Eps 10 Panji Wulung - Opa
Baca online Panji Wulung - Opa
Cersil Panji Wulung - Opa.
Suara gerutuan ini tercetus dari mulut si gadis cantik berpakaian hijau itu, lalu dengan satu gerakan yang sangat ringan, melayang turun ke bawah pohon dan menghilang ke dalam kegelapan.
Di dalam perahu, Touw Liong sudah berada dalam keadaan mabuk, sinar matanya berapi-api memandang gadis cantik di sampingnya.
"Pangcu!"
Perempuan cantik itu sikapnya makin menggiurkan.
"Kau sudah mabok! Mari, kuantar kau tidur."
"Baik! Baik!"
Touw Liong bangkit dengan langkah sempoyongan, satu tangannya digandeng oleh perempuan cantik tadi, dengan berdampingan berjalan masuk ke kamar Touw Liong.
Selagi si perempuan cantik mendorong pintu kamar, tibatiba terdengar suara serr, dan di daun pintu itu tertancap sebilah belati tajam!
Sepasang mata Touw Liong segera terbelalak lebar mengawasi belati itu, pikirannya menjadi jernih kembali.
Perempuan cantik itu secepat kilat berpaling.
Di belakang dirinya kira-kira sejarak tiga tombak, berdiri seorang tua berpakaian warna perak, tangannya membawa tongkat berkepala naga, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, dengan perasaan terheran-heran memandang kepada Touw Liong.
Di belakang orang itu, berdiri dua orang wanita setengah umur yang masing-masing mengenakan pakaian berwarna perak juga.
"Siu-lo!"
Touw Liong tiba-tiba berseru, mabuknya lenyap seketika, lalu ia menyongsong orang tua itu. Orang tua itu juga menghampiri ke arahnya dan berkata dengan suara gemetaran.
"Touw tayhiap!"
Tiga orang yang datang secara mendadak itu adalah Anak Sakti dari Gunung Bu-san, bersama dua muridnya Sepasang Burung Hong.
Sepasang Burung Hong itu dengan wajah dan sikap dingin, memandang perempuan cantik she Ang itu.
Merasa gagal dalam usahanya memikat Touw Liong, dalam hati si perempuan cantik itu merasa sangat mendongkol, memandang tiga orang yang baru datang itu dengan sikap marah.
Anak Sakti tidak menanyakan apaapa kepada Touw Liong, sebaliknya bertanya sambil menunjuk perempuan cantik itu.
"Nona ini....."
Wajah Touw Liong jadi kemerah-merahan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Na Lo, salah satu dari Sepasng Burung Hong berkata.
"Perempuan siluman ini sudah enam tujuh tahun tidak terlihat, tidak kusangka kini muncul di daerah Tiong-goan!"
Touw Liong dan Anak Sakti dari gunung Bu-san dengan sikap heran mengawasi Na Lo, smentara Ciauw Kun, Burung Hong kedua sudah berkata.
"Dia adalah anak murid Bu-ci Sin-nie di kota Kui-yang yang sudah diusir dari perguruannya."
Touw Liong diam-diam merasa bersyukur.
Mendadak ia ingat, memang di daerah Leng-lam ada seorang perempuan cantik yang bernama Bu-cui-lian, yang terkenal cabul, suka memikat anak-anak muda dengan obat bius.
Secepat kilat ia membalikkan diri dan bertanya dengan nada marah.
"Kau adalah Bu...."
"Ng!"
Sahut perempuan cantik itu sambil mengangguk.
"Kau baru tahu, tapi sayang sudah terlambat. Sepuluh hari lebih kita hidup dengan penuh cinta kasih dalam satu perahu!"
Anak Sakti dari gunung Bu-san lalu mengawasi Touw Liong dengan perasaan kecewa.
Touw Liong tahu kata-kata Bu-cui-liong tadi ada mengandung fitnahan, bila dibiarkan, Anak Sakti dari Gunung Bu-san salah paham, besar ia akan tidak dapat mencuci nama baiknya, lagi-lagi maka lantas membentak dengan suara keras.
"Ang Hok-hoat, hati-hatilah sedikit kalau bicara, jangan memfitnah orang!"
"A...ya Tuhan!"
Bu cui lian berseru.
"Tak kusangka demikian cepat sudah berubah hatimu! Betul kita baru bertemu dan berkumpul secara mencuri tapi seperti orang dahulu kata satu hari menjadi suami isteri, berarti menanggung budi seratus hari. Kita sudah hidup bersamasama lebih dari sepuluh hari, kau ini benar-benar seorang yang tidak punya liangsim, demikian cepat kau sudah berbalik tidak mau mengenal orang lagi."
"Aih!"
Anak Sakti dari Gunung Bu-san cuma bisa menghela napas perlahan.
"Kau mengecewaka harapan Pek Susiok!"
Na Lo juga ikut menyesali perbuatan Touw Liong. Touw Liong terkejut mendengar kata-kata Na Lo. Ucapan Bu-cui-lian tajam bagaikan sembilu, tapi kata-kata Na Lo lebih menyakitkan hatinya.
"Nona Pek kau kata...."
Cepat tanyanya.
"Dimana adanya dia sekarang?"
"Orangnya?"
Kata Ciauw Kun sambil pelototkan matanya.
"Ya, barusan juga ada di sini, tapi melihat sandiwara barusan, Pek susiok yang tahu diri terpaksa lantas mundur."
"Pek Giok Hoa! Pek Giok Hoa!"
Dalam hati Touw Liong berseru sendiri.
"Ayo pergi!"
Anak Sakti dari Gunung Bu-san mengajak dua muridnya berlalu, hingga sesaat kemudian menghilanglah mereka di tempat gelap. Touw Liong marah sekali. Dengan suara rendah berkata.
"Golongan pengemis tidak bisa terima orang bermatabat rendah semacam kau ini."
"Tapi golongan pengemis juga tak bisa berdiri tanpa aku! Tidak ada aku, orang golongan pengemis tidak bakalan bisa menemukan batu giok tanda kepercayaan Pangcu. Tanpa aku, kau juga tidak bisa menduduki kursi Pangcu. Pokoknya asal aku menggerakkan jariku sedikit saja, hmm! Golongan pengemis atau mungkin juga semua orang-orang persilatan, untuk selamanya jangan harap bisa menemui batu giok tanda kepercayaan golongan pengemis. Benda itu akan segera hancur lebur di tanganku ini!"
Kata Bu-cui-lian dengan sikap suara dingin. Touw Liong jadi khawatir, tapi ia tak dapat berbuat apaapa selain menahan marah.
"Sebetulnya sudah sejak dulu waktu kita berada di kota Cee-lam aku sudah memperhatikan dirimu. Tapi si tua bangka itu rupanya cemburu. Ia memaksa aku suruh bunuh kau. Waktu itu ia menjanjikan, akan mengangkatku sebagai wakil begitu lekas ia dapat merebut kedudukan pangcu. Dan, tentang penghidupan pribadi, juga bebas. Yang satu tidak boleh ganggu yang lain."
Berdiam antara sejenak, Bu Cui Han melanjutkan lagi kata-katanya.
"Lantaran ingin sekali aku mendapatkan kedudukan wakil ketua, maka dengan hati berat terpaksa aku bikin mabuk kau waktu itu juga, dan lemparkan kau ke tengah telaga. Tapi ternyata panjang umurmu.... Tapi, juga karena kau tidak mati, dan kita bertemu lagi, aku jadi putar otak sedapat mungkin untuk dapatkan dirimu. Selama dalam perjalanan kita ini, aku berpikir keras, bagaimana hendak mendapatkan dirimu. Dalam buah yang terakhir yang kuberikan kepadamu tadi, ada obat biusnya. Sekarang, segala-galanya kau sudah mengerti, bukan? Marilah kita berbicara secara blak-blakan!"
"Lekas katakan, apa kehendakmu!"
"Mulai hari ini, aku menjabat kedudukan sebagai wakil ketua, tapi masih tetap menguasai batu giok ini. Dalam urusan pribadi kita sebagai suami isteri. Aku jamin, selanjutnya dan untuk selama-lamanya, aku tidak akan mencari laki-laki lain...."
"Phui! Siapa kesudian mempunyai isteri semacam kau!"
"Kau jangan berlaku gagah-gagahan! Kau kira cukup begitu saja? Aku malah masih menghendaki kau bersumpah di hadapanku!"
"Aku seorang laki-laki!"
Kata Touw Liong marah.
"Selama masih ada napasku, tidak mau aku diperas! Tanpa batu giok akupun dapat menundukkan golongan pengemis!"
Berbareng dengan kata-katanya yang terakhir ia menyambar bungkusan dan pedang Hok-mo-kiamnya, lompat melesat dan menghilang di kegelapan.
Di kota Lam-ciu adalah sebuah gunung tandus.
Adapun keistimewaan gunung itu adalah kecuali tandus, juga ada banyak puncaknya yang menjulang tinggi.
Di atas puncak itu terdapat sebuah pagoda sembilan tingkat, dari jauh tampak menyolok sekali.
Touw Liong yang sudah berada di kota Lam-ciu segera menuju ke gunung itu.
Di belakang bangunan pagoda tinggi itu ada sebuah kelenteng yang keadaannya sudah rusak sekali, di sekitar kelenteng dikitari oleh beberapa anak bukit sehingga keadaan keleneng tersebut jadi mirip sekali dengan sebuah bangunan yang dikurung oleh tembok benteng, jadi disebut pula bentengan kuno oleh orang-orang.
Orang yang hendak berkunjung ke kelenteng tua tadi, harus memutari dulu pagoda tinggi itu, dan untuk bisa sampai ke pagoda itu, masih harus melalui sebuah jembatan panjang yang menghubungkan dunia luar dengan pagoda dan kelenteng tua itu.
Di dalam bentengan kuno tersebut waktu itu ada berkumpul banyak orang, di atas jembatan panjang, orang berbondong-bondong menuju ke bentengan itu.
Di muka pintu gerbang benteng tampak empat orang golongan pengemis yang memeriksa setiap tamu yang datang berkunjung.
Touw Liong disambut oleh salah seorang pengemis penjaga tersebut.
"Tuan dari mana?"
Tanya pengemis tersebut.
"Hang-ciu."
"Tuan...."
Tanpa menunggu habis perkataan orang itu, dari dalam sakunya Touw Liong lantas mengeluarkan sebuah surat undangan.
"Golongan pengemis daerah selatan...."
Dan pengemis itu mundur selangkah. Touw Liong mengangguk, pengemis itu lalu memberi hormat lagi dan bertanya dengan sikap lebih menghormat.
"Bolehkah siaote mengetahui nama tuan?"
"Touw Liong!"
"Touw pangcu!"
Semua orang terkejut dengan berbareng berseru kaget lalu maju selangkah dan berlutut di hadapan Touw Liong.
Touw Liong buru-buru memerintahkan mereka bangun.
Empat pengemis tadi segera bangkit, satu di antaranya berkata dengan sikap menghormat sekali.
"Pangcu, ikutlah pada teecu!"
Touw Liong mengikuti pengemis tadi berjalan masuk ke pendopo. Seorang lain lalu melapor dengan suara keras ke dalam pendopo.
"Touw pangcu tiba....!"
Suasana dalam pendopo antara sesaat menjadi gempar, lalu hening kembali.
Beberapa ratus pasang mata masih tertuju ke arah Touw Liong.
Dari dalam pendopo, seorang pengemis bermuka merah datang menyongsong.
Touw Liong lantas menduga kepada ketua cabang dari kota Lam-ciu yang bernama Su Bun Cun.
Benar saja, sesaat kemudian lalu terdengar kata-kata pengemis bermuka merah itu.
"Su Bun Cun tidak keburu menyambut kunjungan Pangcu ini dari jauh-jauh, harap suka dimaafkan."
Touw Liong menyambuti dengan kata-kata merendah, lalu berjalan bersama-sama menuju ke tengah pendopo.
Begitu Touw Liong masuk, semua orang di dalam pendopo lantas pada bangkit berdiri guna memberi hormat, dibalas oleh Touw Liong, mengangguk-anggukkan kepala.
Duduk di kursi tamu agung, Touw Liong melihat bahwa semua tokoh-tokoh golongan pengemis berbagai cabang telah datang, hanya tidak tampak orang-orang dari daerah utara.
Namun ia tidak menunjukkan sikap apa-apa, bersama-sama orang banyak turut dahar dan minum sepuasnya.
Belum berapa lama perjamuan berlangsung, Su Bun Cun tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
Setelah memberi hormat pada para hadirin, mulailah ia menyatakan maksudnya mengundang dan mengadakan perjamuan ini, ialah untuk memisahkan diri dari pusat perkumpulan golongan pengemis di kota Tong-ciu.
Pengumuman ini disambut gemuruh oleh para hadirin, sebagian besar menyatakan setuju.
Sun Bun Cun tampak gembira, mengawasi Touw Liong dan bertanya perlahan.
"Bagaimana tanggapan Touw pangcu mengenai buah pikiran siaote yang tak ada harganya ini?"
"Saudara Su hendak mendirikan golongan pengemis buat daerah barat laut? Siapa yang akan menjadi ketuanya?"
"Tentang ini,"
Sahut Su Bun Cun ragu.
"Siaote merasa perlu lebih dulu diadakan pemilihan di antara 3 ketua cabang."
Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala, setelah berdiam sejenak, lalau berkata lagi.
"Cabang-cabang mempunyai tokoh cukup banyak, mengapa saudara Su tidak memperluas pemilihan? Misalnya juga buat anggota-anggota di luar ketua cabang, agar mereka merasa pula diberikan hak yang sama untuk turut ambil bagian dalam pemilihan ketua ini."
"Mengenai usul pangcu ini,"
Buru-buru Su Bun Cun memprotes.
"Maaf, siaote tidak bisa menyetujui!" ]Touw Liong mengerti, pasti Su Bun Cun mengira dirinya akan turut dalam memperebutkan kedudukan ketua, maka saat itu ia tertawa nyaring, dan berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Siaote tidak akan turut ambil bagian dalam pemilihan itu."
"Bukan begitu maksud siaote,"
Kata Su Bun Cun dengan kemalu-maluan.
"siaote pikir, tiga puluh enam ketua cabang itu selain sudah tinggi kedudukan mereka, juga masih memiliki lain-lain faktor, misalnya kecerdasan, pahala dan moral yang umumnya masih di atas anggota pengemis biasa. Jikalau kita mengadakan pemilihan tanpa dibatasi, barangkali akan cendrung kepada kekuatan tenaga atau kepandaian, jadi agak mengabaikan faktor-faktor moral dan kecerdasan serta pahala."
Touw Liong mengangguk-angguk, ia anggap ada benarnya juga kata-kata Su Bun Cun itu, namun dalam hatinya sudah mengambil keputusan, bagaimanapun juga ia hendak mencegah usaha mereka ini.
Tiba-tiba ia teringat kepada batu giok berukiran binatang kie-lin yang oleh Ko Peng diberikan kepada Kang Hao, maka bertanya kepada Su Bun Cun dengan nada suara perlahan.
"Su pangcu, kabarnya batu gioknya Kang Hao yang berukiran Kie-lin terjatuh di cabang daerah. Benarkah itu?"
Wajah Su Bun Cun menunjukkan perubahan tidak berhentinya, lama ia berdiam tak mampu membuka mulut, akhirnya berkata juga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Memang benar, batu giok itu kini memang berada di tangan siaopek."
"Kalau begitu dengan sendirinya cuma saudara Su saja yang bisa memegang kedudukan Pangcu itu, bukan?"
Su Bun Cu menyeka peluh dingin yang mengalir di jidatnya.
"Kau datang kemari, rupanya juga lantaran batu giok ini,"
Begitu pikirnya.
"Dalam hal ini siaote mohon bantuan dari saudara Touw,"
Katanya.
"Sudah tentu! Sudah tentu!"
Kata Touw Liong lekas.
"tapi, golongan pengemis yang akan dipecah menjadi tiga ini belum mendapat tunjangan atau persetujuan dari Lie Hu San, rasanya tidak bisa bertahan lama. Apakah saudara Su anggap, Lie Hu San akan mau tinggal diam begitu saja?"
Wajah Su Bun Cu mendadak berubah, katanya perlahan.
"Kalau begitu, kau Touw pangcu juga termasuk seorang yang tidak setuju dengan berdirinya golongan barat laut ini?"
"Cabang golongan barat laut, merupakan salah satu bagian dari golongan utara. Ditilik dari keadaan ini, dengan kami golongan selatan tidak ada sangkut pautnya. Aku hanya sekedar memberi nasihat saja pada saudara. Saudara Su adalah seorang yang mengerti, sekarang ini Lie Hu San sudah menggabungkan diri dengan Kauwcu dari perkumpulan Hek-hong-kauw, ia mendapat tunjangan orang kuat, tentunya tidak takut bertindak, maka itu mengapa saudara Su tidak pikirkan dulu masak-masak?"
"Jadi, kalau menurut pikiranmu Touw tayhiap, bagaimana sebaiknya siaote harus bertindak supaya tidak menimbulkan bencana di kemudian hari?"
"Sekarang ini siaote sedang pikir hendak mengeluarkan surat undangan buat mengundang keluar berbagai partai dan semua ketua anak cabang golongan pengemis. Nanti, pada tanggal sembilan bulan sembilan tahun ini, akan mengadakan rapat besar di pusat kita di kota Tong-ciu. Di dalam rapat besar itu, barulah akan diputuskan nasib cabang daerah barat laut yang akan saudara bentuk ini. Wajah Su Bun Cu tampak ditekuk, perdengarkan suara tertawa dingin dua kali, baru berkata.
"Kalau begitu, rupanya Touw Pangcu juga sudah sependapat dengan Liu Hu San, hendak menggencet aku si orang she Su!"
"Haaa ...."
Touw Liong perlahan-lahan bangkit.
"Kota Tong-ciu adalah pusat golongan pengemis yang sudah ditetapkan oleh Cowsu kita, dengan sendirinya pertemuan besar yang menyangkut nasib golongan pengemis, harus diadakan di kota Tong-ciu. Mengenai nasibmu dan nasibku, dalam pertemuan besar itu sudah tentu bisa dibicarakan di antara orang banyak, lalu bisa diambil keputusan sebagaimana baiknya."
"Siapakah yang ada hak mengundang rapat besar itu?"
"Tentu saja yang memegang tanda kepercayaan Naga Mas, tanda kepercayaan sebagai ketua umum."
"Haaa...."
Su Bun Cun tertawa dingin.
"Di kolong langit ini, siapa yang mempunyai tanda kepercayaan yang kau sebutkan tadi?"
"Aku punya!"
Suara nyaring keluar dari mulut seorang pelajar muda yang muncul secara tiba-tiba dari pintu gerbang.
Pemuda itu menyoren pedang panjang di punggungnya, tangannya yang putih halus mengacungkan tinggi-tinggi batu giok berukiran Naga Mas yang menjadi barang kejaran semua orang rimba persilatan yang menggetarkan rimba persilatan, dan yang bakal memutuskan nasib golongan pengemis di kemudian hari!
Touw Liong terkejut mendengar suara itu, dengan penuh perhatian mengawasi pemuda yang berjalan menghampiri, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Siapa orang ini?"
"Siapa orang itu?"
Tanya Su Bun Cun pada Touw Liong.
"Dia adalah ...."
Touw Liong berhenti bicara sampai di situ.
Tiba-tiba seperti baru ingat sesuatu, lantas bangkit mengawasi pemuda itu sambil tersenyum.
Tanpa diduga-duga sama sekali, Su Bun Cun tiba-tiba bergerak, secepat kilat lompat melesat dan menikam pemuda yang baru datang itu dengan pedangnya, sedang tangan yang lain meraih batu giok tanda kepercayaan Naga Mas di tangan pemuda tersebut.
Tindakan Su Bun cun itu mengejutkan semua orang yang hadir di situ, tetapi Touw Liong sebaliknya malah berlaku tenang dan sambil tersenyum ia membatalkan maksudnya untuk menolong pemuda tadi, sedang dalam hatinya berkata sendirian.
"Su Bun Cun cari penyakit sendiri."
Su Bun Cun ternyata cuma menyerbu tempat kosong, lima jari tangannya patah semua tanpa diketahui siapa penyerangnya.
Lalu, dibarengi dengan terdengarnya satu suara jeritan mengerikan, orang she Su itu lompat mundur tiga tombak jauhnya.
Keadaan kalut, tiga puluh lima ketua cabang golongan pengemis satu persatu bangkit berdiri, masing-masing menghunus senjatanya dan hendak menyerbu pemuda itu.
Mengapa mereka hendak menyerang pemuda itu?
Sebab, sejak menyaksikan batu giok itu sudah lantas timbul pikiran tamak di hati mereka, pikiran hendak memiliki batu tanda kepercayaan, tanda kebesaran itu.
Di luar dugaan, entah bagaimana si pemuda bergerak, para ketua cabang golong pengemis satu persatu sudah terlempar mundur, beberapa di antaranya malah lantas rubuh di tanah sambil merintih-rintih.
Touw Liong masih tidak menunjukkan reaksi apapun, berdiri di tempatnya tanpa bergerak.
Akhirnya, para ketua cabang golongan pengemis mengetahui gelagat tidak baik, mundur sendirinya; yang luka terpaksa harus mengobati dulu luka-lukanya.
Tanpa berdaya semua mata cuma bisa mengawasi batu giok di tangan pemuda.
Suasana cepat pulih seperti biasa.
Pada saat itulah, si pemuda sambil membusungkan dada berjalan menuju ke pendopo.
Ia terus berjalan, hingga terpisah tiga langkah di depan Touw Liong baru berhenti, mengacungkan tinggitinggi batu giok itu di atas kepalanya, sementara katanya.
"Hamba yang membawa dan melindungi pusaka datang terlambat, harap Pangcu maafkan."
Setelah mana si pemuda lantas berjalan menuju ke meja sembahyang, dengan sikap hormat sekali meletakkan benda kepercayaan itu di atas meja sembahyang, kemudian berdiri di samping meja dengan pedang terhunus di tangan.
Touw Liong lebih dulu menghampiri si pemuda, mengucapkan.
"Pek Hok-hoat, terima kasih,"
Lalu berlutut di hadapan meja sembahyang guna melakukan upacara kebesaran terhadap barang kepercayaan tertinggi golonga pengemis itu.
Su Bun Cun melirik sebentar pemuda gagah itu, mau tak mau berlutut juga untuk melakukan upacara penghormatan.
Tindakannya segera diikuti oleh semua anak murid golongan pengemis yang ada di situ.
Setelah semua orang berlutut, terdengarlah suara Touw Liong yang memimpin upacara besar itu, katanya.
"Mohon ..... (tulisannya dihapus, tak terbaca) yang bersemayam di dalam ..., teecu Touw Liong, atas perintah Dewa Pemabukan, hendak membangun dan mempersatukan kembali golongan pengemis. Semoga arwah Tiga Dewa di alam baka ...(tulisan dihapus) ....!"
Touw Liong menjura lagi empat kali, lalu mengambil tanda kepercayaan batu giok, diacungkan tinggi melewati kepalanya, dan memerintahkan semua orang bangkit.
Touw Liong menyerahkan batu Giok itu kepada si pemuda gagah, lalu mengajak semua anak murid golongan pengemis dan para tetamu kembali ke meja perjamuan, untuk minum bersama.
Perjamuan lantas dinyatakan selesai.
Tiga puluh enam ketua cabang golongan pengemis daerah barat laut, dengan laku yang sangat hormat sekali lalu mengantar Touw Liong bersama Pek Hok-hoat sampai ke tempat sejauh sepuluh pal di luar kota Lam-ciu.
Touw Liong di sepanjang jalan terus memberi nasihat pada mereka dan minta pada tanggal sembilan bulan sembilan nanti, biar bagaimana semua harus menghadiri pertemuan besar di kota Tong-ciu.
Sampai di sini, para pembaca tentunya tahu siapa adanya orang yang menyamar dan disebut sebagai Pek Hok-hoat oleh Touw Liong.
Memang, dia bukan lain daripada Pek Giok Hoa adanya.
"Giok Hoa,"
Panggil Touw Liong.
"kali ini kau benarbenar telah menolong aku dari kesulitan terbesar!"
"Kelakuan yang memalukan laki-laki itu yang kau maksud kesulitanmu? Hmmm! Hmmm! Tak tahu malu!"
Disindir demikian jadi pucat wajah Touw Liong, dari malu ia menjadi gusar, katanya.
"Jangan sebut urusan malam itu lagi! Kalau kau sebutsebut lagi, aku malah akan menyesalkan dirimu!"
"Menyesalkan diriku?"
"Sudah tentu. Aku sesalkan kau karena sedikitpun kau tak mengerti kedudukan dan keadaanku waktu itu. Kau tahu aku sudah terpikat oleh akal muslihat Bu-cui-lian karena pengaruh obat bius, bukan kau menolong, malah kau tinggalkan aku begitu saja. Seandai waktu itu tidak keburu muncul suhengmu, aih! Aku .... hampir saja masuk ke pencomberan?"
"Itu bukankah lebih baik lagi?"
Pek Giok Hoa menjebikan bibir.
"Bukankah lebih senang berdua-duaan berkumpul dan ber .....?"
"Giok Hoa!"
Cepat Touw Liong memotong kata-kata Pek Giok Hoa.
"Aku sungguh malu kepadamu, tapi kuminta janganlah kau ungkit-ungkit lagi urusan itu, kalau tidak biarlah aku mati saja buat menebus dosaku!"
"Engko Liong!"
Pek Giok Hoa merasa sedih, air matanya mengalir bercucuran,"Jangan kau berpikiran secupat itu!"
Touw Liong menatap penuh arti wajah kekasihnya, dibalas oleh Pek Giok Hoa.
Touw Liong menatap penuh arti wajah Pek Giok Hoa, memegang tangannya yang putih halus, dibalas pula dengan tatapan berisi dan cekalan mesra oleh gadis itu.
Segalanya tak perlulah diucapkan dengan kata-kata, cukup dengan saling pandang dan melumat bibir masing-masing.
Setelah berziarah ke makam ayah dan ibu Touw Liong di Ko-so-tay di kota Hang-ciu mereka bertemu dengan Kang Kie dan Lo Yu Im.
Empat orang lantas melakukan perjalanan bersama.
Sampai di kota Cee-lam, Touw Liong jadi teringat akan kenangannya dua bulan berselang di mana dia pernah diceburkan ke telaga Tay-beng-ouw oleh Bu-cui-lian, dalam hati lalu merasa sedih.
Menunggu sampai tiga kawannya tidur nyenyak, diam-diam ia pergi ke telaga Tay-beng-ouw guna merenungi kembali kejadian masa lampau.
Pemandangan di telaga itu ternyata biasa saja, ia memandang ke tengah telaga di mana dahulu ia pernah dilemparkan oleh perempuan jahat itu, diam-diam menghela nafas panjang.
Mendadak, di tepi seberang sana tampak berkelebat sesosok bayangan orang.
Makin lama makin tegas tampak bayangan itu, ternyata adalah adik seperguruan Touw Liong, Kim Yan!
Di dalam otak Touw Liong saat itu tiba-tiba timbul semacam pikiran, ia segera lari menyongsong dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang didapatkannya dari Kang Kie.
Kedua pihak sama-sama lari dengan cepatnya, ketika gadis itu mengenali bayangan orang yang menghampirinya, ia sudah tidak keburu menyingkir lagi.
Dua kali ia coba buat mengelak dari tubrukan Touw Liong, tapi tidak berhasil.
Dalam cemas dan marahnya, Kim Yan lalu menggerakkan tangannya memukul Touw Liong.
Namun Touw Liong sama sekali tidak mengelak, setelah memanggil "Sumoy!"
Tangannya lalu menyambar tubuh Kim Yan.
Kim Yan tidak mau disambar begitu saja, mengelak sedapat mungkin.
Tapi Touw Liong menggunakan kesempatan itu, menotok jalan darah Khie-hay-hiat di tubuh Kim Yan.
Kim Yan yang kehilangan keseimbangan tubuhnya, terpaksa membiarkan dirinya dipeluk Touw Liong.
Touw Liong buru-buru memondongnya sampai ke bawah sebuah pohon Yang-liu, meletakkan Kim Yan di situ, disandarkan ke batang pohon, sedang ia sendiri juga lantas duduk bersila, kemudian menggunakan ilmunya Liang-gie-sim-hoat, menyalurkan tenaga baru ke tubuh Kim Yan.
Adapun jalan darah yang perlu ditembus untuk menyalurkan tenaga buat mengusir ilmu Hek-hong-im-tok yang mengeram dalam tubuhnya, letaknya justru di bagian bawah perut.
Jadi, dengan sendirinya Touw Liong harus melucuti dulu semua pakaian dalam bagian bawah gadis itu.
Karena kecuali berbuat begitu, sudah tak ada cara lain lagi, terpaksa Touw Liong lekas bertindak menuruti rencananya.
Selagi dalam keadaan sangat kritis begitu, di belakang diri Touw Liong tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh manusia!
Mengawasi perbuatan Touw Liong sekian lama, mendadak meleleh air mata orang itu.
Setelah mengalihkan pandangannya ke arah Kim Yan sejenak, baliklah orang itu dari tempat asal mana ia datang sambil mendekap mukanya.
Siapa dia?
Pek Giok Hoa tentunya!
Tapi sebegitu lekas Pek Giok Hoa berlalu, mendadak muncul lagi seorang lain, seorang imam dengan sikap menyeramkan berjalan lambat-lambat ke tempat di mana Touw Liong sedang berusaha hendak memulihkan tenaga asli Kim Yan.
Imam itu bukan lain daripada murid murtad golongan Ceng-shia-pay, Thian-sim Tojin!
Dengan gerakannya yang sangat hati-hati, Thian-sim Tojin terus mendekati Touw Liong, dan berhenti di tempat sejarak satu tombak dari pemuda itu, sepasang biji matanya berputaran mengawasi keadaan di sekitarnya, setelah itu tampak sunyi, barulah berani menghampiri lebih dekat lagi.
Tetapi kelakuannya kiranya telah diincar juga oleh orang lain.
Sebelum ia sempat berbuat apa-apa, di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring.
Thian-sim sebagai seorang imam yang sangat licik, mendengar siulan itu segera mengetahui adanya bahaya, lebih dulu lompat melesat sejauh tiga tombak untuk mengelakkan serangan dari belakang itu.
Ternyata orang yang menyerang Thian-sim itu adalah seorang muda yang mirip Touw Liong!
Thian-sim melihat orang itu jadi tidak berani bertindak lebih jauh, malah lantas lari terbirit-birit bagai orang diburu setan!
Lari sejauh 20 tombak, imam itu rupanya baru teringat sesuatu, buru-buru menghentikan gerakan kakinya, dan lari balik!
Pemuda tersebut yang memang benar adalah Kang Kie, tidak mengejar Thian-sim, sebaliknya berdiri tetap di situ guna melindungi Touw Liong yang sedang berusaha menolong Kim Yan.
"Kurang ajar si bocah Kang Kie itu, hampir aku jadi gila!"
Terdengar kata-kata Thian-sim yang mendumel sendiri.
Dalam marahnya seperti itu, ia segera menghampiri Kang Kie dengan pedang terhunus.
Kang Kie juga sudah menghunus pedangnya, dan lompat menyambut kedatangannya.
"Beritahukan namamu!"
Kang Kie membentak sambil menuding dengan pedangnya kearah Thian-sim Tojin.
"Thian-sim Tojin!"
"Serahkan nyawamu!"
Bentak Kang Kie pula, secepat kilat lalu menikam dengan pedangnya.
Kang Kie sudah tahu dari Touw Liong bahwa Thian-sim Tojin ini adalh pembunuh ayahnya Kang In Hui, kini musuh besar sudah berada di depan mata, sudah tentu Kang Kie tak mau memberi hati, lantas menyerang dengan pedangnya Khun-ngo-kiam!
"Bangsat!
Supaya kau bisa mati dengan mata meram, ketahuilah olehmu bahwa tuan mudamu ini adalah anak dari Kang In Hui tayhiap yang dulu kau bunuh!"
Muka Thian-sim Tojin nampak pucat, antara sesaat ia tak dapat bergerak tapi selanjutnya lantas mengeluarkan serangan-serangan yang mematikan buat melawan Kang Kie.
Kang Kie menyambut setiap serangan Thian-sim dengan keras pula, rupanya sudah bulat sekali tekadnya hendak membereskan musuh besarnya ini dalam waktu singkat.
Selagi pertempuran berlangsung sengit-sengitnya, dari jauh mendadak terdengar suara siulan nyaring lalu muncul Ngo-gak Lokoay di situ dengan rambut awut-awutan!
Pada waktu yang bersamaan, di belakang Touw Liong juga muncul dua orang yang bukan lain dari Pek Giok Hoa yang tadi pergi dan balik lagi, dan Lo Yu Im.
"Enci Pek,"
Panggil Lo Yu Im.
"kau yang maju ataukah aku? Itu Ngo-gak Lokoay sudah datang!"
"Biar aku saja!"
Jawab Pek Giok Hoa yang masih mendongkol.
Lalu dengan pedang Hok-mo-kiam di tangan maju menyambut kedatangan Ngo-gak Lokoay.
Sebelum mereka bertempur, kembali terdengar siulan aneh, lalu muncul lagi dua orang!
Satu adalah San-hong tojin, dan yang lain Pek-bie Hweeshio!
Pek Giok Hoa merasa cemas sekali, di depannya kini sekaligus muncul tiga tokoh kuat dan kenamaan.
Mana dapat ia seorang diri menghadapi mereka sekaligus?
Untunglah waktu itu Thian-sim tojin sudah jatuh dalam tangan Kang Kie, kepalanya tertebas kutung terpisah dari badannya!
Pek Giok Hoa lalu menggapai dan berkata kepada Kang Kie.
"Kang toako, Ngo-gak Lokoay ini adalah pembunuh suhumu, biarlah kuserahkan dia untukmu!"
Tanpa menunggu persetujuan Kang Kie ia sudah lantas meninggalkan Ngo-gak Lokoay dan menyambut kedatangan San-hong tojin dan Pek-bie Hweesio.
Di saat itu, mendadak terdengar lagi suara dua orang yang memuji nama Budha, lalu muncul dua padri tua!
Pek-bie yang melihat kedatangan dua orang padri tua itu, segera balik badan dan menghampiri mereka.
Dengan begitu, kini Pek Giok Hoa hanya tinggal lagi menghadapi San-hong tojin seorang.
Ilmu pedang Hok-mo-kiam-hoat sebenarnya belum sempurna betul dipelajari oleh Pek Giok Hoa, namun tidak sampai tiga jurus, San-hong tojin sudah dapat dibereskan olehnya.
Dua padri tua itu ternyata adalah suhengnya Pek-bie Hweeshio, Tam-sim dan Thina-koan totiang dari Ngo-bipay.
Rupanya mereka sedang membujuk supaya Pek-bie Hweesio mau ikut mereka baling ke gunung.
Pek Giok Hoa tidak mau menghiraukan urusan Pek-bie, buru-buru melihat ke arah Ngo-gak Lokoay yang sedang berhadapan dengan Kang Kie.
Tetapi Lokoay itu rupanya bukanlah tandingan Kang Kie, sama sekali tidak ada perlawanan yang berarti darinya.
Belum cukup sampai di situ, pada waktu itu mendadak muncul seorang yang sangat menyeramkan wajahnya.
Tetapi kalau saja mau kita perhatikan dengan seksama wajah orang itu, kita masih bisa melihat tanda bekas terbakar, goresan-goresan itulah yang membuat wajahnya tampak menakutkan.
Orang ini menenteng pedang Cengkong-kiam di tangannya, dari jauh sudah berteriak-teriak memanggil nama Touw Liong tidak berhentinya.
Hati Pek Giok Hoa tergerak.
Tak salah lagi, orang inilah tentunya musuh besarnya.....
Koo Hong yang pernah menyamar sebagai Hian-kie-cu, pembunuh Pek Thian Hiong.
Dugaan Pek Giok Hoa itu sedikitpun tidak salah, orang aneh itu memang benar adalah Koo Hong adanya, yang kini sudah menjadi tangan Panji wulung Wanita.
Maka lekas ia memapakinya sambil berserunya.
"Koo Hong! Serahkan jiwa anjingmu!"
Pek Giok Hoa yang sekarang sudah tentu bukanlah Pek Giok Hoa yang kita kenal beberapa waktu yang lalu.
Ia kini sudah berhasil mempelajari ilmu gaib dari daerah luar, apalagi pedang di tangannya adalah pedang pusaka Hokmo-kiam, hingga menambah hebat kepandaiannya.
Suara bentakan tadi tiba bersamaan dengan orangnya, demikian pun pedangnya, hingga Koo Hong yang mengetahui itu diam-diam menjadi terkejut jugaa.
Namun, Koo Hong bukanlah seorang lemah, ia lantas memapaki kedatangan Pek Giok Hoa dengan pedang Cengkong-kiam dan ilmu Thay-it sin-jiauw dengan berbareng!
Koo Hong memang memiliki kepandaian sangat tinggi, di antara anggota perkumpulan Hek-hong-kauw, dia cuma di bawahan kauwcunya Panji Wulung Wanita.
Pek Giok-Hoa dengan kepandaian yang dimilikinya waktu itu ternyata dapat mengimbangi permainan Koo Hong, hingga pertempuran jadi berlangsung sengit dan hebat sekali.
Kedua pihak tentunya hendak mengakhiri pertempuran dengan lekas, maka begitu bergerak masing-masing sudah mengerahkan kepandaian tingkat tinggi, dalam waktu sekejap sudah berlangsung sepuluh jurus lebih.
Di lain pihak, Kang Kie yang menghadapi musuh besarnya, bertempur secara nekad, pedang Khun-ngo-kiam yang merupakan pedang pusaka sangat ampuh digerakkan sedemikian rupa, sehingga Ngo-gak Lokoay mati kutu benar-benar.
"Serahkan nyawamu!"
Serangan Kang Kie dibarengi dengan bergeraknya pedang pusaka di tangannya dengan hebat, membuat Ngo-gak Lokoay terkurung dalam sinar pedang.
Makin lama makin ciut lingkaran pedang itu, hingga akhirnya terdengar suara jeritan yang mengerikan!
Di antara berhamburannya darah segar, tampaklah kemudian kepala Ngo-gak Lokoay bergelindingan sampai hampir kecebur ke dalam telaga!
Baru saja Kang Kie dapat menyelesaikan pertandingan, di ujung seberang sana tiba-tiba terdengar menggemuruh suara orang.
Lalu muncul tujuh delapan sosok bayangan orang yang lari mendatangi dengan menyusuri tepian telaga.
Pada saat itulah Touw Liong perlahan-lahan membuka matanya sambil menarik kembali tangannya yang diletakkan di atas bibir kemaluan Kim Yan, sesaat ia menyeka keringat yang mengucur deras di jidatnya sambil menarik nafas panjang, lebih dulu melihat bangkai yang berserakan di tanah, lalu Pek Giok Hoa yang sedang bertempur sengit melawan Koo Hong.
Ia segera teringat kepada musuh besar yang membunuh suhunya, maka secepat kilat ia menghunus pedang Hok-mo-kiam yang jantan, terbang melesat ke arah Koo Hong.
Sembari kakinya bergerak, mulutnya tidak tinggal diam.
"Toako!"
Serunya.
"Bertahanlah seberapa bisa supaya mereka jangan sampai ke dekat sini!"
Di dekat Koo Hong ia berseru.
"Giok Hoa, serahkan bangsat ini padaku!"
Namun terlambat, Pek Giok Hoa sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, lebih dulu sudah berhasil menikam tembus ketiak kiri Koo Hong sampai ke belakang sehingga berakhirlah riwayat orang she Koo itu sampai di situ.
Sunyi senyap keadaan di situ, Pek-bie Hweeshio sudah dibawa menyingkir jauh oleh Thiat-koan totiang dan Tansim totiang.
Kang Kie lantas menyambut kedatangan tujuh delapan orang tadi, disusul oleh Lo Yu Im, Touw Liong dan Pek Giok Hoa.
Pek Giok Hoa lebih dulu menoleh ke belakang ke tempat di mana Kim Yan tadi direbahkan, tetapi gadis itu ternyata sudah tidak tampak lagi bayang-bayangnya.
Touw Liong juga berpaling melihat ke tempat yang sama, namun ia segera paham apa yang telah terjadi.
Ia mengerti perasaan hati adik seperguruannya, yang sudah tentu tidak mau bertemu dengan Panji Wulung Wanita, sedangkan kedudukan dan keadaannya di mata umum sesungguhnya sangatlah menyulitkan dirinya, maka ia mengambil keputusan untuk berlalu begitu saja.
Perginya Kim Yan kali ini, terus tak ada kabar beritanya.
Sampai sepuluh tahun lebih dicari oleh Touw Liong dan Pek Giok Hoa, tetap tidak dapat diketemukan jejaknya.
Sebetulnya Kim Yan sudah tahu betapa besarnya cinta kasih Pek Giok Hoa terhadap suhengnya, lalu setelah dilenyapkan ilmu Hek-hong-im-tok di dalam tubuhnya oleh Touw Liong, sudah tidak punya muka lagi buat bertemu dengan orang maka pergilah ia jauh-jauh, sampai akhirnya menetap di suatu rimba bambu di daerah lautan kidul, di sana ia melewati sisa hidupnya sebagai orang suci.
Tentang Kim Yan, baik tidak kita bicarakan lagi.
Orangorang yang baru datang itu ternyata dipimpin oleh Panji Wulung Wanita sendiri.
Terbinasanya empat pembantunya yang terkuat dan lenyapnya Kim Yan sesungguhnya merupakan suatu pukulan hebat baginya.
Bagai orang yang linglung ia mengawasi keadaan di sekitarnya.
Di antara tujuh pembantu terpentingnya sekarang, kecuali It-tiem totiang dan ketua Swat-san-pay Hwan Kui berdua, sisanya ialah Lie Hui San, chungcu dari perkampungan Hui-liong-chung Lie Hui Hong, Lie Sam-kow, Sam-yang tojin dan anak lakilaki yang belum cukup 1 tahun usianya Ca Thian Lok, tiada seorangpun yang dapat diturunkan untuk menghadapi musuh-musuh yang sedang dihadapinya sekarang ini.
Ia menghela nafas dalam berulang-ulang, sementara Touw Liong sudah maju menghampiri dengan hormat katanya.
"Siaotit Touw Liong di sini menanyakan keselamatan susiok."
"Siapa susiokmu?!"
Panji wulung Wanita mundur tiga langkah.
"Bocah, kau jangan main gila!"
Tetap dengan sikap menghormat Touw Liong berkata.
"Siaotit adalah muridnya Dewa Arak, jadi menurut peraturan, siaotit wajib mengangkat susiok sebagai orang tingkatan tua."
"Tidak bisa!"
Bentak Panji Wulung Wanita, tapi lalu tanyanya.
"Si gila itu apa Panji Wulung juga? Kalau ya, mana buktinya?"
Dari dalam sakunya Touw Liong mengeluarkan tiga sampul surat yang langsung diberikan kepada Panji Wulung Wanita, adapun surat-surat itu sebuah adalah dari Panji Wulung si gila, lainnya dari Hong-hong Lojin dan Liu Kiam Hiong.
Panji Wulung Wanita mulai membuka surat-surat itu satu persatu, dibacanya di bawah sinar rembulan.
Tampak sebentar badannya gemetaran, pada akhirnya di sela-sela matanya tampak menetes air bening, kepalanya ditundukkan dalam-dalam.
Lama sekali tiba-tiba Panji Wulung Wanita itu mengangkat kepalanya dan membentak bengis.
"Touw Liong! Beranikah kau bertanding denganku? Kalau kau menang aku si orang tua akan mengasingkan diri di gunung Hek-hong-san, tapi kalau aku bisa rebut kemenangan tidak sudah, di bawah kekuasaanku sekarang ini justeru kekurangan empat kepala bagian, dan kalian berempat cocok sekali untuk mengisi lowongan yang masih kosong itu."
Touw Liong tetap bersikap hormat, mundur selangkah dan katanya.
"Siaotit tak berani langgar aturan."
"Hm!"
Panji Wulung mengibaskan lengan bajunya.
"Kuberikan waktu semalam untuk kau berpikir, besok jam tiga malam di gunung Liok-san kita bertanding untuk menentukan nasib rimba persilatang di kemudian hari!"
Touw Liong belum membuka mulut, sudah ditalangi oleh Kang Kie.
"Saudaraku pasti suka mengiringi kehendak locianpwe, besok jam tiga malam akan memenuhi perjanjian ini."
Panji Wulung mengebaskan bajunya lagi.
"Baik,"
Katanya dan lantas mengajak anak buahnya berlalu dari situ.
Touw Liong mengawasi berlalunya It-tim totiang dengan penasaran, musuh besar sudah di depan mata, tapi ia tidak bisa bertindak apa-apa.
Sungguh sayang!
Besoknya jam tiga malam, Touw Liong berempat sudah tiba di tempat yang dijanjikan.
Lebih dulu Touw Liong berlutut dan menjura empat kali menghadap ke langit, setelah itu ia bangkit berdiri dan dengan meluruskan kedua tangannya berdiri di hadapan Panji Wulung Wanita.
"Hunus pedangmu!"
Ucapan Panji Wulung wanita itu ditutup dengan serangannya yang mengandung hawa Hek-hong-im-kang.
Touw Liong mundur satu tombak lebih.
Panji Wulung Wanita menyerang lagi dengan serangan kedua, dan kali inipun dielakkan oleh Touw Liong dengan baik sekali.
Ketika serangan ketiga dari Panji wulung meluncur keluar, juga belum dibalas oleh pemuda she Touw itu.
Tetapi begitu jurus keempat dimulai, dua orang bergerak bersama-sama, pedang dan tongkat bergerak-gerak dengan amat cepatnya, sebentar sudah dilalui beberap puluh jurus.
Kang Kie yang gatal tangannya, lantas mengajak It-tim totiang turun ke gelanggang, dan terbentuklah lagi satu arena pertempuran baru dengan demikian empat orang itu jadi mengadu kekuatan dalam dua rombongan.
Singkatnya ceritera, di jurus ke seratus lebih, It-tim totiang tertembus dadanya oleh ujung pedang Kang Kie hingga tamatlah riwayat imam tersebut saat itu juga.
Selanjutnya terdengarlah lagi satu seruan tertahan, dan Touw Liong tampak buru-buru memisahkan diri dari Panji Wulung Wanita.
Panji Wulung Wanita tampak menundukkan kepala melihat ke arah tongkatnya, ujung tongkat tersebut ternyata sudah papas sepotong!
Baju Touw Liong tampak masih berkibar-kibar, di satu bagian tertampak ada sebuah lobang.
Jelas keduanya memiliki ilmu yang berimbang, jadi siapapun tak ada yang kalah.
Tapi jikalau diteliti benarbenar, Panji Wulung Wanita sudah terpapas senjatanya, sesungguhnya dapat dikatakan lebih besar kekalahannya dibanding dengan Touw Liong yang cuma sobek sedikit bajunya.
Hal mana membuat Panji Wulung Wanita gusar benar-benar, baru ia akan bergerak menyerang lagi, tiba-tiba melihat Touw Liong berlutut sambil memanggil.
"Susiok,"
Hatinya rupanya sudah tergerak juga, tongkat di tangan yang sudah diangkat tinggi-tinggi diturunkan lagi lambatlambat ke bawah.
"Sudahlah!"
Katanya.
"Dunia persilatan untuk kemudian hari biarlah kalian dari angkatan muda yang mengatur!"
Panji Wulung wanita lalu menuding ke arah Lie Hu San, dan katanya.
"Bawa kemari!"
Lie Hu San tanpa berani berayal lantas menyerahkan tanda kepercayaan batu giok berukiran harimau putih kepada Panji Wulung.
Panji Wulung Wanita membimbing bangun Touw Liong, menyerahkan tanda kepercayaan harimau putih dan tiga
Jilid kitab Tay-it Cin-keng kepadanya. Dengan begitu, lengkaplah sudah kedua belas kitab Tay-it Cin-keng berada di tangan Touw Liong, karena tiga
Jilid memang sudah lama berada padanya, enam yang lain baru semalam ditemukan di badan Koo Hong, sedang tiga sisanya baru saja diterimanya dari Panji Wulung Wanita.
Setelah segala sesuatunya berlalu, bagaikan asap cepatnya lebih dulu Panji Wulung Wanita menghilang dari situ, diikuti satu-satu oleh para pengikutnya.
Kini yang masih tinggal di situ cuma ketua pengemis golongan utara Lie Hu San, yang masih berlutut di tanah sambil mengangguk-angguk.
Touw Liong yang menyaksikan keadaan demikian, merasa tidak sampai hati Lie Hu San terus-menerus harus berbuat demikian, maka lalu memerintahkan ketua pengemis golongan utara itu bangun, sambil katanya.
"Mulai hari ini buatlah jasa sebesar-besarnya untuk menebus dosamu. Ingat, persiapkanlah orang-orangmu sebanyak mungkin untuk menyambut pertemuan besar tanggal sembilan bulan sembilan yang akan datang!"
Lie Hu San lebih dulu mengucapkan terima kasih berulang-ulang, setelah itu baru minta diri dari Touw Liong dan yang lain-lain.
Touw Liong tiba-tiba menarik nafas panjang dan berkata sambil memandang Kang Kie.
"Kang toako, segala urusan dalam dunia Kang-ouw ini sudah terlalu membosankan buat siaote, kalau bisa untuk selanjutnya siaote tidak akan pergi ke Tong-cui lagi."
"Tapi bagaimana dengan urusanmu yang belum kau selesaikan itu?"
"Untuk itu biarlah toako saja yang tolong wakili siaote mengurusnya, mintalah suhengmu, Kakek Seribu Muka membantu kau mengurus segala sesuatunya."
"Lalu, kau sendiri?"
"Banyak hal yang masih perlu siaote urus, misalnya, membawa kepala It-tim ke Ko So Tay untuk bersembahyang di hadapan arwah ayah dan ibu, lalu aku akan menjelajahi seluruh negeri untuk mencari jejak sumoyku Kim Yan dan masih perlu siaote membangun kembali partai Kiu-hoa untuk memperkembangkan ilmu Tay-it sin-kang."
"Baik! Engkomu bersedia pergi ke kota Tong-cui. Di depan makam ayah dan ibu, kau boleh bakar kertas lebihan, sebegitu lekas urusan golongan pengemis di kota Tong-ciu beres, engkomu juga akan pergi ke sana."
Touw Liong memberikan dua batu giok kepada Kang Kie, dan berpencarlah mereka sepasang-sepasang. T A M A T
Baca Juga: Golok Halilintar 4
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 12