Eps 1 Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen
Baca online Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen
Cersil Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen.
Heng Thian Siau To Lanjutan dari Naga Dari Selatan Lam Beng Tjiam Liong Karya .
Liang Ie Shen saduran .
SD Liong.
Penerbit .
PUSTAKA SILAT -Semarang, 1962 Uploader .
TAH di Indozone Final Edit & Ebook oleh .
Dewi KZ.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ &
http.//dewi-kz.info/
http.//cerita-silat.co.cc/ &
http.//kang-zusi.info/
Daftar Isi .
Heng Thian Siau To Daftar Isi .
BAGIAN 01 .
PENDAHULUAN BAGIAN 02 .
KEGANASAN KUKU GARUDA BAGIAN 03 .
MATI KEGIRANGAN BAGIAN 04 .
HUKUMAN MATI BAGIAN 05 .
SI LIMBUNG DAN SI LINGLUNG BAGIAN 06 .
SEBUAH PERTEMUAN BAGIAN 07 .
TERTANGKAP LAGI BAGIAN 08 .
ORANG ANEH DALAM GOA BAGIAN 09 .
MELOLOSKAN DIRI BAGIAN 10 .
PUKULAN MAUT BAGIAN 11 .
MENDAPAT ILMU BAGIAN 12 .
"GOLOK YANG MENGGUNCANG DUNIA" (Kian-thian-it-gwan pik-li-to) BAGIAN 13 . DI GUNUNG SERIBU BAGIAN 14 . DI TOLONG CIAN BIN LONG KUN THE GO BAGIAN 15 . SUKU THIAT TENG BIAU BAGIAN 16 . TIO JIANG MENOLONG PUTRINYA BAGIAN 17 . REMUK RENDAM BAGIAN 18 . MENDAPAT PETUNJUK DARI ANG HWAT CINJIN BAGIAN 19 . GEREJA KONG HIAU SI BAGIAN 20 . SIASAT SHIN HIAT JI BAGIAN 21 . SAY HONG HONG BEK LIAN BAGIAN 22 . PENYELIDIKAN THE GO BAGIAN 23 . DI TOLONG THE GO BAGIAN 24 . HONG-SIN-SAN ......OBAT ANJING GILA BAGIAN 25 . TIO JIANG MENOLONG PUTRINYA BAGIAN 26 . ILMU TALI CHENG-SI PENINGGALAN ANG SIAN LIHIAP BAGIAN 27 . TIO JIANG KERACUNAN ......DAN MENGAMUK BAGIAN 28 . MEMBANTU MERINGKUS YANG MENGAMUK DI BALAS TUDUHAN MENGADU DOMBA BAGIAN 29 . MELUNASI HUTANG BAGIAN 29 . MELUNASI HUTANG BAGIAN 30 . AYAHKU BAGIAN 31 . NYARIS TERBUKA KEDOKNYA BAGIAN 32 . ILMU GOLOK KIAN-THIAN-IT-GWAN-TO-HWAT BAGIAN 33 . BUKTI PENGHIANATAN BAGIAN 34 . AKHIR SEBUAH PENGHIANATAN (Oo0dwkz0TAHoO) BAGIAN 01 . PENDAHULUAN Bagaikan anak panah lepas dari busurnya, 4 ekor kuda mencongklang pesat memecah kesunyian senja diperdesaan. Anak gembala yang naik diatas punggung kerbau dan petani2 yang memanggul pacul pulang dari medan kewajibannya, sama terkesiap kaget memandangnya. Penunggang yang berada paling depan sendiri, adalah seorang anak muda sekira 20-an tahun usianya, berparas cakap seperti seorang nona cantik. Dibelakangnya mengikuti dua orang, yang satu berumur 30 tahun yang lain antara 17 tahun. Dari wajahnya yang seperti pinang dibelah dua, terang mereka itu adalah dua orang bersaudura Hanya saja si anak muda itu mempunyai ciri yang istimewa yani biji matanya bersinar violet (ungu), beda dengan kebanyakan orang. Lebih aneh sendiri adalah yang paling belakang. Wajah orang itu pucat lesi seperti mayat, tapi kuncirnya yang menjulai dibelakang batok kepala hitam mulus gilap. Dia hanya berkaki satu dan kaki itupun tak dimasukkan kedalam besi pijakkan kuda. Sekalipun begitu, dapatlah dia duduk tegak diatas pelana kuda yang mencongklang dengan pesatnya. Tak berapa lama kemudian, keempat penunggang kuda itu sudah tiba dimulut desa. Tiba2 si kaki satu tadi bergeliat dan menyentak kendalinya, maka melayanglah tubuhnya tepat jatuh dibelakang salah seorang kedua saudara, yakni yang kakaknya. Sudah tentu kejutnya bukan kepalang. Tapi ketika dia menoleh dan dapatkan yang bonceng dibelakangnya adalah si kaki satu, legahlah hatinya.
"Sin-heng, ada apa?"
Tanyanya.
"Ssst....., pe-lahan2 saja, Sin-heng"
Sahut sikaki satu.
"tempat tujuan sudah dekat, ingat, semua2nya harus ditimpahkan pada anak she Tong itu, biar mereka kelabakan. Kita harus pandai mainkan rol itul"
Adalah ketika dia mengatakan "anak she Tong itu", tangan-nya menunjuk kearah anak muda yang berada paling depan sendiri.
Sehabis menyampaikan pesan, tangannya menekan pe-lahan2 pada pelana dan tubuhnya melayang pula kebelakang tepat jatuh diatas pelana kudanya sendiri tadi pula.
Pesat dan lincah sekali gerakan sikaki satu itu hingga pemuda yang menunggang kuda paling depan sendiri tak mengetahui sama sekali.
Bahkan anak muda itu sedang membenam diri dalam suatu lamunan indah.
"Kali ini tentu akan memperoleh pahala besar. Karena kepandaian dangkal, selama ini aku tak dapat menampilkan diri dikalangan mereka (perserekatan anti penjajah Ceng). Ah....., rupanya Tuhan itu maha murah, sehingga aku dapat berkenalan dengan ketiga orang itu. Dengan kepandaian yang dimilik oleh ketiga sahabat itu, tentulah akan disambut dengan girang utk menjadi anggauta perserekatan. Juga Siau-beng-siang Tio Jiang, tak nanti memandang remeh lagi padaku, dengan begitu dapatlah aku bergaul rapat dengan nona Tio. Ah...., ia tentu takkan memandang rendah lagi padakul"
Kini keempat penunggang kuda itu memasuki desa.
Sebuah jalan besar terbentang di-tengah2 desa itu.
Disana sini banyak sekali rumah2 dan gedung2.
Si kaki satu keprak kudanya menghampiri anak She Tong itu seraya bertanya.
"Sdr. Tong, apakah benar Siaubeng-siang Tio Jiang tak berada dikampungnya?"
"Ya, dia pergi dengan isterinya, tapi lain2 saudara berada dalam desa semua. Oleh karena pemerintah Ceng melakukan tindakan keras, jadi segala sesuatu disini serba rahasia. Begitu nanti sam-wi (kalian bertiga) tiba, tentulah ada orang yang menyampaikan laporan pada Siau-beng-siang Tio Jiangl"
Si kaki satu berpaling kebelakang sembari memberi isyarat ekor mata pada kedua kawannya agar memperlambat jalannya kuda.
Kala itu adalah tahun ke 12 dari kaisar Kong Hi memegang tampuk pimpinan kerajaan Ceng-tiau.
Kerajaan Lam Beng (Beng pelarian didaerah selatan) sudah hancur dan pemerintah Ceng telah berhasil menguasai seluruh Tiongkok.
Tapi sebagian patriot2 negara tetap mengadakan gerakan subversif untuk melakukan perlawanan.
Usaha2 untuk mengkoordineer (melakukan kerja sama) antara jaringan2 perlawanan rakyat, tetap dilakukan dengan giat.
Anti penjajah Ceng tetap dikobarkan diantara rakyat, agar semangat mereka jangan sampai lumpuh.
GAMBAR 01 Empat penunggang kuda secepat anak panah terlepas dari busurnya sedang dilarikan kearah pedesaan sana.
Se-konyong2 sikaki satu yang paling belakang enjot tubuhnya dari pelana kuda dan hinggap membonceng diatas kuda kawannya yang berada dimukanya tanpa diketahui sipemuda cakap yang paling depan.
Tapi fihak Cengpun tetap bersiaga.
Penyebaran mata2 dan jagoan2 digiatkan se-luas2nya.
Pembunuhan, razzia, pengejaran dan penyelidikan, ya pendek sedikit saja ada tanda2 adanya anasir perlawanan, tentu akan ditumpas sampai habis.
Bahwasanya dalam suasana negara yang aman, tak jarang terbit pertempuran kecil atau penumpahan darah karena terjadinya clash antara rombongan anasir2 penyinta negeri dengan kaki tangan pemerintah Ceng, adalah jamak terjadi.
Pemuda she Tong itu sebenarnya anak seorang petani yang tinggal disekitar sungai See-kang.
Dia berotak cerdas.
Ketika berumur 15 tahun, pernah ikut belajar silat pada seorang guru silat dan dapat mempelajari beberapa macam permainan silat pasaran.
Sekalipun begitu, dia mempunyai angan2 yang tinggi.
Begitulah dia tinggalkan kampung halaman berkelana dan berhasil menggabung kan diri dalam perserekatan anti Ceng yang dipimpin oleh Siau-beng-siang Tio Jiang.
Gerakan yang dipimpin oleh Tio Jiang itu, adalah merupakan kelanjutan dari perserekatan Thian Te Hui yang dipimpin oleh Suhunya, Ceng Bo sianjin.
Thian Te Hui mengalami kegagalan total, organisasinya porak poranda, tokoh2nya banyak yang bubar menyembunyikan diri dari kejaran pemerintah Ceng.
Syukur tokoh2 inti gerakan itu seperti Kui-ing-cu, Thaysan sin-tho Ih Liok, Nyo Kong-lim, Ceng Bo, Kang Siang Yan, Tio Jiang, Yan-chiu dkk masih tetap bersatu.
Walaupun secara ber-sembunyi2, mereka dapat menghimpun kekuatan dan ternyata pengaruh mereka terasa sekali didaerah Kwitang.
---oo-dwkz0tah-oo---BAGIAN 02 .
KEGANASAN KUKU GARUDA Duapuluh tahun lamanya, hanya kulit tubuh mereka yang berkerinyut dan rambut bertabur uban, namun semangat perjoangan mereka masih tetap segar ber-nyala2 laksana api abadi yang tak kunjung padam.
Banyak nian perobahan2 selama itu.
Tio Jiang telah menjadi suami isteri dengan Yan-chiu dan dikaruniai dengan 3 orang anak, 2 lelaki 1 perempuan.
Pusat gerakan mereka terletak diperkampungan rakyat dikaki gunung Lo-hu-san, sedang puncak Giok li-nia merupakan markas agungnya.
Sejak Ceng Bo siangjin tinggalkan pimpinan untuk belajar keluar negeri mencari bantuan, maka atas persetujuan orang banyak, Tio Jianglah yang diserahi menjadi pimpinan dibantu oleh para ciangpwe sebagai pinisepuh (tetua) yang menjadi penasehat dan pelindung.
Dari seorang pemuda, kini Tio Jiang telah menjadi seorang ayah dari seorang anak yang berumur 20-an tahun.
Karena sifat2 jujur dan ksatrya dia telah dijuluki sebagai Siau-beng-siang atau Beng Siang Kun kecil, Beng Siang Kun adalah seorang tokoh yang jujur dan bijaksana.
Modal Tio Jiang selain ilmu silat, terutama kejujurannya yang sangat menampil.
Walaupun pemuda Tong Ko masuk menjadi anggauta perserekatan, tapi karena kepandaiannya dangkal dan belum memperoleh suatu pahala apa2, jadi selama ini belumlah dia dapat menampilkan diri.
Kini dengan mengajak 3 orang kenalan baru yang berilmu tinggi itu, besar harapannya dia akan mencapai yang di-idam2kan itu.
Tak antara berapa lama, Tong Ko menunjuk pada 3 buah perumahan rakyat.
"Sin enghiong, itulah tempat kediaman Siau-beng-siang Tio Jiang sekeluargal"
Serunya memberitahu kepada si kaki satu sembari turun dari kudanya.
Memang didepan pintu rumah itu tampak ada seorang nona remaja berumur 16-an tengah bicara dan tertawa2 dengan seorang anak lelaki kecil berumur 6 atau 7 tahun.Tapi anehnya begitu melihat Tong Ko datang, nona itu malah miringkan kepalanya pura2 tak melihat.
"Nona Tio, apakah Nyo-toa-cecu ada?"
Tanya Tong Ko. Tiba2 belum lagi sinona menyahut, si kaki satu sudah merebut ber-seru2 keras2.
"Sdr. Tong, besar jasamu membawa kami kemari!"
Habis mulutnya bersuara, tangannya bekerja, sret...., sret...., sret.....
belasan bunga api meletik diudara menabur kearah sinona dan sibocah kecil.
Gerakan itu diluar dugaan orang dan dilakukan begitu cepat sekali sehingga Tong Ko tak keburu membuka mulut.
Cara menimpukannya pun keliwat ganas sekali.
"Sin-heng........."
Hanya dua patah kata Tong Ko sempat meneriakkan, tapi syukurlah nona itu pun sudah keburu terkejut.
Secepat kilat ia tarik sianak kecil terus dibawanya loncat keatas sampai dua meteran.
Plak...., plak...., plak...., taburan benda bergemerlap yang bukan lain adalah 13 batang hui-to (passer pilau) lama menancap didinding tembok rumah.
"Sdr. Tong, mengapa tak lekas turun tangan?"
Seru si kaki satu kepada Tong Ko sembari susuli lagsi dengan 13 batang hui-to.
Kala itu sinona bersama adiknya tengah mengapung diudara.
Gerak timpukan si kaki satu tadi sangatlah keras dan cepatnya hingga sampai menerbitkan suara auman bergemuruh.
Saking takutnya menjeritlah anak kecil itu.
menangis keras2.
Tong Ko buru2 hendak gunakan cambuk untuk menghadang hui-to2 itu, namun sudah tak keburu lagi.
Yang terdengar hanyalah jerit dan teriakan ngeri dari sinona dan adiknya, disusul dengan gedebak-gedebuk....
dari tubuh mereka menggelepar ditanah.
Tubuh anak kecil yg tak berdosa apa2 itu telah ditabur dengan 6 atau 7 batang hui-to, sehingga seketika itu juga putuslah nyawanya.
Syukur sinona hanya kena terpanggang sebatang pada bahunya.
Dengan tangkasnya, ia segera memondong sang adik dibawa lari masuk kedalam rumah sembari berteriak-teriak.
"Paman Nyo! Lekas keluarlah, Tong Ko membawa kawanan kuku garuda kemari. Adikku telah dibinasakan mereka!"
Kuku garuda adalah istilah untuk menyebut kawanan kaki tangan pemerintah Ceng.
Si kaki satu dan kedua saudara Shin tadi tak mau mengejar, hanya unjuk tertawa menyeringai.
Sebaliknya Tong Ko yang tak menyangka bakal terjadi peristiwa itu, dengan murkanya sudah mencabut pedang dan maju menghampiri si kaki satu.
"Orang she Sin, siapakah sebenarnya kau ini?"
Bentaknya.
Si kaki satu yang masih bercokol diatas pelana kudanya, segera membungkuk kebawah sembari ulurkan dua buah jari tangannya untuk menyepit ujung pedang Tong Ko.
Sekali sentak, tangan Tong Ko lemah lunglai mengucurkan darah dan tahu2 pedangnya sudah direbut si kaki satu.
"Tuanmu besar ini digelari orang Tok-kak-han sin-mo Sin Tok. Dan kedua sahabat ini adalah persaudaraan Sin, Soh-hunciang Shin Leng-siau dan Cecing-long Shin Hiat-ji!"
Sahut si kaki satu dengan tertawa sinis.
Tok-kak-han sin-mo berarti si Malaekat sakti berkaki satu, Soh-hun-ciang artinya si Pukulan Maut, sedang Ce-cing-long maknanya si Jejaka Mata Ungu.
Mendengar ketiga nama itu, tanpa terasa Tong Ko terhuyung beberapa tindak kebelakang.
Tapi tepat pada saat Itu, dari dalam rumah terdengar suara berkerontangan keras, disusul dengan suatu deru sambaran angin menghantam punggungnya.
Saking gugupnya Tong Ko cepat2 buang dirinya ketanah dan bergelundungan sampai beberapa meter.
Bluk....., sebuah toya pendek menghantam keras pada jalanan, hingga batu marmer yang menutupi jalanan itu sampal hancur berantakan.
Ketika Tong Ko mendongak, didapatinya yang menghantam itu adalah seorang tinggi besar gagah perkasa sembari mencekal sebatang sam-ciat-kua (toya berbuku 3).
Hai, si kasar berangasan Nyo Kong-lim, itu toa-cecu (pemimpin pertama) dari ke 72 markas gunung Hoasan.
Makanya datang2 dia sudah lantas hantam kromo saja tanpa menyelediki lebih dahulu duduk perkara yang sebenarnya.
"Nyo cecu, awas si kaki satu itu hendak membokongmu dari belakangl"
Seru Tong Ko memperingatkan si kasar tanpa mendendam apa yang telah diterimanya dari toa-cecu Itu tadi.
Nyo Kong-lim berputar kebelakang dan tepat pada saat itu si kaki satu sudah loncat dari kudanya sembari mencekal sepasang suan-hua-pan-hou (kapak atau beliung).
Dengan memutar sam-ciatkun, Nyo Kong-lim cepat menyambutnya.
Walaupun kakinya hanya tinggal satu, tapi gerakan orang she Sin itu lincah sekali.
Untuk sabatan sam-ciat-kun itu, tampaknya si kaki satu malah maju memapakkan.
Tapi begitu dekat, sret, tiba2 dia loncat menghindar, sehingga Nyo Kong-lim menghantam angin.
Saking marahnya si kasar kedengaran menggerung keras, dia turunkan tangannya untuk menghajar kepala lawan.
Tapi lagi2 si kaki satu enjot kakinya menyelinap kesarnping sembari hantamkan sepasang kapaknya, tring, tring!
Nyo Kong-lim memiliki tenaga pembawaan yang luar biasa kuatnya, tapi pada saat itu bahunya terasa kesemutan, sam-ciat-kun tertindih ditanah, dia tak kuasa untuk mengangkatnya.
Dilain fihak, demi dilihatnya kedua orang itu sudah bertempur Tong Ko lalu bangun dan ber-gegas2 lari kedalam rumah.
Tapi kedua saudara Shin itu sudah kedengaran berseru se-keras2nya.
"Sdr. Tong, bagusl Masuklah lekas dan bunuh habis mereka semua!"
Tong Ko terkesiap kaget.
tapi pada saat itu dari dalam rumah kedengaran suara tangisan, maka tanpa menghiraukan racun yang ditebarkan mulut kedua saudara durjana itu, dia terus menobros kedalam.
Disitu dilihatnya sinona tengah menangis tersedu sedan, meratapi adiknya yang sudah sekian lama meninggal tadi.
Hati Tong Ko seperti disayat sembilu rasanya.
Ia menghiburnya.
"Nona Tio, jangan keliwat berduka..........."
Se-konyong2 sinona menoleh, sepasangnya matanya tampak membara.
"Kau, seorang bangsatl"
Serunya sembari mencabut pedang dan dibolang-balingkan terus menyerang kepada tong Ko.
Tong Ko seperti seorang gagu yang tak dapat menyatakan kesusahannya.
Jurus yang dimainkan sinona itu adalah ilmu warisan yang diajarkan oleh ibunya si Hui-lay-hong Liau Yan-chiu, hoan-kang-kiam-hwat atau ilmu pedang membalikkan sungai.
Nampaknya Tong Ko tak berdaya menghindar apalagi memang kepandaiannya masih cetek.
"Nona Tio, harap jangan turunkan tangan ganas!"
Serunya. Tapi tiba2 terdengar orang menyahutimya.
"Sdr. Tong, jangan takutl", dan menyusul dengan itu ada suatu tenaga kuat mendorongnya kesamping sampai setengah meter dan tring... tring, tring...., tring....., sinonapun terdesak mundur oleh kilapan sinar bianglala. Kiranya yang berseru dan menyerbu masuk membantu Tong Ko itu adalah Ce-cing-long Shin Hiat-ji. Dia terjang pedang sinona dengan sebatang jwanpian (ruyung lemas) yang ber-kilau2-an cahayanya.
"Kecuali Giam-lo-ong (raja akhirat) mengeluarkan amnesti (pengampunan), jangan harap hari ini kau dapat hidup lagi"
Serunya sembari maju menyapukan jwan-pian.
Bahu nona itu tadi sudah terluka hui-to, ketambahan pula ia gelisah mendukakan kematian adiknya, maka dalam gugupnya ia hanya loncat keatas meja dengan pontang panting.
Shin Hiat-ji tak kenal ampun lagi.
Dia sabatkan jwan-pian pada kaki meja, setelah berhasil melibat terus ditarik se-kuat2nya.
Tapi tak kalah sebatnya, sinona sudah enjot kakinya untuk melambung keatas.
la jambret sebuah tiang penglari untuk dibuat menggelantung, kemudian dengan membolang-balingkan pedangnya dalam jurus kut-ji-thou-kang.
(Kut Gwan ceburkan diri kedalam sungai), ia meluncur turun menerjang lawan.
"Ha...... ha.......!"
Hiat-ji tertawa menghina.
"ilmu pedang hoan-kang-kiam-hwat yang menggemparkan dunia persilatan, kiranya hanya begitu saja!"
GAMBAR 02 Nyo Kong-lim merasa kewalahan kena didesak oleh sepasang kapak besar Shin Hia-ji.
Disebelah sana kawannya terus menyalahkan api membakar perumahan pedesaan itu.
Dia kebutkan jwan-pian untuk menyambut serangan.
Belum jwan-pian itu tiba, sinona sudah rasakan digempur oleh suatu tenaga dorongan yang hebat, sehingga membuatnya kaget bukan terkira.
Semuda itu usianya, ternyata anak muda she Shin itu sudah memiliki ilmu lwekang yang sedemikian lihaynya.
Adalah karena mengagumi kepandaian lawan, telah membuat sinona tertegun hingga konsentrasi (pemusatan) pikirannya terpecah.
Maka begitu kedua senjata, itu saling beradu, terpelantinglah sinona sampai beberapa langkah jauhnya.
Tepat pada saat itu terdengarlah suara gempuran yang dahsyat, disusul dengan robohnya segumpal pagar tembok, sehingga batu merah dan puing sama berterbangan kesana-sini.
Untuk melindungi diri dari tebaran batu dan puing itu, sinona putar pedangnya, tapi berbareng itu ia rasakan betisnya sakit sekali karena tersabat jwan-pian siorang she Shin itu.
Dengan tahan kesakitan, sinona loncat keluar rumah.
Dilihatnya ada seorang berumur 30-an tengah menggempur tembok rumah dengan sebuah pukul besi raksasa.
Tak berapa lama kemudian, rubuhlah tembok itu.
Saat itu penduduk diperkampungan situ sudah sama gempar terkejut.
Tampak si tie-cing-long Shin-Hiat-ji menobros keluar dan setelah memberi isyarat mata kepada kakaknya si Shin-Leng-sian, mereka berdua lalu menyerbu keperkampungan rakyat.
Ada 3 orang lelaki baru pulang dari sawah, terus menyongsong dengan paculnya, tapi mana mereka dapat menandingi tenaga sakti dari Hiat-ji.
Sekali memutar jwan-pian.
3 batang pacul sama terlempar keudara.
Dan sekali lagi jwanpian berputar, ketiga orang itu menjerit keras rubuh ditanah.
Penduduk perkampungan sama gempar menyingkirkan diri.
Hiruk pikuk memecah kesunyian desa itu.
Nyo Kong-lim keripuhan menahan arus serangan kapak si kaki satu.
Saking marahnya, berulang kali si kasar me-mekik2 seperti kuda meringkik.
Tiba2 terdengar suatu seruan menggeledek diantara hiruk pikuk itu.
"Siapa yang berani mengadu biru jual kebiadaban disinil"
Suara hiruk pikuk kepanikan itu sangatlah riuh rendahnya, tapi suara orang itu melengking keras se-olah2 dapat mengatasi kehirukan itu, menandakan bahwa orang itu tentu mempunyai lwekang yang cukup lihay.
Kedua saudara Shin itupun menoleh dgn terperanjat.
Seorang lelaki setengah tua yang mukanya garang berlari mendatangi dengan mencekal sebatang jwan pian.
"Apakah yang datang ini Kiau To, ji-ah-ko dari Thian Te Hui?"
Tegur Hiat-ji.
"Tak salahlah!', sahut orang itu agak keheranan. Shin Hiat-ji tertawa memanjang.
"Sambutlah pianku inil"
Serunya.
Kini baru Kiau To mengetahui bahwa anak muda yang belum cukup 20 tahun usianya, hidung tinggi dahi lebar dan berwajah luar biasa itu, adalah musuh.
Segera diapun sambut serangan orang dengan liok-kin-pian-hwat, ilmu ruyung ajaran gurunya, Cay Siang siansu dari gereja Liok-yong-si di Kwiciu.
Ruyung lawan ruyung, wah, ramainya bukan buatan.
Melihat tiada lain tokoh keras lagi, diam2 Soh-hun-ciang Shin Leng-sian girang sekali.
Dia yakin rencananya kali ini tentu akan berhasil.
Diambilnya korek geretan api, dengan dua tiga kali loncat, dia menghampiri tumpukan kayu lalu menyulutnya.
Kala itu adalah permulaan musim dingin, angin keras benda2 kering merinting.
Maka sekejab saja, asap ber-gulung2 membubung tinggi, api membubung dengan besarnya.
Untuk mengipasinya, Shin Leng-siau mainkan pukul besinya, hingga menerbitkan angin men-deru2, meniup gelagah rumput berhamburan ke-mana2.
Perumahan rakyat yang terbuat dari atap, cepat dijilat api.
Rumah2 yang terletak ditepi jalan sudah sama terbakar.
Ber-bondong2lah rakyat pedesaan situ, tua muda laki perempuan lari berserabutan macam gabah ditampi.
Jerit pekik memekakkan telinga.
"Sdr. Tong, tugas kita sudah berhasil bagus, ayuh kita pergil"
Tiba2 Sin Leng-siau berseru lantang2.
Tok-kak-sin-mo Sim Tok dan Ce-cing-long Shin Hiat-ji menangkap pertandaan itu.
Setelah mendesak lawan, mereka lalu angkat kaki, tapi Nyo Kong-lim tak mau lepaskan pengacau itu.
Tokkak-sin-mo atau si ibIis sakti berkaki satu se-konyong2 loncat setombak tingginya, dari situ dia berjumpalitan berdiri dibelakang Nyo Kong-lim.
Nyo Kong-lim hanya mengetahui bahwa tiba2 saja si kaki satu itu menghilang, hiruk pikuk jeritan orang, dentam dgn tiang dan bambu dimakan api serta tabir asap yang menyelumbung suasana, telah menyebabkan dia tak mengetahui bahw si kaki stau itu sudah berada dibelakangnya.
Tahu2 dari belakang terasa ada angin menyambar, hendak dia menghindar tapi sudah terlambat.
Sekali si kaki satu ayunkan kapaknya, maka bahu lengan dari si kasar telah kutung.
Lengan kanan yang kutung dan terlempar jatuh ditanah Itu masih erat2 mencekal sam-ciat-kun Bagaimanapun "kerasnya"
Si kasar itu, namun kali itu benar2 dia tak kuat menahan kesakitan lagi.
Matanya ber-kunang2, kepala pening dan rubuhlah dia tak ingat diri.
Darah mengalir laksana air mancur.
Sejak sinona menobros keluar darl belakang tadi, ia kesima melihati pertempuran itu saja.
Tapi kini serta tampak Nyo Kong-lim terluka parah, ia segera lari menghamplri seraya berteriak pilu.
"Paman Nyo.....! Paman Nyo......!"
Saat itu api makin menjalar luas.
Suara gerodakan dari rumah2 yang rubuh membisingkan telinga.
Hanya dalam beberapa kejab saja, perdesaan situ berobah menjadi sedemikIan rupa, telah menyebabkan sinona kehilangan faham, tak tahu apa yang harus diperbuat, kecuali menangis seperti anak kecil.
Untunglah Kiau To yang dapat mendengarkan jeritan nona itu tadi, segera berhasil mencarinya.
Cepat dia angkat tubuh Nyo Kong-lim, lalu ditutuk jalan darah untuk menghentikan.
"Siau In, lekas ikut aku, atau kau nanti hangus terbakar dlsinll"
Serunya kepada sinona sembari terus memondong tubuh si kasar untuk dibawanya menobros keluar dari lautan api.
Sinona mengikutinya dari belakang.
Tapi baru kira 30-an langkah, tiba2 ia teringat akan jenazah adiknya yang masih ketinggalan berada didalam rumah.
"Paman Nyo, aku hendak menjemput adikku. Ayah dan mamah sering mengatakan kalau engkohku tak dapat diharapkan. Maka walaupun adikku sudah binasa, aku tetap hendak mengambilnyal"
Sudah tentu Kiau To terperanjat, karena dia tak mengetahui kalau adik sinona itu, putera Tio Jiang yang bungsu, telah menjadi korban keganasan kaki tangan penjajah yang sedemikian biadabnya.
Masa seorang anak kecil yang tak tahu apa, juga dibunuhnya.
Bermula dia hendak memberi persetujuan, tapi demi dilihatnya kedahsyatan api yang membakar perkampungan itu, buru2 dia mencegahnya.
"Siau In, sudahlahl Jangan sampai kau sendiri juga menjadi korban lagil"
Tapi ternyata hati nona itu seperti ayah bundanya, keras tak mudah ditaklukkan. Tahu2 ia sudat memutar tubuh dan memberosot lari sembari ber-teriak2.
"Biarlah!"
Kejut Kiau To bukan alang kepalang.
Baru dia hendak mengejarnya, berbondong2 penduduk lari kearahnya, hingga terpegatlah jalannya dan kini sinona sudah menyusup masuk kedalam lautan api.
Saking gelisahnya.
Kiau To sampai banting2 kakinya.
Begitu rombongan orang2 itu sudah berlalu, segera Kiau To melihat dengan jelas bahwa perkampungan itu sudah menjadi sebuah lautan api.
Sedang dalam pada itu, Nyo Kong-lim tetap belum sadar, hingga diapun tak dapat berbuat apa2.
Sementara sinona tadi, begitu memasuki lingkaran laut api, matanya segera terasa pedas dihamburi gulungan asap tebal, hingga ia tak dapat melihat jelas suatu app lebih jauh dari satu tombak jaraknya.
Bagaikan seekor anak rusa tersesat jalan, ia lari kesana sini dengan membabi buta.
Rambut dan pakaiannya, sebagian hesar sudah termakan letikan api.
Dengan susah payah barulah ia berhasil menemukan rumah kediamannya.
Tapi baru hendak menobros masuk, ia sudah diseret oleh seseorang.
"Nona Tio.....! In-moay......! Lekas menyingkir dari sini.....!"
Seru orang itu.
Nona itu ternyata she Tio dan memakal nama-tunggal In.
Ia adalah puteri kesayangan dari Siau-beng-siang Tio Jiang, tokoh yang dihormati oleh kaum persilatan patriot.
Demi diketahuinya bahwa orang itu adalah si "penjahat"
Tong Ko, ia segera mengirim dua buah tamparan kemuka orang.
Seketika itu juga kedua belah pipi Tong Ko menjadi bengap matang biru.
Tapi dari mundur, se-baliknya anak muda itu malah mendekap tubuh sinona untuk dibawanya lari.
Karena sejak kecil sudah mendapat latihan ilmu silat, jadi kepandaian Tio In jauh lebih lihay dari Tong Ko.
Karena tak menduga, maka tadi ia sampai kena dipondong Tong Ko.
Kini iapun meranta se-kuat2-nya dan mendupak lutut orang.
Dupakan itu tepat sekali mengenai mata lutut Tong Ko, hingga seketika itu juga sinak muda mendeprok dan bergelundungan ditanah.
Bahwasanya Tong Ko mecintai Tio In, bukanlah terjadi dalam sehari dua melainkan sudah sejak dia ceburkan diri dalam pereserekatan orang gagah di Lo-hu-san situ.
Bahwa dia telah diperalat dan dijadikan tumpuan arus (bulan2an kesalahan) oleh kawanan si kaki satu bertiga, tentu sinona akan membencinya sampai mati.
Ini sudah diperkirakan.
Tapi biar bagaimana tak nanti dia biarkan nona yang dicintainya itu sampai mendapat kecelakaan kalau menobros masuk kedalam rumah.
Maka tanpa hiraukan suatu apa lagi, dia segera loncat bangun terus menubruk nona itu lagi, seraya berseru.
"In-moay, turutlah omonganku, lekas tinggalkan neraka api ini dan nanti kuterangkan lagil"
"Lepaskan aku, lekasl"
Seru sinona dengan hati yang hancur.
Berbareng pada saat itu ada segumpal asap meniup datang.
Hati Tio In direndam oleh kedukaan dan kemarahan.
Betapapun lihay kepandaiannya, namun ia itu tetap seorang dara.
Saking tak kuat menahan rangsangan hawa luapan hatinya, ia jatuh pingsan.
Sebaliknya demi merasa nona itu tak meronta lagi, Tong Ko segera memanggulnya untuk mencari jalan lolos.
Suatu perjalanan yang tak mudah bagi Tong Ko yang dalam beberapa saat saja sudah menanggung penderitaan bathin dan badan yang begitu hebat.
Dengan badan luka2 dan gosong2 terbakar, tenggorokan kering dan mulut membara, akhirnya dapatlah dia membawa Tio In keluar dari kepungan api.
Berjalan sampai setengah li jauhnya, dia berhenti sejenak untuk menengok kebelakang.
Dilihatnya perdesaan itu masih tetap terbakar dimana nyala api sampai membuat langit merah marong.
Tong Ko ter-longong2 sampai beberapa saat.
Benar malapetaka itu ditimbulkan oleh keganasan ketiga kaki tangan pemerintah Ceng, tapi karena ketiga durjana itu timpahkan kesalahan pada dirinya, tentulah rakyat perdesaan situ akan membuat perhitungan padanya.
Tak terasa, dia menghela napas dalam2.
Setelah tersadar dari lamunannya, dia pondong Tio In menuju kesebuah sungai kecil.
---oo^dwkz0tah^oo---BAGIAN 03 .
MATI KEGIRANGAN Kala itu hari sudah gelap.
Rembulan mulai muncul dari ufuk timur.
Setelah minum dua teguk air.
Tong Ko menampungkan tangan,mengambil air untuk disiramkan ketubuh Tio In.
Tak berapa.
lama kemudian, sinona mulai siuman.
Tapi begitu didapatinya Tong Ko berada disampingnya, dengan gemasnya ia mengirim sebuah jotosan, bluk....., terjerembablah Tong Ko jatuh kebelakang.
"Bangsat macam kau ini! Sekalian saudara sama mengira bahwa walaupun kepandaianmu cetek, tapi kelakuanmu jujur. Malah ayahpun mengandung maksud hendak mengambil murid padamu. Huh......, siapa tahu kau seorang manusia yang berhati serigala, bersekongkol dengan kawanan kuku garuda, membunuh orang membakar desa................"
Sehabis memaki itu, air mata sinona bercucuran.
Tong Ko coba berusaha untuk menggeliat bangun, tapi karena luka2nya yang diderita tadi sedemikian rupa, dia tak dapat berdiri.
Dengan merayap dihampirinya Tio In, lalu dengan menengadahkan muka, dia meratap.
"Nona Tio, bunuhlah aku, tak nanti aku penasaran. Tapi kuminta janganlah kau mencap diriku sebagai manusia berhati serigala! Se-kali2 aku bukan orang macam begitul"
Luka yang diderita Tio In pun tak ringan.
Dengan kerahkan semangat, ia coba loncat bangun, tapi kepalanya serasa berat dan ter-huyung2 pulalah ia jatuh, ketanah, Namun mulutnya masih penasaran dan menghamburkan makian se-puas2nya.
"Manusia berhati serigala...! Manusia berhati serigala....! Manusia berhati serigala........... !"
Pedih Tong Ko sukar dilukiskan Dengan kuatkan diri dia merayap maju dua tindak, lalu ulurkan tangan untuk mencapai bahu Tio In, tapi nona itu dengan gusarnya menerkam tangan Tong Ko lalu dipelintir dengan gerak toa-cwan-lun (roda berputar).
Gerak ini menurutkan ilmu mematahkan tulang yang disebut hun-kin-jokut (mengalihkan urat nadi melepas persambungan tulang).
Krek, tulang persambungan lengan kanan Tong Ko menjadi lepas (keseleo).
Buru2 Tong Ko menariknya keras2 dan dapatlah dia memulihkan persambungan itu lagi.
Namun sakitnya bukan olah2, hingga nampai kucurkan keringat dingin.
"In-moay, kau tak kenal peribadiku", Tong Ko menghela napas.
"Huh, setan lanat, siapa yang sudi berbahasa koko-moaymoay dgn kaul"
Masih Tio In belum reda murkanya.
Serentak bangun, ia menendang Tong Ko hingga sampai hampir jatuh kedalam sungai.
Untunglah anak muda itu cepat2 dapat berkutik lagi.
Hanya dilihatnya Tio In dengan langkah tak tetap tinggalkan tempat itu, hal mana membuatnya gelisah.
---oo^dwkz0tah^oo---Kira2 satu jam lamanya.
Tong Ko rendam separoh tubuhnya bagian bawah didalam air.
Air dingin yang merangsang kearah tulang belulang, telah membuat semangatnya agak segar.
Dia lalu hendak merayap naik, tapi se-konyong2 dari kejauhan kedengaran derap kaki kuda mendatangi.
Kuda itu ternyata berhenti disitu juga.
Dia melongok dari sela2 gelagah dan didapatinya ada 3 ekor penunggang kuda tengah menghampiri ketepi anak sungai.
Dan untuk kekagetannya, ternyata ketiga orang itu adalah 3 durjana yang mencelakai dirinya, yani Tok-kak-sin-mo Sin Tok, murid tunggal dari raja iblis suku Biau yang bergelar Ban-bok-sin-bu atau.
Dukun sakti selaksa mata.
Sedang yang dua, adalah Shin Leng-siau dan Shin Hiat-ji kakak beradik.
Buru2 Tong Ko menahan napas tak berani berkutik.
Begitu tiba ditepi sungai, ketiga durjana itu segera turun dari kudanya dan biarkan binatang mereka minum air.
Ketika Tong Ko mengintip dari sela gelagah, dilihatnya Cek-cing-long Shin Hiat-ji memanggul sebuah karung kain yang besar.
Karung itu kini diletakkan ditanah dan kebetulan sekali hanya terpisah setengah meter dari Tong Ko.
Dengan hati2 sekali, Tong Ko ulurkan jarinya untuk menyentuh dan dapatkan isi karung itu amat lunak tapi entah benda apa.
"Shin-heng, budak ini adalah puteri kesayangan dari Siau-beng-siang Tio Jiang. Kalau kita bawa keutara, Siau-beng-siang tentu akan menyusulnya. Gerombolan mereka itu memang sangat mengganggu keamanan Kwitang. Dengan adanya tindakan kita ini, mereka tentu akan marah seperti orang kebakaran jenggot. Apabila kita dapat menjaringnya, tentu mudah untuk membasmi seluruhnya. Ha...., ha.....!"
Tiba2 kedengaran si kaki satu tertawa bangga.
"Kesemuanya itu karena mengandal kecerdasan Sin-heng", sahut Shin Leng-siau. Bagaimana terperanjatnya Tong Ko, dapat dibayangkan. Kiranya Tio In tadi telah berpapasan dgn ketiga durjana itu dan dapat diringkusnya. Jadi yang berada didalam karung itu, tentulah sinona. Saking sibuknya, Tong Ko bergetar. Walaupun hanya sedikit, tapi karena terendam dalam air, maka terdengarlah riak air bergelombang. Buru2 dia berdiam diri lagi.
"Hai, mengapa air beriak? Jangan2 ada orang bersembunyi! Hiat-ji,"
Sianak mata ungu segera berseru.
"Siau Shin, kau ini bagaimana, kan kuda kita tengah minum air, mana ada setan belang lagi?"
Si kaki satu menertawai. Legalah hati Tong Ko, dan ketiga orang itupun tertawa geli sendiri. Berkata Hiat-ji.
"Kali ini Siau-beng-siang tentu akan timpakan kemarahannya kepada Tong Ko semua. Ah, kasihan Siaubeng-siang itu, Mimpipun tentu tidak dia, kalau yang mencelakainya itu adalah puteranya sendiri!"
Tong Ko terbelalak kaget, hendak dia mendengari lagi cerita Hiat-ji lebih lanjut, tapi anak itu ternyata sudah alihkan pembicaraannya.
Diam2 Tong Ko merenung.
Siau-beng-siang Tio Jiang hanya mempunyai 2 orang anak lelaki.
Yang bungsu sudah dibinasakan dengan 13 hui-to oleh si kaki satu Sin Tok.
Putera sulung yang bernama Tio Tay-keng, umurnya sebaya dengan dia (Tong Ko), tapi rupanya telah mendapat warisan pelajaran dari ayahnya.
Sebulan yang lalu, pemuda itu sudah diutus ayahnya pergi kewilayah Hunlam utk mengadakan hubungan kerja sama dgn para tokoh persilatan disana.
Jadi mustahil kalau bersekongkel dengan rombongan si kaki satu itu.
GAMBAR 03 Diam2 Tong Ko mendengarkan percakapan ketiga jagoan kaki-tangan pemerintah Ceng itu sambil pe-lahan2 menyeret karung besar yang terapung diatas air sungai itu kedekatnya.
Tapi mengapa mulut Hiat-ji menyebut hal itu?
Hati Tong Ko penuh -dengan tanda tanya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang saja,"
Kembali kedengaran Shin Leng-siau berkata.
"budak itu berat juga lukanya, apalagi telah ditutuk jalan darahnya oleh Sinheng. Lekas kita carl tempat yang sesuai untuk mengobatinya. Untuk memancing ikan besar, haruslah umpannya yang bagus juga!"
Mereka bertiga ter-bahak2 dan kedengaranlah suara rumput tersingkap karena Hiat-ji hendak mengambil karungnya lagi.
Setelah yakin bahwa sang kecintaan berada didalam karung, Tong Ko seperti semut diatas kuali panas.
Menolong atau tidak, serba salah.
Kalau hendak menolong, dirinya tentu akan kepergok dan menjadi korban juga.
Namun kalau berpeluk tangan, hatinya tak sampai.
Hanya dia tak mempunyai banyak waktu untuk menimbang lagi, karena derap kaki Hiat-ji makin mendekati.
A h, biar bagaimana juga andaikata dia bakal binasa ditangan ketiga durjana itu, tetap dia harus menolong Tio In.
Soalnya bukan se-mata2 karena diri sinona seorang, melainkan exces (kelanjutan) dari peristiwa itu.
Siau-beng-siang Tio Jiang tentu akan menyusul kekota raja.
Disana dia bakal tergencet oleh kawanan jagoan2 pemerintah Ceng yang besar jumlahnya.
Apabila sampai Tio Jiang celaka, itu berarti suatu kerugian besar dalam kubu2 gerakan menentang penjajah Ceng didaerah Kwitang.
Siapa tahu perserekatan itu mungkin berantakan nantinya.
Jadi mengapa dia (Tong Ko) begitu sayang akan jiwanya, demi utk kepentingan gerakan yang mulia itu?
Dilihatnya sungai itu meskipun dangkal, tapi arusnya cukup deras.
Secepat dia memperoleh akal, secepat itu pula loncat keatas untuk menyeret karung itu kedalam air lalu didorongnya supaya dibawa arus.
Ketika Hiat-ji berjongkok hendak mengambil karung, ternyata karung itu sudah tiada disitu.
Dan selagi dia masih ter-longong2, tahu2 Tong Ko sudah menyergapnya.
Umur Hiat-ji itu sebenarnya masih muda belia sekali.
Tapi karena sewaktu masih bayi, dia digondol oleh seekor induk harimau dan dibesarkan oleh induk harimau itu dengan darah binatang, maka tenaganya luar biasa kuatnya.
Baru ketika dia berumur 10-an tahun, dia telah dapat ditolong oleh Shin Leng-siau (engkohnya).
Sejak itu dia berguru pada Gan Lay dari Thong-ting-ou, yani seorang tokoh nomor satu dari dunia persilatan daerah Oupak.
Jadi ilmu kepandaiannya jauh lebih lihay dari kakaknya Leng-siau.
Jadi serbuan Tong Ko itu sebenarnya seperti anai-anai masuk kedalam api.
Namun karena Hiat-ji itu keliwat ber-hati2, jadi dia tak mau melihat dulu siapa penyerangnya itu, tapi sudah cepat2 menghindar kesamping sembari balas menghantam.
Tong Ko seketika menjadi seperti sebuah layang2 putus tali, gentayangan jatuh menggelepar.
Juga si kaki satu yang cepat mengetahui adanya suasana yang mencurigakan itu segera loncat menghampiri.
Demi tubuh Tong.
Ko melayang diudara karena dihantam Hiat-ji tadi, si kaki satupun cepat memungut sebuah batu kecil lalu ditimpukkan.
Bluk....., jatuhlah Tong Ko tadi.
Si kaki satu enjot tubuhnya loncat memburu.
Sekali ulurkan tangan, dia sudah dapat meringkus Tong Ko.
Keduanya kini sama meluncur jatuh kedalam air.
Tapi ternyata si kaki satu memiliki kepandalan yang luar biasa.
Baru menyentuh air, dia sudah enjot kakinya melompat keatas daratan.
Kemudian dia enjot lagi kakinya melompati anak sungai selebar 2 tombak itu, lalu letakkan tubuh Tong Ko ketanah.
"Ho, kiranya saudara kami Tong Kol"
Serunya menyeringai.
Tepat pada saat itu, demi melihat si kaki satu sudah turun tangan menghajar sipenyerang gelap, Hiat-jipun segera apungkan tubuhnya dipermukaan air sembari kait karung besar itu dengan ujung jwan-piannya.
Memang senjatanya itu luar biasa, dapat dijulur surutkan sekehendak hatinya, ujungnya runcing macam kait.
"Sin-heng, siapa dia?'' serunya bertanya.
"Siapa lagi kalau bukan sdr. Tong Ko. Biarkan saja dia nanti melapor pada Siau-beng-siang, benar tidak?"
Sahut si kaki satu. Se-konyong2 ada seorang wanita berseru.
"Ai, mengapa ada orang menyebut2 namamu? "Entahlah, orang gagah dari mana yang kebetulan lewat disini?"
Sahut seorang lelaki yang rupanya menjadi kawan perjalanan wanita tadi.
Walaupun mereka berdua hanya ber-cakap2 seenaknya saja sebagai selingan perjalanan, namun bagi pendengaran seorang achli tentu mengetahui bahwa keduanya itu memiliki ilmu lwekang yang tinggi.
Orangnya masih jauh, tapi suaranya melengking nyaring sekali.
Si kaki satu segera memberi isyarat agar Hiat-ji membawa karungnya lagi naik keatas kuda.
Sekejab lagi terdengarlah derap kaki kuda mencongklang keras2.
Si kaki satu berada dibelakang kedua kawannya, begitu diketahui ada dua sosok bayangan keluar dari hutan, dia segera taburkan 13 hui-to.
Kemudian dengan bersuit nyaring, dia menerjang maju.
"Siau-beng-siang, kalau hendak mengambil anakmu perempuan, datanglah kekota raja minta pada taylwe-ko-cin (jago2 didalam keraton)!"
Serunya lantang2 sembari conglangkan kudanya kaburkan diri diantara kepulan debu, Memang kedua orang yang baru keluar dari dalam hutan itu, bukan lain adalah Siau-beng-siang Tio Jiang dan isterinya Hui-lay-hong Yan-chiu.
Mereka baru datang dari lain tempat dan belum mengetahui bencana yang telah menimpah keluarganya.
Tiba disitu didengarnya ada orang menyebut2 nama "Siau-beng-siang", dikiranya kalau ada sementara orang gagah yang hendak datang berkunjung ketempat kediamannya.
Siapa tahu, mereka diserang dengan hujan hui-to dan ditantang datang kekota raja.
Meskipun kini sudah menjadi seorang ibu yang berumur setengah tua, namun perangai Yan-chiu masih seperti ketika gadisnya.
Dengan sebat ia cabut pedangnya terus diputar dalam jurus Kang-sim-poh-lo.
Tring..., tring..., tring..., ke 13 batang hui-to itu terpukul jatuh semua.
"Ayuh, siapa yang mau cari nyonyahmu besar ini!"
Serunya. Tapi pada lain saat ia geli sendiri atas ucapannya itu.
"Yan-chiu, tadi kita lihat langit perdesaan kita marong membara, orang2 tadi itu terang adalah kawanan kuku garuda. Jangan2 Siau In dan saudara2 dirumah, mengalami apa2 ini?"
Kata Tio Jiang.
"Masa ya? "bantah sang isteri seraya ayunkan langkah kemuka. Tapi se-konyong2 terdengar ada orang ber-teriak2.
"Lekas.... ! Lekas.... !"
Yan-chiu berpaling dan dapatkan yang berteriak itu Tong Ko adanya.
Memang sebelum si kaki satu berlalu, lebih dulu dibukanya jalan darah Tong Ko.
Tapi karena segala sesuatu tadi berjalan dalam beberapa kejab saja, jadi anak muda itu bingung terlongong2 tak mengerti apa yang telah terjadi.
Baru lewat beberapa saat kemudian, dia dapat berteriak tadi.
"Hai, bukantah kau ini si Tong Ko?"
Tegur Yan-chiu. Namun Tong Ko tak menyahut pertanyaan orang, melainkan angkat tangannya menuding kemuka.
"Lekas...., lekas....! Nona Tio telah dibawa mereka!"
"Nona yang mana?"
Tanya Yan-chin dengan tertawa.
Kiranya baik Tio.
Jiang maupun Yan-chiu sudah tahu kalau anak muda itu "ngesir" (ada hati) pada puterinya.
Mereka menduga tentulah pemuda itu habis bertengkar dengan Tio In, sehingga kini dia menjadi kelabakan begitu, macam, maka Yan-chiupun tak begitu kaget mendengar keterangan Tong Ko tadi.
"Nona In ditawan dan diculik kuku garuda!"
Saking jengkelnya Tong Ko sampai banting2 kaki. Kebenaran saat itu Tio Jiangpun sudah datang dan menanyainya.
"Mana bisa begitu, kemana saja Nyo dan Kiau toako?"
"Entahlah, nona In diculik kuku garuda, Siau Seng dibunuh merekal"
Melihat anak muda itu bermandikan noda darah, pakaian compang-camping rambut kusut masai dan bicaranya begitu gugup, Tio Jiang mulai curiga dan buru2 menegas.
"Apakah kebakaran itu berasal dari perkampungan kita? Mengapa kawanan kuku garuda mengetahui tempat kediaman kita?"
Tong Ko tundukkan kepala dan menyahut dgn sejujurnya.
"Akulah .......yang membawanya!"
Penyahutan itu telah membuat Tio Jiang dan Yan-chin terkesiap kaget.
Bahwa puteranya bungsu telah binasa, telah membuat hati Yan-chiu seperti disayat sembilu, serentak ia menghardik "Tong Ko, siapakah diantara saudara2 yang menyakiti hatimu hingga kau membalas dendam membawa kuku garuda untuk mencelakai rumah tanggaku?"
Malah habis menghardik, Yan-chiu sudah lantas ayunkan pedang kuan-wi-kiam untuk menabas kepala sianak muda.
Tong Ko meramkan mata menanti ajal.
Bukannya takut, dia malah mengharap supaya Yan-chiu cepat membunuhnya agar dengan demikian suami isteri lekas2 bertindak menyusul Tio In.
Trang...., tiba2 terdengar berkerontangan suara senjata beradu, disusul dengan seruan Yan-chiu.
"Jiang-ko, kau ini bagaimana? "
Ketika Tong Ko membuka mata, dilihatnya dengan wajah keren Siau-beng-siang Tio Jiang hadangkan pedangnya pada pedang sang isteri, lalu berkata.
"Yan-chiu, Tong Ko bukan manusia yang sampai hati mengerjakan perbuatan begitu!"
Hati Tong Ko tergerak.
Diam2 dia mengakui mengapa Tio Jiang sampai begitu mendapat perindahan dari kaum persilatan, kiranya karena sifatnya yang lurus dan bijak.
Kini Yan-chiu melesat pergi, sembari berlari la berseru.
"Ayuh, kita lekas kejar merekal"
Sebelum mengikuti tindakan isterinya, lebih dahulu Tio Jiang memberi pesanan pada Tong Ko supaya tetap menunggu disitu karena perlu dimintai keterangan lebih jauh.
Tong Ko mengiakan dan memberitahukan bahwa Tio In dimasukkan dalam sebuah karung oleh kawanan kuku garuda itu.
Setelah itu, barulah Tio Jiang menyusul isterinya menghilang dalam kegelapan malam.
Tong Ko hanya sesalkan dirinya sendiri mengapa ilmu kepandaiannya sangat dangkal hingga tak dapat melakukan pengejaran.
Ucapan Tio Jiang tadi, telah memulihkan kepercayaan pada dirinya lagi.
Tapi dalam pada itu, dia merasa cemas, jangan2 ketiga jagoan pemerintah Ceng itu sudah jauh dan tak dapat disusul oleh kedua suami isteri itu.
Kira2 setengah jam lamanya Tong Ko diombang-ambingkan oleh kegelisahan dan kecemasan.
Syukurlah tak berapa lama kemudian, Siau-beng-siang Tio Jiang sudah datang.
Tong Ko tersipu2 menyongsongnya dengan bertanya.
"Apakah nona In sudah dapat diketemukan?"
Dengan wajah besi Tio Jiang terkam lengan Tong Ko, dengan mata beringas dia memandang lekat2 pada anak muda itu.
Sejak kecil mula tingkah laku Tio Jiang selalu polos jujur sesuai dengan apa yang diadiarkan oleh suhunya (Ceng Bo siangjin).
Maka ketika dalam pertengahan umur, dia memiliki wajah yang mengunjuk perbawa.
Kalau benar2 Tong Ko itu seorang yg berhati culas, dipandang begitu rupa oleh seorang tokoh macam Tio Jiang, dia pasti akan pucat dan hatinya kebat kebit.
Tapi oleh karena Tong Ko berhati bersih, bukannya takut dia malah balas menatap.
Tukar pandangan itu berlangsung sampai beberapa kejab, baru sejenak kemudian Tio Jiang membuka mulut.
"Tong Ko tadi kau mengatakan bahwa yang membawa Tok-kak-sin-mo Sin Tok bertiga adalah kau, benarkah itu?"
Oleh karena merasa bahwa selama ini tak pernah berbuat jahat, maka pikiran Tong Ko hanya pada Tio In seorang saja. Bukannya menyahut, dia bahkan balas bertanya.
"Apakah nona In sudah tersusul?"
Tio Jiang menggeram, serunya.
"Ketiga durjana itu sudah lari. Siau Inpun sudah ikut mamahnya kembali ke Giok-li-nia, sekalian orang gagah dari berbagai daerahpun juga sudah berkumpul disana. Tong Ko, ketika kau hendak masuk kedalam perserekatan kami, ada orang yang mengatakan bahwa parasmu keliwat cakap tentu tak boleh dipercaya. Tapi kuanggap karena kau benar2 seorang manusia yang ingin berbakti kepada negara, maka kululuskan kau kucurkan darahmu selaku masuk perserekatan. Kau seharusnya percaya akan diriku, kalau ada persoalan, hendaknya terus terang memberitahukan padaku!"
Ucapan itu walaupun bernada rawan, tapi mempunyai daya pengaruh sehingga setelah ter-longong2 sampai sekian saat barulah Tong Ko menyahut.
"Benar, memang Sin Tok dan kedua saudara Shin itu aku yang membawanya, tetapi .............."
Baru mendengar kata2 Tong Ko yang dimuka itu, hati Tio Jiang sudah mendelu sakit sekali.
Tadi bersama Yan-chiu dia gunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar ketiga jagoan itu.
Dengan mengambil jalan pendek, dapatlah dia mendahului mereka dan bersembunyi diatas puhun.
Begitu ketiga jagoan itu tiba, segera diserbunya.
Karena tak menduga sama sekali, karung yang dibawa si Hiat-ji itu telah dapat dirampas Yan-chiu.
Ketiga kaki tangan pemerintah Ceng itu tak bernapsu untuk terlibat dalam pertempuran lama, cepat mereka meloloskan diri.
Ketika dibuka ternyata isi karung itu adalah Tio In.
Setelah dibuka jalan darahnya, barulah Tio In dapat menceritakan apa yang telah terjadi dikampung halamannya.
Dengan menangis tersedu sedan, nona itu timpahkan kesalahan pada Tong Ko.
Ter-mangu2 Tio Jiang dan Yan-chiu saking getunnya.
Yan-chiu segera ajak puterinya balik ke Giok li-nia, sedang Tio Jiang mencari Tong Ko.
Bahwa Tong Ko ternyata mengakui dia yang membawa pembunuh2 itu, telah membuat pikiran Tio Jiang menjadi gelap dan baru saja mulut anak itu mengucapkan kata2
"tetapi", Tio Jiang sudah memijat lengannya kuat2.
"Paman Tio, harap lepaskan!"
Tong Ko minta dgn setengah meratap karena tak tahan sakitnya. Tio Jiang kendorkan tangannya. Ditatapnya lekat2 muka anak itu sampai beberapa jenak, baru kemudian dia berkata.
"Tong Ko, kau telah membunuh anakku bungsu, itu masih belum seberapa. Tapi kau telah membongkar markas rahasia kita, itulah dosa besar. Kini hendak kubawamu ke Giok-li-nia. nanti para orang gagah memutuskan hukumanmu, baru aku membuat perhitungan lagi padamu. Kau menurut tidak?"
Watak Tong Kopun tak kurang kerasnya.
Dia anggap ucapan Tio Jiang itu sudah cukup dalam batas2 keadilan yang bijaksana, maka tanpa mengucap apa2 dia mengangguk.
Begitulah setelah hampir dua jam lamanya menempuh perjalanan tanpa mengucap sepatah katapun, akhirnya tibalah mereka dipuncak Giok-li-nia.
Haripun sudah terang tanah, Bagi Siau-beng-siang Tio Jiang perjalanan itu tak dirasakan sebrapa, tapi bagi Tong Ko yang menanggung luka2 berat, tenaganyapun habis sama sekali.
Keadaan dipuncak Giok-li-nia kala itu, jauh sudah bedanya dengan 20 tahun berselang.
Biara satu2nya yang masih ada, hanya lah biara Cin Wan Kuan.
Itu saja pagar temboknya sudah rusak diganti pagar kayu, hingga mirip merupakan sebuah san-ce (markas gunung).
Juga perumahan disitu tiada 100 buah jumlahnya.
Begitu masuk kedalam san-ce (Cin Wan Kuan), terasalah suatu suasana yang hening sunyi.
Ber-puluh2 pasang mata sama mengawasi pada Tong Ko.
Dimuka peseban Ki-git-thia tampak berkibar sebuah bendera warna putih.
"Siapa yang meninggal?"
Tanya Tio Jiang dengan terkejut.
Karena rasa kejutnya itu tanpa dia salurkan Iwekangnya keatas, hingga ucapannya itu mengguntur kedengarannya.
Sampai Tong Ko yang berada disampingnya, telinganya menjadi kesakitan.
Dari dalam rombongan orang, tampil seseorang sembari berseru.
"Nyo toako!"
"Nyo Kong-lim?"
Tio Jiang menegas. Orang itu, yang ternyata Kiau To, menjawab dengan pe-lahan2.
"Benar. Dia bertempur dengan Sin Tok dikaki gunung dan kena dibacok kutung lengannya. Ketika kubawanya naik kemari, dia sudah kehabisan darah dan tak dapat ditolong lagi!"
Diam khidmat mencekam hati sekalian orang gagah.
Terkenang akan peribadi Nyo Kong-lim yang walaupun kasar tapi jujur ksatrya, sekalian orangpun sama2 kucurkan air mata.
Se-konyong2 ditengah suasana berkabung itu, menjeritlah Yan-chiu sembari berlari keluar dari paseban Ki-gi-thia.
Ketika masih gadis, ia pernah minum mustika batu, ditambah dgn peyakinannya selama 20-an tahun, ilmunya mengentengi tubuh benar2 sangat sempurna sekali.
Hui-lay-hong atau si Cenderawasih terbang, digelarkan orang karena ilmunya mengentengi tubuh yang sakti Itu.
Begitu keluar, Yan-chiu segera enjot tubuhnya melayang diatas kepala orang2 yang berkerumun itu, lalu melayang turun di hadapan Tio Jiang dan Tong Ko.
Suara jeritannya tadi masih belum hilang kumandangnya, tapi orangnya sudah tiba dimuka orang yang hendak dirongrongnya.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan, sampai ditingkat bagaimana ilmu mengentengi tubuh dari Hui-lay-hong itu.
Dalam jaman itu, sungguh sukar dicari keduanya.
Begitu berhadapan dengan Tio Jiang dan Tong Ko tubuhnya sempoyongan dan terus menyongsong maju.
Orang sama mengira tentu Yan-chiu hendak melabrak Tong Ko yang menjadi pembunuh anaknya itu, tapi ternyata ia menubruk kepada sang suami dan pecahlah tangisnya mengirimkan sang air mata.
"Jiang-ko, kasihan Siau Seng hanya hidup 4 tahun, kasihan Siauw Seng hanya menjadi manusia selama 4 tahun saja!"
Sekalian orangpun pilu mendengar ratap tangis seorang Ibu yang kematian puteranya itu.
Tong Ko juga terketuk hati nuraininya.
Benar kejadian itu diluar pengetahuannya dan memang telah diatur oleh kawanan kuku garuda itu, namun sadar atau tak sadar, dia anggap dirinyalah yang bertanggung jawab.
Dia merasa berdosa besar.
"Sudahlah jangan menangis! tiba2 dia berseru dengan gagah, lalu menghampiri kearah orang banyak. Dari salah seorang dia mencabut sebuah golok, terus hendak disabatkan kebatang lehernya sendiri. Sekalian orangpun tak mau mencegahnya, karena anggap dengan kedosaan sebesar itu, sudah selayaknya Tong Ko berbuat begitu. Tapi ketika mata golok menempel pada kulit lehernya, se-konyong2 dari peseban Ki-gi-thia terdengar seseorang berseru mencegahnya.
"Tahan!"
Dan berbareng itu terdengarlah sebuah benda mengaum diudara dan, trang...., golok ditangan Tong Ko itu bukan melainkan terlepas, pun kutung menjadi dua dan terlempar diudara.
Kejadian itu menggemparkan sekalian orang yang melihatnya.
Siapakah gerangan yang sedemikian saktinya, dari jarak 3 tombak dapat menimpukkan senjata rahasia, hingga golok menjadi kutung dan terlempar diudara?
Tiba2 terdengar pula suara deru angin meniup.
Seorang wanita tua yang mencekal sebatang tongkat besi melayang diudara dan turun dihadapan Tong Ko.
Disitu wanita tua itu memandang lekat2 pada sianak muda.
"Subo, bilakah kau datang tadi?"
Co Jiang dan Yan-ciu serentak berseru.
Benar, wanita tua itu adalah subo (ibu guru) dari Tio Jiang dan Yan-chiu, yakni pendekar wanita yang namanya sangat menggetarkan seluruh gelanggang persilatan pada jeman itu, Kang Siang Yan In Hong.
Kang Siang Yan tak menghiraukan sepasang suami isteri itu, hanya memberi isyarat tangan supaya mereka berdua mundur.
la tetap mengawasi Tong Ko dari ujung kaki sampai keatas kepala.
Semasa mudanya, Kang Siang Yan pernah meyakinkan ilmu lwekang sakti thay-im-lian-seng didasar pulau karang Hay-sim-kau di bawah laut.
Setelah tua, sepasang matanya memancarkan sorot ber-api2, sehingga Tong Ko serasa seperti di-iris2 dengan pisau silet rasanya.
Sekalian orang tak tahu apa yang hendak dilakukan oleh wanita sakti itu jadi merekapun menantikan dengan berdiam diri.
Lewat beberapa detik kemudian, barulah kedengaran wanita lihay itu menegur dengan suara pe-lahan2.
"Nak, siapakah namamu?"
Sekalipun sudah lama Tong Ko mendengar kebesaran wanita itu, namun baru pertama kali itu dia berhadapan muka.
Dia dapatkan dalam nada ucapan siwanita tua itu terasa suatu pancaran kasih sayang yang tak terhingga.
Sebagai orang yang sudah mengambil keputusan utk mati, heran juga dia dibuatnya mengapa ada seseorang yang begitu menyayang kepadanya.
Namun dijawabnya juga pertanyaan wanita tua itu dengan sejujurnya.
Mulut Kang Siang Yan berulang kali mengulangi kata2
"Tong Ko". Setelah merenung beberapa jenak, kembali ia ajukan pertanyaan lagi.
"Kau berasal dari mana?"
"Aku orang dari desa Sam-hua-chun kota Tay-li-cin yang terletak didekat sungai Sekang". Lagi2 Kang Siang Yan seperti menghafalkan tempat itu, lalu bertanya lagi dengan suara lembut.
"Nak, apakah kau lahir disana juga?" . Melihat orang menghujani pertanyaan yang tak ada artinya, kesallah hati Tong Ko, maka dengan sembarangan saja dia menyahut.
"Tidak, aku seorang anak yatim piatu. Sebenarnya aku berasal dari desa Nyo-chun!"
Begitu pelahan Tong Ko mengucapkan jawabannya itu, hingga hanya Kang Siang Yan seorang yang dapat mendengarinya.
Se-konyong2 tubuh Kang Siang Yan tampak menggigil bergemetaran.
Ketika ia angkat tongkatnya, jelas kelihatan batang tongkat itu bergetaran.
Sudah tentu tak mengerti sekalian orang dibuatnya.
Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain karena heran atas kejadian itu.
Sebaliknya Tong Ko rasakan ada sambaran angin keras berasal dari tongkat yang diacungkan oleh wanita tua itu, hingga dia tersurut sampal 3 tindak.
Mendadak Kang Siang Yan tertawa keras sampai 3 kali, hingga sampai menggetar bumi dan meretakkan batu2 gunung.
"Aku......... aku......... akhirnya........."
Serunya.........
ter-putus2, dan belum kata2 selanjutnya dapat diucapkan, berhentilah detak jantung Kang Siang Yan, Trang......., tongkang besi yang diacungkan itu terkulai jatuh keatas tanah.
Batu digunung situ sangatlah kerasnya, tapi begitu kejatuhan tongkat lalu memuncratkan letikan api dan ujung tongkat itu menyusup masuk sampai beberapa centi dalamnya.
Kembali suasana menjadi hening lelap.
Ketika Tio Jiang dan Yan-chiu buru2 menghampiri, didapatinya wajah Kang Siang Yan bersenyum girang namun sepasang matanya sudah pudar tak bersinar lagi.
Tio Jiang memeriksa pula (pergelangan tangan), ternyata denyut darahnya sudah terhenti.
Memang makin tinggi ilmu kepandaian seseorang, makin besar bahaya yang mengancam tubuhnya.
Seorang tokoh yang telah mencapai kesempurnaan macam Kang Siang Yan se-waktu2 kalau lengah, dapat terjerumus dalam bencana, kalau tidak putus uratnya menjadi seorang invalid tentu putus jiwanya.
Soalnya terletak pada orang itu sendiri, harus pandai mengekang setiap getaran perasaan hatinya.
Menghadapi segala apapun, se-kali2 tak boleh keliwat bergirang atau keliwat berduka.
Kalau sampai berbuat begitu, tenaga lwekangnya yang bergelombang keras, menghantam urat2 nadi.
Akibatnya, urat2 nadi dan jalan darah dapat putus dan binasalah tentu.
Kematian Kang Siang Yan secara mendadak sontak tadi, pun disebabkan karena getaran perasaan yang me-luap2.
Tio Jiang sukar untuk menjatuhkan persangkaannya.
Kalau kematian subonya dikarenakan membenci Tong Ko, mengapa wajahnya menyungging senyum kegirangan?
Tapi hal apakah yang menyebabkan sang subo begitu kegirangan ini?
Yan-chiu yang lebih cerdas segera mengetahui bahwa dalam detik2 terakhir tadi sang subo mengucapkan beberapa patah kata kepada Tong Ko.
Hanya karena keliwat pelahan jadi tiada seorangpun, kecuali Tong Ko, yang mendengarnya.
"Tong Ko, pembicaraan apa yang kau lakukan dengan subo tadi?"
Tanyanya kepada sianak muda.
Juga Tong Ko sendiri ter-heran2.
Memang dia sudah curiga mengapa baru saja pertama kali bertemu, wanita tua itu sudah bersikap sedemikian menyayang terhadap dirinya.
Tadi dia hanya memberi penyahutan sekenanya saja, tapi mengapa wanita itu sam pai begitu me-luap2 perasaannya hingga menemui ajal.
"Aku hanya mengatakan kalau aku kelahiran dari desa Nyo-chun, lain tidak!"
Sahut Tong Ko. ---oo^dwkz0tah^oo---BAGIAN 04 . HUKUMAN MATI "Ngaco! Masih berani berbohong ya?!"
Bentak Yan-chiu dengan murka. Tong Ko benar2 penasaran. Maju selangkah dia berkata dengan gagah.
"Aku, Tong Ko, kepala boleh kutung darah boleh mengucur, tapi selama hidup tak pernah aku berdusta, Harap Liau locianpwe mengerti akan hal itul"
Nada kata2nya keras, wajahnya tak gentar. Benar2 dia seorang anak muda yang berhati baja.
"Kau bilang kepalamu boleh kutung? Baiklah, memang hari ini akan kukutungi kepalantu itu!"
Seru Yan-chiu sembari cabut pedang pusakanya, lalu bertanya kepada sekalian orang.
"Saudara2 sekalian, harus tidak orang begini ini dibunuh?"
Oleh karena sudah mengetahui duduk perkaranya, maka sekalian orang segera berseru dengan serempak.
"Harus!". Tapi Tong Ko pun tak jeri, malah lantas tonjolkan kepalanya menantang.
"Tabaslah!"
Sebaliknya Yan-chiu malah tertegun kaget.
Benar kedosaan anak itu tak dapat diampuni lagi, tapi sebaliknya dari minta ampun dia malah menyuruh minta ditabas, hal ini membuatnya (Yan-chiu) terpesona sendiri.
Adalah Tio Jiang yang mengerti isi hati sang isteri segera berkata kepada Tong Ko.
"Tong Ko, meskipun dosa-mu itu pantas dihukum mati, tapi mengingat selama ini kaupun kecil2 juga mempunyai jasa kepada perserekatan, maka kuberi keringanan supaya kau habisi jiwamu sendiri dengan loncat turun dari puncak gunung!"
"Kalau sampai tidak mati lalu bagaimana?"
Tanya Tong Ko.
Giok li-nia itu adalah sebuah puncak yang tingginya ribuan meter.
Loncat turun kebawah dan tak binasa, adalah suatu hal yang mustahil dapat terjadi.
Walaupun ilmu kepandaiannya cetek, tapi Tio Jiang mengagumi kejantanan anak muda itu.
Maka tak ha.
bislah herannya, mengapa anak itu sampai menjadi penunjuk jalan kawanan kuku garuda itu.
"Kalau tak mati, itulah peruntunganmu. Kuharap selanjutnya kau dapat berobah menjadi orang baik!"
Sahut Tia Jiang. Mendengar itu, tertawalah Tong Ko dengan tawarnya.
"Kalau aku tak sampai binasa, kau adalah tuan penolongku yang budiman, Tio pehpeh. Tapi maaf, jangan tuduh aku tak kenal budi. Hinaan yang dilemparkan isterimu kepadaku didepan sekian banyak orang tadi, kelak aku pasti akan menuntut balas!"
Riuh rendahlah sekalian orang sama berisik. Yan-chiu gontaikan pedangnya, dan ujung pedang itu sudah melekat diulu punggung Tong Ko, namun anak muda itu tetap bersikap tenang.
"Mah, ayah telah meluluskan dia untuk loncat dari atas puncak, jangan kau turun tangan lagi!"
Tiba2 kedengaran seorang nona berseru.
Tong Ko berpaling dan dapatkan nona itu adalah Tio In, siapa dengan sepasang matanya yang bundar ber-linang2 tengah mengawasi kepadanya.
Teringat akan cita2 yang dikandungnya selama ini yang ternyata berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan, hati Tong Ko seperti diremas pedihnya.
Cita2nya itu yalah agar dia dapat diterima menjadi murid Siau-beng-siang Tio Jiang d9n begitu dapatlah dia bergaul rapat dengan Tio In untuk kemudian hari terangkap menjadi suami isteri yang berbahagia.
Walaupun dalam keadaan seperti saat itu, dimana semua orang sama mendakwanya sebagai kaki tangan rombongan kuku garuda, dan dia rela menebus kesalahannya itu dengan jiwanya, namun kalau membayangkan betapa berbahagia cita yang dikandungnya dahulu tapi yang kini ternyata hampa itu, tak urung hatinya pilu juga.
Dengan pe-lahan2 dia ayunkan langkah ketepi batu karang.
Melongok kebawah, yang tampak hanyalah kabut halimun yang menutup tebing curam.
Fikirannya jauh me-layang2 dan mulutnyapun menghela napas dalam2.
Kala dia hendak siap terjun, tiba2 dia teringat akan sesuatu, pikirnya.
"Walaupun sejak bertemu pertama kali aku cinta pada nona Tio In, tapi karena, kepandaianku begini dangkal, selama ini tak berani aku menyatakan Isi hatiku kepadanya. Bukanlah kini aku sudah diambang pintu kematian, mengapa tak menyatakan hal itu kepadanya? Suara hatiku itu bersambut atau tidak, itu bukan soal. Pokok, asal sudah kucurahkan, sebagal bekal dialam bakal"
Ketika dia memutar tubuh, ternyata dibelakang sana tampak ber-puluh2 pasang mata tengah mengawasi kepadanya dengan pandangan heran. Tong Ko paksa mulutnya tertawa, katanya kepada Tio Jiang.
"Tio-peh, sebelum mati aku hendak menyampaikan beberapa patah kata kepada nona In!"
Tapi sebelum Tio Jiang dan Tio In menyahut, Yan-chiu sudah menyemprotnya.
"Tong Ko, belum cukupkah kau membunuh anakku bungsu hingga kini hendak mencelakai anak perempuanku lagi?" . Tong Ko menghembuskan napas penasaran, ujarnya.
"Kalau memakai ukuran begitu memandang diriku, sudahlah, kutarik saja permintaanku tadi!"
Baru Tong Ko hendak loncat kebawah, se-konyong2 ada sesosok tubuh loncat menghampiri dan berbareng itu terdengar orang berseru "In-ji".
Kiranya yang tiba dihadapannya itu adalah Tio In, sedang yang meneriakinya tadi adalah mamahnya.
Dengan sepasang mata yang bundar berlinang, nona itu menatap kearah Tong Ko seraya berkata dengan suara berbisik.
"Kalau adikku tak sampai mengalaml nasib begitu mengenaskan, mamah tentu takkan bersikap begitu kepadamu. Kau hendak mengtakan apa, lekaslah nyatakan!"
Bahwa diantara sekian banyak orang yang sudah membencinya, masih ada seorang Tio In yang tetap memperhatikannya, telah membuat hati Tong Ko terhibur sekali.
Tapi oleh karena dia seorang pemuda yang tak pandai merangkai kata2 muluk, jadi untuk beberapa saat barulah dia dapat mengeluarkan perasaannya.
"In-moay, aku cinta padamu, apakah kau tak mengetahui?"
Mulut sinona berat untuk menyahut, melainkan sepasang matanya yang berkicupan dan kepalanya mengangguk, lalu loncat kebelakang lagi.
"Ah, kirania ia juga suka padaku! Tapi apa gunanya, sudah kasipl"
Kata Tong Ko didalam hati. Oleh karena tampaknya dia ber-ayal2an tak mau loncat turun kejurang, setengah orang pang beradat keras segera memakinya.
"Hai, binatang cilik, masih sayang pada jiwamu ya? Berbareng itu Tong Ko rasakan punggungnya dingin. Ha, kiranya pedang pusaka kuan-wi-kiam milik Yan-ciu sudah dilekatkan pada ulu punggungnya itu. Tong Ko masih sempat melirik pada Tio In yang menelungkupi sebuah batu, kedua bahu bergetaran karena tangisnya meng-isak2 tubuh. Cepat dia dorongkan tangan kebelakang untuk menghalau pedang Yan-chiu, serunya.
"Aku dapat loncat sendiri, tak usah didorong lagil"
Dengan wajah sedingin es.
Yan-chiu bolang-balingkan pedangnya menjadi suatu lingkaran sinar, hingga Tong Ko cepat2 tarik pulang tangannya tadi itu.
Namun jari kelingking kirinya telah kena terpapas kutung.
Ber-ketes2 darah segar menurun diatas batu gunung yang seputih marmar warnanya.
"Ha...., ha...., ha....! Tak nyana bahwa Tong Ko yang dianggap sebagai pengkhianat jahat, ternyata darahnya juga merahl"
Seru Tong Ko sambil tertawa menengadah kelangit.
Habis itu dia segera ayunkan diri loncat kebawah jurang.
Yan-chiu maju melongok dan dilihatnya anak muda itu berjumpalitan 3 kali terus meluncur turun kebawah jurang yang ter-tutup halimun itu.
Kini barulah nyonyah itu reda kemarahannya.
Begitupun disana-sini orang sama2 berisik membicarakan peristiwa itu.
Setelah itu, mereka ramai2 mengangkat jenazah Kang Siang Yan kedalam paseban.
Semua orang sama bubaran kecuali Tio In seorang yang masih tertinggal dipuncak situ.
Ia se-olah2 terpaku kakinya ditempat Tong Ko loncat kejurang tadi.
Butir2 air matanya bercucuran turun tepat jatuh diatas batu yang ketetesan darah Tong Ko tadi.
Darah dan air mata tercampur menjadi satu.
"Engkoh Ko, mengapa kau tak siang2 menyatakan isi hatimu itu kepadaku?"
Katanya seorang diri seperti orang mengingau.
Oleh karena saat itu tiada lain orang lagi yang berada disitu, jadi ia biarkan air matanya turun se-banyak2nya.
Entah sudah berapa lama, nona itu berdiri terpaku ditempat itu.
Tahu sudah ia bahwa dengan berserekat sama kawanan kuku garuda, Tong Ko telah mengakibatkan hancurkan pangkalan gerakan menentang pemerintah Ceng, Nyo Kong-lim dan adiknya sendiri turut berkorban jiwa.
Namun cinta itu memang aneh dan berpengaruh besar.
Iapun menyintai anak muda itu.
Ini bukan dalam waktu sehari dua saja.
Tapi selama itu ia tak mau memperlihatkan tanda2 Itu, disebabkan karena.
pertama, kepandaian Tong Ko masih sedemikian dangkalnya sehingga pemuda itu menjadi takut untuk menyatakan karena tahu diri.
kedua, memang sengaja la (Tio In) bersikap getas supaya Tong Ko malu dan meyakinkan ilmu kepandaian yang lebih tinggi.
Ah......, siapa tahu kini urusan itu menjadi kacau balau.
Dan yang paling membuatnya gegetun, pada saat2 terakhir baru anak muda itu menyatakan isi hatinya.
Hampir rembang petang, barulah Tio In ayunkan langkahnya pe-lahan2 pulang.
Oleh terjadinya peristiwa yang menyedihkan itu.
maka sekalian anggauta2 perserekatan Lo-hu-san menjadi lesu.
Lebih2 Tio In, se-malam2an tak dapat tidur.
Bantalnya basah kuyup dengan air mata.
Tengah malam tiba2 didengarnya diluar jendela ada orang memanggil dengan pe-lahan2.
"In-ji....! In-ji.....!"
Tahulah Tio In bahwa itu suara mamahnya, maka dengan melipur getar bibir (menghapus kedukaan), la buka pintu. Dan memang yang muncul itu adalah Yan-chiu.
"In-ji, sebelum meninggal apa yang Tong Ko katakan padamu?"
Tanya Yan-chiu dengan muka berseri senyum. Sebagai dimanjakan, pecahlah tangis Tio In, ia merangkul dada mamahnya seraya menjerit.
"Mah!"
Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam garam, sepatah itu saja sudah cukup bagi Yan-chiu untuk mengetahui keadaan sang puteri. Di-belai2nya rambut anaknya itu, lalu berkata dengan menghela napas.
"In-ji, jangankan dia sudah hinasa, andaikata masih hiduppun, rasanya tak layak kau serahkan hatimu pada pemuda macam begitul"
"Entahlah, mahl"
Sahut Tio In tengadahkan kepala.
"Ah, karena ayahmu dan aku terlalu memanjakan hingga kau sampai tak dapat mengetahui kejahatan didunia ini. Sudahlah, nak, tidur sana!"
Kemball Yan-chiu menghela napas lalu tinggalkan ruangan itu. Tio In terbenam dalam kehampaan lagi. Tiba2 terkilas daiam pikirannya.
"Ah, apa yang mamah katakan itu memang benar. Terhadap perbuatan semacam itu, bagaimana aku dapat mecintainya? Tapi karena kini dia sudah meninggal, karena toh sudah tak dapat berbuat kejahatan lagi, mengapa aku tak meninjau keadaannya?"
Tio In berbangkit menghampiri pintu.
Pada lain kilas, pikirannya membayangkan bagaimana keadaan tubuh Tong Ko yang pasti akan hancur lebur mayatnya.
Tak terasa ia menjadi ngeri.
Akhirnya ia mengambil putusan untuk turun gunung menengoknya.
---oo^dwkz0tah^oo---BAGIAN 05 .
SI LIMBUNG DAN SI LINGLUNG Sekarang marilah kita ikuti keadaan Tong Ko.
Dikala tubuhnya melayang turun kelembah curam, dia sudah paserah nasib, sebab tentu mati.
Tapi meluncur baru beberapa tombak kebawah, diantara halimun lebat yang menutup lembah itu terdengar ada dua orang tengah bertengkar mulut, saling memaki dengan keras.
Kiranya tepat diatas sebuah batu raksasa yang menonjol dilamping gunung situ, terdapat dua orang tengah berkelahi.
Yang satu seorang jangkung dan lawannya seorang kate.
Belum lagi Tong Ko dapat melihat dengan perdata, atau se-konyong2 dirasakannya ada suatu tenaga dahsyat, menyampok keatas, hingga membuat luncuran tubuhnya itu menjadi tercegah.
Ketika Tong Ko memperhatikannya, ternyata tenaga dahsyat Itu berasal dari sebuah hantaman yang dilancarkan oleh siraksasa.
"Apakah ajalku ini belum sampai?"
Pikir Tong Ko.
Dan baru benaknya memikir begitu, atau sepasang kakinya terasa dicengkeram keras2 oleh tangan orang yang ternyata adalah sijangkung raksasa itu.
Batu besar itu tak kurang darI 5 tombak luasnya.
Wut....., tiba2 sikate melesat kesamping seraya menggerutu.
"Toa-ko-ji (anak gede), hem...., kau pintar mencari senjata ya? Serumpun janggutku yang panjang ini, bulan yang lalu telah kalah main. Kalau tidak, tentu akan kusuruhmu melihatnyal"
Siraksasa itu menggeram, maju setindak dia hantamkan tubuh Tong Ko kearah sikate.
Tong Ko tenangkan perasaannya dan mencuri lihat kearah sikate.
Orang pendek Itu ternyata seorang tua, kepala gundul pelontos dan janggutpun tiada barang selembar rambut.
Kalau bicara, mata dan hidungnya turut bergoyang naik turun, aneh dan lucu sekali tampaknya.
Dia ternyata tak mau menghindar melainkan ulurkan tangannya untuk mencengkeram lengan Tong Ko lalu ditarik kebelakang se-kuat2nya.
Tong Ko segera rasakan ditarik oleh suatu tenaga dahsyat hingga lengannya serasa terlepas dari bahunya.
Saking sakitnya, dia sampai mengucurkan keringat dingin.
Dan lebih celakanya lagi siraksasa tadipun menarik lengannya (Tong Ko) yang satu kebelakang, jadi kini anak itu dibuat barang tarikan.
Hampir saja tubuh Tong Ko robek dibuatnya.
"Hai......, kalian lepaskan dulu akul"
Teriaknya kebingungan.
Rupanya kedua orang aneh itu sama terkesiap kaget hingga saling lepaskan cekalannya.
Bum......, Tong Ko menggeIepar diatas batu, hampir sedikit saja dia menggelundung kebawah jurang lagi.
"Astagafirullah......., kiranya kau ini seorang manusia hidup, mengapa tak siang2 bersuara?"
Tanya sikate dan sijangkung dengan .serentak. Tong Ko berbangkit dan kedua orang aneh itupun tertawa gelak2 melihatnya.
"Begitu meluncur tadi, kalian terus mementang lenganku, mana aku dapat bersuara lagi?"
Sahut Tong Ko. Sikate berjingkrak sampai beberapa kaki tingginya lalu ber-tepuk2 tangan, serunya.
"Huh, toa-ko-ji, tadi sudah berjanji tak menggunakan senjata, mengapa kau gunakan anak itu sebagai senjata, kau kalah artinyal"
Siraksasa terbeliak kaget, walaupun tak terima tapi mulutnya tak dapat membela diri. Hanya selebar mukanya yang merah seperti kepiting direbus.
"Bah senjata Itu tiba dari langit, mungkin lo-thian-kong (Tuhan Allah) mau membantu aku, masa hal ini tak dianggap biji. Nah, akulah yang menangl"
Jawab si raksasa jangkung itu.
Mendengar kata2 mereka, tahulah Tong Ko bahwa kini dia sedang berhadapan dengan orang limbung dan orang linglung!
"Toa-ko-ji, jangan ribut2.
Kau bilang aku yang kalah dan aku kata kau yang keok.
Baik kita cari juri yang bisa bicara adil!"
Seru sikate.
"Bagus!"
Sahut sijangkung, tapi pada lain saat dia tampak kerutkan alis, ujarnya.
"tetapi tempat ini ditengah awang2, tidak dilangit bukan ditanah, bagaimana akan mencari juri?"
Sikate tertawa mengekeh lalu menuding pada Tong Ko.
"Apa dia bukan?"
Tong Ko terkesiap kaget, dilihatnya mulut sikate itu menyeringai men-desis2 sepertI tikus mencicit, namun dengan jelas sekali telinganya dapat mendengar setiap patah yang diucapkan.
"Buyung, cukup sepatah kau katakan aku yang menang, nanti kuberi suatu kebaikan yang besar sekali kepadamu."
Sekalipun kepandaian Tong Ko itu dangkal, tapi pengalamannya cukup luas.
Dilihatnya sijangkung tadi masih ter-longong2 disamping, jadi terang kalau kata2 sikate tadi hanya dia sendiri yang dapat mendengarnya, amboi, suatu ilmu lwekang coan-im-jipti (menyusupkan suara) yang tiada taranya.
Tapi dia heran memikirkan, mengapa seorang tua yang sedemikian lihaynya, kok limbung tak keruan begitu?
Masakan dia disuruh jadi juri tapi dlsuruh mengatakan dia yang menang!
Ya, mengapa kedua orang tak genah itu gasak2an?
Dan siapakah mereka itu?
Tong Ko tak mau sembarangan memberi penyahutan, karena dia merasa namanya sudah jatuh.
Tapi sebaliknya sikate itu menunjukkan muka setan kepadanya, sikapnya berseri2 kegirangan.
Baru Tong Ko hendak membuka mulut menyatakan keberatan, siraksasa sudah ulurkan tangan untuk memijat bahunya, hingga Tong Ko gentayangan ngerusuk kedekatnya.
Kiranya siraksasa itupun membisiki kedekat telinganya.
"Siaoko, jangan se-kali2 kau katakan dia menang! Awas, nanti kulempar tubuhmu kebawah lembah supaya hancur lebur! Ketahuilah, sikate itu tak dapat menangkan aku, tak usah kau membantunya!"
Setelah itu, kembali sikate menyentakkan Tong Ko kearahnya dan membisiki supaia mengatakan sijangkung itu yang kalah.
Benar2 Tong.
Ko serba sulit kedudukannya.
Hendak mengatakan bagaimana dia nantI?
Apabila sijangkung telah melepaskan cekalannya, maka kedua orang limbung itu serentak berseru.
"Buyung, katakanlah lekasl"
Diam2 Tong Ko menarik kesimpulan bahwa kedua orang itu tentulah bukan orang baik, mereka tentu tak mau kalah satu sama lain.
Tapi menilik kedua orang itu limbung semua, jadi tentulah tak dapat diajak bicara genah.
Tiba2 timbullah akal pada Tong Ko.
Lebih dahulu dia menyorong kedekat siraksasa dan berkata.
"Sudah tentu kaulah yang menang"
Saking girangnya sijangkung raksasa itu me-lonjak2, sampai Tong Ko cemas sendiri melihatnya jangan2 nanti tergelincir kebawah lembah.
Tampak mata sikate terbelalak, buru2 Tong Ko menghampiri dan berbisik pe-lahan2.
"Lo-cianpwe kau menangi Si jangkung itu bukan tandinganmul"
Menjeritlah mulut sikate "buyung yang baik", dan lalu me-nari2.
Keduanya tak mengerti apa yang dikatakan Tong Ko kepada.
masing2 orang, tapi mereka sama menganggap dirinyalah yang menang.
Kala Tong Ko masih heran memikirkan kelakuan aneh dari kedua orang itu, tiba2 kedua belah lengannya terasa ditarik kencang.
Hal, celaka!
Kiranya dia akan dibuat tarikan lagi oleh kedua orang limbung itu.
Sudah tentu kejutnya bukan alang kepalang.
Tapi belum lagi dia membuka mulut mencegahnya, kedua orang itu terdengar berseru.
"Kau benar2 seorang anak yang baik!"
Berbareng pada saat itu, telapak tangan kiri dan kanan, digenggam oleh tangan sikate dan suatu aliran hawa hangat, menyalur dari telapak tangan keseluruh tubuhnya.
Dari takut Tong Kong berbalik menjadi kegirangan luar biasa.
Terang kalau sikate itu telah memberi saluran lwekang untuk memperkuat lwekangnya (Tong Ko).
Cara bantuan macam itu, memang lekas sekali dapat memperkokoh yang menerima tapi sebaliknya merugikan lwekang orang yang memberinya.
Menilik kelihayan sikate itu, buru2 Tong Ko pusatkan semangatnya untuk menyalurkan hawa didalam tubuhnya.
Dengan gembira ria berkatalah sikate kepada sijangkung.
'"Toa-ko-ji, ayuh kita bertanding lagi, siapakah yang dapat membikin tenaga anak ini maju pesat dalam waktu yang singkat?
Kau tentu tak mampu, lekas lepaskan tanganmu!"
Siraksasa jangkung keruntukan kening, serunya.
"Bah, bagaimana kau tahu aku tak mampu?l"
Dilihatinya luka pada jari kelingking kiri Tong Ko dan berserulah si jangkung itu dengan kegirangan.
"Ho......, ho......, tak mampu?"
Tiba2 digigitnya sendiri ujung kelingkingnya, lalu kelingking itu ditusukkan pada luka dijari Tong Ko. Aduh mah, sakitnya jangan dikata lagi. Peluh didahi Tong Ko sampai meng-anak sungai bercucuran.
"Siauko, jangan takut sakit. Sewaktu kecil aku pernah makan darah ikan kakap berumur ratusan sehingga tenagaku luar biasa kuatnya. Kebetulan kau mempunyai luka dan akan kuberikan sedikit darahku, tentu tenagamu akan istimewa juga!"
Kata sijangkung.
Kembali Tong Ko terperanjat girang, ikan kakap berumur ratusan adalah binatang yang jarang terdapat.
Kalau toa-ko-ji itu pernah meminum darahnya dan ditambah pula dengan ber-tahun2 meyakinkan lwekang, wah dia (Tong Ko) tentu akan mendapat manfaat yang hebat sekali.
Rasanya lebih hebat dari minum segala macam obat kuat atau pil dewa.
Pernah dia mendengar tentang seorang tokoh dalam dunia persilatan daerah Hokkian, dia seorang bernama Ciang Tay-lo, bergelar Soa-kim-kong (malaekat dungu).
Dia pernah mengikut Coxinga (The Seng Kong) melawan pemerintah Ceng.
Dengan menghancurkan pertahanan musuh disungai Tiangkang, dia terus memimpin anak buahnya maju sampai ke Tinkang, sehingga membuat pemerintah Ceng kelabakan.
Tapi akhirnya terpaksa mundur ke Taiwan dan entah bagaimana kabar ceritanya Iebih jauh.
Kalau menilik dia itu menggunakan logat Hokkian, jangan2 itu si Soa-kim-konglahl "Adakah ciangpwe ini seperti yang digelari orang sebagai Soa-kim-kong Ciang Tay-lo?"
Tanyanya ter-sipu2. Siraksasa deliki mata kepada sikate, serunya.
"Kate, benar tidak kataku? Bocah semacam diapun kenal juga namaku, apa katamu lagi?"
Sikate pelembungan pipinya lalu menyembur kata2 nyaring kepada Tong Ko.
"Hoi, lekas katakan, siapa aku ini?"
Oleh karena Tong Ko tak pernah mendengar orang persilatan bercerita tentang seorang tokoh yang bertubuh kate, maka diapun tak dapat menyahut. Ujung batok kepala sikate mengeluarkan keringat"
Lalu dengan ilmu "coan-im-jip-bi", dia kisiki telinga Tong Ko.
"Buyung, aku ini adalah Sik Lo-sam yang termasyhur, tingkatanku sejajar dengan guru dari kim-kong tolol itu. Huh, baru saja kukehilangan janggut, kau sudah tak mengenali lagi?" .
"Ai, kiranya kau ini adalah Sik Lo-sam Sik locianpwe yang namanya termasyhur itul"
Terpaksa Tong Ko berseru, namun tak mau dia menambahkan komentar "sejajar dengan suhu dari soa-kimkong"
"Ho, bocah gede, apa katamu?"
Tanya sikate kepada si raksasa.
Yang belakangan ini tak dapat menyahut apa2 lagi.
Dalam pada itu Tong Ko rasakan separoh badannya yang sebelah kanan dan separoh yang sebelah kiri, berlainan.
Hawa tun-yang (positip murni) yang disalurkan Sik Lo-sam melalui tangannya kanan, mengalir dengan derasnya ketubuh.
Tapi biar bagaimana juga tak dapat mengalir keseparoh tubuhnya sebelah kiri.
Jadi serasa tubuh Tong Ko itu dibelah dua dan jadilah dia dua macam manusia.
Sebelah kiri darahnya panas, kekuatannya besar sekali.
Hawa yang terputar pada bagian tubuh sebelah itu, merupakan dasar lwekang yang berlainan dari tubuh sebelah kanan.
Dua macam lwekang "memasak"
Tubuh Tong Ko, sehingga dia sendiri tak tahu bakal celakakah atau untungkah?
Apa boleh buat, dia hanya paserah nasib saja!
Tak berapa lama kemudian, walaupun ujung kelingking si Soakim-kong itu masih melekat pada luka kelingking Tong Ko, namun sudah tak mengeluarkan darah lagi.
Seperti Sik Lo-sam, orang limbung yang bertubuh tinggi besar itu menyalurkan Iwekangnya kepada Tong Ko.
Dua2nya sama ngotot tak mau sudah.
Haripun sudah menjelang petang.
Jadi dalam setengah harian itu, Tong Ko telah menerima "bantuan"
Yang besar sekali.
Kalau saja bermula dia sudah mempunyai dasar Iwekang, dia tentu bagaikan seekor ikan yang mendapat air.
Sayangnya dia berkepandaian dangkal, jadi lama kelamaan tak tahan menerimanya.
"Ji-wi, harap lepaskanl"
Serunya dengan gugup.
Sungguhpun kedua orang itu limbung pikirannia, tapi dalam soal kepandaian mereka adalah tergolong tokoh kelas utama.
Mereka segera lepaskan cekalannya.
Tong Ko lalu duduk bersila diatas permukaan batu itu untuk meyakinkan lwekangnya.
Kini benar2 dia rasakan didalam tubuhnya itu terdapat dua macam lwekang, begitu pula tenaganyapun seperti terpecah menjadi dua.
Yang satu berpusat disebelah kiri dan yang lain disebelah kanan.
Sekalipun dapat digunakan berbareng, tapi dua2nya mempunyai daya guna berlainan, Tong Ko kaget tercampur girang.
Kaget, karena memikirkan adakah keadaan itu bakal berlangsung terus.
Kelak apabila dalam latihan, tidaklah kedua macam lwekang itu kan berbenturan sendiri?
Girang, sebab ilmu kepandaian yang sedemikian luar biasanya itu, rasanya dikolong langit ini hanya dia seorang yang memiliki.
Kalau saja hal itu tak menjadi halangan dan dapat dilatih dengan sempurna bukantah akan merupakan suatu keistimewaan besar?
Dia lanjuntukan latihannya itu sampal semalam suntuk.
Keesokan harinya tatkala mataharai terbit, dilihatnya Sik Lo-sam dan Soa kim-kong masih saling pencelengan (saling deliki mata).
Wajah mereka saling mengunjuk sikap tak mau kalah.
Begitu melihat Tong Ko membuka mata, serempak mereka bertanya.
"Siapakah yang lwekangnya lebih jempol?"
Dikarenakan kedua orang limbung itu saling mengukur kepandaian, jadi dia bisa mendapat keuntungangan yang sedemikian bagusnya.
Hal itu sungguh jarang terdapat didunia.
Memikir sampai disitu, tak mau Tong Ko mempermainkan mereka lagi, katanya.
"Oleh karena sekarang belum dapat diketahui siapa kalah siapa menang, lebih baik diundur sampai setahun lagi, nanti kita bertiga berjumpa lagi disini. Aku tentu akan mengatakan yang se-adil2nya!"
"Tidak, kalau sampai waktunya kau tidak datang, kan berabe! Kalau sekarang kau tak dapat mengatakan, kita akan tunggui kau diatas batu ini sampal setahun untuk menungkuli kau berlatih selama satu tahun!"
Tong Ko terkesiap.
Setelah dapat kembali dari maut, telah berapa banyak hal yang hendak dia kerjakan.
Satu tahun di "simpan", disitu, aduh mak, sakit rasanya.
Tapi menilik kesungguhan kata sikate tadi, dia tak berani membantah.
---oo^dwkz0tah^oo---BAGIAN 06 .
SEBUAH PERTEMUAN Selagi Tong Ko kebingungan, tiba2 terdengar suatu bunyi suitan yang nyaring bening, bagaikan kokok seekor bangau.
Suitan itu makin lama makin kuat, dia melongok kebawah, tampak ada seorang pemuda tengah merayap keatas dengan menggelantung pada tumbuhan rotan.
Begitu cepat cara dia merayap itu, hingga dalam beberapa kejab saja setelah ayunkan tubuh, dapat dia berdiri jejak diatas permukaan batu situ.
Hai, kiranya dia itu seorang anak sekolah yang parasnya cakap tapi agak hitam manis kulitannya.
Pertama melihat, entah bagaimana, Tong Ko mempunyai rasa symphati kepada anak muda itu.
Anehnya, kalau hendak naik keatas gunung mengapa pemuda itu tak melalui jalanan gunung saja tetapi memanjat cara begitu?
Astaga, teringat dia sekarang soalnya.
Diatas, adalah puncak Giok-li-nia, markas utama dari pusat anasir penentang penjajah Ceng.
Ditilik rupanya, pemuda itu tentu bukan orang baik, kemungkinan besar dia tentu hendak menyelidiki markas Giok-li-nia.
Secepat mendapat dugaan itu, secepat itu pula Tong Ko maju menyongsong kemuka, seraya menegurnya dengan keras.
"Sahabat, kalau naik keatas mengapa tak mau ambil jalan digunung, tetapi menggunakan cara monyet begitu?"
Pemuda itu terkesiap, sahutnya.
"Aku sedang mencoba ilmuku mengentengi tubuh, apakah mengganggu padamu? Mengapa kau ucapkan kata2 yang melukai perasaan orang?"
"Siapakah nama sahabat ini?"
Tanya pula Tong Ko yang sudah tentu tak mau percaya begitu saja. Tetapi rupanya pemuda itupun kurang senang dibuatnya.
"Aku tak mau mengatakan padamu, coba kau hendak berbuat apa?"
Sahutnya.
Makin keras dugaan Tong Ko bahwa pemuda sekolahan itu tentu seorang jahat.
Tanpa ragu2 lagi dia kirim sebuah pukulan.
Tapi dia sendiri segera terkejut, ketika didapatinya bahwa hanya dalam semalam saja kini daya pukulannya sudah berobah sedemikian kerasnya.
Ai......
kalau anak sekolah itu tak kuat menahan, bukantah akan jauh kedalam lembah sana?
Buru2 dia tarik pulang pukulannya, tapi dalam pada itu sipemudapun sudah menghindar dan tahu2 dia mengambil sebuah senjata yang aneh bentuknya, dari atas kepala.
GAMBAR 04 Siapakah engkau sahabat?
Tanya Tong Ko dengan curiga sembari melontarkan pukulan.
Akan tetapi si pemudah sekolahan itu cepat mengeluarkan semacam senjata aneh, senjata itu berbentuk kelintingan berduri dan berantai.
Dengan genggaman itu, dia terus balas menyerang.
Kiranya senjata itu adalah sebuah rantai halus sepanjang satu meteran.
Kedua ujungnya saling menggandeng dan ditengahnya dicanteli sebuah kelinting, persis seperti mainan anak2 yang dipakai diatas kopiah, hanya lebih besar dan diatas kelinting itu diberi ujung yang tajam.
Begitu disabatkan, ujung kelinting itu mengancam telapak tangan Tong Ko.
Coba tadi Tong Ko tak menarik pulang tangannya, pastilah akan sudah terjadi benturan yang menentukan pertempuran itu.
Adalah Soa-kim-kong Ciang Tay-lo dan Sik Lo Sam yang melihat Tong Ko bertempur dengan anak muda itu, segera sama2 berseru.
"Kita mau ikut juga !"
Yang satu dari kiri dan yang lain dari kanan, serentak sama menyerbu.
Belum orangnya tiba, sambaran anginnya sudah menyiak.
Saking kagetnya sianak muda itu mundur beberapa tindak dan lupalah seketika dia kalau dibelakangnya itu adalah udara kosong.
Tak ampun lagi terjungkal dia kebawah lembah yang dalamnya ratusan tombak itu...............
Tong Ko juga terperanjat sekali.
"Mengapa kalian berdua belum tahu hitam putihnya sudah lantas mendorong orang jatuh kebawah?"
Serunya dengan geram. Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong deliki mata, menyahut.
"Hai, bukantah kau sendiri yang mengatakan kalau dia itu orang busuk?!"
Tong Ko bohwat (tobat) terhadap dua orang limbung itu.
Tak habis getunnya dia memikirkan anak muda tadi.
Dia sendiri belum tahu benar siapakah orang itu.
Ya, kalau dia itu memang seorang jahat itu sih tak mengapa, tapi kalau tidak, bukantah berarti dia yang mencelakainya ?
Kalau dia masih terbenam dalam keraguan, adalah kedua orang limbung itu, sudah bertengkar lagi.
Tong Ko tak hiraukan mereka, melainkan melongok kebawah.
Tiba2 didengarnya ada suara orang mengerang.
Rupanya suara erangan sianak muda tadi.
Tong Ko seorang anak muda yang ber-sungguh2.
Bukan melainkan wataknya saja yang keras, tapipun terhadap segala apa dia tentu mau tahu sampai jelas betul.
Dia tetap merasa getun telah menyebabkan anak muda tadi terperosok jatuh kebawah.
Menilik suara erangan tadi, jangan2 anak muda itu masih belum binasa.
Lain orang mungkin akan mencari jalan untuk menolongnya, tapi beda halnya dengan Tong Ko yang berpendapat begini.
"Kalau dia tak sampai terjatuh mati, masa aku dapat. Ah, seharusnya aku menolongnya !"
Dan sehabis berpikir begitu, tanpa ditimbang lebih jauh, dia segera ayunkan tubuh loncat kebawah.
Kiranya dalam lembah itu penuh diselimuti halimun tebal hingga selebih pada jarak setombak, Tong Ko tak dapat melihat apa2 lagi.
Kira2 tiga empat tombak meluncur kebawah, tiba2 tubuh Tong Ko kecantel oleh sebuah dahan puhun siong.
Dahan puhun itu me-lingkar2 kesamping sampai beberapa tombak luasnya dan kebenaran sekali dapat mengait tubuh Tong Ko tadi.
Tong Ko beranggapan bahwa tentulah pemuda itu juga kecantel disitu, tapi entah dimana.
Maka setelah memulangkan napas, dia lalu berseru pe-lahan2.
"Sahabat, kau dimana ................."
Belum habis Tong Ko menyerukan kata2nya, tring......, kedengaran bunyi kelinting melayang disusul dengan munculnya sianak sekolahan tadi yang menginjak pada sebuah dahan kecil sebesar jari tangan.
Tubuhnya lemah gemulai, makin mengunjuk gerakannya sangat lincah.
Oleh karena Tong Ko tak keburu menghindar lagi, maka dia terpaksa berjumpalitan, tangannya menyambar sebuah dahan terus ayunkan tubuh diatas puhun.
Ah......, tak kira kalau dia dapat berbuat begitu.
Kiranya dalam semalam saja, kini ilmunya lwekang dan mengentengi tubuh telah bertambah maju dengan pesat sekali.
Tapi anak sekolahan itu tak mau sudah.
Setelah meloncati dua buah dahan, dia susulkan lagi kim-leng (kelinting) menghantam jalan darah lo-tong-hiat didada Tong Ko.
Rantai kelinting itu karena digerakkan dengan lwekang, dapat menjadi lurus seperti sebatang pena.
Cukup dengan dorongan beberapa dim kemuka, dada Tong Ko pasti tertusuk dengan kelinting berduri itu.
Syukur dia berhenti sampai disitu saja dan nanya bertanya.
"Kau ini orang apa, mengapa terus2an hendak mengambil jiwaku? Aku sudah jatuh kebawah, masakan kau masih mengejar kemari?"
Memang Tong Ko sendiri heran pada dirinya, mengapa dia tak tega pada anak muda itu.
Sebaliknya orang yang dipikirkan itu.
begitu bertemu lantas mendamprat, dikira kalau mau dibunuh.
Ah, tentu dia salah faham, pikir Tong Ko.
"Sahabat, kau salah terka. Karena kedua orang limbung tadi telah mendesakmu jatuh kebawah, demi kudengar kau mengerang, hatiku tak enak lalu buru2 turun hendak menolongmul"
Tong Ko cepat2 menerangkan, sembari mengawasi lekat2 pada pemuda sekolahan itu.
Dilihatnya pakaian warna hijau dari anak itu sudah banyak yang rompang ramping tertusuk cabang puhun.
Sampai pun pada bagian pundak kiri kelihatan juga pakaiannya dalam.
Dilihati macam begitu, merah padam selebar muka pemuda itu.
"Mengapa kau mengawasi begitu rupa ............. oh, jadinya kau ini berhati baik?"
Teringat Tong Ko akan dirinya yang sering dibuat bulan2an orang, mengatakan dirinya itu cantik seperti seorang gadis.
Tapi diam2 dia memperhatikan gerak gerik pemuda sekolahan itupun menyerupal seorang gadis juga.
Rasa symphatinya makin besar.
"Asal kau bukan kaki tangan pemerintah Ceng, aku takkan kecewa datang kemari menolongmu,"
Katanya.
"Amboi, kau salah duga. Aku ini seorang kaki tangan Ceng, nah, kau mau apa?"
Ujar pemuda Itu dengan tertawa.
Tangannya menjulur dan duri kelintingpun mengancam Tong Ko.
Dalam gugupnya Tong Ko suruntukan dada, tangannya kiri menabas.
Tapi belum pukulan tiba, bagaikan seekor burung bangau tersentak kaget, pemuda itu sudah ayunkan tubuh hinggap pada sebuah dahan lain, kira2 setombak jauhnya.
Malah disitu dia perdengarkan suaranya ketawa mengikik.
Pukulan Tong Ko tadi, hanya mematahkan sebuah dahan.
Geram Tong Ko bukan kepalang demi mendengar pemuda itu seorang kaki tangan pemerintah Ceng.
Teringat dia akan "kopi pahit"
Yang ditelannya dari rombongan sikaki satu. Sin Tok, sehingga kini dirinya diasingkan oleh perserekatan orang gagah. Dia siapkan tangan kiri, tanpa hiraukan suatu apa lagi, dia terus menyerang lagi.
"Hai, mengapa kau juga seorang limbung?"
Tiba2 kedengaran pemuda itu berseru.
Tapi katena tak mendengarnya, tubuh dan pukulan Tong Ko tadi sudah tiba malah dia susuli lagi dengan tangannya kanan.
Dua buah pukulan lwekang yang berlainan gayanya, berbareng menghantam dan terpentallah kelinting orang itu sampai setengah meter.
Sebenarnya Tong Ko hendak ganti serangan lagi dengan lain jurus, tapi karena memangnya ilmu silatnya masih dangkal, jadi sekalipun dia telah memperoleh ilmu kesaktian yang mujijad namun temponya hanya dalam semalam, jadi biar bagaimana dia tetap tak berdaya.
Maunya sih hendak merobah gerakan, tapi kakinya malah terpeleset dan orangnyapun segera jatuh dihadapan pemuda sekolahan itu.
Pemuda itu menjerit kaget.
Jelas kelihatan oleh Tong Ko bahwa kalau mau, sebenarnya pemuda itu dapat menghantamkan kelinting durinya.
Tapi untuk keheranannya, pemuda itu malah ulurkan lengan kiri untuk menahan lengan Tong Ko supaya tak jatuh.
Seperti diketahui lengan kiri Tong Ko itu sudah dihembus dengan saluran lwekang Soa-kim-kong, jadi tenaganya kuat bukan kepalang.
Kebetulan lengan pemuda itu mencekal lengan kiri Tong Ko dan tanpa disadari, Tong Ko telah memberi reaksi meronta.
Begitu dahsyat tenaga yang ditimbulkan oleh gerakan Tong Ko itu, hingga terpaksa pemuda itu lepaskan niatnya untuk mencekal.
Dan oleh karena itu, Tong Ko tetap ngerusuk menjatuhi pemuda itu.
Tong Ko mengetahui jelas, bahwa pemuda itu tak bersikap bermusuhan.
Kuatir kalau mencelakainya, buru2 Tong Ko pentang tangannya untuk merangkul, dan terpeluklah pemuda itu didalam dadanya.
Tiba2 pemuda itu meronta se-kuat2nya.
Karena kehilangan keseimbangan badan, mereka berdua sama jatuh kebawah.
Syukur Tong Ko dapat bergerak dengan tangkas untuk menyambar sebuah dahan dibuat gandulan.
Demi dilihatnya pemuda sekolahan itu meluncur disebelah bawahnya, buru2 dia turunkan kakinya seraya berseru.
"Lekas, cekal kakikul"
Pemuda Itupun menurut dan tepat dapat menangkap kaki kiri Tong Ko. Dengan begitu, terhindarlah dia dari jatuh kebawah lembah.
"Hai...... sungguh berbahaya!"
Serunya dengan lega. Tong Ko pun kucurkan keringat dingin, ujarnya.
"Kalau tadi kau tak meronta se-kuat2 nya, tentu tak terjadi begini". Kembali muka sipemuda itu merah jambu, sahutnya.
"Kalau tadi kau tak main peluk, tentu tak terjadi begini!"
Tiba2 tersadarlah Tong Ko bahwa pemuda yang ditolongnya itu adalah seorang kaki tangan pemerintah Ceng.
Pemuda itu walaupun muda usianya, tapi memiliki kepandaian yang bagus.
Mungkin dia tersesat jalan, salah pilih.
Kalau dapat dia (Tong Ko) menginsyafkan, alangkah baiknya.
"Sahabat, siapakah namamu? Mengapa dapat berhamba pada pemerintah Ceng?"
Tanyanya dengan nada ber-sungguh2. Sepasang biji mata pemuda itu ber-kicup2, sikapnya aneh sekali.
"Entahlah, aku tak tahu sendiri. Sekali tak ber-hati2 lalu menjadi anak cucu kuku garudal"
Tong Ko terbeliak. Masakan ada orang menyebut anak cucu kuku garuda? "Sebenarnya bagaimanakah duduk perkaranya, bolehkah aku mengetahuinya?"
Tanyanya kemudian.
"Sudah tentu boleh. Ketika aku menuju ke Lo-hu-san hendak mencari seseorang, dilamping gunung aku berpapasan dengan dua orang lelaki gagah dan seorang pendek yang limbung. Sipendek itu mengatakan aku bukan orang baik. Nah, apa dayaku?"
Kata sipemuda sambil tertawa. Mendengar keterangan itu, berserulah Tong Ko dengan gembira.
"Ha, kiranya kau bukan seorang hamba penjajah!"
"Biarpun bukan hamba Ceng, tapi dikatakan bukan orang baik, juga sami mawon (serupa saja)!"
Sahut sipemuda pula.
"Tapi kau kan bukan kaki tangan pemerintah Ceng benar2 toh?"
Tong Ko balas tertawa. Dia malu sendiri, mengapa saking keliwat ber-hati2 dia sudah menyangka jelek pada orang baik. Ujarnya pula.
"Sahabat, jangan kau menertawaiku. Tadi aku sudah salah lihat, apalagi baru saja aku mendapat fitnahan dari gerombolan taylwe ko-thyiu (jagoan lihay istana Ceng), si Tok-kak-sin-mo Sin Tok dan-kawan2, makanya aku sampai kesalahan padamu tadi."
Tanpa diminta, Tong Ko lalu tuturkan apa yang telah dialaminya karena difitnah itu.
Perkampungan rakyat habis dibakar, Nyo Kong-lim dan putera bungsu Siau-beng-siang Tio Jiang binasa dan akhirnya dia harus menebus dosa disuruh loncat dari atas puncak gunung.
"Diantara sekian banyak orang, masakan tiada seorangpun yang mempercayai kejujuranmu?"
Tanya sipemuda dengan membelalakkan mata. Tong Ko menghela napas, sahutnya.
"Apa guna aku berdebat? Siapa yang sudi percaya padaku?"
"Aku!"
Serentak pemuda itu menyahut tanpa ragu2. Begitu tetap nada suaranya, hingga hati Tong Ko tergerak. Diam2 dia memikir.
"aku baru saja berkenalan dengan dia, apalagi tadi hampir saja kucelakai dirinya, tapi dia tetap percaya padaku. Ah....., sungguh jarang terdapat orang macam begitu. Sedang Tio In yang menyintai akupun rasanya belum tentu mau menaruh kepercayaan padaku".
"Kukuatir yang mau mempercayai diriku, hanya saudara seorang sajalah!"
Buru2 Tong Ko menyanggapi.
"Ah, usah main sungkan. Ayuh, kita naik keatas gunung atau turun. Kita harus lekas2 menetapkan rencana tak boleh terus menerus ter-katung2 disini"
Kata sipemuda.
Memang pada saat itu, Tong Ko sendiripun sudah rasakan boyoknya (pinggang) pegal karena diganduli oleh sipemuda.
Tapi tempat itu tepat ditengah angkasa, langit tidak bumipun bukan.
Jadi dia sendiri tak tahu bagaimana harus bertindak, Mereka berunding, tapi tetap tak dapat menemukan cara yang baik untuk menghindarkan diri Selagi keduanya dalam keputusan akal, tiba2 kedengaran ada suara cuwat-cuwit yang keras.
Dalam bebrapa kejab, entah ada berapa puluh ekor kera sama loncat menghampiri.
Pemuda itu mendadak tampak kegirangan dan mulutnya tak henti2-nya bersuit nyaring.
Nada suitan itu menyerupai dengan cuwat-cuwit kawanan kera tadi.
Pada lain saat, kawanan kera itu sama naik keatas puhun dan mengerumuni sipemuda.
Rupanya mereka sangat menyayanginya.
Ada beberapa ekor kera yang menggelandoti Tong Ko, hingga membuatnya mendongkol sekali.
Sudah hampir setengah harian, dia bergelantungan pada dahan sembari kakinya diganduli sipemuda, kini masih ditambahi beratnya lagi dengan kera2 itu.
Bukan saja makin berat, pun juga terasa keri (geli).
Berulang kali dia memaki2, namun kera2 itu tak menghiraukannya.
Sebaliknya sipemuda itu malah tertawa riang.
"Sahabat, rupanya kau dapat berbahasa kera, mengapa tak lekas2 menghalau mereka?"
Akhirnya saking tak kuat menahan kemengkalan hatinya, Tong Ko menggerutu.
"Ho, bukan saja tak menghalau malah hendak kusuruh mereka makin dekat kemari. Kawaran kera itu adalah piaraanku, coba kau lihat, menyenangkan tidak?"
Jawab sipemuda itu.
Tong Ko heran dibuatnya, masakan ada orang piara sekian banyak kera.
Diawasinya kawanan binatang itu dengan perdata.
Bulunya mengkilap ke-perak2an, matanya berwarna merah, tangannya luar biasa panjangnya.
Jumlahnya tak kurang dari tujuh sampai delapan puluh ekor.
"Kalau kau tak mau menghalau mereka, aku sungguh tak kuat bertahan lagi lo!"
Serunya dengan berang.
Sipemuda kembali bersuit keras dan se-konyong2 melayanglah dua ekor kera besar setinggi manusia, hinggap pada dahan situ.
Begitu kedua binatang itu tiba, kawanan kera kecil2 sama diam.
"Tay-gin, Siau-gin, lekas panggul aku dan sahabat itu turun gunung!"
Seru sipemuda. Salah seekor segera ulurkan lenngannya menyanggapi tubuh sipemuda terus dipanggul dipunggungnya. Sedang yang seekor lagi, hanya mengawasi Tong Ko saja tapi tak mau mengapa-apakannya.
"Binatang kurang ajar, orang itu adalah sahabatku, mengapa tak lekas dipanggul! Awas, nanti kuhajar kaul"
Seru sipemuda sekolahan.
Rupanya kera itu mengerti dan unjuk rupa ketakutan.
Sekali ulurkan tangan, Tong Ko sudah segera berada dipunggung bintang itu.
Pemuda itu kembali bersuit lagi dan kawanan kerapun sama cuwat-cuwit.
Kedua ekor binatang besar itu, walaupun memanggul orang, tapi gerakannya tetap lincah sekal.
Tong Ko hanya rasakan telinganya men-deru2 tersambar angin dan dalam bebrapa kejab saja, tibalah sudah mereka dibawah gunung.
"Coba, bukantah hebat kera piaraanku itu?"
Tanya sipemuda setelah loncat turun dari gendongan.
"Konon kabarnya kera gin-si-kau (kera bulu perak) hanya terdapat digunung Sip-ban-tay-san saja. Adakah kau ini berasal dari daerah yang sejauh itu?"
Tong Ko balas bertanya.
"Ya, benar,"
Sahut sipemuda dengan tertawa. Tong Ko makin heran.
"Cara bagaimana kau menempuh perjalanan dengan membawa sekian banyak kera itu?"
Tanyanya pula.
"Ai, benar2 aku tak memikir sampai disitu, kiranya tentu bakal merupakan suatu tamasya yang menggembirakan sekali. Kalini aku suruh mereka datang kemari sendiri, sayang, sayang!"
"Tapi mengapa kau tak segera datang ke Giok-li-nia dengan terang2an?"
Tong Ko mengulang tanya.
"Giok-li-nia banyak terdapat para orang gagah perwira, tapi tiada seorangpun dari mereka yang berpikiran waras. Buktinya, tiada seorang yang mau percaya akan penasaranmu. A h, aku tak sudi kesana!"
Hati Tong Ko tergerak, segera dia menjurah memberi hormat, ujarnya.
"Budi kebaikan anda itu, Tong Ko akan ingat se-lama2nya!"
Tapi sebaliknya pemuda sekolahan itu malah ketawa menggigil, sahutnya "Tingkah kecut, laku kecut!"
Tong Ko terkesiap.
Adanya dia tadi mengunjuk sikap sedemikian hormatnya karena mengingat pemuda itu rupanya seperti anak sekolahan.
Tapi mengapa dirinya dikatakan bertingkah laku kecut?
Adakah dia itu bukan seorang pelajar?
"Aku she The, bernama Ing."
Kata sipemuda setelah puas ketawa.
"Hai, mengapa seperti nama seorang anak perempuan saja!"
Tong Ko balas tertawa. Tapi sipemuda itu hanya ganda tertawa juga lalu alihkan pembicaraan, katanya.
"Jika Tong-heng tak mempunyai urusan apa2, mengapa tak ikut aku pesiar kepegunungan Sip-ban-tay-san. Dengan membawa sekawanan kera. itu dalam perjalanan, kita tentu mendapat kegembiraan besar!"
Tong Ko memberi anjuran supaya pemuda The Ing itu teruskan niatnya untuk menjumpai perserekatan orang gagah dari Lohusan, tapi rupanya pemuda itu tak mau.
Malah dia segera merajuk hendak lanjuntukan perjalanannya seorang diri, jika Tong Ko tak mau ikut.
Entah bagaimana, rasanya Tong Ko seperti ada ikatan bathin dengan The Ing itu.
Berat nian dia untuk berpisah.
"The-heng, kegunung Sip-ban-tay-san aku tak mempunyai hasrat. Kuberniat mencari suatu tempat sunyi untuk meyakinkan ilmu kepandaian. Kelak hendak kucari Tok-kak-sin-mo Sin Tok dan kedua saudara Shin itu. Kalau aku dapat meringkus mereka untuk kubawa ke Lo-hu-san, barulah aku dapat mencuci bersih namaku lagi!"
Akhirnya Tong Ko berkata.
"Bagus, kita pergi saja kekota raja. Biarkan kawanan kera Sip-ban-tay-san itu mendapat pengalaman dikota raja!"
Diluar dugaan sipemuda itu malah bertepuk girang.
Tong Ko diam2 mengeluh, tapi apa boleh buat.
Begitulah mereka sembari berjalan sembari pasang pembicaraan dengan asyik sekali.
Melintasi sebuah puncak gunung, tibalah mereka pada sebuah puncak yang menjulang tinggi diangkasa.
Sebuah dataran sempit terbentang ditengah.
Ketika Tong Ko hendak nasehati supaya The Ing jangan membawa kawanan kera itu, tiba2 didengarnya ada derap kaki kuda mendatangi dan suara jeritan anak perempuan.
Suara itu makin lama makin dekat.
Kawanan kera sama menyongsong kebelakang, sedang kedua ekor kera besar itu meringkik2 dengan suara yang aneh.
Kiranya sewaktu Tong Ko dan The Ing berpaling kebelakang, disana tampak ada 3 ekor penunggang kuda mencongklang dengan pesatnya.
Penunggang iang dimuka sendiri, bolang balingkan pian untuk menghantam kawanan kera gin-si-kau yang menghadangnya sehingga kera2 itu sama cuwat cuwit lari bubar.
Deru sambaran pian itu sangatlah serunya, menandakan bahwa orang itu berilmu tinggi.
Tong Ko terkesiap kaget, demi diketahuinya bahwa orang itu bukan lain adalah si Tok-kak-sin-mo Sin Tok, musuh lama yang hendak dicarinya itu.
Saking girangnya, dia sampai lupa untuk mengajak The Ing, tapi terus enjot tubuhnya lari menyerangnya.
Melihat ada seorang penyerang, Sin Tokpun menyambut dengan pian, tapi Tong Ko dengan beraninya segera menyambar pian itu.
Kini jelaslah sudah sikaki satu Sin Tok bahwa penyerangnya itu adalah Tong Ko.
Hem......, gila anak itu, masa berani menyanggapi pianku, pikir Sin Tok.
Dia segera kirim sebuah pukulan dan kebetulan pula tangan kiri Tong Kopun maju menghantam.
Plak......, ketika kedua kepelan itu saling beradu, sikaki satu terkejut bukan buatan.
Didapatinya tenaga pukulan anak muda itu hebat benar.
Buru2 dia kerahkan lwekang dan karena kurang latihan maka terpentallah Tong Ko sampai setombak jauhnya.
Tadi The Ing masih belum mengetahui telah terjadi hal apa.
Tapi demi dilihatnya Tong Ko terpental jatuh, buru-buru dia lari menghampiri.
Tepat pada saat itu, dua penunggang kuda yang dibelakang sikaki satupun sudah lewat disitu.
Kembali terdengar suara jeritan anak perempuan yang kini jelas berasal dari arah penunggang kuda yang paling belakang sendiri.
Demi Tong Ko mengawasi penunggang kuda itu, ternyata itulah Ce-cing-long Shin Hiat-ji.
Dengan sebelah tangan memegang kendali, sebelah tangan anak Itu mengepit seorang gadis.
Ditilik dari nada jeritannya tadi, pula dari bentuk tubuhnya, gadis itu tentulah Tio In adanya !
Mengapa Tio In dapat dilarikan pula oleh rombongan Hiat-ji, bukantah ia sudah dirampas balik oleh Tio Jiang dan dibawa Yan-chiu ke Lo-hu-san ?
Untuk jelasnya baiklah kita mundur dulu pada kejadian dua hari berselang.
Pada malam itu Tio Jiang dan Yan-chiu segera lakukan pengejaran pada rombongan Sin Tok bertiga.
Setelah kesusul, sepasang suami isteri itu segera mainkan pasangan ilmupedang to-hay-kiam-hwat dan hoan-kang-kiam-hwat.
Yan-chiu memapas kaki belakang dari kuda Hiat-ji.
Saking kagetnya Hiat-ji segera lempar karung yang berisi Tio In kebelakang, hingga hampir saja ujung pedang Yan-chiu mengenai puterinya seadiri.
Syukurlah Tio Jiang dapat berlaku sebat untuk menyambar karung itu lalu loncat mundur jauh-jauh.
Adalah karena keayalan itu, sikaki satu dan kedua saudara Shin dapat keprak kudanya untuk lolos.
Tio Jiang dapat menolong anaknya tapi tak berhasil menghadang ketiga musuhnya itu.
Sebagaimana telah dipaparkan diatas, Yan-chiu segera bawa Tio In naik ke Lo-hu-san sedang Tio Jiang lalu mencari Tong Ko.
Kini diceritakan halnya sikaki satu setelah lolos jauh.
Dia tak henti-hentinya sesalkan Hiat-ji mengapa dalam beberapa gebrak saja sudah lemparkan Tio In yang berarti kehilangan suatu umpan bagus untuk menjebak Tio Jiang datang kekota raja.
Sebagai anak muda, darah Hiat-jipun panas.
Apalagi sewaktu kecilnya dia telah memperoleh keajaiban (dipiara induk harimau), tenaganya besar dan dapat pula meyakinkan ilmu silat yang tinggi.
Dengan memiliki andalan itu, dia memang tak memandang pada orang lain lagi.
Disesali oleh sikaki satu, dia balas ketawa sinis, serunya mengejek .
"Lo Sin, mengapa kau sendiri tak mau balik bertempur tapi sebaliknya lari tunggang langgang ?"
Saking marahnya sikaki satu sampai tak dapat berkata apa-apa.
Kalau tidak dipisah oleh Soh-hunciang Shin Leng-siau mungkin dia sudah berkelahi dengan Hiat-ji.
Tapi si Hiat-ji tetap tak marah, tawar-tawar saja dia berseru .
"Aku tak percaya, hanya dikarenakan Siau-beng-siang Tio Jiang seorang saja, kita harus ramai-ramai menangkapnya. Oleh karena mereka sama berkumpul di Lo-hu-san, maka aku hendak pergi kesana seorang diri. Andaikata tak berhasil menangkap Tio Jiang, sekurang-kurangnya aku tentu berhasil menawan Tio In untuk mengganti kerugianmu."
Habis berkata itu, dia terus cemplak kudanya dilarikan sekeras-kera saya.
Melihat adiknya hendak menerjang kubangan naga sarang harimau di Lo-hu-san, Shin Leng-siau buru-buru menyusul hendak mencegahnya.
Juga Sin Tok teringat bahwa kaisar Kong Hi, sangat sayang sekali kepada anak luar biasa itu.
Kalau sampai Hiat-ji mengalami apa-apa dan dia pulang seorang diri kekota raja, pasti sukarlah untuk memberikan pertanggungan jawab kepada kaisar.
Apa boleh buat, diapun bergegas-gegas menyusulnya.
---odwkzo0otaho---BAGIAN 07 .
TERTANGKAP LAGI Setiba dikaki gunung Lo-hu-san, Hiat-ji tak segera mendaki ke Giok-li-nia.
Demi dilihatnya puncak itu menjulang dengan megahnya, demi teringat bahwa dipuncak situ berkumpul sejumlah besar orang gagah, timbul juga keragu-raguannya.
Tapi tadi dia sudah sumbar-sumbar dimuka Sin Tok untuk menawan Tio In.
Kalau saja hal itu tak terlaksana, bukantah dia tak mempunyai muka untuk bertemu orang lagi ?
Pikirnya nanti setelah hari gelap, dia hendak mengadakan penyelidikan ke Giok-li-nia.
Diperhitungkannya bahwa apabila mengambil jalanan besar, tentu akan berpapasan dengan kawanan regu penjaga.
Maka dia lalu mengitari puncak itu untuk coba-coba mencarl sesuatu jalan pendek kepuncak sana.
Tapi ternyata keadaan puncak Giok-li-nia itu amat berbahaya sekali.
Hiat-ji sudah mengitari satu kali dan haripun sudah gelap, tapi tetap dia belum menemukan jalan pendek yang dikehendaki itu.
Dengan uring-uringan dia terpaksa duduk disebuah batu besar untuk memikirkan daya.
Malampun makin kelam.
Hiat-ji sudah ambil putusan untuk naik kepuncak dengan ambil jalan besar saja.
Sekonyong-konyong dalam kegelapan malam itu, terdengarlah suara tangisan seseorang.
Pada lain saat tampak sesosok tubuh yang langsing berjalan mendatangi.
Sembari berjalan, orang itu terisak-isak menangis.
Bermula Hiat-ji terperanjat sekali karena mengira yang datang itu adalah seorang sakti dari kalangan persilatan.
Tetapi serta sudah dekat, girangnya bukan buatan.
Kiranya itulah si Tio In, jadi pucuk dicinta ulam tiba namanya.
(Pucuk yalah daun muda, ulam adalah daun pupus yang lebih muda lagi.
Kiasan ini berarti, mendapat sesuatu, lebih dari apa yang diharapkan).
Sebenarnya Hiat-ji sudah segera hendak ayun tubuhnya menyergap anak gadis itu, tapi terkilas lain pikiran padanya, jangan-jangan orang Lo-hu-san sudah mengetahui gerak gerik kedatangannya dan kini tengah memasang suatu perangkap untuk menangkapnya.
Terpaksa dia sabarkan diri untuk menunggu sebentar.
"Ko-ko...., Ko-ko....!"
Sembari berjalan menangis itu Tio In tak henti2nya mengucapkan nama Tong Ko.
Sebentar2 ia celingukan kesana sini, se-olah2 seperti hendak mencari orang.
Hiat-ji menguntit dibelakangnya.
Dan oleh karena selama itu tiada lain perkembangan lagi, nyalinya pun besar.
Serunya dengan halus.
"Nona In!"
Seperti telah diceritakan, kala itu Tio In sedang mencari jenazah Tong Ko yang dikiranya tentu sudah binasa terjun dari atas puncak itu.
la tak mengetahui sama sekali bahwa saat itu sebenarnya Tong Ko berada diatas batu datar, tengah dibuat rebutan oleh Soa-kim-kong dan Sik Lo-sam.
Sudah tentu Tio In tak dapat menemukan jenazahnya.
Maka kesana-sini ia mencarinya terus, sembari menangis ter-lara2.
Sewaktu tiba2 mendengar orang menyebut "nona In", bukan buatan girangnya.
Itulah Tong Ko tentu, demikian pikirnya sembari berpaling kebelakang.
Perawakan Hiat-ji hampir sama dengan Tong Ko, dalam kegelapan malam yang pekat, Tio In yang diliputi oleh rasa girang itu segera berseru.
"Ko-ko.....!"
Sembari terus songsongkan dirinya kedada Hiat-ji.
Hiat-ji memeluknya, tangannya ditaruh diatas pundak Tio In untuk menekan jalan darah jip-tong-hiat, salah satu jalan darah berbahaya dari tubuh manusia.
Namun tetap Tio In tak tersadar, malah susupkan kepalanya kedada Hiat-ji seraya merajuk macam anak manja.
"Ko-ko, kukira dalam penghidupan sekarang ini kita tak dapat berjumpa lagi, ah, tak nyana kalau masih dapat mengalami seperti harini!"
Hiat-ji ingin lekas2 membawa pergi sang kijang, karena dikuatirkan apabila dirinya ketahuan bukan Tong Ko tentulah nona itu akan berontak.
Benar dia tak kuatir nona itu bakal lolos, tapi se-kurang2nya tentu menghambat tempo juga.
Sementara itu walaupun sang "Tong Ko"
Tak menyahut, tetap Tio In belum tersadar akan kekhilafannya, katanya pula.
"Ko-ko, untuk sementara waktu seyogyanya kau tinggalkan tempat ini dahulu untuk mencari guru yang sakti. Kira2 nanti dua tahunan lagi, kau kembalilah kemari untuk menebus kesalahan dengan pahala..."
Berkata sampai. disini, Tio In tengadahkan kepalanya dan betapalah terkejutnya, dapat pembaca bayangkan sendiri. la ter-longong2 sampai sekian saat tak dapat berkata apa2.
"Kau...... kau ini siapa?' Hiat-ji tertawa, sahutnya.
"Harap nona jangan takut, aku Shin Hiat-ji, orang menjuluki sebagai Ce-cing-long!"
"Ha......., jadi kau adalah penjahat yang turut membinasakan adikku?I"
Tiba2 Tio In teringat akan nama Itu.
"Ah, kalau siang2 kami tahu nona seorang yang berperasaan halus, pasti kami takkan begitu ganas!"
Cepat2 Tio In menyurut kebelakang, tapi jari tengah tangan kiri Hiat-ji sudah melekat dijalan darah jip-tong-hiatnya.
Begitu ia mundur kebelakang, segera ia rasakan bahunya kesemutan.
Tahulah ia kini, kalau dirinya sudah dikuasai musuh.
Saking gusarnya, ia kalap menghantam muka Hiat-ji se-kuat2nya.
Tapi lagi2, siku tangannya sudah dicengkeram Hiat-ji dengan jurus sian-kinna-chiu.
Kini Tio In tak berdaya lagi.
"Kau kau hendak bagaimana?"
"Hendak ajak nona pesiar kekota raja!"
Sahut Hiat-ji tertawa.
Saking geramnya, Tio In semburkan ludahnya kemuka orang.
Buru2 Hiat-ji tundukkan kepalanya untuk melindungi muka, tapi karena jaraknya sangat dekat, jadi ludah itu tepat mengenai batok kepalanya, malah hampir saja tepat pada jalan darah peh-hui-hiat.
Sudah sejak kecil mula, Tio In belajar silat, jadi lwekangnyapun tinggi.
Semburan ludah tadi, ia iring dengan tiupan lwekang.
Sekalipun kepandaian Hiat-ji lebih tinggi darinya, tetapi tak urung dia merasakan kesakitan juga.
Sudah tentu dia gusar sekali.
"Siau-ya menghargakan dirimu, sebaliknya kau begitu kurang ajar! Kalau masih melawan, tentu kuhabisi jiwamu. Apa kau anggap aku ini tak lebih jempol dari kekasihmu si Tong Ko itu?"
Bentaknya.
Disamping mendapat latihan silat, pun Tio In dididik ayahnya dengan budi perilaku yang luhur.
A palagi dalam se-hari2-nya ia selalu bergaul dengan para orang gagah yang berwatak ksatrya, jiwa patriotnya sudah mendarah daging dalam sanubarinya.
"Fui....., kau seorang budak Ceng yang tak punya muka, perlu apa banyak bacot!"
Kalini Hiat-ji hanya mengangkat bahu, sahutnya dengan mengejek.
"Aneh bin ajaib, nona secerdas kau mengapa bisa menyintai seorang Tong Ko. Apakah dia itu tak sealiran dengan aku? Nona In, Tong Ko berkepandaian dangkal, kalau dijajarkan dengan kau, laksana lumpur dengan salju bedanya. Lebih baik kau ikut aku kekota raja saja.. untuk menunggu kunjungan ayah bundamu. Kalau mereka itu tahu diri, dapatlah kita bersama menjadi menteri kerajaan. Bila mereka membangkang itupun sudah takdir Ilahi, aku tetap akan menyediakan diri agar kau tak mendapat suatu gangguan apapun"
Kata2 Hiat-ji makin melantur tak keruan, namun Tio In tak dapat mencari jawaban.
Tanpa menunggu jawaban orang lagi.
Hiat-ji terus ringkus Tio In untuk dikempitnya.
Tio In hendak meronta, tapi tak berdaya, karena jalan darahnya sudah tertutuk.
Girang Hiat-ji me-luap2, sehingga saking kesusunya dia sudah dapat mengetahui bahwa si kaki satu Sin Tok dan Shin Leng-siau tengah menyusulnya.
Begitu keluar dari gunung, segera didengarnya dijalanan sana ada suara senjata beradu.
Letikan apinya jelas kelihatan dimalam yang kelam itu.
Rupanya ada orang bertempur dengan seru.
Hiat-ji memiliki mata yang luar biasa tajamnya.
Dalam tempat yang bagaimanapun gelapnya, dia tetap dapat melihat dengan jelas.
Dia buru2 menghampiri dan didapatinya Tok-kak-sin-mo Sin Tok tengah mainkan sepasang kapak, tengah bertempur dengan seorang kate yang bergegaman golok.
Sedang Shin Leng-siau sedang dikeroyok oleh dua orang muda, dan tampaknya sudah kewalahan.
Keras dugaan Hiat-ji, bahwa ketiga lawan itu tentulah orang persilatan yang anti pemerintah Ceng, kemungkinan besar anggauta perserekatan Lo-hu-san.
Sebenarnya sudah berpuluh tahun penjajah bangsa Boan Ceng, menduduki wilayah Tiongkok.
Rakyat diseluruh negeripun sudah sama memelihara kuncir, menuruti peraturan yang diundangkan oleh pemerintah penjajah tersebut.
Adalah untuk keleluasaan bergerak, maka para kaum patriot terpaksa mengenakan juga kuncir.
Tapi apabila berada ditempat yang sepi, mereka tentu menggulung rambut itu.
Ketika orang itu tadipun menghias rambutnya dengan cara begitu.
"Jangan takut, aku datang!"
Seru Hiat-ji sembari lepaskan Tio In, lalu loncat menyerang.
Belum orangnya tiba, dia sudah gerakkan dua buah serangan.
Salah seorang pengeroyok kakaknya yang bersenjata golok, telah kena direbut senjatanya terus ditendang keluar.
Kawannya dengan menggerung keras maju merangsang, tapi kena didesak mundur oleh Hiat-ji.
Dalam kesempatan itu, Hiat-ji melirik kearah sikaki satu yang rupanya difihak unggul.
Teringat akan olok2 si kaki satu kemarin, timbullah kebenciannya.
Segera dia putar sepasang golok itu lalu dilemparkan diudara.
Setelah melingkar sebentar, golok itu meluncur kearah batok kepala si kaki satu.
Pada saat itu si kaki satu sudah diambang kemenangan, maka betapa kejutnya ketikz tahu2 ada sepasang golok menyambar.
Tring, tring, buru2 dia menangkis dengan kapak, tapi diam2 dia terkejut demi diketahui betapa dahsyat kekuatan golok itu.
Timbul dugaannya kalau2 Hiat-ji yang melakukan, tapi oleh karena gerakan anak itu tak dilihatnya, jadi tak berani menetapkan dakwaan.
Namun tetap dia menaruh kesangsian.
Adalah karena sedikit renungan itu, gerakannya agak ayal dan kesempatan itu digunakan oleh si kate untuk menabasnya.
Untunglah si kaki satu cukup lihay.
Begitu menggeliatkan tubuh, dia hantam tangkai golok penyerangnya, trang.......
si kate rasakan tangannya panas kesakitan.
Berbareng dengan itu, sikaki satu teruskan membabat.
Tak ampun lagi, rubuhlah sikate tiada bernyawa lagi.
Kedua orang muda tadipun segera loncat untuk....
lari tunggang langgang.
Hiat-ji tak mau mengejarnya, melainkan menghampiri Tio In untuk diambilnya.
"Sin toako, anak perempuan Tio Jiang, sudah berada disini!"
Ujarnya dengan dingin.
Sin Tok mengawasi lekat2 dan memang benar seperti yang dikatakan oleh anak itu.
Dalam hati dia mengiri dan mendongkol, namun lahirnya mau juga dia menghamburkan pujian.
Demikian diam2 diantara kedua orang itu terdapat jurang permusuhan gelap.
Shin Leng-siau yang hanya mendengari saja sejak tadi, kini segera usulkan supaya lekas2 berangkat, karena kedua orang muda yang lolos tadi tentu akan melapor ke Lo-hu-san.
Begitulah ketiganya segera cemplak kuda dilarikan se-kencang2nya.
Tapi karena tak faham jalanan, maka semalam suntuk mereka melarikan kudanya, ketika terang tanah didapatinya kalau masih berada didaerah Lo-hu-san.
Rupanya mereka tersesat jalan.
Makin cemas, makin tak dapat mereka menemukan jalanan yang sebenarnya.
Apa boleh buat, Tio In terpaksa dibuka jalan darahnya dan disuruhnya mengunjukkan jalan.
Tetapi bukannya menerangkan jalanan, sebaliknya nona itu malah men-jerit2 dengan keras.
Sudah tentu mereka jengkel dibuatnya, karena biar bagaimana tak dapat membunuh "umpan"
Yang berharga itu.
Terpaksa nona itu diringkus, lalu dibawa kabur lagi.
Tiba2 disebelah muka sama tampak ada sekawanan kera.
Kesanalah mereka bertiga menerjangnya.
Begitulah tadi, sikaki satu berada paling depan sendiri, begitu berhasil merubuhkan Tong Ko, dia terus keprak kudanya kemuka.
"Tong-heng, siapa ketiga orang itu, mengapa mereka begitu kurang ajar?"
Tanya The Ing.
"Itu dianya si Tok-kak-sin-mo Sin Tok, ayuh lekas kejari"
Sahut Tong Ko dengan gugup. The Ing terperanjat, tapi ketiga orang itu sudah jauh. Kecuali memiliki ilmu mengentengi tubuh yang lihay, tak mungkin untuk mengejarnya.
"Ah, tak, mungkin mengejarnya, lebih baik kita susul mereka kekota, raja!"
Serunya. Wajah Tong Ko tampak ber-sungguh2, ujarnya.
"The-heng, memang kita harus mengejarnya. Entah bagaimana, nona In telah diculik lagi oleh si Ce-cing-long Shin Hiat-ji!"
"Nona In? Siapa ia?"
The Ing terkesiap kaget. Dalam saat itu, Tong Ko tak mau menerangkan panjang lebar, maka dengan ringkas saja dia menyahut.
"Sudah lama aku saling mencinta dengan dia, jadi tak dapat kuberpeluk tangan melihatnya diculik orang!"
Se-konyong2 wajah The Ing berobah pucat dan ter-mangu2 sampai sekian saat.
"Kita sendiri tak nanti dapat mengejar, kecuali menyuruh si Toa-gin dan Siau-gin!"
Akhirnya dia berkata dan lalu bersuit. Sekejab saja kedua ekor kera besar itu melayang datang.
"Bawalah rombongan kera untuk mengejar ketiga penunggang kuda itu! Ingat, jangan melukai nona itu!"
Kata The Ing sembari menunjuk kemuka.
Kedua binatang itu meringkik nyaring, sekali tubuhnya bergerak, mereka sudah berada tiga empat tombak jauhnya.
Rombongan kera kecilpun sama cuwat-cuwit ber loncat2an lari dengan pesat sekali.
Dalam sekejab sadia, tampak disebelah muka ber-puluh2 letikan perak berlincahan dan pada lain saat sudah menghilang tak kalihatan lagi.
"Sekalipun ketiga orang tadi berkepandaian tinggi, tapi dikejar oleh kawanan kera tentulah akan tertahan untuk beberapa waktu. Ayuh, kita lekas2 susul mereka. Hem....., jangan kuatir Tongheng, jantung hatimu tentu takkan kena apa?"
Jelas tampak oleh Tong.
Ko bahwa ketika mengucapkan kata2nya itu, wajah The Ing agak pucat dan nadanya sember.
Tetapi karena pentingnya urusan itu, jadi tak sempat dia untuk menanyakan sebabnya.
Ketika keduanya tengah lari, tiba2 dari arah belakang terdengar orang berseru nyaring.
"Siapa itu, harap berhenti dahulu!"
Nada suaranya begitu menggema hingga sampai berkumandang keseluruh penjuru, menandakan lwekang orang itu telah mencapai tingkat kesempurnaan.
Ketika Tong Ko dan The Ing berpaling kebelakang, sesosok tubuh telah melayang tiba dihadapan mereka.
Hai, kiranya seorang wanita dari pertengahan umur, mencekal sebatang pedang yang berkeliau2an sinarnya.
Tapi begitu melihat Tong Ko, wanita itu segera membentaknya dengan murka.
"Ho, kiranya kau, bangsat!"
Berbareng dengan dampratan itu, tangan siwanita segera gerakkan pedang menyerang Tong Ko, siapa sudah tentu menjadi terkejut sekali.
Tetapi kala dia hendak menghindar kebelakang, tring......, terdengarlah benturan dua batang pedang.
Ketika diawasi, ternyata disitu terdapat pula seorang lelaki yang bukan lain Siau-beng-siang Tio Jiang adanya.
Sedang wanita tadi, yakni Hui-lay-hong Yan-chiu.
"Tentu dialah yang mengajak kuku garuda untuk menculik Inji. Mengapa lagi2 kau mencegati?"
Yan-chiu dengan merah padam menegur suaminya. Belum Tio Jiang menyahut, The Ing sudah mendahului.
"Kalau tak salah kalian ini tentulah sepasang suami isteri Siau-beng-siang Tio Jiang. Begitu harum nama kalian dikalangan persilatan, disana sini orang sama mengindahkan, tetapi sungguh tak nyana kalau ternyata adalah orang yang tak dapat membedakan hitam putih!"
Sebenarnya bukan demikian watak perangkai Yan-chiu.
Adalah karena kehilangan putera kesayangannya, ia sampai begitu rupa membenci Tong Ko.
Ini dapat dimaklumi bagi seorang ibu.
Maka begitu melihat Tong Ko, tanpa tanya ba atau bu lagi, ia terus menyerangnya.
Apalagi tadi mereka sudah hampir dapat mencandak rombongan si kaki satu, atau tiba2 Tong Ko menghadang di tengah jalan.
Bahwasanya Tong Ko ternyata belum binasa, telah mendorong Yan-chiu pada kesimpulan kalau anak muda itulah yang mengadiak rombongan Sin Tok ke Lo-hu-san lagi untuk melakukan penculikan.
Kata2 The Ing tadi makin menambah minyak pada api kemarahan Yan-chiu.
"Kau ini siapa?"
Tanyanya dengan geram.
"Kau katakan sendirilah!"
Sahut The lng sembari ter-tawa2.
"Telur busuk, siapa yang sudi kau ajak main tebak!"
Dalam marahnya Yan-chiu terus balingkan pedangnya.
Melihat belum lagi wanita itu membuka serangan, perbawanya sudah sedemikian garang apalagi pedang yang dicekalnya itu terang bukan sembarang pedang, maka menyurutlah The Ing dua tindak kebelakang.
"Ha, kiranya Hui-lay-hong benar2 seorang yang tak kenal aturan. Keterangan Tong-heng tadi, memang tak salah!"
Serunya dengan sengit.
"Huh, bangsa tikus buduk tentu saling mempercayai!"
Balas Yan-chiu. Melihat isterinya bertengkar, Tio Jiang segera berseru.
"Yan-chiu, sudahlah jangan buang waktu, ayuh kejar kuku garuda yang membawa In-ji itu !"
Yan-chiu mengiakan.
"Untuk sementara, kuberi kemurahan berdua!"
Serunya kepada Tong Ko dan The Ing, lalu melesat menyusul suaminya.
---oodwkz^0tah^oo---BAGIAN 08 .
ORANG ANEH DALAM GOA Saking marahnya wajah The Ing menjadi pucat lesi.
Dengan uring2an dia tumpahkan kemarahannya kepada Tong Ko.
"Hm...., karena gara2mu, aku telah dihina orang. Apabila Toa-gin dan Siau-gin sampai terluka, akan kuminta pertanggungan jawabmu!"
Tong Ko tak dapat menjawab. Lewat beberapa menit kemudian baru dia dapat berkata.
"The-heng, harap jangan marah. Hui-lay-hong adalah kaum wanita, mengapa kita harus berpikiran cupat seperti ia?"
The Ing tertawa, ujarnya .
"Ia seorang perempuan, apakah aku ini........"
Berkata sampai disini, ia seperti kelepasan omong, lalu buru2 memandang kemuka, serunya .
"Hai, kedua suami isteri tadi sudah jauh, ayuh kita lekas2 menyusulnya !"
Begitulah keduanya segera terbangkan kakinya.
Benar ilmu mengentengi tubuh mereka tak selihay Tio Jiang dan Yan-chiu, namun merekapun dapat berlari dengan pesatnya.
Sekarang marilah kita ikuti Toa-gin dan Siau-gin yang mengepalai rombongan kera kecil untuk mengejar sikaki satu bertiga.
Seharusnya kawanan bnatang itu tentu sudah dapat menyusul rombongan Sin Tok, tapi anehnya sampai hampir dua jam lebih Tong Ko dan The Ing berlari, hingga sampai keluar daerah Lohu-san mereka tetap tak menjumpai barang seorangpun jua.
Dari sebuah jalanan besar sampai kejalanan yang sempit kecil baik kawanan kera maupun suami isteri Tio Jiang dan Yan-chiu, tak tampak bayangannya.
Heran Tong Ko dibuatnya.
Jalanan yang melintang dari lembah gunung itu hanya sebuah saja, jadi tak mungkin kalau dia kesasar.
Juga The Go berpikiran serupa.
Dia lalu bersuit se-keras2nya.
Suaranya melengking berkumandang, tetapi tiada penyahutan sama sekali.
"Aneh, suitanku ini dapat terdengar sampai 7 atau 8 li jauhnya, Toa-gin dan Siau-gin tentu mendengarnya dan pasti akan kemari. Adakah mereka dicelakai si Tok-kak-sin-mo", katanya sambil menatap kearah Tong Ko. Teringat akan kata2 anak muda itu "kalau binatang itu sampai terkena apa2, akan kuminta pertanggungan jawabmu", Diam2 Tong Ko mengeluh. Bagaimana dia nanti akan mengganti binatang itu? "Kawanan kera gin-si-kau itu luar biasa tangkasnya, rasanya pasti takkan terkena apa2,"
Dia menghibur sang kawan dan juga menghibur dirinya sendirl.
Tiba2 terdengar suara cuwit dari arah belakang.
Ketika keduanya berpaling kebelakang, tampak ada sebuah benda besar mengeluarkan cahaya perak tengah mendatangi.
"Siau-gin, kau terluka ?"
Seru The Ing dengan terperanjat demi benda itu sudah dekat.
Juga Tong Ko tak kurang kagetnya.
Memang benda Itu bukan lain adalah Siau-gin, Itu salah seekor kera gin-si-kau yang besar.
Disana sini bulunya tampak rebah berdiri tak teratur, penuh berlumuran darah.
Darah itu masih merah, jadi menandakan kalau luka itu masih baru.
Begitu melihat The Ing, binatang itu terus men-cuwit2 tak henti-hentinya seraya maju menghampiri.
Sepasang matanya meneteskan dua butir air mata.
The Ing cepat memeriksa lukanya dan serentak banting2 kaki, serunya ."Siapa yang melukai kau ?"
"Siau-gin, telah terjadi apa saja, apa kalian sudah dapat menyusul ketiga orang itu ?"
The Ing ulangi lagi pertanyaannya.
Kera itu gerak-gerakkan kaki tangannya seraya bercuwat-cuwit, menerangkan pada tuannya.
Oleh karena kepingin tahu; maka Tong Ko lalu menanyakan halnya kepada The Ing.
"Kata Siau-gin, waktu mereka mengejar sampai ditengah jalan telah dilasso oleh seorang aneh yang memaksa mereka mengerjakan perintahnya. Toa-gin membangkang, lalu digantung dan dirangket. Dia nekad melarikan diri dengan berlumuran luka2 !"
"Kawanan kera itu luar biasa larinya, bagaimana dapat ditangkap oleh orang itu ?"
Tanya Tong Ko.
"Akupun juga heran sendiri. Siau-gin, ayuh bawa kami ketempat orang aneh itu I"
Kata The Ing kepada kera besar itu. Kera itu berjalan kemuka, tapi baru bebrapa tindak dia sudah berpaling kebelakang seraya cuwat-cuwit.
"Ngaco, biarpun malaekat dari langit, aku tetap akan menemunya !"
Bentak The Ing pada piaraannya.
Kemudian The Ing menerangkan pada Tong Ko bahwa turut kata Siau-gin, orang itu teramat lihay karena mempunyai sebuah pian panjang (tiang-pian) "Luka2 dibadannya itu, disebabkan karena hajaran pian orang Itu.
Siau-gin lebih suka menderita daripada, membawa kita ketempat bahaya itu,"
Kata The Ing. Tong Ko kagum juga atas kesetiaan binatang kera itu. Sembari mengelus-elus bulu perak Siau-gin, dia bertanya .
"Siau-gin, jangan kuatir. Sekalipun kita terjerumus dalam bahaya, tetap kita hendak mencarinya. Adakah kau tahu kemana larinya ketiga orang itu ?"
Siau-gin membelalakkan matanya, lalu cuwat-cuwit beberapa kali.
Adalah The Ing yang menerangkan pada Tong Ko bahwa belum berapa jauh kawanan kera itu mengejar, tiba-tiba terpegat oleh siorang aneh itu.
"Heran, itu waktu kita tengah berbicara dengan Hui-lay-hong Yan-chiu, biasanya kera itu buas sekali. Begitu ada orang hendak menangkapnya, mereka tentu ber-teriak2 riuh rendah. Tapi mengapa kita sama sekali tak mendengarnya ? Ah, sudahlah, Siau-gin, ayuh lekas tunjukan kita kepada orang itu !"
Bermula kera itu tetap mengawasi kepada kedua anak muda itu, seolah-olah dia enggan mengantarkan.
Tapi setelah didesak oleh The Ing, akhirnya terpaksa dia pergi juga.
Sejam lamanya berjalan, kiranya mereka menjurus kejalan tadi, balik kembali kearah lembah.
Tiba-tiba Siau-gin membiluk kesebelah kanan dan menjurus kesebuah lembah mati (buntu).
Oleh karena Tong Ko sudah agak lama tinggal dl Lo-hu-san, jadi dia ketahui juga kalau jalanan itu buntu adanya.
"Siau-gin, kau salah jalan !"
Serunya.
Tapi binatang itu tak menghiraukan, tetap berjalan kemuka.
Dia langsung masuk kedalam sebuah gua yang tiba cukup untuk dimasuhi tubuh seseorang.
Didalam situ, ternyata dikelilingi oleh puncak2 gunung yang tinggi.
Hanya ditengah-tengahnya terdapat sebuah dataran seluas beberapa tombak.
Dataran itu penuh ditumbuhi dengan bunga warna-warni yang aneh.
Dari atas salah sebuah karang tinggi, terdapat sebuah air terjun yang mengalir kebawah.
Air terjun itu tak seberapa besarnya, alirannyapun tak deras.
Tiba diair terjun tersebut.
Siau-gin lalu menuding kemuka dan cuwat-cuwit tak keruan.
"Tong-heng, kata Siau-gin orang aneh itu berada dibalik air terjun. Jangan2 ini merupakan goa Cui-lian-tong dart gunung Hoa ko-san ?"
Kata The Ing. Cui-lian-tong gunung Hoa-ko-san adalah tempat kediaman simonyet sakti Kau Ce-thian dalam cerita See Yu.
"Ah, biarkan. Ayuh kita masuk sajalah !"
Seru Tong Ko.
Diambilnya dua buah batu sebesar kepalan tangan, lalu bergantian tangan kanan dan kirinya melemparkan kedalam air terjun.
Air terjun yang terpecah dalam 3 pancuran itu, walaupun tak deras alirnya, tapi karena tebaran airnya cukup tebal jadi apa yang terdapat dibelakangnya, tak dapat kelihatan jelas.
Tong Ko memperhitungkan apabila dibalik air terjun itu terdapat seseorang atau goanya, tentulah akan menimbulkan sesuatu reaksi.
Tapi ternyata sampai sekian saat, keadaan tetap hening saja.
Tapi selagi Tong Ko dan The Ing keheranan, se-konyong2 dua buah batu tadi melayang balik dari balik air.
Bahkan melayangnya jauh lebih dahsyat dari timpukan Tong Ko tadi, sehingga waktu menobros air suaranya sangat keras sekali dan setelah meluncur keluar lalu pecah menjadi bebrapa potong.
Dan bagaikan mempunyai mata, batu2 itu melayang kearah kedua anak muda itu.
Sudah tentu Tong Ko dan The Ing menjadi terperanjat.
Tahulah sudah mereka bahwa didalam air terjun itu benar2 terdapat seseorang.
Dengan gugupnya, mereka berdua segera loncat menghindar.
Anehnya ketika bebrapa potong batu itu mengenai batu karang, ternyata suaranya berat (tidak nyaring).
Ketika diperiksa oleh keduanya, astaga, batu2 itu sama menancap masuk kedalam karang.
Bagaimana lihay lwekang orang itu, dapat dibayangkan.
"Hai...., lihay benar ! Tentulah seorang sakti yang menghuni didalam goa. Dia tentu marah karena lemparan batu tadi !"
Seru The Ing. Tetapi sebaliknya Tong Ko kurang puas dengan tindakan orang yang begitu ganas itu, walaupun dia merasa tadi telah berlaku kurang sopan. Dia hanya mengiakan keterangan The Ing itu.
"Maka kita harus menghaturkan karcis kunjungan!"
Kata The Ing, lalu berpaling diri menghantam sebuah dahan puhun.
"The-heng, hendak apa kau?"
"tanya Tong Ko dengan heran.
"Lihat sajalah!"
Sahut The Ing lalu memutus dahan itu hingga menjadi setengah meter panjangnya. Dengan jari telunjuk dia menggurat dahan itu dengan tulisan yang berbunyi begini.
"Kita tak saling kenal, mengapa merampas kera, mohon berkunjung The Ing. Kini baru tahulah Tong Ko. Oleh karena dia bukan seorang yang takut urusan, maka dimintanya supaya namanyapun ditulis juga.
"Apa kau tak takut?"
Tanya The Ing.
Tong Ko tak menyahut hanya menyambar potongan kayu ditangan kawannya itu.
Dilihatnya guratan pada kayu itu hampir setengah dim dalamnya.
Diapun menggurat dengan jari telunjuk namania sendiri lalu disertai kata "menghaturkan hormat".
Tapi didapatinya guratan The Ing lebih dalam.
Diam2 dia kagumi kepandaian kawannya itu.
Melihat kata2
"menghaturkan hormat"
Itu, The Ing tampak kerutukan kening.
Tong Ko yang mengerti isi hati kawannya itu segera memberi keterangan bahwa menilik kepandaian orang didalam goa itu sedemikian saktinya, tiada jeleknya kalau berlaku menghormat sedikit.
Begitu menyambuti potongan dahan itu, The Ing mundur 3 langkah kebelakang.
Setelah kerahkan semangat, dia lempar dahan itu kearah air terjun.
Memang sewaktu baru melayang, dahan itu pesat sekali layangnya.
Tapi begitu tiba dimuka air, gayanya agak tenang dan ketika menobros, air tidak tampak tepercik sama sekali.
Makin kagum Tong Ko melihat kepandaian sang kawan itu, dan dia lalu tunjukkan jempolnya selaku memuji.
The Ing hanya ganda tersenyum saja.
Tiada berapa lama kemudian dari balik air terjun terdengar suara seseorang berseru.
Anehnya nada suaranya, lelaki bukan perempuan tidak.
"Apakah kedua orang yang diluar itu, laki dan perempuan?"
Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga Khu Lung
Baca Juga: Pendekar Bayangan Setan 5