Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 9

Eps 9 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

Seluruh kepandaiannya diturunkan kepada anak piatu perempuan yang merawat dirinya.

Juga diberitahukan kepadanya, bahwa dialah yang pada beberapa puluh tahun berselang pernah membunuh 12 pendekar kenamaan di rimba persilatan, dan dia pulalah yang waktu itu menamakan diri sebagai Panji Wulung.

Kemudian ia juga meninggalkan dua belas buah panji kecil yang lain kepada anak perempuan itu.

Sepuluh tahun berlalu.

Anak perempuan piatu tadi perlahan-lahan juga telah mangkat dewasa, bahkan kini tampak semakin cantik.

Tetapi justru kecantikannya itulah yang telah membawa sial dirinya.

Sebab, Nio Giok Leng yang sudah berubah adatnya, takut anak piatu itu akan berubah cita-citanya dan diam-diam meninggalkannya, pada suatu hari selagi anak piatu itu tidur pulas, telah mengerahkan kekuatan tenaga dalam ke telapak tangannya -hingga telapak tangan itu berubah bagaikan bara -lalu ditekannkan ke kedua pipi anak piatu tadi.

Sepasang pipi yang tadinya halus putih kini telah menjadi hangus hingga anak perempuan itu juga jadi buruk wajahnya.

Anak perempuan piatu inilah yang kemudian menjadi Panji Wulung Wanita.

Selanjutnya, anak perempuan piatu itu yang kemudian menamakan diri Panji Wulung Wanita -telah menjadi sangat buruk sekali wajahnya.

Oleh karenanya, sejak hari ia meninggalkan gunung Hek-hong-san, setiap hari harus mengenakan kerudung kain hitam di mukanya, orang lain belum pernah melihat wajah aslinya.

Tak lama kemudian, suhunya, ialah Nio Giok Leng juga menutup mata.

Panji Wulung Wanita kini telah mewarisi seluruh kepandaian Nio Giok Leng, bahkan dari sucouwnya, ialah Kaucu perkumpulan Hek-hong-kow, juga mendapatkan tiga

Jilid kitab Thay-it Cin-keng.

Kitab itu dipelajarinya dengan tekun selama beberapa puluh tahun, akhirnya menjadi semacam ilmu Hek-hong-im-kang dari golongan Hek-hong.

Itulah yang kemudian menjadi ilmu terganas dalam rimba persilatan.

Justru karena sudah berhasil mempelajari ilmu Hekhong-im-kang itu, maka timbullah ambisinya untuk membangun kembali perkumpulan Hek-hong-kow.

Sehabis membaca surat yang ditulis dalam lima lembar kertas itu, waktunya sudah larut malam.

Touw Liong mengangkat kepala mengawasi rembulan di langit, kemudian membuka pintu dan berjalan ke pekarangan.

Di situ ia menghela nafas panjang dan berkata kepada dirinya sendiri.

"Kalau demikian halnya, Panji Wulung Wanita itu masih menjadi susiokku. Menurut peraturan dan tata tertib, aku tidak boleh duduk diam tidak memperdulikan sepak terjangnya, hingga ia mengacau rimba persilatan."

Teringat kepada diri Panji Wulung Wanita itu, tubuh Touw Liong gemetaran. Pikirnya.

"Menurut tingkat, dia adalah susiokku, seharusnya aku berlaku merendah dan menghormat kepadanya tetapi menurut keadaan dan kenyataan sekarang ini, dia adalah musuh besarku, bagaimana aku harus berbuat?"

Pikiran Touw Liong kini teringat kembali kepada pedang Hok-mo-kiam.

Ia juga teringat bahwa pedang itu besar hubungannya dengan nasib rimba persilatan di kemudian hari.

Pedang itu bagaimanapun juga tidak boleh terjatuh ke tangan Panji Wulung Wanita.

Oleh karena timbulnya pikiran demikian, ia segera pergi mencari Kang Kie, menceritakan maksud hatinya, yang mana ia sendiri hendak mengambil tindakan tegas, untuk merintangi Panji Wulung Wanita supaya jangan berhasil merebut pedang itu.

Kang Kie sangat setuju.

Keduanya mereka berunding sebentar.

Kang Kie anggap bahwa melakukan perjalanan ke gunung Bu-san tidak ada faedahnya, sebab Hian-kie-cu setelah merampas pedang pusaka itu, belum tentu kembali ke gunung Bu-tong.

Tetapi Touw Liong beranggapan sebaliknya.

Katanya.

"Panji Wulung Wanita belum tentu dapat mengejar Hian-kie-cu. Apabila ia tidak berhasil mengejarnya, ada kemungkinan pergi ke gunung Bu-tong untuk minta orang."

Kang Kie berpikir sejenak, akhirnya dapat menyetujui pikiran Touw Liong, maka tiga orang tersebut pada malam itu juga lantas berangkat ke gunung Bu-tong.

Di hari kedua, mereka tiba di sungai Lo-sui.

Touw Liong memandang ombak air sungai yang bergumpalan, katanya.

"Kalau diingat pada permulaan berdirinya Sam Kok atau tiga negara, Cukat Liang menuju ke barat untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Ketika melalui sungai yang arusnya besar ini, pernah mengeluarkan kata-kata yang kemudian menjadi termasyhur pada generasi-generasi berikutnya. Dan sekarang, kita berdua saudara sejak masih kanak-kanak sudah mengalami nasib buruk. Kini berhadapan dengan sungai yang arusnya hebat ini, Siaote mempunyai suatu hasrat. Entah ...."

Ia mengawasi Kang Kie. Kang Kie lalu bertanya.

"Hiante ada mempunyai hasrat apa?"

Touw Liong menunjuk rumput-rumput yang banyak terdapat di tepi sungai seraya berkata.

"Aku pikir setelah berhasil menuntut balas sakit hati ayah bundaku, akan mendirikan sebuah rumah di atas tanah rerumputan yang subur ini."

Kang Kie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Hiante ada mempunyai hasrat seperti itu, sudah tentu engkomu sangat setuju. Baiklah! Kita tetapkan begitu saja."

Tiga orang itu lalu mencari perahu untuk menyeberangi sungai Lo-sui.

Di hari kedua, melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

.....................

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di atas gunung Bu-tong.

Ketika tiba di tempat yang ada sebuah batu di mana terdapat sebuah tulisan harus menanggalkan pedang, Touw Liong sudah mendapatkan firasat jelek.

Sebab di tempat itu terdapat tanda sebagai orang sedang berkabung.

Gunung Bu-tong seolah-olah diliputi suasana berkabung, agaknya sedang mengurus kematian.

Touw Liong terkejut, maka lalu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

"Mereka melakukan upacara penguburan buat siapa?"

Sehabis berkata demikian, ia berjalan mendekati kuil. Di bagian bawah kuil itu tampak berjalan beberapa imam, dari jubah para imam itu sudah memanggil dan berkata dengan suara girang.

"Bagus! Touw tayhiap sudah datang! Tampaknya kelenteng kita yang selama beberapa ratus tahun hidup jaya kini dapat dilanjutkan."

Seorang imam setengah umur maju mendekati Touw Liong, kemudian berlutut di hadapannya. Touw Liong agak terperanjat mendapat perlakuan demikian, buru-buru bertanya kepada imam itu.

"Di mana Cianbunjin partaimu Ceng-tim Totiang berada?"

"Ciangbunjin kami sedang merundingkan sesuatu urusan di kelenteng Sam-goan-koan,"

Jawab imam itu dengan sikap sangat hormat.

"Oh, kalau begitu, Bu-tong pay sekarang ini barangkali sedang berkabung untuk sucouwmu Giok-ceng-cu Locianpwe?"

Bertanya Touw Liong dengan suara perlahan. Imam itu mengucurkan air mata, dan berkata dengan sedih.

"Couwsu pada kemarin malam ...."

Imam itu tidak dapat melanjutkan ucapannya.

Tetapi Touw Liong sudah mengerti.

Ia tahu bahwa imam tua itu kemungkinan besar mati ditangan Panji Wulung Wanita.

Ia tambah mengerti bahwa Panji Wulung Wanita pada tadi malam pernah mendaki gunung Bu-tong.

"Aku ada urusan hendak menjumpai Ciangbunjinmu,"

Berkata Touw Liong singkat.

Imam itu menerima baik dan memerintahkan imam yang lain untuk memberi kabar, hingga saat itu terdengar suara genta yang amat nyaring.

Touw Liong mengajak Kang Kie dan Lo Yu In bertiga naik ke atas gunung.

Bab 54 SESAAT kemudian, Touw Liong bertiga sudah tiba di pendopo Tin-bu-tian.

Dari dalam nampak muncul beberapa imam yang jumlahnya kira-kira ada 10 orang lebih.

Rombongan itu ternyata adalah Ciangbunjin atau ketua Bu-tong-pay sendiri yang datang menyambut kedatangan Touw Liong bersama murid-muridnya.

Touw Liong buru-buru maju menyongsong, saling memberi hormat kepada ketua Bu-tong pay Ceng-tim Totiang.

Touw Liong lalu berpaling dan memperkenalkan Kang Kie serta Lo Yu In kepada Ceng-tim Totiang.

Ia sengaja memperkenalkan saudaranya dengan singkat, sebab dahulu 7 pahlawan Bu-tong pay pernah bermusuhan dengan tiga garuda dari golongan Pak-bong, hingga ia khwatir akan menimbulkan perasaan tidak senang kepada Ceng-tim Totiang, maka ia hanya memperkenalkan mereka dengan singkat, tidak mengatakan asal-usul dan golongan Kang-kie.

Di luar dugaannya, Ceng-tim Totiang begitu mendengar disebutnya nama Kang Kie, sikapnya berubah dengan segera.

Ia memandang Kang Kie dengan sinar mata gemas, kemudian bertanya dengan nada agak kurang senang.

"Apakah sicu anak murid golongan Pak-bong?"

Kang Kie juga tidak mau bersikap merendah, ia menjawab.

"Betul, aku adalah anak murid dari golongan Pak-bong."

Kawanan imam yang berada di belakang Ceng-tim Totiang, semuanya menunjukkan sikap marah, agaknya sudah siap hendak menghunus pedang masing-masing.

Touw Liong dengan sendirinya merasa cemas, lalu mundur dua langkah, berdiri di samping Kang Kie, setelah itu ia menjura kepada ketua Bu-tong pay seraya berkata.

"Permusuhan antara golongan tua, sebaiknya bereskan juga oleh orang golongan tua sendiri. Totiang adalah orang beribadat tinggi, seharusnya bisa berpikir panjang. Apalagi, 7 pahlawan dan 3 garuda semua sudah tiada."

"Musuh suhu adalah musuh yang paling besar. Kau Touw tayhiap bisa berpikir panjang, mengapa kau perlu jauh-jauh mengejar musuh-musuhmu yang dahulu melakukan pembunuhan terhadap ayahmu? Apalagi kami orang-orang Bu-tong bukan hanya 7 pahlawan itu yang binasa!"

Berkata Ceng-tim Totiang sambil tertawa kecil. Touw Liong tidak mau membantah ucapan ketua partai Bu-tong itu. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, maka ia bertanya kepada soal yang lain.

"Mohon tanya, Totiang. Sekarang partai Bu-tong pay sedang berkabung atas kematian siapa?"

"Atas kematian suhu Giok-ceng Tianglo."

"Susiok Totiang Hian-kie-cu kapan pulang ke gunung?"

Wajah Ceng-tim menunjukkan perubahan beberapa kali. Akhirnya menganggukkan kepala dan berkata.

"Kemarin malam pulang ke gunung, tetapi tidak lama kemudian sudah pergi lagi!"

"Kapan akan kembali lagi?"

"Malam itu jam 3, susiok bersama Panji Wulung sudah mengadakan perjanjian hendak mengadakan pertemuan di depan kuil Sam-goan-koan. Susiok tadi malam ada kata, apabila tidak bisa mengusirnya turun gunung, maka Butong-san akan musnah di tangannya."

Berkata sampai di situ, Ceng-tim berdiam sejenak, kemudian berkata pula.

"Pinto sebetulnya ingin ...."

Berkata sampai di situ, untuk kedua kalinya ia berdiam.

Maksudnya ialah mungkin ingin minta bantuan Touw Liong, tetapi karena munculnya Kang Kie hingga ia merasa agak sulit untuk menyatakan pikirannya itu.

Touw Liong cukup mengerti apa yang hendak diucapkan oleh imam itu.

Etapi kalau ingat kepada pedang pusakanya, dan soal Kang Kie yang tidak disenangi oleh orang-orang Butong, maka dalam hati juga merasa serba salah.

Oleh karenanya, maka ia lantas memberi hormat kepada Ciangbunjin Ceng-tim Totiang, kemudian memberi isyarat kepada saudaranya seraya berkata.

"Engko, mari kita pergi!"

Ketika ketiga orang itu berlalu, Ceng-tim Totiang hanya dapat mengawasi dengan perasaan mendelu.

Kunjungan Touw Liong ke gunung Bu-tong kali ini, ternyata berkesudahan sangat tidak meyenangkan.

Turun dari gunung Bu-tong, Touw Liong tidak habis memikirkan apa sebabnya Ceng-tim totiang bertindak demikian tegas, tidak mengingat persahbatan lama antara mereka, hingga membuat tidak enak baginya.

Kang Kie berkata dengan perasaan agak mendongkol.

"Imam itu sungguh menyebalkan! Kalau begitu, memang benar bahwa imam-imam di gunung Bu-tong tidak ada satu yang baik."

Touw Liong menghiburnya, berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Aku merasa agak curiga. Hian-kie-cu sudah mati beberapa puluh tahun yang lalu, dengan cara bagaimana bisa hidup kembali? Malam ini aku mesti menyelidiki sekitar peristiwa ini!"

"Aku juga akan ikut serta denganmu,"

Berkata Kang Kie.

-----------------------------------------------------Mereka mencari tempat untuk bermalam di sebuah kampung kecil di bawah kaki gunung.

Ketika malam tiba, tiga orang itu dengan berpakaian ringkas balik lagi ke atas gunung Bu-tong.

Jam 3 malam belum tiba, tiga orang itu sudah berada di dalam rimba dekat kuil Sam-goan-koan untuk melihat gerakan apa yang akan terjadi malam itu.

Pada waktu di atas gunung Bu-tong, tampak penjagaan sangat keras.

Di mana-mana terdapat kawanan imam dengan senjata terhunus meronda mondar-mandir kian kemari.

Touw Liong dengan ilmunya menyampaikan suara ke dalam telinga memberitahukan kepada Kang Kie, bahwa ia akan pergi meyelidik ke dalam kuil Sam-goan-koan.

Begitulah, sesaat setelah itu ia lalu bergerak menuju ke kuil Sam-goan-koan.

Ia naik ke atas penglari untuk melihat ada gerakan apa di dalam kuil itu, dengan pengharapan akan mendengar suara Hian-kie-cu.

Semula ia merasa kecewa.

Sebab, di dalam kuil Samgoan-koan itu meskipun terdengar sedikit suara orang bicara, tetapi tiada satu pun yang dikenalinya sebagai suara Hian-kie-cu.

Tiba-tiba suara yang agak nyaring terdengar di dalam pendopo itu, kemudian disusul oleh suara langkah kaki orang.

Ceng-tim Totiang di bawah iringan 8 anak muridnya perlahan-lahan berjalan turun dari atas undakan tangga batu, berdiri di tengah-tengah pekarangan, mendongakkan kepala mengawasi bintang-bintang di langit, kemudian menghela nafas perlahan dan berkata.

"Sudah hampir jam 3 ! Susiok yang sudah mengadakan perjanjian dengan Panji Wulung Wanita waktunya sudah akan tiba, mengapa masih belum balik ke gunung?"

Sikap Ceng-tim Totiang itu jelas telah diliputi perasaan kuatir. Touw Liong diam-diam menganggukkan kepala dan dalam hati berkata sendiri.

"Kiranya Hian-kie-cu masih belum pulang."

Selagi masih berpikir, di atas pohon tua seberang sana tiba-tiba terdengar suara bentakan orang, yang kemudian disusul oleh melesatnya sesosok bayangan orang yang langsung menyerbu ke arah Ceng-tim Totiang!

Bayangan orang itu begitu berada di depan Ceng-tim Totiang lantas membentak dengan suaranya yang keras.

"Imam dari gunung Bu-tong! Serahkanlah nyawamu!"

Suara itu jelas adalah suaranya seorang wanita.

Touw Liong lalu pasang mata, untuk mengawasi wanita itu.

Tampaklah olehnya, di tangan wanita itu ada tergenggam sebilah pedang kuno yang bercahaya berkilauan, dengan ilmu pedangnya yang luar biasa cepat gerakannya terus mencecar Ceng-tim Totiang.

Serangan itu bukan saja luar biasa cepatnya, tetapi juga sangat ganas.

Yang membuat heran kepada Touw Liong, ialah pedang itu bukan lain daripada pedang Hok-mo-kiam!

Touw Liong tidak keburu lompat turun, sudah berseru lebih dahulu.

"Tahan dulu!"

Jilid 21 Ceng-tim Totiang sebetulnya sudah menghunus pedangnya hendak menyambut serangan lawannya, sedangkan 8 imam yang berada di belakang dirinya juga sudah maju semua.

Ketika mendengar suara Touw Liong, mereka begitu terkejut, hingga mundur lagi lima langkah.

Wanita tadi lalu membalikkan badannya, dengan air mata berlinang-linang dan suara sedih memanggil Touw Liong.

"Engko Liong?"

Baru saja dia memanggil nama itu, orangnya sudah melesat bagaikan terbang dan terus menubruk Touw Liong.

Touw Liong agak gugup.

Ia masih tetap berdiri di atas genteng dengan mata mengawasi wanita yang menubruk ke arahnya.

Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Wanita itu mengenakan pakaian warna hijau, di atas dadanya tersulam setangkai bunga putih.

Ketika menubruk Touw Liong, lalu memeluk dan berkata sambil menangis.

"Engko Liong! Ayah! Ayah ....!"

Touw Liong menyaksikan perempuan itu seperti kalap, tetapi juga seolah-olah sedang gelisah maka buru-buru bertanya kepadanya.

"Ayahmu kenapa?"

Wanita itu bukan lain daripada Sancu muda dari gunung Cit-poa-san Pek Giok Hoa!

Pek Giok Hoa yang dihinggapi hawa amarah, penasaran dan cemas, lama tidak bisa menjawab.

Ia hanya jatuhkan kepalanya di atas dada Touw Liong sambil menangis sedih.

Sementara itu Ceng-tim yang berada di pekarangan depan kelenteng, dengan tiba-tiba berkata dengan nada suara dingin.

"Touw tayhiap, kiranya kau malam ini sudah mengajak banyak kawan baik, dengan maksud tertentu hendak mengganggu kelenteng kami?"

Dengan ucapan itu, nyatalah bahwa kesalahpahaman telah semakin besar, hingga Touw Liong sampai tidak dapat berbuat apa-apa.

Ia juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Ceng-tim Totiang berkata pula dengan nada suara yang tetap dingin.

"Terutama Lie-sicu ini! Jelas pedang di tangannya itu adalah pedang milik susiok, jelas bahwa pedang ini ia dapat dengan merampas dari tangan susiok! Apabila ada terjadi apa-apa atas diri susiok .... Hmm! Hmm! Touw tayhiap, meskipun dahulu partai Bu-tong pernah menerima budi besarmu, tetapi ingat bahwa susiok itu adalah seorang sesepuh dari partai Bu-tong kami!"

Maksud dari ucapannya itu ialah .

Apabila ada terjadi apa-apa atas diri Hian-kie-cu, maka segala tanggung jawab harus dipikul oleh Touw Liong seorang.

Touw Liong belum mengetahui apa-apa, Ceng-tim Totiang sudah menyambung lagi.

"Pantas! Sudah hampir jam 3 susiok belum tampak muncul ...."

Belum habis ucapan Ceng-tim, dari belakang gunung, dari arah yang agak jauh terdengar suara siulan panjang yang sangat tajam, hingga gunung Bu-tong itu seolah-olah tergetar.

Wajah Ceng-tim berubah seketika, sedang Pek Giok Hoa juga mendongakkan kepala menghentikan tangisnya.

Ia bertanya kepada Touw Liong dengan suara cemas.

"Engko Liong, itu siapa?"

"Panji Wulung Wanita,"

Jawab Touw Liong dengan sikap serius.

Suara siulan tadi diulangi beruntun-runtun.

Semakin lama terdengar semakin tinggi, hingga Pek Giok Hoa terus berada dalam pelukan Touw Liong, tidak berani bergerak sama sekali.

Wajah Touw Liong menunjukkan sikap yang tidak menentu.

Ia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

Menurut aturan, Panji Wulung Wanita itu masih terhitung susiok.

Sebentar bila berhadapan muka dengannya, bagaimana supaya suasana tidak sampai meruncing?

Dia bagaimana supaya ia dapat mencegah jangan sampai Panji Wulung Wanita bertindak terhadap orang-orang Bu-tongpay?

Agar partai itu biar terhindar dari bencana kehancuran?

Menurut tata-tertib rimba persilatan, tiada seorang pun tingkatan muda diperbolehkan melawan tingkatan tua.

Sebab itu adalah perbuatan yang melanggar hukum!

Touw Liong sesungguhnya merasa sulit sekali.

Tetapi ia pun cukup mengerti, orang-orang yang berada di situ, kecuali ia sendiri, sekalipun engkonya sendiri Kang Kie, barangkali tiada satu yang sanggup melawan Panji Wulung Wanita.

Setelah berpikir lama, akhirnya ia mengambil keputusan .

Aku boleh menyambut serangannya, juga ada alasan untuk bertempur dengannya bila keadaan memaksa, asal tetap dipegang teguh peraturan terhadap tingkatan tua.

Touw Liong sudah menarik Pek Giok Hoa ke belakangnya dan minta pedang Hok-mo-kiam darinya.

Katanya dengan suara lemah lembut.

"Urusan yang menyangkut diri Pek Cianpwe sebentar kita bicarakan lagi! Nanti bila iblis wanita itu datang, janganlah kau bersuara. Aku ada akal untuk mengundurkan dia."

Ia lalu memberi isyarat ke dalam rimba di seberang sana.

Kang Kie bersama Lo Yu In dengan beberapa lompatan saja sudah melesat ke hadapannya.

Setelah memperkenalkan Kang Kie dan Lo Yu In pada Pek Giok Hoa, Touw Liong lalu menitipkan Pek Giok Hoa pada Kang Kie.

Katanya.

"Nanti kalau Panji Wulung Wanita itu datang, biarlah siaote yang hadapi dia. Tolonglah engko jaga baik-baik kedua nona itu!"

"Kau tak usah khawatir!"

Berkata Kang Kie sambil tertawa dan menganggukkan kepala kemudian dari tangan Lo Yu In ia menyambuti pedang Khun-ngo-kiam.

Suara siulan tadi dari jauh terdengar semakin mendekat, kemudian sesosok bayangan hitam sudah melayang turun ke depan kuil.

Ternyata memang betul, dia adalah Panji Wulung Wanita sendiri.

Panji Wulung Wanita berdiri di hadapan kuil Sam-goankoan.

Matanya ditujukan kepada Touw Liong yang berada di atas genteng, kemudian beralih ke pedang Hok-mo-kiam di tangan pemuda itu lalu ke pedang Khun-ngo-kiam di tangan Kang Kie, barulah berjalan lambat-lambat menghampiri Ceng-tim, lalu bertanya dengan suara keras sambil mengacungkan tongkatnya.

"Imam tua, di mana susiokmu?"

Waktu itu wajah Ceng-tim sudah pucat pasi, menjawab dengan suara gelagapan.

"Susiok ....."

"Mengapa?"

Bentak Panji Wulung Wanita.

"Susiok masih belum pulang,"

Jawab Ceng-tim dengan suara gemetaran. Sepasang mata Panji Wulung Wanita itu bagaikan pisau tajam, menyapu kepada Ceng-tim sejenak, kemudian berkata.

"Dia telah berjanji denganku bahwa malam ini hendak naik ke gunung Bu-tong. Ia pernah kata begitu bertemu muka pedang itu akan diberikan kepadaku ...."

Pandangan mata Panji Wulung Wanita itu kini untuk kedua kalinya ditujukan kepada pedang Khun-ngo-kiam di tangan Touw Liong.

Mata Touw Liong waktu itu juga ditujukan kepada pedang itu.

Setelah berdiam sejenak, Panji Wulung Wanita kemudian berkata dengan gemas.

"Aku mengerti. Imam bangkotan itu pasti sudah memberikan pedangnya kepada setan kecil ini. Ia suruh malam ini untuk menghadapi aku dan melindungi Bu-tong. Hehem! Perhitunga kalian sesungguhnya keliru besar. Hari ini jikalau aku tidak dapat mengobrak-abrik gunung Butong, aku bukan Panji Wulung lagi!"

Ceng-tim sangat gelisah. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil menunjuk Touw Liong.

"Kami dengan dia tak ada sangkut paut apa-apa. Pinto pikir ...."

"Apa yang kau pikir?"

Bertanya Panji Wulung Wanita dengan sikap keren.

""Pinto dengan Touw tayhiap barusan masih ada sedikit perselisihan paham. Dalam pikiran pinto, pedang di tangan susiok kemungkinan besar sudah dirampas oleh siaohiap ini, bahkan ada kemungkinan besar susiok juga sudah celaka di tangannya,"

Berkata Ceng-tim.

Kerudung muka kain hitam Panji Wulung Wanita tampak bergerak-gerak, sekujur badannya juga sudah tampak gemetaran, sikapnya waktu itu menunjukkan seperti orang sedang berpikir keras.

Tak lama kemudian Panji Wulung mengangkat muka, dan menggapai ke arah Touw Liong yang berada di atas penglari.

Katanya.

"Bocah she Touw, kau turun! Aku hendak bertanya kepadamu."

Touw Liong menurut. Ia melayang turun ke tengahtengah rumah. Lebih dulu ia memberi hormat kepada Panji Wulung Wanita dengan tangan memondong pedang, kemudian bertanya dengan sikap sangat menghormat.

"Cianpwe memanggil boanpwe sebenarnya ada urusan apa?"

Panji Wulung Wanita menunjukkan sikap heran, katanya.

"Bocah, kenapa mendadak sontak kau berlaku begitu hormat terhadapku?"

"Boanpwe selamanya menghargai dan menghormat orang tingkatan tua."

"Ng!"

Panji Wulung Wanita mengeluarkan suara dari hidung, kemudian berkata sambil menunjuk pedang Hokmo-kiam yang berada di tangan Touw Liong.

"Pedangmu ini apakah ....?"

"Pedang ini adalah milik Pek siauw san-cu dari Cit-phoasan ...."

Menjawab Touw Liong.

"Apa bukan pedangmu yang kau dapatkan dahulu itu?"

"Pedang ini adalah pedang betina, sedangkan yang dahulu itu adalah pedang jenis jantan."

"Apakah kau tidak melihat si imam tua Hian-kie-cu?"

Bertanya Panji Wulung Wanita dengan suara bengis.

"Hian-kie-cu adalah musuhku karena ia telah membunuh suhu. Aku juga sedang mencari dia ...."

Ia menahan ucapan selanjutnya, tidak mau meneruskan. Dengan hati mendongkol Panji Wulung Wanita itu mengawasi pedang Hok-mo-kiam di tangannya, lalu katanya.

"Aku tidak peduli pedang betina atau jantan. Bagaimanapun juga itu adalah pedang pusaka. Lekas bawa kemari pedang itu, berikan padaku!"

"Pedang ini bukan milik boanpwe. Boanpwe tidak berani menghadiahkan barang orang lain kepada cianpwe,"

Jawab Touw Liong sambil menggelengkan kepala.

"Berani atau tidak aku akan tetap mau mengambil dari tanganmu."

"Soal pedang yang merupakan urusan kecil, bisa-bisa kehilangan yang besar ...."

"Apa maksud ucapanmu ini?"

"Hian-kie-cu memancing cianpwe ke tempat ini, sedang ia sendiri tidak mau unjuk muka. Coba kau pikir dengan tenang, adakah seseorang yang tidak sayang kepada anak murid dan murid cucunya sendiri? Kenapa dia membiarkan murid dan cucu muridnya dalam bahaya, jikalau dia tidak mengandung maksud tertentu yang sangat menguntungkan dirinya?"

Sejenak Panji Wulung Wanita itu tampak tercengang, kemudian berkata.

"Ini apa salahnya? Asal kita sudah menarik keuntungan besar, sedikit kerugian apa salahnya?"

"Justru disitulah soalnya. Dia sudah menarik keuntungan besar yang lain, bahkan keuntungan yang sangat besar sekali!"

"Bocah, kau jangan selalu main teka-teki saja di depanku. Bicaralah terus terang!"

"Kau telah tertipu oleh akal muslihat Hian-kie-cu yang hendak melepaskan diri dari kejaranmu! Dia sekarang ini mungkin sudah dalam perjalanan yang menuju ke gunung Hek-hong-san."

"Untuk apa ia pergi ke gunung Hek-hong-san?"

"Bukankah di gua Hek-hong-tong masih ada simpanan barang pusaka?"

Touw Liong dalam keadaan cemas dan gelisah ia bermaksud membuat marah Panji Wulung Wanita itu.

Belum habis ucapan Touw Liong, Panji Wulung Wanita itu sudah memperdengarkan siulan aneh, mulutnya memaki-maki tidak berhentinya.

"Bagus benar perbuatan imam tua ...."

Setelah itu, badannya tiba-tiba melesat menghilang ke dalam kabut gelap.

Sinar rembulan remang-remang.

Malam itu suasana kembali tenang tenteram.

Kedatangan Panji Wulung Wanita demikian cepat, tetapi berlalunya lebih cepat lagi.

Dalam waktu sekejab mata, sudah tidak tampak lagi bayangannya.

Ceng-tim berdiri tegak, tidak tahu apa yang harus dikatakan atau diperbuat pada saat-saat seperti itu.

Sementara itu, terhadap orang-orang dari gunung Butong, hingga saat itu Touw Liong masih belum dapat menentukan sikapnya.

Entah kawan ataukah lawan kedudukan mereka itu di matanya?

Melihat sikap Ceng-tim yang bengong, ia lalu berkata.

"Aku ingin berziarah ke makam susiokmu sebentar. Apakah totiang tidak berkeberatan?"

Ceng-tim masih ragu-ragu, sementara itu Pek Giok Hoa sudah berkata.

"Apa yang perlu diziarahi. Kau sudah mengeluarkan tenaga merintangi kedatangan musuh, mereka mengucapkan terima kasih pun tidak. Perlu apa berlaku demikian baik hati terhadap kawanan imam demikian ini?"

Setelah itu, ia menarik Touw Liong dan berjalan keluar.

Kang Kie dan Lo Yu In yang berada di atas genteng, juga sudah melayang turun ke bawah.

Lo Yu In merasa sebal atas sikap dan kelakuan imam tadi, juga berkata dengan nada dongkol.

"Adik Liong, apakah kau masih tidak mau pergi? Apakah masih menunggu orang lain yang akan mengeluarkan perintah mengusir kau keluar dari sini?"

Dua wanita itu seolah-olah sudah sepakat satu sama lain, hingga kata-kata mereka yang demikian tajam dan pedas itu telah membuat selembar muka Ceng-tim sebentar merah sebentar putih, sebentar hijau, hingga saat itu, ia benarbenar merasa sulit sekali bagaimana sebetulnya kedudukannya saat itu, tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Selagi Ceng-tim hendak membuka mulut, tak disangkasangka Touw Liong benar-benar lantar belalu bersamasama Pek Giok Hoa dan Lo Yu In tanpa mengucapkan sepatah katapun juga kepadanya.

-------------------Satu jam kemudian, di kuil Sam-goan-koan, telah muncul sesosok bayangan yang lari bagaikan kilat cepatnya.

Bayangan orang itu dapat mengelabui mata imam yang jaga malam, secepat kilat sudah berada di bawah wuwungan kuil Sam-goan-koan dan menyelinap di tempat yang gelap, sedang sinar matanya yang tajam menyapu keadaan di sekitarnya, lalu terdengar suaranya yang seolah-olah bertanya kepada dirinya.

"Entah di mana letaknya jenazah Giok-ceng-cu locianpwe?"

Bab 55 IA angkat muka memandang keadaan di dalam pendopo Giok ceng-thian, agaknya merasa heran apa sebab jenasah itu diletakkan dipendopo Sam-ceng-tian.

Bayangan orang itu bukan lain daripada Touw Liong.

Sebabnya ia yang sudah pergi dan balik kembali, ialah karena ia merasa bahwa kematian Giok ceng-cu sangat mencurigakan, mengingat kebaikan imam itu yang pernah menghadiahkan kepadanya se

Jilid kitab pelajaran ilmu batin Liang-gie-sin-hoat, justru pada saat Panji Wulung Wanita sedang muncul di gunung Bu-tong-san, dan orang yang mencurigakan yang merupakan Hian-kie-cu yang sudah mati tapi bisa hidup kembali, dapat diduga bahwa kematian imam tua itu sesungguhnya sangat mencurigakan.

Kalau ia mengingat kebaikan imam tua itu terhadap dirinya, telah mendorong padanya dengan diam-diam balik kembali, untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya.

Dengan sangat hati-hati ia mendorong pintu pendopo yang tidak ditutup rapat, yang terpentang di hadapan matanya kecuali meja sembahyang sebagaimana yang terdapat di dalam kuil, di belakang meja sembahyang itu, terletak sebuah jenasah yang rebah dengan tenang.

Kini mengertilah sudah ia bahwa kematian imam tua itu disebabkan karena serangan ilmu jari tangan Thay-it Sinjiauw, dan tidak perlu diragukan lagi bahwa orang luar yang tadi malam berkunjung ke gunung Bu-tong, hanya Panji Wulung Wanita seorang, sedangkan orang yang mencurigakan Hian-kie-cu itu, meskipun mencurigakan, tetapi ia tidak mungkin memiliki kepandaian ilmu yang sangat ampuh itu, dengan lain perkataan, dalam dunia pada dewasa ini orang yang mengerti ilmu terampuh ini jumlahnya tidak banyak sedangkan Panji Wulung Wanita adalah satu-satunya orang yang mahir dalam ilmu ini.

Namun ia bisa berkata apa?

Meskipun ia mengerti siapa pembunuhnya, tetapi pembunuh itu justru merupakan orang yang erat sekali hubungannya dengannya.

Apakah ia dapat mengeluarkan perkataan atau berjanji kepada imam tua itu hendak menuntut balas?

Akan tetapi, dalam dunia ini ada beberapa hal kadangkadang agak aneh.

Touw Liong yang dihadapkan dengan keadaan demikian, sudah mengeluarkan perkataan tanpa dipikir, dengan air mata bercucuran berkata.

"Locianpwe, aku pasti hendak menuntut balas untukmu!"

Kata-kata itu demikian tegas diucapkannya, sedikitpun tidak seperti berlaku pura-pura.

Tepat pada saat itu, dari belakang dirinya tiba-tiba merasakan berkesiur angin dingin dari hawa pedang.

Dalam terkejutnya, tanpa menoleh Touw Liong sudah miringkan tubuhnya, setelah itu ia menggeser kakinya dan sekujur tubuhnya sudah berada di bawah meja yang digunakan untuk meletakkan jenasah imam tua tadi.

Sesaat kemudian terdengar suara ser-seran dari serangan pedang.

Ujung pedang melalui atas jenasah, hampir saja menancap di meja sembahyang.

Touw Liong geser lagi kakinya ke bawah, setelah itu ia bergulingan ke bawah meja, kemudian lompat bangun dengan satu gerakan naga melesat dari balik meja ia mengawasi orang yang menyerang dirinya secara menggelap orang itu ternyata menggunakan pedang Hokmo-kiam yang jantan, bukan lain daripada ketua Bu-tongpay Ceng-tim Totiang.

"Dari mana kau dapatkan pedang yang sekarang berada di tanganmu itu?"

Bertanya Touw Liong dingin dan marah.

"Pedang ini adalah hadiah susiok,"

Jawab imam tua itu dingin.

"Mengapa kau menyerang aku secara menggelap?"

"Kau adalah pembunuh dari sesepuh partai kami, bahkan di waktu malam buta kau berani memasuki tempat terpenting di kuil kami, sudah tentu aku mempunyai hak untuk membunuhmu."

Alasan yang dipergunakan Ceng-tim itu agaknya terlalu dipaksakan, ia menunjukkan bekas kuku tangan dan berkata dengan suara dingin.

"Dalam dunia pada dewasa ini, bagi orang yang mengerti sedikit ilmu silat saja, sudah tentu tahu bahwa kematian dengan tanda ini berarti terkena serangan ilmu Thian-seng-jiauw dari golonganmu Kiu-hoa-pay!"

"Tidak benar! Kecuali Thian-seng-jiauw dari golonganku, masih ada ilmu Thay-it Sin-jiauw yang kalau melukai orang juga meninggalkan tanda bekas yang serupa ini."

"Kenyataan yang tidak dapat disangkal, orang yang kutangkap itu adalah orang yang menggunakan ilmu Thianseng-jiauw, bukanlah orang yang menggunakan ilmu Thayit-seng-jiauw."

Touw Liong tidak menjawab, namun diam-diam berkata kepada dirinya sendiri.

"Terhadap Bu-tong-pay, terhadap Ceng-tim, boleh dikata aku pernah melepas budi sangat besar. Tetapi dilihat dari sikap Ceng-tim hari ini mengapa jauh berlainan? Mengapa terhadap diriku sedikitpun dia seperti tidak pernah menerima budi? Inilah suatu kejadian yang sangat aneh. Hok-mo-kiam yang jantan adalah sebilah pedang pusaka. Mengapa Hian-kie-cu menghadiahkan pedang pusaka itu kepadanya? Inilah suatu pertanyaan yang kedua. Ceng-tim dahulu memiliki kepandaian yang biasa saja, mengapa hari ini menyerang diriku secara menggelap, menunjukkan ketangkasannya yang jauh berbeda dari dulu? Dan, setelah mengeluarkan serangannya, hembusan angin itu mengandung kekuatan tenaga demikian hebat. Dari manakah kekuatan tenaganya itu? Ini bukanlah orang yang mempunyai kepandaian biasa seperti Ceng-tim yang dapat melakukan, kecuali dia adalah seorang tokoh kenamaan.... Ceng-tim tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk berpikir, pedangnya digerakkan dan bentaknya.

"Kau yang serahkan batok kepalamu sendiri atau perlu aku yang harus turun tangan?"

Touw Liong anggap bahwa dirinya Ceng-tim itu diliputi oleh berbagai teka-teki, daripadanya barangkali dapat mencari beberapa pertanyaa, oleh karenanya maka ia balas bertanya.

"Di mana susiokmu Hian-kie-cu cianpwee sekarang? Susiokmu mempunyai permusuhan besar denganku, bahkan.... pada beberapa hari berselang, di atas gunung Kiong-lay-san, ia telah membinasakan Pek Thian Hiong. Hutang darah ini, ia harus bayar semuanya. Malam ini nona Pek mencari padanya kemari, aku dengan Pek sancu meskipun bukan sahabat akrab, tetapi masih mempunyai hubungan, maka dari itu mau tak mau harus turut menyelidiki juga urusan ini."

"Kau bayar dulu hutang jiwa sesepuh kami, baru bicara soal lainnya."

Dalam hati Touw Liong sangat mendongkol karena Ceng-tim Totiang selalu menuduh ia sebagai pembunuhnya imam tingkatan tua golongan Bu-tong, karena menyaksikan sikap garang dan galak imam itu, lagi pula dengan pedang Hok-mo-kiam yang jantan di tangannya, seolah-olah dia tidak mau memandang mata orang lain, sikapnya itu jauh sekali berbeda dibandingkan dengan sikap yang dahulu diperhatikannya sehabis menerima budi dari Touw Liong.

"Kau jangan menuduh orang secara serampangan, jangan sesalkan aku seorang she Touw, kalau aku berlaku keterlaluan terhadapmu!"

Ceng-tim tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu, ia lompat ke atas meja sembahyang dan menggerakkan pedangnya ke arah Touw Liong.

Kembali Touw Liong dikejutkan oleh gerakan Ceng-tim Totiang, sebab kepandaian dan kekuatan tenaga imam ini, sudah diketahui benar oleh Touw Liong, tetapi gerakan pedangnya kali ini nampaknya meskipun biasa, tetapi mengandung banyak sekali gerak tipu yang aneh-aneh, hingga mengejutkan Touw Liong.

Diserang secara demikian, Touw Liong terpaksa harus melompat tinggi untuk dapat mengelakkan serangan tersebut, ia lompat keluar dari pendopo Sam-ceng-tian dan turun di pekarangan.

Saat itu ia baru dapat melihat bahwa di sekitarnya terdapat banyak bayangan orang, semua imam dari golongan Bu-tong, telah berdiri mengurung padanya di pekarangan dengan pedang terhunus.

Sementara itu Ceng-tim Totiang juga sudah mengejar Touw Liong dengan langkah lebar.

Touw Liong segera menyambut kepadanya dan membentak dengan suara keras.

"Jangan bergerak! Kau siapa?"

"Siapa aku? Haa, hai! Touw tayhiap kau benar-benar suka membanyol. Siapa adanya aku, jikalau kau Touw tayhiap benar-benar tidak mengerti, tanya saja kepada mereka!"

Menjawab Ceng-tim dengan sikap tenang. Meskipun Ceng-tim mengatakan demikian namun para imam yang berada di situ semuanya menunjukkan sikap bingung dan tidak mengerti.

"Sungguh tidak kusangka hanya dalam waktu yang tidak lama kau sudah mendapat kemajuan demikian pesat, sudah tentu, semua ini adalah berkat partai Bu-tong yang pernah menjagoi beberapa ratus tahun di dalam rimba persilatan. Kalau totiang bisa mengangkat diri ke tingkatan orang kelas satu, mungkin rasanya juga tidak mengherankan, tetapi Touw Liong masih merasa curiga, dalam waktu yang sangat singkat, watak dan perangai totiang juga jadi turut berubah, inilah yang mengejutkan dan mengherankanku!"

Kata Touw Liong juga dengan sikap tenang.

"Mengenai pertanyaanmu ini, pinto tak perlu membantah. Tentang kemajuan ilmu silat yang pinto dapatkan, sesungguhnya tidak perlu dipikirkan. Partai Butong merupakan salah satu partai besar dalam rimba persilatan, dalam kuil kami ada tersimpan banyak kitab ilmu silat, dan pinto sebagai ketuanya, apa tidak dapat mempelajari ilmu silat simpanan itu?"

Berkata Ceng-tim sambil tertawa terbahak-bahak kemudian berkata pula.

"Mengenai perubahan watak dengan tiba-tiba juga mudah sekali dipecahkannya. Sesepuh kami telah mati di bawah serangan ilmu Thian-seng-jiauw, kematiannya itu tidak jelas, sedang kau Touw tayhiap telah muncul di gunung ini dengan tiba-tiba. Bagaimana jikalau kami tidak mencurigai kau sebagai pembunuhnya? Bagaimana pula kalau tidak lantas berubah sikapku terhadapmu?"

Touw Liong sebetulnya masih ingin menanyakan lagi asal-usul pedang Hok-mo-kiam di tangannya itu, tapi begitu mendengar ucapannya yang seolah-olah tidak mengenal aturan lagi itu, ia lantas batalkan maksudnya, hanya menghela napas dan mengawasi para imam yang berdiri di sekitarnya.

Meskipun waktu itu cuaca gelap, jadi tidak dapat terlihat sikap dan wajah masing-masing, tetapi dari sinar mata mereka, ternyata ada mengandung maksud permusuhan.

Sementara itu ia telah mengambil keputusan bahwa malam itu ia tidak akan menghadapi mereka dengan kekerasan, sebab jikalau tidak, pasti akan menimbulkan pertumpahan darah lebih hebat.

"Sebab-sebab kematian sesepuh Bu-tong-pay, aku sedang mengadakan penyelidikan, barangkali dalam waktu singkat akan diketahui siapa pembunuhnya hari ini...."

Demikian ia berkata sambil menggertak gigi.

Tetapi Ceng-tim tidak mau mengerti, ia malah menyerang Touw Liong dengan galaknya.

Sambil mengelakkan serangan Ceng-tim, Touw Liong memperhatikan gerak tipu ilmu pedang yang digunakan oleh imam itu.

Touw Liong dapat mengenal baik berbagai ilmu pedang, tetapi ia masih belum dapat memahami ilmu pedang apa yang digunakan oleh Ceng-tim itu.

Oleh karena ia bertempur sambil memperhatikan gerak tipu ilmu pedang imam itu, maka untuk sementara pertempuran itu berjalan berimbang.

Dalam pertempuran sengit, Touw Liong telah mengerahkan ilmunya Liang-gie sin-kag ke kedua jari tangan kanannya, setelah itu ia melancarkan serangannya dengan ilmu jari Tay-lo-kim-kong-cie, dan serangannya itu ternyata berhasil baik, sebab pedang Hok-mo-kiam di tangan Ceng-tim lantas jatuh di tanah.

Dalam keadaan terkejut, Ceng-tim masih keburu lompat melesat ke atas, sambil mengait pedang tadi dengan ujung kakinya, hingga pedang itu melesat ke tengah udara!

Touw Liong yang melihat pedang sudah melesat ke atas, lantas mengejar.

Akan tetapi gerakannya ternyata masih agak terlambat, sebab baru saja bergerak, dari atas ia merasakan seperti tertindih oleh kekuatan tenaga hebat, ia terkejut, tapi cepat mengerti apa yang telah terjadi.

Buru-buru ia batalkan maksudnya mengejar, dengan kedua tangannya ia menangkis serangan yang dilancarkan dari atas.

Ketika ia lompat naik ke atas genteng, barulah ia mengerti.

Kiranya, serangan tadi dilancarkan oleh Cengtim selagi ia melesat ke atas.

Bersamaan dengan itu ia juga mengerti bagaimana jahat dan ganasnya imam itu.

Memang benar, keganasan Cengtim yang diperlihatkan malam itu, benar-benar bukan seperti manusia Ceng-tim yang dahulu lagi.

Touw Liong tergerak hatinya, sambil berdiri di atas genteng, kembali ia melancarkan serangan dengan jari tangannya, untuk menyapu kepada pedang yang hendak meluncur turun lagi.

Ceng-tim merasa girang juga karena Touw Liong sudah berada di atas genteng.

Selagi ia hendak menyambar gagang pedang, pedang itu mendadak disapu oleh serangan jari tangan Touw Liong dan lantas melayang lagi, hingga usaha Ceng-tim tadi tidak berhasil.

Ia mengerti bahwa itu adalah perbuatan Touw Liong, hingga dadanya dirasakan hampir mau meledak, sambil menggeram hebat, kembali ia melancarkan serangan kepada Touw Liong yang masih berdiri di atas genteng, dan setelah itu ia melayang turun hendak menyambar pedangnya yang juga meluncur ke bawah.

Touw Liong agaknya dapat menduga bahwa imam itu akan bertindak demikian, maka begitu Ceng-tim lompat turun, ia lantas membarengi lompat ke atas sebuah pohon di tengah-tengah pekarangan.

Selagi melesat tadi, tangannya menyambar pedang yang sedang meluncur turun, dengan demikian pedang itu telah berhasil disambar olehnya yang terus melesat ke atas pohon.

Ceng-tim yang melayang turun, ketika menampak pedang itu sudah dirampas lebih dulu oleh Touw Liong hawa amarahnya semakin memuncak.

Maka ketika tiba di tanah, dengan cepat segera melesat lagi untuk menyergap Touw Liong yang berada di atas pohon.

Serbuan Ceng-tim dibarengi dengan serangan kedua tangannya yang ditujukan kepada pohon besar itu, hingga pohon itu lantas roboh dan daun-daunnya pada rontok di tengah pekarangan.

Meskipun pohon besar itu sudah rubuh, tetapi Touw Liong sudah tidak tampak lagi bayangnnya.

Untuk kedua kalinya Ceng-tim marah-marah sendiri, matanya ditujukan ke arah jauh.

Di sana, tampak olehnya sesosol bayangan hitam yang sedang lari bagaikan kijang cepatnya, bayangan itu bukan lain daripada Touw Liong.

Ia masih penasaran, saat itu lantas bergerak untuk mengejarnya.

Dalam keadaan gelap gulita ia mengejar sekian lama, ternyata sudah ketinggalan jauh.

Terpaksa ia memperlambat langkahnya, dengan napas memburu ia berhenti, untuk mencari pikiran lain.

Tiba-tiba dari belakangnya terdengar desiran angin, cepat sekali ia berpaling, tampak olehnya seorang wanita cantik berbaju kuning berdiri di belakangnya.

"Kau siapa?"

Demikian ia menegur wanita itu.

"Kim Yan,"

Jawab wanita cantik itu singkat.

"Kau bukankah sumoy Touw Liong?"

Bertanya Cengtim heran. Kim Yan lebih dulu menganggukkan kepala kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Dahulu ya, tetapi sekarang bukan. Aku dengan Touw Liong sudah putus perhubungan sekarang.... Aku juga.... atas kebaikan Hek-hong Kauwcu..."

"O, ya! Kuingat,"

Kata Ceng-tim sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kau adalah Hek-hong Liong-lie di bawah perintah Hek-hong Kauwcu."

"Dan kau?"

"Sekarang aku adalah ketua partai Bu-tong."

"Dari suaramu kau tidak mirip dengan Ceng-tim."

"Nona benar-benar sangat pintar. Sudah tentu aku tidak dapat mengelabui dirimu, tetapi pada saat ini aku masih tetap sebagai ketua dari partai Bu-tong."

"Aku tidak mempunyai kesempatan untuk mencampuri urusanmu, aku hanya ingin tanya padamu, imam tua Hiankie-cu dari partai Bu-tong itu di mana sekarang?"

"Untuk apa kau cari kepadanya?"

"Kuminta ia kembalikan pedang Hok-mo-kiam yang jantan milik Hek-hong-kauwcu."

"Tetapi kedatangan nona ini agak terlambat!"

"Kenapa?"

"Hian-kie-cu sudah mati, pedang Hok-mo-kiam itu sudah kembali pada pemiliknya yang lama. Kau benarbenar sudah terlambat!"

"Kau ngoceh! Kauwcu kami kemarin masih menyaksikan imam tua itu, mengapa kau katakan ia sudah mati?"

"Nona ini seorang pintar, namun mengapa bisa berpikiran demikian bodoh? Dalam dunia ini mana ada seorang yang sudah mati beberapa puluh tahun lamanya bisa hidup kembali?"

"Jadi kau maksudkan Hian-kie-cu yang sudah mati beberapa puluh tahun tidak mungkin hidup kembali? Kalau begitu siapakah Hian-kie-cu yang pada beberapa berselang menampakkan dirinya itu?"

"Itu ..... adalah aku sendiri yang menyamar!"

"Jadi kau dapat menyamar demikian mirip?"

"Aku pernah belajar ilmu menyamar muka dan gerakgerik orang,"

Menjawab Ceng-tim sambil menganggukkan kepala.

"Kalau begitu, kau sendiri juga bukanlah Ceng-tim."

Bab 56 KEMBALI Ceng-tim menganggukkan kepala dan menjawab.

"Ceng-tim juga sudah mati, untuk selanjutnya, ia tidak akan muncul lagi di dalam rimba persilatan."

Sayang! Kim Yan tidak menanya lagi ia itu siapa sebetulnya? Hanya berkata dengan nada suara hambar.

"Aku tidak peduli kau siapa, aku hanya ingin minta keterangan tentang pedang Hok-mo-kiam itu. Lekas beritahukan kepadaku, di mana pedang itu sekarang?"

"Pedang? Sebetulnya sudah berada di tanganku. Tetapi kemudian, sudah dirampas oleh suhengmu!"

"Kemana dia pergi?"

"Ia sudah kabur, tadi aku mengejar tetapi tidak berhasil menyusulnya."

Tanpa dipikir panjang lebar, Kim Yan sudah mengajak Ceng-tim pergi mengejar suhengnya.

-----00000-----Di atas puncak gunung yang lain, Touw Liong bersama Kang Kie, Pek Giok Hoa dan Lo Yu Im berempat sedang duduk berunding.

Touw Liong sehabis menyeka keringatnya menarik napas panjang, berkata sambil menunjuk pedang Hok-mokiam di tangannya.

"Beberapa hari capai lelah kita adalah lantaran pedang ini, dan sekarang, pedang ini sudah didapatkan, tetapi Hiankie-cu, manusia misterius dari Bu-tong-pay, hingga kini masih belum pernah unjuk muka, dan lagi pula ..... Cengtim Totiang juga sudah menjadi manusia misterius nomor dua. Atas usul Kang Kie, empat orang sudah bersepakat besok pagi hendak mengadakan penyelidikan lagi di gunung Butong. Esok pagi, masih pagi-pagi sekali, Touw Liong berempat sudah turun dari puncak gunung, melakukan perjalanan ke gunung Bu-tong. Ketika mereka tiba di depan sebuah batu besar yang terdapat tanda tulisan tempat menanggalkan pedang, juga merupakan pintu gerbang partai Bu-tong, mereka dikejutkan oleh sebuah tulisan yang merupakan makam Ceng-tim Totiang, ketua generasi ke tigabelas partai Butong.

"Apa?!"

Kang Kie yang pertama-tama berseru kaget dan kemudian berkata kepada dirinya sendiri.

"Jadi Ceng-tim Totiang juga sudah mati?"

Touw Liong sementara itu terus diam saja mengawasi tulisan itu, ia sedang tenggelam dalam alam pikirannya dan mengenangkan kembali apa yang telah terjadi tadi malam....

Pada saat itu, dari atas kuil keluar beberapa imam, mereka itu adalah yang tadi malam menyambut kedatangan Touw Liong berempat.

Imam yang berjalan lebih dahulu, dengan wajah sedih bertanya pada Touw Liong.

"Touw tayhiap, tadi malam Ciangbun Couwsu kami telah mengejar kau turun gunung, apa mau tadi pagi-pagi jam lima, murid partai kami yang ditugaskan untuk meronda telah mendapatkan diri Cawsu kami sudah binasa di depan kuil Sam-goan-koan. Dalam urusan ini, kau Touw tayhiap harus memberi keadilan kepada kami!"

Touw Liong terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Dengan cara bagaimana kematian ketuamu itu?"

"Mati di bawah serangan ilmu Thian-seng-jiauw."

Kembali Touw Liong terkejut, kemudian teringat Cengtim, manusia misteri nomor dua itu, katanya.

"Apakah kalian sudah periksa, ketua kalian itu adalah orang lain yang menyaru ataukah ketuamu sendiri?"

"Tentang diri Ciangbunjin kami bagaimana bisa salah? Murid-murid yang ditugaskan untuk menguburnya bagaimana tidak dapat mengenali?"

Touw Liong menganggukkan kepala dan menyoja, kemudian berkata.

"Kedatanganku hari ini justru lantaran peristiwa yang terjadi dalam kuil kalian ini, jadi tidak perduli bagaimana dengan totiang sekalian bagaimanapun juga Ciangbunjin kalian tidak mungkin mati di tanganku orang she Touw."

Para imam itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mengeluarkan suara dari hidung. Touw Liong berkata pula.

"Tolong totiang tunjukkan jalan, aku si orang she Touw hendak memeriksa jenasah Ciangbunjin kalian."

Touw Liong mengikuti imam tadi berjalan masuk ke pendopo Sam-ceng-tian, di tengah-tengah pendopo rebah membujur dua sosok jenasah, yang satu adalah jenasah sesepuh Bu-tong-pay yang sudah mati pada dua hari berselang, dan yang lain adalah Ciangbunjin atau ketua Butong Ceng-tim Totiang yang tadi malam masih berlaku gagah di hadapannya.

Di hadapan jenasah itu, ada berdiri enam imam yan sudah berusia lanjut, begitu Touw Liong masuk ke pendopo, enam pasang mata imam itu telah mengawasi kepadanya dengan sikap dingin, kemudian pada menundukkan kepala.

Touw Liong tahu bahwa mereka para sesepuh partai Butong pada dewasa itu, kalau ditilik dari kedudukannya mereka masih sederajat dengan It-tim.

Touw Liong perlahan-lahan menghampiri ke depan jenasah, ia membuka tutupnya, memeriksa bagian dada Ceng-tim, di situ kembali terdapat tanda jari tangan yang sudah berwarna hitam.

Siapapun tahu, luka seperti itu adalah disebabkan karena terkena serangan Thian-seng-jiauw atau Thay-it-sin-jiauw.

Touw Liong tidak bersuara, sepasang matanya ditujukan kepada kedua jenasah itu, Kang Kie maju menghampiri, mengawasinya sejenak, kemudian berbisik-bisik di telinga Touw Liong.

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala kemudian menarik napas panjang, setelah itu ia memberi hormat dan menjura kepada enam sesepuh, dan berkata sambil menunjuk jenasah Ceng-tim.

"Totiang sekalian adalah para sesepuh partai Bu-tong yang sekarang, tentunya sudah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman. Coba Totiang sekalian lihatlah dan periksalah baik-baik jenasah Ciangbunjin totiang kalian ada perbedaan apa dengan kematian sesepuh tianglo pada kemarin malam?"

Enam sesepuh itu mendengar ucapan tersebut pada terkejut, mata mereka lalu dialihkan kepada kedua jenasah itu. Sementara itu Touw Liong telah mengeluarkan suara perlahan.

"Sungguh berbahaya!"

Salah seorang sesepuh itu, agaknya tidak mengerti maksud ucapan Touw Liong tadi, maka lalu bertanya.

"Berbahaya apa?"

"Aku si orang she Touw hampir saja menjadi sasaran orang banyak, kiranya Totiang sekalian sudah menganggap aku sebagai musuh."

Imam tua tadi masih tidak mengerti maksud Touw Liong, matanya menatap pemuda itu, sementara itu Touw Liong sudah berkata lagi sambil menunjuk jenasah yang membujur di atas meja.

"Totiang sekalian boleh periksa dengan teliti, kematian dua orang ini sama keadaannya, bahkan .... dari warna kulit mereka dapat diketahui waktu matinya juga bersamaan."

"Aaa!"

Demikian sesepuh tadi berseru kaget dengan serentak, sekarang semua mata dialihkan kepada Touw Liong, untuk mendengarkan keterangannya lebih lanjut.

"Aku kini sudah ingat, Ciangbunjin kalian tadi malam bertempur denganku itu justru pembunuhnya Ciangbunjin kalian yang asli, kemarin malam ia telah membunuh mati sesepuh kalian bersama Ceng-tim Totiang, Ciangbunjin kalian ini, setelah itu ia lalu menyamar menjadi ciangbunjin kalian, dan mengelabui kalian semua....."

Para imam itu saling berpandangan satu sama lain. Sementara itu Touw Liong sudah berkata pula dengan tegas.

"Jelasnya, orang itu semula muncul di sini dengan menyamar sebagai Hian-kie-cu locianpwee yang menutup mata pada lima puluh tahun berselang. Lebih dahulu ia naik ke gunung Cit-phoa-san merampas pedang Hok-mokiam, kemudian balik ke gunung Bu-tong untuk mencari tempat berlindung, tapi ia juga takut akan diketahui rahasianya oleh sesepuh partai Bu-tong dan Ciangbunjin, itulah yang membuat dia dengan diam-diam menurunkan tangan kejam. Setelah ia berhasil membunuh Ceng-tim Totiang, lalu menyamar lagi dan mengangkat diri jadi Ciangbunjin. Hanya dengan cara bagaimana dan kenapa maka tadi malam ia berlalu...."

Dugaannya itu sangat tepat, dan enam imam itu semuanya adalah orang-orang kang-ouw kawakan.

Setelah memeriksa keadaan dua jenasah itu, tentu saja lantas tahu memang benar matinya dua orang itu adalah dalam waktu bersamaan.

Dengan demikian perasaan curiga terhadap Touw Liong mulai berkurang, akan tetapi oleh karena dua jenasah itu menunjukkan kematiannya dengan cara yang sama ialah sama-sama mati di bawah serangan Thian-seng-jiauw, maka hal ini belum menghilangkan rasa curiga semuanya terhadap Touw Liong.

Oleh karenanya, maka mereka tiada satu yang membuka mulut, dengan demikian, hingga suasana menjadi hening.

Kang Kie yang sudah tidak sabar lagi, lalu bertanya kepada enam sesepuh sambil menjura.

"Sekarang Tianglo sekalian masih ada pertanyaan apa? Rasanya keterangan saudaraku tadi sudah lebih dari cukup."

Pek Giok Hoa juga lantas mengajak mereka berlalu.

Touw Liong dalam keadaan terpaksa, lalu bersama-sama Kang Kie bertiga keluar dari pendopo Sam-ceng-tian.

Dalam perjalanannya pulang, di waktu sore Kang Kie yang menampak Touw Liong masih diam saja, agaknya sedang diliputi oleh banyak pikiran, maka sesudah makan malam, empat orang itu keluar kota, menyusuri jalan di tepi sungai Han-kang, maksud Kang Kie ialah supaya Touw Liong bisa terhibur, sebab sejak turun dari gunung Bu-tongsan, Touw Liong selalu menunjukkan sikap sedih.

Tetapi Touw Liong bukannya menjadi gembira, malah jadi lebih banyak melamun.

Kang Kie akhirnya tidak berani mengganggu lagi, demikian pula Pek Giok Hoa juga mengawani dia dengan mulut bungkam.

Cuaca sudah gelap, Touw Liong yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba angkat muka dan berkata kepada Kang Kie.

"Koko, siaote harus berangkat ke Hui-liong-chung sekarang juga, hendak mengurus sesuatu urusan penting."

"Kau hendak mengurus apa?"

Bertanya Kang Kie yang tidak mengerti.

"Jikalau dugaanku tidak keliru, Hui-liong-chung sekarang ini mungkin sedang mendapat ancaman besar!"

"Kalau begitu mari kita pergi bersama-sama."

"Tidak! Kalian turut bersama juga tidak ada gunanya, sebaiknya siaote pergi seorang diri saja,"

Berkata Touw Liong sambil menggelengkan kepala.

"Aku ikut kau pergi!"

Berkata Pek Giok Hoa sambil menyandarkan kepalanya di pundak anak muda itu. Touw Liong menggandeng tangannya yang putih halus, katanya dengan suara lemah lembut.

"Kau juga tidak boleh turut pergi ada satu perkara lain yang lebih penting daripada pergi ke Hui-liong-chung yang harus kau lakukan."

"Ada urusan lebih penting apa yang harus kau lakukan?"

Tanya Pek Giok Hoa.

"Ayahmu bukankah sudah berhasil mempelajari ilmu gaib dari daerah luar? Jikalau kau hendak menuntut balas dendam ayahmu, maka kau masih perlu untuk melatih baik-baik ilmu peninggalan ayahmu itu, apalagi ..... dalam tanganmu sudah ada pedang pusaka Hok-mo-kiam, jikalau kau tidak berikuti dengan ilmu pedang tingkat tinggi, pedang itu tidak akan ada gunanya, maka soal yang terpenting pada saat ini, aku kira ialah melatih ilmu pedang golongan kelas tinggi itu."

Kang Kie dengan perasaan tidak mengerti mengawasi adiknya itu, Touw Liong perlahan-lahan dari dalam sakunya mengeluarkan kitab ilmu pedang Hok-mo-kiamhoat, serta diberikannya kepada Pek Giok Hoa seraya berkata.

"Kitab ilmu pedang ini adalah Hok-mo Lojin yang meninggalkan untuk murid dari golongannya."

Tiga orang itu agak terkejut, Touw Liong memberikan kitab ilmu pedang itu kepada Pek Giok Hoa, dan menceritakan bagaimana ia mendapatkan kitab ilmu pedang itu di dalam gua Hek-hong-tong.

Pek Giok Hoa menyambuti kitab pemberian Touw Liong, lalu berlutut menghadap ke barat dan menjuta hingga empat kali, dengan sangat hati-hati sekalu kemudian ia menyimpan kitab ilmu pedang itu ke dalam sakunya sendiri.

Touw Liong segera minta diri kepada tiga orang itu, dengan ringkas ia memberitahukan kepada Kang Kie.

"Harap koko melindungi ia, tempat yang paling baik untuk melatih ilmu pedang ialah di puncak gunung Thiantu-hong di gunung Oey-san, selambat-lambatnya dua bulan, siaote pasti akan ke Thian-tu-hong untuk mencari kalian."

Setelah meninggalkan pesan kepada saudaranya ia mulai melakukan perjalanan.

Dengan melakukan perjalanan siang dan malam, beberapa hari kemudian Touw Liong sudah tiba di Huilion-chun, begitu menginjak jembatan yang menghubung antara Hui-liong-chung dengan daerah luar, ia telah mendapatkan suatu perubahan yang menyedihkan.

Tiba di tempat itu Hui-liong-chung sedang mengalami kebakaran hebat.

Api itu timbulnya sangat aneh, mengapa justru pada saat Touw Liong tiba di tempat itu di perkampungan itu lantas mendadak terjadi kebakaran!

Touw Liong benar-benar sangat terkejut, secepat kilat ia lari ke tempat kebakaran itu.

Oleh karena waktu itu angin meniup kencang maka kebakaran itu semakin besar.

Di dalam perkampungan itu suara orang yang menolong kebakaran sangat riuh.

Touw Liong begitu masuk ke dalam perkampungan dengan menempuh bahaya api, sekaligus ia sudah berhasil menolong jiwa empat anak dan dua kaum wanita, tetapi selama itu masih belum dapat bertemu dengan Lie Hui Hong.

Ketika ketiga kalinya ia masuk ke dalam, seorang padri tua telah melintangkan tongkat bajanya di depan Touw Liong.

Touw Liong yang tadi tidak memperhatikan begitu melihat ada orang yang merintangi segera angkat muka, saat itu ia terkejut, sebab padri itu adalah susioknya Lie Hui Hong sendiri, padri tua yang pertama kali menemukan batok kepala Lie Hui Tek.

"Bocah she Touw, kau penjahat ini sungguh kejam, sudah membakar perkampungan Hek-liong-chung!"

Demikian padri tua itu berkata dengan marahnya.

Touw Liong tercengang, tetapi ia segera menjadi sadar, sudah pasti ada orang yang menimbulkan onar di perkampungan itu, bahkan sudah menggunakan namanya, atau menyamar menjadi dirinya, yang bermaksud hendak memfitnah kepadanya.

Siapakah orang itu?

Mungkin juga si penjahat yang menyamar menjadi ketua Bu-tong pay, juga yang pernah menyamar menjadi Hian-kie-cu, dan yang membunuh Pek Thian Hiong.

Apabila benar perkampungan itu adalah dia yang membakar, siapakah orang itu?

Rasanya perlu mencari tahu.

Oleh karena tindak-tanduknya selama itu, yang selalu hendak memfitnah dirinya dan mencelakakan dirinya, maka dalam dunia ini, orang yang mengandung maksud jahat seperti itu, hanya seorang saja, dia itu adalah ....

Koo Hong!

Akan tetapi Koo Hong sudah mati, apakah benar-benar seperti apa yang dikatakan Kakek Seribu Muka, bahwa orang she Koo itu belum mati terbakar?

Kali ini ia telah muncul lagi, segala perbuatannya itu ditujukan untuk mencelakakan dirinya supaya ia tidak dapat tancap kaki di rimba persilatan.

Apabila benar itu perbuatan Koo Hong maka....

Selagi memikirkan soal itu, dengan tidak diduga-duganya padri tua itu sudah menyerang dirinya dengan tongkat, sehingga mau tak mau Touw Liong harus melesat tinggi untuk membuyarkan serangan tadi.

Touw Liong setelah berhasil mengelakkan serangan padri tua itu, ia meletakkan dua anak yang dibawanya di tanah, setelah itu ia berpaling.

Selagi hendak bertanya, serangan kedua dari padri tua itu sudah mengancam dirinya lagi, Touw Liong lalu berseru.

"Di mana saudara Hui Hong?"

"Dia pergi mengejar sumoymu Kim Yan! Kamu suheng dan sumoy sungguh bagus perbuatanmu, telah membakar perkampungan, lalu mencoba-coba hendak kabur, dan kau sekarang pura-pura berlaku baik hati!"

"Kim Yan?"

Demikian Touw Liong mendumel sendiri, ia menjadi bingung dan tidak habis mengerti apa sebabnya Kim Yan juga datang ke perkampungan Hui-liong-chung.

Ia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, tidak dapat ia memberi penjelasan apa-apa kepada padri tua itu, oleh karena Koo Hong sudah muncuk di perkampungan Huiliong-chung, maka ia telah mengambil keputusan hendak mencari kepadanya.

Oleh karenanya, maka ia tidak menghiraukan padri tua itu, bagaikan garuda terbang, ia melesat mengitari kampung tersebut untuk mencari jejak Koo Hong.

Pada saat itu, di atas jembatan telah terjadi pertempuran seru antara Lie Hui Hong dengan anak buahnya di satu pihak, dan Kim Yan di lain pihak.

Tampaknya Lie Hui Hong hendak menerobos jembatan sayang jembatan itu sudah dihalangi oleh Kim Yan, sehingga ia tidak berhasil menerobos pula.

Sebelum Touw Liong tiba di tempat tersebut, sudah terdengar suara Kim Yan yang berseru.

"Orang yang kalian cari itu sudah datang!"

Seruannya itu ternyata berhasil.

Lie Hui Hong segera berpaling dan lebih dulu menyambut kedatangan Touw Liong.

Bab 57 ANAK Lie Hui Hong juga turut menyerbu dan menyerang Touw Liong.

Dalam keadaan demikian, Touw Liong terpaksa menggunakan ilmunya serangan jari tangan untuk menghalaukan serbuan orang-orang itu, sementara mulutnya berkaok-kaok memanggil Kim Yan.

"Sumoy, kapan kau datang kemari?"

"Bukankah aku sudah datang bersama-sama denganmu? Bagaimana kau begitu lekas lupa? Bukankah kau sendiri yang membakar perkampungan ini?"

Demikian Kim Yan menjawab sambil tertawa terbahak-bahak. Lie Hui Hong marah sekali, bentaknya.

"Bocah she Touw, bagus sekali perbuatanmu! Hari ini aku akan adu jiwa denganmu!"

Touw Liong tidak tahu bagaimana harus membuka mulut, karena sudah terancam oleh serangan Lie Hui Hong, terpaksa ia menggunakan pula serangannya jari tangan, untuk menyentil jatuh golok Lie Hui Hong, karena ia tahu bahwa kekuatan tenaga dan kepandaian Lie Hui Hong belum pulih, maka ia tidak mau turun tangan terlalu kejam.

Tak lama kemudian, padri tua susioknya Lie Hui Hong juga sudah sampai di tempat itu, dan menyerang Touw Liong dengan tongkatnya, Touw Liong mengelak sambil berseru.

"Tahan!"

"Tahan boleh, tapi serahkan dulu nyawamu!"

Jawab padri tua itu dalam keadaan marah.

Touw Liong yang diserang bertubi-tubi, terpaksa loncat sana loncat sini untuk mengelakkan serangan mereka, ia telah berhasil sampai ke jembatan, dan berkata dengan cemas kepada sumoynya.

"Sumoy..."

Tetapi kedatangan Touw Liong disambut oleh Kim Yan dengan satu serangan hebat. Touw Liong merasa sedih mendapat perlakuan demikian, tetapi ia masih bertanya juga kepadanya.

"Siapa yang telah melepas api?"

"Bukankah kau sendiri?!"

Touw Liong merasa sedih, ia terpaksa merubah siasatnya, tanyanya pula dengan nada suara sedih.

"Kau datang bersama siapa?"

"Bersama-sama dia,"

Menjawab Kim Yan sambil menunjuk ke ujung jembatan.

Di sana, tampak berdiri seorang tua berwajah putih dengan sikap tenang.

Touw Liong dalam hatinya terkejut, karena orang itu bukan lain daripada Pek Thian Hiong.

Bukankah Pek Thian Hiong sudah binasa di gunung Kiong-lay-san?

Mengapa kini mendadak muncul lagi?

Apakah orang yang sudah mati bisa hidup kembali?

Pada saat itu, api berkobar semakin keras, padri tua dengan sikapnya yang masih marah menghampiri Touw Liong, dan ketika di situ bertambah satu orang, juga terkejut, tanya dengan suara nyaring.

"Sicu siapa?"

"Aku si orang tua Pek Thian Hiong,"

Jawab orang yang ditanya sambil tertawa terbahak-bahak. Padri tua itu terkejut, buru-buru memberi hormat kepadanya.

"Entah ada keperluan apa sicu berkunjung ke kediaman kami?"

Bertanya padri tua itu.

"Kedatanganku kemari hanya membawa tugas dari Hekhong Kauwcu, minta supaya taysu bersama kemenakanmu pergi ke gunung Hek-hong-san untuk bekerja sama dengan Kauwcu."

Padri tua itu mengawasi Kim Yan dan Touw Liong dengan sikap marah, Pek Thian Hiong segera mengerti maksudnya, maka lalu berkata sambil menunjuk Touw Liong.

"Bocah she Touw ini sudah membakar perkampungan Hui-liong-chung, tentang ini, siansu harap jangan khwatir, Kauwcu tidak akan tinggal diam pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatan bocah ini."

"Bagaimana dengan sumoynya?"

Bertanya Lie Hui Hong. Pek Thian Hiong kembali menjawab.

"Tentang nona Kim, karena dilakukan dalam keadaan terpaksa, nona Kim sekarang sudah bergabung dalam Hekhong-kauw, kedatangannya kali ini semata-mata karena dipaksa oleh bocah she Touw itu. Kalau Chungcu tidak percaya, silahkan tanya kepada nona Kim sendiri!"

Oleh karena Pek Thian Hong dalam rimba persilatan mempunyai kedudukan tinggi, dan kini sudah menggabungkan diri dengan Hek-hpng-kauw hal ini saja sudah cukup untuk menggerakkan hati Lie Hui Hong, ia memandang kepada susioknya, tampak padri tua itu sedang berpikir keras, agaknya juga sudah tergerak hatinya.

Lie Hui Hong maju dua langkah dan bertanya kepada Kim Yan.

"Nona, betulkah ucapan Pek Sancu ini?"

Kim Yan mengangguk. Padri tua itu lalu berkata.

"Apabila sancu menerima baik permintaan pinceng, pinceng bersedia ikut samcu untuk menjumpai Kauwcu dengan segera."

"Silahkan!"

"Apabila sancu sekarang ini mau membela keadilan bagi kami, pinceng dengan senang hati bersedia menyumbangkan tenaga untuk Hek-hong-kauw."

"Urusan ini sangat mudah, aku pikir, tidak perlu aku harus turun tangan sendiri, aaai...."

Baru berkata sampai di situ ia terdiam, matanya memandang Kim Yan. Tanpa ragu-ragu Kim Yan menganggukkan kepala kemudian mengulur pedang panjangnya dan berkata.

"Siaolie bersama suheng masing-masing ada perjalanannya sendiri-sendiri, tentang perhubungan persaudaraan dalam satu perguruan antara kami sudah lama putus. Untuk menyumbangkan sedikit tenaga bagi chungcu, sudah tentu tidak keberatan."

Kata-katanya itu diucapkan dengan sikap tenang dan wajar, hingga Touw Liong yang mendengarkan itu merasa seolah-olah ditikam hatinya oleh ujung belati.

Tetapi ia mengerti keadaan sumoynya pada waktu itu, tidak perlu banyak alasan, maka ia hanya dapat menarik napas panjang saja, dan matanya mengerling kepada Pek Thian Hiong, sementara dalam hatinya, ia sudah menduga pasti, bahwa Pek Thian Hiong itu, mungkin adalah jelmaan Koo Hong, atau Koo Hong yang menyamar sebagai Pek Thian Hiong.

Sebabnya mudah sekali, karena Pek Thian Hiong yang sudah mati tidak mungkin bisa hidup kembali.

Touw Liong berpaling, dan memberi penjelasan kepada padri tua itu.

"Losiansu tunggu dulu, aku si orang she Touw masih ada sedikit perkataan yang rasanya tidak enak didengar....."

Padri tua yang sudah marah sekali itu, agak tidak dapat diberi mengerti begitu saja, katanya sambil menggertak gigi.

"Masih perlu bicara apa lagi? Karena Hui Pek, membakar perkampungan Hui-liong-chung, merampas batu Khun-ngo-giok, semua adalah perbuatanmu seorang. Pinceng sebetulnya merasa sangat menyesal tidak dapat bertindak sendiri terhadapmu, tapi biarlah. Sekalipun meminjam tangan orang lain, asal aku dapat melihat kau mati di jembatan ini, hari ini aku sudah merasa puas."

"Losiansu keliru!"

Kata Touw Liong sambil menarik napas panjang.

"Apa yang keliru? Apakah masih ada hal-hal yang terjadi di luar persoalan?"

Touw Liong menganggukkan kepala, sambil menunjuk Pek Thian Hiong, ia balas bertanya kepada Lie Hui Hong.

"Tahukah chungcu siapa dia ini?"

"Bocah, siapa yang tidak kenal Pek siancu? Apa kau masih pikir hendak membantah?"

"Jikalau dugaanku tidak keliru, dia adalah Thian-bok Itsiouw Koo Hong."

"Koo Hong?"

Touw Liong mengangguk, lalu katanya dengan sikap sungguh-sungguh.

"Apa yang disebutkan oleh pamanmu tadi, semua telah dilakukan oleh dia seorang. Bahkan.... kematian Pek Siancu di gunung Kiong-lay-san, kematian suhu di gunung Kiu-hoa-san, juga dia yang membunuh secara menggelap. Dua urusan ini, juga mungkin perbuatannya!"

Pek Thian Hiong tertawa besar, ia berkata sambil membusungkan dada.

"Bocah, dugaanmu semua jitu, perbuatan itu semua adalah aku yang melakukan...."

Belum lenyap suara tertawanya, wajah padri tua dan Lie Hui Hong berubah seketika, mereka alihkan pandangan matanya kepada Pek Thian Hiong.

"Bocah kau mengoceh seenaknya, apa kau kira mereka mau percaya obrolanmu?"

Dengan penjelasan itu, perasaan tegang Lie Hui Hong dan padri tua tadi sesaat menjadi kendor. Pek Thian Hiong sementara itu lantas berkata kepada Kim Yan sambil menjura.

"Jikalau nona tidak mau turun tangan, biarlah aku si orang tua yang bertindak sendiri."

Kim Yan menjawab, ia hanya menggerakkan pedangnya dan mendesak Touw Liong.

"Apabila suheng tidak mau menghunus juga pedangmu, jangan salahkan kalau sumoaymu yang bertindak dengan tidak pakai aturan!"

Dalam keadaan sangat terpaksa Touw Liong menghunus pedang Hok-mo-kiamnya, ia menganggukkan kepala seraya berkata.

"Sungguh tak diduga bahwa kejadian hari ini benarbenar seperti apa yang diucapkan oleh Panji Wulung Wanita dahulu...."

Dalam amarahnya, Touw Liong lantas menantang semuanya supaya maju berbareng.

Pek Thian Hiong diam saja, tetapi padri tua itu sudah tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya, setelah menggeram, lalu maju sambil menenteng senjatanya.

Tetapi perbuatan itu segera dicegah oleh Pek Thian Hiong, katanya.

"Losiansu jangan keburu nafsu, Kim lihiap seorang yang turun tangan, kurasa sudah cukup untuk mengambil jiwa bocah ini."

Oleh karenanya padri tua itu lalu membatalkan maksudnya, hanya memandang Touw Liong dengan sinar mata berapi-api.

Demikianlah dua saudara seperguruan, yang dahulu berhubungan demikian akrab, bahkan sudah saling mencinta, kini harus berhadapan sebagai musuh, ini sesungguhnya memang terlalu kejam, tetapi kenyataannya telah terjadi begitu, maka Touw Liong mau tak mau harus menghadapi kenyataan itu dengan hati patah.

Pertempuran berlangsung seru.

Touw Liong terus saja mengalah, ia tidak mau turun tangan kejam terhadap saudara seperguruannya.

Sebaliknya dengan Kim Yan, nona ini agaknya tidak mau memberi hati kepada Touw Liong, setiap serangannya dilakukan dengan sangat ganas.

Kira-kira setengah jam telah berlangsung, dalam pertempuran seru dan sengit itu, dengan tiba-tiba Kim Yan undurkan diri, pedang di tangan Kim Yan tertuju ke bawah, wajahnya tampak marah, dengan sinar mata berapi-api memandang Touw Liong.

Demikian pula keadaan Touw Liong.

Pemuda ini juga menurunkan pedangnya ke tanah dengan hati pilu mengawasi Kim Yan, kemudian berkata dengan suara sedih.

"Sumoay, suhengmu terpaksa harus bertindak demikian!"

Pek Thian Hiong sebetulnya diam-diam sudah bersepakat dengan padri tua, tidak perduli siapa yang menang dan kalah dalam pertmpuran ini, keduanya akan menyergap Touw Liong.

Dalam perkiraan mereka, Kim Yan tidak mungkin kalah, sebab mereka sudah lama dengar bahwa ilmu Hek-hong-imkang dari Hek-hong Kauwcu, sudah diwariskan kepada Kim Yan, maka kalau dibanding dengan Touw Liong, Kim Yan tidak mungkin bisa kalah.

Akan tetapi kenyataannya, kini Kim Yan bukan saja sudah kalah, bahkan kekalahannya itu sangat hebat.

Justru karena itu, maka dua orang tadi baru sadar dan terkejut, mereka sudah melupakan persepakatan mereka semula yang hendak menyergap Touw Liong, mereka hanya repot untuk mencari sebab-sebabnya kekalahan dari Kim Yan.

Akan tetapi dua orang itu melihat-lihat demikian lama, meskipun mereka semuanya merupakan orang-orang Kangouw kawakan, namun masih tidak dapat melihat Kim Yan terluka di bagian mana.

Sementara itu Touw Liong sudah berkata sambil menunjuk dengan pedangnya kepada Pek Thian Hiong.

"Orang she Koo, hari ini adalah hari kematianmu. Sebelum aku turun tangan, kau bicaralah dengan terus terang. Benarkah kematian suhu itu adalah perbuatanmu...?"

Pek Thian Hong dalam keadaan marah, selagi hendak melancarkan serangan, Kim Yan tiba-tiba membentak.

"Tunggu dulu!"

Pek Thian Hiong terpaksa membatalkan maksudnya, ia berdiri tegak tanpa bersuara, Kim Yan maju selangkah dengan sinar mata dingin ia menatap wajah Touw Liong sejenak kemudian berkata kepadanya.

"Suheng, hari ini kau benar-benar gagah!"

Touw Liong hanya sambut ucapan itu dengan helaan napas perlahan, dengan hati pilu mengawasi Kim Yan.

"Aku adalah wakil ketua Hek-hong-kauw,"

Demikian Kim Yan berkata pula.

"Mereka berdua adalah anggota terpenting bagian hukum di bawah perintah Hek-hong Kauwcu. Suheng apabila kau masih ada apa-apa yang kau pula belum diselesaikan dengan mereka, hari ini kau boleh perhitungkan dengan aku. Selewatnya hari ini, kalau aku tidak bersama mereka, segala permusuhan pribadi, boleh bereskan sendiri langsung dengan mereka."

"Sumoay, bagaimanapun gila pikiranmu, juga seharusnya kau sadarilah bahwa musuh perguruan itu besar sekali artinya!"

"Apakah kau sudah tahu pasti bahwa dia itu adalah Koo Hong? Apakah kau sudah tahu pasti bahwa musuh yang membunuh suhu itu adalah Koo Hong?"

Dua buah pertanyaan itu telah membuat Touw Liong bungkam.

Kim Yan menunggu sebentar, lalu mengajak dua orang itu berlalu.

Pek Thian Hiong dan padri tua itu hanya mengikuti saja jejak Kim Yan meninggalkan Touw Liong di tempatnya.

Touw Liong mengawasi berlalunya Kim Yan, dalam hatinya merasa sangat pilu, hingga air matanya sampai mengalir keluar.

Ia telah menduga dengan pasti, bahwa orang yang menyamar menjadi Pek Thian Hiong itu adalah Koo Hong, juga mungkin dialah musuhnya yang membunuh mati gurunya sendiri.

Tetapi oleh karena dihalang-halangi oleh Kim Yanm hingga ia tidak bisa turun tangan terhadapnya, kalau ia memikirkan pertempuran yang terjadi antara ia dengan sumoaynya tadi, Touw Liong merasa begitu menyesal, tidak seharusnya ia turun tangan berat, dengan menggunakan ilmunya Tay-lo-kim-kong-ci, telah membuat cacad lengan kiri Kim Yan.

Ia merasa sedih memikirkan nasib sumoaynya.

Luka di lengan kiri Kim Yan, seumur hidupnya ini, tidak mungkin dapat disembuhkan lagi.

Sebetulnya tiada maksud sedikitpun darinya untuk membuat cacad sumoaynya, hal itu telah terjadi di luar dugaannya sendiri, juga boleh dikata karena kesalahan tangan.

Kiranya selagi pertempuran berlangsung, Touw Liong telah menampak lengan kiri Kim Yan ada tanda-tanda hendak mengerahkan serangannya Hek-hong-im-kang, ia masih sangsi, apakah Kim Yan sudah dapat menggunakan ilmu itu dengan baik atau tidak.

Tetapi Touw Liong juga tahu gelagat tidak beres.

Ia tahu benar, bila serangan yang sangat ganas itu apa tidak berjaga-jaga pasti akan membawa akibat yang sangat menggiriskan!

Oleh karenanya, maka ia telah bertindak lebih dulu, menotok jalan darah di lengan kiri Kim Yan dengan ilmunya Kim-kong-ci sebelum sang sumoay bertindak.

Tak ia duga bahwa Kim Yan benar-benar hendak mencoba ilmunya yang sangat ganas itu.

Tetapi untunglah kekuatan tenaga dalam gadis itu belum cukup, jadi belum dapat menggunakannya dengan baik.

Siapa tahu selisih yang sangat sedikit saja itu telah membawa akibat fatal bagi dirinya ketika jalan darahnya tertotok oleh ilmu Kim-kongci Touw Liong, telah menimbulkan akibat cacadnya lengan kiri itu, dengan demikian tangan kiri Kim Yan mau tak mau telah menjadi cacad.

Satu-satunya jalan untuk menyembuhkan lengan itu, ialah dalam waktu dua belas jam harus disembuhkan oleh Panji Wulung Wanita sendiri.

Tetapi biar bagaimanapun harapan itu sangatlah tipis, sebab pada saat seperti itu entah dimana adanya Panji Wulung?

Dan dengan cara bagaimana dalam waktu dua belas jam bisa berjumpa dengan Kim Yan?

Kini Kim Yan sudah berlalu, perkampungan Hui-liongchung juga tinggal reruntuhan, pemandangan itu semakin memilukan hati Touw Liong saja.

Dengan hati ruwet dan pilu sekali, Touw Liong sambil menghela napas melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai Jie-sui menuju ke timur.

Tiga hari kemudian, tibalah Touw Liong di kota Tongsian di depan sebuah kelenteng Koan-tee-bio.

Touw Liong mencari seorang pengemis tua berusia lima puluh tahunan ke atas, ia tidak perduli pengemis tua itu mau menghiraukan kepadanya atau tidak, sudah mengajukan pertanyaan padanya.

"Tolong kau sampaikan kepada Lie Pangcu, katakanlah bahwa aku orang she Touw nanti jam tiga malam menunggu dia di tempat ini, ada sesuatu urusan penting hendak dibicarakan dengannya."

Pengemis tua itu membalikkan matanya memandang Touw Liong tanpa berkata, namun sikapnya menunjukkan perasaan terkejutnya.

Pengemis tua itu hanya memandang sejenak orang yang menegurnya, kemudian tidur lagi, sedang Touw Liong juga lantas meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Tepat jam tiga malam, di depan kelenteng Koan-tee-bio tampak bayangan beberapa puluh pengemis mengiringi Lie Pancu, Lie Hu San, berjalan menuju ke depan kelenteng.

Touw Liong sudah lama menantikan kedatangan mereka di tangga batu rumah suci itu.

Kedua musuh lama telah berdiri berhadap-hadapan, kembali Lie Hu San dengan sikap garang bertanya kepada Touw Liong.

"Bocah she Touw, untuk apa kau datang ke kota Tongsian ini?"

Jilid 22 (TAMAT) Karena kota Tong-sian adalah markas besar kaum perkumpulan pengemis, Touw Liong yang hendak mencari Lie Hui San, maka ia pergi berkunjung ke kota tersebut.

"Cui-sian Locianpwe, salah satu dari tiga dewa golonganmu, telah minta padaku untuk melakukan suatu tugas, maka itu dengan perjalananku ke Ji-sui kali ini sekalian aku datang mencari pangcu untuk beromongomong,"

Menjawab Touw Liong dengan suara perlahan.

"Bocah she Touw, kau tampaknya bangga sekali! Kau sudah membakar perkampungan Hui-liong-chung, apakah kau sekarang juga sudah menaksir sarangku pengemis ini untuk kau jadikan umpan api yang kedua?"

Dalam hati Touw Liong agak terkejut, diam-diam ia merasa kagum atas info golongan pengemis yang demikian hebat, kabar itu dengan cepat sudah sampai di telinga sang pemimpin ini!

"Pangcu harap hargakan dirimu sendiri, janganlah kau berkata asal sekeluar suara.

Aku si orang she Touw seorang laki-laki sejati, mana bisa melakukan perbuatan serendah itu?"

Bab 58 LIE HUI SAN takut kalau-kalau Touw Liong jadi marah betul-betul, maka lalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Touw Tayhiap dengan membawa perintah sesepuh golongan kami datang kemari, entah hendak melakukan tugas apa?"

"Tidak apa-apa, sesepuh golonganmu itu karena memikirkan soal tanda kepercayaan golonganmu yang berukiran Naga Emas, maka memerintahkan aku untuk menanya kepada pangcu apakah selama tiga puluh tahun ini pangcu sudah mendapatkan tanda kepercayaan Naga Emas itu?"

Dengan kedudukan sebagai apa Touw tayhiap hendak mencampuri urusan kami dalam golongan pengemis?"

"Aku hanya merupakan salah seorang murid yang diterima oleh sesepuhmu itu dan diperintah datang ke kota Tong-sian untuk membantu pangcu membereskan urusanurusan dalam golongan pengemis."

"Apa Touw tayhiap ada membawa bukti?"

"Tentang ini ...."

Sejenak Touw Liong ragu-ragu. Lie Hui San mengeluarkan sebuah tanda kepercayaan dari batu giok, dengan sikap garang berkata.

"Touw tayhiap benar-benar pandai membanyol. Samtianglo telah memberikan tanda kepercayaan yang berupa binatang Kielin batu giok ini kepadaku si orang she Lie, dan memerintahkan juga supaya aku yang membereskan segala urusan dalam golongan pengemis daerah selatan dan utara. Belakangan ini mendengar kabar, bahwa tanda kepercayaan emas yang berukiran Naga itu yang dimiliki oleh suhu telah terjatuh di tangan Sauw Su In, aku si orang she Lie sedang bersiap-siap hendak mengajak delapan sesepuh dalam golongan kmi untuk pergi ke gunung Tiam-jong, mencari tanda kepercayaan itu."

Touw Liong begitu melihat tanda kepercayaan batu giok berukiran binatang Kie-lin dalam hatinya terkejut.

Si taysu pemabukan dalam suratnya yang diberikan kepadanya, jelas pernah menyebut tanda kepercayaan batu giok itu, tapi dengan cara bagaimana bisa terjatuh di tangan Lie Hui San?

Diberikan oleh paderi pemabukan itu ataukah didapatkan dari mana?

Sewaktu berada di kota Lam-yang ia sendiri pernah melihat bahwa taysu pemabukan itu pernah menunjukkan benda kepercayaan yang berupa batu giok itu, bahkan paksakan diri hendak dihadiahkan kepadanya, tetapi waktu itu ia menolak pemberian itu dan kemudian entah kemana batu giok itu.

Tetapi mengapa sekarang bisa berada di tangan orang she Lie itu?

Sementara itu Lie Hui San berkata kepadanya.

"Mengenai urusan dalam golongan kami untuk sementara tidak berani meminta bantuan Touw tayhiap. Nanti bila kami sudah menemukan kembali tanda kepercayaan ketua yang telah hilang, dan aku si orang she Lie harus lagi membereskan dalam golongan kami, waktu itulah mungkin diperlukan bantuan Touw tayhiap."

Ucapan Lie Hui San itu ada mengandung pengusiran halus terhadap Touw Liong.

Tetapi Touw Liong tidak menghiraukan semuanya, ia memikirkan urusan yang sudah lalu.

Tiba-tiba Touw Liong berseru kaget, dengan sikap keren berkata sambil menunjuk tanda kepercayaan batu giok di tangan Lie Hui San.

"Tanda kepercayaan Batu Giok ini untuk sementara biarlah Lie pangcu pegang, tunggu setelah aku mendapatkan kembali tanda kepercayaan ketua, barulah aku juga minta kembali kepada Pangcu!"

Setelah berkata demikian, ia berlalu dengan langkah lebar.

Lie Hu San berdiri terpaku sambil mengawasi berlalunya Touw Liong.

Kiranya Touw Liong telah teringat kejadian di kota Lam-yang pada waktu dahulu....

Semula Taysu Gila itu dengan paksa memberikan tanda kepercayaan itu kepada Touw Liong.

Setelah ditolaknya, telah menimbulkan amarah padri gila dan pemabokan itu.

Ia menggampar Touw Liong sehingga jatuh pingsan, jadi ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Tatkala ia siuman kembali, waktu membuka mata, di sampingnya telah berdiri dua orang.

Satu ialah Lie Hui San dan yang lain ialah Lie Hui Hong.

Waktu itu dua orang tersebut bertengkar dengan cara bagaimana hendak membereskan diri Touw Liong.

Tiga hari kemudian, tatkala Touw Liong membuka surat yang ditinggalkan Taysu pemabukan, dalam surat itu jelas ada menyebut tentang tanda kepercayaan batu giok yang dihadiahkan kepadanya, tetapi barang itu ternyata tidak terdapat dalam sakunya.

Kini setelah nampak benda itu berada di tangan Lie Hui San, ia segera teringat kejadian hari itu.

Sudah jelas bahwa benda itu dengan beradanya di tangan Lie Hui San, tentu waktu itu sudah dicuri olehnya.

Dugaan itu ternyata benar seluruhnya.

Segalanya memang sudah terjadi seperti apa yang diduga olehnya.

Setelah Touw Liong berlalu, Lie Hu San lalu memerintahkan anak buahnya, dan segera berangkat ke gunung Tiam-cong untuk lebih dulu mendapatkan tanda kepercayaan ketua partai.

Malam itu juga, Lie Hu San bersama beberapa sesepuh golongan pengemis meninggalkan kota Tong-sian.

Kita sekarang balik kepada Touw Liong yang berlalu dengan perasaan masgul.

Pada hari ke dua ia sudah tiba di kota Pak-khia.

Meskipun Touw Liong namanya sudah sangat terkenal dalam rimba persilatan, tetapi ia biasanya berkelana di daerah selatan, jarang sekali melakukan perjalanan ke utara, maka untuk pertama kali ia datang di kota Pak-khia.

Orang yang mengetahui dirinya jumlahnya tidaklah seberapa banyak.

Maksud kedatangannya ke ibukota itu bukanlah hendak pesiar, juga bukan buat menikmati pemandangan alam indah kota itu, sebab ia sedikitpun tidak mempunyai waktu untuk bersenang-senang seperti itu.

Kedatangannya semata-mata ialah ingin pergi menyelidiki ke toko-toko barang kuno di kota Pak-khia.

Sebab tanda kepercayaan ketua golongan pengemis yang berupa emas berukiran naga, karena barang itu merupakan barang pusaka yang sudah berpuluh-puluh tahun menghilang, mungkin sudah terjatuh di toko barang antik.

Oleh karenanya, maka ia telah mengambil keputusan untuk mengadakan penyelidikan di toko-toko barang antik di kota Pak-khia.

Meskipun ia belum pernah melihat bagaimana bentuk dan rupa tanda kepercayaan itu tetapi karena ia sudah melihat bentuknya dan rupa benda kepercayaan batu giok yang berukiran binatang Kie-lin, tanda kepercayaan emas itu mungkin bentuknya tidak berbeda jauh dengan tanda kepercayaan batu giok atau berbentuk dua atau tiga ekor naga emas.

Beberapa toko barang antik telah dikunjungi olehnya, tetapi pemilik toko semuanya menggelengkan kepala, mengatakan belum pernah melihat barang seperti apa yang ditanyakan oleh Touw Liong.

Namun demikian Touw Liong belum berputus asa.

Di hari ketiga, ia mulai melakukan penyelidikannya lagi di lain bagian.

Hari itu ia tetap tidak mendapatkan hasil apa-apa bahkan karena tindakannya yang mencurigakan, telah menimbulkan perhatian banyak orang, yang diam-diam memperhatikan dirinya.

Dalam hati Touw Liong mengerti, orang-orang yang memperhatikan dirinya itu tentu adalah mata-mata golongan pengemis, namun ia tidak peduli.

Pada hari keempat, pagi-pagi sekali Touw Liong sudah mulai melakukan tugasnya lagi.

Kali ini ia mendapat sedikit petunjuk.

Dari seorang pemilik toko-toko barang antik, Touw Liong telah mendapat keterangan, bahwa pada setengah bulan berselang memang benar ada barang kuno yang dicari oleh Touw Liong.

Benda itu merupakan sebuah batu giok merah yang diukir dengan dua ekor naga, oleh karena warna naga itu merah, sehingga seperti emas.

Touw Liong buru-buru menanyakan di mana adanya barang itu, tetapi pemilik toko itu lalu menyatakan bahwa barang tersebut sudah dijual.

Touw Liong merasa kecewa mendengar jawaban itu, namun ia masih coba minta keterangan siapa dan bagaimana rupa orangnya yang membeli barang itu.

Menurut keterangan pemilik toko, pembeli itu menggunakan bahasa daerah dekat Sam-see, kalau tidak salah ia itu seorang pedagang kulit.

Touw Liong masih belum puas, ia menanyakan wajah dan usia orang itu.

Lama juga pemilik toko itu berpikir, akhirnya ia masih rada-rada ingat bahwa orang itu, kira-kira berusia di sekitar empat puluh tahunan, di mukanya bagian kiri terdapat tanda warna hijau.

Itu saja sudah cukup bagi Touw Liong untuk dipakai sebagai bahan penyelidikan.

Ia minta diri dan mulai melakukan perjalanan untuk mencari jejak orang tersebut.

Menurut perhitungannya, pedagang kulit itu mungkin sudah tiba di kota Peking, dan jikalau ia melakuka perjalanan satu hari satu malam terus-menerus, pada waktu tiba di kota Ceng-hong-tiam pasti dapat menyandak pedagang kulit itu.

Setelah mengambil keputusan, Touw Liong hari itu juga lantas berangkat melakukan perjalanan.

Benar saja, pada hari yang diperhitungkan sudah tiba di kota Ceng-hoa-tiam.

Kota itu merupakan sebuah kota besar, di situ terdapat sepuluh lebih rumah penginapan.

Jumlah rumah penginapan di situ ada demikian banyak, kemana ia harus mencari orang itu?

Inilah merupakan suatu kesulitan baginya.

Terpaksa ia mendatangi satu persatu rumah penginapan yang ada di kota itu.

Akhirnya, dari salah satu rumah penginapan dia mendapat keterangan bahwa betul pada kemarin malam, dalam rumah penginapannya ada kedatangan tetamu seperti apa yang dicari oleh Touw Liong, tapi tadi pagi-pagi sudah diajak keluar minum arak oleh dua sahabatnya yang menyusulnya dari kota Pak-khia, hingga sekarang masih belum kembali.

Mendengar keterangan itu Touw Liong agak terkejut.

Ada dua orang yang menyusul dari Pak-khia?

Siapa adanya dua sahabat orang itu?

Satu pertanyaan timbul dalam otaknya, kemana pedagang kulit itu pergi?

Kembali ke kota Pak-khia ataukah masih ada urusan lain?

Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut Touw Liong terpaksa mengambil salah satu kamar dalam rumah penginapan yang ditinggali oleh pedagang kulit tadi purapura menginap.

Tetapi dari malam menantikan sehingga subuh, masih belum tampak juga batang hidung pedagang kulit itu pulang ke rumah penginapannya.

Kemana dia?

Touw Liong diam-diam mengeluh, ia seperti mendapat firasat tidak baik, segera keluar dari rumah penginapannya.

Di kota Ceng-hong-tiam itu ia berputaran beberapa kali, namun tidak menemukan jejak orang yang dicari.

Ia lalu menduga bahwa orang yang menyusul pedagang kulit tersebut mungkin orang dari golongan pengemis yang dalam waktu bersamaan hendak mencari tanda kepercayaan Naga Emas.

Ia menduga pasti bahwa pedagang kulit itu masih berada di kota itu, hanya orang itu kini mungkin sudah dalam cengkeraman orang-orang golongan pengemis.

Apabila ia tidak dapat mencari atau menemukan pedagang kulit itu dengan segera, dan apabila tanda kepercayaan ketua golongan pengemis itu terjatuh ke tangan Lie Hu San, maka Lie Hu San segera dapat mempersatukan golongan pengemis daerah utara dan selatan dengan menggunakan tanda kepercayaan itu sebagai bukti.

Dengan demikian, golongan pengemis meskipun sudah dapat dipersatukan, akan tetapi akan berubah menjadi golongan yang dikuasai oleh orang-orang jahat dan sesat.

Kalau sudah terjadi hal itu, entah bagaimana nanti sepak terjangnya dalam dunia Kang-ouw?

Entah berapa banyak orang-orang yang akan celaka di tangannya tak dapatlah kita bayangkan dari sekarang.

Memikirkan hal itu, Touw Liong bergidik sendiri.

Ia lompat melesat ke suatu tempat di atas genteng yang lebih tinggi.

Matanya ditujukan ke sekitar kota Ceng-hong-tiam.

Malam itu, kota Ceng-hong-tiam seperti diliputi suasana tidur nyenyak, keadaan gelap gulita, sinar lampu hanya terlihat dari beberapa rumah saja, maka ia lalu menggelenggelengkan kepala sendiri.

Dalam keadaan putus asa ia menghela napas.

Selagi hendak pulang ke rumah penginapan untuk beristirahat, tiba-tiba dari arah jauh terdengar suara anjing menggonggong.

Karena malam itu sunyi, maka suara anjing itu kedengaran sangat nyata.

Touw Liong terkejut mendengar suara gonggongan anjing itu, ia lalu pasang mata.

Tampak dari arah jauh di luar kota, terhadap sebuah rimba lebat, samar-samar ada sinar lampu.

Tergerak hatinya, ia lalu melesat menuju ke rimba yang ada sinar lampunya itu.

Tempat yang ada sinar lampunya tadi, ternyata adalah sebuah kuil kuno.

Di sekitar kuil tersebut terdapat banyak pohon rindang.

Perjalanan ke situ dengan kota Ceng-hongtiam kira-kira hanya terpisah empat pal saja.

Touw Liong mengerti, jikalau di dalam rimba itu tidak ada apa-apanya, tidak nanti ada penjagaan kuat.

Tapi bila di dalam kuil itu ada terjadi ssesuatu, dalam rimba itu pasti ada jebakannya.

Maka dengan kecepatan bagaikan kilat ia menerobos masuk ke dalam rimba, langsung menuju ke kuil dan bersembunyi di atas genteng bagian belakang.

Selagi hendak sembunyikan dirinya ke tempat yang lebih gelap, dari kamar sebelah kiri terdengar suara jeritan yang mengerikan.

Suara itu seperti suara yang timbul dari orang yang sedang disiksa hebat.

Touw Liong bergidik sendiri.

Matanya kini ditujukan ke arah tersebut, dan apa yang disaksikannya, benar-benar membuat bulu kuduknya berdiri semua.

Di dalam ruangan kamar itu, sinar lampu terang benderang.

Di atas sebuah kursi tampak duduk seorang pengemis setengah umur.

Di kedua sisinya berdiri berbaris empat orang pengemis yang masing-masing membawa senjata pentungan.

Di bawah di atas lantai, tampak rebah menggeletak sesosok tubuh laki-laki setengah umur dalam keadaan telanjang bulat.

Di samping laki-laki tadi, terdapat dua orang pengemis lagi.

Laki-laki dalam keadaan telanjang tadi ditelikung kedua tangannya ke belakang, diikat keras bagaikan lepat, sedangkan orangnya rebah terlentang.

Terpisah setombak lebih dengan laki-laki yang sedang rebah terlentang itu, tampak sebuah penggorengan yang masih penuh dengan minyak yang mendidih.

Seorang pengemis mengulurkan sebuah kakinya dan menginjak ke atas dada laki-laki yang rebah terlentang dalam keadaan terikat itu.

Seorang pengemis yang lainnya dengan tangan membawa secanting minyak panas, diteteskan di atas perut laki-laki tadi.

Tentu saja hal mana lantas membuat rasa sakit pada laki-laki tadi, dan oleh karenanya maka mengeluarkan suara jeritan yang mengerikan, dan setelah itu orangnya juga bergulingan berusaha untuk menahan sakitnya.

Terdengar suara pengemis yang duduk di atas kursi yang membentak kepadanya.

"Anjing, kalau kau belum dihadapkan dengan peti mati, barangkali kau belum merasa takut. Aku kira kau benarbenar seorang laki-laki yang keras kepala, kiranya hanya begitu saja, setetes minyak kau sudah tidak sanggup, perlu apa masih pura-pura berlaku gagah?"

Kemudian ia meludahi laki-laki itu dan berkata pula dengan nada suara dingin.

"Kau harus mengerti, apabila kau tidak mau memberitahukan di mana adanya liongtin batu giok itu, kau jangan sesalkan kalau aku berlaku kejam terhadapmu! Hem! Kuali penggorengan itu mungkin nanti akan menjadi tempat kau merasakan neraka dunia!"

Touw Liong yang mendengar ucapan pengemis tadi, sudah tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi.

Dengan mengeluarkan suara bentakan nyaring, badannya secepat kilat sudah melesat ke dalam kamar tadi.

Sebelum orangnya sampai, serangannya sudah tiba lebih dahulu.

Sepuluh jari tangannya bergerak dengan serentak, tujuh orang golongan pengemis masih belum tahu benar apa yang terjadi sudah tersapu jatuh oleh serangan jari tangan Touw Liong.

Selanjutnya, disusul oleh beberapa kali suara jeritan mengerikan, kiranya canting di tangan pengemis-pengemis yang menuangkan minyak panas di atas perut lelaki tadi, telah tersapu oleh serangan Touw Liong dan dengan secara kebetulan telah menyiram pengemis yang duduk di atas kursi tadi.

Siraman itu mengenai bagian mukanya dan empat pengemis yang berdiri di kedua sisinya juga turut terkena, masing-masing pada menjerit kesakitan.

Touw Liong tidak menghiraukan itu semua, ia membiarkan mereka berteriak-teriak dan menjerit-jerit, dengan cepat ia menghampiri laki-laki yang bernasib malang tadi, membuka ikatannya dan membimbing bangun padanya.

Laki-laki tadi dengan menahan rasa sakit memakai kembali pakaiannya, setelah itu ia menjura dan mengucapkan terima kasih kepada Touw Liong.

Touw Liong saat itu baru ada kesempatan untuk memperhatikan wajah laki-laki tadi.

Di bawah sinar lampu, benar saja di bagian muka kiri laki-laki tadi terdapat sebuah tanda biru.

Touw Liong membimbing bangun padanya, lalu mengajak ia lari keluar dari kuil kuno itu.

Keluar dari dalam rimba, langsung ia menuju ke kota.

Ia tidak sempat bicara menanyakan kepadanya, maka buru-buru berkata.

"Sebaiknya saudara lekas berlalu dari kota ini. Aku bersedia mengantar saudara. Jikalau sampai terlambat kau nanti akan dikejar lagi oleh mereka, jiwamu dalam bahaya."

Ketika keduanya tiba di rumah penginapan, orang itu segera mengambil barang-barangnya dan pada malam itu juga meninggalkan kota Ceng-hong-tiam.

Mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta.

Di atas kereta, lelaki itu terheran-heran mendengar ucapan Touw Liong tadi.

Katanya sambil menghela napas.

"Aku benar-benar tidak mengerti, tanpa sebab telah mengalami nasib seperti ini."

"Mengapa saudara mengatakan tanpa sebab? Semua bencana ini terjadi, karena saudara telah membeli sepotong liongtin batu giok berukiran naga itu."

"Penjahat itu sebetulnya keterlaluan sekali kejamnya. Betul batu giok itu berharga limapuluh tail lebih, tapi toh tidak perlu harus menggunakan siksaan begitu untuk minta kembali dari tanganku!"

"Saudara mana tahu? Batu giok itu merupakan jiwa kedua bagi mereka. Satu hari saja kau tidak mau menyerahkan batu giok itu kepada mereka, mereka selamanya tidak akan melepaskan kau. Baiklah sekarang kuberitahukan padamu. Batu giok itu, bagi orang lain tidak ada gunanya, tetapi bagi mereka tidaklah demikian. Selama tidak ada batu giok itu, ketua mereka tidak akan dapat mengeluarkan perintah kepada anak buahnya."

Demikian Touw Liong memberikan keterangan selengkapnya. Sampai di sini barulah lelaki itu mengerti. Sesaat wajahnya berubah, lama berpikir, kemudian berkata sambil menghela napas.

"Begitu. Kalau toh memang akan mendapatkan bencana karena batu giok itu, masih tidak apalah. Namun, masih akan membikin celaka orang lain, sungguh hanya membuat aku tidak enak."

Touw Liong tahu bahwa soal ini mulai menunjukkan titik terang baginya, maka buru-buru bertanya.

"Apakah batu giok itu sudah saudara berikan kepada orang lain?"

"Di dalam rumah pelesiran Mo-tan-ie, di dalam ruang Pat-tay-oh-tong, ada seorang wanita manis cantik sekali dia. Siaote kenal padanya baru setengah tahun lebih, tapi sungguh aneh, perempuan itu apapun tidak suka, ia hanya suka mengumpulkan barang-barang berupa batu giok, maka setiap kali aku pergi menengoknya, selalu membawa batu giok untuk kuhadiahkan kepadanya."

Mengenai soal pelesiran di rumah pelesiran itu Touw Liong masih asing sekali, tetapi ia cukup mengerti, bahwa perempuan yang disebutkannya itu, pasti bukan perempuan sembarangan, maka dalam hati lalu berkata sendiri.

"Orang ini suka pelesiran di rumah begituan, maka bencana kali ini boleh dikata dicarinya sendiri."

Touw Liong tidak begitu simpatik terhadap laki-laki itu.

Tetapi buat keselamatannya, ia merasa berkewajiban untuk melindungi.

Dari sebab itu ia terus mengantar orang itu sampai ke perkampungan Ciok-kee-chung.

Malam itu juga ia seorang diri kembali ke kota Pak-khia.

Tiba di kota Pak-khia, ia beristirahat sebentar, lalu langsung menuju ke rumah pelesiran, untuk mencari perempuan yang ditunjuk oleh pedagang kulit itu.

Apa lacur, menurut keterangan germo rumah pelesiran itu, perempuan yang dimaksud pada lima hari berselang ternyata sudah pulang ke kampung halamannya, di kota Yang-ciu.

Mendapat jawaban seperti itu sudah tentu lantas hilang kegembiraan Touw Liong untuk berdiam terus di situ.

Dengan cepat ia meninggalkan rumah tersebut, dan saat itu juga berangkatlah ia menuju ke arah selatan.

Namun ia lupa menanya di Yang-ciu bagian mana perempuan itu tinggal.

Kota Yang-ciu demikian besar, kemana harus dicari perempuan itu?

Dengan pikiran risau, Touw Liong melakukan perjalanan terus-menerus selama tiga hari.

Hari itu ia sudah berada di kota Cee-lam.

Selagi hendak mengasoh untuk dahar dahulu, tak diduga-duganya di rumah makan tersebut telah terjadi sesuatu kejadian gaib.

Di sebuah meja di dekat jendela, tampak duduk seorang tua dan seorang anak muda.

Orang tua itu wajahnya aneh.

Ia adalah seorang imam berjubah kuning.

Imam itu usinya mungkin sudah tujuh puluh tahunan ke atas, sedangkan yang muda adalah seorang wanita yang berparas cantik.

Perempuan cantik itu mengenakan pakaian berwarna ungu.

Sepasang mata yang besar bulat dan jeli dari perempuan cantik itu, banyak sekali menarik perhatian orang.

Beberapa ratus mata tamu rumah makan tersebut, sebagian besar tertuju kepada perempuan itu.

Agaknya mereka terpesona oleh kecantikannya.

Touw Liong yang juga tertarik oleh pandangan orang banyak itu, memandang sekilas ke arah yang sama.

Sekujur badannya lantas dirasakan menggigil, sedangkan perempuan cantik itu juga seperti sengaja tapi seperti juga tidak melirik kepada Touw Liong sejenak.

Dari logat pembicaraannya jelas menunjukkan bahwa perempuan cantik itu adalah orang asal kota Yang-ciu, hal mana membuat hati Touw Liong sedikit tergerak.

Buruburu ia mencari tempat duduk yang dekat dengan perempuan cantik dan imam tua itu.

Duduk sekian lama, ia lantas mendengar suara dari si imam tua yang berkata kepada wanita cantik tadi.

"Sayang! Sutitku sudah mati. Jikalau tidak, tentu dia dapat membantu kita."

Wanita cantik itu memperdengarkan suara helaan napasnya, kemudian berkata.

"Kian-goan mati dalam keadaan tidak jelas, apakah susiok juga tidak mau melakukan penyelidikan?"

Imam tua itu menghela napas panjang, tanpa berkata apa-apa matanya memandang jauh ke arah telaga, akhirnya hanya menjawab dengan suara hambar.

"Kematian Kian-goan sesungguhnya perlu disayangkan!"

Bab 59 KIAN GOAN?

Siapa Kian Goan itu?

Demikian Touw Liong bertanya-tanya sendiri dalam hatinya setelah mendengar pertanyaan mereka.

Sesaat kemudian ia segera teringat kepada diri Kian-goan Totiang dari gereja Kian-goan-koan di gunung Tay-san.

Sementara itu perempuan muda tadi sudah berkata lagi sambil menghela napas perlahan.

"Kabarnya suheng terbinasa di bawah serangan ilmu Thian-seng-jiauw dari Touw Liong."

Imam tua itu lalu tampak menggelengkan kepala dan berkata.

"Bukan! Ia mati di bawah serangan ilmu Thay-it-sinjiauw dari Panji Wulung."

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala tanpa disadari, seolah-olah ia ingin turut membenarkan ucapan imam tersebut. Imam tua itu berkata lagi dengan suara sangat perlahan sekali.

"Apakah Kang susiokmu sudah datang?"

"Kang susiok belum datang, sebaliknya adalah si anjing Lie Hui San itu yang telah mengintai terus jejakku, sampai di kota Cee-lam ini!"

Menjawab wanita muda itu sambil menggelengkan kepala.

"Sekarang?"

"Berdiam di kelenteng Kiu-ong-bio."

"Berapa banyak orang mereka?"

"Termasuk Lie Hui San sendiri, semuanya berjumlah sembilan orang. Tetapi hendaknya susiok jangan lupa, bahwa kota Cee-lam ini adalah daerah mereka. Asal Lie Hui San menjejakkan kakinya saja, seluruh kota Cee-lam akan menjadi gempar."

"Ng, pengaruh golongan pengemis di kota Cee-lam ini memang besar sekali...."

Sehabis berkata demikian imam tua itu mengangkat cawannya dan minum kering isinya, kemudian berkata lagi dengan suara yang lebih perlahan.

"Anak, jasamu kali ini sungguh besar sekali! Di kemudian hari, Kang susiokmu pasti akan memberi hadiah banyak kepadamu!"

"Titlie sama sekali tidak mengharapkan pembalasan jasa apa-apa. Titlie dengan pengorbanan diri sendiri seperti ini, hanya mempunyai satu tujuan saja, supaya lekas dapat membalas dendam sakit hati See-hiong."

Waktu berkata demikian, sepasang mata wanita cantik itu sudah basah dengan air mata. Imam tua itu kembali menghela napas, dan berkata.

"See-hong patut dikasihani. Dalam usia yang demikian muda, sudah meninggalkan kau sehingga kau harus menjadi janda yang masih muda belia. Anjing Lie Hu San ini sesungguhnya juga terlalu kejam."

Kini mengertilah sudah Touw Liong bahwa suami yang disebut oleh wanita muda itu adalah itu pemuda yang disebut-sebut sebagai See-hiong tadi, sedangkan See-hiong sudah binasa di tangan Lie Hu San.

Sampai di sini, dalam hati Touw Liong sudah mempunyai satu gambaran.

Perempuan cantik yang berada dalam rumah pelesiran di Tay-oh-tong, di kota Pak-khia adalah perempuan cantik yang sekarang berada di hadapan matanya itu.

Kalau demikian halnya, sepotong batu giok tanda kepercayaan berukiran Naga Emas itu tentu sudah berada di tangannya.

Touw Liong pun mengerti, bahwa Kang susiok yang disebutkan oleh imam tua tadi, juga adalah pangcu golongan pengemis daerah selatan yang bernama Kang Hao.

Selagi Touw Liong berpikir dengan cara bagaimana hendak mendapatkan tanda kepercayaan itu dari tangan perempuan cantik ini, tiba-tiba terdengar suara imam tua tadi yang bertanya kepada perempuan cantik tadi.

"Tie-jie! Di mana benda itu sekarang?"

Perempuan cantik dengan menggunakan nada suara yang sangt perlahan sekali, berbisik-bisik di telinga imam tua tadi.

"Sudah berada di Kang-lam!"

"Kang-lam?"

Sejenak imam tua itu tampak terkejut, agaknya tidak percaya pada keterangan perempuan cantik itu.

"Sumoy telah menggunakan kuda jempolan untuk membawa tanda kepercayaan itu berjalan melalui jalan darat, sedangkan Tie-jie sendiri dengan terang-terangan berjalan melalui jalan timur dengan demikian sehingga berhasil memancing perhatian Lie Hu San kemari. Sekarang kalau dihitung, batu giok itu mungkin sudah berada di tangan Kang susiok."

Touw Liong benar-benar terkejut mendengar ucapan itu.

Tidak diduga-duga barang yang sudah terbayang di depan mata sudah berada di tempat sejauh ribuan pal.

Imam tua tadi seolah-olah sengaja atau tidak, waktu ia mengangkat kepala, tiba-tiba tampak diri Touw Liong, sehingga saat itu wajahnya lantas berubah.

Wanita muda itu seolah-olah juga sudah menyadari kehadiran Touw Liong di situ.

Ia mengerling kepadanya, ketika menatap wajah Touw Liong yang tampan itu, kembali menunjukkan senyumannya yang manis.

Oleh karena senyumannya itu, sehingga Touw Liong merasa tidak enak dan di saat itu lantas menundukkan kepalanya.

Imam tua itu sejenak tampak ragu-ragu, akhirnya ia bangkit dan memberi hormat seraya bertanya.

"Jikalau mata pinto belum lamur, siecu ini tentunya seorang she Touw, bukan?"

Touw Liong menganggukkan kepala dan membalas hormatnya seraya berkata.

"Benar! Aku yang rendah memang seorang she Touw, bagaimana sebutan Totiang yang mulia?"

"Pinto Thian-ceng, ada sedikit pertanyaan yang mungkin mengganggu Touw Tayhiap."

Touw Liong menjawab dengan kata-kata yang merendahkan diri, sedang Thian-ceng Totiang sudah bertanya lagi.

"Touw tayhiap selamanya suka berkelana dan melakukan perbuatan baik di daerah Kang-lam, entah angin apa telah membawa Touw Tayhiap ke kota Cee-lam ini?"

"Lantaran ada sedikit urusan aku yang rendah terpaksa harus pergi melakukan perjalanan ke kota Pak-khia."

"Dan sekarang?"

"Hendak ke kota Hang-chiu untuk mencari seorang sahabat."

Thian-ceng tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Sungguh kebetulan! Pinto juga mau mengantar sutit ini ke kota Hang-chiu. Kita justru seperjalanan! Mari, silahkan Tayhiap duduk bersama-sama dan minum dengan kita."

Setelah mengucap demikian, tanpa memperdulikan Touw Liong mau atau tidak, ia sudah mengajak Touw Liong duduk bersama-sama.

Setelah mana imam tua itu memperkenalkan Touw Liong kepada wanita cantik itu.

Sementara itu Touw Liong dalam hati berpikir sendiri.

"Kau hendak menarik aku berjalan bersamamu sebagai alat untuk menggertak Lie Hu San, aku juga justru ingin meminjam kau sebagai jembatan untuk berkenalan dengan orang-orang golongan pengemis daerah selatan."

Oleh karena timbulnya pikiran demikian, maka Touw Liong juga menerima baik ajakan imam tua tadi.

Kini tibalah gilirannya wanita muda cantik tadi.

Dengan wajah ramai dengan senyuman serta lirikan mata yang tajam, ia dengan beruntun menyodorkan arak kepada Touw Liong hingga tiga cawan besar.

Touw Liong juga tidak menolak pemberian orang, setiap disodorkan, diminumnya sekaligus.

Thian-ceng Totiang agaknya juga seorang penggemar arak, dengan Touw Liong minum sepuas-puasnya, sambil mengobrol tentang keadaan rimba persilatan, imam itu juga memuji-muji suhu Touw Liong, Kiu-hoa Lojin.

Ketika Thian-ceng Totiang menyebut-nyebut ayah bunda Touw Liong, dalam hati Touw Liong merasa sedih.

Arak, merupakan satu-satunya barang untuk menghilangkan rasa duka Touw Liong yang waktu itu hatinya sedih.

Mengingat musuh besar ayah bundanya belum diketahui, maka ia telah melupakan keadaan diri sendiri, ia minum sepuas-puasnya, seolah-olah penggemar arak ulung.

Secawan demi secawan arak itu masuk ke dalam tenggorokan Touw Liong, sedangkan perempuan cantik tadi juga mengawasi dengan kelakuannya yang sangat manis, tanpa disadari olehnya, 20 cawan lebih sudah ditenggak kering.

Ia sebetulnya tidak biasa minum arak, begitu 20 cawan arak masuk ke dalam perutnya, meskipun ia memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, juga tidak berhasil untuk menguasai dirinya sendiri dari pengaruh air kata-kata tadi.

Apalagi ia minum arak karena hendak melipur lara, anggapnya tidak ada perlunya untuk dipunahkan.

Apa lacur, perempuan cantik tadi sudah memberikan obat bius di dalam arak Touw Liong.

Dalam keadaan demikian, ia sudah lupa bahwa dengan imam tua itu baru pertama kali kenal, juga belum jelas baginya apa yang terkandung dalam hati imam itu.

Merasa pilu, ia terkenang kembali kepada ayah bundanya yang sudah menutup mata pada 20 tahun berselang secara mengenaskan.

Pikirannya masih jernih, tetapi karena hati pedihnya terus menggoda, akhirnya pikirannya mulai kabur, mabuk.

Imam itu menyaksikan itu semua, memberi isyarat pandangan mata kepada permpuan cantik tadi, lantas bangkit untuk membayar uang makan dan minumnya, kemudian bertanya kepada Touw Liong.

"Touw Tayhiap, marilah kita berjalan!"

Touw Liong yang sudah mabuk, hanya menganggukanggukkan kepala, dengan terhuyung-huyung ia bangkit dan hendak berjalan.

Perempuan cantik itu mengawasi Touw Liong sejenak dan tersenyum kepadanya, kemudian dengan suara lemah lembut berkata.

"Touw Tayhiap, perlukah aku bantu membimbing kau?"

Dengan mata merah Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan keluar dengan langkah lebar.

Si imam tua kembali memberi isyarat dengan pandangan mata kepada si perempuan cantik, perempuan cantik tersebut lantas memburu dan berjalan berdampingan dengan Touw Liong.

Di hadapan pintu rumah makan, sudah menunggu sebuah kereta.

Ketika kusir kereta membuka pintu kereta itu, perempuan muda tadi mengeluarkan sapu tangannya yang putih bersih, dikibaskan ke hadapan mata Touw Liong.

Bau harum keras sekali menusuk hidung Touw Liong, saat itu Touw Liong mendapat firasat yang tidak baik, kepalanya dirasakan pening, matanya seketika dirasakan jadi begitu pedas, kantuknya datang secara tiba-tiba.

Dalam hati ia mengeluh, ia coba mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, namun sekujur tubuhnya dirasakan lemas.

Sekarang mengertilah ia apa yang telah terjadi, tetapi sudah terlanjur, menyesal juga tidak ada gunanya.

Si perempuan cantik begitu melihat Touw Liong dalam keadaan tercengang, wajahnya segera berubah.

Ia lantas mengulurkan tangannya menotok jalan darah di belakang kepala Touw Liong, tangan yang lain dipakai untuk menarik tangan Touw Liong, telah diajaknya masuk ke dalam kereta.

Setelah semuanya selesai, perempuan cantik tadi berpaling dan mengawasi imam tua yang masih berdiri di dekat pintu sambil tersenyum.

Kereta itu dijalankan dan menuju ke telaga Tay-bengouw.

Di tepi telaga, kusir kereta lompat akan turun, ia tidak membuka pintu kereta sebaliknya mengeluarkan siulan nyaring dari mulutnya, dari bawah pohon rindang lalu tampak meluncur sebuah perahu kecil.

Ketika perahu kecil itu menepi, kusir kereta baru menghampiri keretanya dan membuka pintu kereta.

Perempuan muda tadi dengan cepat melompat turun, dan memberikan isyarat dengan matanya kepada sang kusir.

Kusir tadi lalu menarik keluar Touw Liong yang sudah tidur nyenyak tidak ingat diri, lalu dimasukkan ke dalam perahu, secepat kilat perempuan cantik tadi meloncat ke atas perahu dan memerintahkan tukang perahu untuk meneruskan perjalanannya.

Ketika perahu itu didayung ke tengah-tengah telaga, perempuan cantik tadi lalu menghunus pedang Hok-mokiam yang berada di punggung Touw Liong, kemudian melemparkan Touw Liong ke tengah telaga.

Tak lama kemudian, segala-galanya tenang kembali.

Perempuan cantik tadi memerintahkan tukang perahu untuk mendayung kembali ke tepi telaga.

Begitu tiba di tepi, perempuan cantik tadi kembali naik ke atas keretanya dan memerintahkan kusirnya balik ke dalam kota, hingga sebentar kemudian sudah menghilang di tempat gelap.

Setelah si perempuan cantik berlalu, tukang perahu masih berdiri di atas perahunya dengan hati termenung.

Tukang perahu itu lalu berkata sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bocah itu seharusnya sudah mati!"

Tanpa disadari olehnya, pandangan matanya jadi tertuju ke arah telaga.

Perahunya perlahan-lahan didayung kembali ke bawah pohong Yang-liu, kemudian ia duduk sambil melonjorkan kedua kakinya, dan tak lama kemudian tertidurlah ia.

Entah berapa lama waktu berlalu, samar-samar ia dikejutkan oleh goncangan hebat dari perahunya.

Dalam terkejutnya, ia segera terjaga dari tidurnya dan lantas mengawasi keadaan sekitarnya.

Belum lagi tahu apa sebabnya yang telah terjadi, di pinggir perahunya tampak dua lengan orang, dan kemudian disusul oleh munculnya sebuah kepala yang basah kuyup.

Begitu melihat kepala yang basah kuyup itu, tukang perahu tadi hampir saja berteriak.

Kepala itu bukan lain daripada kepalanya pemuda yang diceburkan ke dalam telaga oleh perempuan cantik tadi!

Dengan menggunakan kekuatan tenaganya, Touw Liong sudah melompat naik ke dalam perahu.

Tukang perahu itu wajahnya pucat seketika.

Sambil menjerit.

ya Allah, lantas lompat ke dalam air dan menghilang menjauhkan diri dari Touw Liong.

Touw Liong mengibas-ngibaskan bajunya yang basah kuyup, ia berdiri di atas perahu sambil mengawasi keadaan di sekitarnya.

Kecuali tukang perahu yang berenang untuk melarikan diri, apa pun sudah tidak ada lagi.

Ia mengenangkan kembali apa yang telah terjadi di dalam rumah makan.

Untuk sesaat ia tidak mengerti apa sebab perempuan cantik itu hendak mencelakakan dirinya.

Ada satu hal yang ia ingat-ingat betul, ialah ketika ia keluar dari rumah makan, ia telah dilibas oleh sapu tangan perempuan cantik tadi yang mengandung obat bius, kemudian ditotok jalan darahnya setelah itu ia tidak raguragu lagi apa yang telah terjadi atas dirinya.

Ia juga mengerti bahwa orang yang menceburkan dirinya ke dalam telaga adalah perempuan cantik tadi.

Ia marah sekali, marah karena perempuan cantik itu berbuat terlalu kejam terhadap dirinya.

Ia juga benci kepada imam tua itu yang tidak mempunyai perikemanusiaan.

Lama ia memandang gelombang air telaga, pikirannya terbenam dalam lamunannya sendiri, lama sekali, ia baru menepuk kepalanya sendiri dan berkata seorang diri.

"Yah, benar! Kalau begitu aku telah tertipu oleh mereka. Imam tua tadi... hem! Gereja Kian-goan-koan di gunung Tay-san tidak ada seorang imam yang bernama Thian-ceng Tojin. Di dalam rimba persilatan juga belum ada orang yang pernah menyebut nama imam semacam itu, juga belum pernah dengar bahwa pangcu golongan pengemis di daerah selatan ada berhubungan dengan gereja Kian-goan-koan. Apalagi Ceng-lam adalah daerah kekuasaan golongan pengemis bagian utara. Perempuan cantik itu merupakan teka-teki, dia merupakan orang golongan pengemis bagian utarakah? Ataukah dari golongan selatan?"

Sudah tentu, jawabannya sangat mudah, perempuan itu seharusnya orang dari golongan pengemis daerah utara.

Dengan hati panas Touw Liong telah lompat dari atas perahunya, dan lari menuju ke kota Cee-lam.

Tiba di kota Cee-lam, Touw Liong langsung menuju ke kelenteng Khong-bio.

Di hadapan kelenteng itu terdapat banyak pengemis yang sedang rebah-rebahan.

Touw Liong tidak berkata apa-apa, ia hanya berjongkok.

Di atas lantai ia lalu menggurat-gurat membuat beberapa lingkaran yang tidak keruan macamnya dengan sebuah batu.

Di depan kelenteng itu kecuali orang-orang golongan pengemis yang pada rebah-rebahan, juga terdapat banyak tukang-tukang jualan.

Di samping itu ada pula beberapa orang wanita yang rupanya sedang berziarah atau sembahyang, dan beberapa anak-anak kecil juga tampak lari kian kemari bermain-main.

Touw Liong yang berjongkok sambil mencoret-coret di atas lantai, orang dengan dandanannya juga kelihatan tidak sepadan, sehingga dengan sendirinya lantas telah menarik perhatian banyak orang.

Seorang pengemis yang usianya sudah lanjut adalah yang pertama-tama sekali memperhatikan perbuatan Touw Liong itu.

Pertama-tama, pengemis tua itu tidak menampak hal-hal yang aneh, kemudian menampak bahwa gerakan Touw Liong itu menunjukkan keganjilan, maka lalu bangkit dan berjalan menghampiri padanya.

Ketika pengemis tua itu mengawasi apa yang sedang dicoret-coret oleh Touw Liong, seketika itu semangatnya tampak terbangun, sebab pemuda yang duduk berjongkok itu sedang menggunakan jari tangannya, di atas lantai yang keras itu menuliskan sebuah huruf Pak, kemudian melukis sebuah lingkaran bundar, hingga huruf Pak jadi masuk di tengah-tengah lingkaran.

Tanda atau kode semacam itu semacam itu, bagi orangorang golongan pengemis daerah utara, tiada satu yang tidak kenal, sebab huruf itu sebagai kode atau tanda diri pangcu atau ketua mereka.

Untuk sesaat pengemis tua itu diliputi oleh berbagai kecurigaan.

Ia berdiri di samping Touw Liong, berjalan salah tetap di situ juga salah, sehingga menjadi seorang yang keadaannya serbasalah.

Touw Liong dengan acuh tak acuh bangkit berdiri, kemudian mengangkat kepalanya dan mengawasi pengemis tua itu, kemudian bertanya kepadanya.

"Tahukah kau siapa aku ini?"

"Pangcu,"

Jawab pengemis tua itu dengan sikap sangat hormat.

"Kalau kau sudah tahu kedudukanku, mengapa tidak memberi hormat kepadaku?"

"Tentang ini..."

Jawabnya gelagapan. Wajah pengemis tua itu menunjukkan bagaimana kesulitan yang dirasakannya saat itu.

"Aku tidak dapat menyalahkan kau, karena dalam anggapanmu, pangcumu adalah Lie Hu San, bukan? Mengapa mendadak diganti menjadi aku? Memang benar, ketua yang sekarang masih tetap Lie Hu San, aku hanya mendapat perintah dari Tiga Dewa golonganmu untuk membersihkan dan membereskan golongan kaum pengemis selatan dan utara. Aku akan menjadi pangcu kalian di kemudian hari!"

Pengemis tua itu menarik napas lega, katanya.

"Kiranya kau bocah ini adalah seorang pembual."

Touw Liong sedikitpun tidak marah dikatakan begitu, sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak.

Pengemis tua itu meskipun marah, tetapi ia tidak berani bertindak apa-apa, sebab sudah dikejutkan oleh ilmu jari tangan yang diunjukkan oleh Touw Liong.

Sambil mengerutkan alisnya, ia berkata lagi kepada Touw Liong.

"Aku si pengemis tua ini adalah seorang anggota yang khusus mengurus soal-soal pelanggaran hukum golongan pengemis. Bocah, aku ada urusan apa, ceritakan saja kepadaku!"

Touw Liong mengeluarkan suara dari hidung, dalam hati agak marah.

Ia marah karena ucapan yang kurang sopan dari pengemis tua itu, tetapi ia masih coba mengendalikan hawa amarahnya.

Katanya dengan suara perlahan.

"Lie Hu San telah mengutus dua orang, yang satu adalah seorang imam tua yang wajahnya agak aneh, bernama Thian-ceng, yang lain adalah seorang wanita muda cantik jelita. Mengenai gerak-gerik dua orang ini, aku minta supaya saudara suka mengadakan penyelidikan sebentar, di waktu lohor saudara harus beri kabar kepadaku!"

"Seandainya aku tidak mau, lalu bagaimana?"

Balas bertanya pengemis tua itu sambil tertawa dingin.

Touw Liong mendongakkan kepala mengawasi awanawan di langit, kemudian menghela napas.

Ia tidak berkata apa-apa, hanya dengan menggunakan kakinya, dengan enak sekali sudah menghapus tulisan yang ia tinggalkan di atas lantai tadi hingga huruf PAK yang berada di tengah lingkaran tadi sudah terhapus oleh gosokan kakinya, setelah itu ia baru berkata.

"Aku si orang she Touw selamanya tidak mau memaksa orang lain. Tentang perintahku tadi, kau mau melakukan atau tidak itu adalah urusanmu, hanya jikalau kau tidak mau dengar perintahku, di kemudian hari aku tidak perlu menghukum kau, sedangkan Lie Hu San juga tidak akan melepaskan kau begitu saja!"

Digertak demikian, lagi pula menyaksikan kekuatan tenaga dalam Touw Liong demikian hebat, pengemis tua itu lalu bungkam tidak berani berkutik lagi.

"Menggunakan paksaan!"

Demikian pengemis tua itu mengucapkan kata-kata yang ringkas sambil menghela napas, setelah itu ia berkata pula sambil menunjuk puncak gunung di daerah timur.

"Di tengah-tengah gunung itu, ada sebuah kelenteng yang dinamakan kelenteng Tho-tee-bio. Nanti petang aku di sana menantikan kedatanganmu."

Setelah berkata demikian, pengemis tua itu lantas berlalu.

Ketika ia berlalu, ia tidak mengajak kawan-kawannya, juga tidak memberi isyarat apa-apa.

Setelah mendapat jawaban demikian, Touw Liong lalu meninggalkan kelenteng Khong-bio.

Bab 60 GUNUNG itu tidak tinggi, di tengah-tengah gunung ada sebuah kelenteng kuno yang sudah rusak keadaannya, mungkin karena sudah lama tidak ada orang yang tinggal, hingga debunya yang di lantai nampak demikian tebal.

Cuaca perlahan-lahan mulai gelap, Touw Liong berjalan mondar-mandir di depan kelenteng, dia sudah mulai kecewa, dianggapnya pengemis tua tadi tidak akan datang.

Tiba-tiba, dalam keadaan remang-remang, di atas jalan raya yang menuju ke gunung itu, tampak beberapa bayangan penunggang kuda.

Semakin lama nampak semakin nyata...

penunggang kuda itu semuanya berjumlah 3 orang yang terus mendaki gunung.

Touw Liong yang memiliki pandangan mata tajam, ketika penunggang kuda itu berada sejarak 20 tombak lebih, sudah tampak olehnya bahwa penunggang kuda itu terdiri dari 12 orang pengemis.

Sebagai kepala, seorang pengemis berusia tiga puluhan tahun yang berperawakan kurus kering.

Penunggang kedua adalah seorang pengemis tua yang tadi siang dijumpainya di depan kelenteng Khong-bio.

Dua belas penunggang kuda itu ketika tiba di depan kelenteng, semuanya lompat turun dari kudanya.

Pengemis setengah umur yang menjadi kepala rombongan, lebih dulu menatap Touw Liong yang berdiri di tangga depan kelenteng, seraya bertanya.

"Adakah tuan orang she Touw?"

"Benar, aku adalah Touw Liong,"

Jawab Touw Liong sambil menganggukkan kepala dan menjura kepada kepala rombongan pengemis itu.

"Touw Tayhiap yang dahulu pernah tunjukkan kepandaiannya di atas gunung Lu-san di danau Siao-thiantie?"

Touw Liong tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala.

"Aku si pengemis tua ini adalah Tong Kun Khay, pangcu cabang golongan pengemis di kota Cee-lam."

Touw Liong menunjukkan sikap terkejut, kemudian memberi hormat kepadanya.

"Touw tayhiap kata, bahwa kau adalah pangcu golongan kami untuk kemudian hari, ucapanmu ini aku kurang paham. Kalau benar tiga sesepuh kami sudah menyerahkan tugas ketua itu kepada tuan, setidak-tidaknya toh ada memberikan barang kepercayaan. Cobalah tuan tunjukkan barangnya."

"Ada,"

Jawab Touw Liong tegas.

"Sebuah tanda kepercayaan yang berupa batu giok berukiran harimau putih yang diberikan oleh Ciu-sian Locianpwe, dan di samping itu juga sehelai surat yang ditulis olehnya sendiri."

Tong Kun Khay tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Keterangan Touw tayhiap ini agak aneh, karena tanda kepercayaan batu giok berukiran harimau putih milik Ciusian Tianglo sudah lama diberikan kepada Lie Pangcu."

Wajah Touw Liong menjadi merah, tegas menunjukkan perasaan terkejutnya, setelah berdiam sejenak, ia bertanya.

"Apakah Tong Pangcu pernah melihat dengan mata kepala sendiri batu giok putih itu?"

"Tiga bukan berselang, Lie Pangcu telah mengundang para ketua dari 72 cabang di daerah utara, di hadapan para ketua itu Lie Pangcu memperlihatkan tanda kepercayaan batu giok itu, juga di hadapan para ketua itu mengumumkan perintah Ciu-sian Tianglo yang diberikan kepadanya, yang minta supaya Lie Pangcu dengan tanda kepercayaan itu mempersatukan golongan kami, 36 anak cabang dari golongan selatan, harus digabungkan dengan golongan utara,"

Jawab Tong Kun Khay sambil menganggukkan kepala.

"Benarkah?"

Tanya Touw Liong dengan wajah marah.

"Apa Touw Tayhiap anggap aku si orang she Tong suka bicara main-main?"

"Bukan itu maksudku, aku sedang berpikir...."

"Touw Tayhiap tentunya berpikir barang sudah di tangan orang lain! Betul tidak...?"

Ucapan ini mengandung maksud mengejek. Di luar dugaannya Touw Liong menganggukkan kepala, katanya.

"Sedikitpun tidak salah, Lie Hui San dengan menggunakan caranya yang sangat rendah, telah mencuri tanda kepercayaan itu dariku!"

"Heh, heh! Siapa mau percaya barang yang berada di tangan Touw Tayhiap bisa diambil oleh orang lain?"

Touw Liong naik darah karena diejek terus menerus. Dengan sikap keren ia membentak.

"Tutup mulut!"

Bentakan itu bagaikan halilintar, hingga 12 orang itu semua berubah wajahnya.

Itu masih belum cukup, 12 ekor kuda semuanya pada berlompat berjingkrakan sambil meringkik-ringkik, hampir saja lari serabutan.

Dua belas pengemis itu satu sama lain saling berpandangan, untuk sesaat mereka digentarkan oleh bentakan Touw Liong tadi.

"Tong Pangcu, dalam cabangmu di sini ada dua orang yang kusebutkan tadi atau tidak?"

"Ada... ada... ada...."

"Orang dari golongan apa?"

"Seperti..."

Menjawab Tong Kun Khay sambil mendongakkan kepala.

"Seperti... orang dari golongan kami daerah selatan."

"Di mana sekarang orangnya?"

"Sudah lama pergi!"

Touw Liong lalu menjura dan mengucapkan sampai bertemu kembali kepadanya, kemudian cepat bagaikan kilat lari turun gunung, dalam waktu sekejap mata sudah menghilang ditelan kabut gelap.

Touw Liong yang mendengar keterangan bahwa perempuan muda cantik jelita itu adalah orang golongan pengemis daerah selatan, bahkan orangnya sudah berlalu dari kota Cee-lam, dalam cemasnya ia juga tidak menanyakan lebih jauh perempuan itu dari golongan mana, orang she apa, dan bernama apa, sedang Thian-ceng Tojin betul seperti apa yang diucapkan dan ada hubungannya dengan gereja Kian-goan-koan atau tidak, lantas berlalu begitu saja.

Ia lari demikian pesat, sebentar saja sudah menghilang, hinga 12 pengemis tua itu semua berdiri kesima di tempatnya.

Touw Liong teringat kejahatan Thian-ceng Tojin dan perempuan cantik itu, dalam hati merasa mendongkol, maka ia lari siang malam terus menerus selama dua hari.

Ia sudah melalui sungai Hway-ho, tapi masih belum berhasil juga menyandak perempuan cantik yang dikejarnya itu.

Dari situ ke selatan adalah kota Yang-ciu, dan kota Yang-ciu itu merupakan markas besarnya golongan pengemis daerah selatan.

Di waktu petang, Touw Liong sudah tiba di kota Yangciu.

Begitu melalui jembatan, tiba-tiba teringat diri seseorang.

Orang itu di kota Yang-ciu mempunyai nama baik, meskipun ia belum pernah mengadakan perhubungan dengannya, tetapi orang itu kenal baik keadaan golongan pengemis di daerah selatan.

Karena kebetulan berada di Yang-ciu, maka ia ingin berkunjung untuk menanyakan keterangan sedikit darinya.

Tiba di mulut sebuah gang, tidak jauh di depan pintu rumah no.

7 tampak terpancang dua buah lentera yang bertulisan huruf-huruf yang besar-besar "Cu".

Ia langsung menuju ke rumah yang ada terpancang dua lentera itu, lalu mengetok pintunya.

Dari dalam keluar seorang pelayan tua, setelah mengawasi Touw Liong dari atas ke bawah sejenak, lalu bertanya.

"Tuan ada keperluan apa?"

"Aku datang dari kota Pak-khia, hendak menari Cu Tayhiap Cu Keng Kian."

Pelayan tua itu menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"Kedatangan tuan sungguh tidak kebetulan, loya kami baru saja keluar pintu."

"Pergi kemana?"

Tanya Touw Liong cemas. Pelayan tua itu kembali menggelengkan kepala, dan berkata.

"Hal ini hamba sendiri juga kurang jelas, loya seperti membawa bungkusan kecil, barangkali pergi ke tempat jauh."

"Seorang diri?"

"Tidak!"

Jawab orang tua itu tegas.

"Berdua."

"Siapakah yang satu lagi?"

"Seorang imam."

Dalam hati Touw Liong bercekat, ia segera teringat diri Thian-ceng Totiang, setelah berpikir sejenak ia lalu bertanya.

"Kemana mereka pergi? Apakah kongkong kiranya dapat menduga-duga?"

Pelayan tua itu kembali mengamat-amati diri Touw Liong, setelah itu ia berkata sambil menggelengkan kepala.

"Tentang ini, aku si orang tua tidak dapat mengatakannya."

Tiba-tiba dia menunjukkan tertawanya misterius.

Selagi hendak menutup pintu, Touw Liong yang merasa curiga, buru-buru menahannya dan menggambarkan kepadanya dedak dan pakaian Thian-ceng Totiang.

Namun pelayan tua itu tetap menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tertawa.

"Hamba seorang tua yang sudah lamur. Hamba hanya tahu imam itu ada membawa pedang pusaka, wajahnya kurus, mengenakan jubah warna hijau."

Jawaban itu kembali mengecewakan Touw Liong.

Oleh karenanya, maka ia meninggalkan gedung Keluarga Cu dengan hati kesal.

Begitu Touw Liong berlalu, dari belakang pintu lompat keluar tiga laki-laki berpakaian hijau, dari jauh menguntit Touw Liong.

Sementara itu pelayan tua tadi tiba-tiba menyeka mukanya sendiri, dan membuka rambut putihnya yang ternyata palsu.

Saat itu tampaklah wajahnya yang asli.

Orang itu ternyata berusia tiga puluh tahunan.

"Sungguh berbahaya!"

Demikian lelaki tadi berkata sendiri sambil meleletkan lidahnya. Pada saat itu seorang tua berjalan keluar dari dalam rumah dan bertanya dengan suara perlahan kepada lelaki tadi.

"Hong-kun, apakah bocah she Touw itu sudah pergi?"

"Sudah!"

Jawabnya singkat.

Dua orang itu berjalan masuk sambil mengobrol.

Di ruangan tamu terdapat tujuh buah kursi, dengan tujuh orangnya.

Di tengah-tengah duduk seorang tua berusia lima puluh tahunan, di sebelah kiri duduk imam tua yang mengaku Thian-ceng Tojin, sedang di sebelah kiri Thianceng Tojin adalah perempuan muda yang cantik jelita itu.

Di barisan sebelah kanan duduk empat pengemis pertengahan umur.

Pengemis tua bermuka merah dengan wajah cemas mengawasi lelaki yang baru masuk.

Dengan suara agak gemetar bertanya.

"Hong-kun, apakah orang she Touw itu sudah pergi?"

"Pangcu, orang she Touw itu sudah berlalu. Hamba..."

Menjawab Hong-kun sambil maju dua langkah dan memberi hormat.

"Heng!"

Pengemis tua bermuka merah itu mengulapkan tangannya, dan memotong ucapan Hong-kun.

"Kau lekas pergi lihat, anak murid yang mengikuti dia itu ada berita apa?"

Hong-kun lantas undurkan diri. Pengemis tua itu kembali berkata kepada orang tua yang berjalan masuk bersama-sama Hong-kun.

"Lie hoat, kau lekas pergi mengundang Leng Congpiauw-piauw-thao dari Su-hay-piauw-kiok,"

Orang tua tadi juga lantas mengundurkan diri. Setelah dua orang itu berlalu, orang tua bermuka merah tadi berkata pula kepada Thian-ceng Tojin.

"Kow Hu Pangcu, tentang... batu giok itu, kamu masih mempunyai usul apa?"

"Perhitungan Pangcu ternyata tepat, hamba merasa sangat kagum,"

Menjawab Thian-ceng Tojin sambil membongkokkan badan. Pengemis tua bermuka merah itu kembali bertanya kepada perempuan muda.

"Ang Hok Hoat ada mempunyai usul apa lagi?"

Wanita muda itu memberi hormat seraya berkata.

"Pangcu mempunyai pandangan sangat luas, siaolie kecuali setuju, terhadap tugas kali ini, merasa sangat puas."

"Perjalanan Ang Hok Hoat kali ini dengan Hu-pangcu ke kota Pak-khia, telah berhasil membuat jasa besar, bukan saja aku si orang she Kang merasa berterima kasih, tetapi juga semua murid golongan pengemis, merasa berterima kasih kepada kalian berdua. Kali ini apabila usaha kita berhasil, Lie Hu San tidak perlu ditakuti lagi."

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula sambil menghela napas.

"Semoga kali ini atas kurnia Couwsu kita bertiga, dapat mempersatukan golongan pengemis. Aku si orang she Kang juga tidak mengecewakan Couwsu kita, juga tidak mengecewakan murid-murid golongan pengemis generasi kemudian."

Pengemis bermuka merah itu ternyata adalah pangcu golongan pengemis daerah selatan, Kang Hao.

Kang Hao tampaknya sangat bangga.

Di dalam otaknya sudah terbayang kedudukannya sebagai ketua dan pemimpin golongan pengemis, dan di hadapannya seolaholah berlutut seratus delapan kepala cabang pengemis, yang semuanya menundukkan kepala dan pandang ia sebagai pemimpin yang mempersatukan golongan pengemis daerah utara dan selatan.

Tanpa disadari olehnya, ia sudah tertawa dengan bangganya.

Dalam keadaan seolah-olah sudah melupakan diri, matanya melirik kepada wanita cantik tadi.

Sinar matanya menunjukkan sikap aneh, sedang dalam hatinya memanggil nama perempuan tadi.

"Ang Hok Hoat."

Panggilan dari dalam hatinya tadi mengandung maksud lain.

"Pangcu!"

Demikian empat pengemis tiba-tiba bangkit dan memberi hormat kepadanya.

Bayangan dalam otaknya Kang Hao telah buyar oleh suara tadi.

Di wajah Kang Hao terlintas perasaan tidak senang, perlahan-lahan berpaling dan mengawasi wanita cantik itu.

Hampir pada saat yang bersamaan, sepasang mata perempuan cantik yang jeli dan bulat itu juga melirik kepadanya, sehingga saling bertemu.

Hati Kang Hao tergoncang.

Sungguh cantik dan menarik paras perempuan itu.

Perlahan-lahan ia berpaling kembali dan memberi perintah kepada empat pengemis tadi.

"Kalian berempat, dengar, aku hanya mempunyai waktu setengah bulan saja, dalam waktu setengah bulan ini harus berhasil mendahului Lie Hu San tiba di gunung Hek-hongsan, dengan tanda kepercayaan Naga Emasku ini, kauwcu pasti akan memberikan kitab ilmu Thian-ceng-siu-lo kepadaku, dengan demikian, golongan kita daerah selatan dan utara ada harapan untuk digabung menjadi satu."

Setelah itu ia mengulapkan tangan kepada empat pengemis tadi dan berkata pula.

"Besok pagi-pagi aku akan berangkat, segala sesuatu di dalam perjalanan, terserah kepada kalian berempat yang mengurus, silahkan kalian berangkat dahulu!"

Empat pengemis itu lantas undurkan diri. Kang Hao kembali berkata kepada wakil ketua seorang she Kow.

"Kalau Leng Cong-piauw-tiauw dari Su-hay-piauw-kiok nanti datang, sediakan upah besar, minta ia pergi ke kota Tong-sian, diberikan kepada Lie Hu San... ha ha... sebagai tanda ucapan terima kasih yang ia sudah menyerahkan tanda kepercayaan pangcu kepada kita."

Ia tertawa demikian rupa, seolah-olah melupakan dirinya sendiri, kemudian ia memberi isyarat dengan tangannya kepada perempuan cantik tadi seraya berkata.

"Ang Hok Hoat, mari jalan kemari! Kita lekas naik perahu. Malam ini bermalam di atas perahu supaya besok pagi-pagi bisa melakukan perjalanan di darat."

Wakil ketua tadi mengantarkan ketuanya sambil membungkukkan badan, sedang matanya terus mengawasi berlalunya Kang Hao dengan perempuan cantik she Ang tadi hingga keluar dari ruangan.

Orang tua itu kumisnya nampak bergoyang-goyang, wajahnya menunjukkan sikap dengki.

Di waktu malam, angin di atas sungai meniup kencang, di atas langit hanya terdapat sinar bintang saja.

Di luar kota Yang-ciu, di tepi sungai Thiang-kang, terpisah kira-kira 5 tombak dari tepi sungai, tampak berlabuh dua buah perahu besar.

Perahu itu di sebelah kirinya ada lukisan burung garuda besar.

Bagi orang-orang yang sering melakukan perjalanan di sungai Thian-kang, dapat segera mengenali milik siapa perahu besar itu.

Di atas perahu, tidak terdapat sinar pelita, juga tak terdengar suara sedikitpun.

Dari jauh, sayup-sayup terdengar tiga kali bunyi kentongan.

Setelah mana, dari dalam perahu itu lalu terdengar suara orang kemudian disusul dengan munculnya seorang pengemis berambut pendek.

Pengemis itu mengeluarkan suara batuk-batuk sebentar, lalu berjalan mengitari atas perahu besar.

Ketika menampak tidak ada tanda-tanda apa-apa yang aneh, kembali menuju bawah dan tidur di ruangan bawah.

Tak lama kemudian, sebuah perahu kecil dengan diamdiam dan perlahan-lahan didayung dan mendekati perahu besar tadi.

Dari dalam perahu kecil itu, tampak sesosok bayangan orang.

Dengan tidak mengeluarkan sedikit suarapun juga bayangan orang itu sudah melayang turun ke dalam perahu besar, dan berjalan menuju ke kamarnya dengan indap-indap.

Di bawah sinar bintang, samar-samar tampak bayangan orang yang melayang turun ke dalam perahu besar tadi adalah seorang imam yang tangannya membawa sebilah pedang yang berkilauan.

Pada saat itu, dari tempat setinggi 5 tombak di atas perahu tiba-tiba terdengar suara seruan terkejut, seorang berseru dengan suara serak.

"Thian-ceng Tojin...!"

Memang benar, imam itu adalah wakil ketua golongan pengemis daerah selatan yang menyamar sebagai Thianceng Tojin.

Bab 61 MESKIPUN di waktu malam, sepasang mata Thianceng Tojin yang buas dan penuh nafsu membunuh tampak dengan nyata.

Ia berjalan berindap-indap menuju ke kamar sambil menenteng pedang, di tangan yang lain, memegang sebuah bumbung warna kuning.

Bagi orang Kang-ouw, segera dapat mengenali bahwa bumbung warna kuning itu pasti adalah sebuah alat untuk melepaskan senjata rahasia yang sangat berbisa.

Di depan pintu kamar, Thian-ceng Tojin merendek, pikirannya ragu-ragu.

Pada saat itu, di bagian lain dalam perahu itu, dari daun jendela tampak berkelebat bayangan orang, lalu muncul dua orang dari dalam kamar.

Dua orang itu adalah seorang laki-laki dan seorang wanita.

Yang laki-laki berdandan seperti pengemis, sedang yang perempuan masih muda dan cantik rupanya.

Dari atas perahu, terdengar suara orang dengan nada sangat perlahan sekali.

"Itulah dia, perempuannya!"

Thian-ceng Tojin, setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia memberanikan diri, kakinya menendang untuk membuka pintu kamar.

Begitu pintu kamar terbuka, Thian-ceng Tojin secepat kilat melesat ke dalam, dengan pedang terhunus.

Di dalam kamar, kelambu diturunkan, sedang jendela terbuka lebar, ketika angin sungai meniup, kelambu itu tampak bergoyang-goyang, tempat tidur tampak awutawutan, tetapi tidak terdapat bayangan seorangpun juga.

Thian-ceng Tojin sebagai seorang Kang-ouw kawakan, begitu menyaksikan keadaan demikian segera mengetahui gelagat tidak baik.

Baru saja kakinya menginjak dalam kamar, secepat kilat sudah membalikkan diri dan kaki belakangnya juga memutar, begitupun pedangnya juga bergerak.

Gerakan tadi cukup cepat dan tepat.

Begitu bergerak, segera terdengar suara beradunya senjata tajam.

Thianceng Tojin terhuyung-huyung mundur tiga langkah.

Begitu Thian-ceng Totiang pasang mata, yang berdiri di hadapannya bukan lain daripada Kang Hao.

Kang Hao perdengarkan suara tertawanya yang menyeramkan, tongkat batu giok di tangannya menunjuk Thian-ceng seraya berkata.

"Orang she Kow, aku si orang she Kang apa salahnya terhadapmu? Dengan perbuatanmu seperti ini, nama baikmu selama ini pasti akan hancur, dan kematianmu masih akan membawa nama buruk sebagai orang yang berkhianat terhadap ketuanya sendiri."

Orang she Kow itu hanya perdengarkan suara tertawa dingin, bumbung di tangannya diacungkan, katanya.

"Mati? Bohong, hari ini kita lihat saja siapa yang akan mati."

Ucapannya itu seolah-olah sudah yakin benar asal bumbung di tangannya itu bergerak, maka Kang Hao sudah akan menggeletak di tanah. Kang Hao masih tetap bersikap tenang, katanya dengan sikap menghina.

"Orang lain takut senjata rahasiamu jarum berbisa, tetapi aku si orang she Kang tidak, heh he! Dengan adanya tongkat pusaka ini di tangan sudah cukup untuk memunahkan senjata rahasiamu. Orang she Kow, kalau kau tidak percaya boleh coba-coba saja!"

Orang she Kow itu tampaknya dikejutkan oleh ucapan tadi, sesaat berada dalam keragu-raguan.

Ia agak gentar, dengan mengawasi tongkat batu giok warna hijau di tangan Kang Hao, matanya terus berputaran mencari daya upaya.

Keduanya saling berhadapan, perempuan cantik yang berdiri di belakang Kang Hao, mulai melancarkan serangan dengan lirikan matanya kepada Thian-ceng Tojin.

Jantung Thian-ceng Tojin berdebaran, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Tongkat di tanganmu itu dapat menyedot jarum berbisaku atau tidak, masih merupakan suatu teka-teki. Mungkin kau sendiri yang terlalu banyak membual...."

"Membual atau tidak, kita boleh coba saja dahulu."

Keduanya kambali saling berhadapan, tiada satu yang bertindak lebih dahulu. Perempuan cantik itu berjalan di tengah-tengah antara mereka berdua, lalu berkata sambil tersenyum manis.

"Ya! Kalian dua orang, janganlah mengadu kekuatan sendiri, sehingga membikin kacau barisan dalam sendiri! Bagaimanapun juga kita adalah orang-orang dalam satu golongan. Ada urusan apa, toh bisa dirundingkan secara baik-baik!"

"Perempuan hina!"

Dengan marah Kang Hao berseru dan menarik tangan perempuan cantik itu, hingga mundur terhuyung-huyung tiga langkah. Kang Hao berkata lagi dengan suara bengis.

"Kau perempuan hina ini apa benar sudah mau mencari mampus?"

Dengan wajah pucat pasi perempuan cantik itu undurkan diri, kembali berdiri di belakang Kang Hao.

Ia dapat memahami maksud Kang Hao.

Memang benar, apabila tadi Thian-ceng Tojin turun tangan selagi perempuan cantik itu sedang berdiri di tengah-tengah dua orang, bukan saja perempuan cantik itu sendiri yang pertama-tama menjadi sasaran senjata berbisanya, sedangkan Kang Hao sendiri juga tidak dapat mengeluarkan kepandaiannya, sudah tentu akan terkena serangan juga.

Kang Hao yang masih marah, bertanya pula kepada perempuan cantik itu.

"Perempuan hina! Katakanlah dengan sejujurnya, kau sebetulnya hendak ikut siapa?"

"Ikut siapa?"

Demikianlah perempuan cantik itu balas bertanya, sedang matanya kembali melirik kepada Thianceng Tojin. Katanya pula dengan suara lantang.

"Apa masih perlu penjelasan? Siapa yang memiliki tanda kepercayaan Naga Emas, kepada dialah aku akan mengikut."

Ucapan itu sudah jelas menyatakan isi hatinya.

Ia sudah bertekad hendak mengikut Kang Hao, akan tetapi Thianceng Tojin yang menerima lirikan tajam darinya, tidak berpikir demikian.

Dalam alam pikiran wakil ketua golongan pengemis itu, lirikan perempuan itu diartikan sebagai isyarat yang suruh ia....

Memang benar, lirikan perempuan cantik itu mengandung arti hendak mengadu domba.

Wakil ketua golongan pengemis itu menjadi nekad.

Pedang di tangan bergerak pura-pura menyerang ke dada perempuan muda tadi, sedang mulutnya berteriak.

"Perempuan hina, kau cari mampus!"

Baru saja pedangnya bergerak, tampak berkelebat bayangan hijau.

Tongkat batu giok di tangan Kang Hao sudah dilintangkan merintangi gerakan pedang Thian-ceng Tojin.

Perempuan cantik tadi menggunakan kesempatan itu, lantas lompat melesat keluar dari dalam kamar.

Selagi dua senjata saling beradu, terdengar pula suara ledakan dan disusul oleh suara ser-seran.

Dari dalam bumbung itu melesat beberapa ratus jarum berkilauan.

Kang Hao perdengarkan suara bentakan marah-marah diseling oleh suara tertawanya Thian-ceng Tojin, setelah itu terdengar pula dua kali suara jeritan mengerikan.

Pedang Thian-ceng Tojin sudah ditarik kembali, dan dalam kesempatan itu ujung pedangnya untuk kedua kalinya digerakkan, untuk menyambut tongkat batu giok Kang Hao yang disodorkan kepadanya, setelah itu ujung pedang menikam ketiak kiri Kang Hao yang saat itu masih mengubat-abitkan tongkat di tangannya.

Darah mengucur dari kedua mata Kang Hao, sepasang matanya sudah tidak dapat melihat lagi.

Dengan demikian, maka ujung pedang Thian-ceng Tojin dengan sangat mudah dapat menembusi ketiak kiri Kang Hao.

Berbareng dengan keluarnya suara jeritan Kang Hao, juga terdengar suara tertawanya Thian-ceng yang menusuk telinga.

Suara tertawa itu mungkin karena terlalu girang, sehingga mirip dengan suara tertawanya orang kalap.

Belum hilang suara tertawanya, dengan tiba-tiba terdengar suara jeritan mengertikan, menggantikan suara tertawanya tadi.

Bersamaan dengan itu, di dalam ruangan kamar perahu itu terdengar suara jatuhnya tubuh dua orang di atas lantai.

Malam itu, suasana balik sunyi kembali.

Perempuan muda tadi melongok ke dalam kamar.

Di wajahnya menunjukkan sikap girang, tetapi hanya sekilas lintas saja perasaan terkejutnya lantas lenyap, agaknya apa yang terjadi dalam kamar itu sudah ada dalam dugaannya.

Di atas lantai dalam kamar, rebah menggeletak dua bangkai manusia.

Muka Kang Hao berlumuran darah.

Kedua tangannya masih menggenggam erat-erat tongkat batu giok hijaunya, sedang ujung tongkat itu sudah menancap dalam dada Thian-ceng Tojin.

Dari luka itu darah menyembur bagaikan air mancur.

Meskipun orangnya sudah mati tetapi darahnya masih mengalir terus.

Perempuan cantik itu benar-benar berhati kejam.

Ia mengawasi dua bangkai manusia itu tanpa menunjukkan perubahan sikap apa-apa, bahkan masih mengulurkan tangannya, meraba-raba dalam saku Kang Hao, dari situ ia mengeluarkan sebuah batu giok berwarna kuning, yang berukiran Naga Emas.

Benda itu digenggam dalam tangannya, lalu tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata kepada diri sendiri.

"Takdir! Takdir! Sudah ditakdirkan aku si orang she Bu...."

Mendadak ia bungkam, matanya terbuka lebar, wajahnya berubah pucat pasi. Di depan pintu kamar dalam perahu, entah sejak kapan tahu-tahu seseorang sedang berdiri.

"Kau...?"

Demikian perempuan cantik itu berteriak kaget, mungkin karena terlalu kagetnya, sehingga tidak dapat mengeluarkan ucapan selanjutnya. Sekujur badannya gemetaran, bagaikan orang sakit demam.

"Kau... manusia... ataukah setan?"

Kata-kata itu akhirnya tercetus juga dari mulutnya, namun semangatnya seolah-olah masih belum kembali, matanya terus menatap kepada orang yang sedang berdiri di hadapannya.

Orang yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang pemuda berbaju hijau, yang bukan lain daripada Touw Liong adanya, yang pernah diceburkan olehnya ke tengahtengah telaga.

Wanita cantik itu menganggap Touw Liong sudah binasa di dalam dasar telaga.

Mengapa ia mendadak bisa muncul di kota Yang-ciu?

Kecuali rohnya, tidak mungkin kalau itu adalah orangnya yang benar.

Begitu pikir wanita cantik itu.

"Perempuan hina!"

Demikian Touw Liong membentak dengan suara keras.

"Tuan mudamu masih segar bugar, kalau bukan manusia, apa kau anggap aku ini setan?"

Kini mengertilah sudah perempuan muda itu bahwa Touw Liong benar-benar adalah manusia yang masih hidup, bukanlah setan yang hendak mengejar dirinya.

Oleh karenanya, maka hatinya malah menjadi tenang, sesaat kemudian kembali menunjukkan sikapnya yang genit, pandangan matanya yang tajam bagaikan gunting, terus menerus memain ke wajah Touw Liong, setelah itu, ia unjukkan senyumnya yang menggiurkan, dan katanya dengan suara lemah lembut yang penuh madu.

"Ayo! Touw tayhiap, kau benar-benar berumur panjang, bisa lolos dari bahaya maut. Kau pasti akan mndapat rejeki besar...."

"Tutup mulut!"

Bentak Touw Liong.

"Di mana pedang Hok-mo-kiam-ku?"

"Pedang?"

Balas tanya perempuan itu sambil tersenyum.

"Di dalam, nanti kuambil dulu!"

"Tunggu dulu!"

Touw Liong takut perempuan itu kabur, maka tidak mau membiarkan ia berlalu.

"Tunggu sebentar, aku bisa mencari sendiri."

Saat itu wajahnya diliputi oleh nafsu membunuh.

Ia pikir perempuan cantik berhati berbisa itu tidak boleh dibiarkan hidup.

Apabila perempuan berbisa ini tidak disingkirkan, di kemudian hari entah berapa banyak jiwa yang akan binasa di tangannya?

Melihat perubahan sikap Touw Liong, dalam hati perempuan cantik itu ketakutan, namun ia masih belum kehabisan akal, ia masih mencoba hendak memikat Touw Liong dengan kecantikannya.

Sambil unjukkan senyumnya yang manis, ia memperlihatkan batu giok di tangannya kepada Touw Liong, lalu maju menghampiri dua langkah dan diberikan kepada Touw Liong seraya berkata.

"Nah, Touw tayhiap, dengan adanya batu giok ini, untuk selanjutnya golongan pengemis daerah selatan dan utara akan berada di dalam kekuasaanmu!"

Touw Liong terkejut dan mundur selangkah, ia takut perempuan itu menggunakan akal muslihat kepada dirinya lagi, maka lalu membentak, membuat perempuan cantik itu merandek.

"Lemparkan!"

Perintahnya Touw Liong dengan sikap dingin.

"Lemparkan?"

Berkata perempuan cantik itu dengan wajah berubah.

"Enak saja!"

Ia genggam erat-erat batu giok di tangannya, katanya lambat-lambat.

"Batu giok ini kudapatkan dengan mengorbankan waktu, tenaga dan tubuhku. Meskipun milik golongan pengemis, akan tetapi aku sudah bisa mendapatkan, tentu bisa juga menghancurkan benda ini. Aku tahu maksud kedatanganmu kemari ialah lantaran batu giok ini. Hari ini, jikalau kau tidak dengar perkataan nonamu, hem! Hem!"

Ia perdengarkan suara tertawa dinginnya berulang-ulang. Batu giok diacung-acungkan di depan mata Touw Liong, kemudian berkata pula dengan suara tajam.

"Asal aku mengacungkan tanganku, kau harus dengar ucapanku!"

"Baiklah! Katakan saja! Kau ingin aku berbuat bagaimana?"

"Kau jadi pangcunya, aku yang pelindung hukum. Batu giok ini terhitung milikmu, tetapi orang yang benar-benar menguasainya ia adalah pelindung hukum,"

Kata perempuan cantik itu dengan sikap bangga.

Touw Liong tidak terlalu rakus dengan benda pusaka itu, tetapi oleh karena nasib golongan pengemis tergantung kepada benda itu, maka untuk sesaat ia juga merasa sulit.

Ia takut perempuan cantik itu nanti menggunakan batu giok tersebut untuk memeras dirinya.

Apalagi, perempuan cantik itu berhati sangat berbisa, segala perbuatan jahat pasti dapat dilakukan olehnya.

Ia berpikir bolak-balik, kecuali menurut, sesungguhnya sudah tidak ada jalan lain lagi.

Oleh karenanya, maka terpaksa ia mengiringi kehendaknya.

"Baik, akan kuiringi segala kehendakmu, juga suka aku ampuni jiwamu. Tapi ada satu hal kau harus ingat benarbenar, bila ada satu hari kau mengandung maksud jahat, dayung perahu ini adalah contohnya!"

Setelah berkata demikian, ia memutar tubuh, dari jauh melakukan gerakan tangannya. Dayung perahu yang besar dan kokoh itu mendadak patah menjadi dua potong.

"Baik! Begitu saja kita tetapkan,"

Perempuan cantik itu tersenyum manis. Tiga hari kemudian, di atas sungai Thian-tang-kang tampak sebuah perahu besar. Di atas perahu itu dikibarkan bendera merah yang bertulisan huruf besar "TOUW"

Yang tersulam dengan benang emas.

Munculnya perahu besar itu disambut oleh dua belas perahu lain yang dihias dengan berbagai perhiasan, di sepanjang sungai, arak-arakan perahu itu seperti mengarak raja-raja, terus menuju ke kota Hang-ciu.

Di bawah sebuah bukit di sebelah barat kota Hang-ciu, terdapat sebuah bangunan besar dengan pekarangannya yang luas.

Bangunan itu dihias dengan rupa-rupa dedaunan dan bendera-bendera, tampaknya sangat ramai sekali.

Sesungguhnya bangunan itu luas dan cukup megah, tetapi ada satu hal yang lain daripada yang lain, orangorang yang keluar masuk di dalam bangunan yang mempunyai pekarangan luas itu, semuanya adalah orangorang dari golongan pengemis.

Bagi orang yang mengerti, sedikitpun tidak merasa heran, sebab bangunan besar itu adalah markas besar golongan pengemis daerah selatan.

Ketika iring-iringan perahu itu menepi semua, dari tepi sungai sampai ke bangunan besar itu, sepanjang jalan orang-orangnya diarak dengan tetabuhan dan bunyi-bunyi petasan.

Tiba di muka pintu gerbang, kedatangan rombongan itu disambut oleh 36 pengemis tua yang masing-masing tangannya menggenggam sebuah tongkat kebesaran.

Kemudian, kepala rombongan yang merupakan seorang pemuda tampan, diiring masuk oleh 36 pengemis tua, dan duduk di atas kursi upacara kebesaran di tengah-tengah ruangan yang luas.

Ketika pemuda itu sudah duduk di atas kursi kebesarannya, 36 pengemis tua satu persatu maju memberi hormat seraya memperkenalkan diri masing-masing.

Mereka itu ternyata para ketua atau pemimpin 36 cabang golongan pengemis yang tersebar di berbagai kota.

Pemuda tampan yang menduduki kursi kebesaran itu, bukan lain daripada Touw Liong sendiri.

Tiga puluh enam ketua cabang itu setelah selesai memperkenalkan diri dan unjuk hormat, disusul oleh 6 anggota yang ditugaskan untuk menjabat sebagai kepala bagian dalam markas, terakhir adalah perempuan muda cantik jelita yang tangannya menggenggam tanda kepercayaan batu giok berukiran Naga Emas.

Selesai upacara pertemuan, Touw Liong memimpin ke-36 ketua cabang dan kepala-kepala bagian, bersembahyang kepada tiga Cowsu pendiri golongan pengemis, dengan sembahyang kepada bumi dan langit, kemudian memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyediakan perjamuan.

Selesai perjamuan, Touw Liong mengajak enam kepala bagian dan anggota pelindung hukum untuk mengadakan perundingan.

Pertama-tama Touw Liong menanyakan dasar hukum yang digunakan oleh golongan pengemis bagian selatan kepada kepala anggota bagian hukum.

Menurut kepala anggota bagian hukum, dasar hukum yang digunakan ialah yang sudah ditentukan oleh ketiga Cowsu dahulu.

Touw Liong menganggukkan kepala, karena golongan pengemis bagian utara juga menggunakan dasar hukum tersebut.

Dari kepala keanggotaan Touw Liong mendapat keterangan bahwa golongan pengemis selatan dan utara semuanya mempunyai 108 cabang.

Setelah itu Touw Liong memerintahkan kepada kepala bagian itu mengeluarkan surat undangan kepada 108 kepala cabang, supaya pada malaman Tiong-ciu pada tahun ini juga, berkumpul di markas besar kota Tong-ciu.

Enam orang itu terkejut mendapat perintah demikian.

Kepala bagian keanggotaan itu lalu berkata.

"Urusan sebesar ini, mana dapat Pangcu memindahkan markas besar ke kota Tong-ciu?"

"Kota Tong-ciu adalah tempat berdirinya golongan pengemis dahulu yang dibentuk ketiga Cowsu kita, dan waktu itu ketiga Cowsu kita juga sudah menetapkan kota Tong-ciu sebagai markas besarnya."

Enam orang itu lalu bungkam, pada saat itu, dari luar terdengar suara orang yang memberi laporan bahwa kepala cabang kota Lam-ciu telah mengirim surat!

Semua orang di situ menunjukkan sikap terkejut, sebab cabang kota Lam-ciu termasuk anak cabang dari golongan utara, mengapa bisa mendadak datang memberi laporan ke daerah selatan?

Touw Liong segera membuka surat yang diterimanya, sesaat itu ia melengak.

Kiranya batu giok berukiran binatang Kie-lin yang merupakan tanda kepercayaan salah satu dari Tiga Dewa golongan pengemis, yang waktu itu hilang di tangan Kang Hao, entah bagaimana bisa terjatuh di tangan kepala cabang kota Lam-ciu, dan kepala cabang kota Lam-ciu itu dengan menggunakan tanda kepercayaan tersebut, telah membentuk sendiri golongan pengemis yang dinamakan golongan pengemis bagian barat-utara, serta menyatakan maksudnya hendak melepaskan diri dari golongan utara.

Dalam upacara berdirinya partai baru itu, ia sengaja mengundang pangcu golongan selatan untuk turut menghadiri.

Dengan demikian, maka golongan pengemis kini telah terpecah menjadi tiga.

Karena upacara berdirinya golongan pengemis bagian barat-utara itu bertepatan harinya dengan hendak diadakannya pertemuan besar oleh Touw Liong di kota Tong-ciu, maka hal ini membuat Touw Liong serba salah, hingga lama ia berdiam.

Tetapi kemudian ia mengambil keputusan, bahwa pemindahan markas besar ke kota Tong-ciu itu akan diundurkan sampai nanti tanggal sembilan bulan sembilan, sedang pada malaman Tiong-ciu, ia akan ke kota Lam-ciu seorang diri.

Enam kepala bagian itu terkejut mendengar keputusan Touw Liong.

Sebab, bila Touw Liong hadir dengan kedudukan sebagai pangcu golongan selatan, ini berarti sudah mengakui dengan resmi berdirinya golongan baratutara.

Padahal yang sepantasnya ialah, ia tak boleh menghiraukan undangan itu.

Kepala bagian keanggotaan lalu bertanya kepadanya.

"Apakah Pangcu hendak hadir untuk memberi selamat?"

"Bukan!"

Jawab Touw Liong dengan tegas.

"Maksudku ialah hendak mengambil kembali batu giok kepercayaan itu."

Semua orang dikejutkan oleh jawaban itu. Touw Liong lalu berkata kepada kepala bagian urusan umum.

"Sekarang kau harus segera siapkan, besok pagi-pagi sekali, aku akan berangkat ke sana."

Setelah itu Touw Liong perintahkan kepada anggota pelindung hukum perempuan cantik itu.

"Aku besok pagi-pagi hendak berangkat, perlu dengan batu giok itu, tolong Ang Hok-hoat pinjamkan batu giok itu kepadaku untuk sementara. Nanti setelah aku kembali dari kota Lam-ciu, akan kukembalikan lagi kepadamu."

Bab 62

"PANGCU, kau jangan lupa, di antara kita sudah ada perjanjian lebih dahulu!"

Berkata perempuan cantik itu sambil tertawa dingin.

"Habis bagaimana? Untuk menghadapi persoalan ini, kalau aku tidak membawa batu giok tersebut, tidak mungkin dapat menundukkan mereka."

"Kalau begitu biarlah aku ikut kepadamu saja."

"Kau...."

"Kenapa? Apa tidak baik? Apabila Pangcu takut akan ditertawakan orang, silahkan pergi sendiri, sedang batu giok itu toh berada di tanganku."

Touw Liong menghela napas, ia tidak menduga akan terjadi hal demikian.

"Baiklah! Kita berangkat besok pagi-pagi!"

Demikian akhirnya Touw Liong mengalah dan perempuan cantik itu segera minta diri.

Hari kedua pagi-pagi, perahu yang ditumpangi oleh Touw Liong dan perempuan cantik itu dengan melalui sungai Hu-chung-kang terus berlayar menuju ke telaga Thay-ouw.

Touw Liong lalu memerintahkan untuk berlayar menuju ke kota So-ciu.

Tiba di kota So-ciu, Touw Liong disambut oleh pangcu cabang daerah Go-sian.

Touw Liong memerintahkan orang-orangnya menyediakan barang sembahyang dan kertas-kertas sembahyang, untuk pergi ke Kow-so-thay, untuk bersembahyang ke kuburan ayah bundanya.

Di hadapan makam ayah bundanya, Touw Liong berjanji, bahwa pada harian Tiong-ciu di lain tahun, ia akan datang bersama saudaranya Kang Kie dengan membawa kepala musuh besar ayahnya, untuk bersembahyang ke hadapan makam orang tuanya.

Ketika hendak berlalu dari situ, lebih dulu ia memberi uang kepada ketua cabang daerah Go-sian, untuk perongkosan merawat makam ayah bundanya.

Dari situ ia lalu melanjutkan perjalanannya ke propinsi Han-kow.

Dari propinsi Han-kow, langsung ke Han-tiong.

Di sungai Han-tiong airnya deras, jadi perahu tidak bisa berlayar dengan laju.

Dalam hati Touw Liong merasa cemas, sebab bila di jalan saja sudah demikian lambat, entah kapan baru bisa sampai ke tempat tujuan.

Dari Han-tiong ke kota Lam-ciu masih memerlukan perjalanan kira-kira sehari.

Touw Liong menghitung-hitung waktunya, harian Tiong-ciu sudah dekat sekali, bila tidak bisa mencapai kota Lam-ciu pada waktu yang tepat, bukankah berarti akan tersia-sia saja segala jerih payahnya!?

Beberapa kali ia mengusulkan suruh ambil jalan darat, apa mau kepala pelindung hukum perempuan cantik she Ang itu tidak menyetujui.

Tapi manakala perahu sampai di kota Shiang-yang, Touw Liong merasa tak tahan lagi, maka berkata kepada perempuan cantik itu.

"Kalau kau tetap tak mau jalan di darat kembalilah kau ke Hang-ciu, biarlah aku pergi ke Lam-ciu sendiri!"

Perempuan cantik itu tampak berdiam diri, namun dalam otaknya telah berkelebatan entah berupa-rupa pikiran untuk mencari akal, sebagai orang yang banyak akal, lekas sekali ia mendapatkan tipu daya, katanya.

"Baiklah, terserah bagaimana maumu saja! Namun, masih hendak kuusulkan, malam ini kita berlabuh dulu di pelabuhan Hoan-shia untuk menginap satu malam di atas perahu, besok pagi-pagi baru kita berangkat lagi melalui daratan."

Untuk menunda satu malam Touw Liong anggap tidak keberatan, maka ia menerima baik permintaan itu.

Seperti biasa, malam itu Touw Liong dan perempuan cantik she Ang itu masing-masing makan di dalam kamarnya sendiri.

Di waktu makan, Touw Liong yang masih takut oleh akal muslihat perempuan cantik itu, selalu menggunakan sumpit gadingnya untuk memeriksa dahulu di dalam sayursayurnya, apakah ada terdapat racun atau tidak.

Malam itu sehabis makan ia makan beberapa biji buah keluaran kota Hang-ciu yang terkenal enaknya.

Mungkin karena jarang sekali makan buah seperti itu, Touw Liong merasa kuras puas.

Sambil memandang piringnya yang sudah kosong, ia tertawa kecut.

Dalam keadaan demikian, telinganya tiba-tiba mendengar suara orang yang berkata kepadanya.

"Pangcu, apa masih mau makan buah itu?"

Touw Liong tertawa hambar dan menganggukkan kepala.

Buah yang baru disediakan anak buahnya sekaligus dimakan habis olehnya.

Ia merasa segar dan sekujur tubuhnya lalu dirasakan nyaman.

Sambil memandang matahari terbenam ia coba memperhitungkan berapa lama perjalanan ke kota Lam-ciu dia tempuh, dan dengan cara bagaimana dapat menundukkan ketua-ketua cabang dari 3 kota itu.

Tiba-tiba, suatu perasaan aneh yang belum pernah ia alami telah timbul dalam dirinya pada saat itu timbul semacam pikiran yang ia sendiri tidk mengerti perasaan apa itu.

Matanya terus ditujukan kepada sesosok tubuh yang berdiri di atas perahu, sedang pikirannya melayang-layang jauh sekali.

Tubuh indah yang berdiri di bawah sinar rembulan purnama itu, bukan lain dari perempuan cantik she Ang yang mengenakan pakaian malam.

"Ang Hok-hoat!"

Ia sebetulnya tak pernah memberikan hati kepada perempuan cantik yang sifatnya jahat dan cabul itu.

Tetapi malam ini, entah apa sebabnya ia telah memanggil pelindung hukumnya dengan suara lemah lembut.

Waktu itu, dalam pikirannya, dalam pandangannya, perempuan yang jahat itu adalah jelmaan bidadari dari kahyangan.

Perempuan cantik itu membalas dengan panggilannya "Pangcu..."

Lalu dengan langkah lemah gemulai berjalan menghampiri Touw Liong. Touw Liong mengawasi terus perempuan yang tersenyum kepadanya, berkata sambil menunjuk rembulan di atas langit.

"Ang Hok-hoat, kalau kau tertawa, mirip sekali dengan...."

"Kalau aku tertawa, mirip sekali dengan rembulan di atas langit yang bulat indah itu, betul tidak?"

"He eh..."

Touw Liong tertawa, dan menarik tangan perempuan cantik yang putih dan halus itu. Dengan sinar mata berapi-api berkata dengan suara sangat perlahan.

"Kau benar-benar manis sekali malam ini!"

Lalu dieluslah pipi si cantik itu olehnya.

Sikap Touw Liong malam itu nampaknya seperti pemuda bangor, seolah-olah sudah mahir benar dalam permainan dengan perempuan cantik.

Perempuan cantik itu mengerlingkan matanya, tertawa lagi, dan katanya dengan suara perlahan.

"Pangcu!"

Tangan Touw Liong dari pipi turun ke dagu perempuan itu, katanya perlahan.

"Angkatlah mukamu, Ang Hok-hoat! Biar aku menikmati sampai puas!"

"Cis!"

Nafsu birahi Touw Liong mendadak berkobar hebat, mendekati dan mencium pipi perempuan cantik itu, tetapi si perempuan pura-pura melengos dan katanya.

"Pangcu, jangan begitu ah!"

Waktu itu di atas sebuah pohon tampak seorang gadis cantik berpakaian hijau, menyoren pedang di atas punggungnya, gadis ini menunjukkan perasaan sedih, air matanya turun membasahi pipinya sedang matanya ditujukan ke dalam perahu, di mana Touw Liong sedang tenggelam dalam air kata-kata dan paras cantik.

"Touw Liong! Touw Liong! Aku kira kau adalah seorang ksatria, tidak tahunya kau juga ternyata merupakan seorang pemabukan dan penggemar paras cantik...!"

Baca Juga: Telapak Setan 5

Baca Juga: Bara Maharani 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert