Eps 4 Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen
Baca online Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen
Cersil Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen.
"Tayjin memang benar. Gerombolan orang2 persilatan macam itu, karena mengandalkan ilmu silatnya lantas tak pandang mata pada orang lagi, sungguh men.........."
Sebenarnya dia hendak memaki "menjemukan", tapi pada saat itu si kurus sudah melirik kearahnya dan tiba2 berbatuk huk...., huh..., cuh.......
segumpal ludah meluncur dari mulutnya dan tepat sekali singgah kepipi si imam.
Imam itu tersentak kaget.
Bermula dia tak tahu, tapi serta tangannya mengusap ternyata pipinya sudah berpupuran ludah kental.
Raut mukanya menampilkan kemarahan, tapi justeru begitu, makin menggelikan kellhatannya.
"Ai ......maaf, Toya! Karena tenggorokanku terasa gatal, tanpa dapat kucegah lagi aku telah batuk. Se-kali2 tak sengaja berlaku kurang ajar pada toya, harap jangan gusar!"
Seenaknya hati saja si kate kurus itu menghibur kemengkalan si imam.
Sudah tentu si Imam tak mandah diperlakukan begitu.
Maju selangkah dia menjotos si kate.
Diam2 The Go terkejut melihat gaya serangan si Imam yang cukup berat itu.
"Hai, itulah pukulan lui-tin-cio (pukulan geledek). Biarpun dia sengaja menyembunyikan tapi tetap suaranya yang seperti geledek menyambar itu kedengaran jelas. Jangan2 dia itu adalah kepala biara Sam Ceng Kiong di Gunbing yang bergelar Lui-tin-sin-ciang Gwan Liong totiang?"
Demikian The Go menimang2 dalam hati.
Kelima jari imam itu dicengkeramkan sedikit dan sekali dihantamkan kemuka, maka jari2 itu terpentang semua.
Sambaran anginnya, sedikit lebih pelahan dari halilintar, menindih si kurus.
Orang kurus itupun terkejut.
Matanya membeliak tak tahu apa yang hendak diperbuat.
Nyata batok kepala si kurus itu tentu akan hancur lebur dan untuk itu The Go serta Siao-lan sudah siap hendak loncat keluar menolongnya.
Se-konyong2 si kurus itu terpeleset jatuh kesamping, gayanya macam orang mabuk, namun tepat sekali dapat menghindari hantaman si-imam tadi.
Krek......, secepat kilat jari tengah tangan kanan si kurus itu menutuk lambung si-imam pada jalan darah yang-ke-hiatnya.
Baik ilmunya maupun kecepatannya, telah membuat The Go kesima.
Bermula si-imam tadi hendak lancarkan pukulannya yang kedua, tapi serta lambungnya tertutuk, tangannya pun terkulai kesamping dan menyampok orang ketiga yang dibahasakan "Co tayjin"
Tadi.
"Toya, tahan, jangan melukai Co tayjin !"
Seru si kurus sembari masih sempoyongan.
Imam itu sendiri bukan kepalang kagetnya.
Dia hendak menghajar si kurus, mengapa diluar kemauannya, pukulannya nyasar kearah Co tayjin ?
Tapi untuk menarik kembali, terang sudah tak sempat lagi.
Plak....., tahu2 muka si Co tayjin tadi mendapat persen.
Aduh mak, sakitnya bukan kepalang !
Bagi The Go apa yang telah terjadi itu jelaslah sudah kiranya.
Gaya sempoyongan yang diperlihatkan oleh si kurus itu adalah ilmu cui-pat-sian (8 dewa mabuk) yang sempurna.
Kalau demikian teranglah si kurus itu tokoh yang digemari sebagai "cui kui"
Si setan pemabukan Jui Wi.
Tokoh persilatan yang luar biasa itu, hendak mempermainkan si-imam dan Co tayjin rupanya.
Tapi anehnya, mengapa dia turut dalam rombongan mereka ?
"Hai, mengapa kau menampar mulut Co tayjin?
Co tayjin adalah orang kepercayaan nomor satu dari Peng-se-ong.
Kalau kau memukulnya, berarti memukul Peng-se-ong.
Jangan tanya dosamu ya !"
Teriak si kurus dengan deliki mata kearah si-imam.
Wajah si-imam menampil ketakutan yang hebat, sedang si Co tayjin yang tengah menahan kesakitan karena separoh mukanya benjul begap, belum dapat berkata apa-apa, kecuali mendekapnya dengan tangan.
Berselang berapa lama, barulah Co tayjin turunkan tangannya dan menjerit keras.
"Co tayjin, pinto telah kesalahan tangan, Co tayjin . maaf !"
Tersipu2 si-imam menghampirinya seraya meratapkan maaf.
Disamping geli melihat adegan itu, diam2 The Go juga heran melihat kelakuan si-imam itu.
Imam tersebut atau Gwan Liong totiang, The Go belum jelas bagaimana pribadinya.
Tapi kelakuannya yang sedemikian memalukan itu, sungguh tak patut.
Jadi meskipun dia faham ilmu pukulan lui-tin-chiu (pukulan geledek), tapi terang dia bukan Gwan Liong totiang.
Rupanya Co tayjin itu belum mencium bau permainan si kurus tadi, maka kecuali hanya mendeham hidung, dia tak mendamprat si-imam itu lagi.
Kalau si-imam longgar napasnya karena terbebas dari hambur makian, adalah si kurus iang ketawa cekikikan sembari memerintah lagi .
"Co tayjin telah memberi ampun, mengapa kau tak berlutut menghaturkan terima kasih ?"
Kini tampak si Co tayjin itu keruntukan halis, ujarnya .
"Jui tayhiap, Peng-se-ong telah tugaskan kami bertiga kemari, untuk itu kita bertiga harus bersatu padu, jangan bertengkar sendiri !"
"Hi, bagaimana ni ? Aku membelamu, sebaliknya kau sesali aku ?"
Seru Jui Wi tayhiap.
Co tayjin alihkan pembicaraan, menyatakan bahwa karena orang Lo-hu-san tak datang menyambut, sebaiknya mereka naik terus keatas saja.
Begitulah mereka bertiga lalu mendaki keatas.
Co tayjin disebelah depan, si-imam mengikuti dibelakangnya sedang si kurus tadi tetap ber-ingsut2 jalan se-enaknya saja.
Setelah mereka jauh, barulah The Go tarik Siao-lan keluar, katanya ."Mereka orangnya Go Sam-kui dari Hunlam, ayuh kita ikuti keatas !"
Tapi Siao-lan membantah .
"Peduli apa mereka itu orangnya Go Sam-kui atau Go liok-kui, yang penting kita harus cari Ing-ji lebih dahulu !"
Dalam hati kecilnya, The Go ingin sekali mengetahui apa maksud kedatangan orang-orangnya Go Sam-kui itu, tapi karena dia tak mau mengecewakan hati isterinya terpaksa dia menurutinya.
Begitulah mereka berdua lalu melanjutkan penyelidikannya digunung Lo-hu-san situ.
Tapi sampai keesokan harinya, tetap tak berhasil.
Sebagai seorang ibu, sudah tentu Siao-lan gelisah bukan main, maka The Go pun coba menghiburnya.
Selagi sepasang suami isteri itu melepaskan lelah ditepi sebuab sungai kecil, tiba2 dari arah belakang terdengar suara ribut2.
Ketika mereka berpaling didapatinya ada seorang tengah berlari-larian mendatangi dengan pontang panting, seperti orang diburu setan.
Pakaiannya koyak, tapi jelas kelihatan kalau pakaiannya itu adalah pakaian pembesar Ceng.
Ketika diperhatikan, astaga itulah Co tayjin, ......
Co tayjin yang kemarin malam berlagak sedemikian angkuhnya.
Sembari berlari, tak henti-hentinya dia berpaling kebelakang sembari berteriak2.
"Hohan....., ampunilah ! Hohan......, ampunilah !"
Buru-buru The Go tarik Siao-lan diajak bersembunyi kedalam semak2.
Bluk......, kedengaran Co tayjin itu rubuh ditepi sungai tak dapat bangun lagi.
Pada lain saat, seorang lelaki tinggi besar muncul dengan mencekal sebatang ruyung.
Amboi, itulah si berangasan Kiau To, ji-ahko Thian Te Hui.
Sudah tentu The Go dan Siao-lan cepat dapat mengenalinya.
Kiau To sudah angkat jwan-pian untuk menghajar si Co tayjin, atau sekonyong-konyong muncullah seseorang berseru mencegahnya .
"Kiau-heng, jangan.....!"
Sembari angkat guci araknya, bluk......, terhindarlah Co tayjin dari gebukan ruyung itu, berkat guci arak orang itu yang bukan lain adalah Ciu-kui Jui Wi.
Cuh......., Kiau To meludahi Co tayjin, makinya .
"Kalau tak memandang muka Jui tayhiap, tentu kamu kuhajar babak belur. Huh......, bangsa kutu busuk mau jual lagak pembesar. Orang Lo-hu-san tak sudi melihat macam begitu2-an !"
Co tayjin ber-ingsut2 sampai bebrapa langkah baru berani berbangkit. Tepat pada saat itu, si-imam yang pandai ilmu lui-tin-kangpun tiba. Buru2 dipapahnya Co tayjin terus diajak lari.
"Kiau-heng, bukannya menyalahkanmu, tapi apabila Siau-beng-siang kembali, dia tentu menyesali tindakanmu tadi !"
Kedengaran Jui Wi menghela napas.
"Mengapa ..... ? Apakah orang begituan tak pantas dihajar ? Semalam, mengingat dia adalah utusan Go Sam-kui, aku dan Ki toako telah menyambutnya dengan hormat. Tapi tadi pagi2, sewaktu aku menjenguk kedalam kamarnya, dia bilang sangat lelah dan suruh aku memijatinya. Hem......., kalau mendiang Nyo Kong Lim masih ada, dia tentu sudah menghajarnya mampus !"
Kiau To menyomel.
"Ya, orang macam begitu memang harus dihajar, tapi kalini kau telah menyakiti hati dua orang tokoh penting !"
Kata Jui Wi.
"Siapa mereka itu ?"
"Kaum persilatan mengatakan kalau Kiau loji itu berangasan, dan ini memang berbukti,"
Sahut Jui Wi dengan tertawa.
"salah seorang dari mereka adalah, suhu dari imam itu yakni Lui-tin-sin-ciang Gwan Liong totiang !"
Kiau To terkesiap, serunya .
"Tidak, Gwan Liong totiang adalah cianpwe yang saleh. Pernah beliau dengan suhuku Tay Siang siansu merundingkan soal-soal keagamaan terus menerus sampai 3 hari 3 malam. Suhu mengatakan, Gwan Liong totiang adalah sahabatnya yang paling karib, masakan dia mau menggubris omongan imam itu ?"
"Ah......, kau tak mengetahui asal usulnya. Imam itu bernama Ma Ki, anak seorang hartawan di Hunlam. Gwan Liong totiang pernah jatuh sakit keras rebah didepan pintu hartawan itu. Berkat pertolongan hartawan Ma itu, tertolonglah jiwa Gwan Liong totiang. Kemudian dalam suatu huru hara, rumah tangga hartawan Ma berantakan. Gwan Liong totiang membalas budi, ajak Ma Ki kebiara Sam Ceng Kuan di Kunlun dan menerimanya sebagai murid. Gwan Liong totiang mempunyai kelemahan, yakni bertelinga tipis (tak tahan dihina). Apabila nanti Ma Ki mengadu, benar Gwan Lion totiang tak berani terang-terangan memusuhi kita, tapi diam2 dia tentu mendendam !"
Kiau To merenung sejenak lalu berkata.
"Tak apalah, karena Gwan Liong totiang itu tak mau campur urusan duniawi lagi. Dan siapakah orang yang kedua itu?"
"Go Sam-kui, sudah tentu"
Sahut Jui Wi.
"Co tayjin atau Co Kong-liok itu adalah orang kepertiayaan kesatu dari Go Samkui. Mendapat hinaanmu tadi, sudah tentu dia penasaran. Benar dewasa ini Go Sam-kui bermaksud hendak berpaling haluan, tapi seperti kita ketahui, dia adalah musuh rakyat Han nomor satu yang telah memimpin orang Ceng merampas tanah air kita. Dia mempunyai pasukan kuat. Apabila dia jadi menentang pemerintah Ceng, itulah suatu bantuan besar bagi perjoangan kita. Menilik hal itu, tak seharusnya kau gegabah membikin sakit hatinya!"
Biasanya tokoh Jui Wi itu, aneh sekali gerak geriknya, gemar memper-olok2 orang.
Tapi kalini dia bicara dengan wajah dan nada yang ber-sungguh2.
Setelah mendengarinya sampai sekian saat barulah kedengaran Kiau To membuka mulut.
"Kalau Tio Jiang pulang, biarlah aku menerima dampratannya!"
"Bagus!"
Seru Jui Wi sembari tunjukkan jempolnya.
"Itulah ucapan seorang lelaki jantan. Kemengkalan hatiku selama mengikuti kedua orang ini, hari ini baru dapat obat penawarnya!"
Sembari pasang omong dengan gembira tawa, mereka berdua lalu naik kepuncak Giok-li-nia lagi.
"Siao-lan!"
Seru The Go dengan rawan kepada sang isteri. Dan setelah isterinya mengiakan, kembali The Go berkata.
"Siao-lan, karena kesesatanku semasa muda, aku telah melakukan banyak sekali kejahatan. Setelah sepasang kakiku kutung barulah aku insyaf. Benar aku telah mengunjuk jasa membantu menemukan harta karun digereja Kong Hau Si, tapi apabila jasa itu dibanding dengan kejahatan yang telah kulakukan sungguh belum sembabat. Kalau dewasa ini Peng-se-ong Go Sam-kui sungguh2 mau bergerak, ah......, disitulah kesempatanku. Kubermaksud,...."
"Kau bermaksud hendak menasehati Go Sam-kui supaya jangan berbanyak hati lagi untuk melaksanakan cita2nya menentang pemerintah Ceng bukan?"
Tukas Siao-lan The Go menggukkan kepala. Tapi saat itu wajah Siao-lan menampil kemuraman.
"Apa yang kau kehendaki, aku selalu menurut saja. Tapi permintaanku supaya menemukan Ing-ji dahulu!"
Rencana The Go ialah hendak membunuh Tio Kong-liok, kemudian pergi menghadap Peng-se-ong di Gun-bing.
Dengan begitu hilanglah sebuah rintangan iang menghalangi terlaksana cita2 Go Sam-kui itu.
Tapi pada saat itu, dia harus menemukan puterinya dahulu.
A h, dia memiliki ilmu berjalan cepat yang sempurna, lebih dahulu mencari The Ing baru kemudian menyusul Co Kongliok, rasania masih belum terlambat.
Demikian The Go mengambil keputusan.
"Baiklah!"
Dia memberi penyahutan kepada Siao-lan.
Mereka lalu lanyutkanpenyelidikannya lagi.
---o0-dwkz_kupay-0o---Setelah hampir setengah harian menjelajah daerah situ, barulah mereka tiba di goa rahasia tempat persembunyian si wanita aneh.
Sembari berseru memanggil nama puterinya, Siao-lan menerobos masuk kedalam air terjun, The Go mengikutinya.
Keadaan disitu tepat seperti iang diceritakan Tong Ko, namun anehnya hanya kawanan kelelawar yang beterbangan digoa situ, tiada barang seorang manusiapun.
Kegelisahan Siao-lan yang dialaminya berhari2 ini memikirkan keselamatan The Ing, cukup hebat.
Kini sewaktu tak didapatinya sang puteri, ia segera mendekap kebahu suaminya seraya menangis tersedu sedan.
"Kalau tak bertemu Ing-ji, aku bersumpah tak mau pulang!"
The Gopun cemas, dia berdiri ter-longong2.
Tiba2 dirasanya selain tangis Siao-lan, disebelah sama seperti kedengaran ratap tangis seseorang lain.
Ah, Tong Ko pernah mengatakan bahwa goa itu banyak sekali ruangannya, mungkin dia belum memeriksanya habis.
Cepat dia suruh Siao-lan berhenti menangis.
Benar juga walaupun lemah samar2, namun isak tangis orang itu memang ada.
"Ing-jikah?"
Serentak Siao-lan berteriak dengan girang.
Tapi The Go yang lebih tajam petidengarannya tahu kalau itu adalah nada tangis seorang lelaki yang samar2 seperti memanggil seseorang lain.
The Go pasang telinga betul2.
Tapi ketika dia berpaling mengawasi Siao-lan, dilihatnya wajah sang isteri itu seperti orang terpesona.
"Siao-lan kau kenapa?"
Siao-lan gelagapan.
"Ai, tadi sepertinya aku mendengar Ing-ji memanggil aku, tapi begitu kau menegur, mengapa suaranya hilang?"
Sahutnya dgn heran. Kini tak ragu2 lagilah The Go, cepat disuruhnya sang isteri menyalurkan lwekang untuk menutup semua jalan darahnya.
"Jangan melamun, terutama jangan terkenang akan Ing-ji. Suara tangis itu dari tempat jauh. Kalau tak salah itulah yang dibilang "A-siu-lo-pit-mo-biau-im"
Semacam ilmu sihir untuk mengikat semangat orang.
Ilmu jahat itu dapat membikin linglung orang dan dengan tak sadar masuk kedalam perangkapnya.
Tapi ilmu itu sudah lama menghilang, mengapa kini ada orang yang menggunakan lagi?
Ayuh, kita kesana meninjaunya, mungkin ada sangkut pautnya dengan "Ing-jil"
The Go ajak isterinya menyusup kebagian dalam yang ber-liku2 itu.
Tiba diujung lorong goa dan membiluk sebuah tikungan tiba2 tampak ada penerangan dan suara tangis itupun terdengar jelas.
Nada tangisan itu aneh benar, setempo melengking menyayat hati, setempo lincah macam orang tertawa.
The Go robek bajunya sedikit, setelah dibasahi dengan ludahnya lalu disumbatkan ketelinga Siao-lan.
Setelah itu, dia memotes sebatang dahan, lalu menuju ke goa itu.
Dimuka pintu goa itu penuh ditumbuhi dengan alang2 gelagah yang setinggi orang, sehingga sepintas pandang goa itu tak kelihatan dari luar.
Begitu memandang kesebelah luar, tampak pada sebuah batu pesegi seluas 3 tombak yang terletak dipinggir sebuah puhun hwe, duduk seorang lelaki bertubuh gemuk, Wajahnya aneh tengah menangis tersedu sedan tapi setetespun tiada mengucurkan air mata.
Dihadaparnya duduk pula seorang hweshio tua sembari mencekal tongkat timah.
Wajah hweshio itu agung bagai seorang Buddha hidup.
The Go cepat mengenal hweshio ini sebagai Tay Siang siansu, itu kepala gereja Liok-yong-si di Kwiciu yang sakti.
Terang kalau siorang gemuk tadi tengah menangisi Tay Siang siansu dan nyatalah pula kalau dia itu bukan tokoh dalam kalangan persilatan daerah Kwiciu.
Kalau tidak, masakan dia berani keluarkan ilmu iblis dihadapan siansu sakti itu.
Tay Siang telah mendapat kesempurnaan, baik dalam pelajaran keagamaan maupun dalam ilmu silat.
Sudah tentu segala macam ilmu hitam begitu2an, tak mempan terhadap dirinya.
Tak tahu The Go entah sudah berapa lama kedua tokoh itu mengukur kepandaian disitu dan adakah mereka itu mengetahui jejak The Ing.
Yang diketahuinya jelas, wanita aneh yang menawan puterinya itu tentulah Say-hong-hong Bek Lian, jelita yang dia lukai hatinya itu.
Maka walaupun dia bisa menghiburi Siao-lan, tapi dia sendiri sebenarnya cemas tak keruan.
Kemungkinan Bek Lian membalas dendam terhadap The Ing pun bukan tidak mustahil.
Setelah memandang beberapa jurus, dia membetot serumpun akar rotan dan sekali tongkat dahan puhun tadi ditutukkan ketanah, The Go pun muncul keluar.
Si gemuk tadi tengah meramkan mata.
Begitu terdengar ada suara, dia segera membuka mata mengawasi kearah The Go.
The Go terkesiap kaget melihat pancaran sinar mata si gemuk yang luar biasa itu.
Tahu kelihayan orang, The Go tak mau memandangnya lagi, tapi se-olah2 tertarik oleh besi sembrani, dia terpaksa beradu pandang dengan si gemuk.
Apa boleh buat, buru2 dia pusatkan perhatiannya.
Kira2 sepeminum teh lamanya, kembali si gemuk menangis lagi.
Nada tangisnya itu menyusup kedalam telinga The Go dan tergetarlah perasaannya.
The Go terkesiap kaget.
Untung dia sekarang sudah tinggi lwekangnya, berkat ketekunannya belajar sedari menjadi orang cacad.
Namun betapapun dia kerahkan lwekangnya, tetap telinganya dibisingkan oleh tusukan tangis si gemuk itu.
Lewat setengah jam, tenaganya sudah diperas sebagian besar, jauh melebihi lelahnya dari bertanding dengan seorang jago lihay.
Ah, itu mati sia2 namanya.
Tanpa ragu2 lagi, dia melangkah maju 2 tindak dan secepat kilat dia tusukkan ujung tongkat dahan puhun kejalan darah su-hiat-hiat dipipi orang itu.
Namun si gemuk itu tampak tenang2 saja, masih enak2 berdiam diri.
The Go terkesiap melihat sikap orang itu dan gerakannyapun agak lamban.
Tahu2 si gemuk itu berkisar kesamping hingga tusukan The Go menemui tempat kosong.
The Go makin terperanjat.
Gerak penghindaran orang itu, disebut 'kian-gun-toa-na-i-hwat', yalah suatu ilmu lwekang yang teratas kesempurnaannya.
Terang orang itu tak mau mencelakainya, karena asal membalas, dia (The Go) pasti celaka.
Diam2 dia mengeluh.
Duapuluh tahun dia berjerih payah meyakinkan kepandaian, tapi sekali digunakan dia bertemu dengan seorang sakti begitu.
Namun karena sudah terlanjur bergerak, dia tak mau setengah jalan.
Kemball dia menusuk kearah jalan darah su-hiat-hiat si gemuk lagi.
"Harap sicu jangan turun tangan. Lo-ceng masih mempunyai perhitungan yang belum selesai dengan dia. Orang luar dilarang campur tangan, harap sicu mundur saja!"
Tiba2 kedengaran Tay Siang siansu berseru dengan nada yang bening nyaring.
The Go percaya bahwa, tentu ada sebabnya hweshio sakti itu mengatakan begitu.
Sekali gentakkan ujung tongkat ketanah, dia melesat setombak jauhnya dari gelanggang situ.
"Mohon tanya adakan kiranya siansu berjumpa dengan seorang wanita setengah umur membawa seorang gadis ditempat ini?"
Tanyanya.
Tay Siang siansu tak mau menyahut.
Tadi sewaktu siansu itu berseru, dengan cepatnya si gemuk segera tujukan tangisannya ke arahnya (Tay Siang), The Go mengetahui akan hal itu, tapi tidak dengan Siao-lan yang segera tampil kemuka dan berseru menegur.
"Siansu, apa kau masih ingat padaku? Duapuluh tahun yang lalu aku telah berhutang budi padamu karena telah menolong jiwaku ketika digereja Kong Hau Si. Tapi kini kalau tak menemukan Ing-ji, akupun lebih baik mati sajal Siansu, mengapa kau tak mau menjawab?"
The Go percaya kalau siansu itu tahu dimana beradanya The Ing, tapi dia belum mau menerangkan karena masih menghadapi orang gemuk itu.
Maka dia menyuruh Siao-lan bersabar sampai si gemuk itu enyah dari situ.
Ho....., jadi si gemuk itulah yang menjadi gara2 Tay Siang siansu tak mau menjawab.
Kalau menunggu, mungkin 8 sampai 10 hari belum tentu bisa selesai.
Dilihatnya si gemuk itu tiada suatu apa yang luar biasa, kecuali nada tangisnya yang aneh.
"Tay Siang siansu, orang gemuk ini memang menjemukan, biar kubantumu mengusirnya!"
Tanpa banyak pikir lagi Siao-lan lalu menyerang dengan garunya.
"Siao-lan, jangan!"
Teriak The Go.
"Tahan!"
Seru Tay Siang.
Tapi Siao-lan sudah terlanjur menusuk.
Serentak berhenti si gemuk menangis, sekali gerakan sepasang tangannya dia dapat.
menangkap garu Siao-lan Dengan tertawa gelak2, berbangkit dia seraya berseru.
"Tay Siang hweshio, apa katamu lagi?!", lalu menarik garu itu dari tangan Siao-lan siapa terpaksa melepaskannya. Tay Siang siansupun tampak berbangkit menghela napas.
"Ah, kalah menang sudah nasib! Tapi tetap kuharap kau suka robah sepak terjangmu. Aku tak mau mengganggumu lagi, tapi kelak tetap ada orang yang mengurusimu Dimana kejahatan sudah mencapai ukurannya disitulah timbulnya pembalasan, pergilah!"
Tanpa berkata apa2, orang itu segera berputar kebelakang terus ngacir pergi.
Gerakannya tampak lambat2 saja, namun kecepatannya bukan kepalang.
Sekejap saja dia sudah jauh sekali.
Itulah ilmu gin-kang dari kian-gun-toa-na-i-hwat yang sakti.
Tahu apa yang diartikan oleh ucapan Tay Siang siansu tadi, buru2 The Go mintakan maaf untuk isterinya.
Tapi belum habis kata2nya atau siansu itu sudah menukasnya.
"Kemauan nasib sukar dirobah. Sicu tak usah berbanyak kata, kedua orang yang kau tanyakan itu, aku memang pernah melihatnya.........."
"Dimana?"
Serentak Siao-lan memutus kata2 orang tanpa bersabar lagi.
"Beberapa hari yang lalu, mereka berdua bertempur dengan seorang tua gemuk pendek. Orang tua kate itu lebih lihay sehingga wanita setengah umur itu menderita luka2 parah. Karena aku sedang mempunyai urusan penting, jadi tak dapat memberi bantuan. Mereka berdua lari mengitari kebalik gunung sanal"
Hendak Siao-lan menegas lebih jauh, tapi dengan kebutkan lengan jubahnya siansu itu sudah melesat jauh.
The Go duga, bahwa yang dimaksud dengan 'urusan penting' itu, tentulah menunjuk orang gemuk yang memiliki ilmu tangis lwekang hebat tadi.
Seorang imam suci macam Tay Siang siansu betapapun jahatnya orang itu namun kalau terluka berat, hweshio itu pasti tetap akan mau menolongnya.
Tapi dia ternyata Iebih.
memperhatikan siorang gemuk tadi.
Jadi bagaimana pentingnia orang gemuk tadi, kiranya sudah jelas bagi The Go.
Tadi Tay Siang siansu mengatakan 'sudah nasib', makin menunjukkan pentingnya urusan itu.
Tapi kini siansu itu sudah berlalu, tak dapat dimintai maaf lagi.
Waktu berpaling The Go dapatkan Siao-lan sudah tak berada didekatnya tapi jauh disebelah tikungan sana, hendak menuju kebelakang gunung.
Terpaksa The Go menyusulnya.
Dibalik gunung itu ternyata terdapat rimba kecil.
Hati mereka berdebar ketika tampak ada sepotong baju bergelantungan pada sebuah puhun.
Rupanya baju itu hendak dijemur.
Melihat baju itu adalah baju puterinya tak ragu2 lagi Siao-lan segera meneriakinya.
Baru dua tiga ia me-manggil2, muncullah dari balik semak puhun seorang gadis yang bukan lain The Ing adanya.
Saking girangnya, Siao-lan sampai tegak membisu seperti patung, air matanya bercucuran.
"Ya..., mah....aku tak kurang suatu apa, tapi lekaslah tolong aku. Nona Bek sudah bebrapa hari ini menderita luka parah, aku tak dapat mengobati, ah...... benar2 aku cemas sekali!"
Seru The Ing dengan gugupnya.
Mendengar puterinya menyebut 'nona Bek', makin berat dugaan The Go bahwa wanita aneh itu tentulah nona yang pernah disakiti hatinya pada 20 tahun yang lalu, Tak kunjung habis sesalnya dan dia tak ada muka untuk bertemu dengan nona itu lagi.
Namun kalau tak menemuinya, berarti dia tetap menanggung kesalahannya itu.
"Ia berada dimana?"
Dia buru2 menegas.
Sebenarnya dengan Bek Lian Siao-lan itu adalah saingan.
Dulu karena ter-gila2 dengan nona itu, maka The Go telah menolak kasihnya (Siao-lan).
Tapi kini setelah diketahuinya nona itu sakit berat, hilanglah rasa dendamnya.
Buru2 ia ikut The Ing masuk kedalam rimba.
Pada tumpukan daun, tampak berbaring seorang wanita setengah umur, sepasang matanya setengah meram dan mulutnya meng-erang2 kesakitan Masa 20 tahun tetap tak mengaburkan ingatan mereka.
Sekalipun sudah menanjak usia pertengah umur, namun kecantikan Bek Lian tetap mempesonakan.
"Lian-moay...., Lian-moay.....!"
Tak kuasa lagi The Go menahan jeritan hatinya menampak bekas kekasihnya dalam keadaan sedemikian rupa.
"Yah, beberapa hari yang lalu nona Bek masih sadar, tapi kini ia sudah tak ingat suatu apa lagil"
Menerangkan The Ing. The Go menanyakan, Bek Lian terluka dibagian mana. Sahut The Ing.
"Aku dibawanya kedalam goa......"
"Hal itu Tong Ko telah menceritakan semua, lekas katakan di bagian mana lukanya itu sajal"
Tukas The Go.
"Yah, kau sudah bertemu dengan Tong Ko? Dimana dia sekarang?"
Nona itu malah lupa menerangkan berbalik bertanya.
Melihat puterinya begitu memperhatikan sekali akan anak muda itu dan bahkan dari sinar matanya memancarkan tanda2 timbulnya rasa kasih, The Go keruntukan keningnya.
Dia hanya menyahut ringkas kalau Tong Ko berada dirumah.
"Ketika berada didalam goa, tiba2 ada seorang tua kate menorobos masuk. Nona Bek bukan tandingannya, syukur aku keburu membantu dan dapat menyelamatkan jiwa nona Bek. Ia terluka dibagian mana, aku sendiripun tak tahu Bebrapa hari yang lalu ia mengatakan kalau dirinya itu orang she Bek. Pada 20 tahun yang lalu ia telah dikhianati cintanya oleh seorang pemuda, dan sejak itu ia mengasingkan diri. Dari waktu menawan aku, kini sikapnya terhadap aku berobah baik. Karena takut kesamplokan dengan setan kate itu, terpaksa kami bersembunyi disini. Tapi lukanya dari hari kesehari makin beratl"
Kata The Ing. The Go memeriksa dan dapatkan pernapasan Bek Lian sangat lemah. Dia memasukkan beberapa butir pil kedalam mulut Bek Lian.
"Ing-ji, apakah kau pernah mengatakan namaku kepadanya?"
Tanya The Go.
The Ing menyatakan tidak.
Pil yang diberikan The Go itu, adalah ramuan obat yang dibikinnya sendiri dari daun obat2an digunung Sip-ban-tay-san.
Lewat beberapa saat kemudian, Bek Lian tak kedengaran mengerang kesakitan lagi.
"Ing-ji, maukah kau membantu ayah?"
Tanya The Go kepada puterinya.
The Ing terkejut heran.
Belum pernah selama ini sang ayah mengucap kata2 yang sedemikian sungkannya.
Buru2 la mengiakan.
Lebih dahulu The Go menatap kearah wajah isterinya dan berkata dengan berbisik.
"Siao-lan, mungkin kaupun tahu bagaimana aku telah, mempersakiti hati Lian-moay. Maksudku, biarlah Ing-ji merawatinya disini sampai sembuh. Mungkin dengan memandang muka Ing-ji, nantinya Lian-moay tentu akan menghapus dendamnya itu. Bagaimana pendapatmu?"
Bermula Siao-lan cemas sekali kalau2 puterinya itu akan dijadikan bulan2 tempat Bek Lian menumpahkan dendam penasarannya.
Tapi serta kini sang puteri tak kurang suatu apa, iapun menurut saja akan maksud suaminya itu.
"Ing-ji, aku dan mamahmu masih ada urusan penting ke Hunlam. Kau tinggal disini merawati nona Bek. Kutinggali 49 butir pil, tiap hari boleh kau minumi 7 butir. Kelak kalau ia sudah sembuh, kau harus menurut padanya jangan bikin sakit hatinya. Maukah kau melakukan permintaan ayah ini?"
Walaupun heran namun The Ing mengiakan juga.
"Dan masih ada suatu hal lagi. Jangan se-kali2 sebut namaku dihadapannya, ya!"
"Mengapa yah?"
Kini tak dapat lagi The Ing menahan keherannya.
"Ing-ji, kelak kau tentu mengetahui sendiri. Lebih dahulu jawablah mau tidak kau meluluskan permintaanku tadi?"
Jawab The Go. Perangai The Ingpun keras, tapi demi dilihatnya sang ayah bersungguh2, terpaksa ia tak berani membantah.
"Terhadap Tong Ko, kelak kau jangan terlalu rapat hubunganmul"
Kata The Go pula. Apapun perintah ayahnya tadi, The Ing selalu menurut saja. Tapi kalini ia benar2 membangkang atas pesan terakhir itu.
"Yah, mengenai hal itu..............."
Sebenarnya ia hendak menyatakan "aku tak dapat meluluskan", tapi demi pancaran mata sang ayah menatap kearahnya, teringatlah ia bagaimana tadi sebelumnya sang ayah telah mengutarakan "minta bantuannya", disamping itu teringat juga ia bagaimana mesra hubungan Tong Ko dengan Tio In itu, cepat2 ia robah kata2nya.
"Baik, yah, aku suka melakukannyal"
The Go menghela napas longgar, ujarnya.
"Ing-ji, ayah girang mendengar kesanggupanmu itu. Percayalah kesemuanya itu adalah untuk kebaikanmu. sendiri. Apa artinya permintaanku itu, untuk sementara ini tak dapat kukatakan, kelak kau tentu mengetahuinya sendiri. Semua2nya itu adalah kesalahan ayah semasa muda, harap kau maafkanl"
The Ing terharu lalu jatuhkan diri kedalam pelukan sang ayah seraya menghiburinya.
"Yah, aku tentu melaksanakan pesanmu itul"
The Go telah mengatur rencananya sedemikian cermat.
Namun seperti kata pepatah 'tiada gading yang tak retak' atau tiada sesuatu pekerjaan yang sempurna betul2.
Rencana bagus, tapi kejadiannya malah runyam.
Tapi karena kejadian itu nanti terjadi di bagian belakang dari cerita ini, baiklah untuk sekarang kita tinggalkan dahulu.
Begitulah The Go dan Siao-lan segera ambil selamat berpisah dengan puterinya.
Mereka tinggalkan Lo-hu-san untuk mengejar jejak Co-Kong-liok dan Ma Ki.
---o0-dwkz_kupay-0o---BAGIAN 22 .
PENYELIDIKAN THE GO Dewasa itu sekalipun desas desus Go Sam-kui hendak memberontak sudah menjadi rahasia.
Empat hari kemudian, dia mendapat keterangan bahwa baru saja kemarinya Co Kong-liok itu lewat ditempat situ.
Malam itu juga The Go meneruskan pengejarannya.
Lewat sebuah thing (rumah kecil macam pagoda tak bertingkat), tiba2 Siao-lan berseru.
"Engkoh Go, lihatlah, apa2an orang2 yang menggelantung diujung atap thing itu?"
The Go memalingkan paridangannya dan benar juga pada keenam ujung atap thing itu masing2 tergantung seseorang.
Keenam orang sama terjungkir kepalanya, terang bukan sedang melakukan latihan apa2.
Dalam herannya The Go menghampiri.
Astaga, kiranya keenam orang itu sudah menjadi mayat semua.
Tulang belulangnya sama remuk patah.
Keenam ujung atap thing itu terbuat daripada besi.
Orang2 itu digantung dengan paha tertancap.
Ditilik dari bekas noda darah yang belum kering, terang mereka belum lama meninggalnya.
Pembunuhnya itu benar2 seorang algojo yang ganas.
Saking tak tahannya, Siao-lan segera mendekap mukanya.
The Go yang lebih bernyali, meng-amati2i mereka dengan seksama.
Keenam korban itu adalah orang2 persilatan semua.
Malah ada salah seorang yang lebih kurang berumur 50-an tahun, The Go pernah mengenalnya, tapi dimana, lupalah dia.
Diantara korban2 itu, ada seorang yang belum binasa.
Kalau dengan luka2nya yang diderita itu dia belum meninggal, terang kalau orang tua itu berkepandaian tinggi.
"Lotiang.......", baru The Go hendak menyapanya, kedengaran napas orang tua itu mendesis, matanya terbuka dan bibirnya bergerak2 seperti hendak berkata. The Go tahu orang tua itu tengah meregang jiwa, kalau diangkat turun dari "cantelannya", malah akan melekaskan kematiannya. Dia hanya menghampiri dekat untuk mendengari kata2 lemah dari korban itu.
"Pembunuhan besar2an....... dikalangan persilatan ........ akan tiba.......... hati2-lah ......... tolong sampaikan pada Siau-beng-siang..."
Berkata sampai disini, kepala orang itu terkulai, napasnya berhenti The Go loncat mundur kesamping isterinya.
Hampir 20 tahun dia tak muncul dikalangan persilatan, jadi sudah hampir asing.
Entah jago mana yang telah membunuh keenam jago itu, tapi dari mulut siorang tua tadi yang meminta dia menyampaikan pada Tio Jiang, terang kalau ko-chiu itu bermusuhan dengan kaum Lo-hu-san.
"Siao-lan, orang tua itu belum berapa lama meninggalnya, jadi si pembunuh tentu masih belum jauh. Nanti kalau. kita kesamplokan dengannya dan terpaksa bertempur, kalau aku sampai kalah kau harus Iekas2 melarikan diri, jangan turut nekad"
The Go memesan isterinya.
Sejak gadis sampai menjadi wanita setengah umur, cinta Siao-lan terhadap The Go tetap ber-nyala2.
Mulutnya saja ia mengiakan pesan suaminya itu, tapi dalam hati ia telah ambil putusan, biar bagaimana juga tak nanti ia mau tinggalkan sang suami.
The Go kini telah mencapai tingkatan seorang jago kelas utama.
Terhadap jago2 persilatan terang tak dipandangnya mata.
Tapi atas kematian keenam orang persilatan tadi, benar2 telah membuat hatinya bercekat.
Dengan perasaan itulah maka dia meninggalkan pesan kepada sang isteri.
Tujuh delapan Ii jauhnya berjalan lagi, mereka tak menjumpai sesuatu apa.
Baru hati mereka agak longgar, atau tiba2 dari arah semak2 rumput terdengarlah suara orang merintih.
The Go cepat menghampiri dan menyingkap semak2 itu dengan ujung tongkatnya .....
hai........, kiranya disitu rebah si Co Kong-liok.
Mukanya mendongak keatas, mengunjuk ketakutan yang hebat, jiwanya sudah melayang.
Disebelahnya rebah tertelungkup si-imam Ma Ki.
Jubahnya robek tak keruan, sedang diulu punggungnya terdapat sebuah telapak tangan.
Bekas kelima jarinya bahkan gurat2nya, tampak jelas sekali.
The Go balikkan tubuh si-imam, tapi hanya sekali mata si-imam terbuka dan sebelum dapat mengucap apa2, dia sudah menghempuskan napas terakhir.
The Go dan Siao-lan yakin bahwa pembunuh kedua orang itu, adalah yang membunuh keenam korban di thing itu juga.
Orang itu tentu berada disekitar situ.
"Siao-lan......, hati2lah aku hendak bersuit memancing orang itu. Hendak kulihat siapakah sebenarnya dia itu!"
Kata The Go lalu mulai bersuit nyaring2.
Dalam keheningan malam, suitan itu makin berkumandang nyaring kedengaran sampai jauh sekali.
Lewat bebrapa detik kemudian, benar juga tampak ada dua sosok tubuh berlari mendatangi.
The Go buru2 mengumpat, hatinya berdebar keras.
Begitu tiba, kedua orang itu berhenti.
Mereka saling berpandangan.
"Hai, aneh, mengapa tiada tampak seorang jua?"
"Ditilik dari nada suitannya, terang seorang tokoh yang lihay, tapi entah orang gagah dari mana dianya itu?"
Kata yang seorang. Mendengar pembicaraannya, terang mereka itu bukan orang jahat. Baru The Go hendak mengunjukkan diri, tiba2 salah seorang dari mereka menjerit ngeri, terus rubuh kebelakang.
"Toako, kau kenapa?"
Tanya yang seorang. Namun yang dipanggil itu, napasnya sudah lemah dan dengan ter-engah2 berkata.
"Aku....... kena...... dibokong ......."
Selanjutnya The Go tak mendengar korban itu mengatakan apa2 lagi, jadi terang kalau sudah meninggal.
Hatinya makin bercekat.
Pada lain saat kedengaran orang yang satunya itu mencabut senjatanya dan berseru dengan gusar.
"Kawanan tikus, ayuh keluarlah jangan main membokong orang!"
Tampak oleh The Go senjata orang itu aneh bentuknya yani seuntai bola baja.
Dia sebenarnya tengah tertegun memikirkan siapa yang melakukan penyerangan gelap itu atau tahu2 orang itu telah menyerang kearahnya.
"Hai, kau mau apa itu!"
Cepat2 Siao-lan membentak sembari menangkis dengan garunya. Trang, ketika kedua senjata itu beradu, kedua orang saling tersurut kebelakang sampai 3 tindak. Orang itu terkesiap kaget, lalu membentak.
"Apa? Bukankah kau yang melakukan penyerahan gelap itu?!"
Habis berkata, dia terus hendak merangsang lagi.
Tapi baru sang kaki melangkah maju, bluk......
tahu2 dia tersungkur jatuh.
Setelah diperiksa, kiranya dia tadi tersandung pada sesosok tubuh yang rebah ditanah.
Dan terbanglah serasa semangatnya demi diketahui siapa mayat yang ditabraknya itu.
"Co tayjin, astaga, kiranya kaupun telah teraniaya juga!"
Serunya sembari loncat setorrbak kebelakang. Menduga kalau orang itu rombongan utusan Go Sam-kui, buru2 The Go menyapanya.
"Sahabat, jangan keburu pergi dahulu. Kami adalah orang Lo-hu-san, dan kau dari fihak Gun-bing bukan?"
The Go tahu bahwa fihak Go Sam-kui hendak bersatu dengan fihak Lo-hu-san, maka dengan menyebut nama Lo-hu-san tadi, dia duga orang itu tentu akan berhenti.
Tapi diluar dugaan, tanpa menoleh lagi, orang itu terus loncat melarikan diri.
Orang itu memiliki ilmu gin-kang yang tinggi, sehingga dalam sekejab saja sudah menghilang jauh.
Merasa tak dapat mengejar, terpaksa The Go biarkan saja orang itu.
Kini dia hanya memeriksa kawan orang itu yang menggeletak ditanah.
Ternyata korban itu tak menderita luka suatu apa.
Benar2 ajaib sekali kematiannya itu.
Karena terus menerus disuguhi pemandangan yang mengerikan itu, Siao-lan makin kecil hatinya.
la usulkan lebih baik pulang ke Sip-ban-tay-san saja, tak usah campur tangan dalam urusan yang berdarah itu.
Setelah merenung sejenak, berkatalah The Go.
"Siao-lan, kini tiada gunanya kita pergi ke Gun-bing, lebih baik kita balik ke Lo-hu-san lagi untuk memberitahukan Tio Jiang tentang peristiwa aneh ini, agar dia dapat ber-jaga2!"
Begitulah keduanya tak jadi melanyutkan perjalanannya ke Hunlam, tapi balik ke Lo-hu-san.
Tak berapa hari lamanya, ketika hampir masuk kekota Kwiciu, mereka berpapasan dengan Shin Leng-siau dan Shin Hiat-ji.
Syukur untuk menghindari hal2 yang tak diingini, selama dalam perjalanan itu The Go memakai kedok muka, menyaru menjadi pengemis.
Sedang Siao-lan terpisah agak jauh dengan suaminya.
Tiada seorangpun yang mengetahui bahwa sebenarnya mereka itu adalah sepasang suami isteri yang ber-sama2 melakukan perjalanan.
Dengan berkaki tongkat.
The Go berjalan membuntuti kedua saudara Shin itu, Hiat-ji berpaling dan ketika melihat hanya seorang pengemis saja, diapun tak kuatir lagi dan melanjutkan pasang omong dengan engkohnya.
"Kalini kalau Tio Tay-keng datang dan melakukan perintahku, wah......, kita bakal mengecap kenikmatan menjadi pembesar kerajaan!"
Kata Hiat-ji.
"Mungkin tak semudah itu. Kabarnya Go Sam-kui hendak membrontak, maka pemerintah pusat telah memberi instruksi kepada kita, agar penjagaan di Hun-lam diperkuat,"
Sahut engkohnya, Shin Leng-siau.
"Huh, takut apa! Kalau orang itu benar mau memberontak, dia tentu berserekat dengan orang2 Lo-hu-san. Dahulu tempo Tay-keng kembali dari Hun-lam, lebih dahulu dia perlihatkan padaku surat Go Sam-kui yang hendak diberikan kepada Siau-beng-siang. Habis Lo-hu-san, kita boleh suruh Tay-keng ke Gun-bing (markas Go Sam-hui) untuk mengaduk. Ini namanya, sekali tepuk dua lalat, bukan?"
"Benar,"
Kata Shin Leng-siau.
"tapi lebih baik kita jangan bicara keras2 dijalan besar. Ayuh, kita lekas pulang. Setengah bulan Tay-keng akan datang, terserah bagaimana kau mengaturnyalahl"
Kedua kakak beradik itu segera cepatkan langkahnya.
Adalah The Go yang menjadi terperanjat mendengar pembicaraan itu.
Tong Ko pernah mencela habis2an pemuda Tay-keng yang tak bermoral itu, kini memang berbukti.
Tong Ko dihina orang2 Lo-hu-san, dipaksa bunuh diri terjun kedalam jurang curam, dihajar babak belur oleh Siau-beng-siang, kiranya memang diatur oleh pemuda she Shin itu.
Dan tadi rupanya Hiat-ji itu hendak memasang siasat lagi untuk membasmi orang2 Lo-hu-san.
---o0-dwkz_kupay-0o---"Ah, baik kumampir ke Kwiciu dulu.
Setelah mengetahui tipu muslihat mereka, baru nanti kupergi ke Lo-hu-san untuk memberitahukan Siau-beng-siang, bahwa puteranya itu adalah seorang pengchianat,"
Pikir The Go.
Setelah berunding dengan Siao-lan, mereka masuk ke Kwiciu dan menginap sampai dua hari.
Keesokan harinya, ketika melihat keramaian digereja Kong Hau Si, dia melihat Shin Hiat-ji tengah kasak kusuk dengan para hweshio disitu.
Dia duga, Hiat-ji hendak mengatur pertemuannya dengan Tay-keng didalam gereja situ.
Segera dia berunding dengan Siao-lan tentang rencana yang hendak dijalankan.
Tapi diluar dugaan, rencana itu mengalami kegagalan.
Dia suruh Siao-lan menyusup kedalam gereja, untuk menahan Hiat-ji yang pada saat itu tengah menunggu kedatangan Tay-keng.
Seperti telah diceritakan dalam bagian dimuka, rencana The Go yalah memperdayakan Tay-keng dan menyuruh Tio In datang menghadap Hiat-ji.
Kemudian setelah dapat memperdayakan Tay-keng supaya menunggu dikakus, dia hendak buru2 masuk kedalam gereja tempat Hiat-ji.
Dihadapan Tio In, dia hendak paksa Hiat-ji untuk mengakui, bahwa Hiat-ji berhubungan dengan Tay-keng.
Rencana berjalan baik.
dapat memancing Tay-keng ke-kakus, buru2 dia masuk kedalam gereja.
Tapi, ah, ternyata disitu tak tampak seorangpun juga.
Kiranya dengan siasatnya yang cerdik, Hiat-ji telah berhasil menggagalkan ancaman Siao-lan dan berhasil membawa Tio In kegedung ti-hu (residen).
Siao-lan mengejar masuk kesarang harimau.
Betapa kagetnya The Go dapat dibayangkan.
Apa boleh buat, dia terpaksa menyusul kegedung ti-hu.
Tapi pada saat2 ini, Tay-keng telah berjumpa dengan Hiat-ji dan dengan membawa obat racun hong-sin-san, lalu pulang ke Lo-hu-san.
Demikianiah rencana The Go telah mengalami kegagalan total.
Demikianlah disekitar kejadian, mengapa The Go dan Siao-lan bisa tiba digereja Kong Hau Si dan mengapa The Go dengan menyaru sebagai Bu-kak-sian dapat mempedayai Tay-keng serta Siao-lan dapat menyusup kedalam kamar Hiat-ji tepat dikala Tio In terancam keselamatannya oleh pemuda itu.
---o0-dwkz_kupay-0o---BAGIAN 23 .
DI TOLONG THE GO Sekarang marilah kita ikuti usaha The Go masuk kedalam gedung pembesar Ceng itu.
Tiba dimuka halaman gedung, dia segera naik keatas titian.
Melihat ada seorang pengemis buntung hendak masuk, para pengawal pintu terus hendak melabrak, tapi dengan kesebatan yang luar biasa.
The Go dapat menutuk rubuh kempat penjaga itu.
Bung....., sekali hantam dapatlah The Go membuka pintu gerbang yang bercat merah itu.
Gegerlah orang2 dalam gedung situ.
Kemana ujung tongkat The Go menutuk, disitulah tentu ada orang rubuh.
Walaupun kedua kakinya buntung, namun The Go tetap gagah perkasa, laksana seekor harimau mengamuk kawanan kambing.
Cepat sekali dia sudah menyerbu masuk keruangan belakang, tapi Siao-lan tetap tak kelihatan.
Pada lain, kilas, tersadarlah dia.
Kalau Siao-lan belum di-apa2kan tentulah keadaan didalam gedung itu tidak sedemikian sepinya.
Ah, mungkin isterinya itu telah dibinasakan!
Suatu perasaan pedih dan geram mencengkeram sanubarinya.
Saking gemasnya, dia hantam berantakan sebuah pintu angin kaca.
Diluar terdengar sorak-sorai orang2 sama hiruk-pikuk, tapi tiada yang berani masuk.
The Go makin kalap, hendak dia menerjang keluar untuk menghajar orang2 itu.
Tapi baru dia hendak bergerak atau tiba2 terdengar suara menggelegar hebat, daun pintu ruangan belakang roboh dan tegaklah berdiri diambang pintu situ seorang tua yang bertubuh kate.
"Hai, siapa yang berani bikin onar disini itu?!"
Seru orang kate bernada anak kecil.
Kiranya dia itu bukan lain adalah Liat Hwat cousu, atau Mo Put-siu, suhu dari Shin Hiat-ji.
Setelah berhasil meyakinkan hwat-hun-kang, ilmu lwekang tertinggi, segera dia keluar untuk meringkus pengacau itu.
The Go dapatkan bahwa selain Liat Hwat, kini dia sudah dikepung oleh ratusan orang.
Sebenarnya mengandal otaknya yang cerdas, dapatlah dia lolos dari kepungan itu.
Tapi karena sang isteri sudah tertangkap, hatinyapun sudah tawar, tak mau dia hidup seorang diri.
"Dimana Siao-lan dan nona Tio itu?"
Serunya nyaring2. Liat Hwat agak bingung, syukur saat itu Hiat-ji muncul, terus menyahut.
"Perempuan gila yang ngamuk kemari itu, sudah kutangkap. Nona Tio hendak menikah dengan aku, perlu apa kau tanya?"
The Go mendapat ketenangan pula demi didengarnya Siao-lan masih hidup.
"Kalau kau menikah dengan puteri raja, aku sih tak peduli. Tapi yang itu, lain halnya. Lekas keluarkan Siao-lan, baru aku habisi perkara inil"
Serunya dengan dingin. Hiat-ji mendongak tertawa keras.
"Ho, kiranya kaulah si Bu-kak-sian itu bukan? Ini namanya ular cari gebuk!"
Serunya sembari hendak melangkah....maju, tapi cepat dicegah Liat Hwat.
"Hiat-ji, orang itu berkepandaian tinggi, biar kucoba hwat-hun-kang-yang habis kuyakinkan itu!"
Iblis kate itu maju pe-lahan2, tubuhnya ber-goyang2 dalam gerak gerik yang aneh.
Lengan kanan pe-lahan2 diangkat keatas, sepasang matanya menatap lekat2 kearah The Go.
Insyaf bahwa pertempuran kalini penting sekali artinya.
Kalau kalah, bukan saja dia dan Siao-lan akan binasa, pun rahasia Tay-keng tetap tak terbongkar se-lama2nya.
Tapi melihat gelagat, sukarlah rasanya untuk menang.
Sesaat lengan Liat Hwat diangkat, sebuah tenaga dahsyat menindih muka The Go.
Karena kakinya buntung, The Go mengandalkan tongkat untuk berjalan, sudah tentu gerakannya tak leluasa.
Ditambah pula, ilmu yang dilancarkan Liat Hwat itu adalah hwat-hun-kang, ilmu simpanan yang menjadi modal penghabisan baginya.
Sebenarnya ilmu sakti itu diperuntukkan menghadapi ilmupedang termasyhur dari sepasang suami isteri Tio Jiang dan Yan-chiu.
Dia pernah mendapat kekalahan, dan kini dengan hwat-hun-kang itu ia hendak menuntut balas.
Atas serangan Liat Hwat itu, buru2 The Go mundur selangkah.
Secepat kilat di-gerakan kedua tongkatnya.
Yang kiri dibuat menahan tubuh, sedang yang kanan digerakkan dalam jurus sam-yang-gay-thay (3 matahari membuka gunung Thay-san).
Sin-hong, siang-kiok dan thong-ko, 3 buah jalan darah dibagian dada orang ditutuknya dengan gerak cepat.
Tapi Liat Hwat sudah menutup semua jalan darannya.
Kecuali jarum emas yang khusus untuk menyusup lubang lwekang atau orang yang lebih tinggi lwekangnya dari dia, barulah Liat Hwat kena dirubuhkan.
Tapi kedua syarat itu, The Go tak mempunyai.
Tuk...., tuk...., tuk....., benar tepat sekali ujung tongkat mengenai sasarannya, tapi sebaliknya dari Liat Hwat rubuh, seketika itu The Go rasakan didorong oleh suatu tenaga-balik yang kuat, hingga dia hampir terhuyung......
Krek......, tongkat ditangan kiri yang dibuat menahan tubuhnya itu patah.
Hilanglah keseimbangan badan dan tubuhnyapun menurun jatuh.
Dengan tertawa iblis, Liat Hwat maju selangkah, tangannya ber-gerak2 dengan pelahan.
Itulah gerak-lambat ilmusilat Thay-kek-kun.
Suatu lingkaran tenaga dahsyat segera mengurung The Go.
Tapi The Go sekarang bukan The Go 20 tahun yang lalu.
Begitu melayang turun, dengan sisa kutungan tongkat, dia tekankan kelantai dan dengan meminjam kekuatan tekanan itu, tubuhnya melayang sampai bebrapa meter tingginya.
Dengan gaya yau-cuhoan-sim (burung membalik badan), dia berjumpalitan hinggap diatas tiang penglari.
Bagi seorang buntung, sungguh suatu kepandaian yang tiada taranya Liat Hwat tetap ketawa walaupun serangannya terbentur tempat kosong.
Kini dia gerakkan tangannya menghantam keatas.
Jaraknya dengan The Go kiranya ada setombak lebih, tapi tenaga yang menderu dari hantaman itu, tetap tak berkurang kedahsyatannya.
Sejak dalam pengasingannya menemukan kitab Tat Mo co-siang (Ilmu bersemadhi dari guru besar Tat Mo), walaupun tak seluruhnya dapat menyelami, namun dengan menurutkan gambar2 orang bersamadhi dalam kitab itu, lwekang The Go mendapat kemajuan yang pesat sekali.
Tapi dia heran juga melihat gerak Liat Hwat yang sedemikian lambatnya itu.
Adakah udang dibalik batu?
Dalam dia meragu itu, tenaga gempuran Liat Hwat sudah menyerang datang.
Sesaat itu dirasakan dirinya dibakar oleh api panas.
Bagaikan tumpukan kayu bakar yang dihempus oleh tiupan angin.
Dalam kejutnya, The Go hendak enjot tubuhnya naik keatas wuwungan yang lebih tinggi lagi, agar dapat menghindar dari pembakaran itu.
Tapi apa yang terjadi?
Benar gerakan Liat Hwat tadi lambat tampaknya, tapi sebenarnya dia tengah melancarkan salah suatu jurus ilmu hwat-hun-kang (awan api) yang disebut hwat-hun-bong (jaring awan api).
Lihaynya bukan alang kepalang.
Sekali dilancarkan, jaring api itu meliputi empat penjuru.
Bagaikan sebuah jaring, makin sang ikan berontak, makin dia terbentur dengan jaring.
Demikianlah keadaan The Go yang hendak menghindar itu.
Segera dia rasakan terbakar dengan api yang marong.
Salah satu keistimewaan hwat-hunbong lagi, sewaktu dilancarkan mungkin tak menarik perhatian lawan, tapi begitu orang mengetahui, itu sudah terlambat, sudah terperangkap.
Demikianlah The Go.
Walaupun gerakan Liat Hwat itu agak aneh, tapi dia tak mengira kalau sedemikian hebat kesaktiannya.
Sewaktu dia hendak loncat dari tiang penglari keatas wuwungan, baru setengah meter tingginya dia segera terperanjat.
Tahu terjebak, buru2 dia hendak turun kembali ketiang penglari, tapi tak dapat.
Pada saat itu, Liat Hwat mundur dua tindak, tangannya disentakkan kebelakang, wut, bagaikan sebuah layang2 putus, tubuh The Go turut terlempar menurut gerakan tangan Liat Hwat.
Kini barulah The Go tahu lihaynya.
Dalam gugupnya dia cepat kerahkan lwe-kang dan coba meronta naik keatas lagi, berbareng tongkat ditangan kanan dijujukan kebatok kepala lawan.
Kalau lain orang yang dilibat oleh hwat-hun-kang, tentu tak dapat berkutik lagi.
Tapi peyakinan selama 20 tahun digunung Sip-ban-tay-san itu, telah membuat The Go lain dari yang lain.
Liat Hwat terpaksa miringkan tubuh untuk menghindari ujung tongkat, krak, ujung tongkat menyusup masuk seperempat meter kedalam lantai dan membarengi kelonggaran itu, dapatlah tangan kanan The Go mencapai tiang penglari.
Tapi diapun cukup tahu bahwa nantinya Liat Hwat tentu akan menyerang lagi, maka dia ambil putusan untuk menyerang lebih dahulu.
Dengan gerak cian-kin-tui (tindihan 1000 kati), dia menggelandot turun.
Krek...., bum....., tiang penglari sebesar paha itu patah seketika dan berguguranlah batu dan tembok menghujani kebawah.
Sudah tentu tubuh The Gopun turut jatuh kebawah, tapi kini dia dapat ganti tongkat baru yang berupa kutungan tiang penglari itu.
Sebelum Liat Hwat sempat merencanakan serangan, The Go menekan kelantai.
Dengan masih mencekal kutungan penglari, dia melayang kearah Hiat-ji.
Sebat dan mengagumkan sekali gerakan jago buntung dari Sip-ban-tay-san itu.
Sesaat Liat Hwat terpesona melihat ketangkasan orang.
Sedikitpun dia tak mimpi, dalam kekalahan The Go masih bisa merebut kemenangan lagi.
Begitu tersadar.
Liat Hwat segera akan melancarkan serangan lagi, tapi saat itu The Go sudah tiba dihadapan Hiat-ji.
Untuk melancarkan hwat-hunbong.
lagi, memang mudah bagi Liat Hwat.
Tapi karena kini lawan merapati Hiat-ji, dia menjadi ragu2.
Hwat-hun-ong mempunyai lingkaran radius yang luas.
Kalau The Go diserang, Hiat-ji pasti akan kena juga.
Memang kecerdikan The Go itu sudah termasyhur.
Setelah mendapat keterangan bahwa Siao-lan masih hidup, dia tak mau adu jiwa dengan Liat Hwat, lebih2 setelah diketahuinya bahwa dia bukan tandingan orang kate itu.
Pikiran untuk lolos, makin kuat.
Taruh kata Siao-lan sudah ter-aniaya, kelak dia masih ada kesempatan membalaskan hutang darah itu daripada kalau dia turut terbinasa sekarang.
Baginya, sudahlah untuk merencanakan siasat meloloskan diri itu.
Begitu dia melayang ketempat Hiat-ji, segera dia hantamkan tiang penglari.
Hiat-ji gugup, terus menangkis, tapi tak tahu gerakan The Go tadi hanya gertakan kosong belaka.
Dia hantamkan penglari kelantai, dengan meninjam tenaga hantaman itu, tubuhnya melayang ketembok, bruk......, tembok hancur dan via lubang itu dia melesat keluar.
Tiba diruang sebelah, dia segera loncat kepintu hendak lolos.
Tapi ternyata pintu itu sukar didorong.
Celaka, itu dia Liat Hwat kedengaran melengking memburu datang.
Dengan berjalan diatas tangan, dia buru2 mundur 3 tindak.
Baru saja dia siap hendak menerjang pintu itu, tiba2 kedengaran ada suara rintihan orang dari kamar sebelah situ.
Dia melongok dan didapatinya dalam kamar itu terdapat sebuah ranjang kayu.
Dari ranjang situlah rintihan itu keluarnya.
Cian-bin-long-kun The Go yang cerdas tangkas itu, segera mendapat akal.
Disambarnya sebuah kursi, terus dilemparnya kearah pintu tadi, bum...., kursi yang disertai lemparan Iwekang itu telah berhasil menggempur tembus pintu itu.
Berbareng itu, sekali tangan menekan lantai, dia segera menyusup masuk kedalam kamar terus naik keatas ranjang.
"Hai, kemana larinya bangsat itu?"
"Dia sudah menobros keluar pintu, suhu...., ayuh kita kejar!"
Pada lain saat diluar kamar terdengar Hiat-ji berseru.
"Tidak, mungkin dia masih berada dalam ruangan sini!"
Sahut Liat Hwat.
"Mana bisa, kalau berada disini, mengapa dia menggempur pintu?!"
Bantah Hiat-ji.
Menyusul terdengarlah suara dua sosok tubuh menobros keluar pintu.
The Go menghela napas longgar.
Tapi dalam pada itu dia heran juga mengapa Hiat-ji rupanya tak setuju Liat Hwat menggeledah ruangan situ.
Ketika dia berpaling muka, astaga, kiranya disebelah situ terdapat seorang nona cantik bermata bundar, rebah dengan tangan terikat dan mulut tersembat.
Ho, inilah sebabnya mengapa Hiat-ji berbuat begitu tadi.
Kiranya dia mempunyai simpanan dalam kamar itu.
Takut rupanya pemuda itu kalau diketahui suhunya.
Diam2 The Go berterima kasih kepada nona itu.
"Nona, siapa ........", The Go menarik sumbat mulut nona itu, tapi sebelum dia lanyutkan kata2nya 'namamu', dia terkesiap kaget. Benar, wajah nona itu mirip sekali dengan seseorang yang dikenalnya. Sebaliknya, setelah dapat bergerak, nona itu cepat benturkan kepalanya kepada The Go sembari memaki.
"Bangsat, tak usah merayu lidah, nonamu tak jeri padamu!"
The Go menghindar sembari menangkap tangan sinona, ujarnya.
"Set, jangan ribut, kalau ketahuan orang, aku yang dibunuh dulu. Apakah nona ini bukan puterinya Hui-lay-hong Liau Yan-chiu yang bernama Tio In?"
"Huh, apa kau masih pura2 tak tahu?"
Jengek sinona yg bukan lain memang Tio In adanya.
Dia ditawan disitu oleh Hiat-ji.
Melihat kedatangan The Go, dikiranya kalau orang suruhan si Hiat-ji untuk membujuknya.
Sudah tentu ia marah2 dan mengumpat caci.
"Ai, harap jangan bicara keras2!"
Kata The Go sembari membuka tali ikatan tangan Tio In.
"Aku bernama The Go, sudah kenal dengan ayah bundamu. Kita harus lekas2 cari jalan lolos dari sini dulu!"
Teringat Tio In bahwa ayah bundanya pernah menceritakan tentang diri Cian-bin-long-kun The Go itu kepadanya.
Setelah kakinya kutung, dia (The Go) menyesal dan bertobat lalu mengasingkan diri entah kemana.
Waktu menuturkan riwayatnya itu, ayahnya terkenang dan menaruh rasa symphati.
Tapi tidak demikian dengan mahnya (Yan-chiu), yang tetap menuduh The Go itu sebagai orang yang culas jahat.
Mungkin penyesalannya itu hanya pura2 saja.
Maka mamahnya itu memesan Tio In, apabila berjumpa dengan orang itu hendaknya berlaku hati2 jangan mudah percaya omongannya.
Lazimnya, anak perempuan itu lebih dekat dengan sang ibu.
Nasehat Yan-chiu itu termakan dalam hatinya.
Mendengar dengan siapa ia berhadapan sekarang, timbullah purbasangkanya yang jelek.
"Mengapa kita harus ber-sama2 lari, bukantah lebih baik cari jalan sendiri2 saja?"
Sahutnya dengan tertawa dingin.
Menyingkap kelambu, ia terus hendak turun dari ranjang.
The Go yang cerdik segera dapat menerka hati nona itu.
Tentulah ajaran ayah bundanya yang menyebabkan nona itu berlaku sedemikian tawar kepadanya.
Tapi biar bagaimana, kalau Tio In sampai keluar sendirian, terang tentu berbahaya.
"Nona Tio, jangan!"
Cepat dia mencekal tangan Tio In, setelah ambil putusan untuk menolongnya. Tapi baru ia mengucap begitu, disebelah luar sana kedengaran suara Liat Hwat melenglking.
"Aneh, sekalipun dia bisa terbang, juga tak nanti dapat menghilang sedemikian cepatnya!"
Sebaliknya kedengaran Hiat-ji tertawa, serunya.
"Wanita itu masih disini masakan dia tega tak kembali lagi!"
"Apa kau tahu, pernah apa dia dengan perempuan itu, mengapa kau yakin dia tentu kembali kesini lagi?"
Hiat-ji terkesiap mendengar nada suara suhunya yang gusar itu. Buru2 dia memberi keterangan.
"Entahlah, tapi bersama perempuan itu jugalah dia mempedayakan Tay-keng tempo hari, jadi tentu mempunyai tali hubungan yang rapat. Tapi rasanya tak mengapalah dia bisa lolos, karena Tay-keng sudah menuju ke Lo-hu-san untuk menjalankan rencanaku!"
Hanya kedengaran hidung Liat Hwat mendengus sekali, lalu kedua orang itu tinggalkan ruangan situ.
Mereka berjalan lewat disamping ranjang situ, namun sedikitpun tak bercuriga kalau The Go mungkin bersembunyi disitu.
"Ai, mengapa engkohku bisa kenal dengan orang2 itu? Apa mungkin ada orang yang bersamaan namanya?"
Tio In berkata seorang diri.
The Go ambil putusan tetap.
Lebih dahulu dia hendak membeber kelakuan khianat dari Tay-keng kepada Tio In.
Kemudian dia akan berusaha keras untuk meloloskan nona itu dari situ, agar sepulangnya ke Lo-hu-san dapatlah ia memberi laporan pada Siau-beng-siang Tio Jiang.
Andai kata dia (The Go) terpaksa harus mengadu jiwa disarang harimau situ, relalah sudah dia untuk binasa.
Tugasnya untuk menyelamatkan orang2 gagah Lo-hu-san sudah terpenuhi.
"Bukan lain orang, tapi memang engkohmu Tio Tay-keng itu sendiri!"
Sahutnya.
Tio In terkesiap.
Teringat ia akan kejadian tempo terjebak diruang gereja Kong Hau Si itu.
la sudah menduga, bahwa Hiat-ji tentu akan membunuhnya, tapi ternyata tidak.
Jadi teranglah, kalau Hiat-ji hendak menggunakan siasat 'pinjam mulutnya' untuk mencelakai engkohnya.
Memang masih penuhlah kepercayaan Tio In terhadap engkohnya itu.
Terhadap The Go sememangnya ia sudah mempunyai purbasangka jelek, maka demi mendengar kata2 The Go itu, makin teguhlah dugaannya kalau Cian-bin-long-kun itu sekaum dengan kawanan kaki tangan pemerintah Ceng itu (rombongan Hiat-ji dkk).
"Terima kasih atas peringatanmu itu!"
Sahutnya dengan nada sinis.
"Kalau nanti nona sudah lolos dari sini, saya minta dengan sangat apa yang kau saksikan dan dengar disini itu semua, kau ceritakan pada ayahmu!"
The Go yang mengira Tio In sudah insyaf, buru2 menyusuli kata2nya.
Tapi sebaliknya, kecurigaan Tio In kalau The Go itu menjadi kaki tangan Hiat-ji, makin teguh.
Pertama, ia tak percaya kalau enkohnya sampai berbuat sedemikian hina menjadi kaki tangan musuh.
Dan kedua kalinya, ia percaya dirinya pintar dewek, menetapkan kalau kesemuanya Itu adalah siasat pinjam-mulut dari Hiat-ji.
Dugaan ini makin diperbuat dengan kenyataan, mengapa begitu bernapsu tampak-nya The Go minta kepadanya supaya menceritakan pengkhianatan Tay-keng itu kepada ayahnya.
Sudah tentu ia tak menghiraukan permintaan The Go itu.
Setelah dilihatnya tiada seorangpun lagi, cepat2 Tio In turun dari ranjang.
The Go cemas, seorang diri Tio In tentu celaka.
Maka diapun lalu turun, menyempal dua buah kaki kursi, lalu berjalan mengikuti Tio In.
Tapi baru berjalan tak berapa jauh, tampak penjagaan digedung situ diperkeras.
Memang setelah The Go lolos, Liat Hwat perintahkan agar penjagaan diperkuat.
Buru2 Tio In dan The Go menyelinap bersembunyi diujung tembok.
Tapi dia segera merasa bahwa cara main bersembunyi begitu, tidak tepat.
"Nona Tio, biar kupancing perhatian mereka, dan kau supaya lekas2 lolos. Jangan lama2 tinggal disini, berbahaya sekalil"
Bisik The Go.
"Terima kasih atas kebaikanmu itu. Sekalipun Liat Hwat yang berada disini, diapun serupa juga tentu akan membiarkan aku lolos, karena dia memerlukan tenagaku!"
The Go terbeliak, mengapa nona itu berkata begitu.
Sebaliknya Tio In tertawa lagi, nadanya penuh dengan rasa mengejek.
Kalau 20 tahun yang lampau The Go mendengar ketawa ejekan itu, mungkin dia tak kaget.
Dengan sepak terjang kejahatannya tempo dulu itu, ber-ulang2 dia menerima ejekan semacam itu.
Tapi tidak demikian dengan dia sekarang.
Dia bertobat, dia berusaha keras untuk menebus kesalahannya, tapi tetap mendapat ejekan begitu macam.
Kepedihan hatinya, sukar dilukis.
Ah, kiranya betapapun kuberusaha untuk menebus dosa, tetap orang tak mau mengampuni.
Nona kecil macam Tio In bisa berlaku demikian, apalagi lain2 orang.
The Go tertegun, terbit pertentangan dalam batinnya.
Mana Tio In mengetahui isi hati The Go saat itu.
Mengira kalau 'serangannya' tadi telah berhasil menelanjangi isi hati orang, ia makin gembira.
Pikirnya, lain orang dapat dipedayai Ciam-bin-long-kun, tapi tidak ia.
Dengan langkah lebar, ia berjalan keluar.
Kebetulan penjaga yang bertugas disitu adalah seorang yang kakinya pendek.
Melihat Tio In hanya seorang nona kecil, Maka dibiarkan saja ia keluar dari gedung tihu situ.
Tiba dijalan besar, Tio In masih geli, menertawakan 'siasat tolol' dari kawanan Hiat-ji itu.
Segera ia menuju lagi kegereja Kong Hau Si.
Setelah disana tak menjumpai Tay-keng, ia duga engkohnya itu tentu sudah pulang melapor pada ayahnya.
Agar jangan membikin gelisah hati orang tuanya.
Tio In pinjam seekor kuda dari seorang kenalan ayahnya di Kwiciu situ, terus mencongklang ke Lo-hu-san.
---o0-dwkz_kupay-0o---BAGIAN 24 .
HONG-SIN-SAN ......OBAT ANJING GILA Dua hari kemudian ketika tiba dikaki gunung, dari kejauhan sana tampak Tay-keng sedang melepaskan lelah duduk dibawah sebatang puhun.
la merasa girang mendapatkan engkohnya itu belum naik keatas gunung.
"Engkoh....., engkoh......!"
Serunya dengan gembira. Sebaliknya jantung Tay-keng berdebar keras demi mendengar suara adiknya itu. Buru2 dia hendak mengumpat dibelakang puhun.
"tapi saat itu Tio In sudah tiba dan loncat turun dari kudanya.
"Kau tentunya gelisah karena tak dapat mencari aku di Kong Hau Si bukan?"
Tegur Tio In dengan tertawa. Tay-keng pucat wajahnya, baru dia hendak menyahut, Tio In sudah tertawa berkata lagi.
"Aku kan sudah lolos dari bahaya, mengapa kau masih gelisah begitu macam?"
Tay-keng coba melipur getar hatinya dengan senyuman getir, tanyanya.
"In-moay, kau kemana saja itu waktu?" ,"Kalau kuceritakan lucu rasanya,"
Sahut adiknya.
"ketika terhimpit dalam lautan manusia itu waktu, tiba2 tanganku tersisip segulung kertas. Setelah kau pergi, lalu kubuka gulungan kertas itu dan isinya ternyata ada orang yang mengundangmu datang keruangan perpustakaan gereja itu!"
"Kau kau pergi tidak?"
Tanya Tay-keng dengan nada gemetar.
"Sudah tentu pergi. Aku hendak mengetahui siapa orangnya yang mengundangmu itu, kiranya si jagoan istana Shin Hiat-ji!"
Sahut Tio In masih tetap tertawa.
Kalau adiknya tertawa, adalah Tay-keng serasa terbaring semangatnya.
Pikirnya Tio In tentu sudah mengetahui rahasia itu, untuk menjaga bahaya lebih baik dia bunuh adiknya itu.
Tangannya meraba tangkai pedang dan kakinya mundur selangkah untuk bersiap.
Masih Tio In tak mengetahui gerak gerik Tay-keng yang luar dari biasanya itu.
Dan setitikpun tak terlintas dalam hatinya, bahwa Tay-keng engkoh kandungnya sendiri, mengandung maksud sedemikian kejam terhadap dirinya.
Karena masih mengira engkoh geram mendengar nama Hiat-ji itu, Tio In tertawa lepas berseru.
"Kau tentunya merasa aneh bukan? Memang bermula aku sendiri pun merasa aneh, masakan kau mengelabuhi ayah dan bergaul dengan orang macam itu?"
Tangan Tay-keng bergerak, sring......., pedang dilolosnya sampai separoh bagian. Keringatnya bercucuran membasahi tubuh.
"Ngaco!"
Dia menjerit keras. Tio In terkesiap. Diam2 ia puji engkohnya itu seorang pemuda perwira, sehingga marah namanya dinodai itu.
"Dengerkan dulu kulanjutkan ceritaku. Begitu berhadapan muka dengan aku. Hiat-ji lantas menanyakan dirimu, lucu bukan? Kalau dia hendak mengundangmu, masakan suratnya diterimakan padaku!"
Mendengar kata2 adiknya itu, hati Tay-keng tenang kembali. Dia melihat ada setitik sinar terang.
"Lalu kau bagaimana?"
Tanyanya buru2.
"Kuhajar dia, tapi dia lebih lihay. Aku ditawan digedung ti-hu Kwiciu sana, diikat pada sebuah ranjang. Tiba2 muncul seorang lelaki buntung kedua kakinya yang mengatakan dirinya ada lah si Cian-bin-long-kun The Go"
"Seorang lelaki buntung?"
Tukas Tay-keng dengan kagetnya. Tapi rupanya Tio In tak menghiraukan pertanyaan. engkohnya itu dan hanya melanyuntukan ceritanya lagi.
"Dia memberitahukan padaku kalau kau bersekongkol dengan kaki tangan Ceng, lalu suruh aku pulang ke Lo-hu-san dan melaporkan pada ayah!"
Merah putih wajah Tay-keng saat itu. Butir2 peluh sebesar kedele, bercucuran jatuh dari dahinya. Dengan suara gemetar dia berseru.
"Ho........bagus ya!"
Tangannya siap mencabut pedang yang sudah setengah keluar tadi.
Begitu Tio In lengah, dia hendak menusuknya dengan tiba2.
Urusan sudah mencapai tingkat sedemikian gentingnya, rasanya lebih baik dia habisi jiwa adiknya disitu, daripada dia nanti dibunuh ayahnya.
Tapi sesaat itu kedengaran hidung Tio In mendengus.
"Hem......, mereka ngimpi hendak jalankan siasat pinjam-mulutku, lucu benar!"
"Siasat pinjam-mulut?"
Serentak Tay-keng menegas dengan kaget.
"Hem...., kau lebih tua beberapa tahun dari aku, mengapa urusan begitu sederhana saja, kau tak dapat mengetahui", sahut Tio In dengan ke-bangga2an.
"kawanan budak Ceng berikut dengan The Go nya itu hendak main sandiwara agar aku mau percaya bah wa kau ini turut dalam gerombolan mereka. Kalau kulaporkan ayah, dia tentu akan membunuhmu, dan jika mamah mencegahnya, pasti akan timbal keretakan hebat. Dan jika ayah bunda kita itu bertengkar, organisasi Lo-hu-sanpun tentu akan berantakan. Tapi mana aku kena dikelabuhi dengan "akal bulus itu?"
Setiap patah yang diucapkan adiknya itu didengarinya dgn penuh perhatian.
Setelah Tio In mengakhiri kata2nya, serasa longgarlah rongga dada Tay-keng dari perasaan tertindih batu berat.
Sudah tentu Tio In tak mengetahui, bahwa tadi setiap saat jiwanya bisa melayang!
Dan sememangnya, andaikata Tay-keng itu berhati ganas, tadi2 tentu dia sudah turun taagan.
Soalnya, dia berhati khianat tapi bernyali kecil.
Sekalipun demikian, tadi dia Sudah mandi keringat.
Diam2 dia masih curiga dan kuatir.
Tio In ajak engkohnya lekas2 naik keatas, tapi segera dia minta agar adiknya itu jangan mengatakan suatu apa kepada ayahnya.
"Takut apa"
Bantah Tio In seraya tarik tangan engkohnya diajak naik.
Tiba diruang Gi-su-thia (tempat permusyawaratan) dilihatnya orang banyak sama berkumpul diluar thia.
Menyusup masuk, Tay-keng dan Tio In tampak ayahnya duduk ditengah ruangan, mamahnya berdiri disampingnya sedang Kiau To berdiri dihadapan mereka dongakkan kepalanya tak mengucap apa2.
Wajah sekalian orang itu keren2 tampaknya.
Tio In menduga tentu terjadi sesuatu hal yang genting, maka iapun tak berani membuka mulut.
Lewat beberapa saat kemudian, barulah kedengaran Siau-beng-siang Tio Jiang mengeluarkan kata2.
"Baik dalam hal umur mau pun tingkatan, sebenarnya tak pantaslah kalau ku duduk sebagai pemimpin Lo-hu-san. Tapi oleh karena saudara2 sekalian mendesak, maka akupun terpaksa menjabatnya. Apapun lembaran sejarah-hidup Peng-se-ong itu, tapi karena dia hendak bersatu haluan dengan kita, kita harus mempertimbangkan dengan baik. Siapa dan bagaimana tingkah laku utusan yang dikirimkan kemari itu, kita harus pandai menguasai diri untuk menyambutnya dengan baik2". Muda usia Siau-beng-siang Tio Jiang itu, namun sebagai pemimpin dia cukup mempunyai kewibawaan. Orangnya jujur, tegas dan berani. Sedikit bicara, tapi setiap kali dia merigutarakan apa2, tentu diturut. Tapi kali ini agak berlainan. Sehabis dia berkata, tiada seorangpun yang menyatakan apa2, keadaan hening2 saja. Satu2-nya suara yang terdengar yalah mulut Kiau To mendenguskan tertawa sinis. Tio Jiang terkesiap sejenak lalu berkata.
"Kiau jiko, sebaiknya kau dan aku pergi ketempat Peng-se-ong di Gun-bing sana untuk menghaturkan maaf kepada Co Kong-liok. Bagaimana sikap mereka nanti, barulah kita tetapkan haluan lagi!"
Tegas dan positip ucapan Tio Jiang itu, tapi Kiau To pun seorang jago yang berangasan. Jangan kata Co Kong-liok, sedang Go Sam-kui sendiripun dia tak pandang mata.
"Aku tak sudi kesana!"
Serunya keras. Bahkan saat itu disana sini terdengar sambutan hangat menunjang pernyataan siberangasan itu.
"orang macam apa dia itu maka kita kaum persilatan harus menghaturkan maaf!"
Kata seorang. Dan lain orang lalu menyambungi pula.
"Kalau tahu begini, lebih baik tempo hari mampusi saja bangsat itu!"
Sana sini terdengar orang mencaci maki si Co Kong-liok itu.
Sebenarnya Tio Jiang baru saja datang dari bepergian.
Kiau To menceritakan apa yang terjadi dengan utusan Go Sam-kui itu.
Dia gembira kalau Tio Jiang tentu akan tertawa geli.
Tapi ternyata dia kecele.
Siau-beng-siang Tio Jiang bukan Tio Jiang pada tahun berselang.
Dia kini seorang pemimpin perserekatan orang gagah, yang bertanggung jawab.
Orang2 gagah dari kedua propinsi Kwitang dan Kwisay, sama bernaung dibawah panji Lo-hu-san.
Ceng Bo siangjin telah berlayar keluar negeri untuk mencari bantuan, tapi hingga belasan tahun lamanya dia tak ada kabar beritanya.
Sejak itu Siau-beng-siang Tio Jianglah yang memikul tugas berat memimpin organisasi menentang penjajah Ceng yang sudah berakar pengaruhnya.
Tugas berat inilah yang menjadikan Tio Jiang seorang yang masak, tak mudah terpengaruh oleh sesuatu nafsu sentimen.
Berkat pimpinan Siau-beng-siang dapatlah dibentuk suatu koordinasi yang rapi antara organisasi2 dibawah tanah dari kedua propinsi itu.
Pemerintah Ceng mempunyai jaringan mata2 yang luas, maka gerak-gerik Lo-hu-san itu tak lepas dari pengintaiannya.
Sudah tentu merekapun cemas melihat pertumbuhan yang menguatir kan itu.
Mereka segera bertindak.
Lebih dahulu dikirimkan bebrapa taylwe ko-chiu (jagoan istana) untuk menyelundup dan mengobrak-abrik.
Rencana Go Sam-kui untuk berpaling haluan, cepat disambut dengan langkah tepat oleh Siau-beng-siang.
Dikirimnya bebrapa orang antara lain Tay-keng kemarkas Go Sam-kui di Gun-bing, untuk mengadakan kontak.
Sebab Tio Jiang sadar sesadar2nia, bahwa apabila Go Sam-kui sampai memberontak dan mau diajak berserekat, itulah suatu potensi kekuatan yang tak ternilai besarnya bagi perjoangan menentang penjajah.
Maka terhadap urusan yang mengenai fihak Go Sam-kui, dia bersikap hati2 sekali.
Untuk merealisir perserekatan itu, Tio Jiang rela kesampingkan soal2 remeh, misalnya yang mengenai gengsi, sentimen dan lain lain.
Segera dia menegur perbuatan Kiau To terhadap utusan Go Sam-kui itu.
Kiau To yang berangasan, tak mau mengerti.
Dengan suara keras, dia membantah hingga terbitlah perbantahan sengit dengan Siau-beng-siang.
Mendengar suara ramai2 itu, sekalian orang sama menjenguk datang ke Gi-su-thia.
Demikianlah asal mula suasana tegang yang terdapat diruang permusyawarahan itu.
Tio Jiang ceritakan urusan itu kepada sekalian orang, tapi ternyata reaksi malah runyam.
Bukan melainkan Kiau To yang tak mau disalahkan, pun sekalian orang malah turut menunjang sikap Kiam To.
Kehendak Tio Jiang untuk minta maaf pada Co Kong-liok, mendapat tentangan hebat.
Mereka benar2 gusar atas sikap yang dibawa oleh utusan Go Sam-kui tempo hari itu.
Sepasang mata Siau-beng-siang ber-kilat2 menyapu kearah sekalian orang gagah.
Hanya dengan sikapnya yang penuh perbawa itulah maka orang2 yang marah2 tadi, dapat dibikin bungkam.
"Baik, kini hanya ada dua jalan. Pertama, aku berhenti dari pucuk pimpinan, silahkan saudara2 memilih ketua baru lagi. Kedua, Kiau jiko harus ikut aku ke Gun-bing. Kita telah berlaku kurang hormat, masakan mereka mau datang kemari lagi?"
Akhirnya Tio Jiang mengeluarkan pernyataan.
Nadanya keras, menyatakan kemarahan.
Sebaliknya siberangasan Kiau To sudah tak mengerti isi hati Siau-beng-siang.
Dia salah kira, Tio Jiang bernyali kecil, maka dengan tertawa dingin menyahutlah dia.
"Untung hanya fihak Go Sam-kui, kalau fihak kaisar Ceng yang mengirim utusan, aduh mak, mungkin aku diharuskan mengganti kepalaku ini, huh!"
Sehabis menumpahkan kemengkalannya itu, Kiau To lalu tinggalkan ruangan situ.
Suasana makin meruncing.
Sekalipun orang tak berani membuka mulut.
Sesaat itu suasana ruang Gi-su-thia menjadi lelap.
Brak......, se-konyong2 Tio Jiang menghantam meja didekatnya.
Tanpa disadari, dia telah gunakan tenaga besar, sehingga muka meja itu menjadi amblong, pecahannya berhamburan kelantai.
"Kembali !"
Teriaknya dengan suara mengguntur. Kiau To terperanjat. Cepat dia memutar tubuh seraya berseru dengan tawar.
"Bagaimana?"
"Tak usah Kiau jiko pergi, biarlah aku saja yang pergi!"
Kata Siau-beng-siang, lalu melirik kepada isterinya dia berseru.
"Yan-chiu, sekalian saudara sudah tak menggubris perintahku, biar kupergi dari sini!"
Kalau Siau-beng-siang pergi, Lo-hu-san tentu kacau. Dan ini diinsyafi juga oleh Ki Ce-tiong yang segera tampil kedepan serunya.
"Jiang koji, jangan terburu nafsu dulu. Kiau loji, apa ucapan kita sewaktu memilih Jiang koji menjadi ketua? Itu waktu diapun sebenarnya menolak karena usianya masih muda, dikuatirkan nanti orang2 tak mau tunduk perintah. Dan bukankah kau sendiri yang kala itu memberi pernyataan tegas, siapa2 yang tiada taat akan kau hajar dengan pian? Kini mengapa kau sendiri yang menyalahi janji itu?"
Kiau To dibikin bungkam oleh teguran Ki Ce-tiong itu.
"Mendaki gunung golok, menyilam kelautan api, aku orang Kiau ini, tak nanti mundur. Tapi kalau suruh aku minta maaf pada bangsat Co itu, aku sungguh tak dapat menjalani. Kalau dikatakan aku melanggar janji, aku sedia menerima hukuman!"
Akhirnya dia berseru dengan geram.
Tio Tay-keng dan Tio In yang baru jelas akan duduk perkaranya itu, tak menduga kalau urusan menjadi sedemikian pentingnya.
Tapi si Tay-keng itu diam2 malam bersorak dalam hati.
Pucuk dicintai alam tiba (artinya.
mendapat sesuatu lebih dari yang di-harapkan).
Biasanya Tio Jiang selalu diturut segala perintahnya.
Kalau kali ini sekalian orang sudah berani membangkang, itulah saat yang sebaik-baiknya untuk menjalankan rencananya.
Obat bius pemberian Hiat-ji itu, katanya akan dapat membikin orang tak ingat diri sampai bebrapa hari.
Setelah ayahnya dibikin tak ingat, dia lalu bubarkan perserekatan orang gagah itu.
Untuk mengumpulkan lagi orang2 gagah dari kedua propinsi itu, bukanlah suatu pekerjaan mudah.
Dan kelak apabila ayahnya sudah tersadar, taruh kata tahu bahwa dialah (Tay-keng), yang melakukan perbuatan itu, namun saat itu dia (Tay-keng) akan jauh berada dikota raja.
Dia akan ganti nama, menikmati penghidupan sebagai pembesar kerajaan Ceng.
Memikir sampai disini, tangannya merabah kekantong baju.
Didapatinya obat hong-sin-san itu masih ada.
Diam2 dia lalu melangkah keluar menyusul Kiau To.
"Paman Kiau, entah begaimana ayah ketakutan setengah mati terhadap Go Sam-kui.
"Peribadi semacam paman ini, masakan sudi disuruh minta maaf pada bangsat macam orang she Co itu!"
Bisiknya membakar hati Kiau To.
Kiau To mengangguk.
Diam2 dia puji ketegasan anak muda itu.
Hubungan Ki Ce-tiong dengan Kiau To sudah sedemikian akrabnya.
Berpuluh tahun keduanya bahu membahu memegang pucuk pimpinan gerakan Thian Te Hui dahulu.
"Kiau loji, Jiang kojipun tak mau menghukummu,"
Kata bekas pemimpin Thian Te Hui kepada Kiau To. Kemudian kepada Tio Jiang, dia memberi pernyataan.
"Karena loji tak mau, biarlah aku saja yang ikut padamu kesana!"
Bagaimana perasaan Tio Jiang ketika menghadapan tantangan tadi, sukar dilukiskan.
Satu2nya orang yang mengetahui isi hatinya hanyalah Yan-chiu.
Pernyataan Ki Ce-tiong tadi suatu bantuan moreel yang se-besar2nya Serentak itu Yan-chiupun menyatakan kesediaannya untuk ikut sang suami.
Namun Kiau To tetap penasaran.
"Puncak Giok-li-nia gunung Lo-hu-san sini adalah tempat berkumpulnya kaum pencinta negeri dari kedua propinsi Kwi, bukan tempat permusyawaratan untuk mengambil hati Go Sam-kui, bah!"
Bekas wakil pemimpin Thian Te Hui itu mengejek.
Betapapun toleransi seorang pemimpin bijaksana macam Tio Jiang, namun diejek begitu, benar2 dia tak dapat menguasai dirinya lagi.
Wajahnya menampil kemarahan hebat.
Hui-lay-hong Yan-chiu yang mengetahui perobahan muka suaminya itu, karena kuatir akan terjadi perkelahian, buru2 mencegahnya.
"Jiang-ko, rasanya urusan sudah sampai disini saja, tak usah mengumbar hawa kemarahan!"
Tio Jiang menjadi tenang lagi, lalu bersama isterinya tinggalkan ruang Gi-su-thia situ.
Tio In menyusul dan memanggil mamahnya.
Tio Jiang berpaling.
Melihat sikap ayahnya itu, Tio In ketakutan setengah mati, tak berani bercuwit lagi.
"Jiang-ko, jangan gitulah, In-ji sampai ketakutan setengah mati!"
Yan-chiu menggerutu. Setelah mendapat hati mamahnya itu, barulah Tio In berani melanjuntukan kata2nya.
"Mah, waktu pergi ke Kwiciu ini, aku berjumpa dengan Cian-bin-long-kun The Go!"
Kali ini Siau-beng-siang terkesiap kaget.
Ya, kalau The Go yang cerdik itu berada disitu, pastilah dia (Tio Jiang) tertolong dari kesulitan.
Buru2 dia menanyai anaknya dimana telah berjumpa dengan The Go.
Sebaliknya Yan-chiu menjadi kurang senang dan menyeletuk.
"Perlu apa dengan orang macam itu?"
"Benar, mah, aku berjumpa dia didalam gedung ti-hu Kwiciu. Mereka hendak gunakan siasat pinjam mulutku supaya mengatakan pada ayah kalau engkoh Tay-keng itu bersekongkol dengan orang2 Ceng!"
"Tu dia, untuk mengharap orang macam dia kembali kejalan benar, adalah seperti orang mengharap halilintar berbunyi ditengah hari!"
Yan-chiu memberi bumbu lebih pedas.
Darah Tio Jiang tersirap.
Hatinya makin uring2an.
Bersama Yan-chiu, dia lalu balik kekamarnya untuk ber-kemas2.
Besok pagi mereka hendak berangkat ke Gun-bing.
Seperginya Tio Diiang dari ruang Gi-su-thia disana orang2 masih ramai kasak kusuk.
Mereka tetap menyesali sikap Tio Jiang yang tak seharusnya meminta maaf ke Gun-bing itu.
Ki Ce-tiong berusaha untuk menenangkan mereka, tapi rupanya mereka tetap tak puas.
Melihat itu, Tay-keng makin girang.
Kesana sini dia menambahi minyak (membakar), hingga orang2 itu makin panas.
Seorang anak saja bisa mencelah perbuatan ayahnya, jadi terang kalau tindakan Tio Jiang itu keliwat merendahnya, demikian kesan buruk terhadap diri Siau-beng siang makin menggores tajam dalam hati orang2 itu.
Ki Ce-tiong menasehati Kiau To, supaya nanti malam apabila sekalian orang sudah sama reda kemarahannya, baiklah dia minta maaf pada Tio Jiang agar ganjelan pada hari itu dapat dibikin habis.
"Suruh aku mengangguk 3 kali kepadanya, aku sih tak keberatan!"
Ujar siberangasan itu.
Tahu walaupun Kiau To itu beradat berangsan namun berhati diujur, legahlah hati Ki Ce-tiong.
Saat itu karena tiada pekerdiaan, Tio In keluar ber-jalan2 dipuncak.
Tahu2 sang kaki membawanya ketempat Tong Ko dipaksa loncat kebawah lembah tempo hari.
la tahu kalau pemuda itu belum binasa, tapi kemanakah perginya?
Entah bagaimana hatinya terasa pilu.
Terkenang ia akan peristiwa iang lampau, dimana Tong Ko dengan membawa 3 kaki tangan Ceng telah membinasakan adiknya dan membakar perumahan rakyat di Lo-hu-san.
Ah......, mengapa pemuda yang menjadi tambatan hatinya itu, menghambakan diri kepada musuh?
Dengan kenangan yang penuh tanda tanya itu, ia ter-mangu2 sampai bebrapa saat.
Tak antara lama kemudian, haripun masih gelap.
Tay-keng merasa girang setelah dapat membakar hati orang2 gagah itu.
Kini dia ambil ketetapan untuk menjalankan rencananya.
Kalau malam nanti, dia minumkan obat itu, besok pagi ayahnya tentu tak jadi berangkat ke Gun-bing.
Dia menuju kedapur untuk mengambil dua gelas teh wangi, lalu menuju kekamar Tio Jiang.
Dilihatnya sang ayah masih bermuram durja dalam kamarnya, Melihat puteranya datang membawa teh, hati Tio Jiang merasa terhibur, tegurnya.
"Ho, kau sudah pulang? In-ji mengatakan, kamu berdua telah dipermainkan orang di Kwiciu. Besok aku hendak berangkat ke Gun-bing, bagaimana hasilnya, entahlah. Sebaiknya kalian berdua diangan turun gunung lagi dulu!"
Ketika menuang teh kedalam gelas tadi, Tay-keng telah memasuk kan obat racun hong-sin-san.
Sebenarnya diapun tak mengetahui bahwa obat pemberian Hiat-ji itu, ganas sekali kerjanya.
Tapi demi berhadapan dengan ayah kandungnia yang hendak dia "kerjai"
Itu, tak urung hatinya bercekat juga. Maka diapun tak berani mendongak mengawasi sang ayah, melainkan hanya mengiakan saja.
"Kudengar fihak Ceng hendak mengadu domba hubungan kita berdua ayah dan anak maka kuharap diluaran kau harus berkelakuan yang baik. Oh, ya, coba terangkanlah, mengapa sekembalinya deri Gun-bing tempo hari, kau mengatakan padaku bahwa Go Sam-kui tak mempunyai rencana untuk memberontak?"
Tay-keng seperti disambar petir kagetnya.
Memang kepergiannya ke Hun-lam tempo hari itu, dia tak berhasil menjumpai Go Sam-kui, melainkan menerima surat dari pembesar itu.
Tapi surat itu dia berikan pada Hiat-ji, siapa lalu unjukkan surat itu kepada kerajaan.
bukti itu, fihak kerajaan Ceng gusar sekali, tapi oleh karena Go Sam-kui mempunyai tentara kuat, jadi untuk sementara belum diambil tindakan.
Satu2nya langkah, yaIah mengirim rombongan jagoan lihay untuk memperkuat penjagaan di Hun-lam Sejak dua bulan ini, daerah Hun-lam menjadi pusat berkumpulnya mata2 pemerintah Ceng.
Kepada ayahnya, Tay-keng mengatakan tiada tanda2 bahwa Go Sam-kui itu hendak berpaling haluan.
Waktu itu, Tio Jiang percaya juga akan keterangan puteranya itu.
Tapi setelah mendanat keterangan Kiau To bahwa Go Sam-kui mengirim utusan ke Lo-hu-san, tapi oleh karena Co Kong-liok itu teramat gila hormat, maka lalu dihajarnya tumpang siur.
Dengan adanya kejadian itu, Tio Jiang menduga tentu ada sesuatu sang terselip dalam urusan itu.
Maka demi berhadapan dengan Tay-keng dia segera menanyakannya lagi.
Sebagai orang yang bersalah, sudah tentu Tay-keng menjadi ketakutan.
Saking getarnya, gelas yang berada dalam tangannya itu gemetar goyang, bebrapa tetes airnya tertumpah keluar.
"Mung.........kin aku belum menyelidiki jelas.............. akupun........tak tahu apa sebabnya!"
Sahutnya dengan ter-putus2. Yan-chiu, ibu yang memanjakan anak itu, mengira kalau Tay-keng ketakutan akan sikap Tio Jiang yang masih belum reda kemarahannya itu, maka buru2 ia menyela.
"Jiang-ko, jangan gegeri dialah. Menilik umurnya yang masih belum sebrapa itu, masakan dia dapat mengetahui sikap mereka yang sebenarnya!"
Sejak puteranya bungsu meninggal, harapan Tio Jiang ditumpahkan pada Tay-keng.
Dia menghendaki agar puteranya itu kelak menjadi seorang jantan yang luhur perwira.
Memang lahirnya dia berlaku keras terhadap anak itu, tapi kebatinannya dia amat cinta, ya mungkin perasaan sayangnia itu lebih dari permanjaan Yan-chiu.
Sekalipun begitu dia tetap tak melepaskan cara pendidikan yang bengis itu.
"Jangan salah terima. Kalau siang2 aku mendapat kepastian tentang maksud mengajak berserekat dari Go Sam-kui itu, tentu aku tak turun gunung mengerjakan lain urusan. Dengan begitu pastilah aku dapat menyambut kedatangan Co Kong-liok itu. Selain tadi tak usah bentrok dengan Kiau jiko, pun kita tak perlu repot2 dibelakang hari"
Kata Tio Jiang. Tay-keng hanya ter-sipu2 mengiakan saja, keringatnya mengucur deras.
"Minumlah teh itu, Tay-keng membawakan teh untuk menenangkan pikiranmu, sebaliknya kau malah menggegerinya!"
Kata Yanchiu. Tio Jiang mengambil gelas dan terus ditempelkan kemulut. Lekas minumlah, lekas minumlah! Demikian Tay-keng si anak "berbakti"
Itu mendoa dalam hati. Tap! Tio Jiang tak lekas2 meminumnya, melainkan lebih dahulu berkata lagi.
"Tay-keng, kalau kau tak mempunyai urusan apa2, besok kau turut aku ke Gun-bing. Kabarnya ketika Co Kong-liok datang kemari turut juga datang Cui-kui Jui Wi itu cianpwe persilatan yang sudah lama tak muncul. Rasanya di Gun-bing sana tentu berkumpul banyak orang2 gagah. Biar kau tambah banyak pengalaman!"
Hati Tay-keng pada saat itu gelisah sekali. Apa yang diucapkan ayahnya itu, dia tak mendengar sama sekali. Pada detik itu, hatinya hanya berbantah sendiri.
"Mengapa belum diminum? Mengapa belum diminum?"
Saking kerasnya goncangan hatinya itu, sampai2 mulutnya turut mengingaukan suara hatinya itu.
"Hai, Tay-keng, apa2an itu, kau sedang liam-keng (berdoa sembahyang)?"
Tegur Tio Jiang yang heran diuga melihat sikap puteranya itu.
"Tidak apa2"! sahut Tay-keng yang sudah lemas lunglai persendian tulangnya itu. Kalau mencelakai lain orang. mungkin tidak segoncang itu perasaan Tay-keng Tapi yang hendak diracuni itu adalah ayah kandungnya sendiri. Dia cukup tahu bagaimana peribadi ayahnya itu. Seorang lelaki yang tegas perwira, menjunjung kepentingan negara diatas kepentingan peribadi. Kalau saja, perbuatannya chianat itu sampai ketahuan sang ayah dia tentu akan dibunuhnya. Ini sudah tentu dan cukup diinsyafi Tay-keng. Membayangkan hal itu, tubuh Tay-keng bergemetaran. Apa lagi mengingat bahwa gelas itu berada ditangan sang ayah, suatu bukti yang tak dapat dibantahnya lagi. Penyahutannya "tidak apa2"
Tadi, jelas diucapkan dengan nada gemetar. Melihat tindak tanduk puteranya tak wajar itu, Tio Jiang makin mendongkol. diletakkan lagi kemeja, lalu membentaknya.
"Tay-keng, mengapa kau gugup setengah mati begini?"
Semangat Tay-keng serasa terbang dibuatnia.
Serentak dia memalingkan muka kebelakang, tak berani berhadapan muka dengan sang ayah.
Dan Tio Jiangpun makin curiga.
Tapi baru dia hendak menanyai lagi, Tay-keng sudah meneriaki Yan-chiu.
"Mah......"
Kala itu benar2 Tay-keng sudah mati kutu.
Mungkin kalau Yanchiu tak campur tangan, pastilah Tay-keng akan sudah terbuka kedoknya dan Tio Jiang pun tak sampai mengalami peristiwa yang tragis.
Tapi lagi2 datang Yan-ciu mengeloni puteranya.
"Ah, sudah malam, kau tentu capai dari Kwiciu, ayuh, tidur sana!"
Serunya kepada Tay-keng. Tio Jiang menarik napas panjang, ujarnya.
"Dijelmakan sebagai manusia, tapi gerak geriknya seperti setan, omong saja ple......gak pleguk seperti maling tertangkap basah!"
"Ayahnya seorang jantan perwira, masakan anaknya menjadi maling? Kata2mu itu menghilangkan kedudukanku sebagai ibunya!"
Kata Yan-chiu. Rupanya Tio Jiang merasa kalau mendamprat kelewat batas, maka diambilnya gelas teh terus diteguk habis, kemudian berkata.
"Sana masuk tidur, besok pagi2, turut aku turun gunung?"
Sebagaimana diketahui, hong-sin-san atau obat membikin gila orang, adalah ramuan segala jenis dedaunan yang beracun, dan yang lebih hebat yalah dicampuri juga dengan busa ludah anjing gila, ular berbisa dan lain lain.
Sang korban tiada lekas mati, tapi lebih dahulu akan menjadi gila.
Dalam pertempuran digereja Ang Hun Kiong tempo hari, Kui-ing-cu hanya terkena sebuah piau Can Bik san yang dipolesi dengan hong-sin-san tersebut, tapi itu cukup sudah membuatnya gila seperti anjing buas.
(baca.
Lam Beng Ciam Liong).
Apalagi kini Tio Jiang meminumnya.
Bagaimana ngerinya dia nanti, dapat di-kira2kan.
Dalam menunggu ravun ganas itu mencelakai Tio Jiang, ........................
---oo-dwkz)0(kupay-oo---BAGIAN 25 .
TIO JIANG MENOLONG PUTRINYA ........
baiklah kita tengok sebentar keadaan The Go.
Sewaktu mengetahui bahwa Tio In dengan lenggangnya dapat melangkah keluar dari gedung ti-hu, dia terkejut juga.
Mengapa kawanan penjaga itu tak merintanginya?
Merenung sedienak akan sikap Tio In selama tadi, dia segera mengeluh dalam hati.
"Celaka, menilik gelagatnya Tio In mendakwa aku menjadi kaki tangan pemerintah Ceng. Ini berbahaya, kalau pulang ke Lo-hu-san ia tentu mengatakan kepada ayahnya kalau aku dan rombongan Hiat-ji itu hendak mencelakai Tay-keng! Entah rencana apa yang Tay-keng terima dari Hiat-ji itu. Hai, Hiat-ji telah menyimpan Tio In didalam ranjang, dia tentu akan kembali lagi. Baik kutunggunya disana, mungkin aku dapat menggorek keterangan yang jelas."
Cian-bin-long-kun The Go adalah seorang yang memiliki kecerdasan luar biasa.
Dahulu dengan menggunakan sedikit siasat, dapatlah dia membuat 72 buah markas Hoa-san menjadi berantakan.
Adanya Hui-lay-hong Yan-chiu benci tujuh turunan kepadanya, karena dalam segala hal, ia selalu terjebak dalam perhitung The Go yang lihay itu.
Lewat setengah jam kemudian, benar juga didengarnya ada derap kaki mendatangi.
Dia yang sudah naik keatas ranjang, lalu menyingkap kelambu dan benar juga dilihatnya Hiat-ji lah yang muncul disitu.
"Nona Tio, maaf, kau tentu menderita!"
Kata Hiat-ji ketika tiba didepan ranjang, seraya menyingkap kelambu.
The Go bersiap.
Sembari kecilkan nada suaranya menyahuti, tangannya kiri diangkat, siap menyambut kepala anak muda itu dengan kelima jarinya yang seruncing kait.
Sudah tentu Hiat-ji tak mengira, kalau dalam waktu sejam saja nona yang di-idam2kan itu sudah berganti orangnya.
Auk tahu2 Hiat-ji rasakan lehernya dicekik keras dan ditarik kedalam ranjang.
"Apa masih kenal padaku?"
Kata sebuah suara bengis.
Betapa kaget anak muda yang melamun hendak menjadi temanten baru itu, dapat dibayangkan.
Lebih ketika dia mengetahui telah jatuh kedalam tangan siapa.
Tapi diapun seorang yang keras kepala.
Tahu sudah tak berdaya, masih dia coba berusaha untuk menghantam dengan kedua tangannya.
Tapi secepat itu juga.
Tangan kiri The Go sudah tergerak kekanan kiri dan jalan darah kiok-ti-hiat kedua lengan Hiat-ji itu kena tertutuk, lemas terkulai kebawah.
Masih anak itu membangkang.
Dengan sebelah kaki dia menjejak lantai ranjang, bluk, ranjang itu bergoncang keras.
"Ho, kau masih berkeras kepala?"
Bentak The Go dengan berbisik.
Tangan kirinya segera menekan umbun2 kepala anak itu.
Pada umbun2 terdapat jalan darah peh-hui-hiat, merupakan sumber tenaga orang.
Seketika itu juga, lemas lunglailah tubuh Hiat-ji tak dapat berkutik lagi.
The Go tambah lagi menutuk jwan-hiat atau jalan darah pelemas Hiat-ji, ini untuk menjaga kemungkinan Liat Hwat keburu datang mencari kesitu.
The Go tepuk tenggorokan orang, supaya dapat bicara.
Sembari tangan kiri masih meraba diatas umbun2, dia segera mulai mengorek keterangan.
"Kau ajarkan apa kepada Tay-keng, ayuh lekas bilang!"
"Sesudah tahu lalu kau hendak mengapa? Sudah terlambatlah!"
Sahut Hiat-ji dengan tertawa mengejek.
Melihat sikap orang yang sedemikian tengiknya itu, The Go menduga kalau rencana iang diberikan kepada Tay-keng itu tentu sangat berbahaya.
Cekikannya diperkencang sehingga lidah Hiat-ji menjulur keluar tak dapat bernapas lagi.
"Lekas bilang atau tidak!"
Bentak The Go. Hiat-ji coba meronta, tapi tak dapat. Dengan marah dia berusaha kuat2 untuk membuka suara.
"Kusuruh Tay-keng untuk meminumkan hong-sin-san kepada ayah bundanya. Biarkan sebelum mati, sepasang suami isteri itu mengamuk habis kawanan pemberontak Lo-hu-san!"
The Go terperanjat bukan kepalang.
Hebat dan ganas sekali rencana itu.
Karena tak mengira anaknya sendiri tega berbuat begitu, Tio Jiang dan Yan-chin pasti kena dibikin celaka.
Sedemikian hebat kegoncangan hati The Go, sehingga dia tertegun diam.
Rupanya kesempatan itu dipergunakan se-baik2nya oleh Hiat-ji.
Sekali meronta, dapatlah dia lepaskan diri.
The Go seperti diguyur air dingin, serentak dia lancarkan sebuah hantaman dahsyat.
Tapi Hiat-ji sudah lebih cepat dapat loncat jauh2.
Brak......, alat2 perabot kamar itu berantakan hancur, tapi Hiat-ji sendiri tak kena.
Dia menghindar kesamping, menyambar salah sebuah tiang ranjang terus ditarik se-kuat2nya.
Ranjang sempal, kelambunya jatuh menguruki The Go.
"Siappp.........!"
Serunya meneriaki penjaga.
Belasan penjaga lengkap dengan tombak dan pedang segera menobros masuk.
The Go masih berkutetan dalam kelambu.
Hiat-ji cepat mengambil sebuah tombak dari salah seorang pengawal terus ditusukkan.
Terdengar suara jeritan seram dan tubuh The Go yang terbungkus kelambu itu tak tampak bergerak lagi.
Masih Hiat-ji tak puas.
Diambil 3 batang tombak lagi, lalu dilemparkan kearah bagian tubuh The Go yang menonjol.
Kini 4 batang tombak, menancap masuk sampai puluhan senti dalamnya.
Kini Hiat-ji baru dapat menarik napas longgar.
Masakan dengan 4 batang tombak itu, The Go masih bisa bernyawa!
Tapi tiba2 dia hentikan napas setengah jalan, demi mengetahui sesuatu yang mencurigakan.
Kalau benar tubuh The Go telah terpanggang tombak, mengapa kelambu itu tetap kering merinting, setetespun tiada berwarna merah?
Hiat-ji terbelalak kaget.
Tahu dia kalau dirinya ditipu musuh.
Kiranya sewaktu kawanan penjaga hiruk-pikuk menghampiri datang tadi, The Go insyaf kalau dirinia bakal celaka.
Dalam saat2 yang berbahaya itu, cepat dia mendapat akal.
Digulungnya sebuah selimut, lalu diangkatnya berdiri untuk menyanggah kelambu.
Dengan ilmu sut-kut-kang (menyurutkan tulang) dia memperkecilkan tubuhnia lalu bersembunyi disudut ranjang.
Begitu Hiat-ji masuk untuk menyeret keluar "korbannya", dia hendak membarengi menerjangnya.
Tapi rencana yang sedemikian bagus itu, telah gagal akibat kecermatan Hiat-ji yang bercuriga karena kelambu tiada berdarah.
Tahu kalau diselomoti, Hiat-ji mundur 3 langkah.
Mengawasi kedalam randiang dilihatnia tubuh The Go melingkar disudut.
"Orang she the, kau telah binasa secara mengenaskan dengan menderita 4 buah tusukan tombak. Kalau bertemu raja akhirat, jangan mengadu kalau aku Shin Hiat-ji berhati kejam ya!"
Serunya dengan tertawa keras.
Baik kata2 maupun ketawa itu sengaja dia lakukan, perlunya untuk membalas tipu dengan tipu.
Biarlah The Go percaya kalau siasatnya itu berhasil.
Tapi dalam pada itu, diam2 dia sudah siapkan dua tombak dan tahu2 secepat kilat dia lemparkan sebatang kedalam ranjang.
Memang sewaktu mendengar ejekan Hiat-ji tadi, The Go mengira kalau anak itu termakan siasatnya.
Tapi dia segera menjadi kaget demi mendengar ada samberan angin mendesis datang.
Oh, kiranya lawan sudah mengetahui.
Dari arah datangnya suara itu, cepat dia ulurkan tangan untuk menyanggapinya.
Sewaktu Hiat-ji melontarkan lagi tombak kedua, dengan tangkasnya The Go gunakan tombak yang disanggapinya tadi untuk menangkis.
Tombak Hiat-ji itu, putus menjadi dua dan terpental keluar.
Dua orang pengawal yang tak sempat menghindar, sepera menjerit keras dan rubuh tak bernyawa lagi.
Jumlah pengawal yang sama ber-bondong2 datang, makin banyak.
Hiat-ji perintahkan supaya dinding kamar dirobohkan agar mereka dapat masuk semua.
Setelah itu Hiat-ji lalu memberi komando supaya mengepung ranjang itu.
Ratusan pengawal lengkap dengan senjatanya, segera mengepung rapat2 ranjang itu.
"Orang she The, mengapa tak keluar menjenguk sebentar, kematian cara bagaimana yang menunggumu saat ini? Sekali kuberi komando, badanmu akan berhias ratusan tombak. Sekalipun kau mempunyai ilmu menembus langit, tetap kau takan lolos!"
Seru Hiat-ji dengan tertawa kemenangan.
Pada saat Hiat-ji memberi komando pengepungan tadi, The Gopun sudah membuat sebuah lubang pada kelambu.
Apa yang terjadi disekeliling situ, dia dapat mengetahui jelas.
Diam2 dia memuji bukan saja Hiat-ji itu lihay dalam ilmusilat pun juga cerdas otaknya.
Kecerdasan anak itu mungkin tak dibawahnya.
Memang sekalipun dia tumbuh sayap, tetap takkan dapat lolos dari kepungan serapat itu.
Selama anak itu masih hidup, perjoangan kaum pecinta negeri akan menghadapi kesukaran.
Akhirnya The Go mengambil putusan untuk menjalankan siasat menyakiti diri.
Memang hanya dengan cara itulah dia akan dapat menipu lawan.
"Ha, ha, Shin Hiat-ji, tuanmu besar orang she The ini mempunyai kim-ciong-toh-kong (ilmu weduk). Masakan tombak2 kawanan pengawal itu dapat melukai diriku. Kalau tak percaya, cobalah!"
The Go tertawa ber-gelak2. Hiat-ji terkesiap, tapi cepat dia dapat menguasai diri, serunya.
"Baiklah, biar aku yang menggaruk gatalan itu!"
Wut......, sebuah tombak melayang.
Sebenarnya pada The Go masih ada sebatang tombak, kalau mau dapatlah dia menghalau serangan itu.
Tapi oleh karena dia hendak jalankan tipu menyakiti-diri, sengaja dia menangkis luput sembari miringkan tubuh untuk menyambut datangnya tombak Hiat-ji itu.
Cret......., tombak menyusup kedalam bahu dan kelambu yang putih bersih itu segera berobah warnanya dengan merah darah.
"Aya........", hanya sekali mulut The Go kedengaran mengerang dan tubuhnyapun tampak tak berkutik lagi. Kali ini baru Hiat-ji betul2 bergirang, demi melihat darah membasahi kelambu. Setelah menunggu bebrapa saat tak tampak The Go berkutik, dia terus hendak maju menghampiri. Tapi sesaat terkilas dalam pikirannya bahwa yang dihadapinya itu adalah seekor rubah (rase) yang luar biasa licinnya. Jangan2 dia belum mati dan hanya pura2 saja, demikian Hiat-ji bertanya dalam hati. Batal melangkah maju, dia lontarkan lagi sebatan tombak. Tombok menancap, darah menyembur, tapi tubuh The Go tetap tak berkutik. Memang The Go sengaja kasihkan pundaknya yang lain, untuk menyanggapi tombak itu. Jadi kini kedua pundaknya terluka parah! ----o^dwkz0tah^o---"Ha, ha, bangsat yang bernyali besar, berani memasuki sarang harimau, tu rasakan sendiri upahmu"
Hiat-ji tertawa bangga setelah yakin musuh telah "terbinasa".
Tanpa ragu2 lagi, dia terus melangkah menghampiri.
Inilah saat yang di-nanti2kan The Go salurkan lwekang dia tahan derita kesakitan-nya.
Begitu Hiat-ji tiba dimuka ranjang, dia lalu loncat keatas sembari pentang kedua lengannya untuk menjaring lawan dengan kelambu.
Mimpipun tidak Hiat-ji kalau musuh yang sudah menderita luka sedemikian hebatnya itu masih mempunyai ke kuatan begitu dahsyat.
Hendak dia menghindar kesamping tapi sudah tak keburu.
Kepalanya kena kejaring dan secepat itu pula The Go segera menindihinya.
Saat itu keadaan The Go mirip dengan seorang manusia darah.
Karena ditindihi, Hiat-jipun turut berlumuran darahnya.
Dengan hasil peyakinannya selama 20 tahun itu, walaupun terluka parah tenaga The Go masih cukup dahsyat.
Hiat-ji merasa seperti ditindihi ribuan kati, seketika kakinya lunglai dan kepalanya ber-kunang2.
Dia jatuh ngelumpruk dihimpit tubuh The Go.
Ratusan pengawal itu sama hiruk pikuk, tapi karena pemimpinnya kena diringkus, mereka tak berani mendekati.
The Go menarik napas lega, setelah menyapukan pancaran matanya yang ber-kilat2, dia kedengaran berseru.
"Lekas menyingkir semua! Lekas bawa kemari wanita yang tertawan siang tadi, baru nanti kuampuni jiwa pemimpinmu ini!"
Kawanan pengawal itu sama berpandangan satu sama lain.
Tiada seorangpun yang berani berkutik.
Memang The Go sudah bertekad bulat, bila perlu akan sama2 binasa dengan Hiat-ji.
Dahulu pemuda Ciam-bin-long-kun itu banyak sekali bekerja membantu pemerintah Ceng.
Tapi sejak kakinya buntung dan menyembunyikan diri dipegunungan Sip-ban-tay-san, dia telah insyaf akan kesesatannya.
Selama dalam pertapaannya itu, tetap The Go mengharapkan suatu kesempatan dimana dia bisa menebus dosanya itu dengan jasa2 kepada negara.
Diketahuinya muda sekalipun usia Hiat-ji itu, namun sudah sedemikian lihaynya.
Apabila dia sudah makin dewasa, tentu akan merupakan bahaya besar bagi perjoangan rakyat.
Mati ber-sama2 dengan anak itu, kiranya cukup berharga sebagai sumbangsih baktinya kepada negara.
Dengan ketetapan itu, dia kerahkan seluruh kekuatan dan berseru keras seraya hendak menindih remuk anak itu.
Dalam saat2 maut hendak meregut jiwa Hiat-ji tiba2 terdengarlah sebuah benda mengaum dan tahu2 The Go rasakan tubuhnya lemas tak bertenaga lagi.
Ah, kiranya jalan darah jwan-hiat pada lambung kena termakan sebuah senjata rahasia.
Menyusul dengan itu, kawanan penjaga sama gempar menyisih kesamping.
Seketika itu ruangan disitu terasa ada hawa panas meniup, sehingga tenggorokan serasa kering.
Sesosok tubuh kecil tampil muncul.
Demi The Go melihat yang datang itu adalah Liat Hwat, dia mengeluh dalam hati.
Jadi yang menutuk jalan darahnya tadi, tentulah si Liat Hwat itu.
Bagaimanapun juga, kini nasibnya sudah dapat dibayangkan.
Saking gusarnya, The Go menjerit keras, mulutnya menyembur darah segar.
Sesaat itu Hiat-ji rasakan tindihan The Go agak kendor, maka sekali meronta bangun dapatlah dia menyengkelit The Go kebawah.
Kini kedua suhu dan murid itu tertawa iblis melihati korbannya.
"Cian-bin-long-kun The Go, kalau saat ini kugerakkan tanganku, kau pasti akan jadi setan tanpa kepala lagi. Tadi kumendapat keterangan bahwa pada 20 tahun yang lampau, kau telah banyak membantu pada kerajaan Ceng. Nah, kalau sekarang kau mau bekerja pada kerajaan lagi, tentu akan kuobati lukamu itu"
Seru Liat Hwat dengan nada melengking seperti anak kecil.
The Go sudah diambang pintu kematian.
Kalau dia berkeras membangkang, jiwanya pasti melayang.
Tak usah Liat Hwat turun tangan, cukup dibiarkan begitu saja, dia akan sudah mati karena kehabisan darah.
Tapi kalau menyerah, berarti dia pulang kandang menjadi kaki tangan pemerintah penjajah lagi.
Namun The Go bukan Cian-bin-long-kun kalau dia tak dapat memecahkan kesulitannya itu dengan tiepat.
Setelah merenung sedienak, berserulah dia.
"Baik, aku menurut tawaranmu!"
Liat Hwat saling berpandangan dengan Hiat-ji, karena terkejutnya.
Dalam pembicaraannya dengan beberapa orang persilatan yang menjadi kaki tangan pemerintah Ceng tadi, Liat Hwat mengetahui bahwa dahulu The Go itu seorang pembantu kerajaan yang jempol.
Selain tinggi ilmusilatnya pun menjadi gudang otak dari segala siasat yang lihay.
Diam2 timbul keinginannya untuk mendapatkan The Go lagi.
Menurut perhitungannya, hal itu baru terlaksana setelah melalui jerih payah membujuknya.
Maka bahwasanya selekas dan semudah itu berbalik pikiran, sungguh diluar dugaan Liat Hwat dan Hiat-ji.
Ketidak wajaran itu telah membuat Hiat-ji curiga dan memperingatkan suhunya hendak berlaku hati2 jangan terkena tipu.
"Kalau begitu, bunuh sajalah aku!"
The Go menghela napas. Liat Hwat merenung sebentar lalu berseru.
"Kalau kau benar2 hendak bekerja pada kerajaan, haruslah mengangkat aku sebagai suhu!"
Tanpa banyak ini itu lagi The Go serentak berbangkit dan menjurah dihadapan Liat Hwat seraya menyerukan "suhu".
Liat Hwat dan Hiat-ji kembali saling berpandangan, lalu menolonginya bangun, menutuk jalan darah pundaknya untuk menghentikan perdarahan.
Hiat-ji masih mengunjuk kecurigaan, tapi Liat Hwat segera menegurnya dengan girang.
"Hiat-ji, sejak sekarang kalian berdua adalah suheng dan sute, ayuh lekas kasih hormat!"
Hendak Hiat-ji memberitahukan kandungan hati kepada sang suhu tapi oleh karena The Go berada disitu jadi tak leluasa. Apa boleh buat diapun segera menjura memberi hormat kepada The Go.
"Suheng kutahu kau tentu menyangsikan tindakanku kembali keduli kerajaan. Saat ini bukanlah waktunya untuk bersitegang leher (ngotot), kelak kau tentu mengetahui sendiri bagaimana isi hatiku!"
Kata The Go.
Tapi Hiat-ji hanya menyahut sekenanya saja, tak banyak menaruh perhatian.
The Go menghela napas seraya meminta pada Liat Hwat agar suka membebaskan Siao-lan.
Oleh karena The Go banyak berkata2, mukanya menjadi pucat lesi.
"Liat Hwat memberi isyarat mata pada Hiat-ji untuk mengambil Siao-lan sedang dia sendiri lalu menggotong The Go keatas ranjang Tak berapa lama, datanglah Hiat-ji dengan membawa Siao-lan. Sejak ditawan, Siao-lan dijebluskan dalam tutupan dibawah tanah. Ketika dibawa keluar Hiat-ji itu ia kira bakal dihukum mati. Maka betapa girang dan terkejutnya demi ia diantarkan kepada The Go. Namun, tatkala dilihatnya sang suami mandi darah terluka parah, hatinya gelisah bukan main.
"Engkoh Go,"
Serunya sembari lari menghampiri.
"Siao-lan, lekas beri hormat pada suhu dan suheng dahulu, aku masih ada lain2 perkataan untukmu!"
Siao-lan hampir tak percaya apa yang didengarnya itu.
"Ai, adakah Ang Hwat cinjin tiba kemari?"
Ia menegas.
"Siao-lan, aku sudah kembali pada kerajaan Ceng lagi dan mengangkat suhu pada Liat Hwat cousu, jago nomor satu dari Tibet!"
Tenang2 saja The Go memberi keterangan. Kalini benar2 Siao-lan terkejut sekali.
"Engkoh Go, bukan sekali dua kau mengatakan padaku hendak kembali kejalan yang benar, mengapa kini kau mengangkat suhu pada bangsa imam siluman?"
"Kau seorang wanita, tahu apa!"
Bentak The Go dengan wajah bengis.
"Liat Hwat cousu adalah orang nomor satu dari Tibet, ilmunya hwat-hun-kang tiada tandingnya dikolong langit. Beliau mendapat tugas berat dari kerajaan untuk mengamankan daerah Kwiciu. Aku bisa diterima menjadi muridnya itulah suatu berkah besar, mengapa kau omong tak keruan begitu?" . Siao-lan tiada mempunyai sesuatu cita2 apa2. Asal ia tetap berdamping disisi sang suami, itulah sudah puas. Memang sejak masih gadis sampai sekarang, ia cinta ke-pati2 dengan Cian-bin-longkun itu. Buntung sekalipun pemuda itu, tetap ia terima dengan sepuluh jari.
"Baiklah, apapun kehendakmu, aku menurut saja.!"
"Siao-lan, kau benar isteriku yang dengar kata,"
Kata The Go dengan wajah terang.
"aku hendak tinggal disini untuk beberapa waktu. Pertama untuk berobat dan kedua hendak minta pengajaran lebih lanjut kepada suhu dan suheng. Kau boleh pergi mencari Ing-ji untuk memberitahukan bahwa aku berada disini!"
Baru Siao-lan mengiakan, Hiat-ji cepat2 menyela.
"Nanti dulu, kalian berdua lebih baik tinggal disini saja, untuk sementara jangan pergi ke-mana2 dulu!"
The Go tahu apa yang dikandung dalam hati Hiat-ji maka dengan tertawa dia menyetujuinya.
Memang Hiat-ji masih belum yakin palsu tidaknya tindakan The Go itu.
Tadi oleh karena suhunya telah menerima The Go menjadi murid, jadi diapun tak dapat berbuat apa2.
Tindakan satu2nya, dia hendak mengenakan tahanan-rumah pada sepasang suami isteri itu, dalam pada itu dia titahkan orang2nya menyiarkan berita diluaran bahwa Cian-bintong-kun The Go kini sudah kembali pada kerajaan Ceng lagi, menjabat kedudukan sebagai taylwe wi-su (bayangkari).
Kaum persilatan tentu gempar dengan berita itu dan mempercayainya.
Dengan begitu mau tak mau dia dapat memaksa The Go, andaikata hanya siasat saja untuk benar2 menakluk pada kerajaan.
Liat Hwat cousu Mo Put-siu diam2 menyetujui tindakan muridnya yang tepat itu.
Dia memberi bebrapa butir pil kepada The Go, menyediakan sebuah gedung besar untuk sepasang suami isteri itu.
Begitulah sejak itu The Go dan Siao-lan menetap digedung ti-hu tersebut.
---o^dwkz0tah^o--BAGIAN 26 .
ILMU TALI CHENG-SI PENINGGALAN ANG SIAN LIHIAP Sekarang mari kita jenguk keadaan The Ing yang disuruh ayahnya tinggal digoa merawati Bek Lian itu.
Sepergi kedua orang tuanya, dia kembali masuk menjenguk Bek Lian.
Didapatinya pernapasan si sakit itu agak teratur baik.
Terkesiap menampak wajah Bek Lian yang cantik itu, diam2 ia merenung seorang diri.
"Nona Bek sekarang sudah berusia 40-an, namun masih sedemikian cantiknya. Sewaktu mudanya, entah berapa jumlahnya pemuda yang tergila2 padanya. Tapi mengapa ia mengasingkan diri ditempat begini? Adakah jelita semacam ia itu juga mengalami kepatahan hati?"
Tiba pada kesimpulan "patah hati", hatinya serasa tercekat sendir.
Terkenang ia akan hubungannya dengan Tong Ko yang sedemikian mesra mengesankan.
Tapi pemuda itu telah mempunyai kekasih, maka naga2nya ia tentu akan menubruk bayangan kosong saja nantinya.
Tio In, gadis pujaan Tong Ko itu, cantik dan menarik, apalagi sudah lebih dahulu merebut hati Tong Ko.
Benar sekarang ini mereka berdua sedang retak hubungan, tapi ada satu hari salah faham itu tentu akan dapat dijelaskan.
Untuk menjauhkan Tong Ko dari Tio In, satu2nya jalan yalah menambah lebar jurang keretakan itu.
Tapi bagaimana ia hendak melakukan "siasat itu?"
Gadis The Ing yang dilamun asmara itu, ingin sekali tumbuh sayapnya agar dapat terbang ke Sip-ban-tay-san sana untuk menjumpai Tong Ko.
Tapi ayahnya tadi telah melarang ia mengadakan pertemuan dengan pemuda itu lagi.
Entah berapa lama The Ing terbenam dalam lamunannya itu, atau tiba2 ia dikejutkan dengan suara erangan dari Bek Lian yang berusaha hendak duduk.
Tampak wajah sisakit itu sudah banyak berobah baik.
MaIah dengan rasa heran.
Bek Lian segera menanyainya kalau tadi ia diminumi obat apa saja.
"Ya, dari ayahku......."
Baru mulutnya meluncurkan kata2 itu, serentak teringatlah The Ing akan pesan ayahnya tadi supaya jangan mengatakan nama ayahnya itu dihadapan Bek Lian Maka buru2 ia menyusuli.
"Seorang kenalan ayahku kebetulan lewat disini dan memberikan 3 butir pil. Memang benar, kau kini sudah banyak baikan nona Bek!"
"Ai........ kiranya kau masih mempunyai ayah, siapa namanya? Dan siapa nama kenalan ayahmu itu?"
Dengan gelagapan tak lampias, The Ing menyahut sembarangan saja.
Sejak 20 tahun lamanya, baru sesaat itu hati Bek Lian terharu dan berterima kasih atas ketekunan The Ing merawatinya.
Sejak ia tinggalkan bayinya kepada mamahnya (Kiang Siang Yan), ia segera mengembara jauh.
Rencananya hendak menjadi nikoh (rahib atau paderi perempuan).
Tapi kegoncangan hatinya akibat dikhianati cintanya oleh The Go itu tetap berkesan, apalagi ia tak berhasil mendapat seorang guru nikoh yang berilmu jadi setahun setelah mencukur rambutnya, ia mengembara lagi didunia persilatan.
Belakangan disekitar Lo-hu-san, dalam sebuah goa rahasia dibalik air terjun, ia berhasil menemukan tali cheng-si, jaring liok-i-ong dan sebuah kitab pelajaran tiara menggunakan benda2 pusaka itu.
Tiada ditulis siapa2 yang meninggalkan kitab itu, hanya sedikit tulisan yang menyatakan dendam penasaran asmara yang gagal.
Orang itu mengambili sarang laba2 dan dianyamnya menjadi tali cheng-si (tali asmara) yang istimewa beserta jaring liok-i-ong (enam macam keinginan).
Barangsiapa.
yang kesasar masuk dalam goa itu, apabila mereka itu adalah sepasang pria wanita, pasti akan dipaksanya menikah satu sama lain.
Bek Lian turut terharu atas nasib si orang tak dikenal yang malang itu.
Sejak itu ia ambil putusan menetap digoa situ, hingga sampai belasan tahun lamanya.
Oleh karena pelik letaknya, maka kecuali Tong Ko, The Ing, Hiat-ji dan Tio In tempo hari tak pernah ada orang yang kesasar masuk disitu.
Selesai belasan tahun bertapa itu, Bek Lian telah menjadi seorang wanita yang berhati batu.
Tapi kini demi mengetahui jerih payah The Ing merawatinya selama itu, tersentuhlah hati nuraninya.
Ia duduk bersila untuk melakukan latihan bernapas.
Keesokan harinya, ia merasa sakitnya lebih dari separoh bagian sudah baik.
Ketika membuka mata, tampak olehnya The Ing berdiri bersandar pada sebatang puhun, ter-longong2 memandang jauh kesebelah depan, sikapnya sebagai seorang yang tengah melamun.
Bek Lian adalah seorang yang kenyang makan pahit getirnya hubungan kaum muda mudi.
Sekilas memandang, tahulah sudah ia apa yang bersemayarn dalam hati The Ing itu.
Serentak ia berbangkit lalu menghampiri, serunya.
"Nona Ing, siapa yang kaupikirkan itu? Apakah dia juga memikirkan padamu?"
The Ing terperanjat, mengapa Bek Lian dapat membaca isi kalbunya. Wajahnya tampak ke-merah2an dan dengan kepala menunduk, ia menghela napas dalam2.
"Ah, tak usah kiranya kau menggado hatimu sendiri. Semua orang laki2 didunia ini, tidak ada yang baik!"
Bek Lian menghiburinya.
"Bukan, dia tidak begitu!"
Bantah The Ing cepat2.
"Dia, dia itu siapa?"
"Yang kau hajar babak belur itulah!"
Sahut The Ing. Bek Lian tertawa dingin, ujarnya.
"Kalau benar dia itu seorang baik, masakan dia tega tinggalkan kau seorang diri didalam goa?!"
"Aku kenal padanya agak terlambat, sebelumnya dia sudah saling menyinta dengan nona In, mengapa dia dipersalahkan?"
The Ing mengajukan pembelaan.
Bek Lian terkesiap.
Teringat ia akan peristiwa dahulu.
Karena terpincut dengan kecantikannya (Bek Lian), maka The Go telah tinggalkan Siao-lan.
la anggap, ucapan The Ing tadi memang beralasan.
"Jangan kluatir, kalau dia memang seorang pemuda yang baik, aku akan berusaha agar dia mau menerima cintamu!"
Kata Bek Lian. Teringat akan pesan ayahnya, The Ing unjuk ketawa getir, tak menyahut lagi Berkata pula Bek Lian.
"Sekarang ini kau tak usah pikirkan yang tidak2. Disini aman. Aku hendak mengajar pelajaran tali cheng-si yang istimewa itu kepadamu. Jangan meremehkan tali kecil itu, kalau sudah dikembangkan, merupakan suatu permainan yang kaya dengan gerak perobahan, melebihi dari permainan segala macam senjata. Hanya sayang, jaring liok-i-ong itu sudah dirampas si-imam siluman, kalau tidak tentu merupakan pasangan senjata yang lebih sakti lagi!"
Habis berkata, Bek Lian lalu mengeluarkan segulung tali cengsi.
Baru kini The lng jelas betul, bagaimana bentuk tali istimewa itu.
Tali itu besarnya sama dengan selembar rambut yang halus, warnanya merah gelap.
Sekali pun gulungannya hanya sebesar kepelan tangan, tapi kalau diulur, tentu akan bebrapa li panjangnya.
"Karena ilmu permainannya hendak kuajarkan, maka separoh bagian dari tali cheng-si inipun hendak kuberikan padamu, nah, kau ikal lah pada tanganmu!"
The Ing mengiakan.
Setelah beberapa lamanya mengikal, barulah ia beroleh separoh bagian.
Bek Lian menyatakan sudah cukup, suruh The Ing letakkan tali itu diatas tanah, lalu dipijaknya dengan kaki.
Ia mengambil sebuah batu, kemudian bersama The Ing mulai menarik tali itu.
Ho......, jangan menyepelekan tali sehalus rambut itu, karena uletnya bukan kepalang.
Sampai2 kelima jari The Ing sakit sekali dibuatnya, tetapi tali cheng-si tak mau putus.
Setelah mendapatkan tali itu tak dapat melar lagi, barulah Bek Lian mulai menghantamnya dengan batu tadi.
Au........
jerit The Ing karena tak tahan kesakitan jarinya akibat benturan batu itu.
Kini benar juga, tali itu telah putus.
Berkata Bek Lian.
"Permainan tali ini, hanya terdiri dari 4 jurus, namun penuh dengan gerak perobahan yang sukar diduga. Bagi seorang akhli lwekang yang tinggi, dapatlah menyalurkan lwekangnya sampai satu li jauhnya, tapi orang seperti aku ini, hanya dapat menyalurkan sepanjang empat lima tombak, saja. Untuk melibat senjata musuh, tali ini paling boleh diandalkan, coba lihatlah ini! lihatlah ini!"
Sir....., tali itu segera dilayangkan kearah sebatang puhun empat lima tombak jauhnya. Sekali Bek Lian tarik tangannya, sebuah dahan sebesar lengan orang, tertarik jatuh, Girang The Ing tak terkira.
"Kalau lwekangnya tinggi, dapatlah dibuat melukai lawan pada jarak satu li jauhnya tanpa orang itu mengetahuinya. Rasanya kedahsyatan ang-sian (tali merah) yang begitu menggetarkan kalangan persilatan pada masa yang lampau itu, tak lebih tak kurang hanya seperti inilah!"
Kata The Ing.
"Benar, kemungkinan besar tali cheng-si ini memang peninggalan dari Ang Sian lihiap (pendekar wanita tali merah) pada jaman Tong-tiau. Karena lihiap itu menggunakan tali yang bersinar merah, maka orang lalu menggelarinya sebagai Ang-sian lihiap!"
Sahut Bek Lian.
Pernah The Ing mendengar cerita tentang pendekar wanita itu, yang ilmu kepandaiannya telah mencapai tingkatan tinggi.
Kalau begitu, ilmu permainan tali cheng-si yang walaupun hanya terdiri dari 4 jurus itu, tentulah teramat saktinya.
Ia ambil putusan hendak mempelajarinya dengan sungguh2.
Nama dari keempat jurus itu adalah begini.
ham-ceng-meh-meh (asmara merayu-rayu), liang-cheng-siang-gwat (dua hati saling berpadu), ceng-hay-seng-bo (gelombang lautan asmara) dan ceng-ay-ho-sin (jangan percaya suara asmara).
"Perhatikanlah, aku hendak mulai mengajarkan gerakan jurus2 itu!"
Kata Bek Lian sembari mundur setombak jauhnya.
Sir...., Sir...., sir...., tali dilontarkan sejauh 5 tombak, sekali tangan menyentak maka tali itu lalu meluncur naik keatas.
Pada lain saat, tahu2 tubuh Bek Lian seperti terbungkus dengan sinar merah, bagaikan ratusan ekor ular halus panjang, me-lingkar2 naik turun.
Jangankan dapat melihat cara Bek Lian melakukan gerakan itu, sedang untuk mengawasi jalannya tali itu saja, mata The Ing sudah kabur.
Makin lama gerakan Bek Lian makin gencar.
Diatas udara tak henti2nya terdengar suara menderu dan mendesis.
Pepuhunan seluas satu tombak pesegi, sama berhamburan rontok daunnya, batu2 dan pasir terbang berhamburan.
Beberapa jenak kemudian, barulah Bek Lian sudahi permainannya itu, serunya.
"Empat jurus telah kumainkan semua, apa kau sudah jelas?"
"Sedikitpun aku tak mengerti,"
Sahut The Ing dengan ke-malu2an.
"Tak apa, nanti kalau kuulangi bebrapa kali, kau tentu jelas. Lebih dulu hendak kuterangkan padamu kunci rahasia gerakan dari setiap jurusnya!" , The Ing mencatat didalam hati apa yang diuraikan oleh Bek Lian itu. The Ing adalah keturunan seorang cerdas macam Cian-bin-long-kun. Jadi iapun mewarisi kecerdasan yang tak tercelah. Dalam setengah jam saja, dapatlah sudah ia menghafalkan kunci permainan itu. Waktu Bek Lian bermain sekali lagi, kini baru ia jelas seluk beluk gerakannya itu. Jurus ham-ceng-meh-meh, bergaya lincah tangan dan serba indah. Kedua liang-cheng-siang-gwat, gencar dahsyat macam taufan menderu. Tali cheng-si itu sebentar menyurut sebentar memanjang, ber-lingkar2 menjari ratusan lingkaran kecil. Ceng-hay-seng-bo atau jurus ketiga, ujung tali itu me-lilit2 bagaikan naga menari, keras buas. Jurus penghabisan ceng-ay-ho-sin, mencapai klimaksnya. Tarian tali yang melilit lingkar dengan buasnya itu tiba2 menjadi jinak tak men-deru2, namun sumber kesaktiannya tiada habisnya. The Ing terpesona melihat keindahan ilmu permainan yang hanya terdiri dari 4 jurus itu. Sehari suntuk ia tumpahkan perhatiannya untuk belajar, tapi hanya dapat mempelajari jurus pertama. Itu saja masih banyak kekurangan. la hanya dapat melontarkan sejauh satu tombak. Berkat ketekunannya, dapatlah ia mengetahui letak rahasia cara melontarkannya. Malamnya ketika Bek Lian sudah tidur, ia masih tetap berlatih sampai fajar. Ia hanya tidur bebrapa jam lalu berlatih jurus kedua. Begitulah lewat bebrapa hari kemudian, dapatlah ia mempelajari keempat jurus itu semua. la dapat melontarkan tali sampai satu setengah tombak.
"Kini kau telah memahaminya, untuk mencapai kesempurnaan hanya tergantung pada latihan2 selanjutnya saja. Aku masih mempunyai urusan lama yang belum terhimpas. Selama aku menyikap diri dalam goa, aku tak merasa apa2. Tapi kini setelah berada diluar, kurasa urusan itu harus kuselesaikan. Ayuh, kau ikut aku mengembara!"
Kata Bek Lian. Oleh karena tak mengetahui bahwa apa yang dimaksudkan "urusan lama"
Itu mengenai diri ayahnya, The Ingpun mengiakan.
Mereka berdua lalu turun dari gunung Lo-hu-san.
---oo
TIO JIANG KERACUNAN ......DAN MENGAMUK Kalau itu hari sudah mulai gelap.
Tiba dibawah puncak Giok-li-nia, mereka berhenti.
Terkenang akan peristiwa 20 tahun berselang dimana untuk pertama kali berjumpa dengan Cian-bin-long-kun The Go, hati Bek Lian serasa pilu.
Sebaliknya The Ing yang terkenang akan pertemuannya dengan Tong Ko, juga ditempat itu, pun ter-longong2 seperti orang kehilangan semangat.
Mereka berdua tanpa berjanji, sama termenung mengenangkan kejadian yang pernah mengambil tempat dalam takhta hatinya.
Tiba2 dari atas puncak sana terdengar suara hiruk-pikuk dari orang2 yang sama membawa obor.
Diantara suara yang amat gempar itu.
terdengar suara teriakan seorang wanita.
"Jiang suko, kau mengapa, Jiang suko, itu saudara2 kita sendiri!"
Yang paling nyaring adalah gerungan sebuah suara yang laksana guntur menyambar.
Dari nada teriakannya yang mengunjuk ke-marahan hebat itu, orang itu memiliki lwekang yang dalam.
Bek Lian tersentak kaget, wajahnya serentak berobah dan lekas2 ajak The Ing tinggalkan tempat itu.
"Nona Bek, siapa lelaki dan perempuan yang ber-teriak2 itu?"
Tanya The Ing.
"Si perempuan bernama Liau Yan-chiu, yang laki bernama Tio Jiang!"
Sahut Bek Lian dengan dingin.
The Ing terkesiap.
Adanya ia dapat berjumpa dengan Tong Ko adalah karena disuruh ayahnya (The Go) supaya datang membantu usaha Siau-beng-siang Tio Jiang.
Tapi karena percaya akan cerita Tong Ko tentang tindakan Tio Jiang yang kurang bijaksana itu, The Ing gusar dan tak jadi pergi ke Giok-li-nia, jadi selama itu belum pernah ia melihat bagaimana perwujudan Siau-beng-siang.
Sesaat timbullah hasratnya untuk menemui tokoh yang namanya begitu agung dalam dunia pergerakan menentang penjajah itu.
Ingin sekali ia mendamprat Tio Jiang atas tindakannya yang begitu kejam memaksa Tong Ko loncat kedalam jurang.
The Ing enggan pergi dan merontak dari cekalan Bek Lian, serunya.
"Aku hendak melihat bagaimana sebenarnya perwujudan suami isteri Siau-beng-siang -Hui-lay-hong itu. Nona Bek, kau.......", sembari berkata itu The Ing berpaling, tapi untuk kekagetannya, ternyata Bek Lian sudah tak berada disitu. Ber-ulang2 ia meneriakinya, tetap tiada penyahutan. Dalam pada itu, suara hiruk-pikuk diatas puntiak itu, makin lama makin jelas menurun kearah kaki gunung. Jerit siwanita yang meneriakkan "Jian, suko"
Itu, sedemikian nyaring dan gelisah.
The Ing.
cukup faham akan watak Bek Lian yang aneh, maka iapun tak kuatir lagi.
Tampak olehnya bagaimana rerotan obor itu sudah tiba disitu.
Diantara ratusan orang2, ada seorang lelaki gagah tengah mengamuk dengan membolang-balingkan sebatang pedang pusaka.
Bagaikan seekor kerbau gila dia mengamuk kian kemari.
Kemana dia merangsang, disitu tentu terdengar jeritan orang mengaduh kesakitan hebat.
Sementara wanita yang meneriaki "Jiang suko"
Itu, sebaya umurnya dengan Bek Lian, dan juga mencekal sebatang pedang pusaka.
Ia tampak gugup gelisah sekali, menghadang kesana, mencegat kemari.
Terdorong oleh keinginan tahu apa yang telah terjadi itu, The Ing maju menghampiri.
Tampak ada seorang tua bertubuh pendek tampil kemuka dengan bersenjata sepasang sarung tangan macam cakar.
Kelima jarinya, hampir setengah meter panjangnya.
"Saudara2, jangan panik. Ki-toako, Kiau jiko, ayuh kita bertiga kepung dia!"
Serunya dengan lantang.
Suasana hiruk pikuk menjadi hening.
Menyusul loncat kemuka dua orang lelaki.
Yang satu membawa jwan-pian, yang satu sebatang kong-cian.
Mereka bertiga lalu pecah diri menjadi segi tiga.
Tapi seketika itu juga, siorang kalap tadi segera menyerang orang yang mencekal senjata kong-cian itu.
Bagi The Ing, karena wajah wanita yang berteriak2
"Jiang suko"
Itu mirip dengan Tio In, maka ia menduganya kalau Hui-lay-hong Yan-chiu, sedang sipengamuk itu tentulah Siau-beng-siang Tio Jiang.
la tak tahu bahwa ketiga orang lainnya itu adalah Siang-eng Ko Thay, Ki Ce-tiong dan Kiau To.
"Ki toako, hati2lah dia gunakan jurus ceng-wi-tian-hay untuk menyerang kebawah,"
Yan-chiu meneriaki Ki Ce-tiong yang hendak diserang Tio Jiang itu.
Sebenarnya Ki Ce-tiong dan kawan2 sudah hendak masuk tidur, karena kala itupun sudah tengah malam.
Tapi tiba2 mereka dikejutkan oleh suara orang menggerung keras disusul dengan ayeritan ngeri.
Ber-gegas2, mereka sama memburu keluar dan dilihatnya Tay-keng berlumuran darah bahunya lari pontang panting.
Dibelakangnya mengejar Tio Jiang dengan pedang terhunus.
Sedang dibelakangnya, tampak Yan-chiu ber-teriak2 memanggil "Jiang suko...., Jiang suko.....".
Semua orang sama mengira kalau Tay-keng kesalahan besar terhadap ayahnya hingga dihajar.
Tapi bagi Ki Ce-tiong, Kiau To, Ko Thay dan kawan2 cukup tahu bahwa sekalipun Tio Jiang bersikap bengis terhadap puteranya, namun tetap tak tega untuk membunuh puteranya itu.
Cepat2 mereka menolongi Tay-keng dan melerainya.
"Segala apa boleh dirunding, mengapa ayah dan anak......."
Baru mulut orang itu hendak mengatakan "saling berkelahi", atau, ujung pedang Tio Jiang cepat menusuk kedadanya.
Orang itu adalah seorang tokoh dari Holam yang baru saja datang ke Lo-hu-san untuk menggabungkan diri.
Dia tak menyangka sama sekali kalau bakal mendapat serangan yang secepat itu datangnya, Au.......
rubuhlah dia tak bernyawa lagi!
Kaget semua orang bukan kepalang.
Pedang kuan-wi-kiamm itu adalah sebuah pusaka yarig dapat memapas kutung segala macam logam, ditambah dengan ilmu pedang to-hay-kiam-hwat yang termasyhur itu, menjadikan Tio Jiang seekor harimau yang menggasak kawanan kambing.
Dalam lain kejab, kembali ada 5 orang yang terluka, salah seorang dari mereka adalah cecu no.
9 dari markas Hoasan.
Kini gegerlah semua orang.
Bagaikan dikejar setan, mereka sama lari turun kebawah gunung.
Namun Tio Jiang tetap mengubernya.
Demikianlah setiba dikaki gunung, kepanikan itu dapat dibikin sirap setelah Sin-eng Ko Thay ajak Kiau To dan Ki Ce-tiong untuk mengepung sikalap itu.
Tapi akibat bekerjanya racun hong-sin-san yang ganas, Tio Jiang sudah lupa diri sama sekali.
Sampaikan Yan-chiu dia sudah tak ingat siapa lagi.
Dalam pandangannya, setiap orang itu adalah setan muka hijau yang bercaling, mereka harus dibasmi semua.
Tak menghiraukan lagi adakah ketiga tokoh itu tergolong cianpwe, Tio Jiang segera menyerang dengan gerak ceng-wi-tiam-hay kearah Ki Ce-tiong.
Atas peringatan Yan-ciu tadi, Ki Ce-tiong cepat memutar kongciannya untuk melindungi seluruh tubuhnya.
Tapi secepat itu pula, Tio Jiang robah gerakannya menjadi boan-thiau-kok-hay, trang.......
sebilah benda hitam terlepas dari tangan Ki Cetiong.
Senjata kong-cian itu terbuat dari baja murni yang beratnya tak kurang dari 70-an kati.
Tapi terhadap kuan-wi-kiam, amblaslah kutung menjadi dua.
Ki Ce-tiong sebat sekali menghindar kesamping, tapi tak urung pundaknya kena dimakan ujung kuan-wi-kiam juga.
Dari kanan dan kiri Kiau To dan Ko Thay cepat merangsang.
Sarung cakar Ko Thay itu dengan disaluri lwekang menerkam bahu Tio Jiang, sedang Kiau To dalam jurus sim-ji-cek-keng, menyapu kaki Tio Jiang.
Tapi oleh karena mereka berdua belum jelas duduk perkaranya, mereka sudah tak mau menyerang dibagian yang berbahaya.
Tapi tidak demikian dengan Tio Jiang yang sudah lupa daratan itu.
Secepatnya dia membalik tubuh, segera dia lancarkan dua buah serangan yang ganas.
Terlebih dahulu dia kalau Ko Thay mundur, lalu dengan jurus hay-siang-tiau-go, dia hantam kepala Kiau To.
Bermula Kiau To gembira begitu kaki Tio Jiang tergaet jwan-pian, tentulah mudahlah untuk menariknya jatuh.
Tapi waktu dia menariknya, ternyata sepasang kaki Tio Jiang itu bagaikan tumbuh akarnya masuk kedalam tanah.
Hendak dia kerahkan tenaga untuk menariknya lagi tapi pada saat itu kepalanya terasa tersambar deru angin.
Waktu mendongak, semangatnya serasa terbang.
Kuan-wi-kiam dengan cahayanya yang hijau kemilau, sudah berada dua tiga puluh senti jauhnya dari mukanya.
Celaka, mati aku!
Demikian Kiau To sudah pejamkan mata menunggu ajalnya.
Tring........, berbareng dengan terdengarnya benturan senjata, mukanya terasa sakit kena muncratan apinya.
Namun dia insyaf bahwa dirinya tertolong, sebat sekali dia segera loncat kesamping.
Ketika mengawasi, kiranya yang menolong merebut jiwanya dari tangan Tio Jiang tadi, bukan lain Yan-chiu adanya.
Ya, memang hanya Yan-chiu dengan pedang yap-kun-kiamnya yang dapat menahan babatan kuan-wi-kiam itu.
Andaikata lain senjata, tetap muka Kiau To akan terbelah menjadi dua.
"Siao Chiu....., Siao Chiu....."
Seru Kiau To meneriaki Yan-chiu dengan cemasnya, Kiau To kenal Yan-chiu sedari ia masih. Umur l7-an tahun, Sampai sekarang dia tetap memanggilnya Siao Chiu (Chiu kecil).
"Aku tak jeri padanya, dengan kupunya hoan-kiang-kiam-hwat, tak nanti Jiang suko dapat melukai akul"
Sahut Yau-chiu.
Memang benarlah kiranya.
Tiga kali Tio Jiang lancarkan serangan, tapi kesemuanya.
itu dapat dihindar oleh isterinya dengan tepatnya.
Malah Yan-chiu merapat kedekat sang suami.
Sebenarnya to-hay-kiam-hwat dan hoan-kiang-kiam-hwat itu, merupakan sepasang ilmu pedang suami isteri.
Kalau bersatu padu menyerang musuh, hebatnya bukan tertara.
Tapi kalau untuk berkelahi saling gasak sendiri, tiada yang kalah atau menang alias serie.
Maka Yan-chiu pun tak gentar menghadapi amukan suaminya.
Ketika rapat kedekat Tio Jiang, tampak oleh Yan-chiu urat2 pada muka suaminya sama menonjol besar2, matanya tak berkesiap, biji matanya bagian yang putih penuh dengan urat2 merah.
Sudah lebih 20 tahun lamanya Yan-chiu menjadi isteri Tio Jiang, tapi belum pernah selama itu dia menampak wajah suaminya sedemikian buas menakutkan itu.
Dalam pedihnya, ia mengeluh.
"Jiang suko, kau............ !"
Saking sedihnya, Yan-chiu tak dapat melanjutkan kata2nya.
Sekalian orang sama mencemaskan keadaan Yan-chiu, Pedang Tio Jiang tetap tak berkurang kedahsyatannya, sedikit lengah saja Yan-chiu pasti celaka.
Dalam pada itu mereka saling tanya menanya, apakah yang sebenarnya terjadi dengan Tio Jiang itu.
Tio In yang melihat ayah bundanya saling bertempur dengan gigihnya itu, gelisah bukan kepalang.
Tapi ia tak tahu, cara bagaimana dapat melerai mereka itu.
Tak dapat lekas2 merobohkan lawan, Tio Jiang menjadi makin beringas.
Dengan menggerung keras, dia gerakkan tangan kiri untuk menghantam dada "musuh"nya itu.
Dalam kagetnya, Yan-chiu cepat miring kesamping, tapi tak urung, pundaknya kena terhantam.
Tio Jiang yang sekarang jauh berbeda dengan Tio Jiang 20 tahun yang lalu dimana dia belum menjadi pemimpin Lo-hu-san dengan gelar Siau-beng-siang itu.
Apalagi minum obat hong-sin-san, wah, tenaganya menjadi berlipat ganda saktinya.
Yan-chiu rasakan tulang pundaknya patah, serta menderita luka dalam yang tak ringan.
la terhuyung kebelakang sampai bebrapa langkah, sambatan angin dari pukulan Tio Jiang yang berikut-nya segera menyusul.
Sebenarnya dapat Yan-chiu mengelakkan diri dari serangan fatal itu, tapi karena ia mengira Tio Jiang hanya sedang dirangsang oleh hawa kemarahannya, ia malah maju menyongsong seraya menangis.
"Jiang suko!"
Pukulan kedua dari Tio Jiang, lebih hebat dari yang pertama.
Dapat dibayangkan Yan-chiu pasti akan binasa karenanya.
Tapi pada saat2 segenting itu, tiba2 melayanglah datang sesosok bayangan hitam.
Tio Jiang cepat tarik pulang tangannya tadi, begitu bayangan hitam itu melayang dekat, segera dia sambut dengan hantaman dahsyat.
Siapakah gerangan bayangan hitam itu?
Ternyata dia bukan lain yalah Sin-eng Ko Thay.
Si Garuda sakti ini, enjot tubuhnya menyambar pundak Yan-chiu, justeru yang disambar itu pundaknya yang terluka tadi, maka sekali menjerit rubuhlah Yan-chiu tak ingat orang lagi.
Memang itulah yang dikehendaki Ko Thay.
Begitu orang sudah pingsan tentu tak dapat meronta dan dengan sigapnya dia segera lemparkan tubuh Yan-chiu kesamping seraya berseru.
"Saudara, sambutlah ia!"
Dua orang gagah cepat maju menyanggapi tubuh Yan-chiu. Dengan cemasnya buru2 Tio In menghampiri mamahnya "Mah, bagaimana keadaanmu?"
Yan-chiu paksakan membuka mata seraya menyahut dengan suara ter-putus2.
"Jangan........ hiraukan ....... aku...... ayahmu.......". Yan-chiu tak dapat lanjutkan kata2nya lagi, karena napasnya serasa memburu keras. Kalau dahulu ia tak pernah memakan mustika kuning dalam batu, mungkin saat itu ia akan sudah bertamasya keakhirat. Tio In bercucuran pir matanya. Sewaktu. berpaling kesebelah sana, dilihatnya Sin-eng Ko Thay menderita kesakitan hebat. Tadi karena melemparkan tubuh Yan-chiu, dia agak berayal sedikit. Sekalipun dengan sebatnya dia coba menghindar dari pukulan Tio Jiang yang ketiga itu, namun tak urung ketika sudah berdiri jejak disebelah sama, dia muntah darah. Begitulah dalam beberapa kejab saja, tiga tokoh lihay. Kiau To, Ko Thay dan Yan-chiu, terluka semua. Sekalian orang menjadi panik lagi. Tapi Ki-Ce-tiong cepat mengangkat kong-cian berseru nyaring2.
"Saudara2. Siau-beng-siang Tio Jiang tentu kena dicelakai orang. Kita tak boleh panik, kalau panik itu berarti termakan siasat musuh. Lekas selidiki barangkali ada orang asing disini!"
Selama menyaksikan pengamukan itu, The Ing terpikat sekali akan permainan pedang Tio Jiang yang sedemikian hebatnya itu.
Ia baru gelagapan ketika Ki-Ce-tiong mengucapkan perintahnya yang terakhir itu.
Kalau sampal ketahuan, bukankah dirinya bakal celaka nanti.
Buru2 ia hendak menyelinap kesamping, tapi pada saat itu ada 3 orang datang menghapiri kedekatnya.
dengan membawa obor.
"Hai, budak perempuan, kau datang dari mana ini?"
Tegur mereka.
Tampak oleh The Ing bahwa ketiga orang itu sama tegap2 perawakannya.
Pikir The ing tak berguna untuk memberi penjeIasan pada orang2 kasar macam begitu.
Maka dengan deliki, mata, ia mendamprat.
"Peduli apa dengan kamu?!"
Ketiga orang itu sama terbelalak. Tapi pada lain saat mereka segera berteriak keras2.
"Ki toako, inilah orang yang mencelakai Siang-beng-siang!"
Ki Ce-tiong cepat menyuruh 3 orang ko-chiu (jago lihay) untuk membekuk hidup2an nona itu. Bukan kepalang marah The Ing karena dituduh mencelakai Tio Jiang itu.
"Kentut busukl"
Dampratnya seraya lontarkan tali cheng-si kearah ketiga orang itu.
Mereka bertiga segera rasakan kepala, muka, kaki dan tangan seperti disayat pisau silet, sakitnya jangan ditanya.
Yang membuat ketiga jago itu marah bukan terkira, yalah mereka tak tahu sama sekali senjata apa yang digunakan oleh si nona untuk melukainya itu.
"Budak hina, kau berani melukai orangl"
Mereka berteriak dengan kalap terus hendak merangsang maju.
Tapi saat itu Ki Ce-tiong keburu datang mencegahnya.
Sejenak mengawasi, dapatkan orang asing itu adalah seorang nona cantik yang menggenggam semacam senjata aneh, yani segulung benang merah yang halusnya sama dengan rambut kepala.
Dia tak kenal siapa, nona itu, maka ditegurnya dan ditanyainya nama dan maksud kedatangan The Ing ke Lo-hu-san situ.
Mendengar kisah Tong Ko, The Ing sudah mempunyai purbasangka terhadap orang2 Lo-hu-san yang dianggapnya bangsa kasar yang bo-ceng-li (tiada aturan).
Tuduhan yang dilancar oleh ketiga orang kepadanya tadi, makin menambah besar rasa antipathinya.
Baca Juga: Dua Musuh Turunan 9
Baca Juga: Terbang Harum Pedang Hujan 9