bagiku merupakan urusan kecil, tapi bila surat ini tidak bisa kusampaikan kepadamu, bukankah akan membuat penyesalan seumur hidup?"

Touw Liong menerima surat yang diberikan kepadanya.

Di atas sampul itu terdapat tulisan yang berbunyi.

DITINGGALKAN UNTUK MURID GENERASI KE-EMPAT Touw Liong membuka sampulnya.

Di dalamnya ada berisi lima helai kertas.

Dapatlah diduga, bahwa urusan yang ditulis dalam surat itu sesungguhnya terlalu banyak, sudah tentu tak dapat dibaca dengan teliti dalam waktu singkat.

Ia lalu membalik-balik selembar demi selembar, pada akhirnya di bagian belakang terbaca tulisan sebagai berikut .

dari Hui-thian Giok-liong Liu Kiam Hong Adapun Hui-thian Giok-liong Liu Kiam Hong itu, adalah salah seorang pendekar pedang kenamaan yang pada seratus tahun berselang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan.

Hati Touw Liong jadi tergerak.

Maka segera berkata kepada Kang Kie dengan suara perlahan.

"Engko, aku pikir hendak mencari suatu tempat untuk beristirahat dulu. Engko berdua sekarang ini juga tidak perlu pergi ke gunung Ngo-bie lagi, aku juga tidak usah tergesa-gesa pergi ke Bu-tong."

Kang Kie tahu bahwa adiknya itu hendak membaca dengan teliti surat yang diberikannya tadi, maka ia lalu menunjuk kepada sebuah bukit seraya berkata.

"Bukit itu adalah bukit Heng-phoa-san. Di atas bukit ada sebuah kelenteng. Pengurus kelenteng itu adalah sahabat lama engkomu. Mari pergi ke sana saja untuk beristirahat barang sebentar."

Touw Liong menerima baik usul itu.

Ketiganya lalu memutar diri dan terus berjalan menuju ke bukit Hengphoa-san.

Dalam waktu yang sangat singkat, mereka sudah tiba di kelenteng yang dimaksud.

Seorang imam yang jenggotnya panjang, telah menyambut mereka masuk ke dalam kelenteng dan mempersilahkan mereka minum serta menyediakan kamar bagi mereka.

Kang Kie mengawani imam itu mengobrol di ruangan tengah, sedang Touw Liong berada di dalam kamar seorang diri untuk membaca surat yang ditinggalkan oleh jago pedang kenamaan Liu tayhiap atau Liu Kiam Hiong.

Surat itu ditulis dalam lima lembar kertas, tetapi apa yang ditulisnya, hampir seluruhnya merupakan riwayat hidup Panji Wulung.

Kiranya, dahulu sewaktu Liu Kiam Hiong pulang ke gunung Oey-san untuk mengasingkan diri, di gunung itu ia mempelajari ilmu golongan Budha beberapa puluh tahun lamanya, hingga menjadi seorang padri yang beribadat tinggi.

Puncak Thian-tu-hong merupakan puncak tertinggi di daerah gunung Oey-san.

Tempat itu jarang didatangi oleh manusia.

Pada suatu waktu ketika Liu Kiam Hiong malamnya bersembahyang, tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis yang datangnya dari arah puncak gunung itu.

Suara tangisan itu telah menarik perhatiannya.

Ia merasa sangat heran, sehingga lama hatinya tergoda, ia lalu keluar gua.

Ketika pandangan matanya ditujukan ke bagian gunung itu, di tengah-tengah puncak gunung, di bawah sinar rembulan purnama, tampak seorang wanita setengah umur sedang menggendong seorang bayi yang usianya kira-kira baru dua minggu, sedang menangis dengan sangat sedihnya.

Liu Kiam Hiong waktu itu sudah menjadi seorang padri beribadat tinggi yang sudah mengasingkan diri dari duniawi, sudah tentu tidak ingin mencampuri urusan keduniawian.

Ketika menyaksikan pemandangan itu hanya memuji nama Budha berulang-ulang, tidak turun pergi memeriksa lebih jauh.

Lambat-lambat ia memutar diri dan berjalan masuk ke guanya sendiri.

Baru saja kakinya melangkah ke pintu gua, di tempat tadi terdengar pula suara keluhan yang memilukan hati.

Hati Liu Kiam Hiong kini tergerak, ia membalikkan badan untuk keluar lagi.

Ketika ia melongok ke bawah, mulutnya kembali menyebut kebesaran nama Budha.

Di tempat di mana wanita setengah umur tadi berada, ternyata sudah kosong!

Karena wanita itu sedang lompat turun, terjunkan diri ke bawah jurang yang pada waktu itu diliputi oleh awan.

Lama sekali tidak terdengar suara apaapa lagi, maka Liu Kiam Hiong menganggap pasti bahwa wanita itu tentunya sudah terjun ke dalam jurang untuk membunuh diri.

Memikirkan nasib orok dalam gendongannya, Liu Kiam Hiong lalu turun ke bawah untuk mencari.

Tak lama kemudian ia dapat menemukan anak orok itu.

Di tanah di dekat tubuh orok itu, terdapat sepotong kertas yang ditulis dengan darah.

Liu Kiam Hiong memondong anak orok itu dan memungut surat yang ditulis dengan darah.

Tulisan itu dengan ringkas menyebutkan bahwa anak itu bernama Kee Hong Kie.

Ayahnya bernama Kee In Hok, adalah seorang pendekar yang waktu itu namanya sangat kesohor di daerah selatan.

Pada suatu waktu, Kee In Hok membawa istri dan anaknya pergi pesiar ke tempat-tempat kenamaan di seluruh negeri.

Ketika ia tiba di puncak gunung Heng-san, telah menemukan sebagian kitab Thay-it Cin-keng.

Kitab itu meskipun setengahnya saja, tetapi masih terdiri dari 6 jilid.

Ketika ia menemukan kitab pusaka itu, sangat girang sekali.

Tetapi tidak diduga-duga olehnya, lantaran penemuannya itu, akhirnya telah disusul oleh bencana.

Waktu itu, enam jago pedang kenamaan sudah datang bersama.

Mereka meminta kepada Kee In Hok enam

Jilid kitab Thay-it Cin-keng yang didapatkan olehnya tadi.

Sudah tentu permintaan enam jago pedang itu ditolak olehnya.

Dengan demikian, terjadilah suatu pertempuran hebat dan Kee In Hok akhirnya mati dibawah tangan enam jago pedang tersebut.

Istri Kee In Hok ialah wanita setengah umur itu.

Mendengar bahwa Liu Kiam Hiong mengasingkan diri di puncak gunung Thian-tu-hong, maksudnya menggendong anaknya yang masih orok itu mendekati gunung Oey-san ialah untuk minta kepada Liu Kiam Hiong supaya suka merawat orok.

Tapi ketika tiba di tengah-tengah puncak gunung Thian-tu-hong, karena menampak perjalanan ke atas puncak gunung itu sangat sukar, ia sudah tidak dapat naik lagi.

Oleh karena itu maka ia menangis tersedu-sedan.

Pada akhirnya ia menulis surat dengan darahnya sendiri.

Di atas kertas bertulisan darah itu juga ditulisnya nama enam orang yang menjadi musuh besar anak itu.

Kemudian terjunkan diri ke dalam jurang untuk membunuh diri.

Kee Hong Kie selanjutnya dirawat oleh Liu Kiam Hiong dan berdiam di puncak gunung Thian-hu-tong delapan belas tahun lamanya.

Setelah belajar kepandaian ilmu yang jarang terdapat di dalam rimba persilatan, suatu waktu Liu Kiam Hiong lalu memerintahkan Kee Hong Kie turun gunung untuk membereskan permusuhan terhadap ayahnya.

Hari ketiga ketika untuk pertama kali turun gunung, di atas jalan In-hong, Kee Hong Kie telah berjumpa dengan seorang gadis cantik bagaikan bidadari.

Entah apa sebabnya, tatkala melihat gadis itu ia begitu tertarik dan tanpa disadari sudah mengikuti jejak gadis cantik itu hingga sampai di gunung Bu-san.

Di sepanjang jalan, gadis itu sama sekali tidak menghiraukan Kee Hong Kie, melihat saja pun tidak.

Begitu naik ke gunung Bu-san, gadis itu masuk ke sebuah biara.

Tetapi Kee Hong Kie masih penasaran dan terus membuntuti, masuk juga ke biara tersebut.

Dengan alasan ingin mempelajari pelajaran agama Budha, Kee Hong Kie lalu minta kepada pengurus biara itu supaya ia diperbolehkan berdiam di situ.

Sudah tentu permintaannya itu ditolak oleh pengurus biara.

Kee Hong Kie tidak berdaya.

Ia keluar dari biara dan mendirikan sebuah gubuk yang terpisah kira-kira 3 pal dari biara tersebut.

Di waktu siang hari ia membaca kitab dan melatih ilmu silatnya, di malam hari ia berkeliaran di sekitar biara itu, dengan pengharapan dapat melihat gadis yang dirindukannya itu.

Satu hari.

Dua hari lewat.

Satu bulan.

Tiga bulan ....

Tanpa dirasa setengah tahun telah berlalu.

Selama waktu setengah tahun itu, Kee Hong Kie hanya melihat tiga kali saja gadis yang dirindukannya itu.

Bahkan dilihatnya dari tempat yang jauh sekali!

Ketika ia hendak pergi menghampiri untuk melihat dari dekat, gadis itu terkejut dan menghilang ke dalam biara.

Oleh karena Kee Hong Kie adalah seorang laki-laki yang pernah ditolak oleh pengurus biara, akhirnya ia tidak berani berlaku gegabah, hingga juga tidak berani menerjang masuk dengan kekerasan ke dalam biara.

Pada satu malam, ketika kentongan baru berbunyi tiga kali, Kee Hong Kie mondar-mandir di bawah sinar rembulan purnama sambil menarik nafas panjang pendek.

Tiba-tiba tampak berkelebatnya bayangan orang yang muncul dari dalam biara.

Seorang gadis cantik bagaikan bidadari keluar dari biara dan berjalan ke arahnya.

Kee Hong Kie terperanjat bukan main.

Ia berdiri terpaku di tempatnya.

Sementara itu si gadis cantik sudah berjalan ke hadapannya.

Dengan sikapnya yang lemah lembut menjura kepadanya.

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh gadis itu ialah menanyakan tentang golongan atau murid dari siapa.

Pertanyaan itu benar-benar menyulitkan Kee Hong Kie.

Sebab, Liu Kiam Hiong adalah seorang pendekar kenamaan yang sudah mengasingkan diri tidak mau mencampuri urusan dunia lagi, yang sama sekali tidak suka anak muridnya menyebut namanya di kalangan Kangouw.

Maka pada wktu menyuruh Kee Hong Kie turun gunung saja, guru itu malah pesan wanti-wanti melarang Kee Hong Kie membawa-bawa nama gurunya.

Oleh karenanya maka ketika gadis cantik itu menanyakan Kee Hong Kie murid dari golongan mana, untuk sesaat Kee Hong Kie tidak bisa menjawab Gadis cantik itu menghela nafas, lalu membalikkan badan dan hendak pergi lagi, sementara mulutnya berkata.

"Aku kiranya sudah salah melihat orang. Kulihat kau selama setengah tahun ini telah tergila-gila kepadaku, maka aku merasa sangat kasihan. Oleh karenanya, aku perlukan datang sendiri untuk menanyakan kepadamu. Tak kusangka, pertanyaanku yang pertama ternyata sudah menyulitkan dirimu. Sudahlah, kita barangkali memang tidak berjodoh, terpaksa masing-masing harus berjalan di atas jalannya sendiri-sendiri!"

Kee Hong Kie yang mendengar ucapan itu benar-benar sangat cemas.

Dari mulutnya baru saja mengeluarkan perkataan "nona", badannya sudah bergerak ke hadapan gadis itu untuk menghalangi, kemudian menjura dan berkata kepadanya.

"Aku yang rendah bernama Kee Hong Kie, murid Huithian Giok-liong Liu tayhiap ...."

Nama Hui-thian Giok-liong sudah hampir dikenal oleh seluruh orang.

Maka, ketika mendengar bahwa pemuda Kee Hong Kie di hadapannya ini adalah muridnya jago pedang kenamaan itu, gadis cantik itu bukan kepalang terkejutnya, hampir saja ia menjerit.

Lama sekali ia mengawasi Kee Hong Kie dengan sepasang matanya yang bening dan lembut.

Ia benar-benar terkejut, tetapi di dalam keterkejutannya itu juga mengandung perasaan girang yang tidak sedikit.

Lama sekali, gadis itu membuka lagi mulutnya sambil memberi hormat ia memperkenalkan namanya sendiri.

"Nio Giok Leng."

Kee Hong Kie girang sekali.

Ia buru-buru memanggil nama gadis itu, sikapnya sangat mesra.

Sebaliknya malah Nio Giok Leng yang bersikap terbuka.

Ia memberi isyarat kepada Kee Hong Kie supaya lantas duduk di bawah sebuah pohon cemara yang ditunjuknya.

Malam itu merupakan malam yang sangat bahagia bagi kedua insan itu.

Usaha Kee Hong Kie setengah tahun lamanya untuk dapat berkenalan dengan gadis yang dirindukan itu ternyata tidak selamanya tersia-sia, akhirnya ia dapat berkenalan juga dengan gadis cantik bagaikan bidadari yang bernama Nio Giok Leng itu.

Hari kedua ....

Hari ketiga ....

Hampir setiap malam mereka mengadakan pertemuan dan duduk bersama-sama sambil mengobrol di bawah pohon cemara.

Satu bulan telah berlalu, dan hubungan mereka semakin erat.

Pada suatu hari, Kee Hong Kie memberanikan diri melamar Nio Giok Leng.

Nio Giok Leng yang dilamar secara resmi oleh Kee Hong Kie, sepasang matanya segera mengalirkan air mata.

Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Dalam hidupku ini tidak ingin kawin, juga tidak bisa kawin."

Kee Hong Kie heran mendengar jawaban itu. Tanyanya dengan cemas.

"Kenapa?"

Nio Giok Leng tidak menjawab, hanya dengan kedua tangannya menutup mukanya, menangis dengan amat sedihnya.

Kee Hong Kie semakin cemas.

Ia tidak mengerti sebab musabab timbulnya kelakuan aneh dari kekasihnya itu.

Ditanya berulang-ulang Nio Giok Leng tetap membisu.

Akhirnya, dengan kedua tangan diletakkan di atas bahu Nio Giok Leng, Kee Hong Kie bertanya dengan suara lemah lembut.

"Adik Leng, katakanlah! Berapa besar kesulitan yang menghalangi maksudmu itu? Katakanlah terus terang. Urusanmu juga akan menjadi urusanku. Asal aku mampu melakukan, sekalipun terjun kelautan api, aku juga bersedia."

Nio Giok Leng berhenti menangis. Tanyanya.

"Apakah itu benar?"

Kee Hong Kie dengan tangan menunjuk ke atas langit mengatakan sumpahnya.

"Tuhan Yang Maha Esa! Asal hari ini aku Kee Hong Kie mengatakan perkataan yang tidak sesuai dengan hatiku, Tuhan tidak akan melindungi aku lagi."

Nio Giok Leng buru-buru mengulurkan tangannya yang halus menutup mulut kekasihnya, melarang kepadanya meneruskan sumpahnya.

Bersamaan dengan itu, ia lantas menjatuhkan kepalanya ke dalam pelukan si pemuda dan menangis lagi dengan amat sedihnya.

Ia menangis demikian sedih.

Kee Hong Kie memeluknya, membiarkan dia menangis sepuas-puasnya.

Lama sekali, ia baru berhenti menangis dan menceritakan riwayat hidupnya sebagai berikut .

Ayah Nio Giok Leng adalah seorang penjahat besar yang berkepandaian sangat tinggi, yang biasa melakukan kejahatan seorang diri.

Hingga pada suatu waktu, ketika ia melakukan kejahatan di kota Lam Ciang, di samping mencuri harta benda keluarga Ong Pek Boan, ia juga sudah menghabisi seluruh keluarga Ong itu yang semuanya berjumlah 7 jiwa sehingga merupakan peristiwa berdarah yang sangat mengejutkan kota itu.

Peristiwa kejam itu telah membangkitkan amarah dan menarik perhatian 6 tokoh rimba persilatan yang waktu itu kebetulan lewat di kota Lam Ciang.

Mereka lalu turun tangan dan berhasil membinasakan Nio Giok Leng.

Kejadian itu merupakan suatu kejadian yang terjadi pada 5 tahun berselang.

Waktu itu, Nio Giok Leng baru berusia 14 tahun.

Ibunya telah membawanya ke daerah Cek-sui, masuk menjadi anggota Hek-hong-kauw, mengharap dengan pengaruh Kauwcu Hek-hong-kauw, di kemudian hari dapat membalas dendam kematian suaminya.

Nio Giok Leng sendiri pernah bersumpah di hadapan jenasah ayahnya, bahwa selama hidupnya itu apabila tidak dapat membalas sakit hati ayahnya, ia tidak akan mau menikah.

Kali ini Nio Giok Leng atas perintah Kauwcunya pergi ke gunung Bu-san untuk mencari Ceng-gwat Suthay di biara Cui-hong-am untuk menyulam 12 buah panji hitam yang dinamakan Panji Wulung, untuk digunakan dalam keperluan pembukaan partai Hek-hong-kaw.

Nio Giok Leng yang kini sudah jatuh cinta benar-benar kepada Kee Hong Kie, lebih mengerti bahwa Kee Hong Kie adalah berasal dari golongan baik-baik, sedang ia sendiri adalah anak perempuan penjahat besar.

Lagi pula kini berlindung di bawah perkumpulan Hek-hong-kaw yang namanya kurang baik, maka ia tahu benar bahwa perkawinan mereka tidaklah mungkin dapat terjadi.

Lagi pula, sebelum usahanya menuntut balas dendam sakit hati ayahnya itu berhasil, tidak mungkin ia dapat menikah, sedangkan Kee Hong Kie sendiri rasanya juga tidak mungkin mau turun tangan membantu dirinya membunuh enam orang yang dikenal sebagai pendekar kenamaan dalam rimba persilatan.

Oleh karenanya, maka ketika pertama dilamar oleh Kee Hong Kie, ia lalu menangis dengan sedih sekali.

Akan tetapi, dalam dunia ini kadang-kadang hal-hal yang sangat aneh, yang diduga tak mungkin akan terjadi, kadangkadang bisa saja menjadi mungkin.

Entah disebabkan karena Kee Hong Kie terlalu mencintai Nio Giok Leng ataukah ia sudah khilaf atau bagaimana saat itu ia lantas menerima baik permintaan kekasihnya untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh sang kekasih!

Nio Giok Leng yang merasa berhutang budi, harus dibalas dengan semestinya, maka ia juga menerima baik lamaran pemuda itu.

Dalam pikiran Kee Hong Kie waktu itu, kali ini turun gunung, maksudnya ialah hendak menuntut balas dendam sakit hati kematian ayahnya, sedangkan enam orang musuh besarnya itu, pada saat ini juga merupakan 6 orang dari partai golongan baik-baik yang namanya terkenal.

Oleh karenanya, maka ia anggap membunuh 6 orang juga merupakan suatu pembunuhan.

Membunuh 12 jiwa juga serupa saja, sama-sama membunuh!

Nio Giok Leng memberikan 12 buah panji hitam kepadanya.

Di samping itu juga memberikan kepadanya sebilah pisau belati pusaka yang hanya 7 dim pendeknya, juga diajari nyanyian Panji Wulung.

Bulan purnama Kee Hong Kie turun gunung.

Ketika kembali, ia membawa dua kepala manusia dalam keadaan seperti masih hidup.

Dua kepala manusia itu adalah kepala dua orang yang menjadi musuh besarnya Nio Giok Leng.

Apa sebab kepala manusia itu masih dalam keadaan seperti masih hidup?

Bukan lain karena pisau pusaka yang diberikan oleh Nio Giok Leng itu adalah sebilah pisau pusak yang luar biasa.

Siapa saja yang dipenggal kepalanya dengan pisau itu, akan terlihat seperti masih hidup.

Ketika menerima dua kepala manusia itu, Nio Giok Leng kelihatan sangat terharu.

Hari itu juga ia lalu mengadakan upacara sembahyangan pada arwah ayahnya, setelah itu ia menyerahkan dirinya kepada Kee Hong Kie.

Satu tahun sudah berlalu, bukan saja semua musuhmusuh Nio Giok Leng sudah dibinasakan oleh Kee Hong Kie, tetapi musuh-musuh Kee Hong Kie sendiri juga semuanya sudah terbunuh.

Peristiwa itu, pada masa itu merupakan suatu peristiwa besar yang belum pernah ada di dalam sejarah rimba persilatan.

Selama 100 tahun, peristiwa itu masih merupakan suatu teka-teki besar yang belum terpecahkan.

Semua orang rimba persilatan juga tidak tahu siapakah orangnya yang menamakan diri Panji Wulung itu.

Setahun lagi telah berlalu.

Nio Giok Leng juga sudah menyelesaikan pekerjaan sulamannya 124 buah Panji kecil berwarna hitam yang dinamakan Panji Wulung itu.

Waktu itu ia juga sudah mengandung.

Liu Kiam Hong sudah mendengar juga kabar bahwa dalam rimba persilatan telah kehilangan 12 tokoh kenamaan yang mati secara misterius.

Ia sebetulnya tidak mau lagi mencampuri urusan duniawi, tetapi terpaksa turun gunung juga untuk mencari muridnya ialah Kee Hong Kie.

Setelah diketemukannya, segera dimusnahkan kepandaian ilmu silat muridnya itu dan dibawa kembali ke gunung Oeysan.

Kemudian setelah itu menghukum sang murid untuk duduk menghadap tembok seumur hidup.

Nio Giok Leng yang berada di atas gunung Bu-san, ketika ditinggal pergi suaminya, telah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Kee Tin, tapi ia sedikitpun tidak merasa sedih sebab ia mengerti keadaan sendiri.

Ia juga mengerti bahwa untuk selanjutnya, ia tidak akan dapat bertemu lagi dengan suaminya.

Ada dua soal yang melegakan hatinya, Pertama ialah dendam sakit hati ayahnya sudah terbalas!

Dan kedua, ia sendiri sudah mempunyai anak.

Ia sebetulnya sudah berpikir bahwa dalam hidupnya ini, selamanya tidak akan meninggalkan gunung Bu-san dan ingin hidup mengasingkan diri di tempat itu, membesarkan anaknya, mengharap supaya sang anak menjadi orang baikbaik.

Akan tetapi, berputarnya roda penghidupan tiada seorang pun yang dapat mengendalikan.

Sewaktu anak laki-laki itu sudah berusia 2 tahun, Kauwcu dari perkumpulan Hek-hong-kaw telah mengutus orang untuk minta Nio Giok Leng menyerahkan 124 buah panji yang dibutuhkan.

Oleh karena Nio Giok Leng sudah memberikan 12 buah kepada Kee Hong Kie, maka tidak sanggup memenuhi permintaan itu.

Hal itu telah menimbulkan kemarahan Kauw-cu Hek-hong-kaw, lantas mengirim utusan lagi untuk menangkap Nio Giok Leng dan dibawa kembali ke gunung Hek-hong-san.

Begitulah Nio Giok Leng kemudian dipenjarakan di sana.

Kejadian tersebut juga telah dapat didengar oleh Liu Kiam Hiong.

Jago pedang kenamaan itu lalu pergi ke gunung Hek-hong-san untuk mencari Kauwcu Hek-hongkow guna merundingkan soal itu.

Waktu itu yang menjadi Kauwcu Hek-hong-kow adalah cucu murid Hek-hong Lojin.

Kauwcu itu sikapnya terlalu sombong, sedikitpun tidak pandang mata kepada Liu Kiam Hiong.

Oleh karenanya, hingga menimbulkan amarah Liu Kiam Hiong dan terjadilah suatu pertempuran, yang berakhir dengan menyerahnya Kauwcu Hek-hong-kow.

Kemudian Liu Kiam Hiong minta supaya ia segera membebaskan Nio Giok Leng dan membubarkan perkumpulan Hek-hong-kow.

Perkumpulan Hek-hong-kow itu akhirnya bubar.

Tapi Nio Giok Leng yang tidak tega mengkhianati kauwcunya, tetap berdiam di gunung Hek-hong-san untuk merawat Hekhong Kauwcu yang pada waktu itu sudah berusia lanjut.

Beberapa tahun kemudian, Kauwcu Hek-hong-kow menutup mata hingga Nio Giok Leng melanjutkan kedudukan dan tugasnya.

Ketika anak Nio Giok Leng sudah berusia 4 tahun, Liu Kiam Hiong datang lagi ke gunung Hek-hong-san untuk membawa pergi anak itu.

Sejak perpisahan dengan anaknya, adat Nio Giok Leng banyak berubah.

Ia menutup kediamannya di gunung Hekhong-san dan bersumpah selamanya tidak akan meninggalkan tempat kediamannya itu.

Ketika ia sudah setengah umur, Liu Kiam Hiong pernah datang sekali untuk menengok.

Di situ telah mengetahui bahwa adat wanita itu telah berubah menjadi sangat aneh.

Oleh karenanya, maka ia mencarikan seorang anak piatu perempuan, kemudian diantarkan ke gunung Hek-hong-san untuk mengawasi dan merawat wanita yang bernasib malang itu.

Tak lama kemudian, Liu Kiam Hiong juga menutup mata.

Kee Hong Kie waktu itu sudah mencukur rambutnya dan menjadi padri beribadat tinggi.

Ia telah melanjutkan cita-cita Liu Kiam Hiong.

Sedangkan Kee Tin, ialah anaknya sendiri diam-diam juga sudah berhasil mendapatkan warisan berupa seluruh kepandaian Liu Kiam Hiong.

Tetapi sampai sebegitu jauh, antara mereka ayah dan anak ini, meskipun setiap hari berada di satu tempat dan berhadap-hadapan, tetapi mereka belum tahu kalau ada hubungan antara ayah dan anak.

Pada waktu itu, Kee Hong Kie telah menguasai kelenteng Tay-seng-sie di gunung Oey-san.

Kee Tin yang berada di dalam kelenteng itu hampir tidak mempunyai pekerjaan apa-apa.

Karena ia tidak masuk golongan Budha, maka di waktu pagi tidak melakukan kebiasaan membaca kitab dan di waktu malam juga tidak bersujud kehadapan Budha.

Sifat anak itu jauh berbeda dengan ayahnya.

Hampir setiap hari ia pergi keluyuran ke bawah gunung.

Jikalau tidak minum arak sampai mabuk, tentunya pergi mencari setori dengan penduduk di bawah gunung Oey-san.

Hampir setiap hari tidak terlepas dari makanan daging, juga tidak bisa membuang kebiasaan minum arak.

Hampir semua padri yang berada di kelenteng itu takut kepadanya.

Kee Hong Kie dalam keadaan marah, lantas mengusir anaknya sendiri itu turun gunung.

Selanjutnya Kee Tin sudah tidak ada orang yang mengendalikan lagi.

Ia mulai berkelana ke dunia Kangouw.

Dalam perjalanan itulah ia berjumpa dengan Kim-tho yang mempunyai julukan Pelajar Jari Sembilan, dan bertemu lagi dengan seorang tokoh kuat yang mempunyai julukan Sam-kang Sam-yang.

Tiga orang inilah akhirnya yang mendirikan golongan pengemis.

Kee Hong Kie di masa tuanya, meskipun sudah menjadi seorang padri beribadat tinggi, tetapi toh masih belum dapat melupakan bahwa ia dahulu pernah mempunyai seorang anak.

Maka ia lalu menyuruh orang untuk pergi mencari.

Akhirnya, dari surat-surat peninggalan suhunya, barulah ia tahu bahwa padri seperti orang gila yang setiap hari tidak terlepas dari daging dan arak -waktu itu Kee Tin juga sudah menjadi padri -adalah anaknya sendiri, maka akhirnya telah mencari padri gila itu dan disuruh kembali.

Ketika ia menutup mata, kedudukan dan kepandaiannya juga telah diturunkan kepada anaknya itu.

Tetapi Kee Tin yang sudah biasa hidup menurut kesukaan hatinya sendiri, tidak mau dikekang oleh peraturan dalam kelenteng, yakni setiap pagi hari dan malam harus membaca kitab dan bersembahyang.

Ia telah menyerahkan kedudukannya itu kepada sutenya.

Diamdiam ia berlalu meninggalkan kelenteng Tay-seng-sie, kembali melakukan hidupnya yang seperti orang gelandangan.

Sementara Nio Giok Leng yang berada di gunung Hekhong-san, benar-benar mematuhi sumpahnya sendiri, selama hidupnya belum pernah meninggalkan gunung itu.

Tetapi di masa tua, sifatnya semakin aneh, seolah-olah sudah hilang sifat kemanusiaannya.

Baca Juga: Tangan Berbisa 12

Baca Juga: Pendekar Setia 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert