Heng Thian Siau To 3

Eps 3 Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Baca online Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Cersil Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen.

Maksudnya hendak melucuti pakaian orang guna menyusup ketempat perjamuan sana.

Tapi diluar dugaan, pakaian rotan yang dipakai orang itu, terbuat dari rotan besi keluaran istimewa dari gunung situ.

Jangan lagi hanya tangan, sedang ujung golok dan senjata apapun tak dapat menembus rotan itu.

Benar Tong Ko dapat menutuk dengan tepat, tapi orang itu hanya jatuh tersungkur saja tapi jalan darahnya tetap tak kena apa2.

Dan celakanya, orang itu lalu berteriak se-keras2nya Buru2 Tong Ko menyusup masuk kedalam sebuah goa.

Keliling lamping gunung itu bentuknya mirip dengan sarang tawon.

Disitu terdapat banyak sekali goanya.

Didalam goa situ ternyata terdapat banyak tumpukan rumput kering dan kedalamnyalah Tong Ko lalu menyusup.

Didengarnya disebelah luar sana suara ramai2 dan berselang beberapa lama baru lah sirap.

Baru dia hendak keluar atau tiba2 terdengar kaki orang mendatangi, sehingga dia rebahkan diri lagi.

Ternyata yang masuk itu adalah Hiat-ji bertiga.

Tong Ko makin tak berani berkutik.

"Tio-heng, apa yang dikatakan Kit-bong-to tadi jangan2 memang benar. Kalau ayahmu tempo dahulu mengunjungi gunung ini. bukankah juga tak mendapat hasil apa?"

Kedengaran Hiat-ji berkata.

"Memang ayahku mengatakan begitu. Tapi apa yang dilihat oleh Mo locinpwe itu apakah bukannya golok kian-thian-it-guan pik-li-to?"

Sahut Tay-keng. Iiat Hwat cousu Itu sebenarnya orang she Mo bernama Put-siu. Dia orang Tibet, jadi namanya agak aneh. Berkatalah dia.

"Sekalipun begitu, tapi belum pasti Kit-bong-to mempunyai banyak simpanan obat racun. Telah kusanggupkan dia suatu pangkat kedudukan kosong yakni menjadi tho-si (kepala) dari suku Biau di Sip-ban-tay-san sini, tentu dia akan kegirangan sekali. Besok hendak kutanyakan dia tentang suatu ramuan obat racun, tentu dia akan memberitahukan!"

"Hai....., konon kabarnya dia mempunyal semacam obat racun 'hong-sin-san'. Barangsiapa yang memakannya dalam tempo sehari akan berobah menjadi seperti anjing gila, menyerang kepada siapa saja yang dijumpainya. Kalau dia itu seorang yang-berilmu silat, tenaganya akan bertambah hebat. Dengan lawan yang setingkat lebih tinggi kepandaiannya, tetap bisa menang. Akhirnya, diapun akan mati sendiri!"

"Ho...., ho.....! Andaikata yang meminumnya itu ayahmu, rasanya dalam 3 hari saja seluruh penghuni Giok-li-nia itu akan tumpas dibawah sepasang pedang pi-i-song-hong-kiam!"

Hiat-ji menyeringat iblis. Mendengar itu, bulu roma Tong Ko sama berdiri. Sebaliknya Tay-keng hanya ganda tertawa saja, ujarnya.

"Masakan tidak?"

Kiranya goa yang terdapat rumput kering.

itu, adalah tempat penginapan ketiga orang yang menjadi tetamu suku Biau itu.

Memang orang2 Biau itu tinggal didalam goa2.

Setelah berbicara sejenak, ketiga orang itupun masuk tidur.

Dalam pada itu, Tong Ko sibuk tak keruan.

Dia cukup mengetahui kelihayan Liat Hwat cousu yang tentunya tajam sekali alat Inderanya.

Kalau dia nekad menobros keluar, tak boleh tidak tentu akan ketahuan.

Namun tetap berada ditempat persembunyian, dia kuatir akan terlambat mencegah suatu malapetaka besar.

Bukantah dari nada pembicaraan Hiat-ji dan Tay-keng tadi, mereka hendak minta obat hong-sin-san itu kepada Kit-bong-to?

Walaupun Tay-keng "itu putera kandung Tio Jiang, namun rasanya dia tentu akan menurut perintah si Hiat-ji untuk meminumkan obat jahat itu kepada ayah bundanya sendiri.

Dan kalau hal itu sampai terjadi, bagaimanakah nasib kawanan orang gagah di Giok-li-nia itu?

Ah, biar bagaimana dia harus mencegah hal itu.

Dengan keputusan itu, dia menyingkap tumpukan rumput kering perlahan2 Diluar.

rembulan remang2.

Hiat-ji bertiga tampak tidur disudut, sedang pada sudut lain terdapat dua orang suku Biau yang mendengkur dengan kerasnya.

Tong Ko girang dibuatnya.

Dengan adanya orang lain didalam goa situ, tentulah Liat Hwat cousu tak bercuriga kalau disitu terdapat orang yang bersembuayi.

Kalau dia melangkah keluar, andaikata dipergoki, tentunya hanya dikira kalau orang Biau saja.

Setelah bulat keputusan, dia segera bangkit dan sengaja batuk2.

Tay-keng menggeliat bangun dan duduk.

Hati Tong Ko tergetar, kalau ketahuan, celakalah dia.

Tapi syukurlah Tay-keng hanya duduk saja sembari mendamprat uring2an.

"Tengah malam buta begini masih kelayapan, ayuh lekas tidur sana!"

Legah hati Tong Ko dikira sebagal orang Biau itu.

Dengan tak lampias dia mengiakan dan terus melangkah keluar goa.

Ketika tiba diambang mulut goa, dia melirik lagi kebelakang.

Disana dilihatnya Tay-keng rebah pula dan kedengaranlah Hiat-ji membuka mulut.

"Tio-heng, dengan siapa kau bicara itu?"

"Seorang Biau, entah mau apa dia tengah malam begini keluar?"

Sahut Tay-keng.

"Apa ya?"

Tay-keng mendongkol karena tak dipercaya itu, namun tak berani dia menyalahi si Hiat-ji.

"Masakan bukan? Tu dia masih berdiri dimulut goal"

Serunya.

Tong Ko seperti terpaku ditempatnya.

Hatinya kebat kebit tak keruan, takut kalau2 kedua orang itu menyusulnya.

Hem..., kedengaran Hiat-ji mendengus sembari menggeliat balikkan tubuh untuk tidur lagi.

Tanpa menoleh lagi, Tong Ko cepatkan langkahnya keluar.

Saking girangnya bisa keluar dari sarang harimau, Tong Ko segera tundukkan kepala melihat ketanah, astaga.......disamping bayangannya yang memanjang karena ditimpa cahaya rembulan itu, tampak lagi ada sebuah bayangan lain!

Dalam kagetnya pikiran Tong Ko membayangkan dugaan.

Yang mengikutinya itu hanya salah satu dari ketiga orang lawannya tadi, yakni kalau bukan Tay-keng tentulah Hiat-ji atau Liat Hwat cousu.

Tapi anehnya mengapa orang itu tak menyerangnya?

Pikirannya pun mereka berbagai Ingatan.

Bukan dia takut binasa digunung Thiat-nia situ, tapi dia menyesal mengapa tak dapat lekas2 menuju ke Giok-li-nia saja?

Di Thiat-nia situ paling banyak dia dapat menyelidiki asal asul ilmu golok it-guan-to-hwat, itupun kalau saja berhasil.

Tapi kalau dia menuju ke Giok li-nia, manfaatnya pasti jauh lebih besar lagi.

Ber-puluh2 orang gagah patriot akan dapat diselamatkan dari kebinasaan akibat penghianatan putera Tio Jiang itu.

Dan itu akan berarti suatu sumbangan besar bagi kelangsungan gerakan menentang penjajah Ceng.

Tapi .......

ah, dengan binasanya putera bungsu Tio Jiang dan Nyo Kong-lim, para orang gagah itu sudah sama membenci dirinya (Tong Ko).

Betapapun dia memberi laporan diatas sumpah yang berat, tak nanti mereka mau mempercayainya.

Dilamun oleh pikiran semacam itu, tanpa terasa Tong Ko tertegun dan ter-mangu2 sampai sekian sa'at.

Setelah tersadar, didapatinya keadaan disekelilingnya situ tetap tenang2 saja.

Dan ketika dia memandang ketanah lagi hai..............kemana perginya bayangan tadi?

Mengapa yang terbentang ditanah itu hanya bayangan sendiri?

Juga waktu dia berpaling kebelakang, tiada barang sebuah insanpun yang kelihatan.

Heran Tong Ko men-jadi2.

Ya, tak salah lagi tadi terang dia melihat sebuah bayangan disisinya.

Sejak dia mendapat saluran Iwekang dari Sik Lo-sam dan Ciang Tay-lo, lwekangnya maju pesat dan dengan sendirinya pancainderanyapun tajam sekali.

Tapi anehnya orang gaib itu telah mondar mandir tanpa mengeluarkan sedikit suarapun juga, bahkan sesilir anginpun tak terasa meniup.

Ah, masakan didunia ini terdapat orang yang sedemikian saktinya?

Dari kurang percaya akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kesemuanya' itu mungkin terbit dari pikirannya sendiri yang gugup karena takut kepergok lawan Benar dia percaya dirinya telah memperoleh kemajuan ilmu kepandaian yang pesat, namun sampai dimana tingkat kemajuannya itu belumlah dia mengetahui dengan pasti.

Begitulah setelah yakin tiada seorangpun yang menguntitnya, dia lalu memandang keseluruh goa disitu.

Tampak di-tengah2 sana ada sebuah goa yang besar dijaga oleh dua orang Biau yang ketiduran pulas.

Berbeda dengan lain2 goa, goa itu pintunya tertutup dengan kerai rotan.

Menduga gua itu tentulah tempat kediaman Kit-bong-to, kepala suku Thiat-theng-biau, maka dengan melangkahi penjaganya yang masih menggeros pulas itu, ia masuk kedalam.

Begitu melangkah masuk, hidungnya segera tersampok dengan bebauan yang harum sekali.

Tapi keadaan dalam goa situ gelap sekali, sampaipun dia tak dapat melihat tangannya sendiri.

Setelah sejenak memulangkan kegoncangan hatinya, Tong Ko segera berindap2 melangkah maju.

Dalam kegelapan tangannya merabah sebuah meja.

Ketika tangannya menekan meja Itu, biar...........

seketika terang benderanglah ruang goa itu!

Mengira kalau dirinya akan dijebak orang, sebat sekali Tong Ko segera melolos jwan-pian terus dibolang-balingkan dalam dua jurus gerakan.

Tapi ternyata dia hanya menghantam angin karena disitu tiada terdapat barang seorang manusiapun jua.

Kini insyaflah dia, bahwa penerangan itu adalah dia sendiri yang menimbulkan sewaktu tangannya menekan meja batu itu.

Diperiksanya meja itu, kiranya disitu terdapat 4 butir ya-beng-cu mutiara bercahaya terang).

Mutiara2 ini ditutupi ber-lapis2 kain hitam Tadi tanpa sengaja tangannya telah menarik kain selubungnya, hingga terjadi penerangan itu.

Walaupun kaget, namun legah juga hati Tong Ko sewaktu mengetahui bahwa tiada orang yang berada disitu.

Tetapi kegirangan Tong Ko Itu hanya sekejab saja, karena pada lain saat terdengar derap kaki orang mendatangi.

Kiranya waktu Tong Ko membolong-balingkan piannya tadi telah menimbulkan deru sambaran angin yang keras.

Tambahan pula timbulnya penerangan yang mendadak itu, telah membangunkan kedua penjaga tadi.

Serentak mereki masuk kedalam.

Buru2 Tong Ko meuyusup kebawah meja.

Dia tetap tak habis mengerti mengapa hanya goa ini saja yang dijaga orang.

Apakah karena adanya mustika ya-beng-cu itu?

Belum lagi dia mendapat jawaban dari dugaannya itu, dua pasang kaki yang dibungkus dengan rotan sudah kelihatan dimukanya, kira-kira hanya terpisah satu setengah meter jaraknya.

Tong Ko anggap sudah tiba temponya untuk turun tangan.

Liong-kau-pian dijulurkan merayap keluar.

Waktu kedua orang Biau itu mengetahui, sudah terlambat.

Ujung liong-kau-pian itu sudah melilit pada kaki salah seorang dan sekali disentakkan, maka terjerembablah orang itu menjatuhi kawannya.

Kedua penjaga itu tengel2 hendak bangun tapi Tong Ko yang membarengi menorobos keluar segera mengirim dua sabetan pian pada seorang dan mengirim sebuah tendangan pada yang lain.

Tak ampun lagi, kedua orang Biau itu jatuh sungsang sumbal.

Rupanya kedua orang itu hendak berteriak minta tolong, tapi sebat sekali Tong Ko sudah julurkan jarinya menutuk jalan darah su-pek-hiat salah seorang dari mereka.

Jalan darah Itu terletak dibawah pelapuk mata, jadi tak dikerudungi rotan.

yang seorang lagi hendak memberosot keluar, tapi secepat kilat Tong Ko sambar golok orang itu terus dilekatkan dimukanya.

Bruk......., orang Biau itu ngelumpruk jatuh berlutut ditanah meratap.

"Hohan, ampunilah jiwakui"

Tong Ko girang mendengar orang Biau dapat berbahasa Han.

Setelah mendengari disebelah luar sana tiada terdapat perobahan suatu apa, dia lalu menanyai.

Bermula hendak dia tanyakan lebih dahulu mengapa orang Biau itu menjaga disitu.

Tapi terkilas pada pikirannya, bahwa dalam keadaan segenting itu tak boleh dia terlalu buang2 waktu.

Lebih baik chi langsung tanyakan dimana Kit-bong-to simpan obat2annya beracun itu.

Memang sudah menjadi watak Tong Ko sejak kecil mula, dia tak suka memikirkan kepentingan diri sendiri.

Beg;tupun dengan pertanyaan itu, maksudnya yalah agar dia lekas2 dapat mendahulu ambil obat berbisa itu agar Tio Jiang suami isteri tak sampai mengalami malapetaka.

Tapi justeru karena itu, dia telah kehilangan suatu kesempatan yang bagus.

Dan untuk kesempatan itu, kelak dikemudian hari dia harus menebusnya dengan jerih payah yang sangat.

Tapi baiklah haI itu kami tangguhkan dahulu pada bagian belakang dari kisah ini.

"Dimana yu-tio (kepala suku) menyimpan obat2nya?"

Orang Biau itu mengatupkan matanya sejenak lalu menyahut.

"Tidak disinil"

"Ayuh, lekas antarkan aku kesana dan tak nanti kuganggu jiwamu!"

Orang itu berbangkit dan Tong Ko segera menggandeng tangannya untuk diajak pergi.

Berliku-liku jalanan yang ditempuh, melalui perkampungan goa yang banyak sekali jumlahnya.

Tong Ko sampai kehilangan pedoman arah jalanan, tak tahu dia hendak dibawa kemana.

Tetapi karena dilihatnya orang Biau itu tak mengunjuk tanda2 membangkang, jadi diapun tak curiga.

Memang.

dia tak menyelami alam pikiran.

suku Thiat-theng-biau.

Mereka itu ternyata menyayangi obat racunnya, melebihi dari jiwanya sendiri.

Sekalipun kepala suku yang memberikan sedikit kepada lain orang, merekapun tak puas.

Bahwa per-tama2 yang ditanyakan adalah tentang obat racun yang khas menjadi pusaka warisan bangsanya, orang Biau itu diam2 telah mereka suatu rencana.

Pada lain saat ketika membiluk pada sebuah tikungan, merontalah orang itu se-kuat2nya lalu ber-teriak2 keras2.

Kaget Tong Ko bukan alang kepalang.

Mimpipun tidak dia kalau orang itu hendak mengelabuhnya.

Tadi karena dia tak bercuriga, cekalannyapun agak kendor, maka gitu meronta dapatlah orang Biau itu terlepas terus lari kebelang sembari ber-teriak2.

"Plak", cepat Tong Ko timpukkan golok lengkung dan tepat mengenai ulu punggung orang itu. Tetapi karena tubuh orang itu dibungkus dengan rotan besi yang keras, jadi tak kena apa. Bebrapa kejab saja, hiruk pikuklah suasana disekeliling situ. Be-ratus obor keluar darl goa2. Tiada lain daya bagi Tong Ko kecuali bersembunyi dibalik sebuah batu besar Tak berselang berapa lama, muncullah Kit-bong-to membawa ratusan orang Biau yang sama siap lengkap dengan golok sabitnya. Mereka lalu pecah diri berpencaran mencarinya. Ada dua dua regu yang makin mendekati ketempat persembunyian Tong Ko. Terhadap suku Thiat-theng-biau, karena dirinya merasa salah, rela sudah Tong Ko ditangkap. Tapi mengingat apabila sampai kepergok kawanan. Hiat-ji dirinya pasti akan binasa, Tong Ko mengambil putusan lain. Sebelum mati bercermin bangkai (sebelum mati lebih baik berusaha dulu menentangnya). Setelah menghimpun semangat, dia segera enjot kakinya melayang keluar. Belum kakinya menginjak tanah, liong-kau-pian sudah ber-putar2 menjadi sebuah lingkaran sinar merah. Tujuh atau delapan orang Biau terjungkal mundur. tapi belum Tong Ko dapat membuka d'alan, orang2 Biau yang lain sudah maju mengerumuninya lagi sembarl ber-teriak2 keras Sebenarnya Tong Ko pun tak ingin terlalu banyak mengorbankan jiwa orang Biau, namun betapa usahanya untuk menobros kian kemari, tetap dia gagal membuka kepungan pagar golok sabit yang mengelilingi rapat2 itu. Dalam pada dia gelisah kebingungan itu, tiba2 terdengar suara suitan nyaring dan siraplah hiruk teriakan orang2 Blau itu. Kini mereka sama tegak berdiri diam. Pada lain detik, muncullah Kit-bong-to kemuka. Setelah mengawasi beberapa jenak pada Tong Ko, dia berseru.

"Siapakah yang pada siang hari ini mem-bunuh2i saudara2 suku kami? Kaukah?"

"Ya!"

Sahut Tong Ko dengan tegas ringkas. Kepala suku Thiat-theng-biau itu mengangguk, ujarnya.

"Kiranya kau ini seorang jantan yang keras, seperti juga kami suku Thiat-theng-biau. Ada apa kau datang kemari?"

Melihat orang tak bernada gusar legalah hati Tong Ko, sahutnya.

Kit-yu-tio, ketiga orang yang datang kemari itu adalah kaki tangan kerajaan Ceng.

Apabila mereka hendak meminta obat racun padamu, harap jangan diberi!"

"Mengapa?"

Dalam detik itu tak dapatlah Tong Ko mencari jawaban yang jitu, maka dengan ter-sipu2 dia menjawab.

"Tentara Ceng telah merampas wilayah kami, main bunuh main perkosa dan berlaku se-wenang2. Rakyat ingin benar me-ngunyah2 daging dan menguliti tubuh mereka. Bagaimana kau hendak membantu mereka?"

Kit-bong-to goyang kepala, ujarnya.

"Hal itu tiada sangkut pautnya dengan kami. Liat Hwat consu telah menyampaikan firman kerajaan Ceng yang mengangkat diriku sebagai yang dipertuan dari suku Biau Sip-ban-tay-san. Jadi akupun kini seorang pembesar kerajaan!"

Bermula Tong Ko hendak membangkitkan rasa cinta-negeri pada sanubari Kit-bong-to.

Tapi serta didengarnya keterangan itu, dia tertegun diam.

Belum dia sempat merangkai jawaban atau dari arah belakang Kit-bong-to suara tertawa kata orang.

"Ucapan Kit tho-si memang benar seratus persen. Adalah orang she Tong itu yang bermata tapi se-olah2 buta!"

Menyusul dengan seruan itu, muncul seorang pemuda gagah sembari menghunus sebatang pedang.

Itulah Tio Tay-keng!

Melihat dia, mata Tong Ko seperti memancar api.

Dengan mengaum keras dia lontarkan liong-kou-pian meniapu tubuh orang.

Tay-keng menggeliat kesamping, melolos pedang dia lalu kembangkan permainan pedang to-hay-kiam-hwat yang termasyhur itu.

Malah dua jurus sekaligus diserangkan yani Ceng-wi-tiam-hay dan boan-thian-kok-hay, gaya kedahsyatan tiada taranya.

Belum lagi Tong Ko sempat menggerakkan piannya, dia sudah didesak rapat.

Tong Ko balikkan sikunya robah gerakannya dalam jurus kou-lo-ki-lu, barulah dia dapat meloloskan diri lalu loncat kesamping.

Ketika dia siap untuk memu!ai menyerang lagi, se-konyong2 telinga nya dilengkingi oleh tiupan suara orang.

"Hai, kau juga harus mengasoh!"

Seketika pinggangnya scrasa kesemutan dan tubuhnya condong kesamping.

Kiranya separoh tubuhnya sebelah kanan tak dapat digerakkan lag!, terang kalau kena ditutuk orang~.

Namun sebagaimana telah diketahui, tubuh Tong Ko itu terbagi menjadi dua.

"masakan"

Sik Lo-sam dan gemblengan Ciang Tay-lo.

Dia memiliki dua macam lwekang yang sakti, hanya sayangnya sampai pada saat itu latihannya masih belum sempurna.

Tubuh yang sebelah kanan tertutuk, yang sebelah kiri masih tetap biasa.

Bermula hendak dia pindahkan pian ketangan kirl tapi pada lain saat terkilas pada pikirannya, lebih baik dia pura tak berdaya.

Pertama hendak dia lihat perkembangannya lebih jauh dan kedua kali dia cukup mengingsyafi kelihayan Liat Hwat cousu.

Biar dia gunakan simpanan tenaganya itu untuk mengadu jiwa dengan Tay-keng!

Begitulah dia pura2 rubuh ketanah dan benar juga tampak Liat Hwat cou-su dan Hiat-ji menghampiri dengan pe-lahan2.

"Sekali jaring ditebar, tiada mata lubangnya. Kalau tak kuberesi budak ini, tentu akan menimbulkan bahaya dikemudian haril"

Seru Tay-keng dengan kegirangan Melangkah maju dia lalu tusukkan ujung pedang ketenggorokan Tong Ko.

Adalah menjadi harapan Tong Ko agar ujung pedang Taykeng Itu lekas2 tiba, supaya dia dapat gunakan tenaga tangannya kiri.

Tapi baru dia hendak bergerak, terdengarlah Kit-bong-to keburu berseru.

"Tio kongcu tahan dululah!"

"Kit tho-si hendak memberi pesan apa?"

Tanya Tay-keng agak terkesiap.

"Anak muda ini adalah seorang jantan keras. Kupenuju padanya, biar dia bekerja pada kami disini"

Sahut Kit-bong-to. Tay-keng berobah wajahnya. Baru dia hendak membuka mulut, Hiat-ji sudah memberi isyarat mata, ujarnya.

"Tio-heng, semalam kami telah mengemukakan obat itu dan rupanya dia meluluskan. Baiklah kau simpan dulu pedangmu dan cukup jaga saja padanya!"

Rupanya Tay-keng mengerti bahwa Hiat-ji dan suhunya itu "ngesir" (dendam) pada Kit-bong-to, maka sembari mengangguk dia menyahut.

"Kit tho-si, hal ini perlu dirundingkan lagi!"

Dia mundur selangkah, ujung pedangnya dijulaikan kearah bawah (tanah) sembari masih di-gerak2an pelahan-lahan.

Itulah gaya sikap gerakan Ceng-wi-tiam-hay.

Asal tangannya membalik keatas, maka dapatlah ujung pedangnya itu menusuk Kit-bong-to.

Memang ilmu silat Kit-bong-to itu tak sebrapa tingginya, jadi sedikit pun dia tak menginsyafi "bom waktu"

Yang dipasang tetamunya itu.

Disamping itu dia dimabuk kegirangan atas kedatangan ketiga tetamunya yang membawa firman kerajaan itu.

Namun karena din sebagai kepala suku yang perintahnya selalu diturut oleh anak buahnya, maka diapun marah mendengar penyahutan Tay-keng tadi.

"Apa yang akan dirundingkan lagi?"

Serunya dengan gusar. Hiat-ji tertawa menyeringai, ujarnya.

"Oleh karena yutio hendak mengambil anak itu, maka sebaiknya kita lakukan barter. Kami serahkan anak itu dan yutio berikan kita resep pembuatan obat beracun itu."

"Ngaco!"

Seketika Kit-bong-to menghardik dengan keras.

Hiat-ji menggeram keras2 dan Tay-keng yang dapat menangkap isyarat itu segera balikkan tangannya menusuk tenggorokan kepala suku itu.

Mimpipun tidak Kit-bong-to kalau "duta kerajaan"

Itu berpaling haluan secara tak di-sangka2.

Dan begitu cepat kiblat pedang itu menyambar, jangankan hendak menghindar sedang untuk berteriak saja tak mempunyai kesempatan lagi.

Adalah pada saat2 maut merangsang itu, tiba2 kedengaran Tay-keng menjerit keras dan terlempar jatuh kesamping, crak ....., ujung pedang Itu hanya menggurat disamping dada kepala suku Biau yang ditutupi rotan besi saja, jadi dia tak kurang suatu apa.

Apa yang terjadi?

Ketika dia mengawasi, kiranya ujung pian Tong Ko telah memakan segumpal daging betis Tay-keng, sehingga putera Tio Jiang yang "manis"

Itu berlumuran darah kakinya. Kini Kit-bong-to tahu bahwa Tong Ko lah yang menolong jiwanya. Dan karena kedok ketiga "duta kerajaan"

Itu telah ketahuan, dia lalu berseru keras2 memberi komando.

Bagaikan sarang tawon dionggok, bergelombanglah orang2 Thiat-theng-biau itu mengepung ketiga tetamunya.

Juga Hiat-ji dan Liat Hwat cousu tahu jelas apa yang telah terjadi.

Heran mereka dibuatnya mengapa anak yang sudah ter-tutuk jalan darahnya itu dapat melakukan serangan tiba2 sedemikian dahsyatnya.

Dalam pada itu orang2 Thiat-theng-biau sudah menyusun kepungannya dengan rapat dan rapi sekali.

Tiba2 ketika Kit-bong-to hendak undurkan diri masuk kedalam barisannya, Liat Hwat cousu tertawa melengking dan tahu2 tubuhnya melayang kearah Kit-bong-to.

Belum orangnya tiba ditanah 4 buah hantaman sudah dilancarkan, buk..., buk.., buk.., buk..., dan 4 orang Thiat-theng-biau segera muntah darah terus rubuh binasa.

Cepat bagai burung rajawali dia mencengkeram tulang pipeh (pundak) Kit-bong-to terus diangkatnya keatas, serunya.

"Barang siapa berani bergerak, kau pasti hilang nyawamu. Lekas perintahkan orang2mu berhenti!"

Liat Hwat mempunyai lwekang yang sempurna.

Walaupun seruannya itu pelahan2 namun kumandangnya jauh menggema ke-mana2.

Melihat kepala sukunya ditawan dengan sendirinya orang2 Thiat-theng-biau itu sama ketakutan.

Sebaliknya Kit-bong-to sendiri tetap diam membisu.

"He...., he....,"

Liat Hwat tertawa mengekeh.

"rupanya kau tak kenal kelihayan. Ayuh, berikan tidak resep obatmu itu? Kalau membangkang, kau akan segera menjadi bangkai!" ---oooo---BAGIAN 16 . TIO JIANG MENOLONG PUTRINYA Kit-bong-to tetap membisu.

"Kalau belum pernah makan tanganku, rasanya kau tentu tetap kepala batu ya?"

Kata Liat Hwat sembari menampar dada kepala suku itu.

Huak....., darah segar menyembur dari mulut Kit-bong-to, namun dia tetap bisu laksana patung.

Adalah Tong Ko yang tak tega melihat keganasan itu, segera berteriak.

"Liat Hwat cousu, dia tak pandai ilmu silat. Tidakkah kau merasa malu untuk menyiksanya begitu macam?"

Liat Hwat mengekeh, serunya.

"Hiat-ji, dialah yang mengerti ilmu silat. Coba kau tekan dia, tentu tak dianggap memalukanlah !"

Hiat-ji mengiakan lalu melangkah maju.

Dari tempatnya diatas tanah, Tong Ko menyambutnya dengan sebuah sabetan pian tangan kiri.

Sayang dia hanya berdiri dengan kaki sebelah kiri, jadi tubuhnya terhuyung dan sabetannya itupun tak genah arahnya.

Dengan mudahnya Hiat-ji menghindar lalu menyengkelitnya hingga menggelepar jatuh didekat Kit-bong-to.

Sewaktu Tong Ko hendak bangun lagi, didengarnya dengan suara lemah Kit-bong-to berkata.

"Ilmu permainan........golok lengkung itu........"

Tergerak hati Tong Ko, pikirnya.

"Kedatangan Hiat-ji bertiga ke Thiat-nia situ yang terutama yalah akan mencari keterangan tentang ilmu golok it-guan-to-hwat itu. Apakah bukannya kepala suku itu hendak menyampaikan rahasia ilmu itu padaku?"

Buru2 dia mendongak mengawasi kearah Kit-bong-to; tapi kepala suku itu ter-engah2 napasnya tak dapat bicara genah lagi karena ditekan oleh cengkeram Liat Hwat cousu.

Dalam pada itu Tay-keng telah membalut luka dibetisnya dan kini tampil menghampiri lagi.

Dengan Tong Ko dia menuntut penghidupan "seperti air dengan api".

Dua kali sudah dia mendapat luka ditangan Tong Ko, maka bencinya terhadap anak muda itu sampai menyusup kedarah daging.

Begitu tiba Tay-keng segera mengirim sebuah tendangan keras.

Karena separoh tubuh Tong Ko tertutuk, maka begitu kena tendangan, tubuhnya segera terlempar keatas.

Belum sempat dia gerakkan pian membalas, pahanya terasa sakit sekali.

Luka sepanjang 20-an centi telah diguratkan ujung pedang Tay-keng diatas pahanya itu.

GAMBAR 09 Sekali Tio Tay Keng ayun kakinya, tubuh Tong Ko ditendang mencelat keatas, menyusul pedang Tio Tay-keng bekerja lagi hingga pahanya tergores luka panjang "Siaocu, kalau hari ini tak kucincang badanmu, rasanya hatiku tentu masih mendendam!"

Seru Tay-keng dengan beringas.

Dan sebelum tubuh Tong Ko melayang turun, dia susuli lagi dengan sebuah tendangan.

Lagi2 tubuh Tong Ko melambung keudara.

Adalah secara kebetulan sekali, tendangan kedua dari Tay-keng itu bahkan berobah menjadi suatu keuntungan bagi Tong Ko.

Karena tendangan itulah maka jalan darahnya yang tertutuk itu kini menjadi terbuka.

Secepat dia turun ketanah, bagaikan banteng ketaton dia kirim 3 serangan pian.

Yang dua tepat mengenai pedang Tay-keng.

Kejut Tay-keng tak terkira ketika didapatinya tenaga hantaman lawan itu luar biasa kuatnya hingga hampir2 pedang terlepas dari cekalannya.

Buru2 dia menyurut kebelakang lalu menangkis serangan pian yang berikutnya.

Sudah menjadi tekad Tong Ko, untuk mengadu jiwa dengan lawannya itu.

Dia tak ambil pusing lagi bahwa disana masih ada Liat Hwat yang lihay.

Ilmu permainan pat-sian-pian (pian dewa) dimainkan dengan gencarnya, sedang tangannya kanan berserabutan menghantam dan mencakar.

Benar karena kalah peyakinan tubuhnya kena dilukai bebrapa kali, namun musuhpun dibuatnya sibuk bukan kepalang bingga berulang-ulang men-jerit2 minta bantuan Hiat-ji.

Melihat kebandelan kepala suku Biau itu, Liat Hwat ambil putusan untuk membunuhnya saja.

Krek......, begitu dia keraskan cengkeramannya lalu lemparkan tubuh Kit-bong-to yang sudah tak bernyawa itu ketanah.

"Dengarkanlah hai....... orang2 Biau! Barangsiapa yang melawan, Kit-bong-to adalah contohnya!"

Serunya.

Sejak kecll Kit-bong-to memiliki tenaga kekuatan yang luar biasa.

Setelah diangkat menjadi kepala suku, orang2 Thiat-theng-biau itu sangat taat dan memujanya.

Bahwa kini kepalanya itu dapat dibinasakan, merekapun menjadi keder dan tak berani bergerak lagi.

Melihat itu Liat Hwat menjadi girang.

Baru dia hendak menanyakan tentang rahasia obat mujijat itu, tiba2 dart lamping gunung sana terdengar jeritan seorang perempuan.

"Hem....., Tok-kak-sin-mo.......! Kalau kau tak lepaskan aku, begitu ayahku datang menyusul, masakan kau dapat menandinginya?"

"Huh, takut apa? Kalau aku bukan lawannya, kau sendiripun tak nanti dapat hidup, ha....,ha....., kita sama2 mati!"

Kedengaran suara penyahutan.

Orang2 yang berada dalam dataran gunung situ, terkejut mendengar percakapan sepasang laki perempuan itu karena mereka tahu sudah bahwa kedua orang itu adalah Tio In dan sikaki satu Sin Tok.

Kalau Tong Ko kegirangan mendengar bahwa Siau-bengsiang Tio Jiang segera akan tiba, adalah Tay-keng yang serasa hilang semangatnya karena ketakutan.

Begitu gerakannya agak ayal, pundaknya kena termakan ujung pian, sakitnya bukan alang kepalang.

"Shin-heng, lekas bantui aku! Anak ini kerangsokan setan!"

Serunya kepada Hiat-ji.

Tapi pada lain saat, telinga seperti disusupi suara lengkingan "jangan kuatir, makin kau ber-pura2 terdesak, makin baiklah".

Kiranya itulah pesan Liat Hwat yang dibisikkan melalui ilmu thoan-im-jip-bi.

Kini hatinyapun mantep pula.

Adalah pada saat itu Tok-kak-sin-mo dengan mengepit Tio In sudah muncul disitu.

Girangnya sikaki satu bukan kepalang ketika didapati konco2nya berada disitu.

"Ho, kiranya kalian berada disini, aku di-ubar2 Tio Jiangl"

Serunya. Sedang Tio In yang melihat engkohnya (Tay-keng) sedang bertempur dengan Tong Ko segera meneriakinya.

"Ko-ko, Ko-ko!"

Bermula Tong Ko mengira kalau saat itu Tok-kak-sin-mo dan Shin Leng-siau tentu sudah membawa Tio In kekota raja, maka sejenak dia menjadi tertegun demi mendengar teriakan nona yang dicintainya itu.

"In-moay, apakah ayahmu segera akan tiba kemari?"

Serunya.

"Secepatnya tentu dia sudah kesinil"

Sahut Tio In.

Memang rencana Tok-kak-sin-mo dan Shin Leng-siau hendak membawa nona itu kekota raja untuk menjebak Siau-beng-siang Tio Jiang.

Maka sedikitpun tak mereka sangka bahwa selekas itu Tio Jiang dapat menerima berita lalu terus melakukan pengubaran.

Maka rencana tujuan mereka berobah, bukannya menuju keutara tetapi kebarat laut (barat utara).

Maksudnya ialah untuk membilukkan perhatian orang.

Pada hakekatnya bagus juga siasat itu.

Memang Tio Jiang telah keliru menyusul keutara.

Tetapi oleh karena kalangan persilatan dari kedua wilayah Kwisay dan Kwitang itu sebagian besar adalah sahabat2 Tio Jiang, maka begitu mereka mendapatkan jejak Tok-kak-sim-mo, dengan cepat mereka memberi informasi (keterangan) pada Tio Jiang berganti arah menuju kebarat laut.

Oleh karena disepanjang jalan itu Tok-kak-sin-mo selalu dirintangi oleh hadangan2 sahabat-sahabat Tio Jiang, ya sekalipun kesemuanya dapat dirubuhkan, namun sekurang2nya juga tak sedikit menghambat waktu mereka (Sin Tok dan Shin Leng-siau).

Begitulah ketika tiba didaerah pegunungan Sip-ban-tay-san, Tio Jiang telah dapat mencandaknya.

Sebenarnya kedua orang itu dapat melayani Tio Jiang, tapi karena sikaki satu berusaha se-kuat2nya agar Tio In jangan sampai kena direbut Tio Jiang lagi, maka dia tak mau terlibat dalam pertempuran dan melainkan main lari seribu langkah.

Begitu tampak dari kejauhan Tio Jiang mengejar, Tok-kak-sin-mo dan Shin Leng-siau segera keprak kudanya mencongklang se-pesat2nya.

Sekalipun begitu, karena tunggangannya itu sudah keliwat cape dilarikan siang malam tanpa berhenti dan kedua kalinya karena jalanan digunung Sip-ban-tay-san itu legak-leguk ber-liku2, jadi malah lambat.

Mendengar disebelah muka sana anaknya tak henti2nya ber-teriak2, TIo Jiang tancap gas berlari sekencang2nya.

Dalam bebrapa kejab saja, jarak mereka itu makin dekat.

Sedang disebelah muka adalah merupakan jalan buntu yang menuju kesebuah karang.

Tersipu2 kedua orang itu lompat turun dan kudanya.

Baru Shin Leng-siau memutar tubuh hendak siap menantikan lawan, atau Tie Jiang sudah loncat menerjangnya dengan pedang pusaka yap-kun-kiam.

Sret...., sret....., mata Shin Leng-siau menjadi silau dengan cahaya gemilang dari pedang pusaka itu dan tahu2 bahunya kena tertusuk.

Nampak kawannya terluka, bukannya maju.

menolong sebaliknya sikaki satu dengan gayanya berloncatan kaki satu, segera melarikan diri.

Tio Jiang tak mau menghajar Shin Leng-siau lagi, cukup dia kirim sebuah tendangan yang telah membuat orang itu terlempar setombak jauhnya.

Yakin bahwa korbannya itu tentu menderita luka berat, Tio Jiang berputar tubuh terus mengejar.

sikaki satu.

Sin Tok menyongsong dengan kapaknya.

Untuk lekas2 menolong puterinya, Tio Jiang tak mau buang banyak waktu.

Segera dia gunakan jurus hay-siang-tiau-go, tubuhnya tiba2 diam.

Ini diartikan lain oleh Sin Tok yang sudah kegirangan karena mengira ada kesempatan untuk menyerang.

Tapi baru dia gerakkan kapaknya, jurus hay-siang-tiau-go yang penuh dengan perobahan itu sudah bergerak.

Pedang serentak berobah menjadi separoh lingkaran bundar, lewat disela kapak terus merangsang muka orang.

Tok-kak-sin-mo Sin Tok adalah murid kesayangan dari Ban-bok-sin-bu, iblis nomor satu didaerah Biau.

Watak Ban-bok-sin-bu itu sangatlah ganasnya.

Dia mempuayai banyak murid, tapi begitu dia marah2, dia mencari hiburan dengan mem-bunuh2i muridnya.

Sebelah kaki dari Sin Tok itupun gurunya itulah yang memotongnya.

Namun karena Sin Tok bertekad untuk memiliki kesaktian, jadi diapun tak mendengar.

Makin tua adat Ban-bok-sin-bu itu makin gila2an, sehingga dia dijuluki sebagai iblis nomor satu dari daerah Biau-ciang.

Semua anak muridnya habis dibunuhnya, kecuali tinggal Sin Tok seorang.

Oleh karena Sin Tok pandai mengambil hati dan tekun melayani, maka Ban-bok-sin-bu tak membunuhnya dan bahkan mengangkatnya menjadi akhli warisnya.

Sin Tok telah mendapat warisan pelajaran sepertiga bagian dari suhunya.

Ban-bok-sin-bu itu sebenarnya orang Biau, sewaktu kecil dia telah berjumpa dengaa seorang sakti sehingga kepandaiannya tiada taranya.

Hanya sepertiga bagian saja Sin Tok mendapat pelajaran dari sang suhu, namun dalam golongan jago2 kelas satu dari istana Ceng, dia tergolong yang terkemuka.

Maka dapatlah dia mengetahui bahaya apa yang dibawa oleh serangan Tio Jiang itu.

Dalam gugupnya buru2 dia pakai kapaknya untuk melindungi mukanya.

Ya, untung dia berbuat begitu dan tak mau temaha menyerang orang.

Sekalipun begitu, sewaktu kapak beradu dengan pedang, maka kutunglah kapak besar itu menjadi dua.

Ter-sipu2 Sin Tok loncat kesamping.

Sejak sebelah kakinya dikutungi sang suhu, Sin Tok berjerih payah melatih diri.

Hasilnya, walaupun hanya dengan sebuah kaki namun loncatannya itu jauh melebihi dari orang biasa.

Sekali loncat dapatlah dia mencapai dua tombak lebih jauhnya.

Dan sebelum Tio Jiang sempat mengejar, dia sudah lekatkan kutungan kapaknya itu kemuka Tio In, serunya.

"Siou-beng-siang, setindak saja kau melangkah kemari, anak perempuanmu pasti akan tak bernyawa!"

Terpaksa Tio Jiang hentikan langkahnya, sahutnya.

"Selembar rambut saja kau ganggu In-ji, tentu tubuhmu akan kucincang hancur lebur!"

Sedangkan Tio In yang melihat ayahnya ditekan oleh ancaman sikaki satu itu, segera berseru dengan lantangnya.

"Yah, kau ini bagaimana? Seringkali kau tanamkan dalam sanubariku, bahwa kepentingan umum, itu diatas kepentingan peribadi. Bangsat ini adalah kaki tangan musuh, bukannya kau bunuh dia demi keselamatan rahayat tetapi utamakan kepentingan anak sendiri!"

Tio Jiang mengeluh dalam hati. Dia seorang yang berperibadi lurus. Dipikir2 ucapan anaknya itu memang benar.

"In-ji, anggaplah bahwa ayahmu berdosa kepadamu, namun musuhmu itupun tak nanti dapat terlolos dari tanganku, semoga kau dapat mengasoh dialam baka dengan tenang!"

Serunya sembari maju menerjang.

Melihat siasatnya gagal, si ayah tak mempan digertak dan sianak tak takut mati, Sin Tok wenjadi kelabakan sendiri.

Dia tak berani laksanakan gertakan dan melainkan buru2 mundur kebelakang untuk menghindari tusukan Tio Jiang.

Namun Tio Jiang tetap merangsang maju dengan gerak boan-thian-kok-hay.

Taburan sinar pedang membura keatas kepala lawan.

Dengan kutungan kapak, Sin Tok tak berdaya menghalau serangan lawan.

Tiba2 dia mendapat akal.

Kutungan kapak dan tangkainya ditimpukkan, tring, tring, tring, pedang menghantam dan putuslah kutungan kapak itu menjadi empat potongan kecil lagi.

Menyusul dengan itu.

Tio Jiang turunkan ujung pedang kemuka untuk menusuk ulu hati Sin Tok.

Tapi baru menjulur setengah jalan, buru-buru dia tarik pulang pedangnya.

Kiranya sikaki satu itu memang cerdik sekali.

Setelah melemparkan kapak, dengan sebat sekali dia segera mencengkeram Tio In.

Begitu pedang menusuk dia pakai tubuh nona itu sebagai perisai.

Tanpa disadari, Tio Jiang tarik serangannya.

Sebaliknya Tio In tak setuju dengan tindakan ayahnya itu, serunya.

"Yah, mengapa kau masih ragu2? Ayuh teruskan tusukanmu, biar aku mati tapi bangsat ini pun turut mampus!"

Betapapun kuatnya peribadi Siau-beng-siang itu, namun dia tetap seorang ayah yang sayang akan puteri kandungnya.

"In-ji!"

Keluhnya.

Sin Tok yang ganas licik dapat meneropong isi hati Tio Jiang.

Baru orang mengucapkan kata2nya yang terakhir, secepat kilat dia ajukan tubuh Tio In kearah ujung pedang Tio Jiang, siapa sudah tentu menjadi terperanjat sekali dan ter-sipu2 surutkan pedangnya kebelakang.

Hanya suara ketawa sinis yang panjang dari si Iblis sakti berkaki satu itu saja yang sejenak kedengaran, karena orangnyapun sudah loncat jauh2 terus meluncur pergi laksana seekor elang menggondol anak ayam.

Tersadar dari kejutnya, Tio Jiang buru2 mengejar lagi.

Tetapi berulang kali Sin Tok gunakan siasat tadi, yani gunakan tubuh Tio In untuk menyambut serangan pedang.

Begitulah kejar mengejar secara demikian berlangsung sampai bebrapa lama.

Sin Tok terus mendaki kepuncak, perhitungan, begitu tiba diatas puncak yang menjulang tinggi itu, mudahlah dia untuk menghadap lawan yang berada disebelah bawah.

Tanpa disadari puncak yang tengah didakinya itu adalah puncak Thiat-nia.

Dan betapalah girangnya ketika dipuncak itu dia jumpahkan Hiat-ji dan siorang tua kate Liat Hwat cousu atau Im-yang-sin-mo Put-siu.

Hiat-ji berlari menyongsongnya dan membisiki.

"Sin-heng, bila nanti Siau-beng-siang datang, jangan sekali2 membocorkan rahasia puteranya. Kita ada rencana bagus!"

Benar samar2 Tio In dapat mendengar kata2

"Siau-beng-siang"

Dan "puteranya"

Itu, namun dia tak dapat mendengar keseluruhannya dengan jelas.

Sayang, andaikata kala itu ia dapat mendengar jelas, tentu akan segera dapat melucuti kedok engkohnya, si Tay-keng itu.

Pada saat itu terdengar sebuah suitan disusulnya dengan munculnya seorang berperawakan gagah perkasa sembari mencekal sebatang pedang yang hijau kemilau cahayanya.

Itulah dianya, Siaubeng-siang Tio Jiang!

"Yah, harap kau lerai dulu engkoh dan Tong Ko yang berkelahi itu, entah mengapa mereka bertempur mati2an itul"

Seru Tio In demi melihat kedatangan ayahnya.

Berbeda dengan nona itu, Sin Tok tahu sudah mengapa kedua anak muda itu bertempur.

Demi mendengar seruan Tio In kepada Tio Jiang Jiang tadi, diam2 dia mengeluh.

Celaka, rahasia Tay-keng tentu akan pecah, demikian pikirnya.

Kala itu Tong Ko tengah mendesak Tay-keng dengan serangan liong-kau-pian, sebaliknya menuruti pesan Liat Hwat cousu, Tay-keng tetap bertahan se-kuat2-nya.

Sampai pada detik itu, Tio Jiang masih anggap puteranya itu, seperti dirinya, adalah orang yang setia pada tanah air.

Atas seruan Tio In tadi, Tio Jiang segera melangkah maju dan sret, dia hantamkan yap-kun-kiam ditengah kedua senjata anak muda yang bertempur itu.

Tay-keng cepat mundur, sebaliknya karena mengira Tio Jiang datang membantu, Tong Ko tetap merangsang maju mengejar Tay-keng.

Tapi baru dia gerakkan liong-kau-pian, ujung pedang Tio Jiang telah menyodok pian sampai terpental balik.

Dan menyusul dengan itu, ujung yap-kun-kiam diteruskan menusuk dadanya.

Dalam terperanjatnya, Tong Ko buru2 menyurut kebelakang.

Tio Jiang maju selangkah, seraya berpaling kearah puteranya.

"Tay-keng lekas turun kebawah gunungl"

Sebenarnya semangat Tay-keng sudah hilang ketika tampak sang ayah datang.

Tapi demi mendengar ucapan ayahnya yang terang menandakan belum mengetahui rahasianya itu, dia seperti orang yang hidup kembali dari cengkeram maut.

Tanpa menyahut lagi, dia terus putar tubuhnya mengayun langkah.

Masih Tong Ko belum mengetahui alam pikiran Tio Jiang.

Adakah Siau-beng-siang hendak bertempur seorang diri dengan kawanan kaki tangan Ceng itu, maka dia suruh puteranya pergi dahulu, demikian dia coba menarik dugaan.

"Orang she Tio, jangan pergi dahulul"

Serunya. Mendengar seruan Tong Ko itu, wajah Siau-beng-siang berobah bengis, sahutnya dengan tertawa dingin.

"Aku tak nanti ngacir!"

"Bukan kau, melainkan Tio Tay-kengl"

Tong Ko ter-sipu2 memberi penjelasan. Tio Jiang mendeham geram, serunya.

"Kalau hendak menahan dia, kau harus jangan membiarkan aku hidup dahulul"

Mendengar Tio Jiang makin nyeleweng dari perkiraannya, Tong Ko banting2 kaki sembari meratap.

"Tia .............."

Tetapi belum lagi dia sempit melanjut kan kata2nya, Hiat-ji sudah menumpangi dengan tertawa.

"Saudara Tong, Siau-beng-siang Tio Jiang ketiga beranak, sudah berada dalam genggaman kita, masakan kuatir mereka akan terbang keangkasa? Jangan kau sibuk2, biar Tay-keng aku yang memberesinyal"

Dalam tipu siasat yang licik culas, memang Tay-keng tajam sekali. Seketika tahu sudah dia kemana tujuan kata2 Hiat-ji itu. Dia (Tay-keng) hendak "dikembalikan"

Pada ayahnya sedang Tong Ko hendak "diambil"

Menjadi orangnya Hiat-ji. Untuk menjaga rahasia Tay-keng, Tong Ko hendak dijadikan kambing hitamnya.

"Yah, biarlah kita berdua ayah dan anak mati bersama!"

Seru Tay-keng dengan garang lantang. Dan dengan bolang balingkan pedangnya, dia "menyerang"

Hiat-ji, siapapun lalu melayaninya secara ber-sungguh2.

Hola......, suatu permainan sandiwara yang lihay benar.

Jangan lagi Siau-beng-siang Tio Jiang seorang jujur yang belum pernah berbuat bohong, sampaipun Tio In sendiri yang sudah menaruh kepercayaan penuh bahwa kekasihnya (Tong Ko) itu bukan seorang pengchianat, tak urung pada saat itu menjadl ragu2 juga.

"Tok-kak-sin-mo, kalau benar2 kau ini seorang perwira, ayuh lepaskan aku. Coba kau buktikan saja, adakah kami ketiga ayah beranak ini, jeri pada kambrat2mu golongan taylwe ko-chin (jagoan istana) tidakl"

Akhirnya nona itu menantang sikaki satu.

Kini Tong Ko sudah sadar akan tipu muslihat yang dipasang oleh Hiat-ji dkk itu.

Saking gusarnya, matanya melotot mulutnya ter-longong2 tak dapat berkata-kata sampai sekian saat.

Baru tersadarlah dia ketika pedang Tio Jiang menyambar kearahnya.

Apa boleh buat, dengan gunakan gerak lincah dalam ilmu pian pat-sian-pian-hwat ajaran Soa-kim-kang Ciang Tay-lo, Tong Ko menghindar kesamping.

Tio Jiang makin gemas.

Dengan menggerung se-keras2nya dia lancarkan serangan Ceng-wi-tian hay teramat gencarnya.

Tahu Tong Ko bahwa Tio Jiang itu ternyata masih gelap akan keadaan yang sebenarnya jadi tetap salah faham mengira kalau dia (Tong Ko) adalah kaki tangan pemerintah Ceng.

Pernah mulut Siau-beng-siang itu menyatakan bahwa sudah berulangkali karena teringat akan wajah seseorang, Siau-beng-siang tak mau membunuhnya.

Tapi rasanya kalini tentu tidak sedemikian lagi.

Ini dibuktikan dari caranya dia melancarkaa serangannya yang begitu mengerikan itu.

Adalah pada saat2 dia meramkan mata menunggu ajal, se-konyong dia didorong kesamping oleh suatu tenaga kuat, sehingga terhindarlah dia dari serangan pedang.

Menyusul terdengar suara suara melengking.

"Tong Ko, kau bukan tandingnya Siau-beng-siang. Sana, bantu Hiat-ji meringkus Tio Tay-keng dan biar aku yang memberesi disini!"

Itulah suara Liat Hwat cousu dan memang dialah yang mendorong tubuh Tong Ko tadi.

Tio Jiang ganti serangan kearah orang kate itu, tapi dengan kebutkan lengan bajunya dapatlah dia menyampok pedang Tio Jiang.

Kalau Tong Ko hampir pingsan saking menahan amarah karena "dibikinkan"

Oleh kawanan kaki tangan pemerintah Ceng itu, adalah Tio Jiang terkejut karena nampak kedahsyatan tenaga orang kate itu.

Kini dia tak berani menandang ringan, bret....., terdengar lengan baju Liat Hwat tembus berlubang dan ujung pedang langsung menusuk ketenggorokannya.

Kini adalah giliran Liat Hwat yang kaget bukan terkira.

Jubahnya itu terbuat dari kain hwat-wan-poh keluaran Tibet yang dijahit dengan benang emas putih (platina).

Dengan baju anti senjata itu, dia berani menyampok pedang lawan.

Maka betapalah kejutnya ketika didapatinya lengan bajunya telah dapat ditembus oleh pedang lawan.

"Pedang bagus!"

Sampai2 mulutnya mengeluarkan pujian sembari tundukkan kepala untak menghindari tusukan pedang.

Ujung pedang menjulur lurus disisi leper.

Tiba2 Liat Hwat julangkan pundaknya keatas dan tundukkan kepalanya kebawah.

Maksud hen dak menjepit pedang itu dengan bahu dan pipi.

Berbahaya nampaknya jurus yang diunjuk Liat Hwat itu, namun lihaynya bukan olah2.

Apabila dapat dijepit, maka, yang kena dijepit itu adalah bagian punggung pedang itu, jadi tak berbahaya.

Melihat permainan yang aneh itu, buru2 Tio Jiang tarik pulang pedangnya.

Syukur dia sangat berlaku sebat.

Tahu bahwa barhadapan dengan seorang tokoh sakti, Tio Jiang mundur selangkah.

Dalam kesempatan itu dia memandang kesekeliling situ.

Didapatinya Tio In tetap diringkus Sin Tok sedang disebelah sana benar juga Tong Ko tampak sedang "membantui"

Hiat-ji mergeroyok Tay-keng.

Tapi sekilas pandang dia merasa aneh melihat permainan ketiga anak muda itu.

Bukannya Tay-keng yang dikerubut dua, tapi melainkan Tong Ko lah yang dicecer serangan oleh Tay-keng dan Hiat-ji.

Dia merasa heran namun tak mempunyai banyak kesempatan untuk mengikuti dengan seksama karena pada saat itu Liat Hwat sudah menyerangnya dengan kebasan lengan baju.

Hebatnya, kebasan itu ditujukan untuk menutuk jalan darah hwa-kay-hiat dan kian-keng-hiat lawan.

Buru2 Tio Jiang menghalau dengan pedang.

Demikianlah dalam sekejab saja, pertempuran telah berjalan empat lima jurus.

Dalam pada itu insyaflah Tio Jiang bahwa kepandaian lawan itu lebih tinggi dari dia, maka timbullah keraguannya adakah nantinya dia dapat merampas pulang anak gadisnya.

Namun kebimbangannya itu tak mengurangkan kewaspadaannya dalam memainkan ilmu pedang to-hay kiam-hwat.

"Siapakah kau ini?"

Serunya bertanya. Yang ditanya kedengaran tertawa iblis, sahutnya "Thay-ya inilah yang digelari orang sebagai Liat Hwat cousu. Im-yang-sin-mo, orang she Mo nama Put-siu"

Memang pernah juga Tio Jiang mendengar akan adanya tokoh aneh macam itu didaerah Tibet.

Tokoh itu seorang pria tetapi mempunyal suara seperti orang wanita, mempunyai ilmu kepandaian dari suatu aliran tersendiri.

Tio Jiang tak berani lengah, dimainkan pedangnya dengan lebih gencar.

Demikianlah digelanggang situ telah terbit pertempuran dahsyat dari dun orang tokoh terkemuka pada jaman itu.

Orang2 Thiat-theng-biau yang menyaksikannya, sama kesima tar-longong2.

Sedang disebelah sana Tong Ko mempunyai rencana sendiri juga.

Bermula waktu didorong oleh Mo Put-siu tadi, dia agak terkesiap.

Namun dia segera mengambil suatu keputusan.

Biar bagaimana, sukar rasanya dla gunakan lidah untuk membongkar komplotan itu.

Jalan satu2nya yalah membekuk Tay-keng lebih dahulu, lalu memaksanya supaya mengakui perbuatannya dihadapan Tio Jiang.

Kalau hal itu berhasil, barulah dapat dia membersihkan diri.

Jadi "Disuruh"

Atau tidak oleh Mo Put-siu tadi, memang diapun sudah mau lari menghampiri ketempat Tay-keng.

Tio In yang tak mengetahui duduk perkaranya dan hanya menyaksikan gerak gerik Tong Ko itu, hatinya seperti diremas.

Ia sudah serahkan hatinya kepada anak muda itu dan bermula masih belum percaya kalau kekasihnya itu sungguh seorang kaki tangan Ceng.

Tapi apa yang dilihatnya pada saat itu, menjadi "bukti"

Yang berbicara.

Seketika lenyaplah rasa kasihnya berganti dengan rasa kedukaan yang hebat, ya lebih hebat lagi daripada tatkala iIa mendengar berita kematian sang kekasih itu.

Namun Tong Ko tak mendengarnya dan tetap menyerbu Tay-keng.

Sret...., sret....., dua buah hantaman Iiong-kau-pian dia serangkan pada Tay-keng.

Walaupun hanya bersandiwara, namun untuk mengelabuhi pandangan Tio Jiang, hebat juga gaya pertempuran yang dilakukan oleh Tay-keng dan Hiat-ji itu.

Ketika liong-kau-pian Tong Ko menyerang, terperanjat Tay-keng tak terkira dan hampir saja dia kena disapu oleh pian Hiat-ji.

Lintunglah Hiat-ji tahu gelagat jelek, piannya dibilukkan untuk menghantam Tong Ko.

Dan justeru tepat pada adegan ini berlangsung, disana Tio Jiang tepat berpaling mengawasi.

Jadi diam2 Siau-beng-siang heran tadi, mengapa justeru Tong Ko yang dikerubut dua.

Sayang Liat Hwat keburu menyerang, coba tidak tentu dapatlah dia mengetahui "baju aseli"

Dari puteranya itu.

Memang berat bagi Tong Ko untuk melayani kedua orang itu.

Tambahan pula Tay-keng memang sangat bernapsu sekali untuk membunuh Tong Ko, agar rahasianya tetap tertutup se-lama2nya.

Jadi serangannyapun serba kesusu.

Dan benar juga lewat 10 jurus kemudian Tong Ko sudah kewalahan.

Tong Ko gugup dan pilu.

Bukan karena takut mati, tapi karena dengan kematiannya itu, namanya tetap akan ternoda sebagai kaki tangan pemerintah Ceng.

"Siau-beng-siang Tio Jiang, dengarlah kata2ku!"

Serunya kepada Tio Jiang. Tio Jiang yang tengah bertempur gigih dengan Liat Hwat, sempat pula menyahut.

"Binatang macam kau, jangan bicara lagi padaku!"

Kepedihan Tong Ko sukar dikata.

Untuk kesekian kalinya, kembali dia menerima hinaan secara menyakitkan.

Tadi dia telah menumpahkan rasa hatinya yang penghabisan, namun tetap tak digubris oleh Tio Jiang.

"Fui......., mengapa ku digolongkan bangsa binatang? Orang yang buta kenyataan macam kau, itulah yang pantas digolongkan bangsa babi anjing!' balasnya memaki dengan gusarnya dan sret............ dia hantamkan piannya dengan kalap pada Hiat-ji. Hiat-ji terkejut melihat cara serangan lawan yang seperti kerbau gila itu. Miringkan tubuhnya kesamping dia terus enjot tubuhnya menghibur sampai satu tombak jauhnya.

"Tepat sekali makianmu itu saudara Tong! Memang Tio Jiang itu manusia yang tak kenal kenyataan, tak tahu gelagat. Dia berkeras hendak membentur pemerintah Ceng, huh......, memang lebih hina dari bangsa anjing dan babi!"

Demikian licin si Hiat-ji itu memutar balikkan kata2 Tong Ko tadi.

Tong Ko yang tak pandai merangkai kata2 itu sampai termangu diam.

Tahu2 Tay-keng menyerang dengan.

tusukan ujung pedangnya.

Tong Ko hanya mendak sedikit, cret.......

, dia biarkan pundaknya tertusuk ujung pedang tapi berbareng itu dia hantamkan piannya keleher sipenyerang.

Kalini benar2 suatu serangan yang istimewa, sehingga karena tak sempat menghindar leher Tay-keng telah kena digubat ujung pian.

Tong Ko sudah seperti orang kerangsokan setan.

Begitu dapatkan hasil tanpa hiraukan luka dipundaknya, dia segera tarik piannya se-kuat2nya.

Tay-keng terhuyung kemuka dan dengan demikian ujung pedangnyapun menjubles makin masuk kepundak Tong Ko.

Tetap Tong Ko tak mempedulikan hal itu, begitu lepaskan liong-kau-pian dia gunakan kepelannya untuk menghantam batok kepala Tay-keng.

Kalau saja.

hantaman itu mengenai, batok kepala Tay-keng pasti remuk dibuatnya "Mah, kau datang!"

Se-konyong2 Tio In berseru kegirangan.

Tong Ko tertegun dan berpaling mengawasi.

Sesosok tubuh melayang datang.

Itulah Hui-lay-hong Liau Yan-chiu adanya.

Sembari masih melayang, tangannya sudah bergerak menimpuk sebuah senjata rahasia kearah tangan Tong Ko.

Seperti telah diketahui, walaupun Yan-chiu itu adalah sumoaynya Tio Jiang, tapi berkat otaknya cerdas dan tempo dahulu pernah meminum mustika biji kuning dalam batu, maka ilmu kepandaiannyapun hebat.

Sebenarnya kalau dinilai, kepandaiannya lebih tinggi dari suaminya (Tio Jiang).

Sebenarnya kalau mau, dapat juga Tong Ko menghindar senjata rahasia itu.

Tapi oleh karena Tay-keng sudah "tergenggam"

Ditangannya, dia tak mau tarik pulang tinjunya tadi.

Dan tahu2 jalan darah yang-ko-hiat pada siku tangannya telah kena dimakan senjata rahasia itu.

Karena kesemutan gerakan tangannya menjadi ayal dan kesempatan ini digunakan oleh Tay-keng untuk menarik pedangnya sembari loncat menyingkir.

Namun anehnya Tong Ko tak rasakan jalan darahnya tertutup, dan begitu mengenai tangan senjata rahasia itu segera jatuh melayang ketanah.

Hai, kiranya senjata rahasia itu hanya secarik kain yang dipelintir.

Hebat nian kepandaian Hui-lay-hong Liau Yan-chiu itu.

Tampak oleh Tong Ko bahwa Tay-keng kini menghampiri mamahnya dan berbicara sejenak.

Tapi rupanya Yan-thyiu tak banyak menaruh perhatian terus menyerang Tok-kak-sin mo Sin Tok.

Hiat-ji buru2 perdengarkan kode siulan dan memberi isyarat mata pada Tay-keng seraya loncat menghampirinya.

"Tio-heng, kita berpisah dulu nanti saja pada pertengahan bulan depan, kita bertemu lagi digereja Kong Hau Si Kwiciu!"

Serunya berbisik.

Dan tampak Tay-keng menganggukkan kepala.

---oooo---BAGIAN 17 .

REMUK RENDAM Luka pada pundak Tong Ko tadi masih mengucurkan darah, sehingga dia ter-huyung2 rak dapat berdiri dengan jejak, namun dengan sempoyongan dia tetap maju menghampiri Tay-keng.

Tapi baru melangkah bebrapa tindak, telinganya seperti tersusup oleh suatu suara yang bernada ramah.

"Nak, mengapa kau tak mengindahkan pesan The Go, berani gegabah keluar sendirian? Kalau mau meloloskan diri, turutlah perintahkul"

Heran Tong Ko dibuatnya.

Dia kerlingkan pandangannya kesekeliling tempat situ.

Dalam lingkaran seluas empat lima tombak, yang tampak hanyalah orang2 suku Thiat-theng-biau saja.

Dan didalam lingkaran yang merupakan gelanggang pertempuran situ, kecuali Tio Jiang yang bertempur dengan Liat Hwat, Sin Tok lawan Yan-chiu dan Hiat-ji "berkelahi"

Dengan Tay-keng, tiada barang suatu orang lain lagi.

Tapi betapa bening nyaring suara bisikan tadi menyusup kedalam telinganya, dia dapat mendengarkannya dengan jelas.

Ah, kalau bukan tokoh yang Iwekangnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, tentulah tak nanti dapat menggunakan ilmu lwekang coan-im-jip-bi begitu.

Dan rasanya kepandaian-tokoh itu tidak dibawah Liat Hwat bahkan lebih lihay lagi!

Setelah hening sejenak kedengaran pula suara.

itu.

menyusup.

"Tutuklah jalan darahmu sendiri lebih dahulu untuk menghentikan perdarahan, ini kuberimu obat!"

Berbareng dengan kata "obat"

Itu, punggung Tong Ko serasa sakit dan ketika menunduk kebawah didapatinya ada sebuah gulungan kertas kecil.

Buru2 dipungutnya dan ketika dibuka, ternyata berisi obat puder merah.

Tanpa berayal Tong Ko lakukan perintah orang gaib itu.

Menutuk jalan darah lalu mengulaskan puder merah itu pada luka2nya.

Suatu rasa nyaman menyelubungi tubuh, rasa sakit berkurang.

Hatinya sangat bersyukur sekali kepada penolongnya yang berbudi itu.

Ketika dia hendak berpaling untuk menengok, tiba2 didengarnya Tio In berlari mendatangi.

Bermula dia hendak menjemput liong-kau-pian yang terhampar ditanah, tapi batal menjemput dia maju menyongsongnya.

"In-moay!"

Tapi untuk kejutnya wajah Tio In berobah muram, matanya ber-kaca2 air mata dan giginya terdengar berkerutukan.

"Dahulu masih tak kupercaya kalau kau ini menjadi kaki tangan pemerintah Ceng. Tapi apa yang kusaksikan hari ini, masih dapatkah kau memberi penyangkalan?"

Dan menyusul dengan kata2 itu, tangannya meninju kemuka.

Karena tak menduga sama sekali, tinju sinona itu tepat mengenai luka didada Tong Ko.

Baru saja luka itu berhenti mengucurkan darah atau kini kembali menyemburkan darah segar hingga tangan Tio In pun kelumuran darah.

Tio In tertegun, tiba2 tinjunya yang berlepotan darah itu di-usap2kan baju seraya berseru.

"Darahmu, budak Ceng, berbau busuk, mengotorkan tanganku!"

Nona itu sebenarnya sangat mencintai Tong Ko.

Tapi ia salah sangka Tong Ko itu seorang kaki tangan pemerintah Ceng.

Namun sekalipun begitu, gelar rasa kasih masih kuat meremas sanubari Tio In.

Melihat keadaan Tong Ko yang terlongong2 bermandikan darah itu, hatinya seperti di-sayat2.

Ia buru2 memutar tubuh membelakangi dan air matanya bercucuran laksana hujan mencurah Memang sakit yang ditimbulkan akibat hantaman Tio In itu, bukan kepalang sakitnya.

Namun Tong Ko rasakan, sakit pada hatinya dicerca sang kekasih itu, jauh lebih berat.

Dia ter-mangu2 sampai sekian saat.

Pikirannya serasa hampa.

Fahamnya hilang ditelan penasaran.

Ya, sampai Tio In, nona yang menjadi tambatan jiwanya, pun menuduh dia sebagai seorang kaki tangan Ceng.

Orang mengatakan bahwa empedu itu pahit.

Tetapi adakah hal yang melebihi pahitnya dari dinista seorang kekasih?

Serasa dia kehilangan bumi tempat berpijak, beringin tempat berlindung.

Rasanya kecuali The Go seorang, didunia ini sudah tiada orang yang mau mempercayainya lagi.

Dalam keputusan asa, dia berobah kalap.

Se-konyong2 dia tertawa berderai2 dan seperti orang kemasukan setan menjerit dia dengan kalapnya.

"Benar, Aku seorang budak Ceng! Aku seorang budak Cengl"

Habis men-jerit2 itu, dipungutnya liong-kau-pian terus dihantamkan kearah dua orang Thiat-theng-biau yang seketika juga segera rubuh sungsang balik ditanah.

Dalam pada itu waktu mendengar dia tertawa keras lagi, Tio In berputar untuk mengawasinya.

Tampak akan sepasang biji mata sinona yang bundar bening itu.

Hati Tong Ko makin ter-sayat2.

Mendongak keatas sembari tertawa nyaring, dia ter-huyung2 maju menghampirinya.

Tio In cemas menampak sorot mata anak muda itu ber-api2, iapun menyurut kebelakang.

Mengapa Tio In bisa lari menghampiri Tong Ko, bukanlah tadi ia masih diringkus sikaki satu Sin Tok?

Kiranya kejadian itu adalah begini.

begitu menyerbu, Yan-chiu telah berhasil mendesak sikaki satu menjadi kalang kabut.

Masih si Sin Tok itu hendak menggunakan siasat seperti ketika menghadapi Tio Jiang, yakni menggunakan tubuh Tio In sebagai perisai dan senjata.

Namun, Yan-chiu bukan Tio Jiang.

Selain lincah, ia juga lebih cerdas.

Mengetahui akan siasat lawan, ia segera memperoleh daya untuk memecahkannya.

Secepat kilat, ia menyelinap kebelakang lawan dan segera menusuk.

Tahu sudah si Sin Tok itu kalau Yan-chiu bergelar Hui-lai-hong atau si Burung Cenderawasih terbang melayang.

Tapi sedikitpun dia tak mengira kalau sedemikian luar biasa gerakan nyonyah itu.

Tadi dia hanya menampak berkelebatnya sinar pedang, tapi tahu2 lawan sudah berada dibelakangnya.

Jika dia tetap membandel memegangi Tio In, terang punggungnya akan tertusuk pedang.

Ah, terpaksa dilepaskannya nona itu, kemudian loncat kemuka.

Dan begitu terlepas dari cekalan orang, tadi Tio In pun lantas loncat menghampiri Tong Ko.

Pada saat itu Tio In menyurut bebrapa tindak kebelakang dan tanpa disadari, telah mendekati ketempat Yan-chiu.

Melihat anak gadisnya didesak Tong Ko, marah Yan-chiu tak terkendalikan lagi.

Memang sejak kematian puteranya bungsu, Yan-chiu teramat bencinya kepada Tong Ko.

Adalah karena beberapa kali dicegah sang suami, ia sudah tak jadi membunuh anak muda itu.

Sebenarnya saat itu juga, ia kepingir, melabrak Tong Ko, sayang ia masih harus melayani desakan Sin Tok.

Pikirannya cepat bekerja.

Tio In tak memegang senjata apa2, sedang ia (Yan-chiu) rasanya sanggup melayani serangan kapak Sin Tok dengan cukup mengandalkan kelincahannya saja.

Secepat memikir, secepat itu pula ia mengambil keputusan.

Dijentikkan pedang kuan-wi-kiam kearah Tio In sana seraya berseru.

"In-ji, gunakanlah jurus Kang-sim-poh-lohl"

Kang-sim-poh-loh adalah jurus yang terhebat dari ilmu pedang Hoan-kiang-kiam-hwat.

Melihat kuan-wi-kiam melayang datang, Tio In cepat menyambarnya, sret....., dari samping pedang itu diputar ketengah terus ditusukkan kedada Tong Ko.

Keadaan Tong Ko pada saat itu, antara sadar tak sadar.

Dia rasakan dunia ini gelap, tiada berkecintaan lagi.

Tusukan ujung pedang Tio In itu, pun se-olah2 tak dirasakan.

Dia hanya lekatkan pandangannya kewajah Tio In, entah apa yang kelihatan olehnya.

Bermula Tio In girang karena tusukannya bakal berhasil.

Tapi kala ujung pedang tinggal berapa dim lagi kedada sianak muda, tiba2 hatinya tercekat dan tertegun sejenak.

Bibirnya ber-gerak2 seperti hendak mengatakan sesuatu.

Ya, memang demikianlah.

Perasaan hatinya pada saat itu mungkin tak kalah pedihnya dengan Tong Ko.

Pemuda tambatan hatinya adalah seorang "kaki tangan Ceng"

Bukan saja lamunannya untuk mendirikan mahligal hidup yang berhabahagia akan lenyap se-lama2nya.

Sejak kecil ia diasuh dengan didikan budi pekerti menyinta tanah air.

Dimisalkan, ayah bundanya tak menghalangi perhubungannya dengan Tong Ko, ia sendiripun tak sudi lagi untuk menjadi teman hidup seorang budak pemerintah penjajah.

Namun betapapun juga, ia tetap seorang dara yang sedang dijenjang asmara.

Laksana kuntum bunga yang tengah mekar semerbak, ia rela menyambut kedatangan sang kumbang.

Ia berhenti setengah jalan untuk menusuk itu, adalah karena disebabkan hal itu.

Tangannya yang masih mencekali pedang itu tampak bergemetaran sehingga pakaian Tong Kopun turut ber-goyang2.

Ini rupanya membikin sadar sianak muda yang terus menundukkan kepala untuk memandangnya.

Ketika tampak pedang kuan-wi-kiam berkilau2an menyilaukan mata itu, wajahnya makin 'muram.

Dengan bibir bergetar, ia berseru dengan nada yang tawar.

"Tusuklah, nona Tio! Mengapa berhenti?"

Dalam nada kata2nya itu terasa suatu kehampaan yang mendalam.

Suatu rasa tak mengacuhkan akan segala apa lagi.

Dia seolah2 menyuruh Tio In menusuk pada lain orang, bukan menusuk pada dirinya.

Ya, dia bagaikan sebuah layang2 yang putus talinya, kehilangan arah tujuan hidup.

Tio In terkesiap, hatinya makin pilu.

Ia mengetahui bahwa sebenarnya tadi Tong Ko dapat menangkis karena lengannya sebelah kanan tak kena apa2.

Tapi anehnya, anak muda itu malah menjulaikan Liong-kau-piannya kebawah.

Ah .....Tong Ko ...........

Tong Ko......!

Demikian hati Tio In mengeluh demikian pula kalbunya meronta dia cinta padaku.....!

Dia cinta padaku......!

Tanpa terasa kelima jarinya yang menggenggam kuan-wi-kiam itu terlepas dan trang......, jatuhlah pedang pusaka itu berkerontangan ditanah.

Tapi berbareng dengan jatuhnya pedang itu, terdengarlah Tong Ko tertawa keras.

"Mengapa kau tertawa?"

Tanya Tio In.

"Mengapa aku tertawa.....? Mengapa aku tertawa.....? Bagaimana kutahu mengapa aku tertawa ini?"

Sahut Tong Ko dengan lantang.

Kemudian memutar tubuh dia terus melangkah pergi.

Tio In tegak ter-longong2 ditempatnya.

Tak memungut pedang yang jatuh ditanah tadi, pun tak mengejar, sianak muda.

Juga ia sendiri, termangu2 tak tahu apa yang direnungkannya!

Disebelah sana Yan-chiu yang bertangan kosong menghadapi sikaki satu, telah bertempur dengan serunya.

Dalam hujan kapak yang dilancarkan Sin Tok, ia berlincahan laksana seekor kupu2 di serang curahan hujan.

Walaupun hanya berkaki satu, namun Sin Tok juga gesit sekali.

Maka untuk merebut kemenangan, rasanya juga tak mudah bagi Yan-chiu.

Apa yang terjadi pada diri Tio In yang ter-longong2 seperti orang kehilangan semangat mengawasi Tong Ko berlalu itu, tak lepas dari pandangannya.

Namun iapun tak dapat berbuat apa2.

Sedang pada partai yang lain, pun Tio Jiang tak dapat berbuat apa2 terhadap Liat Hwat cousu.

Setelah lewat jurus yang ke 30, gerakan Tio Jiang tampak agak kendor.

Serangan pedang Tio Jiang sepintas pandang seperti sebuah pedang kayu mainan kanak2 gayanya.

Tapi bagi Liat Hwat cousu, serangan itu digerakkan dengan suatu tenaga lemas yang mengandung kekuatan dahsyat.

Maka dia (Liat Hwat) pun harus mengerahkan tenaga dalam untuk menghalau serangan istimewa itu.

Dilain fihak, Tio Jiang juga rasakan kebutan lengan baju orang tua kate itu, mengandung tenaga lwekang yang teramat hebatnya.

Jika dia tak mengundang seluruh kekuatannya, sukarlah rasanya untuk menolak tekanan lawan itu.

Maka dia curahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi siorang tua kate itu, jadi terpaksa tak dapat menghiraukan Tio In lagi.

Juga partai si Hiat-ji dengan Tio Tay-keng, walaupun hanya pura2 saja, namun tampaknya tak kurang serunya.

Hal ini memang sengaja mereka unjukkan begitu, untuk mengelabuhi mata Tio Jiang yang tajam itu.

Jadi terpaksa merekapun tak dapat mencegah perginya Tong Ko.

Juga rombongan orang Thiat-Theng-biau, karena mengetahui sikap bersahabat dari anak muda itu terhadap kepala sukunya tadi, segera memberi jalan pada Tong Ko.

Begitulah dengan tindakan limbung, Tong Ko menuju kebawah gunung.

Adalah setelah anak muda itu berjalan jauh, barulah Tio In tersadar.

Dan pada saat itu terdengar juga mamahnya (Yan-chiu) menerlakinya.

"In-ji, lekas ambilkan pedang itu untukku!"

Tio In cepat melemparkan pedang itu kearah mamahnya.

Sekonyong2 Yan-chiu bersuit nyaring dan tubuhnya melambung keudara.

Begitu menyambar kuan-wi-kiam ia terus membabat kebawah, Sin Tok gerakkan kapaknya untuk menangkis, trang, kapak kutung dan kuan-wi-kiam menyambar pundak Sin Tok, meninggalkan sebuah luka sepanjang 20 an centi.

GAMBAR 10 Begitu Liau Yan Chiu sambar pedang yang dilemparkan Tio In kepadanya itu, se-konyong2 ia bersuit nyaring sambil melambungkan tubuh keatas dan pedang membabat.

"trang....."

Tahu-tahu kapak Sin Tok terkuntung dan pundaknya terluka.

Tubuh Sin Tok menggigil kedinginan dan rasa dingin itu serasa menusuk sampai keulu hati.

Tiba2 kakinya yang tinggal satu itu ditekuk dan tubuhnya segera dibuang untuk bergelundungan kearah Tio In.

Dengan sebatnya nona ini mengirim tendangan.

Rupanya sikaki satu itu lebih suka mendapat persen tendangan Tio In daripada merasakan tusukan kuan-wi-kiam Yan-chiu.

Benar Tio In tepat sekali menendangnya, namun sikaki satu dengan membabi buta tetap bergelundung menerjangnya seraya gerakkan tangan uatuk menyambar kaki sinona.

Syukur Tio In keburu loncat menghindar jauh2 dan pada saat itupun Yan-chiu juga sudah mengejar datang.

Sebenarnya Hiat-ji yang hanya bertempur pura2 dengan Tay-keng itu dapat memberi pertolongan pada sikaki satu.

Tapi dari menolong, sebaliknya anak bermata wungu itu malah tertawa sinis melihati tingkah laku si Sin Tok yang pontang panting seperti dikejar setan itu.

Ya, memang dia benci pada sikaki satu itu dan diam2 mendoakan supaya dia lekas mampus saja.

Dalam gugupnya sikaki satu bergelundungan kesamping.

Dalam kesempatan itu dia mencuri lihat kearah Hiat-ji.

Waktu dilihatnya wajah anak itu mengunjuk senyum sinis, gusarnya bukan kepalang.

Huh, jangan kau bergirang dulu, anak keparat.

Kalau aku mati, Tio Jiang dan isterinya itu tentu bakal dapat berkelahi bahu membahu untuk melancarkan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat dan to-hay-kilam-hwat yang termasyhur.

Pada saat itu kaupun tentu takkan terluput dari keiratian, demikian diam2 dia mengutuk Hiat-ji.

Dalam pada merangkai kutukan itu, dia tetap tak berayal untuk bergelundungan kian kemari.

Ternyata gerakannya pun amat lincah sekali.

Berulang kali Yan-chiu menikam dan menusuk, namun selalu dapat dihindarinya.

Ketika dia bergelundungan kedekat Tay-keng, tiba2 timbullah suatu pikiran.

Begitu pentang sepasang tangan, dia dekap kaki anak itu.

Kala itu Tay-keng tengah melancarkan sebuah pukulan kearah Hiat-ji.

Benar tadi dia mengetahui bahwa sikaki satu itu bergeIundungan menghampiri kedekatnya, tapi mimpipun tidak dia kalau dirinya bakal diperlakukan begitu oleh sikaki satu.

Maka tak ampun lagi, robohlah Tay-keng.

Sudah tentu Yan-chiu tak mengetahui perbuatan puteranya yang manis itu.

Maka demi menampak puteranya sedemikian mudah dapat diringkus kakinya oleh Sin Tok, heran juga ia dibuatnya.

la mengetahui kepandaian puteranya itu cukup tinggi.

Ya....., walaupun masih kalah setingkat dengan sikaki satu, namun biar bagaimana tak nanti sedemikian mudahnya dapat didekap mentah2 begitu.

Dalam keherannya itu, timbullah kecurigaan.

Sayang dia tak mau merenungkan dalam2 dan melainkan diam saja tak tahu bagaimana harus bertindak.

"Tio-heng, maafkanlah!"

Sikaki satu berbisik kedekat telinga Tay-keng. Rupanya Tay-keng itu sudah tenggelam jauh sekali kedalam bujukan mereka. Ia cukup mengerti apa maksud sikaki satu itu.

"Mah, tahan dahulu!"

Serunya sembari lepaskan pedangnya.

Yan-chiu kesima.

la tetap seorang wanita yang mempunyai rasa keibuan.

Setelah puteranya bungsu meninggal, seluruh harapannya dicurahkan kepada Tay-keng.

la mengira kalau tak hentikan serangan, puteranya itu tentu bakal celaka.

"Tok-kak-sin-mo, bagaimana maksudmu?"

Akhirnya setelah termenung beberapa jenak, ia berseru dengan wajah merah padam. Sin Tok tertawa iblis, sahutnya.

"Bagus, aku maukan..............."

Baru dia mengucap samuai disitu, matanya silau oleh dua benda putih yang melayang kearahnya.

Buru2 dia menggeliat kesamping untuk menghindar.

Kiranya dua benda putih itu adalah dua buah batu kecil yang ditimpukkan Tio In.

Menyusul dengan timpukannya, sinonapun sudah melayang datang terus menghantam.

Hiat-ji yang mengetahui rahasianya bakal pecah akibat perbuatan sikaki satu itu, sambil deliki mata pada sang kawan (Sin Tok) cepat2 menyongsong serangan Tio In itu.

Tapi dalam pada saat2 luang itu, Yan-chiu sudah dapat bertindak dengan sebat.

la mengambil putusan, tak usah berdamai dengan mereka.

Waktu Sin Tok menggeliat menghindar timpukan batu tadi, letak tubuhnya tepat membelakangi Yan-chiu.

Kejadian itu hanya berjalan dalam sekejap mata saja, namun hal itu sudah cukup bagi Yan-chiu untuk melekatkan pedangnya kepunggung orang.

Hendak sikaki satu ber-putar lagi tapi sudah tak keburu.

Punggungnya terasan dingin menggigil dan ujung kuan-wi-kiam sudah menyusup kedalam bahunya.

Yan-chiu.

tak mau menarik keluar pedang itu.

"Lepaskan Tay-keng atau, sekali kugerakkan pedang, tubuhmu pasti akan terbelah menjadi dual"

Serunya menghardik.

Sebenarnya kalau Sin Tok tetap memeluk kaki Tay-keng, mungkin Yan-chiu pun akan pikir2 lagi sebelum bertindak.

Tapi kenyataan sikaki satu itu bukan seorang ksatrya.

Dalam menghadapi pagutan maut, dia sayang akan jiwanya.

Dekapannya pada kaki Tay-keng itupun dilepas seraya mulutnya meratap ampun.

"Hujin (nyonyah), ampunilah jiwaku!"

Melihat puteranya terlepas, girang Yan-chiu tak terkira. Buru2 ia meneriaki puteranya itu.

"Tay-keng, kau bersama adikmu beresi anak itu!"

Terpaksa Tay-keng tak berani membantah.

Bersama Tio In dia maju menyerang Hiat-ji.

Yan-chiu sontakkan pedangnya kesamping dan putuslah tulang, pi-peh-kut dipundak Sin Tok.

Darah segar menyembur keluar.

Sekalipun luka itu dapat sembuh, namun lengan kanannya akan lumpuh tak dapat digunakan selama2nya.

Setelah itu ia loncat melayang kesamping suaminya, seraya mengucapkan kode.

"Jurus pertama!"

Tio Jiang dapat menangkap arti kode itu, bagaikan sepasang, naga keluar dari goanya, maka kedua pedang pusaka yap-kun dan kuan-wi itu menari2 dengan lincahnya.

Pada jurus yang kelima, tiba2 kedengaran suara "bret....."

Dan rowaklah lengan baju Liat Hwat terpapas ujung pedang Yan-chiu.

Semangat Liat Hwat serasa terbang dibuatnya.

Diam2 dia mengakui betapa kehebatan sepasang ilmupedang hoan-kang-kiam-hwat dan to-hay-kiam-hwat itu.

Dia insyaf sukar untuk menghadapi ilmupedang sakti mereka Itu.

Sambil mengaum keras2, tiba2 tubuhnya menggeliat kebelakang dan bum...., bum....

terdengarlah suara ledakan keras melayang kearah Tio Jiang dan isterinya.

Dalam kalangan persilatan Liat Hwat cousu itu disegani karena julukannya "Liat hwat sin lui"

Si Geledek Api yang sakti, kiranya dia mempunyai sebuah senjata rahasia yang teramat istimewa sekali yani semacam senjata granat.

Yan-chiu yang kurang pengalaman sembari mendamprat terus hendak menangkisnya dengan ujung pedang, tapi Tio Jiang buru2 berseru mencegahnya.

"Jangan, lekas mundur sajal"

Yan-chiu mengkal hatinya, tapi ia turut juga perintah suaminya itu.

Sesaat kedua suami isteri itu loncat mundur, dua buah ledakan yang dahsyat segera terdengar mengguncangkan bumi.

Beberapa orang Biau yang tak keburu mcnyingkir, sudah terlempar jatuh kebawah gunung.

Suatu lingkaran asap yang tebal bertebaran menutup sekeliling tempat itu sehingga orang2 sama tak dapat melihat satu sama lain.

Syukur tadi Yan-chiu mau dikasih tahu suaminya kalau tidak, ngeri tentu keadaannya.

Melihat kedahsyatan senjata granat-tangan Liat Hwat itu, sembari memimpin tangan isterinya, Tio Jiang berseru menyuruh ke dua anaknya menyingkir.

"Tay-keng, In-ji, lekas mundurl"

Yan-chiu yang cemas akan diri puterinya, beberapa kali hendak nekad menobros kedalam kabut asap yang tebal untuk mencarinya, tapi selalu dicegah Tio Jiang.

"Kalau mereka mendapat bahaya, sekalipun kau menobros kesana, rasanya juga takkan menolong. Rasanya sepasang pedang kita tadi tentu mengeluarkan cahaya berkilau yang dapat menembus kabut asap, dan dapat kelihata oleh mereka. Mereka tentu akan menyusul kemari!"

Tio Jiang menenangkan kecemasan hati isterinya.

Walaupun dia sendiri tak kurang gelisahnya, namun cukup disadari bahwa untuk menobros kedalam asap sana, juga tak berguna.

Diam2 dia cemas pula memikirkan kepentingan perjoangan mereka terhadap pemerintah Ceng.

Dengan mempunyai seorang sakti macam Liat Hwa begitu, nyata pemerintah Ceng telah mempunyai senjata yang ampuh untuk menindas gerakan para orang gagah dari Lo-hu-san itu.

Hampir setengah jam lamanya barulah kabut asap itu menipis.

Mata Yan-chiu yang tajam, segera dapat melihat bahwa ditengah gelanggang pertempuran sana tampak Tay-keng sedang ber-putar2 seperti main udak dengan adiknya.

Kiranya mereka berdua itu saling bertempur.

Karena tebalnya asap, jadi mereka tak dapat membedakan mana lawan mana kawan lagi.

Liat Hwat dan Hiat-ji sudah tak tampak batang hidungnya lagi.

Sementara yang masih disitu, hanyalah sikaki satu Sin Tok yang bermandikan darah sembari tak henti2nya mengerang2 kesakitan.

"Hai, mengapa kalian bertempur sendiri?"

Seru Yan-chiu dengan cemas2 girang demi diketahuinya kedua puteranya tak kurang suatu apa.

Kini barulah Tio In melihat jelas bahwa lawannya itu adalah engkohnya sendiri.

Cepat2 ia loncat menghampiri mamahnya.

"Kemana Liat Hwat dan muridnya itu?"

Tanya Tio Jiang.

"Entahlah, mungkin mereka sudah ngacir pergi!"

Sahut Tio In.

"Hawa disini kotor sekali, ayuh Tay-keng, kau ikut pada kita turun gunung!"

Tio Jiang berseru kepada puteranya. Tay-keng mengiakan. Tapi ketika mereka berempat hendak langkahkan kakinya, se-konyong2 kedengaran Sin Tok berseru setengah mengerang.

"Siau-beng-siang, tahan dulul"

Tio Jiang berpaling, bentaknya.

"Ada apa?"

Wajah Sin Tok menampilkan raut maut, serunya.

"Siau-bengsiang, bila kau dapat menolong jiwaku, hendak kuberitahu padamu suatu rahasia besar"

Wajah Tay-keng pucat seketika.

Kemana maksudnya kata-kata sikaki satu itu dia sudah faham.

Rahasia yang hendak dibawakan itu bukan lain tentu mengenai dirinya yang sudah bersekongkol dengan kaki tangan pemerintah Ceng itu.

Mulut sikaki satu itu harus dimusnakan dan untuk itu dia segera bertindak dengan sebat.

"Kalau dibiarkan hidup, kau sungguh membahayakan, ayuh lekas pergi keakhirat sana!"

Serunya sembari loncat menusuk.

Yan-chiu percaya bahwa kata2 yang belum sempat diucapkan sikaki satu itu tentu suatu rahasia yang penting.

Maka demi dilihatnya Tay-keng bertindak sendiri, buru2 ia menereakinya.

"Tay-keng, biarkan dia omong habis dulu!"

Tapi seruan Yan-chiu itu sudah terlambat. Ujung pedang Taydkeng sudah mencublas masuk kerongga dada Sin Tok. Suatu jeritan seram terdengar dan putuslah sudah jiwa sikaki satu itu.

"Tay-keng, dia seorang manusia yang takut mati. Mungkin tadi dia hendak memberitahukan sesuatu rahasia penting, mengapa kau buru2 membunuhnya?"

Tegur Tio Jiang dengan kurang senang.

"Anak sangat benci padanya, maka tadi tak dapat menahan diri lagi!"

Sahut Taydkeng.

Tio Jiang tak mencurigainya dan terus ajak lanjutukan perdalanan.

Adalah ketika mereka sudah pergi, orang2 Thiat-theng-biau itupun sibuk mengurusi mayat2 kawan dan jenazah kepala sukunya.

Se-konyong2 Liat Hwat dan Hiat-ji menobros keluar dari salah sebuah goa.

Tiba didekat mayat sikaki satu Sin Tok, Hiat-ji ayunkan kaki menendangnya sampai terlempar beberapa meter jauhnya.

"Orang she Sin kau hendak bermusuhan pada tuanmu ini, inilah upahmu!"

Biar bagaimana, Sin Tok itu adalah kawan gerombolannya.

Kalau orang sudah menjadi bangkai, seharus segala dendam permusuhan itu habis.

Tapi tidak demikian dengan Hiat-ji.

Dari situ dapat diketahui betapa jahat dan kejamnya anak bermata ungu itu.

Dalam pada itu, tampak wajah Liat Hwat masih mendendam kemarahan, tegurnya dengan keras.

"Hiat-ji, mengapa tadi kau cegah kugunakan lagi senjata liat-hwat-sin-lui (granat) !"

"Suhu"

Sahut Hiat-ji dengan mengulum tawa.

"betapakah susah payahnya suhu membuat liat-hwat-sin-lui itu, apa gunanya di-hambur2kan tanpa guna? Aku telah berjanji dengan Tay keng untuk bertemu digereja Kong Hau Si nanti pertengahan bulan depan ini. Suhu, bagaimana pendapatmu tentang benda ini?"

Habis berkata itu dia angkat tangannya.

Sebuah holou (fles) merah dengan dilekati sepotong kertas yang bertuliskan "hong sin san" (pudar bikin gila) tampak ditelapak tangan si Hiat-ji "Hai, darimana kau peroleh obat itu?

tanya Liat Hwat.

"Tadi sewaktu bersembunyi dalam goa, kulihat disitu ada sebuah lemari obat. Kudapati hong-sin-san berada pada rak yang paling atas sendiri. Suhu, untuk membasmi kawanan orang itu, hanya tergantung pada obat inilah."

Liat Hwat tahu juga maksud muridnya itu. Setelah berpikir sejenak, dia berkata.

"Meskipun Tay-keng masuk menjadi anggauta kita, tapi belum tentu dia mau mencelakai orang tuanya!"

Hiat-ji tertawa, ujarnya.

"Suhu tak usah kuatir. Tiga kali sudah Tay-keng ikut aku kekotaraja untuk pelesir. Ya"

Dia benar sudah mabuk plesiran dan judi.

Dalam perjudian, dia sudah pinjam padaku 100 ribu tail perak.

Untuk itu dia sudah membuat surat pernyataan hutang.

Kalau dia tak menurut padaku, cukup kusuruh orang mengantarkan surat hutang itu pada Siau-beng-siang, tentu celakalah dia.

Menilik peribadinya Siau-ber.gsiang, biarpun anak kandung sendiri, dia tentu tak segan2 untuk membunuhnya.

Hal itu cukup rasanya diinsyafi Tay-keng, jadi mana dia berani membangkang perintahku?

Berhasilnya rencana kita ini, itulah sudah pasti, harap suhu jangan berbanyak hati!"

Kini Liat Hwat melengking puas, serunya, memuji.

"Hiat-ji, pintar benar kau ini! Kalau Tio Jiang suami isteri minum obat hong-sin-san itu, bukan melainkan jiwa mereka berdua yang melayang, pun seluruh kawan2nya di Lo-hu-san itu akan hancur binasa, ha....., ha......!"

Puas tampaknya guru dan murid itu.

Mereka menyambut rencana kemenangannya itu dengan gelak tawa yang girang.

Kemudian mereka lalu turun gunung.

---oooo---BAGIAN 18 .

MENDAPAT PETUNJUK DARI ANG HWAT CINJIN Kita ikuti perjalanan Tong Ko.

Ternyata setelah tinggalkan gelanggang pertempuran tersebut.

dengan hati patah dan tubuh luka, dia turun gunung.

Beberapa kali tubuhnya terhuyung-huyung bagaikan sebuah layang2 putus.

Tapi anehnya, setiap kali dia hampir terjerumus kebawah gunung, tentu setiap kali itu juga terasa ada suatu tenaga kuat mendorongnya supaya tak jadi jatuh.

Bermula Tong Ko turun menurut sepembawa kakinya, sehingga tersesat.

Baru ketika dia tersadar kalau berjalan menyusur lembing karang yang curam, dia menginsyafi akan tenaga bantuan secara diam2 itu.

Kini tersadarlah dia bahwa tenaga gelap itu bermaksud untuk menolongnya.

Buru2 dia berpaling kebelakang, namun tiada seorangpun yang tampak.

Tong Ko coba memancing.

Dia pura2 terhuyung hendak jatuh kebawah dan benar juga tenaga aneh itu mendorongnya dengan tepat sekali.

Tapi ketika secepat kilat dia berpaling kebelakang, kembali hanya tempat kosong yang dijumpai.

Ilmu orang gaib itu, benar2 sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang sukar dijajaki.

Begitu tiba dibawah gunung, segera dia berlutut lalu berseru nyaring2.

"Cianpwe telah memberi bantuan sedemikian besarnya, kalau cianpwe tetap tak mau unjukkan diri sehingga wanpwe tak mengetahui orang yang telah melepas budi itu, wanpwe akan benturkan diri kekarang!"

Sebenarnya kalau tak teringat akan dendam penasaran yang berulang kali dideritanya itu, tak mau dia gunakan siasat untuk memaksa orang mengunjukkan diri begitu.

Memang dengan siasat itu, dia yakin orang gaib itu tentu akan tampil keluar untuk memberi pertolongan.

Benar juga ketika dia buktikan ancamannya dengan benturkan diri kebatu karang, tiba2 ..............

sesosok tubuh yang gemuk melayang disebelah muka untuk menghadangnya.

Tepat sekali kepala Tong Ko membentur sebuah daging yang empuk, tapi pada lain saat daging itu membal (melembung) dan terlemparlah Tong Ko sampai setombak jauhnya.

Cepat Tong Ko menggeliat bangun dan mengawasi kemuka.

Seorang imam tua yang bertubuh tinggi besar dan rambutnya merah, tampak berdiri menatap padanya dengan tersenyum.

Ha......, kiranya yang dibenturnya tadi adalah perut imam tua itu.

Melihat rambut imam itu berwarna merah, timbul suatu dugaan pada Tong Ko.

Ter-sipu2 dia berlutut dan mengucap.

"Terima kasih banyak2 ............"

Imam tua itu kebuntukan lengan bajunya. Serangkum angin yang membawa tenaga kuat menyampok dan mengangkat Tong Ko bangun.

"Usah berbanyak terima kasih. Yang mencuri golokmu it-gwan-pik-li-to itu, adalah aku!"

Tong Ko terbeliak kaget.

Imam sakti itu tentu aneh sekali perangainya.

Dipikir walaupun golok pik-li-to itu suatu pusaka yang jarang terdapat didunia, namun tak bermanfaat malah sebaliknya mengundang bahaya baginya.

Tong Ko ambil putusan untuk menghaturkan golok itu kepada siimam.

"Jika cianpwe suka akan golok itu, silahkan mengambilnya!"

Siapakah gerangan imam tua berambut merah itu?

Dia bulan lain adalah Ang Hwat cinjin, itu kepala gereja Ang Hun Kiong yang pada duapuluh tahun berselang telah dikhianati oleh kawanan kuku garuda.

Dia memang bermaksud hendak berhamba pada pemerintah Ceng, tapi sebagai upah, kala dia bertempur dengan rombongan Ceng Bo siangjin, gereja Ang Hun Kiong telah diledakkan dengan dinamit oleh Hwat Siau dan Swat Mony, sepasang suami isteri kepala jagoan dari pemerintah Ceng (Bacalah.

Lam Beng Ciam Liong atau Naga dari Selatan).

Dengan membawa penasaran hati, dia mengasingkan diri digunung yang sepi untuk meyakinkan ilmu kepandaian.

Duapuluh tahun lamanya dia tekun berlatih dan hasilnya kini menempatkan dia pada sebuah tempat yang tertinggi dalam persilatan.

Namun dia telah membenam diri dalam kesunyian.

Makin tua rupanya dia makin masak.

Dia insyaf akan kesalahannya (akan berhamba pada Ceng) tempo dahulu.

Kini pikirannya makin luhur.

Kata2 Tong Ko tadi tepat sekali dengan seleranya.

Maka tertawalah dia ter-bahak2, katanya.

"Nak, sungguh mulia hatimu. Sebelum mendapatkan ilmu permainannya, golok sakti itu tetap tak berguna. Kebetulan pada bebrapa bulan yang lalu. Aku sudah bertaruh pada seseorang. Orang itu mengejek, katanya meskipun ilmu kepandaianku tinggi, tapi tetap tak dapat memenangkan ilmu permaianan golok it-guan-to-hwat. Dia berani bertaruh bahwa aku tentu tak dapat menciptakan suatu ilmu permainan yang melebihi it-guan-to-hwat itu. Ilmu golok it-guan-to-hwat itu sudah lama lenyap dari dunia persilatan, hanya bentuk goloknya telah ditiru dan dipakai oleh suku Thiat-theng-biau. Untuk menciptakan ilmu permainan sesuai dengan yang dikatakan orang itu, aku bermaksud hendak mengambil sebuah golok orang Thiat-theng-biau. Malam itu ketika melalui sebuah rumah pondok kulihat kau tidur dengan berbantal sebuah golok. Kuambil dan taruhkan golok itu keatas. tiang penglari tanpa kau ketahui. Tapi keesokan hari, kulepaskan hasratku untuk mengambil golok itu. Dan selama itu kuikuti jejakmu barang kemana kau pergi. Ho, ternyata hatimu mulia, tanganmu terbuka. Biar kupindah dahulu golok itu. Nanti setelah kuberhasil menciptakan suatu ilmu permainan golok untuk memenangkan pertaruhan itu, ilmu permainan berikut golok akan kuserahkan padamu. Nah, bagaimana pendapatmu?"

Girang Tong Ko tak terkatakan.

"Menilik ilmu kepandaian cianpwe yang sedemikian saktinya ini, apakah cianpwe ini bukannya Ang Hwat locianpwe, itu kepala gereja Ang Hun Kiong yang sangat diagungkan oleh kalangan persilatan?"

Senang dipuji, itulah sudah watak pembawaan setiap orang. Juga Ang Hwat tak terlepas dari sifat itu. Merenung sejenak, dia berkata.

"Kuperhatikan setiap kali kau bertempur dengan orang, tubuhmu se-olah2 mempunyai dua macam lwekang yang berbeda satu sama lain. Apa sebabnya?"

Tong Ko menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya.

"Benar, jika kau sempurnakan latihanmu, kau pasti bakal merupakan bintang persilatan yang cemerlang dikemudian hari!"

Kata Ang Hwat. Demi tampak imam itu bermaksud baik, Tong Ko segera mengambil buku pemberian The Go, katanya.

"The Go cianpwe telah memberi wanpwe sebuah buku buah tangan Tat Mo, tapi wanpwe tak mengerti, mohon locianpwe suka memberi petunjuk!"

Hubungan antara The Go dengan Ang Hwat cinjin itu, bagikan seorang anak dengan ayah.

Sejak berpisah selama 20-an tahun Itu, Ang Hwat cinjin tak mengetahui letak rimbanya sang murid itu.

Baru ketika dia mengikuti perjalanan Tong Ko secara diam2, dapatlah dia menemukan tempat tinggal muridnya (The Go) yang hilang itu.

Tapi bahwasanya The Go telah mendapatkan sebuah kitab pusaka yang tiada taranya itu, ia tetap belum mengetahui.

Maka buru2 disambutinya buku yang diangsurkan Tong Ko itu.

"Coba kulihatnya sebentarl"

Katanya sembari membalik halaman buku itu. Baru melihat dua buah lukisan orang duduk bersemadhi, dia terkejut bukan kepalang. Setelah "bertapa"

Selama 20-an tahun itu, ilmu Iwekang Ang Hwat sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Pada hakekatnya, ilmu silat dalam kalangan persilatan itu, sumbernya dalah serumpun (satu).

Lukisan orang duduk bersemadi itu, bagi Tong Ko memang gelap.

Menurut ukuran The Go, agak jelas sedikit.

Tapi bagi.

pandangan seorang tokoh macam Ang Hwat, itulah suatu sumber ilmu inti yang gaib.

Setelah ditelitinya pula, dia mengakui, bahwa tiada sembarang orang dapat mengetahui rahasia kegaiban ilmu yang tertera dalam buku itu.

Buru2 dilipatnya pula buku dan berkata.

"Tempat ini tak sesuai untuk bicara. Ayuh kita menuju ketempat kediaman The Go sana!". Tampaknya Ang Hwat cinjin yang berada disebelah depan itu, hanya se-enaknya saja berjalan. Setiap kali ayunkan langkah, dia tentu berhenti sejenak. Namun bagi Tong Ko yang mengikutinya disebelah belakang, rasanya berat sekali jalannya. Besoknya barulah mereka tiba ditempat The Go. Benar juga, The Go dan Siao-lan masih belum kembali pulang. Begitu berada dalam rumah. Ang Hwat segera mempelajari lagi buku itu. Hampir sehari penuh, dia memeriksa buku itu . Hingga hampir senja hari. Tong Ko masih tetap berdiri disamping imam tua itu. Wajah Imam itu berseri-seri lalu berbangkit dari tempat duduknya.

"Usiaku sudah lanjut, buku ini tak banyak manfaatnya bagiku. Bila kau tekun mempelajari buku ini, cukup memahami sampai 7 bagian saja, maka kau tentu akan dapat bertahan sampai 300an jurus berhadapan dengan aku!"

Girang Tong Ko melewati yang diharapkan.

Ang Hwat cinjin tak mau simpan rahasia.

Apa yang diketahuinya tadi, diturunkan, pada Tong Ko.

Dasar Tong Ko berotak terang, maka makin mendengari dia makin seperti kelelap dalam lautan ilmu sumber kepandaian yang tiada habisnya.

Singkatnya saja, hampir sebulan lamanya Ang Hwat cinjin memberi petunjuk pada Tong Ko.

Baru dia dapat mempelajari dua jurus saja, tenaganya serasa bertambah maju, ilmu lwekangnya makin hebat.

Benar saya tak lepas mengenangkan The Go yang belum juga pulang serta The Ing yang belum ketahuan nasibnya itu, namun dia sudah seperti orang yang kelelap dalam lautanb ilmu.

Makin maju, makin tak dapat keluar.

Akhirnya dia percaya bahwa dengan kepandaian yang dimiliki itu, The Go pasti tak kena apa2 dan seluruh perhatiannya kini dicurahkan untuk "mengisap"

Pelajaran dalam buku Tat Mo itu.

---oooo---BAGIAN 19 .

GEREJA KONG HIAU SI Dan sekarang marilah kita beralih pada lain tempat, yani kegereja Kong Hau Si yang terletak diwilayah Kwicu sana.

Kala itu adalah tanggal pertengahan, jadi penuh sesaklah orang datang berkunjung kegerja besar itu.

Kaisar Ceng yang menduduki takhta kerajaan, sudah turunan yang kedua.

Keadaan didalam negeri, boleh dikata sudah aman.

Perjoangan para patriot negara hanya dilakukan secara subversif, jadi keamanan tampaknyak tak banyak terganggu.

Seperti lazimnya, diluar gereja sana tampak ber-deret2 para penjual menjajakan dagangannya.

Ramainya bukan kepalang.

Pada sebuah dasaran yang menjual barang2 cita dan kain sutera, tampak ada seorang nona yang bermata bundar sedang mengunjukkan sehelai sutera hijau pupus pada pemuda kawannya yang berada disisinya.

"Koko, bagus tidak warna ini? Mamah sering mengatakan dirinya sudah tua tak pantas bersolek. Tapi kalau saja dia dandan, kupercaya tentu masih kelihatan cantik. Bagaimana kalau kita belikan sutera ini untuk beliau?"

Nona itu bukan lain adalah Tio In, sedang yang dipanggil koko (engkoh) itu adalah Tay-keng.

Saat itu pikiran Tay-keng tidak pada kain sutera yang diunjukkan adiknya.

Dia celingukan kesana sini, se-olah2 mencari sesuatu.

Maka sekenanya saja dia mengiakan pertanyaan adiknya tadi.

Tapi dalam hati dia memaki Co In.

"Hem......, budak perempuan kurangajar, mengapa berkeras ikut aku ke Kwiciu. Kalau Hiat-ji datang, bagaimana nanti? Ah, bagaimana aku dapat mengelabuhinya ya?"

Kiranya sebulan yang lalu, ketika Tio Jiang bersama anak isterinya tiba di Giok-li-nia, sampailah padanya suatu berita yang menggembirakan.

Berita itu mengenai diri Go Sam-kui.

Penghianat yang karena jasanya memasukkan tentara Ceng kedalam wilayah Kwiciu, maka oleh pemerintah penjajah tersebut dia dikerunia pangkat tinggi dan didudukkan sebagal gubernur yang menjaga wilayah Hunlam.

Tapi pada beberapa tahun yang terakhir itu, tersiar desas-desus bahwa orang she Go itu hendak memberontak yang membawa berita kepada Tio Jiang itu, adalah salah seorang kepercayaan Go Sam-kui sendiri.

Tentang keretakan antara Go Sam-kui dengan pemerintah Ceng itu, memang sudah lama didengar oleh Tio Jiang.

Tempo hari Tio Jiang makanya sudah mengutus Tay-keng ke Hun-lam itu, perlunya yalah disuruh menyelidiki kebenarannya desas-desus itu.

Tapi setelah mendapat keterangan tentang cenderungnya gerak gerik Go Sam-kui itu, bukannya memberitahukan kepada sang ayah, sebaliknya Tay-keng malah melaporkan pada Shin Hiat-ji dan kawan2.

Maka demi sekarang Tio Jiang mendapat berita itu sendiri, dia segera mengadakan kontak dengan para orang dari pelbagai kalangan persilatan.

Benar Go Sam-kui itu seorang penghianat besar, tapi dia mempunyai puluhan ribu anak tentara.

Kalau Go Som-kui kali ini benar memberontak, itu berarti suatu kekuatan besar untuk mencetuskan pemberontakan mengusir penjajah Ceng.

Sebagai seorang pejoang, Tio Jiang menyambut berita itu dengan semangat yang me-nyala2.

Sebagai pemimpin gerakan menentang penjajah, siang malam Tio Jiang amat sibuk, jadi dia tak sempat memperhatikan perobahan sikap puterinya.

Tapi tidak demikian dengan Yan-chiu yang mengetahui bahwa sejak pulang dari Sip-ban-tay-san itu, Tio In tampaknya selalu bermuram durja.

Berulang kali didapatinya sang puteri itu ter-menung2 diatas puncak tempat Tong Ko loncat turun kedalam lembah tempo hari itu.

Sebagai seorang ibu, tahulah Yan-chiu apa yang dikandung dalam hati gadisnya itu.

Tapi iapun tak berdaya untuk menasihatnya.

Kebenaran saat itu, hari pertemuan yang dijanjikan Tay-keng pada Hiat-ji, sudah tiba.

Maka diapun mengatakan kepada orang tuanya hendak pergi ke Kwiciu.

Yan-chiu suruh dia membawa Tio In agar hatinya terhibur.

Oleh karena ingin menyelidiki tempat beradanya Tong Ko, Tio In pun setuju.

Tay-keng mendongkol, tapi tak mempunyai alasan untuk menolaknya.

Begitulah setiba di Kwiciu, mereka mengunjungi gereja Kong Hau Si.

Melihat keramaian disitu, hati Tio In agak terhibur, tapi sebaliknya Tay-keng sibuk tak karuan.

Berulang kali Tio In mengajaknya bicara tentang ini itu, tapi selama itu Tay-keng hanya mendengus saja malah kadang2 tak menyahut sama sekali.

Akhirnya heranlah Tio In dibuatnya, tanyanya.

"Koko, kau ini mengapa?"

Saat itu kebetulan mata Tay-keng tertumbuk pada seseorang yang berada didalam lautan orang disebelah sana.

Orang itu tampak melambaikan tangan kepadanya, terus berputar kebelakang.

Dari potongan punggungnya, terang orang itu Hiat-ji adanya.

Maka pertanyaan Tio In tadi, telah membuatnya terkejut seperti disengat tawon.

Tapi pada lain saat, dia sudah memperoleh daya, sahutnya.

"Dik, kau tunggu dulu disini, jangan pergi ke-mana2. Aku hendak kesana sebentar!"

Habis berkata itu, dia terus berputar hendak mengayun langkah, tapi cepat2 dijambret. oleh Tio In.

"Kau hendak kemana?"

Tegurnya.

"Tadi kulihat seseorang yang kalau tak salah adalah salah seorang saudara kita di Lo-hu-san, tampak sedang main mata dengan seorang kaki tangan musuh. Aku hendak me-mata2inya sebentarl"

"Kalau begitu aku ikut, koko. Apakah kau membawa pedangmu, kemungkinan kita nanti menghadapi pertempuran!"

Sahut Tio In dengan girang. Tay-keng mengeluh dalam hati.

"Dik, sebaiknya kau jangan turut saja. Kau baru pertama ini datang ke Kwiciu, masih asing keadaan disini. Nah, jangan senrbarang pergi ke-mana2, tunggu saja aku disini!"

"Mengapa? Mamah pernah mengatakan padaku, bahwa kau ini tak boleh dipercaya, aku disuruh mengikuti kau!"

Tay-keng pucat air mukanya, hatinya berdetak keras, bantahnya terbata2.

"Dalam hal apa aku.......... tak boleh dipercaya?"

Dengan ucapan itu dia mengunjunkkan rasa cemas sekali karena mengira perbuatannya bersekongkol dengan Hiat-ji itu sudah ketahuan mamahnya.

"Huh, mengapa kau begitu gelisah dikatakan begitu saja oleh mamah? Jangan mudah ketakutan ah! Ya, mengapa kau hendak pergi seorang diri? Tadi kutanya apa kau membekal senjata rahasia, kaupun diam saja. Bukantah kalau sepasang pedang pusaka kita bergabung, akan merupakan suatu kekuatan yang sukar dicari tandingannya? Tapi mengapa kau menolak, bukankah ini membuktikan bahwa benar2 kau ini tak dapat dipercaya?"

Legalah hati Tay-keng.

Ternyata tadi adiknya itu hanya menggertaknya saja agar ia diperbolehkan mengikut.

Memang demikian halnya.

Barang siapa yang berbuat salah, betapa tenang orang itu, namun tak urung ada kalanya tentu kelihatan sikapnya.

Tay-keng cukup menginsyafi bahaya apa yang akan terjadi apabila dia ajak adiknya itu menjumpai Hiat-ji.

"Ah, aku tadipun tak melihatnya dengan jelas. Lebih baik mengurangkan urusan daripada cari urusan. Baik kita jangan hiraukan orang itu lagil"

Akhirnya dia mencari alasan untuk menghindari desakan adiknya.

Tio In juga dapat dibikin mengerti.

Kwiciu sudah dikuasai tentara pendudukan Ceng.

Asal timbul sedikit kegaduhan saja, tentara Ceng pasti akan mengepungnya.

Dan kalau terjadi begitu, sukarlah rasanya ia meloloskan diri.

Begitulah setelah membeli kain sutera hijau, ia ikut sang engkoh berjalan2 lagi.

Dalam pada itu, Tay-keng tetap pasang mata men-cari2 bayangan Hiat-ji.

Tapi sampai begitu jauh, orang yang dicarinya itu tak kelihatan lagi.

Pada saat itu, orang2 yang mengunjungi gereja situ makin lama makin padat hingga sampai ber-jubel2 dorong mendorong.

Tiba2 Tay-keng melihat ada seorang yang menghampiri kedekatnya.

Setelah menatap sejenak, orang itu mengulurkan tangannya.

Tay-keng menduga bahwa orang itu tentulah pesuruhnya Hiat-ji.

Buru2 dia acungkan tangannya kebelakang dan sesaat kemudian, tangannya sudah menggenggam sebuah gulungan kertas kecil.

Tay-keng girang tapi baru saja dia hendak cepatkan langkahnya sekonyong2 terdengarlah seruan orang dari sebelah belakang.

"Minggir, minggir!"

Menyusul terdengar suara tok....

tok.....

bebrapa kali.

Tay-keng menoleh kebelakang dan kiranya seorang pengemis berkaki buntung, pakaiannya compang camping berjalan mendatangi dengan sebuah tongkat.

Wajah penyemis itu luar biasa buruknya.

Dalam arus berjenis kelas manusia itu, Tay-keng tak sempat memperhatikan sipengemis itu.

Tapi ketika pengemis buruk itu lewat disisinya, dia (Tay-keng) segera rasakan siku tangannya kesemutan sehingga tanpa terasa jarinya terbuka dan jatuhlah gunyan kertas kecil itu ketanah.

Dalam kejutnya Tay-keng cepat menyambar kebawah dan dapatlah dia menangkapnya lagi.

Mengetahui kalau membentur Tay-keng, pengemis jembel itu unjuk ketawa seperti hendak minta maaf.

Karena hatinya sedang resah, jadi Tay-keng tak sempat untuk bikin perhitungan dengan sipengemis siapa tampak tok...., tok...., tok...., berjalan dengan kaki tongkat lalu disamping Tio In, terus menyusup diantara orang banyak.

Tay-keng cepat membuka gulungan kertas itu untuk membacianya.

Ada pepatah mengatakan "Harimau tentu beranak harimau"

Artinya ayah pandai atau gagah sang anak tentu juga demikian.

Tapi rupanya axioma (dalil) itu hanya berlaku dalam arti yang sebenarnya, yaitu harimau (binatang) itu anaknya tentu juga harimau.

Sebaliknya seorang besar, belum tentu anaknya akan selihay sang ayah.

Tio Jiang dan Tay-keng adalah contohnya.

Tio Jiang adalah seorang tokoh pejoang kemerdekaan yang dihormati oleh semua kawan perjoangannya.

Berwatak lurus, berbubdi luhur, tendah hat!.

Tay-keng seorang anak yang dimanjakan ibunya.

Dan karena selalu dimanjakan dengan penghormatan oleh para orang gagah --mengingat dia itu puteranya Tio Jiang --maka melekatlah satu rasa tinggi hati sombong dan jumawa mangkak.

Suka pelesir, gemar arak dan judi.

Bebrapa kali dia didamprat keras oleh ayahnya, tapi bukan berobah baik sebaliknya dia makin terjerumus dalam2.

Akhirnya relalah dia menjadi alat pekakas dari kawanan Hiat-ji.

Hampir tiga tahun dia galang gulung dengan gerombolan Hiat-ji, hilang musnalah segala petuah dan ajaran emas sang ayah dari lubuk sanubarinya.

Dia anggap kawanan jagoan istana itu lehih gagah dan lebih nikmat hidupnya.

Diam2 dia ingin mencapai kedudukan seperti mereka itu.

Hanya dikarenakan ayahnya itu seorang musuh negara, jadi selama itu jalan cita2nya itu selalu tertutup.

Tanpa disadari timbullah rasa benci kepada orang ayahnya sendiri.

Dalam pertemuannya dengan Hiat-ji digereja Kong Hau Si nanti, dia sudah ambil putusan akan minta supaya Hiat ji mengajukan dirinya kepada pemerintah Ceng agar dia secara resmi diterima menjadi pembesar.

Buru2 hendak mengetahui bunyi gulungan surat tadi, dia.

Segera berpaling kepada adiknya dan berkata dengan nada tergetar.

"Dik tunggu didekat perapian tempat pembuangan dupa itu, aku hendak pergi dulu sebentar!"

Diluar dugaan, Tio In tak menghalanginya lagi, malah menyuruh supaya lekas kembali.

Tay-keng lega hatinya lalu buru2 pergi.

Tapi ketika dia berpaling lagi, tampak Tio In juga tengah membuka sebuah gulungan kertas kecil.

Heran dia dibuatnya dari mana adiknya itu memperoleh gulungan tersebut.

Namun dia tak sempat untuk memikirkan lebih jauh dan terus membuka gulungan kertasnya sendiri.

"3 li disebelah timur gereja, ada sebuah kakus, kita bertemu disitu. Dari sahabatmu yang cukup kau ketahui sendiri namanya."

Kembali rasa heran mencengkeram hati Tay-keng.

Dimana saja kan bisa bertemu, mengapa harus disebuah kakus?

Tapi karena Hiat-ji sudah menjanjikan begitu, terpaksa dia pergi kesana juga.

Benar juga disitu terdapat sebuah kakus lama yang baunya sangat menusuk hidung.

Dengan mendekap hidung, dia masuk.

Disitu tiada tampak barang seorang manusiapun tetapi terdapat sebuah kertas yang ditempelkan pada tembok berbunyi begini.

"Tunggu didalam sini jangan ke-mana2. Sahabatmu."

Dengan menahan bau yang amat 'semerbak' itu.

Tay-keng terpaksa menunggu disitu.

Surat apa yang ditangan Tio In itu?

Kiranya sewaktu sipengemis jembel tadi lewat disisinya, tiba2 tangan nona itu terselip sebuah gulungan kertas.

Sebenarnya Tio In hendak memberitahukan hal itu kepada engkohnya, tapi justeru pada saat itu Tay-keng menyuruhnya tunggu dulu disitu.

Tio In sandarkan diri pada tempat perapian dupa lalu membuka gulungan kertas itu.

"Tinggalkan adikmu dan segera menuju keruang atas tempat menyimpan kitab2. Ada urusan penting, kutunggu!"

Surat itu tanpa tanda tangan, melainkan terdapat sebuah cap gambar anak kecil warna merah.

Gaya tulisan hurufnya cukup gagah.

Tio In terkejut, ketika mendongak kemuka dilihatnya Tay-keng sudah menyelinap kedalam orang banyak.

Surat itu terang untuk engkohnya, mengapa diberikan kepadanya (Tio In)?

Kelirukah pengantarnya?

Tapi dipikir-pikir, masakan sipengantar itu tak dapat membedakan seorang pria dan wanita.

Dari siapakah pengirimnya GAMBAR 11 Sambil memandangi ruangan gereja yang bertingkat itu, Tio In menjadi ragu2.

Tapi akhirnya ia masuk juga kesitu."Apakah saudara Tio ini yang datang?"

Segera terdengar tegur seseorang itu?

Lukisan seorang anak warna merah itu, apa artinya?

Dan mengapa disuruh "tinggalkan adikmu", jadi harus Tay-keng seorang diri yang pergikah?

Makin mereka dugaan, makin timbul kecurigaannya dan akhirnya ia akan tunggu sang engkoh kembali untuk ditegurnya.

Tapi tunggu punya tunggu hingga sampai setengah jam lamanya, tetap sang engkoh itu tak muncul kembali.

Karena tak sabar lagi, akhirnya ia masuk kedalam ruangan besar gereja dan bertanya.

pada seorang paderi dimana letak ruang penyimpan kitab2 itu.

Gereja Kong Hau Si itu terhitung salah satu gereja besar dalam wilayah Kwiciu situ.

Masuk keruang belakang, akhirnya tibalah Tio In keruang tempat penyimpan kitab, Kiranya ruang itu merupakan loteng dua tingkat.

Setelah meragu sejenak, Tio In lalu masuk kedalam ruang itu.

Dfsitu tiada terdapat barang seorang pun jua, kecuali sebuah tangga yang menuju keatas.

Kembali dia bersangsi baik naik atau tidak.

Kalau naik terang ia bakal mengetahui siapakah orang yang mengadakan janji dengan engkoh nya itu.

Tapi kalau tidak naik, pun belum tentu nanti engkohnya itu mau memberitahukan bal itu kepadanya.

Terang sipengantar surat itu bukan orang Lo-hu-san, kalau tidak masakan menyusuh engkohnya itu tinggalkan ia.

Ah, hendak kulihat siapa macamnya orang itu.

Demikian akhirnya Tio In melangkah naik ketangga.

Diruang atas memang benar merupakan tempat penyimpan kitab2 gereja.

Rak2an buku yang penuh dengan deretan kitab2 memenuhi ruangan itu.

"Apa yang datang ini Tio-hengkah? Sudah ber-jam2 aku menunggu disini!"

Tiba2 terdengar tegur seorang.

Tio In terkesiap kaget.

Agaknya pernah ia mendengar pada suara itu, sayang orangnya teraling dengan deretan lemari buku sehingga tak kelihatan jelas.

Dengan membesarkan pada suaranya, ia memberi penyhutan lalu mengitari rak buku untuk menjenguk orangnya.

Ya, memang yang menunggu dibelakang lemari buku itu adalah Hiat-ji.

Seperginya dari pegunungan Sip-ban-tay-san, bersama Liat Hwat Cousu, dia langsung menuju ke Kwiciu.

Hiat-ji adalah seorang ta-lwe si-wi (bayangkari istana Ceng), sudah tentu para pembesar didaerah Kwiciu sama jeri padanya.

Sejak meninggal kan kampung halamannya di Tibet, Mo Put-siu alias Liat Hwat cousu itu belum pernah bertemu tandingan, maka selama itu dia anggap dirinya paling jempol dewek.

Adalah ketika bertempur dulu Tio Jiang suami isteri dan tak berdaya menghadapi ilmu pedang hoan-kang-kian-hwat dan to-hay-kiam-hwat, barulah matanya melek.

Maka setibanya di Kwicu, dia lalu sekap diri untuk meyakinkan salah suatu ilmu Im-yang-sin-kang yang paling ganas.

Peyakinan itu memerlukan waktu selama 4 kali 7 hari atau 28 hari.

Benar singkat waktunya, tapi ilmu itu harus diyakinkan terus menerus tanpa berhenti selama dalam waktu itu, harus sanggup menderita suatu siksaan yang hebat.

Sebenarnya ilmu itu adalah ilmu warisan yang tergolong ilmu hitam dari aliran agama Mokau.

Sedikit saja terdapat kesalahan dalam peyakinan, maka orang itu akan mengalami bencana hebat, menjadi seorang invalid seIama2nya.

Tahu akan resikonya, sekalipun ilmu itu tidak tara saktinya, namun selama itu Liat Hwat masih bersangsi untuk meyakinkan.

Adalah karena dia telah terlanjur buka suara besar dihadapan kaisar Kong Hi sanggup untuk membasmi anasir2 yang menentang pemerintah Ceng, maka terpaksalah dia jalani juga peyakinan ilmu im-yang-sin-kang yang berbahaya itu.

Hiat-jipun tak berani mengganggu usik pada suhunya yang tengah meyakinkan ilmu sakti itu.

Begitulah singkatnya saja, pada hari ini peyakinan Liat Hwat sudah mencapai hari yang ke 27, tinggal sehari lagi dia tentu sudah berhasil.

Dan pada hari itu karena tiba janjinya, maka Hiat-ji lalu menyuruh orang untuk mengantarkan surat kepada Tay-keng.

Ketika dia menunggu diruang penyimpan kitab dari gereja Kong Hau Si, didengarnya ada suara tindakan kaki mendatangi.

Mengira Tay-keng yang datang, dia menegurnya dan terus hendak keluar menyambutnya.

Tapi demi didengarnya suara penyahutan itu agak aneh nadanya, beda dengan nada suara Tay-keng, dia batal keluar dan bersembunyi dibelakang sebuah lemari buku.

Hai, kiranya benarlah dugaannya tadi.

Yang muncul itu bukan Tay-keng melainkan adiknya yang cantik.

Hiat-ji makin curiga.

Mengapa Tay-keng tak datang sendiri?

Dalam pada itu karena sampai sekian saat belum melihat barang seorangpun juga, Tio Inpun juga curiga.

Tio In berhenti sejenak.

Ia mendapat suatu siasat, serunya.

"Anda menyuruhku datang kemari, karena dia sedang ada urusan maka menyuruh aku yang datang. Ada, keperluan apa harap katakan padaku. Segala apa, kami berdua kakak beradik ini tentu saling berunding. Mengapa anda tak mau menampakkan diri?"

Sejak Hiat-ji dengan Tio In tersesat masuk kedalam goa dan dipaksa untuk menikah oleh siwanita aneh, timbullah rasa cinta sesungguhnya dalam hati si Hiat-ji.

Sayang itu waktu The Ing datang mengacau sehingga nona itu berhasil lolos.

Juga waktu Sin Tok berhasil menawan nona itu untuk dibawanya kekota raja, Hiat-ji tetap menaruh hati pada Tio In.

Pada saat itu Hiat-ji melamun lagi.

"Apakah nona ini benar2 suka padaku? Adakah Tay-keng sudah mencium bau dan kedua kakak beradik itu kini mau menggabungkan diri pada rombonganku?"

Saat itu juga dia sudah segera akan unjukkan diri tapi pada lain saat terkilaslah pada ingatannya bahwa kala Tio In ditangkap sikaki satu tempo hari, jelas sudah bagaimana nona itu bersitegang leher melawan mati2an.

Begitu pula bagaimana beringasnya nona itu ketika menyerang Tong Ko yang dikiranya menjadi anggauta rombongan Hiat-ji itu.

Ah, terang nona itu tak mungkin serupa pendiriannya dengan sang engkoh.

"Kalau benar kau disuruh kemari oleh engkohmu, tahukah kau siapa aku ini?"

Akhirnya dia berseru. Tio In merenung sebentar. Teringat ia akan lukisan anak merah pada surat itu. Ah, biar ia coba2 menerkanya.

"Kau adalah yang digelari orang sebagai Ang Hay-ji (si Anak Merah) bukan?"

Sinona hanya main menerka, tak tahunya kalau hal itu membuat kejut hati Hiat-ji. Walaupun kecurigaan menyurut, namun tetap dia tak babis herannya mengapa Tay-Keng tak datang sendiri.

"Benar, silahkan nona datasng kemari!"

Sebenarnya Tio In seorang nona yang cukup ber-hati2.

Tapi mungkin karena kegirangan, saat itu ia agak lengah untuk meneliti bahwa dalam nada suara orang itu jelas terdapat perbedaan antara yang tadi dengan yang sekarang.

Disamping itu sedikitpun ia tak menduga bahwa engkohnya bakal menjumpai seorang kaki tangan macam Hiat-ji.

Maka tanpa curiga apa2, sembari melangkah maju, ia masih bertanya.

"Ang Hay-ji, kau berada dimana?.. Melihat bahwa asal sudah membiluk sebuah deretan Yak buku, nona itu pasti akan sudah muncul dihadapannya, buru2 Hiat-ji ambil sebuah kitab pelajaran agama Buddha untuk menutupi wajahnya, lalu melangkah keluar. Melihat orang main menutupi muka, oleh karena tak mengira kalau dia itu musuh yang dibencinya, maka seenaknya saja Tio In menggodanya.

"Biasanya orang menutupi muka dgn sebuah harpa (pi-peh), tapi aneh mengapa kau memakai sebuah kitab suci menutup muka, malukah?"

Tio In mengiring olok2nya dengan tertawa lepas, sebaliknya Hiat-ji maju lagi dua langkah seraya menyahut.

"Ya, benar, aku memang malu!"

Menyusul dengan kata "malu"

Itu, dia buka kitab yang menutupi mukanya itu dan astagafirulah Tio In seperti disengat kala kejutnya, hampir2 ia tak percaya apa yang dilihatnya.

Bagi Hiat-ji, perobahan raut muka sinona itu cukup menjadi pegangan.

Secepat kilat tangan diulurkan kemuka dan tepat menutuk jalan darah kian-keng-hiat dibahu sinona.

Tubuh Tio In terhuyung dan rubuh.

Tapi karena dikanan kirinya semua adalah rak buku, jadi tubuhnya itupun tersandar pada rak itu.

Setelah menunggu sekian saat tiada tampak lain orang lagi, legalah hati Hiat-ji.

Melongok kejendela, dia bertepuk tangan 3 kali dan tak berapa lama kemudian muncullah seorang kedalam ruangan situ.

"Shin toaya hendak memberi perintah apa?"

Seru orang itu dengan laku menghormat sekali.

"Kusuruh kiu antarkan suratku pada Tay-keng, mengapa kau berikan pada adik perempuannya?"

Tegur Hiat-ji dengan bengis. Orang itu terbeliak kaget. Biji matanya berkeliaran, wajahnya pucat lesi dan mendeproklah dia kelantai untuk berlutut.

"Hamba pantas dihukum mati, tapi benar2 hamba tak salah menerimakan surat itu,"

Ter-bata2 orang itu meratap ampun.

Tanpa menyahut, Hiat-ji gerakkan sebelah kakinya yang tepat mengenai ulu hati orang itu, Hiat-ji sudah membayangkan bahwa rencananya itu tentu berhasil dan hasilnya pasti jauh lebih effektif (bermanfaat) dari rencana suhunya yang hendak meyakinkan imyang-sin-kang itu.

Tapi ternyata rencananya itu menjumpai suatu kegagalan.

Tio In bukan seorang nona yang tolol.

Begitu kembali ke Lo-hu-san ia tentu menceritakan pengalamannya itu kepada Tio Jiang.

Ini berarti pionnya (Tay-keng) akan hancur.

Usaha untuk melenyapkan rombongan Lo-hu-san itu kelak pasti akan mengalami kesulitan besar.

Maka saking marahnya, Hiat-ji sudah gunakan delapan bagian dari tenaganya untuk menendang.

Orang itu ternyata hanya seorang opas biasa dari kantor tihu (residen) terang dia tak kuat menahan tendangan itu.

Hanya sekali dia mengerang, mulutnya menyembur darah dan tubuhnya terkapar binasa.

Pada detik itu Tio In sudah mempunyai pengertian yang agak jelas, namun ia tetap tak dapat mempercayai bahwa engkohnya itu bersekongkol dengan kaki tangan pemerintah Ceng.

"Ya, kalau benar dia (Hiat-ji) itu bersekongkeol dengan engkoh, masakan sampai keliru menyampaikan surat itu? Terang dia hendak gunakan siasat mengadu domba."

Demikian anggapan Tio In.

Rupanya masih belum reda amarah Hiat-ji dengan membinasakan opas itu.

Berpaling kebelakang dia menatap wajah Tio In dengan mata ber-api2.

Sembari mengangkat tangannya pe-lahan2 keatas, dia berkata dengan nada buas.

"Nona Tio, karena kau telah mengetahui rahasia ini, maka jangan salahkan aku orang she Shin yang terpaksa tak dapat membiarkan kau hidup lebih lama didunia inii"

Tangannya itu diarahkan untuk menghantam umbun2 kepala sinona.

"Celaka, apakah dugaanku keliru bahwa dia ini bukan sedang main siasat mengadu domba? Tapi biarlah kutunggunya saja. Kalau dia hanya menggertak scja, terang dia hendak pinjam mulutku untuk mencelakai engkohl"

Demikian masih Tio In menimang dalam hati.

Ah....., Tio In...., Tio In....., kau keliwat memintari dirimu sendiri.

Kalau saja tangan Hiat-ji itu turun menghantam, sebelum mengetahui bahwa engkohmu itu benar2 bersekongkol dengan kawanan kaki tangan Ceng, nyawamu pasti melayang sudah!

Baru Hiat-ji hendak layangkan tinjunya, tiba-tiba matanya tertumbuk akan sepasang mata bundar dari sinona yang sedikitpun tak mengunjuk rasa takut.

Terhadap gadisnya Tio Jiang itu memang Hiat-ji sudah jatuh hati benar.

Hatinya lemas dan tinjunyapun pe-lahan2 diturunkan kemball.

"Hem, benarlah dugaanku itu. Kawanan anjing, bangsat penghianat, jangan mimpi kau dapat berhasil memperalat aku untuk mencelakai engkohku!"

Demikian diam2 Tio In memaki.

Hiat-ji serba sulit.

Melepaskan Tio In berarti rencananya gagal dan lenyap pula semua impiannya untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dan penghidupan yang mewah.

Namun membunuh nona secantik itu, hatinya keliwat sayang.

Sebenarnya walaupun berusia muda, tapi si Hiat-ji itu dapat bekerja dengan cermat dan kejam.

Hanya karena kali ini.

Terbentur dengan asmara, dia sudah tak dapat mengambil keputusan yang tegas.

Akhirnya setelah berpikir sekian lama, dia menemukan suatu jalan yang bagus.

"Nona Tio, bukan sehari dua hatiku tercurah padamu. Tadi kau sampai rubuh itu adalah karena terpaksa. Kita adalah orang sendiri, maka jangan dipikir dalam hati kejadian itu"

Katanya coba membujuk rayu.

Tio In tak mengira kalau anak bermata ungu itu dapat berlaku demikian.

Juga Hiat-ji telah ambil putusan, cumbu rayu itu tak boleh hanya mengandal pada mulut manis tapipun harus disertai paksaan.

Maka sebelum Tio In dapat menyahut, anak muda itu sudah memeluknya.

Berulang kali Tio In coba salurkan jalan darah untuk membuka uratnya yang tertutuk itu, namun gagal.

Merah padamlah selebar mukanya karena dipeluk orang itu.

Habis memeluk Hiat-ji kembali melongok keluar ruangan dan memberi isyarat 3 kali tepukan tangan.

Waktu ada seorang datang ke situ, Hiat-ji segera memberi perintah.

"Lekas sediakan sebuah tandu besar yang tertutup rapat. Bawa nona ini kegedung thayhu. Awas, jagalah hati2!"

Agar nona itu jangan sempat berusaha membuka jalan darahnya yang tertutuk, Hiat-ji hendak menuntut lagi jalan darah dipundak kiri.

Tapi baru tangannya menjulur, tiba2 punggungnya terasa dingin karena dilekati sebuah ujung senjata tajam.

"Nona Tio jangan takut, ada aku disini!"

Kedengaran seorang bernada wanita berseru kepada Tio In.

Ketika Tio In berpaling mengawasi, kiranya orang itu adalah seorang wanita dari pertengahan umur, kulitnya agak hitam dan mencekal sebatang samcat-hi-jat (garu penusuk ikan yang berujung 3).

Dilihatnya Hiat-ji tak berani berkutik, tapi entah siapa wanita itu.

"Orang she Shin, telah sekian lama kunantikan kau disini. Nona Tio sudah mempunyai kekasih, apa maksudmu hendak membawanya kegedung thay-hu, hendak memaksanya untuk menikah denganmu?"

Kembali wanita itu berseru.

Wanita itu bukan lain adalah Ciok Siao-lan, istri The Go.

Karena sifatnya yang melasan dan disebabkan menjaga Hiat-ji, jadi ia belum sempat untuk membuka jalan darah Tio In.

Maksudnya, biarlah nanti tunggu kalau sang suami datang.

Dan sebab ini, pada kebalikannya, ia bakal mengalami derita.

Mendengar nada suara Siao-lan itu cukup ramah dan rupanya seperti hendak menunggu seseorang, legahlah hati Hiat-ji.

"Nona Tio sudah setuju menikah dengan aku. Kekasihnya itu adalah aku ini mengapa kau mengadu biru?"

"Ngaco be......", belum lagi Siao-lan sempat menyelesaikan kata2nya, Hiat-ji sudah gunakan kesempatan untuk buang dirinya kemuka hingga kini terlepas dari ancaman, tangan menekan Iantai, kedua kaki Hiat-ji menendang kesiku tangan Siao-lan. Saking tak menduga serangan secara tiba2 itu, senjata garu terlepas dari tangan Siao-lan dan terlempar keudara. Belum Siao-lan tersadar dari kesimanya, kembali kaki Hiat-ji bekerja dan bluk......, robohlah Siao-lan terkapar dilantai. Dua buah jurus tendangan yang digunakan Hiat-ji itu adalah menirukan gaya gumul dari orang Tibet. Hiat-ji enjot kakinya untuk melambung keatas, begitu pun Siao-lan juga lekas2 loncat keatas. Kini keduanya saling berebut hi-jat yang tengah melayang turun itu. Sebenarnya ilmu silat Siao-lan tak lemah. Tapi sejak pada 20 tahun yang lalu ia menikah dengan The Go, puaslah sudah rasa hatinya. Sewaktu The Go berhasil mendapatkan kitab pelajaran Tat Mo dan tiap hari ber-sungguh2 meyakinkan, satu kalipun Siao-lan tak pernah buang mata memperhatikan. Baginya, dengan memperoleh seorang suami yang di-idam2kan itu, itu sudah lebih dari cukup. Dalam ilmu silatpun berlaku axioma (dalil) "barang siapa berhenti berarti mundur". Demikian halnya dengan Siao-lan. Kepandaian Hiat-ji setingkat lebih atas dari ia. Ini jelas kelihatan sewaktu keduanya sama2 loncat berebutan senjata. Hiat-ji dapat meloncat lebih tinggi setengah meter darinya dan hijat sudah tentu dia yang dapat merebutnya. Dan selagi masih melambung diudara, Hiat-ji hantamkan hi-jat itu pada lawan. Dalam sibuknya. Siao-lan terpaksa berjumpalitan untuk menghindar. Tapi bagaikan seekor burung elang, Hiat-ji memburunya turun sembari kirim dua buah serangan. Salah sebelah bahu Siao-lan telah kena termakan ujung hi-jat. Sampai pada detik itu The Go masih belum muncul dan ini makin menggelisahkan Siao-lan. Dalam kebingungan ia berkelahi dengan kalap, namun penjagaan Hiat-ji terlampau kokoh untuknya. Dalam pertempuran yang berlangsung beberapa jurus itu, kembali Siao-lan kena disengkelit roboh. Pada saat itu muncullah bebrapa orang dengan menggotong sebuah tandu. Mereka memasukkan Tio In kedalam tandu terus dibawa pergi. Teringat Hiat-ji bahwa dalam. pertempuran digunung Sip-ban-tay-san tempo hari, secara gaib Siao-lan dapat meloloskan diri, jadi terang ada seorang kawan lihay yang membantunya. Kuatir hal itu terulang lagi, Hiat-ji undur selangkah kemudian dengan mengetuk seluruh tenaganya dia lemparkan hi-jat itu kearah lawan. Syukur Siao-lan dapat miringkan tubuh untuk menghindar, tring......., hi-jat itu menyusup masuk kedalam lantai. Teringat Siao-lan bahwa urusan yang dipaserahkan kepadanya oIeh The Go, masih belum selesai. Ber-gegas2 ia memburu keluar, tapi baik Hiat-ji maupun tandu tadi tak tampak sama sekali. la tinggalkan gereja Kong Hau Si situ untuk langsung menuju kegedung thayhu (residen). ---oooo---BAGIAN 20 . SIASAT SHIN HIAT JI Menengok keadaan Tay-keng, ternyata anak itu masih taat menunggui kakus. Lama kelamaan karena Hiat-ji tetap tak muncul, dia sangat gelisah. Tiba2 terdengar suara tak...., tok... mendatangi dia kiranya sipengemis jembel berkaki kayu itu lewat disitu. Pengemis itu berhenti dimuka pintu kakus dan menuding dengan tongkat kayunya.

"Hai, mengapa kau tegak seperti patung didalam kakus? A yuh, lekas keluarkan tahimu dan enyah, lo-ya hendak buang air juga!"

Sudah tentu Tay-keng marah besar. Maju selangkah dia angkat kakinya menendang ulu hati sipengemis.

"Astaga, jadi kau hendak memukul orang?!"

Seru sipengemis itu sembari lintangkan tongkatnya kemuka dada, bluk....., menggelosolah tubuh Tay-keng ketanah, auh....., auh....., huak...., huak......

Suara menguak itu bukan datang dari mulut Tay-keng, melainkan dari sipengemis jembel waktu Tay-keng terlempar jatuh kedalam kolam tahi.

Syukur Tay-keng cepat2 gunakan tangan untuk menahan dinding kolam, sehingga tubuhnya sampai mandi "minyak wangi".

Sekalipun begitu, tangannya berlepotan dengan benda kuning emas yang "harum"

Baunya itu. Masih Tay-keng belum sadar bahwa pengemis jembel itu adaIah The Go yang menyaru. Dia kira karena kurang hati2, tadi teIah terpeleset jatuh.

"Bangsat jembel,"

Mulutnya memaki dan siku tangannya meniodok dada The Go.

Benar semasa mudanya The Go itu seorang durjana culas yang licik.

Tapi sejak kedua kakinya buntung, dia insyaf akan kesalahannya.

Terhadap orang culas dan chianat, dia teramat benci.

Tay-keng pemuda bebodoran itu harus diberi hajaran yang layak.

Dia tak mau menghindar tapi dalam pada itu diam2 dia kerahkan lwekangnya kearah dada.

Begitu siku Tay-keng membentur dadanya, raganya seperti tersentuh Aliran listrik yang kuat voltagenya.

Lagi2 tubuh anak muda itu terhuyung kedekat kolam kotoran.

Untunglah berkat kelincahan, Tay-keng cepat gunakan gerak lin-eng-joan-soh (burung kenari menobros tali) untuk loncat jauh2.

"Siapa kau ini?"

Serunya.

"Dan kau sendiri ini siapa? Mengapa menunggui kakus?"

Balas bertanya The Go. Mendengar nada orang seperti mengandung sesuatu maksud, buru2 Tay-keng berkata.

"Aku bernama Tio Tay-keng, apakah cunke ini..........."

"Benar, ah kiranya orang sendiri. Cucu muridku tak sempat, ada aku yang datangpun sama saja. Mari ikut padaku!"

Sahut The Go.

"Pernah apa cunke ini dengan Shin Hiat-ji?"

Tay-keng bersangsi.

"Liat Hwat cousu itu kalau bukan muridku, siapa lagi dianya itu? Apa kau masih belum tahu?"

The Go deliki mata. Tay-keng terbeliak kaget, serunya.

"Siapakah gelaran cinpwe yang mulia ini?"

"Bu-kak-sian!"

Sahut The Go dengan ringkas.

Bu-kak-sian artinya si Dewa tanpa kaki.

Tadi Tay-keng telah membuktikan sendiri bagaimana lihaynya pengemis itu.

Benar tak tahu dia bagaimana kalau dibandingkan dengan Liat Hwat, tapi yang terang dia itu jauh lebih sakti dari Hiat-ji.

Dengan, masih setengah ragu2 dia ikut sipengemis jembel itu.

Tanpa berpaling kebelakang lagi, The Go langsung masuk kedalam gereja Kong Hou Si.

Sebenarnya memang dia sudah berjanji pada Siao-lan suruh membekuk Hiat-ji Begitu dia bawa Tay-keng kesana, nanti dihadapan Tio In, hendak dia lucuti kedok si Tay-keng itu.

Habis itu, dia hendak bawa anak itu kepada ayahnya (Tio Jiang) di Lo-hu-san.

Menjelang tiba didepan pintu gereja, timbullah kecurigaan Tay-keng.

Mengapa dia bawa aku kedalam gereja, demikian Tay-keng bertanya seorang diri.

Membarengi penuh sesak orang ber-duyun2 masuk kedalam ruangan gereja, dia sengaja perlambat jalannya sampai ketinggalan dibelakang, lalu memandang kearah perapian dupa disebelah sana.

Hai......, mengapa Tio In tak tampak?

Kecurigaannya makin tebal.

Sebagai seorang bakat durjana, diapun cukup pandai.

Benar ketika sipengemis jembel itu membentur dirinya, dia dapat cepat2 menyambar lagi gulungan kertas yang melayang jatuh Itu.

Tapi bukan mustahil, pengemis yang lihay itu dalam waktu sekejab itu dapat menukar gulungan kertasnya dengan lain macam gulungan kertas.

Ya....., siapa tahu!

Liat Hwat cousu adalah seorang guru besar dari daerah Tibet.

Namanya sangat termasyhur.

Andaikata benar dia itu masih mempunyai suhu, mengapa Hiat-ji tak pernah mengatakan padanya (Tay-keng)?

Memikir sampai disitu, buru2 dia menyelinap diantara orang banyak.

Oleh karena suasana dalam ruangan situ sangatlah hiruknya, jadi The Go sudah tak mengetahui akan hal itu.

Baru setelah dia melalui ruang besar dan berpaling kebelakang dia menjadi kaget demi tak dilihatnya Tay-keng.

Celaka, diam2 The Go mengeluh.

Dia yang biasanya selalu menyiasati orang, kali ini kena di pedayai oleh seorang anak muda macam Tay-keng.

Buru2 dia balik lagi keruangan besar, tapi setelah men-cari2 sampai lama tak dijumpai anak itu, terpaksa dia terus menuju keloteng tempat penyimpan kitab.

Tapi disitu, kecuali mayat siopas tadi, baik Siao-lan maupun Hiat-ji tak dijumpainya.

Kali ini kecerdasan otak The Go benar2 terbentur karang.

Turun kembali kebawah dia bertanya pada seorang paderi dan mendapat keterangan bahwa menurut pesan pengurus gereja, semua paderi dilarang menghampiri ruang tempat penyimpan buku itu.

Entah karena apa, hweshio itu tak tahu.

The Go memperhitungkan bahwa Tay-keng tentu hanya menyelinap diantara orang banyak, jadi belum pergi jauh, maka dia mulai mencarinya.

Kiranya anak itu bersembunyi dibelakang sebuah patung.

Kuatir kalau The Go nanti mencarinya, dia segera akan pergi.

Tapi tiba2 dari arah belakang terdengar seseorang berseru.

"Tio-heng....! Tio-heng.....!"

Untuk kegirangannya, ternyata yang memanggil itu adalah Hiat-ji "Shin-heng, mengapa kau suruh aku tunggu ditempat begituan dan sampai sekian lama kau tak datang?

Apakah Bu-kak-sian itu orang kita sendiri?"

Tanyanya seraya menghampiri. Bermula Hiat-ji tak mengerti apa yang ditanyakan kawannya itu, tapi setelah direnungkan sejenak, baru dia insyaf.

"Celaka!"

Serunya sembari banting2 kaki.

"Bu-kak-sian itu bukan orang Lo-hu-san, selama ini belum pernah aku melihatnya!"

Kata Tay-keng.

"Mengapa kau ngelantur begitu? Ku minta kedatanganmu diruang penyimpan kitab, mengapa kau datang kelain tempat? Hem...... terang ada orang yang mengacau. Adikmu datang keruang itu dengan membawa suratku, berarti rahasia kita ini sudah bocor. Sekurang2nya ada seorang yang sudah mengetahui rahasiamu!"

Kata Hiat-ji. Momok yang paling ditakuti Tay-keng, adalah adiknya sendiri. Dia kira tentu Tio In benar seperti yang dikatakan Hiat-ji itu, sudah mengetahui kedoknya.

"Ai, bagaimana ini ya..., bagaimana ini...?"

Serunya seperti orang menunggu vonnis (putusan peagadilan).

Sebaliknya diam2 kini Hiat-ji bersorak dalam hati.

Memang bermula dia masih kuatir, jangan2 Tay-keng tak sampai hati untuk melakukan rencananya yang keji itu.

Tapi setelah terdesak dipojok itu, terang Tay-keng tentu tak ragu2 lagi.

Dengan tersenyum iblis, Hiat-ji segera tarik tangan Tay-keng kesuatu tempat yang sepi.

"Shin-heng, rasanya aku harus mengikut kau kekota raja. Dikedua propinsi Kwiciu itu, sudah tiada tempat kakiku berpijak lagil"

Kedengaran Tay-keng seperti meratap.

"Ah, Tio-heng"

Hiat-ji tertawa dingin.

"susah...., susah..... Kau belum mempunyai pahala apa, bagaimana, kau bisa diterima dikota raja?"

Saking gelisahnya kepala Tay-keng basah dengan kucuran keringat, ujarnya.

"Shin-heng, kau harus menolong Aku!"

Melihat saatnya sudah tiba, berkatalah Hiat-ji.

"Adikmu sudah kututuk dan sekarang kusuruh bawa kegedung thay-hu. Pengemis yang menyebut dirinya Bu-kak-sian itu tentu konconya siwanita yang bergegaman hi-jat itu. Walaupun untuk sekarang kita tak tahu siapa mereka itu, tapi nanti kau tentu akan memperoleh keterangan dari leng-cun (ayahmu). Kini kita hanya mempunyai sebuah rencana. Dengan rencana itu bukan saja kau dapat terlepas dari kesulitan, pun akan membuat suatu pahala besar!"

"Harap Shin-heng lekas katakan rencana itul"

Kata Tay-keng sembari mengusap keringatnya. Tapi sebelum menjelaskan, lebih dahulu Hiat-ji melirik tajam2 kepada Tay-keng.

"Tapi ah....., kalau kau tak mau jalankan rencana itu malah akan runyam jadinya!"

"Jika tak mau menjalankan perintahmu, biarlah mayatku mati tak berkubur!"

Sahut Tay-keng sembari menunjuk pada langit dan bumi.

"Bagus!"

Kata Hiat-ji sembari merogoh keluar sebuah fles dari batu kumala.

"lekas pulang ke Lo-hu-san dan usahakanlah sedapat mungkin untuk meminumkan puyer dalam botol ini kepada ayah bundamu!"

Tay-keng menerima botol itu dengan tangan bergemetaran.

"Shin-heng, obat apakah ini?"

Tanyanya dengan suara parau.

Dengan pertanyaan itu, nyata nurani Tay-keng masih belum buta.

Dia masih kuatir jangan2 ayah bundanya akan meninggal secara mengenaskan sekali.

Fles obat puyer itu bukan lain adalah hong-sin-san, yang dirampas Hiat-ji dari dalam goa Kit-bong-to.

Dalam 3 hari 3 malam, binasalah orang yang meminumnya.

Sebelum meninggal, orang itu akan berobah buas seperti anjing gila, menyerang dan membunuh siapa saja yang dijumpai.

Obat itu terbuat dari ramuan busa air ludah anjing gila, harimau gila, ular gila dan lain2 bisa binatang.

Oleh karena itu pembuatannya sangat sukar sekali.

Sudah tentu Hiat-ji tak mau mengatakan terus terang pada Tay-keng, katanya dengan tertawa.

"Jangan kuatir, bukan obat racun melain obat bius saja. Dalam 7 hari 7 malam orang akan lupa daratan, tapi setelah itu akan pulih lagi seperti sediakala. Apabila ayah buadamu hilang kesadarannya, segera kau boleh keluarkan perintah bubarkan orang2 yang berkumpul di Lo-hu-san itu. Setelah kau dirikan pahala, boleh ikut aku kekota raja, baginda kaisar teatu akan menganugerahimu suatu kedudukan yang tinggi. Kalau hal itu sudah terwujut, ayah bundamupun tentu tak dapat berbuat apa-apa. Bagaimana, baik tidak rencanaku in!?"

Tay-keng kegirangan sekali dan Hiat-jipun segera menyuruhnya Iekas2 kembali ke Lo-hu-san.

Setelah itu, Hiat-ji lalu balik kegedung thay-hu.

Baru Tay-keng berjalan tak jauh, sekonyong-konyong dari sebelah muka terdengar orang.

berseru keras2.

"Bangsat busuk, kiranya kau berada disini!"

Astaga, si Bu-kak-sian! Kejut Tay-keng tak terkira, terus dia berputar kebelakang dan hendak melarikan diri tapi secepat itu si Bu-kak-sian sudah menghadang dimukanya.

"Adikmu, kemana ia?"

Hardik Bu-kak-sian. Pikir Tay-keng, supaya dapat lekas2 lolos, Iebih baik dia berkata terus terang. Maka diapun menyahut kalau Tio In sudah dibawa Hiat-ji kegedung thay-hu.

"Bagaimana kau mengetahuinya?"

Tanya The Go agak terkesiap. Tay-keng mengatakan kalau tadi baru saja dia berbicara dengan Hiat-ji.

"Dan kemana wanita yang membawa senjata hi-jat itu?"

Tanya The Go. Sebenarnya Tay-keng tak mengetahui dimana beradanya Siao-Ian, tapi untuk menyuruh The Go Iekas2 enyah dari situ, dia lalu memberi keterangan bohong.

"Wanita itu sudah ditawan oIeh Liat Hwat cosu dan dibawa kegedung thay-hu juga. Carilah lekas kesana!"

The Go terkesiap.

Diakhir ahala Lam Beng, perserikatan bajak lautan selatan itu terdiri dari 4 keluarga yaitu The, Ciok, Ma dan Chi.

Pengaruh mereka besar sekali.

Turun termurun mereka terikat perhubungan dan perkawinan.

Sejak kecil The Go sudah ditunangkan dengan Siao-lan.

Hanya karena The Go itu seorang pemuda buaya, maka dia sudah tak menghiraukan Siao-lan.

Adalah setelah kedua kakinya buntung, baru The Go mau juga menerima Siao-lan sebagai isterinya.

Duapuluh tahun lamanya kedua suami isteri itu menghuni di pergunungan Sip-ban-tay-san yang sunyi senyap dan memperoleh seorang anak tunggal yaitu The Ing.

Maka demi mendengar bahwa isterinya telah ditawan Liat Hwat, untuk sekian saat dia termangu2 tak tahu apa yang hendak diperbuatnya.

Begitulah tanpa berkata apa2, dia lalu berjalan pergi.

Dan Tay-keng yang tak kira bakal lolos sedemikian mudahnya, pun lalu meneruskan perjalanannya ke Lo-hu-san.

---oooo---BAGIAN 21 .

SAY HONG HONG BEK LIAN Sebagaimana kita ketahui tujuan kepergian The Go dan Siao-Ian dari Sip-ban-tay-san itu adalah karena hendak menolong puterinya (The Ing) yang ditawan wanita dalam goa itu.

Keras dugaan The Go bahwa wanita aneh itu adalah bekas kekasihnya dahulu yang dikhianatinya, yani Say-hong-hong Bek Lian.

Karena putus asa dan dendam, Bek Lian lolos dari dunia keramaian dan mengasingkan diri.

Juga Siao-lan sangat cemaskan keselamatan puterinya.

Begitulah setibanya di Lo-hu-san, The Go menebas dua batang puhun kecil seraya menghibur sang isteri.

"Tak usah cemas. Peribadi Bek Lian kucukup faham. Walaupun Ing ji dalam bahaya, asal ia dapat melihat gelagat tentu takkan kena apa2. Asal aku dapat berjumpa dengan ia (Bek Lian), Ing-ji tentu akan dilepaskanl"

Bagi Siao-lan kata2 suaminya itu adalah merupakan undang2 yang diindahkannya.

Tapi lembah tempat goa Bek Lian itu sangat terpencil sekali letaknya.

Hampir seharian mereka mencari, tetap belum menemukan.

Mereka percaya bahwa Tong Ko tentu tak berbohong maka mereka tetap lanjutkan penyelidikannya.

Tiba pada sebuah puncak yang menjulang tinggi, yakni puncak Giok-li-nia, terkenanglah The Go akan kejadian pada 20 tahun berselang.

Hatinyapun serasa tergetar.

Selagi mereka berdua tegak ter-longong2, tiba2 tampak 3 sosok bayangan berlari mendatangi dengan pesatnya.

Belum orangnya tiba, sudah terdengar salah seorang berseru keras.

"Hem.... Siau-beng-siang itu sungguh tak tahu diri Peng-se-ong mengutus kita kemari, tapi dia tak mengadakan sambutan apa-apa."

The Go terkejut mendengar itu.

Peng-se-ong adalah gelaran Go Sam-kui.

Mengapa dia mengutus orang kemari?

Buru2 ditariknya Siao-lan untuk diajak sembunyi.

Ketika dekat, ternyata yang berjalan disebelah muka itu adalah seorang yang mengenakan pakaian pembesar Ceng, sikapnya ke-angkuh2an.

Kawannya yang seorang bertubuh kate, mengenakan pakaian compang camping tetapi cukup bersih.

Dibelakang punggungnya menggendong sebuah holou (guci) besar.

Bebrapa kali dia ambil guci araknya itu dan meneguknya berkelutukan.

Tingkah lakunya menggelikan orang.

The Go terkesiap.

Pernah dia mendengar bahwa dalam kalangan persilatan daerah Hokkian ada seorang tokoh lihay macam begitu.

Tapi entah tak tahu dia siapa namanya.

Pula tak nanti tokoh itu mau berhamba pada pemerintah Ceng.

Adakah desas desus yang mengatakan bahwa Peng-se-ong Go Sam-kui itu berniat hendak memberontak itu benar adanya?

Sedang orang yang ketiga adalah seorang tosu (imam).

Dari gerak geriknya, dia itu seorang yang licin.

Orang yang dandanannya seperti pembesar itu berhenti dan berkata dengan dingin.

"Orang she Tio itu sungguh tak kenal tingginya langit. Sampai dikaki puncak sini masih tak mengirim sambutan! Aku tak percaya kalau Peng-se-ong sudi berserekat dengan gerombolan macam begitu!"

The Go jemu akan sikap congkak orang itu. Tapi pada saat itu sudah menyahutlah si kate tadi dengon olok2nya yang tajam.

"Co tayjin, mungkin namamu yang besar itu telah membuat mereka ketakutan dan tak berani turun gunung!"

Diam2 The Go geli juga akan sindiran si kate itu.

Tapi si Co tayjin itu sendiri rupanya tak mendengarnya.

Adalah si imam yang tampak keruntukan kening dan mengisiki pada Co tayjin.

Co tayjin deliki mata kepada si kate kurus itu, siapa tak menghiraukan dan melainkan enak2 meneguk gucinya.

The Go tetap diam saja untuk menantikan perkembangan mereka.

Lewat sejurus kemudian, rupanya Co tayjin itu tak sabaran lagi, dan menghamburlah makian lagi dari mulutnya.

"Oleh karena orang she Tio tak mengirim orang, ayuh kita naik keatas saja. Nanti bila bertemu muka, biar kudampratnya!"

Buru2 si imam menyambuti.

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 11

Baca Juga: Hong Lui Bun 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger