Heng Thian Siau To 2

Eps 2 Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Baca online Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Cersil Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen.

Lengking suara itu dengan nada yang menusuk telinga. Belum The Ing menyahut, Tong Ko sudah mendahului.

"Tidak, kami berdua adalah kaum lelaki semua!"

"Kalau ada nyali, masuklah!"

Seru suara orang itu pula.

Tong Ko dan The Ing saling berpandangan.

Tong Ko lalu loncat dulu, diikuti oleh The Ing.

Bermula mereka kira kalau air terjun itu sukar diterobos, oleh karena luar hanya kurang lebih setombak luasnya, tapi ternyata tidak.

Malah ketika sudah berada didalam dan menoleh keluar, pemandangan diluar tampak dengan jelas.

Kiranya didalam situ terdapat sebuah goa yang tinggi hampir tiga empat tombak dan cukup luas.

Tapi disitu tiada tampak barang seorangpun juga.

Waktu berada disitu, Siau-gin berhenti cuwat-cuwit lalu lari kemuka.

Tong Ko dan The Ing terpaksa mengikutinya.

Mereka lari sampai 30-an tombak jauhnya, tiba2 disebelah muka tampak sebuah penerangan.

Kiranya disitu terdapat sebuah lubang pada puncak goa, seluas 3 meteran.

Dari situlah sinar matahari menobros turun.

Mendongak keatas, tampak diatas dinding goa, tergantung sebuah jaring besar.

Beratu-ratus ekor kera kecil gin-si-kau, tampak untel2an (tumpang tindih) didalam jaring itu.

Waktu tampak anak cucunya disiksa begitu, Siau-gin cuwat-cuwit menggeram.

"Jangan ribut, kita temui tuan rumah!"

Bentak The Ing Iagi.

Entah terbuat dari apa jaring yang luar biasa besarnya Itu.

Kera2 gin-si-kau itu bertenaga besar, kukunyapun tajam sekali.

Pagar kayu yang bagaimana kuatnya, tak nanti dapat mengurung mereka.

Tapi anehnya kawanan kera itu seperti tak berdaya didalam jaring.

Disebelah jaring besar itu.

tubuh tinggi besar dari Toa-gin tampak digantung dengan kaki tangannia terikat dua buah tali halus.

Siau-gin segera lari keatas.

Kedua ekor binatang itu sama menjerit-jerit dengan pilu.

Tampaknya diujung goa situ, kecuali rombongan kera, tiada seorangpun jua.

Sudah sejak kecil The Ing berkawan dengan kawanan kera itu.

Jadi seolah2 sudah terjalin suatu persahabatan yang akrab sekali.

Lebih2 terhadap Toa-gin dan Siau-gin.

Maka demi melihat Toa-gin digantung begitu rupa, bukan kepalang marahnya The Ing.

Tanpa hiraukan suatu apa lagi, dia enjot tubuhnya loncat keatas terus menarik tali merah pengikat itu.

Pikirnya, tali yang begitu halus tentulah sekali tarik dapat diputuskan.

Tapi diluar dugaan, bukan saja tali tak putus bahkan kalau dia tak cepat2 lepaskan cekalannya, tentulah tangannya tersayat oleh tali.

Ketika diperiksanya, ternyata telapak tangannya pun tampak menggurat selarik.

"Tong-heng!"

Serunya dengan kaget. Tong Ko mengiakan dan menghampiri tapi berbareng pada saat itu, dari arah sudut goa terdengar suara orang ketawa terbahak2 seraya berkata.

"Nona kecil tangannya sudah tergurat jaring ceng-si. Untuk keluar dari sini, sungguh tak mudahl"

The Ing terkejut bukan kepalang, bukan saja karena kata-kata jaring ceng-si (jaring percintaan) itu, pun juga karena dirinya dipanggil "nona kecil"

Itu.

Sebaliknya Tong Ko, menjadi ter-mangu2.

Heran dia dibuatnya adakah didalam goa situ terdapat seorang nona?

A tau Tio Inkah?

Begitu rupa perasaan hatinya kepada nona itu, hingga sesuatu apa tentu dihubungkan dengan diri Tio In.

Kedua anak muda itu maju kemuka menuruntukan arah datangnya suara.

Amboi....., kiranya ditepi ujung goa situ tampak duduk seseorang.

Dia mengenakan pakaian sederhana yang gerombyongan, tetapi bukan pakaian jubah.

Kepalanya memakai ikat kepala berwarna kelabu.

Hanya pada bagian mata yang dilubangi.

Oleh karena dia mengenakan dandanan, begitu macam, maka warnanya hampir menyerupai dengan dinding goa hingga hampir saja tak kelihatan tadi.

Mungkin sedari tadi, orang itu sudah berada disitu.

Sampai sekian saat Tong Ko dan The Ing mengawasi, tetap mereka tak dapat menarik kesimpulan akan kelamin orang itu, perempuan atau priakah?

Terdorong oleh keinginan tahu apa yang diserukan "nona ketiil"

Mulut orang itu tadi, maka Tong Ko segera memberanikan diri maju selangkah seraya membungkukkan badan memberi hormat, ujarnya.

"Cianpwe tadi mengatakan kalau disini terdapat seorang nona, entah apa nona Tiokah itu?"

Orang itu tertawa getir, sahutnya.

"Apa itu nona Tio?"' "Tio In, puteri dari Siau-beng-siang Tio Jiang!"

Mendengar itu orang itu tampak merenung sejenak, lalu katanya.

"Anak perempuan si Tio Jiang? Apa dianya itu anak perempuan Tio Jiang?"

Waktu mengatakan "dianya itu", tangan orang aneh itu menunjuk kearah The Ing.

Tong Ko memberi isyarat kepada The Ing yang artinya mengisiki kalau siorang aneh itu rupanya limbung (kurang beres otaknya alias streep).

Tapi untuk keheranan Tong Ko, wajah The Ing tampak ber-sungguh2 dan kedengaran berkata.

"Cianpwe mempunyai pandangan yang celi sekali. Aku orang she The, tiada sangkutan apa2 dengan Tio Jiang, harap cianpwe suka lepaskan kera2 piaraanku itu. Nanti apabila keluar dari goa sini, aku berjanji tak mengatakan kepada barang siapapun juga!"

Tong Ko tak mengerti apa yang dipercakapkan dalam tanya jawab kedua orang itu. Pada lain saat kedengaran orang itu berkata pula dengan nada dingin.

"Bukan pandangan celi, melainkan pendengaran yang tajam! Begitu masuk kedalam sini tadi, segera kudengar kalian ini adalah seorang pemuda dan seorang pemudi. Tapi soa-siau-cu (bocah tolol) itu tadi mengatakan kalau lelaki semua, huh....., jangan2 dia "tercocok hidung"

Nya (tertipu) !"

Pada hakekatnya Tong Ko bukan seorang tolol, maka kata-kata orang aneh yang terakhir itu telah menyadarkannya.

"The-heng, adakah kau ini seorang wanita?!"

Tanya sembari berpaling kearah The Ing. Dan mengangguklah The Ing dengan wajah ke-merah2an. Teringat Tong Ko sejak dia berkenalan dengan The Ing, beberapa sudah "anak muda"

Itu mengunjukkan tingkah laku yang aneh terhadapnya.

Dat..., dit...., dut..., demikian jantung Tong Ko berdetak2, namun tak tahu dia harus berbuat apa.

Dalam pada itu, tampak siorang aneh itu pe-lahan2 berbangkit.

"Nona The, oleh karena kau telah menyentuh jaring ceng-si, maka tiada halangan untuk melepaskan piaraanmu gin-si-kau itu. Hanya saja kalian berdua harus menunaikan sumpah yang telah kuikrarkan dahulul"

"Sumpah apa itu?"

Tanya The Ing.

Orang itu tertawa mengalun, nadanya amat rawan sekali.

Teristimewa didalam goa, suara itu menimbulkan suatu suasana yang mengharukan sekali.

Baik Tong Ko maupun The Ing sama mengkirik bulu romanya.

Bahwa kini dirinya telah "ditelanjangi"

Oleh siorang aneh, The Ing pun sudah tak malu2 lagi. Dia menggelandot pada badan Tong Ko.

"Entah dahulu cianpwe mempunyai sumpah bagaimana? Kalau memerlukan tenaga bantuan hopwe (aku), hopwe tentu sanggup melakukan?"

Begitu juga Tong Ko mengulangi tanya.

Dia mengira kalau semasa mudanya, orang aneh itu pernah bersumpah hendak melakukan sesuatu yaag sampai kini belum terlaksana, maka dia sudah beranikan diri untuk mewakilinya.

Orang aneh itu tertawa sinis, ujarnya.

"Ah, sederhana saja sumpahku itu. Setiap muda mudi yang datang kemari, harus tinggal disini selama 3 tahun baru boleh keluarl"

"Harap cianpwe jangan bergurau!"

Seru Tong Ko dengan terperanjat. Sepasang mata orang aneh itu tampak berkilau memancarkan cahaya tajam. Dia mengadah keatas tertawa ter-bahak2.

"Siapa yang bergurau denganmu? Aku hendak mengetahuinya, di bawah kolong langit yang sedemikian luasnya ini, apakah masih ada apa yang disebut "kecintaan"

Itu.

Kalau ingin kuhapuskan sumpahku itu pun mudah juga.

Diantara kalian berdua, siapa yang sudi binasa untuk satunya, maka yang masih hidup itu selain boleh keluar dari goa ini pun akan memperoleh sesuatu dari aku yang luar biasa.

Nah, kuberi kalian waktu setengah jam untuk berpikir.

Setelah mengambil keputusan, kasihlah jawaban padakul"

Habis berkata begitu, orang aneh itu lalu mengatupkan kedua matanya dan duduk tepekur dengan diam, laksana sebuah patung bisu yang terpasang disudut goa.

Barangsiapa yang tak meperdatakan tentu takkan menyangkanya kalau dia itu seorang insan hidup.

Tong Ko dan The Ing sama terbenam dalam kebimbangan.

Adalah pada lain saat tampak The Ing lepaskan kopiah pelajarnya dan menguraikan rambutnya yang mengkilap bagus.

Kedua belah pipinya bersemu dadu, walaupun mengenakan pakaian pria, namun nampak jelas akan kecantikan yang menampil.

Diam2 Tong Ko gelisah dan tak habis herannya mengapa orang aneh itu mengikrarkan sumpahnya yang sedemikian itu.

Dia sudah menghaturkan hatinya kepada Tio In, bagaimana dapat dia menjadi suami isteri dengan The Ing?

Memikir sampai disitu, tak berani dia lama2 mengawasi pada The Ing.

Beberapa saat kemudian, terasa sisi badannya tersembur oleh semacam hawa hangat.

Waktu dia menoleh, kiranya itulah wajah The Ing yang ke-merah2an segar bagai sekuntum bunga tengah mekar, sedang mengangakan mulut hendak mengatakan sesuatu.

"The..............."

Baru saja Tong Ko mengatakan begitu, The Ing sudah menukasnya dengan tertawa.

"Masih menyebut The-heng (engkoh The) lagikah?"

Tong Kopun tertawa, katanya.

"Nona The!"

The Ing tundukkan kepala sampai sekian saat, baru la membuka mulut.

"Ko-ko (engkoh Ko), apakah engkau tiada suka?"

Tong Ko menghela napas, ujarnya.

"Nona The, lama sudah aku serahkan hatiku pada In-moay ........."

"Tak usah kau ucapkan itu!"

Buru2 The Ing dekapkan jarinya kemulut Tong Ko. Habis itu ia lalu maju dua langkah kemuka. Setelah berpaling kebelakang memandang sejenak pada Tong Ko, baru ia berkata kepada orang aneh itu.

"Hai, bebaskan dia, biar aku yang tinggal, disini, terserah kau hendak mengapakan dirikul"

"Nona The, mengapa kau berlaku demikian"

Tong Ko buru2 berseru dengan kagetnya, seraya maju menutupi The Ing. Disitu dia memberi hormat kepada siorang aneh, lalu berkata.

"Maafkanlah, kami hendak berlalul"

Dia tarik tangan The ing terus dibawa lari keluar goa. Tapi orang aneh itu secepat kilat sudah melesat menghadang jalanan.

"Mau berlalu?"

Tanyanya dengan dingin.

"Kami masih mempunyai lain urusan, sudah tentu hendak pergi"

Sahut Tong Ko yang sudah ambil keputusan menggunakan kekerasan apabila perlu.

Orang aneh itu kembali tertawa memanjang, se-konyong2 ia tarik kerudung mukanya dan ..........

Bermula kedua anak itu mengira bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang yang bermuka buruk kejam, tapi diluar dugaan, kiranya orang aneh itu adalah seorang wanita cantik sekira berusia 40-an tahun.

Bentuk wajahnya yang bundar telur, sepasang matanya yang indah ditaungi oleh sepasang alis tanggal muda, menampilkan suatu refleksi (pancaran balik) dari suatu kecantikan yang gilang gemilang dari masa mudanya Sayang pancaran sinar matania itu sedemikian dinginnya, ah......, andai kata sinar wajahnya itu berseri girang, matanya memantulkan cahaya riang, rasanya dewi Siang Go yang bertakhta dirembulan itu, masih kalah cantiknya!

Tong Ko tetap hendak menobros keluar.

Setelah memberi isyarat mata kepada The Ing, dia dorongkan tangannya kanan sekuat2-nya kemuka.

Tapi.

baru mendorong sampai setengah jalan, wanita itu ulurkan lengannya menyambar siku Tong Ko.

Tong Ko hendak meronta, tetapi sikunya terasa sakit bukan kepalang, seperti mau putus rasanya.

Waktu dia menunduk untuk memeriksanya, kiranya terlibat oleh tali sutera merah.

Masih Tong Ko hendak berontak lagi, tapi hanya dengan menggerakkan lengannya wanita itu telah menjadikan benang sutera itu mendiadi suatu tenaga dorongan yang luar biasa kuatnya, hingga seketika itu tubuh Tong Ko terjerembab kedalam goa lagi.

Dan celakanya, tubuhnya telah melanggar jaring ikan yang tergantunq diatas.

Jaring itu mempunyai daya lekat yang keras sekali, begitu tangan Tong Ko menyentuhnya, lalu seperti terpaku tak dapat digerakkan lagi.

Tahu2 kini dia sudah terperangkap dalam jaring itu.

"Kau hendak melarikan diri, hem......, rasakan dulu siksaanku ini!"

Wanita itu berseru geram seraya ayunkan tangan.

Sutera merah yang sehalus rambut ditangan wanita itu melayang kearah Tong Ko.

Separoh tubuh Tong Ko yang sebelah kiri lebih kuat dari yang sebelah kanan.

Dia meronta se-kuat2-nya hendak menutupkan tangannya kiri kearah mukanya.

Tapi seketika itu tangannya terasa sakit sekali.

Bagian yang tersabet benang sutera itu, tampak ada selarik guratan darah.

Sudah tentu gusar Tong Ko tak terhingga.

"Wanita busuk, kau punya peribudi tidak?"

Dampratnya. Wanita aneh itu menengadah tertawa sinis, ujarnya.

"Peribudi? Hm, dikolong langit ini siapakah yang mempunyai peribudi?"

Dan benang suterapun melayang pula, tepat mengenai lengan bawah Tong Ko.

Kalini bahkan lebih berat dari yang tadi, hingga lengan bajunya putus dan guratan pada lengan itu sampai 3 dim dalamnya.

Waktu ditarik, lengan Tong Ko mengucurkan darah.

keringat dingin membasahi tubuh.

Melihat itu The Ing tak tega, buru2 dia mencekal tangan wanita itu seraya meminta dengan meratap.

"Harap cianpwe berhenti mendera. Dia memang seorang yang beradat keras, mulutnya tak pernah mohon kasihan, hendaknya cianpwe sudi memberi ampun !"

Tiba2 wanita itu menghela napas, ujarnya.

"Nona yang baik, begitu dalam kau tumpahkan hatimu kepadanya, namun dia begitu tawar terhadapmu. Tiada hal yang paling kubenci daripada terhadap seorang pria yang men-sia2kan cinta kasih. Mengapa kau mintakan ampun untuknya?"

Tong Ko bermula tak mengetahui kalau The Ing itu seorang gadis, disamping itu sebelumnyapun Tong Ko sudah saling menyinta dengan Tio In.

Maka The Ing dapat menerima alam pikiran Tong Ko dan tak dapat mempersalahkannya.

"Cianpwe, dia tak men-sia2kan dirikul"

Ter-sipu2 ia menerangkan.

"Hm....., memang sudah wajar kalau seorang gadis yang tengah dimabuk asmara itu selalu melindungi sang kekasih. Saat ini kau dibutakan oleh cintamu, hingga rasanya kau rela juga mati untuknya. Tapi coba renungkan, walaupun dia cakap sekali parasnya, hatinya bagaimana? Pada saat dia tak menyintaimu lagi, dia nanti akan berbuat bagaimana, sudahkah kau membayangkannya?"

Habis menyadarkan pikiran sinona, wanita itu kebutkan lagi benang suteranya sampai beberapa kali.

Dalam beberapa kejab saja, tubuh Tong Ko telah menerima dera sampai tujuh delapan kali.

GAMBAR 05 Karena terjaring, Tong Ko tak berdaya menghindarkan sabetan2 tali sutera wanita itu yang memaksanya menikah dengan The Ing Kecuali menutupi mukanya dengan tangan, Tong Ko tak dapat berbuat apa2 lagi dalam jaring itu.

Tujuh delapan kali dera hajaran itu, telah membuat seluruh tubuhnya bertabur luka yang belumuran darah.

Tapi wanita itu bukannya sudah, malah dengan kertek gigi se-olah2 sedang menghadapi seorang musuh besar, kembali mengayunkan tangannya sampai beberapa kali pula.

Sampai disini, hati The Ing benar2 tak tahan.

"Sudahlah, kalau mau pukul, pukul aku sajalahl"

Serunya sembari loncat kemuka menubruk jaring itu.

"Nona The, jangan gegabah. Lekas keluar dari goa inil"

Tong Ko menjadi terkejut dan sibuk.

Tetapi The Ing tak mau menghiraukan lagi.

Dia enjot kakinya loncat keatas, setelah menyisih seekor kera yang berada didalam jaring situ, ia lalu masuk dan memeluk Tong Ko.

Air matanya membanjir turun, butir2 ketesannya waktu menjatuhi luka2 ditubuh Tong Ko, telah membuat anak muda itu meringis sakit.

Si wanita aneh menjadi terbeliak kaget melihat perbuatan The Ing, serunya.

"Siaucu (budak) dengarlah! Nona itu sangat menyintaimu, kalau kau meluluskan untuk melangsungkan pernikahan dengannya, kau tak usah menderita dera siksaan lagi !"

"Ngaco......! Dalam urusan sepenting pernikahan itu, mana boleh didasarkan paksaan? Coba andaikata kau disuruh menikah dengan seorang yang tak kau cintai, apakah kau mau?"

Tong Ko menyanggahnya. Mendengar argumen (bantahan) yang dilontarkan Tong Ko itu, tangan siwanita yang tengah berada diatas, lemas lunglai mengulai kebawah lagi.

"Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, tapi orang itu tak sudi padaku!"

Tanpa tersadar mulut wanita itu mengingau.

Tong Ko dan The lng heran sekali.

Duapuluh tahun berselang, siapakah insan dimaya pada yang dapat menandingi kecantikan wanita itu?

Ah, lelaki siapakah yang begitu ganas menghancurkan hatinya?

---odwkzo0otaho----BAGIAN 09 .

MELOLOSKAN DIRI Watak perangai Tong Ko sekalipun keras, tapi sebenarnya hati nuraninya sangat welas asih.

Dia turut belasungkawa akan nasib yang merundung wanita itu.

Tapi dipikir lebih panjang lagi, walaupun dia symphati kepada wanita itu namun dia sendiripun berfaham begitu, tak dapat "menukarkan"

Hati kepada lain orang. Biar bagaimana, tak mungkin dia menuruti permintaan wanita itu untuk mengawini The Ing.

"cianpwe sendiri telah mengalami bagaimana pahit getirnya orang yang dichianati cintanya, tetapi mengapa cianpwe berkeras mendesak aku supaya menghancurkan hati nona In?"

Kembali Tong Ko lancarkan serangan lidah yang tajam."

Tampak wajah wanita itu bermuram, ujarnya.

"Huh, apa nona In itu. Kalau benar2 kau menyintainya dengan setulus hati, kau harus tinggal digoa sini tiap hari menerima 81 kali cambukan. Kalau kau tahan sampai 81 hari lamanya, nah kau boleh bebas dari sini. He...., he...., orang mengatakan bahwa demi cinta, jiwa dan raga rela dikorbankan. Tapi aku tak percaya hal itu. Kalau benar kau cinta pada nona In, seharusnya kau berani menderita siksaan itu. Tapi jika tidak, haruslah kau menurut peraturanku. Kecuali dengan jalan itu, jangan mengharap aku suka merobah peraturanku itu. Bagaimana, lekas katakan !"

Tanpa ragu2 lagi, Tong Ko serentak menyahut .

"Tak usah banyak bicara, hari ini juga kau boleh mulai menyiksa diriku !"

"Bagus, coba saja berapa lama kau dapat bertahan !"

Wanita itu tertawa dingin lalu loncat menghampiri untuk menarik The Ing keluar dari dalam jaring.

Dibawanya nona itu kebagian perut gunung.

Setelah melalui jalanan yang berliku-liku akhirnya tibalah wanita itu pada sebuah kamar batu yang tingginya hampir satu tombak.

Sebuah ciok-pay (papan batu) yang tebalnya hampir setengah meter, menutup pintu kamar itu.

Cukup dengan sebelah tangan kanan, wanita itu sudah dapat mendorong papan batu itu terbuka, lalu masukkan The Ing kedalam kamar situ.

Waktu hendak berlalu, tampak oleh wanita itu kedua kera besar piaraan The Ing sudah berada disitu.

Tanpa banyak bicara, wanita itu segera meringkus dan lemparkan kedua binatang itu ketempat tuannya.

Papan batu ditutupnya lagi rapat2, lalu ia tinggalkan tempat itu.

The Ing menduga bahwa wanita itu tentu akan mulai menyiksa Tong Ko.

Dengan meratap ia berseru memintakan ampun, tapi tiada penyahutan apa-apa.

Hendak The Ing mendorong papan batu itu, tapi sedikitpun tak bergeming.

Sejak kecil The Ing sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.

Walaupun mereka hidup didalam gunung belantara, namun segala keperluannya selalu tersedia.

Pengalaman pahit yang pertama kali dideritanya selama ini, yalah ditolak Tong Ko dan dijebluskan dalam kamar tahanan oleh wanita aneh itu.

Maka saking gemas dan sedihnya, ia menangis gerung2.

Toa-gin dan Siau-gin menjaga disampingnya sembari mengelus2 sang nona majikan, seolah-olah hendak menghiburnya.

The Ing tak dapat menumpahkan kesedihan hatinya, maka dengan kuatkan hati ia mencacahkan jumlah binatang piaraannya.

Untuk kegirangannya, ternyata kawanan kera itu seekorpun tiada yang kurang.

akhirnya ia ambil putusan, oleh karena urusan sudah menjadi sedemikian rupa, daripada menangis lebih baik ia kerahkan kawanan kera untuk mendobrak papan batu itu.

Biar bagaimana ia tetap ingin mendampingi Tong Ko untuk menerima dera siksaan.

Untuk memulangkan semangatnya, lebih dahulu ia duduk mengambil napas.

Diceritakan, wanita itu ber-gegas2 menuju ketempat Tong Ko sembari membawa benang merah sepanjang 4 tombak.

Begitu masuk kedalam, ia terus mulai menghajar Tong Ko.

Benar dalam sesingkat waktu yang terakhir ini, peyakinan Tong Ko maju pesat, tapi terhadap benang sutera yang luar biasa dari wanita itu, benar2 dia tak berdaya.

Setiap kali sutera tiba ditubuh dan ditarik kebelakang, kulit tubuh Tong Ko tentu terbeset, darahnya mengucur.

Kalau kebetulan, sabetan itu jatuh dibagian tubuh yang masih utuh (belum terluka) walaupun sakit, tapi masih dapat ditahannya.

Tapi kalau sabatan itu tepat mengenai bagian yang sudah terluka, aduh mak, nyerinya sampai menusuk ulu hati rasanya.

Pada sabatan yang ke 60, sebenarnya Tong Ko sudah pingsan, tapi dikarenakan dia itu seorang jantan yang keras hati, sepatahpun tak mau dia mengerang.

Sebaliknya wanita itu bagaikan kemasukan setan.........

61, 62, 63, mulutnya menghitung tangannya menghajar.

Tetapi waktu memasuki hitungan yang ke 70, tiba2 dari arah luar terdengar suara seorang lelaki berseru .

"Ho......., kau mau melarikan diri ? Goa ini adalah buntu !"

"Huh........., kau takut tak dapat keluar dari sini ?"

Sahut sebuah suara perempuan.

Sesosok bayangan, melesat masuk kedalam goa dan menyusul tampak seorang lelaki mengejarnya.

Wanita aneh itu lepaskan Tong Ko, lalu gerakkan suteranya menyabet kekaki perempuan yang masuk terdahulu tadi, terus ditarik kedekatnya.

"Kau siapa ?' "Aku bernama Tio In."

Sahut nona itu.

"Siapa mamahmu ?"

Tio In terkesiap sejenak, lalu menjawab ."Hui-lay-hong Liau Yan-chiu!"

Wanita aneh itu tertawa dingin, serunya ."Ho, kiranya dial"

Saat itu orang lelaki yang mengejar tadipun sudah tiba disitu.

Melihat wanita aneh itu, dia segera menegurnya.

Wanita aneh itu mendongak kemuka.

Dilihatnya penegur yang berdiri dihadapannya itu adalah seorang anak muda yang berwajah luar-biasa.

Matanya cekung kedalam, hidungnya tinggi dan sepasang matanya berwarna ungu.

"Bagus, itulah memang seharusnya!"

Serunya.

"Tapi, setelah menikah harus tinggal disini dulu selama 3 tahun, baru nanti boleh keluarl"

Perangai Shin Hiat-ji amat congkak. Dasar dia sangat dimanjakan sebagai anak emas oleh pemerintah ceng, maka makin mangkaklah sikapnya. Dari girang dia berobah menjadi murka besar.

"Perempuan busuk, jangan ngoceh tak keruan!"

Serunya sembari menjotos.

Tapi secepat kilat tampak selarik sutera merah bergeliat menyambar sikunya.

Saking terperanjatnia, buru2 dia tarik pulang jotosannya, namun tak urung jari kelingkingnya sudah kena tersabat, sakitnya bukan kepalang.

Sret....., dia mundur sembari cabut jwan-pian.

Mulut menghambur makian, tangannya menyodokkan jwan-pian lurus kemuka untuk menutuk jalan darah ki-bun-hiat didada siwanita.

Bahwa sabatan pertama tadi dapat dihindar wanita itu memperoleh kesan, sekalipun anak itu masih muda belia usianya tetapi kepandaiannia cukup tinggi.

Menampak datangnya jwan-plan Itu, wanita tersebut hanya tertawa dingin, tanpa menghindar ia gunakan jarinya untuk menutuk.

Wanita itu tergolong pertengahan umur (40-an tahun), tapi jari tangannya itu masih segar membulu landak.

Tapi secepat itu, pula, Hiat-ji turunkan pian untuk menutuk jalan darah thianki-hiat.

Memang gerakan pemuda itu luar biasa cepatnya.

Dia cepat, siwanita lebih sebat lagi se-olah2 sudah mengetahui bahwa serangan pertama dari lawan tadi adalah serangan kosong, maka jarinyapun sudah siap menunggu disisi jalan darahnya thian-ki-hiat.

Kali ini dapat ia menutuk tepat ujung pian yang menyambar datang itu.

jwanpian terungkat keatas dan kaki Hat-ji terhuyung menyurut kebelakang beberapa tindak.

Dan berbareng itu, sinar merah menyambar datang.

Dalam kedudukan dimana tubuhnya masih belum berdiri jejak, sudah tentu Hiat-ji tak dapat menghindar.

Tampak tubuh wanita itu ber-gerak2 mengitari Hiat-ji beberapa kali dan tangan serta kaki Hiat-jipun sudah terikat.

Bermula anak itu hendak meronta, tapi suatu kesakitan yang hebat telah memaksa nya tak berani berkutik lagi.

"Kali ini aku mengaku kalah. Entah siapa namamu ini?"

Akhrinya anak yang beradat tinggi itu mendongak kemuka.

"Usah tanyakan namaku. Mau tidak kau mengawini nona itu dan tinggal disini sampai 3 tahun?"

Sahut siwanita.

Hiat-ji melirik kearah Tio In.

Dilihatnya nona itu membeliakkan sepasang matanya yang bundar besar, seri wajahnya merah kecemasan.

Tapi justeru hal itu makin menambah semarak kecantikannya.

Diam2 Hiat-ji menimang, 3 tahun bukan waktu yang lama.

Selain cantik, Tio In adalah puteri kesayangan Siau-beng-siang Tio jiang.

Nanti apabila dia sudah mendiadi menantunya, dapatlah dia membujuk Tio jiang suami isteri agar menakluk pada pemerintah Ceng.

Bukantah hal itu seperti yang dikatakan orang "sekali tepuk dua lalat"?.

"Baiklah, aku menurut!"

Kata Hiat-ji sambil mengangguk.

"Ho, kau ternyata tahu diri!"

Ujar siwanita seraya mengitari tubuh Hiat-ji untuk membuka ikatannya.

Sebaliknya pada saat itu, Tio In ter-mangu2 bagai terpaku ditanah.

la mencari jenazah Tong Ko dikaki Lo-hu-san dan dapat diringkus Hiat-ji kemudian setelah berjumpa dengan sikaki satu Sin Tok dan Shin Leng-siau, ia (Tio In) hendak dijadikan umpan pemikat supaya Tio jiang dan rombongan orang gagah Lo-hu-san mau datang kekota raja.

Tapi Hiat-ji jatuh hati kepada nona itu.

Oleh karena tak diikat, ditengah perjalanan Tio In dapat melarikan diri.

Yang pertama mengetahui lolosnya nona itu adalah Hiat-ji sendiri.

Tanpa memberitahukan kepada kedua kawannya, anak muda itu segera mengejarnya.

Dalam keputusan akal Tio In tampak disebelah muka ada.

sebuah air terjun.

Kesitulah ia menobros dan masuk kedalam goa tempat kediaman siwanita aneh.

Hiat-ji tak mau melepaskan dan ikut masuk.

Sewaktu wanita itu bertempur dengan Hiat-ji, Tio In diam2 bersyukur dalam hati.

Tapi serta didengarnya mulut siwanita itu maukan supaya Hiat-ji menikah dengannya (Tio In), kejutnya tak terkira.

jangan kata Tong Ko belum meninggal, sekalipun andaikata sang kekasih itu sudah tiada didunia lagi, tetap ia tak sudi menikah dengan anak muda macam itu.

Demikian prasetya Tio In.

Maka kalau Hiat-ji menyetujui dengan girang, adalah Tio In serentak mendamprat siwanita.

"Ngaco!"

"Ho....., bagus! Pasangan yang tadi, silelaki yang tak mau. Kali ini adalah giliran fihak perempuan yang menolak! Nona ketiil, coba kau lihat, adakah yang didalam jaring itu kekasihmu?"

Wanita aneh itu berpaling kebelakang menghadapi Tio-In.

Sewaktu masuk kedalam goa situ tadi, Tio In berada dalam keadaan gugup, jadi tak sempat ia memperhatikan keadaan disitu.

Sewaktu mendongak keatas dan mengawasi dengan perdata siapa yang berada dalam jaring itu, kalaupun orang itu pada saat tersebut se-olah2 merupakan manusia-darah, namun tak ragu2 lagilah Tio In segera berseru dengan girangnya.

"Ko-ko!"

Saat itu Tong Ko tengah berada dalam keadaan remang pikiran, antara sadar tak sadar dari pingsannia.

Sewaktu mendengar namanya dipanggil orang, dia paksakan matanya memandang dan ah....., kalau saja badannya tak berada dalam jaring, mungkin dia akan sudah lompat menyongsongnya.

"In-moay !"

Serunya sembari bergeliatan. Tio In maju menghampiri.

"Ko-ko, mengapa kau berada disini?"

Tanyanya dengan mesra.

Melihat adegan itu, Hiat-ji ber-api2 kemarahannya.

Dia maju hendak menyeret Tio In, tapi tepat pada saat itu dari sebelah dalam goa sana, terdengar suara berdebum yang dahsyat sekali.

Menyusul dengan itu, tampak ada ber-puluh2 cahaya perak lari mendatangi kesitu.

Itulah The Ing dengan anak buahnya kawanan kera gin-si-kau.

Setelah dapat mendongkrak rubuh papan batu, mereka datang menyerbu.

Toa-gin dan Siau-gin merangsang siwanita aneh.

Benar wanita itu dapat menghajar pontang-panting kawanan kera hingga dalam beberapa kejab saja sudah ada tiga empat puluhan kera yang terluka, namun bagai air bah (banjir), kawanan kera gin-si-kau itu patah tumbuh hilang berganti.

Mereka berpantang surut, sepuluh rubuh, duapuluh maju.

Wanita itu benar2 kewalahan juga.

The Ing cepat menghampiri kedekat jaring.

Disitu didapati ada seorang nona tengah memandang lekat2 pada Tong Ko, siapa pun juga balas menatap wajah nona itu.

"Adakah nona ini nona Tio In?"

Tegur The Ing kepada Tio In.

Namun seperti belum puas, Tio In masih enak2 memandang sang kekasih, hingga tak mendengar teguran itu.

The Ing perih hatinya, namun ia tak mempunyai hati sirik.

cepat dilolosnya senjata kelinting kim-leng untuk, menyerang Hiat-ji.

Setelah dapat mengundurkan anak itu, ia enjot tubuhnya menjambret Tong Ko terus dilemparkan kepada Tio In, serunya.

"Nona In, lekas bawa dia keluar dari sini!"

Dilempar oleh The Ing tadi, saking sakitnya Tong Ko segera pingsan lagi. Tio In dekap tubuh sang kekasih erat2. Hatinya sangat menerima kasih The Ing.

"Siapakah nama cicl itu?"

Tanyanya.

The Ing tak henti2nya mendengar jerit pekik kawanan kera yang mengerikan, tanda bahwa mereka itu tak dapat mengurung siwanita lebih lama lagi.

Dan pada saat itu Hiat-jipun tampak hendak siap merangsang Tio In.

Suasana pada saat itu benar2 berbahaya.

"Sudahlah jangan banyak membuang waktu, lekas lari! Kalau berayal, tentu celaka!"

Sembari menyahuti pertanyaan Tio In, The Ing menyongsong kedatangan Hiat-ji dengan rantai kelintingnya. Tio Inpun insyaf akan keadaan yang seruncing itu.

"Budi cici itu, takkan kulupakan seumur hidup!"

Ia berseru keras2 lalu pondong tubuh Tong Ko dibawa lari keluar.

Tak antara berapa lama, dapatlah ia menobros keluar dari air terjun.

Masih terdengar deru kumandang air terjun itu menumpahkan airnya dan suara gemerincing senjata beradu ditingkah dengan jeritan ngeri dari kawanan kera.

Namun Tio In tak berani hentikan larinya.

Setelah 3 li jauhnya, barulah ia berhenti.

Dicarinya sebuah batu besar untuk meletakkan tubuh sang kekasih.

Demi dilihatnya tubuh pemuda yang menjadi tambatan hatinya itu bertaburan luka dan noda darah, hati Tio In seperti disayat sembilu.

Pada lain saat, Tong Ko tersadar.

Begitu tampak Tio In disisinya, dia segera bertanya.

"In-moay, bagaimana kita dapat berada disini? Adakah aku ini sedang bermimpi? Matikah sudah aku ini?"

Tio In tuturkan apa yang sudah terjadi barusan. Mendengar itu, tiba2 wajah Tong Ko berobah pucat. Serentak loncat bangun dia berseru.

"In-moay, mengapa kaulakukan perbuatan yang tak selayaknya ini?"

Tio In terkesiap, tanyanya "Kesalahan apa yang kulakukan?"

"Nona The telah korbankan jiwanya untuk menolong aku dan kau. Baginya, sudah tentu ia rela ikhlas, tetapi apakah kita berpeluk tangan saja membiarkan penolong kita dicelakai orang? Lekas balik kedalam goa sana, lekas, lekasl Tong Ko beringas seperti orang kalap. Tio In terbelalak, sahutnya.

"Ko-ko, kalau kita balik kesana, apakah tidak berarti mengantar kematian juga?"

Sewaktu Tong Ko dahulu masih berkepandaian cetek, dia sudah memuja akan sifat ksatryaan dari tokoh2 pahlawan setiap jaman.

Apalagi dia memang memiliki sifat2 peribadi begitu.

Maka tak mengherankanlah kiranya kalau dia begitu bersemangat kala mengetahui pengorbanan yang luhur dari The Ing.

Sesaat lupalah dia akan diri Tio In dan membentak-bentaknia dgn marah.

Menilik sifat Tong Ko, dalam hal itu dapat dimaklumi.

Tapi dasar anak perempuan, Tio In tak dapat memahami apa, yang terkandung dalam sanubari Tong Ko tadi.

la malah menduga yang tidak2.

"Ko-ko, kau suka pada nona The bukan? Ah, itu mudah, kau tunggu disini, biar kukesana, nanti tentu kuserahkan nona itu kepadamu lagil"

Kata Tio In serya terus berputar diri mengayun langkah.

---oo>dwkz0tah

PUKULAN MAUT Bahwa dalam saat dan tempat seperti itu sinona masih main ngambek2an, sebenarnya Tong Ko kurang senang.

Namun terpaksa dia bergeliat bangun untuk mengejarnya seraya berseru.

"In-moay, In-moay, ah mengapa kau tak mengerti isi hatiku?"

Melihat sang kekasih mengikutinya, Tio In tak tega juga.

Dengan menghela napas ia berputar balik lalu memapah tubuh Tong Ko.

Tapi baru mulutnya hendak mengatakan sesuatu, se-konyong2 tak jauh dari situ kedengaran orang berseru nyaring dengan nada kecil melengking.

"O, kekasihku, sedemikian perasaanku kepadamu, mengapa dikau tak mengerti akan daku!". Nyata2 ucapan itu ditujukan kepada Tong Ko berdua, sehingga kedua anak muda itu tersentak kaget seperti ditusuk jarum. Serta mendongak, dilihatnya diatas sebuah puluh besar duduk dua orang yang bukan lain adalah Soh-hun-ciang Shin Leng-siau dan Tok-kak-sin-mo Sin Tok! Merah kedua mata Tong Ko seperti seekor kerbau gila, kala dia melihat musuh bebuyutannya itu.

"In-moay, kau bukan tandingan kedua bangsat itu, lekas lari!"

Bisik Tong Ko kedekat telinga Tio In. Tapi Tio In enggan, sahutnya.

"Tadi sewaktu kutinggalan nona The untuk membawamu lari, kau telah mendamprat aku habis2an, mana aku dapat meninggalkan kau lagi?"

Tong Ko tak dapat berkata apa2. Sedang dalam pada itu sikaki satu Sin Tok tampak loncat turun dari puhun dan tertawa mengekeh berseru.

"Nona In, saudara Tong, kita ini benar2 berjodo!"

Kalau dapat, Tong Ko hendak telan kedua manusia itu hidup2an.

"Kalian mau apa lagi!"

Bentaknya dengan murka.

"Hai, mengapa sdr. Tong keluarkan tanduk? Meskipun adik nona Tio binasa ditanganmu, tetapi ia masih tetap cinta padamu, ai......, besar benar rejekimu!"

Sin Tok sikaki satu lepaskan lidah berbisa. Cuh......., Tong Ko semburkan segumpal ludah seraya membentak.

"Ngaco!"

Tangan Sin Tok mengebas dan serangkum deru angin menyambar dengan dahsyatnya hingga ludah Tong Ko itu berbalik makan tuan.

Tong Ko tak sempat menghindar lagi, jalan darah kian-ceng-hiatnya terkena, bluk......, tubuhnya terjerembab rubuh.

Sin Tok tertawa gelak2, lalu dengan sebat hendak menyambar Tio In.

Ketika jatuh tadi, cepat2 Tong Ko kerahkan semangatnya untuk membuka jalan darahnya yang tertutuk itu.

Kemudian dengan kerahkan seluruh tenaganya, dia loncat bangun terus menubruk kaki si Sin Tok yang tinggal satu itu.

Oleh karena tak menduga, Sin Tok dapat disergap basah, kakinya seraya dijepit sepasang jepitan besi.

Saking marahnya, Sin Tok angkat tinjunya untuk menghantam umbun2 kepala Tong Ko.

"Tahan, kau menghendaki aku bagaimana?"

Sebelum tinju sikaki satu itu meluncur turun. Tio In buru2 berteriak. Shin Leng-siau lompat menghampiri, serunya.

"Hem, masih berlagak pilon, ikut pada kita kekota raja!"

Tampak oleh Tio In tinju Sin Tok itu hanya terpisah setengah meter dari batok kepala Tong Ko dan tetap meluncur pe-lahan2.

Apabila tinju itu mengenai sasarannya, tak ampun lagi Tong Ko pasti habis riwayatnya.

Tio In tak mempunyai banyak waktu lagi untuk me-mikir2 dan keputusan terakhir diambilnya dengan cepat.

"Baiklah, aku ikut padamu kekota raja, tapi jangan mengganggu dia!"

Serunya. Sin Tok tertawa mengejek.

"Orang macam begini, memang tak pantas membikin kotor tangankul"

Ujarnya sembari gontakkan kakinya.

Seketika itu dada Tong Ko serasa sesak tak dapat bernapas, tangannya yang merangkul kaki lawan tadi menjadi lemas terkulai dan tubuhnya terlempar bebrapa langkah jauhnya.

Tio In hendak menghampiri, tapi cepat dihadang Shin Leng-siau yang mengajaknya lekas berangkat.

Terpaksa Tio In menurut.

Bebrapa kali Tio in berpaling kebelakang.

Dilihatnya Tong Ko merayap bangun.

Dua pasang mata saling bertemu dalam pandangan mengenaskan yang mengandung ribuan patah kata2.

Shin Leng-siau segera naikkan Tio In keatas kuda dan dalam sekejab lagi, menghilangkah mereka dalam kepulan debu.

Saking pedihnya, Tong Ko rubuh tak sadarkan diri.

Waktu membuka mata, Tong Ko dapatkan dirinya berada dalam sebuah gubuk.

Sakit pada tubuhnya sudah tak terasa lagi.

cuaca sudah gelap dan didalam pondok situ hanya terdapat sebuah than (pelita) sebesar biji kacang.

Disisi than itu duduk seseorang yang membelakanginya.

Dari bentuk punggungnya, tak salah lagi itulah Siau-beng-siang Tio jiang.

Buru2 Tong Ko menggeliat dan rupanya gerakan itu cukup mengejutkan Tio jiang siapa lalu berputar kebelakang.

"Tong Ko, mengapa kau menderita luka sampai begitu macam?"

Tanya Tio jiang dengan muka keren.

Tong Ko dapatkan seluruh tubuhnya yang bertaburan luka itu sudah dipolesi (dilumuri) obat, Tahulah dia kalau hal itu tentu Tio jiang yang melakukan, maka dia sangat berterima kasih sekali.

Tapi dari menyahuti pertanyaan orang, sebaliknya dia menerangkan bahwa Tio In telah ditawan oleh rombongan Sin Tok.

"Hal itu sudah kuketahui", sahut Tio jiang lalu berseru.

"Tay-keng....! Tay-keng....!"

Seorang pemuda mengiakan dan masuk.

"Ayah, ada urusan apa?"

Serunya.

Tong Ko kenal pemuda itu sebagai putera sulung darl Siau-beng-siang Tio jiang yang bernama Tio Tay-keng.

A nak muda itu telah memperoleh seluruh pelajaran ilmu pedang to-hay-kiam-hwat dari ayahnya.

Dia tergolong seorang jago muda yang sangat dimalui.

Lama nian Tong Ko taruh perindahan pada anak muda itu.

Begitu tampak pemuda yang gagah itu, sebenarnya mulut Tong Ko sudah hendak memberi salam.

Tapi tiba2 dia teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu.

Malam itu ketika dia bersembunyi didalam sungai, datang Sin Tok dan kedua saudara Shin.

Dalam pembicaraan, Sin Tok antara lain mengatakan bahwa Tio jiang tentu tak menduga sama sekali kalau malapetaka itu adalah perbuatan puteranya sendiri.

Oleh karena putera bungsu Tio jiang yaitu Siau Seng sudah binasa, maka yang dimaksudkan oleh Sin Tok itu tentulah si Tay-keng.

Teringat pula tempo hari bahwa adanya dia (Tong Ko) dapat berkenalan dengan Sin Tok bertiga itu pun karena dianjurkan oleh Tay-keng.

Itu waktu Tay-keng mengatakan bahwa ada 3 orang gagah yang rupanya hendak pergi ke Giok-li-nia, sebaiknya dia (Tong Ko) mengikat persahabatan dengan mereka, tentu akan besar manfaatnya.

Bukantah itu merupakan suatu perangkap yang direncanakan lebih dahulu?

Teringat sampai disini, lupalah sudah Tong Ko untuk memberi salam teguran tadi pada Tay-keng.

Tapi sebaliknya Tay-keng malah menghampiri dan menegurnya.

"Hai, lukamu. sangat parah, Tong-heng !"

Begitu mesra nada Tay-keng itu, hingga Tong Ko malu sendiri mengapa dia berlaku begitu rendah untuk menduga jelek pada orang.

"Tay-keng-ko, banyak terima kasih atas budi pertolongan kamu berdua kepadaku itu!"

Sahutnya dengan rasa bersyukur. Tay-keng tertawa riang lalu menanyakan sang ayah ada urusan apa memanggilnya itu.

"Tay-keng, naiklah ke Giok-li-nia untuk memberitahukan mamahmu kalau aku hendak mengejar rombongan Sin Tok. Sebelum dapat mengejar, aku tak mau berhenti. ya, sekalipun sampai kekota raja, tetap aku hendak merampas balik In-ji. Nah, sekarang juga aku hendak berangkat dan kau pergilah lekas kesana!"

Kata Tio jiang.

"Baiklah, harap ayah baik2 menjaga diri!"

Sahut Tay-keng. Tapi dalam pada itu, Tong Ko kedengaran berseru dengan gelisah.

"Kau seorang diri hendak pergi kesana Tio-peh? Ah, janganlah ! Memang tujuan mereka menculik In-moay itu adalah untuk menjebakmu supaya datang kekota raja! Disamping itu, urusan disini sangat memerlukan tenagamu"

"Tong Ko, apa maksudmu mencegah ayah mengejar mereka? Apakah kau hendak membiarkan Tio In berada ditangan orang jahat?"

Tiba2 Tay-keng menukas kata2 Tong Ko tadi.

Tong Ko tak dapat bercuit lagi.

Tio jiang berbangkit lalu berjalan keluar sembari menggendong kedua tangannya diatas bahu.

Melihat itu Tong Ko paksakan diri untuk mengikuti keluar, karena dia sangat cemas akan keselamatan Tio jiang apabila benar2 mau pergi seorang diri.

Waktu melangkah keluar dia melirik pada Tay-keng dan hai, mengapa wajah anak muda itu ber-seri2.

Timbul kecurigaan pada Tong Ko.

Setelah dilihatnya ternyata Tio jiang hanya mondar-mandir diluar sembari menggendong tangan, Tong Ko lalu menyelinap kebelakang rumah.

Dia terus masuk dari pintu belakang dan melongok kedalam dari sebuah jendela.

Dalam ruangan sebelah dalam situ, tampak Tay-keng letakkan pedangnya diatas meja.

Diatas meja situ terdapat juga pedang pusaka yap-kun-kiam milik Tio jiang.

Tay-keng melolos pedang ayahnya itu sampai beberapa dim, lalu cepat2 jajarkan pedang itu disisi pedangnya sendiri tadi.

Ternyata bentuk sarung kedua pedang itu serupa satu sama lain.

Tay-keng bersenyum iblis, lalu diam sejenak untuk pasang pendengaran kalau2 ada seseorang yang datang.

Setelah yakin tiada seorang pun yang terdapat diluar kamar situ, barulah dia kembali ketempat duduknya semula.

Dari naga2nya, rupanya dia hendak menukarkan pedang itu.

Melihat gerak gerik Tay-keng itu, hati Tong Ko berdebar keras.

Pada lain saat, dilihatnya Tay-keng menjemput pedang yap-kun-kiam dan dimasukkan kedalam sarungnya sendiri, sedang pedangnya sendiri tadi dimasukkan kedalam sarung pedang ayahnya.

Kejut Tong Ko bukan alang kepalang.

Bukantah Tay-keng mengetahui bahwa ayahnya hendak pergi menempuh bahaya?

Dengan membekal pedang macam yap-kun-kiam bukantah ayahnya itu akan terpelihara keselamatannya?

Tapi mengapa dia main tukar begitu, apa maksudnya?

Oleh karena tak dapat menerka, Tio jiang ambil putusan untuk memberitahukan kepada Tio jiang saja.

Tapi se-konyong2 bahunya serasa seperti dicengkeram jepitan tajam.

Ketika berpaling, didapatinya yang mencengkeram bahunya itu adalah Tio jiang.

"Tong Ko, semua orang sama mengetahui bahwa kau telah bersekongkel denyan kawanan kuku garuda. Bahwa setelah kau tak binasa loncat dari atas puncak itu, seharusnya insyaf dan dapat merobah kesalahanmu. Kulihat lukamu masih belum sembuh, tapi mengapa kau main mengintai disini?"

Tanya Tio jiang. Mendengar suara ayahnya dari arah rumah beIakang itu, Tay-keng terbeliak kaget, serunya.

"yah, siapa yang mengintai dibelakang itu? Aku berada didalam sini sedang mengemasi surat2 penting dari Hun-lam !"

Tio jiang berobah wajahnya.

Dengan keras dia tarik Tong Ko kebelakang.

Teringat Tong Ko bahwa pada bulan yang lalu, Tio jiang telah menyuruh Tay-keng pegi ke Hun-lam.

Pertama untuk menyusun kerja-sama dengan para pejoang kemerdekaan didaerah Hun-lam dan kedua lainnya suruh Tay-keng menyelidiki desas desus tentang diri Go Sam-kui.

Karena jasa2nya yang besar memimpin tentara Ceng masuk kedalam wilayah Tiongkok, maka pemerintah Ceng telah menganugerahi pangkat raja muda Peng-se-ong pada Go Sam-kui.

Dia ditugaskan untuk menjaga Hunlam.

Menurut desas desus dalam beberapa tahun terakhir ini Go Sam-kui mempunyai minat hendak memberontak pada pemerintah Ceng.

Untuk membuktikan kebenaran desas desus inilah maka Tay-keng ditugaskan ayahnya.

Apa yang dimaksud "surat2 penting"

Oleh Tay-keng tadi, tentulah hasil daripada pelawatannya kedaerah Hun-lam itu. Terang itulah dokumen penting, maka tak heran kalau Tio jiang sudah sedemikian marahnya dan menarik Tong Ko sekuatnya.

"Siau-beng-siang harap lepaskan tangan. Adalah tadi karena kulihat Tay-keng menukar pedangnya dengan yap-kun-kiam, maka aku sampai ter-longong2. Tentang surat penting apa, aku sama sekali tak mengetahuinya !"

Bantah Tong Ko. Sudah tentu Tio jiang tak dapat menerima alasan itu. Dengan gelisah Tong Ko segera mempersilahkannya .

"Masuk dan periksalah sendiri !"

Tio jiang angkat tangan kiri menjotos kedinding tembok, bluk......

Benar tembok itu tak tergerak apa-apa, tapi ketika Tio jiang tarik pulang tangannya terdengarlah suara gemuruh puing tembok berguguran dan tampaklah kini sebuah lubang.

Kiranya tadi Tio jiang telah gunakan lwekang, hingga tembok bagian dalam yang remuk rendam.

Tong Ko cukup mengenal peribadi Siau-beng-siang Tio jiang.

Tokoh itu mendapat perindahan besar dalam kalangan persilatan bukan melainkan karena mempunyai watak peribadi yang lurus jujur, pun juga karena memiliki suatu kepandaian yang jarang terdapat tandingannya.

Buktinya apa yang terjadi pada tembok setebal setengah-an meter itu.

Darl situ dapat ditilik sampai dimana tingkat kepandaian Siau-beng-siang itu.

Menobros lubang itulah Tio jiang tarik Tong Ko untuk masuk keruangan dalam.

"Tay-keng, apa kau tukar pedangku ?"

Serunya.

"Pedang apa, ayah?!"

Balas anak itu dengan terkejut.

Tong Ko mendongkol melihat sikap anak muda yang berlagak pilon itu.

Tadi dengan mata kepala sendiri dilihatnya perbuatan menukar pedang itu, hem....., masakan masih pura2 tidak tahu !

Tanpa banyak bicara, Tong Ko maju kemuka meja dan menjamah sarung pedang pusaka itu terus dicabutnya.

Astaga, hampir saja mulut Tong Ko berseru kaget demi nampak batang pedang itu.

Batang pedang itu memancarkan cahaya hijau kemilau, matanya putih mengkilap bagai salju.

ya, tak salah lagi, itulah pedang yap-kun-kiam.

Mulut Tong Ko menganga, wajahnya pucat lesu.

Pada lain saat setelah tersadar, Tong Ko geram sekali kepada Tay-keng.

Terang dalam waktu sekejab tatkala dia dan Tio jiang masuk tadi, Tay-keng telah menukar kembali pedang itu seperti sediakala.

Dengan murkanya dia deliki mata kepada Tay-keng, tapi anak muda itu tak mau memberi ampun pada Tong Ko.

Sret....., dicabutnya sarung pedang pada pinggangnya lalu diletakkan diatas pedang yap-kun-kian.

"Ayah, gerak-gerik bocah itu mencurigakan sekali, jangan beri hati lagi padanya! Lebih baik kita habisi jiwanya!"

Seru Tay-keng kepada ayahnya, sembari menyamber pedangnya tadi.

Kala itu wajah Tio jiang semuram besi.

Sedang Tong Ko diam2 telah menghela napas.

Kali ini tentu habislah sudah riwayatnya.

Tapi biar bagaimana, cara kematian seperti itu, sungguh penasaran sekali.

Adakah dia tak dapat mempercayai indera penglihatannya tadi?

ya, karena kelicinan Tay-kenglah maka rahasia itu tak sampai tertangkap basah.

Mati dan mati ada dua.

Ada mati yang disebut seberat gunung Thay-san, tapi ada pula kematian yang dikatakan seperti rontoknya bulu angsa (artinya.

tak berharga).

Kalau kali ini dia harus mati karena disiasati, itu artinya suatu kematian yang tak berarti atau sama dengan rontoknya bulu angsa.

Diapun cukup tahu, penjelas an yang bagaimanapun tentu takkan diterima oleh Siau-beng-siang Tio jiang lagi.

Dilihatnya Siau-beng-siang tengah menatap dirinya tajam2.

Asal tokoh itu mengangguk, Tay-keng tentu akan menyerang.

Ilmu pedang to-hay-kiam-hwat sangatlah lihay, jadi sukar untuk meloloskan diri darl bahaya maut.

Ah, daripada mati penasaran lebih baik dia mencari akal untuk melarikan diri.

Sebelum ajal berpantang maut dahulu.

Kelak tentu ada kesempatan lagi untuk menjeaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Setelah mengambil keputusan tetap, selagi Tay-keng tak menduga bahwa kini Tong Ko telah menjadi seorang "baru"

Yang memiliki dua macam lwekang istimewa se-konyong2 dia sambar pedang yap-kun-kiam dari atas meja, terus dibabatkan kearah pedang Tay-keng, tring....

kutunglah pedang Tay-keng menjadi dua.

Membarengi itu dia tamparkan tangan kiri kekepala anak muda itu.

Mimpipun tidak Tay-keng kalau Tong Ko berani berbuat senekad itu.

Buru2 dia berkelit lalu timpukkan kutungan pedangnya kepada Tong Ko.

Tapi Tong Ko siang2 sudah memperhitungkan hal itu.

Dia tendang meja hingga terjungkal dan seketika itu gelaplah seluruh ruangan situ.

yang terdengar hanya gerung kemurkaan Tio jiang dan Tay-keng, diseling dengan deru sambaran pukulan menghantam kalang kabut.

Tapi Tong Ko sudah menyelinap keluar.

Dari situ dia memutar kebelakang rumah.

Dari lubang tembok bekas hantaman Tioc jiang tadi, tampak olehnya dari dalam ruangan ada dua sosok bayangan loncat keluar.

Kedua ayah beranak itu tentu mengira kalau Tong Ko lari, maka bergegas2 mereka mengejarnya keluar dan lari kemuka.

Tapi ternyata Tong Ko lebih cerdik.

Dia tahu kalau lari, tentu bakal kesusul.

Maka tadi dia mengitar kebelakang rumah, melalui lubang dinding terus masuk lagi keruangan dalam dan bersembunyi dibawah kolong tempat tidur.

Dan memang siasat itu cerdik sekali, karena kini dia enak2 mendekam dibawah ranjang.

Nanti apabila ayah beranak itu.

sudah pergi, dapatlah dia tinggalkan tepat itu dengan selamat.

Benar sudah hampir sepuluhan Li Tio jiang dan Tay-keng 'tancap gas', namun tak berhasil menjumpai bayangan apa2.

Apa boleh buat, terpaksa Tio jiang ajak puteranya kembali kedalam pondok lagi.

Derap kaki mereka, telah membuat Tong Ko ketakutan setengah mati sampai tak berani bernapas.

Dan kuatir jangan2 yap-kun-kiam itu memancarkan cahaya keluar, buru2 ditindihnya pedang itu dibawah badannya.

"Apakah kau tak mengetahui kalau pada waktu terakhir ini kepandaian Tong Ko maju dengan pesat sekali? Mengapa kau se-lengah itu, kalau tak berada disini mungkin kau telah celaka dibuatnya!"

Tio jiang sesali puteranya. Tay-keng hanya ter-sipu2 mengiakan saja. Lewat sekian saat baru kedengaran dia berkata.

"yah, dengan mendapat pedang yap-kun-kiam itu, dia pasti seperti. seekor harimau yang tumbuh sayapnya. Lalu bagaimana baiknya?"

Tio jiang menghela napas, ujarnya.

"Heran juga aku dibuatnya. Waktu dia lari kitapun terus mengejarnya, tetapi mengapa hilang tak berbekas? Tentunya ketika. loncat kebawah lembah itu, dia telah beruntung mendapatkan sesuatu kemujijadan, kalau tidak masakan dalam beberapa hari saja dia sudah berobah sedemikian lihaynya?! Hem....., mustahil benar!"

"yah, rasanya dia pasti belum jauh, bagaimana kalau kita lakukan pengejaran yang seksama sekali lagi?"

"Apakah pengejaran tadi tak cukup cermat? Dengan pedang ibumu Kuan-wi-kiam, pedang yap-kun-kiam itu merupakan sepasang pedang pusaka yang disebut pit-i-song-hong. Sejak kakek gurumu memberikan pedang itu padaku, kini sudah 20 tahun lamanya. Hem...., tak nyana kalau pedang itu terlepas dari tanganku secara begitu gelo! Tio jiang ber-sungut2 dengan kesalnya. Pada lain saat, dia berkata lagi kepada puteranya.

"Tay-keng, lekas kau naik ke Giok-li-nia. Biarkan tanpa yap-kun-kiam, aku tetap hendak mengejar ketiga kuku garuda itu!"

Tong Ko jelas mendengar tindakan kaki Tay-keng menuju keluar dan derap kaki kuda mencongklang pergi.

Kini yang berada didalam ruangan situ han ya tinggal Tio jiang seorang, yang mondar mandir kian kemari dalam ruangan itu.

Tiba2 kedengaran oleh Tong Ko suatu bunyi benda diketuk "tuk..., tuk...

Lalu Tio jiang berkata seorang diri.

"Yap-kun-kiam..... yap-kun-kiam...... Sarungmu masih, tapi kau menghilang dan ah...., mengapa kau hilang pada saat2 aku membutuhkan tenagamu!"

Mendengar itu tergerak hati Tong Ko hingga hampir saja dia hendak memberosot keluar dari tempat persembunyiannya.

Tapi syukur dia dapat mengendalikan diri.

Kembali didengarnya Tio jiang menghela napas, berbareng itu terdengar bunyi lembaran kertas di-balik2kan.

Pada saat itu, terjadi suatu pertentangan bathin dalam hati Tong Ko.

Sejak kecil dia sangat mengindahkan sekali akan keperibadian Tio jiang, jadi sudah tentu dia tak menghendaki Siau-beng-siang sampai dcelakai orang.

Turut kemauannya, seketika itu juga hendak dia unjukkan diri dan serahkan pedang itu pada yang empunya, kemudian mengikutnya ber-sama2 mengejar jejak penculik Tio In.

Tapi pada lain saat terkilas dalam ingatannya, bahwa Tio jiang, tentunya menganggap dirinya (Tong Ko) sebagai salah seorang anggauta dari kawanan kuku garuda.

jadi bukan suatu hat yang mustahil, begitu dia muncul dan belum sampai serahkan pedang itu, Siau-beng-siang tentu akan sudah menyerangnya.

Taruh kata dia tak sampai binasa ditangan Siau-beng-siang tapi dapat dipastikan kalu dirinya tentu akan dikirim lagi ke Giok-li-nia untuk diadili.

Disana dia tentu akan binasa juga.

Memang apa yang direka dalam pikiran Tong Ko itu, tepat semua.

Maka walaupun besar hasratnya untuk menyerahkan kembali pedang itu, namun tak berani dia bertindak dengan gegabah.

Se-kali2 dia tak inginkan Siau-beng-siang sampai dicelakai musuh.

macam sikaki satu Sin Tok yang ganas itu.

Diapun kenal juga akan watak Siau-beng-siang, apa yarg dikatakan tentu.

akan dijalankan.

Yap-kun-kiam merupakan alat pelindung yang berharga bagi keselamatan Tio jiang dan dengan sendirinya juga bakal menjadi senjata sakti untuk membebaskan Tio In.

Dan adanya nona itu sampai terculik sikaki satu, pun karena hendak menolong jiwanya.

Ah, untuk kepentingan tokoh pujaannya, demi untuk menolong nona tambatan hatinya, mengapa dia bersikap koukati (memikirkan kepentingan diri sendiri)?

Tiba pada kesimpulan ini, dia segera mengambil keputusan tetap.

Ketika didengarnya derap kaki Tio jiang menuju keluar, dengan sekuat tenaga dia singkap ranjang sampai mencelat keatas, lalu berseru keras2.

"Siau-beng-siang, Pedang........"

Belum lagi kata2 berikutnya "kukembalikan padamu"

Sempat di ucapkan, waktu mendengar dari arah ruangan terdengar suara gedebrukan keras, cepat sekali dia sudah memutar tubuhnya kebelakang.

Dan kala melihat kilat cahaya yap kun-kiam didalam kegelapan, girang Tio jiang me-luap2 sedemikian rupa hingga tanpa menghiraukan lagi apa yang dikatakan Tong Ko tadi, wut...., wut...., dia sudah lancarkan dua buan hantaman kearah Tong Ko.

cepat dan dahsyat sekalilah gaya serangan itu.

GAMBAR 06 Karena Tak Tahan akan pertentangan batin, Tongko melompat keluar hendak menyerahkan kembali pedang pusaka itu.

Tak disangka .........

mendadak Tio jiang menghantamkan kedua tangannya.

Seketika itu Tong Ko rasakan disisi kanan kirinya terdampar oleh suatu gelombang angin yang luar biasa dahsyatnya sehingga tak kuat dia menahannya.

Apa lagi kala itu dia tengah menyodorkan pedang kemuka jadi kedua tangannya terbuka.

Hendak dia buru empos,semangatnya, namun sudah tak keburu lagi.

Begitu angin pukulan itu membentur tubuhnya, serasa gelaplah pandangan mata Tong Ko dan rubuhlah dia terjungkal.

Buru2 dia terus hendak menyalurkan semangatnya, tapi sesosok bayangan dalam gerakan kilat sudah menyambar yap-kun-kiam.

Tong Ko menghela napas dalam2.

Maksudnya untuk menyerahkan yap-kun-kiam sudah terlaksana, mengapa dia jeri menghadapi resikonya?

Semangat kejantanannya serentak timbul dan dia meramkan kedua matanya untuk menanti pukulan Tio jiang yang terakhir.

Dia berharap selekasnya dirinya binasa, Siau-beng-siang lekas2 menyusul Tio In.

Kalau hal itu terlaksana, sekalipun mati, puaslah juga rasanya.

Tapi sampai sekian saat, ternyata pukulan Tio jiang itu tak kunjung datang.

"Tong Ko, bukalah matamu!"

Kedengaran Slau-beng-siang berseru. Tong Ko heran, namun diturutnya juga perintah itu. Tampak wajah Siau-beng-siang berseri hampa.

"Tong Ko, menilik perbuatanmu selama ini, seharusnya kau tak pantas diberi hidup lagi. Tetapi dua tiga kali aku selalu memberi ampun, apakah kau tahu apa sebahnya?"

Tong Ko menggeleng.

"A...."

Tio jiang menghela napas.

"karena wajahmu seperti pinang dibelah dua dengan satu orang. Mengingat wajah itu, tak tegah aku menurunkan tangan jahat. Tapi setelah kau menerima pukulan maut berupa dua buah pukulanku tadi, kecuali bertemu dengan orang yang lebih tinggi kepandaiannya dari aku, kau bakal menjadi seorang tanpa guna. Benar jiwamu tak sampai hilang, namun ilmu kepandaianmu ini akan hilang sirna. Nah, selanjutnya jadilah seorang yang baik dan tuntutlah penghidupan yang lurusl"

Halus nada suara itu diucapkan, namun isinya adalah suatu nasehat yang tajam.

Memang pada saat itu Tong Ko rasakan Iwekang pada kedua sisi tubuhnya, pelahan2 merasa hilang.

Sekalipun tak binasa, tapi dengan punahnya ilmu itu, berarti dia seorang mati dalam hidup.

Dengan begitu, selanjutnya dia tak mempunyai harapan lagi untuk mencuci bersih penasaran hatinya itu.

Memikir sampal disini, buru2 dia hendak mengatakan apa-apa pada Siau-beng-siang, tapi tokoh itu ternyata sudah ngaclr keluar.

Sampai beberapa saat, Tong Ko ter-mangu2 seperti patung.

---oo0oo---BAGIAN 11 .

MENDAPAT ILMU Menjelang terang tanah, tubuhnya serasa sakit bukan kepalang.

Saking tak kuatnya menahan, dia hendak berbangkit.

Tapi pada saat itu se-konyong2 terdengar orang berseru.

"Disinilah!"

Kejut Tong Ko seperti disambar petir.

Kalau saja yang datang itu Tay-keng, habislah sudah tentu riwayatnya.

Bum....., sesosok tubuh yang luar biasa tinggi dan besarnya, dari atas wuwungan jatuh kedalam ruangan situ.

Dan berbareng pada saat itu seorang bertubuh kate juga menobros masuk.

Waktu masih melayang diudara tangan sikate itu sudah lancarkan 3 buah serangan pada sitinggi besar tadi.

Siraksasa itu menghindar kesana berkelit kesini.

Tapi dikarenakan ruangan situ sempit, jadi dia segera dapat melihat Tong Ko disitu.

"Hai, kau juga berada disini?!"

Tengah dia berseru itu, sikate sudah menginjak lantai dan buk, dia hantam pantat sibesar itu siapa dengan berkuik kesakitan berseru keras2.

"Bedebah, berani kau menyerang orang secara membokong?"

Kini tahulah sudah Tong Ko siapa kedua orang yang datang itu.

Itulah Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong.

Diam2 dia merasa girang.

Benar kepandaian kedua orang itu tak terpaut banyak dengan Tio Jiang, tapi kalau mereka berdua mau bersatu tentu hebat hasilnya.

"Jiwi cianpwe.......jangan berkelahi! Aku terluka berat, lekas tolongi!"

Tong Ko paksakan diri berseru. Terhadap kedua orang limbung itu, tak perlulah kiranya dia main sungkan lagi. Dan benar juga kedua orang limbung itu tertawa mengekeh.

"Ha...., ha......, bagus! Seorang separoh!"

Mereka melangkah menghampiri dan tepat seperti tatkala diatas batu besar dalam lembah, mereka masing2 lalu mencekal tangan kanan dan kiri Tong Ko.

Terima kasih Tong Ko sukar dilukis.

Diapun cepat2 kerahkan semangatnya.

Hampir sehari semalam kedua orang limbung itu menyalurkan lwekang masing2 ketubuh Tong Ko.

Saking lelahnya tuhuh mereka sama bersimbah peluh (mandi keringat).

Tong Ko tak tega melihatnya, lalu geliatkan sepasang tangannya untuk berbangkit.

Dia tak tahu sama sekali, karena ingin dianggap menang, kedua tokoh limbung itu kerahkan penyaluran lwekangnya, hingga hampir 7 bagian lwekang mereka masuk ketubuh Tong Ko.

Maka begitu Tong Ko gerakkan tangannya tadi, kedua orang limbung itu sama2 terjerembab jatuh.

Saking kagetnya Tong Ko sampai menjerit serta buru2 memapah mereka, tapi sitinggi dan sikate itu goyang2kan tangannya seraya berseru.

"Tak apa, coba katakanlah, kepandaian siapa yang lebih unggul?"

"Cianpwe berdua sama2 memiliki ilmu yang sempurna, hopwe sukar untuk memutusi!"

Sahut Tong Ko. Kedua orang limbung itu saling berpandangan satu. sama lain dengan melongo. Tiba2 Soa-kim-kong Ciang Tay-lo menarik sebuah jwan-pian warna merah dari pinggangnya.

"Siaucu, dengarlah! Pian ini adalah milik Yan-peng-gun-ong The Seng Kong yang disebut Liong-kau-pian, lemas dan tahan segala tabasan. Kuserahkan ini padamu beserta imu permainannya pat-siat-pian-hwat. Sikate itu tentu tak dapat menandingi pemberianku ini!"

Serempak berdirilah Sik Lo-sam, serunya.

"Bagus!"

Tanpa berkata apa2 lagi dia terus melesat pergi. Bermula Tong Ko menolak pemberian Soa-kim-kong itu, tapi setelah dipaksa oleh orang limbung itu, terpaksa dia menerimanya juga.

"Nah...!, dengarlah. jurus pertama disebut ko-lo-ki-lo (orang tua menunggang keledai) !"

Seru Sitinggi sembari ayun tangannya. Tapi demi didapatinya tangannya sudah kosong karena piannya sudah di berikan kepada Tong Ko, dia meringis seperti monyet.

"Senjata pian meskipun hebat, tapi ilmu permainannya jauh lebih berharga. Telah kukatakan kuberikan padamu, tentu kuberikan sungguh2, huh....., mengapa kau tetap memeganginya saja?"

Gerutu si Malaekat Tolol itu panjang pendek.

Tu!

lihat, betapa limbung pikirannya.

Liong-kau-pian dia sendirl yang memberikannya kepada Tong Ko, tapi kini persalahkan Tong Ko tipis kepercayaannya.

Sudah tentu Tong Ko tak mau berbantah lalu serahkan pian itu kepada silimbung.

Begitulah sejurus demi sejurus dia telah mainkan 8 buah jurus, yakni "Sian-cu-jui-siau";

"sian-kho-yan-hoa";

"kok-ciu-pang-wu".

"thiat-kuay-may-cin";

"tun-yang-hui;kiam";

"ho-ho-te-lan"

Dan "ciong-li-hud-si".

Limbung orangnya, tapi ternyata si Malaekat Tolol itu memiliki suatu ilmu kepandaian yang luar biasa.

Apa yang diunjukkan tadi, sungguh2 sakti.

Setiap jurus dipecah lagi menjadi 8 bagian jadi semua jadi mempunyai 8 x 8 gerak perobahan yang sukar diduga orang.

Jwan-pian atau ruyung lemas itu, ada kalanya lemas lunglai macam dahan puhun liu yang menjulai, tapi ada kalanya menderu2 laksana seekor hay-kau-liong (naga bertanduk satu) muncul dari dalam laut.

Tong Ko sampai ter-longong2 mengawasi.

Dua jam lamanya dan haripun sudah terang tanah, barulah si Tolol itu mengakhiri permainannya.

Intisari rahasia permainan pian itu, satu per satu diterangkannya kepada sianak muda.

"Ilmu permainan pian ini, kuperoleh semasa kumendapat pian liong-kau-pian itu. Suhuku, Cui-kui (setan arak) Jui Wi, sengaja menciptakan ilmu permainan pian itu hasil pengolahannya dari ilmu pukulan pat-sian-ciang (pukulan 8 dewa). Hampir separoh hidupku kugunakan untuk meyakinkan ilmu itu, maka jangan pandang remeh padanya!"

Kata Soa-kim-kong.

Tong Ko menurut dan memainkan pula permainan itu satu kali.

Begitulah tak terasa, 3 hari terus menerus Tong Ko dilatih Soa-kim-kong.

Karena dasarnya cerdas, fahamlah sudah Tong Ko akan permainan pian itu.

Hari itu sudah menjelang malam pula dan berkatalah Ciang Toa-lo.

"Ho... ho..., entah kemana perginya sikate itu, tapi rasanya tak nanti dia dapat mengungkuli hadiahku itu, benar tidak?"

Tong Ko masih tak percaya kalau seorang tokoh macam Sik Lo-sam mau mengikari janji tak datang lagi.

Tapi menunggu sampai tengah malam dan Ciang Toa-lopun habis kesabarannya; tetap sikate itu belum muncul.

Mereka lalu keluar pintu untuk melongok keluar.

Hai, apa itu?

Nun jauh disana, tampak ada segulung sinar ber-kilau2an laksana sebuah bola api.

Teng-liong (lampion)?

Bukan, tak mirip dengan teng-liong.

Secepat kilat, benda aneh itu makin mendekati dan cahayanyapun makin gilang gemilang menyilaukan mata dan ketika sudah tiba hampir2 mata Tong Ko tak kuat dibukanya.

Ha...., ha...., demikian gelak tertawa sikate dan orangnyapun sudali tampak berdiri dihadapannya.

Benda bercahaya itu, kiranya dia yang membawa.

"Bocah gede, coba lihat apa ini?"

Tanyanya kepada Soa-kim-kong.

Ketika Tong Ko dan Soa-kim-kong mengawasinya, kirania sikate itu telah membawa sebatang lian-to (golok yang bentuknya macam sabit).

Mata senjata itu putih seperti perak yang ber-kilap2 cahayanya.

Maka waktu dimainkan oleh sikate tadi, telah menjadi segulung sinar putih yang ber-kilau2an.

Sudah tentu kedua orang itu menjadi kaget tak terkira.

"Ay-ko-ji (kate), golok apa sih itu?"

Tanya si Tolol. Sik Lo-san mendongok dengan wajah ke-bangga2-an sambil menatap wajah yang murung dari lawannya itu.

"Inilah yang disebut It-thian-pi-lik-to !"

"Bagus, golok luar biasa! Ay-ko-ji, dari mana kau peroleh golok itu?"

Mau tak mau si Soa-kim-kong menghambur pujian.

"Huh, siapa sudi mengatakannya"

Sahut Sik Lo-sam dengan wajah merah jengah. Tampak perobahan wajah sikate, tahulah Tong Ko bahwa menilik dari gerak geriknya yang aneh, tentulah golok Itu berasal dari hasil mencuri.

"Tidak, harus mengatakan!"

Ciang Tay-lo mendesak.

"ya...., ya...., bilang ya bilang,"

Akhirnya Sik Lo-sam mengalah.

"golok ini pada 20 tahun yang lalu kucuri dari kepala suku Thiat-theng-biau dipegunungan Sip-ban-tay-san !"

Memang dugaan Tong Ko tadi benar.

Dari bentuknya yang begitu kemilau, terang ketajaman golok itu.

tak dibawah pi-i-song-hong (sepasang pedang yap-kun-kiam dan kuan-wi-kiam.

Waktu Tong Ko menyambuti golok mujijad itu dari tangan Sik Lo-sam, diluar dugaaan golok itu ringan seperti tak mempunyai berat sama sekali.

Tangkai golok Itu berwarna hitam, ujung tangkai yang diikat dengan sehelai benang sutera perak itu terdapat beberapa tulisan yang.

berbunyi "kian thian pik li to, ho ping sam lian cu".

Kian-thian pik-li-to artinya golok yang menggoncang dunia; sedang Ho Ping sam lian cu maksudnya dibuat pada tahun Ho Ping yang ke 3.

Ho Ping adalah perhitungan tahun pemerintahan baginda Han Seng-te, maka menghitunglah Tong Ko, hai......, kiranya golok itu usianya sudah 1600 tahun.

Namun keadaannya masih sedemikian gilang gemilang, entah terbuat dari pada bahan logam apa?.

"Ay-ko-ji, aku tak dapat menandingi golokmu itu. Kau ajarkan sekalian ilmu permainannya kepada anak itu!"

Akhirnya dengan ter-bata2 Soa-kim-kong Ciang Tay-lo mengaku kalah. Sik Lo-sam tertawa bangga, girangnya seperti putus lotre.

"Jadi kau mengaku kalah?"

"ya, aku kalah!"

Sahut Sce-kim-kong. Maka bertepuklah Sik Lo-sam seperti orang getun serunya.

"Cialat, aku sendiripun tak tahu permainan golok itu! Setelah mendapat golok itu, tak berani kumenginjak Sip-ban-tay-san lagi. Suku Thiat-theng-biau itu amat lihay, siapa yang berani main2 dengan merekal"

Tapi pada lain detik dia segera men-jerit2 seperti orang gila.

"Hurah...., aku menang! Aku menang......!"

Tanpa pamitan lagi, dia terus ngacir pergi, lari ber-jingkrak2. Ciang Tay-lo menghela napas.

"Golok luar biasa, ya memang luar biasa sekali Coba pinjamkan padaku, biar kuperiksanya!"

Tong Ko mengangsurkan dan begitu menyambuti Ciang Tay-lo lalu menebas sebatang puhun kecil yang berada didekat situ.

Golok menobros ditengah batang puhun, tapi lewat beberapa detik barulah puhun itu bergoyang rubuh.

Dari percobaan itu dapatlah diketahui, betapa tajamnya golok pusaka itu.

Demi melihat Soa-kim-kong suka sekali akan golok itu, tak ragu2 lagi Tong Ko segera hendak menyerahkannya.

"Kalau cianpwe menyukai, ambillah golok itu!"

"Sungguh?"

Sahut Soa-kim-kong dengan kegirangan.

"Masakan aku berani mempermainkan cianpwe!"

Beberapa kali Soa-kim-kong membolang-balingkan golok pusaka itu untuk memeriksanya. Tapi pada lain saat tiba2 dia berkata.

"Sungguhpun aku suka sekali akan pusaka ini, namun tak dapat aku meminta benda kepunyaanmu. Nah, ini kukembalikan dan selamat tinggal!"

Berbareng dengan lontarkan golok itu kearah Tong Ko, orang Tinggi besar yang limbung itu angkat kaki seribu.

Tong Ko hendak mengejarnya, tapi toa-ko-ji atau si Bocah Gede itu sudah tak kelihatan bayangannya lagi.

Apa boleh buat, terpaksa Tong Ko kembali.

Setelah disimpannya dengan hati2 golok itu, dia lalu masuk tidur.

Keesokan harinya ketika terbangun, tiba2 dia merasa ada sesuatu yang luar biasa.

---o0o---BAGIAN 12 .

"GOLOK YANG MENGGUNCANG DUNIA" (Kian-thian-it-gwan pik-li-to) Keesokan harinya ketika terbangun, tiba2 dia merasa ada sesuatu yang luar biasa. Kala itu hari masih belum begitu gelap, tetapi ketika membuka mata didapatinya pada wuwungan rumah itu tampak ada suatu cahaya yang terang benderang. Bermula dikiranya kalau sinar rembulan yang menobros dari lubang wuwungan, kemudian setelah di-amat2i dengan seksama, astaga, itulah pik-li-to (golok sabit) yang kemarin dengan hati2 ditindihinya kini berada diatas tiang Penglari wuwungan itu. Seketika hilang rasa kantuknya karena terperanjat. Sekali enjot tubuh, dia loncat naik untuk mengambil golok pusaka itu. Dibalik heran diapun merasa takjub akan kelihayan orang main2 dengannya itu. Bahwa orang telah dapat mengambil golok pusaka yang ditindihi dibawah bantal tanpa diketahuinya, adalah sangat mengejutkan. Tapi yang lebih mengherankan lagi, mengapa orang lihay itu tak mengambil golok itu saja dan hanya digantung ditiang penglari. Apakah gerangan maksudnya? Sampai terang tanah, tak dapat dia pecahkan kejadian yang aneh itu. Dibungkus baik2 golok pusaka itu lalu dia tinggalkan pondok situ. Menghadapi jalanan yang membentang dihadapannya itu, timbullah keraguannya, hendak kemana dia ayunkan langkah mengejar jejak Tio In atau menuju ketempat The Ing? Diperhitungkannya bahwa sudah 3-4 hari lamanya dia berada didalam pondok situ, rasanya Siau-beng-siang Tio Jiang tentu sudah sampai diperbatasan Kwitang. Untuk menyusul, terang tak keburu lagi. Ah......, lebih baik dia kembali kegua sana untuk menolong The Ing. Dengan bantuan golok. pusaka.

"Kian-thian-it-gwan pik-li-to"

Dan ilmu ruyung "

Pat-siat-pian-hwat"

Yang baru diperlajarinya itu, kemungkinan besar dapat dia membebaskan The Ing.

Nona itu telah melepas budi besar padanya, maka sudah lebih dari pantas kalau die menolonginya.

Kegua tempat wanita aneh itu, kini ayun kakinya ditujukan.

Ketika dahulu dia dipondong Tio In lari dari ke gua itu, waktu itu dia tengah pingsan, jadi tak mengetahui jalannya.

Make hampir lewat tengah hari, dan sudah melintasi dua buah puncak gunung, tetap dia tak menemukan jejak penunjuk ketempat goa itu.

Terpaksa dia berhenti sebentar memulangkan napas.

Hai....., mengapa aku tak menuju dulu ke Giok-li-nia dan dari sana lalu mencari goa itu?

Demikian dia mendapat pikiran., Tiba dikaki Giok-li-nia, terkilas pikirannya bahwa pada saat itu dipuncak sana tentu para, orang gagah patriot tengah merundingkan siasat perlawanan kepada pemerintah Ceng.

Ingin benar dia menyumbangkan tenaga, namun mereka tak mau mempercayai dirinya lagi.

Tiba pada lamunan itu, dia menghela napas dalam2.

Tiba2 pikirannya melayang akan perbuatan Tio Tay-keng yang aneh mencurigakan itu.

Ya, biar bagaimana juga, kelak dia akan berusaha untuk menelanjangi rahasia anak itu.

Sembari merenung didalam pikirannya itu, tidak terasa lagi kakinya sudah tiba pada jalanan dimana tempo hari, dia bersama The Ing dan rombongan kera gin-si-kau.

Ketika memandang kebawah, tampak ada tetesan darah berceceran diatas batu yang menuju kesebelah muka.

Dari keadaannya, terang noda darah itu masih belum kering, jadi kalau.

benar ada seseorang yang terluka, tentulah belum lama berselang, kemungkinan besar baru kemarIn malam.

Disusurinya ceceran darah itu.

Kira2 satu li jauhnya disebelah muka, tampak ada 4 ekor kecra gin-si-kau menggeletak ditanah, namun ceceran darah tadi masih belum putus.

sampai disitu.

Kejut Tong Ko tak terkira.

Diayunkan langkahnya makin cepat untuk menyusur kemuka.

Disepanjang jalan itu, ternyata tak putus2nya dia berjumpa dengan kera2 gin-si-kau yang sudah menjadi bangkai.

Tak lama kemudian, tibalah dia dilembah gunung yang terdapat air terjun itu Ya, tak salah lagi itulah tempat gua siwanita aneh.

Dengan Plan ditangan kiri dan golok ditangan kanan, dia loncat menobros masuk kedalam air terjun.

Berkat cahaya benderang dari golok pusaka itu dapatlah dia mengetahui keadaan dalam gua situ.

Lagi2 dla disuguhi dengan pemandangan yang aneh.

Bukan saja dalam gua situ kosong melompong tiada terdapat barang seorangpun, juga jaring ikan yang tergantung disitu, lenyap entah kemana.

Masih Tong Ko tak puas, lalu menuju kesudut untuk mencari wanita aneh itu, tapi juga wanita bekas bidadari dunia itu tak kelihatan bayangannya.

Lorong tikungan gua situ, amat banyak.

Satu demi satu.

Tong Ko menyusurinya, kecuali beberapa kamar batu, tiada barang sesuatu yang dijumpainya Didepan sebuah kamar batu terhampar sebuah papan batu (tempat The Ing dikurung tempo hari), dia menemukan sebuah ikat kepala pelajar yang bukan lain adalah milik The Ing.

Tong Ko makin gelisah.

Setelah sia2 mencarinya, terpaksa dia keluar lagi.

Memandang kearah air.

mancur yang.

mencuram dari atas karang itu, hati Tong Ko amat gundah.

"Nona The dimana kau berada?"

Tanpa merasa dia berkata seorang diri.

Sekonyong2 didengarnya ada suara berkeresekan dari semak2 rumput disebelah.

atas.

Tatkala diawasinya seperti ada dua sosok tubuh berbaring ditengah semak rumput itu.

Ber-gegas2 dia menuju kesana, dan astag, kirania Toa-gin dan Siau-gin sedang meregang jiwa (sekarat).

Begitu tampak sianak muda, mata kedua binatang itu ber-kicup2 tetapi tubuhnya tetap tak dapat berkutik.

Dada dan punggungnya, masing2 terdapat sebuah lubang luka besar.

Entah bekas kena senjata apa, tapi yang nyata luka itu masih mengucurkan darah.

"Toa-gin, Siau-gin, dimana nona The Ing?"

Tanya Tong Ko kepada kera2 yang dapat mengerti bahasa orang itu.

Dia harap dapatlah sekiranya kedua kera itu memberi barang sedikit petunjuk, tapi kedua binatang itu hanya membeliakkan matanya sejenak, lalu menutup lagi untuk se-lama2nya.

Tak tega Tong Ko melihat mayat binatang itu terkapar begitu saja, mengingat bahwa sudah ber-tahun2 lamanya menjadi piaraan The Ing.

Maka dibuatnya sebuah liang untuk menguburnya.

Ketika hendak diangkat kedalam liang, Tong Ko mendapatkan tangan Toa-gin menggenggam secarik kain yang dikenalnya sebagai robekan baju The Ing.

Tatkala robekan kain itu dibentang, ternyata disitu terdapat tulisan dari darah yang walaupun corak hurufnya pencang-pencong, tapi terang adalah buah tulisan The Ing.

"Perobahan besar timbul secara mendadak, urusan menjadi gawat sekali. Kutahu kau pasti datang kemari. Pergilah ke Sipban ......... beritahukan ayah bundaku, hatiku telah menjadi milikmu"

Demikian bunyi tulisan itu.

Tak salah lagi, tulisan itu tentu untuknya.

Lepas darl pernyataan isi hati The Ing, Tong Ko adalah seorang yang berbudi luhur.

Adakah The Ing Itu mencintainya atau hanya sebagal sahabat biasa, namun Tong Ko tetap mengenang akan budi yang dilepas nona itu dalam usaha menolong dirinya tempo hari.

Dari maksud tulisan itu, kemungkinan besar The Ing tentu mengalami bencana.

Tanpa terasa, menangislah dia.

"Seorang lelaki tak mau sembarangan mengucurkan air mata, betapapun penderitaan yang diterimanya". Beberapa kali Tong Ko telah menelan hinaan dan mandi penasaran bahkan dipaksa untuk bunuh diri, tetap dia tak mengucurkan setetes air mata. Tapi kali ini, benar2 dia tak kuasa menahan arus air mata yang membanjir keluar itu. Begitu sudah puas menumpahkan perasaannya, robekan baju The Ing disimpannya lalu meneruskan penguburan Toa-gin dan Siau-gin. Setelah itu dia menyelidiki sekitar tempat itu kalau2 dapat menemukan jenazah The Ing. Tapi usahanya itu tak berhasil. Dalam perjalanan meninggalkan lembah itu, Tong Ko selalu terkenang akan The Ing. Orang satu2nya yang dianggap sebagai orang sendiri (mengetahui perasaannya) adalah nona itu. Dalam waktu remang petang dimana burung2 gagak sama beterbangan pulang kesarangnya itu, hati Tong Ko makin terasa rawan. Untuk melampiaskan kesesakan dadanya, hendak dia bersuit keras2. Tetapl se-konyong2 dari balik gunung sana, terdengar suara seseorang bergelak-tawa. Dari nadanya, terang orang itu si Ce-cing-long Shin Hiat-ji adanya! Tong Ko kaget tercampur girang. Kaget, karena dia tak merasa ungkulan menghadapi Hiat-ji yang berkepandaian tinggi itu. Girang sebab dengan beradanya anak itu, dapatlah dia menanyakan dirinya The Ing. Begitu menyembunyikan golok didalam baju dan mencekal liong-kau-pian, dia menuju kearah datangnya suara itu. Jauh disebelah sana tampak ada setumpuk api unggun. Serangkum bau daging bakar yang wangi, menyampok hidung Tong Ko. Oleh karena beberapa hari tak merasakan daharan daging, air liur Tong Ko sampai menetes dibuatnya. Dari cahaya api unggun, tampak Shin Hiat-ji duduk disebelah situ tengah memberakoti sepotong paha rusa dengan nikmatnya. Duduk dihadapannya adalah seorang tua kate yang mengenakan pakaian aneh sekali. Juga orang kate itu tengah kemak-kemik gerahamnya mengunyah daging rusa. Selain mereka berdua, tiada lain orang lagi. Hanya disisi Hiat-ji terdapat setumpuk benda hitam yang dikenali Tong Ko sebagai jaring ikan dari si wanita dari gua itu.

"Suhu, kalau kau orang tua tak keburu datang, mungkin Tecu (murid) sudah celaka ditangan wanita jahat itu! Ilmu kepandalannya hebat jugal"

Kedengaran Hiat-ji berkata. Sikate itu tertawa dengan nada yang memanja. Dalam keadaan seperti itu, dia mirip sekali dengan Bi-lek-hud (Budha) yang gendut perutnya.

"Suhu, adakah kau mengetahui siapa wanita jahat itu?"

Tanya Hiat-ji pula. Sikate yang dibahasakan "Suhu" (guru) itu goyang2 kepala, sahutnya.

"Oleh karena baru pertama kali ini aku melintasi sungai Tiangkang, maka tentang tokoh2 persilatan didaerah Selatan sini, aku tak paham!"

Keterangan sikate itu hampir saja membuat Tong Ko berjingkrak bahna kagetnya.

Bukan saja suara sikate itu sekeras guntur, tapi nadanya seperti anak kecil.

Kalau orang tak melihat mukanya, tentu akan mengira kalau anak kecil yang bicara.

"Suhu, mengapa kau orang tua juga datang ke Kwitang sini?"

Kembali Hiat-ji ajukan pertanyaan.

"Pemerintah agung Ceng mengutus orang menyampaikan surat padaku, supaya turun gunung membantunya. Walaupun aku seorang liar, tapi tahu juga akan rasa terima kasih. Kudengar sepak terjang si Go Sam-kui itu mencurigakan, mengunjuk sikap hendak memberontak. Kwisay, Kwitang serta Hun-lam berbahaya suasananya. Oleh karena kau berada di Kwitang, maka segera aku datang kemari mencarimu"

"Suhu, dengan kesaktianmu itu, mengapa tak menghajar saja ke Giok-li-nia, pusat berkumpulnya kawanan pemberontak itu? Biar mereka tahu rasal"

Seru-Hiat-ji. Sampai disini tahulah sudah Tong Ko apa yang dimaksudkan dengan tulisan "perubahan besar timbul dengan mendadak"

Itu.

The Ing tentu maksudkan munculnya.

siorang tua kate itu.

Ditilik dari gelagatnya, wanita aneh dari gua itu tentu bukan tandingan siorang tua kate, maka sampai pusaka jaring kena dirampas.

Ilmu kepandaian wanita itu cukup tinggi, tak sembarang tokoh persilatan dapat menandinginya.

Kalau in saja sampai kalah, terang kepandaian sikate itu bukan main dan dengan begitu The Ing tentu sudah mengalami kecclakaan.

Menuruti getaran hati, seketika itu juga dia sudah hendak menobros keluar untuk menghadapi mereka, tapi tiba2 orang tua kate itu kedengaran berkata.

"Hiat-ji, adatmu masih seperti anak kecil saja. Kau sudah lama berkelana didaerah Kwitang sini, apakah pernah mendengar tentang golok pusaka Kian-thian-it-gwan pik-li-to?"

Disinggungnya golok pusaka itulah yang membuat Tong Ko hentikan langkahnya hendak keluar tadi.

"Belum pernah mendengarnya!"

Seru Hiat-ji dengan terkejut.

"Aneh,"

Kedengaran sikate menyahut "malam lusa tak berapa jauh dari gunung ini kulihat ada segulung sinar gemilang yang rupanya mirip dengan golok pik-li-to.

Menurut cerita rakyat Tibet kami sewaktu Thio Cian-seng dari ahala Han mengunjungi daerah itu, baginda Tay Wan telah menghadiahkan golok pusaka Kian-gun-it-guan pik-li-to yang terbuat daripada emas murni keluaran daerah barat itu.

Ai, sayang, gerakan sipembawa golok pusaka itu sangat luar biasa cepatnya.

Waktu hendak kukejar, dia sudah menghilang.

Hiat-ji, benar ilmu kepandaianmu sudah tinggi, tetapi belum mencapai kesempurnaan.

Asal kau dapat memperoleh golok pusaka itu berikut ilmu permainannya yang tiada tara saktinya, rasanya sekian banyak taylwe-ko-chiu (jagoan istana Ceng) tak nanti dapat menandingimu"

"Suhu, dimana kau melihalnya? Ayoh, lekas kita cari !"

Seru Hiat-ji sambil berjingkrak girang Orang kate itu mengiakan Dia hanya kelihatan me-nepuk2 pakaiannya dan entah bagaimana tiaranya bergerak, tahu2 dia sudah melesat tiga empat tombak jauhnya.

Larinya bagai segulung asap, pesatnya bukan kepalang.

Tiba2 dia hentikan langkahnya, berpaling kebelakang seraya berseru.

"Jaring liok-i-bang dari wanita itu juga termasuk senjata pusaka, terbuat daripada sutera labah2 kim-cu. Jangan lupa membawanya?"

Hiat-ji mengiakan dan setelah mengemasi jaring itu, dia lalu menyusul suhunya.

Dalam sekejab saja kedua orang itu sudah lenyap dalam kegelapan malam.

Kini baru Tong Ko berani unjukkan diri dari tempat persembunyiannya.

Lebih dahulu dia beresi sisa daging rusa yang ada disitu untuk mengisi perutnya.

Diam2 dia mengagumi golok pusaka hadiah Sik Lo-sam itu.

Kalau saja dapat dia mempelajari ilmu permainannya, rasanya dia bakal menjagoi dunia persilatan.

Sik Lo-sam mengatakan golok itu dicurinya dari gunung Sin-ban-tay-san, tetapi tak tahu bagaimana ilmu permainannya.

Ah, kebenaran sekali kalau dia pergi kegunung itu.

Pertama, untuk menjumpai ayah-bunda The Ing dan kedua kalinya, siapa tahu kalau awak mujur, tentulah dapat menemukan rahasia permainan golok itu Dendam penasarannya pasti terhimpas, namanya akan dapat direhabiliteer (dikembalikan) pula sebagai salah seorang pahlawan yang gagah perwira.

Tengah dia dilamun oleh cita2nya yang membubung itu, se-konyong2 ada serangkum angin puyuh meniup, sehingga unggun api itu tertiup naik sampai beberapa meter tingginya.

Menyusul dengan itu, apipun padam dan disekelilingnya menjadi gelap gelita.

Terang api itu tertiup padam oleh angin puyuh, tapi mengapa?

Api unggun itu sudah sekian lama berkobar nyalanya.

Sekalipun ada angin puyuh, yang bagaimana dahsyatnya hingga memadamkan, tentu tiada semuanya padam.

Sekurang2nya pasti masih ada sisa lelatunya yang masih-hidup.

Tetapi mengapa api unggun itu padam serempak?

Tong Ko insyaf tentu ada sesuatu yang kurang wajar.

Baru saja dia berbangkit atau cari sebelah belakang sudah terdengar deru sambaran senjata melayang datang Tak kurang sebatnia, Tong Ko segera sabatkan liong-kau-pian kebelakang dalam diurus "tunyang-hui-kiam".

Tapi sabetannya itu mengenai tempat kosong dan dengan tangkasnya dia berputar lagi kebelakang..

Belum sempat dia lancarkan serangannya yang kedua, terasa ada angin meniup disisi nya.

Rasanya seperti ada sesosok tubuh menyamber disampingnya.

Jurus kedua "kok-ciu-ja-ho"

Dia hantamkan, namun lagi2 menyambar angin saja.

Kiranya deru angin itu sudah jauh, saat itu tiada terdengar suara apa2 lagi.

Buru2 Tong Ko pasang geretan api.

Hai, kiranya diatas tumpukan unggun itu terdapat sebaran pasir halus, makanya apinya sampai padam sama sekali.

Waktu sebaran pasir halus itu disingkirkan, apipun kembali menyala.

Tatkala dia menunduk untuk melakukan pemasangan unggun itu, tiba2 dilihatnya robekan baju bertulisan tadi jatuh diatas tanah.

Robekan baju itu tadi disimpannya dengan hati2, mengapa bisa jatuh?

Memikir hal itu teringatlah dia akan golok pusaka pik-li-to.

Tangannya meraba kedada dan astaga, ternyata golok itu sudah tak ada lagi!

Baru saja dia mengetahui akan kesaktian golok itu atau kini sudah hilang lenyap.

Walaupun marah, namun tak mau dia mengejar penyerang gelap itu, karena menginsyafi dirinya bukan tandingan musuh yang sedemikian saktinya itu.

Hanya yang dia herankan mengapa dengan mempunyai kepandaian yang sedemikian hebatnya itu, orang tersebut tak menyerangnya saja secara terang2an, tetapi secara menggelap begitu?

Rasanya bukan si Hiat-ji atau sikate yang melakukan.

Adalah Sik Lo-sam karena merasa getun menyerahkan golok itu?

Ah rasanya juga tidak.

Kemungkinan besar tentulah orang yang pada malam itu pernah mengambil dan menggantung golok itu diatas penglari wuwungan tempo harl.

Tetapi siapa gerangan orang aneh itu?

Apa maksudnya?

Dalam kemasgulannya dia menghibur diri.

Dalam keadaan masih begitu rendah kepandaiarnnya, rasanya lebih baik tak memiliki senjata pusaka itu daripada nanti mengundang bahaya di-kejar2 oleh kaum persilatan yang tentu sangat mengilerkan pusaka itu.

Maka dipungutnya lagi robekan baju tadi dan serentak seperti meng-iang2 pulalah kata2 yang tertera dalam pesan robekan-baju itu.

"Ko-ko, lekas pergi ke Sip-ban-tay-san memberitahukan ayah bundaku! Lekas, lekaslah!"

Jika benar The Ing mengalami sesuatu yang tak diinginkan, tentulah perbuatan siorang tua kate clan Shin Hiat-ji.

Tetapi Siapakah gerangan ayah-bunda The Ing itu?

The Ing hanya pernah mengatakan dirinya dibesarkan ditengah hutan belantara, lain tidak.

Rasanya orang tua The Ing Itu tentulah orang2 sakti yang menyepikan diri dari pergaulan ramai.

Begitulah akhirnya dia ambil putusan menuju kepegunungan itu.

---oo-dwkz+0+tah-oo---BAGIAN 13 .

DI GUNUNG SERIBU Sekeluarnya dari Lo-hu-san dia membeli seekor kuda lalu berangkat ketempat yang dituju itu.

Untuk menghilangkan kecurigaan orang, selama dalam perjalanan itu Tong Ko menyaru sebagai seorang pedagang.

Begitulah singkatnya saja, hari itu dia tiba dikaki gunung Sip-ban-tay-san (Gunung seribu).

Pegunungan Sip-ban-tay-san membujur ditengah perbatasan.

propinsi Kwitang dan Kwisay, luasnya sampai beberapa ratus li.

Sesuai dengan namanya, Sip-ban-tay-san atau Gunung Seribu itu penuh dengan lembah dan tebing curam serta puncak yang tinggi menjulang diselimuti oleh hutan belantara.

Untuk mencari dua orang yang berupa orang tua The Ing, ibarat seperti mencari sebatang jarum didalam lautan sukarnya.

Tambahan pula nona itu belum pernah menerangkan tentang ciri2 kedua orang tuanya itu.

Menghadapi kesulitan itu, Tong Ko tertegun sejenak dan lalu turun dari kudanya untuk melepaskan lelah.

Beratnya melakukan pesan seorang sahabat berbudi, biar bagaimana dan betapapun lamanya, dia tetap hendak mencarinya sampai dapat.

Seminggu lama nya dia menjelajahi daerah gunung itu, makhluk buas maupun bangsa ular yang menghuni dihutan pegunungan situ, sudah banyak yang dijumpainya, namun seorang manusiapun belum pernah dilihatnya.

Malam itu dia tengah rebahkan diri diatas sebuah pohon besar.

Se-koayong2 didengarnya ada derap kaki mendatangi.

Tong Ko menggeliat bangun, tapi buru2 rebahkan diri lekat2 pada dahan pohon lagi.

Pada lain saat derap kaki itu makin dekat dan tampaklah 3 orang berjalan menghampiri.

Yang dimuka sendiri, bukan lain adalah Tio Tay-keng, putera sulung Tio Jiang.

Dibelakangnya mengikuti dua orang, siorang tua kate dan Ci-ceng-long Shin Hiat-ji!

"Tio-heng, ucapan ayahmu, rasanya tentu tak keliru bukan?"

Tiba2 kedengaran Hiat-ji membuka mulut.

"Sudah tentu benar. Ayahku selalu memegang teguh apa yang diucapkan, tak pernah dia menelan ludahnya lagi!"

Sahut Tay-keng sambil tertawa.

"Bagus, Tio-heng. Bilamana usaha kita kali ini berbasil, pemerintah Ceng tentu akan memberi pangkat besar padamu. Kedosaan ayahmu selama ini, tentu juga akan diberi pengampunan. Orang mengatakan bahwa tiong (setia pada negara) dan hau (berbakti pada orang tua) itu tak dapat dikerjakan sekaligus. Tetapi kau, Tio-heng, ternyata membuktikan ketidak benarnya ujar2 usang itu!"

"Ah, Shin-beng terlalu memuji"

Sahut Tay-keng mengulum tawa.

Mereka bertiga berjalan seenaknya saja sambil pasang omong, hingga ketika lalu dibawah tempat persembunyian Tong Ko, mereka tak memperhatikan diatas pohon.

Kini barulah Tong Ko mendapat kepastian sungguh2, bahwa Tay-keng, putera Siau-beng-siang Tio Jiang sang patriotik itu, ternyata bersekongkol dengan kawanan kaki-tangan pemerintah Ceng.

Entah untuk tujuan apa mereka datang ke Sip-ban-tay-san situ.

Mengingat fitnah yang dideritanya dari mereka, turut kemauan sang hati, ingin benar Tong Ko segera loncat turun untuk melabraknya.

Namun sang kesadaran mencegahnya, karena insyaf akan kekuatannya sendiri.

Pada waktu ketiga orang berjalan tiga-empat tombak jauhnya dari tempat persembunyiannya.

Tong Ko samar2 masih dapat menangkap kata2 mereka yang antara lain menyebut2

"Thiat-nia".

"Kit-bong-to"

Kepala suku Thiat-theng-biau".

"Apa yang dikatakan ayahku itu, tentulah ilmu golok It-gwan-to-hwat"

Dan lain lain.

Timbullah dugaan Tong Ko, bahwa kedatangan ketiga orang kegunung situ tentulah mempunyai rencana yang tidak-baik, Rupanya mereka itu akan mencari sumber ilmu golok It-gwan-to-hwat yang sakti itu.

Ah...., inilah suatu kesempatan yang bagus untuk mengikutinya.

Resikonya memang besar apabila sampai ketahuan, namun Tong Ko tak gentar menghadapinya.

Segala usaha, besar atau kecil tentu mengandung risiko, demikianlah ia merangkai putusan dan dengan hati2 dia loricat turun.

Tapi baru saja kakinya menginjak tanah atau terdengar suara nada anak kecil dari siorang tua kate itu yang melengking.

"Hiat-ji, kabarnya Sip-ban-tay-san sini banyak sekali didiami bangsa ular berbisa. Baru saja kudengar pada jarak 3 tombak disebelah belakang ada suara ular merayap Hati2-lahl"

Bukan main kejut Tong Ko saat itu.

Pendengaran orang tua kate itu benar2 tajam sekali.

Dia mendekam ditanah tak berani berkutik.

Baru setelah ketiga orang itu jauh.

Tong Ko bangun mengikutinya.

Dibawah cahaya bulan, tampak ketiga orang itu lari dengan pesatnya.

Apaboleh buat terpaksa dia 'tancap gas' juga.

Setelah melintasi 3 buah puncak, tampak disebelah muka ada sebuah puncak lagi yang lebih tinggi.

Batu2 yang terdapat dipuncak gunung itu ke-hitam2an warnanya.

Tiba2 ketiga orang itu berhenti disitu.

Tong Ko pun buru2 hentikan larinya, lalu bersembunyi dibalik sebuah batu besar.

Ketika dia melongok keluar, tampak siorang tua kate itu berpaling kebelakang dan tertawa kepadanya!

Seri-tawanya cukup manis dengan ramahnya se-olah2 seperti seorang sahabat kental yang lama tak bertemu.

Ber-detak2 jantung Tong Ko serasa dibuatnya.

Adakah jejaknya telah diketahui siorang kate itu.

Satu2nya harapan, mudah2an orang tua itu hanya secara kebetulan saja berpaling dan melihatnya.

Maka diapun tetap diam tak berani bergerak.

"Hai, buyung, apakah disini ini puncak Thiat-nia tempat kediaman suku Thiat-theng-biau?"

Tlba2-orang tua kate itu berseru. Cialat, demikian Tong Ko mengeluh. Untuk sesaat tak dapat dia berbuat apa2..

"Suhu,. kau bicara, dengan siapakah?"

Hiat-ji bertanya dengan heran.

"Entah siapa dia itu, tapi sudah sedari tadi dia mengintil dibelakang kita dan sekarang bersembunyi dibalik batu tu. Lihatlah kemaril"

Sahut sikate.

Hiat-ji loncat menghampiri.

Tong Ko sudah mau loncat keluar untuk menyongsongnya dengan serangan, tapi anak bermata ungu itu sudah tiba lebih dahulu dihadapannya dan dengan cengar-cengir segera berseru.

"Ho, kiranya kaulah si............, kukira sudah mampus, jebul kau sianjing buduk ini masih bernyawal"

"Kau anjing buduk....., budak hina dina dari.......pemerintah Cengl"

Seru Tong Ko seraya memburu maju dengan kedua belah tangannya. Sudah tentu Hiat-ji tak mengetahui bahwa selama waktu perpisahannya yang sesingkat ini, Tong Ko telah memperoleh "masakan"

Ilmu lwekang yang sakti dari kedua tokoh aneh Sik Lo-sam dan Soa-kim kong.

Buru2 diu menghantam kemuka untuk membuyarkan angin pukulan lwekang Tong Ko itu.

Tapi secepat kilat, Tong Ko sudah meloloskan liong-kau-pian, terus diserangkan dalam jurus kou-la-kiao dan tun-yang-hui-kiam.

Memang adat Hiat-ji keliwat sombong.

Sudah tahu bagaimana kedahsyatan deru angin pukulan Tong Ko tadi, namun dia masih membanggakan kepandaiannya.

Baru setelah matanya kabur dengan kilat merah dan sambaran angin yang men-deru2, dia menjadi kelabakan setengah mati.

Terang pian yang dicekal Tong Ko itu bukan pian sembarangan dan ilmu permainananyapun luar biasa dahsyatnya.

Dalam kegugupannya dia buang dirinya berjumpalitan kebelakang.

Namun sekalipun begitu, keningnya telah tergurat dengan ujung pian, kulitnya pecah dan sakitnya sampai menusuk keulu hati.

Waktu tangannya merabah kekening dan dapatkan berlumuran darah, dengan menggerung keras, dia merangsang Tong Ko.

Bahwa serangan pertama telah memberi hasil, lupalah Tong Ko akan rasa rendah dirinya terhadap seorang jago macam Hiat-ji.

Dan lupalah pula bahwa dibelakang anak mata ungu itu masih terdapat Tay-keng dan siorang kate yang lihay.

Sebaliknya dari melarikan diri, Tong Ko menyusuli lagi dengan dua buah serangan.

Hiat-ji pun juga mencabut jwan-piannya.

Begitulah kedua sateru itu segera terlibat dalam pertempuran pian yang seru.

Ilmu permainan pat-siat-pian-hwat (8 dewa memain pian) yang dipelajari dari Soa-kim-kong Ciang Tay-lo itu, mempunyai 64 gerak perobahan yang sukar diduga.

Sinar kilap merah yang ditimbulkan akibat permainan liong-kau-pian itu se-olah2 memenuhi udara, sehingga Hiat-ji tak dapat berbuat apa2.

Kedua bertempur dalam tempo yang cepat, maka dalam beberapa kejab saja pertandingan sudah berjalan 20-an diurus.

Bermula Tong Ko masih dihinggapi penyakit rendah diri dan tetap mengira bukan lawan Hiat-ji.

Maka tadi dia hanya mengandal ketekadan saja untuk maju.

Tapi setelah 20 jurus itu, dia dapatkan baik dalam ilmu permainan pian maupun Iwekang, rasanya dapatlah dia mengimbangi Hiat-ji.

Maka timbullah semangatnya dengan serempak dan piannyapun dimainkan makin gencar.

Sebaliknya karena mempunyai andalan (suhunya), Hiat-ji tak gentar.

Hanya yang tak habis dibuat heran, darimana anak itu memperoleh pelajaran ilmu pian yang begitu lihay.

Kini dia berganti siasat untuk meaghadapinya.

Tiba2 gerakan piannya berobah, baik menangkis maupun menerang, nampaknya sangat pelahan sekali.

Namun setiap gerakannya Itu menganduag tekanan tenaga yang berat.

Benar juga dengan perobahan itu, dalam tiga empat jurus saja, Tong Ko sudah dibikin kalut permainannya.

Liong-kaupiannya tak mau bergerak menurut kemauannya lagi, se-olah2 tersedot oleh pian Hiat-ji.

Kemana Hiat-ji gerakan piannya, kesitulah liong-kau-pian mengikut.

Insyaflah Tong Ko, bahwa dengan cara begitu dalam beberapa jurus lagi dia tentu akan ditekan oleh lwekang lawan.

Dalam gugupnya, dia segera menghantam dengan dengan tangan kirinya, wut ...........

"Hai tak boleh bercabang", adalah ujar2 dalam pedoman pelajaran silat. Memang belum pernah terdapat seorang jago silat sembari memainkan pian sembari kerahkan kekuatan untuk menjotos. Tapi keadaan itu tak berlaku pada diri Tong Ko. Sejak dia mendapat bantuan lwekang dari Sik Lo-sam dan Soa-kim-kong, terutama pada waktu yang kedua kalinya yalah ketika dia menderita luka parah, hampir 7 bagian dari lwekang kedua tokoh aneh itu disalurkan kedalam tubuh Tong Ko. Menjadilah Tong Ko itu seorang "bertubuh dua". Tangan kanannya yang memain pian itu hanya menggunakan tenaga lwekang yang terdapat pada separoh tubuhnya bagian kanan. Sedang tangan kirinya masih bebas dan penuh tenaganya. Maka begitu digerakkan, hasilnya diluar dugaan. Tadi Hiat-ji sudah memastikan kalau dia tentu dapat memenangkan pertandingan itu. Adalah ketika dia sedang mengincar lubang kesempatan pada dada Tong Ko, se-konyong2 ada serangkum tenaga dahsyat menghantam jwan-piannya hingga sampai terpental. Karena kejutnya Hiat-ji masih mengira kalau Tong Ko mendapat bantuan seseorang. Jwan-pian diturunkan kebawah untuk menutuk jalan darah hiat-hay-hiat dipaha Tong Ko. Tapi kala itu Tong Ko sudah sadar akan keadaan dirinya yang seolah2 bertubuh dua itu. Diapun turunkan Liong-kau-pian. Dua buah pian kini saling berlibatan. Hiat-ji menarik kebelakang, tapi Tong Kopun menyentok kebelakang. Keduanya bagai terpaku ditanah. Melihat dada Hiat-ji tak terjaga lagi, Tong Ko segera ayunkan tangan kirinya. Terang Hiat-ji tak dapat mundur, kerna kalau dia berbuat begitu, jwan-piannya pasti terpaksa dilepaskan. Ini sungguh berbahaya karena Tong Ko dapat menyabatkan liong-kau-piannya lagi. Namun tak mau menghindar, dia hanya mempunyai dua pilihan mati atau terluka berat.

"Suhu, tolonglah aku!"

Tiba2 mulut Hait-ji berteriak minta tolong pada gurunya. Dengan mengekeh orang kate itu menyahut.

"Hiat-ji, jangan kuatir!"

Sewaktu kata "kuatir"

Itu diserukan, tangan kiri Tong Ko sudah terpisah hanya seperempat meter dari dada Hiat-ji.

Tiba2 kedua lengannya serasa kesemutan, karena jalan darahnya thian-keng-hiat tertutuk orang.

Seketika hilanglah daya lwekang Tong Ko.

Benar tangannya kiri itu tetap mengayun kedada Hiat-ji, tapi dengan mengerahkan Iwekang dapatlah Hiat-ji menolak serangan itu, krek....

patahlah (keseleo) sambungan lengan dan bahu Tong Ko.

Sakitnya bukan alang kepalang.

Dalam pada itu Hiat-ji tampak loncat kebelakang sembari menarik liong-kau-pian Iawannya.

"Pian yang bagus!"

Mulut Hiat-ji memuji ketika memeriksa liong-kau-pian itu.

Dicobanyalah pian itu untuk menghantam tanah.

Tong Ko insyaf bahwa penderitaannya itu disebabkan campur tangan sikate.

Dalam kalapnya dia benturkan kepalanya kearah Hiat-ji.

Tapi anak mata ungu itu menyeringai, tar......

disongsongnya kedatangan Tong Ko itu dengan sabetan liong-kau-pian.

Tak ampun lagi, tubuh Tong Ko menggelepar ditanah.

Masih si Hiat-ji itu tak kenal kasihan, dia mengirim pula dua buah cambukan, kedada dan kebahu Tong Ko.

Pakaian Tong Ko compang-camping, darah mengalir dan orangnyapun tak ingat diri lagi.

Hiat-ji mengekeh iblis.

Sementara Tay-keng sebenarnya sudah siap sedia untuk turun tangan apabila Hiat-ji tak berhasil membereskan Tong Ko.

Karena dalam pikirannya kalau sampai anak itu lolos dan melapor pada ayahnya (Tio Jiang), celakalah dia tentul "Shin-heng, biar kuhabiskan sekali jiwanya!"

Serunya dengan girang kala Tong Ko rubuh.

Maju kemuka dia ayunkan pedang untuk menusuk, hai....., diluar dugaan tubuh Tong Ko itu dapat menggelundung untuk menghindar.

Memang walaupun terluka sampai pingsan, tapi Tong Ko hanya menderita luka luar.

Berkat kemajuan Iwekang yang diperolehnya, dalam sekejab saja dia sudah siuman lagi.

Baru membuka mata atau sinar ujung pedang Tay-keng sudah menusuk kedadanya.

Dalam sibuknya, terpaksa Tong Ko bergelundung kesamping.

Benar dia terluput dari kematian, namun tak urung dadanya tergores dengan ujung pedang hingga berlumuran darah.

Dengan sigapnya Tong Ko segera loncat bangun.

Kini keadaannya menyerupai seorang manusia darah.

Hiat-dii dan Tay-keng saling memberi isyarat, yang satu dari kiri dan yang lain dari kanan, mereka menghampiri dengan send iata terhunus, Tong Ko buru2 meleset keatas sebuah batu.

Kini dia tak takut menghadapi ancaman maut itu, hanya yang disesalkan dengan adanya seorang penghianat macam Tay-keng, dikuatirkan nanti para perserekatan orang gagah itu akan mendiadi korban semua.

Sebelum Tay-keng dilenyapkan, rasanya dia enggan mati dulu.

Dengan kebulatan hati itu, dia kerahkan seluruh tenaganya untuk memeluk batu besar itu yang beratnya beratus kati.

Bagian yang kasar dan runcing dari batu itu tatkala menempel pada luka2 ditubuhnya, sakitnya bukan olah2 darah makin mencucur deras.

Namun dia kertek gigi, dia angkat batu besar itu.

Ketika Tay-keng hampir dekat, dengan menggerung keras dan tanpa pedulikan ancaman serangan dari Hiat-ji, Tong Ko lontarkan batu itu kearah Tay-keng.

Bermula Tay-keng menganggap sepi akan Tong Ko yang sudah terluka parah itu.

Maka mimpipun tidak dia, kalau anak muda yang sudah seperti kerangsokan setan itu dapat mengeluarkan kesaktian yang begitu menakjubkan.

Wut, sedemikian hebat deru angin yang ditimbulkan lontaran itu.

Saking gugup tak keburu menghindar, Tay-keng menangkis dengan pedangnya, krek...., kutunglah pedang Itu menjadi dua dilanggar oleh batu.

Tay-keng dengan sebatnya Ioncat menyingkir, namun tak urung lututnya terbentur juga oleh batu itu, hingga tulangnya remuk.

Seperti sebuah layang2, Tay-keng terlempar bebrapa meter jauhnya sebelum dia terhampar ditanah.

Tong Ko belum puas.

Dengan beringas dia hendak menghajar Iagi pemuda penghianat itu.

Tetapi pada saat itu, Hiat-ji sudah memapakinya dengan sebuah sabatan liong-kau-pian kearah kakinya.

Sekali pian itu disentakkan, maka Tong Ko terlempar sampai 4 tombak jauhnya.

Tanah disitu, semua terdiri dari batu2.

Tubuh Tong Ko itu tak hanya sekali saja jatuhnya tapi ber-gulung2, sampai beberapa kali.

Kini2 benar dia menyerupal seorang manusia darah.

Menganggap bahwa Tong Ko pasti binasa karena luka2-nya itu, Hiat-ji tak mau mengejar.

Sambil tertawa menghina dia selipkan liong-kou-pian kepinggannya.

Se-konyong2 dari arah semak rumput terdengar suara berkerontalan dan muncullah seseorang dengan senjatanya sebatang garu ikan berujung tiga.

Pada ujung garu itu, dipasangi gelangan baja.

Dan gelangan itulah yang mengeluarkan bunyi kerontangan tadi.

Diatas senjata penggaru itu, melekat seekor macan tutul yang sudah tak bernyawa.

Dan tahu2 pula, bangkai macan tutul itu dilemparkan pada Tong Ko.

Seketika itu juga, tubuh Tong Ko serasa dikerudungi oleh sebuah selimut empuk dan hangat.

Hai....., kiranya bangkai macan tutul itu hanya terdiri dari kulit binatang itu saja.

Sewaktu Tong Ko mendongak, didapatinya bahwa penolong nya itu adalah seorang wanita dari pertengah umur.

Wajahnya hitam manis, dandanannya macam wanita pencari ikan.

Baru2 Tong Ko hendak berbangkit untuk menghaturkan terima kasih.

"Siao-hengte, kau sudah menjadi seorang manusia darah, jangan ber-gerak2, rebahlah!"

Wanita itu mendahului mencegahnya. Dan dengan tangkasnya dia guratkan ujung senjatanya itu 3 kali keatas kulit macan tutul.

"Lekas tempelkan lembaran kulit macan tutul itu pada luka2mu. Itu dapat mencegah pendarahan. Kalau keliwat banyak mengeluarkan darah, jiwamu pasti takkan tertolong lagi!"

Tong Ko mengerjakan perintah itu. Kesemuanya itu berlangsung dalam waktu beberapa detik saja, sehingga walaupun Hiat-ji mengetahui akan kejadian itu, tapi dalam saat2 itu"

Dia hanya terlongong2 saja. Hanya Tay-kenglah yang walaupun tak dapat ber-kutik karena terluka, sadar apa yang akan terjadi kalau Tong Ko sampai lolos.

"Shin-heng, Mo locianpwe, janganlah anak itu sampai bisa lolos, atau jerih payah kita selama ini akan sia2 saja nanti!"

Serunya memperingatkan Hiat-ji dan siorang tua kate.

"Jangan kuatirl"

Sahut Hiat-ji seraya maju menyerang dengan liong-kau-pian. Melihat senjata yang dimainkan anak itu adalah liong-kau-pian, berserulah siwanita tadi.

"Hai, kiranya kau ini adalah orang dari keluarga The. Dahulu aku adalah sahabat karib dari The Ci-liong. A nak itu terluka parah, usah kau menyiksanya lagi!"

Sebagai tokoh persilatan laut, wanita itu kenal akan soal usul dan pemilik liong-kau-pian itu, yani The Ci-liong.

The Ci-liong memberikan pian pusaka itu pada puteranya, The Som.

Oleh The som, pian itu kemudian diberikan kepada Soa-Kim-kong Ciang Toa-lo.

"Aku orang she Shin, jangan ngacau balau tak keruan!"

Sa hut Hiat-ji yang tak mengetahui riwayat liong-kau-pian yang dicekalnya itu. Malah sekali melesat, dia menyelinap disisi wanita itu untuk menghajar Tong Ko lagi.

"Ah, kita adalah orang sendiri, mengapa saling bunuh?"

Didahului dengan helaan napas, wanita itu berseru sembari lintangkan senjata garunya menghadang tobrosan Hiat-ji.

Hiat-ji marah, dia sambar garu itu dengan tangan kiri dan terperanjatnya bukan main ketika didapati bahwa senjata itu terbuat dari bahan besi.

Dia menarik dan mendorong se-kuat2nya, tetapi sedikitpun tak bergeming.

Ini makin menambah keherannya dan buru2 melepaskannya sembari menyurut kebelakang.

"Siapa namamu berani mengadu biru padaku?"

Tegurnya dengan keras. Wanita itu kedengaran tertawa, sahutnya.

"Terhadap seorang penghuni rimba, mengapa perlu menanyakan nama? Pergilah jangan mengganggu anak itu lagi!"

Sudah tentu Hiat-ji tak mau, lalu menyerang dengan liong-kau-pian.

Dengan seenaknya saja, wanita itu gerak2an senjata garunya yang hampir 2 meter panjangnya itu untuk mencegah Hiat-ji merapat maju.

Tampaknya gerakaannya itu tak sesuai dengan permainan ilmu silat, namun kemana ujung garu itu menusuk kesitulah liong-kau-pian pasti terpapak.

Hiat-ji tak dapat berbuat apa, kecuali main mundur.

Dalam sekejab saja, sepuluh jurus telah berlangsung dan kini barulah Hiat-ji insyaf kalau bukan tandingannya wanita itu.

Buru2 dia loncat menyingkir seraya meneriaki suhunya.

"Suhu, apa yang dikatakan Tio-heng tadi memang benar. Kalau si Tong Ko berhasil lolos, usaha kita tentu gagal semua dan bagaimana nanti pertangungan jawab kita dihadapan baginda?"

Siorang tua kate itu tertawa berkelutukan. Dengan mengibas-kibaskan bajunya dan bergontai tubuh, dia maju kemuka. Dalam pada itu, siwanita tampak mengawasi Tong Ko dengan kejut keheranan, tegurnya.

"Sahabat kecil, apakah kau ini Tong Ko?"

Setelah melekatkan kulit macan tutul tadi pada badannya.

"luka2 Tong Ko sudah tak mengucurkan darah lagi. Dia sangat menerima kasih kepada pertolongan wanita itu. Ditegur dengan nada se-olah2 sudah mengenalnya, ter-sipu2 Tong Ko menyahut.

"Memang wanpwe ini benar Tong Ko, entah siapakah gelaran yang mulia dari cianpwe ini?"

"Nanti kau pasti mengetahui sendiri", ujar wanita itu sambil tertawa. Nada kata2nya makin ramah. Berpaling kearah Hiat-ji, berkatalah wanita itu.

"Sahabat kecil ini, justeru orang yang hendak kami cari. Baiklah kalian jangan mengganggunya lagi dan lekaslah tinggalkan tempat ini. Apabila suamiku sampai tiba kemari, oleh karena perangainya tak sesabar aku, kalian pasti akan mengalami hal2 yang tak diinginkanl" . Huh....., gila perempuan itu. Kalau suhuku turun tangan, suamimu nanti hanya pasti akan mendapatkan kau sudah mendiadi bangkai, demikian pikir Hiat-ji. Karena itu dia hanya ganda tertawa, tak mau menyahut. Siorang kate tadi sudah berada pada jarak dua tombak dari siwanita dan lalu menuding.

"Dengan bergegaman hi-jat (garu) itu, kalau tak salah toasoh ini tentulah tokoh keluarga The, Ciok, Wa dan Chi yang malang melintang dilautan bukan?"

Siwanita terkesiap mendengar nada suara sikate yang kering melengking seperti anak kecil itu. la duga, sikate itu tentu bukan tokoh sembarangan.

"Benar, aku orang she Ciok, nama Siao-lan, salah seorang dari keluarga yang kausebutukan itu,"

Sahutnya. Sikate menengadah kelangit dan lepaskan tetawanya yang panjang.

"Dengan kepandaianmu yang dangkal itu, bagimana toasoh hendak jual lagak dihadapanku?"

Berbareng dengan ucapannya itu, sikate sudah loncat kemuka lalu ulurkan kedua tangannya untuk menangkap senjata hi-jat Siao-lan.

Selama 20-an tahun lamanya, Ciok Siao-lan digelari orang sebagai Lamhay hi li (gadis pencaril ikan dari Laut Selatan).

la disegani karena senjatanya hi-jat itu.

Sejak belasan tahun menyepi, didalam rimba pegunungan Sip-ban-tay-san, ia berhasil mendapatkan sebuah kitab pusaka.

Sudah tentu kiai ia jauh lebih lihay dari 20 tahun yang lampau.

Namun tak urung ia terperanjat dan kagum juga akan gerakan yang secepat kilat dari siorang tua kate itu tadi.

"Ai, sahabat, bagus nian kepandaianmu itul"

Serunya dengan tertawa karena ia tak berhasrat untuk mencelakai seorang tua macam sikate itu.

"Ha, kepandaian yang sebenarnya, masih ada dibelakang nantil"

Dengan tertawa aneh sikate tarik sepasang tangannya.

Seketika itu Siao-lan rasakan ada sebuah tenaga dahsyat mendorongnya hingga dia terlempar kebelakang, sedang hi-jatnyapun sudah berpindah ketangan sikate.

Begitu merampas hi-jat, sikate tertawa dingin.

Sepasang tangannya diputar2 kekanan kiri dan sendiata yang terbuat dari baja murni itu kini berobah menjadi semacam kuwih untir-untir.

Senjata itu oleh sikate lalu dilemparkan kesamping.

"Toasoh, apa katamu?"

Tanya sikate dengan bangga.

"Lwekang yang sakti!"

Sahut Siao-lan.

"Toa-soh, kulihat kaupun hebat. Sepanjang hidupku, aku gemar mengikat persahabatan. Kalau kau hendak mencari ketegangan ditempat ini, akupun tak mau mengganggu usik. Jika kau ingin keluar dari pertapaanmu, kutanggung kau pasti akan memperoleh kedudukan tinggi dan kemewahan hidup. Tapi serahkan anak itu padaku". Belum sempat Siao-lan menjawab, atau. terdengar suara ber-kerontangan dan sebatang hi-jat melayang kearahnya. Cepat2 ia menyambutinya. Kini hi-jat yang tadinya sudah menjadi untir-untir itu, sudah lempang lagi. Siao-lan berpaling kearah semak belukar dari mana hi-jat tadi melayang, lalu tertawa, se-akan2 ia sudah tahu siapakah yang melempangkan dan melemparkan hijat itu.

"Lwekang sahabat memang tlnggi, tapi tetap aku hendak mohon pengajaran barang bebrapa jurus saja!"

Serunya sembari putar hi-jat. Ada istilah persilatan yang mengatakan begitu.

"Tombak takut. bundar, pian jeri lurus". Artinya kalau orang dapat memainkan tombak hingga menjadi sebuah lingkaran dan dapat memainkan pian dengan gaya yang lurus, orang itu pasti adalah seorang ko-chiu (akhli) yang jempolan. Hi-jat yang dimainkan Siau-lan itu dapat berobah gayanya macam sebatang tombak. Suara putarannya men-deru2. Dari sini dapat diketahui, sampai dimana ilmu kepandaian Siao-lan sekarang ini. Siorang tua kate melangkah setindak kesamping. Terhadap ancaman Siao-lan, dia tak menghiraukan. Tetapi terhadap orang yang dalam beberapa detik saja telah dapat melempangkan hi-jat yang sudah bengkak bengkok itu, benar2 dia menaruh kewaspadaan. Rumput semak2 disitu, tingginya melebihi orang, pula sangat lebat sekali. Jadi betapapun tajamnya sang mata, tetap orang kate itu tak mengetahui siapa yang bersembunyi didalam situ.

"Toasoh, kau hendak bertanding satu lawan satu atau dua lawan satu?"

Tegurnya sambil perdengarkan tertawa sinis.

"Sudah tentu satu lawan satul"

"sahut Siao-lan sembari maju menusuk. Sikate menyambar ujung hi-jat lalu dipelintirnya dan lagi2 hi-jat itu menjadi melengkung bengkok pula. Kini barulah Siao-lan benar2 tunduk akan lwekang yang lihay dari siorang tua kate itu. la insyaf bukan lawannya.

"Aku mengaku kalahlah. Lwekangmu memang jauh melebihi akul"

Serunya sembari lepaskan cekalan tangannya dan mundur kebelakang.

Siorang tua kate itu sangat bernapsu hendak memikat keluar orang yang bersembunyi tadi, Ingin benar dia mengetahui siapakah gerangan tokoh yang lihay itu.

Sejak dia tinggalkan daerah barat dan berkunjung kekota raja, tugasnya yalah untuk membasmi 'tokoh2 persilatan didaerah Kwitang dan Kwisay.

Bahwasanya orang yang bersembunyi itu dapat melempangkan lagi hi-jat tadi, membuktikan kalau dia itu seorang jago yang lihay.

"Toasoh, jangan pergi dahulu!"

Serunya sembari mengejar sembari mutar hi-jat itu.

Loncat keatas dia menggertak Siao-lan dengan sebuah tusukan.

Siao-lan terkejut, terus menyusup masuk kedalam semak.

Kini siorang kate yang terkesiap heran.

Tadi dia meluncur dari atas, tapi mengapa tak nampak jejak siwanita itu sama sekali.

Dan kejutnya itu makin memuncak, ketika tiba2 ada dua buah angkin pelangi (sabuk kain berwarna) meluncur keluar dari semak2 itu.

Yang sebuah, seperti ular merayap kebawah menuju kearah Tong Ko sedang yang satu lagi, laksana seekor naga melayang menyambar kearahnya.

Yang diketahui angkin itu kurang lebih 2 meter lebarnya, tapi mana pangkalnya tak kelihatan karena masih berada dalam semak.

Warnanya gilang gemilang, warna yang hanya terdapat pada kain sutera pilihan.

Waktu melayang, benda itu menerbitkan deru angin yang keras Sebagai seorang jago lihay, segeralah siorang tua kate itu mengetahui betapa hebat lwekang orang yang melepaskan itu.

Masa angkin sepanjang 4 tombak dapat dibuat menyerang menurut sekehendak hatinya?

Insyaf akan bahaya, orang tua kate itu buru2 menyingkir, maka jatuhlah angkin itu ketanah.

Tapi begitu jatuh, begitu ujungnya lalu bergerak melayang keatas lagi untuk menyerang kepadanya.

Gila, masakan sebuah kain ikat pinggang dapat menyerupai seekor ular hidup!

Dengan gemas, siorang kate itu segera ulurkan tangan untuk menyambarnya, pletek.......

seperti meremas sebuah bambu, begitulah bunyi kain angkin itu ketika dicengkeram siorang kate.

Kini angkin itu menjulai kebawah, lemas lunglai seperti kain biasa.

Buru2 ditariknyalah angkin itu dari dalam semak.

Kiranya kini hanya tinggal sehelai saja, sedang yang sehelai yang merayap kearah Tong Ko tadi, sudah tak kelihatan berikut.......

sianak muda itu!

Kini tahulah siorang tua kate itu bahwa dia sudah "kena tercocok hidungnya" (diakali).

"Hiat-ji, cara bagaimana siaocu tadi menghilang?"

Tanyanya dengan murka. Tapi tiada penyahutan.

"Hiat-ji, apa kau tak mendengar? Bagaimana siaocu tadi lenyap?!"

Dia ulangi lagi dengan ketus.

Namun si Hiat-ji tetap bungkam.

Saking geramnya, sikate lalu berputar untuk menengok dan didapatinya muridnya itu matanya terbelalak ketakutan se-olah2 hendak dipukul orang, tangannya kini sudah tak mencekal pian lagi, sedang tubuhnya kaku tak dapat bergerak.

Siorang tua kate segera tahu bahwa muridnya itu telah kena ditutuk orang, maka buru2 dihampirinya untuk ditolong.

Sewaktu ditutuk punggungnya, Hiat-ji segera muntahkan segumpal ludah kental.

"Bangsat yang tak punya malu, beraninya hanya main membokong saja!"

Begitu sudah dapat bergerak, begitu mulut si Hiat-ji segera me-maki2. Siorang tua kate memberi isyarat, supaya dia jangan bicara.

"Hiat-ji, kita telah diingusi orang, tak perlu ribut2!"

Seru sikate sembari mengambil sebuah benda kecil dari dalam bajunya.

Benda itu hitam mulus warnanya.

Dengan jari tengah, dijentikkannya benda itu kearah semak2.

Waktu melayang benda itu berobah menjadi selarik asap dan ketika jatuh kedalam semak2 segera meledak dengan kerasnya.

Disekeliling tempat itu segera menjadi lautan api.

Cepat siorang tua kate menarik tangan Hiat-ji untuk diajak loncat menyingkir.

"Huh, sahabat yang suka main unjuk ekor sembunyikan kepala, coba kau mau keluar tidak?"

Serunya dengan tertawa dingin.

Dalam sekejaban saja, semak yang lebat dengan tanaman rumput setinggi orang, telah dimakan api sampai habis.

Namun sungguhpun begitu, tetap tiada seorangpun yang tampak keluar dari situ, Siao-lan, Tong Ko dan orang ketiga yang misterius itu tetap hilang.

Suatu hal yang meinbuat siorang tua kate termenung dalam 12 pikiran.

Sejak dia muncul dari gurun dan datang dikota raja, ilmunya dikagumi dan dijerikan oleh kawanan tay-lwe kochiu (jagoan istana kelas satu).

Dalam perjalanannya kedaerah selatan ini, tokoh2 dari pelbagai aliran persilatan pernah dia temui semua.

Tapi kali ini benar2 dia ketemu dengan batunya.

Seorang misterius yang tak mau unjuk diri itu, rupanya mempunyai kepandaian yang tangguh sekali dan seorang yang cerdik pula!

Dengan hati2 dia maju menghampiri kemuka untuk memeriksanya.

Kiranya diujung bekas semak2 itu adalah sebuah lambing gunung yang tiada jalanannya sama sekali.

Jadi tak murigkin kalau ketiga orang Itu lari dari situ.

Dia makin curiga.

Maju pula dua langkah, tiba2 kakinya terasa memijak tanah lunak dan terus terperosok kedalam.

Tahu akan masuk perangkap, buru2 dia empos semangat lalu dengnan gunakan gin-kang (ilmu mengentengi tubuh) dia melambung sampai satu tombak tingginya.

Namun sekali pun begitu, tak urung betisnya termakan sebuah anak panah.

Dengan menahan sakit, dicabutnya anak panah (paser) itu.

Ketika melongok kebawah kiranya iubang rerangkap itu hanya sebuah perangkap biasa yang sering dibuat oleh kaum pemburu.

Dia meluncur turun kedalam lubang perangkap itu untuk meriksanya.

Pun disitu tiada terdapat sesuatu yang mencurigakan.

Hampir setengah harian, siorang tua kate itu sibuk seorang diri.

Siorang misterius tetap tak kelihatan, sebaliknya dia sendiri telah menderita luka.

Saking marahnya, dia mengaum bagaikan harimau kelaparan, hingga empat penjuru lembah gunung situ sama2 menggetarkan kumandang suara.

yang dahsyat.

Itupun tak menolong suatu apa.

"Suhu, lebih baik kita naik kepuncak Thiat-nia, nanti setelah berjumpa dengan kepala suku Thiat-theng-biau, kita rundingkan siasat lebih jauh!"

Akhirnya Hiat-ji ajukan usul.

Rupanya siorang tua kate itu tiada mempunyai daya lain.

Dengan gemas dia menggerutu panjang pendek.

Pun si Tay-keng dengan ber-ingsut2 menghampiri.

Mereka berunding dengan kesimpulan bahwa dalam perjalanan nanti harus berlaku waspada karena menghadapi seorang musuh lihay yang tak kelihatan.

---oo^dwkz0tah^oo---BAGIAN 14 .

DI TOLONG CIAN BIN LONG KUN THE GO Baik kita tinggalkan mereka untuk menengok Tong Ko.

Sewaktu melihat Siao-lan terus menerus kalah, Tong Ko yang menggelepai ditanah tadi, resah sekali hatinya.

Tiba2 dilihatnya ada sepotong angkin sutera merayap kearahnya.

Dalam kejutnya.

Tong Ko coba hendak menyingkiri dengan bergelundungan, tetapi kala itu telinganya seperti disusupi oleh sebuah suara melengking yang halus sekali.

"Engkoh kecil, jangan bergeraklah !"

Dalam pada Tong Ko tertegun, tubuhnya sudah dilibat angkin itu terus ditarik masuk kedalam semak2.

Begitu masuk kedalam semak2 itu, dia terus diseret masuk kedalam sebuah lubang perangkap.

Disitu terdapat dua orang, Siao-lan dan seorang yang bertubuh amat pendek sekali.

Oleh karena dalam lubang itu gelap, jadi tak dapat Tong Ko melihat wajah siorang kate itu.

Yang diketahuinya, orang pendek itu menekan dinding lubang dan serempak terbukalah sebuah goa besar.

Siao-lan tarik tangan Tong Ko untuk dibawanya masuk.

Siorang pendek tadipun menyusul masuk, lalu menutup dinding itu.

"Ayuh, lekas lari kemuka sanal"

Seru orang pendek itu dengan nada yang lantang bening.

Kira2 empat lima tombak mereka menyusur lubang-terowongan situ, mereka muncul pula dipermukaan tanah.

Dilihatnya semak2 rumput tadi sudah rata dimakan api.

"Engkoh kecil, orang tua kate itu bergelar Liat Hwat cousu. juga dijuluki orang sebagai Yang-im-sin-yau (siluman hawa positip dan negatip). Lihay sekali, mengapa kau berani menempurnya?"

Kedengaran orang pendek itu bertanya.

Tong Ko berpaling menatapnya.

Didapatinya orang itu kira2 berusia 40-an tahun, wajahnya cakap sekali, hanya sayang perawakannya keliwat pendek (kate), sehingga jubahnya sampai berkeleweran ditanah.

Tinggi orang itu hanya sama dengan perut Tong Ko.

"Wanpwe tak mengetahui dia itu siapa, kecuali seorang kaki tangan pemerintah Ceng"

Tong Ko memberi hormat menyahut. Orang itu tertawa sejenak, ujarnya.

"Dan kau sendiri ini siapa?"

Tong Ko diam2 merenung, siapakah orang pendek itu?

Ciok Siao-lan, juga belum pernah dia mendengar nama itu.

Namun sekalipun demikian, sebagai seorang laki2, tak mau dia berbohong.

Cita2 hidupnya adalah hendak mengusir penjajah Ceng dan membangunkan pemerintah Beng lagi.

Ini adalah suatu perjoangan suci, jadi mengapa dia harus berbohong?

"Wanpwe adalah orang yang ingin mengenyahkan penjajah Ceng!"

Sahutnya tanpa ragu2 lagi. Orang pendek itu tertawa, sahutnya.

"Begitulah hendaknya seorang pemuda harapan bangsa itu. Namamu Tong Ko, adakah Tong Ko yang menjadi kenalan anakku perempuan si Ing-ji itu?"

Tong Ko seperti orang disadarkan. Diawasinya wajah siwanita itu memang mirip dengan The Ing, maka ter-sipu2 dia berkata .

"Benar demikianlah wanpwe ini. Sebaliknya, kalian ini bukantah The pehpeh (paman) dan The pehbo (bibi)?"

"Ya, aku orang she The, nama Go !"

Ujar orang itu sembari mengangguk. Diam2 Tong Ko tersirap darahnya mendengar nama "The Go"

Itu.

Sering sudah dia mendengar cerita orang, bahwa The Go itu bergelar Cian-bin-long-kun dan menjadi murid kesayangan Ang Hwat cinjin, kepala gereja Ang Hun Kiong.

Sewaktu muda, dia sudah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

Sayangnya anak muda gagah dan cerdas itu sesat pikirannya mau bersekongkeol dengan kawanan kaki tangan pemerintah Ceng.

Ribuan anak buah dari 72 markas gunung Hoasan, telah dihancur leburkan tentara Ceng berkat pimpinannya yang gemilang.

Akhirnya perserekatan orang gagah patriot yang dipimpin oleh Ceng Bo siangjin berhasil membekuknya dan sepasang kakinyapun dibacok kutung oleh siangjin itu.

Adakah orang pendek itu benar2 si Cian-bin-long-kun The Go yang sudah tak berkaki itu?

Sampai sekian saat Tong Ko menimang2 untuk mencari jawaban.

"Pernahkah kau mendengar tentang namaku?"

Tiba2 orang pendek itu bertanya pula. Tong Ko yang tak suka berbohong serentak mengiakan.

"Kehilangan kaki, merupakan penyesalan seumur hidup. Engkoh kecil, apa yang orang persilatan mengatakan tentang diriku?"

The Go menghela napas.

"Terhadap perbuatan cianpwe sewaktu membasmi 3 laksa anak buah Hoasan itu, kaum hohan dalam dunia persilatan sama mengutuk dengan geram. Tetapi serta cianpwe sudah menyesal dan berhasil pula membantu perserekatan orang gagah dibawah pimpinan Ceng Bo siangjin untuk menemukan harta karun dalam gereja Kong Hau Si tempo hari, sekalian orang sama menaruh perindahan. Se-akan2 kecemaran nama cianpwe itu sudah direhabiliteer (dikembalikan) pula !"

The Go tundukkan kepala tak berkata apa2. Adalah Siau-lan yang menasehatinya.

"Urusan yang sudah lampau, mengapa dipikirkan lagi? Lebih baik tanyakan saudara Tong ini, bagaimana keadaan Ing-ji?"

The Go mendongak jauh kemuka, ujarnya.

"Disini bukan tempat kita berbicara, lebih baik kita lekas pulang dulu !"

Habis berkata begitu, dia angsurkan sebatang pian yang bukan lain adalah liong-kau-pian, kepada Tong Ko.

Dengan demikian teranglah kalau sekali tepuk, dia mendapat tiga lalat.

Menyerang Liat Hwat cousu, menolong Tong Ko dan masih sempat pula menutuk jalan darah Hiat-ji untuk merampas liong-kau-piannya.

Sedemikian tangkas lincahlah gerakan siorang misterius yang bukan lain adalah Cian-bin-long-kun The Go.

Tong Ko kagum atas kepandaian orang.

Tiba2 The Go bersuit keras dan muncullah dua ekor kera gin-si-kau yang besar sembari mendorong sebuah ........

bola batu besar.

GAMBAR 7 Tiba2 The Go bersuit dan muncullah dua ekor kera besar sembari mendorong sebuah bola batu besar, yang ternyata menjadi "kendaraan"

The Go ........Pesat nian jalannya bola itu menggelinding datang.

Bola batu itu ada kira2 dua meter tingginya.

Sekali tangannya menekan ketanah, melesatlah tubuh The Go keatas bola batu itu, dan kedua ekor kera itupun segera mendorongnya.

The Go tegak berdiri dengan tenangnya diatas bola yang berputar dengan pesatnya.

Karena Tong Ko agak heran maka Siao-lan lalu menerangkan.

"Setelah sepasang kakinya putus, dia telah membuat sebuah permainan. Pada ujung kaki yang putus itu, dipasangi dengan tutup batu giok sehingga dapat dibuat berdiri tegak diatas bola batu."

Melihat keramah-tamahan Siao-lan, timbullah rasa suka Tong Ko.

Begitulah setelah mengitari dua buah puncak, tibalah mereka pada sebuah batu karang.

Dibawah batu karang itu terdapat 3 buah rumah pondok yang dipagari dengan pepuhunan.

Dimuka halaman rumah terdapat sebuah anak sungai.

Suasana disitu tampak rindang tenang.

The Go mendahului masuk kedalam.

Kiranya perabot rumah dalam pondok itu terbuat daripada bambu semua, namun tak mengurangkan keresepan seni keindahannya.

Di-tengah2 tergantung sepasang lian (sajak) yang berbunyi begini.

"Dilautan Tang-hay konon ombaknya tiada berketentuan, urusan didunia mengapa selalu bergolak. Digunung Pa-bong-san, tiada terdapat tempat luang, namun penghidupan tenang dengan nikmatnya."

Hati Tong Ko tersentuh dengan kata2 dalam sajak itu. Tak berapa lama kemudian, tampaklah The Go keluar dengan duduk didalam sebuah kursi. Dia membawa seperangkat pakaian yang bertuliskan darah.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ing-ji?"

Katanya sembari angsuran pakaian itu kepada Tong Ko.

Tong Ko segera mengetahui bahwa pakaian itu adalah bekas yang dipakai The Ing tempo hari.

Dikenalinya tulisan yang terdapat diatas pakaian itu serupa gayanya dengan robekan baju yang dibawanya.

"Untuk mengetahui tempat beradaku, harap tanyakan pada Tong Ko."

Demikian bunyi tulisan darah itu. Sudah tentu Tong Ko menjadi keheranan juga, ujarnya.

"Aku sendiripun tak tahu dimana beradanya, bagaimana la minta paman dan bibi tanya padaku?"

"Pakaian itu dibawa pulang oleh seekor gin-si-kau. Sewaktu menulis ini, mungkin dia mengira kalau kau dapat memberitahukan halnya kepada kami,"

Kata The Go.

Tong Ko ketarik akan sikap orang yang tak menaruh dugaan jelek kepadanya.

Tapi benarkah.

The Go begitu murah hati terhadap seseorang yang baru dikenalnya?

Bukan, bukan demikian.

Sebagai seorang persilatan yang banyak makan asam garam pergolakan hidup, pula dengan memiliki pikiran cerdas dan pandangan tajam, dapatlah The Go meneropong peribadi seseorang.

Dia yakin Tong Ko itu seorang pemuda yang lurus jujur jadi dipercaya tentu takkan berbuat sesuatu yang merugikan anak gadisnya.

Sebagai seorang ayah, The Gopun serupa juga.

Dia dapat melakukan pembalasan hebat pada orang yang mencelakai anaknya.

Dan inipun berlaku juga pada Tong Ko.

Dengan terus terang Tong Ko tuturkan pengalamannya selama ini.

Dari mulai "dijual"

Oleh kawanan sikaki satu Sin Tok, kebinasaan putera Tio Jiang, hingga dirinya dpaksa loncat turun dari puncak, lalu pertemuannya dengan The Ing didalam lembah kemudian terperangkapnya mereka berdua didalam goa yang dihuni siwanita aneh itu.

Ketika mendengarkan tentang diri siwanita aneh dalam goa itu, tiba2 berobahlah wajah The Go.

"Sio-lan, tahukah kau siapa kiranya wanita dalam goa itu?"

Tanyanya kepada sang isteri.

"Entahlah, aku tak dapat menduganya!"

Sahut yang ditanya.

"Adakah paman The mengenalnya?"

Tanya Tong Ko dengan terperanjat.

The Go hanya menghela napas panjang dan minta Tong Ko meneruskan ceritanya.

Tong Ko terus lanjutukan penuturannya bagaimana dia ditolong Tio In, lalu peristiwa antara Tio Jiang dan puteranya (Tay-keng), sampai akhirnya dia memperoleh hadiah golok pik-li-to dari Sik Lo-sam, lalu dia kembali kegua siwanita, kemudian pertempurannya dengan Liat Hwat cousu tadi.

"Engkoh kecil, tidakkah kau merasa bahwa wajah dari siwanita dalam goa itu seperti pinang dibelah dua dengan kau?"

Tanya The Go.

Tong Ko terbeliak.

Teringat tempo hari Siau-beng-siang Tio Jiangpun pernah mengatakan bahwa teringat akan wajah seseorang, maka dia (Tio Jiang) tak tegah membunuhnya.

Dan kini The Go pun mengatakan ha!

itu.

Tak terasa dia mengenangkan wajah wanita aneh itu ........

ya, memang raut wajah wanita itu mirip sekali dengan dirinya.

Dan mengangguklah dia selaku tanda mengiakan pertanyaan The Go tadi.

Seketika wajah The Go makin muram, ujarnya.

"Siao-lan, kukuatir kali ini Ing-ji akan mengalami nasib yang malang!"

"Mengapa?"

Seru Siao-lan dengan amat terkejut. Tapi The Go segera alihkan pertanyaan pada Tong Ko.

"Apa kata kalangan persilatan tentang perbuatanku tempo dahulu melantarkan seorang gadis jelita?"

"Entahlah, tak pernah kudengarnya,"

Sahut Tong Ko. Tapi dalam pada itu Siao-lan. segera menyelutuk dengan kagetnya.

"Kau maksudkan Ing-ji jatuh ketangan Say-hong-hong Bek Lian?"

Serentak teringatlah Tong Ko bahwa Say-hong-hong Bek Lian itu adalah suci dari Siau-beng-siang Tio Jiang. Tapi entah bagaimana, nona itu telah menghilang tak berbekas.

"Tentu dianya. Bek Lian benci sekali padaku. Kalau Ing-ji jatuh ketangannya, masakan ia akan mendapat pengampunan?"

Kata The Go pula. Habis itu, dia melambai pada Tong Ko seraya berkata.

"Engkoh kecil, apakah benar kau ini orang she Tong?"

Tong Ko tersirap, sahutnya.

"Apakah she-ku yang sebenarnya, aku sendiripun tak tahu. Yang kuketahui sejak kecil mula aku dipelihara oleh keluarga she Tong.... paman The, tadi kau katakan aku ini mirip dengan Say-hong-hong Bek Lian........."

Adanya Tong Ko mengajukan pertanyaan begitu karena teringat tempo hari Tio Jiangpun pernah mengatakan begitu tentang dirinya.

Dan ini menimbulkan suatu dugaan dalam hatinya.

Tapi belum lagi dia sempat melanjutkan kata2nya, The Go sudah lantas alihkan pembicaraan kepada sang isteri, serunya.

"Siao-lan, ayuh kita segera menuju ke Lo-hu-san. Gin-si-kau itu mempunyai hidung yang tajam, tentu dapat membawa kita ketempat mereka berdua!"

Siao-lan ber-kaca2 air matanya.

"Benar ia benci padamu, tapi tiada sangkut pautnya dengan Ing-ji!"

Katanya dengan suara sember.

Tong Ko tak mengerti apa maksudnya kata2 yang dibawakan ke dua suami isteri itu, karena dia tak mengetahui riwayat mereka dahulu.

Sementara itu The Go mengulangi lagi maksudnya hendak berangkat ke Lo-hu-san seketika itu juga.

"Kalau jiwi pergi kesana. akupun ikut juga, sekalian untuk mencari tahu keadaan nona In. Entah apakah Siau-beng-siang Tio Jiang sudah berangkat menyusulnya belum?"

Kata Tong Ko. Tapi hal itu dicegah The Go.

"Kau masih menjadi orang yang dicurigai, mengapa berjerih payah begitu? Lebih baik kami saja yang bantu menyirapi berita itu untukmu dan kau boleh beristirahat meyakinkan ilmu silat disini. Akan kuberikan padamu kitab pusaka yang kudapatkan pada belasan tahun berselang. Sekalipun pergi pulang aku hanya memerlukan kira2 satu bulan lamanya, tapi mengandal kecerdasanmu, kupercaya kau tentu akan memperoleh kemajuan yang pesat. Nah, bagaimana pendapatmu?"

Tong Ko rasakan nasehat The Go itu memang benar.

Karena kepandaiannya masih rendah itulah maka setiap kali dia tentu menderita dihina orang.

Bahwa orang telah begitu baik hati untuk menolongnya, dia sangat berterima kasih sekali, The Go suruh Siao-lan ambilkan sebuah kitab tipis.

Tapi ketika Tong Ko menerimanya, dia segera menjadi terperanjat sekali.

Kiranya kitab itu berjudul "Tat Mo cingco cap-pwe-si"

Atau 18 gaya semadhi dari Tat Mo.

Terang itulah karya dari guru besar Tat Mo tentang pelajaran ilmu lwekang.

Belum pernah Tong Go menjumpai kitab pusaka semacam Itu.

Saking terharunya atas budi orang, dia segera ter-sipu2 berlutut untuk menghaturkan terima kasih.

"Kitab ini hanya terisi 72 buah gambaran, tiada keterangannya sama sekali. Belasan tahun lamanya, tetap aku belum dapat meyakinkan seluruhnya. Kuharap kau tak temaha mempelajarinya. Dapat berapa sudahlah, jangan paksakan diri. Dipondok sini terdapat cukup bahan makanan, pula tak nanti ada orang dapat berkunjung kemari, tenang2 sajalah kau belajarl"

Habis berkata begitu, The Go lalu memanggil kera gin-si-kau dan bersama Siao-lan, dia lalu tinggalkan pondok itu.

Bolak-balik Tong Ko membuka lembaran kitab itu, namun dia tetap tak mengerti.

Sampai malam hari, dia belum mendapat apa2.

Saking lelahnya, dia tidur dengan memeluk kitab itu.

Keesokan harinya, kembali dia mulai mempelajari kitab itu, namun tetap seperti kemarin.

Keadaan itu berjalan sampai seminggu lamanya.

Akhirnya dia ambil putusan untuk melakukan semadhi menurut petunjuk gambar.

Tapi dalam persemadhiannya itu, hatinya serasa bergolak.

Sebentar memikirkan tak betah tinggal disitu lebih lama lagi, sebentar hendak menyusul Tio In, mencari The Ing di Lo-hu-san, dan pada lain saat merenungkan tentang golok pik-li-to yang luar biasa itu.

Makin hendak menenangkan pikiran, makin gundah resah hatinya.

Akhirnya Tong Ko insyaf, tak boleh keliwat memaksa diri.

Kitab disimpan dalam baju, mengemasi sedikit ransum, meninggalkan sepucuk surat pada The Go lalu dengan membawa liong-kau-pian dia berangkat menuju ke Thiat-nia.

Hendak dia mencari tahu adakah golok pik-li-to dan ilmu permainannya it-guan-to-hwat yang sakti itu sudah jatuh ditangan Liat Hwat cousu?

---oooo---BAGIAN 15 .

SUKU THIAT TENG BIAU Menjelang petang, tampak ada sebuah puncak menjulang masuk kedalam awan.

Itulah puncak Thiat-nia.

Dia pesatkan langkah dan tak berselang berapa lama, tibalah dia dikaki gunung tersebut.

Baru dia hendak mulai mendaki, tiba2 dari arah belakang ada deru angin menyambar.

Setelah beristirahat kurang lebih seminggu luka Tong Ko sudah sembuh dan karena selama itu dia terus menerus berlatih, jadi kini lwekangnyapun bertambah maju.

Deru angin tadi terang adalah sebuah senjata dari seorang penyerang gelap.

Dan cukup diketahuinya juga, bahwa kepandaian penyerang itu masih rendah.

Dia biarkan saja tak mau bergerak.

Adalah setelah sebelah belakang kepalanya terasa dingin, secepat kilat tangannya menghantam dan berbareng memutar diri sret......

tahu2 senjata gelap itu telah dapat dijepit dalam tangannya.

Dan sekali kakinya bergerak menendang lambung, rubuhlah penyerang gelap itu.

Ketika diperiksanya, seluruh tubuh orang itu dibungkus dengan anyaman rotan, telinganya mengenakan sepasang anting2 besar, dandanannya aneh sekali.

Terang dia itu seorang suku Thiat-theng-biau.

Yang membuat Tong Ko terkejut adalah senjata golok orang itu.

Golok itu berbentuk lengkung seperti sabit, mirip dengan pi-lik-to pemberian Sik-Lo-sam tempo hari.

Dalam saat2 Tong Ko tertegun itu, se-konyong2 orang Biau itu loncat bangun terus menyambar sebuah akar rotan dan laksana terbang dia merayap keatas puncak.

GAMBAR 08 Dengan cepat Tong Ko memburu si orang Suku Biau yang sedang merambat keatas bukit tandus itu, dan menimpukkan sepotong batu .......

Tong Ko mengejarnya.

Sekalipun dia gunakan gin-kang (ilmu berlari cepat) namun jarak keduanya terpisah tiga empat tombak jauhnya.

Ini disebabkan karena orang Biau disitu sudah biasa menggunakan rotan untuk naik turun gunung.

Hanya dalam beberapa kejab saja, sampai sudah mereka dilamping gunung.

Disitu terdengar suara drum......

(grenderang) ditabuh dlseling dengan gelak tawa yang keras.

Hal, itulah gelak tawa siorang tua kate Liat Hwat cousu.

Kalau saja orang Biau itu berhasil mencapai kesana, pasti dirinya (Tong Ko) celaka nanti.

Saking gugupnya Tong Ko segera menjemput sebuah batu kecil lalu ditimpukkan kebelakang batok kepala orang Biau itu.

Tanpa berkuik lagi, tangan orang itu kendor dan tubuhnya segera meluncur turun jatuh kebawah.

Tong Ko menyesal telah membunuh orang.

Tapi apa boleh buat, toh sudah terlanjur kelepasan tangan.

Dia lanjuntukan pendakiannya.

Dari balik sebuah karang dia melongok kemuka dan didapatinya diatas sana tampak ada be-ratus2 orang Biau tengah me-nari2 dan ber-nyanyi2 dalam sebuah lingkaran.

Dltengah lingkaran situ tampak duduk seorang Biau tua yang bertubuh tinggi besar.

Disebelahnya adalah Tio Tay-keng, Hiat-ji dan Liat Hwat cousu.

Mereka tengah menenggak arak.

Tampak bibir mereka komat kamit, tapi entahlah tak kedengaran apa yang dibicarakannya itu.

Tong Ko jengkel tak dapat mendengarkan pembicaraan mereka itu.

Kebetulan pada saat itu ada seorang Biau berjalan lalu disitu.

Dia mendapat akal.

Tanpa diketahui sama sekali, dia sergap orang itu dan ditutuknya jalan darahnya.

Baca Juga: Sebilah Pedang Mustika Liang Ie Shen

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 10

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger